[back to topmdi.net]

Matahari Esok Pagi

Welcome to topmdi - ebook collection 

Matahari Esok Pagi Karya : SH Mintardja
Jilid 1
KEDATANGANNYA kembali diterima dengan penuh haru oleh orang-orang Kademangan Kepandak, terutama orangorang di padukuhan Gemulung. Lebih dari sepuluh tahun ia meninggalkan rumah itu. Tetapi kini ia terpaksa kembali. Suaminya, seorang prajurit Mataram telah gugur dalam pengabdiannya kepada Tanah Kelahiran, pada saat pasukan Mataram atas perintah Sultan Agung menyerang Betawi yang diduduki oleh orang-orang Kulit Putih berkebangsaan Belanda. Dan Nyai Wiratapa yang sudah menjadi janda itu terpaksa pulang ke rumah orang tuanya. Ayahnya adalah orang tua yang sudah berkeriput. Dan ibunya sudah mulai terbongkokbongkok. Rambutnya sudah menjadi putih. Umur mereka telah melampaui pertengahan abad, dan bahkan, laki-laki tua itu sudah lebih dari enampuluh tahun. Namun meskipun demikian, laki-laki tua itu masih kuat mengangkat cangkul di atas pundaknya. Setiap hari ia masih pergi ke sawahnya yang tidak terlampau luas. Sekedar cukup memberinya makan sekeluarga. Kini anaknya yang menjanda dan seorang cucunya ada diantara mereka. Tetapi atas kemurahan hati Sultan Agung, prajurit-prajuritnya yang gugur di medan perang, mendapat anugerah sebidang tanah meskipun hanya sekedarnya, di daerah yang dipilih oleh jandanya, Dengan demikian maka Nyai Wiratapapun mendapat sebidang tanah yang diserahkannya kepada ayahnya yang tua itu pula untuk digarap. Sejak kehadiran Nyai Wiratapa dan anaknya Sindangsari, rumah mereka banyak dikunjungi oleh para tetangga. Mereka menyampaikan salam bela sungkawa. Bahkan ada diantara mereka yang sambil memeluk Sindangsari, menangis tersedusedu. Kepergian mereka sepuluh tahun yang lalu seakan-akan baru saja kemarin terjadi. Dan gadis yang sekarang sudah dewasa itu, adalah seorang gadis kecil yang manis pada saat mereka berangkat ke kota. "Semua yang terjadi tidak dapat disesali" berkata seorang laki-laki tua, setua kakek Sindangsari. Nayi Wiratapa beserta ayah ibunya yang tua itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Sindangsari tidak dapat menahan tit ik air yang mengambang di matanya. "Tuhan Maha Tahu" orang tua itu melanjutkan "dan Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Apa yang terjadi adalah cobaanNya. Memang terasa pahit oleh kita" Nyai Wiratapa mengangguk-angguk meskipun tenggorokannya terasa menjadi pepat. Namun keakraban sikap tetangga-tetangga itu dapat sedikit memberikan ketenteraman di hati Nyai Wiratapa. Meskipun sepuluh tahun ia tidak ada di rumah itu, namun ia merasa bukan orang asing ketika ia kembali berkumpul dengan ayah dan ibunya serta tetangga-tetangganya. Bahkan bukan saja orang-orang tua yang datang berkunjung ke rumah janda itu, tetapi gadis-gadis yang sebaya dengan Sindangsaripun berdatangan pula. Mereka adalah kawan bermain-main semasa mereka masih kanakkanak. Dan kini mereka bertemu kembali di usia dewasa. Demikianlah Nyai wiratapa segera dapat menyesuaikan dirinya hidup di padukuhannya kembali. Keramah-tamahannya sangat menarik hati orang-orang di sekitarnya, sehingga iapun segera mendapat tempat yang baik di dalam lingkungannya. Orang-orang di sekitarnya menganggap Nyai Wiratapa sebagai seorang yang mempunyai pengalaman agak lebih banyak dari mereka, sehingga perempuan-perempuan padukuhannya selalu datang berkunjung kepadanya untuk mendapatkan beberapa petunjuk dan nasehat tentang bermacam-macam hal. Nyai Wiratapa dapat memberi beberapa petunjuk memasak berbagai macam makanan yang belum dikenal oleh orang Gemulung. bahkan orang-orang seluruh Kademangan Kepandak. Sejalan dengan itu, gadis-gadis Gemulungpun banyak mendapat ceritera tentang kota Mataram dari Sindangsari. Jalan-jalan yang lebar dan regol-regol halaman yang tinggi dan besar. Rumah-rumah joglo bertiang sebesar pohon randu alas pojok desa, dan pintu-pintu berukir yang disungging dengan warna-warna emas. Dan gadis-gadis desa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mata mereka memmancarkan kekaguman hati. Satu dua diantara mereka memang ada yang pernah pergi ke kota, tetapi hanya satu dua hari mengunjungi sanak saudara. Tetapi merekapun akan segera kembali sebelum mereka melihat terlalu banyak seperti yang dilihat oleh Sindangsari. Bukan saja gadis-gadis yang sering mendengarkan ceritera Sindangsari. Kadang-kadang anak-anak mudapun mengerumunminya di tepian apabila Sindangsari bersama kawan-kawan gadisnya sedang mencuci di kali. "Aku pernah melihat" berkata salah seorarlg anak muda yang berwajah keras "tetapi hanya sehari" "Aku bermalam sepekan di Mataram" berkata yang lain. "Aku melihat cukup banyak" "Tetapi belum sebanyak Sindangsari" potong seorang gadis. "Tentu" jawab pemuda itu "meskipun demikian lebih banyak dari kau" Gadis itu mengerutkan keningnya. Katanya "Aku sebulan berada di rumah paman di Mataram" Anak muda itu mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang berkeliling dilihatnya senyuman di setiap bibir. Tiba-tiba terpercik warna merah di pipinya, sehingga tanpa sesadarnya iapun berkisar surut, sehingga akhirnya ia berada di paling belakang. Seperti ibunya, di lingkungan anak-anak muda dan gadisgadis, Sindangsari segera mendapat banyak kawan. Ia ramah dan cerdas, melampaui kawan-kawan sebayanya. Lebih dari itu, ia mempunyai sedikit kelainan di mata anak-anak mudanya. Meskipun gadis-gadis Gemulung tidak kurang yang secantik Sindangsari, tetapi cara mengetrapkan pakaiannya, cara berjalan dan berbicara, Sindangsari mempunyai kelainan. Sebagai seorang gadis yang pernah tinggal di kota kerajaan yang besar, Sindangsari mempunyai kebiasaan yang agak berbeda dengan gadis-gadis desa asalnya, Gemulung. Dan karena itulah, maka kehadiran Sindangsari justru telah menumbuhkan persoalan-persoalan baru di padukuhannya. Persoalan-persoalan anak-anak muda yang mulai mengaguminya. Di saat-saat matahari terbit, dihampir setiap pagi, Sindangsari beserta dua tiga kawan-kawannya selalu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Mereka berusaha menyelesaikan pekerjaan mereka pagi-pagi, supaya pakaianpakaian itu segera kering pula. Apalagi apabila langit mendung dan hujan turun. Selain itu, mereka masih mendapat kesempatan pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Tanpa disadarinya, setiap pagi apabila Sindangsari pergi ke kali sepasang mata selalu memandanginya dari balik pintu regol rumahnya. Sebuah rumah yang cukup besar dan berhalaman luas menurut ukuran padukuhan Gemulung, bahkan menurut ukuran Kademangan Kepandak. Rumah itu adalah rumah seorang pedagang ternak yang kaya. Ketika pagi itu Sindangsari lewat pula bersama tiga orang kawannya, mata itupun mengikut inya pula sampai gadis itu hilang di balik rimbunnya rumpun bambu di halaman sebelah. Sambil mengerutkan keningnya orang itu melambaikan tangannya, memanggil seseorang yang sedang bekerja di halaman. "He, gadis itu lewat lagi" desisnya. Orang yang dipanggilnya itupun mengerutkan keningnya. Sejenak ia mencoba memandang kebalik pintu regol. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. "Ia sudah jauh" bentak orang yang berdiri di muka regol. Orang yang datang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepalanya yang botak. Wajahnya yang kasar menjadi berkerut-kerut sejenak. Tetapi tubuhnya yang tinggi besar itu tegak seperti patung. "Apakah maksudmu dengan gadis itu? Apakah aku harus mengambilnya?" "Bodoh, kau memang bodoh" Orang yang bertubuh tinggi besar berkepala botak itu diam mematung. Tatapan matanya yang kosong menyentuh wajah orang yang memanggilnya, namun wajah itupun segera berpaling. "Jadi apakah maksudmu?" ia bertanya tanpa memandang wajah lawan bicaranya, seorang anak muda yang gagah dalam pakaian yang bagus rapi. Ank muda itu termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata "Tidak apa-apa" Orang yang bertubuh tinggi besar itu terheran-heran sejenak. Kemudian iapun meninggalkan anak muda itu. Langkahnya satu-satu seperti derap kaki seekor gajah. "Lamat" tiba-tiba anak muda itu memanggil. Dan orang yang bertubuh tinggi besar itu terhenti. Kemudian sambil memutar tubuhnya ia bertanya "Kau memanggil aku?" Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi ialah yang datang mendekat. "Kau pernah melihat gadis itu bukan? "Ya" "Cantik?" "Cantik" "Huh, kau memang tidak mempunyai otak yang dapat kau pergunakan untuk berpikir. Kau menjawab asal saja menjawab " Orang yang tinggi besar itu mengerutkan keningnya. Desisnya "Tetapi bukankah ia memang cant ik?" "Sejak kapan kau mengenal seorang perempuan cantik?" Lamat, orang yang botak itu tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah anak muda yang kini tersenyum. Perlahan-lahan anak muda itu mendekatinya, kemudian menepuk bahunya "Tentu, kaupun tentu mengenal wajah cantik seorang perempuan, meskipun agaknya kau sama sekali t idak tertarik. Terbukti sampai sekarang kau t idak mau kawin juga" Laki-laki itu tidak menjawab. "He, kenapa kau tidak kawin Lamat?" Laki-laki botak itu menarik nafas dalam-dalam. Pandangan wajahnya kemudian terlempar kekejauhan. Jawabnya lambat "Wajahku terlampau jelek buat seorang perempuan" Anak muda itu tertawa "Kau terlampau perasa. Betapapun jeleknya wajah seorang laki-laki, tetapi itu tidak berarti menutup segala kemungkinan untuk beristeri. "Kau tidak pernah mengerti perasaanku, karena wajahmu tidak jelek" Anak muda itu masih saja tertawa. "Pergilah" desis anakmuda itu "mungkin pada suatu ketika aku memerlukan kau" Lamat menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkahkan kakinya kembali kepekerjaannya. Memecah kayu bakar di halaman, dengan sebuah kapak yang besar dan bertangkai panjang. Sejenak anak muda itu memandanginya. Kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melangkah, meninggalkan halamannya, keluar regol dan menyusur di sepanjang jalan. Semula ia tidak tahu, kemana ia harus pergi. Namun tanpa disadarinya ia telah pergi ke kali, menyusul gadis-gadis yang sedang mencuci. Tetapi anak muda itu berhenti beberapa puluh langkah dari tepian. Ia menjadi ragu-ragu untuk mendekat, Kadang-kadang ia melihat seorang dua orang anak-anak muda berada di tepian itu juga dengan berbagai macam alasan. Ada yang mencuci cangkul, ada yang mencuci rumput yang baru disabitnya, atau mencuci apapun. Tetapi karena tidak seorangpun yang tampak, anak muda itu menjadi segan juga mendekat. Karena itu, maka iapun kemudian melangkah kembali, berjalan dengan tergesa-gesa ke sawah ayahnya yang luas, untuk melihat orang-orangnya yang sedang bekerja. Sindangsari yang sedang mencuci itu sama sekali t idak menyadari, bahwa dirinya telah menarik banyak perhatian. Anak-anak muda. Karena itu, sikapnya sama sekali tidak berubah. Ia bersikap ramah kepada siapapun, kepada anakanak muda yang manapun. Juga kepada anak muda anak pedagang ternak yang kaya itu, yang bernama Manguri, tetapi juga dengan anak-anak muda yang tidak begitu kaya, bahkan dengan anak-anak muda yang miskin sekalipun. Itulah sebabnya, maka Sindangsari tidak segan-segan berhenti di pematang apabila ia mendengar seruling seorang gembala yang seakan-akan menyentuh perasaannya. Meskipun gembala itu duduk di bawah sebatang pohon yang rindang tanpa memakai baju. selain sehelai kain yang lungset dan celana hitam yang longgar. Tetapi suara seruling itu sangat menarik perhatiannya, seperti kicau burung yang berloncatan di dahan-dahan. Lincah disela-sela desir angin yang lembut membelai batang-batang padi yang hijau. "Kehidupan dipedesan mempunyai keindahannya tersendiri" desisnya "tenang, damai seakan-akan t idak diburu-buru oleh persoalan-persoalan yang memeningkan kepala" Tetapi ketenangan hidup Sindangsari yang telah mulai mapan itu segera goyah. Adalah mengejutkan sekali ketika pada suatu hari seorang datang berumahnya. Seorang perempuan tua yang berpakaian rapi. "Aku diutus oleh angger Manguri Nyai" berkata perempuan itu kepada Nyi Wiratapa. "Siapakah angger Manguri itu?" bertanya Nyai Wiratapa itu. "Putera seorang pedagang ternak yang paling kaya di seluruh Gemulung" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku diutus menyerahkan bingkisan ini kepada puteri Nyai yang bernama Sindangsari" Sepercik warna merah menyala di wajah perempuan itu. Dengan ragu-ragu ia bertanya "Apakah isi hingkisanitu?" "Sepengadeg kain, baju dan kelengkapannya" "He" Nyai Wirata terkejut bukan buatan. "Apakah maksudnya?" "Tidak apa-apa Nyai. Sekedar sebagai tanda persahabatan. Bukankah Nyai sedang dirundung oleh kesusahan karena kehilangan suami dan angger Sindangsari kehilangan ayah?" "Tetapi, tanda persahabatan itu berlebih-lebihan" "Jangan memikirkan yang tidak-tidak" Nyai Wiratapa terdiam sejenak. Dipandanginya sebungkus bingkisan yang menurut keterangan perempuan yang membawanya berisi sepengadeg pakaian. Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia berkata "Terima kasih atas kebaikan hati angger Manguri. Tetapi maaf, bukan maksudku menolak tanda persahabatan. Namun saat ini aku belum dapat menerimanya. Anakku seorang gadis dan angger Manguri adalah seorang anak muda. Seandainya anakkkupun seorang anak muda seperti angger Manguri, maka aku akan menerimanya dengan senang hati" "O" perempuan itu mengerutkan keningnya maksud Nyai, Nyai tidak dapat menerima bingkisan ini?" "Maaf, saat ini belum" Perempuan itu menjadi tegang sejenak. Tetapi kemudian ia tersenyum "Nyai, adalah suatu kehormatan yang tidak ada taranya karena angger Manguri telah memberikan bingkisan sebagai tanda keakraban itu" Nyai Wiratapa memandang perempuan itu semakin tajam. Senyumnya adalah senyum yang tidak wajar. Semakin lama justru semakin memuakkan. Agaknya perempuan tua itu salah menilai Nyai Wiratapa yang pernah hidup di dalam pergaulan yang lebih luas. Justru perempuan tua yang mencoba tersenyum-senyum itulah yang sama sekali tidak dapat mengerti, siapakah lawan bicaranya. Kebiasaan yang dilakukan sebelumnya dengan tingkah laku yang dibuat-buat itu selalu berhasil. Tetapi terhadap perempuan-perempuan yang picik dan kurang dapat menanggapi keadaan. Bukan terhadap Nyai Wiratapa. "Jangan menyia-nyiakan kehormatan ini Nyai" desis perempuan tua itu sambil bergeser maju. Didorongnya bingkisan yang dibawanya sambil tertawa "Tidak akan ada seseorang yang berbaik hati seperti angger Manguri" Nyai Wiratapa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia bertanya "Nyai, apakah tidak ada pamrih apapun di balik pemberian ini" "O, tentu tidak. Tentu tidak Nyai. Aku mengenal angger Manguri dengan baik. Anak itu sudah seperti anakku sendiri" jawab perempuan tua itu. "Jangan seperti sedang merayu anak perawan Nyai. Kita sudah cukup berpengalaman. Aku pernah menjadi seorang gadis muda dan kaupun pernah. Bagaimana perasaanmu selagi kau seorang gadis remaja vang mendapat bingkisan dari seorang anak muda?" "Ah, kau berpikir terlampau jauh. Itu berlebih-lebihan Nyai. Tetapi apabila perkembangan persahabatan anak-anak kita akan sampai kesana, itu bukan persoalan kita yang tua tua lagi. Bukankah wajar sekali, bahwa pergaulan anak-anak muda akan sampai ke puncaknya dan diakhiri dengan perkawinan yang bahagia?" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya "Nah, bukankah itu tujuannya. Apapun yang kau lakukan, tetapi kau sedang diutus oleh angger Manguri untuk merayu anakku. Itulah" Semburat warna merah membayang di wajah perempuan tua itu. Belum pernah ia mengalami perlakuan yang demikian selama berpuluh-puluh tahun ia menjalankan tugasnya untuk berpuluh-puluh anak-anak muda. Karena itu maka sejenak ia justru terdiam. Meskipun bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang diucapkannya. Sama sekali berbeda dengan kebiasaannya. Ia selalu banyak berbicara apabila ia sedang menghadapi seorang ibu dari seorang gadis yang sedang dibujuknya. Sambil tertawa dan tersenyum-senyum diserahkannya sebuah bingkisan ke tangan perempuan yang beranak gadis itu. Biasanya ia tidak gagal. Ia tahu pasti, ibu gadis itu akan merasa berhutang budi, sehingga dengan segala usaha ia akan mendorong gadisnya untuk menerima tawaran apapun dari anak muda yang berbudi, yang telah melimpahkan kebaikan hati kepadanya. Tetapi ibu yang dihadapinya kali ini ternyata agak berbeda, meskipun ia tahu pasti, bahwa janda inipun masih banyak memerlukan barangbarang serupa itu untuk mencukupi keperluan anak gadisnya karena penghasilan sawahnya yang tidak seberapa luas. "Nyai" berkata Nyai Wiratapa kemudian kepada perempuan tua itu "sekali lagi aku minta maaf. Sebenarnyalah bahwa aku sangat berterima kasih. Tetapi aku tidak mau memacu perhubungan anakku dengan siapapun juga. Biarlah hati anakanak itu berkembang dengan wajar. Apabila kelak anakku tertarik oleh anggger Manguri, aku tidak akan keberatan. Tetapi biarlah semuanya berjalan sewajarnya" Wajah perempuan tua itu kini benar-benar menjadi merah. Ditatapnya Nyai Wiratapa dengan tajamnya. Tetapi perempuan tua itu kini sudah tidak lagi dapat memilih katakata yang paling manis. Debar jantungnya yang semakin cepat itu membuatnya gemetar, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang kasar "Kau menghina angger Manguri Nyai. Kalau kau tidak boleh anakmu bergaul dengan anak pedagang yang paling kaya itu, maka kau adalah janda yang paling bodoh. Bukan saja anakmu akan menjadi menantu orang yang kaya raya itu tetapi kalau nasibmu baik, kau sendiri akan mendapat kesempatan menjadi isteri pedagang kaya itu. Baru-baru ini isterinya yang keempat baru saja dicerainya, karena ia kedapatan mencuri beberapa helai kain, justru yang akan diberikan kepadanya sendiri" Terasa sebuah tamparan menyengat pusat syarat Nyai Wiratapa. Hampir saja ia t idak dapat mengendalikan dirinya. Tetapi sebagai seorang perempuan yang lebih bayak mengenal sudut-sudut penghidupan, maka ditahankannya hatinya. Dengan susah payah ia menjawab sareh "Terima kasih atas kebaikan hati itu. Tetapi maaf, bahwa semuanya aku tidak memerlukan. Sekarang aku persilahkan kau membawa barang-barang itu kembali kepada angger Manguri, meskipun aku tidak akan melarang anakku bergaul dengannya sebagai kawan se padukuhan" Perempuan tua itu sudah tidak dapat berkata apapun. Dihentakkannya bingkisan yang sudah diletakkannya di amben bambu itu, kemudian dengan wajah yang berkerut merut, tanpa minta ijin lagi ia segera berdiri dan melangkah keluar pintu. Meskipun demikian Nyai Wiratapa masih mengantarkannya sampai ke muka pintu. Namun ketika perempuan itu telah melintasi halaman rumahnya dan turun kejalan, maka segera ia masuk kembali. Tanpa sesadarnya ia terduduk di amben sambil mengusap dadanya. Ia tidak berhasil membendungnya, ketika titik-titik air yang jernih meleleh di pipinya. Betapa pedihnya hidup menjanda, menghadapi orang-orang yang tidak berperasaan itu. Nyai Wiratapa cepat menyeka matanya ketika ia mendengar langkah kaki ayahnya. Sambil berdesah panjang orang tua itu melangkah masuk. Melepaskan caping bambunya dan menyangkutkannya di dinding, di sisi pintu. Kemudian meletakkan cangkulnya di sudut ruangan. "Panasnya bukan main" gumamnya. Nyai Wiratapa segera menghampirinya. Semua kesan di wajahnya telah berhasil dihalaukannya. Sambil tersenyum ia mengambil sebuah gendi berisi air "Ayah haus" desisnya. Orang tua itu menerima gendi dari tangan anaknya. Kemudian meneguknya. Segar sekali. "Dimana anakmu?" bertanya laki-laki tua itu. "Keluar, ayah" jawab Nyai Wiratapa. Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambil mengusap keringat di wajahnya yang sudah berkeriput ia berkata "Udara panas sekali. Sebaiknya anakmu tinggal di rumah" Nyai Wiratapa menganggukkan kepalanya "Ya ayah. Aku akan memberitahukannya nanti" "Panas yang tajam dapat menimbulkan penyakit. Apalagi anakmu. Ia tidak biasa berada di sawah dan berjemur di terik matahari" "Ya ayah" Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah masuk keruang dalam. Sementara ibu Nyai Wiratapa lagi sibuk menyiapkan makan di dapur. Namun sementara itu, Sindangsari memang lagi bermain bersama beberapa orangkawannya di pinggir desa. Beberapa orang gadis yang baru pulang dari sawah, berhenti sebentar untuk beristirahat dan bergurau. Tiba-tiba Sindangsari mengangkat wajahnya ketika suara seruling lamat-lamat menyentuh telinga. Suara itu serasa langsung menyusup ke dalamdadanya. Dalam panasnya udara, suara seruling itu dapat memberikan kesegaran di hatinya. "Apa yang kau dengar?" bertanya seorang kawannya. "Seruling. Siapakah yang meniup seruling itu?" jawab Sindangsari sambil bertanya pula. "Disini hampir setiap orang dapat meniup seruling. Akupun dapat. Ruri, Sasi, dan beberapa orang lainpun dapat pula" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata gadis-gadis itu juga dapat meniup seruling. Tetapi bunyi seruling ini agak lain dari bunyi seruling yang sudah sering di dengarnya. Suara seruling ini seakan-akan sebuah alunan perasaan yang mengambang dibawa angin mengembara sampai ke batas yang jauh sekali. "Tetapi" berkata Sindangsari kemudian"aku belum pernah mendengar suara seruling seperti ini. Lagu apakah yang dibawakannya?" "Entahlah. Agaknya ia asal saja membunyikan serulingnya tanpa patokan. Bukan Dandanggula, tetapi juga bukan yang lain. Mirip sedikit dengan Asmaradana dipermulaannya, tetapi kemudian berpindah pada Pangkur. Agaknya ia tidak mengenal gending" "Ya. Tetapi justru dengan demikian perasaannya dapat bebas mengembara didunianya. Tanpa kekangan yang dapat membatasi sayap-sayap yang sudah mengembang, terbang tinggi di langit berlapis tujuh" Kawan-kawan Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi merekapun kemudian tersenyum"Kau lucu" Sindangsari yang semula bersungguh-sungguh, kemudian tersenyumpula. "Suara itu datang dari balik gerumbul di pinggir parit di sudut pategalan itu" tiba tiba salah seorang kawannya berdesis. "Siapakah yang sering berada di sana?" "Anak-anak kecil sering menggembala kambing di sana. Kadang-kadang kakak mereka yang sedang beristirahat dari kerja mereka di sawah, berteduh pula di sana" "O, aku tahu" sahut yang lain "yang sering bermain seruling di sudut pategalan itu adalah Pamot" "Tidak hanya Pamot, juga Windan dan Wisesa" Gadis-gadis itu tersenyum, sedang Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Jadi yang bermain seruling itu mungkin Pamot, mungkin Windan dan mungkin pula Wisesa" "Mungkin yang lain lagi" sahut kawannya. Dan gadis-gadis itupun tertawa. Tetapi suara tertawa mereka segera terputus ketika mereka melihat sesosok tubuh meloncat pematang di sisi batangbatang jagung muda. Ketika orang itu berada di pinggir jalan, barulah mereka jelas, bahwa yang meloncati pematang itu adalah Manguri. "He, Manguri" desis seorang gadis. "Ya. Darimana dia?" "Tentu dari sawahnya" Sindangsari mengerutkan keningnya ketika kemudian ia melihat kawan-kawannya kemudian bersikap lain. Ada yang dibuat-buat, tetapi ada juga yang justru menundukkan kepalanya. Ketika anak muda. itu, lewat di hadapan mereka, maka salah seorang kawannya menegur dengan ramahnya "Darimana kau Manguri?" Langkah Manguri terhenti. Sambil tersenyum ia menjawab "Dari sawah" "Matahari terlampau terik. Kenapa kau memerlukan pergi ke sawah juga?" bertanya yang lain. "Apa salahnya. Anak-anak muda yang lain juga pergi ke sawah" Tetapi kau tidak perlu. Kau dapat mengupah orang. Ayahmu terlampau kaya" Manguri tertawa. Jawabnya "Itu adalah pikiran yang salah. Bagaimanapun juga aku harus belajar bekerja. Kalau t idak, maka kekayaan ayah nanti pasti akan segera habis. Aku justru harus mengembangkannya" Gadis-gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tatapan mata kekaguman mereka memandang senyum Manguri yang jernih itu. Dan tiba-tiba ia bertanya "Kenapa kalian disini?" "Beristirahat. Panasnya bukan main" "Di sebelah ada penjual dawet cendol aren. Kalian dapat minum di sana" "Darimana kami akan membayar?" tiba-tiba salah seorang gadis memotong dengan manjanya. Manguri tersenyum. Kemudian tangannya dimasukkannya ke dalam sakunya. Katanya "Ini ada beberapa keping uang. Cukup buat membeli dawet cendol. Berebutan gadis-gadis itu meloncat maju menerima uang dari tangan Manguri. Salah seorang yang paling dahulu berteriak "Aku yang diberinya" "Buat kalian semua" desis Manguri. "Terima kasih" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumnya yang cerah masih saja menghiasi bibirnya. Namun kemudian tanpa berkata sepatah katapun juga ia melangkah pergi. Tetapi beberapa langkah kemudian ia berpaling. Kali ini ia berusaha menatap salah satu saja dari wajah gadis-gadis yang sedang kegirangan itu. Sindangsari. Tanpa sesadarnya Manguri menarik nafas dalam-dalam. Wajah itu memang tidak terpaut banyak dari gadis-gadis cantik di Gemulung. Tetapi Manguri melihat kelainan pada wajah itu. Namun Manguri kemudian meneruskan langkahnya. Ditinggalkannya gadis-gadis yang sedang berebut uang beberapa keping itu . "Aku, aku saja yang membawa" gadis yang menerima uang itu mempertahankan. "Bagi, bagi saja" Yang agak lebih dewasa kemudian berkata "Kita pergunakan bersama-sama. Mari, kita pergi ke penjual dawet itu. Dawet dengan cendol dan legen aren" Gadis itupun kemudian berlari-larian pergi ke sebelah tikungan. Tetapi langkah merekapun kemudian tertegun. Ternyata diantara gadis-gadis itu, seseorang tidak ikut berlari-lari. Bahkan dengan termangu-mangu ia memandangi kawankawannya yang seakan-akan telah melupakan panasnya udara yang telah memeras peluh mereka. "He Sari, Mari, kita minum" Sindangari menggelengkan kepalanya sambil menjawab "Aku tidak haus" "He, udara begini panas. Alangkah segarnya kita minum dawet cendol" Sekali lagi Sindangsari menggelengkan kepalanya. Katanya "Silahkan" "Kenapa kau? Malu?" "Tidak. Tetapi kepalaku sering menjadi pening apabila aku minum air tawar di udara yang begini panas" Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun salah seorang dari mereka berkata "Cobalah. Beginilah kehidupan kami di Gemulung. Mungkin memang agak berbeda dengan di kota Mataram" "Tidak. Bukan begitu" sahut Sindangsari cepat-cepat "bukan maksudku berkata begitu. Tetapi itu adalah sekedar kebiasaan saya sendiri, karena kelemahanku. Aku tidak tahan minum air mentah apabila keringatku sedang mengalir sebanyak ini" Sekali lagi gadis itu saling memandang, kemudian salah seorang dari mereka berkata "Baiklah. Tunggulah di situ atau kau ikut kami ke sebelah tikungan" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak beranjak. Dipandanginya kawan-kawannya yang hilang di balik tikungan. Gadis itu menjadi heran melihat sikap kawan-kawannya. Apakah ini memang sudah menjadi kebiasaan mereka, menerima pemberian Manguri? Tetapi itu tidak baik baginya. Ia tidak boleh menerima pemberian begitu saja. Apalagi dari seorang anak muda. Karena itu, betapapun ia menahan haus, tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan kemudian dicarinya tempat di bawah sebatang pohon rindang, untuk duduk beristirahat sambil bersandar batangnya. Dipandanginya cahaya terik matahari yang seakan-akan membakar dedaunan. Di kejauhan tampak seakan-akan uap air yang memenuhi udara. Menggelepar kepanasan. Bahkan seakan-akan tampak bayangan lamat-lamat meloncat-loncat seperti berpijak pada bara. Endeg pangamun-amun. Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Panas udara serasa semakin membakar kulitnya, sedang kawan-kawannya yang sedang pergi membeli dawet aren masih juga belumtampak kembali. "Haus sekali" desisnya. Tetapi untuk ikut bersama kawankawannya Sindangsari masih belum sampai hati. Namun tiba-tiba Sindangsari mengangkat wajahnya. Lamatlamat ia mendengar suara seruling. Semakin lama menjadi semakin dekat. Seolah-olah seruling yang mendendangkan kidung yang segar itu sedang terbang melayang mendekatinya. Tetapi akhirnya suara seruling itu tidak lagi bergerak di tempatnya, meskipun suaranya menjadi semakin jelas terdengar. Sindangsari perlahan-lahan berdiri. Ditajamkannya telinganya untuk mengetahui, darimanakah arah suara seruling itu. "Agaknya tidak terlampau jauh" katanya kepada diri sendiri. Tanpa sesadarnya Sindangsari itupun berkisar dari tempatnya. Selangkah demi selangkah ia berjalan menyusur jalan di pinggir desa sepanjang rimbunnya dedaunan. Kadangkadang ia berhenti termangu-mangu. Namun suara seruling yang anehku menarik perhatiannya. Justru karena lagu yang dibawakannya tidak terikat oleh bentuk-bentuk yang sudah ada. Ketika Sindangsari sampai di sudut desa. Ia melangkah sebuah parit kecil. Kemudian disusunnya tanggul parit yang membujur di sepanjang pagar batu. Suara seruling itu menjadi semakin dekat" gumamnya "aku pergi ke arah yang benar" Namun akhirnya ia terhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan berjalan terus mencari sumber suara itu? Apakah itu baik?. Beberapa langkah lagi" desisnya. "Apakah salahnya?" ia bertanya kepada dirinya. "Suara seruling itu sangat menarik" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti di tarik oleh sebuah pesona yang tidak dimengertinya, Sindangsaripun kemudian melangkah terus. Ia tersadar ketika tiba-tiba saja suara seruling itu berhenti. Alangkah terkejutnya gadis itu ketika tiba-tiba saja ia mendengar seseorang menyapanya. Hampir saja ia meloncat terjun ke dalam parit yang mengalirkan air yang gemericik bening. "Sindangsari" terdengar suara yang berat dari balik pagar batu "kemana kau?" Sindangsari berpaling. Dilihatnya sebuah kepala tersembul dari balik pagar batu beberapa langkah di hadapannya. "Oh" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam "kau membuat aku sangat terkejut. Hampir saja aku lari tunggang langgang" Seorang anak muda muncul dari balik pagar. Di tangannya tergenggamsebatang seruling yang panjang. "Kenapa kau menyusuri parit itu he? Apakah sawah kakekmu kering?" bertanya anak muda itu. Sindangsari bingung sesaat. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata "Tidak. Aku tidak sedang mencari air" "Lalu, kenapa kau menyusur tanggul itu?" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan itu. Bahkan ialah yang kemudian bertanya "Kaukah yang baru saja bermain dengan serulingmu itu?" Anak muda itu mengerutkan keningnya. Diamat-amatinya seruling di tangannya seakan-akan baru pertama kali itu di lihatnya. "Apakah anehnya?" "Tidak apa-apa. Tetapi caramu meniup seruling acak berbeda dengan kawan-kawanmu yang lain" "Apakah bedanya?" "Kau tidak mengikut i ikatan-ikatan gending yang sudah ada" Anak muda itu tertawa. Katanya "Mungkin aku memang tidak dapat memahami gending-gending itu. Tetapi mungkin juga karena aku tidak puas dengan ikatan-ikatan yang ada" "Itulah yang menarik" Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia berkata "Kemarilah. Halaman ini adalah halaman kakekku. Karena kakek sudah terlampau tua dan tinggal bersama ayah dan ibu, maka halaman ini menjadi kosong" Sindangsari berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya "Terima kasih. Kalau ada waktu, biarlah lain kali saja aku datang" "Kenapa tidak sekarang?" "Kau sendiri?" "Ya" "Terima kasih" Anak muda itu mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya "Lalu apakah maksudmu sebenarnya?" "Tidak apa-apa. Hanya sekedar ingin tahu" "Kau aneh. Aku t idak dapat mengerti" Sindangsari tidak segera dapat menjawab. Ia sendiri menjadi bingung apa yang harus dilakukannya. Sementara itu anak muda itu telah meloncati dinding batu dan berdiri di hadapannya. "Aku akan pulang" gumam Sindangsari. "He" anak muda itu menjadi semakin heran "lalu apakah kepentinganmu dengan suara seruling itu?" "Hanya ingin tahu. Sindangsari tidak menunggu jawaban anak muda itu lagi. Segera ia memutar tubuhnya dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan anak muda yang keheranan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika Sindangsari meloncati parit kecil di pinggir desa itu, terdengarlah suara kawan-kawannya hampir berbareng "Itu. itulah Sindangsari" Dan yang lain berteriak "Sari, darimana kau?" Sindangsari t idak segera menjawab. Dengan tergesa-gesa ia pergi mendapatkan kawan-kawannya. "Darimana kau he?" bertanya salah seorang dari mereka. "Mencuci kaki diparit itu. Panasnya bukan main" "Apakah baru sekarang kau sadari? Salahmu. Kau tidak mau minumbersama kami. Alangkah segarnya" "Salahmu" sahut yang lain. Sindangsari tersenyum. Jawabnya "Justru karena panasnya bukan main itulah aku tidak berani minum air mentah. Bukankah sudah aku katakan?" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian salah seorang dari mereka bertanya "Sekarang, setelah kita tidak haus lagi, kemana kita pergi? Apakah kita akan kembali ke sawah?" "Tidak" salah seorang menyahut sambil menggelengkan "aku segan" "Kalau aku, mau tidak mau harus kembali lagi ke sawah. Biyungku ada di gubug itu. Ia pasti akan menunggu aku sampai aku datang kesana" "Kenapa kau sekarang berada disini?" "Panas sekali. Aku tidak tahan berada ditengah-tengah sawah meskipun di dalam gubug" "Bohong" jawab yang lain lagi "kau tahu Manguri akan lewat disini" "Ah, tentu tidak. Siapa tahu ia akan lewat disini. Aku t idak tahu bahwa ia ada di sawahnya" "Bohong, bohong" yang lain hampir berbareng. Dan gadis itu menjadi merah padam. "Sudahlah, jangan mengganggu. Aku akan kembali ke sawah" "Sebentar lagi Manguri akan menyusul" "Embuh ah" dan gadis itupun kemudian dengan tergesagesa meninggalkan kawannya. Tetapi beberapa langkah ia berpaling sambil melambaikan tangannya. Sindangsari sama sekali tidak ikut di dalam sendau gurau itu. Ia masih belum terbiasa dengan gadis-gadis kawan sepermainannya. Hubungannya masih terbatas meskipun semakin lama menjadi semakin akrab. Tanpa prasangka apapun ia bertanya kepada salah seorang kawannya "Apakah menjadi kebiasaan Manguri membagikan uangnya?" "Sering benar ia berbuat demikian" jawab salah seorang gadis "ia terlalu baik" ulang Sindangsari. "Ia tidak pernah mendendam" desis yang lain "ketika ia ditinggal oleh kekasihnya yang dahulu, ia sama sekali tidak menuntut apapun. Baik dari gadis itu, maupun dari laki-laki yang melarikannya" Sindangsari mengerutkan keningnya. Apalagi ketika yang lain menyambungnya "Sudah lebih dari tiga kali ia dit inggal oleh gadis-gadis yang semula tampaknya akrab sekali. Ketiganya dilarikan oleh laki-laki lain setelah mereka mendapat terlampau banyak dari Manguri" "Sampai t iga kali dan bahkan lebih?" "Ya. Dan Manguri sama sekali t idak bersedih karenanya. Meskipun untuk sehari dua hari ia t idak keluar dari rumahnya" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam hatinya ia berkata "Itulah agaknya sebabnya, kenapa Manguri senang sekali bergaul dengan gadis-gadis. Agaknya ia ingin melupakan yang telah hilang itu" "Kasian anak muda itu"terdengar suara seorang gadis dalam nada yang rendah. Kawan-kawannya berpaling kepadanya, dan seorang berkata "He, apakah kau ingin menggantikan yang hilang itu?" Jawabnya benar-benar di luar dugaan Sindangsari Bukankah kita sama-sama menginginkannya?" "Ah" gadis-gadis itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian mereka tertawa hampir meledak. Sindangsari tidak dapat ikut tertawa, karena ia tidak mengerti apakah yang harus ditertawakannya. Bahkan ia menaruh iba terhadap Manguri yang sudah tiga kali bahkan lebih kehilangan kekasihnya. "Marilah kita pergi ke sawah" berkata salah seorang gadis diantara mereka. "Marilah. Kalau nasib kita baik, kita akan bertemu lagi dengan Manguri. Di tengah-tengah bulak itu ada penjual rujak nanas" Beberapa orang diantara mereka berpikir sejenak. Dan hampir berbareng mereka berkata "Mari, mari kita pergi ke sawah" Sindangsari menjadi ragu-ragu. Ia tidak mempunyai banyak kepentingan di sawah. Apalagi panasnya liukan main. Ia tidak biasa berada di teriknya matahari, meskipun ia mencoba untuk menyesuaikan diri. Tetapi kadang-kadang kepalanya masih terasa pening. Dan belum lagi ia mendapat keputusan, dilihatnya seorang laki-laki tua berjalan sambil memanggul cangkul di pundaknya. Di kepalanya tersangkut sebuah caping bambu yang kasar. Laki-laki itu adalah kakeknya. "Itu kakek" desisnya. Kawan-kawannya memandang serentak kepada laki-laki tua itu. Salah seorang diantara mereka berkata "Nah, kau dapat bersama-sama dengan kakekmu" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Tetapi ketika laki-laki tua itu sampai ke tempatnya, maka iapun berkata "Pulanglah Sari. Ibumu menunggumu" Sindangsari mengerutkan keningnya. Jawabnya "Aku akan pergi ke sawah bersama kawan-kawan kakek" Kakeknya berhenti sejenak. Dipandanginya gadis-gadis yang ada di sekitarnya. Gadis Gemulung. Gadis-gadis yang telah biasa berada di terik matahari, sehingga kulit mereka menjadi merah tembaga. Namun karena kebiaaan mereka bekerja, tubuh merekapun menjadi ketat berisi. Tetapi kakek tua itu berkata "Pulanglah. Kau harus membiasakan dirimu sedikit demi sedikit, supaya kau tidak sakit" Sindangsari menjadi kecewa. Tetapi ia tidak berani membantah. Karena itu, maka ia berdesis kepada kawankawannya "Aku akan pulang" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari bahwa Sindangsari tidak dapat melanggar pesan kakeknya. Karena itu, maka Sindangsari tidak ikut bersama dengan gadis-gadis itu ketika mereka berjalan berjingkat-jingkat di panasnya matahari yang seakan-akan telah membakar debu di jalan-jalan. Kini yang berdiri di hadapannya tinggallah kakeknya. Dengan mengusap keringat di keningnya laki-laki tua itu berkata "Kau belum biasa membakar diri di terik matahari Sari. Pulanglah" Sindangsari mengangguk "Ya kakek" Maka ketika kakeknya meneruskan perjalanannya ke sawah, Sindangsaripun kemudian berjalan pulang ke rumahnya. Belum lagi ia duduk ketika ia memasuki ruang depan rumahnya, ibunya telah bertanya kepadanya "Darimana kau Sari?" "Dari sudut desa ibu. Bermain-main dengan kawan-kawan" Ibunya memandanginya dengan sorot mata yang aneh. Sorot mata yang seolah-olah belum dikenal oleh Sindangsari. Tetapi Sindangsari tidak berani bertanya. "Keringatmu terlampau banyak Sari" berkata ibunya sambil mengusap keningnya perlahan-lahan "kau dapat menjadi sakit karenanya. Wajahmupun jadi merah seperti terbakar. Apakah kau berjemur di panas matahari?" "Tidak ibu. Aku berada di tempat yang teduh. Tetapi udara memang panas sekali" "Lain kali jangan terlalu lama pergi" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Di pojok desa aku bermain-main dengan kawan-kawan" berkata Sindangsari "mereka sedang beristirahat sebentar" "Apakah yang mereka kerjakkan?" bertanya ibunya. "Macam-macam" jawab Sindangsari "ada yang menunggui padi yang sedang bunt ing. Ada yang mengirimkan makanan ke sawah. Ada yang bermain-main saja" Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Anak-anak muda juga banyak yang beristirahat di pojok desa dan di pojok pategalan. Mereka bermain seruling bu. Alangkah merdunya" "Siapa?" Hampir semua anak-anak muda dan gadis-gadis Gemulung dapat bermain seruling" Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ibunya mengerutkan keningnya ketika anaknya berkata "Manguri juga lewat di pojok desa itu" "Manguri?" ulang ibunya. "Ya. Anak pedagang ternak yang kaya itu. Ia sangat baik" Kerut-merut di wajah ibunya menegang. Dengar nada yang datar perempuan itu bertanya "Apakah yang telah di lakukan?" "Membagi uang" "Membagi uang" mata ibunya terbelalak karenanya "Kau diberinya juga?" Sindangsari menggelengkan kepalanya "Tidak. Aku tidak ikut memiliki pemberian itu. Kawan-kawan membeli dawet aren beramai-ramai dengan uang pemberian Manguri. Tetapi aku tidak mau" "Bagus Sari. Kau harus bersikap demikian. Tidak baik menerima pemberian orang tanpa alasan" "Tetapi Manguri biasa berbuat demikian. Ia memang anak yang baik bu. Baik sekali. Ramah dan tidak kikir" Ibunya tidak segera menjawab. Di tatapnya saja wajah anaknya dengan saksama. "Hampir semua kawan-kawan mengatakan tentang Manguri. Bahkan ia tidak mendendam ketika kekasihnya lari bersama laki-laki lain" "Ah. Kau mengerti terlalu banyak tentang anak muda itu" "Kawan-kawan menceriterakan tanpa aku minta" "Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya "Sudahlah. Sebaiknya kau beristirahat. Kalau sudah kering keringatmu, pergilah mencuci muka. Kau belum makan bukan?" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Kemudian iapun pergi ke sumur untuk mencuci mukanya. Setelah makan siang. Sindangsari pergi ke kebun di belakang rumahnya. Di bawah pohon yang rindang ia membentangkan sehelai tikar pandan. Kemudian di lingkarkannya sehelai tali di pinggangnya bertaut dengan ujung kakinya. Sejak ia kembali ke padukuhan Gemulung ia sudah mempelajari cara-cara menganyam tikar, dan agaknya Sindangsari cepat dapat mengerti. Meskipun demikian, meskipun jari-jarinya yang panjang telah memegang helai-helai pandan yang sudah mulai teranyam, namun kali ini, tangan itu sama sekali tidak bernafsu untuk bergerak. Sekali-sekali terbayang wajah kawan-kawannya dipermainkan di pojok desa. Wajah Manguri yang tersenyum cerah. Kemudian suara seruling yang mengalun di sela-sela desau angin yang panas. "Hal yang tidak pernah aku alami di kota" desisnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Sindangsari merenungi dedaunan yang bergerak-gerak dibelai angin. Kadang-kadang terasa sentuhan daun-daun kering yang jatuh menimpanya. Angin yang silir telah membuatnya mengantuk. Tanpa sesadarnya kadang-kadang kepalanya tertunduk. Namun kemudian ia terkejut dan berusaha membuka matanya selebar-lebarnya. "Kau lelah Sari" terdengar suara ibunya dari pintu belakang dapur. Sindangsari berpaling sambil tersenyum "Udara membuat aku sangat mengantuk. "Tidurlah" Tetapi Sindangsari menggeleng "Tidak ibu. Itu akan menjadi kebiasaan" Ibunya tersenyum pula. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati anaknya dan kemudian duduk di sampingnya. Perlahan-lahan tangannya membelai rambut anaknya yang hitam. "Sari" berkata ibunya kemudian "kau sudah menjadi semakin besar" Sindangsari mengerutkan keningnya. "Kau sekarang sudah menjadi gadis remaja" Sindangsari masih belum menyahut. Dan ibunya berkata terus "Dengan demikian kau harus menyadari, bahwa seandainya bunga, kau sudah hampir mekar" "Ah" gadis itu berdesah. Ibunyapun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iiba-tiba saja ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan bahwa Manguri telah menyuruh seseorang datang memberikan hadiah kepadanya. Kesan yang ditangkap oleh Nyai Wiratapa dari ceritera anaknya tentang Manguri telah membuatnya bimbang. Mungkin anak itu memang baik. Mungkin Kegagalannya yang berulang kali itulah yang membuatnya berlaku aneh. "Tetapi cara itu sama sekali tidak aku sukai" berkata Nyi Wiratapa di dalam hatinya "aku lebih senang perhubungan yang wajar di antara mereka. Tetapi dengan menyuruh perempuan tua itu datang ke rumah ini, penilaianku terhadap Manguri menjadi lain" Dan Nyai Wiratapa memang tidak dapat menghapuskan kesan itu. Meskipun ia belum mengenal Manguri dari dekat, tetapi ia sudah tidak menyukainya. Dalam keragu-raguan itu ia mendengar Sindangsari berkata "Ibu, pada suatu saat, aku ingin berbuat seperti kawan-kawan di padukuhan ini. Menyampaikan makanan ke sawah, atau membantu menunggui padi. Bahkan beberapa orang kawankawanku dapat juga menyiangi tanaman dan menunggu air" Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya "Sedikit demi sedikit kau akan dapat menyesuaikan dirimu Sari. Tetapi tidak dengan tiba-tiba. Kau harus membiasakan dirimu lebih dahulu" "Aku tidak mau disebut anak manja ibu. Apalagi kakek seakan-akan bekerja sendiri di sawah. Sedang kakek sudah tua. Apakah salahnya kalau aku bekerja seperti kawankawanku yang lain? Aku bukan anak orang kaya" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya "Bagus Sari. Kau memang anak yang baik. Tetapi kau harus menyesuaikan kemampuanmu. Aku tidak berkeberatan, bahkan aku senang melihat kau bekerja di sawah kelak, apabila kau sudah mampu melakukannya" "Tentu aku akan mampu ibu. Sedang Manguri, anak pedagang yang kaya raya itupun bekerja pula di sawah. Katanya tidak baik orang bermalas-malas. Betapapun kekayaan tertimbun di rumah, tetapi kekayaan itu kelak akan habis. Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ternyata Manguri menyadari kewajibannya meskipun ia anak seorang yang kaya raya. "Bukankah begitu ibu?" "Tentu, tentu Sari. Pada saatnya kau akan bekerja pula di sawah" Sindangsari tersenyum. Kemudian di pandanginya anyaman tikar yang sudah di mulainya. Sesaat kemudian jari-jarinya telah mulai menari, mempermainkan helai-helai pandan yang putih. Selarik demi selarik tikar itupun seakan-akan tumbuh menjadi tikar pandan yang semakin lebar meskipun belum begitu halus. Ibunya yang duduk di sampingnya masih saja bimbang. Apakah ia harus mengatakannya kepada Sindangsari bahwa ada seorang utusan Manguri yang datang untuk menyerahkan sepengadeg pakaian?. "Anak ini sudah dewasa" katanya di dalam hati ia harus mulai mengerti persoalan-persoalan yang menyangkut dirinya" Karena itu, maka dengan hati-hati Nyai Wiratapa mengatakan, apa yang terjadi, selagi ia tidak berada di rumah. "Perempuan itu adalah utusan Manguri" berkata ibunya kemudian. Sindangsari terkejut. Tetapi sepercik kebanggaan menggelora di dadanya. Ia ternyata mendapat perhatian jauh lebih banyak dari kawan-kawannya, justru Kawan-kawannya yang ingin dekat dengan anak muda itu. Teringat olehnya salah seorang kawannya yang menjadi kemerah-merahan ketika kawan-kawannya wanita lain mengganggunya, dan menghubung-hubungkannya dengan Manguri. "Tetapi ternyata akulah yang mendapat perhatian lebih banyak dari mereka; Mereka hanya mendapat uang pembeli dawet cendol aren. Tetapi aku mendapat sepengadeg pakaian" Namun ibunya justru menjadi cemas melihat kesan vaug tersirat di wajah gadis itu. Karena itu, maka iapun segera menyambung "Tetapi Sari, Sudah tentu ibu tidak dapat menerimanya" Sekali lagi Sindangsari terkejut. Dan ia mendengar ibunya menjelaskan "Itu tidak baik. Seorang gadis menerima pemberian seorang anak muda. Kau sudah bersikap benar, bahwa kau tidak ikut membelanjakan uang pemberiannya. Dan kaupun tidak akan dapat menerima pemberian-pemberian yang lain" Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kau harus tahu Sari, bahwa pemberian serupa itu pasti mempunyai pamrih" Sindangsari t idak menyahut. Tetapi hal itu di sadarinya. "Cobalah mengerti, kenapa ibu menolak pemberian itu. Bukan karena ibu tidak senang melihat kau berpakaian baik. dan mahal. Tetapi, pakaian itu akan mengikatmu. Mengikat perasaanmu" Sindangsari tidak menjawab. Bahkan kepalanya menjadi semakin tertunduk. "Itulah yang ibu maksudkan. Kau sudah menjadi dewasa sekarang. Anak-anak muda mulai memandangmu dari sudut yang lain. Bukan sekedar kawan bermain kejar-kejaran lagi" Sindangsari seakan-akan justru membisu. Dan ibunyapun mengerti, bahwa Sindangsari tidak akan mengatakan apapun juga. Karena itu sambil mengusap dahi gadisnya yang berkeringat Nyai Wiratapa berkata "Kau harus menjadi semakin berhati-hati" Tanpa sesadarnya kepala gadis itu terangguk kecil. "Nah, teruskanlah anyamanmu. Ibu akan membantu nenek di rumah" Sindangsaripun kemudian dit inggalkannya sendiri, duduk di bawah pohon yang rindang di kebun rumahnya. Tetapi kembali tangannya seakan-akan membeku. Helai-helai pandan di tangannya sama, sekali sudah tidak bergerak lagi. Sedang tatapan matanya jauh hinggap pada bayangan matahari yang bermain-main di atas tanah yang kering. Sindangsari tidak menyadari, betapa lama ia duduki termenung. Ia terperanjat ketika ia mendengar derik sapu lidi di halaman depan. Ternyata neneknya sudah mulai menyapu halaman. Adalah kebiasaannya membantu neneknya dengan membersihkan kebun belakang. Karena itu, iapun segera membenahi anyamannya yang hampir tidak bertambah sama sekali. Dimasukkannya helaihelai pandan yang putih ke dalam bakul. Kemudian disimpannya semuanya itu di dalam biliknya. Dan sejenak kemudian Sindangsari telah memegang sebuah sapu lidi dan ambil terbungkuk-bungkuk ia membersihkan kebun di belakang rumahnya. Sindangsari menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat ibunya membawa kelenting di lambung, mengusung air dari sumur ke dalam dapur. Sepercik perasaan iba menyentuh pusat jantungnya. Tetapi kemudian terdengar desah lirih "Kami harus bekerja keras. Jangankan kami, sedang Manguri anak seorang yang kaya raya itupun bekerja dengan keras pula" Dengan demikian maka tangannyapun segera bergerak kembali, mengayun-ayunkan sapu lidinya dan beringsut setapak demi setapak maju. Ketika ia menyimpan sapu lidi di sisi dapur, maka dilihatnya kakeknya sudah ada di rumah. Laki-laki itu sedang sibuk membersihkan lampu minyak di longkangan belakang. Tampaklah keringatnya masih membasah di punggung dan keningnya. "Kakek baru pulang dari sawah?" bertanya Sindangsari. Kakeknya berpaling, kemudian kepalanya teranggukangguk "Ya Sari. Aku baru pulang" Sindangsari menengadahkan kepalanya. Dilihatnya warnawarna senja yang tersangkut di dedaunan. Dan sekali lagi ia berdesah di dalam hati "Kami memang harus bekerja keras" Sejenak kemudian setelah semua pekerjaan selesai, barulah mereka seorang demi seorang mandi. Kemudian seperti hampir di setiap sore, mereka duduk-duduk di amben bambu, melingkari mangkuk-mangkuk makanan yang sederhana. Tetapiv Sindangsari kali ini agak berubah dari kebiasaannya. Ia tidak banyak berbicara dan bertanya tentang bermacam-macam persoalan. Begitu ia selesai makan, maka iapun segera minta ijin untuk masuk ke dalam biliknya. "Kenapa kau Sari" bertanya neneknya. "Kepalaku agak pening nek" jawab gadis itu. "Nah" sahut kakeknya "itulah akibatnya. Kau terlampau lama berjemur di terik matahari siang tadi. Ingat Sari, kau belumbiasa dibakar oleh udara sepanas itu" Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Di dalam geledeg masih ada beberapa buah jeruk dan segumpal enjet. Lekatkan sepotong jeruk enjet di keningmu. Mudah-mudahan pening kepalamu segera sembuh" berkata neneknya. Sindangsari mengangguk. "Marilah Sari" ajak ibunya "aku bantu kau mengobati peningmu itu" Sekali lagi Sindangsari mengangguk. Keduanyapun kemudian berdiri. Ibunya mengambil pisau di dapur dan Sindangsari mengambil sebuah jeruk pecel di geledeg dan sedulit enjet putih. Setelah membantu Sindangsari sejenak, dan membaringkannya di pembaringannya, maka Nyai Wiratapapun kembali duduk-duduk di amben bersama ayah dan ibunya untuk berbincang. Di pembaringannya Sindangsari sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Sekali-sekali dipandanginya nyala lampu minyak kelapa yang kekuning-kuningan. Lamat-lamat ia mendengar ibunya masih berbicara perlahan-lahan dengan kakek dan neneknya. Tetapi betapapun ia mencoba menangkap pembicaraan mereka, namun ia tidak berhasil sama sekali. Sepatah katapun tidak ada yang dapat di dengarnya dengan jelas. Sehingga akhirnya Sindangsari tidak menghiraukannya lagi, meskipun kadangkadang timbul keinginannya untuk ikut berbicara diantara mereka seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi ia sudah terlanjur minta diri dan mengatakan kepada mereka bahwa kepalanya sedang pening. Karena itu, maka Sindangsaripun tetap berbaring di tempatnya. Namun angan-angannya tidak dapat dibatasinya. Ditembusnya dinding-dinding ruangan yang sempit itu, menerawang jauh sekali tanpa batas. Terbayang semuanya yang terjadi di siang hari. Manguri yang tersenyum cerah. Gadis-gadis yang manja dan kepingkeping uang yang di berikan oleh anak pedagang yang kaya raya itu. Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Terbersitlah sebuah kekecewaan di hatinya karena ibunya telah menolak pemberian Manguri kepadanya. Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba telinganya menangkap suara ibunya agak mengeras "Begitulah menurut Sindangari ayah" Kakeknya yang tua tidak segera menjawab. Tetapi katakata itu sangat menarik perhatian Sindangari. Perlahan-lahan iapun kemudian bangkit dari pembaringannya dan berjalan berjingkat melekat dinding. Beberapa langkah ia berhasil mendekati tempat duduk ibu dan kedua kakek dan neneknya. Ternyata pembicaraan merekapun menjadi agak mengeras "Kau harus berhati-hati mengurusi anakmu itu Wiratapa" berkata kakeknya "Aku tidak senang ia bergaul dengan Manguri" "Aku sudah mencoba memberitahukannya ayah" "Kau sudah bertindak tepat. Jangan menerima pemberian apapun dari padanya" "Ya ayah" jawab ibunya. Sejenak kemudian menjadi sepi. Baik ibunya, maupun kakek dan neneknya tidak segera berbicara apapun. Tiba-tiba kakeknya bertanya "Apakah Sari sudah tidur?" "Entahlah" jawab ibunya. "Lihatlah" Ketika ibunya berdiri, maka sambil berjingkat Sindangsari pergi tergesa-gesa ke pembaringannya. Dibaringkannya tubuhnya sambil membentangkan selimut, sehelai kain panjang di atas tubuhnya. Sindangsari mendengar pintu lereg biliknya berderit. Hanya sebentar. Dan ketika untuk kedua kalinya pintu itu berderit kembali, ia membuka matanya perlahan-lahan. Ternyata pintu kamarnya telah tertutup rapat. "Agaknya anak itu telah tidur ayah" Sindangsari mendengar suara ibunya. "Kemarilah, aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu" Sejenak tidak terdengar sesuatu kecuali derak amben bambu tempat ibu dan kakeknya berbicara. Tetapi pembicaraan yang kemudian sama sekali tidak dapat di dengar oleh Sindangsari, selain gemeremang suara kakek, nenek dan ibunya berganti-ganti. Meskipun Sindangsari kemudian bangkit dari pembaringannya dan melekatkan telinganya di dinding, namun pembicaraan orang-orang tua itu sama sekali tidak jelas baginya. Hanya sekali-sekali ia mendengar namanya di sebut, kemudian nama Manguri dan nama beberapa orang lain. "Huh" akhirnya gadis itu menjadi kesal "biarlah mereka berbicara tentang persoalan yang tidak mereka mengerti" Tetapi tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Meskipun kata-kata itu hampir tidak terdengar sama sekali, meskipun oleh dirinya sendiri, namun ia menyesal sekali. Tidak pernah ia mempunyai perasaan yang demikian terhadap ibu, kakek dan neneknya. "Tetapi, tetapi" Sindangsari mencoba memperbaiki "maksud ibu, kakek dan nenek pasti untuk kebaikanku. Pasti" Sindangsaripun kemudian meletakkan tubuhnya di pembaringannya kembali. Ditariknya selimutnya untuk menutup hampir sekujur tubuh, selain kepalanya. Dan Sindangsari benar-benar tidak mendengar ketika kakeknya berkata "Memang demikianlah kesan hampir setiap anak-anak muda di Gemulung tentang Manguri. Anak itu memang terlampau julig, sehingga semua perbuatannya sama sekali tidak berbekas. Tetapi hal yang serupa itu tidak boleh terjadi atas Sari" Dengan mulut ternganga Nyai Wiratapa mendengarkan ceritera ayahnya. Namun tanpa di sadarinya ia brdesis "Apakah memang demikian?" "Ya. Hanya orang yang sangat terbatas yang mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dengan bujukan yang hampir tidak terelakkan ia mencari anak-anak muda sebayanya. Dengan dibekali uang, pakaian dan bermacam macam janji, maka anak muda itu di suruhnya membawa gadis yang sudah dinodainya itu. Memang tidak ada pilihan lain bagi gadis yang demikian. Sebab mereka merasa, bahwa tidak mungkin dapat memaksa Manguri untuk bertanggung jawab. Mereka sadar, bahwa Manguri dapat melakukan kekerasan atas mereka, justru karena ia kaya raya" orang tua itu berhenti sejenak, lalu "demikianlah yang sudah terjadi, tiga atau empat kali. Gadis yang telah ternoda itu dipaksanya pergi bersama laki-laki yang telah disuap dengan apapun. Mereka akan kawin dan bebaslah Manguri dari segala macampertanggungan jawab" "O" keringat dingin mengalir di punggung Nyai Wiratapa "Mengerikan sekali" "Demikianlah yang sebenarnya terjadi. Namun kesan yang dibuat dari peristiwa itu adalah, seakan-akan gadis-gadis Manguri itu meninggalkannya dan lari dengan laki-laki lain" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dadanya serasa menjadi pepat. Ia tidak menyangka, bahwa hal yang serupa itu dapat terjadi. "Sekali dua kali, tidak ada seorangpun yang menaruh curiga. Tetapi ketika hal itu terulang kembali, maka mulailah beberapa orang tua-tua bertanya-tanya" "Apakah orang tuanya tidak berbuat sesuatu" bertanya Nyai Wiratapa. Ayahnya yang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya "Memang kita tidak akan menghukum Manguri sebagai seorang anak yang binal tanpa menghiraukan orang tuanya. Kesalahannya memang tidak seluruhnya terletak pada anak itu" laki-laki tua itu berhenti sejenak; kemudian "Ayah Manguri adalah seorang pedagang ternak yang kaya raya. Ia jarang sekali berada di rumahnya. Hampir setiap hari ia berkeliling dari pasar ternak yang satu ke pasar yang lain. Kemudian melakukan jual beli dalam jumlah yang besar dengan pedagang-pedagang dari Utara. Dari Mataram, dari Bagelen dan dari daerah-daerah yang lain" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya "Jadi anak itu tidak mendapat pengawasan secukupnya bukan? Tetapi bagaimana dengan ibunya?" "Ibunya terlampau memanjakannya" jawab ayahnya, kemudian suaranya menurun "tetapi lebih dari pada itu. Ayahnya adalah seorang laki-laki yang tidak terkekang. Hampir di segala sudut daerah Selatan mi ia mempunyai isteri. Bahkan kadang-kadang ia masih juga mengganggu isteri orang" lakilaki tua itu berhenti sebentar, kemudian dan isterinya, ibu Manguri itu, di dalam kesepian ia telah melakukan hubungan yang terlarang. Dan hubungan itu diketahui oleh anak lakilakinya. Celakanya, anak laki-laki itu sudah pandai memeras ibunya. Setiap kali ia mengancam akan mengatakannya kepada ayahnya apabila ibunya tidak memenuhi permintaannya. Apapun" "Gila, gila" tanpa sesadarnya Nyai Wiratapa memotong kata-kata ayannya" "Sst" desis ibunya "jangan terlampau keras, kau akan membangunkan anakmu" Sebenarnyalah Sindangsari terkejut mendengar suara ibunya. Tetapi ia tidak tahu, apakah yang sebenarnya sedang di persoalkan. Karena itu, maka ia tidak mengacuhkannya lagi. Mungkin ibunya sedang menilai anak-anak muda padukuhan Gemulung yang sudah menjadi kawan-kawanya bermain. "Ayah" desis Nyai Wiratapa perlahan-lahan "jadi benar juga kata-kata perempuan tua yang datang untuk menyerahkan pakaian sepengadeg itu. Katanya, kalau nasibku baik, bukan saja Sindangsari yang akan mendapat tempat di dalam keluarga yang kaya raya itu, tetapi mungkin aku juga akan diambil selir oleh pedagang kaya itu" "Yang benar adalah, perempuan itu berkata demikian" sahut ayahnya "tetapi belum tentu hal itu akan sebenarnya terjadi" Nyai Wiratapa menundukkan kepalanya. Terdengar ia berdesis perlahan "Sudah demikian parahkah keadaan padukuhan ini, sehingga tidak lagi ada tata kehidupan?" "Jangan salah sangka Wiratapa" berkata ibunya "tidak semua orang Gemulung berbuat seperti itu" Nyai Wiratapa mengangguk-angguk perlahan. "Mudah-mudahan aku dapat menyingkirkan anakku dari bencana ini" berkata Nyai Wiratapa di dalam hatinya. Sementara itu Sindangsari masih saja berbaring diam di dalam biliknya. Matanya berkejap-kejap memandang langitlangit di atas biliknya. Kadang-kadang seekor cicak melintas sambil menciap, seperti anak burung yang memanggil induknya dari sarang. Tiba-tiba Sindangsari mengerutkan keningnya. Di kejauhan terdengar suara tembang yang mengambang di sepinya malam. Tembang macapat, seakan-akan merambat di dinding biliknya. "Asmaradana" desis gadis itu, lalu "kenapa masih sesore ini orang itu memilih lagu Asmaradana dan bukan Dandanggula?" Namun suara tembang itu mengalun semakin jelas menyentuh telinga Sindangsari. Tanpa sesadarnya terbayanglah seorang anak muda yang meloncat dari balik dinding batu di pinggir desa siang tadi. Anak muda yang bermain seruling dengan nada-nada yang lain dari tembang-tembang macapat seperti yang didengarnya itu. Dan tanpa sesadarnya Sindangsari telah memperbandingkannya dengan anak muda periang yang bernama Manguri, anak seorang pedagang ternak yang kaya raya. "Lain" desisnya "keduanya mempunyai cirinya tersendiri. Manguri adalah seorang periang yang tampaknya tidak pernah bersungguh-sungguh, ia berbuat sesuka hatinya, apa saja yang sedang diingatnya di lakukannya. Tetapi anak yang berseruling itu bukanlah seorang yang berbuat apa saja sesuka hati. Ia mempunyai pertimbangan dan ada kesungguhan, meskipun ia tidak seriang Manguri" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Pada anak muda itu yang paling menarik baginya adalah suara serulingnya. "Namanya tidak begitu baik. Pamot" gadis itu berdesis. Namun sementara itu suara tembang di kejauhan masih saja membelai telinganya, sehingga lambat laun, seperti silirnya angin malam, telah mendorongnya ke dalam alam yang lamat-lamat. Perlahan-lahan ia mulai terlena, sehingga akhirnya Sindangsari tertidur dengan nyenyaknya. Ia sudah tidak mendengar lagi ketika suara tembang itu kemudian beralih kepada nada-nada yang lebih keras, sehingga sampailah kemudian ke dalam suasana perang yang dahsyat "Durma" Ketika matahari terbit di keesokan paginya. Sindangsari benar-benar merasa pening di kepalanya. Belahan jeruk yang semalam dilekatkan di keningnya sudah terjatuh di sisinya berbaring. Tetapi ia tidak mau tetap berada di dalam biliknya. Seperti biasa ia bangun dan membantu neneknya menyapu halaman. Tetapi pembicaraan ibu serta kakek dan neneknya semalam selalu dikenangnya. Meskipun ia t idak mendengar pembicaraan itu, tetapi ia merasa bahwa mereka sedang berbicara tentang dirinya. Setelah selesai menyapu halaman, maka seperti biasanya Sindangsari mengumpulkan pakaian-pakaian kotor yang akan dicucinya di kali bersama beberapa orang kawan gadisnya. Tetapi tidak seperti biasanya, ibunya mendapatkannya sambil berkata "Hati-hatilah Sari. Jangan terlalu lama" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Jawabnya "Ya bu. Kepalaku juga agak pening" Sindangsari hanya menunggu sebentar ketika beberapa orang kawannya lewat di muka rumahnya. Kemudian bersama-sama mereka pergi ke sungai sambil menjinjing bakulnya masing-masing. Sementara itu, beberapa pasang mata sedang mengintai. Tetapi mata itu kini memancarkan perasaan yang bergejolak dan jantung yang berdentangan. "Lamat" Manguri memanggil orangnya yang tinggi besar "Lihat, gadis itu lewat lagi" Lamat berjalan dengan langkahnya yang berat mendekati Manguri. "Sindangsari telah menolak pemberianku. Sesuatu yang selama hidupku belum pernah terjadi" berkata Manguri "setiap gadis pasti tunduk di bawah pengaruhku, bahkan apapun yang aku minta pasti diberikannya tanpa banyak persoalan. Dan kini aku belum meminta sesuatu. Justru aku baru memberi. Tetapi ia sudah menolak" Lamat mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar suaranya datar "Yang manakah gadis yang bernama Sindangsari?" "Bodoh, bodoh kau. Kau memang bodoh seperti kerbau" Lamat t idak menjawab. "Lihat, gadis yang berkain lurik hijau gadung itu" "Yang menjinjing bakul?" "Semua menjinjing bakul. Apakah kau tidak melihat?" Lamat terdiam. "Berkain lurik hijau gadung dan berbaju coklat muda" Lamat t idak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk "Kau lihat he?" "Ya, ya. Aku melihat" "Nah, gadis itu yang sudah menghinaku. Mengerti" Lamat mengangguk-angguk kepalanya. Lalu ia bertanya "Apakah aku harus mengambilnya dan membawanya kemari" Manguri tidak segera menjawab. Tetapi melihat sikap gadis itu ia menjadi ragu-ragu. Sindangsari bersama beberapa kawannya masih saja berjalan seperti biasanya. Kadangkadang mereka berpaling memandangi pintu regol yang tampaknya tertutup. Tetapi mereka tidak tahu bahwa Manguri sedang mengintip mereka dari balik pintu yang mereka sangka tertutup rapat itu. "Tidak" kemudian ia menjawab "Tidak sekarang. Aku ingin tahu, apakah anak itu atau keluarganyalah yang berkeberatan. Mungkin aku masih mempunyai cara lain. Tetapi kalau cara itu semuanya gagal, barulah aku memerlukan kau" Orang yang bertubuh tinggi besar itu tidak menjawab. Dipandanginya saja anak muda itu dengan kerut-merut di keningnya. "Sebaiknya aku menemuinya dan bertanya langsung kepadanya" gumam Manguri kepada diri sendiri. Lamat masih tetap berdiri di tempatnya. Dan tiba-tiba saja Manguri berteriak "Pergi, pergi kau" Perlahan-lahan Lamat melangkah surut. Kemudian dengan kepala tunduk ia kembali ke pekerjaannya. Meskipun ia masih mendengar Manguri bersungut-sungut sambil mengumpatumpat, tetapi ia sudah tidak berpaling lagi. Sejenak kemudian Manguripun segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Ditemuinya ibunya sedang melipat pakaiannya di dalambiliknya. "Bu, aku perlu uang" Ibunya mengangkat wajahnya. Di pandanginya anaknya yang tampak tergesa-gesa. "Untuk apa?" bertanya ibunya. "Aku akan menemui gadis itu langsung. Belum pernah seseorang menolak pemberian kita. Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia bertanya "Manguri, apakah kau mash juga akan berbuat demikian? - Manguri mengerutkan keningnya "Maksud ibu?" "Duduklah" Manguri tertegun sejenak. Tetapi iapun melangkah maju dan duduk di amben. "Manguri, umurmu semakin lama menjadi semakin bertambah" "Ya" "Kau harus menyadari, bahwa hidupmu kelak akan tergantung kepadamu sendiri. Ayah dan ibu tidak akan dapat membimbing kau untuk seterusnya. Suatu ketika ayahmu menjadi tua dan tidak dapat mencari uang lagi. Kalau kau tidak belajar sejak sekarang, maka kau akan mengalami kecanggungan kelak" Manguri terdiam sejenak. Tetapi tiba-tiba ia tertawa. Katanya "Nasehat ibu baik sekali. Tetapi ayah dapat melakukan kedua-duanya berbareng. Mencari uang dan perempuan" Ibu Manguri menarik nafas dalam-dalam. Ia memang t idak dapat ingkar. Karena itu maka katanya "Kau benar Manguri. Kalau aku memberi kau nasehat lebih lanjut, mungkin kau akan menyentuh kesalahan ibumu pula. Aku tidak ingkar. Ayahmupun tidak akan ingkar. Hidupku dan ayahmu bukanlah contoh yang baik. Tetapi sudah tentu aku tidak ingin melihat anakku berbuat seperti itu" Manguri masih tertawa. Katanya "Tidak. Aku tidak akan menunjuk kesalahan ibu. Aku tidak peduli. Aku merasa bahwa aku sudah cukup dewasa menanggapi keadaan. Seharusnya aku tidak menjadi seorang anak muda yang cengeng. Yang merintih sepanjang hidupnya karena kesalahan orang lain. Tidak" Manguri berhenti sejenak, lalu "Tetapi beri aku uang" "Manguri" suara ibunya merendah "kau harus sudah mulai berpikir tentang masa depanmu" "Ya, aku memang sudah memikirkannya ibu, Masa depan yang paling menyenangkan adalah cara hidup yang ditempuh oleh ayah" "Oh" ibunya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Manguri sama sekali tidak menghiraukan desah ibunya. Bahkan ia mendesak "Ibu, beri aku uang" Ibunya yang tidak dapat mengatasi permintaan itu, seperti biasanya lalu berkata "Ambillah di dalam kampil itu" Manguripun segera meloncat mengambil uang di dalam kampil di geledeg. Tanpa di hitungnya. Dan uang yang segenggam itupun kemudian dimasukkannya ke dalam kantong ikat pinggangnya. Beberapa keping berjatuhan di lantai tanpa di hiraukannya. "Kemana kau Manguri?" ibunya masih bertanya. "Ke sawah. Mungkin aku akan dapat bertemu dengan Sindangsari seperti! kemarin. Ia bermain-main di pinggir desa bersama beberapa orang gadis" Ibunya tidak bertanya lagi. Dibiarkannya Manguri meninggalkan biliknya. Namun sepercik kecemasan telah merayapi jantungnya. Bagaimanakah masa depan anaknya itu? Bagaimanapun gila ayahnya terhadap perempuan di segala tempat, namun ayahnya dapat mencari uang untuk membeayai kegilaannya, dan membeayai rumah tangganya yang sudah ada. Meskipun sifat-sifatnya kurang disukai oleh orang-orang Gemulung, tetapi ia tetap seorang yang terhormat karena ia kaya. Bahkan dirinya sendiri yang tidak bersih lagi itupun masih tetap mendapat tempat yang baik, karena ia dapat memberi pekerjaan dan sumber hidup bagi tetangga-tetangganya yang ikut membantu di rumahnya dan memelihara sawah dan ternak. Tetapi Manguri tidak dapat berbuat seperti ayahnya. Ia hanya meniru satu segi dari kehidupan ayahnya. Justru kelemahannya. Bukan kecakapan berusaha dan tanggung jawabnya. Sampai umurnya yang telah menginjak dewasa Manguri sama sekali tidak mempunyai tanda-tanda bahwa ia rajin bekerja seperti ayahnya. Bahwa ia mampu melakukan pekerjaan yangberat dan bertanggung jawab. Yang dilakukannya sehari-hari adalah menghamburkan uang untuk kepuasan semata-mata. Dan ibunya menjadi sedih karenanya. Betapa kelamnya hati seorang ibu, namun ia masih juga ingin melihat hidup anaknya yang cerah. Tetapi Manguri tidak dapat diharapkannya sama sekali. Sementara itu Manguri berjalan tergesa-gesa di sepanjang jalan padesan. Semula ia akan menyusul gadis-gadis yang pergi mencuci ke sungai. Tetapi niat itu diurungkannya. Ia masih juga segan turun ke sungai menunggui gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi. Karena itu, maka iapun pergi meniti pematang ke sawahnya, meskipun hanya sekedar tidur di dalam gubug. Menghentikan penjual apapun yang lewat untuk menghabiskan waktu, kemudian pergi menemui gadis-gadis di pinggir desa. "Aku harus tidak hanya sekedar lewat dan memberikan uang. Aku harus berhenti dan mencoba melakukannya sendiri. Tidak dengan perantara-perantara yang bodoh. Aku tidak mau gagal kali ini. Jarang aku menemui gadis seperti Sindangsari sepanjang hidupku. Juga di masa yang akan datang" Dan bayangan-bayangan yang menegangkan urat syarafnya selalu mengganggunya. Selagi ia berbaring di dalam gubug di tengah-tengah sawahnya, hatinya selalu saja gelisah. Sama sekali tidak ada perhatiannya atas burung-burung yang berterbangan di atas batang-batang padi yang mulai menguning, seperti segumpal asap yang berputar-putar. Kemudian menukik bertebaran di atas bulir-bulir padi yang mulai menunduk. Namun sejenak kemudian terdengar penunggu-penunggu sawah itu berteriak-teriak sambil mnarik tali-tali penggerak orang-orangan di tengah-tengah sawah itu. Dan burung-burung itupun menghambur berterbangan dalam gumpalan-gumpalan memenuhi udara yang bersih. Dalam pada itu Sindangsari dan kawan-kawannya lagi sibuk mencuci di pinggir kali. Tetapi Sindangsari tidak segembira biasanya. Ia tiba-tiba saja menjadi pendiam yang kadangkadang merenung untuk sesaat, sehingga kawan-kawannya menjadi heran melihat perubahan itu. "He, Sari. Kenapa kau selalu merenung" bertanya Kandi tiba-tiba "apakah semalam kau bermimpi?" Sindangsari terkejut. Ia mencoba tersenyum, tetapi terasa senyumnya hambar. "Ya, pasti bermimpi" sahut kawannya yang lain "ayo katakan Sari, kau mimpi apa?" "Aku tidak pernah bermimpi" jawab Sindangsari. "Bohong" hampir berbareng kawan-kawannya menyahut "tidak ada orang yang tidak pernah bermimpi. Dan agaknya semalam kau bermimpi bagus sekali" "Bermimpi tentang apa Sari. Ayo katakan" "Sungguh. Aku tidak bermimpi" Sari mengelak "aku tidak bermimpi tentang apapun" "Sari" berkata kawannya yang lain. Tampaknya wajahnya menjadi sangat bersungguh-sungguh "Dengar. Aku tahu pasti, bahwa kau bermimpi digigit ular" "Ya, mimpi digigit ular" hampir berbareng kawan-kawannya menjerit. Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Tetapi ia t idak marah. Ia tahu, bahwa kawan-kawannya hanya sekedar bergurau. Dan kawannya yang bertubuh kecil dan pendek tiba-tiba berkata dengan suara yang dibuat-buat "Eyang, akhirnya ular sebesar ibu jariku itu lenyap. Yang ada adalah seorang kesatria yang gagah dan tampan. Wajahnya cerah seperti matahari. Namanya ..........eh, siapa namanya Sari" Sekali lagi suara kawan-kawannya berderai. Dan Sindangsari menjadi semakin tunduk, meskipun ia mencoba tersenyum. "Sebaiknya kau berterus-terang" desis kawannya yang duduk di sampingnya. Dan tiba-tiba saja gadis itu terpekik karena Sindangsari mencubitnya di pahanya. "Jangan Sari, jangan" Tetapi Sindangsari tidak melepaskannya. Sehingga gadis itu mencoba meronta untuk melepaskan diri. Karena hentakannya sendiri itulah ia kehilangan keseimbangan. Sejenak kemudian ia terdorong dan jatuh ke dalam air. Gadis-gadis itupun menjadi semakin riuh. Mereka justru menyiram gadis itu bersama-sama, sehingga dengan demikian perhatian mereka beralih dari Sindangsari yang ikut pula menyiram gadis itu sampai terengah-engah. Senda gurau itu membuat Sindangsari melupakan dirinya sendiri untuk sejenak. Tetapi setelah anak-anak itu tidak lagi berteriak-teriak, pening di kepalanya terasa lagi. Dan sebelum kawan-kawannya mengganggunya, maka Sindangsari mendahului berkata "Kepalaku memang agak pening" Kandi yang agak lebih tua dari kawan-kawannya mendekatinya sambil bertanya* "Sejak kapan kau merasa pening?" "Kemarin sore" "Nah, kau kehausan kemarin" potong seorang kawannya. Tetapi yang lain tidak menyambung ketika mereka melihat Kandi meletakkan tangannya di dahi Sari. "Jangan terlalu lama berendam" berkata Kandi "kau memang agak panas" Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka bertanya "Apakah kau benar-benar pening Sari?" Sindangsari menganggukkan kepalanya dan kawannya yang lain menyahut "Kalau begitu, marilah kita cepat pulang" "Apakah kau nanti tidak bermain di pinggir desa, di waktu kami beristirahat dari kerja kami di sawah?" Sindangsari mengerutkan keningnya. Jawabnya "Kalau kepalaku masih pening, aku tidak pergi ke pinggir desa" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi salah seorang yang lain menyahut "Kau tidak ingin minum dawet cendol atau rujak nanas Sari?" Sindangsari menggelengkan kepalanya. "Ayo, cepat. Kita harus segera pulang. Matahari menjadi semakin tinggi. Ayah menunggu aku di sawah" berkata Kandi. Dan gadis-gadis itu mempercepat kerja mereka, supaya mereka segera dapat pulang. Dengan demikian, maka Sindangsari tidak dapat pergi ke pinggir desa hari itu. Ia berbaring saja di pembaringannya. Badannya terasa agak panas. Tetapi tidak terlampau tinggi, sehingga tidak begitu menggelisahkan ibu, kakek dan neneknya. Tetapi yang masih saja gelisah adalah Manguri. Sekalisekali ia bangkit dan duduk di bibir gubug yang berkaki tinggi. Kemudian berbaring lagi. Bahkan kadang-kadang ia meloncat tunrun dan berjalan hilir mudik di pematang. Namun terasa waktu berjalan terlampau lamban. "Apakah gadis-gadis itu sudah berada di pinggir desa" ia bertanya kepada diri sendiri. Setiap kali Manguri menengadahkan kepalanya. Setiap kali ia mencoba melihat kalau-kalau ia melihat gadis-gadis yang pergi berteduh ke pinggir desa. "Sudah waktunya" tiba-tiba ia berdesis ketika ia melihat di kejauhan seorang gadis berjalan berjingkat-jingkat ke pinggir desa untuk berteduh "mereka pasti sudah berkumpul di sana. Aku akan memberi mereka beberapa keping. Tetapi aku akan minta Sindangsari tinggal. Aku ingin berbicara" Manguripun kemudian berjalan tergesa-gesa menyusur pematang seperti yang dilakukannya kemarin. Ketika ia meloncat turun ke jalan, maka ia mendengar beberapa orang gadis menyebut namanya. Justru sengaja agar ia mendengarnya. Tetapi Manguri tetap mencoba menenangkan dirinya. Ia berjalan seperti kemarin mendekati gadis-gadis itu. Tetapi semakin dekat, hatinya menjadi semakin berdebardebar. Ia tidak melihat Sindangsari di antara gadis-gadis itu. Meskipun demikian ketika gadis-gadis itu menegurnya iapun berhenti pula. Seperti kemarin diberikannya beberapa keping uang kepada mereka. Tetapi kali ini ia bertanya "Di mana Sindangsari?" Gadis-gadis itu saling berpandangan sejenak. Kemudian sambil tertawa tertahan mereka saling mencubit. "Dimana?" Manguri mendesak. "Sindangsari sedang sakit. Ia tidak keluar rumah siang ini" "Sakit" bertanya Manguri sambil mengerutkan keningnya. "Ya. Kepalanya pening. Semalam ia mimpi di gigit ular" yang lain berkelakar, dan suara tertawanya meledaklah. Manguri tersenyum. Tetapi tanpa berkata apapun ia melangkah meninggalkan gadis-gadis itu. Sebenarnya hatinya menjadi sangat kecewa. Ia ingin segera bertemu gadis itu sendiri. Penolakan atas pemberiannya itu benar-benar telah menyakitkan hatinya. Kalau penolakan itu benar-benar dilakukan oleh Sindangsari, maka ia harus berbuat sesuatu. Kalau perlu dengan kekerasan, atau dengan cara lain. "Mungkin aku dapat membelinya. Ibunya adalah seorang janda, dan kakeknya seorang petani miskin" Manguri menggeram "mereka tidak akan dapat bertahan melihat uang yang cukup banyak. Bahkan mungkin dua ekor lembu yang besar cukup untuk menukar gadis itu. Aku tidak akan memerlukan sepasang lembu itu, bahkan dengan bajaknya sama sekali, agar kakek tua itu dapat bekerja dengan baik di sawahnya" Dan tiba-tiba Manguri itu bergumam "Aku akan pergi ke rumahnya sekarang. Aku t idak mau terlambat" Dan langkah Manguripun menjadi semakin cepat. Meskipun hatinya agak berdebar-debar juga, tetapi ia melangkah terus. Ia harus segera mendapat penjelasan, kenapa, pemberiannya itu terpaksa ditolak. Apakah perempuan yang di suruhnya itu berkata sebenarnya, atau sekedar dibuat-buat. Yang ingin diketahuinya, siapakah yang sebenarnya telah menolak pemberiannya itu. "Apakah benar ibunya, seperti yang dikatakan oleh perempuan bodoh itu, yang menolak pemberianku, atau memang Sindangsari sendiri?" Manguri menggerutu di sepanjang jalan "aku harus mengetahuinya" Dan langkahnyapun menjadi semakin cepat. Sementara itu Sindangsari masih saja terbaring di dalam biliknya. Ia tidak dapat melupakan perasaannya, bahwa ibu, kakek dan neneknya sedang mempersoalkannya semalam. Tetapi ia t idak tahu, apakah yang dipersoalkan itu. Dalam arus angan-angannya yang menggelepar di dalam dadanya itu, tiba-tiba terselip gema suara yang lain. Suara yang seakan-akan bergetar dari alamyang asing. Namun Sindangsaripun segera menyadari. Bahwa yang di dengarnya itu adalah suara seruling. Sehingga karena itu, maka tanpa sesadarnya ia mengangkat kepalanya. "Begitu dekat" desisnya. Sindangsari kini sudah mengerti, bahwa anak muda yang bermain seruling dengan cara yang tersendiri itu adalah Pamot. Dan suara seruling yang di dengarnya kini adalah suara seruling Pamot itu pula. "Tetapi dimana anak itu bermain?" Sindangsari bertanya kepada diri sendiri "Rumahnya tidak berada di sekitar tempat ini. Bahkan agak jauh di pinggir desa. Namun anak yang sedang agak sakit itu tidak dapat mengekang dirinya. Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan ke pintu biliknya. Ketika ia menjengukkan kepalanya, dan tidak seorangpun yang dilihatnya di ruang dalam, maka tertatihtatih ia melangkah keluar biliknya dan langsung ke pintu depan. "Dimanakah ibu dan nenek" desisnya. Tetapi ia tidak melihat keduanya. "Mungkin mereka ada di dapur" ia mencoba menjawabnya sendiri. Karena itu, maka tanpa minta diri kepada siapapun Sindangsari berjalan melintasi halaman, turun ke jalan. Dipasangnya telinganya baik-baik, sehingga segera ia tahu arah suara itu. "Di perempatan sebelah" desisnya. Seperti di tuntun oleh suara yang mengumandang dari ujung seruling bambu itu. Sindangsari berjalan terus. Tidak terlampau jauh. Hanya beberapa puluh langkah dari regol halamannya. Sindangsari berhenti di muka sebuah gardu peronda. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata "Kau Pamot" Pamot mengangkat serulingnya dari mulutnya. Sambil tersenyumia bertanya "He, aku dengar kau sedang sakit Sari" "Darimana kau tahu?" "Aku bertemu Kandi di sawah" "O, hanya sedikit" jawab Sindangsari "tetapi apa kerjamu disini" "Meniup seruling" "Kau perlukan datang ke gardu ini sekedar meniup seruling?" Pamot tertawa. Sambil menunjuk seikat kayu bakar ia berkata "Aku mengantar kayu itu pulang dari pategalan. Tetapi agaknya aku kelelahan, sehingga aku beristirahat di gardumu ini sebentar sambil meniup seruling" Sindangsari memandang seonggok kayu disamping gardu itu. Dengan dahi yang berkerut-merut ia bertanya "Kau kuat mengangkat kayu sebanyak itu seorang diri?" "Kenapa?" tanya Pamot "setiap kali aku mengantar kayu sebanyak itu dari pategalan" "Kau kuat sekali" Pamot tersenyum "Bagi anak-anak muda Gemulung, kerja ini adalah kerja yang kami lakukan sehari-hari" "Aku tahu" sahut Sindangsari "tetapi anak-anak muda yang lain t idak sekuat kau" Kini Pamot tertawa berkepanjangan. Namun tiba-tiba suara tertawanya terputus ketika ia melihat seseorang berjalan tergesa-gesa ke gardu itu pula. Dengan wajah yang tegang ia memandangi Sindangsari dan Pamot berganti-ganti. "Sst, kau lihat anak itu?" desis Pamot. Sindangsari berpaling. Di lihatnya Manguri berjalan cepatcepat ke arahnya. Tetapi Manguri tidak tersenyum seperti biasanya. Dan wajah itu tidak secerah wajah yang dilihatnya kemarin. Bahkan Sindangsari terkejut ketika ia mendengar Manguri itu bertanya kepadanya, sebelum ia berhenti. "He Sindangsari. Apa kerjamu di situ?" Sindangsari heran mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia berusaha untuk bersikap wajar. Ketika Manguri kemudian berhenti dan berdiri di hadapannya, barulah ia menjawab "Aku mendengarkan suara seruling" "Seruling apa?" "Pamot " Manguri berpaling. Kini di pandanginya wajah Pamot yang masih duduk dengan tenangnya di bibir gardu. "Kenapa kau berada di sini?" Pamot tersenyum. Jawabnya "Melepaskan lelah sebentar" Manguri mengerutkan keningnya. Ia melihat seikat kayu bakar di samping gardu, sehingga ia tahu bahwa pamot sedang mengantarkan kayu itu pulang ke rumah. "Tidak biasa kau lewat jalan ini sejak kau kanak-kanak" bentak Manguri. Pamot tidak segera menjawab, tetapi sorot matanya memercikkan keheranan. "Kalau kau mau pulang, cepat, pulanglah" berkata Manguri pula. Pamot menjadi semakin heran. Bahkan ia bertanya "Kenapa kau berkeberatan aku berada di sini?" Wajah Manguri menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba ia memandang Sindangsari yang berdiri termangu-mangu sambil berkata "Sari, pulanglah. Bukankah kau sedang sakit?" Sindangsari menjadi terheran-heran. Ia tidak mengerti, hak apakah yang mendorong Manguri untuk berlaku demikian kepadanya. Sebagai seorang gadis Sindangsari dalam hidupnya sehari-hari adalah seorang yang rendah hati. Tetapi menghadapi sikap Manguri, tiba-tiba hatinya justru mengeras. Dengan nada datar ia bertanya "Kenapa aku harus pulang sekarang? Aku sedang mendengarkan Pamot bermain dengan serulingnya" "Tetapi kau sedang sakit" jawab Manguri "sebaiknya kau tetap berada di rumah" "Aku sudah sembuh" "Kau masih pucat sekali" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Kini ia menjadi ragu-ragu. Dan Manguri berkata selanjutnya "Kalau kau tidak segera sembuh, aku akan dapat membantumu, mencari obat" Sindangsari masih belum menjawab. Kini hatinya dicengkam oleh kebimbangan. Hampir saja ia menurut i katakata Manguri, karena kemudian kata-kata itu terasa sebagai ungkapan persahabatan mereka. Tetapi niat itu justru diurungkannya ketika Manguri kemudian mengulangi katakatanya kepada Pamot "Kau beristirahat terlampau lama di sini. Kenapa tidak di gardu simpang empat sebelah pohon orah itu?" Pamot mengerutkan keningnya. Dan Sindang-saripun mulai menilai sikap Manguri. "Akulah yang sakit" berkata gadis itu "bukan Pamot" "Ya, kaulah yang sakit. Karena itu kau sebaiknya pulang. Tetapi Pamot itu ternyata telah mengganggu ist irahatmu hingga kau terpaksa keluar rumah dan pergi ke gardu ini" "Itu terserah kepadaku" Pamot yang duduk keheran-heranan itu menjadi semakin heran. Ia belum pernah melihat Sindangsari bersikap begitu keras. Karena itu ia mulai menimbang-nimbang. Agaknya Manguri meletakkan kesalahan itu kepadanya. Dan ia masih segan untuk bertengkar dengan anak pedagang ternak yang kaya itu. Karena itu, maka iapun kemudian berkata kepada Sindangsari "Memang sebaiknya kau pulang Sari. Kau masih terlampau pucat" Dan sebelum Sindangsari menjawab, Pamot telah meloncat dari bibir gardu dan berjalan dengan langkah gontai ke sisi gardu. Perlahan-lahan ia merunduk. Kemudian dengan satu hentakan ia mengangkat seikat kayu itu di atas kepalanya. "Aku juga akan pulang" desisnya "aku sudah t idak lelah" Sindangsari masih tetap berdiam diri. Di pandanginya saja langkah Pamot menjauh. Semakin lama semakin jauh sambil membawa kayu di atas kepalanya. Tiba-tiba Sindangsari berdesis "Aku akan pulang" "Tunggu" sahut Manguri dengan serta-merta "tunggu sebentar" "Aku sedang sakit" "Aku ingin bicara dengan kau, Hanya sebentar" Sindangsari tertegun sejenak. "Hanya sebentar Sari" "Tetapi bukankah kau minta aku segera pulang karena aku masih sakit" "Ya, tetapi aku minta kau mendengarkan kata-kataku sejenak" Sindangsari mencoba untuk mengerti atas keadaan yang sedang dihadapinya. Sementara hatinya masih diamuk oleh kebimbangan, ia berkata kepada diri sendiri "Inilah sebabnya, kenapa Manguri seakan-akan mengusir Pamot dari gardu ini. Agaknya ia mempunyai suatu kepentingan khusus dengan aku" Tiba-tiba dada Sindangsari menjadi semakin berdebardebar. Terngiang kata-kata kawan-kawannya, gadis-gadis Gemulung tentang Manguri. Sebagai seorang gadis yang sudah menjelang dewasa penuh Sindangsari segera dapat mengerti, hasrat apa yang terimpan di dalam hati anak muda itu. Apalagi Manguri telah pernah mencoba memberinya sesuatu, tetapi ditolak oleh ibunya. Dan terngiang kata-kata kawannya di pinggir desa kemarin "He, apakah kau ingin menggantikan yang hilang itu?" Dan kawannya yang lain menjawab "Bukankah kita samasama menginginkannya?" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Pada saat ia mendengar dari ibunya bahwa Manguri menyuruh seseorang untuk menyerahkan sepengadeg pakaian kepadanya, ia menjadi bangga. Kalau kawan-kawannya bersama-sama ingin mendapat perhatian lebih banyak dari Manguri, maka ia adalah yang terbanyak. Tetapi tiba-tiba membersit pertanyaan di dadanya "Apakah hanya aku seorang diri yang pernah mendapat pemberian serupa itu?" Dan pertanyaan itu dijawabnya sendiri "Kalau ada orang lain yang pernah mendapatkannya, mereka pasti akan bercerita dengan dada tengadah" Sindangsari terkejut ketika ia mendengar suara Manguri "Sari, Kau mau mendengarkan bukan?" Sindangsari t idak menjawab. "Kenapa pemberianku kemarin ditolak oleh ibumu? Menurut perempuan tua itu. Ibumulah yang menolaknya. Apakah benar begitu?" Terasa desir yang lembut menyentuh dada Sindangsari. Dan hatinya yang lembut pula itupun segera bergolak. Ia tidak membebankan penolakan itu kepada ibunya semata-mata. Karena itu, maka sejenak ia justru terbungkam. "Aku ingin mendengar keteranganmu Sari" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia bertanya "Kenapa kau memberikan itu kepadaku" "Kau akan mengerti maksudnya kelak" Tetapi tiba-tiba Sindangsari menggelengkan kepalanya "Tetapi t idak sekarang Manguri. Aku t idak dapat menerima pemberian itu" Sepercik warna merah membayang di wajah anak muda itu "Jadi kau memang menolaknya?" "Bukan maksudku menolak. Tetapi aku masih belum dapat menerima sekarang" Tiba-tiba dada Manguri bergetar. Belum pernah ia mendengar penolakan serupa itu, sehingga tiba-tiba saja perasaannya menjadi meluap "Sari. Belum pernah pemberianku kembali seperti yang terjadi kali ini. Semua gadis yang didatangi oleh pesuruhku itu selalu menerima pemberianku sambil terbungkuk-bungkuk. Bahkan seandainya aku menyebar pakaian di simpang empat ini, maka gadis-gadis di seluruh padukuhan Gemulung, bahkan seluruh Kademangan Kepandak, akan ikut berebutan" Tetapi luapan perasaan itu telah mengejutkan Sindangsari, sehingga hampir tanpa sesadarnya ia bertanya "jadi kau pernah memberikan barang-barang serupa kepada banyak gadis-gadis" Pertanyaan itu tidak diduga sama sekali oleh Manguri, sehingga sejenak ia tergagap. Namun kemudian ia menjawab "Ya Sari. Aku pernah memberikannya kepada beberapa orang gadis. Pemberianku itu diterimanya dengan baik. Tetapi akhirnya satu-satu mereka lari dengan laki-laki lain. Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Hal yang serupa jangan sampai terulang lagi Manguri. Itulah sebabnya aku tidak dapat menerimanya, supaya aku tidak menambah deretan nama-nama gadis-gadis yang meninggalkan kau" "Maksudmu?" mata Manguri terbelalak. "Hubungan yang bersungguh-sungguh tidak dapat tumbuh dalam waktu yang singkat. Atau sesudah aku menerima pemberianmu. Tidak Manguri. Ada atau tidak ada pemberian serupa itu, apabila hati bertaut, maka t idak akan ada apapun yang dapat menghalangi. Tetapi pemberian serupa itu memang dapat menumbuhkan salah sangka. Dengan senang hati seorang gadis menerima pemberianmu. Tetapi tanpa pertautan hati yang sebenarnya, maka akan terulanglah peristiwa-peristiwa itu sekali lagi dan sekali lagi" Manguri terdiambeberapa saat. "Karena itu Manguri. Bukan cara itu yang sebaik-baiknya kau tempuh" Belum pernah Manguri menjumpai gadis seperti Sindangsari. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa gadis itu akan dapat berkata tentang masalah serupa itu. Gadis-gadis Gemulung yang selalu dijumpainya setiap hari, akan bersoraksorak menerima beberapa keping uang daripadanya. Yang lain akan kegirangan setengah mati menerima pemberiannya, sepengadeg pakaian, sehingga persoalan-persoalan selebihnya berjalan terlampau lancar. Tetapi gadis ini berbicara tentang masalah yang belum pernah dipikirkannya. Selama ini ia merasa, bahwa ia adalah laki-laki yang paling mengerti tentang perempuan dan gadis-gadis. Bahkan dengan mudahnya ia akan dapat menguasai sepuluh atau duapuluh orang gadis sekaligus apabila ia menghendaki. Dengan sedikit umpan, maka ia pasti sudah akan berhasil membawa siapapun. Tetapi kali ini ia menjumpai seorang gadis yang lain. Dalam pada itu, selagi Manguri termangu-mangu, Sindangsari berkata "Sudahlah Manguri. Aku akan pulang. Kepalaku masih terasa pening" "Tunggu, tunggu Sari. Jadi bagaimana jawabmu" Sindangsari berpaling sejenak. Sambil melangkah ia berkata "Aku sudah menjawab" "Sari, tunggu" Manguri mencoba uuntuk mengikuti Sindangsari dan berjalan disampingnya. Tetapi Sindangsari tidak berhenti. "Dengarlah, aku belum selesai" "Kepalaku pening lagi Manguri. Jangan kau bebani lagi aku dengan persoalan-persoalan yang akan menambah sakit saja. Kau seharusnya dapat mencari maksud kata-kataku" "Tetapi." Namun Sindangsari t idak berhenti, sehingga ketika mereka sampai di regol halaman gadis itu. Manguri terhenti. Ia hanya dapat memandangi gadis itu berjalan tergesa-gesa melintasi halaman dan naik tangga rumahnya. Ketika ia membuka pintu, dilihatnya ibunya berdiri beberapa langkah di hadapannya. Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak berani memandang tatapan mata ibunya, yang seolah-olah langsung menembus ke pusat jantungnya. "Darimana kau Sari?" bertanya ibunya. "Dari gardu disimpang empat itu ibu" jawabnya. "Bersama Manguri?" Sindangsari mengerutkan keningnya. Agaknya ibunya melihat ia berjalan bersama-sama Manguri sampai ke depan regol. "Hanya kebetulan saja ia lewat di jalan ini" Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Tatapan matanya menjadi aneh, sehingga ketika sekilas Sindangsari melihatnya, iapun menjadi semakin tunduk "Apakah betul hanya suatu kebetulan Sari" Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Kini mengerti, kenapa tatapan mata ibunya itu terasa aneh. Agaknya ibunya tidak begitu mempercayai keterangannya. "Ya ibu. Hanya kebetulan" "Dan kenapa kau pergi kegardu itu" Sindangsari menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi lebih baik berterus terang daripada dituduh yang bukan-bukan. Maka Jawabnya "Aku mendengar suara seruling, ibu. Aku tertarik sekali, sehingga aku tidak dapat menahan diri untuk keluar sejenak" "Manguri bermain seruling?" "Sindangsari mengegelengkan kepalanya "Bukan. Bukan Manguri" "Siapa?" "Pamot " "Tetapi kenapa kau berjalan bersama Manguri?" "Kebetulan. Hanya suatu kebetulan" Ibunya tidak segera menyahut. Tetapi matanya menjadi semakin redup. Perlahan-lahan didekatinya anaknya. Kemudian dielusnya ujung rambutnya yang berjuntai "Sindangsari. Seumur hidupku kau tidak pernah berdusta kepada ibu. Kenapa kau sekarang berdusta" "Ibu" Sindangsari terkejut "aku tidak berdusta ibu" Dan Sindangsari menjadi semakin terkejut ketika ia melihat sorot mata ibunya yang sedih. Sindangsari" berkata ibunya "aku melihat kau berjalan bersama Manguri. Tetapi kau mengatakan itu hanya suatu kebetulan. Padahal sepengetahuan ibu, jarang sekali Manguri berjalan lewat jalan ini, dan apalagi kau tadi ibu tinggalkan kebelakang sedang terbaring di pembaringanmu" "Tetapi, tetapi.........." Sindangsarti tergagap. "Apapun yang kau lakukan Sari, sebenarnya ibu lebih senang kalau kau berkata terus terang" "Aku sudah berterus-terang ibu" Terasa tenggorokan Sindangsari mulai tersumbat. Namun kemudian mereka terkejut ketika terdengar suara berat di luar pintu, suara kakek Sindangsari "Sari berkata sebenarnya Wiratapa" "O" Nyai Wiratapa berpaling. Ketika pintu kemudian terbuka semakin lebar, tersembullah tubuh laki-laki tua itu dengan sebuah cangkul di pundaknya dan caping tua di tangannya. "Apakah ayah mengetahuinya" bertanya Nyai Wiratapa. "Aku melihatnya" jawabnya "aku lagi singgah di rumah sebelah gardu itu, melihat ayam jantan aduan yang baik sekali. Aku melihat Sari datang ke gardu itu selagi Pamot sedang bermain dengan serulingnya. Kemudian aku melihat pula angger Manguri datang" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pamot lah yang pulang lebih dahulu, kemudian baru Sindangsari diikuti oleh angger Manguri. Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ditatapnya wajah anaknya yang menunduk. Desisnya "Ternyata ibu keliru Sari. Menuruti kakekmu, kau sudah berkata sebenarnya" Sindangsari tidak menjawab. Meskipun ibunya mengakui kekeliruannya, tetapi terasa, bahwa ibunya tidak senang melihatnya berjalan bersama Manguri. "Dan apakah kau sudah tidak pening lagi?" Sindangsari menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak dapat menganggukkan kepalanya, meskipun kepalanya memang masih terasa pening. Bahkan kemudian ia menjawab "Tidak ibu. Aku sudah sembuh" "Bagus" jawab ibunya "kau sudah dapat membantu nenek" Perlahan-lahan kepala Sindangsari terangguk. Dan sebelum beranjak dari tempatnya kakeknya yang baru saja meletakkan cangkulnya di sudut rumah berkata "Pamot memang pandai bermain seruling. Hampir setiap orang tertarik kepada suara serulingnya yang justru tidak lajim. Agaknya Sindangsari tidak pernah mendengarnya di kota" Nyai Wiratapa mengerutkan keningnya. Dan laki-laki tua itu berkata selanjutnya "Dan Pamot adalah anak yang baik" Nyai Wiratapa masih berdiam diri. Tetapi ia melihat Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. "Biarlah anak ini beristirahat" desis kakek gadis itu "seandainya ia telah sembuh, biarlah sakitnya tidak kambuh kembali" Nyai Wiratapa tidak menjawab. Di pandanginya saja anaknya yang masih menundukkan kepalanya. "Masuklah ke bilikmu" berkata kakeknya pula. Dengan langkah yang tertegun-tegun oleh keragu-raguan Sindangsari melangkah ke dalam biliknya. Kemudian setelah menutup pintu, dibantingnya dirinya di atas pembaringannya sehingga amben bambu itu berderak-derak. Ketika ia mencoba memejamkan matanya, maka melintaslah bayangan-bayangan yang kalut bercampur-baur. Kemudian sedikit demi sedikit bayangan-bayangan itu mulai saling berpisah. Akhirnya Sindangsari melihat wajah-wajah yang berkesan di hatinya. Wajah Manguri yang riang, dan wajah Pamot yang bersungguh-sungguh. Tetapi kini Sindangsari sudah mempunyai bahan banding yang lebih lengkap. Ternyata Manguri yang riang itu agak terlampau kasar. "Mungkin demikianlah kebiasaannya di rumah. Karena ia anak seorang yang kaya raya, maka ia biasa berlaku kasar terhadap orang-orangnya" berkata Sindangsari di dalam hatinya "tetapi apakah ia berhak berbuat demikian juga kepadaku, kepada Pamot dan kepada kawan-kawannya bermain?" Tanpa disadarinya Sindangsari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Agaknya Pamot dapat bersikap lebih baik dari Manguri" ia meneruskan di dalam hatinya "Tetapi sayang, Pamot terlampau asing bagi kawan-kawan, gadis-gadis Gemulung" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam "Suara seruling itu" ia berdesah. Maka mau tidak mau, Sindangsari harus menilai keduanya di dalam dirinya. Bahkan ia merasa menyesal, bahwa ia mengenal keduanya dan tertarik oleh sifat yang khusus dimiliki oleh masing-masing anak muda itu. Sementara itu, Manguri berjalan dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Meskipun masih jugu terpercik secercah harapan, tetapi ia merasa tersinggung sekali oleh sikap Sindangsari. Biasanya gadis-gadis Gemulung segera bersimpuh di hadapannya, apabila ia mulai menaburkan keping-keping uang dan pakaian kepadanya. Tetapi Sindangsari bersikap lain. "Aku tidak sabar" desisnya. Namun terasa sesuatu yang lain bergetar di hatinya. Penilaiannya terhadap Sindangsari, ternyata berbeda justru karena ia merasa tersinggung karenanya. Ada sepercik keseganan menyentuh jantungnya. "Anak ini memang lain" Namun dengan demikian, keinginannya untuk menaklukkan Sindangsari menjadi semakin menyala di dalam dadanya. "Aku harus dapat mengambil dengan segala macam cara. Kalau perlu dengan kekerasan" tetapi kemudian ia mengerutkan keningnya "aku akan membelinya dari kakeknya yang tua. Ia harus menyerahkan gadis itu kepadaku. Aku harus membukt ikan kepada Sindangsari, tidak seorang gadispun dapat melawan kehendakku" Manguripun kemudian menghentakkan tangannya sambil menggeram "Pada saatnya kau akan tunduk di bawah kehendakku. Ikhlas atau tidak ikhlas" Pikiran Manguri dihari-hari berikutnya, terpusat pada usahanya untuk menaklukkan Sindangsari dengan segala macam cara. Namun sejalan dengan usahanya itu, penilaiannya terhadap Sindangsari justru menjadi semakin mantap. Maksudnya untuk mendapatkan Sindangsari sekedar untuk melepaskan dendam hatinya, semakin bergeser. "Aku tidak dapat menganggapnya seperti gadis-gadis Gemulung yang lain" desisnya "aku harus mengambilnya dengan sungguh-sungguh. Kalau aku masih menginginkan yang lain, itu tidak apa. Tetapi aku harus mempunyai seorang isteri yang baik" Dan Manguripun harus mengakui, bahwa ia mempunyai perasaan yang lebih mendalam pada gadis ini dari gadis-gadis yang pernah bergaul terlampau rapat dengannya. Dan Manguri yang sudah menjadi semakin dewasa itu mulai dapat membedakan, bahwa terhadap Sindangsari ia tidak sekedar dicengkam oleh nafsu semata-mata. Tetapi ia benar-benar mulai mencintainya. "Perasaan apapun yang tersimpan di dalam hati" katanya kepada diri sendiri "tetapi aku harus mendapatkannya lebih dahulu, sebelumorang lain mengambilnya" Dengan demikian, maka cara yang dianggapnya terbaik itulah yang akan dilakukannya. Ketika matahari yang terik berada di pusat langit, Manguri berjalan tergesa-gesa menyusur pematang pergi ke sawah yang sedang digarap. Sawah yang ditumbuhi oleh batangbatang padi muda yang hijau segar. Dibatasi oleh pematang yang ditanami kacang panjang dengan lanjaran bambu yang berjajar-jajar. Seorang laki-laki tua yang sedang menyiangi tanamannya, terbungkuk-bungkuk di teriknya panas matahari. Seluruh tubuhnya telah menjadi basah oleh keringat, sedang kakinya yang terendam di air setinggi mata kakinya itu berlumuran dengan lumpur-lumpur yang kehitam-hitaman. Orang tua itu tertegun ketika ia mendengar seseorang memanggilnya "Kakek. Apakah kakek tidak beristirahat? Tidak baik bekerja tepat di tengah hari" Laki-laki tua itu menggeliat sambil menekan lambungnya dengan kedua tangannya yang kotor. Kemudian perlahanlahan berpaling ke arah suara yang menyapanya. "O, kau Manguri" orang tua itu tersenyum "Ya, kek, Kakek bekerja terlampau keras" "Sekedar menyiangi" jawab laki-laki tua itu. "Sebaiknya kakek beristirahat seperti orang-orang lain. Di tengah hari kita beristirahat sebentar. Apabila matahari telah turun, barulah kita memulainya lagi" Kakek tua itu tertawa. Jawabnya "Kerjaku hanya tinggal kurang sedikit. Kalau aku pulang untuk makan, maka aku akan malas kembali lagi ke sawah. Tetapi kalau aku lanjutkan kerja ini, sebentar lagi sudah selesai. Barulah aku dapat pulang dengan tenang, karena aku tidak perlu pergi lagi ke sawah hari ini" "Kenapa kakek setiap tengah hari pulang?" "Makan. Aku tidak biasa makan pagi. Dan bukankah orangorang lain berhenti bekerja pula tengah hari" "Tetapi mereka tidak pulang. Mereka makan di gubug masing-masing. Laki-laki tua itu tertawa "Ada yang mengirimkan makanan mereka ke sawah" "Kenapa kakek t idak minta dikirimi makanan" Kakek itu masih tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. "Bukankah kakek mempunyai seorang anak dan seorang cucu. Lihat, orang-orang lain juga dikirimi makanan di sawah oleh anak anak mereka, atau cucu-cucu mereka. Juga gadisgadis pergi ke sawah membawa makanan dan gendi air. Kenapa cucu kakek itu tidak mau melakukannya? Itu tidak baik. Anak-anak muda dan gadis-gadis harus belajar bekerja seperti kebiasaan kita para petani bekerja. Juga anak dan cucumu itu kek" Kakek tua itu mengangguk-angguk. "Dengan demikian kakek tidak kehilangan waktu mondarmandir ke sawah meskipun tidak terlalu jauh" "Perlahan-lahan Manguri. Aku harus mengajari anak dan cucuku itu menjadi petani. Tetapi tidak dengan tiba-tiba. Sedikit demi sedikit mereka memang sudah mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan petani" "Kakek terlalu sayang kepada cucumu" "O, siapa yang tidak sayang kepada anak dan cucunya?" "Tetapi berlebih-lebihan" Kakek tua itu hanya tertawa saja. "Tetapi itupun wajar" tiba-tiba Manguri menyambung "gadis itu adalah satu-satunya keturunan kakek yang dapat menyambung nama kakek di masa datang. Anak kakek hanya satu. Menantu kakek sudah mati dan cucu kakek hanya satu pula Kalau yang satu ini gagal, maka berakhirlah garis keturunan kakek. Bukankah begitu" "Ya, begitulah kira-kira" "Bukan kira-kira. Begitulah yang pasti" Laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, Sindangsari harus mendapat tempat yang sebaik-baiknya Bukankah begitu?" "Demikianlah yang aku harapkan Manguri. Aku memang ingin melihat Sindangsari bahagia" Manguri tersenyum. Kemudian katanya "Gadis kakek itu memang harus berbahagia. Mungkin ia tidak biasa melakukan pekerjaan terlampau kasar seperti gadis-gadis Gemulung" "Aku akan mengajarinya. Tetapi sudah tentu sedikit demi sedikit" "Itu tidak perlu kakek" Kakek tua itu mengerutkan keningnya "Kenapa ?" ia bertanya. "Kalau cucumu itu kelak kawin dengan seorang yang dapat memberinya tempat yang baik, maka ia tidak perlu turun ke dalam lumpur seperti kakek ini" Kakek tua itu mengangkat wajahnya. Kemudian terdengar suara tertawanya. "Aku berkata sebenarnya kek" "Mudah-mudahan Manguri" jawab kakek tua itu "tetapi sebaiknya anak itu tidak membayangkan masa depan yang terlalu baik, supaya ia tidak menjadi kecewa" Manguri terdiam sejenak. Ia tahu, sawah kakek tua itu tidak begitu luas. Diseberang jalan adalah sawah Kyai Wratapa yang diterimanya dari Sultan Agung sebagai penghargaan atas jasa-jasa suaminya. Ki Wiratapa. "Kalau kakek mempunyai sepasang lembu, aku kira kerja kakek menjadi lebih ringan. Bahkan mungkin lembu itu dapat disewa oleh tetangga-tegangga kakek di musim mengerjakan sawah sebelum menanam padi" "O, tentu Manguri. Sepasang lembu akan dapat membantu sekali. Tetap darimana aku mendapat sepasang lembu" "Di rumah kakek ada sepasang lembu yang tidak kakek pergunakan. Bahkan sama sekali kakek simpan di dalambilik" "He" kakek itu terkejut "maksudmu?" "Jangankan sepasang lembu kek. Apa saja dapat kakek peroleh, kalau kakek dapat memanfaatkannya" "Aku tidak mengerti" "Sindangsari" "He, jadi kau anggap Sindangsari dan ibunya sebagai sepasang lembu?" Manguri tertawa "Jangan salah sangka kek. Bukan maksudku berkata demikian. Tetapi Sindangsari dapat mendatangkan tidak hanya sekedar sepasang lembu" Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampaknya ia masih belum memahami benar-benar kata-kata Manguri. "Apakah kakek membutuhkan sepasang lembu dan bajak?" Kakek tua itu menarik nafas dalam-dalam. "Kalau kakek memerlukan, besok di halaman rumah kakek akan terikat sepasang lembu dan sebuah bajak. Beberapa orang akan bekerja di sana membuat kandang. Sedang kakek sama sekali tidak perlu menyediakan bahan apapun dan upah apapun" Kakek tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Bahkan kemudian ia melangkah beberapa langkah menepi dan naik ke pematang di sebelah Manguri. Perlahan-lahan orang tua itu duduk sambil bergumam "Duduklah Manguri" Manguri termangu-mangu sejenak. Ia tidak tahu pasti, tanggapan orang tua itu atas tawarannya. Karena itu, maka dadanya justru menjadi berdebar-debar. Tetapi iapun kemudian duduk di samping kakek tua itu. Dentang jantungnya serasa menjadi semakin keras memukul di dadanya, oleh kediaman orang tua itu beberapa saat lamanya. "Bagaimana kek" Manguri t idak sabar menunggu orang tua yang masih berdiam diri itu. "Manguri. Apakah maksudmu, kau akan memberi aku sepasang lembu dan bajak, tetapi kemudian kau akan mengambil Sindangsari?" Manguri tergagap karenanya. Pertanyaan itu terlampau langsung pada persoalannya sehingga ia menjadi agak bingung. Namun kemudian kepalanya terangguk perlahan-lahan. Dan terdengar suaranya datar "Maksudku, aku ingin mengambil Sindangsari kek. Apapun maskawinnya, aku sanggup membayarnya" Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya "Sebenarnya aku senang sekali Manguri. Tetapi semua keputusan berada di tangan Sindangsari sendiri. Aku akan bertanya kepadanya, kepada ibunya dan kepada neneknya" Manguri mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia menjawab "Tetapi bukankah kepala rumah tangga itu adalah kakek sendiri? Kakek dapat menentukan segala-galanya" "Benar Manguri. Tetapi persoalan ini adalah persoalan hari depan yang panjang" "Kakek dapat memaksa gadis itu. Kakek mempunyai wewenang. Kemudian apa yang kakek butuhkan, aku akan memenuhinya" Kakek tua itu menggelengkan kepalanya "Jangan begitu Manguri. Bukankah kau sudah mengatakan bahwa gadis itu adalah penyambung garis keturunanku. Kalau aku memaksakan sesuatu yang tidak di senanginya, kemudian gadis itu membunuh diri, nah, putuslah semua riwayat yang pernah terbentang dari nenek moyangku hingga anakku dan cucuku itu saja" "Itu pikiran yang cengeng. Gadis itu tidak akan membunuh diri. Ia akan bahagia menjadi isteriku. Isteri seorang yang kaya raya. Paling kaya di seluruh padukuhan Gemulung" "Apakah kebahagiaan itu tergantung pada kekayaan melulu" "Tetapi itu dapat menjadi unsur utama kek" "Kau keliru anak muda" kakek itu menggeleng "tetapi biarlah Sindangsari yang menentukannya sendiri" Wajah Manguri menjadi merah padam. Ternyata kakek tua ini sekeluarga mempunyai pandangan sendiri, tentang masalah duniawi. Anaknya perempuan, ibu Sindangsari pernah menolak pemberiannya untuk gadis itu. Sindangsari sendiri pernah juga menyakiti hatinya, dan sekarang kakek tua itupun menolak pemberiannya yang tidak terbatas. "Maaf Manguri. Tetapi aku tidak dapat memutuskan. Keputusan terakhir ada di tangan cucuku" Manguri sudah tidak mendengar kata-kata itu dengan jelas. Iapun kemudian meloncat berdiri sambil berkata "Pertimbangkan, kek. Selagi aku masih memberi kesempatan. Sawahmu akan bertambah luas dan cucumu akan menjadi seorang yang kaya" Manguri tidak menunggu kakek itu menjawab. Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan laki-laki tua itu termangumangu. "Hem" orang tua itu berdesah "anak ini memang keras kepala. Tetapi aku justru menjadi kasihan kepada Sindangsari" Dan sejenak ia masih berdiri di pematang sawahnya sambil memandangi Manguri yang berjalan tergesa-gesa, seperti dikejar hantu. Namun di sepanjang jalan manguri mengumpat tidak habishabisnya. Agaknya ia tidak akan dapat pula menembus jalan lewat kakek-kakek tua itu. Semuanya akhirnya tergantung pada Sindangsari sendiri. Ibunya, kakeknya, semuanya menyerahkan persoalannya kepada Sindangsari. "Orang-orang bodoh" ia menggeram. Namun dengan demikian keinginannya untuk memiliki Sindangsari apapun tanggapannya atas gadis itu menjadi semakin menyala. Bahkan wajah gadis itu sama sekali tidak mau menghindar dari pelupuk matanya. "Aku akan menunggu kesempatan" desisnya. Ketika matahari menjadi semakin condong ke barat, maka kakek Sindangsaripun meninggalkan sawahnya. Di sepanjang jalan angan-angannya selalu di ganggu oleh sikap Manguri. "Ibunya harus mengetahuinya" gumamnya. Dan hal itupun kemudian dikatakannya kepada Nyai Wiratapa. Ketika mereka duduk bercakap-cakap setelah makan malam, selagi Sindangsari mencuci mangkuk di belakang. "Anakmu harus berhati-hati. Mungkin Manguri akan mempergunakan cara-cara yang lain. Mungkin ia akan membujuknya, memberinya janji dan apapun juga, sehingga anakmu yang hijau itu pada suatu saat akan tergelincir" "Apakah aku dapat berterus terang?" bertanya Nyai Wiratapa. "Tidak seluruhnya. Kalau kau katakan semuanya itu sekaligus, mungkin anak itu justru tidak percaya" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dengan demikian Nyai Wiratapa menjadi semakin berhati-hati atas anak gadisnya. Setiap kali Sindangsari pergi keluar halaman, ia selalu berpesan kepadanya, agar ia dapat menjaga dirinya. Tetapi pesan yang terlampau sering itu justru menjadi terlampau biasa di telinga Sindangsari. Sebagai seorang gadis, kadang-kadang ia ingin juga bermain-main dengan kawankawan sebayanya. Bahkan kadang-kadang tanpa setahu ibu, kakek dan neneknya, ia pergi ke sawah kawan-kawannya. Namun demikian, yang paling menarik perhatiannya adalah suara seruling Pamot. Apapun yang sedang dikerjakan, apabila ia mendengar suara seruling itu, ia selalu tertegun sejenak. "He, kau terbius oleh suara seruling itu?" bertanya Kandi. "Aku senang sekali. Pamot ternyata seorang peniup seruling yang baik" Tetapi kawan-kawannya sama sekali tidak tertarik kepada anak muda pendiam dan yang jarang sekali bergaul dengan mereka. Gadis-gadis Gemulung. memang lebih tertarik kepada Manguri yang sering memberi mereka beberapa keping uang. "Aku akan belajar meniup seruling" berkata Sindangsari kepada Kandi "bukankah kau dapat juga berlagu dengan seruling" "Tetapi aku tidak sepandai Windan. Belajarlah kepadanya" Sindangsari mengerutkan keningnya. Katanya "Windan tidak memberikan warna tersendiri. Ia bermain seperti orangorang lain" Kandi menjadi heran. Kemudian "Akupun bermain seruling seperti orang lain. Apalagi aku tidak sepandai Windan" Sindangsari termenung sejenak. Ia mengangkat wajahnya ketika Kandi berkata "Maksudmu seperti Pamot yang tidak mengenal gending-gending itu" Perlahan-lahan kepalanya terangguk "Ya" "Kalau begitu kau harus belajar kepadanya" Sindangsari tidak menjawab. Sementara itu gadis-gadis yang lainpun berdatangan berteduh di pojok desa. "He. Manguri sudah meniti pematang" berkata salah seorang gadis "sebentar lagi ia akan datang kemari" "Benar?" "Ya" Berdesak-desakan gadis-gadis itupun kemudian duduk di atas seonggok padas di pinggir jalan selain Sindangsari. Ia berdiri sambil tersenyum melihat kelakuan kawan-kawannya. Hampir berbareng gadis-gadis itu kemudian berdesis "Itu dia" Ketika mereka serentak berpaling, maka Manguri telah berjalan menuju ke arah mereka. "Siapa yang akan menerimanya kali ini" desis salah seorang dari mereka. "Entahlah" sahut yang lain. Gadis-gadis yang duduk berdesak-desakan itu sama sekali tidak menghiraukan apapun selain Manguri. Mereka tidak mendengar suara seruling yang mengalun di sela-sela desir angin yang lembut. "Suara itu" ia berdesis. Seorang gadis berpaling kepadanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya "Apa yang kau katakan Sari?" "Kau dengar suara seruling itu" "O" sahut kawannya "sempat juga kau mendengar suara seruling itu. Jangan hiraukan. Aku haus sekali. Di tikungan ada orang menjual rujak nanas" Tetapi Sindangsari tidak mempedulikannya. Ia tidak berkepentingan sama sekali dengan Manguri. Kini pandangannya terhadap Manguri sudah menjadi agak berubah, sejak sikapnya yang kasar itu, meskipun ia tidak membencinya. Meskipun demikian ia tetap berdiri di tempatnya. Sambil bersandar dinding batu ia memandang langkah Manguri yang menjadi semakin dekat. Dan seperti biasanya, Manguri kemudian berhenti di hadapan gadis-gadis itu sambil tersenyum. Sekilas ia memandang wajah Sindangsari dan sejenak kemudian ia mengambil beberapa keping uang dari kantong ikat pingganghnya yang besar. "Kalian memerlukan ini?" "Ya, sahut gadis-gadis itu" Manguri tersenyum. Ia tahu benar bahwa Sindangsari tidak pernah ikut mempergunakan uang pemberiannya. Dengan polah yang dibuat-buat seorang gadis mendekatinya "Buat apakah uang-uang itu Manguri?" Manguri tertawa "Buat kalian" katanya "tetapi kalau kalian tidak memerlukan tidak apa. Aku dapat memberikannya kepada orang lain. Kau tahu, bahwa di Gemulung ini ada lebih dari duapuluh lima gadis-gadis cantik, duapuluh lima gadisgadis sedang, dan puluhan gadis-gadis kebanyakan. Semua itu memerlukan keping-keping uang. Kalau ada diantara kalian yang menolak pemberianku itu hanya berarti bahwa orang itu akan tersisih dari pergaulan di padukuhan Gemulung" Dada Sindangsari berdesir mendengar kata-kata Manguri itu. Wajahnya berkerut dan tiba-tiba jantungnya berdentang. Ia merasakan kata-kata sindiran itu. Namun justru karena itu, ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Seakan-akan darahnya jadi membeku. Sejenak kemudian ia melihat Manguri mengacungkan keping-keping uang itu, dan seperti biasanya gadis-gadis itu berebutan untuk menerimanya. Tetapi karena seorang diantara mereka telah mendekatinya dengan solah yang dibuat-buat, maka ia adalah orang yang pertama-tama menangkap tangan Manguri. Tetapi tingkah laku Manguri ternyata telah semakin menyinggung perasaan Sindangsari. Ketika gadis-gadis itu berebutan, justru tangannya tidak segera dibuka. Kepingankepingan uang itu digenggamnya semakin erat. Terdengarlah gadis-gadis itu memekik dan berteriak-teriak sambil mencoba membuka tangan Manguri. Mereka berdesakdesakan dan tarik-menarik. Bahkan ada diantara mereka yang justru menarik Manguri pada lengan dan tangannya. Akhirnya Manguri membuka tangannya sambil tertawa berkepanjangan. Katanya "Kalian berebutan untuk mendapatkan uang ini, atau kalian ingin sekedar mendesakdesak aku?" Gadis-gadis itu tertawa. Salah seorang menjawab "Keduaduanya" Sambil memandang Sindangsari yang masih berdiri di tempatnya Manguri berkata "Kenapa kau tidak ikut?" Sindangsari terkejut menerima pertanyaan yang tidak disangka-sangkanya itu. Karena itu tergagap ia menjawab "Tidak. Aku tidak ikut" "Aku sudah tahu" sahut Manguri "tetapi kenapa?" "Aku tidak haus" Manguri mengerutkan keningnya. Tetapi gadis-gadis yang berebut uang itu menjadi semakin riuh karena uang Manguri bertebaran jatuh di tanah. Beberapa orang segera berjongkok memungutnya dan yang lain bahkan begitu saja bersimpuh di kaki Manguri. Manguri tersenyum. Seakan-akan ia berkata kepada Sindangsari "Lihat, gadis-gadis ini telah bersimpuh di bawah kakiku untuk sekedar mendpat uang sekeping" Namun Sindangsari telah menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan mata Manguri itu. "Sindangsari" berkata Manguri kemudian "kau tidak berbuat seperti kawan-kawanmu. Aku kira kau memang tidak suka berkawan. Karena itu sebenarnya aku segan menyampaikan pesan kakekmu yang harus aku katakan kepadamu" Sindangsari mengerutkankeningnya. Dan tiba-tiba ia beranjak selangkah maju "Apakah kakek berpesan sesuatu kepadamu?" "Ya" "Apakah pesannya" Manguri mengerutkan keningnya. Kemudian ia berdesis "Biarlah kakekmu saja nanti menyampaikannya sendiri, atau biarlah ia berpesan kepada orang lain" "Kalau kakek sendiri dapat menyampaikan kepadaku, kenapa ia harus berpesan?" bertanya Sindangsari. "Begitulah agaknya "Manguri berpikir sejenak, lalu "kau nampaknya seperti orang aing disini Sari" Gadis-gadis yang saling memperebutkan uang itupun kini telah berdiri sambil mengibaskan pakaian mereka yang kotor oleh debu. Mereka masih saja berteriak-teriak. Apalagi mereka yang tidak mendapatkannya. "He" berkata Manguri "bagi adil. Semua harus mendapat bagian" "Nah dengar. Semua harus mendapat bagian" "Ya, semua harus mendapat bagian" Manguri masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum memandangi gadis-gadis yang kini saling mengejar di sepanjang jalan, berputar-putar sambil tertawa. "Mereka adalah gadis-gadis periang" desis Manguri. Sindangsari tidak memperhatikannya kata-kata itu, Bahkan ia bertanya "Apakah pesan kakek" "O, sama sekali tidak penting. Apakah aku harus mengatakannya" "Penting atau tidak penting, aku ingin mendengar" "Kau di panggilnya" Sindangsari mengerutkan keningnya pula. "Ketika aku lewat di pematang sawah yang berbatasan dengan sawah kakekmu ia berpesan kepadaku, agar kau datang ke sawah untuk mencoba mencelupkan kakimu ke dalam lumpur" "Aku sudah sering melakukannya" jawab Sindangsari. "Jangan kau katakan kepadaku. Katakanlah kepada kakekmu. Atau barangkali kau tidak bersedia datang, terserah pula kepadamu. Aku sudah menyampaikannya meskipun sikapmu tidak menyenangkan aku" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Ia agak ragu-ragu untuk mempercayainya. Tetapi ia ragu-ragu pula untuk tidak menghiraukannya seandainya kakeknya benar-benar berpesan kepada anak muda itu. Manguri yang acuh tak acuh terhadap Sindangsari itu kini melihat gadis-gadis yang berebutan uangnya itu menghambur kebalik tikungan untuk membeli rujak nanas atau dawet cendol aren. Bahkan tanpa berpaling lagi Manguripun melangkah meninggalkan tempat itu. "Manguri" Sindangsari memanggilnya. Manguri berhenti sejenak. Di tatapnya wajah Sindangsari yang termangumangu. "Apa perlumu memanggil aku?" "Apakah benar kakek berpesan kepadamu?" "Terserahlah kepadamu. Percaya atau tidak percaya" Sindangsari menggigit bibirnya. Sebelum ia berkata sesuatu manguri telah melangkah pergi, "Tunggu" panggil Sindangsari pula. Sekali lagi langkah Manguri tertegun. "Apalagi Sindangsari" "Maksudku, bagaimana pesan kakek itu. Apakah aku harus datang sekarang" "Aku tidak tahu, kakekmu hanya berkata begitu. Apakah itu berarti kau harus datang sekarang atau besok atau kapanpun, aku tidak tahu" Sindangsari menjadi semakin ragu-ragu. Tetapi ia t idak mendapat penegasan apapun dari Manguri. Manguri telah melangkah pergi tanpa berpaling lagi. Sejanak Sindangsari memandangi langkah Manguri. Anak muda itu berjalan menyusur tanggul parit, dan kemudian hilang di balik batang-batang jagung muda. "Ia kembali ke sawahnya" desis Sindangsari. Tetapi pesan yang disampaikannya itu benar-benar mempengaruhinya. Kalau ia tidak pergi, sedang kakeknya itu benar-benar mengharapkannya datang, orang tua itu pasti akan menunggunya. "Ah, apa salahnya aku pergi ke sawah" desisnya. Maka tanpa berpikir lagi Sindangsaripun segera melangkahkan kakinya, pergi ke sawah kakeknya. Namun sepasang mata dengan penuh kecurigaan selalu mengawasinya. Sejak gadis-gadis kawan Sindangsari berebutan keping-keping uang, sepasang mata itu telah memandangi mereka dengan kening yang berkerut-merut. Suara riuh, gelak dan tawa yang di dengarnya, serasa tusukan-tusukan duri yang runcing langsung mengenai jantungnya. Apalagi pesan yang disampaikan oleh Manguri kepada Sindangsari, yang ternyata dipercayainya. Sementara itu Sindangsari berjalan tergesa-gesa menyusuri pematang ke sawahnya. Ia sama sekali tidak berprasangka apapun. Apalagi di siang hari. Karena itu, iapun berjalan tanpa menghiraukan apapun lagi. Seandainya Manguri membohonginya, kakeknya pasti tidak akan marah kepadanya. "Biarlah kakek menegur Manguri nanti apabila ia tidak berkata sebenarnya, dan hanya sekedar mengganggu aku karena sikapku yang tidak disukainya" Dengan demikian, maka Sindangsaripun berjalan semakin cepat. Ia tidak dapat berlari-lari seperti kawan-kawannya yang sudah terlampau biasa. Ia kadang-kadang masih tergelincir pada bagian-bagian yang agak licin, sehingga ia masih harus berjalan berhati-hati sekali. Ketika Sindangsari menjadi semakin dalam terbenam ke dalam tanaman-tanaman jagung muda itu, terasa panas matahari semakin menyengat kepalanya. Tanpa sesadarnya ia menengadahkan kepalanya. Matahari berada tinggi di puncak langit. "Apakah kakek tidak pulang di saat begini" tiba-tiba saja pertanyaan itu timbul di hatinya. "Apakah kakek benar-benar berpesan" keraguraguannyapun mulai merambat di dadanya. Namun Sindangsari masih melangkahkan kakinya di atas pematang. Tiba-tiba Sindangsari menjadi berdebar-debar. Ketika ia memandang berkeliling, ia tidak melihat seorangpun. Apalagi pandangan matanya dibatasi oleh batang-batang jagung yang hampir setinggi dirinya sendiri. "Mereka pasti sedang beristirahat di saat-saat begini. Dan kakekpun pasti sudah pulang" Sindangsari tertegun sejenak. Hampir saja ia melangkah kembali. Tetapi dalam keragu-raguan ia berdesis "Tetapi bagaimana kalau kakek justru menunggu aku sekarang?" Dengan demikian maka Sindangsaripun melanjutkan langkahnya. Namun kini ia berjalan secepat dapat dilakukannya. Tiba-tiba saja langkah Sindangsari itu terhenti. Dilihatnya seseorang muncul dari balik jagung-jagung muda itu. Manguri. Terasa darah Sindangsari seakan-akan terhenti mengalir. Kakinya menjadi gemetar dan nafasnya terengah-engah. Ketika Manguri kemudian melangkah mendekatinya, Sindangsaripun beringsut beberapa langkah surut. "Jangan takut Sindangsari" berkata Manguri -aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku bukan termasuk orang yang liar sama sekali meskipun aku bukan seorang yang terlalu baik. Sindangsari t idak menjawab. "Aku hanya akan berbicara kepadamu tanpa di dengar oleh orang lain" berkata Manguri selanjutnya. "Tetapi, tetapi" Sindangsari tergagap "apakah kakek benarbenar berpesan kepadamu?" Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak" "Jadi kau menipu aku?" "Bukan maksudku Sari. Tetapi aku hanya sekedar ingin berbicara kepadamu" "Tetapi kenapa kau ambil cara itu Manguri" "Aku tidak mempunyai cara lain Sari" Manguri berhenti sejenak, lalu "kalau kau tidak senang dengan caraku, aku minta maaf. Tetapi aku minta kau mendengarkan kata-kataku selanjutnya" Sindangsari t idak segera menjawab. "Sari" suara Manguri merendah "aku sudah menemui kakekmu. Aku memang berbicara tentang kau. Sebenarnyalah bahwa aku mengharap kau dapat mengerti perasaanku. Kakekmu sama sekali tidak berkeberatan. Semuanya tergantung kepadamu sendiri" Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak bersiap sama sekali untuk menerima pertanyaan itu. Dan wajahnya menjadi semakin menunduk ketika anak muda itu mendesaknya "jawablah Sari" Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Terasa dadanya seakan-akan berguncang-guncang. Dan ia sadar, apapun jawab yang akan diucapkan, akan menyudutkannya dalam kesulitan. Tetapi yang terpenting baginya sekarang, adalah melepaskan diri dari keadaan yang mendebarkan ini. Ia harus berusaha untuk menenangkan hati Manguri tanpa memberikan harapan kepadanya. Tetapi bagaimana ia dapat memberi jawaban itu kalau hatinya sendiri sedang bergejolak. "Sari, kenapa kau diam saja?" Sindangsari menggigit bibirnya. "Jawablah. Kau tahu banyak tentang diriku. Aku adalah anak tunggal seperti kau. Ayahku adalah seorang pedagang yang kaya raya. Bukankah ku dapat membayangkan, siapakah yang akan memiliki kekayaan itu kelak?" Sindangsari masih belum menyahut. "Kenapa kau diam saja Sari?" Sindangsari menjadi semakin cemas. Karena itu, di usahakannya untuk mengatur perasaannya. Kemudian dengan suara yang patah-patah ia mencoba menjawab "Jangan kau minta jawaban itu sekarang manguri. Berilah aku kesempatan untuk berpikir" "Kesempatan itu sudah cukup lama" Sindangsari menggeleng "Aku baru mendengarnya sekarang" "Tetapi kau pasti sudah mengerti maksudku sejak aku mengirimkan seseorang untuk memberikan sepengadeg pakaian itu" Sindangsari terdiam sejenak. Namun kemudian ia mengulangi jawaban satu-satunya yang dapat diucapkan "Aku tidak dapat menjawab sekarang. Berilah aku waktu" "Kau sudah mempunyai waktu yang cukup. Aku yakin bahwa kau sudah dapat mengambil sikap" Manguri brhenti sejenak "semuanya terserah kepadamu. Kakek, nenek dan ibumu tidak akan memaksamu untuk berbuat lain dari keputusanmu sendiri" Tetapi Sindangsari menggeleng "Aku tidak dapat menjawab sekarang" "Sari" Manguri menjadi tidak sabar lagi "tidak pernah ada seorang gadispun yang pernah menolak aku. Kau lihat sendiri, apapun yang akan aku lakukan atas kawan-kawanmu bermain itu, aku tidak akan mendapatkan kesulitan sama sekali. Jangankan seorang dari mereka, tiga empat orang sekaligus aku akan mendapatkannya. Sindangsari t idak menjawab. Dan Manguri berkata selanjutnya "Tetapi tidak seorangpun dari mereka yang menarik Sari. Mungkin untuk kawan bergurau sehari dua hari. Namun aku tahu, bahwa kau tidak dapat diperlakukan seperti itu. Karena itulah maka akupun memperlakukan kau dengan cara yang lain. Agaknya benar kata ibuku, bahwa aku sudah dewasa, dan aku harus memikirkan hidupku di masa mendatang" Sindangsari menjadi semakin tunduk karenanya. "Karena itu Sari" berkata Manguri seterusnya "aku memerlukan kau dengan kesungguhan hati" Tetapi Sindangsari masih juga menjawab dengan jawabannya yang itu-itu juga "Jangan kau tunggu jawabanku sekarang manguri. Berilah aku waktu dua t iga hari lagi" "Ah" Manguri melangkah maju "kau jangan mempersulit dirimu sendiri. Berkatalah dengan jujur apa yang terbersit di hatimu sekarang" Karena Manguri maju selangkah, maka Sindangsaripun surut selangkah pula "Manguri" katanya dalam kecemasan "jangan kau paksa aku menjawab" "Aku memerlukan, jawaban itu sekarang. Aku tidak dapat menunggu sampai dadaku bengkah, atau sampai kau dilarikan orang" "Tidak Manguri. Aku tidak dapat menjawab sekarang" "Tidak ada seorangpun yang dapat menolak maksudku Sari. Ingat. Seluruh padukuhan Gemulung ini telah dikuasai oleh ayahku. Apa yang dikehendakinya pasti terjadi, dan apa yang aku kehendakipun harus terjadi pula. Sadari. Aku dapat menempuh jalan dan cara seribu macam untuk mendapatkan apa yang aku kehendaki itu, termasuk kau" Sepercik warna merah merambat kewajah gadis itu. Kini kecemasan di dadanya menjadi semakin memuncak. "Jawablah Sari" suara Manguri t iba-tiba merendah. Sari yang menjadi gemetar masih juga menggelengkan kepalanya dan menjawab "Maaf Manguri. Aku tidak tahu bagaimana aku akan menjawab pertanyaanmu itu. Karena itu berilah aku waktu" "Sari" dan tiba-tiba saja nada suara Manguri melonjak naik. Ia telah benar-benar kehilangan kesabaran" jawab pertanyaanku sekarang. Tidak seorangpun dapat melawan kehendakku. Kaupun t idak. Aku menghendaki kau menjawab sekarang. Karena itu kau harus menjawab" Serasa darah Sindangsari berhenti mengalir. Kakinya menjadi semakin gemetar dan mulutnya justru menjadi terkunci karenanya. Manguri yang memang telah diketahuinya sebagai seorang anak muda yang kasar itu, ternyata jauh lebih kasar dari dugaannya. Meskipun ia adalah anak seorang prajurit yang harus mengutamakan ketrampilan jasmaniah, tetapi ayahnya tidak sekasar Manguri. "Kau tidak akan dapat melepaskan dirimu Sari" geram Manguri sambil melangkah maju, sehingga Sindangsaripun mundur beberapa langkah "apa yang aku ingin darimu harus kau berikan. Sebenarnya aku sangat menghormatimu. Aku ingin kau menjadi seorang istri yang bahagia. Tetapi kau tidak mau menjawab pertanyaanku sekarang" Sindangsari benar-benar telah menjadi ketakutan sehingga ia tidak dapat menjawab sama sekali. "Aku memang memilih saat ini Sari, sehingga t idak ada orang lain yang dapat mengganggu kita. Apalagi di tengahtengah tanaman jagung ini. Aku dapat berbuat apa saja. Bahkan membunuhmu sekali apabila aku kehendaki" Manguri terhenti sejenak, lalu dilanjutkannya "Sari. Aku tidak akan gila untuk minta sesuatu yang berlebih-lebihan dari padamu sekarang. Tetapi aku hanya minta kau menjawab pertanyaanku. Itu saja" Tetapi mulut Sindangsari justru terkatub semakin rapat. "Sari, Sari" Manguri maju selangkah sambil menghentakkan tangannya "jawab. Ayo jawab" Sindangsari bahkan telah kehilangan kemampuan sama sekali untuk melakukan apapun juga. Kini ia berdiri saja dengan tubuh gemetar. "Apakah kau tetap akan membisu?" Suara Manguri menjadi semakin berat di sela-sela gemeretak giginya. Sindangsari yang ketakutan itu tiba-tiba tidak lagi dapat menguasai dirinya. Ketika ia mencoba melangkah surut tibatiba saja ia tergelincir dan jatuh terbaring di pematang. Dengan wajah yang pucat, Sindangsari menggelepar di atas rerumputan. Namun oleh ketakutan yang sangat, ia justru mnjadi seakan-akan tidak berdaya untuk bangkit. TIBA-TIBA mata Manguri menjadi merah melihat gadis yang seolah-olah berbaring di hadapannya. Kakinya yang mencoba mencari alas untuk berpijak itu seakan-akan justru memanggilnya untuk mendekat. Sejenak Manguri terpaku di tempatnya. Perlahan-lahan sifat-sifatnya mulai merambati dadanya. Sifat yang seakanakan diturunkan oleh ayahnya kepadanya. "Sari" terdengar ia berdesis. Suara itu seolah-olah sudah bukan suara Manguri lagi. Seperti harimau yang akan menerkam korbannya, Manguri melangkah setapak demi setapak maju, sedang Sindangsari yang ketakutan telah hampir menjadi pingsan karenanya. Namun dalam keadaan yang demikian itu, selagi Manguri masih berjarak selangkah dari Sindangsari yang tergolek di tanah, tiba-tiba terdengar gemerisik batang-batang jagung di sebelah. Sejenak kemudian Manguri melihat seseorang meloncat ke pematang di belakang Sindangsari sambil menggenggam sebatang seruling. Sejenak Manguri berdiri tegak di tempatnya. Namun sejenak kemudian terdengar suaranya gemetar "Kau Pamot. Apa maksudmu datang kemari?" "He" Pamot tersenyum "bukankah sawah di sebelah ini sawah pamanku?" Manguri terdiam sejenak. Namun gejolak di dadanya menjadi semakin menggelora. "Aku disuruh oleh pamanku itu menengoknya" "Kenapa kau? Kau tidak biasa berada di sawah pamanmu ini" "He" Pamot mengerutkan keningnya "kau selalu berkata begitu. Ketika kau melihat aku beristirahat di gardu itu, kau juga berkata bahwa aku tidak biasa berada di gardu itu. Kau juga berkata bahwa aku tidak biasa berjalan lewat jalan itu sejak kanak-kanak. Sekarang kau juga berkata bahwa aku tidak biasa berada di sawah pamanku" Pamot berhenti sejenak, lalu "dengan demikian ternyata bahwa kau tidak mengenal aku dengan baik" Manguri memotong dengan serta-merta "Tidak ada seorangpun dari padukuhan Gemulung ini yang mengenal kau dengan baik. Meskipun aku tahu, kau dilahirkan di sini, tetapi kau seakan-akan menjadi orang asing di padukuhanmu sendiri" "He" Pamot menyahut "benarkah begitu? Kau keliru Manguri. Aku memang tidak banyak dikenal di Gemulung ini. Tetapi oleh gadis-gadis. Bukan oleh anak-anak muda. Adalah sebaliknya dengan kau. Kau lebih banyak dikenal oleh gadisgadis daripada oleh anak-anak muda" "Bohong" teriak Manguri. "Apalagi aku memang tidak mempunyai terlampau banyak waktu seperti kau. Setiap hari aku harus bekerja di sawah dan pategalan. Mengusung kayu bakar, dan kadang-kadang membawanya kepada mereka yang memerlukannya. Sekalisekali juga aku mengantar seonggok kayu bakar ke rumahmu, karena ibumu membelinya" Pamot berhenti sejenak, lalu "kemudian setiap sepekan dua kali aku harus berada di Kademangan Kepandak. Nah, apakah kau tahu bahwa anakanak muda mendapat kesempatan untuk berkumpul di Kademangan sepekan dua kali?" "Persetan dengan igauanmu itu. Sekarang aku tidak membutuhkan kau. Juga aku tidak ingin membeli kayu bakar. Aku baru berusaha untuk menolong Sindangsari yang terjatuh itu" Pamot tercenung sejenak. Dipandanginya sekilas Sindangsari yang masih terduduk di tanah. "Bangkitlah Sari" desis Pamot. "Aku akan menolongnya" berkata Manguri. "Jangan sentuh gadis itu" potong Pamot. "Kau adalah orang yang paling dungu, yang tidak mengenal sopan santun sama sekali. Adalah seharusnya seorang laki-laki menolong perempuan" "Tetapi laki-laki itu bukan kau" jawab Pamot "dan bukan pula aku sekarang" Wajah Manguri menjadi merah padam. Di pandanginya Sindangsari dan Pamot berganti-ganti. Namun demikian ia masih juga bergeser maju. "Gadis itu dapat bangkit sendiri" berkata Pamot "nah, bangkitlah Sari" Kata-kata itu telah menjalar ke dalam jantung Sindangsari, sehingga seolah-olah ia mendapat kekuatan baru. Meskipun ia masih gemetar, tetapi perlahan-lahan ia mencoba untuk berdiri. "Nah, bukankah ia dapat berdiri sendiri" desis Pamot kemudian kepada Sindangsari ia berkata "pulanglah Sari. Kau pasti sudah ditunggu oleh ibumu" Sindangsari tidak menjawab, dan juga tidak beranjak dari tempatnya. "Pulanglah Sari" Pamot mengulang kata-katanya. Kata-kata itu terasa benar pengaruhnya di dada Sindangsari. Kini ia tidak lagi membeku karena ketakutan. Kehadiran Pamot yang tiba-tiba itu telah membuatnya sedikit tenteram. Karena itu, maka dengan gemetar ia melangkah meninggalkan tempat itu dengan pakaiannya yang kotor. "Sari" t iba-tiba Manguri memanggilnya "jangan hiraukan anak edan ini. Tinggallah di sini. Aku antarkan kau pulang ke rumah" Sindangsari tertegun sejenak. Namun sebelum ia berbalik, terdengar Pamot tertawa "Jangan kau sangka bahwa aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Adalah kebetulan sekali bahwa aku mendengar pembicaraan kalian" "Kau mengintip?" Manguri hampir berteriak. "Jangan berteriak Manguri. Kalau ada orang yang mendengarnya, maka mereka akan berdatangan. "Apa peduliku kepada mereka. Kau takut barangkali, karena mereka pasti akan berpihak kepadaku" "Kenapa aku takut? Aku justru kasihan kepadamu. Setiap orang akan mengetahui, apa yang telah kau lakukan di sini" Wajah Manguri yang merah menjadi semakin merah. Dan ia mendengar Pamot berkata "Pulanglah Sari. Supaya tidak tumbuh persoalan apapun, katakan kepada mereka yang bertanya kepadamu, bahwa kau tergelincir di pematang. Tergelincir begitu saja, tanpa sebab" Sindangsari t idak menjawab, Bahkan berpalingpun t idak. Kakinya yang masih saja gemetar segera terayun di sepanjang pematang. Lambat-lambat, karena ia benar-benar akan tergelincir beberapa kali. Bukan karena pematang yang licin, tetapi justru karena kakinya yang gemetar. Manguri yang melihat Sindangsari berjalan terus, memanggilnya sekali lagi "Berhenti kau Sari. Aku akan mengantarkan kau dan mengatakan kepada ibumu, apa yang telah terjadi" "Tidak perlu Manguri" jawab Pamot "gadis itu berani pulang sendiri" "Persetan" anak muda itu menggeram "jangan mencampuri persoalanku" "Tidak, aku memang tidak mencampuri persoalanmu. Tetapi apabila kau terdorong untuk melakukan tindakantindakan yang sesat, aku wajib memperingatkan kau" "Apa yang akan aku lakukan? Apa?" "Kau setidak-t idaknya sudah menakut-nakuti Sindangsari. Karena itu biarlah ia pulang" Manguri menjadi marah sekali. Ia sudah tidak dapat mengendalikan dirinya, sehingga ia berkata lantang "Pamot, minggir kau. Atau aku harus memaksamu?" "Jangan terlampau kasar Manguri" "Aku tidak peduli. Pergi. Seharusnya kau tahu, siapa aku" "Tentu, aku mengerti bahwa kau adalah Manguri, anak seorang pedagang ternak yang kaya" "Bukan itu saja. Sebagai laki-laki yang berhadapan dengan laki-laki aku mempunyai pegangan" Pamot mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba terdengar suaranya dalam nada yang rendah "Aku tahu. Kau murid Kiai Pencar Jati. Tetapi kau tinggalkan perguruanmu sebelum kau selesai" "Huh" jawab Manguri "aku sudah memiliki semua ilmunya. Apa gunanya lagi aku berada di padepokan terpencil itu" "Tetapi bagiku Manguri. Apakah kau putera seorang pedagang yang kaya, apakah kau bekas murid Kiai Pencar Jati, namun tindakanmu yang tidak sewajarnya itu memang harus dicegah. Manguri t idak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Pamot. Tetapi Pamotpun sudah bersedia. Ia sadar, bahwa Manguri pasti akan sampai pada puncak tindakannya. Karena itu, maka iapun segera menghindarkan dirinya betapa cepatnya serangan Manguri. Bahkan dengan memutar tubuhnya, kakinya yang mendatar menyambar lambung lawannya. Tetapi Manguri memang tangkas. Dengan lincahnya ia berhasil meloncat selangkah mundur, kemudian bersiap kembali untuk menyerang dengan sepasang tangannya. Ketika Sindangsari mendengar kegaduhan itu, ia berpaling sejenak. Ia masih melihat kedua anak muda itu berkelahi. Namun kemudian ia justru mempercepat langkahnya. Meskipun ia anak seorang prajurit, tetapi jarang sekali ia menyaksikan perkelahian yang sebenarnya. Yang sering dilihatnya adalah latihan-latihan sodoran atau perangperangan di Alun-alun. Ternyata kedua anak-anak muda itu berkelahi dengan sengitnya. Masing-masing mempunyai kemampuan yang cukup. Manguri yang pernah berguru kepada seorang tua di pinggir kali Praga dan bernama Kiai Pencar Jati itu, memiliki kelincahan yang mengagumkan. Tetapi lawannya adalah anak muda yang tangguh. Yang mempunyai kekuatan tubuh melampaui kawan-kawannya. Namun semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa Manguri tidak dapat mengimbangi kekuatan Pamot, Meskipun setiap kali serangan Manguri mengena, namun Pamot seakanakan tidak merasakan apapun juga menyentuh tubuhnya yang mempunyai daya ketahanan yang luar biasa. Selingkar batang-batang jagung muda menjadi berserakserakan. Tanah yang gembur itu seolah-olah baru saja selesai dicangkul. Bahkan beberapa batang lanjaran kacang panjang di pematangpun menjadi roboh yang berbujur lintang tidak keruan. Tetapi Manguri akhirnya harus menyadari keadaannya. Meskipun ia tidak segera dapat dikalahkan, namun lambat laun, ia menjadi kehabisan nafas. Beberapa kali ia berhasil memukul lawannya. Tangannya dapat mengenai di beberapa bagian tubuh Pamot. Lengannya, dan bahkan dadanya. Namun Pamot seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali. Tetapi apabila terjadi sebaliknya, apabila tangan Pamot mengenai Manguri, terasa kesakitan yang sangat telah menyengat tubuhnya. Apalagi ketika pada suatu kali, kelengahan Manguri telah memberi kesempatan kepada Pamot sebaik-baiknya untuk memasukkan pukulannya tepat mengenai kening. Manguri terdorong beberapa langkah surut. Sebelum ia mampu menguasai keseimbangannya, pukulan tangan Pamot yang lain mengangkat dagunya, sehingga ia terlempar jatuh terlentang. Kini Pamot berdiri dengan kaki renggang di samping tubuh Manguri yang masih terbujur di tanah. Di pandanginya wajah yang biru pengab dan pakaiannya yang kotor oleh lumpur. Manguri yang dengan susah payah bangkit dan duduk di pematang menggeretakkan giginya. Dadanya serasa hampir meledak karena marah. Dengan jari-jarinya yang bergetar ditudingnya hidung Pamot sambil mengumpatinya "Setan kau Pamot. Kau t idak tahu siapa aku" "Aku sadar dengan siapa aku berhadapan" "Tunggulah, besok atau lusa, kau pasti akan menyesal" "Aku tidak akan menyesal. Sudah lama aku menjadi muak melihat tingkah lakumu" "Kau sudah berani membuat persoalan dengan Manguri, anak pedagang yang paling kaya di seluruh Gemulung" "Aku bukan sejenis orang-orang yang dapat kau beli, Manguri" "Mungkin kau tidak. Tetapi dengan uangku aku dapat membeli berapa banyak tenaga yang aku kehendaki untuk melemparkan kau ke kubangan yang paling kotor" Pamot tidak segera menjawab. Tetapi ia dapat mengerti, bahwa hal itu memang dapat terjadi. Tanpa disadarinya ia menarik nafas dalam-dalam. Perselisihan dengan Manguri memang dapat berarti kesulitan baginya. Orang tuanya mungkin akan ikut campur. Mungkin juga gurunya, meskipun kemungkinan itu sangat kecil, karena gurunya sudah di kecewakannya. Ketika terlintas di dalam ingatannya, seorang yang bertubuh tinggi kekar yang tinggal bersama Manguri, dada Pamot memang berdesir. Orang dungu itu akan dapat berbahaya baginya. "Jangan menyesal" tiba-tiba Manguri yang tertatih-tatih berdiri berteriak "Jangan menyesal. Kau harus mengembalikan hutangmu hari ini dengan bunga berlipat sembilan" "Jangan banyak bicara" bentak Pamot "aku dapat membunuhmu sekarang" "Dan kau akan di gantung di halaman Kademangan" Pamot terdiam. Dan Manguri berkata selanjutnya "Hatihatilah kau untuk seterusnya. Kau sudah menggali lubang untuk dirimu sendiri" "Aku tidak peduli" t iba-tiba Pamot menjawab dengan lantang "tetapi satu perbuatan yang baik menurut pendapatku sudah aku lakukan. Aku berhasil mencegah kegilaanmu kali ini, meskipun akibatnya terlampau pahit. Jangan kau kira aku akan menyerah pada keadaan. Kalau terjadi sesuatu atasku, setiap orang akan mengetahui sebabnya" "Tidak seorangpun yang menyaksikan persoalan ini" "Sindangsari mempunyai mulut juga" "Persetan" geram Manguri sambil berjalan tertatih-tatih meninggalkan tempat itu. Tetapi langkahnya tertegun ketika tiba-tiba saja mereka melihat seseorang dengan menyandang pacul di pundaknya berjalan ke arah mereka. Ketika orang itu melihat wajah Manguri dan pakaiannya yang kotor ia menjadi heran. Di pandanginya anak muda itu dengan herannya. Kemudian ditatapnya wajah Pamot yang tegang dan sikapnya yang garang. "Kalian berkelahi?" bertanya orang itu. Kedua anak-anak muda itu tidak menjawab. "Kalian berkelahi he?" Keduanya masih tetap berdiamdiri" "Sial. Sial sekali. Kalian harus menyadari bahwa perkelahian di antara kalian dapat membawa bencana bagi padukuhan ini. Perkelahian dapat membuat tanaman-tanaman padi dan jagung ini dimakan hama. Ayo, katakan, apa sebabnya kalian berkelahi?" Keduanya tidak menjawab. Namun orang itu tiba-tiba mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berkata "Aku melihat seorang gadis muncul dari ujung pematang ini juga" ia berhenti sejenak. Matanya tiba-tiba terbelalak sambil berkata "Apakah kalian berkelahi karena gadis itu? Sial. Sial sekali. Panenan musim ini pasti akan morat-marit. Danyang-danyang akan marah oleh perbuatan yang hina itu" "Paman" tiba-tiba suara Manguri bergetar "jangan takut pagebluk yang betapapun dahsyatnya. Di rumahku masih tersimpan padi dan jagung berlumbung-lumbung. Aku akan memberi kau secukupnya kalau kau memerlukan" "He?" sekali lagi mata orang itu terbelalak. Orang itu kenal benar, bahwa ayah Manguri memang kaya raya. Anak muda itu sama sekali pasti tidak sekedar membual. "Datanglah ke rumahku apabila tanamanmu benar-benar dimakan hama. Anak setan itu memang tidak menyadari apa yang dilakukannya" Orang itu mengerutkan keningnya. Kini dipandanginya wajah Pamot yang masih tegang "Kenapa kau Pamot?" "Kami memang berkelahi paman. Sudah tentu, bahwa kami berselisih pendapat" "Tentang perempuan?" Pamot tidak segera menjawab. "Ya. Apaboleh buat" Mangurilah yang menyahut "anak itu mencoba menghalangi hubunganku dengan gadis yang barangkali paman lihat" "Nah, apa kataku. Sawah dan ladang akan kering. Terutama tanah ini. Di mana kalian berkelahi karena soal perempuan. Tanah ini akan menjadi sangar. Kau lihat, tanaman jagung itu sudah menjadi porak-poranda" "Ini sawah pamanku" jawab Pamot. "Persetan, sawah setan belang sekalipun" potong orang itu. "Memang tanah ini akan mendapat kutuk dari danyangdanyang" desis Manguri "tetapi tidak sawah dan ladangku, karena aku dapat memberi syarat apapun yang diperlukan" "Ya, kau tidak. Tetapi Pamotlah yang akan terkutuk karenanya" "Paman belum mendengar persoalan yang sebenarnya" "Apakah paman perlu mendengar" potong Manguri. Orang itu terdiam sejenak. Tetapi terngiang kata-kata Manguri "Kalau paman memerlukan datang ke rumahku. Di rumahku masih tersimpan padi dan jagung berlumbunglumbung" Dan karena itulah maka tiba-tiba ia menjawab "Persetan dengan bualanmu. Tetapi perkelahian dapat mendatangkan bencana" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah dihadapkan kepada suatu contoh kebenaran kata-kata Manguri. Ia dapat membeli berapa orang saja yang diperlukan. "Ayo pergi setan-setan kecil" teriak orang yang membawa pacul itu"kutuk danyang-danyang dan orang-orang sepedukuhan harus kalian tanggungkan" kemudian suaranya menurun "kecuali bagi mereka yang dapat memberikan sarana untuk menghindarkan diri dari kutukan kutukan itu" Manguri tersenyum di dalam hati. Dipandanginya wajah Pamot yang tegang. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Tertatih-tatih ia melangkahkan kakinya di pematang. Meninggalkan tempat yang telah mengotori pakaian dan hatinya itu, "Kenapa kau masih berdiri disitu" bentak orang itu ketika ia melihat Pamot masih tegak di tempatnya. "Aku memang sedang berada di sawah paman ketika Manguri mencoba mengganggu Sindangsari" jawab Pamot "dan sekarang aku akan menunggu paman, mengatakan apa yang telah terjadi. Kerusakan sebagian tanamannya memang harus aku pertanggung jawabkan" "Anak bengal" gerutu orang itu "kau akan dipukuli pamanmu nanti" Pamot tidak menjawab. Ia sadar, bahwa orang itu pasti tidak akan mempercayainya. Ia sudah dikuasai oleh Manguri, meskipun baru dengan janji. Tetapi janji yang demikian memang dapat melumpuhkan daya pikir seseorang sehingga ia tidak akan dapat melihat jalan lurus dihadapkannya. "Hem" Pamot menarik nafas ketika ia melihat orang yang menyandang pacul dipundaknya itu meneruskan langkahnya. "Mudah-mudahan paman dapat mengerti" desahnya kemudian sambil mencoba memperbaiki tanaman-tanaman yang rusak karena perkelahian itu Dengan berdebar-debar Pamot menunggu kedatangan pamannya. Biasanya meskipun hanya sebentar pamannya pasti datang ke sawah. Biasanya setelah matahari lewat puncak langit, sesudah beristirahat dari pekerjaan di sawahnya sebelah susukan yang mulai dibajak, sebelum ia mulai bekerja lagi. Sejenak kemudian pamannya itu benar-benar datang. Ia menjadi terkejut sekali melihat selingkar tanaman jagungnya menjadi rusak, sedang Pamot duduk sambil bertopang dagu di pematang. "Apa yang sudah terjadi Pamot?" pamannya bertanya dengan cemas. Pamot menceritakan apa yang telah terjadi dari awal sampai akhir. Ia menceritakan pula ancaman-ancaman yang diberikan oleh Manguri dan sikap seseorang yang dengan mudahnya terpengaruh oleh janji-janji seorang yang memang mempunyai bekal untuk memberi janji-janji yang demikian. Pamannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Kau akan terlibat dalam kesulitan Pamot. Hati-hatilah. Sebaiknya kau menghindari benturan dengan Manguri itu" "Aku tidak mempunyai pilihan lain paman. Aku tidak sampai hati membiarkan hal itu terjadi tanpa berbuat apapun" Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya, Tetapi akibatnya akan terasa berat bagimu" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari sepenuhnya akan hal itu. Tetapi untuk membiarkan hal yang tidak sepatutnya itu terjadi, ia memang t idak akan sampai hati. Apalagi yang akan mengalami hal itu adalah Sindangsari" "Kenapa Sindangsari" pertanyaan itu timbul di hatinya dengan tiba-tiba "Bagaimana kalau gadis yang lain" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan ia mencoba melihat perasaannya sendiri "Seandainya gadis lain sekalipun, aku tidak akan membiarkannya. Itu sudah menjadi kuwajibanku. Bahkan kuwajiban setiap orang" Pamotpun kemudian minta diri kepada pamannya setelah ia minta maaf, karena tanaman jagung yang rusak itu. "Tanaman ini tidak seberapa nilainya dibanding dengan keselamatanmu sendiri Pamot" "Aku akan selalu mengingat pesan paman" Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika kemudian Pamot berjalan menjauh, pamannya bergumam "Ia menghadapi masalah yang sulit. Ayah dan ibunya harus mengetahuinya" Sementara itu Sindangsari berjalan tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Di tikungan ia terkejut, ketika hampir saja ia melanggar kakeknya yang akan berangkat lagi ke sawah. "He" kakeknya menghentikannya "darimana kau Sari" Sindangsari tidak segera menjawab. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. "Sari" panggil kakeknya. Tetapi Sindangsari tidak berani memandang wajah kakeknya. "Kami di rumah menunggumu. Biasanya kau tidak pulang terlampau lambat seperti hari ini" kakeknya berhenti sejenak. Ketika ia melihat pakaian Sindangsari yang kotor, maka hatinya menjadi berdebar-debar "Kenapa pakaian sekotor itu Sari" Sindangsari masih tetap berdiam diri. "Kenapa pakaianmu kotor?" desak kakeknya. "Aku terjatuh kakek" jawab Sindangsari. "Dimana ?" "Aku meniti pematang yang licin" "Darimana kau Sari" suara kakeknya merendah. Sekali lagi Sindangsari terdiam. Ketika sekilas ia memandang wajah kakeknya, dilihatnya wajah itu berkerut merut. Tetapi yang lebih terkejut lagi adalah kakeknya. Ia melihat setitik air dipelupuk mata cucunya. "Pulanglah Sari. Ibumu menunggu. Tetapi kenapa kau sebenarnya?" Sindangsari justru tidak dapat berkata apapun lagi. Lehernya serasa tersumbat dan matanya menjadi panas. Namun ternyata kakeknya cukup bijaksana. Ia tahu benar bahwa Sindangsari sedang mengalami kesulitan yang tidak dapat dikatakannya saat itu. Karena itu maka katanya kemudian "Sudahlah. Pulanglah" Kakeknya pura-pura tidak menghiraukannya lagi. Dengan langkah satu-satu orang tua itu meneruskan perjalanannya, sedang Sindangsaripun dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Ibunya terkejut ketika tiba-tiba saja pintu yang terbuka sedikit itu berderak. Apalagi ketika ia melihat Sindangsari berlari-lari masuk. "Sari" sapa ibunya. Sindangsari tertegun sejenak. Ditatapnya wajah ibunya yang termangu-mangu. Namun gadis itupun kemudian meloncat berlari memeluknya sambil menangis. "Sari. Apakah yang sudah terjadi?" ibunya menjadi sangat cemas. Apalagi ketika ia melihat pakaian anaknya yang kotor itu" "Sari. Sari" diguncangnya lengan gadisnya sambil bertanya terbata-bata "Kenapa kau he? Kenapa ?" Sindangsari menangis semakin keras sambil memeluk ibunya. Tetapi ia tidak sempat menjawab pertanyaanpertanyaan yang mengalir seperti banjir. "Kenapa kau he? Apakah yang sudah terjadi" Neneknya yang berada di belakang mendengar suara Nyai Wiratapa dan tangis cucunya. Karena itu tergopoh-gopoh ia masuk. Yang dilihatnya adalah Sindangsari menangis sambil memeluk ibunya erat-erat. Tetapi perempuan tua itu ternyata lebih tenang dari anakanaknya. Dengan sareh ia membelai rambut cucunya sambil berkata lirih "Duduklah Sari. Tenanglah. Aku ingin berbicara" Tetapi Sindangsari masih berpegangan ibunya erat-erat. Air matanya telah membasahi baju ibunya dan bajunya sendiri yang kotor" "Sudahlah Sari. Duduklah. Kalau ada persoalan, marilah kita pecahkan. Dengan menangis kesulitanmu tidak akan terselesaikan" Nyai Wiratapa yang matanya menjadi basah juga menyambung kata-kata ibunya "Duduklah Sari. Duduklah" Tetapi Sindangsari masih menangis terus. Ibunya yang sudah menjadi agak tenang kemudian membimbingnya perlahan-lahan. Didudukkannya anaknya di atas bale-bale, dan ia sendiri duduk di sampingnya sebelah menyebelah dengan nenek gadis itu. "Tenanglah Sari" berkata neneknya "kenapa kau tiba-tiba menangis?" Sindangsari mencoba untuk menahan isak tangisnya. Dicobanya pula untuk mengatur perasaannya. Sejenak ia menjadi ragu-ragu , apakah ia akan mengatakan keadaan sebenarnya, atau seperti pesan Pamot, supaya ia sekedar mengatakan, bahwa ia telah tergelincir di pematang. Ibunya yang kecemasan mendesaknya "Sari. Apakah terjadi sesuatu atasmu ?" Sambil terisak Sindangsari menjawab "Aku tergelincir ibu" Ibunya mengerutkan keningnya "kau tergelincir" ia mengulangi" "Ya ibu" "Hanya itu ?" "Ya ibu" Nyai Wiratapa terdiam sejenak. Menilik pakaian anaknya yang kotor itu, maka ia mempercayainya. Tetapi apabila anaknya hanya sekedar tergelincir, kenapa ia menangis sampai terisak-isak. Sebagai gadis yang sudah dewasa, seandainya ia hanya sekedar terjatuh di pematang, maka ia tidak akan menangis begitu pedih. Neneknya yang sudah tua itupun tidak dapat menganggap bahwa jawaban itu adalah jawaban yang sebenarnya. Karena itu, dengan hati-hati ia bertanya "Dimana kau jatuh Sari ?" "Di pematang" "Ya, tetapi diarah mana ?" "Dekat sawah pamannya Pamot" Neneknya mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya "Kau bermain-main sampai kesana Sari ? Apakah tidak ada orang yang menolongmu ?" Sindangsari menjadi bingung. Wajahnya yang gelisah kini tidak dapat disembunyikannya lagi. "Sari, Sari" ibunya justru menjadi lebih gelisah lagi daripada Sindangsari sendiri "kenapa kau sampai ke tempat itu Sari ?" Sindangsari mengusap air matanya "Tidak apa-apa ibu" "Kau sendiri? Sendiri saja ?" Sindangsari t idak dapat segera menjawab. "Katakan Sari. Apakah sudah terjadi sesuatu atasmu ?" Sindangsari menundukkan kepalanya. "Sari" suara ibunya menjadi semakin meninggi" katakan yang sebenarnya ? Apakah kau sudah melanggar pesan itu" Sindangsari terkejut. Tiba-tiba air matanya mengalir pula. Sambil menelungkupkan kepalanya dipangkuan ibunya ia berkata "Aku tergelincir ibu" Tetapi ibunya menggelengkan kepalanya. Sebagai seorang ibu, seolah-olah ada gema getaran suara hati anaknya di dadanya sendiri. Karena itu terasa juga kepedihan perasaan gadis itu. "Katakan Sari. Katakan, apakah yang sudah terjadi" Sindangsari tidak segera menjawab. Namun neneknya ikut pula mendesaknya" katakan Sari" Mereka berpaling ketika mereka melihat seseorang memasuki rumah itu pula. Ternyata kakek Sindangsari tidak terus pergi ke sawahnya, tetapi menilik gelagat cucunya, iapun kemudian berbalik lewat jalan yang lain pulang ke rumah. "Ya Sari. Sebaiknya kau mengatakan apa yang telah terjadi sebenarnya" berkata kakek tua itu. Sindangsari tidak dapat ingkar lagi. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk dengan gelisah. Kini kakeknya sudah duduk di atas sebuah dingklik bambu yang tinggi di hadapannya. "Katakanlah, supaya kami dapat membantu kesulitanmu Sari. Kau pasti tidak hanya sekedar tergelincir dan jatuh di pematang. Jika demikian, kau tidak akan menangis seperti kanak-kanak" Sindangsari menjadi semakin tersudut, sehingga akhirnya ia tidak dapat berdusta lagi. Ketika ibunya, kakek dan neneknya semakin mendesaknya, iapun terpaksa mengatakan apa yang telah terjadi atasnya. Belum lagi ceriteranya selesai seluruhnya, Sindangsari sudah tidak dapat menahan tangisnya. Sekali lagi ditelungkupkan wajahnya dipangkuan ibunya. "Kau harus mengucap sokur Sari, bahwa tidak terjadi bencana yang mengerikan atasmu" berkata ibunya sambil membelai kepala anaknya. Tetapi air matanya sendiripun satu demi satu menitik di kepala anaknya. Bukan saja karena Sindangsari yang hampir saja mengalami nasib yang jelek, tetapi perempuan itu memandang kenasibnya sendiri. Lukaluka yang tergores di hatinya, pada saat suaminya meninggal seakan-akan telah kambuh kembali. "Kalau ayah anak ini masih ada, tidak akan ada seorangpun yang berani memperlakukan demikian" katanya di dalamhati Sementara itu kakeknya menarik nafas dalam-dalam. Desisnya "Ya, untunglah ada Pamot. Untunglah. Setidaktidaknya anak yang bernama Manguri itu pasti akan memaksamu untuk menyetujui maksudnya. Ia memang sudah menghubungi aku untuk membelimu dengan apapun yang aku minta. Sepasang lembu dengan bajaknya. Lumbung, sawah dan apa lagi. Tetapi sudah tentu aku tidak akan melemparkan kau ke dalamneraka itu" Neneknya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sementara kakek tua itu berkata lagi "Meskipun akibatnya akan menjadi sangat berat bagi Pamot" Tiba-tiba Sindangsari mengangkat wajahnya. Butir-butir air matanya masih mengambang di pelupuk "Akibat apakah yang dapat terjadi atas Pamot kakek?" "Ia berhadapan dengan seorang yang kaya raya, yang dapat mempergunakan kekayaannya untuk segala kepentingannya" Sindangsari menjadi berdebar-debar. Kini ia duduk dengan gelisah memandangi wajah kakeknya. "Apakah Manguri akan mendendam Pamot ?" Tetapi orang tua itu menggelengkan kepalanya "Entahlah. Mudah-mudahan tidak. Tetapi anak itu harus berhati-hati" Sementara itu, Manguri bergegas masuk ke regol halamannya. Beberapa orang pembantu rumahnya memandanginya dengan penuh keheranan. Anak muda itu dilekati oleh lumpur dan kotoran tidak saja pada pakaiannya, tetapi juga pada tubuhnya. Ketika Manguri sampai di tangga pendapa rumahnya, tibatiba ia berteriak "Lamat, Lamat. Dimana kau ?" Lamat yang sedang bekerja di sebelah rumah menengadahkan kepalanya. Sekali lagi ia mendengar Manguri memanggil pamanya. Diletakkannya kapal ditangannya , dan dengan tegesa-gesa pula ia pergi memenuhi panggilan itu. "Cepat kemari kau dungu" bentak Manguri. Lamatpun berjalan semakin cepat mendekati Manguri. "He, kau lihat pakaianku ?" Lamat tidak segera mengerti maksud Manguri. Meskipun ia melihat pakaian yang kotor itu, tetapi ia masih tetap berdiam diri. "Apa kau tuli he ? Kau lihat pakaianku ?" Lamat menganggukkan kepalanya sambil menjawab "Ya. Aku melihat" "Kenapa pakaianku ?" Lamat mengerutkan keningnya. Dengan suara yang raguragu ia menjawab "Kotor sekali" "Nah, kau mampu juga melihat pakaian kotor meskipun kau sendiri selalu kotor. Kenapa pakaianku kotor he ?" Lamat t idak dapat menjawab. "Bodoh, bodoh kau" Manguri mengumpat "dengar, aku telah berkelahi melawan Pamot" Sekali lagi Lamat mengerutkan keningnya. "Kenapa kau diam saja he ?" "Apakah aku harus menemui Pamot ?" "Tentu. Aku tidak dapat meremukkan tulang-tulang iganya. Sayang ada orang yang melihat. Kalau tidak, aku tidak memerlukan kau. Ketika aku hampir menyelesaikannya, seseorang telah melerai. Tetapi ingat, kau tidak boleh gagal. Buat anak itu cacat. Buat kakinya timpang atau tangannya lumpuh. Mengerti ?" Lamat menganggukkan kepalanya. "Sekarang ?" "Bodoh, bodoh. Kau memang terlalu bodoh. Sekarang ia berada di rumahnya" Manguri diam sejenak, lalu "tunggu sampai ada kesempatan. Awasi anak itu. Kalau ia terpisah dari orang lain, apalagi di malam hari, kau dapat melakukannya. Jangan sampai dilihat orang. Jika demikian orang-orang itu akan melerai, dan bahkan mungkin mereka akan mengambil sikap terhadapmu" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik" "Bagus. Kau akan mendapat hadiah. Aku akan memberimu sehelai kain panjang" "Terima kasih" "Sekarang pergilah" Lamat menganggukkan kepalanya. Dengan wajah yang beku ia berjalan meninggalkan Manguri yang masih berdiri di tangga pendapa rumahnya. "Kalau Lamat gagal, aku dapat membeli lima atau sepuluh orang untuk menyelesaikan anak itu" Sambil menggeretakkan giginya, Manguripun segera masuk ke dalam rumahnya, langsung ke biliknya. Sambil mengumpatumpat ia menukar pakaiannya yang kotor oleh lumpur. "Baik Pamot maupun Sindangsari harus mengerti, bahwa Manguri tidak terlawan di seluruh padukuhan Gemulung. Apapun yang aku ingini pasti akan terjadi" Lamat yang telah bekerja kembali, sekali-sekali tertegun. Diletakkannya kapaknya di tanah. Kemudian disekanya keringat di keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesis "Pamot. Pamot. Nanti malam aku akan mencarinya" Pamot sendiri memang menyadari, seperti yang dikatakan oleh pamannya, bahwa banyak kemungkinan dapat terjadi. Manguri pasti tidak akan membiarkan dirinya terhina. Tetapi Pamot bukan seorang pengecut. Ia telah bersiap menghadapi apa saja yang dapat dilakukan oleh Manguri. Ia masih berprasangka baik terhadap orang-orang sepedukuhannya. Manguri tidak akan mudah mendapatkan orang-orang yang dapat disewanya untuk menyakiti orang sepedukuhannya. "Hanya orang-orang gila saja yang akan melakukan hal itu" desisnya. Tetapi ketika pamannya datang ke rumahnya dan berbicara dengan orang tua Pamot, mereka berkata "Kaulah yang bodoh Pamot. Untuk mendapatkan orang-orang yang dikehendaki Manguri tidak akan mendapat kesulitan apapun" Pamot tidak menjawab. "Kau memang harus berhati-hati. Hindarilah bentrokanbentrokan yang akan terjadi kemudian. Hal itu tidak akan menguntungkan kau sama sekali" Pamot mengangguk-angggukkan kepalanya. Jawabnya "Baik. Aku akan selalu mencoba menghindarkan diri" Meskipun demikian Pamot tidak dapat bersembunyi saja di dalam rumahnya. Ia harus melakukan pekerjaannya saja di dalam rumahnya. Ia harus melakukan pekerjaannya seharihari. Meskipun ia dapat mengerti pesan paman dan orang tuanya, namun ia tidak berniat sama sekali untuk tetap tinggal di rumah sampai berhari-hari. "Kalau kau melihat gelagat yang kurang baik Pamot" pesan pamannya "lebih baik kau segera masuk ke padukuhan atau bergabung dengan orang-orang laih di sawah. Di malam hari, kau dapat pergi ke gardu perondan, sehingga dengan demikian kau dapat menghindarkan dirimu dari bahaya" "Ya paman" jawab Pamot. Tetapi kemudaannya tidak dapat diikat dengan bayanganbayangan yang meremangkan bulu-bulunya. Ia sama sekali tidak merubah kebiasaannya. Malam itu juga Pamot pergi seperti biasa menyusuri parit untuk mendapatkan air. "Banyak orang berada di sawah menunggui tanamannya" desisnya "bahkan mungkin anak-anak yang mengintai babi hutan itu masih selalu berkumpul di perapatan". Dengan demikian maka Pamot tidak mencemaskan dirinya. Ia percaya kepada dirinya sendiri. Meskipun kadang-kadang terbersit juga pikiran "Kalau aku tidak dapat melawan orangorang yang disewa oleh Manguri, aku adalah pelari yang baik" Sambil berangan-angan Pamot telah berada di tengahtengah sawah, meniti pematang. Bintang-bintang di langit bertaburan dari ujung sampai ke ujung Gemerlapan seperti saling bersaing. Namun bagaimanapun juga, terasa debar di jantung Pamot. Sekali-sekali ia berpaling, kalau-kalau ada seseorang yang mengikut inya. Dadanya berdesir ketika tiba-tiba saja ia melihat seorang yang bertubuh tinggi kekar meloncat dari balik batang-batang jagung muda beberapa langkah di belakangnya. Pamot segera mengenal, orang itu adalah Lamat. Pembantu Manguri yang paling setia. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Orang itupun sudah diperhitungkannya pula, sebagai orang yang pertama-tama akan melakukan tugas yang dibebankan oleh Manguri kepadanya. Tetapi Pamot tidak berhenti karenanya. Ia berjalan semakin cepat. Sekali-sekali terngiang ditelinganya pesan pamannya, tetapi kadang-kadang darah mudanyalah yang berbicara. "Apakah benar orang itu bertenaga raksasa seperti yang dikatakan orang" berkata Pamot di dalam hatinya. Sebagai seorang anak muda Pamot mempunyai kebanggaan pula atas kekuatannya. Memang seperti apa yang pernah dikatakan oleh Sindangsari, Pamot mampu melakukan sesuatu yang melampaui kemampuan kawan-kawannya. Tenaga Pamotpun jauh melampaui kekuatan tenaga orang-orang biasa. "Meskipun tenaganya sembilan kali lipat tenaga manusia biasa tetapi tampaknya orang itu terlampau dungu" Pamot masih berkata kepada diri sendiri. Dengan demikian, darah Pamot yang muda itu justru telah menggelitiknya untuk mencoba kemampuan Lamat. Bahkan Pamot berkata di dalam hatinya "Kalau aku dapat mengalahkan orang ini, maka Manguri pasti akan menjadi segan" namun dibantahnya sendiri "atau ia menjadi semakin sakit hati, dan menyewa limapuluh orang sekaligus untuk mematahkan tanganku" Ketika Pamot berpaling, ia masih melihat Lamat berjalan mengikut inya pada jarak yang tetap. "Setan" tetapi tiba-tiba hatinya menjadi gelisah pula "Aku harus mengambil tindakan lebih dahulu" Maka ketika Pamot kemudian berbelok, iapun segera menyelinap di balik batang-batang jagung. Sambil menahan nafasnya ia menunggu Lamat. Ia sudah bertekad untuk menyerang lebih dahulu. Seandainya Lamat benar-benar mempunyai kelebihan, maka ia tidak akan didahuluinya. Pada serangan yang pertama-tama dan tiba-tiba ia harus mengurangi kemungkinan, bahwa lawannya akan dapat mengalahkannya. Sejenak kemudian ia mendengar langkah Lamat yang berat semakin lama menjadi semakin dekat. Namun agaknya langkah itupun telah membuatnya semakin berdebar-debar. Tetapi Pamot telah bertekad bulat "Aku adalah seorang laki-laki. Aku tidak dapat selalu menghindarkan diri dari benturan serupa ini. Kalau sekarang kau menghindar, maka besok atau lusa akhirnya akan terjadi juga. Kalau aku bersembunyi, maka aku adalah seorang pengecut" Karena itu, ketika Lamat menjadi semakin dekat, Pamotpun segera mempersiapkan diri. Ditahankannya nafasnya, agar Lamat t idak mengetahui, bahwa ia berada dalambahaya. Tetapi agaknya Lamatpun menjadi ragu-ragu. Ketika ia sampai di tikungan, langkahnya terhenti. Ia merasa kehilangan buruannya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Di pandanginya pematang yang membujur memanjang di bawah kakinya, menghunjam kekegelapan. "Setan" desis Pamot di dalam hatinya, "kenapa ia tidak maju lagi?" Tetapi Lamat masih berdiri di tempatnya. Sekali-sekali ia memiringkan kepalanya, seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu. Tubuhnya janjang tinggi tegap itu seakan-akan menjulang semakin tinggi menurut tangkapan mata Pamot yang sedang bersembunyi di balik tanaman jagung sambil mengintip. Darah Pamot berdesir ketika tiba-tiba ia mendengar suara raksasa itu datar "Pamot, kemarilah" Pamot menggeretakkan giginya. "Jangan bersembunyi di situ" Pamot benar-benar merasa terhina. Meskipun jantungnya menjadi kian berdebar-debar. Ternyata raksasa itu bukanlah terlampau dungu seperti yang dikiranya. Ia dapat menangkap desah nafasnya, meskipun barangkali belum melihat orangnya. Kini Pamot tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus mendahuluinya. Langsung ke tempat yang berbahaya di bagian tubuh lawannya. Perlahan-lahan Pamot bergeser maju. Hati-hati sekali. Meskipun ia sadar bahwa desir kakinya di atas tanah dan sentuhan tubuhnya dengan daun jagung itu pasti di dengarnya pula. Pamot melihat Lamat menggeser tubuhnya. Tetapi ia masih berdiri tegak di tempatnya. Dalam keremangan malam Pamot melihat sesuatu mencuat dari ikat pinggang Lamat. Sarung sebuah golok yang besar. Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak bersenjata. Yang dibawanya adalah sebilah sabit. "Tetapi apakah aku akan melukainya dengan sabit ini?" ia bertanya kepada diri sendiri. Dalam keragu-raguan itu ia mendengar suara Lamat yang berat "Pamot, kemarilah" Kini Pamot tidak dapat berlama-lama lagi. Ia harus segera bertindak. Tetapi ia masih belum berhasrat melukai lawannya dengan sabitnya yang tajam. "Aku harus memukulnya di pangkal lengannya atau di tengkuknya" katanya di dalam hati "itu akan mengurangi kemampuannya melawan untuk seterusnya. Kalau ia mencabut goloknya, apaboleh buat. Aku harus mendahuluinya sekali lagi" Perlahan-lahan Pamot berkisar semakin dekat. Kini dipegangnya sabitnya dengan tangan kirinya. Ia sudah bertekad untuk meloncat, dan sekaligus memukul tengkuk orang itu dengan sisi telapak tangannya. Lamat masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Ia hanya berputar sedikit, kemudian diam lagi. Kini Pamot berada tidak lebih dari tiga langkah. Dengan segala kemampuannya ia memusatkan segenap perhatiannya kepada orang yang masih berdiri di pematang itu. Sejenak kemudian maka Pamot menghentakkan dirinya. Dengan sigapnya ia meloncat berdiri beberapa langkah maju. Kemudian dengan sebuah tendangan mendatar anak muda itu seolah-olah terbang menghantam tubuh Lamat. Begitu cepatnya seperti lontaran anak panah yang kepas dari busurnya. Tangan kanannya telah siap untuk menghantam tengkuk lawannya apabila orang itu sedang berusaha memperbaiki keseimbangan karena dorongan kakinya. Lamat yang masih berdiri di pematang itupun terkejut mendapat serangan yang tiba-tiba dan begitu cepatnya. Ia tidak mungkin lagi berbuat sesuatu. Serangan yang tidak disangka-sangka itu langsung mengenai lambungnya, sehingga ia terdorong beberapa langkah ke samping masuk ke dalam gerumbul tanaman jagung muda. Pamot yang telah siap itupun segera meloncat pula. Kali ini tangannyalah yang terayun ketengkuk Lamat yang masih terhuyung-huyung. Tetapi adalah di luar dugaan Pamot, bahwa Lamat bukanlah seorang raksasa yang dungu. Meskipun ia belum menguasai keseimbangannya seluruhnya, namun ketika tangan Pamot terayun ke tengkuknya, Lamat justru menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali. Tetapi Pamot tidak melepaskannya. Dengan tangkasnya iapun meloncat maju tanpa menghiraukan batang-batang jagung yang berserakan. Ketika Lamat meloncat berdiri, maka iapun menyerangnya dengan sekuat tenaganya. Tetapi kali ini Pamot terperanjat bukan buatan. Ia merasa tangkapan yang kuat pada pergelangan tangannya, kemudian oleh kekuatannya sendiri, ditambah dengan sebuah hentakkan yang tidak terlawan ia terlempar ke samping. Kini Pamotlah yang tidak dapat menguasai keseimbangannya sama sekali. Dengan derasnya ia jatuh terjerembab. Wajahnya membentur sebongkah batu yang mencuat di pematang. Sekejap matanya menjadi berkunang-kunang. Bintang-bintang di langit seolah-olah berputaran seperti beras di penampian. Tetapi Pamot tetap menyadari dirinya, bahwa ia sedang berkelahi melawan Lamat. Karena itu, maka iapun segera berusaha bangkit, Namun ia menjadi kecewa, ketika ia sadar, bahwa sabitnya telah terlepas dari tangannya. Ketika Pamot tertatih-tatih berdiri, dilihatnya dalam kekaburan, Lamat sudah berdiri tegak di hadapannya. Sebelum ia dapat menguasai dirinya sepenuhnya, Lamat telah menyentuh dadanya, sehingga sekali lagi ia terdorong dan jatuh terlentang. Tetapi Pamot menggeram. Ia tidak menjadi berputus asa. Meskipun wajahnya yang membentur batu terasa sakit bukan buatan, ia masih berusaha untuk berguling menjauhi lawannya, kemudian berusaha pula bangkit berdiri. Namun seperti yang baru saja terjadi. Ketika ia tegak di atas kedua kakinya yang masih gemetar, Lamat telah berdiri di hadapannya, seperti batu karang yang teguh dan tidak tergoyahkan oleh ombak dan badai. Pamot segera mempersiapkan dirinya. Meskipun ia sudah tidak bersenjata sama sekali, namun ia tidak mau menyerah. Ia akan melawan sampai kemungkinan terakhir yang dapat dilakukannya. Tetapi Pamot menjadi heran. Lamat yang mempunyai banyak kesempatan itu berdiri saja membeku di tempatnya. Pandangan mata Pamot yang menjadi semakin jelas, melihat orang itu diam mematung. Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Sekilas terbayang wajah raksasa yang beku itu. Agaknya ia dapat berbuat apa saja sekehendak hatinya tanpa mengerutkan keningnya. Kekejaman yang mengerikan memancar dari mata Manguri tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Pamot. Tetapi Pamotpun sudah bersedia. Ia sadar, bahwa Manguri pasti akan sampai pada puncak t indakannya. Lamat, justru karena wajahnya seakan-akan t idak terpengaruh sama sekali oleh keadaan lawannya. Kakinya yang renggang dan tangannya yang tergantung di kedua sisinya membuat Pamot semakin bertanya-tanya di dalam hati "Apakah yang akan dilakukannya?" Tetapi Lamat masih berdiri saja di tempatnya. Dipandanginya Pamot yang gelisah itu seperti seekor kucing menatap seekor tikus yang putus-asa. Namun Pamot sama sekali tidak berputus asa. Ia sengaja membiarkan Lamat berdiri saja di tempatnya, sementara ia dapat mengatur dirinya. Nafasnya yang tersengal-sengal, dan pipinya yang serasa bengkak. "Mungkin ia membiarkan aku mat i ketakutan" katanya di dalam hati "atau sedang berpikir cara yang paling baik untuk melumpuhkan aku. Agaknya Manguri berpesan sesuatu kepadanya" Karena itu maka sejenak mereka saling berdiam diri. Betapapun ketegangan mencengkam hati masing-masing, hamun masing-masing tidak segera berbuat sesuatu. Sejenak kemudian, Pamot terkejut mendengar suara Lamat yang datar dan dalam "Kenapa kau menyerang aku Pamot?" Pamot tidak menyangka, bahwa Lamat akan bertanya demikian kepadanya, sehingga sesaat ia berdiri saja dengan mulut yang bergerak-gerak meskipun tidak sepatah katapun yang meluncur dari sela-sela bibirnya. "Kenapa?" terasa penyesalan mewarnai pertanyaan Lamat. Pamot tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Dipandanginya saja wajah Lamat yang beku. "Kenapa kau bersikap bermusuhan terhadapku?" Lamat bertanya pula. Dan Pamot akhirnya merasa bahwa ia memang harus menjawabnya "Kenapa kau bertanya Lamat? Pertanyaanmu itulah yang justru terdengar aneh di telingaku" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya "Ya, karena aku adalah budak Manguri" "Nah, kau sudah tahu jawabnya" "Ya. Aku memang mendapat perintahnya untuk membuat kau cacat" Terasa dada Pamot berdesir. "Persetan. Kalau aku tidak belas kasihan padamu, kau sudah mati pada seranganku yang pertama. Aku memang tidak mempergunakan sabit itu, karena aku memang tidak ingin membunuh" "Perintah itu juga tidak untuk membunuh" suara Lamat masih mendatar. Debar di dada Pamot menjadi semakin keras. Ditatapnya raksasa itu dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya yang botak. Sejenak kemudian, terdengar Pamot menggeram "Apakah yang akan kau lakukan? Kau sangka aku akan menyerahkan diri begitu saja?" Lamat menarik nafas dalam-dalam. "Pamot " berkata Lamat masih dalam nada yang datar "kau memang tidak keliru. Semua orang akan menganggapku begitu. Mungkin karena bentuk tubuh dan wajahku yang kasar, sehingga mereka termasuk kau menganggap aku tidak lebih dari seekor serigala. Itulah penderitaan yang paling pahit yang harus aku telan" Lamat berhenti sejenak, dan Pamotpun menjadi terheran-heran. Sejenak kemudian Lamat melanjutkan "Tetapi mungkin juga karena aku adalah pembantu, bahkan lebih dari itu, seorang budak dari keluarga pedagang yang kaya raya itu. Adalah wajar sekali kalau kau berprasangka jelek terhadapku" Pamot kini diam mematung. "Pamot " berkata Lamat kemudian "aku memang mendapat perintah dari Manguri untuk membuat kau cacat. Tetapi ketahuilah, bahwa perintah itu telah membuat aku menjadi semakin berprihatin. Aku semakin merasa bahwa aku adalah manusia yang paling t idak berguna dan tidak berharga" Pamot menjadi semakin tidak mengerti. "Apa yang harus aku kerjakan itu sebenarnya bertentangan dengan kata hatiku sendiri" berkata Lamat itu selanjutnya. Kepalanya tiba-tiba tertunduk, dan suaranya menjadi semakin rendah "Tetapi aku sadar, bahwa tidak seorangpun yang mempercayaiku. Wajahku yang jelek, tubuhku dan mungkin sorot mataku" Pamot masih tetap berdiam diri. "Itulah kenyataanku Pamot. Seharusnya aku tidak perlu heran karena kau telah menyerangku lebih dahulu. Tetapi kadang-kadang aku ingin meyakinkan diriku sendiri, apakah aku memang tidak sewajarnya bergaul dengan orang-orang yang lain, yang tidak berwajah kasar dan barangkali berkesan kejam seperti wajahku" Suara Lamat menjadi parau "Aku memang sekali-sekali pernah bercermin di dalam air. Dan aku hanya dapat menerima semuanya yang ada padaku, seperti juga aku t idak dapat pergi dari rumah Manguri" "Kenapa?" tiba-tiba Pamot bertanya "kalau apa yang kau lakukan itu sama sekali bertentangan dengan kata hatimu, kenapa kau tidak pergi saja dari rumah itu?" Lamat menggelengkan kepalanya "Aku tidak dapat melakukannya Pamot. Aku sudah berhutang budi kepada keluarga itu. Sejak kecil aku mendapat makan dan pakaian, kebutuhan hidup dan apapun yang perlu bagi kelangsungan hidupku" "Tetapi kau sama sekali tidak berhutang budi Lamat" sahut Pamot "semua itu sudah kau bayar tunai. Tenagamu sudah kau serahkan. Karena itu, semuanya sudah lunas" Lamat menggelengkan kepalanya "Tidak Pamot " orang yang botak itu terdiam. Ada sesuatu yang akan dikatakannya, tetapi kalimat-kalimat yang sudah berada di rongga mulutnya itu seakan-akan ditelannya. Dengan demikian maka sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Lamat yang bertubuh tinggi tegap berkepala botak dan berwajah kasar itu menarik nafas beberapa kali, seakan-akan seluruh udara malam di sawah itu akan dihirupnya. Dan tiba-tiba orang itu terperanjat ketika Pamot bertanya "Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan melakukannya perintah itu?" Lamat menggelengkan kepalanya "Tidak Pamot. Aku tidak dapat. Aku yakin bahwa kau tidak bersalah" "Tetapi apakah dengan demikian Manguri tidak akan marah kepadamu?" "Kalau ia tahu aku tidak berbuat apa-apa, ia pasti akan marah" "Jadi bagaimana dengan kau?" Lamat termenung sejenak. Dan tiba-tiba saja ia bertanya "Kenapa kau selalu meraba-raba pipimu?" "Ketika aku kau kibaskan, kepalaku membentur batu" Lamat memandang wajah Pamot sejenak. Kemudian katanya "Pamot. Sebaiknya kau tinggal saja di rumah untuk sepekan atau dua pekan" "Kenapa? Apakah pada waktu-waktu itu Manguri akan berbuat sesuatu lagi atasku?" "Tidak. Tetapi aku minta tolong kepadamu, supaya aku tidak dimarahinya. Aku akan berkata kepadanya, bahwa aku telah mencoba melakukan perintahnya. Tetapi kau tidak sejinak seekor kambing yang bodoh. Aku akan memberi kesan kepadanya, bahwa akibat dari perkelahian itu, kau tidak dapat keluar dari rumahmu untuk waktu yang lama, meskipun harus ada kesan pula, bahwa akupun mengalami cidera" Pamot mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata "Lamat. Kenapa kau harus berbuat demikian? Kau membuat hidupmu menjadi semakin sulit. Sebaiknya kau berterus terang. Kau harus mencoba untuk membaca apa yang tergurat di dalam hatimu. Kau harus belajar menyatakannya kepada orang lain, meskipun orang lain itu Manguri atau ayah dan ibunya sekaligus" Lamat menggelengkan kepalanya "Tidak Pamot, aku tidak dapat" "Kau hidup dalam dunia yang aneh. Kau selalu dibayangi oleh sikap berpura-pura. Itu tidak jujur Lamat" "Aku sadar Pamot" "Kenapa kau biarkan dirimu di belenggu oleh keadaan itu?" "Jangan kau tanyakan sekarang. Sekarang pulanglah, dan jangan keluar halaman selama sepekan" Pamot mengerutkan keningnya. Semula darahnya melonjak untuk menolak permintaan itu. Ia sama sekali tidak perlu bersembunyi. Seharipun tidak. Kalau ia ingin keluar rumah dan pergi ke manapun tidak ada orang yang dapat menghalangi. Tetapi ketika terpandang olehnya kepala Lamat yang menunduk, maka timbullah iba hatinya. Ia tidak harus bersembunyi, tetapi menurut Lamat, ia harus menolongnya. "Hidupmu sulit sekali Lamat" tanpa sesadarnya ia berdesis. "Kau benar Pamot" sahut Lamat "tetapi untuk sementara aku masih harus menjalaninya" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Pipinya memang terasa sakit sekali, seolah-oleh tulangnya menjadi retak. Namun kemudian iapun berkata "Baiklah Lamat. Aku akan memenuhinya. Aku akan tinggal di rumah sepekan meskipun itu tidak berarti bahwa aku tidak boleh keluar halaman" "Aku minta tolong Pamot" "Baiklah" "Sekarang pulanglah" "Sabitku terlempar, ketika kau menghentakkan tanganku" Lamatpun kemudian membantu Pamot mencari sabitnya dan mencoba memperbaiki batang-batang jagung yang berserakan. Ketika Pamot telah menemukan sabitnya, maka iapun segera pulang kembali ke rumahnya. Di sepanjang jalan tangannya tidak henti-hentinya meraba-raba pipinya yang membengkak. Namun di sepanjang jalan pula, tidak hentihentinya ia berpikir tentang Lamat, raksasa yang terbelenggu oleh perasaan berhutang budi. "Aneh" desis Pamot di dalam hatinya "wajahnya yang kasar itu ternyata tidak tumus sampai ke dalam hatinya. Ternyata ia seorang perasa yang bahkan agak cengeng. Apalagi ilmunya sebenarnya termasuk ilmu yang tinggi dan sulit di mengerti, seperti keadaan hidupnya yang sulit pula di mengerti" Tetapi Pamotpun mengalami kesulitan pula apabila ia akan mendapat pertanyaan dari orang tuanya atau kawankawannya. Apakah yang akan dikatakannya? Lamat?" "Hem" ia berdesah "aku tidak akan sampai hati menyebut namanya. Kalau orang tuaku dan kawan-kawannya mendendamnya, maka hidupnya akan menjadi semakin pahit. Ia menjadi semakin jauh tersingkir dari pergaulan yang wajar. Kalau pada suatu saat ia menjadi putus-asa, dan merasa dirinya memang tidak berharga, ia akan menjadi berbahaya. Mungkin ia akan benar-benar menjadi seorang yang kejam, justru paling kejam, karena ia merasa dunia telah berbuat terlalu kejam kepada dirinya" Dalam keragu-raguan itu langkah Pamot menjadi semakin mendekati pedukuhannya. Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke pojok desa. Kalau kawan-kawannya berada di gardu, maka mereka pasti akan bertanya kepadanya. Tiba-tiba Pamot berhenti sejenak. Kemudian ia berbelok dan menyelinap menyusur pematang. Ia menghindari jalan yang disangkanya akan berjumpa dengan seseorang. Sehingga dengan demikian, maka akhirnya Pamot sampai juga ke halaman rumahnya tanpa sebuah pertanyaanpun. Ketika serombongan peronda lewat, Pamot sengaja berdiri di balik segerumbul perdu di halamannya sebelum ia kemudian naik ke rumah. Ternyata bahwa wajah Pamot memang mengejutkan orang tuanya. Meskipun Pamot tidak mengatakan sesuatu, namun orang tuanya segera bertanya tentang pipinya yang memang membengkak itu. Sejenak Pamot berada dalam kesulitan. Ia masih belum menemukan jawaban. Tetapi ketika orang tuanya mendesak lagi, maka iapun mencoba untuk membuat jawabnya "Aku berkelahi" "He, kau berkelahi lagi. Setelah kau berkelahi melawan Manguri, sekarang dengan siapa lagi kau berkelahi?" "Sebenarnya tidak dengan orang lain. Ini adalah kelanjutan dari yang pernah terjadi. Manguri telah menyewa seseorang untuk mencegatku di sawah" "He" orang tuanya terperanjat, kemudian "bukankah sudah aku katakan, seperti juga pamanmu telah mengatakannya" "Tetapi aku tidak kalah" jawab Pamot. Orang tuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi terbayang di wajah-wajah mereka kecemasan yang mendalam. Bahkan kakeknyapun menjadi cemas pula melihat wajah cucunya yang menjadi biru pengab. "Siapakah orang yang telah disewa Manguri itu?" Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu" "Apakah kau belum mengenalnya?" Sekali lagi ia menggeleng "Aku tidak tahu" Kecemasan yang membayangi keluarga itu kini sudah mulai menjadi kenyataan. Mungkin Manguri t idak akan puas dengan pembalasan dendamnya kali ini, karena menurut Pamot, ia melawan sekuat-kuat tenaganya sehingga lawannya tidak berhasil mengalahkannya. "Aku kira iapun mendapat cidera" berkata Pamot kemudian. "Tetapi kau harus berhati-hati Pamot, mungkin ia masih akan berbuat lebih banyak lagi" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang untuk sepekan ia tidak akan pergi kemanapun, meskipun dengan demikian pekerjaannya akan terbengkelai. Sementara itu, Lamatpun telah kembali ke rumah Manguri. Ternyata Manguri masih menunggunya di pendapa. Ketika ia melihat Lamat berjalan tertatih-tatih memasuki regol, segera ia berjalan menyongsongnya. "Lamat" Manguri memanggil. Dan Lamatpun kemudian mendekatinya di tangga pendapa. "Apa yang sudah kau kerjakan?" "Aku menemuinya di tengah-tengah sawah" "Lalu?" Manguri tidak sabar. "Kami berkelahi" "Berkelahi? Apakah kau tidak dapat meremasnya begitu saja sehingga kau membuang-buang waktu untuk berkelahi?" "Ternyata Pamot tidak selemah yang aku bayangkan. Ia mempunyai kemampuan untuk melawan, sehingga kami harus berkelahi" "Persetan. Tetapi bagaimana akhirnya?" "Aku berhasil melukainya. Wajahnya aku kira akan menjad bengkak" "Cukup" bentak Manguri "apakah kau berhasil mematahkan kakinya, atau tangannya?" Lamat merenung sejenak. Namun kemudian Jawabnya "Ia berhasil lari. Tetapi ia pasti akan mendalami cidera. "He" mata Manguri terbelalak. Dengan tangan gemetar ia menunjuk hidung Lamat "jadi apa kerjamu he? Tubuhmu yang sebesar gajah itu tidak mampu menangkap dan meremas tangannya?" Lamat tidak menjawab. Ia memang sudah menduga kalau Manguri akan marah-marah kepadanya. Tetapi kalau Pamot bersedia memenuhi permintaannya, maka kemarahan Manguri itu tidak akan berkepanjangan sampai berhari-hari. "Tidak ada gunanya aku dan ayah memanjakan kau? Kalau kau masih saja malas dan tidak mau berbuat apa-apa, aku bunuh kau. Nyawamu memang seharusnya sudah tidak kau miliki lagi, kalau kau tidak diselamatkan oleh ayahku. Kini kau sama sekali tidak tahu membalas budi. Kau tidak pernah dapat melakukan pekerjaan dengan baik, seperti yang aku perintahkan" Lamat tidak menjawab. Sudah terlampau biasa Manguri mengumpat-umpat, sehingga telinganya memang sudah agak kebal., Namun setiap kali masih juga terasa pedih tergores di dinding jantungnya. Lamat menggelengkan kepalanya seperti setiap kali ia menerima pertanyaan serupa itu "Tidak" jawabnya. "Pergi. Pergi ke bilikmu" bentak Manguri. Perlahan-lahan Lamat melangkah mengitari rumah itu pergi ke biliknya di belakang longkangan tengah, di samping dapur. Dengan tarikan nafas yang dalam ia membaringkan dirinya yang masih basah oleh keringat. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya anyaman bambu di langit-langit rumahnya, berjajar rapi, terikat oleh tali ijuk yang hitam. Setiap kali langit langit itu dilihatnya, dan setiap kali masih seperti yang kemarin. Tidak ubahnya dengan dirinya sendiri. Sekarang dan kemarin masih juga serupa. Besok dan lusa. "Apakah untuk seterusnya?" desisnya "setiap orang ingin perkembangan di dalam hidupnya. Tetapi hidupku serasa mati" Perlahan-lahan Lamat menarik golok dari pinggangnya. Kemudian diletakkannya di sisinya. Sebenarnya ia sama sekali tidak memerlukan senjata itu. Ia sama sekali tidak berkeinginan untuk mempergunakan senjata, apalagi menumpahkan darah dan melenyapkan nyawa seseorang. "Ternyata nyawa itu sangat berharga" katanya di dalam hati "aku harus menebus nyawaku dengan seluruh umurku, tenagaku dan kehormatanku" Sejenak terbayang masa kanak-kanaknya yang buram. Ketika padukuhannya diamuk oleh segerombolan perampok yang tidak berperi-kemanusiaan. Ayahnya yang termasuk orang berada menjadi pusat sasaran para perampok itu. Maka terjadilah bencana itu. Rumahnya menjadi neraka oleh api yang berkobar, setelah isinya dirampok habis-habisan bersama beberapa rumah yang lain. Lamat yang masih kecil waktu itu, tidak tahu apakah yang selanjutnya terjadi. Panas yang membakar tubuhnya telah membuatnya pingsan. Ia sadar, ketika ia sudah berada diperjalanan, di dalam sebuah pedati. Ternyata seorang kawan ayahnya, juga seorang pedagang ternak telah menyelamatkannya. Orang itu adalah ayah Manguri. Lamat sama sekali tidak pernah mempersoalkan, kenapa ayah Manguri itu tiba-tiba saja ada di padukuhannya bahkan di rumahnya dan berhasil menyelamatkannya. "Aku wajib berterima kasih kepadanya. Terima kasih tanpa batas, karena ia telah menyelamatkan nyawaku" desisnya "Apalagi kemudian aku dipeliharanya sampai aku menjadi orang" Namun Lamat tidak berani memandang dengan wajah tengadah, kenyataan yang dihadapinya. Ia selalu mencoba menekan setiap perasaan yang hendak memberontak atas keadaan yang dialaminya selama ini. "Aku harus berterima kasih. Aku harus mengenal budi orang terhadap diriku" Sehingga ternyata apa yang telah terjadi itu telah membuat bukan saja tubuh Lamat yang menjadi cacat oleh jilatan api, tetapi jiwanyapun menjadi cacat pula. Ia seolah-olah terbelenggu oleh kebaikan hati ayah Manguri. Lamat adalah seorang raksasa yang dikekang oleh seutas kendali yang sangat kuat. Perlahan-lahan Lamat bangkit dari pembaringannya. Diraihnya gendi yang berisi air dingin diajuk-ajuk. Terasa betapa segarnya air yang mengusap kerongkongannya. Namun kesegaran air itu tidak dapat melepaskannya dari kegelisahan yang mencengkam. Seandainya Pamot tidak mau memenuhi permintaannya, maka berhari-hari Manguri pasti masih saja mengumpatinya. Namun Pamot memang sudah menyatakan kesediaannya untuk menolongnya. Ketika matahari terbit, Pamot tidak segera bangun dan mandi ke sungai seperti biasanya. Tetapi ia pergi kesumur dan mandi pula disitu. "Kau tidak pergi ke sungai?" bertanya kakeknya. Pamot menggelengkan kepalanya. "Bagus, kau memang harus berhati-hati menanggapi keadaanmu yang agaknya memang t idak terlampau menyenangkan" Dan di luar dugaannya kakeknya itu berkata "Tetapi kau tidak usah menyesal. Kau sudah berbuat suatu kebajikan, meskipun kau harus mendengarkan pendapat pamanmu" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Hari itu, Pamot memang tidak meninggalkan halaman rumahnya. Betapapun hatinya mendesaknya untuk keluar, tetapi ia selalu bertahan. Bukan karena ia terlampau hati-hati seperti disangka kakeknya, tetapi ia mencoba untuk memenuhi permintaan Lamat. Adalah tanpa disangka-sangka sekali, bahwa tiba-tiba saja Manguri telah berdiri di muka regol rumahnya. Kali ini dengan wajah yang dibayangi oleh senyum mengejek ia memanggilnya "Pamot kemarilah" Sejenak Pamot justru mematung. Dipandanginya Manguri yang berdiri di luar regol halamannya itu seperti memandang hantu. "Jangan takut Pamot, kemarilah" Terasa darah Pamot seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir. Hampir saja ia melompat dan menerkam anak muda yang sombong itu. Tetapi untunglah bahwa ia segera menyadari dirinya, sehingga diurungkan niatnya itu. Agaknya Pamot memang masih segan untuk melakukan pertentangan terbuka dengan anak pedagang ternak yang kaya itu. "Kanapa kau diam saja?" berkata Manguri kemudian "kemarilah. Aku ingin berbicara sedikit" Dengan langkah yang berat Pamot berjalan mendekat pula. Setiap kali terngiang pesan pamannya, agar ia berhati-hati menghadapi anak orang kaya raya itu. "Pamot " berkata Manguri ketika Pamot sudah mendekat. Sambil mengerutkan keningnya Manguri menunjuk pipi Pamot membengkak "Kenapa pipimu itu Pamot?" Pamot maju semakin dekat. Dipandanginya wajah Manguri dengan tajamnya. "Apa maksudmu datang kemari Manguri?" bertanya Pamot. Manguri tersenyum, katanya "Aku tidak sengaja datang kemari. Aku lewat jalan ini ketika aku melihat kau di halaman" "Kau tidak biasa lewat jalan ini?" "He" Manguri mengerutkan keningnya "kau selalu berkata begitu. Kau selalu menganggap aku tidak pernah lewat jalan yang manapun" Pamot menggeram ketika ia melihat senyum mengejek di bibir Manguri. "Baik" jawab Pamot "kenapa kau memanggil aku?" "Aku ingin bertanya, kenapa pipimu membengkak?" "Orangmu pasti sudah melaporkannya kepadamu. Raksasa yang dungu pasti sudah melaporkannya kepadamu" "Raksasa yang dungu itu memang harus dibunuh. Diapakannya kau?" "Bertanyalah kepada orangmu itu. Ternyata ia lebih bodoh dari kerbau" "Ah, kasian kau Pamot. Untunglah kau berhasil melarikan diri. Kalau tidak, orang sebodoh kerbau itu pasti akan meremukkan tulang-tulangmu" "Itu tidak mungkin" jawab Pamot "kau kira aku terlampau lemah untuk melawannya. Ia memang lebih kuat daripadaku. Tetapi ia tidak akan banyak berhasil, karena aku mempunyai otak, dan orang dungu itu hanya mempunyai tenaga melulu" Manguri mengerutkan keningnya. Ia melihat kebenaran kata-kata Pamot. Lamat dipandangan matanya tidak lebih dari seekor kerbau "Itulah sebabnya Lamat tidak berhasil" desis Manguri. Namun kemudian ia tersenyum di dalam hatinya "Aku tidak boleh mengulangi kesalahan ini. Ternyata aku tidak dapat mempercayai orang dungu itu" "Pamot " berkata Manguri kemudian "ternyata kau masih mampu menolong dirimu sendiri kali ini. Tetapi bahwa kau sudah terperosok ke dalam persoalan yang rumit, jangan kau sesali" Pamot tidak menjawab. Betapa hatinya menjadi sangat muak, tetapi ia masih selalu menahan hati. Kemudian Manguripun pergi meninggalkan regol rumah Pamot. Suara tertawanya yang menyakitkan hati terdengar menggelitik hati. Namun Pamot masih tetap berdiri tegak di tempatnya. "Berapa hari kau akan tinggal di rumah Pamot?" bertanya Manguri dari kejauhan. Pamot tidak menjawab. Bahkan iapun kemudian berbalik dan masuk ke dalam regol halaman rumahnya. Baru saja ia masuk, maka dilihatnya kakeknya dengan tergesa-gesa datang menemuinya sambil bertanya "Apakah yang telah terjadi?" "Anak gila itu selalu memancing persoalan" "Kau sudah bertindak tepat Pamot. Jangan kau layani" Pamot mengangguk-angguk meskipun jantung mudanya tidak mau menerima nasehat itu, sehingga ia berkata di dalam hatinya "Kalau aku mendapat kesempatan, aku putar leher anak itu" Dalam pada itu, meskipun Manguri sudah melihat sendiri, bahwa wajah Pamot menjadi bengkak, tetapi ia tidak puas atas keadaan itu. Kalau Pamot nanti sembuh, maka ia pasti masih belumjera mencampuri persoalannya. "Aku masih belum berputus-asa., Aku harus mendapatkan Sindangsari dengan cara apapun juga" Tetapi yang terjadi kemudian benar-benar telah menyakitkan hati Manguri. Sindangsari yang mendengar, bahwa Pamot kemudian mendapat cidera di wajahnya, segera dapat menghubungkannya dengan apa yang terjadi atas dirinya. Dan ternyata peristiwa itu telah mendorong perasaannya semakin dekat dengan anak yang sering bermain seruling dengan caranya sendiri itu. Bersama kakeknya Sindangsari memerlukan pergi ke rumah Pamot. Selain untuk menyatakan terima kasih mereka yang tidak terhingga, merekapun berhasrat menengok anak muda itu. Cidera apakah yang sudah dialaminya, akibat dari usahanya menolong Sindangsari. "Kami tidak dapat membayangkan, apakah yang terjadi atas cucu kami apabila Pamot tidak melihat hal itu terjadi dan kemudian menolongnya, meskipun ia sadar bahwa ia akan selalu dibayangi oleh anak pedagang yang kaya itu" berkata kakek Sindangsari. Orang tua Pamot dan kakeknya mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang Pamot yang ikut menemui tamu-tamu itupun hanya menundukkan kepalanya saja. Sekali-sekali ia mencuri pandang wajah Sindangsari. Tetapi wajah itupun tertunduk dalam-dalam. "Sekarang hal itu sudah ternyata" berkata kakek Sindangsari selanjutnya "Pamot telah mengalaminya" "Tidak seberapa kakek" sahut Pamot dengan nada yang dalam. "Sokurlah, tetapi untuk selanjutnya kau harus berhati-hati" Pamot mengangguk-angguk. Semua orang menasehatinya untuk berhati-hati. "Sementara ini Pamot memang selalu berada di rumah" berkata kakek Pamot "meskipun agaknya anak itu sendiri tidak menghendaki" "Ada baiknya juga demikian" sahut kakek Sindangsari. "Tetapi dengan demikian ayah bekerja terlampau berat" berkata Pamot. "Sekedar untuk kebaikanmu" berkata ayah Pamot "mudahmudahan Manguri segera melupakannya, sehingga kau tidak diancamnya lagi" Pamot tidak menyahut. Sekilas terngiang kata-kata Manguri di muka regol rumahnya "kau sudah terperosok ke dalam persoalan yang rumit. Jangan kau sesali" "Aku tidak menyesal" berkata Pamot di dalam hatinya. Justru ia sudah terlanjur melakukannya, maka ia tidak akan berhasrat mundur setapakpun. Kunjungan kakek Sindangsari bersama gadis itu, seakanakan telah meyakinkan Pamot, bahwa iapun harus berjalan terus. Perlahan-lahan namun pasti, wajah Sindangsari semakin dalam terpahat di dinding hatinya. Tetapi Pamot tidak dapat berlaku sekasar Manguri. Dengan hati-hati dan perlahan-lahan ia mencoba mendekatkan hatinya. Ia tahu Sindangsari senang mendengarkan suara serulingnya, karena itu, maka setiap kali ia pergi ke rumah Sindangsari sebelum ia turun ke sawah karena pipinya yang masih biru, selalu dibawanya serulingnya. Ternyata hati Sindangsaripun telah terbuka pula untuknya. Kekasaran Manguri justru telah mendesaknya semakin dekat kepada Pamot yang jauh lebih sederhana dari Manguri sendiri. Betapapun hal itu dirahasiakan, namun lambai laun peristiwa yang terjadi atas Sindangsari itupun telah merambat dari telinga ke telinga. Kawan-kawannya mulai membicarakannya pula. Bahkan satu dua diantara mereka mulai berhati-hati menghadapi Manguri. Mereka tidak mau menjadi sasaran kekecewaan anak muda itu, karena ia gagal mendapatkan Sindangsari. Hal itulah yang membuat Manguri semakin sakit hati. Hubungan antara Pamot dan Sindangsari yang semakin rapat, dan gadis-gadis yang mulai menjauhinya. "Pamot memang tidak jera" ia menggeram "usahaku yang pertama untuk mendapatkan Sindangsari dengan cara apapun adalah menjauhkan Pamot daripadanya" Tetapi Manguri tidak lagi ingin mempergunakan Lamat. Meskipun menurut penilaian Manguri, Lamat tidak gagal sama sekali namun Pamot berhasil melawannya dan melepaskan diri. Kini ia akan mempergunakan tenaga yang meyakinkan. Pamot harus benar-benar jera. Dengan demikian, maka Manguri telah mempergunakan kekayaannya untuk memuaskan hatinya, seperti yang dikatakannya. Ia dapat menyewa berapa orang saja yang dikehendakinya. Untuk membuat Pamot jera, Manguri telah memanggil lima orang yang dianggapnya akan dapat menyelesaikan masalahnya. Mereka harus menangkap Pamot, dan membawanya kelumbung di belakang rumah. Manguri sendiri yang akan memaksanya untuk berjanji, bahwa Pamot tidak akan berhubungan lagi dengan Sindangsari. "Tetapi hati-hatilah menghadapi anak itu" berkata Manguri "aku sendiri t idak berhasil mengalahkannya. Bahwa ia dapat melepaskan diri dari tangan Lamat. Mungkin benar kata Pamot, bahwa Lamat tidak berkelahi dengan otaknya, ia hanya berkelahi dengan tenaganya saja" Kelima orang yang telah disewa oleh Manguri itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sekarang bertanyalah kepada Lamat, apa yang perlu kalian ketahui tentang Pamot. Maka Lamatpun kemudian dipanggil oleh Manguri. Ia harus menjawab berbagai macam pertanyaan tentang Pamot. Dan Lamatpun berusaha menjawabnya, meskipun ia harus berhatihati. Tetapi kesan kedunguan di wajahnya, sama sekali tidak menumbuhkan prasangka apapun apabila ia kadang-kadang menemui kesulitan untuk menjawab pertanyaan salah seorang dari kelima orang yang telah disewa oleh Manguri itu. "Nah" berkata Manguri kemudian "kalian sudah mendapat gambaran tentang Pamot. Kini Pamot telah melakukan kerjanya sehari-hari seperti sediakala. Di malam hari kalian akan mendapat kesempatan sebaik-baiknya. Hampir setiap malam Pamot pergi ke gubugnya di tengah sawah ayahnya. Kalian dapat menemuinya di tengah sawah ayahnya. Kalian dapat menemuinya di sana. Jangan menunggu terlampau lama. Besok malam kalian sudah dapat melakukan pekerjaana itu. Ingat, jangan gagal seperti Lamat yang dungu ini. Malam nanti akurkan melihatnya, apakah ia berada di gubugnya bersama Lamat" Kelimanya mengangguk-anggukkan kepala. Pamot, betapapun kuatnya, bagi kelima orang itu sama sekali tidak akan menjadi beban yang terlampau berat. Seorang demi seorang mereka tidak gentar melawan anak muda yang kuat itu. Namun untuk menangkapnya dan membawanya ke Lumbung di belakang rumah, memang diperlukan beberapa orang kawan. "Sekarang kalian boleh pergi" berkata Manguri "besok siang kalian kembali lagi kemari sebelum di malam harinya kalian harus melakukan pekerjaan itu. Awas, kalau kalian gagal, maka tidak sekeping uangpun aku berikan kepada kalian" "Jangan takut. Apalagi seekor tikus, seekor serigalapun tidak akan lepas dari tanganku" Sepeninggal orang-orang itu, maka Manguripun berkata kepada Lamat "Nanti malam kau pergi bersama aku melihat apakah Pamot masih dalam kebiasaannya, pergi ke gubugnya. Sekarang pergilah. Kau terlampau bodoh untuk mengerti persoalanku, sehingga karena itu aku terpaksa mempergunakan orang lain" Lamat tidak menjawab. Wajahnya yang tampak bengis namun terlalu bodoh itu tertunduk dalam-dalam. Perlahanlahan ia meninggalkan Manguri kembali ke pekerjaannya. Namun dalam pada itu, sesuatu bergolak di dadanya. Meskipun ia berusaha untuk tidak menghiraukannya, tetapi setiap kali jantungnya serasa dituntut oleh suatu keharusan untuk berbuat sesuatu. Ia sudah terlalu biasa dipergunakan oleh keluarga Manguri untuk menakut-nakuti orang yang lambat membayar hutang. Bahkan kadang-kadang dengan sedikit kekerasan. Tetapi kali ini ia tidak dapat menahan hati membiarkan Pamot mengalami nasib yang terlampau jelek, justru ia yakin bahwa anak itu tidak bersalah. "Anak itu bukan sanak bukan kadang" ia mencoba menghilangkan kerisauan perasaannya itu. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya "Aku harus memberitahukan kepadanya" Demikianlah, ketika pada sore hari, seperti kebiasaannya Lamat pergi ke sungai, dengan tergesa-gesa ia berusaha singgah ke rumah Pamot. Ia menunggu hari mulai gelap, supaya tidak seorangpun yang melihatnya, setidak-tidaknya melihatnya dengan pasti. "Mudah-mudahan Pamot masih ada di rumahnya" desisnya "anak yang berani itu sama sekali tidak gentar, meskipun Manguri mengancamnya seribu kali. Dengan ragu-ragu Lamat berdiri di muka pintu rumah Pamot. Sejenak ia mematung. Namun sejenak kemudian tangannyapun bergerak mengetuk pintu rumah itu. "Siapa?" terdengar seseorang menyapa dari dalam. Tetapi suara itu bukan suara Pamot. Meskipun demikian Lamat sudah tidak dapat mundur lagi. Waktunya sudah menjadi terlampau sempit. "Aku" jawabnya. Kemudian perlahan-lahan pintu rumah itu terbuka. Ketika ayah Pamot yang membuka pintu itu melihat, siapa yang berada di luar, terasa dadanya seolah-olah berguncang. Lamat. Sejenak ia berdiam diri sambil memandangi raksasa yang berdiri tegak di dalam keremangan malam. Namun dalam pada itu keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. "Siapa yang di luar" bertanya ibu Pamot. Suaminya tidak segera menjawab. Bahkan selangkah ia surut. Ia mengerti betul bahwa Lamat adalah pembantu setia Manguri yang sangat ditakuti orang. Ia mempunyai kekuatan seperti seekor gajah. Ayah Pamot itu semakin tergetar hatinya ketika ia mendengar Lamat bertanya "Dimanakah Pamot?" Sejenak ia tidak menjawab. Dan isterinya bertanya sekali lagi "Siapa yang di luar ?" Ayah Pamot tidak menjawab. Ia tidak menjawab pertanyaan istrinya, dan tidak menjawab pertanyaan Lamat. Namun dalam pada itu, Pamot yang ada di ruang dalam mendengar pembicaraan mereka. Karena itu, maka iapun segera mendatanginya. Tetapi ia terkejut ketika begitu ia muncul ayahnya hampir berteriak berkata kepadanya "Pergi, pergi kau Pamot" "Kenapa ?" "Pergi kau" Tetapi Pamot masih berdiri di tempatnya. Ia mencoba melihat siapakah yang berdiri di luar pintu, yang telah membuat ayahnya ketakutan. Namun sebelum Pamot berhasil mengenal orang itu, terdengar suara di luar pintu "Aku, Pamot, Lamat" "O, kau. Masuklah" "Pamot " ayahnya menahannya ketika ia mendekati pintu. "Ia tidak apa-apa ayah. Lamat orang yang baik" "Tetapi" desis ayahnya. "Biarlah ia masuk" Ayahnya tidak dapat mencegahnya lagi. Ibunya terkejut pula ketika dari balik pintu muncul seseorang yang tinggi besar dan berkepala botak. "Maafkah aku" berkata Lamat "barangkali aku sudah mengejutkan kalian" Ayah dan ibu Pamot tidak menjawab. Kakek Pamot yang kemudian datang pula keruang itu menjadi bertanyaannya di dalam hati. "Aku hanya sebentar Pamot" berkata Lamat kemudian "apakah kau akan pergi ke sawah malam ini" "Ya" Pamot menganggukkan kepalanya tanpa ragu-ragu. "Baiklah. Aku bersama Manguri akan mengintai, apakah kau ada di gubugmu atau tidak" berkata Lamat selanjutnya "tetapi untuk besok malam, kau benar-benar akan diintai oleh bahaya. Manguri telah menyewa lima orang untuk menangkapmu" "He" Pamot membelalakkan matanya, sedang orang tuanya menjadi pucat. "Hem" Pamot kemudian menggeram "ia benar-benar mendendamku. Tetapi apaboleh buat" "Kau harus berhati-hati Pamot. Lima orang yang disilaukan oleh uang itu dapat berbuat apa saja di luar sadar mereka" "Terima kasih. Aku akan berhati-hati" "Sudahlah. Aku harus segera berada di rumah. Nanti menjelang tengah malam aku akan pergi bersama Manguri, melihat apakah kau berada di dalamgubugmu itu" "Baiklah. Aku akan berada di sana. Dan besukpun aku akan berada di sana pula" "Pamot " berkata Lamat "menghadapi kelima orang itu kau jangan menuruti perasaanmu saja. Kau harus mau melihat kenyataan, bahwa kau tidak akan dapat melawan mereka. Sependengaranku, kau akan ditangkap dan dibawa ke lumbung di belakang rumah Manguri. Manguri sendirilah yang akan mengurusmu kelak. Aku tidak begitu tahu, apakah yang akan dilakukannya" Pamot menggeretakkan giginya., "Ingat, jangan kau biarkan perasaanmu bergejolak tanpa kendali. Kau tidak akan dapat menghindari kenyataan. Kau akan menyesal kalau kau tidak mencari jalan keluar dari kesulitan itu" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya "Terima kasih Lamat" Dan Lamatpun kemudian segera minta diri, meninggalkan seisi rumah yang keheran-heranan. "Aku tidak mengerti" desah ayah Pamot "apakah kau t idak mengenalnya?" "Tentu, aku mengenalnya dengan baik" "Bukankah aku tidak salah lihat, bahwa orang itu adalah Lamat pembantu keluarga Manguri?" "Ya, bukankah ia telah menyebut namanya pula?" "Tetapi, tetapi aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan" ayah Pamot masih bingung "menurut pendengaranku ia justru memberimu peringatan bahwa kau terancam bahaya" "Ya ayah" jawab Pamot. "Aku menjadi bingung. Aku kira ia akan menyeretmu keluar dan memukulmu sampai pingsan. Wajahnya yang bengis tetapi bodoh itu benar-benar meyakinkan bahwa ia adalah seekor kerbau yang telah dicocok hidungnya" "Tetapi dugaan itu ternyata meleset. Akupun semula menduganya demikian pula. Aku kira ia adalah seorang kejam yang bodoh., Namun ternyata sebaliknya. Hatinya lunak dan bahkan perasa. Ia sama sekali bukan seorang yang bodoh. Ia dapat menasehati aku dan memberi arah jalan keluar" "Aku tidak menyangka. Selama ini Lamat adalah sesosok hantu raksasa bagi orang-orang Gemulung dan hampir di seluruh Kademangan Kepandak. Bahkan orang-orang Mangirpun menyebut-nyebut namanya, sampai orang-orang di pesisir Selatan" "Aku tidak tahu, kenapa kali ini ia bersikap lain" "Tetapi apakah kau dapat mempercayainya?" bertanya ayahnya tiba-tiba. Pamot termenung sejenak. Namun kemudian ia mengangguk "Aku mempercayainya. Kalau ia ingin berbuat jahat, maka ia pasti sudah melakukannya" Ayah Pamot tidak segera menjawab. "Ia telah melanggar perintah Manguri untuk melakukan pembalasan. Aku memang tidak mengatakan kepada keluarga di rumah ini sebelumnya, bahwa aku telah salah pahampula" Orang tua Pamot dan kakeknya semakin terheran-heran. Apalagi ketika mereka mendengar Pamot menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi, ketika pipinya menjadi bengkak. "Kau berdusta saat itu Pamot?" bertanya ayahnya. "Ya ayah" Jawabnya "Aku bingung, bagaimana aku harus mengatakannya. Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya "Kalau kau dapat mempercayainya, maka kau benarbenar harus berhati-hati besok malam. Manguri yang hatinya masih dibakar oleh kekalahannya itu telah menyewa lima orang yang menurut Lamat tidak akan dapat kau lawan. Kalau begitu sebaiknya kau telah berada di rumah saja. Tetapi Pamot menggelengkan kepalanya "Tidak ayah. Aku akan mencari jalan lain. Tetapi tidak tetap tinggal di rumah seperti perempuan yang takut mendengar suara anjing menggonggong" "Bukan begitu Pamot, Lamat sudah mengatakan kepadamu, bahwa kau harus melihat kenyataan. Kau tidak akan dapat melawan mereka" "Ya. Aku memang harus mencari jalan keluar. Dan aku akan berusaha" "Tetapi kau jangan menuruti perasaanmu saja Pamot. Aku ikut menjadi cemas" berkata ibunya "kalau kau masih anakanak, aku akan mendukungmu kemana aku pergi. Tetapi kau sekarang hampir t idak dapat disentuh ujung kainmu" "Ibu jangan cemas. Aku akan berhati-hati. Tetapi tidak sepantasnya anak seperti Manguri itu dibiarkan untuk berbuat sesuka hatinya" "Ia mempunyai uang Pamot" "Tidak selalu bahwa uang itu mempunyai nilai yang paling tinggi di dalampergaulan hidup ini" Ibunya yang berkaca-kaca akhirnya berkata "Aku hanya mengharap kau selamat. Tidak lebih dari itu" Pamot tidak menjawab lagi. Kepalanya tertunduk dalamdalam. Tetapi ia sama sekali tidak berhasrat untuk bersembunyi dimanapun. "Kau sudah cukup dewasa Pamot" kakeknyalah yang kemudian berbicara "kau dapat membuat pertimbanganpertimbangan yang waras. Tidak terlalu dibumbui oleh darah mudamu seperti Manguri" "Ya kakek" "Aku percaya kepadamu" Pamotpun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kepercayaan kakeknya itu justru menumbuhkan kesungguhan kepadanya. Bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. "Biarlah ia mencari jalan" berkata kakeknya kemudian kepada kedua orang tua Pamot "sebenarnya aku memang lebih senang melihat ia berhasil membebaskan dirinya secara jantan. Tidak dengan menyembunyikan diri. Sebab dengan demikian, Manguri pasti masih akan mencarinya, sehingga persoalannya sebenarnya masih belumselesai" Ayah Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ibunya diam saja. "Aku tahu, bahwa kalian sangat cemas akan nasib anakmu, karena kebetulan bahwa ia berselisih dengan Manguri. Memang Manguri mempunyai harta dan kekayaan untuk mendapat kawan., Tetapi Pamotpun mempunyai kelebihan yang lain. Ia memang mempunyai kawan yang sebenarnya kawan" Pamot mengangkat wajahnya. Memang sudah terkilas di kepalanya, bahwa ia akan menghubungi beberapa kawan dekatnya. Kawan yang setiap kali bersama-sama pergi ke kademangan. "Mereka pasti bersedia membantu aku" kata Pamot di dalam hatinya "Mereka akan ikhlas berbuat apapun tanpa upah seperti yang dilakukan oleh Manguri. Orang-orang upahan akan segera meninggalkan majikannya apabila ada orang lain yang mengupahnya lebih banyak lagi. Hubungan diantara mereka tidak ubahnya seperti hubungan jual belu saja. Yang satu memberikan jasa, yang lain membayarnya" "Nah, sekarang biarlah Pamot mempersiapkan dirinya" berkata kakeknya yang sudah tua itu "sebentar lagi kau akan ke sawah melihat air" "Tetapi" potong ibunya. "Tidak apa-apa. Akupun akhirnya percaya, bahwa Lamat berkata dengan jujur" Ibunya tidak mencegahnya lagi, sedang ayahnya duduk saja termangu-mangu. Namun sebenarnya iapun mulai dapat mempercayai, bahwa Lamat tidak akan menjerumuskan anaknya ke dalam bencana. Kalau ia ingin melakukannya, maka kesempatan itu telah pernah dimilikinya. "Sekarang, kalian dapat tidur dengan tenang. Setidaktidaknya malam nant i tidak akan terjadi sesuatu atas Pamot, meskipun itu bukan berarti bahwa ia dapat berbuat sesuka hatinya. Ia tetap harus berhati-hati dan bersiaga. Segala kemungkinan memang dapat terjadi karena sifat Manguri itu sendiri" berkata kakek Pamot. Kemudian "Aku memang lebih senang melihat anak-anak muda yang berani. Tetapi itu hanya karena pengaruh hidupku di masa muda dahulu. Pada masa anak-anak muda itu dapat dikekang lagi. Begitu Mataram berdiri, kami langsung ikut berjuang menegakkannya. Tetapi kemudian kami kehilangan sasaran ketika Mataram sudah t idak diguncang-guncang lagi. Akibatnya memang tidak menyenangkan" Orang tua itu agaknya merasakan kerinduan yang mendalam kepada masa mudanya, masa yang memberinya kebanggaan. "Tetapi sekarang harus sudah lain. Sekarang Mataram memang sedang memerlukan tenaga anak-anak mudanya. Bukankah Pamot setiap kali harus pergi ke Kademangan? Disana ia menerima latihan-latihan yang perlu, apabila setiap saat Mataram memanggilnya. Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikian juga kedua orang tuanya. "Nah, pergilah Pamot. Tetapi kau jangan menjadi besar kepala, karena kepalamu itu masih dapat juga dibeli dengan uang Manguri" Pamotpun kemudian berdiri. Kini ia tidak saja membawa sabit, tetapi diselipkannya goloknya di pinggangnya. "Kau bersenjata" bertanya ayahnya. Pamot mengangguk. Kakeknya kengerutkan keningnya sejenak. Tetapi katanya kemudian "Sebenarnya senjata tidak selalu membuat kau menjadi lebih aman. Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Kau menjadi liar karena kau merasa kuat, sehingga akhirnya kau terperosok ke dalam suatu tindakan yang tidak kau harapkan. Misalnya, tidak dengan sengaja kau telah melakukan pembunuhan. Atau kemungkinan yang lain, senjata itu telah membakar hati lawan-lawanmu dan memancing senjata-senjata mereka keluar dari wrangkanya. Kau mengerti maksudku?" Pamot mengangguk "Ya kakek" "Apa" "Aku dapat membunuh atau dibunuh karenanya" "Nah pertimbangkan" "Tetapi kalau lawan-lawanku bersenjata dan aku t idak bersenjata sama sekali, maka aku tidak akan dapat melawan mereka" -


Jilid 2
"MESKIPUN demikian, mereka tidak akan dengan serta merta membunuh kau" Pamot mengerutkan keningnya. Ia memang dapat mengerti maksud kakeknya. Tetapi apakah orang-orang yang membayanginya itu mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang waras. Kakeknya melihat keragu-raguan di wajah Pamot, sehingga ia merasa perlu menjelaskan "Pamot, perkelahian bersenjata selamanya selalu mencemaskan. Kalau kau kalah kau akan dikubur, tetapi kalau kau menang, maka dengan banyak cara, orang kaya itu dapat menyeretmu ke dalam hukuman yang berat" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik. Aku tidak akan membawa senjata" Ketika Pamot meletakkan goloknya, ayahnyalah yang bertanya "Apakah memang demikian seharusnya?" "Begitulah menurut pertimbanganku" Ayah Pamotpun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata "kau pergi dengan aku Pamot" "Jangan ayah" pinta Pamot "Aku ingin agar mereka mempunyai kesan bahwa aku memang selalu seorang diri di gubug itu" Ayahnya mengerutkan keningnya "Tetapi kalau terjadi sesuatu atasmu, aku bukan sekedar penonton Pamot" "Malam ini pasti tidak ayah" jawab Pamot. Ayahnya termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia mengangguk "Baiklah. Tetapi kalau pada saatnya kau belum kembali, aku terpaksa pergi. Aku tau, persoalan ini adalah persoalan anak-anak. Tetapi Manguri telah memanfaatkan kekayaan ayahnya. Sedang yang dapat aku berikan kepadamu Pamot, adalah sekedar tenagaku" Pamot menundukkan kepalanya. Ia justru terdiam sejenak. Dengan nada yang datar iapun kemudian berkata "Maafkan ayah, ibu dan kakek. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat ayah, ibu dan kakek menjadi gelisah" "Aku tahu" jawab ayahnya "tetapi yang sudah terlanjur terjadi ini akan berkepanjangan. Pada suatu saat memang diperlukan penyelsaian yang tuntas" Pamot mengangguk-angguk. "Sudahlah" berkata kakeknya "berangkatlah" "Baik kakek" jawab Pamot. Anak muda itupun kemudian minta diri kepada kedua orang tuanya beserta kakeknya,. Meskipun hampir setiap malam ia melakukan pekerjaan ini tanpa ada persoalan apapun, namun kali ini Pamot seolah-olah sedang bersiap untuk berangkat kemedan perang. Dengan hati yang berdebar-debar orang tuanya dan kakeknya melepaskannya. Sejenak kemudian Pamotpun telah menyusup ke dalam gelap. Melintasi halaman dan berjalan menyusur jalan pedukuhan. Jalan yang sudah setiap hari dilaluinya. Tetapi rasa-rasanya jalan ini seperti menjadi bertambah panjang. Langkah-langkahnya serasa menjadi terlampau pendek atau kakinya memang gemetar?. Namun Pamot berjalan terus. Di tangannya tergenggam sebilah sabit. Hanya itu. Senjata yang selalu dibawanya ke sawah dan ke pategalan. Kadang-kadanga ia memang harus memotong kayu dan membelahnya sama sekali. Kalau ia sengaja pergi menebang kayu maka ia selalu membawa sebuah kapak yang besar. Tetapi sudah tentu tidak di malam hari, sehingga karena itu maka Pamot tidak dapat membawa kapak, meskipun kapak merupakan senjata yang lebih baik dari hanya sebuah sabit. Ternyata bagaimanapun juga ia mencoba memahami pesan kakeknya, namun Pamot pasti akan merasa dirinya lebih aman apabila ia bersenjata, bukan sekedar sebuah sabit. Tetapi dengan sebuah sabit, masih juga lebih baik daripada ia sama sekali t idak bersenjata apapun. Namun agaknya apa yang dikatakan oleh Lamat memang benar. Malam itu t idak ada apa-apa terjadi. Ketika ia duduk memeluk lututnya justru di bawah gubugnya yang berkaki agak tinggi, ia melihat dua orang berjalan di pematang sawahnya. Seorang yang bertubuh tinggi besar sedangkan yang lain anak muda sebayanya. "Manguri dan Lamat" desis Pamot. Tetapi Pamot itupun menjadi berdebar-debar ketika keduanya berhenti beberapa langkah dari gubugnya. Manguri mencoba memandangi gubug itu tajam-tajam. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Pamot duduk di pematang justru di bawah gubug yang kegelapan. Tiba-tiba tanpa di-sangka-sangka Manguri justru menanggilnya. "Pamot, Pamot" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdiri dan keluar dari bawah gubugnya sambil terbungkukbungkuk. "Kau mencari aku Manguri" "O" Manguri agak terkejut "Kenapa kau bersembunyi?" "Aku tidak bersembunyi. Aku sedang melihat tinggi air di sawahku" Manguri tertawa "Benar begitu?" "Apa gunanya aku menipumu?" "Aku sangka kau sudah menjadi seorang pengecut sehingga kau sudah tidak berani lagi berada di atas gubugmu" "Apa yang aku takuti?" "Bagaimana kalau sekarang Lamat sekali lagi meremukkan tulang kepalamu? Kau pasti t idak akan dapat lari lagi. Kalau kami berdua berkelahi bersama-sama maka kau dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atasmu" "Jangan menghina" potong Pamot "apakah kalian ingin mencoba?" Manguri tertawa. Benar-benar menyakitkan hati. "Kau memang terlampau sombong. Tetapi aku sekali-sekali memang ingin melihat kepalamu retak. Apakah kau mau mencoba?" Lamatlah yang menjadi berdebar-debar. Kalau Pamot t idak dapat mengendalikan diri, maka keadaan akan menjadi lain dari rencana semula. Mungkin mereka akan terlibat dalam perkelahian yang sulit. Dan ternyata Pamotpun menjawab "Apaboleh buat. Begitukah yang kau inginkan" Suara tertawa Manguri tiba-tiba terputus. Dipandanginya wajah Lamat. Namun kemudian ia berkata "Kita tinggalkan saja anak gila itu. Jangan layani" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat Manguri sudah melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, maka Lamatpun segera mengikutinya pula. Ketika ia berpaling, dilihatnya Pamot masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Lamat menjadi heran ketika ia melihat Manguri tiba-tiba berhenti, sehingga hampir saja ia melanggarnya. "Kenapa" tanpa sesadarnya ia bertanya. Manguri tidak mengacuhkannya. Tetapi ia berkata kepada Pamot dibarengi dengan suara tertawanya yang serasa menusuk-nusuk jantung "kau tidak perlu menjadi demikian ketakutan dan bersembunyi di bawah gugubmu anak manis. Kau lihat, bahwa kami bukan harimau-harimau kelaparan yang siap menerkammu. Besok kau akan berjalan lewat pematang sawahmu ini pula, untuk melihat, apakah kau juga masih bersembunyi di bawah gubugmu" Manguri tidak menunggu jawaban Pamot. Suara tertawanya tiba-tiba meninggi. Namun kemudian hilang di telan sepinya malam. Lamat berjalan dengan patuh di belakang Manguri ketika ia meninggalkan sawah keluarga Pamot itu. Sekali-sekali masih terdengar Manguri tertawa kecil. Namun kemudian katanya "Anak yang sombong itu besok pasti akan datang lagi. Biarlah ia merasakan, bahwa ia tidak dapat bermain-main sekehendak hatinya dengan Manguri,. Besok ia akan ditangkap dan dibawa ke lumbung yang sudah tidak penuh lagi itu. Aku akan memaksanya berjanji untuk menjauhi Sindangsari. Setelah itu, baru aku akan mencari cara untuk menjerat burung liar itu" Lamat sama sekali tidak menjawab. Ia berjalan saja dengan kepala menunduk. Ikat kepalanya, yang membelit saja tanpa menutupi botaknya itu, berjuntai hampir sampai ke pundaknya. Sepeninggal Manguri dan Lamat, Pamot menarik nafas dalam-dalam. Begitulah cara Manguri mengintai. Ia sama sekali tidak bersembunyi di balik tanaman, atau di balik batang-batang jarak di pojok-pojok sawah. Tetapi ia datang dengan dada tengadah, dan bahkan memanggil manggil namanya. Pamotpun kemudian naik ke gubugnya perlahan-lahan. Kini ia sudah dapat beristirahat, justru setelah ia tahu, Manguri telah mendatanginya. Ia sadar, bahwa Manguri sengaja mengelitik harga dirinya, supaya besok ia benar-benar datang ke gubugnya. "Hem, ternyata Lamat berkata sebenarnya" Pamotpun kemudian merebahkan dirinya di atas galar yang kering, dialasi oleh selembar tikar yang kasar. Perlahan-lahan silirnya angin telah membelai keningnya, sehingga tanpa disadarinya, anak muda itupun akhirnya tertidur betapa ia mencoba untuk tidak lengah sekejappun. Pamot terkejut ketika ia mendengar derit di tangga gubugnya, sehingga gubugnya yang kecil itu berguncang. Dengan serta-merta ia bangkit sambil menyambar sabit di sampingnya. Namun ternyata bahwa sinar kemerah-merahan di timur telah menyilaukannya. "Pamot " ia mendengar seseorang memanggil. Kemudian sebuah kepala tersembul di hadapannya. Kepala ayahnya. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia terhenyak duduk kembali. Sambil meletakkan sabitnya ia berkata "Ayah mengejutkan aku" "Kau mencemaskan seluruh keluarga di rumah. Kau t idak kembali pada saatnya" "Aku tertidur ayah" "Anak dungu" ayahnya mengumpat "kami yang di rumah tidak sekejappun dapat tidur. Kau tidur mendekur disini sampai matahari hampir terbit" Pamot menundukkan kepalanya. Tetapi ia tersenyum. Ia beringsut ketika ayahnya duduk di sampingnya. Diletakkannya paculnya di sudut gubugnya yang kecil itu. "Tidak terjadi sesuatu apapun ayah" berkata Pamot. "Kau mengetahui bahwa tidak terjadi sesuatu. Tetapi kami tidak" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku tertidur disini" "Kau lengah Pamot. Kalau selagi kau tidur terjadi sesuatu atasmu, maka kesalahan terbesar terletak padamu sendiri" "Tetapi aku tertidur setelah aku merasa, bahwa tidak akan terjadi sesuatu" "Bagaimana kau tahu?" "Setelah Lamat mengantarkan Manguri datang kemari" "Mereka datang?" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Diceriterakannya tentang Manguri dan Lamat yang lewat di pematang sawahnya sambil menyindir-nyindirnya. Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya "Kalau begitu malam nanti agaknya Manguri benar-benar mengharap kau berada di gubug ini Pamot" "Ya ayah. Aku akan memenuhi keinginannya itu" Ayahnya menarik nafas dalam-dalam "kau terlalu dikuasai oleh perasaanmu. Perasaan seorang anak muda" "Tidak ayah. Aku akan membuat perhitungan sebaikbaiknya supaya aku tidak terjebak karenanya" "Perhitunganmu adalah perhitungan yang terlampau dipengaruhi oleh sifat-sifatmu" Pamot mengerutkan keningnya. Terdengar ia berkata lirih "Aku akan mencoba untuk lebih dewasa berpikir ayah" Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata lirih "Aku sadar, bahwa pada suatu saat yang tua-tua inipun tidak akan dapat tinggal diam. Aku lebih senang kalau kau tidak terlibat dalam persoalan semacam ini, apalagi dengan Manguri. Tetapi karena masalahnya sudah terlanjur, apaboleh buat" Pamot tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk. "Pulanglah. Ibumu dan kakekmu menunggu. Mereka sama sekali t idak t idur sekejappun" "Baik ayah" Pamotpun kemudian turun dari gubugnya, menjinjing sabitnya dan berjalan pulang. Di sepanjang jalan ia berusaha untuk mencari jalan agar ia terhindar dari malapetaka tetapi tanpa menyembunyikan diri di rumah atau dimanapun. "Aku bukan pengecut" desisnya. Langkah Pamot tiba-tiba terhenti ketika ia melihat seseorang berjalan sambil berkerudung kain panjangnya. Sejenak ia berpikir dan sejenak kemudian iapun melangkah semakin cepat memotong jalan orang itu, lewat pematangpematang yang membujur lintang diantara tanaman-tanaman di sawah. "Punta" Pamot memanggil. Yang dipanggil itupun kemudian berhenti. Seorang anak muda sebaya dengan Pamot. Tetapi anak itu agak lebih pendek, namun tampaklah otot-ototnya menjelu-juri seluruh tubuhnya. "He, kau dari sawah?" bertanya Punta. Pamot mengangguk "Dari mana kau?" "Dari Kademangan. Bukankah malam ini aku mendapat giliran ronda?" Pamot mengingat-ingat "O, ya Aku masih tiga hari lagi" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. "Punta" berkata Pamot sungguh-sungguh "apakah kau mau menolong aku?" Punta mengerutkan keningnya "Apakah kau mempunyai kesulitan? "Kau pasti sudah mendengar" jawab Pamot. "Persoalanmu dengan Manguri?" "Ya" Pamot menganggukkan kepalanya. Punta menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukanggukkan kepalanya ia berkata "Pamot. Aku adalah kawanmu yang dekat, seperti beberapa kawan yang lain. Tetapi untuk mencampuri persoalanmu secara langsung, kami agak berkeberatan. Dengan demikian persoalan yang seharusnya semakin lama menjadi semakin padam, justru akan menjadi sebaliknya. Aku membantumu, dan Manguri akan mencari kawan-kawan pula. Dengan demikian persoalannya tidak akan dapat selesai" Punta berhenti sejenak "apakah tidak ada suatu cara yang baik untuk menyelesaikan masalah itu?" "Aku sudah berusaha melupakannya Punta. Tetapi tiba-tiba aku dihadapkan pada suatu keharusan untuk melawan. Manguri terlampau tinggi hati untuk berbicara sebagai seorang kawan. Semalam ia datang ke gubugku di sawah bersama Lamat. Agaknya ia memang akan membuat persoalan ini menjadi besar" Punta mengerutkan keningnya "Apa yang akan dilakukannya?" Pamot ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata "Punta. Aku akan berkata sebenarnya dan apa yang ada. Terserah tanggapanmu atas persoalan itu" Pamot berhenti sejenak. Ketika Punta menganggukkan kepalanya, maka Pamotpun menceriterakan masalahnya kepada Punta. Punta mengerutkan keningnya. Wajahnya kian lama menjadi kian tegang. Sehingga akhirnya ia bertanya "kau berkata sebenarnya? "Sudah aku katakan" jawab Pamot "kau mengenal aku sejak kanak-kanak. Kau mengenal tabiat dan sifat-sifatku, sehingga seharusnya kau dapat menebak apakah aku berbohong ataukah aku berkata sebenarnya" "Pamot " jawab Punta "dalam persoalan sehari-hari kau memang tidak pernah, atau katakanlah, jarang sekali berbohong. Tetapi dalam persoalan-persoalan yang khusus, kebiasaan kadang-kadang tidak berlaku lagi. Seseorang dapat berbuat aneh-aneh, dan bahkan bertentangan sama sekali dengan kebiasaan dan pandangan hidupnya sendiri. Apalagi seseorang yang sudah terlanjur terdorong masuk ke dalam suatu perbuatan. Biasanya ia akan terlalu sulit untuk menarik diri, meskipun untuk bertahan ia akan mempergunakan caracara yang ditentang oleh hati nuraninya sendiri" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Terkilas sepintas diangan-angannya bayangan seorang raksasa botak yang bernama Lamat. "Bukankah begitu?" bertanya Punta. "Kau benar Punta" jawab Pamot "tetapi bagaimana aku dapat meyakinkan kau, bahwa aku berkata sebenarnya?" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun bertanya "Jadi bagaimana maksudmu sebenarnya?" "Sudah aku katakan bahwa aku akan mengatakan yang akan terjadi. Kemudian aku justru mengharap sikapmu" jawab Pamot "apakah kau menganggap bahwa hal itu sudah wajar, dan sudah wajar pula untuk dibiarkan tanpa tanggapan apapun, atau sudah wajar pula bahwa aku harus bersembunyi atau bagaimana?" Punta menepuk bahu Pamot sambil tersenyum. Katanya "Baik Pamot. Kau berhasil memaksa aku menurut caramu untuk melibatkan diri dalam persoalan ini" berkata Punta kemudian "tetapi aku tidak akan bersikap mutlak. Aku akan melihat perkembangan keadaan. Seandainya ada perbedaan antara ceriteramu dengan apa yang akan terjadi, aku dapat melakukan tindakan-t indakan darurat" "Sudah aku katakan, terserah kepadamu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Memang, agaknya kau tidak sedang bermain-main. Baiklah. Aku akan membantumu" "Ingat, Manguri akan membawa lima orang kawankawannya "Pamot berdesis, namun segera disusulinya "Bukan. Sama sekali bukan kawan-kawannya, tetapi orang-orang upahannya" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya "Pamot, apa yang akan kau lakukan seandainya kau tidak menjumpai aku pagi ini?" Pamot mengerutkan keningnya. Katanya "Pada dasarnya aku memang akan minta bantuan kepada kawan-kawanku. Tetapi seandainya aku tidak menemuimu disini, mungkin aku akan langsung menghubungi pemimpin kelompok kita di Kademangan" Punta tersenyum. Katanya "kau sudah benar-benar kebingungan. Tetapi kau dapat mempercayai aku. Aku tidak akan ingkar, selagi kau tidak menjerumuskan aku ke dalam kesulitan sekedar untuk memuaskan hatimu. Maksudku, kaulah yang mencari perkara. Tetapi selagi kau dalam sikap mempertahankan dirimu dan kehormatanmu, aku akan membantumu" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berdesis "Terima kasih. Apakah aku harus datang ke rumahmu untuk memberikan penjelasan tentang keadaanku dan tentang kelima orang itu?" " Aku kira keteranganmu sudah cukup jelas. Aku akan mencoba menyesuaikan diriku, mengenai tempat dan waktu. Kalau ada keragu-raguan, biarlah aku datang ke rumahmu. Kalau aku sudah yakin, maka aku tidak perlu lagi menanyakan sesuatu" "Terima kasih" "Mudah-mudahan kita berhasil. Sebenarnya akupun tidak dapat melihat Manguri berbuat sekehendak hatinya lebih lama lagi. Tetapi sudah tentu aku tidak akan berselisih dengan siapapun tanpa sebab" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia berkata "Terima kasih. Aku percaya kepadamu" Keduanyapun kemudian berpisah. Pamot sudah menjadi agak lega, bahwa ia sudah berhasil menemukan jalan yang mungkin dapat menghindarkannya dari bencana. Bukan sekedar bersembunyi dan menunda penyelesaian. Kalau kali ini ia dan kawan-kawannya berhasil, maka hal itu akan merupakan peringatan bagi keluarga Manguri" "Tetapi bagaimana kalau Punta gagal?" desisnya "Kalau Punta tidak dapat mengatasi dan mengalahkan orang-orang Manguri, maka mereka akan menjadi semakin besar kepala" Kembali keragu-raguan membayang di hati Pamot. Namun meskipun demikian ia tidak lagi terombang-ambing dalam keadaan yang tidak menentu. Kalah atau menang, entahlah. Tetapi kalau ia tidak seorang diri, maka persoalannya akan. Manguri tidak lain akan dapat berbuat terlampau banyak terhadap beberapa orang sekaligus. Ketika ia memasuki halaman rumahnya, matahari sudah menjenguk dari balik perbukitan. Kakeknya sudah mulai menyapu halaman dan ibunya sudah sibuk menuang air panas ke dalam mangkuk. Ketika mereka melihat Pamot pulang, dengan serta merta merekapun segera menyongsongnya. "Bagaimana dengan kau Pamot?" bertanya kakeknya. "Lamat berkata sebenarnya, kakek. Tidak ada apa-apa yang terjadi atasku" "Tetapi kenapa kau jauh terlambat pulang? Apakah kau tidak bertemu dengan ayahmu" "Ketika ayah sampai ke gubug, aku masih ada disana. Agaknya aku tertidur semalam" "Hem" kakeknya menarik nafas dalam-dalam "dalam keadaan serupa itu kau masih juga dapat tidur. Bukan main. Kamilah yang semalam selalu gelisah. Kalau aku tahu, akulah yang menyusul kau ke sawah. Aku ikat kaki dan tanganmu dengan tiang-tiang gubug" Pamot tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum di dalam hati. Namun dengan demikian ia kini menyadari, bahwa seluruh keluarga telah ikut menjadi gelisah karena pokalnya. Ayahnya, ibunya dan kakeknya yang sudah tua itupun mencemaskannya. Bahkan semalam suntuk mereka sama sekali t idak tertidur. "Aku telah membuat mereka selalu gelisah" katanya di dalam hati. Tetapi sudah tentu Pamot tidak dapat berbuat lain. Ia masih tetap merasa sebagai seorang anak laki-laki yang tidak boleh melarikan diri dari kesulitan. "Minumlah" berkata ibunya kemudian. Pamotpun kemudian masuk keruang dalam dan duduk di atas sebuah amben besar. Sambil menyeka keringat dinginnya yang mengalir karena berbagai masalah yang bergejolak di dalam dadanya, ia melepaskan ikat kepalanya. Kemudian menggantungkannya pada dinding di sebelah pintu masuk ke dalam bilik kiri. Sambil bertelekan pada lambungnya ia menggeliat. "Kalau kau akan mencuci muka, pergilah kesumur lebih dahulu" berkata ibunya. "Baik bu" jawab Pamot sambil mengangguk. Ibunya ternyata begitu banyak menaruh perhatian kepadanya. Hal itu sudah berjalan bertahun-tahun sejak ia masih kanak-kanak masih bayi dan bahkan sejak di dalam kandungan. Tetapi dalam keadaan yang demikian, kecemasan seorang ibu menjadi semakin terasa. Bahkan mungkin kegelisahan ibunya melampaui kegelisahannya sendiri. Pamotpun kemudian pergi kesumur membersihkan dirinya. Ia tidak melupakan tanaman sirihnya. Disiramnya batangbatang sirih itu dengan beberapa timba air yang dialirkannya lewat sebuah parit kecil. Setelah minum beberapa teguk air hangat, Pamot tidak melewatkan tugas-tugasnya di rumah. Membersihkan kebun belakang, kandang kerbau dan mengisi tempat air di dapur. "Beristirahatlah" berkata ibunya "kau tentu lelah" Pamot mengerutkan keningnya. Setiap malam ia pergi ke sawah. Setiap malam ia melakukan pekerjaan serupa, bahkan kadang-kadang ia sama sekali tidak tidur menunggui air. Di pagi harinya kerja yang itu-itu juga yang dilakukannya. Bahkan kadang-kadang membelah kayu. Tetapi kini tiba-tiba ibunya menyusurnya beristirahat. Karena itu, maka Jawabnya "Aku t idak lelah ibu" Ibunya tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah anaknya. Wajah itu sama sekali tidak membayangkan kecemasan, kegelisahan dan kelelahan, karena Pamot memang berusaha untuk menyembunyikannya di hadapan ibunya. "Ibulah yang agaknya lelah" berkata Pamot kemudian "bukankah aku sudah biasa melakukan pekerjaan ini. Bahkan semakin aku dapat tidur di atas gubug" Ibunya menjadi heran pula. Kenapa tiba-tiba ia menganggap anaknya menjadi terlampau sibuk dan banyak sekali membuang tenaga. "Pamot benar" katanya di dalam hati "Aku sendirilah yang kebetulan lelah sekali. Lelah, gelisah, dan cemas" Hari itu Pamot sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda yang aneh. Ia melakukan pekerjaannya sehari-hari seperti biasanya. Di siang hari ia masih juga pergi ke pategalan membawa sebuah kapak untuk mencari kayu bakar. Tetapi tidak setahu keluarganya, ketika ia pulang dari pategalan ia memerlukan singgah juga ke rumah Punta. "Bagaimana Punta?" bertanya Pamot" "Darimana kau?" bertanya Punta pula. "Dari pategalan" "Jangan cemas. Aku sudah berusaha. Mudah-mudahan usahaku berhasil" "Terima kasih" "Aku akan berada di tempat yang baik. Aku akan datang jauh sebelumsaat yang kita duga itu" "Terima kasih" Pamot merasa menjadi semakin ringan. Beban yang menghimpit jantungnya telah tersalurkan untuk sebagian, sehingga dadanya tidak lagi terasa seakan-akan pepat. Ketika ia sampai di rumah, ayahnya telah berada di rumah pula. Sejenak kemudian merekapun makan bersama-sama. Dan sudah tentu pula mereka berbicara tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas Pamot, malamnanti" "Aku sudah menghubungi kawanku" berkata Pamot. "Siapa?" "Punta" Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya, Katanya "Anak baik. Aku percaya kepadanya, meskipun keadaannya tidak lebih dari keadaan keluarga kita" Kakeknyapun mengangguk-anggukkan pula. Katanya "'Mudah-mudahan ia dapat menolongmu" Semakin sore, ibu Pamot menjadi semakin gelisah. Meskipun Pamot sendiri dan ayahnya masih juga pergi ke sawah. Berbagai macam bayangan hilir mudik di kepalanya. Kalau terjadi sesuatu atas anaknya, maka hatinya pasti akan hancur seperti mangkuk yang terjatuh di atas batu pualam. "Kakek" berkata Pamot kepada kakeknya, ketika kakeknya berada di halaman belakang tanpa ada orang lain "apakah malamnanti aku juga tidak boleh bersenjata?" Kakeknya mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia berdesis "Pamot, malam nanti kau akan menghadapi orang orang yang lain dari Manguri sendiri. Mereka adalah orangorang upahan yang tidak mempergunakan nalar sama sekali" Pamot mengangguk-angguk. "Mereka hanya sekedar menjalankan perintah Manguri. Bukankah mereka diperintahkan menangkap kau hidup-hidup dan membawa ke rumah Manguri?" "Ya" Mereka tidak akan mempergunakan senjata yang akan dapat membahayakan nyawamu" "Ya, tetapi aku sendiri bagaimana? Apakah aku boleh membawa senjata atau tidak?" Sekali lagi kakek itu merenung sambil mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia menjawab "Baiklah. Orangorang yang akan kau hadapi adalah orang-orang liar. Mereka tidak mau gagal, sehingga mereka kehilangan upah yang sudah dijanjikan" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tahu benar maksud kata-kata kakeknya. Orang-orang itu menggantungkan hasil kerjanya pada usaha mereka menangkap Pamot. Kalau mereka berhasil, mereka akan mendapat upah, kalau tidak, mereka tidak akan mendapat apa-apa. Jadi dengan demikian, tujuan mereka hanyalah menangkap Pamot, tanpa menghiraukan apapun juga. "Maka dari itu, kau harus benar-benar siap menghadapi keadaan" berkata kakeknya pula "apakah Punta sudah benar benar dapat kau percaya?" "Aku percaya kek" "Dimana mereka akan menunggu kau?" "Mereka tidak menyebutkannya. Tetapi mereka akan datang jatuh sebelum saat-saat yang aku duga itu tiba, tengah malam" "Bagus" berkata kakeknya "sekarang beristirahatlah. Sebentar lagi hari akan gelap. Kau harus bersiap-siap untuk pergi. Ibumu pasti tidak akan dapat tidur semalam suntuk" Pamot menganggukkan kepalanya. Maka sejenak kemudian Pamotpun segera pergi ke sumur. Setelah membersihkan diri, sebagaimana biasa setelah matahari terbenam, merekapun duduk di atas amben yang besar di ruang tengah mengitari makan malam. Tetapi tidak seorangpun yang dapat makan dengan enaknya. Semuanya sudah mulai dibayangi oleh kegelisahan tentang keadaan Pamot pada malam yang sudah mulai meraba pedukuhan Gemulung itu. Namun dengan demikian, mereka justru tidak terlampau banyak berbicara seperti biasanya. Pamot menyuapi mulutnya sambil menunduk. Ibunya hampir tidak menelan nasi sama sekali, sedang ayah dan kakeknya hanya berbicara satu-satu. Dan pembicaraan mereka itupun berkisar pada keadaan Pamot, Manguri, Punta dan Lamat. "Kau memang harus berhati-hati Pamot" desis kakeknya kemudian. Sedang ayahnya menyambung "Kalau Punta salah hitung, maka keadaan akan sangat berlainan. Dalam keadaan yang demikian, kau jangan terlampau membiarkan hatimu berbicara, tetapi otakmu" "Baik ayah" "Nah, sekarang kau masih mempunyai waktu untuk beristirahat atau melakukan apa-apa yang perlu buatmu" "Aku akan berangkat agak awal ayah. Mungkin aku memerlukan sesuatu" "Bagaimana dengan Punta?" kakeknya masih mencoba menegaskan. "Ia akan datang lebih awal juga" Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Kalau hal itu kau anggap menguntungkan, maka terserahlah kepadamu" "Baiklah ayah" jawab Pamot "aku akan dapat melihat keadaan sebelumnya " Pamotpun kemudian mempersiapkan dirinya, meskipun hatinya juga dirayapi oleh kegelisahan. Ia masih juga cemas, bagaimana kalau Punta tidak dapat memenuhi janjinya. Tetapi ia memang keras hati. Ia tidak mau surut selangkah. Apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya. Malam itu Pamot berangkat jauh sebelum waktu yang biasa dilakukannya. Ia berjalan berkerudung kain panjangnya untuk menyembunyikan sarung parangnya yang mencuat di lambung kirinya. "He, kemana kau Pamot?" bertanya seorang kawannya, seorang anak muda yang bertubuh tinggi tegap. "Melihat air di sawah" jawab Pamot. "Masih terlalu sore. Marilah kita duduk-duduk di gardu" "Terima kasih. Nanti, setelah aku pulang dari sawah, aku akan duduk-duduk di gardu" "Ah kau" berkata anak muda itu "Kenapa tergesa-gesa?" "Sore tadi aku tidak pergi ke sawah. Sekarang aku harus menengoknya " "Aku melihat kau pergi dengan ayahmu" Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia bergumam "O, ya. Aku lupa. Tetapi sekarang aku perlu sekali" Kawannya tidak segera menjawab. Dan Pamotpun terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu. Anak muda yang bertubuh tinggi tegap itu adalah kawannya bermain sejak kecil. Kawan yang baik. Kalau ia memberitahukan kesulitannya, maka ia pasti akan membantunya seperti Punta. "Tetapi aku sudah menyerahkan semua persoalan kepada Punta" berkata Pamot di dalam hatinya "kalau aku masih menghubungi orang lain, maka aku akan dianggapnya kurang mempercayainya. Akupun, menurut pendapatku, sudah tidak keliru lagi, karena Punta adalah tetua, meskipun tidak resmi, dari anak-anak muda gemulung yang setiap kali ikut pergi ke Kademangan termasuk anak ini" "Maaf" Pamot kemudian berkata "lain kali kita bermainmain. Sekarang aku takut ayah marah" Pamot menjadi heran ketika ia melihat anak muda yang bertubuh tinggi itu tertawa "Kau Pamot. Ada-ada saja yang kau lakukan" "Kenapa?" Pamot menjadi heran. Tiba-tiba saja, tanpa di sangka-sangka anak muda itu meraba lambung Pamot, sehingga Pamot terkejut. "Apa yang kau bawa itu? Parang? Golok?" "Hus" Pamot berdesis. "Aku sudah curiga. Biasanya kau membawa sabit atau cangkul atau kapak. Tetapi sekarang kau membawa parang di dalam sarungnya. Kenapa?" Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab "Aku memang sering membawa parang, sejak babi hutan itu mengganggu tanaman. Bahkan akhir-akhir ini aku mendengar ada seekor harimau yang berkeliaran di daerah persawahan" Tetapi Pamot menjadi semakin heran ketika kawannya itu tertawa semakin keras. Katanya "Baik, baik. Pergilah. Sebentar lagi aku juga akan pergi ke sekitar sawahmu" "Kenapa?" dada Pamot berdesir. Tetapi anak itu masih saja tertawa. "Kenapa?" Pamot mendesak. Akhirnya anak muda itu berkata "Jangan gelisah. Aku tahu semua persoalan yang sedang kau hadapi. Bukankah kau akan berkelahi? Kau sudah bersiaga dengan senjata itu" "Kau mimpi" jawab Pamot. "Punta sudah menemui aku. Bukankah kau harus menghadapi lima orang bayaran yang akan dikirim oleh Manguri?" Wajah Pamot menjadi tegang. Tetapi anak muda itu masih tertawa juga "Aku adalah salah seorang dari kawan-kawan kita yang akan pergi bersama Punta" Kini Pamot menarik nafas dalam. Sambil memukul lengan kawannya yang tinggi besar itu ia berdesis "Kau membuat aku hampir gila" katanya "terima kasih. Mudah-mudahan kita berhasil" "Aku memang sudah muak pula melihat tingkah laku Manguri. Kadang-kadang aku memang menunggu, kapan aku mendapat kesempatan serupa ini tanpa memulainya. Kini kita tidak akan dapat dipersalahkan oleh siapapun, karena kita memang membela diri. Setidak-tidaknya kau sedang membela dirimu" "Terima kasih. Aku memang mengharap bantuan kalian. Aku tidak dapat melawannya seorang diri. Manguri mempunyai uang untuk melakukan apa saja. Tetapi aku mempunyai kawan" Anak yang tinggi tegap itu masih saja tertawa "Pergilah. Aku akan menyusul kelak" Pamotpun segera melanjutkan perjalanannya. Kini hatinya menjadi semakin tenteram. Setidak-tidaknya ia sudah mempunyai dua orang kawan. Yang tinggi tegap itu beserta Punta sendiri. Bertiga dengan dirinya sendiri. "Kalau mereka benar-benar hanya berlima, maka tiga dari kami sudah cukup untuk menghadapinya" desis Pamot di dalam hatinya. Namun kemudian "Tetapi aku belum tahu, siapakah yang lima itu?" Di sepanjang jalan Pamot selalu membayangkan apa yang kira-kira bakal terjadi. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi gemericik air di parit, di bawah kakinya. Batang-batang jagung muda yang hijau dan kunang-kunang yang bertebaran seakan-akan tidak tampak di matanya. Tetapi Pamot menarik nafas dalam-dalam ketika terasa angin yang silir mengusap wajahnya yang berkeringat. "Hem" Pamot menarik nafas sekali lagi dan sekali lagi, seakan-akan akan di hirupnya udara malam di seluruh padang. Sebenarnya Pamot sama sekali t idak menghendaki hal-hal yang dapat mengguncangkan ketenteraman hidup rakyat Gemulung. Tetapi apabila tidak ada sikap apapun, maka yang sudah berjalan itu akan berjalan terus tanpa batas. Khususnya di lingkungan anak-anak muda dan gadis-gadis. Perbuatan Manguri benar-benar tidak dapat dibiarkannya. "Tetapi apakah aku sudah bertindak tepat" bertanya Pamot kepada diri sendiri "Aku seolah-olah sekedar menuruti perasaan. Kawan-kawan akan terlibat dalam bentrokan karena hubunganku dengan Sindangsari. Kalau hal itu yang akan dijadikan sumber dari benturan ini, maka akulah yang telah menyeret kawan-kawan itu ke dalam kesulitan. Apalagi apabila di antaranya ada yang cidera" Pamot justru menjadi termangu-mangu. "Tetapi semuanya sudah terlanjur, "untuk menenteramkan hatinya Pamotpun berkata kepada diri sendiri "mereka tidak sekedar membantuku. Tetapi mereka memang berpendirian, bahwa kelakuan Manguri itu sudah tidak pantas lagi" Pamotpun kemudian menaiki gubugnya jauh sebelum masanya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Tetapi dengan demikian ia masih sempat mengatur getar di dadanya. Dari atas gubugnya ia mencoba melihat-lihat berkeliling. Tetapi ia tidak melihat sesuatu, selain hitamnya malam dan daun-daun yang hijau gelap menjorok ke dalamkelam. Tanpa sesadarnya Pamot meraba-raba hulu parangnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata kepada diri sendiri "Aku tidak memulainya" Sementara itu, agak jauh dari padukuhan Gemulung, di bawah sebatang pohon nyamplung yang besar dan rimbun, beberapa orang sedang duduk sambil berkelakar. Di antara mereka terdapat Manguri dikawani oleh Lamat. "Sebentar lagi kalian harus berangkat ke gubug itu" berkata Manguri "biasanya hampir tengah malam ia baru datang, Jangan terlalu banyak menimbulkan kegaduhan, karena kadang-kadang ada juga orang lain yang berkeliaran di sepanjang pematang menyusur air. Kalian harus bertindak cepat, dan membawa anak itu malam ini juga ke rumah. Ia harus benar-benar jera. Bukan saja tidak lagi mengganggu gadis itu, tetapi ia tidak boleh membuka mulutnya kalau ia ingin selamat" Orang-orang yang duduk di bawah pohon nyamplung itu mengangguk-angguk. Salah seorang menjawab "Kau masih saja ragu-ragu. Seharusnya kau sudah mengenal kami dengan baik" Manguri menggelengkan kepalanya. Jawabnya "Di dalam setiap persoalan yang baru, aku harus menganggapnya kalian orang-orang baru. Persoalan kita bukan sekedar persoalan yang dapat diselesaikan dengan kebiasaan, karena kerja yang kita hadapipun bukan masalah kebiasaan pula. Orang-orang yang kau hadapi adalah orang-orang yang berbeda-beda yang kadang-kadang kau belum tahu, sampai dimana kemampuannya" "Meskipun seandainya anak itu dapat menangkap angin, kami t idak akan gagal" Manguri mengangguk-anggukan kepalanya "Mudahmudahan" "Nah, kapan kami harus berangkat?" "Kau dapat saja berangkat sekarang. Tetapi awas jangan sampai seorangpun yang mengetahui kehadiran kalian. Kalian akan tampak sebagai orang-orang asing di padukuhan ini. Kecurigaan yang dapat timbul pasti akan mengganggu pekerjaanmu" "Baiklah. Kami akan berangkat saja sekarang. Kamu sudah tahu benar letak gubug yang kau katakan. Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berpalingkepada Lamat sambil berkata "Apakah kalian memerlukan seorang penunjuk jalan?" Orang-orang upahan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Merekapun memandang Lamat dengan wajah bertanya-tanya. Sementara itu, dada Lamat menjadi berdebar-debar. Kalau ia langsung dilibatkan ke dalam masalah yang rumit ini, ia pasti tidak akan dapat menghindar lagi. Bersama-sama dengan kelima orang itu ia tidak akan dapat berpura-pura. Ia harus ikut bersama mereka menangkap Pamot dan membawanya ke rumah Manguri. Tetapi setitik embun serasa jatuh ke dinding jantungnya ketika ia mendengar salah seorang dari kelima orang itu berkata "Tidak perlu. Kehadirannya akan mengurangi nilai kerja kami. Seakan-akan tanpa orang lain kami tidak mampu menyelesaikannya, sehingga tidak akan ada alasan bagimu untuk memotong upah yang sudah kau janjikan" "Gila" Manguri berdesis "kau kira aku berpikir sampai kesana?" Kelima orang itu tertawa "Jangan tersinggung" berkata salah seorang dari mereka "kami pernah mengalami hal serupa itu" "Tetapi bukan aku" "Ya, bukan kau" "Baik. Lamat tidak akan menyertai kalian. Tetapi ingat, jangan gagal" Sekali lagi kelima orang itu tertawa hampir berbareng. Salah seorang dari mereka menjawab "Kau tampaknya kurang percaya kepada kami" Manguri tidak menjawab. Dicobanya mengamati kelima orang itu satu demi satu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata di dalam hati "Mereka sudah terlampau biasa melakukan pekerjaan ini. Mudah-mudahan mereka berhasil" Sejenak kemudian maka kelima orang itupun minta diri. Mereka berjalan menyusur jalan kecil di pinggir parit sebelum meloncat ke sebuah pematang. "Lamat" desis Manguri "apakah kau dapat mempercayai mereka, bahwa mereka akan berhasil? "Sudah tentu" sahut Lamat. "Bohong" tiba-tiba Manguri membentak "jawab yang sebenarnya. Apakah kelima orang itu lebih kuat dari kau seorang diri menghadapi Pamot" "Ya, ya" Lamat tergagap "aku kira mereka pasti lebih kuat daripada aku seorang diri. Mereka dapat menghadapi lawannya yang hanya seorang itu dari lima arah yang akan sangat membingungkan" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Kalau kau tidak terlampau dungu, aku tidak perlu mempergunakan orang-orang semacam monyet-monyet itu. Seharusnya kau dapat memutar leher Pamot. tetapi kau gagal. Mudah-mudahan orang-orang itu tidak gagal" Lamat tidak menjawab. Wajahnya yang keras seolah-olah tambah mengeras seperti sebongkah batu asahan. Namun terasa goresan-goresan yang pedih pada dinding hatinya yang lunak. Perlahan-lahan kepalanya menunduk-meskipun ia masih tetap berdiri tegak di atas kakinya yang renggang. Manguri masih berdiri di tempatnya, memandang ke arah kelima orang upahannya itu menghilang di balik tanaman. Terbayang orang-orang yang kasar dan kuat itu mengepung Pamot yang ketakutan. "Huh" tiba-tiba ia bergumam "salahnya sendiri. Kalau ia tidak membuat persoalan dengan Manguri, maka tidak akan terjadi bencana baginya" Lamat mengangkat wajahnya. Di pandanginya saja Manguri yang masih berdiri tegak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lamat" katanya "bagaimana, seandainya kau seorang diri harus berkelahi melawan kelimanya? Apakah kau akan mampu mengalahkannya?" Dada Lamat menjadi berdebar-debar kembali. Ia tidak tahu maksud itu. Apakah sesudah mereka menangkap Pamot, kemudian ia harus mengusir kelima orang itu? "He, apakah kau sudah mati?" bentak Manguri "kenapa kau diamsaja?" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya "Aku belum dapat mengatakan. Aku belum mengetahui, sampai dimana kemampuan mereka seorang demi seorang. "Tetapi apakah kau berani melawan mereka berlima? "Aku tidak pernah takut terhadap apapun dan siapapun. Tetapi aku tidak dapat mengatakan, apakah aku akan dapat memenangkan perkelahian itu?" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Kau memang berani. Tetapi kau terlampau bodoh. Kau tidak dapat menangkap Pamot, meskipun kau dapat menyakitinya" Sekali lagi Lamat menarik nafas. Sudah lebih dari seribu kali Manguri menyebutnya sebagai seorang yang bodoh karena tidak dapat menangkap Pamot. Untunglah tidak tersengaja, Pamot telah membentur batu, sehingga wajahnya menjadi bengkak dan biru pengab. Kalau Manguri tidak melihat bengkak itu, maka ia akan mengumpatinya setiap saat. "Marilah kita pulang. Aku mengharap kelimanya berhasil. Menilik badan mereka yang kekar. Wajah mereka yang keras dan bengis. Mata yang menyala seperti mata kucing. Dan nafsu yang tidak terkendalikan untuk mendapatkan uang" Manguri menarik nafas dalam-dalam. Kemudian "yang bertubuh jangkung meskipun agak kurus itu memiliki sepasang mata seperti mata setan. Sedang yang berjambang lebat dan berkumis jarang itu bagaikan serigala yang kelaparan" Manguri tertawa berkepanjangan. Sambil mengayunkan kakinya ia berkata di sela-sela tertawanya "Aku akan melihat, bagaimana Pamot menjadi ketakutan. Aku akan membuatnya jera. Sebenarnya jera" Dan suara tertawa Manguri melengking di sepinya malam, di tengah-tengah bulak yang sunyi. Keduanyapun kemudian berjalan semakin lama semakin cepat, pulang ke rumah Manguri. Di sudut desa mereka melihat beberapa orang anak-anak muda yang meronda. Salah seorang dari anak muda itu menyapanya "Siapa he?" "Buka matamu" jawab Manguri "aku Manguri bersama Lamat" Anak muda yang bertanya itu serasa tersentuh api di ujung telinganya. Tiba-tiba saja ia meloncat turun dari gardu. Namun ketika terpandang wajah Lamat yang kasar, dan matanya yang serasa akan menelannya, anak muda itu menahan dirinya. "Darimana kau Manguri?" bertanya anak muda itu. "Itu urusanku" "Biasanya kau tidak sekasar itu" berkata anak muda yang berada di gardu. Kawan-kawannyapun satu persatu turun dan berdiri berjajar di muka gardu. Empat orang. Manguri tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba terbersit di hatinya, kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan. Kini ia sedang menghadapi Pamot, yang jauh lebih dekat pada anak-anak muda itu daripadanya sendiri. Karena itu, maka iapun kemudian menjawab "aku tergesagesa. Maaf mungkin aku terlampau kasar" Anak-anak muda yang berdiri di muka gardu itu menarik nafas. "Aku akan pulang" Tidak seorangpun yang menjawab. Dan tiba-tiba Manguri bertanya "He, apakah kalian sudah mendapat minum dan makanan?" Anak-anak muda yang sedang meronda itu saling berpandangan sesaat. Salah seorang dari mereka menjawab "Nanti, tengah malam" "Kenapa kalian tidak beli saja gula kelapa dan ketela pohung? Kemudian merebus air dan ketela sambil duduk mengelilingi perapian" Tidak seorangpun yang menjawab. "Mungkin kalian memerlukan uang" Manguri mengambil beberapa keping uang dari saku ikat pinggangnya "kalian dapat membelinya" Anak-anak muda yang sedang berdiri di muka gardu itu menjadi termangu-mangu. Namun slah seorang dari mereka menjawab "Terima kasih Manguri. Tetapi tidak ada penjual gula kelapa dan pohung yang masih ada di malambegini" "O" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya "Aku akan mengirimkan dari rumah" "Tengah malam kami sudah mendapatkannya " "Sebelum tengah malam, agar kalian tidak kedinginan" Manguri tidak menunggu jawaban anak-anak muda itu. Ia berjalan terus dengan tergesa-gesa. Di belakangnya Lamat mengayunkan kakinya sambil menundukkan kepalanya. Begitu Manguri masuk ke halaman rumahnya, langsung ia pergi ke belakang, membangunkan pembantu rumah tangganya. "Rebus ketan hitam seberuk" Lamat mengerutkan keningnya. Di gardu hanya ada empat orang. Betapa besar perut mereka, namun mereka tidak akan dapat menghabiskan ketan seberuk. Tetapi ia tidak berkata apapun. Ia duduk saja di muka pintu dapur menunggui orang-orang yang merebus ketan sambil bersungut-sungut. Ia tahu benar, bahwa ialah yang nanti harus mengantarkan ketan itu ke gardu. Sepeninggal Manguri, anak-anak muda yang berada di gardu itupun menjadi terheran-heran. Sikap Manguri agak terasa asing bagi mereka. Biasanya, meskipun tidak terlampau baik. Manguri bukanlah orang yang bersikap terlalu kasar, meskipun anak-anak muda itu mengetahui, bahwa wataknya terlampau sombong. Tetapi ia tidak juga akan seramah malam itu. Menyediakan uang untuk membeli pohung dan gula kelapa. "Biasanya hanya gadis-gadislah yang sering diberinya uang disiang hari untuk membeli rujak nanas, atau rujak degan" desis salah seorang dari mereka. "Aneh" berkata yang lain "pasti pada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Mungkin ia tergila-gila kepada seorang gadis, dan malam ini baru saja pergi melamarnya. Kawannya tersenyum. Katanya "Anak itu sedang tergila-gila kepada Sindangsari. Bukankah ia pernah berkelahi melawan Pamot karena ia mencegat Sindangsari di sawah dan kebetulan Pamot melihatnya" "Itu hanya karena salah paham" berkata yang lain, yang seakan-akan mengetahui persoalannya dengan pasti. Tetapi pembicaraan itu terhenti, ketika hampir tengah malam, Lamat datang dengan ketan yang masih hangat. Beberapa tangkep gula kelapa dan sebungkus kelapa parut. "Aku disuruh Manguri menyampaikan ini kepada kalian" suara Lamat dalamdan datar. Sekali lagi anak-anak muda yang sedang bertugas ronda itu saling berpandangan. "Terimalah. Tidak ada apa-apanya " Salah seorang dari para peronda itu menerimanya sambil berkata "Terima kasih" "Kalian akan menjadi hangat. Kemudian kalian akan dapat tidur dengan nyenyak" "Kami sedang ronda. Kami tidak akan tidur" "Manguri berpesan, agar kalian makan ketan itu dan menghabiskannya" "Terima kasih" Lamatpun kemudian meninggalkan gardu itu dengan langkah yang lamban. Keempat anak-anak muda yang berada di gardu itu memandanginya dengan mata yang hampir tidak berkedip. "Hantu yang menakutkan" desis salah seorang dari mereka "kalau tanganmu dapat diremasnya, maka tulang-tulangmu pasti akan remuk. Selain bertubuh raksasa, ia memang mempunyai tenaga raksasa" "Ia merupakan pengawal yang sangat patuh kepada Manguri. Apapun yang dikatakannya. Bahkan kadang-kadang ia di bentak-bentaknya" Anak-anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian merekapun segera membuka bungkusan ketan ireng, kelapa parut dengan sedikit garam dan gula kelapa. Dengan lahapnya mereka makan kiriman itu, tanpa menghiraukan lagi apa yang telah terjadi di bagian-bagian lain dari padukuhannya. Menjelang tengah malam, di tengah-tengah sawahnya Pamot menjadi gelisah. Ia tidak melihat seorangpun di sekitarnya. Ia tidak melihat Punta, tetapi juga tidak melihat orang-orang Manguri yang lima. Dengan dada yang berdebar-debar Pamot turun dari gubugnya. Ia lebih merasa aman di bawah daripada di atas. Di bawah ia banyak mendapat kesempatan, kalau perlu untuk bekejar-kejaran. Kalau lawannya lebih banyak jumlahnya, maka bekejar-kejaran adalah permainan yang mengasikkan. Dengan dada berdebar-debar Pamot berdiri tegak bersandar tiang gubugnya. Tangannya sudah melekat di hulu parangnya. Setiap saat ia siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi Pamot rasa-rasanya masih dihadapkan pada suatu teka-teki. Apakah yang dikatakan Lamat seluruhnya benar, atau seandainya benar, apakah Manguri tidak merubah rencananya? Seandainya tidak, apakah Punta dapat menepati janjinya?. Teka-teki itu telah membuat Pamot menjadi semakin gelisah. Dadanya serasa sesak oleh bayangan-bayangan yang tidak menentu. Ingin rasanya ia berteriak sekuat-kuatnya untuk melepaskan himpitan di dalam dadanya yang sudah hampir tidak tertahankan lagi. Di rumahnya Manguripun selalu diganggu oleh kegelisahan. Semakin dekat dengan tengah malam, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Ia mengharap kelima orang suruhannya itu segera menyelesaikan tugasnya dan membawa Pamot ke lumbung di belakang. Ia akan dapat berbuat apa saja atas anak muda itu, dan mengancamnya untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. Di bilik belakang, Lamatpun menjadi gelisah pula. Terbayang kesulitan yang bakal dialami oleh Pamot, yang menurut penilaiannya pasti tidak bersalah. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar apa yang telah terjadi dengan gadis-gadis yang pernah berhubungan dengan Manguri. Kasar atau halus, mereka telah terpaksa mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Kemudian kasar atau halus, mereka harus pergi dengan tuduhan yang hina lari bersama laki-laki. Dada Lamat menjadi berdebar-debar semakin keras, seperti juga Manguri dan Pamot. Ia sadar, bahwa ia telah turut ambil bagian di dalam segala macam kecurangan yang telah dilakukan oleh Manguri meskipun hanya sekedar menakutnakuti. "Apakah hidupku untuk seterusnya tidak akan mengalami perubahan?" pertanyaan itu selalu mengganggunya "sampai saat ini aku tidak lebih dari sesosok hantu yang dapat menakut-nakuti setiap orang di Gemulung" Tanpa sesadarnya Lamat berjalan hilir mudik di dalam biliknya Pada saat yang bersamaan Manguripun telah sampai pada puncak kegelisahannya. Di kejauhan sudah mulai terdengar ayam jantan berkokok untuk yang pertama kalinya. Tengah malam. "O, apakah orang-orang sudah mati dicekik hantu" geramnya. Tetapi tengah malam adalah waktu yang dipilih oleh kelima orang upahan Manguri itu untuk merayap mendekati gubug Pamot. Pamot sendiri hampir tidak sabar menunggu, apa yang bakal terjadi atasnya. Seperti Lamat dan Manguri dibilik masing-masing. Pamotpun kemudian melangkah beberapa langkah mondarmandir di bawah gubugnya dengan penuh kewaspadaan. Ia mendengarkan setiap desir yang tertangkap oleh telinganya, dan mengamati setiap gerak yang tertangkap oleh matanya. Tetapi ia masih belum mendengar dan melihat sesuatu. Tetapi ketika lamat-lamat ia mendengar kokok ayam jantan di padukuhan, sahut menyahut, maka ia berdesis "Tengah malam. Waktu inilah agaknya yang telah dipilih oleh Manguri" Ternyata dugaan Pamot itu tepat. Belum lagi ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, terdengar suara cengkerik yang berderik di sudut sawahnya. "Kalau benar-benar cengkerik yang berderik itu, maka cengkerik itu adalah cengkerik raksasa" gumam Pamot "Cengkerik tidak akan mampu berderik sekeras itu" Tetapi cengkerik yang berderik itu memang tidak berusaha untuk menyembunyikan dirinya. Suara itu hanya sekedar abaaba untuk memanggil kawan-kawannya yang lain. Karena sejenak kemudian bermunculan di segenap penjuru, lima orang yang seakan-akan telah mengepungnya. Pamot berdiri tegak di tempatnya. Kini ia benar-benar telah menggenggam hulu pedangnya, meskipun masih belum ditariknya dari sarungnya. "Kaukah yang bernama Pamot?" terdengar salah seorang dari mereka bertanya. Pamot tidak segera menjawab. Ada niatnya untuk mengelabui orang-orang itu, dengan mengingkari namanya. Tetapi itu tidak akan ada gunanya, karena mereka pasti sudah yakin, bahwa dirinyalah yang bernama Pamot. Manguri pasti sudah berpesan pula, ciri-ciri tentang dirinya. Karena itu, maka kemudian dengan tabah ia menjawab "Ya, Aku Pamot. Siapakah kalian?" "Kami berlima. Masing-masing mempunyai nama sendirisendiri. Tetapi aku kira kami tidak mempunyai waktu untuk menyebutnya satu demi satu. Karena itu, maka sama sekali tidak ada gunanya kau bertanya tentang nama kami. Sekarang, menyerahlah. Kami tidak akan berbuat apa-apa" Pamot mengerutkan keningnya. Kini ia yakin, bahwa Lamat memang berkata dengan jujur. Ternyata pula, bahwa Lamat bukanlah seorang yang bengis dan dungu seperti yang terbayang di wajahnya. Di dalam hati, tersirat ucapan terima kasih Pamot yang tidak ada taranya kepada raksasa yang malang itu. Namun kemudian, apakah Punta sudah ada disekitar tempat itu pula?. Karena Pamot tidak segera menjawab, kata-kata orangorang upahan itu, maka salah seorang dari kelima orang itu berkata seterusnya "Menyerahlah. Jangan banyak tingkah. Kami memang benar-benar tidak akan berbuat apa-apa atasmu. Kami hanya sekedar ingin membawamu kepada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu" "Siapa orang itu ?" bertanya Pamot. "Apakah kau perlu mengetahuinya?" "Tentu. Baru aku dapat mengambil keputusan apakah aku bersedia atau tidak" "Jangan begitu. Jangan menentukan pilihan, bersedia atau tidak, karena kami memang tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk memilih. Kami hanya sekedar memberitahukan kepadamu, bahwa kami akan membawamu, karena seseorang memerlukan kau" Dada Pamot berdesir. Kata-kata itu benar-benar telah menyinggung perasaannya, sehingga tanpa berpikir lagi ia menjawab "Kau siapa, dan aku siapa? Apakah ada hakmu untuk memperlakukan aku demikian? Tidak seorangpun dapat memerintah aku dalam persoalan yang tidak jelas. Ki Demangpun tidak. Hanya dalam hubungan tugas-tugasku sajalah Ki Demang, pemimpin pengawal Kademangan, dan tetua anak-anak muda pedukuhan Gemulung dapat memerintah aku" Dada Pamot menjadi serasa bengkah ketika ia mendengar beberapa orang dari kelima orang itu tertawa bersama-sama. "Benar kata orang, bahwa Pamot adalah anak yang berani. Kau memang luar biasa, Pamot, tidak seorangpun yang berani berbuat seperti kau terhadap kami berlima. Memang agaknya kau belum mengenal kami. Karena itu sebaiknya kau mendengar nama kami. Salah seorang dari kami bernama Sura Sapi. Nah, karena itu maka gerombolan kami yang lima ini disebut gerombolan Sura Sapi. Kau sadar sekarang, dengan siapa kau berhadapan?" Sebuah desir yang tajam terasa seakan-akan membelah jantung Pamot. Yang di hadapannya itu adalah gerombolan Sura Sapi "Gila" ia mengumpat di dalam hatinya "begitu jauh tindakan Manguri sehingga ia telah menghubung gerombolan Sura Sapi" "Apa katamu sekarang?" Tetapi Pamot bukan seorang yang berhati kecil. Karena itu, maka dihentakkannya kakinya sambil menggeretakkan gigi. Jawabnya lantang "Siapapun kau, aku t idak akan menyerah. Aku memang pernah mendengar nama Sura Sapi. Tetapi kalianpun pasti pernah mendengar nama pengawal khusus Kademangan Kepandak. Aku adalah salah seorang anggautanya. Tidak sepantasnya anggauta pengawal khusus Kademangan Kepandak menyerah kepada gerombolan Sura Sapi" "Persetan" ternyata salah seorang dari kelima orang itu, yang bertubuh pendek dan berjambang tidak sabar lagi. Setapak ia maju sambil berkata "Kenapa kita terlampau banyak berbicara? Aku sudah muak mendengar kata-katanya. Marilah kita memberi kesempatan terakhir" Kemudian kepada Pamot ia berkata "Lemparkan senjatamu, dan ikuti kami" "Tidak" jawab Pamot tegas. "Setan alas. Kau mau kami mempergunakan kekerasan" "Itu urusanmu" Orang yang pendek itu sudah tidak sabar lagi. Perlahanlahan ia maju mendekat. Dalam pada itu kawan-kawannya yang memencar itupun melangkah maju pula, sehingga kepungan kelima orang itu menjadi semakin lama semakin sempit. Pamot memang menjadi gelisah. Tetapi ia sudah bertekad, dengan atau tidak dengan orang lain, ia akan melawan. Melawan sekuat-kuatnya. Dengan demikian maka suasanapun meningkat semakin lama semakin tegang, seperti wajah-wajah yang terpaku pada tubuh Pamot yang berdiri tegak seperti patung di bawah gubugnya. Tetapi Pamot telah bertekad bulat. Bahkan ia sudah tidak dapat menimbang-nimbang lagi seperti yang dikatakan kakeknya. Dengan serta-merta ia menarik parangnya sambil menggeram "Kalian hanya akan menemukan mayatku. Bawalah mayatku kemana kalian kehendaki" "Kau memang bodoh" sahut yang jangkung agak kekuruskursan "sebenarnya kau t idak perlu melakukan hal itu" Pamot tidak menyahut. Tetapi hatinya berguncang ketika ia melihat orang-orang itupun mulai mencabut senjatanya masing-masing. "Benar kata kakek" desis Pamot. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Kini ia berhadapan dengan lima orang yang bersenjata pula. "Tugas kami menangkap kau hidup-hidup" berkata orang yang jangkung itu "tetapi kalau kau menghina kami, persoalannya jadi lain. Persoalannya adalah kami akan tetap mempertahankan kehormatan nama gerombolan. Sura Sapi tidak pernah gagal. Kegagalan yang paling jauh kami alami adalah, karena kami tidak berhasil menangkap seseorang hidup-hidup. Tetapi itu adalah salahnya sendiri, seperti kau sekarang" Pamot tetap berdiri di tempatnya. Namun wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Ketika mereka telah berada di puncak ketegangan yang hampir meledak itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh langkah seseorang menyelusuri pematang. Seseorang berjalan dengan cangkul di pundaknya. Seperti tidak terjadi sesuatu orang itu berhenti sambil berkata "He, Pamot, apakah kau ada disitu?" Dada Pamot yang hampir meledak tiba-tiba serasa terpecik air embun. Ia mengenal suara itu. Suara Punta. Tetapi kehadiran seseorang itu telah semakin menegangkan urat syaraf dari kelima orang yang menyebut dirinya gerombolan Sura Sapi. Tiba-tiba salah seorang menggeram "Kita terlampau lama berbicara. Marilah kita selesaikan sebelum orang yang lain datang" "Bagaimana dengan orang itu?" "Terpaksa, kita harus berbuat sesuatu. Biarlah ia pingsan dan tidak mengetahui apa yang terjadi" Orang yang pendek tidak lagi menunggu perintah. Segera ia meloncat ke arah bayangan yang berdiri di pematang sambil menyandang cangkul di pundaknya itu. "Tidurlah anak muda" berkata orang yang pendek itu sambil mengayunkan sarung pedangnya ke arah tengkuk Punta. Tetapi orang yang pendek itu terkejut. Terasa sarung pedangnya membentur sesuatu. Tangkai pacul. "Maaf" berkata Punta "aku masih mempunyai banyak pekerjaan, sehingga aku masih belum berhasrat untuk tidur" "Persetan" desis orang yang pendek itu. Kini ia tidak lagi mempergunakan sarung pedangnya, tetapi pedangnyalah yang sudah mulai bergetar. "Marilah kita selesaikan bersama-sama" katanya kepada keempat kawannya. Tetapi sekali lagi orang-orang itu terganggu. Tiba-tiba saja mereka mendengar suara tertawa di balik batang-batang jagung muda. Sejenak orang-orang yang ada di ladang Pamot itu seakanakan membeku. Dan suara tertawa di belakang tanaman jagung muda itu menjadi semakin jelas. "Kau curang" tiba-tiba terdengar suatu suara "kau bersembunyi disitu" "Apa pedulimu" jawab yang lain "aku boleh bersembunyi dimana saja. Sekarang kau harus membayar taruhan itu. Kau menemukan aku sudah lewat tengah malam" "Belum" sahut yang lain. "Sudah. Aku sudah mendengar ayam jantan berkokok. Dan bintang gubug penceng sudah tegak di selatan" "Baiklah. Aku akan minta barang taruhan itu kepada Pamot" Suara itu berhenti sejenak. Namun tiba-tiba salah seorang dari kelima orang upahan itu berkata lantang "Setan alas. Jangan memperbodoh kami. Sekarang aku tahu, bahwa kalian memang sudah menunggu kedatangan kami. Ini suatu kebodohan. Apakah Manguri yang bodoh, atau ia memang sengaja menjerumuskan kami. Tetapi mungkin juga kamilah yang bodoh, sehingga satu dua orang melihat jejak atau bayangan kami. Tetapi itu kami tidak akan peduli lagi. Kami sudah siap berkelahi. Gerombolan Sura Sapi t idak pernah kalah. Disini kami mungkin akan terpaksa membunuh" Pamot, Punta dan dua orang lainnya yang muncul dari balik tanaman jagung kini berdiri tegak sambil memandang lawanlawan mereka yang terpencar. Kemudian terdengar lagi seseorang yang menguap keras-keras, dan muncullah seorang anak muda yang tinggi besar. Ialah yang bertemu dengan Pamot ketika ia berangkat ke sawah. Tetapi agaknya Punta tidak mau bermain-main menghadapi orang-orang upahan, sehingga masih ada dua orang lagi yang datang ke sawah Pamot itu. Semuanya ada enam orang, dan ditambah Pamot sendiri" "Kita sudah lengkap" berkata Punta kemudian. "Kenapa kalian turut campur" bertanya orang yang jangkung. "Sebagian dari kami adalah pengawal khusus Kademangan Kepandak. Adalah tugas kami untuk mencegah tindakan sewenang-wenang" Orang-orang upahan itu menggeram. Salah seorang yang berjambang berkata "Anak-anak yang malang. Jangan merasa diri kalian terlampau kuat, hanya karena kalian menjadi pengawal khusus. Tujuh orang pengawal khusus sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi kami" "Jangan menakut-nakuti. Kami dipersiapkan untuk melawan orang-orang asing di Betawi. Pada suatu saat kami akan berangkat. Menyesal sekali bahwa kami harus berbenturan dengan saudara-saudara kita sendiri" "Kalau begitu kenapa hal ini kalian lakukan?" "Pertanyaan yang aneh" Punta menjawab "aku memang tidak segera menampakkan diri, karena aku ingin meyakinkan, apakah yang sebenarnya terjadi. Aku tidak dapat mempercayai begitu saja aduan-aduan yang kurang kami yakini. Tetapi kini kami melihat sendiri. Kalian telah berbuat sewenang-wenang, meskipun kalian sekedar orang upahan Manguri" "Kami tidak ingkar. Tetapi kami memerlukan uang itu. Kami tidak dapat hidup tanpa makan. Dan sekarang, kami sedang mencari makan. Ternyata kalian telah mengganggu kami, sedang kami tidak pernah mengganggu kalian" "Jangan memutar balik keadaan" jawab Punta "aku sudah menyaksikan sendiri. Kau mencari makan dengan mengorbankan orang lain. Kau tidak mempedulikan nasib orang lain itu. Padahal masih banyak jalan yang terbuka. Tanah garapan masih luas" "Kami tidak biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berarti apa-apa bagi seorang laki-laki jantan" jawab salah seorang dari mereka. "Bagus" sahut Punta "kamipun sedang melakukan tugas kami sebagai lelaki jantan. Kami harus memerangi kesewenang-wenangan. Kami harus memerangi tindak kekerasan seperti yang akan kalian lakukan itu" Orang-orang yang tergabung dalam gerombolan Sura Sapi itu sama sekali sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada berkelahi. Anak-anak muda yang sebagian terdiri dari apa yang mereka sebut pengawal khusus Kademangan Kepandak itu agaknya memang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka orang yang tertua, yang sebenarnya bernama Sura Sapi itupun segera berteriak "Hancurkan saja mereka" "Bagus" sahut Punta "kalian sudah terperosok ke dalam lingkaran setan. Kalau kalian kalah, kalian akan kami ikat dan kami bawa ke Kademangan. Tetapi kalau kalian menang, maka Manguri akan segera ditangkap, dan ia akan dipaksa menemukan kalian. Kalian akan dirampok seperti macan dialun-alun Mataram" Tetapi orang-orang itu tidak menyahut lagi. Tiba-tiba saja mereka telah berloncatan menyerang. Namun agaknya, anak-anak muda yang sebagian terdiri dari pengawal-pengawal khusus yang memang dipersiakan apabila Mataram memerlukan sewaktu-waktu itu, sudah benar-benar mempersiapkan dirinya. Karena itu, maka merekapun segera menanggapi serangan kelima orang-orang upahan yang tergabung dalam kelompok yang sesat itu. Sejenak kemudian maka perkelahianpun segera berkobar. Anak muda Gemulung berjumlah lebih banyak. Tetapi ternyata bahwa orang-orang upahan itu memang mempunyai kecakapan dan pengalaman lebih banyak dari mereka, sehingga dengan demikian, maka benturan bersenjata itu menjadi semakin lama semakin seru. Namun demikian ternyata anak-anak muda Gemulung itu juga tidak mengecewakan. Satu dua orang dapat memanfaatkan setiap keadaan. Mereka yang tidak mempunyai lawan, berusaha untuk mengisi setiap kekurangan. Bahkan kadang-kadang mereka dapat bertukar tempat dan bertukar lawan. Kelima orang-orang upahan itu menjadi semakin marah. Mereka tidak menyangka bahwa anak-anak muda itu telah memiliki kemampuan yang tidak mereka sangka-sangka. Apalagi Pamot. Meskipun Pamot bukan tetua anak-anak muda Gemulung, namun ia memiliki beberapa kelebihan. Ia kadangkadang melontarkan unsur-unsur gerak yang sama sekali tidak dimiliki oleh kawan-kawannya. Sehingga orang-orang upahan yang berpengalaman itu segera mengetahui, bahwa Pamot tidak sekedar mendapatkan ilmunya dari para pelatih yang didatangkan dari lingkungan keprajuritan Mataram. Salah seorang dari gerombolan Sura Sapi itu berkata di dalam hatinya "Pantas bahwa Manguri tidak dapat mengalahkannya, dan bahkan anak ini berhasil melepaskan dirinya dari tangan Lamat, raksasa yang menakutkan itu" Sedang yang lain berkata pula kepada diri sendiri "Pamot memang memiliki kelebihan" Demikianlah maka Pamot telah berhasil melawan dengan gigih. Ia tidak berada di bawah kemampuan gerombolan itu seorang demi seorang, sehingga karena itu. maka ia tidak memerlukan orang lain untuk membantunya. Bahkan sejenak kemudian ternyata bahwa Pamot benarbenar dapat menguasai keadaan. Selain Pamot, Punta, tetua anak-anak muda Gemulung itupun mempunyai kemampuan yang cukup untuk bertahan. Ia mempunyai tenaga yang kaut dan pengamatan yang baik atas lawannya. Karena itu, maka ia tidak segera dapat didesak oleh lawannya. Demikian pula anak muda yang tinggi tegap, yang bertemu dengan Pamot pada saat ia berangkat ke sawahnya. Tetapi selain mereka, kawan-kawannya merasa berat melawan orang-orang yang cukup berpengalaman itu. Untunglah bahwa jumlah anak-anak muda itu agak lebih banyak, sehingga kelebihan itu dapat membantu, menambah kekuatan anak-anak muda yang bukan dari pengawal khusus Kademangan Kepandak. Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Mereka sudah tidak lagi saling mengekang diri. Kelima orang upahan itu sama sekali sudah tidak dapat mengingat lagi pesan Manguri, bahwa mereka harus menangkap Pamot hidup-hidup. Kini mereka masing-masing sedang bertahan karena anak-anak muda Gemulung agaknya memang tidak dapat mereka abaikan. Mereka sedang berusaha untuk mempertahankan hidup mereka masing-masing. Manguri yang menunggu kedatangan orang-orangnya itu di rumahnya, menjadi semakin lama semakin gelisah. Sekalisekali ia menjengukkan kepalanya, lewat daun pintu yang tidak diselaraknya. Tetapi yang dilihatnya hanyalah sekedar cahaya lampu di regol halaman rumahnya. Selainnya sepi. Di bilik belakang, Lamatpun tidak kalah gelisahnya. Apakah Pamot dapat mencari jalan keluar dari kesulitan ini? Terloncat pula keinginannya untuk melihat, apakah yang sudah terjadi. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan halaman itu. Setiap saat Manguri akan memanggilnya. Dengan demikian, yang dapat dilakukannya, adalah berjalan saja hilir mudik di dalam bilik yang sempit. Menarik nafas panjang-panjang, kemudian duduk perlahan-lahan di amben bambunya. Bukan saja Manguri dan Lamat yang menjadi gelisah. Tetapi seisi rumah Pamot, tidak seorangpun yang dapat tidur. Ayahnya, ibunya dan kakeknya. Merekapun sedang membayangkan, apa yang terjadi atas Pamot saat itu. Tiba-tiba saja ayah Pamot berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan kesudut ruang. Sejenak ia berdiri memperhatikan sesuatu yang tergantung pada dinding di bawah ajug-ajug lampu. Namun sejenak kemudian tangannya terjulur menyambar benda itu. Sebuah golok. "He" bertanya kakek Pamot "apa yang akan kau lakukan?" "Ayah, aku tidak dapat menunggu saja dengan gelisah di rumah ini, sedang aku tahu, saat ini anakku di dalambahaya" "Pamot sudah tahu, apa yang harus dikerjakan" "Tetapi aku masih saja selalu gelisah. Aku ingin melihatnya" "Yang aku cemaskan" berkata kakek Pamot kemudian "masalah ini akan berkembang semakin luas. Masalah ini akan menjadi masalah orang tua-tua. Sampai saat ini, biarlah parsoalannya dibatasi pada persoalan anak-anak muda saja" "Tetapi Manguri telah mencari orang-orang upahan. Itu tidak jujur" "Dan Pamotpun sudah menghubungi kawan-kawannya. Anak-anak muda. Aku kira anak-anak muda Gemulung akan dapat menilai, apa yang sudah terjadi" "Tetapi kita tidak tahu ayah, siapakah orang-orang upahan Manguri itu. Kalau mereka terdiri dari orang-orang yang memang menempatkan diri mereka dalam dunia yang buas itu. maka anak-anak Gemulung pasti akan mengalami kesulitan. Belum lagi dapat dikatakan kalau jatuh korban diantara mereka. Jika demikian, maka persoalannya tidak akan menjadi sederhana lagi" Kakek Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun bertanya "Sekarang, apa maksudmu?" "Aku ingin melihat dahulu ayah. Apa yang telah terjadi, baru kemudian mengambil sikap" Ibu Pamot yang kecemasan duduk di amben dengan kaki gemetar. Dengan suara parau ia bertanya "Kau akan pergi kemana pak?" "Aku akan pergi ke sawah" "Tetapi, kau tidak membawa seorang temanpun" "Aku hanya akan sekedar melihat. Tetapi apabila keadaan memaksa, aku pasti bukan sekedar seorang penonton" "Itulah yang aku cemaskan. Pedagang ternak itupun pasti akan turut campur. Ia dapat mempargunakan uangnya untuk maksud-maksud yang jahat" "Tetapi apaboleh buat. Aku tidak akan dapat membiarkan anak itu berada dalam kesulitan" Kakeknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Tetapi kaupun harus berhati-hati. Bersikaplah sebagai seorang tua" "Ya ayah. Aku akan berhati-hati. Aku akan menimbang setiap keadaan. Kalau aku tidak perlu berbuat sesuatu, sudah tentu aku tidak akan berbuat apapun juga" Kakek Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi itu Pamotlah yang agaknya menjadi semakin gelisah. "Tenanglah di rumah" berkata suaminya "aku akan melihat ke sawah. Aku kita itu lebih baik daripada aku tetak duduk diamdi rumah dengan hati berdebar-debar" Isterinya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. "Sudahlah. Aku akan pargi sekarang" Isterinya menganggukkan kepalanya pula, sedang kakek Pamot berdesis "Jangan menambah suasana menjadi semakin kisruh" Sambil menggeleng ayah Pamot menjawab "Aku akan memperhitungkan setiap kemungkinan. Sejenak kemudian maka ayah Pamot itupun telah tenggelam di dalam kegelapan, menyusur jalan menuju ke pinggir padukuhan. Dalam pada itu, perkelahian yang terjadi di tengah-tengah sawah itupun semakin menjadi sengit. Kedua pihak sudah mengerahkan segenap kemampuan yang ada. Pamot masih tetap bertahan dan bahkan ia sama sekali tidak berada dalam pengaruh lawannya. Puntapun masih selalu berhasil mempertahankan dirinya. Tetapi kawan Pamot yang tinggi itu ternyata masih belum dapat mengimbangi pengalaman lawannya. Lawannya yang kasar dan liar sedikit demi sedikit berhasil mendesaknya, meskipun belum membahayakan. Namun agaknya, anak muda itu terlampau bernafsu sehingga semua tenaganya seolah-olah sudah dikurasnya. Dalam saatsaat terakhir, ia seolah-olah sudah kehilangan sebagian dari kekuatannya. Tetapi keempat kawan-kawannya yang lain, yang berkelahi melawan dua orang anggauta gerombolan Sura Sapi masih tetap dapat bertahan dengan baik. Mereka dapat berkelahi berpasangan, sehingga keadaan mereka tidak mencemaskan. Namun keseluruhan dari perkelahian itu adalah perkelahian yang seru, semakin lama semakin seru. Selagi orang-orang di tengah sawah itu bertempur tanpa menghiraukan tanaman-tanaman yang terinjak-injak kaki, yang patah dan berserakan, maka di bagian lain, seorang tua dengan tekunnya menunggui air yang mengalir diparit yang kecil. Tetapi agaknya air itu tidak memenuhi keinginannya. Dengan penuh kesungguhan ia menelit i tanaman-tanaman yang masih muda itu. Bahkan parlahan-lahan ia berdesis "Kalau aku tidak mendapat cukup air, kasihan. Batang-batang padi muda ini akan kehausan. Besok kalau matahari menjadi terik, daun-daunnya akan layu. Masih agak baik batangbatang jagung itu. Seandainya air tidak terlampau banyak, mereka masih dapat bertahan lebih kuat dari batang-batang padi ini. Orang tua itupun kemudian sambil bersungut-sungut mengambil cangkulnya sambil berkata "Aku harus melihat ke sidatan air ini. Apakah airnya memang terlampau sedikit, atau tambak di sidatan sobek" Tertatih-tatih orang itu kemudian berjalan di sepanjang tanggul yang sempit. Apalagi di malam hari. Meskipun demikian, ia tidak mau sawahnya kekurangan air. Sehingga betapapun gelapnya ia berjalan juga ke sidatan parit yang mengaliri sawahnya. Tetapi ketika sampai dikelokan, orang tua itu berhenti sejenak. Namun kemudian ia berdesis "Lebih baik aku mengambil jalan memintas" Maka kemudian diambilnya jalan pamatang yang akan langsung sampai ke sidatan, tanpa mengikuti tanggul parit yang berkelok-kelok seperti ular yang sedang berambat. Dengan hati-hati ia melangkah di atas pematang yang agak licin sambil menyandang cangkulnya. Kini ia berjalan di sepanjang batas tanaman jagung yang juga masih muda. Sekali-sekali orang tua itu memandang ke langit yang ditaburi oleh bintang-bintang yang gemerlapan. Binatang gubug penceng di ujung Selatan telah bergeser sedikit kebarat. Namun tiba-tiba langkah orang tua itu terhenti. Ketika ia menyusup semakin dalam di daerah tanaman jagung muda itu, ia menjadi sangat berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia mendengar suara yang t idak dimengertinya. "He, suara apakah itu?" orang tua itu bertanya kepada diri sendiri. Tiba-tiba teringat olehnya, bahwa kadang-kadang masih saja ada babi hutan yang sering mengganggu tanaman. Karena itu, maka dirabanya sabit yang terselip dipunggungnya. Perlahan-lahan ia berdesis "Kalau suara itu suara babi hutan, biarlah aku gedig kepalanya" Tetapi suara itu sama sekali bukan suara babi hutan. Semakin dekat orang tua itu justru semakin tidak mengerti. Meskipun demikian ia ingin juga tahu, apakah yang telah menimbulkan bunyi yang aneh itu. Namun tiba-tiba matanya terbelalak. Kini ia melihat bahwa beberapa orang sedang berkelahi. Tanaman jagung di sekitarnya telah terinjak-injak tidak menentu. Meskipun demikian orang tua itu tidak menjadi lemas dan terduduk di tanah. Justru ia kemudian melemparkan cangkulnya dan berlari kencang-kencang. Tetapi karena kakinya yang lamah, karena ketuaannya, maka sekali-sekali iapun tergelincir dan jatuh terguling di samping pematang. Orang-orang upahan yang liar itu melihat juga kehadiran seorang lagi di dekat arena. Namun kemudian orang itu berlari-lari meninggalkan perkelahian. Sekilas mereka dapat menerka, bahwa orang itu sama sekali bukan kawan Pamot. Namun demikian orang itu telah menumbuhkan debar pula di dada mereka. Tetapi tidak seroangpun dari kelima orang itu sempat mencegah. Mereka harus berhadapan dengan lawan masingmasing. Lawan yang tidak dapat segera dikalahkannya. Karena itu, maka yang mereka lakukan adalah memeras kemampuan mereka, untuk segera mengalahkan lawan masing-masing. Dalam pada itu, orang tua yang melihat perkelahian itupun berlari-lari sekencang-kencangnya dapat dilakukannya. Ketika ia meloncat kejalan yang lebih lebar, begitu ia tergesa-gesa, sehingga ia jatuh terjerembab. Tetapi iapun segera bangkit berdiri dan berlari kesudut desa. Belum lagi ia mendekat, ia sudah berteriak-teriak labih dahulu "He, ada orang berkelahi. Orang berkelahi" Para peronda yang ada di dalam gardu di sudut desa terkejut karenanya. Diantara mereka adalah ayah Pamot yang baru saja duduk di gardu sebelum melanjutkan perjalanannya ke tengah sawah. Ia ingin mendengar lebih dahulu apa bila para peronda itu mendengar sesuatu tentang anaknya. Tetapi ternyata mereka tidak mengerti apa-apa. Kini justru seseorang telah berlari-lari sambil berteriak-teriak. Serentak setiap orang yang ada di gardu itupun berloncatan turun. Seorang anak muda yang sedang bertugas ronda segera menyongsong orang tua itu sambil bertanya "Dimana?" Nafas orang tua itu menjadi terengah-engah. Sambil berdiri bertelekan punggung ia menjawab terputus-putus "Di tengah sawah" "Siapa yang berkelahi?" bertanya anak muda itu. Orang tua itu menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu. Banyak orang berkelahi bersama-sama. Mereka bersenjata" Anak muda itu berdiri termangu-mangu. Beberapa orang yang menyusulnyapun saling berpandangan sejenak. "Bagaimana?" bertanya anak muda itu kepada seseorang yang lebih tua daripadanya. "Marilah kita lihat" jawab yang ditanya. "Tetapi, tetapi" orang tua itu memotong "yang berkelahi adalah orang banyak. Bukan hanya sekedar dua orang" "Kita tengok bersama-sama" sahut yang lain. "Lalu gardu ini kita kosongkan?" Sejenak mereka termangu-mangu. Tiba-tiba salah seorang berkata "Kita pukul kentongan" "Jangan" tiba-tiba ayah Pamot ikut dalam pembicaraan "seluruh penduduk akan menjadi gempar. Kita bangunkan saja satu dua orang di sekitar gardu itu. Kita minta mereka menjaga gardu sejenak. Kita bersama-sama pergi ke sawah, untuk melihat perkelahian itu" "Bagaimana kalau mereka ingin ikut pula?" "Paling sedikit dua orang harus t inggal" Sejenak mereka saling memandang. Namun kemudian merekapun mengangguk-anggukkan kepala mereka. "Cepat. Marilah kita membangunkan mereka" "Kita memerlukan kawan. Kalau keadaan menjadi sangat berbahaya, biarlah salah seorang dari kita akan membunyikan kentongan. Terpaksa" Beberapa orangpun kemudian berlari-larian membangunkan beberapa orang saja yang rumahnya paling dekat dengan gardu perondan. Dengan terkantuk-kantuk mereka mendengar beberapa penjelasan yang tidak banyak mereka mengerti. Yang mereka dengar hanyalah permintaan para peronda untuk membantu mereka tinggal di gardu, sedangkan anak-anak muda yang sedang bertugas ronda akan pergi ke tengah sawah melihat siapakah yang sudah berkelahi itu. Sambil berselimut kain panjang, orang-orang yang baru saja terbangun itupun berjalan tertatih-tatih ke gardu di pinggir desa. Tetapi ketika mereka sudah naik, maka merekapun segera merebahkan diri melingkar berselimut kain. "Hem" anak-anak muda yang sudah segera ingin pergi itu menarik nafas dalam-dalam. "Biarlah" berkata salah seorang dari mereka. "Apakah bapak akan tinggal disini ?" bertanya salah seorang anak muda kepada ayah Pamot. Tetapi ayah Pamot menggeleng "Aku ikut bersama kalian" Tidak seorangpun yang dapat mencegahnya. Karena itu, maka merekapun segera pergi berlari-lari ke sawah yang ditunjukkan oleh orang tua itu. Ke sawah keluarga Pamot. Mereka sampai ke tempat perkelahian itu sejenak, sebelum keseimbangan benar-benar akan bergeser. Anak muda yang tinggi tegap itu justru telah benar-benar terdesak, meskipun belum sampai pada bahaya yang sebenarnya. Tetapi empat anak-anak muda yang bertempur melawan dua orang gerombolan Sura Sapi justru dapat mendesak lawan mereka, sedang Punta dan Pamot masih tetap bertahan dalam keseimbangan. Meskipun demikian ternyata bahwa orang upahan itu lebih pandai menempatkan diri. Mereka agaknya sengaja memancing seluruh tenaga lawan-lawan mereka, sehingga akhirnya Puntapun kelihatan menjadi berangsur lemah. Dalam keadaan itulah, terdengar suara mereka yang berlari-lari mendekati tempat perkelahian itu. Orang tua yang pertama-tama melihat, berteriak lantang "Disitu, disitu" Teriakan-teriakan itu membuat orang-orang upahan yang tergabung dalam gerombolan yang menyebut dirinya Sura Sapi itu berpikir. Kehadiran orang-orang itu sudah pasti tidak akan menguntungkan mereka. Kalau jumlah mereka cukup banyak, lima orang atau lebih, maka keadaan mereka, gerombolan yang tidak terkalahkan itu menjadi gawat. Lima orang dengan kemampuan seperti mereka yang sudah datang lebih dahulu. Untunglah, bahwa gerombolan itu tidak tahu banyak tentang anak-anak muda Gemulung. Hanya beberapa orang sajalah yang mempunyai kemampuan berkelahi sebaik itu. Mereka adalah anggauta-anggauta pengawal yang setiap kali berkumpul di Kademangan untuk mendapatkan latihan keprajuritan. Apalagi pengawal khusus, yang memang dipersiapkan untuk kepentingan Mataram. Setiap saat mereka dapat diambil dan dibawa kemedan, seperti para prajurit yang lain Karena itu, ketika mereka melihat beberapa orang berlarilari di sepanjang pematang, dan menurut hitungan mereka lebih dari lima orang, maka merekapun harus segera mengambil sikap. Betapa sakit hati mereka, namun mereka tidak dapat berbuat lain. Selain mereka kehilangan upah yang sudah dijanjikan oleh Manguri, merekapun harus mengalami kegagalan dan kekalahan. Kalau mereka t idak mau melihat kenyataan itu. maka akibatnya pasti akan lebih parah bagi mereka. Mungkin satu dua dian-tara mereka masih dapat lolos. Tetapi meskipun hanya seorang saja dari mereka yang tertangkap, namun nama mereka pasti akan menjadi semakin cemar dalam lingkungan gerombolan-gerombolan yang seakan-akan hidup di luar lingkungan masyarakat dan peradabannya. Mereka pasti tidak akan mendapat tempat lagi di dalam lingkungan mereka itu. Lingkungan yang tidak terikat oleh peraturan apapun, selain terikat oleh tajamnya pedang dan runcingnya ujung tombak. Karena senjata dan kekuatan bagi mereka akan menentukan tinggi rendahnya martabat mereka di dalam lingkungannya. Demikianlah, maka orang yang sebenarnya bernama Sura Sapi, yang memimpin gerombolan itu harus segera mengambil keputusan. Dan keputusan itu adalah menyingkir dari arena, karena mereka tidak dapat melawan orang-orang Gemulung dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Sejenak kemudian, terdengar Sura Sapi berteriak memberikan tanda, bahwa semua anggauta gerombolan yang berjumlah lima orang itu harus melarikan diri. Perintah itu ternyata tidak perlu diulangi. Setiap orang di dalam gerombolan itu mempunyai perhitungan yang serupa, sehingga sejenak kemudian merekapun segera berloncatan mundur. Pada saat orang-orang Gemulung menyerbu ke arena, orang-orang itu seakan-akan telah lenyap tenggelam ke dalam tanaman jagung yang masih muda. Apalagi gelapnya malam agaknya sangat membantu, sehingga dalam beberapa saat, orang-orang Gemulung itu sudah kehilangan lawan-lawan mereka. Punta dan kawan-kawannya memang t idak mengejar mereka. Mereka menyadari, bahwa orang-orang upahan itu dalam keadaan terpaksa, akan berbuat apa saja. Termasuk perbuatan-perbuatan yang sangat licik. Namun demikian, meskipun orang-orang upahan itu telah melarikan diri, Pamot dan Punta masih saja berdiri termangumangu. Kini mereka pasti akan dihadapkan pada persoalan yang lain. Orang-orang yang baru saja datang itu pasti akan bertanya tentang pekerlahian itu. Sebab-sebabnya dan siapa saja yang telah terlibat. "Apaboleh buat" berkata Punta di dalamhatinya "memang agaknya hal ini lebih baik diketahui oleh setidaktidaknya bebahu Kademangan yang berada di Gemulung atau malahan Ki Jagabaya sama sekali" Dan ternyata dugaan itu benar-benar terjadi. Belum lagi Pamot dan kawan-kawannya menyeka peluh mereka, maka seperti bunyi seribu ekor burung betet, orang-orang Gemulung itu bertanya menurut selera masing-masing. "Kami akan melaporkannya kepada Ki Jagabaya" berkata Punta kepada mereka "besok kalian akan mendengar apa yang telah terjadi" Namun mereka tidak puas dengan jawaban itu, sehingga mereka justru memutari anak-anak mudayang baru saja berkelahi itu dengan seribu macam partanyaan yang bersimpang siur. "Kami menjadi bingung" berkata anak muda yang tinggi "tetapi pada dasarnya, kami telah berkelahi melawan gerombolan Sura Sapi" "He" beberapa orang menjadi terbelalak. Bahkan dada ayah Pamotpun menjadi berdebar-debar. Ternyata yang dilawan oleh anak-anak muda itu adalah gerombolan Sura Sapi. Namun demikian sepercik kebanggaan telah mengembang di dalam dada orang tua itu. Anak-anak muda Gemulung telah mampu bertahan terhadap orang-orang yang memang ditakuti karena kebuasan mereka. "Kenapa tiba-tiba saja mereka telah berada disini?" bertanya yang lain. "Entahlah" jawab anak muda yang tinggi besar itu. Tetapi orang lain bertanya "Kenapa kalian berada disini pula bersama-sama" Anak yang tinggi, yang nafasnya masih terengah-engah itu berdesah. Namun pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab. Katanya "Kebetulan saja, kebetulan aku sedang berada di gubug Pamot. Kami sedang bermain kotekan" "Tetapi kami tidak mendengar kotekan itu" jawab orang tua yang pertama kali melihat perkelahian itu. Anak muda itu menarik nafas. Desahnya "Aku lelah sekali. Ini tanganku berdarah tersentuh senjata orang-orang gila itu" Tetapi orang-orang yang mengerumuninya tidak mempedulikan. Mereka masih bertanya terus. Namun ternyata bahwa tidak semua anak-anak muda itu menyimpan persoalan yang sebenarnya telah terjadi. Satu dua diantara mereka, tanpa mereka sadari telah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi itu. Bahkan dengan berterus terang, seorang anak muda yang bertubuh kecil berkata "Mereka telah mendapat upah dari Manguri untuk menangkap Pamot" Demikianlah maka berita itupun segera tersebar. Orangorang Gemulung yang kembali ke padukuhan merekapun segera berceritera dan berbincang yang satu dengan yang lain. Karena jawaban anak-anak muda yang berkelahi itu tidak sama, karena mereka belum bersepakat apakah yang harus mereka katakan, maka berita tentang perkelahian itupun menjadi bersimpang siur. "Tetapi yang lebih dekat dengan nalar, adalah ceritera tentang orang-orang upahan itu" berkata seseorang "bukankah beberapa saat yang lampau Manguri pernah berkelahi dengan Pamot dan kemudian raksasa itu pula ?" Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun diantara mereka masih juga ada dugaan-dugaan yang berbeda satu dengan yang lain. Ketika ayah Pamot kemudian lewat di depan gardu yang penuh dengan orang-orang yang sedang berbincang, maka salah seorang telah menarik tangannya sambil berkata "Nah, kalau ayah Pamot ini, aku kira mengerti persoalanpersoalannya dengan baik. Sekarang ceriterakanlah apa yang telah terjadi dengan anakmu" Ayah Pamot mengerutkan keningnya. Sejenak ia membuat pertimbangan-pertimbangan. Namun kemudian ia menganggap, bahwa lebih baik ia berkata sebenarnya. Dengan demikian maka tidak akan ada salah pengertian lagi tentang apa yang sudah terjadi itu. Adalah sangat membingungkan apabila setiap orang mempunyai ceritera tersendiri tentang perkelahian di tengah sawah itu. Maka ayah Pamotpun kemudian menceriterakan apa yang sesungguhnya telah dialami oleh anaknya. Namun demikian, ayah Pamot masih juga membatasi pembicaraannya. Ia sama sekali t idak menyinggung-nyinggung Lamat sama sekali. Pada waktu yang bersamaan, anak-anak muda Gemulung yang baru saja berkelahi itu telah mengetuk pintu rumah Ki Jagabaya. Meskipun mereka agak ragu-ragu, tetapi adalah lebih baik bahwa Ki Jagabaya mendengar peristiwa itu dari merika sendiri, daripada dari sumber yang bersimpang siur. Ki Jagabaya yang baru tidur dengan nyenyaknya, menggeliat sambil menguap. Lamat-lamat ia mendengar pintu rumahnya diketuk perlahan-lahan Tetapi suara itu serasa mengambang di dalam mimpinya. Baru ketika ia mendengar ketukan pintu untuk kedua kalinya ia membuka matanya. Sekali lagi ketukan pintu itu terdengar. "Huh, benar-benar tidak tahu aturan "ia menggeramang "malam-malam begini mengetuk rumah orang" Sambil terkantuk-kantuk ia bangkit dan duduk di pinggir pembaringannya. Ketika sekali lagi ia mendengar pintu diketuk, maka iapun berteriak "Tunggu he? Apakah kau takut diterkamhantu" Pamot, Punta dan kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Tetapi merekapun kemudian mengerutkan kening mereka. "Siapa?" terdengar suara Ki Jagabaya pula. "Aku" "Aku siapa? Setan, gendruwo atau demit?" "Punta" "Punta siapa?" "Anak Gemulung" Ki Jagabayapun kemudian berdiri. Sejenak ia ragu-ragu. Dipandanginya bindinya yang tergantung pada dinging. Sekali lagi ia menguap. Tetapi tangannya menyambar bindinya itu. Tertatih-tatih ia berjalan menuju ke pintu pringgitan sambil bersungut-sungut. Tetapi ketika ia berdiri di muka pintu, maka langkahnyapun telah menjadi mantap. Dipandanginya pintu itu sejenak, kemudian dibenahinya pakaiannya. Dengan tangan kirinya ia menarik selarak dan perlahan-lahan membuka pintu. "He, kau" desisnya. "Ya Ki Jagabaya. Kami mempunyai keperluan yang menurut pendapat kami tidak sebaiknya ditunda sampai besok. Karena itu, maafkan kami, apabila kami sudah mengganggu" berkata Pamot. "Apakah kalian anak-anak Gemulung?" "Ya" "Masuklah" Anak-anak muda itupun kemudian masuk ke pringgitan. Mereka dipersilahkan duduk di atas selembar tikar pandan yang kasar. Dengan kerut merut didahinya Ki Jagabaya bertanya "Apakah keperluan kalian?" Maka Pamotpun mulailah berceritera, dari awal sampai akhir, apa yang sebenarnya pernah terjadi dengan dirinya. Tetapi seperti juga ayahnya, ia sama sekali t idak menyinggung raksasa yang bernama Lamat. Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata "Kenapa kalian mencoba mengatasi persoalan itu sendiri? Kalau kalian mengerti, bahwa Manguri akan menyewa beberapa orang, kenapa kalian tidak melaporkannya kepadaku sebelum hal itu terjadi, he?" "Maaf Ki Jagabaya" berkata Pamot "aku t idak yakin bahwa hal itu benar-benar akan terjadi" "Dari mana kau dengar, bahwa Manguri akan melakukan hal itu?" Sejenak Pamot menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata "Dari salah seorang pembantu Manguri yang minta dilindungi namanya " "Siapa? Ya siapa orang itu?" Pamot masih juga tetap ragu-ragu. "Siapa?" Ki Jagabaya hampir berteriak. Pamot menjadi gelisah. Akhirnya ia menjawab "Orang dari pedukuhan Sapu Angin. Aku tidak begitu kenal namanya. Tetapi orang memanggilnya Lamat" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya anakanak muda itu satu persatu. Dan Ki Jagabayapun melihat keheranan memancar di wajah mereka. "Bohong" tiba-tiba Ki Jagabaya berkata "aku kenal Lamat. Ia adalah salah seorang yang termasuk di dalam pengamatanku. Justru karena sifat-sifatnya yang tidak banyak aku kenal" Pamot menelan ludahnya. Kemudian katanya "Tetapi Ki Jagabaya, seperti permintaannya sendiri, ia minta dilindungi namanya" Kemudian kepada kawan-kawannya iapun berkata "Kepada kalianpun aku minta, agar kalian tidak mencelakakan anak itu" "Ia orang yang kasar dan bengis. Kau kira ia dapat berbuat sebaik itu kepadamu?" berkata Ki Jagabaya. "Sebenarnya Ki Jagabaya" "Itu pasti hanya sekedar suatu jebakan. Ia akan berbuat lebih jauh dan kasar. Mungkin ia memang berusaha menggagalkan kerja kelima orang itu, agar ia mendapat kesempatan menangkap kau. Bukan orang lain, dan upah itu akan jatuh ke tangannya" Bahkan dengan berterus terang, seorang anak muda yang bertubuh kecil berkata "Mereka telah mendapat upah dari Manguri untuk menangkap Pamot " Pamot mengerutkan keningnya. Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Tetapi jika demikian, maka Lamat justru sudah mendapat kesempatan lebih dahulu dari kelima orang itu. Meskipun demikian Pamot tidak membantah. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun ia berpendapat lain. "Tetapi bagaimanapun juga kalian sudah terlibat dalam perkelahian itu. Dan itu sudah mengganggu ketenteraman" Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. "Sudah tentu aku tidak akan dapat mempercayai kalian begitu saja. Aku akan mengusut persoalannya. Aku akan memanggil Manguri dan ayahnya. Tetapi apabila kalian berkata sebenarnya, Manguri memang harus ditindak. Ia menjadi sumber persoalan yang semakin berlarut-larut ini" "Terima kasih Ki Jagabaya" berkata Pamot "tetapi bagaimanapun juga, aku minta, agar Ki Jagabaya tetap melindungi nama Lamat apabila Manguri dan orang tuanya akan dipanggil kemari" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya "Sepanjang aku tidak memerlukan sekali, aku tidak akan menyebut namanya" "Terima kasih" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Besok pagi aku akan mengurusnya" berkata Ki Jagabaya kemudian, lalu "sekarang kalian boleh pulang. Aku akan tidur lagi" Anak-anak muda Gemulung itu saling berpandangan sejenak. Namun merekapun kemudian minta diri untuk meninggalkan rumah Ki Jagabaya. "Kalian tidak boleh meninggalkan padukuhan kalian" berkata Ki Jagabaya itu kemudian "setiap saat aku memerlukan kalian. Terutama Pamot" Pamot mengangguk sambil menjawab "Baik Ki Jagabaya" "Besok aku akan memanggil Manguri, kalau perlu orang tuanya" Maka sejenak kemudian anak-anak muda Gemulung itupun meninggalkan rumah Ki Jagabaya. Kini mereka mengerti, bahwa persoalan mereka tidak terhenti sampai sekian. Persoalan mereka masih akan berkepanjangan. "Aku minta maaf" berkata Pamot kepada kawan-kawannya. "Kenapa?" bertanya Punta. "Ternyata aku telah menyeret kalian ke dalam persoalan yang panjang" Punta tertawa pendek "Itu sudah merupakan kewajiban kami" "Mudah-mudahan Ki Jagabaya dapat segera menyelesaikan masalah ini" "Ia harus dapat menyelesaikan. Itu adalah tugasnya" "Tetapi ayah Manguri adalah seorang yang kaya dan berpengaruh tidak saja di Gemulung" "Aku parcaya kepada Ki Jagabaya" berkata Punta. Pamot terdiam. Sedang kawan-kawannyapun terdiam pula. Kini mereka berjalan semakin cepat. Mereka merasa, bahwa mereka telah menempuh jalan yang sebaik-baiknya. Menyampaikan masalahnya kepada Ki Jagabaya. Ketika mereka melihat bayangan fajar di langit, maka merekapun mempercepat langkah mereka kembali ke padukuhan Gemulung. Mereka mengharap bahwa padukuhan mereka masih sepi agar mereka tidak dikerumuni oleh pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. "Masih sepi" desis salah seorang dari mereka. "Mudah-mudahan" sahut Pamot. Tetapi mereka terkejut ketika mereka menjadi semakin dekat. Di sudut desa tampak samar-samar berjejal-jejal orangorang Gemulung berkerumun di sekitar gardu. Agaknya mereka memang menanti kedatangan anak-anak muda yang pergi ke rumah Ki Jagabaya. "Sst, mereka menunggu kita agaknya" desis Punta. "Ya" "Menjemukan sekali. Pertanyaan mereka tidak akan berkeputusan. Marilah kita mengambil jalan lain. Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian merekapun menusup diantara batang-batang jagung, menyusur pematang yang menyilang jalan menuju kesudut desa. "Kita meloncat pagar batu" desis anak yang tinggi itu. Tidak ada jawaban, tetapi merekapun menuju ke lambung pedukuhan dan meloncati pagar batu. Dengan diam-diam mereka berjalan tergesa-gesa ke rumah masing-masing. Orang-orang yang menunggu di pojok desa masih juga menunggu. Mereka menyangka bahwa anak anak itu akan segera kembali dan melewati jalan itu. Mereka ingin mendengar langsung keterangan dari mulut-mulut mereka dan tanggapan dari Ki Jagabaya atas paristiwa itu. Tetapi anak-anak itu tidak juga segera lawat. Dengan demikian maka orang-orang yang menunggu itu menjadi cemas. Salah seorang dari mereka berdesis "Apakah Ki Jagabaya menjadi marah dan menahan mereka di rumahnya?" "Ah tentu tidak. Anak-anak kita tidak bersalah" "Tetapi mungkin mereka harus menunggu panyelesaian. Mungkin Ki Jagabaya memanggil orang-orang yang berkepentingan" "Apakah Ki Jagabaya akan memanggil gerombolan Sura Sapi ?" "Tentu tidak mungkin. Tetapi ia dapat memanggil Manguri dan Lamat" Orang-orang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan ayah Pamot yang ikut berkerumun di sudut desa itupun mengangguk-angguk pula. Tetapi ia menjadi semakin lama semakin cemas, sehingga ia berkata "Aku akan berganti pakaian. Lebih baik aku menyusul mereka daripada berdiri termangu-mangu disini" Tetangga-tetangganya yang berada di pojok desa itu mengerutkan kening mereka. Sejenak mereka tidak menyahut. Tetapi sejenak kemudian salah seorang dari mereka berkata "Kau akan disangkutkan pula pada masalah ini" "Itu sudah sewajarnya. Aku adalah ayah Pamot. Mau t idak mau aku pasti akan tersangkut" Orang itu tidak menjawab lagi. Tidak seorangpun yang mencegahnya lagi ketika ayah Pamot itu kemudian meninggalkan tetangga-tetangganya yang berkerumun di depan gardu di pojok desa. Dengan tergesagesa ia pulang untuk mengganti pakaiannya, karena ia ingin datang sendiri ke rumah Ki Jagabaya menanyakan anaknya. Tetapi ia terkejut ketika ia memasuki pintu rumahnya. Dilihatnya Pamot sudah ada di dalam. Anak itu duduk sambil minum air hangat dan gula kelapa. Di sisinya duduk ibunya dan di hadapannya kakeknya. "Kau sudah pulang Pamot?" bertanya ayahnya dengan serta-merta. "Belum lama ayah" "Aku menunggumu di pojok desa. Apakah kau tidak mengambil jalan itu?" Pamot menggeleng "Memang tidak ayah. Kami bersepakat untuk mengambil jalan lain ketika kami ketahui, banyak sekali orang yang berkerumun di pojok desa" "He, kenapa kami t idak melihat kalian?" "Kami berjalan beriringan. Tetapi agaknya orang-orang Gemulung sedang sibuk berbantah tentang peristiwa semalam, sehingga mereka sama sekali tidak menghiraukan apapun lagi" Ayah Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya "Orang-orang itu pasti akan kecewa. Aku akan memberitahukan kepada mereka, bahwa yang mereka tunggu telah pulang" "Jangan ayah. Aku lelah sekali. Mereka pasti akan bertanya-tanya menurut kehendak mereka sendiri tanpa menghiraukan orang yang mereka tanya. Sedang aku benarbenar lelah dan kantuk" Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Sambil duduk di amben itu pula ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti keberatan Pamot itu. Tetapi apakah ia akan membiarkan orang-orang itu menunggu?. Isterinyapun kemudian memberinya semangkuk air panas pula. Sambil meneguk ia berdesah. Lalu katanya "Tetapi orang-orang yang ada di pojok desa itu harus tahu, bahwa yang mereka tunggu sudah lewat" ia berhenti sebentar "kalau begitu, sebaiknya kau masuk saja ke dalam bilik. Aku akan mengatakan kepada mereka, bahwa anak-anak itu sudah pulang, tetapi mereka baru tidur. Mereka lelah sekali setelah semalam-malaman tidak tidur dan apalagi berkelahi melawan gerombolan orang-orang yang liar itu" Pamot mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Terserahlah kepada ayah" Ayah Pamotpun kemudian berdiri sambil berkata "Akan pergi sekarang. Mereka sudah terlampau lama menunggu" Sepeninggal ayahnya, maka Pamotpun kemudian masuk ke dalam biliknya. Ia mengharap bahwa ia benar-benar tidak akan diganggu oleh partanyaan-pertanyaan yang membingungkan dan melingkar-lingkar tidak habis-habisnya. Badannya yang latih dan matanya yang sangat kantuk, membuatnya malas untuk bertemu dengan siapapun juga. Tetapi meskipun kemudian ia berbaring, dan rasa-rasanya ia akan segera tertidur dengan nyenyaknya, namun ternyata matanya sama sekali t idak mau terpejam. Terbayang semua masalah dan peristiwa yang baru saja terjadi. Pertengkaran, perkelahian demi perkelahian, sehingga akhirnya ia telah menyeret kawan-kawannya ke dalampersoalan ini. Dalam pada itu, maka Pamotpun sampai pada sumber persoalannya, Sindang Sari. Dadanya menjadi berdebar-debar mengenangkan gadis itu. Gadis itu pasti akan segera mendengar pula apa yang sudah terjadi. "Kasian anak itu" Pamot terkejut ketika ibunya membuka pintu biliknya. Kemudian memasukinya sambil membawa tempurung berisi air yang berwarna ke kuning-kuningan. "Apa itu ibu?" bertanya Pamot. "O, jadi kau belum tidur?" Pamot menggeleng sambil bangkit duduk di pinggir ambennya "Aku tidak dapat tidur, betapa letihnya" "Aku membawa cairan param untukmu Pamot. Aku tahu, kau pasti terlampau letih" Pamot menarik nafas dalam-dalam. "Berbaringlah" Pamot tidak membantah. lapun kemudian berbaring lagi. Ibunya menggosok kakinya, tangannya, punggungnya dan seluruh tubuhnya dengan param yang hangat. "Mudah-mudahan segala perasaan sakit dan letih akan berkurang" berkata ibunya. "Terima kasih ibu" "Nah, cobalah untuk tidur" Ibunyapun kemudian meninggalkan Pamot di dalam biliknya. Terasa sekujur tubuhnya menjadi hangat. Perasaan letih dan sakit memang berangsur berkurang. Tulangtulangnya tidak lagi serasa saling terlepas. Tetapi Pamot tetap tidak dapat memejamkan matanya. Setiap ia berusaha untuk tidur dan melepaskan segala ingatan tentang apapun, maka bayangan Sindangsari justru menjadi semakin jelas mengawang. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia berdesah "Semuanya sudah terlanjut terjadi. Kawan-kawanku yang semula tidak tahu menahu, kini telah terseret ke dalam parsoalanku. Karena itu, apa-boleh buat. Aku t idak akan surut" Dalam pada itu, Ki Jagabaya yang terlambat bangun, segera berkemas sambil bersungut-sungut "Anak-anak Gemulung itu sudah mulai gila. Mereka membuat persoalan saja. Kademangan ini sebenarnya sudah mulai baik dan perlahan-lahan meningkatkan diri. Tetapi tiba-tiba saja, anakanak muda itu terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang memuakkan" Sambil menyuapi mulutnya dengan makan pagi Ki Jagabaya berkata kepada isterinya "Aku akan pergi ke rumah Ki Demang" "Aku mendengar persoalan semalam" berkata isterinya. "Manguri memang perlu mendapat perhatian" Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata "Ki Demang sedang gelap hati" Ki Jagabaya mengerutkah keningnya "Kenapa?" "Bukankah ia baru saja bercerai?" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya "Itulah kegilaannya. Sudah berapa kali ia bercerai dan kawin lagi?" "Seingatku lima kali. Seorang meninggal karena sakitsakitan. Yang lain bercerai setelah beberapa tahun kawin. Isterinya yang ketiga hanya betah tinggal di rumah Ki Demang selama setengah tahun" Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata "Tetapi masalahnya harus dibedakan. Aku akan membicarakan masalah Kademangan Kepandak dan padukuhan. Ki Demang harus menyediakan waktu. Ia harus memisahkan masalah tanggung jawabnya sebagai seorang Demang, dan masalah-masalah pribadinya" Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti apa yang dikatakan suaminya, tetapi ia mengerti juga bahwa kadang Ki Demang kehilangan keseimbangan antara tugastugas jabatannya dan masalah-masalahnya sendiri. Setelah makan pagi, maka Ki Jagabayapun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke rumah Ki Demang di Kepandak untuk menyampaikan masalah yang terjadi semalam. Selain masalah anak-anak muda Gemulung, ternyata bahwa gerombolan Sura Sapi telah mulai menyentuh kademangan ini pula, meskipun agaknya diundang oleh orangorang Gemulung sendiri. "Dengan demikian Manguri telah melakukan kesalahan dua kali lipat" desis Ki Jagabaya di sepanjang jalan. Dengan demikian langkah Ki Jagabaya menjadi semakin cepat. Tetapi sekali-sekali ia menguap, karena semalam tidurnya agak terganggu oleh kehadiran anak-anak Gemulung itu. Beberapa puluh langkah dari regol Kademangan, Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Ia melihat seekor kuda tertambat di halaman Kademangan. "Sepagi ini sudah ada tamu?" ia bertanya kepada diri sendiri. Keinginannya untuk mengetahui, siapakah tamu yang datang dipagi-pagi benar itu telah mendorongnya untuk berjalan lebih cepat lagi. Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tidak seorangpun duduk di pendapa. Ki Demang tidak dan apalagi tamunya. Tetapi ketika ia melihat pintu pringgitan terbuka, maka iapun segera mengerti, bahwa tamunya kali ini diterima di dalam pringgitan. Ki Jagabayapun kemudian perlahan-lahan naik ke pendapa agar kedatangannya tidak mengejutkan. Kemudian iapun mengetuk pintu yang memang sudah terbuka itu. "Siapa" bertanya Ki Demang. "Aku Ki Demang, Supa" "Supa Jagabaya?" "Ya" "O" terasa ada keragu-raguan sedikit pada nada suara Ki Demang. Namun kemudian "masuklah" Ki Jagabaya itu mengerutkan keningnya sejenaK. Tetapi iapun kemudian mendorong pintu pringgitan dan menyembulkan kepalanya. Tetapi Ki Jagabaya tidak segera melangkah masuk. Ia terperanjat melihat tamu yang sudah duduk di dalam pringgitan, di atas sehelai tikar pandan yang putih dan bahkan di hadapannya sudah tersedia beberapa macamhidangan. Orang itu adalah pedagang ternak yang kaya raya dari Gemulung. Ayah Manguri. "Masuklah" desis Ki Demang kemudian. Kini Ki Jagabayalah yang menjadi termangu-mangu sejenak Dipandanginya saja wajah Ki Demang dan wajah pedagang ternak yang kaya raya itu. "Masuklah" berkata Ki Demang kemudian. Ki Jabagaya mengerutkan keningnya. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia masih saja melihat pedagang yang kaya itu seakan-akan acuh tidak acuh saja atas kehadirannya. Namun akhirnya Ki Jagabaya masuk juga ke dalam pringgitan dan duduk di atas tikar pandan itu pula. "Kau datang terlampau pagi hari ini Ki Jagabaya?" berkata Ki Demang Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya pula "Apakah bebahu yang lain masih belum datang?" Ki Demang tersenyum "Belum" "Aku merasa kesiangan" berkata Ki Jagabaya "sehingga aku menjadi terlampau tergesa-gesa" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Disambarnya wajah tamunya yang pertama, kemudian wajah Ki Jagabaya. Keduanya sudah saling mengenal, tetapi keduanya masih belumsaling menyapa. Meskipun Ki Jagabaya merasa duduknya kurang tenang, namun ia sengaja tidak mau menyapa pedagang kaya itu lebih dahulu. Ia tidak senang melihat sikapnya yang angkuh "Kalau orang itu menyapa, baru aku akan menjawab" katanya di dalam hati. Tetapi pedagang kaya itupun masih saja acuh tidak acuh. Bahkan kemudian ia menundukkan kepalanya tanpa menghiraukan lagi kepada Ki Jagabaya. Tetapi di dalam hatinyapun ia berkata "Aku adalah tamu Ki Demang. Jagabaya ini memang sombong benar. Apakah disangkanya jabatan Jagabaya itu merupakan jabatan tertinggi di seluruh dunia? Aku adalah seorang yang kaya raya, yang sudah menjelajahi hampir seluruh daerah Selatan" Ki Demang yang menjadi tuan rumah merasa aneh, bahwa keduanya tidak saling menyapa. Tetapi Ki Demang belum tahu, apakah sebenarnya yang telah membuat sikap mereka menjadi kaku. Tanpa mereka sadari, sebenarnya di dalam sudut hati Ki Jagabaya telah tersimpan perasaan tidak senang kepada Manguri, anak pedagang kaya itu, yang telah mengundang gerombolan Sura Sapi memasuki daerah Kademangan Kepandak. Hal itu pasti akan mengganggu kedamaian dan ketenteraman Kademangan ini. Dan ini adalah tugas yang akan dibebankan kepadanya. Dalam pada itu, pedagang kaya itupun merasa bahwa pasti tersimpan suatu prasangka di dalam hati Ki Jagabaya. Ia yakin bahwa anak-anak muda Gemulung yang berpihak pada Pamot pasti sudah menghadap Ki Jagabaya. Apalagi anak-anak yang termasuk dalam keanggautaan pengawal khusus Kademangan Kepandak. Namun Ki Demang tidak membiarkan tamu-tamunya untuk duduk membeku, sehingga dengan kaku pula ia berkata "He, bukankah kalian akan saling memerlukan dalam masalah yang sedang kita hadapi?" Keduanya berpaling memandang wajah Ki Demang. Dan sementara itu Ki Demang melanjutkan "Kami bertiga memang harus berunding. Adalah kebetulan sekali Ki Jagabaya datang pagi-pagi, sehingga masalahnya akan menjadi semakin cepat kita selesaikan" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia memandang wajah pedagang kaya itu, selagi pedagang itu memandangi wajahnya pula. Dengan demikian, maka keduanyapun kemudian menganggukkan kepala mereka dengan kaku. Sejenak kemudian seorang pelayan Ki Demang telah membawakan semangkuk air panas untuk Ki Jabaya. Sambil mengerutkan keningnya Ki Jagabaya menerima mangkuk itu. Namun di dalam hati ia berkata "Tamu Ki Demang kali ini pasti seorang tamu yang luar biasa. Suguhannyapun luar biasa pula. Tidak pernah seorang tamu di Kademangan ini mendapat suguhan makanan sampai lima macam. Apalagi sepagi ini. Darimana saja Ki Demang mendapatkannya?" "Minumlah Ki Jagabaya" berkata Ki Demang. "Terimakasih" Namun belum lagi Ki Supa Jagabaya meneguk mangkuknya, Ki Demang sudah berkata "Ki Jagabaya. Kedatangan Ki Sukerta dari Gemulung ini ada sangkut pautnya dengan pergaulan puteranya" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang sudah menduga. "Ternyata anak-anak Gemulung sekarang sudah menjadi liar. Mereka sama sekali sudah tidak mengenal sopan santun" Dada Ki Jagabaya berdesir. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar bahwa ceritera ini adalah ceritera ayah Manguri. Sehingga apabila ada perbedaan warna dan nada, adalah wajar sekali. Sejenak kemudian Ki Demang melanjutkan "Sejak beberapa saat yang lalu telah terjadi beberapa kali perkelahian. Namun masalahnya masih belum terlampau parah. Orang-orang tua padukuhan Gemulung sendiri berusaha untuk menyelesaikannya. Namun ternyata anak-anak muda Gemulung yang tidak mempunyai kesibukan tertentu itu hampir-hampir tidak dapat dikendalikan lagi" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan terus. Ia ingin mendengarkan pengaduan ayah Manguri itu sampai habis. Dan Ki Demangpun berkata "Ki Sukerta, pedagang ternak ini datang kepadaku untuk mengadukan masalah itu. Sudah tentu Ki Sukerta mencemaskan nasib puteranya " Ki Jagabaya masih belum menjawab. Sekilas ditatapnya wajah pedagang ternak itu. Ketika ia melihat wajah itu tersenyum-senyum, maka iapun mengumpat di dalam hati. "Nah, itulah yang perlu kau ketahui Ki Jagabaya" "Hanya itu" tiba-tiba Ki Jagabaya menyahut sambil mencoba melihat tanggapan pada wajah Ki Sukerta, pedagang yang kaya dari Gemulung itu. Tanggapan itu memang seperti yang disangkanya. Pedagang itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Sambil memandang wajah Ki Jagabaya ia bertanya dengan serta-merta "Kenapa hanya itu?" Ki Jagabayalah yang kini tersenyum. Jawabnya "Tidak ada pengaduan lain? Misalnya anak-anak muda Gemulung sudah berhubungan dengan orang-orang dari lain padukuhan untuk membentuk suatu gerombolan atau bahkan dari lain Kademangan?" Ki Demangpun kemudian mengerutkan keningnya. Di tatapnya wajah Ki Jagabaya yang tersenyum-senyum itu, kemudian wajah Ki Sukerta yang tegang. "Apa maksudmu Ki Jagabaya?" bertanya pedagang itu. "Aku tidak bermaksud apa-apa" jawab Ki Jagabaya "tetapi aku bertanya. Kemungkinan yang demikian itu sekarang dapat saja terjadi, dimana anak-anak muda Gemulung itu tidak mempunyai kesibukan apapun" "Pasti ada latar belakang dari pertanyaanmu itu" desis pedagang kaya itu "setidak-tidaknya kau menganggap laporanku itu sebagai dongeng ngaya-wara, sehingga tanggapanmu itu terlampau menyakitkan hati" "Kau mudah menjadi sakit hati Ki Sukerta" berkata Ki Jagabaya "sebaiknya kau agak bersabar sedikit. Biasanya seorang pedagang tidak lekas kehilangan kesabaran" Wajah pedagang itu menjadi merah padam. Tetapi ia masih mencoba untuk menahan diri. "Baiklah, baiklah aku memberi penjelasan" berkata Ki Demang "perist iwanya terjadi semalam. Tetapi semalam itu adalah akibat dari peristiwa beberapa hari sebelumnya " Ki Jagabaya terdiam. Ia memang ingin mendengarkan laporan ayah Manguri itu. "Anak-anak Gemulung telah mengganggu Manguri" berkata Ki Demang seterusnya "tetapi sudah tentu sebagai seorang anak muda. maka Manguripun mempertahankan harga dirinya. Masalah ini semula adalah masalahnya Manguri dengan seorang anak muda yang bernama Pamot. Tetapi agaknya Pamot membentuk suatu kelompok anak-anak muda untuk melawan Manguri. Adalah kebetulan sekali bahwa kawan dan pembantu Manguri yang bernama Lamat mampu melindunginya "Ki Demang berhenti sejenak, lalu "tetapi kelompok anak-anak muda itu menjadi semakin banyak, sehingga akhirnya Manguri, terpaksa minta bantuan temantemannya pula. Karena anak-anak muda Gemulung sebagian terbesar sudah dipengaruhi oleh Pamot. maka lebih aman bagi Manguri untuk minta perlindungan orang-orang yang bekerja pada ayahnya. Orang-orang yang setiap hari memelihara ternak yang belum terjual. Orang-orang yang kerjanya mencari dedaunan dan rerumputan. Namun sudah tentu bahwa mereka t idak akan dapat memadai, karena diantara kawan-kawan Pamot dan Pamot sendiri adalah anggautaanggauta pengawal khusus Kademangan Kepandak" "Pengawal Kademangan Kepandak, beserta pengawal khususnya adalah orang-orang yang ada di dalam tanggung jawabku" berkata Ki Jagabaya. "Ya. Itulah sebabnya, maka kita akan mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya tanpa menyakit i hati kedua belah pihak" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik. Memang baik sekali" "Nah, marilah sekarang kita berbicara dengan baik, agar kita dapat menemukan cara yang kita kehendaki itu. Ki Jagabaya mengangguk anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera menyahut. "Ki Demang" Ki Sukertalah yang kemudian berbicara "sebaiknya aku minta diri. Terserahlah kepada Ki Demang, penyelesaian yang manakah yang baik harus dilakukan. Aku hanya ingin anakku tidak selalu dibayangi oleh kecemasan tentang dirinya sendiri, karena anak-anak Gemulung yang selalu mengancamnya. Anakku kini sudah tentu tidak akan berani keluar rumah. Dan karenanya aku minta perlindungan kepada Ki Demang" "Tunggu" potong Ki Jagabaya "aku kira akan lebih baik kalau kita mendengar laporan dari kedua belah pihak. Aku condong untuk memanggil Manguri dan Pamot bersamasama" "Buat apa?" bertanya pedagang ternak itu. "Aku ingin mempertemukan. Aku ingin keduanya berbicara. Kemudian aku akan menyarankan agar mereka berjanji untuk tidak bermusuhan lagi apapun sebabnya" Pedagang ternak itu menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba saja ia menggeram "Kau tidak dapat memanggil anakku, aku atau keluargaku yang lain. Aku datang hari ini atas kehendakku sendiri" "Kenapa ? Aku adalah petugas yang mengurusi masalahmasalah yang dapat mengguncang ketenteraman. Aku dapat memanggil setiap orang yang aku perlukan" "Kau dapat memanggil Pamot, memanggil petani-petani kecil atau anak anak gembala. Tetapi tidak anakku. Anak seorang pedagang yang bukan saja bergerak di padukuhan Gemulung, tetapi aku sudah menjelajahi seluruh Mataram, bahkan sampai ke Madiun" "Lalu kenapa? Kalau kau sudah sampai ke ujung bumi, lalu kau bebas untuk berbuat sekehendakmu di kampung halamanmu sendiri?" "Sudahlah" Ki Demang menengahinya "jangan ribut. Biarlah Ki Sukerta pulang. Kita akan berbicara untuk mencari penyelesaian itu" Ki Jagabaya tidak menjawab. Ditatapnya Ki Demang dan pedagang ternak itu berganti-ganti. "Terima kasih Ki Demang" berkata Ki Sukerta, kemudian katanya "ingat aku tidak mau diganggu oleh urusan anakanak" Ki Jagabaya sama sekali sudah tidak mengacuhkannya lagi. Ketika Ki Sukerta kemudian berdiri, Ki Jagabaya masih tetap saja duduk di tempatnya. "Ki Jagabaya" berkata Ki Demang "Ki Sukerta akan meninggalkan kita. Apakah kau masih mempunyai pertanyaan" Ki Jagabaya menggeleng "Tidak. Aku akan memanggil yang berkepentingan. Kalau ia t idak datang, aku dapat memakai kekerasan" "Persetan" desis pedagang ternak itu. "Aku akan menentukan segala-galanya" tiba-tiba Ki Demang memotong, sehingga Ki Jagabaya terkejut karenanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat membantah lagi, apabila hal itu memang sudah dikehendaki oleh pemimpin tertinggi Kademangan Kepandak. Ki Sukertapun kemudian meninggalkan Kademangan itu. Ki Jagabaya yang akhirnya berdiri juga hanya mengantarkannya sampai ke pintu pringgitan. Ia berdiri sambil bersilang tangan di dada, bersandar uger-uger pintu, ketika Ki Demang mengikut i tamunya sampai ke kudanya. "Ki Demang" Ki Sukerta berbisik "aku akan memenuhi semua yang sudah aku katakan. Ki Demang kelak dapat melihat sendiri, yang manakah yang Ki Demang kehendaki. Aku kira Ki Demang memang harus segera kawin lagi. Sebagai seorang Demang, tidak sepantasnya hidup sendiri hanya dilayani oleh pembantu-pembantu yang barangkali tidak cukup cakap" Ki Demang tersenyum "Kecuali itu, keperluan Ki Demang yang lain dapat pula aku penuhi" "Ya, ya. Aku percaya bahwa kau mampu melakukannya. Tetapi aku tidak memerlukan yang lain" "Baiklah. Sekarang aku minta diri" Ki Sukerta itupun kemudian meloncat keatas punggung kudanya. Kemudian tanpa berpaling lagi, kudanya berderap meninggalkan halaman Kademangan itu. Ki Demang yang masih berdiri di bawah tangga pendapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun melangkah naik untuk menemui Ki Jagabaya yang masih berdiri di tempatnya. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat beberapa orang bebahu telah mulai berdatangan. "Duduklah" berkata Ki Demang "aku masih mempunyai keperluan dengan Ki Jagabaya" Bebahu Kademangan itupun menyahut "Silahkan" Ki Demangpun kemudian masuk kembali ke pringgitan, diikuti oleh Ki Jagabaya. Setelah mereka duduk kembali di tempat semula maka Ki Jagabayapun bergumam "Pedagang dari Gemulung itu terlampau sombong. Ia merasa orang yang kaya raya, yang dapat mempergunakan uangnya untuk segala macam kepentingan" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, Karena itu kita memang harus berhati-hati menghadapinya. Kalau ia marah, ia memang dapat berbuat terlampau banyak. Setidaktidaknya ia dapat mengganggu ketenangan pekerjaan kita sehari-hari" "Tetapi kita dapat bertindak tegas terhadapnya. "Tidak semudah itu Ki Jagabaya. Aku sudah mendengar banyak tentang pedagang kaya itu. Ia mempunyai banyak sekali pelindung yang dapat digerakkan setiap saat. Beberapa kepeng uang telah membuat seseorang kehilangan akal dan mengorbankan dirinya untuk kepentingan pedagang itu" "Tetapi kita mempunyai pasukan Ki Demang. Pasukan pengawal. Dan adalah kebetulan sekali bahwa Mataram telah memilih beberapa orang pengawal untuk mendapat latihan khusus, apabila setiap saat, Mataram akan mengirim pasukan lagi ke Betawi" "Tetapi aku tetap menganggap bahwa apabila mungkin setiap masalah t idak diselesaikan dengan kekerasan. Apakah kau mengerti maksudku?" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Juga masalah anak-anak muda itu" Sekali lagi Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berdesah "Kalau kita selalu memanjakannya, maka ia tidak akan dapat mengerti, bahwa ia adalah salah seorang dari warga Kademangan ini yang terikat oleh berbagai macam hubungan timbal balik. Ia tidak dapat berdiri sendiri disini dengan dalih apapun. Berbuat apapun. Aku kira lebih baik ia membawa orang-orangnya dan membuka hutan di lereng Gunung Sewu Ia akan dapat membuat tata pergaulan menurut seleranya. Kitapun kemudian t idak akan mengusik dan mengganggu gugat apa yang dilakukannya, karena mereka tidak merugikan kita, mengganggu kita dan melanggar tata pergaulan yang sudah kita sepakati bersama" "Aku tahu Ki Jagabaya. Memang kita harus berbuat sesuatu Yang kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana cara yang sebaik-baiknya" "Ki Demang" berkata Ki Jagabaya "apakah Ki Demang ingin mendengarkan laporan dari pihak lain? Bukan dari pihak Manguri tetapi dari pihak Pamot?" Ki Demang mengerutkan keningnya. "Mungkin laporan itupun tidak benar seluruhnya. Tetapi setidak-tidaknya akan dapat menjadi pertimbangan Ki Demang sebelum mengambil keputusan. Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini di hadapan pedagang yang sombong itu. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan" Mau tidak mau Ki Demang harus menganggukkan kepalanya "Baiklah. Katakanlah" "Ki Demang" berkata Ki Jagabaya "yang terpenting adalah, bahwa Manguri telah mengundang gerombolan Sura Sapi untuk ikut campur di dalam persoalannya" "He?" ternyata Ki Demang terkejut pula mendengarnya. "Gerombolan Sura Sapi itulah yang semalam berkelahi melawan anak-anak" Ki Demang termenung sejenak. Tetapi tanggapannya benar-benar di luar dugaan Ki Jagabaya "Nah, bukankah kau akhirnya harus percaya bahwa ia dapat berbuat terlampau banyak? Jauh lebih banyak dari dugaanku. Kini ia baru memanggil Sura Sapi, lain kali ia memanggil yang lain, yang lain lagi. Dengan demikian maka Kademangan ini akan menjadi semakin kacau balau" Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Memang bukan kegemaranku untuk berkelahi. Aku tahu bahwa Ki Demangpun mempunyai kemampuan yang hampir tidak ada bandingnya. Jangankan gerombolan Sura Sapi, gerombolangerombolan yang mempunyai agul-agul yang betapapun tangguhnya, aku kira tidak akan dapat mengatasi Ki Demang dari Kepandak. Namun Ki Demang masih selalu berpegangan, bahwa berkelahi adalah cara yang sama sekali tidak dikehendaki. Tetapi meskipun demikian Ki Demang, seperti terhadap anak-anak kita yang nakal kita kadang-kadang harus menyelentiknya di kuping atau mencubitnya di paha" "Tetapi terhadap pedagang itu lain lagi Ki Jagabaya. Kalau kita nyelentik di kuping, ia akan memukul kening kita, sedang kalau kita mencubit di paha, ia akan mematahkan tukang belakang kita" "Kalau begitu kita cekik saja orang itu" "Nah, kekakuanmu sudah tumbuh lagi" "Bukan begitu Ki Demang. Maksudku memang pertamantama kita mencari jalan yang baik. Kita panggil kedua-duanya supaya mereka saling berjanji untuk tidak mengulangi masalahnya. Sedang gadis sumber persoalannya, sebaiknya harus segera menentukan sikap, supaya tidak menumbuhkan salah paham di pihak-pihak yang lain. Apabila kelak salah satu pihak melanggar persetujuan itu, kita akan bertindak lebih tegas lagi" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku dapat mengerti. Tetapi biarlah aku melihat persoalan itu dari dekat. Akulah yang nanti akan datang ke Gemulung. Tentu bersama kau Ki Jagabaya" Ki Jagabaya terperanjat "Kenapa kita yang harus pergi kesana? Jalan yang paling mudah, kita panggil anak-anak itu. Kita adalah orang-orang tua yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab" "Jangan terlampau kaku. Apakah salahnya kita melihat masalah ini langsung. Kita dapat melihat tempat-tempat kejadian dan kita dapat mendengar keterangan dari beberapa orang yang berdiri di luar masalah ini, sehingga lengkaplah keterangan-keterangan kita sebelum kita menentukan sikap" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia tidak sependapat dengan Ki Demang, bahwa pimpinan Kademangan harus terlampau mengalah dan merendahkan diri terhadap pedagang ternak yang walaupun kaya raya itu. Tetapi Ki Jagabayapun tidak dapat membantah keputusan yang diambil oleh Ki Demang. Merekalah yang akan mengunjungi Gemulung, melihat sendiri dari dekat, apa yang telah terjadi. "Aku sependapat sekali untuk melihat keadaan itu langsung, Ki Demang. Tetapi kalau hal ini didorong oleh keseganan kita memanggil Manguri, aku akan berpikir lagi" desis Ki Jagabaya. "Tidak. Sebenarnya kita sama sekali tidak boleh ragu-ragu untuk bertindak. Tetapi kali ini aku memang ingin melihat sendiri, apa yang sudah terjadi di Gemulung. Masalahnya bukan sekedar masalah yang dapat diselesaikan dengan sepintas lalu. Yang tersangkut kali ini adalah anak pedagang yang kaya raya itu, yang dapat banyak berbuat baik maupun buruk, beberapa orang pengawal, bahkan pengawal khusus dan menurut keteranganmu, Sura Sapi telah ikut pula di dalam perkelahian itu" "Bukan sekedar turut serta, memang gerombolan itulah yang berkelahi melawan para pengawal" Ki Jagabaya berhenti sejenak, lalu "tetapi aku dapat berbangga. Ternyata pengawal itu mampu menandingi gerombolan Sura Sapi. Itu saja baru anak-anak Gemulung. Belum anak muda dari padukuhanpadukuhan lain. Bukankah dengan demikian kita dapat menilai kekuatan yang tersimpan di padukuhan-padukuhan di seluruh Kademangan" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya. Akupun berbangga. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus selalu mempergunakan kekerasan" "Tidak Ki Demang. Aku sudah menegaskan. Bukan itu" Ki Demang mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Baiklah nanti kita pergi ke Gemulung" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Minumlah" Ki Demang kemudian mempersilahkan. "Terima kasih" berkata Ki Jagabaya "tetapi baiklah aku melengkapi ceriteraku" "Tentang?" "Manguri dan Pamot" Dengan segannya menunggu jawabannya, Ki Jagabaya langsung menceriterakan apa yang didengarnya dari Pamot dan kawan-kawannya. Ki Demang mengangguk-angguk "Memang ada beberapa perbedaan" katanya "tetapi banyak persamaan. Masalahnya berkisar dari Sindangsari. Keduanya mengaku, Sindangsari berada dipihaknya. Aku harus mendengar sendiri, bagaimana sikap gadis itu" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya pula. Sesuatu tersirat disorot matanya. Sesuatu yang tidak terkatakan. Apalagi Ki Jagabaya mengerti, bahwa Ki Demang baru saja bercerai dari isterinya yang kelima. Isterinya yang masih terlalu muda. Meskipun Ki Demang masih belum tua, dan belum beranak pula, tetapi Ki Demang sudah terlalu sering berganti isteri, sehingga agaknya ia bukan seorang suami yang baik. Sejenak kemudian, maka keduanyapun keluar dari pringgitan dan menemui beberapa orang bebahu yang lain, yang duduk-duduk di pendapa. Mereka setiap hari datang menjenguk Kademangan meskipun hanya sebentar, apabila ada sesuatu yang harus mereka kerjakan. "Hari ini kita tidak mempunyai persoalan apa-apa" berkata Ki Demang. Bebahu Kademangan yang berada di pendapa itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka bertanya "Apakah Ki Demang dan Ki Jagabaya sudah mendapat laporan tentang anak-anak Gemulung yang saling berkelahi?" "O" Ki Demang tersenyum "sudah. Aku sudah mendengar laporan. Tetapi itu sekedar persoalan anak-anak Aku dan Ki Jagabaya akan segera menyelesaikannya" Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata "Sokurlah. Tetapi menurut pendengaranku, perkelahian itu bukan sekedar masalah anakanak" "Apa yang kau dengar?" bertanya Ki Jagabaya. "Ternyata gerombolan Sura Sapi telah ikut campur" Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Ki Demang sejenak. Katanya kemudian "Ya. Begitulah menurut pendengaranku" "Bukankah dengan demikian masalahnya bukan sekedar masalah anak-anak?" "Ya, begitulah menurut pendapatku" "Ah" Ki Demang memotong "kita masih harus membukt ikan lebih dahulu. Sampai seberapa jauh akibat yang timbul. Kadang-kadang kita membayangkan sesuatu persoalan jauh lebih dahsyat dari apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu, yang paling baik adalah melihat sendiri perkembangan dan peristiwa yang terjadi itu" Orang-orang yang berada di pendapat itu menganggukanggukkan kepalanya. Diantara mereka memang sependapat dengan keterangan Ki Demang. "Apapun yang terjadi, sebaiknya langsung dapat dilihat dari dekat, supaya tidak salah mengambil kesimpulan dan usaha penyelesaian" Tetapi mereka sama sekali tidak menyimpan kerisauan seperti Ki Jagabaya. Usaha Ki Demang untuk melihat persoalannya itu seakan-akan hanya karena ia tidak dapat memanggil anak-anak yang terlibat di dalam masalah itu. Namun demikian masih ada juga yang berkata "Tetapi Ki Demang, betapapun juga kecil masalahnya, tetapi keterlibatan Sura Sapi sebenarnya sudah memberikan kecemasan yang tidak dapat diabaikan" "Kenapa kalian masih saja dihantui oleh nama gerombolan itu? Kalian harus melihat kenyataan" jawab Ki Demang "gerombolan Sura Sapi sama sekali tidak berdaya menghadapi anak-anak Gemulung. Sebab sebagian dari mereka adalah pengawal-pengawal khusus Kademangan Kepandak. Bukankah itu justru memberikan kebangggaan kepada kita?. "Ya, aku mendengar Ki Demang. Tetapi apakah kira-kira masalahnya akan berhenti sampai sekian? Apakah gerombolan Sura Sapi yang liar itu dengan senang hati menerima kekalahannya? Kalau semua Sura Sapi hanya sekedar menerima upah untuk melakukan sesuatu, maka dilain kali ia akan menuntut balas atas kekalahannya itu tanpa diundang oleh siapapun. Lebih ngeri lagi apabila Sura Sapi datang bersama kawan-kawan mereka yang merasa tersinggung pula atas kekalahan itu" "Kau menakut-nakuti dirimu sendiri" jawab Ki Demang "sudah aku katakan, bahwa aku akan mengambil kesimpulan setelah aku melihat sendiri apa yang terjadi di Gemulung. Nanti aku akan pergi kepa-dukuhan itu bersama Ki Jagabaya. Seandainya Sura Sapi benar-benar mendendam padukuhan Gemulung atau katakanlah Kademangan Kepandak, apakah yang kita takutkan? Kita mempunyai sepasukan pengawal. Kita mempunyai Ki Jagabaya, Ki reksatani, adikku yang kalian mengetahui, dapat juga diketengahkan sebagai seorang yang dapat dihadapkan pada gerombolan-gerombolan seperti Sura Sapi atau bahkan gerombolan yang manapun, dan sudah tentu aku akan mempertanggung jawabkan semuanya itu" Ki Demang berhenti sejenak, lalu "Nah, apakah yang kalian cemaskan lagi?" Tidak seorangpun yang menjawab. "Tetapi aku kira kita tidak akan terperosok demikian jauh. Kita-memang sering berangan-angan" Orang-orang yang berada di pendapa itu menganggukanggukkan kepala mereka. "Nah, sekarang, terserah kepada kalian. Yang masih ingin berada di tempat ini aku persilahkan. Yang mempunyai tugastugas lain di luar halaman inipun aku persilahkan pula" Demikianlah maka beberapa orang diantara merekapun segera meninggalkan Kademangan, termasuk Ki Jagabaya. Kepada Ki Demang, Ki Jagabaya berkata "Aku akan segera kembali. Lebih baik kita segera pergi ke Gemulung. "Aku akan mengambil kudaku, supaya perjalanan kita agak lebih cepat" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, bagus sekali. Kita akan pergi berkuda" Namun di sepanjang jalan, beberapa orang bebahu yang tidak puas mendengarkan pembicaraan di pendapa Kademangan, masih saja bertanya kepada Ki Jagabaya. Sedang Ki Jagabayapun sama sekali t idak merahasiakan sesuatu. Apa yang diketahuinya disampaikannya kepada bebahu yang lain, meskipun ia berpesan "Jangan kalian sebar luaskan. Kalau masalah ini sudah menjadi pembicaraan setiap orang, maka usaha penyelesaian justru akan tertanggu karenanya. Kalian harus mencoba menyimpan serapat mungkin masalah-masalah yang terjadi. Apalagi antara dua ceritera yang berbeda itu. Apakah kalian dapat mengerti?" Orang-orang yang mendengarkan ceritera itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagaimanapun juga mereka tidak dapat menganggap masalah itu sebagai masalah yang dapat diabaikan. Seandainya masalahnya itu terbatas antara Manguri dan Pamot beserta kawan masingmasing, maka usaha penyelesaian akan jauh lebih mudah dari yang dihadapi sekarang. Tetapi mereka hanya dapat menunggu untuk sementara. Menunggu dengan cemas. Kadang-kadang timbul juga ketenangan di hati mereka "Memang kita kadang-kadang terlampau mempertajam persoalan. Ki Demang dan Ki Jagabaya akan dapat segera menyelesaikan persoalannya. Kenapa kita menjadi cemas?" Demikianlah ketika matahari telah menjadi semakin tinggi, Ki Jagabaya telah berada kembali di Kademangan dengan menunggang seekor kuda. Mereka siap untuk pergi ke Gemulung, melihat sendiri apa yang telah terjadi. Ki Jagabaya hanya berada sebentar di halaman Kademangan, karena Ki Demangpun telah siap pula untuk berangkat. "Kau tinggal disini sebentar" berkata Ki Demang kepada seorang yang bertubuh tegap dan kekar, agak lebih tinggi dari Ki Demang sendiri. Berkumis rata meskipun tidak begitu tebal, dan membiarkan bajunya terbuka, sehingga bulu-bulu di dadanya tampak kehitam-hitaman. "Apakah kakang tidak lama? orang itu bertanya. Ki Demang menggeleng. "Apakah kau tidak ikut bersama kami, Ki Reksatani?" bertanya Ki Jagabaya. Ki Reksatani, adik Ki Demang menggeleng sambil tersenyum "Aku menunggui rumah ini. Sebenarnya aku hanya akan singgah ke rumah ini sebentar. Tetapi terpaksa aku jadi penjaga" "Bukankah ada pengawal di regol depan?" "Pengawal cukup lengkap" jawab adik Ki Demang "tetapi kakang Demang minta aku tetap disini" "Sudahlah" potong Ki Demang "kalau kau mau makan, makanlah. Di geledeg ada nasi seceting dan sepotong ayam goreng" Adiknya tertawa. Ki Jagabayapun tertawa pula. Keduanya kemudian meninggalkan halaman Kademangan di atas punggung kuda. Langkah kaki kuda-kuda mereka tidak terlampau cepat. Sambil melihat-lihat daerah Kademangan Kepandak mereka berjalan ke Barat Menyusur jalan yang berbatu-batu di tengah daerah persawahan. Setiap kali mereka berdua harus menganggukkan kepala mereka apabila mereka berpapasan dengan orang-orang yang sedang pergi atau pulang dari sawah, dari pasar dan dari manapun juga. Setiap kali keduanya harus menjawab sapa yang ramah dari orang-orang Kademangan Kepandak. Sebelum mereka sampai disebuah tikungan, Ki Demang berkata "Kita ambil jalan memintas. Kita lewat jalan kecil ini" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya "Kita tidak lewat Gunung Sepikul?" "Tidak" sahut Ki Demang, Ki Jagabaya tidak menyahut lagi. Kini mereka berbelok mengikut i sebuah jalan kecil. Kuda-kuda merekapun berjalan semakin cepat, karena mataharipun menjadi semakin tinggi, sehingga panasnya mulai terasa menyengat kulit. Perjalanan ke Gemulung sama sekali bukan perjalanan yang panjang. Karena itu, maka di tengah hari mereka berdua telah ada diambang padukuhan. Kedatangan Ki Demang dan Ki Jagabaya hanya berdua agaknya telah mengejutkan orang-orang Gemulung. Namun mereka langsung dapat menebak, apakah keperluan kedua bebahu Kademangan itu, justru Ki Demang sendiri. Mereka langsung menghubungkan kedatangan Ki Demang itu dengan peristiwa anak-anak muda Gemulung baru-baru ini. Perkelahian yang memang telah menggoncangkan ketenteraman hidup rakyat Gemulung. Di mulut lorong yang memasuki padukuhan Gemulung, Ki Demang berhenti sejenak. Ia melihat beberapa orang yang lewat mendekatinya. Salah seorang dari mereka menyapanya "Selamat siang Ki Demang dan Ki Jagabaya" "Ya, ya terima kasih" jawab Ki Demang. "Kami sudah menduga, apakah keperluan Ki Demang dan Ki Jagabaya. Sudah tentu bukan soal parit yang rusak di sebelah padukuhan ini. Kalau masalahnya masalah parit itu, maka Ki ulu-ulunya yang akan datang hari ini" Ki Demang tersenyum. Katanya "Baiklah. Kalau kalian sudah tahu kepentingan kedatanganku, maka coba, sebaiknya aku harus datang kepada siapa?" Orang itu termenung sejenak. Jawabnya kemudian t idak disangka-sangka sama sekali oleh Ki Demang "Kalau aku Ki Demang, sebaiknya Ki Demang datang saja ke rumah pedagang kaya itu. Ki Demang dapat minta agar anaknya diajar supaya tidak selalu mengganggu orang di padukuhan ini" Ki Demang mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang wajah Ki Jagabaya dengan sudut matanya, dilihatnya Ki Jagabaya itu tersenyumsambil mengangguk-angguk. "Kalau tidak ke rumah pedagang itu, kemana aku sebaiknya pergi untuk mendapat keterangan lebih banyak" Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian Jawabnya "Tentu saja ke rumah Pamot " Ki Demang mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang wajah Ki Jagabaya dengan sudut matanya, dilihatnya Ki Jagabaya itu tersenyumsambil mengangguk-angguk. Ki Demang mengangguk-angguk. Desisnya "Aku akan pergi ke rumahnya sebelum ke rumah pedagang kaya itu. Aku ingin mendengar banyak keterangan" Ki Jagabaya tidak membantah. Dibiarkannya Ki Demang memilih arah. "Terima kasih, terima kasih" berkata Ki Demang kemudian kepada orang-orang yang menyongsongnya "aku akan pergi ke rumah Pamot " Ki Demang dan Ki Jagabayapun kemudian memasuki lorong yang membelah padukuhan Gemulung, langsung menuju ke rumah Pamot. Kedatangan Ki Demang benar-benar mengejutkan keluarga itu. Ayah Pamot sendiri tidak ada di rumah, sehingga karena itu, maka dengan tergesa-gesa disuruhnya seorang anak tetangga untuk menjemputnya di sawah. Pamot dan kakeknyalah yang menemui kedua tamunya sebelum ayahnya pulang dari sawah. Dengan dada berdebardebar mereka duduk di amben panjang sambil menundukkan kepala mereka. "Ayahmu pergi?" bertanya Ki Demang. "Sebentar lagi ia datang Ki Demang" jawab kakek Pamot "seseorang sudah menyusulnya " Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku sudah mendengar ceritera tentang kau dari Ki Jagabaya" berkata Ki Demang "tetapi agaknya lebih puas mendengarnya dari kau sendiri" Pamot menarik nafas dalam-dalam. "Ceriterakan yang penting" Pamot mengerutkan keningnya "Kenapa aku harus menceriterakannya kembali ?" ia bertanya kepada dirinya sendiri. Tetapi akhirnya ia menyadari, bahwa apa yang akan diceriterakan harus tepat sama seperti yang dikatakannya kepada Ki Jagabaya. Kalau ada perbedaan sedikit saja, maka seluruh ceriteranya pasti tidak akan dipercaya lagi. Bahkan mungkin ia akan dianggap telah memberikan keterangan dan pengaduan paslu. Karena itu, maka dengan hati-hati Pamot mulai berceritera. Tetapi karena apa yang diceriterakan adalah keadaan yang sebenarnya, maka sama sekali t idak ada kesalahan apapun yang telah diucapkannya. Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. "Jadi permusuhanmu sudah mulai beberapa lama sebelum perkelahian itu terjadi?" bertanya Ki Demang. "Sebenarnya aku tidak merasa permusuhan itu Ki Demang, tetapi sikap Manguri agak kurang menyenangkan" "Pamot " bertanya Ki Demang "cobalah berkata berterus terang. Apakah Sindangsari, gadis yang kau sebut-sebut itu benar-benar telah memilih kau sebagai bakal suaminya?" Wajah Pamot menjadi kemerah-merahan. Sejenak ia menunduk. Namun kemudian ia menjawab "Aku belum dapat mengatakannya Ki Demang. Tetapi kami memang telah terlibat dalam suatu hubungan yang agak lain dari sifat hubungan kawan biasa" "Aku ingin mendengar, apakah bukan kau yang terlalu perasa? aku belum yakin kalau Sindangsari menaruh hati juga kepadamu. Menurut penilaian lahiriah, seorang gadis pasti akan memilih Manguri daripada kau. Seandainya kau lebih tampan sedikit dari Manguri, sedang menurut penilaianku Manguri juga cukup tampan, maka seorang gadis pasti akan memilihnya, karena banyak sekali masalah yang tidak ada padamu, tetapi ada padanya" Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab Ki Jagabaya telah mendahului "Pertanyaan itu kurang mengenai sasarannya Ki Demang. Meskipun Pamot pantas juga diminta untuk memberikan keterangan tetapi pertanyaan ini lebih tepat diberikan kepada Sindangsari" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata "Maksudku apakah kita tidak keliru menangkap ceritera Pamot?" Ki Jagabaya tidak segera menangkap kata-kata Ki Demang itu. Sementara itu, maka ayah Pamotpun dengan tergesa-gesa memasuki rumahnya. Keringatnya yang membasahi seluruh tubuhnya menitik satu-satu dilantai ketika ia berdiri sambil membungkukkan kepalanya. "Maaf Ki Demang dan Ki Jagabaya, aku tidak tahu, bahwa aku akan menerima tamu hari ini" Pamot dan kakeknyalah yang menemui kedua tamunya sebelum ayahnya pulang dari sawah. Dengan dada berdebardebar mereka duduk amben panjang sambil menunduk kepala mereka. "Akupun tidak mimpi untuk datang ke Gemulung kalau anakmu tidak berkelahi" jawab Ki Demang. Ayah Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Ki Demang dan Ki Jagabaya berganti-ganti, kemudian wajah anaknya, ayahnya dan yang terakhir ia menganggukanggukkan kepalanya. "Aku sedang bertanya tentang beberapa hal kepada anakmu" berkata Ki Demang. "O, silahkan Ki Demang" "Duduklah disini" berkata Ki Demang selanjutnya "pertanyaanku masih banyak" Ayah Pamotpun kemudian duduk pula di samping anaknya. "Menurut anakmu, ia telah berkelahi dengan gerombolan Sura Sapi" "Ya Ki Demang, akupun melihat sendiri gerombolan itu" "He, apakah kau juga turut berkelahi?" "Tidak Ki Demang. Kebetulan seseorang melihat anak-anak itu berkelahi di sawah. Kami yang berada di gardupun berlarilarian ke sawah pula. Kami masih sempat melihat perkelahian itu, tetapi kami tidak sempat ikut membantu, karena gerombolan Sura Sapi segera melarikan diri" Ki Demang mengerutkan keningnya, sedang Ki Jagabayapun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi aku masih belum puas dengan keterangan anakmu" berkata Ki Demang selanjutnya "ketika ia melihat Manguri berusaha mengganggu Sindangsari, ia mencoba untuk melindungi gadis itu. Aku menyangka kalau Pamot salah mengatakannya" Pamot, ayahnya, kakeknya dan bahkan Ki Jagabaya sendiri tidak segera mengerti maksud Ki Demang. "Menurut penilaianku, agaknya Pamotlah yang terlalu perasa. Ia melihat Manguri berjalan bersama Sindangsari. Kemudian karena ia merasa cemburu, maka ia telah berbuat sesuatu yang mengejutkan keduanya. Sudah tentu Sindangsari menjadi malu sekali, dan segera berlari meninggalkan Manguri, Nah, ceritera inilah yang sengaja atau tidak sengaja telah kau ceriterakan setelah kau sesuaikan dengan seleramu" "Ah" tiba-tiba Pamot berdesah "tidak Ki Demang. Memang sebaiknya Ki Demang bertanya kepada Sindangsari. Mungkin itu akan lebih baik, seperti kata Ki Jagabaya. Dengan demikian Ki Demang tidak akan tertipu olehku, atau barangkali oleh Manguri" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ki Jagabayapun menyahut "Hanya Sindangsarilah yang mengetahui perasaannya sendiri, lebih baik dari siapapun" "Ya, ya" berkata Ki Demang "tetapi sudah tentu bahwa aku belum dapat mempercayaimu Pamot. Kami masih memerlukan banyak sekali keterangan" Pamot tidak menjawab, tetapi kepalanya menunduk dalamdalam. Kepada ayah Pamot Ki Demang berkata "Jagalah anakmu baik-baik. Jangan kau ajari anakmu berbohong atau jangan kau dorong ia untuk setiap kali berkelahi" "Tentu tidak Ki Demang. Aku selalu mencoba mengawasinya agar ia dapat berbuat sebaik-baiknya. "Kau terlampau banyak mempergunakan waktumu untuk mencari uang, mencukupi kebutuhan hidupmu sehari-hari, sehingga kau tidak mempunyai waktu lagi untuk mengawasi anakmu" "Aku sudah mencoba Ki Demang" jawab ayah Pamot "aku membagi waktuku sebaik-baiknya sehingga anakkupun selalu dapat aku awasi" "Baik" jawab Ki Demang "tetapi kalau akhirnya ternyata masalahnya tidak seperti yang kau katakan, maka aku akan mengambil tindakan" "Silahkan Ki Demang. Agaknya anakku tidak berbohong" Ki Jagabaya yang mendengarkan percakapan itupun tibatiba menyahut "Kau jangan mencoba menghindari tanggung jawab atas perbuatan anakmu. Kalau ia bersalah, kau harus melepaskannya untuk menerima hukumannya. Jangan mencoba melindungi kesalahan anakmu dengan cara apapun juga" "Tentu, tentu Ki Jagabaya. Kalau ternyata Pamot bersalah, aku serahkan anak itu dengan kedua tanganku, apapun yang akan terjadi atasnya" "Bagus" sahut Ki Jagabaya "sejak sekarang awasilah anakmu baik-baik. Bukankah kau tidak terlampau sering pergi keluar Kademangan?" "Tentu tidak Ki Jagabaya. Bahkan keluar padukuhanpun jarang sekali" "Bukankah kau tidak selalu keluar rumah, mengurusi apapun kemana-mana ? Ke Madiun dan kemanapun sehingga kau tidak sempat mengurusi anakmu?" Ayah Pamot mendengar pertanyaan Ki Jagabaya itu dengan mulut ternganga. Ia sama sekali tidak mengerti pertanyaan itu. Dipandanginya wajah Ki Jagabaya dan Ki Demang berganti-ganti. Tetapi Ki Demanglah yang menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud pembantunya itu. Sejak semula agaknya Ki Jagabaya tidak sependapat dengan cara yang ditempuh oleh Ki Demang. Ki Demang tahu benar, bahwa yang dimaksud oleh Ki Jagabaya adalah justru ayah Manguri. Tetapi Ki Demang tidak kehilangan kesabaran. Bahkan ia berkata "Bagus, kalau begitu baiklah. Aku kira kau tidak berbohong. Mudah-mudahan anakmupun tidak berbohong" Ki Jagabaya menarik nafas pula. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi. Keduanyapun kemudian segera minta diri. Mereka bersepakat untuk menemui Sindangsari di rumahnya. Kepadanyalah sebagian dari penyelesaian masalah ini dapat dicari. Di sepanjang jalan Ki Jagabaya tidak terlampau banyak lagi berbicara. Kini ia menjadi semakin men-yakini pendapatnya bahwa Ki Demang agak tidak kurang wajar menanggapi masalah ini. Sikapnya terhadap kedua orang tua dari anakanak yang bermusuhan itu tampak jauh berbeda. Ayah Manguri terlampau mendapat penghormatan daripadanya, sedang ayah Pamot justru diancamdan ditakut-takuti. "Apakah yang sebenarnya telah terjadi?" pertanyaan itu selalu mengganggu Ki Jagabaya "apakah memang harus ada perbedaan, karena ayah Manguri seorang yang kaya raya, sedang ayah Pamot hanyalah seorang petani biasa? Apakah dengan demikian kebenaranpun terpengaruh pula oleh keadaan itu?" Tetapi Ki Jagabaya berjanji di dalam hatinya "Aku: akan mencoba melihat kebenaran itu ditegakkan. Aku tidak peduli siapakah ayah Manguri dan siapakah ayah Pamot. Bahkan apapun yang dapat terjadi atasku seandainya ayah Manguri itu mengancam" Namun nada suara hati itu menurun "Tetapi kalau Ki Demang mengambil sikap lain, aku tidak akan banyak berdaya" Meskipun demikian sejauh mungkin Ki Jagabaya akan berusaha untuk berdiri tegak sebagai seorang petugas dan bebahu Kademangan Kepandak. Semakin lama merekapun menjadi semakin dekat rumah Sindangsari. Beberapa orang yang melihatnya, segera dapat menebak pula bahwa keduanya pasti akan pergi ke rumah Sindangsari. Bahkan beberapa orang anak-anak telah berlari-lari lebih dahulu dan berkata kepada Sindangsari "Ki Demang pasti akan kemari" "Ki Demang?" Sindangsari terkejut. "Ya. Bersama Ki Jagabaya. Mereka berkuda ke arah ini" Sindangsaripun menjadi bingung. Ketika ia menyampaikannya pula kepada ibunya, ibunyapun menjadi bingung pula. "Jangan bingung" kakeknya yang kebetulan ada di rumah mencoba menenangkan mereka "apa yang mesti di bingungkan? Ki Demang dan Ki Jagabaya pasti hanya sekedar mencari keterangan tentang keributan yang baru saja terjadi. Bukankah kau tidak bersalah?" kakeknya berhenti sebentar, lalu "tetapi kau harus menjawab semua pertanyaannya sesuai dengan yang terjadi sebenarnya. Ingat, apa adanya. Itu adalah perbuatan yang sebaik-baiknya kau lakukan saat ini. Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian, sebenarnyalah Ki Demang dan Ki Jagabaya telah memasuki halaman rumah kakek Sindangsari. Dengan tergopoh-gopoh orang tua itu menyongsong mereka, dan mempersilahkan mereka memasuki rumah mereka yang tidak terlampau besar. Setelah mengikat kuda-kuda mereka, maka keduanyapun kemudian mengikuti kakek Sindangsari, masuk keruang tengah dan duduk di atas balai-balai bambu yang besar. "Aku hanya sebentar" berkata Ki Demang "panggilan anakmu yang bernama Sindangsari" "Maksud Ki Demang, cucuku?" "He, cucumu? Ya, cucumu" Maka dipanggilnyalah Sindangsari bersama ibunya untuk menghadap Ki Demang dan Ki Jagabaya. Sejenak Ki Demang memandangi kedua ibu dan anaknya itu berganti-ganti. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bergumam "Jadi Sindangsari ini adalah anakmu?" "Ya Ki Demang" "Baik, baik" desis Ki Demang "duduklah disini. Marilah kita berbicara " Keduanyapun duduk pula sambil menundukkan kepalanya di amben itu juga. "Aku akan berbicara dengan Sindangsari" berkata Ki Demang. "Silahkan, silahkan" jawab kakeknya. "Majulah" Dengan kepala yang semakin menunduk Sindangsaripun beringsut sedikit. "Apakah kau sudah mendengar, apa yang telah terjadi antara Pamot dan Manguri?" bertanya Ki Demang. Dada Sindangsari berdesir. Tetapi ia selalu teringat akan pesan kakeknya, bahwa ia harus berkata sebenarnya. Sambil mengangguk ragu ia menjawab "Sudah Ki Demang" "Coba katakan, apakah yang sudah terjadi?" "Beberapa anak muda telah berkelahi melawan gerombolan Sura Sapi yang diundang oleh Manguri" "Ah" potong Ki Demang "begitulah berita itu? Sindangsari mengangguk. "Dari siapa kau mendengar?" Sindangsari ragu-ragu sejenak. Tetapi sekali lagi ia teringat pesan kakeknya. Maka jawabnya "Dari kakek, Ki Demang" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kemudian kepada kakek Sindangsari ia bertanya "Apakah benar demikian?" "Menurut pendengaranku Ki Demang" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini ia memandang Sindangsari hampir tanpa berkedip lagi. "Sindangsari" ia berkata "kau akan menjadi sumber penyelesaian dari masalah ini. Coba katakan, apakah kau dapat memilih dengan tegas salah seorang dari kedunyanya?" Ternyata pertanyaan itu telah menggetarkan dada Sindangsari. Sebagai seorang gadis, maka pertanyaan itu membuatnya tersipu-sipu. Pipinya menjadi merah, dan kepalanya justru menunduk dalam-dalam. Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan Ki Demang itu dirasakannya terlampau langsung. Dengan demikian, maka Sindangsari pasti akan menemui kesulitan untuk menjawabnya. Karena itu maka Ki Jagabayapun kemudian mencoba untuk menolongnya "Sindangsari" katanya "maksud Ki Demang adalah, agar Manguri dan Pamot tidak selalu bertengkar karena mungkin mereka salah paham. Sudah tentu semuanya itu bukan salahmu. Mungkin kau sama sekali tidak menghendaki pertengkaran diantara kawan-kawan se padukuhan. Tetapi salah paham itu memang mungkin saja terjadi. Bahkan terlampau biasa terjadi. Nah, supaya hal itu hidak berlarut-larut, maka kau harus menegaskan sikapmu" Ki Jagabaya berhenti sejenak, lalu "Sindangsari, siapakah menurut anggapanmu yang bersalah dari keduanya? Apakah Manguri ataukah Pamot?" Sindangsari masih menundukkan kepalanya. Tetapi pertanyaan Ki Jagabaya masih lebih mudah dijawab olehnya daripada pertanyaan Ki Demang. "Tentu salah seorang dari keduanya keliru" sambung Ki Demang "yang keliru sebaiknya mendapat peringatan. Supaya kami tidak salah memberikan peringatan itu, nah, kaulah yang dapat menunjuk, siapakah yang wajib mendapat teguran itu" Sejenak Sindangsari terbungkam. Sambil mempermainkan ujung bajunya ia menggigit bibirnya. "Jawablah Sari" bisik ibunya "semuanya ini untuk kebaikanmu dan kebaikan padukuhan Gemulung. Apabila terjadi sesuatu, bukan kaulah yang akan dipersalahkan lagi" Sindangsari bergeser sedikit. Perlahan-lahan sekali terdengar suaranya "Yang salah adalah Manguri ibu" Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berkata "Begitulah Ki Demang. Menurut Sindangsari, Mangurilah yang bersalah" Ki Demang mengerutkan keningnya, sedang Ki Jagabaya berkata "Nah, Ki Demang, kita tinggal mengambil kesimpulannya. Kalau Manguri yang bersalah, tentu Pamotlah yang benar. Begitu?" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Keterangan ini langsung kita dengar dari Sindangsari sendiri" berkata Ki Jagabaya "sehingga keragu-raguan kita, apakah Pamot yang mencegat Manguri yang sedang berjalan bersama Sindangsari, ataukah ceriteranya lain lagi, atau ceritera-ceritera lain yang setiap orang dapat mengarangnya, kini sudah mendapat penjelasan langsung dari yang berkepentingan" Ki Demang mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk. Tetapi tampaklah sesuatu yang tersimpan di dalam hatinya. Namun demikian ia tidak dapat membantah lagi kata-kata Ki Jagabaya itu, karena sebenarnyalah bahwa Sindangsari memang sudah menyebut sendiri, Mangurilah yang bersalah. Akhirnya terdengar suara Ki Demang dalam nada yang datar "Baik, baik. Kita sudah mendengar keterangan Sindangsari" ia berhenti sejenak, lalu "aku kira keperluan kita sudah cukup hari ini" "Begitu tergesa-gesa Ki Demang ?" bertanya kakek Sindangsari. "Aku hanya memerlukan penjelasan itu" jawab Ki Demang "Bukankah begitu Ki Jagabaya?" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya Ki Demang. Aku kira keperluan kita memang sudah selesai" Maka keduanyapun kemudian minta diri. Sambil mengerutkan keningnya Ki Demang meninggalkan halaman rumah Sindangsari. Sekali-sekali ia berpaling, namun kemudian kepalanya tertunduk dalam-dalam. "Apakah kita akan pergi ke rumah pedagang itu?" bertanya Ki Jagabaya. Ki Demang menggelengkan kepalanya. Jawabnya "Tidak. Aku tidak memerlukan keterangannya lagi" "Jadi, apakah kita sudah dapat mengambil kesimpulan, kemudian melakukan t indakan-tindakan yang penting untuk mencegah terulangnya perstiwa ini?" Ki Demang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tetapi ia tidak menjawab. Ki Jagabaya menjadi heran. Apalagi yang dipikir oleh Ki Demang ini?. Ki Demang hampir-hampir tidak menghiraukan lagi, bahwa ia berkuda bersama-sama dengan Ki Jagabaya. Sesuatu yang bara, yang sama sekali tidak terbayang di kepalanya sebelum ia berangkat, kini tiba-tiba saja telah tumbuh. Namun dengan demikian, maka di padukuhan Gemulung dan di Kademangan Kepandak telah timbul pula suatu persoalan yang baru sama sekali. Ki Jagabaya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Ki Demang kemudian berkata "Kita kembali ke Kademangan" Dan ternyata Ki Demang sama sekali tidak memerlukan pertimbangan lagi. Tiba-tiba saja kudanya dilarikannya semakin cepat. Sedang Ki Jagabaya mengikutinya saja di belakang. Hanya kadang-kadang ia mengkibas-kibaskan lengan bajunya karena debu yang diterbangkan oleh kaki-kaki kuda Ki Demang melekat dibajunya itu. Sementara itu, Manguri yang merasa telah gagal untuk sekian kalinya, menjadi semakin marah bukan buatan. Apalagi ketika ia sadar, bahwa seluruh padukuhan kini mengetahuinya apa yang telah dilakukannya. Sambil menggeretakkan giginya ia berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Ia merasa seluruh padukuhan Gemulung kini mengarahkan pandangan mata mereka kepadanya. "Gila" ia menggeram "ternyata nama Sura Sapi itu sama sekali tidak berarti "namun kemudian "tetapi kenapa Pamot dapat mengetahui bahwa gerombolan Sura Sapi itu akan mengeroyoknya, sehingga ia sempat mempersiapkan dirinya bersama beberapa orang kawan?" Tetapi pertanyaan itu tidak dapat dijawabnya. Karena itu ia hanya dapat menghentakkan kakinya saja dilantai, atau memukul tiang dengan telapak tangannya. Manguri terkejut ketika ia mendengar suara ayahnya memanggilnya. Dengan tergesa-gesa ia mendatanginya. "Duduklah" berkata ayahnya. Manguripun kemudian duduk di hadapan ayahnya. "Kau sudah membuat aku pening" gumamayahnya. Manguri tidak menyahut. "Tetapi agaknya aku dapat mengatasinya. Aku sudah bertemu dengan Ki Demang. Karena Ki Demang baru saja kehilangan isterinya, maka persoalannyapun berkisar kepada seorang calon isteri baru" Manguri tidak menjawab. "Tetapi Jagabaya yang bernama Supa itu agaknya memang besar kepala" Manguri mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya "Apa katanya?" "Tetapi sudah tentu ia berada di bawah pengaruh Ki Demang" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. "Untuk sementara kau harus tetap berada di rumah. Kalau kau keluar, mungkin akibatnya kurang baik sekarang, sebelum Ki Demang mengambil langkah-langkah yang dapat menguntungkan kita. Aku sudah menemui Ki Demang sendiri pagi tadi, kemudian aku pergi ke tempat perempuran yang dapat aku jadikan calon isteri Ki Demang itu. aku sudah menjanjikannya" "Siapakah perempuan itu?" "Kenapa kau bertanya? Sudah tentu bukan Sindangsari" "ibunya?" "Hus" bentak ayahnya "apakah kau sangka Ki Demang itu sudah terlampau tua?" "Perempuan itupun belum terlampau tua" "Aku mempunyai beberapa orang gadis yang pantas untuknya" sahut ayahnya. Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Mudah-mudahan Ki Demang segera bertindak" Manguri berhenti sejenak "tetapi bagaimana aku dapat mendapatkan anak itu ?" "Jangan tergesa-gesa. Kalau kau mempergunakan caramu yang bodoh itu, kau akan terjerumus lagi ke dalam kesulitan. Dan aku lagi yang harus mengurusnya. Dengan demikian aku akan kehilangan banyak waktu untuk mengurusi pekerjaanku" "Seharusnya ayah memang menyediakan waktu untuk mengurusi masalahku. Selama ini ayah hanya mengurusi lembu, kerbau dan ibu-ibu muda saja" "Apa tahumu tentang hal itu" ayahnya membelalakkan matanya "aku dan ibumu menyediakan uang dan semua kebutuhanmu secukupnya. Seumurmu itu, kau harus sudah dapat mengurus dirimu sendiri. Meskipun dalam masalahmasalah seperti kali ini aku masih harus ikut menjadi sibuk. Kalau Jagabaya yang gila itu berkeras kepala, pekerjaanku akan menjadi semakin panjang karenanya" Manguri t idak menjawab. Kepalanya terangguk-angguk kecil. "Selain urusanku dengan Ki Demang, jangan kau sangka bahwa orang dari gerombolan Sura Sapi itu akan berdiam diri. Kau juga yang bodoh, kenapa kau hubungi cucurut-cucurut itu. Akhirnya mereka tidak dapat menyelesaikan tugasnya, bahkan kemudian rahasiamu diketahui oleh orang se padukuhan, bahkan se Kademangan" "Itulah yang aneh ayah" berkata Manguri kemudian "darimana Pamot tahu, bahwa Sura Sapi telah mengancamnya" "Mungkin Sura Sapi sendiri. Mereka terlampau membanggakan diri. Tetapi akhirnya mereka hanya dapat melarikan dirinya saja" "Tidak mungkin ayah. Apakah mereka terlampau bodoh untuk berbuat demikian?" "Jika tidak demikian, mereka pasti akan mendendammu. Mereka merasa kau menjerumuskan mereka ke dalam suatu kesulitan" Manguri mengerutkan keningnya. Hal itu memang mungkin sekali terjadi. "Nah, sekarang kau lihat. Seharusnya besok aku pergi ke tlatah Menoreh mengantarkan beberapa ekor sapi. Tetapi aku harus menunda keberangkatanku karena masalahmu" Manguri tidak menjawab. "Kalau kau juga mengingini gadis itu, maka masalah ini memang akan berkepanpangan. Dan aku akan menjadi semakin cepat tua" "Sedang ibu-ibu muda masih banyak menunggu" "Tutup mulutmu" ayahnya menggeram "Kalau kau masih ribut saja, aku tidak akan menyelesaikan urusanmu. Baik dengan Ki Demang, dengan anak-anak Gemulung, dengan gerombolan Sura Sapi, maupun dengan Sindangsari" Manguri tidak menjawab lagi. Kalau ayahnya menjadi marah, maka ia akan benar-benar meninggalkannya pergi dan tidak mau lagi mengurus persoalannya itu. Dalam pada itu, seperti yang diperhitungkan oleh ayah Manguri, maka gerombolan Sura Sapi yang merasa terhina oleh kekalahan mereka dari anak-anak Gemulung, tidak juga dapat melupakannya. Bagi mereka, kesalahan pertama dilemparkannya kepada Manguri. Manguri pasti tidak menyimpan rahasia penyergapan itu baik-baik, sehingga Pamot mengetahuinya, dan sempat mempersiapkan beberapa orang kawannya. "Aku akan menuntut kerugian daripadanya" desis Sura Sapi sendiri kepada kawan-kawannya. Kawan-kawannya mendengarkannya dengan penuh keragu-raguan. Apakah Manguri akan memenuhinya? Bahkan menurut mereka, Manguri justru merasa telah dirugikan. "Manguri justru menyesali kegagalan kita" berkata salah seorang dari mereka. "Itu adalah karena salahnya" jawab Sura Sapi. "Gerombolan Sura Sapi tidak pernah gagal sebelumnya. Kami selalu bekerja dengan teliti. Tidak mungkin kedatangan kami telah mereka tunggu kalau berita tentang usaha kami ini tidak dibocorkan oleh Manguri sendiri" Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kami akan mendatangi rumahnya. Kami akan menuntut upah yang sudah dijanjikan" "Kalau ia berkeberatan?" "Kami pergunakan kekerasan" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kita tidak pernah terkalahkan. Bahwa kita gagal menangkap Pamot, adalah bagaikan arang yang tercoreng di kening kita "Nilai harga diri kita jauh lebih tinggi dari upah itu" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Tetapi mereka masih juga ragu-ragu. Di rumah Manguri ada beberapa orang pekerja yang tinggal di rumah itu siang dan malam. Sura Sapi seakan-akan dapat membaca perasaan beberapa orang kawannya sehingga ia berdesis "Apakah kalian berpikir bahwa para pekerja itu mampu menahan kita? Mereka tidak lebih dari tukang-tukang rumput, tukang-tukang sapu dan gamel" Kawan-kawannya masih juga mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi kalau kalian masih juga ragu-ragu" berkata Sura Sapi "kita akan mengajak seorang kawan lagi dan dapat dipercaya" Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Hal serupa ini tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Mereka tidak pernah membawa orang lain di dalam gerombolan mereka. Tetapi kali ini pimpinan mereka menganggap perlu untuk membawa orang lain bersama mereka. "Jangan cemas. Orang itu sebenarnya bukan orang asing bagi kita. Ia adalah kakak kandungku sendiri yang kebetulan pulang dari perantauan" "Pulang kemana?" tiba-tiba salah seorang ang-gutanya bertanya. "Ke rumah. Rumah yang sudah sekian tahun aku tinggalkan. Tetapi di rumah itu ada paman dan bibi. Sekalisekali aku lewat juga di rumah itu. Dan aku melihat kakang Temon ada di rumah" "Kau percaya kepada kakak kandungmu?" Sura Sapi tertawa, jawabnya "Aku sudah ketemu dengan kakang Temon. Ia akan ikut bersama kami. Ia memerlukan bekal untuk kembali ke tempatnya " "Dimana ia t inggal?" ' "Di ujung Gunung Kendeng" "Kalau kau sudah mempercayainya, kami tidak akan berkeberatan" desis kawan-kawannya kemudian. Maka merekapun kemudian sepakat untuk pergi ke rumah Manguri. Anak itu harus membayar upah yang sudah dijanjikannya, karena kegagalan usaha mereka menangkap Pamot dipengaruhi oleh keadaan di luar perhitungan, yang menurut Sura Sapi, kesalahannya terletak justru pada Manguri. "Nanti malam kita datangi rumahnya" "Tetapi anak-anak muda Gemulung pasti masih berjagajaga karena peristiwa itu" berkata salah seorang dari mereka. "Bodoh kau" bentak Sura Sapi "apakah kita tidak dapat menemukan lubang sama sekali pada dinding padukuhan seluas itu? Mereka pasti hanya akan berkumpul di gardu-gardu atau sekali dua kali berbondong-bondong mengelilingi padukuhan lewat jalan diseputar padukuhan itu" "Ya, ya" desis beberapa orang yang lain. "Nah, sekarang kalian tidak mempunyai pekerjaan apapun. Kalau kalian mau tidur tidurlah. Aku akan menemui kakang Temon" Demikianlah maka Sura Sapi kemudian meninggalkan sarangnya. Wajahnya yang keras dan kasar, pakaiannya yang justru terlampau bagus dan mahal, membuatnya tidak mudah dikenal oleh orang-orang disekitar rumahnya. Sura Sapi rasarasanya sudah berganti wajah. Karena itu tidak seorangpun yang menaruh curiga ketika ia memasuki sebuah halaman rumah di pinggir desa. Rumah yang sudah lama ditinggalkannya. Kakak kandungnya, Temon, ternyata telah melakukan pekerjaan serupa dengan adiknya, meskipun di tempat yang agak jauh. Karena itu tawaran Sura Sapi sama sekali tidak ditolaknya. "Nanti malam kita pergi ke rumah pedagang kaya itu" berkata Sura Sapi. "Apakah di rumah itu aku dapat menemukan sesuatu?" "Maksudku, aku akan menuntut upah yang sudah dijanjikan untuk pekerjaan yang sudah aku katakan tadi. Meskipun tugas itu gagal" Temon mengangguk-anggukkan kepalanya "Apakah pedagang itu akan membayar tuntutan kalian?" "Kami akan memaksa. Aku kira ia tidak akan berani melawan. Setidak-tidaknya ia akan segan bertengkar dengan kami, meskipun dalam keadaan terpaksa ia akan melakukannya. Karena itu, tuntutan kitapun tidak akan terlampau berlebih-lebihan supaya kita tidak memaksa ia melakukan perlawanan" Temon mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik. Aku ikut bersama kalian" Demikianlah maka gerombolan Sura Sapi mendapat tambahan seorang lagi untuk sementara. Bagaimanapun juga Sura Sapi masih mempertimbangkan kemungkinankemungkinan pahit yang dapat terjadi di halaman rumah pedagang kaya itu. Ketika malam mulai menyentuh padukuhan Gemulung dan sekitarnya, di ujung hutan rindang, Sura Sapi dan kawankawannya sudah siap untuk pergi ke Gemulung dengan tuntutan yang melonjak-lonjak di dalam dada mereka. Kalau mereka tidak mau memberikan upah seperti yang dijanjikan, maka harga diri mereka akan mereka tebus dengan kekerasan atas keluarga Manguri. Pada saat yang bersamaan Ki Demang Kepandak duduk di pendapa rumahnya seorang diri menghadapi sebuah dlupak minyak kelapa, semangkuk air panas dan beberapa macam makanan. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya di lihatnya sebuah lentera yang menyala di emper gardu di regol halaman. Beberapa orang peronda sudah ada di dalamnya sambil berbicara berkepanjangan. Biasanya Ki Demang sering turun juga kehalaman dan berbicara dengan mereka. Tetapi kali ini Ki Demang lebih senang duduk seorang diri sambil merenungi nyala api dlupaknya yang bergerak-gerak, dibelai angin yang lembut. Sekali-sekali Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian giginya gemeretak sambil menghentakkan tangannya ditelapak kakinya sendiri. "O, kenapa aku datang sendiri di Gemulung" desisnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apapun. Hal itu sudai. terlanjur dilakukan. Dan ia sudah terlanjur melihat sendiri gadis yang bernama Sindangsari itu. "Aku bukan seorang suami yang baik" katanya kepada diri sendiri "lima kali aku kawin, dan lima kali pula perkawinan itu pecah. Apakah aku masih mempunyai kesempatan untuk kawin lagi?" Dada Ki Demang serasa menjadi sesak. Teringat olehnya janji pedagang ternak yang kaya dari Gemulung, bahwa ia akan mencarikan seorang isteri buat Ki Demang. "Aku memang masih ingin kawin" katanya kepada diri sendiri "tetapi tidak bersungguh-sungguh. Kawin sekedar sebagai kelajiman saja" Ki Demang kemudian berdesah "tetapi Sindangsari sangat menarik bagiku. Ia seorang gadis yang cantik dan luruh. Agaknya ia' jujur pula. Pantaslah bahwa Sindangsari dapat menimbulkan masalah di antara anak-anak muda Gemulung" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya perlahanlahan. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya sambil menggeram "0, aku harus mencegah benturan-benturan berikutnya. Kalau gadis itu ada disini, maka t idak seorangpun yang akan mendendam. Baik Pamot maupun Manguri, tidak akan berani mempersoalkannya lagi" Dan tiba-tiba saja Ki Demang itu bangkit. Dengari tergesagesa ia masuk ke pringgitan. Namun kemudian ia keluar lagi. Sesaat kemudian terdengar suaranya menggeletar memanggil seorang peronda yang ada di dalam gerdu di regol halamannya. Dengan tergesa-gesa pula peronda itu mendekatinya sambil bertanya "Apakah Ki Demang memanggil aku?" "Ya, ya" sahut Ki Demang "kemarilah" Peronda itu semakin mendekat. "Panggil Ki Reksatani. Cepat" teriak Ki Demang. "Bukankah siang tadi Ki Reksatani baru saja datang kemari Ki Demang?" "Aku tahu, aku tahu. Tetapi panggil sekarang" Peronda itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya "Baiklah. Aku akan memanggilnya" Maka peronda itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan halaman Kademangan setelah mengatakan keperluannya kepada kawan-kawannya. "Buat apa Ki Reksatani dipanggil sekarang?" "Hus" desis peronda itu "lehermu dapat dipuntirnya sampai patah" Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia tersenyum kecut. Dengan langkah yang panjang peronda itupun kemudian pergi ke rumah Ki Reksatani. "He, apa keperluanmu?" bertanya Ki Reksatani ketika peronda itu sudah sampai ke rumahnya. "Ki Reksatani dipanggil oleh Ki Demang" "Aku?" "Ya" "He, bukankah aku baru saja bertemu dengan kakang Demang? Kakang Demang tidak mengatakan apa-apa" "Tetapi mungkin berkembang suatu persoalan baru sehingga Ki Demang memerlukan kawan berbincang" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata "Baiklah. Aku akan pergi ke Kademangan. Pergilah dahulu. Sebentar lagi aku akan menyusul" "Baiklah. Aku akan mendahului, dan mengatakan kepada Ki Demang bahwa sebentar lagi Ki Reksatani akan menyusul" "Ya" Peronda itupun kemudian meninggalkan rumah Ki Rekstani, sementara Ki Reksatani merenung sejenak memandang kekegelapan. "Apa lagi keperluan kakang Demang kali ini" desisnya. Reksatani itupun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia minta diri kepada isterinya setelah membenahi pakaiannya. "Aku dipanggil kakang Demang" katanya. Isterinya yang mendengar peronda dari Kademangan yang menyampaikan pesan Ki Demang kepada Ki Reksatani itupun berkata "Tentu ada keperluan yang tiba-tiba. Bukankah kakang baru saja pergi ke Kademangan?" "Ya, malahan aku disuruhnya menunggui rumah itu. Disediakannya di dalam geledeg seceting nasi dan sepotong ayamgoreng, meskipun tinggal sebelah sayapnya " Isterinya tersenyum"Tentu ada kepentingan" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku akan pergi sekarang" Tetapi sebelum suaminya melangkam tlundak pintu, Nyi Reksatani berkata lambat "Kakang, bukankah kakang Demang baru saja kehilangan isterinya" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. "Apakah Kakang Demang baru saja berkeliling wilayah?" "Siang ini kakang Demang pergi ke Gemulung" Isterinya menarik nafas dalam-dalam. "Kenapa?" "Apakah agaknya kakang Demang melihat perempuan cantik di sepanjang jalan?" Ki Reksatani tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah isterinya sejenak. Lalu terdengar ia berdesah Itulah yang tidak aku sukai pada kakang Demang. Mungkin ia akan membicarakan soal itu pula. Sebenarnya aku sudah jemu. Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mudah-mudahan aku dapat memberikan pendapatku kepadanya. Sudahlah, aku akan pergi. Apakah anak-anak sudah tidur semuanya?" "Sudah kakang" Ki Reksatanipun kemudian turun dari tangga rumahnya dan melintasi halaman yang gelap. Di regol sebuah lentera yang redup, terguncang-guncang oleh angin yang lemah. Ki Reksatani masih sempat menarik sumbu lenteranya, sehingga nyalanya menjadi agak terang. Kemudian membuka pintu regol dan hilang di balik dinding. Ki Demang yang menunggu kedatangannya dengan dada yang berdebar-debar, hampir tidak sabar lagi. Dengan gelisah ia duduk dipringgitan. Sekali-sekali ia berdiri dan berjalan mondar-mandir. Namun kemudian ia duduk lagi menghirup air panas dimangkuk yang masih setengah isi. Setiap kali ia mendengar langkah seseorang, disangkanya Ki Reksatani sudah datang. Ketika ia mendengar pintu pringgitan diketuk orang dengan tergesa-gesa ia meloncat berdiri. Ketika pintu dibukanya ia melihat peronda yang disuruhnya memanggil adiknya. "Dimana Reksatani ?" Ki Demang bertanya dengan sertamerta. "Sebentar lagi ia akan menyusul Ki Demang" "He, apakah kau t idak mengatakan bahwa aku memerlukannya sekarang?" "Ya Demang" "Kenapa ia tidak datang bersamamu?" "Aku disuruhnya dahulu, kemudian ia akan menyusul" "Setan elek" Ki Demang mengumpat "kenapa tidak sekarang he" Peronda itu tidak menjawab. "Kenapa kau berdiri saja disitu?" Peronda itu terkejut. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab. "Kembali ke gardumu" Peronda itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab "Baik Ki Demang" Namun ketika ia baru saja beranjak, Ki Demang memanggilnya "He, kau" Orang itu menjadi semakin bingung. "Eh, maaf. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih kepadamu "Ki Demang mengangguk-angguk "sebenarnya aku sangat berterimakasih. Mungkin kepalaku sedang pening, sehingga kadang-kadang aku kehilangan pengamatan diri" Peronda itu menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah udara seisi pendapa itu mau dihirupnya. "Nah, kembalilah ke gardumu. Tetapi apakah kau haus?" "Di gardu sudah disediakan minum Ki Demang" "Lapar barangkali?" Peronda itu menggeleng "Terima kasih Ki Demang, aku sudah makan di rumah" "Baik, baik. Terima kasih" Peronda itupun kemudian kembali ke gardunya. Ketika ia menuruni tangga pendapa Kademangan, ia menarik nafas sekali lagi sambil berdesah "Hem, Ki Demang sudah mulai lagi. Apabila ia ditinggalkan isterinya, entah mati entah cerai, maka ia menjadi seperti orang yang kebingungan. Baru berapa pekan ia bercerai kali ini. Ia sudah mulai lagi dijangkiti penyakitnya" Namun gumamnya itu terputus. Sekali ia berpaling. Tetapi ketika ia tidak melihat Ki Demang di pendapa, ia tersenyum sendiri. Baru sejenak kemudian seseorang memasuki regol halaman Kademangan. Orang itu adalah Ki Reksatani. Adik Ki Demang. Peronda yang tadi menjemputnya menyongsongnya sambil berkata "Ki Demang sudah menunggu demikian lama. Hampirhampir ia tidak sabar lagi, dan aku dibentak-bentaknya, meskipun kemudian ditawarkan kepadaku makan" Mau tidak mau Ki Reksatani tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab "Sekarang kau sudah kenyang ya?" "Aku tidak mau, karena baru saja aku makan di rumah" Adik Ki Demang itu tertawa "Biarlah aku nant i yang makan" "Sekarang silahkan. Ki Demang sudah terlampau gelisah" Ki Reksatani itupun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke pringgitan. Desir langkahnya di pendapa telah didengar oleh Ki Demang sehingga sebelum ia mengetuk, pintu pringgitan sudah terbuka. "Anak demit kau" umpat Ki Demang "kenapa kau tidak datang bersama anak itu?" Ki Reksatani tersenyum. Katanya "Bukankah aku harus melihat apakah semua palang-palang pintu di rumah sudah baik? Mungkin juga membenahi barang-barang. Tetapi bukankah aku sudah pesan kepada peronda itu?" "Uh, ada saja alasanmu. Mari duduk disini. Apakah kau sudah makan?" Ki Reksatani tertawa. Jawabnya "Sudah kakang. Aku sudah makan" "Baik. Baik" desis Ki Demang "sekarang, dengarkan. Aku mempunyai kepentingan yang tidak dapat aku tunda-tunda lagi" Adiknya menganggukkan kepalanya. Jawabnya "Kepentingan Kademangan Kepandak?" "Ya, ya. Kepentingan Kademangan Kepandak" Ki Reksatani mengangguk-angguk pula "apakah kepentingan itu kakang?" "Reksatani. Kau tahu, bahwa tidak ada keluarga lain daripadaku, selain kau. Sepeninggal ayah dan ibu, maka kau adalah satu-satunya keluargaku, sehingga kaulah yang pertama kali akan aku ajak berbicara tentang masalahku kali ini. Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terkenang olehnya, tidak lebih dari setahun yang lalu, kakaknya pernah berkata begitu pula kepadanya. Kata-kata itu rasa-rasanya masih terngiang sampai saat ini. Dan kini kakaknya telah mengucapkannya lagi. Sudah tentu untuk kepentingan yang serupa. "Reksatani, kau tentu sudah tahu pula, bahwa isteriku yang mengguk itu baru saja pergi dari rumah ini" Ki Reksatani mengangguk-angrukkan kepalanya. "Aku sekarang hidup sendiri. Tidak ada seorangpun yang dapat aku ajak berbicara dalam segala masalah. Sedang di Kademangan Kepandak semakin hari semakin banyak persoalan yang harus diselesaikan. Nah, kau dapat membayangkan. Aku selalu kelelahan hampir setiap hari. Tetapi tidak ada orang yang dapat memijitku, atau mengusapkan paremberas kencur di kakiku" Ki Reksatani bergeser sejengkal maju. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata "Bukankah maksud kakang, kakang ingin aku memberikan pertimbangan terhadap seseorang yang baru saja kakang lihat hari ini, mungkin diperjalanan ke Gemulung, atau mungkin dimanapun juga?" "Hus" Ki Demang berdesis "darimana kau tahu" "Hal ini sudah kakang lakukan berulang kali. Aku sudah menjadi terbiasa karenanya" "Baiklah. Aku tidak ingkar. Aku memang ingin mendapat pertimbanganmu. Bagaimana kalau aku kawin saja lagi?" "Kakang" jawab Ki Reksatani kemudian "sebenarnya aku menjadi sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Aku tahu, bahwa kakang ingin aku mengiakannya. Menyetujui dan bahkan mendukungnya" "Tentu, tentu" "Tetapi sebenarnya aku berpendirian lain kakang" Ki Reksatani berhenti sejenak "siapakah orang yang kakang lihat itu?" Ki Demang tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah adiknya dengan kening yang berkerut-kerut. "Tetapi" berkata Ki Reksatani "siapakah perempuan itu ? Janda atau gadis atau siapa?" "Katakanlah, apakah kau setuju?" sahut Ki Demang "dan apakah yang kau maksud dengan pendirianmu yang lain itu ?" "Seharusnya kakang mengatakannya lebih dahulu, siapakah perempuan itu" Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Dan adiknya berkata seterusnya "Kenapa kakang ragu-ragu. Biasanya kakang tidak pernah ragu-ragu mengatakan. Apakah sekali ini kakang mempunyai pertimbangan yang agak berbeda?" "Ya. Aku memang mempunyai pertimbangan yang agak berbeda kali ini" jawab Ki Demang. "Sebaiknya kakang mengatakan kepadaku. Baru kakang bertanya, bagaimana pertimbanganku itu" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ragu-ragu namun ia berkata "Baiklah Reksatani. Sebenarnya terlampau berat bagiku untuk menyebutnya. Tetapi apaboleh buat. Aku memang perlu pertimbanganmu" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kali ini aku tidak semata-mata mementingkan diriku sendiri" berkata Ki Demang, sedang Ki Reksatani mendengarkannya dengan saksama "Seperti kau ketahui, anak-anak Gemulung baru saja terlibat dalamperkelahian. Adiknya mengangguk, tetapi ia bertanya "Apakah ada hubungannya dengan rencana kakang untuk kawin?" "Dengar dulu, baru bertanya" "0, ya" "Persoalannya berkisar pada seorang gadis" Ki Demang berhenti pula menarik nafas "Kau dengar?" "Ya, ya" "Tentu saja hal itu tidak dapat dibiarkan saja. Jika demikian masalahnya pasti akan menjadi berlarut-larut. Keduanya pasti akan saling mendendam dan berusaha untuk merebut sumber persoalan itu" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata "Baiklah, aku akan pergi ke Kademangan. Pergilah dahulu. Sebentar lagi aku akan menyusul" "Karena itu, maka sumber persoalannya itulah yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Keduanya harus mendapatkan atau kedua-duanya tidak. Tetapi bahwa keduaduanya harus mendapatkan adalah tidak mungkin sama sekali" "O" tiba-tiba Ki Reksatani memotong sambil menganggukangguk. Katanya "Sekarang aku tahu. Daripada hal itu akan tetap menjadi masalah, maka sebaiknya keduanya sama sekali tidak mendapatkannya. Tegas-tegas begitu. Dan jalan yang akan kakang tempuh, mengambil saja sumber persoalannya, dan dibawa ke rumah ini menjadi seorang isteri. Begitu?" Ki Demang menegang sejenak. Namun kemudian ia mengangguk "Ya, begitulah" "Jadi tegasnya, orang yang kakang inginkan itu seorang gadis yang bernama Sindangsari?" "Bukan yang aku inginkan. Tetapi, sekedar untuk mencegah masalahnya menjadi berlarut-larut" "Hem" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam "suatu pengorbanan yang luar biasa. Itu adalah suatu tanggung jawab yang tidak kepalang tanggung" "Hus, jangan menyindir" "Aku tidak menyindir kakang. Tetapi bagaimana seandainya gadis yang bernama Sindangsari itu sama sekali tidak pantas untuk dijadikan isteri seorang Demang? Mungkin wajahnya terlampau jelek, atau katakan terlampau bodoh" "Ah, tentu tidak" "Apakah kakang sudah melihat?" "Bukankah aku dari Gemulung?" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tetapi tampaklah bahwa senyumnya adalah senyum yang hambar. Dengan nada yang rendah ia bertanya "Jadi kakang Demang sudah melihat sendiri gadis yang bernama Sindangsari itu?" Ki Demang mengangguk-angguk "Cantik?" Ki Demang ragu-ragu sejenak, lalu menggeleng sambil menjawab "Tidak cantik. Tetapi itu t idak penting bagiku" "Tentu cantik. Kalau tidak, ia tidak akan menimbulkan persoalan antara anak-anak muda" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian "Tetapi katakanlah, apakah kau setuju atau tidak? Aku sudah memenuhi permintaanmu. Aku sudah menyebut namanya, dan kau sudah mendapat gambaran latar belakang dari tindakanku kali ini" "Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejengkal ia bergeser maju. "Kakang" katanya ragu-ragu "apakah aku boleh mengatakan perasaanku yang sebenarnya, bukan sekedar untuk menyenangkan hati kakang seperti biasanya?" Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Ditatapnya saja wajah adiknya tajam-tajam. "Apa maksudmu?" desisnya kemudian. "Kakang, sebenarnya aku segan untuk menjawab pertanyaan kakang itu" "Jangan segan. Jawablah" Ki Reksatani mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia berkata "Tetapi aku minta maaf sebelumnya kakang. Kali ini aku terpaksa mengatakan isi hatiku yang sebenarnya" Reksatani berhenti sejenak, lalu "sebenarnya aku berkeberatan atas rencana kakang Demang itu. Sepengetahuanku Sindangsari itu pasti masih sangat muda. Lebih muda dari Pamot yang sudah pernah aku kenal" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu "Kakang, aku harap kakang berusaha mencari cara lain untuk mengatasi persoalan itu. Meskipun seandainya dengan demikian, persoalan itu dapat selesai, karena kedua belah pihak tidak dapat lagi berbuat apa-apa. namun kakang telah mengambil korban yang terlampau besar" "Apakah kau menyindir aku lagi?" "Bukan. Bukan begitu. Maksduku, apakah Sindangsari akan dapat menerima cara penyelesaian yang akan kakang tempuh? Sindangsari adalah seorang gadis yang masih remaja. Ia masih menginginkan menikmati hari depan yang baik dan panjang. Ki Demang menjadi tegang mendengar kata-kata adiknya itu, dan Ki Reksatani berkata seterusnya "Maaf kakang. Apakah aku dapat melanjutkannya?" Wajah Ki Demang menjadi merah. Tetapi ia menjawab dengan kasar "katakan. Katakan isi hatimu seluruhnya" "Kakang" berkata Reksatani "aku kira aku memang lebih baik berkata sebenarnya menurut pertimbanganku, dari pada aku masih juga berpura-pura" "Ya katakan. Katakan bahwa kau tidak setuju. Katakan bahwa aku sudah tidak pantas lagi kawin dengan gadis kecil itu. Aku memang sudah tidak remaja lagi meskipun belum tua. Dan aku memang sudah pernah kawin entah berapa kali. Bukankah begitu ?" Ki Reksatani menundukkan kepalanya. "Kenapa kau diam saja he?" "Aku takut, kakang akan menjadi semakin marah" Ki Demang membelalakkan matanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam "katakan. Aku tidak akan marah. Kita sudah cukup tua untuk membuat pertimbanganpertimbangan" "Apakah benar kakang tidak akan marah?" "Ya" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya "Begitulah kira-kira kakang. Tetapi sekali lagi, kita berbicara sebagai seorang yang sudah mampu mengendalikan diri, sehingga tidak sepantasnya kita saling bertegang urat untuk mempertahankan pendirian masing-masing. Kalau pendirian kita berbeda, kakang, maka demikianlah agaknya. Memang pendirian kita berbeda. Tetapi bukankah aku tidak dapat mengikat kakang dalam suatu keharusan untuk mentaatinya? Tetapi aku mengharap dengan sangat, agar setidak-tidaknya kakang sempat mempertimbangkan pendapatku" Ki Demang t idak menyahut. "Kakang, seperti yang sudah kakang katakan sendiri. Kakang sudah beberapa kali kawin. Kalau aku tidak salah menghitung, kakang sudah kawin lima kali. Apakah pantas kalau kakang kini mengambil seorang gadis remaja untuk menjadi isteri kakang? Dan apakah kakang tidak menaruh belas kasihan kepadanya, kepada gadis itu?" "Bodoh kau. Kalau orang tuanya mengijinkan, persoalan gadis itu sudah selesai" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia tidak menyahut. Diangguk-anggukannya kepalanya perlahan-lahan, namun tampak benar bahwa ia sama sekali tidak dapat mengerti jalan pikiran kakaknya, Ki Demang di Kepandak. Ki Demangpun tidak segera menyambung kata-katanya, sehingga ruangan itu menjadi hening sejenak. Di luar, di gardu, masih terdengar para peronda bercakap-cakap. Kadang-kadang terdengar gelak memecah sepinya malam. Namun sejenak kemudian, seperti ada sesosok hantu yang lewat, gardu itu menjadi sepi. Tetapi tiba-tiba pembicaraan diantara mereka telah meledak lagi untuk mencegah kantuk yang mulai beraba-raba mata mereka. "Jadi bagaimana?" bertanya Ki Demang. Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam "Aku sudah mengatakan pendapatku kakang" "Jadi kau tetap tidak setuju?" Ki Reksatani tidak menjawab "Kau benar-benar tidak berperi-kemanusiaan" Ki Reksatani terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya "Kenapa aku justru tidak berperi-kemanusiaan?" "Reksatani" berkata Ki Demang "kau tahu, bahwa sampai saat ini aku sama sekali tidak mempunyai anak? Bukankah wajar sekali kalau aku menginginkan seorang anak atau lebih?" Wajah Ki Reksatani tiba-tiba menegang. Tetapi hanya sekejap, sehingga sama sekali t idak berkesan pada kakaknya. Jawabnya kemudian "Tentu kakang. Adalah wajar sekali kalau kakang menginginkan seorang anak. Tetapi, cobalah kakang ingat, kakang sudah kawin berkali-kali. Dan kakang sama sekali belum mempunyai seorang anakpun" "Tentu, tentu. Perempuan-perempuan mandul itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku. Kalau aku masih juga harus kawin dengan janda, dengan gadis sakit-sakitan atau dengan perawan tua yang liar dan t idak terkendali sama sekali, sudah tentu aku akan tetap tidak mempunyai seorang anakpun. Tetapi kalau suatu ketika aku kawin dengan seorang gadis, gadis yang baik dan sehat, mungkin aku akan mempunyai seorang anak. Ki Reksatani mengerutkan dahinya. Katanya Kalau kakang baru satu dua kali kawin, maka kakang dapat menyalahkan perempuan-perempuan itu. Tetapi untuk yang kesekian kalinya kakang tetap tidak mempunyai seorang anakpun" "Jadi kau akan mengatakan, bahwa akulah yang tidak mampu berbuat sebagai seorang laki-laki, begitu he" wajah Ki Demang menjadi merah padam. "Tidak kakang. Tidak" Reksatani menundukkan kepalanya "sudah aku katakan, kalau kakang hanya akan marah saja, tidak ada gunanya aku memberi pertimbangan Akibatnya akan tidak baik. Kakang adalah saudara tuaku. Ganti orang tua. Sudah tentu aku tidak akan berani menyanggah niat kakang, apabila kakang memang berkeras, apaboleh buat. Sudah aku katakan, bahwa aku hanya sekedar memberikan pertimbangan-pertimbangan" Ki Demangpun kemudian terdiam sejenak. Terdengar nafasnya yang memburu, seolah-olah baru saja ia melakukan pekerjaan yang memeras segenap tenaganya. "Reksatani" berkata Ki Demang itu kemudian "sayang. Aku sudah berketetapan hati untuk melamar gadis itu. Tentu saja tidak tergesa-gesa. Aku harus menyiapkan diri sebelum aku mengadakan peralatan perkawinan itu" Reksatani tidak menyahut. "Gadis itu memang tidak terlampau cantik. Tetapi aku ingin mengambilnya sebagai seorang isteri yang baik. Gadis itu tidak boleh jatuh ketangan anak muda cengeng yang hanya mampu berkelahi. Manguri, meskipun anak seorang kaya, tetapi kelakuannya agaknya memang tidak terpuji. Lebih buruk lagi, agaknya ayahnya melindunginya. Dan aku sama sekali tidak gentar, apapun yang akan dilakukannya. Aku percaya kepada Ki Jagabaya, kepadamu dan kepada bebahu yang lain, kepada para pengawal dan apalagi para pengawal khusus yang mendapat latihan keprajuritan dari prajuritprajurit Mataram" Ki Reksatani hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. "Seandainya Sindangsari itu kemudian mendapat suami yang meskipun dicintainya, Pamot, ia akan tetap berada dalam bahaya. Manguri akan dapat berbuat terlampau banyak untuk mengganggu ketenteraman keluarganya. Bahkan mungkin ia akan mengambil gadis itu dengan kekerasan, sekedar untuk melepaskan nafsu dan sakit hatinya, meskipun kemudian gadis itu akan dilepaskannya kembali. Tetapi apakah keluarga yang demikian akan dapat bahagia?" Ki Demang berhenti sejenak "Tidak Reksatani. Untuk kebaikan semuanya, Sindangsari akan aku ambil saja" Ki Reksatani masih tetap tidak menyahut. Kepalanya menjadi semakin tunduk. "Bagaimana pendapatmu ?" Seperti biasa Ki Reksatani kini di sudutkan pada suatu keharusan untuk menyetujuinya, seperti setiap kali mereka berbincang tentang perempuan-perempuan yang akan diambil oleh Ki Demang untuk menjadi isterinya. "Bagaimana?" desak Ki Demang "kenapa kau diam saja?" Ki Reksatani mengangkat wajahnya. Sekali ia berdesah, kemudian jawabnya "Sudah aku katakan kakang, kalau kakang memang berkeras hati untuk mengambil gadis itu apaboleh buat" "Kau setuju apa t idak?" Ki Reksatani menjadi semakin bingung. Tetapi akhirnya ia menganggukkan kepalanya "Ya, aku setuju kakang" "Nah, kau memang adikku yang baik. Kau selalu dapat mengerti perasaanku. Memang kadang-kadang kita berbeda pendirian, tetapi akhirnya kau dapat mengerti juga" Ki Reksatani mengangguk-anggukkana kepalanya. Tetapi ia menggerutu di dalam hatinya. Bagaimanapun juga ia tidak dapat dengan ikhlas menyetujui pendapat kakaknya. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat lain, kecuali menganggukkan kepalanya sambil menyetujuinya. "Reksatani" berkata Ki Demang kemudian "aku tidak mempunyai kepercayaan lain, kecuali kau. Kaulah yang pada saatnya harus datang kepada keluarga Sindangsari untuk melamar gadis itu" "Tetapi ..." Ki Reksatani akan menjawab, namun Ki Demang memotongnya "Jangan mengelak. Kau adalah satu-satunya keluargaku. Kau adalah adikku. Tidak ada orang lain yang dapat mengerti perasaanku sedalam-dalamnya selain dari pada kau. Kaulah yang akhirnya dapat menyetujui niatku ini. Orang lain mungkin tidak. Meskipun mereka menganggukanggukkan kepala mereka, tetapi belum tentu, bahwa hal itu akan meresap sampai ke hatinya" "Bukan main" desah Ki Reksatani di dalam hati. Tetapi iapun mengerti benar, bahwa kakaknya mencoba menyudutkannya agar ia tidak dapat berbuat lain sama sekali. "Lusa kau datang kepada keluarganya. Melamar gadis itu. Kemudian akan kita tentukan hari-hari perkawinan. Tidak usah tergesa-gesa. Tetapi dengan demikian, baik Manguri maupun Pamot tidak akan mempertentangkannya lagi" Ki Reksatani tidak mendapat kesempatan apapun lagi. Karena itu iapun hanya dapat menundukkan kepalanya saja sambil bersungut-sungut di dalam hati. "Nah, pembicaraan kita sudah selesai" berkata Ki Demang "apakah kau sudah makan?" "Sudah kakang" "O, ya. Aku sudah menanyakannya" "Baiklah kakang. Kalau pembicaraan memang sudah selesai, aku minta diri. Aku akan mengatur diri dan membenahi hati yang agak gelisah ini, karena tugas yang berat itu" "Bukankah kau juga yang melamar isteri-isteriku yang terdahulu?" "Ya, tetapi kali ini agak lain kakang" dan di dalam hati Reksatani menggeram "aku selalu gelisah begini setiap kali" "Baiklah. Aku akan menentukan hari itu, kapan kau pergi kepada keluarga gadis itu. Kau harus membawa tukon sama sekali. Setangkep pisang raja, kain, kemben dan sebagainya" "Tetapi itu bukan suatu kebiasaan kakang. Kalau pembicaraan telah selesai, barulah kakang memberikan peningset itu" "Sekaligus. Bukankah dengan demikian pekerjaan akan segera selesai" Ki Reksatani menggigit bibirnya.Kemudian ia menganggukangguk kecil "Terserahlah kepada kakang. Tetapi sebaiknya kakang berbicara dengan orang tua-tua di kademangan ini" "Aku hanya akan memberitahukan saja kepada mereka. Tidak minta pertimbangan lagi" Ki Reksatani tidak menjawab lagi. Ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat merubah lagi pendirian kakaknya. Ki Demang benar-benar ingin kawin lagi dengan seorang gadis, yang bernama Sindangsari itu. Iapun menyadari, bahwa tidak akan ada seorangpun yang akan dapat mencegahnya lagi. Orang tua-tua, para bebahu pembantunya dan siapapun juga. Karena itu, maka sejenak kemudian Iapun berkata "Baiklah kakang, semuanya terserah kepada kakang. Aku minta diri" "Tetapi bukankah kau menyetujui rencana ini?" "Ya, ya. Aku menyetujui" "Bagus. Kau memang adikku yang baik" Ki Reksatanipun kemudian berdiri. Sekali lagi ia minta diri, kemudian meninggalkan halaman Kademangan itu dengan hati yang bergelora. Sekali-sekali ia menghentakkan kakinya sambil menggeram "Gila kakang Demang. Sungguh-sungguh gila" Tetapi ia berjalan terus. Kadang-kadang giginya gemeretak oleh luapan perasaan dan dingin malam yang menembus sampai ke tulang sungsum. Bersamaan waktunya, sekelompok orang sambil mengendap-endap berjalan mendekati padukuhan Gemulung. Mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi malam yang dingin dan silirnya angin yang basah. Yang ada di dalam angan-angan mereka adalah upah yang harus mereka terima dari Manguri, meskipun usaha mereka menangkap Pamot gagal. Enam orang dari gerombolan Sura Sapi yang ditambah seorang lagi itu, semakin lama menjadi semakin dekat. "Kita meloncati pagar batu itu" desis Sura Sapi. Tidak ada jawaban. Tetapi orang-orang yang lain mengikuti Sura Sapi di belakangnya. "Sepi" desis Sura Sapi "aku sangka Manguri kini justru terasing dari orang-orang di sekitarnya. Seandainya ada juga peronda yang nganglang, maka rumah Manguri pasti akan di lampaui" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian mereka telah melekat dinding padukuhan. Dengan hati-hati mereka menyelusur beberapa langkah. Setelah mereka yakin bahwa tidak seorangpun yang melihat mereka, maka seorang demi seorang mereka berloncatan memasuki padukuhan Gemulung. Sekali lagi mereka membeku di tempat masing-masing, ketika mereka sudah berada di dalam pagar batu. Mereka menunggu sejenak untuk melihat suasana. Ternyata malam memang terlampau sepi. "Kita menyusur pagar ini" "Kita tidak akan sampai ke rumah itu" sahut salah seorang dari mereka. "Bodoh. Kita berbelok setelah kita mendekati rumahnya. Kita lewati kebun salak di sebelah rumahnya, langsung meloncat masuk ke halaman belakang, tanpa melalui regol" Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka mengikuti saja Sura Sapi yang semakin lama menjadi semakin mendekati rumah Manguri. "Mereka harus membayar" desis Sura Sapi itu di dalam hatinya "kalau t idak, kami akan mengambil sendiri" Dengan hati-hati mereka maju terus. Semakin lama menjadi semakin dekat. Dengan hati-hati pula mereka kini memasuki kebun salak langsung menuju kebagian belakang rumah pedagang ternak yang kaya itu. "Bukankah dinding yang tinggi itu dinding rumah Manguri" desis Sura Sapi. "Ya "hampir bersamaan kawan-kawannya menjawab. "Apakah kita akan meloncati dinding itu?" bertanya Temon. "Ya" Temon mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Kau yakin bahwa di balik dinding itu tidak ada peronda?" "Tidak ada peronda di dalam halaman orang. Para peronda biasanya hanya berkeliling padukuhan lewat jalan-jalan yang agak besar. "Maksudku peronda yang dipasang dan diupah oleh pedagang itu sendiri" Sura Sapi mengerutkan keningnya. Katanya "Di rumah itu memang terdapat beberapa orang. Ada juga di antara mereka yang harus di perhitungkan. Para pengawal ternak apabila pedagang itu mengirimkan ternaknya keluar daerah. Tetapi mereka pada umumnya hanya bekerja kalau pedagang kaya itu melakukan pengiriman. Kalau tidak, mereka biasanya pulang ke rumah masing-masing. "Tetapi satu dua pasti ada yang tinggal" "Mereka tidak banyak berarti" Temon mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Apalagi mereka kini berada tepat di belakang rumah Manguri. "Aku akan naik untuk melihat keadaan" berkata Sura Sapi. Kawan-kawannya menganggukkan kepalanya. Dan dengan lincahnya Sura Sapi meloncat keatas dinding. Sejenak ia berjongkok, dan sejenak kemudian ia memberikan isyarat, bahwa halaman belakang itu ternyata sepi. Maka berloncatanlah kelima orang yang lain susul menyusul, sehingga sejenak kemudian, mereka berenam telah berada di halaman belakang rumah Manguri. "Kita langsung mengetuk pintu samping" berkata Sura Sapi. Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka mengikuti saja langkah Sura Sapi dengan hati-hati. Sura Sapi yang memang pernah datang ke rumah itupun kemudian mengetuk pintu samping rumah Manguri. Perlahanlahan, beberapa kali. Yang pertama-tama mendengar ketukan pintu itu justru ayah Manguri. Karena itu, maka iapun segera bangkit dari pembaringannya. Perlahan-lahan ia melangkah keluar biliknya Tetapi ia t idak segera membuka pintu. Ketukan di pintu samping itu masih terdengar. Kecurigaan Ki Sukerta itu memang beralasan. Waktunya sudah terlampau malam untuk seorang tamu. Namun ketukan itu masih juga terdengar terus. Semakin lama semakin keras. Ki Sukerta bukanlah seseorang yang tidak berperhitungan. Kecurigaannya pertama-tama memang kepada gerombolan Sura Sapi. Ia merasa, bahwa gerombolan itu pasti masih mengancam ketenangan anaknya justru karena kegagalannya. Ternyata ketukan pintu itu telah membangunkan Manguri pula. Ketika ia keluar dari biliknya ia melihat ayahnya termangu-mangu. Tetapi ketika ia akan berbicara, ayahnya memberinya isyarat dengan meletakkan telunjuk jarinya di mulutnya. Manguri mengerutkan keningnya. Ia berdiri saja di tempatnya ketika ia melihat ayahnya masuk kembali ke dalam biliknya yang sejenak kemudian telah berdiri di muka pintu bilik itu kembali. Tetapi kini ia membawa pedangnya di lambung. Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun berjingkat masuk ke dalam biliknya pula untuk mengambil senjatanya. Ketika ketukan pintu itu terulang kembali, maka ayah Manguri itupun bertanya lantang "Siapa diluar he?" Pertanyaan yang demikian kerasnya sama sekali t idak diduga oleh Sura Sapi dan kawan-kawannya. Namun kemudian mereka sadar, bahwa dengan demikian Ki Sukerta telah berusaha membangunkan orang-oranng seisi rumah itu. "Setan alas" desis Sura Sapi "agaknya Ki Sukerta tidak mau diajak berbicara" "Aku mengharap demikian" bisik Temon "dengan demikian kita menjadi leluasa. Kita tidak hanya sekedar minta upah yang sudah dijanjikan" "Lalu ?" "Kita mengambil sendiri upah yang kita perlukan. Sura Sapi mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar lagi suara Ki Sukerta "Siapa di luar he?" Sura Sapi ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia menyahut "Kami Sura Sapi dan kawan-kawan " Ki Sukerta yang sudah menduga, sama sekali tidak terkejut. Tetapi Manguri mengerutkan keningnya. "Apa maksud kalian datang di malam hari begini?" "Tidak apa-apa Ki Sukerta. Kami hanya sekedar ingin memberikan laporan. Kami tidak ingin disangka-sangka bahwa kami sengaja menggagalkan usaha kami. Kami ingin memberikan penjelasan" "Kenapa kalian datang di malam begini?" "Sudah tentu. Kami tidak ingin dibantai oleh anak-anak muda Gemulung. Kalau mereka melihat kami, maka mereka akan memukul kentongan beramai-ramai menangkap kami seperti rampokan macan di alun-alun Mataram" Ki Sukerta mengerutkan keningnya. Alasan itu memang masuk akal. Namun demikian. Ki Sukerta masih tetap bercuriga. "Apakah Manguri dapat menerima kami?" Ki Sukerta tidak segera menyahut, dipandarginya Manguri yang berdiri termangu-mangu sejenak, seolah-olah ia ingin mendapat pertimbangan daripadanya. Tetapi Manguri sama sekali t idak memberikan tanggapan apa-apa. "Bagaimana Ki Sukerta" terdengar pertanyaan itu lagi. "Tunggu" jawab Ki Sukerta sambil mendekati anaknya. "Bagaimana" bertanya Ki Sukerta perlahan-lahan. "Terserahlah kepada ayah" Ayahnya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Sebaiknya kita terima saja mereka. Apa yang mereka kehendaki selagi ayah berada di rumah. Apapun yang akan terjadi, kau tidak seorang diri" "Tetapi bagaimanakah kalau mereka menuntut yang bukanbukan" "Aku ada sekarang" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya "Terserah kepada ayah" Ayahnya masih berpikir sejenak. Katanya kemudian "Lebih baik kita selesaikan sekarang daripada mereka akan selalu mengganggumu. Kalau ayah pergi, mereka akan lebih leluasa lagi sebelumnya kita menemukan penyelesaian" Manguri tidak menjawab. "Biarlah, kita akan menerima mereka. Aku akan membuka pintu. Jangan terlampau dekat di belakang ayah. Kalau aku memerlukan jarak untuk menjaga diri. Tetapi kaupun harus bersiap pula apabila terjadi sesuatu. Aku tidak mempercayai mereka sepenuhnya. Manguri menganggukkan kepalanya. Tangannya kini telah melekat di hulu pedangnya. Dengan dada yang berdebar ia melangkah beberapa langkah di belakang ayahnya. Dengan penuh kewaspadaan ayahnya mendekati pintu. Selangkah demi selangkah. "Bagaimana Ki Sukerta?" terdengar suara Suara Sapi di luar. Ki Sukerta tidak menyahut. Tetapi maju lagi beberapa langkah mendekati pintu. Tepat di muka pintu, ayah Manguri itu masih juga raguragu. Tetapi kemudian ia menetapkan keputusannya. Sekarang semuanya harus selesai. Perlahan-lahan tangannya meraba selarak pintu. Perlahanlahan dan sangat berhati-hati. Sejenak kemudian maka selarak pintu itu sudah terlepas. Kini tangannya tiba-tiba menjadi gemetar ketika ia menarik daun pintunya dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya telah melakat di hulu pedangnya. "Aku akan membukakan pintu" desisnya. Namun t idak ada jawaban. Yang terdengar adalah desah nafas gerombolan Sura Sapi yang tegang di luar pintu. Akhirnya pintu samping itupun terbuka. Ki Sukerta menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat beberapa orang yang berdiri di luar pintu tanpa menggenggam senjata ditangan masing-masing. Apalagi ketika Sura Sapi sendiri menganggukkan kepalanya sambil berkata "Selamat malam Ki Sukerta" "Selamat malam "tanpa sesadarnya Ki Sukerta menjawab. "Kami ingin bertemu dengan Manguri" Ki Sukerta tidak menyahut. Tetapi ia berpaling memandang Manguri yang berdiri termangu-mangu. Namun Manguripun kemudian melangkah maju. Dengan penuh kebimbangan ia bertanya "Apakah keperluan kalian?" Sura Sapi termenung sejenak, kemudian "Aku ingin menyampaikan laporan. Aku sudah menerima tawaranmu. Adalah kewajibanku untuk melaporkan apa yang sudah terjadi, supaya tidak hanya saling sangka-menyangka" Menguri mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik. aku tidak berkeberatan" Sura Sapi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia menunggu, tetapi baik Manguri maupun ayahnya masih juga berdiam diri sambil berdiri di pintu samping. "Apakah kami tidak kalian persilahkan masuk?" bertanya Sura Sapi kemudian. Manguri menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah ayahnya untuk mendapat pertimbangan. Tetapi ayahnya kemudian berkata "Sudah terlampau malam. Kau dapat berkata seperlunya. Marilah kita duduk saja di pendapa" "Sangat berbahaya bagi kami" desis Sura Sapi. "Pintu regol sudah tertutup. Apakah kalian dapat membuka dari luar?" "Kami tidak melalui pintu regol" "Nah, kalau begitu, silahkan naik ke pendapa" Kini gerombolan Sura Sapi itulah yang saling berpandangan. Namun akhirnya Sura Sapi jugalah yang harus mengambil keputusan "Apakah kalian menjamin bahwa kehadiran kami di pendapa tidak akan menumbuhkan kecurigaan seandainya ada peronda yang lewat?" "Sudah aku katakan, pintu regol rumah kami telah kami selarak" "Tetapi mungkin pula seseorang menjenguk lewat dinding batu disekitar halaman" "Mereka tidak akan melihat kami. Pendapa itu gelap. Kami tidak menaruh lampu di sana" Sura Sapi akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik, kami akan naik ke pendapa" Sura Sapi dan kawan-kawannya itupun kemudian berjalan mengitari rumah Ki Sukerta menuju ke pendapa di bagian depan Setelah menutup pintu samping dan nenyelaraknya, maka Ki Sukertapun pergi pula ke pendapa lewat bagian dalam rumahnya. Namun sebelum ia keluar dari pringgitan ia berbisik kepada Manguri "Manguri, aku tidak mempercayai mereka sepenuhnya. Pergilah ke belakang sebentar" "Untuk apa ayah?" "Panggil Lamat" Manguri mengagguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi ke belakang sementara ayahnya membuka pintu dan keluar ke pendapa. Perlahan-lahan Manguri mengetuk pintu Lamat. Ia tidak usah mengulangi, karena pintu itu segera terbuka. "Pemalas kau" desis Manguri "lihat, di pendapa ada enam orang dari gerombolan Sura Sapi" "Kenapa mereka datang kemari?" bertanya Lamat. "Aku juga bertanya begitu, kenapa mereka kemari" sahut Manguri "tetapi itu t idak pent ing. Awasi mereka dari luar pendapa. Ayah dan aku akan menemuinya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya "Kenapa enamorang?" "? Ya, kenapa" Aku t idak tahu" "Maksudku, gerombolan Sura Sapi itu hanya terdiri dari lima orang. Bukankah begitu?" Manguri mengerutkan keningnya. Semula ia sama sekali tidak memperhatikan jumlah itu. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya "He, kau agaknya dapat juga menghitung jumlah itu. Aku t idak tahu siapa yang seorang lagi. Tetapi awasi mereka. Kau tidak boleh tidur saja seperti kerbau" Lamat menganggukkan kepalanya dengan tatapan mata yang kosong Manguripun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu, dan masuk ke ruang dalam, langsung menuju ke pendapa. Sepeninggal Manguri, Lamat menarik nafas dalam-dalam Ia sudah mengira bahwa hal yarg serupa itu dapat terjadi. Masalahnya tidak akan sekedar berhenti sampai kegagalan itu. Dengan tanpa sesadarnya Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sudah mendengar meskipun tidak begitu jelas, Ki Sukerta berkata lantang. Ia sudah terbangun sebelum Manguri mengetuk pintu biliknya. Karena itu, maka begitu Manguri mengetuk, pintunya sudah dibukanya. Lamat yang tinggi, besar dan berkepala botak itupun kemudian meraih senjatanya dari dinding biliknya. Tetapi golok itu disangkutkannya kembali. Agaknya ia mempunyai perhitungan lain, karena kemudian ia melangkah ke sudut biliknya untuk mengambil sebatang tombak pendek. Tombak pendek yang sangat sederhana dan sama sekali tidak pantas disebut sebatang tombak. Lebih tepat disebut sebatang galah berujung besi. Tetapi galah itu adalah kayu berlian betapapun kasar buatannya. "Mudah-mudahan aku tidak membunuh" desis Lamat. Dan sesuai dengan senjatanya, maka kemungkinan mematikan adalah memang kecil sekali. Lamatpun kemudian melangkah meninggalkan biliknya setelah ia menutup pintunya kembali. Kemudian berjalan mengendap-endap ke bagian depan halaman rumah itu. Lamatpun kemudian melangkah meninggalkan biliknya setelah ia menutup pintunya kembali. Kemudian berjalan mengendap-endap ke bagian depan halaman rumah itu. Ketika ia melewati kandang ternak, ia tahu benar bahwa ada seorang pengawal ternak yang tidur di dalamnya, yang adalah kebetulan sekali ia tidak pulang ke rumahnya yang agak jauh. Tetapi Lamat tidak membangunkannya. Kalau keadaan berkembang semakin buruk, orang itu pasti akan terbangun dengan sendirinya. Ketika ia sampai ke samping pendapa, maka Lamatpun segera bersembunyi di balik gerumbul perdu. Meskipun tidak begitu jelas, namun matanya yang tajam dapat melihat bayangan kehitam-hitaman duduk dalam sebuah lingkaran di pendapa yang sama sekali tidak berlampu. Bahkan meskipun lambat, Lamat dapat menangkap pembicaraan orang orang di atas pendapa itu. Kadang-kadang ia mendengar jelas, tetapi kadang-kadang ia sama sekali tidak mendengar selain gemeremang yang tidak diketahui artinya. "Ki Sukerta" berkata Sura Sapi kemudian "yang penting bagi kami sekarang adalah memberi tahukan kepada Manguri, kenapa kami telah gagal malam itu" Ki Sukerta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baik, katakanlah" Sura Sapi beringsut sedikit, kemudian "Manguri. Ternyata kami telah terjerumus ke dalam kesulitan malam itu" Manguri mengerutkan keningnya. Pilihan kata-kata itu telah mendebarkan jantungnya. "Ternyata Pamot telah bersiap bersama beberapa orang kawan-kawannya menyambut kedatangan kami. Bahkan kemudian para perondapun beramai-ramai berlari-larian menonton perkelahian yang barangkali mereka anggap sangat menarik itu" "Ya, aku dengar Pamot telah bersiap" sahut Manguri "itu membuat aku sangat menyesal. Kegagalan kalian telah membuat namaku dan keluargaku semakin suram" "Dan membuat nama gerombolan Sura Sapi menjadi bernoda" potong Sura Sapi "kami tidak pernah gagal. Rencana kami selalu dapat kami selesaikan dengan baik. Tetapi agaknya kami telah terjerumus kali ini" "Kenapa kalian merasa terjerumus?" sela Ki Sukerta. "Kami menjadi bertanya-tanya. Darimana Pamot dapat mengetahui bahwa kami akan mendatanginya ke sawah malamitu ?" geramSura Sapi. Lamat yang kebetulan mendengar percakapan itu menjadi berdebar-debar pula. "Akulah yang seharusnya bertanya" berkata manguri "kenapa kalian sampai terbentur pada anak-anak Gemulung yang sudah terlatih itu. Agaknya kalian terlalu yakin akan kekuatan kalian, sehingga kalian menjadi kurang berhati-hati" Sura Sapi mengerutkan keningnya. Kemudian iapun berkata dengan nada yang dalam "Jangan memutar balikkan keadaan. Aku dan kawan-kawanku tidak gila untuk berbuat demikian. Seandainya kami mampu membunuh orang sepedukuhan ini, namun kami pasti akan mengambil jalan yang paling mudah. Apalagi upah yang kau janjikan itu sama sekali t idak memadai. Apakah kami berusaha untuk mempersulit diri kami sendiri?" Sura Sapi berhenti sejenak, lalu "nah, coba lah kau lihat dirimu sendiri. Siapakah yang paling mungkin membocorkan rencana ini" "Akupun tidak gila" sahut Manguri "aku ingin Pamot tertangkap hidup, supaya aku dapat memberinya peringatan untuk menjauhi gadis itu" "Tetapi kau tidak terlampau biasa menyimpan rahasia seperti kami, sehingga mungkin tanpa kau sadari, kau sudah mengatakannya kepada siapapun" "Jangan mencari-cari" jawab Manguri. "Tidak. Kami tidak mencari-cari. Tetapi baiklah kita tidak mempersoalkan siapakah yang bersalah dan siapakah yang benar. Kedatanganku kemari memang tidak untuk berbuat demikian" Sura Sapi berhenti sejenak, lalu "tetapi bagaimanapun juga kami sudah melakukan tugas kami. Karena itu kami ingin menerima upah kami yang sudah kau janjikan" "Gila kau" Manguri hampir berteriak "aku sudah mengatakan kepada kalian, kalau kalian gagal, maka sekepingpun aku t idak akan membayar upah itu.


Jilid 3
"MANGURI" berkata Sura Sapi kemudian "jangan bersikap terlampau keras. Kegagalanku bukan karena kesalahanku dan kawan-kawanku. Kita tidak membicarakan kemungkinan yang ternyata telah terjadi itu, Kita tidak membicarakan, bagaimana masalah upah itu kalau ternyata ada pihak lain yang campur tangan. Menurut pengertianku, kau tidak akan membayar kalau kami gagal menangkap Pamot. Pamot sendiri tanpa orang lain, seperti yang kau katakan, bahwa Pamot selalu seorang diri di gubugnya di malam hari. Tetapi ternyata tidak. Ternyata ada orang lain. Bahkan enam atau tujuh orang. Nah, apa katamu ?" "Tidak. Aku tetap pada janjiku. Kalau kalian tidak berhasil membawa Pamot kemari, upah itu tidak akan aku bayar" "Tetapi kami menuntut" suara Sura Sapipun menjadi semakin keras "kau jangan menganggap kami seperti anakanak yang takut kau gertak. Kami sudah bekerja. Kami sudah bertempur, dan kami hampir terjebak karenanya, yang menurut perhitunganku adalah karena kebodohanmu. Nah, sekarang kau masih akan ingkar" "Tutup mulutmu" bentak Manguri pula "aku berpegang teguh pada janji. Kalau kalian laki-laki jantan, kalian juga tidak akan melanggar janji" "Kami tidak melanggar janji. Tetapi kemungkinan yang terjadi itu tidak kita bicarakan sebelumnya. Karena itu, karena kami sudah melakukan tugas kami, dan kami memang sudah benar-benar melakukan perkelahian sepenuh tenaga kami, maka kau harus mengerti. Kami tidak saja memeras tenaga untuk mencoba menangkap Pamot seperti yang seharusnya kami lakukan, tetapi kami harus juga mempertaruhkan nama kami" "Aku tidak peduli" jawab Manguri "aku hanya mau membayar upah itu atas penyerahan Pamot. Selain itu, aku tidak mau tahu" "Manguri" Sura Sapi mulai membentak "kau jangan menutup mata atas kenyataan itu. Apakah kau sengaja menjerumuskan kami dengan janji itu?" Wajah Manguripun menjadi merah. Tetapi sebelum ia berbicara, ayahnya telah menengahinya "Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Setelah aku mendengar perdebatan kalian, maka aku ingin mengusulkan jalan tengah yang barangkali dapat ditempuh. Kita memang tidak dapat bersitegang atas janji yang sudah dibuat. Kenyataan yang pahit bagi kita di kedua belah pihak, memerlukan pengertian yang cukup" Ki Sukerta berhenti sejenak, lalu "aku berpendapat, bahwa sebaiknya kita masing-masing harus mau mengorbankan nilai perjanjian itu. Bagaimana kalau Manguri membayar separo dari upah yang dijanjikan?" Keduanya terdiam sejenak. Namun kemudian Sura Sapi menggelengkan kepalanya "Tidak. Harga tenaga kami tidak separo-separo. Sepenuhnya itupun sebenarnya kami merasa berkeberatan karena ternyata kami telah terjebak. Jangan menawar-nawar lagi" "Bukan menawar, bukan pula merendahkan harga kalian" jawab ayah Manguri "tetapi kami dan kalian masing-masing telah mengalami hal-hal yang tidak kita duga-duga sebelumnya " "Harga tenaga kami bukan semacam ketela pohung yang dapat ditawar-tawar" ternyata Temon yang selama ini menahan nafas, tidak lagi dapat mengendalikan diri "kami minta sepenuhnya dan ditambah lagi dengan harga kecuranganmu" Ki Sukerta mengerutkan keningnya, Ditatapnya wajah Temon yang samar-samar di dalam kegelapan. Tetapi wajah itu tidak dapat dilihatnya dengan jelas. "Jangan mencoba menawar lagi" katanya "aku benar-benar tidak telaten berbicara seperti sedang berjual beli dagangan" Ki Sukerta tidak segera menjawab. Ia merasa tidak senang mendengar jawaban yang terlampau kasar itu. Tetapi ia masih berdiam diri. Yang tidak dapat mengendalikan dirinya adalah Manguri. Tiba-tiba saja ia berkata lantang "kalau kalian tidak mau, kami tidak akan membayar sama sekali" "Kami akan mengambil sendiri" teriak Temon. Suasana menjadi semakin lama semakin tegang. Ayah Manguri masih tampak berpikir. Namun agaknya ia tidak mau bertengkar lebih jauh lagi. Ia masih mempunyai terlampau banyak urusan dengan ternaknya yang tersebar di beberapa tempat. Karena itu, apabila ia terpancang dan terlibat dalam persoalan Sura Sapi, urusannya pasti akan terganggu pula. Karena itu, setelah berpikir sejenak ia berkata kepada Manguri "Manguri, biarlah kita penuhi saja permintaan itu. Bagi kita, uang itu tidak terlampau banyak artinya. Tetapi dengan demikian kita sudah tidak mempunyai persoalan lagi dengan mereka" Manguri mengerutkan keningnya "Tetapi, dengan demikian kita secara tidak langsung mengakui bahwa kita telah bertindak salah" "Tentu tidak. Kita membayar upah yang sudah dijanjikan. Itu saja. Tanpa pengertian lain" Manguri t idak menyahut. Sejenak ia merenung. Namun sejenak kemudian kepalanya terangguk kecil. "Begitulah" berkata ayah Manguri kepada Sura Sapi "kami memang tidak ingin bertengkar. Kami akan memenuhi permintaan kalian. Upah yang sudah dijanjikan itu akan dibayar oleh Manguri" Sura Sapi mengerutkan keningnya. Sedang Temon beringsut setapak maju. Perlahan-lahan ia menggamit adiknya sebagai suatu isyarat. Tetapi Sura Sapi tidak segera mengerti maksud kakaknya, sehingga kaena itu ia masih tetap berdiamdiri. Namun di setiap kepala keenam orang itu terasa getar kemenangan yang melonjak-lonjak. Mereka melihat seolaholah Ki Sukerta dan Manguri sama sekali tidak berdaya menolak tuntutan mereka. Ternyata tanpa kesulitan apapun mereka bersedia memenuhi tuntutan yang mereka ajukan. "Kenapa kami t idak menuntut lebih dari itu" hampir bersamaan timbul pertanyaan itu di dalamhati mereka. Agaknya Temonlah yang paling t idak dapat mengekang dirinya. Perlahan-lahan ia berbisik "Hanya itu? Perkelahian yang terjadi dengan tujuh orang itu sama sekali tidak kau hitung?" Tetapi suara bisik itu terlampau keras sehingga Manguri masih mendengarnya. "Apalagi yang akan kalian minta?" anak muda itu tiba-tiba membentak. Sura Sapi menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan kakaknya memang telah ada di dalam otaknya. Tetapi ia tidak segera mengucapkannya, karena ia ragu-ragu, apakah di dalam halaman itu tidak ada orang-orang yang benar-benar harus dipertimbangkan. "Bagaimana?" Temon semakin tidak sabar. "Aku kira pembicaraan kita sudah selesai" berkata ayah Manguri "Tidak ada lagi persoalan-persoalan baru" "Tentu ada" jawab Temon "upah itu adalah hak yang harus kami terima. Tetapi ganti tenaga yang sudah kami curahkan di dalam perkelahian itu harus diperhitungkan. "Persetan" sahut Manguri "itu bukan urusan kami. Seandainya ada diantara kalian yang mati sekalipun kami sama sekali tidak peduli. Itu adalah tanggung jawab yang kalian. Apalagi setelah kami membayar upah kalian" Tiba-tiba terdengar suara Temon tertawa "He, kalian anggap kami ini anak-anak ingusan. Manguri, kau jangan mencari perkara. Aku kira ayahmu juga tidak senang terjadi keributan di halaman rumah ini. Bagi ayahmu dan bagimu, agaknya lebih baik kalau kami mengajukan permintaan itu daripada kami harus mengambil sendiri. Dengan memenuhi permintaan kami itu masalahnya akan segera selesai. Ayahmu yang mempunyai seribu macam persoalan itu tidak akan terganggu lagi oleh masalah-masalah yang tidak berarti apaapa. Aku yakin bahwa kalian menyimpan uang sepuluh atau duapuluh kali lipat dari yang akan kami minta" "Tidak" Manguri hampir berteriak "kami tidak akan memberi apa-apa lagi" "Jangan begitu" Sura Sapilah yang berbicara "sebaiknya kalian mempertimbangkan. Ki Sukerta agaknya mampu berpikir lebih baik dari Manguri. Darah muda Manguri yang masih meluap-luap itu kadang-kadang dapat mencelakankannya. Bukankah begitu Ki Sukerta?" Kini Ki Sukerta menyadari keadaannya. Sikapnya yang lunak itu ternyata telah disalah artikan. Orang-orang itu menganggap bahwa ia menjadi ketakutan dan tidak berani menolak tuntutan mereka. Ternyata tuntutan gerombolan Sura Sapi itu semakin lama menjadi semakin berkembang. Karena itu, kini Ki Sukertapun harus mengambil sikap Kalau ia mau mundur ia harus bersedia menyerahkan isi rumahnya kepada gerombolan Sura Sapi itu. Tetapi kalau tidak, ia harus bersikap tegas. "Bagaimana Ki Sukerta?" bertanya Sura Sapi "Aku kira lebih baik bagimu untuk memenuhi permintaan kami yang tidak berarti itu. Besok kau akan segera mendapatkan gantinya. Lima, sepuluh atau duapuluh kali lipat. Kami t idak akan mengganggu kalian lagi" Tetapi Sura Sapi, Temon dan kawan-kawannya terkejut ketika ia kemudian mendengar suara Ki Sukerta yang berubah "Tidak. Kami tidak akan memberikan apa-apa kepada kalian. Yang sudah aku janjikan, memenuhi upah yang sudah di sanggupkan Manguri itupun aku cabut. Ternyata kalian menyalah artikan kelunakan sikapku. Kalian sangka bahwa kalian akan dapat memeras kami?" Wajah Sura Sapi menjadi merah padam. Apalagi Temon yang darahnya lebih cepat mendidih. Sejengkal ia beringsut sambil berkata "Ki Sukerta, apakah kau menyadari katakatamu itu?" "Tentu. Aku menyadarinya. Aku sadar bahwa apabila kalian berani, kalian akan mengambil cara yang biasa kalian pergunakan. Kekerasan" "Nah, kau mengerti. Aku minta kau pertimbangkan sekali lagi. Dengan siapa kau berhadapan?" "Aku tahu, aku berhadapan dengan Sura Sapi. Tetapi kalianpun harus tahu, siapa Ki Sukerta" Wajah Sura Sapi menjadi merah padam. Demikian juga Temon dan kawan-kawannya. Mereka merasa tersinggung oleh sikap Ki Sukerta, yang seolah-olah langsung menantangnya. Namun demikian merekapun tidak dapat menghindari kenyataan, bahwa Ki Sukerta memang tidak dapat diabaikan. Ki Sukerta yang sudah terlampau sering melakukan perjalanan tidak saja di daerah Mataram, tetapi juga sampai ke wilayahnya yang tersebar itu, pasti mempunyai kemampuan yang cukup untuk membela dirinya. Meskipun demikian Sura Sapi memang sudah memperhitungkan hal itu. Karena itu, maka dengan suara yang bergetar Sura Sapi berkata "Ki Sukerta. Jadi Ki Sukerta ingin membuat persoalan yang kecil ini menjadi perselisihan yang mungkin akan menimbulkan benturan diantara kita?" "Tidak. Aku tidak ingin" Sura Sapi mengerutkan keningnya "Jadi kenapa Ki Sukerta seakan-akan telah menantang kami?" "Siapa yang menantang?" Sura Sapi terdiam sejenak. Tetapi sebelum ia berkata selanjutnya, Temon telah mendahuluinya "Kau memang terlampau banyak bicara. Berikan upah itu dan sekedar pengganti keringat kami yang telah terlanjur menitik. Lima kali dari upah yang sudah ditentukan. Kalau tidak, kami akan mengambil seratus kali lebih banyak dari itu" "Tidak" "Nah, kalau begitu kau benar-benar ingin kekerasan" "Aku tidak ingin. Tetapi aku juga tidak mau memberi apaapa kepada kalian. Kalau kalian sedikit mempunyai otak, bertanyalah kepada diri sendiri. Siapakah yang menginginkan keributan. Kalau kau mengajukan permintaan yang tidak masuk akal, dan aku tidak mau memenuhinya, apakah sudah wajar, bahwa akulah yang menginginkan keributan? Kalau kau mau merampok kami dan kami mempertahankan hak kami, kamikah yang membuat keonaran?" "Persetan" geram Sura Sapi "berikan yang kami minta" "Tidak. Aku tidak akan memberikan apapun" "Huh, apakah kalian akan melawan Sura Sapi? Aku kira kaupun sudah dipencilkan dari pergaulan padukuhan ini. Aku kita tidak akan ada peronda yang datang membantumu seandainya kalian sempat memukul tanda bahaya" "Aku tidak memerlukan orang lain. Aku sudah cukup matang untuk bertindak sendiri. Sadari ini, Di perjalanan, di hutan-hutan dan diara-ara yang panjang, aku tidak memerlukan bantuan orang lain apabila ada penyamunpenyamun yang mencegat perjalananku" "Setan alas" Sura Sapi hampir berteriak "aku memang harus membunuh seisi rumah ini. Tidak seorangpun yang akan menyangka bahwa kami yang melakukan. Biarlah besok Pamot ditangkap oleh Jaga-baya Kepandak. Tuduhan pertama pasti jatuh kepadanya dan keluarganya termasuk anak-anak muda yang dipersiapkan melawan kami itu" "Aku tidak akan menghiraukan apa yang akan dikatakan orang. Tetapi seandainya kamilah yang berhasil membunuh kalian berenam dan melemparkan kepojok desa, tidak seorangpun yang akan menyangka, bahwa kamilah yang telah menumpas gerombolan Sura Sapi yang terkenal itu. Ki Jagabaya pasti akan menyangka bahwa kalian telah dibunuh beramai-ramai oleh orang-orang Gemulung. Namun seandainya ada orang yang melihat bahwa kamilah yang telah membunuh kalian, maka mereka akan berterima kasih kepada kami. "Gila kau" teriak Sura Sapi "aku memang harus membunuh kalian dan mengambil semua milik kalian. Aku tidak peduli lagi, apakah itu merupakan upah kaliah atau bukan" "Langkahi mayat kami" geram ayah Manguri. Temonlah yang tidak dapat menahan hatinya. Tiba-tiba ia meloncat berdiri sambil menarik senjatanya, sebuah golok yang besar meskipun tidak begitu panjang. "Aku dapat memotong paha kerbau dengan sekali gores" desisnya "bagaimana dengan leher kalian?" "Aku tidak sedungu kerbau" Manguripun sudah meloncat berdiri pula dengan senjata di tangan. Maka berloncatanlah orang-orang yang berada di pendapa itu. Tiba-tiba saja mereka sudah menggenggam senjata masing-masing. "Kalian memang terlampau bodoh" geram Sura Sapi, lalu "kalian lebih mencintai harta kalian daripada nyawa Kau masih akan dapat mencari harta dengan mudah, tetapi kau tidak akan dapat membeli nyawa dimanapun dengan kekayaan yang betapapun banyaknya" Ki Sukerta tidak menjawab. Tetapi dengan garangnya ia berdiri tegak di atas kakinya yang renggang. Sambil menyilangkan pedangnya di dada ia merendah sedikit pada lututnya. Gerombolan Sura Sapi itu mulai bergerak memencar untuk mengepung Ki Sukerta dan Manguri yang kini berdiri berlawanan arah. Namun Manguri masih mencoba menebarkan pandangan matanya, mencari di mana Lamat bersembunyi. Dalam keadaan yang tegang itulah, maka muncul seseorang yang bertubuh raksasa dari balik dedaunan. Dengan tenangnya ia berjalan naik keatas pendapa sambil menjinjing tombaknya. Sejenak ia berdiri di bibir pendapa itu sambil melihat suasana yang sudah mencapai puncak ketegangannya. Ternyata kehadirannya telah mendebarkan jantung Sura Sapi dan kawan-kawannya. Tetapi mereka memang sudah memperhitungkan, bahwa di halaman rumah itu ada seseorang raksasa yang dungu. Namun menurut Manguri sendiri, raksasa itu sama sekali tidak berhasil menangkap Pamot, sehingga dengan demikian, maka raksasa itu adalah raksasa yang jinak. "Ikat raksasa itu" perintah Sura Sapi kepada orangorangnya "biarlah aku dan kakang Temon menangkap pedagang yang sombong ini beserta anaknya " Beberapa orang saling berpandangan. Namun kemudian tiga dari anak buah Sura Sapi memisahkan diri menyongsong Lamat yang melangkah semakin dekat. Lamat masih tetap melangkah dengan tenang. Namun kemudian ia berhenti ketika ia melihat tiga orang menyongsongnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia meraba-raba tangkai tombaknya yang kasar. Sejenak ia melihat tiga orang yang lain berhadapan dengan Ki Sukerta dan anaknya Manguri. Sebelum mereka mulai menggerakkan senjata-senjata mereka, tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar langkah seseorang berlari-lari. Serentak mereka berpaling, dan merekapun melihat seseorang dengan tergesa-gesa meloncat naik ke pendapa. Sejenak ia berdiri mematung sambil menggosok-gosok matanya. Agaknya ia terkejut dari tidurnya dan dengan tergesa-gesa berlari keluar. Orang itu adalah pengawal yang tidur di kandang ternak. "Apa yang telah terjadi ?" desisnya. "Hati-hatilah" sahut Lamat. Orang itu maju selangkah mendekati Lamat. "Lindungilah Manguri" bisik Lamat lirih. Orang itu kini menyadari apa yang sedang dihadapinya. Karena itu maka iapun segera menarik pedangnya. Perlahanlahan ia maju mendekati Manguri yang berdiri di belakang ayahnya beradu punggung. Lamat menyadari bahwa untuk melawan tiga orang sekaligus adalah pekerjaan yang sangat berat baginya. Dan tiga orang ini adalah gerombolan Sura Sapi. Tetapi Sura Sapi sendiri agaknya berusaha untuk dapat berhadapan langsung dengan Ki Sukerta. "Aku harus bertahan. Hanya bertahan dan mengikat ketiganya dalam perkelahian supaya salah seorang dari mereka tidak dapat meninggalkan arena dan membantu Sura Sapi menghadapi Ki Sukerta" berkata Lamat di dalam hatinya. Demikianlah, maka di pendapa itu terjadi dua lingkaran yang akan menjadi arena perkelahian. Lamat yang menghadapi tiga orang gerombolan Sura Sapi dan di lingkaran yang lain, tiga orang berhadapan dengan tiga orang pula. Tetapi dua diantara yang tiga itu adalah Sura Sapi sendiri dan kakaknya Temon yang selama ini tinggal di kaki Gunung Kendeng. "Apakah ini keputusanmu Ki Sukerta?" "Sura Sapi masih bertanya. "Ya" jawab Ki Sukerta Apalagi kini di pendapa itu telah hadir Lamat dan seorang pengawal upahannya. "Bagus" desis Temon "aku tidak akan pernah melupakan sambutan yang hangat ini sampai aku kembali ke Gunung Kendeng" Ki Sukerta tidak menjawab. Tetapi ia bersiaga sepenuhnya. Untunglah bahwa pengawal ternaknya itu berada di sampingnya. Ia akan dapat membantu melindungi Manguri apabila ia segera terdesak. Sejenak kemudian Sura Sapi melangkah maju. Ia bergeser beberapa langkah ke samping, kemudian tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Ki Sukerta dengan garangnya. Tetapi Ki Sukerta benar-benar telah bersiap menghadapi serangan itu. Dengan tangkasnya ia mengelak, dan bahkan pedangnyapun segera terjulur lurus mengarah kelambung Sura Sapi. Sura Sapi menggeliat untuk menghindari ujung pedang itu, dengan selingkar gerakan yang cepat, ia menyerang mendatar. Ki Sukerta yang gagal menyentuh lambung lawan terpaksa meloncat ke samping. ketika senjata lawannya menyambarnya. Karena sura Sapi sudah mulai, maka yang lainpun segera berloncatan pula. Temon segera menyerang Manguri, tetapi pengawal ternak yang ada di sampingnya segera menempatkan dirinya untuk melawan. Sedang orang yang lain lagi, mau tidak mau harus berhadapan dengan Manguri. Di lingkaran perkelahian yang lain, ketiga orang gerombolan Sura Sapi itupun segera menyerang Lamat hampir berbareng. Tetapi Lamat yang meskipun tenang-tenang saja itu, mampu menghindari mereka dengan cepat. Selangkah ia mundur, kemudian melingkar sebuah t iang pendapa sambil mengangkat tombaknya. Ketika sebuah ujung pedang terjulur kedadanya, maka tangkai tombaknya langsung memukul punggung pedang itu Demikian kerasnya sehingga hampir saja pedang itu meloncat dari tangan. Orang yang hampir kehilangan pedang itu berdesis. Meskipun ia baru mulai, tetapi segera ia mendapat gambaran kekuatan Lamat yang memang luar biasa itu. Ayunan tangkai tombak yang tampaknya belum dilambari dengan sekuat tenaga itu saja, sudah cukup menggetarkan jari-jarinya. Tetapi orang itu sama sekali tidak mengeluh, dan bahkan sama sekali berusaha untuk tidak menumbuhkan kesan, bahwa kekuatan Lamat memang luar biasa. Ia tidak mau menumbuhkan kecemasan dan kebimbangan di hati kawankawannya. Demikianlah muka perkelahian di atas pendapa itupun segera menjadi semakin seru. Lamat yang harus melawan tiga orang, selalu berusaha untuk menghindari serangan-serangan yang datang dari berbagai jurusan. Tiang-tiang di pendapa rumah itu agaknya dapat membantunya. Setiap kali ia berperisai tiang-tiang rendapa, kemudian meloncat maju sambil menjulurkan ujung tombaknya yang tidak begitu tajam itu. Sedang Sura Sapi sendiri berkelahi mati-matian untuk segera dapat menundukkan Ki Sukerta. Tetapi ternyata seperti katanya sendiri, Ki Sukerta yang selalu menjelajahi daerah yang luas itu benar-benar seorang yang memang mempunyai bekal untuk mela akan pekerjaannya yang berat. Ternyata ia sama isekali tidak dapat segera dikuasai oleh Sura Sapi. Bahkan Ki Sukerta masin mendapat kesempatan untuk sekalisekali melihat anaknya yang dengan susah payah mempertahankan dirinya. Tetapi Ki Sukerta masih belum mencemaskan Manguri, karena Manguri agaknya masih mampu bertahan. Seperti Lamat, Manguri dapat memanfaatkan tiang-tiang pendapa untuk memperpanjang perlawanannya. Sehingga Ki Sukerta masih dapat memusatkan perlawanannya atas Sura Sapi sendiri. Temon tidak terlampau banyak mempunyai kelebihan dari pengawal ternak Ki Sukerta, meskipun segera tampak, bahwa ia akan berhasil memenangkan berkelahian itu pada suatu saat apabila mereka dibiarkannya berkelahi seorang lawan seorang. Sementara itu Lamat berusaha untuk tetap mengikat ketiga lawannya. Ia melihat bahwa hanya Ki Sukerta sajalah yang agaknya akan mampu mengimbangi lawannya untuk waktu yang lama. Tetapi melawan tiga orang gerombolan Sura Sapi, merupakan pekerjaan yang berat pula bagi Lamat. Ia masih tetap sadar bahwa sebaiknya ia tidak melakukan pembunuhan. Karena itu maka Lamat tidak mempergunakan seluruh kekuatannya di dalam perlawanannya. Meskipun sekali-sekali ia menyerang, namun sebagian terbesar yang dilakukannya adalah menghindar dan menangkis. Apalagi kelincahan lawanlawannya kadang kadang memang agak membingungkannya, sehingga setiap kali ia selalu meloncat mengambil jarak dari ketiga lawan-lawannya. Namun lambat laun Lamat tidak dapat berkelahi dengan caranya. Ketika ujung pedang salah seorang gerombolan Sura Sapi itu menyentuh kulit lengannya, sehingga darahnya menitik, sadarlah ia bahwa ia tidak sedang bermain-main. Ki Sukerta, Manguri dan pengawal yang seorang itupun sedang terancam bahaya kematian apabila keadaannya tidak segera berubah. Karena itu, Lamat yang kemudian dilanda oleh kebimbangan dan keragu-raguan itu terpaksa mencari jalan untuk mengatasi perkelahian itu. "Akan lebih baik kalau aku berkelahi di dalam kelompok itu pula" desisnya di dalam hati "setidak-tidaknya aku dapat mengawasi dan mencoba mengurangi tekanan atas Manguri" Dengan demikian maka Lamatpun berusaha dengan susah payah untuk mendekati lingkaran perkelahian yang lain. Ketika serangan-serangan lawannya membuatnya semakin bingung, maka tiba-tiba ia menggeram. Diayunkannya tangkai tombaknya dengan sekuat tenaganya menyerang salah seorang daripadanya, supaya lawan-lawannya berloncatan surut, untuk memberinya kesempatan mengatur diri. Tetapi agaknya ada diantara mereka yang tidak sempat berusaha untuk menghindar. Dengan senjatanya ia mencoba menangkis ayunan tangkai tombak Lamat yang dibuatnya dari kayu berlian itu. Terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Sesaat mereka mendengar keluhan tertahan, kemudian mereka mendengar gcmerincing pedang yang terjatuh di lantai. Orang itu tidak berhasil mempertahankan senjatanya. Tenaga Lamat ternyata terlampau kuat, meskipun lawannya itu salah seorang dari gerombolan Sura Sapi yang terkenal. Bahkan tangkai tombak Lamat masih juga menyentuh pahanya, sehingga iapun terpelanting jatuh. Dengan susah payah orang itu meloncat berdiri. Tetapi kemudian ternyata bahwa ia menjadi timpang karenanya. Rasa-rasanya tulang pahanya menjadi retak. Kedua kawannya yang lain segera mencoba melindunginya. Keduanya menyerang hampir bersamaan, sehingga Lamat terdesak surut beberapa langkah. Kesempatan itu dipergunakan oleh salah seorang gerombalan yang kehilangan senjatanya itu. Tertatih-tatih ia berloncatan memungut senjatanya. Kemudian dengan kaki timpang ia kembali memasuki arena perkelahian. Lingkaran perkelahian Lamatpun semakin lama menjadi semakin dekat dengan arena perkelahian Manguri, ayahnya dan pengawal yang seorang itu. Namun agaknya lawanlawannyapun berusaha untuk menahannya dan mendorongnya semakin jauh. Lamat masih saja berkelahi dengan tenangnya. Ia masih berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Namun setiap kali tumbuh pertanyaan "Bagaimana kalau justru Manguri sendiri yang terbunuh? Betapapun bengalnya anak itu, tetapi ia masih agak lebih baik dari gerombolan Sura Sapi. Dalam pada itu, isteri Ki Sukerta yang mendengar hiruk pikuk di pendapa, mencoba untuk mengintipnya. Meskipun dalam kegelapan, namun ia dapat melihat bayangan yang samar-samar berloncatan kian kemari. Nafas yang berdesah dan dentang senjata beradu. Dengan demikian segera ia mengetahui, bahwa di pendapa rumahnya agaknya telah terjadi perkelahian yang dahsyat. Nyai Sukerta itupun kemudian berlari-lari ke bagian belakang rumahnya. Didorongnya saja pintu bilik Lamat. Tetapi ia sudah tidak melihat orang itu di dalam biliknya. "Agaknya ia sudah ikut berkelahi" desisinya. Dengan demikian maka iapun kemudian berlari ke gubug-gubug di samping lumbung. Dibangunkannya para pekatik, para gembala dan juru sapu. "Cepat, pergi ke pendapa. Mereka sedang berkelahi" "Siapa?" bertanya salah seorang pekatik kuda. "Aku tidak tahu" Orang-orang itu menjadi bingung. Mereka tidak mengerti bagaimana mereka harus membantu. Hampir sepanjang umurnya mereka tidak pernah berkelahi. Tetapi ada juga dua orang yang segera berlari ke dalam biliknya untuk mengambil parang dan kapak. Dengan tergesagesa keduanya pergi melingkari rumah ke pendapa, di bagian depan dari rumah Ki Sukerta. Ketika mereka sampai ketangga pendapa mereka melihat bahwa perkelahian yang seru masih berlangsung di pendapa. Ternyata Manguri menemui banyak kesulitan di dalam perkelahian itu. Anggauta gerombolan Sura Sapi yang berkelahi melawannya, agaknya benar-benar akan berusaha menyelesaikan pekerjaannya tanpa tanggung-tanggung. Meskipun kedua orang pembantu Manguri itu bukan orang orang yang mempunyai pengetahuan yang cukup di dalam olah senjata, tetapi agaknya mereka mampu melihat, bahwa Manguri sudah hampir tidak mampu lagi untuk bertahan. Dengan demikian, maka keduanyapun segera mendekatinya dan mencoba untuk membantunya. Namun ternyata bahwa kedua orang itu tidak terlampau banyak berpengaruh. Meskipun demikian, mereka telah dapat memecah perhatian lawan Manguri, sehingga Manguri mempunyai sedikit kesempatan memperbaiki keadaannya. Ayahnya, Ki Sukerta yang melihat keadaan anaknya, menjadi sangat cemas. Itulah sebabnya, maka ia telah mengerahkan segenap kemampuan dan ilmunya. Seluruh tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya telah dibangunkannya, untuk mempercepat penyelesaian. Ternyata bahwa Ki Sukerta tidak sekedar menyebut dirinya sebagai seorang pedagang keliling dan bahkan seorang petualang hampir di segala bidang kehidupan. Telah dijelajahinya sudut-sudut yang paling berbahaya di dalam usahanya mencari kekayaan dan mengejar perempuan yang disukainya. Dengan demikian, maka menghadapi Sura Sapi itu sendiri Ki Sukerta akhirnya berhasil sedikit demi sedikit menguasainya. "Aku harus lebih dahulu, sebelum Manguri kehabisan napas" katanya di dalam hati. Bagaimanapun juga Manguri adalah satu-satunya anak dari isterinya yang paling tua, isterinya yang sah. Sura Sapi menahan nafasnya untuk sejenak, ketika hampir saja pundaknya tergores pedang lawannya. Meskipun ia telah memperhitungkan, bahwa Ki Sukerta bukannya sekedar seorang pedagang yang mempercayakan keselamatannya kepada para pengawalnya saja, namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ki Sukerta itu mampu mengimbanginya, bahkan semakin lama semakin terasa betapa beratnya menghadapi pedagang ternak itu. "Setan alas" Sura Sapi menggerutu. Sesaat terbayang kegagalan mereka di tengah-tengah sawah sawaktu mereka menghadapi Pamot dan kawan-kawannya Apakah kegagalan ini harus terulang?" "Sura Sapi tidak pernah gagal" desisnya. Tetapi bagaimanapun juga, ternyata kemampuan Ki Sukerta tidak dapat diingkarinya. Meskipun Temon sedikit demi sedikit dapat mendesak lawannya, tetapi untuk mengalahkannya agaknya ia masih memerlukan waktu yang cukup lama, sedang Sura Sapi semakin lama sudah menjadi semakin lemah. "Sura Sapi tidak pernah gagal" terdengar Sura Sapi itu menggeram. Di lingkaran perkelahian yang lain, yang semakin lama menjadi semakin dekat, Lamat masih tetap bertahan. Meskipun ia tidak segera tampak menguasai keadaan, tetapi agaknya keadaannya sama sekali tidak mencemaskan. Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin ribut. Desak mendesak tidak berketentuan. Yang seorang dapat mendorong lawannya, sedang yang lain hampir-hampir dapat dikuasai. Namun agaknya Sura Sapi sendiri berada di dalam kesulitan. Setiap kali ia terdesak mundur. Setiap kali ia menggeram karena ujung senjata Ki Sukerta menyentuh pakaiannya. Dan bahkan ketika punggungnya terantuk tiang pendapa, sebuah goresan telah menyobek lengannya. Terdengar Sura Sapi itu mengaduh tertahan. Kemudian mengumpat sejadi-jadinya. Goresan itu ternyata telah menitikkan darahnya, sehingga perasaan pedih seolah-olah menyengat di segenap lekuk tangannya. Untunglah bahwa Sura Sapi mampu mempergunakan kedua tangannya dengan kekuatan seimbang, sehingga karena tangan kanannya terluka, maka senjatapun segera dipindahkannya ke tangan kiri" Namun demikian titik-titik darah itu telah membuatnya menjadi cemas, bahwa pada suatu saat ia akan menjadi semakin lemah. Belum lagi gema desah Sura Sapi itu lenyap, maka seorang yang melawan Lamat ternyata telah terpukul oleh tangkai tombak Lamat, yang terbuat dari kayu berlian. Orang itu terpelanting membentur sebuah tiang pendapa. Untunglah, bahwa ia masih dapat melindungi kepalanya, sehingga dengan susah payah ia masih dapat segera bangkit. Namun demikian, di bagian lain terdengar seseorang menjerit ngeri. Agaknya salah seorang dari kedua orang yang membantu Manguri tertusuk senjata lawannya di pahanya Tertatih-tatih ia berlari menepi, kemudian tanpa dapat mempertahankan keseimbangannya lagi ia terjatuh sambil mengaduh. Meskipun demikian, Sura Sapi sendiri agaknya tidak akan mampu mengalahkan Ki Sukerta yang tampaknya semakin lama menjadi semakin garang. Kali ini ia berkelahi sepenuh tenaganya untuk menyelamatkan anaknya, harta bendanya dan namanya. Dalam keadaan yang kalut demikian itulah, akhirnya Sura Sapi tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Lukanya menjadi kian pedih, sedang lawannya masih juga nampak segar. Raksasa yang dianggapnya dungu itu ternyata tidak segera dapat dikalahkan oleh ketiga orang-orangnya. Temon yang diharapkannya akan dapat membantunya, ternyata terikat oleh perkelahian yang masih memerlukan waktu yang lama. Apalagi ketika kemudian beberapa orang meskipun dengan ragu-ragu, berdatangan mengerumuni pendapa. Orang-orang itu adalah pekatik-pekatik, pelayan-pelayan dan tenaga-tenaga kasar di rumah itu. Dita-ngan masing-masing tergenggam berbagai macam senjata. Linggis, kapak, parang, bahkan kayu selumbat kelapa dan pemukul kentongan. Meskipun mereka tidak akan dapat banyak berbuat, namun kehadiran mereka benar-benar telah mempengaruhi niat Sura Sapi untuk memaksakan kehendaknya. Demikianlah, maka sekali lagi Sura Sapi merasa, bahwa ia akan gagal. Gagal seluruhnya seperti pada saat gerombolannya akan menangkap Pamot. Itulah sebabnya maka ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali seperti pada kegagalan yang dahulu, meninggalkan arena. Sejenak kemudian maka terdengar Sura Sapi memberikan aba-aba itu. Aba-aba yang pernah diberikannya juga dalam perkelahiannya melawan anak-anak Gemulung. Kawan-kawannya tidak menunggu keadaan berkembang semakin buruk. Dengan serta-merta merekapun segera berloncatan menjauh. Kemudian berlari secepat-cepat dapat mereka lakukan, turun dari pendapa, melintasi halaman samping dan menghilang di kebun belakang untuk seterusnya berlari lintang pukang meloncati dinding batu di belakang. Tetapi mereka tidak berhenti sampai di balik dinding batu. Mereka masih berlari terus masuk ke dalamrerungkudan. Demikian cemasnya, mereka hampir tidak sempat berpaling. Bahkan di dalam gelap malam, tiba-tiba saja kaki Temon terantuk sesosok tubuh yang sedang berjongkok, sehingga keduanya terpelanting dan jatuh berguling-guling. "Setan alas, dimana matamu he" bentak orang yang berjongkok itu, yang tidak lain adalah Sura Sapi. "Siapa kau?" bertanya Temon. "O" suara Sura Sapi merendah "kaukah itu kakang? "Ya aku. Kenapa kau berjongkok disitu?" Nafas Sura Sapi menjadi semakin terengah-engah "Tanganku dan pundakku terasa pedih sekali" "Kauterluka?" "Ya. Di lengan dan di beberapa tempat lagi meskipun hanya goresan-goresan kecil" Temon merangkak mendekati adiknya. Katanya kemudian "Marilah kita menjauhi tempat terkutuk itu dahulu" Sura Sapipun kemudian berdiri perlahan-lahan. Dengan hati-hati ia memandang berkeliling. "Tidak ada orang yang mengejar kita" berkata Temon. "Ya. Agaknya merekapun tidak berani keluar dari batas dinding rumahnya " "Kenapa?" "Agaknya mereka tidak ingin terlibat dalam Kesalah pahaman dengan anak-anak muda Gemulung" Temon mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi kita harus cepat menyingkir" "Ya. Kita harus cepat menyingkir" Keduanyapun kemudian berlari-lari kecil sambil terbungkukbungkuk di sela-sela dedaunan yang rimbun di kebun-kebun yang tidak terpelihara. Namun Sura Sapi semakin lama menjadi semakin lemah. Darahnya masih saja mengalir meskipun t idak begitu deras, dari luka-lukanya, terutama luka dilengannya. "Marilah" ajak Temon. "Napasku" desis Sura Sapi "badanku menjadi sangat lemah. Darahku masih saja mengalir" Temonpun kemudian mendekati adiknya. Dibantunya Sura Sapi berjalan tertatih-tatih. Kemudian merekapun dengan hatihati mendekati dinding padukuhan dan setelah mereka merasa aman, maka dengan susah payah Sura Sapipun segera meloncat dibantu oleh kakaknya. Malam yang gelap masih juga. terasa gelap, meskipun bintang-bintang di langit bertebaran dari ujung sampai ke ujung. Keenam orang dari gerombolan Sura Sapi termasuk Temon, berjalan tersuruk-suruk menjauhi padukuhan Gemulung. "Lain kali kita bakar padukuhan terkutuk itu" geram Sura Sapi. "Ya, kita jadikan nereka" desis yang lain. Merekapun kemudian meneruskan langkah mereka menyusur pematang. Beberapa orang dari mereka berjalan dengan t impang karena kaki-kaki mereka terkilir. Tetapi Sura Sapi sendiri menjadi semakin lemah, meskipun ia masih mampu berjalan dibantu oleh kakaknya. "Dua kali kita gagal di neraka terkutuk itu" gumam Sura Sapi "tetapi lain kali kita pasti akan berhasil" "Apa yang akan kau lakukan lain kali?" "Membakar padukuhan itu menjadi karang abang. Kemudian merampok rumah pedagang yang kikir itu habishabisan dan membunuh seisi rumahnya" Temon tidak menjawab. Ia sadar, bahwa kata-kata itu terlontar oleh kekecewaan yang sangat mencengkam dada Sura Sapi. Sejenak kemudian merekapun terdiam. Mereka berjalan tertatih-tatih semakin lama semakin jauh dari Gemulung, dengan luka-luka tidak saja pada tubuh mereka, tetapi juga di hati. Sementara itu Manguri yang hampir kehabisan nafas masih sempat membentak-bentak Lamat yang berdiri termangumangu "Kenapa kau biarkan mereka lari, he? Kenapa kau tidak mengejar mereka dan menangkap meskipun hanya satu atau dua orang?" Lamat t idak menjawab. Sekilas dipandanginya Ki Sukerta, dan sekilas kemudian pengawal ternak yang berdiri diam membeku. "Kaupun tidak berbuat apa-apa" bentak Manguri kepada pengawal itu. Pengawal itupun tidak segera menjawab. "Semua orang di rumah ini sudah gila. Sekian banyak orang berkeliaran tidak menentu. Apa yang kalian kerjakan? Kalian membiarkan demit-demit itu melarikan dirinya. Kalau kalian berhasil menangkap atau membunuh mereka, aku akan menyembelih tiga ekor sapi. Tidak, tidak hanya tiga ekor. Dua ekor untuk setiap orang yang tertangkap" Tidak seorangpun yang menjawab. Dan kemarahan Manguri menjadi semakin melonjak-lonjak, .Wadah kemarahannya terutama adalah Lamat. Katanya "Kau pemalas. Kau ingin segera tidur saja. Kau sama sekali tidak berusaha untuk memenangkan perkelahian. Kau yang sebesar gajah itu sama. sekali tidak berdaya menghadapi hanya tiga orang lawan. Dan yang tiga itu t idak termasuk pemimpinnya " Lamat menundukkan kepalanya. Ia sudah terlalu biasa diumpat-umpat dengan kata-kata yang bagaimanapun menyakitkan, hati. Karena itu justru ia menjadi kebal. "Sudahlah Manguri" ayahnya mencoba menahannya "untung sekali kau masih dapat melihat matahari terbit esok pagi. Sekarang biarlah mereka beristirahat. Orang yang terluka itu harus segera mendapat pertolongan" "Tetapi itu terlalu sekali" geramnya "seharusnya Lamat dapat berbuat sesuatu. Dengan keadaan ini kita masih selalu harus berjaga-jaga. Mereka pasti masih akan menuntut penyelesaian yang memberi kepuasan kepada mereka" "Tetapi kita sudah dapat menduga sebelumnya, sehingga kita akan dapat berjaga-jaga" sahut ayahnya. "Mereka, Sura Sapi dan gerombolannya itu., terlampai buas. Mereka dapat membawa kawan-kawan mereka berdatangan ke rumah ini, sedangkan kami tidak akan dapat mengharapkan orang-orang Gemulung yang gila itu" "Aku dapat memanggil para pengawal ternak yang biasa membantu aku dalam perjalanan. Merekapun orang-orang yang dapat dipercaya. Tidak kalah dari orang-orang gerombolan Sura Sapi" "Tetapi jumlah itu sangat terbatas" "Aku kira cukup banyak. Aku mempunyai lima orang pengawal" "Hanya lima" "Disini ada kau, ada aku dan Lamat serta seorang pengawal lagi" "Tetapi gerombolan Sura Sapi adalah gerombolan yang paling gila dan liar. Mereka dapat berbuat apa saja melampaui setan yang paling jahat" "Sudahlah, jangan ribut" kemudian kepada Lamat Ki Sukerta berkata "rawatlah orang yang terluka itu" Lamat tidak menjawab. Sambil memegang tombaknya di tangan kiri ia memapah orang yang terluka itu dan dibawanya turun dari pendapa. "Ingat pemalas" teriak Manguri "kaulah sumber kegagalan kita menangkap orang-orang itu. Kalau sekali lagi kau ulangi, maka kau akan menyesal seumur hidupmu" "Manguri" potong ayahnya "jangan menjadi gila karena kegagalan kita kali ini. Sebenarnya kita sama sekali tidak gagal. Kita sudah berhasil mempertahankan diri dan hak milik kita" "Tetapi masalahnya belumselesai ayah" "Katakan, siapakah yang telah membuka masalah ini. Siapakah yang dengan dungunya menghubungi Sura Sapi untuk keperluan yang gila itu pula. Siapa?" Manguri tidak menjawab. "Kau. Kaulah yang bersalah. Kaulah sumber dari kekalutan yang telah terjadi di rumah ini. Sekarang kau membentakbentak seperti orang mabuk tuak" Manguri mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab, karena ia sadar, bahwa ayahnya sudah mulai marah lagi kepadanya. "Masuklah" berkata ayahnya "jangan ribut lagi" Dengan kepala tunduk Manguripun kemudian berjalan masuk ke pringgitan. Ketika ia masuk ke ruang dalam dilihatnya ibunya menggigil ketakutan. Begitu Manguri muncul di pintu, maka dengan serta merta dipeluknya anaknya yang sudah sebesar ayahnya itu sambil menangis "Kau tidak apaapa Manguri" Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak ibu, aku t idak apa-apa" "Nah, jadilah pelajaran bagimu, Manguri. Untuk seterusnya kau jangan bermain api" "Bukankah hal itu sudah sewajarnya? Aku seorang anak laki-laki ibu. Aku memang sudah seharusnya berusaha untuk mendapatkan seorang gadis yang aku cintai" "Tetapi kau dapat mencari gadis yang lain, yang tidak usah menumbuhkan banyak persoalan seperti gadis anak janda prajurit itu" "Aku mencintainya ibu" "Anakku. Kau harus dapat mempertimbangkan perasaanmu. Betapa besar cintamu kepadanya, tetapi hal itu dapat membahayakan nyawamu, bahwa berbahaya bagi seluruh keluarga" "Sudahlah bu" berkata Manguri sambil melepaskan pelukan ibunya "ibu tidak usah mencemaskan aku" "Tidak mungkin Manguri, karena kau adalah anakku" "Ibu akan menyakit i perasaan ibu sendiri. Aku sudah bertekad untuk mendapatkannya dengan segala cara" "Jangan Manguri. Berkatalah, gadis mana yang kau cintai, selain gadis yang sudah jelas menolakmu itu. Aku akan melamarnya untukmu" "Aku tidak mencintai gadis lain lagi, kecuali gadis itu" "Tidak. Aku tidak menyetujui kau berhubungan lagi dengan Sindangsari" "Ibu" Manguri membelalakkan matanya "kenapa tiba-tiba ibu bersikap demikian" "Ibu tidak senang melihat hubungan yang selalu mendebarkan jantung. Apakah kau akan merasa bahagia kelak, apabila kau selalu diganggu oleh kegelisahan dan kecemasan. Apalagi isterimu itu t idak mencintaimu" "Ibu, aku kadang-kadang merasa bahwa semakin sulit aku berusaha mendapatkan seorang gadis, aku merasa bahwa aku kelak akan menjadi semakin berbahagia, apabila aku berhasil" "O, jalan pikiranmu sudah terbalik" "Bukankah cinta yang berliku-liku itu justru memberikan kepuasan yang mendalam" "Tidak. Kau keliru" "Ibu" Manguri tiba-tiba berbisik "ibu jangan melarang aku. Sebenarnya aku tidak sejahat ini, karena aku harus memeras ibuku sendiri. Tidak. Tetapi aku hanya ingin membuktikan, bahwa kadang-kadang kita memang ingin hidup di dalam dunia yang lain dari kewajaran hidup ini. Coba katakan, apakah yang ibu dapat dari hubungan yang berbelit-belit antara ibu dengan laki-lki itu?" "Manguri" ibunya hampir berteriak "kau sudah gila" "Maaf ibu, aku hanya sekedar memberikan contoh, betapa di dalam hidup ini kita memerlukan kelainan-kelainan yang kadang-kadang tidak masuk akal. Maaf bahwa contoh yang paling mudah aku dapat kali ini adalah kehidupan ibu sendiri. Hubungan itu menurut pendapatku adalah terlampau mengerikan. Tetapi ibu melakukannya juga. Apakah dapat dinikmati suatu kebahagiaan dalam ujud apapun, apabila setiap kali ibu selalu diburu oleh kegelisahan kecemasan dan ketakutan?" "Diam, diam kau Manguri" "Jangan berteriak ibu. Aku sudah berbisik-bisik supaya tidak ada orang lain yang mendengar. Tetapi ibu justru berteriakteriak seperti itu" "kau menghina ibumu sendiri Manguri. Kau menyakiti hatiku" "Bukan maksudku. Karena itu aku minta maaf. Tetapi dengan demikian, maka ibu akan dapat mengerti, bahwa aku kali ini berbuat sesuatu yang aneh yang tidak patut atau katakanlah, sangat berbahaya menurut penilaian orang lain Tetapi aku justru ingin melakukannya karena dorongan yang tidak aku mengerti" "O" tiba-tiba ibunya berlari ke biliknya. Dijatuhkannya tubuhnya di pembaringannya. Yang terdengar kemudian adalah isak tangisnya, sambil menelungkupkan wajahnya pada kedua tangannya yang bersilang. Dengan dada yang berdebar-debar Manguri melihat ibunya menangis. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan duduk di bibir pembaringan itu. "Aku minta maaf bu" Ibunya tidak menyahut. "Aku minta maaf. Sudah aku katakan bahwa aku tidak ingin menyakit i hati ibu" Ibunya mengangkat wajahnya. Kemudian terdengar suaranya parau di sela-sela isak tangisnya "Inikah hukuman yang harus aku tanggungkan karena dosa itu?" "Tidak ibu. Bukan" "Aku memang penuh dengan dosa Manguri. Tetapi ternyata kau memang benar. Kadang-kadang kita menginginkan sesuatu yang tidak pantas, yang tidak patut. Bahkan yang berbahaya sekalipun. Tetapi aku tidak dapat menghentikannya. Setiap kali hal itu terjadi, aku merasa bahwa untuk seterusnya aku tidak akan mengulanginya lagi. Bahkan aku merasa sangat membencinya. Tetapi apabila aku merasa kesepian, dan laki-laki itu menampakkan dirinya, aku terdorong lagi ke dalam dosa itu" "Sudahlah ibu. Tidak pantas hal itu disesali. Kalau hal itu memang terjadi, marilah kita nikmat i sepuas-puas hati. Bukankah hal itu memang terjadi dan tidak dapat kita elakkan lagi" "O, inilah. Inilah kutukan itu, Aku memang sudah memberikan contoh kepadamu, untuk terjun ke dalam neraka yang paling jahanam. Dan kau agaknya memang mengikuti jejak itu. Jejakku dan jejak ayahmu" Manguri menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum di dalam hatinya. Kini ia benar-benar merasa hidup di dalam kubangan yang paling kotor. Ia tidak akan dapat membersihkan dirinya selama ia masih tetap berada di kubangan itu. Seribu kali ia mandi sehari, maka ia akan segera dilumuri oleh noda-noda yang paling kotor itu kembali. Tetapi Menguri t idak mengatakannya. Ia bangkit berdiri dan berkata kepada ibunya "Ayah berada di luar. Mungkin ayah sedang mengurusi orang-orang yang kebingungan di halaman. Atau barangkali ikut menolong orang yang terluka itu. Aku akan pergi keluar juga" Ibunya menganggukkan kepalanya. Dengan ujung bajunya ia mengusap air mata yang masih membasahi matanya. "Hati-hatilah" "Ya ibu" Manguripun kemudian melangkah keluar bilik. Ditutupnya pintu bilik itu. Sekilas ia masih melihat ibunya berbaring. Ibunya yang nampaknya masih sangat muda. Ketika ia melangkah untuk kembali ke pendapa, maka sekilas ia teringat kepada gadis-gadis yang pernah mengguratkan namanya pada dinding jantungnya. Manguri tersenyum di dalam hati, meskipun senyum yang pahit. "Dimanakah mereka sekarang" desisnya. Terbayanglah gadis-gadis itu seorang demi seorang bersimpuh di hadapan kakinya. Mula-mula mereka mengharapkan kehangatan cintanya. Namun beberapa bulan kemudian, mereka bersimpuh sambil menangis seorang demi seorang untuk minta belas kasihannya. "Aku mengandung" kalimat-kalimat itulah yang mereka ucapkan. Hampir bersamaan dalam nada dan susunan katakata. Hampir selalu pula gadis-gadis itu membasahi kakinya dengan air mata. "Hanya seorang itulah yang menjadi gila, dan hampir menikam aku" katanya. Kini Manguri benar-benar tersenyum pada bibirnya, meskipun juga sebuah senyuman yang pahit. Tetapi tidak seorangpun dari gadis-gadis itu yang akhirnya berhasil menjadi isterinya. Manguri kemudian mencari dan membayar anak-anak muda yang dungu, untuk melarikan gadis-gadis itu. "Tidak" mula-mula gadis-gadis itu menolak "aku tidak mencintai anak muda yang bodoh itu" "Kau tidak mempunyai pilihan lain" jawab Manguri kepada mereka itu "kalau kau menolak, maka kau akan menjadi sangat malu, karena kau mengandung di luar perkawinan. Aku tidak akan dapat kau paksa mengawinimu, karena aku mempunyai seribu cara untuk menolaknya. Sekarang ada anak muda yang dengan hati yang bersih bersedia mengawinimu. Apakah itu bukan suatu anugerah?" "Tetapi anak di dalam kandungan ini adalah anakmu" Saat itu Manguri masih sempat tertawa "Tidak seorangpun di atas bumi ini dapat membuktikan bahwa anak itu adalah anakku. Siapa tahu kau pernah berhubungan dengan laki-laki yang lain" "Aku bersumpah. Aku bersumpah" "Tidak akan ada gunanya" Manguri bahkan masih sempat mengancam "atau kau memilih aku untuk mempergunakan jalan lain yang pasti t idak akan kau senangi" "Jalan yang manakah itu ?" "Membungkam mulutmu untuk selama-lamanya" "Jangan. Jangan. Jangan kau bunuh aku" Sekali lagi Manguri tertawa. Katanya waktu itu "Nah sambutlah suamimu. Cintailah. Ia akan mencintai kau juga. Ia akan melupakan bahwa anak yang kau kandung itu bukan anaknya" Memang tidak ada pilihan lain bagi gadis-gadis ayng sudah terdorong ke dalam kegelapan itu. Mereka harus menerima keadaan mereka dengan hati yang lemah. Kesenangan yang mereka kecap sebelumnya ternyata tidak berimbang sama sekali dengan penyesalan yang akan mereka bawa sampai di hari-hari terakhir nanti. Meskipun sesaat-saat mereka dapat melupakan, namun setiap kali luka itu telah menyengat jantung mereka kembali. Ternyata suami-suami upahan itupun tidak sebaik suami yang lain. Meskipun ada juga diantara merema yang akhirnya dapat saling menyesuaikan diri, namun anak-anak yang lahir kemudian adalah jurang yang telah membatasi mereka. Tetapi ternyata Sindangsari tidak dapat diperlakukan serupa itu. Memang hampir tidak masuk akal, bahwa Sindangsari telah memilih Pamot, seorang anak muda yang bagi Manguri, tidak ada artinya, yang hanya mempunyai sejengkal sawah dan pategalan, setapak kebun kelapa yang tidak begitu subur di pinggir desa. Tetapi Menguri t idak dapat mengelakkan kenyataan itu, Dan kini ia sedang berusaha untuk merebut gadis itu dengan cara apapun. Ketika Manguri menjengukkan kepalanya, dilihatnya pendapat rumahnya sudah sepi. Agaknya ayahnya dan orangorang yang lain telah membawa orangnya yang terluka ke biliknya. Tetapi sejenak kemudian ia melihat beberapa orang dengan obor di tangan dan sebumbung air naik ke pendapa itu. "Apa yang akan kalian kerjakan?" bertanya Manguri "Ki Sukerta memerintahkan kepada kami untuk membersihkan bekas-bekas perkelahian itu, termasuk tetestetes darah" Manguri mengangguk anggukkan kepalanya. Di bawah sinar obor ia melihat darah yang tergenang. Sedang di beberapa tempat lagi darah berceceran menodai lantai pendapa. Dengan air orang-orang itu membersihkan noda-noda darah itu. Bahkan ada yang melekat pada tiang. Manguri menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia kembali masuk ke pringgitan. Setelah menutup pintu rumahnya, ia langsung masuk ke dalam biliknya. Setelah melepas senjatanya dan meletakkannya di pembaringannya, Manguripun merebahkan dirinya. Tetapi matanya tidak segera dapat terpejam. Ia mendengar ketika ayahnya masuk dan menyelarak pintu, kemudian desir langkahnya ke biliknya. "Apakah ayah tidak akan melaporkannya kepada K i Demang?" bertanya Manguri di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat mencari jawabnya sendiri. "Lebih baik bertanya kepada ayah besok" Meskipun keluarga Ki Sukerta berusaha untuk tidak mengatakannya kepada siapapun, namun satu dua diantara para pembantunya ada juga yang di luar sadarnya telah menceriterakan apa yang teiah terjadi itu, sehingga berita kedatangan gerombolan Sura Sapi ke rumah Ki Sukerta itupun segera tersebar. Berbagai tanggapan telah berkembang diantara orangorang Gemulung dan anak-anak mudanya. "Senjata itu hampir berbalik mengenai diri Manguri sendiri" desis Punta kepada kawan-kawannya. Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Mereka sama sekali tidak mau membunyikan tanda apapun" "Mereka menganggap bahwa kita tidak akan menolong mereka" "Apakah begitu?" "Tidak" Punta mengeleng "kalau kita tahu, kita pasti akan membantu mereka. Seandainya kita tidak menolong Manguri, maka kitapun wajib berusaha menangkap gerombolan Sura Sapi itu" "Mungkin tanpa kita mereka merasa sudah cukup kuat" "Manguri merasa bahwa ia bersalah" jawab Punta. "Tentu raksasa itu yang telah menyelamatkan mereka. Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Tidak ada orang lain yang dapat dibanggakan, selain Lamat" "Sukerta sendiri?" "Ya. Sukerta sendiri" Dalam pada itu. Pamot mendengar berita tentang Sura Sapi yang telah menyerang rumah Manguri itu dengan hati yang berdebar-debar. Ternyata persoalan itu masih akan berkepanjangan. Ia belum melihat langkah-langkah yang diambil oleh Ki Demang dan Ki Jagabaya. Namun agaknya masih akan berkembang masalah-masalah sampingan yang tidak akan kalah kalutnya dengan masalahnya sendiri. Namun demikian, semua peristiwa yang terjadi itu telah mendorongnya semakin dekat kepada Sindangsari. Meskipun orang tua kedua belah pihak menganjurkan agar mereka untuk sementara membatasi perhubungan mereka, namun hati yang sedang terbakar oleh perasaan remaja itu seakanakan tidak dapat ditahankannya lagi. Keduanya mempergunakan setiap kesempatan untuk bertemu. Kadang-kadang di ladang, kadang-kadang di pinggir kali, selagi Sindangsari mencuci pakaiannya. Kawan-kawan Pamot dan Sindangsari sama sekali t idak mengganggunya lagi. Bahkan mereka merasa kasihan, hubungan yang tulus itu agaknya masih harus mengalami gangguan-gangguan yang tidak diharapkan. Apalagi kedua anak muda itu sendiri. Kadang-kadang mereka merasa bahwa mereka seakan-akan berdiri di ujung duri. Manguri dengan kekayaannya, setiap saat akan dapat melakukan banyak sekali kemungkinan untuk memisahkan mereka. Belum lagi dendam Sura Sapi yang telah mereka kalahkan. "Jangan cemas" Punta yang sudah labih tua dari Pamot kadang-kadang mencoba menenteramkan kegelisahan anak muda itu "kawan-kawan kita mengerti apa yang harus mereka lakukan. Kami sudah bersiaga apabila Sura Sapi datang untuk melepaskan dendamnya. Kini mereka baru mencoba membuat perhitungan dengan Manguri, itupun gagal. Apalagi apabila mereka ingin membuat perhitungan dengan seluruh padukuhan ini" "Aku percaya kepadamu dan kepada kawan-kawan yang lain" desis Pamot. Dan ia melihat dengan mata kepala sendiri kesiagaan anak-anak muda Gemulung di gardu-gardu perondan di setiap malam. Tetapi kecemasan yang sangat adalah pada Sindangsari Ia tidak melihat kesiagaan anak-anak muda Gemulung. Berbeda dengan Pamot Sindangsari merasa bahwa dirinya terlampau lemah. Apabila Manguri kemudian mempergunakan kekerasan dan diarahkan kepadanya, maka ia tidak akan dapat berbuat apapun. Meskipun demikian Sindangsari tidak ingin mundur Hatinya kini telah benar-benar dicengkam oleh perasaannya. Dan ia telah menyerahkan dirinya kepada perasaan itu Kakang berkata Sindangsari kepada Pamot ketika mereka bertemu di pinggir kali "aku selalu dikejar oleh kegelisahan" "Jangan gelisah Sindangsari" jawab Pamot "hampir setiap orang di Gemulung berpihak kepada kita. Lebih-lebih anakanak mudanya. Aku tahu benar, bahwa mereka telah berjagajaga apabila ada sesuatu yang akan menimpa padukuhan ini Memang mungkin Sura Sapi mendendam dan mungkin pula Manguri mengambil sikap lain. tetapi percayalah, bahwa menghadapi sikap yang keras, kita tidak sendiri" Sindangsari menundukkan kepalanya. Tetapi apa yang dapat dilakukannya kalau tiba-tiba saja pada suatu malam seseorang atau segerombolan orang datang ke rumahnya dan memaksanya pergi bersama mereka. Namun demikian Sindangsari tidak mengatakannya. Yang dikatakan kepada Pamot adalah "Kakang Pamot. Kapankah kita dapat mengakhiri hubungan kita serupa ini?" "He" Pamot terkejut "maksudmu?" "Maksudku, apakah kita tidak ingin meningkatkan hubungan kita, sehingga kemungkinan-kemungkinan yang lain dapat kita perkecil" Pamot tidak segera menjawab. "Di rumahku tidak ada laki-laki lain kecuali kakek yang sudah tua. Sudah tentu kakek tidak akan dapat melindungi aku karena umurnya yang sudah lanjut. Apalagi di malam hari. Tetapi kalau persoalan kita menjadi sudah pasti, maka kemungkinan-kemungkinan itu akan menjadi berkurang. Mungkin Manguri juga akan kehilangan nafsunya lagi untuk mengganggu kita. "Maksudmu, kita segera kawin?" Sindangsari t idak menjawab. "Sari" suara Pamot menjadi dalam sekali "persoalan yang paling berat bagiku, aku sama sekali belum mempersiapkan diri menghadapinya. Aku belum punya apa-apa" "Meskipun belum sejauh itu kakang, tetapi setidak-tidaknya seperti yang dimaksudkan oleh Ki Demang dan Ki Jagabaya. Persoalan ini menjadi tegas. Aku merasa bahwa aku telah dipersalahkan, karena sikapku dapat menumbuhkan salah paham pada beberapa orang kawanku. Diantaranya kau dan Manguri. Tetapi kalau kau sudah bersikap tegas, maka kemungkinan itu tidak akan ada lagi" "Jadi maksudmu?" "Kau dan orang tuamu datang ke rumahku" "Melamar?" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Ia tidak berani memandang wajah Pamot. Namun di dalam dadanya bergeloralah harapan agar Pamot dapat mengerti maksudnya, dan tidak menjadi salah paham karenanya. Sejenak kemudian terdengar Pamot berkata perlahan-lahan "Sindangsari. Aku dapat mengerti kegelisahanmu. Kau pasti selalu berada dalam kegelisahan dan kecemasan. Kalau dengan demikian akan sedikit dapat memberimu ketenteraman, maka aku akan segera melakukannya. Dengan serta-merta Sindangsari mengangkat wajahnya Sepercik harapan memancar dari sorot matanya. Namun ketika tatapan mata mereka beradu. Sindangsari segera menundukkan kepalanya kembali. Namun terdengar ia berkata lirih "Aku akan sangat berterima kasih kepadamu kakang. Dengan demikian ikatan diantara kita menjadi resmi dan disaksikan oleh keluarga kita masing-masing dan beberapa orang tetua padukuhan ini" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah Sari. Tetapi kelanjutan dari lamaran itu harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Bukan karena aku ragu-ragu, tetapi aku ingin mempersiapkan diri lebih dahulu" "Tentu aku tidak berkeberatan kakang" "Permintaanmu itu akan segera aku penuhi. Aku akan segera menyampaikannya kepada ayah dan ibuku" Setitik air mata kegirangan meleleh di pipi Sindangsari Ia mengharap bahwa dengan demikian, hubungannya dengan anak muda itu menjadi semakin kukuh. Ketika untuk sejenak mereka saling berdiam diri sambil menundukkan kepalanya, beberapa orang anak-anak muda yang baru saja naik dari ladangnya berjalan ketepian. Tetapi mereka terhenti sejenak. Yang paling depan diantara mereka berbisik "He, jangan ganggu anak anak itu" Yang lainpun kemudian melangkah surut sambil tersenyumsenyum. Tetapi salah seorang dari mereka tergelincir. Meskipun ia tidak jatuh, tetapi beberapa buah kerikil yang tersentuh kakinya, terlempar masuk ke dalam air. Pamot dan Sindangsari terkejut karenanya. Ketika mereka berpaling, mereka melihat beberapa orang sedang berdri termangu-mangu di pinggir tanggul. Pamot segera berdiri sambil tersenyum. Seorang kawannya di atas tanggul berkata "Maaf Pamot. Kami sama sekali tidak ingin mengganggu. Tetapi anak ini tergelincir, sehingga melemparkan beberapa butir batu yang ternyata telah mengejutkan kau" "Ah kau" jawab Pamot "kemarilah, Bukankah kau akan membersihkan dirimu setelah kau berendam di kubangan" Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun kemudian merekapun melangkah turun perlahan-lahan. "Aku akan pulang saja kakang" desis Sindangsari kemudian. "Apakah kau sudah selesai dengan cucianmu ?" "Aku tidak mencuci hari ini" "Kenapa?" bertanya Pamot. Sindangsari tidak menjawab. "Marilah, aku antarkan kau pulang" Sindangsari menggeleng "Tidak usah. Aku berani pulang sendiri" "Tetapi..." "Itu kawan-kawanmu datang" Sindangsari t idak menunggu jawaban Pamot. Segera diambilnya bakul dan beberapa potong pakaiannya yang tidak jadi dicucinya. "He, apakah kami mengganggu?" bertanya salah seorang dari kawan-kawan Pamot yang baru datang. "Tidak" jawab Pamot. "Tetapi kemana Singansari itu?" Pamot tidak menjawab. Dipandanginya saja Sindangsari yang sudah mulai melangkah "Kemana kau Sari?" bertanya kawannya yang lain. "Aku akan pulang" "Kenapa? Apakah kami mengganggu?" "Tidak. Aku memang akan pulang. Ternyata matahari sudah terlampai tinggi. Kalian sudah naik" "Belum begitu tinggi. Kami baru akan makan pagi" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ia berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan tepian. "He, Sari. Ada yang ketinggalan" teriak salah seorang dari kawan-kawannya. Sindangsari tertegun. Ketika ia berpaling kawannya itu berkata "Telapak kakimu. "Uh" Sindangsari berdesah. "Yang lebih besar lagi adalah Pamot " sahut yang lain. Kawan-kawannya tertawa. Tetapi Sindagsari sudah tidak berpaling lagi. Meskipun demikian terasa langkah Sindangsari menjadi ringan. Ia kini mulai berpengharapan, bahwa segala sesutau akan menjadi kian baik nanti apabila Pamot telah datang ke rumahnya. "Tentu tidak nanti sore" Sindangsari berkata kepada diri sendiri "nanti sore Pamot baru mengatakannya kepada orang tuanya. Besok sore orang tuanya berunding, kemudian lusa orang tua Pamot menemui beberapa orang tua untuk pergi melamar" Sindangsari tersenyum sendiri "Sepekan lagi. Sepekan lagi orang tua Pamot akan melamar dengan resmi" Sepercik kegembiraan melonjak di dalam hati Sindangsari. Meskipun Pamot seorang anak muda yang sederhana, tetapi nampaknya ia mempunyai tanggung jawab yang besar. Berbeda dengan Sindangsari, maka sehari-harian Pamot labih banyak termenung sendiri. Ia sedang mereka-reka kalimat bagaimana ia akan menyampaikan hal itu kepada yahanya. "Ayah sudah tahu hubungan ini, sehingga ayah pasti tidak akan terkejut. Tetapi bahwa begitu mendesak, mungkin masih akan menjadi pertimbanganya" katanya di dalam hati "tetapi aku harus berusaha memenuhi permintaan Sindangsari secepatnya, supaya ia tidak menjadi kian gelisah. Dengan demikian betapapun beratnya, akhirnya Pamot mengatakannya pula kepada ayahnya, bahwa sebaiknya ayahnya segera melamar Sindangsari. Pamot menjadi heran, bahwa ayahnya sama sekali t idak memberikan kesan apapun. Bahkan sambil menganggukanggukkan kepalanya ia berkata "Baiklah Pamot. Aku akan segera membicarakannya dengan orang tua-tua" Sindangsarilah yang hampir tidak sabar lagi menunggu Setiap hari ia selalu menghitung waktu. Ia mengharap agar waktu yang sepekan itu segera berlalu, dan orang-orang tua yang menjadi utusan orang tua Pamot segera datang ke rumah ini. Tetapi yang terjadi adalah sebuah prahara yang tidak disangka-sangka, justru datang dari jurusan yang sama sekali tidak diduga. Sebelum orang tua Pamot datang melamar, maka datanglah dua orang utusan dari Kademangan, bahwa dalam waktu dua hari lagi, akan datang serombongan utusan yang lain dari Ki Demang Kepandak. "Apakah keperluan utusan-utusan itu?" bertanya ibu Sindangsari. "Aku tidak diperkenankan mendahului utusan itu. Yang boleh aku beritahukan, bahwa utusan-utusan itu akan membicarakan kemungkinan bagi puterimu yang barnama Sindangsari" Jawaban itu bagaikan petir yang meledak di atas kepala Sindangsari yang mendengar jawaban itu pula. Sejenak ia membeku, namun kemudian terasa kepalanya menjadi pening. "Tetapi apakah maksudnya membicarakan tentang anakku itu ?" "Baiklah, barangkali keluarga ini memang perlu menyiapkan diri untuk menerima utusan itu. Ki Demang ingin membicarakan kemungkinan, mengambil Sindangsari sebagai isterinya" Sindangsari t idak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba pandangan matanya menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja ia tidak mengerti, apa yang terjadi atas dirinya selanjutnya. Ketika seisi ramah menjadi bingung, maka utusan itupun minta diri, katanya "Kami tidak mau mengganggu. Mudahmudahan anak itu tidak apa-apa. Ia hanya sekedar terkejut. Mungkin ia tidak menyangka sama sekali, bahwa nasibnya akan menjadi begitu baik" Orang tua Sindangsari tidak sempat menjawab. Mereka sibuk dengan gadis yang pingsan itu. Ketika Sindangsari kemudian sadar, maka sehari-harian ia hanya dapat menangis saja. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa bencana yang paling dahsyat justru datang dari Ki Demang, bukan dari Manguri atau gerombolan Sura Sapi. "Sari" berkata kakeknya "sebaiknya kau jangan tergesagesa menjadi gelisah dan cemas. Utusan yang sebenarnya itu belum datang. Kalau mereka nanti datang, aku akan dapat menjelaskan, bahwa kau sudah berjanji untuk hidup bersamasama dengan seorang laki-laki" Sindangsari tidak menjawab, tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam. Apalagi ketika kakeknya berkata "Tetapi sayang, bahwa seandainya benar demikian, orang tua anak itu atau utusannya sampai saat ini masih belum datang untuk menyatakah maksudnya". Sindangsari masih tetap berdiam diri. Sekilas memercik penyesalannya, bahwa Pamot begitu lamban memenuhi permintaannya, sehingga orang-orang Kademangan itu telah datang mendahuluinya. "Tetapi masih ada waktu dua hari" berkata Sindangsari di dalam hatinya "kalau di dalam dua hari ini utusan itu datang, maka mereka telah mendahului Ki Demang" Sindangsari yang kebingungan itu, akhirnya berkata kepada kakeknya "Kakek, bagaimana kalau mereka datang sebelum utusan Ki Demang itu datang dua hari lagi?" "Siapa?" Terasa sangat berat untuk mengucapkannya. Namun di paksanya juga ia berkata "Orang tua Pamot. Kakeknya menarik nafas dalam-dalam "Aku tidak tabu sari. Apakah hal itu dapat dimengerti oleh Ki Demang. Mungkin mereka akan menyangka, bahwa itu hanya dalih saja yang dibuat-buat untuk menolak lamarannya" "Kakek" bertanya Sindangsari "apakah keberatannya kalau kakek memang menolaknya, meskipun tanpa dalih apapun" "Itulah Sari. Aku menjadi bingung" jawab kakeknya "tetapi aku akan berusaha. Berusaha sejauh-jauhnya. Aku tahu bahwa aku sama sekali tidak menghendaki untuk menjadi isteri Ki Demang. Akupun sebenarnya tidak" Titik-titik air mata telah mulai mengambang di mata gadis itu. Bahkan ibunya seakan-akan sudah kehilangan nalar, sehingga sama sekali ia tidak dapat lagi menyatakan pendapatnya. Yang ada di dalam dirinya justru penyesalan yang dalam "Seandainya aku bukan seorang janda. Seandainya aku tidak kembali ke rumah ini. Seandainya Sindangsari bukan seorang gadis. Seandainya dan seandainya. Tetapi semuanya bagaikan duri-duri yang menghunjam ke pusat jantungnya. Meskipun ia tidak menangis, namun dari matanya yang kering itu memancar kepahitan yang menggenangi dadanya. "Jangan menjadi bingung" berkata kakeknya "aku akan berusaha" Tetapi Sindangsari sama sekali tidak dapat menenangkan hatinya. Ketika dadanya seakan-akan menjadi retak, Sindangsari sudah t idak dapat menahan dirinya lagi. Diamdiam ia meninggalkan halaman rumahnya, menyelusur jalan padukuhan pergi ke rumah Pamot. Kedatangannya telah membuat orang tua Pamot terkejut. Di saat senja mulai kelam, gadis itu datang dengan wajah yang muram. Tetapi orang tua Pamot cukup bijaksana. Mereka tidak bertanya apapun kepada gadis itu. Dipersilahkannya ia masuk, kemudian orang tua Pamot membiarkan anaknya menemuinya. Agaknya memang ada sesuatu yang penting telah terjadi. "Kenapa kau datang kemari di saat-saat begini?" bertanya Pamot, yang baru saja selesai mandi, setelah bekerja di sawah sehari-harian. Pertanyaan itu telah membuat Sindangsari menyadari keadaannya. Sebagai seorang gadis, ia telah datang ke rumah Pamot diwaktu malam mulai turun. "Ibu tentu mencari aku" desisnya di dalam hati. Karena itu, maka katanya tiba-tiba "Aku akan pulang" "Sari" sahut Pamot "tetapi kau belum mengatakan sesuatu kepadaku" "Tidak. Kakek dan ibu pasti akan mencari aku" "Apakah kau tidak minta ijin kepada mereka?" "Tidak. Aku pergi dengan diam-diam" "Tetapi kau belum mengatakan maksudmu" "Aku akan pulang" "Sari" Sindangsari tidak menunggu labih lama lagi, iapun segera berdiri. Tetapi ketika ia meloncat dari tempatnya, tiba-tiba tangan Pamot telah menangkapnya. "Tunggu Sari" "Lepaskan, lepaskan. Aku akan pulang" "Tetapi kau belum mengatakan apa-apa" Sindangsari meronta. Ketika ia menghentakkan tangannya tangan itu terlepas dari pegangan Pamot. Segera ia berlari menuju ke pintu. Namun tiba-tiba ia tertegun ketika ia melanggar ayah Pamot yartg sudah berdiri di muka pintu ketika pintu itu didorongnya. "Angger Sindangsari" suara orang tua itu sareh "aku sadar, bahwa hati angger Sindangsari sedang diliputi oleh kegelapan" Sindangsari berdiri termangu-mangu. "Tenanglah. Memang sebaiknya angger Sindangsari pulang. Marilah, aku antarkan, tidak baik kau berjalan sendiri dalam gelap. Mungkin tidak seorangpun yang melihat. Tetapi kalau kau bertemu dengan Manguri atau orang-orangnya, mungkin kau akan dibawanya" Terasa bulu-bulu kuduk Sindangsari meremang. "Marilah aku antarkan" Sidangsari tidak menjawab. Tetapi ia berpaling. Dilihatnya Pamot berdiri di belakangnya. "Atau barangkali Pamot dapat juga mengantarkan kau ngger" Sepercik warna merah menjalar di wajah Sindangsari, sehingga kepalanya tertunduk karenanya. "Nah, terserah kepadamu. Siapakah yang akan mengantarkan kau pulang ngger. Tetapi sudah tentu tidak sendiri" Sindangsari menjadi semakin tunduk. Tidak ada keberaniannya untuk menjawab pertanyaan itu. Ayah Pamot menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya "Biarlah Pamot mengantarkan kau. Hati-hatilah di jalan" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ketika ayah Pamot menepi, gadis itu melangkahi pintu perlahan-lahan. "Aku minta diri" desisnya. "Baiklah" ayah Pamot berhenti sejenak, lalu "tetapi sebaiknya kau berusaha untuk mengurangi beban yang agaknya terlampau berat bagimu. Kau datang kemari, pasti dengan maksud tertentu, meskipun mungkin karena kegelapan hati" Sindangsari t idak menyahut. "Cobalah mengatakan ngger" berkata ayah Pamot kemudian, lalu "tetapi baiklah kau pulang" Sindangsari melangkah perlahan-lahan, penuh keraguraguan. Kepalanya masih menunduk, sedang hatinya seakanakan menjadi pepat. Namun ia mendengar kata-kata ayah Pamot itu "Kau datang kemari pasti dengan maksud tertentu, meskipun mungkin karena kegelapan hati" Dan Sindangsari mendengar orang tua itu berkata kepada Pamot "Antarkan angger Sindangsari sampai ke rumahnya. Serahkanlah ia kepada orang tuanya " "Baik ayah" "Pergilah, mumpung belum terlampau gelap" Sindangsari kemudian melangkah meninggalkan rumah itu diikuti oleh Pamot. Perlahan-lahan mereka melintasi halaman, kemudian menyelusur jalan padukuhan setelah mereka keluar dari regol. Keduanya masih belum berbicara apapun juga. Mereka berjalan beriringan, seperti mereka sedang berjalan di atas pematang yang sempit. Tetapi suasana yang kaku itu membuat dada Pamot menjadi tegang, sehingga akhirnya ia mempercepat langkahnya dan berjalan di sisi Sindangsari. "Sari" ia berdesis perlahan-lahan "apakah sebenarnya maksudmu datang ke rumah?" Sindangsari masih berjelan sambil menundukkan kepalanya. Bahkan langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. "Sudah tentu kau membuat seisi rumahku bertanya-tanya. Sikapmu dan kesan di wajahnya menunjukkan bahwa kau sedang diliputi oleh kegelapan hati" Sindangsari masih belum menjawab. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia berkata "Apakah kau marah, karena aku masih belum memenuhi janjiku, minta kepada orang-orang tua untuk datang melamarmu?" Sindangsari masih berdiamdiri. "Aku sudah membicarakan dengan ayah, ibu, kakek dan orang-orang tua. Mereka telah sepakat untuk datang besok ke rumahmu" Pemberitahuan itu membuat dada Sindangsari berdesir. Tetapi ia masih berjalan justru semakin cepat. Pamot menjadi bingung karenanya. Sekali-sekali ditatapnya jalan sempit yang membujur di keremangan malam. Di sebelah jalan itu terdapat sebuah kebun yang penuh dengan tanaman salak, ubi dan tanaman-tanaman lain yang merambat. Di sebelah yang lain adalah semak-semak liar yang tidak terpelihara sama sekali. Beberapa puluh langkah di hadapannya tampak sebuah lentera yang terpancang di regol halaman sebuah rumah yang sedang besarnya. Pamot yang tidak tahu apa yang harus dikatakan itu tibatiba berhenti, sehingga Sindangsari yang terkejut karenanya berhenti pula selangkah di depannya. Dengan penuh pertanyaan Sindangsari memandang wajah Pamot yang tidak begitu jelas disaput oleh hitam malam yang menjadi semakin lama semakin pekat. Tiba-tiba pula Pamot melangkah setapak surut sambil memandang lurus-lurus ke depan. Setapak lagi dan setapak lagi. "Kakang, ada apa?" Sindangsari mulai meremang. Tetapi Pamot tidak menjawab. Ia masih menatap lurus ke depan, kebayangan yang kelam di dekat gerumbul liar di hadapannya. "Kakang, kakang" Ketika Pamot mundur selangkah lagi, Sindangsari menjadi ketakutan. Tiba-tiba saja ia berlari dan berpegangan tangan Pamot erat-erat. "Ada apa kakang, ada apa?" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya "Tidak ada apa-apa?" "Tetapi?" "Aku kebingungan, bagaimana memaksamu berbicara. Kalau kau masih tetap diam aku akan meninggalkan kau berlari, atau aku akan berhenti disini sampai esok pagi" "O" tiba-tiba Sindangsari mencubit tangan, lengan dan punggung Pamot sejadi-jadinya "kau nakal sekali" "Sari, Sari" "Biar, biar kulitmu hangus. Kau menakut-nakuti aku" "Sari. Sari" Tetapi Sindangsari tidak mau berhenti, sehingga Pamot terpaksa melangkah surut. Semakin lama semakin menepi, sehingga akhirnya ia bersandar pada dinding batu di bawah rimbunnya dedaunan perdu yang tumbuh di pekarangan yang tidak terpelihara. "Sudahlah Sari, Sari" "Biar saja. Kau terlampau nakal" Karena Sindangsari tidak mau berhenti juga, maka tiba-tiba tangan Pamot menangkap kedua pergelangan tangan Sindangsari. Mula-mula Sindangsari meronta juga, namun kemudian ia tidak melawan ketika Pamot menarik tangannya sehingga tubuhnya menjadi semakin dekat. "Sudahlah Sari" terdengar kemudian suara Pamot sareh "Sebenarnya aku hanya ingin tahu, apakah yang membuat kau menjadi bingung?" Sindangsari terdiam sejenak. Meskipun tidak tampak jelas olehnya, tetapi Sindangsari merasa, bahwa Pamot sedang menatapnya. Sejenak, dada gadis itu bergelora. Kecemasan, kebingungan dan segala macam perasaannya tiba-tiba saja terungkat. Terbayang wajah Ki Demang yang sudah tidak muda lagi, meskipun belum tua juga. Kemudian sekilas lewat bayangan Manguri yang terseyum-senyum menghina. "Katakan Sari" desis Pamot. Suara itu telah mendorong semua perasaannya yang telah tertahan di dadanya. Dan tiba-tiba pula Sindangsari menjatuhkan kepalanya di dada Pamot sambil menangis. "Sari" desis Pamot "jangan menangis disini. Kalau nanti ada orang yang lewat di jalan ini, ia akan menyangka lain" "Biar, biar aku menangis" sahut Sindangsari "aku akan berteriak-teriak" "Jangan Sari" "Aku ingin melepaskan sakit di dadaku. "Katakan, katakan saja. Kau tidak perlu berteriak-teriak Kalau aku dapat membantumu Sari, aku akan mencoba membantumu" Sindangsari t idak segera menjawab. "Katakan" desis Pamot. Sindangsari mencoba menahan isaknya. Kemudian dengan terputus-putus diceriterakannya kedatangan kedua utusan Ki Demang, memberitahukan bahwa dua hari lagi, akan datang serombongan utusan yang lain untuk melamarnya. Cerita. Sindangsari itu terdengar bagaikan ledakan guruh yang dahsyat di telinga Pamot Sejenak ia berdiam diri. Namun terasa oleh Sindangsari, dada anak muda itu bagaikan akan meledak. Betapa Pamot mencoba menahan nafasnya yang terengahengah. Sedang giginya menjadi terkatub rapat-rapat. Kedua anak-anak muda itu kembali saling berdiam diri. Mereka telah dicengkam oleh sebuah angan-angan yang mendebarkan jantung. Dalam ketegangan perasaan itu kemudian terdengar Pamot berkata "Besok orang tua-tua akan melamarmu" Sindangsari mengangkat wajahnya. Diusapnya air matanya dengan ujung bajunya. Katanya "Apakah hal itu tidak dianggap sebagai suatu permainan, justru setelah kedua utusan Ki Demang itu datang" "Aku tidak peduli. Aku memang sudah mempersiapkannya. Apapun yang akan terjadi atasku, aku tidak akan menghiraukannya lagi" Nafas Pamot menjadi semakin cepat mengalir "Sari, katakan kepada orang tuamu, kepada kakekmu, bahwa besok kami akan datang" Sindangsari mengangguk perlahan-lahan. "Aku tidak menyangka bahwa masalahnya akan menjadi terlampau rumit. Ki Demang sama sekali tidak memberikan perlindungan kepada kita, tetapi justru ia sendiri telah melibatkan dirinya secara langsung" Sekali lagi Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya, "Itulah yang tadi akan kau katakan?" "Ya Kakang. Hatiku tidak dapat menampungnya. Aku menjadi bingung sekali, sehingga aku pergi begitu saja dari rumah" Pamot mengangguk-anggukkan pula "Jadi kau tadi t idak minta ijin?" Sindangsari menggeleng. "Marilah aku antar kau pulang, sebelum kakekmu mencarimu kemana-mana" Sindangsari kemudian mengusap air matanya pula sambil melangkah surut. Tiba-tiba ia telah kehilangan perasaan malunya. Ia merasa tenang berada di dekat anak muda itu, seakan-akan ia dapat berlindung padanya dari segala bahaya yang akan menerkamnya. Keduanyapun kemudian meneruskan langkah mereka pulang ke rumah Sindangsari. Berbagai macam perasaan telah berkecamuk di dalamdada kedua anak-anak muda itu. "Sari" berkata Pamot ketika mereka menjadi semakin dekat dengan rumah Sindangsari "aku sudah bertekad untuk melamarmu" Sindangsari menundukkan kepalanya. Tetapi kepala itu kemudian mengangguk. "Bagiku, Sari, kini lebih terasa bahwa kau telah menjadi bagian dari hidupku" Sekali lagi Sindangsari mengangguk. Namun Pamot kemudian terdiam. Ia tidak dapat mengucapkan kata-kata yang lain lagi. Ingin agaknya ia mengucapkan seribu macam janji, sumpah dan apalagi. Tetapi mulutnya serasa tidak lagi dapat mengucapkannya. Bahkan merayupun ia sudah tidak mampu lagi selagi mereka dihantui oleh badai yang dapat menumbangkan cinta yang lagi bersemi di dalam hati masingmasing. Malampun menjadi kian sepi. Meskipun sudah dinyalakan di regol-regol, tetapi rasa-rasanya malam menjadi terlampau gelap, seperti hati kedua anak-anak muda itu. Ketika mereka berbelok di tikungan, maka mereka sudah melihat obor minyak jarak di muka regol rumah Sindangsari Nyalanya yang terayun-ayun dibelai angin melontarkan warna yang kemerah-merahan. "Aku akan pulang sendiri" desis Sindangsari. "Tidak. Aku akan menyerahkan kau kepada orang tuamu" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi ia tidak menolak ketika Pamotpun kemudian berbelok memasuki regol rumahnya. Perlahan-lahan Sindangsari mengetuk pintu rumahnya. Dan dari dalamnya terdengar suara ibunya "Siapa?" "Aku bu" "Sindangsari?" "Ya" Yang terdengar kemudian adalah langkah tergesa-gesa ke pintu depan. Kemudian terdengar pintu itu terdorong ke samping. "Sari, darimana kau?" Sindangsari tidak segera menjawab, tetapi ia berpaling kepada Pamot. "Kau tidak sendiri?" Sindangsari menggelengkan kepalanya. "Dengan siapa?" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi yang terdengar adalah jawaban Pamot "Aku bu. Pamot" "O, marilah. Masuklah" "Terima kasih. Aku hanya mengantarkan Sindangsari. Kemudian aku minta diri" "Apakah anak ini pergi ke rumahmu?" Pamot menjadi ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia menganggukkan kepalanya "Ya ibu" Ibunya memandang Sindangsari dengan tajamnya. Namun kemudian ia berdesis "Kakekmu mencari kau. Tetapi kakekmupun sudah menduga bahwa kau pergi ke rumah Pamot" Kedua anak-anak muda itu sama sekali t idak menyahut. Keduanya kini menunduk dalam-dalam. "Marilah, silahkan masuk. Apakah kau akan menunggu kakek Sari? Ternyata Pamot dapat menanggapi pertanyaan itu. Jawabnya "Terima kasih. Aku minta diri, hari sudah terlampau malam" "Baiklah. Terima kasih" Pamot membungkuk sambil berkata "Lain kali aku akan berkunjung" Pamotpun kemudian meninggalkan rumah itu. Sebelum sampai di regol ia berpaling. Ia masihmelihat ibu Sindangsari menarik gadis itu masuk ke rumahnya, dan pintupun segera tertutup. "Kau pergi di malam hari begini Sari?" desis ibunya "Ingat, kau adalah seorang gadis" Sindangsari menjadi semakin tunduk. "Bagaimanapun juga, kau harus dapat menahan dirimu" Sindangsari masih tetap berdiam diri. "Kau dengar Sari. Tahankanlah perasaanmu sedikit. Jangan terlampau dicengkam oleh kebingungan, sehingga kau sudah berbuat di luar kesadaran seorang gadis. Bagaimana kalau ada seseorang yang melihat kau pergi ke rumah Pamot di malam begini?" Sindangsari tetap mematung "Ingat, ingat Sari. Kau mengerti ?" Perlahan-lahan kepala gadis itu terangguk lemah. "Aku tahu bahwa hatimu sedang pepat. Tetapi kau tidak sebaiknya pergi ke rumah anak muda itu. Apalagi di malam hari begini" "Belum terlampau malam ibu" suara Sindangsari lirih "ketika aku pergi, aku masih melihat cahaya matahari yang kemerah-merahan" "Tentu tidak. Aku masih menyapu halaman senja tadi" Sindangsari tidak menjawab lagi. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Sedang di matanya mulai mengambang air matanya yang jernih. Ketika ibunya masih akan memarahinya lagi, terdengar pintu bergerit. "Ha, kau sudah kembali Sari" kata kakeknya yang kemudian muncul dari balik daun pintu "aku mencarimu ke rumah Pamot Ayahnya mengatakan bahwa kau sudah pulang, diantar oleh Pamot sendiri" Kepala Sindangsari terangguk kecil. "Sudahlah, pergilah ke belakang. Tetapi ingat, jangan kau ulangi. Kau mengerti? Aku mendengar sedikit pesan ibumu" "Ya kakek" "Nah, ambilkan kakek air panas. Kakek akan minum" Sindangsari kemudian pergi ke belakang. Ibunya memandanginya sampai gadis itu hilang di pintu dalam. Ia berpaling ketika ia mendengar ayahnya, kakek Sindangsari itu berdesah. "Aku mengikutinya" desisnya. Nyai Wiratapa, ibu Sindangsari itu, mengerutkan keningnya. Kemudian iapun bertanya "Apakah ayah mengikutinya dari rumah Pamot ?" "Ya, ketika aku sampai di sana, anak-anak itu baru saja pergi. Kemudian akupun menyusulnya" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kurang baik di malam-malam begini berdua saja di jalanjalan yang gelap" "Tetapi hampir setiap orang di padukuhan ini sudah mengetahui hubungan anakmu dengan Pamot. Justru karena bermacam-macam masalah yang menyertainya, tetanggatetangga kita menaruh perhatian terhadap masalah ini. Mereka pada umumnya bersikap baik dan mengerti apa yang teriah terjadi" "Memang ayah, mungkin tetangga-tetangga tidak akan mengatakan apa-apa karena mereka menaruh iba dan welas kepada anak-anak itu. Tetapi bahaya itu dapat datang dari diri mereka sendiri" Kakek Sindangsari itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil. "Apalagi Sindangsari baru dilanda oleh kecemasan melihat hari depannya yang suram terlebih-lebih lagi setelah datang kedua utusan dari Kademangan. Kakek Sindangsari masih tidak menjawab. "Bukankah begitu?" "Ya, ya" kakeknya mengangguk-angguk lagi. Kakek Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Memang hal itu dapat terjadi. Tetapi kau jangan terlampau menyalahkan anakmu dan Pamot. Kadang-kadang mereka didorong oleh keadaan sehingga mereka, terutama seorang gadis, memerlukan tempat untuk melepaskan pepat di dalam dadanya" "Tentu hal itu aku tidak berkeberatan. Tetapi lebih dari pada itu. Di dalam gelap yang sepi, iblis berkeliaran untuk mencari korbannya" "Wiratapa" berkata. kakek Sindangsari "memang apa yang kau katakan itu dapat terjadi" "Ayah" "Kadang-kadang seseorang tidak lagi dapat menguasai perasaanya yang terlampau meledak-ledak oleh tekanan keadaan yang beruntun" "Maksud ayah, apa yang aku cemaskan atas Sindangsari itu sudah terjadi?" "Tentu tidak terlampau jauh. Memang menurut adat kita, keduanya sudah melakukan perbuatan yang melampaui batas pergaulan yang dibenarkan bagi anak anak muda yang belum diikat dalam suatu perkawinan. Tetapi sudah aku katakan, tidak terlampau jauh, supaya kau tidak menjadi pingsan" orang tua itu berhenti sejenak "namun meskipun aku melihat, aku tidak dapat mencegahnya. Keduanya melakukannya dengan jujur didorong oleh perasaan yang tidak terkendali lagi" Nyai Wiratapa menundukkan kepalanya. Meskipun demikian ia berkata "Aku mengerti apa yang ayah maksudkan. Tetapi sudah tentu hal itu tidak boleh terulang lagi. Mereka sudah berada di bibir tangga yang terakhir untuk melakukan dosa yang lebih besar lagi" "Tentu, tentu. Memang hal itu t idak boleh terulang lagi. Tetapi kita yang tua-tua inipun harus mengerti, bahwa pada suatu saat kita akan dapat membedakan, sikap-sikap yang jujur dan bersih, dengan sekedar pelepasan nafsu yang rendah di lingkungan anak-anak kita seperti kita pernah menyaksikannya" Nyai Wiratapa tidak menjawab karena didengarnya desir langkah Sindangsari yang membawa semangkuk air panas. "Apakah ibu juga?" ia bertanya. Ibunya menggelengkan kepalanya "Tidak. Aku tidak usah" "Sekarang, setelah mencuci kakimu, tidurlah. Kau harus menenangkan hatimu" berkata kakeknya. Sindangsari menganggukkan kepalanya. Kemudian setelah membersihkan dirinya ia pergi ke biliknya. Namun ia sama sekali t idak dapat segera memejamkan matanya. Sindangsari menahan nafasnya ketika ia melihat seseorang masuk ke dalam biliknya. "Nenek" ia berdesis. Perlahan-lahan neneknya mendekatinya. Kemudian duduk di pembaringannya pula. Sambil membelai rambut cucunya ia bertanya "Kau belum makan Sari? Sindangsari menggeleng "Aku tidak lapar, nek" "Tetapi kau akan dapat menjadi semakin lemah. Akhir-akhir ini kau tampaknya tidak ada selera makan sama sekali" Sindangsari t idak menyahut. "Apakah kau gelisah?" Sindangsari masih tetap diamsaja. "Sari" berkata neneknya "memang kadang-kadang hidup ini terasa terlampau sulit. Seolah-olah memang sudah disediakan jalan yang harus kita lewati. Jalan itu mungkin lurus dan licin, tetapi kadang-kadang sempit, licin dan berbatu-batu tajam. Sindangsari masih juga diam. "Aku dahulu Sari" berkata neneknya kemudian "seperti juga ibunya, sama sekali belum pernah melihat dan mengenal bakal suami kami. Melihat mungkin pernah, tetapi sekedar bentuk lahiriahnya saja. Tetapi nenek menerimanya dengan ikhlas" Terasa dada Sindangsari menjadi semakin Berdebar-debar. "Yang penting Sari, kita akan berusaha. Tetapi Apabila usaha ini gagal, maka kau harus menerima sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari lagi" "Maksud nenek?" tiba-tiba Sindangsari bangkit. "Tenanglah. Nenek hanya mencoba menenteramkan hatimu. Kalau kita memang harus melampaui jalan yang terjal, licin dan berbatu-batu tajam maka kita jangan kehilangan akal. Kita akan melaluinya dengan hati terbuka, dengan ikhlas. "O?" Sindangsari membant ing dirinya di pembaringannya. Tetapi tidak menjawab sama sekali. Namun demikian ia menyadari sepenuhnya, bahwa sudah menjadi keharusan bagi setiap gadis untuk menerima bakal suaminya begitu saja tanpa mempersoalkannya pabila memang dikehendaki oleh orang tuanya. Tetapi selama ini orang tuanya tidak mencegahnya berhubungan dengan Pamot. Orang tuanya dan kakek serta neneknya tampaknya sama sekali tidak berkeberatan atas kelangsungan hubungan itu untuk seterusnya. Tetapi Sindangsaripun sadar, bahwa di Kademangan ini tidak ada orang lain yang lebih berkuasa darr Ki Demang. Kalau Ki Demang memang menghendaki demikian, maka ia akan menjadi korban yang tidak akan dapat mengelak lagi. "Alangkah pahitnya" tiba-tiba kerongkongannya serasa menjadi panas. Tetapi Sindangsari menahan dirinya untuk tidak menangis di hadapan neneknya. "Tidurlah Sari" neneknya membelai rambutnya kembali. Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Besok kau bangun dengan tubuh yang segar" Sekali lagi Sindangsari menganggukkan kepalanya. Perlahan-lahan neneknyapun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkannya di pembaringan. Namun begitu neneknya hilang di balik pintu, maka meledaklah tangisnya yang tertahan-tahan. "Apakah aku harus menerima nasib yang terlampai pedih ini dengan ikhlas?" pertanyaan itu telah berulang kali mengetuk dinding jantungnya. Tetapi Sindangsari masih mempunyai satu harapan seperti yang dikatakan oleh kakeknya. Kakeknya akan berkata kepada utusan Ki Demang, bahwa Sindangsari telah berhubungan pembicaraan dan bahkan berjanji untuk hidup bersama seorang laki-laki yang dipilihnya sendiri" Meskipun demikian, Sindangsari tidak juga segera dapat memejamkan matanya sampai jauh melampaui tengah malam Namun akhirnya, gadis yang sedang gelisah dan cemas itupun jatuh tertidur pula. Tetapi sebelum fajar, iapun sudah tergagap bangun, ketika ia diterkam oleh suatu mimpi yang menakutkan. Seolah-olah tampak olehnya sebuah nyala api yang besar yang mengepulkan asap yang hitam tebal. Asap itu semakin lama semakin tebal membumbung tinggi sampai menyentuh langit. Tetapi tiba-tiba seolah-Olah tumbuh sepasang tangan yang hitam dan mengerikan dari kepulan asap itu. Tangan, yang dahsyat itu telah menyambarnya dengan serta-merta tanpa seorangpun yang dapat mencegahnya. Perlahan-lahan Sindangsari bangkit dan duduk di pembaringannya. Mimpi itu benar-benar mengerikan. Dan ia mencoba menghubungkannya dengan jalan hidup yang telah menganga di hadapannya. "O, apakah aku tidak akan dapat menghindar lagi ?" setit ik air matanya jatuh di pangkuannya. Meskipun kemudian ia merebahkan dirinya pula, tetapi sampai kokok ayam jantan yang terakhir kalinya, ia sama sekali t idak dapat lagi tertidur. Sehari-harian berikutnya Sindangsari maIH tetap saja gelisah Ia mengharap matahari berjalan lebih cepat lagi. Malam nanti, akan datang beberapa orang tamu yang akan membawa lamaran Pamot untuknya. Meskipun kakeknya agak ragu-ragu, tetapi kakeknya tidak menolak utusan itu. Katanya "Baiklah, aku akan menerimanya meskipun Ki Demang akan dapat menuduh apa saja yang dikehendakinya. Karena utusan itu datang justru setelah Ki Demang memberitahukan bahwa iapun akan mengirimkan utusan pula untuk melamar. Demikianlah di sore harinya, lewat senja, beberapp orang tua-tua telah datang beserta orang tua Pamot untuk menyampaikan lamaran. Mereka dengan segala macam tata cara, telah minta untuk ikut serta mengaku anak atas Sindangsari, serta apabila t idak berkeberatan akan dijodohkannya dengan Pamot. Memang sulit sekali bagi kakek Sindangsari yang mewakili ayahnya, untuk memberikan jawaban. Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat berdiam diri saja. Karena itu, maka seperti yang sudah dipersiapkannya setelah berpikir masak-masak, maka orang tua itupun mengatakan dengan berterus terang, apa yang sebenarnya telah terjadi. "Kami t idak menolak" katanya "apalagi kami, orang tua-tua ini mengetahui bahwa kedua anak-anak muda itu agaknya sudah mempertautkan hati masing-masing. Tetapi kami masih harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi karena utusan Ki Demang itu" Jawaban itu telah membuat orang tua Pamot menjadi cemas, bahwa akhirnya mereka tidak akan dapat berbuat lain kecuali menyaksikan gadis itu diambil oleh Ki Demang, ikhlas atau tidak ikhlas. Tetapi merekapun menyadari kesulitan yang dihadapi oleh orang tua dan kakek Sindangsari. Kalau besok mereka berhasil memberi penjelasan kepada utusan Ki Demang, dan penjelasan itu diterima, maka mereka masih mempunyai harapan untuk meneruskan pembicaraan mereka dihari-hari kemudian. Tetapai kalau Ki Demang menghendaki Sindangsari tanpa dapat dielakkan, maka mereka pasti t idak akan dapat menemukan jalan lain daripada menerima hal itu sebagai suatu kenyataan. Karena itu, maka orang tua Pamotpun tidak dapat mendesakkan pembicaraan itu. Mereka menyadari kekuasaan yang seakan-akan tidak terbatas di Kademangan Kepandak. Selain daripada itu, mereka mengetahui, bahwa Ki Demang adalah seorang yang luar biasa. Kemampuannya dalam olah kanuragan dan kekerasan hatinya yang tiada batasnya. Apalagi kedudukannya yang memungkinkannya untuk melakukan t indakan yang mendasarkan kepada kekuasaannya untuk kepentingan apapun. Dengan demikian, maka orang tua Pamot itupun kemudian hanya dapat menunggu Pada saatnya kakek Sindangsarilah yang akan datang kepada mereka, menyampaikan persoalan itu, setelah utusan Ki Demang datang besok malam. Sindangsari yang mendengarkan pembicaraan itu dari balik dinding akhirnya menjadi kecewa. Meskipun ia tahu, bahwa tidak akan dapat membicarakan persoalannya lebih dari itu, tetapi ia kini menjadi kian terombang-ambing oleh kegelisahan yang semakin mencengkamnya. Sehari semalam ia menunggu. Dan kini ia masih harus menunggu lagi sehari semalam, apakah yang akan dibicarakan oleh kakeknya dengan utusan Ki Demang besok Bahkan harapan untuk dapat lolos rasa-rasanya menjadi semakin kecil. Sindangsari kini sudah mulai merasa seperti seekor burung di dalam sangkar. Betapa indahnya sangkar itu, dan betapa ia tidak kekurangan makan dan minum, namun sangkar emas itu tidak akan lebih baik dari sebuah kungkungan yang membatasi kebebasannya. Demikianlah Sindangsari harus menunggu lagi di dalam kegelisahan. Sehari-harian, ia tidak banyak berbicara. Matanya tampak bendul dan kemerah-merahan. "Semalam ia pasti tidak tidur, dan bahkan menangis terusmenerus" gumam ibunya. Neneknya menganggukkan kepalanya "Ia selalu gelisah, Ketika aku menengoknya, lewat tengah malam, anak itu menelungkup. Tetapi ia tidak tidur" "Kasihan" desis ibunya "ia sudah tidak berayah dan sekarang pada umurnya yang masih terlampau muda, ia harus menanggung keruwetan hidup yang pasti terasa sangat berat baginya" Neneknya mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja Sindangsari yang sedang membersihkan halaman depan. Tetapi gadis itu tidak dapat melakukannya selincah biasanya. Kini kadang-kadang ia berhenti. Kemudian merenungi dedaunan yang hijau di kejauhan. Beberapa lama ia berbuat demikian. Apabila kemudian ia sadar, maka diteruskannya kerjanya. Ibunya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Kakeknya yang sedang mengemasi alat-alat yang akan dibawanya ke sawah tertegun pula melihat Sindangsari yang muram. Di dekatinya isterinya sambil berbisik "Suruh ia bekerja di dalam. Ia sangat payah lahir dan batin" Nenek Sindangsari mengangguk-anggukkan lagi "Baiklah" jawabnya. Maka kemudian sepeninggal kakeknya, nenek Sindangsari itu menghampirinya. Katanya "Sudahlah Sari, tinggalkan kerja ini. Biarlah aku atau ibumu yang melakukannya. Sebaiknya kau beristirahat saja. Kau tampak terlampau letih. Tetapi Sindangsari menggelengkan kepalanya "Tidak nenek. Aku tidak lelah" "Kau kurang tidur, kurang makan dan kurang beristirahat. Bukan saja tubuhmu, tetapi juga perasaanmu" berkata neneknya "aku dapat menebak apa yang sedang bergolak di dadamu. Karena itu, beristirahatlah. Kalau kau tidak mau, maka lakukanlah pekerjaan yang lebih ringan di dapur Begitu?" Sejenak Sindangsari justru diam mematung mendengar bujukan neneknya itu. Tetapi ia tidak dapat mengelak lagi ketika ibunya datang mendekatinya, dan tanpa mengatakan sesuatu anaknya dibimbingnya masuk sambil berkata "Letakkan sapu itu Sari. Biarlah orang lain yang melakukannya" Sindangsari t idak menjawab. Tetapi ia berjalan saja mengikut i langkah ibunya. "Duduk sajalah" berkata ibunya setelah mereka berada di dalam rumahnya "atau barangkali labih baik kalau kau dapat tidur meskipun hanya sejenak" Sindangsari memandang ibunya sejenak, namun kemudian ia menggeleng "Aku tidak akan t idur bu" "Kalau tidak, berbaringlah. Barangkali akan membuat kau agak menjadi segar" Sindangsari t idak menjawab, karena ibunya segera meninggalkannya. Sejenak gadis itu masih saja duduk di tempatnya. Dipandanginya isi rumahnya satu demi satu. Namun akhirnya, ia sampai kepada dirinya sendiri yang rasa-rasanya berada di ujung senja yang menjelang kelam. "Sore nanti mereka akan datang" desisnya kepada diri sendiri. Betapapun juga, akhirnya mataharipun semakin lama menjadi semakin rendah. Berbeda dengan hari sebelumnya. Sindangsari menunggu senja dengan hati yang berdebardebar penuh harapan. Tetapi hari ini ia menunggu senja dengan kecemasan yang mencengkam. Namun saat itupun datang. Ketika ujung malam meraba padukuhan Gemulung, datanglah beberapa orang memasuki halamah rumah Sindangsari. Beberapa orang tua-tua, beberapa orang lagi membawa sanggan, setangkap pisang, beberapa potong pakaian dan upacara yang lain, kemudian di belakang mereka beberapa orang mengusung tiga buah jodang berisi makanan dan pakaian. Kedatangan mereka benar-benar telah mengejutkan seisi rumah. Bukan saja seisi rumah, tetapi setiap orang yang menyaksikan kedatangan utusan itu. Meskipun orang tua dan beberapa orang tetangga Sindangsari telah mendengar, bahwa malam itu utusan Ki Demang akan datang melamar, tetapi mereka tidak menyangka bahwa tamu itu akan membawa berbagai macam barang dan makanan. Sejenak kakek Sindangsari berdiri termangu-mangu di depan rumahnya melihat kehadiran utusan itu, sehingga ia terperanjat ketika seorang yang masih agak muda, yang berdiri di paling depan, membungkukkan kepalanya dalamdalam. "O, kau anakmas "kakek Sindangsari menyapanya dengan jantung yang berdebaran "marilah, marilah. Silahkan masuk. Tetapi, tetapi aku tidak menyangka, bahwa aku akan kedatangan tamu sebanyak ini, sehingga aku sama sekali tidak menyediakan tempat selayaknya" Orang yang berdiri di paling ujung itu tersenyum "Tidak apa paman. Biarlah sebagian dari kami berada di luar" "Tidak. Tidak Aku persilahkan kalian semuanya masuk, meskipun kalian akan duduk berdesak-desakan" "Terima kasih" jawab orang itu, yang menjadi pimpinan utusan Ki Demang. Orang itu adalah Ki Reksatani. adik Ki Demang di Kepandak. Kedatangan utusan itu benar-benar telah menarik perhatian hampir setiap orang di Gemulung. Meskipun hari telah mulai gelap, namun beberapa orang telah memerlukan dengan tergesa-gesa pergi ke seputar rumah Sindangsari. Meskipun mereka tidak menyaksikan iring-iringan itu berjalan, tetapi mereka masih dapat melihat beberapa orang yang masih berdiri di halaman. Baru sejenak kemudian mereka memasuki rumah Sindangsari yang tidak begitu besar sambil membawa semua barang-barang yang akan mereka serahkan kepada orang tua Sindangsari. "Bukan main" desis seorang perempuan setengah umur "agaknya nDaru sebulat rembulan penuh telah jatuh keatas rumah ini" "Jangan iri. Kalau kau mempunyai anak secantik Sindangsari, maka mungkin kau akan menjadi mertua Ki Demang di Kepandak" Perempuan setengah tua itu mengerutkan keningnya. Katanya "Ya. Aku ingin mempunyai anak yang cantik" "Tetapi kau terlambat" "Siapa tahu, isteri Ki Demang yang inipun akan dicerainya pula" Lawannya berbicara mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut. Yang didengar adalah desis seorang laki-laki di sebelahnya "Lalu, bagaimana dengan Pamot? Bukankah kemarin orang tuanya datang juga untuk melamar?" "Kasihan" jawab orang yang berdiri di sebelahnya "mereka hanya datang orang-orang saja" "Maksudmu?" "Mereka tidak membawa sanggan. Tidak membawa setangkep pisang dan sepengadeg pakaian. Belum lagi terhitung tiga buah jodang" Tetapi mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga dari semuanya itu" sahut seorang anak muda yang berdiri di belakangnya. "Apa?" bertanya orang yang pertama. "Tanggapan cinta Sindangsari. Mereka membawa hati Pamot. Dan itu bagi seorang gadis adalah harta yang paling berharga bagi hidupnya" Orang-orang tua itu mengerutkan keningnya. Meskipun mereka tidak menjadi langsung, namun salah seorang dari mereka berkata "Omong kosong. Anak-anak muda sekarang terlampau banyak bersikap aneh. Mana ada cinta yang dikatakan lebih berharga dari semuanya itu. Orang tidak akan dapat hidup hanya dengan cinta. Tetapi kita perlu makan, sandang dan memelihara anak-anak kita kelak. Hanya orangorang tua yang bodoh sajalah yang menolak lamaran ini, meskipun seandainya ada kemungkinan untuk dicerai seperti isteri-isteri yarig lain. Tetapi selama itu, keluarga ini sudah dapat memanfaatkan keadaan. Setidak-tidaknya memperbaiki rumah yang sederhana ini menjadi rumah joglo yang besar" Anak muda yang berdiri di belakangnya itu mengerutkan keningnya. Kemudian iapun berdesis "Kasihan" "Apa yang kasihan" "Anak-anak yang disewakan untuk memperbaiki rumah joglo" "Hus" Orang tua itu tiba-tiba menjadi marah. Tetapi ketika ia memutar tubuhnya, anak muda itu sudah pergi. "Nah, kau dengar" berkata orang tua itu kepada orang yang berdiri di sampingnya "begitulah anak-anak muda yang tidak tahu adat. Ia sudah berani menentang pendapat orangorang tua. Bahkan menyindir dengan kata-kata yang kasar. Kalau saja ia tidak pergi, aku ajari ia bersikap sopan" Orang yang berdiri di sampingnya tidak menjawab. Karena orang yang berdiri di sampingnya tidak menjawab maka orang tua itupun terdiam. Namun sekarang mereka sudah tidak dapat melihat seorangpun lagi di halaman. Semua orang sudah masuk ke dalam ruangan yang tidak terlampau luas. Tiga buah jodang itupun telah dibawa masuk pula dan diletakkan di tengahtengah ruangan di samping sebuah amben bambu yang besar. "Silahkan, silahkan" kakek Sindangsari sibuk mempersilahkan tamunya yang kemudian duduk berdesakdesakan di amben itu pula. "Aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat menyediakan tempat yang wajar" "Sudahlah jangan terlampau repot. Apa yang ada ini sudah terlampau baik buat kami. Bukankah kami hanya akan duduk disini sebentar saja?" "Tentu tidak hanya sebentar" "Kalian tidak usah ribut-ribut. Kalian t idak usah memikirkan apa yang akan kalian suguhkan kepada kami. Kami sudah membawa sendiri. Makanan di dalam jodang itu adalah oleholeh yang sengaja kami bawa, agar kalian disini tidak bingung, dengan apa kalian akan menjamu kami" "Terima kasih" jawab kakek Sindangsari "terima kasih sekali" "Ambillah isi jodang itu. Itu tidak termasuk dalam kelengkapan upacara yang kami bawa di atas nampan ini" "Terima kasih" tetapi orang tua itu tidak segera beranjak dari tempatnya untuk mengambil sebagian dari isi jodang itu. "Ambillah, kenapa kau ragu-ragu" "Tidak, aku tidak ragu-ragu, Tetapi biarlah nanti saja aku ambil" Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian iapun tersenyum "Baiklah. Mungkin kau agak segan melakukannya. Tetapi sebenarnya kau tidak perlu segan. Semuanya ini adalah pertanda hubungan yang akan kami buka untuk seterusnya" "Terima kasih" Ki Reksatani menganggung-anggukkan kepalanya. Kakek Sindangsari kini malahan duduk pula di amben besar itu. Sementara ibu dan nenek Sindangsari sibuk di dapur merebus air. Dengan penuh hormat orang tua itu kemudian mengucapkan kata-kata kebiasaan bagi tamu-tamu yang dihormati. Selamat datang, kemudian bertanya-tanya tentang keselamatan masing-masing. "Kami bergembira sekali dapat berkunjung ke rumah ini" berkata Ki Reksatani. "Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa rumah ini akan mendapat kehormatan kunjungan utusan Ki Demang yang sedemikian lengkapnya" sahut kakek Sindangsari. Ki Reksatani tertawa "Kami hanyalah sekedar menjadi utusan. Ki Demang sendirilah yang menyiapkan semuanya ini" Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan matanya beredar dari satu nampan ke nampan yang lain. Dari jodang yang satu ke jodang yang lain. Adalah di luar mimpinya sekalipun bahwa Ki Demang akan mengirim sekian banyak macam barang dan makanan kepadanya. Di luar beberapa orang masih saja berdiri di kegelapan. Mereka masih juga mempercakapkan keluarga kecil itu. Ada yang menganggap kehadiran utusan itu sebagai suatu kurnia. Tetapi ada juga yang menjadi iba dan belas kasihan, karena mereka sudah mengerti sebelumnya hubungan Sindangsari dengan Pamot. "Tidak ada orang yang akan dapat menyainginya" desis seseorang "beberapa buah nampan penuh dengan peningset dan tiga buah jodang" "Terlampau tergesa-gesa" sahut yang lain "lamaran itu baru diajukan sekarang. Tetapi mereka sudah membawa peningset sekaligus. Bagaimana kalau lamaran itu ditolak" "Tidak mungkin. Siapakah yang dapat memberikan peningset selengkap itu?" "Satu-satunya orang adalah Manguri" Kawannya berbicara itupun menarik nafas dalam-dalam. Memang Manguri akan dapat memberikan sebanyak yang dibawa oleh utusan Ki Demang itu. Tetapi setiap orangpun tahu, bahwa Sindangsari sama sekali tidak tertarik bahkan membenci anak muda itu. Dalam pada itu, sebuah bayangan menyusup diantara dedaunan di kebun sebelah rumah Sindangsari. Semakin lama semakin dekat. Dengan wajah yang tegang ia memandang halaman rumah yang telah kosong itu. Sekali-sekali terdengar ia berdesah. Namun kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya. Ia berpaling ketika seseorang menggamitnya dari belakang sambil berkata "Jangan kehilangan akal Pamot" Pamot yang sedang berusaha menyaksikan apa yang telah terjadi itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang anak muda yang lain kemudian mendekatinya "Kau harus dapat menimbang, panjang dan pendek. Jauh dan dekat" "Hatiku terbakar Punta" jawab Pamot. "Aku tahu. Tetapi kau harus tetap mempergunakan nalar" anak muda yang lain itu berdesis "Coba apakah yang dapat kau lakukan sekarang dengan kemarahanmu?" Pamot tidak menjawab. "Kau harus mengerti, bahwa yang datang itu adalah utusan Ki Demang yang baru akan melamar. Mereka belum menentukan apa-apa selain berbicara apakah lamaran itu diterima atau tidak" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdesis "Tetapi apakah ada seseorang yang dapat menolak lamaran Ki Demang?" Puntalah yang kini terdiam. Dipandanginya pintu yang masih terbuka di kejauhan. "Aku akan mendekat" "Untuk apa? Itu hanya akan memanaskan hatimu sendiri?" Pamot mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian "Aku tidak akan berbuat apa-apa Punta. Terima kasih atas peringatanmu. Tetapi aku ingin mendekat. Aku tidak tahu kenapa tumbuh keinginan itu" "Kau setiap saat dapat kehilangan nalar, dan melakukan tindakan yang justru dapat merugikan kau sendiri" Pamot menggelang "Tidak Punta. Aku akan selalu mencoba mengingat akan hal itu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Marilah aku ikut" tiba-tiba saja Punta berdesis "di sekitar rumah itu masih ada beberapa orang yang melihat seperti mereka melihat tontonan yang menarik" Pamot tidak menjawab. Tetapi ia segera bergeser maju di ikuti oleh Punta. Mereka tertegun ketika mereka melihat bayangan dua buah kepala yang tersembul di atas pagar batu. Meskipun malam menjadi semakin gelap, tetapi Pamot masih melihat bayangan yang bergerak-gerak itu. "Siapakah mereka?" Pamot berbisik. "Tidak hanya mereka, tetapi banyak yang lain" "Tetapi yang dua ini agaknya lain daripada orang-orang yang berdiri di luar halaman rumah itu" "Ya, seperti kita berdua. Akupun kadang-kadang heran, kenapa kita mesti harus mengendap-endap?" "Aku malu dilihat orang" Punta mengerutkan keningnya. "Orang itu agaknya sengaja menyendiri pula. Mungkin ia malu seperti kita, tetapi mungkin juga dengan maksud yang lain" "Aku akan melihat" bisik Pamot kemudian "tunggulah disini. Kalau terjadi sesuatu, kau jangan membiarkan aku sendiri" Punta menganggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata lirih "Tetapi hati-hati. Mungkin orang itu adalah pengawas-pengawas yang memang dipasang oleh Ki Demang untuk mencegah sesuatu terjadi" Pamot mengangguk-angguk "Ya, aku akan berhati-hati" Pamotpun kemudian merangkak maju. Hati-hati sekali Semakin lama menjadi semakin dekat, dan kedua bayangan itupun menjadi semakin jelas baginya. Bahkan kemudian ia melihat di dalam samar-samar tubuh-tubuh mereka yang berdiri melekat dinding. Keduanya agak membungkukkan punggungnya sambil menelekankan tangan mereka yang bersilang di atas pagar batu, agar tubuh mereka tidak terlampau banyak tersembul di atas pagar itu. Pamot merangkak semakin dekat. Dadanya berdesir ketika ia kemudian melihat sesuatu mencuat di lambung mereka. Senjata. "Mereka membawa senjata" berkata Pamot di dalam hatinya "pasti bukan orang-orang Gemulung yang sekedar ingin menonton" Karena itu, maka nafsu Pamot untuk mengetahui keduanya menjadi semakin besar, sehingga iapun merangkak semakin dekat. Tetapi tiba-tiba sekali, sama sekali di luar dugaan, salah seorang dari kedua orang itu menjatuhkan dirinya secepat kilat. Kemudian berguling-guling seperti roda. Pamot tidak sempat berbuat apa-apa. Ia sadar ketika tangannya seakan-akari telah terjepit oleh kepingan besi. Meskipun dengan sebuah tenaga ia menghentakkannya, namun justru persendiannya sendirilah yang menjadi sakit, seakan-akan tulang-tulang tangannya akan terlepas satu dengan yang lain. Dalam keadaan itu, Pamot tidak dapat berbuat lain dari pada menyerang dengan tangannya yang sebelah. Namun ketika tangannya yang tergenggam itu terpilin ke belakang, ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Meskipun ia masih mencoba menyerang dengan kakinya, tetapi sama sekali tidak berhasil. Karena itu, ia hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia mengharap Punta dapat melihatnya. Kemudian membantunya. Kalau ia dapat melepaskan tangannya, maka mungkin ia tidak akan semudah itu ditundukkan, karena ia masih dapat mengharapkan kecepatannya bergerak. Tetapi selagi ia menahan nafasnya, terasa pegangan tangan orang itu mengendor. Perlahan-lahan bahkan tangannya dilepaskannya. "Kau Pamot" desis orang itu. Begitu tangannya terlepas Pamotpun segera berputar sambil menyiapkan dirinya. Namun orang yang telah memilin tangannya itu tidak berbuat apa-apa. Pamotlah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Orang itu adalah Lamat. Namun selagi mereka berdiri berhadapan, terdengar suara perlahan-lahan "Kenapa kau lepaskan anak itu Lamat?" Pamot sadar, bahwa kedua orang itu adalah Manguri dan Lamat. "Biar saja tangannya kau patahkan" Pamot menggeretakkan giginya. "Jangan mencoba membuat keributan disini Manguri" yang terdengar adalah suara dari kegelapan. Pamot segera mengenal, bahwa suara itu adalah suara Punta "Kalau kau masih saja ingin membuat persoalan dengan anak-anak Gemulung, maka kamipun dapat berbuat lebih banyak dari gerombolan Sura Sapi yang dapat kau usir itu. Kami dapat mengumpulkan tidak hanya lima atau enam orang anak-anak muda, tetapi puluhan" Manguri menggeram. Tetapi ia tidak ingkar, bahwa yang dikatakan Punta itu memang dapat terjadi. Bahkan kemudian Manguri masih juga sempat tertawa. Katanya "Aku tidak bersungguh-sungguh. Apakah gunanya kita sekarang bertengkar? Lihat, gadis itu sekarang sudah diambil oleh Ki Demang. Lagi-lagi yang gila perempuan itu. Berapa kali ia kawin dan berapa kali ia berpisah lagi" Pamot tidak menjawab. Dan Manguri masih saja tertawa meskipun perlahan-lahan. Katanya kemudian "Tetapi yang paling parah adalah kau Pamot. Aku memang sudah kalah sejak kau hadir diantara kami. Tetapi agaknya kau yang merasa menang itu kini harus menelan kekalahan. Kekalahan yang sudah tentu sangat pahit" Pamot mengerutkan keningnya. "Kita besok atau lusa atau sepekan lagi akan melihat persiapan yang lebih bersungguh-sungguh. Akhirnya kita akan melihat kedua mempelai itu bersanding" Manguri berhenti sejenak "memang sakit rasanya. Tetapi itu lebih baik bagiku. Aku lebih senang melihat Sindangsari menjadi isteri Ki Demang daripada menjadi isterimu" "Tutup mulutmu" Pamot membentak dengan tiba-tiba. Darahnya jang memang sedang bergolak itu terasa menggelegak sampai ke kepala "jangan berolok-olok dalam keadaan begini Manguri" "Jangan menjadi kalap Pamot. Kau harus berpikir baik-baik. Di tempat ini banyak orang yang bertebaran di sekitar halaman rumah Sindangsari untuk melihat utusan Ki Demang yang serba mentakjubkan itu. Beberapa buah nampan berisi sanggan dan tiga buah jodang. Tiga buah jodang, Ingat. Separo kekayaan ayahmu tidak cukup untuk membeli pakaian dan makanan sebanyak itu. Apakah kau kira kau akan dapat menyainginya?" Manguri berhenti sejenak "kalau aku memang mungkin sekali. Aku dapat membawa lebih banyak hadiah untuk gadis itu. Tetapi agaknya itupun tidak akan ada gunanya, karena Ki Demang selain seorang yang cukup kaya, ia mempunyai kekuasaan" Hati Pamot serasa sudah menyala di dadanya. Tetapi terasa tangan Punta menggamitnya. Katanya "Jangan kau dengarkan anak itu mengigau. Lihat, betapa kecut wajahnya. Aku tidak percaya bahwa hatinya tidak menjadi parah seperti hatimu. Kalau Sindangsari tidak diambil oleh Ki Demang, Manguri pasti masih akan berusaha terus. Tetapi usahanya kini telah tertutup. Dan ia mencoba menutupi kekecewaannya dengan sikapnya itu" "Punta" mata Manguri menjadi terbelalak "kau jangan turut campur" "Aku akan turut campur. Masalahnya adalah masalah sikapmu yang berlebih-lebihan itu. Sudah aku katakan. Aku dapat membawa lebih dari tiga kali lipat kekuatan Sura Sapi ke rumahmu. Aku dapat berbuat apa saja. Membakar rumahmu dengan segala isinya? Menangkap kau dan menyeret di sepanjang jalan padukuhan? Apa lagi? Tidak seorangpun sempat mengurus perkara ini karena Ki Demang sedang sibuk dengan hari perkawinannya. Aku yakin bahwa Ki Jagabaya dan bebahu-bebahu lainnya ada di dalamrombongan itu pula" "Persetan" Manguri berpaling ke arah Lamat. Tetapi raksasa itu menundukkan kepalanya. "Tidak akan banyak artinya" desis Manguri di dalam hati "kalau aku membuat keributan disini, mungkin orang-orang di dalam rumah Sindagsari menjadi salah paham, dan menyangka aku menjadi sakit hati dan berbuat keonaran" Dengan demikian maka Manguripun tidak membuat persoalan itu menjadi berlarut-larut. Bahkan kembali ia tertawa sambil berkata "Baiklah. Aku memang lebih baik pergi. Tidak ada gunanya terlampau lama disini. Itu memang hanya akan menyakitkan hati" ia berhenti sejenak, lalu "Marilah Pamot. Tinggalkan saja Sindangsari. Lupakan gadis itu yang sebentar lagi akan sudah menjadi Nyi Demang di Kepandak" Manguri berhenti pula sambil melemparkan pandangan matanya ke pintu yang terbuka. Seberkas cahaya pelita terlontar keluar dan jatuh di atas tanah yang kering. "Pamot " tiba-tiba ia berdesis "kalau kau setiap kali pergi ke Kademangan untuk berlatih, kau akan selalu melihatnya. Kau akan dapat pergi ke dapur dan berkata kepadanya "Nyi Demang, aku haus. Haus sekali" Manguripun kemudian tertawa pula. Nadanya meninggi meskipun tidak menjadi terlampau keras. "Bukankah kau salah seorang anggauta pengawal khusus?" "Diam, diam kau Manguri" Pamot menggeram. Suara tertawa Manguri masih terdengar. Katanya "Kita bersama-sama telah menjadi sakit hati karena peristiwa ini. Ki Demang ternyata bukan seorang pemimpin yang baik. Ia lebih mementingkan nafsunya sendiri daripada kesejahteraan rakyatnya " Manguri tiba-tiba menjadi bersunggug-sungguh "he Pamot, apakah kau dapat menelan kepahitan ini?" Pamot tidak menjawab. Manguri kemudian menggeram, tetapi kata-kata yang terloncat dari bibirnya tidak begitu jelas terdengar. "Lamat" katanya kemudian "marilah kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku mengagumi gadis itu ketika ia menolak pemberianku. Tetapi kalau pemberian Ki Demang ini diterimanya, baik oleh Sindangsari maupun oleh orang tuanya, maka gadis itu tidak lebih dari perempuan hina yang memperbandingkan upah yang akan didapatkannya dari penyerahan dirinya. Dengan demikian dongeng tentang cinta yang murni antara Sindangsari dan Pamot akan segera lenyap dari padukuhan Gemulung. Kawan-kawan, para gembala dan gadis-gadis yang mencuci di kali tidak akan lagi mendengarkan tembang asmaradana yang mereka jalin dengan nama-nama Sindangsari dan Pamot" Dada Pamot serasa akan retak karenanya. Tetapi ia masih menahan diri. Dipandanginya saja Manguri yang kemudian melangkah menyusup digerumbul-gerumbul liar diikuti oleh Lamat di belakangnya. "Bagaimanapun juga anak itu tetap berbahaya" desis Punta. "Ya" Pamot menganggukkan kepalanya. "Kau percaya bahwa ia akan berhenti sampai disni meskipun Sindangsari kelak terpaksa dibawa oleh Ki Demang Kepandak" Perlahan-lahan Pamot menggelengkan kepalanya. "Suatu keadaan yang rumit" berkata Punta tetapi semuanya harus diperhitungkan dengan nalar. Tidak hanya dengan perasaan semata-mata" Pamot tidak segera menjawab. Tetapi kini dilemparkannya pandangan matanya ke arah pintu yang masih terbuka itu. Meskipun ia tidak melihat, tetapi terbayang di rongga matanya, utusan Ki Demang itu sedang tertawa-tawa sambil mengunyah makanan yang mereka bawa sendiri dari Kademangan. Tetapi Pamot tidak berani membayangkan, apakah yang sedang dilakukan oleh Sindangsari sekarang. Apakah ia juga tertawa melihat peningset yang dibawa oleh utusan Ki Demang itu di atas nampan dan di dalam jodang, ataukah ia sedang menangis di dalambiliknya. "Pamot " berkata Punta "sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Aku kira tidak ada gunanya kau tetap disini. Tidak ada gunanya bagimu dan tidak ada gunanya bagi Sindangsari" "Aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan" jawab Pamot. "Kau pasti sudah dapat memperhitungkannya berkata Punta kemudian "mereka akan melamar dan menyerahkan barang-barang itu kepada ibu, nenek dan kakek Sindangsari. Apakah kemudian lamaran itu mereka terima, kita tidak akan tahu malam ini, meskipun kita menunggui mereka, sampai mereka meninggalkan rumah itu" Pamot menarik nafas. "Marilah kita kembali. Lebih baik bagimu untuk berkumpul dengan kawan-kawan di gardu daripada kau berada disini" Pamot tidak menyahut. "Kau tidak perlu melukai hatimu sendiri. Kalau luka itu memang sudah tumbuh, jangan kau buat luka itu menjadi semakin parah" Akhirnya Pamot menganggukkan kepalanya. Jawabnya "Baiklah" "Bagus" sahut Punta "marilah. Biar sajalah apa yang akan terjadi di dalamrumah itu terjadi" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengikuti saja seperti anak-anak di belakang ayahnya. Dan keduanyapun kemudian pergi ke sudut desa, berkumpul dengan kawan-kawan mereka di gardu. Kakeknya yang sedang mengemasi alat-alat yang akan dibawanya ke sawah tertegun pula melihat Sindangsari yang muram. Di dekatnya istrinya sambil berbisik "Suruh ia bekerja di dalam. la sangat payah lahir dan batin. Ternyata kawan-kawan Pamotpun dapat mengerti, bahwa anak muda itu sedang mengalami goncangan yang dahsyat di dalam dirinya. Karena itu, maka mereka sama sekali berusaha untuk menjauhkan pembicaraan mereka dari persoalan Sindangsari yang malam ini telah mendapat lamaran dari Ki Demang Kepandak. Dalam pada itu, di dalam rumah Sindangsari, para utusan Ki Demang itupun sedang menikmati minuman dairi mangkuk masing-masing. Diselingi oleh gelak dan tertawa merekapun berbicara mengenai masalah mereka sehari-hari. Mengenai air di sawah yang kadang-kadang tidak mengalir, mengenai harga kebutuhan sehari-hari yang memanjat terus karena kebutuhan yang meningkat, sejalan dengan meningkatnya persiapan Sinuhun Sultan Agung yang berniat untuk mengusir orang yang berkulit putih dari Betawi, yang nampaknya semakin lama semakin melanggar hak dan Kekuasaan Mataram. Namun akhirnya, setelah malam menjadi semakin dalam, Ki Reksatani yang menjadi pimpinan utusan itupun berkata "Nah, agaknya hari menjadi semakin malam tanpa sesadar kita. Dengan demikian, maka baiklah kiranya kami akan memulai mengatakan keperluan kami datang kemari" Kakek Sindangsari menganggukkan kepalanya sambil menjawab "Silahkan. Silahkanlah" "Mungkin keluarga disini sudah mengetahui keperluan kami seperti yang pernah diberitahukan oleh utusan pendahuluan kami yang datang dua hari yang lampau" "Ya, ya. Demikianlah kiranya" "Meskipun demikian, kami akan mengulanginya dengan semestinya, sesuai dengan tata cara yang berlaku" Kakek Sindangsari mengangguk-angguk "Silahkan"katanya. Maka Ki Reksatanipun kemudian mempersilahkan seorang yang sudah agak lanjut usianya untuk menyampaikan keperluan mereka datang ke rumah Sindangsari itu. Dengan segala macam kebiasaan seseorang yang datang melamar, dengan menyebut segala macam kebaikan kedua belah pihak, maka akhirnya orang tua itu berkata "Dengan demikian, maka sampailah lamaran Ki Demang yang bijaksana itu cucunda Sindangsari yang telah sesuai menurut pilihan hati Ki Demang dan orang tua-tua yang akan merestuinya. Keduanyapun akan menjadi pasangan yang seimbang dan sempurna. Kakek Sindangsari mendengarkan kata demi kata dengan saksama. Sudah lebih dari sepuluh kali ia mendengar katakata serupa itu apabila ia diminta oleh tetangga-tetangganya untuk menerima tamu yang datang melamar di rumah mereka. Sebagai seorang yang termasuk telah cukup tua, iapun sering diminta untuk mengikuti ututsan-utusan dari anak-anak tetangganya, yang melamar bakal isteri mereka. Namun kini ia sendirilah yang harus menerima lamaran itu. Karena itu, maka baru kinilah ia mendengarkan kata-kata yang sudah tersusun demikian itu dengan teliti" Ternyata kata-kata utusan itu hampir tidak ada kebenarannya sama sekali. Semua pujian yang diucapkannya adalah yang pernah didengarnya lebih dari sepuluh kali itu juga. Sedang jodoh yang seimbang menurut penilaian orang itupun sama sekali bukan penilaiannya yang sebenarnya. Katakata itu diucapkan seperti yang seharusnya diucapkan siapapun yang disebutnya. Adalah tidak wajar sama sekali bahwa kedua calon penganten ini, Ki Demang dan Sindangsari adalah pasangan yang seimbang dan sempurna. Orang tua itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah mempersoalkannya meskipun ia pernah menunggui seseorang yang menerima lamaran dari seorang laki-laki tua yang sudah mempunyai dua orang, isteri atas seorang gadis kecil. Tetapi baru sekarang ia memperhatikan kata demi kata itu. "Demikianlah kata-kata lamaran itu" berkata orang tua itu selanjutnya "dan kami sekeluarga mengharap bahwa lamaran ini akan terkabulkan. Bersama ini kami membawa sekedar tanda yang akan menguatkan ikatan dari pembicaraan kita ini" Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia menjawab "Kami mengucapkan terima kasih atas lamaran ini "ia berhenti sejenak, dan tiba-tiba saja ia telah kehilangan gairah untuk menjawab lamaran itu seperti yang biasanya harus diucapkan. Sekilas terbayang di wajah orang tua itu keragu-raguan, namun kemudian ia berkata seperti kata di dalam hatinya "Ki Sanak, lamaran ini memang merupakan kehormatan yang tiada taranya bagi kami. Tetapi apaboleh buat, bahwa saat ini kami masih belum dapat menjawabnya. Karena itu pula, maka kami masih belum dapat menerima tanda ikatan yang kalian bawa dari Ki Demang" orang tua itu berhenti sejenak Kemudian iapun berkata berterus terang "Aku tidak akan menyembunyikan kenyataan, bahwa cucuku telah mengikatkan hatinya dengan seorang anak muda yang bernama Pamot. Aku kira, Ki Demangpun telah mengetahuinya pula. Bahkan Ki Demang pernah datang ke rumah ini untuk menyelesaikan masalah anak-anak muda yang timbul di Gemulung" Sejenak para utusan Ki Demang itu saling berpandangan. Seharusnya kakek tua itu menjawab, bahwa ia tidak berkebaratan dan ia akan bertanya kepada cucunya. Tetapi sudah tentu bahwa cucunya itu tidak akan dapat menolak keputusan orang-orang tua itu. Tetapi ternyata kakeknya itu tidak menjawab demikian, tidak menjawab seperti yang seharusnya menurut mereka. Sementara itu kakek Sindangsari melanjutkan "Apalagi kemarin telah datang utusan keluarga Pamot untuk melamar cucuku, tanpa mengetahui lebih dahulu, bahwa Ki Demangpun akan mengirimkan utusan ini. Wajah-wajah dari para utusan itupun menjadi tegang. Sejenak mereka saling berpandangan. "Demikianlah" kakek Sindangsari mengakhiri jawabannya "Aku kira aku lebih baik berterus terang daripada aku mengucapkan jawaban yang tidak didasarkan pada kenyataan yang kita hadapi sekarang" Para utusan itu tidak segera dapat menanggapi keadaan itu. Mereka seakan-akan justru terpesona oleh sikap kakek Sindangsari yang keluar dari tatacara yang selajimnya. Dalam keragu-raguan mereka saling berpandangan dengan sorot mata yang bertanya-tanya. Namun adalah di luar dugaan pula ketika Ki Reksatanilah yang kemudian menyahut "Terima kasih atas jawaban itu. Kami menghargai setiap sikap berterus terang. Kami sadar, bahwa memang kami tidak akan dapat berbuat banyak dalam hal ini. Apabila gadis itu memang sudah resmi di dalam suatu ikatan janji dengan seorang laki-laki, maka aku kira, demikianlah yang akan kita katakan kepada kakang Demang" "Nanti dulu adi Reksatani" berkata salah seorang dari anggauta utusannya "jangan tergesa-gesa menerima jawabannya. Kita sudah mendapat kekuasaan sepenuhnya dari Ki Demang. Apalagi Ki Demang sudah menyediakan sanggan dan perlengkapannya. Itu berarti bahwa Ki Demang sudah menganggap pembicaraan ini adalah pembicaraan yang sudah jadi" "Maksud kakang" bertanya Ki Reksatani. "Ki Demang tidak akan menarik diri dalam keadaan apapun" jawab orang itu dengan pasti. Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Tetapi kami adalah utusan-utusan yang tidak dapat mengambil keputusan apapun. Kami mendapat tugas untuk menyampaikan lamaran, dan kami sudah menyampaikannya. Kini kami mendengar jawaban dari orang yang berkepentingan. Bukankah tugas kita menyampaikan jawaban ini kepada kakang Demang? Kalau kemudian kakang Demang mengambil keputusan, kita akan memberitahukan keputusan itu pula" "Itu akan memakan waktu. Apakah kita sekarang tidak dapat menyampaikan hasrat hati Ki Demang yang sudah pasti kita ketahui" "Tentu" jawab Ki Reksatani "tetapi itu kurang bijaksana agaknya" Orang itupun kemudian terdiam. Ki Reksatani adalah pimpinan dari utusan ini, sehingga keputusannyalah yang akan berlaku. Namun demikian para anggauta utusan itu menjadi heran. Ki Reksatani agaknya tidak mendesakkan maksud Ki Demang itu kepada kakek gadis itu. Setidak-tidaknya ia dapat memberikan gambaran, bahwa niat Ki Demang ini tidak akan dapat dicegah lagi. "Meskipun demikian" tiba-tiba Ki Reksatani itu berkata "semua barang-barang yang telah kami bawa kemari, akan kami serahkan kepada keluarga disini. Kami t idak akan membawa kembali sehelai pakaianpun" Kakek Sindangsari mengerutkan keningnya. "Dan kami juga tidak akan membawa kembali makanan yang sudah kami serahkan, kecuali yang sudah kami makan" Ki Reksatani masih sempat tertawa. Kawan-kawannya benar-benar tidak dapat mengerti sikap adik Ki Demang ini. Agaknya ia acuh tidak acuh saja atas jawaban kakek Sindangsari yang tidak berkepastian itu. "Kakek tua ini terlampau besar kepala" berkata salah seorang dari utusan itu di dalam hatinya "kurang apa lagi kurnia yang diterimanya. Ia akan mendapat menantu seorang Demang dan mendapat peningset sekian banyaknya. Kalau saja aku mempunyai seorang anak gadis" Tetapi yang lain berpikir "Ki Reksatani melihat kejanggalan itu. Gadis itu tentu tidak akan merasa berbahagia kawin dengan seorang laki-laki yang pernah beristeri lima kali, meskipun ia masih muda. Apakah perkawinan ini merupakan perkawinan yang dicita-citakan oleh seorang gadis seperti Sindangsari? Dan agaknya kakek tua itu mencoba mengerti perasaan cucunya, meskipun dibayangi oleh sekian banyak barang-barang yang cukup berharga" Dan yang terdengar kemudian adalah suara kakek tua itu "Tetapi, kami mengharap Ki Reksatani sudi membawa barangbarang ini kembali. Bukan karena kami menolak. Tidak. Kami masih belum menyatakan penolakan atas lamaran ini. Kami hanya minta Ki Demang mengerti, bahwa Sindangsari telah terikat oleh suatu janji yang telah disaksikan oleh orang tua masing-masing" "Tidak" jawab Ki Reksatani "aku dapat mengerti persoalan ini sepenuhnya. Tetapi aku tidak dapat memutuskannya. Adalah tidak pantas bahwa apa yang sudah kami serahkan itu kami ambil kembali" "Soalnya bukan pantas atau tidak pantas" jawab kakek Sindangsari "tetapi barang-barang itu adalah suatu adat tatacara. Barang-barang itu adalah suatu pertanda ikatan. Sedang ikatan itu masih belum dapat kami tentukan sekarang. Dengan demikian maka peningset ini t idak sepantasnya pula kami terima" Ki Reksatani tertawa. Jawabnya "Soalnya bukan pantas atau tidak pantas. Tetapi barang-barang ini sudah ada disini. Terimalah apapun namanya. Apakah barang-barang itu kau sebut peningset, atau oleh-oleh atau barangkali alat untuk memaksa agar lamaran ini kau terima, atau bahkan bukan apa-apa. Tetapi biarlah semuanya itu disini. Kami t idak akan membawanya kembali ke Kademangan" Ketika kakek Sindangsari masih akan menjawab Ki Keksatani mendahuluinya "Jangan dipersoalkannya lagi. Kami akan segera minta diri dan melaporkan kehadiran kami disini. Melaporkan apa yang telah terjadi dan melaporkan jawaban kalian" Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab lagi. Kepalanya yang diwarnai oleh rambutnya yang telah memutih, yang satu-satu berjuntai di bawah ikat kepalanya itupun menunduk. "Sangat berat rasanya menghadapi persoalan ini" katanya di dalam hati. Kemudian Ki Reksatani beserta kawan-kawannyapun segera minta diri. Mereka sama sekali tidak mau lagi membicarakan jodang dan nampan-nampan yang masih terletak di amben yang besar itu. Maka sejenak kemudian merekapun meninggalkan rumah Sindangsari dengan angan-angan yang berbeda-beda. Salah seorang tua yang ada di dalam rombongan itu bertanya "Kenapa kau bersikap begitu Ki Reksatani. Seolaholah kau tidak mengambil suatu kepastian bahwa Ki Demang benar-benar mengingini anak itu" Ki reksatani menarik nafas dalam-dalam, katanya "Aku juga mempunyai anak perempuan meskipun masih kecil. Terbayang di dalam angan-anganku, betapa anakku itu menangis meronta-ronta apabila ia menjadi kecewa. Nah, itulah kata hati yang sejujur-jujurnya. Anak-anak berkata berterus terang. Ia tertawa kalau ia sedang bergembira, dan ia menangis kalau ia sedang sakit, kecewa, marah dan perasaan lain yang tidak menyenangkan" Orang tua itu mengerutkan keningnya. "Orang-orang yang lebih besar dan apalagi dewasa, dapat menyembunyikan perasaannya. Mereka dapat berpura-pura. Bahkan kadang-kadang demikian cakapnya seseorang berpura-pura sehingga kita tidak dapat mengerti, perasaan yang sebenarnya tersembunyi di dalam hatinya. Nah, apakah katamu seandainya orang tua itu menerima lamaran kakang Demang? Apakah, ia bersikap jujur?" Orang tua itu tidak menjawab. "Orang tua itu sudah berkata sebenarnya. Kita harus menghargai sikapnya " "Tetapi kaupun sudah berpura-pura pula" sahut orang tua itu "kau tahu pasti bahwa Ki Demang memang menghendaki Sindangsari. Sindangsari harus menjadi isterinya. Kenapa kau tidak berkata begitu?" "Aku tidak berpura-pura sekarang. Keberangkatanku inilah yang berpura-pura" Orang tua itu menjadi bingung. "Kalau kau ingin mendengar penjelasannya, baiklah. Aku memang t idak senang melihat kakang Demang kawin lagi dengan gadis kecil itu. Dan aku sudah tidak jujur terhadap diriku sendiri karena aku bersedia melamarnya. Tetapi aku tidak sampai hati untuk memaksakan kehendak kakang Demang itu. Kau tahu, betapa parah hati Sindangsari" Orang tua itu tiba-tiba menggeleng "Belum tentu" bantahnya "aku sudah melihat lebih dari sepuluh orang gadis yang harus kawin sesuai dengan pilihan orang tuanya. Mereka dapat hidup tenteram, salah seorang dari mereka adalah isteriku sendiri. Isteriku belum pernah melihat aku sebelumnya. Apalagi berkenalan" "Tetapi bakal isterimu tahu. bahwa kau adalah seorang jejaka. Kau seorang yang baik hati, yang rajin bekerja dan pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan baru" Orang tua itu mengerutkan keningnya. Lalu "Ya, aku memang orang yang baik hati yang rajin bekerja dan pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan baru. Isteriku lambat laun mencintaiku juga" "Itulah bedanya " "Tetapi" tiba-tiba ia sadar akan dirinya "aku juga pernah melihat nah, kau pasti juga kenal, Kerta Bungkik. Ia sudah pernah kawin tiga kali. Umurnya waktu itu lebih tua dari Ki Demang sekarang. Dan ia kawin dengan seorang gadis kecil. Meskipun mula-mula gadis itu menangis meronta-ronta, kau tahu, berapa anaknya sekarang?" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. "Anaknya dua-belas" sambung orang tua itu "ya dua-belas. Kalau ia tidak keguguran dua kali, maka anaknya pasti menjadi ampat belas" Ki Reksatani tidak menjawab. "Kemudian, aku dapat membuktikan bahwa perempuan yang menjadi isterinya itu telah benar-benar jatuh cinta kepadanya meskipun lambat laun. "Apa buktinya?" bertanya Reksatani. "Ketika Kerta Bungkik itu kawin lagi dengan janda di sebelah rumahnya, isterinya menangis tiga hari tiga malam. Bukankah itu suatu bukti bahwa ia tidak mau kehilangan orang bungkik yang mengambil selagi ia masih gadis walaupun bungkik itu sudah pernah kawin tiga kali?" "O" Ki Raksatani berdesah. Katanya "pikiranmu memang sudah terbalik. Sudah tentu perempuan itu menangis. Sama sekali bukan ia tergila-gila pada suaminya yang bungkik itu. Tetapi ia merasa sakit hati. Ia sudah dipaksa untuk menjadi isterinya, dan akhirnya ia harus mengalami masa yang pahit. Hidup dimadu adalah hidup yang paling tidak menyenangkan bagi perempuan" "Itupun tidak benar. Kalau demikian, maka janda di sebelah rumah Bungkik itu tidak akan mau menjadi isterinya, karena ia tahu pasti bahwa Bungkik sudah mempunyai seorang isteri yang cantik meskipun anaknya sudah dua-belas" Ki Reksatani menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak akan dapat menjelaskan seluruh masalahnya dalam waktu singkat. Tetapi dengan demikian ia mempunyai gambarangambaran yang jelas, bagaimana cara orang tua-tuta itu menilai sebuah perkawinan. Dalam pada itu, mereka yang ditinggalkan oleh utusan Ki Demang itupun menjadi sangat gelisah. Apalagi Sindangsari sendiri. Ia tidak dapat lagi menahan air matanya yang menitik satu-satu di pangkuannya. Kakeknyapun duduk tepekur di amben yang besar itu sambil merenungi barang-barang yang sama sekali belum disentuhnya, kecuali makanan yang kemudian disuguhkannya kembali kepada utusan itu. "Apakah mereka akan memaksa kek" bertanya Sindangsari. "Kakeknya tidak menyahut. Meskipun tampaknya Ki Reksatani mencoba untuk mengerti alasannya, namun menurut pembicaraan kawan-kawannya maka sama sekali tidak akan ada harapan lagi bagi Sindangsari untuk mengelakkan dirinya. "Bagaimana kek" desak Sindangsari. "Aku tidak dapat mengatakannya sekarang Sari. Tetapi aku sudah mencoba untuk menjelaskan, bagaimana keadaanmu sekarang. Kalau Ki Demang dapat mengerti keadaanmu, maka mudah-mudahan ia akan memberi kesempatan. Tetapi semuanya masih gelap bagiku" Titik air mata Sindangsari masih menetes di pangkuannya. Ibunya yang duduk di sampingnya hanya mampu menundukkan kepalanya sambil menahan diri, untuk tidak ikut menangis pula agar ia tidak membuat anaknya menjadi semakin berkecil hati. Neneknya sama sekali terdiam. Ia merenungi keadaan itu dengan saksama. Perempuan tua itu mencoba menimbangTiraikasih Website http://kangzusi.com/ nimbang, apakah salahnya kalau lamaran ini diterima. Bukankah akan jauh lebih baik, bersuami seorang Demang daripada bersuamikan Pamot, seorang petani yang sederhana saja. Tetapi perempuan itu tidak berani mengucapkannya. Ia sadar, bahwa suaminya agaknya mempunyai pertimbangan lain. Karena itu ia akan patuh saja kepada suaminya seperti demikianlah yang diperbuatnya selama ia menjadi isterinya. Jarang sekali ia mempunyai pendirian dan sikap yang dipertahankannya di hadapan suaminya, karena orang tua selalu menasehatinya selagi ia masih gadis "Laki-laki adalah tempatmu bertumpu. Sedih gembira, sorga neraka, kau harus ikut bersamanya. Apapun yang akan terjadi, ia adalah tempat kau menompangkan dirimu" "Sari" terdengar kemudian suara kakeknya "sudahlah. Tidurlah. Jangan kau risaukan lagi masalah ini. Masalah ini tentu akan berkembang sesuai dengan apa yang harus terjadi. Kita memang wajib berusaha. Tetapi pada suatu saat kita akan melihat kenyataan. Apakah kenyataan itu akan sesuai dengan keinginan kita atau tidak, itu adalah di luar jangkauan" kakeknya berhenti sejenak, lalu "tetapi adalah kurang bijaksana, bahwa kita akan selalu dicengkam oleh kecemasan dan ketakutan. Pada suatu saat kita memang harus berani menghadapi kenyataan itu betapapun pahitnya. Dengan demikian kita tidak akan ditinggalkan oleh nalar" Sindangsari masih menitikkan air mata. Ia kini sadar, bahwa kakeknyapun menganggap, terlampau sulit untuk menghindarkan dirinya dari Ki Demang yang telah lima kali kawin itu. "Tidurlah" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi iapun kemudian bangkit dan melangkah ke biliknya. Demikianlah ia meletakkan dirinya di pembaringannya, maka iapun segera menelungkup sambil mencurahkan air matanya, seakan-akan banjir yang tertahan-tahan, pecah menghambur tanpa dapat ditahan-tahan lagi. Di ruang dalam, kakeknya, neneknya dan ibunya masih duduk sambil merenungi keadaan. Sekali-sekali mereka memandangi barang-barang yang masih berada di tempat masing-masing. Mereka seakan-akan sama sekali tidak menyentuhnya sama sekali. "Ayah" terdengar suara ibu Sindangsari lirih "bagaimanakah sebenarnya pertimbangan ayah?" "Aku kasihan kepada anakmu" jawab ayahnya "tetapi kita semua tahu, tidak ada kekuasaan yang dapat membatasi kekuasaan Ki Demang disini" "Ayah" berkata Nyai Wiratapa "bagaimana kalau anak itu aku bawa saja ke kota?" "He" ayahnya terkejut "lalu, kau akan tinggal dimana?" Nyai Wiratapa terdiam. Terbayang masa-masa hidupnya sebagai seorang isteri prajurit yang meskipun tidak kaya, tetapi kecukupan. Tetapi suaminya kini sudah tidak ada lagi. Dan ia sudah memilih kampung halamannya ini menjadi tempat tinggal. Sinuhun Sultan Agung sudah berkenan memberikan sebidang tanah di dekat kampung halamannya sebagai tongkat hidupnya sepeninggal suaminya. "Hidupmu akan menjadi bertambah sulit" Nyai Wiratapa tidak menjawab. Namun seakan-akan terkenang kembali apa yang pernah dialaminya sebelum ia pulang ke kampung halaman. Seorang laki-laki pernah datang kepadanya dan berkata dengan hati terbuka "Nyai Wiratapa, kita masing-masing sudah ditinggalkan oleh sisihan kita. Isteriku sudah meninggal, dan kini suamimu meninggal. Apakah kita tidak dapat hidup bersama-sama?" Belum lagi ia mengambil keputusan, Sindangsari yang mendengar persoalan itu menangis tanpa dapat ditenangkannya, sebelum ia berjanji bahwa ia tidak akan menerima lamaran itu. Sebagai orang-orang yang cukup dewasa maka laki-laki itupun dapat mengerti keadaannya, dan iapun mengurungkan niatnya. Namun kini tiba-tiba terkilas di dalam angan-angannya "Bagaimana kalau aku berbicara kepada Sindangsari tentang hal itu supaya ia dapat pergi ke kota?" Nyai Wiratapa memejamkan matanya. Ia tidak lagi memikirkan dirinya sendiri, apakah ia mencintai laki-laki itu atau tidak. Yang penting baginya adalah meninggalkan padukuhan Gemulung ini. Namun dengan demikian Sindangsari akan terhindar dari kepedihan yang satu dan akan jatuh ke dalam keadaan yang serupa pula, karena gadis itu tidak dapat melihat perkawinan ayah dan ibunya ternoda, meskipun ayahnya sudah meninggal. Air mata Nyai Wiratapapun menitik pula. "Sudahlah" desis ayahnya "kau jangan menambah anakmu menjadi semakin bingung" Nyai Wiratapa mengusap air matanya. Tetapi ia sama sekali tidak mengatakan kepada ayahnya, apa yang sedang berkecamuk di dalamhati. "Sebaiknya kau jangan berpikir kemungkinan untuk tinggal di kota" berkata kakeknya "belum tentu kau dan anakmu akan dapat hidup tenteram karena kau berdua adalah perempuan yang hidup sendiri. Apakah kata orang-orang di sekitarmu tentang kau berdua" "Tetapi" tiba-tiba Nyai Wiratapa berdesis "bagaimana dengan Sindangsari ayah. Apakah aku akan sampai hati membiarkan anak itu terperosok ke dalam kehidupan yang sama sekali tidak diingininya" "Aku juga berpikir demikian. Namun kemampuan kita benar-benar terbatas" ayahnya berhenti sejenak, lalu "beristirahatlah" "Jangan terlampau kau pikirkan" berkata ibunya "kita masih belum tahu, apakah benar Sindangsari tidak akan menemui kebahagiaan apabila ia menjadi isteri Demang itu? Memang ia pernah kawin lima kali, tetapi isterinya yang terdahulu sama sekali tidak pantas untuk menjadi seorang isteri Demang yang baik. Apalagi mereka tidak mempunyai anak sama sekali. Sedang Sindangsari mempunyai beberapa kelebihan dari gadis-gadis padukuhan ini. Barangkali ia akan dapat memenuhi keinginan Ki Demang dan tidak akan mengalami nasib seperti kelima isterinya yang terdahulu" Nyai Wiratapa tidak menyahut. Itu adalah pemupus yang paling dalam, apabila mereka memang sudah tidak berpengharapan untuk menghindar. "Tidurlah" berkata ayahnya kemudian. Nyai Wiratapapun kemudian berdiri dengan ragu-ragu. Namun ia tidak segera pergi ke biliknya. Dijenguknya anaknya yang masih menangis di pembaringannya. Meskipun seakan-akan Nyai Wiratapa tidak dapat lagi menahan perasaannya, namun ia berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk tidak menangis. Disentuhnya bahu anaknya sambil berbisik "Sudahlah Sari. Tidurlah. Kakekmu akan berusaha terus, menghindarkan kau dari kesulitan ini" Sindangsari sama sekali tidak menjawab. Isaknya masih tetap menyesakkan dadanya. "Tidurlah sayang" bisik ibunya di telinganya. Kemudian ditinggalkannya anaknya itu dengan hati yang berat. Dalam pada itu, Ki Reksatani beserta rombongan kecilnya, tidak segera pulang ke rumah masing-masing. Tetapi mereka langsung pergi ke Kademangan untuk melaporkan hasil kunjungan mereka ke rumah gadis yang bernama Sindangsari itu. Dengan tergopoh-gopoh Ki Demang mempersilah-kan mereka masuk. Tanpa membenahi pakaiannya yang kusut, ia segera menemui orang-orang yang baru pulang dari melamar itu. "Bagaimana Reksatani? Kau tidak parnah gagal sebelumnya" berkata Ki Demang. Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati "Sudah tentu tidak akan pernah gagal, karena kekuasaan kakang Demang "tetapi ia tidak mengucapkannya. Yang dikatakannya adalah "Kami sudah melakukan tugas kami sebaik-baiknya kakang" "Bagus, bagus" sahut Ki Demang "apakah kakek gadis itu sudah menentukan hari dan tanggal perkawinan kami" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Katanya "Aku belum sampai begitu jauh. Aku baru menyampaikan lamaran kakang Demang untuk cucunya yang bernama Sindangsari" "Ya, ya. Itu tidak perlu kau ulangi. Aku sudah tahu" "Tidak, Barangkali kakang salah tebak" Ki Demang terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Ki Reksatani dengan tajamnya. "Maksudmu?" ia bertanya. "Sebaiknya aku menceriterakannya dari permulaan sekali, supaya kakang Demang tidak salah paham karenanya" jawab Ki Reksatani. "Aku tidak telaten. Apa yang sudah aku ketahui tidak usah kau ulangi. "Jangan tergesa-gesa. Kali ini hasil rombongan kami agak berbeda dengan yang pernah kami lakukan sebelumnya" "He" Ki Demang menjadi tegang. Ki Reksatani bergeser setapak maju. Kemudian dengan hati-hati diceriterakannya hasil pembicaraannya dengan kakek Sindangsari, tentang orang tua Pamot dan tentang sikap Sindangsari sendiri menurut pendengarannya. "Mereka agaknya sudah benar-benar saling mencintai, kakang. Apakah kita akan sampai hati memisahkannya?" Wajah Ki Demang menjadi merah padam. Dengan tangan gemetar ia menunjuk wajah Ki Reksatani "Reksatani, kenapa kau berbuat begitu bodoh. Kau bukan anak-anak lagi. Kau harus tahu menempatkan dirimu. Sudah aku katakan selagi gadis itu masih berhubungan dengan Pamot atau Manguri, maka pasti masih akan timbul persoalan diantara mereka. Satu-satunya jalan adalah memisahkan keduanya. Dan aku sudah menempuh jalan ini. Apalagi aku memang memerlukan seorang isteri" Ki Reksatani tidak menyahut. Bahkan kepalanyapun kemudian ditundukkannya dalam-dalam. Dan Ki Demangpun masih melanjutkannya "Reksatani, kalau aku tidak tahu, bahwa kau terlampau setia kepada isterimu, aku pasti menuduh bahwa kau sendirilah yang akan mengambil anak itu menjadi isterimu kedua. Atau kalau kau mempunyai anak seorang jejaka mungkin gadis itu akan kau ambil menjadi menantumu" Ki Reksatani masih tetap berdiamdiri. "Apakah kau sengaja menggagalkan perkawinanku, karena sejak semual agaknya kau sudah tidak setuju? Begitu?" Ki Reksatanai menggelengkan kepalanya "Tidak kakang. Sama sekali bukan begitu" "Lalu apa maksudmu sebenarnya?" "Aku sendiri tidak mempunyai maksud apa-apa kakang. Aku hanya menyampaikan pesan kakek Sindangsari barangkali ada belas kasihan kakang Demang untuk memikirkannya sekali lagi tentang kemungkinan yang lain" "Tidak. Aku tidak akan berpikir lagi. Aku sudah berkeputusan bahwa gadis itu harus menjadi isteriku" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. "Aku sudah memutuskannya. Tidak seorangpun dapat merubahnya lagi. Aku memerlukan gadis itu" Ki Reksatani t idak menyahut. Ketika ia memandang wajahwajah di sekitarnya, terasa bahwa merekapun telah menyalahkannya pula. "Reksatani" berkata Ki Demang "besok kau kembali ke rumah gadis itu. Katakan, bahwa aku sudah berketetapan hati untuk mengambilnya. Aku mempersilahkan keluarga Sindangsari untuk menentukan hari perkawinan itu. Tetapi tidak terlampau lama" Reksatani tidak dapat menghindarkan dirinya lagi. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata "Baiklah kakang. Kalau kakang memang tidak bersedia meninjau keputusan itu lagi, apaboieh buat" "Cukup. Jangan kau singgung-singgung lagi keputusanku itu" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sekarang, kalian boleh pulang. Besok kalian akan berangkat seperti waktu kalian berangkat tadi dari rumah ini pula. Kalian besok tidak perlu membawa apapun lagi, sehingga karena itu, tidak perlu kalian pergi bersama-sama sebanyak ini" Ki Reksatani dan kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalian dapat pergi tidak lebih dari tiga orang saja, supaya kedatangan kalian tidak membuat keluarga yang kalian datangi terlampau sibuk" "Baiklah kakang" jawab Rekstani "besok sore aku akan datang kemari" "Baik. Tetapi kalian jangan membuat kebodohan sekali lagi" "Baiklah kakang. Sekarang aku minta diri" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun ia masih bersungut-sungut. Bahkan ia bergumam "Kalian sudah bukan anak kecil lagi. Seharusnya kalian tidak usah mengulangi tugas ini" Sekali lagi wajah-wajah yang hadir itu memandangi Ki Reksatani tetapi tidak seorangpun yang mengatakan sesuatu. Sejenak kemudian, maka merekapun telah meninggalkan rumah Kademangan pulang ke rumah masing-masing. Di sepanjang jalan mereka membicarakan apa yang baru saja terjadi itu. Ketika mereka sudah berpisah dengan Ki Reksatani, maka hampir setiap orang menganggapnya telah bersalah. "Ia tidak bersikap tegas" berkata salah seorang dari mereka. "Ya, tidak seperti biasanya. Ki Reksatani tampak ragu-ragu" sahut yang lain. Dan yang lain lagi berkata "Agaknya ia menaruh belas kepada kedua anak-anak muda itu" "Ah, ia bukan orang yang cengeng" "Memang bukan, tetapi seperti yang dikatakannya, ia dapat mengerti perasaan gadis itu. Apalagi ia juga mempunyai seorang anak perempuan" Kawan-kawannya tidak menyahut. Tetapi itu hanya sekedar untuk menghindari kemungkinan mereka saling berbantah. Namun di dalam hati, sebagian terbesar dari mereka, menganggap bahwa Ki Reksatani menjadi bimbang untuk bersikap tegas. "Tetapi besok tidak boleh ada keragu-raguan lagi" berkata orang-orang itu di dalam hati mereka. Ki Reksatani yang kemudian berjalan seorang diri, mengeluh beberapa kali. Katanya "Kenapa aku harus memaksa gadis itu untuk menjadi isteri kakang Demang" Pikiran Ki Reksatani menjadi kusut. Ketika teringat katakata kakaknya, bahwa seandainya ia tidak terlampau setia kepada isterinya, ia akan dituduh mempunyai niat sendiri terhadap gadis itu. Ki Reksatani tersenyumsendiri. "Gila" desisnya. Tetapi, ketika tumbuh pertanyaan di dalam hatinya "Apakah benar aku terlampau setia kepada isteriku?" Ki Reksatani menelan ludahnya. Sekali melintas di kepalanya seorang perempuan yang selalu didatanginya di saat-saat ia kesepian di rumah oleh beberapa macam sebab. Meskipun perempuan itu bukan seorang gadis, bahkan bukan seorang perempuan muda, namun ia seakan-akan sudah tidak akan dapat melepaskan diri lagi daripadanya, betapapun keadaannya. "Tetapi aku tidak akan merusak keluargaku sendiri" katanya. Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika ia menyadari keadaannya. Bahkan kemudian ia mengedarkan pandangan matanya kesekelilingnya. Kalau-kalau ada seseorang yang melihatnya. Ketika ia mengetuk pintu rumahnya, maka dengan tergesagesa isterinya membuka pintu. Sebelum Ki Reksatani sempat duduk di amben dalam sesudah menutup dan menyelarak pintunya kembali, isterinya sudah bertanya "Bagaimana hasilnya kakang?" Ki Reksatani mengangkat pundaknya sambil berdesah- Akulah yang bernasib jelek" "Kenapa?" "Kakang Demang marah-marah kepadaku" "Kenapa?" Ki Reksatani tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia duduk di amben sambil mengipasi tubuhnya dengan ujung kainnya. "Panasnya bukan main" desisnya "aku haus" Isterinyapun kemudian dengan tergesa-gesa mengambil semangkuk air dingin. "Apakah kakang ingin minum panas? Kalau kakang menghendaki, aku akan merebusnya sebentar" "Tidak, Aku hanya haus saja" sahut Ki Reksatani. Isterinyapun kemudian duduk di sampingnya sambil bertanya "Kenapa kakang Demang marah" Setelah meletakkan mangkuknya, maka Ki Reksatanipun menceriterakan pembicaraannya dengan kakek Sindangsari. Ki Reksatani menggigit bibirnya. Tetapi ia melihat sesuatu yang aneh di mata isterinya. Setelah meneguk air dari mangkuknya sekali lagi Ki Reksatani meneruskan "Karena aku tidak mengambil keputusan saat itu, maka kakang Demang menjadi sangat marah. Meskipun tidak langsung, aku telah dituduh bsrusaha untuk menggagalkan perkawinan ini" Isterinya mengangguk-angguk sambil berkata "Memang kasihan anak-anak itu. Di usia mereka, maka khayalan cinta itu pasti membubung setinggi langit Jangankan anak-anak muda, sedang orang-orang tuapun yang sedang dibius oleh kemesraan cinta tidak ada sesuatu yang akan dapat menghalangi" Ki Reksatani mengerutkan keningnya "Maksudmu?" Isterinya menggeleng "Aku t idak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengatakan, bahwa orang-orang tuapun dapat menjadi gila karena cinta itu. Misalnya, kakang Demang" "Sebenarnya gadis itu memang kasihan" berkata isterinya "tetapi apaboleh buat. Kakang Reksatani tidak akan dapat berbuat lain daripada melakukan tugas yang diberikan oleh kakang Demang" Ki Reksatani tiba-tiba telah merenung dalam-dalam. Keningnya menjadi berkerut-kerut. Sedang kedua alisnya seakan-akan bertumpu menjadi satu. "Sebenarnya aku memang berkeberatan atas perkawinan itu" "Aku tahu kakang. Tetapi apaboleh buat. Kita tidak akan dapat membela kedua anak-anak muda itu. Hal itu pasti akan melampaui kemampuan yang ada pada kita" Ki Reksatani tidak menyahut. "Betapa kita menaruh belas kasihan, tetapi sudah tentu kita tidak akan dapat melawan perintah kakang Demang, karena kitapun harus menaruh belas kasihan kepada diri kita sendiri pula" "Aku tahu maksudmu. Tetapi kita berkepentingan, bahwa perkawinan itu batal" "Apakah kepentingan kita? Tidak. Kita tidak mempunyai kepentingan langsung, selain perasaan keadilan kita tersinggung. Apakah kita cukup mempunyai keberanian dan kekuatan untuk memperjuangkan keadilan ini sekarang, selagi kakang Demang ada di dalampuncak kekuasaannya" Ki Reksatani tidak segera menjawab. Ia memang t idak dapat menyangkal kata-kata isterinya itu. Memang sulitlah baginya untuk melawan keinginan Ki Demang Kepandak yang agaknya memang sudah bertekad untuk kawin dengan Sindangsari. Tetapi untuk membiarkan perkawinan itupun ia sebenarnya sangat berkeberatan, sehingga dengan demikian terasa benturan-benturan yang keras telah tarjadi di dadanya. "Kakang" berkata isterinya kemudian "aku kira, sebaiknya kita tidak usah memikirkannya terlampau panjang. Lakukankah perintah kakang Demang itu. Bukankah kakang hanya sekedar menyampaikan pesan kakang Demang" "Tidak. Bukan sekedar menyampaikan pesan" "Lalu?" "Aku sangat berkeberatan atas perkawinan ini" "Kita tidak dapat memberatkan Sindangsari dari kepentingan kita sendiri. Kalau kakang Demang marah kepada kita, maka akibatnya pasti akan sangat tidak menyenangkan bagi kita" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tampak betapa hatinya sedang kisruh. "Apakah kakang sudah makan?" bertanya isterinya. Ki Reksatani menggelengkan kepalanya "Belum" jawabnya "aku tidak disuguh makan, dan kakang Demang yang marah itupun tidak menyuruhku makan seperti biasanya" "Kalau begitu, biarlah aku sediakan makan meskipun sudah dingin" "Tidak usah" jawab Reksatani "aku tidak lapar" "Tetapi bukankah kakang belum makan" "Tidak ada nafsuku untuk makan" "Kakang agaknya terlampau memikirkan gadis itu?" "He" Ki Reksatani terkejut "maksudmu?" "Maksudku" isterinya segera menjelaskan "kakang terlampau berbelas kasihan kepadanya, sehingga mempengaruhi perasaan kakang" "Nyai" tiba-tiba suara Ki Reksatani memberat "sebenarnya aku ragu-ragu untuk mengatakan pertimbanganku yang sebenarnya, kenapa aku menjadi sangat berkeberatan atas perkawinan itu" "Sudahlah kakang" "Nanti dulu. Kau belum tahu jalan pikiranku" sahut Ki Reksatani "kalau kau masih belum terlampau lelah dan kantuk, dengarlah" Isterinya menjadi berheran-heran. Bahkan isterinya menjadi berdebar-debar karena Ki Reksatani masih belum mengatakan sesuatu selain duduk tepekur sambil membelai ukiran kerisnya. Nyai Reksatani yang kemudian duduk di sampingnya membiarkannya mengangguk-anggukkan kecil tanpa sepatah pertanyaanpun. Baru sejenak kemudian Ki Reksatani berkata "Nyai, sebenarnya keberatanku itupun bertolak dari kepentingan kita sendiri" Nyai reksatani menjadi heran, Dipandanginya saja wajah suaminya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri. "Nyai, sebenarnya kita memang tidak berkepentingan sama sekali dengan gadis yang bernama Sindangsari atau gadis yang manapun juga. Dan akupun akan tetap berkeberatan, seandainya kakang Demang akan mengawini gadis yang lain, yang meskipun belum berhubungan pembicaraan dengan seroang laki-laki, atau bahkan gadis yang tergila-gila kepada kakang Demang sekalipun ditambah dengan perksetujuan orang tuanya. Nyai Reksatani menjadi semakin heranmeskipun ia masih tetap terdiam, karena ia menunggu suaminya selesai berceritera. "Yang penting bagiku, kakang Demang tidak boleh kawin lagi. Apalagi dengan gadis-gadis muda" Tanpa sesadarnya isterinya bertanya "Kenapa? "Aku sama sekali tidak mempertimbangkan kepentingan Sindangsari kali ini. Tetapi kepentingan kita" "Apakah hubungannya?" "Nyai" Ki Reksatani menelan ludahnya "Aku sama sekali tidak ingin melihat kakang Demang beristeri muda. Karena itu akan membahayakan hari depan kita. Kalau isterinya itu kemudian melahirkan seorang anak, maka hilanglah semua harapanku" Nyai Reksatani kini benar-benar tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan oleh suaminya. Dengan tatapan mata yang kosong ia merenungi wajah suaminya yang tegang. "Kalau kakang Demang beristeri muda, maka kemungkinan itu menjadi bertambah besar. Kalau kemudian isterinya itu benar-benar melahirkan seorang anak, maka anak itu akan menyambung kedudukan yang akan ditinggalkannya apabila ia meninggal" Isterinya mengangkat wajahnya mendengar penjelasan itu. Dan sebelum ia menyahut, suaminya sudah meneruskannya "Aku tidak tahu apakah kau setuju atau tidak. Tetapi aku sudah memikirkan hari depan kita yang agak jauh. Hari depan anak-anak kita" "Aku tidak jelas kakang" "Nyai" suaranya menjadi semakin dalam kalau kakang Demang mempunyai anak, maka apabila kakang Demang kelak meninggal, anaknya itulah yang akan menggantikannya menjadi Demang. Kalau ia laki-laki, ia akan langsung menjabat kedudukan itu. Kalau anak itu perempuan tanpa saudara lakilaki, maka suaminyalah yang akan menjadi seorang Demang" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya. Kini ia mulai berpikir. "Tetapi, kalau kakang Demang tidak mempunyai seorang anak" berkata Ki Reksatani seterusnya "maka tidak akan ada seorangpun keturunannya yang akan menggantikan kedudukannya." Tiba-tiba isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebelum suaminya melanjutkan, ia sudah mendahului "Jadi, maksud kakang, kalau kakang Demang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai keturunan yang akan meneruskan kedudukannya, maka kedudukan itu akan bergeser kepada satu-satunya saudaranya" Ki Reksatani mengangguk "Ya" "Dan satu-satunya saudara kakang Demang adalah kakang sendiri" "Ya" Isterinya menarik nafas panjang. Panjang sekali. Namun dengan demikian ia menjadi terdiam karenanya. Keduanyapun sejenak saling berdiam diri. Dihanyutkan oleh arus perasaan masing-masing. Tiba-tiba Nyai Reksatani itupun berdesah sambil berkata "Tetapi apakah cara itu dapat dibenarkan kakang?" "Apakah salahnya? Aku tidak berbuat apa-apa. Bukan salahku kalau kakang Demang t idak mempunyai anak" "Tetapi kakang telah merintangi perkawinan itu" "Perkawinan yang tidak seimbang" "Tetapi bukankah bukan keseimbangan itu yang menjadi masalah yang sebenarnya?" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Kemudian ia menganggukkan kepalanya "Ya" Isterinyapun kemudian merenung sejenak. Lalu katanya "Tetapi kakang, apakah kakang masih menyangka bahwa kakang Demang akan dapat mempunyai keturunan?" "Kenapa tidak?" "Sudah beberapa kali ia kawin. Isterinya tidak seroangpun yang pernah mempunyai anak. Bahkan salah seorang dari mereka mengandungpun tidak. Apakah itu bukan pertanda bahwa kakang Demang tidak akan mempunyai anak. Meskipun ia akan kawin sepuluh kali lagi?" "Belum tentu" "Memang belum tentu. Tetapi kita dapat memperkirakannya" "Ki Reksatani terdiam sejenak. Agaknya ia sedang membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. "Kakang" berkata isterinya kemudian "kita tidak usah menjadi gelisah. Kita biarkan saja mereka kawin. Aku mempunyai dugaan bahwa isterinya itupun tidak akan mempunyai keturunan" "Tetapi kalau perhitungan itu salah" "Apa boleh buat" "Tetapi akan lebih baik kalau perkawinan itu batal" "Mungkin kakang berhasil membatalkan perkawinan yang sekarang. Tetapi kakang Demang akan segera mencari bakal isterinya yang lain. Tentu berulang kali sampai ia berhasil" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti jalan pikiran isterinya. Memang terlampau sulit baginya untuk mencegah sama sekali agar Ki Demang di Kepandak itu tidak akan kawin lagi. "Ya" katanya kemudian "aku memang tidak akan mungkin menentang niat kakang Demang "Aku sependapat dengan kau. Kita akan menunggu dan melihat, apakah yang akan terjadi kemudian. Kalau gadis itu memang benar-benar mendapat tanda-tanda akan mempunyai keturunan, aku akan berbuat sesuatu, meskipun caranya akan menjadi lebih buruk dari mencegah perkawinan itu" Isterinya tidak menjawab. Tetapi ia mengerti maksud suaminya, bahwa apabila ada tanda-tanda isteri baru Ki Demang itu akan mempunyai keturunan, usahanya akan menjadi lebih sulit lagi. Namun Nyai Reksatani itu benar yakin bahwa Ki Demang Kepandak itu tidak akan dapat mempunyai anak barang seorangpun. Kalau perempuan-perempuan yang pernah diperisterikan itu mandul, sudah tentu t idak kelima kalinya. "Setiap kemandulan pasti selalu dipersalahkan kepada pihak perempuan" berkata Nyai Reksatani di dalam hatinya "tetapi itu pasti hanya sekedar alasan, agar laki-laki dapat kawin lagi tanpa banyak rintangan" meskipun demikian ia tidak berani mengatakannya kepada suaminya. Demikianlah maka Ki Reksatani tidak dapat lagi bersikap lain. Ia memang tidak mempunyai jalan untuk menggagalkan perkawinan itu. Karena itu, maka mau tidak mau ia harus melihat, kakaknya kawin sekali lagi. Kali ini yang akan dijadikan isterinya adalah seorang gadis yang bernama Sindangsari. Dihari berikutnya, ketika senja mulai turun, Ki Raksatani sudah berada di rumah kakaknya lagi. Ia harus pergi sekali lagi ke rumah kakek Sindangsari untuk memberikan ketegasan kepada kakek gadis itu, bahwa t idak ada persoalan yang dapat menghalangi niat Ki Demang, mengambil gadis itu untuk dijadikan isterinya. Ki Reksatani malam itupun terpaksa berangkat sekali lagi. Tetapi kini mereka hanya bertiga, dan kini mereka menyambung langkah mereka dengan duduk di atas punggung kuda. Kakek Sindangsari sebenarnya sudah tidak terkejut menerima kedatangan mereka. Ia sudah menyangka, bahwa utusan Ki Demang itu akan segera kembali dan melamar cucunya dengan nada yang lain. Nada seorang yang berkuasa tanpa batas di atas Tanah Kepandak. "Aku hanya sekedar menyampaikan pesan kakang Demang" berkata Ki Reksatani "semuanya itu sama sekali bukan maksudku sendiri" Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya, aku mengerti. Sudah tentu semuanya ini bukan maksud Ki Reksatani sendiri" "Demikianlah" jawab Ki Reksatani "lalu, bagaimanakah jawaban yang harus aku sampaikan kepada Kakang Demang" "Apakah aku masih harus menjawab?" desis kakek Sindangsari "kali ini Ki Demang bukan melamar cucuku. Tetapi Ki Demang sudah merampasnya. Lalu, apakah aku masih harus menjawab?" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih sepapat tersenyum "Bukan maksudnya. Tetapi kalau terasa demikian, aku kira, memang sulit lah untuk dibedakan" "Nah" berkata kakek Sindangsari "aku tidak perlu menjawab. Tetapi aku mengharap, bahwa pada suatu saat hati Ki Demang itu terbuka, bahwa cucuku sama sekali tidak merasa berbahagia dengan perampasan ini. Seluruh keluarga yang kecil dan sederhana ini merasa kehilangan karenanya" "Tidak. Sindangsari tidak akan hilang. Ia akan tinggal dikademangan Setiap saat kalian dapat mengunjunginya dan Sindangsari dapat berkunjung ke rumah ini" "Memang, Sindangsari tidak akan hilang. Dan kamipun tidak akan merasa kehilangan gadis itu" Ki Reksatani menjadi heran. Karena itu ia bertanya "Tetapi bukankah keluarga ini merasa kehilangan karena perkawinan itu" "Tetapi bukan Sindangsarilah yang hilang" jawab kakeknya. "Lalu, apakah yang hilang itu?" "Kebebasan anak itu. Kebebasan kami menentukan nasib salah seorang anggauta keluarga kami" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah laki-laki tua itu sejenak. Namun kemudian kepalanya segera terangguk-angguk. "Aku dapat mengerti" "Karena itu, di dalam keadaan yang demikian, maka aku tidak akan memberikan jawaban apapun" "Baiklah" jawab Ki Reksatani "Aku akan segera minta diri. Aku akan menyampaikannya kepada Ki Demang, apa yang sudah kami lakukan disini dan tanggapan yang kami dapatkan" "Silahkan" Ki Reksatanipun segera minta diri. Diperjalanan terasa jantungnya menjadi berdebar-debar? Sebenarnyalah bahwa ia tidak lagi memikirkan nasib gadis itu. Tetapi kini yang selalu melintas diangan-angannya adalah hari depannya sendiri. Hari depan anak-anaknya. Kalau Ki Demang di Kepandak itu untuk seterusnya tidak mempunyai keturunan, maka orang yang paling berhak atas kedudukan itu adalah dirinya sendiri. Kemudian kedudukan itu akan temurun kepada anak laki-lakinya. Tetapi kalau dari perkawinan ini akan lahir seorang anak, maka cita-citanya itu akan pecah seperti asap dihembus angin yang kencang. Selama ini ia sudah berhasil berpura-pura, seolah-olah ia adalah seorang yang baik hati, yang mengerti keberatan dan perasaan gadis yang bernama Sindangsari itu. Seolah-olah ia sudah membela kebersihan cinta antara Sindangsari dan Pamot, Namun ternyata permainannya yang baik itu tidak menghasilkan sama sekali. "Persetan dengan keluarga Sindangsari dan Pamot" ia justru menggeram di dalam hatinya "kenapa perempuan itu membawa anaknya pulang ke Gemulung?" Kini yang menonjol dipermukaan hatinya adalah sifatsifatnya yang sebenarnya. Bukan seorang Reksatani yang sangat perasa, yang dengan iba hati melihat Sindangsari yang hatinya terpecah-pecah. Tetapi kini ia justru mendendam kepada gadis yang telah memikat hati kakaknya itu. "Aku tidak tahu, apakah yang akan aku lakukan kelak seandainya ternyata gadis itu mulai mengandung" katanya di dalam hatinya pula "agaknya aku tidak melihat jalan lain daripada menyingkirkannya untuk selama-lamanya" Tiba-tiba wajah Reksatani menjadi tegang. Senyum dan sorot mata yang penuh iba itu sudah lenyap sama sekali. Kini matanya seakan-akan menjadi merah membara, dibakar oleh nafsunya yang tidak terkendali. Usahanya untuk mencegah perkawinan itu dengan cara yang paling baik itu telah gagal. Sepeninggal Ki Reksatani, Sindangsari sama sekali tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Seperti di saat ia kematian ayahnya, ia menangis sejadi-jadinya. Seluruh isi rumah itu tampaknya bukan sedang menghadapi hari-hari perkawinan satu-satunya anak gadis mereka. Tetapi keluarga itu bagaikan sedang kematian orang yang sangat mereka kasihi. Kakek Sindagsari duduk tepekur di atas amben besar di ruang tengah. Kerut-kerut ketuaannya rasa-rasanya menjadi semakin banyak dan dalam. Sedang isterinya yang duduk di sampingnya tidak berani menegurnya sama sekali. Sindangsari yang berada di dalam biliknya menangis tanpa dapat ditenangkan. Ibunya yang menungguinya justru tidak dapat menahan air matanya sendiri yang menitik. "Ibu, kenapa aku harus mengalami perlakuan ini?" Ibunya tidak dapat menjawab. Dibelainya saja rambut anaknya yang kusut dengan curahan kasih seorang ibu. Semalam suntuk tidak ada seorangpun yang dapat tidur. Di dalam geledeg masih tersusun rapi, lembaran-lembaran pakaian yang telah dikirimkan oleh Ki Demang ketika untuk pertama kalinya Ki Reksatani datang melamar. Seisi rumah itu sama sekali tidak bernafsu untuk menjamah pakaian-pakaian itu. Apalagi Sindangsari. Tetapi ia t idak akan dapat ingkar. Ketika fajar membayang di langit, maka kakek Sindangsaripun turun kehalaman untuk membersihkan dirinya, disusul oleh isterinya sambil menjinjing sapu lidi. Nyai Wiratapa telah berada di dapur menunggui api yang menyala, memanasi air. Dalam keremangan fajar itu, Sindangsari yang tidak kuat lagi menahan gejolak perasaannya, dengan diam-diam meninggalkan rumahnya. Berlari-lari kecil ia pergi ke rumah Pamot. Ia ingin dapat mencurahkan segala sesak di dadanya yang rasa-rasanya akan mencekiknya. Tetapi ketika ia berada di depan regol halaman rumah Pamot, ia menjadi ragu-ragu. Seakan-akan sesuatu telah membatasinya dari anak muda itu. Dan sebuah jerit yang memelas terdengar di sudut hatinya "Tidak. Aku tidak berhak lagi datang kepadanya. Ia akan mengusir aku karena aku harus ingkar akan janjiku kepadanya" Tiba-tiba saja Sindangsari berhenti beberapa langkah di depan regol itu. Ia tidak menghiraukan lagi rambutnya yang terurai dan pakaiannya yang kusut. Adalah kebetulan sekali, bahwa Pamotpun sudah bangun pula. Ia sudah berada meskipun ia belum mulai melakukan sesuatu. Di tangannya sudah tergenggam tangkai sapu lidi yang panjang. Namun ia masih saja berdiri di bawah rimbunnya dedaunan menyelusuri angan-angannya yang membubung disela-sela bintang yang suram. Ia terkejut ketika ia melihat bayangan yang samar-samar berdiri di hadapan regol halaman rumahnya. Kemudian bayangan itu segera berbalik dan berlari menjauh. Seperti digerakkan oleh tenaga gaib, Pamotpun segera melemparkan sapunya, dan meloncat mengejar bayangan itu. Ketajaman perasaannya segera memastikan bahwa orang itu adalah Sindangsari. Ia tidak memerlukan waktu yang panjang untuk menyusulnya. Dengan serta-merta Pamot menangkap tangan gadis itu, kemudian ditariknya agar ia berhenti berlari. "Lepaskan lepaskan" Sindangsari tiba-tiba saja merontaronta. Pamot terkejut melihat tingkah laku Sindangsari yang aneh itu. Namun ia tidak melepaskan tangannya, bahkan gadis itu ditariknya semakin mendekat. Tetapi Sindangsari masih saja berusaha melepaskan diri sambil menggeram "Lepaskan, lepaskan. Kau tidak berhak lagi berbuat sesuatu atasku" "Sari, kenapa kau he?" "Lepaskan, kalau tidak aku akan berteriak " "Tetapi kau datang ke rumahku" "Sama sekali tidak" suara Sindangsari menjadi semakin keras "lepaskan" Sindangsari ternyata telah menjadi terlampau bingung. Hampir saja ia berteriak, namun Pamot bergerak cepat, menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Jangan berteriak" Sindangsari menjadi semakin meronta, tetapi tangan Pamotpun semakin keras mendekapnya "Jangan berteriak. Dengan demikian kau akan membuat keributan" Sejenak Sindangsari masih berusaha melepaskan diri, tetapi tangan Pamot terlampau kuat, sehingga akhirnya Sindangsaripun menjadi semakin lemah. Ketika Sindngsari hampir kehabisan tenaga ia mendengar Pamot berdesis "Kenapa kau menjadi bingung Sari? Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Marilah, mumpung masih agak gelap. Masuklah ke rumah, supaya tidak seorangpun melihat keadaanmu yang begini" Sindnagsari mengibaskan tangan Pamot yang menutup mulutnya sambil berkata "Kau menyakiti aku" "Kau akan membuat dirimu sendiri menjadi pembicaraan orang. Kalau kau berteriak, orang-orang akan datang kemari. Mereka akan melihat keadaanmu yang kusut. Banyak arti yang dapat dibuat oleh orang-orang yang melihatmu menurut selera masing-masing. Apakah kau t idak menyadarinya?" Sindangsari terdiam. Di pandanginya wajah Pamot yang tegang. Namun ketika tatapan mata mereka beradu, tiba-tiba Sindangsari menjatuhkan kepalanya di dada anak muda itu sambil menangis. "Sari, jangan menangis di sini. Marilah kita masuk ke rumahku. Hal ini akan dapat menimbulkan salah paham apabila seseorang melihat kita" Sindangsari tidak menjawab. Ia tidak mengelak lagi ketika tangannya kemudian dibimbing oleh Pamot pergi ke rumahnya. Keluarga Pamot terkejut melihat kedatangan Sindangsari dalam keadaan itu. Dengan muka pucat ibunya bertanya "Pamot, apakah yang sudah kau lakukan?" Pamot tidak segera menjawab. Dipersilahkannya Sindangdari duduk di amben besar. Kemudian ia sendiri duduk pula di sampingnya. "Pamot " suara ibunya menjadi dalam. Tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan jelas di katakannya apa yang sebenarnya telah terjadi. "O" ibunya mematung di tempatnya. Di pandanginya wajah Sindangsari yang kusut dan pucat. Rambutnya yang terurai dan pakaiannya yang tidak teratur. "Sari" berkata perempuan itu "benahilah pakaianmu dahulu. Keadaanmu memang dapat menimbulkan salah mengerti" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Namun seperti orang yang kehilangan kesadaran ia menurut saja ketika ibu Pamot membimbingnya masuk ke dalam bilik. "Nah, benahilah dirimu. Pakaianmu, rambutmu dan air matamu" Sindangsari masih tetap berdiam diri, tetapi ia menganggukkan kepalanya. Dalam pada itu Pamot duduk di ruang tengah dengan hati yang berdebar-debar. Meskipun Sindangsari belum mengatakan sesuatu, tetapi Pamot sudah dapat meraba, apakah yang membuat Sindangsari menjadi bingung dan kehilangan nalar. "Utusan Ki Demang itu pasti sudah datang" katanya di dalam hati. Sejenak kemudian maka Sindangsari yang telah selesai membenahi pakaian dan rambutnyapun telah keluar dari dalam bilik dan duduk kembali di tempatnya. Namun demikian kepalanya masih saja tertunduk dalam-dalam. "Sindangsari" bertanya ibu Pamot "masih sepagi ini kau sudah sampai kemari? Apakah kau tidak akan dicari oleh ibu atau kakekmu seperti beberapa hari yang lalu?" Sindangsari t idak menjawab. "Bukankah kau tidak memberitahukan kepergianmu ini kepada siapapun juga?" Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Lain kali kau harus minta diri kepada ibu, Sari" berkata ibu Pamot kemudian "Perasaan seorang ibu selalu saja dihinggapi oleh kecemasan apabila anaknya tidak ada di sampingnya, meskipun anak itu sudah dewasa. Apalagi tanpa diketahui kemana perginya" Sindangsari t idak menyahut "Apakah kau akan segera pulang" bertanya ibu Pamot "marilah. Sekarang, akulah yang akan mengantarkan Bukan Pamot dan bukan ayahnya" Sindangsari masih berdiamdiri. "Sebentar lagi matahari sudah akan terbit" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. "Tetapi, sebelum kau pulang, apakah kau akan mengatakan sesuatu?" Sindangsari menjadi ragu-ragu. "Katakanlah. Kau tahu, bagaimana perasaan kami terhadapmu" Sindangsari mulai dijalari oleh perasaan pahit yang menyesakkan dadanya kembali. Karena itu, maka matanya mulai basah, dan nafasnya serasa tersumbat di kerongkongan. "Jangan menangis" bisik ibu Pamot "kau tidak usah menangis lagi. Air matamu agaknya sudah cukup kau peras. Aku dapat melihatnya pada matamu yang bendul" Sindangsari beringsut setapak. Kemudian katanya terbatabata "Aku harus melakukan sesuatu yang sama sekali tidak aku kehendaki" Ibu Pamot hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun segera mengerti, bahwa agaknya Ki Demang benar-benar menghendaki anak itu untuk dijadikan isterinya. Dengan demikian, maka perempuan itupun tidak lagi dapat mengatakan sesuatu. Ki Demang adalah orang yang paling berkuasa di Kepandak. Tidak seorangpun dapat menghalangi maksudnya. Apalagi keluarganya. Sejenak seisi ruangan itupun saling berdiam diri. Dada Pamot serasa terbakar karenanya. Namun ia menyadari keadaannya dan keluarganya. Namun sejenak kemudian ibu Pamot yang agaknya masih tetap menguasai perasaannya berkata "Sindangsari, baiklah semuanya ini merupakan persoalan yang harus kita pikirkan. Tetapi kasihan ibumu yang kebingungan di rumah. Ia pasti menunggu kau. Marilah, aku antarkan kau pulang" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi lewat pintu yang terbuka ia melihat halaman yang sudah menjadi semakin terang. "Marilah" desis ibu Pamot. Tetapi sebelum mereka beranjak dari tempatnya, tampaklah seseorang memasuki halaman rumah itu dan langsung menuju ke pintu. Orang itu adalah kakek Sindangsari. Dengan tergopoh-gopoh ayah Pamot menyongsongnya keluar pintu sambil berkata "Marilah, silahkan masuk" "Terima kasih" jawabnya. Dan iapun kemudian bertanya "Apakah Sindangsari kemari ?" "Demikianlah" suara ayah Pamot menjadi datar "ia ada di dalam" Kakek Sindangsari mencoba melihat ke dalam ruangan yang masih agak gelap. Samar-samar ia melihat seorang gadis duduk sambil menekurkan kepalanya. Sindangsari. "Aku sudah menyangka, bahwa ia akan datang kemari" "Ya. Aku juga sudah mendengar, meskipun tidak jelas, bahwa anak itu tidak dapat lagi mengelakkan dirinya" Kakek gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya "Suatu kenyataan yang pahit yang harus kami telan sekeluarga" "Kami merasakannya pula" Orang tua itu mengangguk-angguk dan menganggukangguk. Ia mengerti bahwa keluarga Pamotpun akan terpercik kepahitan peristiwa yang menimpa keluarganya, karena dengan demikian Pamotpun akan kehilangan sebagian dari hidup yang selama ini telah membayanginya. "Kami sudah berusaha" berkata kakek Sindangsari itu kemudian "Tetapi kami gagal" Ayah Pamot berdesah perlahan-lahan. Namun tiba-tiba ia berkata "Silahkan masuk" "Terima kasih. Aku ingin segera membawa Sindangsari pulang" Ayah Pamotpun segera berpaling sambil berkata "Sindangsari ini kakekmu menyusulmu" Tetapi Sindangsari sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. "Sari" panggil kakeknya "ibumu menjadi bingung Marilah kita palang" Sindangsari masih tetap duduk ditempuhnya. "Sari" panggil kakeknya sekali lagi. Tetapi Sindangsari berpalingpun tidak. Kakeknya yang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya disela-sela desah nafasnya "Aku dapat mengerti perasaannya" "Ya" sahut ayah Pamot "harapan yang dijalinkannya di hari mendatang, tiba-tiba saja hanyut tanpa dapat ditolaknya" Kakek Sindangsari terdiam. Meskipun kepalanya masih terangguk-angguk, tetapi tatapan matanya menyorotkan kegelisahan yang luar biasa. "Tadi, ibu Pamot juga berusaha untuk mengantarkannya pulang" berkata ayah Pamot itu kemudian "tetapi agaknya hatinya masih terlampau gelap" "Ibu Sindangsari menjadi sangat cemas" "Tentu. Sebagai seorang ibu, ia adalah orang yang paling dekat dari anak itu" ayah Pamot berhenti sejenak, kemudian desisnya perlahan-lahan "marilah masuk. Mungkin anak itu dapat ditenteramkan" Kakek Sindangsari tidak menolak lagi. Maka iapun segera masuk mengikut i ayah Pamot dan duduk di samping cucunya. "Sari" berkata orang tua itu sareh "marilah, kita pulang dahulu. Kalau ada persoalan yang masih dapat kita bicarakan, nanti kita bicarakan" Sindangsari sama sekali tidak bergerak. "Sari" desis kakeknya, Tetapi Sindangsari benar-benar seperti sebuah patung yang beku. Namun ketika kakeknya kemudian membelai pundaknya meledaklah perasaan gadis itu. Tiba-tiba ia menangis sambil menelungkupkan kepalanya di pangkuan kakeknya. "Aku tidak mau kakek. Aku tidak mau" Kakeknya hanya dapat berdesah lewat mulutnya. Ia menyayangi cucunya yang tidak berayah lagi itu. Karena itu, seandainya mungkin, ia memang ingin mempertahankannya. Tetapi ia benar-benar tidak dapat mengabaikan kenyataan, bahwa Ki Demang Kepandak sama sekali tidak bermaksud mengurungkan niatnya. "Rasa-rasanya memang tidak ada yang dapat aku lakukan" katanya di dalam hati. Dengan penuh pengertian dibiarkannya saja Sindangsari itu menangis sepuas-puasnya. Kadang-kadang ia memang berusaha menenteramkannya, namun orang tua itu mengharap, bahwa dengan tangis itu, Sindangsari dapat mengurangi beban yang menyesak di dadanya. Barulah ketika tangis itu mereda, kakeknya mencoba memberinya beberapa petunjuk, agar gadis itu sedikit mendapat kekuatan menghadapi jalan hidupnya yang terjal. "Jangan seperti kanak-kanak lagi Sari" berkata kakeknya "marilah semuanya ini kita hadapi dengan, sikap dewasa" Sindangsari masih terisak, dan diantara isaknya ia menjawab "Tetapi aku t idak mau kakek" Kakeknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku mengerti, betapa beratnya hatimu menghadapi masalah ini. Tetapi kau tidak dapat menyelesaikannya dengan sekedar pergi dari rumah dan tidak mau pulang. Bukan itu. Kita harus mencari cara yang sebaik-baiknya" Sindangsari terdiam. "Kasihan ibumu Sari" berkata kakeknya kemudian "dan jangan kau sangka, bahwa ibumu tidak berprihatin menghadapi masalahmu. Karena itu, marilah kau pulang. Di rumah kita dapat banyak berbicara" Sindangsari masih tetap membeku. Sekilas ia melihat sinar matahari yang kekuning-kuningan menyusup diantara dedaunan. Pagi yang cerah. Tetapi hatinya sendiri masih tetap kelam seperti kelamnya malam. "Semuanya itu masih dibatasi oleh waktu. Perkawinan itu tidak akan terjadi nanti siang, seminggu atau bahkan sebulan. Selama ini kita masih mempunyai kesempatan untuk berpikir dan berbuat" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. "Marilah Sari" Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan kepalanya. Maka kakek Sindangsaripun kemudian minta diri bersama cucunya. Kesan yang pahit masih membayang di wajah keduanya. Namun juga di wajah Pamot yang mengantarkan mereka sampai ke regol halamannya. Anak muda itu tidak peduli ketika satu dua orang lewat di depan rumahnya, memandang wajahnya yang suram dan matanya yang redup. Tatapan matanya terlontar jauh ketikungan sebelah, dimana Sindangsari dan kakeknya seakan-akan hilang ditelan gerumbul-gerumbul di pinggir jalan. Pamot berpaling ketika ia mendengar suara ibunya memanggilnya. Meskipun suaranya lirih, tetapi terdengar jelas di telinga hatinya, betapa kasih seorang ibu kepada anaknya. "Sudahlah Pamot. Jangan terlampau kau risaukan. Memang kadang-kadang kita harus menghadapi kenyataan-kenyataan yang sama sekali tidak kita inginkan. Tetapi kau adalah orang laki-laki. Kau tidak boleh terbenam dalam kepedihan. Sedang dunia ini masih akan berputar terus seperti roda pedati. Kalau kau berhenti, maka kau akan ketinggalan dan kehilangan kesempatan untuk seterusnya" Pamot tidak menjawab. "Masuklah" Pamotpun kemudian berjalan perlahan-lahan dengan kepala tunduk. Ia mengerti maksud ibunya, bahwa ia tidak boleh terbenam dalam persoalan itu saja. Persoalan Sindangsari .Dengan demikian maka segi hidupnya yang lain akan terhenti pula. "Tinggallah hari ini di rumah, Pamot" berkata ayahnya "biarlah aku selesaikan pekerjaan di sawah. Tetapi Pamot menggeleng "Tidak ayah. Aku akan pergi ke sawah" Ketika ayahnya akan mencegahnya, ibunya memotong "Biarlah ia pergi ke sawah. Itu akan lebih baik baginya dari pada ia duduk termenung saja di rumah" Ayahnya berpikir sejenak, namun kemudian ia berkata "Baiklah. Kalau begitu mandilah. Aku akan menunggumu" Pamotpun kemudian segera pergi ke belakang. Tetapi angan-angannya tidak dapat lepas dari Sindangsari. Terbayang di rongga matanya gadis itu kemudian akan tinggal di rumah Kademangan Kepandak. Apabila setiap kali ia pergi ke Kademangan sebagai salah seorang anggauta pengawal khusus maka ia akan melihat isteri Ki Demang itu duduk merenung memandang kekejauhan. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Tetapi memang lebih baik baginya mengisi waktunya dengan kerja, supaya ia tidak semakin dalamterbenamdi dalam kepahitan perasaan. Ternyata bukan hanya Pamot sajalah yang mendapat goncangan perasaan. Di rumahnya Manguripun selalu marahmarah tanpa sebab. Kalau Sindangsari menjadi isteri Ki Demang, maka lenyaplah semua harapannya untuk mendapatkan gadis itu. Meskipun demikian Manguri masih juga menemui ayahnya untuk mempersoalkan gadis itu. "Ayah, apakah ayah tidak dapat menemui Ki Demang dan mengatakan bahwa ayah ingin mengambilnya sebagai menantu" Ayahnya tidak segera menjawab. "Ayah dahulu pernah berkata bahwa Ki Demang akan menyelesaikan masalah ini sebaik-baiknya dan mencarikan kemungkinan yang mendekatkan aku kepada gadis itu. Tetapi kini anak itu justru diambilnya sendiri" "Itulah sulitnya, Manguri" jawab ayahnya "kalau Ki Demang sendiri tidak mengingininya, aku akan lebih mudah mendapatkan bantuannya. Tetapi tiba-tiba ia sendiri memerlukan gadis itu" "Ayahlah yang bersalah. Kenapa ayah membawa Ki Demang itu ke rumah Sindangsari" "Aku tidak membawanya kesana. Ia sendirilah yang pergi ke rumah itu bersama Ki Jagabaya untuk mendapatkan keterangan tentang kau dan Pamot" "Tetapi aku minta ayah berusaha. Apapun yang dapat ayah jalankan untuk kepentingan ini" Manguri diam sejenak, tibatiba ia berbisik "kita dapat menculiknya" "Gila kau" "Belum tentu kalau kita akan mendapat tuduhan. Dan sudah tentu kita tidak akan berbuat terlampau bodoh" Ayahnya mengerutkan keningnya. "Kita culik bersama-sama, Sindangsari dan Pamot" "Buat apa Pamot?" "Kalau keduanya hilang, semua orang, termasuk Ki Demang akan menyangka, bahwa mereka berdua melarikan diri" Ayahnya tidak segera menjawab. "Kita bunuh Pamot, dan kita lenyapkan bekasnya" Tetapi ayahnya kemudian menggelengkan kepalanya "Tidak Manguri. Bahayanya terlampau besar. Kalau kau ingin berbuat demikian, maka kau akan melakukan kesalahan sekali lagi, seperti ketika kau mengundang Sura Sapi untuk menangkap Pamot di sawahnya" Manguri mengerutkan keningnya. Dengan bersungguhsungguh ia berkata "Apakah kita tidak dapat belajar dari pengalaman? Tentu kita tidak akan berbuat sebodoh itu. Kita akan melakukannya dengan hati-hati dan dengan perhitungan yang masak. "Setelah mereka itu kita ambil, apakah yang dapat kau lakukan dengan Sindangsari?" Manguri menarik nafas dalam-dalam. "Kita dengan mudah akan membunuh Pamot, melenyapkan bekas-bekasnya. Tetapi sesudah itu, apakah kau akan dapat kawin dengan Sindangsari?" Manguri berpikir sejenak, lalu "Kita dapat menyingkir jauhjauh dari Gemulung" "Siapakah dengan kita itu?" "Aku, ayah dan seluruh keluarga" "Kau memang bodoh sekali. Aku adalah orang Gemulung sejak kecil. Aku sudah mempunyai sawah, pategalan dan rumah disini. Bahkan paling luas dibanding dengan orangorang lain. Rumah inipun adalah rumah yang paling besar di seluruh Gemulung, bahkan di seluruh Kepandak" ayahnya berhenti sejenak, lalu "Kita harus meninggalkan semuanya itu, yang aku kumpulkan sedikit demi sedikit hanya karena kau menjadi gila kepada gadis yang bernama Sindangsari itu ?" Manguri mengerutkan keningnya. Namun ia masih menjawab "Kalau begitu, biarlah aku saja yang menyingkir bersama Sindangsari" "Itupun perbuatan gila. Kalau kau pergi setelah Sindangsari hilang, maka setiap orang akan membuat perhitungan. Semula Sindangsari dan Pamot, kemudian kau?" Manguri akhirnya menjadi jengkel "Lalu, bagaimanakah yang sebaiknya menurut ayah?" "Manguri, telah berapa kali kau terseret ke dalam keadaan serupa ini. Telah berapa orang gadis yang terpaksa kau singkirkan. Tetapi kau tidak pernah menjadi segila sekarang ini" "Ayah" berkata Manguri "kali ini aku bersikap lain Sindangsari bukan sekedar seorang gadis yang pantas dimiliki untuk sesaat, kemudian dilemparkan seperti gadis-gadis lain. Tetapi ia mempunyai kelebihan yang sulit untuk dikatakan. Aku mengingininya untuk menjadikannya seorang teman hidup yang baik" "Sekarang kau berkata demikian. Tetapi kaupun akan segera menjadi jemu kalau kau sudah berhasil. "Tidak" "Sekarang kau berkata tidak. Kau sangka aku tidak mengerti perangaimu yang buruk itu" "Ayah" "Jangan membantah. Aku tidak percaya bahwa kau akan bersikap sungguh-sungguh. Manguri memandang ayahnya dengan tajamnya. Ia menjadi kecewa sekali bahwa ayahnya tidak mempercayainya, sehingga karena itu maka ia berkata "Ayah. Apakah aku dapat memberikan sebuah contoh, bahwa hal itu akan dapat terjadi ?" "Apa contohmu ?" Manguri menjadi ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian ia berkata "Maaf ayah. Contoh itu tidak terlampau jauh. Disini ayah mempunyai seseorang yang menjadi kawan hidup ayah seterusnya, ibu, meskipun masih ada orang lain lagi di dalam hidup ayah" "Diam" bentak ayahnya tiba-tiba "kalau kau ulangi lagi hal itu, aku pukul kau" Manguri terdiam. Tetapi ia mengumpat-umpat di dalam hatinya. "Manguri" berkata ayahnya "sebaiknya kau lupakan saja gadis itu. Di Gemulung masih banyak gadis-gadis yang bersedia menjadi kawan hidupmu. Bukan saja di Gemulung, di Kepandak masih tersedia berapa saja yang kau ingini" "Terlampau sulit untuk melupakannya ayah" jawab Manguri. "Perlahan-lahan. Kalau kau tidak pernah melihatnya lagi, maka kau akan lupa kepadanya. Apalagi kalau kau sudah mendapat kawan lain. Aku kira Sindangsari bukanlah gadis yang paling cantik di Kepandak" Manguri berpikir sejenak, namun ia kemudian menjawab "Tetapi aku minta ayah tetap berusaha" "Aku akan berusaha. Tetapi kau jangan menganggap bahwa tanpa Sindangsari kau tidak dapat hidup lagi. Jika demikian kau akan benar-benar tidak akan dapat hidup seterusnya. Hidupmu akan terhenti, meskipun secara badaniah kau masih tetap hidup" Manguri mengguk-anggukkan kepalanya.Namun di dalam hatinya ia tidak dapat mengerti, apakah keberatannya kalau gadis itu diambilnya saja dengan paksa, kemudian disembunyikannya disuatu tempat? Setiap kali ia akan dapat mengunjungi gadis itu, dikehendaki atau tidak dikehendakinya. Sementara Pamot yang disingkirkannya itu, tidak akan dapat mengganggunya lagi untuk selama-lamanya. "Ayah memang tidak mau memikirkan anaknya" berkata Manguri di dalam hatinya "ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Kalau ayah sendiri yang menghendaki seorang gadis, apapun dikorbankannya" Dengan demikian, maka meskipun ayahnya tidak sependapat, tetapi ada benih pikiran di kepala Manguri, bahwa Sindangsari sebaiknya diambilnya saja dengan paksa. Bahkan bersama Pamot, yang harus segera dibunuhnya dan dilenyapkannya. "Aku tidak peduli lagi. Tetapi aku harus mendapat gadis itu" katanya di dalam hati. Tiba-tiba Manguri teringat kepada ibunya. Apakah ibunya dapat menolongnya dengan caranya? Manguri yang kecewa itu, sehari-harian hanya marahmarah saja. Dibentak-bentaknya Lamat yang tidak mengerti ujung dan pangkal kemarahan Manguri. Tetapi seperti biasa, Lamat tidak terlampau banyak bicara. Ia melakukan apa saja yang dikehendaki Manguri. "Lamat" tiba-tiba manguri itu memanggilnya "kemari. Aku akan berbicara sedikit" Lamat termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak sempat berpikir lebih lama lagi ketika Manguri membentak "Cepat" Dengan ragu-ragu Lamat mendekatinya. Ditatapnya sejenak wajah Manguri yang gelap. Namun iapun kemudian duduk di dekatnya. "Lamat" desis Manguri "kita akan menghadapi kerja yang berat. Apakah kau sanggup ?" Lamat yang belum mengerti, kerja apa yang harus dilakukan tidak segera menjawab dan ia mendangar Manguri berkata pula "Kalau kerja ini gagal, maka kita akan digantung bersama-sama" "Apakah yang harus aku kerjakan?" bertanya Lamat. "Meskipun aku masih harus mengatakannya kepada ibu, tetapi kau sebaiknya mempersiapkan dirimu lebih dahulu" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak mengerti. "Lamat" suara Manguri menurun "pada saatnya kita akan mengambil Sindangsari dengan paksa" Lamat terkejut sehingga darahnya terasa menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan kesan itu "Tidak ada jalan lain" Manguri meneruskan. "Tetapi" berkata Lamat "apakah dengan demikian persoalannya tidak akan menyangkut Ki Demang di Kepandak?" "Aku tahu" jawab Manguri. "Kalau persoalannya sekedar menyangkut Pamot, kita tidak akan terlampau banyak mengalami kesulitan. Tetapi kini Sindangsari ternyata dikehendaki oleh Ki Demang itu sendiri" "Aku sudah tahu, aku sudah tahu. Aku tidak sedungu kau mengerti" potong Manguri. Lalu suaranya merendah "Dengarlah seluruh rencanaku. Aku akan menghubungi lakilaki yang sering datang kepada ibu. Aku yakin bahwa ia akan dapat memberi jalan kepadaku untuk mengambil gadis itu. Kemudian kita ambil pula Pamot. Dengar baik-baik, supaya kau tidak salah dengar" Manguri berhenti sesaat. Dipandanginya wajah Lamat yang tegang "Pamot itu kita bunuh. Dan kita akan bebas dari segala tuduhan. Ki Demang akan menyangka bahwa Sindangsari lari bersama Pamot" Darah Lamat menjadi semakin cepat mengetuk pintu jantungnya, sehingga jantung itu berdentangan di dalam dadanya. Ia tidak menyangka, bahwa rencana Manguri akan sampai sedemikian jauh. Dengan demikian ia sudah merancang sebuah pembunuhan dan penculikan. "Bagaimana pendapatmu Lamat?" bertanya Manguri. Lamat menjadi bingung. Apakah yang harus dikatakannya menjawab pertanyaan itu. "He, apakah kau tidur?" bentak Manguri. Dalam kebingungan Lamat ganti bertanya "Apakah kau sudah mengatakannya kepada ayahmu?" "Gila kau. Buat apa aku harus mengatakannya kepada ayah" Tetapi kemudian ia membentak "Akulah yang bertanya. Apakah kau setuju?" Lamat menarik nafas dalam. Dan ia mendengar Manguri bertanya lantang "Kau takut he? Kau takut?" "Soalnya bukan aku takut" jawab Lamat "tetapi hal itu akan sangat berbahaya. Bukan saja bagi kita, tetapi bagi seluruh keluarga" "Tutup mulutmu" potong Manguri "apa kau sangka aku tidak dapat berpikir? Aku sudah mengerti kalau hal itu sangat berbahaya. Berbahaya bagi kita dan keluarga kita. Tetapi kita mempunyai otak. Nah, kau memang t idak pernah mempergunakan otakmu itu" Lamatpun terdiam. Betapa dadanya menggelepar, tetapi ia tidak mengatakan apapun lagi. Dengan sorot mata yang buram dipandanginya bayangan matahari yang bermain di dedaunan. "Kau belum menjawab pertanyaanku" desis Manguri kemudian "kau setuju atau tidak? Lamat menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan Manguri itu sebenarnya sama sekali bukan pertanyaan. Ia harus menjawab seperti apa yang dikehendakinya. Karena itu, maka iapun menganggukkan kepalanya seperti yang seharusnya dilakukan sambil berkata "Aku setuju" "Bagus. Kita akan mengatur langkah-langkah selanjutnya. Kita tidak usah tergesa-gesa" Lamat hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Di pandanginya saja kemudian Manguri yang melangkah meninggalkannya tanpa berkata sepatah katapun lagi. "Siapa lagi yang akan diundang oleh Manguri ini" Lamat berdesis di dalam hatinya "apakah ia akan memanggil gerombolan-gerombolan perampok yang lain dari gerombolan Sura Sapi, atau akulah yang kali ini harus melakukan?" Namun rencana itu benar-benar telah menggelisahkan Lamat. Kalau ia harus melakukannya dengan tangannya, maka ia pasti akan merasa tersiksa seumur hidupnya. "Atau ......." Lamat menjadi ragu-ragu. Ia merasa berhutang budi kepada keluarga Manguri. Bukan sekedar budi, tetapi ia merasa bahwa keluarga ini pulalah yang telah menyambung nyawanya. Kalau ia tidak ditolong oleh ayah Manguri saat itu, barangkali umurnya sudah lama terpotong. Perlahan-lahan Lamat berdiri. Kemudian dengan kepala tunduk ia melangkah kekebun belakang. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun ia t idak menemukan pemecahan yang dapat memberinya ketenteraman. "Mudah-mudahan Manguri membatalkan rencananya, atau ada rencana lain yang lebih baik dari rencana pembunuhan ini" desis Lamat. Untuk melupakan kerisauan hatinya, maka segera diambil sebuah kapak yang besar. Di kebun belakang masih tergolek sepotong kayu yang harus dipecahkan menjadi kayu bakar. "Lamat mengerutkan keningnya ketika ia melihat seorang pekatik duduk terkantuk-kantuk di bawah pohon jeruk sambil memeluk keranjangnya. Tetapi ia melangkah terus sambil menjinjing kapaknya. Dalam pada itu, setiap orang di Gemulung telah mempercakapkan lamaran Ki Demang. Kadang-kadang mereka merasa iri, bahwa janda itu telah mendapat nasib yang baik, karena anaknya akan diperisteri oleh seorang Demang yang kaya. Tetapi kadang-kadang mereka menaruh juga belas kasihan. Agaknya Sindangsari benar mencintai Pamot dan sebaliknya. Meskipun hampir pasti Sindangsari akan menjadi isteri Demaig di Kepandak, tetapi gadis itu tidak akan merasa berbahagia karenanya. Perhatian seluruh rakyat Gemulung benar-benar telah dicengkam oleh persoalan kedua anak-anak muda itu. Tetapi mereka sama sekali tidak mengerti, bahwa dengan diam-diam Manguripun telah menyusun rencananya. Yang langsung dapat dilihat oleh orang-orang Gemulung adalah wajah Pamot yang suram, dan Sindangsari yang sering mereka lihat membersihkan halaman rumahnya, selalu dibasahi oleh air matanya. Namun di luar pengetahuan siapapun, Pamot selalu berusaha untuk dapat menemui Sindangsari. Diam-diam ia selalu berkunjung ke rumah gadis itu. Kalau malam menjadi semakin dalam, maka sampailah saatnya keduanya melepaskan perasaan masing-masing. Apabila ibu, kakek dan neneknya sudah tidur, Sindangsari sering merayap keluar rumah. Ia tahu benar, bahwa Pamot menunggunya di belakang pakiwan di sebelah sumur. Tetapi bahwa mereka menyangka tidak ada seorangpun yang mengetahuinya adalah salah sekali. Beberapa orang ternyata mengikutinya dengan diam-diam. Yang paling dekat dengan mereka adalah kakek Sindangsari sendiri. Kadang-kadang ia mendengar gerit pintu terbuka di malam hari. Namun orang tua itu sama sekali tidak sampai hati untuk mengahalanginya. Meskipun demikian ia tidak dapat melepaskannya kedua anak-anak muda itu tanpa pengawasan, sehingga karena itu, maka lewat pintu yang lain, iapun menyusul mereka dan mengawasinya dari kejauhan apabila kedua anak-anak itu terperosok ke dalam jurang yang paling gawat dalam kehidupan anak-anak muda. Tetapi bukan saja orang tua itulah yang selalu mengawasi apa yang terjadi. Seorang petugas yang sengaja dikirim oleh Ki Demangpun selalu mengawasinya. Meskipun tidak setiap malam ia berada di dekat rumah Pamot dan Sindangsari, namun pada suatu ketika ia berhasil melihat pertemuan kedua anak-anak muda itu. Orang itu menjadi berdebar-debar karenanya. Ia ditugaskan oleh Ki Demang untuk mengawasi gadis yang akan menjadi isterinya. Tetapi sebagai manusia ia mengerti, bahwa ikatan yang menghubungkan hati kedua anak-anak muda itu agaknya memang sulit diuraikan. Ia tidak berbuat apa-apa, dan sama sekali tidak melaporkannya, ketika ia baru melihat sekali dari pertemuan itu. Tetapi kemudian ia melihat kedua, ketiga dan keempat kalinya. Orang itu justru menjadi bingung. Ia tidak mengerti apa yang sebaiknya dilakukan. Tetapi kalau ia berdiam diri saja apabila, kemudian timbul akibat yang tidak dikehendaki, maka ia akan menjadi tempat yang harus menampung kemarahan Ki Demang di Kepandak. Semula orang itu mengharap, bahwa hubungan itu semakin lama akan menjadi semakin jarang. Tetapi harapannya itu sama sekali tidak terpenuhi. Pamot masih saja selalu datang dengan diam-diam ke rumah Sindangsari dalam waktu-waktu tertentu. "O" orang itu mengeluh "Kenapa aku mendapat tugas yang gila ini. Mengint ip orang yang saling berkasihan" Namun akhirnya orang itu tidak dapat memilih cara lain daripada menyampaikan apa yang dilihatnya itu kepada Ki Demang, agar ia tidak harus bertanggung-jawab apabila kedua anak anak muda itu salah langkah. "He, kau melihatnya?" wajah Ki Demang menjadi merah. "Ya Ki Demang" "Beberapa kali kau melihat pertemuan itu? Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia kemudian menjawab "Satu kali Ki Demang" "Hanya satu kali?" Sekali lagi orang itu ragu-ragu. Ia tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang dilihatnya. Kalau ia mengatakan tiga atau empat kali, maka darah Ki Demang pasti akan segera mendidih. "Ya, sekali. Itupun samar-samar. Tetapi aku memang menyangka bahwa mereka telah mengadakan pertemuan, meskipun barangkali Sindangsari di dalam dinding rumahnya dan Pamot berada di luar" Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Masih juga anak itu berani menghubungi Sindangsari. Padahal sudah jelas bagi setiap orang, bahwa Sindangsari akan menjadi isterinya. Tiba-tiba saja Ki Demang itu menggeram "Pertemuan berikutnya harus dicegah. Kalau mereka leluasa berbuat demikian, maka mereka pasti akan mengulanginya" Orang yang mendapat tugas mengawasi Pamot itu menundukkan kepalanya. Ia terkejut ketika Ki Demang kemudian berkata "Besok bawa Kerpa serta" "Maksud Ki Demang?"orang itu menjadi berdebar-debar. "Kerpa harus membuat Pamot jera. Tetapi ingat, Pamot tidak boleh mengenal, bahwa orang yang menghalangi pertemuan itu adalah Kerpa. Kalau ia mengetahui bahwa orang itu Kerpa, ia akan langsung mengetahui, bahwa akulah yang menyuruhnya" "Apakah keberatannya kalau Pamot mengetahui, bahwa memang Ki Demang yang mencegah pertemuan itu. Bukankah hal itu sudah sewajarnya?" "Sebaiknya sementara ini tidak" Orang itu mengangguk-angguk kepalanya. Perlahan-lahan ia bertanya "tetapi bukankah Kerpa hanya mencegah pertemuan itu. Tidak lebih daripada itu" "Ya" Orang itu menggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah Besok aku akan pergi ke Gemulung bersama Kerpa" Demikianlah pada malam berikutnya, dua orang petugas yang dikirim oleh Ki Demang, dengan diam-diam mengawasi jalan yang lewat di samping rumah Sindangsari. Ketika malam mulai menjadi kelam, keduanya bersembunyi di balik segerumbul perdu. Disitulah petugas Ki Demang itu setiap kali bersembunyi. "Mungkin hari ini anak itu tidak datang kemari" desisnya. Kerpa mengerutkan keningnya. Katanya "Aku mengharap ia datang. "Lalu? Apa yang akan kau lakukan" Orang itu tertawa tertahan-tahan. Tetapi suara tertawanya telah mendirikan bulu roma. Kawannya menjadi heran mendengar suara tertawa Kerpa. Dipandanginya saja wajahnya yang disaput oleh keremangan malam. Namun wajah itu seakan-akan menjadi sangat menakutkan. "Kadang-kadang kita harus mengajari anak-anak untuk sedikit sopan" geram Kerpa kemudian "Pamot adalah gambaran anak-anak yang tidak mengenal adat" "Maksudmu?" bertanya kawan Kerpa. Kerpa tidak segera menjawab, tetapi suara tertawanya terdengar lagi. "Ingat Kerpa" berkata kawannya "kau hanya bertugas mencegah pertemuan itu Tidak lebih" "Tentu, tentu. Tetapi aku tidak ingin setiap malam mendekamdi tempat yang banyak sekali nyamuknya itu" "Lalu?" "Aku akan membuatnya jera" "Ya, memang. Tetapi tidak berlebih-lebihan" "Aku juga tidak akan berbuat terlampau banyak dan berlebihan-lebih. Aku hanya akan membuat jera. Hanya itu" "Caramu?" "Tergantung pada keadaan. Aku tahu bahwa Pamot adalah salah seorang anggauta pengawal khusus yang terlatih baik. Kalau langkahku agak terdorong sedikit, jangan menyalahkan aku. Karena kalau aku terlampau baik hati, maka akulah yang akan dibuatnya jera" Kawannya mengerutkan keningnya. Ia mengenal Kerpa dengan baik. Ia orang yang bodoh, tetapi terlampau setia kepada Ki Demang, sehingga kadang-kadang ia melakukan suatu tindakan yang agak berlebih-lebihan. Maksudnya agar ia mendapat pujian dan hadiah karena tindakannya itu, tanpa menghiraukan akibat yang dapat timbul karenanya. Sejenak kemudian mereka terdiam. Tetapi debar jantung kawan Kerpa itu menjadi semakin cepat. Ia sudah mulai membayangkan, apa yang akan terjadi. Mungkin Kerpa akan membuat Pamot menjadi cacat seumur hidupnya atau bahkan kalau ia kehilangan kendali, maka ia akan berbuat sesuatu di luar dugaan. "Gila" desis Kerpa kemudian "Kenapa anak itu belum juga datang" "Aku tidak yakin bahwa ia akan datang" "Tetapi bukankah kau pula yang melaporkannya kepada Ki Demang bahwa anak itu pernah menemui Sindangsari?" "Ya" "Itu memang perbuatan yang paling gila" Kerpa menggeram "itu sudah suatu perbuatan yang sebenarnya tidak dapat dimanfaatkan seandainya Ki Demang bukan orang yang sangat sabar. Meskipun belum terjadi perkawinan itu, tetapi Sindangsari sudah menjadi hak Ki Demang. Tidak seorangpun lagi boleh mengganggunya" Kawannya tidak menyahut. "Kalau Pamot itu mengganggu isteriku, maka isi perutnya pasti akan kutumpahkan" "Tetapi sekarang, bahkan bakal istri Ki Demang" "Tetapi Ki Demang tidak memerintahkan kepadamu lebih dari mencegah pertemuan itu. Kalau kau melakukan yang lain, maka kau pasti akan mendapat hukuman" Kerpa mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Namun demikian ia masih meragukan keterangan kawannya itu. Apakah benar Ki Demang tidak marah sekali dan maksud kata-katanya itu tidak lebih jauh dari mencegah saja hari ini. Maka selagi mereka hanyut dalam angan-angan masingmasing, di kejauhan sesosok tubuh berjalan mengendapendap di pinggir jalan padukuhan. Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Kadang-kadang ia berhenti sejenak, kemudian meneruskan langkahnya melekat dinding batu di pinggir jalan. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa dua pasang mata di balik gerumbul sedang memandanginya dengan tajamnya. Melihat kedatangannya Kerpa tersenyum. Sambil menggamit kawannya ia berdesis "Akhirnya ia datang. Agaknya kau telah memberikan keterangan yang benar, bahwa Pamot memang pernah menghubungi Sindangsari. Kau tidak sekedar mengada-ada untuk mendapat pujian dari Ki Demang bahwa kau memang melakukan tugasmu dengan baik. Pertemuan antara keduanya itu bukan sekedar desasdesus yang merambat dari mulut yang satu kemulut yang lain" Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia menjadi berdebardebar karenanya. "Kau duduk saja disini. Aku akan menyelesaikannya sendiri" "Jangan gila. Kau hanya mencegah pertemuan ini" "Dan membuatnya Ki Demang marah kepadamu" Kerpa tidak menjawab. Tetapi ia tertawa tertahan-tahan. Sementara itu langkah Pamot semakin lama menjadi semakin dekat. Tanpa berprasangka apapun ia masih tetap berjalan menepi. Sama sekali tidak disangkanya, bahwa di dekat halaman yang kosong, di balik sebuah gerumbul, seseorang telah menunggunya dengan menahan nafas. Pamot menjadi sangat terkejut, dan bahkan darahnya serasa berhenti ketika tiba-tiba. aja sepasang tangan yang kuat menerkamnya dan menyeretnya masuk ke dalam gerumbul. Tetapi Pamot adalah seorang anak muda yang cukup terlatih, sehingga ia tidak langsung menyerah pada keadaan itu. Dengan tangkasnya ia justru berguling melanda orang yang menerkamnya, kemudian menggeliat untuk melepaskan pegangan sepasang tangan yang menerkamnya itu. Pamot adalah seorang pengawal khusus yang memang pernah mendapat latihan keprajuritan. Bahkan lebih dari itu. Iapun memiliki bekal ilmu yang melengkapi latihan-latihan keprajuritannya itu. Dengan demikian, maka geraknya yang cepat dan tangkas itu sama sekali tidak diduga oleh Kerpa, sehingga tangkapan tangannyapun terlepas karenanya. Hentakan tenaga Pamot telah menghempaskan keduanya. Sejenak mereka terguling-guling. Dan hampir bersamaan mereka berloncatan berdiri. Kini mereka tegak berhadapan. Sejenak Pamot mencoba mengenal orang yang menutupi wajahnya dengan ikat kepalanya itu. Tetapi ia tidak segera dapat mengetahui dengan siapa ia berhadapan. "Siapa kau?" Pamot menggeram. Kerpa mengerutkan keningnya. Dengan suara yang dibuatbuat agar Pamot tidak dapat mengenalnya, ia menjawab "He, kau ingin tahu siapa aku?" "Ya. Bukalah tutup wajah itu" "Tidak mau. Sebaiknya kau tidak usah melawan. Aku hanya akan membuatmu lumpuh tanpa membunuhmu" Kawan Kerpa yang bersembunyi di balik gerumbul itupun menjadi berdebar-debar. Agaknya Kerpa benar-benar ingin membuat Pamot cacat, agar ia menjadi benar-benar jera. Tetapi sudah tentu, bukan itu maksud Ki Demang. Dalam pada itu ia mendengar Pamot menggeram "Apa maksudmu mengganggu aku?" "Aku tidak sekedar mengganggumu. Aku memang berusaha mencegahmu datang kepada gadis itu. Bukan hanya malam ini, tetapi untuk malam-malam selanjutnya. Karena itu, kau harus tidak dapat berjalan lagi" "Apa kepentinganmu" "Tidak ada" "Kalau tidak ada, kenapa kau mencampuri urusanku" "He? Bukan tidak ada. Tetapi tidak langsung" jawab Kerpa "kau tahu he, bahwa gadis itu adalah bakal isteri Ki Demang. Kalau kau masih berhubungan dengan dia, maka kau sudah melanggar pagar ayu. Kau tahu bahwa padukuhan Gemulung dan Kademangan Kepandak dan kau pernah juga mendengar, bahwa hampir seratus tahun yang lalu, Kademangan Kepandak pernah ditimpa oleh bencana wabah yang luar biasa. Separo dari penduduk Kepandak meninggal. Kakekku, yang sekarang berumur seratus lebih tujuh tahun, masih ingat akan peristiwa itu. Kau ingin tahu sebabnya? Ya, karena ada orang yang melanggar pagar ayu. Seorang laki-laki iblis yang menghubungi isteri Ki Demang pada waktu itu. Kakek Ki Demang yang sekarang. Nah, apakah kau akan mengulanginya dan membuat Kepandak diterkam oleh wabah yang maha dahsyat itu lagi?" "Omong kosong" bantah Pamot, namun kemudian ia menyambung "maksudku, aku sama sekali tidak melanggar pagar ayu. Akulah yang lebih dahulu melamarnya. Tetapi Ki Demang telah merampasnya. Apalagi kalau anak itu diberi hak untuk memilih. Ia tidak akan memilih Ki Demang yang sudah lima kali kawin" "Persetan. Tetapi yang sekarang diakui, gadis itu adalah bakal isteri Ki Demang" "Seandainya demikian, dan seandainya aku disebut melanggar pagar ayu, itupun tidak akan membuat bencana apapun. Apakah kau berpura-pura tidak tahu bahwa ada saja pelanggaran-pelanggaran yang serupa, bahkan yang sudah lebih jauh dari sekedar sebuah pertemuan" "Diam kau" bentak Kerpa "kau ingin membenarkan sikapmu dengan menyebut kesalahan-kesalahan yang serupa. Aku tidak peduli. Tetapi pertemuan yang demikian tidak boleh terjadi. Kau sangka aku tidak tahu bahwa malam ini bukanlah malamyang pertama kau datang kepadanya" Wajah Pamot menjadi merah. Kini ia telah benar-benar menjadi marah. Katanya "Memang. Malam ini bukan yang pertama aku datang kepadanya. Aku sudah datang kepadanya lebih dari seratus kali sejak aku mengenalnya. Gadis itupun datang ke rumahku sebanyak bilangan itu pula. Sampai saatnya Ki Demang di Kepandak berusaha memutuskan hubungan kami. Pamot berhenti sejenak. Namun perasaan di dadanya menghentak-hentak sehingga ia tidak sadar lagi dengan siapa ia berbicara. Endapan-endapan yang serasa menyumbat dadanya kemudian tertumpah saja tanpa dapat dikekangnya. Katanya "Tetapi itu perbuatan yang bodoh sekali. Memang mungkin Ki Demang dengan kekerasan apapun dapat menghalangi hubunganku dengan Sindangsari. Tetapi itu hanya sekedar hubungan badaniah. Tetapi tidak seorang manusiapun yang dapat memadamkan api yang telah menyala di dalam dada kami masing-masing. Dan itulah yang dinamakan cinta" Kerpa mengerutkan keningnya sesaat. Namun kemudian ia tertawa. Katanya "Aku tidak tahu apakah hubunganmu dengan Ki Demang di dalam soal cinta. Tetapi aku hanya mencegah wabah itu berjangkit lagi di Kepandak. Itu saja" "Kenapa kau tidak datang kepada Ki Demang dan mencegah Ki Demang merampas gadis itu? Jangan pura-pura tidak tahu, bahwa disini sekarang sudah timbul wabah? Wabah yang jauh lebih dahsyat dari penyakit apapun?" "Wabah apa?" "Wabah kekuasaan, di mana orang-orang yang berkuasa dapat berbuat apa saja seperti yang dilakukan oleh Ki Demang sekarang atas Sindangsari" "Persetan. Sudah aku katakan. Aku tidak berurusan dengan Ki Demang. Tetapi adalah kewajibanku untuk mencegahmu sekarang" Ketika Pamot akan menjawab maka Kerpapun mendahuluinya "Jangan banyak bicara. Kau harus jera. Tidak hanya sekedar mulutmu saja yang mengatakannya, tetapi lain kali diam-diam kau langgarnya" "Dengar kau. orang yang tidak berani menengadahkan wajahnya" geram Pamot "cacingpun akan menggeliat kalau terpijak. Apalagi aku" "Tutup mulut, atau aku yang akan menutupnya" Pamot tidak sempat menjawab lagi. Agaknya Kerpa memang sudah kehabisan kesabaran. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang. Tetapi Pamot yang sudah sampai ke puncak kemarahannya itupun telah bersiaga pula. Dengan demikian maka dengan tangkasnya ia menghindarinya dan bahkan iapun segera membalas serangan itu dengan sebuah serangan mendatar setinggi lambung. Kerpa menjadi berdebar-debar. Ternyata anak ini memiliki kemampuan yang cukup baik. Apalagi setelah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Terasalah oleh Kerpa bahwa Pamot bukan sekedar seorang pengawal yang mendapat latihan keprajuritan sekali sepekan atau dua kali di halaman Kademangan oleh prajurit-prajurit Mataram yang dikirim untuk itu. Karena itu, maka Kerpapun menjadi semakin berhati-hati. Ia sadar, bahwa ia tidak boleh lengah. Ikat kepalanya tidak boleh terlepas, dan apa lagi ia dapat dikalahkan dalam perkelahian itu. Dengan demikian maka perkelahian itupun menjadi semakin cepat. Pamot telah dibakar oleh darah mudanya, sehingga ia sama sekali tidak peduli lagi, dengan siapa ia berkelahi. Sedang Kerpa merasa bahwa dirinya mendapat kepercayaan dari Ki Demang untuk melakukan tugas itu. Namun perkelahian yang sengit itu agaknya telah membuat Kerpa menjadi semakin marah. Lambat laun ia tidak dapat membatasi diri lagi, bahwa ia ditugaskan sekedar mencegah pertemuan antara Pamot dengan gadis yang bakal menjadi isteri Ki Demang itu. Namun serangan-serangannya yang gagal beberapa kali, dan bahkan sentuhan-sentuhan serangan Pamot pada tubuhnya, telah menyeret Kerpa itu ke dalam suatu perkelahian yang sesungguhnya, seperti juga Pamot berkelahi bersungguh-sungguh. Kawan Kerpa yang bersembunyi di balik gerumbul menyaksikan dengan hati yang bergelora. Meskipun ia tidak mempunyai kemampuan sebesar Kerpa, namun ia dapat melihat bahwa perkelahian itu telah memanjat menjadi perkelahian yang mendebarkan jantung. Seperti Kerpa, ia memang tidak menyangka bahwa Pamot memiliki ilmu yang setingkat lebih tinggi dari para pengawal khusus. Apalagi dibandingkan dengan para pengawal yang lain. Namun orang itupun mengerti bahwa Kerpa bukan orang kebanyakan. Karena itulah, maka dadanya menjadi semakin sesak. Semakin gigih Pamot melawan, orang itu akan menjadi semakin marah, sehingga pada saatnya, ia akan berbuat halhal yang semakin buruk akibatnya bagi Pamot. Tetapi ia t idak akan dapat mencegahnya lagi. Ia tidak dapat muncul di sekitar arena. Dengan demikian Pamot akan mengenalnya dan pasti akan segera mengenal bahwa lawannya berkelahi itu adalah Kerpa. Demikianlah perkelahian di halaman kosong itu menjadi semakin seru. Masing-masing telah berusaha untuk memeras tenaganya. Pamot memang memiliki kelincahan dan kekuatan yang cukup. Namun Kerpa adalah orang yang berpengalaman. Itulah sebabnya maka setelah mereka berkelahi beberapa saat, tampaklah bahwa Pamot menjadi semakin lama semakin terdesak. Tetapi hati Pamot memang sekeras batu karang, Ia tidak segera menyerah kepada keadaan. Ia sadar, bahwa menyerahpun akibatnya pasti sangat menyakitkan hatinya. Karena itu, maka ia berkelahi terus sekuat-kuat tenaganya. Lambat laun namun pasti, Kerpa berhasil menguasai lawannya. Sekali-sekali Pamot terpelanting oleh pukulan atau hempasan kaki lawannya. Namun setiap kali ia bangkit kembali dan melawan seperti orang kesurupan, meskipun karena kelelahan dan kemarahan yang menggoncang jantungnya, geraknya menjadi semakin tidak terarah. Serangan-serangannya tidak lagi mengenai sasarannya, dan bahkan kadang-kadang ia terdorong oleh tenaganya sendiri, sehingga sentuhan yang lambat telah membuatnya jatuh tertelungkup. Kerpa yang memiliki pengalaman dan ilmu lebih tinggi daripadanya, akhirnya yakin, bahwa Pamot tidak akan dapat melawannya lagi. Karena itu, maka Kerpa akan segera mengakhiri perkelahian itu. Ia tidak dapat lagi menahan kemarahan yang menghentak di dadanya karena sikap Pamot. Apalagi beberapa bagian badannya sendiri terasa juga bekas-bekas sentuhan serangan anak muda yang kehilangan pengendalian diri itu. Pada saat-saat terakhir itulah Kerpa kemudian justru memperbesar tenaga-tenaga serangannya, sehingga Pamot menjadi jatuh bangun. Sekali ia terpental, kemudian di saat yang lain ia jatuh terjerembab. Badannya menjadi merah biru, sedang darahnya menit ik dari luka-luka hampir di seluruh tubuhnya. Luka oleh serangan Kerpa, tetapi juga luka karena batu-batu padas di bawah kakinya. Apabila ia terpelanting jatuh menimpa ujung batu yang runcing, ujung-ujung kayu dan bahkan duri-duri kemarung sepanjang kelingking, yang tumbuh berhamburan di kebun kosong itu. Betapa besar nafsunya untuk melawan, namun tenaga Pamotpun memang terbatas. Ia mampu melawan salah seorang dari anggauta gerombolan Sura Sapi, tetapi kali ini ia mau t idak mau harus melihat kenyataan bahwa ia sudah terkalahkan. Ketika sebuah pukulan mengenai dagunya, maka kepalanyapun terangkat tinggi-tinggi. Tetapi ia tidak sempat jatuh terlentang ketika tangan-tangan yang kuat menahan bajunya. Namun terasa kemudian seolah-olah seluruh perutnya terpelanting keluar ketika tangan-tangan yang kuat memukul perutnya bertubi-tubi. Tiba-tiba kepala Pamot menjadi pening. Pandangan matanya menjadi semakin kabur. Ketika pukulan-pukulan itu berhenti, maka ia tidak lagi dapat berdiri tegak di atas kedua kakinya. Sejenak ia terhuyung-huyung. Namun kemudian iapun jatuh tertelentang. Pamot masih sempat melihat bintang yang bertaburan di langit yang seakan-akan berputaran mengelilingi kepalanya. Semakin lama semakin cepat, namun semakin kabur. Meskipun demikian Pamot tidak menjadi pingsan. Meskipun ia tidak berhasil untuk mengatasi pening dan mual, sehingga ia tidak lagi sempat bangun, namun ia masih melihat bayangbayang lawannya yang kabur kehitam-hitaman. Pamot masih mendengar orang itu tertawa, kemudian melangkah semakin dekat. Kini orang itu berdiri bertolak pinggang selangkah di sampingnya. Tangannya seolah-olah berguncang-guncang oleh gelak yang tertahan-tahan. "Nah, apakah kau masih akan melawan?" terdengar ia berdesis. Pamot tidak menyahut. Nafasnya serasa sudah benar-benar hampir terputus. "Kau sudah membuat hatiku menjadi panas, berkata Kerpa di sela-sela suara tertawanya yang menyakitkan hati. Tetapi suara tertawa itupun merupakan lontaran dari sakit hatinya pula. Katanya selanjutnya "Kalau kau tidak melawan, dan tidak menyombongkan dirimu, maka aku kira aku t idak akan berbuat apa-apa. Kalau kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan datang lagi menemui gadis itu, maka persoalanku sudah selesai. Tetapi sekarang kau telah membuat darahku menjadi panas. Nafasku hampir putus pula karenanya, dan tubuhku menjadi sakit-sakit. Kau harus menebusnya dengan penyesalan. Pamot sama sekali tidak menjawab. Kekuatannya seakanakan telah lenyap, Bahkan untuk menggerakkan ujung jarinya saja, terasa terlampau sulit. Karena itu, apapun yang akan dilakukan oleh orang yang melindungi wajahnya dengan ikat kepalanya itu, ia tidak akan dapat mencegahnya. "Dengar anak muda" desis Kerpa dari balik ikat kepalanya "aku dapat membunuhmu" Pamot masih tetap berdiam diri. "Tetapi aku akan memberimu kesempatan memilih. Mati atau cacat untuk seumur hidupmu" Terasa darah Pamot berdesir. Bahkan kawan Kerpa yang bersembunyi di balik rimbunnya dedaunanpun menjadi berdebar-debar. Kerpa memang bukan seseorang yang dapat diajak bergurau dengan cara apapun. Tetapi ia tidak dapat meloncat untuk mencegahnya. "Katakan, manakah yang kau pilih?" Pertanyaan itu serasa telah membakar isi dada Pamot. Namun ia masih tetap berdiamdiri. "Jawablah" bentak Kerpa. Ketika Pamot tidak juga menjawab, maka dengan kakinya ia mengguncang tubuh anak muda itu "Ayo jawab. Kalau kau ingin mati aku tinggal menginjak lehermu saja. Tetapi kalau kau masih ingin hidup, katakan, apa yang harus aku lakukan. Tetapi mulut Pamot serasa sudah terkunci. Ia tidak ingin menjawab sepatah katapun. Ia tidak peduli lagi, apa yang akan terjadi atas dirinya yang sama sekali tidak berdaya itu. Tetapi ketika orang yang menutupi wajahnya dengan ikat kepalanya itu sekali lagi mengguncang tubuhnya dengan kakinya, tiba-tiba ia terdorong surut sambil mengaduh pendek. Terasa sesuatu telah mengenai dadanya. Begitu kerasnya, sehingga seolah-olah tulang-tulang rusuknya menjadi retak. "Setan alas" Kerpa mengumpat "siapa yang menyerang aku dari persembunyiannya. Pengecut. Ayo keluar" Tetapi tidak ada jawaban. Serangan itu datang dari arah yang lain dari tempat persembunyian kawannya, sehingga ia tidak dapat menuduhnya. Dan sebenarnyalah kawannya itu sama sekali tidak mengerti, apa yang telah terjadi. Dengan heran ia melihat Kerpa terhuyung-huyung sambil memegangi dadanya. "Siapa he? Kalau kau memang laki-laki, ayo kita berhadapan" Tetapi tidak seorangpun yang menampakkan dirinya. Tetapi ketika Kerpa akan membuka mulutnya lagi, terasa sebuah batu kerikil mengenai lehernya. Leher Kerpa serasa tercekik karenanya. Sejenak ia terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Lemparan itu pasti bukan lemparan orang kebanyakan. Selain orang yang melemparnya itu seorang pembidik yang baik, ia pasti mempunyai kekuatan yang cukup. Karena itu Kerpa harus berhati-hati. Ia menghadapi seseorang yang kuat, tetapi licik. Menyerang dari persembunyian. Dengan hati-hati Kerpa kemudian maju selangkah. Untuk sementara ia membiarkan Pamot terbaring di tanah. Menurut penilaian Kerpa Pamot sama sekali sudah tidak berbahaya lagi baginya. "Jangan menyerang sambil bersembunyi. Marilah kita berhadapan sebagai laki-laki" geram Kerpa. Namun dadanya berdesir ketika ia mendengar jawaban yang lambat tersendat-sendat "Kau juga bersembunyi di balik ikat kepala itu. Coba, bukalah ikat kepalamu. Aku akan keluar dari persembunyianku" "Persetan" jawab Kerpa dengan suara bergetar "dimana kau. Akulah yang akan datang kepadamu kalau kau tidak mau keluar" "Aku bersembunyi" terdengar suara itu. Namun suara orang itu telah menuntun Kerpa untuk menemukan tempat persembunyiannya. Ketika Kerpa sudah yakin, dimana orang itu bersembunyi, maka segera iapun meloncat melingkari sebuah gerumbul. Ia tidak mau kehilangan lawannya yang licik itu. Dadanya berdesir ketika ia melihat sesosok tubuh yang berjongkok di balik gerumbul itu. Sudah tentu tidak ada orang lain lagi yang telah menyerangnya selain orang itu. Karena itu, ia tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan serta-merta ia telah menyerangnya. Tetapi ternyata kemampuan orang yang bersembunyi itu jauh melampaui dugaannya. Demikian ia menyerang dengan lontaran kakinya, tiba-tiba terasa kakinya tertangkap. Ia tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali, ketika tubuhnya serasa terbang berputaran. Agaknya lawannya dengan mudahnya telah memutar tubuhnya di udara. Kerpa masih berusaha menggeliat sambil menyerang dengan kakinya yang lain. Namun tiba-tiba saja kakinya yang tertangkap itupun dilepaskan sehingga ia terlempar beberapa langkah. Dengan kemampuan yang ada padanya, Kerpa masih berusaha menempatkan diri ketika ia terbanting jatuh. Dilipatnya tubuhnya, dan dilekatkannya tangannya di dadanya. Kerpa berusaha menjatuhkan dirinya pada pundaknya, agar ia tidak mendapatkan cidera di bagian dalam. Namun begitu kerasnya ia terbanting, sehingga matanya menjadi berkunangkunang. Nafas Kerpa serasa terputus di lehernya. Sejenak ia sama sekali t idak dapat bergerak. Isi dadanya seakan-akan telah menyumbat lehernya. Sehingga karena itu, ia tergolek seperti Pamot yang lemas itu pula. Kawannya yang bersembunyi di balik gerumbul hanya melihat Kerpa terlempar. Namun demikian hatinya menjadi kecut. Ia tidak memiliki kemampuan seperti Kerpa. Karena itu, maka seandainya ia harus berkelahi melawan lawan Kerpa yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas itu, pasti ia tidak akan dapat bertahan. Dengan demikian, maka sejenak ia kebingungan. Ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Selagi ia menimbang-nimbang, sebutir batu telah jatuh tepat di hadapannya, sehingga ia tersentak setapak surut. Dadanya yang berdebar-debar menjadi semakin berdentangan. Ternyata lawan Kerpa yang mampu memutarnya di udara kemudian melemparkannya itu telah melihat di mana ia bersembunyi. Apalagi ketika ia mendengar suara berat beberapa langkah saja di hadapannya "Apakah kau juga akan melawan?" Seolah-olah tanpa sesadarnya ia menjawab "Tidak. Aku tidak akan melawan" "Kalau begitu, pergilah" Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi ia menjadi raguragu. "Bawa kawanmu itu pergi. Cepat, sebelum aku merubah pendirian" Orang itu ragu-ragu sejenak. Dan ia mendengar suara itu lagi "Cepat" Tidak ada pilihan lain lagi baginya. Dengan hati yang berdebar-debar ia berdiri dan melangkah setapak demi setapak. "Cepat" Ia mempercepat langkahnya mendekati Kerpa yang masih terbaring di tempatnya sambil menyeringai. "Bawa dia pergi" Orang itupun segera menolong Kerpa. Dibantunya Kerpa itu berdiri, kemudian dipapahnya berjalan melintasi halaman yang kosong itu menyusup gerumbul-gerumbul liar. Meskipun sambil mengeluh, namun Kerpa telah memaksa dirinya untuk meninggalkan tempat terkutuk itu. Halaman kosong itupun kemudian menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah desah nafas Pamot yang kesakitan. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit. Sambil mengerang iapun kemudian berhasil duduk bertelekan kedua tangannya. Pamot berpaling ketika ia mendengar suara gemerisik di balik gerumbul di belakangnya. Hatinya menjadi berdebardebar. Ia melihat lawannya yang memakai tutup ikat kepala di wajahnya itu telah dilontarkan oleh seseorang yang juga tidak dikenalnya. "Apakah ia memang berusaha membantu aku atau sekedar ingin mendapat kepuasan, mencekik aku dengan tangannya" berkata Pamot di dalamhatinya. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat seseorang yang bertubuh tinggi kekar menghampirinya. "Lamat" desis Pamot "kenapa kau berada di sini?" Lamat tidak segera menjawab. Dihampirinya Pamot yang masih kesakitan. Setelah ia berjongkok di sampingnya, iapun berkata "Kau tidak apa-apa?" "Beginilah, seperti yang kau lihat" Lamat mengerutkan keningnya. Katanya "Maksudku, tidak ada luka-luka yang parah di tubuhmu atau di dalam. Mungkin tulang-tulangmu atau bagian-bagian yang lain?" Pamot menggeleng "Aku kira t idak" jawabnya. "Apakah kau dapat berjalan pulang" Pamot menarik nafas. Katanya "Sebaiknya aku beristirahat dahulu. Nafasku serasa akan putus, dan seluruh tubuhku menjadi sakit" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun bertanya "Apakah kau mengetahui siapakah lawanmu itu?" Pamot menggeleng "Tidak. Aku tidak mengetahuinya. Kenapa kau tidak membuka tutup kepalanya ketika ia menjadi hampir pingsan?" "Aku tidak berani menampakkan diriku" "Kenapa?" "Justru karena aku t idak mengenalnya. Aku tidak tahu siapa dan apakah maksudnya yang sebenarnya. Tetapi aku kira ia akan segera dapat mengenal aku. Aku tidak dapat menyembunyikan diriku meskipun aku memakai tutup wajah seperti orang itu. Setiap orang di Gemulung dan bahkan di seluruh Kademangan Kepandak akan segera mengenal bentuk tubuhku" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Kalau saja kau membuatnya benar-benar pingsan" "Aku tidak berani melakukannya. Kalau aku agak terdorong sedikit dan tanpa aku kehendaki aku telah membunuhnya, maka aku akan menyesal" Sekali lagi Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya kembali "Kenapa kau ada disini?" Lamat terdiam sejenak. Tatapan matanya terlontar kekejauhan menembus hitamnya malam. "Kenapa?" "Aku ditugaskan oleh Manguri" "Apa tugasmu?" "Mengawasi kau. Manguri masih menyangka bahwa kau selalu datang mengunjungi Sindangsari" Pamot mengerutkan dahinya. "Ternyata dugaannya itu benar. Kau masih selalu datang kepadanya. Bahkan hampir setiap malam" Pamot mengangguk. "Dan ternyata itu sangat berbahaya bagimu. Seandainya ada orang yang melihatnya, dan orang itu tidak menyukaimu, maka kau akan dapat dilaporkan kepada Ki Demang" Lamat berhenti sejenak, lalu "bahkan mungkin orang-orang yang berkerudung di wajahnya itu juga suruhan Ki Demang" Pamot masih mengangguk-angguk. Dan tiba-tiba suaranya tersentak "Kau benar Lamat. Orang yang satu, yang bersembunyi tadi adalah orang yang pernah aku kenal" "Akupun pernah melihatnya. Orang dari Sapit. Tetapi siapakah yang menyuruhnya. Itu yang aku tidak tahu" "Kenapa ia tidak kau paksa untuk berbicara" "Aku tidak mau mereka mengenalku" Pamot menganggukangguk pula. "Ternyata banyak sekali orang yang merasa berkepentingan atasmu. Manguri, orang-orang itu, dan kakek Sindangsari sendiri. Jangan kau sangka bahwa kakek Sindangsari t idak melihat apa yang kau lakukan selama ini"

Jilid 4
PAMOT terkejut mendengar keterangan itu. "Tetapi kalau sampai saat ini ia mungkin masih tetap berdiam diri, itu agaknya bukan karena ia membenarkan pertemuan itu. Ia hanya sekedar tidak dapat menahan perasaan iba dan kasihannya kepada cucunya. Tetapi pada suatu saat ia pasti akan menyatakan keberatannya" "Darimana kau mengetahuinya?" bertanya Pamot. "Bukankah aku hampir setiap malam selalu mengawasi gerak-gerikmu atas perintah Manguri? Semula aku memang merasa segan, namun kemudian aku justru merasa berkewajiban. Orang yang datang bersama orang yang menutupi wajahnya itupun telah pernah aku lihat pula di malam-malam sebelum ini" "Kenapa kau tidak pernah memberitahukannya kepadaku" "Kadang-kadang aku menjadi ragu-ragu. Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang tepat. Aku adalah seorang pembantu, katakanlah seorang budak belian. Aku sudah terikat oleh perasaan berhutang budi yang tidak akan dapat ditebus dengan cara apapun. Dengan demikian aku harus bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku tidak mengkhianati keluarga Manguri apabila aku keluar dari perintah yang mereka berikan? Aku kadang-kadang dibayangi oleh berbagai pertanyaan yang tidak dapat aku jawab sendiri. Pada saat Manguri akan memanggil Sura Sapi, dan diam-diam aku memberikannya kepadaku, beberapa malam aku tidak dapat tidur nyenyak karena dibayangi oleh pertanyaan yang serupa itu" Pamot tidak menyahut. Tetapi ia dapat membayangkan betapa perasaan raksasa itu kadang-kadang menjadi sangat kalut. Perasaan berhutang budi, namun perbuatan-perbuatan yang harus dilakukan adalah perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Pamot menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Lamat berkata "Sekarang pulanglah" "Tetapi" desis Pamot "Sindangsari pasti menunggu kedatanganku. Ia akan menjadi cemas dan gelisah, apabila aku tidak datang kepadanya" "Sudah aku katakan, hentikan permainan yang berbahaya ini" "Maksudmu, kau melarang aku berhubungan lagi dengan Sindangsari? Apakah itu yang dikehendaki Manguri" "Jangan salah paham Pamot" berkata Lamat "dan keadaan yang demikian inilah yang menyulitkan kedudukan dan perasaanku. Aku mencoba menasehatimu sejujur-jujur hatiku. Tetapi memang tidak aneh kalau kau dapat menjadi salah paham" "Maaf, aku kadang-kadang memang terdorong selangkah sebelum aku berpikir baik-baik" "Mungkin memang demikianlah keadaan seseorang yang sedang dibayangi oleh perasaan cinta. Tetapi meskipun demikian kau harus masih tetap mempergunakan akalmu. Jangan hanya perasaanmu" Pamot tidak menjawab. "Apakah kau dapat mengerti? Aku sama sekali t idak keberatan apabila kau masih tetap berhubungan dengan Sindangsari, tetapi jangan dengan caramu yang sekarang" "Jadi bagaimana?" Lamat mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata "Aku tidak tahu. Cara apakah yang sebaik-baiknya kau lakukan. Tetapi setidak-t idaknya kau lebih berhati-hati lagi melakukannya. Tidak terlampau sering seperti yang kau lakukan sekarang" Pamot mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Tetapi malamini aku harus menemuinya" Lamat menggeleng-gelengkan kepalanya. Desisnya "Kau memang keras kepala. Tetapi kalau memang tidak ada kemungkinan lain, pergilah. Temuilah gadis itu untuk yang terakhir kalinya dengan caramu yang sekarang. Untuk selanjutnya kau harus lebih berhati-hati dan lebih bersikap dewasa" Pamot mengangguk "Baiklah. Aku akan berbicara dengan Sindangsari" "Berterus teranglah, bahwa kau selalu diawasi oleh beberapa pasang mata. Hari ini aku melihat kau dihajar orang. Tetapi mungkin lain kali aku kebetulan tidak berada disini" "Baiklah. Tetapi apakah yang kau katakan kepada Manguri?" "Aku tidak dapat mengelabuinya bulat-bulat. Karena itu aku mengatakan kepadanya, bahwa kau memang pernah datang ke rumah Sindangsari" "Apakah katanya?" "Ia mengumpat-umpat. Tetapi tidak mustahil bahwa ia membuat desas-desus tentang hal itu, agar didengar oleh Ki Demang di Kepandak" "Aku mengerti. Aku berterimakasih kepadamu Lamat. Mudah-mudahan hatimu tetap diterangi oleh kebajikan, meskipun kau harus melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan. Tetapi setidak-tidaknya kau menyadari dan mengerti, manakah yang baik dan manakah yang tidak" "Mudah-mudahan" desis Lamat. Suaranya menjadi dalam sekali. Lalu "Pergilah, dan cepat tinggalkan tempat itu. Kalau orang-orang yang mengamati kau tadi utusan Ki Demang, maka kau akan mendapat kesulitan apabila ia mengirimkan orang-orangnya lebih banyak. Sudah tentu aku tidak dapat membantumu dengan terang-terangan. Ki Demang akan marah kepadaku, dan akan melaporkannya kepada ayah Manguri" "Terimakasih atas peringatanmu itu Lamat. Sekarang, biarlah sekali lagi aku menemuinya. Aku akan berbicara dengan Sindangsari bahwa keadaanku agak berbahaya akhirakhir ini". "Kau dapat menunjukkan wajahmu yang merah biru, atau barangkali luka-lukamu itu" Pamot menganggukkan kepalanya "Aku akan mencoba membuatnya mengerti" Pamotpun kemudian meninggalkan Lamat, meneruskan langkahnya menemui Sindangsari. Tetapi ia kini mulai menilai perbuatan-perbuatannya di masa lampau. Terasa sesuatu bergejolak di dalam dadanya. Ia memang menjadi ngeri sendiri. Tetapi iapun merasa bahwa ia tidak akan dapat tidur nyenyak tanpa mengunjungi Sindangsari lebih dahulu, meskipun hanya sekejap. Meskipun demikian, ternyata Pamot masih dapat mempergunakan nalarnya. Ia masih dapat memberikan penjelasan kepada Sindangsari bahwa cara yang selama ini mereka lakukan adalah cara yang berbahaya. "Bukan saja karena orang-orang yang mengintai kita" berkata Pamot "tetapi bahaya itu datang dari diri kita sendiri" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Katanya "Aku mengerti kakang" "Karena itu Sari" berkata Pamot kemudian "aku akan jarang-jarang datang kemari untuk seterusnya. Tetapi bukan berarti bahwa aku berusaha melupakan hubungan ini. Selama kau masih belum menjadi isteri Ki Demang, aku masih berpengharapan, bahwa kita masih mungkin menemukan jalan" Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Nah, untuk seterusnya kita akan menjadi semakin jarang bertemu. Tetapi kalau kau pergi ke Sungai, aku selalu berusaha memandangmu meskipun dari kejauhan" Mata Sindangsari menjadi basah. Dalam keadaan demikian, terasa hidupnya menjadi semakin malang. "Dalam saat-saat tertentu aku akan datang Sari. Aku akan mengetuk dinding bilikmu. Dua kali, tiga ganda berturut-turut" "Aku tidak mau terlampau lama kesepian kakang" desis Sindangsari "jangan terlampau jarang berkunjung kemari" "Baiklah Sari" suara Pamot tertahan sejenak, lalu "sekarang, aku minta diri. Aku harus segera mengobati lukalukaku meskipun tidak terlampau parah" "Hati-hatilah kakang" Pamot menganggukkan kepalanya, lalu perlahan-lahan ia berkisar sambil berdesis "Masuklah" Dengan hati-hati Sindangsari melangkah masuk ke rumahnya. Ia kadang-kadang menjadi cemas juga kalau ibunya mengetahui apa yang sudah dilakukannya. Tetapi dorongan dari dalam dadanya, seakan-akan tidak dapat ditahannya. Bahkan kadang-kadang ia menghentakkan tangannya yang kecil sambil menggeram "Aku tidak peduli. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi atas diriku" Dengan kepala tunduk Pamot meninggalkan rumah Sindangsari. Sekali-sekali ia berpaling namun yang dilihatnya hanyalah kegelapan malamdan dedaunan yang hitam. Dengan dada yang berdebar-debar ia mencoba mencari jalan, bagaimanapun ia tidak akan dapat terpisah lagi dari gadis itu. Tetapi Pamot hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apakah aku harus membawanya lari?" desisnya. Namun kemudian dijawabnya sendiri "Apakah hidup yang demikian itu akan dapat tenteram? Kami akan selalu merasa dikejar-kejar dan dibayang-bayangi. Mungkin oleh orangorang Ki Demang, tetapi mungkin orang-orang yang diupah oleh Manguri" Pamot menarik nafas dalam-dalam "Mungkin aku dapat menahan hati, tetapi bagaimana dengan Sindangsari?" Dengan demikian, maka Pamot tidak dapat segera melepaskan diri dari beban perasaannya. Kadang-kadang hatinya menjadi gelap. Tetapi kadang-kadang, ia mencoba untuk melihat kenyataan. "Manakah yang lebih baik?" pertanyaan itu selalu mengikut inya kemana-mana "aku mempertahankannya sebagai seorang laki-laki, atau merenungi perhitungan yang tidak dapat aku ingkari. Kalau aku menerima nasib ini, maka aku bukanlah seseorang yang berani mengorbankan diriku untuk mempertahankan cinta yang tumbuh di hati kami. Tetapi kalau aku merebutnya dengan kekerasan, maka sudah tentu tidak akan ada artinya. Ki Demang bukan lawanku dalam segala hal. Kekayaan, kemampuan dan ilmu. Pamot hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memasuki rumahnya, seisi rumah terkejut melihat luka-luka di tubuhnya, pakaiannya, yang sobek dan wajahnya yang merah biru dan bengkak-bengkak. "Pamot, kenapa kau?" bertanya ayahnya. Pamot tidak dapat ingkar lagi. Ia berkata berterus terang, apa saja yang sudah terjadi atasnya. "Kalau saja Lamat tidak melihat perkelahian itu, aku tidak tahu, apakah yang akan terjadi" berkata Pamot kemudian. Ayahnya menjadi tegang sejenak. Namun kemudian ia berkata "Pamot, hal ini dapat kau jadikan pelajaran bagimu. Kau benar-benar telah melakukan perbuatan-perbuatan yang berbahaya selama ini. Bukan saja Ki Demang, orang tua Sindangsari kalau ia melihatnya, orang tuamu sendiri, tetapi kau akan dikutuk oleh seluruh penduduk Gemulung dan bahkan Kepandak. Kau memang dapat dianggap telah mengganggu isteri atau bakal isteri seseorang. Ini harus kau sadari. Sampai saat ini orang-orang Gemulung berpihak kepadamu, meskipun hanya di dalam hati. Tetapi kalau mereka melihat atau mendengar bahwa kau telah berbuat tidak senonoh itu, maka semuanya akan memalingkan wajahnya. Apalagi Sindangsari telah pasti di kehendaki oleh Ki Demang, meskipun seandainya Sindangsari itu bakal isterimu sendiripun, perbuatan itu tidak dapat dibenarkan" Pamot hanya dapat menundukkan kepalanya. Ia mengerti maksud ayahnya. Dan iapun sebenarnya mengerti semuanya yang dikatakan, baik oleh ayahnya maupun siapa saja yang telah menasehatinya, bahwa orang-orang Gemulung tidak akan senang melihat perbuatannya itu. Bahkan apalagi nama Sindangsari. Gadis itu pasti akan menjadi cemar karenanya. Namun demikian ia berkata di dalam hatinya "Kalau gadis itu bakal isteriku sendiri buat apa aku bersembunyi-sembunyi datang ke rumahnya. Aku tinggal menunggu, kapan hari perkawinan itu datang. Aku selalu datang kepadanya, justru karena ia akan terlepas dari tanganku" Tetapi Pamot tidak berani mengatakannya. Kepalanya yang tunduk justru menjadi semakin tunduk. Namun. semuanya seolah-olah menjadi bertambah gelap. Ayah dan ibunyapun kemudian masih menasehatinya panjang lebar. Seperti yang setiap kali dikatakan oleh orang tuanya, bahwa mengalah adalah jalan menuju kekeluhuran. Berani mengalah, akan luhurlah pada akhirnya. Sekali terdengar Pamot berdesah. Di dalam hatinya ia berkata "Kalau setiap orang berpendirian demikian, maka alangkah damainya dunia ini. Tetapi kalau tidak, maka malanglah mereka yang selalu mengalah di saat-saat dan masa-masa seperti ini" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan ia masih saja berbicara kepada diri sendiri di dalam hatinya "Asal aku masih tetap menyadari hak dan kewajibanku" "Apakah kau dapat mengerti Pamot" berkata ayahnya kemudian. Pamot tergagap. Ia tidak begitu mendengar nasehat ayah dan ibunya yang berkepanjangan. Namun demikian ia menganggukkan kepalanya sambil berkata "Ya ayah. Aku mengerti" "Bagus. Karena itu lain kali kau harus berhati-hati" ayahnya berhenti sejenak, lalu "tetapi siapakah orang yang kau katakan menutupi wajahnya itu? Kalau saja ia benar-benar orangorang Ki Demang, maka mungkin sekali ia akan sangat marah kepadamu. Ia dapat bertindak langsung atas dasar kekuasaannya, tetapi ia juga dapat bertindak t idak langsung" Pamot tidak menjawab, "Sekarang obati lukamu itu dengan minyak kelapa dan daun sirih. Gosoklah perlahan-lahan" Pamot menganggukkan kepalanya "Baik ayah" Dibantu oleh ibunya Pamotpun segera menggosok badannya yang luka-luka itu dengan daun sirih dan minyak yang dihangatkan di atas lampu jelupak. Dalam pada itu Kerpa telah menghadap Ki Demang di rumahnya bersama kawannya. Dengan geram Kerpa menceriterakan apa yang sudah terjadi atasnya, meskipun tidak selengkapnya, untuk sedikit menutupi kekalahannya. "Kalau saja orang itu tidak bersembunyi" desisnya. Ki Demang yang wajahnya menjadi merah memotong "Tetapi kau sudah menemukannya bukan?" "Tidak begitu jelas Ki Demang. Ia masih dibayangi oleh dedaunan. Kalau saja kita beradu dada di tempat terbuka" "Bohong. Kalau beradu dada di tempat terbuka, kau akan dibunuhnya" "Tentu tidak. Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan menyerangku begitu tiba-tiba" "Siapa yang menyerang" "Orang itu selagi aku sedang mencoba mengenalnya karena ia tidak menjawab pertanyaanku" "Alangkah bodohnya kau Kerpa. Orang itu sudah jelas, menyerangmu. Kenapa kau masih juga melihat-lihat seperti mengenali seorang gadis saja?" Kerpa menjadi bingung. Memang sulit baginya untuk mengarang sebuah ceritera yang mapan untuk mengelabuhi Ki Demang yang mempunyai tanggapan yang tajam atas setiap peristiwa. Sehingga karena itu, ia terdiam sambil menundukkan kepalanya. "Apakah Pamot mengerti bahwa kau adalah suruhanku?" "Aku kira tidak Ki Demang" "Mudah-mudahan. Kalau hal ini kelak tersebar, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Ki Jagabaya, seandainya diketahuinya bahwa akulah yang telah menyuruhmu" "Aku menutup wajahku dengan ikat kepalaku" Kerpa berhenti sejenak, lalu "Tetapi seandainya Ki Jagabaya mengetahui, apa sajalah yang dapat dilakukannya? Bukankah ia harus tunduk kepada Ki Demang?" "Ya. Akupun yakin bahwa ia akan tunduk perintahku. Tetapi itu hanyalah lahiriahnya saja. Hatinya pasti akan mengutuk aku. Dan itu berbahaya bagiku? Kalau sesuatu terjadi di Kademangan ini, sehingga menumbuhkan putaran keadaanku, aku tidak akan dapat mengharapkan bantuannya lagi, apalagi dukungannya" "Dan itu agaknya tidak akan dapat terjadi" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Mudahmudahan "Namun agaknya Ki Demang sama sekali tidak puas dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Ia tidak mendapat jaminan bahwa Pamot tidak akan lagi datang ke rumah Sindangsari. "Tetapi, tetapi" Kerpa menyambung keterangannya "aku yakin bahwa Pamot t idak akan datang lagi ke rumah gadis itu" "Aku tidak yakin sebelum aku tahu siapakah yang telah melindunginya itu. Tentu bukan orang kebanyakan menurut ceritamu" Kerpa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kerpa" berkata Ki Demang kemudian "aku harus menemukan cara lain yang lebih baik untuk mencegah Pamot. Aku tidak akan dapat memakai kekerasan itu dengan terangterangan. Agaknya rakyat Gemulung menaruh iba kepada anak itu, sehingga aku tidak tahu pasti apakah pendirian mereka yang sesungguhnya. Dalam keadaan wajar, orangorang Gemulung pasti akan mengutuk Pamot karena perbuatannya itu. Tetapi dalam keadaan ini mungkin mereka bersikap lain, seperti mereka tidak dapat berbuat apa-apa atas Pedagang ternak yang kaya itu meskipun mereka tahu, bahwa baik Pedagang ternak itu sendiri, maupun anak laki-lakinya sering melakukan perbuatan yang tidak baik. Ini juga suatu kelainan meskipun sebabnya jauh berbeda. Terhadap pedagang ternak itu, orang-orang Gemulung agaknya kurang mempunyai keberanian bertindak, atau bahkan lama kelamaan menjadi tidak acuh, sedang terhadap Pamot mereka menaruh belas kasihan" Kerpa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku akan mencari jalan itu" berkata Ki Demang kemudian "untuk sementara kalian berdua masih harus mengawasi. Mengawasi saja. Jangan berbuat apa-apa lebih dahulu. Pada suatu saat mungkin orang yang melindungi Pamot itu akan menangkapmu, kalau kalian memperlihatkan diri atau mencoba mencegah Pamot sekali lagi" "Baik Ki Demang" jawab Kerpa. "Nah, pulanglah. Lakukanlah tugas kalian untuk seterusnya sebaik-baiknya. Hati-hatilah. Kalau seseorang mengetahui bahwa kalian mendapat tugas dari aku, aku gantung kau berdua" "Ya, ya Ki Demang" jawab mereka hampir bersamaan. Sejenak kemudian maka merekapun segera minta diri. Ketika mereka keluar dari halaman Kademangan, para peronda di regol memandangi mereka saja sampai mereka hilang di dalam kelamnya malam, tetapi mereka tidak bertanya. Baru setelah mereka tidak tampak lagi, salah seorang peronda bertanya "He, apa keperluannya malam-malam begini menemui Ki Demang" Yang lain menjawab "Mereka mempunyai kegemaran sama. Kuda" "Tetapi malam-malam begini mereka berbicara tentang kuda?" "Mungkin saja. Kalau Kerpa mendengar orang yang akan menjual seekor kuda yang baik, maka ia pasti datang kepada Ki Demang. Kapan saja. Pagi, siang, sore dan juga malam" Kawannya mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu percaya, tetapi ia tidak membantah. Di saat yang hampir bersamaan, Manguri sedang menahan kemarahan yang menyesak di hatinya. Di hadapannya Lamat duduk tepekur sambil mengusap-usap lututnya. "Jadi Pamot masih saja datang ke rumah Sindangsari?" "Ya" jawab Lamat "tetapi aku sudah memperingatkannya. Bahkan aku mengancamnya, kalau sekali lagi ia datang ke rumah gadis itu, aku akan bertindak kasar" "O, kau memang bodoh. Kenapa kau tidak berbuat apa-apa atasnya? Kenapa kau mengancamsaja, mengancam dan mengancam?" Lamat berpikir sejenak. Dan tiba-tiba saja ia berkata "Aku sudah melakukannya. Aku tidak berani mengatakannya. Aku takut kalau hal itu tidak menjadi kehendakmu" "He, kau apakan dia?" "Hanya sekedar peringatan. Aku banting ia di tanah sehingga pingsan" "Bohong. Bohong. Aku tidak percaya bahwa kau berani melakukannya" Lamat tidak menyahut. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah Manguri melihatnya? Dan tiba-tiba Manguri itu berkata "Besok aku akan membuktikannya. Kalau benar, pasti ada bekas-bekasnya pada anak itu" Lamat masih tetap berdiam diri. "He, kenapa kau berdiam diri? Kau cemas bahwa aku akan mengetahui kebohonganmu?" Lamat menggeleng. Jawabnya "Tidak. Aku ingin ikut membuktikan besok" Manguri mengerutkan keningnya. Sambil menganggukanggukkan kepalanya ia berkata "Bagus. Besok kau pergi bersamaku" Lamat mengangguk lemah. "Sementara aku harus menemukan jalan untuk mendapatkan Sindangsari" berkata Manguri "Pamot harus dicegah, agar ia tidak mendekati gadis itu lagi "Manguri berhenti sejenak, lalu "tetapi sampai saat ini aku belum melihat jalan yang lebih baik daripada mengambilnya dan membawanya pergi" Dada Lamat menjadi berdebar-debar mendengar niat yang agaknya semakin kuat mencengkam hati Manguri. "Tetapi aku masih menunggu laki-laki itu" "Laki-laki yang mana?" "Ia akan datang kalau ayah pergi. Aku mengharap ayah akan pergi mengurus dagangannya untuk beberapa hari. Lamat tidak menyahut. lapun sebenarnya mengerti, bahwa setiap kali seorang laki-laki memasuki rumah itu. Tetapi Lamatpun mengerti, bahwa laki-laki itu bukanlah laki-laki kebanyakan. Ia dapat memasuki halaman dan rumah itu seperti siluman. Dengan tanda-tanda tertentu ibu Manguri dapat mengenalnya. Namun betapa pandainya mereka merahasiakan hubungan itu, akhirnya Manguri dapat mengetahuinya juga, meskipun secara kebetulan saja. Tetapi iblis kecil itu dengan licik mampu memanfaatkannya untuk kepentingannya. Di pagi harinya, ternyata Manguri tidak lupa dengan rencananya. Ketika matahari telah melampaui ujung pepohonan, iapun mengajak Lamat pergi ke sawah. Biasanya ia dapat menjumpai Pamot di ladangnya. "Kita melihat apakah kau tidak berbohong" berkata Manguri kepada Lamat. "Baik" jawab Lamat. Tetapi ia menjadi berdebar-debar juga. Katanya kemudian "tetapi kita tidak dapat yakin bahwa Pamot hari ini ada di ladangnya. Mungkin tubuhnya masih sakit. Tetapi mungkin juga ia mampu pergi ke sawah. "Kita akan melihatnya" Mereka berduapun kemudian pergi ke sawah. Mereka ingin melihat, apakah Pamot benar-benar menjadi merah biru seperti yang dikatakan oleh Lamat. Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan sawah Pamot, Lamatpun menjadi semakin berdebar-debar. Ia belum sempat menemui Pamot untuk mengatakan niat Manguri. "Nah, lihat. Anak itu ada di sawahnya" berkata Manguri ketika mereka melihat Pamot berdiri di pematang dengan geprak di tangannya untuk mengusir burung "Tampaknya ia sehat-sehat saja" Lamat tidak menjawab. Tetapi hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, tampaklah oleh Manguri wajah Pamot yang membengkak meskipun tidak terlalu nyata. Matanya di sebelah kiri masih tampak kebirubiruan, sedang sebuah goresan memanjang di pipinya. "He" tiba-tiba Manguri tidak dapat menahan perasaannya. Sambil tertawa ia bertanya "kenapa wajahmu Pamot " Pamot berpaling. Di lihatnya Manguri dan Lamat mendekatinya. "Kau terlampau rajin merias wajahmu. Kau apakan mata dan keningmu itu?" Pamot mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah Lamat yang tegang. Tetapi Pamot masih berdiamdiri. Manguri tertawa kecil melihat bentuk wajah Pamot. Perlahan-lahan ia melangkah mendekatinya. "Aku masih menaruh belas kasihan kepadanya" tiba-tiba Lamat berkata dengan nada suaranya yang parau "kalau aku tidak ragu-ragu, mungkin ia masih belum dapat bangun pagi ini" "Kanapa kau kasihan kepadanya" berkata Manguri. Lamat tidak menjawab. Tetapi ketika Pamot memandangnya, ia mengangguk kecil. Semula Pamot tidak mengerti maksudnya, namun ketika Lamat meraba keningnya sendiri dan dengan isyarat jarinya menunjuk dirinya sendiri pula, Pamot menjadi mengerti maksud raksasa itu. Karena itu maka tiba-tiba ia menggeram "Manguri, buat apa kau ajak kerbau itu datang kemari? Apakah ia masih belum puas dengan kebiadabannya semalam?" Suara tertawa Manguri menjadi semakin keras. Jawabnya "Jangan sakit hati Pamot. Aku memang menyuruhnya. Tetapi bahwa kau menjadi merah biru itu sebenarnya adalah karena salahmu sendiri. Kenapa kau masih berani juga datang ke rumah Sindangsari? Untunglah bahwa Lamat yang melihatmu. Kalau yang mengetahui kecuranganmu itu orang-orang Ki Demang, maka kau akan akan disatai di halaman Kademangan, di hadapan para bebahu Kademangan dan pengawal kawan-kawanmu" Pamot menggeretakkan giginya. Jawabnya "Apa pedulimu kalau aku akan disatai di hahalaman Kademangan? Bukankah kau memang berdoa agar hal itu terjadi?" "Ya, tepat sekali. Aku memang berdoa agar kau celaka tujuh keturunan. Kemudian Ki Demangpun aku doakan pula agar lekas mati. Kau tahu maksudku ?" "Kau sudah menjadi putus asa" "Kenapa?" "Kau hanya dapat mengharapkan sesuatu yang tidak bakal terjadi. Bukankah dengan demikian kau mengharap tidak ada orang lain lagi yang bakal mengganggumu apabila kau menghendaki Sindangsari?" "Jangan kau sangka aku hanya sekedar berdoa dan duduk tepekur sambil berkumat-kamit" sahut Manguri "salah satu usahaku adalah membuat kau jera. Apakah kau sangka Lamat tidak dapat berbuat lebih dari itu?" "Persetan dengan kerbau dungu itu" "He, kau berani menghina? Apakah kau ingin ia menampar mulutmu?" "Lakukanlah sekarang kalau berani" Manguri menarik nafas. Ketika tanpa sesadarnya matanya beredar, dilihatnya beberapa orang sedang bekerja di sawahnya pula. Bahkan dua orang anak muda duduk dengan tenangnya di tanggul parit sambil merendam kakinya ke dalam air. "Punta" desis Manguri, lalu kepada Pamot ia bertanya "apakah kerja setan itu di sini?" Pamot menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu" "Kau memanggilnya" "Bagaimana aku memanggilnya? Aku berada di sini sejak kau datang. Tetapi seisi padukuhan ini mengerti bahwa kau adalah orang yang paling panasten di seluruh padukuhan bahkan di seluruh Kademangan Kepandak. Karena itu jangan menyesal, jangan sakit hati bahwa setiap gerak-gerikmu kau selalu diawasi" Manguri menggeretakkan giginya. Dipandanginya Punta yang masih duduk berjuntai di tanggul parit yang membelah bulak persawahan. "Biarlah setan-setan itu dimakan demit" Manguri menggeram "kita tidak ada gunanya terlampau lama menunggu manusia-manusia dungu ini" Lamat tidak menjawab. Dan Manguripun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu sambil berkata kepada Pamot "Ingat Pamot, Kalau kau masih berani mengulangi lagi, maka akibatnya pasti akan lebih parah lagi bagimu" Pamot sama sekali tidak menjawab. Dipandanginya saja langkah Manguri yang diikut i oleh Lamat di belakangnya. Namun demikian Pamot berkata di dalam hatinya "Kasihan raksasa yang seolah-olah telah terikat erat-erat kaki dan tangannya itu. Kenapa ia tidak berusaha melepaskan diri dari keluarga yang gila itu?" Sepeninggal Manguri dan Lamat, maka Punta dan kawannya datang mendekatinya "Apa lagi yang dilakukan oleh anak itu? "Ia ingin melihat luka-luka di wajahku" Punta mengerutkan keningnya. Baru saat itu ia melihat luka-luka itu dari dekat. Karena itu tiba-tiba saja ia bertanya "Kenapa kau luka di wajahmu? Apakah benar-benar Lamat yang melukaimu?" Pamot menggeleng "Bukan Lamat" "Siapa?" "Aku tidak tahu. Orang itu mempergunakan tutup wajah dengan ikat kepalanya " "Apa salahmu, atau kira-kira apakah kepentingannya dengan kau saat itu?" "Aku tidak tahu. Aku berjalan di lorong padukuhan ketika ia menyerangku" namun nafas Pamot terasa semakin cepat mengalir. Ia tidak berani mengatakan alasan yang sebenarnya, kenapa ia berkelahi semalam, karena Pamot masih belum dapat meraba, tanggapan apakah yang akan diberikan oleh anak-anak muda itu. Mungkin mereka menaruh iba, tetapi mungkin benar kata ayah Pamot, orang-orang Gemulung akan mengutuknya. Atau bahwa benar kata orang berkerudung itu bahwa pelanggaran itu akan menumbuhkan wabah yang dahsyat di padukuhan ini" "Omong kosong" ia menggeram di dalam hatinya. Dalam pada itu Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mempercayai saja keterangan Pamot yang sudah mulai berdusta kepada kawan-kawannya itu. Kalau begitu hati-hatilah. Agaknya kau memang baru dibayangi oleh nasib yang malang. Tetapi jangan lekas menyerahkan kepada keadaan" Pamot mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu pasti maksud Punta. Apakah dengan demikian Punta bermaksud mendorongnya, tetap pada sikapnya untuk memiliki Sindangsari? Atau barangkali Punta mempunyai maksud yang lain? Tetapi Pamot tidak menanyakannya. Ia bahkan mengangguk sambil berkata "Aku memang tidak akan menyerah, apapun yang akan terjadi" "Tetapi hati-hatilah. Bahaya dapat menerkammu dari segala penjuru. Kalau aku tidak menyaksikan kedatangan Manguri, mangkin ia akan memaksa Lamat berbuat sesuatu atasmu. Aku sudah melihat gelagat itu. Jika demikian, Lamat pasti akan menjadi bingung" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya "Sudahlah. Teruskanlah kerjamu. Aku juga akan kembali" "Terima kasih" desis Pamot. "Kenapa?" bertanya Punta. "Kalau kau tidak datang, seperti katamu, mungkin Lamat akan mengalami kesulitan. Dan tentu aku juga" Punta dan kawannya tersenyum. Katanya "Lihat burung burung gelatik itu" Pamotpun tersenyum pula. Ia memandang Punta dan kawannya yang berjalan menyusuri pematang itu sejenak. Kemudian ia berpaling kepada sekelompok burung betet yang terbang berputaran di atas sawahnya. Sejenak kemudian burung-burung itu bersama-sama turun dan hinggap di batang jagung. Sejenak kemudian terdengar suara goprak Pamot yang dibarengi dengan teriakan-teriakan yang menghentak. Bukan saja untuk mengusir burung-burung betet yang sedang mencuri jagungnya yang masih muda, tetapi juga untuk melepaskan himpitan perasaannya yang menyesak di dadanya. Sehari-hari Pamot tidak pulang ke rumahnya. Di saat makanpun ia tetap berada di gubugnya. Direnunginya ujung tanamannya yang hijau segar. Langit yang biru bersih dan terik matahari yang serasa membakar tubuhnya. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Di kejauhan dilihatnya ndeg pangamun-amun. Seperti uap air yang sedang mendidih. "Benarkah orang-orang berdosa dijemur di terik matahari sebagai ndeg-pangamun-amun itu?" t iba-tiba saja tumbuh pertanyaan di dalam hatinya. Ia pernah mendengar ibunya berceritera ketika ia masih kanak-kanak, bawa orang yang berdosa, yang tidak menurut orang-orang tua, yang nakal, yang menyalahi sesama, kelak, di saat-saat tertentu di akhirat nanti akan dijemur di terik matahari sebagai ndeg-pengamun amun, kalau malam akan dibiarkan terendam oleh air embun yang sangat dingin. Pamot menarik nafas dalam-dalam. "Sindangsari belum isteri Ki Demang" katanya di dalam hati" dan iapun sebenarnya tidak ingin menjadi isteri Ki Demang, sehingga aku tidak berdosa apabila aku menemuinya" Tiba-tiba saja Pamot menggeretakkan giginya. Ia terkejut ketika gubugnya berderak-derak. Ketika ia berpaling dilihatnya kepala ayahnya tersembul "O, ayah" desisnya. "Kenapa kau tidak pulang?" ayahnya bertanya "Aku menjadi cemas. Biasanya di waktu makan kau pulang, sehingga kami tidak perlu mengirimkan makanan ke sawah" "O" Pamot termenung sejenak "Aku tidak lapar ayah" Ayahnyapun kemudian naik ke gubug itu pula. Ia membawa sebuah bungkusan makan buat Pamot "Ibumu menyuruhku mengirimkan makanmu " "Ah, sebenarnya itu tidak perlu. Aku memang t idak lapar" "Bukan itu soalnya. Tetapi kami memang cemas. Kau sedang dibayangi oleh bermacam-macam peristiwa yang kadang-kadang berbahaya bagimu meskipun di siang hari seperti ini" Pamot menundukkan kepalanya. Ayahnya memang keras dan sering memarahinya sejak ia masih kanak-kanak. Tetapi terasa betapa orang tuanya itu selalu memikirkan dirinya, nasibnya dan hari depannya. "Kalau kau t idak pulang, makanlah" Pamot mengangguk perlahan-lahan. Desisnya "Terima kasih ayah" Selagi Pamot makan, maka ayahnyapun turun dari gubugnya untuk melihat-lihat tanamannya. Tampaknya di musim menuai jagung musim ini ia akan mendapatkan hasil yang baik. Jagung-jagung yang masih muda sudah tampak memberikan harapan. Sedang di bagian lain dari sawahnya, yang terietak agak lebih rendah dan mampu dialiri oleh air dari parit sebelah, batang-batang padi yang hijau subur telah menjadi semakin t inggi pula. Ayah Pamot mengangguk-angguk kepalanya. Di dalam hati ia berdesis "Mudah-mudahan hasil dari sawah ini menjadi lebih baik dari musim yang lalu" Tetapi bila terlintas nasib anaknya, ayah Pamot itu menjadi berdebar-debar. Agaknya masalahnya akan berkepanjangan. "Sebaliknya Ki Demang segera mengawini gadis tu. Semuanya akan selesai. Betapapun sakit hati Pamot, namun ia tidak lagi terkatung-katung diantara harapannya yang kadangkadang masih tumbuh dengan kenyataan yang dihadapinya" berkata ayah Pamot itu di dalamhatinya. Namun ternyata bukan ayah Pamot sajalah yang berpikir demikian. Ternyata Ki Demangpun akhirnya berpendapat bahwa ia memang harus segera kawin untuk menghentikan segala macam kemungkinan yang tidak dikehendakinya. "Tetapi kakek gadis itu sama sekali belum memberitahukan, kapan dan hari-hari apa yang telah dipilihnya untuk meresmikan perkawinan itu" berkata Ki Demang di dalam hatinya. Tetapi akhirnya ia memutuskan "Biarlah aku yang menentukan hari itu. Aku tidak dapat menunggu lebih lama lagi" Demikianlah akhirnya, Ki Demang memanggil sanak saudaranya yang terdekat, yang masih ada tali-temali dan bebahu Kademangan. Ia menyampaikan niatnya untuk segera menentukan hari perkawinannya. "Kalau semuanya memang sudah matang, sebaiknya Ki Demang segera melangsungkan perkawinan itu. Tidak baik tertunda-tunda seperti membiarkan makanan di dalam mangkuk di atas geledeg. Mungkin tikus, mungkin kucing yang menunggui t ikus itu, atau mungkin apapun juga yang justru akan menerkamnya" berkata salah seorang tua di dalam pertemuan itu. Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana pendapatmu Reksatani?" bertanya Ki Demang "kau adalah satu-satunya keluargaku yang terdekat" Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata "Kalau kakang sudah memutuskan, sebaiknya perkawinan itu memang tidak tertunda-tunda lagi" "He, aku memang sudah memutuskan, Sudah lama. Kenapa kau masih menyebut-nyebutnya?" "Maksudku, kalau kakang sudah memutuskan untuk segera kawin" Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tersenyum "Siapakah yang mempunyai pertimbangan lain? Karena kebetulan aku adalah seorang Demang, maka aku minta pertimbangan para bebahu. Kalau aku bukan seorang Demang, persoalanku tidak akan menyangkut banyak segi seperti ini" Tidak seorangpun yang menyahut. Ki Demang mengerutkan keningnya. Dilihatnya Ki Jagabaya duduk di sudut bersandar dinding. Matanya sama sekali tidak memandangi Ki Demang yang berbicara kepada mereka, tetapi dipandanginya daun pintu yang t idak tertutup rapat. "Bagaimana pendapatmu Ki Jagabaya?" Ki Jagabaya tergagap karenanya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya "Tentu. Tentu aku sependapat. Bukankah begitu Ki Reksatani?" "Ya, tentu kita semua akan sependapat" Ki Demang mengerutkan keningnya. Dadanya berdesis mendengar jawaban Ki Jagabaya dan Ki Reksatani itu. Ia merasa bahwa apa yang mereka katakan tidak sesuai seperti yang mereka rasakan. Tetapi Ki Demang kemudian mengatupkan giginya. Katanya di dalam hati "Persetan. Tidak seorangpun yang dapat menghalangi aku" Namun demikian, sesaat kemudian ia telah berhasil menguasai perasaannya kembali. Sehingga sambil tersenyum ia berkata "Terima kasih kepada kalian. Agaknya kalian memang menyetujui" Ki Demang berhenti sejenak, lalu katanya "Baiklah. Aku akan segera menentukan hari itu" kemudian katanya kepada Reksatani" Adikku, kaulah yang akan pergi ke rumah gadis itu untuk mengatakan hari-hari yang telah aku pilih untuk melangsungkan perkawinan" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun dadanya serasa menjadi pepat "Kalau memang kakang kehendaki, baiklah aku akan pergi kapan saja kakang tentukan harinya" "Sehari ini aku akan membicarakan dengan erang tua-tua hari apakah yang sebaiknya aku pilih. Kemudian becok sore kau akan pergi ke rumah gadis itu" Sekali lagi Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaknya menjadi semakin mantap, meskipun hatinya menjadi semakin sakit. Karena tidak ada masalah lagi yang harus mereka bicarakan, maka pertemuan itu segera diakhiri. Ki Demang minta orang tua-tua untuk datang malam nanti dengan petunjuk-petunjuk hari apakah yang sebaiknya mereka pilih. Tetapi ketika para tamu itu minta diri, Ki Demang berkata "Yang lain aku persilahkan. Tetapi Ki Jagabaya aku minta untuk tinggal sebentar" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya beberapa orang kawannya, bebahu Kademangan Kepandak yang lain, kemudian disambarnya pula wajah Ki Reksatani. Namun kemudian ia mengangguk sambil berkata "Baiklah. Aku akan tinggal" "Dan kau jugaReksatani" desis Ki Demang. Ki Reksatanipun mengangguk pula "Ya. Aku akan tinggal disini" Demikianlah ketika orang-orang yang lain telah meninggalkan ruangan itu, mulailah mereka ketiga berbicara tentang hari-hari perkawinan itu. "Aku percaya kepadamu Ki Jagabaya. Aku sendiri tidak akan dapat berbuat apa-apa di saat aku kawin. Karena itu, keselamatanku dan keselamatan peralatan itu aku serahkan kepada Ki Jagabaya dan kepadamu Reksatani. Aku percaya bahwa di seluruh Kepandak dan sekitarnya tidak ada orang yang dapat menyamai kalian berdua secara pribadi. Sedang kalian mempunyai pasukan pengawal yang dapat kalian banggakan" Ki Jagabaya mengangkat wajahnya. Kemudian kepalanya terangguk-angguk. Katanya "Itu sudah menjadi kewajibanku. Tetapi aku yakin, tidak akan ada seorangpun yang akan mengganggu hari-hari perkawinan itu" Mudah-mudahan" berkata Ki Demang "tetapi siapa tahu Manguri mempunyai apa saja yang dapat dipergunakannya. Uangnya cukup banyak untuk dapat menimbulkan persoalan di hari-hari perkawinan itu" Ki Jagabaya memandang Reksatani sejenak. Lalu katanya "Aku kira t idak akan berani. Betapapun juga. kita memiliki pasukan pengawal yang banyak jumlahnya" Ki Reksatani menyahut pula "Aku kira bukan dari Manguri. Manguri pasti akan merasa bahwa gadis itu sama sekali tidak mencintainya. Bukankah kita sudah mengetahuinya, bahwa gadis itu telah benar-benar jatuh cinta kepada Pamot?" "Maksudmu, apabila terjadi keributan itu pasti berasal dari Pamot?" "Bukan begitu. Aku tidak dapat memastikan. Mungkin Manguri memang dapat menjadi mata gelap. Tetapi kemungkinan memperhatikan Manguri saja, mungkin kita akan lengah. Justru Pamotlah yang merasa dirinya telah mengikat perasaan dengan gadis itu, dan gadis itu telah menerimanya pula dan mencintainya" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian. Karena itulah aku minta Ki Jagabaya tinggal. Aku ingin membicarakan beberapa masalah dengan kalian berdua" Ki Demang berhenti sejenak, lalu "meskipun tampaknya tidak ada hubungannya dengan hari-hari perkawinan itu dan seterusnya" Ki Jagabaya dan Ki Reksatani saling berpandangan sejenak, tetapi mereka sama sekali tidak berkata apapun. "Dengarlah" berkata Ki Demang, lalu "tetapi semuanya hanya untuk kau berdua untuk sementara" Keduanya masih duduk membeku. "Aku mendengar dari seorang perwira Mataram, bahwa Mataram memerlukan beberapa orang pengawal khusus yang terbaik" Ki Jagabaya dan Ki Reksatani terkejut. Dengan cepat Ki Jagabaya dan Ki Reksatani tahu, kemana arah pembicaraan Ki Demang, sehingga sebelum Ki Demang meneruskan katakatanya, Ki Jagabaya mendahului "Apakah Mataram sudah akan mengirim pasukannya ke Betawi untuk kedua kalinya?" "Ingat. Ini masih merupakan rahasia. Bukan rahasiaku. Tetapi rahasia Kerajaan, Kau sadari?" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, aku sadari. Tetapi bukan itu yang penting kita bicarakan dalam hubungannya dengan keadaan di Kademangan ini. Sebenarnya kita berbangga, bahwa pimpinan keprajuritan Mataram menaruh perhatian terhadap tunas-tunas yang tumbuh di kademangan ini. Dengan demikian Kademangan ini mendapat kesempatan untuk menegakkan tiang-tiang yang kita dirikan di atas Tanah Air kita sendiri" "Kenapa sebenarnya? Bukankah memang demikian?" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Aku mengharap, mudah-mudahan demikian hendaknya" "Kenapa, kenapa kau sebenarnya Ki Jagabaya ?" bertanya Ki Demang. "Tidak apa-apa. Aku akan memilih orang-orang terbaik dari Kademangan ini. Setiap Padukuhan akan aku ambil seorang. Di Kademangan ini terdapat lebih dari sepuluh padukuhan dan beberapa padukuhan-padukuhan kecil. Kita akan dapat mengirimkan limabelas orang atau lebih" "Jangan terkejut Ki Jagabaya. Perwira itu minta kepadaku agar Kademangan Kepandak menyediakan kira-kira lima puluh orang pasukan pengawal khusus. Bukankah jumlah itu dapat dicapai dan bahkan dilampaui. Di seluruh Kademangan ini ada kira-kira tujuhpuluh lima pengawal khusus dan lebih dari limapuluh pengawal yang sudah resmi, di samping kegiatan anak-anak muda sega!a padukuhan" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Limapuluh orang. Tetapi agaknya Mataram memang memerlukan banyak tenaga. Mungkin Sultan Agung telah mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, berdasarkan kegagalannya di masa lampau. Pasukan Mataram setahun yang lalu tidak berhasil merebut kota itu dan mengusir orangorang asing yang mulai menanamkan kekuasaannya di atas bumi tercinta ini. "Dalam keadaan yang mendesak, tidak hanya lima puluh orang itu yang akan diambilnya" berkata Ki Demang "Ya" sahut Ki Jagabaya "dalam keadaan yang mendesak, setiap laki-laki adalah prajurit. Apalagi menghadapi orang asing yang mulai menggoyahkan sendi-sendi kekuasaan kita di atas Tanah kita sendiri" "Nah, kau akan dapat memperhitungkan, berapa orang yang dapat kau ambil dari setiap padukuhan" "Empat orang. Kira-kira empat orang" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Ki Demang dengan penuh kebimbangan. Namun kemudian tumbuhlah kecurigaan di dalam hatinya. Agaknya Ki Demang ingin memanfaatkan masalah ini untuk kepentingan pribadinya. Itulah sebabnya ia membicarakan masalah ini, masih dalam rangkaian pembicaraan hari perkawinannya. "Ya" berkata Ki Demang kemudian "empat atau lima orang. Itu sudah cukup. Kita akan dapat memilih siapa yang akan berangkat ke Mataramapabila nanti saatnya tiba" "O, kita tidak perlu memilih" berkata Ki Jagabaya "kalau kita mempergunakan cara itu, aku ragu-ragu apakah setiap orang menerima pilihan itu dengan ikhlas" "Kenapa tidak? Bukankah mereka sudah mengetahui kemungkinan itu sejak mereka bersedia menerima latihanlatihan yang lebih baik dari kawan-kawannya oleh prajuritprajurit dari Mataram, yang juga justru dalam rangka persiapan ini? Tentu mereka t idak akan berkeberatan" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Memang, aku percaya, bahwa mereka tidak akan berkeberatan. Tetapi kita tidak akan mengabaikan masalah-masalah pribadi mereka seorang demi seorang. Mungkin ada diantara mereka yang ibunya sedang sakit keras, atau barangkali seseorang yang sudah menentukan, bahwa ia akan segera kawin, atau kepentingan-kepentingan lain" Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun ia masih bertanya "Jadi, bagaimana sebaiknya menurut kau?" "Kita kumpulkan mereka semua. Kita akan bertanya, siapakah yang kali ini bersedia untuk berangkat" Wajah Ki Demang menegang. "Ada beberapa keuntungan" berkata Ki Jagabaya "mereka tidak akan merasa, kita membeda-bedakan. Kalau kita memilih, kita dapat salah tunjuk. Orang yang mempunyai beberapa keberatan karena keadaan pribadi mereka, justru kita pilih, karena kita tidak mengetahuinya, sedang mereka yang tidak kita sebut, akan menjadi sakit hati, karena mereka merasa direndahkan atau justru dianak tirikan" "Tetapi bagaimana kalau yang menyatakan diri kurang dari yang diperlukan?" bertanya Ki Demang. "Aku berani bertaruh dengan ujung rambutku. Pasti lebih dari limapuluh orang yang bersedia" "Kalau terlampu banyak Enam puluh orang misalnya. Bagaimana menyisihkan yang sepuluh" "Kita undi" Ki Demang termenung sejenak. Tetapi kemudian ia berkata "Kemungkinan yang dapat terjadi, pengawal khusus yang kita ambil tidak akan merata. Mungkin dari satu padukuhan kita mendapat sepuluh orang, sedang dari padukuhan yang lain hanya satu dua atau bahkan tidak sama sekali" "Kita akan menentukan cara undian itu" berkata Ki Jagabaya "tidak seluruhnya sekaligus. Tetapi undian itu kita berikan khusus bagi setiap padukuhan" Ki Demang terdiam sejenak. Namun tampak bahwa ia tidak dapat menerima dengan mantap usul Ki Jagabaya itu. Karena itu, ia masih berkata "Bagiku, lebih baik kita menunjuk. Yang berkeberatan supaya mengajukan keberatannya. Kita akan mempertimbangkan" Ki Jagabaya memandang wajah Ki Demang dengan penuh kecurigaan. Sementara Ki Reksatani berkata "Kakang apakah aku boleh menghubungkan masalah ini dengan hari perkawinan kakang?" Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Sedang Ki Reksatani berkata pula "Aku menduga, bahwa Ki Jagabaya akan mengatakan hal itu, tetapi ia menjadi agak segan" "Apa yang kau maksudkan?" "Akupun sebenarnya segan untuk mengatakannya, tetapi aku kira hal ini akan lebih baik, apabila kita saling berterusterang. Kita tidak akan selalu merasa dibayangi oleh masalahmasalah yang terasa belum selesai kita bicarakan. Bukankah begitu?" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk lemah, katanya "Ya aku kira kita akan saling berterus terang. Apakah yang ada dan apakah yang tersimpan di hati kita masing-masing" Sekilas Ki Reksatani memandang wajah Ki Jagabaya. Tetapi Ki Jagabaya tidak segera mengatakan sesuatu, sehingga ruangan itupun sejenak menjadi sepi. Yang pertama-tama berbicara adalah Ki Reksatani, katanya "Silahkan Ki Jagabaya Kakang Demang sudah membuka pintu" Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya "Ki Demang. Kalau aku boleh berterus-terang, maka aku ingin bertanya, apakah Ki Demang berusaha memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan Ki Demang sendiri? Misalnya tentang penyingkiran Pamot?" Ki Demang berdesir mendengar pertanyaan itu. Seolah-olah cacat yang disembunyikannya dapat langsung disentuh oleh Ki Jagabaya itu. Namun, sejak semula Ki Demangpun sudah menaruh prasangka bahwa Ki Jagabaya dan adiknya, Ki Reksatani memang akan menebaknya dengan tepat. Karena itu, Ki Demang merasa tidak perlu mengelak lagi. Dengan tegas ia menjawab "Ya. Alasan ini akan aku pergunakan pula untuk menyingkirkan Pamot. Bukankah ia termasuk salah seorang anggauta pengawal khusus. Ia harus ikut di dalam tugas ini. Ia harus termasuk salah seorang dari limapuluh orang yang akan pergi ke Mataram, kemudian dipersiapkan untuk mengikuti pasukan Mataram yang akan menyerang Betawi" Ki Jagabaya dan Ki Reksatan berpandangan sejenak. Namun karena Ki Demang sudah berterus-terang, mereka bahkan seolah-olah tidak mempunyai bahan lagi untuk membicarakannya. Karena itu, mereka masih harus berdiam diri sambil mendengarkan Ki Demang berbicara "Aku kira itu adalah jalan yang sebaik-baiknya buat Pamot. Aku tidak ingin mempergunakan kekerasan. Aku tahu, ia sudah menyalahi adat, bahwa ia masih saja menghubungi seorang gadis yang sudah ditentukan akan kawin dengan orang lain. Kalau aku tidak ingin menghindari keributan, maka aku dapat berbuat lebih dari apa yang akan aku lakukan sekarang, menempatkan anak itu dalam pasukan yang justru mendapat kehormatan untuk mempertahankan nama Tanah tercinta ini" Ki Demang berhenti sejenak, lalu "Aku harap kalian tidak memandangnya dari sudut yang terbalik. Seolah-olah aku mempergunakan kesempatan ini untuk mencelakakannya. Aku justru masih ingin melihat Pamot tidak kehilangan namanya. Coba katakan Ki Jagabaya, apa yang sebaiknya dilakukan atas anak itu, apabila dapat dibuktikan bahwa ia telah melanggar pagar ayu. Dan kau Reksatani. Apakah kau dapat menyebut hukuman apa yang sebaiknya diberikan kepadanya?" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa apabila kata-kata Ki Demang itu benar, Pamot memang dapat dituntut oleh adat. Tetapi bahwa hal itu tidak terjadi begitu saja, seharusnya mendapat pertimbangan. Pamot tidak datang kepada Sindangsari setelah gadis itu ditetapkan untuk menjadi isteri Ki Demang. Tetapi sebaliknya. "Tetapi biasanya orang-orang padukuhan ini tidak mau memperhatikan sebab-sebab yang dapat menumbuhkan suatu keadaan. Kadang-kadang mereka memandang suatu persoalan hanya sepotong-sepotong yang mereka perlukan, atau yang sedang mereka persoalkan itu saja" berkata Ki Jagabaya di dalam hatinya "mereka tidak mau menelusur "Kenapa Pamot berbuat demikian. Tuntutan adat itu tidak mau mengerti, bahwa Pamot merasa telah kehilangan sesuatu, haknya yang dirampas oleh ki Demang yamg kebetulan sedang mempunyai kekuasaan di Kademangan Kepandak" Meskipun demikian Ki Jagabayapun melihat, bahwa sebagian terbesar orang-orang Gemulung, di dalam persoalan ini berpihak kepada Pamot seandainya mereka berani menyatakan hatinya. Dalam pada itu Ki Reksatani hanya menundukkan kepalanya saja. Ia tidak berani memberikan jawaban atas pertanyaan Ki Demang tentang pelanggaran pagar ayu. Kalau ia harus menyebut hukuman apa yang sebaiknya diberikan kepada mereka yang melanggar pagar ayu, terasa lidahnya menjadi kelu. Karena tidak ada yang segera menjawab, maka Ki Demang berkata pula "Kenapa kalian diam saja? Kalian harus memberi pertimbangan. Aku sudah mencoba mencari jalan yang paling baik untuk menyelesaikan masalah Pamot" Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Kalau pertimbangan Ki Demang sudah sampai begitu jauh, maka ia tidak akan dapat berbuat lain daripada menyetujui. Menyetujui dengan sepenuh hati atau tidak. Namun tiba-tiba saja Ki Jagabaya teringat kepada Manguri. Karena itu maka katanya "itukah sebabnya maka Ki Demang pada permulaan pembicaraan ini hanya menekankan keamanan di dalam peralatan itu dengan memperhatikan Manguri. Karena menurut perhitungan Ki Demang, Pamot sudah tidak ada lagi di Kademangan ini" Ki Demang menganggukkan kepalanya "Ya. Begitulah. Bukankah Ki Jagabaya sudah menduganya" "Sayang" desis Ki Jagabaya. "Apa yang kau sayangkan?" bertanya Ki Demang. "Kalau Manguri termasuk anggauta pasukan pengawal khusus, iapun dapat dikirimkan ke Mataram" "Jadi, apakah menurut Ki Jagabaya, pengawal khusus yang dikirim ke Mataram itu sekedar tempat untuk membuang orang-orang yang tidak disukai di Kademangan ini?" bertanya Ki Reksatani. "Aku tidak mengatakan demikian" jawab Ki Jagabaya, lalu "tetapi menurut jalan pikiranku, hal itu dapat terjadi atas Manguri apabila dapat terjadi atas Pamot, Atau orang-orang lain di kemudian hari" "Ki Jagabaya" tiba-tiba Ki Demang menggeram "Akulah yang memutuskan semua persoalan disini. Kau adalah pembantuku di dalam bidangmu" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya. "Ya. Aku sadari kedudukanku. Dan bukankah aku tidak membantah untuk menjalankan tugas itu" "Sekarang kau harus menjawab, cara yang manakah yang sebaiknya ditempuh untuk menentukan siapakah yang akan berangkat ke Mataram itu. Limapuluh orang dari pengawal khusus yang selama ini telah mendapat latihan keprajuritan dari para prajurit Mataram yang sengaja mempersiapkan mereka apabila diperlukan" Sambil mengangkat dadanya Ki Jagabaya menjawab tegas "Kita akan menentukan dan memilih mereka seorang demi seorang" Seleret warna merah membayang di wajah Ki Demang. Ia tahu benar ungkapan kejengkelan Ki Jagabaya di dalam nada jawabannya itu. Tetapi Ki Demangpun kemudian menyahut "Bagus. Kau sudah memenuhi harapanku. Kau benar-benar sudah menjalani tugas yang aku bebankan kepadamu, sebagai pembantuku di dalam bidangmu" "Ya, dan aku ingin menjadi seorang pembantu yang baik" sahut Ki Jagabaya. Ki Demang mengatupkan giginya rapat-rapat. Tetapi ia masih selalu menahan dirinya. Selama ini Ki Jagabaya adalah pembantunya yang benar baik. Tetapi kali ini agaknya ia mempunyai sikap yang lain, meskipun diendapkannya di dalam dadanya. Sementara itu, Ki Reksatani hanya mendengarkan pembicaraan Ki Demang dan Ki Jagabaya. Kadang-kadang ia menjadi berdebar-debar. Tetapi seperti Ki Jagabaya, ia tidak akan dapat berbuat banyak. Kakaknya adalah seorang yang keras hati. Dalam pada itu terdengar Ki Demang kemudian berkata "Ki Jagabaya. Sekali lagi aku berpesan, masalah ini masih menjadi rahasia. Aku masih menunggu perintah resmi dari pimpinan prajurit Mataram yang berkewajiban untuk itu" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya" Baiklah Ki Demang. Tetapi apakah hal itu masih memerlukan waktu yang lama?" "Tidak" jawab Ki Demang "aku hanya menunggu untuk beberapa hari saja. Menurut pendengaranku, perintah itu sudah disiapkan. Apabila benar kata perwira itu, bahwa ada Kademangan lain yang sudah menerima perintah itu masih harus menunggu kepastian. Kalau para prajurit yang membawa perintah resmi itu datang, maka kau tentu akan aku minta hadir" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nah, sejak sekarang kau dapat memilih meskipun belum kau pastikan. Siapa-siapa yang akan kita kirimkan ke Mataram, mewakili Kademangan ini untuk suatu perjuangan yang luhur" "Baik Ki Demang, aku akan segera memilih. Sudah tentu Pamot harus ikut serta" Ki Demang t idak menjawab meskipun dahinya berkerut. "Sekarang kau Reksatani" berkata Ki Demang "datanglah malam nanti kemari. Aku akan menentukan bersama-sama orang tua-tua di Kademangan ini, hari yang sebaik-baiknya untuk melangsungkan perkawinan itu. Besok kau pergi ke rumah gadis itu untuk mengabarkan, bahwa hari itu sudah aku pilih" "Baik kakang" "Nah, aku kira aku tidak mempunyai kepentingan yang lain" Maka Ki Jagabaya dan ki Reksatanipun segera minta diri. Pertemuan itu telah membuat dada mereka bergejolak meskipun dengan alasan yang berbeda-beda. Ki Reksatani masih saja selalu mengumpat-umpat di dalam hatinya. Ia tidak mau melihat pada suatu saat isteri Ki Demang itu mengandung dan melahirkan anak. Dengan demikian maka impiannya selama ini untuk mewarisi segala jabatan dan kekayaannya akan menjadi kabur. Tetapi Ki Reksatani tidak dapat mengelak, bahwa pada malam harinya ia mendengar keputusan para tetua Kademangan, bahwa perkawinan antara Ki Demang dan Sindangsari harus segera dilaksanakan. "Hari yang paling baik adalah hari kelahiran Ki Demang sendiri" berkata salah seorang tetua "hari itu adalah hari yang pertama-tama dinikmati oleh Ki Demang. Hari Kurnia dan hari kelahiran. Bertolak dari kelahiran itulah maka semuanya terjadi seperti sekarang ini" Orang tua-tua yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Salah seorang berkata "Memang tidak dapat dipergunakan. Misalnya hari itu berbareng dengan hari kematian salah saorang dari orang tua Ki Demang" Ki Demang mengerutkan keningnya. "Apakah hari kelahiran Ki Demang itu?" "Soma. Soma pahing" jawab Ki Demang. "Soma bernilai empat, dan Pahing bernilai semibilan. Jumlah tiga belas" "Bagus" sahut yang lain "hari itu adalah hari yang paling baik. Tiga belas" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya "Baru sepekan ini aku memperingati, hari kelahiran itu" "Lima hari yang lalu?" "Tepatnya empat hari yang lalu. Bukankah hari ini hari Jumat?" Para tetua Kademangan ituupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya mereka bersepakat, bahwa perkawinan Ki Demang akan berlangsung di hari kelahirannya itu. Tigapuluh satu hari yang akan datang. Di hari Soma-Pahing. Ketika keputusan itu telah jatuh, maka berkatalah Ki Demang kepada Ki Reksatani "Nah, kau dengan keputusan itu. Kau besok harus pergi ke rumah gadis itu. Katakan kepada kakeknya, karena ia tidak memberikan ancar-ancar hari, maka Ki Demang telah memutuskan, agar perkawinannya dengan Sindangsari dilakukan pada hari yang sudah ditentukan itu" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Besok aku akan pergi ke rumah gadis itu. Aku akan mengatakan keputusan para tetua Kademangan ini, bahwa sebaiknya hari itulah yang dipergunakan" "Kau jangan berbuat seperti kanak-kanak. Kau dengan, bahwa hari adalah keputusan yang tidak dapat dirubah lagi?" "Ya, aku dengar" "Lakukan tugasmu baik-baik. Tidak ada orang lain yang dapat berbuat lebih baik dari kau. Karena itu kalau kau tidak dapat menyelesaikannya, apalagi orang lain" "Apa yang harus aku selesaikan dengan tugas ini. Bukankah aku hanya menyampaikan keputusan kakang Demang saja, bahwa perkawinan akan berlangsung besok pada hari Soma-Pahing, sebulan lagi?" Ki Demang menganggukkan kepalanya. "Anak kecilpun dapat melakukannya seandainya pantas. Tetapi karena masalahnya adalah masalah perkawinan, maka memang sepantasnya bahwa orang tualah yang menyebutkan kalimat itu" "Begitulah. Besok kau dapat langsung pergi ke rumah gadis itu. Kau tidak perlu singgah kemari. Tetapi setelah kau selesai, maka kau harus singgah kemari dahulu, sebelum pulang" "Baik kakang" jawab Ki Reksatani "tetapi apakah aku sekarang sudah boleh pulang" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya. Persoalan kita sudah matang. Tetapi sebaiknya kau t inggal dahulu sebentar. Kita akan makan bersama-sama" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata "Terima kasih kakang. Aku sudah makan di rumah" Ki Reksatani t idak menunggu pelayan Ki Demang menyuguhkan makan bagi tamu-tamunya yang sedang memperbincangkan hari-hari perkawinan Ki Demang di Kepandak. Pada senja di hari berikutnya. Ki Reksatani berangkat ke rumah kakek Sindangsari. Ia tidak pergi sendiri, tetapi ia membawa seorang kawan untuk menyaksikan pembicaraan mereka. Kedatangannya telah mengejutkan seisi rumah yang sederhana itu. Dengan tergopoh-gopoh kakek Sindangsari segera mempersilahkannya masuk. Dengan ramahnya orang tua itu menyapanya sebagai adat kebiasaan. Mereka saling bertanya tentang keselamatan diri masing-masing dan keluarganya. Sejenak kemudian maka dihidangkannyalah minuman hangat di dalam mangkuk. Baru setelah mereka meneguk minuman hangat itulah Ki Reksatani berkata "Sekali lagi aku datang atas nama kakang Demang di Kepandak" Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya "Apakah Ki Demang menanyakan hari-hari perkawinan cucuku?" Ki Reksatani menggelengkan kepalanya "Tidak, bukan itu" "Apakah Ki Demang ingin menggagalkan pembicaraan ini?" "O, tidak, Tentu tidak" "Seandainya demikianpun aku kira justru akan lebih baik bagi keluarga kecil ini" "Tidak. Bukan maksudnya. Juga bukan untuk menanyakan hari apa yang sebaiknya untuk melangsungkan perkawinan itu. Tetapi kakang Demang justru memberitahukan keputusan yang telah diambilnya tentang hari perkawinan itu" "O, kenapa Ki Demang yang memutuskan hari itu? Seharusnya akulah yang menentukan. Pihak calon penganten perempuan" "Aku tahu. Tetapi keluarga calon penganten perempuan telah terlampau lama tidak memberikan kepastian, sehingga kakang Demang telah mengambil keputusan untuk menentukan hari perkawinan itu" Kakek Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. "Jadi, kapankah hari yang telah dipilih itu?" "Hari kelahiran kakang Demang. "Hari apa? "Soma Pahing" "Soma bernilai empat, dan paling bernilai sembilan. Jumlahnya tigabelas. Tigabelas" orang tua itu merenung sejenak. Lalu tiba-tiba "O, tentu tidak mungkin. Tidak mungkin" "Kenapa?" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. "Hari itu adalah hari yang paling jelek bagi Sindangsari" "Kenapa?" "Hari itu adalah kematian ayahnya di peperangan. Hari itu adalah hari kedatangan utusan Ki Demang pertama kali untuk melamar Sindangsari. Hari itu hari yang pasti tidak membuat kesan yang baik bagi cucuku itu" Ki Reksatani terbungkam sebentar. Lalu katanya "Tetapi, tetapi ketika kami datang untuk pertama kali, kami memang memilih hari itu pula. Atau kebetulan sekali. Ya. hanya kebetulan karena kami sama sekali tidak memperhitungkan hari saat itu" "Mungkin hanya sekedar kebetulan bagi Ki Demang. Tetapi tidak bagi Sindangsari" kakek gadis itu berhenti sejenak, lalu "pada suatu hari seorang prajurit datang ke rumahnya. Prajurit yang kurus dan pucat, meskipun sorot matanya masih tetap menyala. Ia adalah salah seorang prajurit yang baru datang dari perjalanan yang jauh, memerangi orang-orang asing yang katanya mulai menginjakkan kakinya di tanah Jawa. Prajurit itu berkata kepada anak perempuanku, ibu Sindangsari itu "Suami Nyai telah gugur di medan perang" Tentu saja isterinya menjerit. Dan prajurit itu meneruskan "Ia gugur di sebelahku, karena akupun terluka waktu itu, meskipun tidak parah. Pada hari Soma-Bang. He, bukankah Soma-Bang itu Soma Pahing" Ki Reksatani menjadi termangu-mangu sejenak. Terngiang pesan kakaknya "Karena itu, kalau kau tidak dapat menyelesaikan, apalagi orang lain" Dan ia menjawab waktu itu "Bukankah aku hanya menyampaikan keputusan Ki Demang saja" lalu "anak kecilpun dapat melakukannya seandainya pantas" Namun tiba-tiba ia kini menghadapi masalah itu. Kakek Sindangsari menolak hari yang diputuskan oleh Ki Demang. Meskipun demikian Ki Reksatani masih mencoba menekankan hari itu, katanya "Tetapi ini keputusan Ki Demang" "Tetapi apakah Ki Demang benar akan menyiksa Sindangsari dengan segala macam cara. Ia sudah mengambilnya meskipun ia tahu, gadis tersebut tidak menghendakinya. Kini ia memilih hari yang paling pahit bagi bakal isteri yang terpaksa menjalani perkawinan itu. Hari kematian ayahnya. Itu tidak baik. Tidak baik untuk segalagalanya" Ki Reksatani menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan memaksakan kehendak Ki Demang seperti yang dikatakannya, atau ia harus menyampaikan jawaban kakek tua ini kepada kakaknya. Jika ia kembali tanpa keputusan itu, maka kakaknya pasti akan memaki-makinya. Tetapi kalau ia memaksakan kehendak itupun, agaknya kesannya akan terlampau jelek. Berbagai macam pertimbangan telah melintas di dalam kepalanya. Namun ia masih tetap ragu-ragu. "Kalau aku pulang, maka kakang Demang pasti akan menunjuk hidungku sambil berkata "Nah, percaya? Bukankah kau tidak dapat menyelesaikannya?" desah Ki Reksatani di dalam hatinya. Karena Ki Reksatani tidak segera menjawab, maka kakek Sindangsari itupun berkata "Nah, Ki Reksatani. Sebaiknya hal ini sekali lagi dibicarakan dengan Ki Demang. Aku harap Ki Demang sudi mempertimbangkan keadaan bakal isterinya. Aku tidak berkeberatan hari apapun juga. Aku memang menganggap bahwa semua hari itu baik. Tidak ada hari pantangan. Tidak ada hari yang mencelakakan kita. Tetapi pertimbangan kami tentang hari Soma-Pahing ini lain. Bukan karena hari itu sendiri, tetapi apa yang telah terjadi pada hari itu, yang akan selalu membayangi cucuku. Kalau pada hari itu ia harus menjalani hari perkawinannya, tetapi pada hari itu ia mengenang kematian ayahnya, apakah perkawinan itu akan dapat membuat kesan yang baik baginya?" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada diri sendiri "Apa pedulimu? Biarlah kakang Demang marah. Lebih baik lagi kalau t iba-tiba saja ia memutuskan semua hubungannya dengan gadis itu karena kemarahan yang meluap-luap. Alangkah baiknya" Karena itulah maka Ki Reksatanipun kemudian menjawab "Baiklah. Aku akan kembali kepada Ki Demang. Aku akan mengatakan kepadanya, jawaban yang aku terima tentang hari itu" "Ya, sebaiknya demikian. Dan aku mengucapkan, terima kasih atas kesediaan Ki Reksatani" Dan apa yang dibayangkan oleh Ki Reksatani benar-benar telah terjadi. Ki Demang menjadi marah bukan buatan. Kalau saja ia belum setua itu, mungkin kakaknya itu sudah menamparnya. Namun justru yang diharapkan oleh Ki Reksatani tidak terjadi. Ki Demang itu dengan serta-merta membanting mangkuk di atas batu umpak saka guru, sambil berteriak "Aku batalkan perkawinan ini!" "Tidak!" Yang dikatakan kemudian adalah "Kembali ke rumah itu. Aku tidak mau menunda lagi" "Kakang" Ki Reksatani mencoba menjelaskan "masalahnya bukan untuk menunda hari perkawinan itu. Tetapi hari yang dipilih itulah yang tidak sesuai. Hari itu adalah hari kematian ayah Sindangsari" "Persetan dengan kematian siapapun juga" "Kalau kakang Demang memang ingin lebih cepat, kakang Demang dapat memilih hari lain, justru lebih cepat dari hari itu" Ki Demang mengerutkan keningnya. Bahkan ia berkata di dalam hatinya "O, jadi perkawinan itu dapat berlangsung lebih cepat. Sepuluh hari lagi misalnya, atau setengah bulan. Sejenak ia merenung. Tetapi tiba-tiba ia sadar, bahwa sebulan itu adalah hari yang sebaik-baiknya. Ia memperhitungkan bahwa di hari-hari itu Pamot sudah tidak ada lagi di Kademangan ini. Tetapi apabila lebih cepat dari itu, mungkin para pengawal khusus masih belum ditarik ke Mataram, sehingga apabila Pamot menjadi mata gelap, masalahnya akan menjadi bertambah sulit. Karena itu maka katanya "Tidak. Aku tidak mau merubah hari yang sudah menjadi keputusan itu. Bukan keputusanku sendiri, tetapi keputusan beberapa orang tetua Kademangan Kepandak. "Aku tahu kakang. Tetapi untuk kebaikan kakang sendiri. Para tetua Kademangan tidak tahu, masalah apa yang dapat tumbuh pada keluarga kakang nanti. Apakah kakang sampai hati melihat, justru di hari perkawinan itu isteri kakang Demang menjadi murung dan sedih? Dan untuk seterusnya isteri kakang Demang itu sama sekali tidak berani mengenangkan hari perkawinannya justru karena hari perkawinannya itu adalah hari duka baginya, hari kematiannya ayahnya" "Mungkin sebulan dua bulan ia akan selalu terkenang. Tetapi lambat laun ia akan melupakannya" sahut Ki Demang "dan apakah gunanya kami kelak selalu mengingat-ingat hari perkawinan itu? Yang penting bagi kami adalah keserasian hidup di hari-hari berikutnya" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Apalagi ketika kemudian mendengar kakaknya berkata "Pokoknya, aku sudah berkeputusan. Hari itu adalah hari yang paling baik. Katakan kepada kakek gadis itu" Ki Reksatani mengumpat-umpat di dalamhatinya. "Nah, pergilah kembali ke rumah itu" "Tetapi tentu tidak sekarang, kakang" jawab Ki Reksatani "besok aku akan ke rumahnya " "Kenapa besok?" "Bukankah sekarang sudah terlampau malam?" "Baikklah. Kau besok harus pergi ke rumah itu. Katakan bahwa keputusanku tidak dapat berubah" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia mengumpat-umpat di dalamhati. Demikianlah, di perjalanan pulang ke rumahnya, tidak henti-hentinya ia berdesah. Perkawinan kakaknya kali ini benar-benar telah menyiksanya. Perkawinan itu sendiri telah membuatnya gelisah dan cemas, bahwa harapannya akan musna. Sedang pelaksanaannyapun telah membuatnya pusing kepala. Namun tiba-tiba Ki Reksatani itu tertegun. Sejenak ia merenung, dan sejenak kemudian kepalanyapun teranggukangguk. "O, aku memang bodoh sekali" Ia menggeram "Kenapa aku tadi terpengaruh oieh kata-kata kakek Sindangsari dan bahkan mengharap Kakang Demang membatalkan niatnya? Bodoh sekali. Seharusnya aku tahu, bahwa kakang Demang tidak akan mengurungkan niatnya apapun yang akan terjadi. Sebenarnya bagiku lebih baik bertindak kasar seperti kakang Demang. Biar kakek Sindangsari sakit hati, atau gadis itu akan selalu sedih. Aku tidak peduli. Itu lebih baik bagiku. Menurut beberapa orang, perkawinan yang selalu dibayangi oleh kemurungan dan kesedihan tidak akan dapat melahirkan anak. Bahkan seandainya hari itu memang mempunyai pengaruh, dan hari yang bernilai tigabelas itu tidak baik, sokurlah. Biarlah salah seorang dari mereka mati atau kemudian bercerai atas perkawinan itu sehingga perkawinan itu gagal dan tidak ada anak-anak yang dilahirkan karenanya " Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sekilas ia berpikir "tetapi kelak kakang Demang pasti akan kawin lagi dengan orang lain" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berdesis "Persetan waktu mendatang. Sekarang yang sedang aku hadapi adalah Sindangsari" Ki Reksatanipun kemudian mempercepat langkahnya, menembus gelapnya malam. Titik embun yang dingin membasahi ikat kepala dan pakaiannya. Tetapi ia sudah tidak menghiraukannya sama sekali. Angin malam yang dinginpun sama sekali tidak terasa menyentuh kulitnya. Di malam hari berikutnya, sekali lagi Ki Reksatani dengan seorang kawannya pergi ke rumah Sindangsari, Tetapi kini sudah membawa ketetapan, bahwa hari yang ditentukan oleh Ki Demang t idak akan dapat dirubah-rubah lagi. Kakek Sindangsari yang menerimanya mengerutkan keningnya ketika Ki Reksatani itu berkata "Maaf, bahwa kakang Demang agaknya sudah tidak mau merubah rencananya" "Itu kurang bijaksana" jawab kakek Sindangsari. "Aku juga sudah berusaha mengatakan alasan-alasan yang bagiku masuk akal. Tetapi kakang Demang sama sekali tidak mau bergeser. Ia sudah terlampau lama menunggu. Bahkan di dalam nada kata-katanya, ia merasa, seakan-akan dirinya sama sekali tidak diacuhkan oleh keluarga ini, sehingga sama sekali tidak ada niat untuk menentukan hari perkawinan yang sebaik-baiknya. "Bukan maksud kami" jawab kakek Sindangsari yang terpotong oleh kata-kata Ki Reksatani "Aku tahu. Dan aku sudah mengatakannya kepada kakang Demang. Tetapi kakang Demang sama sekali tidak mempercayai" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu "pada pokoknya, dengan menyesal aku harus menyampaikan keputusan Kakang Demang, bahwa hari yang sudah ditentukan itu tidak akan dapat berubah" Kakek Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Kini tidak ada lagi cara yang dipergunakannya untuk menunda hari perkawinan itu. Ia harus melaksanakannya kalau keluarganya tidak ingin mendapat kesulitan karena Ki Demang. "Bagaimana pendapat Ki Demang, kalau aku minta waktu sekedar untuk mengadakan persiapan secukupnya? Seandainya Ki Demang sudah mantap dengan hari itu, bukankah selapan lagi hari itu akan datang kembali" "Maaf, maaf. Aku tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Aku mendapat pesan dari kakang Demang, bahwa hari itu tidak akan dapat bergeser sekejappun" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu "memang sebenarnya terlampau berat bagiku untuk mengatakannya. Tetapi apa boleh buat" Kakek Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi, dan sekali lagi, seakan-akan ingin melepaskan himpitan perasaan di dalam dadanya. Namun ia tidak pernah berhasil meyingkirkan kepepatan yang menyesak itu. "Nah, apakah yang harus aku sampaikan kepada kakang Demang nanti?" bertanya Ki Reksatani. Orang tua itu menggeleng "Tidak ada. Tidak ada yang pantas disampaikan kepada Ki Demang" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia duduk merenungi lampu minyak di atas ajuk-ajuk. Sejenak mereka saling berdiam diri. Berbagai gambaran hilir mudik diangan-angan kakek Sindangsari. Ia mengangkat wajahnya ketika ia mendengar lamat-lamat suara cucunya menangis "Agaknya anak itu mendengar pembicaraan ini" katanya di dalam hati. Ki Reksatani dan kawannyapun mendengar suara isak yang tertahan-tahan. Merekapun segera mengerti, bahwa Sindangsarilah yang menangis itu. "Menangislah sampai air matamu kering" berkata Reksatani di dalam hatinya "mudah-mudahan kau menjadi sakit karenanya, kemudian mati" Malam menjadi semakin malam. Ki Reksatani dan kawannyapun kemudian minta diri. Namun ketika ia berdiri di muka pintu, ia teringat suatu. Sejenak ia berpikir, namun ketika nafsunya melonjak di dadanya, ia berkata kepada diri sendiri di dalam hati "Aku harus mengatakannya. Biarlah hatinya menjadi semakin sakit. Biarlah ia dimakan oleh duka dan sedih" Maka berkatalah Ki Reksatani itu kemudian "Suruhlah cucumu itu diam. Aku tahu, betapa pahit jalan hidup yang harus ditempuhnya. Tetapi aku kira ia harus berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan kenyataan. Aku tahu bahwa cucumu tidak akan dapat melepaskan tali perasaannya atas pemuda yang bernama Pamot. Tetapi Pamot segera akan hilang dari Kademangan ini. Bersama-sama dengan para pengawal khusus ia akan dikirim ke Mataram, karena Mataram memerlukannya untuk menggempur orang orang kulit putih yang kini mulai menjamah Tanah ini. Suruhlah anakmu berdoa agar Pamot selamat, meskipun jarang sekali orang yang dapat pulang dari medan yang ganas itu. He, kau tahu, bahwa orang orang asing itu sama sekali tidak mengenal perikemanusiaan? Bertanyalah kepada anakmu, dimana suaminya sekarang" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu tiba-tiba suaranya menurun "Maaf. Bukan maksudku untuk menakut-nakuti. Tetapi agaknya aku sudah terdorong perasaan, karena kebencianku kepada orang-orang asing itu" Sekali lagi ia berhenti berbicara, lalu "Sudahlah. Aku minta diri. Tetapi, lupakanlah saja kata-kataku yang terakhir. Mudah-mudahan pendengaranku itu tidak benar, bahwa Pamot dan beberapa orang pengawal khusus akan segera berangkat ke medan perang" Wajah kakek Sindangsari itu menjadi tegang. Sebelum ia bertanya Ki Reksatani sudah menyambung "Aku memang terdorong kata. Hal ini masih menjadi rahasia. Karena itu, aku minta kau dan seisi rumah ini merahasiakannya juga. Bahkan seandainya kalian bertemu dengan Pamot, kalian jangan mengatakannya lebih dahulu. Jika rahasia ini bocor sebelumnya, maka kakang Demang pasti akan marah sekali. Dan sumbernya tidak ada dua. selain keluarga ini, karena belumada orang lain yang mengetahuinya" "Tetapi, tetapi" suara kakek Sindangsari tergagap "seandainya rencana itu benar, kapankah mereka akan berangkat?" "Aku tidak tahu. Itupun rahasia pula" Kakek Sindangsari menundukkan kepalanya. Terbayang anak muda yang bernama Pamot itu berada diantara para prajurit yang sedang berjalan dalam satu iringan menuju ke Barat. "Sudahlah, aku minta diri" "O, silahkan, silahkan" jawab kakek Sindangsari yang kemudian mengantarkan tamunya sampai ke regol halaman. Sepeninggal Ki Reksatani, Sindangsari sama sekali tidak dapat menahan hatinya yang pedih. Berita kepergian Pamot, keputusan hari-hari perkawinan yang tidak dapat berubah, dan sikap Ki Demang yang keras telah membuatnya hampir berputus-asa. Bahkan kadang-kadang memang terbersit suatu pendirian "Alangkah senangnya kalau maut datang menjemput sebelum hari perkawinan itu "tetapi untuk membunuh dirinya, Sindangsari masih dibayangi oleh ajaran agamanya, bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang bertentangan dengan agama Islam. "Tetapi apakah aku akan dapat menanggung segala penderitaan ini?" pertanyaan itu selalu mengguncangguncangkan dadanya. Keluarga kecil itu benar-benar merasa ditimpa kemalangan. Masalahnya berkisar pada gadis yang bernama Sindangsari itu. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya tinggal menerima nasib mereka yang suram. Dalam pada itu, Sindangsari benar-benar tenggelam dalam duka. Pamot telah tidak pernah mengunjunginya lagi sejenak peristiwa malam itu. Meskipun ia masih selalu mengharap bahwa pada suatu ketika ia akan dapat bertemu lagi dengan Pamot, namun berita tentang hari perkawinannya dan keberangkatan Pamot meninggalkan padukuhan Gemulung, telah membuat hatinya menjadi semakin sakit. Sementara itu Ki Reksatani menjadi sedikit berlega hati, bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang dapat membuat keluarga kecil itu menjadi semakin jauh dari Ki Demang di Kepandak, meskipun pada suatu saat Ki Demang akan masuk ke dalam lingkungan keluarga itu apabila perkawinan telah berlangsung. Kebencian keluarga itu kepada Ki Demang, lebihlebih lagi Sindangsari, pasti akan membuat perkawinan itu tidak tenteram. Tetapi ternyata bahwa pemberitahuan secara resmi, bahwa Mataram memerlukan anak-anak muda yang sudah mendapat latihan khusus itu datang lebih dari dugaan Ki Demang. Karena Mataram sendiri ingin segera menyelesaikan persiapan pengiriman pasukan itu, maka semuanya berjalan dengan cepat pula. Ki Jagabaya di Kepandak tidak mempunyai pilihan lain untuk menentukan siapa saja yang akan berangkat ke Mataram, kecuali seperti yang dikehendaki oleh Ki Demang. Ia harus menunjuk limapuluh orang pengawal khusus yang akan mewakili Kademangan mereka di dalam perjuangan melawan orang-orang asing yang mulai menginjakkan kakinya dibumi tercinta ini. Dan diantara limapuluh orang itu harus terdapat nama Pamot. Berita itupun dalam sekejap, telah menjalar dari telinga ketelinga. Setiap anak muda mempercakapkan kemungkinan bahwa lima orang kawan-kawan mereka akan segera berangkat ke Mataram. Hampir setiap orang yang merasa dirinya anggauta pengawal khusus berharap, agar ia dapat terpilih untuk mengikut i pasukan yang akan menjelajahi pulau Jawa ini sampai hampir ke ujung Kulon. Ki Jagabayapun segera melakukan persiapan secukupnya. Selain memilih nama-nama dari antara pasukan pengawal, Kademangan Kepandak harus mempersiapkan juga senjatasenjata yang mereka perlukan, meskipun Mataram pasti akan menyediakan pula. Pakaian dan kelengkapan-kelengkapan yang lain. "Kalian tidak usah terlampau ribut" berkata seorang perwira yang pada suatu hari datang di Kepandak "Mataram sudah menyediakan segala-galanya. Apabila tidak semua dari yang lima puluh orang itu akan berangkat. Kami masih harus mengadakan latihan-latihan yang berat. Dalam latihan-latihan itu akan dapat kami tentukan, siapakah yang benar-benar memenuhi syarat untuk bersama dengan prajurit Mataram melawat ke Barat" Ki Demang dan Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa hati Ki Demang menjadi berdebardebar pula. Pamot pasti dapat berbuat sedemikian, sehingga ia tidak cukup memenuhi syarat untuk dipilih menjadi bagian dari pasukan Mataram itu. "Tetapi perkawinan itu sudah berlangsung" berkata Ki Demang di dalam hatinya "ia tidak akan dapat mengganggu lagi. Paling sedikit ia akan berada di Mataram selama tiga bulan, sebelum pilihan terakhir jatuh. Dan waktu yang tiga bulan itu sudah cukup bagiku untuk membuat Sindangsari seorang isteri yang baik" Sementara itu Ki Jagabaya telah bekerja dengan keras untuk menentukan siapa yang akan dipilihnya. Ia baru mempunyai sebuah nama yang pasti. Pamot. Yang empatpuluh sembilan masih harus ditentukannya dari seluruh anggauta pasukan pengawal. Di hari-hari latihan, Ki Jagabaya dengan tekun menunggui para anggauta pengawal itu. Bersama-sama dengan prajurit Mataram yang memimpin latihan itu, ia mencoba memilih antar mereka. Ternyata bahwa prajurit yang memimpin latihan itupun telah menunjuk anak muda yang bernama Pamot itu pula. Ki Jagabaya yang mengerti latar belakang dari kehidupan Pamot, hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak muda yang lain, dapat berbangga diri, bahwa mereka terpilih untuk mewakili Kademangan Kepandak ikut serta berjuang melawan tangan-tangan asing yang mulai menyentuh Tanah ini. Tetapi apakah Pamot juga dapat berbangga demikian, meskipun sebenarnya ia memang memiliki kemampuan yang cukup? Pamot memang kadang-kadang merasa dirinya terlampau kecil. Perasaan yang aneh tumbuh di dalam hatinya. Seperti yang diduga oleh Ki Jagabaya. "Apakah kau hanya sekedar disingkirkan?" Pertanyaan itu selalu melonjak-lonjak di dalam hatinya. Sehingga pada suatu saat ia tidak dapat menahan hati lagi. Ditemuinya kawannya yang dianggapnya cukup mengerti tentang keadaannya, Punta. "Apakah kau yakin bahwa aku pantas untuk ikut bersamamu dan kawan-kawan yang lain?" bertanya Pamot. Punta menjadi heran "Kenapa ?" "Aku merasa bahwa aku mempunyai masalah yang khusus. Seandainya aku tidak pantas sekalipun, maka aku pasti akan diikut sertakan di dalam latihan yang akan diadakan di Mataram itu" "Kenapa kau sebenarnya" Puntalah yang kemudian bertanya "bukankah Ki Jagabaya, pelatih yang datang dari Mataram itu, dan atas persetujuan Ki Demang, kau terpilih?" "Tetapi aku merasa bahwa ada persoalan lain yang memaksa untuk memilihku. Agar aku pergi dari Kademangan ini" "Kau berprasangka" sahut Punta, namun kemudian ia meneruskan "atau kau memang berkeberatan untuk pergi" "Tentu tidak Punta. Buat apa aku tinggal di Kademangan ini lebih lama? Itu hanya akan menyiksaku" "Kalau begitu kita pergi" "Tetapi aku tidak mau, kalau aku terpilih sekedar karena aku harus pergi. Tetapi sebenarnya aku tidak memenuhi syarat untuk dipilih" "Ah, kau mempersulit dirimu sendiri. Kalau begitu, kau dapat mengajukan alasan, agar kau t idak ikut " Itupun tidak dapat aku lakukan. Mereka pasti akan menyangka lain. Dikiranya aku tidak mau pergi karena gadis itu" "Jadi bagaimana?" berkata Punta kemudian "kau telah terlihat dalamsuatu lingkaran yang tidak berujung pangkal" "Ya" jawab Pamot "karena itu aku minta pertiMbanganmu" Punta menarik nafas dalam-dalam. Ia memang melihat kesulitan di dalam hati Pamot. Karena itu, maka iapun mencoba ikut memikirkannya, pemecahan apakah yang sebaik-baiknya dilakukan. "Pamot " berkata Punta kemudian "sekarang kau harus melepaskan dirimu dari masalah masalah yang seolah-olah tidak akan dapat kau pecahkan itu, Bagaimanakah kata hatimu. Apakah kau ingin berangkat atau tidak?" "Sudah tentu, aku ingin berangkat" berkata Pamot. "Kau benar-benar ingin berangkat?" "Ya, tentu" "Kenapa kau ingin berangkat?" Pamot menjadi terheranheran "Pertanyaanmu aneh Punta" "Tidak. Aku ingin tahu apakah yang sudah mendorongmu untuk berangkat ke Mataram, sudah tentu dengan harapan untuk dapat ikut serta dalam pasukan yang akan dikirim ke Barat" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Meskipun aku sama sekali tidak berarti apa-apa Punta, tetapi aku akan menyumbangkan tenagaku untuk mengusir orang-orang asing itu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Jadi bukan sekedar melarikan diri dari kegagalanmu?" "Gila kau. Kau sudah menambah hatiku menjadi bingung. Kalau demikian, aku tidak perlu ikut di dalam pasukan ini. Aku dapat membunuh diriku, terjun keju-rang di sebelah bendungan, atau menggantung diri" "Jangan marah Pamot. Aku hanya sekedar meyakinkan" "Punta. Kau harus mengerti hal ini. Aku tidak mau kalau kau kawanku yang terdekat masih meragukan. Kau ingat, di saat-saat kami menyatakan diri kami untuk mendapat kesempatan memasuki pasukan pengawal khusus? Bukankah sejak saat itu kita sudah meletakkan diri dalam suatu arah, pada suatu saat kita akan mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Kepandak. bagi Mataram? Pada saat itu Kademangan Kepandak belum disentuh oleh masalah-masalah seperti kini. Sindangsari masih belum pulang ke padukuhan, karena ayahnya masih belum dinyatakan gugur" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku mengerti Pamot. Aku minta maaf, bahwa aku masih harus meyakinkannya sekali lagi. Kehadiran gadis itu, dan perkembangan keadaan, kadang kadang memang dapat merubah pendirian seseorang" Punta berhenti sejenak, lalu "tetapi kau masih tetap di dalam pendirianmu seperti yang kita nyatakan di saat saat kita menyatakan diri kita untuk ikut serta di dalam pasukan pengawal khusus. Dengan demikian, maka kau tidak perlu ragu-ragu. Kalau kau akan pergi, pergilah. Kita bersama-sama atas nama Kademangan Kepandak, telah berbuat sesuatu, ikut menegakkan Mataram yang Agung ini" Pamot tidak segera menjawab. "Kau tidak usah memikirkan, apakah kau pantas atau tidak. Atau orang orang Kepandak ini sekedar menyingkirkan kau, atau alasan alasan yang apapun juga. Kalau kau memang sudah bertekad untuk berjuang, kau tidak usah mempedulikan apapun juga. Kau tidak usah mempersoalkan suara burung kedasih yang merindukan kematian, atau kaok burung gagak yang keta-gihan bangkai. Pergilah, kita akan pergi bersamasama, kita seorang memang tidak berarti, tetapi keseluruhan pasukan Mataram itu kelak pasti akan terdiri dari kita seorang dalam suatu kesatuan yang besar" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya. Aku akan pergi. Keputusan itu sebenarnya sudah ada sejak aku memasuki pasukan pengawal khusus" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Kalau kau sudah mengambil keputusan jangan hiraukan apapun lagi" Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. "Apakah kau masih juga ragu ragu?" "Tidak" Pamot menjawab dengan nada yang rendah "tetapi aku harus minta diri kepada Sindangsari. Aku harus mengatakkan kepadanya, bahwa aku akan pergi" Punta menarik nafas dalam-dalam. "Aku bisa mengerti Pamot " Demikianlah, Pamot menjadi gelisah. Ia sudah bertekad bulat untuk pergi meninggalkan padukuhannya. Apapun yang dikatakan kepada Punta, tetapi ia tidak dapat berbohong kepada diri sendiri, bahwa ia memang ingin pergi dari Gemulung. Pergi, sejauh-jauhnya agar ia dapat melupakan kepahitan yang mencengkamnya. "Tetapi bukan itu alasanku satu-satunya "ia menggeram "Aku adalah pasukan pengawal khusus. Kepergianku adalah tugas utama yang aku tunggu selama ini" Di rumahnya Sindangsaripun selalu dibayangi oleh kepahitan hati. Hampir setiap saat ia menangis. Kadangkadang di tengah-tengah malam ia menghentak-hentakkan tangan dan kakinya. Tetapi ia tidak dapat mengatakan, bahwa sebenarnya ia selalu diganggu oleh keinginannya untuk bertemu lagi dengan Pamot" "Meskipun hanya satu kali" desisnya. Tetapi ia terpaksa menekan keinginannya itu dalam-dalam di dalam lubuk hatinya. Bahkan akhirnya, harapannya untuk dapat bertemu dengan Pamotpun menjadi semakin luluh. Tetapi Pamot sendiri tidak pernah berputus-asa. Ketika ia sudah mendapat kepastian bahwa ia harus berangkat, maka tanpa menghiraukan apapun lagi, ketika matahari menjadi semakin dalam terbenam, dan malampun menjadi semakin kelam, dengan hati-hati Pamot keluar dari halaman rumahnya. Niatnya sudah bulat, bahwa ia ingin bertemu dengan Sindangsari meskipun hanya untuk minta diri. Sebelum :a dapat bertemu dengan gadis itu, rasa-rasanya hatinya sama Sekali belum tenang. Dengan hati-hati Pamot menyusuri jalan sempit menuju ke rumah Sindangsari. Meskipun kadang-kadang tumbuh pula seperti yang pernah terjadi, namun nalarnya telah menjadi buram. Ia sudah tidak dapat lagi berpikir dengan bening. Yang menjadi persoalan baginya adalah minta diri kepada Sindangsari. Pamot sama sekali tidak menyadari, bahwa sepasang mata selalu mengikutinya. Setiap langkahnya. Dengan diam-diam orang yang selalu memandanginya itupun melangkah semakin mendekatinya. Pamot yang berjalan sambil berjingkat-jingkat itu terkejut bukan kepalang, ketika sebuah lengan terjulur dari dalam gerumbul mencengkam bahunya. Dengan serta-merta ia menggeliat, lalu meloncat menjahuinya. Pada saat kedua kakinya berjejak di atas tanah, maka iapun sudah bersiaga, apapun yang akan terjadi kemudian. "Akan kemana kau Pamot" terdengar sebuah pertanyaan. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal suara itu dengan baik. Dan ternyata pula, sejenak kemudian orang itupun telah muncul dari balik gerumbul. "Kau membuat aku terkejut, Lamat" desis Pamot. "Apakah kau akan mengunjungi Sindangsari?" Pamot termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. Untunglah bahwa aku melihat kau. Kalau t idak mungkin kau akan mengalami nasih yang kurang baik" "Kenapa ?" bertanya Pamot. "Aku melihat dua orang yang bersembunyi di pinggir jalan, di tempat kau berkelahi dahulu, meskipun agak bergeser sedikit" "Siapa?" "Aku tidak jelas. Tetapi aku dapat menduga, bahwa mereka adalah pengawas-pengawas yang dikirim oleh Ki Demang. Apalagi setelah mereka memutuskan, bahwa kau akan ikut serta bersama kelimapuluh orang yang akan dikirim ke Mataram" Pamot menarik nafas dalam-dalam. "Ternyata perhitungan mereka tepat. Kau masih berusaha untuk bertemu dengan Sindangsari" "Aku akan minta diri" "Aku mengerti. Dan akupun mendapat tugas serupa. Manguripun menduga, bahwa kau pasti masih berusaha untuk bertemu dengan Sindangsari" Pamot tidak menjawab. "Sebaiknya, kau kembali saja Pamot" Tiba tiba Pamot mengangkat wajahnya yang tegang. Dengan tegas ia menjawab "Tidak. Aku harus bertemu dengan Sindangsari. Setiap saat aku dapat diberangkatkan. Aku tidak mau pergu sebelum aku mengatakan kepadanya, bahwa aku tidak lari" "Kau tidak perlu mengatakan kepadanya ,bahwa kau tidak akan lari" "He, jadi kaupun sekarang juga sudah menghalang aku" "Jangan lekas menjadi buram. Aku kira kau lain dengan Manguri. Dengarlah, aku belumselesai" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Terdengar suaranya menurun "Maaf. Aku sedang bingung" "Maksudku Pamot, kau jangan mengatakan bahwa kau tidak akan lari. Sebaiknya kau minta diri. Minta diri saja, secara wajar, agar gadis itu tidak mencoba mencari-cari jawab atas teka-tekimu yang sulit itu" Pamot tidak segera menyahut. Namun kemudian iapun mengangguk-anggukkan kepalanya "kau mengerti maksudku?" "Ya" "Tetapi apakah kau harus menemuinya sekarang?" "Aku takut, bahwa aku akan terlambat. Siapa tahu, besok aku harus sudah masuk barak bagi mereka yang akan diberangkatkan ke Mataram, agar kami masing-masing mendapat pengawasan yang se-baik-baiknya. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya jalan yang menjelujur di hadapannya, menusuk kegelapan. Ia tahu dengan pasti, bahwa di pinggir jalan ini dua orang sedang duduk terkantuk-kantuk untuk mengawasi apakah Pamot pergi menemui Sindangsari malam ini. "Pamot " berkata Lamat kemudian "kalau kau memang berkeras hati untuk pergi ke rumah Sindangsari, kau harus memilih jalan lain, meskipun lebih jauh. Tetapi dengan demikian, kau tidak akan dilihat oleh kedua orang yang bersembunyi itu, karena mereka mengawasi jalan yang melalui regol halaman rumah Sindangsari" "Jadi, apakah aku harus memilih jalan belakang?" "Ya. Jangan melalui regol. Kau harus meloncat dinding halaman, dan mendekati rumahnya melalui kebun belakang. Pamot menjadi berdebar-debar. Ia benar-benar harus berbuat seperti seorang pencuri. Tetapi ia sudah memutuskan, malam ini ia harus bertemu dengan Sindangsari. Kalau tidak maka ia dapat kehilangan setiap kemungkinan untuk itu. Karena itu, maka iapun kemudian menjawab "Kalau menurut pendapatmu, aku harus melalui halaman belakang., maka aku akan melakukannya. Aku memang harus bertemu dengan Sindangsari malam ini. Rasa-sanya, aku tidak akan dapat bertemu lagi untuk selanjutnya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Pergilah.Tetapi hati-hatilah" Pamotpun kemudian meneruskan langkahnya. Tetapi ia memilih jalan yang lain. Ia berbelok pada sebuah jalan yang sangat sempit diantara dinding batu-batu halaman rumah di sebelah menyebelah. Lamat yang masih berdiri di tempatnya menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan terdengar ia berdesis "Kasihan anak itu. Ia jauh lebih menderita dari Manguri, karena cinta Manguri tidak mendapat tanggapan dari Sindangsari. Tetapi anak ini merasa, bahwa ia sudah mendapat tempat di hati gadis itu. Namun tiba-tiba ia telah dicampakkan dengan semena-mena" Lamat meraba kepalanya yang botak. Perlahan-lahan dilingkarkannya ikat kepala yang hanya tersangkut dilehernya., berjuntai menutupi bagian dadanya yang telanjang. Perlan-lahan ia memutar tubuhnya. Tetapi ketika kakinya terayun selangkah, ia tertegun. Sekali lagi ia berpaling. Dipandanginya kehitaman malam yang kelam, meskipun Pamot sudah tidak kelihatan lagi. Ternyata Lamat tidak sampai hati melepaskan Pamot berjalan sendiri. Dengan tergesa-gesa iapun sekali lagi berbalik dan berjalan searah dengan langkah Pamot. "Kalau terjadi sesuatu atasnya" gumamnya. Sementara itu, Pamot telah menyusupi gelapnya malam diantara pagar-pagar batu. Sekali-sekali ia meloncat-loncat, namun kemudian ia berhenti melekat dinding batu apabila ia mendengar sesuatu. Namun ternyata langkahnya tidak terganggu sampai ia meloncat, memasuki kebun belakang rumah Sindangsari. Tetapi kini tiba-tiba saja hatinya menjadi berdebar-debar. Sejenak ia diam mematung, memandang rumah yang membeku di dalam kekelaman malam. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi dan sekali lagi. Dicobanya untuk menenteramkan hatinya dan mengatur pernafasannya yang melonjak-lonjak. "Aku harus menemuinya" Pamot menggeretakkan giginya, untuk mengerahkan keberaniannya yang serasa membeku. Perlahan-lahan Pamot merangkak diantara pepohonan maju mendekati rumah Sindangsari. ia tahu benar dimana Sindangsari sedang tidur. Tetapi tumbuh pula keraguankeraguannnya. Apakah anak itu belumberpindah tempat?" "Persetan" sekali lagi ia menghentak "Aku tidak boleh kehilangan banyak waktu, sebelum aku gagal oleh sebabsebab yang tidak aku duga-duga" Pamotpun merayap semakin dekat. Seperti yang pernah dijanjikan, maka iapun mengetuk dinding bilik Sindangsari dari luar dengan isyarat yang sudah mereka bicarakan sebelumnya. Sindangsari yang berada di dalam bilik itu terkejut. Ia memang belum tidur. Hampir setiap malam ia menunggu isyarat itu. Dan karenanya hampir setiap malam ia hanya tidur beberapa saat, justru menjelang fajar, sehingga tubuhnya menjadi kurus dan wajahnya menjadi pucat. Sindangsaripun kemudian mengetuk biliknya perlahanlahan seperti isyarat Pamot. Isyarat Sindangsari itu ternyata telah membuat hati Pamot yang seakan-akan sedang membara itupun menjadi sejuk. "Untunglah, Sindangsari masih berada di tempatnya" Gejolak yang ada di dalam hati Sindangsari, sebagai seorang gadis remaja yang dibakar oleh kepahitan cinta yang patah, telah mendorong Sindangsari untuk perlahan-lahan dan dengan sangat hati-hati bangkit dari pembaringannya. Seperti Pamot, gadis itu sama sekali tidak menghiraukan apapun lagi, meskipun ia masih sempat untuk berhati-hati. Kali ini, ternyata kakeknya tidak mendengar gerit pintu butulan di belakang. Karena itu, tidak seorangpun yang mengetahui bahwa Sindangsari telah keluar dari biliknya, dan bahkan keluar dari rumahnya. Ketika pintu butulan itu terbuka sejengkal, terasa bulu-bulu Sindangsari meremang. Yang melintas di depan pintu adalah kegelapan malam yang pekat. Sehingga yang tampak olehnya hanyalah hitam belaka. Namun dalam kebimbangan itu, terdengar suara perlahanlahan di sisi pintu "Sari. Aku disini" "Pamot " desis Sindangsari. "Ya" Hati Sindangsari menjadi berdebar-debar. Dengan kaki gemetar ia melangkah keluar pintu, dan dengan hati-hati sekali didorongnya pintunya sehingga tertutup kembali. Tetapi Sindangsari tidak segera dapat melihat Pamot di dalam kegelapan. Karena itu, sejenak ia berdiri, mematung di depan pintu yang sudah tertutup dengan dada yang berdebardebar. "Sari" terdengar suara berdesis perlahan-lahan. Sindangsari mencoba memandang ke arah suara itu. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Gadis itu terperanjat ketika didengarnya desah nafas dekat di sampingnya, kemudian sentuhan tangan dibahunya. "Marilah" Sindangsari t idak sempat berbuat apa-apa ketika tangannya ditarik oleh Pamot menjauhi pintu butulan, masuk ke dalam kebun yang kelam. Ketika mereka kemudian terhenti, sejenak mereka saling berpandangan meskipun yang tampak hanyalah bayangbayang yang kehitam-hitaman. Namun mata hati masingmasing seolah-olah dapat langsung memandang ke pusat jantung. Sejenak mereka terpaku diam. Namun sejenak kemudian, tanpa disadari, didorong oleh gelora hari yang selama ini tertahan, Sindangsari dengan serta-merta menjatuhkan kepalanya di dada Pamot yang bidang; Tangisnyapun kemudian membanjir tanpa dapat di tahan-tahan lagi, meskipun Sindangsari berusaha sekuat-kuatnya. Yang terdengar kemudian hanyalah isak tangis gadis itu, yang menyentuh-nyentuh sepinya malam. Namun sejenak kemudian Pamot menyadari, bahwa suara tangis itu akan dapat didengar orang. Karena itu, maka iapun berbisik di telinga Sindangsari "Diamlah Sari. Malam terlampau sepi, Suara tangismu akan didengar orang" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi air matanya masih saja membasahi dada Pamot yang berdebar-debar. "Jangan menangis" Sindangsari mencoba menahan tangisnya. Namun kemudian ia berkata lirih diantara isaknya "Kakang Pamot, apakah aku dilahirkan sekedar untuk membasahi padukuhan ini dengan air mata?" "Ah, jangan berpikir begitu" "Sejak aku menginjakkan kakiku di padukuhan tempat aku dilahirkan ini, aku selalu menit ikkan air mata. Hampir di setiap saat. Tetapi agaknya air mataku tidak juga akan setiap kering. Bukankah aku akan berangkat ke Mataram, selanjutnya kau akan turut melawat ke Barat?" "Ya Sari" "Seperti ayah?" Pamot tidak menyahut. Terasa dadanyapun berdesir. Teringat olehnya, pasukan Mataram yang pertama hampir setahun yang lalu, mengalami kegagalan dengan korban yang tidak sedikit. "Katakan, apakah kau akan kembali?" desak Sindangsari "Aku tidak tahu Sari. Tetapi aku percaya bahwa semuanya ada di tangan Tuhan Yang Maha Esa" "Kakang" suara Sindangsari menjadi lirih sekali, tetapi kau akan kembali bukan? Pamot menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab "Kita akan selalu berdoa Sari, mudahmudahan aku diperkenankan untuk kembali ke padukuhan ini" Sindangsari semakin melekatkan tubuhnya. Kini dipeluknya Pamot erat-erat seperti tidak akan dilepaskannya lagi, seperti Pamot juga memeluknya. "Kakang Pamot" suara Sindangsari semakin lirih "kalau kau tidak ditunjuk menjadi salah seorang dari mereka yang akan berangkat ke Mataram" t iba-tiba suaranya terputus. "Kenapa Sari?" Sindangsari t idak segera menyahut. "Kenapa Sari? desak Pamot. "Kalau kau tidak pergi kakang" desis Sindangsari "Aku akan mengajakmu lari" "Lari?" Pamot mengulangi kata-kata itu tanpa sesadarnya. Kata-kata itu memang pernah melintas di kepalanya. Dan kini Sindangsari mengucapkan kata-kata itu pula. "Ya kakang" desis Sindangsari "tetapi, kini aku tidak dapat melakukan justru karena kau terpilih diantara mereka yang akan berangkat ke Mataram. Aku tidak mau, bahwa aku akan disebut seseorang yang hanya sekedar mement ingkan diriku sendiri, selagi Mataram dalam bahaya. Ayahku sudah gugur. Tetapi seperti juga ibuku, ayah dilepaskannya dengan cemas. Apakah sekarang aku akan menghalang-halangi kau, karena kau harus lari dengan seorang gadis?" Terasa dada Pamot menjadi sesak. Dalam keadaan yang demikian gadis itu masih juga sempat berpikir tentang Tanah Tumpah darahnya. "Tetapi" Sindangsari berdesis "Aku harap kau kembali kakang. Kau harus berusaha kembali ke padukuhan ini" "Ya Sari. Aku akan berusaha kembali" "Kau, kau" suaranya terputus. "Apa Sari?" "Kau jangan pergi karena aku kakang. Kau jangan melepaskan hari depanmu, karena aku tidak dapat memenuhi hasrat nuraniku. Impian kita bersama-sama" Pamot tidak menjawab. Tetapi ditekannya gadis itu semakin rapat di dadanya. "Kakang, berjanjilah. Bahwa kau akan datang kembali" Pamot masih berdiam diri. Kini ia menyadari maksud Sindangsari. Gadis itu mencemaskannya, bahwa karena kegagalannya mendapatkan Sindangsari, ia akan lari dan membunuh diri di peperangan. "Kakang, kenapa kau diamsaja?" "Pamot menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya terbata-bata "Sari. Aku tentu akan berusaha untuk kembali, kecuali Tuhan memang tidak mengijinkannya. Tetapi percayalah bahwa aku tidak akan membiarkan diriku terbenam dalam keputus-asaan" Pamot berhenti sejenak, lalu "Sari, akupun pernah beranganangan untuk lari seperti yang kau katakan. Lari bersama-sama mencari daerah yang dapat memberikan perlindungan kepada cinta kita. Tetapi sekarang aku tidak dapat melakukannya. Kecuali aku tidak yakin bahwa kau akan dapat menemukan ketenteraman dari bayangan Ki Demang dan mungkin juga Manguri, maka kini kita dihadapkan kepada tugas yang berat itu" "Aku akan berdoa untukmu kakang" suara Sindangsari hampir tidak dapat didengar lagi "maafkan aku" "Kau tidak bersalah Sari" "Tetapi, tetapi, kau berangkat ke medan perang dalam keadaan yang buram" "Aku akan selalu berdoa, mudah-mudahan hatikumendapat terang dari padanya " "O" tiba-tiba tangis Sindangsari menyentak. Air matanya seperti dicurahkan dari rongga matanya. Tubuhnya terguncang-guncang karena isaknya yang tertahan-tahan. "Kakang maaf kanaku kakang" "Kau tidak bersalah Sari" "Tetapi percayalah, cintaku padamu tidak tergeser seujung rambutpun. Aku selalu mengenangmu dan mengharap kau pulang meskipun yang kau jumpai di padukuhan ini hanyalah kegagalan dan kehampaan" "Ya Sari" "Meski tubuhku akan direnggut oleh kekuasaan di Kademangan ini, tetapi hatiku tetap padamu" Pamot tidak menjawab. Tetapi terasa darahnya menjadi semakin cepat mengalir. Apalagi Sindangsari yang telah kehilangan kesadaran dirinya sebagai seorang gadis itu, seakan akan tidak mau melepaskannya sama sekali. Dalam dekapan malam yang sepi, maka keduanyapun tenggelam semakin dalam di lautan darah remaja yang bergelora di dalam diri masing-masing-Himpitan perasaan yang selama ini menindih hati Sindangsari, seakan-akan meledak tanpa dapat dikendalikannya lagi. Bahkan kini jantungnya serasa menyala dalam sentuhan tangan-tangan seorang laki-laki yang dicintainya. Tiba-tiba sebuah hati terguncang melihat peristiwa yang terjadi kemudian, di luar kesadaran manusia yang terikat oleh adab yang berlaku. Lamat yang selalu mengamat-amati Pamot karena kecemasannya bahwa anak itu akan mengalami bencana, memalingkan wajahnya yang tegang. "Setan, anak setan kau Pamot" geramnya di dalam hati "aku tidak peduli lagi, apakah kau akan dicekik iblis. Tidak ada gunanya aku berbuat kebaikan atasmu selama ini. Kenapa kau tidak mati dikeroyok oleh orang-orang dari gerombolan Sura Sapi?" Dengan gigi yang terkatup rapat-rapat, Lamat bergeser dari tempatnya, meninggalkan halaman yang telah dinodai justru oleh cinta yang tulus. Betapa penyesalan mengguncangkan dada keduanya, tetapi semuanya itu sudah terjadi. Sindangsari duduk bersimpuh sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang basah oleh air mata. Air mata penyesalan yang bercampur dengan kepahitan yang seakan-akan semakin lama semakin bertimbun-timbun di dalam dirinya. "Kenapa hal ini terjadi kakang?" isak Sindangsari. Dada Pamotpun serasa menjadi retak karenanya. Terputusputus ia berkata "Aku, aku.....................tetapi aku tidak tahu Sari. Semuanya terjadi dengan tiba-tiba di luar sadarku. Aku minta maaf" Sindnagsari t idak menjawab. "Kalau ada yang dapat aku lakukan, apapun aku mau melakukkannya" suara Pamot menjadi serak "apakah aku harus mengatakan kepada Ki Demang?" "Kenapa?" bertanya Sindnagsari. "Seandainya aku harus dihukum picis, akupun akan menjalaninya" "Bukan salahmu sendiri kakang" "Jadi? Apakah yang harus aku lakukan?" "Tinggalkan aku sendiri. Kalau kau akan berangkat ke Mataramaku hanya dapat mengucapkan selamat jalan" "Lalu, apa yang akan kau lakukan?" "Aku tidak akan membunuh diri kakang. Aku sadar bahwa dengan demikian aku hanya akan menambah panasnya api neraka" "Lalu?" "Tinggalkan aku sendiri" Pamot masih mematung di tempatnya. Dilihatnya Sindangsari mengusap air matanya yang tiba-tiba saja menjadi kering. Bahkan sambil menengadahkan wajahnya ia berkata "Kakang Pamot, aku tidak dapat membebankan kesalahan ini hanya kepadamu. Akupun sudah bersalah. Kalau ada azab karena perbuatan kita, biarlah aku juga menanggungnya. Karena itu, aku tidak akan membunuh diri: Aku akan berterus terang kepada setiap orang yang akan bertanya kepadaku, seandainya ada akibat yang tumbuh karenanya. Biarlah aku dicampakkan sebagai sampah, atau diarak keliling padukuhan. Tetapi aku tidak akan membunuh diri, dan kau juga tidak akan membunuh dirimu di peperangan" Sepercik keheranan melonjak di dada anak muda itu. Apakah yang telah membuat Sindangsari t iba-tiba saja menjadi begitu tabah menghadapi keadaan" Tetapi ia tidak perlu bertanya, karena Sindangsari berkata "Kakang, akhirnya aku menjadi kenyang akan kepahitan hidup ini. Kini rasa-rasanya aku sudah sampai ke puncaknya. Aku tidak dapat lagi merengek seperti anak-anak. Aku sudah dewasa. Apa yang terjadi agaknya telah mengguncang isi dadaku, dan justru membuat aku sadar, sebenarnya aku memang sudah dewasa. Semua masalah tidak akan selesai dengan tangis dan keluh-kesah. Betapa penyesalan berkobar di dadaku, tetapi semuanya telah terjadi. Apakah aku akan dapat ingkar lagi? Aku sudah terdampar ke dalam suatu kenyataan, bahwa aku memang mencintaimu sepenuh hati. Tetapi cintaku selama ini adalah cinta yang belum dewasa. Peristiwa yang sekejap ini agaknya telah membuat aku menyadari segala-galanya. Pamot hanya dapat menundukkan kepalanya, Kini ia seakan-akan tidak berhadapan lagi dengan Sindangsari yang selama ini selalu memeras air matanya. "Pamot, tinggalkan aku sendiri" "Tetapi............" desis Pamot. "Tinggalkan, aku sendiri" Seperti dipukau oleh pesona yang tidak terlawan, tiba-tiba Pamot bergeser mundur. "Selamat jalan Pamot. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi sampai kau berangkat nanti. Tetapi aku masih menghadap melihat, kau kembali, membawa kemenangan bagi Mataram. Setidak-tidaknya kau dapat mengobati sakit hatiku, karena ayahku telah gugur oleh ketamakan orang-orang asing itu" Pamot menganggukkan kepalanya. Mulutnya serasa kini terkunci. Setapak demi setapak ia bergeser ke dalam gelapnya malamdi dalam kebun yang rimbun. Namun kemudian dipaksakannya juga berdesis "Selamat tinggal Sindangsari, Semoga kau berbahagia" Kata-kata itu hampir saja telah melemparkan Sindangsari ke dalam percikan air matanya kembali. Namun ia bertahan sekuat-kuat tenaganya. Bahkan ia masih sempat berkata "Hatiku besertamu" Sejenak Pamot memandangi, Sindangsari yang masih duduk bersimpuh. Kemudian selangkah lagi anak muda itu telah hilang di dalam malam yang kelam. Sepeninggal Pamot, barulah Sindangsari membenahi dirinya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia masuk lewat pintu butulan dengan hati-hati. Tetapi ketika tubuhnya telah terbujur di pembaringannya, maka sekali lagi ia menumpahkan air matanya, seakan-akan ingin diperasnya sampai kering. Kini bukan saja hari depannya yang suram yang membenahi hatinya, tetapi juga penyesalan, penyesalan yang maha dalam. Sementara itu Pamot berjalan tertatih-tatih di jalan sempit menjauhi rumah Sindangsari. Seperti gadis itu, Pamotpun telah dicengkam oleh penyesalan yang luar biasa. Ia tidak dapat mengerti, kenapa ia lelah melakukannya. Pamot terkejut ketika t iba-tiba saja seseorang yang bertubuh tinggi, kekar, berkepala botak berdiri di hadapannya. Tanpa sesadarnya Pamot berdesis "Lamat" Tetapi wajah Lamat kini nampak lain dari wajah yang selalu dilihatnya. Wajah itu benar-benar mengerikan, seperti bentuk tubuhnya. Laki-laki itu bagaikan seorang raksasa yang berdiri di tengah-tengah jalan siap untuk menerkamnya. "Lamat" sekali lagi Pamot berdesis. "Kau memang anak yang tidak pantas dilindungi" tiba-tiba Lamat menggeram. Pamot menjadi heran. "Kau sangka aku tidak mengerti apa yang sudah kau lakukan?" suara Lamat parau meninggi. "Apa yang aku lakukan?" bertanya Pamot. "Perbuatan terkutuk itu" "Oh, kau mengintip?" Tiba-tiba Pamot terdorong beberapa langkah, sebelum ia terbanting jatuh. Terasa pipinya menjadi sakit, seakan-akan giginya berguncangan. Ketika tangannya mengusap mulutnya, setitik cairan yang hangat membasahi tangannya. Darah. "Lamat, kau memukul aku?" "Ya. Aku memukulmu" Lamat menggeram "bahkan aku akan membunuhmu" Wajah Pamot menjadi merah. Darah di bibirnya telah membuat darahnya mendidih. "Aku menyesal, bahwa aku tidak pernah mendengar perintah Manguri selama ini. Kalau aku mematuhi perintahnya, aku sudah mematahkan kakimu sejak semula, maka kau tidak akan melakukan perbuatan setan itu" Pamot masih membeku di tempatnya. "Dan kau masih juga berani menuduhku, mengintip perbuatan iblismu itu?" nafas Lamat menjadi terengah-engah "dengar, dengarlah. Aku tidak sampai hati melihat kau kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan gadis itu, sehingga aku berusaha untuk menolongmu. Aku mencoba mengawasimu agar kau tidak terjebak oleh orang-orang yang memang sedang menunggumu. Tetapi ternyata yang kau lakukan adalah perbuatan terkutuk itu. Tiba-tiba terasa sesuatu menghentak di dada Pamot. Perlahan-lahan kepalanya terkulai lemah, seakan-akan ia tidak berani lagi menatap sorot mata Lamat yang menghunjam kedadanya. "Pamot " berkata Lamat "sekarang aku berdiri di tempatku. Aku adalah pesuruh yang setia dari Manguri. Aku harus membuat kau lumpuh atau mati sama sekali. Kalau kau akan mencoba melawan, melawanlah. Kalau kau ingin berteriak memanggil kawan-kawanmu, Punta dan siapa lagi, berteriaklah. Aku dapat membunuh kau dalam rangkap lima sekaligus" Tetapi Pamot tidak mengangkat wajahnya. Jawabannya sama sekali tidak disangka-sangka oleh Lamat "Kalau kau ingin melakukan, lakukanlah Lamat. Barangkali itu memang lebih baik" Pamot berhenti sejenak "Aku juga menyesal, kenapa kau selama ini selalu berbaik hati kepadaku. Kalau kau bunuh aku sejak semula kau mendapat perintah itu, maka aku tidak akan mempunyai kesempatan membiarkan hatiku dicengkam oleh setan seperti yang baru terjadi. Penyesalan yang bagaimanapun juga tidak akan ada gunanya Lamat. Karena itu, aku memang mengharapkan sesuatu terjadi atasku, agar dapat mengurangi beban penyesalan yang hampir tidak tertanggungkan lagi" Lamat yang berdiri tegak di tengah jalan itu mengerutkan keningnnya. Dan ia mendengar Pamot berkata "Kalau kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Aku sudah siap untuk menjalani apa saja. Apalagi kau, yang selama ini selalu berbuat baik kepadaku. Bahkan kaulah yang selama ini melindungi aku dari bahaya yang ternyata selalu mengerumuni aku" Lamat justru seakan-akan membeku di tempatnya Dipandanginya saja Pamot yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahkan kemudian perlahan-lahan kekesalan hatinyapun menjadi cair. Meskipun demikian Lamat berusaha untuk tidak menampakkannya, sehingga dengan nada yang keras ia berkata. Jadi apa yang kau kehendaki sebenarnya sekarang? Mati atau apa?" Pamot menggelengkan kepalanya "Aku tidak mempunyai suatu keinginan apapun. Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku kehendaki dalamsaat-saat seperti ini" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat terus menerus menegangkan lehernya, sehingga terdengar suaranya yang menurun "kau sadari bahwa kau sudah berbuat suatu kesalahan yang besar sekali?" "Ya" "Pamot " tiba-tiba suara Lamat merendah "kau tahu akibat dari perbuatanmu?" Pamot mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak menjawab. "Dengan demikian kau telah menaburkan bibit di ladang orang lain. Kalau yang tumbuh itu tidak dikehendaki, maka akan tersia-sialah akhirnya. Bukan kau. Bukan kau yang akan menanggung kepahitan yang berkepanjangan" Dada Pamot berdesir tajam. Dan kepalanyapun terkulai lemah. Tetapi Lamat tidak segera meneruskan kata-katanya. Tampak sesuatu melintas di dadanya. Sekali lagi Lamat mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk menenteramkan hatinya. Tiba-tiba terlintas di kepalanya di saat-saat keluarganya mengalami bencana. "Tidak" tiba-tiba ia menggeram dalam hatinya "Aku tidak pernah mempersoalkan kenapa ayah Manguri itu ada di rumahku pada saat timbul kebakaran. Kenapa ia berkeras hati untuk menolong aku? Tidak. Itu adalah suatu kebaikan" Lamat memejamkan matanya sambil menggelenggelengkan kepalanya. Sejak semula ia tidak berani melihat kenyataan itu selengkapnya. Ia selalu mencoba untuk memotong kenangan itu seperti yang dilakukan setiap kali. "Aku wajib berterima kasih kepadanya, ia selalu berteriak di dalam hatinya untuk mengatasi masalah-masalah lain yang tumbuh di hatinya. Tetapi apa yang terjadi atas Pamot dan Sindangsari kini seakan-akan telah mengungkat seluruh isi dadanya betapa ia mencoba mengenyahkannya. "Hubungan yang demikian dapat melahirkan anak-anak yang tidak dikehendaki" suara itu serasa bergumam di dalam rongga dadanya. Terus menerus tidak henti-hentinya. Apalagi kemudian diantara suara itu terdengar sebuah desis lamatlamat "kaupun salah satu dari anak-anak yang tidak dikehendaki" "Tidak, tidak" tiba-tiba Lamat menggeram, sehingga Pamot terkejut karenanya. "Apa maksudmu Lamat?" bertanya Pamot. Lamat menjadi tegang sejenak. Namun kemudian ia menjawab "Aku tidak akan berbuat apa-apa atasmu sekarang" Pamot menjadi heran melihat tingkah laku Lamat. Tetapi ia tidak ingin bertanya. Agaknya Lamatpun sedang diamuk oleh perasaan yang terungkat dari dalam lubukhatinya yang paling dalam. Selagi Pamot termangu-mangu, terdengar Lamat berdesis "Pulanglah. Pulanglah, selagi orang orang yang mencarimu itu belum menemukan kau disini" Pamot tidak segera dapat mengerti, kenapa Lamat sendiri menjadi seakan-akan terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu. Tetapi Pamot kemudian mendengar Lamat itu berkata pula "Cepat. Pergilah" "Baiklah Lamat" jawab Pamot "Aku akan pulang". Seperti anak-anak yang ketakutan melihat peronda yang marah, Pamotpun segera berjalan tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Tetapi ia tidak segera dapat melepaskan diri dari kerisauan yang menghentak-hentak. Akhirnya, hari yang ditentukan itupun datang. Di halaman Kademangan, limapuluh orang pengawal khusus telah siap dalam sebuah barisan memanjang. Mereka sedang mendengarkan beberapa penjelasan dari seorang perwira prajurit Mataram yang akan membawa pasukan pengawal khusus itu. Kemudian Ki Jagabaya dan Ki Demangpun memberikan pesan-pesan kepada anak-anak mereka yang akan berangkat menunaikan kewajiban mereka sebagai anakanak Mataram yang merasa tersinggung kehormatannya karena kehadiran orang-orang asing di bumi tercinta. Pamot yang ada diantana mereka, masih juga dirisaukan oleh keadaan dirinya sendiri. Ia hampir t idak dapat mendengar sama sekali pembicaraan dari orang-orang tua dan pemimpinpemimpin Kademangan, yang mengucapkan selamat jalan dan beberapa nasehat itu. Hanya sepatah-sepatah ia menangkap penjelasan dari perwira prajurit Mataram yang memberikan gambaran kepada pa rapengawal khusus itu, apa yang akan mereka lakukan kemudian. "Tidak ada keharusan bagi kalian untuk berangkat" berkata perwira itu "pasukan yang akan berangkat harus merupakan pasukan yang kuat dan tabah, sehingga dengan demikian harus didasari atas niat yang mantap dan dengan suka rela. Kalian mungkin pernah mendengar bahwa pasukan yang pernah dikirim sebelumnya, mengalami kegagalan. Kini kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Pada saatnya kita akah mengulangi lagi. Tetapi waktu yang tepat masih harus kita perhitungkan" Para pengawal khusus itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya Pamot memandang wajah Ki Demang dengan sudut matanya. Sekilas ia melihat kegelisahan yang membayang disorot matanya. "Apakah Ki Demang meragukan aku?" berkata Pamot diliatinya "barangkali aku mengajukan keberatan dan tidak bersedia berangkat sekarang?" Tetapi Pamot memang sudah bertekad untuk pergi ke Mataram, ikut di dalam persiapan untuk melawan ke Barat. Tidak seorangpun yang tahu pasti, kapan mereka akan berangkat, karena seperti yang dikatakan oleh perwira prajurit Mataram itu, bahwa keberangkatan pasukan itu harus diperhitungkan masak-masak dari segala segi. Namun ternyata bahwa yang limapuluh orang itu tetap dalam sikap mereka. Mereka telah menyediakan diri untuk mendapat tempaan lahir dan batin dalam bidang keprajuritan di Mataram. "Ada dua kemungkinan bagi seorang prajurit" berkata perwira itu "di peperangan kalian dihadapkan pada keadaan yang tanpa pilihan selain dua kemungkinan itu. Hidup atau mati. Kemungkinan itu kedua-duanya sama harganya dan kedua-duanya dapat terjadi atas kalian semua" Setiap wajah kini menjadi tegang. Namun hati mereka benar-benar telah mantap. Mereka akan pergi. Maka setelah semua pesan-pesan dan pembicaraan selesai, pasukan kecil itupun segera sipersiapkan. Beberapa orang keluarga mereka mengantarkan dengan wajah yang muram. Mereka melepas anak-anak mereka dengan hati yang berat. Tetapi seperti anak-anak itu sendiri, merekapun menyadari, bahwa itu adalah suatu kewajiban bagi setiap putera Mataram. Meskipun demikian ketika pasukan itu bergerak, ada juga beberapa orang ibu yang menitikkan air mata. Anak-anak mereka itu seakan-akan telah pergi dan tidak akan kembali lagi. Diantara mereka yang mengantarkan pasukan kecil itu sampai ke pinggir padukuhan adalah orang tua Pamot. Mereka memandang anaknya dengan dada yang berdebar-debar. Kedua orang tuanya menyadari bahwa pamot pergi bukan saja melakukan kewajibannya, tetapi iapun telah dibebani oleh masalah pribadinya, meskipun kedua orang tua itu tidak tahu, bahwa beban yang sebenarnya bagi anaknya adalah lebih dari yang mereka duga. Ketika ibunya menitikkan air mata, ayah Pamot berkata "Itu akan lebih baik bagi anakmu. Ia akan mendapat saluran untuk melepaskan himpitan perasaannya selama ini. Kalau ia dan seluruh pasukannya berhasil, maka ia akan mendapat obat bagi dirinya sendiri" Ibunya menganggukkan kepalanya, tetapi titik air matanya justru semakin banyak mengalir. "Sudahlah. Marilah kita pulang" ajak ayah Pamot. Keduanyapun kemudian meninggalkan orang-orang yang masih berkerumun di tepi padukuhan sambil melambailambaikan tangan mereka. Dengan langkah yang berat keduanya berjalan pulang ke Gemulung. Ki Demang yang ikut mengantar mereka sampai ke regol padukuhan menarik nafas dalam-dalam ketika pasukan kecil itu menjadi semakin lama semakin jauh. Keberangkatan pasukan itu terasa membuat hatinya menjadi lapang. Sebagai seorang pemimpin di Kademangan Kepandak ia sudah menyerahkan anak-anak terbaik yang ada di Kademangannya untuk suatu tugas yang berat, tetapi mulia. Namun bersamaan dengan itu, ia sudah melepaskan pula sepucuk duri yang menghunjam di dalam dagingnya. Pamot. Pamot telah pergi bersama pasukan itu, sehingga ia tidak akan dapat mengganggu lagi hubungannya dengan Sindangsari. "Ia tidak akan segera kembali" berkata Ki demang di dalam hatinya "seandainya ia sengaja membuat dirinya tidak terpilih, maka waktunya pasti sudah akan lewat dari hari perkawinan itu" Dengan demikian, maka Ki Demang merasa bahwa jalannya sudah menjadi licin. Manguri tidak begitu penting baginya, karena Sindangsari sendiri tidak menghendakinya. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa anak itu tidak perlu diawasi. Sebab masih ada juga kemungkinan, meskipun kecil sekali, Manguri akan mengambil Sindangsari dengan kekerasan. "Tetapi semuanya sudah jelas" berkata Ki Demang "kalau pada suatu saat Sindangsari hilang, maka hal itu pasti dilakukan oleh keluarga Manguri. Meskipun di dalam keluarga itu ada raksasa bodoh itu sekalipun, persoalannya tidak akan menjadi terlampau sulit, karena agaknya raksasa itupun tidak setia mut lak kepada keluarga Manguri" Maka sehari setelah pasukan itu berangkat ke Mataram. Ki Demang sudah mulai sibuk membicarakan hari-hari perkawinannya. Persiapan-persiapan sudah dilakukan sebaikbaiknya. Bahkan apa yang diperlukan, oleh bakal isterinyapun sudah dicukupinya. "Rumah itu harus diperbaiki" berkata Ki demang "dan di saat-saat hari perkawinan pada rumah itu harus dipasang tarub. Peralatan akan berlangsung di rumah penganten perempuan dan di hari kelima akan berlangsung di Kademangan" Orang-orang tuapun mulai sibuk pula. Bahkan setiap orang di Kademangan Kepandak menjadi sibuk. Meskipun tidak dengan sepenuh hati, namun kakek, nenek, dan ibu Sindangsaripun harus mengadakan persiapanpersiapan pula. Bahkan beberapa orang tetangga telah sibuk membantu, orang-orang laki-laki membantu memperbaiki rumahnya tanpa diminta, sedang perempuan-perempuan membantu menyediakan makan untuk mereka. "Aku tidak dapat menolak" berkata kakek sindangsari. Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Adalah mengherankan sekali bahwa tiba-tiba saja sindangsari tidak lagi selalu menangis meksipun masin tampak dari sorot matanya, luka yang pedih di hatinya. Namun anak itu agaknya telah menemukan kenyataan diri, bahwa ia memang harus menjalaninya. Mau tidak mau. Namun justru ibunyalah yang menjadi semakin bersedih hati Sindangsari yang pasrah itu terasa sebagai suatu pengorbanan yang tiada taranya dari anak gadisnya itu. Sikapnya yang tiba-tiba menjadi matang dan dewasa menghadapi keadaannya, menumbuhkan perasaan iba yang menyayat. Sebagai seorang ibu, maka ikatan yang paling halus yang menghubungkan perasaannya dengan perasaan puterinya, telah tergetar. Tetapi ibunya tidak tahu, kejutan apakah yang telah membuat Sindangsari menjadi dewasa sepenuhnya. Ketika ibunya melihat sindangsari justru ikut membantu persiapan-persiapan yang dilakukan oleh tetanggatetangganya, hatinya menjadi trenyuh. Ia tidak dapat menahan titik air mata yang meleleh di pipinya. Semakin dekat hari-hari yang ditentukan itu, maka semakin sibuklah rumah Sindangsari dan rumah Ki Demang. Bahkan regol-regol di padesan-padesan yang termasuk wilayah Kademangan Kepandak telah diperbaiki pula tanpa ada yang memberikan perintah. Rakyat Kepandak menyambut perkawinan Ki Demang dengan gembira, karena sudah menjadi kebiasaan mereka berbuat demikian. Setiap Ki Demang kawin, maka seluruh Kademangan seolah-olah ikut menyelenggarakan peralatan, meskipun terbatas sekali. Dan kali ini, seperti biasanya, Ki demangpun menyelenggarakan pertunjukan tiga malam di rumah penganten perempuan dan tiga malam di Kademangan. Wayang beber, tari topeng dan sebagainya. Namun dalam pada itu, semakin dekat hari perkawinan itu berlangsung, hati Manguripun menjadi semakin gelisah. Bagaimanapun juga ia tidak dapat melupakan gadis itu. Sindangsari telah benar-benar menjerat hatinya. "Aku mengenal puluhan gadis di Gemulung dan padukuhan-padukuhan lain di Kepandak, bahkan di luar Kademangan ini. Aku pernah berhubungan dengan beberapa diantaranya. Tetapi tidak seorangpun yang dapat mencengkam perasaanku seperti gadis ini" katanya di dalam hati "memang Sindangsari bukan gadis yang mudah tunduk dan memang bukan gadis yang pantas untuk mengisi waktu yang sepi. Tetapi aku pasti akan segera kehilangan semua kesempatan untuk memilikinya " Manguri yang tidak pernah murung, kali ini selalu duduk termenung. Sekali-kali ia memanggil Lamat, tetapi tidak ada yang dapat diperintahkan kepadanya lagi. "Kau tidak perlu berkeliaran lagi di malam hari Lamat" berkata Manguri "Pamot sudah pergi. Aku kira ia tidak akan kembali lagi" Lamat t idak menjawab. "Tetapi aku kira itu lebih baik daripadaku yang setiap kali masih akan melihat gadis itu, yang kemudian akan menjadi Nyai demang" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "He, kenapa kau mengangguk-angguk ?" tiba-tiba Manguri membentak. Lamat terkejut. Namun ia menjawab "Aku sependapat dengan kau, bahwa memang lebih baik meninggalkan Kepandak seperti Pamot" "Tetapi Pamot mempunyai alasan yang kuat. Bahkan alasan yang dapat dikagumi oleh seluruh rakyat Kepandak, bahwa ia akan pergi berjuang" Manguri berhenti sejenak, lalu "tetapi aku tidak mempunyai kesempatan serupa" Hampir saja Lamat menunjukkan kesalahan Manguri, bahwa selama ini ia tidak bergaul rapat dengan anak-anak muda yang lain. Tetapi niatnya diurungkannya, karena hal itu pasti akan menumbuhkan kemarahannya saja. Tetapi tiba-tiba Manguri menggeram "Persetan dengan perang. Biarlah mereka yang tidah menghargai nyawanya sendiri pergi berperang. Tetapi aku tidak. Aku mempunyai kepentingan pribadi yang lebih penting dari kepentingan orang lain, daripada perang itu. Biarlah orang lain berperang, tetapi aku akan mencari jalan untuk mendapatkan anak itu. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Manguri telah benarbenar tergila-gila kepada sindangsari. Tetapi bagaimanapun juga, apabila Sindangsari telah menjadi isteri Ki Demang, semua jalan pasti sudah tertutup" "Aku masih mempunyai satu kemungkinan" desis Manguri "laki-laki itu harus membantuku. Kalau tidak, aku dapat menghancurkannya. Namanya maupun tubuhnya " Tetapi Manguri terkejut ketika ia melihat Lamat menggeleng-gelengkan kepalanya "Laki-laki itu bukan laki-laki kebanyakan" "He" Manguri terkejut "kau kenal siapa laki-laki itu?" Lamat tiba-tiba terdiam. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Tetapi ia t idak menjawab. "Baik. Aku tidak berkeberatan kalau kau mengenal siapa laki-laki itu. Itu bukan salahmu, seperti bukan juga salahku kalau aku juga mengetahuinya" Manguri terdiam sejenak lalu "tetapi kenapa kau menganggapnya bahwa ia bukan laki-laki kebanyakan?" Lamat tidak dapat menolak untuk menjawab. Maka katanya "Ia memiliki kemampuan diatas kemampuan kita kebanyakan" "Dan kau?" Namun Lamat menggeleng. Jawabnya "Aku tidak tahu. Tetapi ia pasti dapat melawan lima orang gerombolan Sura Sapi sekaligus apabila ia mau" Manguri mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Itu kebetulan sekali. Ia akan dapat membantu kita. Kau dan orang itu" Dada Lamat berdesir. Tetapi ia berkata "Maksudku, kau tidak akan dapat mengancamnya. Baik namanya maupun tubuhnya, karena seisi rumah ini bersama-sama sulit lah untuk mengatasinya" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa laki-laki itu memang bukan laki-laki kebanyakan. Bahkan ayahnyapun pasti tidak akan dapat melawannya. Tiga orang setingkat ayahnyapun akan dapat dikalahkannya. "Tetapi" berkata Manguri kemudian "meskipun ia dapat mengalahkan seisi rumah ini sekaligus, namun ia tidak akan dapat mengalahkan ibu" Sesuatu yang tajam serasa menusuk jantung Lamat. Sambil menahan perasaannya ia berkata di dalam hatinya "Dunia ini telah menjadi sedemikian kotornya. Dimana-mana aku menjumpai tingkah laku yang memuakkan. Manguri, ayahnya, ibunya, dan bahkan Pamot, anak yang aku anggap bersih itupun telah terjerumus ke dalam perbuatan yang serupa" Lamat menggigit bibirnya ketika ia sampai pada suatu pertanyaan "tetapi apakah perbuatan Ki Demang itupun tidak dapat dimasukkan ke dalam suatu tindakan yang tercela? Ia dapat memaksakan kesaksian yang membenarkan kekeliruannya itu. Sehingga dengan demikian ia tidak perlu melakukan kesalahannya sambil bersembunyi" Namun kepala Lamat menjadi semakin tertunduk ketika ia bertanya pula kepada diri sendiri "Lalu. Bagaimana dengan aku? Aku adalah orang yang paling tidak jujur di muka bumi. Aku telah mengiakan yang tidak sesuai dengan nuraniku. Aku telah melakukan yang sebenarnya tidak aku kehendaki. Tetapi itupun aku telah berkhianat karena perasaanku yang ingkar" "He" tiba-tiba Manguri membentak "Kenapa kau diam saja?" Lamat terkejut. Diangkatnya kepalanya sambil bertanya "apakah yang harus aku katakan? Semuanya benar dan memang demikianlah adanya" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya. Aku harap ibu dapat membantu aku. Sekarang harapanku satu-satunya adalah, agar ayah pergi mengurus ternaknya keluar. Semakin jauh semakin baik, agar laki-laki itu mendapat kesempatan menemui ibu" Kata-kata itupun terasa menusuk jantung Lamat. Tetapi ia tidak dapat berkata apapun. "Lamat" tiba-tiba Manguri berkata "apakah kau tidak dapat berusaha bertemu dengan Sindangsari? Lamat terkejut mendengar pertanyaan itu "Sekali saja?" "Untuk apa?" bertanya Lamat. "Cobalah bertanya kepadanya. Sepeninggal Pamot, ia hanya dapat memilih satu diantara dua. Aku atau Ki Demang. Kalau ia sempat berpikir, maka aku kira ia akan memilih aku. Ia sudah mengenal aku sebagai seorang yang kaya raya, meskipun Ki Demang juga kaya. Tetapi Ki Demang sudah lima kali kawin, dan umurnya sudah tidak dapat disebut muda lagi" Dada Lamat menjadi berdebar-debar. Terlonjak suatu jawaban, tetapi hanya di dalam hatinya "Kau seharusnya sudah berapa kali kawin Manguri, apabila kau bukan anak muda yang licik?" "Bagaimana" Manguri mendesak. "Tetapi" suara Lamat dalam sekali "hampir setiap kali aku mengawasi Pamot selama ini, aku selalu melihat dua orang petugas yang dikirim oleh Ki Demang. Meskipun aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, karena aku tidak dapat mendekatinya, namun tampak bahwa keduanya adalah orangorang pilihan" "Kau tidak berani?" "Bukan tidak berani. Tetapi apabila terjadi benturan kekuatan, meskipun mungkin aku tidak kalah, namun mereka akan segera mengenal aku. Bukankah dengan demikian Ki Demang akan dengan mudahnya bertindak terhadapku dan mungkin terhadap seluruh keluarga ini? Kecuali kalau kita memang sudah siap untuk menyatakan perang" "Gila kau" bentak Manguri "tetapi, baiklah, aku akan mencari jalan lain. Mudah-mudahan ayah segera pergi. Agaknya sudah ada tanda-tanda itu, karena ayah sudah mulai menyiapkan beberapa puluh ekor ternak dan sudah ada pembicaraan-pembicaraan tentang pengiriman ternak itu ke Mataram, sebagai bekal para prajurit yang akan menyerang orang-orang asing itu" Lamat tidak menjawab, tetapi ia mengeluh di dalam hatinya. Rumah ini benar-benar seperti neraka yang diisi dengan setan-setan iblis dan sebangsanya. Namun kini jelas bagi Lamat, bahwa agaknya Manguripun tidak akan berhenti sampai t itik perkawinan Ki Demang. Anak muda yang licik itu pasti akan mencari jalan apapun juga untuk mendapatkan Sindangsari. Ketika Manguri kemudian meninggalkannya, Lamat menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia melangkah sambil menundukkan kepalanya. Terbayang di mata hatinya, betapa kedua anak-anak muda, Pamot dan Sindangsari saling mencintai. Tetapi cinta mereka telah direnggut oleh kekuasaan Ki Demang di Kepandak . "Seandainya mereka tidak menjadi putus-asa, hal itu pasti tidak akan terjadi. Mereka merasa bahwa mereka tidak akan dapat saling mempertemukan hati kembali" tetapi tiba-tiba Lamat menggeram "apapun alasannya, tetapi mereka telah melakukan perbuatan terkutuk itu" Dalam pada itu, persiapan yang dilakukan oleh keduabelah pihak, keluarga Sindangsari dan Ki Demang sudah semakin sempurna. Rumah-rumah mereka sudah mulai memasang kerangka-kerangka tarub. Janur-janur kuning sudah mulai disiapkan, sehingga saatnya menjadi semakin dekat untuk menyangkutkannya pada kerangka-kerangka yang sudah siap. Sejalan dengan itu, ayah Manguripun menjadi semakin sibuk menyiapkan ternak-ternaknya. Ia memang mendapat pesanan dari orang-orang yang memang menjadi lengganannya, untuk menyerahkan beberapa puluh ekor sapi, yang harus disiapkan pula sebagai bekal dari pasukan Mataram yang akan mengulangi serangannya atas orangorang asing yang mulai membangun sebuah kota yang mereka namakan Betawi. "Aku harus pergi di hari-hari peralatan itu" berkata ayah Manguri "adalah memalukan sekali apabila aku mendapat undangan untuk menghadirinya. Aku tidak dapat menolak untuk tidak hadir, tetapi apabila aku hadir, perasaanku pasti akan menjadi panas, karena aku sendiri pernah membicarakan masalah gadis Itu dengan Ki Demang" "Lalu, apakah cukup bagi ayah dengan meninggalkan Kademangan ini?" bertanya Manguri. "Maksudmu?" "Apakah tidak ada usaha lain yang dapat dilakukan?" Ayahnya menggelengkan kepalanya "Kedudukanku pasti akan menjadi sangat sulit. Aku tidak dapat melawan kekuasaan Ki Demang di Kepandak" "Kita mempunyai uang ayah. Kita dapat berbuat banyak" "Sudahlah Manguri. Jangan menjadi gila. Persoalan hidup ini bukan sekedar persoalan Sindangsari. Aku harus mengurus perdaganganku. Kalau aku tenggelam di dalam masalahmu saja, masalah yang sebenarnya sudah jelas, maka hubunganku dengan orang-orang yang selama ini selalu mengambil daganganku akan menjadi berkurang. Mereka akan lari kepada orang lain, sehingga kita akan kehilangan banyak pasaran" ayahnya berhenti sejenak, lalu "sebaiknya kau mulai sejak sekarang. Isilah waktumu dengan kerja. Aku masih sempat untuk mengajarimu sekarang. Kalau kelak aku menjadi semakin tua, dan pada suatu saat aku sudah tidak kuat lagi bekerja, kau sudah pandai mengambil alih pekerjaan ini" Manguri tidak segera menyahut. Dan tiba-tiba ayahnya berbisik "Di sepanjang jalan, di kotakota lain, kau akan menjumpai lebih dari sepuluh Sindangsari. Bahkan yang jauh lebih cantik daripadanya. Kalau kau membawa uang banyak di dalam kampilmu, maka tidak akan ada kesulitan apapun untuk mendapatkan mereka" "Jangankan sepuluh ayah" berkata Manguri sambil bersunggut-sungut "sedang dengan uang ayah yang banyak sekali ini, satupun tidak kita dapatkan" "Bukan Sindangsari yang itu" berkata ayahnya "karena itu berlajarlah merantau sebagai seorang pedagang" Manguripun kemudian terdiam. Namun sekilas terbayang di dalam angan-angannya, apabila ayahnya pergi, maka laki-laki itu pasti akan datang. Dan ia akan dapat minta tolong kepadanya. Setidak-tidaknya ia akan dapat memberikan petunjuk, jalan apakah yang harus ditempuhnya. "Kalau ibu bersedia membantu, maka aku berharap untuk mendapatkan jalan itu" katanya di dalam hati. Maka ternyata beberapa hari kemudian ayah Manguripun sudah siap. Pada saat di rumah Sindangsari mulai dipasang tarub, demikian pula di rumah Ki Demang, maka ayah Manguripun pergi meninggalkan padukuhan Gemulung. "Aku harus menunaikan panggilan suci" katanya kepada utusan Ki Demang yang datang kepadanya, mengundangnya untuk datang keperalatan perkawinannya "karena aku sudah tidak muda lagi, dan tidak dapat ikut di dalam pasukan pengawal khusus, maka aku akan berjuang dengan cara yang lain. Aku akan mengusahakan perbekalan mereka, supaya mereka t idak kehilangan kekuatan dipeperangan" "Apa yang akan kau lakukan?" bertanya utusan itu. "Aku akan menyediakan ternak. Berpuluh-puluh. Aku harus segera menyerahkan sebagian yang sudah dapat aku kumpulkan" Utusan itu mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah" katanya "nanti aku sampaikan kepada Ki Demang" "Aku minta maaf "sambung ayah Manguri "mudahmudahan semuanya dapat berlangsung dengan baik" "Terima kasih. Ki Demang tentu akan dapat mengerti" Sepeninggal orang itu, Manguri menghampiri ayahnya dan bertanya "Ayah benar-benar tidak akan hadir?" Ayahnya mengangguk "Ya. Aku tidak akan hadir" "Karena tugas suci itu?" Ayahnya mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tersenyum "Kau harus pandai mempergunakan kesempatan. Biarlah anak-anak muda itu berperang. Namun justru dalam keadaan ini ternak menjadi meningkat harganya, dan aku mendapat banyak keuntungan" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ayahnya berkata pula "Karena kau tidak ikut di dalam lingkungan pasukan pengawal, maka kau dapat pergi bersamaku dalam tugas suci ini. Kau dapat ikut membanggakan dirimu, bahwa kaupun telah membantu perjuangan. Kau dapat berkata kepada anak-anak muda yang menyabung nyawanya itu, bahwa tanpa perbekalan yang cukup mereka bukan apa-apa. Dan kitalah yang mengusahakan perbekalan itu" "Tetapi bukankah persediaan itu bukan milik kita" "Tentu bukan. Kau jangan terlampau bodoh, seperti sudah aku katakan, kita memanfaatkan keadaan. Aku membeli ternak itu dengan harga biasa. Tetapi aku dapat menjual kepada orang-orang yang ada di dalam lingkungan dalam keprajuritan Mataram dengan harga yang tinggi. Mereka tidak akan menolak karena mereka memerlukannya segera. Sudah tentu mereka tidak akan sempat membeli seekor demi seekor seperti aku di padukuhan-padukuhan kecil" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tibatiba ia menjawab "tetapi tidak kali ini ayah. Kali ini aku akan mencoba mengatur perasaanku lebih dahulu. Aku ingin menyembuhkan luka yang telah mengoyak hatiku" "O, kau sekarang tiba-tiba saja menjadi cengeng. Seperti pangripta cerita-cerita dalam tembang macapat. Bukankah hatimu tidak terbuat dari daun pisang yang mudah koyak?" Manguri tidak menyahut. "Besarkan hatimu. Hari-harimu masih panjang. Kau masih mungkin sekali memiliki hari-hari yang cerah. Hari ini matahari tenggelam, tetapi esok pagi, matahari itu akan terbit kembali" Manguri tidak menjawab, dan ayahnya berkata seterusnya "Tetapi lain kali kau harus bersedia belajar melakukan pekerjaan ini, supaya kau kelak dapat menyambung usaha ayah yang sudah kau lihat sendiri hasilnya " Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jika demikian, hati-hatilah kau di rumah. Kendalikan Lamat baik-baik. Jangan terlampau kau sia-siakan anak itu. Jangan terlalu sering kau bentak-bentak. Ia anak baik. Ia dapat menjadi pelindung dari seluruh keluarga ini" Manguri menganggukkan kepalanya pula. "Jaga ibumu baik-baik. Jangan kau sakiti hatinya. Ia menjadi semakin tua meskipun tampaknya seperti kakaknya saja" Sekali lagi Manguri menganggukkan kepalanya. "Kau menjadi penggant iku di rumah kalau aku tidak ada" "Baik ayah" jawab Manguri kemudian. Maka ayah Manguri itupun kemudian minta diri kepada isterinya dan seisi rumahnya. Beberapa orang pengawal sudah siap di halaman yang luas itu yang kemudian akan pergi bersama-sama dengan ayahnya, mengambil ternak-ternak yang sudah terkumpul di kebun peternakannya, dan membawanya ke Mataram. Ketika ayah Manguri itu melintasi pintu regol, ia melihat Lamat berdiri termangu-mangu. Sejenak ia berhenti, katanya "Jaga rumah ini baik-baik" Lamat menganggukkan kepalanya dalam-dalam. "Keamanan rumah ini adalah tanggung jawabmu. Kau tahu, bahwa banyak masalah masih dapat timbul karena pokal Manguri itu. Mungkin orang-orang Sura sapi, mungkin anakanak muda yang mendendamnya, atau barangkali karena kesalahannya, maka Ki Demang berbuat sesuatu atas keluarga ini" "Aku akan berusaha sebaik-baiknya" jawab Lamat. Ayah Manguri tersenyum. Ia tahu benar kemampuan yang tersimpan di dalamdiri raksasa itu. Sekali lagi ayah Manguri itu berpaling. Dilihatnya isteri dan anaknya berdiri termangu-mangu di belakangnya. "Ingat Manguri" katanya "jangan berbuat aneh-aneh" Manguri mengangguk. Maka iring-iringan kecil itupun kemudian meninggalkan regol rumah Manguri yang besar, menuju ke sebuah pategalan yang dipergunakan oleh ayah Manguri untuk menyimpan ternaknya yang sudah terkumpul sebelumterjual. Manguri dan ibunyapun kemudian berdiri di regol sambil memandangi iring-iringan yang semakin lama menjadi semakin jauh. Perlahan-lahan Manguri mengangguk-angguk. Tanpa sesadarnya ia berkata "Semuanya membawa senjata" "Pekerjaan ayahmu adalah pekerjaan yang berbahaya dalam keadaan seperti sekarang ini" berkata ibunya "di sepanjang jalan dapat saja iring-iringan ternaknya bertemu dengan beberapa orang penjahat" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya, dan tiba-tiba saja ia berkata "Pekerjaan yang menyenangkan, sebuah petualangan yang dapat memberikan banyak penghasilan" Ibunya memandang wajah Manguri yang masih terpaku pada bintik-bintik yang bergerak semakin jauh "Kau mulai tertarik pada pekerjaan itu?" Manguri mengangguk "Ya. Banyak sekali yang dapat dikerjakan. Mendapat uang, bertualang, dan apa saja di sepanjang perjalanan" "Manguri" ibunya mengerutkan keningnya "itukah yang menarik perhatianmu? Bukan usaha yang memerlukan ketekunan dan keuletan?" "Tentu ibu. Tanpa ketekunan dan keuletan, ayah tidak akan dapat menjadi pedagang ternak yang besar seperti sekarang" "Nah, hal itulah yang harus mendapat perhatian" "Tentu. Tetapi di samping kesibukan itu kadang-kadang seseorang memerlukan juga selingan yang segar" "Manguri, apa maksudmu, dengan mengatakan hal itu?" "Tidak ibu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Ibu tahu, saat ini hatiku serasa sedang terluka. Aku memerlukan tempat yang dapat memberikan kesejukan di dadaku yang serasa gersang" Ibunya menarik nafas dalam-dalam "Ah kau" tetapi Manguri justru tersenyum. Bintik-bintik di kejauhan itu kini sudah hilang ditelan tikungan. Dalam pada itu, bintik-bintik di kejauhan itupun kini telah hilang di balik tikungan, sehingga Manguri kemudian berkata "Ayah sudah tidak kelihatan lagi. Perjalanannya kali ini adalah perjalanan yang pendek. Ayah hanya pergi ke Mataram membawa ternaknya, sehingga tidak lebih dari tiga atau empat hari ayah pasti akan sudh selesai dengan segala urusannya " "Belum tentu" sahut ibunya "kadang-kadang ayahmu memerlukan waktu sepekan untuk menunggu penyelesaian pembayarannya. Kalau uang itu ditinggalkannya; maka pembayaran itu justru akan tertunda-tunda semakin lama" Manguri mengangguk-angguk, tetapi ia tidak menjawab lagi. Keduanyapun kemudian melangkah meninggalkan regol halaman naik ke pendapa, sementara Lamat yang masih berdiri di regol meggeleng-gelengkan kepalanya. "Keluarga ini adalah keluarga yang kaya raya" desisnya "tetapi sekedar kekayaan lahiriah. Mereka sama sekali tidak memiliki kekayaan batiniah. Kekayaan rohani" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian melangkah ke halaman belakang. Tetapi ia masih sempat bertanya kepada diri sendiri "tetapi kenapa aku masih juga berada disini?" Pertolongan yang diberikan oleh ayah Manguri, dan sekaligus sebagai belenggu yang dipasang di hati Lamat itu agaknya benar-benar sulit untuk dilepaskannya. Dalam pada itu, Kademangan Kepandak menjadi semakin ramai karena hari perkawinan Ki Demangpun akhirnya sampai juga. Tiga hari tiga malam di rumah Sindangsari akan diselenggarakan pertunjukan yang pasti akan sangat menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. bukan saja dari padukuhan Gemulung, tetapi juga dari padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Sedang pada hari kelima, bertepatan dengan boyongan penganten, di Kademanganpun akan diadakan peralatan yang serupa. "Namun penghuni rumah yang kini sudah dihiasi dengan tarub itu sama sekali tidak mewarnai peralatan yang diselenggarakannya. Wajah-wajah mereka tampak suram, betapapun mereka mencoba tersenyum dengan tetanggaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ tetangga mereka yang telah membantu menyiapkan segala keperluan perkawinan itu. Meskipun demikian seorang perempuan gemuk berkata kepada kawannya yang duduk di sampingnya "Lihat, bukankah Sindangsari sudah t idak menangis lagi? Meskipun wajahnya masih muram, namun nanti, setelah ia tinggal di Kademangan, ia akan segera tersenyum. Pamot itupun akan segera dilupakannya. Baru berapa hari anak itu pergi, Sindangsari sudah hampir melupakannya" Kawannya mengerutkan keningnya. Jawabnya "Tentu, ia berpura-pura menolak, karena ia sudah terlanjur menyatakan cintanya kepada Pamot, supaya kelihatannya ia seorang gadis yang setia. Tetapi lihat saja, sebentar lagi ia akan menjadi Nyai Demang yang baik. Mungkin ia adalah gadis yang terbaik yang pernah menjadi isteri Ki Demang" "Apa yang baik pada gadis ini?" "Ia adalah gadis yang cantik" "Belum tentu seorang gadis yang cantik dapat menjadi seorang isteri yang baik. apalagi pada dasarnya Sindangsari tidak menyukai Ki Demang" "Ia akan segera menyukai. Pakaian yang bagus, perabot rumah tangga yang lengkap dan kedudukan yang baik akan membuatnya menjadi seorang istri yang baik. Lebih daripada itu, melihat badannya yang segar dan berisi, ia akan dapat memberikan seorang anak atau lebih kepada Ki Demang" Tetapi kawannya mengerutkan keningnya. Dengan bersungguh-sungguh ia berbisik "Apakah begitu?" Kenapa isteri-isteri Ki Demang yang lain tidak pernah punya anak? He" suaranya menjadi semakin lirih "isteri-isteri Ki demang yang terdahulu tidak pernah merasa bersalah karena mereka tidak punya anak. Apakah kau pernah berbicara dengan salah seorang dari mereka?" "Tentu, tidak seorang perempuanpun yang mau mengakui, bahwa ia tidak akan mempunyai anak. sebagai seorang janda ia tentu akan mengalami banyak kesulitan untuk dipinang orang, apabila ia tidak akan dapat mempunyai anak. Mereka mencoba melemparkan kesalahan kepada suami-suami mereka. Kepada Ki Demang misalnya" Kawannya tidak menyahut lagi, karena beberapa orang yang lain mendekati mereka dan membantu pula pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Demikianlah, maka ketika saat yang ditentukan tiba, hari itu adalah hari Soma Pahing, rumah Sindangsari menjadi sangat ramai. Obor-obor telah dipasang di regol halaman yang sudah diperbaiki. Lampu-lampu minyak yang terletak diatas ajuk-ajuk bambu berserakan di seluruh halaman. Tarub janur kuning menghiasi segala sudut dan bahkan di depan tarub di tengah-tengah terikat sepasang tundun pisang, dua ikat padi, jagung dan dedaunan. Kemudian di hadapan pintu depan tergolek sebuah pasangan lembu, sejembangan air dan bermacam-macamrangkaian upacara penganten. Peralatan yang diselenggarakan di rumah sindangsari itupun menjadi sangat meriah. Ibu Sindangsari tidak hentihentinya mempersilahkan tamu-tamunya duduk, menerima sumbangan berupa apa saja, kelapa, beras, dan sayursayuran, mempersilahkan mereka makan, kemudian mempersilahkan mereka pindah ke ruang depan. Tiga hari tiga malam, rumah itu dihiasi dengan lampulampu minyak yang terang dan obor-obor di regol. Tiga hari tiga malam seisi rumah itu seakan-akan tidak tidur sekejappun. Ki Demang yang sudah untuk kesekian kalinya menjadi pengantin, untuk sepekan akan tinggal di rumah Sindangsari setelah di hari yang pertama ia menginjakkan kakinya sebagai mempelai dilakukan segala macam upacara adat. Tetapi Ki Demang sendiri selama sepekan itu sama sekali tidak dapat beristirahat pula. Tamu-tamunya datang setiap saat dari segala penjuru Kademangan. selain itu, kawankawannya para Demang dan bebahu Kademangan yang lainpun berdatangan pula untuk mengucapkan selamat. Kadang-kadang disuatu saat, di halaman rumah penganten perempuan itu terikat lebih dari sepuluh ekor kuda sekaligus. Kuda yang dibawa oleh para tamu yang datang dari luar Kademangan Kepandak. Namun Ki Demangpun kadang-kadang harus mengerutkan keningnya. Ada pula beberapa orang tamu yang kurang dapat menyesuaikan dirinya. Meskipun hanya sambil bergurau, namun ada diantara mereka yang berkata "He, Ki Demang di Kepandak, kau benar-benar seorang yang paling beruntung. Bukankah kau kali ini kawin untuk yang kesekian kalinya? Kau masih juga berhasil memikat hati seorang perawan yang begitu cantik dan muda" Kawan-kawannya tertawa serentak, meskipun Ki Demang sendiri menjadi tersipu-sipu dan menegangkan keningnya. Tetapi betapa terkejutnya hati Ki Demang, ketika ia melihat beberapa ekor kuda memasuki regol halaman rumah Sindangsari. Ternyata yang datang itu adakah beberapa orang perwira dan prajurit Mataram. "Apakah yang mereka kehendaki" katanya di dalam hatinya yang berdebar-debar "Aku baru kawin. Agaknya ada sesuatu yang penting, sehingga beberapa orang prajurit datang sekaligus" Karena itu, maka dengan tergopoh-gopoh Ki Demang sendiri turun dari tangga rumah Sindangsari menyongsong kedatangan mereka. Tetapi Ki Demang itupun kemudian berdiri termangumangu. Sebelum ia menemui mereka, ternyata ibu Sindangsari telah mendahuluinya. "Nyai tidak mengabari kami" berkata salah seorang perwira. "Maaf kakang. Sebenarnya aku memang tidak ingin mengabari siapapun juga" "Aku mendengar dari prajurit yang bertugas di Kademangan Ini untuk melatih para pengawal khusus yang masih tinggal dan menurut pendengaranku akan ditambah lagi" "Tentu, tentu mereka mengetahuinya" Nyai Wiratapa berhenti sejenak, lalu "silahkan" Ketika Nyai Wiratapa berpaling, dilihatnya Ki Demang sudah berdiri di depan tangga rumahnya. "Itulah menantuku" desis Nyai Wiratapa. Para prajurit itu mengerutkan keningnya "Bukankah ia Demang di Kepandak" "Benar. Orang itulah Demang di Kepandak" Beberapa orang perwira saling memandang sejenak. Tetapi mereka tidak bertanya sesuatu. Meskipun demikian Nyai Wiratapa telah dapat menebak isi hati mereka, sehingga tanpa malu-malu, bahkan seolah-olah ia mendapat saluran untuk menumpahkan perasaannya, iapun berkata "Jangan terkejut kalau menantuku terlampau lambat kawin" "Apakah ia belum pernah kawin?" salah seorang dari prajurit yang datang itu bertanya. Tetapi kawannya segera menggamitnya, sambil berbisik "Aku dengar perkawinan ini adalah yang keenam kalinya" Prajurit muda yang bertanya itu terkejut "He, bukankah Sindangsari itu anak Ki Wiratapa itu?" "Sst "kawannya berdesis. Prajurit muda itupun terdiam. Yang terdengar kemudian adalah suara Nyai Wiratapa "Marilah, silahkan kalian masuk" Para prajurit itupun kemudian berjalan perlahan-lahan mengikut i Nyai Wiratapa setelah menambatkan kuda-kuda mereka. Namun prajurit muda itu masih saja bertanya kepada kawannya yang terdekat "He mana mungkin Sindangsari kawin dengan seorang yang telah kawin untuk kelima kalinya" "Jangan ribut. Hal itu sudah terjadi" "Kalau aku tahu, aku datang melamarnya sejak ia meninggalkan Mataram" Para prajurit itupun kemudian diperkenalkannya dengan Ki Demang di Kepandak, mempelai laki-laki, menantu Nyai Wiratapa. Beberapa orang diantara para prajurit itu terpaksa menahan perasaannya, agar tertawanya tidak terloncat di bibirnya melihat kejadian yang ganjil itu. Selain dengan Ki Demang, maka para tamu itupun diperkenalkan pula dengan Ki Reksatani dan Ki Jagabaya, yang seolah-olah menjadi pelindung Ki Demang selama Ki Demang menjalani masa-masa perkawinannya di rumah isterinya. di samping beberapa orang kepercayaan Ki Demang sendiri yang bertebaran disegala sudut halaman" "Mereka adalah kawan-kawan ayah Sindangsari Ki Demang berkata ibu Sindangsari. "O terima kasih. Terima kasih atas kunjungan ini" berkata Ki Demang. Para prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Seorang perwira yang tertua berkata "Kami sekedar datang untuk mengucapkan selamat. Meskipun kami tidak diundang, tetapi kami adalah kawan-kawan baik Ki Wiratapa. Ki Wiratapa adalah seorang prajurit yang jarang ada duanya. Berani, tangkas dan memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan yang tiba-tiba. Tetapi ia adalah seorang yang tidak mementingkan diri sendiri, sehingga justru ia menjadi korban karena berusaha melindungi teman-temannya" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kunjungan kawan-kawan ayah Sindangsari itu merupakan suatu persoalan baru baginya. Ternyata bahwa pengaruh keadaan dan persamaan nasib di medan perang, telah mempengaruhi hubungan para prajurit itu. Meskipun Ki Wiratapa sudah tidak ada lagi, namun mereka masih tetap bersikap baik dan akrab dengan keluarganya. "Aku harus mempertimbangkan keakraban hubungan ini" berkata Ki Demang di dalam hatinya. Sehingga dengan demikian perlakuannya terhadap keluarga Sindangsaripun harus dipertimbangkannya pula. Tetapi tamu-tamu itu tidak lama duduk bercakap-cakap dengan ibu Sindangsari dan menantunya. Setelah mereka mendapat sekedar jamuan dan mengucapkan selamat kepada sindangsari sendiri, maka merekapun segera minta diri. "Kami baru mempunyai banyak pekerjaan" berkata perwira yang tertua. "Kalian tidak pernah mempunyai waktu terluang. Kalian selalu mengatakan banyak pekerjaan" sahut Nyai Wiratapa. "Tetapi kali ini kami benar-benar mempunyai banyak pekerjaan. Bayangkan, kami menerima anak-anak muda dari Kademangan di sekitar Mataram. Kami harus melatih mereka sebelum kami memilih siapakah diantara mereka yang dapat kami kirimkan ke medan" "Jadi kalian akan mengulangi serangan itu? Seperti yang dilakukan oleh kakang Wiratapa?" "Ya" "Hampir setahun yang lalu, dua gelombang serangan telah gagal. Apakah sekarang hanya prajurit-prajurit dari Mataram saja yang berangkat" "Tentu tidak" jawab perwira itu "kekuatan Mataram tidak berada di Mataram saja. Tetapi para prajurit di daerah pantai Utarapun akan berangkat juga" "Lewat laut seperti gelombang yang pertama hampir setahun yang lalu?" Perwira itu menggelengkan kepalanya "Kami tidak tahu. Apakah kami harus mengulangi lagi serangan lewat lautan, atau kami akan mengambil cara lain" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya "Mudahmudahan kalian berhasil. Seorang kemanakanku ada di dalam pasukan itu" "Dari Kepandak?" "Ya. Kalau ia ikut terpilih kelak, aku titipkan ia kepada kalian" "Siapa namanya?" Nyai Wiratapa ragu-ragu sejenak. Dengan sudut matanya di sambarnya wajah Ki Demang yang tegang. "Siapa?" desak prajurit itu. Nyai Wiratapa menarik nafas dalam-dalam. Ia terlanjur mengatakannya kepada para prajurit itu oleh desakan perasaannya, tetapi ketika ia menyadari bahwa Ki Demang duduk diantara mereka, ia menjadi ragu-ragu. Meskipun demikian ia tidak dapat menolak pertanyaan perwira itu, sehingga betapapun beratnya ia menjawab "Namanya Pamot " Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya "Pamot" ia mengulangi. Namun nama itu telah menggetarkan jantung Ki demang. Apakah maksud ibu sindangsari itu? Kenapa ia masih saja menyebut-nyebut nama Pamot dihadapannya justru pada hariTiraikasih Website http://kangzusi.com/ hari perkawinannya? Dan kenapa mertuanya itu menyebut Pamot sebagai kemenakannya? Pertanyan-pertanyaan itu bergolak di dalam dada Ki Demang. Namun kemudian iapun dapat mengambil kesimpulan bahwa bukan saja Sindangsari yang berkenan atas kehadiran Pamot di dalam keluarga itu. Tetapi juga keluarganya. Seluruh keluarganya. "Aku akan membuktikan bahwa aku adalah menantu yang baik" berkata Ki demang di dalam hatinya. Ternyata prajurit yang bertanya itu sama sekali belum mengenal anak muda yang bernama Pamot. Karena itu katanya "Baiklah Nyai. Aku akan mencari anak yang bernama Pamot dari Kepandak. Kalau ia kemanakanmu, aku berharap bahwa ia akan menjadi seperti pamannya Ki Wiratapa" "Gugur dipeperangan?" bertanya Nyai wiratapa. "Tidak. Tidak. Maksudku, seperti Ki Wiratapa di dalam olah tata dan sikap keprajuritannya" Nyai Wiratapa menarik nafas dalam-dalam. "Sudahlah Nyai" berkata periwa itu "aku kini benar-benar minta diri. Aku dapat berbicara sampai malam apabila aku lupa waktu. Tetapi kami harus segera kembali" Para prajurit itupun kemudian meninggalkan rumah bekas sahabatnya yang telah gugur. Mereka masih juga saling mempercakapkan, kenapa Nyai Wiratapa mengambil menantu seorang yang telah beberapa kali kawin. "Aku kira Ki Demang itu agak menekan keluarga kecil itu" tiba-tiba salah seorang berdesis. Kawan-kawannya mengerutkan keningnya "Mungkin. Hal itu memang mungkin sekali. Tetapi kenapa Nyai Wiratapa tidak mengatakannya?" "Bagaimana mungkin ia dapat mengatakannya. Menantunya yang tercinta itu selalu menunggui pembicaraan kita" "Maksudku, di kesempatan lain. Beberapa waktu sebelumnya" "Kita pasti dapat mengerti. Ia seorang janda yang tinggal di daerah kekuasaan Ki Demang Kepandak. Tentu ia tidak berani berbuat apa-apa. Seandainya suaminya masih ada, persoalannya pasti akan lain, meskipun mereka t inggal di Kademangan itu pula" "Tetapi semunya sudah terlanjur. Perkawinan itu sudah terjadi" "Aku menyesal sekali" gumam prajurit muda yang sejak semula selalu menggerutui perkawinan itu "bukankah aku agak lebih tampan dari Ki Demang itu, bahkan aku lebih muda?" "Tetapi" desis prajurit yang lebih tua "tiga rangkap kau tidak akan dapat menyamai Demang di Kepandak di dalam olah senjata" "Bohong" sahut prajurit muda itu. "Beberapa orang diantara kita yang agak tua-tua ini pasti sudah mendengarnya. Kakak beradik dari Kepandak itu. Meskipun aku sendiri baru kali ini melihat orangnya" Prajurit muda itu bersungut-sungut? Katanya "Kalau perkawinan itu belum terlanjur, aku bersedia melakukan perang tanding dengan taruhan gadis itu. Tetapi karena perkawinan itu sudah terjadi, dan kita tidak tahu apa yang sudah terjadi atas gadis itu, maka aku tidak akan bersedia lagi untuk melakukannya" "Siapa yang minta kepadamu untuk melakukan itu?" "Tidak ada" Kawan-kawannya tersenyum. Sambil menepuk punggung prajurit muda itu kawannya berkata "Tunggulah sampai ia menjadi janda. Agaknya umurmu masih agak lebih panjang dari umur Ki Demang di Kepandak" "Itu kalau aku tidak mat i dipeperangan" jawab prajurit itu sambil tersenyumpula. Namun demikian salah seorang diantara para perwira itu berkata "Tetapi kasihan juga janda dan anaknya itu. Kalau benar Ki Demang melakukan tekanan, ia sudah menyalahgunakan kekuasaannya" Tidak seorangpun yang menjawab. Perkawinan itu ternyata memang sudah terjadi. Dalam pada itu, di rumah Sindangsari Ki Demang masih saja memikirkan pesan ibu Sindangsari. Buat apa sebenarnya ia berpesan kepada prajurit-prajurit itu agar mereka memperhatikan anak muda dari kepandak yang bernama Pamot. "Apakah ibu Sindangsari ini masih mengharapkan Pamot kembali dan pada suatu saat merebut Sindangsari dari tanganku?" bertanya Ki Demang kepada diri sendiri. Tetapi kemudian dijawabnya "Selama ini aku harus berhasil membuat kesan yang lain kepada keluarga ini" Demikianlah maka tamu-tamu Ki Demang seorang demi seorang telah meninggalkan rumah itu. Meskipun perempuanperempuan di dapur masih saja sibuk. Namun keramaian di rumah Sindangsaripun berangsur berkurang. Setelah lewat hari yang ketiga, maka yang sibuk kemudian adalah orangorang yang membongkar tarub-tarub yang sudah mulai layu. Janur-janur kuning yang menjadi kering, dan tratag yang tidak berguna lagi. Yang kemudian menjadi sibuk sekali adalah Kademangan Kepandak. Mereka justru baru mempersiapkan tratag, terub dan berbagai macamalat upacara dan keramaian. Rumah Sindangsari yang berangsur-angsur menjadi semakin sepi, telah membuat Sindangsari menjadi berdebardebar. Tamu-tamu Ki Demang sudah tidak banyak lagi, sehingga Ki Demang sudah banyak mempunyai kesempatan untuk duduk berdua saja dengan isterinya. Sindangsari. Dalam saat-saat yang demikian, Sindangsari sama sekali tidak dapat melupakan anak muda yang bernama Pamot. Bukan saja karena hatinya seakan-akan telah terjerat olehnya, tetapi langkahnya yang terdorong di saat-saat terakhir telah membuatnya gelisah setiap saat. Meskipun Sindangsari tidak lagi melakukan perlawanan atas perkawinannya itu, namun hubungannya dengan suaminya terasa telah dibatasi oleh sebuah garis yang tebal. "Apakah Ki Demang akan dapat mengetahuinya, bahwa aku kini bukan gadis lagi?" pertanyaan itulah yang selalu mengguncang hatinya. Namun dengan demikian, ia mengharap semuanya agar segera terjadi. Kalau Ki Demang nanti akan mengetahui apa yang sudah dilakukannya, biarlah segera mengetahui. Kalau ia harus dibunuh karenanya, biarlah hal itu cepat pula terjadi. Dalam kegelisahan itulah ia iustru mengharap Ki demang bersikap sebagai seorang suami. Di malam terakhir menjelang malam kelima, yang sesuai dengan rencana Sindangsari akan diboyong ke Kademangan, terasa betapa malam itu sangat mencengkam perasaan Sindangsari. Besok malam ia sudah akan meninggalkan rumah ini. rumah yang telah didiaminya sejak ia pulang dari Mataram karena ayahnya telah gugur. Rumah kakek, nenek dan ibunya. Besok ia akan berpisah dengan mereka, mengikuti suaminya, ke rumah yang belum dikenalnya. Meskipun Sindangsari telah pasrah diri dalam perkawinan yang sudah terjadi itu, namun perpisahan dengan seluruh keluarganya telah membuatnya menjadi sangat gelisah. Dengan hati yang pedih ia berbaring di pembaringannya yang masih ditaburi dengan bunga-bunga yang beraneka warna. Bunga mawar, melati, kantil dan kenanga. Di luar biliknya masih terdengar beberapa orang tua-tua yang bercakap-cakap. Tetapi semakin malam menjadi semakin sepi. Sejenak kemudian ia mendengar Ki Reksatani minta diri. Sedang Ki Jagabaya sejak sore tidak tampak datang ke rumah itu. "Aku akan pulang kakang" Ki Reksatani minta diri "aku kira kakang Demang sudah dapat beristirahat, karena sudah tidak banyak tamu lagi. Besok kakang Demang akan pulang ke Kademangan. Agaknya tiga malam lagi kakang Demang akan tidak dapat tidur. Tamu-tamu akan berdatangan lagi untuk selama t iga hari tiga malampaling sedikit" Ki Demang mengguk-anggukkan kepalanya "Baiklah" katanya "tetapi biarlah anak-anak itu tetap tinggal disini" "Ada tiga orang yang masih ada di belakang. Mereka akan menjaga rumah ini" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepeninggal Ki Reksatani rumah itu menjadi semakin sepi. Meskipun demikian pintu depan rumah itu masih tetap terbuka. Kakek Sindangsari duduk di serambi depan rumahnya bersama-sama beberapa orang-orang tua sebayanya. Sedang neneknya berada di dapur bersama ibunya mengawani beberapa orang tetangga yang masih saja sibuk. Mengemasi alat-alat yang sudah tidak dipergunakan lagi, tetapi juga masih menyediakan makan bagi mereka yang membenahi rumah itu setelah sekian lama dipergunakan untuk peralatan. Ki Reksatani yang meninggalkan halaman rumah Sindangsari berjalan dengan langkah yang lamban. Kelelahan dan kesal telah merambat di seluruh tubuh dan hatinya. Tiga malam ia sama sekali tidak sempat tidur. Hanya siang hari ia dapat memejamkan matanya meskipun hanya sebentar. "Setan betina itu benar-benar telah menyiksaku" desisnya. Sambil bersungut-sungut Ki Reksatani menyelusuri jalan padukuhan "Gila" ia mengumpat "kenapa aku tidak membawa kuda?" sejenak ia ragu-ragu "Apakah aku akan kembali mengambil kuda siapa saja yang dapat aku pinjam?" Tetapi niatnya itupun diurungkannya "Besok aku harus mengembalikannya. Lebih baik t idak usah" Maka Ki Reksatanipun mempercepat langkahnya untuk menghilangkan dingin malam. Sambil bersilang tangan di dadanya ia berjalan diatas jalan berbatu-batu. Tetapi ketika langkahnya sampai ke simpang tiga di dalam padukuhan Gemulung itu ia tertegun sejenak. Dipandanginya lorong yang bercabang di hadapannya. Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Ditengadahkannya wajahnya ke langit. Dilihatnya bintangbintang yang bertaburan memenuhi udara berkeredipan tidak henti-hentinya. Ketika ia memandang ke Selatan, dilihatnya bintang gubug penceng masih condong ke timur. "Belum tengah malam" desisnya. Dan tiba-tiba saja Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Dipandanginya lorong yang menusuk gelapnya malam di hadapannya. Ia menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian dengan tergesa-gesa ia mengayunkan kakinya. Ia memilih jalan simpang yang sebelah kanan. Dan jalan itu sama sekali bukan jalan pulang. Dalam pada itu Sindangsari masih saja terbaring di dalam biliknya meskipun matanya tidak terpejam. Meskipun bukan didorong oleh perasaannya, namun nalarnya mengharap agar Ki Demang malam itu datang kepadanya. Tamu-tamu sudah tidak terlampau banyak yang harus ditemuinya. Biarlah kakeknya menemui orang-orang tua itu di serambi rumahnya. "Kalau ia akan mencekik aku, biarlah sekarang selagi aku masih ada di rumah ini. Biarlah kakek, nenek dan ibuku mengetahui apa yang sudah terjadi. Kalau mereka sempat bertanya kepadaku biarlah aku berkata berterus terang sebelum Ki Demang membunuhku. Meskipun demikian hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar desir langkah seseorang mendekati pintu biliknya. Ketika pintu itu berderit, Sindangsari berpaling. Dalam keremangan lampu minyak yang redup ia melihat bayangan Ki Demang memasuki bilik itu. Terasa jantung Sindangsari berdentang semakin keras. Dadanya serasa menjadi sesak dan nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Ditatapnya langit-langit rumahnya dengan hati yang kosong. Bahkan kemudian ia berkata didiam dirinya "Apakah aku hanya akan dapat menatap langit-langit rumah ini untuk yang terakhir?" Sejenak kemudian sekali lagi pintu biliknya berderit. Ketika berpaling lagi, dilihatnya pintu itu sudah tertutup rapat. Perlahan-lahan Ki Demang melangkah mendekati pembaringannya. Namun setiap langkah, terasa sebagai sebuah sengatan yang sakit di hati Sindangsari. Bahkan tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar dan darahnya serasa semakin cepat mengalir sampai ke ubun-ubunnya. Meskipun demikian ia mencoba menghentakkan perasaannya oleh pertimbangan nalarnya "Terjadilah kalau akan terjadi sekarang ini" Sindangsaripun kemudian memejamkan matanya. Tetapi ia berdoa, agar ia diampuni oleh sumber hidupnya. Bukan karena ia takut dicekik, tetapi agar ia mendapat keringanan apabila api neraka kelak akan menjilatnya. Sindangsari menahan nafasnya ketika desir langkah Ki Demang berhenti di sisi pembaringannya. Meskipun ia ingin melihat, apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki itu, tetapi Sindangsari t idak berani membuka matanya. Sejenak ruangan itu menjadi sepi senyap. Yang terdengar adalah suara nafas Ki Demang yang memburu. Dengan tajamnya ia berdiri di samping pembaringan isterinya. Dipandanginya tubuh Sindangsari yang membujur menelentang sambil memejamkan matanya. Terasa sesuatu telah bergetar di dalam dada laki-laki itu. Darahnyapun semakin lama menjadi semakin cepat mengalir. Sindangsari adalah seorang gadis yang cantik. Kulitnya yang kuning langsat, disaput oleh cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan, membuatnya seakan-akan membara. Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Seperti patung ia berdiri tegak di samping pembaringan Sindangsari. Ketika hatinya serasa akan meledak, maka perlahan-lahan ia membungkukkan badannya. Disentuhnya tangan gadis itu perlahan-lahan dengan tangannya yang kasar. Sindangsari merasakan sentuhan itu. Tiba-tiba saja terasa seluruh tubuhnya meremang. Hampir saja ia meloncat dan berlari meninggalkan bilik itu. Untunglah bahwa ia masih berhasil menguasai dirinya. Namun dengan demikian matanyapun menjadi semakin terpejam. Tetapi alangkah kagetnya, ketika tiba-tiba ia mendengar Ki Demang menghentakkan kakinya sambil menggeram, sehingga tanpa sesadarnya Sindangsari membuka matanya. Ia melihat Ki Demang itu memutar tubuhnya sambil meremas jari-jari tangannya sendiri. Sepercik keheranan melonjak di dada Sindangsari. Ia t idak mengerti perasaan apakah yang membersit di hati Ki Demang. Namun kemudian ia melihat Ki Demang melangkah menjauhinya. Dengan desah nafas yang panjang laki-laki itu membanting dirinya pada sebuah dingklik kayu di sudut ruangan. Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Bahkan rasarasanya seluruh tulang-tulangnya telah dilolosi. "Apakah Ki Demang sudah mengetahui, bahwa aku bukan perawan lagi?" pertanyaan itu membelit hatinya semakin kuat. "Tentu bukan karena itu" ia membantah "ia belum berbuat apa-apa. Ia baru berdiri saja di samping pembaringan ini" Namun ia membantah sendiri "Tetapi mungkin pengawas pengawasnya telah melihatnya" Kini tubuh Sindangsari benar-benar telah menggigil. Meskipun demikian ia masih mencoba membela diri terhadap dirinya sendiri "Tetapi sikap Ki Demang ini begitu tiba-tiba. Kalau ia sudah mengetahui sebelumnya, maka sikapnyapun tidak akan sebaik kemarin dan kemarin dulu. Ia mungkin akan membatalkan perkawinan ini sambil menjatuhkan hukuman yang paling berat kepadaku dan kepada Pamot" Selagi goncangan-goncangan perasaan itu mengamuk di dadanya, Sindangsari mendengar Ki Demang beberapa kali mengeluh sambil menundukkan kepalanya. Bahkan kemudian iapun berdiri dengan tergesa-gesa. Dengan langkah yang panjang ia tiba-tiba saja meninggalkan Sindangsari di dalam bilik itu sendiri. Heran, cemas, takut dan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada Sindangsari. Bahkan tanpa sesadarnya ia bangkit dan duduk ditepi pembaringannya. "Apakah yang telah mendorong Ki Demang meninggalkan bilik ini?" ia bertanya kepada diri sendiri "apakah aku dianggapnya kurang sopan karena aku tidak menyapanya? Atau barangkali aku dianggap telah menghinanya? Atau, atau .." tetapi Sindangsari tidak dapat memilih manakah yang paling mendekati kebenaran. Ki Demang yang meninggalkan bilik Sindangsari itupun segera melangkah keluar. Tanpa berpaling ia turun ke halaman dan berjalan ke dalam gelap malam. Di bawah sebatang pohon mlandingan ia berhenti Sambil menggeretakkan giginya ia mengusap dadanya, seolah-olah hendak menenangkan jantungnya yang sedang bergelora. Kakek Sindangsari yang melihat Ki Demang itu berjalan dengan tergesa-gesa menjadi terkejut karenanya. Ia tahu bahwa Ki Demang memasuki bilik cucunya. Karena itu, tumbuhlah berbagai macam pertanyaan di kepalanya. Bahkan kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri di dalam hati "Bukan salah gadis itu kalau ia menolak. Sejak semula ia sudah menyatakan sikapnya" Namun sejenak kemudian ia melihat Ki Demang berjalan perlahan-lahan mendekati serambi depan yang selama berlangsung peralatan dindingnya telah dibuka. Perlahanlahan ia naik dan sambil menarik nafas dalam-dalam ia ikut serta duduk diantara orang tua-tua. "He Ki Demang" bertanya kakek Sindangsari "dari manakah Ki Demang ini tadi?" Ki Demang t idak menjawab. Dipaksakannya bibirnya untuk tersenyum"Dari halaman kek" jawabnya. Kakek Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tersenyumpula "Dari kegelapan?" "Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apakah Ki Demang tidak beristirahat saja dahulu? Mungkin Ki Demang sudah terlampau lelah. Apalagi Ki Demang akan tidak sempat tidur dalamt iga malam mendatang. "Terima kasih kek. Aku terlampau biasa tidak tidur Dalam keadaan yang wajar sekalipun, tanpa peralatan, aku juga hampir tidak pernah tidur nyenyak. Aku selalu meronda berkeliling Kademangan dengan Ki Jagabaya, atau dengan anak-anak yang sedang bertugas di Kademangan" Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi heran bahwa Ki Demang malam itu lebih senang duduk bersama orang-orang tua daripada berada di dalam bilik isterinya yang baru saja melangsungkan perkawinannya itu. Sindangsari yang duduk di pinggir pembaringannya masih saja diamuk oleh berbagai macam perasaan. Kebingungan yang sangat telah melanda dinding hatinya, sehingga tanpa disadarinya, air matanya telah membayang dipelupuk matanya. Apa yang dialaminya ini sama sekali jauh berbeda dari ceritera neneknya tentang seorang pengantin baru. Apalagi apabila pengantin laki-laki bukan lagi seorang jejaka, tetapi seorang duda seperti Ki Demang yang sudah terlampau sering kawin. "Mungkin aku adalah seorang pengantin yang paling malang" desis Sindangsari sambil mengusap air matanya. Bahkan kemudian ia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa apabila Ki Demang nanti masuk kembali ke dalam bilik ini ia akan bersikap baik, Ia akan menyapanya sebagai seorang isteri terhadap suaminya. Tetapi Ki Demang tidak masuk ke dalam bilik itu kembali. Betapa ia menunggu dengan hati yang berdebar-debar, namun sampai terdengar kokok ayam jantan untuk yang terakhir kalinya, tidak seorangpun yang menyentuh daun pintu biliknya. Ketika sinar matahari pagi mulai membayang diatas atap rumahnya, Sindangsari yakin, bahwa Ki Demang tidak akan datang lagi sampai saatnya ia diboyong ke Kademangan sore nanti. Dengan hati yang kesal, bingung dan tidak berketentuan Sindangsari keluar dari biliknya, langsung pergi ke pakiwan untuk mencuci mukanya. Namun bagaimanapun juga, ibunya dapat mengetahuinya bahwa puterinya itu menangis semalam. Hati Nyai Wiratapapun terasa seolah-olah tersayat. Hati seorang ibu yang mengetahui penderitaan batin puterinya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika Sindangsari melangkah kembali ke dalam biliknya, ia berpapasan Ki Demang di muka pintu. Tetapi ketika ia berhasrat untuk menegurnya, mulutnya menjadi seakan akan terbungkam. Ia menjadi bingung ketika justru Ki Demang yang bertanya kepadanya "Apakah kau semalamdapat tidur Sari?" Sindangsari menggelengkan kepalanya "Tidak" "Kenapa?" Sindangsari t idak dapat menjawab. Hanya kepalanya sajalah yang tertunduk dalam-dalam. "Di Kademangan malam-malam yang sibuk akan terulang lagi. Kau harus berusaha beristirahat sebelum malam nanti dan dua malam berikutnya, kita harus menemui tamu-tamu yang akan datang bergantian" Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Beristirahatlah dan tidurlah siang ini kalau mungkin" berkata Ki Demang. Sekali lagi Sindangsari menganggukkan kepalanya. Ki Demangpun kemudian melangkah pergi. Beberapa saat kemudian Sindangsari berpaling. Tetapi Ki Demang sudah t idak tampak. Dalam pembicaraan-pembicaraan singkat, ternyata Ki Demang bukanlah orang yang menakutkan seperti yang dibayangkannya. Ia sama sekali bukan orang yang rakus sedang kelaparan. Kata-katanya cukup sopan dan matang, sebagai seorang yang telah tidak muda lagi. Bahkan kadangkadang seperti kata-kata seorang ayah kepada anaknya. Tetapi Sindangsari tetap tidak mengerti, dengan orang macam apakah ia sedang berhadapan. Bagaimanapun juga yang ada di dalam hatinya hanyalah kecemasan, kebingungan dan penyesalan. Tetapi malam terakhir ia tinggal di rumah itu sudah lampau. Nanti malam ia sudah tidak akan berada di rumah itu lagi. Nanti malam ia harus mengulangi upacara-upacara perkawinan yang melelahkan. Tamu-tamu akan berdatangan untuk mengucapkan selamat kepadanya dan kepada suaminya. Ki Demang di Kepandak. Dalam kesibukan itu, suaminya pasti tidak akan sempat beranjak dari pendapa Kademangan yang besar. Tamutamunya pasti jauh labih banyak dari tamu-tamu yang datang di rumahnya selama tiga hari tiga malam. Terbayang di dalam angan-angannya bahwa ia pasti akan merasa kesepian. Tidak ada ibunya kakek dan neneknya di rumah yang besar itu. Tetapi yang membuatnya terlampau cemas adalah keadaan dirinya sendiri. Tiga malam ia pasti akan disiksa oleh kegelisahan yang pahit. Kalau hal itu terjadi di malam berikutnya, selagi Ki Demang sedang lelah dan kesal, maka ia tidak dapat membayangkan apa yang terjadi atas dirinya. Jika Ki Demang kemudian mengetahui bahwa ia bukan lagi seorang gadis seperti yang dibayangkan oleh Ki Demang di Kepandak itu. Sedangkan apabila terjadi sesuatu atas dirinya, ia tidak lagi berada di rumahnya. Tetapi Sindangsari tidak dapat berbuat lain. Ia hanya dapat duduk sambil merenung di dalambiliknya. Suasana rumah itu semakin lama menjadi semakin ramai. Persiapan untuk upacara boyong penganten sudah mulai dipersiapkan. Para tetangga telah mulai berdatangan pula untuk membantu menyiapkan makan mereka yang nanti sore akan ikut serta mengantarkan penganten ke Kademangan. Semakin siang rumah itu menjadi semakin sibuk, meskipun tidak sesibuk dua tiga hari yang lampau. Namun dengan demikian hati Sindangsari menjadi semakin gelisah. Ki Demang sendiripun tampaknya menjadi gelisah pula. Ketika ia melihat Ki Reksatani datang maka segera ia bertanya "Bagaimana persiapan-persiapan yang ada di Kademangan?" "Semuanya sudah beres kakang. Semuanya berlangsung dengan baik seperti rencana kakang Demang semula" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dimana Ki Jagabaya sekarang?" "Di Kademangan. Ia harus memimpin segala persiapan" "Tetapi apakah ia tidak akan kemari?" "Tentu kakang. Ia akan ikut mengiring kakang nanti sore dari rumah ini kembali ke Kademangan" "Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Bagus. Aku berterima kasih kepadamu, kepada Ki Jagabaya dan kepada semua perabot yang lain. Ki Reksatani tidak menyahut Tetapi dengan lesu iapun kemudian duduk diatas tikar yang sudah terentang. "Aku lesu sekali" Ki Demang tidak menyahut, Itu adalah wajar sekali setelah beberapa malam Ki Reksatani itu selalu sibuk. Bahkan disiang haripun kadang-kadang ia ikut sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan malamberikutnya. "Apakah kau akan tidur dahulu?" bertanya Ki Demang kepada adiknya. Ki Reksatani ragu-ragu sejenak. Tetapi ia menggelengkan kepalanya "Terima kasih kakang. Aku akan duduk-duduk saja Aku sudah tidur meskipun hanya sekejap" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Terserahlah kepadamu. Kalau kau mau makan, makanlah. Disini banyak makanan yang tersedia untukmu" "Baiklah kakang. Nanti aku akan ke dapur. Barangkali aku masih menemukan jeroan ayam" Ki Demang tersenyum. Lalu ditinggalkannya adiknya duduk bersandar tiang sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Sejenak matanya menjadi terpejam oleh kantuk yang tidak tertahankan lagi. Sementara itu, di rumah Manguri, anak muda itu duduk di hadapan ibunya yang gelisah. Sambil mempermainkan ujung jarinya anak muda itu bertanya "Tetapi bukankah ibu sudah mengatakan kepadanya?" "Manguri" sahut ibunya "kau telah menyiksaku" "Tidak ibu. Itu adalah permintaan wajar dari seorang anak. Bukankah laki-laki itu datang semalam? "Darimana kau tahu?" "Aku mendengar suara ketukan pada dinding luar bilik ibu, lima kali berturut-turut. Semalam agaknya laki-laki itu harus mengulang t iga kali karena ibu tidak segera terbangun" "Gila, gila kau Manguri" "Aku sama sekali tidak sengaja ibu. Bukan salahku kalau aku dapat mendengarnya. Ayah menyuruh aku melatih inderaku. Pendengaran, peraba pencium dan yang lain-lain" "Tetapi, kau sudah menyiksaku. Kau membuat hatiku sakit Manguri" suara ibunya menurun "aku tidak dapat menolaknya. Semua sudah terjadi bertahun-tahun" "Aku tidak mempersoalkan itu lagi ibu. Aku sudah tahu bahwa itu sudah terjadi sejak bertahun-tahun seperti ayahpun bukan seorang laki-laki yang jujur. Dan itupun sudah terjadi bertahun-tahun. Aku juga bukan anak muda yang baik sejak aku meningkat remaja" Manguri berhenti sejenak lalu "tetapi bukan itu yang aku persoalkan. Aku adalah putera ibu yang ibu lahirkan. Itu pasti. Aku tidak dapat mengatakan bahwa ibuku adalah orang lain. Berbeda tentang ayah" "Manguri" ibunya membentak keras-keras. Manguri menarik nafas dalam-dalam "Maaf ibu. Sekali lagi aku katakan, bahwa aku tidak mempersoalkan itu lagi" ia berhenti sejenak, lalu "yang akan aku sampaikan kepada ibu adalah permintaan seorang anak. Aku datang kepada ibu sebagai seorang anak yang datang kepada orang tuanya. Ibu, seperti anak kecil yang melihat buah yang masak di cabang sebatang pohon. Aku tahu. ibu mempunyai galah. Aku tidak mempersoalkan lagi darimana ibu mendapatkan galah itu Tetapi aku adalah anak-anak yang merengek kepada ibu minta agar ibu mengambil buah itu untukku" Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Manguri sejenak, lalu "Kenapa kau masih saja mengganggu ketenteramanku Manguri. Aku sudah menjadi semakin tua. Aku ingin hidup tenteram. Tanpa persoalan-persoalan yang tidak dapat aku pecahkan seperti yang kau berikan itu" "Tetapi kepada siapa aku harus mengajukan segala kesulitanku kalau tidak kepada ibu dan ayah. Agaknya dalam hal ini ayah sudah tidak mempunyai jalan lagi, Sedang jalan yang ada pada ibu masih dapat dicoba" "Tidak Manguri. Aku tidak dapat. Dan aku tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki itu" "Bukankah ia baru datang mengunjungi ibu?" tiba-tiba suara Manguri merendah "darimana ia tahu kalau ayah pergi. Bukankah orang itu sekarang lagi sibuk?" "Gila. Gila kau Manguri" Mata ibunya mulai basah "kau adalah anak yang paling durhaka terhadap ibunya. Kau tahu kelemahan yang ada padaku. Dan kau telah mempergunakannya untuk memaksakan kehendakmu" "Tidak ibu. Tidak. Ibu selalu salah sangka. Karena ibu merasa bersalah, maka setiap persoalan yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan masalah itu, selalu saja ibu hubungkan dengan kesalahan ibu itu" Ibunya mengerutkan keningnya, dan mengusap air setit ik dipelupuknya. "Sudah aku katakan. Aku tidak mempersoalkan hubungan itu. Tetapi apakah aku tidak dapat minta kepada ibu sesuatu yang ibu mungkin dapat melakukannya?" Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Dan kemudian ia menjawab lambat "Manguri, sebenarnya akupun sudah mengatakannya. "Nah "Manguri mengangkat wajahnya sambil tersenyum "bukankah ibu melihat kemungkinan itu pula" "Ibunya menganggukkan kepalanya. "Apa katanya?" "Sulit Manguri. Untuk saat-saat ini pasti tidak akan ada jalan untuk memisahkan keduanya. Kali ini Ki Demang agaknya berhasrat untuk beristeri sungguh-sungguh" Manguri mengerutkan keningnya "Lalu apa nasehatnya?" "Tidak ada yang dapat dikatakannya. Tetapi ia sendiri berhasrat pula untuk memecah perkawinan itu pada suatu saat" "Pada suatu saat. Kapan saat itu datang?" "Aku tidak tahu Manguri" "O" Manguri memegang keningnya "saat itu akan datang kelak apabila aku sudah ubanan. Apabila aku sudah tidak dapat lagi berbuat apa-apa. Bahkan kelak itu adalah waktu yang labih dari setiap batasan tertentu" "Siapapun tidak akan dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Semuanya harus diatur sebaik-baiknya. Manguri t idak segera menjawab. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mondar mandir di hadapan ibunya. "Aku tidak dapat menunggu lagi" "Itu tidak mungkin. Kalau kau memang benar-benar tidak dapat melepaskan niatmu untuk mendapatkannya, maka kau harus memperhitungkan setiap kemungkinan. Setiap langkah harus kau pikir masak-masak. Bukankah kau pernah terperosok ke dalam kesulitan karena kau berhubungan dengan Suro Sapi? Itu adalah suatu contoh bahwa ketergesagesaan itu tidak akan menguntungkan" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian sambil menegangkan lehernya ia berkata "Tetapi masalahnya bukan masalah yang dapat ditunda-tunda ibu. Kalau aku berselisih tentang tanah, tentang pategalan atau tentang ternak sekalipun, aku tidak akan demikian tergesagesa. Tetapi masalahnya adalah masalah seorang gadis" "Manguri" berkata ibunya "Sindangsari sudah menjadi isteri Ki Demang. Apakah kau masih juga berbicara tentang seorang gadis?" Wajah Manguri menjadi merah. Tetapi kemudian ia menjawab "Aku mencintainya ibu. Kali ini berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah aku sebut namanya. Semakin jauh Sindangsari daripadaku, aku menjadi semakin merasa kehilangan meskipun aku belumpernah memilikinya" "Apakah kau benar-benar jatuh cinta?" Manguri mengangguk "Perasaanku lain dari yang pernah tumbuh di hatiku terhadap gadis-gadis yang lain. Karena itu, meskipun Sindangsari bukan lagi seorang gadis, aku akan tetap berusaha untuk mengambilnya" "Kau benar-benar menjadi gila. Tetapi jangan tergesa-gesa" Manguri menganggukkan kepalanya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya "Baiklah ibu. Aku percaya bahwa ibu akan dapat menolong aku. Aku tidak mempersoalkan cara yang dapat ibu tempuh" Ibunya tidak menyahut. Tetapi iapun merasa kasihan melihat anaknya yang seakan-akan kehilangan segenap gairah masa mendatang. Bagaimanapun juga Manguri adalah anaknya. Anak yang dilahirkannya setelah dikandungnya sembilan bulan. "Mudah-mudahan dari hari kehari ia akan melupakannya" gumam ibunya sepeninggal Manguri "itu adalah penyelesaian yang paling baik. Mengambil gadis itu dari Ki Demang adalah pekerjaan yang sulit sekali, kecuali kalau dalam sebulan atau dua bulan anak itu tidak diperlukan lagi, dan dicerai oleh Ki Demang seperti isteri-isterinya yang lain" Ibu Manguri itu mengerutkan keningnya ketika terngiang kata-kata laki-laki yang datang kepadanya itu "Sindangsari tidak boleh melahirkan anak" Tetapi Nyai Sukerta, ibu Manguri itu mencibirkan bibirnya "Kalau ia melahirkan anak sekalipun, bukan anakkulah yang akan dirugikannya" Dan tiba-tiba saja melonjaklah sifat wanitanya "Persetan dengan isterinya. Mudah-mudahan Sindangsari mempunyai banyak anak, sehingga perempuan itu tidak memberi kesempatan orang lain menguasai jabatan Demang di Kepandak" Nyai Sukerta kemudian bangkit berdiri. Tetapi ia masih bergumam "Aku tidak peduli apapun yang akan terjadi. Tetapi aku berharap mudah-mudahan Manguri dapat melupakannya, meskipun aku harus menukarnya dengan sepuluh gadis sekalipun" Sementara ibu Manguri dibingungkan oleh anaknya laki-laki dan Kademangan Kepandak mulai riuh dengan persiapan untuk menerima sepasang Penganten dari Gemulung yang akan datang sore hari, maka seorang Perwira yang sudah agak lanjut usianya, sedang mencari-cari seseorang diantara anak-anak muda yang datang dari beberapa daerah Kademangan di sekitar kota Kerajaan Mataram. "Dimana anak-anak dari Kepandak di tempatkan?" bertanya perwira itu kepada bawahannya yang bertugas mengurusi anak-anak muda yang akan mendapat latihan-latihan keprajuritan. "Di sana Tuan. Mereka di tempatkan digandok rumah Ki Derpanala. Di sana ada tiga kesatuan. Satu diantaranya dari Kepandak" Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apakah tuan memerlukan seseorang?" Perwira itu menganggukkan kepalanya. "Apakah aku dapat memanggilnya?" "Aku akan datang sendiri ke tempat itu?" Perwira itupun kemudian pergi ke rumah Ki Derpanala untuk mencari tempat penampungan anak-anak muda dari Kepandak. "Aku mencari anak Gemulung. Namanya Pamot" berkata perwira itu. Sejenak kemudian maka Punta, tetua anak Gemulung telah membawa Pamot menghadap perwira yang mencarinya. Dengan hati yang berdebar-debar mereka, selangkah demi selangkah mendekati perwira yang masih berdiri di halaman bersama perwira yang mendapat tugas memimpin katiga pasukan anak-anak muda dari tiga Kademangan itu. "Tuan memanggil kami?" bertanya Punta. "Apakah kau bernama Pamot?" "Bukan aku tuan. Tetapi kawanku ini. Aku adalah tetua anak muda Gemulung. Barangkali tuan memerlukan kami berdua" Perwira itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Terima kasih. Tetapi ini adalah persoalan pribadi. Aku hanya memerlukan Pamot" "O" Punta menganggukkan kepalanya "apakah aku diperkenankan kembali ke tempat kami?" "Ya. Terima kasih" Puntapun kemudian meninggalkan Pamot sendiri dengan termangu-mangu. Ia sama sekali belum pernah melihat perwira itu, apalagi mengenalnya. "Aku memerlukannya sebentar" berkata perwira yang sudah agak lanjut usia itu kepada perwira yang bertanggung jawab atas anak-anak muda yang berada di halaman itu. "Silahkan" jawabnya. Pamotpun kemudian diajak duduk di tangga pendapa rumah yang besar itu. Dan tanpa membantah, Pamot hanya dapat mengikut inya dan kemudian duduk dengan kepala tunduk. "Kau datang dari Gemulung?" bertanya perwira itu. "Ya tuan" "Panggil aku Ki Dipajaya" "Ya Ki Dipajaya" "Aku baru saja mengunjungi bibimu" "Bibi?" Pamot menjadi heran "siapakah yang tuan maksud?" "Di Gemulung. Bukankah bibimu baru sibuk mengadakan peralatan pengantin?" Pamot menjadi bingung. "Aku adalah sahabat pamanmu. Di medan perang aku selalu bersama-sama. Pamanmu adalah prajuritku yang paling aku percaya" "Tetapi siapakah paman itu?" Ki Dipajaya menjadi heran "Coba ingat-ingatlah. Ada berapa orang pamanmu yang menjadi prajurit Mataram?" Sejenak Pamot mencoba mengingat-ingat. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya "Tidak seorangpun dari paman-pamanku yang menjadi prajurit" "Eh, kau masih semuda itu sudah menjadi pelupa. Aku baru saja mengunjungi bibimu. Bibimulah yang memberitahu kepadaku, bahwa kau ada disini" Pamot menjadi semakin bingung. "Baiklah kalau kau benar-benar sudah pikun. Aku baru datang mengunjungi bibimu meskipun aku dan beberapa orang kawan yang lain tidak diundang dalam peralatan perkawinan puterinya yang diperisteri oleh Ki Demang di Kepandak" Dada Pamot tiba-tiba berdesir. "Apakah kau ingat?" "Tetapi, tetapi" Pamot tergagap "isteri Ki Demang itu bernama Sindangsari" "Nah, kau akhirnya teringat juga. Ibu Sindangsarilah yang berkata kepadaku, bahwa seorang kemanakannya ada di dalam kelompok pengawal khusus dari Kepandak yang dibawa ke Mataram dalam persiapan perlawanan kami ke Barat" "O" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya masih saja bergolak. "Kenapa ibu Sindangsari itu menyebutku sebagai kemanakannya laki-laki?" pertanyaan itu melonjak-lonjak di dadanya. "Bibimu berkata kepadaku, bahwa ia menitipkan kau kepada bekas sahabat-sahabat pamanmu" perwira itu berkata selanjutnya "apakah kau tahu apa yang sudah dikerjakan oleh pamanmu?" Pamot yang menjadi semakin bingung itu tiba-tiba saja menggelengkan kepalanya sambil menjawab "Tidak tuan. Aku tidak tahu yang sudah dikerjakannya" "Pamanmu adalah prajurit yang luar biasa. Berani, tangguh dan tidak mementingkan keselamatan sendiri di peperangan" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi karena itulah maka ia gugur di peperangan" Pamot masih mengangguk-angguk. Tetapi di dadanyapun menjadi semakin berdebar-debar. "Sekarang ternyata kau mengikuti jejaknya. Agaknya karena Ki Wiratapa sendiri t idak mempunyai anak laki-laki Anaknya hanya seorang. Perempuan lagi" Pamot masih saja mengangguk-angguk. "Sayang, ia harus kawin dengan Ki Demang di Kepandak yang sudah pernah kawin untuk yang kesekian kalinya" "Kalau tidak salah, keenam kalinya" tanpa sesadarnya Pamot menyela. "Sayang sekali. Apakah kau, atau orang tuamu tidak diajak berbicara mengenai perkawinan itu?" Kini Pamot benar-benar kebingungan. Tetapi ia berusaha untuk menyesuaikan dirinya, sehingga jawabnya "Tetapi pembicaraan dengan keluarga yang lain itu sama sekali tidak menentukan" "Kenapa" "Kakek, nenek dan ibu Sindangsari sendiri sebenarnya tidak setuju atas perkawinan itu" "Apakah laki-laki itu pilihan Sindangsari sendiri?" "Juga bukan tuan" terasa kata-katanya menjadi semakin sendat "tetapi, bukankah Ki Demang di Kepandak mempunyai kekuasaan" Ki Dipajaya menarik nafas dalam-dalam. "Ya, kita memang pernah mendengar bahwa Ki Demang di Kepandak kakak beradik mempunyai ilmu yang tinggi. Dengan demikian, selain kekuasaanya sebagai seorang Demang, maka sudah tentu tidak seorangpun yang berani melawan kehendaknya sebagai orang yang tidak terkalahkan di Kepandak" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi di dalam hati ia bertanya Apakah seandainya ada orang yang mengalahkannya, secara pribadi, hal itu akan dapat menolong Sindangsari?" Namun kemudian dijawabnya sendiri "Itupun tidak. Ayah Manguri mempunyai apa saja. Lamat pasti tidak akan dapat dikalahkan oleh Ki Demang. Selain itu uang. Tetapi Manguri tetap tidak dapat merebut Sindangsari" "Tetapi bagaimanapun juga, perkawinan itu kini sudah berlangsung, desis Ki Dipajaya. "Ya" sahut Painot dengan suara parau. Sekilas terkenang olehnya, peristiwa yang telah membebani perasaannya sampai saat ini, bahkan mungkin tidak akan terhapus dari hatinya. Saat-saat ia lupa akan dirinya, sehingga terjadilah perbuatan yang terkutuk itu. Dan kini Sindangsari telah menjadi isteri Ki Demang di Kepandak. "Apakah yang akan dialami oleh anak itu, apabila Ki Demang dengan cara apapun dapat mengetahui, bahwa hal itu sudah terjadi? Apakah mungkin Sindangsari akan dicekik sampai mati?" Hati Pamotpun kemudian menjadi gelisah karenanya. Tetapi ia kini tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. "Seandainya hal itu terjadi, itu adalah karena salahku" katanya di dalam hati. Pamot terkejut ketika ia mendengar Ki Dipajaya berkata kepadanya "Nah Pamot, biarlah perkawinan yang sudah terjadi itu berlangsung terus. Mudah-mudahan anak pamanmu itu menemukan kebahagiaannya" Ki Dipajaya berhenti sejenak, lalu "sekarang, bagaimana dengan kau? Apakah kau ingin menjadi seorang prajurit seperti pamanmu, atau kau ingin tetap dalam keadaanmu sekarang, Pasukan sukarela dari anak-anak muda Kademangan Kepandak di samping anakanak muda dari Kademangan-Kademangan yang lain?" Pamot menjadi bingung mendapat pertanyaan itu. Ia tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan, sehingga jawabnya "Tuan, aku menjadi bingung dengan pertanyaan itu". Ki Dipajaya tersenyum. Katanya kemudian "Tentu, karena kau tidak bersedia menerima pertanyaan itu. Tetapi jawabnya tidak tergesa-gesa kau ucapkan sekarang. Kau masih mempunyai waktu. Aku akan tetap berada diantara kelompokkelompok anak-anak muda yang akan bertugas sebagai prajurit-prajurit yang akan melawat ke Barat, karena aku adalah sebagian dari prajurit-prajurit Mataram yang ditugaskan untuk itu" Pamot menundukkan kepalanya. Jawabnya lirih "Ya tuan Aku akan mencoba berpikir untuk beberapa saat" "Baiklah. Tetapi aku berharap bahwa aku dapat membantumu. Tentu saja untuk kebaikanmu. Sebagai seorang prajurit seseorang memang harus memiliki bekal yang cukup" Ki Dipajaya berhenti sejenak, lalu "di dalam latihan-latihan yang akan segera diadakan aku akan segera melihat, apakah kau mempunyai bekal jasmaniah dan rokhaniah untuk menjadi seorang prajurit apabila kau kehendaki" "Ya tuan" jawah Pamot "Tetapi, sebagai sahabat Ki Wiratapa, aku ingin melihat kemampuanmu dalam saat-saat yang khusus. Untuk tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan pada kawan-kawanmu dan juga anak-anak muda dari Kademangan yang lain, sebaiknya kita mencari tempat yang lain" "Maksud tuan?" Perwira itu tersenyum "Sebenarnya aku merasa berhutang budi kepada pamanmu. Bukan aku saja, tetapi beberapa orang yang saat itu bersama-sama bertempur dalam suatu arena yang sempit yang merupakan bagian kecil dari seluruh pertempuran yang terjadi" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hanya dengan cara itulah aku dapat membalas budi pamanmu yang telah mendahului kami itu. Selanjutnya apabila kau kehendaki aku akan berusaha menempatkan kau sebagai seorang prajurit. Sudah tentu melalui cara-cara yang dimungkinkan, dan dengan syarat-syarat yang dapat kau penuhi" Pamot tidak dapat menyahut untuk sesaat. Ia belum mempunyai gambaran yang jelas, apakah yang sebenarnya sudah terjadi atasnya dan kesempatan yang terbuka baginya. Pamot mengangkat wajahnya ketika ia merasa punggungnya ditepuk oleh perwira yang bernama Dipajaya itu. Sambil berdiri ia berkata "Kau masih mempunyai kesempatan berpikir" "Ya Tuan" jawab Pamot terbata-bata. "Nah, cobalah mempertimbangkan" Dipajaya berhenti sejenak lalu "sekarang, aku mempunyai keperluan yang lain. Kalau pada suatu saat kau mendapat keputusan, katakanlah kepadaku" "Ya tuan. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih atas perhatian tuan" Dipajaya tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata "Kalau kau bersungguh-sungguh, aku melihat kemungkinan-kemungkinan yang baik buat hari depanmu" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sekali lagi ia hanya dapat berkata "Terima kasih tuan" Ketika Dipajaya kemudian meninggalkannya. Pamot tanpa sesadarnya terduduk kembali di tempatnya. Ia terperanjat ketika seseorang dengan tiba-tiba saja telah duduk di sampingnya. "Kau Punta" Punta mengangguk "Siapakah perwira itu?" ia bertanya. "Ki Dipajaya" "Dimana kau mengenalnya?" "Aku belum pernah mengenalnya. Baru kali ini aku melihatnya" "Apa perlunya ia mencari kau?" "Itulah yang aneh bagiku. Agaknya ia baru saja menghadiri perkawinan Sindangsari" "O" "Tetapi itu tidak penting. Yang aneh bagiku, kenapa ibu Sindangsari berkata kepada Ki Dipajaya, bahwa aku, salah seorang pengawal khusus dari Kepandak, adalah kemenakannya" "He?" Punta mengerutkan keningnya. "Aku tidak tahu maksud ibu Sindangsari. Namun dengan demikian, aku mendapatkan perhatian khusus dari Ki Dipajaya, karena Ki Wiratapa, ayah Sindangsari adalah kawan Ki Dipajaya di peperangan ketika pasukan Mataram dan pasukan dari pantai Utara melakukan serangan pertama gelombang kedua ditahun yang lalu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa bahwa sebenarnya Pamot telah berhasil mengadakan hubungan batin dengan keluarga Sindangsari. Hanya karena kekuasaan Ki Demang sajalah, maka hubungan antara Pamot dan Sindangsari itu harus dipisahkan. "Lalu, apa saja yang dikatakannya?" bertanya Punta pula. Dengan singkat Pamot mengatakan, tawaran yang sudah diberikan oleh Ki Dipajaya seandainya, ia ingin memasuki lapangan keprajuritan seperti ayah Sindangsari. Punta masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata "Kau mempunyai kesempatan Pamot. Pikirkanlah baik-baik. Ternyata bahwa hari depan masih menyimpan banyak kemungkinan. Kegagalan pada satu segi, akan dapat diimbangi dengan kemungkinan lain yang mungkin lebih baik" Pamot tidak menjawab. Tetapi kepalanya teranggukangguk kecil. Sejenak kemudian maka keduanyapun segera kembali ke tempat mereka, diantara anak-anak Kepandak yang lain. Kepada kawan-kawannya Pamot dan Punta hanya mengatakan, bahwa perwira itu adalah seorang yang pernah mengenal keluarga Pamot. Mereka tidak mengatakan tentang ibu Sindangsari dan tawaran-tawaran yang telah diterimanya. Namun ketika matahari terbenam di ujung Barat, dan anakanak muda itu kemudian telah terbaring di tempat masingmasing diatas tikar yang begitu saja dibentangkan diatas lantai. Pamot mulai dibayangi oleh berbagai angan-angan tentang dirinya sendiri. Tentang hari depannya, tentang pesan ibu Sindangsari kepada Ki Dipajaya dan terkilas pula bayangan Sindangsari yang duduk bersanding dengan Ki Demang di Kepandak. Pamot yang menjadi gelisah itu mencoba untuk menghapus bayangan-bayangan itu. Sekali ia miring kekanan, kemudian miring kekiri. Bahkan kemudian ia menelungkupkan tubuhnya sambil menyembunyikan wajahnya diantara tangannya yang bersilang. Tetapi bayangan itu tidak juga dapat hilang dari kepalanya. Akhirnya Pamot tidak dapat lari lagi. Ia terpaksa menelusuri dunia yang lain, yang hanya ada di dalam angan-angannya itu. Sehingga perlahan-lahan ia justru menelentangkan dirinya sambil menatap langit-langit. Pada malam itu juga, di Kademangan Kepandak memang sedang berlangsung upacara ngunduh penganten. Penganten perempuan telah dibawa oleh suaminya, ke rumahnya. Penganten perempuan dengan demikian akan terpisah dari keluarganya sendiri, mengikuti suaminya sebagai seorang isteri. Sebagai seorang yang sepenuhnya akan mengurusi rumah tangga sendiri. Ketika iring-iringan penganten mulai bergerak meninggalkan rumah Sindangsari, maka ia tidak dapat menahan lagi titik-titik air yang mengambang di pelupuknya membasahi pipinya. Bagaimanapun juga ia mencoba pasrah diri, tetapi terasa hatinya meronta. "Jangan menangis Sari" bisik ibunya "kau adalah orang yang sedang berbahagia hari ini. Lihatlah, beberapa hari sebelum berlangsung perkawinan ini, berapa orang yang telah bekerja dengan sibuknya. Berapa ratus orang yang sudah tergerak untuk mengunjungi peralatan ini, di hari-hari perkawinan dan di hari-hari yang akan datang di rumah Kademangan. Semuanya itu sekedar menghormati kau. Menghormati hari-hari bahagiamu" Sindangsari tidak menjawab. Dengan ujung jarinya ia mengusap titik air di sudut matanya. "Senyumlah. Semua tamu akan tersenyum pula" Sindangsari mengangguk-angguk. Tetapi ia sama sekali tidak tersenyum. Ketika tanpa sesadarnya ibu Sindangsari memandang wajah menantunya, tampaklah wajah itupun menjadi suram. Bukan wajah seorang lalaki yang meskipun dengan cara apapun, berhasil mengawini seorang perempuan yang dikehendaki. Akhirnya, dengan luka-luka di dalam hati, Sindangsaripun berjalan di samping Ki Demang di Kepandak, meninggalkan halaman rumahnya menuju ke Kademangan. Sorak sorai anak-anak Gemulung yang melihat iring iringan itu serasa air yang tersirampada luka di hati. Semakin pedih. Dalam kesuraman senja, arak-arakan penganten itu menyelusuri jalan di Gemulung menuju ke Kademangan Kepandak. Ki Demang sengaja merencanakan iring iringan itu berjalan kaki disenja hari, sesuai dengan saat yang telah dipilih oleh orang-orang tua. Tetapi juga suatu cara dari Ki Demang untuk membuat Kadema-ngannya menjadi sangat meriah. Jalan-jalan yang akan dilewati oleh sepasang penganten itu menjadi ramai seperti hari-hari merti desa. Bahkan melampaui. Di setiap regol terpasang obor-obor yang besar untuk menerangi jalan. Di simpang-simpang t iga dan simpang empat. Setiap tikungan dan bahkan hampir di setiap jengkal. Ikut dalam iring-iringan itu, selain orang-orang tua yang mewakili keluarga dari kedua belah pihak, ikut pula Ki Reksatani, Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu Kademangan yang lain. Namun demikian beberapa orang sempat memperhatikan wajah kedua pengantin yang berjalan perlahan-lahan itu. Seorang perempuan muda menggamit kawannya sambil berbisik "He, wajah-wajah kedua pengantin itu begitu suram seperti suramnya senja ini" "Sudah tentu, Bukankah Sindangsari tidak mencintai Ki Demang di Kepandak. Gadis itu mencintai kawan se padukuhannya. Kau kenal Pamot bukan?" Jangan sebut gadis. Ia bukan gadis lagi. Ia sudah bersuami sejak lima hari yang lalu" "Ah kau" desis kawannya, kemudian "dan sekarang Pamot itu sudah pergi. Ia ikut bersama anak-anak muda yang lain ke Mataram" "Ya, aku sudah tahu. Tetapi lihat, wajah Ki Demangpun tampak begitu suram" "Tentu ia kecewa, isterinya tidak menjadi gembira dalam hari-hari perkawinan" "Bukankah hal itu sudah diketahuinya" "Kalian salah nak" terdengar suara perempuan tua yang berdiri di belakang mereka. Kedua perempuan yang sedang berbincang itu terkejut, sehingga serentak merekapun berpaling. "Ah bibi" desis perempuan muda itu. "Setiap kali Ki Demang kawin, wajahnya selalu muram. Aku pernah melihat ia kawin beberapa kali. Seperti kalian, akupun selalu memperhatikan wajahnya. Dan wajah itu selalu muram" perempuan tua itu berhenti sejenak, lalu "ketika ia kawin untuk yang keempat dan kelima kalinya, wajah isterinya berseri-seri seperti anak-anak yang akan mendapat berbahagia, bahwa mereka akan menjadi Nyai Demang di Kepandak. Tetapi pada saat itu wajah Ki Demangpun semuram wajahnya kini" Kedua perempuan yang mendengarkannya menganggukanggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak sempat menjawab, karena iring-iringan penganten itu sudah lawat sampai orang yang terakhir sehingga orang-orang yang berdiri di pinggir jalanpun telah mulai bubar, meninggalkan tempatnya, masingmasing. Hanya beberapa orang anak-anak sajalah yang mengikut i iring-iringan itu sambil berteriak-teriak. Demikianlah, maka setelah mereka berjalan beberapa saat, melampaui beberapa padukuhan, akhirnya merekapun memasuki padukuhan Kepandak. Padukuhan ini tampak lebih meriah dan ramai dari padukuhan-padukuhan lainnya. Apalagi senja telah disabut oleh gelapnya malam yang menjadi semakin kelam. Maka cahaya obor yang kemerah-merahan membuat suasana menjadi semakin hidup. Bukan saja orang-orang yang akan menyaksikan penganten yang sedang diarak itu sajalah memenuhi jalan: tetapi orangorang yang berjualanpun telah berderet berjajar di sekitar halaman Kademangan. Di pendapa Kademangan memang sudah dipersiapkan upacara penyambutan penganten, yang akan segera diteruskan dengan keramaian dan pertunjukan semalam suntuk tiga malam berturut-turut Tetapi semuanya itu sama sekali tidak mempengaruhi hati Sindangsari yang gelap. Disepanjang jalan, ia hanya sempat merenungi dirinya sendiri. Ia tidak melihat sama sekali, kawan-kawannya melambai-lambaikan tangannya kepadanya. Dan ia tidak melihat orang-orang tua tersenyum sambil bergumam "Sindangsari memang gadis yang cantik sekali" Demikianlah maka upacara yang diselenggarakan di Kademanganpun sama sekali tidak menggerakkan hatinya. Ia berbuat apa saja yang harus dilakukan dengan hati yang kosong. Kemudian dengan hati yang kosong pula ia duduk di tengah-tengah ruang dalam bersanding dengan Ki Demang. Sejak ia memasuki halaman, kepalanya selalu tertunduk dalam-dalam, sehingga ia tidak melihat siapa saja yang berada di pendapa menghormati kehadirannya. Upacara yang berlangsungpun sama sekali tidak menarik perhatiannya. Ia tidak mendengar jelas kalimat demi kalimat, bagaimana wakil dari orang tuanya menyerahkannya kepada keluarga suaminya yang diterima oleh seorang yang telah ubanan dan berkumis putih pula. Debar dijantungnya menjadi semakin keras berdentang ketika upacara-upacara semuanya telah lalu. Oleh dua orang perempuan setengah baya ia digandeng memasuki bilik yang sudah disediakan. Kemudian masuklah seseorang yang tadi telah meriasnya. "Kau terlampau lelah nak" katanya "karena itu segeralah beristirahat. Tetapi sebaiknya kau bertukar pakaian dan melepas pakaian pengantenmu" Sindangsari tidak menyahut. Seperti golek kayu ia menurut saja apa yang harus dilakukannya dan diperlakukan atasnya oleh juru riasnya. Ketika juru riasnya itu sudah selesai melepas perhiasanperhiasan pengantinnya, dan kini ia sudah berpakaian yang lebih sederhana, maka perempuan setengah baya yang membawanya berkata "Nah, sekarang kau boleh beristirahat. Kau dapat berbuat sesuka hatimu disini ngger. Rumah ini adalah rumahmu. Dada Sindangsari berdesir mendengar kata-kata itu. Rumah ini adalah rumahnya. Dan ia dapat berbuat sekehendaknya di rumah ini. "Nah, kalau kau ingin beristirahat, beristirahatlah. Tetapi kalau kau ingin melihat tontonan di pendapa, itupun akan lebih baik, karena kau akan segera berkenalan dengan orangorang terdekat dari Ki Demang, dan perempuan-perempuan yang akan menjadi tetanggamu nanti" Semuanya itu terdengar aneh ditehnga Sindangsari Ia akan berkenalan dengan perempuan yang dekat dengan Ki Demang. Mungkin dengan keluarga dan saudara-saudaranya. Juga dengan perempuan-perempuan yang akan menjadi tetangganya. Belum lagi ia menemukan ketenangannya, tiba-tiba seorang perempuan masuk sambil menggendong seorang bayi dan menggandeng seorang anak laki-laki. Perempuan-perempuan yang sudah ada di dalam ruangan itu segera berdiri dan mempersilahkannya dengan hormat. Tanpa sesadarnya Sindangsaripun berdiri pula dan membungkukkan kepalanya seperti perempuan-perempuan yang lain. "Ah mBok Ayu" perempuan itu berkata "aku adalah adikmu" Sindangsari menjadi terheran-heran. Perempuan itu pasti sudah labih tua daripadanya. Apalagi ia sudah mempunyai beberapa orang anak. Tetapi ia menyebut dirinya sebagai adiknya. Selagi Sindangsari terheran-heran, perempuan itu tertawa "Aku memang ingin memperkenalkan diriku. Kita akan segera menjadi keluarga terdekat. Aku adalah isteri Ki reksatani adik Ki Demang di Kepandak. Bukankah aku harus menyebut mBok Ayu kepadamu? Sejenak Sindangsari tidak dapat mengatakan sesuatu. Dipandanginya Nyai Reksatani itu sejenak, kemudian perempuan-perempuan lain yang ada di dalam bilik itu. "Kau adalah mBok Ayuku yang paling cantik yang pernah aku kenal" berkata Nyai Reksatani kemudian "Aku sudah mengenal lima, dan kini menjadi enam orang isteri kakang Demang. Tetapi kau adalah isteri yang paling cantik dan muda. Mungkin karena kau sudah lama hidup di kota, sehingga kau mempunyai beberapa kelebihan dari perempuan-perempuan desa. Sindangsari menjadi semakin bingung. Hanya karena keinginannnya untuk menanggapinya ia mengangguk kecil sambil berkata "Ah, akupun seorang gadis desa" "He" sahut Nyai Reksatani "kau bukan seorang gadis lagi" Dada Sindangsari berguncang mendengar jawaban itu. Tetapi Nyai Reksatani melanjutkan "Kau sekarang menjadi Nyai Demang di Kepandak. Biasakan dengan sebutan itu Nyai Demang" Sindangsari tidak segera dapat menyahut. Apalagi ketika ia melihat Nyai Reksatani itu kemudian tertawa berkepanjangan. Katanya kemudian "Apakah sebutan itu janggal di telingamu? Memang mula-mula kau akan merasa janggal. Mungkin kau labih senang disebut Rara Sindangsari. Tetapi nama itu harus kau simpan. Namamu kemudian adalah Nyai Demang di Kepandak" Bukan saja Nyai Reksatani yang kemudian tertawa, tetapi kedua perempuan separo baya itupun tersenyumpula. "Nah mBok Ayu. Biasakan dengan rumah ini. Rumah ini memang pernah dihuni oleh lima orang perempuan isteri kakang Demang berganti-ganti. Aku mengenal mereka semuanya dengan baik. Tetapi memang tidak seorangpun yang secantik itu" Nyai Reksatani terdiam sejenak lalu "Namun demikian mereka adalah perempuan-perempuan yang baik. Mereka segera kenal dengan seisi rumah ini tanpa malu-malu. Meskipun kemudian menjadi Nyai Demang di Kepandak, tetapi mereka tetap rendah hati. Dengan senang hati mereka pergi ke dapur. Membantu para pembantu dan para tetangga yang sibuk menyiapkan hidangan bagi tamu seperti malam ini Mereka tidak perlu dilayani secara khusus di dalam bilik seoerti seorang permaisuri. Tiba" tiba saja dada Sindangsari bergejolak. Ia tidak mengerti maksud Nyai Reksatani Sekilas memang terasa semua itu sebagai suatu sindiran. Kedua perempuan separo baya itu kini sudah tidak tersenyum lagi. Bahkan juru rias yang masih ada di dalam bilik itupun mengerutkan keningnya. "Eh, agaknya aku terlampau banyak berbicara" berkata perempuan yang mendukung anaknya itu "kalau mbok Ayu memang belum selesai silahkanlah. Aku akan melanjutkan kerjaku" ia berhenti sejenak, lalu "t idak, akupun tidak berbuat apa-apa. Aku hanya sekedar mempersilahkan para tamu untuk duduk di pendapa" Sindangsari masih berdiri seperti patung. "Selama ini aku tidak sempat ikut kakang Reksatani ke Gemulung. Aku terpaksa mengurusi rumah ini selama persiapan hari-hari yang meriah ini. Sindangsari masih tetap berdiam diri. Bahkan mulutnya kini serasa terbungkam. Sambil tertawa pendek Nyi Reksatani segera melangkah keluar. Namun ia masih sempat berkata "Kali ini kakang Demang mendapatkan seorang isteri yang lain. Isteri yang berasal dari kota. Tetapi barangkali memang isteri semacam inilah yang dicarinya selama ini. Dan Kademangan ini akan segera menjadi segar oleh sekuntum bunga yang indah. Bunga perhiasan" Hati Sindangsari serasa tergores oleh tajamnya sembilu. Ia tidak menyangka bahwa di hari pertama ia tinggal di rumah suaminya ia telah mengalami perlakuan yang menyakitkan hati. Tetapi sepeninggal Nyai Reksatani, perempuan yang sudah separo baya itu berkata lirih "Jangan hiraukan. Aku tidak mengerti kenapa Nyai Reksatani tiba-tiba saja berubah. Sebenarnya ia adalah perempuan yang baik. Ia tidak pernah bersikap sekasar itu kepada siapapun juga. Apalagi kepada orang yang baru saja dikenalnya" Dan perempuan yang lain menyambung "Mengherankan sekali. Tetapi sebagai seorang perempuan ia mungkin sekali menjadi iri melihat kau ngger. Bukan maksudku menyindir seperti Nyai Reksatani, tetapi kau memang cantik sekali. Jauh lebih cantik dari Nyai Reksatani itu sendiri" "Ah" Sindangsari hanya dapat berdesah. "Aku berkata sesungguhnya. Bertanyalah kepada juru paes yang sudah beratus kali merias penganten di Kepandak ini. Aku yakin bahwa ia belum pernah menjumpai penganten secantik kau" "Jangan memuji bibi" jawab Sindangsari kemudian "tetapi aku kira sikapku memang telah memuakkan bagi Nyi Reksatani. Sebaiknya aku memang pergi ke dapur" "O. tentu tidak. Jangan pergi ke dapur. Itu tidak perlu sama sekali. Bukan hanya Nyai Reksatani saja yang pernah melayani penganten disini sampai enam kali. Akupun selalu ada di rumah ini kalau Ki Demang kawin. Bahkan Nyai Reksatani termasuk orang baru pula di dalam keluarga Ki Demang. Ia termasuk keluarga Ki Demang setelah ia kawin dengan Ki Reksatani" "Tetapi, tetapi apakah aku tidak menjadi terlampau manja dengan sikapku sekarang ini?" "Tidak, tidak. Kau terlampau baik. Percayalah. Bukan seharusnya kau pergi ke dapur. Kalau kau mau keluar dari dalam bilik ini, pergilah ke pendapa. Kau akan segera mengenal perempuan-perempuan di sekitarmu" "Tetapi.." Sindangsari menjadi ragu-ragu. "Jangan hiraukan Nyai Reksatani. Kaulah yang mempunyai wewenang disini. Kau dapat berbuat sesuka hatimu. Tidak ada orang lain yang lebih berkuasa daripada kau disini, selain Ki Demang itu sendiri. Dan Ki Demang itu adalah suamimu. Sadari ini" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Beruntunglah ia bahwa di rumah ini ada perempuan yang sudah agak lanjut usia yang baik hati. "Jadi. Apakah kau akan pergi ke pendapa?" bertanya salah seorang dari mereka. Tanpa sesadarnya Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Marilah, aku akan mengantarmu. Aku akan berbuat sesuatu kalau Nyai Reksatani masih saja menyindir-nyindir kau" Sindangsari mengangguk pula. Karena itu, maka diantar oleh kedua perempuan itu Sindangsari keluar dari dalam biliknya. Sedang juru paesnya masih membenahi beberapa macam perhiasan dan pakaian penganten yang baru saja dilepasnya. Ketika Sindangsari melangkahi pintu pendapa, semua orang berpaling ke arahnya. Di sebelah kiri beberapa orang laki-laki memandangnya dengan penuh perhatian. Sekali-sekali mereka berpaling kepada Ki Demang yang duduk diantara mereka. Kemudian kepada mempelai perempuan itu. Tetapi sejenak kemudian Sindangsaripun dibawa masuk kembali. Di pringgitan Sindangsari duduk diantara beberapa orang perempuan. Diantara mereka terdapat beberapa orang yang masih ada sangkut-paut kekeluargaan dengan Ki Demang, sedang yang lain adalah isteri para bebahu Kademangan dan beberapa orang tetangga. Kehadiran Sindangsari mereka sambut dengan riuhnya. Beberapa orang yang masih termasuk muda. segera menyapanya dan memperkenalkan diri mendahului orang tuatua. "Kami merasa senang sekali bahwa di rumah Kademangan ini akan segera menjadi segar kembali. Manguri t idak segera menjawab. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di hadapan ibunya. Beberapa saat Kademangan ini terasa sepi, karena tidak ada seseorang yang mendampingi Ki Demang di Kepandak. "Sebentar lagi rumah ini pasti akan bercahaya, karena di dalamnya akan tinggal seorang isteri yang cantik" berkata seseorang. Kawan-kawannyapun mengangguk-anggukkan kepala mereka sambil menyambung "Ya, tentu. Tentu" Sindangsari tahu benar, bahwa mereka hanya sekedar berkelakar. Nadanya agak berlainan dengan nada ucapan Nyai Reksatani. Itulah sebabnya ia mencoba untuk tersenyum menanggapi kata-kata itu. Namun betapa hatinya yang pedih menjadi bertambah pedih. Orang-orang tuapun kemudian menyebut dirinya masingmasing. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang tampaknya baik hati dan bersikap jujur terhadapnya. "Mudah-mudahan kau kerasan tinggal di rumah ini" berkata seorang tua yang sudah tidak bergigi lagi. "Mudah-mudahan" suara Sindangsari hampir t idak terdengar. "Aku adalah tetanggamu yang terdekat" orang tua itu melanjutkan "rumahku adalah rumah di sebelah rumah Ki Demang ini. Memang masih ada hubungan keluarga meskipun sudah agak jauh. Kalau kau memerlukan sesuatu panggillah aku" "Terima kasih" jawab Sindangsari "aku akan selalu minta pertolongan dan petunjuk" Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaknya ia masih akan berbicara, namun kemudian diurungkannya. Dalam pada itu di luar suara gamelan telah menggelagar diantara suara riuh anak-anak di sekitar pendapa. Mereka menunggu pertunjukan yang akan diselenggarakan di pendapa. Beberapa orang penari terbaik dari Kademangan kepandak akan mempertunjukkan beberapa jenis tari-tarian, yang diambil dari lakon Panji Asmarabangun. Pertunjukan itu tidak akan diselenggarakan di pendapa tetapi justru di halaman, mengitari lampu obor yang terpancang pada sebuah ajug-ajug. Halaman rumah Ki Demang itu semakin malam menjadi semakin riuh. Anak-anak yang berlari-larian sambil berteriak-teriak tidak henti-hentinya bersimpang-siur silang menyilang. Para penjual makanan duduk terkantuk-kantuk sambil menunggui dagangan mereka. Sekali-sekali mereka terkejut oleh anak-anak yang menyodorkan uang mereka untuk membeli beberapa jenis makanan. Riuhnya anak-anak di halaman. Serasa membuat hati Sindangsari semakin kisruh. Tetapi diantara perempuanperempuan yang ada di pringgitan Sindangsari merasakan sikap-sikap yang baik dan hormat kepadanya, sebagai seorang isteri Demang. Meskipun Sindangsari tidak tahu, apa yang tersimpan di hati mereka, namun menilik sikap dan kata-kata mereka, mereka sama sekali tidak berpura-pura. "Agaknya hanya Nyai Reksatani sajalah yang bersikap lain terhadapku" desis Sindangsari di dalam hatinya. Ketika pertunjukan di luar kemudian dimulai, tamu-tamu perempuan di pringgitan seorang demi seorang mulai meninggalkan pertemuan. Mereka sebagian adalah orangorang yang sehari-harian sudah menunggui rumah Ki Demang dan menyiapkan peralatan perkawinan itu. "Kita akan selalu berhubungan di setiap hari" orang tua yang sudah tidak bergigi itu berkata kepada Sindangsari sambil minta diri. "Ya, aku mengucapkan diperbanyak terima kasih" "Jangan malu-malu dan jangan segan. Aku senang sekali mempunyai seorang tetangga yang cantik sekali" Kemudian ia berbisik "Belum pernah ada seorang perempuan secantik kau tinggal di rumah ini. Meskipun kelima puteri Ki Demang yang terdahulu, termasuk perempuan-perempuan yang cantik di Kademangan ini, tetapi mereka adalah orang-orang desa ini pula. Sebagian dari mereka menjadi mabuk karena kesempatan mereka menjadi Puteri seorang Demang. Mereka bersikap aneh dan berlebih-lebihan. Tetapi kau adalah perempuan yang cant ik dan luruh" "Ah" Sindangsari berdesah. "Umurku menjelang tiga perempat abad. Aku sudah mengenal banyak sekali orang-orang dengan segala macam wataknya. Pertemuan ini menunjukkan kepadaku, bahwa kau seorang yang baik meskipun kau mempunyai banyak kelebihan. Bukankah sudah lama kau tinggal di kota" Wajah Sindangsari menjadi merah. Tetapi ia berterima kasih kepada Tuhan, bahwa di dalam kepahitan hidupnya, ia telah dipertemukan dengan orang-orang tua yang baik. Di rumah ini ia berada jauh dari orang-orang tuanya. Ibu, kakek dan neneknya yang kadang-kadang masih menganggapnya sebagai seorang gadis kecil. Yang kadang-kadang masih membelai keningnya dan rambutnya. "Aku harus mendapatkan ganti orang-orang tuaku" katanya di dalam hati. Maka sejenak kemudian pringgitan itu menjadi semakin sepi. Mereka yang tidak minta diri untuk pulang ke rumah masing-masing, telah pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan bagi para tamu dan para penari. Akhirnya Sindangsaripun bertanya kepada kedua orangorang tua yang mengawaninya "Apakah aku sudah boleh beristirahat?" "Tentu. Tentu. Kau dapat berbuat sesuka hatimu. Orangorang lainlah yang harus menyesuaikan dirinya. Seandainya kau masih menghendaki orang-orang lain duduk di pringgitan, kau berhak memanggilnya. Bahkan kau dapat menentukan apa yang harus mereka lakukan di rumah ini" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mempercayai mereka. Tetapi belum lagi Sindangsari meninggalkan tempat itu, Nyai Reksatani tiba-tiba telah masuk ke pringgitan. Kali ini ia sudah tidak lagi menggendong anaknya. "Ah lelahnya" ia berdesah sambil duduk di sebelah Sindangsari yang justru sudah hampir berdiri "berapa hari aku bekerja keras di rumah ini. Akulah yang seolah-olah menjadi penanggung jawab dari peralatan ini, atau bahkan seolah-olah akulah yang telah menyelenggarakan peralatan" Sindangsari tidak menyahut. Dipandanginya wajah kedua orang tua yang mengawaninya itu sejenak, namun kemudian ia menundukkan kepalanya. "Malam ini barulah malam yang pertama" desis Nyai Reksatani kemudian "masih ada dua malam lagi. Oh, tanganku sudah serasa patah" tiba-tiba ia berpaling kepada Sindangsari "mBok Ayu. Semuanya ini sekedar untuk merayakan hari perkawinanmu. Semua orang yang sibuk tanpa henti hentinya selama beberapa hari ini semata-mata karena kau" Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi ia sama sekali tidak dapat menjawab. Mulutnya serasa terbungkam dan hatinya menjadi semakin bergejolak. "Nyai Reksatani" orang tua yang mengawani Sindangsari itulah yang menyahut "bukankah sudah sewajarnya demikian? Aku misalnya, Aku adalah seorang anggauta keluarga besar dari Ki Demang di Kepandak, meskipun hubungan darah itu sudah jauh. Aku berbuat seperti apa yang aku lakukan sekarang ini oleh kehendakku sendiri" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya. Katanya "O, tentu. Tentu. Semuanya melakukannya atas kehendak mereka masing-masing. Maksudku, agar mBok Ayu itu mengetahui, apa saja yang sudah dilakukan orang untuknya. Apakah dengan demikian ia akan dapat menutup mata dan tinggal saja duduk merenung?" "Maksudmu Nyai?" bertanya perempuan yang lain. Nyai Reksatani tidak segera menjawab. Ditatapnya perempuan itu sejenak, lalu "Tidak. Aku tidak bermaksud apaapa" Sindangsari menjadi semakin tidak senang mengalami perlakuan itu. Tetapi ia tidak perlu mengucapkan sendiri, karena seakan-akan mengetahui apa yang terkandung di dalam hatinya, perempuan tua yang mengawaninya itu berkata "Bukan salah Nyai Demang. Ia tidak mengharapkan apa-apa. Bukankah ia orang baru disini?. Kalau hal ini perlu disinggung-singgung maka katakanlah saja kepada Ki Demang, atau Ki Reksatanilah yang harus mengatakan, bahwa Ki Demang harus berterima kasih kepada semua orang yang menjadi sangat lelah karenanya, sehingga ia tidak akan dapat menutup mata" "Ah kau" potong Nyai Reksatani "bukan itu maksudku. Kau salah menangkap maksud kata-kataku" Perempuan tua itu mengerutkan keningnya. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa orang-orang di sekitar ini memang orang-orang yang baik. Mereka dengan senang hati membantu peralatan ini" Perempuan-perempuan tua itu tidak menjawab lagi. Salah seorang dari mereka berkata "Marilah. Kau perlu beristirahat" "Beristirahatlah" Nyai Reksatani menyahut "biarlah aku sendiri yang menyelesaikan urusan dapur dan para tamu itu" Sindangsari menjadi bingung. Tetapi perempuanperempuan itu kemudian membimbingnya dan membawanya masuk ke ruang dalam, kemudian langsung ke biliknya. Nyai Reksatani memandang langkah Sindangsari sambil mencibirkan bibirnya. Iapun kemudian pergi meninggalkan pringgitan. Di depan pintu ia berpapasan dengan suaminya. Ki Rekstani. "Apakah perempuan itu nampaknya akan kerasan tinggal disini?" bertanya laki-laki itu. "Aku belumtahu" jawab isterinya. "Usahakan, agar ia mendapat kesan yang jelek untuk pertama kali ia tinggal disini. Buatlah anak itu marah, atau sakit hati atau menangis atau apapun. Kesan yang pertama kali bagi seseorang di tempat tinggalnya yang baru sangat berpengaruh baginya untuk seterusnya" Sekali isterinya mengangguk. Ki Reksatanipun kemudian melangkah pergi sambil berkata "Aku masih harus mengawasi orang-orang yang menyediakan minuman" "Kenapa kakang sendiri yang melakukannya? Apa tidak ada orang lain" "Itu lebih baik bagiku daripada aku harus duduk di pendapa terus-menerus. Aku menjadi sangat lelah. Biarlah Ki Jagabaya menemani kakang Demang disana. Aku akan menunggui orang-orang di belakang sambil tidur" ia berhenti sejenak, lalu "he, apakah nasi sudah masak" Isterinya mengangguk. "Aku lapar. Sediakan makanku. Aku akan makan di belakang. Aku tidak tahan menunggu makan bersama para tamu nanti tengah malam. Jangan lupa. brutu ayam" Ki Reksatani itupun kemudian meninggalkan isterinya berdiri termangu-mangu. Ternyata tugas yang dibebankan suaminya kepadanya itu cukup berat baginya. Apalagi ketika ada orang-orang lain yang mencampuri persoalannya. Kedua perempuan tua itu telah mengganggu usahanya untuk membuat Sindangsari gelisah dan sakit hati. Untunglah bahwa Nyai Reksatani tidak menyadari, bahwa sebenarnya hati Sindangsari telah tersayat sejak lama. Kalau ia dapat menguasai masalah perasaan seseorang, maka ia akan dapat menempuh jalan yang paling pendek, untuk membuat Sindangsari semakin kehilangan gairah masa depannya. Kalau Nyai Reksatani itu menunjukkan perasaan iba dan terharu, serta sedikit menyinggung masalah Pamot dan isteriisteri Ki Demang yang lain yang pernah menghuni rumah ini dengan cara yang sebaliknya dari cara yang ditempuhnya sekarang, maka hati Sindangsaripun pasti akan semakin pedih. Luka itu pasti akan terkorek semakin dalam, sehingga akan menjadi semakin parah pula karenanya. Justru karena sikapnya yang kasar itu, maka Nyai Reksatani tidak segera mencapai sasarannya. Kedua orang yang mengawani Sindangsari itu selalu berusaha untuk memantapkan hati isteri baru Ki Demang itu. Dan di dalam hati Sindangsaripun sebenarnya telah tumbuh pula semacam perlawanan atas perlakuan yang menyakitkan hati itu. "Meskipun aku sama sekali tidak menghendaki, tetapi aku adalah isteri Ki Demang disini" katanya di dalam hati "seperti kata kedua perempuan itu. akulah yang paling berkuasa disini, selain Ki Demang sendiri" Dalam pada itu malampun menjadi semakin malam. Juru paes yang telah merias Sindangsaripun telah pulang ke rumahnya, dijemput oleh suaminya. "Beristirahatlah" berkata perempuan yang mengawani Sindangsari "kami berdua akan pergi ke dapur. Kalau Nyai Reksatani itu datang kemari, jangan hiraukan kata-katanya "ia berhenti sejenak, lalu "sebenarnya aku tidak sampai hati mengatakannya, tetapi apaboleh buat. Ia sebenarnya menjadi iri-hati kepadamu Karena itu anggaplah semua kata-katanya itu sebagai angin saja" Sindangsari menganggukkan kepalanya "Baiklah. Aku akan mencobanya " "Kau harus percaya kepadaku. Aku mengenal semua isteri Ki Demang. Dan kaulah isteri yang agaknya akan menjadi paling baik" "Ah" "Yakini. Dan jangan hiraukan ipar Ki Demang itu" Kedua perempuan itupun kemudian meninggalkan Sindangsari di dalam biliknya. Perlahan-lahan ia membaringkan dirinya sambil menyelusuri jalan hidupnya yang berliku-liku. Sekali Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika terasa matanya menjadi panas, ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Aku tidak boleh menangis" katanya di dalam hati. Dan iapun ternyata berhasil. Di luar suara gamelan menjadi semakin lama semakin keras dan cepat. Iramanyapun menjadi semakin panas pula. Sedangkan teriakan kanak-kanak sudah menjadi jauh berkurang. Sebagian dari mereka duduk di seputar arena sambil melihat tari-tarian yang semakin ramai pula. Mereka menjadi terharu melihat Kleting Kuning yang tersia-sia, dan mereka menjadi benci kepada Keleting Abang yang kejam terhadap adik angkatnya. Sedang anak-anak yang lebih kecil ternyata telah banyak yang jatuh tertidur di tangga pendapa, di emper gandok dan di gardu regol halaman, sehingga para peronda tidak mendapat tempat lagi untuk duduk. Tetapi anak-anak itupun kemudian tersentak ketika gamelan t iba-tiba mengejut keras sekali. Merekapun segera bangkit dan berlari-larian kearena pertunjukan. Ternyata di tengah-tengah lingkaran penonton di muka rancakan gamelan, seorang raksasa berambut gimbal sedang menari-nari. "He, raksasa itu buas sekali" desis seorang anak perempuan yang berdiri di dekat gamelan. "Itu bukan raksasa" jawab yang lain. "Apa?" "Gendruwo. Lihat matanya merah dan bulat sebesar biji benda" Anak perempuan yang pertama-tama menyebutnya sebagai raksasa itupun terdiam. Tetapi seorang yang lebih besar lagi dari mereka berkata "Kalian salah. Yang menari melonjak-lonjak itu bukan raksasa dan bukan pula gendruwo. Tetapi itu adalah Yuyu Kangkang" "Yuyu? Yuyu sebesar itu?" "Tentu bukan yuyu biasa. Tetapi Yuyu Kangkang" "Apakah artinya Yuyu Kangkang? Nama atau jenis binatang?" "Yuyu. Memang itu Yuyu Raksasa bernama Yuyu Kangkang. Ia dapat berbicara seperti manusia" Kedua anak-anak yang berbicara tentang yuyu dan menyangkanya sebagai raksasa dan gendruwo itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak dapat membayangkan, betapa seekor yuyu dapat berbicara dan menari. Sejenak kemudian para penontonpun menjadi semakin mendesak maju. Mereka kini melihat Kleting Abang. Keleting Biru. Kleting Ijo dan Kleting Ireng menghampiri Yuyu Kangkang itu. Mereka minta tolong agar mereka diseberangkan sungai yang sedang banjir, yang merintangi jalan mereka menuju ke rumah Ande-Ande Lumut, seorang pemuda yang tampan. Lamat-lamat Sindangsari mendengar para penari itu bersenandung dengan suara yang merdu, diselingi oleh senggakan yang kadang-kadang agak miring dan bahkan lekoh. Tanpa disadarinya lewat diangan-angannya bayangan seorang anak muda yang semakin lama menjadi semakin jelas Pamot. "Dimanakah ia sekarang" suara itu berdesis di hatinya. Tetapi harapannya untuk dapat bertemu kembali dengan anak muda itupun menjadi semakin lama semakin pudar meskipun ada sesuatu yang kini tidak akan dapat hilang dari dirinya. Sindangsari itu terperanjat ketika ia mendengar gerit pintu biliknya terbuka. Ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Demang berdiri di muka pintu. Tiba-tiba saja Sindangsari bangkit dari pembaringannya. Ia tidak mau melukai hati laki-laki itu, seperti di saat-saat ia datang ke biliknya semalam, ketika masih berada di rumahnya. Tetapi sebelum ia sempat berbicara apapun. Ki Demang itupun berkata "Tidurlah. Kau memang lelah sekali" Dengan mengerahkan segenap keberanian yang ada di dalam dirinya Sindangsari menjawab "Aku tidak akan tidur Ki Demang" "Kenapa?" Ki Demang bertanya dengan herannya "apakah suara gamelan itu mengganggumu?" "Tidak. Tetapi aku memang hanya akan beristirahat sejenak. Aku masih akan menemui para tetangga yang membantu di dapur" "O" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Selangkah ia maju. Ditatapnya Sindangsari yang masih dilapisi dengan atal yang berwarna kekuning-kuningan itu dan membuatnya seolah-olah menjadi semakin cantik. Ki Demang menarik nafas dalam. Dalam sekali. Namun kemudian ia berkata "Tetapi kalau kau memang ingin beristirahat, beristirahatlah. Di belakang sudah ada Nyai Reksatani yang mewakili kau" "Tetapi agaknya lebih baik aku berkenalan dengan mereka" "Kau tadi sudah ada di pringgitan" "Ya. Dan aku memang sudah berkenalan dengan sebagian dari para tetangga yang datang" Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi matanya kini seolah-olah telah lekat pada tubuh Sindangsari. Dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya anak itu t idak bercacat. Di dalam hati Ki Demang mengakui, bahwa perempuan ini adalah isterinya yang paling cantik dari kelima isterinya yang lain. Sindangsari yang merasakan tatapan mata yang tajam itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun demikian terasa bahwa kulitnya meremang. Meskipun demikian, ia memang mengharapkan sesuatu dari Ki Demang. Bukan karena ia benar-benar telah pasrah dan menerima keadaannya dengan ikhlas. Tetapi ia ingin melindungi noda yang telah melekat pada dirinya. Dan seandainya noda itu akan tampak pada suaminya, biarlah segera ia melihatnya dan menghukumnya apabila dikehendaki. Tetapi Ki Demang itupun kemudian melangkah pergi sambil berkata "Beristirahatlah. Jangan hiraukan para tetangga yang bekerja di dapur" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ia menjadi kecewa. Seandainya ia mempunyai cukup keberanian, dan seandainya ia tidak terikat oleh tata susila sebagai seorang perempuan, maka ia pasti sudah menarik Ki Demang yang sedang melangkahi pintu itu. Namun Ki Demang itu kemudian ternyata dibiarkannya pergi. Meskipun demikian, sepeninggal Ki Demang, kembali kegelisahan yang sangat telah menerkam jantungnya. Noda yang melekat pada dirinya itu ternyata telah membebaninya terlampau berat, sehingga ia seakan-akan melupakan, betapa pahitnya perpisahan yang dialaminya dari Pamot. Ternyata kegelisahan itu telah mendorong Sindangsari meninggalkan biliknya. Dengan ragu-ragu ia pergi ke dapur untuk sekedar mengisi waktunya. Dengan berbaring dibiliknya, maka perasaannya dapat dipengaruhi oleh angan-angannya yang selalu hilir mudik t idak berketentuan, mengembara di sepanjang daerah yang gersang. Kedatangannya di dapur telah mengejutkan perempuranperempuan yang sedang bekerja. Salah seorang dari orang tua yang mengawaninya, segera mendatangi sambil bertanya "He, kenapa kau pergi ke dapur?" "Aku tidak dapat tidur. Aku menjadi gelisah dan kesepian sendiri" Tiba-tiba beberapa perempuan muda tertawa kecil tertahan-tahan. Salah seorang dari mereka berbisik "Apakah Ki Demang tidak mengawaninya?" Sementara itu, perempuan tua itupun mempersilahkannya duduk Katanya "Tetapi tempatnya tidak pantas untuk seorang yang lagi dipersandingkan. Terlampau kotor" "Aku biasa berada di dapur. Akulah yang melayani ibu apabila ibu sedang masak" "Tetapi kau sekarang sedang menjadi permaisuri sehari, eh, tiga hari" sahut seorang perempuan yang lain "silahkan duduk di ruang dalamsaja" "Terima kasih. Biarlah aku disini" berkata Sindangsari. Akhirnya mereka terpaksa membiarkan Sindangsari duduk diantara mereka yang sedang mengatur makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang duduk menonton di pendapa, yang seolah-olah mengalir tidak henti-hentinya. Setiap ada seorang tamu, maka beberapa ancak makanan harus dihidangkan. Semangkuk air panas dengan beberapa potonggula kepala. Dalam pada itu, ketika Nyai Reksatani melangkahi pintu dapur, ia terkejut melihat Sindangsari benar-benar berada di dapur. Karena itu, maka diurungkannya niatnya, dan segera ia berbalik pergi. "Anak bodoh" ia menggerutu "tetapi aku harus membuatnya tidak kerasan di rumah ini. Aku masih mempunyai kesempatan beberapa hari lagi. Selama tiga hari ini aku masih akan tetap tinggal di Kademangan. Mungkin satu dua hari lagi, selama rumah ini diatur kembali seperti semula, dan membenahi semua perkakas yang sedang dipergunakan ini" Demikianlah selagi Sindangsari mencari pengisi waktunya di dapur, dan selagi Ki Reksatani suami isteri mengumpat-umpat maka para tamu di pendapapun menjadi semakin sedikit. Satu-satu mereka minta diri, sedang yang lain, masih menyaksikan pertunjukan yang memetik lakon Panji yang setelah digubah menjadi lakon Ande-ande lumut itu. Selagi lakon Ande-ande Lumut itu menjadi semakin ramai, karena Yuyu Kangkang menolak menyeberangkan Kleting Kuning yang jelek, setelah Yuyu Kangkang itu bersedia menyeberangkan kakak-kakak angkatnya, Kleting Abang dan ketiga saudaranya, maka dua orang berjalan dengan kepala tunduk di jalan yang membujur di muka halaman Kademangan. Seorang yang bertubuh raksasa berkata perlahan-lahan "Apakah kita akan singgah melihat keramaian itu" "Bodoh kau" jawab yang lain "aku tidak ingin menonton apapun"

Jilid 5
ORANG yang bertubuh raksasa dan berkepala botak itu mengerutkan keningnya dan bertanya "Lalu, kenapa kita datang kemari malam ini?" Kawannya, Manguri hampir saja berteriak mengumpatinya kalau ia tidak segera menyadari, bahwa di sekitarnya banyak terdapat para penjual dan anak-anak yang menghilangkan kantuknya dengan membeli makanan. "Lamat" desisnya kemudian "kau memang orang yang paling bodoh yang pernah aku kenal. Kau sangka aku berkepentingan dengan tontonan yang tidak bermutu itu? Buat apa aku melihatnya? Ande-ande Lumut yang menjemukan" Manguri berhenti sejenak, lalu "seharusnya kau mengerti, bahwa kepentinganku bukanlah sama dengan kepentingan anak-anak ingusan itu" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya" desisnya "maksudku, apakah kita akan melihat suasana perkawinan itu dari dekat, diantara para penonton pertunjukan di halaman itu?" "Ah, kau memang benar-benar gila. Apakah kau kira tidak ada yang segera dapat mengenal kau dan aku? Disini keadaan cukup gelap. Tetapi di halaman itu?" Lamat tidak menjawab lagi. Ia melangkah mengikuti langkah Manguri semakin lama semakin menjauhi halaman Ki Demang di Kepandak. Ketika mereka sudah berada di tempat yang kelam, maka Manguripun segera berhenti dan Lamat yang termangu-mangu berdiri di sampingnya. "Perkawinan itu benar-benar telah berlangsung" desis Manguri. "Tidak malam ini" sahut Lamat "sudah lima hari yang lampau. Malam ini adalah sekedar upacara ngunduh penganten" "Gila. Laki-laki itu tidak segera dapat memberikan jalan" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Iapun mengerti bahwa laki-laki itu telah datang ke rumah Manguri selagi ayahnya tidak ada di rumah. "Apa katanya?" bertanya Lamat dengan suara yang dalam. Manguri menggeleng-gelengkan kepalanya "Aku tidak tahu, apakah aku masih dapat mengharap bantuannya" Lamat tidak bertanya apapun lagi. Kini ia berdiri saja bersandar dinding batu di pinggir jalan, sedang Manguri berdiri termangu-mangu. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia pergi juga ke rumah Ki Demang malam ini. "Kita pulang" geramnya kemudian. Dan Lamatpun mengangguk kosong. Dengan tergesa-gesa mereka kemudian berjalan menyusuri lorong-lorong yang gelap pulang ke rumah Manguri. Anak muda itu tidak henti-hentinya mengumpatumpat di sepanjang jalan. Tetapi suaranya tidak begitu jelas terdengar. Sedang Lamat berjalan saja dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Sementara itu malampun menjadi semakin dalam. Perlahan-lahan cahaya kemerah-merahan mulai membayang di ujung Timur, disambut oleh kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan. Di arena kini terjadi pertemuan yang mengharukan antara Ande-Ande Lumut dan Kleting Kuning, yang sebenarnya adalah suami isteri Panji Asmarabangun dan Dewi Candrakirana. Sedang mBok Randa nDadapan berdiri termangu-mangu menyaksikan anak angkatnya laki-laki, yang dikenalnya bernama Ande-ande Lumut itu kini telah berubah menjadi seorang kesatria dan Kleting Kuning yang jelek dan berpakaian kumal itu menjadi seorang Puteri secantik bidadari" Di sekitar arena pertunjukan itupun ternyata sudah menjadi semakin sepi. Anak-anak sudah tidak telaten lagi melihat adegan-adegan berikutnya. "Perangnya sudah habis" teriak salah seorang dari mereka. "Pulang saja. Aku sudah kantuk" teriak yang lain tanpa menghiraukan, bahwa suaranya itu dapat mengganggu tembang para pemain di arena. Beberapa orang perempuan sibuk mencari anak-anaknya yang terpisah, sedang ibu-ibu yang menunggui rumah, bangkit dari pembaringannya dan pergi ke halaman Kademangan untuk mencari anaknya yang belum pulang. Seorang ibu yang kebingungan mencari anaknya hampir saja menangis. Pertunjukan itupun akhirnya selesai juga. Halaman itu menjadi kian sepi. Tetapi anak laki-lakinya yang berumur tujuh tahun belum diketemukan. Tetapi ketika penabuh gong berdiri dari tempatnya, ia terkejut. Hampir saja ia jatuh terlentang ketika kakinya menyentuh tubuh seorang anak yang tertidur tepat di belakangnya. "He, anak siapa yang tidur disini?" ia berteriak. Ibu yang kebingungan dan hampir menangis itu berlari-lari mendekatinya. Ternyata anak itu adalah anaknya yang dicaricarinya. "O ngger, ngger. Hampir pingsan aku mencarimu" desah ibu itu, yang dengan serta-merta telah mengangkat anaknya yang tertidur itu sehingga anak itu terkejut bukan buatan. Tetapi ketika anak itu sudah terbangun, maka tiba-tiba ibunya membentak "He, semalam suntuk kau tidak pulang he? Sampai pertujukan sudah selesai, dan semua orang sudah pulang, kau masih saja tidur mendekur disini? Anak itu tidak menjawab. Diusapknya matanya, kemudian tertatih-tatih ia berjalan pulang diikuti oleh ibunya. Ketika suara gamelan sudah tidak terdengar lagi, maka suara burung-burung yang berkicaupun segera menghias pagi yang mulai merekah. Sambil berloncatan dari dahan yang besar oleh embun kedahan yang lain, suaranya memancar seperti pancaran cahaya merah di Timur. Semakin lama semakin meriah. Sindangsari yang ternyata semalam suntuk hanya dapat tidur sekejab, segera pergi ke pakiwan uhtuk membersihkan dirinya. Dengan air wayu, ia mandi untuk menghapus warna kuning atal di kulitnya. Terasa betapa segarnya air wayu. Tetapi kemudian ternyata bahwa tubuhnya terasa meriang. Keningnya menjadi pening, sehingga ia terpaksa untuk berbaring sejenak di pembaringannya. Sindangsari terkejut ketika tiba-tiba saja pintu biliknya terbuka. Dilihatnya Nyai Reksatani melangkah masuk. Namun langkahnyapun kemudian tertegun ketika ia melihat Sindangsari di pembaringan. "He, sepagi ini kau berbaring mBok ayu?" ia bertanya. Sindangsari bangkit dan duduk di pinggir pembaringan. Jawabnya "Kepalaku pening" Tetapi Nyai Reksatanipun tertawa berkepanjangan. Katanya "Ah, sudah menjadi kebiasaan penganten baru. Pening, panas dingin, sakit perut dan macam-macam lagi" ia berhenti sejenak, lalu "kau masih kantuk mBok Ayu?" "Ah?" "Tentu. Akupun begitu juga waktu itu. Lihat, kakang Demang masih juga t idur di gandok kulon" Dada Sindangsari berdesir. Ternyata Ki Demang sempat juga tidur. Tidak di bilik ini, tetapi di gandok kulon. "Kenapa?" ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi jawaban yang diucapkan "Semalam suntuk ia t idak masuk ke bilik ini" Suara tertawa Nyai Reksatani seakan-akan meledak. "He, kenapa kau seperti malu begitu? Jangan berpura-pura. Itu sudah biasa. Tidak apa-apa" Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab lagi. "Silahkan" berkata Nyai Reksatani kemudian "kau tentu kantuk, lelah dan lungkrah. Memang sebaiknya kau beristirahat. Penganten baru memang harus banyak beristirahat" Kata-kata itu benar-benar telah menyentuh perasaan Sindangsari. Tetapi ia masih bertanya pula "Apakah sudah lajimnya penganten baru mendapat ejekan dari kawan-kawan dan saudara-saudaranya? Tetapi maksudnya tentu hanya sekedar bergurau. Tidak lebih" "Lebih baik aku pergi ke dapur" berkata Nyai Reksatani seterusnya "tugasku, penganten yang sudah hampir lapuk ini, bekerja di dapur, sedang penganten baru, sebaiknya berada di pembaringan" Nyai Reksatani tidak menunggu jawaban. Iapun segera melangkah pergi. Terdengar kemudian pintu bergerit, dan perempuan itupun hilang di balik daunnya yang tertutup. Sejenak Sindangsari merenung. Ia tidak tahu pasti, maksud kata-kata Nyai Reksatani Apakah ia menyindir, atau sekedar bergurau. "Ah, baik juga aku mendengarkan nasehat orang-orang tua itu. Sebaiknya kata-katanya aku anggap angin lalu. Kalau aku menghiraukannya, hatiku akan menjadi semakin sakit" Maka Sindangsaripun kemudian berbaring kembali, Dipijitpijitnya keningnya yang sakit, sementara angan-angannya hanyut ke dunia yang asing. Namun Sindangsari tidak dapat lama berbaring. Ketika matahari menjadi semakin tinggi, di Kademangan itu telah terjadi kesibukan-kesibukan baru. Tamu-tamu dari tempat yang jauh berdatangan. Seorang demi seorang, tidak putusputusnya. Sindangsari, sebaga. penganten puteri, maupun sebagai isteri Ki Demang terpaksa menemui mereka, sehingga hampir sehari penuh ia duduk di pringgitan tanpa dapat bergeser Sedang di pendapa, Ki Demangpun menemui tamunya berganti-ganti. Sejak ia terbangun dari tidurnya dan membesihkan dirinya, ia sama sekali t idak sempat meninggalkan tempatnya. Demikianlah ketika malam datang, dan pertunjukan yang lain berlangsung, semuanya seolah-olah telah terulang kembali. Duduk di pringgitan, menemui tamu-tamu dan kemudian mengisi waktunya duduk di dapur meskipun hanya sekejap beristirahat menjelang pagi. Maka betapa lelahnya Sindangsari selama tiga hari tiga malam di rumah Ki Demang, setelah di rumahnya sendiri iapun hampir t idak pernah beristirahat, sejak hari perkawinannya. Namun yang lebih mengganggu bagi Sindangsari, sama sekali bukanlah kelelahannya, tetapi sikap Nyai Reksatani yang kadang-kadang sangat menyakitkan hati. Untuk mengatakannya ha! itu kepada Ki Demang, Sindangsari masih belum terucapkan. Tetapi untuk membiarkannya berkepanjangan, hatinya serasa menjadi semakin pedih. Di hari-hari terakhir dari kerja yang panjang itu. Nyai Reksatani memang tampak menjadi terlampau sibuk. Ia harus membenahi semua perkakas yang dipergunakannya selama berlangsung keramaian tiga hari t iga malam. Alat-alat yang dipinjam Jari orang lain harus dikembalikannya, sedang alatalatnya Kademangan sendiri harus dibersihkan dan disimpannya kembali seperti sediakala. Menghadapi kerja yang sibuk itu, Sindangsari menjadi bingung. Apakah ia harus membantu, atau justru tidak. Ia merasa bahwa apa yang dilakukannya serba salah. Ketika ia mencoba membantu menghitung belanga tembaga, Nyai Reksatani berkata "Jangan mengotori tanganmu mBok Ayu. Sayang, perempuan secantik kau tidak pantas bekerja di dapur" Sindangsari mengerutkan keningnya. Dan ia mencoba menjawab "Aku sudah biasa bekerja di dapur" "Tetapi sebelum kau menjadi Nyai Demang" sahut Nyai Reksatani yang kemudian menyambungnya "atau barangkah kau takut kalau barang-barangmu ada yang hilang, pecah atau aku bawa pulang?" "Ah" Sindangsari berdesah, tetapi tiba-tiba mulutnya seakan-akan malahan terkunci. Yang dapat dilakukan adalah menyaksikan Nyai Reksatani bekerja terus tanpa dapat berbuat sesuatu. Tubuhnya rasarasanya menjadi kejang dan kehilangan cara untuk menanggapinya. Tetapi di hari berikutnya, Sindangsari hampir tidak dapat menahan hatinya. Berdasarkan atas sikap Nyai Reksatani itu, maka Sindangsari memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi. Ketika Nyai Reksatani menyelesaikan kerjanya, Sindangsari berada saja di dalambiliknya. "Alangkah manisnya menjadi penganten baru" berkata Nyai Reksatani sambil menjengukkan kepalanya ke dalam bilik "kalau lagi berada di dalam biliknya, apapun yang terjadi di luar, sama sekali tidak menarik perhatian. Biar sajalah orangorang lain ribut sendiri, mengatur dan membersihkan dapur" Hampir saja Sindangsari menjerit. Untunglah ia masih dapat menahan hati. Ditenangkannya sendiri perasaannya. Katanya di dalam hati "Perempuan itu tidak akan selamanya tinggal di rumah ini" Tetapi tiba-tiba Sindangsari itupun menjadi semaian berdebar-debar. Semalam di Kademangan ini sudah hampir tidak ada tamu lagi. Pertunjukan di halaman sudah selesai. Namun Ki Demang sama sekali tidak ada di dalam bilik ini. Ia hanya menjenguk, kemudian meninggalkannya berbaring seorang diri. Sindangsari menjadi semakin bingung menanggapi isi Kademangan ini. Namun demikian ia berjanji, bahwa lambat laut ia akan mencoba menyesuaikan dirinya. Tetapi yang paling mencemaskannya adalah keadaan dirinya sendiri. Sampai pekan yang kedua telah lawat, ia masih belum dapat meyakinkan dirinya, bahwa Ki Demang sebenarnya masih belum mengerti, apa yang telah terjadi sebelum hari-hari perkawinan itu. Namun hal itulah yang justru membuatnya selalu gelisah. "Mungkin masih ada satu dua orang tamu yang harus dilayaninya "Sindangsari mencoba menghibur dirinya sendiri. Namun kalau teringat olehnya tingkah laku Ki Demang di rumahnya, di malam-malam yang tertuang, setelah tiga hari tiga malam menunggui keramaian, debar jantungnya justru menjadi semakin cepat. Meskipun tanpa keikhlasan hati, ia sudah pasrah, apapun yang akan terjadi atas dirinya. Justru semakin cepat semakin baik. Dosa yang membebani perasaannya, tidak akan dapat terlampau lama disimpannya. Tetapi malam-malam itu berlalu begitu saja tanpa kesan apapun. Dan Sindangsari masih tetap dibebani oleh kegelisahan karena noda yang telah melekat pada dirinya. Ketika malam berikutnya mendatangi Kademangan Kepandak, maka suasana rumah itu sudah menjadi jauh berbeda. Tratak-tratak sudah dibuka, dan dinding-dinding yang dilepas sudah dipasang kembali. Di pendapa sama sekali sudah tidak ada tamu lagi selain para peronda yang duduk di tangga. Dengan kaku Sindangsari duduk di pringgitan bersama Ki Demang dan adiknya, suami isteri. "Kami berdua akan mohon diri kakang" berkata Ki Reksatani "sekian lama kami berdua berada di Kademangan, terutama isteriku, bahkan dengan anak-anak" "Akulah yang seharusnya mengucapkan diperbanyak terimakasih. Kalian berdua sudah menyelenggarakan perayaan perkawinan kami dengan baik" "Itu adalah kewajiban kami" sahut Nyai Reksatani. "Kalau t idak ada kalian, maka semuanya pasti tidak akan dapat berjalan dengan lancar" berkata Ki Demang kemudian "sejak kami berdua masih berada di Gemulung, kalian berdua sudah bekerja keras siang dan malam" Ki Reksatani tersenyum. Katanya "Pada suatu saat kamilah yang akan minta tolong kepada kakang Demang berdua" "Tentu kami t idak akan berkeberatan" jawab Ki Demang. Ki Reksatani suami isteri itupun kemudian minta diri. Mereka merasa bahwa tugas mereka sudah selesai dan mereka sudah tidak diperlukan lagi berada di Kademangan. "Kenapa tergesa-gesa?" bertanya Ki Demang. "Saat-saat berikutnya, kami hanya akan mengganggu saja" sahut adiknya. "Ah, kau? gumam Ki Demang. Namun wajahnyapun kemudian berkerut sejenak. "Lain kali kami akan datang menengok kakang berdua" berkata Ki Reksatani "anak-anak sudah pulang lebih dahulu bersama pengasuhnya. Kalau kami tidak pulang malam ini, mereka pasti akan merengek sepanjang malam" Maka Ki Reksatani itupun kemudian meninggalkan rumah Kademangan pulang ke rumah mereka sendiri. "Nyai" berkata Ki Reksatani setelah mereka meninggalkan halaman Kademangan "apakah usahamu berhasil? Tampaknya Sindangsari mempunyai kesan yang baik atas rumah ini. Menilik hubungannya dengan Pamot saat itu, maka malammalam pengantinnya pasti akan selalu dibasahi oleh air matanya. Tetapi ternyata sama sekali tidak. Dan apakah kau tidak dapat membuatnya marah atau kesal?" "Akulah yang menjadi kesal" sahut isterinya "tetapi tentang hubungannya dengan Pamot, memang sangat mengherankan. Banyak sekali orang yang membicarakannya. Pada saat itu, seolah-olah Sindangsari sudah tidak akan dapat berpisah lagi dari anak muda itu. Tetapi ternyata Sindangsari terlampau cepat melupakannya" Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Rumah yang besar, perabot yang cukup, telah membelokkan kenangan Sindangsari atas Pamot. Malanglah nasib anak muda itu. Mungkin Pamot sampai saat ini masih selalu dibayangi oleh wajah Sindangsari. Tetapi ternyata Sindangsari sedang menikmati malam-malampengantinnya" "Apakah perempuan yang demikian termasuk perempuan yang tidak setia menurut penilaianmu?" bertanya isterinya. Ki Reksatani mengangkat bahunya "Aku tidak mengerti. Mungkin ia memang perempuan yang tidak setia. Cintanya cepat hanyut oleh harta dan benda-benda lahiriah. Tetapi mungkin juga ia justru seorang gadis yang sudah berhasil menguasai perasaannya dengan nalarnya. Dengan tabah ia melihat kenyataan, bahwa ia tidak akan dapat memilih jalan yang lain" Isterinya mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya "Lalu bagaimana pertimbangan kakang sekarang?" Ki Reksatani tidak segera menjawab. Ia berjalan lambil menundukkan kepalanya. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam, lalu berdesah panjang. "Kita hanya dapat menunggu perkembangan keadaan" berkata Ki Reksatani kemudian "sudah lima kali kakang Demang kawin. Hampir semuanya adalah perempuanperempuan yang masih terlalu muda. Tetapi kelimanya tidak mempunyai keturunan. Kalau ketiadaan keturunan itu disebabkan oleh kemandulan isteri-Isterinya, maka aku kira tidak akan lima orang semuanya kebetulan mandul" Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mudah-mudahan Sindangsaripun tidak akan dapat memberikan keturunan kepada suaminya apapun sebabnya, agar aku tidak usah mengambil jalan yang sulit untuk memotong garis keturunan kakang Demang dan memindahkan kegaris keturunanku sendiri" berkata Ki Reksatani kemudian. Isterinya tidak menjawab Namun kalau mula-mula ia tidak begitu tertarik kepada ceritera tentang kedudukan. Demang di Kepandak, lambat laun ia mulai memikirkannya. "Alangkah senangnya kalau salah seorang anak-anakku kelak akan menjadi seorang Demang di Kepandak. Hampir setiap niatnya dapat dipenuhi. Bahkan kawin untuk keenam kalinya dengan seorang gadis yang masih remaja" berkata Nyai Reksatani di dalam hatinya. Di Kademangan, sepeninggal Nyai Reksatani, Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Dadanya serasa menjadi lapang. Perempuan yang jauh lebih tua dari padanya itu, dan yang memanggilnya mBok Ayu karena ia kawin dengan kakak iparnya, telah membuat katinya selama ini menjadi bertambah-tambah pedih. Kepergiannya akan dapat mengurangi sakit hatinya oleh kata-katanya yang tajamseperti ujung duri. Namun dengan demikian, Kademangan itu kini menjadi sepi. Yang ada di ruang dalam hanyalah Ki Demang dan Sindangsari. Beberapa orang pembantunya selalu ada di belakang, dan hanya masuk ke dalam apabila ada sesuatu yang harus dikerjakannya. Dengan demikian, maka ketika Ki Reksatani suami isteri itu telah meninggalkan rumah Kademangan, tinggallah Ki Demang duduk berdua saja di ruang lengan dengan Sindangsari. Karena itu, maka suasanapun menjadi kaku. Sindangsari hanya dapat menundukkan kepalanya, sedang Ki Demang setiap kali hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Ki Demang tidak membiarkan kekakuan suasana itu kemudian menjadi tegang. Sehingga karena itu, maka ia telah berkata sekenanya "Apakah kau lelah Sari?" Dada Sindangsari tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar. "Apakah kau tidak ingin tidur?" Sindangsari menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan suarau gemetar "Ya, aku akan tidur" "Tidurlah. Aku akan menyelarak pintu-pintu" Dada Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Sekilas terbayang wajah Pamot di saat terakhir mereka bertemu. Seolah-olah terasa kehangatan nafasnya menyentuh lehernya yang jenjang. Sedang dekapan tangannya yang kuat, rasarasanya tidak akan terurai untuk seumur hidupnya. Tetapi Pamot kini tidak ada lagi. Yang ada, dan yang akan menggantikan tempatnya adalah seorang laki-laki yang jauh labih tua daripadanya. Ki Demang di Kepandak. Kulit di seluruh tubuh Sindangsari meremang karenanya Tetapi ia tetap menyadari keadaannya dan kenyataan yang di hadapinya. Karena Sindangsari masih belum beranjak dari tempatnya, maka Ki Demang mengulanginya "Sari. Kau tentu lelah sekali. Tidurlah. Semua orang yang ikut di dalamperalatan kita sudah sejak malam kemarin beristirahat sepenuhnya. Agaknya kau masih belum mendapatkan kesempatan itu" Sindangsari menganggukkan kepalanya, katanya lirih "Ya. Aku akan tidur Ki Demang" Sindangsaripun kemudian bangkit berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan pringgitan masuk ke ruang dalam dan langsung ke biliknya. Tetapi karena ia merasa, bahwa Ki Demang selalu memandanginya, maka langkahnyapun menjadi semakin berat. Namun dengan demikian, tanpa disengaja, langkah Sindangsari bagaikan lambaian tangan, memanggil Ki Demang untuk mengikut inya. "Hem" Ki Demang berdesah sambil meraba janggutnya. Ketika Sindangsari sudah hilang di balik pintu, maka Ki Demangpun segera berdiri pula. Dengan langkah yang berat ia pergi menyelusuri semua pintu, melihatnya sekali lagi, kalau pembantunya kurang teliti memasang selarak. Baru sejenak kemudian ia melangkah dengan kaki yang teramat berat memasuki biliknya. Dadanya bergelora ketika ia melihat Sindangsari sudah terbaring di tempatnya. Seperti yang dilihatnya ketika ia masih ada di Gemulung. Sindangsari itu bagaikan golek yang cantik tiada tara bandingnya. Perlahan-lahan Ki Demang itupun mendekatinya. Desir langkahnya membuat jantung Sindangsari semakin cepat berdentang. Tetapi kini ia tidak mau membuat hati laki-laki itu menjadi sakit. Karena itu, dipaksanya juga tubuhnya bangkit dan duduk ditepi pembaringannya. Namun demikian, mulutnya seakan-akan masih saja tersumbat. "Kau belum tidur?" bertanya Ki Demang yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan. Sejenak Sindangsari berusaha menguasai perasaannya. Namun kemudian terlontar jawabnya "Belum Ki Demang" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Selangkah ia maju, namun kemudian iapun berdiri mematung. Sindangsari duduk dengan wajah yang tunduk. Debar jantungnya telah membuat tubuhnya menjadi gemetar pula. Apalagi ketika ia mendengar langkah Ki Demang mendekat. Tanpa sesadarnya ia telah berkisar sejengkal ketika Ki Demang duduk di sebelahnya. Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. hanya nafas meraka sajalah yang terdengar saling memburu. Dalam keheningan itulah kemudian terdengar Ki Demang bertanya "Sindangsari, apakah kau kerasan tinggal disini?" Sindangsari t idak menyangka bahwa ia akan mendapat pertanyaan itu. Karena itu, maka sekenanya saja ia menjawab "Ya, Ki Demang. Aku kerasan" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia mengerutkan keningnya "Apakah kau berkata sebenarnya?" "Aku berkata sebenarnya" Sindangsari menjadi heran. Ki Demang memalingkan wajahnya. Kini dipandanginya sinar lampu minyak yang terletak pada ajug-ajugnya yang melekat dinding. "Kau berbohong Sindangsari?" suara Ki Demang menjadi dalam sekali. Namun demikian kata-kata itu telah mengguncang dada Sindangsari. "Kau pasti merasa terpaksa tinggal di rumah ini. Kau merasa bahwa aku telah merampas kebebasanmu. Sindangsari t idak menyahut. "Benarkah begitu?" Sindangsari masih tetap berdiam diri. "Tetapi aku memang terlampau cinta padamu. Sejak aku melihat kau untuk yang pertama kalinya, aku merasa sangat tertarik kepadamu" Sindangsari menjadi semakin tunduk karenanya. "Kau memang cantik sekali" Selapis warna merah membayang di pipi Nyai Demang yang masih terlampau muda itu. Tetapi kemudian ia terperanjat, sehingga ia tergeser pula sejengkal "Apakah kau masih teringat kepada Pamot?" Pertanyaan itu telah mengorek luka di hatinya. Tetapi Sindangsari tetap bertahan, agar ia tidak menitikkan air matanya meskipun hanya setetes. "Apakah kau masih selalu membayangkannya?" Sindangsari tiba-tiba mengatupkan giginya rapat-rapat, untuk mengungkat keberanian yang ada di dalam dirinya. Sejenak kemudian iapun menjawab "Ki Demang. Aku memang masih teringat kepada kakang Pamot kadang-kadang. Bukankah itu wajar, seperti aku teringat kepada ibu, kepada kakek dan nenek. Kepada orang orang yang pernah aku cintai?" Sindangsari berhenti sejenak "tetapi aku sekarang sudah ada disini. Aku sekarang adalah isteri Ki Demang" suaranya terputus oleh serak dikerongkongannya. Hampir saja ia tidak dapat bertahan lagi. Namun akhirnya ia berhasil juga setelah menahan nafas beberapa saat lamanya. "Tetapi, apakah kau pada suatu saat akan dapat mencintai aku?" Terasa darah Sindangsari menjadi semakin cepat mengalir. Sebuah pertanyaan tiba-tiba terbersit di hatinya ".....Apakah kepada isteri-isterinya yang terdahulu Ki Demang bertanya seperti ini pula? Atau barangkali karena isteri-isteri yang terdahulu belum pernah berhubungan dengan laki-laki lain?" Namun tiba-tiba hatinya melonjak "Apakah Ki Demang sedang menyindir aku, karena ia mengetahui, apa yang telah terjadi" Tiba-tiba hatinya meronta. Kenapa Ki Demang itu Sidak berterus terang saja mengatakan apa yang sebenarnya dikehendaki? Kenapa Ki Demang dengan perlahan-lahan sengaja menyakit i hatinya? Inikah yang sebenarnya dikehendakinya?" Tetapi ia menjadi bertambah bingung ketika Ki Demang kemudian berkata "Sindangsari. Mungkin hari ini kau belum dapat mencintai aku. Tetapi kalau kita menjadi terbiasa dalam satu hubungan yang tidak sekedar hubungan badaniah, maka perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya. Seperti ayah dan ibumu dahulu, mungkin mereka sama sekali belum mengenal sebelumnya ketika mereka kawin. Tetapi akhirnya lahir pula kau" Sindangsari tiba-tiba pula menganggukkan kepalanya dan berkata "Aku mengerti Ki Demang. Dan aku sudah mencoba menyesuaikan diriku dengan kenyataan ini. Aku memang mengharap bahwa kita akan mempunyai anak kelak" Wajah Ki Demang menjadi tegang sejenak. Lalu "Bohong kau Sari. Bohong" Sindangsari menjadi bingung "Kenapa aku berbohong? Apakah aku dapat berbuat lain dari menerima hal ini sebagai suatu kenyataan?" Wajah Ki Demang menjadi semakin tegang. Namun sebaliknya daripada itu, perlahan lahan Sindangsari menemukan kemantapan sikap menghadapi orang yang selama ini dirasanya aneh. "Tetapi aku tidak percaya" Ki Demang hampir berteriak "kau hanya berusaha menyenangkan hatiku" "Tidak Ki Demang. Aku berkata sebenarnya. Aku adalah isteri Ki Demang" suaranya tiba-tiba menjadi gemetar. Hampir saja ia tidak kuasa mengucapkannya, seandainya tidak ada desakan yang lebih dahsyat dari dalam dirinya. Kecemasannya tentang noda yang ada di dalam dirinya, sehingga terloncat pula kata-katanya "Sebagai seorang isteri aku harus melakukan segala kewajibanku sebaik-baiknya " Tubuh Ki Demang menjadi bergetar karenanya. Dadanya menjadi bergelombang semakin cepat, secepat detak jantungnya yang panas. Tetapi Ki Demang untuk sejenak terdiam. Meskipun demikian Sindangsari dapat merasakan, bahwa pembaringannya bergetar. Meskipun Sindangsari masih terlampau muda. tetapi ia tidak pernah membayangkan, bahwa Ki Demangpun menjadi gemetar seperti anak-anak muda. Seperti pada saat Pamot pertama kali menyentuh kulitnya. Seperti Pamot sesaat sebelum kehilangan pengamatan dirinya dan seperti dirinya sendiri di saat-saat nafas kegadisannya terguncang. Diantara desah nafasnya yang semakin cepat Ki Demang berkata "Apakah kau berkata sebenarnya Sari, sebenarnya bahwa kau akan mencoba mencintai aku dan sudah tentu akan melupakan Pamot?" Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Jangan kau berpura-pura" "Aku tidak berpura-pura Aku memang sedang berusaha seperti yang aku katakan. Karena itulah kenyataan yang aku hadapi" "Aku tidak memerlukan kata-katamu melulu" Jantung Sindangsari serasa berdesir. Tetapi segera ia berusaha menguasai dirinya dengan nalar. Dicobanya untuk mengendalikan perasaannya sejauh-jauh dapat dilakukannya. Betapa dahsyat guncangan-guncangan yang melanda dinding dadanya, tetapi ia mencoba menjelaskan kepada diri sendiri "Kecemasanmu tentang noda yang ada di dalam dirimu harus dibatasi. Sekarang saatnya kau mengakhirinya. Apapun yang akan terjadi" Sejenak Sindangsari membeku di tempatnya, namun di dalam dadanya telah terjadi pergumulan yang dahsyat. Perasaannya melawan nalarnya. Namun akhirnya Sindangsari tidak menemukan sikap yang mantap. Ia hanya sekedar menundukkan kepalanya tanpa berbuat sesuatu. "Sari" suara Ki Demang menjadi semakin gemetar "apakah kau tidak hanya sekedar bermain dengan Kata-kata?" Kini Sindangsari menghentakkan dirinya. Perlahan-lahan hampir tidak terdengar ia berkata sejauh dapat diucapkan "Apakah yang kau kehendaki Ki Demang, semuanya adalah hakmu" Dada Ki Demang berguncang dengan dahsyatnya. Sejengkal ia bergeser mendekati Sindangsari sambil berdesis "kau tidak akan ingkar?" Sindangsari menggeleng "Aku tidak akan ingkar" Nafas Ki Demang menjadi semakin cepat mengalir, sedang seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat Ditatapnya wajah Sindangsari tajam-tajam, seolah-olah isterinya itu akan ditelannya bulat-bulat. Namun tiba-tiba ia meloncat berdiri sambil menggeram "Tidak, tidak" Sindangsari terkejut. Tanpa sesadarnya ia berdiri "Ki Demang. Apakah yang telah terjadi" Dengan serta-merta Ki Demang itu menangkap kedua lengan Sindangsari. Diguncang-guncangnya gadis itu sambil berkata "Kau bohong. Kau bohong dan berpura-pura. Disini kau menerima aku, tetapi aku tidak tahu apa yang bermain di dalam angan-anganmu? Kau pasti tidak melihat aku sebagai Demang di Kepandak Kau hanya mempergunakan aku sebagai peraga angan-anganmu yang memuakkan dan penuh dengan dosa itu" "Ki Demang" Sindangsari menjadi semakin bingung "apakah maksudmu? Apakah kau ingin mengatakan bahwa…" "Ya" "Ki Demang" Ki Demang memandang Sindangsari dengan tajamnya Lengan Sindangsari masih dipegangnya erat-erat. Namun sejenak kemudian tangannya menjadi seakan-akan kehilangan kekuatan. Dilepaskannya lengan Sindangsari sambil berkata "Sari, kau berhak berbuat apa saja dengan angan-anganmu. Tidak ada seorangpun yang akan dapat mengetahuinya" Kini Sindangsari berdiri dengan gemetar. Mulutnya menjadi seolah-olah terkunci. Ia menunggu saja apa yang akan dikatakan Ki Demang selanjutnya tentang dirinya. Tentang noda dan dosa yang telah melumuri tubuhnya tentang keperempuanannya yang kehilangan trapsila. Tentang semuanya. Tetapi Ki Demang t idak menyebutnya satu demi satu. Ternyata yang dikatakan oleh Ki Demang adalah "Tetapi itu bukan salahmu Sari. Aku memang sudah mengetahui, bahwa kau mencintai Pamot. Seharusnya aku tidak menjadi heran, bahwa kau tidak akan dapat melupakannya" Sindangsari mengerutkan keningnya. Ia benar-benar merasa berhadapan dengan seorang laki-laki yang tidak dapat dimengertinya. Sehingga katanya di dalam hati "Macam inikah sebabnya maka tidak seorangpun yang dapat menjadi isteri Ki Demang untuk waktu yang cukup lama?" Dan dalam keraguraguan ia berkata terus di dalam dirinya "Tetapi apakah gunanya meninggalkannya. Aku tidak akan dapat kembali kepada Pamot. Kalau pada suatu saat Ki Demang sudah berhasil menenangkan dirinya, maka aku tidak berhak lagi mengharap Pamot kapanpun juga" Namun Sindangsari terkejut ketika ia mendengar Ki Demang menggeram. Seperti orang yang sedang diamuk oleh persoalan yang paling sulit di dalam hidupnya, Ki Demang menjadi gugup. Tetapi akhirnya ia berkata "Tidurlah Sari. Sayang bahwa malam ini aku mempunyai tugas yang banyak. Aku harus pergi ke padukuhan-padukuhan yang sudah lama tidak aku lihat" Sindangsari memandang laki-laki itu dengan herannya. Bahkan sejenak ia justru terbungkam. "Tidurlah" "Ki Demang" desis Sindangsari "apakah sebenarnya yang kau kehendaki dariku "tanpa sesadarnya Sindangsari telah melontarkan pertanyaan yang membelit hatinya. Ki Demang menggelengkan kepalanya "Malam ini aku ter lampau sibuk" Terasa sesuatu bergejolak di dalam dada Sindangsari. Ia merasa tidak lagi dapat menguasai keadaan. Di dalam kecemasannya ia bertanya "Tetapi, tetapi, apakah semuanya itu tidak akan dapat ditunda sampai besok atau bahkan lusa?" "Itu kewajibanku Sari" "Tetapi Ki Demang juga mempunyai kewajiban lain. Kewajiban sebagai seorang suami" "Diam. Diam" tiba-tiba Ki Demang membentak "itu adalah persoalanku pribadi. Tidak ada seorangpun yang dapat memaksa, kapan aku harus buat sebagai seorang suami. Bahkan seandainya aku tidak berbuat apapun sebagai seorang laki-laki. tidak seorangpun yang dapat menuntut. Aku adalah seorang Demang yang paling berkuasa di Kepandak" Tiba-tiba Sindangsaripun dilanda oleh kecemasan yang dahsyat. Sehingga di luar sadarnya ia berkata "Tetapi itu tidak adil" "Diam, diam kau" mata Ki Demang menjadi merah. Dan Sindangsaripun masih juga menjawab "Tetapi Ki Demang, bukankah Ki Demang t idak merencanakan untuk pergi malam ini? Bukankah hanya dengan tiba-tiba saja Ki Demang merasa perlu untuk meronda? Kalau Ki Demang memang telah merencanakan hal itu, maka Ki Demang tidak akan menyelarak semua pintu-pintu dan memadamkan lampu tengah" "Tutup mulutmu" Ki Demang menjadi marah. Penyakitnya tiba-tiba pula telah menjangkiti dirinya. Penyakit marahnya. Katanya "Kau tidak berhak mengatur aku. Kau tidak berhak" Seperti yang sering dilakukan, Ki Demang bahkan kadangkadang menyakiti isteri-isterinya yang terdahulu apabila gejolak yang demikian telah merambati hatinya. Seakan-akan ada sesuatu yang tertahan di dalam gelora dadanya yang panas. Namun yang meluap adalah sifat-sifatnya yang kasar dan bahkan liar. Betapa takutnya Sindangsari melihat Ki Demang yang tibatiba saja telah berubah. Matanya yang merah dan wajahnya yang tegang telah membuat Sindangsari gemetar, Di bagian belakang Kademangan itu, dua orang perempuan duduk dengan hati yang berdebar-debar pula. Mereka adalah pembantu Ki Demang, dan yang seorang adalah perempuan yang melayani Sindangsari di saat-saat perkawinannya. "Apakah hal yang serupa akan terjadi lagi?" perempuan setengah tua itu berbisik. Pelayan Ki Demang tidak menjawab. Tetapi wajahnya tampak menjadi suram. "Beberapa kali selalu saja hal itu terulang. Di hari-hari perkawinannya Ki Demang selalu bertengkar dengan isteriisterinya. Tetapi kali ini agaknya aku mengharap terjadi perubahan di dalamdirinya. Belum lagi ia terdiam, ia mendengar sesuatu di ruang dalam. Sesuatu yang tidak jelas. "Hem" ia menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa Ki Demangpun waktu itu sudah bertengkar pula dengan Sindangsari. Apalagi Sindangsari sendiri dibebani oleh noda di dalamdirinya. Ia ingin egera mengakhiri kecemasan yang selalu mengombang-ambingkan perasaannya. Namun ia tidak segera dapat berhasil. Tetapi wajah Ki Demang yang merah itu telah membuatnya sangat ketakutan. Dengan serta-merta ia memutar tubuhnya membelakangi Ki Demang sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "O" suaranya terputus oleh sesak nafasnya. Ki Demang berhenti selangkah di belakang Sindangsari. Tiba-tiba ia menyadari keadaannya Karena itulah maka iapun menarik nafas dalam-dalamuntuk menenangkan hatinya. Sejenak kemudian dipaksanya dirinya berkata "Maaf Sari. Aku tidak ingin menyakiti hatimu. Tidurlah. Aku adalah seorang Demang. Kau harus menyadari, bahwa kau adalah isteri seorang Demang, sehingga kadang-kadang aku memang harus meninggalkan rumah ini di malam hari" Ki Demang tidak menunggu Sindangsari menyahut. Ia sadar, bahwa darahnya mudah sekali melonjak. Apalagi justru di saat-saat seperti ini. Sehingga dengan demikian, iapun segera melangkah pergi meninggalkan bilik itu. Sejenak kemudian Sindangsari mendengar selarak pintu terbuka dan daun pintu lereg yang bergerit. "O" tiba-tiba saja Sindangsari telah membanting dirinya di pambaringannya. Ia tidak dapat menahan tangisnya lagi yang kemudian mengalir seperti bendungan yang pecah. "Beginilah Ki Demang memperlakukan isteri-isterinya? "pertanyaan itu selalu melonjak-lonjak di dalam dadanya. Demikianlah, seperti pada malam-malam sebelumnya, Sindangsari tergolek di pembaringannya seorang diri. Bahkan seorang diri di dalam rumah Kademangan yang besar. Pembantu-pembantu Ki Demang berada di belakang, sedang para peronda berada di luar. Di malam yang sepi itu, isak tangis Sindangsari telah menyentuh perasaan perempuan tua yang duduk di longkangan belakang. Ia tidak menghiraukan lagi embun yang mulai menitik. Perasaan iba telah melonjak-lonjak di hatinya. Perempuan itu terkejut ketika pembantu Ki Demang menegurnya "Kenapa Nyai berada disitu?" "Kemarilah" bisiknya "dengarlah. Apakah suara itu suara isak tangis?" Pelayan itupun mendekat. Kepalanyapun kemudian terangguk-angguk kecil "Ya. Isak yang ter tahan-tahan" "Kasihan, Kasihan Sindangsari. Ki Demang harus menyadari bahwa isterinya kali ini adalah seorang gadis yang lain dari isteri-isterinya yang terdahulu" Kedua perempuan yang kini telah melekatkan dirinya pada dinding ruang dalam itu menjadi bersedih pula. Beberapa kali mereka mengalami hal yang serupa. Bahkan pernah Ki Demang tidak dapat mengendalikan kemarahannya dan menyakit i isterinya. "Kasihan, kasihan" desis perempuan itu. Sementara itu Ki Demang bersama dua orang peronda telah berjalan dengan tergesa-gesa keluar halaman Kademangan, seakan-akan sesuatu telah mengejarnya. Semakin cepat Ki Demang melangkah, maka ia merasa semakin gelisah, karena ia tidak segera berhasil membebaskan dirinya dari kejaran perasaannya sendiri. "Persetan dengan perempuan itu" ia menggeram di dalam hatinya "Aku adalah seorang Demang yang bertanggung jawab atas keselamatan seluruh Kademangan. Aku tidak harus sekedar memikirkan seorang isteri yang betapapun cantiknya. Keselamatan Kademangan ini lebih penting dari segalagalanya" Dan Ki Demangpun kemudian melangkah lebih cepat lagi. sehingga kedua peronda yang mengawaninya menjadi terheran-heran. Mereka berlari-lari kecil mengikut i langkah Ki Demang yang semakin lama menjadi semakin cepat. Ketika mereka sampai di gardu peronda di ujung desa, maka sebelum para peronda itu menyapa. Ki Demang sudah berteriak "He, kenapa kalian tidur saja? Apa gunanya kalian berada disini kalau kalian hanya sekedar akan tidur. Pulang saja. Tidak ada gunanya dipasang peronda-peronda yang hanya berpindah tidur dari rumahnya ke gardu ini" Para peronda di gardu itu terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa t iba-tiba saja Ki Demang marah-marah kepada mereka. Salah seorang mencoba memberi penjelasan "Ki Demang. Hanya sebagian dari kami yang tidur di gardu ini. Kami memang sengaja membagi tugas. Sedang mereka yang tidak sedang bertugas kami perkenankan untuk t idur disini" Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun kemarahan yang ada sejak ia berada di rumahnya itu masih juga tertuang "Tetapi kebetulan saja aku lewat. Kalau tidak, maka yang lainpun pasti akan segera menyusul tidur pula" Tidak seorang lagi yang berani menjawab. Mereka menundukkan kepala mereka sambil menahan hati. "Hati-hatilah" berkata Ki Demang "malam ini aku akan lewat lagi di muka gardu ini. Kalau kalian tidur semua aku bakar gardu ini seisinya " Ki Demang tidak menunggu jawaban lagi. lapun melanjutkan perjalanannya dari satu padukuhan kepadukuhan yang lain. Para peronda yang ditinggalkannya saling berpandangan sejenak. Salah seorang berdesis "Kenapa Ki Demang tiba-tiba saja marah-marah?" Kawannya menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya "Entahlah, Kita semuanya tidak tahu. Mungkin memang ada peronda di gardu-gardu yang semuanya jatuh tertidur, sehingga membuatnya marah-marah. Sampai di gardu ini, kemarahan itu masih juga dibawanya" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka yang sudah terbangun dari tidurnyapun tidak berani lagi berbaring. Mereka berjalan-jalan saja hilir mudik di muka gardu. "He, kau lihat manggis di rumahku sedang berbuah? Mari siapa yang ingin makan manggis untuk mencegah kantuk" "Uh, aku t idak mau sakit perut. Malam-malambegini makan manggis" sahut yang lain "kalau ada ketela pendem, mungkin aku akan mempertimbangkannya" "Aku akan mengambil ke rumah sebentar" seorang yang lain menyahut. Demikianlah maka para peronda itu telah membuat kesibukan untuk mencegah agar mereka tidak menjadi kantuk dan apalagi tertidur bersama-sama. Malam itu agaknya telah benar-benar mencemaskan bagi Sindangsari. Apabila malam-malam yang demikian selalu terulang maka ia akan menjadi semakin tersiksa karenanya. Tetapi tidak ada yang dapat dilakukan oleh Sindangsari, selain mengadu kepada dirinya sendiri sambil menit ikkan air mata. Meskipun di Kademangan itu sudah tidak ada peralatan dan tidak ada pertunjukan apapun, namun malam itu Sindangsari masih juga tidak dapat tidur. Ia benar-benar telah dicengkam oleh kegelisahan dan kecemasan. Bahkan karena kebingungan yang meledak di kepalanya. Sindangsari telah jatuh ke dalam suatu rencana yang tidak terpuji bagi seorang perempuan. Demikianlah, maka hari-hari berikutnya sama sekali tidak menarik bagi Sindangsari. Ia melayani Ki Demang tanpa hati. Menyediakan makan, minum dan keperluan-keperluannya yang lain. Noda pada dirinya telah memaksanya menunggu, kapan malam akan datang lagi. Betapapun lambatnya, namun akhirnya, Kepandak telah disaput oleh gelapnya malam yang turun perlahan-lahan. Ketika lampu-lampu di rumah Ki Demang telah menyala, maka degup jantung Sindang-saripun terasa menjadi semakin cepat. "Aku harus meyakinkan Ki Demang, bahwa aku memang mengharapkannya" berkata Sindangsari kepada dirinya sendiri. Tetapi iapun tidak juga dapat berbohong, bahwa ia tidak berbuat hal itu dengan sejujur hatinya. Demikianlah ia pergi mendahului Ki Demang masuk ke dalam biliknya. Kebingungan dan kecemasan yang memuncak telah membuatnya hampir berputus-asa, bahwa ia akan berhasil menyembunyikan dosanya. Ketika ia mendengar Ki Demang, Sindangsari menunggunya dengan gemetar. Tanpa berkedip ia memandang pintu yang kemudian bergerak perlahan-lahan. Dengan ragu-ragu Ki Demang melangkahkan kakinya memasuki bilik itu. Ia tertegun ketika ia melihat Sindangsari yang duduk di pinggir pembaringannya. Sindangsari yang sedang berputus-asa dan kehilangan pikirannya yang bening, karena ia selalu dikejar-kejar oleh pengakuan dosa di dalam hatinya. "He, apa yang kau lakukan?" Ki Demang hampir berteriak. "Tetapi, tetapi aku tidak tahu kalau Ki Demang akan masuk" "Kau tidak menggerendel pintu" Sindangsari tidak segera menyahut. Sejenak ia duduk membeku di tempatnya, namun kemudian ia berdesis "Aku sedang berganti pakaian" Ki Demang berdiri saja seperti patung. Tetapi wajahnya tiba-tiba telah berubah. Semakin lama menjadi semakin merah dan tegang. Sindangsaripun telah benar-benar kehilangan akal. Ia tidak lagi memikirkan kepantasan trapsilanya. Bahkan iapun kemudian berdiri sambil berkata "Ki Demang, jangan dit inggal aku sendirian. Aku takut" Tubuh Ki Demang kini bergetar seperti orang yang kedinginan. Ketika Sindangsari maju selangkah lagi, Ki Demang itu kemudian mundur sambil berkata lantang "Berhenti. Berhenti disitu. Kalau kau maju lagi, aku bunuh kau" Sindangsari terkejut mendengar suara Ki Demang. Meskipun ia sendiri seakan-akan telah kehilangan nalarnya yang wajar, namun ia masih juga dipengaruhi oleh perasaan takut melihat sikap dan sorot mata Ki Demang di Kepandak. "Ki Demang" berkata Sindangsari kemudian "sudah berapa hari kita menjadi suami istri. Tetapi sikap Ki Demang tidak dapat aku mengerti. Aku sudah mencoba menyesuaikan diriku sebagai seorang isteri. Tetapi Ki Demang tidak berbuat sebagai seorang suami" "Cukup. Cukup" Ki Demang berteriak "sudah enam kali aku kawin Sari. Aku kira kau adalah isteriku yang paling baik, yang paling cantik, dan yang paling sopan. Tetapi ternyata kau adalah isteriku yang paling kasar. Yang paling jauh dari sopan santun seorang perempuan. Mungkin pengaruh kehidupan kota telah meresap ke dalam tubuhmu, sehingga kau sendiri tidak menghargai lagi milikmu yang paling berharga. Sari, apalagi orang lain. Orang lain akan menganggapmu tidak lebih dari barang yang tidak berharga. Aku jadi muak melihat kau. Muak" Sejenak Sindangsari terpaku di tempatnya. Dipandanginya wajah Ki Demang yang membara. Namun kini keputus-asaan telah benar-benar mencengkamnya sehingga tanpa sesadarnya ia berkata tidak kalah lantangnya "Jadi apa maksudmu membawaku kemari Ki Demang? Apakah kau hanya sekedar ingin menyiksa aku dengan memisahkan aku dari ruang yang paling aku cintai? Atau barangkali kau mempunyai maksud lain yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun? Ki Demang, kalau memang begini tingkah lakumu terhadap isteri-isterimu yang terdahulu, maka sudah tentu, tidak seorangpun yang akan betah tinggal disini lebih dari seumur bayi di dalam kandungan" "Jangan kau sebut-sebut, jangan kau sebut-sebut. "Kenapa? Bukankah kau inginkan anak" "Tidak, tidak. Tidak" "Kenapa Ki Demang? Kau tidak ingin mempunyai keturunan bagi pewaris Kademangan ini" "Tutup mulutmu. Aku bunuh kau"Tiba-tiba Ki Demang meloncat maju sambil mengembangkan jari-jari tangannya. Namun ketika jari-jari tangannya itu melekat di leher Sindangsari, terlintaslah bayangan di kepalanya saat-saat pernikahannya. "Uh" ia berdesah sambil memalingkan wajahnya. Terbayang beberapa orang prajurit berkuda datang ke rumah anak itu. Mereka adalah kawan-kawan ayah Sindangsari. Bagaimanapun juga Ki Demang masih mempertimbangkannya, bahwa prajurit-prajurit dan perwiraperwira itu akan turut campur apabila ia berbuat kasar terhadap Sindangsari" "Ki Demang, apakah kau akan membunuhku" tiba-tiba suara Sindangsari menjadi mapan. Ki Demang menahan nafasnya yang serasa menjadi semakin cepat mengalir. Kepalanya kini tertunduk dalamdalam. Di belakangnya Sindangsari berdiri tegak justru dengan kepala tengadah. Sekali lagi ia berkata "Ki Demang, kau akan membunuhku?" "Tidak" suara Ki Demang menjadi lemah. "Kenapa tidak?" Ki Demang tersentak. Sekali lagi ia berpaling, namun kemudian iapun segera melangkah pergi meninggalkan Sindangsari di dalambiliknya. Sekali lagi Sindangsari harus membant ing diri di pembaringan dan menangis sejadi-jadinya. Apalagi ketika ia sadar akan dirinya dan cengkaman keputus-asaannya, sehingga ia telah kehilangan trapsilanya sebagai seorang perempuan. Masih terngiang di telinganya suara Ki Demang "Sudah enam kali aku kawin. Ternyata kau adalah isteriku yang paling kasar, yang paling jauh dari sopan santun seorang perempuan" "O, beginikah aku sekarang" Sindangsari mengeluh tajam. Betapa kecewa dan penyesalan menghentak-hentak dadanya. Akhirnya Ki Demang itupun meninggalkannya pergi. "Seandainya nenek tidak pernah berceritera bahwa bunuh diri adalah pekerjaan yang menjauhkan manusia dari Tuhan, aku pasti akan membunuh diriku" tangis Sindangsari. Dan betapa ia menjadi sangat malu kepada diri sendiri. Sejak saat itu, maka hubungannya dengan Ki Demang menjadi semakin jauh. Meskipun ia masih tetap melayani seperti biasa, menghidangkan makan, minum dan keperluankeperluannya yang lain, tetapi lebih daripada itu. mereka seakan-akan telah dibatasi oleh sebuah benteng yang tidak tertembuskan. Sindangsari yang menjadi sangat malu akan usahanya yang gagal itupun kemudian berdiri diatas harga dirinya yang perlahan-lahan tumbuh diatas alas kecenderungannya pada pasrah diri. Itulah sebabnya, maka ia tidak pernah lagi berbuat apapun juga, meskipun di dalam remang-remang antara sadar dan tidak, sebelum ia berusaha untuk jatuh tertidur, ia merasa bahwa Ki Demang berdiri di sampingnya sambil mengawasinya. "Apa peduliku" katanya di dalam hati. Dan sikapnya itu ternyata telah membuatnya agak tenteram. Namun di hari-hari berikutnya, Sindangsari telah diguncang pula oleh keadaan dirinya. Terasa sesuatu yang lain telah mengganggunya. Mengganggu tubuhnya. Kepalanya menjadi pening dan perutnya kadang-kadang menjadi mual. "Ah, kenapa aku ini" bertanya Sindangsari kepada dirinya sendiri "agaknya aku terlampau lelah dan kadang-kadang cemas. Aku juga kurang tidur" Tetapi perasaan mual di perutnya telah membuatnya gelisah. Apalagi disertai dengan tanda-tanda lain seperti yang pernah didengarnya dari neneknya. "Apakah .............?" kadang-kadang sebuah pertanyaan telah menggelit ik hatinya. Tetapi Sindangsari tidak berani melihat kemungkinan itu. Setiap kali ia berusaha untuk menenteramkan dirinya sendiri dengan berbagai macam alasan. Kurang tidur, lelah, gelisah dan masih banyak lagi yang dapat disebutnya, yang membuatnya menjadi pening dan mual. Tetapi tanda yang satu itu? Tanda yang hampir memberinya kepastian bahwa memang telah terjadi perubahan di dalamdirinya sendiri? Di dalam tubuhnya?. Peristiwa-peristiwa itu benar-benar telah menyiksa perasaan Sindangsari. Siksaan yang hampir tidak tertahankan. Dalam pada itu, ternyata Sultan Agung di Mataram, berkeputusan untuk segera memberangkatkan pasukannya untuk menyerang Betawi. Seperti yang diangan-angankan oleh Sindangsari, saat itu Pamot telah bertekad untuk berusaha sekuat-kuat kemampuannya, agar iapun dapat mengikuti pasukan yang akan dikirim untuk mengusir orang asing yang kini mulai menjamah tanah kelahiran ini. Ternyata usaha Pamot itupun berhasil. Selama ia berada di tempat penempaan, ia telah menunjukkan kelebihan yang meyakinkan, sehingga iapun terpilih bersama beberapa orang kawannya dari Gemulung. diantaranya Punta. Namun ternyata bahwa usaha Pamot untuk dapat ikut serta itu, telah dibantu sepenuhnya oleh Ki Dipajaya. Bukan dengan penilaian yang diperingan, tetapi justru di setiap kesempatan Ki Dipajaya sendiri telah membawa Pamot menyingkir untuk memberinya bekal yang lebih banyak lagi baginya sebelum ia pergi kepeperangan. "Perjalanan itu pasti bukan perjalanan tamasya Pamot" berkata Ki Dipajaya. Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya "Aku meyakini" jawabnya. "Bagus" sahut Dipajaya kemudian "jalan yang akan kau tempuh penuh dengan kesulitan dan penderitaan lahir dan batin" Sekali lagi Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau akan berperang menghadapi orang-orang asing yang memiliki kelebihan jenis senjata. Senjata yang tidak pernah kita punyai" Pamot masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah benar-benar bertekad bulat, bahwa ia akan ikut dengan perjuangan ini. Keadaaan yang khusus pada dirinya telah mendorongnya dan menjadikannya semakin mantap. "Aku harus pergi. Aku harus pergi" katanya di dalam hati. Meskipun kadang-kadang ia masih digelitik oleh perasaannya sendiri "Kau tidak pergi berjuang Pamot. Tetapi kau sedang lari dari sakit hati yang tidak tertanggungkan" "Tidak. Tidak" dibantahnya sendiri perasaannya itu "aku benar-benar meyakini perjuanganku. Bahkan seandainya aku berhasil memperisteri Sindangsari. Aku tahu benar tujuan perjuangan ini. Karena itu aku akan berangkat dengan penuh keyakinan akan tujuan keberangkatanku. Bukan sekedar sebuah pelarian. Mataram harus berhasil mengusir orangorang bule itu dari bumi ini" Dan di malam-malam menjelang keberangkatan pasukan Mataram, Sindangsari seakan-akan tersentuh oleh getarangetaran yang terpancar dari tali perasaan yang tanpa disadari masih juga mengikat kedua hati anak-anak muda itu. Pamot dan Sindangsari. Selagi Sindangsari berbaring di pembaringan, dan selagi ia merasa dunianya semakin sepi karena ia selalu seorang diri di rumah yang besar itu, sebuah bayangan telah terlukis diangan-angannya. "Pamot " perlahan-lahan ia berdesis. Tanpa sesadarnya Sindangsari telah meraba perutnya. Seperti benar-benar telah terjadi, dan bukan sekedar di dalam mimpi, bayangan Pamot itu menjadi semakin jelas berdiri di hadapannya. Pamot yang kini berpakaian keprajuritan dengan sehelai pedang di lambung dan keris di punggung. "O"Sindangsari berdesah "kapan kau akan pulang Pamot?" Sindangsari melihat bayangan itu menggelengkan kepalanya. Hanya menggeleng, tetap sama sekali tidak menjawab. "Katakan, katakan Pamot, kapan kau akan kembali kepadaku? Aku selalu disiksa oleh kesepian dan perasaan bersalah. Kita bersama-sama telah melekatkan noda yang tidak lagi dapat aku sembunyikan" Tetapi Pamot itu berdiri saja seperti patung. "Pamot, Pamot" ia berdesis "mungkin kau akan berhasil memenangkan perjuanganmu. Ayahku pernah gagal dan bahkan gugur di peperangan. Mungkin kali ini kau akan menang" Sindangsari berhenti sejenak "Tetapi akulah yang akan mengalami kekalahan. Dan kalau kau kelak kembali ke Kademangan ini kakang, mungkin aku sudah di kubur, karena Ki Demang pasti akan membunuhku" Bayangan itu semakin lama menjadi semakin kabur oleh air mata yang mengembang di pelupuk. Namun tiba-tiba semuanya lenyap ketika Sindangsari tersadar. Di gardu di regol halaman terdengar suara kentongan yang memecah sepinya malam. "O" Sindangsari berdesah sambil mengusap matanya yang basah "aku tidak bermimpi. Aku tidak bermimpi" tetapi Pamot itu sudah t idak ada lagi di dalam biliknya. Sindangsari tidak dapat menahan tangisnya. Terlintas sebuah kenangan yang tidak akan dapat dilupakan sepanjang umurnya. Kenangan yang indah, tetapi juga permulaan dari siksaan yang dialaminya sampai saat ini. Sindangsari mengusap matanya ketika ia mendengar pintu ruang dalam bergerit. Kemudian dipejamkannya matanya, seolah-olah ia sudah tertidur nyenyak. Di miringkannya tubuhnya membelakangi pintu biliknya. Ia tahu benar, bahwa yang membuka pintu itu adalah Ki Demang sendiri. Sejenak kemudian ia mendengar desir langkah mendekati biliknya. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar pintu bilik itupun berderit pula. Meskipun Sindangsari tidak berpaling, tetapi di dalam angan-angannya ia dapat melihat seperti kebiasaan yang dilakukan hampir setiap malam oleh Ki Demang di Kepandak. Berdiri tegak di muka pintu dengan wajah yang tegang memandang Sindangsari yang tergolek di pembaringannya. Pada saat yang bersamaan. Pamotpun sedang berdiri tegak dengan wajah yang tegang mendengarkan penjelasan dari pemimpin kelompoknya. "Sinuhun Sultan Agung sudah memutuskan, bahwa kita akan segera berangkat" berkata pemimpin kelompok itu "kita tidak akan menunda waktu lagi. Malam ini kalian harus sudah selesai berkemas. Besok di saat fajar menyingsing kita akan meninggalkan alun-alun Mataram" Semua orang di dalam kelompok itu menjadi berdebardebar. Dan mereka mendengar penjelasan lebih lanjut "Kita akan singgah di kota-kota di sepanjang pesisir Utara" Tidak seorangpun yang bergerak. Tetapi hampir setiap orang bertanya di dalam hatinya "Apakah pasukan ini kelak juga akan menyerang Betawi lewat lautan seperti pasukan Mataramhampir setahun yang lalu?" Tetapi pemimpin kelompoknya menjelaskan "Kita harus berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan dari pasukan yang gagal itu. Perjalanan lewat laut tidak dapat diperhitungkan waktunya dengan tepat. Mungkin kalian pernah mendengar, bahwa pasukan penggempur Mataram telah berhasil memasuki benteng musuh di Betawi dengan berbagai cara. Ada yang menyamar sebagai pedagang ternak, ada yang menyamar sebagai pedagang sayur-sayuran, dan cara-cara yang lain. Di saat yang telah ditentukan, mereka telah berhasil menghancurkan sebagian besar dari isi benteng itu. Bahkan mereka telah berhasil membuka pintu benteng. Tetapi pasukan yang harus datang kemudian, memasuki benteng itu, ternyata terlambat. Bukan kesalahan mereka. Bukan karena tidak menepati tugas mereka, tetapi unsur angin dan keadaan cuaca berpengaruh pula. Sehingga perjuangan itu diakhiri dengan peristiwa yang tidak kita harapkan bersama. Pasukan penggempur itu akhirnya habis, gugur di dalam perjuangan mereka sebelum induk pasukan datang. Dan perjuangan mengusir orang asing setahun yang lalu itupun gagal" pemimpin kelompok itu berhenti sejenak, lalu "Sekarang kita tidak akan datang ke Betawi melalui laut. Meskipun cara itu benar-benar telah mengejutkan musuh, karena mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kekuatan laut Mataram dapat dibanggakan. Tetapi kali ini kita akan berjalan melalui daratan" Semua orang di dalam pasukan itu menganggukanggukkan kepala. Mereka sadar bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berat. Jarak yang harus mereka tempuh adalah jarak yang sangat jauh. Namun tekad yang membara terbayang di wajah setiap orang. Setiap orang yang ada di dalam pasukan yang harus sudah siap sebelum fajar. Di dalam pasukan itu terdapat prajurit-prajurit Mataram dan anak-anak muda yang sudah mendapat tempaan lahir dan batin untuk menghadapi tugas yang terlampau berat itu. Demikianlah dengan nyala tekad yang berkobar-kobar di dalam setiap dada, maka Matarampun telah mulai dengan perjuangannya kembali untuk mengusir orang-orang asing yang telah berani menjamah bumi tercinta. Betapapun kegagalan pernah dialami oleh Sinuhun Sultang Agung, tetapi hasrat untuk tetap berdiri tanpa sentuhan tangan-tangan asing itu masih tetap menyala di dadanya. Bukan hanya di dalam dada Sinuhun Sultang Agung sendiri, tetapi juga di setiap dada para pemimpin pemerintahan, pemimpin keprajuritan dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah dan bahkan di seluruh hati nurani rakyat. Ketika semua persiapan sudah selesai, maka seluruh pasukan yang akan berangkat ke Betawi itupun berkumpul di alun-alun. Hampir semua penghuni kota yang mendengar berita keberangkatan pasukan itu, memerlukan keluar dari rumah-rumah mereka dan pergi ke alun-alun untuk melihat, betapa pasukan Mataram yang kuat telah siap untuk melakukan tugasnya yang berat. Di dalam keremangan fajar, alun-alun Mataram telah berubah menjadi lautan tajamnya senjata. Ujung-ujung tombak mencuat seperti daun ilalang yang tumbuh memenuhi bagian terbesar dari seluruh alun-a lun. Sedang mereka yang bersenjatakan pedangpun, telah menarik senjata mereka dan mengacu-acukannya. Bahkan sebagian dari mereka telah menyentuh perisai-perisai mereka dengan daun-daun pedang, membuat irama yang khusus. Semakin lama menjadi semakin cepat, seperti anak-anak bermain kotekan. Tetapi semua suara itupun tiba-tiba terhenti. Alun-alun yang penuh dengan manusia itu seakan-akan menjadi sepi, sesepi tanah pekuburan. Yang terdengar kemudian adalah suara gamelan yang meneriakkan tekad perjuangan yang meledak-meledak, mengiringi hadirnya Sinuhun Sultan Agung. Dengan dada tengadah Sinuhun Sultan Agung naik kepanggung yang sudah disediakan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dipandanginya seluruh pasukannya. Sentuhan matanya seakan-akan telah menumbuhkan kekuatan baru di dalam diri setiap prajurit dan anak-anak muda yang telah bersiap untuk pergi ke medan itu. Sejenak kemudian pemimpin tertinggi pasukan Matarampun naik pula ke panggung, untuk menerima sipat kandel, sebuah pusaka yang berupa tombak sebagai lambang kepercayaan Sinuhun Sultan Agung kepada pasukannya. "Aku sertakan Kiai Janur bersama pasukan ini" hanya itulah yang diucapkan oleh Sultan Agung. Pemimpin tertinggi pasukan itupun menyembah. Kemudian diterimanya tombak pusaka itu. Kiai Janur, yang sudah tidak berwrangka lagi sebagai pertanda kesia-gaan pasukan Mataramuntuk bertempur di setiap saat. Sejenak kemudian maka pasukan itupun mulai bergerak. Di paling depan, adalah beberapa orang terpilih berjalan mendahului pasukan. Kemudian iring-iringan panji-panji dan umbul-umbul, rontek dan tanda-tanda kebenaran yang lain. Di belakang tanda-tanda kebesaran itu, seperangkat gamelan yang dipanggul oleh petugas-petugas yang khusus, bergantungan pada tali-tali yang kuat. Para penabuh dengan pakaian keprajuritan dan senjata di lambung mengayunayunkan alat-alat pemukul mereka dengan penuh gairah, sehingga bunyinyapun telah menumbuhkan pengaruh bagi seluruh pasukan. Sentuhan bunyi gamelan itu telah menambah gairah perjuangan yang memang sudah berkobar di dalam setiap dada. Namun demikian, ada juga satu dua orang, yang berdiri di pinggir-pinggir jalan, menyaksikan keberangkatan pasukan itu dengan air mata yang berlinang-linang. Anak-anak mereka, dan mungkin juga suami-suami mereka, berada di dalam pasukan itu. Seorang ibu yang tidak dapat menahan perasaannya, bergantung pada pundak saudara laki-lakinya. Air matanya yang menitik, telah membasahi baju saudaranya itu. "Jangan menangis" Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi air matanya masih juga menitik terus. Bahkan kemudian disela-sela isaknya ia berkata "Setahun yang lalu ayahnya telah gugur. Sekarang anak itu pergi ke tujuan yang sama" "Tetapi nasib anak itu berlainan dengan nasib ayahnya " "Mudah-mudahan " "Kau harus berdoa, Bukan saja anakmu dapat kembali dengan selamat, tetapi pasukan itu akan mendapatkan kemenangan" Perempuan itu menganggukkan kepalanya. "Tuhan Maha Adil" Sekali lagi perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bergumam "Perang selalu menumbuhkan kesedihan" "Ya. Kesedihan, kecemasan dan ketakutan. Tetapi orang asing itupun menumbuhkan berbagai macam kemungkinan yang barangkali jauh Lebih buruk dari perang ini. Kalau pasukan ini berhasil mengusir mereka, maka kita akan dapat membuat pertimbangan. Berapa banyak korban yang jatuh Tetapi untuk seterusnya kita tidak akan dihantui lagi oleh kekuasaan asing dibumi ini" Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula. "Kalau kita memandang peperangan ini sepotong-sepotong, maka kita akan kehilangan keseluruhan dan kebulatan kita sebagai rakyat Mataram. Kalau kau memandang dari segi gugurnya suamimu saja, tanpa memandang keseluruhan perjuangan, maka kau akan berontak, seolah-olah suamimu dikorbankan untuk tujuan yang tidak kau hayati. Tetapi kalau kau berdiri diatas pendirian yang lain, cinta dan pengabdian, maka kau akan menerimanya dengan hati yang lebih lapang" Sekali lagi perempuan itu mengangguk. Tetapi bagaimanapun juga kepergian anaknya telah membuatnya bersedih dan cemas. Pengertiannya tentang peperangan dan perjuangan ini dapat bersama-sama menghuni hatinya dengan kecemasannya atas anaknya yang pergi dengan senjata di tangan. Seperti setahun yang lalu, ia melihat iring-iringan pasukan meninggalkan alun-alun ini. Ketika suaminya hilang di dalam derapnya pasukan yang semakin jauh, maka ternyata untuk selama-lamanya suaminya itu tidak lagi kembali kepadanya. Sekarang, anak laki-lakinyalah yang pergi, seakanakan menyusul ayahnya yang telah pergi lebih dahulu. Di saat itu, di saat fajar menjadi semakin terang, di Kademangan Kepandak, Sindangsari telah tertidur sejenak. Sekali lagi, seolah-olah tidak di dalam mimpi ia melihat ayahnya melambai-lambaikan tangannya kepadanya. Tetapi yang mengherankannya, ayahnya itu menjadi jauh lebih muda dari saat-saat keberangkatannya ke medan perang. Sindangsari menjadi termangu-mangu di dalam batas antara sadar dan tidak. Namun tiba-tiba saja ia menjerit ketika ia melihat ayahnya itu terpelanting jatuh. Ia masih sempat melihat seorang anak muda berlari-lari berusaha menolong ayahnya itu, sementara ia merasa seseorang telah menahannya agar ia tidak pingsan. Ketika tubuhnya terguncang-guncang oleh isaknya, Sindangsari tersadar. "Kenapa kau Sari" terdengar suara di sisi pembaringannya. Sindangsari segera berpaling dan membuka matanya. Ki Demang berdiri dengan cemas di sampingnya. "Apakah kau bermimpi buruk?" Perlahan-lahan Sindangsari bangkit. Perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya. "Kau bermimpi apa Sari?" bertanya suaminya. "Ayah" desis Sindangsari. "Kenapa dengan ayahmu?" Sindangsaripun kemudian berkisar menepi. Dibenahinya pakaiannya dan rambutnya. Kemudian jawabnya "Aku melihat ayah" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan singkat ia menceriterakan mimpinya kepada Ki Demang yang masih mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi Sindangsari tidak mengatakan, bahwa ia masih sempat melihat seorang anak muda yang berlari-lari mencoba menolong ayahnya, meskipun ia tidak tahu apakah usaha itu berhasil atau tidak, karena ia segera tersadar. Dan apalagi mengatakan, bahwa di dalam tangkapan perasaannya, anak muda itu adalah Pamot. "Ah" ia berdesah di dalam hatinya "aku masih selalu digoda oleh perasaan itu" "Kau selalu gelisah" berkata Ki Demang kemudian "berusahalah menenteramkan hatimu" Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Atau barangkali kau sakit?" bertanya Ki Demang "kau tampak terlampau pucat" Sindangsari menggelengkan kepalanya "Tidak Ki Demang Aku tidak sakit" "Kalau kau masih akan t idur, tidurlah. Kau perlu banyak beristirahat. Agaknya kau memang tidak sehat" Sindangsari tidak menyahut. Dipandanginya saja Ki Demang yang melangkah meninggalkan biliknya. Meninggalkannya seorang diri. Sejenak Sindangsari duduk termangu-mangu di tempatnya Ketika ia memandang langit-langit, terasa olehnya bahwa fajar sudah menjadi semakin terang. Karena itu, maka Sindangsaripun kemudian berdiri. Dilipatnya selimutnya, dan dibenahinya pembaringannya. Seperti yang biasa dilakukan, Sindangsaripun segera pergi ke dapur. Air yang sudah mendidih mengepul dibelanga. Pembantunya selalu menunggunya, untuk membuat minuman bagi Ki Demang. Sindangsari sendirilah yang selalu menuangkannya ke dalam mangkuk dan menghidangkannya di pringgitan. Kemudian seperti biasanya pula ia mengambil sapu, dan dibersihkannya ruang dalam. Kebiasaan itu memang agak lain dari kebiasaan isteri Ki Demang yang terdahulu. Hampir tidak pernah mereka menyentuh sapu dan apalagi bekerja di dapur. Mereka yang sudah merasa dirinya menjadi Nyai Demang, menganggap bahwa tidak pantaslah bagi mereka untuk berbuat sesuatu yang dapat mengotori tangannya. Karena itulah maka tanggapan para pembantu Ki Demang terhadap Nyai Demang yang satu ini agak berbeda. Karena pada umumnya mereka sudah tahu ceritera tentang Sindangsari, maka mereka menjadi semakin iba melihatnya. Ki Demang sendiri mempunyai tanggapan yang lain pula terhadap Sindangsari dari isteri-isterinya yang terdahulu. Memang kadang-kadang darahnya serasa mendidih sampai kekepala, seperti yang selalu dialaminya dengan isteriisterinya yang terdahulu. Ia memang sering menjadi marahmarah tanpa sebab. Membanting barang-barang dan bahkan menyakit i isteri-isterinya. Tetapi ia tidak dapat melakukannya terhadap Sindangsari. Mula-mula ia dipengaruhi oleh sayap pergaulan ibu Sindangsari. Prajurit-prajurit kawan ayah Sindangsari agaknya terlampau akrab dengan keluarga isterinya, sehingga kalau ia berbuat sesuatu atas isterinya itu tanpa sebab, maka prajuritprajurit itu tentu akan tergerak untuk berbuat sesuatu, karena merekapun pasti akan mengetahuinya, bagaimana caranya mendapatkan isterinya itu. Namun lambat laun, Ki Demang melihat sesuatu yang memang lain pada isterinya yang keenam itu. Meskipun Sindangsari pernah tinggal di kota, tetapi ia adalah seorang isteri yang baik. Ia sendiri menangani pekerjaan rumah tangga dengan rajin dan tekun. Dituntunnya pembantu pembantunya untuk melakukan pekerjaan yang sebelumnya hampir tidak pernah mereka kenal. Sambil menghadapi semangkuk air panas dan beberapa potong makanan Ki Demang merenungi dirinya sendiri. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadarinya kepalanya terangguk-angguk lemah. "Hem" Ki Demang itu berdesah. Ia berpaling ketika ia mendengar gerit pintu di-ujung pringgitan. Dilihatnya Sindangsari kemudian membersihkan lantai dan perabotperabot rumah tangganya. "Sayang sekali" Ki Demang itu seakan-akan mengeluh di dalam hati. Ketika tanpa disengaja Sindangsari berpaling dan tatapan mata mereka bertemu, maka Ki Demangpun segera menundukkan kepalanya, sedang Sindangsari melemparkan pandangan matanya ke pintu biliknya yang terbuka. Namun dada keduanya menjadi berdebar-debar tanpa mereka ketahui sebabnya. Ki Demang yang duduk di pringgitan itupun mencoba untuk melihat ke dirinya sendiri. Beberapa kali ia sudah beristeri, tetapi ia tidak pernah menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Selama ini ia t idak pernah mau melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Karena itu, maka ia selalu melemparkan kesalahan kepada isteri-isterinya dan orangorang lain. Tiba-tiba Ki Demang menghentakkan giginya. Diambilnya makanan yang terhidang di hadapannya. Disuapkannya makanan itu ke dalam mulutnya. Dan dikunyahnya makanan itu dengan tergesa-gesa, seolah-olah kesempatannya menjadi semakin tipis untuk dapat menikmatinya. Sejenak kemudian Ki Demang itupun berdiri dengan tergesa-gesa pula. Dipanggilnya Sindangsari dari tempatnya, seperti anak-anak yang berteriak-teriak memanggil ibunya yang sedang berada di kebun belakang. Sindangsari terkejut mendengar Ki Demang berteriakteriak. Ia yakin bahwa Ki Demang mengetahui bahwa ia ada di ruang dalam. "Aku akan pergi" katanya lantang. Sindangsari memandanginya dengan heran. Namun kemudian ditenangkannya hatinya. Ia sudah melihat sikap yang tidak dimengertinya itu berpuluh-puluh kali, seperti pagi ini. "Kemana Ki Demang" ia mencoba bertanya. "He, kemana?" Ki Demang membelalakkan matanya "kau masih juga belum mengerti bahwa kau adalah seorang isteri Demang Kepandak. Adalah tugasku untuk pergi berkeliling, melihat-lihat dan mengamati apa yang terjadi di seluruh Kademangan ini. Tugasku tidak hanya sekedar menunggui kau, meskipun kau adalah seorang isteri yang cantik" Sindangsari menelan ludahnya. Tetapi iapun menganggukkan kepalanya "Baiklah Ki Demang" "Seharusnya kau tidak bertanya lagi. Kau harus sudah mengerti. Aku akan pergi kemana dan kapan aku harus pergi" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi. Dengan tergesa-gesa Ki Demangpun kemudian melangkah pergi. Ia tidak menghiraukan lagi, bahwa ia telah melangkahi makanan dan mangkuk minumannya sendiri. Tetapi tiba-tiba di muka pintu ia berhenti. Perlahan-lahan ia berpaling. Dipandanginya wajah Sindangsari yang pucat. Seperti bukan kehendaknya sendiri Ki Demang itu berkata "Beristirahatlah Sari. Jangan terlampau banyak bekerja. Bukankah kau mempunyai beberapa orang pembantu yang dapat membersihkan setiap ruangan di dalam rumah ini?" Sindangsari mengangkat wajahnya. Ia merasa bahwa suaminya memang orang yang aneh. Tanpa menunggu jawaban Sindangsari Ki Demang itupun menghilang di balik pintu. Sejenak Sindangsari masih berdiri termangu-mangu. Sekali ia menarik nafas. Kemudian dilanjutkannya kerjanya, membersihkan ruangan dalam dan bilik-bilik di dalam rumah yang besar itu. Namun tiba-tiba Sindangsari merasa seakan-akan kepalanya berputar dan perutnya menjadi sangat mual. Hampir saja ia t idak berhasil bertahan untuk berdiri, sehingga kedua tangannyapun kemudian berpegangan pada tiang-tiang pintu. "O, perutku" desisnya. Namun demikian ia menjadi cemas. Karena itu, maka dipanggilnya seorang pembantunya yang kebetulan lewat di longkangan belakang. "Kenapa Nyai?" pembantu itu menjadi cemas. "Kepalaku pening sekali" desis Sindangsari "tolong, bawa aku ke pembaringan" Dengan dipapah oleh pelayannya Nyai Demang itupun kemudian berjalan tertatih-tatih masuk ke dalam biliknya. Perlahan-lahan ia merebahkan dirinya di amben bambunya. Namun demikian perasaan mual di perutnya masih saja bergejolak. Bahkan kemudian Sindangsari tidak dapat menahannya lagi, sehingga terlontarlah dari mulutnya, hampir seluruh isi perutnya. "O, kenapa kau Nyai, kenapa?" pelayannya menjadi semakin bingung. Sejenak kemudian terdengar Sindangsari berdesis "Tolong, panggillah bibi tua di rumah sebelah" "Baiklah Nyai" sahut pelayan itu sambil dengan tergesagesa meninggalkan bilik Sindangsari. "Kenapa kau he?" bertanya kawannya yang melihatnya berlari-lari lewat pintu butulan. "Nyai Demang sakit. Ia muntah-muntah. Ambillah pasir dan taburkan di bawah pembaringannya. Aku akan memanggil bibi tua di rumah sebelah" Pelayan-pelayannya kemudian menjadi bingung. Beberapa orang pembantunya telah membual minuman panas, meremas kunir dan asam, sedang yang lain mengambil seonggok pasir. Berlari-lari mereka memasuki bilik Sindangsari yang masih saja berbaring sambil mengaduh terlahan-tahan. "Minumlah air panas Nyai" berkata salah seorang pembantunya, sedang yang lain mendesaknya "minumlah kunir dan asam" Sedang yang lain lagi mengusap kaki dan lengannya dengan minyak dan berambang. Sejenak kemudian maka orang tua di rumah sebelah, yang dipanggil oleh salah seorang pembantu Nyai Demang itupun datanglah dengan tergesa-gesa pula. Ketika ia sudah berdiri disisi pembaringan Sindangsari, maka segera dirabanya dahinya. "Kau tidak panas ngger" desisnya. Perempuan tua itupun kemudian duduk di bibir pembaringan. Katanya kepada para pembantu itu "Jangan bingung. Biarlah aku yang menunggui Nyai Demang. Tinggalkanlah bilik ini supaya udaranya tidak terlampau panas" Pembantu-pembantu Sindangsari itupun kemudian seorang demi seorang melangkah pergi meninggalkan bilik itu. Namun di belakang mereka masih juga sibuk berbicara tentang Nyai Demang yang tiba-tiba saja menjadi sakit. "He, hari apakah ini?" bertanya salah seorang dari mereka. "Kenapa?" yang lain ganti bertanya. "Apakah sesajen di pinggir rumpun bambu peting pelung itu tidak digant i?" "Sudah. Akulah yang menggantinya dengan yang baru. Setiap sore aku menaruh sesajen baru di sana. Beberapa polong. makanan dan secuwil kemeyan" Pembantu-pembantu itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun mereka masih mencoba mencari sebab, kenapa Nyai Demang tiba-tiba saja jatuh sakit. Di dalam biliknya, orang tua di rumah sebelah, merabaraba kening Sindangsari yang memejamkan matanya. "Kau memang pucat ngger" katanya "tapi kau tidak panas. Mungkin kau tidak sakit" Sindangsari t idak menyahut. "Apakah perasaan mual ini seringkali datang?" Sindangsari mengangguk. Jawabnya perlahan-lahan "Ya bibi. Tetapi tidak sekeras kali ini". Orang tua itu mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya tentang beberapa hal mengenai Sindangsari. Mengenai keadaan tubuhnya dan kebiasaannya. "O" tiba-tiba perempuan tua itu menepuk bahu Sindangsari sambil tersenyum "jangan cemas. Jangan cemas Kau tidak apa-apa ngger" Namun kata-kata itu ternyata telah menghentakkan dada Sindangsari. Justru kecemasannya telah melonjak sampai ke kepala, sehingga sejenak perasaan pening dan mualnya seakan-akan telah terlupakan. "Apakah maksud bibi" Sindangsari tidak meneruskannya. "Kau mengandung ngger. Kau mengandung. Tandatandanya telah lengkap. Dan kau sekarang sedang ngidam" "O" Sindangsari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Bersyukurlah ngger. Enam kali Ki Demang di Kepandak ini kawin. Tetapi kaulah satu-satunya isteri yang telah mengandung" perempuan tua itu berhenti sejenak "Nah, apakah kau menyadari artinya?" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi gelora di dadanya menjadi semakin dahsyat menghentak-hentak perasaannya. "Dengan demikian Ki Demang tidak akan lagi kawin dan cerai hampir di setiap tahun sekali. Kau akan tetap menjadi isterinya karena kau akan dapat memberikan anak kepadanya" "Tetapi, tetapi......" suara Sindangsari terputus. "Tetapi kenapa ngger?" orang tua itu bertanya. Karena Sindangsari tidak menjawab, maka ia berkata terus "Tenanglah hatimu. Kegembiraan yang berlebih-lebihan kadang-kadang dapat mengganggu pula" Leher Sindangsari serasa telah tercekik oleh kegelisahan. Namun ia telah berjuang sekuat tenaganya untuk menahan perasaannya. Bahkan kemudian ia mencoba untuk mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. "Nyai Demang" berkata orang tua itu "kaulah yang telah mendapat karunia, menurunkan pewaris Kademangan di Kepandak ini. Kalau anakmu laki-laki, maka ia akan menjadi pengganti ayahnya. Tetapi kalau anakmu perempuan maka kau akan menunggu seorang anak laki-laki yang mungkin masih akan kau lahirkan. Tetapi kalau kau memang tidak mempunyai anak laki-laki, maka menantumulah kelak yang akan melakukan tugasnya sebagai seorang Demang atas nama anak perempuanmu yang sulung" Sindangsari t idak menjawab. Dadanya menjadi pepat dan kepalanya menjadi semakin pening. "Tidurlah" berkata perempuan tua itu "jangan terlalu banyak bekerja. Tanpa sesadarnya Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Sepengetahuanku, kau adalah isteri Ki Demang yang paling rajin. Yang paling pandai mengatur rumah tangga. Lihat, betapa rumah ini kini menjadi bersih dan hidup. Itulah agaknya yang membuat Ki Demang terlampau cinta kepadamu. Dan hanya kaulah ternyata yang akan mendapat keturunan daripadanya" Kalimat-kalimat itu rasa-rasanya bagaikan ujung sembilu yang menusuk-nusuk jantung Sindangsari. Tetapi ia tidak dapat memotong dan menghentikannya. Ia harus tetap membiarkan perempuan tua itu berbicara terus betapapun ia menjadi semakin tersiksa karenanya. "Sudahlah ngger. Tidurlah. Badanmu akan menjadi agak baik. Tetapi biarlah salah seorang pembantumu menungguimu di luar pintu. Mungkin kau memerlukannya" perempuan tua itu berhenti sebentar, lalu "pada umumnya orang yang ngidam menginginkan sesuatu. Jangan kau tahan. Katakanlah kepada suamimu. Suami yang baik pasti akan berusaha mendapatkan keinginan itu, supaya bayimu t idak selalu menitikkan liur" "Ah" Sindangsari berdesah. Tetapi ia tidak kuasa untuk mengatakan sesuatu. "Tidurlah. Kau harus banyak tidur. Kau terlampau lelah dan mungkin kurang tidur" Perempuan tua itu menepuk bahu Sindangsari. Kemudian ia berdiri sambil berkata "Biarlah pembantumu menungguimu. Aku akan pulang sebentar. Aku buatkan untukmu air asam dengan gula aren. Mudah-mudahan dapat mengurangi rasa mual di perutmu" Sindangsari memandang perempuan tua itu dengan tatapan mata yang aneh. Namun perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya. "Aku minta diri. Sebentar lagi aku akan kembali" Sekali lagi Sindangsari mengangguk, dan perempuan tua itupun segera meninggalkan bilik itu. Seorang pembantu kemudian disuruhnya duduk di muka bilik Nyai Demang, apabila ia memerlukan sesuatu setiap saat. Namun sepeninggal perempuan tua itu, Sindangsari tidak dapat menahan diri lagi. Tangisnyapun segera meledak tanpa dapat dibendungnya lagi. Pembantunya yang duduk di muka biliknya menjadi termangu-mangu. Dijengukkannya kepalanya lewat pintu yang tidak tertutup rapat, tetapi ia tidak berani menegurnya. Karena itu, maka iapun menjadi gelisah sendiri. Dalam pada itu, perasaan Sindangsari serasa telah terkoyak-koyak. Ia tidak dapat mengingkari lagi akibat yang tumbuh di dalam dirinya, karena kekhilafannya yang terjadi saat itu. "Tidak. Bukan salah Pamot" katanya di dalam hati "akulah yang paling bersalah" Tangisnyapun menjadi semakin deras mengalir. Air matanya seperti terperas dari sepasang matanya. Di Kademangan ini tidak ada orang tempat ia menumpahkan kepahitan perasaan. Tidak ada ibunya, tidak ada neneknya dan tidak ada kakeknya. Yang ada disini adalah suaminya, yang seharusnya dapat menjadi pelindungnya, pengganti orang tuanya. Tetapi sudah tentu, di dalam masalah ini ia tidak akan dapat mengadu kepadanya. Bahkan di dalam masalah-masalah yang lainpun, suaminya terasa terlampau jauh dan asing daripadanya. Karena itu, maka semuanya itu harus ditangguhkannya sendiri. Ia telah membuat kesalahan, dan kesalahan itu kini harus dipertanggung jawabkan. Seandainya ia masih berada di rumahnya sekalipun, dapatkah ia mengadukan hal itu kepada ibu, nenek dan kakeknya?. Betapa pahit jalan kehidupan yang dilaluinya. Karena itu, maka Sindangsari hanyalah dapat menangis dan menangis. Menyesal dan kecewa. Demikianlah yang dilakukannya sehari-hari. Ketika orang tua di sebelah datang lagi kepadanya sambil membawa semangkuk air asam ia mencoba untuk menahan tangisnya. "Kenapa kau menangis?" orang tua itu bertanya. "Tidak bibi. Aku tidak menangis" Perempuan tua itu tersenyum "Kau t idak perlu menangis. Memang kegembiraan yang melonjak-lonjak di dalam hati dapat menitikkan air mata. Tetapi kau harus mampu mengendalikan perasaanmu. Jangan berlebih-lebihan supaya kesehatanmu tidak terganggu. Menangis apapun sebabnya, gembira, menyesal, marah, kalau terlampau lama dapat membuat jantung menjadi berdebar-debar dan nafas menjadi sesak" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Angger Sindangsari" berkata perempuan tua itu "kau harus dapat membuat hati suamimu senang sekali. Kau dapat membuat kejutan dengan keadaanmu itu. Dengan tiba-tiba kau katakan kepadanya sesuatu yang tidak tersangka-sangka. Nah, ia akan terdiam sejenak seperti patung. Suamimu itu akan memandangmu dengan penuh keheranan. Namun ketika ia sadar akan apa yang didengarnya, maka ia pasti akan meloncat memelukmu sambil berlinang-linang" perempuan tua itu berhenti sejenak, lalu "percayalah kepadaku. Tetapi sudah tentu kau jangan menangis. Tangismu akan dapat mengurangi gairah kegembiraannya" Sindangsari mencoba menganggukkan kepalanya betapa hambar hatinya. "Nah, cobalah bayangkan. Betapa gembira keluarga ini. Kau akan menjadi seorang ibu muda yang cantik, dan Ki Demang akan menjadi seorang ayah selama beberapa tahun ia gagal mencobanya" Sekali lagi Sindangsari mengangguk. "Sekarang" berkata orang tua itu "minumlah air asam ini. Mudah-mudahan dapat mengurangi perasaan mual" Sindangsari tidak membantah. Perlahan-lahan ia bangkit dan menerima mangkuk itu. Diminumnya air asam dengan gula aren itu sampai tetes yang terakhir. "Sekarang, tidurlah. Jangan kau pikirkan lagi membersihkan rumah. Jangan kau pikirkan lagi kerja di dapur. Jangan kau pikirkan apapun. Kau harus beristirahat lahir dan batin selama kau ngidam. Kalau kau mempunyai keinginan, jangan kau tahan-tahan. Katakan saja kepada suamimu, ia harus mencarikannya, asal masih di dalam batas kemungkinan. Kecuali kalau kau ingin menggigit rembulan, sudah tentu, tidak akan ada seorangpun yang dapat memenuhinya" Demikianlah, maka orang tua itupun segera minta diri pula sambil berkata "Berbahagialah kau nak, eh, Nyai Demang" "Terima kasih bibi" desis Sindangsari. Sepeninggal orang tua itu. kembali Sindangsari merenungi nasibnya. Kalau Ki Demang datang, apakah yang sebaiknya dikatakan kepadanya?" "O, ia pasti akan sangat marah. Ia akan mencekik dan membunuhku. Kemudian ia akan berceritera kepada setiap orang di Kepandak, bahwa ternyata aku telah ternoda ketika aku memasuki Kademangan ini" Namun akhirnya seperti di saat-saat ia tidak dapat ingkar lagi untuk menjalani hari-hari perkawinannya, maka tidak ada kemungkinan lain daripada mengatakan apa yang telah terjadi sebenarnya. "Lebih baik aku sendiri yang mengatakan kepadanya daripada orang lain. Aku akan segera melihat akibat daripadanya. Kalau ia akan membunuh aku, biarlah segera dilakukannya pula" Demikianlah, maka keputusan Sindangsari telah bulat. Ia harus mengatakannya kepada Ki Demang di Kepandak. Ia harus berterus terang bahwa ia telah mengandung. Mengandung anak yang didapatnya dari Pamot. Dengan gelisah Sindangsari menunggu Ki Demang pulang. Tetapi Ki Demang tidak juga segera pulang. Meskipun matahari kemudian telah menjadi terlampau rendah. Pelayan-pelayan Ki Demangpun menjadi gelisah pula. Kemana agaknya Ki Demang pergi. Isterinya yang di rumah tiba-tiba saja telah menjadi sakit. "Ki Demang sama sekali tidak menghiraukan isterinya seperti biasanya" berkata salah seorang dari mereka. "Tetapi kali ini ia seharusnya bersikap lain. Isterinya kali ini adalah seorang perempuan yang baik. Seorang perempuan yang rendah hati dan cantik. Karena ia pernah tinggal di kota, maka caranya mengatur perabot rumahpun agak berbeda dengan isteri-isteri Ki Demang yang terdahulu, yang hanya mengerti menghitung uang dan mengucapkan makian dan umpatan" "Ya, perempuan ini tidak pernah marah. Isteri Ki Demang yang terdahulu, terutama yang keempat, selalu saja marahmarah" "Apalagi kepada kita, kepada Ki Demang ia berani. Kalau Ki Demang berbuat kasar, iapun berbuat kasar pula. Bahkan hampir saja ia dibunuh oleh Ki Demang yang kehilangan kesabaran" Pembantu-pembantu Ki Demang itu menganggukanggukkan kepala mereka. Tetapi mereka hanya dapat membicarakannya di belakang. Mereka tidak akan berani mengatakannya kepada Ki Demang sendiri. Ketika para pelayan itu kemudian menyalakan lampu di segala ruangan, di sudut-sudut rumah dan di regol halaman, serta di gardu perondan, maka barulah Ki Demang berjalan, tertatih-tatih menyusuri jalan Kademangan pulang ke rumahnya. Beberapa orang yang melihatnya Ki Demang tampak begitu lelah menjadi heran. Para peronda di gardu halaman rumahnyapun menjadi heran pula. Seseorang memberanikan diri untuk bertanya "Dari manakah Ki Demang pergi sehariharian sehingga tampaknya lelah sekali?" "Nganglang'" sahut Ki Demang singkat. Para peronda itu tidak berani bertanya lagi. Baru setelah Ki Demang lampau, mereka saling berbisik "Ki Demang agaknya telah mengelilingi Kademangan sambil berjalan kaki" "Seorang melihatnya ia berada di rumah Ki Jagabaya" sahut yang lain "dan kemudian ia pergi bersama Ki Jagabaya pula. Tetapi kemudian Ki Jagabaya pulang seorang diri. Sudah lewat sedikit tengah hari" "Lalu kemana saja Ki Demang pergi setelah ia berpisah dengan Ki Jagabaya?" Kawannya menggelengkan kepalanya "Entahlah" "Sampai sesore ini ia baru kembali" Seorang anak muda yang berkumis pendek berbisik "Kasihan isterinya yang muda itu" "Hus, kalau Ki Demang mendengar, kau akan dipuntir kepalamu" "Karena itu aku berbisik saja di telingamu" anak muda itu berhenti sejenak, lalu "kalau ia menjadi isteri Pamot, tentu keduanya tidak akan pernah berpisah" "He, masih juga kau teruskan?" Anak muda itu menggeleng "Sudah. Hanya sampai sekian" Para peronda itupun kemudian terdiam. Mereka duduk di gardu sambil memandang langit yang menjadi semakin suram. Cahaya kemerah-merahan yang tersangkut di ujung batangbatang nyiur telah menjadi semakin buram, sehingga akhirnya semuanya menjadi hitam. Dengan ragu-ragu Ki Demang melangkahi tanga-tangga pendapa rumahnya. Sinar lampu minyak yang terayun-ayun dibelai angin, membuat hatinya semakin berdebar-debar. Sejenak ia berdiri di tengah-tengah pendapa, memandangi pintu yang sudah tertutup meskipun belum terlampau rapat, seolah-olah baru pertama kali itu dilihatnya. Sekali ia menarik nafas Kemudian diayunkannya kakinya melangkah menuju ke pringgitan. Gerit pintu pringgitan ternyata telah menyentuh telinga Sindangsari yang sedang berbaring di pembaringannya. Suara itu serasa telah menghentak isi dadanya. Yang datang itu pasti Ki Demang, ternyata dari langkah dan desir kakinya. Sindangsari serasa tidak berani berpaling dan menatap wajah Ki Demang ketika pintu biliknya terbuka. Beban dosa di hatinya kini dirasanya menjadi terlampau berat. Ingin ia menjerit sekeras-kerasnya. Tetapi ia tidak berani melakukannya. Ki Demang yang menjenguk dari balik pintu terteguh sejenak. Ia melihat seonggok pasir di bawah pembaringan Sindangsari. Ketika ia melihat geledeg di sisi pembaringan, hatinya menjadi berdebar-debar. Agaknya Sindangsari bernar-benar sakit dan muntahmuntah. Di dalam mangkuk ia masih melihat reramuan jamu yang sedikit tersisa. "Apakah kau sakit Sari?" bertanya Ki Demang Sindangsari tidak segera menjawab. Ia menyadari bahwa pada suatu saat Ki Demang pasti akan mengetahuinya juga. Daripada ia mengetahui dari orang lain, maka biarlah ia sendiri yang mengatakannya. Tiba-tiba Sindangsari yang selama ini dicengkam oleh kecemasan, keragu-raguan dan ketakutan, kini seakan-akan menemukan suatu sikap yang mantap. "Tidak ada pilihan lain daripada mengatakannya sendiri langsung kepadanya" katanya di dalam hati, namun kemudian ia mencoba untuk menenangkan hatinya "Tetapi tidak sekarang. Biarlah Ki Demang beristirahat, supaya hatinya menjadi agak bening" Karena Sindangsari tidak segera menjawab, maka Ki Demang mengulanginya "Apakah kau sakit Sari? Sindangsari mencoba bangkit dari pembaringannya. Wajahnya menjadi semakin pucat dan perutnya masih merasa mual. Tetapi ia tidak muntah-muntah lagi. "Ki Demang" katanya "sebaiknya Ki Demang beristirahat dahulu. Bukankah Ki Demang baru saja pulang? Agaknya Ki Demang masih lelah dan barangkali lapar. Biarlah aku sediakan makan Ki Demang lebih dahulu" "Jangan bangun Sari. Kalau kau memang sakit, berbaring sajalah. Biarlah orang lain menyediakan makanku" Ki Demang sama sekali t idak menyangka bahwa sindangsari justru tersenyum. Aneh sekali. Dan isterinya itu berkata "Itu adalah kewajiban Ki Demang. Aku sudah tidak sakit lagi. Aku hanya sekedar pening sedikit " Ki Demang berdiri termangu-mangu. Perempuan ini memang lain dari isteri-isterinya yang terdahulu. Betapapun ia tersiksa oleh kesepian, namun ia tetap berusaha bersikap manis. "Silahkan Ki Demang, silahkan membersihkan diri. Mungkin Ki Demang akan mandi lebih dahulu, kemudian makan dan beristirahat sebentar. Barulah aku akan berceritera tentang diriku" Ki Demang masih tetap berdiri di tempatnya. Seperti patung ia melihat Sindangsari membenahi pakaiannya dan rambutnya yang kusut. "Silahkan Ki Demang" berkata Sindangsari seperti kepada adiknya "jangan mandi terlampau malam. Nanti Ki Demang menjadi pening" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan kepala tunduk ia berjalan meninggalkan bilik itu, langsung pergi ke pakiwan untuk membersihkan dirinya. Sejenak kemudian Ki Demang telah duduk di ruang dalam, diatas sebuah amben yang besar. Di hadapannya terhidang makan malamnya serta air panas semangkuk. "Silahkan Ki Demang" berkata Sindangsari "tetapi hari ini bukan akulah yang masak, karena aku sedang sakit" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku sudah biasa makan seperti ini. Lauk yang di masak oleh para pelayan" "O" sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya "Aku hanya mencoba untuk memberikan suasana baru selama ini, karena aku adalah isteri Ki Demang " "O, ya, ya. Begitulah. Maksudku, bukan karena aku lebih senang makan masakan mereka, tetapi kalau kau sedang sakit, maka sebaiknya kau beristirahat" Sindangsari tidak menjawab. Dipandanginya saja Ki Demang yang sedang mengangkat mangkuknya dan meneguknya. Digigitnya segumpal gula kelapa, dan diteguknya air hangatnya sekali lagi. "Silahkan Ki Demang makan" berkata Sindangsari. "Apakah kau tidak makan?" bertanya Ki Demang. Sindangsari tidak menyahut. Tiba-tiba saja bau masakan itu seperti mengaduk isi perutnya. Betapa ia bertahan, namun seolah-olah tubuhnya telah diombang-ambingkan oleh banjir sungai Praga. "Kenapa kau Sari?" bertanya Ki Demang. Sindangsari t idak dapat menjawab. Namun karena ia tidak dapat menahan diri lagi, iapun segera berlari masuk ke dalam biliknya. Sebelum ia meletakkan tubuhnya di pembaringannya, maka iapun telah muntah-muntah lagi. Karena hampir sepanjang hari ia tidak mengisi perutnya sama sekali maka hanya air sajalah yang dapat dimuntahkannya. "Sari" Sindangsari mendengar suara Ki Demang di belakangnya "kau benar-benar sakit. Berbaringlah. Ketika mual perutnya agak mereda, maka Sindangsaripun kemudian duduk di pinggir pembaringannya. Tetapi perasaannyalah kini yang bergejolak dengan dahsyatnya, sehingga ia tidak lagi dapat menahan diri. Air matanya mulai mengalir dan menitik satu-satu dipangkuannya. Ki Demangpun menjadi bingung karenanya. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Yang dapat dikatakannya hanyalah kata-kata yang paling cepat diketemukannya saja "Tidurlah Sari" Tetapi Sindangsari menggelengkan kepalanya. Katanya "Aku tidak sakit Ki Demang" Ki Demang menjadi heran "Kau muntah-muntah dan pucat" Sindangsari tidak segera menyahut. Ia mencoba menilai keadaan. Apakah sudah tepat waktunya untuk mengatakan kenyataan tentang dirinya?. Tanpa disadarinya air matanya menitik semakin lama semakin deras. "Kau sakit" berkata Ki Demang yang masih berdiri "kau sakit" Sekali lagi Sindangsari menggeleng "Tidak Ki Demang" Ki Demang menjadi semakin heran. Dan Sindangsari berkata selanjutnya "Ki Demang, silahkan duduk. Aku ingin mengatakan sesuatu tentang diriku" Ki Demang masih terpaku di tempatnya. Dipandanginya wajah Sindangsari yang pucat. Meskipun dari kedua matanya masih menit ik air mata, tetapi wajah itu tampaknya menjadi bersungguh-sungguh. Sindangsari seolah-olah telah menemukan suatu kekuatan dan keberanian untuk berterus-terang apapun yang akan terjadi. "Ki Demang" suara Sindangsari gemetar "silahkan duduk" Ki Demang masih termangu-mangu. Bahkan kemudian ia berkata "Tetapi, bagaimana dengan makanan di amben itu?" "Kalau Ki demang belum terlampau lapar, aku persilahkan Ki Demang mendengakan ceriteraku saja dahulu" Seperti dihisap oleh sebuah pesona yang kuat, Ki Demangpun kemudian memungut sebuah dingklik kayu di sudut ruangan, dan iapun kemudian duduk sambil menundukkan kepalanya, seperti seseorang yang akan diadili oleh sidang sesepuh padukuhan. "Ki Demang" berkata Sindangsari yang telah menemukan dirinya sebagai suatu kenyataan "sebenarnya selama ini aku tidak mengerti, bagaimanakah tanggapan Ki Demang terhadapku" Pertanyaan itu telah mendebarkan dada Ki Demang Ia tidak mengerti, kenapa justru di hadapan isterinya yang sekarang ia tidak dapat berbuat seperti isteri-tererinya yang dahulu. Bahkan sekali ia pernah menampar pipi isterinya, dan terhadap isterinya yang lain, ia pernah mendorongnya sehingga isterinya itu terjatuh dan kepalanya membentur tiang. Terhadap Sindangsari ia tidak dapat berbuat demikian. Ia hanya dapat menghentak-hentakkan kakinya dan berteriakteriak. Kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Seolah-olah ia ingin lari dari perasaannya sendiri yang menyiksanya. Tetapi celakanya, bahwa perasaannya itu selalu ikut, kemanapun ia pergi. "Ki Demang" berkata Sindangsari "menurut anggapanku, aku adalah isteri Ki Demang" Tiba-tiba Ki Demang mengangkat wajahnya yang merah padam "Cukup. Bukankah kau ingin mengatakan bahwa aku terlampau banyak pergi dan meninggalkan kau seorang diri dalam kesepian? Bukankah kau ingin mengulangi pertanyaanmu, apakah maksudku membawamu kemari? Apakah aku hanya sekedar akan menyiksamu? Dan kau akan mengatakan bahwa seandainya kau menjadi isteri Pamot, maka kau tidak akan kesepian seperti sekarang? Begitu?" Jawaban Sindangsari benar-benar telah mengejutkannya. Dengan dada yang seakan-akan menjadi sesak ia mendengarkan isterinya itu menjawab "Ya. Begitulah. Dan aku belumpernah mendengar jawaban" "O, gila. Gila. Itukah yang kau maksud dengan ceritera tentang dirimu itu?" Tetapi kini Sindangsari menggeleng, sehingga Ki Demang benar-benar menjadi bingung. "Bukan itu Ki Demang" jawab Sindangsari "ada yang lain yang ingin aku katakan. Mungkin akan mengejutkan Ki Demang, karena ceritera tentang diriku itu akan lebih dalam dari pertanyaan-pertanyaan yang telah pernah aku katakan, dan kini Ki Demang telah mengulanginya" "Apa maksudmu?" bertanya Ki Demang. "Ki Demang" suara Sindangsari merendah. Tetapi ia sudah bertekad untuk mengatakannya, seperti Pamot yang sudah bertekad bulat pula untuk pergi ke medan perang mengusir orang-orang asing yang mulai menancapkan kuku-kukunya di bumi ini" Kemudian katanya lebih lanjut "aku akan pasrah diri kepada Ki Demang. Ki Demanglah yang berhak mengadili aku, apapun yang akan Ki Demang lakukan" Ki Demang menjadi semakin heran. Titik-titik air mata Sindangsari yang semula telah kering, kini membasah lagi pelupuk matanya. "Ki Demang. Lebih dahulu aku mohon maaf. Aku tidak tahu, betapa besar dosaku dan betapa dalam aku telah menyakit i hati Ki Demang. Sebenarnyalah aku tidak pantas lagi untuk duduk berhadapan dengan Ki Demang sekarang ini" Ki Demang menjadi bingung. Tetapi dibiarkannya Sindangsari berbicara terus. "Aku mohon maaf bukan karena aku ingin melepaskan diri dari hukuman apapun. Tetapi aku ingin bahwa aku tidak lagi menanggung dosa yang tidak terlukiskan" "Aku tidak mengerti" Ki Demang akhirnya bergumam Sindangsari terhenti sejenak. Terasa lehernya menjadi panas, dan kerongkongannya seolah-olah tersumbat. Tetapi ia telah memaksa dirinya untuk berkata terus "Ki Demang. Kini aku akan berterus-terang. Betapa aku mengharap Ki Demang sebagai seorang suami yang tidak meninggalkan aku di dalam kesepian, yang setiap saat dapat memberikan ketenteraman lahir dan batin, namun sebenarnyalah bahwa aku memang sudah tidak berhak lagi" Ki Demang menjadi semakin bingung "Katakan, katakan supaya aku segera menjadi jelas. Kau telah menyiksa aku dengan teka-teki yang tidak kunjung selesai itu" "Ampun Ki Demang" suara Sindangsari menjadi semakin lambat. Betapapun tekadnya sudah bulat, namun untuk mengatakannya" ia masih harus berjuang sekuat tenaganya "aku sebenarnya sudah lama ingin berterus terang. Tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya" perempuan itu berhenti, sejenak, lalu "Namun kini aku tidak akan dapat ingkar lari. Berani atau tidak berani aku harus mengatakannya" Dahi Ki Demang menjadi semakin berkerut-kerut. Hampir ia tidak sabar lagi menunggu. Tetapi ia masih tetap bertahan duduk di tempatnya. Ki Demang menjadi semakin heran ketika ia melihat Sindangsari kini terisak-isak. Namun betapa sulitnya, ia berkata "Sekarang, agaknya sudah sampai saatnya aku berkata Ki Demang. Hukumlah aku kalau Ki Demang ingin menghukumnya. Bunuhlah aku kalau Ki Demang memang ingin membunuhku" "Apakah sebenarnya yang sudah terjadi, apa?" Ki Demang semakin tidak bersabar. "Kini aku mengerti Ki Demang. Kenapa Ki Demang selalu berusaha menghindar dari isterinya, dari aku. Agaknya Ki Demang memang sedang menunggu beberapa waktu untuk membuktikan bahwa aku tidak pantas lagi menjadi isterimu. Dan kini Ki Demang akan dapat melihat bukti itu. Ki Demang telah menang di dalam persoalan ini. Betapa aku berusaha untuk mengambil hati Ki Demang, untuk menundukkan kekerasaan hati Ki Demang, tetapi aku tidak berhasil. Dan kini Ki Demang akan dapat menikmati kemenangan itu. Aku kini memang harus menyerah" "Aku tidak mengerti, aku tidak mengerti" Ki Demang tibatiba menghentakkan kakinya. Sindangsari. memandang Ki Demang dengan mata yang basah oleh titik air mata yang masih meleleh. Tiba-tiba saja ia bersimpuh di hadapan suaminya. Sambil menangis terseduTiraikasih Website http://kangzusi.com/ sedu ia berkata "Apakah Ki Demang benar-benar tidak mengerti maksudku?" "Aku tidak mengerti. Kenapa kau jadi begini. Aku tidak mengerti. Jangan membuat aku menjadi gila" "Ki Demang" Sindangasari yang kini berlutut di muka Ki Demang itu menengadahkan wajahnya "selama ini Ki Demang tidak pernah berbuat sesuatu atasku sebagai seorang suami terhadap seorang isteri. Dan kini Ki Demang dapat melihat, bahwa aku adalah seorang perempuan yang penuh dosa. Karena saat ini, aku sebenarnya sama sekali tidak sakit. Yang terjadi atasku adalah perubahan di dalam diriku, di dalam tubuhku" suara Sindangsari menjadi semakin gemetar "Aku mengandung Ki Demang" Kata-kata pengakuan Sindangsari itu di dalam pendengaran Ki Demang bagaikan petir yang menyambar kepalanya. Justru karena itu, maka sejenak ia membeku di tempatnya. Jantungnya serasa berhenti berdetak dan hatinya berhenti menanggapi keadaan di sekitarnya. Dalam pada itu Sindangsari kini menangis sejadi-jadinya di kaki Ki Demang yang duduk membeku itu. Kata-kata yang telah terlontai dari mulutnya itu bagaikan bendungan yang telah pecah. Kini air yang selama ini tertahan-tahan tiba-tiba saja meluap dengan dahsyatnya. Sesaat ruangan itu menjadi sepi dan tegang. Namun tangis Sindangsari telah bergejolak memenuhi seluruh bilik. Tubuhnya yang dengan lemahnya bersimpuh di lantai itu telah berguncang-guncang oleh isaknya yang meledak-ledak. Ki Demang masih juga membeku di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pada suatu saat ia akan dihadapkan pada suatu kenyataan yang tidak pernah diduganya. Namun sejenak kemudian jantungnya serasa telah disentuh oleh nyala api yang dahsyat. Maka tiba-tiba saja dadanya serasa meledak. Bersamaan dengan itu, meledak pulalah sifatnya yang selama ini tertahan-tahan pula. Dengan serta-merta disambarnya rambut Sindangsari yang ikal dan yang telah terurai di bawah kakinya. Sambil menarik rambut itu ia menggeram seperti seekor harimau lapar "Pengkhianat" Tetapi hanya itulah yang dapat diucapkan. Kalimat yang berjejal-jejal di dadanya sama sekali tidak dapat dikatakannya. Namun semuanya itu tersalur lewat tangannya yang gemetar. Oleh tarikan tangan Ki Demang itu, maka kepala Sindangsari menjadi terangkat. Sejenak ia mencoba memandang wajah Ki Demang, namun kemudian matanya dipejamkannya. Mulut di Demangpun menjadi gemetar pula karenanya. Kemarahan yang menghentak-hentak dadanya tidak dapat diredakannya, sehingga perlahan-lahan namun sepenuh tenaga ia meraba leher Sindangsari. Sindangsari sama sekali tidak mengelak. Diserahkannya dirinya bulat-bulat kepada suaminya. Hukuman apapun yang akan diterimanya, tidak dihiraukannya lagi. Bagi Sindangsari kematian yang demikian adalah jauh lebih baik daripada apabila ia harus membunuh dirinya. Ki Demang seakan-akan telah benar-benar kehilangan keseimbangannya. Wajahnya menjadi merah padam dan matanya seakan-akan menyala. Dengan kasarnya ia menghentak-hentakkan leher isterinya. Bahkan ketika ia kemudian meloncat berdiri, leher itu tidak dilepaskannya. Sindangsari yang benar-benar telah tercekik tidak dapat bertahan duduk bersimpuh, sehingga iapun terpaksa berusaha untuk berdiri dengan susah payah, betapapun ia sudah pasrah. Tidak ada seorangpun di dalam rumah itu, selain Ki Demang suami isteri yang sedang bertengkar itu. Dengan demikian maka tidak ada orang lain yang akan dapat melerainya seandainya Ki Demang benar-benar telah mata gelap dan berhasrat tanpa sesadarnya membunuh isterinya. Dengan kemarahan yang tidak terkatakan Ki Demang mengguncang-guncang tubuh isterinya. Disela-sela giginya yang gemeretak, dipaksakannya berkata dengan sendat "Pengkhianat. Aku bunuh kau. Aku bunuh kau" Sindangsari masih ingin menjawab. Tetapi suaranya sudah tidak lagi dapat menyusup lewat kerongkongannya. Namun tiba-tiba saja, di dalam keadaan yang seakan-akan sudah tidak akan dapat dicegah lagi, keadaan yang akan mengakhiri hidup Sindangsari itu, memercik sesuatu di hati Ki Demang. Seperti memerciknya api di dalam gelapnya malam. Ketika ia memandang wajah Sindangsari yang pucat dan pasrah itu, terbayanglah kembali wajah gadis itu yang duduk dengan kepala tertunduk di belakang ibunya, pada saat pertama-tama ia melihatnya. Wajah itu kini menjadi sedemikian pucatnya. Wajah itu seakan-akan sudah tidak berdarah lagi. Namun demikian Sindangsari sama sekali t idak berusaha untuk membebaskan dirinya dari cekikan Ki Demang yang semakin lama menjadi semakin keras. Ternyata Ki Demang bukanlah orang yang berhati batu. Kenangan dan penglihatannya itu telah menyentuh perasaannya. Sebenarnyalah bahwa ia bukanlah seorang yang kasar dan liar. Hanya karena kekurangan yang ada di dalam dirinya yang seakan-akan telah membunuh harapan di masa depannya itulah yang telah melonjak mewarnai hidupnya yang gersang. Di dalam-dalam saat yang paling mendebarkan jantung Ki demang telah menemukan getaran yang paling dalam di dalam dirinya, yang selama ini telah tertimbun oleh kekecewaan, kecemasan dan oleh keputus-asaan. Tanpa sesadarnya, maka perlahan-lahan tangan Ki Demang itu menjadi semakin kendor. Degup jantungnya yang serasa menjadi semakin keras. Lambat namun pasti, akhirnya tangan Ki Demang itupun terlepas dari leher Sindangsari. Tetapi Sindangsari telah menjadi begitu lemahnya. Ketika tangan Ki Demang terlepas sama sekali, perempuan itu sudah tidak mampu lagi untuk berdiri sendiri. Karena itu, maka iapun segera terhuyung-huyung. Untunglah bahwa Ki Demang cepat meraihnya dan dengan hati-hati diletakkannya Sindangsari di pembaringannya. Ternyata Sindangsari itu telah pingsan. "Sari, Sari" desis Ki Demang sambil menggerakkan kepala isterinya. Sindangsari t idak menyabut. Matanya separo terpejam dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Ki Demang tiba-tiba saja menjadi bingung. Di guncangguncangnya tubuh yang tergolek di pembaringan itu sambil berdesis "Sari, Sari. Apakah kau mati?" Sindangsari t idak menjawab. Baru saat itulah terasa di dada Ki Demang, bahwa memang telah sekian lamanya ia mencoba menyembunyikan kekurangan diri. Menyembunyikan kegersangan hidupnya dengan sikap yang kasar dan keras, ia mencoba melemparkan kesalahan dan kekurangan yang ada di dalam dirinya kepada orang-orang lain. Kepada isteri-isterinya yang berganti-ganti. Sejenak Ki Demang memandang Sindangsari yang masih terbaring diam. Gejolak hatinya menjadi semakin dahsyat mengguncang-guncang dadanya. Karena itu maka iapun segera berlari-lari ke belakang memanggil beberapa orang pelayannya. "He, Sindangsari pingsan" katanya kebingungan" panggillah siapa saja yang dapat mengobatinya" Para pelayan itupun menjadi bingung pula. Beberapa orang berlari-larian merebus air, mencari jeruk pecel dan ada yang memetik dadap srep dan tingkah laku yang bermacammacam. Ada diantara mereka yang atas kehendak sendiri telah pergi memanggil perempuan tua di rumah sebelah. Perempuan yang dianggapnya mengerti lebih banyak tentang orang-orang yang memerlukan perawatan, sedang yang lain berlari ke rumah yang lain, memanggil tetangga-tetangga yang lain pula. Sejenak kemudian rumah Ki demang menjadi ribut. Beberapa orang tetangga telah bersamaan datang dengan tergesa-gesa. Ketika mereka melihat Sindangsari tergolek di pembaringan maka merekapun segera berbuat apa saja yang menurut pendapat mereka dapat membuatnya sadar. Namun tidak seorangpun dari mereka yang mengetahui apakah sebab yang sebenarnya yang telah membuat perempuan itu menjadi pingsan. Beberapa orang segera memijit-mijit tengkuknya. Ada yang membasahi lehernya dengan air jeruk. Ada yang menggosokgosok kakinya dengan minyak kelapa dan berambang merah. Dan masih banyak lagi yang mereka lakukan atas Nyai Demang yang masih muda itu. Tetapi ketika seseorang memijit perutnya, perempuan tua di rumah sebelah, yang hadir juga di tempat itu segera mencegahnya sambil berkata "Jangan. Jangan kau pijit perutnya" "Mungkin dapat memperingan pernafasannya yang tampaknya begitu sesak" "Jangan" perempuan tua itu menjawab "Nyai demang sedang mengandung muda" "He" perempuan-perempuan yang mendengarnya seakanakan tersentak. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun sejenak kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepala. "Darimana kau tahu?" bertanya seseorang. Perempuan tua itu tersenyum "Siang tadi aku disini hampir sehari-harian. Aku pasti bahwa ia sedang mengandung muda. Tanda-tandanya telah cukup" Sekali lagi perempuan-perempuan itu mengangguk-angguk. Ki Demang yang ada di dalam bilik itupun menjadi berdebar-debar. Ternyata perempuan tua itu telah mengetahui bahwa isterinya mengandung. Namun Ki Demang yakin, bahwa perempuan tua itu t idak mengerti, dari siapa Sindangsari mendapatkan benih kandungannya. Sejenak kemudian, maka perlahan-lahan Sindangsari mulai bergerak, setiap hatipun menjadi lega dan berpengharapan lagi melihat perempuan yang pucat pasi terbaring diam itu. Perempuan tua di rumah sebelah itupun segera duduk di sampingnya. Sambil menggosok-gosok keningnya ia berbisik "Nyai Demang, Nyai Demang?" Perlahan-lahan Sindangsari membuka matanya. Pandangan matanya yang masih kabur menangkap bayangan yang kehitam-hitaman bergerak-gerak di hadapannya. "He, dimanakah aku ini "pertanyaan itulah yang pertamatama meloncat di hatinya "apakah aku seuang dibayangi oleh hantu-hantu neraka?" Namun tatapan matanyapun kemudian menjadi semakin lama semakin terang. Sehingga perlahan-lahan ia dapat melihat satu demi satu perempuan-perempuan yang mengerumuninya. "Nyai Demang, sadarlah" desis perempuan tua di rumah sebelah. Nyai Demang itupun mengerutkan keningnya. Kini ia sadar bahwa ia sedang dikerumuni oleh tetangga-tetangganya. "Kau tidak apa-apa Sari" Sindangsari terkejut mendengar suara yang berat itu. Perlahan-lahan ia berpaling. Dilihatnya Ki Demang berdiri termangu-mangu di belakang perempuan-perempuan yang mengerumuninya itu. Sindangsari mencoba mengingat-ingat sejenak, apa yang telah terjadiatas dirinya. Terbayang wajah Ki Demang yang merah padam dan matanya yang menyala, menerkamnya dan mecekiknya. "Kenapa aku tidak mati?" ia bertanya kepada diri sendiri. Perlahan-lahan Ki demang melangkah maju, sehingga perempuan-perempuan itupun menyibak. "Kau tidak apa bukan, Sari?" bertanya Ki Demang pula. Sari masih diam saja memandang wajah itu. Namun kini Sindangsari melihat sorot mata yang jauh berbeda dari sorot mata yang dilihatnya sesaat sebelum Ki Demang itu menerkam lehernya. Bahkan perlahan-lahan Ki Demang itu menyentuh dahinya sambil bertanya pula "Kau tidak apa-apa?" Sindangsari menggelengkan kepalanya. Larrbat sekali ia menjawab "Tidak Ki Demang. Aku tidak apa-apa" "Sokurlah. Sokurlah" Ki Demang mengangguk-angguk. Perempuan-perempuan yang mengerumuninya pun kemudian meninggalkan bilik itu satu demi satu. Beberapa orang saling bergumam "Ternyata Nyai Delmang itu sedang mangandung muda. Nah, baru sekaranglah Ki Demang merasa berbahagia. Ia benar-benar telah mendapatkan seorang isteri yang baik" "Ya. Mudah-mudahan keadaan isterinya sehat-sehat saja" Dan yang lain lagi bertanya "He, sejak kapan isterinya itu mengandung?" Kawan-kawannya menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena mereka menganggap bahwa keadaan Sindangsari sudah tidak berbahaya lagi, maka perempuan-perempuan itupun kemudian minta diri untuk pulang ke rumah masingmasing. Bahkan ada diantara mereka sambil tersenyum berkata kepada Ki Demang "Selamat Ki Demang. Ki Demang telah memaksa bibirnya untuk tersenyum pula. Jawabnya "Terima kasih, terima kasih" Yang berada di dalam bilik Sindangsari t inggallah beberapa orang perempuan saja. Diantaranya perempuan tua di rumah sebelah. Sambil mengusap-usap lengan Sindangsari ia berkata "Kau benar-benar harus banyak beristirahat ngger. Kau dengar?" Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Agaknya kau terlampau letih" Sindangsari mengangguk sekali lagi. "Di waktu mengandung muda, kau harus berhati-hati. Sangat berhati-hati. apalagi anak ini adalah anak yang baru pertama kalinya akan didapat oleh Ki Demang di Kepandak" Dada Sindangsari berdesir mendengarnya, tetapi ia mencoba untuk menyembunyikannya. Bahkan kemudian sambil tersenyum ia menjawab "Ya bibi" "O ngger" berkata perempuan tua yang lain "kau adalah satu-satunya isteri Ki Demang yang pernah mengandung. Karena itu kau harus benar-benar menjaga dirimu" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Meskipun ia tersenyumnamun hatinya serasa tertusuk duri. Ketika keadaan Sindangsari sudah berangsur baik, maka perempuan-perempuan yang tinggal itupun segera minta diri pula. Perempuan tua di rumah sebelah mendekati Ki Demang sambil berbisik "Peliharalah isteri Ki Demang dengan sepenuh hati. Ia telah mengandung. Suatu kebahagiaan yang pasti tidak dapat terbayangkan sebelumnya bukan, Ki Demang?" Ki Demangpun mencoba tersenyum "Ya, bibi" Perempuan tua itu tersenyum pula. Katanya "Kalau Ki demang memerlukan sesuatu, panggillah aku. Aku akan membantu Nyai Demang sedapat-dapatnya" "Terima kasih" Perempuan tua itupun kemudian meninggalkan rumah Ki Demang bersama beberapa orang yang lain. Di gardu ia bertemu dengan cucunya yang sedang bertugas ronda. "Antarkan aku pulang sebentar" Cucunya tidak menjawab apapun. Kepada kawan-kawannya ia minta ijin untuk mengantar neneknya dan perempuanperempuan yang lain itu. "Sebentar lagi Kademangan ini pasti akan mengadakan perayaan lagi. Pasti jauh lebih meriah daripada saat Ki Demang kawin" berkata perempuan tua itu kepada cucunya. "Kenapa?" cucunya itu bertanya. Istri KiDemang sedang mengandung. Kalau bayi itu lahir, maka berbahagialah seluruh Kademangan" Cucunya itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi berita itu baginya bukan berita yang aneh. Nyai Demang kawin dengan Ki Demang. Bukankah wajar kalau mereka akan mempunyai keturunan. Namun ketika ia mengatakannya kepada kawannya ronda setelah ia kembali dari mengantarkan neneknya dan perempuan-perempuan yang lain, kawannya berkata "He, itu berarti suatu kurnia. Bukankah sudah lima kali Ki Demang kawin dan baru yang keenam kalinya ia akan mendapatkan keturunan?" Cucu perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak menyahut. Namun dengan demikian, berita tentang isteri Ki Demang yang mengandung itupun segera menjadi pembicaraan yang ramai. Perempuan-perempuan yang pulang ke rumah masingmasingpun segera memperbincangkannya dengan keluargakeluarga mereka yang lain. Sementara itu, sepeninggal tetangga-tetangganya yang mengeremuninya, Sindangsari menjadi berdebar-debar kembali. Ia t idak mengerti kenapa ia masih tetap hidup. "Mungkin selagi Ki Demang mencekik aku, seorang tetangga atau seorang peronda telah mencarinya" katannya di dalam hati "tetapi bagaimana setelah mereka pergi?" Tiba-tiba saja dada Sindangsari telah dirayapi oleh ketakutan dan kecemasan. Kalau semula ia telah pasrah, maka kini ia merasa ngeri melihat kemungkinan yang dapat datang. "Apakah Ki Demang akan meneruskan maksudnya, membunuh aku?" Bulu-bulu Sindangsari meremang ketika terbayang tubuhnya tergolek di lantai dan sudah t idak bernyawa lagi. Hatinya menjadi terguncang dan darahnya serasa berhenti mengalir ketika ia melihat selangkah demi selangkah Ki Demang memasuki biliknya. Namun Sindangsari sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Ia mencoba untuk menemukan kembali perasaannya yang pasrah. Namun ia kini tidak berhasil, karena kengerian yang mencengkam hati. Meskipun demikian dipaksanya dirinya untuk tetap di tempatnya dan tidak berusaha untuk membebaskan diri. Tetapi Ki Demang itu ternyata tidak segera menerkamnya dan mencekiknya. Bahkan dengan ragu-ragu ia menarik sebuah dingklik kayu dan duduk di sebelah pembaringannya. "Bagaimana keadaanmu Sari?" bertanya Ki Demang dengan suara yang parau. Sindangsari menahan nafasnya. Katanya perlahan-lahan "Aku tidak apa-apa Ki Demang" Dan tanpa diduga-duga Ki Demang itu berkata "Aku minta maaf Sari. Aku hampir saja kehilangan akal. Kehilangan sifat kemanusiaanku. Tetapi kini aku menyadari, bahwa dengan demikian aku tidak akan mendapatkan kedamaian di dalam hati selama hidupku" "Jadi" "Lupakan yang sudah terjadi" "Ki Demang" dengan serta merta Sindangsari bangkit, seolah-olah ia telah mendapatkan seluruh kekuatannya kembali. "Apakah maksud Ki Demang?" "Aku minta maaf atas kekhilafanku Sari. Marilah semuanya ini kita lupakan saja" "O" Sindangsari tidak dapat meneruskan kata-katanya. Namun tiba-tiba saja sekali lagi, ia berjongkok di bawah kaki Ki Demang sambil menangis. "Sari, kenapa kau menangis?" Tersendat-sendat Sindangsari berkata "Apakah Ki Demang memaafkan aku?" Ki Demang t idak segera menyahut. "Katakan Ki Demang" desak Sindangsari sambil mengguncang-guncang kakinya "apakah Ki Demang memaafkan aku" Perlahan-lahan Ki Demang menganggukkan kepalanya "Marilah semuanya kita lupakan. Kita akan menempuh hidup yang baru sama sekali" "Tetapi, tetapi..." Sindangsari tidak dapat mengatakannya. Namun tanpa sesadarnya ia meraba perutnya. "Ki Demang" suara Sindangsari terputus oleh tangisnya. Dipeluknya kaki Ki Demang erat-erat, seperti tidak akan dilepaskannya lagi. "Berdirilah Sari. Duduklah yang baik. Kalau ada seseorang yang melihatmu berbuat demikian, maka kesannya akan berlainan" berkata Ki Demang kemudian sambil mengangkat Sindangsari dan mendudukkannya di pembaringannya. Sindangsari masih menangis. Tetapi kini ia dicengkam oleh perasaan yang aneh. Ia tidak mengerti, kenapa sikap Ki Demang tiba-tiba saja berubah. Namun di samping itu, iapun merasa bahagia bahwa ia mendapat kesempatan untuk memelihara bayi dalam perutnya meskipun bayi itu bukan anak Ki Demang sendiri. Ki Demang masih duduk membatu di sisi pembaringan Sindangsari, sedang Sindangsari masih juga menangis tersedu-sedu. Sejenak kemudian Ki Demang itupun menarik nafas dalamdalam sambil berkata "Sudahlah, Seperti kata orang tua-tua beristirahatlah. Kau memerlukan banyak istirahat di dalam keadaanmu itu" Sindangsari mengangguk kecil. Ki Demangpun kemudian berdiri. Ditepuknya bahu isterinya perlahan-lahan sambil berkata selanjutnya "Tidurlah. Aku akan keluar sebentar" Sekali lagi Sindangsari menganggukkan kepalanya. Ki Demangpun kemudian melangkah meninggalkan bilik itu. Di muka pintu ia berpaling. Tetapi ia tidak berhenti. Sepeninggal Ki Demang, Sindangsari membanting dirinya diatas pembaringannya. Ia tidak mengerti, perasaan apakah yang sebenarnya bergolak di dadanya. Kini ia menjadi benarbenar yakin bahwa ia memang tidak mengerti perasaan, sirat dan tabiat Ki Demang. Meskipun telah beberapa lama ia berada di rumah itu, namun Ki Demang baginya adalah rahasia yang seolah-olah tidak terpecahkan. Betapa lelahnya Sindangsari lahir dan batin saat itu sehingga tanpa sesadarnya, iapun telah tertidur. Ia tidak menyadari berapa lamanya ia tidur di dalam biliknya, namun ketika ia terbangun, cahaya pagi telah menyusup di sela-sela dinding. Seperti biasanya Sindangsari langsung pergi ke pakiwan setelah bangun dari tidurnya. Ia menjadi heran melihat wajah pembantunya yang berseri-seri. Seorang gadis memberanikan diri mendekatinya sambil berkata "Aku senang sekali Nyai Demang, bahwa pada suatu saat aku akan mendapat momongan" Sindangsari mengerutkan keningnya "Dari mana kau tahu?" Semua orang tahu. Semalam perempuan-perempuan yang datang ke rumah ini tahu, bahwa Nyai Demang benar-benar telah mengandung" Sindangsari mencoba tersenyum, betapa hambarnya. "Semua pekerjaan di dapur sudah kami selesaikan" berkata gadis itu "Nyai Demang sejak sekarang tidak boleh bekerja terlampau banyak" "Terima kasih" sahut Sindangsari "tetapi aku sudah merasa sehat sekarang" "O, jangan. Jangan. Silahkan Nyai Demang berada di dalam" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sambil tersenyumia berkata "Terima kasih" Sindangsaripun kemudian kembali ke dalam biliknya. Tetapi ia memang t idak dapat duduk bertopang dagu. Karena itu dibersihkannya biliknya yang terlampau kotor karena keadaannya semalam. Di lantai berhamburan kulit jeruk, beberapa empon-empon dan lembaran-lembaran dadap serep. Seonggok pasir dan air yang terpercik di sana-sini. Tetapi ketika seorang pelayannya melihatnya, dengan tergopoh-gopoh sapu yang di tangannya itupun segera diminta sambil berkata "Biarlah kami yang membersihkannya" Sindangsaripun kemudian duduk di pembaringannya. Ada suatu perasaan gembira membersit di hatinya, bahwa ia akan mendapatkan seorang anak. Anak dari seseorang yang paling dicintainya. Tetapi apabila dibayangkannya nasib anaknya itu kelak, maka iapun menjadi bingung dan cemas. Sekarang Ki Demang agaknya dapat memanfaatkannya. Tetapi bagaimana sikapnya terhadap anaknya itu kelak. Kalau anak itu akan disia-siakan, maka lebih baik anak itu tidak usah lahir. Sejenak Sindangsari duduk termangu-mangu. Namun sejenak kemudian iapun bangkit berdiri. Dibenahinya pakaiannya dan di sisirnya rambutnya yang masih kusut terurai. Setelah selesai semuanya, maka iapun melangkah keluar dari biliknya untuk melihat, apakah persediaan minum dan makanan Ki Demang sudah disiapkan sebaik-baiknya. Tetapi langkah Sindangsari tertegun ketika di pendapa ia mendengar Ki Demang sedang bercakap-cakap. Agaknya Ki Jagabaya dan seorang bebahu Kademangan yang lain telah datang. "Ah, agaknya aku bangun terlampau siang" desisnya. Tetapi ketika Sindangsari akan melangkah kembali ke dalam biliknya, ia menjadi tertegun sejenak. Sekilas ia mendengar pembicaraan Ki Demang dengan kedua pembantunya itu. Berkata Ki Demang "Nah Ki Jagabaya. Katakan sekarang bahwa akulah yang mandul" Ki Jaga baya tidak menjawab. "Aku dapat membuktikan sekarang, bahwa kelima isteriisteriku yang terdahululah yang memang perempuanperempuan mandul. Ayo, sebutkan sekarang, siapakah diantara mereka yang sudah beranak?" Ki Jagabaya masih berdiam diri sambil menganggukanggukkan kepalanya. "Sekarang" berkata Ki Demang "kalian akan melihat, bahwa isteriku yang keenamtelah mengandung" "Selamat Ki Demang" berkata Ki Jagabaya kemudian "Aku ikut merasa gembira. Mudah-mudahan Nyai Demang dilindungi oleh Tuhan sampai kelahiran bayinya kelak" "Mudah-mudahan" jawab Ki Demang "hal ini akan menjadi bukti bahwa aku tidak mandul seperti yang mereka sangka" Dada Sindangsari berdesir mendengar pembicaraan itu. Ia tidak mengerti, kenapa Ki Demang dengan bangga mengatakan bahwa isterinya sudah mengandung. Kenapa justru Ki Demang berbangga karenanya? Sindangsari tidak berhasrat mendengarkan pembicaraan itu lebih lanjut. Karena itu iapun segera kembali ke dalam biliknya yang telah selesai dibersihkan sambil berteka-teki. Sedang di pendapa Ki Demang masih juga berceritera tentang isterinya. Setiap orang yang baru datang, segera diberitahukannya bahwa isterinya telah mengandung. "Semalam suntuk aku hampir tidak t idur" berkata Ki Demang "Sindangsari muntah-muntah hampir semalam suntuk. Bahkan tiba-tiba ia jatuh pingsan sehingga banyak tetangga yang berdatangan. Untunglah segera ia sadar. Kalau tidak hal itu pasti akan berbahaya bagi kandungannya" Orang yang mendengar keterangan Ki Demang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sokurlah" berkata salah seorang dari mereka "Ki Demang akan mendapatkan seorang keturunan yang akan dapat memperpanjang jabatan Ki Demang di Kepandak" "Tuhan agaknya memang berbelas kasihan kepadaku" sahut Ki Demang. "Hampir setiap orang memang menyangka bahwa Ki Demang t idak akan lagi dapat mendapat anak. Lima kali Ki Demang kawin. Semuanya tidak mendapatkan anak" "Aku memang sudah merasakan kelainan istriku yang sekarang dari kelima isteri-isteriku yang dahulu, Ternyata bahwa perasaanku itu cukup tajam menangkap isyarat itu" "Nah, kalau begitu Ki Demang pasti akan mengadakan upacara sokur akan hal ini" berkata Ki Jagabaya sambil tertawa. "Tentu. Nanti, di bulan ketujuh dari kehamilan isteriku, aku akan mengadakan peralatan lagi, sesuai dengan adat. Kemudian apabila kelak bayiku itu lahir, aku akan mengadakan malamtirakatan selapan hari" Hampir bersamaan beberapa orang menyahut "Aku akan datang setiap malam" Demikianlah, kehamilan Sindangsari itu tampaknya menjadikan suatu kebahagiaan bagi Ki Demang. Setiap orang yang dijumpainya diberitahukannya. Bahkan orang-orang yang hampir tidak berkepentingan sama sekali. Orang tua dan anak-anak muda. "Isteriku sudah hamil" katanya kepada seseorang yang ditemuinya di tengah jalan. Orang itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk "Siapakah isterimu?" "He, gila kau. Apakah kau tidak tidak tahu isteriku" Orang itu semakin bingung. Namun kemudian ia berkata "Aku bukan orang Kepandak. Aku belum mengenalmu" "He?" Ki Demang mengerutkan keningnya "Aku adalah Demang di Kepandak" "O, maaf Ki Demang. Aku adalah orang Pliridan yang baru pulang dari seberang sungai Praga. Aku hanya lewat saja di Kademangan ini" "O, jadi kau bukan orang Kepandak?" bertanya Ki Demang. Orang itu menggelengkan kepalanya. "Rupanya aku keliru. Kau mirip benar dengan Supa TriniL Aku sangka kau adalah Supa Trinil atau adik kembarnya" Orang itu tersenyum "Memang mungkin sekali beberapa orang berwajah hampir serupa di dunia ini. Namun demikian aku mengucapkan selamat bahwa isteri Ki Demang di Kepandak ini sudah mengandung" "Terima kasih. Lima kali aku kawin. Kali ini adalah yang keenam. Semula hampir setiap orang mengejekku. Disangkanya aku tidak akan mendapat keturunan lagi. Diantaranya menurut pendengaranku termasuk Supa Trinil" "O, dan sekarang, isteri yang keenam ini agaknya akan memberikan kebahagiaan kepada Ki Demang" "Ya tentu. Tentu" "Semoga" orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya "sekarang perkenankanlah aku melanjutkan perjalanan" "Silahkan. Aku minta maaf, bahwa aku sudah keliru" "Agaknya Ki Demang terlampau gembira" "Tentu, tentu" Orang itupun kemudian minta diri setelah berulang kali mengucapkan selamat. Ki Demang mengangguk-angguk kepalanya sambil tersenyum-senyum. Tetapi ketika orang itu sudah hilang di balik tikungan, tibatiba Ki Demang mulai merenung. Ia sadar bahwa anak di dalam kandungan isterinya itu bukan anaknya. Anak itu adalah anak Pamot. Anak gila itu. Tiba-tiba Ki Demang menghentakkan kakinya sambil menggeram "Kalau anak itu kelak pulang hidup-hidup, aku akan membunuhnya. Ia sudah menodai kesucian keluargaku. Kalau anak itu kelak lahir, maka di dalam rumahku akan ada setitik noda yang memuakkan. Aku akan selalu tersiksa oleh anak itu. Apalagi kalau wajahnya mirip dengan wajah pamot" Namun tiba-tiba kepala Ki Demang tertunduk lesu. Di dalam hatinya ia berkata "Aku telah membanggakan anak yang ada di dalam kandungan itu kepada setiap orang. Aku selalu mengatakan bahwa akhirnya isteriku hamil. Akhirnya aku dapat membuktikan bahwa aku akan mempunyai keturunan" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Terbayang wajahwajah isterinya yang terdahulu. Apakah kata mereka tentang Sindangsari yang ternyata telah mengandung apabila mereka mengetahuinya? Perlahan-lahan Ki Demangpun kemudian melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya. Kadang-kadang ia memang merasa, bahwa kehamilan Sindangsari dapat dipakainya sebagai alat kebanggaan. Tetapi ia tidak dapat lari dari kenyataan bahwa anak itu sebenarnya memang bukan anaknya sendiri. Ki Demang itupun terperanjat ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Ketika ia berpaling dilihatnya Ki Jagabaya berjalan ke arahnya. "Agaknya Ki Demang sudah ada disini" desis Ki Jagabaya. "Berjalan-jalan saja Ki Jagabaya. Aku dengar jalur-jalur parit di padukuhan ini agak terganggu oleh beberapa orang yang tidak menghiraukan persetujuan penggunaan air, sehingga agak mengganggu aliran air di bagian bawah" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Akupun mendengar katanya "tetapi semalam semuanya telah aku selesaikan" "Sokurlah" sahut Ki Demang "akupun baru saja sampai. Aku belumberbuat apa-apa" "Pagi ini aku memang akan melaporkannya kepada Ki Demang" "Baik. Marilah kita kembali. Kita dapat banyak berbicara di Kademangan" Keduanyapun kemudian berjalan kembali ke Kademangan. Namun pikiran Ki Demang masih saja selalu dicengkam oleh kehamilan isterinya. Kadang-kadang terlintas dianganangannya seolah-olah Pamot datang kepadanya, menuntut agar anaknya kelak diserahkannya kepadanya. Karena itu, maka pembicaraan Ki Jagabaya kadang-kadang tidak di tanggapinya. Bahkan kadang-kadang ia salah menjawab dan sama sekali tidak berhubungan dengan persoalan yang dike mukakan oleh Ki Jagabaya. Tetapi Ki Jagabayapun cukup mengerti. Sebagai seseorang yang sudah bukan orang muda lagi ia mengerti, bahwa kehamilan isterinya telah membuat Ki Demang beranganangan. "Sudah sekian lama ia merindukan anak" berkata Ki Jagabaya di dalam hatinya "sekarang agaknya Tuhan telah memperkenankan" Namun ternyata bahwa Ki Jagabaya yang mencoba untuk mengerti itu, telah tersesat dugaan. Seperti setiap orang selain Sindangsari dan Ki Demang sendiri, ia tidak tahu apakah yang sudah terjadi sebenarnya dengan Sindangsari. Tetapi sebenarnya selain keduanya, masih ada seseorang yang menduga, bahwa hal itulah yang telah terjadi. Orang itu adalah Lamat. Ketika berita tentang kehamilan itu sampai kepadanya, maka dadanya telah berdesir tajamsekali. "Kau, kau dengar bahwa Sindangsari telah mengandung "pada saatu saat Manguri bertanya kepadanya. Lamat menganggukkan kepalanya "Ya, aku sudah mendengar" "Siapa yang mengatakan kepadamu?" "Setiap orang sudah mengetahuinya. Juru masakpun sudah mengetahuinya pula" "Gila kau. Sekarang kerjaku menjadi bertambah sulit" Lamat tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat menghindari bayangan yarg selalu mengganggunya. tanpa disengajanya ia telah melihat noda-noda itu terpetik pada hubungan yang tulus antara Pamot dan Sindangsari. Kalau orang-orang lain menjadi heran, kemudian bersokur bahwa setelah sekian lamanya Ki Demang mengharapkan anak dan kini isterinya yang keenam sedang mengandung, maka Lamat mempunyai dugaan yang lain. Anak itu pasti bukan anak Ki Demang di Kepandak. Anak itu adalah anak Pamot. "Lamat" tiba-tiba Mnguri membentak "kenapa kau diam saja?" Lamat menarik napas dalam-dalam. Kemudian dengan ragu-ragu ia berkata "Ya. Sindangsari kini sudah mengandung. Karena itu, sebaiknya perempuan itu kau lupakan saja. Kau adalah seorang anak muda yang memiliki segala-galanya, wajah yang tampan, uang dan muda. Apalagi?" "He, jadi maksudmu, agar aku melupakan Sindangsari dan mencari perempuan lain?" Lamat menganggukkan kepalanya. "Sudah tentu aku dapat melakukannya Lamat. Aku akan dapat kawin sekaligus dengan empat orang. Tetapi aku tidak dapat melupakan Sindangsari. Semakin jauh ia daripadaku, aku semakin terkenang kepadanya" "Tetapi ia sekarang sudah menjadi isteri orang. Apalagi ia sudah mengandung. Bagi Ki Demang nilai Sindangsari sekarang pasti akan sama dengan nilai dirinya sendiri, sebab di dalam tubuh isterinya itu terkandung bakal anaknya yang akan dapat menyambung keturunannya" "Aku tidak peduli, tetapi aku mencintainya" bantah Manguri "sekarang kau harus dapat membedakan, nilai cinta yang sebenarnya dengan sekedar nafsu jasmaniah. Aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku benar-benar telah terikat oleh suatu pengharapan untuk memperisterinya kapanpun juga" "Cobalah kau mempergunakan pertimbangan-pertimbangan yang wajar. Sudah tentu kau tidak akan mengambil isteri orang yang pernah mengandung dan kemudian melahirkan anak" Manguri mengerutkan keningnya "Lamat" suaranya dalam "aku sudah mencoba, tetapi aku tidak berhasil menget rapkan pertimbangan itu. Aku mencintainya. Inilah yang tidak adil" "Apa yang tidak adil" "Orang dapat menghargai cinta Pamot. tetapi aku yakin bahwa cintaku tidak kurang dari cinta Pamot kepada perempuan itu" "Memang" tiba-tiba Manguri membentak "pandanglah dari sudut aku dan Pamot. Orang menghargai cinta. Bukan nafsu. Sekarang aku telah dibakar oleh cinta. Cinta sejati. Tetapi orang tidak menghargai aku. Aku bersedia berkorban apa saja demi cintaku. Aku tidak peduli apakah Sindangsari mencintai aku atau tidak. Ini adalah cintaku kepadanya. Meskipun Sindangsari tidak mencintai aku, itu bukan suatu ukuran untuk mengurangi nilai cintaku itu" "Ya, ya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "demikianlah hendaknya "Lamat berhenti sejenak. Lalu katanya seakan-akan di luar sadarnya "Tetapi cinta adalah pengorbanan. Pengorbanan bagi yang dicintainya" "Misalnya" potong Manguri. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Contohnya dapat kita ketemukan di dalam ceritera wayang" "Siapa?" "Di dalam perang Barata Yuda, tidak seorangpun yang segan mengorbankan nyawanya untuk tanah yang mereka cintai" "Jangan bicara tentang dongeng" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah, aku mengenal orang semacam itu dipa-dukuhan ini" "Siapa?" "Ayah Sindangsari" Manguri mengerutkan keningnya "Tetapi aku tidak bicara tentang perang. Aku bicara tentang cinta. "Ya, mereka berperang karena cinta. Bukan karena kebencian. Mereka mencintai tanah ini" "Kau tahu darimana Lamat? Kau dengar dari siapa? Selama ini kau hanya mampu membelah kayu dan mengambil air" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. "Kau dengar dari siapa he?" Akhirnya ia harus menjawab "Aku sering menonton wayang" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang Lamat sering minta ijin kepadanya untuk melihat wayang apabila di padukuhan ini ada pertunjukan wayang kulit atau beber. Ternyata anak yang dungu menurut penilaian Manguri itu, mampu menyerap beberapa persoalan yang tidak pernah mendapat perhatiannya. "Ternyata kau juga tidak terlampau bodoh" berkata Manguri kemudian "tetapi yang kau katakan adalah cinta kepada tanah kelahiran. Tidak kepada seorang perempuan. Di dalam ceritera selalu aku dengar, bahwa negara berperang melawan negara lain karena cinta rajanya terhadap perempuan. Orang mengagumi cinta Bandung Bandawasa yang telah menciptakan candi Prambanan, meskipun Rara Jonggrang sebenarnya tidak mencintainya. Tetapi cinta yang tulus dan besar itu tidak berkurang nilainya. Onang tidak dapat menilai cintaku terhadap Sindangsari lebih rendah dari cinta Pamot. Soalnya, Sindangsari mencintai Pamot. Tetapi seandainya tidak?" Lamat hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Cinta Manguri adalah cinta yang mementingkan diri sendiri. "Jawab. Kenapa kau diam saja. Kita sudah terlanjur berbicara tentang cinta. Apakah kau tidak mengerti arti cinta yang sebenarnya karena kau tidak pernah mengalaminya?" Manguri berhenti sejenak. Tetapi ia sama sekali tidak mengetahui atau tidak peduli bahwa kata-katanya telah menusuk jantung Lamat sampai ke pusatnya "kau hanya mendengar ceritera cerita wayang yang kau lihat. Di dalam ceritera wayangpun perempuan adalah lambang kejantanan. Kalau perin direbut dengan sayembara tanding" Lamat kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Terkilas lagi bayangan Pamot dan Sindangsari yang telah melakukan perbuatan dosa. Apakah yang pantas dikatakan terhadap keduanya tentang hal itu dalam hubungannya dengan cinta yang tulus? "Nah, akhirnya kau diam. Kau tidak tahu arti sebenarnya dari cinta itu Lamat. Karena itu jangan mencoba menasehati aku. Aku lebih berpengalaman daripadamu, aku sudah melupakannya sejak ia menghinaku, mengembalikan pemberianku sesaat setelah ia kembali ke padukuhan ini" Lamat masih tetap berdiam diri. "Lamat" kemudian Manguri bersungguh-sungguh "ketahuilah, bahwa keinginanku untuk mendapatkan Sindangsari tidak akan pernah padam. Sekarang, besok atau kapanpun. Meskipun Sindangsari kelak sudah melahirkan, atau anaknya sudah menjadi sepuluh sekalipun, setiap kesempatan yang terbuka, aku akan mengambilnya. Semakin cepat semakin baik. Dan aku akan berusaha terus" "Tetapi, tetapi ia adalah isteri Ki Demang" "Persetan. Aku dapat mencurinya. Membawanya ke tempat yang terpencil. Ke tempat yang asing, sehingga tidak seorangpun yang mengenal aku" "Tetapi apakah Sindangsari akan bersedia?" "Bersedia atau tidak bersedia. Kalau kami sudah berada di tempat yang jauh, ia pasti akan dihadapkan pada suatu keharusan. Kau mengerti?" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia t idak menjawab lagi. Manguripun kemudian pergi meninggalkannya. Sekali sekali ia memang memikirkan kata-kata Lamat. apakah memang tidak ada perempuan lain yang dapat mengisi hatinya? "Aku sudah mengisi kekosongan hidupku dengan perempuan macam apapun. Tetapi aku belum pernah benarbenar jatuh cinta seperti kepada Sindangsari" katanya di dalam hati. Sepeninggal Manguri, Lamat menjadi semakin muram. Dengan susah payah ia menekan perasaannya. Kebencian yang setiap kali akan tumbuh, selalu ditekannya kuat-kuat. Dan kini iapun berusaha untuk tetap setia kepada sikapnya. Seperti kata orang tua-tua. Hutang budi dibawa mati. Dan ia memang sudah berhutang budi kepada ayah Manguri. Tetapi niat Manguri untuk mengambil Sindangsari dengan paksa telah membuatnya semakin sedih. Kalau Manguri benarbenar melakukan niatnya, maka hal itu akan dapat mencelakakannya. Bukan saja Manguri sendiri, tetapi juga seluruh keluarganya. Dan yang paling sedih, ia sendiri pasti akan terlibat di dalamnya. Bukan sekedar terlibat, tetapi bagaimana kalau Manguri memerintahkan kepadanya untuk menculik Sindangsari? Terbayang di matanya laki-laki yang sering datang kepada ibu Manguri di saat-saat ayah Manguri tidak ada di rumah. Laki-laki yang akan dapat memberikan jalan dan kemungkinan kepada Manguri. Laki-laki yang sebenarnya berbahaya juga bagi ketenangan keluarga Ki Demang di Kepandak. "Kenapa aku justru dilihat kan oleh persoalan ini?" tiba-tiba Lamat menggeram "apapun yang akan terjadiatas Sindangsari, sama sekali bukan urusanku. Apapun yang akan dilakukan oleh laki -laki yang sering menemui ibu Manguri itupun sama sekali bukan tanggung jawabku. Aku adalah seorang yang tidak lebih dari seorang budak. Budak saja" Lamatpun kemudian melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. disambarnya kapak pembelah kayu dan disandangnya di pundaknya. Tanpa berpaling lagi kemudian ia menuju ke kebun belakang. Dicobanya untuk melupakan persoalan Sindangsari dengan mengerjakan pekerjaannya. Membelah kayu. Namun demikian setiap saat persoalan itu masih juga muncul di permukaan hatinya. Bahkan kadang-kadang tanpa disadarinya ia meletakkan kapaknya, dan mulai merenung. Lamat mengerutkan keningnya ketika terbayang pertunjukan wayang yang pernah ditontonnya. Betapa Prabu Dasamuka dengan segala cara berusaha mencuri Sinta. "Apakah Manguri mengagumi cinta Dasamuka yang tidak dapat padam sampai akhir hayatnya. Cinta yang mendalam sampai ketulang sungsum, namun didasari pada kepentingan diri sendiri?" Lamat bertanya di dalam dirinya. Namun kemudian "Tetapi bagaimana dengan Ki Demang di Kepandak. Ia tidak lebih baik dari Manguri di dalam persoalan Sindangsari. Dan kini Sindangsari sudah mengandung. Tetapi yang dikandung itu pasti bukan anak Ki Demang yang sudah lima kali kawin tetapi tidak pernah mempunyai anak" Lamat tersentak ketika ia melihat seorang pembantu Manguri lewat di sampingnya sambil bertanya "Apa yang kau renungkan Lamat?" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab "Tidak ada" Sejenak kemudian maka Lamatpun telah mengayunkan kapaknya pula. Keringat yang seakan-akan terperas dari tubuhnya sama sekali tidak dihiraukannya lagi. Suara yang berdentangan memercik diantara suara lenguh sapi di kandang dan kokok ayam jantan yang hinggap diatas pagar halaman. Namun ternyata bukan Manguri sajalah yang menjadi gelisah karena Sindangsari telah mengandung. Orang yang paling bersakit hati atas hal itu adalah Ki Reksatani, adik Ki Demang sendiri. Kecemasan yang selalu menghantuinya di saat-saat Ki Demang kawin, kini benar-benar telah menerkamnya. Sindangsari telah mengandung. Apabila anak itu lahir, itu akan berarti bahwa Ki Demang akan mempunyai keturunan yang dapat menggantikan kedudukannya. Apalagi kalau anak itu laki-laki. Sedangkan apabila anak itu perempuanpun, maka garis keturunan itu akan tetap berlaku, meskipun yang akan menjalankan tugasnya adalah menantunya. Di rumahnya Ki Reksatani seolah-olah sama sekali tidak tenang lagi. Setiap saat dadanya menjadi berdebar-debar. Cita-citanya untuk dapat memotong garis keturunan kakaknya dan mengambil alih dengan tidak menimbulkan kesan yang kurang baik, kini menjadi pudar. "Perempuan itu benar-benar anak iblis" ia mengumpatumpat. Isterinya yang mengerti benar kegelisahan suaminya, tidak dapat berbuat apapun juga. Ia sudah berusaha antuk membantu apa yang dapat dilakukannya. Tetapi akhir dari semuanya itu ternyata sangat mengecewakan. "Kau kurang sering mengunjungi perempuan itu" berkata Ki Reksatani. Isterinya tidak menjawab. Ia tahu benar tabiat suaminya. Apabila hatinya sedang gelap, ia menjadi cepat sekali marah. "Nyai" kataya kepada isterinya "kau mulai sekarang harus sering datang berkunjung kepadanya. Kau harus berusaha membuatnya tidak kerasan. Terserah kepadamu, asal kau dapat mengeruhkan suasana rumah tangga Kakang Demang. Kakang Demang bukan seorang yang sabar. Kalau isterinya dapat kau hasut, maka pasti akan sering timbul pertengkaran diantara mereka. Aku tidak peduli apakah isterinya nanti akan keguguran atau akibat-akibat yang lain. Tetapi aku tidak mau melihat kakang Demang mempunyai seorang anak laki-laki atau perempuan" Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya "Kakang. Aku akan mencoba sejauh-jauh dapat aku lakukan. Tetapi agaknya perempuan itu berhati batu. Di saat saat hari perkawinannya aku sudah mencobanya. Bahkan aku telah menyebutnya dengan berbagai macam sebutan yang bagi orang lain, pasti sangat menyakitkan hati. Tetapi perempuan itu seperti tidak mendengarnya atau sama sekali t idak menyentuh perasaannya" Ki Reksatani mengerutkan keningnya "kau harus mencobanya" "Tentu. Aku akan berusaha. Tetapi kalau aku gagal" Ki Reksatani tidak segera menjawab. Tetapi keningnya menjadi semakin berkerut merut. "Apakah kakang akan mencari jalan lain?" "Ya. Kalau kau gagal, aku akan terpaksa mencari jalan lain" "Aku belum tahu. Tetapi kalau perlu aku akan menyingkirkannya" Isterinya menjadi tegang. Terbata-bata ia bertanya "Apa maksudmu kakang? Bagaimana kau akan menyingkirkannya?" "Dengan caraku" Tiba-tiba isterinya menjadi pucat. Selangkah ia mendekati suaminya sambil bertanya "Tetapi, bukankah kau tidak akan…" isterinya tidak meneruskannya. "Jangan ikut campur dengari caraky. Aku lebih mementingkan hari depan, anak-anakku daripada perempuan itu" "Tetapi, tetapi…" "Jangan turut campur. Aku sudah cukup dewasa untuk membuat perhitungan semasak-masaknya. Kalau aku berhasil kau akan ikut serta mengenyam hasil itu. Anak-anak kita kelak akan mendapat tempat yang pertama, di Kademangan Kepandak" Tiba-tiba isterinya membanting dirinya di amben bambu, Diusapnya matanya yang menjadi basah. "He Nyai. Kau berkeberatan?" Nyai Reksatani menggelengkan kepalanya. "Jadi bagaimana?" "Aku adalah seorang ibu kakang. Aku juga seorang perempuan seperti Sindangsari" ia berhenti sejenak, lalu "tetapi lebih dari itu, aku mempunyai lebih dari seorang anak. Kalau anak-anakku terlibat dalam pertikaian seperti yang terjadiatas kakang Demang dan kakang sekarang ini, aku pasti akan menjadi sangat bersedih hati" Kata-kata isterinya itu ternyata mampu juga menyentuh hatinya. Sejenak Ki Reksatani merenung. Terbayang wajah anak-anaknya yang sedang tumbuh. Apakah kelak mereka akan bertengkar dan bahkan saling memfitnah seperti yang dilakukan sekarang terhadap Ki Demang, kakak kandungnya? Bayangan yang buram itu mencengkamnya untuk sesaat. Namun tiba-tiba ia menghentakkan kakinya sambil berkata "Nyai. Anakku t idak hanya dua orang. Kalau anakku hanya dua orang laki-laki, memang mungkiri mereka akan berebut kedudukan seperti Kakang Demang dan aku sekarang. Itupun tidak semata-mata berebut kedudukan. Aku hanya mencegah agar kakang Demang tidak mempunyai wadah untuk menyalurkan kekuasaan yang ada di tangannya. Aku sama sekali t idak merebutnya" Isterinya tidak menyahut. Tetapi wajahnya masih saja muram. Bahkan dipejamkannya matanya dan di tutupinya wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ketika terbayang anak-anaknya sedang berkelahi memperebutkan kedudukan ayahnya. Terbayang seolah-olah anak-anaknya sudah sebesar ayahnya. Mereka saling menggenggarn keris di tangan. "O, tidak, tidak" "Apa, apa yang tidak?" Ki Reksatani bertanya. "Anak-anakku tidak akan berkelahi karena kedudukan" "Mereka tidak akan berkelahi. Akupun tidak akan berkelahi. Tetapi aku t idak rela. kalau kedudukan kakang Demang jatuh kepada anak Gemulung itu" "Tetapi anak mereka berhak atas kedudukan itu" "Persetan. Karena itu aku mencegah agar mereka tidak mempunyai anak. Karena hal itu agaknya sudah terlanjur, maka jalan satu-satunya adalah menyingkirkan Sindangsari" "Kakang" "Kau jangan mencampuri masalah ini Nyai. Ki Demang adalah kakak kandungku. Biarlah aku bertanggung jawab atas kejadian apapun nant i. Tetapi semuanya itu aku kerjakan dengan niat yang baik. Dengan niat yang luhur bagi anakanakku" "Kakang, apakah segala cara dapat ditempuh untuk mencapai sesuatu betapapun luhurnya" "Bagiku demikian. Segala cara dapat aku tempuh. "O, itu dapat membahayakan kau sendiri kakang" "Sudahlah Nyai. Kau harus membantu aku. Kalau kau t idak ingin semuanya ini terjadi, kau harus berhasil membujuk Ki Demang dan Sindangsari selalu diliputi oleh ketegangan. Kau tahu, apabila seorang perempuan mengandung, jiwa dan tubuhnya selalu diliputi oleh ketidak tenangan, maka kandungannya tidak akan berkembang dengan baik" Nyai Reksatani tidak menjawab. Tugas itu adalah tugas yang terlampau berat baginya. Meskipun demikian ia tidak dapat mengelak. Sebagai seorang isteri yang patuh, ia tidak dapat menolak keinginan suaminya. Apalagi keinginan itu sendiri adalah keinginan yang baik bagi masa depan anakanaknya. Meskipun demikian, kadang-kadang ia merasa ngeri memikirkan cara yang telah dipilih oleh suaminya. Maka sejak saat itulah Nyai Reksatani sering berkunjung ke rumah Ki Demang. Mula-mula kedatangannya adalah kedatangan seorang saudara muda yang mendengar berita tentang kebahagiaan yang meliputi keluarga Ki Demang. Dengan wajah yang manis dan kata-kata yang ramah, Nyai Reksatani mengucapkan selamat bahwa Nyai Demang kini sudah mulai mengandung. "Berapa puluh tahun kakang Demang menunggu kesempatan serupa ini" berkata Nyai Reksatani "Akhirnya kurnia itu datang pula" Ki Demang tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya "Ya, permohonan yang bersungguhsungguh, akhirnya terkabul pula" "Kalau anak Ki Demang laki-laki, maka akan semakin bahagia rasanya" berkata Nyai Reksatani "tetapi seandainya perempuan ia pasti seorang perempuan yang manis seperti ibunya" Ki Demang tertawa pendek "Kau memang pandai memuji" "Aku berkata sebenarnya kakang" sahut Nyai Reksatani "embok-ayu adalah isteri Kakang Demang yang paling cantik" "Sudahlah. Jangan kau sebut-sebut lagi" potong Ki Demang. "Kakang Demang memang suka merendahkan diri. mBokayu yang baru inipun suka sekali merendahkan dirinya pula" "Sudahlah" Nyai Reksatani tersenyum. Ditatapnya wajah Sindangsari yang menunduk. Sekilas terbayang sorot yang aneh memancar dari mata perempuan itu. Demikianlah, maka Nyai Rekatani kemudian mulai mencoba untuk melakukan tugasnya. Kedatangannya di hari-hari berikutnya, memang menumbuhkan pertanyaan di hati Sindangsari. Nyai Reksatani datang ke rumahnya, di saat-saat suaminya sedang pergi. Nyai Reksatani hampir dapat memperhitungkan, bahwa menjelang matahari sampai ke puncak langit, Ki Demang sudah selesai dengan pembicaraanpembicaraan di Kademangan dengan bebahu Kademangan yang lain. Apalagi bila tidak ada persoalan-persoalan yang penting. Sesudah itu biasannya Ki Demang pergi berjalan-jalan di sepanjang Kademangannya. Kadang-kadang bersama Ki Jagabaya, kadang-kadang bersama bebahu yang lain. Baru setelah matahari melampaui titik tengah, Ki Demang pulang ke Kademangan untuk makan siang. Kebiasaan itu menjadi rusak sesaat setelah Ki Demang kawin dengan Sindangsari. Namun lambat laun, kebiasaan itu menjadi pulih kembali, justru setelah Ki Demang menyadari apa yang sedang dihadapinya, dan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan isterinya Dengan sepenuh hati, ia mencoba untuk menerima kenyataanya betapapun pahitnya itu. Ia tidak lagi pergi sehari-harian dan kadang-kadang semalam suntuk. Dengan teratur Ki Demang mulai memperbaiki cara hidupnya kembali. Di malam hari, hampir ia tidak pernah keluar lagi dari rumahnya, apabila tidak ada keperluan yang penting, meskipun di rumah ia selalu merenung dan menyendiri. Ketenangan hidup yang perlahan-lahan mulai pulih kembali itulah, meskipun bagi Ki Demang dan Sindangsari sendiri hanyalah tampak pada permukaannya saja, yang hendak diguncang oleh nyai Reksatani. Berbagai cara telah ditempuh oleh Nyai Reksatani. Kadang kadang dengan kata-kata tajam, namun kadang-kadang dengan kata-kata sindiran yang halus. "mBok ayu" berkata Nyai Reksatani "sebenarnya aku menjadi heran, kenapa mbok-ayu dapat mengandung, sedang isteri-isteri Ki Demang yang lain, bukan hanya satu dua orang, tetapi lima orang, tidak seorangpun yang mengandung" Kata-kata itu tajamnya bagaikan ujung sembilu. Dengan sekuat tenaga Sindangsari mencoba untuk bertahan, agar ia tidak terguncang karenanya. "Semula aku meragukan, apakah kakang Demang masih mempunyai kesempatan untuk menimang seorang anak" Nyai Reksatani berhenti sejenak "he, bukankah kakang Demang itu saudara tua kakang Reksatani? Kakang Demang itu adalah kakak kakang Reksatani, yang sudah tentu umurnya lebih tua" Sindangsari t idak menyahut. Namun hatinya menjadi pedih. "mBok-ayu" Nyai Reksatani berbisik sambil tersenyum "ternyata Ki Reksatanipun sudah sulit untuk mendapatkan anak lagi" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mencoba untuk menjawab "Bukankah putera Ki Reksatani yang terkecil masih belumdi sapih?" "O, ya. Memang anak kami yang paling kecil masih terlampau kecil untuk mempunyai seorang adik. Tetapi agaknya anak itu memang tidak akan punya adik lagi" Sindangsari tidak menyahut lagi. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Di dalam hatinya ia bertanya "Apakah orang ini mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya?" Namun pertanyaan itu di jawabnya sendiri "Tentu tidak. Kalau ia tahu, ia pasti akan berkata berterus-terang" Tetapi sindiran-sindiran yang setiap kali di dengar oleh Sindangsari itu benar-benar telah mengganggunya. Setiap ia melihat Nyai Reksatani dadanya berdesir dan berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat mengelak. Ia harus menemuinya karena tidak ada orang lain yang dapat melakukannya. Ia adalah isteri Ki Demang. Karena itu, yang dapat dilakukannya adalah menabahkan hatinya. Seperti orang-orang tua menase-hatkan, agar katakata Nyai Reksatani itu sama sekali tidak dihiraukannya. Perempuan separo baya yang pada hari perkawinannya selalu mengawaninya itu, diberitahunya tentang sikap Nyai Reksatani itu. Sampai saat ini perempuan itu masih tetap menyakitkan hatinya. Menyindir dan kadang-kadang dengan kasar melukai perasaannya. "Bukankah sudah aku katakan" jawab perempuan setengah umur itu "Nyai Reksatani agaknya iri hati kepadamu. Kau adalah perempuan yang cantik, muda dan apalagi kini kau akan memberikan keturunan kepada Ki Demang di Kepandak. Seandainya aku masih cukup muda, akupun pasti iri terhadap kebahagian keluarga ini" perempuan itu berhenti sejenak, lalu "karena itu, jangan hiraukan. Anggaplah seperti burung prenjak, yang memang demikianlah bunyinya. Burung prenjak tidak akan dapat bersiul dengan nada yang berbeda" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Justru dosa yang sebenarnya telah membebani hatinyalah yang membuatnya bertahan dengan tabahnya menghadapi sindiran-sindiran dan kadang-kadang kata-kata kasar yang menusuk perasaannya. Perasaan berdosa itu, telah mendasari hatinya, seakanakan sudah sewajarnyalah kalau ia selalu mendengar ucapanucapan yang menyakitkan hati. Bahkan penghinaanpenghinaan sekalipun. Namun semakin dalam luka diliatinya, maka semakin dekatlah ia dengan orang-orang tua yang dianggapnya sebagai orang-orang yang baik, yang dapat menggantikan ibu, kakek dan neneknya. Kandungan Sindangsari itu semakin lama menjadi semakin besar. Sejalan dengan kecemasan yang semakin mencengkam hati Ki Reksatani. "Kau tidak akan berhasil" katanya kepada isterinya pada suatu saat. "Belum tentu kakang. Aku masih akan berusaha" "Aku tidak telaten. Aku akan mengambil jalan yang paling singkat" "Jangan. Jangan kau lakukan. Aku sudah mengorbankan diriku, apapun anggapan Sindangsari terhadapku. Bahkan mungkin juga Ki Demang sendiri apabila sindangsari menyampaikannya kepadanya" "Tetapi aku tidak akan dapat menunggu lebih lama" "Tetapi cara yang kau tempuh itu terlampau keji buat aku, seorang perempuan dan seorang ibu" Ki Reksatani terpaksa menyabarkan hatinya, la masih memberi kesempatan kepada isterinya mengambil cara lain. Namun, dalam usahanya untuk mencegah cara yang akan diambil oleh suaminya, yang disebutnya sangat keji itu, ternyata Nyai Reksatani mengambil cara yang hampir serupa. Meskipun ujudnya jauh berbeda. Seperti biasanya, disaal-saat matahari menjelang sampai ke puncak langit, Nyai Reksatani datang berkunjung kepadanya. Tetapi kedatangannya kali ini sangat mengejutkan Sindangsari. Nyai Reksatani tidak datang seorang diri. Dengan kaku Sindangsari mempersilahkannya duduk di pringgitan. Seperti biasanya pembantunya menyuguhkan air panas dan beberapa potong makanan. "Panasnya bukan main" berkata Nyai Reksatani" Sebenarnya aku tidak ingin datang kemari. Tetapi kami sangat haus, sehingga kami memerlukan mampir sebentar untuk mendapatkan minum" "Ah" desah Sindangsari "hanya air" "Air inilah yang kami perlukan di saat-saat kami haus" sahut Nyai Reksatani "bukan yang lain" Sindangsari tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya "Marilah. Minumlah" Kedua lamunyapun kemudian minum air panas dari dalam mangkuk masing-masing. Sementara itu, dengan sudut matanya Sindangsari memandang wajah kawan Nyai Reksatani. Seorang anak muda yang tampan dan seakan-akan penuh dengan gairah menghadapi kehidupan. "Segar sekali" berkata Nyai Reksatani. "Dari manakah kalian?" bertanya Sindangsari. "Entahlah "jawab Nyai Reksatani. Namun tiba-tiba ia tersenyum "Jangan kau katakan kepada kakang Demang, bahwa aku singgah kemari bersama anak muda ini. Namanya Puranta" Sindangsari mengerutkan keningnya. "Tetapi jangan salah sangka. Kami hanya sekedar berjalan bersama-sama" sambung Nyai Reksatani. Sindangsari kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Anak ini anak baik" katanya. Sedang anak muda yang disebutnya dengan nama Puranta itu tersenyum tersipu-sipu. Sedang Sindangsari melemparkan tatapan matanya jauh ke halaman. "Anak muda ini sudah mengenal Pamot" berkata Nyai Reksatani, sehingga dada Sindangsari berdesir karenanya. "Ya, Pamot adalah kawan baikku" tiba-tiba anak muda itu berkata "aku sudah mengetahui hubungan kalian dengan Pamot. Kalian saling mencintai. Tetapi sayang, bahwa kau terpaksa sama sekali t idak berimbang lagi" "Kasihan umurmu yang masih terlampau muda" berkata Nyai Reksatani "kau masih memerlukan banyak sekali dari kehidupan ini. Tetapi tiba-tiba kau terlempar ke dalam tangan yang sudah mulai layu dan sebentar lagi akan terkulai" "Ah" desis Sindangsari. "Aku, yang barangkali lebih tua daripadamu, kadangkadang masih memerlukan kegairahan di dalam hidup ini. Ki Reksatanipun sebenarnya sudah terlampau tua buatku. Apalagi Ki Demang" Nyai Reksatani tersenyum sambil berpaling kepada anak muda yang bernama Puranta itu "Bukannya begitu?" Anak muda itu tersenyum, namun ia t idak menjawab. Sikap itu tiba-tiba saja telah menumbuhkan perasaan yang aneh di dalam hati Sindangsari. Tanpa sesadarnya ia selalu memperhatikan senyumyang asing di bibir Nyai Reksatani. Tetapi tiba-tiba Nyai Reksatani berkata "Ah, aku tidak akan tinggal terlalu lama disini; Aku harus segera kembali sebelum kakang Demang pulang. Anak muda ini bukan anak Kepandak. la berasal dari Kademangan yang lain" "Jadi?" Sindangsari tidak mengerti maksud pertanyaan sendiri. Namun ia mendengarkan jawaban "Jadi, kami akan pulang ke rumah masing-masing. Di saat lain, kami akan dapat bertemu lagi" Sindangsari t idak mengerti maksudnya. Namun ia t idak bertanya. Keduanyapun kemudia minta diri. Diambang pintu Nyai Reksatani berkata "Jangan bersedih, kau masih terlampau muda" lalu bisiknya di telinganya Sindangsari "anak itu anak baik" Dada Sindangsari berdesir mendengar bisikan itu. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali. "He, mBok-ayu, apakah para peronda di gardu itu selalu berada di sana siang dan malam?" "Yang pasti di malam hari" jawab Sindangsari "tetapi hampir setiap hari, gardu itu selalu terisi" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tersenyum. Diantara senyumnya ia bertanya "He apakah kau seorang gadis pingitan?" "Kenapa?" "Kau hampir tidak pernah keluar rumah. Sebaiknya sekalisekali kau berkunjung ke rumahku" "Baiklah, lain kali" "Atau barangkali kau ingin melihat-lihat kali Praga di musim begini?" Sindangsari benar-benar menjadi heran. Ia tidak mengerti sama sekali, apa saja yang dimaksud oleh Nyai Reksatani. Kunjungannya kali ini seolah-olah membuat teka-teki yang selama ini tidak terpecahkan menjadi semakin sulit membelit hatinya. Tetapi bagaimanapun juga, Sindangsari tidak pernah mengatakannya kepada Ki Demang. Ia hanya mengatakan bahwa Nyai Reksatani telah mengunjunginya. Selebihnya, disimpannya saja di dalam hati. Apa lagi kunjungan Nyai Reksatani kali ini bersama seorang anak muda yang tampan dan bernama Puranta. Belum lagi teka-teki yang membuat pening itu kabur di dalam ingatan, beberapa hari kemudian Nyai Reksatani telah datang pula. Kali ini sendiri. "Aku tidak mengajaknya singgah" katanya "para peronda itu akan dapat mengganggu hubungan kami" "Apa maksudmu?" bertanya Sindangsari. "Ah, kau" Nyai Reksatani tersenyum "Mbok-ayu anak itu adalah anak yang baik. Ia bersedia menolong kita apabila kita memerlukannya" "Pertolongan apakah yang dapat diberikannya?" "Kalau kita sedang kesepian" "Ah" desah Sindangsari. Nyai Reksatani tertawa. Katanya "Jangan kau sangka aku tidak tahu perasaan seorang perempuan muda. Aku yang sudah lebih tua inipun selalu merasa terganggu. Apalalgi akhir-akhir ini kakang Reksatani sibuk dengan bendungan yang sedang disiapkan. Siang dan malam ia berbicara tentang bendungan, siang dan malam ia pergi mengurusi bendungannya. "Tetapi bukankah itu sudah menjadi kewajibannya" "Ya, tetapi aku bukan benda mati yang dapat ditinggalkannya begitu saja" suara Nyai Reksatani menurun "mBok-ayu, tiba-tiba aku jadi cemburu. Anak itu selalu menyebut-nyebut namamu. Kau dianggapnya perempuan yang paling cantik yang pernah dilihatnya" "Ah" "Aku berani bersumpah" lalu perempuan itu berbisik "kau adalah seorang yang masih sangat muda" "Ah" Nyai Reksatani tertawa. Katanya "mBok-ayu. Aku dengar kakang Demang akhir-akhir ini terlampau sering pergi?" "O. tidak. Kakang Demang sekarang justru tidak pernah pergi terlampau lama. Di siang hari beginipun kadang ia tinggal di rumah. Tetapi karena sudah menjadi kebiasaannya, maka sambil berjalan-jalan ia dapat langsung melihat-lihat keadaan dan kehidupan Kademangan ini" Nyai Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, kakang Demang memang seorang yang rajin, seorang Demang yang baik. Dahulu, ayahnyapun seorang Demang yang baik pula. Aku sudah mengenalnya. Sebagai menantunya aku terlalu dikasihinya. Tetapi sayang, baru beberapa bulan aku kawin, ayah mertua itu meninggal dunia, dan kakang Demang ini menggantikannya" Sindangsari mengerutkan keningnya. "Tetapi kakang Demang baru kawin untuk pertama kalinya" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ah. aku sudah terlalu lama duduk disini. Tetapi kapan mBok-ayu berkunjung ke rumahku?" "Lain kali. Aku memang ingin datang ke rumah saudarasaudara Ki Demang. Apalagi yang terdekat seperti Ki Reksatani" "Marilah, pergi sekarang" "Ah, Tentu tidak mungkin" "Kita menunggu Ki Demang sejenak. Lalu kau minta ijin pergi ke rumahku" "Jangan sekarang. Dan bukankah sebaiknya aku pergi berdua dengan Ki Demang" "Seperti pengantin baru" tiba-tiba suaranya meninggi "kau memang penganti baru. tetapi Ki Demang bukan. Ia pasti bersikap lain" "Ki Demang sudah pernah menyebut-nyebut rencana itu. Kami memang akan berkunjung ke rumah saudara-saudara terdekat dan orang-orang tua" Nyai Reksatani tertawa. Katanya "Kau memang masih terlampau hijau" lalu ia berbisik "laki-laki itu hampir menjadi gila. sekali-sekali kau harus menemuinya" "Tidak. Aku tidak mau" "Tentu. Kau tentu tidak mau melayaninya. Tetapi temuilah dan katakanlah hal itu kepadanya. Supaya ia yakin dan melupakan impiannya itu" "Tidak" "mBok-ayu, itu akan lebih baik bagimu sendiri dan baginya. Kalau kau tidak bersedia menemuinya dimanapun, ia akan datang kemari. Dan itu sangat berbahaya bagimu" "Ia tidak berhak berbuat begitu. Aku tidak mau" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa "Jangan terlampau kasar. Ia anak muda yang baik. Aku senang kau menolaknya. Semalam aku sudah tidak dapat tidur karena cemburu. Tetapi kau harus memakai cara yang sebaik-baiknya" "Apa yang harus aku lakukan?" "Pamitlah kepada Ki Demang bahwa kau akan pergi ke rumahku" Sindangsari merenung sejenak. Dan Nyai Reksatani berbisik pula "mBok-ayu. Kau agaknya belum mengenal anak itu baik baik. Cobalah berbicara beberapa kalimat lagi. Kau akan segera mengenal pribadinya. Ia sama sekali bukan anak muda yang sering berkeliaran tidak menentu. Ia juga bukan anak muda yang suka mengganggu isteri orang. Tetapi ia mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai oleh orang lain. Karena itu terus-terang, aku suka kepadanya" "Ah" Sindangsari berdesah. "Marilah. Kita pergi sejenak. Beritahukan kepadanya bahwa kau adalah seorang isteri yang setia, meskipun suamimu bukanlah laki-laki yang sebenarnya kau harapkan" "Jangan berkata begitu" "He, kenapa? Bukankah aku tahu, bahwa laki-laki yang kau harapkan adalah Pamot, yang umurnya sebaya dengan anak yang datang bersamaku itu" Tiba-tiba kepala Sindangsari menunduk. Tanpa sesadarnya telah mengenangkan Pamot yang pergi ke medan perang. Dadanya tersirap ketika ia mendengar Nyai Reksatani berbisik "Ki Demang itu pasti tidak akan dapat memberi apaapa lagi kepadamu selain mement ingkan dirinya sendiri" Sindangsari t idak menyahut. "Marilah. Kalau kau memang ingin menolak. Katakanlah" Sindangsari masih tetap diam. "Atau, kalau kau berpendirian lain, kau akan mendapat kesempatan" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk. "Marilah, pergi ke rumahku" Tiba-tiba Sindangsari mengusap matanya. Katanya "Aku tidak dapat pergi sekarang" "O" Nyai Reksatani terdiamsejenak "jadi kapan?" "Aku tidak dapat mengatakan" "mBok-ayu. Besok aku datang lagi kemari. Besok kita pergi bersama-sama untuk menemui anak itu. Katakanlah apa yang akan kau katakan. Semata-mata untuk kepentinganmu. Kalau kau tidak bersedia sekali lagi aku peringatkan, ia akan datang kemari. Ia sudah menjadi mata gelap. Dan itu berbahaya sekali bagimu. Bagi kebahagiaanmu, Apalagi kau sudah mengandung. Kecuali kalau kau berpendirian lain" Nyai Reksatanipun kemudian minta diri. Sambil menepuk bahu Sindangsari, di halaman ia berdesis "Kau muda dan cantik. Sekuntum bunga yang indah dan lagi mekar, tidak akan banyak artinya, jika sekedar disembunyikan di dalam dapur, di bawah belanga atau di balik perapian" "Ah" Nyai Reksatani tertawa sambil melangkah meninggalkan halaman rumah Ki Demang. Sekali lagi ia berpaling. Dilihatnya Sindangsari berdiri dengan gelisahnya. Kegelisahan dan kebingungan itulah memang yang dimaksudkan. Apalagi apabila ia berhasil menjeratnya ke dalam perangkap yang langsung dapat menjerumuskan isteri Ki Demang yang masih muda itu ke dalamjurang kehinaan. Ternyata sepeninggal Nyai Reksatani, Sindangsari telah dicengkam oleh kegelisahan. Memang sekali-sekali terbayang wajah anak muda yang tampan dan sopan itu Sekilas senyumnya seolah-olah ditujukan kepadanya. Bahkan sekalisekali menganggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya Sindangsari berdesah di dalam hati. Dengan perasaan yang aneh ia pergi ke dalam biliknya. Ketika ia meletakkan tubuhnya di pembaringan, maka mulailah ia berangan-angan. Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Terkenang olehnya, masa-masa yang mesra di saat-saat Pamot masih selalu menjumpainya. Terlintas pula kenangan yang tidak akan terlupakan, betapa indah namun betapa pahitnya. Di saat-saat terakhir kalinya ia bertemu dengan anak muda yang dicintainya. Setelah itu, ia selalu dibakar oleh kesepian. Sebagai seorang isteri Sindangsari tidak pernah menemukan arti yang sebenarnya. Ki Demang bukanlah seorang suami yang baik baginya. "Anak muda itu memang mirip dengan Pamot" tanpa sesadarnya tumbuhlah perasaan yang asing di dalam hatinya. Namun kemudian Sindangsari menghentakkan tangannya "Tidak, tidak. Aku tidak akan mengulangi genangan noda yang hampir saja menenggelamkan aku dan nama seluruh keluargaku. Untunglah Ki Demang seorang yang baik, yang bersedia menyimpan rahasia itu, meskipun rahasia itu telah melukai hatinya sendiri" Namun kemudian "Tetapi apakah artinya. Sebagai seorang isteri aku berhak menuntut" Lalu terngiang di telinganya katakata Nyai Reksatani "Sekuntum bunga yang indah dan lagi mekar, tidak akan banyak artinya jika sekedar disembunyikan di dalam dapur di bawah belanga atau di balik perapian" "Ah" Sekali lagi Sindangsari berdesah. Selama ini ia t idak pernah menilai dirinya sendiri. Ia tidak pernah menghiraukannya, apakah ia seorang gadis yang cantik atau bukan. Apakah ia seperti sekuntum bunga yang mekar atau sudah layu. Namun tiba-tiba kini ia mulai memandang kepada dirinya, kepada bentuk tubuhnya. Perlahan-lahan Sindangsari bangkit dari pembaringannya. Ketika ia melangkah keluar biliknya, dilihatnya seorang pembantunya lewat. "Maaf, aku tidak dapat membantu kalian di dapur hari ini" berkata Sindangsari "kepalaku pening" "O" silahkan beristirahat Nyai" jawab pembantu rumahnya "kami sudah dapat menyelesaikannya seperti petunjukpetunjuk Nyai" Nyai Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika pembantunya sudah hilang di balik pintu, maka Sindangsaripun pergi ke pakiwan di belakang rumah. Tiba-tiba saja Sindangsari ingin melihat dirinya sendiri, ketika ia melihat bayangan di wajah air jambangan. Sejenak ia berdiri mematung. Ditatapnya seraut wajah yang cantik meskipun agak pucat, di dalam air. Sekali tersenyum, kemudian mengerling. Sindangsari terperanjat ketika selembar daun kering jatuh ke dalam jambangan itu. Wajah yang cantik dan pucat itu tiba-tiba telah lenyap ditelan oleh gejolak yang lembut dipermukaan air. Sindangsari menjadi kecewa karenanya. Tetapi ia tidak menunggu air itu menjadi tenang kembali. Ditinggalkannya jambangan air itu dengan berbagai macam persoalan di dalam hatinya. Seakan-akan baru saat itu ia mengerti, bahwa ia adalah seorang perempuan yang cantik. Sedang suaminya adalah seorang yang sudah jauh lebih tua daripadanya dan tidak dapat memberinya kebahagiaan sebagai seorang isteri. "Bukan salahnya" Sindangsari menelungkup di pembaringannya ketika ia sudah berada di dalam biliknya kembali "Akulah yang telah bersalah. Aku sudah menodai kesucian perkawinan ini" Tanpa disadarinya, air mata Sindangsari mulai membasah di pelupuknya. Ia menyesal, kenapa ia jatuh ke tangan Demang di Kepandak ini. Kalau ia dibiarkan kawin dengan Pamot, maka ia pasti akan merasa bahagia. Sindangsari terperanjat ketika tiba-tiba pula hatinya telah diterkam oleh gema suara Nyai Reksatani di dalam hatinya "kau muda dan cant ik" Sekilas lewat di dalam angan-angannya anak muda yang datang bersama dengan Nyai Reksatani itu. "Tidak, tidak" Sindangsari menjadi gelisah. Sekali ia menelungkup, kemudian menelentang. Sindangsari t idak menyadari berapa lama ia berbaring dengan gelisah di pembaringannya. Tiba-tiba saja ia sudah mendengar desir langkah yang dikenalnya baik-baik. Langkah Ki Demang setelah terdengar pintu pringgitan berderit. Dengan tergesa-gesa Sindangsari bangkit. Dibenahinya pakaiannya dan diusapnya matanya yang basah. Tetapi sebelum ia keluar dari dalam biliknya, Ki Demang sudah menjengukkan kepalanya sambil bertanya "Apakah kau merasa tidak enak badan lagi?" "O, tidak Ki Demang" jawab Sindangsari terbata-bata "Aku hanya merasa sedikit pening" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Kau memang harus banyak beristirahat. Tidurlah" "Aku sudah lama berbaring Ki Demang" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Sindangsari berkata seterusnya "Biarlah aku menyiapkan makan siang. Barangkali agak terlambat karena aku tidak membantu di dapur" "Aku belum lapar. Biarlah orang-orang di dapur itu menyelesaikannya. Kalau kau mencium bau berambang kau akan muntah-muntah lagi" "Sekarang justru t idak Ki Demang" Ki Demang tidak menyahut. Dibiarkannya Sindangsari melakukan apa yang dikehendakinya. Sambil memandang isterinya sampai hilang di balik pintu. Ki Demang berkata di dalam hatinya "Keluarga ini adalah keluarga yang aneh. Namun semakin lama aku justru semakin mencintainya, meskipun aku tidak dapat melupakan noda yang melekat pada dirinya. Anak itu merupakan duri di dalam hubungan kekeluargaan ini, tetapi sekaligus memberi kebanggaan pula kepadaku" Sejenak kemudian maka Sindangsaripun setelah menyiapkan makan siang buat Ki Demang. Ia mencoba untuk berbuat seperti kebiasaannya tanpa sentuhan apa-apa di dalam hatinya. Namun setiap kali dadanya terasa berdesir. Setiap kali terbayang wajah Nyai Reksatani yang tertawa berkepanjangan. Kemudian wajah seorang anak muda yang tampan yang sudah tentu lebih tampan dan jauh lebih muda dari Ki Demang di Kepandak. Bahkan kadang-kadang yang melintas di dalam angan-angannya adalah wajah anak muda yang kini sedang pergi ke medan perang. Pamot. Setiap kali Sindangsari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dicobanya untuk mengusir segala macam angan-angan yang mengganggunya. Namun setiap kali bayangan, gambaran dan anyaman perasaannya sendiri, selalu kembali mengganggunya. Untunglah bahwa menurut tanggapanKi Demang, Sindangsari masih diganggu saja oleh kehamilannya. Wajahnya yang pucat, dan sorot matanya yang suram, membuatnya menjadi beriba hati. Ketika Ki Demang sudah selesai dan ketika semua alat alat dan sisa-sisa makanan sudah dibersihkan, maka Ki Demangpun berkata "Sudahlah Sari. Tidurlah. Jangan terlampau banyak bekerja. Kau harus menjaga kesehatanmu sebaik-baiknya" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Akupun akan beristirahat di gardu" "Ki Demanglah yang sebenarnya terlampau kurang beristirahat" berkata Sindangsari kemudian. "Tetapi aku sehat. Aku tidak sedang dalam keadaan seperti kau. Adalah kelajiman seorang perempuan yang sedang hamil, bahwa ia harus banyak beristirahat" Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Nah, tidurlah" Sindangsaripun kemudian kembali ke biliknya. Tetapi wajah Nyai Reksatani masih saja seolah-olah melekat di rongga matanya. "Tidak. Tidak. Aku tidak akan pergi. Tetapi kata-kata itu dibantahnya sendiri, bagaimana kalau justru anak muda itu yang datang kemari? Aku tentu akan menemui kesulitan karenanya" Kebingungan yang bergolak di dadanya telah membuatnya menjadi sangat gelisah. Dan kegelisahan itu membayang di dalam sikap dan perbuatannya sehari-hari. Kadang kadang ia bermaksud untuk minta ijin kepada Ki Demang, untuk memenuhi ajakan Nyai Reksatani. Namun kadang-kadang ia menjadi ketakutan, apakah yang sebenarnya akan terjadi dengan dirinya? Sindangsari merasa bahwa dirinya bukanlah seorang yang tabah dan kuat. Ternyata ia sudah tergelincir bersama Pamot. Meskipun pada mulanya ia berteguh hati terhadap anak muda inipun Sindangsari merasa cemas. Ia sama sekali tidak ingin berkhianat lagi terhadap perkawinannya dan terhadap cintanya kepada Pamot, yang dianggapnya cinta yang paling luhur, namun di dalam keadaan di luar sadarnya, mungkin oleh tekanan keadaan yang tidak terhindarkan lagi, ia akan terjerumus untuk kedua kalinya. Demikianlah dada Sindangsari bergolak sehari-harian. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa perasaan yang demikian itulah yang memang dikehendaki oleh Nyai Reksatani. Bahkan lebih dari itu apabila ia dapat melakukannya. Kegelisahan itu menjadi semakin memuncak ketika di hari berikutnya. Nyai Reksatani datang pula kepadanya dan bertanya "Bagaimana? Apakah kau sudah minta diri kepada suamimu, kakang Demang, bahwa hari ini kau akan pergi ke rumahku?" Sindangsari menggelengkan kepalanya. "Ah kau. Aku sudah ikut cemas memikirkan keadaanmu apabila anak itu datang kemari" "Kenapa anak itu kau bawa singgah kemari?" bertanya Sindangsari dengan kesal. "Aku tidak tahu, bahwa kedatangannya akan membawa akibat yang panjang" "Karena itu, hentikan persoalan ini. Katakan kepadanya, aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa "Jangan berkata begitu mBok-ayu. Pada suatu saat kaulah yang akan mencarinya" "Tidak, tentu tidak" sahut Sindangsari dengan serta-merta. Ia tidak senang sekali mendengar kata-kata Nyai Reksatani itu. Tetapi Nyai Reksatani hanya tersenyum saja. Katanya "mBok-ayu. Aku sendiri pernah mengumpat-umpatinya, mengusirnya seperti anjing. Tetapi ia memang anak yang baik. Ia tidak pernah mendendam dan marah. Dengan sabar ia mencoba meluluhkan hatiku. Ah, begitulah kira-kira yang sudah terjadi" Sindangsari tidak menyahut. Kepalanya kini ditundukkannya. "Mbok-ayu, anak itu sekarang ada di luar padukuhan ini. Ia menunggu di bawah pohon preh" Nyai Reksatani berhenti sejenak" atau barangkali kau merasa rindu kepada ibu, kakek dan nenekmu?" "Seminggu yang lalu, kakek datang kemari" "O. tetapi ibumu" "Aku akan mengunjunginya. Tetapi sudah tentu bersama dengan Ki Demang" Nyai Reksatani menarik nafas. Hampir saja ia menjadi putus-asa. Tetapi ia masih mencoba "Terserahlah kepadamu mBok-ayu. Apakah kau menunggu anak itu datang ke rumah ini dan menemui Ki Demang" "Gila" "Usahakan menemuinya dan mengatakan isi hatimu. Besok aku akan datang kemari lagi. Kau harus minta diri kepada Ki Demang bahwa kau akan mengunjungi aku" Nyai Reksatani tidak menunggu jawaban Sindangsari. Iapun segera berdiri dan minta diri sambil berkata "Jangan sia-siakan kemudaan dan kecantikanmu. Kau sekarang sedang mengandung. Tidak akan ada akibat yang dapat membahayakan hubunganmu dengan Ki Demang" "Ah, gila. Gila" Sindangsari hampir berteriak. Apalagi ketika ia melihat Nyai Reksatani tertawa. Wajahnya menjadi merah padam. "Terserahlah" berkata Nyi Reksatani kemudian sambil meninggalkan halaman rumah Ki Demang. Hari itu Sindangsari menjadi semakin bingung. Hampir saja ia kehilangan akal dan berbuat di luar sadarnya, mencari kesempatan untuk pergi. Tetapi untunglah bahwa kemudian ia sadar, bahwa hal itu tidak akan mungkin dapat dilakukan. Akhirnya Sindangsari tidak dapat lari dari kejaran perasaannya. Betapapun beratnya, ia terpaksa mengatakan kepada Ki Demang, bahwa Nyai Reksatani mengharapkannya datang berkunjung kepadanya. "Aku akan segera mencari kesempatan" berkata Ki Demang "Aku memang ingin mengunjungi keluarga itu. Sudah lama sekali aku tidak datang kesana" "Ki Demang" berkata Sindangsari "Aku tidak ingin mengganggu tugas Ki Demang. Kalau Ki Demang mengijinkan, besok Nyai Reksatani akan singgah kemari" Ki Demang mengerutkan keningnya. "Dimana kau bertemu dengan Nyai Reksatani" "Siang tadi ia datang kemari. Ia mengajak aku pergi hari ini. Tetapi aku berkeberatan, karena aku belum minta ijin Ki Demang lebih dahulu" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya "Apakah kau ingin berkunjung kepada keluarga itu?" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Ki Demang merenung sejenak, lalu "Baiklah kalau kau memang ingin mengunjunginya. Tetapi kau mempunyai persoalan yang lain dari Nyai Reksatani" Sindangsari mengerutkan dahinya. "Sari, sebaiknya aku berterus terang. Sebenarnya aku tidak sampai hati melepaskan kau pergi sendiri. Bukan karena aku tidak percaya lagi kepadamu karena peristiwa yang pernah terjadi. Tetapi aku cemas bahwa masih ada orang-orang yang berniat kurang baik terhadapmu" Sindangsari masih tetap berdiam diri. Tetapi sorot matanya seolah-olah bertanya kepada Ki Demang, apakah maksudnya. "Sindangsari, di Kademangan ini masih ada orang yang tergila-gila kepadamu. Bahkan mungkin tidak hanya satu atau dua, setelah Pamot dan aku. Tetapi yang paling banyak harus diperhatikan adalah Manguri" Dada Sindangsari berdesir mendengar nama itu. Karena itu, ia menjadi semakin terbungkam. Kalau terjadi sesuatu, maka akibatnya pasti akan sangat menyakitkan hatinya. Sejenak ia telah dicengkam oleh kebimbangan yang dalam. Kalau ia pergi, peringatan Ki Demang itu memang seharusnya mendapat perhatiannya. Tetapi kalau ia tidak juga pergi bagaimanakah jadinya kalau laki-laki muda itu benar akan datang kepadanya, tanpa menghiraukan apakah suaminya ada atau tidak. Dengan demikian Sindangsari telah dicengkam oleh kebimbangan tentang bermacam-macam persoalan. Laki-laki muda itu, Nyai Reksatani, suaminya dan bulu-bulunya meremang ketika diingatnya seorang anak muda yang bernama Manguri itu. "Meskipun barangkali kecemasanku itu berlebih-lebihan Sari" berkata Ki Demang pula "karena setiap orang kini sudah mengetahui bahwa kau adalah isteriku" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. "Kalau kau memang ingin pergi ke rumah Reksatani" Ki Demang meneruskan "tidak ada salahnya kalau kau memilih waktu yang tepat. Jangan terlampau siang. Di tengah hari, jalan-jalan menjadi sepi. Kalau kau pulang terlampau sore, suruhlah Reksatani mengantarkanmu" "Baik Ki Demang" jawab Sindangsari "besok aku akan berangkat begitu Nyai Reksatani datang. Ia mengharap sekali aku berkunjung ke rumahnya" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sama sekali t idak berprasangka apapun terhadap adik iparnya. Di keesokan harinya, Ki Demang sengaja tidak pergi berjalan jalan di sekitar padukuhannya. Ia ingin bertemu dengan Nyai Reksatani yang akan menjemput isterinya yang sedang mengandung itu. "Aku titipkan Sindangsari kepadamu" berkata Ki Demang. Nyai Reksatani menjadi berdebar-debar. Ia tidak mengira bahwa Ki Demang memerlukan menunggunya dan justru menyerahkan Sindangsari kepadanya. Karena itu, dengan ragu-ragu ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab "Baiklah kakang Demang. Aku akan menjaganya baik-baik" Demikianlah tanpa kecurigaan apapun juga. Sindangsari telah dilepaskannya pergi bersama Nyai Reksatani. Setelah ia berpesan agar mereka menempuh jalan yang ramai sampai ke rumah Ki Reksatani. "Apakah kakang Demang takut kalau Nyai Demang hilang di jalan?" "Tentu tidak" "Atau anak-anak muda yang menggilainya masih akan mengganggunya?" Ki Demang tidak menjawab. Tetapi karena angan-angannya dapat ditebak oleh Nyai Rekksatani, maka iapun hanya tersenyumsaja. "Jangan takut Ki Demang. Jalan ke rumahku tidak melewati Gemulung, kalau kakang Demang mencemburui anak muda yang bernama Manguri itu" "Ah" Sindangsari berdesis. Sedang Nyai Reksatani tertawa pendek. "Tetapi hati-hatilah" Ki Demang masih berpesan. Dengan hati yang berdebar-debar, maka Sindangsaripun kemudian berangkat mengikuti Nyai Reksatani. Ketika ia meninggalkan halaman rumahnya ia menjadi ragu-ragu, sehingga langkahnyapun menjadi tertegun-tegun. Ketika ia berpaling, dan melihat Ki Demang berdiri di regol, terasa dada Sindangsari berdesir. Hampir saja ia lari kepadanya dan mengadukan persoalan itu dengan jujur. Namun dalam kebimbangan itu Nyai Reksatani berbisik "mBok-ayu, jangan ragu-ragu. Kau harus menemuinya dan berkata kepadanya, bahwa kau sama sekali tidak mengharapkan apa-apa daripadanya. Semuanya akan segera selesai, dan kau tidak akan selalu dibayangi oleh kecemasan dan kegelisahan. Aku juga tidak lagi dibayangi oleh kecemburuan. Kecuali kalau kau memang merasa terlampau kesepian. Aku tidak berhak untuk mencegahnya, karena aku dan anak muda itu t idak mempunyai ikatan yang mutlak" "Tidak, tidak" sahut Sindangsari" "Jangan berteriak" desis Nyai Reksatani. Sindangsaripun terdiam. Dan Nyai Reksatani berkata selanjutnya "Katakan, apa yang tersimpan di hatimu. Dengan jujur. Kau tidak usah berpura-pura setia atau segala macam kebiasaan. Hanya seakan-akan kebiasaan dan keharusan. Bukan memancar dari sanubari" Ketika Sindangsari akan menjawab, Nyai Reksatani mendahuluinya "Jangan kau jawab. Lihat sajalah ke dalam dirimu sendiri" Keduanyapun kemudian terdiam. Langkah mereka semakin lama menjadi semakin cepat. Apalagi ketika mereka telah berada di luar padukuhan. Meskipun belum sampai ke puncak namun terasa matahari menyengat kulit. Beberapa orang yang bekerja di sawah telah mulai mengemasi alat-alat, sedang orang-orang yang berjalan di jalan-jalan tampak menjadi sangat tergesa-gesa. Meskipun demikian Nyai Reksatani dan Sindangsari yang menempuh jalan seperti yang dinasehatkan oleh Ki Demang masih banyak berpapasan dengan orang-orang yang pulang dari pasar. Sementara itu, seseorang yang bertubuh raksasa dan berkepala botak, sedang duduk di pematang sambil membersihkan cangkulnya dengan air parit yang mengalir gemericik di bawah kakinya. Sekali-sekali orang yang bertubuh raksasa itu menengadahkan wajahnya. Namun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia berpaling ketika seseorang memanggilnya dari atas gubug "He, Lamat. Aku akan pulang dahulu. Tunggu air itu sampai sawah menjadi penuh" Lamat berdiri sejenak. Sambil menganggukkan kepalanya ia menjawab "Baik. Aku akan menunggui sawah ini" "Kalau kau mau makan, makanlah nasi ini. Aku akan makan di rumah saja" "Ya" sahut Lamat pendek. Anak muda yang berada di dalam gubug ilupun kemudian meloncat turun dan berjalan menyusuri pematang pulang ke rumahnya. Lamat kemudian t inggal sendiri di sawahnya. Ia kembali duduk di pematang sambil memandangi air yang mengaliri parit yang membujur di daerah persawahan itu. Sekali-sekali tangannya menyentuh percikan air yang jernih itu. Kemudian kembali ia mengangkat wajahnya memandang kekejauhan. Semula ia tidak memperhatikan sama sekali, ketika ia melihat seorang anak muda yang berjalan dengan tergesagesa. Namun ketika anak muda itu menjadi semakin dekat, berjalan dijaian yang menyilang parit tempat ia mencuci cangkulnya. Lamat menjadi berdebar-debar. Tanpa sesadarnya ia berjongkok dan bergeser surut, ke balik tanaman yang sedang menghijau. "Anak itu" desisnya "Kenapa ia berada di Kademangan ini?" Dengan penuh pertanyaan Lamat memperhatikannya, tanpa diketahui oleh orang yang sedang lewat itu. "Apa kerja Puranta itu disini?" pertanyaan itu telah memburunya. Lamat menarik nafas dalam-dalam ketika Puranta itu telah menjadi semakin jauh. Perlahan-lahan Lamat berdiri. Dipandanginya orang yang berjalan dengan tergesa-gesa itu sampai jauh di balik ndeg pengamun-amun. Lamat yang kemudian duduk kembali di pematang, ditepi parit itu menjadi selalu bertanya-tanya tentang Puranta. Ia tidak dapat membiarkannya tanpa merenungkan, apakah kepentingannya berada di Kademangan ini. "Untunglah Manguri sudah pergi" desisnya "kalau Manguri melihatnya, maka perselisihan itu dapat saja terjadi setiap saat. Kalau aku tidak memisahnya, mereka pasti sudah berkelahi karena perempuan itu" Terbayang di dalam angan-angan Lamat, bagaimana keduanya berbareng datang ke rumah seorang janda muda. Perselisihan t idak dapat dihindarkan. Untunglah Manguri masih mendengar nasehatnya saat itu "Jangan berkelahi. Persoalan ini akan membuat keluarga Manguri semakin dijauhi orang. Kenapa kau harus berkelahi karena janda yang hina itu? Ternyata ia menerima siapa saja datang ke rumahnya" Betapapun kemarahan menghentak-hentak di dada Manguri, namun agaknya ia masih cukup mempunyai harga diri, sehingga ditinggalkannya perempuan itu. Namun sesudah itu, tanpa dikehendakinya sendiri, Lamat mendengar bahwa ayah Manguripun pernah bertengkar dengan anak itu. Bahkan anak itu hampir saja dibunuhnya. Persoalannya adalah persoalan yang serupa. Akhirnya dari Manguri ia mendengar bahwa anak muda yang bernama Puranta itu adalah anak yang selalu membuat onar ia tidak lagi, menghiraukan pagar ayu. Apalagi kini ia merasa kuat, karena ia mempunyai beberapa orang kawan yang sejalan. "Kalau saja ia tinggal di Kademangan ini" desis Lamat "maka ia dan Manguri akan dapat menjadi kawan yang baik, atau menjadi musuh bebuyutan" Tetapi Lamatpun kemudian mencoba untuk t idak menghiraukannya lagi. Mungkin ia kebetulan saja berjalan melalui Kademangan ini untuk pergi ke tempat kawankawannya atau saudara-saudaranya. "Apa peduliku" desis Lamat Dan bahkan ia sama sekali tidak berniat untuk mengatakannya kepada Manguri. Karena itu, maka Lamatpun segera pergi ke gubug di tengah-tengah sawah. Di dalam gubug itu terdapat sebungkus nasi. Perlahan-lahan ia membuka bungkusan itu, dan mulai menyuapi mulutnya. Namun setiap kali ia terhenti apabila ia teringat anak muda yang bernama Puranta itu. Dalam pada itu Puranta berjalan dengan tergesa-gesa ke rumah Ki Reksatani. Ia sudah mendapat kepastian bahwa hari ini Sindangsari akan datang ke rumah itu. Ia tahu benar bahwa segala sesuatunya pasti sudah diatur. Ki Reksatani pasti tidak ada di rumah karena Ki Reksatanipun tahu benar akan rencana yang telah disusun oleh isterinya itu. Ketika Puranta sampai ke rumah Ki Reksatani, ternyata Sindangsari telah ada di rumah itu pula. Sejenak ia tertegun di depan pintu. Ditatapnya wajah Sindangsari dengan sorot mata yang membara sehingga Sindangsari sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. "Masuklah" berkata Nyai Reksatani "kakang Reksatani tidak ada di rumah hari ini" "Ya, aku tahu. Aku melihatnya ia pergi ke pasar ternak. Agaknya Ki Reksatani ingin membeli seekor atau dua ekor lembu" "Mungkin" sahut Nyai Reksatani "marilah. Sindangsari sudah terlampau lama menunggu" "Ah" Sindangsari berdesah. "Maaf Nyai Demang" berkata Puranta "Aku terlambat. Aku harus meyakinkan dahulu, apakah Ki Reksatani benar-benar tidak ada di rumah" Tiba-tiba saja dada Sindangsari terasa menghentak-hentak. Apalagi ketika anak muda itu kemudian melangkahi tlundak pintu, masuk ke pringgitan dan tanpa di duga-duga telah duduk di sampingnya. "Apakah Nyai Demang sudah lama?" bertanya Puranta. Sindangsari tidak segera dapat menyahut. Mulutnya serasa tersumbat dan dadanya menjadi terlampau sesak. "Sudah" Nyai Reksatanilah yang menyahut "sudah terlalu lama. Kemanakah kau sepanjang pagi ini?" "Sudah aku katakan, meyakinkan apakah Ki Reksatani tidak ada di rumah" Nyai Reksatani tersenyum. Namun tiba-tiba ia berkata "kau tentu haus. Aku ambilkan air sebentar" Nyai Reksatanipun kemudian bangkit dari tempatnya. Namun sebelum ia melangkah Sindangsari berkata "Duduklah Nyai, biarlah aku yang mengambil minumuntuk tamumu" "Aneh sekali. Kau juga tamu disini" "Bukan, aku bukan tamu. Aku adalah keluarga sendiri. Duduklah menemui tamumu" "Akulah yang mempunyai rumah dan akulah yang mempunyai tamu" Nyai Reksatani tertawa. Kemudian tanpa berkata apapun lagi ia meninggalkan Sindangsari dan Puranta di pringgitan. Hati Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Tanpa sesadarnya ia bergeser menjauhi Puranta yang duduk di sampingnya. "Panasnya bukan main" Puranta berdesis "tetapi ruangan ini terasa terlampau sejuk" Sindangsari t idak menyahut. "Nyai Demang" bertanya Puranta kemudian "apakah Nyai Reksatani pernah berkata sesuatu tentang aku?" Denyut jantung Sindangsari serasa menjadi semakin cepat bergetar. Sejenak ia masih tetap berdiam diri, sedang keringat dinginnya membasahi segenap tubuhnya. "Maksudku" berkata Puranta selanjutnya "apakah Nyai Reksatani pernah menceritakan hubungannya dengan aku?" Hampir tanpa disadarinya Sindangsari menggeleng "Tidak" jawabnya lirih. "Bagus" berkata Puranta kemudian "hubungan kami tampaknya memang terlampau baik. Aku sering dimintanya datang kalau suaminya tidak ada di rumah. Akhir-akhir ini Ki Reksatani memang sering pergi meninggalkannya. Tetapi itu sama sekali bukan maksudku. Aku tahu, bahwa berhubungan dengan seorang perempuan yang sudah bersuami adalah suatu dosa" Sindangsari mengerutkan keningnya. Kata-kata anak muda itu terdengar mapan sekali. Ia menyadari bahwa hubungan yang demikian itu adalah suatu dosa. Sindangsari mengerutkan keningnya. Kata-kata anak muda itu terdengar mapan sekali. Ia menyadari bahwa hubungan yang demikian itu adalah suatu dosa. "Tetapi aku terlampau kasihan kepadanya" berkata Puranta selanjutnya "itu adalah kelemahanku. Aku tidak tahan melihat seseorang yang bersedih hati. Nyai Reksatani benar-benar merasa kesepian, sehingga aku telah terjebak ke dalam rumah ini. Bukan saja ke dalam rumah ini, tetapi aku sudah terseret masuk ke dalam biliknya" suaranya kemudian menurun "sebenarnya aku menyesal sekali. Setiap kali aku memutuskan untuk pergi daripadanya. Tetapi setiap kali aku tidak sampai hati menyakiti perasaannya" Tanpa sesadarnya Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata anak ini bukan anak yang terlampau jelek. Ia mengerti apa yang baik dan apa yang buruk. Tetapi ia tidak dapat menolak karena perasaannya yang terlampau halus" "Kini aku seolah-olah telah dibelenggunya. Aku seakan akan telah terhutang budi, karena aku sering menerima pemberiannya" Kegelisahan Sindangsari lambat laun menjadi semakin berkurang. Ia menyangka bahwa anak itu akan berbuat kurang sopan. Tetapi ternyata ia mengerti apa yang sebaiknya dilakukannya. Puranta berhenti berbicara ketika Nyai Reksatani kemudian memasuki ruangan itu sambil membawa beberapa mangkuk air panas. Katanya "Nah. minumlah. Bukankah kalian haus. Akupun haus pula. Tetapi, biarlah aku mengambil beberapa potong makanan untuk kalian" Sindangsari kini tidak menahan lagi ketika Nyai Reksatani meninggalkannya. Bahkan sekilas dipandanginya wajah anak muda yang bernama Puranta itu. Tampaklah matanya menjadi redup dan wajahnya selalu menunduk. Wajah yang seakanTiraikasih Website http://kangzusi.com/ akan telah berubah sama sekali dari wajahnya di saat ia datang dengan tatapan mata yang membara. Sepeninggal Nyai Reksatani anak muda itu berkata seterusnya "Sebenarnya hatiku telah tertutup bagi perempuan yang manapun juga sepeninggal bakal istriku beberapa tahun yang lalu" Puranta mengangkat wajahnya sejenak ketika ia mendengar Sindangsari t iba-tiba bertanya "Kemanakah bakal isterimu itu?" "Lari. Lari dengan seorang laki-laki lain" suaranya menjadi dalam "Aku tidak tahu kenapa ia begitu saja meninggalkan aku. Tanpa pesan dan tanpa penjelasan apapun" Sindangsari menarik nafas, seakan-akan ia ingin melepaskan sesak nafasnya selama ia menahan diri dalam kegelisahan. "Berbeda dengan kau Nyai Demang" berkata Puranta kemudian "kau sama sekali tidak lari. Kau terpaksa memenuhi nafsu Ki Demang yang tidak terkendalikan" Puranta berhenti sejenak, lalu "apakah kau ingin tahu, siapakah perempuan yang lari dengan laki-laki itu?" Seolah-olah tidak disengaja Sindangsari mengangguk. "Mereka tidak lari jauh. Maksudku, lari daripadaku. Perempuan itu adalah isteri Ki Demang yang kelima. Laki-laki itu adalah Ki Demang, suamimu. Berbeda dengan kau, perempuan itu dengan senang hati menanggapi lamaran Ki Demang" Sindangsari terperanjat mendengar keterangan itu. Sejenak ia seolah-olah membeku. Ditatapnya wajah Puranta yang menjadi semakin suram. "Perempuan itu melepaskan aku, tidak seperti kau terlepas dari Pamot" Sindangsari masih tetap terdiam diri. Tiba-tiba saja timbullah perasaan ibanya kepada laki-laki itu. "Alangkah berbahagianya Pamot, apalagi jika ia berhasil mengawinimu. Laki-laki yang mempunyai seorang isteri seperti kau, tentu akan merasa bahwa ia telah berada di pintu gerbang sorga" "Ah" Sindangsari berdesah. "Sindangsari" tiba-tiba saja laki-laki itu memanggil namanya, sehingga jantung Sindangsari berdentangan karenanya "Aku belum pernah melihat seorang perempuan secantik kau. Bukan saja bentuk lahiriah, tetapi juga hati dan jiwamu. Itulah agaknya, meskipun kau sama sekali tidak berniat kawin dengan Ki Demang kau tetap setia pula kepadanya " Wajah Sindangsari menjadi merah padam. "Maafkan aku. Aku hanya ingin sekedar menyebut namamu. Hanya menyebut namamu saja. Tidak dengan sebutan Nyai Demang. Tetapi namamu sendiri yang manis semanis orangnya. Sindangsari" "Ah" Sekali lagi Sindangsari berdesah. Tetapi ia merasa aneh, kenapa tiba-tiba saja ia merasa gemetar. Bukan lagi karena ketakutan karena anak muda itu duduk di sampingnya. Sejenak anak muda itu tidak berkata sesuatu. Sehingga dengan demikian ruangan itupun menjadi sepi. Kesepian itupun kemudian dipecahkan oleh suara Nyai Reksatani yang datang sambil membawa beberapa potong makanan. Katanya "Tidak ada apa-apa yang pantas aku suguhkan. Hanya ini. Jadah bakar. Tidak seperti di Kademangan" "Jangan terlampau sibuk Nyai" berkata Sindangsari. Tetapi ia tidak mempersilahkan Nyai Reksatani itu duduk bersama mereka. Namun setelah meletakkan makanan itu, Nyai Reksatanipun duduk diantara mereka. Katanya "Apa saja yang sudah kalian bicarakan. Aku tidak mendengar kalian tertawa atau berkelakar. Agaknya kalian berbicara bersungguh-sungguh. "Tidak Nyai" jawab Puranta "kami berbicara tentang diri kami masing-masing" "O, kau juga berbicara tentang aku?" "Tidak" "Bohong" "Tidak Nyai, sungguh. Aku tidak berbicara tentang Nyai" Nyai Reksatani memandang Sindangsari sejenak, kemudian berganti di pandanginya Puranta. Tiba-tiba saja Nyai Reksatani itu tersenyum "Ha, kenapa t idak kau katakan saja kepadanya langsung? Bahkan Sindangsari adalah perempuan yang paling cantik di muka bumi ini. Jauh lebih cantik daripadaku" "Ah Nyai" potong Puranta. "Itu lebih baik bagimu. Kau lebih senang menyebutnya dengan namanya, Sindangsari daripada Nyai Demang di Kepandak. Begitu?" "Jangan begitu Nyai" "Aku tidak apa-apa. Kalian adalah anak-anak muda. Seandainya kalian memang sudah menemukan sesuatu di dalam diri masing-masing, aku sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi aku masih ingin mengajukan syarat, bahwa Puranta tidak boleh meninggalkan aku sama sekali" "Ah, Nyai terlampau cepat mengambil kesimpulan" sahut Puranta. "Kau sangka aku tidak tahu hati anak-anak muda?" berkata Nyai Reksatani "sejak pertama kali kau bertemu dengan perempuan itu, kau selalu mengigau. Sindangsari, Sindangsari adalah nama yang manis sekali" Sindangsari sendiri duduk sambil menunduk dalam-dalam. Wajahnya menjadi merah oleh perasaan yang tidak menentu. Setelah sekian lama ia berada di rumah Kademangan Kepandak, dan setelah sekian lama ia seolah-olah hidup sendiri dalam kesepian, tiba-tiba seorang anak muda yang tampan telah menyebut namanya. "He, jangan termenung mBok-ayu" berkata Nyai Reksatani sambil tersenyum"marilah, minum dan makanlah apa adanya" "Terima kasih" Sindangsari tergagap. "mBok-ayu tidak usah tergesa-gesa pulang. Nanti biarlah kakang Reksatani mengantarkan seperti pesan, Ki Demang. Ia akan pulang sebelum senja" Nyai Reksatani terdiam sejenak "Apabila kau lelah, biarlah mBok-ayu berbaring saja disini, di dalam bilikku" "Terima kasih" sahut Sindangsari "Aku tidak lelah" Sambil memandang wajah Puranta, Nyai Reksatani bertanya pula "apakah kau ingin beristirahat?" "Aku akan duduk disini mengawani Sindangsari" jawab Puranta. Sebuah desir yang halus telah menyentuh jantung Sindangsari sehingga iapun tunduk semakin dalam. "Baiklah, agaknya lebih baik kita berbicara saja., Nah, mulailah, tentang apa saja" Merekapun kemudian berbicara, tentang berbagai macam hal. Dari persoalan yang mereka hadapi sehari-hari sampai masalah yang paling pelik di dalam hidup mereka. Namun Sindangsari sendiri, seakan-akan hanya sekedar menjadi pendengar. Tetapi akhirnya anak muda itupun menjadi lelah juga, sehingga iapun kemudian terdiam, sambil menganggukTiraikasih Website http://kangzusi.com/ angguk. Apalagi ketika kemudian mereka dijamu dengan makan. Maka ruangan itupun menjadi semakin sepi. Setelah beristirahat sejenak, maka anak muda itupun minta diri untuk pulang ke rumahnya. "Sebentar lagi Ki Reksatani pasti akan pulang" katanya "Aku minta diri Nyai" "Belum. Ki Reksatani akan pulang nanti menjelang senja" "Siapa tahu. Tiba-tiba saja ia muncul di muka pintu" "Kenapa cemas? Aku dapat mengatakan bahwa kau adalah kawan Sindangsari" "Ah" Sindangsari berdesis lemah "jangan" Nyai Reksatani tertawa "Kau masih sangat hijau" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi kepalanya saja yang tertunduk dalam-dalam. "Baiklah" berkata Nyai Reksatani kemudian "kalau kau ingin pulang, pulanglah. Kau harus segera datang kembali. Hampir setiap hari Ki Reksatani tidak ada di rumah. Ia sedang sibuk dengan bendungannya" Puranta tertawa. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata "Aku akan berusaha" lalu kepada Sindangsari ia berkata "sudahlah Sari. Pertemuan kita berakhir sampai disini saja hari ini. Tetapi kau bagiku adalah seorang perempuan yang paling baik, lahir dan batin" "Ah" Sindangsari berdesah. Ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Meskipun kemudian anak muda itu berdiri diikuti oleh Nyai Reksatani dan diantarkannya sampai keluar rumah, Sindangsari masih tetap duduk di tempatnya. Ketika keduanya sampai ke regol Nyai Reksatani berpaling sejenak. Karena Sindangsari tidak dilihatnya, maka iapun kemudian berkata "Bersabarlah. Kau akan mendapat segalaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ galanya. Kau akan mendapat perempuan cantik itu dan sekaligus upah yang cukup banyak dari Ki Reksatani. Kalau pada suatu saat Ki Reksatani dapat membukt ikan bahwa isteri Ki Demang itu berbuat sedeng, maka ia pasti akan diceraikannya" "Tetapi, bagaimana kalau Ki Demang menjadi marah dan bahkan membunuh kami berdua bersama-sama. Bukankah Ki Demang seorang yang tidak terlawan? Bukan saja di Kademangan Kepandak, tetapi hampir di seluruh daerah Selatan ini mengenal siapakah Demang di Kepandak itu" "Tetapi kau tahu juga, bahwa Ki Reksatani adalah adiknya. Ia dapat mengusulkan, agar kalian berdua diusir saja dari Kepandak. Dan kalian dipaksa untuk kawin. Terutama kau. Kau dipaksa untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Apa kau mau?" Puranta tertawa. Jawabnya "Kalau Ki Reksatani bersedia memberiku bekal untuk modal rumah tanggaku, aku tentu bersedia. Kalau aku sudah mempunyai isteri secantik Sindangsari mungkin aku akan berhenti bertualang. Seandainya Nyai Reksatani bukan isteri Ki Reksatani, maka kata-kata Puranta terputus oleh suara tertawanya. "Ora nyebut" sahut Nyai Reksatani "anakku sudah sekandang" Puranta masih saja tertawa "Aku yakin, akan berhasil" berkata Nyai Reksatani kemudian. "Dan Ki Reksatanipun berhasil pula" "Meskipun perempuan itu sudah mengandung, tetapi ia akan dapat menjadi isteri yang baik" "Tetapi hal itu akan merupakan tanggung jawab yang berat bagiku Nyai. Aku pada suatu saat mungkin akan berhadapan dengan Manguri atau Pamot kalau ia kembali dari medan" "Anak itu akan mati di medan perang. Jarang sekali orang berhasil kembali dengan selamat" Puranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu iapun minta diri meninggalkan halaman rumah Ki Reksatani. Nyai reksatani yang kemudian masuk kembali dan duduk di sebelah Sindangsari bertanya "He, mBok-ayu. Kenapa kau diam saja setelah kau bertemu sendiri dengan orangnya? Untunglah aku belum mengatakan kepadanya, bahwa kau tidak akan bersedia bertemu lagi dengan anak itu. Kalau demikian, maka akulah yang disangka iri atau cemburu yang berlebih-lebihan" "O" Sindangsari mengangkat wajahnya sejenak, namun wajah itu lalu menunduk lagi ketika ia mendengar Nyai Reksatani berkata "Nah, bukankah kau berpendirian lain setelah kau bertemu dan berbicara agak panjang dengan anak itu?" "Tidak" sahut Sindangsari, tetapi suaranya seolah olah tersangkut di kerongkongan. "Tetapi kau tidak mengatakan apa-apa. Kau diam saja, bahkan asyik berbicara" "Aku lupa, benar-benar terlupa" jawab Sindangsari yang mencoba untuk membela diri "Kenapa kau tidak mengingatkan aku?" "Bagaimana mungkin aku dapat mengingatkan kau di hadapan anak itu" sahut Nyai Reksatani "dan bagaimana mungkin kau dapat melupakan hal itu? Kau datang kemari dengan satu-satunya keperluan untuk berkata kepada anak itu, bahwa kau t idak akan mau menemuinya lagi. Kau tidak mau terganggu, karena kau adalah seorang perempuan yang sangat setia kepada suami. Tetapi, keperluan satu-satunya itu ternyata telah kau lupakan. Lalu apakah kerjamu datang kemari? Bukan maksudku un tuk mengatakan penyesalanku bahwa kau sudah berkunjung kemari. Aku dan Ki Reksatani akan senang sekali menerima mBok-ayu disini. Tetapi bahwa kau lupa mengatakan keperluanmu itu ternyata menggelikan sekali" Sindangsari tidak segera dapat menjawab. Ia memang merasa aneh terhadap dirinya sendiri. Kenapa tiba-tiba saja ia terlupa, bahwa ia ingin menghentikan semua hubungan yang dapat menyeretnya ke dalamsuatu keadaan yang sesat. Tetapi hal itu memang sudah terjadi. Anak muda itu sudah pergi sehingga ia tidak akan mempunyai kesempatan lagi hari ini untuk mengatakan bahwa hubungan mereka tidak akan berlangsung lebih lama lagi. "mBok-ayu. Akibai daripada iui adaiah, bahwa anak itu pasti akan selalu mencari kesempatan bertemu dengan kau" Tiba-tiba saja Sindangsari menjadi ragu-ragu. "Nah, pikirlah masak-masak" Nyai Reksatani tertawa. Wajah Sindangsari menjadi merah "Tidak. Tidak" Nyai Reksatani tidak menjawab. Tetapi ia tertawa saja berkepanjangan. Suara tertawa itu terputus ketika ia mendengar seseorang mendehem di halaman. Dengan wajah yang tegang Nyai Reksatani berdesis "Ki Reksatani" "Untung sekali" dengan serta-merta Sindangsari menyahut. "Kenapa?" "Anak muda itu telah pergi" Nyai Reksatani tersenyum "Tidak akan ada persoalan apaapa" Sejenak kemudian pintupun berderit. Ketika sebuah kepala tersembul di pintu pringgitan, maka Sindangsaripun berdiri sambil menganggukkan kepalanya. "O, mBok-ayu" Ki Reksatani menyapanya dengan suara yang jernih "mimpi apa aku semalam? Itulah agaknya maka burung perenjak sehari penuh kemarin dan sejak fajar selalu berkicau di sebelah kiri pendapa. Agaknya hari ini seorang tamu agung telah berkunjung ke rumah yang kotor ini" "Ah, Ki Reksatani selalu merendahkan diri" "Aku senang sekali mendapat kunjungan mBok-ayu. Silahkan. Silahkan. Aku akan mencuci kaki" Demikianlah, setelah membersihkan dirinya dan makan siang, Ki Reksatani menemui Sindangsari seperti seorang adik yang baik menemui kakak iparnya. "mBok-ayu akan bermalam disini" "Aku pulang nanti" "Kaulah yang harus mengantarkan menurut pesan kakang Demang" potong Nyai Reksatani "Aku?" "Ya" "Kakang Demang t idak kemari?" "Kakang Demang baru sibuk" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam "Begitulah mBok-ayu. Sebaiknya mBok-ayu berusaha untuk menyesuaikan diri. Belajarlah dari pengalaman isteri-isteri kakang Demang yang lalu. Mereka yang tidak tahan oleh kesepian, tidak akan dapat bertahan lebih satu atau dua tahun" Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. "mBok-ayu harus belajar mengatasi kesepian itu. Lakukanlah dengan apa saja. Belajar menenun. Apakah mBokayu sudah bisa? Kalau belum belajarlah disini" "Ya" Nyai Reksatani hampir berteriak, sehingga suaminya berdesis "Sst, kenapa kau berteriak-teriak" "Aku senang sekali mendapat kawan di rumah. Kau sangka aku tidak selalu kesepian juga?" "Ah. Jangan merasa dirimu seperti pengantin baru" Nyai Reksatani tersenyum. Demikianlah, maka ketika matahari telah menjadi semakin rendah, Ki Reksatanipun bersiap-siap pula untuk mengantarkan Sindangsari pulang ke rumahnya, rumah Ki Demang di Kepandak. Sementara itu, tanpa disengaja, sekali lagi Lamat melihat seseorang yang berjalan dengan langkah yang lamban melintasi jalan persawahan. Wajahnya tampak cerah seperti cerahnya langit yang kemerah-merahan. "Hem"Lamat berguman "dari mana sebenarnya anak itu" Tetapi Lamat, sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia berjongkok saja di balik dedaunan yang hijau rimbun. Dalam pada itu, Ki Reksatani yang telah selesai bersiap-siap bertanya kepada isterinya "Apakah kau tidak ikut mengantarkan mBok-ayu pulang?" "Nanti anak-anak rewel. Silahkan. Aku sudah pergi ke Kademangan menjemputnya tadi pagi" Ki Reksatani mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Hatihatilah di rumah" ia berhenti sebentar "tetapi bukankah kau membuat pondoh jagung gurih? Kakang Demang senang sekali makanan serupa itu" "Ah, di Kademangan ada lebih dari sepuluh macam makanan yang jauh lebih enak dari pondoh jagung gurih" "Bungkuslah. Kau tidak percaya? Kakang Demang gemar sekali. Bukankah begitu mBok-ayu" Sindangsari mengangguk sambil tersenyum "Begitulah" sahutnya . Demikianlah, maka ketika matahari telah berada di pungung bukit. Ki Reksatani berjalan perlahan-lahan di belakang Sindangsari. Bayangan senja yang kemerahmerahan, membuat wajah Sindangsari menjadi semakin bercahaya. Dari belakang Ki Reksatani melihat betapa lehernya yang jenjang dan betapa langkahnya yang sudah mulai guntai oleh perutnya yang semakin besar. "Perempuan ini memang cantik" ia berdesis di dalam hatinya "tetapi perempuan ini benar-benar telah membunuh masa depanku dan masa depan anak-anakku" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Dipandanginya saja punggung Sindangsari yang berjalan tanpa berpaling. "Kalau aku masih muda, semuda Puranta, ia bergumam terus di dalam hatinya. Tiba-tiba saja ia terkenang kepada sebuah permintaan yang aneh baginya. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan saja permintaan itu, karena permintaan itu datang dari seorang perempuan. Seorang perempuan yang selama ini tersangkut di dalam perjalanan hidupnya, namun yang sempat dirahasiakannya, sehingga hampir tidak seorangpun yang mengetahuinya, selain orang-orang yang paling dekat dengan perempuan itu, termasuk anak laki-lakinya. Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam, sehingga tanpa sesadarnya Sindangsari berpaling. "O" Ki Reksatani tergagap "kita memang sedang berprihatin" "Kenapa? bertanya Sindangsari" "Musim panas yang panjang. Sawah menjadi kering" "Tetapi bukankah parit-parit selalu mengalirkan air seperti parit di sisi jalan ini?" "O, ya, ya. Kebetulan. Kebetulan sekali hari ini parit ini mengalir. Itulah sebabnya aku sedang sibuk dengan bendungan, agar bahaya kering tidak melanda persawahan terutama di daerah Kepandak" Sindangsari hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya apapun lagi. Ki Reksatanipun kemudian hanyut kembali ke dalam anganangannya. "Tetapi itu berbahaya sekali" desisnya "Ki Demang akan segera mengetahuinnya dan bertindak atasnya dan mungkin keluarganya. Kalau kakang Demang menjadi gila dan memeras mereka dengan kekerasan, akan sampai pula akhirnya ia menyebut namaku" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Tetapi kalau anak ini, Puranta, setiap orang yang agak binal sedikit, dapat mengenal namanya. Mungkin kakang Demang akan membunuhnya, dan Sindangsari diceraikannya. Baru sesudah itu aku akan berpikir untuk perempuan yang ditangisi anaknya itu. Semuanya seakan-akan telah masak di kepala Ki Reksatani. Bahkan kemudian "Kalau kakang Demang tidak membunuh Puranta karena ia sempat menahan hati, akulah yang akan membunuhnya dengan seribu alasan, agar mulutnya terbungkam. Setiap orang akan mempercayai tindakanku sebagai tindakan sakit hati yang tidak pantas untuk diusut dan dihukum. Ki Reksatani tersenyum sendiri sambil menganggukanggukkan kepalanya. Seakan-akan semua itu sudah terjadi, dan jabatan tertinggi di Kademangan Kepandak itu telah berada di tangannya. "Kakang Demang pasti sudah menunggu" berkata Sindangsari tiba-tiba sehingga Ki Reksatani tergagap karenanya. "Tidak, tentu tidak" "Ia akan menjadi cemas karenanya" "Bukankah kakang Demang sudah berpesan agar aku mengantarkanmu? Memang itu lebih aman. Kalau ada laki-laki yang karena sakit hati, atau karena sesuatu sebab, mendendammu, maka kau memang memerlukan perlindungan disenja begini. Kalau di siang hari sebelum matahari naik ke puncak langit, aku kira tidak akan ada seorangpun yang berani berbuat gila di padukuhan yang tenteram ini, kalau ia tidak ingin menjadi merah biru dan bengkak-bengkak seluruh tubuhnya. Tetapi di malam hari, hal itu memang dapat saja terjadi, karena tidak ada seorangpun yang mengetahuinya " Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat memaklumi keterangan adik iparnya itu. "Aku hanya membuat repot saja" berkata Sindangsari kemudian. "Tidak. Tidak. Bukan begitu. Itu adalah suatu sikap berhatihati" Merekapun kemudian terdiam. Langkah-langkah mereka sajalah yang terdengar berdesir menyentuh rerumputan yang sudah mulai berwarna kekuning-kuningan. Ketika mereka sampai di bulak yang panjang, maka hari sudah menjadi semakin suram. Yang tampak kemudian adalah ujung-ujung mega yang kemerah-merahan membentang di langit. Tiba-tiba terbersit pikiran di kepala Ki Reksatani "Aku dapat membunuhnya sekarang" Dada Ki Reksatani menjadi berdebar-debar "Aku dapat menguburnya di tengah-tengah sawah. Kemudian aku akan berkata kepada kakang Demang, bahwa Sindangsari telah pulang lepas tengah hari. Ia tidak sabar menunggu aku" Sejenak Ki Reksatani menimbang-nimbang dengan dada yang tegang. Terasa jantungnya menjadi semakin cepat berdenyut. "Tetapi, apakah kakang Demang mempercayainya? Dan sudah barang tentu isterikulah yang dipersalahkannya" Akhirnya Ki Reksatani menggelengkan kepalanya "Lebih baik aku tidak tergesa-gesa" katanya "agaknya Puranta akan berhasil. Aku harus memancing Nyai Demang ini untuk bermalam semalam saja di rumahku. Kemudian memanggil Puranta. Kalau anak itu sudah datang aku akan menghubungi Ki Demang. Aku harus memberitahukan kepadanya bahwa isterinya telah berbuat serong. Ternyata rumahku adalah sekedar tempat mereka membuat janji" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Aku dapat mencari seribu alasan sehingga kakang Demang akan mempercayainya" Demikianlah, keduanyapun sampai ke rumah Kademangan Kepandak setelah lampu-lampu dinyalakan. Bahkan obor regolpun telah dipasang. Di depan regol Ki Reksatani tertegun sejenak ketika ia melihat seseorang berdiri bersilang tangan di dada. Di belakangnya dua orang berdiri bersandar dinding. "Hem" ia menarik nafas dalam-dalam "agaknya perempuan itu benar-benar telah mengikat hati Ki Demang. Benar juga dugaan Sindangsari. Ia sudah menjadi gelisah menunggunya. Hal yang tidak pernah terjadi dengan isteri-isterinya yang lain" "Hampir saja aku pergi menyusul" berkata Ki Demang, ketika Sindangsari sampai di depan regol. "Ki Reksatani suami isteri selalu menahan kalau aku minta diri" jawab Sindangsari. "Kami mengharap mBok-ayu bermalam di rumah kami meskipun hanya semalam. Anak-anak kami senang sekali mendapat kunjungan bibinya. Bibi yang kali ini lain dengan bibi-bibi yang pernah dikenalnya


Jilid 6
"Ah" Sindangsari berdesah. "Jangan aneh-aneh Reksatani" berkata Ki Demang. Ki Reksatani tertawa "Tetapi aku minta ijin, agar mBokayu pada suatu saat boleh menginap di rumahku. Kemanakannya pasti akan senang sekali. Lebih, daripada itu Sindangsari, eh, mBokayu, akan belajar menenun" Ki Demang hanya tersenyum saja, Ia sama sekali, segelugutpun tidak menaruh prasangka apapun. Ternyata Ki Reksatani benar-benar telah mematangkan rencananya. Ketika malam itu ia pulang dari Kademangan, maka bersama isterinya dibuatnya perangkap yang paling baik untuk menjebak Sindangsari dan Puranta. "Persetan, apakah keduanya akan dibunuh oleh Ki Demang" desis Reksatani. "Tetapi jangan Sindangsari" minta Nyai Reksatani. Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam "Ya, Sindangsari tidak" Namun dalam pada itu Ki Reksatani sedang memikirkan permintaan perempuan yang ditangisi anaknya, yang tergilagila kepada Sindangsari. Katanya di dalam hati "Mudahmudahan aku mendapatkan kedua-duanya. Sindangsari terlepas dari kakang Demang dan anak itu mendapatkan janda itu" Tetapi masih ada satu persoalan yang dipikirkannya "Bagaimana anak di dalam kandungan itu? Anak itu adalah anak kakang Demang. Meskipun seandainya Sindangsari telah diceraikannya, namun anak itu akan dapat menuntut haknya. Sekali lagi terbersit cara yang paling keji "Bayi itu harus mati di saat lahirnya" Dengan demikian, maka dengan segala cara, Nyai Reksatani telah membujuk agar Sindangsari mau bermalam semalam saja di rumahnya. "Kau harus mengatakannya. Setiap hari anak itu bertanya kepadaku. Hampir saja ja memaksa untuk datang kemari" Tetapi Sindangsari selalu berusaha untuk mengelak. Demikian ia berada dekat dengan suaminya ia merasa, bahwa ia memang harus menghentikan permainan yang dapat membakar dirinya. Namun kadang-kadang di malam hari Sindangsari sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Apabila ia berada di pembaringannya, seorang diri sejak hari perkawinannya, terasa betapa kesepian telah membakar jantungnya. Memang kadang-kadang terbayang, betapapun suramnya, bayangan wajah anak muda yang bernama Puranta itu. Kadang-kadang merupakan sebuah bayangan rangkap, Pamot dan samar-samar garis-garis wajah Puranta itu. "Tidak. Aku adalah seorang isteri. Bagaimanapun juga aku mempunyai seorang suami" geramnya. Tetapi Nyai Reksatani tidak berputus-asa. Ia berusaha terus. Membujuk, merajuk dan bahkan kadang-kadang mengancam. Sedang Ki Reksatani setiap kali berkata kepada Ki Demang "Kenapa mBokayu tidak kakang perbolehkan bermalam di rumahku?" "Aku bukan tidak memperbolehkan" jawab Ki Demang "tetapi mBokayumu agaknya masih belum berhasrat" "Ah, mBokayu sendiri pernah mengatakan, bahwa ia ingin bermalam meskipun hanya semalam untuk mempelajari cara menenun" "Kalau memang diinginkannya, aku tidak berkeberatan" Akhirnya usaha suami istri itupun tidak sia-sia. Lewat cara apapun juga, mereka berhasil membujuk Sindangsari untuk bermalam di rumah Ki Reksatani. "Ia akan menemuimu" berkata Nyai Reksatani kepada Sindangsari, Kemudian "Jangan lupa. Katakan apa yang ingin kau katakan. Kalau kau memang tidak ingin bertemu lagi dengan orang itu, katakanlah berterus-terang. Tetapi kalau kau memerlukannya karena kau kesepian, aku tidak berkeberatan, katakanlah kepadanya. Aku yakin, ia dapat mengerti. Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Ia tidak mengerti apakah sebenarnya yang telah bergolak di dalam dirinya. "Kau harus berbuat sebaik-baiknya Nyai" pesan Ki Reksatani "kalau datang saatnya, aku akan memanggil kakang Demang. Berkuda supaya cepat" "Aku akan membawanya ke rumah itu. Aku sudah menyediakan sebuah alat tenun yang baik" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ingat, keterangan yang akan kita berikan kepada Ki Demang harus sama. Jangan sampai terjadi kekeliruan, apalagi pertentangan, karena kakang Demang adalah seorang yang teliti dalam menghadapi persoalan yang paling rumit" "Ya. Tetapi belum tentu kakang Demang dapat menelit i hal yang menyangkut perasaan sendiri seperti persoalan orang lain" "Mungkin. Memang mungkin" Malam yang telah direncanakan itupun datang pula pada saatnya. Ki Demang melepaskan isterinya dengan sepenuh kepercayaan kepada adiknya. "Besok pagi aku akan menjemputnya" berkata Ki Demang. "Ya, kami menunggu kakang" Bersama Ki Reksatani suami isteri Sindangsari meninggalkan rumahnya, lepas tengah hari. Ia membawa beberapa helai pakaian karena ia berjanji akan bermalam. "Mudah-mudahan mBok ayu senang bermalam di rumah kami" "Tentu" jawabnya ragu-ragu. Di sepanjang jalan, jantung Sindangsari terasa semakin berdebar-debar. Bagaimanakah caranya untuk mengatakan maksudnya kepada Puranta, bahwa ia berkeberatan untuk bertemu dengannya. Bahwa hubungan apapun harus diputuskannya. Dada Sindangsari berdesir ketika mereka berhenti di sebuah halaman, beberapa patok sebelum mereka sampai di rumah Ki Reksatani. Dengan tertawa Ki Reksatani berkata "Bukankah mBok-ayu ingin belajar menenun. Alat tenun kami yang paling baik berada di rumah ini. Apalagi disini tidak ada anak-anak kecil yang akan mengganggu. Biarlah isteriku mengawanimu disini" Sejenak Sindangsari berdiri termangu-mangu. Ditatapnya wajah suami isteri itu berganti-ganti, seolah-olah ingin mendapat penjelasan yang lebih banyak lagi dari mereka. "Silahkan" Ki Reksatani mempersilahkan. Iapun kemudian mendahuluinya memasuki regol halaman yang tidak begitu lebar itu" "Ini juga rumahku" berkata Ki Reksatani "kalau aku jemu berada di rumah sebelah karena kericuhan anak-anak, aku pergi dan tidur di rumah ini. Disinilah alat-alat tenun kami yang baik kami simpan" Sindangsari masih belum menjawab. Meskipun Ki Reksatani sudah berada di dalam regol, namun Sindangsari masih berdiri di tempatnya. Akhirnya ia terpaksa melangkah maju ketika tangan Nyai Reksatani membimbingnya. "Jangan takut" katanya "daerah ini adalah daerah yang paling aman. Apalagi setiap orang tahu bahwa rumah ini adalah rumah Ki Reksatani. Hanya orang yang ingin membunuh diri sajalah yang berani mengganggu rumah ini. Sindangasari tidak menyahut. Dengan penuh kebimbangan ia berjalan melintasi halaman naik ke pendapa rumah yang tidak begitu besar itu. Tetapi ketika ia menjengukkan kepalanya ke dalam, dilihatnya rumah itu cukup bersih, sebersih rumah Ki Reksatani yang pernah dikunjungnya. "Ada dua orang pelayan yang khusus mengurusi rumah ini" berkata Ki Reksatani "duduklah. Tetapi barangkali disini terdapat banyak kekurangan, karena pada dasarnya rumah ini kosong. Di siang hari dipergunakan oleh beberapa orang untuk menenun. Sesudah senja, rumah ini hanya ditunggui oleh dua orang pelayan, suami isteri" Kecurigaan Sindangsari atas rumah itupun semakin lama menjadi semakin berkurang. Dipandanginya dinding-dinding kayu nangka yang kekuning-kuningan dihiasi oleh serat-serat yang berwarna coklat muda sampai kecoklat tua. Setelan mereka duduk sejenak di sebuah amben yang besar, maka pelayan yang menunggui rumah itu menyuguhkan air panas, gumpalan-gumpalan gula kelapa dan beberapa jenis makanan. "Berlakulah seperti di rumah sendiri mBokayu" berkata Ki Reksatani "jangan merasa dirimu asing disini" "Terima kasih" jawab Sindangsari kaku. "Di dalam bilik itulah alat tenunku yang paling baik, yang khusus aku pergunakan sendiri aku simpan,. Nanti, kita coba bersama, apakah mBok-ayu tertarik pada pekerjaan kasar itu" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling dilihatnya lewat lubang pintu yang terbuka sebuah alat tenun yang terletak disebuah amben yang besar pula. Demikianlah setelah berbicara sejenak, maka Ki Reksatanipun kemudian berkata "Maaf mBok-ayu. Aku akan pergi ke rumah sebelah sejenak. Nanti aku akan datang lagi kemari. Belajarlah menenun. Barangkali mBok-ayu tertarik pada pekerjaan itu untuk sekedar mengisi waktu selagi mBakayu kesepian" Sindangsari menganggukkan kepalanya "Baiklah. Aku akan belajar" Sepeninggal Ki Reksatani, Nyai Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Hampir saja aku lupa menyahut katakata kakang Reksatani, bahwa mBok-ayu akan dapat mencari kesempatan untuk mengisi kesepian dengan cara yang jauh lebih baik dari menenun. Bukankah begitu?" "Ah" Sindangsari berdesah. "Jangan takut. Anak itu akan datang kemari" "Tetapi aku tidak ingin menemuinya malam ini" Nyai Reksatani tertawa "Semua sudah aku persiapkan baikbaik. Jangan takut. Kakang Reksatanipun tidak akan tahu" Dada Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Dalam pada itu, Nyai Reksatani memandang Sindangsari dengan tatapan mata yang aneh. Selagi Sindangsari menundukkan kepalanya, Nyai Reksatani menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah di dalam hatinya "Bukan maksudku mBok-ayu. Tetapi kepentingan hari depan anakanakku telah menuntut agar aku berusaha membantu suamiku dalam pekerjaan ini" Terbayang di dalam angan-angannya apa yang akan terjadi malamitu. "Kalau Puranta telah datang, kau harus secepatnya memberitahu agar aku segera dapat mengundang kakang Demang" pesan Ki Reksatani itu selalu terngiang di telinganya. Dengan demikian, maka hati Nyai Reksatani yang tampaknya selalu tersenyum dan tertawa itu, sebenarnya telah dicengkam oleh kegelisahan yang semakin memuncak, Semakin rendah matahari, hati Nyai Demang menjadi semakin berdebar-debar. Ketika senja turun, maka Nyai Reksatanipun mempersilahkan Sindangsari mandi dipakiwan di belakang rumah. Kemudian mereka berdua duduk bercakap-cakap sejenak. Nyai Reksatani berkata "Marilah, lihatlah, bagaimana aku menenun" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya "Lalu bagaimana dengan anak-anak, kalau kau berada disini?" "Aku mempunyai pembantu-pembantu. Nanti sebentar aku memang harus pulang. Aku akan mengambil anakku yang terkecil. Di malam hari ia masih sering menanyakan biyungnya" Sindangsari masih mengangguk-angguk ketika kemudian Nyai Reksatani membawanya masuk ke dalambilik tenunnya. Di sudut bilik itu lampu minyak telah menyala. Cahayanya yang kemerah-merahan membuat ruangan itu serasa menjadi semakin panas. Bayangan yang bergerak-gerak memantul dari benang-benang yang berwarna tajam yang telah tersusun pada alat tenun Nyai Reksatani. Sejenak kemudian perempuan itupun telah duduk pada alat tenunnya. Ketika semuanya telah siap, maka mulailah ia melemparkan coba, alat untuk melontarkan gulungan benang yang akan menyilang benang-benang yang telah disusun membujur. Dengan sungguh-sungguh Sindangsari memperhatikan gerak tangan Nyai Reksatani. Dengan memberikan beberapa petunjuk, tangannya bergerak terus, bahkan kakinya untuk menggerakkan suri dari benang yang membujur. Namun tiba-tiba Nyai Reksatani berkata "mBok-ayu, sebentar lagi ia akan datang. Kau akan dapat kesempatan segala-galanya. Kalau kau memang tidak mau bertemu lagi dengan anak itu, kau akan mendapat kesempatan untuk mengatakannya, sedangkan kalau kau memerlukan yang lain, aku tidak akan mencegahnya" "Ah" Sindangsari selalu hanya dapat berdesah. Tetapi dengan demikian tiba-tiba perhatiannya terhadap gerak tangan dan kaki Nyai Reksatani menjadi kabur. Sejenak Sindangsari menjadi bingung. Ia sendiri tidak mengerti apakah sebenarnya yang diinginkannya. Apakah ia ingin memutuskan semua hubungan, ataukah sebenarnya ia memang mengharapkannya untuk mengisi kesepian. "Malam ini aku tahu, kakang Reksatani akan berjaga-jaga di rumah tetangga yang sakit keras. Ia sudah mengatakan kepadaku pagi tadi" Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Pikirannya menjadi semakin kalut sehingga ia sama sekali tidak menjawab lagi. "Kita menunggu kedatangannya. Akulah yang meminta kepada kakang Reksatani, agar kami diperkenankan mempergunakan rumah ini. Rumah yang biasanya hanya dipergukan untuk mengerjakan pekerjaan khusus dan menenun" Dada Sindangsari menjadi sesak. Ia merasa terjebak karenanya. Namun ada juga terbersit sesuatu yang memang diharapkannya. Namun kemudian ia mencoba menemukan seluruh kekuatan yang ada di dalam dirinya. Meskipun tidak terucapkan ia mencoba berkata kepada diri sendiri "Aku adalah Nyai Demang di Kepandak" Karena Sindangsari tidak menjawab, maka Nyai Reksatanipun terdiam pula. Hanya tangan dan kakinya sajalah yang masih bergerak-gerak mempermainkan alat tenunnya. Sementara langit di luar menjadi semakin lama semakin kelam. "Kalau anak itu datang, aku harus segera berlari memberitahukannya kepada kakang Reksatani" desis Nyai Reksatani. Dan dalam pada itu Ki Reksatanipun telah menyusun rencananya dengan lengkap. Begitu isterinya memberitahukan kedatangan anak muda itu, ia akan berpacu kepada kakaknya. "Kakang Demang pasti mempercayai aku" desisnya. Sementara itu, ketika Kademangan Kepandak telah menjadi semakin gelap, seseorang berjalan dengan tergesa-gesa melintasi jalan persawahan. Sekali-sekali ia tersenyum sendiri. Terngiang kata-kata Ki Reksatani "Jangan sampai gagal. Bukankah kau tidak pernah gagal menghadapi perempuan yang bagaimanapun juga keras hatinya? Kau harus tetap ada pada perempuan itu sampai kakang Demang datang. Semuanya serahkan kepadaku. Kalian akan selamat. Tetapi kakang Demang pasti akan memaksamu kawin dengan perempuan itu" Anak muda yang bernama Puranta itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya di dalam hati "Kali ini aku mendapat pekerjaan yang aneh. Biasanya aku melakukannya sebagai suatu keharusan oleh dorongan dari dalam diriku sendiri. Tetapi kali ini aku akan mendapatkan kedua-duanya" Sekali lagi ia tersenyum seorang diri sambil melangkah terus. Namun sama sekali tidak terbersit suatu prasangka apapun kepada Ki Reksatani. Ia tidak berpikir terlampau jauh, bahwa Ki Reksatanilah yang akan membinasakannya, karena Ki Reksatani sama sekali tidak ingin, bahwa rahasia ini pada suatu saat akan bocor dan anak di dalam kandungan Sindangsari itu apabila berkesempatan hidup akan menuntutnya kelak, atau orang-orang lain yang setia kepada Ki Demang. "Jagabaya yang bodoh itu pasti tidak akan dapat diajak berbicara dengan cara apapun. Kalau pada suatu ketika ia mengerti tentang rencana ini, maka tidak ada cara lain, ia harus dihadapi menurut cara yang dipilihnya. Ia pasti akan mempergunakan kekerasan" pertimbangan itupun agaknya telah mempengaruhi keputusannya. Sementara itu Puranta berjalan semakin cepat. Menurut Ki dan Nyai Reksatani, ia harus datang setelah padukuhan menjadi sepi, tetapi jangan sampai lewat tengah malam. Dalam pada itu, Lamat yang tidak mempunyai pekerjaan lagi di rumah, masih saja selalu dikejar oleh pertanyaan, apakah yang dilakukan oleh Puranta di Kademangan Kepandak ini. Bukan hanya satu kali ia melihat anak itu lewat. Dengan demikian kecurigaannyapun menjadi semakin kuat, bahwa Puranta telah melakukan perbuatan yang terkutuk itu pula, kali ini di Kademangan Kepandak. "Apakah peduliku" ia bergumam. Bahkan kemudian "Kenapa aku mempersoalkan anak itu, sedang di rumah inipun ada pula seorang anak muda yang melakukan perbuatan serupa?" Lamat mencoba menghilangkan pikiran itu sambil berbaring di pembaringannya. Tetapi setiap kali wajah anak muda yang bernama Puranta itu selalu saja terbayang. Lamat terkejut ketika tiba-tiba saja pintu biliknya terdorong keras-keras. Ketika bilik itu terbuka, ia melihat Manguri berdiri di muka pintu dengan wajah yang tegang. "He, kau benar-benar seorang pemalas" tiba-tiba saja ia membentak. Lamatpun segera bangkit. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mendekati Manguri "Apakah ada sesuatu?" "Ikut aku" Lamat tidak menyahut. Iapun kemudian berjalan mengikuti Manguri keluar biliknya dan pergi ke regol halaman. "Lamat, ada kerja yang harus kita lakukan" "Apa?" "Kau pernah melihat anak muda yang bernama Puranta itu?" Hati Lamat menjadi berdebar-debar. Sambil mengangguk ia menjawab "Ya. Aku pernah melihatnya" "Ia kini berkeliaran di Kademangan ini" berkata Manguri. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih belum menjawab. "Kau tahu apa yang ia lakukan di sini?" Lamat menggelengkan kepalanya. "Bodoh kau. Kau pasti harus mengetahuinya" "Tetapi aku tidak tahu apa yang dilakukannya. "Kita sudah mengenalnya. Jadi kita dapat memastikan, bahwa ia sudah mulai meraba Kademangan ini dengan tangannya yang kotor itu" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, itu suatu dugaan" "Bukan sekedar dugaan. Aku dapat memastikan" "Sebaiknya, jangan pedulikan anak itu. Dengan demikian kau hanya akan menambah lawan. Biar sajalah ia melakukan apa saja yang dikehendakinya" "Aku tidak menolak cara apapun yang akan dilakukannya. Tetapi kalau laki-laki itu adalah anak muda yang bernama Puranta, aku sama sekali tidak akan dapat menerima" "O, jadi kita akan menutup mata? Dan kita akan membiarkan perbuatan terkutuk itu terjadi di Kademangan ini?" Manguri berhenti sejenak sedang nafasnya tiba-tiba memburu "aku tidak rela. Atau barangkali kau ingin mengatakan, bahwa akupun sering melakukan hal yang serupa seperti juga ayahku? Baiklah, jika demikian apa yang dilakukan di Kepandak adalah suatu penghinaan bagiku, seolah-olah di Kepandak tidak ada seorang laki-lakipun" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia berdesah di dalam hati. "Marilah kita pergi ke sawah. Aku pernah melihatnya lewat di jalan itu, melintasi bulak di sebelah sawah kita" "Tetapi tentu di siang hari" "Tidak. Kadang-kadang di malam hari" Lamat menggeleng-gelengkan kepalanya "Ia lewat di saatsaat yang tidak kita mengerti" Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berbisik "Lamat, aku menghubungkan kehadirannya dengan ceritera ibu" Lamat mulai tertarik. "Menurut ibu, yang selalu aku desak, agar ibu dapat mengambil langkah sesuatu untuk mengambili Sindangsari dari sisi Ki Demang, usaha itu memang sudah dilakukan. Lakilaki yang sering datang itu mengatakan, bahwa ia sedang berusaha memisahkan Sindangsari dari suaminya. Ia telah berusaha dengan mengungkat perasaan cemburu. Seorang anak muda telah dipanggilnya untuk mengganggu ketenangan rumah tangga Ki Demang" Terasa dada Lamat berdesir tajam, meskipun wajahnya sama sekali tidak berkesan sesuatu. "Aku tidak menolak cara apapun yang akan dilakukannya. Tetapi kalau laki-laki itu adalah anak muda yang bernama Puranta, aku sama sekali tidak akan dapat menerima" Dada Lamat menjadi semakin berdebar-debar. Dan Manguri berkata seterusnya "Malam ini rencana itu akan dilakukan. Semuanya sudah teratur" "Apa yang akan terjadi malam ini?" "Aku tidak tahu pasti. Tetapi kalau benar kata ibu, bahwa anak itulah yang akan dijadikannya alat, maka untuk selamanya Sindangsari tidak akan terlepas dari tangannya. Aku tidak akan dapat mengharapkan apa-apa lagi selain kekecewaan yang membara" "Apakah itu bukan sekedar perasaan cemburu dan katakanlah semacam persaingan yang mengendap di dalam dada dan tiba-tiba saja kini terangkat?" "Aku tidak tahu pasti. Mungkin juga demikian. Tetapi aku menghubungkan ceritera ibu itu dengan kehadiran anak muda itu di Kademangan ini. Aku sudah pernah melihat sekali lewat di bulak. Untung aku masih sempat mengendalikan diri. Hampir saja aku menyergapnya" "Itu tidak menguntungkan sama sekali. Kalau kalian berkelahi di tengah sawah, dan anak-anak muda Gemulung melihat perkelahian itu, namamu akan menjadi semakin dijauhi, karena pasti satu dua orang anak muda Gemulung pernah juga mengenal Puranta" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya "Kau benar. Tetapi sekarang, marilah kita lihat, apakah laki-laki itu benarbenar akan lewat" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Kalau anak itu lewat, maka persoalannya pasti akan berkepanjangan. Tetapi ia tidak dapat menolak ketika sekali Manguri berkata "Berpakaianlah. Kita pergi" Keduanyapun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan padukuhan mereka, pergi ke persawahan. Mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi air parit yang menjadi semakin susut karena musim kering yang berkepanjangan. "Aku tidak dapat menerima kekalahan ini" desis Manguri. "Kenapa ini kau anggap sebagai kekalahan?" "Apakah yang aku dapat adalah hasil usaha Puranta. Tetapi aku kira aku justru tidak akan mendapatkan apa-apa lagi. Karena itu, usaha dengan cara ini harus di hentikan" Lamat tidak menyahut. Dipandanginya jalur jalan yang membujur membelah bulak yang menjadi semakin kelam. Selagi keringat mereka masih membasah di punggung, darah mereka serasa semakin cepat mengalir ketika mereka melihat seseorang yang berjalan semakin lama semakin dekat. Sambil menggamit Manguri, Lamatpun beringsut, dan berlindung di balik dedaunan. "Benar setan itu" desis Manguri. Hampir saja ia meloncat, tetapi Lamat telah menahannya. Sejenak mereka menahan nafas ketika Puranta berjalan cepat melintas di hadapan mereka. "Kenapa kau menahanku" bisik Manguri ketika Puranta telah membelakanginya. "Jangan tergesa-gesa. Kita belum pasti, bahwa ada hubungan antara anak itu dengan rencana seperti yang dikatakan ibumu" "Aku yakin. Tidak ada orang lain. Apalagi kali ini ia mendapat bantuan dari orang dalam. Sedang tanpa orang lainpun ia sanggup melakukannya. Ia mengetahui benar, bahwa Sindangsari tidak mencintai Ki Demang di Kepandak" "Tetapi itu belum merupakan kesimpulan. Kalau Sindangsari tidak mencintai Ki Demang, itu bukan berarti bahwa Sindangsari akan dengan mudahnya tergelincir. Kau tahu, betapa kuatnya hati gadis itu bahwa sebelum ia terikat oleh Pamot" Manguri mengerutkan keningnya. Memang apa yang dikatakan oleh Lamat itu dapat dimengertinya. Meskipun demikian, ia masih tetap merasa curiga atas kehadiran Puranta itu di Kademangan Kepandak, apalagi setelah ia mendengar rencana laki-laki yang sering mengunjungi ibunya itu. Sebenarnya, Lamat sendiri telah dicengkam oleh kecurigaan pula. Jalan pikiran Manguri dapat di mengertinya pula. Tidak ada orang lain yang lebih baik untuk melakukan pekerjaan itu selain Puranta, atau Manguri sendiri. Tetapi di dalam hal ini, tentu Manguri tidak akan dapat melakukannya sendiri. "Lamat" berkata Manguri "bagaimanapun juga aku tetap mencurigainya. Karena itu, aku akan menyusulnya, melihat apa yang dikerjakannya di Kepandak" "Jangan kau" berkata Lamat "kau sudah dikenalnya dengan baik" "Maksudmu?" "Biarlah aku yang pergi mengikutinya" "Kau kira anak itu tidak akan segera mengenalmu?" "Aku akan berusaha. Sedang masalah yang mungkin dapat timbul t idak akan segera menodai nama keluargamu apabila seseorang melihatnya. Apalagi di dalam hal ini menyangkut nama Sindangsari" Manguri berpikir sejenak. Namun Lamat mendesaknya "Mumpung anak itu masih belum terlampau jauh. Apakah aku diperbolehkan menyusul?" Manguri tidak sempat berpikir terlampau lama. Karena Lamat sudah mulai melangkahkan kakinya, iapun kemudian berkata "Pergilah. Tetapi hati-hati. Jangan berbuat bodoh, karena kau hanya mampu mempergunakan tenagamu, tidak otakmu" Lamat berpaling sambil mengangguk "Aku akan mencoba" jawabnya. Sejenak kemudian Lamatpun telah hilang di dalam gelapnya malamyang menjadi semakin kelam. Sementara itu Puranta berjalan semakin lama semakin cepat. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa seseorang telah mengikutinya. Ia sudah tahu pasti, kemana ia harus pergi. Ia tidak perlu singgah lagi ke rumah Ki Reksatani. Tetapi ia akan langsung pergi ke rumah yang hanya berjarak beberapa patok saja dari rumah Ki Reksatani itu. Kecurigaan Lamatpun semakin lama menjadi semakin besar, ketika ia mulai menduga, bahwa Puranta telah pergi ke jurusan yang mendebarkan. Puranta telah pergi ke padukuhan tempat tinggal Ki Reksatani. "Apakah benar yang dikatakan oleh Manguri?" desisnya. Dengan demikian, semakin dekat mereka dengan padukuhan tempat tinggal Ki Reksatani. Lamatpun menjadi semakin yakin, bahwa orang yang dimaksud oleh ibu Manguri adalah Puranta itu. Sekali Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat suatu permainan yang keji. Sebenarnyalah bahwa Lamat bukanlah orang yang terlampau dungu. Berdasarkan atas beberapa kenyataan, iapun menarik suatu kesimpulan, bahwa Ki Reksatani memang telah membuat suatu rencana yang sangat baik baginya. Ia akan dapat memenuhi keinginan ibu Manguri, namun sekaligus menyingkirkan isteri Ki Demang yang sudah mulai mengandung itu, sehingga Ki Demang tidak akan mendapat keturunan yang akan dapat menerima pelimpahan jabatannya. "Tetapi apakah Ki Demang mengetahui hubungan yang sudah terlampau jauh antara isterinya itu dengan Pamot?" ia bertanya kepada diri sendiri. "Namun bagi Ki Reksatani, siapapun yang ada di dalam kandungan Sindangsari, pasti akan menjadi hambatan baginya dan keturunannya" desisnya kemudian. Akhirnya Lamat tidak sangsi lagi, bahwa demikianlah yang terjadi. Puranta itu adalah laki-laki yang dikatakan, sebagai alat untuk mengungkat kecemburuan Ki Demang. "Pasti ada sesuatu yang akan terjadi malam ini seperti yang dikatakan oleh Manguri" berkata Lamat di dalam hatinya "tetapi dalambentuk apakah sesuatu yang terjadi itu?" Lamat sendiri tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi. Tetapi dengan demikian maka niatnya untuk mengetahui kemana anak itu pergi menjadi semakin besar. Dengan hati-hati Lamat mengikutinya terus. Sekali-sekali ia terpaksa berjongkok melekat gerumbul di pinggir-pinggir jalan, atau pagar-pagar pategalan, kalau tiba-tiba saja Puranta berhenti sejenak. Dada Lamat menjadi semakin berdebar-debar ketika merekapun kemudian memasuki padukuhan tempat tinggal Ki Reksatani. "Anak itu pasti akan menemui Ki Reksatani untuk menerima petunjuk-petunjuknya "ia bergumam kepada diri sendiri. Tetapi Lamat mengerutkan keningnya ketika Puranta itu berhenti di sebuah regol halaman rumah yang lain. Bukan rumah Ki Reksatani "He, apa yang akan dilakukan oleh anak itu?" Lamat mendekat dengan tergesa-gesa ketika Puranta kemudian hilang di balik regol. Dengan hati-hati Lamat mengint ip ke halaman. Ia masih melihat Puranta mendekati pintu. "Aku harus mendekat" desisnya. Tetapi Lamat tidak berani melintasi halaman supaya Puranta tidak melihatnya. Karena itu, ketika Puranta lagi asyik mengetuk pintu, Lamat meloncat pagar batu samping dan dengan hati-hati mendekati rumah itu. Ia menahan nafasnya ketika dari dalam rumah itu ia mendengar seseorang berkata "O, kau akhirnya datang juga. Marilah, masuklah. Lamat berdiri melekat dinding rumah itu ketika pintu kemudian berderit. Ia berusaha menemukan sebuah lubang yang dapat dipergunakannya untuk mengintip ke dalam. Tetapi ia t idak berhasil. "Siapakah perempuan itu?" Ia bertanya kepada diri sendiri. Namun debar jantungnya serasa menjadi semakin menghentak-hentak dadanya ketika ia mendengar Puranta itu berkata "O, kau sudah ada disini pula Sari" Sejenak tidak terdengar jawaban, sementara nafas Lamat menjadi semakin sesak. "Sindangsari itu sudah ada disini. Apakah benar begitu mudahnya Sindangsari terperosok ke dalam keadaan ini" berbagai pertanyaan telah menghentak-hentak dada Lamat. Ia mencoba untuk mengerti, betapa kekecewaan telah melanda hati perempuan muda itu pada saat ia ditinggalkan oleh Pamot, kemudian kawin dengan Ki Demang di Kepandak yang umurnya jauh lebih tua dari padanya. Apalagi Lamat sendiri menyangsikan kemungkinan Ki Demang untuk masih mendapatkan anak lagi, karena sudah lima kali ia j kawin tidak seorang dari isteri-isterinya yang pernah mengandung. "Sindangsari mengandung oleh benih yang didapatkannya dari Pamot" katanya di dalam hati. Dalam pada itu hatinya masih tetap bergejolak. Ia tidak dapat menerima kenyataan kehidupan Sindangsari itu sebagai alasan untuk berbuat demikian tercela. Ia menahan nafas pula ketika ia mendengar seorang perempuan berkata "Ia sudah menunggumu sejak senja" "Tidak" sahut suara yang lain. Dan Lamat segera mengenal suara itu. Suara Sindangsari. "O, kenapa tidak" bertanya suara perempuan yang pertama. "Aku datang untuk memenuhi undanganmu" sahut Sindangsari "bukan dengan maksud yang lain. Kalian Ki Reksatani dan kau tidak memaksa aku bermalam di rumah ini, aku tidak akan datang" Yang terdengar adalah suara tertawa perempuan yang lain yang menurut dugaan Lamat orang itu pastilah Nyai Reksatani. Dan dugaan itu ternyata tidak keliru. "Tetapi kenapa di rumah ini" bertanya Lamat di dalam hatinya. Demikianlah keinginannya untuk dapat mengint ip isi rumah itu menjadi semakin besar, sehingga akhirnya ia bergeser mendekati pintu. Usahanya ternyata dapat berhasil. Dari daun pintu yang tidak tertutup rapat, ia memang dapat melihat, siapa saja yang berada di pringgitan. Anak muda yang bernama Puranta, Nyai Reksatani dan Sindangsari yang telah keluar dari dalam bilik tenun, dan duduk sambil menundukkan kepalanya. "Jangan begitu mBok-ayu" berkata Nyai Reksatani "ia sudah datang di malam yang gelap ini. Kenapa tiba-tiba saja kau bersikap begitu?" "Ah" desis Sindangsari. Tetapi ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya. "Sari" berkata Puranta "kesempatan untuk bertemu dengan kau selalu aku tunggu-tunggu. Kali ini kesempatan itu aku peroleh. Jangan terlampau kaku. Bukankah aku tidak berbuat apa-apa di sini?" Sindangsari t idak menyahut. "Aku datang sekedar untuk memandang wajahmu. Hanya memandang saja. Sorot matamu dan apalagi apabila sekalisekali kau tersenyum, memberikan sesuatu yang terasa asing di dalam hatiku. Aku tidak dapat mengatakan Sari. Perasaan apakah itu sebenarnya" Sindangsari sama sekali tidak dapat menjawab. Nafasnya serasa menjadi sesak oleh perasaan yang tidak menentu. Sejak Pamot meninggalkannya, ia tidak pernah mendengar kata-kata serupa itu. Ketika tanpa sesadarnya ia mengangkat wajahnya dan menatap mata Puranta, dadanya berdesir tajam. Seakan-akan hatinya telah terbentur oleh sorot mata yang langsung meremukkan perasaannya, sehingga dengan tergesa-gesa ia melemparkan tatapan matanya keatas anyaman tikar alas duduknya. Puranta yang mempunyai pengalaman yang hampir lengkap tentang sifat-sifat perempuan segera menemukan suatu kelemahan pada Sindangsari yang hidupnya terlampau gersang itu. Sambil tersenyum ia beringsut maju tanpa menghiraukan lagi Nyai Reksatani yang masih juga duduk, disitu "Aku melihat sesuatu yang lain padamu Sari. Kalau kau ini sebuah telaga yang berair sejernih batu permata, maka kau adalah telaga yang terbentang di padang yang kering dan gersang, tanpa sehelai daunpun yang melindungimu. Dengan demikian semakin lama airmu akan menjadi semakin susut sebelum dinikmati oleh para perantau yang kehausan dan kepanasan" Tubuh Sindangsari seakan akan telah membeku. Ia sama sekali tidak kuasa berbuat apapun juga. Bahkan ia sudah tidak kuasa lagi untuk beringsut dari tempatnya ketika Puranta duduk semakin dekat. Nyai Reksatani sama sekali tidak mengganggunya. Dibiarkannya saja semua itu terjadi di hadapan hidungnya. Apabila datang waktu yang tepat, dan ia yakin bahwa hal yang dihadapkannya itu dapat terjadi, ia harus berlari pulang dan memberitahukannya kepada suaminya yang pasti sudah menyediakan seekor kuda. "Sindangsari" suara Puranta menurun "kenapa kau diam saja?" Sindangsari yang seakan-akan telah kehilangan dirinya sendiri itu hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahkan kemudian tumbuhlah pengakuan di dalam hatinya, bahwa hidupnya selama ini adalah gersang. Bagai telaga yang ada di padang yang kering. Semakin lama akan menjadi semakin susut airnya tanpa arti. Sudah kira-kira setengah tahun ia berada di rumah Ki Demang. Bahkan kandungannya itu sudah hampir waktunya di selamati pada bulan ke tujuh. Namun ia sama sekali belum pernah merasa bahwa ia adalah seorang isteri dari seorang suami. Yang selama ini terjadi di rumah Kademangan, seakan-akan hanyalah sekedar hidup bersama-sama dengan Ki Demang di Kepandak. Bahkan mirip dengan seorang kemanakan yang melayani pamannya, sekedar menyediakan makan dan minum. "Sindangsari" terdengar suara Puranta langsung menyentuh dinding hatinya "kenapa kau diam saja?" Sindangsari benar-benar tidak kuasa untuk menolak cengkaman perasaan yang semakin kuat. Bahkan ketika Puranta duduk semakin dekat. Terasa pakaian anak muda itu telah mulai menyentuh ujung kain panjangnya yang berjuntai di bawah lututnya. Dan ternyata sentuhan itu seakan-akan merambat lewat saluran darahnya menggetarkan seluruh urat nadinya. Lamat yang berdiri di luar pintu mengintip dengan dada yang berdebar-debar. Apakah yang akan terjadi kemudian? Hampir saja ia menghentakkan tangannya dan meninggalkan tempat itu ketika terbersit kata-kata di dalam hati "Persetan perempuan gila itu. Aku kira ia jatuh ke dalam noda yang paling kotor bersama dengan Pamot karena ia terseret oleh cintanya yang tulus. Tetapi kalau sekali lagi ia menyerahkan dirinya kepada setan itu, aku tidak perlu mempedulikannya lagi. Ia tidak lebih dari seorang perempuan yang lemah. Terlampau lemah dan bahkan mungkin ia memang seorang perempuan yang berhati binal, meskipun secara lahiriah ia adalah seorang perempuan yang luruh. Disinilah letak teka-teki alam yang tidak mudah terpecahkan. Orang-orang biasanya menilai seseorang dari bentuk dan ujud lahiriahnya" Tetapi sebelum hal itu terjadi, sebelum Lamat meninggalkan tempatnya, ia mendengar suara Nyai Reksatani "Ah, sebaiknya aku pergi. Aku tidak boleh mengganggu kalian. Aku akan menyiapkan makan dan minuman kalian, sementara kalian dapat berbuat apa saja disini. Aku berkata sejujurjujurnya. Aku akan senang sekali kalau tamuku mendapatkan kesenangan dan kegembiraan yang setinggi-tingginya di rumah ini. Sejenak Puranta dan Sindangsari terdiam. Mereka hanya memandang saja wajah Nyai Reksatani yang kemerahmerahan. "Duduklah kalian berdua. Aku akan merebus air" Lalu kepada Sindangsari ia berkata "mBok-ayu, kalau kau ingin belajar menenun, belajarlah. Puranta pandai juga mengajarimu. Silahkan mempergunakan alat tenunku di dalam bilik itu" Tanpa sesadarnya Sindangsari berpaling ke pintu bilik yang masih terbuka. Di pandanginya sebuah alat tenun yang ada diatas sebuah amben yang besar, terlalu besar untuk sekedar tempat alat tenun itu saja. "Marilah" desis Puranta "aku ajari kau menenun Jangan kau sangka bahwa aku kalah cekatan mempermainkan coba dari Nyai Reksatani" "Silahkan mBok-ayu, silahkan" "Marilah Sindangsari" Suara itu rasa-rasanya berputaran di kepalanya sehingga sejenak ia memejamkan matanya. Dicobanya untuk mencernakan apa yang sedang didengarnya. "Sari" suara Puranta tiba-tiba saja telah berdesing terlampau dekat di telinganya. "Silahkan mBok-ayu" Sindangsari mencoba sekali lagi. Dipusatkannya segenap perhatiannya kepada dirinya yang sedang diombangambingkan oleh ketidak tentuan yang tidak di mengertinya itu. Dengan sepenuh kekuatannya ia mencoba melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. "Kenapa kau diam saja mBok-ayu. Marilah, berdirilah" Sindangsari merasa Nyai Reksatani menarik tangannya, dan ketika ia sudah berdiri perempuan itu telah membimbingnya. Di sampingnya berdiri Puranta dengan nafas yang terengahengah. "Jangan ragu-ragu. Jangan ragu-ragu" berkata laki-laki itu. Namun tiba-tiba Sindangsari menemukan sesuatu di dalam dirinya. Ia tertegun ketika di kejauhan terdengar suara kentongan di gardu perondan. Suara kentongan dalam nada dara-muluk. Semakin lama semakin t inggi, semakin tinggi. Rasa-rasanya suara itu telah menghentak-hentak dinding jantungnya. Sindangsari tidak tahu, apa yang sebenarnya telah memaksanya untuk melangkah maju setapak lagi. Kali ini bukan saja Nyai Reksatani yang membimbingnya, tetapi terasa tangan Puranta telah meraba pundaknya. Ketika suara kentongan itu sampai ke puncak iramanya, terbayanglah beberapa orang anak-anak muda yang duduk terkantukkantuk di gardu perondan itu. Dan tiba-tiba saja Sindangsari menutup wajahnya yang menjadi kemerah-merahan. Sekilas terbayang wajah Pamot diantara para peronda yang berkerudung kain panjang di malam yang dingin. "Sari" terdengar suara Puranta berdesis. Dekat sekali di sisi telinganya. Bahkan kemudian sekali lagi. Wajah anak muda itu telah menyentuh daun telinganya "Sari" Tiba-tiba saja Sindangsari menghentakkan dirinya. "Jangan, jangan" Puranta dan Nyai Reksatani terkejut. Mereka t idak menyangka bahwa tiba-tiba saja Sindangsari melangkah surut. Dengan mata yang merah dan wajah yang tegang ditatapnya wajah Nyai Reksatani dan Puranta berganti-ganti. Sejenak kemudian terdengar suaranya gemetar "Apa yang akan kalian lakukan atasku?" Nyai Reksatanipun menjadi tegang sejenak. Wajahnya membayangkan kecemasan yang luar biasa. Seakan akan rahasianya telah dapat terbongkar pada saat itu juga. Namun tiba-tiba ia mendengar Puranta tertawa. Perlahanlahan sekali Katanya "Kenapa kau seperti orang yang ketakutan melihat hantu di sawah. Kami hanya mencoba menunjukkan kepadamu, bagaimanakah cara menenun yang paling baik. Kalau kau bersedia, marilah. Kalau tidak, silahkan duduk kembali. Karena itu, sebaiknya kau menjawab setiap pertanyaan kami, sehingga kami tahu, apakah yang sebenarnya kau kehendaki. Menilik tanggapan wajahmu kau benar-benar ingin mempelajari cara bagaimana kita dapat menghasilkan kain tenun yang sebaik-baiknya. Dan aku dapat menunjukkan cara itu" Sindangsari berdiri membeku di tempatnya. Ia seolah-olah telah dilanda oleh kebingungan yang sangat, sehingga ia tidak mengerti lagi apa yang sebaiknya dilakukan. "Ah, mungkin kau tertidur mBok-ayu, sehingga kau bermimpi buruk. Duduklah. Aku akan menyediakan air panas. Mungkin kau akan segera sadar, apa yang sebenarnya kau hadapi" "Aku tidak akan pergi. Aku hanya akan merebus air di dapur" "Aku akan melakukannya. Duduklah. Akulah yang akan merebus air" "Ah, kenapa kau selalu berkata begitu?" bertanya Nyai Reksatani. "Biarlah. Temuilah tamumu" "Jangan menjadi bingung mBok-ayu. Agaknya kau benarbenar telah mengantuk. Karena itu, duduklah sebentar, aku akan merebus air. Atau, barangkali kau akan tidur sejenak?" "Ya" bertanya Puranta pula. Sindangsari tidak menjawab. "Baiklah, durlah sejenak. Kau akan menjadi segar kembali. Marilah, masuklah ke dalam bilik itu" "Atau aku harus menunjukkan tempatnya" desis Puranta. Dada Lamat seakan-akan telah bergejolak dahsyat sekali, sehingga hampir saja ia tidak dapat menahan diri. kini ia sadar, bahwa Sindangsari sedang di dalam suatu perjuangan. Ia sedang berjuang untuk mempertahankan dirinya sebagai seorang perempuan yang setia kepada keadaannya. Ia adalah seorang isteri. Apapun yang terjadi atasnya, Namun demikian Lamat sempat juga bertanya kepada diri sendiri "Apakah sebenarnya yang dikehendakinya? Kalau ia berjuang atas dasar kesetiaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang isteri tanpa dorongan dari dalam dirinya, maka ia adalah seorang yang hanya pandai berpura-pura" Tetapi Lamat terkejut ketika Sindangsari itu kemudian mundur selangkah sambil bergumam "Nyai, jangan seret aku ke dalam keadaan yang akan menyiksaku. Kalau Nyai dapat melakukannya tanpa menumbuhkan beban apapun pada diri Nyai, lakukanlah. Aku tidak akan berkhianat. Tetapi aku tidak dapat Nyai. Bukan karena aku seorang perempuan yang bersih, atau berpura-pura bersih dan mencoba menekan nafsu di dalam diri. Tidak. Tetapi segala perbuatan yang hanya akan menambah beban siksaan batinku yang selama ini serasa telah mengoyak-menyayat hati, sebaiknya aku tidak melakukannya" Nyai Reksatani menjadi semakin tegang. Tetapi kini ia sadar, bahwa Sindangsari masih belum tahu benar peranan yang dilakukannya. Karena itu, iapun justru tertawa sambil berkata "Memang mBok-ayu. Untuk pertama kali rasa-rasanya kita selalu disiksa oleh perasaan kita. Kita kadang-kadang merasa menyesal dan dikejar-kejar oleh kecemasan. Tetapi, kalau kesepian itu mencekik kita kembali, maka terulanglah hal yang serupa. Semakin lama hal itu akan terasa menjadi suatu kebiasaan" Tubuh Sindangsari serasa menggigil seperti orang kedinginan. Dalam keadaan itu, justru bayangan Ki Demang seakan-akan muncul diambang pintu sambil menunjuk wajahnya. Namun bayangan itupun kemudian lenyap tertutup oleh bayangan yang lain. Bayangan seorang anak muda yang dicintai dengan sepenuh hatinya. Perlahan-lahan ia mendengar suara dari dasar hatinya "Jangan kau khianati suamimu. Ia akan dapat membunuhmu. Dan jangan pula kau khianati cintamu. inta yang kau anggap sebagai cinta yang tulus" Demikianlah maka di saat terakhir itu, Sindangsari justru menemukan kekuatannya kembali, sebagai seorang isteri dan sebagai seorang perempuan yang mendambakan cintanya kepada seorang laki-laki. "mBok-ayu" terdengar kemudian suara Nyai Reksatani "apakah kau mengerti?" Sindangsari t idak menyahut. "Kau salah sangka Sari" berkata Puranta kemudian dalam nada yang dalam "semuanya terserah kepadamu sendiri. Tetapi sebaiknya kau jujur terhadapmu sendiri. Aku akan menolongmu. Bukan sekedar mengisi kekosongan seperti yang kau bayangkan. Tetapi juga dalam hal-hal yang lain, belajar menenun misalnya? Bukankah begitu?" Sindangsari masih berdiamdiri. Sebenarnya Lamat sendiri telah dicengkam oleh kecurigaan pula. Jalan pikiran Manguri dapat di mengertinya pula. Tidak ada orang lain yang lebih baik untuk melakukan pekerjaan itu selain Puranta, atau Manguri sendiri. "Atau kau terlampau pening? Kenapa kau tidak menyuruhku memijit keningmu, supaya perasaan sakitmu itu berkurang?" Sindangsari masih belum menjawab. Puranta yang melihat kelemahan telah merambati hati Sindangsari kembali, merasa mendapat kesempatan baru. Karena itu ia berkata seperti kepada anak-anak yang sedang merengek "Marilah Sari. Kau agaknya sedang sakit. Biarlah aku mencoba mengobatinya" Lamat yang berdiri di luar pintu tidak dapat menahan hatinya lagi. Ia sadar, bahwa Puranta adalah iblis yang paling licik. Setelah ia mendengar pengakuan Sindangsari, bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak menghendaki apapun terjadi sadarlah Lamat, bahwa hampir saja ia salah menilai perempuan itu. Ternyata sikap Sindangsari adalah sikap yang matang, meskipun sebagai seorang gadis yang hidup di dalam ketidak tentuan, ia masih juga dilanda oleh kelemahankelemahan perasaan. Karena itu, maka ia berkata di dalam hatinya "Apapun yang akan terjadi, aku harus menyelamatkannya" Demikianlah, ketika Puranta berusaha sekali lagi membujuk Sindangsari, bahwa kemudian membimbingnya melangkah, tiba-tiba seisi rumah itu telah dikejutkan oleh suara orang tertawa tertahan-tahan di balik dinding. Puranta dengan serta merta melepaskan Sindangsari. Sejenak ia berdiri tegak untuk mencoba menangkap suara yang seakan-akan telah membekukan darahnya itu. "Ki Reksatani" ia berdesis. "Tentu bukan" Nyai Reksatani menyahut. Selangkah demi selangkah Puranta maju mendekati pintu diikuti oleh Nyai Reksatani. Sedang Sindangsari berdiri dengan tubuh yang semakin gemetar. "Bagaimana dengan Ki Reksatani" Puranta berbisik. "Ia menunggu aku. Begitu kau berhasil, aku akan memberitahukan kepadanya. Ia pasti sudah siap dengan kudanya sekarang, dan bahkan pasti sudah menunggu aku" "Siapa yang tertawa di luar?" Nyai Reksatani menggelengkan kepalanya. Dalam pada itu suara tertawa itupun terdengar lagi. Perlahan-lahan dan tertahan-tahan. Puranta yang berdarah muda itupun tidak sabar lagi menunggu. Segera ia menyingsingkan kain panjangnya, dan disangkutkannya pada ikat pinggangnya. Ia merasa bahwa sesuatu yang tidak wajar telah terjadi. Dengan hati-hati ia memutar keris yang terselip dipunggungnya ke samping. Perlahan-lahan dengan penuh kewaspadaan. Ia melangkah ke pintu. Ia tertegun sejenak ketika ia mendengar suara tertawa itu kembali. Tidak terlampau jauh. Di muka pintu Puranta berdiri dengan tegangnya. Kemudian perlahan-lahan ia menyapa "Siapa di luar?" Suara tertawa itupun terputus. Dan malampun menjadi hening kembali. Hanya desah nafas Sindangsari yang menggigil terdengar berkejar-kejaran lewat lubang hidungnya. Puranta menunggu sejenak. Tetapi masih tidak terdengar jawaban. "Siapa di luar" ia mengulang. Tetapi masih juga tidak ada jawaban. Puranta benar-benar tidak sabar lagi. Dipusatkan pendengarannya untuk menangkap desah nafas seseorang di luar. Ternyata ia tidak mendengar sesuatu di belakang pintu. Karena itu, maka dengan hati-hati ia meraba daun pintu lereg. Sejenak ia diam. Sekali lagi ia mencoba menangkap setiap bunyi. Ketika ia yakin bahwa di luar pintu pringgitan itu tidak terdapat seseorang yang berdiri melekat daun pintunya, maka dengan serta-merta ia menyentakkan daun pintu lereg itu. Sejenak kemudian ia sudah meloncat an berdiri di luar pintu. Puranta berdiri dengan tegangnya. Tetapi matanya vang tajam masih menangkap bayangan seseorang yang menghilang di balik dedaunan di halaman. "He siapa kau?" bertanya Puranta, meskipun ia tidak berteriak terlalu keras, supaya tetangga-tetangga sebelah menyebelah tidak terbangun karenanya. Sejenak ia menunggu. Tetapi sama sekali t idak ada jawaban. Puranta menjadi semakin berdebar-debar. Jelas bahwa orang itu pasti bukan Ki Reksatani ia pasti tidak akan membuat pertanda yang aneh-aneh dan menyingkir ketika ia keluar dari rumah itu. Apalagi usahanya untuk menerkam Sindangsari justru hampir berhasil. "Siapa kau" Puranta mengulangi. Meskipun ia menunggu lagi, tetapi ia sama seikali t idak mendengar jawaban apapun. Puranta menjadi sangat marah karenanya. Usaha yang hampir berhasil itu tiba-tiba telah gagal. Sudah tentu Sindangsari t idak akan dapat lagi dibujuknya pada malam ini. Kejutan suara tertawa itu membuat Sindangsari menjadi semakin jauh dari padanya. Dengan gigi gemeretak ia melangkah perlahan-lahan di halaman menuju ke tempat bayangan itu menghilang. "Apakah justru Ki Demang sendiri?" tiba-tiba Puranta telah diganggu oleh pertanyaan itu. Karena itu maka langkah Purantapun segera terhenti ia berdiri sambil termangu-mangu. Kalau bayangan itu Ki Demang di Kepandak, maka itu suatu alamat, bahwa umurnya sudah akan sampai kebatas. Apalagi saat itu Ki Reksatani masih belumhadir. "Tentu bukan" geramnya kemudian "kalau orang itu Ki Demang, maka ia tidak akan dapat menahan hati. Ia pasti akan langsung memecah pintu dan mencekik aku atau Sindangsari. Atau ia menunggu sejenak, untuk membuktikan bahwa isterinya memang bersalah" Akhirnya Puranta itu menghentakkan kakinya sambil berkata di dalam hati "Persetan. Siapapun orang itu, aku harus menangkapnya. Hidup atau mati" Dengan hati-hati Puranta melangkah maju. Tangannya telah meraba hulu kerisnya. "Siapa kau?" ia berdesis. Tidak ada jawaban. "Siapa kau?" Masih tidak ada jawaban. Selangkah Puranta maju lagi. Kini ia berdiri beberapa langkah saja dari gerumbul itu. Sejenak ia memusatkan perhatiannya, namun sejenak kemudian seakan-akan anak muda itu melenting ke belakang gerumbul yang gelap itu. Sejenak Puranta berdiri tegak bagaikan patung batu yang beku. Ia melihat seseorang berdiri di dalam bayangan dedaunan yang gelap. Tetapi ia tidak segera dapat mengenalnya. "Siapa kau?" anak muda itu menggeram "dan apakah sebenarnya maksudmu?" Bayangan itu sama sekali t idak menjawab. "He, apakah kau bisu atau tuli, atau kau memang sudah mati membeku?" Perlahan-lahan bayangan itu bergerak. Ketika bayangan itu maju selangkah, Purantapun surut melangkah pula. "Apakah maksudmu he? Sebaiknya kau berkata berterus terang. Aku tahu bahwa kau tidak akan lari. Kalau kau ingin melarikan diri atau bersembunyi, kau pasti tidak akan membuat suara yang sangat menyakitkan hati itu" "Ya" bayangan itu menjawab "aku memang tidak akan lari" "Siapa kau?" "Apakah kau belum mengenal aku?" Puranta tidak segera menyahut. Dengan tajamnya di pandanginya bayangan itu. Tetapi ia masih juga belum mengenalnya. "Tidak ada gunanya kau mengenal aku, tetapi seandainya kau mengenal, pengaruhnyapun tidak ada sama sekali. Tetapi ketahuilah, bahwa aku adalah salah seorang penduduk Kademangan Kepandak" "Apa maksudmu?" "Aku sudah mengenalmu Mengenal pokal dan kegemaranmu. Karena itu, aku terpaksa mengikuti kau kemana kau pergi selama kau berada di Kademangan ini" "Apa pedulimu?" "Kalau kau melakukannya di luar Kademangan ini, aku tidak akan menghiraukannya sama sekali. Tetapi kalau kau berbuat sedeng di Kademangan ini, kami, seluruh penduduk Kademangan ikut bertanggung jawab. Apalagi kedua perempuan yang ada di rumah in adalah Nyai Demang di Kepandak dan Nyai Reksatani adik Ki Demang di Kepandak" "Persetan dengan mereka. Apakah salahnya kalau mereka yang memerlukan aku?" "Aku mendengarkan percakapan mereka. Mungkin Nyai Reksatani tidak lagi menjadi persoalan bagimu, tetapi Nyai Demang di Kepandak, bukan orangnya yang dapat kau bujuk dengan rayuan iblismu itu" "Aku tidak membujuknya. Perempuan itu kesepian" Bayangan di dalam gelap itu tertawa "Kau sangka aku tidak mendengar seluruhnya? Jangan menipu aku. Ki dan Nyai Reksatani yang agaknya sudah jatuh ke tanganmu itu sedang sibuk membujuk agar Sindangsaripun terjerumus ke dalam neraka jahanam ini. Mungkin Nyai Reksatani yang kecewa dan menyesal, mencoba mengurangi tekanan perasaannya dengan mengumpankan orang lain. Dengan kawan yang semakin banyak di dalam neraka, maka panas api neraka akan serasa semakin berkurang. Tetapi itu t idak akan mungkin. Nyai Demang adalah seorang perempuan yang kuat" "Bohong" "Memang tampaknya kau hampir berhasil. Tetapi jangan mimpi. Dan ternyata kau memang tidak akan berhasil. Tanpa akupun kau tidak akan berhasil tanpa mempergunakan kekerasan" "Omong kosong. Ia sudah menyerah" Bayangan itu tertawa lagi "Kau yang omong kosong. Apakah kita akan membuktikan, menemui Nyai Demang dan bertanya kepadanya?" "Gila. Ia tentu akan ingkar. Betapapun liarnya seorang perempuan, tetapi ia tidak akan dengan begitu saja mengakui keliarannya" "Ternyata kau benar-benar memahami perasaan seorang perempuan. Tetapi kali ini kau jangan membohongi aku, karena aku mendengar sendiri kau membujuknya" bayangan itu berhenti sejenak, lalu "Tetapi lebih daripada itu, jangan kau sangka bahwa aku tidak tahu latar belakang dari perbuatanmu kali ini. Kau akan mendapat keuntungan rangkap dengan segala perbuatanmu ini. Kau akan mendapatkan Nyai Demang yang masih terlalu muda itu, dan sekaligus kau pasti akan mendapat penghargaan apapun bentuknya dari Ki Reksatani" "Kenapa?" "Sudahlah. Hal itu sebaiknya tidak usah kita persoalkan sekarang. Aku hanya minta kau meninggalkan tempat ini. Urungkan niatmu yang terkutuk itu, karena dengan demikian kau sudah merusak sendi-sendi kehidupan berumah tangga. Dan apalagi bagi Ki Demang di Kepandak. Ki Demang akan merasa kehilangan segala-galanya apabila kau berhasil" "Persetan dengan ocehanmu" "Aku berjanji untuk tetap berdiam diri, kalau kau bersedia mengurungkan niatmu. Tetapi kalau kelak, pada suatu saat kau akan mengulanginya, maka aku tidak akan segan-segan membuka rahasia ini" "Diam kau" Puranta tiba-tiba membentak. "Sudahlah. Jangan berteriak-teriak supaya kau tidak membangunkan banyak orang" Puranta terdiam sejenak. Ditatapnya bayangan hitam yang berdiri tegak itu. Semakin biasa matanya berada lidalam gelap, maka semakin jelaslah ujud orang yang berdiri di dalam kegelapan itu. "Kau" desis Puranta kemudian. "Kau mengenal aku?" Puranta tidak segera menjawab. Tetapi ia menjadi sangat gelisah. Agaknya orang ini tahu benar bahwa ia sedang melakukan tugas yang dibebankan oleh Ki Reksatani. "Orang ini terlampau berbahaya" desis Puranta "meskipun ia berjanji untuk tetap berdiam diri, namun pada suatu saat ia akan dapat berkata tentang aku" "Apakah kau setujui tawaranku?" "Apa?" "Kau mengurungkan niatmu dan meninggalkan maksudmu untuk menodai Sindangsari buat selama-lamanya?" Puranta tidak segera menjawab. Tetapi ia kini seolah-olah telah berdiri di hadapan ujung tombak yang mengarah ke jantungnya. Kalau ia lengah maka ujung tombak itu pasti akan menembus dadanya. "Kalau orang itu masih ada, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi di saat-saat mendatang terhadap Nyai Demang di Kepandak. Bukan soal upah yang akan aku lerima. Soalnya Puranta tidak akan pernah gagal. Pertempuran itu sudah terlanjur mengungkat nafasku, yang pasti tidak akan terkendali lagi" Puranta mengerutkan keningnya, lalu "orang ini harus dilenyapkan. Ia akan dapat menjadi rintangan seumur hidupnya. "Aku tidak peduli darimana ia mendengar rahasia tentang maksud ini. Tetapi setiap orang yang mengetahui rahasia ini harus dilenyapkan. Termasuk orang ini" Dengan demikian, maka kini Puranta tidak dapat berbuat lain. Ia tidak saja menolak permintaan orang itu, tetapi orang itulah yang harus dilenyapkan. "Bagaimana?" bertanya bayangan itu "apakah kau sependapat? Aku berjanji, bahwa aku tidak akan membuka rahasiamu" Puranta menggeretakkan giginya. Dengan garangnya ia menggeram "Darimana kau tahu rahasia tentang hal ini, meskipun pertanyaan ini bukan berarti bahwa aku telah membenarkannya" "Kau tidak perlu tahu darimana aku mendengarnya. Tetapi yang penting, aku mendengar rahasia itu" Sejenak Puranta bergeser maju. Sambil menuding wajah bayangan itu, ia menggeram pula "Aku telah mengenal kau. Kau adalah kawan anak Gemulung yang bernama Manguri itu" "Ya. Kalau kau ingin tahu, namaku Lamat" "Ya. Namamu Lamat. Aku ingat sekarang. Kau yang mencegah perkelahian yang hampir saja terjadi antara aku dan Manguri. Sayang kau mencegahnya saat itu. Kalau tidak aku pasti sudah membunuhnya" "Bukan sekedar persoalan Manguri. Tetapi kau pernah bertengkar pula dengan ayahnya. "Ya. Ayah Manguri. Setan tua itu" Puranta maju semakin dekat "sekarang kau mau apa? Apakah mereka, Manguri dan ayahnya ada disini juga? Aku bukan Puranta yang dahulu. Aku sekarang pasti sanggup menghadapi mereka berdua dan bertiga dengan kau orang bodoh" "Jangan marah-marah. Tawaranku cukup baik" "Aku tidak peduli. Sekarang aku tahu, bahwa sebenarnya kalian sedang diamuk oleh perasaan cemburu" "Bukan Puranta. Kali ini bukan persoalan Manguri. Tetapi persoalan seluruh Kademangan Kepandak, karena perempuan itu adalah Nyai Demang di Kepandak. Soalnya akan berbeda pula kalau Nyai Demang itu sendirilah yang memang berniat mengundangmu datang kepadanya. Tetapi kali ini juga tidak" "Lamat" suara Puranta tiba-tiba merendah "kini aku tahu, bahwa kau dan mungkin juga Manguri telah mengetahui rahasia yang masih belum dapat kau buktikan kebenarannya itu. Karena itu, menyesal sekali. Aku tidak mempunyai cara lain untuk menyelamatkan diriku sendiri daripada melenyapkan kau dan kemudian Manguri. Adalah kebetulan sekali kalau Manguri itu berada disini pula saat ini" "Jangan berkata begitu. Kau dapat mengambil cara yang semudah-mudahnya tanpa membunuh seseorangpun" "Sudah aku katakan, menyesal sekali bahwa kau sudah mencoba untuk mencampuri persoalanku" Lamat menarik nafasdalam-dalam. Ditatapnya wajah Puranta dalam-dalam, namun semakin lama ia memandanginya, maka tanpa disadarinya, Lamatpun menjadi semakin muak. "Anak ini memang anak iblis" desisnya di dalamhati. "Ayo" geram Puranta "panggil Manguri dan ayahnya sekali. Hadapi aku bersama-sama. Jangan seorang demi seorang. Kalian pasti akan menyesal sekali" "Jangan berkata begitu Puranta" berkata Lamat yang masih berusaha menahan diri "kau tidak tahu hubungan yang sebenarnya ada diantara kita. Hubungan yang sangat berbelitbelit. Hubungan antara kau dan Ki Reksatani, antara Ki Reksatani dengan Manguri dan antara kalian berdua dengan Sindangsari. Hubungan itu memang merupakan hubungan yang kisruh. Karena itu, batalkan niatmu. Apakah itu untuk kepentingan nafsu kelaki-lakianmu yang tidak terkendali, atau nafsu ketamakanmu akan upah yang akan kau terima" "Cukup,cukup" "Masih ada sedikit yang aku katakan. Marilahkita membuat janji. Kau batalkan perbuatan ini, kau pulang saja ke rumahmu. Kita masing-masing akan menutup mulut. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun, kepada Manguripun tidak. Tetapi kau juga t idak usah bercerita tentang aku" "Tidak. Tidak demikian. Kau memang akan menutup untuk seterusnya. Tetapi aku tidak. Kau akan segera mati sedang aku akan segera mendapatkan Nyai Demang di Kepandak. Kalau usahaku dengan membujuk dan merayunya gagal oleh pokalmu itu, maka aku akan mempergunakan kekerasan. Aku tidak peduli. Seandainya Ki Demang marah sekalipun, aku tidak akan takut. Pada dasarnya aku memang bukan anak Kepandak" Bagaimanapun juga Lamat menyabarkan diri, namun terasa jantungnya berdebaran semakin cepat, seperti juga darahnya mengalir semakin cepat pula "Agaknya anak ini memang tidak akan dapat diajak berbicara" berkata Lamat di dalam hatinya. Dengan demikian maka iapun segera manyiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan. Di dalam rumah itu, Sindangsari menjadi bingung. Ia menggigil semakin keras. Kali ini ditambah lagi dengan ketakutan yang mencengkam. Tetapi bukan saja Sindangsari yang ketakutan, namun Nyai Reksatani menjadi kebingungan juga. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Agaknya sesuatu yang sama sekali tidak dapat diperhitungkannya sebelumnya. Sehingga dengan demikian untuk sesaat ia kehilangan pegangan apakah yang sebaiknya dilakukannya. Dalam kebingungan itu, kemudian diingatnya suaminya. Apapun yang akan terjadi, maka cara yang paling baik untuk menyelesaikan masalah ini, harus diserahkannya kepada suaminya. "mBok-ayu" katanya "agaknya sesuatu yang tidak kita kehendaki sudah terjadi. Seseorang dengan sengaja telah mengganggu ketenteraman kita disini" Sindangsari sama sekali tidak menyahut. "Karena itu, aku akan mencari Ki Reksatani sejenak. Aku akan mengajaknya kemari" "Dimanakah Ki Reksatani sekarang?" bertanya Sindangsari. "Tentu di rumah" "Aku ikut" "mBok-ayu tinggal disini sebentar" "Aku takut" Keduanya menjadi ragu-ragu sejenak. "Kalau kau pergi aku ikut pergi bersamamu" "Tetapi" Nyai Reksatani menjadi bimbang. Apa bila ia pergi bersama Sindangsari, ia tidak akan dapat mengatakan keadaan itu seluruhnya. Ia tidak akan dapat menyebut-nyebut nama Puranta. "Aku takut" Sindangsari justru malah berpegangan tangannya. "Kau disini. Akulah yang akan pergi" "Tidak" Nyai Reksatani berpikir sejenak. Katanya di dalam hati "Aku dapat berbicara dengan Ki Reksatani di tempat yang terpisah. Itu akan lebih baik daripada aku tetap berada disini" Karena Sindangsari tidak mau melepaskannya, maka akhirnya Nyai Reksatani berkata "Baiklah. Marilah, cepat" Keduanyapan kemudian berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu. Tetapi mereka tidak berani berjalan lewat halaman depan. Karena itu, maka melalui pintu butulan mereka menerobos halaman belakang dan keluar melalui regol samping, turun ke sebelah jalan sempit. Dalam pada itu, baik Lamat maupun Puranta sudah t idak dapat menahan diri lagi. Apalagi Puranta yang merasa usahanya yang sedang akan berhasil telah terganggu. Karena agaknya lawannya benar-benar telah siap menghadapinya tanpa gentar sama sekali, mulailah ia menyerang sepenuh tenaganya. Tetapi Lamat yang benar-benar telah muak melihat wajah Puranta, telah siap pula menghadapinya. Karena itu maka iapun dapat memperhitungkan serangan yang datang dengan tiba-tiba itu, sehingga dengan tangkasnya, ia berhasil mengelakkan dirinya. Puranta benar-benar telah dibakar oleh nyala di dalam hatinya. Iapun segera menyerang dengan serangan-serangan beruntun. Tetapi Lamat sama sekali tidak menjadi bingung. Justru serangan-serangan itu telah memberinya petunjuk, betapa besarnya kekuatan lawannya itu Namun dalam pada itu Lamatpun menyadari, bahwa Puranta bukannya anak-anak yang dapat diabaikannya. Ia memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan, sehingga Lamat bergumam di dalam hatinya "Seandainya Manguri benar-benar berkelahi di tengah sawah, maka ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Puranta benar-benar telah mendapat banyak pengetahuan tentang ilmu bela diri yang cukup rumit" Demikianlah, maka Lamatpun merasa harus berhati-hati menghadapinya, meskipun Lamat sendiri memiliki cukup kemampuan. Kali ini ia berkelahi bukan sekedar untuk kepentingan Manguri, tetapi lebih dari itu. Orang-orang seperti Puranta memang harus dibuat jera. Namun demikian sempat juga terbersit pengakuan di hatinya "Aku benar-benar tidak jujur menghadapi persoalan ini. Aku mencoba untuk mencegah Puranta. Tetapi aku tidak berbuat apa-apa terhadap Manguri" Pikiran itulah yang kemudian mengendorkannya. Kemarahannya yang semula telah menjalari seluruh darahnya, seakan-akan dengan perlahan-lahan telah menurun kembali. Meskipun demikian ia sama sekali t idak ingin mengubah niatnya membatalkan perbuatan Puranta, tidak saja kali ini, tetapi untuk seterusnya. Ia harus mendapat jaminan, bahwa Puranta telah menjadi benar-benar menjadi jera. Dengan demikian, maka Lamat masih tetap berhasil menguasai dirinya. Kini ia menjadi semakin tenang dan penglihatannya atas lawannya menjadi semakin bening" Namun agaknya Puranta menjadi salah tangkap. Ia menyangka bahwa Lamat memang sudah mencapai puncak kemampuannya. Dengan demikian maka ia menjadi semakin berbesar hati. Orang yang tinggi besar itu akan segera dapat ditundukkannya dan dibungkamnya untuk selama-lamanya. "Tetapi kalau orang ini mati kemana mayatnya harus aku sembunyikan?" pertanyaan itulah yang tersirat di hatinya. Tetapi Puranta menjadi heran, bahwa serangannya sama sekali masih belum berhasil menyentuh tubuh lawannya. Setiap kali ia gagal. Lamat masih saja dapat mengelak dan kadang-kadang menangkis. "Aku harus segera mengakhirinya" katanya di dalam hati. Dengan demikian mata Purantapun kemudian melepaskan segenap kemampuan yang ada padanya. Ia bergerak semakin cepat. Tangannya menyerang berpasangan. Bahkan kemudian seakan-akan menjadi berpuluh-puluh pasang yang mematuk dari segala arah. Bahkan kakinyapun rasa-rasanya menyambar-nyambar seperti sekelompok ular di dalam sarangnya. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Bahkan katanya di dalam hati "Ternyata orang ini memiliki-llmu yang mantap juga" Dengan demikian maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Meskipun demikian, karena kelincahan kedua belah pihak, maka langkah mereka hampirhampir tidak menimbulkan suara dan apalagi keributan. Keduanya dapat tanpa membangunkan seorang tetanggapun. Yang gelisah menunggu pada saat itu adalah Ki Reksatani. Waktu yang ditentukan sudah jauh lewat. Namun isterinya masih belum datang juga memberitahukan, bahwa Puranta telah berhasil menjerat Sindangsari. "Anak itu memang agak sulit" katanya untuk menenteramkan hatinya sendiri "tetapi aku yakin, Puranta akan berhasil. Puranta adalah seorang laki-laki yang seolahTiraikasih Website http://kangzusi.com/ olah mempunyai daya mengikat yang tidak terlawan oleh perempuan yang manapun" Sejenak Ki Reksatani dapat menenangkan hatinya. Namun sejenak kemudian kegelisahannyapun telah tumbuh kembali. Kadang-kadang ia tidak dapat menahan perasaannya, sehingga dengan gelisahnya ia berjalan hilir mudik di halaman. "Apakah setan ini mengingkari kesanggupannya?" geramnya. Sementara Ki Reksatani berjalan hilir mudik di halaman maka Nyai Reksatani dan Sindangsari berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri jalan-jalan sempit di dalam padukuhannya. Jarak kedua rumah itu sebenarnya tidak begitu jauh. Tetapi karena mereka menempuh jalan yang berbelit-belit, maka mereka memerlukan waktu juga untuk sampai ke rumah Nyai Reksatani itu. Ki Reksatani terkejut melihat isterinya datang, tetapi tidak seorang diri. Sehingga sepercik pertanyaan melonjak di hatinya "Kenapa ia membawa Sindangsari?" Sebelum ia bertanya, Nyai Reksatani sudah mendahuluinya "Kakang. Rumah kami telah dirampok orang" "He, apa katamu? Dirampok orang?" "Aku tidak tahu pasti, tetapi, tetapi..." Nyai Reksatani menjadi ragu-ragu. Kemudian katanya "Marilah kita masuk. Aku takut. Takut sekali" Ki Reksatani menjadi heran melihat sikap isterinya. Isterinya tahu benar, bahwa ia adalah seseorang yang pasti tidak akan takut terhadap rampok yang manapun juga. Karena itu, segera ia menangkap semacam isyarat bahwa sesuatu yang kurang wajar telah terjadi. Karena itulah maka ia sama sekali tidak membantah ketika Nyai Reksatani kemudian mengajaknya masuk. Dengan tergesa-gesa ketiganyapun kemudian naik keatas pendapa dan langsung masuk ke pringgitan. Setelah mereka duduk, tiba-tiba Nyai Reksatani bangkit kembali berkata "Dimana barang itu kau simpan?" "Barang apa?" bertanya Ki Reksatani. Tetapi Nyai Reksatani tidak menghiraukannya. Iapun segera melangkah masuk ke dalam biliknya. Ki Reksatani yang kebingungan segera menyusulnya. Ia tidak mengerti, apakah sebenarnya yang dimaksud isterinya. Ketika Ki Reksatani sudah masuk ke dalam bilik pula, maka isterinya segera menangkap tangannya dan menariknya semakin dalam ke sudut bilik. "Ada apa? Ada apa?" Ki Reksatani bertanya "Ssst" isterinya menyentuh bibirnya dengan jari iri unjuk "kemarilah. Dengarlah" Ki Reksatani menjadi semakin bercuriga sehingga dengan dada yang berdebar-debar ia maju semakin dekat lagi kepada isterinya. "Celaka kakang" desis isterinya. "Kenapa?" "Sesuatu yang tidak pernah kita perhitungkan lelah terjadi" "Apa?" "Campur tangan pihak ketiga" Wajah Ki Reksatani menegang "Siapa? Siapa yang telah berani mencampuri persoalanku?" "Aku tidak tahu kakang " "Tetapi darimana kau mendapat keterangan, bahwa ada pihak lain yang mencampuri urusan ini?" Nyai Reksatani menelan ludahnya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya sejenak. Kemudian, mulailah ia menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi. "Puranta sudah hampir berhasil" katanya "ketika tiba-tiba terdengar suara tertawa itu" Sorot mata Ki Reksatani seolah-olah menyala karenanya, melampaui nyala lampu minyak yang tergantung di sudut ruangan. "Siapa orang itu?" "Aku tidak tahu" "Lalu, apakah yang dilakukan Puranta?" "Ia lari mengejar suara itu" "Apakah ia berhasil?" "Aku tidak tahu. Aku segera bermaksud memberitahukan kepadamu kakang. Tetapi Sindangsari yang ketakutan selalu berpegangan tanganku Saja" "Lalu kau bawa ia kemari?" "Ya. Aku tidak mau terlambat" Ki Reksatani terdiam sejenak. Tetapi wajahnya tampak menjadi tegang. Tiba-tiba saja ia kemudian menggeram "Aku akan pergi dan melihat apa yang telah terjadi" Tanpa menunggu jawaban Ki Reksatani menyambar kerisnya yang tergantung di dinding. Diselipkannya kerisnya itu di lambungnya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia melangkah t lundak pintu dan melintasi pringgitan. "Duduklah disini mBok-ayu. Jangan takut, aku akan melihat apa yang telah terjadi" Sindangsari t idak sempat menjawab karena Ki Reksatani kemudian hilang di balik daun pintu pringgitan. Sepeninggal Ki Reksatani isterinyapun kemudian duduk di hadapan Sindangsari. Wajahnya masih membayangkan kegelisahan hati. "Apakah Ki Reksatani akan pergi ke rumah itu?" bertanya Sindangsari. "Ya. Kakang Reksatani akan melihat apa yang telah terjadi" Wajah Sindangsari menjadi pucat. Dengan suara yang bergetar ia bertanya "Tetapi bagaimanakah akibatnya, kalau Ki Reksatani menemukan Puranta di sana?" Pertanyaan itu membuat Nyai Reksatani agak gugup. Tetapi kemudian ia menjawab "Mudah-mudahan ia sudah pergi" "Seandainya belum?" "Kakang Reksatani belum mengenalnya dengan baik. Apalagi ia t idak menemukan anak itu bersama kita" "Tetapi ia dapat bertanya kepadanya. Apabila anak itu berkata terus terang, apakah Ki Reksatani tidak akan marah kepada kita berdua?" "Ah" sahut Nyai Reksatani "jangan hiraukan anak itu. Biarlah Ki Reksatani menyelesaikannya. Mudah-mudahan anak itu dapat menempatkan dirinya, bagaimanapun caranya" Sindangsari menjadi terdiam karenanya. Meksipun masih banyak sekali masalah-masalah yang mendesak di dalam dadanya, namun ia sudah t idak bertanya lagi. Yang terasa kemudian adalah penyesalan yang tiada taranya" "Kalau aku tidak bermalam di rumah ini, aku tidak akan mengalami persoalan serupa ini" ratapnya di dalam hati. Tetapi semuanya sudah terlanjur sehingga ia tidak akan cepat berbuat apa-apa lagi. Ia hanya dapat menunggu, apa yang akan terjadi. Bahkan menunggu suatu kemungkinan anak muda yang bernama Puranta itu telah menyeret namanya pula ke dalam kesulitan. Sementara itu, selagi Ki Reksatani berlari-lari kecil menuju ke rumah yang dipergunakannya untuk menjerat Sindangsari, di halaman rumah itu Lamat masih juga berkelahi dengan sengitnya melawan Puranta yang mengamuk seperti seekor serigala lapar. Namun ketenangan Lamat selalu berhasil mengatasi, serangan yang betapapun dahsyatnya, Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya dari yang diduga oleh Puranta sendiri. Ternyata ia tidak segera dapat menundukkan Lamat. Yang terjadi adalah, sekali-sekali serangan Lamat telah mengenainya. Kadang-kadang di tempat-tempat yang berbahaya, "Setan manakah yang telah memberinya kemampuan begitu besar sehingga melampaui kemampuan Manguri dan barangkali juga kemampuan ayahnya?" ia mengumpat di dalam hatinya. Bahkan kemudian betapa ia berusaha menyembunyikan, namun terbersit pula pengakuan, bahwa ia tidak akan segera dapat menundukkannya. Karena itu, karena Puranta merasa bahwa ia sudah terlalu lama berkelahi, dan ia ingin segera menyelesaikannya, untuk kemudian dengan cara apapun menerkam Sindangsari yang disangkanya masih ada di dalam rumah itu, segera memeras kemampuannya. Bahkan kemudian dengan gemetar tangannya meraba hulu kerisnya "Apakah kau benar-benar ingin mati?" ia berdesis. "Akulah yang seharusnya bertanya" sahut Lamat "apakah kau benar-benar ingin membunuhku? "Ya" "Adalah wajar apabila aku harus membela diri" berkata Lamat kemudian "tetapi kalau kau mau menerima tawaranku, maka persoalan kita akan segera selesai" Puranta tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja di tangannya yang gemetar telah tergenggamsebilah keris. "Kau akan mati malam ini" ia menggeram. Lamat tidak sempat menjawab, karena tiba-tiba saja. Puranta telah meloncat sambil menjulurkan kerisnya kelambung Lamat yang masih berdiri termangu-mangu. Lamat tidak menduga sama sekali bahwa Puranta akan dengan tiba-tiba saja menyerangnya begitu cepat. Karena itu, betapapun juga Lamat terkejut karenanya, sehingga ia tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mempertimbangkan tata geraknya kemudian. Itulah sebabnya maka ketika keris itu hampir saja mematuk lambungnya, Lamatpun segera bergeser setengah langkah sambil memiringkan tubuhnya. Pada saat yang bersamaan, ketika keris Puranta terjulur dekat sekali di sisinya, dengan serta-merta Lamat menangkap pergelangan tangan Puranta. Dengan sekuat tenaganya Lamat melontarkan tangan itu sambil memutarnya, sehingga Puranta sama sekali tidak berdaya untuk melawannya. Yang terjadi adalah di luar dugaan Lamat sendiri. Ketika Lamat mendengar tulang Puranta berderak, hatinya telah berdesir tajam. Apalagi ketika ia melihat lontarannya yang hampir di luar sadarnya. Puranta yang terpelanting itu terputar sekali di udara. Kemudian dengan kerasnya kepalanya membentur dinding batu halaman. Dalam pada itu, keris yang di tangannya tidak dapat dikuasainya dengan baik, sehingga di luar kemampuannya untuk mencegah, ternyata keris itu telah menggores perutnya sendiri. Keris yang dipeliharanya baikbaik dengan warangan yang tajam, sehingga karena luka-luka di kepala dan racun dan kerisnya sendiri, Puranta tidak akan dapat menghindarkan diri dari terkaman maut. Ia hanya dapat menggeliat sekali. Kemudian ia terdiam untuk selamanya. Lamat yang melihat akibat dari perkelahian itu berdiri mematung. Wajahnya menjadi pucat dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia sama sekali tidak sengaja untuk membunuh lawannya. Membunuh sesamanya. Melawan penjahat yang paling jahatpun, tidak pernah terlintas suatu kesengajaan untuk membunuh, seperti jiwanya sendiri yang telah diselamatkan oleh seseorang. "Alangkah mahalnya jiwa seseorang" ia berdesis "tetapi kini tanpa aku sengaja, aku telah membunuh. Tiba-tiba saja tubuh Lamat menjadi gemetar. Perlahanlahan ia mendekati Puranta dan berjongkok di sampingnya. Tetapi Puranta itu telah mati. Mati. Dan tidak ada kekuatan yang dapat menghidupkannya lagi, selain keajaiban dari Yang Maha Kuasa sendiri. Wajah Lamat yang pucat itupun tertunduk dalam-dalam. Dirabanya tubuh Puranta yang masih basah oleh keringat dan embun malam yang menit ik dari dedaunan. Selagi Lamat merenungi mayat itu, tiba-tiba telinganya yang tajam telah menangkap langkah seseorang yang dengan tergesa-gesa mendekati halaman rumah itu. Karena itu, maka iapun segera mencoba menyadari keadaannya. Dengan tergesa-gesa pula ia merangkak melekat dinding di balik sebatang pohon perdu. Demikian seseorang memasuki regol, maka Lamatpun segera meloncati pagar batu, terlindung oleh rimbunnya daun perdu, sehingga orang yang memasuki halaman itu sama sekali t idak melihatnya, dan tidak mendengar langkahnya yang sudah dijaganya baik-baik. Meskipun demikian Lamat masih mencoba menjengukkan kepalanya. Dan ia melihat bahwa orang yang memasuki halaman rumah itu adalah Ki Reksatani. Tidak ada jalan lain baginya daripada menghindarkan diri. Meskipun Lamat belum pernah melihat sendiri, betapa tinggi ilmunya, namun di dalam keadaan serupa ini, lebih baik baginya untuk menghindar. Karena itu, maka dengari hati-hati ia merayap surut menjauhi pagar batu itu. Kemudian setelah ia berada di tempat yang terlindung, segera ia berjalan secepat-cepatnya meninggalkan tempat itu. "Apakah yang akan aku katakan kepada Manguri nanti?" gumamnya di sepanjang jalan. Sedang jantungnya masih juga berdebaran apabila terbayang olehnya mayat Puranta yang terbujur di halaman itu dibasahi oleh keringat, embun dan darahnya yang mengalir dari luka oleh senjatanya sendiri Dalam pada itu, Ki Reksatani melangkah dengan hati-hati memasuki halaman. Tetapi halaman itu tampak sepi. Tidak ada seseorang yang dilihatnya, Puranta tidak dan apalagi orang lain. Sejenak ia berdiri mematung. Dicobanya untuk menangkap setiap bunyi. Tetapi bunyi nafas yang halus sekalipun tidak didengarnya sama sekali. Apalagi langkah-langkah orang yang sedang bertempur. Kalau Puranta menemukannya, pasti terjadi sesuatu. Tiba-tiba dada Ki Reksatani serasa berguncang. Sebuah pertanyaan telah terbersit pula di hatinya. "Kalau orang itu orang sewajarnya, maka Puranta pasti akan dapat menyelesaikan. Setidak-tidaknya ia mempunyai kesempatan yang cukup untuk mempertahankan diri" nafas Ki Reksatani tiba-tiba menjadi tertahan-tahan "apakah justru kakang Demang di Kepandak?" Ingatan itu telah membuat tubuhnya menjadi gemetar. Tanpa disadarinya ia melangkah maju, semakin lama semakin dalam memasuki halaman rumahnya. Tetapi ia masih tetap tidak mendengar sesuatu. Namun tiba-tiba langkahnya tertegun ketika ia melihat sebatang pohon perdu yang ranting-rantingnya berpatahan. Dengan wajah yang tegang Ki Reksatani mendekatinya. Diamat-amatinya pohon perdu itu dengan saksama. Semakin lama semakin nyata baginya, bahwa memang telah terjadi sesuatu di halaman rumah ini. Apalagi ketika tampak olehnya, beberapa batang pohon yang lainpun agaknya telah menjadi rusak pula karenanya. "Hem" ia berdesah "setan manakah yang telah mengganggu rencanaku" Namun sekali lagi melintas ingatannya kepada Ki Demang di Kepandak sendiri. Ki Reksatani terperanjat bukan buatan ketika ia kemudian melihat sesosok tubuh yang tergolek di dekat pagar. Dengan tergesa-gesa ia mendekatinya. Darahnya serasa berhenti mengalir ketika ia kemudian mengenalinya. Puranta yang sudah menjadi mayat. Dengan tangan gemetar ia menyentuh tubuh itu. Masih belum menjadi dingin. Sedang darahnya masih Juga belum mengering. "Aku terlambat sedikit" desisnya. Dengan tangan yang bergetar Ki Reksatani memungut sebilah keris yang terletak di dekat jari-jari tangan Puranta yang mengembang. Keris itu masih basah oleh darah. "Keris inilah agaknya yang telah melukainya" desis Ki Reksatani. Maka dengan saksama ia mengamati keris itu, kalau-kalau ia sudah mengenalnya. Beberapa keris kakaknya ia sudah pernah melihat, karena Ki Demang sering menunjukkannya kepadanya. "Aku belum pernah melihat keris ini. Agaknya bukan keris kakang Demang" desisnya. Tetapi tatapan matanyapun kemudian menangkap wrangka keris yang masih terselip di lambung Puranta. Wrangka yang sudah tidak lagi menyimpan wilahannya. Ketika wrangka itu diambilnya dan dicobanya untuk merangkum keris yang masih bernoda darah itu, dada Ki Reksatani menjadi semakin berdentangan. Ternyata keris itu adalah keris Puranta sendiri. "Setan alas" ia mengumpat "pasti bukan orang kebanyakan yang telah datang mengganggu. Mungkin kakang Demang. Mungkin orang lain" Ki Reksatanipun kemudian meloncat berdiri sambil menggeretakkan giginya "Siapapun yang melakukannya, Reksatani telah siap menghadapinya. Bahkan seandainya kakang Demang sendiripun aku tidak akan gentar. Apaboleh buat. Aku sudah terlanjur basah di tengah-tengah bengawan. Aku tidak dapat kembali. Aku harus menyeberang terus" Dengan wajah yang tegang, sorot mata yang membara Ki Reksatani membelai hulu kerisnya. Nafasnya yang terengahengah serasa akan terputus di tenggorokan. Namun sejenak kemudian Ki Reksatani itu menyadari keadaannya. Ia kini berdiri seorang diri di hadapan mayat Puranta. Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Sambil menundukkan kepalanya ia mulai berpikir. "Mungkin aku dapat berhadapan dengan Ki Demang seorang dengan seorang. Tetapi apakah alasan yang dapat aku kemukakan kepada rakyat Kepandak? Kepada Ki Jagabaya yang dungu itu. Aku dapat membunuh kerbau yang bodoh itu. Tetapi ia tidak berdiri sendiri. Bersama-sama bebahu yang lain mereka akan menangkap aku, atau membunuhku seperti rampokan macan di alun-alun Mataram. Ki Reksatani kini berdiri dengan tegangnya. Sejenak ia menjadi kebingungan. "Persetan" geramnya kemudian "sekarang aku harus berbuat sesuatu atas mayat ini supaya besok tidak menumbuhkan keonaran di padukuhan ini" Ki Reksatani tidak mau membiarkan rahasianya diketahui oleh seorangpun. Karena itu, maka iapun segera mencari cangkul di dapur rumah itu. Dengan diam-diam. ia menggali lubang yang dalam untuk mengubur mayat Puranta di halaman rumah itu juga tanpa upacara apapun juga bersama dengan kerisnya sama sekali. "Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihatnya. Hanya orang yang membunuhnya sajalah yang tahu bahwa disini telah terjadi raja pati. Dalam waktu yang singkat aku akan tahu siapakah yang telah membunuh anak ini. Sebentar kemudian, maka Ki Reksatani telah selesai mengubur mayat Puranta di sudut halaman itu. Dengan nafas terengah-engah maka disimpannya cangkulnya. Tetapi ia tidak segera kembali ke rumahnya. Ia sendiri menjadi bingung menanggapi peristiwa yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa diduga-duganya sama sekali itu. "Besok aku akan tahu. Kalau yang membunuh Puranta itu kakang Demang sendiri, akupun akan segera mendapat penjelasan. Kakang Demang pasti akan memanggil aku dan minta pertanggungan jawab bahwa hal ini telah terjadi. Tetapi kalau yang membunuh orang lain, aku akan berusaha untuk menemukannya diantara orang-orang yang berkepentingan dengan anak ini atau Sindangsari" Dalam pada itu, maka Nyai Reksatani dan Sindangsari telah menunggu dengan gelisah karena Ki Reksatani tidak juga segera pulang. Berbagai angan-angan telah hilir mudik di kepala mereka. Apalagi Nyai Reksatani. Bahkan kemudian timbullah niatnya untuk menyusul suaminya. "Kau tinggal disini saja mBok-ayu. Aku akan mengajak dua orang pembantu untuk mengantarku" "Tidak. Aku takut. Aku ikut kemana kau pergi" "Jangan. Persoalannya nanti akan menjadi berlarut-larut karenanya" "Tidak. Aku tidak mau" Nyai Reksatani menjadi bingung dan ragu-ragu. Kadangkadang ia berusaha untuk menenangkan saja hatinya sambil menunggu. Tetapi kadang-kadang dadanya bergejolak terlampau cepat. Namun sebelum Nyai Reksatani mengambil keputusan, mereka terkejut mendengar pintu pringgitan bergerit. Serentak mereka berpaling, dan merekapun melihat Ki Reksatani melangkah masuk. "Bagaimana kakang?" dengan serta-merta Nyai Reksatani bertanya. Ki Reksatani tersenyum "Bukan apa-apa" jawabnya "memang mungkin kau benar Perampok yang belum mengenal bahwa rumah itu adalah rumah Ki Reksatani. Namun agaknya mereka tidak menemukan sesuatu di rumah itu. Semua barang-barang masih utuh. Dan sudah barang tentu mereka tidak akan merasa perlu membawa alat-alat tenun yang besar itu. Nyai Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun berbagai macam pertanyaan berdesakan di dadanya, namun ia terpaksa menyimpannya. Demikian juga agaknya Sindangsari. Ia tidak berani bertanya apakah yang sudah terjadi dengan Puranta. Dan iapun tidak berani bertanya, apakah Puranta itu selamat atau mengalami apapun juga. "Jangan hiraukan lagi" berkata Ki Reksatani "tetapi aku menyesal, bahwa hal itu pasti sudah mengganggu ketenangan mBok-ayu disini" Sindangsari sama sekali tidak dapat mengucapkan jawaban sepatahpun juga. "Sudahlah. Bawalah mBok-ayu tidur" berkata Ki Reksatani kepada isterinya "besok sajalah belajar menenun" Sindangsari hanya dapat menganggukkan kepalanya saja, sementara Ki Reksatani langsung pergi ke ruang dalam. Tetapi ia tidak berhenti di sana. Ia masih membuka pintu belakang dan pergi ke pakiwan untuk membersihkan dirinya. Nyai Reksatani segera menyusulnya setelah menyelarak pintu. Ia melihat pakaian Ki Reksatani yang kusut, bahkan kotor sekali. Karena itulah maka ia t idak dapat menahan perasaannya lagi. Ia ingin segera tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya dengan Puranta dan orang yang tertawa di luar dengan nada yang mengerikan itu. "Kakang" desis Nyai Reksatani yang berdiri termangumangu diambang pintu belakang. Ia agak ragu-ragu untuk langsung turun ke dalamgelapnya malam. "He" sahut suaminya. "Dimana kau?" "Pakiwan" Nyai Reksatani yang tidak dapat bersabar lagi segera menyusulnya. Dengan nada yang dalam terbata-bata ia bertanya "Apa yang telah terjadi kakang" Ki Reksatani segera keluar dari pakiwan. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia menggeram "Ada setan yang mengganggu usaha kita" "Bagaimana dengan Puranta?" Ki Reksatani menjadi ragu-ragu sebentar. Namun kemudian ia menyahut "Jangan hiraukan lagi anak itu. Kita tidak dapat menggantungkan kepercayaan kita kepadanya" "Kenapa?" "Di dalam keadaan yang gawat ia tidak akan dapat menyelesaikan masalah ini. Ia adalah seorang laki-laki yang haus akan kehangatan perempuan. Itu saja. Di dalam masalah yang lebih jauh dari masalah perempuan, ia memang tidak berarti apa-apa" "Tetapi bagaimana dengan anak itu sekarang? Apakah ia berhasil menangkap orang yang telah mengganggu usahanya" "Aku tidak dapat mengharap apa-apa lagi daripadanya. Katakanlah bahwa usaha kita dengan cara ini sudah gagal. Gagal sama sekali. Kalau ada satu orang saja yang mengetahui, maka semuanya tidak akan berarti lagi" "Apakah ada orang yang mengetahui?" "Ada. Orang yang mengganggu itu dan Puranta. "Jadi, jadi bagaimana kalau mereka berkhianat dan mengadukan hal ini kepada kakang Demang? "Jangan takut. Aku dapat menganggap semua ceritera yang tidak dapat dibuktikan sebagai fitnah" "Tetapi, bagaimana kalau Sindangsari juga berceritera tentang Puranta?" "Tidak. Ia tidak akan berani berceritera tentang hal itu kepada kakang Demang. Ia akan tetap menutup mulutnya" Nyai Reksatani menjadi termangu-mangu sejenak. "Kita membuat rencana yang lain. Rencana yang sudah pernah aku katakan" "Jadi, maksud kakang, kita tidak dapat menempuh jalan lain?" Ki Reksatani menggelengkan kepalanya "Sayang, aku tidak melihat jalan itu" "Jangan kakang. Jangan" "Aku tidak dapat mengurungkan niat ini. Semua jalan sudah aku coba. Hanya jalan yang satu inilah yang belum aku lakukan" "Jangan. Aku tidak sependapat" "Kau jangan terikat oleh perasaanmu yang cengeng" mata Ki Reksatani menjadi merah "kesempatan itu kini telah terbuka" "Sekarang?" "Aku sedang mempertimbangkannya" "Tidak. Itu tidak mungkin. Ia pergi ke rumah ini bersama kita dan atas ijin Ki Demang. Kalau kau kehilangan akal dan melakukannya sekarang, maka kau akan gagal lagi. Kegagalan yang mutlak dan yang akan menjerat seluruh keluargamu" suara Nyai Reksatani menjadi gemetar "aku masih mengharap kau mencari jalan lain kakang. Jalan lain yang dapat kita tempuh dengan aman" Ki Reksatani berdiri saja mematung. Sekali-sekali dilontarkannya pandangan matanya ke arah bintang-bintang yang bertaburan di langit. Kemudian kembali mendarat kewajah isterinya yang kecemasan. "Apakah kau benar-benar kehilangan akal kakang?" Ki Reksatani menggelengkan kepalanya "Aku masih tetap sadar" "Karena itu pertimbangkan semua perbuatan ini baik-baik. Jangan sekedar terburu nafsu. Kakanglah yang agaknya telah hanyut dalam arus perasaan yang tidak terkendali. Bukan aku" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia ingin menemukan ketenangan di dalamhati. "Hilangkan niat itu sekarang. Kita masih mempunyai waktu" "Aku tidak tahu, apa saja yang akan dilakukan oleh orang yang telah mengganggu usaha Puranta itu. Aku juga tidak tahu, siapakah orang itu. Dengan demikian, banyak kemungkinan yang dapat terjadi atas kita" "Apakah kakang menduga orang itu kakang Demang sendiri?" "Mungkin. Tetapi mungkin juga bukan" Nyai Reksatani menjadi tegang. "Tetapi jangan cemas. Apapun yang akan terjadi, sudah aku siapkan. Aku akan menghadapinya, seandainya orang itu Ki Demang sekalipun" "Apa yang akan kakang lakukan" "Sudahlah. Serahkan semuanya kepadaku" "Tetapi jangan lakukan itu sekarang. Aku tidak mau. Aku tidak mau" Ki Reksatani tidak menyahut. "Jangan kakang. Berjanjilah Aku akan membantu segala usaha kakang. Tetapi t idak untuk melakukannya sekarang" Ki Reksatani masih termenung sejenak. Lalu katanya "Baiklah, Aku tidak akan membunuhnya sekarang. Tetapi aku tidak mempunyai jalan dan cara lain. Sindangsari harus dibunuh. Akan lebih baik apabila hal itu dilakukan tanpa diketahui oleh kakang Demang, dan kita dapat menghilangkan jejak. Tetapi kalau tidak sekali lagi, apaboleh buat" "Kau sudah melakukan pemberontakan kakang" "Aku akan mencari alasan yang paling baik. Aku akan menghubungi orang yang tidak puas. Mungkin ayah Manguri, mungkin orang-orang lain lagi. Orang-orang kaya dan orangorang yang mempunyai kekuatan yang cukup" "Mengerikan sekali" desis Nyai Reksatani sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. "Terpaksa" "Apakah hari depan kita dan anak-anak kita cukup bernilai untuk ditukar dengan korban-korban jiwa yang mungkin dapat jatuh?" Ki Reksatani tertawa pendek "Nyai, untuk kepentingan hari depan kita, apa salahnya kita mengorbankan jiwa orang-orang bodoh yang dapat kita peralat? Aku sudah sampai pada suatu kesimpulan, bahwa cara apapun akan aku tempuh untuk mendapatkan kedudukan yang aku kehendaki. Aku tidak akan mempedulikan lagi korban-korban yang bakal jatuh. Ita adalah akibat dari kebodohan mereka, dan justru juga ketamakan. Kalau mereka dapat aku bujuk dengan upah, dengan uang dan kedudukan, maka orang itu adalah orang yang tamak seperti kita. Kita sama sekali tidak akan merasa kehilangan apabila mereka akan binasa di dalam geseran keadaan itu. Akupun tidak akan menyesal apabila kelak aku akan berdiri pada kedudukanku beralaskan bangkai-bangkai orang-orang yang dungu, tamak dan bodoh itu" "O, mengerikan sekali. Mengerikan sekali" "Sayang Nyai. Aku tidak mempunyai jalan lain. Pada suatu saat hal itu akan terjadi" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu "sekarang kembalilah kepada perempuan yang ketakutan itu. Biarlah ia menikmati hidupnya yang masih tersisa. Aku tidak dapat memaafkannya lagi. Semakin lama kedudukannya akan menjadi semakin baik. Apalagi kalau ia sudah beranak" Nyai Reksatani tidak menyahut. Tetapi ia mengusap matanya yang basah. Sebenarnya ia tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan rencana suaminya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apapun juga. Ia hanya seorang perempuan, yang hanya dapat menempatkan diri di dalam segala lingkaran suaminya Sorga atau neraka, sekedar mengikut. Setelah matanya yang basah itu kering, Nyai Reksatanipun kemudian melangkah perlahan-lahan masuk ke ruang dalam, kemudian memasuki pringgitan. Dilihatnya Sindangsari masih duduk di tempatnya, meskipun seakan-akan ia sudah dibakar oleh kegelisahan. "O, Kau lama sekali meninggalkan aku ketakutan" katanya. "O, maaf mBok-ayu. Aku harus menyediakan minuman panas buat kakang Reksatani. Biasanya di malam hari, apabila ia datang darimanapun juga, kakang memerlukan minuman panas" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. "mBok-ayu, hari telah terlampau jauh malam. Marilah aku persilahkan mBok-ayu tidur saja" Sindangsari menjadi ragu-ragu. "Silahkanlah" desak Nyai Reksatani. "Aku takut" desis Sindangsari. "Kenapa takut. Di rumah ini ada kakang Reksatani, mBokayu tidak usah takut" Sindangsari tidak menjawab, tetapi ia masih tetap raguragu. "Marilah" Nyai Reksatani mendesaknya pula "silahkanlah" Akhirnya Sindangsari bangkit pula dan berjalan ke bilik yang ditunjukkan oleh Nyai Reksatani untuknya. Betapa ia diamuk oleh bimbang dan ragu-ragu, namun ia masuk pula ke dalam bilik itu. Ki Reksatani yang kemudian masuk pula ke ruang dalam menjenguk ke dalam bilik itu sambil berkata "Aku disini mBokayu. Kalau ada apa-apa, panggil aku" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan "Terima kasih" "Sekarang, silahkanlah tidur. Tidak akan ada apa-apa lagi di rumah ini" Sindangsari menganggukkan kepalanya sekali lagi. Tetapi hatinya terasa menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika kemudian Ki Reksatani suami isteri meninggalkannya seorang diri di dalam bilik yang hanya diterangi oleh lampu minyak kelapa dengan cahayanya yang kekuning-kuningan. Namun sejenak kemudian Sindangsari berhasil menenangkan hatinya sendiri. Agaknya rumah ini memang tidak akan mendapat gangguan apapun juga. Meskipun demikian, sebuah penyesalan telah melonjak lagi di dadanya. "Kalau saja ada Ki Demang" desisnya perlahan-lahan sekali. Dalam keadaan yang demikian terasa, betapa ia memerlukan Ki Demang di Kepandak. Bagaimanapun juga, laki-laki yang dingin itu dapat memberinya ketenangan. Meskipun Ki Demang di Kepandak tidak pernah berbuat apapun juga sebagai seorang suami, tetapi dalam keadaan yang berbahaya ia pasti tidak akan tetap tinggal diam. Ia pasti akan berbuat sesuatu untuk melindunginya, Ketika Sindangsari sudah berbaring, terlintas juga di dalam angan-angannya anak muda yang bernama Puranta. Kadangkadang terasa juga sentuhan-sentuhan pada perasaannya sebagai seorang perempuan muda. Tetapi kemudian terasa betapa bulu-bulunya meremang. Laki-laki itu membuatnya sangat gelisah. Ketika kemudian terbayang di angan-angannya wajah Pamot, Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Kenangan atas anak muda itulah yang sebenarnya telah membantu menahannya untuk tidak terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam lagi. Namun angan-angannya pecah ketika ia mendengar kokok ayam yang bersahut-sahutan. Agaknya semalam suntuk ia sama sekali tidak tertidur. Karena ketegangan dan kecemasannya, ia tidak merasa, bahwa sebenarnya malam telah berlangsung hampir seluruhnya. Dan kini agaknya fajar telah membayang pula di ujung Timur. Dalam pada itu, Ki Reksatani masih juga duduk di pinggir pembaringannya, selagi isterinya berbaring dengan gelisahnya. "Aku harus segera mulai" berkata Ki Reksatani "kalau t idak aku akan terlambat" "Kakang" bisik isterinya "kenapa tidak kita lepaskan saja angan-angan itu?" "Tidak mungkin lagi. Tidak mungkin lagi" "Kakang tidak mau memikirkan akibatnya" "Nyai" berkata Ki Reksatani "dengarlah. Aku masih akan menempuh jalan yang paling aman. Aku akan mengambil perempuan itu. Kalau kakang Demang tidak mengetahui bahwa aku yang mengambilnya, maka apa yang kau bayangkan itu tidak akan pernah terjadi. Kakang Demang pasti justru akan meminta bantuanku untuk mencari isterinya" "Tetapi laki-laki yang datang mengganggu usaha Puranta itu?" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. "Dan apakah Puranta sendiri untuk seterusnya akan diam? Agaknya ia benar-benar telah terjerat oleh Sindangsari. Sebagai seorang laki-laki ia akan berusaha untuk mendapatkannya. Kau upah atau tidak" "Ia tidak akan dapat mengganggu Sindangsari lagi. Atas permintaan kita atau tidak" "Kakang" tiba-tiba Nyai Reksatani bangkit. "Kenapa dengan anak itu" ia bertanya. "Puranta sudah mati" jawab Ki Reksatani. "Kenapa?" "Aku tidak tahu. Agaknya orang yang mengganggu usaha Puranta itulah yang sudah membunuhnya" "Siapa? Siapakah orang itu?" "Aku tidak tahu" Ki Reksatani menggelengkan kepalanya. "O, apakah itu berarti bencana bagi kita? Bagi keluarga kita?" "Aku tidak tahu pasti. Itulah sebabnya aku berpendirian, bahwa aku tidak akan dapat melangkah surut lagi. Aku harus berjalan terus, apapun yang akan aku hadapi. Aku sudah terlanjur mulai dengan rencana ini" "Tetapi, aku menjadi takut kakang" "Jangan takut" Ki Reksatani mencoba menenteramkan hati isterinya. Namun terasa kata-katanya mengandung keraguraguan. "Rencanamu membuat aku tidak akan dapat tidur sepanjang waktu" "Dengarlah Nyai" berkata Ki Reksatani "memang hatiku masih selalu melonjak-lonjak. Kadang-kadang timbullah keinginanku untuk mencekik saja Sindangsari itu. Tetapi sudah tentu kau tidak akan sependapat. Karena itu, sudah aku katakan. Aku masih akan menempuh jalan yang paling aman. Sementara aku berusaha menemukan orang yang telah membunuh Puranta itu" Nyai Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih tetap dicengkam oleh kegelisahan, sehingga iapun sama sekali tidak dapat memejamkan matanya sampai cahaya fajar membayang pada lubang-lubang dinding biliknya. Nyai Reksatani tidak dapat berbaring terus di dalam biliknya. Iapun kemudian bangkit untuk pergi ke dapur, selagi anak-anaknya masih tidur nyenyak ditunggui oleh pembantunya. Tetapi ia terkejut ketika ia melihat pintu belakang sudah terbuka, dan pembantunya sudah ada di dapur. "Siapakah yang membuka selarak pintu?" ia bertanya. "Aku Nyai" jawab pembantunya. "Sepagi ini?" "Nyai Demang membangunkan aku" "Dimana ia sekarang?" "Di pakiwan" Nyai Reksatanipun kemudian melangkah keluar. Dilihatnya langit telah menjadi semakin cerah. Ayam-ayam telah turun ke halaman dan burung-burung liar sudah mulai berkicau bersahut-sahutan menyambut cahaya matahari yang telah mewarnai langit. "Kau sudah bangun mBok-ayu" Nyai Reksatani bertanya. "Aku sama sekali tidak dapat tidur sekejappun" jawab Sindangsari dari dalampakiwan. "O, apakah kau masih ketakutan?" "Ya" "Di rumah ini mBok-ayu sebenarnya tidak usah takut. Di sini ada Ki Reksatani" "Tetapi ...." Sindangsari tidak melanjutkannya. "Tetapi apa?" Nyai Reksatani mendekati dinding pekiwan "apakah kau takut kalau anak itu menyusulmu kemari?" "Ya" Nyai Reksatani tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Ditinggalkannya Sindangsari yang masih ada di dalam pakiwan untuk membersihkan dirinya. Namun, ketika suara tertawa Nyai Reksatani itu terhenti, terasa dadanya sendiri menjadi sakit. Bahkan timbul pula pertanyaan dalam hatinya "Kenapa aku tertawa?" Nyai Reksatani mengusap dadanya dengan telapak tangannya. Tanpa sesadarnya ia mengeluh perlahan-lahan. Seharusnya ia tidak akan dapat tertawa lagi. Sama sekali tidak. Nyai Reksatani terkejut ketika tiba-tiba saja Sindangsari yang sudah selesai membersihkan dirinya berdiri di belakangnya. Sambil menggamit pundaknya ia berkata "Aku minta diantar pulang pagi ini" katanya. "He? Kenapa tergesa-gesa" bertanya Nyai Reksatani. "Aku takut. Aku takut sekali" "Bukankah hari sduah siang?" "Tetapi banyak sekali sebab yang membuat aku ketakutan di rumah ini" "Nantilah sebentar. Nanti aku antarkan" "Tidak. Jangan hanya kau sendiri. Aku minta kau antarkan berdua dengan Ki Reksatani" "Ah, aku tidak tahu apakah kakang Reksatani mempunyai waktu untuk mengantarkan mBok-ayu" "Aku minta. Aku minta dengan sangat. Aku tidak berani pulang sendiri" Nyai Reksatani tidak segera menjawab. Tetapi kebimbangan yang tajam membayang di wajahnya. "Cobalah. Katakan kepada Ki Reksatani. Apakah ia dapat mengantar aku sekarang" Nyai Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya ia berkata "Baiklah. Aku akan minta kepadanya. Tetapi bagaimana kalau kebetulan kakang Reksatani sedang sibuk" "Kalau Ki Reksatani sedang sibuk, biarlah ia berkuda sejenak ke Kademangan. Biarlah kakang Demang menjemputku" Nyai Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Aku akan bertanya kepadanya" Sementara Nyai Reksatani menemui suaminya, maka Sindangsaripun berpakaian di dalam biliknya. Ia sudah memutuskan untuk segera kembali ke Kademangan. Pagi ini juga. Ki Reksatani yang mendengar permintaan Sindangsari itupun menjadi berdebar-debar. Sekilas terbayang di dalam angan-angannya, bahwa semalam Ki Demanglah yang telah datang mengamati isterinya, dan kemudian membunuh Puranta, karena ia tahu, bahwa Purantalah yang telah membujuk-bujuk isterinya, sedang isterinya tidak bersedia melakukannya. "Kenapa harus aku?" ia bergumam. "Kalau kakang berkeberatan maka ia minta kakang ke Kademangan sejenak, untuk memanggil Ki Demang" "Itu sama saja" "Tidak. Kakang dapat berpacu diatas punggung kuda sejenak" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata "Biarlah aku yang mengantarkannya" "Aku ikut bersamamu kakang" "Itu akan membuang waktu. Tanpa kau aku akan dapat berjalan cepat, selagi aku pulang" "Tetapi aku ingin ikut" "Kau takut aku membunuhnya di jalan" Nyai Reksatani tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. "Sudah aku katakan. Aku tidak akan membunuhnya karena kau tidak sependapat, bahwa aku melakukannya sekarang, meskipun aku sudah siap menghadapi setiap kemungkinan. Apakah aku harus berbohong, membuat eeritera ceritera palsu, atau aku harus berkelahi" Isterinya tidak segera menyahut. "Bagaimana?" Namun isterinya menjawab "Aku ikut kakang" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Baiklah. Seharusnya kau menunggui anakmu. Setiap hari anakmu kau tinggal, dan kau percayakan saja kepada pembantupembantu" "Tetapi bukankah kepergianku juga dalam rangka rencana kakang? Bahkan aku harus menghina diri sendiri dengan berpura-pura melakukan perbuatan sedeng dengan Puranta?" "Sudahlah, sudahlah" potong Ki Reksatani "cepatlah berkemas" Nyai Reksatanipun kemudian mengenakan pakaiannya setelah mandi. Ia tidak sampai hati membiarkan Ki Reksatani yang mendendam itu mengantarkan Sindangsari seorang diri. Setelah kedua perempuan itu selesai, maka Nyai Reksatanipun mengajak Sindangsari untuk makan lebih dahulu sebelum mereka berangkat. Tetapi leher Sindangsari itu serasa tersumbat, sehingga hampir tidak mampu untuk menelan butiran-butiran nasi hangat. Namun bukan saja Sindangsari yang menjadi gelisah. Ki Reksatanipun telah dicengkam oleh kegelisahan pula. Ia selalu dikejar-kejar oleh pertanyaan "Apakah yang akan dikatakannya, kalau semalam, orang yang membunuh Puranta itu Ki Demang sendiri?" Karena Ki Reksatani tidak mampu mengatasi kegelisahannya, maka ketika mereka siap untuk berangkat, diselipkannya keris pusakanya di lambungnya, sambil bergumam "Aku tidak tahu, apakah aku akan menjumpai bahaya di sepanjang jalan" Ketiganyapun kemudian berangkat ke Kademangan, ketika matahari telah bertengger diatas punggung bukit. Cahayanya yang cerah memancar keseluruh permukaan bumi. Daun-daun yang hijau kekuning-kuningan tampak menjadi semakin kuning. Sedang parit-parit yang kering seolah-olah menjadi bertambah kehausan. "Semakin siang, udara akan menjadi semakin panas" desis Ki Reksatani "rasa-rasanya kita akan berjalan diatas perapian. Kalau dalam beberapa pekan mendatang hujan tidak turun, maka tanaman di sawah akan menjerit kekurangan air" Isterinya dan Sindangsari tidak menyahut. Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, meskipun tanpa mereka sadari, merekapun menebarkan pandangan mata mereka menyapu tanah persawahan yang terbentang di hadapan mereka. Ketika Ki Reksatani yang berjalan di belakang kedua perempuan itu, agak terpisah jauh, maka Nyai Reksatanipun kemudian berbisik di telinga Sindangsari "mBok-ayu, apakah mBok-ayu nanti akan mengatakan semuanya dengan berterusterang kepada Ki Demang?" Pertanyaan itu telah membingungkan hati Nyai Demang di Kepandak, sehingga untuk sesaat ia tidak mampu untuk menjawab. "mBok-ayu" berkata Nyai Reksatani "sekali-sekali kita memang harus berbohong. Tidak semua kebohongan itu salah. Suatu ketika akupun berbohong kepada anak-anakku. Kadang-kadang aku tidak berkata terus terang, bahwa aku akan bepergian. Kadang-kadang aku berkata, bahwa aku akan berobat kedukun, agar anak-anak tidak ingin ikut serta" Nyai Reksatani berhenti sejenak, lalu "Akupun berbohong kepada Ki Reksatani, bahwa aku mengenal seorang laki-laki yang bernama Puranta. Kebohongan kepada suami, kadang-kadang dapat menimbulkan ketenteraman rumah tangga. Kau mengerti? Kalau suami kita tidak tahu bahwa sekali-sekali kita memilih jalan simpang, maka hal itu tidak akan menumbuhkan persoalan. Tetapi kalau kita berterus terang, dengan jujur, meskipun kita bersimpuh di bawah kakinya, belum tentu kalau rumah tangga kita dapat terpelihara baik" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi bulu-bulu tengkuknya serasa meremang. Terbayang sejenak, bagaimana Ki Demang menjadi marah, dan hampir saja membunuhnya ketika ia berterus terang, apa yang sudah terjadiatasnya sebelum mereka kawin. "Dengan demikian persoalan itu akan selesai. Ia tidak lagi dibebani oleh siksaan batin yang tidak ada henti-hentinya. Sepanjang saat, kecuali apabila ia sedang tertidur" "Kalau aku mengatakan persoalan ini dengan berterus terang, tetapi kakang Demang menjadi salah paham, apakah ia akan dapat memaafkan aku untuk kedua kalinya?" pertanyaan itu terlontar di dalam hati Sindangsari. Dalam pada ituNyai Reksatani mendesaknya "Apakah kau mengerti mBok-ayu? Kalau kita tidak berbuat jujur kita sebenarnya bermaksud baik" Sindangsari masih berdiam diri. Tetapi dadanya bergolak semakin cepat. Ia tidak mengerti sepenuhnya maksud Nyai Reksatani, meskipun terasa, betapa liciknya cara itu. "Tetapi terserahlah kepadamu" berkata Nyai Reksatani kemudian "Aku hanya menasehatkan kepadamu, berdasarkan pengalamanku" Sindangsari masih tetap berdiam diri. Sementara kaki-kaki mereka melangkah semakin cepat. Ki Reksatani yang berjalan di belakang kedua perempuan itu tidak menghiraukan apa yang sedang mereka percakapkan. Kegelisahan yang semakin memuncak telah mencekam dadanya. "Apakah benar yang telah membunuh Puranta itu kakang Demang sendiri? Di padukuhan ini sukar agaknya untuk menemukan orang yang dapat mengalahkan Puranta dengan mudah. Apalagi Puranta mempergunakan keris. Dan bahkan agaknya kerisnya sendiri itulah yang sudah tergores di tubuhnya" ia selalu menimbang-nimbang di dalam hatinya. Tetapi akhirnya ia menggeram "Persetan. Aku tidak peduli. Dan aku bukan pengecut" Ki Reksatani mencoba menggeretakkan giginya untuk mengatasi kecemasan di dadanya. Namun masih juga terasa debar jantungnya yang menggelora. Semakin dekat mereka dengan rumah Kademangan, hati Ki Reksatani menjadi semakin berdentangan. Bahkan tanpa sesadarnya tangannya telah menyentuh hulu kerisnya. Tetapi ternyata tangan itu gemetar. Apalagi ketika mereka sudah berada diambang regol halaman. Ketika isterinya dan Sindangsari sudah melangkah memasuki halaman. Sejenak ia termangu-mangu. Dilihatnya dua orang peronda masih ada di dalam gardu. Dan yang lebih mendebarkan dadanya, di pendapa dilihatnya Ki Jagabaya sudah duduk menghadapi semangkuk air panas. Ketika Ki Jagabaya melihat kedatangan Nyai Demang dan Ki Reksatani berdua, iapun segera berdiri. Sambil mengerutkan keningnya, orang yang kekar itu melangkah menyongsongnya. "He, sepagi ini kalian sudah datang" ia menyapa ramah. Dalam pada itu Nyai Reksatani berbisik "Ingat mBokayu. Sebaiknya mBok-ayu tidak mengatakan apa-apa. mBok-ayu mengatakan ingin pulang tanpa sebab. Itu saja. Kalau mBokayu mengatakan sesuatu, maka kakang Demang akan bertanya lebih banyak lagi, sehingga pada suatu saat, mBokayu terpaksa mengatakan, bahwa mBok-ayu telah berjanji untuk menemui seorang laki-laki bernama Puranta" "He" Sindangsari terkejut. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu. Nyai Reksatani sudah mendahului "Karena itu jangan mengatakan apa-apa" Mereka tidak dapat berbincang lebih banyak lagi, karena mereka telah berdiri di hadapan Ki Jagabaya, yang sekali lagi bertanya "Pagi pagi kalian sudah datang?" Nyai Reksatani tersenyum. Sejenak ia berpaling kepada suaminya yang tertawa. Tetapi sebelum suaminya menjawab, Nyai Reksatani berkata lirih "Ah seperti kau tidak tahu saja Ki Jagabaya. Bukankah mBok-ayu Demang ini masih termasuk pengantin baru?" Ki Jagabaya tertawa berkepanjangan seperti juga Ki Reksatani, sedang Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Agaknya suara tertawa mereka telah terdengar oleh Ki Demang, sehingga iapun kemudian menjengukkan kepalanya. Ketika dilihatnya isterinya diantar oleh Ki Reksatani suami isteri, maka iapun segera mendapatkannya. "Aku kira kau akan pulang siang nanti. Aku sudah berpikir apakah aku akan menjemputmu pagi ini. Tetapi akhirnya aku memutuskan, bahwa aku akan pergi agak siang nanti, menjelang matahari sampai ke puncak" "mBok-ayu tidak kerasan berada di rumah kami. Semalaman ia tidak dapat tidur" sahut Nyai Reksatani. "Kenapa?" "Kenapa kakang Demang masih bertanya? Di rumahku tidak ada kakang Demang. Itulah sebabnya begitu fajar menyingsing, mBok-ayu sudah mulai merengek, minta diantar pulang" "Ah" Ki Demang hanya dapat tersenyum.. "Sudah aku katakan kepada Ki Jagabaya, mBokayu masih termasuk penganten baru" "Ada-ada saja kau Nyai" desis Ki Demang "mari, marilah masuk" "Ki Reksatani hanya tertawa-tawa saja. Tetapi sebenarnyalah bahwa dadanya telah terguncang-guncang. Ia masih juga dicemaskan oleh dugaannya, bahwa ada kemungkinan orang yang membunuh Puranta itu adalah Ki Demang sendiri. Tetapi menilik sikap dan kata-kata Ki Demang, agaknya dugaan itu tidak benar. Agaknya Ki Demang sama sekali tidak mengetahui, apa yang sudah terjadi di rumah adiknya. Ketika mereka kemudian berbicara, bersama Ki Jagabaya, maka setiap kali Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Semakin lama iapun menjadi semakin yakin, bahwa bukan Ki Demanglah yang telah melakukannya. Dengan demikian, maka ia menjadi malu sendiri, bahwa ia telah membawa kerisnya, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan bahaya yang mengancam jiwanya. "Agaknya memang demikianlah seorang isteri yang sedang mengandung" berkata Nyai Reksatani kemudian "semalam saja ia tidak bersama suaminya, rasa-rasanya sudah seperti bertahun-tahun" Ki Demang hanya dapat tersenyum saja. Sekali-sekali memang dicobanya untuk memandang wajah isterinya yang tunduk. Namun kemudian dilemparkannya tatapan matanya jauh-jauh. "Tetapi kami tidak dapat berlama-lama disini kakang" berkata Ki Reksatani "kami akan segera kembali. Sebenarnya aku mempunyai pekerjaan di rumah, mengawasi pembuatan bendungan itu. Tetapi mBok-ayu tidak dapat menunda sesaatpun, meskipun kakang Demang sudah berjanji untuk menjemputnya. "He-he, kenapa tergesa-gesa. Apakah kalian sudah makan?" bertanya Ki Demang. "Terima kasih. Setiap kali aku datang kemari, aku pasti dijamu makan" jawab Ki Reksatani. "Aku tahu, kau senang sekali makan" Ki Reksatani tertawa dan Ki Jagabayapun turut tertawa juga. "Tetapi, sebaiknya aku t inggal disini sebentar kakang" potong Nyai Reksatani. Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Dipandanginya isterinya sejenak. Namun ketika terpandang olehnya sorot matanya ia menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah "Baiklah. Kalau kau akan t inggal disini, tinggallah" "Aku masih lelah. Kalau kakang ingin pergi ke bendungan pergilah. Di rumah akupun hanya seorang diri" "Bagaimana dengan anak-anak?" bertanya Ki Reksatani. "Pembantu itu sudah tahu benar, bagaimana ia harus melayani anak-anak kita" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah kalau kakang Demang berdua t idak berkeberatan" "Tentu tidak" sahut Ki Demang "biarlah isterimu tinggal disini. Nanti sore kau dapat menjemputnya" "Nanti siang aku akan datang kakang. Kasihan anak-anak yang terlalu lama menunggu ibunya" Ki Reksatanipun kemudian minta diri dan meninggalkan rumah Kademangan. Di sepanjang jalan ia mencoba untuk mencari kemungkinan, siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu. Ternyata Ki Demang sama sekali tidak tahu menahu. "Pasti bukan orang kebanyakan" desisnya. Memang ada juga pikiran di kepalanya, bahwa kemungkinan yang lain adalah Manguri atau ayahnya. "Tetapi Manguri seharusnya mendukung rencana ini. Rencana untuk memisahkan Sindangsari dari Ki Demang di Kepandak, karena dengan demikian kemungkinannya untuk mendapatkan perempuan itu menjadi semakin besar" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Teka-teki itu adalah teka-teki yang cukup rumit. Namun akhirnya ia jatuh ke dalam suatu kesimpulan "Aku harus mengambil jalan lain. Jalan yang pasti. Bukan sekedar mencoba-coba seperti yang dilakukan selama ini" "Aku akan mengambilnya. Sebentar lagi kakang Demang akan melakukan upacara Mitoni kalau kandungan genap tujuh bulan. Agaknya peralatan itu akan dilakukannya dalam waktu yang dekat. Dalam saat itu akan mendapat kesempatan" berkata Ki Reksatani di dalam hatinya "tetapi sebelum itu aku harus sudah siap. Aku harus dapat menyusun bebahu tandingan buat Kademangan ini. Apabila keadaan memaksa, maka aku akan siap menghadapinya. Sebagian terbesar dari rakyat Kepandak sendiri pasti tidak akan dapat bersikap. Aku dapat memberikan alasan apa saja untuk mengelabuhi mereka. Tetapi akan lebih baik. kalau kakang Demang tidak tahu, bahwa akulah yang telah mengambil isterinya. Dengan demikian tidak akan terjadi keributan apa-apa, sementara niatku untuk menghapus keturunan Kakang Demang dapat terlaksana" Dalam pada itu sekilas teringat pula olehnya keinginan Manguri untuk mendapatkan Sindangsari. Tetapi bagi Ki Reksatani melenyapkan Sindangsari adalah tujuan yang paling utama baginya, Kepentingannya pasti berada diatas kepentingan orang lain. Kecuali apabila ada pertimbanganpertimbangan yang saling menguntungkan. "Bagaimana kalau Manguri itu minta lewat ibunya, supaya Sindangsari dihidupi, tetapi disembunyikan, untuk selanjutnya diperisterikannya?" pertanyaan itu memang tumbuh juga di hatinya. "Tetapi itu seperti menyimpan bara di dalam sekam. Setiap kali asapnya pasti akan tampak juga. Kecuali kalau pada suatu saat kakang Demang sudah tidak ada" Ki Reksatani kemudian menghentakkan kakinya. "Yang harus aku lakukan adalah menyingkirkan Sindangsari dan anaknya dari Kademangan. Kakang Demang harus kehilangan keturunannya" Ki Reksatanipun kemudian mempercepat langkahnya. Ia sadar bahwa ia harus mulai sejak hari itu. Ia tidak boleh menunda-nunda waktu lagi. Setiap saat kini akan sangat berharga baginya. Apalagi ia masih harus berhadapan dengan orang yang tidak diketahuinya. Orang yang telah membunuh Puranta. Bagaimanapun juga, orang itu harus dipertimbangkannya. Setiap saat orang itu dapat dengan tibatiba saja muncul dengan pukulan maut atasnya. "Tetapi kalau aku berhasil menyusun kekuatan, aku t idak akan gentar menghadapi siapapun juga" katanya di dalam hati. Dan bahkan tiba-tiba saja tumbuh suatu pikiran "Kenapa aku tidak terang-terangan saja mengusir kalang Demang?" "Ah" pikiran itu dibantahnya sendiri "itu terlampau kasar. Bukan saja rakyat Kepandak yang akan menilainya, tetapi juga para pemimpin dari Mataram. Kalau aku dapat menyiapkan alasan yang sebaik-baiknya barulah aku dapat melakukannya" Ki Reksatani menjadi tegang. Ia telah dihadapkan pada suatu sikap yang memerlukan banyak sekali pertimbangan dan perhitungan. Tetapi niatnya sudah bulat, menyingkirkan Sindangsari untuk memotong garis keturunan Ki Demang di Kepandak. Apapun akibatnya, meskipun ia merasa perlu membuat perhitungan-perhitungan untuk menghadapinya. Sementara itu, di Kademangan Kepandak, Nyai Reksatani selalu berusaha untuk menuntun setiap pembicaraan sehingga sama sekali t idak menyinggung apa yang sudah terjadi di rumahnya, meskipun hanya sebagian kecil. Sindangsari seolah-olah memang ingin pulang karena ia tidak dapat pergi terlampau lama meninggalkan rumahnya. Ki Demang sama sekali memang tidak menaruh kecurigaan apapun. Bahkan kemudian seperti biasanya, ia pergi memutari beberapa padukuhan bersama Ki Jagabaya. Dalam kesempatan itulah Nyai Reksatani dapat memberikan banyak sekali petunjuk-petunjuk, bagaimana ia harus membohongi suaminya. Sejak hari itu, maka Ki Reksatani sudah mulai dengan usahanya mencari pengikut. Banyak sekali masalah yang dipergunakannya untuk mendapatkan dukungan. Terutama kelemahan Ki Demang sudah enam kali kawin itu, terletak pada kesewenang-wenangannya mendapatkan isteri. Selain itu Ki Reksatani dapat menceritakan apa saja yang dapat menumbuhkan ketidak senangan dan ketidak puasan rakyat kepada Ki Demang di Kepandak. Tetapi lebih daripada itu, ia masih selalu berusaha menemukan orang yang telah membunuh Puranta dan mencari kesempatan menyingkirkan Sindangsari. Tetapi pada suatu saat, Ki Reksatani tidak lagi dapat menghindarkan dirinya dari sebuah pembicaraan yang langsung menyangkut Sindangsari. Selama ini ternyata bukan saja Ki Reksatani yang selalu dirisaukan oleh Sindangsari. Setiap kali Manguripun selalu memikirkannya. Ketika pada suatu saat Lamat berkata kepadanya bahwa Puranta gagal melakukan peranannya untuk meruntuhkan keteguhan hati Sindangsari. Manguri selalu berusaha untuk menemukan jalan, bagaimana ia mendapatkan perempuan itu. "Kenapa kau bunuh anak itu?" bertanya Manguri. "Aku sama sekali tidak sengaja" jawab Lamat. "Kalau orang yang menyuruhnya mengetahui, maka kau akan diancamnya" "Tidak seorangpun yang mengetahuinya kecuali kau" "Bagaimana kalau aku mengatakan hal itu kepadanya. Kepada orang yang menyuruh Puranta datang ke rumah itu?" Lamat memandang Manguri dengan wajah yang aneh. Tetapi sejenak kemudian wajah itu sudah menjadi tenang kembali. "Bagaimana?" desak Manguri. "Aku mungkin akan dibunuhnya juga" "Tentu. Jadi bagaimana?" "Aku tidak berkeberatan" "Gila kau. Kau memang gila. Kau adalah seorang raksasa tetapi raksasa yang pengecut" Lamat t idak menyahut. "Apakah kau tidak akan melawan?" Lamat tidak menyahut. Ia tidak mengerti apa yang harus dikatakannya, karena ia tidak mengerti maksud Manguri yang sebenarnya. Tetapi Manguri tidak bertanya lagi kepadanya. Bahkan dia sekedar berkata kepada diri sendiri "Aku harus berkata kepadanya, bahwa akulah yang akan memiliki Sindangsari. Bukan orang lain. Dan bukan untuk dimusnahkan" Lamat masih tetap berdiam diri. Ia tidak merasa wajib untuk menjawabnya. Demikianlah Manguri telah datang lagi kepada ibunya. Tetapi ia tidak mengatakan apa yang telah terjadi dengan lakilaki yang telah mencoba untuk memisahkan Sindangsari dengan Ki Demang di Kepandak. Meskipun usaha itu nampaknya paling aman dilakukan, tetapi perasaan cemburunya yang meluap-luap telah menolaknya, sehingga akibatnya justru lebih jauh dari yang diharapkannya, Puranta telah mati. Tetapi kematian itu tetap dirahasiakannya. "Ibu" berkata Manguri kepada ibunya "dalam kesempatan serupa ini, selagi ayah pergi untuk beberapa hari, biasanya laki-laki itu datang. Kalau ia t idak datang, maka ibulah yang memanggilnya" "Manguri, kau selalu menyakiti hati ibu" "Kali ini aku sama sekali tidak bermaksud begitu ibu. Tetapi sebagai seorang anak, aku merengek di hadapan ibu" "Apalagi Manguri. Usaha itu sudah dilakukannya" "Tetapi ibu dapat menanyakannya kepadanya, apakah usahanya yang terakhir ini dapat berhasil" "Aku yakin, bahwa ia akan berhasil Manguri" "Bertanyalah kepadanya ibu,. Kalau berhasil, bersukurlah kita semua. Kalau tidak, apakah ibu tidak berkeberatan kalau aku berbicara kepadanya" "Manguri, itu sama sekali tidak bijaksana" "Aku tidak menghiraukan siapa laki-laki itu, dari apa. hubungannya dengan ibu. Tetapi laki-laki itu dapat "ku bawa berbicara tentang Sindangsari. Itulah yang penting. Ibu jangan mempergunakannya sebagai alasan. Marilah kita jujur di dalam kegelapan ini. Kalau ibu ingin melanjutkan, lanjutkanlah. Dan biarlah ayah juga memilih jalannya sendiri. Tetapi sebaiknya ibu juga memberi kesempatan aku mencari jalanku" Ibunya tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi tertunduk dalam. "Ibu, beri aku kesempatan untuk mempersoalkannya" Ibunya tidak segera menjawab. "Aku mengharap bahwa dengan demikian persoalan ini akan segera selesai" Ibunya masih belum menjawab. Kepahitan yang dalam telah menerkam hatinya. Tetapi semuanya itu memang sudah terjadi. Dan Manguri kini bukan lagi anak-anak yang setiap kali dapat dikelabuhinya. Manguri sudah mengetahui betapa kadang-kadang kesepian mencengkam, sehingga ia tidak lagi dapat mengatakan kepada anak itu seperti pertama tama ia melakukannya. "Laki laki itu seorang yang baik Manguri. Aku memerlukannya di saat-saat tertentu, meskipun ayahmu tidak menghendakinya. Karena itu, jangan kau katakan kepada ayah, supaya ayah tidak menjadi sangat marah" "Bagiku. Aku tidak akan mempersoalkan masalah-masalah lain yang tidak aku mengerti. Aku tidak akan meributkan lagi hubungannya dengan ibu yang sudah terjadi bertahun-tahun. Dan bukankah selama ini akupun tidak pernah mempersoalkannya dan apalagi mengatakannya kepada ayah? Bahkan mungkin ayahpun sudah mengetahuinya. Tetapi karena kedudukan ayahpun lemah di dalam soal keluarga ini, maka ia t idak akan mengambil suatu sikap apapun" "Jangan berkata begitu Manguri. Kau membuat hatiku pedih. Sudah berapa kali aku katakan kepadamu, bahwa aku akan menghentikan permainan ini. Tetapi ketika aku hampir berhasil, datanglah persoalanmu dengan perempuan itu sehingga aku masih harus memperpanjang hubungan itu" Manguri yang saat itu masih terlampau muda memang tidak mengatakannya kepada ayahnya karena ibunya memberi uang. Tetapi semakin dewasa anak itu, maka hati ibunyapun menjadi semakin sakit dibuatnya. Tetapi iapun tidak pernah berhasil berusaha untuk memutuskan hubungan itu. Ada sesuatu yang serasa telah mengikatnya erat-erat. Dan kini tuntutan Manguri memang terasa terlampau berat. Bertemu langsung dengan orang itu. Bagaimanapun juga ibu Manguri merasa cemas, bahwa keduanya tidak akan dapat menyesuaikan diri. Ada kepentingan yang sama dari keduanya atas dirinya. Keduanya merasa berhak menentukan suatu sikap atasnya. Manguri sebagai anaknya, dan laki-laki itu yang selama ini selalu mengisi kekosongan hatinya di saat-saat suaminya pergi untuk waktu yang lama. "Percayalah ibu" berkata Manguri kemudian "Aku sudah cukup dewasa menghadapi persoalan ini" "Manguri" berkata ibunya kemudian "permintaanmu itu memang terlampau berat. Tetapi baiklah aku akan mengatakan kepadanya. Mungkin ia mempunyai cara yang lain yang lebih baik dari pembicaraan itu. Apalagi kalau usahanya memisahkan perempuan itu dari Ki Demang sudah berhasil, maka jalan pasti akan terbuka bagimu" "Terima kasih" berkata Manguri "Aku akan sangat berterima kasih kalau usaha itu berhasil. Tetapi kalau tidak, sudah aku katakan, aku ingin bertemu langsung dan membicarakannya" Ibunya kembali terdiam sambil menundukkan kepalanya. Manguripun kemudian meninggalkan ibunya yang muram, dengan rencananya sendiri di kepalanya. Dalam pada itu, meskipun Ki Reksatani sudah mempersiapkan beberapa orang pengikut yang apabila diperlukan sudah siap membantunya, dengan memberi harapan dan janji-janji kepada mereka, namun Ki Reksatani sendiri masih mempunyai harapan untuk mengambil Sindangsari dengan diam-diam, tanpa menumbuhkan keributan. Setelah ia yakin bahwa pembunuh Puranta itu bukan Ki Demang, maka jalan yang paling aman itu masih akan dicobanya. "Saat yang paling tepat adalah apabila kakang Demang, membuat peralatan di bulan ke tujuh dari kandungan perempuan itu" berkata Ki Reksatani di dalam hatinya "ia dapat menyiapkan beberapa orang yang harus membawa Sindangsari pergi. Ia sendiri dan isterinya akan mencari jalan untuk membawa Sindangsari menjauhi suaminya dan orangorang yang sedang sibuk dalam peralatan itu. Ki Reksatani mengangguk anggukkan kepalanya. Sudah terbayang di kepalanya, bagaimana isterinya membawa perempuan itu ke halaman belakang yang sepi. Sebelum Sindangsari sadar, maka ia harus dipukul sampai pingsan. Sementara orang-orang yang sudah disiapkan, harus membawanya pergi dan melarikannya diatas punggung kuda yang harus siap agak jauh dari rumah itu. "Tentu tidak seorangpun yang akan segera mengetahui bahwa Nyai Demang telah hilang, karena kesibukan di dalam rumah kakang Demang desis Ki Reksatani itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia mengumpat tidak habis habisnya, karena ia masih belum berhasil menemukan pembunuh Puranta. "Persetan dengan pembunuh yang licik itu" geram Ki Reksatani "Ki Demang akan menyadari keadaan isterinya setelah perempuan itu tidak bernyawa lagi dan dikubur di tempat yang tidak akan mungkin ditemukan orang" Dengan demikian semakin dekat bulan ke tujuh dari kandungan Sindangsari, maka Ki Reksatani menjadi semakin sibuk. Ia harus mempersiapkan rencananya dengan cermat. Bahkan iapun harus memperhitungkan apabila rencananya itu gagal. Ia harus siap dengan kekuatan yang akan dapat setidak-tidaknya menyamai kekuatan bebahu di Kepandak. Sementara itu, Ki Reksatani sendiri memang sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi Ki Demang di Kepandak. Keduanya adalah saudara sekandung dan saudara seperguruan. Ki Demang yang lebih tua mempunyai pengalaman yang lebih banyak, tetapi Ki Reksatani yang lebih muda memiliki kekuatan badani yang lebih besar dari kakaknya. Umurnya yang masih lebih mudapun mempengaruhi kemauan mereka dalam mendalami ilmu masing-masing. Sehingga dengan demikian Ki Reksatani merasa bahwa apabila ia dihadapkan pada suatu keharusan untuk bertempur melawan Ki Demang, ia masih mempunyai harapan untuk dapat keluar dari pertarungan itu hidup-hidup. Namun, sebelum semuanya itu terjadi, sebelum genap tujuh bulan kandungan Sindangsari, Kepandak telah digetarkan oleh berita yang datang dari Mataram bahwa pasukan Mataram yang pergi ke ujung Barat kota yang telah dijamah oleh orang-orang asing itu, terpaksa ditarik kembali. Sinuhun Sultan Agung memutuskan, bahwa kali ini niatnya untuk mengusir orang bule itu belum dapat dilanjutkannya, karena berbagai macam sebab. Salah satu dari alasan penundaan serangan itu adalah karena penghianatan Lumbung-lumbung padi Persediaan makan bagi para prajurit Mataram telah terbakar. Agaknya ada beberapa orang yang sengaja menjual rahasia persiapan Sinuhun Sultan Agung itu kepada Belanda. Dengan demikian maka pasukan Mataram yang terdiri dari segenap kekuatan rakyat yang tinggal di daerah pedalaman dan daerah pantai, kali ini telah gagal lagi. Tetapi kegagalan ini sama sekali tidak memadamkan api kebebasan yang menyala di setiap dada rakyat Mataram. Agaknya Sinuhun Sultan Agung telah membuat perhitungan yang sebaik-baiknya. Kalau serangan atas kota Betawi itu dilanjutkan, maka korban akan berjatuhan. Persediaan makan dan perlengkapan tidak memadai, dan penyakit yang sudah mulai berjangkit dikalangan prajurit Mataram. Terutama disebabkan karena kekurangan makan. Karena itu, maka untuk menyelamatkan jiwa para prajuritnya, sedang hasil yang dicapai masih belum dapat dipastikan, Sinuhun Sultan Agung mengambil kebijaksanaan, bahwa pasukannya ditarik dari medan. Berita penarikan pasukan Mataram itu telah menumbuhkan berbagai tanggapan. Bukan saja rakyat Kepandak, tetapi rakyat Mataram seluruhnya, terutama mereka yang melepaskan keluarganya pergi beberapa bulan yang lalu. "Penyakit yang ganas telah menyerang prajurit Mataram yang kekurangan makan karena penghianatan itu" berkata salah seorang yang mendengar dari kawan-kawannya yang datang dari kota untuk mendapatkan kebenaran berita itu. "Apakah dengan demikian banyak korban yang jatuh karena penyakit itu?" bertanya yang lain. "Kami belum tahu. Tetapi kami merasa cemas bahwa hal itu telah terjadi" Dengan demikian, maka orang Kepandak dan padukuhanpadukuhan lain, hanya dapat menunggu sampai pasukan itu datang. Apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan mereka. Beberapa orang utusan yang mendahului serta para penghubung yang hilir mudik menghubungkan pasukan itu dengan pusat pemerintahan di Mataram, sama sekali tidak mau memberikan keterangan kepada siapapun juga, sehingga gambaran yang sebenarnya dari pasukan yang ditarik kembali itu sangat gelap. Orang-orang Kepandak yang telah melepaskan anak-anak mereka, suami-suami muda mereka dan bahkan kekasih mereka, menanti dengan jantung yang berdebaran. Kapan pasukan itu datang dan kapan mereka mendengar nasib keluarga mereka masing-masing. Berbeda dengan kepentingan para keluarga yang dengan harap harap cemas menunggu pasukan itu, datang, ternyata Ki Reksatanipun menjadi gelisah, Di dalam pasukan itu terdapat seorang anak muda yang bernama Pamot. Meskipun Pamot kini sama sekali tidak lagi bersangkut paut dengan Sindangsari, tetapi nama itu membuat hati Ki Reksatani menjadi semakin kisruh. Kadang kadang ia menjadi heran, kenapa ia harus mempersoalkan Pamot. Sindangsari adalah isteri Ki Demang. Sama sekali tidak ada masalah dengan Pamot. "Adalah suatu kemungkinan, bahwa Pamot telah mati di tengah perjalanan, diterkam oleh penyakit yang ganas itu" Ki Reksatani mencoba menenteramkan hatinya sendiri. Tetapi ia tidak berhasil. Setiap kali nama Pamot itu selalu mengganggunya. Selain Ki Reksatani, maka Pamot memang menimbulkan persoalan persoalan pula pada Ki Demang di Kepandak, pada Sindangsari yang sudah mendengar pula tentang pasukan yang ditarik itu, dan bagi Manguri yang sedang berusaha untuk merebut Sindangsari dengan cara apapun juga. Karena itu, maka merekapun. tidak luput dari kegelisahan yang setiap hari menjadi semakin memuncak. Mereka sama sekali tidak digelisahkan oleh kemungkinan yang kurang baik yang menimpa Pamot, tetapi mereka justru digelisahkan oleh kehadiran anak itu kembali di Kademangan Kepandak. Dengan demikian, maka Ki Reksatanipun segera mengambil sikap. Rencananya harus segera terlaksana sebelum ada persoalan baru apabila Pamot sudah ada di Gemulung. "Perempuan itu harus segera disingkirkan" geram Ki Reksatani yang duduk bersama isterinya di rumahnya. "Apakah tidak ada kemungkinan lain kakang" berkata isterinya. "Kemungkinan lain, rencana kita gagal mutlak. Dan aku tidak mau, Aku sudah terlanjur sampai disini. Karena itu aku harus berjalan terus" Nyai Reksatani merasa, bahwa ia tidak akan dapat mencegah lagi. Ia tahu, seperti Ki Demang di Kepandak, suaminya adalah orang yang keras hati. Apabilaia sudah mempunyai niat, maka niat itu akan dicapainya dengan cara apapun juga. Tetapi dalam pada itu. Manguripun sudah mempunyai keputusan tersendiri. Kini ia datang kepada ibunya membawa keputusan itu. "Ibu, rencana yang semula itu pasti sudah gagal. Ternyata sampai saat ini tidak ada kelanjutannya apapun. Sindangsari sama sekali tidak dicerai oleh suaminya karena perbuatan sedengnya" Ibunya tidak menyahut. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya saja. "Nah, bukankah ibu sudah tahu?" "Ya" "Sekarang, aku harus menemuinya. Kapan saja ia dapat menerima. Secepat-cepatnya" "Aku tidak dapat mengatakannya Manguri" "Aku masih mempunyai kesempatan. Ayah baru akan kembali kira-kira tiga hari lagi. Tetapi seperti biasanya, kedatangan ayah pasti akan tertunda. Apalagi kalau disuatu tempat ayah menemukan perawan yang cantik" "Manguri" potong ibunya. "Sudahlah. Jangan dipersoalkan lagi kata-kataku itu ibu. Sekarang, aku harus menemuinya. Kalau tidak, aku akan mengambil tindakan sendiri, sesuai dengan rencanaku. Aku tidak peduli apakah rencanaku itu bertentangan dengan rencananya" "Jangan tergesa-gesa Manguri. Kau tidak berhadapan dengan orang kebanyakan. Kalau kau terlibat dalam suatu tindak kekerasan,akibatnya tidak akan menguntungkan" "Karena orang itu memiliki kemampuan yang tidak terhingga?" "Sebagian karena itu, meskipun bukan tidak terhingga, tetapi ia adalah seseorang yang sukar dicari tandingnya di Kepandak" "Mungkin ibu, tetapi aku tidak akan gentar. Betapapun dungunya, tetapi Lamat adalah orang yang luar biasa. Alam telah membekalinya dengan kemampuan yang hampir tidak terbatas. Ia kuat seperti singa, tetapi bodoh seperti keledai. Justru karena itu, ia adalah orang yang sangat berbahaya bagi orang-orang yang tidak aku senangi" Wajah ibunya menjadi tegang mendengar kata-kata Manguri itu. Ia mengerti, bahwa Lamat memang orang yang luar biasa seperti yang selalu dikatakan oleh ayah Manguri. Tidak seorangpun yang mengetahui, kapan dan dari mana ia berguru. Tetapi agaknya alam memang telah membekalinya. "Nah, terserah kepada ibu" berkata Manguri kemudian. "Apa yang kau maksudkan?" "Aku tidak yakin bahwa laki-laki itu dapat mengalahkan Lamat" "O" ibunya menjadi semakin bingung. Dengan gemetar ia menjawab "Berilah aku kesempatan untuk mempertimbangkannya Manguri" "Waktunya sudah terlampau sempit ibu. Sebentar lagi anak-anak yang mengikuti pasukan Mataram ke Betawi itu akan pulang. Pasti tidak semua dari mereka terbunuh. Kalau diantara mereka terdapat Pamot yang masih hidup, maka persoalannya akan menjadi bertambah rumit. Mungkin Pamot tidak akan berbuat apa-apa selagi Sindangsari masih tetap menjadi isteri Ki Demang. Tetapi kalau terjadi sesuatu perubahan keadaan, misalnya Sindangsari dicerai, atau keadaan yang lain, maka Pamot pasti akan ikut berbuat sesuatu. Bahkan mungkin ia merasa orang yang paling berhak atas Sindangsari sesudah Ki Demang di Kepandak" Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Desisnya "Kau memang aneh Manguri. Kau dapat mencari gadis berapapun kau kehendaki. Kenapa kau begitu bernafsu atas seseorang yang sudah bersuami, dan bahkan sudah mengandung?" Jangan bertanya begitu ibu, nanti aku bertanya pula kepada ibu, kenapa ibu begitu gairah atas laki-laki itu. sedang ibu sudah bersuami dan laki-laki itupun sudah beristeri dan beranak beberapa orang" "Manguri" potong ibunya. "Baiklah aku tidak mengatakannya lebih panjang. Tetapi usahakan hubungan itu" Ternyata ibu Manguri tidak dapat menolak lagi. Anaknya terlampau banyak mengetahui persoalannya, sehingga apabila ia menolak, mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak dikehendakinya. Meskipun ayah Manguri menyadari kekurangannya apabila ia harus berhadapan dengan laki-laki itu, tetapi Lamat adalah orang yang berbahaya. Lamat adalah kekuatan yang ditabiri oleh suatu rahasia. Tidak seorangpun tahu pasti, betapa besar kemampuannya. Demikianlah, maka ibu Manguri harus mengatakan kepada laki-laki itu, bahwa Manguri ingin menemuinya dan membicarakannya tentang Sindangsari. "Tidak ada yang dapat dibicarakan" jawab laki-laki itu "aku sudah memutuskan untuk membunuhnya" "Jangan begitu" jawab ibu Manguri "mungkin ada jalan dan cara yang dapat ditempuh" "Aku tidak melihatnya lagi. Aku sudah kehabisan akal" lakilaki itu berhenti sejenak "sudahlah. Disini kita tidak usah membicarakan perempuan itu. Aku sudah jemu berbicara. Aku datang untuk mengendorkan ketegangan yang mencengkam hatiku selama ini. Bersikaplah seperti biasa. Jangan berwajah muram seperti itu. Kita masing-masing sudah menempuh jalan ini. Sudah tentu kita tidak akan melibatkan diri dalam persoalan-persoalan yang mendalam seperti sepasang suami isteri. Kita sekedar berbicara tentang diri kita sendiri, tentang saat-saat yang hanya dapat kita hayati beberapa kejap, sebelum kita akan terjun kembali ke dalam kenyataan hidup kita masing-masing. Kita sudah membuat hubungan ini sebagai suatu pelarian dari keadaan kita yang sebenarnya. Karena itu, janganlah kita mempersoalkan masalah-masalah yang dapat mengerutkan saat-saat yang pendek ini" Ibu Manguri menjadi termangu-mangu. Tetapi setiap kali terngiang kata-kata Manguri, bahkan sebuah ancaman, bahwa ia akan bertindak sendiri bersama Lamat. "Mungkin Manguri akan lari ke ayahnya" berkata ibunya itu di dalam hati "kalau ayahnya dapat memberinya peluang dan kesempatan lebih besar dari aku, maka ia pasti tidak akan memerlukan aku lagi" Karena itu iapun berkata "Sebenarnyalah demikian. Saatsaat kita lari dari kehidupan kita sehari-hari, tidak sepantasnya kita kotori dengan kesulitan-kesulitan yang ingin kita lupakan sejenak. Tetapi kali ini aku tidak mampu melepaskan diri dari kehidupan serupa itu. Kapanpun. Juga sekarang" Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Katanya "Pertemuan kita akan kehilangan arti bagi kita. Aku lari dari ketegangan, disini aku bertemu dengan ketegangan-ketegangan baru" "Penuhi permintaannya. Untuk seterusnya, aku tidak akan mengganggumu lagi. Kita akan bersama-sama mempergunakan setiap kesempatan sebagai suatu wadah pelarian kita sebaik-baiknya. Tetapi apabila masalah ini masih belum dapat diselesaikan, maka hatiku akan tetap dipengaruhi olehnya. Oleh masalah ini" Laki-laki itu menjadi tegang sejenak. Katanya "Bukan kewajibanku untuk mengurusi anak itu. Ia mempunyai ayah yang lebih berhak mendengar pengaduannya" "Bukan soal berhak atau tidak berhak. Tetapi anak itu melihat bahwa kau mempunyai kesempatan apabila kau menghendakinya" Akhirnya laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Aku memberikan waktuku sekarang. Hanya sekarang.Besok, lusa dan seterusnya tidak. Aku datang untuk menemui kau. Tidak untuk yang lain-lain" "Terima kasih" berkata ibu Manguri "Anak itu akan aku panggil saja ke dalam bilik ini. Kau tidak boleh keluar dari bilik khusus ini supaya tidak ada orang lain yang mengetahui, bahwa kau ada disini" "Anakmu?" "Ia sudah mengetahui sejak lama. Bukankah sudah aku katakan?" Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ternyata anakmu baik juga terhadapmu. Apakah ia tidak akan mengatakan kepada ayahnya pada suatu saat?" "Sampai saat ini tidak, asal ia tidak terlalu aku kecewakan. Karena itulah aku t idak dapat mengkesampingkan permintaannya kali ini" Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata "Anak itu harus tahu, bahwa aku telah mengambil keputusan. Aku hanya akan memberitahukan keputusan itu, tidak untuk membicarakannya. "Tentu untuk membicarakannya. Kalau di dalam pembicaraan itu ditemukan sesuatu kesimpulan yang dapat memenuhi kepentingan bersama, bukankah itu lebih baik?" Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia berdesis "Aku t idak melihat kemungkinan itu. Tetapi baiklah, Bawa anak itu kemari" Ibu! Manguri itupun kemudian keluar dari biliknya, untuk menuju ke ruang dalam mencari Manguri. Tetapi begitu ia melangkahi pintu tengah, ia terkejut. Ternyata Manguri sudah berdiri bersandar uger-uger. "Aku tahu, laki-laki itu sudah datang" desis Manguri. Ibunya mengusap dadanya yang menjadi berdebar-debar. "Jantungku hampir berhenti berdetak. Kau mengejutkan aku Manguri" "Aku memang sudah menunggu disini. Aku sudah berketetapan hati, kalau laki-laki itu menolak menemui aku, ia tidak akan dapat keluar dari rumah ini" "Manguri, apa yang akan kau lakukan?" "Lamat sudah siap untuk menangkapnya. Ia akan menjadi pangewan-ewan" "Gila. Apakah kau sudah gila? Apakah kau tidak menyadari, bahwa dengan demikian ibumu akan dihinakan juga di hadapan orang-orang Gemulung?" "Aku akan mencoba memfitnahnya. Aku dapat berkata, bahwa ia memasuki halaman rumah kami untuk keperluan apapun, yang barangkali tidak menyangkut nama ibu" "Itu tidak mungkin. Orang itu bukan orang bisu" "Lamat dapat membuatnya bisu" "O, kau benar-benar telah menyiksa hati ibumu" "Tidak. Bukan ibu" Manguri tersenyum. Tetapi senyumnya seperti senyum iblis yang melihat sesosok mayat baru "Sudahlah ibu. Jangan risau. Aku t idak akan mencemarkan nama ibu" Ibunya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali membawa Manguri itu kepada laki-laki yang sudah menunggunya di dalam biliknya. Beberapa langkah di depan pintu Manguri masih berdesis "Lamat ada di luar dinding ini. Pintu rahasia ibu itu sudah diketahuinya" "Aku tidak membuat pintu rahasia Manguri. Pintu itu sudah ada sejak rumah ini dibuat. "Maksudku, pintu yang dipergunakan oleh laki-laki itu" "Sudahlah. Sekarang temui laki-laki itu. Tetapi kenapa kau membawa Lamat pula. Ia akan mengetahui rahasia ini, dan itu berbahaya" "Ah, ibu. Lamat mengetahui sejak lama. Lama sekali. Ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan di luar dugaan. Ia melihat apa yang tidak kita lihat, dan ia mendengar apa yang tidak kita dengar. Sayang otaknya kurang baik untuk mencernakan apa yang dilihat dan didengarnya" Ibunya menjadi tegang. "Tetapi ada juga baiknya ia berotak tumpul, sehingga ia tidak dapat membedakan, mana yang baik dan yang buruk. Kalau ia mampu membedakannya, maka raksasa bodoh itu akan bersikap lain terhadap keluarga ini, karena ia akan mampu menilai, betapa kelamnya hati kami seisi rumah ini. Tetapi itu pula agaknya kelebihan kita. Meskipun kita mengetahui bahwa langkah kita sesat, kita tetap berjalan lurus" "Manguri" desis ibunya "bukankah kau ingin menemuinya? Jangan mengatakan tentang yang lain. Bicarakan apa yang akan kau bicarakan" "Baik ibu. Apakah aku harus juga masuk ke dalam bilik ibu?" Ibunya mengangguk. "Apakah kita tidak bicara saja di luar?" Ibunya menggeleng "Tidak Manguri" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya. aku tahu. Orang itu orang asing yang diliputi oleh kabut rahasia di rumah ini" "Manguri" Manguri tidak menjawab. Tetapi ia hanya tersenyumsaja. Sejenak ibunya memandangi senyum aneh yang terbayang di bibir Manguri. Namun kemudian ia berkata "Manguri aku minta kepadamu sebagai seorang ibu. Jagalah pembicaraan ini baik-baik. Kalau terjadi sesuatu, aku, ibumu, akan ikut tercemar pula karenanya" "Jangan takut. Aku akan menjaga nama baik ibu dan seluruh keluargaku. Aku sudah terlatih untuk mengelabui mata orang-orang di sekitar kita" "Mengelabui? Apa maksudmu Manguri?" "Maksudku, aku dapat menjaga bahwa nama yang sebenarnya memang sudah tidak baik ini, akan tetap menjadi seolah-olah baik" "O, kata-katamu benar-benar telah menyayat hatiku" Ibunya menundukkan wajahnya. Sejenak kemudian terdengar suara perempuan itu parau "Aku memang harus menerima akibat yang pahit ini karena perbuatanku" "Jangan ibu salah tangkap. Bukan maksudku. Bukan maksudku "Manguri maju selangkah mendekati ibunya. Lalu "Sudahlah ibu, dimana laki-laki itu" Ibunya mengusap matanya. Jawabnya "Di dalam bilik itu. Marilah kita masuk" Ibunya kemudian melangkah maju mendekati pintu. Hatinya terasa menjadi semakin berdebar-debar seperti juga hati Manguri. Tetapi ia sudah bertekad untuk menemuinya. Menemui laki-laki itu. Ketika tangan ibunya perlahan-lahan mendorong daun pintu, terasa bahwa tangan itu menjadi gemetar. Sekali perempuan itu berpaling. Dilihatnya Manguri, anak laki-lakinya itu, berdiri tegak dengan tegangnya memandangi lubang pintu yang semakin lama menjadi semakin luas. Ketika pintu itu sudah terbuka lebar, Manguri menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin mengendapkan perasaannya yang bergolak. Kini barulah disadari, bahwa hatinya terguncang juga melihat laki-laki yang duduk diatas pembaringan ibunya. Sudah lama ia mengetahui, seorang lakilaki yang sering memasuki bilik itu. Tetapi baru kali inilah ia melihatnya. Melihat seorang laki-laki lain yang duduk dipembarihgan ayah ibunya. Tetapi kini, yang duduk disitu itu sama sekali bukan ayahnya, meskipun ia seorang laki-laki juga. "Masuklah Manguri" desis ibunya. Darah Manguri serasa menjadi semakin cepat mengalir ketika ia memasuki bilik itu. Di bawah cahaya lampu yang kemerah-merahan, tampak wajahnya menjadi semakin merah. Dengan tegangnya ditatapnya laki-laki yang berwajah keras itu. Laki-laki yang bertubuh tegap, bermata tajam. Dan lakilaki itu dikenalnya bernama Ki Reksatani Ia sudah sering melihat laki-laki itu. Ia sering bertemu di simpang jalan, di bulak dan kadang-kadang di pasar ternak. Tetapi ketika ia melihat laki-laki itu duduk di amben orang tuanya, dadanya masih juga terguncang-guncang. "Marilah Manguri. Duduklah" berkata Ki Reksatani itu. Manguri masih tetap berdiri di depan pintu. Ketika ibunya kemudian menutup pintu itu, ia sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. "Duduklah" berkata laki-laki itu pula. "Akulah yang harus mempersilahkan kau. Bukan kau mempersilahkan aku" geram Manguri. "Rumah ini rumahku" berkata Manguri seterusnya "kaulah tamu di rumah ini, meskipun di dalam bilik ibuku sekalipun" "Manguri. Sudah aku katakan. Kau jangan berbuat gila. Bukankah kau bermaksud berbicara tentang Sindangsari?" potong ibunya. Manguri terdiam sejenak. Namun kemudian ia mengangguk kecil. Jawabnya "Ya. Aku akan berbicara tentang Sindangsari" Ternyata Ki Reksatani masih dapat mengendalikan dirinya. Ia masih tetap sareh. Katanya "Baiklah. Biarlah ibumu yang mempersilahkan kau duduk" Manguripun kemudian menarik sebuah dingklik kayu di sudut ruangan. Sambil menyodorkan dingklik itu kepada Ki Reksatani ia berkata "Silahkan kau duduk disini. Biarlah aku yang duduk di pembaringan. Wajah Ki Reksatani menegang sejenak. Namun iapun kemudian berdiri dan meletakkan dirinya diatas dingklik kayu itu sambil berkata "Baiklah, aku akan duduk disini. Agaknya kau masih belum rela melihat seorang laki-laki yang bukan ayahmu duduk di pembaringan ibumu" "Ya" sahut Manguri. "Baiklah. Aku mengerti" Ki Reksatani diam sejenak, lalu "supaya kita tidak terseret oleh arus perasaan kita masingmasing, marilah kita segera mulai dengan persoalan yang sebenarnya akan kita bicarakan" Manguri yang kemudian duduk di pinggir pembaringan ibunya mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar ibunya berkata "Itu agaknya yang paling baik kita lakukan sekarang. Nah, bagaimana dengan Sindangsari yang kini sudah mengandung, dan bahkan beberapa hari lagi akan dilakukan upacara genap tujuh bulan dari kandungannya itu" Manguri tidak segera menyahut. Ditatapnya saja wajah lakilaki yang masih juga berbicara apapun tentang Sindangsari itu. "Kenapa kalian berdiam diri? Bukankah kalian akan membicarakan perempuan itu?" "Baiklah. Akulah yang akan berbicara. Aku sudah mengambil keputusan untuk menyingkirkan perempuan itu" "Apa yang akan kau lakukan atasnya, sesudah ia tersingkir dari Ki Demang di Kepandak?" bertanya Manguri. "Aku tidak menghendaki anak laki-laki itu lahir. Juga aku tidak menghendaki ibunya hidup, agar ia tidak dapat mengatakan apapun juga tentang dirinya" "Tidak. Perempuan itu harus tetap hidup" "Kau menghendakinya?" "Ya" "Tidak akan ada gunanya. Kalau ia masih hidup, ia akan tetap berada di Kademangan" "Tentu tidak. Ia akan menjadi isteriku" "Aku sudah mencoba memisahkannya dengan suatu cara. Tetapi aku tidak berhasil. Karena itu, bagiku, tidak ada cara yang lain, kecuali membinasakannya" "Kepentinganmu bertentangan dengan kepentinganku. Kalau kau dapat mengerti, biarlah perempuan itu disingkirkan dari Ki Demang di Kepandak tetapi ia tidak perlu mati. Ia akan menjadi isteriku. Dan bukankah dengan demikian ia sudah tersingkir juga dari Kademangan dan ia tidak akan memberi keturunan lagi kepada Ki Demang?" "Apakah kau sangka, Ki Demang tidak akan mengambilnya daripadamu dan membunuhmu?" "Bodoh sekali. Apakah aku begitu gila, datang kepada Ki Demang dan mengambil Sindangsari di siang hari di depan hidungnya pula?" "Maksudmu, kau akan menculiknya?" "Kalau kau sependapat, kita bersama-sama melakukannya. Kau adalah orang yang dekat dengan Ki Demang sepengetahuan kami. Kau dapat membantu aku memberi kesempatan untuk mengambil Sindangsari tanpa diketahui oleh siapapun. Aku akan menyembunyikannya dan kalau perlu membawanya jauh sekali dari Kepandak" Ki Reksatani merenungi kata-kata Manguri itu. Sebenarnya, cara itu hampir bersamaan dengan cara yang sudah direncanakannya. Tetapi kalau Sindangsari itu masih tetap hidup, dan anak yang ada di dalam kandungan itu kelak lahir, apakah pada suatu saat tidak akan timbul lagi suatu persoalan diantara mereka. Karena Ki Reksatani tidak segera menjawab, maka Manguri berkata "Jadi, pokok dari persoalanku adalah, Sindangsari harus tetap hidup" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. "Hal itu berbahaya bagiku. Kau tidak akan dapat menyembunyikan perempuan itu untuk seumur hidupnya" "Kenapa tidak?" "Dan anak itu kelak pasti akan mengetahui, bahwa Kademangan ini seharusnya berada di tangannya" "Aku tidak akan berbicara tentang anak itu. Terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan atas bayi yang kelak akan lahir. Bayi itu bagiku tidak akan ada gunanya. Ia hanya akan mengganggu ketenangan rumah tanggaku saja. Sebab aku yakin, bahwa pada suatu saat Sindangsari akan dapat menerima kenyataan, seperti sekarang ia menjadi isteri Ki Demang. Ia tidak mempersoalkan lagi, bagaimana cara Ki Demang mendapatkannya. Ternyata pula bahkan ia sudah mengandung" Ki Reksatani masih berpikir sejenak. Namun tiba-tiba ia berkata "Terlampau berbahaya bagiku, apabila perempuan itu masih tetap hidup. Kau akan dapat menunjuk gadis yang manapun yang kau kehendaki. Tetapi jangan perempuan itu" Manguri menggelengkan kepalanya "Aku menuntut perempuan itu. Aku memang dapat mendapatkan lebih dari sepuluh gadis yang aku kehendaki tanpa diajari oleh orang lain bahkan aku akan dapat menceraikan sepuluh rumah tangga yang baru saja dibangun dengan caraku. Karena itu gadis-gadis itu tidak menjadi persoalan lagi bagiku. Aku akan mendapatkan kapan aku mau. Tetapi tidak demikian dengan Sindangsari" "Jadi, kepentingan kita berbeda" "Kau tidak dapat berbuat demikian atasnya" "Kalau begitu, siapa saja yang paling dahulu melakukannya. Kau dahulu yang mengambilnya atau aku dahulu yang membunuhnya" "Tidak Ki Reksatani. Kau harus memperhatikan kepentinganku. Kalau tidak, aku akan mengatakan kepada Ki Demang di Kepandak" "Gila kau" potong Ki Reksatani. "Apa boleh buat" Wajah Ki Reksatani menjadi merah padam. Dipandanginya Manguri dengan sorot mata yang membara. Dalam pada itu, ibu Manguri yang melihat gelagat yang kurang baik segera mencoba menengahi "Kenapa kalian tidak dapat mempertemukan pendapat kalian. Kalian sebenarnya mempunyai kepentingan yang sama. Mengambil Sindangsari dari Ki Demang. Apa yang akan kalian lakukan, sebenarnya dapat dicari suatu cara yang sebaik-baiknya yang menguntungkan kalian berdua" "Perempuan itu sangat berbahaya bagiku. Pada suatu saat ia akan dapat berbicara tentang dirinya. Seandainya kakang Demang sudah matipun, ia akan dapat berkata kepada semua orang di Kepandak apa yang sudah terjadiatasnya" "Kau sebenarnya tidak usah ikut campur. Biarkan aku mengambil Sindangsari. Kau hanya menolong memberikan kesempatan itu. Seterusnya kau akan ikut mengenyam hasilnya" "Kau tidak menanggapi kata-kataku. Perempuan itu berbahaya bagiku. Bagaimana aku harus mengambilnya, sama sekali bukan suatu kesulitan. Tanpa orang lain aku dapat melakukannya, bukan sekedar ikut mengenyamhasilnya" "Jadi, apakah kita akan bersimpang jalan? Ingat, aku akan mengatakan kepada Ki Demang kalau perempuan itu benarbenar mati. Sindangsari sendiri barangkali memang tidak akan dapat membuka rahasia itu. Tetapi akulah yang akan melakukannya" Hampir saja Ki Reksatani kehilangan kesabaran. Seandainya ia tidak berada di rumah anak itu dan seandainya ibu anak itu tidak berdiri di dalambilik itu pula. Namun demikian ia menggeram "Manguri, jangan kau sangka bahwa aku tidak dapat membunuh siapa saja yang berbahaya bagiku. Dalam hal ini, aku tidak akan memandang siapa saja. Yang berbahaya bagiku, harus aku singkirkan" "Ki Reksatani. Memang mudah sekali membunuh Sindangsari. Tetapi lain dengan aku" "Tidak ada kesulitan" "Mungkin aku dapat terbunuh. Tetapi ada saksi yang lain. Ibuku. Apakah kau juga akan membunuh ibuku" "Gila. Gila sekali" "Cukup. Cukup" potong ibu Manguri "Jika kalian berkeras hati, maka pembicaraan ini tidak akan selesai. Kenapa kalian tidak dapat saling memberi dan menerima?" "Maksud ibu?" bertanya Manguri. "Yang penting perempuan itu meninggalkan Kademangan. Kalau perempuan itu harus tetap hidup, maka kau menjadi jaminan, bahwa perempuan itu untuk seterusnya tidak akan membuka rahasia. Kau mengerti?" "Kalau hal itu sudah berlangsung bertahun-tahun, dan tidak akan ada harapan lagi bagi Sindangsari untuk kembali ke Kademangan, aku kira ia tidak akan membuka rahasia. Ia tidak akan mau kehilangan suaminya sampai dua kali" "Tetapi anak itu" sahut Ki Reksatani. "Kalau kau ingin bebas daripadanya, terserahlah kepadamu" Ki Reksatani menggigit bibirnya, Ia tidak dapat mengabaikan anak dari perempuan yang telah untuk sekian lamanya bersama-sama mengisi kekosongan hati masingmasing. "Apakah kau sependapat?" bertanya Manguri "aku memberikan jaminan, bahwa rahasia ini tidak akan terbuka. Sebenarnya memang tidak ada pilihan lain yang dapat kau lakukan. Ingat, di belakangku ada laki-laki dungu yang bertubuh raksasa itu. Namanya Lamat. Bukankah kau pernah mengenalnya? Kau tidak dapat sekedar bermain-main dengan orang dungu itu. Ia dapat lunak seperti seekor kucing. Tetapi ia dapat buas seperti seekor harimau. Sangat tergantung kepadaku" "Aku memang sedang berpikir. Tetapi jangan mencoba menakut-nakuti aku. Aku bukan anak kecil lagi. Jangankan Lamat yang dapat sebuas harimau, sedangkan di tepi-tepi hutan aku tidak gentar menghadapi harimau yang sebenarnya" "Sudahlah" potong ibu Manguri "kalian akan berbelok lagi. Batasilah pembicaraan kalian, supaya kalian tidak terjerumus ke dalam persoalan yang sebenarnya tidak kalian kehendaki" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin mengendapkan perasaan yang hampir melonjak. Sedangkan Manguripun kemudian menundukkan kepalanya. Dicobanya untuk menilai pembicaraan yang baru saja dilakukannya dengan laki-laki yang sebenarnya, sadar atau tidak sadar sangat dibencinya, karena ia begitu sering memasuki rumah ini, dan bahkan memasuki bilik ayahnya, selagi ayahnya tidak ada di rumah. Tetapi iapun sangat kecewa terhadap ibunya sendiri. Tanpa hasrat dari ibunya sendiri, maka hal itu tidak akan dapat terjadi. Apalagi untuk waktu yang lama dan bahkan setiap kali ayahnya pergi untuk waktu yang cukup memberi peluang kepada mereka. Namun ayahnyapun bukan orang yang baik. Dan ia harus membenci pula berpuluh-puluh perempuan yang telah menggantikan tempat ibunya untuk waktu-waktu tertentu di sepanjang perjalanan ayahnya yang memang sering dilakukannya. Dalam pada itu, terdengar ibunya berkata "Sudahlah. Agaknya kalian telah menemukan suatu singgungan yang dapat kalian pergunakan sebagai landasan untuk berbuat. Nah, apakah kau dapat menyebutkan Manguri?" Manguri mengangkat wajahnya. Kemudian katanya "Menurut penilaianku, kita sudah menemukannya. Perempuan itu kita sisihkan dari Kademangan, kemudian kita ambil dan kita asingkan. Aku harus menjamin bahwa perempuan ini akan terpisah dari pergaulan dan rahasia ini tidak akan diketahui oleh sipapapun juga" "Dan kau akan melaksanakan dengan baik?" "Aku tidak gila ibu. Kalau rahasia itu diketahui orang, maka akulah yang pertama-tama harus berhadapan dengan Ki Demang, karena isterinya ada padaku" "Apakah begitu?" bertanya ibu Manguri kepada Ki Reksatani. Ki Reksatani termenung sejenak. Tetapi akhirnya iapun mengangguk "Baiklah. Untuk sementara aku dapat menyetujuinya" "Kenapa untuk sementara?" "Aku akan melihat perkembangan keadaan. Mudahmudahan perempuan itu tidak berbahaya bagiku dan bagi Manguri sendiri" "Aku bertanggung jawab" sahut Manguri. Ki Reksatani mengangguk-angguk kepalanya "Baiklah" katanya "kita tinggal merencanakan, bagaimana kita akan mengambilnya dari rumah Ki Demang" "Tidak sulit. Kau bawa Sindangsari ke tempat yang sepi. Kemudian serahkan kepada Lamat. Ia akan membawa Sindangsari ke tempat yang akan aku siapkan. Kalau kau tidak dapat mempercayainya, kau dapat membantunya, menyiapkan beberapa orang yang akan mengawasi keadaan dan melindungi Lamat sebelum ia meninggalkan tempat itu" "Baiklah. Aku akan memberitahukan tempat-tempat yang paling baik baginya untuk menunggu Sebaiknya ia bersedia seekor kuda" "Lamat tentu tidak akan berkeberatan" "Jadi, apakah pembicaraan ini sudah selesai?" bertanya Ki Reksatani kemudian. Manguri mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah ibunya namun ibunya justru menundukkan kepalanya. Sekilas Manguri melihat wajah yang tunduk itu menjadi kemerahmerahan. Dalam pada itu Manguri bahkan bertanya "Jadi, apakah aku harus segera meninggalkan bilik ini?" "Ah" Manguri mendengar ibunya berdesah sementara Ki Reksatani memalingkan wajahnya. Tiba-tiba saja ia berdiri dengan gelisahnya dan berjalan hilir mudik di dalam ruangan itu. "Baiklah" berkata Manguri kemudian "aku akan segera meninggalkan bilik ini. Tetapi pembicaraan kita tidak akan berubah. Perempuan itu tidak boleh mat i. Kita akan menentukan kemudian, kapan kita akan melakukannya" Ki Reksatani t idak menyahut, sedang ibu Manguri masih saja menundukkan wajahnya. Sejenak kemudian Manguripun berdiri. Namun terasa betapa dadanya menjadi berdebar-debar. Masih ada sesuatu yang terasa bergejolak di dalam dadanya, ketika ia melihat langsung seorang laki-laki berada di dalambilik itu. Tetapi Manguripun kemudian melangkah ke pintu. Sekali ia berpaling, tepat pada saat ibunya mengangkat wajahnya. "Selamat malam ibu" desis Manguri. Sekali lagi ibunya menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap sorot mata anaknya. Ki Reksatanipun masih tetap berdiri menghadap dinding seperti juga ibu Manguri, ia tidak mau memandang mata Manguri yang memancarkan sorot yang aneh. Sejenak kemudian mereka mendengar daun pintu berderit, kemudian dengan kerasnya terdengar daun pintu itu berdentang tertutup. Ki Reksatani berpaling. Terdengar giginya gemeretak. Tetapi ia mendengar suara ibu Manguri "Jangan salahkan anak itu. Marilah kita melihat kesalahan yang melekat pada diri kita sendiri" Ki Reksatani tidak menyahut. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalamsambil mengusap dadanya. Manguri yang meninggalkan bilik ibunya langsung pergi ke halaman samping untuk menemui Lamat. Ketika ia keluar dari pintu depan, terasa udara malam yang sejuk menyentuh tubuhnya yang seakan-akan baru saja dipanggang diatas bara. Manguri menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya mencari Lamat. Lamat masih duduk di tempatnya. Tempat yang agak terlindung oleh bayangan serambi, sehingga tidak segara dapat terlihat dari halaman, meskipun Lamat dapat melihat ke halaman yang remang-remang. "Kau masih disitu?" bertanya Manguri. Lamat mengangguk sambil berdesis "Ya. Apakah kau sudah bertemu dengan lakilaki itu" "Hampir aku tidak dapat menahan hati. O, bagaimana iblis itu berada di bilik ayah seperti di biliknya sendiri" Lamat t idak menyahut. "Aku sudah berbicara" berkata Manguri kemudian "ia tidak dapat memilih jalan lain, kecuali menerimanya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi laki-laki itu benar-benar memuakkan. Aku hanya memerlukannya di saat-saat itu. Saat-saat kita mengambil Sindangsari. Seterusnya, kita tidak akan memerlukannya lagi" Lamat mengerutkan keningnya Tanpa sesadarnya ia bertanya "Maksudmu?" "Kepandak akan menjadi rusak kalau ia kelak benar-benar dapat mengambil alih kekuasaan Ki Demang seperti yang diimpikannya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana mungkin Kepandak diperintah oleh orang serupa itu atau anak-anaknya yang pasti tidak akan jauh menyimpang dari tabiatnya, seperti aku juga tidak jauh menyimpang dari tabiat ayahku" Lamat masih tetap berdiam diri. "Tetapi aku tidak peduli. Apakah Kepandak akan menjadi rusak dan bahkan menjadi hutan kembali tanpa peradaban, aku tidak peduli. Yang penting, aku sudah mendapatkan Sindangsari. Aku tidak tahu, kenapa aku seakan-akan telah menjadi gila. Semakin sulit aku mendapatkannya semakin besar hasratku untuk memperisterikannya" Lamat masih belum berbicara apapun. "Tetapi" tiba-tiba saja Manguri berdesis "apabila Sindangsari itu hilang dari Kademangan, apakah tidak mungkin Ki Demang mengambil gadis lain untuk menjadi isterinya?" Karena Lamat masih berdiam diri, Manguri membentaknya "He, apakah kau sudah tertidur?" Lamat menarik nafas. Jawabnya "Tidak. Aku sedang mendengarkannya" "Apa pendapatmu?" Lamat ragu-ragu sejenak .Katanya kemudian "Aku tidak mengerti. Tetapi sebaiknya kau tanyakan saja kepada Ki Reksatani. Mungkin hal itu belum menjadi pertimbangannya" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menggeram "Aku segan untuk menemuinya kalau tidak terpaksa sekali" Namun di saat itu, di dalam bilik ibu Manguri ternyata sedang bertanya pula kepada Ki Reksatani "Apakah Ki Demang tidak akan kawin lagi dan mempunyai kemungkinan yang serupa bagi iuterinya yang baru itu?" "Aku sudah memikirkannya. Tetapi dengan demikian aku akan dapat membiuskan ketidak puasan bagi rakyat Kepandak. Hal itu pasti akan mematangkan suasana, sehingga aku dapat bertindak dengan segala macam dalih" "Apakah kau sudah membayangkan, bahwa dengan demikian dapat terjadi bentrokan bersenjata dan akibatnya dapat menggoncangkan sendi sendi kehidupan di Kepandak?" Ki Reksatani tidak menyahut. Isterinya di rumah berkata seperti itu pula. Kini, selagi ia ingin melupakan keteganganketegangan itu, ia menjumpai masalah yang sama. Karena itu, maka katanya "Jangan hiraukan hal itu Kau berjanji bahwa kau tidak akan mempersoalkannya. Kita ingin melupakan ketegangan yang mencengkam hati kita masingmasing" Ibu Manguri tidak menyahut, sedang Ki Reksatani berkata "Dan bukankah masalah Sindangsari untuk sementara sudah kita anggap selesai?" Perempuan itu tidak menyahut. Dipandanginya lampu minyak di dalam bilik itu yang rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin redup. Ketika Manguri sudah masuk ke dalam rumah itu pula tinggallah Lamat yang duduk merenung seorang diri. Ia merasa bahwa beban yang selama ini dicemaskannya, pada suatu saat akan jatuh pula di pundaknya. Mengambil perempuan yang bersama Sindangsari yang sekarang sudah menjadi Nyai Demang itu. Sekilas terbayang mayat Puranta yang terbujur di halaman. Ia tidak tahu pasti, apakah yang telah terjadi dengan mayat itu. "Kalau aku membiarkannya, maka aku kira persoalan ini akan berakhir lain. Mungkin Sindangsari benar-benar akan dicerai dari Ki Demang, tetapi untuk seterusnya akan menjadi isteri Puranta. Atau kedua-duanya akan dicekik sampai mati oleh Ki Demang sendiri" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian menggelengkan kepalanya "Memang hal itu tidak akan dapat dibiarkan. Kasihan perempuan itu. Kegagalannya untuk mendapatkan seorang laki-laki yang didambakannya telah, membuatnya kehilangan pegangan. Tetapi tidak sepantasnya ia jatuh ke tangan laki-laki seperti Puranta, apalagi dalam rangka usaha Ki Reksatani yang terkutuk itu" Tetapi Lamat hanyalah seorang budak. Ia tidak dapat berbuat apapun juga, ia hanya dapat menjalankan perintah, meskipun perintah itu akan menyakiti hatinya. Dan perintah yang bakal datang kemudian adalah, menculik Sindangsari dan mengurungnya di suatu tempat. "Betapa bagusnya sebuah sangkar, namun apabila pintunya terbuka, maka burung yang ada di dalamnya pasti akan terbang keluar" desisnya. Dan ia sudah membayangkan, bahwa Sindangsari akan mengalami nasib seperti seekor burung. Dikurung disuatu bilik yang gelap tanpa mendapat kesempatan untuk keluar. Setiap kali ia harus menerima kedatangan Manguri yang merasa dirinya sebagai suaminya. Meskipun seandainya Sindangsari mendapat makan yang paling baik dan pakaian dari keping-keping emas, tetapi hal itu pasti merupakan siksaan yang tidak terkirakan baginya. "Lalu apapula yang akan terjadi dengan anak di dalam kandungan itu. Anak yang sama sekali tidak berdosa?" "Memang Pamotlah yang gila" tiba-tiba ia menggeram "Pamot telah membuat perempuan itu mengalami siksaan tanpa batas. Kalau Pamot tidak gila di malam itu, aku yakin Sindangsari tidak akan mengandung seperti isteri-isteri Ki Demang yang lain. Dengan demikian Sindangsari tidak perlu mengalami bencana seperti yang direncanakan oleh Ki Reksatani sekarang" Padahal, kini Pamot itu t idak ada di rumah, bahkan t idak ada di Kepandak. Tanpa sesadarnya Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya ketika terlintas di dalam ingatannya, bahwa pasukan yang pergi menyerang Betawi itu sudah berada di perjalanan pulang. "Tetapi apakah Pamot masih ada di dalam pasukan itu? Sudah tentu ada sebagian dari anak-anak Gemulung yang gugur" Lamat menarik nafas dalam-dalam "kalau saja Pamot masih hidup" Tetapi Lamat menjadi bingung apakah yang akan dapat dilakukan oleh Pamot seandainya ia pulang kembali ke Gemulung dalam keadaan ini? Ia akan menemukan sekelompok orang yang sudah siap melakukan rencananya yang keji. Dan ia sendiri pasti ada di dalamnya, sebagai seorang budak yang tidak berharga. "Tenagaku tidak lebih dari tenaga seekor kerbau yang menarik bajak di sawah. Demikian juga harga diriku. Tetapi aku tidak dapat berbuat sesuatu, seperti kerbau tidak dapat memutuskan tali yang mencocok hidungnya" Dengan demikian maka Lamat hanya dapat menunggu di dalam kegelisahan. Bahkan kadang-kadang timbullah niatnya akan lari dari keadaannya. Tetapi setiap kali ia selalu dikekang oleh perasaan terima kasihnya yang tidak terhingga, Ia benarbenar merasa berhutang budi kepada ayah Manguri, bahwa ia telah diselamatkan jiwanya. Kalau tidak, maka pasti sudah mati. "Lamat tidak ada lagi kini di dunia. Karena itu Lamat yang sekarang ini seolah-olah sudah bukan lagi Lamat yang berpribadi seutuhnya. Lamat yang sekarang adalah Lamat yang telah dikuasai oleh kehendak orang lain, sebagai pembayaran atas hutangnya Hutang budi" Demikianlah, maka hari demi hari menjadi semakin maju. Kandungan Sindangsaripun menjadi semakin besar. Dengan demikian maka hari peralatan bulan ke tujuh dari kandungan itu menjadi semakin dekat. Ki Reksatani menjadi berdebar-debar ketika pada suatu hari ia telah dipanggil oleh Ki Demang di Kepandak. "Apakah kira-kira yang akan dipersoalkan?" bertanya isterinya. Ki Reksatani menggelengkan kepalanya. Katanya "Baru dua hari yang lalu aku singgah di rumah kakang Demang. Sekarang kakang Demang telah memanggil aku. Agaknya memang ada sesuatu yang akan dibicarakannya" Nyai Reksatani tampak menjadi gelisah. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ketika Ki Reksatani meninggalkan rumahnya memenuhi panggilan kakaknya, ia berkata kepada isterinya "Jangan cemas Tidak ada apa-apa" Sebenarnyalah memang tidak ada apa-apa dengan Ki Reksatani. Hampir tengah malam ia pulang. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia melangkahi pintu pendapa, setelah isterinya membukakan selarak dan mendorong daun pintunya. Dengan serta-merta isterinya bertanya "Apa yang dibicarakan oleh kakang Demang?" Ki Reksatani tersenyum. Katanya "Kita memang terlampau berprasangka. Agaknya karena rencana kita yang telah masak itulah yang membuat kita sendiri kadang-kadang menjadi cemas" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya. Ia berdiri saja mematung ketika suaminya kemudian menutup dan menyelarak pintu. "Duduklah" berkata suaminya kemudian. Nyai Reksatanipun kemudian duduk di ruang tengah di hadapan suaminya. Meskipun demikian hatinya masih juga berdebar-debar. "Apakah anak-anak sudah tidur semua?" "Sudah kakang" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Aku dipanggil kakang Demang untuk membicarakan hari peralatan yang akan dilakukan, pada bulan ke tujuh kandungan Sindangsari" "O" Nyai Reksatanipun menarik nafas dalam-dalam "sukurlah kalau persoalan itu yang dibicarakan oleh kakang Demang. Aku sudah kecemasan bahwa kakang Demang sudah mencium rencanamu kakang. "Tentu tidak. Aku melakukan dengan sangat hati-hati" "Tetapi semakin banyak orang yang kau hubungi, semakin berbahaya bagimu, bahwa rahasia itu akan bocor karenanya" "Aku sudah memperhitungkannya dengan cermat. Jangan takut. Mereka adalah orang-orang yang kecewa, orang-orang yang tamak dan dengki orang-orang yang terlampau dibayangi oleh nafsu kebendaan dan pangkat" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu "mereka akan menyimpan rahasia ini baik-baik" "Tetapi kalau kau mengecewakan mereka, maka mereka pasti akan membuka rahasia ini" "Tentu tidak. Sementara aku tidak akan membuat mereka kecewa. Aku mendapat dukungan dari seorang anak muda yang bernama Manguri Karena ia menginginkan Sindangsari untuk dijadikan isterinya. "Anak pedagang ternak yang kaya itu" "Ya" "Jadi perempuan itu tidak akan kau bunuh?" Ki Reksatani menggelengkan kepalanya. Katanya "Ia akan disimpan di dalam satu sangkar. Tetapi sebenarnya ini sama sekali t idak termasuk rencanaku. Nyai Reksatani tidak segera menyahut. "Rencanaku yang sebenarnya masih tetap" "Membunuh perempuan itu?" "Ya" "Tetapi ia sudah menjadi isteri Manguri" "Kalau perlu kedua-duanya. Aku tidak akan dapat hidup tenteramselagi perempuan itu masih hidup" "Kenapa tidak kau biarkan saja mereka hidup berdua. Merekapun pasti akan tetap menjaga rahasia itu. Lebih-lebih Manguri. Ia pasti berusaha agar Ki Demang tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Sebab kalau Ki Demang mengetahuinya, maka setidak-tidaknya Sindangsari akan diambilnya kembali, atau tuntutan hukuman yang lebih berat" "Dan sudah tentu akan menyangkut namaku. Tetapi kalau mereka sudah mat i, kemungkinan itu tidak akan ada sama sekali. Sementara ini aku hanya sekedar memenuhi permintaan laki-laki yang tergila-gila kepada Sindangsari itu karena kalau tidak, ia dapat berbuat sesuatu yang berbahaya bagiku" Isterinya tidak menyahut ia sama sekali tidak mengerti, bahkan tidak menyangka sama sekali, bahwa ada hubungan lain antara suaminya dan anak muda yang bernama Manguri. Nyai Reksatani tidak menduga sama sekali bahwa pada setiap kali, suaminya pergi ke rumah pedagang kaya itu selagi pedagang itu sendiri t idak ada di rumah. Menurut dugaannya, suaminya dan anak muda itu sekedar bersinggungan kepentingan tentang Sindangsari saja. Suaminya memerlukan dukungan uang dari anak muda itu untuk membeayai rencananya. Apalagi apabila suaminya memerlukan bantuan dari beberapa orang jika ia harus menghadapi Ki Demang dengan kekerasan. Sejenak kedua orang itupun saling berdiam diri. Tetapi kengerian yang tajam telah mencengkam jantung Nyai Reksatani. Ia sudah mulai membayangkan kekisruhan yang bakal terjadi di Kademangan Kepandak. Nyai Reksatani menyesal, kenapa suaminya mempunyai keinginan yang gila itu, untuk mewarisi kedudukan kakaknya. Seandainya pada perkawinan yang pertama Ki Demang sudah mempunyai anak atau selambat-lambatnya pada perkawinan yang kedua, maka pasti tidak akan tumbuh niat itu pada suaminya. Tetapi karena Ki Demang t idak mempunyai anak sampai perkawinannya yang kelima kali, maka timbullah harapannya, bahwa Ki Demang memang tidak akan mempunyai anak untuk seterusnya. Alangkah kecewa Ki Reksatani itu setelah pada perkawinan yang keenam, isteri Ki Demang benar-benar telah mengandung. Namun demikian kadang-kadang terbersit juga anganangannya, betapa senangnya menjadi isteri seorang Demang yang berkuasa. Kalau bukan ia sendiri dapat mengalami, maka ia akan dapat melihat, betapa senangnya salah seorang anaknya menjadi seorang Demang yang berkuasa. Di Kademangan ini, maka kekuasan Demang seakan-akan tidak terbatas. Semua niatnya dapat terlaksana. Sampai kawin untuk keenam kalinya sekalipun. Nyai Reksatani terkejut ketika tiba-tiba saja suaminya berdiri sambil berkata "Aku akan tidur. Masih banyak yang harus aku kerjakan besok dan hari-hari berikutnya. Kaupun harus banyak beristirahat menjelang peralatan yang akan diselenggarakan di Kademangan itu" Isterinya menganggukkan kepalanya. "Jangan cemas" berkata Ki Reksatani kemudian "aku bukan anak-anak. Aku akan bekerja secermat-cermatnya. Aku masih mempunyai waktu untuk memperhitungkan setiap kemungkinan. Juga kedatangan anak-anak muda yang ditarik dari Betawi. Kalau diantara mereka terdapat Pamot, akupun sudah mempertimbangkannya" Sekali lagi isterinya menganggukkan kepalanya, meskipun dadanya masih saja berdebar-debar. Nyai Reksatani itupun kemudian berdiri pula dan melangkah masuk ke dalam bilik anak-anaknya. Dilihatnya mereka tidur dengan nyenyaknya. Sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angan mereka, pergolakan yang terjadi di dalam dirinya. Mereka tidak tahu, apa yang direncanakan ayah mereka untuk kepentingan mereka kelak, meskipun jalan yang ditempuh adalah jalan yang berbahaya. Semakin dekat dengan peralatan bulan ke tujuh kandungan Sindangsari, maka Ki Reksatani semakin sering pergi ke rumah kakaknya. Bahkan kadang-kadang bersama isterinya. Namun semakin sering pula ia berhubungan dengan Manguri, meskipun dengan diam-diam. Mereka selalu membicarakan perkembangan-perkembangan baru yang terjadi. Mereka mulai membicarakan, dimana dan kemana Sindangsari akan diambil dan dibawa. "Aku sudah menyiapkan sebuah rumah kecil di pinggir Kademangan ini" berkata Manguri. "Bodoh kau" jawab Ki reksatani "selama perempuan itu masih berada di Kademangan ini, maka ia pasti akan diketemukan olah kakang Demang" "Tidak. Rumah itu adalah rumah yang kecil yang tidak banyak bedanya dengan gardu pengawas dari halaman yang luas. Ayah biasanya menyimpan dan mengumpulkan ternaknya di sana sebelum dibawa ke tempat-tempat yang jauh" "Itu lebih bodoh lagi" berkata Ki Reksatani "di sana pasti ada beberapa orang. Mereka dapat melihat kehadiran Sindangsari di sana" "Mereka akan memegang rahasia itu" "Itu yang aku ragukan" Manguri berpikir sejenak, lalu "Baiklah. Aku akan minta tempat itu dikosongkan. Ayah akan membeli tanah yang lain untuk kepentingannya. Tempat itu akan menjadi tempat penyimpanan Sindangsari. Tidak akan ada orang lain di tempat itu, selain Lamat dan sudah tentu aku" "Kau akan tinggal di tempat itu juga?" "Ya" "Kau memang bodoh sekali. Kalau kau hilang dari rumahmu, maka Kakang Demang akan segera mengetahui, bahkan kaulah yang telah mengambil perampuan itu" Tetapi aku bukan sebodoh itu. Sudah tentu aku tidak pergi dari rumahku. Aku akan tetap tinggal di rumah. Tetapi aku akan berada di tempat persembunyian itu setiap kali. Tidak akan ada orang yang mencurigai aku. Aku memang sering berada di tempat ibu. Dan aku tidak akan mengosongkan tempat itu sama sekali. Satu dua ekor ternak yang dapat dipelihara sendiri oleh Lamat akan tetap berada di tempat itu. Bahkan sekali-sekali ayah akan tetap menampung ternaknya di sana. Sementara Sindangsari akan tetap berada di dalam biliknya. Ia tidak boleh menjengukkan kepalanya keluar bilik apabila ada orang lain di halaman rumah itu" Ki Reksatani tidak menyahut. Untuk sementara ia harus menyetujui rencana itu. Tetapi ia sadar bahwa hal itu sangat berbahaya baginya. Sindangsari bukan sekedar sebuah golek kayu yang tidak mempunyai akal untuk melepaskan diri apalagi anaknya akan segera lahir pula. "Kau setuju?" bertanya Manguri kemudian. Ki Reksatani tidak dapat berbuat lain, kecuali menganggukkan kepalanya. Meskipun begitu ia berkata "Untuk sementara" "Kenapa untuk sementara" "Barangkali kau menemukan tempat yang jauh lebih baik dari yang kau rencanakan sekarang" Manguri tidak menyahut. Tetapi ia mengangguk kecil. Meskipun setiap kali mereka bertemu dan berbicara tentang rencana itu, namun meraka sadar, bahwa hubungan mereka adalah sekedar karena singgungan kepentingan. Namun diantara keduanya masih tetap tergores jarak yang masih belumterloncati. Namun ternyata bahwa Manguri mampu membatasi dirinya untuk kepentingannya sendiri. Ia mengatakan Kencananya itu kepada ayahnya. Bahkan ia mengatakan pula, bahwa ia telah bekerja sama dengan Ki Reksatani, karena Ki Reksatani juga berkepentingan untuk menyingkirkan Sindangsari. "Apakah kau tidak mempunyai pilihan lain Manguri?" bertanya ayahnya. Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak ayah. Ini sudah menjadi keputusanku" Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah. Aku akan membantumu. Tetapi apakah kau yakin bahwa Ki Reksatani itu bersikap jujur terhadapmu?" Meskipun Manguri sendiri ragu-ragu. tetapi untuk memantapkan perasaan ayahnya ia mengangguk "Aku yakin ayah. Ia jujur" Ayahnya mengangguk-angukkan kepalanya. Katanya "Kalau sampai pada suatu saat, keadaan menjadi lain, maka kita memang harus bersiap-siap. "Apakah maksud ayah?" bertanya Manguri dengan curiga. Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. "Apa maksud ayah" "'Sudahlah. Lakukan rencanamu" berkata ayahnya "tetapi bawa Lamat besertamu Ia dapat dipercaya. Tetapi kau jangan terlampau kasar. Ia manusia juga seperti kita. Ia mempunyai perasaan yang lengkap. Kecewa, jengkel ,sedih,dan sebagainya. Hanya karena merasa berhutang budi, ia dapat kila perlakukan sekehendak kita. Tetapi jangan kau perlakukan ia seperti seekor kerbau bajak" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih tetap bertanya-tanya di dalam hati, apakah sebenarnya ayahnya sudah tahu, apa yang terjadi di rumah ini?. Terutama hubungan antara ibunya dengan laki-laki yang bernama Reksatani itu?. "Ki Demang yang sekarang memang bukan orang yang paling baik untuk memerintah Kademangan Kepandak" berkata ayahnya kemudian "tetapi tidak mudah untuk menyingkirkannya, karena ia memiliki kemampuan yang luar biasa, ilmunya cukup t inggi dan pengikutnya cukup banyak" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. "Rencana Ki Reksatani adalah rencana yang paling baik sebenarnya apabila berhasil. Ia tidak menyingkirkan Ki Demang sendiri, tetapi memotong garis keturunannya" "Ya" sahut Manguri. "Tetapi kau harus mempertimbangkan, anak di dalam kandungan Sindangsari adalah garis keturunan itu" "Tetapi kalau sejak lahir ia sudah terpisah, ia tidak akan tahu, siapakah ayahnya yang sebenarnya" "Kata-kata itu kau ucapkan sekarang" sahut ayahnya "dan seandainya kau bermaksud jujur dengan ucapanmu itu. Ki Reksatani pasti tidak akan percaya, pada suatu saat, kau dapat memperalat anak itu. Sambil menunjukkan Sindangsari di hadapan umum beserta anaknya, kau akan dapat mewarisi kedudukan Ki Demang di Kepandak" "Tidak ayah. Buat apa aku berusaha untuk merebut kedudukan ini? Dengan kekayaan yang ada pada kita, kita sudah memiliki kekuasaan yang tidak jauh berbeda dengan kekuasaan Ki Demang, meskipun t idak atas orang-orang di Kepandak. Tetapi dengan uang yang melimpah-limpah yang ada pada kita, kita hampir dapat berbuat apa saja" "Tetapi Ki Reksatani dapat berpikir lain. Uang dan kekuasaan merupakan suatu gabungan yang sangat menarik hati" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, maksud ayah?" "Kaupun harus mempersiapkan dirimu menghadapi setiap kemungkinan. Untuk kepentingannya, Ki Reksatani pasti sudah mempersiapkan orang-orangnya, apabila pada suatu saat keadaan memaksa. Perlahan-lahan ia menghimpun kekuatan, sementara kau membeayainya. Tetapi di samping itu, kaupun harus membuat sekelompok orang yang dapat kau percaya benar-benar apabila Ki Reksatani kelak mempunyai pendirian lain terhadapmu" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya pula. "Anak itu akan merupakan persoalan tersendiri" berkata ayahnya pula. "Mungkin, mungkin bayi itu akan diambilnya pada saat ia lahir kelak" "Memang mungkin sekali Sekarang bukankah kau melihat, bahwa pamrih itu dapat merubah orang menjadi lebih buas dari seekor binatang?" Dada Manguri berdentangan mendengar kata-kata ayahnya itu. Wajahnya tiba-tiba menegang. "Tetapi ia agaknya sudah menjadi kebiasaan manusia ini pula. Ki Reksatani, kau dan juga aku" Manguri sama sekali tidak menyahut. "Sudahlah. Tetapi kau harus mempersiapkan dirimu. Lamat dapat dipercaya sepanjang ia masih tetap seperti sekarang. Karena itu jangan terlampau sering kau sakiti hatinya. Dalam keadaan yang gawat di dalam perebutan pamrih ini, kau tidak akan dapat menggantungkan nasibmu kepada ibumu" Manguri terperanjat mendengar kata-kata ayahnya. Ditatapnya wajah ayahnya itu dengan sorot mata yang aneh. Tetapi ayahnya justru tersenyum sambil berkata "Jangan hiraukan kata-kataku" Manguri t idak sempat menjawab karena ayahnya segera meninggalkannya. Namun di dalam hati ter-bersit pertanyaan "Apakah sebenarnya ayah memang sudah mengetahui hubungan ibu dengan laki-laki itu? Tetapi Manguri tidak mau memikirkannya lagi. Bahkan ia berkata di dalam hatinya "Kami sudah terlibat dalam kepentingan kami masing-masing. Aku tidak peduli, apakah ayah sudah mengetahui atau tidak. Yang penting, baik ayah maupun ibu di dalam keadaannya, bersedia membantu aku dengan cara mereka sendiri-sendiri" Namun demikian Manguri percaya bahwa ayahnya tidak akan sampai hati membiarkannya apabila ia menemui kesulitan. Dan Manguripun mengetahui, bahwa sebenarnya ayahnya telah mempunyai orang-orangnya yang khusus. Orang-orang yang biasanya ikut membawa ternak kedaerahdaerah yang jauh. Mereka adalah orang-orang terpilih, yang di dalam keadaan tertentu bukan saja cakap mengatur ternak, tetapi orang-orang yang mampu berkelahi. "Tentu aku akan dapat mempergunakan mereka di dalam keadaan yang terpaksa. Bersama dengan Lamat, mereka akan merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan df Kademangan ini" berkata Manguri di dalamhatinya. Ketika kemudian Manguri menyampaikan semuanya itu kepada Lamat, maka hati raksasa itu menjadi semakin pedih. Betapa ia terpaksa menyaksikan bayangan-bayangan yang buram penuh dengan noda-noda yang kotor. "Apa katamu?" bertanya Manguri "kau akan menjadi seorang Senapati yang memimpin sepasukan prajurit. Aku akan minta kepada ayah, orang-orangnya harus bersedia membantuku apabila pada suatu saat aku perlukan" "Kau tidak usah heran Ayah sudah menyadari, bahwa untuk kepentingan pamrih pribadi manusia dapat menjadi labih buas dari binatang. Kau mengerti? Lamat mengangguk pula "Karena itu kita jangan membiarkan diri kita menjadi korban kebuasan itu. Kita harus bersiap menghadapinya" "Kita akan menjadi buas pula?" tiba-tiba Lamat bertanya "Tentu. Dalam keadaan tertentu kita akan menjadi buas. Akupun kini menyadarinya. Bahkan kita bersama-sama telah melakukannya" Lamat menundukkan kepalanya. Tetapi ia t idak menyahut. "He, kau tidak setuju?" Lamat t idak menyahut. "He, apakah kau sudah tuli he? Atau bisu?" bentak Manguri. Lamat menarik nafas dalam-dalam. "Bagaimana dengan pendirianmu, dungu?" "Aku sependapat" desis Lamat dengan suara yang gemetar. "Nah, kau memang harus sependapat. Kau tidak dapat berbuat lain. Ayahkupun sudah menyetujuinya. Ayah pulalah yang menyerahkan semua tanggung jawab pengamanan rencana ini kepadamu. Mungkin ayah mengetahui, bahwa tidak ada orang lain yang dapat menandingi Ki Reksatani, apalagi Ki Demang, selain kau" Lamat t idak segera menyahut, sehingga Manguri membentaknya pula "Apa katamu?" Kepala Lamat terangguk-angguk kecil "Aku menjadi sangat terharu atas kepercayaan itu. Tetapi aku tidak dapat mengatakan bahwa aku akan dapat mengimbangi Ki Demang atau Ki Reksatani apabila keadaan memaksa demikian" "Kau takut?" "Bukan takut. Tetapi tidak ada ukuran yang dapat aku pergunakan untuk menilai kemampuan keduanya. Aku belum pernah melihat mereka bertempur. Aku baru mendengar kemampuan mereka yang tanpa tanding dari mulut ke mulut" "Huh, hatimu agaknya sudah goyah. Seandainya mereka orang-orang yang mempunyai kelebihan tanpa batas, kau tidak perlu takut. Kau mempunyai prajurit-prajurit yang akan bertempur bersamamu" Lamat tidak menyahut. Tetapi kepalanya menjadi semakin tertunduk. "He" berkata Manguri kemudian "bukankah kau laki-laki?" Pertanyaan itu terdengar aneh di telinga Lamat, sehingga karena itu, ia mengangkat mukanya. "Dengar" berkata Manguri kemudian "kalau kita sudah berhasil, dan keadaan sudah menjadi tenang, aku tidak akan melupakan. Selama ini kau selalu berbuat apa saja, berdasarkan perasaan berhutang budi. Meskipun demikian, aku tidak akan membiarkan hal itu berlangsung terusmenerus. Kau adalah laki-laki seperti aku, seperti ayah, seperti Ki Reksatani dan seperti Ki Demang yang sudah enam kali kawin" Manguri berhenti sejenak. Sambil menepuk pundak Lamat ia berkata "Pada suatu saat kaupun harus kawin Aku akan memberimu hadiah seorang perempuan yang cantik untuk menjadi isterimu" Manguri mengerutkan keningnya ketika ia melihat wajah Lamat sama sekali tidak berubah. "Kau tidak suka?" Lamat merenung sejenak. Jawabnya "Tentu, tentu aku suka sekali" "Bagus. Berbuatlah sebaik-baiknya Waktunya sudah menjadi semakin dekat. Besok atau lusa Ki Reksatani akan memberitahukan segala sesuatunya. Ia akan menunjukkan tempat-tempat yang baik untuk menunggu. Ingat, pekerjaan ini bukan sekedar main-main seperti menghadapi Pamot. Tetapi kita harus bersungguh-sungguh. Kalau Ki Demang mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, maka pasti akan terjadi perang diantara orang-orang Kepandak sendiri. Pengikut Ki Reksatani dan pengikut kita, melawan para bebahu Kademangan dan para pengawal yang masih tersisa. Tetapi itupun bukan penyelesaian yang terakhir. Pada suatu saat aku dan Ki Reksatanipun akan berselisih jalan" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sudah terbayang di rongga matanya, apa yang mungkin dapat terjadi. "Sudahlah. Kau sejak sekarang boleh mengharap seorang isteri yang cantik, meskipun wajahmu menakutkan dan kepalamu botak" Lamat tidak menyahut, dan Manguripun memang tidak menunggu jawabannya lagi. Sepeninggal Manguri, maka Lamat masih duduk di tempatnya sambil merenung. Seperti kata ayah Manguri, seseorang memang dapat menjadi buas melampaui binatang. Dan ia memang berada disarang manusia-manusia yang buas itu. "Akupun harus menjadi buas pula untuk kepentingan pribadi. Bukankah berhutang budi itu semata-mata masalah pribadiku? Untuk membayar hutang yang tidak akan dapat terlunaskan itu, akupun harus mengorbankan orang lain. Bahkan mengorbankan diriku sendiri" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Ia memang tidak akan dapat ingkar lagi, bahwa ialah yang harus melakukannya. Mengambil Sindangsari. Manguri t idak akan percaya apabila orang lain yang melakukannya. Orang-orang Ki Reksatani, misalnya. Ketika terlintas di dalam ingatannya seorang anak muda yang bernama Pamot, hatinya berdesir, Pamot kini sedang berada di dalam perjalanan pulang dari Betawi kalau ia masih ada diantara mereka yang selamat. "Kalau Pamot sudah ada di Kademangan ini" desisnya. Tetapi kemudian sebuah pertanyaan menyusul "Kalau ia ada apakah yang dapat dilakukan untuk menghadapi permainan yang mengerikan dari Ki Reksatani dan Manguri ini?" Akhirnya Lamat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dicobanya untuk melupakan saja persoalan yang membuatnya pening. Perlahan-lahan ia kemudian melangkah dengan kepala tunduk. "Aku tidak usah memikirkannya. Aku memang tidak pernah mendapat kesempatan untuk menyatakan pikiranku. Aku hanya tinggal melaksanakan apa yang sudah dipikirkan oleh orang lain" katanya di dalam hati. Sementara itu, Ki Demangpun sudah mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk merayakan genap tujuh bulan kandungan isterinya. Para bebahu Kademangan Kepandak selalu mendorongnya untuk merayakannya dengan peralatan yang besar, karena setelah kawin untuk keenam kalinya, barulah ia akan mendapatkan seorang anak. "Tentu" berkata Ki Demang "peralatan ini adalah peralatan yang terbesar yang pernah aku selenggarakan. Lebih besar dari peralatan perkawinanku yang pertama" "He, apakah Ki Demang masih ingat, apa saja yang diselenggarakan waktu itu?" bertanya Ki Jagabaya. Ki Demang tersenyum. Jawabnya "Tentu. Tujuh hari tujuh malam diselenggarakan pertunjukan di halaman rumah isteriku yang pertama itu" "Aku juga nonton waktu itu" berkata Ki Jagabaya kemudian "tetapi aku belum seorang Jagabaya. Saat itu, aku memang merasa iri melihat peralatan yang begitu besar. "Apalagi sekarang" sahut bebahu yang lain. "Tentu tidak" jawab Ki Jagabaya "sekarang aku ikut merasa berbahagia sekali. Bayangkan. Berapa tahun Ki Demang menunggu. Bahkan sampai diulanginya kawin lima kali. Dan yang keenam sekarang ini. Sudah tentu kita masing-masing akan mendapat hadiah yang lebih besar dari hadiah manapun yang pernah kita terima dari Ki Demang" Para bebahu Kademangan Kepandak itu tertawa serentak, sedang Ki Demang hanyalah tersenyum-senyum saja. Dalam pada itu Ki Reksatani yang hadir juga menyambung "Para bebahu Kademangan Kepandak memang akan mendapat hadiah yang paling besar dari yang pernah diberikan oleh kakang Demang. Tetapi apakah aku juga akan menerima?" Ki Demang berpaling. Sambil tertawa ia berkata "Makan sajalah. mBok-ayumu tadi menyuruh orang menyembelih ayam" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa. "Bukankah sejak kecil kau hanya memikirkan makan saja?" bertanya Ki Demang. "Tetapi aku tidak dapat menjadi gemuk" sahut Ki Reksatani. "Justru karena kau terlalu banyak makan. Selain makan, agaknya, kau memang tidak mempunyai kebutuhan lain" Para bebahu Kademangan yang ada di tempat itupun tertawa, Ki Demang masih juga tertawa, sedang Ki Reksatanipun tertawa pula. Justru berkepanjangan. Namun tidak seorangpun yang melihat, apakah yang sebenarnya tersirat di kepala adik Ki Demang di Kepandak itu. Adik yang selama ini selalu patuh. Tetapi kalau saja dapat dilihat wajah lahiriah Ki Reksatani, diperbandingkan dengan wajah batinnya, maka akan tampak sekali betapa keduanya akan sangat jauh berbeda. Senyum dan tawa yang membayang di bibirnya, adalah lukisan maut yang terukir di dinding hatinya. "Sayang sekali kakang Demang" berkata Ki Reksatani di dalam hatinya "aku terpaksa sekali melakukannya justru karena isterimu yang keenam ini mengandung. Kalau tidak, maka aku akan sabar menunggu sampai batas umurmu Tetapi kini agaknya semuanya harus diparcepat dengan segala macam cara" Ki Reksatani memandang wajah kakaknya sekilas. Wajah itu tampaknya diwarnai oleh hatinya yang cerah. Sebentarsebentar ia tersenyum dan tertawa, diantara kelakar para pembantunya. "Kalau datang saat itu, kau tidak akan tertawa lagi kakang Demang" berkata Ki Reksatani pula di dalam hatinya "kau akan menangis dan alangkah baiknya kalau kau membunuh diri" Tanpa disadarinya tiba-tiba telah tumbuh pikiran yang labih jahat lagi di hati Ki Reksatani. Hilangnya Sindangsari belum merupakan jaminan terakhir bahwa niatnya akan terlaksana. Sebuah pertanyaan selalu mengganggunya "Bagaimana kalau ia kawin lagi dan isterinya itu kelak mengandung?" "Kalau begitu umur Ki Demangpun harus diperpendek" desisnya di dalam hati Pikiran itu mula-mula memang mengejutkannya sendiri. Tetapi semakin lama justru menjadi semakin jelas terbayang diangan-angannya, justru pada saat ia ikut serta tenggelam dalam kelakar yang segar diantara para bebahu Kademangan Kepandak. "Kalau Sindangsari sudah disingkirkan" berkata Ki Reksatani di dalam hatinya pula "sampailah saatnya Ki Demang harus diakhiri pula dengan cara yang paling halus. Kecuali kalau kemudian karena sesuatu hal harus ditempuh jalan kekerasan. Itupun aku sudah siap menghadapinya. Sementara aku dapat mempergunakan Manguri dan tenaga Raksasa yang dungu itu. Demikianlah, pikiran itu ternyata tidak dapat begitu saja disingkirkan dari kepala Ki Reksatani. Meskipun ia belum mendapat gambaran yang lebih jelas, namun setiap kali seakan-akan terngiang di telinganya "Kakang Demangpun harus disingkirkan. Kalau aku dapat melakukannya dengan cara yang tidak diketahui orang, maka semuanya akan berlangsung dengan baik, tenang dan tanpa kekisruhan apapun" Dalam pada itu, Ki Reksatani sendiri selalu mengikuti perkembangan keadaan di Kademangan. Ia amat rajin datang setiap saat. Bahkan semua kebutuhan kakaknya, diusahakannya. Ia sama sekali tidak pernah berkeberatan atau mengelak, apabila Ki Demang menyuruhnya untuk berbuat apa saja, terutama yang menyangkut kepentingan peralatan yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Namun di samping itu, ia juga telah menyiapkan segala kepentingan yang langsung atau tidak langsung, untuk menyingkirkan Sindangsari. Dengan diam-diam ia telah memperhitungkan tempat-tempat yang paling baik untuk melaksanakan maksudnya. "Sindangsari itu harus disingkirkan dari orang banyak" ia berkata di dalam hatinya. Dan Ki Rekstanipun telah menemukan tempat untuk itu. "Isteriku harus membujuknya agar Sindangsari pergi ke tempat itu" katanya di dalam hati. Dan selanjutnya, Lamatlah yang akan membawanya pergi. Beberapa hari menjelang peralatan tersebut, maka beberapa orang yang berkepentinganpun telah memerlukan melihat-lihat tempat yang sudah ditunjuk itu, meskipun hanya dari kejauhan. Di malam hari mereka seorang demi seorang dengan diam-diam lewat di jalan samping, di sebelah rumah Ki Demang. Dengan hati-hati mereka berusaha melihat keadaan di dalam halaman dan kebun belakang. Apabila malam telah menjadi sepi, maka orang-orang yang berkepentingan itu memanjat pepohonan justru di halaman rumah sebelah untuk mendapat gambaran yang jelas. Terutama Lamat dan Manguri. "Besok, kita akan meyakinkannya" berkata Ki Reksatani "panjatlah pohon manggis di halaman sebelah. Kau akan melihat aku pergi ke halaman belakang sambil membawa upet. Kau akan melihat bara di ujung upet itu. Aku akan memutarnya, agar kau dapat membedakan, kalau ada orang lain yang lewat membawa upet pula. Di tempat aku berhenti, disitulah Lamat harus bersiap-siap. Sindangsari akan dibujuk untuk pergi ke tempat tersebut" Di malam berikutnya, Manguri membawa Lamat pergi ke halaman sebelah kebun Kademangan. Ketika tidak ada seorangpun lagi yang mungkin melihat mereka, keduanya memanjat keatas. Dua orang yang dibawa oleh Ki Reksatani memanjat sebatang pohon randu di sebelah pohon manggis itu. Kedua orang itu adalah orang-orang yang dipercaya oleh Ki Reksatani untuk mengawasi suasana pada malam yang telah ditentukan itu. Sementara beberapa orang yang lain akan disiapkan di ujung padukuhan Apabila mereka gagal, sehingga para peronda melihat usaha penculikan itu, kekerasan tidak akan dapat dihindari lagi. Mereka pasti akan bertempur. Tetapi Ki Reksatani masih berusaha menghindari akibat itu. Kekerasan tidak akan menguntungkannya meskipun barangkah apabila ia dapat mengalahkan Ki Demang tidak akan ada lagi orang yang berani menentangnya. Tetapi dengan demikian ia sudah membuat jarak dengan orangorang di seluruh Kademangan Kepandak. Apalagi apabila pimpinan pemerintahan di kota Mataram ikut campur. Keadaan akan menjadi gelap dan tidak dapat diperhitungkan dengan baik. Hanya apabila hal itu tidak dapat dihindari, maka apaboleh buat. Ibarat orang menyeberang, pakaiannya sudah terlanjur basah Terus basah, kembalipun basah. Lamat dan Manguri yang duduk diatas sebatang cabang yang rimbun akhirnya melihat sepeietikbara api yang bergerak-gerak di kebun belakang rumah Ki Demang. Sejenak bara api itu berhenti, dan sejenak kemudian berputaran. "Itulah dia" desis Manguri "ingat-ingat tempat itu. Kau kelak harus bersembunyi di sana Kalau Sindangsari telah berada di tempat itu, cepat-cepat tangkap perempuan itu. Jangan sampai memekik supaya tidak timbul keonaran" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bawa perempuan itu segera keluar halaman. Di ujung halaman rumah sebelah sudah disediakan seekor kuda yang besar buat kau dan Sindangsari. Ingat kau harus segera membawa perempuan itu ke tempat yang sudah aku sediakan. Kau mengerti?" Lamat mengangguk. "Kau mengerti?" Manguri mengulangi "seekor kuda buat kau dan Sindangsari " Lamat mengangguk sekali lagi Tetapi kali ini ia menjawab "Ya. Aku mengerti" "Baik. Tetapi kau tidak boleh keliru. Kalau kau gagal maka bukan hanya lehermu sajalah yang akan dipenggal. Tetapi leherku dan leher Ki Reksatani. Kau tidak usah mempedulikan Rektasani. Tetapi kalau akulah kelak yang dihukum mati. maka kau akan berdosa pula. Kau tidak dapat menyelamatkan nyawaku meskipun nyawamu telah diselamatkan ayah" Lamat mengangguk-angguk sambil menjawab "Ya" "Bagus. Lihat itu. Bara yang merah itu sekali lagi berputarputar. Kita sudah pasti, di sanalah nanti pada saatnya kita akan menunggu" "Apakah di tempat itu kelak di saat peralatan berlangsung akan sepi dan tidak dijaga oleh seorangpun" "Kita tidak usah memikirkannya. Itu pasti sudah diperhitungkan oleh Ki Reksatani" "Tetapi alangkah baiknya kalau kita dapat menguasai keadaan seluruhnya, sehingga tugas ini akan selesai dengan baik dan selamat" "Ki Reksatani pasti sudah menyiapkan segala sesuatunya. Kalau di tempat itu banyak orang, maka ia adalah orang yang paling gila yang pernah aku jumpai. Sedangkan kalau di tempat itu terdapat banyak orang dan kau melangsungkan juga penculikan ini, maka kaupun sudah kejangkitan penyakit gila itu juga. Mengerti? Kali ini kau jangan berbuat bodoh kalau kau masih sayang akan nyawamu yang pernah diselamatkan oleh ayah itu" Lamat tidak menjawab. Ia hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap dadanya. Sementara Manguri berkata seterusnya "Kali ini kita berhadapan dengan Ki Demang di Kepandak. Kemudian dengan Ki Reksatani sendiri" Lamat masih tetap berdiam diri. "Apa kau dengar?" geram Manguri. "Ya, ya. Aku mendengar" desis Lamat. Keduanyapun kemudian terdiam. Tatapan mata mereka kembali kepada bara di ujung upet yang berputar-putar. Namun kemudian bara sepelitik itupun kemudian seakan-akan hilang begitu saja di dalam kegelapan. "Ya. Dan kitapun sudah cukup mengenal tempat itu Aku harus mengingat-ingatnya" "Nah, agaknya kau mampu juga berpikir" sahut Manguri. Lamatpun terdiampula. "Tugas kita malam ini sudah selesai. Kita akan segera pulang. Kita menunggu keterangan lebih lanjut dari Ki Reksatani" Lamat tidak menjawab. Tetapi keduanyapun kemudian turun dari pohon manggis. "Bagaimana dengan kedua orang dipohon randu itu?" bertanya Lamat. "Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Keduanya bukan urusan kita" jawab Manguri. Dengan demikian maka tanpa memberitahukan kepada kedua orang yang masih berada diatas pohon randu, keduanyapun meninggalkan tempat itu. "Mereka akan melihat kita pergi" berkata Manguri "kecuali apabila mereka tertidur diatas pohon itu. Jika demikian maka itu adalah salah mereka sendiri. Manguri dan Lamatpun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tempatnya, pulang ke rumah mereka. Di sepanjang jalan, telah terbayang pada keduanya, apa yang akan terjadi. Namun ternyata sudut pandangan mereka jauh berbeda. Manguri mengharap agar Lamat berhasil dan membawa Sindangsari ke tempat yang tersembunyi. Memang mungkin Sindangsari menolaknya di hari-hari pertama. Tetapi pada suatu saat hati perempuan itu pasti akan luluh. "Setelah ia berada di rumah Ki Demang, akhirnya ia mengandung juga" berkata Manguri di dalam hatinya "pasti demikian juga setelah ia berada di rumah yang akan dihuninya itu. Meskipun rumah itu kecil dan t idak sebagus Kademangan, tetapi aku akan melengkapinya dengan perabot yang paling mahal di Mataram" Namun agaknya Lamat berpikir lain, meskipun ia membayangkan juga apa yang akan terjadi atas Sindangsari, yang akan mengalami nasib yang sangat pahit. Di sepanjang jalan Lamat sedang mencoba menghitung, betapa besar dosa yang akan diperbuatnya nanti. Demikianlah, maka semua persiapan yang dilakukan oleh Ki Reksatani sudah menjadi sangat rapi. Apabila tidak terjadi sesuatu yang berada di luar perhitungan, semuanya akan berlangsung dengan baik. Meskipun demikian Ki Reksatani telah bersiap-siap pula apabila rencana ini gagal. Sesuai dengan pengalamannya, Ki Reksatani tidak dapat memastikan bahwa rencana yang tampaknya sudah masak benar itu dapat berlangsung tanpa rintangan apapun. Sepertiyang pernah terjadi atas Puranta. Seakan-akan semuanya telah diperhitungkan dan akan berjalan dengan sendirinya sesuai dengan maksudnya. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya Puranta itu didapatinya mati tanpa dapat diketahui siapa pembunuhnya. Karena itu, Ki Reksatani tidak mau mengalami kegagalan sekali lagi. Kalau perlu, semuanya akan diselesaikan dengan kekerasan. Selain Ki Reksatani, Manguripun telah mempersiapkan dirinya pula. Seperti Ki Reksatani, ia tidak dapat mempercayakan diri kepada rencananya semata-mata. Kalau rencana itu gagal, ia harus mempunyai alat untuk melindungi dirinya. Di dalam hal yang demikian ia akan dapat bekerja bersama dengan Ki Reksatani. Tetapi apabila rencana ini berhasil, ia masih juga harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang sama sekali tidak dikehendakinya. Apabila Ki Reksatani ingkar janji seperti perhitungan ayahnya, ia sudah menyusun kekuatan untuk bertahan. "Aku akan ada di rumah pada hari-hari yang ditentukan itu kelak" berkata ayah Manguri "semua orang-orangku akan berkumpul. Mereka adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Bersama Lamat, kau dan aku Kademangan ini akan dapat kita kuasai. Apalagi orang yang bernama Reksatani itu. Pada suatu saat aku memang ingin membunuhnya" "Ayah" desis Manguri. Ayahnya tidak menjawab Tetapi ia hanya tersenyumsaja. Dengan demikian maka hati Manguri menjadi kian berdebar-debar. Agaknya ayahnya memang sudah mengetahui hubungan rahasia antara ibunya dan adik Ki Demang di Kepandak itu. "Tetapi Manguri kemudian t idak peduli lagi. Biarlah apa saja yang akan terjadi. Tetapi Sindangsari harus jatuh ke tanganku. Pelaksanaan rencana itu kemudian ditandai oleh kepergian Ki Reksatani ke rumah kakek, nenek dan ibu Sindangsari Meskipun mereka sudah mendengar, tetapi secara resmi Ki Reksatani menjadi utusan Ki Demang untuk mengundang mereka pada peralatan tujuh bulan kandungan Sindangsari. "Tentu, tentu, kami tentu akan datang" berkata ibu Sindangsari "aku akan segera punya cucu, dan kakek Sindangsari berdua akan mempunyai seorang cicit" "Kami sangat mengharap kehadiran kalian" berkata Ki Reksatani kemudian "tidak sekedar tepat pada hari peralatan, tetapi dua atau tiga hari sebelumnya" "Aku mungkin dapat melakukannya" jawab ibu Sindangsari "tetapi kakek dan nenek Sindangsari mempunyai banyak tanggung jawab. Di rumah dan di sawah" jawab ibu Sindangsari. "Tetapi sudah tentu kalian akan bermalam di Kademangan "sambung Ki Reksatani. "Ya, mudah-mudahan" "Besok, orang-orang di Kademangan pasti sudah mulai menyiapkan segala sesuatu. Peralatan itu tinggal kurang sepekan lagi" "Ya, sudah barang tentu" "Kapan kalian akan datang, terutama ibu mBok-ayu Demang di Kepandak itu?" "Aku akan berusaha datang tiga hari sebelum hari peralatan itu" "Baik. Aku akan mengatakannya kepada kakang dan mBokayu Demang" sahut Ki Reksatani "mereka pasti akan bersenang hati. Tugasku sendiri ternyata masih cukup banyak. Aku masih harus mencari buah kelapa gading sepasang yang kelak akan dilukisi gambar Kama dan Ratih, atau Arjuna dan Sumbadra. "Bukankah masih ada waktu beberapa hari lagi?" bertanya ibu Sindangsari. "Ya, memang masih ada waktu. Tetapi aku harus sudah mulai sejak sekarang, supaya besok pada saatnya, aku tidak dikejar-kejar oleh kegelisahan karena kekurangan waktu" Ki Reksatanipun kemudian minta diri. Memang masih banyak yang harus dikerjakan. Selain persiapan peralatan itu sendiri, juga persiapan tentang rencananya bersama Manguri. Tetapi karena ayah Manguri ada di rumah, Ki Reksatani tidak dapat pergi ke rumah itu. Ia telah membuat tempat pertemuan yang khusus dengan Manguri untuk mematangkan setiap rencana. Semakin dekat dengan hari peralatan itu, mereka harus semakin sering berhubungan. "Sepekan lagi" berkata Ki Reksatani "siapkan dirimu. Jasmaniah dan batiniah Jangan gelisah dan bingung. Dengan demikian maka banyak rencana yang justru akan gagal" "Aku bukan anak-anak lagi" jawab Manguri "aku tahu pasti, apakah yang sebaiknya aku kerjakan" "Jangan berkata begitu. Kau dan aku masing-masing tidak akan tahu pasti apa yang harus kita kerjakan masing-masing apabila kita tidak selalu saling berhubungan" Akhirnya Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya "Baiklah, Aku akan selalu menghubungi kau dan mendapatkan petunjuk-petunjukmu untuk seterusnya" "Bagus. Usaha ini bukan sekedar usaha kecil-kecilan. Taruhannya nyawa. Nyawa kita masing-masing dan mungkin nyawa banyak orang di Kepandak" "Aku menyadari. Tetapi akupun sudah siap menghadapi setiap kemungkinan" Demikianlah, maka tampaknya rencana Ki Reksatani memang sudah masak. Mereka tinggal menunggu dengan hati yang berdebar-debar hari yang merayap lamban sekali maju. Namun tidak dapat dilepaskan dari perhitungan Ki Reksatani sebab-sebab Puranta mati terbunuh. Pembunuhnya sampai saat terakhir masih belum diketemukannya. Kalau tibatiba saja ia muncul merusak rencananya, maka ia harus mempergunakan caranya yang terakhir. Kekerasan. Tetapi selagi kemungkinan yang paling baik itu dapat dilakukan, maka cara itulah yang akan ditempuhnya lebih dahulu. Hari demi hari datang beruntun. Yang lima t inggal empat, kemudian yang empat itupun tinggal tiga. Kademangan Kepandak telah mulai ramai membicarakan peralatan besar-besaran yang akan diadakan oleh Ki Demang untuk menyambut bulan ke tujuh dari kehamilan isterinya. Sebagaimana yang direncanakan, maka peralatan kali ini benar-benar suatu peralatan yang besar. Tidak saja di halaman Kademangan akan diselenggarakan berbagai macam pertunjukan di setiap malam sampai malam ke tujuh, tetapi di halaman banjar desa dan di padukuhan-padukuhan yang lainpun, rakyat Kepandak ikut merayakannya. Di hari ketiga sebelum peralatan jalan-jalan padukuhan sudah dipenuhi dengan oncor-oncor jarak yang dibuat oleh anak-anak. Sehari-harian mereka mencari buah jarak kepyar. Setelah dijemur di panas matahari maka bijinya dirangkainya panjang sekali. Biji-biji jarak itu merupakan obor yang baik meskipun tidak dapat tahan terlampau lama. Tetapi di setiap jalan simpang, yang terpancang bukan sekedar obor-obor jarak, tetapi lampu-lampu minyak jarak, yang dapat tahan sampai semalamsuntuk. Di hari itu ibu Sindangsari memerlukan datang ke Kademangan menunggui anaknya yang sedang menjadi pusat perhatian setiap orang. Pada saatnya Sindangsari akan dimandikan bersama suaminya. Kemudian diikuti oleh berbagai macamupacara seperti yang lajim dilakukan. Di hari-hari yang semakin dekat dengan hari peralatan itu, Ki Reksatanipun menjadi semakin berdebar-debar. Siang malam ia sudah tidak beranjak dari Kademangan bersama isterinya. Bahkan anak-anaknya yang kecilpun dibawanya pula, agar Nyai Reksatani tidak setiap kali harus pulang menengok anak-anaknya, Sindangsari kadang-kadang menjadi heran melihat perbedaan tingkah laku Nyai Reksatani. {a kini menjadi seorang perempuan yang baik, yang ramah dan yang berusaha menempatkan dirinya sebagai seorang saudara muda. Jauh berbeda dengan beberapa saat yang lampau, selagi ia mencoba menjebaknya dan menjatuhkannya ke tangan seorang laki-laki, meskipun akhirnya semuanya akan tergantung kepada dirinya sendiri. Untunglah bahwa aku tidak terjerumus karenanya "Sindangsari selalu mengucap sukur di dalam hati "Tuhan masih tetap melindungi aku " Bahkan tanpa disangka sangkanya Nyai Reksatani itu di dalam suatu kesempatan berkata kepadanya "mBok-ayu, maafkan tingkah lakuku beberapa saat yang lampau. Lupakanlah Kau akan menjadi seorang ibu yang berbahagia. Sebentar lagi kau akan melahirkan. Mudah-mudahan anak itu kelak akan menjadi seorang ianafe yang utama. Kalau ia lakilaki biarlah ia menjadi seorang laki-laki yang baik, yang bermanfaat bagi Kademangan ini, berjebih-lebih lagi bagi Mataram. Kalau ia perempuan, biarlah ia menjadi perempuan yang setia. Setia kepada orang tua, kepada suami dan kepada tanah kelahirannya, seperti kesetiaan ibunya" "Ah" desah Sindangsari. Tetapi ia tidak menyahut. Keheranheranannya kian bertambah. Nyai Reksatani kini seakan-akan menjadi seorang perempuan yang berpandangan sangat luas. Bukan saja tentang dirinya sendiri, tentang keadaan diseputarnya, tetapi juga tentang keseluruhan yang melingkunginya. "Anggaplah semua yang sudah terjadi itu seperti sebuah mimpi. Dan mBok-ayu sekarang sudah terbangun. Dengan demikian maka sudah tidak ada lagi hubungan apapun dengan mimpi yang buruk itu" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya Aku mengerti" Nyai Reksatani menepuk bahunya. Kemudian ditinggalkannya Nyai Demang itu sambil berkata "Pekerjaanku masih banyak. Kau tidak usah ikut melakukan apapun juga. Jagalah kandunganmu baik-baik" "Terima kasihi" jawab Sindangsari. Namun dalam pada itu Nyai Reksatani menganyam-anyam cara yang sebaik-baiknya. Katanya, di dalam hati "Aku harus mendapatkan kepercayaannya kembali. Di malam itu aku harus membawanya ke tempat yang sepi itu. Maka akan hilanglah perempuan yang di hari ini dan di hari-hari mendatang sedang dieluk-elukan seperti seorang Permaisuri ini" Tetapi betapapun sibuknya, Ki Reksatani masih juga sempat sesaat keluar dari halaman Kademangan menemui Manguri di ujung padukuhan di malam hari. Karena Kademangan Kepandak telah menjadi semakin ramai, mnka kadang-kadang Manguri harus menunggunya di tengahtengah bulak. Anak itu tidak dapat mendekati padukuhan apalagi di sekitar rumah Ki Demang karena anak-anak muda sudah mulai ramai di jalan-jalan padesan. "Kalian harus mengikuti jalannya upacara dengan baik" berkata Ki Reksatani "sesudah mandi, kedua suami isteri itu akan diarak mengelilingi rumah. Kemudian mereka akan berhenti di halaman depan. Keduanya akan melangkahi perapian kecil, dan selanjutnya keduanya akan dibawa masuk ke rumah. Kalau kau tidak dapat melihat apa yang terjadi di dalam rumah itu, kau dapat memperhitungkan waktunya. Perempuan itu harus makan rujak yang disebutnya rujak edan. Kemudian ia harus berganti pakaian tujuh kali. Ingat tujuh kali. Sesudah itu sepasang kelapa gading yang sudah digambari Kama dan Ratih akan diselusupkan diantara kainnya yang ke tujuh sebelum upacara yang terakhir. Merias perempuan itu sebaik-baiknya dengan pakaiannya yang ke tujuh" "Begitu banyak?" bertanya Manguri "jadi, apakah kami nanti harus menunggu sampai tengah malam. "Memang tengah malam. Mereka dimandikan di tengah malam, Kalian baru dapat bertindak di dini hari. Ingat, Upacara baru mulai di tengah malam" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Kalau begitu, untuk mengurangi kemungkinan yang tidak dikehendaki, aku akan datang sesudah tengah malam, supaya aku tidak terlalu lama menunggu" "Terserah. Tetapi kau tidak boleh terlambat. Begitu upacara selesai, isteriku akan membawa Sindangsari ke belakang Ke tempat yang sudah aku tunjukkan kepadamu" "Kau yakin tempat itu sepi" "Akulah yang mengatur tempat di Kademangan selama peralatan berlangsung. Kakang Demang sama sekali tidak akan mencampuri karena ialah yang akan menjadi sasaran upacara" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah. Aku akan memperhatikan semuanya. Lamat akan berada di tempatnya pada saat yang sudah ditentukan" "Hati-hatilah" "Aku sudah tahu akibatnya kalau usaha ini gagal. "Terserah kepadamu. Orang-orangkupun akan siap pada saat-saat menjelang tengah malam. Mereka akan berada di mulut-mulut lorong dan di tempat kuda Lamat disediakan" "Baik" "Apakah kau juga membawa orang-orang khusus?" Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak. Hanya beberapa orang untuk membantu Lamat apabila diperlukan" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya iapun menaruh curiga kepada Manguri. Ia sadar, bahwa ayah Manguri juga mempunyai beberapa orang upahan yang sehari-hari harus memelihara dan menjaga ternaknya, sedang di saat-saat tertentu mengawal ternak itu ke tempattempat yang jauh Tetapi bukanlah saatnya untuk memperbincangkan prasangka masing-masing, seperti juga Manguri berprasangka. Di Kademangan, tidak seorangpun yang menyangka, bahwa di Kademangan Kepandak sedang dipersiapkan suatu rencana yang mengerikan. Mereka tenggelam di dalam kerja yang melelahkan, tetapi menggembirakan. Setiap kali mereka berkelakar diseling oleh suara tertawa yang meledak-ledak. Baik di dapur, yang dengan Jenaka beberapa orang perempuan menyindir-nyindir Sindangsari, maupun di pendapa, para bebahu Kademangan yang duduk bersamasama dengan Ki Demang. "He, lihatlah. Menilik lekuk di pipi, anak yang pertama ini pasti laki-laki" desis seseorang yang duduk di samping Nyai Demang. "He, kenapa yang pertama?" bertanya yang lain. "Tentu. Tentu akan segera disusul oleh yang kedua, yang ketiga dan seterusnya" "Sampai yang keberapa?" "Jangan bertanya kepadaku. Bertanyalah kepada Nyai Demang. Berapa saja dibutuhkannya" "Jangan kepada Nyai Demang" potong seorang perempuan yang masih cukup muda" bertanyalah kepada Ki Demang" Suara tertawapun meledaklah. Sedang Sindangsari hanya menundukkan kepalanya sambil tersenyum-senyum. "He, jangan mengganggu, Kalian hanya akan menunggu, kapan kalian mendapat kesempatan menghadiri peralatan serupa ini lagi" berkata yang lain. "Mana mungkin. Peralatan semacam ini, menyambut bulan ke tujuh dari kandungan seorang ibu, hanya dilakukan satu kali. Yang pertama. Lain kali, meskipun seandainya Nyai Demang akan mengandung sepuluh kali lagi, tentu tidak akan ada peralatan serupa ini" "Memang. Peralatan seperti ini hanya satu kali. Tetapi rangkaian dari peralatan ini kelak banyak sekali. Hari kelahiran Sepasar dan selapan. Apabila di setiap malam sebelum puputan, di pendapa banyak terdapat orang-orang yang berjaga-jaga sambil membaca kitab dan kidung, maka kalian akan mendapat kesempatan pula untuk menunggui dapur ini sampai limabelas hari, bahkan lebih" "Sekali lagi terdengar perempuan-perempuan yang sedang membantu memasak berbagai macam masakan itu tertawa. Demikianlah, maka siang dan malam para tetangga beramai-ramai membantu segala keperluan di Kademangan yang akan mengadakan peralatan besar-besaran. Para bebahupun selalu hadir di pendapa berganti-gantian. Yang seorang pulang yang lain datang. Lebih-lebih Ki Jagabaya. Seperti Ki Rekstani, ia hampir t idak pernah meninggalkan Kademangan. Namun di dalam suasana yang cerah itu, Ki Demang kadang-kadang masih juga sempat merenung. Ia sadar sesadar-sadarnya, bahwa anak yang kini sedang dielu-elukan dengan segala macam upacara yang segera akan diselenggarakan itu sama sekali bukan anaknya, tetapi anak orang lain. Kini ia harus menyelenggarakan peralatan yang besar, menyediakan beaya, tenaga dan semua yang mungkin diadakan untuk kepentingan dan keselamatan anak itu. Sekali-sekali Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak akan dapat mengelakkan diri. Seolah-olah sudah menjadi keharusan baginya untuk menerima keadaan yang bagaimanapun juga menjelang kelahiran anak itu. "Tetapi anak itu merupakan suatu kenyataan. Anak itu dapat memberikan kebanggaan kepadaku, karena setiap orang tidak akan lagi menuduhku, sebagai seorang laki-laki yang tidak dapat memberikan keturunan. Tetapi anak itu juga merupakan duri di dalam jantungku Setiap kali terasa betapa pedihnya" Bukan saja Ki Demang, tetapi juga Sindangsari kadangkadang merasakan juga perasaan yang aneh. Seperti Ki Demang iapun mengetahui dengan pasti, bahwa anak itu didapatkannya dari seorang anak muda yang bernama Pamot. Bukan Ki Demang yang saat ini telah menyediakan apa saja untuk menyambut kandungannya yang genap berumur tujuh bulan. Tetapi keduanya, baik Ki Demang, maupun Sindangsari setiap kali selalu berusaha menyembunyikan perasaan itu Di hadapan para tamu, mereka selalu tertawa dan tersenyumsenyum. Apalagi Ki Demang. Ia dapat menanggapi kelakar para bebahu dan tetangga-tetangganya yang selalu mengunjunginya menjelang peralatan itu. Akhirnya, malam yang dinantikan itu tiba juga. Malam peralatan menyambut bulan ke tujuh kandungan Sindangsari. Malam pertama dari rangkaian peralatan itu, akan dilakukan dengan bermacam-macam upacara sesuai dengan adat. Upacara yang akan dipimpin oleh orang tua-tua. Di malam itu masih belum ada pertunjukan apapun di halaman, karena upacara baru dimulai sesudah tengah malam. Baru di malam berikutnya direncanakan pertunjukan di halaman yang akan berlangsung sepekan penuh. Semua rombongan pertunjukan yang akan mengisi halaman Ki Demang sudah dihubungi, dan semuanya telah siap pula melakukannya. Tari topeng, wayang beber, dan berbagai pertunjukan yang lain. Namun tidak seorangpun yang menyadari, bahwa di samping rombongan pertunjukan yang telah menyiapkan diri untuk meramaikan malam-malam berikutnya, di luar padukuhan itupun telah bersiap pula sebuah rombongan yang lain. Rombongan orang-orang yang siap untuk menyingkirkan Sindangsari. Ternyata persiapan Ki Jagabaya malam ini tidak seketat pada saat Ki Demang mengawini Sindangsari. Kali ini Ki Jagabaya merasa bahwa kemungkinan terjadi keributan hampir tidak dilihatnya. Betapa cinta Pamot dan Manguri kepada Sindangsari, tetapi Sindangsari kini adalah isteri Ki Demang. Apalagi perempuan itu sudah mengandung pula. Sehingga keduanya pasti tidak akan lagi berbuat sesuatu. Apalagi Pamot yang masih belum dapat dipastikan, mati atau hidup itupun sebenarnya dapat diabaikan, karena ia pasti belum berada di Kademangan Kepandak meskipun seandainya ia masih hidup. Demikianlah maka sejak senja, rumah Ki Demang telah penuh dengan orang-orang yang akan ikut di dalam upacara. Terutama orang-orang tua. Mereka nanti akan memandikan Ki Demang dan isterinya dengan air tawar yang diambilnya dari tujuh sumber air. Ketika malam mulai gelap, beberapa orang segera mencari air ke halaman-ke halaman tetangga Agar pasti, bahwa mereka mendapatkan air dari tujuh mata air, maka merekapun mengambil dari tujuh buah sumur di sekitar rumah Kademangan. Di ruang dalam, telah tersedia pula setumpuk pakaian yang terdiri dari tujuh pengadeg. Tujuh lembar kain dan tujuh lembar baju untuk Sindangsari yang diletakkan diatas nampan disentong tengah, ditaburi dengan bunga-bungaan. Demikianlah meskipun orang-orang tua itu sibuk bekerja, namun mereka sama sekali tidak merasa lelah. Juga perempuan-perempuan di dapur. Beberapa orang perempuan tua telah mengatur sajen yang akan diletakkan di sudut-sudut halaman, disimpang empat dan dirumpun-rumpun bambu petung. Sebelum upacara mulai di tengah malam, maka sajensajen itu harus sudah diletakkan di tempatnya. Dalam pada itu, semua orang bekerja dengan wajah yang cerah sesuai dengan tugas masing-masing. Nyai Reksa tanilah yang berjalan hilir mudik mengatur segala sesuatu, karena ialah yang diserahi seluruh tanggung jawab peralatan ini bersama suaminya. Namun, selagi semua persiapan berjalan dengan baik. seorang perempuan yang diserahi tugas menanak nasi setiap kah mengusap keningnya yang berkeringat. Meskipun ia selalu berada di depan perapian, namun terasa keringatnya yang meleleh di punggungnya, adalah keringat yang dingin. "Tidak pernah aku mengalami hal serupa ini" katanya sambil mengaduk nasi yang sedang ditanaknya di dalam kukusan. Dengan cemas ia mencoba untuk membuat nasi Itu masak. "He. kenapa kau bibi?" bertanya seorang perempuan muda yang mengambil seonggok kayu di samping perapian. "Lihat" berkata perempuan tua itu. "Apa?" "Nasiku tidak mau masak. Setiap kali, bagian atas sudah masak, bagian bawah ternyata masih mentah" "Aduk saja bibi" "Kau lihat juga, bahwa aku sedang mengaduk" "Ya. Tunggulah. Sebentar lagi nasi itu akan masak. Masih belum tergesa gesa. Bukankah mereka akan dijamu makan setelah semua perlengkapan selesai. Air, cengkir kelapa sawit, pakaian, seonggok merang di halaman" "Ya, memang belum tergesa-gesa. Tetapi dengarlah sudah lebih lima kali aku mengaduk nasi ini. Tetapi setiap kali aku menemui keanehan ini. Bagian ataslah yang masak sedang bagian bawah masih juga mentah" "Kalau di balik. Bagaian yang masak itu taruhlah di bawah. Yang mentah, biarlah diatas" "Yang bawah akan menjadi mentah" "Aneh" perempuan muda itu mengerutkan keningnya "kalau begitu, ambil sajalah bagian yang sudah masak itu. Bibi tinggal mematangkan yang masih mentah" "Yang masak hanya selapis. Kalau aku ambil bagian yang masak, maka tentu akan turut terambil juga yang mentah" "Aneh. Aku kira tidak begitu. Bibi sudah sangat lelah. Biarlah bibi beristirahat" "Lalu siapakah yang akan menanak nasi" "Biarlah orang lain yang melakukannya. Bibi dapat beristirahat sejenak" Perempuan muda itupun kemudian memanggil seorang tua yang lain, yang juga sering menanak nasi diperalatanperalatan. Karena menanak nasi merupakan pekerjaan yang khusus. Pekerjaan bagi mereka yang sudah biasa melakukannya. "Kenapa mBok-ayu" bertanya orang yang baru itu. "Mungkin benar. Aku terlalu lelah. Umurku sudah semakin tua, sehingga tenagakupun tidak lagi sekuat orang-orang muda meskipun aku masih ingin tetap demikian. "Beristirahatlah. Biarlah aku yang melanjutkannya" Perempuan tua itupun menganggukkan kepalanya. Kemudian ditinggalkannya perapian. Sejenak ia duduk diatas amben di sudut dapur sambil mengunyah sirih. Selagi ia terkantuk-kantuk, iapun terkejut ketika seorang perempuan muda yang lain mendatanginya dengan tergesagesa. Katanya "Bibi, bibi. lihatlah" Perempuan itu berpaling. Dilihatnya perempuan muda yang datang kepadanya itu membuka sebungkus makanan. "Hawug-hawug ini mentah bibi" Perempuan tua itu mengerutkan keningnya, Sambil menyentuh makanan itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya memang belum masak. Sebentar lagi hawug-hawug ini akan masak" "Perempuan muda itu menggelengkan kepalanya. Katanya "Air di dalam dandang itu hampir kering. Tetapi hawug-hawug ini t idak mau masak. Biasanya tidak begitu lama seperti kali ini" Perempuan tua itu memandang makanan mentah itu dengan kerut-kerut didahinya. "Bukankah bibi tahu" berkata perempuan muda itu seterusnya "bukankah di padukuhan ini tidak ada orang yang lebih cakap dari padaku untuk membuat makanan serupa ini? Berapa puluh kali aku membuat makanan serupa ini di setiap peralatan. Tetapi aku tidak pernah mengalami hal yang aneh seperti ini. Aku sudah menghabiskan sebongkok kayu. Tetapi makanan ini t idak mau masak juga" Perempuan tua itu menjadi semakin gelisah. Ia sendiri mengalami keanehan. Nasinya tidak mau masak di bagian bawah Bagian yang sudah masakpun akan menjadi mentah kembali, apabila nasi itu diaduk rata. Tetapi perempuan itu tidak mengatakannya. Bahkan ia berkata "Cobalah sekali lagi, Mungkin kukusan yang kau pergunakan kurang baik. Lubang-lubangnya terlampau kecil, sehingga uap air dari dandang di bawah kukusan itu tidak dapat masuk" Perempuan muda yang membuat makanan itu mengangguk-anggukkan kepalanya Sejenak kemudian iapun kembali ke tempatnya. Seperti pendapat perempuan tua itu. dicobanya sekali lagi untuk mematangkan masakannya. Sepeninggal perempuan muda itu, maka terasa betapa kantuk yang tidak tertahankan, Meskipun perempuan tua itu masih mengunyah sirih, namun tiba-tiba saja matanya terpejam. Di dalam hirup pikuk perempuan-perempuan yang bekerja di tempatnya masing-masing, perempuan tua itu sempat tertidur sambil bersandar tiang. "Bibi memang lelah sekali" desis perempuan yang duduk di depan pintu sambil membuat sudi. "Ya, ia sempat tertidur" Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Mereka membiarkannya perempuan tua itu tertidur sejenak. Namun dalam pada itu, perempuan lain yang menggantikannya menanak nasi itupun menjadi gelisah pula. Seperti perempuan yang terdahulu ia mengalami keanehan serupa. "Aneh. Inilah yang membuat mBok-ayu gelisah. Memang tidak masuk akal" gumamnya kepada diri sendiri. Namun tiba-tiba ia terperanjat, seperti semua orang yang ada di dapur itu, ketika tiba-tiba saja jambangan air di sudut pecah tanpa sebab. Airnya tertumpah dan mengalir menggenangi lantai. Beberapa orang perempuan bangkit dari tempatnya dan berjalan dengan tergesa-gesa ke sudut dapur. Sebagian yang lain segera menyibakkan setumpuk kayu yang tersentuh air yang tertumpah itu, sedang yang lain mencoba menahan air itu dengan sapu lidi. "He. jambangan itu pecah sendiri" desis seseorang sambil meraba-raba pecahan jambangan itu. "Aneh, Tidak ada seorangpun yang menyentuhnya" "Kucing barangkali?" "Tidak ada kucing" "Lalu apa?" Seorang perempuan separo baya mendekati jambangan itu sambil berkata "Anak yang mengisi jambangan ini memang keras kepala. Sudah aku katakan, jangan diisi sampai penuh Jambangan ini masih baru. Tentu tidak akan dapat menahan air yang sekian banyaknya. Setelah dipergunakan beberapa lama, barulah jambangan semacam ini dapat diisi sepenuhnya" "Siwurnya ada di dalam pula" berkata yang lain "siwur ini agaknya tenggelam ketika dari lubang tangkainya air mengisi penuh. Nah, agaknya ketika siwur ini tenggelam, .sentuhan dengan jambangan baru ini terlampau keras, sehingga jambangan ini pecah berantakan" Beberapa orang perempuan yang lain menganggukanggukkan kepalanya. Tetapi yang lain lagi menjadi gelisah, seolah-olah ia melihat suatu pertanda yang tidak menyenangkan. Perempuan tua yang tertidur itupun terbangun pula karena suara ribut. Ketika ia melihat jambangan di sudut itu pecah maka t iba-tiba saja ia menjadi pucat. Tetapi ia tidak mengatakan apapun juga. Meskipun demikian, tergesa-gesa ia bangkit melangkah mencari Nyai Reksatani. "Nyai" berkata perempuan itu "ada beberapa keanehan yang telah terjadi di dapur" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya "Maksudmu?" ia bertanya. "Hal-hal yang tidak biasa terjadi, telah terjadi" "Apa saja" Maka perempuan itupun menceriterakan apa yang telah terjadi. Nasinya yang mentah, makanan yang tidak mau masak dan yang terakhir jambangan yang pecah. Nyai Reksatanipun menjadi berdebar-debar. Apalagi ia tahu pasti, apa yang akan terjadi di malam nanti, setelah upacara tengah malamberakhir. "Lebih daripada itu Nyai" berkata perempuan tua itu "yang paling aneh bagiku, bahwa aku sudah tertidur di dalam kesibukan itu. Itu sangat aneh bagiku. Tetapi seandainya itu karena aku terlampau lelah, baiklah. Aku memang mencoba untuk menganggapnya demikian. Tetapi, di dalam tidurku yang hanya sejenak itu, aku telah bermimpi. "Apa mimpimu" bertanya Nyai Reksatani dengan sertamerta. "Mimpi yang mendebarkan" jawab perempuan itu. Nyai Reksatanipun menjadi semakin berdebar-debar pula "Katakanlah" katanya kemudian. "Di dalam tidurku yang hanya sejenak bersandar tiang itu. aku sempat bermimpi melihat Kademangan ini sedang sibuk" "He, daradisah. Bukankah begitu kenyataannya?" "Ya. Mungkin antara sadar dan tidak sadar, aku memang masih mendengar kesibukan di dapur" "Lalu" "Kesibukan di malamhari juga seperti ini" "Ya" "Seluruh halaman menjadi terang benderang, seperti siang Lampu terpasang dimana-mana. Obor-obor raksasa disemua sudut" "Ya" "Tetapi peralatan yang diadakan di dalam mimpiku sama sekali bukan peralatan menyambut bulan ke tujuh seperti ini .Di dalam mimpiku aku mendengar bahwa di Kademangan akan ada peralatan pengantin. "Pengantin?" bertanya Nyai Reksatani. Suaranya menjadi rendah dan terasa kuat tubuhnya meremang. Menurut kepercayaan orang tua-tua. mimpi tentang pengantin adalah mimpi yang buruk. "Ya. Dikademangan ini ada pengantin. Pengantin perempuannya adalah Nyai Demang. Ya, Nyai Demang itu, Sindangsari. Tetapi aku tidak melihat dan tidak mengetahui siapa pengantin laki-lakinya" "Ki Demang barangkali?" Perempuan tua itu menggeleng "Bukan Ki Demang" "Siapa?" "Aku tidak tahu" jawab perempuan tua itu. Setelah menelan ludahnya sambil mengusap keringatnya ia meneruskan "tetapi ketika semua orang sudah siap menyambut kedatangan penganten laki-laki, maka Sindangsari tiba-tiba telah hilang" "Hilang? Kemana?" "Tidak seorangpun yang tahu. Yang terjadi kemudian adalah angin prahara yang keras sekali bertiup dari Utara. Batang-batang pohon di halaman seperti diputar kian kemari. Dan akhirnya semua lampu dan obor padam satu demi satu, sehingga akhirnya habis sama sekali. Semuanya menjadi gelap. Aku tidak melihat apapun lagi selain hitam. Tetapi aku masih mendengar hiruk-pikuk. Semakin lama semakin keras, sehingga akhirnya aku terbangun. Ternyata di dapur itupun memang terjadi hiruk pikuk, karena jambangan yang pecah itu" Nyai Reksatani terdiam sejenak.Terasa dadanya bergetar semakin cepat. Mimpi orang tua itu, serta apa yang telah terjadi di dapur seolah-olah merupakan perlambang tentang Nyai Demang itu sendiri. Dengan susah payah Nyai Reksatani mencoba menguasai perasaanya. Dicobanya untuk mempergunakan akalnya sebaik-baiknya agar semua rencana suaminya tidak gagal. Ia tahu benar, kalau rencana itu gagal, yang terjadi adalah pertumpahan darah. Tetapi kalau rencana itu berhasil, persoalannya masih dapat dibatasi meskipun Nyai Demang harus dikorbankan. "Kalau ia kelak akan terbunuh juga, apaboleh buat. Nyawa banyak orang memang lebih berharga dari nyawanya" katanya di dalam hati. Nyai Reksatani itu terperanjat ketika orang tua yang masih berada di mukanya itu bertanya "Apakah pendapat Nyai?" Nyai Reksatani merenung sejenak. Sedang orang tua itu masih berkata "Sebaiknya Nyai memperhatikan hal-hal yang agaknya tidak masuk akal ini. Apakah Nyai akan mengatakan kepada Ki Demang, agar Ki Reksatani dan Ki Jagabaya mendapat perintahnya untuk lebih berhati-hati?" Namun sejenak kemudian Nyai Reksatani tersenyum sambil menepuk bahu orang tua itu, Katanya "Jangan berpikir yang bukan-bukan bibi. Aku tidak menolak pendapatmu bahwa kita harus berhati-hati. Tetapi jangan mempercayai hal-hal serupa itu dengan berlebih-lebihan. Jambangan itu memang jambangan baru. Siapa tahu, bahwa jambangan itu sebenarnya memang sudah retak, kemudian diisi air terlampau banyak, atau seseorang meletakkan siwur di bibirnya dan kemudian terjatuh ke dalam. Dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lain " Nyai Reksatani berhenti sejenak, lalu "sedangkan mimpimu itupun agaknya terpengaruh oleh keadaanmu dan sekitarnya. Mungkin kau terlampau lelah. Kau sehari-harian berada di dekat api, sehingga mimpi mupun dikerumuni oleh api, meskipun berupa lampu dan obor-obor. Karena itu jangan terlampau terpengaruh" Orang tua itu menundukkan kepalanya. Dianggukanggukkannya kepalanya. Namun ia tidak meyakininya. Ia masih sangat terpengaruh oleh pendapat orang-orang yang lebih tua daripadanya, bahwa mimpi dapat menjadi sasmita. "Tetapi aku akan menyampaikannya "sambung Nyai Reksatani "meskipun tidak kepada Ki Demang yang sedang sibuk, aku akan mengatakannya kepada Ki Reksatani" Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah Nyai" "Seperti kau ketahui Ki Demang malam ini tidak boleh dipengaruhi oleh persoalan-persoalan yang dapat membuatnya berkecil hati. Malam ini ia menjadi benda yang harus diselenggarakan oleh orang tua-tua" "Baiklah. Terserahlah kepada Nyai. Tetapi aku sudah mengatakan agar aku tidak menyesal kelak" "Bagus. Kau tidak usah cemas Kita akan lebih berhati-hati untuk seterusnya" "Kalau aku cemas, maka yang paling mencemaskan adalah nasi itu. Kalau nasi itu benar-benar tidak dapat matang, lalu dengan apa kita akan menjamu tamu-tamu kita?" Nyai Reksatani termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata "Cobalah terus. Kalau nasi itu masih juga tidak mau masak, maka cobalah menanak yang lain di tempat yang lain dan dengan alat-alat yang lain pula. Mungkin mulut dandangnya sudah tidak bulat lagi, atau kukusannya yang salah" Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya "baiklah Nyai, aku akan mencoba"

Jilid 7
"MASIH ada waktu. Jangan tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan kadang-kadang menimbulkan banyak kesalahan" Perempuan tua itu mengangguk sekali lagi "Baiklah Nyai. Aku akan ke dapur lagi" Maka dilakukannya pesan Nyai Reksatani itu. Tetapi ia tidak menunggu apakah nasi yang ditanaknya semula itu akan masak. Supaya tidak dikejar oleh waktu, maka iapun menanak nasi di tempat dan dengan alat yang lain. "Kau menanak nasi lagi mBok ayu?" bertanya orang yang menggantikannya. "Nyai Reksatani menyuruh aku menanak nasi yang lain. Kalau nasi itu tidak juga mau masak, kita tidak akan kebingungan. "Kalau nasi ini nanti mau masak juga?" "Masih ada banyak sekali mulut yang akan makan" Yang mendengar pembicaraan itu tersenyum. Perempuan muda yang membuat hawug-hawug itupun datang mendekatinya "Lambat laun makanan itu masak juga bibi" "Nah. kalau begitu, kukusannyalah yang salah. Lubangnya pasti terlampau kecil, seperti kukusan yang dipergunakan untuk menanak nasi itu" "Tetapi kenapa justru yang di bawah yang mentah?" Perempuan tua itu. tidak menjawab. Sambil mengangkat bahu ia berkata "Tetapi nasi itu akhirnya akan masak juga" Ternyata kata-katanya itu benar. Meskipun jauh lebih lama dari waktu yang biasanya dipergunakan, nasi itupun masak juga. Tetapi rasanya tidak sesedap nasi yang biasa, seakanakan nasi itu terlampau lama terendamdi dalamair. Tetapi tidak banyak orang yang memperhatikan hal itu. Perempuan tua, perempuan separo baya yang menggantikannya, perempuan muda yang membuat makanan, ternyata tidak banyak menceriterakannya kepada orang lain agar tidak menumbuhkan kegelisahan. Meskipun demikian sambil berbisik-bisik hal itupun meloncat dari mulut ketelinga kemudian ke telinga yang lain pula, sehingga semakin malam, semakin banyak pula orang yang mengerti. Tetapi mimpi yang mendebarkan itu tidak pernah diceritera-kan kepada orang lain kecuali Nyai Reksatani. Demikianlah maka malampun menjadi semakin malam. Ketika semua persiapan sudah selesai, menjelang tengah malam, maka semua orang yang ikut serta di dalam upacara itupun telah dijamu makan. Sebentar lagi mereka akan segera mengikut i upacara adat, memandikan kedua suami isteri yang sedang menyambut kandungan anak mereka genap tujuh bulan. Pendapa Kademangan Kepandak yang terang benderang seperti siang itupun tampak gembira sekali. Setiap kali suara tertawa meledak diantara para tamu yang sedang dijamu makan Sempat juga mereka menyuapi mulut mereka sambil berkelakar. Di ruang dalam perempuan-perempuan tua telah siap dengan segala macam persiapan mereka. Rujak edan, pakaian tujuh pengadeg, cengkir kelapa sawit bergambar Kama dan Ratih serta berbagai macamperlengkapan yang lain. Ketika ayam jantan berkokok di tengah malam dan menjalar dari kandang kekandang, maka orang-orang tuapun berdiri dari tempatnya masing-masing. Seorang yang diserahi memimpin upacara itupun segera membawa sepasang suami isteri itu ke pakiwan yang sudah diisi dengan air yang diambil dari tujuh buar sumur. Setelah dibacakan mantera, maka orang tua itulah yang pertama-tama menyiram kedua suami isteri yang duduk bersanding itu dari ujung rambut mereka sampai keseluruh tubuh, dengan air dari tujuh mata air itu yang sudah ditaburi dengan bunga-bungaan. Setelah pemimpin upacara itu selesai memandikannya, maka disiramnya kedua suami isteri itu dengan air gendi, sambil mengusap kepala masing-masing berganti-ganti. Setelah air gendi itu habis, maka gendi itupun dibantingnya sampai pecah. Setelah itu, maka mulailah para tamu, terutama perempuan-perempuan tua, berurutan memandikan keduanya. Setiap orang menyiram Ki Demang dan Nyai Demang dengan air yang dingin itu. Tidak hanya satu dua kali, tetapi kadang-kadang mereka memandikannya seperti memandikan bayi, menggosok tubuh mereka dan bahkan ada juga yang masih membaca doa-doa. "Alangkah dinginnya" desis Ki Demang di dalam hati Meskipun bibirnya menjadi biru dan gemetar, tetapi ia masih harus tetap duduk di tempatnya sampai orang terakhir selesai menyiram kepalanya dengan air yang dingin itu. Demikian pula Sindangsari. Iapun menjadi kedinginan dan gemetar. Tetapi ia harus bertahan sampai semuanya mendapat giliran memandikan mereka berdua. Ketika orang yang terakhir telah selesai, maka orang tua yang memimpin upacara itupun segera kembali masuk ke dalam pakiwan. Sekali lagi ia menyiram keduanya, lalu katanya kepada orang yang masih berkerumun di luar pakiwan "Ambillah lampu itu. Bawa pergi" Seseorang segera mengambil lampu itu. Mereka sudah tahu, bahwa pakiwan itu memang harus menjadi gelap. "Nah, sekarang tergantilah. Lepaslah pakaianmu yang basah dan pakailah yang kering ini" berkata perempuan tua itu. Ki Demang dan isterinya menjadi ragu-ragu sejenak. Sambil tersenyum tersipu-sipu Ki Demang berkata "Nanti saja. Di dalam" "Sekarang. Harus sekarang. Kau sekarang bukan Demang. Akulah yang berkuasa sekarang" berkata perempuan tua itu. Terdengar suara tertawa di luar pakiwan. Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi karena pakiwan itu sangat gelap, maka dengan terpaksa sekali Ki Demangpun akhirnya bersedia juga berganti pakaian. "Nyai Demang" berkata perempuan tua itu "Kau masih harus mencuci pakaian suamimu itu sebagai syarat bahwa kau benar-benar bakti dan setia" Sindangsari tahu benar bahwa perempuan tua itu sama sekali tidak bermaksud apa-apa. Sebagai seseorang yang sudah terlampau biasa memimpin upacara semacam itu, maka urut-urutan upacara itupun sudah dihafalnya. Namun demikian dada Sindangsari berdesir juga. Ia tahu, bahwa ia bukannya perempuan yang setia. Tidak setia kepada suaminya yang sekarang, dan tidak setia pula kepada cintanya. Tetapi ia mencoba menyembunyikan perasaannya. Apalagi di dalam gelap. Sedang Ki Demang yang berganti pakaian di sampingnyapun tidak begitu terlihat olehnya dan oleh orangorang yang berkerumun di luar pakiwan, meskipun pintu pakiwan itu tidak tertutup. Dengan demikian, meskipun seandainya ada kesan yang melonjak ke wajahnya sekalipun tentang perasaannya yang bergejolak itu, tentu tidak seorangpun yang akan melihatnya. Perempuan tua itu tidak dan suaminyapun tidak. Ki Demang yang masih ada di pakiwan itu masih harus menunggui isterinya mencuci pakaiannya yang basah ketika ia dimandikan. Kemudian menunggu Sindangsari mengganti pakaiannya yang basah dengan yang kering pula. "Nah, semuanya sudah selesai. Berdirilah berjajar di pintu" Keduanyapun kemudian berdiri berjajar di pintu meskipun mereka belum berpakaian lengkap. Sementara itu, perempuan tua yang memimpin upacara itu mengayunkan siwur. gayung yang dipakainya untuk memandikan sepasang suami isteri itu, yang dibuat dari kelapa, bukan saja tempurungnya, tetapi juga bersama daging kelapanya, keatas sebuah batu sehingga gayung itupun pecah pula berantakan. Setelah itu, barulah Ki Demang yang hanya mengenakan celana dan isterinya berkain pinjung diarak ke halaman depan. Sindangsari masih harus meloncati perapian di halaman. Merang seonggok yang baru mulai menyala" Dari halaman keduanya dibawa masuk ke pringgitan. Tepat di muka pintu mereka harus berhenti untuk makan rujak tepat di tengah pintu. "Ki demang" berkata perempuan yang memimpin upacara "sekarang Ki Demang boleh berpakaian lengkap, sedang Nyai Demang masih harus mencoba beberapa macam pakaian. Yang manakah nanti yang paling sesuai. Pada saat Ki Demang mengenakan pakaiannya di dalam biliknya, setiap kali ia mendengar perempuan-perempuan yang ada di pringgitan berseru "Tidak'. Tidak sesuai. Tidak pantas" Maka Sindangsaripun harus berganti pakaian. Demikian terulang sampai enam kali. Dan ia harus mengenakan pakaiannya yang ke tujuh. Kain lurik berwarna hijau lumut dan baju dari bahan yang sama dan berwarna sama. Selembar kemben yang kehitam-hitaman dan selendang berwarna batu bata. "Nah, kini baru pantas" berkata seseorang yang disahut oleh yang lain "Ya, sekarang baru pantas" Hampir semua yang hadir menyambut pula "Ya. Sekarang sudah baik, sudah pantas dan cantik sekali" Sindangsari hanya tersipu-sipu saja sambil menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak berbuat apa-apa sementara orang-orang tua mengganti pakaiannya dan mengenakan pakaiannya yang ke tujuh di hadapan perempuan-perempuan yang memenuhi pringgitan. Setelah ia mengenakan pakaiannya yang terakhir, maka perempuan yang memimpin upacara itupun kemudian menyelusupkan sepasang kelapa gading di dalam kain Sindangsari yang diterima dengan selendang diantara kedua kakinya sambil berkata "Nah. Nyai Demang. Kelak apabila anakmu laki-laki, ia akan setampan Kama dan apabila perempuan ia akan secantik Dewi Ratih" Demikianlah maka upacara mengenakan pakaian itu sudah selesai. Sindangsaripun kemudian dibawa masuk ke dalam biliknya untuk benar-benar berpakaian dan menyisir rambutnya yang basah kuyup. Dengan bibir yang biru dan gemetar karena dingin Sindangsari meneguk minuman panas yang memang disediakan untuknya. "Dingin sekali" ia berdesis. Beberapa orang perempuan mengusap kakinya dengan minyak kelapa "Nanti akan segera menjadi hangat" Namun dalam pada itu, Manguri yang menunggu upacara itu di kebun mengumpat-umpat di dalamhati. Katanya "Apa saja yang dikerjakan oleh orang-orang gila itu" Lamat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. "Semua sudah siap" berkata Manguri "perempuanperempuan itu sudah keluar dari pringgitan. Upacara itu sudah selesai. Sebentar lagi Nyai Reksatani akan membawa Sindangsari keluar. Kau harus dapat melakukan tugasmu dengan baik" Lamat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. "Semua sudah siap" berkata Manguri "perempuanperempuan itu sudah keluar dari pringgitan. Upacara itu sudah selesai. Sebentar lagi Nyai Reksatani akan membawa Sindangsari keluar. Kau harus dapat melakukan tugasmu dengan baik" Lamat menganggukkan kepalanya. "Di ujung lorong ini telah tersedia seekor kuda untukmu dan seekor lagi kudaku. Di sudut padukuhan kita akan melampaui beberapa orang Ki Reksatani. Mudah-mudahan mereka t idak mengganggu kita" "Kenapa mereka mengganggu?" bertanya Lamat. "Mungkin mereka menginginkan Sindangsari pula Tetapi sudah tentu, mereka akan membunuhnya" Lamat mengerutkan keningnya. "Kalau ia segera dibunuh itu akan cukup baik buatnya. Tetapi aku tidak percaya pada laki-laki liar serupa itu. Mereka akan banyak berbuat sebelum mereka membunuh Sindangsari. Karena Itu kita harus menyelamatkannya" "Apakah kira-kira mereka akan berbuat demikian?" "Aku tidak tahu, mudah-mudahan tidak. Tetapi seandainya demikian aku sudah mengatur orang-orangku di pinggir parit di seberang jalan" Lamat t idak menyahut. "Kalau mereka akan merebut Sindangsari, kita akan mempertahankannya" Lamat masih tetap berdiam diri. "He, apakah kau sudah tuli he?" Manguri mengguncangguncang tubuh Lamat. "Ya, Aku mendengar dan aku mengerti. Aku sedang mencoba untuk menilai tugas yang akan aku lakukan" "Apa yang perlu kau nilai?" Lamat menggelengkan kepalanya "Bukan apa-apa" "Nah, sekarang kau harus masuk ke halaman. Kau harus menempatkan dirimu di tempat yang sudah di tentukan. Aku sudah jemu menunggu" "Baiklah. Aku akan mencoba melakukan tugasku baik-baik" "Kalau kau membuat kesalahan, maka seluruh Kademangan akan menjadi gempar. Di pendapa terdapat Ki Demang, Ki Jagabaya, para bebahu Kademangan yang lain, dan beberapa orang kepercayaan Ki Demang" Lamat menganggukkan kepalanya. "Kegagalan itu akan berarti, mereka akan saling berkelahi melawan Ki Reksatani dan orang-orangnya termasuk kau dan aku, dan barangkali ayah juga" "Ya, aku mengerti" "Cepat, masuklah ke halaman" Lamatpun kemudian dengan hati-hati mendekati dinding halaman belakang Kademangan. Di dalam bayangan dedaunan ia menjengukkan kepalanya. Ternyata tempat yang ditunjukkan oleh Ki Reksatani memang sepi. Meskipun dari tempatnya Lamat melihat beberapa orang duduk-duduk sambil berkelakar, namun mereka sama sekali tidak membayangkan, karena orang-orang itu sama sekali tidak memperhatikan tempat yang telah ditentukan itu. Dengan lincahnya Lamatpun kemudian meloncat naik keatas dinding batu. Di lekatkannya tubuhnya rapat-rapat pada dinding itu sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya. Lamat menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang berjalan menelusur dinding batu itu. Sambil menahan nafasnya ia semakin melekatkan tubuhnya. Namun demikian ia sempat melihat, orang yang menelusuri dinding itu menjadi semakin dekat. "Gila" desisnya "siapakah orang ini?" Tetapi agaknya orang itu sama sekali tidak memperhatikan bahwa ada seseorang yang berbaring menelungkup melekat pada dinding batu. Namun demikian Lamat menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan Manguri yang ada di luar dindingpun menjadi berdebar-debar pula, karena iapun mendengar langkah seseorang mendekati Lamat. Ketika orang itu telah lewat, Lamat menarik nafas dalamdalam. Agaknya orang itu adalah salah seorang keluarga dari orang-orang yang membantu bekerja di dapur. Orang itu agak malu membawa sisa makanan lewat pintu depan. Karena itu, ia memilih jalan halaman belakang sambil membawa makanan sisa yang besok akan dijemurnya untuk makanan itik. Meskipun demikian Lamat masih menunggu sejenak. Ketika ia sudah yakin bahwa tidak ada lagi orang yang akan melihatnya, maka iapun segera meloncat masuk ke halaman dan langsung bersembunyi di dalam gerumbul perdu. Sedang Manguri berada di luar halaman sambil mengawasi keadaan. Ia mengetahui dengan pasti bahwa di sekitar tempat itu ada satu atau dua orang pengawas yang di pasang oleh Ki Reksatani, meskipun pengawas itu telah mengambil tempatnya sendiri tanpa memberitahukan kepada Manguri. Dalam pada itu, di dalam rumah Ki Demang di Kepandak, perempuan-perempuan tua yang melayani Sindangsari dan meriasnya telah selesai. Ketika Sindangsari dibawa keluar dari dalam biliknya, beberapa orang perempuan yang masih tinggal di pendapa menyambutnya dengan ramah. "Perempuan ini memang cantik sekali" desis salah seorang dari mereka. Di dalam mengandung tujuh bulan, wajahnya menjadi semakin cerah seperti bulan" Kawannya yang duduk di sampingnya menganggukkan kepalanya..Katanya "lihatlah ibunya yang duduk di sudut itu. Ibunyapun pasti seorang perempuan yang cantik sekali di masa remajanya" Keduanyapun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka memandang Sindangsari dengan mata yang seakan-akan tidak berkedip. Ketika Sindangsari kemudian duduk di sebelah ibunya, maka setiap mata seakanakan telah terpancang pada keduanya. "Alangkah cantiknya" tiba-tiba terdengar suara dari ruang dalam. Seseorang kemudian muncul sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di muka dadanya "mBok-ayu memang cantik sekali" Sindangsari berpaling. Namun kepalanyapun kemudian tertunduk sambil tersipu-sipu. Orang itu, Nyai Reksatanipun kemudian mendekatinya sambil berkata "Aku menjadi sangat iri. Ketika aku menyambut bulan ke tujuh kandunganku yang pertama, aku tidak secantik mBok-ayu. Bukankah begitu bibi?" bertanya Nyai Reksatani kepada ibu Sindangsari" "Ah" desis ibunya. "Tentu saja" tiba-tiba seseorang menyahut "lihatlah. Keduanya memang sangat cantik. Kecantikan itu agaknya memang menurun" "Ah" Sekali lagi ibu Sindangsari berdesah "jangan memuji. Rambutku telah berwarna dua" Perempuan-perempuan itu tertawa. Nyai Reksatanipun tertawa pula. "Sayang" bisik seorang perempuan yang duduk di belakang "ibu Nyai Demang itu menjanda sejak suaminya meninggal. Kalau ia mau, pasti masih puluhan laki-laki yang ingin memperisterinya" "Hidupnya semata-mata buat gadisnya sejak suaminya meninggal. Aku dengar, kawan suaminya seorang prajurit ingin juga memperisterikannya. Bahkan seorang perwira. Tetapi ia tidak bersedia. Ia lebih senang hidup bersama puteri dan kedua ayah ibunya" Kawannya berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam pada itu, maka Nyai Reksatanipun kemudian bertanya kepada Nyai Demang "mBok-ayu, apakah masih ada yang perlu dilakukan malam ini?" Sindangsari tidak segera menyahut, karena ia tidak mengetahui maksud pertanyaan itu. Dipandanginya saja Nyai Reksatani dengan tatapan mata yang ragu-ragu. "Eh, maksudku, apakah mBok-ayu akan beristirahat? Setelah mandi di tengah malam, kemudian berganti pakaian sampai tujuh kali, barangkali mBok-ayu merasa lelah" Sindangsari menggelengkan kepalanya "Tidak. Aku tidak lelah" "Sokurlah" jawab Nyai Reksatani. Tetapi ia mulai gelisah. Ia mendapat tugas untuk membawa Sindangsari keluar, ke tempat tugas untuk membawa Sindangsari keluar, ke tempat yang sudah ditentukan, sedang di pringgitan masih juga ada beberapa orang perempuan yang duduk-duduk mengawani Sindangsari dan ibunya. Sejenak Nyai Reksatani kebingungan. Namun sejenak kemudian ia mendapat akal. Katanya "Agaknya masih ada diantara kita yang akan tinggal disini semalam suntuk. Karena itu, sebaiknya kalian duduk-duduk saja sejenak, aku akan menyiapkan jamuan untuk kalian. Biarlah orang-orang di dapur menanak nasi. Nasi panas pasti akan menambah gairah kalian tinggal bersama bidadari yang manis itu" Ternyata pancingan itu mengena. Seorang perempuan tua segera menyahut "Sudahlah Nyai. Menjelang tengah malam, sebelum upacara dimulai, kami sudah makan. Dan kamipun agaknya tidak akan terlampau lama lagi tinggal disni" "O, jangan begitu. Aku seakan-akan telah mengusir kalian. Tidak. Aku berharap agar kalian tinggal disini semalam suntuk" "Kami perlu beristirahat" "Tinggallah sebentar. Selama orang di dapur menanak nasi. mBok-ayu pasti kedinginan dan menjadi lapar. Kalian akan mengawaninya makan, karena sebenarnya mBok-ayu Demang masih belum makan. "Biarlah ia makan bersama suaminya "Perempuanperempuan di pringgitan itupun justru minta diri seorang demi seorang. Sebagian dari mereka t idak segera pulang. Tetapi pergi ke dapur atau ke bilik pengrantunan. Nyai Reksatani menarik nafas karenanya. Ia harus bekerja cepat. Sebelum fajar, semuanya harus sudah selesai, sementara Ki Reksatani berusaha mengikat Ki Demang dan para tamu laki-laki untuk tetap duduk-duduk saja di pendapa. "Makanlah dahulu mBok-ayu" bisik Nyai Reksatani kepada Nyai Demang "bersama bibi barangkali?" "Aku sudah makan bersama para tamu" jawab ibu Sindangsari "makanlah sendiri, atau kau menunggu suamimu?" "Ah" sahut Nyai Reksatani "kakang Demang t idak usah diganggu. Biarlah ia menemui tamu-tamunya. Marilah, aku layani kau makan mBok-ayu, selagi kau malam ini menjadi ratu" "Ah" Sindangsari berdesah sementara Nyai Reksatani tertawa. Tanpa menunggu jawabannya lagi, maka ditariknya tangan Sindangsari dan dibawanya ke bilik dalam. "Makanlah sudah sedia" katanya. Sindangsari tidak dapat menolak lagi. Iapun kemudian berdiri sambil berkata kepada ibunya "Apakah ibu tidak makan dahulu" "Ya, marilah" sahut Nyai Reksatani. "Terima kasih. Aku sudah makan bersama para tamu sebelum upacara. Sindangsari memang belum makan, karena itu makanlah" Sindangsaripun kemudian dibimbing oleh Nyai Reksatani ke biliknya sambil berkata "Biarlah disediakan makanmu di dalam bilikmu saja" Nyai Reksatanipun kemudian membimbing Nyai Demang masuk ke dalam biliknya. Dalam pada itu. di halaman belakang, Manguri hampir tidak sabar lagi menunggu. Setiap kali ia selalu menengadahkan wajahnya ke langit, memandang bintang-bintang yang bergeser perlahan-lahan dari tempatnya. "Semuanya harus dilakukan sebelum fajar" desisnya "kalau orang-orang di sekitar halaman ini sudah bangun, maka gagallah semua usaha yang sudah dirancang begitu matang. Untuk mendapatkan kesempatan yang lain agaknya terlampau sulit" berkata Manguri di dalam hati "sudah tentu kita tidak dapat berbuat apa-apa pada saat Sindangsari melahirkan. Anak itu akan menjadi hantu yang paling menakutkan bagi Ki Reksatani, sehingga mungkin sekali, sebelum hari kelahiran ia akan mengambil cara yang paling kasanMembunuh Sindangsari dengan caranya" Manguri menarik nafas dalam-dalam. Keringat dingin telah membasahi di seluruh tubuhnya. Sekali-sekali ia mencoba melekat pada dinding batu dan menengok ke halaman belakang Kademangan Kepandak. Tetapi ia tidak dapat melihat Lamat yang sudah bersembunyi di sana. Selagi Manguri dilanda oleh kegelisahan, Lamatpun sedang mereka-reka apa yang akan dilakukan kemudian setelah Sindangsari berhasil dibawa ke tempat persembunyiannya itu. "Apakah aku dapat membiarkan semuanya itu terjadi?" katanya di dalam hati. Tetapi setiap kali Lamat hanya dapat berdesah di dalam hati "Apakah aku benar-benar telah terbelenggu oleh hutang budi itu sepanjang umurku? Umur yang seolah-olah sudah bukan milikku lagi ini?" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjengukkan kepalanya dari sela-sela dedaunan. Tetapi ia tidak melihat seorangpun yang datang mendekat. Bahkan kadang-kadang timbul pikirannya "Mudah-mudahan tidak ada kesempatan untuk membawa Sindangsari kemari, sehingga seandainya malam ini gagal, maka kegagalan itu bukan terletak pada kesalahanku" Tetapi dalam pada itu Nyai Reksatani telah berhasil memisahkan Sindangsari dari ibunya. Dilihatnya seseorang yang disuruhnya telah menyajikan makan bagi Sindangsari ke dalam bilik itu, sementara ia berjalan hilir mudik di ruang tengah. Namun sepeninggal orang yang mengantar makan ke dalam bilik itu, Nyai Reksatani segera masuk ke dalam. Dengan nada yang tergesa-gesa ia berkata "mBok-ayu, agaknya, masih ada yang kurang di dalamperalatan ini" Sindangsari mengerutkan keningnya. "Apakah mBok-ayu mendengar ceritera yang telah terjadi di dapur?" "Jambangan yang pecah itu?" "Ya, dan nasi yang tidak mau masak seperti biasanya? Meskipun akhirnya masak juga, tetapi cobalah, rasakanlah nasi itu yang agaknya sama sekali tidak sedap" Sindangsari t idak segera menjawab "mBok-ayu tahu sebabnya?" Sindangsari menggeleng. "Tentu ada sesaji yang kurang. Beruntunglah kita kalau yang diganggu hanya sekedar macam-macam masakan atau jambangan pecah, tetapi kalau yang lain?" "Apakah yang lain itu?" "Kita. Salah seorang dari kita. Atau" Nyai Reksatani t idak melanjutkannya. "Atau" Sindangsari mengulang. "Sudahlah. Makanlah" "Tetapi apakah yang kau maksud?" "Makanlah" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian menyenduk nasi dengan entong kayu dan menaruhnya diatas mangkuk. "Kau tidak makan?" ia bertanya kepada Nyai Reksatani. "Aku sudah makan. Lima kali sejak tengah hari. Sindangsari tersenyum. Kemudian iapun mulai menyuap mulutnya. Namun ia tertegun ketika ia melihat Nyai Reksatani menjadi gelisah sekali. "Kenapa kau?" "Perasaanku menjadi tidak enak. Tetapi apakah kau merasakan sesuatu pada kandunganmu?" "Tidak. Kenapa?" Sindangsari menjadi gelisah pula. "Sesaji itu" bisiknya "bibi juru adang di dapur bermimpi sambil duduk di muka perapian. Ini tidak biasa terjadi. "Mimpi apa?" "Kiai Candil di rumpun bambu petung di belakang" "Kenapa?" "Yang memberikan sesaji agaknya bukan orang yang biasa membuat untuknya. Bukan aku. Ternyata ada kekurangannya" "Apa?" "Sadak kinang yang diramu dengan daun sirih muda" "O, kenapa tidak disediakan?" "Aku akan pergi melengkapinya" Nyai Reksatanipun kemudian berdiri, lalu "aku sudah menyediakan sadak kinang itu" ia termenung sejenak, lalu "marilah, Ikutlah. Aku akan menunjukkan kepadamu, dimanakah letak sesaji itu seharusnya. Karena kau akan tinggal di rumah ini untuk seterusnya. Kau harus tahu dan harus mengerti, apa yang sebaiknya kau lakukan untuk keselamatan seluruh keluarga dan terlebih-lebih untuk bayimu" "Jadi?" "Kita pergi ke kebun belakang sebentar. Sebentar saja" "Baiklah, aku selesaikan sebentar makanku ini" "Ah, marilah. Tinggalkan itu sebentar supaya kau tidak tergesa-gesa dan kau dapat makan dengan tenang" Sindangsari termangu-mangu sejenak. Dan tiba-tiba saja ia bertanya "Tetapi kenapa baru sekarang kau akan melengkapi sesaji itu? Selagi aku sudah mulai makan? Kalau kau mengetahui hal itu sebelumnya, tentu aku tidak akan tergesagesa menyenduk nasi" "Aku mencoba untuk menunggu sampai kau selesai makan. Aku tidak mau mengganggu ketenanganmu" Nyai Reksatani berhenti sejenak, lalu "tetapi aku menjadi sangat gelisah" Sindangsari termenung sejenak Namun iapun menjadi gelisah karenanya. Tanpa sesadarnya dirabanya perutnya yang terasa semakin membesar. "Marilah sebentar mBok-ayu. Hanya sebentar. Kita akan menjadi tenteram. Tinggalkan sajalah makanan itu, nanti kau ulangi lagi" Sindangsari tidak dapat menolak lagi. Kemudian diikut inya Nyai Reksatani keluar dari biliknya. Tetapi Nyai Reksatani tidak mengambil jalan tengah yang melalui dapur. Ia lebih senang lewat butulan sebelah kiri. "Kenapa kita memilih jalan yang gelap?" bertanya Sindangsari. "Aku menghindari orang-orang yang ada di dapur Mereka akan bertanya segala macam persoalan yang menjemukan. Kita pergi saja sendiri lalu semuanya akan selesai tanpa pembicaraan yang kadang-kadang tidak masuk akal dan bahkan menyimpang dari persoalan yang sebenarnya" Sindangsari tidak bertanya lagi. Ia berjalan saja mengikuti Nyai Reksatani keluar dari pintu butulan sebelah kiri. Ketika Sindangsari menjejakkan kakinya di halaman, terasa bulu tengkuknya meremang. Serasa sesuatu merayapi hatinya yang cemas dan gelisah. Di sebelah rumah itu agaknya sudah menjadi sepi. Anak-anak muda yang duduk-duduk sambil berkelakar sudah meninggalkan tempatnya dan tidur di gandok. Meskipun lampu yang terang benderang di pendapa masih melemparkan cahayanya ke halaman depan, tetapi agaknya mereka yang duduk di pendapapun sudah menjadi lelah dan kantuk. Tidak banyak lagi terdengar gelak tertawa diantara mereka. Sindangsari berjalan berjingkat tanpa sesadarnya di belakang Nyai Reksatani. Meskipun tengah malam telah jauh lewat, tetapi malam masih kelam bukan kepalang. "Di rumpun bambu yang mana?" bisik Sindangsari Terasa suaranya menjadi gemetar. "Itu, rumpun bambu petung" "Kenapa kita tidak membawa obor? Atau aku akan mengambilnya sebentar?" "Ah tidak perlu. Kita sudah hampir sampai" Sindangsari tidak berkata-kata lagi. Meskipun terasa dadanya bergetar, tetapi ia berjalan saja di belakang Nyai Reksatani. Tanpa diketahui sebabnya, setiap langkah terasa semakin bertambah berat. Tetapi dipaksakannya ia berjalan terus. Ia justru mencoba mengusir segala perasaan takut dan cemas. Manguri yang ada di luar halaman mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara dua orang perempuan di halaman belakang. Meskipun seolah-olah mereka hanya saling berbisik, tetapi telinga Manguri yang tajam segera dapat menangkapnya, dan dengan segera pula ia memastikan bahwa keduanya itulah Nyai Reksatani dan Sindangsari. Terasa jantung Manguri berdetak semakin cepat. Dengan tegangnya ia mencoba menjenguk dari atas dinding batu yang melingkari halaman itu. Darahnya serasa berhenti ketika ia melihat dua orang perempuan berjalan ke arah tempat yang telah ditentukan oleh Ki Reksatani. "Pasti mereka" desisnya meskipun Manguri masih belum dapat melihat wajah-wajah mereka di dalam gelap. Sejenak Manguri seakan-akan membeku di tempatnya. Nafasnya menjadi terengah-engah dan dadanya serasa berdentangan. "Mudah-mudahan Lamat berhasil tanpa menimbulkan persoalan yang rumit" katanya di dalamhati. Sementara itu, Lamat masih berjongkok di tempatnya. Ketika ia mendengar suara perempuan dan melihat dua bayangan mendekat, iapun menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja kepalanya menunduk dalam-dalam seakan-akan ia ingin melihat warna hati di dalam dadanya. "Apakah aku akan melakukannya?" pertanyaan itu tiba-tiba telah meronta di dalamdadanya. Kedua bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka berjalan menuju kerumpun bambu petung di sebelah rumpun perdu tempat Lamat tersembunyi. "Disitu mBo-ayu berkata Nyai Reksatani "mbok-ayulah yang harus meletakkannya.. "Aku?" "Ya" "Dimana?" "Di rumpun bambu itu telah ada sesaji. Tetapi sesaji itu kurang memenuhi keinginan penunggu rumpun bambu itu. Karena itu taruhlah sadak kinang ini ke dalam ancak sesaji itu" Sindangsari termangu-mangu sejenak, seperti Lamat masih juga termangu-mangu. Sejenak ia menahan nafas sambil memandang keduanya. Dadanya serasa menjadi retak oleh pergolakan perasaannya sendiri. "Aku tidak dapat lari dari dunia yang kelam ini. Aku adalah orang yang paling palsu di muka bumi. Aku adalah orang yang sama sekali tidak berani melihat kejujuran di dalam diri" berkata Lamat di dalam hatinya "dan kini aku harus melakukannya. Sebuah kepalsuan yang tidak berperikemanusiaan sama sekali" Lamat masih menundukkan kepalanya. Wajahnya yang kasar menjadi tegang. Nafasnya tertahan-tahan dan tangannya tiba-tiba menjadi gemetar. Lamat adalah seorang yang bertubuh raksasa, berwajah kasar seperti batu padas. Namun di dalam keadaan yang paling sulit, terasa matanya menjadi panas. Ia merasa betapa dirinya kini menjadi manusia yang paling tidak berharga, sehingga tidak seorangpun yang dapat mengerti dan menghargai perasaannya. Hampir saja Lamat tidak dapat menahan diri. Ia sadar ketika terasa setitik air menghangati tangannya. Ketika ia mengangkat wajahnya, ia melihat Sindangsari sedang membungkukkan punggungnya meletakkan sadak kinang di dalam ancak sesaji. Bayangan kegelapan rumpun bambu seakan-akan telah melindunginya. Ketika ia selesai, maka iapun segera tegak kembali dan melangkah surut. "Begitukah?" ia bertanya. "Ya. Begitu" sahut Nyai Reksatani yang menjadi gelisah. Ia sudah berhasil membawa Sindangsari ke tempat yang ditentukan. Tetapi tidak seorangpun yang datang untuk mengambil Sindangsari. Manguripun mengumpat-umpat di dalamhati. "Apakah yang ditunggu anak gila itu?" Manguri menggeram di dalam hatinya. Dalam pada itu, Lamat menyadari, bahwa ia tidak mempunyai waktu lagi. Ia harus segera bertindak di dalam waktu yang singkat. Ia sadar, bahwa Nyai Reksatani sudah menjadi gelisah, karena ia masih belum berbuat apa-apa. "Maafkan aku Sindangsari" ia berdesis di dalam hati. Namun sejenak kemudian ia menggeretakkan giginya, seolaholah mencari sandaran kekuatan bagi hatinya yang ringkih. Sejenak kemudian Lamat itupun segera meloncat seperti seekor harimau menerkam Sindangsari. Betapa terkejutnya perempuan itu. Seperti juga Nyai Reksatani yang terkejut pula. Tetapi Sindangsari sama sekali tidak sempat berteriak. Tangan yang kokoh kuat tiba-tiba saja telah menyumbat mulutnya. Dalam keadaan yang tidak terkuasai itu, ia masih mendengar seseorang berdesis "Maafkan aku. Bukan maksudku menyakiti kau" Setelah itu, ia merasakan tekanan yang berat pada urat di sisi lehernya. Kemudian ia tidak merasakan sesuatu lagi. Pingsan. Nyai Reksatani masih berdiri mematung di tempatnya. Dipandanginya Lamat seperti memandang hantu. Namun demikian ketika ia melihat Sindangsari yang lemas di tangan raksasa itu, terasa dadanya seakan-akan retak. "Hati-hatilah "ia berdesis. Lamat terkejut mendengar pesan itu. Tetapi ia tidak segera menyahut. "Perlakukan perempuan itu dengan baik. Apalagi ia sedang mengandung" Lamat mengangguk perlahan-lahan "Baik Nyai jawabnya dengan suara yang berat "aku akan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya" "Katakanlah kepada Manguri, jagalah perempuan itu. Bukan saja tubuhnya, tetapi juga perasaannya. Kalau Manguri menghendakinya, ia harus menerima perempuan itu seutuhnya. Jangan hanya Sindangsari yang tampak itu. Seorang perempuan muda yang cantik yang barangkali telah menggelegakkan nafsunya sebagai seorang laki-laki. Tetapi Manguripun harus menerima semua yang ada padanya. Yang disenangi maupun yang tidak" "Ya Nyai" "Kau tahu, aku juga seorang perempuan dan aku juga mempunyai anak perempuan" Lamat tidak menjawab. Terasa matanya menjadi panas lagi dan tenggorokannya serasa tersumbat ketika ia mendengar Nyai Reksatani itu terisak. "Sudahlah, bawalah" Lamat mengangguk "Aku akan menjaganya Nyai" tiba-tiba saja terloncat dari bibir Lamat, sehingga justru Lamat sendiri terkejut karenanya. Tetapi Nyai Reksatani tidak menyahut lagi. Bahkan dengan tergesa-gesa ia memutar dan pergi meninggalkan Lamat yang termangu-mangu. Lamat terkejut ketika ia merasa seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling ternyata Manguri sudah berdiri di sampingnya. "Kau jangan menjadi gila. Cepat, kalau kau terlambat, maka semuanya akan rusak" bisik Manguri. Lamat menganggukkan kepalanya. Keduanyapun kemudian pergi meninggalkan halaman itu sambil membawa Sindangsari yang pingsan. Lamat dan Manguripun kemudian segera pergi ke tempat kuda-kuda mereka disediakan. Lamat segera meloncat naik sambil mendukung Sindangsari, sedang Manguripun naik pula keatas punggung kudanya. "Marilah "ajak Manguri. Keduanyapun kemudian meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang berbeda-beda. Namun keduanya tidak segera memacu kudanya, supaya derap kaki kuda-kuda itu tidak menimbulkan berbagai macam pertanyaan di hati penduduk. Apalagi apabila diantara mereka ada yang menjenguk keluar dan melihat siapakah mereka. Di ujung desa mereka melewati beberapa orang yang di tempatkan oleh Ki Reksatani untuk bertindak setiap saat, apabila keadaan memburuk. Tetapi agaknya mereka sama sekali t idak berbuat apa-apa terhadap Manguri dan Lamat. "Apakah kalian sudah berhasil?" bertanya salah seorang dari mereka. "Ya, semuanya sudah selesai" jawab Manguri. "Baiklah. Supaya tidak menimbulkan kesan apapun bagi orang-orang yang melihat, meskipun dari kejauhan, maka kita akan berpencar" berkata salah seorang dari mereka. "Ya, berpencarlah" sahut Manguri. "Pada saatnya kami akan menemui Ki Reksatani "Silahkan. Akupun akan mencari kesempatan pula" Manguri dan Lamatpun kemudian meneruskan perjalanan mereka membawa Sindangsari yang sedang pingsan. Namun agaknya Lamat benar-benar telah menjaga sebaik-baiknya. Ia menyadari bahwa kandungan Sindangsari akan terganggu apabila derap kudanya nanti akan mengguncang-guncang tubuh perempuan itu. Setelah mereka sampai kebulak yang panjang harulah mereka mempercepat langkah kuda kuda mereka. Apalagi setelah mereka melihat bayangan kemerahan di langit. Di tengah-tengah bulak, Manguri berhenti sejenak. Dari sela-sela batang jagung muda beberapa orang merangkakrangkak keluar dan berloncatan kejalan. "Tidak terjadi sesuatu?" bertanya salah seorang dari mereka, orang-orang yang memang di tempatkan oleh Manguri untuk mengawasi keadaannya apabila lerjadi sesuatu yang tidak terduga-duga. "Tidak. Kembalilah Jangan menimbulkan kesan yang dapat merugikan aku dan kita semua" "Baiklah" Orang-orang itu adalah orang-orang yang biasanya ikut mengawal ternak apabila ayah Manguri mengirim ternak keluar daerah dan ke tempat-tempat yang jauh. Sejenak kemudian maka Manguri dan Lamatpun berpacu semakin cepat menuju ke tempat terpencil. Tempat penampungan ternak yang jarang dikenal. Yang ada di tempat itu hanyalah kandang kandang yang besar, patok-patok dan pelanggaran untuk mengikat tali-tali ternak yang sedang dikumpulkan sebelum dibawa keluar daerah. Ternyata, baik orang-orang Ki Reksatani, maupun orang Manguri, segera telah berhasil menghilangkan jejak mereka. Setelah mereka berpencaran, maka merekapun berjalan seenaknya di jalan-jalan persawahan seperti orang-orang yang akan pergi ke pasar yang jauh. Tidak seorangpun yang menumbuhkan kecurigaan kepada orang-orang yang mereka temui di sawah-sawah karena mereka sedang menunggui air yang menjadi bagian mereka malam itu, karena air agak sulit didapat di musim kering yang panjang. Dalam pada itu, Manguri dan Lamatpun segera sampai pula ke tempat tujuan mereka, karena kuda-kuda mereka berpacu semakin cepat. Dengan tergesa-gesa mereka meloncat turun dan menambatkan kuda-kuda mereka. Dengan tergesa-gesa pula Lamat mendukung Sindangsari menuju ke gubug di pinggir pekarangan yang sangat luas itu. Mereka terkejut ketika mereka melangkah masuk. Ternyata ayah Manguri telah duduk di dalamnya menghadapi sebuah pelita minyak. "Ayah" desis Manguri. "Ya. Aku sudah menunggu. Aku menjadi cemas kalau terjadi sesuatu atas kalian. Tetapi yang paling cemas adalah apa yang akan terjadi kemudian " "Kenapa?" "Lalu, apakah yang akan kau lakukan setelah kau berhasil membawa Sindangsari kemari" "Biarlah ia ada di sini untuk beberapa lama. Bukankah ayah sudah mendapatkan tempat yang lain untuk menampung ternak sebelumayah membawanya pergi" "Kenapa tempat lain" "Menurut Ki Reksatani semakin banyak orang yang mengetahui hal ini, akan semakin berbahaya baginya" "Ia benar" sahut ayahnya "aku akan membatasi hanya orang-orang yang memang sudah mengetahui hal ini sajalah yang akan datang ke tempat ini. Tetapi untuk memindahkan dengan serta-merta tempat penampungan ternak ini, pasti akan menimbulkan kecurigaan orang" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sekarang apa yang akan kau lakukan?" "Sekarang?" "Ya, sekarang ini" Manguri mengerutkan keningnya "Maksud ayah, apa yang harus aku kerjakan sekarang ini?" "Ya" Manguri menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya "Tidak ada. Aku akan beristirahat disini. Aku lelah sekali. Aku lelah dan mengantuk" "Aku sudah menduga. Karena itulah maka aku datang kemari" "Maksud ayah? Apa lagi yang harus aku lakukan pagi ini?" "Pulanglah cepat. Masuklah ke dalam bilik kalian masingmasing, dan tidurlah seperti biasa, seperti tidak terjadi apaapa" Manguri tidak segera mengetahui maksud ayahnya, sehingga sejenak ia memandang Lamat, kemudian memandang ayahnya. "Apakah maksud ayah, aku harus membawa Sindangsari pulang ke rumah?" "Tentu tidak. Biarlah ia disembunyikan disini. Taruhlah ia di dalam bilik sempit di sebelah. Kalau karena kecurigaan Ki Demang, ia mengirim orang kemari, biarlah aku yang bertanggung jawab. Tidak seorangpun yang akan melihat, bahwa di balik gledeg itu adalah pintu sebuah bilik" "Lalu kenapa aku harus kembali pulang dan masuk ke dalam bilik seperti biasa dan seperti tidak terjadi apa-apa" "Cepat, letakkan perempuan itu di dalam bilik kecil itu, dan segera pulang. Kau dengar?" Manguri menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah Sindangsari yang masih pingsan, kemudian wajah ayahnya berganti-ganti. "Jangan cemas. Aku akan menungguinya seperti menunggui anakku sendiri. Tetapi kau harus segera pulang sekarang" Lamatpun kemudian masuk ke dalam bilik kecil di belakang gledeg itu untuk meletakkan Sindangsari. Katanya "Ia akan segera sadar" "Aku akan menungguinya. Kalau ia berbuat sesuatu yang dapat berbahaya bagi kita, aku akan membuatnya pingsan pula" Lamat mengerutkan keningnya Dan tanpa sesadarnya ia berkata "Ia sangat lemah" Ayah Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah. Aku akan menyesuaikan keadaannya dengan kemungkinan yang dapat terjadi" Meskipun ragu-ragu tetapi Manguri dan Lamatpun kemudian segera berpacu pulang ke rumahnya. Seperti pesan ayahnya, merekapun segera membersihkan diri, mencuci kaki dan berganti pakaian, kemudian masuk ke dalam bilik masingmasing" Sementara itu, di Kademangan Kepandak. Nyai Reksatani yang telah mengumpankan Sindangsari ke halaman belakang, langsung kembali masuk ke dapur. Ia tidak kembali lagi ke bilik Sindangsari atau ke pringgitan. Sejenak kemudian iapun sudah sibuk bekerja diantara orang-orang yang masih ada di dapur menyiapkan makan pagi bagi orang-orang yang semalam-malaman membantu di rumah itu, serta untuk mereka yang tertidur di gandok dan di pendapa. Yang masih tinggal di pringgitan adalah ibu Sindangsari, Ia duduk dengan satu dua orang perempuan tua sambil berbicara tentang berbagai masalah. Ibu Sindangsari itu adalah perempuan yang paling banyak melihat dunia di luar lingkungan Kademangan Kepandak dari orang-orang lain. Karena itu, maka ialah yang paling banyak berceritera tentang segala sesuatu yang pernah dilihatnya. Namun setelah sekian lama mereka berbicara, Sindangsari masih belum juga datang kembali diantara mereka: Tetapi perempuan-perempuan itu tidak menghiraukannya. Mereka menyangka bahwa Sindangsari masih terlampau lelah, sehingga ia tertidur atau berbaring di biliknya. "Biar sajalah" berkata seorang perempuan tua "ia lelah sekali. Apalagi perutnya yang sudah menjadi semakin besar.Ia memang perlu beristirahat" Karena itu maka tidak seorangpun yang segera mengetahui, bahwa Sindangsari sudah tidak ada di dalam biliknya. Ketika seorang perempuan yang menyediakan makan Sindangsari itu kemudian masuk lagi ke dalam biliknya untuk mengambil sisa makannya, ia terkejut. Makanan Sindangsari yang sudah disenduk di dalam mangkuk masih belum dimakannya. Karena itu, maka iapun segera mencarinya ke pringgitan. "Apakah Nyai Demang duduk disini?" perempuan itu bertanya. "Ia ada di dalam biliknya" jawab ibu Sindangsari bersamaan dengan beberapa orang perempuan lainnya. "Tidak ada. Aku baru saja masuk ke dalambilik itu" "O, barangkali ia ada di dapur" "Juga tidak ada. Sejak tengah malamaku ada di dapur" Ibu Sindangsari mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata "Mungkin ia sedang berada di pendapa atau di tempat-tempat lain" "Tetapi NyaiDemang masih belum makan" "Ia pergi ke dalambiliknya bersama Nyai Reksatani" "Ya, akulah yang menyiapkan makan untuknya. Nasi sudah disenduk. Tetapi masih belum dimakannya" "Bertanyalah kepada Nyai Reksatani" Perempuan itupun kemudian pergi mencari Nyai Reksatani di dapur. Kepadanya ia bertanya pula tentang Sindangsari. Betapa dada Nyai Reksatani serasa pepat. Namun kemudian ia menjawab "Ia berada di biliknya. Bukankah ia sedang makan? Dan bukankah kau tadi yang menyediakan makan buatnya" "Ya. Aku memang akan mengambil sisa makan itu. Tetapi nasi yang sudah disenduk masih belum dimakannya" "Ah, jangan berkhayal" "Nyai tidak percaya" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada seorang perempuan yang duduk di sampingnya "Lihatlah ke dalam bilik itu. Aku sedang mengukur kelapa. Tanganku kotor sekali" Perempuan itupun kemudian berdiri dari tempatnya dan pergi ke dalam bilik Sindangsari bersama perempuan yang telah menyediakan makan buatnya. "Nah, kau lihat?" Perempuan itu mengerutkan keningnya. "Aneh sekali. Nasi yang sudah disenduk ke dalam mangkuk itu ditinggalkannya begitu saja. Bukankah aku tidak mengigau atau berkhayal atau mimpi?" Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya "Memang aneh sekali" Keduanyapun kemudian bersama-sama kembali ke dapur dan mengatakan apa yang mereka lihat kepada Nyai Reksatani. Beberapa orang yang lain ikut pula mendengarkannya. Hampir bersamaan mereka bergumam "Aneh sekali" "Mari kita lihat" berkata Nyai Reksatani. Merekapun kemudian bersama-sama pergi ke dalam bilik Sindangsari. Yang mereka ketemukan di sana adalah persediaan makan buat Nyai Demang. Nasi yang sudah disenduk ke dalam mangkuk dan beberapa potong lauk sudah berada dimangkuk itu pula. "Kemana mBok-ayu ini" desis Nyai Reksatani "tidak pantas nasi yang sudah disenduk ditinggal begitu saja. Apakah ia berada di pringgitan?" "Tidak. Aku sudah kesana" "Di pendapa? "Aku belum melihatnya" Nyai Reksatani sendiri kemudian pergi ke pringgitan untuk mencari Sindangsari. Karena di pringgitan tidak ada, maka iapun kemudian bergumam "Apakah ia berada di pendapa menemui tamu suaminya?" "Marilah kita lihat" desis seseorang. Nyai Reksatani termenung sejenak. Tetapi yang direnungkan sama sekali bukan dimana Sindangsari berada, tetapi apakah orang-orang yang melarikan Sindangsari sudah sampai tujuannya. "Bagaimana Nyai" bertanya seseorang. Nyai Reksatani tergagap. Ia sudah tidak dapat berusaha mengulur waktu lagi. Karena itu maka iapun berkata "Marilah kita lihat, apakah ia berada di pendapa" Nyai Reksatanipun kemudian pergi ke pendapa diikuti oleh ibu Sindangsari yang menjadi sangat gelisah. "Tidak mungkin ia tidak dapat diketemukan" berkata Nyai Reksatani kepada ibu Sindangsari. "Tetapi, bukankah ia meninggalkan nasi yang sudah di senduk ke dalam mangkuk" "Memang aneh" Ketika mereka sampai di pendapa. Ki Demang mengerutkan keningnya. Ki Reksatanipun kemudian bertanya "Siapakah yang kalian cari disini?" "mBok-ayu" "He" sahut Ki Demang "bukankah ia ada di dalam?" "Tidak ada" jawab ibu Sindangsari. "Ah. Ia tidak ada disini. Cobalah cari di biliknya, di dapur atau barangkali ia berada di pakiwan" "Kami sudah mencari kemana-mana. Semua orang sudah mencarinya. Kecuali di pakiwan" "Ia tentu mendengar kami ribut apabila ia berada di pakiwan" berkata seorang perempuan yang lain. Ki Jagabaya tidak mengucapkan sepatah katapun. Tetapi ia langsung berdiri. Kemudian ia melangkah turun dan pergi ke pakiwan "Nyai Demang" ia berdesis. Tidak ada yang menyahut. Tiba-tiba saja Ki Jagabayapun menjadi gelisah. Ketika ia kembali ke pendapa, beberapa orang perempuan masih berdiri di tangga dengan wajah yang gelisah. "Di pakiwanpun tidak ada" desis Ki Jagabaya. "Aneh sekali. Apakah kalian sudah menjadi gila?" Ki Demangpun kemudian berdiri pula diikuti oleh tamutamunya yang lain. Mereka yang sudah mengantukpun tibatiba tersadar dan meloncat berdiri pula. Dengan tergesa-gesa Ki Demang masuk kepringgitan, kemudian ke dalam bilik Sindangsari. Ia masih melihat nasi yang sudah disenduk, lauk pauk dan kelengkapannya. "Ia baru mulai makan" desisnya. Ki Jagabaya yang mengikutinyapun memandang nasi yang sudah berada di dalam mangkuk itu dengan dada yang berdebar-debar. Bahkan tanpa sesadarnya ia telah menengok kebawah pembaringan. "Ia tidak akan bersembunyi di sana" desis Ki Demang. "Mungkin tanpa disengaja" "Maksudmu, gangguan hantu atau roh halus yang jahat?" Ki Jagabaya tidak menyahut. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Dalam pada itu, seluruh isi Kademangan menjadi gempar. Nyai Reksatani berlari-larian hilir mudik di dalam rumah itu. Demikian pula ibu Sindangsari dan bahkan Ki Demang telah menjelajahi setiap sudut dan kemudian berpencaran di halaman dengan obor di tangan. Tetapi tidak seorangpun yang dapat menemukan Sindangsari, bahkan jejaknyapun tidak. "Apakah Nyai Demang telah dibawa wewe?" bertanya seseorang. "Hanya anak-anak sajalah yang sering dibawa oleh kuntilanak" sahut yang lain. "Tidak. Kadang-kadang orang tua-tuapun dibawanya. Apalagi Nyai Demang sedang mengandung. Aku dengar ada kuntilanak yang sering mencari perempuan yang sedang mengandung. Ia mengharap bahwa apabila kelak anaknya lahir, maka anak itu akan diambilnya. Kuntilanak itu takut kedahuluan oleh kuntilanak yang lain apabila ia menunggu bayi itu lahir" Yang lain tidak menyahut lagi. Mereka menjadi ngeri membicarakan hal itu diantara mereka. Dalam pada itu, perempuan tua yang menunggui dandang penanak nasi, duduk sambil bertopang dagu. Ia menghubungkan peristiwa itu dengan mimpinya, dengan jambangan yang pecah dan dengan keanehan-keanehan yang terjadi di dapur. Ternyata kini Nyai Demang Kepandak, yang malam ini dirayakan karena kandungannya yang sudah genap tujuh bulan itu t iba-tiba telah hilang begitu saja. "Nyai Reksatani agaknya kurang percaya kepada makna mimpi. Karena itu, ia tidak mengambil sikap untuk mencegah hal serupa ini terjadi" desisnya. Sementara itu, semua orang menjadi bingung. Semua orang diliputi oleh berbagai macam pertanyaan, dan semua orang dicengkamoleh kecemasan. Beberapa orang tua-tua tidak sempat lagi berpikir panjang. Mereka segera mencari beberapa helai penampi, pisau parang dan kelinting kerbau. Dengan memukul semuanya itu beramairamai, dibarengi de-nf.an kentongan-kentongan kecil, mereka memanggil-manggil nama Nyai Demang di seluruh halaman dan kebun belakang. Bahkan kemudian mereka meloncat keluar pagar dan mencarinya di sepanjang padukuhan. Di rumpun-rumpun bambu, di tikungan-tikungan dan di bawah pohon pohon besar. Tetapi mereka tidak menemukan sesuatu. Namun dalam pada itu, Ki Demang, Ki Jagabaya dan para bebahu Kademangan bersikap lain. Bersama dengan Ki Reksatani mereka segera berbincang. "Kita lihat rumah Pamot" tiba-tiba Ki Reksatani menggeram. "Apakah ia sudah pulang?" "Aku tidak tahu. Tetapi siapa tahu, ia pulang hari ini dan mBok-ayu lari kepadanya" "Tidak mungkin" sahut Ki Demang "ia sudah kerasan disini" "Maaf. Aku harus mencurigai setiap orang di dalam saat serupa ini. Bagaimana pendapatmu Ki Jagabaya?" "Marilah kita lihat" sahut Ki Jagabaya "Kalau ia ada di rumah, maka kita memang perlu mencurigainya. Setidaktidaknya ia memang sudah pulang" "Belum seorangpun yang sudah pulang diantara mereka" berkata Ki Kebayan. "Hampir sehari semalam Ki Kebayan ada di rumah ini" sahut Ki Jagabaya. Ki Kebayan mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata "Baiklah. Supaya kita yakin, kita akan melihat rumah itu" Demikianlah maka beberapa orang laki-laki segera mempersiapkan diri. Ki Jagabaya yang merasa tersinggung karena peristiwa itu berkata "Aku sendiri akan memimpin pencaharian ini" Ki Reksatani menjadi berdebar-debar karenanya. Kalau Ki Jagabaya tidak menemukan Sindangsari di rumah Pamot, maka kemungkinan lain, Ki Jagabaya akan mencarinya ke rumah Manguri. Apabila pada saat Ki Jagabaya datang ke rumah itu, Manguri tidak ada di rumah, maka anak muda itu pasti akan dicurigai. Karena itu, untuk meyakinkan dirinya pula, apakah ia aman atau tidak, Ki Reksatanipun berkata "Aku ikut bersamamu Ki Jagabaya" "Bagus" sahut Ki Jagabaya. Kemudian kepada Ki Demang ia berkata "Ki Demang supaya tinggal saja di rumah. Apabila kemudian Nyai Demang diketemukan dimanapun juga sebelum kami kembali, kami harap, Ki Demang menyuruh satu dua orang menyusul kami" "Baikklah" "Supaya perjalanan kami cepat, kami akan berkuda" "Ya. Cepatlah memberi kabar. Kalau perlu aku sendiri akan mencari dari rumah ke rumah" geram Ki Demang. Demikianlah maka Ki Jagabayapun kemudian menyiapkan segala keperluannya, termasuk beberapa ekor kuda dan senjata. Hilangnya Sindangsari dari halaman Kademangan merupakan lumpur yang memercik di wajahnya. Ia ada di Kademangan pada saat itu, pada saat Nyai Demang hilang dari rumahnya. "Kita harus menemukannya" ia menggeram "Nyai Demang pasti belum lama hilang dari Kademangan. Nasinya masih berada di dalam mangkuknya" Demikianlah maka dengan darah yang serasa mendidih di dadanya Ki Jagabaya membawa sejumlah laki-laki berkuda meninggalkan halaman Kademangan, termasuk Ki Reksatani. Sementara itu, perempuan-perempuan tua dan beberapa orang laki-laki yang tidak lagi heran berlari diatas punggung kuda, masih berusaha mencari Nyai Demang dengan bunyibunyian. Menyusup rumpun-rumpun bambu, sudut-sudut padukuhan yang rimbun dan pinggir parit yang ditumbuhi empon-empon setinggi orang. Di bawah sebatang pohon cangkring yang tua, beberapa orang berteriak-teriak memanggil nama Sindangsari, tetapi tidak ada jawaban apapun. Kemudian merekapun pergi ke sendang di bawah pohon Selikur yang berdaun tujuh macam. Tetapi merekapun tidak menemukan seseorang meskipun mereka tidak henti-hentinya memukul tetabuhan yang mereka bawa. Bahkan beberapa orang justru menggigil karenanya, seolah-olah pohon Selikur yang besar itu memandang mereka dengan matanya yang merah. Tangan-tangannya yang berbelitan pada. batang pohonnya seakan-akan bergerak siap untuk menerkam. Sampai fajar menyingsing di Timur, mereka sama sekali tidak menemukan apapun, bahkan jejak Sindangsaripun tidak. Sementara itu, Ki Jagabaya bersama beberapa orang lakilaki berderap diatas punggung-punggung kuda memecah sepinya pagi. Orang-orang yang baru saja terbangun, telah dikejutkan oleh gemeretak suara kaki kuda diatas batu-batu di jalan yang membelah padukuhan mereka. Beberapa orang segera menjengukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak sempat melihat siapakah yang baru saja lewat di depan rumah mereka. Dengan mulut yang terkatub rapat-rapat Ki Jagabaya memacu kudanya seperti dikejar hantu. Dadanya yang pepat serasa ingin meledak. Begitu beraninya orang-orang gila itu mengambil Nyai Demang dari hadapan hidungnya dan hidung suaminya, Ki Demang di Kepandak yang hampir tidak ada duanya di daerah Selatan ini, yang ditunggui pula oleh Ki Reksatani yang pernah mendapat gelar Macan Luwe oleh kawan-kawannya selagi mereka masih muda, karena Ki Keksatani adalah seorang yang garang seperti seekor harimau, tetapi ia selalu saja lapar. Setiap kali ia pergi ke Kademangan, ia pasti langsung pergi ke dapur mencari makan, sehingga sampai saat tuanyapun Ki Demang masih selalu bertanya kepadanya, apakah ia sudah makan. Iring-iringan orang berkuda itu langsung menuju ke ke rumah Pamot yang masih tertutup rapat. Seisi rumah itu terkejut bukan kepalang ketika mereka mendengar derap kakikaki kuda memasuki halaman. Yang pertama-tama terlintas di kepalanya adalah Pamot. Bagaimana dengan Pamot? Dengan tergesa-gesa ayahnya berlari-lari membuka pintu. Ia terkejut sejenak, ketika ia melihat di dalam keremangan cahaya pagi Ki Jagabaya, Ki Kebayan dan beberapa orang lagi, termasuk Ki Reksatani. Hampir tanpa disadarinya ayah Pamot bertanya "Apakah kalian ingin memberikan kabar tentang anakku? Bagaimana dengan Pamot? Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tetapi sejenak kemudian ia bertanya dengan suara lantang "Dimana Pamot?" Ayah Pamot menjadi bingung. Dengan suara yang tinggi ia bertanya pula "Siapakah yang sebenarnya harus bertanya? Aku atau kalian? Aku kira kalian datang setelah kalian mendengar berita tentang anakku. Sekarang Ki Jagabaya justru bertanya dimana Pamot. Bukankah kita bersama-sama tahu bahwa Pamot ikut di dalam pasukan yang menyerang Betawi bersama seluruh kekuatan Mataram?" Ki Jagabaya tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Ki Reksatani, Ki Kebayan dan para bebahu padukuhan yang lain yang ikut serta bersamanya. "Ki Jagabaya?" bertanya ayah Pamot "apakah yang sebenarnya ingin Ki Jagabaya katakan? Apakah Ki Jagabaya ingin menyampaikan berita yang paling jelek buat kami? Dan agar supaya kami t idak terkejut, Ki Jagabaya mencoba mencari cara yang sebaik-baiknya untuk mengatakannya?" Ki Jagabaya masih tetap berdiam diri. Justru ia menjadi agak bingung untuk menjawab pertanyaan ayah Pamot yang datang beruntun. "Ki Jagabaya" berkata ayah Pamot kemudian "sebaiknya Ki Jagabaya berkata berterus terang. Apakah Ki Jagabaya sudah menerima pemberitahuan dari Matarambahwa anakku mati?" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Namun dengan suara yang menghentak dari dalamdadanya ia berkata "Aku mencari Pamot" "Kenapa Ki Jagabaya mencari Pamot?" ayah Pamot menjadi semakin bingung "apakah ia ternyata lari dari kesatuannya?" Ki Jagabaya memandang ayah Pamot dengan sorot mata yang semakin lama menjadi semakin lunak. Ia melihat kejujuran pada wajah ayah Pamot, seorang petani yang sederhana, yang pasti tidak akan mampu membohonginya. "Jadi Pamot tidak pulang atau belum pulang?" la kemudian bertanya. "Aku menunggu berita tentang anakku itu. Jadi bagaimana sebenarnya? Anak itu mati atau lari atau apalagi yang lebih jahat? Membunuh, merampok atau apa?" Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. Katanya "Baiklah kalau anakmu masih belum pulang. Aku hanya ingin meyakinkan diri, apakah anak-anak kita memang belum kembali dari medan" "Aku tidak mengerti" desis ayah Pamot "aku merasa, sesuatu pasti terjadi. Tetapi Ki Jagabaya agaknya masih merahasiakannya" "Tidak. Tidak apa-apa" jawab Ki Jagabaya "Punta dan yang lain lagi juga belumada di rumahnya" Ayah Pamot menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kini hatinya serasa tertusuk duri. Setiap tarikan nafas, bagaikan ujung duri itu semakin dalam menghunjam masuk ke dalam jaringan hatinya. "Baiklah, aku akan melanjutkan perjalanan" "Kemana?" Ki Jagabaya menjadi bingung sejenak. Namun kemudian ia menjawab "Keliling Kademangan" Ketika Ki Jagabaya sudah siap meninggalkkan halaman itu, ayah Pamot mendekatnya sambil berdesis "Perasaanku telah terguncang Ki Jagabaya. Aku memang bukan orang yang pandai, tetapi kadang-kadang secara naluriah aku merasa bahwa sesuatu telah atau akan terjadi. Adalah tidak biasa terjadi, Ki Jagabaya bersama beberapa orang bebahu dan para pengawal di pagi-pagi buta berderap berkeliling Kademangan diatas punggung kuda seperti sepasukan prajurit yang pergi berperang" "Kau benar" sahut Ki Jagabaya "aku sendiri merasa aneh atas perbutan kami ini. Tetapi apaboleh buat. Kalau kau ingin juga tahu, maka sebentar lagi kau pasti akan tahu, apakah alasan kami datang kemari untuk meyakinkan bahwa Pamot memang belum kembali hari ini" "Jadi Ki Jagabaya berteka-teki?" "Tidak. Tetapi aku tidak perlu mengatakannya, sekarang aku minta diri" Ki Jagabaya tidak mununggu jawaban. Iapun segera memacu kudanya meninggalkan halaman rumah Pamot, diikuti oleh orang-orang lain yang bersamanya mencari sindangsari. "Kemana kita sekarang?" bertanya salah seorang pengikutnya. "Masih ada seorang yang pantas kita curigai. Manguri" Dada Ki Reksatani menjadi berdebar-debar. Ia memacu kudanya lebih cepat sehingga ia berada di samping Ki Jagabaya "Kita pergi ke rumah Manguri sekarang?" ia bertanya. "Ya" "Apakah mungkin ia melakukannya?" "Mungkin sekali. Ia jauh lebih kasar dari Pamot. "Tetapi kalau ia berniat untuk mengambil, kenapa ia menunggu sampai hari ini, sampai kandungan mBok-ayu Sindangsari genap berumur tujuh bulan?" "Aku tidak sempat mempertimbangkannya sekarang. Aku mencurigainya dan aku akan melihat rumiahnya, apakah ia menyembunyikannya di rumahnya" "Kita akan membuang buang waktu. Lebih baik kita berpencar dan mencari jejak di seluruh Kademangan" "Terserah. Tetapi aku akan pergi ke rumah Manguri. Memang agak kurang meyakinkan bahwa ia menunggu justru ketika di rumah Ki Demang sedang banyak orang, termasuk Ki Reksatani dan para bebahu. Tetapi mungkin ia menganggap, justru di dalam kesibukan itulah semua orang menjadi lengah" Ki Reksatani tidak dapat mencegahnya lagi. Karena itu ia merasa wajib untuk ikut serta bersama Ki jagabaya. Mungkin apabila perlu ia dapat mengambil tindakan secepat-cepatnya. Tanpa disadarinya, Ki Reksatani meraba kerisnya. Keris yang dipakai sebagai pakaian kebesarannya dalam peralatan di rumah kakaknya. Tetapi keris itu adalah sebuah keris pusaka yang dapat diandalkannya. Kalau Ki Jagabaya menemukan jejak sindangsari di rumah Manguri, maka anak itu harus segera dibungkam untuk selama-lamanya" katanya di dalam hati "kalau tidak, anak itu memang cukup berbahaya bagiku. Aku mempunyai alasan yang cukup untuk menikamnya tanpa menunggu keputusan kakang Demang. Semua orang pasti menyangka aku kehilangan kesabaran, dan membunuhnya dengan sertamerta" Namun kemudian tumbuh pertanyaan "Lalu bagaimana dengan perempuan itu? Ia kini pasti menyadari, bahwa isteriku telah menjerumuskannya. Ia akan dapat banyak berbicara" Ki Reksatani menggeretakkan giginya, di dalam hati ia menggeram "Persetan. Aku tahu dimana perempuan itu disembunyikan. Sudah tentu aku tidak akan dapat membunuhnya di hadapan orang-orang yang mencarinnya. Kami memang harus berpencar dan tidak boleh seorangpun yang tahu, bahwa aku telah membunuhnya" Sejenak kemudian derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat dengan padukuhan Gemulung. Merekapun langsung berpacu ke rumah seorang pedagang ternak yang kaya-raya. Semakin dekat mereka itu ke rumah Manguri, maka dada Ki Reksatani menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak dapat membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh Manguri saat itu. Apakah ia tidak berada di rumahnya karena ia sedang menyembunyikan Sindangsari atau justru ia membawa sindangsari ke rumahnya sebelum disembunyikannya. "Mudah-mudahan anak itu bukan anak yang dungu atau gila sama sekali. Ia harus menyembunyikan Sindangsari itu. Tidak seharusnya ia membawanya pulang apapun alasannya" katanya di dalam hati. Sejenak kemudian, rombongan orang-orang berkuda itupun telah memasuki regol rumah pedagang kaya yang luas dan bersih itu. Beberapa orang pelayan menjadi terkejut karenanya. Mereka yang sedang membersihkan halaman berlari-lari ke belakang, sedang mereka yang sedang menimba airpun terpaksa berhenti karenanya. Ki Reksatani yang sangat cemas merasa sedikit tenang ketika ia melihat Lamat yang berdiri di depan kandang sambil menjinjing kapak. Di bawah kakinya beberapa potong kayu sudah terbelah kecil-kecil "He, dimana Manguri" terdengar suara Ki Jagabaya tegas. Lamat menyandarkan kapaknya pada dinding kandang. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati orang-orang berkuda yang tidak juga mau turun meskipun mereka sudah berhenti di halaman. "Dimana Manguri?" bertanya Ki Jagabaya. "Ia ada di dalam Ki Jagabaya" jawab Lamat sareh. "Benar ia ada di rumah?" "Ya. Ia ada di rumah" "Apakah semalam ia ada di rumah?" "Ya, semalamia ada di rumah. Kenapa?" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Lalu "Panggil anak itu kemari" "Ia barangkali masih tidur" "Kenapa ia masih tidur sesiang ini?" "Bagi Manguri, hari masih terlampau pagi. Ia biasa bangun setelah nasi masak" jawab Lamat. "Panggil ia sekarang" Lamat mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk sambil menjawab "Baiklah. Aku akan memanggilnya" "Apakah ayahnya juga ada di rumah?" "Sudah tiga atau empat hari ini ia pergi mengantar ternak" "Kemana?" Lamat menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu" "Kenapa kau tidak tahu?" Lamat termangu-mangu sejenak. Lalu "Ki Jagabaya tahu, aku seorang pelayan disini. Apakah aku harus mengetahui apa yang dilakukan oleh tuanku?" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik. Sekarang panggil Manguri cepat. Ia tidak boleh berbuat sesuatu yang dapat menumbuhkan kecurigaanku" Lamat menganggukkan kepalanya sambil menjawab "Aku akan memanggilnya" Lamatpun kemudian meninggalkan orang-orang berkuda itu di halaman depan. Namun agaknya Ki Jagabaya tidak mempercayai isi rumah itu, sehingga perintahnya kepada orang-orangnya "Awasi semua sudut, aku tidak mau seorangpun ada yang meninggalkan halaman rumah ini sebelum aku selesai" Beberapa orangpun kemudian berpencar di sekitar rumah yang besar itu, di halaman yang luas di depan dan di belakang. Sambil menggosok matanya Manguri keluar dari pembaringannya. Ia masih sempat berbisik kepada Lamat "Jadi, inilah agaknya kenapa ayah dengan tergesa-gesa menyuruh kita segera pulang. Ternyata perhitungan ayah tepat. Mereka segera datang ke rumah untuk mencari aku" Karena Manguri benar-benar telah tertidur maka matanyapun menjadi merah, sekali-kali ia menguap "Aku benar-benar tertidur" desisnya "apa jawabku kalau mereka bertanya, kenapa aku masih tidur sampai saat begini?" "Aku sudah mengatakan, bahwa setiap hari kau bangun pada saat nasi masak. Merekapun bertanya tentang ayahnu. Aku katakan bahwa ayahmu pergi sejak tiga hari yang lalu" "Bagaimana kalau mereka bertanya kepada ibu?" "Aku akan memberitahukannya" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian perlahan-lahan ia berjalan keluar sambil menunggu Lamat yang singgah sejenak di bilik ibunya. Ibu Manguri menjadi termangu-mangu sejenak. Namun Lamat berkata "Demi keselamatannya" "Ibu Manguri menganggukkan kepalanya "Baiklah" Kepada seorang Pelayan yang sedang membersihkan ruang dalampun Lamat berpesan, agar semua orang diberitahukan, bahwa ayah Manguri dianggap pergi sejak tiga hari yang lalu. "Kenapa?" bertanya pelayan itu. "Kita malas untuk mencari kemana ia pergi. Jawaban itu akan segera menutup kemungkinan agar kita mencarinya" Pelayan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian pergi keluar menemui orang-orang vang berkumpul di dapur sambil memperbincangkan orang berkuda yang dipimpin oleh Ki Jagabaya sendiri. "Jangan lupa. Kalau orang-orang itu bertanya, jawablah, bahwa tuan kita telah pergi mengantar ternak sejak tiga hari yang lalu" Sejenak kemudian Lamatpun telah mengantar Manguri keluar rumahnya. Namun demikian Manguri masih juga berdebar-debar. Ketika ia turun tangga pendapa rumahnya, dadanya berdesir ketika ia melihat Ki Reksatani ada diantara mereka. "Apakah Ki Reksatani akan berkhianat?" pertanyaan itu membersit pula di hatinya. Tetapi ia menggelengkan kepalanya sambil berkata "Tentu tidak. Ia juga berkepentingan. Bahkan berkepentingan sekali buat masa depannya" "Manguri" berkata Ki Jagabaya kemudian dengan suara yang lantang "apa benar kau semalaman ada di rumah? Debar jantung Manguri serasa menjadi semakin cepat. Ia melihat wajah Ki Jagabaya yang tegang dan seakan-akan menyalakan kemarahannya di dadanya. "Benar?" desak Ki Jagabaya. "Ya Ki Jagabaya, semalaman aku di rumah. Kenapa? "Kau tidak pergi sama sekali?" Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak. Aku ada di rumah" "Kau dapat membuktikan?" Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya "Bagaimana caranya agar dapat membuktikan bahwa aku semalaman di rumah" "Terserah kepadamu. Apa saja, asal kau dapat meyakinkan kami bahwa kau semalaman memang berada di rumah" Manguri t idak segera menyahut. Ditatapnya wajah-wajah yang tegang dari orang-orang berkuda itu. Bahkan dilihatnya beberapa orang yang berpencaran di halamannya, seakanakan mereka sedang mengepung musuh di peperangan. "Cepat. Buktikan bahwa kau memang ada di rumah" Ki Jagabaya dan orang-orang berkuda itu serentak berpaling ketika mereka mendengar suara dari pintu butulan "Ia berada di rumah semalaman" Ki Jagabaya menjadi semakin tegang, seorang perempuan berdiri di muka pintu butulan. Orang itu adalah ibu Manguri. "Kau tahu benar bahwa ia semalaman ada di rumah?" bertanya Ki Jagabaya kepada ibu Manguri. "Aku tahu benar bahwa ia ada di rumah. Kami makan bersama-sama, kemudian aku melihat ia pergi ke biliknya. Aku masih menegurnya ketika hampir tengah malam ia masih juga membaca kidung dengan keras" "Sesuatu itu?" "Anak itu pergi ke pembaringan" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sebelum ia mengucapkan pertanyaan-pertanyaan lagi Ki Reksatanilah yang mendahuluinya "Benar begitu Manguri?" Manguri mengangguk "Ya. Benar begitu" "Itukah sebabnya kau bangun terlampau siang pagi ini?" "Aku biasa bangun siang. Aku tidak mempunyai pekerjaan apapun di pagi hari sambil menunggu nasi masak" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Lamat ia bertanya "Kaupun ada di rumah semalaman?" "Aku hampir tidak pernah keluar halaman ini. Apalagi malamhari" Sejenak Ki Reksatani memandang wajah Ki Jagabaya kemudian wajah-wajah yang tegang di sekelilingnya. "Dimana ayahmu?" t iba-tiba Ki Jagabaya bertanya. "Ia pergi mengantarkan ternak keluar daerah" "Kemana?" "Ayah tidak pernah membicarakannya dengan siapapun di rumah ini. Kadang-kadang dengan ibu, tetapi kadang-kadang juga tidak" Ki Jagabaya berpaling kepada ibu Manguri -Benar begitu?" "Ya. Suamiku jarang sekali mempersoalkan pekerjaannya di rumah. Katanya, persoalan itu adalah persoalannya. Persoalan laki-laki. Ia hanya memberi uang untuk keperluan rumah tangga ini secukupnya" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tetapi agaknya ia masih, belum mempercayai seluruh keterangan itu. Karena itu maka tiba-tiba ia berkata "Aku akan melihat seisi rumah ini" "Ada apa sebenarnya?" bertanya Manguri. "Aku ingin melihat apakah tidak ada sesuatu yang mencurigakan disini" "Ya, tetapi apa alasan kalian menggeledahi rumah ini. Ayah yang memiliki rumah ini sedang t idak ada di rumah. Seharusnya kalian menunggu sampai ayah pulang" "Aku tidak dapat menunda lagi" kemudian kepada orangorangnya Ki Jagabaya memberikan perintah "lihatlah isi rumah ini. Apakah ia ada di dalamnya" "Coba, sebutkan apa yang kalian cari. Kalau kalian mengatakan apa yang kalian cari, barangkali kalian tidak perlu menggeledah rumah ini" berkata ibu Manguri "kalau kami tahu apa yang kalian cari, dan ternyata yang kalian cari itu memang ada di rumah ini, kami akan menunjukkannya" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Yang menyahut adalah Ki Reksatani "Seandainya ada, kalian pasti tidak akan berterus terang" "Apakah kalian menuduh kami telah merampok dan menyembunyikan barang-barang rampokan itu di rumah ini?" Ki Jagabaya menjadi ragu-ragu. "Apakah kalian sangka bahwa kami akan kelaparan apabila kami tidak merampok? Apakah kalian sangka bahwa hidup kami telah begitu sengsara sehingga kami harus mencari nafkah dengan cara yang menakutkan itu?" "Kami tidak menuduh kalian merampok. Kami tidak mencari barang rampokan di rumah ini" "Apa yang kalian cari. Kalau kalian tidak mau mengatakan kami, seisi rumah ini menyatakan keberatan bahwa rumah kami akan kalian periksa" "Kau tidak dapat menyatakan keberatan itu terhadapku. Terhadap Jagabaya Kademangan Kepandak. Aku berhak berbuat apa saja untuk ketenteraman Kademangan ini" "Tetapi Ki Jagabaya tidak boleh menyalah gunakan wewenang itu" "Aku tidak menyalah gunakannya sekarang" "Kalau begitu beritahu, apakah yang kalian cari" Ki Jagabaya masih juga ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata "Kami mencari Sindangsari, Nyai Demang" "He?" Manguri pura-pura terkejut "kalian mencari Nyai Demang di rumah ini? Alasan apakah yang telah mendorong kalian berbuat demikian? Apakah kalian sangka bahwa Nyai Demang itu lari dan bersembunyi disini?" Ki Jagabaya tidak menyahut lagi. Tetapi ia mengulangi perintahnya "Cari di seluruh bagian rumah dan halaman" Manguri menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia akan melangkah meninggalkan tempat itu, Ki Reksatani berkata "Kau tidak boleh pergi. Kau tetap disini" Manguri berpaling memandanginya. Namun kemudian ia mengangguk "Baiklah. Aku akan tetap disini. Tetapi apakah kalian menjamin bahwa tidak ada barang-barangku yang akan hilang?" Ki Jagabaya memandang Manguri dengan sorot mata yang tajam"Kau mencurigai kami, para petugas?" "Bukan Ki Jagabaya. Aku percaya kepada Ki Jagabaya. Tetapi bagaimana dengan orang-orang lain itu" "Aku akan mengawasinya. Biarlah ibumu ikut mengawasinya pula. Tetapi kau tetap disini dengan Ki Reksatani" Ki Jagabaya itupun kemudian meloncat dari punggung kudanya, untuk memimpin orang-orangnya mencari Sindangsari di dalam rumah itu. Sementara Ki Reksatani yang kemudian meloncat turun pula dari kudanya, tetap tinggal di tempatnya bersama Manguri dan Lamat. Ketika Ki Jagabaya dan orang-orangnya sudah meninggalkan Ki Reksatani, maka Ki Reksatanipun berbisik "Apakah perempuan itu ada di rumah ini?" Manguri tersenyum sambil menggeleng "Aku bukan anak gila seperti yang kau sangka" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Iapun menjadi berlega hati, bahwa perempuan yang dicari itu tidak ada disini. "Di mana kau sembunyikan?" bertanya Ki Reksatani pula. "Di tempat yang sudah aku tentukan" "Hati-hatilah. Agaknya Kakang Demang menjadi sangat tersinggung. Juga Ki Jagabaya yang dungu itu. Mungkin mereka akan mencari Nyai Demang dari rumah ke rumah. Kami baru saja pergi ke rumah Pamot. Tetapi Pamot masih belumpulang" Manguri tertawa kecil. Katanya "Ki Demang benar-benar menjadi kebingungan. Tetapi percayalah bahwa Ki Demang tidak akan dengan mudah dapat menemukan perempuan itu. "Ingat, kalau perempuan itu dapat diketemukan, maka taruhannya adalah leher kita. Aku kau dan Lamat dan mungkin juga ayahmu dan isteriku" "Aku mengerti" "Atau kademangan ini dilanda oleh perang diantara kita. Apabila demikian kita harus menyusun alasan, yang akan kita pertanggung jawabkan kepada pimpinan pemerintahan di Mataram" "Itu urusanmu" "Aku tahu, karena akulah yang akan menjadi orang yang paling berkuasa di Kademangan ini. Aku dapat berbuat apapun sekehendak hatiku seperti kakang Demang sekarang. Kawin enam kali, dan apapun juga" "Dan apakah yang akan kau lakukan? Kau akan kawin lagi sampai enam kali?" "Ah, tentu tidak" "Lalu apa?" "Jangan kita percakapkan sekarang. Kau harus tatap seperti keadaanmu semula. Aku tetap mengawasi, kau dan Lamat" KiReksatani berhenti sejenak, lalu "lihat, mereka sudah memasuki rumahmu" "Ibu akan mengawasi mereka" Demikianlah maka orang-orang yang datang berwarna Ki Jagabaya itupun memerik setiap sudut rumah dan halaman Manguri. Setiap gerumbul, kandang-kandang ternak yang berserakan telah dimasuki. Dapur dan bahkan pakiwan. Kini mereka memasuki rumah di bawah pengawasan Ki Jagabaya dan ibu Manguri. Dengan teliti mereka memeriksa semua ruangan. Bahkan di dalam kolong pembaringan dan amben di ruang dalam. Di balik gleleg dan disentong-sentong. Tetapi mereka tidak menemukan siapapun juga. Tidak ada seorangpun juga yang bersembunyi di rumah itu. Yang ada hanyalah para pembantu dan pelayan. Pekatik dan gamer serta mereka yang tinggal di rumah Itu. Beberapa orang yang kemudian berkumpul di pringgitan menggelengkan kepalanya sambil berkata kepada Ki Jagabaya "Tidak kami ketemukan di rumah Ini Ki.Jagabaya" Ki Jagabaya tidak segera menjawab. Tetapi ia menjadi ragu-ragu atas dugaannya. Ia semula menyangka bahwa Sindangsari pasti telah diambil oleh seseorang. Atas persetujuannya sendiri atau tidak. Tetapi dua orang yang paling dicurigai ternyata sama sekali tidak memberikan kesan apapun, bahwa merekalah yang telah melakukannya. Bagi Ki Jagabaya Pamot jelas masih belum kembali. Sedang kini, mereka telah menggeledah rumah Manguri, mereka sama sekali t idak menemukan apa-apa. "Gila" geram Ki Jagabaya "apakah benar pikiran perempuan-perempuan tua, Sindangsari dibawa hantu? Tetapi alangkah malunya, apabila aku t idak dapat menemukannya hidup atau mati. Dibawa hantu atau dibawa siapapun juga" Tetapi Ki Jagabaya tidak dapat melepaskan kenyataan yang dihadapinya. Sulitlah untuk tidak percaya, bahwa Manguri memang tidak pergi kemanapun juga semalam. Beberapa keterangan yang didengarnya memang telah meyakinkannya bahwa Sindangsari tidak akan dapat diketemukan di rumah ini. Keterangan yang meyakinkan mengatakan bahwa semalam Manguri ada di rumah. "Kalau begitu bagaimana?" pertanyaan itulah yang berputar-putar di kepala Ki Jagabaya. "Apakah aku pulang dengan tangan hampa, atau aku harus menjelajahi seluruh Kademangan ini?" Pertanyaan itu melonjak-lonjak di dalam dada Ki Jagabaya, sehingga justru ia sejenak menjadi kebingungan. Di luar Manguri dan Lamat duduk di tangga pendapa ditunggui oleh Ki Reksatani yang berjalan mondar mandir sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Ia merasa sedikit tenang karena Sindangsari memang tidak ada di rumah itu. Tetapi apabila nanti Ki Demang sendiri yang merasa sangat tersinggung itu menyebar orang-orangnya dan memasuki setiap rumah, maka sudah pasti rumah yang terpencil itu akan didatangi juga. Apalagi kalau Ki Demang atau Ki Jagabaya mengetahui bahwa rumah itu adalah rumah ayah Manguri. Tiba-tiba Ki Reksatani itu berhenti sejenak sambil berbisik "Dimana ayahmu sebenarnya?" "Kenapa?" bertanya Manguri. "Aku ingin tahu" "Kau memerlukan ibu?" "Persetan. Aku tidak sempat. Jangan gila" "Ayah menunggui perempuan itu" Ki Reksatani mengerutkan keningnya "Maksudmu menunggui Sindangsari?" Manguri menganggukkan kepalanya. Ki Reksatani berdesis "Ayahmu sudah merestuimu. Seorang ayah yang membantu anaknya berbuat kejahatan" Manguri tersenyum. Dipandanginya wajah Ki Reksatani yang tegang. Katanya kemudian "Tetapi itu lebih baik. Bagaimanapun juga seorang ayah menginginkan anaknya mendapatkan apa yang dicita-citakan. Seperti kau juga bercita-cita untuk keturunanmu kelak, meskipun kau harus mengkhianati kakakmu sendiri" "Kau memang anak gila" Manguri tidak menyahut. Ia masih duduk di tangga pendapa rumahnya, dan di bibirnya masih terbayang sebuah senyuman. Namun Ki Reksatani sudah tidak menghiraukannya lagi. Kini ia berjalan lagi hilir mudik di halaman sambil menyilangkan tangannya di dada. Dalam pada itu Lamat duduk sambil menundukkan kepalanya. Terbayang di kepalanya suatu perbuatan yang keji yang kini tengah berlangsung di Kademangan Kepandak. Ia sadar, bahwa apabila kali ini mereka berhasil, maka tindakan mereka pasti akan merembet kepada pengkhianatan yang lebih berani. Bukan sekedar membunuh Sindangsari, tetapi pasti Ki Demang sendiri. Ki Reksatani pasti masih memperhitungkan bahwa Ki Demang akan segera kawin lagi dan kemungkinan untuk menumbuhkan keturunan telah dilihatnya kini, meskipun Lamat sendiri yakin, bahwa keturunan itu sama sekali bukan keturunan Ki Demang seperti yang telah terjadi bahwa kelima isterinya yang terdahulu tidak dapat melahirkan seorang anakpun. Lamat tahu dengan pasti, hubungan yang tidak terkekang lagi antara perempuan yang kini menjadi Nyai Demang itu dengan Pamot. Ki Jagabaya mengerutkan keningnya "Namun dengan suara yang menghentak dari dalam dadanya la berkata "aku mencari Pamot" Tetapi Lamat tidak mengerti seluruhnya, hubungan vang sebenarnya antara Sindangsari dan suaminya itu, seperti juga setiap orang tidak akan dapat mengetahui keseluruhan dari orang lain. Lamat tidak tahu, bahwa Sindangsari telah mengatakan berterus terang kepada suaminya, meskipun hampir saja nyawanya dikorbankannya. Sejenak kemudian Lamat mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Ki Reksatani berkata kepada Manguri perlahanlahan "Kau harus mempertimbangkan tempat itu baik-baik. Kakang Demang pasti akan mencari sampai ke tempat yang kau pergunakan untuk menyembunyikan perempuan itu. Apalagi apabila ia mengetahui bahwa gubug itu milikmu" Manguri menganggukkan kepalanya. "Kau harus memberitahukan pula kepada ayahmu, bahwa ia harus tidak menampakkan diri untuk beberapa hari kalau ia memang ingin membantumu" Sekali lagi Manguri menganggukkan kepalanya. "Nah, sepeninggal kami, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Kau harus cepat-cepat menghubungi ayahmu dan menyingkirkan Sindangsari" "Ia akan aman di tempat itu" "Kau bodoh" berkata Ki Reksatani sambil memandang Manguri tajam-tajam "Ki Jagabaya seolah-olah sudah menjadi gila, seperti kakang Demang sendiri" Manguri tidak menyahut. Tetapi kata-kata Ki Ueksatani itu masuk diakalnya juga. Ki Jagabaya pasti akan menggeledah semua rumah yang mungkin dipergunakannya untuk menyembunyikan Sindangsari. Sejenak kemudian, maka Ki Jagabaya beserta beberapa orang telah keluar dari pringgitan. Dengan hati yang tegang Ki Jagabaya berkata kepada Manguri "Aku tidak menemukannya di rumah ini Manguri" Manguri yang kemudian berdiri menyahut "Ki Jagabaya. Buat apa sebenarnya Ki Jagabaya mencari seorang perempuan yang sedang mengandung ke rumah ini? Aku tidak ingkar bahwa aku pernah tergila-gila kepada perempuan itu. Dan aku tidak ingkar bahwa aku memang seorang yang banyak berhubungan dengan perempuan. Tetapi justru karena itu, apakah aku masih juga menghendaki seorang perempuan, suami orang lain, apalagi suami Ki Demang yang sudah mengandung tujuh bulan?" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab "Aku wajib mencurigai setiap orang. Bahkan orang-orang yang belumpernah berhubungan dengan Sindangsari sekalipun" Manguri mengangkat bahunya "Terserahlah. Tetapi Ki Jagabaya sudah mengetahui, apa yang ada di rumah ini" "Kau tidak usah banyak memberikan tanggapan" bentak Ki Reksatani tiba-tiba "Ki Jagabaya dan kami semuanya pasti tidak akan dapat menganggap bahwa kata-katamu itu keluar dari hatimu yang jujur" namun suara Ki Reksatani kemudian merendah "tetapi kita memang tidak menemukannya disini" Ki Jagabaya memandang. Ki Reksatani dan Manguri berganti ganti. Namun seolah-olah tanpa disadarinya iapun bergumam pula "Ya, kita memang tidak menemukannya disini" "Lalu, kemana kita sekarang?" bertanya Ki Reksatani. Ki Jagabaya termenung sejenak. Ia menjadi bingung, kemana ia harus mencari. "Kita kembali ke Kademangan" berkata Ki Reksatani "Kita minta pertimbangan Ki Demang. Sejak kita mendengar mBokayu hilang, kita belum pernah memperbincangkannya dengan bersungguh-sungguh. Kita tergesa-gesa meengambil sikap dan berpacu diatas punggung kuda. Kini kita harus bertindak dengan pertimbangan yang matang, agar kita tidak sia-sia saja melakukan sesuatu" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah" katanya "kita kembali ke Kademangan. Kita akan memperhitungkan langkah selanjutnya" Ki Reksatani memandang Manguri sejenak. Kemudian ditatapnya kepala Lamat yang botak yang tidak tertutup oleh ikat kepalanya. Sementara Lamat masih saja tetap duduk di tempatnya. Ki Jagabayapun memandang Lamat sejenak. Ia mempunyai tanggapan yang lain terhadap raksasa itu, karena Pamot pernah datang menghadapnya bersama dengan Punta dan mengatakan serba sedikit tentang raksasa yang berwajah sekasar batu padas itu. "Marilah" tiba-tiba ia berdesis "kita segera menghadap Ki Demang" Ki Jagabaya diikuti oleh orang-orangnyapun kemudian melangkah menuju ke kuda masing-masing. Ki Keksatanipun kemudian meninggalkan Manguri sambil berkata lantang "tetapi kami masih akan tetap mengawasi setiap orang yang kami curigai. Terutama kau dan Pamot. Meskipun Pamot masih belumpulang, siapa tahu, ia berbuat lebih licik lagi" Manguri memandang Ki Reksatani sejenak, lalu "Kalau kalian masih belum puas, pintu rumah kami selalu terbuka. Aku kelak akan mengatakan kepada ayah, bahwa kalian telah berkenan mengunjungi rumah kami" "Persetan" bentak Ki Reksatani sambil meloncat ke punggung kudanya. Ki Jagabayapun kemudian meninggalkan halaman ramah itu diikuti oleh Ki Reksatani dan kawannya. Ketika mereka berderap di sepanjang jalan padukuhan, mereka merasa bahwa berpuluh-puluh pasang mata rakyat Gemulung menatap iring-iringan itu dengan hati vang cemas. Beberapa orang berkerumun di balik regol-regol halaman sambil berbincang. Kemudian mereka mulai menduga-duga, karena mereka masih belum tahu pasti apa yang telah terjadi sebenarnya. "Apakah yang telah terjadi?" bertanya seorang laki-laki tua kepada anaknya yang baru mengint ip iring-iringan itu dari balik pintu regol halaman rumahnya. "Entahlah ayah" jawab anaknya "Aku tidak tahu. Tetanggatetanggapun masih belum ada yang tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi. Laki-laki itu menjadi semakin cemas. Katanya kepada anaknya "Tinggal sajalah di rumah hari ini. Hatiku menjadi berdebar-debar. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu di Kademangan dan apalagi di padukuhan ini" Anaknya tidak menyahut. Tetapi iapun menjadi berdebardebar pula. Meskipun demikian anaknya berkata "Aku harus pergi ke sawah ayah. Hari ini kami mendapat giliran air" "Jangan hiraukan air itu. Kita belum tahu, apakah yang sebenarnya sudah terjadi" "Tetapi, di musim kering serupa ini, kita harus mempergunakan air sebaik-baiknya. Kalau kita kehilangan kesempatan sehari ini, tanaman kita di sawah akan layu dan bahkan mungkin sebagian akan mati. Kasihan ayah. Kasihan tanaman yang sedang tumbuh itu dan kasihan kita semuanya kalau kita tidak dapat menuai di musimyang kacau ini" Ayahnya mengerutkan keningnya. Katanya kemudian "Kita akan segera mengetahui apakah yang sebenarnya sudah terjadi" Anak laki-lakinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ternyata mereka tidak usah menunggu terlampau lama. Berita tentang hilangnya Nyai Demang di Kepandak segera tersebar keseluruh Padukuhan Gemulung, dan bahkan keseluruh Kademangan Kepandak Sementara itu, perempuan dan laki-laki tua di Kademangan masih sibuk mencari Nyai Demang dengan cara mereka. Mereka tetap menganggap bahwa Nyai Demang di Kepandak telah dibawa oleh hantu-hantu atau kunt ilanak yang akan memeliharanya sampai anaknya kelak lahir. "Kita cari sampai ketemu" desis seorang perempuan tua. "Tidak ada tempat yang kita lampaui di sekitar Kademangan ini. Tetapi kita tidak menemukannya" sahut yang lain. "Kita tidak hanya sekedar mencari di sekitar Kademangan. Kita cari Nyai Demang sampai keluar Kademangan. Kita minta beberapa orang laki-laki untuk mencarinya ke Gunung Sepikul, Kelokan Kali Praga dan bahkan sampai ke Pandan Segegek, di pasisir Selatan" Kawannya berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Kita bilang saja kepada Nyai Reksatani" Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun kemudian kembali ke Kademangan untuk menyampaikan maksud mereka, mencari Nyai Demang sampai keluar Kademangan Kepandak. Hampir bersamaan, perempuan dan orang tua yang kembali ke Kademangan dengan rombongan Ki Jagabaya yang memasuki halaman dengan tergesa-gesa. Mereka segera berloncatan dari punggung kuda masing-masing dan langsung naik ke Pendapa mendapatkan Ki Demang yang menjadi semakin gelisah. "Bagaimana?" Ki Demang bertanya dengan serta merta. "Kami belum menemukannya Ki Demang" sahut Ki Jagabaya dengan suara tertahan. "Kemana saja kalian mencarinya?" bertanya Ki Demang pula. "Kami sudah pergi ke rumah Pamot. Ternyata Pamot masih belum kembali. Kami langsung pergi ke rumah Manguri. Tetapi kami t idak menemukan Nyai Demang di sana, meskipun kami sudah menggeledah seluruh sudut rumah itu" "Apakah Manguri ada di rumah?" Ya, semua ada di rumah kecuali ayahnya" "Kemana ayahnya itu?" "Seperti biasanya, mengantar ternak keluar daerah" Ki Demang menggeretakkan giginya. Kemarahannya sudah melonjak sampai ke ujung ubun-ubunnya. Kalau Pamot tidak ada di rumah, ia yakin bahwa Sindangsari tidak akan pergi atas kehendak sendiri. Ia selama ini tampak sudah mulai kerasan tinggal di Kademangan. Apalagi setelah perempuan itu yakin, bahwa Ki Demang itu tidak akan berbuat sesuatu atas kandungannya, meskipun kandungan itu didapatkannya dari orang lain. Karena itu, dugaan bahwa Sindangsari sengaja melarikan diri adalah tidak mungkin sama sekali. Terlebih-lebih lagi, ibu Sindangsari ada di Kademangan itu pula. "Apakah kalian yakin bahwa anak-anak yang pergi ke Betawi itu memang belum kembali?" bertanya Ki Demang kemudian. "Ya. Kami yakin. Dan kami justru bertanya, apakah masih ada diantara mereka yang akan dapat kembali lagi" sahut Ki Jagabaya. Ki Demang menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya dadanya menjadi panas, seolah-olah jantungnya sudah menjadi bara karenanya. Dalam pada itu seorang perempuan tua yang sejak semula mendengarkan percakapan itu menyela "Kalian pasti tidak akan menemukannya kalau kalian mencarinya ke rumah orang. Siapapun juga orangnya" Ki Demang mengangkat wajahnya. Dipandanginya perempuan tua itu. Sorot matanya membayangkan kekisruhan hati yang tiada taranya. "Jadi kemana kita harus mencari nini?" bertanya Ki Jagabaya. "Kami sudah mencari ke seluruh sudut Kademangan. Setiap pohon besar, setiap gerumbul-gerumbul yang singup dan kuburan-kuburan. Tetapi kami belum menemukannya. Kalau kalian mau mendengarkan aku pergilah kalian ke Gunung Sepikul atau tikungan Kali Praga atau Pandan Segegek sekali. Kalian adalah laki-laki yang dapat lari cepat diatas punggung kuda. Sebelumhal yang tidak bisa kita inginkan terjadi. Sejenak Ki Demang terdiam. Dipandanginya wajah Ki Jagabaya sekilas, kemudian wajah adiknya Ki Reksatani. "Kalian tentu tidak mempercayai aku" desis perempuan tua itu. "Bukan tidak mempercayai nini. Kami belum menjawab apapun" "Aku dapat melihat kesan di wajah kalian. Terserahlan kepada kalian" Ki Reksatani kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya-Kami akan memperhatikannya nini" "Bukan sekedar untuk diperhatikan. Tetapi, sebaiknya kalian benar-benar melakukannya. Kalau tidak, aku tidak ikut bertanggung jawab lagi" Ki Reksatani memandang Ki Demang sejenak. Dengan ragu-ragu ia berkata "Bagaimana pendapatmu kakang Demang?" Ki Demang yang sedang bingung itu menjawab "Kita lakukan semua usaha. Disini ada berpuluh-puluh orang yang dapat disebar untuk mencari Sindangsari dengan segala cara" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kalau Ki Demang benar-benar menyuruh beberapa orang menjelajahi daerah Selatan ini, iapun menjadi cemas. Barangkali Manguri benar-benar berusaha memindahkan Sindangsari. Dengan demikian maka di sepanjang jalan akan mungkin sekali bertemu dengan orang-orang Ki Demang yang bertebaran kesegenap penjuru. Karena Ki Reksatani seolah-olah tidak menanggapinya karena ia sedang sibuk sendiri dengan angan-angannya, Ki Demang membentaknya "He, bagaimana pikiranmu Reksatani? "Ya, ya. Aku sependapat. Segala cara memang dapat ditempuh. Tetapi sudah tentu kita akan mempergunakan cara yang paling mungkin dapat ditempuh dan paling mungkin menghasilkan" "Terserahlah kepadamu dan kepada Ki Jagabaya" berkata Ki Demang. Kemudian "Aku menunggu hasil kerja kalian hari ini. Kalau kalian gagal aku sendiri akan menjelajahi setiap rumah di Kademangan ini. Kalau ternyata ia tidak diketemukan di Kademangan ini, aku akan mencarinya kemana saja. Aku tidak peduli. Siapa yang berusaha merintangi usahaku, aku akan mempergunakan kekerasan. Setiap orang di daerah Selatan tahu, siapakah Demang di Kepandak. Aku akan memasuki Kademangan di sekitar Kepandak. Tidak ada seorang Demangpun yang akan menghalangi aku, apabila mereka t idak ingin aku menghancurkan mereka" Semua orang terdiam karenanya. Mereka mengerti, dalam keadaan itu, tidak sebaiknya seseorang menanggapi katakatanya. Ki Demang memang seorang yang dikenal di daerah Selatan. Semua orang menghormat inya. Bahkan Demang di sekitar Kepandakpun mengormat inya pula. Dalam keadan wajar, Ki Demang tidak pernah menumbuhkan gangguangangguan dan perselisihan dengan tetangga-tetangga Kademangannya. Tetapi di dalam kegelapan hati, mungkin ia akan berbuat lain. Meskipun Ki Reksatani menjadi berdebar-debar juga, tetapi iapun berkata di dalam hati "Apabila keadaan memaksa, apaboleh buat. Setiap orang di daerah Selatanpun tahu, siapakah orang yang bernama Reksatani, adik Demang di Kepandak" Dalam pada itu Ki Jagabayapun kemudian berkata "Jadi apakah kita akan menempuh segala jalan itu?" "Ya. Semua jalan dan semua cara" jawab Ki Demang tegas. "Baiklah. Aku akan segera membagi orang yang ada. Sebagian akan pergi keluar Kademangan, mencarinya ke Gunung Sepikul, ketikungan Kali Praga dan ke Pandan Segegek di pesisir Selatan" desis Ki Jagabaya. "Terserahlah kepada kalian. Aku menunggu sampai senja" "Baiklah" lalu kepada Ki Reksatani Ki Jagabaya berkata "kita akan membagi tugas" "Ya. Kita akan membagi tugas. Tetapi kita harus berbicara dahulu dengan sebaik-baiknya, supaya kita tidak banyak kehilangan waktu, karena kita dengan mata gelap berlarilarian di sepanjang jalan" "Ya, berbicaralah" sahut Ki Demang "buatlah rencana yang sebaik-baiknya" Ki Reksatani memandang Ki Demang sekilas, wajahnya yang kemerah-merahan itu memancarkan kemarahan yang hampir tidak tertahankan. Tanpa menunggu jawaban lagi, Ki Demang itupun kemudian melangkah masuk ke ruang dalam. Sejenak Ki Jagabaya dan Ki Reksatani saling berpandangan. Namun sejenak kemudian Ki Reksatanipun melangkahkan kakinya pula mengikuti Ki Demang yang langsung masuk ke dalam biliknya. Dari luar bilik, lewat pintu yang tidak tertutup rapat, Ki Reksatani melihat Ki Demang membuka sebuah peti kayu di geledegnya. Kemudian dari dalamnya diambilnya sebilah keris. Keris yang jarang sekali diambil dari simpanannya. Terasa bulu-bulu tengkuk Ki Reksatani meremang. Ia sadar, bahwa kakaknya sudah sampai pada puncak kemarahannya. Tanpa sesadarnya Ki Reksatanipun kemudian meraba kerisnya sendiri. Keris pusaka yang didapatnya bersama-sama dengan keris Ki Demang itu dari almarhum ayahnya. Sebagai dua orang anak laki-laki, keduanya menerima peninggalan yang senilai. Tetapi yang berbeda pada keduanya adalah, hubungan darah. Ki Demang telah lahir lebih dahulu dari Ki Reksatani, sehingga ia menjadi saudara tua. Dan saudara tualah yang berhak untuk menerima warisan kedudukan Demang di Kepandak. Perlahan-lahan Ki Reksatani melangkah surut sebelum kakaknya mengetahui, bahwa adiknya ada di luar pintu. Di luar, Ki Jagabaya menunggu Ki Reksatani dengan berdebar-debar. Begitu Ki Reksatani keluar, iapun bertanya dengan serta-merta "Apa yang dilakukannya?" "Kakang Demang sudah sampai kebatas kesabarannya. Ia sudah mengambil keris pusakanya. Keris yang tidak pernah keluar dari simpanan" "Keris dapur sangkelat itu?" Ki Reksatani menganggukkan kepalanya. Ki Jagabayapun menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah lama mengenal Ki Demang sebagai pemimpin tertinggi di Kademangan Kepandak. Ia mengenal pula tabiat dan kemampuannya. Karena itu, ia kini merasa, bahwa keadaan Ki Demang sudah benar-benar parah. Kalau tidak ada orang yang dapat sedikit memberinya ketenangan, maka keadaannya pasti akan menjadi sangat sulit. Apalagi kalau Ki Demang benar-benar menjadi mata gelap, dan melangkah keluar rangkahnya, keluar daerah Kademangan Kepandak. "Kademangan ini akan diliputi oleh suasana yang suram" berkata Ki Jagabaya selanjutnya "banyak kemungkinan dapat terjadi karena hilangnya Sindangsari" Ki Reksatani menganggukkan kepalanya "Ya. Perselisihan dengan Kademangan-kademangan tetangga mungkin sekali terjadi. Kalau kakang Demang memaksa untuk mencari Sindangsari kemana saja yang dikehendaki, maka perselisihan memang mungkin akan t imbul" "Mudah-mudahan kita akan dapat membatasi diri. Mudahmudahan nanti malam Ki Demang menjadi sedikit tenang dan menemukan cara yang sebaik-baiknya" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sekarang, marilah kita membagi kerja. Kita harus segera berangkat mencari keseluruh daerah Kademangan ini" "Marilah kita duduk sejenak. Marilah kita bicara, supaya kita mendapatkan landasan dari usaha kita ini. "Dan kalian tetap tidak mendengarkan usulku" terdengar suara perempuan tua yang ternyata masih juga berada di tempat itu" "Tentu nini, kami akan mencari ke tempat-tempat seperti yang nini sebutkan. Beberapa orang akan segera berangkat" "Mudah-mudahan kau tidak membohongi aku" "Tidak, tentu tidak" Perempuan itupun kemudian meninggalkan pendapa Kademangan bersama beberapa orang yang masih menunggunya. "Jadi, maksud Ki Reksatani, kita menentukan arah kita masing-masing setelah kita membagi orang-orang kita?" bertanya Ki Jagabaya. "Tentu. Tetapi sebaiknya kita bertanya dahulu kepada ibu Sindangsari, barangkali ia dapat memberikan petunjuk untuk mencari anaknya" jawab Ki Reksatani. "Apa yang dapat dilakukannya?" bertanya Ki Jagabaya. "Barangkali, barangkali ia mempunyai pendapat" jawab Ki Reksatani "sementara itu, sementara kau bertanya kepadanya aku akan pergi ke dapur lebih dahulu" "Untuk apa?" "Makan. Aku sudah lapar. Kita akan menjelajahi kademangan sehari penuh" "Ki Reksatani masih juga sempat merasakan perutnya yang lapar. Tetapi aku kira baik juga kalau semua orang yang akan pergi bersama kita, mendapat makan paginya lebih dahulu. Aku kira di dapur sudah tersedia seadanya, meskipun barangkali nasi sisa makan malam" "Baiklah. Kaupun harus makan, tetapi temui dulu mBok-ayu Demang itu" Ki Jagabayapun kemudian berusaha menemui ibu Sindangsari sementara Ki Reksatani dan orang-orang yang akan mencari Nyai Demang yang hilang itu mencari makan di dapur. Namun tidak seorangpun yang tahu bahwa sebenarnya Ki Reksatani sedang berusaha memperpanjang waktu, ia berusaha memberi kesempatan kepada Manguri untuk menyingkirkan Sindangsari dari persembunyiannya. Dalam pada itu, Manguri memang sedang sibuk merencanakan, apa yang sebaiknya dilakukan. Tetapi kemungkinan-kemungkinan seperti yang terjadi ini agaknya tidak dibayangkan. Ia memang sudah memperhitungkan, bahwa Ki Demang akan menyebar orang-orangnya untuk mencari isterinya. Tetapi tidak terbayang, bahwa Ki Jagabaya membawa pasukan seperti hendak berperang, menjelajahi lorong-lorong padukuhan. Bahkan memaksa semua orang untuk membuka pintu rumahnya. "Jika demikian" berkata Manguri kepada Lamat "memang mungkin sekali rumah itupun pada suatu saat akan dimasuki oleh Ki Jagabaya. Apalagi kalau mereka tahu, bahwa rumah itu adalah rumah ayah. Bahkan mungkin rumah itulah yang pertama-tama akan didatangi. Mereka masih tetap mencurigai aku dan Pamot. Tetapi karena Pamot tidak ada, maka kecurigaan mereka di pusatkan kepadaku" Lamat menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut. "Jadi, sebaiknya perempuan itu memang harus dipindahkan" Lamat menganggukkan kepalanya pula. "He, kenapa kau hanya sekedar mengangguk-angguk saja? Apakah kau tidak bisa bicara lagi?" "Ya, ya. Aku sependapat" "Kau memang seorang raksasa yang dungu. Kau sama sekali tidak dapat berpikir. Kau hanya dapat menganggukangguk sambil mengiakan pendapat orang lain" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Maksudku, pikiran Ki Reksatani itu memang masuk akal. Mungkin Ki Jagabaya akan mendatangi semua rumah. Dan yang pertamaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ tama adalah rumah-rumah yang dicurigainya. Termasuk rumah kecil yang terpencil itu" "Jadi bagaimana menurut pendapatmu?" "Kita pergi ke rumah itu. Mungkin ayahmu dapat memberikan petunjuk" "Ya. Kita pergi menemui ayah" sahut Manguri kemudian "sekarang berkemaslah. Kita akan pergi. Orang-orang ayah yang terpencar itupun agaknya langsung pergi kesana pula" Manguri dan Lamatpun segera berkemas pula. Mereka menyediakan kuda-kuda mereka. Dan Manguri masih sempat memperingatkan "Lamat, bawalah senjatamu. Kita tidak tahu apakah yang akan terjadi di dalam kekisruhan ini" Lamat menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun melangkah ke dalam biliknya. Diambilnya sebuah parang dari dinding bilik itu dan diselipkannya pada ikat pinggangnya. Setelah minta diri kepada ibunya, maka Manguripun segera berpacu ke gubug yang terpencil itu diiringi oleh Lamat. Ketika mereka sampai ke gubug itu, didapatinya ayahnya sedang duduk di ruang depan. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Manguri menceriterakan apa yang telah terjadi di rumah mereka. "Kami mengatakan bahwa ayah sudah tiga hari meninggalkan rumah kita. Kalau ada orang yang melihat ayah disini, maka kecurigaan mereka pasti akan segera meningkat" Ayah Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap tenang. "Jadi" berkata ayah Manguri itu kemudian "menurut pertimbanganmu, sebaiknya aku meninggalkan padukuhan ini?" "Bukankah begitu sebaiknya?" "Ya. Kemungkinan bahwa Ki Demang akan sampai ke tempat ini memang ada" "Jika demikian, apakah yang akan ayah lakukan?" "Sebaiknya aku memang menyingkir untuk beberapa hari" "Tetapi bagaimana dengan Sindangsari? Dimana ia sekarang?" "Di dalam. Aku terpaksa menyumbat mulutnya. Setelah sadar, ia mencoba berteriak-teriak saja. Aku tidak sampai hati untuk membuatnya pingsan lagi. Ia akan menjadi sangat lemah. Apalagi ia sedang mengandung" Darah Manguri berdesir. Iapun menyadari, bahwa seandainya Ki Demang, atau Ki Jagabaya sampai ke gubug ini, maka rumah ini pasti akan digeledahnya sampai ke bawah kolong sekalipun. "Ayah" berkata Manguri kemudian "Ki Reksatani berpendapat bahwa sebaiknya Sindangsaripun disingkirkan pula" "He" ayahnya mengerutkan keningnya "Aku kira ia berada di tempat yang aman sekarang. Pintu di belakang gledeg itu tidak mudah terlihat oleh siapapun" "Tetapi siapakah yang akan menungguinya disini?" "Kau dan Lamat? "Itu akan menumbuhkan kecurigaan mereka. Baru saja mereka menemui kami di rumah. Kemudian kami sudah berada di tempat ini" "Katakan bahwa kalian sedang mengurusi ternak-ternak itu, karena aku tidak ada di rumah" "Mungkin sekali aku dapat menghapus kecurigaan karena aku ada disini. Tetapi aku tidak akan dapat mencegah mereka merusak dinding dan bahkan membongkar gubug ini sama sekali. Apalagi perempuan itu akan dapat membuat bunyi apapun meskipun mulutnya disumbat" "Kalau jelas mereka akan mencari kemari, kau dapat membuat perempuan itu pingsan untuk sementara seperti yang tadi kau lakukan" Manguri termenung sejenak. Namun kemudian berkata. Ayah. Ki Demang benar-benar seperti orang kesurupan menurut Ki Reksatani. Bahkan Ki Jagabayapun menjadi sangat garang, karena tugasnya yang gagal. Ia merasa tersinggung sekali atas hilangnya Nyai Demang dari depan hidungnya di Kademangan" Ayah Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ada baiknya juga aku meninggalkan tempat ini membawa Sindangsari. Tetapi kemana?" "Apakah ayah tidak dapat mencari tempat yang aman di sepanjang perjalanan yang sering ayah lakukan?" "Aman bagi ternak. Tetapi belum pasti bagi seorang perempuan curian seperti Sindangsari" ayah Manguri kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya selanjutnya "kau memang gila Manguri. Kau selalu membuat orang tua menjadi pening" "Sekali ini saja ayah. Biasanya aku tidak pernah mengganggu ayah. Aku sudah dapat mencari gadis-gadis sendiri. Tetapi sekali ini aku memerlukan bantuan" "Ah, kau. Kau harus mencoba untuk memulai dengan kehidupan wajar" "Tentu ayah. Setelah aku mengawini perempuan itu" "Begitu?" ayah Manguri menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terbayang di rongga matanya suatu kehidupan yang justru selalu diliputi oleh rahasia dan kecemasan. Bagaimana mungkin Manguri dapat hidup berumah tangga sewajarnya kalau isterinya harus selalu disembunyikannya? Padahal isterinya adalah seseorang yang lengkap. Jasmaniah dan rohaniah. Yang dapat berpikir dan berbuat, sehingga setiap saat akan dapat melarikan dirinya. "Manguri memang keras kepala" ia berdesah di dalam hatinya "semakin sulit ia mendapatkan seorang gadis, maka ia menjadi semakin bernafsu. Ia tidak mau menarik niatnya, sebelum ia berhasil. Agaknya kali ini ia benar-benar mendapatkan kesulitan" Tetapi ayahnya tidak mengucapkannya. Terbayang sekilas cara hidupnya sendiri. Cara hidup yang sama sekali juga tidak terpuji. "Jadi, bagaimana selanjutnya ayah. Kita harus berbuat cepat. Keadaan menjadi sangat gawat" "Baiklah" berkata ayahnya "meskipun aku belum tahu, kemana aku harus pergi, tetapi aku akan pergi. Nanti malam kalian dapat menyembunyikan Sindangsari di tempat yang akan aku beritahukan lewat seseorang" "Tidak nanti malam ayah. Sekarang perempuan itu harus disingkirkan" "He, sekarang?" "Hari ini Ki Demang atau Ki Jagabaya pasti akan segera menjelajahi isi Kademangan. Semakin cepat, semakin baik. Bahkan sebaiknya sekarang ayah membawanya pergi" "Sekarang? Kalau aku sendiri dapat saja sekarang pergi berkuda kemanapun. Aku mempunyai banyak sekali kenalan. Aku dapat berpura-pura mengurus ternakku yang masih tersisa belum dibayar, atau dengan dalih apapun. Tetapi dengan membawa seorang perempuan yang sedang mengandung, aku harus berpikir beberapa kali lagi" "Terserahlah kepada ayah. Tetapi aku minta ayah menyingkirkannya sekarang. Kalau tidak, apabila ada bencana yang menimpa aku, ayah pasti akan tersangkut pula. Kita tahu, bahwa sulit sekali untuk melawan Ki Demang dengan kekerasan. Ia adalah seorang yang pilih tanding. Hampir tidak ada duanya di daerah Selatan ini" Ayah Manguri termangu-mangu sejenak. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata "Manguri, aku sudah memperingatkan sebelumnya. Carilah perempuan lain. Sekarang kau terlibat dalam suatu kesulitan yang akan sulit kau atasi" "Sudah ayah. Aku sudah mencari perempuan lain. Sejak itu aku sudah mendapatkan lebih dari lima orang berganti-ganti. Aku sudah menjadi jemu dengan mereka, sehingga satu-satu sudah aku lepaskan atau aku serahkan kepada laki-laki yang mau mengawininya dengan sedikit bekal untuk hidup mereka. Tetapi aku tidak dapat melupakan Sindangsari" Sekali lagi ayahnya berdesah. Katanya "Agaknya kau akan menempuh jalan yang lebih hitam dari jalanku Manguri" "Tidak ayah. Setelah aku mendapatkan perempuan itu, tentu tidak" "Seperti perempuan lain Manguri. Kau akan segera menjadi jemu. Tetapi kalau kali ini kau menjadi jemu, kau tidak akan dapat melemparnya begitu saja, atau membeli seorang lakilaki berhati tikus untuk mengawininya. Tidak" "Tentu tidak ayah. Aku tidak akan jemu dengan Sindangsari" "Mudah-mudahan" "Tetapi, agaknya bukan waktunya sekarang untuk mempersoalkannya ayah. Apakah ayah bersedia menyelamatkan perempuan itu" Manguri memotong. Ayahnya tidak segera menjawab. "Ayah. Apakah ayah dapat menyingkirkannya?" Ayah Manguri menarik nafas dalam-dalam. "Ayah" ulang Manguri. "Bagaimana aku akan membawanya" Ayahnya bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri. "Ayah" suara Manguri menjadi gemetar "demi keselamatan kita dan keselamatan perempuan itu. Kalau aku gagal menyembunyikannya, maka Ki Reksatani akan menempuh jalannya sendiri. Jalan yang paling selamat buat dirinya" "Jalan apakah itu?" "Apakah aku belum pernah mengatakan kepada ayah? Jalan itu adalah jalan yang paling mudah baginya. Membunuh Sindangsari" Ayah Manguri mengangkat wajahnya sejenak, lalu "Keturunan Ki Demang itu selalu menghantuinya. Ia ingin memiliki warisan kedudukan ini. Aku sudah mengerti" "Karena itu ayah, selagi ada kemungkinan untuk menyingkirkannya " Sejenak ayah Manguri termenung. Namun kemudian ia mengangguk-angguk kecil "Baiklah. Aku akan membawanya pergi" Manguri bergeser setapak. Katanya "Terima kasih ayah. Tetapi bagaimana ayah akan membawanya supaya tidak terlihat oleh seseorang?" "Suruh siapkan pedati. Aku akan pergi dengan pedati" "Dengan pedati?" "Tidak ada cara yang lebih baik dari sebuah pedati" Dada Manguri menjadi berdebar-debar "Tetapi perjalanan ayah akan lambat sekali dan barangkali akan makan waktu yang panjang" "Tetapi aku tidak melihat kemungkinan lain" lalu katanya kepada Lamat "Lamat, suruhlah kusir pedati menyiapkan pedatinya. Aku akan pergi. Tiga orang yang ada di sini akan ikut bersama aku" "Kenapa?" "Kalau aku bertemu dengan orang-orang Ki Demang di jalan aku tidak mau berbuat tanggung-tanggung" Sekali lagi dada Manguri berdesir, bahkan terasa dada Lamat bergejolak keras. Agaknya demikianlah tabiat ayah Manguri. Dalam keadaan yang memaksa, ia tidak mau berbuat tanggung-tanggung. Terbayang di dalam angan-angan Lamat, beberapa orang yang sedang mencari Sindangsari, yang berjumpa dengan ayah Manguri di perjalanan, tidak akan dapat kembali pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada seorangpun dari mereka yang sempat berceritera, siapakah yang telah melakukan hal itu. Kecuali kalau diantara mereka terdapat Ki Demang atau Ki Jagabaya sendiri. Maka keadaannya pasti akan berbeda. "Cepat" Lamat terkejut ketika ia mendengar Manguri membentaknya. Dengan tergesa-gesa iapun pergi ke sudut halaman yang luas itu. Seperti apa yang diperintahkan oleh ayah Manguri, maka iapun menyuruh kusir pedati untuk menyiapkan pedati lembunya. "Kemana Ki Lurah akan pergi?" Lamat menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu. Tiga orang pengawalnya akan dibawanya serta" "Kami" bertanya salah seorang dari ketiga pengawal. "Ya. Kalian akan dibawa pergi" "Lalu siapakah yang akan menunggui rumah dan halaman ini? Disini masih ada beberapa ekor lembu dan bahkan di dalam gubug itu ada Nyai Demang" "Hus" desis Lamat "jangan kau sebut-sebut. Jadi kau tahu bahwa Nyai Demang ada disini?" "Ya. Semula aku ragu-ragu ketika aku melihat kau datang membawanya. Tetapi ketika aku diminta oleh Ki Lurah untuk membantu mengikat dan menyumbat mulutnya, barulah aku yakin" "Jadi perempuan itu diikat sekarang?" "Ia selalu meronta-ronta. Supaya kandungannya tidak terganggu, maka Ki Lurah memutuskan untuk mengikatnya. Ternyata ia menjadi tenang setelah ia yakin, bahwa ia tidak akan dapat melepaskan tali pengikatnya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata "Jangan mengatakan kepada siapapun di luar halaman ini. Kalau hal ini diketahui orang, maka kalian akan kami gantung di pinggir hutan, dan tubuh kalian akan kami lemparkan agar menjadi makanan harimau atau burung gagak" "Tetapi bagaimana kalau bukan kami yang menyebarkannya?" "Tidak ada orang lain yang mengetahui" "Para pengawal yang kalian pergunakan di Kademangan semalam? Mereka pasti tahu juga apa yang telah terjadi" "Mereka sudah berjanji akan menutup mulut. Bagaimana dengan kalian?" "Jangan menganggap kami anak-anak lagi. Kami tahu apa yang harus kami rahasiakan dan apa yang tidak" "Apakah kalian mau berjanji juga" "Kami tahu apa kewajiban kami disini" "Apakah kalian mau berjanji" "Kami sudah mengerti, bahwa rahasia itu tidak boleh merembes keluar halaman ini" "Aku bertanya, apakah kalian mau berjanji?" Para pengawal ternak itu menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya mereka saling berpandangan. "Baiklah. Kami berjanji" jawab salah seorang dari mereka. "Yang lain?" "Kami berjanji" jawab yang lain hampir bersamaan. "Nah, sekarang siapkan pedati. Kalian akan segera pergi" "Bagaimana dengan tempat ini" "Tinggalkan saja. Sebentar lagi, orang-orang yang pergi ke Kademangan semalamakan segera berdatangan" "Tidak semuanya kemari. Mereka bahkan akan kembali ke rumah Ki Lurah" "Aku akan segera menyuruh mereka kemari. Dua atau tiga orang sudah cukup" "Baiklah" sahut salah seorang dari mereka "kami sekedar menjalankan perintah" Demikianlah, maka orang-orang itupun segera menyiapkan pedati dan sebuah perjalanan. Perjalanan yang lain dari perjalanan yang biasa mereka lakukan. Kali ini mereka tidak mengawal ternak ke luar daerah, tetapi akan mengawal sebuah perjalanan yang diliput i oleh suatu rahasia. Sejenak kemudian maka pedati itupun sudah siap. Di dalam pedati ditaruhnya seonggok jerami, rendeng dan beberapa macam barang lainnya. Keranjang-keranjang kosong dan bakul-bakul berisi bahan makanan mentah. "Aku akan mencoba mencari persembunyian di tempat kawan-kawanku. Mungkin aku akan memilih tempat yang agak jauh sama sekali, supaya aku tidak selalu berpindah-pindah persembunyian. Tetapi dengan demikian kau tahu Manguri, bahwa aku telah kehilangan beberapa hari dan kesempatan untuk mengadakan jual beli ternak. Beberapa hari bagiku adalah kerugian" berkata ayah Manguri kemudian. "Sekali-sekali ayah" jawab Manguri. "Tetapi kita masih belum tahu, apakah yang akan kita kerjakan kemudian. Apakah aku harus menunggui perempuan itu sampai aku tua, atau kita akan mendapat pemecahan lain" "Tentu tidak ayah. Akulah yang akan bertanggung jawab seterusnya" "Kau menghilang dari Gemulung? Kau tahu akibatnya" "Tidak begitu. Tetapi baiklah. Kita akan membicarakannya kelak" Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah" katanya "sekarang, naikkanlah Sindangsari ke dalam pedati itu" Manguri memandang ayahnya sesaat. Kemudian katanya kepada Lamat "Ambillah perempuan itu" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun segera pergi ke bilik di belakang geledeg. Setelah memindahkan geledeg bambu, maka iapun segera membuka pintu. Dilihatnya Sindangsari memang terikat di pembaringan, sedang mulutnya tersumbat rapat-rapat" Sejenak Lamat berdiri termangu-mangu. Ia melihat sorot mata yang aneh yang seakan-akan menembus langsung ke jantungnya, sehingga tanpa sesadarnya iapun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tetapi akhirnya ia sadar, bahwa ia harus segera melakukannya. Karena itu, maka selangkah ia maju sambil berkata "Maafkan aku nyai Demang" Sorot mata itu serasa semakin sakit menusuk dadanya. Tetapi ia tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi. Perlahanlahan ia mendekati Sindangsari sambil berdesis "Maafkan. Maafkan aku" Ketika tangan Lamat menyentuh tali pengikatnya. Sindangsari sudah mulai meronta lagi. Demikian satu tangannya terlepas, begitu ia merenggut sumbat di mulutnya "Gila, kau gila. Lepaskan aku" teriaknya nyaring. "Tenanglah Nyai Demang" bisik Lamat. Tetapi Sindangsari meronta semakin keras dan berteriak-teriak tidak menentu. "Tenanglah Nyai Demang. Tenanglah" Suara Lamat sama sekali tidak di dengarnya. Meskipun tangannya yang sebelah masih terikat, tetapi ia meronta-ronta sekuat-kuatnya. Lamat menjadi bingung sejenak. Namun t iba-tiba ia berteriak keras sekali, sehingga gubug itu seolah-olah telah bergetar dan meledak. "Diam, diam kau" Teriakan itu ternyata telah mengejutkan Nyai Demang. Suara Lamat jauh melampaui suaranya sendiri. Dengan demikian maka Nyai Demang itu tanpa sesadarnya telah terdiam. Ketika Nyai Demang telah diam barulah lamat bergeser semakin dekat. Tetapi kini yang terbayang adalah ketakutan yang dahsyat telah mencengkam Nyai Demang di Kepandak. Lamat kemudian berjongkok di dekat Nyai Demang. Perlahan-lahan sekali ia berbisik "Tenanglah Nyai Demang. Aku akan mencoba melindungimu sejauh dapat aku lakukan. Karena itu jangan kehilangan akal. Jagalah dirimu baik-baik di saat-saat aku tidak ada. Tetapi, kau dapat mempercayai aku" Nyai Demang mengerutkan keningnya. Tetapi di wajahnya masih terbayang campur aduk dari ketakutan dan keraguraguan. Yang penting, jagalah kandunganmu. Jangan merontaronta supaya kandunganmu tidak terganggu. Nyai Demang masih ragu-ragu "Aku tahu, bahwa kandunganmu sama sekali bukan anak Ki Demang di Kepandak. Tetapi anak yang akan lahir itu adalah anak Pamot Mata Sindangsari terbelalak karenanya. "Aku sama sekali t idak sengaja ketika aku melihat Pamot minta diri kepadamu, pada saat ia akan berangkat meninggalkan padukuhan ini" "Kau melihat" tiba-tiba wajah Sindangsari merah padam. "Tanpa aku sengaja" "Gila. Kau memang gila" "Diamlah. Tenanglah. Aku bermaksud baik. Aku akan mengatakan selanjutnya. Tetapi sekarang tidak ada waktu lagi" Sindangsari ternyata tidak dapat menahan hatinya lagi. Meskipun ia tidak meronta-ronta dan membiarkan Lamat melepaskan tali pengikat dari seluruh tubuhnya, namun air matanya menjadi semakin deras mengalir. Bahkan kemudian setelah kedua tangannya bebas ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Aku malu sekali" desisnya "kenapa kau berbuat gila itu?" "Jangan ribut. Aku tidak bermaksud mengatakannya. Tetapi barangkali aku sudah terlanjur. Sekarang yang penting, apa yang sedang kau hadapi kini, untuk sementara kau harus menurut. Jangan mencoba melawan, itu tidak akan ada gunanya. Tetapi percayalah kepadaku" Sindangsari masih menangis. "Sebenarnyalah jiwamu terancam" "Aku memang ingin mati" "Ah, jangan begitu Nyai" "Aku tidak percaya kepada setiap orang. Semuanya hanya mementingkan dirinya sendiri" "Tetapi kadang-kadang seseorang mempunyai kepentingan bersama dengan orang lain. Dan semuanya itu sebenarnya tidak penting sama sekali. Yang penting bagi Nyai Demang adalah kandungan Nyai Demang meskipun Nyai Demang ingin mati, tetapi anak itu tidak seharusnya ikut menjadi korban perasaan yang meledak sesaat itu" "O" suara Sindangsari terputus oleh isaknya. Tiba-tiba saja ia menyadari keadaannya, bahwa sebenarnya ia memang sedang mengandung. Sejenak Lamat masih berdiam diri berjongkok di samping Nyai Demang, yang meskipun sudah terlepas dari ikatannya, tetapi ia masih tetap berbaring sambil menangis. Bahkan ia kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa malu sekali menatap wajah Lamat, yang ternyata telah mengetahui rahasianya yang paling dalam, yang sebenarnya tidak boleh dilihat oleh siapapun juga. Namun Lamat tidak dapat membiarkan hal itu terjadi terlampau lama. Di luar ayah Manguri sudah menunggunya. "Marilah. Nyai Demang harus segera menyingkir dari tempat ini. Jangan melawan, agar kandungan Nyai Demang tidak terganggu. Selanjutnya, biarlah kita bersama-sama berusaha mencari jalan, agar Nyai Demang dapat melepaskan diri dari bencana" Sindangsari t idak menyahut. "Kali ini aku mengharap Nyai Demang mempercayai aku" Sindangsari masih tetap tidak menjawab. Tetapi ketika Lamat berdiri, Sindangsari bangkit pula. "Marilah. Aku persilahkan Nyai berjalan sendiri" Sindangsaripun kemudian melangkahkan kakinya. Ia kini sadar, bahwa ia pasti berada di tangan Manguri. Ia mengenal raksasa itu dan ia mengenal juga saudagar ternak yang kaya, yang telah mengikatnya. Ayah Manguri. Ketika Sindangsari melangkah kakinya keluar pintu, dadanya berdesir. Ternyata Manguri benar-benar telah berada di luar, berdiri tegak di samping ayahnya. Terasa sesuatu melonjak di dadanya. Kebenciannya kepada anak muda itu serasa akan meledakkan dadanya. Tiba-tiba saja ia merasa, bahwa ia lebih aman berada di samping Ki Demang yang telah jauh lebih tua itu, daripada di dekat Manguri. Terbayang betapa anak muda itu menjadi begitu ganas dan kasar. Sedang Ki Demang ternyata cukup mengerti tentang dirinya dan kadang-kadang bersikap seperti seorang ayah. Apalagi Ki Demang itu sama sekali t idak menyentuhnya selama ini. Tiba-tiba saja Sindangsari ingin berlari. Berlari kemana saja menjauhi anak muda itu. Tetapi ketika ia ingin melangkah, Lamat yang berada di belakangnya segera menangkap kedua lengannya "Tenanglah Nyai Demang" Sindangsari meronta. Tetapi tangan Lamat bagaikan besi yang telah menghimpit tubuhnya. "Sayangilah kandunganmu" bisik Lamat. "Lepaskan, lepaskan" Tetapi tangan Lamat sama sekali tidak terlepas. Bahkan terasa semakin keras menghimpit lengannya. "Maafkan Nyai Demang" berkata Manguri sambil membungkukkan kepalanya "maafkan kekasaran raksasa yang dungu itu. Aku juga mendengar ia berteriak-teriak di dalam. Bukan maksudku berbuat begitu kasar. Tetapi Lamat tidak dapat berbuat lebih baik dari itu" Sindangsari t idak menjawab. "Kami terpaksa menyelamatkan Nyai Demang dari Kademangan, karena Nyai Demang terancam. Jiwa Nyai Demang benar-benar harus mendapat perlindungan" "Bohong, bohong" "Nyai Demang" berkata Manguri "mungkin Nyai Demang tidak percaya. Ki Reksatani, adik Ki Demang itu, benar-benar ingin membunuh Nyai Demang" "Bohong" "Alasannya karena Nyai Demang sudah mengandung. Ki Reksatani ingin semua isteri Ki Demang tidak mengandung, karena Ki Reksatani tidak mau melihat Ki Demang mempunyai keturunan. Dengan demikian maka tidak akan ada seorangpun yang akan dapat menggantikan kedudukannya. Tetapi ternyata Nyai Demang sekarang sedang mengandung" "Tetapi" suara Sindangsari terputus karena tangannya segera menutup mulutnya sendiri. "Tetapi, apa?" bertanya Manguri. "Tidak. Tidak" tangis Sindangsari meledak lagi. Semakin keras. Bahkan timbullah pertanyaan di dalam kepalanya "Apakah Manguri melihat juga apa yang telah terjadi itu seperti Lamat?" "Diamlah" desis Manguri "aku persilahkan Nyai menyingkir untuk keselamatan Nyai. Silahkan Nyai naik kepedati. Ayah akan mengantarkan Nyai bersembunyi untuk sementara" Dada Nyai Demang menjadi sesak. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandang wajah Lamat yang kasar sekasar batu padas. Tetapi tiba-tiba ia melihat sesuatu yang lembut di wajah itu. Tatapan matanya. Ya tatapan mata Lamat. Karena itu, ketika Lamat menganggukkan kepalanya, tibatiba saja ia telah dicengkam oleh kepercayaan terhadap orang yang tinggi besar dan berkepala botak itu. Perlahan-lahan Sindangsari melangkah mendekati pedati yang sudah tersedia. Lamat mengikutinya di belakangnya. Ketika ada kesempatan ia berbisik "Manguri tidak tahu sama sekali tentang kandunganmu. Ia mengira, anak itu anak Ki Demang di Kepandak" Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi ia t idak menjawab dan bahkan berpalingpun tidak. Tetapi kini ia mempercayai keterangan itu. Ia percaya bahwa Manguri tidak mengetahuinya. Kalau ia tahu, mungkin ia sudah mempergunakan hal itu untuk memerasnya sejak permulaan hari-hari perkawinannya dengan Ki Demang. Sejenak kemudian Sindangsari telah naik keatas pedati ditolong oleh Lamat. Dan Lamat sempat pula berbisik "Aku tidak ikut bersama Nyai sekarang. Jagalah dirimu baik-baik. Aku akan selalu berada di dekat Manguri. Aku tahu apa yang akan dikerjakannya" Nyai Demang t idak juga menjawab. Tetapi ia mengangguk kecil. Sejenak kemudian, maka ayah Manguri dan ketiga pengawalnyapun telah naik pula keatas pedati itu. Ketika pengemudinya telah siap pula, ayah Manguri berkata "Hatihatilah. Jagalah rumah dan ibumu baik-baik. Aku sekarang terpaksa melibatkan diri dalam permainan yang gila ini. Aku akan segera mengirimkan orang untuk mengambil pakaian, apabila aku harus berada dipersembunyian sampai sepekan. Aku tidak membawa pakaian sama sekali" "Ya ayah, aku akan menyediakan" "Baiklah" lalu kepada Lamat ia berkata "Jagalah seluruh milikku baik-baik" Lamat mengangguk dalam dalam Jawabnya "Aku akan mencobanya" Maka sejenak kemudian pedati itupun maju perlahan-lahan. Ketika pedati itu mulai bergerak, terasa hati Sindangsaripun meronta pula. "Tidak, tidak" tiba-tiba saja ia berteriak "aku akan turun. Lepaskan aku" "Jangan berbuat bodoh Nyai. Aku dapat mengikatmu lagi" desis ayah Manguri "kami semua telah berusaha dengan susah payah menyelamatkan Nyai dari ketamakan Ki Reksatani. Nyai harus menyadari hal ini" "Tetapi, aku tidak mau. Biarlah Ki Demang melindungi aku" "Ki Demang terlampau percaya kepada adiknya itu. Sudahlah, tenanglah. Kami bermaksud baik" Mata Sindangsari yang basah itu menjadi semakin, basah. Tiba-tiba perasaan takut yang mencengkamnya, semakin memuncak lagi. Ia berada di dalam satu pedati dengan lima orang laki-laki yang kasar. Laki-laki yang tidak dikenalnya dengan baik watak dan tabiatnya. Bahkan menurut pendengarannya, ayah Manguri itu adalah seorang laki-laki yang tidak berbeda dengan Manguri sendiri. Tetapi-dalam pada itu Sindangsaripun menyadari bahwa ia tidak akan dapat melawan. Bahkan memang sebaiknya ia tetap mempergunakan pikirannya. Karena itu, maka akhirnya Sindangsari itu duduk berdiam diri. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. Meskipun ia merasa, bahwa semua laki-laki yang ada di dalam pedati itu seakanakan tidak menghiraukannya, namun setiap kali terasa kulit di seluruh tubuhnya meremang. Demikianlah maka pedati itu berjalan perlahan-lahan keluar dari halaman yang luas itu, turun kejalan padukuhan yang sepi. Kemudian menyelusuri jalan itu keluar dari telatah Kademangan Kepandak. Manguri dan Lamat mengantar mereka sampai ke regol halaman. Dengan mata yang suram Lamat memperhatikan pedati yang berjalan terguncang-guncang ditarik oleh dua ekor lembu itu. Semakin lama semakin jauh, membawa Sindangsari ke tempat yang masih belum diketahui. Setelah pedati itu hilang di kelok jalan, maka Lamatpun menarik nafas dalam-dalam. "Kita harus segera kembali" desis Manguri. Lamat menganggukkan kepalanya "Ya. Kita harus segera kembali" "Sebentar lagi, Ki Demang akan menyebar orang-orangnya. Kita harus sudah berada di rumah" Lamat menganggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya "Bagaimana dengan halaman ini?" "Biarlah, kita tinggalkan saja" "Beberapa ekor ternak yang ada disini?" "Biar sajalah. Ternak itu tidak akan hilang" Lamat tidak bertanya lagi. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk. Tetapi wajahnya masih saja diliput i oleh kecemasan tentang nasib Nyai Demang di Kepandak. Keduanyapun kemudian berpacu meninggalkan tempat itu, setelah menutup pintu-pintu gubug dan mengikat beberapa ekor ternak yang ada erat-erat. Tetapi beberapa ekor ternak itu hampir t idak berarti sama sekali bagi Manguri yang kaya raya, seandainya ternak itu hilang sekalipun. Dalam pada itu, orang-orang di Kademangan telah siap pula untuk melakukan pencaharian yang lebih lama dan luas. Mereka sudah selesai makan dan berkemas. Seperti yang diperintahkan oleh Ki Demang mereka diperkenankan menempuh semua cara untuk menemukan Sindangsari. "Sebagian dari kita akan pergi menjelajahi setiap rumah yang pantas dicurigai" berkata Ki Jagabaya "Dan sebagian kecil akan pergi ke tempat-tempat yang wingit seperti yang disebutkan oleh nini itu. Gunung Sepikul, Tikungan Kali Praga, kalau perlu dicari sampai kepesisir Kidul, Pandan Segegek, sungapan Kali Praga dan dimana saja" Orang-orang yang mendengarkannya menganggukanggukkan kepalanya. Merekapun merasa wajib untuk ikut serta menemukan Nyai Demang yang begitu saja hilang dari Kademangan pada saat ia sedang makan di dalambiliknya. "Hampir tidak masuk akal" berkata salah seorang dari mereka. "Memang mungkin ia telah dibawa oleh hantu" jawab yang lain. Demikianlah, maka Ki Jagabayapun segera membagi orangorangnya. Setiap kelompok terdiri dari tiga sampai lima orang. Ia sendiri bersama dua orang ikut pula di dalam usaha pencaharian itu. Sedang Ki Reksatanipun ikut pula bersama dua orang yang lain. "Kita jelajahi setiap pintu" desis Ki Jagabaya "mustahil Nyai Demang dapat hilang begitu saja seperti ditelan bumi" Demikianlah maka orang-orang itupun mulai berpencaran. Beberapa kelompok pergi ke timur, kelompok yang lain ke Barat, ke Selatan dan ke Utara. Sedang sekelompok yang lain harus mencarinya keluar Kademangan, ke daerah-daerah yang wingit. Seperti pasukan yang berangkat ke medan perang, maka kelompok-kelompok itupun mulai berpencar. Mereka menuju ke arah masing-masing, dan setiap kelompok dipimpin oleh seorang bebahu Kademangan termasuk Ki Jagabaya dan Ki Reksatani. Sejenak kemudian, maka berderaplah kaki-kaki kuda di seluruh daerah Kademangan Kepandak. Debu yang putih berhamburan ditiup angin yang kering. Mereka akan mulai dengan pencaharian mereka dari daerah yang paling jauh, kemudian perlahan-lahan mendekati induk Kademangan. Sedang sekelompok yang lain harus pergi ke tempat-tempat yang wingit. Kelompok yang harus mencari Nyai Demang keluar Kademangan itupun berpacu seperti angin. Mereka harus menjelajahi tempat-tempat yang jaraknya agak berjauhan. Karena itu, maka kuda-kuda merekapun berderap cepat sekali, secepat dapat dilakukan. Yang pertama-tama mereka datangi adalah Gunung Sepikul. Dua buah gumuk kecil yang berdekatan. Diatas gumuk itu tumbuh berbagai macam tumbuh-tumbuhan liar. Sebatang pohon cangkring yang sudah tua tumbuh pada salah sebuah gumuk itu, sedang pada gumuk yang lain tumbuh sebatang pohon nyamplung yang besar-sekali. Orang-orang berkuda yang dipimpin oleh Ki Kebayan itu berhenti beberapa langkah dari kedua gumuk itu, tepat di tengah-tengah. Sejak mereka berdiri mematung. Namun tanpa mereka sadari, bulu-bulu tengkuk merekapun meremang. Sejenak mereka memandangi kedua batang pohon itu berganti-ganti. Pohon cangkring yang meskipun tidak sebesar pohon nyamplung, namun tampaknya benar-benar angker. Dahan-dahannya yang ditumbuhi duri yang besar bersilang melintang. Sedang daun-daunnya yang rimbun bagaikan selimut yang tebal membungkus dahan dahannya itu. Namun pohon nyamplung itupun tidak kurang mengerikan. Batangnya besar dan tinggi. Bahkan lurus seperti sebuah galah yang ingin menusuk langit. Baru pada bagian ujungnya sajalah batang itu ditumbuhi oleh dahan-dahan yang besar dan teratur, ke segala arah menunjuk kesegala penjuru. Daunnya yang besar dan tebal bergayutan di ujung dahan. "Dimana kita mencari?" bertanya salah seorang dari mereka. "Kita masuk kegerumbul liar itu" jawab Ki Kebayan. Beberapa orang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi merekapun kemudian membulatkan tekad mereka untuk menemukan Nyai Demang. Mereka percaya bahwa Ki Kebayan termasuk salah seorang yang mempunyai ilmu yang gaib. Sejenak kemudian merekapun mengikatkan kuda-kuda mereka. Ketika Ki Kebayan melangkah ke gumuk yang ditumbuhi oleh pohon cangkring, maka semua orang mengikut inya pula. Di bawah gumuk itu Ki Kebayan berhenti sejenak. Ia menekurkan kepalanya sambil berkumat-kamit. Kemudian ia memasukkan sesuatu di mulutnya. Setelah dikunyahnya maka kemudian diambilnya lagi dari mulutnya, dan dilemparkannya menyebar keatas gumuk itu. "Marilah" katanya kemudian "tetapi hati-hati. Gumuk itu terkenal, banyak dihuni ular. Kalau kau bertemu juga dengan seekor ular jangan dibunuh. Tetapi aku sudah berusaha menyingkirkan ular-ular itu. Mudah-mudahan kita tidak diganggu oleh ular-ular itu dan oleh danyang yang menunggui Gunung Sepikul ini" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tidak seorangpun yang menjawab. Namun demikian sekali lagi bulu-bulu tengkuk mereka meremang. Meskipun demikian, merekapun mengikuti Ki Kebayan naik keatas gumuk itu. Dengan pedangnya Ki Kebayan menyibakkan rerumputan liar dan kemudian pohon-pohon perdu yang rapat. Sedang kawan-kawannya mengikut inya saja di belakang. Langkah Ki Kebayan tertegun ketika tiba-tiba saja seekor ular sawah yang besar bergeser dari tempatnya, menyelusur menyilang langkah Ki Kebayan. Tetapi Ki Kebayan membiarkannya saja. Ia sama sekali tidak mengganggunya, dan ular itupun seolah-olah acuh tidak acuh saja terhadap kehadiran manusia yang jarang sekali datang itu. "Ular itu tidak melihat kita" desis seseorang "ternyata ular yang sekian besarnya itu berpalingpun tidak. Rupa-rupanya jampi Ki Kebayan memang tajam" Kawannya tidak menyahut. Tetapi rasa-rasanya debar jantungnya menjadi semakin cepat. Semakin lama merekapun menjadi semakin dekat dengan pohon cangkring yang tua itu. Dengan demikian, terasa nafas merekapun menjadi semakin memburu. Mereka terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat kelepak seekor burung yang sangat besar pada sebatang dahan cangkring itu. Seekor burung elang jantan yang agaknya terkejut melihat kehadiran orang-orang yang jarang sekali mendatangi tempat itu. "Hem" salah seorang dari mereka menarik nafas, sedang tangannya tiba-tiba saja telah melekat di hulu pedangnya" Tetapi Ki Kebayan sendiri masih tetap melangkah maju mendekati pohon cangkring itu. Sambil berkumat-kamit ia memandang rimbunnya daun cangkring itu dengan saksama. Orang-orang yang pergi bersamanya itupun melangkah mengikut inya, meskipun dengan hati yang berdebar-debar. Meskipun demikian, karena Ki Kebayan tidak juga mengurungkan niatnya untuk mencari Nyai Demang, maka merekapun maju terus. Ki Kebayan itu kemudian berhenti setelah ia berdiri di bawah pohon cangkring yang tua itu. Dengan wajah yang tegang ia mengamati batangnya yang dipenuhi oleh lelumutan yang hijau keputih-putihan. Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat seekor kala merayap dan kemudian menyusup kebalik kulit kayu yang kering. Ki Kebayan menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berdiam diri di tempat. Diangguk-anggukkannya kepalanya sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya di muka dadanya. Tiba-tiba Ki Kebayan itu menengadahkan wajahnya, memandang ke dahan cangkring yang bersimpang siur di antara daun-daunnya yang lebat. "He" Ki Kebayan itu kemudian berteriak "Nya Demang Apakah kau ada disana?" Suaranya bergema sekali. Kemudian hilang dibawa angin "He, Nyai Demang" sekali lagi ia memanggil. Tetapi sama sekali t idak ada jawaban. Ki Kebayan menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya mengamati setiap dahan yang rimbun, kalau-kalau Nyai Demang tersembunyi di sana tanpa dikehendakinya sendiri. Tetapi baik Ki Kebayan, maupun para pengikutnya tidak seorangpun yang melibatnya. Ki Kebayanpun kemudian menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis "Apakah ada yang melihat Nyai Demang?" Hampir berbareng semua menggelengkan kepalanya "Tidak. Kami tidak melihat apa-apa" Ki Kebayan mengangguk-angguk pula. Katanya "Memang, kita tidak melihat apa-apa. Marilah kita lihat di gumuk sebelah" Dengan hati yang berdebar-debar merekapun meninggalkan pohon tua itu menuju kegumuk yang lain. Seperti gumuk yang mereka tinggalkan, gumuk inipun tidak kalah rimbunnya pula. Batang ilalang dan daun-daun perdu mengelilingi sebatang pohon nyamplung yang tinggi besar yang berdiri hampir di tengah-tengah gumuk itu. Tetapi disinipun mereka tidak menemukan sesuatu. Mereka tidak melihat Nyai Demang berada di dalam gerumbulgerumbul liar, dan t idak juga diatas pohon nyamplung itu. "Tidak ada" berkata Ki Kebayan "kita tidak menemukannya disini" "Lalu?" bertanya salah seorang pengikutnya. "Kita pergi ke tikungan Kali Praga. Di sana ada sebatang Randu Alas yang besar sekali. Dahulu seorang gembala yang hilang dari padukuhan Gemulung, pernah diketemukan diatas pohon Randu Alas itu" Sejenak para pengikutnya saling berpandangan. Kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Marilah. Kita harus segera kesana. Kalau kita tidak menemukannya di sana, kita akan pergi ke pesisir" Sejenak kemudian merekapun segera berpacu ketikungan Kali Praga, kesebatang pohon Randu Alas yang besar serkali. Tetapi di sanapun mereka tidak menemukan sesuatu, sehingga mereka memutuskan untuk pergi ke pantai Selatan, ke Pandan Segegek. Seperti pasukan yang. berangkat berperang, maka merekapun berderap kembali diatas jalan berbatu-batu, melemparkan debu yang putih mengepul di belakang iringTiraikasih Website http://kangzusi.com/ iringan itu. Apabila mereka melewati tanah persawahan, maka beberapa orang petani yang sedang bekerja di sawah memandangi mereka dengan penuh pertanyaan. "Siapakah mereka itu?" bertanya seseorang. Yang lain menggelengkan kepalanya. Namun tiba-tiba seseorang berkata "Kebayan dari Kademangan Kepandak" "Kemana ia pergi bersama beberapa orang itu?" apakah mereka sedang mengejar penjahat yang telah melakukan kejahatan di Kepandak?" "Tidak tahu. Tentu kita sama-sama tidak tahu. Tetapi apabila mereka mengejar penjahat, pasti Ki Jagabaya atau justru Ki Demang sendiri ada diantara mereka" "Kau mengenal keduanya?" "Aku mengenal Ki Demang di Kepandak tetapi aku belum mengenal Ki Jagabaya dengan baik" Merekapun kemudian terdiam. Mereka hanya melihat debu yang kemudian pecah dit iup angin yang lambat. Dalam pada itu, Ki Kebayan bersama beberapa orang pengiringnya berpacu secepat-cepatnya. Mereka tidak boleh terlambat. Apabila benar Nyai Demang telah dibawa lelembut ke Pandan Segegek, maka ia harus segera diketemukan, sebelum ia menjadi kalap dan hilang bersama raganya. Dengan demikian, maka merekapun segera mempercepat derap kuda mereka melintasi jalan yang panjangdi tengahtengah bulak. Ki Kebayan mengerutkan keningnya ketika ia melihat jauh di hadapannya sebuah pedati berjalan lambat sekali. Pedati yang ditarik oleh dua ekor lembu putih. "Kalian melihat pedati itu?" bertanya Ki Kebayan. "Ya" sahut salah seorang dari pengiringnya "Jarang ada pedati menempuh jalan ini" desis Ki Kebayan. "Ke daerah pesisir. Mungkin pedati yang akan mengambil garamyang dibuat sepanjang pantai" "Tetapi bukan pantai Pandan Segegek" "Mungkin pedati itu akan berbelok ke Timur dan melintasi Caluban kesuangan Kali Opak" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Kita akan melihat, apakah yang dibawanya" "Mungkin gula kelapa" "Kenapa justru dibawa ke Selatan?" "Ditukar dengan garam" Sekali lagi Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepadanya. Tetapi keinginannya untuk mengetahui isi pedati itu justru menjadi semakin besar. Karena itu tanpa disadarinya ia memacu kudanya semakin cepat, sehingga debu di sepanjang jalan mengepul semakin pekat. Dalam pada itu, pedati yang dikejarnya berjalan terguncang-guncang di jalan berbatu, batu. Sekali-sekali terdengar lecutan cambuk di punggung lembu yang malas. "Ayo, cepat sedikit teriak pengemudinya. Namun kemudian ia bertanya "tetapi kita akan pergi kemana?" Yang ada di dalam pedati itu adalah ayah Manguri yang sedang berusaha menyingkirkan Sindangsari. Sambil terkantuk-kantuk ayah Manguri menjawab "Berjalanlah terus. Kita akan berhenti apabila lembu itu sudah lelah, dimanapun juga" "Tetapi?" "Aku mempunyai kenalan di segela penjuru daerah ini. Dimanapun aku akan mendapat tempat yang baik. Isteriku tersebar dimana-mana" "Orang-orang yang ada di dalam pedati itu menganggukanggukan kepalanya. Mereka percaya bahwa dimana-mana memang ada saja perempuan yang diambilnya menjadi isterinya yang ke tujuh, ke delapan atau bahkan ke limabelas. Namun dalam pada itu bulu di kuduk Sindangsari meremang. Ternyata benar kata orang bahwa ayah Manguri tidak ada bedanya dengan anaknya. Selagi mereka membayangkan apa yang akan mereka lakukan, menurut angan-angan masing-masing, tiba-tiba orang yang duduk di pinggir belakang mengerutkan keningnya. Dilihatnya di kejauhan debu mengepul diudara, semakin lama semakin jelas. "Lihatlah" desisnya "debu itu" Semuanya berpaling. Ayah Manguri menjadi tegang. Katanya "Beberapa orang berkuda" "Ya. Beberapa orang berkuda" Merekapun kemudian terdiam sejenak. Dengan wajah yang tegang mereka memandang debu yang seakan-akan telah mengejar mereka. Semakin lama semakin dekat. "Siapakah mereka itu?" desis ayah Manguri. Dan tanpa sesadarnya Sindangsari bergumam "Kakang Demang. Pasti kakang Demang" Ayah Manguri berpaling kepadanya. Sejenak kemudian ia berdesis "Tentu bukan. Tentu bukan Ki Demang di Kepandak" "Beberapa orang" desis seorang yang lain. Ayah Manguri menjadi tegang sejenak. Ia sedang sibuk memutar akalnya, bagaimana ia harus membebaskan diri dari orang-orang berkuda itu apabila mereka ternyata sedan mencari Sindangsari. "Mereka tentu orang-orang Kademangan Kepandak" tibatiba Sindangsari menyahut "mereka sedang mencari aku. Kalau kalian tidak mau menyerahkan aku, kalian pasti akan dihukum" Wajah ayah Manguri menjadi semakin tegang. "Kalian tidak akan dapat lolos lagi. Pedati ini tidak akan dapat lari secepat kuda-kuda itu" Dada ayah Manguri dan setiap orang di dalam pedati itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka menyadari bahaya yang kini sedang mengancam. Memang kemungkinan terbesar, penunggang kuda itu adalah orang-orang yang sedang mencari Sindangsari. "Tetapi darimana mereka mengetahui, bahwa kami sedang lari kejurusan ini" bertanya ayah Manguri kepada diri sendiri. Orang-orang di dalam pedati itu benar telah menjadi gelisah. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka tidak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan. "Mereka pasti akan menolongku" gumam Sindangsari seperti ditujukan kepada diri sendiri. Namun perempuan itu terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar ayah Manguri memberi perintah "Sediakan senjatamu. Tetapi sebelumnya sembunyikanlah di bawah jerami. Kau harus dapat mengambilnya dengan tiba-tiba apabila keadaan memaksa" "Tetapi, tetapi" suara Sindangsari tergagap "kalian tidak akan dapat melawan kakang Demang" Ayah Manguri tidak menyahut. Tetapi kini ia seolah-olah terpaku memandang debu yang semakin dekat. "Perempuan ini, cukup berbahaya" desisnya di dalam hati "setiap saat ia dapat berteriak" Sementara itu, Ki Kebayan berpacu semakin cepat. Ia masih belum dapat melihat dengan jelas, apakah pedati itu berisi orang atau barang atau apapun juga. Tetapi sebentar lagi ia pasti akan segera dapat menyusulnya. "Cepatlah sedikit" berkata Ki Kebayan. Pedati itu tidak akan dapat lari" sahut salah seorang pengikutnya "apalagi tidak ada jalan simpang di hadapan kita. Kita pasti akan segera menyusulnya dan mengetahui apa isinya" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tanpa disadarinya kudanya semakin cepat berpacu mengejar pedati yang berjalan tersuruk-suruk seperti siput di jalan yang sangat panjang. Karena itu, Ki Kebayan tidak memerlukan waktu yang lama. Sebentar kemudian iapun segera berhasil menyusul pedati itu. Bersama seorang pengiringnya ia mendahului dan kemudian berhenti di depan dua ekor lembu yang menarik pedati itu. "Berhenti" ia memberikan perintah. "Kenapa kami harus berhenti?" bertanya pengemudinya. "Berhenti" "Siapa kau? Apakah kau akan merampok kami?" bertanya pengemudi itu. "Gila. Kau sangka kami segerombolan perampok. "Karena itu sebut dirimu. Siapa kau?" "Berhenti" Ki Kebayan berteriak. Pedati itupun kemudian berhenti. Pengemudinya yang masih tetap duduk di tempatnya memandang Ki Kebayan dengan tegang. "Kau belum mengenal aku?" bertanya Ki Kebayan. Pengemudi pedati itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng "Belum. Aku belum mengenal kalian" "Aku Kebayan di Kepandak" "O" pengemudi itu mengangguk-anggukkan kepalanya "jadi kau Kebayan di Kepandak. Maaf Ki Kebayan di Kepandak. Kami tidak mengenal Ki Kebayan dan Ki Sanak yang lain. Tetapi kenapa Ki Kebayan mengejar kami dan menghentikan kami?" "Siapakah kalian dan dari manakah pedati ini?" bertanya Ki Kebayan di Kepandak. "Kami adalah orang-orang dari Menoreh" "Seberang kali Praga?" "Ya" "Kalian menyeberang bersama pedati ini?" Pengemudi itu menggelengkankepalanya. Katanya "Tidak. Tentu tidak. Kami menyewa pedati ini dari orang-orang di daerah Mangir" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia bertanya lagi "Kemanakah kalian akan pergi?" "Kami akan pergi ke pesisir" "Pandan Segegek?" "Tidak. Kami akan pergi ke parang endog di sebelah suwangan Kali Opak" Ki Kebayan mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya "Apakah kepentingan kalian kesana? "Maaf Ki Kebayan" jawab pengemudi itu "itu adalah kepentingan pribadi. Terlampau pribadi" "Ya apa" "Sebaiknya Ki Kebayan bertanya yang lain" "Tidak. Aku bertanya, apakah kepentinganmu" Pengemudi pedati itu menggelengkan kepalanya "Ki Kebayan di Kepandak tidak berhak memaksa kami untuk menjawab kepentingan kami ke Parang Endog. Kami tidak mempunyai hubungan apapun dengan Ki Kebayan, sehingga sebaiknya kita melakukan tugas dan kepentingan kita masingmasing tanpa saling mengganggu" Ki Kebayan mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih bertanya lagi "Dalam keadaan yang wajar, kami memang tidak mempunyai kepentingan apapun. Tetapi kami sedang dalam keadaan yang genting sekarang" "Kenapa? Apakah Kepandak sedang didatangi oleh perampok atau apa?" "Tidak" "Lalu?" Ki Kebayan menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia tidak mengatakan bahwa Kepandak telah kehilangan isteri Demangnya. "Kami sedang mencari seseorang" katanya kemudian. "Siapa. Perampok?" Ki Kebayan menggeleng. "Jadi siapa?" "Salah seorang keluarga kami. Keluarga Kademangan Kepandak" "Kenapa orang itu dapat menjadi buruan?" Ki Kebayanpun kemudian menjawab "Itupun persoalan kami. Tetapi kami memang sedang mencarinya kemanapun" Tukang pedati itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku tahu sekarang. Kalian mencurigai kami. Mungkin orang yang kau cari itu bersembunyi di dalam pedati kami. Kalau begitu, baiklah. Silahkan kalian melihat, apakah orang yang kalian cari itu ada di dalam pedati kami" pengemudi itu berhenti sejenak, lalu "sebaiknya kami berterus terang, supaya kalian tidak tetap mencurigai kami. Kami akan pergi ke Parang Endog untuk mencari terang di hati kami" "Bertapa?" "Bukan bertapa. Sekedar menyepi" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sedang tukang pedati itu berkata sekali lagi "Silahkanlah melihat isi dari pedati kami. Kami membawa bahan makanan kami sekedarnya" Ki Kebayan mengerutkan keningnya. Dilihatnya beberapa orang laki-laki duduk di dalam pedati itu. Laki-laki yang belum dikenalnya. "Baiklah" berkata Ki Kebayan yang tidak jadi mendekati pedati itu "aku kira aku sudah cukup. Maaf kalau kami telah mengganggu kalian" "Tidak apa Ki Kebayan. Kami tahu kesulitan kalian, sehingga kalian memang memerlukan bantuan. Ki Kebayan mengangguk-angguk sekali lagi. Katanya "Baiklah, kami akan meneruskan perjalanan kami" "Silahkanlah Ki Kebayan. Mudah-mudahan Ki Kebayan segera menemukan orang itu "tukang pedati itu berhenti sejenak, lalu "tetapi apakah kami boleh tahu, siapakah orang itu, seandainya kami bertemu di perjalanan kami?" "Terima kasih. Kami akan mencarinya sendiri" Tukang pedati itu mengangkat pundaknya. Tetapi ia tidak menyahut. "Silahkan Ki Sanak meneruskan perjalanan. Tetapi apakah Ki Sanak akan dapat menyeberangi sungai Opak dengan pedati itu?" "Entahlah. Kalau t idak, kami akan menitipkan pedati ini. Tetapi perjalanan sudah dekat. Kami akan dapat membawa barang-barang kami dengan keranjang-keranjang, sedapat dan sekuat kami" Ki Kebayanpun kemudian meninggalkan pedati itu diikuti oleh para pengiringnya. Mereka sama sekali tidak berminat untuk menjengukkan kepalanya lebih dalam ke dalam pedati itu, karena dari luar yang tampak hanyalah seonggok jerami dan keranjang-keranjang yang besar. Ketika Ki Kebayan sudah menjadi semakin jauh, maka dari dalam t imbunan jerami, muncullah sebuah kepala. Ayah Manguri. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia mengumpat. Katanya "Gila Kebayan itu. Aku hampir mat i kehabisan nafas" "Bagaimana dengan Nyai Demang" desis salah seorang dari mereka. Ayah Manguripun segera bangkit sambil mengibaskan jerami yang masih melekat pada pakaiannya. Kemudian dengan hati-hati ia menyibakkan jerami yang menimbuni tubuh Sindangsari yang pingsan. "Maaf" desis ayah Manguri "aku terpaksa membuatnya pingsan sekali lagi" Untuk sesaat Sindangsari masih terbaring pingsan. Beberapa orang laki-laki yang ada di sekitarnya memandanginya dengan dada yang berdebar-debar. Perempuan yang sedang mengandung itu terbaring seperti seseorang yang sedang tidur nyenyak. Tidak seorangpun yang tahu, apakah yang sedang dipikirkan oleh orang lain. Demikian pula setiap laki-laki di dalam pedati itu. Mereka tidak mengetahui, bahwa di setiap dada telah tumbuh pengakuan "Alangkah cantiknya perempuan itu. Adalah wajar sekali kalau orang laki-laki menjadi tergila-gila kepadanya. Manguri, Ki Demang, Pamot dan mungkin masih banyak lagi" Tetapi tidak seorangpun yang mengucapkannya. Bahkan ayah Manguripun tidak mengatakannya. Ia adalah laki-laki yang tidak pernah menahan kata hatinya atas perempuan. Apalagi di hadapan orang-orangnya yang dianggapnya sudah tahu benar tentang dirinya. Tetapi perempuan yang dibawanya kali ini adalah sekedar tit ipan dari anaknya sendiri. Meskipun demikian setiap kali ia masih memandangi wajah itu. Wajah Sindangsari yang sedang pingsan. Perempuan yang sedang mengandung untuk pertama kalinya itu, tampaknya justru menjadi kian cantik. Pedati itu masih berjalan terus terguncang-guncang diatas jalan berbatu. Di sebelah menyebelah jalan, tanah persawahan yang kering. Di beberapa bagian tampak tanaman Palawija yang sudah hampir dipetik hasilnya. Kacang tanah, dele dan di kejauhan batang-batang jagung. "Kita harus berbelok" desis ayah Manguri "kita sudah mengatakan bahwa kita akan pergi ke Parang Endog" "Ya. Nanti kita akan sampai pada sebuah jalan simpang" "Tetapi kemana Ki Kebayan itu akan mencari Sindangsari?" Tidak seorangpun yang menyahut. "Mungkin ia akan mencarinya ke tempat-tempat yang angker Pandan Segegek. Bukankah jalan ini akan menuju kesana?" "Ya. Ki Kebayan itu menurut pendengaranku adalah orang yang dapat berhubungan dengan hantu-hantu" desis ayah Manguri. Lalu "Untunglah bahwa Ki Kebayan belum banyak mengenal kalian karena kalian bukan orang Kepandak" "Ya" Ayah Manguripun kemudian terdiam. Dipandanginya Sindangsari yang masih terbaring diam. Tanpa sesadarnya, tangannya telah mengusap kening perempuan yang dikotori oleh jerami yang kering. Ketika pedati itu kemudian berbelok mengambil jalan simpang kuda Ki Kebayan sudah berlari semakin jauh menuju ke pantai Selatan. Pandan Segegek. Tetapi kuda-kuda mereka tidak dapat langsung sampai ketujuah karena rawa-rawa yang menebar di sepanjang pantai. "Kita akan berjalan kaki" berkata Ki Kebayan "Kita tinggalkan kuda kita disini?" bertanya seseorang. "Ya" "Begitu saja?" "Kuda-kuda itu tidak akan hilang" "Tetapi" berkata salah seorang dari mereka "Aku, aku akan menunggui kuda kita" "Kenapa?" bertanya Ki Kebayan. Orang itu ragu-ragu sejenak. Kemudian katanya "Bukan aku tidak mau Ki Kebayan, tetapi aku tidak sadar, bahwa kita akan datang ke tempat ini" Ki Kebayan mengerutkan keningnya. "Aku memakai kain hijau gadung" Ki Kebayan dan kawan-kawannya menganggukkan kepalanya. Mereka mengerti bahwa sebaiknya orang yang memakai pakaian hijau gadung tidak mendekat ke pantai. "Baiklah" berkata Ki Kebayan "tunggui kuda-kuda ini. Tetapi ingat. Kalau ada orang memanggil namamu, jangan kau jawab sebelum kau melihat orang yang memanggilmu. Kau tahu" Orang itu merenung sejenak. "Supaya kau tidak kalap" desis kawannya "mungkin bukan orang sesungguhnya yang memangilmu, kecuali kau sudah melihat orang itu. Apalagi kau memakai pakaian hijau itu" Orang yang memakai pakaian hijau itu menganggukanggukkan kepalanya "Ya,aku mengerti" "Nah,tinggallah disini. Hati-hati" berkata Ki Kebayan "kalau kau melihat perempuan cantik, jangan kau coba mengganggunya. Kau mengerti?" Orang itu tidak segera menjawab. Dan Ki kebayanpun berbisik di telinganya "Mereka adalah orang jadi-jadian. Sebenarnya mereka itu adalah buaya-buaya dari sungapan Kali Praga yang mencari mangsanya. Kau mengerti? Di sini ada semacam persaingan antara Laut Selatan dengan buayabuaya di Sungapan Kali Praga. Mereka dahulu-mendahului menangkap mangsa mereka masing-masing. Kalau kau merasa bahwa keadaanmu tidak wajar sebelum kau kehilangan akal sebutlah nama Kiai Jamur Dipa yang bersemayam di Gunung Merapi. Kau akan terlepas dari bencana, karena kau disangka pengikutnya" Orang itu menganggukkan kepalanya. "Dan ini berlaku pula bagi kalian semua" berkata Ki Kebayan "sebutlah nama Kiai Jamur Dipa. Jangan lupa. Kiai Jamur Dipa. Akupun selalu menyebutnya" Para pengiring Ki Kebayan itupun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Namun terasa juga hati mereka bergetar. Mereka menganggap bahwa pantai Selatan, apalagi Pandan Segegek adalah tempat yang jarang sekali diambah kaki manusia. Demikianlah merekapun kemudian berjalan menyeberangi rawa-rawa yang dangkal. Namun kadang-kadang mereka harus menghindar dan melingkar agak jauh apabila mereka menjumpai rawa-rawa lumpur yang dalam. Mereka sadar, bahwa di dalam rawa-rawa itu banyak terdapat binatang air yang berbisa. Bahkan ular hitam berleher putih. Sedangkan diatas pasir pantai di daerah rawa-rawa yang berair tawar, diantara semak-semak pandan yang lebat, terdapat pula berbagai jenis binatang. Campuran dari binatang air tawar dan binatang air laut. Juga binatang darat yang hidup diantara duri-duri pandan. Ki Kebayan dan para pengiringnya berjalan dengan sangat hati-hati melintasi daerah rawa-rawa dan semak -semak pandan. Mulut mereka tidak hent i-hentinya menyebut nama Kiai Jamur Dipa, supaya mereka tidak diterkam oleh bencana yang dapat timbul setiap saat. Sejenak kemudian, setelah mereka semakin dekat dengan pantai dan sudah berada diantara semak-semak pandan yang lebat, maka mulailah Ki Kebayan berkumat-kamit. Sejenak kemudian iapun mulai meneriakkan nama Nyai Demang di Kepandak. "Mungkin ia tidak mengenal nama itu lagi" desis salah seorang. "Jadi?" bertanya Ki Kebayan. "Panggil dengan nama nya sendiri" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun mulai memanggil. Tetapi t idak dengan nama Nyai Demang di Kepandak. "Sindangsari, Nyai Sindangsari" Tetapi suara Ki Kebayan hilang saja ditelan oleh deru ombak yang semakin lama seolah-olah menjadi semakin besar. Di bawah terik matahari, ujung gelombang yang keputih-putihan setinggi gunung anakan itu seakan-akan saling mengejar,kemudian meluncur menghantam pantai berpasir susul menyusul. Ki Kebayan masih juga memanggil. Tetapi sampai suaranya menjadi parau, mereka sama sekali t idak menemukan Nyai Demang di Kepandak. Apalagi mendengar jawabannya. Yang mereka dengar hanyalah angin pantai yang bertiup kencang, dibarengi oleh debur ombak yang menggelegar bertautan. Di telinga orang-orang Kepandak suara itu semakin lama menjadi semakin kisruh, dan bahkan ada diantara mereka yang mendengar seolah-olah suara itu telah berubah menjadi suara yang memancar dari pusat Samodra yang besar itu, memanggil namanya perlahan-lahan. Beberapa orangpun kemudian menjadi pucat. Tetapi mereka t idak henti-hentinya menyebut nama Kiai Jamur Dipa. "Kita tidak menemukannya disini" desis Ki Kebayan. Para pengiringnya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mungkin kita sudah terlambat" berkata Ki Kebayan selanjutnya "Nyai Demang hilang dari Kademangan hampir dini hari. Baru sekarang kita sampai disini" Tidak seorangpun yang menyahut. Tetapi ketika mereka membentangkan pandangan mata mereka, mereka melihat suatu padang pandan berduri yang sangat luas di sepanjang pantai. "Seandainya benar Nyai Demang disembunyikan diantara semak-semak ini, bagaimana mungkin dapat menemukannya apabila ia sendiri tidak dapat berteriak memanggil. Itupun kalau kebetulan kami lewat di dekatnya. Kalau ia berada di ujung sebelah Timur atau di ujung Barat, maka tidak akan ada orang yang dapat mendengarnya" beberapa orang berkata di dalam hatinya sendiri. Ki Kebayanpun agaknya berpikir demikian pula. Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata "Marilah, kita menyusur pantai" Beberapa orang saling berpandangan. Namun mereka mengikut i saja ketika Ki Kebayan pergi ke sebelah Timur menyusur pasir pantai. Sekali-sekali ia harus menjauh, menghindari deburan ombak yang besar bergulung-gulung diatas pasir. Tetapi ketika Ki Kebayan kemudian berteriak-teriak di sepanjang pantai, maka suaranyapun hilang, tenggelam ke dalam gelora suara ombak dan angin yang kencang. Akhirnya, setelah Ki Kebayan hampir kehabisan suaranya, dan setelah ia menyusur dari sebelah Timur sampai ke sebelah Barat, maka iapun berkata "Kita sudah cukup berusaha. Marilah kita kembali ke Kademangan. Mungkin kita dapat mencarinya dengan jalan lain" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas mereka masih memandang gerumbul-gerumbul pandan yang lebat yang bertebaran di sepanjang pesisir. Kemudian ombak yang semakin besar di-siang hari dan angin yang menampar wajah mereka semakin keras di bawah terik matahari yang membakar kulit. "Marilah kita kembali" Sejenak kemudian Ki Kebayan bersama para pengiringnyapun telah kembali melintasi daerah yang berawarawa. Kemudian mereka segera meloncat keatas punggung kuda masing masing dan berpacu meninggalkan pantai yang panas itu. "Aku haus sekali" desis seseorang. Kawannya yang mendengarpun menyahut "Ya, akupun haus sekali. Kuda-kuda kitapun haus pula" Ki Kebayan mendengar pula pembicaraan itu. Karena itu, ketika mereka melintas sebuah parit yang mengalir, meskipun hanya setinggi mata kaki mereka, ia berhenti dan berkata "Biarlah kuda kita minum sejenak." Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi yang dapat minum barulah kuda-kuda mereka. Sedang orang orang Kepandak itu masih belum sampai hati untuk ikut serta minum air parit yang hanya gemercik kecil karena musim panas yang panjang. Karena itu, mereka hanya dapat menelan ludah mereka sendiri yang sudah hampir kering pula. Beberapa orang yang merasa terlampau panas hanya membasahi tangan mereka kemudian mengusap kening mereka dengan tangan yang basah itu. "Kita akan mencari kelapa muda di padukuhan yang pertama kali kita lalui" berkata Ki Kebayan yang mengetahui bahwa para pengiringnya sudah kehausan. Tidak seorangpun yang menyahut. Tetapi orang-orang yang kemudian sudah berpacu pula itu, menganggukanggukkan kepalanya. Dalam pada itu, pedati yang ditumpangi oleh ayah Manguri bersama para pengawalnya dan Sindangsari sudah menjadi semakin jauh. Ketika para penunggang kuda yang dipimpin oleh Ki Kebayan melintasi jalan simpang, mereka melihat bahwa bekas roda pedati itu memang berbelok menuju kesuangan Kali Praga. Oleh usapan angin dari Selatan, perlahan-lahan Sindangsaripun menyadari dirinya kembali. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya beberapa orang laki-laki duduk di sekitarnya. Sejenak ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atasnya. Namun kemudian ia menjadi berdebar-debar. Lakilaki yang ada disekelilingnya masih juga laki-laki yang membawanya pergi dengan pedati itu, sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis "Dimanakah mereka?" Ayah Manguri yang melihat Sindangsari telah sadar, tersenyumsambil bertanya "siapakah yang kau cari?" "Mereka, orang-orang berkuda yang mencari aku" "Mereka sudah lewat" Tiba-biba saja Sindangsari bangkit sambil bertanya "Dimana mereka, dimana? Bukankah mereka menyusul aku atas perintah Ki Demang?" Tetapi ayah Manguri menggeleng "Mereka tidak mencari kau Nyai Demang. Mereka hanya sekedar lewat di samping pedati ini" "Tidak.Mereka pasti mencari aku" "Tidak. Mereka sudah melihat kau tertidur di dalam pedati ini. Tetapi mereka tidak berkata apa-apa" Sindangsari terdiam sejenak. Namun kemudian hampir berteriak ia berkata "Tidak, Mereka pasti mencari aku. Dimana mereka. Dimana" Hampir saja Sindangsari berdiri dan meloncati orang-orang yang duduk di sekitarnya. Namun tangan ayah Manguri lebih cepat lagi menangkapnya dan mendorongnya duduk "Jangan menjadi bingung dan kehilangan akal. Kandunganmu harus kau ingat. Anak di dalam perutmu itu kelak akan lahir menjadi seorang bayi. Kaulah yang bertanggung-jawab, apakah bayimu itu sehat atau tidak" Nyai Sindangsari terdiamsejenak. "Karena itu, jangan berbuat sesuatu yang dapat mengganggu anak di dalam kandungan itu" Sindangsari t idak menjawab. Tetapi tiba-tiba matanya menjadi basah. Ia merasa bahwa ia telah di sudutkan pada suatu keadaan yang tidak dapat dihindarinya. Karena itu, sebagai seorang perempuan, yang dapat dilakukannya, adalah sekedar menangis. Dan Sindangsaripun menangis pula karenanya. Menangisi nasibnya yang terlampau jelek sejak ia ditinggalkan oleh ayahnya. Beberapa orang laki-laki yang ada di sekitarnya adalah lakilaki yang kasar. Laki-laki yang selalu mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain membawa ternak yang sedang diperdagangkan. Apakah mereka sedang membeli atau menjual. Di dalam perjalanan itu, mereka terpisah dari keluarga dan isteri mereka, sehingga baik ayah Manguri maupun para pengawalnya, kadang-kadang harus berhadapan dengan perempuan yang sekedar dapat mengisi waktunya. Dengan demikian maka tanggapan mereka terhadap perempuan kadang kadang tidak sewajarnya. Tetapi ketika mereka melihat Sindangsari menangis mereka menundukkan kepala mereka. Bahkan mereka seakan-akan dihadapkan pada suatu keadaan yang selama ini hampir tidak dimengertinya. Kesetiaan dari seorang perempuan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Ayah Manguripun t idak. Perempuan itu adalah titipan anaknya yang akan diperisterikannya. Bahkan dengan susah payah telah diculiknya dari halaman rumah Ki Demang di Kepandak. Dengan hati yang berat, laki-laki yang ada di pedati itu terpaksa duduk diam tanpa berbuat apapun juga. Sedang roda pedati itu masih juga berputar diatas tanah yang berbatubatu. Dalam pada itu, orang-orang yang mencari Sindangsari ke segala penjuru masih juga berkeliaran di seluruh daerah Kademangan Kepandak. Hampir setiap rumah dimasuki oleh kelompok-kelompok yang berpencaran. Bahkan rumah-rumah yang sama sekali tidak mengenal orang yang bernama Pamotpun telah dimasukinya. Ibu Sindangsari yang masih ada di Kademangan hanya dapat menangis. Ayah dan ibunya masih juga mencoba menghiburnya, meskipun hati mereka sendiri serasa tersayat karenanya. "Jangan bersedih" berkata ayahnya, kakek Sindangsari "Ki Demang pasti akan menemukannya" Ibu Sindangsari hanya menganggukkan kepalanya. Tetapi air matanya masih tetap mengalir membasahi pipinya. Ki Demang sendiri duduk di ruang dalam hampir t idak bergeser sedikitpun. Wajahnya gelap dan tegang. Dipinggangnya terselip keris pusakanya yang jarang sekali diambilnya dari simpanan. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap dadanya, seolah-olah ingin mengendapkan perasaannya yang sedang bergolak. Hampir tidak sabar ia menunggu orang-orangnya yang berkeliaran di seluruh Kademangan mencari isterinya yang hilang. Ia merasa bahwa suatu penghinaan yang tiada taranya telah mencoreng wajahnya. "Aku harus membunuhnya. Membunuh orang yang berani menghinakan aku, mengambil isteriku" ia menggeram. Namun kadang-kadang terbersit pertanyaan "Bagaimana kalau Sindangsari pergi atas kemauannya sendiri?" "Tidak mungkin. Tidak mungkin. Ia sudah menjadi kerasan di rumah ini "tetapi kemudian "Kecuali kalau Pamot telah kembali dan membujuknya untuk pergi" "Tidak" tiba-tiba ia tersentak bangkit "itupun tidak mungkin Pamot tidak akan dapat menghubunginya tanpa diketahui oleh orang lain di Kademangan ini, kecuali setiap orang, termasuk para peronda sudah bersepakat dengannya. Dan itu tidak mungkin sama sekali" Ki Demang menggeretakkan giginya. Ia membanting dirinya dan duduk kembali di tempatnya. Ki Demang tersentak ketika ia mendengar derap kaki kuda. Semakin lama semakin dekat. Seperti anak-anak yang menunggu ibunya pulang dari pasar Ki Demang segera berlari keluar. Bukan saja Ki Demang, tetapi juga ibu Sindangsari, kedua orang tuanya, dan orangorang lain yang mendengarnya. Nyai Reksatani yang ada di Kademangan itu menjadi berdebar-debar. Kalau benar Sindangsari dapat diketemukan, maka ia pasti akan dapat berceritera tentang dirinya. Karena itu, dengan hati yang berdebar-debar iapun berlarilari pula menyongsong beberapa ekor kuda yang kemudian memasuki halaman. Orang yang paling depan diantara mereka adaah Ki Kebayan. Sebelum Ki Kebayan turun dari kudanya, Ki Demang sudah bertanya "Apakah kau berhasil?" Ki Kebayan tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia turun dari kudanya, kemudian menyerahkan kudanya kepada salah seorang yang berdiri di halaman. "Bagaimana?" Ki Demang mendesaknya. Ki Kebayan yang seolah-olah mandi karena keringatnya itu melangkah mendekatinya. Tetapi kepalanya kemudian digelengkannya sambil menjawab "Maaf Ki Demang. Aku tidak menemukannya" "Kau mencarinya di mana?" bertanya Ki Demang sambil membelalakkan matanya. "Gunung Sepikul, Tikungan Kali Praga, dan kemudian terus ke Pandan Segegek" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam "Kau t idak ikut mencarinya di Kademangan ini?" "Kami sudah membagi diri. Bahkan aku kira bahwa salah satu kelompok yang ada, disini telah menemukannya" "Kalau perempuan itu sudah di ketemukannya, aku tidak akan bertanya lagi kepadamu" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Kalau begitu, kami akan ikut mencarinya" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Temuilah salah sebuah kelompok. Ikutlah bersama mereka" "Baiklah" jawab Ki Kebayan. Tetapi ketika ia berpaling, dilihatnya pengiringnya yang sudah turun pula dari kuda mereka, tampak letih dan berwajah kemerah-merahan. Karena itu, maka katanya "Kita akan segera berangkat lagi. Tetapi baiklah kalian berist irahat dan minum sejenak. Barangkali kalian masih haus, meskipun kalian telah mengambil banyak sekali kelapa muda di sepanjang perjalanan" Pengiring Ki Kebayan itu saling berpandangan sejenak. Tampaknya mereka agak segan-segan juga. Tetapi Ki Demang sendiri kemudian berkata "Ya, minumlah dan barangkah kalian dapat makan pula di dapur. Mintalah Nyai Reksatani" Nyai Reksatani yang ada diantara mereka yang menyongsong orang-orang yang datang itu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa aman, karena Sindangsari tidak di ketemukan. Karena itu ketika ia mendengar kata-kata Ki Demang kepada orang-orang yang mencari Sindangsari itu, dengan penuh gairah ia menyahut "Mari, marilah kalian makan dahulu. Di dapur masih banyak sekali persediaan" Sejenak orang-orang itu masih saling berpandangan. Namun kemudian Ki Kebayan sendirilah yang berkata "Marilah. Aku juga akan makan lagi, meskipun ketika kami akan berangkat, kami sudah makan lebih dahulu" Ketika orang-orang itu pergi ke dapur, Ki Demangpun kembali ke ruang dalam dan duduk di amben bambu. Sekali lagi ia melepaskan pandangan matanya menembus pintu pringgitan yang terbuka, ke kejauhan. Bahkan meskipun matanya terbuka, tetapi seakan-akan ia tidak melihat sesuatu. Sedang ibu Sindangsari yang mendengar keterangan para penunggang kuda itupun menjadi lemah. Derap kaki-kaki kuda itu ternyata hanya mampu menumbuhkan pengharapannya saja. Tetapi Sindangsari masih belum diketemukan. Sejenak kemudian, orang-orang yang sudah selesai makan itupun segera minta diri pula kepada Ki Demang untuk melanjutkan usaha mereka mencari Sindangsari. "Mereka pasti tidak mencari dengan telit i" desis perempuan tua yang minta orang-orang Kepandak mencari ke Gunung Sepikul, tikungan kali Praga dan ke Pandan Segegek "Kemanapun mereka cari, mereka tidak akan dapat menemukannya" Tetapi perempuan tua itu tidak mengatakannya kepada Ki Demang dan kepada setiap laki-laki yang sedang sibuk dengan usaha mereka itu. Ternyata sekelompok laki-laki sampai pula sekali lagi ke rumah Manguri. Mereka dipimpin sendiri oleh Ki Jagabaya. Kali ini Ki Jagabaya tidak akan mencari Sindangsari di rumah itu, tetapi ia berkata kepada Manguri "Jadi rumah di ujung Kademangan itu rumah ayahmu?" "Ya" jawab Manguri. "Siapakah yang sekarang menunggui rumah itu?" "Kenapa" "Kami akan mencarinya ke dalamrumah itu" Manguri mengerutkan keningnya. Katanya "Silahkan" "Tetapi aku tidak akan masuk tanpa seorangpun dari pemiliknya ada di sana. Apakah ada orang yang menungguinya?" "Mestinya ada. Tetapi hari ini mereka t idak ada di rumah itu. Mungkin sore nanti mereka akan datang. Di siang hari kami t idak merasa perlu untuk menungguinya" "Ya, kami telah sampai ke tempat itu. Tetapi gubug itu kosong. Meskipun ada beberapa ekor ternak yang terikat di patok-patok, tetapi tidak ada seorangpun dipekarangan itu" "Ya. Sebagian besar dari orang-orang kami mengikut i ayah sejak beberapa hari. Yang lain masih belum datang" "Sekarang, kami akan membuka gubug itu. Antarkan kami" "Silahkan. Tanpa seorangpun dari kami, gubug itu dapat saja dibuka" "Tidak. Aku tidak mau timbul dugaan yang bukan-bukan. Kalian dapat saja membuat ceritera tentang kami yang membuka rumah kalian tanpa seorangpun dari kalian yang menunggui kami" Manguri mengerutkan keningnya. Dipandanginya Lamat sejenak. Lamat yang berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk, sehingga botaknya menjadi semakin jelas tampak di antara ikat kepalanya yang tidak menutup kepala itu rapatrapat. "Lamat" berkata Manguri"kita akan pergi ke gubug itu" Lamat mengangkat wajah. Kemudian kepala itupun terangguk-angguk. "Marilah Ki Jagabaya. Kami antarkan kalian kesana" "Ya. Dua orang kami masih tinggal di sana" Merekapun kemudian pergi bersama-sama ke ujung Kademangan itu. Ki Jagabaya masih saja mencurigai, kalaukalau Manguri menyembunyikan Sindangsari dimanapun juga. Ditunggui oleh Manguri dan Lamat. Ki Jagabaya bersama dengan orang-orangnya telah memasuki gubug itu. Ternyata mata Ki Jagabaya yang tajam, dapat melihat juga pintu yang berada di belakang gledeg. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya "Apakah itu sebuah pintu?" Manguri tidak dapat ingkar. Jawabnya "Ya" "Kenapa ditaruh gledeg di mukanya? Bukankah dengan begitu, pintu itu sukar dibuka?" "Ya" "Kenapa? Dan apakah ada seseorang di dalam bilik yang sengaja dirahasiakan itu?" Manguri menggigit bibirnya. Untunglah bahwa Sindangsari sudah disingkirkan. Kalau belum. Dan apalagi seperti yang dikatakan oleh ayahnya, bahwa orang yang datang ke rumah itu pasti tidak akan memperhatikan pintu itu, maka keadaan Kademangan Kepandak pasti akan segera berubah. Mungkin segera akan timbul kerusuhan dan perkelahian. "He, apakah ada seseorang di dalam bilik itu?" desak Ki Jagabaya. Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak" jawabnya. "Kenapa pintu itu tertutup rapat?" "Bilik di balik pintu kosong" jawab Manguri. "Seandainya benar kosong, kenapa ayahmu membuat bilik rahasia itu?" "Sama sekali bukan bilik rahasia. Bilik itu adalah bilik biasa. Tetapi karena rumah ini jarang sekali dipergunakan oleh keluarga kami, maka bilik itupun jarang sekali dibuka, sehingga orang meletakkan perkakas di tempat yang tidak semestinya. Bahkan di muka pintu sekalipun" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian kepada orang-orang yang datang bersamanya ia berkata "Bukalah pintu itu. Singkirkan dahulu geledeg itu" Beberapa orangpun kemudian menyingkirkan geledeg itu, sehingga pintu itu tidak tertutup lagi. Ki Jagabaya sendirilah yang kemudian mendekati pintu itu. Perlahan-lahan ia mendorong ke samping, sehingga akhirnya pintu itu terbuka sama sekali. Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Ia melihat pembaringan yang kusut. Tikar yang menyingkap dan sebagian telah menyentuh lantai. "Ruangan ini terlampau pengab" katanya. "Ya. Ruangan ini memang jarang sekali dipakai. Biasanya ayah sajalah yang tidur disini, apabila karena sesuatu hal ia harus menunggui ternak disini. Mungkin ayah sedang terikat oleh suatu pembicaraan dengan seseorang yang akan membeli atau sebaliknya menjual ternaknya ke tempat ini" Ki Jagabaya tidak menjawab. Tetapi diamatinya ruangan itu dengan saksama. Hati Manguri menjadi berdebar-debar ketika tangan Ki Jagabaya memungut sesuatu dari pembaringan itu. Tusuk konde. "Gila" Manguri mengumpat di dalam hatinya "Tusuk konde itu agaknya terjatuh dari sanggul Sindangsari selagi ia meronta-ronta" "Manguri" desis Ki Jagabaya "apakah kau pernah melihat benda serupa ini" "Ya" jawab Manguri. Terasa keringat dingin telah membasahi punggungnya. Tanpa setahu Ki Jagabaya Manguri berpaling memandang wajah Lamat. Tetapi agaknya Lamat berusaha untuk menghapuskan setiap kesan di wajahnya. "Kau mengerti, apakah ini?" sekali lagi Ki Jagabaya bertanya. "Ya" jawab Manguri. "Sebut, apa namanya?" "Tusuk konde" Manguri masih juga berusaha untuk tersenyum"apakah Ki Jagabaya menyangka aku belumpernah berkenalan dengan perempuan" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya. Aku tahu, bahwa kau banyak berkenalan dengan gadisgadis. Bukan sekedar berkenalan. Dan bahkan bukan sekedar gadis-gadis. Kau adalah laki-laki yang rakus" Wajah Manguri menjadi merah padam. Sejenak ia memandang Ki Jagabaya dengan tajamnya. Bagaimanapun juga kata-kata itu telah menyinggung perasaannya. Tetapi tiba-tiba wajah itu mengendor. Sebelum Ki Jagabaya melihat ketegangan itu, Manguri justru sudah tersenyum karenanya. Ia dengan demikian, seolah-olah mendapat petunjuk dari Ki Jagabaya, bagaimana ia harus menangani keadaan. "Apakah kau tahu Manguri" bertanya Ki Jagabaya selanjutnya "Tusuk konde siapakah yang terjatuh ini" Manguri masih saja tersenyum. "Tusuk konde siapa?" ia mendesak. "Ah. Kenapa Ki Jagabaya mengurus tusuk konde itu?" "Aku sedang mencari seorang perempuan. Kau mengerti" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan suara yang dalam ia bertanya "Jadi, Ki Jagabaya mengira, bahwa tusuk konde itu milik Sindangsari, eh, Nyai demang?" "Bukan begitu. Aku justru bertanya kepadamu. Tetapi pantas juga aku mencurigai bahwa Nyai Demang pernah kau sembunyikan disini. Nah, jawab, tusuk konde siapakah itu?" "Sebenarnya aku malu untuk menyebutkannya. Tetapi aku minta Ki Jagabaya jangan mengatakan kepada ayah, kalau ayah kelak pulang" Manguripun berpaling sambil berkata kepada Lamat "jangan kau katakan kepada ayah" Lamat mengerutkan keningnya. "Jangan kau katakan kepada ayah, kau dengar?" bentak Manguri. "Ya, ya. Aku tidak akan mengatakannya. Tetapi apakah soalnya?" "Tusuk konde itu" sahut Manguri. Lalu katanya kepada Ki Jagabaya "Kemarin aku membawa seorang perempuan ke tempat ini. Aku tidak sempat membenahi tempat ini, dan ternyata tusuk kondenya telah terjatuh disini. Adalah kebetulan sekali kini tusuk konde itu diketemukan. Kalau ayah yang menemukannya, maka aku akan dimarahinya" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sejenak ia terdiam. Dipandanginya wajah Manguri dan tusuk konde itu bergantiganti. "Lamat" berkata Manguri "buanglah tusuk konde itu jauhjauh. Kalau ayah kelak mengetahuinya, maka kaulah yang harus bertanggung jawab" "Anak setan" desis Ki Jagabaya "kerakusan ayahmu menurun kepadamu" Manguri t idak menyahut. Tetapi sekali lagi ia berkata kepada Lamat "Buanglah tusuk konde itu" "Buanglah" Ki Jagabayapun segera melemparkan tusuk konde itu ke depan kaki Lamat. Diusapkannya tangannya pada tiang, seolah-olah ia ingin menghilangkan bekas-bekas sentuhannya dengan tusuk konde yang kotor itu. Dengan ragu-ragu Lamat membungkukkan kepalanya memungut tusuk konde itu. Kemudian iapun melangkah keluar membawa tusuk konde itu ke sudut halaman belakang. "Kita harus segera keluar dari bilik keparat ini" geram Ki Jagabaya sambil melangkahkan kakinya. Tetapi sekali lagi ia tertegun. Diamatinya seutas tali yang terkapar di lantai bilik itu. Namun kemudian ia tidak memperhatikannya lagi. Bilik itu baginya adalah bilik yang sangat kotor, dikotori oleh kelakuan Manguri yang gila. Perlahan-lahan ia berdesis "Kalau kau anakku, Manguri. Aku cekik kau sampai mat i" Manguri tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tersipu-sipu. Meskipun demikian ia tertawa di dalam. hati, karena ia berhasil melenyapkan bekas yang hampir saja menjeratnya. Ki Jagabayapun dengan tergesa-gesa dan dengan wajah yang merah telah keluar dari rumah itu. Kemudian tanpa minta diri kepada Manguri iapun pergi meninggalkannya. Terbayang di kepalanya, suatu permainan yang paling kotor yang telah terjadi di dalam bilik itu selagi ayahnya tidak ada di rumah. "Anak itu benar-benar anak setan yang liar. Ayahnya terlalu sering meninggalkannya sehingga ia telah kehilangan pengawasan orang tuanya. Apalagi orang tuanya sendiri bukanlah orang tua yang baik, yang dapat memberikan contoh yang baik pula kepada satu-satunya anak laki-laki" katanya hampir menggeram. Para pengiringnya tidak menyahut. Tetapi merekapun meninggalkan tempat itu pula dengan tergesa-gesa, seolaholah justru merekalah orang-orang yang harus segera menyembunyikan diri, karena mereka telah dikejar oleh utusan Ki Demang di Kepandak. Sepeninggal orang-orang itu, Manguri tidak dapat menahan tertawanya. Seperti orang yang mendapat permainan yang sangat menyenangkan ia tertawa berkepanjangan. Lamat berdiri saja termangu-mangu di sampingnya. Suara tertawa Manguri itu semakin lama terasa semakin bising di telinganya. Tetapi ia tidak berani mencegahnya. "He, Lamat. Dimana tusuk konde itu he?" "Aku buang ke parit di belakang dinding batu kebun belakang" "Bodoh kau" "Kenapa?" "Ambil, ambil tusuk konde itu sebelum hanyut" Lamat tidak segera mengerti maksud Manguri, sehingga karena itu ia masih saja berdiri termangu-mangu. "Cepat ambil. Kenapa kau berdiri saja seperti patung?" Meskipun Lamat masih belum tahu maksud Manguri yang sebenarnya, namun ia pergi juga mengambil tusuk konde itu. Untunglah bahwa tusuk konde itu masih belum hanyut terlalu jauh, karena parit itupun hanya mengalir terlampau kecil. "Tusuk konde itu harus kita musnahkan" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini baru ia tahu maksud Manguri. Tusuk konde itu tidak boleh menjadi barang bukti, bahwa Sindangsari pernah berada di tempat ini "Kalau Ki Jagabaya menyadari keadaannya, kemudian berusaha mendapatkan tusuk konde itu, dan ditunjukkannya kepada Ki Demang atau ibunya yang barangkah mengenalnya, maka kita pasti akan menemui kesulitan. Aku sudah mengorbankan diriku untuk dihinakannya karena aku mengatakan, bahwa aku membawa seorang perempuan ke dalam bilik ini" berkata Manguri kemudian. Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya, tusuk konde ini memang harus dihancurkan" "Tusuk konde itu terbuat dari penyu. Bakar sajalah" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian menyalakan api di kebun belakang, dan melemparkan tusuk konde penyu itu ke dalamnya. Sejenak kemudian maka baunya telah membubung memenuhi halaman itu. "Kita sudah melenyapkan bukti itu" berkata Manguri "ternyata kau sama sekali t idak bekerja dengan baik. Seharusnya ketika kau mengambil Sindangsari dari bilik itu, tidak boleh ada sesuatu yang ketinggalan, yang dapat memberikan suatu petunjuk. Tusuk konde dan tali pengikat itu hampir saja menyeret kita ke dalam kesulitan" "Aku sangat tergesa-gesa. Dan aku tidak biasa melakukan pekerjaan serupa itu" "He, kau sangka aku biasa melakukannya? Itu hanya karena otakmu memang terlampau tumpul" Lamat t idak menjawab. "Nah, singkirkan tali di dalam bilik itu, dan benahi tikar serta ambennya" "Baik" Ketika Lamat memasuki bilik itu, Manguri kemudian berjalan hilir mudik di depan gubugnya. Sekilas terbayang wajah Sindangsari yang sedih dan pucat. Dan sekilas wajah Ki Demang di Kepandak yang merah padam. "Ki Demang benar-benar akan mencari isterinya sampai ketemu" desis Manguri. Dan tanpa sesadarnya terasa bulu tengkuknya meremang. Ki Demang adalah orang yang tidak ada duanya di daerah Selatan ini. "Aku mempunyai Lamat" geramnya "Lamat yang mempunyai tenaga sekuat kerbau itu pasti akan mampu melawan Ki Demang betapapun tinggi ilmunya. Apalagi kalau aku sempat membantunya. Aku dapat mempergunakan otakku, sedang Lamat akan mempergunakan tenaganya" Sejenak kemudian Lamatpun sudah selesai dengan tugasnya. Iapun segera menutup semua pintu lalu mendekati Manguri sambil bertanya "Sekarang, apakah yang akan kita lakukan" "Kita kembali. Kita mengharap utusan ayah segera datang, supaya kita dapat memberitahukan apa yang telah terjadi disini" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Banyak kemungkinan yang bakal terjadi di sini" berkata Manguri "sehingga karena itu, Sindangsari harus disembunyikan jauh sekali" Lamat tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. "He, apakah kau tidak mendengar" Lamat mengangkat wajahnya. Katanya "Ya, aku mendengar. Nyai Demang memang harus di sembunyikan jauh sekali. Ki Demang agaknya akan menyebar orangorangnya ke segenap penjuru daerah Selatan ini. Ke Kademangan-kademangan tetangga, bahkan mungkin sampai ke seberang Sungai Opak dan Praga. Manguri tidak menyahut. Tetapi ia merasa ngeri juga. Sejak semula ia memang sudah menyangka, bahwa Ki Demang pasti akan marah dan mencari Sindangsari. Tetapi tidak terbayang di dalam kepalanya, bahwa suasana Kademangan Kepandak seakan-akan seperti sedang dalam keadaan perang. Kudakuda berkeliaran hilir mudik. Orang-orang yang bersenjata di lambung dan mata yang merah pada wajah-wajah yang tegang. "Marilah, kita segera pulang. Orang-orang itu masih belum juga datang" desis Manguri kemudian. "Siapa?" bertanya Lamat. "Orang-orang itu. Orang-orang yang semalam ikut serta ke Kademangan" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Mereka mungkin telah menyingkir atau pulang ke rumah masing-masing" "Mereka orang yang berdatangan dari kejauhan" "Ada yang rumahnya di Kademangan tetangga. Mungkin mereka singgah di rumah kawan-kawannya itu sampai keadaan menjadi tenang" "Mungkin mereka sudah ada di rumah sekarang" Lamat tidak menyahut lagi. Merekapun kemudian dengan tergesa-gesa pulang ke rumah Manguri. Ditinggalkannya lagi ternak dan segala isi halaman itu tanpa seorangpun yang menungguinya. Dalam pada itu, hampir setiap rumah di Kademangan Kepandak telah dimasuki. Tetapi tidak seorangpun dari orangorang yang mencari Sindangsari itu menemukannya. Bahkan bekasnyapun tidak, seolah-olah perempuan itu telah hilang lenyap. Ki Jagabaya, Ki Kebayan, semua laki-laki yang mengelilingi Kademangan Kepandak, menjadi semakin panas. Mereka merasa diri mereka menjadi semakin kecil karena mereka sama sekali tidak berhasil menemukan seorang saja yang telah hilang dari Kademangan. "Gila" Ki Jagabaya mengumpat-umpat "apakah Sindangsari benar telah ditelan setan?" Pengiring-pengiringnya tidak menyahut. Wajah-wajah merekapun menjadi tegang dan kemerah-merahan. "Kemana lagi kita harus mencari?" geram Ki Jagabaya "semua rumah dan bahkan kandang-kandang lembu dan kandang kuda telah kita masuki. Daerah yang diserahkan kepada kita agaknya sudah habis kita lihat. Tetapi kami t idak menemukan apa-apa. Para pengiringnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Mereka tetap berdiam diri, meskipun hati mereka bergejolak pula seperti Ki Jagabaya. "Tidak masuk akal" Ki Jagabaya masih saja menggerutu "nasinya masih belum selesai dimakan ketika ia tiba-tiba saja hilang dari Kademangan. Tidak masuk akal" Sementara itu, di bagian lain dari Kademangan Kepandak, Ki Reksatani yang yakin bahwa Sindangsari sudah tidak ada di Kademangan Kepandak itupun telah memasuki setiap rumah pula. Bahkan dengan lantang ia berteriak-teriak "Siapa yang diketemukan menyembunyikan Nyai Demang atau menyediakan tempat baginya, akan dihukum seberatberatnya. Tetapi apabila dalam kesempatan ini ia berterus terang dan menunjukkan tempat persembunyiannya, maka kesalahannya akan dimaafkan" Tetapi sudah tentu tidak ada seorangpun yang datang kepadanya dan menunjukkan tempat Nyai Demang di Kepandak. "Kemana lagi kita harus mencari?" desisnya kemudian dengan nada dalam "aku t idak sampai hati melihat kakang Demang menjadi bersedih. Lima kali ia kawin, semuanya tidak dapat memberikan keturunan kepadanya. Kini ketika isterinya yang keenam mengandung, perempuan itu lenyap begitu saja" Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. "Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana ia dapat hilang begitu saja. Nasi yang sudah disenduknya masih belum seluruhnya dimakannya ketika tiba-tiba saja ia lenyap" desis Ki Reksatani pula. Beberapa orang kawannya hanya dapat menganggukangguk dan mengangguk-angguk saja. Merekapun tidak dapat membayangkan apa yang telah terjadiatas Nyai Demang yang hilang selagi ia belum selesai makan itu. "Tetapi" tiba-tiba seseorang di antara mereka berkata "apakah Nyai Demang sudah dicari di dalamruangan itu?" "Kenapa kau bertanya begitu?" "Anak di rumah sebelah pernah juga di sangka hilang. Tetapi ternyata ia berada di kolong pembaringannya. Agaknya ia memang di sembunyikan oleh hantu, karena untuk beberapa lama ia tidak dapat berbicara" "Bukan hanya kolong pembaringan. Di semua tempat sudah dicari. Perempuan-perempuan dan laki-laki tua mencarinya sambil memukul perampi, bakul dan pisau. Tetapi perempuan itu tidak di ketemukannya" Kawan-kawannyapun terdiam. Tidak ada lagi yang mengatakan sesuatu. Sejenak kemudian merekapun meneruskan perjalanan mereka dengan kepala tunduk, seperti serombongan orang-orang yang mengantarkan mayat ke kuburan. Di bagian lain, setiap kelompok menjadi gelisah pula, karena mereka tidak menemukan orang yang mereka cari. "Mungkin Nyai Demang kini sudah ada di kademangan" berkata seseorang. "Tentu ada tanda-tanda yang dibunyikan. Kentongan misalnya" Kawannya yang berbicara mula-mula itupun menganggukanggukkan kepalanya "Ya. Tentu ada tanda-tanda" "Lalu, apakah yang sebaiknya kita lakukan sekarang. Tidak ada tempat bagi yang terlampaui. Bahkan kita sudah mencarinya di kuburan kalau-kalau ia di sembunyikan atau bersembunyi di sana" Tidak ada yang menjawab. Dan merekapun berjalan terus, seakan-akan tanpa tujuan. Hari itu Kademangan Kepandak telah benar-benar dibakar oleh kegelisahan. Suaranya benar-benar seperti suasana perang, seakan-akan mereka sedang menunggu sepasukan musuh yang akan memasuki Kademangan itu dari segala penjuru. Tetapi akhirnya, orang-orang yang mencari Sindangsari itupun sampai pada suatu kesimpulan, bahwa mereka tidak dapat menemukan perempuan itu di dalam daerah Kademangan Kepandak. Bagaimanapun juga mereka harus melihat suatu kenyataan, bahwa di setiap rumah, di setiap gubug dan bahkan di setiap kandang yang sudah mereka masuki, mereka tidak menemukan Sindangsari. Dengan demikian, meskipun hati mereka sangat berat, namun merekapun akhirnya kembali pula ke Kademangan. Dengan kepala tunduk, sekelompok demi sekelompok memasuki halaman Kademangan, seperti pasukan-pasukan yang pulang dari peperangan tanpa membawa kemenangan. "Bagaimana usaha kalian?" bertanya Ki Demang kepada Ki Jagabaya yang telah kembali ke Kademangan pula. Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya "Maaf Ki Demang Aku sudah berusaha sejauh dapat aku lakukan. Tetapi aku masih belum menemukannya" Wajah Ki Demang menjadi merah padam. Katanya "Soalnya bukan sekedar aku kehilangan seorang istri. Tetapi kini sudah dihinakan oleh keadaan ini. Seolah-olah di Kademangan Kepandak ini tidak ada seorang laki-lakipun yang dapat melindungi seorang perempuan" Ki Jagabaya tidak menyahut. "Bagaimana kau Reksatani?" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia memandangi kawan-kawannya. Kemudian jawabnya "Kami tidak dapat menemukan pula kakang. Semua rumah sudah aku masuki. Semua pintu sudah terbuka. Tetapi kami tidak dapat menemukannya" "Persetan" Ki Demang menggeram "aku yakin yang lainpun akan menjawab seperti itu pula. Ayo, siapa yang mempunyai jawaban lain?" Tidak seorangpun yang duduk di pendapa Kademangan itu yang berani mengangkat wajahnya. Semuanya tunduk tepekur dengan hati yang berdebar-debar. Mereka sadar, bahwa Ki Demang kini benar-benar sudah sampai pada puncak kemarahannya. "Baiklah" berkata Ki Demang kemudian "aku besok akan mencarinya sendiri. Sebentar lagi senja akan turun. Aku tidak akan dapat banyak berbuat di malam hari. Tetapi, aku tidak mau terjebak oleh waktu. Karena itu, setiap lorong yang keluar dari Kademangan Kepandak di segala padukuhan harus dijaga. Kalau hari ini Sindangsari masih ada di Kademangan ini, jangan sampai malam nanti ia berhasil dibawa keluar atau kalau ia sengaja lari atas kehendak sendiri, ia tidak akan dapat pergi dari daerah ini" Semua kepala terangguk-angguk. "Bukan hanya itu. Yang lain harus memencar ke daerah di sekitar Kademangan ini. Mungkin kalian bertemu dengan seseorang yang membawanya. Kalau karena kelicinannya ia dapat membawanya keluar, maka di sepanjang jalan kalian mungkin akan menjumpainya" Sekali lagi semua kepala terangguk-angguk. "Terserah kepada kalian, bagaimana kalian akan membagi diri. Akupun akan keluar malam ini. Sendiri. Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ki Reksatani, kemudian kepada orang-orang lain, tampaklah kegelisahan yang membayang di setiap wajah. "Sekarang beristirahatlah. Semua pertunjukan dibatalkan. Tetapi kalian dapat makan dari semua persediaan yang ada di dapur" Ki Demang tidak menunggu lagi. Iapun segera bangkit dan melangkah masuk. Di ruang dalam ia melihat ibu Sindangsari yang duduk sambil mengusap air matanya di samping kedua orang tuanya. Ki Demang tertegun sejenak. Kemudian menghampirinya sambil berkata "Maaf. Hari ini aku belum sempat menemukannya. Tetapi aku berjanji, bahwa aku harus mendapatkannya. Kapan saja dan dimana saja. Kalau perlu aku akan meninggalkan Kademangan ini mengelilingi Tanah Mataram dari ujung sampai ke ujung. Pengembaraan ini tidak akan berakhir sebelum aku menemukan isteriku" Ibu Sindangsari mencoba untuk tersenyum. Jawabnya "Terima kasih. Tetapi Ki Demang tidak akan dapat meninggalkan tugas Ki Demang di sini sebagai pemegang kemudi" "Aku dapat menit ipkannya kepada Reksatani. Ia adalah adikku. Dan iapun berhak pula atas Kademangan ini. Ia dapat mengganti aku dalam wewenang dan hak yang sama, apabila aku tidak kembali lagi ke Kademangan ini" "Taruhan itu terlampau berat Ki Demang" "Tetapi buat apa aku tetap berada disini? Seandainya aku bertahan di dalam kedudukanku buat apakah sebenarnya? Aku bukan orang yang paling baik di Kademangan ini. Aku bukan satu-satunya orang yang dapat mengemudikannya dan aku bukan satu-satunya orang yang berhak. Kalau aku kehilangan isteriku yang sedang mengandung itu, aku sudah kehilangan semua harapan untuk mendapatkan keturunan. Tidak akan ada orang yang kelak dapat menggantikan kedudukannya sebagai seorang Demang. Dengan demikian maka kedudukan itu pasti akan berpindah pula kepada Reksatani atau anakTiraikasih Website http://kangzusi.com/ anaknya. Dan aku tidak tahu, apakah ia justru tidak lebih baik daripadaku untuk memimpin Kademangan ini. Ia adalah orang yang rajin yang bercita-cita dan berpikiran hidup. Mungkin ia akan lebih baik daripadaku disini" "Tetapi keputusan itu terlampau tergesa-gesa Ki Demang. Kini Ki Demang sedang dibayangi oleh kegelapan hati" "Mungkin, dan aku akan berpikir kembali. Tetapi bagaimanapun juga, aku harus menemukan isteriku" Ibu Sindangsari tidak menyahut lagi. Di pandanginya wajah Ki Demang yang kemudian menunduk. Tampaklah betapa hatinya sedang dilanda oleh kegelisahan dan kebingungan. Setapak demi setapak Ki Demang itupun kemudian meninggalkan ibu mertuanya. Kepalanya masih juga tertunduk dan hatinya bahkan menjadi semakin risau. Namun tiba-tiba Ki Demang itu menggeram "Aku harus menemukannya. Harus. Apapun yang akan terjadi" Ketika bayangan gelap mulai meraba wajah Kademangan Kepandak, maka Ki Demangpun segera bersiap. Malam itu ia ingin keluar dan pergi kemana saja. Ia tidak ingin ditemani oleh siapapun juga, supaya ia dapat berbuat sesuka hatinya. Demikianlah, ketika malampun turun, beberapa orang telah memencar untuk mengawasi semua jalan keluar dan masuk Kademangan Kepandak. Tidak ada sebuah lorongpun yang terlampaui. Bahkan pematang-pematang di tengah sawahpun mendapat pengawasan yang saksama. Tidak ada seorangpun yang dapat keluar dari Kademangan tanpa melalui pengawasan. Lamat yang ketika senja turun berada di sawah, melihat betapa orang-orang Kademangan Kepandak menjadi sibuk sejak malam menjadi gelap. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata kepada diri sendiri "Alangkah pengecutnya aku ini. Kalau aku memiliki keberanian untuk melupakan kepentinganku sendiri kalau aku mempunyai keberanian untuk melupakan budi itu, aku dapat berbuat sesuatu. Orang-orang di Kepandak tidak perlu menjadi kebingungan seperti sarang semut yang tersentuh api. Aku cukup datang kepada Ki Demang di Kepandak dan mengatakan di mana Sindangsari itu berada. Ki Demang pasti akan segera bertindak" Tetapi Lamat menggelengkan kepalanya. Katanya kepada diri sendiri pula "Alangkah jahatnya aku ini. Keluarga ini sudah melepaskan aku dari bencana. Umurku sudah disambungnya. Dan aku tidak akan dapat mengkhianatinya" Ketika terbayang olehnya wajah Sindangsari yang pucat dan ketakutan di hadapan mata Manguri yang membara, Lamat memejamkan matanya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berdesis "Tidak. Itu tidak boleh terjadi" Namun kemudian melonjak sebuah pertanyaan di hatinya "Kalau itu terjadi, apakah yang akan kau lakukan?" Tubuh Lamat terasa menjadi lemah. Hampir tidak bertenaga ia terduduk diatas pematang berpegangan pada tangkai cangkulnya. Ia tidak menghiraukan lagi ketika terasa kakinya menjadi basah karena air di sawah itu menjadi semakin tinggi, bahkan ketika ujung kainnya yang berjuntai di antara kedua kakinyapun menjadi basah pula. Dalam pada itu, Ki Demangpun telah berjalan menyusuri jalan-jalan Kademangan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tetapi ia berjalan juga dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Para peronda yang melihatnya hanya dapat menganggukkan kepalanya saja, karena Ki Demang tidak mau menjawab pertanyaan apapun selain berkata "Aku akan berjalan-jalan" Di tiap-tiap mulut lorong, dua atau tiga orang yang mengawasi orang yang lewat, masih sempat berganti-gantian tidur. Yang satu tidur, yang satu berjaga-jaga. Atau yang dua tidur, yang satu berjaga-jaga. Mereka masih dapat, meskipun hanya sekejap beristirahat untuk melepaskan lelah. Tetapi Ki Demang di Kepandak tidak demikian. Ia tidak mempunyai seorang kawanpun yang dapat membantunya, menggantikannya berjalan sepanjang jalan-jalan padukuhan. Tidak seorangpun yang dapat membantunya memikul beban yang terasa sangat berat menghimpit dadanya. Di sepanjang jalan, seakan-akan telah terbayang kembali, apa yang telah terjadi sepanjang umurnya. Terutama sejak ia menjadi seorang Demang menggantikan kedudukan ayahnya. Ki Demang menundukkan kepalanya kalau terbayang kembali di kepalanya, bagaimana ia telah mengambil enam orang perempuan berturut-turut menjadi isterinya. Beberapa orang di antaranya sama sekali tidak berkeberatan, bahkan ada yang dengan bangga menepuk dada, bahwa ia akan menjadi isteri Demang di Kepandak. Tetapi yang lain, perkawinan itu sama sekali tidak memberikan kebahagiaan. Ia telah merampas perempuan-perempuan itu dari laki-laki yang telah saling mencintai. Ia telah merusakkan hati sepasang manusia yang sedang membina pengharapan di hari-hari mendatang. Tetapi tidak seorangpun yang dapat menentang kekuasaan. Selain ia seorang Demang yang berkuasa, iapun seorang lakilaki yang hampir tidak ada bandingnya di daerah Selatan ini. Baru sekarang Ki Demang mencoba melihat kembali, apakah yang sebenarnya telah terjadi itu. Alangkah sakitnya seseorang yang tiba-tiba saja harus berpisah dengan orangorang yang dikasihinya. Seperti yang dialaminya kini meskipun ia bukan seorang suami yang sebenarnya bagi Sindangsari. Tetapi kehidupan mereka yang mulai tenang, telah menumbuhkan suatu ikatan bagi keduanya, terutama bagi Ki Demang di Kepandak. Semuanya itu seolah-olah terbayang kembali di hadapannya. Jelas sekali. Satu persatu isterinya membayang di dalam kegelapan. Seorang dari mereka, seperti pada saat ia masih menjadi isterinya, telah memaki-makinya dengan katakata yang paling menyakitkan hati, sehingga hampir saja perempuan itu dibunuhnya. Tetapi seorang diantara mereka, menyimpan segala derita di dalam hati, Sehingga akhirnya ia tidak dapat melawan kepahitan hidup. Perlahan-lahan ia telah dicekik oleh maut. Beberapa lama ia menderita sakit, sehingga sampai juga pada saatnya, perempuan itu meninggal dunia. Akhirnya ia menjumpai Sindangsari. Ia telah merenggut perempuan itu dari tangan seorang laki-laki yang dicintainya dengan paksa. Dengan menengadahkan dadanya, ia berkata "Tidak ada seorangpun yang dapat melawan kehendakku" Namun perkawinan itupun hampir saja menumbuhkan pembunuhan ketika Ki Demang sadar, bahwa isterinya itu telah mengandung, justru dengan laki-laki yang dicintainya. Laki-laki yang telah di singkirkannya. Bahkan di jerumuskannya ke dalamjeratan maut. Tetapi apa yang terjadi kemudian. Ketika ia sudah mulai memahami kenyataan tentang bayi di dalam kandungan itu, tiba-tiba isterinya telah hilang. Hilang tanpa diketahui kemana. Ki Demang itu menggeretakkan giginya. Ternyata kekuasaan yang ada padanya tidak mampu mempertahankan perempuan yang telah direnggutnya itu. "Aku telah berdosa dua kali lipat" seolah-olah terdengar suara dari dalam sudut hatinya yang paling dalam "Aku sudah mengambilnya dari laki-laki yang dicintainya dan kini aku tidak dapat melindunginya" Kepala Ki Demang menjadi semakin tunduk karenanya. Di pandanginya ujung kakinya yang melangkah satu-satu diatas tanah yang berpasir. "Tetapi bagaimana kalau perempuan itu sengaja melarikan diri karena Pamot sudah pulang atau sudah ada isyarat daripadanya?" pertanyaan itu telah mengganggunya pula. "Aku bunuh perempuan itu" geram Ki Demang "kalau ia sengaja menghinakan aku, aku bunuh ia bersama laki-laki itu" Tiba-tiba Ki Demang menggeretakkan giginya. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Dirabanya dadanya dengan telapak tangannya, seakan-akan ingin menjaga agar dada itu tidak meledak. Langkah Ki Demang terhenti ketika ia melihat dua orang duduk diatas rerumputan di pinggir lorong. Di sampingnya seorang lagi berbaring di bawah selimut kain panjang yang menutup seluruh tubuhnya. "Selamat malam Ki Demang" salah seorang dari mereka telah menegurnya. Ki Demang memandang kedua orang yang kemudian berdiri di hadapannya. "Kami mendapat tugas disini Ki Demang" berkata seorang yang lain. "Terima kasih atas kesediaan kalian" gumam Ki Demang. Tetapi kata-kata itu rasa-rasanya seperti begitu saja meloncat dari mulutnya. Tanpa bertanya apapun lagi, Ki Demang itupun kemudian berbalik dan melangkah pula dengan kepala tunduk menyelusuri jalan di Kademangannya. "Kasihan" desis salah seorang dari kedua orang yang bertugas mengawasi jalan itu. "Ia menjadi terlampau bingung. Lima isterinya tidak memberikan keturunan untuknya" Kedua orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun kemudian duduk kembali diatas rerumputan. "Ketika aku dengar ia mengambil seorang gadis yang sebenarnya telah saling mencintai dengan seorang laki-laki Gemulung, aku mengumpatinya. Tetapi sekarang, aku menaruh kasihan juga kepadanya" Kawannya tidak menyahut. Dipandanginya saja Ki Demang yang seakan-akan menjadi semakin kabur dan hilang di dalam kegelapan malam. Ternyata, seperti orang yang kehilangan perasaan, Ki Demang berjalan hampir semalam suntuk. Baru ketika fajar membayang di langit, ia melangkahkan kakinya kembali ke Kademangan, setelah di dalam perjalanannya yang hampir semalam suntuk tidak dijumpainya sesuatu yang berhubungan dengan hilangnya isterinya. Hati Ki Demang itu menjadi semakin pudar ketika ia memasuki ruangan dalam rumahnya, di lihatnya ibu Sindangsari masih duduk di amben tengah. Agaknya perempuan yang telah kehilangan anak satu-satunya itupun tidak dapat tidur semalamsuntuk. Tetapi ibu Sindangsari itu sama sekali tidak bertanya sesuatu kepada Ki Demang. Ia tahu, bahwa Ki Demang tidak menemukan anaknya. Kalau ia menemukan Sindangsari, maka Sindangsari, pasti sudah dibawanya pulang. Namun justru karena itu, Ki Demang menjadi semakin merasa, seakan-akan ibu Sindangsari meletakkan semua kesalahan kepadanya. Perlahan-lahan Ki Demang memasuki biliknya. Ia mencoba berbaring sejenak tanpa berganti pakaian. Tanpa mencuci kaki dan tanpa melepaskan kerisnya dari lambungnya. Tetapi hatinya seakan-akan justru menjadi semakin gelap. Atap rumahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun ditatapnya, sama sekali tidak memberikan kesegaran apapun baginya. Seperti tidak disadari Ki Demang itupun berdiri dan berjalan sambil menundukkan kepalanya ke bilik isterinya. Di muka pintu ia tertegun sejenak. Memang tidak lajim, bahwa sepasang suami isteri mempunyai dua bilik yang berbeda. Tetapi demikianlah yang dialaminya. Sejak isterinya yang pertama sampai isterinya yang ke enam, Ki Demang selalu tidur di biliknya sendiri. Dan kini, bilik Sindangsari itu menjadi sepi. Sepi sekali. Apalagi hatinya sendiri. Tetapi Ki Demang tidak memasuki bilik yang kosong itu. Ia kemudian melangkah terus menuju ke dapur. Ia sendiri tidak tahu, apakah yang sudah membawanya kesana. Di dapur ia melihat Nyai Reksatani yang agaknya baru saja bangun duduk di amben yang besar. Beberapa orang perempuan sudah mulai menyalakan api dan merebus air. Tetapi Ki Demang tidak mengucapkan sepatah katapun juga. Ia melangkah terus ke halaman belakang. Namun kemudian ia kembali lagi ke dalam biliknya dan mencoba sekali lagi untuk berbaring. Sejenak kemudian maka terdengar ayam jantan mulai berkokok untuk yang terakhir kalinya di malam itu. Bersahutsahutan dari kandang yang satu ke kandang yang lain, memenuhi seluruh Kademangan Kepandak. Beberapa rang yang mengawasi lorong-lorong yang keluar dari Kademangarpun mulai meninggalkan tempat mereka. Kepada beberapa orang petani yang sudah ada di sawah mereka berpesan, apabila mereka melihat seseorang yang mereka curigai, kalau perlu sebaiknya orang itu ditahan sejenak atau dibawa ke Kademangan. Ketika matahari mulai menyembulkan dirinya di punggung bukit maka hampir semua orang yang bertugas mengawasi lorong-lorong dan jalan-jalan keluar dari Kademangan Kepandak telah berada di Kademangan kembali, termasuk Ki Jagabaya dan Ki Reksatani. "Sekarang kalian beristirahat sebentar. Kalian dapat mandi, makan dan berganti pakaian. Nanti, sebagian dari kalian akan mengelilingi Kademangan ini sekali lagi. Aku sendirilah yang akan memimpin pencaharian itu. Kalau hari ini kami tidak menemukannya disini, maka besok kita akan pergi ke Kademangan tetangga. Kita akan minta bantuan mereka untuk mencari Sindangsari di daerah mereka masing-masing" Dada mereka yang mendengarnya menjadi berdebar-debar. Dalam keadaan demikian, akan mudah sekali timbul salah paham dengan daerah tetangga. Tetapi di daerah Selatan ini, tidak ada seorang Demangpun yang dapat mengimbangi ilmu Ki Demang di Kepandak. Hal ini disadari pula oleh Ki Demang di Kepandak, sehingga justru karena itu, hatinya yang buram dapat menumbuhkan banyak masalah di daerah Selatan ini. Ki Jagabaya yang hadir juga di pendapa, hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Semua persoalan yang dapat tumbuh akan menjadi bebannya pula. Tetapi dalam keadaan yang demikian ia tidak berani langsung mempersoalkannya. "Mudah-mudahan setelah sehari ini Ki Demang menjadi agak tenang" berkata Ki Jagabaya di dalam hatinya "sehingga aku mendapat kesempatan untuk memberikan pendapatku" Dalam pada itu Ki Reksatani hanya dapat menundukkan kepalanya saja. Meskipun ia juga menjadi berdebar-debar, bahwa persoalan ini akan berkembang semakin luas, namun ia tidak dapat melangkah surut. "Adalah kebetulan sekali kalau kakang Demang menjadi gila" katanya di dalam hati "mungkin ia akan mengalami bencana di dalam kegilaannya, atau ia harus berhadapan dengan pasukan yang pasti akan dikirim oleh Sinuhun di Mataram, atau setidak-tidaknya oleh para Senapati yang berwenang di daerah Selatan ini, apabila di daerah ini timbul kerusuhan yang tidak teratasi. Para Demang yang merasa dirugikan pasti akan menghadap para pemimpin pemerintah yang berkewajiban atas daerah ini. Setidak-tidaknya seorang Bupati akan menaruh perhatian" Demikianlah ketika matahari telah menjadi semakin tinggi maka Ki Demangpun kemudian mempersiapkan orangorangnya. Ia hanya mengambil beberapa orang saja untuk menyertai Ki Reksatani, Ki Jagabaya, Ki Kebayan dan beberapa orang bebahu di tambah beberapa orang saja, di antara dari para pengawal Kademangan. Anak-anak muda yang tidak ikut serta terpilih untuk dikirim ke Mataram. "Kita akan menjelajahi Kademangan ini sekali lagi. Meskipun harapan untuk menemukannya tipis sekali, tetapi aku akan mencobanya sebelumaku akan melangkah keluar" Orang-orang yang hadir di pendapa itu menganggukanggukkan kepalanya. "Apakah kalian sudah siap?" bertanya Ki Demang. "Sudah Ki Demang" Ki Jagabayalah yang menyahut. "Baiklah. Kali ini kita akan berkuda pula. Kita akan mulai dari ujung Barat. Kemudian sampai ke ujung Timur" "Apakah kita akan memasuki setiap rumah?" Ki Demang menjadi bingung sejenak. Ia tidak tahu, cara yang manakah yang akan ditempuhnya. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya. Katanya "Tidak. Kita tidak akan memasuki setiap rumah. Kita akan menjelajahi lorong-lorongnya saja. "Tetapi Ki Demang, apakah yang dapat kita temui di lorong-lorong itu" "Kita akan memasuki rumah yang kita curigai. Aku akan menemui tetua padukuhan. Kalau ternyata isteriku di sembunyikan di padukuhannya, maka aku akan menghukumnya. Mereka, sesudah hari ini, harus membantu berusaha mencari Sindangsari di daerah masing-masing, Kalau dalam waktu sepekan Sindangsari tidak dapat di ketemukan dengan cara itu di daerah ini, aku akan mengambil sikap lain, sementara mulai besok aku akan mencarinya keluar daerah" Demikianlah maka setelah semuanya siap, Ki Demangpun kemudian berangkat di iringi oleh beberapa orang kepercayaannya diatas punggung kuda. Seperti pasukan yang hendak berperang, mereka mulai perjalanan mereka ke arah Barat. Dari ujung Baratlah kemudian mereka memasuki setiap padukuhan satu demi satu. Ki Demang sendiri telah menemui setiap tetua padukuhan. Ia minta mereka membantunya mencari isterinya. Tetapi ia juga mengancam hukuman yang seberat-beratnya apabila ternyata Sindangsari kelak diketemukan di padukuhan itu oleh orang lain, bukan oleh orang padukuhan itu sendiri. "Kami akan membantu Ki Demang. Kami akan meneliti lebih teliti lagi" berkata salah seorang tetua padukuhan. "Terima kasih. Aku segera menunggu keterangan. Aku memberi waktu sepekan sebelum aku menempuh kebijaksanaan lain" Para tetua padukuhan itu hanya menarik nafas dalamdalam: Namun terbayang di rongga mata mereka, betapa mereka menjadi cemas menghadapi keadaan itu. Ternyata pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang cepat dapat diselesaikan. Ki Demang sendiri sama sekali tidak tampak letih meskipun semalam suntuk ia tidak tidur sama sekali. Ia masih dapat berbicara dengan lantang kepada setiap tetua padukuhan, bahkan sekali-sekali membentak-bentak. Namun kemudian dengan rendah hati ia mengucapkan terima kasih atas semua kesanggupan para tetua padukuhan itu. Kelompok orang-orang berkuda itu semakin lama semakin merayap kesebelan Timur. Tidak ada padu-kuhan yang tidak terlampaui. Tidak ada seorang tetua padukuhanpun yang tidak ditemui oleh Ki Demang. Ketika matahari naik ke puncak mereka telah hampir sampai ke tengah-tengah Kademangan Kepandak. Tetapi Ki Demang tidak berhenti. Ia masih tetap meneruskan usahanya. Kadang-kadang kuda-kuda mereka itu berpacu di tengahtengah bulak yang mengantarai padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain. Namun kemudian menyusuri jalan-jalan sempit perlahan-lahan. Semakin rendah matahari, merekapun menjadi semakin jauh ke Timur. Di hadapan mereka kini tinggallah dua padukuhan lagi. Padukuhan kecil. Karena itu, maka Ki Demang tidak lagi menjadi tergesa-gesa meskipun ia tetap gelisah. Sejenak Ki Demang memandang kedua padukuhan yang tidak begitu jauh letaknya itu berganti-ganti. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam seolah-olah ingin menekan semua perasaannya yang sedang bergejolak. Bahkan seolah-olah ia sudah meyakini, bahwa ia tidak akan dapat menemukan Sindangsari di padukuhan itu. Tetapi setidak-tidaknya ia sudah dapat menemui tetua dari kedua padukuhan itu untuk mengawasi daerah masing-masing. Tetapi tiba-tiba Ki Demang itu tertegun sejenak. Dari kejauhan ia melihat debu yang mengepul. Semakin lama semakin dekat. Bukan saja Ki Demang, namun orang-orang lain di dalam rombongannyapun terkejut puia. Ki Jagabaya dan Ki Reksatani yang berada di belakangnya, tiba-tiba mendesak maju dan berhenti di samping Ki Demang. "Sekelompok orang-orang berkuda" desis Ki Jagabaya. "Ya" sahut Ki Demang "sekelompok orang-orang berkuda. Ki Reksatanipun menjadi tegang pula. Katanya "Siapa kah mereka itu?" Ki Demang menggelengkan kepalanya "Tidak seorangpun dari antara kita yang tahu, siapakah mereka itu" Merekapun kemudian terdiam. Dengan tegangnya mereka melihat debu yang mengepul semakin tinggi dan semakin dekat. "Kita menunggu disini" berkata Ki Demang "agaknya mereka datang ke arah ini" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang yang ada di belakang Ki Jagabayapun menjadi tegang pula. Mereka tidak melihat sekelompok orang-orang berkuda sampai sebanyak itu. "Aneh" berkata Ki Demang "apakah yang datang itu sepasukan prajurit dari Mataram?" Tidak seorangpun yang menyahut. Mereka terpancang pada debu yang semakin tinggi mengepul diudara. "Duapuluh lima ekor kuda" berkata salah seorang. "Lebih dari itu" sahut Ki Jagabaya "empat puluh kurang lebih" "Ya, empat puluh kurang sedikit" sahut Ki Reksatani. Dengan hati yang berdebar-debar Ki Demang berhenti di tengah Jalan menunggu orang-orang berkuda itu mendekat. Namun demikian, karena hatinya sendiri memang lagi gelap, iapun segera menanggapi kedatangan orang-orang berkuda itu dengan hatinya yang gelap itu pula. "Apabila kita berhadapan dengan orang-orang jahat yang barangkali telah menculik Sindangsari, salah seorang dari kalian harus segera kembali ke Kademangan. Siapkan semua orang, terutama para pengawal untuk membantu kita disini. Jumlah mereka lebih banyak dari jumlah kita yang ada sekarang" Ki Jagabaya mengangguk anggukkan kepalanya. Katanya "Baik Ki Demang. Dua orang akan melakukan tugas itu" Ki Demangpun kemudian berdiam diri sejenak, namun wajahnya menjadi semakin tegang. Kuda-kuda itupun menjadi semakin dekat pula. Dengan nada yang dalam Ki Demang berkata "Bukankah mereka kesatuan prajurit Mataram?" "Ya" sahut Ki Jagabaya. "Apakah yang akan mereka lakukan? Mereka datang dalam suatu kelompok yang besar, pasukan berkuda pula" Ki Jagabaya tidak menjawab. Tetapi kerut-merut di keningnya menjadi semakin dalam. Pasukan itupun kemudian menjadi semakin dekat, dan Ki Demang serta orang-orangnya menjadi semakin jelas, bahkan akhirnya mereka mengenali beberapa wajah dari pasukan itu. "Anak-anak kita" Ki Jagabaya hampir berteriak "anak-anak kita yang selama ini kita tunggu-tunggu" Wajah Ki Jagabaya tiba-tiba menjadi cerah. Hampir saja ia bergerak menyongsong pasukan itu. Tetapi Ki Demang menahannya sambil berkata "Kita menunggu disini" Wajah Ki Reksatanipun menjadi tegang. Kedatangan mereka pasti akan berpengaruh bagi tata kehidupan Kademangan Kepandak. Ia tidak dapat meramalkan, perubahan yang manakah yang bakal terjadi. Apakah yang akan menguntungkannya, atau sebaliknya. Seorang Senopati prajurit Mataram yang ada di paling depan kemudian mengangkat tangannya. Beberapa langkah di hadapan Ki Demang ia menghentikan kudanya. Sambil tersenyum ia bertanya "Ki Demang di Kepandak. Bukankah aku berhadapan dengan Ki Demang di Kepandak" "Ya tuan" berkata Ki Demang "tuan berhadapan dengan Demang di Kepandak" "Nah, terima kasih. Dari manakah kalian tahu, bahwa hari ini aku akan mengantarkan anak-anak Kepandak kembali, setelah menunaikan tugasnya sebaik-baiknya" Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menyahut "kami tidak tahu bahwa tuan akan datang" "Tetapi agaknya Ki Demang telah mempersiapkan suatu penyambutan diperbatasan Kademangan" Ki Demang menjadi bingung sejenak. Namun kemudian ia menjawab "Tidak tuan. Ini adalah suatu kebetulan saja. Kami sama sekali tidak tahu bahwa anak-anak kami sudah kembali" "Kami sudah datang beberapa hari yang lampau. Tetapi sengaja kami tidak memberitahukan kepada kalian disini, supaya tidak menimbulkan ketegangan. Dan hari ini aku mendapat tugas untuk menyerahkan mereka kembali kepada Ki Demang" Ki Demang menjadi tegang. Dan tiba-tiba ia bertanya. Jadi pasukan ini sudah datang beberapa hari yang lampau?" "Ya. Beberapa hari yang lampau" Ki Demang terdiam sejenak. Dengan sorot mata yang tajam, dipandanginya wajah wajah anak Kepandak itu satu demi satu. Meskipun sedikit tertutup oleh orang yang berkuda di depannya, namun Ki Demang segera mengenal satu di antara mereka "Pamot " Tiba-tiba saja dada Ki Demang berdesir. Sejenak matanya terpaku pada anak muda itu. Anak muda yang tampak agak kekurus-kurusan dibandingkan ketika ia berangkat dari Kademangan Kepandak beberapa bulan yang lampau. Pamot yang merasa tatapan mata Ki Demang seolah-olah terhunjam ke jantungnyapun kemudian menundukkan kepalanya. Ia tidak mengerti, perasaan apakah yang sebenarnya berkecamuk di dalam hati Demang di Kepandak itu. "Tuan" berkata Ki Demang kemudian "kalau anak-anak ini sudah kembali sejak beberapa hari yang lalu, apakah sebabnya tuan tidak memberi tahukan hal itu kepada kami, setidak-tidaknya pimpinan Kademangan, kalau hal itu tuan cemaskan akan dapat menimbulkan ketegangan. Kami, para pemimpin dari Kademangan ini pasti akan dapat memperhitungkan, manakah yang baik dan manakah yang tidak baik kami lakukan" Senapati Mataram yang berada di paling depan itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian menjawab "Maaf Ki Demang. Anak-anak masih perlu beristirahat. Kalau keluarga mereka tahu, bahwa mereka sudah ada di Mataram, maka mereka akan berbondong-bondong pergi untuk menengok keluarganya itu. Dengan demikian maka tidak akan ada keterangan yang pasti tentang diri mereka. Mungkin ada yang tidak dapat di ketemukan diantara yang datang, mungkin ada yang masih terlampau payah, ada yang sakit dan sebabsebab yang lain. Di waktu yang singkat, kami berusaha untuk menyusun laporan yang pasti tentang anak-anak dari Kepandak yang hari ini akan kami serahkan kembali kepada Ki Demang" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sorot matanya seakan-akan sama sekali tidak menanggapi kata-kata Senapati itu. Bahkan di dalam hatinya ia berkata "Di dalam beberapa hari itu. Pamot dapat berbuat apa saja. Ia dapat lari dari kesatuannya untuk beberapa lama. Di saat-saat itulah ia mendapat kesempatan untuk mengambil Sindangsari setelah ia berhasil menghubunginya dahulu. Mungkin ia mempergunakan orang lain untuk menyampaikan maksudnya kepada Sindangsari dan Sindangsari telah membantu pula usaha itu" "Ki Demang" berkata Senapati itu, sehingga Ki Demang agak terperanjat karenanya "Kenapa Ki Demang agak termangu-mangu menerima anak-anak ini kembali" "Tidak, tidak" Ki Demang agak tergagap "tetapi aku sedang memikirkan beberapa masalah yang timbul di dalam Kademangan ini. Kami akan menerima dengan senang hati kedatangan anak-anak kami ini, dan kami akan menerimanya dengan resmi di halaman Kademangan" "Terima kasih" sahut Senapati itu "jadi, apakah kami dapat meneruskan perjalanan kami ke Kademangan?" "Tentu tuan, tetapi…" kata-kata Ki Demang terputus. "Tetapi…." Senapati itu mengulang. Ki Demang tidak segera menyahut. Setiap kali tatapan matanya menyambar wajah Pamot yang agak pucat. Pamotpun menjadi berdebar-debar pula. Ia merasa tatapan mata Ki Demang itu mengandung arti yang mendebarkan jantungnya. Tetapi ia tidak tahu, apakah yang akan dilakukan Ki Demang di Kepandak itu atasnya. "Apakah ada sesuatu yang kurang wajar?" bertanya Senapati itu "atau karena Ki Demang merasa kecewa, bahwa kami tidak memberitahukan dahulu kedatangan anak-anak ini? Aku kira Ki Demang dapat mengerti alasan kami" "Bukan, bukan itu" jawab Ki Demang. Sejenak ia merenung, namun kemudian ia berkata "Tuan, apaboleh buat, apakah aku dapat berterus-terang" "Tentu, silahkan" Tetapi sebelum Ki Demang berkata sesuatu. Ki Jagabaya telah menggamitnya sambil berkata "Ki Demang, apakah tidak lebih baik kita terima dahulu anak-anak itu di halaman Kademangan? Aku tahu bahwa Ki Demang tergesa-gesa mengemukakan persoalan Ki Demang sekarang. Agaknya itu kurang bijaksana" Ki Demang berpaling kepada Ki Jagabaya. Sejenak ia terdiam namun kemudian ia berkata "Tidak Ki Jagabaya. Lebih baik bagiku apabila aku mengemukakan persoalanku sekarang. Kami akan menerima anak-anak yang sama sekali bersih dari segala kejahatan yang mungkin dilakukannya" "Tetapi bukankah itu masih belum pasti. Bukankah Ki Demang juga baru menyangka bahwa hal itu dilakukannya?" potong Ki Jagabaya yang sedikit banyak dapat membaca perasaan yang terpahat di hati Ki Demang di Kepandak. "Tidak" Ki Demang menggelengkan kepalanya "Aku akan menerima anak-anak kami. Tetapi aku akan menyisihkan dahulu anak yang mungkin berbuat suatu kejahatan" "Ki Demang" bertanya Senapati yang memimpin anak-anak di Kepandak itu "apakah yang Ki Demang maksudkan?" "Tuan" berkata Ki Demang "sesuatu telah terjadi di Kademangan ini. Dan aku telah mencurigai, bahwa hal itu dilakukan oleh salah seorang dari anak-anak kami itu" "Apakah yang sudah terjadi? Dan bagaimana mungkin anak-anak ini dapat melakukannya?" "Semula aku memang t idak menyangka. Tetapi setelah aku mendengar bahwa anak-anak ini telah beberapa hari berada di Mataram, maka kecurigaankupun segera tumbuh" "Apakah yang sudah terjadi? "Jarak antara Mataramdan Kepandak tidak terlampau jauh" "Ya, tetapi apakah yang sudah terjadi?" "Tuan" Ki Jagabaya memotong "agaknya hal itu kurang baik apabila kita bicarakan sekarang" Kemudian kepada Ki Demang Ki Jagabaya itu berkata "Cobalah Ki Demang menahan hati sedikit. Kita akan menerima mereka dahulu di Kademangan. Anak-anak yang baru saja menunaikan tugas negara. Bukan sekedar melakukan perjalanan tamasya ke daerah yang belumpernah dilihatnya" "Aku tahu. Aku tahu" tiba-tiba Ki Demang membentak "Aku akan mengadakan malam-malam penyambutan tujuh hari tujuh malam. Semua pertunjukan yang dibatalkan akan dilanjutkan untuk menyambut anak-anak kami, kebanggaan kami. Tetapi yang seorang dari antara mereka harus diserahkan kepadaku lebih dahulu. Aku akan meyakinkannya, apakah benar-benar ia tidak bersalah. Kalau aku kemudian yakin ia tidak bersalah, aku akan melepaskannya. Tetapi kalau aku tidak yakin, aku akan menggantungnya di regol Kademangan" "Ki Demang" potong Senapati itu "apakah sebenarnya yang sudah terjadi? "Tetapi Ki Demang terlampau tergesa-gesa karena Ki Demang membiarkan perasaan Ki Demang berbicara" berkata Ki Jagabaya mendahului. "Diam, diam kau" t iba-tiba Ki Demang berteriak. Suasana itupun menjadi tegang. Ki Demang duduk diatas punggung kudanya seperti seorang yang sedang menghadapi sepasukan musuh yang kuat. Baik pada pengikut Ki Demang di Kepandak, maupun anakanak Kepandak yang baru saja datang dari Mataram itu seolah-olah telah membeku di tempatnya. Apalagi Pamot. Kini ia merasa, bahwa yang seorang itu pastilah dirinya yang selama ini selalu diawasi oleh Ki Demang dengan tatapan mata yang tajam. "Ki Demang" berkata Senapati itu kemudian dengan sareh "agaknya sesuatu memang sudah terjadi sehingga Ki Demang agaknya menjadi sangat terpengaruh karenanya. Sikap Ki Demang kali ini benar-benar mengherankan. Kami sudah lama mendengar nama Ki Demang di Kepandak. Tetapi ternyata ketika anak-anaknya datang dari daerah yang paling gawat Ki Demang sedang diamuk oleh suatu goncangan perasaan sehingga bersikap agak kekanak-kanakan" "Jangan menghina tuan" potong Ki Demang "Aku hormati tuan sebagai tamu kami. Kalau tuan mengetahui persoalan kami, maka aku kira tuan tidak akan mengatakan demikian" "Baiklah Ki Demang, aku ingin mendengar persoalan itu. Kalau Ki Demang memang merasa perlu menyampaikannya sekarang, akupun tidak akan berkeberatan" "Baiklah" sahut Ki Demang "Aku memang akan mengatakannya sekarang. Aku tidak mau anak itu sempat melarikan dirinya" "Katakanlah" "Tuan, ternyata istriku telah hilang dari Kademangan" "He" semua orang yang mendengar itupun terkejut karenanya. Terlebih-lebih lagi Pamot. Namun ia masih dapat menahan dirinya. Bahkan dengan singkat ia dapat menangkap persoalan yang tengah berkecamuk di kepala Ki Demang di Kepandak. Agaknya Ki Demang telah mencurigainya. Di dalam waktu beberapa hari sepulangnya dari Betawi, ia telah dituduh melakukan perbuatan itu, melarikan Sindangsari. Tetapi Pamot masih tetap berdiam diri, menahan segala perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. "Ki Demang" berkata Senapati itu "Aku ikut berprihatin, bahwa Nyai Demang di Kepandak telah hilang. Banyak masalah yang akan dihadapi oleh Ki Demang" "Ya. Kalau tuan menjumpai kami disini sekarang, kami memang sedang mencari isteriku yang hilang itu. Kami datangi setiap padukuhan dan setiap pemimpin dan tetua padukuhan. Kami minta pertolongan mereka untuk mencari di daerah dan di padukuhan masing-masing. Sehari kemarin Ki Jagabaya dan para pengawal memasuki setiap rumah di seluruh Kademangan Kepandak. Tetapi isteriku itu masih belum dapat diketemukan. Tetapi kami belum tahu bahwa anak-anak kami sudah datang sejak beberapa hari yang lalu. Kalau kami tahu, mungkin kami tidak perlu melakukan semuanya itu" "Maksud Ki Demang?" bertanya Senapati itu. "Kami memerlukan seseorang dari anak-anak itu" "Apakah Ki Demang mencurigainya?" "Ya" "Kenapa?" Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian berkata "Setiap orang di Kepandak telah mengetahuinya, sebelum perempuan itu menjadi isteriku, ia sudah berhubungan dengan anak itu lebih dahulu" Senapati itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya "Tidak mungkin Ki Demang" "Tuan jangan mendahului kenyataan yang akan dapat dibuktikan nant i" "Tetapi siapakah anak itu?" Ki Demang terdiam sejenak. Dipandanginya wajah-wajah yang tegang di seputarnya. Apalagi ketika ia memandang wajah anak-anak yang baru saja kembali dari Betawi itu. "Katakan Ki Demang" berkata Senapati itu "anak-anak ini adalah tanggung jawabku. Mungkin aku akan menaruh curiga pula kalau Ki Demang menyebut nama anak yang bengal diantara mereka" Ki Demang masih ragu-ragu. "Aku kira hal ini kurang bijaksana" potong Ki Jagabaya "Aku tetap menganggap, bahwa sebaiknya kita pergi ke Kademangan lebih dahulu" "Dan membiarkan anak itu lari?" bentak Ki Demang di Kepandak. "Akulah taruhannya" Ki Jagabaya masih juga menjawab "kalau anak itu lari, akulah yang akan digantung di regol Kademangan" Mata Ki Demang menjadi merah padam. Sejenak ia justru terbungkam. Ki Jagabaya tidak pernah membantah perintah dan pendapatnya. Namun tiba-tiba kini ia mempunyai pendirian sendiri yang dipertahankannya. "Biarlah" justru Senapati dari Mataram itulah yang kemudian menjawab "biarlah Ki Demang mengatakannya. Aku dapat mengerti sekarang, kenapa Ki Demang telah diguncang oleh perasaannya. Bagi seorang laki-laki hal itu memang dapat menumbuhkan suatu pergolakan jiwa yang sangat dahsyat" Ki Jagabaya memandang Senapati itu sejenak. Namun kemudian ia berkata "Jika demikian, terserahlah kepada tuan" Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak berbicara lagi. Ia hanya sekedar menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Ki Demang di Kepandak. "Tuan" berkata Ki Demang di Kepandak "terserahlah pada penilaian tuan. Aku memang ingin mengambil salah seorang dari anak-anak itu. Aku berjanji bahwa aku tidak akan berbuat lebih daripada mencari keterangan tentang isteriku yang hilang itu" "Siapakah anak itu? Aku kira tuan sudah sampai pada suatu taraf mencurigainya" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Aku memang mencurigainya" "Ya, siapakah namanya" "Pamot " Senapati itu terkejut. Tetapi orang-orang lain, baik ia pengikut Ki Demang, maupun kawan-kawan Pamot sama sekali tidak terkejut lagi karenanya. Dan merekapun saling berpandangan sejenak, kemudian seperti berjanji mereka memandang wajah Pamot yang menjadi merah karenanya. Senapati yang terkejut itu sejenak duduk terdiam diatas punggung kudanya. Kedua prajurit pengawalnyapun menjadi terheran-heran pula. Mereka mengenal Pamot sebagai seorang anak yang baik. Anak yang tekun dan sama sekali tidak menunjukkan kebengalannya. "Apakah Ki Demang tidak keliru?" bertanya Senapati itu. "Tidak tuan, Aku yakin" "Apakah Ki Demang sekedar mencari keterangan, atau karena Ki Demang sudah yakin bahwa Pamot sudah bersalah?" "Sebagian aku yakin" "Kenapa?" "Semua orang di Kepandak akan dapat memberikan alasannya kenapa aku mencurigainya, dan bahkan sebagian meyakininya, setelah aku tahu, bahwa sejak beberapa hari ia sudah berada di Mataram" "Tetapi aku belum tahu. Sekarang katakanlah kepadaku, apakah alasan Ki Demang" "Aku sudah mengatakan" "Jadi, yang Ki Demang maksudkan adalah laki-laki yang sudah mengadakan hubungan dengan Nyai Demang sebelum ia menjadi isteri Ki Demang?" "Ya" "Kemudian itu merupakan alasan dan bahkan hampir suatu keyakinan bahwa ia bersalah?" "Ya" Senapati itu menggelengkan kepalanya "Ki Demang keliru. Meskipun anak-anak itu datang beberapa hari yang lampau, tetapi mereka sama sekali tidak boleh keluar dari barak-barak mereka. Sama sekali tidak. Pamot juga tidak" "Itu adalah peraturan yang ditentukan oleh para pemimpin pasukan. Tetapi anak-anak dapat saja lari meninggalkan kesatuan tanpa diketahui. Kalau kemudian ia kembali lagi, maka seolah-olah ia masih tetap berada di dalam pasukannya" "Kawan-kawannya akan dapat mengatakannya" Ki Demang terdiam sejenak. Namun dengan berat ia kemudian berkata "Anak-anak kadang-kadang mempunyai setia kawan yang kuat" "Memang mungkin. Tetapi aku yakin bahwa Pamot tidak melakukannya. Ia tetap di dalampengawasan para prajurit" "Itu akan ternyata kemudian tuan. Tetapi aku sekarang memerlukannya. Aku akan memeriksanya sendiri" Tiba-tiba sebelum Senapati yang memimpin anak-anak Kepandak itu menjawab, seorang anak muda yang berjambang lebat maju ke depan, ke samping Senapati itu. Dengan bersungguh-sungguh ia berkata "Ki Demang. Aku adalah salah seorang dari mereka yang ikut bersama Pamot. Aku adalah tetua anak-anak yang dari Gemulung" Ki Demang mengerutkan keningnya. Anak muda itu adalah Punta yang kini memelihara jambang dan janggutnya yang lebat. "Punta" desis Ki Demang. "Ya Ki Demang. Aku ingin menambah keterangan tentang Pamot. Ia berada di dalam satu barak dengan aku, bahkan ia berada di bawah pengawasanku. Kalau Ki Demang bermaksud menuduh Pamot setelah ia kembali dari perjalanannya, maka aku bertanggung jawab, bahwa hal itu tidak dilakukannya" Sejenak Ki Demang menjadi tegang. Tetapi kemudian ia berkata "Itu akan terbukti kelak. Tetapi aku akan memeriksanya. Aku akan memeriksanya. Aku adalah Demang di Kepandak" "Benar Ki Demang" sahut Punta "tetapi akulah yang langsung mempertanggung jawabkannya karena ia termasuk di dalam kelompokku. Akulah pemimpin kelompok itu" "Aku tidak peduli" Ki Demang tiba-tiba berteriak "kalian dapat saja saling melindungi. Tetapi aku minta, Pamot diserahkan kepadaku" "Sayang Ki Demang" berkata Senapati Mataram "selama ia masih menjadi tanggung jawabku, aku t idak dapat berbuat demikian. Aku tidak akan menyerahkan, anak anak Kepandak, seorang demi seorang. Aku akan menyerahkannya semuanya sekaligus" "Tidak. Aku tidak dapat menerima pasukan yang di dalamnya terdapat seorang penjahat. Aku akan menyingkirkan penjahat itu lebih dahulu. Kemudian aku akan menerima yang lain dengan segala macam upacara" Ki Jagabaya hanya dapat menarik nafas saja. Ketika ia melihat wajah Ki Reksatani Ki jagabaya menjadi heran. Ia melihat mata itu seakan-akan bercahaya. "Apakah peristiwa ini sangat menarik bagi Ki Reksatani?" bertanya Ki Jagabaya di dalam hatinya "atau seperti kakaknya ia sudah langsung menghukum Pamot yang dianggapnya bersalah melarikan Nyai Demang di Kepandak?" Dalam pada itu Ki Jagabaya mendengar Senapati dari Mataram itu berkata "Ki Demang. Ki Demang jangan tenggelam di dalam arus perasaan yang sedang bergejolak. Ki Demang sebaiknya mencoba untuk mempergunakan nalar. Aku mengerti, betapa Ki Demang sedang diguncang oleh peristiwa ini. Tetapi Ki Demang jangan kehilangan pertimbangan yang bening" "Aku sudah mempertimbangkan" jawab Ki Demang "anak itu aku minta dan akan aku bawa langsung ke Kademangan. Itu sudah menjadi keputusanku. Keputusan Demang di Kepandak" "Sayang Ki Demang. Aku tidak dapat memberikannya sekarang sebelum aku menyerahkan semuanya sama sekali. Setelah itu, setelah semua diterima dengan baik, maka terserahlah kepada Ki Demang, apakah Ki Demang akan memeriksanya. Itupun harus masih dibatasi menurut peraturan yang berlaku. Perlindungan kepada setiap orang masih harus mendapat perhatian, sehingga Ki Demang tidak akan dapat berbuat sewenang-wenang" "Tuan" berkata Ki Demang "tuan adalah seorang Senapati. Tuan berkuasa atas satu pasukan. Tetapi kekuasaan di Kademangan Kepandak ada di tanganku. Maaf, aku tidak ingin menerima campur tangan orang lain" Sejenak Senapati itu terdiam. Wajahnya menegang. Namun kemudian, sebagai seorang Senapati yang sudah masak, ia justru tersenyum. Katanya "Ya, kau benar Ki Demang. Aku berkuasa atas suatu pasukan. Pasukan itu adalah anak anak Kepandak ini. Karena itu, aku wajib melindungi anak-anak itu. Kalau Ki Demang tidak dapat menerima mereka sekarang baiklah, aku akan membawa mereka kembali ke Mataram" "Tidak. Itu tidak mungkin" teriak Ki Demang "dan tuan akan mencoba menyembunyikan anak itu?" Sekali lagi wajah Senapati itu menegang. Sejenak ia berdiam diri memandang wajah-wagah orang Kepandak yang menegang pula. Namun dalam pada itu, sebelum ia menjawab, Pamot telah maju pula. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata "Ki Demang. Adalah pantas sekali kalau Ki Demang telah mencurigai aku. Tetapi meskipun demikian, Ki Demang harus memperhatikan kemungkinan yang dapat terjadi. Ki Demang sudah mendengar penjelasan pimpinan pasukan kami, dan Ki Demang sudah mendengar keterangan Punta. Kalau Ki Demang masih tidak mempercayai keterangan-keterangan itu, maka terserahlah kepada Ki Demang" kemudian ia berpaling kepada Senapati dari Mataram "tuan, biarlah Ki Demang melakukan kehendaknya. Aku tidak berkeberatan karena aku sama sekali tidak merasa bersalah" Tetapi Senapati itu menggelengkan kepalanya "Tidak. Itu tidak mungkin. Aku masih bertanggung jawab atas kalian" Ternyata Ki Jagabaya tidak dapat menahan hatinya lagi dan berkata kepada Ki Demang di Kepandak "Ki Demang. Aku masih ingin mempersilahkan Ki Demang untuk bersabar. Ki Demang memang sebaiknya menerima anak-anak kita. Kemudian terserahlah, apa yang akan dilakukan kemudian" Wajah Ki Demang yang merah menjadi semakin merah. Sejenak dipandanginya wajah Ki Jagabaya. Kemudian wajahwajah yang lain berganti-ganti. Namun sejenak kemudian ia berkata "Tidak. Aku tidak ingin anak itu melarikan diri. Aku tidak memerlukan orang lain untuk menjadi gantinya. Aku inginkan anak itu" "Tetapi ia tidak akan melarikan diri" sahut Ki Jagabaya. "Aku tidak peduli" Ki Demang berteriak "Aku memerlukannya sekarang" Semua wajah yang tegang tambah menegang. Pamot justru menjadi terbungkam karenanya. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Dalam pada itu Ki Demangpun berkata pula kepada Senapati Mataram itu "Tuan. Aku terpaksa melakukannya sekarang. Aku memerlukan anak itu. Aku tidak mau ia terlepas dari tanganku karena kejahatan yang tidak termaafkan itu" "Ki Demang terlampau tergesa-gesa mengambil kesimpulan" "Aku tidak perduli anggapan orang lain atas keputusanku ini. Tetapi ia harus ditangkap sekarang" "Itu tidak mungkin" "Aku akan melakukannya " "Aku tidak mengijinkan" Sorot mata Ki Demang kini telah benar-benar menyala. Ia maju setapak. Sambil memegang kendali kudanya dengan tangan kirinya, ia mengacukan tangan kanannya sambil berkata lantang "Tidak seorangpun dapat menghalangi keputusan Demang di Kepandak. Tidak seorangpun dapat menahan kemauannya. Kalau tuan tidak memberikannya, aku akan mempergunakan kekerasan. Tuan pasti sudah mendengar, siapakah Demang di Kepandak" Kini wajah Senapati itupun menjadi merah. Namun ia masih dapat menahan hatinya. Katanya "Ki Demang. Saat ini Ki Demang baru diliputi oleh kegelapan hati. Kami sadar, bahwa bukan seharusnya kami menjadi gelap pula. Karena itu, kami masih ingin memperingatkan Ki Demang sekali lagi" Ki Demang menggeretakkan giginya, sementara Ki Jagabaya menjadi bingung. Dengan suara gemetar ia berbisik kepada Ki Reksatani "Cobalah. Peringatkan kakakmu yang sedang kehilangan akal itu" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab "Kenapa? Bukankah ia sudah berbuat sebaik-baiknya? Anak itu memang harus ditangkap" "Jadi kau sependapat?" Ki Reksatani mengangguk, tetapi Ki Jagabaya mengumpat di dalam hatinya. -

Jilid 8
DALAM pada itu Ki Demang menjawab "Aku tidak mau mendengar alasan dan bujukan apapun lagi. Aku harus mendapatkan anak itu sekarang. Sudah aku katakan, aku akan mempergunakan kekerasan" Ki Jagabaya yang kecemasan itu bergeser setapak. Tetapi Ki Reksatani sudah mendahului "Tuan, sebaiknya tuan menyerahkan saja anak itu. Apakah sebenarnya keberatan tuan? Bukankah pada saatnya tuan juga akan menyerahkan semuanya?" Kesabaran Senapati itu menjadi semakin menipis pula. Apalagi ketika ia mendengar Reksatani berkata selanjutnya "Tuan harus menyadari bahwa kekuasaan di Kademangan ini ada di tangan kakang Demang meskipun seandainya kakang Demang t idak mempergunakan kekerasan apapun. Kalau tuan mencoba mempersulit penyelesaian berdasarkan kekuasaan itu, maka kakang Demang pasti akan mempergunakan kekerasan. Seperti yang dikatakan oleh kakang Demang, tuan pasti sudah pernah mendengar tentang Demang di Kepandak. Dan kini Demang di Kepandak tidak seorang diri. Ia datang bersama para bebahu dan adiknya, Reksatani. Tuanpun pasti sudah pernah mendengar sebutan Harimau Lapar dari Kepandak, eh, maksudku Macan Kelaparan di daerah Selatan ini. Sedang tuan hanya datang bertiga. Apakah yang sebenarnya dapat tuan lakukan?" Kini wajah Senapati itulah yang menyala. Kesabarannya benar-benar telah terbakar oleh persoalan yang dihadapinya. Meskipun demikian ia masih mencoba menarik nafas dalamdalam, untuk mengatur kata-kata yang kemudian terlontar dari mulutnya "Ki Demang di Kepandak dan para bebahu, serta Ki Reksatani yang perkasa. Aku memang pernah mendengar bahwa di daerah Selatan ini tidak ada orang lain kecuali Ki Demang kakak beradik. Demang di Kepandak adalah seorang yang sakti dan mumpuni dalam olah kanuragan. Selain kekuasaannya sebagai seorang Demang, maka apabila perlu iapun dapat menumbuhkan kekuasaan yang lain berdasarkan atas kemampuannya itu, kemampuan berkelahi. Bukan kemampuan memberi pengertian atas sikap dan pendapatnya kepada orang lain. Sekarang kalianpun akan mencoba memaksakan kekuasaan yang tidak sewajarnya itu karena kalian mempunyai kekuatan. Bukan karena hak kalian untuk berbuat demikian" "Tidak" potong Ki Demang "daerah ini adalah daerah Kademangan Kepandak" "Tetapi setiap orang di dalam pasukanku berada di bawah kekuasaanku. Aku akan mempertanggung jawabkannya. Bahkan kepada Senapati tertinggi di Mataram. Tidak sekedar kepada Demang di Kepandak. Karena itu Ki Demang di Kepandak. Aku tidak akan tunduk kepada kekuasaan siapapun selain kekuasaan Senapati yang lebih tinggi dari padaku. Aku tahu bahwa sepasang harimau dari Selatan ini mempunyai kemampuan yang luar biasa. Tetapi aku adalah salah seorang Senapati yang mendapat kepercayaan dari Sinuhun Sultan Agung untuk ikut memimpin pasukan ke Betawi. Aku pernah mengemban tugas untuk mempertahankan keadilan di Tanah Mataram ini. Sekarang tuan-tuan di Kepandak akan menakutnakuti aku. Maaf Ki Demang. Aku akan mempertahankan sikapku. Seperti setiap orang pernah mendengar nama Demang di Kepandak, maka setiap prajurit Mataram pasti pernah mendengar Gelar Tumenggung Dipanata, pasangan dari Tumenggung Dipajaya yang sayang tidak dapat hadir di dalam permainan ini" Ternyata ketika Senapati itu menyebutkan namanya, dada Ki Demang di Kepandak dan Ki Reksatani menjadi tergetar pula. Nama itupun adalah nama yang sudah terlampau banyak disebut-sebut orang. Meskipun demikian, karena semuanya sudah terlanjur, Ki Demang tidak ingin melangkah surut. Dengan nada yang tajam ia berkata "Siapapun tuan, tetapi aku tetap pada pendirianku. Tuan hanya bertiga. Kami adalah orang-orang dari seluruh Kademangan" "Apa bedanya?" sahut Ki Dipanata "Aku sadari akibat terakhir dari setiap pelaksanaan tugas seorang prajurit. Disinipun aku sedang mempertahankan keadilan. Bukan kesewenang-wenangan" "Pekerjaan tuan akan sia-sia. Tuan akan hilang ditelan oleh Kademangan ini" "Aku mengemban tugas kerajaan. Wewenangku sekarang adalah wewenang Sinuhun Sultan Agung. Siapa yang melawan petugas kerajaan dan yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari Sinuhun Sultan Agung, ia sudah memberontak terhadap pemerintah" Ki Demang terdiam sejenak. Dadanya serasa terguncangguncang semakin dahsyat. Tetapi Ki Reksatani berkata "kamipun sedang menuntut keadilan. Kami tidak akan takut melawan siapapun untuk mempertahankan keadilan itu" "Kami tetap pada pendirian kami" geram Ki Demang kemudian "dan sekali lagi kami peringatkan, tuan akan tenggelam di Kademangan ini. Semua yang ada di sekitar tuan adalah orang-orang dari Kademangan Kepandak selain dua prajurit pengawal tuan itu" Senapati dari Mataram itu sama sekali tidak menundukkan kepalanya. Bahkan matanya menjadi bersinar, dan tidak sesadarnya ia telah meraba senjatanya. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Punta telah mendahuluinya "Ki Demang di Kepandak. Kami dilahirkan dan dibesarkan di Kademangan ini. Kami adalah anak-anak muda, pengawal Kademangan yang setia, yang atas nama Kademangannya pula, kami telah mencoba untuk ikut mempertahankan kehadiran Mataram di muka bumi. Tetapi kami menjadi sangat kecewa melihat peristiwa ini terjadi justru pada saat keringat kami seolah-olah masih belum kering. Kami baru saja menempuh perjalanan yang jauh. Kami telah gagal merebut kembali sebagian dari Tanah kami karena berbagai macam sebab. Terutama karena, pengkhianatan. Kami berjanji di dalam hati kami bahwa akan datang saatnya kami mengusir orang asing itu dari bumi sendiri. Jadi, apakah begini cara Ki Demang menyambut kami" Dada Ki Demang serasa diguncang mendengar kata-kata Punta itu. Kata-kata anak ingusan dari Kademangannya sendiri. Dan ia masih harus mendengarkan anak itu berkata "Maaf Ki Demang. Kami adalah satu. Aku, Pamot dan pengawal-pengawal yang lain. Kalau Ki Demang ingin menangkap Pamot, maka Ki Demang harus menangkap kami semuanya. Kami tidak akan melawan kekerasan dengan kekerasan. Kami justru minta agar kami semuanya saja ditangkap untuk mendapat tuduhan yang sama, sebab kami dapat berbuat kemungkinan yang sama. Kami semua adalah laki-laki muda dan kami semua menganggap Sindangsari adalah gadis yang cantik saat itu, sebelum Ki Demang mengambilnya dengan paksa" "Gila, gila kau. Aku bunuh kau pertama-tama" teriak Ki Demang. Punta sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan kemudian ia berkata kepada Ki Dipanata "Tuan, serahkanlah kami semuanya kepada Ki Demang di Kepandak untuk memberinya kepuasan yang sebesar-besarnya. Ia masih belum puas merampas perempuan itu dari tangan anak-anak muda di Kepandak yang juga mengingininya. Kini ia masih akan berbuat lebih jauh lagi" "Diam, diam, diam" suara Ki Demang semakin keras. Bahkan kudanya telah maju beberapa langkah mendekati Punta. Tetapi Ki Demang itupun terhenti ketika kuda Ki Dipanata menyilang di hadapannya. "Terserahlah apa yang akan dilakukannya nanti Punta" berkata Ki Dipanata. Lalu "Tetapi sebelum aku menyerahkannya, kalian adalah tanggung jawabku. Aku bukan pengecut yang akan lari dari kewajiban. Aku adalah prajurit sejak umurku meningkat dewasa. Kini rambutku sudah mulai ubanan. Apa artinya Demang di Kepandak bagiku. Aku pernah ikut di dalam peperangan besar di daerah Timur dan Barat. Tetapi aku memang belum pernah bertempur di daerah Selatan yang sempit ini" Telinga Ki Demang di Kepandak benar-benar serasa terbakar. Tetapi sebelum ia berbuat sesuatu Ki Jagabaya telah berkata mendahuluinya "Ki Demang. Aku adalah seorang bebahu yang paling setia. Aku selama ini telah membuat diriku sendiri seperti seekor kerbau yang telah dicocok hidungku. Aku tidak pernah membantah semua perintah, meskipun kadang-kadang aku t idak mengerti maknanya. Tetapi kali ini aku tidak ikut campur di dalam pemberontakan ini. Aku tidak dapat melawan kekuasaan Mataram. Kekuasaan yang dilimpahkan dari Sinuhun Sultan Agung. Bukan karena aku silau melihat seorang Tumenggung yang bernama Dipanata, yang pernah bertempur di berbagai medan karena akupun sadar, bahwa akibat yang paling jauh dari perkelahian adalah mati. Kalau seseorang sudah menyingkirkan perasaan takut terhadap mati, maka ia tidak akan takut bertempur di medan yang manapun. Namun sebelum mat i aku masih sempat berpikir. Dan tiba-tiba aku merasa bahwa aku tidak seharusnya melawan kali ini" "Pengecut" Ki Keksatanilah yang berteriak "kau ternyata seorang pengecut" "Mungkin. Mungkin aku seorang pengecut " "Kau akan dihukum gantung karena kau telah berkhianat terhadap kampung halaman" "Sudah aku katakan. Aku tidak takut mati. Tetapi aku t idak melihat bahwa kalian telah berbuat benar kali ini" "Gila, gila" Ki Reksatani hampir tidak dapat menguasai dirinya. Tetapi ketika tangannya telah meraba hulu kerisnya, justru tangan Ki Demanglah yang telah menahannya. Ki Reksatani menjadi termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling ia menjadi sangat terkejut melihat wajah kakaknya. Demang di Kepandak. Wajah itu sama sekali tidak lagi terasa kegarangannya. Bahkan wajah itu menjadi layu seperti selembar daun yang dibakar oleh terik matahari. "Kenapa kau kakang?" Ki Reksatani bertanya. Ki Demang tidak segera menjawab. Tetapi tampak di wajahnya, suatu benturan perasaan telah terjadi di dalam dadanya. "Apakah hati kakang menjadi lemah seperti hati Jagabaya pengecut itu?" Ki Demang tidak segera menyahut. Tetapi tatapan matanya yang buram melontar jauh ke bayangan sinar matahari yang sudah menjadi kemerah-merahan. "Kakang" Ki Reksatani mengguncang-guncang lengan kakaknya, Namun Ki Demang di Kepandak masih tetap berdiam diri. Akhirnya Ki Reksatanipun terdiam. Perlahan-lahan ia mencoba menilai semua yang telah terjadi. Ia memang berusaha menjerumuskan kakaknya untuk melawan Mataram. Meskipun ia ikut terlibat, tetapi ia dapat menghindarkan perbuatan langsung di dalam perkelahian apabila sudah dapat dinyalakannya. Ia dapat surut dan bahkan kalau perlu mengkhianati kakaknya sendiri sebagai suatu alasan untuk mendapat pengamatan dari Mataram dan mendapat kesempatan untuk menggantikan kedudukan kakaknya. Tetapi usahanya itu belum berhasil ketika ia justru tenggelam di dalam arus perasaannya sendiri di luar pertimbangannya. Apakah kemudian ia akan menjadi orang pertama yang berdiri di paling depan di dalam perlawanan ini kalau kakaknya memang mulai bersikap lain. Dengan demikian, usahanya untuk merebut pengakuan dari Mataram akan menjadi terlampau sulit. Karena itu, ketika Ki Demang di Kepandak tidak berbuat apapun juga, Ki Reksatanipun seakan-akan membeku pula. Bahkan tiba-tiba mendahului Ki Demang di Kepandak, ia berkata "Ya, memang sebaiknya kita berpikir untuk kesekian kalinya" Senapati Mataram yang bernama Dipanata itu masih tetap dalam sikapnya. Duduk diam diatas punggung kudanya meskipun ia sudah bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Demikian juga kedua prajurit yang mengawalnya. Tetapi ketika ia mendengar kata-kata Ki Reksatani ia menarik nafas dalam-dalam. Ki Reksatani itupun kemudian berpaling kepada Ki Jagabaya sambil berdesis "Maaf Ki Jagabaya. Aku terlampau kasar karena luapan perasaan selagi hatiku gelap" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Aku mengerti" Namun Ki Demang sendiri masih tetap diam, seakan-akan benar-benar membeku diatas kudanya. Baru sejenak kemudian ia berkata "Aku kira Reksatani benar. Kita harus berpikir lagi sebelum kita bertindak "Lalu kepada Tumenggung Dipanata ia berkata "Maafkan kami tuan. Kami telah terdorong oleh perasaan yang meluap" Tumenggung Dipanata mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia menjawab, Ki Reksatani lelah menyambung "Aku juga minta maaf tuan. Aku sebenarnya telah dicengkam oleh perasaan iba. Aku tidak sampai hati melihat wajah kakang Demang yang selalu bersedih. Ia tidak pernah makan, minum dan apalagi tidur sejak mBok-ayu Sindangsari hilang dari Kademangan" "Aku dapat mengerti" berkata Tumenggung Dipanata "mudah-mudahan kalian benar-benar dapat melihat persoalannya dengan hati yang bening" "Baiklah tuan" berkata Ki Demang "aku akan mencobanya" Lalu ia berpaling kepada Punta "Aku minta maaf kepada kalian. Aku telah mengganggu saat-saat yang barangkali telah kalian nanti-nantikan untuk dapat segera bertemu dengan keluarga" Puntapun justru menundukkan kepalanya. Katanya "Akupun minta maaf pula kepada Ki Demang. Mungkin aku tidak sempat menyaring kata-kataku. Tetapi seperti Ki Demang aku dan kawan-kawanpun agaknya sedang berpikir keruh. Kami telah kehilangan beberapa kawan-kawan kami di perjalanan, seperti Ki Demang kehilangan isteri Ki Demang itu di Kademangan" Hati Ki Demang menjadi semakin pedih. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata "Seharusnya aku menyambut kalian sebagai prajurit yang datang dari medan perang. Apapun yang sudah terjadi di peperangan, berhasil atau tidak berhasil, tetapi kalian sudah berjuang. Perjuangan yang seharusnya kami lanjutkan kapan saja kesempatan terbuka di hadapan kami" "Agaknya kita sudah dapat mendekatkan hati kita" berkata Tumenggung Dipanata. "Marilah tuan" berkata Ki Demang "aku persilahkan tuan dan anak-anak kami. Kami akan menerima anak-anak kami dengan sepenuh hati" "Atas nama. Senapati tertinggi dari pasukan Mataram yang telah mencoba membersihkan tanah ini, kami mengucapkan terima kasih" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sejenak di pandangmya wajah Pamot yang agak kepucat-pucatan. Dan agaknya bukan Pamot saja yang menjadi pucat, tetapi hampir semuanya. Wajah-wajah itu menjadi merah oleh ketegangan yang mencengkam sesaat. Tetapi kini wajah-wajah itu telah menjadi pucat kembali. Demikianlah, maka Ki Demangpun kemudian kembali ke Kademangan dengan kepala tunduk di samping Ki Tumenggung Dipanata. Berbagai macam persoalan telah bergolak di dalam hatinya. Tiba-tiba saja Ki Demang merasa hidupnya menjadi sangat sepi. Ia kini merasa, dimana ia sebenarnya berdiri. Di dalam keadaan yang memaksa ia dapat melihat, bagaimanakah sebenarnya pendapat orang tentang dirinya. Ki Demang itu merasa dirinya seakan-akan terlempar ke dalam sebuah ruang yang kosong, sepi. Sepi sekali. Satu-satu orang di sekitarnya pergi meninggalkannya. Isterinya, anakanak muda kebanggaannya, Ki Jagabaya yang setia dan mungkin seisi Kademangannya. Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang semua persoalan yang dihadapinya. Kini, yang tetap berdiri teguh di belakangnya tanpa menilai baik dan buruk, benar atau salah, tinggallah adiknya, Ki Reksatani. "Ia adalah seorang adik yang baik" desis Ki Demang di dalam hatinya "ia tidak mempersoalkan apakah yang aku lakukan dan siapakah yang dihadapinya. Ia adalah saudara laki-laki yang dapat dibanggakan" Ki Demang sekali lagi menarik nafas "Sayang, bahwa ia terseret dalam persoalan ini. Persoalan yang tidak menguntungkannya. Untunglah bahwa benturan ini belum terlanjur. Jika demikian, maka Kademangan di Kepandak mungkin akan diambil oleh Mataram, karena kami disini dianggap memberontak. Kini} masih ada kesempatan bagi kami disini. Kalau aku tidak mungkin lagi dapat duduk diatas jabatanku karena kekosongan di dalam diriku sendiri, maka aku dapat menuntut agar Keksatanilah yang menggantikan aku. Aku juga tidak mempunyai seorang keturunanpun. Aku harus menumpang pada keturunan Reksatani kelak. Merekalah yang berhak atas Kademangan ini di masa mendatang" Dan Ki Demang itu merasa, bahwa waktu itu sudah menjadi semakin dekat. Agaknya ia tidak boleh bertahan lagi terlampau lama pada kedudukannya yang sekarang. "Kalau ternyata bahwa keterangan Senapati dan anak-anak Gemulung itu benar, bahwa Pamot tidak pernah berhubungan dan apalagi mengambil Sindangsari, maka aku akan meninggalkan Kademangan ini. Aku pasti tidak akan kembali sebelum aku menemukan Sindangsari, dan sudah tentu aku harus menyerahkan semua kewajibanku kepada Reksatani" Ki Demang di Kepandak hampir t idak mendengarnya ketika Ki Tumenggung Dipanata bertanya kepadanya "Apakah Ki Demang sudah berusaha sepenuhnya untuk mencari Nyai Demang?" Ki Demang mengangkat kepalanya yang tertunduk. Di tatapnya Tumenggung Dipanata itu sejenak. Kemudian jawabnya "Sudah aku katakan. Semua rumah di Kademangan Kepandak sudah dimasuki, tetapi aku tidak menemukannya. Hari ini aku menemui setiap pemimpin dan tetua padukuhan, kecuali dua padukuhan di ujung Timur yang belum sempat aku datangi. Mereka harus membantu mencari isteriku. Aku minta mereka menolongku, tetapi aku juga mengancam mereka. Aku mempergunakan kekuasaan, kedudukan dan sekaligus kemampuanku sebagai seorang yang pilih tanding di daerah Selatan ini. Kalau aku tidak menemukannya di daerah Kademangan ini, aku akan masuk ke Kademangan tetangga, Mudah-mudahan tidak menumbuhkan salah paham, tetapi seandainya demikian apaboleh buat" Senapati dari Mataram itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Para pengawal yang baru datang itu akan membantu dengan senang hati. Tetapi ketenangan di daerah Selatan ini harus tetap dipelihara" "Semula aku tidak menghiraukan ketenangan itu sahut Ki Demang "Hatiku benar-benar gelap. Tetapi sekarang aku sudah berpendirian lain" Ki Tumenggung Dipanata mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak dipandanginya wajah Ki Demang di Kepandak. Kemudian katanya "Agaknya Ki Demang telah menemukan sikap yang lebih mapan" Ki Demang mengangguk-angguk "Ya" katanya ternyata tindakan yang tergesa-gesa itu tidak akan menguntungkan" "Lalu apakah yang akan kau lakukan?" "Aku tidak akan mencari isteriku dengan cara itu. Seperti sepasukan prajurit yang maju ke medan perang" Ki Tumenggung Dipanata tidak segera menyahut, sedang Ki Demang berkata selanjutnya "Aku akan pergi seorang diri, sebagai seorang laki-laki yang kehilangan isterinya" "Maksud Ki Demang" "Aku akan mengembara sampai aku menemukan isteriku. Aku kira aku memerlukan waktu" "Lalu Kademangan di Kepandak?" "Masih ada Reksatani. Ia berhak atas Kademangan ini seperti aku apabila aku berhalangan. Kami berdua adalah saudara laki-laki yang sering disebut uger-uger lawang" Ki Dipanata menganguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak membantah niat itu. Ia sadar, bahwa hati Ki Demang masih belum terang benar. Mungkin Ki Demang masih memerlukan dua tiga hari untuk dapat berpikir bening. Demikianlah maka iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin mendekati pusat Kademangan di Kepandak. Beberapa orang yang ada di sawah dan di pinggir-pinggir desa melihat pasukan yang lewat itu dengan mulut ternganga-nganga. Baru sejenak kemudian mereka berdesis diantara mereka "He, bukankah itu anak-anak kepandak?" "Ya, bukankah itu anak-anak Kepandak?" Sejenak kemudian meledaklah berita tentang kedatangan anak-anak di Kepandak. Anak-anak berlari-larian mengikut i iring-iringan berkuda itu. Beberapa diantara mereka berteriak-teriak menyebut nama kakaknya yang ada di antara pasukan yang baru datang. Tetapi seorang anak perempuan menjadi berdebar-debar. Ia menatap hampir semua wajah anak-anak muda yang lewat di depannya, di jalan padukuhan. Tetapi ia tidak melihat wajah kakaknya. Kakak yang dikasihinya. Tanpa sesadarnya anak itu mengusap kepala golek kayu yang dibuat oleh kakaknya itu ketika ia akan berangkat meninggalkan keluarganya. "Simpan golek ini baik-baik denok" pesan kakaknya itu "besok kalau kakak kembali, kakak membawa sehelai kain buatan Parangakik untuk golek ini" "Tetapi kakang tidak ada diantara mereka" desis anak perempuan itu. Ketika ia t idak dapat menahan perasaannya lagi, maka ia bertanya kepada seorang anak muda yang dikenalnya, yang berkuda di paling belakang "Apakah kau tidak datang bersama kakang?" Anak muda yang berkuda di paling belakang itu berpaling. Dipandanginya wajah anak perempuan itu. Hampir saja ia menjawab pertanyaannya, tetapi tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Gadis kecil itu tidak tahu apa yang terloncat di dalam angan-angan anak muda itu. Tanpa sesadarnya ia mengikut inya di sisi kudanya sambil sekali lagi bertanya "Apakah kau datang bersama kakang?" Anak muda itu menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak berani mengucapkan jawabannya. Gadis kecil itu akhirnya berhenti. Dipandanginya iringiringan yang seakan-akan semakin lama menjadi semakin panjang. Anak-anak kecil dan bahkan anak-anak tanggung mengikut inya di belakang sambung bersambung. Tetapi gadis kecil itu terhenti di tempatnya. Perlahan-lahan tangannya yang kecil membelai golek kayunya yang masih telanjang. Ia menunggu kakaknya datang membawa kain dari Parangakik atau Kuta Inten. Tetapi kakaknya tidak terdapat diantara anak-anak muda yang datang itu. "Apakah kakang tidak pulang" desisnya. Sebutir air mata yang bening menitik di pipinya. Gadis itu terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang kakaknya yang lain berdiri di belakangnya. "Kakang, apakah kakang Ireng t idak datang bersama kawan-kawannya itu?" ia bertanya. Kakaknya tidak menjawab. Dibimbingnya tangan adiknya sambil berkata "Biyung mencarimu. Marilah kita pulang " "Tetapi bagaimana dengan kakang Ireng? "Biarlah ayah nanti bertanya kepada prajurit itu? "Yang manakah prajurit itu?" "Yang berkuda paling depan di samping Ki Demang" "Apakah prajurit sering membunuh orang?" "Tidak. Tidak. Prajurit tidak membunuh orang. Prajurit harus melindungi kita semua dari bahaya" Gadis kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya "Kakang akan membawa kain dari Parangakik atau dari Kuta Inten. Tetapi kakang belum pulang" "Besok aku cari kain dari Parang Akik atau dari Kuta Inten" Tetapi anak perempuan itu menggeleng "Tidak kakang. Nanti kau juga tidak kembali seperti kakang Ireng. Aku tidak mempunyai lagi kawan bermain. Tidak ada lagi yang membuat golek kayu dan bandulan. Kakaknya mengangguk-anggukkan kepalanya "Marilah. Biyung sudah menunggu. Bukankah kau belum makan?" "Aku tidak makan kakang" "Kenapa? Kau akan lapar" "Biarlah disediakan untuk kakang Ireng, kalau tiba-tiba saja ia pulang malam nanti" "Sudah. Kakang Ireng sudah mendapat bagiannya sendiri. Biyung sudah menyediakan buatnya" Gadis kecil itu tidak menjawab. Di tatapnya mata kakaknya yang tiba-tiba saja menjadi buram. Tetapi kakaknya itu kemudian membimbingnya di sepanjang jalan padukuhan, pulang kepada ibunya. Dalam pada itu, iring-iringan anak-anak muda Kepandak itu sudah memasuki induk padukuhan dari Kademangan Kepandak. Sejenak kemudian merekapun telah menyelusuri jalan yang membelah padukuhan itu langsung menuju ke Kademangan. Berita kedatangan anak-anak muda itu telah tersebar di seluruh Kademangan, secepat kalimat yang berloncatan dari mulut ke mulut. Orang-orang yang berada di sawah segera pulang menyimpan alat-alatnya. Setelah membersihkan kakinya yang kotor oleh lumpur, mereka yang merasa mempunyai salah seorang anggauta keluarganya ikut di dalam pasukan pengawal khusus yang dikirim ke Mataram itupun segera pergi ke Kademangan. Bahkan mereka yang tidak mempunyai seorang keluargapun ingin juga melihat, siapakah yang telah berhasil pulang kembali ke kampung halaman. Anak-anak mudapun berlari-larian ke halaman Kademangan. Mereka ingin menyambut kawan-kawan mereka yang baru pulang dari arena perjuangan meskipun kali ini mereka belum berhasil. Lamat yang duduk di belakang rumah Manguripun telah mendengar pula berita itu. Anak muda yang berlari-larian di jalan sebelah dinding berkata "Mereka telah kembali" "Kapan?" bertanya yang lain dari halaman rumah sebelah. "Baru saja" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia t idak tahu, siapa saja yang ikut di dalam barisan, dan siapa saja yang telah gugur di dalam perjuangan. Sejenak terbayang olehnya wajah Pamot yang suram. Kemudian terbayang wajah Sindangsari dan Ki Demang di Kepandak. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hatinya "Persoalan di dalam kepalaku benar-benar persoalan yang sangat pelik. Kenapa tidak terbayang betapa dahsyatnya perjuangan untuk mengatasi segala macam kesulitan yang timbul karena pengkhianatan itu? Perjuangan melawan orangorang asing yang ganas dan perjuangan menghadapi diri sendiri, menghadapi pengkhianat-pengkhianat" Lamat menarik nafas dalam-dalam "Aku belum pernah melihat perjuangan sedahsyat itu. Aku baru melihat perjuangan untuk merebut seorang perempuan di halaman Kademangan. Aku baru melihat perjuangan untuk merebut kedudukan seorang Demang di Kepandak. Lamat menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia terkejut ketika dari kejauhan ia mendengar Manguri berteriak "Lamat kemari kau" Dengan malasnya Lamat berdiri dan berjalan ke gandok. Tetapi ia tidak menemui Manguri disitu. Agaknya ia telah pergi ke pringgitan. Dari pringgitan ia berteriak "Aku disini. Apakah kau sedang tidur atau sudah mati sama sekali?" Lamatpun pergi ke pringgitan pula. Dengan wajah yang tegang Manguri berkata. "Aku harus, menunggumu sampai tua. Apakah kau tidak mendengar?" Lamat t idak menjawab. "Duduklah" Lamatpun kemudian duduk diatas tikar pandan. Sekali di tatapnya wajah Manguri yang tegang. Namun kemudian iapun menundukkan wajahnya. "Dimana kau selama ini?" bertanya Manguri. "Aku berada di belakang, di sisi dapur" Manguri memandanginya dengan tajam, seolah-olah ia tidak sabar lagi menunggu Lamat datang kepadanya. "Apakah kau sudah mendengar berita tentang anak yang pergi ke Mataram itu?" Lamat menganggukkan kepalanya "Ya, aku sudah mendengar" Dari mana kau mendengarnya?" "Anak anak yang lewat di jalan sebelah saling berbicara tentang anak-anak yang telah kembali itu" "Kau bertanya kepada mereka?" Lamat menggelengkan kepalanya "Tidak. Aku tidak bertanya kepada mereka" "Kenapa?" Lamat t idak segera menjawab. "Kenapa?" Manguri berteriak. "Mereka bersikap kurang baik kepada kita. Aku segan untuk berbicara dengan anak-anak itu" Manguri menggeram. Namun kemudian ia berkata "Aku juga sudah mendengar. Anak-anak itu sudah kembali, termasuk Pamot " Lamat mengangkat wajahnya "Jadi Pamot juga sudah kembali?" "Ternyata ia tidak mati di perjalanannya. Ia sempat kembali dan melihat Sindangsari hilang" Lamat kini menjadi tegang pula tanpa diketahuinya sendiri, apakah sebabnya. Ia tidak takut kepada Pamot. Ia tidak membenci Pamot dan ia t idak begitu berkepentingan. Seandainya Pamot marah karena Sindangsari hilang, maka persoalannya akan berkisar pada Ki Demang di Kepandak. Bahkan mungkin mereka akan saling tuduh menuduh sehingga keduanya akan berbenturan. Sudah tentu Pamot tidak akan berarti apa-apa bagi Ki Demang di Kepandak. "Aku pasti tidak akan tersentuh oleh persoalan ini. Apalagi Pamot, sedang Ki Demang di Kepandakpun t idak tahu, bahwa aku telah terlibat di dalam persoalan hilangnya Sindangsari ini" berkata Lamat di dalamhatinya. Namun ia tidak dapat lari dari perasaan sendiri. Ia merasa berdebar-debar dan dikejar-kejar oleh kecemasan yang tidak dimengertinya sendiri. "Lamat" berkata Manguri kemudian "apa katamu tentang Pamot yang telah kembali itu?" Seperti yang mendesak di hatinya, maka seakan-akan tidak berpikir lagi Lamat menyahut "Mungkin akan terjadi sesuatu karena kedatangannya" "Apa? Apakah anak itu akan menuduh kita?" "Mungkin. Tetapi bukankah mereka tidak dapat membuktikan?" "Bagaimana menurut pertimbanganmu?" Tiba-tiba Manguri membentak "Akulah yang bertanya kepadamu" "Ya, ya. Mungkin karena perasaan cintanya, Pamot akan ikut serta merasa kehilangan. Memang mungkin ia akan ikut mencari perempuan itu. Tetapi bukankah ia dapat melibatkan kita seperti Ki Demang juga tidak berhasil menyeret kita di dalam persoalan ini?" "Jawablah dengan tegas. Dengan pasti. Kau sendiri tidak yakin akan jawabanmu. Nada kata-katamu sangat meragukan" "Maksudku, Pamot tidak akan dapat membuktikan bahwa kita terlibat di dalam persoalan ini. Ya, begitulah. Kita tidak usah cemas, siapapun yang akan ikut serta mencari Sindangsari" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Aku mengharap suruhan ayah akan datang malam ini. Aku harus segera tahu dimana perempuan itu disembunyikan" "Ya, Aku kira malam ini suruhan itu pasti akan datang. Waktunya sudah cukup lama. Tetapi sebaiknya ia tidak datang terlampau malamsupaya tidak menumbuhkan kecurigaan" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya iapun kemudian berjalan hilir mudik dengan gelisahnya. "Ya, suruhan ayah tidak boleh datang pada waktu yang dapat menumbuhkan kecurigaan" Lamat tidak menyahut. Di biarkan saja Manguri berjalan hilir mudik sambil sekali-sekali mengusap keringat dinginnya. Dalam pada itu, maka senjapun perlahan-lahan turun menyelimuti Kademangan di Kepandak. Di halaman rumah Ki Demang, sepasukan anak-anak muda Kepandak berbaris rampak diatas punggung kuda. Di paling depan, adalah Ki Tumenggung Dipanata diapit oleh kedua pengawalnya. Di hadapan mereka adalah Ki Demang di Kepandak yang kebetulan memang duduk pula diatas punggung kuda. Di sampingnya para bebahu Kademangan dan Ki Reksatani yang duduk diatas kudanya pula. Di belakang mereka adalah para bebahu yang lain, para pengawal Kademangan dan rakyat Kepandak yang tidak sabar menyambut anak-anak mereka yang baru saja kembali. Di hadapan Ki Demang di Kepandak Ki Tumenggung Dipanata menceriterakan segala sesuatu mengenai anak-anak muda dari Kepandak. Ia sengaja berkata lantang, agar rakyat di Kepandak dapat mendengar langsung dari mulutnya, apa yang sebenarnya telah terjadi di perjalanan. Dengan demikian maka mereka akan dapat menggambarkan betapa berat perjuangan anak-anak Kepandak itu selama mereka menunaikan tugas negara. Tugas yang merupakan tanggung jawab bagi setiap orang yang lahir di bumi Mataram, yang minum sumber air Tanah Mataram, dan yang makan hasil bumi Tanah Mataram. "Kami sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari kemungkinan yang pahit" berkata Ki Tumenggung Dipanata "Jer Basuki Mawa Bea. Karena itulah maka ada diantara anakanak kami yang kini tidak dapat pulang bersama-sama dengan kami" Wajah-wajahpun segera menjadi tegang. Apalagi mereka yang tidak dapat melihat anak-anak mereka, suami-suami mereka yang belum lama mengikat perkawinan, adik-adik mereka dan kekasih-kekasih mereka. Sejenak Ki Dipanata terdiam. Iapun melihat, diantara wajah-wajah orang Kepandak, adalah wajah-wajah yang kecemasan. Dan merekapun harus menerima suatu kenyataan, bahwa ada diantara anak-anak Kepandak yang memang tidak kembali dan tidak akan pernah kembali. Akhirnya Ki Tumenggung Dipanata berkata "Aku kira, aku memang lebih baik berterus terang. Aku tidak ingin menyangkutkan harapan pada hati yang gelisah. Apalagi harapan yang tidak akan pernah datang" Ki Tumenggung berhenti sejenak, lalu "Memang ada diantara anak-anak kami yang gugur di peperangan atau karena sebab-sebab lain. Tetapi semuanya itu merupakan korban bagi perjuangan yang agaknya masih panjang" Wajah-wajah orang Kepandakpun menjadi semakin tegang. Bahkan mereka yang telah melihat keluarga mereka di antara anak-anak muda yang datang, menjadi berdebar-debar pula. Ki Tumenggung Dipanatapun kemudian menyebutkan nama-nama dari mereka yang tidak dapat kembali. Di antara yang berangkat, seperempat yang tidak dapat melihat kampung halamannya kembali. Halaman Kademangan itu menjadi hening sejenak. Tidak seorangpun yang mengucapkan kata-kata ketika' Ki Tumenggung Dipanata menyebutkan nama-nama itu. Namun sejenak kemudian meledaklah tangis diantara mereka. Ibuibu, isteri-isteri yang masih muda, saudara kandung dan kekasih-kekasih yang menjadi pasti bahwa yang mereka tunggu tidak akan pulang tidak dapat menahan air mata mereka. Mereka telah kehilangan yang mereka kasihi. Anak yang dipelihara sejak bayi, hilang ketika ia meningkat dewasa. Anak-anak yang masih sangat muda harus sudah meninggalkan hijaunya dedaunan dan beningnya air sumur di Kepandak. "Mereka telah mat i" desis seorang perempuan tua. Dan tiba-tiba seorang perempuan muda meloncat maju sambil menyingsingkan kainnya. Dengan air mata yang membanjir ia berlari mendekati Tumenggung Dipanata. Sambil menunjuk dengan jarinya ia berteriak "Kau, kau adalah pembunuh. Kau jerumuskan suamiku itu ke dalam neraka yang paling jahat. Sekarang ia mati, sedang aku lagi mengandung. Siapakah yang akan dapat menunjukkan kepada anak ini, betapa wajah ayahnya yang sejuk. Suamiku kau bunuh sebelum ia memeluk bayinya" Ki Tumenggung Dipanata mengerutkan keningnya. "Sekarang kau tanpa perasaan apapun menyebut namanama orang yang telah kau jerumuskan ke dalam kematian itu. Kenapa bukan kau sendiri yang mati? Kenapa?" Ki Tumenggung Dipanata masih tetap berdiam diri, sementara suasana menjadi semakin tegang. Ki Reksatani yang memang sedang berhati gelap, meloncat turun dari kudanya sambil berkata "He, perempuan bodoh. Bukan kau sendiri yang kehilangan. Kau harus rela suamimu mati. Bukan Ki Tumenggung Dipanatalah yang membunuhnya. Tetapi peperangan. Peperangan itu sendirilah yang telah membunuh, bukan saja suamimu, tetapi berpuluh-puluh orang yang lain, bahkan beratus-ratus" "Tetapi prajurit itulah yang telah menjerumuskan suamiku ke dalam peperangan. Ialah yang pantas mati. Ia seorang prajurit. Bukan suamiku, bukan suamiku" Perempuan itu berteriak-teriak sambil menunjuk wajah Ki Tumenggung Dipanata. "Pergi, pergi kau" teriak Ki Reksatani sambil melangkah mendekatinya. Wajahnya menjadi merah padam dan giginya gemeretak. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia mendengar Ki Tumenggung Dipanata berkata "Biarlah. Biarlah ia mencurahkan isi hatinya. Kita dapat membayangkannya, betapa sakitnya seseorang yang kehilangan" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandang wajah Ki Demang. Tetapi wajah itu tertunduk dalam-dalam. Sedang Ki Tumenggung masih melanjutkannya "Dan perempuan ini telah kehilangan suaminya. Tanpa harapan untuk dapat menemukan kembali" Suasana di halaman itu menjadi hening. Ki Jagabayapun telah turun dari kudanya. Perlahan-lahan ia melangkah maju mendekati perempuan yang sedang menangis itu. Perempuan itu adalah kemanakannya. "Sudahlah" berkata Ki Jagabaya "jangan menangis lagi. Kita tidak dapat menuntut atas kematian seseorang, karena hidup dan mati itu bukan terletak di tangan kita. Dimanapun kita dapat dijemput oleh maut. Di rumah, di sawah, disungai dan bahkan selagi kita tidur sekalipun. Apalagi suamimu sedang berada di peperangan" "Kenapa suamiku dibawa ke peperangan paman?" bertanya perempuan itu. "Bukan suamimu sendiri yang dibawa kepeperangan. Seperti kau mempertahankan milikmu sendiri, maka suamimu telah mempertahankan miliknya pula. Milik kita semua. Dan karena itu, maka anak-anak muda kita sudah berangkat. Tetapi hidup dan mati bukanlah kita yang menentukan" Perempuan itu masih menangis. Tetapi Ki Jagabaya kemudian membimbingnya menepi. Diserahkannya perempuan itu kepada seorang perempuan tua tetangganya. "Apakah mertuanya tidak datang?" ia bertanya kepada perempuan tua itu. Perempuan tua itu menggeleng. "Kenapa?" "Ia takut mengalami kejutan seperti ini. Ia sedang mencoba mengatur perasaannya, karena ia mendengar dari anak-anak yang melihat iring-iringan ini, bahwa anaknya tidak ada di antara mereka" Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun kembali ke samping kudanya. Tetapi ia tidak meloncat naik, sementara Ki Reksatanipun masih juga berdiri di samping kudanya pula. "Kita tidak dapat mengingkari perasaan itu" berkata Ki Tumenggung Dipanata "bukankah di dalam hati kita masingmasing juga melonjak perasaan yang serupa, meskipun dalam ukuran yang berbeda? Kita masih sempat mempertimbangkannya dengan nalar, tetapi agaknya perempuan itu tidak" Suasana di halaman Kademangan itu menjadi hening. Sekali-sekali mereka masih mendengar isak yang semakin menjauh Perempuan yang kehilangan suaminya itu telah dibimbing oleh tetangganya meninggalkan halaman Kademangan. "Sudahlah" perempuan tua itu mencoba meredakan tangisnya "berdoalah kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, agar bayimu yang hampir lahir itu mendapat perlindungannya" "Tetapi ia tidak akan pernah melihat ayahnya" "Kita memang tidak dapat ingkar dari keharusan yang telah tergores di sepanjang perjalanan hidup kita masing-masing. Percayalah kepada kebesaran Tuhan. Pasti bukan maksudnya untuk sekedar menyiksa perasaan kita tanpa arti. Memang mungkin sekali akal dan nalar kita yang picik tidak akan pernah dapat mengerti isyarat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita masing-masing" Perempuan itu tidak menyahut. Tetapi ia masih menangis dan suara isaknya telah menyelusuri jalan-jalan di padukuhan Kepandak. Di halaman Kademangan Ki Tumenggung Dipanata masih memberikan beberapa petunjuk dan penjelasan. Dengan hati yang tersayat ia menyaksikan wajah-wajah yang pucat dan mata yang basah. Akhirnya Ki Tumenggung Dipanata itu berkata kepada Ki Demang di Kepandak "Ki Demang. Aku menyesal sekali bahwa aku tidak dapat menyerahkan kembali anak-anak muda Kepandak sejumlah yang pernah kalian serahkan kepada Mataram. Tetapi seluruh Mataram tidak akan pernah melupakan perjuangan mereka. Mungkin para pemimpin dikemudian hari sama sekali t idak mengenal dan tidak pernah mendengar nama-nama anak-anak muda yang telah gugur, tetapi jasa yang pernah diberikan tidak akan dapat terhapus, walaupun tidak seorangpun yang akan menyebutnya lagi. Darah yang pernah menitik di bumi Tanah Air akan tetap seperti yang pernah terjadi. Diakui atau tidak diakui orangorang yang akan datang kelak" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Cahaya senja yang merah mulai membayang di langit, sehingga wajah-wajah mereka yang berada di halaman Kademangan itupun menjadi kemerah-merahan pula. Namun dalam pada itu, hati Ki Demang sendiri justru perlahan mulai mengendap. Seolah-olah ia mendapatkan beberapa orang kawan sepenanggungan. Beberapa orang yang telah kehilangan seperti dirinya sendiri. Bahkan mereka dapat menyebut diri mereka, keluarga seorang pahlawan. Ki Demang di Kepandak menundukkan kepalanya. Kini baru terasa, bahwa ia telah terdorong oleh perasaannya tanpa pertimbangan nalar yang bening. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Dipanata seorang perwira yang bertanggung jawab. Kalau tidak, seandainya saja ia menyerahkan Pamot kepadanya selagi hatinya gelap, ia tidak dapat membayangkan, apa yang telah dilakukannya. Ia pasti berusaha untuk memeras anak itu agar ia mengakui, bahwa ia telah mengambil Sindangsari. Benar atau tidak benar. Kalau ia sudah mengucapkan pengakuan, meskipun terpaksa, maka pengakuan itu akan menjadi alasan untuk berbuat apa saja atasnya lebih jauh lagi. "Nah" berkata Ki Tumenggung Dipanata kemudian "terimalah anak-anak kalian kembali. Aku masih akan sering datang ke Kademangan ini karena tugasku belum selesai. Anak-anak yang tidak dapat kembali kepada keluarganya, akan sekedar mendapat pernyataan terima kasih dari Sinuhun Sultan Agung. Mereka akan mendapat sebidang tanah yang akan diserahkan kepada keluarganya. Tanah yang akan dibeli oleh Sinuhun Sultan Agung di daerah mereka masing-masing" Ki Demang mengangkat wajahnya. Dengan kata-kata yang dalam ia menerima anak-anak muda di Kepandak kembali ke rumah masing-masing, meskipun tidak sebanyak pada saat mereka berangkat. Setelah penyerahan itu selesai maka anak-anak muda yang baru saja kembali itupun kemudian diperkenankan pulang. Mereka mendapat hadiah masing-masing seekor kuda, Kuda yang cukup baik bagi anak-anak di Kepandak. Namun dalam pada itu, Pamot masih termangu-mangu di luar regol halaman. Betapa ia ingin segera pulang, tetapi rasarasanya sesuatu telah membebani hatinya. "Marilah Pamot" ajak ayahnya yang menjemputnya di halaman itu pula. "Silahkan ayah pulang dahulu. Aku akan segera menyusul" "Seisi rumah menunggumu Pamot" "Ya, ya ayah. Aku tahu. Aku akan segera pulang. Tetapi aku akan menunggu dahulu. Aku persilahkan ayah mendahului" Ayahnya menjadi berdebar-debar. Teringat olehnya beberapa saat yang lampau, beberapa orang telah mencari anaknya yang saat itu belumdatang. "Apakah ada sesuatu yang penting?" ia bertanya "Silahkan ayah mendahului" berkata Pamot kemudian "aku akan segera menyusul" Ayahnya tidak dapat memaksanya. Karena itu, maka ditinggalkannya Pamot di depan regol dengan hatinya yang berat. Bahkan langkahnyapun kadang-kadang tertegun. Ketika ia berpaling, dilihatnya Punta telah berada di samping anaknya. "Kau tidak pulang" bertanya Punta. "Hatiku serasa dibebani oleh sesuatu. Aku akan menghadap Ki Demang di Kepandak. Barangkali hal itu akan menjadi lebih baik bagiku daripada aku harus menunggu ia mengambilku di rumah. Apalagi dengan paksa" Punta menarik nafas dalam-dalam. Ia masih melihat Ki Tumenggung Dipanata dijamu dipandapa. "Apakah kau akan menghadap sekarang?" bertanya Punta. Pamot mengangguk. "Marilah. Aku antar kau menghadap Ki Demang, mumpung Ki Tumenggung masih ada" "Apakah kau tidak segera pulang?" "Aku menunggumu sebentar. Aku akan mempersilahkan ayah mendahului" "Ayahku juga sudah dahulu pulang" Punta yang mempersalahkan ayahnya mendahului, kemudian mengantarkan Pamot masuk kembali ke halaman Kademangan Kepandak. Meskipun mereka agak ragu-ragu, namun merekapun kemudian meloncat turun dari punggung kuda mereka, dan mengikat kuda itu di halaman. Di pendapa Kademangan, Ki Demang di Kepandak yang sedang menjamu Ki Tumenggung Dipanata bersama para bebahu Kademangan menjadi heran melihat Pamot dan Punta yang tidak segera pulang dan justru kembali ke pendapa. Berbeda dengan nafsu Ki Demang yang meluap-luap untuk menangkap Pamot ketika ia baru datang, kini ia justru menjadi berdebar-debar melihat Pamot kembali. Meskipun ia belum melakukan tuduhan apapun yang ditekankannya kepada anak muda itu, tetapi rasa-rasanya Pamot akan mengajukan keberatannya atas tuduhan itu. Karena itu, maka justru Ki Demang seakan-akan telah terbungkam karenanya. Hanya perasaannya sajalah yang bergolak di dalam dadanya. Yang mula-mula bertanya kepada Pamot justru adalah Ki Tumenggung Dipanata "Kenapa kau kembali lagi Pamot?" Pamot masih berdiri di bawah tangga pendapa bersama Punta. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia menjawab "Tuan, aku menjadi bimbang untuk meninggalkan Kademangan. Terasa sesuatu telah memberati langkahku. Aku ingin pulang dengan tenang dan dapat berist irahat dengan tenang pula" "Kenapa kau menjadi gelisah. Kau sudah dapat pulang sekarang. Pulanglah. Tidak ada persoalan lagi yang perlu kau gelisahkan" "Tetapi rasa-rasanya aku tidak akan dapat tidur. Setiap saat aku dapat diambil dari rumahku. Karena itu, aku ingin semuanya menjadi jernih dahulu. Dengan demikian aku akan dapat pulang dengan tenang. Punta akan menjadi saksi dari semua persoalanku" "Kau memang bodoh" Ki Reksatanilah yang menyahut "kau sudah mendapat kesempatan pulang. Sekarang kau menantang kakang Demang. Apakah kau sangka bahwa setelah kau pulang dari perjuanganmu itu kau menjadi kebal?" "Bukan begitu Ki Reksatani" jawab Pamot "aku hanya ingin, bahwa aku dapat pulang dan beristirahat dengan tenang, Aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa aku t idak akan terganggu lagi karenanya" "Itu tidak mungkin. Selama persoalan mBok-Ayu Demang di Kepandak belum selesai, kemungkinan yang demikian masih ada" sahut Ki Reksatani pula "kami masih tetap mencurigai kau, sebelum kau benar-benar dapat membuktikan bahwa kau tidak bersalah" "Nah, yang aku inginkan, biarlah hal-hal yang demikian itu menjadi jernih sama sekali" "Kalau begitu kau ingin aku tangkap he?" bentak Ki Reksatani "atau kau ingin memanfaatkan kehadiran Ki Tumenggung Dipanata, agar kau mendapat Perlindungannya?" "Ki Reksatani agaknya menjadi salah paham" berkata Punta lambat "bukan maksudnya menantang persoalan. Tetapi justru karena ia merasa terganggu oleh persoalan itu, ia ingin mencoba untuk mendapat penyelesaian sehingga ia benarbenar dapat pulang dengan hati tenteram" "Persetan kau" bentak Ki Reksatani "kau tidak tahu apapun tentang persoalan ini" Ki Tumenggung Dipanata mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak senang melihat sikap Ki Reksatani sejak ia bertemu di jalan. Tetapi karena Ki Reksatani adalah adik KiDemang di Kepandak, maka Senapati Mataram itu masih mencoba menahan hatinya. Ki Demang yang selama itu hanya berdiam diri saja, kemudian mengangkat wajahnya sambil menarik nafas dalamdalam. Kemudian katanya "Sudahlah Reksatani, biarlah aku menyelesaikannya" "Sekarang?" bertanya adiknya. "Ya. Sekarang" Ki Reksatani menjadi heran. Bahkan orang-orang lain yang ada di pendapa itupun menjadi heran pula. "Pamot " berkata Ki Demang "kemarilah, dan duduklah bersama kami sebentar. Aku tahu, seluruh keluargamu menunggu kedatanganmu" Pamot ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun naik ke pendapa diikuti oleh Punta. Sejenak kemudian kedua anak-anak muda itu telah duduk sambil menundukkan kepalanya. "Pamot " berkata Ki Demang dengan nada suara yang dalam. Sama sekali t idak lagi terbayang di dalam getaran suaranya, nafsu yang menyala di dadanya untuk memaksa anak itu mengatakan sesuatu tentang Sindangsari "Sebelum kau datang, aku memang menyimpan kecurigaan atasmu. Apalagi setelah aku mendengar bahwa kau telah berada beberapa hari di Mataram. Dan kini aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau telah mengambil Sindangsari dari Kademangan ini?" Pamot mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa begitu tiba-tiba Ki Demang bertanya kepadanya di hadapan sekian banyak orang termasuk Ki Tumenggung Dipanata. "Cobalah, jawablah pertanyaanku itu Pamot?" "Sejak aku datang Ki Demang, aku sama sekali tidak boleh keluar dari barak, dan akupun mematuhinya" "Ya, aku sudah menduga. Dan aku percaya bahwa kau telah mematuhi peraturan itu. Karena itu, aku juga percaya bahwa kau tidak mengambil Sindangsari dari Kademangan. Pamot menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu. Dan Ki Demanglah yang berkata kemudian "Sekarang, semua persoalan sudah selesai bagimu. Kau boleh pulang dengan hati yang lapang. Aku tidak akan mengganggumu lagi" "Kakang Demang" potong Ki Reksatani "apakah cukup begitu saja?" "Aku sudah menganggapnya cukup" "Tunggu" Ki Reksatani bergeser setapak mendekati kakaknya "aku masih belum puas. Masih banyak sekali kemungkinan dapat terjadi. Ia dapat meminjam tangan orang lain untuk melakukannya, meskipun anak itu sendiri tidak meninggalkan baraknya" Ki Demang merenung sejenak. Namun kemudian ia berkata "Aku percaya kepadanya. Ia sudah mengatakan bahwa ia tidak mengambil isteriku" Ki Reksatani masih akan berkata sesuatu, tetapi Ki Jagabaya mendahuluinya "Kalau pendapat Ki Demang ternyata keliru, lain kali kita dapat memperbaikinya. Sekarang, aku kira Pamot memang sudah boleh pulang. Keluarganya pasti sudah menunggunya. "Ia memang sudah diijinkan pulang sejak semula" bantah Ki Reksatani "tetapi ia datang sendiri menantang kakang Demang untuk membuka persoalan mengenai Sindangsari. Kalau ia sejak semula tidak lagi membuat ribut disini, akupun tidak akan mengganggunya" "Jangan diperbincangkan lagi" berkata Ki Demang kemudian "aku menganggap sudah cukup" Lalu katanya kepada Pamot "pergilah sebelum aku merubah keputusanku" Pamot beringsut surut. Tetapi tampaknya Ki Reksatani masih belum puas sama sekali. Namun demikian ketika Ki Demang berpaling menatap matanya, Ki Reksatani tidak mengatakan sesuatu lagi. Ki Tumenggung Dipanata menarik nafas dalam-dalam. Dengan susah payah ia menahan hatinya. Dibiarkan Ki Demang di Kepandak mencegah adiknya sendiri kalau ia ikut campur betapapun perasaannya melonjak-lonjak maka harga diri Ki Reksatani pasti akan lebih mempersulit penyelesaian. Pamotpun kemudian minta diri bersama Punta yang selalu mengawaninya. Dengan hati yang masih diliputi oleh keraguraguan Pamot meninggalkan halaman Kademangan. "Ternyata aku masih belum mendapatkan ketenangan itu" berkata Pamot kepada Punta. "Tetapi kau dapat beristirahat dengan lebih baik. Setidaktidaknya sekarang kau mengetahui, siapakah sebenarnya yang masih berkeras hati mencurigaimu. Aku mengharap bahwa sikap Ki Demang itu tidak segera berubah" "Apakah ia akan tetap berpendirian begitu seandainya Ki Tumenggung Dipanata sudah kembali ke Mataram?" Punta termenung sejenak. Lalu "Aku kira demikian. Ki Demang bukan seorang pengecut. Kalau ia mempunyai sikap pribadi, ia tidak akan mudah terpengaruh oleh kehadiran siapapun juga. Agaknya ia menemukan persoalan baru di dalam dirinya, sehingga ia telah mengurungkan niatnya. Aku, Ki Jagabaya dan Ki Tumenggung Dipanata telah mencoba menyentuh perasaannya, sehingga mungkin sekali persoalanpersoalan baru itu telah dapat merubah sikapnya" Pamot tidak menyahut. Tetapi kepalanya teranggukangguk. Keduanyapun kemudian berpisah di ujung jalan yang memasuki padukuhan Gemulung. Mereka telah memilih jalan ke rumah masing-masing. Malam itu Ki Tumenggung Dipanata bermalam satu malam di Kademangan Kepandak. Ki Demang bahkan telah menyanggupi, bahwa di kesempatan yang dekat, ia akan menyelenggarakan malam-malam penyambutan resmi bagi anak-anak Kepandak yang telah kembali itu. "Lain kali aku akan menga akan pertunjukan di halaman ini untuk mereka" berkata Ki Demang "tetapi sementara ini aki ingin mengatur perasaanku lebih dahulu.Aku memang harus malu terhadap mereka yang kehilangan suami mereka. Mereka terpaksa menerima keadaan itu, sama sekali tanpa harapan bahwa suami mereka itu akan datang kembali" "Justru karena itu" sahut Ki Reksatani yang duduk di belakangnya "seandainya mBokayu sudah diketemukan mati sama sekali, kita tidak akan bersusah payah mencarinya. Tetapi kita sekarang selalu dibayangi oleh gambarangambaran apakah yang sedang terjadiatasnya kini. Saat ini. Malam ini dan malam-malam berikutnya, selagi ia mengandung tua" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu, Manguri dengan gelisahnya menunggu pesuruh ayahnya yang akan memberi tahukan, dimanakah kini Sindangsari itu disembunyikan. "Malam ini pesuruh itu harus datang" desis Manguri. Lamat, yang diajaknya berbincang hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengulangi katakata Manguri "Ya, malam ini pesuruh itu harus datang" Sejak senja Manguri tidak beringsut dari tangga pendapa rumahnya. Matanya melekat pada pintu regolnya yang tertutup. Hatinya berdesir setiap kali daun pintu regol itu bergerit. Tetapi yang lewat bukanlah orang yang ditunggunya. Mereka adalah pelayan-palayan yang sedang pulang dari sawah, atau dari sungai atau dari manapun juga. Juga anakanak yang menyabit rumput buat ternak di kandang. "Kalau ia datang terlampau malam, ia pasti dicurigai oleh para peronda yang seakan-akan ikut menjadi gila pula sekarang" berkata Manguri. Kemudian "Kalau salah seorang dari pesuruh itu tertangkap, dan tidak dapat menyimpan rahasia lagi, maka semuanya akan hancur berantakan. Usaha yang kita lakukan sampai saat ini akan menjadi sia-sia saja" "Bukan saja sia-sia "sambung Lamat "tetapi Kademangan ini pasti akan dibakar oleh kerusuhan yang tidak mudah teratasi, kecuali apabila Pasukan Mataram datang untuk melerainya" "He" Manguri membelalakkan matanya "jadi kau pikir, apabila keadaan memaksa, kita tidak akan dapat menyelesaikan persoalan ini sehingga kita harus menyerahkannya kepada orang-orang Mataram?" Lamat mengerutkan keningnya. "Kau sangka mereka akan berbuat sebaik-baiknya disini? Tidak. Mereka justru akan menambah kekeruhan saja. Mereka akan memeras kita kedua-belah pihak. Mereka akan merampas apa saja yang mereka kehendaki. Bahkan termasuk Sindangsari sendiri" "Itu tidak mungkin" tiba-tiba saja Lamat membantah, sehingga Manguri menjadi terheran-heran. "Kenapa tidak mungkin?" "Ayah Sindangsari juga seorang prajurit" Lamat melanjutkannya. Jawaban Lamat itu ternyata dapat dimengerti pula oleh Manguri, Sindangsari memang anak seorang prajurit. Namun tiba-tiba ia berkata pula "Mungkin kau benar. Sindangsari memang anak seorang prajurit meskipun prajurit itu sudah mati. Tetapi masalah yang lain kecuali Sindangsari, akan terjadi seperti yang aku katakan" Lamat menggelengkan kepalanya Desisnya "Mudahmudahan tidak. Memang mungkin ada satu dua orang prajurit yang berbuat demikian. Tetapi kawan-kawan mereka pasti akan mencegahnya dan bahkan pemimpin mereka pasti akan menghukumnya" Manguri menjadi heran mendengar kata-kata Lamat. Karena itu ia bertanya "Dari siapa kau dengar hal itu?" Lamat tiba-tiba saja menjadi bingung. Tetapi ia kemudian menjawab "Aku sering mendengar pembicaraan orang-orang yang lewat di jalan sebelah apabila aku sedang berada di regol atau sedang memperbaiki dinding batu yang pecah atau aku sedang berjalan ke sawah. Sejak anak-anak Gemulung pergi ke Mataram, hampir setiap orang berbicara tentang prajurit dan anak-anak muda yang pergi itu" Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeram "Persetan. Tetapi pesuruh ayah itu harus datang" Lamat tidak menyahut. Tetapi ia menjadi berdebar-debar pula. Bahkan kemudian terbayang di rongga matanya apa yang akan terjadi di Kademangan ini seandainya permainan Manguri dan Ki Reksatani gagal. Tetapi seandainya permainan itu berhasil apakah yang akan terjadi dengan Sindangsari dan Ki Demang di Kepandak?" Lamat kemudian duduk membisu ketika Manguri berjalan hilir mudik dengan gelisahnya. Bahkan ketika malam menjadi gelap. Ia berkata "Kita menunggu di depan regol" Lamat tidak membantah. Diikutinya saja Manguri yang berjalan ke regol halaman rumahnya. Namun sebelum mereka sampai keregol, mereka melihat pintu regol yang sudah tertutup itu tersibak. Seorang laki-laki yang menuntun seekor kuda melangkah memasuki halaman. "Siapa?" Manguri bertanya. "Aku, Bandil" "O, kau" desis Manguri "apakah kau membawa pesan ayah?" "Ya" "Bagus. Bagus.Marilah, masuk sajalah ke pringgitan" Setelah membawa kudanya ke belakang, laki-laki yang bernama Bandil itupun dibawa masuk oleh Manguri dan Lamat ke pringgitan. "Apakah kau baru saja datang?" "Ya. Aku kemalaman di jalan" "Kenapa?" "Aku agak terlambat memasuki Kademangan Kepandak. Aku takut dicurigai. Karena itu, aku menempuh jalan-jalan sempit dan bahkan menuntun kudaku di jalan setapak. Aku menghindari gardu-gardu peronda supaya tidak ada seorangpun yang melihat aku datang" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya "Kenapa kau datang terlampau malam?" Orang itu tidak segera menjawab. "Kenapa he?" Manguri mendesak. Sejenak orang itu menatap wajah Manguri, namun kemudian ia menundukkan kepalanya. Namun ia masih tetap diam. "Kenapa?" akhirnya Manguri membentak. Tetapi orang itu justru tersenyumtersipu-sipu. Sambil beringsut sedikit ia berkata "Memang, memang aku agak kemalaman" "Apakah ayah memang terlambat menyuruhmu berangkat?" Orang itu menggeleng "Tidak aku tidak terlambat berangkat" "Jadi bagaimana?" "Aku singgah sejenak" "Singgah dimana?" "Di rumah isteri mudaku" "Gila. Kau benar-benar gila. Kami yang menunggu disini serasa berdiri diatas bara. Kau seenaknya singgah di rumah isteri mudamu. Kau sungguh-sungguh sudah gila. Kalau ayah mendengar, kau akan dihajarnya habis-habisan" Manguri menggeretakkan giginya. Tangannya sudah menjadi gatal. Kalau saja orang itu bukan orang yang disuruh ayahnya membawa kabar penting dan rahasia, orang itu pasti sudah dipukulnya "Kau tahu akibat dari kelambatanmu karena kau singgah di rumah isteri mudamu itu he? Kalau kau tertangkap dan kau dipaksa berbicara, semuanya akan berantakan" "Sebenarnya aku juga tidak ingin singgah di rumah isteri mudaku itu. Tetapi jalan yang aku lalui lewat tepat di muka rumahnya. Dan kebetulan sekali isteri mudaku itu baru berada di regol halaman" "Kau dapat mengatakan bahwa kau sedang bergegas" "Aku sudah mengatakan" "Kenapa kau singgah juga" "Ia menangis kalau aku tidak mau singgah" "Menangis?" "Ya. Isteriku itu baru berumur empat belas tahun" "Gila. Kau benar-benar gila. Kau sudah setua itu masih mempunyai seorang isteri berumur empat belas tahun" "O, itu masih belum mengherankan. Apakah kau tidak heran kalau salah seorang isteri Ki Sukerta, baru berumur tiga belas tahun. Jadi setahun lebih muda dari isteriku itu?" "Persetan. Persetan. Aku tidak berurusan dengan isteriisteri muda itu. Aku ingin segera mendengar keterangan tentang Sindangsari" Laki-laki yang bernama Bandil itu menarik nafas dalamdalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata "Ya, aku memang mendapat tugas untuk menyampaikan pesan tentang. Nyai Demang" "Dimana dia sekarang?" "Ki Sukerta telah menyembunyikannya baik-baik" "Ya, tetapi dimana ayah menyembunyikannya" "Ki Sukerta membawanya ke Sembojan" "Sembojan? Dimanakah Sembojan itu?" "Di sebelah Temu Agal, Kademangan Prambanan" "Begitu jauh?" "Ya. Tentu semula Ki Sukerta menganggap bahwa tempat itu adalah tempat yang paling aman. Cukup jauh, tetapi masih dapat dicapai dalam waktu yang tidak terlampau lama" "Semula, kenapa kau mengatakan semula ayah menganggap tempat itu paling aman?" "Agaknya Ki Sukerta mempertimbangkan akan membawanya ke tempat lain" "Kenapa?" "Dengan berpindah-pindah tempat, maka jejaknya tidak akan mudah diketahui oleh orang lain" "Tetapi bagaimana aku harus menghubunginya? "Setiap kali akan ada seseorang yang memberitahukan kepadamu disini" "Tetapi kami harus menetap. Kami akan hidup seperti manusia sewajarnya. Tidak seperti seekor burung yang membuat sarangnya di sembarang tempat dan berpindahpindah" "Tentu. Tetapi kau memerlukan waktu. Setelah semua orang melupakannya, kau dapat menetap di suatu tempat yang kau pilih dari antara sekian banyak yang ditentukan oleh ayahmu" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kapan waktu itu akan datang. Kapan semua orang akan melupakan hilangnya Nyai Demang di Kepandak? Sejenak Manguri berdiam diri. Ternyata tidak semudah yang disangkanya untuk memperisteri Sindangsari. Tidak sekedar melarikannya dan menyingkir dari lingkungan orangorang Kepandak. Ternyata untuk waktu yang lama orangorang Kepandak pasti masih berusaha menemukan Nyai Demang yang hilang. Apalagi kini Pamot telah t iba kembali di Kademangan. Bagaimanapun juga ia pasti akan ikut campur di dalam persoalan ini. Tetapi ia sudah bertekad, bahwa ia tidak akan mundur setapak. "Mungkin aku akan tetap tinggal disini. Aku akan dapat mengunjunginya setiap pekan sekali" berkata Manguri di dalam hatinya. Tetapi kemudian "Tidak mungkin. Siapakah yang akan menungguinya selama aku tidak ada di tempat itu. Tidak seorang perempuanpun yang dapat dipercaya untuk mengatasi kekerasan hati Sindangsari. Ia pasti akan berusaha melarikan dirinya. Tetapi tidak seorang laki-lakipun yang dapat dipercaya menunggui perempuan secantik Sindangsari. "Gila" akhirnya Manguri mengumpat-umpat. Dalam kebingungan ia berkata di dalam dirinya "Biarlah aku akan memaksanya secara kasar. Kalau semuanya sudah terjadi, ia tidak akan dapat lari lagi. Ia justru akan merasa malu menjumpai orang-orang yang sudah dikenalnya. Dan ia akan tetap bersembunyi di tempat yang sudah disediakan itu" Demikianlah saat itu Manguri harus menerima keadaan yang masih belum dapat dibayangkan, apa yang akan terjadi kemudian. Namun bahwa Sindangsari sudah sampai di tempat yang jauh, ia sudah menjadi agak tenteram. Di hari-hari mendatang, tinggal mengatur apakah yang akan dilakukannya atas perempuan itu. Meskipun demikian, malam itu Manguri tidak dapat tidur dengan tenteram. Kadang-kadang ia bangkit dan berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Ia tidak pergi bersama Lamat ke sawah untuk mengairi tanamannya yang sedang tumbuh. Hatinya selalu terganggu oleh bayangan-bayangan yang kadang-kadang sangat mencemaskan. Hampir tengah malam Manguri t idak dapat menahan kegelisahannya. Tiba-tiba saja ia menyambar pedang yang tergantung di dinding. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dan pergi ke belakang. Di pintu bilik Lamat ia mengetuk perlahanlahan sambil memanggilnya "Lamat, Lamat?" Tidak ada yang menyahut. Sedang di dalam bilik itu tampak masih gelap. "Orang ini masih belum pulang" desis Manguri. Untuk menghilangkan kegelisahannya, maka Manguripun kemudian menggeram "Apakah ia tertidur di tengah sawah" Tiba-tiba saja Manguri berhasrat untuk menyusulnya. Tanpa minta diri kepada siapapun ia berjalan keluar dari regol halamannya dan dengan tergesa-gesa pergi ke sawah. Di depan gardu peronda, seorang anak muda menghentikannya sambil bertanya "Siapa?" "Apakah kau belum mengenal aku?" sahut Manguri. Anak muda itu mengerutkan keningnya "O, kau. Tetapi aku tidak melihat wajahmu di kegelapan" Manguri t idak menyahut lagi. Ia berjalan terus menuju kebulak yang terbentang di sebelah padukuhan Gemulung. "Anak itu masih saja sangat sombong" desis anak muda yang menyapanya. "Kaulah yang kurang kerja malam ini. Kenapa kau sapa anak gila itu? Diantara kami tidak ada lagi orang yang sempat menyapanya" "Di dalam kegelapan, aku tidak begitu mengenalnya" "Kau memang agak mengantuk. Langkahnya dari jarak seratus patok sudah dapat dikenal, bahwa ia adalah Manguri yang perkasa" Kawan-kawannya yang lain tertawa, sedang anak muda yang menyapanya itu diam tersipu-sipu. Dalam pada itu Lamat yang berada di sawah sedang sibuk membendung air yang mengalir diparit yang menyusuri kotakkotak sawah ayah Manguri. Mumpung air yang mengalir cukup banyak ia mengharap bahwa semalam nanti sawahnya akan mendapat air yang cukup. Ketika air sudah mulai mengalir masuk ke dalam kotak sawah, maka Lamatpun menggeliat sambil menekan lambungnya dengan telapak tangannya. Dipandanginya air yang gemericik di bawah kakinya itu sejenak. Setelah mencuci cangkulnya, maka iapun kemudian meninggalkan bendungan kecil itu menuju ke gubug di tikungan pematang. Tetapi alangkah tertegunnya ketika ia melihat bayangan seseorang yang berjalan menyusuri pematang ke arahnya. Tampaknya agak ragu-ragu dan sangat hati-hati. "Siapa?" desis Lamat di dalam hatinya. Dan bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat sehingga akhirnya Lamat dapat mengenalnya juga. "Kau Pamot" sapa Lamat perlahan-lahan "Ya" sahut Pamot ragu-ragu. "Ternyata kau kembali dengan selamat meskipun kau tampak agak kurus" "Ya Lamat. Semua yang ada di dalam pasukan itu menjadi kurus. Aku juga, Punta juga dan yang lain juga" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya "Beruntunglah kau, bahwa kau sudah mendapat kesempatan untuk memberikan sesuatu kepada Tanah Mataram" "Kelak akan datang giliranmu" Tetapi Lamat menggelengkan kepalanya "Aku adalah sekedar kerbau penarik pedati. Tidak pantas bagiku untuk membawa senjata di bawah panji-panji kebesaran Mataram" Pamot tidak menyahut. "Marilah" ajak Lamat "kita duduk di gubug itu. Pamot ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menggeleng "Aku hanya sebentar" Lamat mengerutkan keningnya. Lalu "Tetapi sebaiknya kita duduk. Duduklah disini. Tetapi pematang sawah di Gemulung masih tetap kotor Pamot" Pamot menarik nafas dalam-dalam. "Duduklah diatas batu itu" Pamotpun kemudian duduk diatas sebuah batu di samping Lamat. "Aku senang sekali dapat bertemu dengan kau sekarang, selagi Manguri tidak ada He. kau dapat memilih waktu dengan tepat" "Aku melihat kau berjalan sendiri. Aku berada di belakang gardu ketika kau lewat" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kenapa Manguri t idak pergi?" "Jarang sekali Manguri pergi ke sawah sekarang" "Kenapa?" Lamat tidak menyahut. Tetapi kemudian ia berkata "Berceriteralah tentang perjalananmu Pamot. Aku ingin sekali mendengarkan" "Perjalanan yang sangat berat. Apalagi bagi kami, anakanak muda dari padukuhan yang kurang terlatih. Tetapi perjalanan itu memberikan kebanggaan juga bagiku" "Ceriterakan" "Tetapi, aku memerlukan keteranganmu juga Lamat" Lamat mengerutkan keningnya pula. Semakin dalam. Ia sudah merasa bahwa arah percakapan Pamot pasti akan bergeser ke arah yang mendebarkan jantung baginya. Karena itu ia masih ingin mengelak "Ceriterakan saja dahulu perjalananmu. Di Gemulung tidak ada peristiwa yang menarik seperti perjalanan itu" "Ada Lamat. Justru sangat menarik" "Ah, tetapi itu bukan urusan kita. Aku ingin mendengar kau menceriterakan, betapa panjangnya pasukan Mataram ketika mulai berangkat dari alun-alun. Dan betapa pula panjangnya pasukan itu setelah melampaui daerah Kadipaten Pesisir Utara. Di sepanjang jalan pejuang-pejuang yang akan mengusir orang asing itu pasti semakin bertambah-tambah. Gamelan yang menurut pendengaranku mengiringi pasukan itu pasti akan menambah gairah perjuangan di setiap dada" "Ya. Kau sudah tahu semuanya Lamat. Dari siapa kau mendengarnya?" Lamat menundukkan kepalanya "Aku mendengar dari orang-orang yang berbicara di sebelah simpangan parit di seberang jalan. Kami telah membagi air untuk malam ini di sana. Dan mereka berbicara tentang pasukan yang pergi ke Betawi. "Ya. Seperangkat gamelan telah dibawa dan ditabuh di sepanjang jalan" "Alangkah megahnya perjalanan itu" "Tetapi, aku memerlukan keteranganmu Lamat" Lamat terdiam. "Aku kira kau mengerti meskipun t idak seluruhnya" "Apa yang ingin kau tanyakan Pamot" "Apakah kau tahu serba sedikit, atau mendengar dari orang-orang yang sering berkumpul disimpangan parit diseberang jalan tentang Sindangsari?" Dada Lamat menjadi berdebar-debar. Meskipun ia sudah menduga, tetapi pertanyaan itu masih mengetuk jantungnya keras-keras. "Bagaimana mungkin Sindangsari itu hilang?" "Pamot " suara Lamat tiba-tiba menurun "aku tidak ubahnya seperti seekor binatang peliharaan seperti aku katakan. Bagaimana mungkin aku dapat mengerti tentang Sindangsari" "Kau juga mendengar ceritera tentang pasukan yang berangkat itu. Kau mendengar ceritera tentang seperangkat gamelan yang ikut bersama pasukan mataram. Jadi tidak mustahil kalau kau mendengar juga ceritera serba sedikit tentang Sindangsari. Mungkin dari orang-orang yang membagi air tetapi mungkin juga dari Manguri. Aku tahu bahwa Manguri juga mencintai Sindangsari. Bahkan dengan segala macam cara ia ingin memilikinya sebelum Sindangsari menjadi isteri Ki Demang di Kepandak. Bila perlu Manguri tidak segan-segan mempergunakan kekerasan" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku tidak mengerti Pamot. Aku mengerti tentang Sindangsari di saat terakhir kau menemuinya dan terjadi hal yang terkutuk itu sehingga kemudian Sindangsari telah mengandung" "Lamat" potong Pamot "tetapi bukankah Sindangsaritelah menjadi isteri Ki Demang" Lamat t idak menyahut. "Aku berharap kau t idak menyebutkan hal itu lagi. Sudah aku katakan sejak itu, bahwa aku menjadi sangat menyesal. Tetapi menurut pendengaranku, hidup Sindangsari menjadi baik dan rumah tangganya cukup tenteram menurut pengamatan orang di luar rumah itu. Tetapi kenapa tiba-tiba saja perempuan itu hilang" Lamat menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu sama sekali" "Lamat" berkata Pamot kemudian "selama ini kau tetap berada di Kademangan Kepandak. Sebelum aku pergi kau menaruh banyak perhatian atas hubungan kami. Maksudku aku dan Sindangsari. Ketika tiba-tiba saja perempuan itu hilang, aku kira kau memerlukan mendengar dugaan orang tentang hal itu. "Tidak seorangpun yang dapat menduga, kemana Nyai Demang itu pergi. Apakah ia pergi atas kehendaknya sendiri atau diambil oleh orang lain. Bahkan selama ini Ki Demang telah mengerahkan orang-orangnya, termasuk para pengawal Kademangan. Ki Jagabaya, Ki Reksatani dan bebahu Kademangan yang lain untuk mencarinya. Tetapi sampai saat ini, sama sekali t idak ada kabar beritanya" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Lamat berkata selanjutnya "Barangkali yang aku dengar tidak lebih banyak dari yang didengar oleh ayahmu atauoleh tetanggatetanggamu" Pamot tidak menyahut. Ketika ia memandang wajah Lamat, dilihatnya wajah itu tertunduk dalam-dalam. Tetapi di dalam gelapnya malam Pamot tidak dapat melihat, betapa. wajah Lamat menjadi pucat dan matanya seakan-akan telah padam sama sekali. "Baiklah Lamat" berkata Pamot kemudian "selama ini aku percaya kepadamu, karena kau adalah orang yang paling banyak memberikan pertolongan kepadaku. Memang aku mendengar juga dari orang-orang lain. Tetapi aku baru puas setelah aku mendengarnya darimu. Aku tahu, kepadaku kau tidak pernah berbohong. Bahkan sejak Sindangsari masih menjadi seakan-akan rebutan di Gemulung" Lamat tidak dapat menjawab. Terasa kerongkongannya menjadi kering. Kering sekali. Dalam pada itu, Manguri berjalan tergesa-gesa menyusuri jalan simpang. Kemudian ia meloncati sebuah parit dan kemudian melangkah di sepanjang pematang. Ia menjadi demikian tergesa-gesa seakan-akan ada sesuatu yang harus segera diselesaikannya, sehingga kadang-kadang ia hampir tergelincir karenanya. Sekali-sekali angin malam yang berhembus dari Selatan telah mengusap wajahnya. Terasa dinginnya menyentuh kulit. Tetapi karena langkahnya yang cepat, maka Manguri dapat mengatasi rasa dinginnya, dan bahkan tubuhnya mulai basah oleh keringat Di kejauhan kunang-kunang berkeredipan pada batangbatang padi muda, sedang suara cengkerik berderik bersahutsahutan. Sejenak kemudian Manguri telah sampai di ujung sawahnya. Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Ia merasa selalu dikejar oleh kegelisahan yang menghentakhentakkan dadanya, sehingga ia harus melarikan dirinya, ke tengah tengah sawah yang gelap dan sepi. Sebelum Manguri sampai ke gubug yang berdiri diatas tiang yang agak tinggi, ia sudah memanggil "Lamat, Lamat apakah kau ada disitu?" Manguri terlonjak ketika ia mendengar jawaban dekat di sampingnya "Aku ada disini" "Anak Setan" ia menggeram "kau membuat aku terkejut" "Aku sudah menjawab perlahan-lahan sekali" Manguri memandangnya dengan tegang. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. "Kenapa kau menyusul?" tiba-tiba saja Lamat bertanya. Pertanyaan itu ternyata telah membuat Manguri menjadi bingung. Setelah ia sampai di tengah sawah, ia tidak tahu lagi, apa yang akan dilakukannya. Namun kemudian ia menjawab "Ya. Aku tidak dapat tidur. Udara terlampau panas. Aku ingin tidur di gubug itu saja" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "Tidurlah. Aku sedang menunggui air. Aku mengharap bahwa air akan dapat menggenangi seluruh kotak sawah kita malam ini" "Ya. Tungguilah air yang hanya sedikit itu, kalau-kalau dicuri orang di bagian atas" "Kami sudah membagi. Kita akan mendapat bagian sampai tengah malam, kemudian kita akan memberikan kepada kotak-kotak sawah di bawah" "Kenapa mesti diberikan? Biar saja sawah mereka menjadi kering. Sebelum sawah kita cukup, kita tidak akan menutup pematang itu. Mungkin kau dapat menghapus bendungan kecil itu, tetapi pematang kita, biar saja tetap terbuka" Lamat tidak menjawab meskipun hal itu berarti menyalahi persetujuan. Namun, Manguri pasti t idak akan menunggui pematang semalam suntuk. Ia pasti akan tertidur juga di gubug itu. Sedang menurut perhitungannya, apabila aliran air diparit itu tetap, maka sawahnya akan cukup tergenang. Sepeninggal Manguri yang kemudian pergi ke gubug, Lamat menarik nafas dalam-dalam. Dengan isyarat ia menyuruh Pamot yang bersembunyi diantara batang-batang padi yang subur untuk segera merangkak pergi. "Hampir saja" desis Lamat "kalau Manguri melihat Pamot disini, ia pasti akan segera menjadi curiga. Semuanya akan menjadi kacau, dan segala macamprasangka akan t imbul" Dan kini Lamat dapat mengelus dadanya karena Pamot telah berhasil menyingkir tanpa diketahui sama sekali oleh Manguri. Namun sepeninggal Pamot Lamat duduk merenung diatas sebuah batu di pinggir parit sambil memandangi air yang mengalir. Tidak terlampau banyak seperti di musim basah. Tetapi cukup memberi kesegaran kepada tanamannya. Ternyata pertemuannya dengan Pamot telah membuatnya berangan-angan. Perasaannya menjadi kisruh, seperti daun ilalang yang tertiup angin pusaran. Meskipun tubuhnya kuat seperti raksasa, dan tenaganya seperti seekor kerbau jantan, namun ia tidak dapat bersikap sekuat tubuhnya. Hatinya justru terlampau lemah dan kadang-kadang t idak mempunyai sikap sama sekali. "Aku telah tersiksa oleh diriku sendiri, justru karena aku menyadari kelemahanku" katanya di dalam hati "dan kini aku sampai pada puncak kebingungan yang hampir tidak tertanggungkan. Mungkin aku harus memilih, apakah aku akan mengorbankan seisi Kademangan Kepandak, atau aku tetap berdiamdiri dan mengorbankan Sindangsari" Tetapi Lamat tidak juga mendapat pemecahan di dalam dirinya. Ia tetap masih dicengkam oleh kebimbangan yang hampir tidak teratasi, sehingga dengan demikian maka dunianya serasa menjadi semakin gelap. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan menyusur pematang. Ketika ia sampai pada kotak terakhir dari hamparan sawah Manguri, maka ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya air telah cukup banyak menggenangi sawahnya. Karena itu, maka iapun segera pergi ke pintu air yang dibuatnya pada pematang sawah itu. Ketika ia menengadahkan kepalanya, dilihatnya bintang gubug penceng di ujung Selatan sudah mulai condong ke Barat, sehingga Lamat dapat mengetahui, bahwa tengah malam memang telah lampau. Seperti yang sudah saling disetujui, maka Lamatpun segera membuka bendungan kecil yang menahan air parit dan membelokkannya ke dalam kotak-kotak sawah Manguri. Tetapi ia memang tidak segera menutup pematangnya. Ditunggunya barang sejenak, dan dibiarkan air yang gemercik masih masuk ke dalam sawah. Tetapi sebagian terbesar dari air parit itu sudah mengalir terus, ke sawah yang lain seperti yang sudah disetujuinya. Bahkan sejenak kemudian, pematangnyapun telah ditutupnya sama sekali, karena air telah jauh daripada cukup. Lamatpun kemudian perlahan-lahan pergi ke gubug pula. Di dalam kekeruhan pikiran, ia tidak melihat, jalan keluar yang paling baik baginya. Lamat yang bingung itu hanya dapat menarik nafas sambil berdesis "Untunglah bahwa Manguri tidak melihat Pamot dan untung pulalah, bahwa Manguri yang tidak mengetahui kehadiran Pamot sama sekali tidak menyebut tentang Nyai Demang di Kepandak yang disembunyikannya itu. Seandainya karena tidak diketahuinya, ia menyebutnya barang sepatah kata saja, maka Pamot pasti akan segera mengambil kesimpulan. Namun langkah Lamat itupun kemudian tertegun. Sekali lagi ia melihat sesosok bayangan yang berjalan tergesa-gesa diatas pematang. Semakin lama menjadi semakin cepat. Namun ia yakin bahwa yang datang itu sama sekali bukan Pamot. Setelah bayangan itu menjadi semakin dekat, maka iapun kemudian berdesis tanpa sesadarnya "Ki Reksatani" Ki Reksatani berhenti sejenak. Lalu katanya "Kau mengenal aku di dalam gelapnya malam?" "Ya Ki Reksatani. Ki Reksatani sudah cukup dikenal oleh semua orang Kepandak. Apalagi akhir-akhir ini Ki Reksatani sering mengunjungi rumah kami" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya. Tetapi dimana Manguri?" "Ia ada di gubug itu" "Aku ingin menemuinya" "Silahkan. Mungkin ia sudah tidur" "Aku baru datang dari rumahnya. Aku mencarinya di sana, tetapi ia tidak ada di dalam biliknya, tidak seorangpun yang tahu. Tetapi ibunya mengatakan bahwa mungkin ia menyusulmu ke sawah" "Ya, ia telah menyusul aku" "Dimana anak itu. Aku sudah menyusup di jalan-jalan sempit untuk menghindari kecurigaan orang. Kalau ada seorangpun yang melihat aku menemui Manguri, maka rahasia kita akan terbongkar. Lambat atau cepat" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kecemasan yang tajam telah menyengat hatinya. Ia tidak tahu pasti, apakah Pamot benar-benar sudah meninggalkan tempat itu dan pergi jauh. Kalau ia masih ada di sekitar tempat itu, maka ia pasti akan mencurigai Ki Reksatani dan Manguri. Sejenak kemudian Ki Reksatanipun menyusur pematang pergi ke gubug yang berada diatas empat buah tiang bambu. Di dalam gubug itu Manguri membaringkan dirinya diatas sehelai tikar pandan yang sudah menjadi kekuning-kuningan. Angin malam yang sejuk telah membuatnya seakan-akan, terbius. Sehingga tanpa disadarinya, iapun telah jatuh tertidur. Manguri terkejut ketika gubugnya itu terguncang. Kemudian sebuah kepala tersembul di dalam keremangan malam. Dan orang yang naik itu ternyata bukan Lamat. "O, kau Ki Reksatani" desis Manguri sambil bangkit dan duduk. "Ya. Aku memerlukan menemui kau. Aku mempunyai waktu sedikit. Aku dan isteriku masih berada di Kademangan. Agaknya kakang Demang benar-benar akan menyambut kedatangan anak-anak itu dengan berbagai macam upacara dan keramaian" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dalam pada itu Ki Reksatanipun kemudian bertanya "Manguri. Agaknya kedatangan anak-anak muda beserta Pamot itu akan berpengaruh juga. Mereka pasti akan segera ikut serta mencari Sindangsari. Beberapa lama mereka berada di medan yang sulit. Sudah tentu itu akan sangat mempengaruhi mereka. Jiwa mereka dan tabiat merekapun sedikit banyak akan mengalami sentuhan-sentuhan dari pengalaman mereka yang pahit. Dengan demikian, maka mereka akan dapat banyak berbuat sesuai dengan pengaruh yang mereka dapat selama ini" Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, aku mengerti" katanya. "Karena itu, penyingkiran Sindangsari harus benar-benar tidak memungkinkan lagi, salah seorang dari mereka menemukannya" "Aku bertanggung jawab" sahut Manguri "Dimana perempuan itu sekarang?" "Ia sudah berada di tempat yang jauh" "Ya, dimana? Turi atau Kepanjen atau tlatah Menoreh?" Manguri menggelengkan kepalanya "Bukan" "Ya. Tetapi dimana?" "Perempuan itu kini berada di Sembojan" "Sembojan?" Ki Reksatani mengulang. Manguri menganggukkan kepalanya. Terbayang di dalam angan-angan suatu padukuhan kecil yang jauh. Ia sudah pernah pergi ke Sembojan di kademangan Prambanan karena kebetulan sekali ia mempunyai seorang kenalan yang bertempat tinggal di Temu Agal. Ketika ia berkunjung ke rumah kenalannya it u, ia dibawanya ke rumah orang tuanya di Sembojan. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Ki Reksatani bergumam "Sebuah padukuhan kecil. Di sebelah Utara padukuhan itu masih terdapat sebuah hamparan hutan yang rindang. Kemudian di seberang hutan masih terdapat beberapa padukuhan lagi, sebelum sampai ke daerah hutan yang lebat di kaki gunung Merapi" "Apakah Ki Reksatani pernah menjelajahi daerah itu?" "Ya. Aku pernah mencari sebatang pohon Manca Warna bersama seorang kenalan yang tinggal di padukuhan Temu Agal. Kami menyusur di sepanjang tepi hutan itu" Manguri tidak menyahut. Namun Ki Reksatani berkata seakan-akan kepada diri sendiri "Tetapi aku tidak menemukan pohon Manca Warna seperti yang dikatakan orang. Aku hanya melihat tidak lebih dari sebatang pohon beringin" Tiba-tiba Ki Reksatani itu menggeram "Aku akan melihat pohon itu sekali lagi. Pohon yang dapat memberikan gambaran tentang nasib seseorang" "Bagaimana mungkin?" bertanya Manguri. "Kalau aku melihat pohon itu berbunga lebih dari tiga macam, itu pertanda bahwa nasibku baik. Orang yang nasibnya sangat baik dapat melihat bunga pohon Manca Warna itu sampai tujuh macam. Dan orang yang akan mendapat derajad yang luhur, ia akan dapat melihat diantara macam-macam bunga itu, sekuntumbunga melati susun" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ceritera itu tidak begitu menarik perhatiannya. Yang membuatnya termenung justru kedatangan anak-anak muda anggauta pengawal khusus itu. Mereka pasti akan membantu Ki Demang menjelajahi seluruh dataran di sebelah Selatan Gunung Merapi ini. "Manguri" berkata Ki Reksatani kemudian "pada suatu saat kita harus melihat, apakah tempat persembunyian itu benarbenar dapat dipertanggung jawabkan" "Kapan kita akan pergi?" "Sudah tentu kita tidak akan dapat pergi bersama-sama Aku harus menunggu sampai saat-saat penyambutan itu selesai. Mungkin Kakang Demang akan mengadakan keramaian meskipun hatinya sendiri sedang terluka. Itu hanya sekedar sikap lahiriahnya saja. Mungkin tiga hari. Mungkin hanya sehari. Sesudah itu aku akan mendapat kesempatan. Aku yakin sebelum saat-saat itu, anak-anak itupun tidak akan sempat keluar Kademangan, apalagi mencari Sindangsari" Manguri mengangguk-anggukkan Kepalanya. Tetapi ia menjawab "Sebenarnya Ki Reksatani tidak perlu merisaukan Sindangsari. Aku akan bertanggung jawab. Serahkan semuanya kepadaku dan aku harap Ki Reksatani dapat mempercayai aku" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun bagaimanapun juga ia tidak dapat melepaskan begitu saja dan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Manguri. Kalau terjadi kegagalan, maka iapun akan terlibat dan justru ia akan dituntut oleh kakaknya dan rakyat Kepandak sebagai seorang pengkhianat. Bahkan sejenak kemudian terbersit pikiran di kepalanya "Yang paling baik bagiku adalah melenyapkan perempuan itu. Aku tidak akan selalu diganggu lagi oleh kecemasan dan kegelisahan sepanjang hidupku. Meskipun untuk waktu yang lama perempuan itu tidak diketahui, namun apabila pada suata saat anaknya muncul di Kepandak beberapa puluh tahun yang akan datang, maka ia pasti akan merupakan duri bagi anak-anakku yang aku harapkan dapat menguasai jabatan kakang Demang" Namun demikian Ki Reksatani masih tetap menyimpannya di dalam hati. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi pikiran itu masih saja tetap melonjak-lonjak di dadanya. Sejenak kemudian, ketika bintang Gubug Penceng semakin condong ke Barat, maka Ki Reksatanipun berkata "Sudahlah. Aku akan kembali ke Kademangan, supaya tidak ada orang yang mencurigaiku. Untuk sementara Sembojan cukup jauh bagi persembunyian Sindangsari. Namun pada suatu saat aku akan membuktikannya sendiri supaya aku menjadi tenang. "Percayalah kepadaku, dan percaya pulalah kepada ayah" "Tetapi sudah tentu ayahmu tidak akan dapat tenggelam di dalam persoalan ini selama-lamanya. Ia harus bekerja, mencari nafkah dan melanjutkan usahanya di dalam perdagangan ternak yang ternyata telah memberinya kekayaan yang melimpah. Kalau ia terpancang pada persoalanmu, maka usahanya pasti akan mundur, dan kalian akan jatuh miskin" "Aku sedang memikirkannya" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian maka iapun segera meninggalkan gubug itu dan kembali ke Kademangan. Sepeninggal Ki Reksatani ternyata Manguri menyesal, bahwa ia sudah mengatakan tempat persembunyian Sindangsari. Sampai saat-saat terakhir? agaknya Ki Reksatani masih saja berusaha untuk melenyapkan perempuan itu. "Ia tidak akan berani melakukannya" desis Manguri "dengan demikian ia pasti akan segera dihancurkan oleh Ki Demang. Ia pasti memperhitungkan, bahwa aku akan membuka rahasianya kalau ia menggagalkan niatku, memperisteri perempuan itu" Namun demikian Manguri telah menjadi sangat gelisah, sehingga di luar sadarnya ia berteriak memanggil "Lamat, Lamat" Dan sekali lagi ia terkejut ketika ia mendengar jawaban justru dari bawah gubugnya "Aku disini" "Gila kau. Kemari. Naiklah" Lamatpun kemudian naik ke gubug itu pula. Sambil mengusap titik embun yang membasahi ikat kepalanya iapun duduk di hadapan Manguri yang gelisah. "Aku terlanjur menunjukkan tempat persembunyian Sindangsari di Sembojan" berkata Manguri. Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya "Aku mendengar percakapan kalian" "Kau mendengarkannya?" "Ya, Aku berada di bawah gubung ini" "Bagaimana menurut pendapatmu?" "Sebaiknya kita ikut serta, apabila pada suatu Ki Reksatani akan pergi ke Sembojan" "Aku belum mengatakannya" "Kita dapat menghubunginya. Kita minta, agar Ki Keksatani memberi tahukan apabila ia akan pergi. Sudah tentu kita tidak akan keluar dari Kademangan ini bersama-sama. Tetapi kita berjanji bertemu disuatu tempat" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Pikiranmu baik juga. Dengan demikian Ki Reksatani tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap Sindangsari" "Ya" "Semakin cepat semakin baik" gumam Manguri kemudian "aku harus segera mendapatkannya. Kalau perlu aku dapat mempergunakan kekerasan, sehingga ia tidak akan berniat untuk lari lagi karena ia merasa tidak akan mendapat tempat lagi, baik di Kademangan maupun di rumah Pamot" Terasa bulu-bulu di seluruh tubuh Lamat meremang. Ia pernah menyaksikan hubungan badaniah antara Pamot dan Sindangsari yang didorong oleh perasaan cinta mereka yang tidak terkendali, apalagi pada saat itu mereka dihadapkan pada suatu saat yang sangat menegangkan. Pamot dengan hati yang tersayat minta diri untuk meninggalkan Kepandak dan Sindangsari untuk waktu yang tidak terbatas. Seandainya Pamot masih sempat juga pulang, maka Sindangsari sudah menjadi isteri orang. Pada saat itu, ia sudah merasa berdiri diatas seonggok bara. Hatinya meronta hampir tidak terkekang lagi. Dan saat ini ia mendengar Manguri akan melakukannya dengan kekerasan untuk mengikat Sindangsari agar tidak meninggalkannya. "Gila. Itu suatu pendirian yang gila. Apakah aku dapat membiarkannya terjadi?" Lamat menangis di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa pada saat itu. Ia harus tetap diam dan duduk dihadapan Manguri. "Kita harus segera menentukan saat itu" desis Manguri kemudian "nanti kita pikirkan. Kau harus mengatur hubungan dengan Ki Reksatani. Sudah tentu bukan kau sendiri. Tetapi kita dapat mengirim salah seorang dari para pengawal ternak yang tidak banyak dikenal di padukuhan dan di Kademangan ini" Lamat menganggukkan kepalanya. "Sekarang pergilah. Aku akan tidur" Lamatpun segera turun dari gubug itu. Betapa hatinya serasa tersayat mendengar rencana Manguri. Sambil berjalan di sepanjang pematang ia merenungi nasib Sindangsari. Perempuan itu dihadapkan pada dua kemungkinan yang sama-sama pahit, la tidak akari dapat memilih satu diantara dua. Menjadi korban ketamakan Ki Reksatani dan menyerahkan nyawanya atau menjadi korban nafsu Manguri yang menggelagak sampai keubun-ubunnya. "Alangkah buruk nasib perempuan itu" desis Lamat "jauh lebih buruk dari nasibku sendiri" Dengan kepala tunduk Lamatpun kemudian duduk di pematang sawahnya yang basah. Dibelainya tangkai cangkulnya sambil memandang jauh ke dalam kegelapan. Tiba-tiba ia tersentak. Sebuah bayangan berjalan menjauh dengan cepatnya. Kemudian hilang menyuruk di dalam rimbunnya dedaunan yang hijau gelap. Namun demikian matanya yang tajam masih menangkap, siapakah orang yang mencoba untuk menyingkir itu. "Hem" desisnya "ternyata Pamot masih ada di sekitar tempat ini. Apakah ia mengetahui bahwa yang datang itu adalah Ki Reksatani? Jarak dari tempatnya bersembunyi cukup jauh. Adalah kebetulan sekali bahwa aku melangkah mendekati tempat persembunyiannya" Sejenak Lamat menjadi termangu-mangu. Seandainya ia tidak ditahan oleh kebimbangan, maka bagi Lamat, tidak akan terlampau sulit apabila ia meloncat dan mengejar bayangan itu. Ia yakin bahwa ia pasti akan dapat menangkap Pamot. Tetapi memang ada sesuatu yang menahannya setangga ia masih tetap duduk di tempatnya dengan dada yang berdebardebar. Meskipun demikian, terasa di hati Lamat, bahwa sesuatu masih akan terjadi. Pamot bukan seorang anak muda yang mudah berputus asa. Ada dua hal yang mendorongnya untuk berusaha menemukan Sindangsari. Ia sendiri mencintai perempuan itu. Bagaimanapun juga ia tidak akan sampai hati membiarkan Sindangsari menjadi korban perbuatan apapun juga, meskipun ia tidak mungkin lagi akan mendapatkannya. Juga Pamot pasti ingin menghilangkan segala kecurigaan siapapun juga kepadanya. Ia pasti akan berusaha membuktikan bahwa bukan dirinyalah yang telah mengambil Sindangsari dari Kademangan. Dan kini Pamot ternyata telah berkeliaran di sekitar sawah Manguri yang mungkin juga di sekitar rumahnya. Sudah pasti, bahwa di dalam hatinya ada sepercik kecurigaan kepada Manguri meskipun secara resmi Manguri sudah dinyatakan bersih dari segala tuduhan, karena Ki Jagabaya sendiri telah datang ke rumahnya dan tidak menemukan apapun juga. Persoalan itu menjadi semakin rumit bergulat di kepala Lamat. Namun kemudian ia berdesis "Entahlah. Terserahlah apa yang akan terjadi. Mungkin aku akan dibakar juga oleh akibat perbuatanku di dalam persoalan ini, atau mungkin seluruh Kademangan akan menjadi bara" Tiba-tiba Lamat menggeretakkan giginya. Ia berusaha mengusir segala macam persoalan itu. Ia ingin beristirahat barang sejenak. Ia ingin mendapat ketenangan dan menyingkir dari kejaran perasaan yang sangat menggelisahkannya. Tetapi Lamat tidak pernah berhasil. Ia selalu dibayangi oleh gambaran-gambaran tentang Sindangsari, Ki Rekstani dan bahkan kadang-kadang Kademangan Kepandak yang seakanakan telah menyala dibakar oleh pertengkaran yang memuakkan. "Gila" Lamat mengumpat di dalam hatinya "apakah aku harus mengorbankan kata nuraniku sekedar untuk tahu budi karena aku telah diselamatkan hidupku?" "Ya Harus" terdengar suara di dalam hatinya "orang yang paling baik adalah orang yang mengenal dan bahkan membalas budi orang lain kepadanya" "Juga untuk melakukan kejahatan seperti ini?" "O" akhirnya Lamat serasa menjadi lemah dan t idak bertenaga. Ia duduk terkulai bersandar tangkai cangkulnya. Di bawah kakinya air parit mengalir gemericik mengusik sepinya malamyang merayap terus menjelang fajar. Manguri turun dari gubugnya ketika matahari mulai membayang di ujung Timur. Sejenak ia mengusap matanya, kemudian mulai berteriak memanggil "Lamat, Lamat" Lamat masih duduk di tempatnya. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Kemudian iapun bangkit berdiri dengan malasnya. "Kita harus segera pulang" Lamat menganggukkan kepalanya. Sekali lagi dilihatnya air di sawahnya. Kemudian dibetulkannya pematang sawah yang belumtertutup rapat. Sejenak kemudian maka Lamat itupun melangkah mengikut i Manguri yang dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya, seakan-akan ia tidak mau tersentuh oleh sinar matahari dipagi yang cerah itu. Ketika burung-burung bersiul dipepohonan, maka di halaman Kademangan telah disiapkan tiga ekor kuda. Ki Tumenggung Dipanata dan pengawalnya akan segera meninggalkan Kademangan Kepandak, kembali ke Mataram setelah ia menunaikan tugasnya menyerahkan anak-anak Kepandak itu kembali, meskipun tidak seluruhnya seperti ketika mereka berangkat. "Apakah Ki Tumenggung tidak menunggu sampai besok? Kami bermaksud untuk menyelenggarakan keramaian, menyambut anak-anak kami yang telah kembali. Meskipun tidak seluruhnya dapat melihat kampung halamannya, tetapi kami ingin menunjukkan kebanggaan kami atas mereka" "Terima kasih" jawab Ki Tumenggung "kami masih mempunyai tugas-tugas lain yang harus kami selesaikan. Kami sudah menyerahkan anak-anak Ki Demang itu kembali. Dan perlakukan mereka seperti anak-anak Ki Demang pula. Tidak ada kecualinya. Kalau ada persoalan sebaiknya dilihat dengan saksama dan dengan hati yang bening supaya Ki Demang tidak salah langkah. Bagaimanapun juga, kami, para prajurit, pernah berjuang bersama mereka, sehingga diantara kami dan anak-anak muda Kepandak itu seakan-akan telah terikat oleh kesatuan nasib di medan yang ganas" Ki Demang di Kepandak mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia segera dapat menangkap maksud Ki Tumenggung, sehingga Ki Demang itupun kemudian menjawab "Aku akan mencobanya. Aku akan mencoba mengamati hatiku yang sedang buram saat ini" Ki Tumenggung Dipanata tersenyum. Kemudian setelah ia merasa bahwa tugasnya benar-benar telah selesai, iapun segera minta diri kepada Ki Demang dan bebahu Kademangan yang ada di pendapa itu pula, termasuk Ki Reksatani. Sejenak kemudian, diantar oleh Ki Demang dan paru bebahu itu sampai ke regol, Ki Dipanayapun meninggalkan halaman Kademangan Kepandak bersama pengawalnya. Di tikungan ia masih berpaling. Namun kemudian kudanya berpacu semakin cepat meninggalkan padukuhan itu. Di ujung Kademangan Ki Tumenggung Dipanata sempat bergumam "Kasihan Demang di Kepandak itu. Anak yang selama ini diidam-idamkannya, tiba-tiba hilang bersama ibunya selagi masih di dalam kandungan" Kedua pengawalnya tidak menyahut. Namun mereka dapat mengerti, kenapa Ki Demang mencurigai Pamot dan seperti yang mereka dengar selama di Kademangan, ia mencurigai juga Manguri. Sepeninggal Ki Tumenggung, meskipun dengan hati yang muram Ki Demang memerintahkan juga para bebahu dan adiknya Ki Reksatani menyiapkan keramaian. Bahan-bahan yang semula disediakan untuk menyambut bulan ke tujuh dari kehamilan Sindangsari, kini dipergunakannya untuk menyelenggarakan keramaian menyambut anak-anak Kepandak yang kembali dari medan. Namun Ki Demang berkata kepada Ki Reksatani. "Aku hanya ingin mengadakan keramaian semalam saja" Dan seperti yang dikatakan oleh Ki Demang, di hari berikutnya keramaian itu memang hanya dilakukan semalam. Bukan saja karena Ki Demang sedang bersusah hati, namun wajah-wajah dari anak-anak Kepandak yang baru pulang itupun tidak secerah wajah-wajah mereka sebelum mereka berangkat karena ada diantara mereka yang tidak pulang bersama mereka. Bayangan tubuh mereka yang terbujur di medan itu selalu menyertai mereka, meskipun sedang berada di tengah-tengah keramaian sekalipun. "Semalam sudah cukup" berkata Ki Reksatani kepada Ki Demang di Kepandak "sebenarnya kita harus mengadakan upacara berkabung karena ada diantara mereka, bahkan beberapa, tidak dapat kembali ke rumah masing-masing" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menganggap bahwa kata-kata adiknya itu memang lepat. "Apalagi kakang Demang sendiri sedang mengalami kesulitan" "Ya" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kehidupan yang wajar harus segera pulih kembali di Kademangan ini, setelah dikejutkan oleh hilangnya mBok-ayu dan kedatangan anak-anak itu" Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun Ki Reksatani cepat-cepat meneruskan "Bukan berarti usaha kila mencari mBok-ayu terhenti. Tetapi justru supaya usaha itu tidak terganggu oleh bermacam-macam persoalan" Ki Demang tidak menyahut. Tetapi direnunginya dedaunan yang bergerak-gerak disentuh angin di luar pendapa. Sejenak hatinya diguncang oleh keragu-raguan. Namun kemudian ditetapkannya niatnya untuk menemukan isterinya yang hilang itu. Maka katanya "Ke Reksatani. Aku kira, setelah semuanya dapat berjalan sewajarnya, datanglah saatnya, aku dengan sungguh-sungguh mencari isteriku. Itu adalah terutama kewajibanku. Bukan kewajiban orang lain. Karena itu iku ingin mengatakan kepadamu, lakukanlah tugasku sehari-hari sebagai Demang di Kepandak. Aku akan pergi untuk waktu yang tidak tertentu. Aku harus menemukan mBok-ayumu yang hilang itu" Dada Ki Reksatani berdesir. Ia belum sempat melihat sendiri, dimana Sindangsari disembunyikan. Ia belum sempat mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Dan Ki Reksatani sama sekali lidak mengira, bahwa Ki Demang akan begitu cepat mengambil keputusan untuk meninggalkan Kepandak. "Apakah kau dapat mengerti?" bertanya Ki Demang kemudian karena Ki Reksatani tidak segera menjawab. "Kakang Demang" berkata Ki Reksatani agak tergagap "agaknya kakang Demang menjadi terlampau tergesa-gesa. Bukankah kakang Demang merencanakan untuk mencarinya di Kademangan di sekitar Kepandak? Kakang Demang dapat membawa beberapa orang bebahu dan pembantu, sementara aku akan mencarinya dengan sungguh-sungguh pula di tempat yang lain" "Ki Demang di Kepandak menggelengkan kepalanya. Katanya "Niat itu aku batalkan. Aku tidak ingin menumbuhkan geseran-geseran dengan tetangga, Kalau kita datang dengan sekelompok bebahu dan pengawal, seakan-akan kita akan melakukan tindak kekerasan di daerah tetangga. Setelah aku renungi, maka niat itu sebaiknya aku batalkan saja. Yang akan aku lakukan kemudian adalah perbuatan seorang suami, bukan seorang Demang. Aku harus menemukan isteriku tanpa menimbulkan benturan-benturan dan apalagi korban-korban yang tidak bersalah. Ki Reksatani menjadi semakin cemas. Ternyata Ki Demang telah menemukan ketenangan sehingga ia dapat memikirkan cara yang sebaik-baiknya dan bahkan dengan sikap seorang laki-laki. Meskipun demikian Ki Reksatani masih berusaha "Baiklah kakang. Tetapi kakang tidak perlu segera berangkat. Apakah artinya Reksatani sebagai seorang saudara muda. Aku akan mencobanya lebih dahulu" "Aku lebih berkewajiban" "Benar kakang. Tetapi ada kewajiban kakang yang lain sebagai seorang Demang. Aku minta waktu sepuluh hari. Kalau di dalam sepuluh hari aku tidak dapat menemukan mBok-ayu Sindangsari, maka terserahlah kepada kakang Demang. Apa yang akan kakang Demang lakukan. Namun demikian setiap saat aku akan melakukan perintah kakang apabila kakang menghendaki. Ki Demang mengangguk-angguk sambil berkata "Terima kasih Reksatani. Aku kira aku dapat memenuhi permintaanmu Tetapi tidak lebih dari sepuluh hari supaya aku tidak terlambat apabila kau gagal menemukannya" Serasa setitik embun jatuh di hati Ki Reksatani yang gersang. Ia mendapat waktu sepuluh hari. Di dalam waktu sepuluh hari itu ia dapat pergi kemanapun tanpa kecurigaan sama sekali. Dan di dalam waktu yang sepuluh hari itu ia akan dapat berbuat banyak sekali atas Sindangsari yang disembunyikan di Sembojan. "Baiklah kakang" berkata Ki Reksatani kemudian "aku akan mempergunakan waktu yang sepuluh hari itu sebaik-baiknya. Aku akan berusaha untuk menemukan mBok-ayu. Di dalam waktu yang sepuluh hari itu aku dapat menjelajahi seluruh daerah Selatan ini. Bahkan sampai ketelatah Mangir dan Menoreh" Demikianlah, maka Ki Reksatani merasa bahwa ia harus memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya. Sesudah sepuluh hari, kalau kakaknya benar-benar akan meninggalkan Kademangan, maka ia pasti akan terikat oleh jabatan yang akan dipangkunya, meskipun jabatan itulah yang selama ini diimpikan. "Di dalam pengembaraannya itu, mungkin sekali kakang Demang akan dapat menemukan Sindangsari" katanya di dalam hati. Karena itu, maka kecemasan yang melonjak-lonjak selalu menggetarkan dadanya. "Yang paling baik bagiku adalah menyingkirkan Sindangsari. Menyingkirkan sejauh-jauhnya, sehingga tidak mungkin lagi seseorang dapat menemukannya" tiba-tiba saja ia menggeram. Memang bagi Ki Reksatani t idak ada jalan yang paling baik daripada membunuh perempuan itu. Bahkan kemudian "Kalau perlu bersama Manguri dan ayahnya sama sekali. Tidak akan ada orang yang mencarinya seandainya untuk beberapa lama Manguri tidak tampak di Gemulung. bahkan seandainya ia dibicarakan orang, maka setiap orang pasti justru akan mencurigainya, melarikan Sindangsari dan tidak kembali lagi ke Kademangan Kepandak. Ki Reksatani yang menyadari kelebihannya, sama sekali tidak mencemaskan kemampuan ayah beranak itu. Bahkan Lamat yang bertubuh raksasa itu sama sekali tidak dihiraukannya. Menurut pengertian Ki Reksatani. Lamat adalah raksasa yang kuat, tetapi betapa bodohnya. Pada hari itu Ki Reksatani minta diri kepada kakaknya untuk meninggalkan Kademangan. "Besok aku akan berangkat kakang" berkata Ki Reksatani "karena itu, biarlah isteriku pulang menunggui anak-anaknya" Ki Demang di Kepandak mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Hati-hatilah di perjalanan. Jangan lengah tetapi juga jangan tergesa-gesa menentukan sikap apapun. Dengan demikian kau tidak akan mudah masuk perangkap, tetapi juga tidak mudah terjerumus ke dalam kekeliruan. Mungkin kau sendiri t idak akan mendapat cidera karena kekeliruanmu itu. Tetapi apabila kau sudah terlanjur bertindak atas seseorang, maka korbanmu itu akan mengutukmu sepanjang abad" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah kakang. Sekaligus aku minta diri. Selama sepuluh hari aku tidak berada di Kademangan. Bendungan yang sedang digarap itupun akan aku tinggalkan untuk sementara. Tetapi beberapa orang sudah akan dapat mengurusnya" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa curiga sama sekali ia menjawab "Baiklah. Aku sekali-sekali akan menengok bendungan yang sedang kau garap itu" Ki Reksatanipun kemudian meninggalkan Kademangan itu bersama isterinya, pulang ke rumahnya. Ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tugas yang cukup berat baginya. "Aku akan melihat perkembangan keadaan" katanya kepada isterinya ketika mereka sudah berada di rumah "kalau aku menganggap bahwa tidak mungkin lagi menyembunyikan Sindangsari, apaboleh buat" "Tetapi jangan dibunuh perempuan itu. Ia sedang mengandung" "Justru karena ia mengandung. Kandungannya itulah yang akan menjadi duri selama hidupku. Kalau anak di dalam kandungan itu harus mati, lebih baik membunuhnya sekarang, sebelum ia lahir dan hidup" "Kita akan berdosa" "Itu lebih baik. Dosa kita akan berlipat kalau kita menunggu bayi itu lahir" Nyai Reksatani tidak dapat menjawab lagi. Tetapi kepalanya tertunduk. Hatinya adalah hati perempuan. Bagaimanapun juga, terasa bahwa jalan yang diambah suaminya adalah jalan yang sesat. Tetapi ia tidak kuasa untuk berbuat lebih banyak dari memberinya peringatan. Namun di dalam hatinya sendiri, kadang-kadang tumbuh juga keinginan seorang ibu. Keinginan melihat anak-anak nya nanti menjadi orang yang terpandang, seperti dikehendaki oleh suaminya. Benturan-benturan itulah yang membuatnya kadangkadang kehilangan kemampuan berpikir lagi, sehingga kadang-kadang ia bergumam "Aku tidak tahu. Terserahlah apa yang akan terjadi" Demikianlah, maka dengan hati yang berdebar-debar Ia melihat suaminya mempersiapkan dirinya. Keris pusakanya selalu disiapkannya di lambung meskipun ia masih akan berangkat besok. "Aku harus membawa Manguri" katanya di dalam hati "kalau perlu aku akan dapat membunuhnya sekali" Adalah kebetulan sekali, bahwa sebelum ia memberitahukan keberangkatannya kepada Manguri, seorang pesuruh anak muda itu telah datang kepadanya dan bertanya kapan ia akan pergi ke Sembojan. "Aku akan pergi besok" berkata Ki Reksatani "kalau Manguri akan pergi juga, suruhlah ia menunggu di luar Kademangan ini, supaya tidak ada orang yang melihat sehingga dapat menumbuhkan kecurigaan" Demikianlah maka pesuruh itupun segera pulang dan menyampaikannya kepada Manguri. "Lamat" berkata Manguri kemudian "besok kita akan pergi" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasakan perbedaan nada kata-kata Manguri Kali ini Manguri tampak bersungguh-sungguh dan bukan sekedar ingin membentakbentak saja. Berkata anak muda itu pula "Kita harus berhatihati. Banyak hal dapat terjadi" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kita akan menunggu di luar Kademangan Kepandak. Dan kita akan pergi bersama-sama dengan Ki Reksatani" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Terbayang di rongga matanya, suatu perjalanan yang tegang dan mendebarkan. Setiap saat Ki Reksatani dapat berubah pendirian. Apalagi Ki Reksatani adalah seorang yang tidak bedanya seperti Ki Demang di Kepandak sendiri. Ia adalah orang yang tidak terlawan. "Kita akan berangkat sebelum terang tanah, supaya tidak seorangpun yang melihat kita. Apalagi apabila orang itu melihat pula Ki Reksatani meninggalkan Kademangan ini" "Ya" Lamat mengangguk. "Selain kau, aku akan membawa dua tiga orang kawan yang lain. Mungkin mereka kita perlukan di perjalanan" "Kita akan berangkat berlima atau enam bersama-sama?" "Tentu tidak. Biarlah orang-orang itu mendahului kita berpencaran. Tetapi kita berjanji untuk bertemu di luar Kademangan ini" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa ia harus mempersiapkan semuanya. Kuda, memilih orangorang terbaik dan menyiapkan senjata yang akan mereka bawa, dan senjatanya sendiri. Demikianlah, Lamat yang selalu diguncang oleh perasaannya itu menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di perjalanan. Mungkin Ki Reksatani sudah puas melihat persembunyian Sindangsari. namun mungkin karena kecemasannya, tiba-tiba saja tumbuh keinginannya membunuh Sindangsari. "Kalau Ki Reksatani ingin membunuh Sindangsari" berkata Lamat di dalam hatinya "sudah pasti, ia yang termasuk orangorang yang dapat menjadi saksi dari pembunuhan itu akan dimusnahkannya pula" Tanpa sesadarnya Lamat meraih sehelai golok di dinding biliknya. Jarang sekali golok itu dibawanya keluar. Kadangkadang ia hanya sekedar membawa sehelai parang. Tetapi kali ini, tiba-tiba saja tumbuh keinginannya untuk membawa goloknya. Meskipun golok itu tidak terlampau panjang, tetapi beratnya hampir dua kali lipat dari berat pedang biasa Bahkan selain golok itu, Lamat telah menyisipkan pula sehelai pisau belati kecil dipinggangnya. Ia sendiri t idak tahu, kenapa ia menganggap perlu untuk membawa senjata-senjata itu. Bahkan ketika malam menjadi gelap, dan Lamat masih harus pergi ke sawah, senjata-senjata itu sudah dibawanya pula selain cangkul di pundaknya. Seolah-olah di tengah sawah telah pula menunggu bahaya yang akan mengancam jiwanya. Jiwanya yang seolah-olah telah tergadaikan itu. "Malam ini aku akan beristirahat di rumah" berkata Manguri "Besok kita akan berangkat lagi. Kaupun harus segera pulang dan tidur. Kita tidak boleh terlambat bangun" Lamat mengangguk "Aku akan segera pulang apabila sawah itu sudah penuh. Mungkin kita akan meninggalkan dua tiga hari, sehingga kita tidak akan dapat mengairinya selama itu. Aku kurang yakin bahwa orang-orang lain, para pekerja itu dengan sungguh-sungguh akan melakukan pekerjaan yang menjemukan ini" "Terserahlah kepadamu. Tetapi besok kita akan berangkat menjelang fajar. Kita akan menunggu Ki Reksatani di luar Kademangan" Dengan kepala tunduk Lamatpun kemudian melangkahkan kakinya menyelusuri jalan padukuhan pergi ke sawah. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja apabila ia bertemu dengan anak-anak muda Gemulung. Hubungannya dengan anak-anak muda itu tidak begitu baik seperti juga Manguri Tetapi anak-anak muda Gemulung menganggap bahwa Lamat hanyalah sekedar lembu perahan yang bodoh dan tidak bersikap apapun juga. Dengan demikian, maka anak-anak muda Gemulung justru tidak menumpahkan kebencian mereka kepadanya. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang merasa kasihan kepada raksasa yang tidak lebih dari seorang budak itu. Seperti biasanya, orang-orang di Padukuhan Gemulung berusaha untuk menghindarkan pertengkaran berebutan air. Karena itu, setiap kali mereka saling berbincang, bagaimana malam nanti mereka akan membagi air yang tidak terlampau deras mengalir. Dengan demikian, maka pertengkaran akan dapat dihindari sejauh-jauhnya. Setiap orang tidak berniat sama sekali untuk mengingkari persetujuan mereka sehingga dengan demikian semuanya dapat berlangsung dengan lancar dan baik. Setelah mendapat ketetapan pembagian air, maka Lamatpun segera pergi ke gubugnya. Ia mendapat pembagian air sedikit lewat tengah malam, sehingga karena itu, ia akan dapat tidur barang sejenak. "Mudah-mudahan aku tidak terlanjur tertidur sampai pagi" desisnya. Tetapi apabila seseorang tertidur dan membiarkan air yang menjadi bagiannya lewat, kadang-kadang tetangga-tetangga yang mengetahuinya membangunkannya juga. Karena merekapun mengetahui, betapa besarnya nilai air di musim yang kering ini. Tetapi ketika Lamat baru saja membaringkan dirinya, ia merasa gubugnya bergerak-gerak. Karena itu, maka iapun segera bangkit dan memperhatikan keadaan di sekitarnya dengan saksama. Telinganya yang tajam segera menangkap desah nafas di bawah gubugnya. Perlahan-lahan. Tetapi cukup jelas baginya. Dengan dada yang berdebar-debar Lamat menunggu. Siapakah yang sedang berdiri di bawah gubugnya itu. Sudah pasti bukan Manguri. Kalau yang datang itu Manguri, ia akan segera berteriak memanggil, atau dengan segera meloncat naik. Lamat masih menunggu sejenak. Tetapi orang yang berada di bawah gubugnya itu masih tetap berada di tempatnya. Akhirnya Lamat tidak menunggu lagi. Dari sela-sela alas gubugnya ia mencoba mengintip. Namun ia tidak dapat melihat dengan jelas siapakah yang berada di bawah gubugnya itu. Ia hanya melihat seseorang berdiri bersandar tiang. Lamat menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun mencoba menyapa "Siapa yang di bawah?" Sejenak tidak ada jawaban, sehingga Lamat mengulanginya "Siapa yang di bawah itu?" Ketika orang itu kemudian menengadahkan wajahnya, Lamat dapat menduganya, bahwa orang itu adalah Pamot. "Aku Lamat" terdengar jawaban. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba-menahan gelora yang melonjak-lonjak di hatinya. Tiba-tiba saja Pamot kini menjadi hantu yang menakutkan baginya. "Siapakah yang kau cari disini?" Lamat bertanya. "Aku mencarimu Lamat" "Aku?" "Ya. Turunlah, atau aku akan naik?" Lamat menjadi ragu-ragu sejenak. Ia sadar, bahwa pertanyaan Pamot akan berkisar di sekitar Sindangsari. Sehingga karena itu, iapun kemudian menjawab "Aku lelah sekali. Aku ingin tidur" "Aku ingin berbicara sedikit saja Lamat. Kalau aku naik, dan Manguri datang setiap saat, maka aku akan diketahuinya datang menemui kau" "Pergilah" berkata Lamat kemudian. Detak jantungnya serasa menjadi semakin cepat mengguncang isi dadanya "aku tidak sempat berbicara apapun sekarang" "Sebentar saja. Atau aku akan berteriak dari bawah" "Pergi. Pergilah Pamot, Jangan membuat aku marah" Pamot mengerutkan keningnya. Namun ia tidak segera pergi. Bahkan ia berkata pula "Kau tentu bersedia turun sejenak. Hanya sejenak. Aku akan segera pergi supaya aku tidak mengganggumu disini" "Pergilah sekarang" "Aku harap kau turun sejenak Lamat, aku tidak mempunyai tempat lagi untuk bertanya Aku menganggap bahwa pertanyaan ini dapat aku sampaikan kepadamu. Dan aku mengharap kau masih bersedia menolongku" "Cukup. Pertolonganku kepadamu sudah cukup banyak. Sekarang kau jangan mengganggu aku lagi. Aku tidak tahu apa-apa tentang Sindangsari. Aku tidak tahu apa-apa tentang dunia luar dinding halaman rumah Manguri. Aku tidak tahu apa-apa. Bahkan keadaan di dalam halaman itupun aku tidak mengetahui banyak" "Tetapi aku tidak bertanya tentang Sindangsari Lamat" Terasa desir yang tajam tergores di dada Lamat. Sejenak ia merenung. Bahkan kemudian ia menjengukkan kepalanya. Dilihatnya Pamot kini berdiri di depan tangga. "Kenapa kau selalu menggelisahkan aku Pamot. Kau tahu siapa aku. Tidak seharusnya kau selalu mengejar aku dan menghantui aku dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang tidak aku mengerti" "Apakah kau tidak akan turun?" bertanya Pamot. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian bergeser menepi. Katanya "Baiklah. Aku akan turun. Tetapi jangan bertanya tentang Sindangsari, tentang Ki Demang dan persoalan-persoalan yang bersangkut paut dengan itu" "Ya" "Kau berjanji?" "Ya" Lamat terdiam sejenak. Namun kemudian iapun menuruni tangga gubugnya menemui Pamot yang masih berdiri di bawah. "Cepat bertanyalah" berkata Lamat. "Lamat" sahut Pamot "Kenapa kau sekarang berubah? Ketika aku berada di dalam kesulitan, di saat-saat aku akan meninggalkan Gemulung, kau selalu melindungi aku. Bahkan kadang-kadang di luar dugaanku dan dapat membahayakan dirimu sendiri. Tetapi sekarang kau bersikap sangat berbeda. Apakah aku sudah berbuat kesalahan yang menyinggungmu? Atau barangkali, kau tidak dapat melupakan dosa yang telah aku lakukan di luar sadarku itu?" Dada Lamat menjadi semakin berdebar-debar. Namun kemudian ia memotongnya "Cepat katakan keperluanmu" "Apakah kau tidak mau lagi berbicara dengan tenang dan baik seperti dahulu" "Diam" Lamat tiba-tiba membentak "cepat katakan dan cepat tinggalkan tempat ini. Sebentar lagi Manguri akan datang kemari. Kau tidak akan dapat bersembunyi lagi" Pamot menarik nafas dalam-dalam. "Ya. Memang mungkin sekali kau sudah terlampau muak kepadaku. Malam itu kau masih dapat menahan hati. Kau masih sempat memberi kesempatan aku bersembunyi" "Ya. Sekarang aku sudah benar-benar muak melihat wajahmu. Aku tidak dapat melupakan noda yang memercik di hatimu. Aku tidak dapat melupakan betapa jahatnya kau malam itu. Kau sudah berbuat sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang beradab" "Baiklah. Aku minta maaf sekali lagi" "Kenapa kau minta maaf kepadaku. Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan kau, dengan Sindangsari dan dengan Ki Demang yang isterinya telah kau nodai. Aku tidak berkepentingan apapun" "Baiklah Lamat. Baiklah. Tetapi apakah aku boleh bertanya sesuatu kepadamu. Sebuah pertanyaan saja" Lamat memandang Pamot dengan mata yang gelisah. Dan tiba-tiba ia membentak "Cepat, katakan pertanyaanmu itu" "Lamat" suara Pamot merendah "kenapa Ki Reksatani pada malamitu datang menemui Manguri?" Pertanyaan itu serasa menghentakkan seluruh isi dada Lamat. Sejenak ia membeku di tempatnya. Namun sejenak kemudian ia membentak pula "Kau sudah berjanji, kau tidak akan bertanya tentang Sindangsari, Ki Demang atau yang bersangkut paut dengan itu. Kenapa kau melanggar janjimu?" "Aku tidak bertanya tentang Sindangsari, tentang Ki Demang dan yang bersangkut paut dengan itu Lamat. Tetapi aku bertanya, kenapa Ki Reksatani memerlukan menemui Manguri di malam hari?" Pamot hampir tidak dapat menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba saja terasa tangan Lamat menampar pipinya, sehingga Pamot terputar ke samping. Bahkan karena kakinya tergelincir, maka iapun kemudian terjatuh di tanah berlumpur. Sebelum ia sempat bangkit, maka tangan Lamat yang kuat telah menerkambajunya dan menariknya. "Kau gila Pamot. Kau sudah melanggar janjimu. Kau membuat hidupku yang pahit ini menjadi semakin parah" Betapa geramnya tangan Lamat mengguncang tubuh Pamot yang seakan-akan tidak berdaya sama sekali. "Kau tidak berhak memaksa aku menjawab pertanyaanmu yang manapun juga. Karena itu, kau harus segera pergi. Kau jangan membuat aku menjadi gila dengan pertanyaanpertanyaan serupa itu. Atau aku harus membunuhmu sebelum aku benar-benar menjadi gila?" Sebelum Pamot menjawab, maka didorongnya tubuh anak muda itu sehingga sekali lagi ia terlempar dan jatuh di dalam lumpur. "Pergilah. Dan jangan bertanya apapun juga" Tertatih-tatih Pamot berusaha bangkit. Apalagi setelah ia menjadi bagian dari pasukan Mataram yang melawat ke Betawi. Oleh seorang perwira ia mendapat tuntutan khusus di dalam olah kanuragan. Namun Pamot sama sekali tidak berusaha melawan. Ia sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak akan dapat menang apabila ia sengaja melawan raksasa itu. Tetapi lebih daripada itu, Pamot memang tidak berhasrat sama sekali untuk bertengkar dengan Lamat. "Baiklah Lamat" berkata Pamot kemudian "ternyata yang aku jumpai sekarang bukan Lamat yang dahulu" "Diam, diam kau" "Ya, ya Lamat. Aku akan diam. Selamat malam. Aku akan pergi. Aku tidak akan kembali lagi kepadamu, supaya kau tidak merasa terganggu, meskipun aku tidak berniat demikian" Lamat sama sekali tidak menjawab. Ia sama sekali tidak mau lagi memandang wajah Pamot yang kotor oleh lumpur. Bahkan hampir seluruh tubuh dan pakaiannya. "Aku akan pergi Lamat" Lamat sama sekali tidak menjawab. Tetapi ketika Pamot mulai melangkahkan kakinya, Lamat menggeram "Seharusnya aku bunuh kau. Kau dapat menimbulkan salah paham. Kalau kau memang melihat Ki Reksatani menemui Manguri, itu karena Ki Reksatani mencurigainya. Dan setiap saat selalu mendesaknya agar Manguri mengaku bahwa ia telah ikut terlibat di dalam masalah itu" Pamot memandang Lamat dengan tajamnya. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. "Tetapi dugaan itu sangat bodoh. Manguri t idak memerlukan perempuan itu. Perempuan yang sudah mengandung karena kau dan yang sudah menjadi isteri orang pula. Manguri dapat mengambil gadis yang manapun juga. Yang jauh lebih cantik dari Sindangsari"' Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Seakan-akan tanpa disadarinya ia berkata "Ya Lamat. Memang Ki Reksatani bodoh sekali di dalam hal ini" "Diam, diam kau. Kau tidak usah turut berbicara" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian ia melihat kegelisahan yang memuncak pada diri Lamat. Kegelisahan yang tidak dapat disembunyikannya lagi. Sambil menarik nafas dalam-dalam Pamot berkata "Sudahlah Lamat. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun bahwa aku melihat Ki Reksatani datang ke tempat ini dan memaksa Manguri untuk mengakui sesuatu yang tidak dilakukannya" "Diam, diam" Lamat hampir menjerit. Berbareng dengan itu sekali lagi tangannya menampar pipi Pamot, sehingga Pamot sekali lagi terputar dan jatuh ke dalam lumpur. Perlahan-lahan Pamot berdiri. Kini terasa darahnya mulai menjadi panas. Bagaimanapun juga, ia tidak akan dapat membiarkan dirinya dipukuli tanpa berbuat sesuatu. Sebelum ia sempat bangkit, maka tangan Lamat yang kuat telah menerkambajunya dan menariknya. Tiba-tiba Pamot menggeretakkan giginya. Selangkah ia maju sambil berkata "Lamat. Aku percaya bahwa kau dapat membunuh aku. Kenapa hal itu tidak kau lakukan? Aku kira itu akan menjadi lebih baik daripada kau seakan-akan benarbenar telah gila. Apakah kau sadari kelakuanmu itu? Nah. Kalau kau ingin membunuh aku, lakukanlah. Ketika aku datang untuk pertama kalinya di Kepandak, selagi aku masih berada di dalam barisan berkuda itu, Ki Demang juga akan melakukannya. Ki Demang menuduh aku melarikan Sindangsari dan menuntut agar aku diserahkannya kepadanya. Tetapi Ki Tumenggung Dipanata tidak mau karena ia tahu, bahwa aku tidak bersalah. Sekarang kau yang agaknya sudah menjadi gila itu akan membunuh aku pula, karena aku melihat Ki Reksatani datang menemui Manguri dan memaksa Manguri untuk mengakui tanpa melakukan kesalahan seperti, aku" Pamot berhenti sejenak, lalu melangkah lagi ia mendekat "lakukanlah. Kau malam ini membawa senjata yang mengerikan itu. Sekali ayun, leherku akan lepas dari tubuhku. Kau tinggal menyeret mayatku dan melemparkannya ke kali. Tidak akan ada orang yang akan menuduhmu. Semua orang pasti akan menyangka bahwa Ki Demanglah yang telah melakukannya atau orang-orang yang disuruhnya seperti ketika aku merayap ke rumah Sindangsari sebelumaku pergi" "Cukup, cukup" Lamat tiba-tiba menutup kedua telinganya dengan tangannya. Sama sekali tidak seperti yang diduga oleh Pamot. bahwa Lamat itu akan marah sekali dan mencekiknya sampai mati. Tetapi tiba-tiba Lamat menjatuhkan dirinya dan duduk di pematang sambil menutup telinganya rapat-rapat. Pamot menjadi heran. Karena itu, maka iapun justru terdiam. Perlahan-lahan ia mendekati Lamat yang duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sejenak mereka saling berdiam diri. Pamot masih berdiri termangu-mangu, sedang Lamat duduk terpekur seakan-akan merenungi air di bawah kakinya. "Maaf Lamat Apakah aku menyakiti hatimu?" desis Pamot kemudian "baiklah, aku akan diam. Aku hanya akan minta diri kepadamu kalau kau tidak ingin membunuh ku. Aku tidak akan mengganggumu lagi" Lamat tidak menjawab. Ia masih menekurkan kepalanya. Namun dalam pada itu, dadanya bergejolak dahsyat sekali. Ia sedang diamuk oleh keragu-raguan dan hampir kehilangan kesadarannya tentang dirinya sendiri, Lamat hampir tidak dapat mengenal lagi kata-kata hatinya sendiri. Ia tidak tahu, apakah sebenarnya yang kini dikehendakinya, diinginkannya dan persoalan yang dihadapinya. Dan bahkan ia tidak lagi dapat membedakan, mana yang benar dan mana yang tidak benar menurut nuraninya. "Aku sudah menjadi gila Pamot. Benar-benar gila" desisnya. Pamot mendekatinya dan seperti tanpa disadarinya ia duduk di samping raksasa itu "Aku tidak mengetahui dengan pasti, apakah yang sedang bergolak di hatimu. Tetapi kalau semuanya itu karena singgungan kata-kataku, pertanyaanku dan barangkali kecurigaanku, aku minta maaf. Mudahmudahan kau dapat melupakannya" Lamat tidak menjawab. Tetapi kata-kata Pamot itu justru membuatnya semakin bingung. Hatinya seakan-akan telah menjadi gelap pekat. Ia tidak tahu lagi jalan yang harus dilaluinya. "Aku memang sudah gila. Aku benar-benar sudah gila. Aku hanya tinggal mengenal nama-nama orang, namamu, nama Manguri, Ki Reksatani, Ki Demang, Sindangsari, tetapi aku tidak akan dapat mempunyai tanggapan apapun juga" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melihat beban yang terlampau berat di hati raksasa yang jinak itu. "Pamot " tiba-tiba Lamat berkata dalam nada yang dalam "kalau kau berdiri di simpang jalan, jalan yang manakah yang akan kau pilih?" Pamot menjadi bingung mendengar pertanyaan itu. Karena itu ia ganti bertanya "Aku tidak mengetahui maksudmu dengan pasti Lamat. Dan aku tidak mengenal kedua ujung dari jalan simpang itu, sehingga aku tidak akan dapat memilih" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya, kau tidak mengenal ujung jalan simpang itu. Tetapi manakah yang lebih baik bagimu. Membalas budi atau menyelamatkan jiwa seseorang. Aku berhutang budi kepada seseorang yang telah menyelamatkan jiwaku Pamot, tetapi kini aku melihat jiwa seseorang sedang terancam. Mungkin ia akan mati terbunuh, tetapi seandainya tidak, maka jiwa itupun akan di rampas oleh malapetaka sepanjang hidupnya seperti hidupku sendiri. Bahkan lebih parah lagi" Pamot tidak segera menjawab. Di wajahnya membayang keheranannya yang memuncak. "Pamot " berkata Lamat kemudian "apakah sebaiknya yang akan kulakukan seandainya Manguri menyuruh aku membunuhmu, sedang kau tidak bersalah?" Dada Pamot berdesir mendengar pertanyaan itu. Dengan serta merta ia bertanya "Jadi kau mendapat perintah Manguri untuk membunuh aku?" "Tidak" "Jadi" Pamot mendesak "jadi bagaimana" "Seandainya, hanya seandainya. Aku telah berhutang budi kepada Manguri karena ayahnya telah menyelamatkan nyawaku di masa kanak-kanak. Padahal aku tahu bahwa kau sama sekali tidak bersalah. Hal itu hanya dilakukan sekedar untuk kesenangannya saja" "Kesenangan?" "Ya. Sekedar kepuasan karena ia ingin melihat kau mati" Pamot tidak menyahut. "Pamot, apakah yang akan kau lakukan"? Apakah karena aku berhutang budi, maka aku harus membunuhmu tanpa pertimbangan? Atau aku harus mencegahnya, meskipun akibatnya akan membuat aku tidak lagi dapat membalas budi" "Persoalanmu memang aneh Lamat" berkata Pamot "aku tidak dapat membantumu memecahkan parsoalan itu. Tetapi kalau ayah Manguri benar seorang yang baik, ia tidak akan menuntut balas budi dari pertolongannya itu. "Maksudmu aku dapat melupakannya dan tidak memperhitungkannya lagi di dalamsetiap t indakanku?" "Bukan begitu. Tetapi sampai dimanakah batasnya seseorang harus membalas budi?" Lamat tidak menyahut. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Sejenak ia membeku seperti itu. Bahkan kemudian terasa tubuhnya menjadi dingin sekali. Pamot yang duduk di samping Lamat membiarkannya duduk terpekur. Namun dada Pamot menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar nafas Lamat yang semakin cepat. Bahkan kemudian terengah-engah seakan-akan Lamat sedang melakukan pekerjaan yang sangat berat. Sebenarnyalah, di dalam hati raksasa itu sedang terjadi benturan yang dahsyat. Suatu pergolakan perasaan yang hampir tidak teratasi. Dengan sekuat kemampuannya Lamat mencoba mengatasi. Sambil mengatupkan giginya rapat-rapat Lamat memeras perasaan di dadanya. Sebuah pemberontakan yang tidak tertahankan telah meledak di dadanya. Tiba-tiba Lamat itu menghentakkan kakinya sehingga Pamot terkejut karenanya. Apalagi ketika Lamat itu menggeram "Tidak. Aku harus berdiri diatas nuraniku sendiri. Aku masih tetap mempunyai pribadi. Aku bukan seekor kerbau. Aku bukan seekor lembu perahan yang tidak berhak menentukan sikap" Pamot bergeser setapak menjauh. Dipandanginya Lamat yang perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Ditatapkan kepekatan malam dengan mata yang seakanakan menyala. "Aku telah menemukannya. Aku telah memutuskannya apapun yang akan terjadi. Aku tidak dapat membiarkan kegilaan itu berkepanjangan" Pamot masih duduk diam, Sejengkal lagi ia bergeser menjauh tanpa menghiraukan pakaiannya yang semakin kotor karena lumpur pematang. Bahkan kemudian ia menjadi cemas melihat Lamat. "Apakah Lamat telah benar-benar menjadi gila?" Pamotpun kemudian berdiri ketika ia melihat Lamat berdiri. Ia harus bersiap menghadapi setiap kemungkinan di dalam kegilaan itu, apabila Lamat benar-benar menjadi gila. Lamat yang berdiri tegak itu menjadi terengah-engah. Tubuhnya menjadi gemetar dan bibirnya bergerak-gerak. "Lamat" suara Pamot perlahan-lahan "apakah yang sudah terjadi atasmu?" Lamat t idak menjawab. Kini mulutnya terkatub rapat-rapat. "Lamat, apakah ada sesuatu yang telah mengguncangkan hatimu" "Ya" tiba-tiba Lamat menjawab "Aku telah berusaha menguasai diriku sendiri" Lamat berpaling. Dipandanginya wajah Pamot yang tegang "Pamot. Aku bersumpah bahwa aku adalah Lamat. Aku manusia juga seperti kau, seperti Manguri, seperti Ki Reksatani, meskipun aku pernah berhutang budi. Bukankah aku tetap seorang yang berpribadi?" Tanpa mengetahui maksudnya Pamot mengangguk "Ya" desisnya. "Ya. Dan aku akan bersikap sebagai seseorang yang berpribadi. Aku tidak dapat membiarkan semuanya itu terjadi" "Apa yang akan terjadi Lamat?" Perlahan-lahan Lamat menarik nafas. Tangannya yang menggenggam perlahan-lahan terurai. Sekali lagi ia memandang kekejauhan sambil berkata "Apakah kau masih percaya kepadaku Pamot?" "Ya" Pamot menjawab dengan serta-merta sebelum ia sempat berpikir. "Baiklah Pamot. Kalau kau masih percaya kepadaku, dengarlah" Lamat berhenti sejenak. Sekali lagi ia menarik nafas. Kemudian katanya "Duduklah" Pamot tidak menjawab. Tetapi ketika Lamat duduk di pematang yang basah itu, Pamotpun segera duduk pula di sampingnya. "Pamot " suara Lamat menurun "Apaboleh buat. Aku harus mengkhianati kebaikan budinya" "Apa yang sebenarnya telah terjadi atasmu Lamat" "Kau tidak usah tahu Pamot" Lamat berhenti sejenak, lalu "Pergilah kau besok pagi-pagi ke Sembojan" "Sembojan? Dimanakah Sembojan itu?" "Pergilah sebelum fajar. Kau harus mendahului kami" "Tetapi apakah kepentinganku?" "Sindangsari berada di Sembojan" Betapa terkejut Pamot mendengar keterangan yang tidak disangka-sangka itu, sehingga rasa-rasanya darahnya berhenti mengalir. Sejenak ia justru membeku. Dipandanginya Lamat dengan mulut ternganga. "Bukankah kau masih percaya kepadaku?" bertanya Lamat. "Ya, ya" jawab Pamot terbata-bata "Aku masih percaya Tetapi apakah aku dapat mempercayai pendengaranku. Kau berkata bahwa Sindangsari berada di Sembojan?" "Ya. Aku memang berkata demikian. Besok sebelum fajar, aku harus mengantar Manguri pergi ke padukuhan itu. Selain kami, Ki Reksatanipun akan pergi pula. Apakah kau dapat mengerti?" Pamot tidak menyahut. Keringat dingin telah mengembun di seluruh tubuhnya. "Ki Reksatani dan Manguri telah bersepakat mengambil Sindangsari dari Kademangan. Itulah sebabnya, maka hampir tidak seorangpun dapat membayangkan, bagaimana perempuan itu dapat hilang begitu saja. Akulah yang membawanya meloncat pagar batu di halaman belakang, setelah Nyai Reksatani berhasil memancingkan kebawah rumpun pering petung" Pamot masih saja membeku. Sebuah kejutan yang dahsyat telah membuatnya seolah-olah tidak mampu lagi berpikir untuk sejenak. "Pamot " desis Lamat "keduanya bertemu pada suatu kepentingan Sindangsari harus pergi dari Kademangan. Manguri masih menginginkannya, sedang Ki Reksatani ingin menyingkirkannya, karena Sindangsari, mengandung, dan akan memberikan keturunan yang kelak dapat mewarisi jabatannya" "Gila. Itu perbuatan gila" tiba-tiba Pamot menggeram "dan kau tidak berusaha mencegahnya? Malahan kau membantu menculik perempuan itu" tiba-tiba Pamot berdiri dan menuding wajah Lamat. "Sekarang kaulah yang menjadi gila" sahut Lamat. Ketenangan Lamat telah membuat Pamot menyadari dirinya. Ia mengangguk dan menjawab "Ya, kita bergantian menjadi gila. Sesudah kau, sekarang aku" "Kau harus dapat memandang persoalan ini dengan tenang. Ingat, besok mereka akan pergi ke Sembojan, di daerah Kademangan Prambanan, sebelah Timur Hutan Tambak Baya" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau harus mendahului kami. Banyak hal dapat terjadi Mungkin pembunuhan, sesuai dengan kepentingan Ki Reksatani, tetapi mungkin juga perkosaan menurut kebutuhan Manguri yang ingin memperisterikannya, meskipun dengan paksa" Terdengar gigi Pamot gemeretak. Tiba-tiba ia berkata "Aku akan menghadap Ki Demang" "Jangan. Kita masih belum yakin, apakah kita dapat menemukan Sindangsari. Kalau Sindangsari tidak ada di Sembojan, maka Ki Demang akan menuduhmu mengada-ada" "Jadi apa yang harus aku lakukan?" "Bawalah beberapa orang kawan yang kau percaya. Jangan terlampau banyak supaya tidak menumbuhkan kecurigaan di sepanjang jalan. Kau dapat menghubungi anak-anak muda di Sembojan, barangkali ada juga yang baru pulang dari tugasnya, seperti yang kau lakukan?" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau kau sampai di Sembojan lebih dahulu, kau dapat mencari anak-anak muda itu dan minta bantuan mereka apabila kau perlukan. Tetapi ingat, tunggu apa yang akan terjadi. Kau harus mencari tempat Sindangsari disembunyikan, dan kau harus dapat mengamati apa yang akan terjadi. Dengan bantuan anak-anak muda Sembojan, aku yakin kau dapat melakukannya" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Terima kasih Lamat Aku masih tetap percaya kepadamu. Aku yakin bahwa ujud lahiriahmu tidak sejalan dengan ujud batinmu. Aku berhutang budi kepadamu sejak aku belum berangkat ke Betawi" "Jangan kau sebut-sebut tentang hutang budi. Aku menolongmu dengan ikhlas sehingga aku tidak merasa mempunyai piutang yang akan aku tagih setiap waktu. Hutang budi itu akan mengikatmu seperti aku telah terikat olehnya pula" "Tetapi itu t idak berarti bahwa kita tidak tahu budi. Yang harus kita timbang adalah nilai dari harga diri kita masingmasing dengan bagaimana kita harus membalas budi. Kita harus menentukan keseimbangan di dalam saat-saat seperti yang kau hadapi itu" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Betapapun besar hutang budiku kepada seseorang, tentu aku tidak akan dapat mengorbankan pribadiku, seperti aku tidak akan dapat menyerahkan isteriku misalnya, kepada orang itu. Tetapi adalah harga seseorang itupun dapat dilihat bagaimana ia menghargai budi seseorang" Lamat masih mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nah, Lamat sebaiknya, aku berangkat sekarang. Aku akan membawa beberapa orang kawan dari Gemulung. Tiga atau empat orang. Aku akan berusaha menghubungi anak anak muda di Sembojan. Aku kira pasti ada juga yang ikut di dalam barisan Mataram, karena aku mendengar juga anak-anak muda berdatangan dari Prambanan dan sekitarnya" "Hati-hatilah. Kau harus dapat memilih saat dan keadaan yang tepat. Kalau kau salah hitung, maka kau pasti hanya akan mendapatkan mayat Sindangsari. Kau mengerti?" Pamot mengangguk. Katanya "Aku akan berusaha. Aku harus mendahului mereka" Pamotpun dengan tergesa-gesa meninggalkan sawah Manguri Ketika ia menengadahkan kepalanya, ia melihat bintang Gubug Penceng telah condong ke Barat. Tengah malam baru saja dilampaui. Karena itu, ia harus segera mendapat kawan yang dapat dipercayanya untuk bersamasama pergi ke Sembojan. Ia harus keluar lebih dahulu dari Kademangan sebelum Manguri dan Ki Reksatani. Apalagi mereka mengetahui, bahwa Ki Reksatani adalah seorang yang tidak terlawan di samping Ki Demang di Kepandak sendiri. Sepeninggal Pamot, maka Lamatpun segera berkemas pula. Ia sudah menentukan suatu sikap, sehingga iapun harus bersedia menanggung akibatnya. Manguri baginya kini bukan lagi seorang yang akan dapat mengikatnya, setelah ia berhasil mematahkan ikatan perasaan yang selama ini membelenggunya. Sehingga tiba-tiba saja Lamat merasa dirinya seorang yang bebas, yang tidak terikat lagi. Ia tidak perlu lagi selalu menundukkan kepalanya apabila Manguri membentak-bentaknya. Tetapi Lamat sadar, bahwa ia tidak dapat berbuat demikian dengan tiba-tiba, sehingga dapat menimbulkan kecuriaan Manguri kepadanya. Bagaimanapun juga ia harus bersikap seperti biasa, merendahkan diri dan menahan hati, apabila anak muda itu memperlakukannya seperti budak belian di jaman negeri antah berantah. Sambil menjinjing cangkulnya Lamat berjalan menyelusuri pematang. Ia harus segera pulang untuk menenangkan hatinya, sebelum ia berangkat bersama Manguri keluar Kademangan Kepandak. Namun ketika ia meloncati parit, dilihatnya air yang gemericik. Tiba-tiba saja ia teringat pada pembagian air yang sudah saling disetujui. Lewat tengah malam adalah bagiannya. "Persetan dengan sawah iblis kecil itu" geramnya. Dan Lamatpun melangkah terus. Tetapi ketika dilihat batang-batang padi muda yang seolaholah tertunduk lesu karena kehausan, maka timbullah perasaan iba di hatinya. Meskipun yang dihadapi hanyalah sekedar tumbuh-tumbuhan dan bukan sejenis makhluk yang dapat merasakan betapa hausnya kekeringan air, namun Lamat tidak juga sampai hati untuk membiarkan tumbuhtumbuhan itu layu. Lamat berhenti sejenak termangu-mangu. Namun ia terpaksa melangkah kembali. Dibendungnya parit kecil dan dialirkannya air parit itu ke dalam kotak-kotak sawah. Meskipun ia sama sekali tidak ingin lagi bekerja untuk Manguri namun tanaman-tanaman yang masih muda itu memang memerlukan air. Sejenak Lamat duduk menunggui air yang mengalir masuk ke dalam sawah, seperti yang sudah saling disetujui. Lewat sedikit tengah malam adalah bagiannya. Dan Lamat masih juga sempat mempergunakan kesempatan itu. Bahkan kemudian Lamat menunggui percikan air itu sambil bertopangdagu. "Kalau aku belum datang, Manguri pasti belum akan pergi. Biar Pamot sempat membawa kawan-kawannya meninggalkan Kademangan beberapa saat mendahului. Kalau Manguri dan apalagi Ki Reksatani sempat menyusulnya, maka akibatnya akan menjadi semakin parah" berkata Lamat di dalam hatinya. Demikianlah, meskipun setiap kali Lamat menengadahkan kepalanya, memandang langit yang menjadi kemerahmerahan, namun ia masih tetap duduk di pematang menunggui air yang telah memenuhi sawahnya. Lamat terkejut ketika ia mendengar langkah yang tergesagesa mendekatinya. Ketika ia berpaling dilihatnya Manguri bergegas mendapatkannya. Sambil menghentakkan kakinya anak muda itu mengumpat "He, Lamat, apakah kau sudah menjadi gila?" Lamat tidak menjawab, Kali ini ia memaksa dirinya untuk tetap diam, agar Manguri t idak mencurigainya. "Apa kau tidak melihat langit yang sudah semakin merah?" Lamat menengadahkan wajahnya "Kurang sedikit, Sawah ini hampir penuh" "Tinggalkan saja sawah itu terbuka Nanti airnya akan penuh dengan sendirinya" "Tetapi menjelang fajar, aku harus membuka parit itu untuk sawah di sebelah" "Apa pedulimu dengan sawah orang lain" "Kami sudah saling berjanji" "Tutup mulutmu" Manguri membentak "kalau kau takut kepada tetangga, tutup saja air yang mengalir ke sawah kita. Aku kira airnya juga sudah cukup banyak" Lamat tidak menyahut Dengan malasnya ia berdiri dan membuka parit serta penutup pematang sawahnya. "Cepat kita pulang" desis Manguri "Kita harus segera berangkat, sebelum Ki Reksatani mendahului kita" Keduanyapun kemudian berjalan tergesa-gesa meninggalkan sawah mereka. Mereka masih harus pulang dahulu, berkemas dan dengan hati-hati meninggalkan padukuhan. Mereka harus membawa kuda mereka perlahanlahan agar tidak menumbuhkan kegaduhan dan kecurigaan tetangga-tetangga mereka yang memang tidak begitu senang kepada keluarga Manguri itu. Selagi Manguri dan Lamat mempersiapkan diri, setelah mereka makan pagi karena mereka akan menempuh perjalanan yang tidak menentu, maka Pamotpun telah mendahului keluar dari padukuhan. Bersama tiga orang kawannya mereka berkuda tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain. Mereka berempat kemudian berpacu di tengahtengah bulak yang memisahkan padukuhan-padukuhan kecil di Kademangan Kepandak. Namun, mereka memilih jalan yang meskipun agak melingkar, namun sejauh-jauh mungkin dari padukuhan-padukuhan itu, sehingga tidak mengejutkan dan membangunkan penghuni-penghuninya yang masih tidur nyenyak. "Kita menempuh jalan Utara" berkata Pamot. "Kenapa?" bertanya Punta yang ikut pula bersama mereka. "Kita harus menghindari, andaikata Manguri ternyata telah lebih dahulu daripada kita menunggu Ki Reksatani" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya. Perhitunganmu baik sekali. Mungkin Manguri juga berangkat sebelum fajar" Keempat orang itupun kemudian berpacu semakin cepat. Angin malam yang dingin menampar wajah-wajah mereka yang tegang. Suara cengkerik masih juga berderik bersahutsahutan dengan suara bilalang di rerumputan. "Aku mengenal seorang anak muda yang ikut pergi ke Betawi" berkata Punta "Adalah kebetulan kalau aku bertanya kepadanya, dimana rumahnya" "Dimana?" "Kali Mati. Tidak begitu jauh dari Sembojan. Juga termasuk Kademangan Prambanan. Ia anak muda yang baik dan bertanggung jawab" "Jadi maksudmu?" "Apakah kita dapat datang kepadanya dan minta bantuannya. Kita tidak mengenal pimpinan pengawal Kademangan Prambanan. Kita juga tidak mengenal dan tidak dikenal oleh bebahu Kademangan Prambanan. Kalau kita keliru sepatah kata saja, mungkin justru kitalah yang dicurigainya" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Kita datang kepadanya. Kita akan melihat perkembangan keadaan sebelum kita mengambil sikap tertentu. Tetapi aku kira hal itu akan menjadi lebih baik daripada kita berbuat sesuatu tanpa petunjuk apapun" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sejenak kemudian t idak ada seorangpun diantara mereka yang berbicara. Mereka berpacu terus di jalan persawahan yang gelap, meskipun kemudian mata mereka menjadi semakin biasa dan lambat laun seakan-akan malam menjadi semakin remang-remang. Apalagi karena langit di Timurpun menjadi semburat merah pula. Fajar telah hampir menerangi malam yang kelam. Namun anak-anak muda Gemulung itu telah keluar dari telatah Kademangan Kepandak. Dalam pada itu, setelah mempersiapkan diri dengan tergesa-gesa, maka Manguri dan Lamatpun keluar dari regol halaman rumah mereka. Betapapun gelisah hati Manguri, tetapi mereka harus tetap berjalan perlahan-lahan. Merekapun sadar, bahwa kejutan kaki-kaki kuda yang berderap terlampau cepat, akan dapat menumbuhkan pertanyaan yang aneh di dalam hati tetangga-tetangganya. "Berapa orang yang yang telah mendahului kita?" bertanya Manguri kepada Lamat. "Seperti yang kau perintahkan. Hanya tiga orang termasuk pesuruh ayahmu itu" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keningnya kemudian berkerut-merut. Katanya "Apakah sudah cukup? Apabila kita menghadapi sesuatu, kita memerlukan banyak tenaga" "Bersama ayahmu masih ada empat orang lagi di sana" sahut Lamat. "Tetapi bagaimana dengan Ki Reksatani? Apakah ia tidak membawa banyak orang bersamanya?" Lamat merenung sejenak, namun kemudian jawabnya "Aku kira tidak. Kita masih belum tahu pasti, apa yang akan dilakukannya. Kita hanya saling mencurigai" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia masih juga ragu-ragu. Tiga orang-orangnya yang terpercaya telah disuruhnya mendahului dan menunggu di luar Kademangan. Mereka akan bersama-sama menunggu pula Ki Reksatani yang sudah berjanji akan pergi bersama mereka ke Sembojan. Ketika mereka telah keluar dari padukuhan, maka merekapun segera berpacu pula. Namun setiap kali mereka memasuki padukuhan berikutnya, maka derap kuda merekapun harus diperlambat. Betapapun perjalanan itu terasa menjengkelkan sekali, tetapi akhirnya merekapun sampai juga di luar Kademangan. Di tempat yang sudah ditentukan tiga orang kepercayaan Manguri telah berada di tempat itu. Mereka menambatkan kuda- kuda mereka agak jauh dari jalan, di belakang gerumbul. Seorang diantara mereka duduk diatas rerumputan, sedang dua orang yang lain berbaring beralaskan rumputrumput kering. Bahkan seorang diantaranya telah tertidur dengan nyenyaknya. Ketika Manguri menghampiri mereka, maka orang yang berbaring tetapi tidak tertidur itu menguap sambil menggeliat "Apakah kita masih akan menunggu lagi?" "Apakah kalian sudah melihat Ki Reksatani lewat?" bertanya Manguri kepada salah seorang dari mereka yang tidak tertidur. Orang yang duduk diatas rerumputan itu menjawab "Belum. Aku belum melihat seorangpun lewat" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya, kalau begitu kita harus menunggu lagi" Orang yang berbaring itu berdesah "Memang sebaiknya aku tidur saja dahulu" "Tidurlah" sahut kawannya yang masih tetap duduk "Mudah-mudahan mimpimu menarik" "Aku tidak akan mimpi" jawabnya. Manguri dan Lamatpun kemudian mengikat kuda-kuda mereka pula, serta duduk diantara orang-orang yang telah mendahului mereka itu. "Lebih baik kita menunggu daripada kita harus mengejarnya" "Tentu tidak" jawab Lamat "kalau Ki Reksatani mendahului ialah yang akan menunggu kita" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian bersandar sebatang pohon perdu di pinggir jalan yang sepi. Meskipun ia tidak memejamkan matanya, namun seolaholah anak muda itu tidak melihat apapun juga. Angan-angan nyalah yang terbang menyerawang ke dunia yang lain. Hatinya yang selalu cemas dan gelisah kini serasa semakin menyempit Ia tidak tahu, apakah yang bakal terjadi kemudian di Sembojan. Mungkin ia dapat mengatasi keadaan dan benarbenar mengikat Sindangsari. Tetapi mungkin pula Ki Reksatani menjadi gila, dan mencoba membunuhnya, Atau. masih ada seribu kemungkinan yang bakal terjadi. Lamat duduk tepekur di samping Manguri. Ia masih tetap berlaku sebagai Lamat yang dahulu. Namun, meskipun Lamat telah bertekad untuk menyelamatkan Sindangsari, tetapi hatinya masih juga tetap bergolak. Ia tidak tahu, apa yang bakal terjadi, seperti juga Manguri. Selain itu Lamatpun berpikir pula tentang Pamot. Apakah Pamot sudah berangkat mendahului atau ia kini sedang mempersiapkan diri dengan kawan-kawannya yang baru berhasil dihubunginya. "Kalau Pamot lewat jalan ini pula, maka kami pasti akan bertempur disini. Kami tidak akan sampai ke Prambanan" Katanya di dalam hati "tetapi mudah-mudahan ia sudah mendahului kami disni" Tanpa sesadarnya Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tidak ada rencana yang masak dapat disusunnya. Tetapi mudah-mudahan, baik Pamot maupun dirinya sendiri, berhasil menyesuaikan diri dengan keadaan, sehingga akibatnya tidak justru mencelakakan Sindangsari. Baik dicelakai oleh Ki Reksatani maupun oleh nafsu Manguri. Demikianlah setelah sejenak mereka menunggu, dan langit di Timur telah menjadi semakin terang, barulah mereka melihat tiga orang berkuda datang dari jurusan Kepandak. "Agaknya mereka itulah Ki Reksatani" berkata Manguri. "Belum tentu" sahut salah seorang kawannya "sebaiknya kita bersembunyi. Terutama Manguri. Aku belum banyak dikenal disini" Manguri tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Lamat, seakan-akan ia ingin mendapat pertimbangan daripadanya. Ketika ia melihat Lamat mengangguk kecil, maka iapun kemudian beringsut beberapa langkah surut dan berlindung di balik gerumbul jarak yang tumbuh di pinggir jalan. Lamatpun kemudian berbuat serupa pula, bersembunyi di belakang dedaunan. Sejenak kemudian maka tiga orang berkuda itupun menjadi semakin dekat. Lamat dan Manguri yang mengintip dari sela-sela gerumbul, ketika kuda-kuda itu berhenti, ia segera melihat bahwa mereka adalah Ki Reksatani dengan dua orang pengawalnya. Manguripun kemudian meloncat keluar, sedang Lamat menyuruk perlahan-lahan dari balik dedaunan. "Kenapa kalian bersembunyi?" bertanya Ki Reksatani. "Kami disini belum yakin, bahwa Ki Reksatanilah yang datang" jawab Manguri. "Kalian cukup berhati-hati. Berapa orang kalian semuanya?" "Lima orang" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. "Ki Reksatani hanya bertiga?" "Aku masih harus menunggu tiga orang lagi" "Kenapa masih harus menunggu?" "Kami tidak dapat berangkat bersama-sama. Karena itulah maka aku berangkat dulu, sedang tiga orang yang lain akan menyusul kemudian" "Dan kami akan menunggu disini?" "Ya. Tetapi tidak akan terlampau lama. Mereka akan segera datang" Manguri tidak menjawab. Iapun kemudian duduk kembali bersandar sebatang pohon. Sedang Lamat, masih saja duduk diatas rumput. Kawan Manguri yang tertidur justru telah terbangun. Tetapi ia masih tetap berbaring diam. Ki Reksatani sendiri sama sekali tidak turun dari kudanya. Demikian juga kedua pengawalnya. Dengan gelisah mereka menunggu tiga orang yang akan mengawani mereka pergi ke Sembojan. Ternyata mereka memang tidak usah menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian di dalam keremangan malam tampak tiga orang berkuda berpacu di sepanjang jalan. "Marilah" berkata Ki Reksatani kemudian "mereka telah datang" Manguripun kemudian berdiri sambil memandang ketiga ekor kuda yang berlari mendekat. Kemudian iapun melangkah kekudanya sambil berkata "Marilah-Lamat" Dengan malas Lamatpun berdiri pula. Demikian juga kawan-kawan Manguri. Apalagi orang yang telah tertidur nyenyak. Sambil menguap ia bangkit Kemudian menggeliat sambil berkata "Aku masih ingin t idur beberapa lama lagi" "Tidurlah" sahut kawannya. Tetapi keduanyapun kemudian melangkah juga kekuda masing-masing. Sejenak kemudian mereka telah berpacu beriringan ke Sembojan. Mereka tidak melewati Pusat Pemerintahan Mataram, tetapi mereka menembus jalan-jalan padukuhan yang sepi, agar tidak menumbuhkan pertanyaan, apalagi apabila mereka berjumpa dengan beberapa pasukan pengawal dan prajurit. Dalam pada itu, jauh di depan mereka Pamot juga berpacu bersama kawan-kawannya. Keempat orang itu t idak langsung pergi ke Sembojan, tetapi mereka pergi ke Kali Mati. Keempat anak-anak muda itu melampaui hutan Tambak Baya setelah matahari merayap di kaki langit. Sinarnya telah mulai menggatalkan kulit. Namun mereka berpacu terus. Mereka meminta di jalan sempit di sebelah Timur Cupu Watu ke arah Utara. Di hadapan mereka Gunung Merapi yang hijau kemerah-merahan berdiri tegak seakan-akan batas yang menyekat dua bagian dunia yang asing. Di sebelah Selatan dan di sebelah Utara. Pamot dan kawan-kawannya sempat juga menarik nafas dalam-dalam, menghirup kesejukan udara pagi. Derap kaki kuda mereka ternyata telah menghalau burung-burung yang berterbangan di pohon-pohon perdu yang rendah. Di kejauhan terdengar burung tekukur memanggil-manggil anaknya. Sedang diatas kepala mereka, di sebatang dahan, burung jalak bersiut tanpa menghiraukan derap kaki-kaki kuda dan debu yang putih. Setelah menyeberangi sebatang sungai yang landai, maka merekapun melintasi beberapa bulak kecil. Kemudian beberapa saat mereka menyusuri hutan yang rindang, sampai ke ujungnya. Berbatasan dengan sebuah pategalan di ujung hutan yang rindang itulah terletak sebuah padukuhan kecil yang disebut Kali Mati. Mereka tidak menemui kesukaran apapun untuk mencari kawannya yang dikenalnya selama perjalanan. Di ujung padukuhan mereka bertanya kepada seorang anak muda yang menyandang cangkul dibahunya. Maka segera anak muda itu menjawab "O, Rajab yang ikut di dalam pasukan Mataram ketika menyerang Betawi" "Ya. Rajab atau Mudai, aku kenal keduanya" sahut Punta. "Yang masih tinggal adalah Rajab. Mudai gugur di peperangan" "O" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Di perjalanan kembali ia memang tidak bertemu dengan keduanya. Untunglah bahwa masih ada salah seorang dari mereka yang hidup "Sayang" desis Punta "Mudai adalah anak yang baik. Tetapi baiklah, aku ingin bertemu dengan Rajab" "Pergilah ke ujung padukuhan. Kalau kau jumpai sebuah rumah limasan, berhalaman penuh dengan pohon so dan sepasang kelapa gading. Regolnya sudah agak rusak, karena sepeninggal Rajab, regol itu tidak terpelihara. Sampai saat ini agaknya Rajab masih belum sempat mengganti selain diperbaiki saja di beberapa bagian" "Terima kasih" sahut Punta. "Apakah kau kawannya di dalam pasukan itu" Punta mengangguk "Ya. Terima kasih atas segala petunjuk Ki Sanak. Aku akan mencarinya di ujung padukuhan" Demikianlah mereka melanjutkan perjalanan. Tetapi jarak yang terbentang di hadapan mereka tinggal beberapa puluh langkah saja karena mereka telah sampai ke padukuhan yang mereka tuju. Kehadiran Punta dan kawan-kawannya ternyata telah mengejutkan Rajab. Baru saja ia bersiap untuk pergi ke sawah sambil menuntun lembunya untuk membajak. Tetapi ia melihat beberapa ekor kuda, maka iapun segera mengurungkan niatnya. Sejenak Rajab berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia berteriak "He, bukankah kau Punta yang pergi ke Betawi itu juga?" Punta dan kawan-kawannya meloncat turun dari kuda mereka. Sambil tersenyum Punta menjawab "Apakah kau masih ingat?" "Tentu, Marilah" Punta dan kawan-kawannyapun kemudian menuntun kuda mereka memasuki halaman. Setelah mereka mengikat kuda mereka, maka merekapun segera dipersilahkan masuk ke dalam rumah limasan tua yang besar. Di bagian depan dari rumah itu terbuka, berdinding hanya setinggi lambung. "Duduklah" Rajab mempersilahkan "mimpi apa aku semalam. Hari ini aku menerima tamu dari jauh" Punta, Pamot dan kawan-kawanyapun kemudian duduk diatas tikar yang dibentangkan diatas sehelai kepang bambu. "Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kalian akan datang hari ini. Apakah kalian semuanya ikut pada saat itu?" "Ya" sahut Punta "semuanya kami ikut. Apakah kau t idak dapat mengenal kami?" Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya, mungkin aku sudah melihat kalian. Tetapi di dalam pasukan sebesar itu, kadang-kadang kita tidak saling berkenalan. Kebetulan aku mengenal Punta saat itu" "Memang suatu kebetulan" "Ternyata kau memenuhi janjimu untuk datang berkunjung kemari" "Kami sedang mencoba kuda-kuda kami" Rajab tersenyum "Kudaku kemarin dulu aku pacu mengelilingi Gunung Merapi" "He, kau tidak singgah ke Kepandak?" Rajab tersenyum "Maaf, aku tidak sempat saat itu. Aku berpacu melawan beberapa orang. Kami bertiga mengelilingi Gunung Merapi dengan putaran ke kanan, sedang tiga orang yang lain berpacu mengelilingi dengan putaran kekiri" "Menarik sekali" sahut Punta "kalau aku tahu, aku ikut di dalam pacuan itu" "Di hutan Sela kami berhenti sejenak, karena kami dengan tiba-tiba telah berhadapan dengan seekor harimau" "Dahsyat sekali" Punta hampir berteriak. Demikianlah mereka kemudian berceritera tentang pengalaman masingmasing. Pembicaraan mereka berkembang sampai kepada persoalan-persoalan yang aneh-aneh. Namun agaknya Punta menyadari hal itu, sehingga perlahan-lahan ia berhasil membawa pembicaraan mereka kepada tujuannya. Pembicaraan mereka terputus sejenak ketika adik Rajab menghidangkan minuman panas dengan gula kelapa dibarengi dengan beberapa macam makanan. Baru kemudian Punta berkata "Rajab, apakah kau pernah pergi ke Mataram selama ini?" Rajab menggelengkan kepalanya "Aku hanya lewat di sebelah Utara Kota, ketika aku berpacu kemarin dulu" Punta mengangguk-angguk. Lalu "Apakah kau sering pergi ke Sembojan?" "Sembojan?" Rajab mengerutkan keningnya "kenapa dengan Sembojan? Apakah hubungannya Mataram dan Sembojan?" Punta tersenyum, ia tidak ingin mengejutkan kawannya dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya dengan tiba-tiba berubah menjadi bersungguh-sungguh. "Tidak apa-apa. Aku pernah dengar, bahwa rumahmu dekat Sembojan" "Ya. Padukuhan di sebelah itulah Sembojan. Di sebelah hutan kecil dan pategalan buah-buahan" "Jadi, diantara sebuah hutan?" "Sebenarnya bukan sebuah hutan. Tetapi daerah yang kurang menguntungkan untuk digarap, sehingga dibiarkannya menjadi bera dan tidak terpelihara Meskipun demikian, kita dapat berburu kijang dihutan itu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kenapa Sembojan lebih terkenal dari padukuhanmu ini?" Rajab mengerutkan keningnya. Jawabnya "Aku tidak tahu. Aku tidak melihat kekhususan dari padukuhan itu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata "Ada beberapa orang yang lewat padukuhan Kepandak. Mereka yang datang dari Menoreh dan sekitarnya. Menurut keterangan mereka, mereka akan pergi ke Sembojan menengok keluarganya. Apakah hanya suatu kebetulan bahwa satu dua orang saudaranya tinggal di Sembojan. Tetapi belum lagi lewat sehari, ada tiga orang yang katanya dari Sungapan Kali Praga yang akan pergi ke Sembojan pula" Tiba-tiba Rajab tertawa. Katanya "Tentu mereka adalah saudara orang gila yang sekarang berada di Sembojan itu" "Orang gila?" "Ya" jawab Rajab "di Sembojan ada seorang perempuan gila yang membuat keluarganya menjadi terlampau sibuk. Mungkin mereka telah memberi kabar keluarga mereka yang bertempat tinggal di Menoreh dan di Sungapan Kali Praga itu" Punta mengerutkan keningnya. Dipandanginya Pamot sejenak. Tampaklah ia menjadi kecewa. Ternyata yang menarik perhatian Rajab adalah seorang gila. Bukan kedatangan orang yang tidak mereka kenal di daerah Sembojan yang sedang menyembunyikan Sindangsari. "Lucu sekali" berkata Rajab "kebetulan sekali, aku sedang berada di Sembojan, di rumah bibi, ketika orang gila itu berlari-lari dikejar oleh beberapa orang keluarganya" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Punta sejenak. Tetapi Puntapun menjadi kecewa. Tetapi mereka tidak dapat memotong Rajab berceritera "Menurut keluarganya yang menunggui orang gila itu, tidak seorangpun saudara-saudaranya yang mau menerima orang gila itu di rumahnya, selain kakak perempuannya di Sembojan itu" Pamot, Punta dan kawan-kawannya menganggukanggukkan kepalanya, sekedar mengangguk-angguk. Ceritera itu sama sekali tidak menarik baginya. Tidak hanya di Sembojan, hampir di setiap padukuhan ada orang yang kurang waras. Tetapi kalau ia sekedar gila karena kesadarannya yang tidak lengkap itu sama sekali tidak dapat dipersoalkan. Tetapi orang-orang gila yang menyadari kegilaannya itulah yang berbahaya, seperti Manguri Ki Reksatani dan orang-orangnya. Meskipun demikian, meskipun Punta, Pamot dan kawankawannya sama sekali tidak tertarik, namun Rajab masih berceritera terus sambil tersenyum-senyum "Kalau seorang yang gila berlari-lari di sepanjang padukuhan sambil berteriakteriak, sama sekali tidak menarik perhatianku. Itu adalah hal yang wajar. Tetapi hampir setiap orang menaruh belas kepada orang gila itu justru karena orang gila itu sedang mengandung, dan agaknya laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab, tidak mau menerimanya. Mungkin karena perempuan itu gila" "Jadi orang gila itu perempuan?" bertanya Pamot dengan serta merta. Terasa dadanya tergetar dan wajahnya menegang "Apakah kau pernah melihat?" Perhatian yang tiba-tiba itu justru telah membuat Rajab menjadi heran. Apalagi ketika ia melihat wajah-wajah kawan Pamot yang tiba-tiba menjadi bersungguh-sungguh. "Kenapa dengan perempuan gila itu?" "Maksudmu, apakah perempuan itu masih muda? "Ya. Masih muda dan cantik. Tetapi ia terlampau kusut karena kegilaannya" "Ia tidak gila. Ia bukan orang gila" Pamot hampir berteriak. Tetapi Punta menggamitnya sambil berkata "Tenanglah Pamot, kita berbicara dengan tenang, supaya Rajab tidak menjadi bingung" Rajablah yang kemudian menjadi terheran-heran. "Rajab" berkata Punta kemudian "apakah kau pernah melihat perempuan yang kau katakan gila itu?" "Ya. aku melihat. Keluarganya sendirilah yang mengatakan bahwa ia gila ketika perempuan itu mencoba melepaskan diri dari rumahnya dan berlari-lari di sepanjang padukuhan sambil berteriak-teriak" "Apakah yang diteriakkannya?" "Perempuan itu memanggil ibunya, kakek dan neneknya" Dada Punta menjadi berdebar-debar pula. Apalagi Pamot. Wajahnya yang tegang menjadi merah padam. "Maaf Rajab" berkata Punta "agaknya kau dapat memberikan beberapa keterangan tentang perempuan itu?" "Ya, beberapa yang aku ketahui. Aku tidak terlampau sering pergi ke Sembojan" "Apakah perempuan itu memang tinggal di Sembojan sejak lama?" Rajab menggeleng "Belum, belum lama. Baru saja ia dibawa kepada kakak perempuannya di Sembojan. "Dan kau katakan bahwa perempuan itu mengandung?" "Ya. Mengandung. Aku tahu betul, dan semua orang justru mempercakapkan karena ia mengandung" "Apakah kau tahu namanya" Rajab menggelengkan kepalanya "Tidak seorangpun yang tahu namanya" "Keluarganya tidak pernah mengatakannya?" Rajab menggeleng pula. Sejenak mereka berdiam diri. Terbayang diangan-angan Pamot Punta dan kawan-kawannya saat itu Ki Reksatani dan Manguri diikuti oleh beberapa orang kepercayaannya sedang berpacu ke Sembojan, atau barangkali mereka telah sampai di padukuhan itu saat ini. Rajab benar-benar menjadi heran melihat sikap tamutamunya. Agaknya perempuan gila di Sembojan itu benarbenar telah menarik perhatian mereka sehingga mereka dengan sungguh-sungguh ingin mengetahui beberapa persoalan tentang orang gila itu. "Rajab" berkata Punta sejenak kemudian "Maaf kalau akan selalu bertanya tentang perempuan itu. Maksudku, perempuan yang kau sangka gila itu" "Bukan aku menyangka perempuan itu gila" sahut Rajab "Tetapi keluarga merekalah yang mengatakan bahwa perempuan itu gila. Memang sikapnya agak aneh dan pakaian serta rambutnya yang kusut itu memberikan kesan, bahwa ia dalam keadaan terganggu kesadarannya" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia semakin yakin bahwa perempuan itu bukan perempuan gila. Tetapi perempuan itu adalah perempuan yang dicarinya. Apalagi Pamot, Hampir saja Pamot tidak dapat menahan perasaannya jika setiap kali Punta tidak menggamitnya. "Rajab" berkata Punta kemudian "Aku kira, perempuan itu bukan perempuan gila. Tetapi perempuan itu memang terganggu. Bukan ingatannya, tetapi kebebasannya" "Rajab mengerutkan keningnya. Ia menjadi bingung. Katanya "Aku tidak tahu maksudmu" "Kau akan segera tahu" sahut Punta "Karena perempuan itulah agaknya aku kemari" "O, aku semakin tidak mengerti" "Meskipun aku belum dapat memastikan bahwa dugaanku benar, tetapi aku kira perempuan itulah yang kami cari. Perempuan yang sedang mengandung itu" "Kenapa kalian mencarinya?" Punta menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Pamot sejenak, lalu katanya "Kami sangat berkepentingan dengan perempuan itu. Kalau kami dapat meyakini bahwa perempuan itu adalah perempuan yang kami cari, maka kami akan segera menentukan sikap" "Ya, tetapi kenapa kau mencarinya?" bertanya Rajab mendesak. "Rajab" berkata Punta kemudian dalam nada yang dalam "kau adalah satu-satunya orang yang aku kenal disini. Aku belum tahu pasti tentang kau. Tetapi karena kita pernah bertemu di perjalanan selagi kita bersama-sama berjuang untuk Mataram, maka aku percaya bahwa kau bersedia membantu kami" "Ya, tetapi kau belum mengatakan persoalanmu. Apalagi di dalam hubungannya dengan perempuan gila, eh, perempuan yang sedang mengandung itu" Punta memandang Pamot sejenak. Kemudian ia bertanya "Sebaiknya aku berterus terang Pamot" Pamot mengangguk. "Baiklah Rajab. Aku akan berterus terang. Perempuan yang dikatakan gila itu, apabila perempuan yang kami cari, ia adalah isteri Ki Demang di Kepandak" "He?" Rajab terkejut sekali, sehingga ia bergeser sejengkal maju "isteri Demang di Kepandak? "Ya" "Tetapi, apakah ia memang sakit ingatan dan dibawa ke rumah kakaknya di Sembojan?" "Mudah-mudahan tebakan kami benar. Perempuan itu sama sekali tidak sakit. Kalau ia berlari-lari dan berteriak-teriak itu karena ia ingin melepaskan diri. Tegasnya, ia kini di dalam penguasaan orang yang tidak berhak atasnya" "Diculik maksudmu?" Punta menganggukkan kepalanya. Wajah Rajab kini menegang. Sejenak ia membeku sambil memandang Pamot, Punta dan kawan-kawannya bergantiganti. Namun tiba-tiba ia mengangguk-angguk "Itulah sebabnya, tidak ada seorangpun yang boleh mendekatinya. Meskipun alasan mereka, perempuan itu berbahaya. Seorang dukun yang menawarkan dirinya untuk mengobatinya, telah ditolak pula. Memang mungkin. Mungkin sekali perempuan itu sama sekali bukan perempuan gila" "Tetapi apakah ada cara yang baik untuk meyakininya?" Rajab mengerutkan keningnya. "Kalau aku berbuat sesuatu disini, dan ternyata bukan perempuan itu yang kami cari, maka kami telah melakukan kesalahan" "Apakah isteri Ki Demang itu sedang mengandung?" "Ya" "Mungkin sekali. Tetapi bagaimana kalian dapat melihatnya" Sejenak mereka saling berdiam diri pula. Mereka sedang mencoba mencari jalan, bagaimana mengetahui, bahwa perempuan itu benar-benar Sindangsari yang sedang mereka cari. Tiba-tiba saja Pamot berkata "Punta, bukankah hari ini beberapa orang akan datang ke tempat Sindangsari disembunyikan?" Punta menganggukkan kepalanya. "Kalau dapat diketahui bahwa mereka datang ke tempat perempuan yang mereka katakan gila itu, maka sudah pasti bahwa perempuan itu adalah Sindangsari" "Siapakah namanya? Sindangsari?" "Ya, namanya Sindangsari, tetapi ia sudah menjadi Nyai Demang di Kepandak" Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. "Rajab" berkata Punta kemudian "aku tidak mengenal orang lain disini. Apakah kau bersedia membantu kami?" "Apakah kau berhasrat untuk mengambil Nyai Demang di Kepandak itu?" "Ya. Kami ingin berbuat sesuatu untuk Demang kami" Rajab menganggukkan kepalanya. Katanya "Apakah yang dapat aku lakukan? Apakah aku harus mengumpulkan beberapa kawan lagi dan merebut Nyai Demang di Kepandak itu dengan kekerasan?" "Memang mungkin kita harus mempergunakan kekerasan. Tetapi kita harus berhati-hati. Kalau kita salah langkah, maka jiwa Nyai Demang itu berada dalam bahaya" Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia bertanya "Bagaimana mungkin dapat terjadi begitu? Dan apakah Demang di Kepandak itu masih muda semuda kita?" "Kenapa?" "Perempuan yang disebut gila itu masih sangat muda" "Ya. Ia masih sangat muda. Anak yang dikandungnya itu adalah anaknya yang pertama, yang sudah berumur tujuh bulan di dalam kandungan" "Ya. Ya. Kandungan itu memang kira-kira berumur tujuh bulan. Aku kira memang itulah orangnya" Rajab berhenti sejenak, lalu "Tetapi sudah tentu kita tidak akan dapat bertindak sendiri langsung di Kademangan ini. Kalau ada kesalah pahaman, maka Ki Jagabaya dan Ki Demang pasti akan menumpahkan kesalahan kepada kita. Apapun yang kita lakukan" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Tepat Rajab. Karena itu, aku tidak berkeberatan apabila kami kau hadapkan kepada Ki Jagabaya. Setidak-tidaknya tetua padukuhan Sembojan" "Aku tidak berkeberatan" sahut Rajab. Tetapi Pamot menyahut "Dimanakah rumah Ki Jagabaya? Bagaimana kalau kita bertemu dengan Ki Jagabaya? Aku tidak mencemaskan nasib kita. Tetapi nasib Nyai Demang di Kepandak itu" "Apakah sebenarnya maksud orang-orang yang menculik Nyai Demang itu sehingga kau mencemaskan jiwanya" Punta menarik nafas dalam-dalam. Kemudian setelah memandang Pamot sejenak, yang menganggukkan kepalanya, Punta menceriterakan serba sedikit tentang Nyai Demang di Kepandak, meskipun ia tidak menyinggung sama sekali tentang Pamot. Ia hanya mengatakan, apa alasan masingmasing dari orang-orang yang menculiknya. Rajab mengerutkan keningnya. Sambil menganggukanggukkan kepalanya ia berkata "Memang masuk akal. Keduanya masuk akal. Bahwa anak muda yang kau sebut bernama Manguri dan adik Ki Demang di Kepandak yang bernama Ki Reksatani itu, memang mempunyai alasan masing-masing. Tetapi mereka adalah orang-orang yang dikuasai oleh nafsu" "Ya. Kademangan kami kini penuh dengan orang-orang yang sedang dikuasai oleh nafsu. Bukan saja Ki Reksatani, Manguri, tetapi Ki Demang sendiri. Perkawinannya dengan perempuan itu adalah perkawinannya yang keenam kalinya" "Keenam kalinya?" Rajab terbelalak. "Ya" sahut Punta "Dan ia adalah satu-satunya isterinya yang mengandung" Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya "Perkawinan lima kali berturut-turut tanpa anak itulah yang mendorong Ki Reksatani untuk mengharapkan kedudukan kakaknya. Dan agaknya ia hampir pasti, bahwa Ki Demang di Kepandak itu tidak akan mempunyai keturunan" "Ya. Kehamilan isterinya yang keenam membuatnya sangat kecewa sehingga ia terperosok ke dalam perbuatan yang sangat keji" Rajab mengangguk-angguk. Kemudian setelah merenung sejenak ia berkata "Baiklah. Aku akan membantu kalian. Aku akan menempatkan beberapa kawanku di Sembojan. Terutama anak-anak yang memang sering berada di Sembojan untuk melihat, apakah perempuan yang mereka katakan gila itu mendapat tamu. Kemudian kita akan pergi ke rumah Ki Jagabaya. Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu Rajab berkata "Kita akan menempuh jalan yang lain sama sekali dari jalan yang mungkin dilalui orang-orang yang datang dari Barat, termasuk kalian dan Ki Reksatani" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya dan Punta berkata "Baiklah. Aku percaya kepadamu" Rajabpun kemudian mengurungkan niatnya untuk pergi ke sawah. Dipesankannya agar adiknya sajalah yang pergi menengok sawah itu. "Kau akan pergi kemana?" bertanya ibunya yang sudah agak lanjut. "Aku mempunyai beberapa orang tamu. Aku akan mengantarkannya sebentar" Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak mengerti apa yang akan dilakukan anaknya itu. Rajabpun segera menghubungi beberapa orang kawannya. Yang mula-mula dipilihnya kawan-kawannya yang pergi juga bersamanya ke Betawi. Kawan-kawan itulah yang dianggapnya mempunyai pengetahuan olah kanuragan. melebihi kawan-kawannya yang lain, karena latihan-latihan yang pernah mereka terima dari prajurit Mataram, di padukuhannya dan apalagi dalam persiapan mereka sebelum mereka berangkat ke Betawi. "Ah kau" berkata salah seorang kawannya "kau selalu mencari kerja. Bukankah hal ini bukan urusan kita? Padahal akibatnya tidak dapat kita bayangkan. Mungkin kita harus berkelahi, atau melakukan t indakan kekerasan lainnya" "Memang mungkin" sahut Rajab "tetapi kalau kita melihat seseorang yang tenggelam di sungai, apakah kita akan diam saja seandainya ia masih mungkin ditolong?" "Itu persoalan lain. Kita menolong jiwa seseorang, bukan orang-orang yang sedang berebut perempuan" Rajab mengerutkan keningnya. Lalu katanya "He, apakah aku kurang lengkap memberitahukan apa yang telah terjadi?" Kawannya terdiam dan Rajab mencoba menerangkan apa yang telah terjadi sebenarnya. "O, begitu?" kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya "kalau begitu persoalannya jadi lain. Kau tadi hanya mengatakan bahwa perempuan itu dilarikan orang" "Seandainya demikian, dan kita mampu menolong?" "Ya" kawannya ragu-ragu "sebaiknya memang kita tolong" "Macam kau" desis Rajab. Lalu "Nah, kita akan membagi kerja. Amatilah rumah itu. Bukankah kau sering berada di Sembojan? Pergilah tiga atau empat orang. Kau dapat mencari kawan di Sembojan. Anak-anak Sembojan pasti mau membantumu" "Baiklah. Aku akan mencoba" Demikianlah, maka kawan Rajab yang dipercaya segera melakukan tugas yang telah mereka sanggupkan. Tetapi mereka sadar, bahwa mereka harus berhati-hati dan tetap merahasiakan persoalan yang sebenarnya, kecuali kepada orang-orang yang telah mereka kenal baik dan dapat dipercaya. Sebab mereka telah mendapat gambaran, bahwa nyawa Nyai Demang di Kepandak dapat terancamkarenanya. Sementara itu Pamot dan kawannya bersama Rajab telah pergi ke rumah Ki Jagabaya yang tinggal di sebelah Sungai Opak. Dengan singkat mereka menceriterakan kepentingan mereka datang ke Kademangan di Prambanan. "Apakah Ki Demang di Kepandak tidak datang sendiri? "Ki Demang belum tahu, bahwa Nyai Demang ada di sini. Kami mencoba meyakinkannya lebih dahulu. Sebenarnyalah apabila benar Nyai Demang ada disini, dan kami berhasil membebaskannya, kami akan membuat Ki Demang terkejut dan bersenang hati" "Aku menjadi tanggungan Ki Jagabaya" berkata Rajab "aku mengenal mereka di perjalanan ke Betawi" "Tetapi kau belum mengenalnya sebelum dan sesudah itu. Kau tidak tahu siapa mereka sebenarnya, dan apa yang mereka lakukan di Kademangannya" Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun Rajab kemudian menyahut "Tetapi aku akan mempertaruhkan diriku. Aku percaya kepada mereka. Keterangan mereka dapat kami mengerti" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata "Aku harus melihat sendiri, apa yang akan terjadi. Ketenteraman Kademangan ini adalah tanggung jawabku" Sejenak Rajab terdiam. Ditatapnya wajah Pamot, Punta dan kawan-kawannya berganti-ganti. "Kita tidak berkeberatan" berkata Punta kemudian "maksud kita baik. Dan Ki Jagabaya kelak akan dapat bertanya langsung kepada Nyai Demang dan kepada Ki Demang di Kepandak" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Aku pernah mendengar nama Ki Demang di Kepandak. Ia adalah seseorang yang pilih tanding. Tetapi kenapa ia tidak pergi sendiri mencari isterinya kalau jelas, isterinya ada disini?" "Kami ingin membukt ikannya lebih dahulu Ki Jagabaya. Tetapi agaknya keadaan telah gawat. Kalau kita menunda karena kita kembali memberitahukan kepada Ki Demang, maka kemungkinan yang tidak kita harapkan mungkin sekali sudah terjadi. Dan seperti yang sudah kami katakan, kami akan membuat Ki Demang bersenang hati" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Aku akan mengawasi mereka langsung. Barangkali aku akan dapat berbicara dengan mereka" "Berbahaya sekali Ki Jagabaya" berkata Pamot "kalau mereka mengetahui, bahwa tempat persembunyian mereka telah diketahui, mereka akan menjadi mata gelap. Lebih-lebih Ki Reksatani. Dan apabila Ki Jagabaya pernah mendengar nama Ki Demang di Kepandak, maka keduanya adalah saudara kandung dan saudara seperguruan. Keduanya adalah orang-orang yang tidak terlawan" "Jadi bagaimana?" "Kita hanya akan mengawasi. Kalau tidak terjadi sesuatu, kita akan mencari kesempatan untuk mengambilnya tanpa diketahui oleh Ki Reksatani. Orang-orang lain yang ada di sekitarnya, sama sekali tidak akan banyak berarti" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan pula. Sedang Rajab berkata "Aku sudah mengirimkan beberapa orang kawan yang bersedia menolong kami. Mereka untuk sementara akan mengawasi rumah itu" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya "Tetapi kalian harus memberitahukan setiap perkembangan keadaan. Aku harus hadir seandainya terjadi sesuatu" "Baiklah Ki Jagabaya" "Kalau kalian berkata sebenarnya, kami pasti akan membantu kalian. Hubungilah bebahu padukuhan Sembojan. Katakan bahwa kalian telah menghubungi aku" "Terima kasih" Anak muda itupun segera kembali ke Kali Mati. Ketika mereka sampai di rumah Rajab, seorang kawannya yang pergi ke Sembojan telah ada di rumah itu. "Apa yang kau lihat?" "Aku melihat beberapa orang berkuda. Ada tujuh atau delapan orang. Aku tidak begitu jelas. Tetapi semuanya berada di rumah itu" Dada Pamot serasa akan meledak karenanya. Terbayang sesuatu yang mengerikan dapat terjadi setiap saat. Tetapi ia masih percaya kepada Lamat. Ia mengharap bahwa Lamat masih akan berusaha untuk melindungi, sejalan dengan kepentingan Manguri. Pihak Manguri pasti akan mencegah apabila Ki Reksatani benar-benar telah kehilangan kesabaran dan menganggap Sindangsari terlampau berbahaya bagi rencananya Puntalah yang bertanya "Delapan orang?" "Mungkin lebih dari itu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Rajab yang mengerutkan keningnya. "Jumlah mereka cukup banyak. Diantaranya terdapat seorang yang bernama Ki Reksatani" desis Rajab "jika demikian apabila terjadi sesuatu, jumlah kitapun harus memadai" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Kalau Ki Jagabaya yang memerintahkan, maka dalam waktu sekejab, lebih dari duapuluh orang dapat dikumpulkan" sahut Rajab. "Tetapi tentu makan waktu. Bukan sekejap. Dan waktu yang diperlukan itu, sangat berbahaya bagi Nyai Demang di Kepandak" berkata kawan Rajab itu. Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Kita mengumpulkan kawan sebanyak-banyaknya. Sepuluh atau dua belas di dua padukuhan ini. Sembojan dan Kali Mati. Di dua padukuhan ini ada sepuluh orang yang kembali dari Betawi bersama kami. Kami berharap bahwa ikatan yang ada diantara kami masih tetap utuh. Menegakkan adab adalah perjuangan yang tidak kalah pent ingnya. Apalagi menyelamatkan jiwa seseorang. Selebihnya, kawan-kawan pengawal padukuhan kami akan dapat kami kerahkan" Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi" berkata Rajab "yang pertama-tama kita hubungi, biarlah kawan-kawan yang dapat kita percaya saja. Kalau keadaan tidak memaksa, kita tidak akan menggunakan kekerasan" Demikianlah dengan diam-diam, padukuhan Kali Mati dan Sembojan menjadi sibuk. Tetapi orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali tidak mengerti apakah yang sedang dilakukan oleh anak-anak mereka. Bahkan kedatangan orang-orang berkuda itupun sama sekali tidak menarik perhatian. Mereka hanya memperhatikan mereka sejenak. Kemudian mereka bergumam "Orang-orang itu pasti keluarga orang gila itu. Kasihan. Ternyata keluarganya adalah orang yang agaknya cukup terpandang menilik pakaian dan sikap mereka. Dosa apakah yang telah membebani keluarga yang malang itu. Sehingga seorang perempuan yang cantik telah menjadi gila dan mengandung pula. Atau gadis itu gila karena mengandung di luar perkawinan? Tidak seorangpun yang tahu pasti, apakah jawabnya Penghuni rumah tempat Sindangsari disembunyikan itupun tidak pernah mengatakan apa-apa, selain, perempuan itu adalah perempuan gila yang malang. Kehadiran beberapa orang berkuda itu, membuat hati Sindangsari menjadi semakin kecut. Sejak ia berusaha melarikan diri tetapi gagal, ia mendapat perlakuan yang lebih jelek lagi. Orang yang menungguinya selalu mengancam, menakut-nakuti, bahkan berlaku kasar kepadanya. Tetapi Sindangsari tidak segera mengetahui, siapakah tamu-tamu berkuda itu. Ia hanya mendengar derap kaki kuda itu. Kemudian beberapa pembicaraan yang tidak begitu jelas, karena ia harus tinggal saja di dalam biliknya yang sempit di ujung belakang. Namun demikian hatinya serasa tersayat, apabila ia menyadari bahwa ia kini berada di dalam kekuasaan keluarga Menguri. Setiap saat Manguri akan datang kepadanya, dan ia akan dapat berbuat apa saja. "Lebih baik dibunuh saja" berkata Sindangsari di dalam hati "Apakah yang akan terjadi atas diriku, jika Manguri tidak dapat dicegah. Ketika aku menjadi isteri Ki Demang, aku sudah ternoda. Sekarang, apabila ada orang yang menodai aku lagi, maka aku tidak akan dapat lagi kembali kepada Ki Demang. Aku tidak akan merasa tenang, meskipun karena bukan salahku Ki Demang menceraikan" Tanpa disadarinya, air matanya mulai menit ik dipangkuannya. Dengan lesu ia duduk di bibir pembaringan bambu dengan pakaian yang kusut dan rambut yang terurai. Benar-benar seperti seorang perempuan gila. Yang dapat dilakukan oleh Sindangsari dalam keadaan itu adalah berdoa. Satu-satunya harapan yang ada padanya, justru adalah harapan yang tertinggi. Pertolongan dari Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Ketika pintu bilik itu terbuka, Sindangsari terperanjat. Dada berdesir tajam sekali. Tetapi ternyata yang dilihatnya adalah penjaganya. Seorang laki-laki berwajah sekasar batu padas. "Mereka sudah datang" desisnya. Sindangsari menatap orang itu dengan tajamnya. Tetapi ia t idak berkata sepatah katapun. "Sebenarnya aku sudah jemu menunggui kau disini" berkata orang itu. Sindangsari masih tetap diam. "Selama ini kau menyiksa aku" orang itu menyambung "cobalah sekarang kau lari lagi. Bukan hanya kami disini yang akan mengejarmu. Tetapi orang-orang padukuhan ini pasti akan membantu karena mereka menganggapkau seorang perempuan gila" Sindangsari tersentak mendengar kata-kata orang itu. Tetapi kemudian kepalanya tertunduk lagi. Ia sama sekali tidak ingin orang itu berbicara tentang apa saja. "Ini, makanmu" berkata orang itu kemudian sambil mempersilahkan seorang perempuan masuk. "Makanlah Nyai" berkata perempuan itu "jangan hiraukan igauan penjaga yang kurang waras itu. Makanlah, supaya badanmu tetap segar dan kau tetap cantik" "Kecantikannya itulah yang telah menyeretnya ke neraka ini" sahut penjaga di muka pintu. "Coba ulangi" desis perempuan yang membawa makan bagi Sindangsari itu. Tetapi penjaga itu justru terdiam. "Jangan hiraukan orang gila itu" berkata perempuan kepada Sindangsari "yang paling menyiksanya, bukan karena ia harus duduk di muka bilik ini, atau harus selalu mengawasi pintu itu. Tetapi siksaan yang paling berat baginya, adalah karena kau cantik, muda dan segar. Apalagi pakaianmu tidak mapan, sehingga setiap kali ia selalu saja membuka pintu dan mengumpatimu" "O" tiba-tiba saja Sindangsari menyadari keadaan dirinya. Tanpa dikehendakinya sendiri, tangannya telah membenahi pakaiannya yang kusut. "Sekarang makanlah Aku sendiri masak untukmu" Sindangsari tidak menjawab. Ketika mangkuk-mangkuk makanan itu diletakkan di pembaringannya. Sindangsari justru beringsut menjauh. "Kau memang sukar dikuasai. Tetapi lapar dan haus sama sekali t idak menguntungkan bagimu. Ingat, kau sedang mengandung. Mungkin kau dapat menyakiti dirimu atau membunuh diri dengan tidak makan berhari-hari. Tetapi kau akan berdosa karena dengan demikian berarti kau sudah membunuh anakmu yang masih berada di dalam kandungan" Sindangsari berpaling sejenak. Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. "Makanlah" desis perempuan itu. Sindangsari masih tetap diam. "Bukan untuk kau sendiri, tetapi untuk anakmu" Dada Sindangsari serasa menjadi retak. Tanpa disadarinya ia meraba perutnya yang menjadi semakin besar. Pada saatnya bayi itu akan lahir. Apakah jadinya apabila ia masih tetap berada di tempat yang sesak dan pengab ini. Tiba-tiba saja Sindangsari terisak. Air matanya meleleh di pipinya yang semakin susut. "Jangan menangis" perempuan itu mencoba menenangkannya "Aku tahu, betapa sakitnya perasaanmu. Aku juga seorang perempuan. Karena itu. sebaiknya kau menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang. Kau tidak akan dapat ingkar lagi. Dengan demikian kau tidak akan merasa tersiksa sepanjang umurmu" Tangis Sindangsari justru menjadi semakin keras. "Nyai Demang" berkata perempuan itu "Mula-mula akupun berontak terhadap keadaanku. Ketika orang tuaku memberitahukan bahwa aku dipinang oleh seorang laki-laki yang mempunyai anak laki-laki sebesar aku, dan bernama Manguri, aku hampir pingsan. Tetapi ayah dan ibuku mempunyai banyak hutang kepadanya. Karena itu aku harus menerimanya Namun lambat laun aku menjadi biasa. Aku menerima keadaan ini dengan hati terbuka, meskipun aku tahu, bahwa aku adalah isterinya yang kesekian kalinya, bahkan barangkali aku sudah tidak mendapat angka lagi. Sindangsari sama sekali tidak menyahut. "Tetapi apabila kita dapat menyesuaikan diri, kita akan justru menemukan kesenangan. Setiap kali aku ditinggal sendiri karena suamiku pulang ke rumahnya di Kepandak" lalu perempuan itu berbisik "Tetapi aku tidak mau kesepian. Aku dapat berbuat apa saja asal tidak diketahui orang, supaya kami t idak dihukum rajam atau yang lebih pahit, diasingkan dari pergaulan. Tetapi orang yang menghukum itupun dengan diam-diam melakukannya pula" kembali ia terdiam, lalu "Nah, karena itu, pandanglah dunia ini apa adanya. Kau harus berani melihat yang paling kotor sekalipun supaya kau dapat menimbang keadaanmu" Detak jantung Sindangsari seakan-akan menjadi semakin cepat berdetak. Sekilas terbayang kembali bagaimana Nyai Reksatani telah membujuknya, untuk menemui seorang anak muda yang hampir saja menerkamnya seperti seekor harimau yang mendapatkan seekor anak domba yang tersesat. Dan tiba-tiba saja Sindangsari menjatuhkan dirinya, menelungkup sambil menangis. "Jangan menangis. Jangan menangis. Tangis tidak akan ada artinya bagimu di dalam keadaan yang demikian" berkata perempuan itu "makan sajalah. Makanlah" Tetapi Sindangsari sama sekali tidak mendengarnya. Ia masih saja menangis dan terisak. "Dengarlah" berkata perempuan itu berbisik di telinganya "Manguri sudah datang. Ia akan segera mengawanimu di dalam bilik yang sempit ini. Terimalah kenyataan itu. Carilah kegembiraan pada setiap keadaan yang bagaimanapun juga" Perempuan itu tidak menunggu Sindangsari berhenti menangis. Ditinggalkannya saja mangkuk-mangkuk berisi makanan itu di amben yang seakan-akan diguncang-guncang oleh isak Sindangsari. Ketika perempuan itu sudah pergi, maka penjaga yang berada di pintu, perlahan-lahan mendorong daun pintu itu. Tetapi sebelum tertutup rapat, ia menjengukkan kepalanya sambil berkata "Jangan menangis. Kau dengar, Manguri sudah ada disini" Sindangsari masih tetap menangis ketika pintu itu berderit dan kemudian tertutup rapat. Di ruang depan rumah itu, beberapa orang laki-laki duduk berkeliling diatas sehelai tikar. Ki Reksatani, Manguri, Ayah Manguri dan beberapa orang lagi. Sedangkan orang-orang yang lain berada di halaman, duduk di bawah batang pepohonan yang rindang. Di ujung gandok Lamat duduk bersandar tiang sambil memandang kekejauhan. Meskipun matanya separo terpejam, tetapi di dalam dadanya telah terjadi gejolak yang semakin dahsyat. Di tempat itu ia seakan-akan hanya seorang diri dikelilingi oleh serigala-serigala yang liar. Di pendapa Manguri dan Ki Reksatani adalah dua orang iblis yang buas, meskipun kepentingan mereka berbeda-beda. Tetapi Lamat tidak menjadi cemas seandainya Ki Reksatani akan melakukan rencananya segera, seandainya ia benarbenar ingin membunuh Sindangsari. Seandainya demikian, maka Lamat masih melihat, kemungkinan untuk menyelamatkannya. Karena dengan demikian pasti akan terjadi benturan antara Ki Reksatani dan Manguri. Menurut perhitungan Lamat, kekuatan mereka masih dapat dianggap seimbang, seandainya ia mampu melawan Ki Reksatani, atau setidak-tidaknya, mengikatnya dalamperkelahian tersendiri. Tetapi apabila yang terjadi Mangurilah yang akan melakukan rencananya, maka ia pasti akan kebingungan, Kalau ia mencegah tanpa alasan yang masuk akal, sehingga Manguri tidak akan mengurungkan niatnya, apakah yang akan dilakukan? Kalau ia memaksakan dengan kekerasan, melindungi Sindangsari, maka pasti akan terjadi benturan pula. Tetapi ia akan berdiri sendiri. Bahkan Ki Reksatanipun pasti akan berpihak kepada Manguri. Lamat menarik nafas dalam-dalam. "Melawan Ki Reksatani seorang diripun aku belum tahu, apakah aku akan dapat bertahan. Apalagi apabila aku berdiri sendiri, sedang Ki Reksatani berada di pihak Manguri dan orang-orangnya yang lain" berkata Lamat di dalam hatinya. Tetapi Lamat tidak dapat meramalkan, apakah yang akan segera terjadi di rumah itu. Di ruang depan Ki Reksatani sedang mendengarkan beberapa keterangan mengenai Sindangsari. Ia mengerutkan keningnya ketika ia mendengar ceritera, bahwa Sindangsari pernah mencoba melarikan diri, sehingga beberapa orang terpaksa mengejarnya. "Itu berbahaya sekali" berkata Ki Reksatani "ia dapat berkata apa saja yang dikehendaki, berteriak-teriak memanggil-manggil dan menyebut-nyebut namanya dan nama orang-orang yang dikehendakinya itu" "Sindangsari memang berteriak-teriak. Tetapi atas kehendaknya sendiri, ia selalu menyebut-nyebut ibu, kakek dan nenek, Tidak ada orang lain yang disebut namanya" jawab ayah Manguri. Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebenarnya di dalam dadanya telah terjadi pergolakan pula. Baginya, hal itu sangat berbahaya. Kalau suatu ketika Sindangsari menyebut nama Demang di Kepandak atau nama orang-orang Gemulung, maka rahasianya akan segera dapat diketahui orang. Tetapi Ki Reksatani belum menyatakan kecemasannya. Bahkan kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam ketika ayah Manguri berkata "Tetapi setiap orang di sekitar rumah ini menganggapnya ia seorang perempuan gila. Kami sengaja mengatakan, bahwa perempuan itu adalah perempuan gila. Itulah sebabnya, maka tidak banyak orang yang menaruh perhatian kepadanya. Kedatangan kalianpun tidak menarik perhatian pula. Kami selalu mengatakan, bahwa keluarga kami yang jauh, akan berdatangan untuk menengok perempuan gila ini. Kami disini menyebutnya sebagai adik isteriku" "Isterimu?" bertanya Ki Reksatani. "Ya, isteriku" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi ia sudah mendengar bahwa Ki Sukerta mempunyai banyak isteri dimana-mana, sehingga iapun segera mengerti, bahwa perempuan yang tinggal di rumah itu adalah isterinya yang kesekian. Meskipun demikian, ia masih tetap membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang pahit yang dapat terjadi kalau Sindangsari masih hidup, apalagi apabila bayinya kelak lahir dan menjadi besar. Tetapi Ki Reksatani masih belum akan mengambil kesimpulan apapun. Ia masih akan mempelajari keadaan dengan saksama. Bahkan ia tidak juga ambil pusing apa yang akan dilakukan Manguri. Baginya apa saja yang akan terjadi, tidak akan berpengaruh atas keputusan manapun yang akan diambilnya. Sehingga dengan demikian, seolah-olah Ki Reksatani acuh tidak acuh saja kepada keadaan di rumah itu. Ia mengangkat wajahnya ketika ayah Manguri bertanya "Setelah kau melihat keadaan perempuan itu, apakah yang akan kau lakukan? Membiarkan perempuan itu disini, atau kau mempunyai pendapat lain, misalnya, dalam waktu singkat harus segera dipindahkan lagi? Seandainya menurut pertimbanganmu, Sindangsari harus segera dipindahkan, aku tidak akan menemukan kesulitan apa-apa. Isteriku di segala tempat pasti tidak akan berkeberatan, seandainya aku membawa menantuku itu ke rumahnya" "Ia belum menantumu" desis Ki Reksatani. Ayah Manguri tertawa "Lambat laun" Ki Reksatani tidak menyahut. Tetapi ia menggeram di dalam hatinya "Kalau aku berkeputusan lain, ia tidak akan menjadi menantumu untuk selama-lamanya. Bahkan kau akan kehilangan anakmu dan kau sendiri" Oleh kata hatinya itu Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Dan ia berkata kepada diri sendiri seterusnya "Jika demikian apakah aku harus membunuh sekian banyak orang? Manguri, ayahnya, Sindangsari dan bayi di dalam kandungan, kemudian sudah tentu raksasa yang dungu itu beserta pengikutpengikutnya yang mengetahui apa yang sudah terjadi disini" Terasa rambut di seluruh tubuh Ki Reksatani meremang, Namun kemudian ia merapatkan giginya sambil berkata di dalam hati "Persetan. Aku sudah terlanjur basah. Kenapa aku tidak mandi sama sekali. Aku tidak peduli, berapa banyak orang yang harus mati. Bahkan seluruh isi Kademangan Kepandak sekalipun" Dada Ki Reksatani itu seolah-olah bergetar karenanya. Namun kemudian timbul pertanyaan "Bagaimana dengan pengikut-pengikut Manguri yang tidak ikut serta di tempat ini? Apakah aku harus membunuhnya pula?" Pertanyaan itu melingkar-lingkar di dalamhatinya, sehingga pada suatu saat ia menemukan jawaban "Tidak perlu. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi. Seandainya mereka membuat ceritera tentang hilangnya Sindangsari, tidak akan ada orang yang akan mempercayainya. Apalagi karena Manguri menghilang. Akulah yang akan menyebarkan ceritera, bahwa Manguri telah lari membawa Sindangsari" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia terkejut ketika tiba-tiba saja ayah Manguri bertanya "Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu" Ki Reksatani menjawab asal saja terloncat dari bibirnya "Untuk sementara sudah cukup" "Baiklah. Kalau begitu, biarlah untuk sementara ia disini. Dan bagaimana dengan kau dan orang-orangmu? Kalau kalian tidak berkeberatan kalian juga dapat bermalam disini. Tetapi sudah tentu tempat yang dapat kami sediakan terlampau sederhana" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Sudah cukup. Bagi kami, tidur dimanapun tidak ada bedanya, kami adalah orang-orang ladang. Agaknya memang lain dengan para pedagang yang biasa hidup mewah" "Kau keliru. Pedagang seperti aku adalah pedagang keliling. Kadang-kadang kami harus berhenti disembarang tempat dan kamipun tidur dimanapun juga" "Tetapi dimanapun juga kau mempunyai seorang isteri" "Ah" ayah Manguri tertawa. Sekilas dilihatnya wajah anaknya yang menjadi kemerah-merahan. Tetapi Manguri tidak mengucapkan sepatah katapun menanggapi kelakar Ki Reksatani yang menyakitkan hatinya sebagai seorang anak. Terbayang perbuatan laki-laki itu di rumahnya di saat-saat ayahnya tidak ada. Tidak ubahnya seperti ayahnya di perjalanan. Untuk menghindarkan diri dari pembicaraan yang baginya memuakkan itu tiba-tiba saja ia berkata "Ayah. Apakah aku diperkenankan menengok Sindangsari?" Ayahnya mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Ki Reksatani sejenak. Tetapi Ki Reksatani seakan-akan acuh tidak acuh saja atas permintaan Manguri itu. Ia sudah mengambil sikap, bahwa apapun yang dilakukan oleh Manguri tidak akan berpengaruh kelak terhadap keputusan yang manapun yang akan dijatuhkan atas Sindangsari. "Bagaimana ayah" "Terserahlah kepadamu" berkata ayahnya "tetapi hatihatilah. Ia masih saja berusaha melarikan dirinya atau berbuat hal-hal yang dapat menimbulkan persoalan, meskipun agaknya kini telah dapat dibatasi. Orang-orang di sekitar rumah ini menganggapnya perempuan gila, sehingga seandainya ia berteriak-teriak, tidak akan ada orang yang memperhatikannya. Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Aku akan berhati-hati" Manguripun kemudian meninggalkan ruang depan turun ke halaman. Ia mengambil jalan lewat longkangan samping menuju ke bilik di ujung belakang. Dada Lamat yang melihat Manguri lewat berdesir karenanya. Tetapi tanpa disadarinya iapun berdiri dan melangkah mengikuti. Lamat mengerutkan keningnya ketika Manguri berhenti, Sambil memandang Lamat dengan tajamnya ia bertanya "Kau akan kemana?" Lamat bingung sejenak. Tetapi ia kemudian menjawab "Tempat ini adalah tempat yang berbahaya. Kita tidak tahu apa yang tersimpan disini. Dimana bercampur baur orangorang yang tidak sependirian" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa bertanya apapun lagi, iapun kemudian meneruskan langkahnya, dan membiarkan Lamat mengikutinya di belakang, meskipun ia tidak begitu senang karenanya. Namun alasan Lamat itu dapat dimengertinya. Di muka bilik di ujung belakang, ia berhenti sejenak. Ada dua orang yang menjaga Sindangsari. Di pintu butulan seorang dan di pintu dalamseorang. Manguri termangu-mangu sejenak. Dadanya menjadi berdebar-debar Ternyata Sindangsari tidak lebih dari seorang tawanan yang dijaga sebaik-baiknya. "Apakah untuk sepanjang hidupnya aku harus mengupah orang untuk menjaganya? Dan apakah pada suatu saat penjaga-penjaga laki-laki itu masih juga dapat dipercaya?" pertanyaan itu timbul di dalamhatinya. Manguri yang termangu-mangu itu terkejut ketika salah seorang penjaganya itu menyapanya "Nah, marilah. Silahkan" Manguri mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia melangkah maju Dan penjaga itu berkata pula "Sebenarnya aku sudah jemu duduk disini menunggui Nyai Demang di Kepandak" "Sst" desis Manguri. "Tidak ada yang mendengar" "Apakah kau tidak pernah mendapat giliran" "Ya. Sehari aku bertugas menjagainya. Dua orang. Kemudian bergantian dua orang yang lain. Ayahmu juga ikut bergantian dengan kami apabila ia sempat, seperti di saat-saat yang gawat, sedang seorang kawan kami tidak ada disini. Seorang penghuni rumah ini telah membantu kami pula, kadang-kadang ikut menggantikan kami disini" Manguri mengangguk-angguk. "Kalau ada pekerjaan lain, aku lebih senang melakukan tugas yang lain. Mengantar ternak meskipun melewati daerahdaerah yang berbahaya" "Kau akan segera bebas dari tugasmu yang tidak kau sukai ini" "Terima kasih. Aku benar-benar tersiksa disini. Aku tidak tahu, yang manakah yang paling tersiksa, diantara kami. Yang dijaga atau justru yang menjaga. Manguri tidak menjawab. "Apalagi di dalam bilik ini terdapat seorang perempuan yang cantik, yang sudah tidak sampai menghiraukan dirinya sendiri, termasuk pakaiannya. "Tutup mulutmu" Manguri menggeram. Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadarinya di pandanginya wajah Lamat yang berdiri di belakang Manguri. Tiba-tiba saja penjaga itu menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa tangan raksasa itu dapat meremukkan tulang-tulangnya. "Aku ingin melihatnya" desis Manguri kemudian sambil melangkah ke pintu. "Silahkan" Sejenak Manguri ragu-ragu berdiri di muka pintu yang tertutup. Lamatpun berdiri dengan cemasnya di sampingnya. "Kau disini Lamat" desis Manguri. Lamat menganggukanggukkan kepalanya. "Awasilah keadaan" Sekali lagi Lamat mengangguk. Dengan ragu-ragu Manguri membuka pintu perlahan-lahan. Ketika pintu itu terbuka sedikit, maka iapun menjengukkan kepalanya, memandang ke dalam bilik itu. Manguri terkejut melihat keadaan Sindangsari, Ia menelungkup sambil menangis. Sedang di pembaringannya terdapat beberapa buah mangkuk berisi makanan. Bahkan ada pula mangkuk-mangkuk yang terguling di lantai dan isinya tumpah ruah. Dengan dada yang berdebar-debar Manguri menarik daun pintu semakin lebar, dan perlahan-lahan pula ia melangkah masuk. Ketika pintu itu kemudian tertutup lagi, Lamat mengatupkan giginya rapat. Ia sadar, bahwa sesuatu dapat meledak pada saat itu. Mungkin ia harus bertindak. Mungkin ia dapat menyelamatkan Sindangsari, tetapi mungkin ia justru terbunuh karenanya. Setelah ia mati, apapun dapat terjadi atas Sindangsari. Sekilas melintas di kepala Lamat, Pamot bersama beberapa anak-anak muda di Gemulung telah ada di sekitar rumah itu. "Kalau mereka ada di sini" berkata Lamat "mungkin aku dapat berbuat sesuatu. Tetapi kalau tidak, entahlah. Aku tidak dapat meramalkan" Dalam pada itu Manguri mendekati pembaringan Sindangsari perlahan-lahan. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar Pantaslah kalau tetangga-tetangga yang pernah melihat Sindangsari menyangkanya orang gila, karena Sindangsari sama sekali tidak sempat lagi menghiraukan dirinya sendiri. Perlahan-lahan Manguri kemudian memanggilnya "Sari, Sindangsari" Meskipun suara Manguri tidak begitu keras, tetapi suara itu langsung menyentuh dada Sindangsari. Ia tidak biasa mendengar panggilan itu sehari-hari. Dan t iba-tiba kini ada seseorang yang memanggil namanya. Perlahan-lahan pula Sindangsari mengangkat wajahnya. Kemudian dengan ragu-ragu ia berpaling. Tiba-tiba saja Sindangsari berteriak ketika ia melihat Manguri berdiri ditepi pembaringannya "Pergi. Pergi, pergi kau" Manguripun terkejut Sejenak ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Sementara itu Sindangsari masih berteriak "Pergi, pergi atau bunuh aku" Manguri menjadi bingung. Ia cemas kalau suara Sindangsari mengejutkan tetangga-tetangga meskipun tidak terlampau dekat. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah mencoba menutup mulut Sindangsari. Tetapi Sindangsari meronta sehingga mangkuk-mangkuk yang ada di pembaringannya berserakan. "Pergi " Manguri yang menjadi semakin bingung tidak sempat berpikir lagi. Dengan serta-merta dibungkamnya mulut Sindangsari. Betapapun juga perempuan itu meronta-ronta, namun ternyata tangan Manguri lebih kuat dari tenaga Sindangsari. "Jangan berteriak-teriak" geram Manguri "atau aku cekik kau sampai mati" Sindangsari t idak dapat menjawab, karena tangan Manguri menutup mulutnya erat-erat. Namun justru dengan demikian pakaian Sindangsari menjadi semakin kusut. Rambutnya terurai menutup sebagian wajahnya. Tangannya yang menggapai-gapai sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan diri" "Kau harus sadar bahwa tidak ada gunanya berteriakteriak. Aku dapat berbuat apa saja. Mengerti?" Sindangsari sama sekali tidak menjawab. Tetapi justru ia mulai meronta-ronta lagi. Manguri masih tetap membungkam mulutnya. Tangannya melingkar di belakang kepala Sindangsari, sedang tangannya yang lain menahan gerak tangan Sindangsari yang masih saja selalu mencoba melepaskan diri. "Jangan berbuat begitu" Manguri menjadi semakin kasar "kau akan menyesal. Kandunganmu akan terganggu" Tetapi Sindangsari sudah tidak dapat berpikir tentang apapun juga. Tentang dirinya sendiri, tentang kandungannya dan tentang pakaiannya, ia masih saja menggeliat dan meronta. Bahkan kemudian dengan tiba-tiba saja ia membuka mulutnya dan menggigit tangan Manguri. Manguri terkejut. Dengan serta-merta ditariknya tangannya. Sindangsari yang sedikit terlepas itu berusaha bangkit berdiri dan berlari menjauh. Tetapi Manguri sempat menangkap ujung bajunya, sehingga justru bajunya sobek karenanya. Sindangsari tidak sempat lari lagi. Tangan Manguri yang kuat telah menyumbat mulutnya pula. "Duduk" Manguri menjadi semakin kasar "ingat. Aku dapat berbuat baik tetapi dapat berbuat kasar. Aku dapat memukul tengkukmu sehingga kau menjadi pingsan. Aku dapat membunuhmu dan aku dapat berbuat menurut keinginanku" Tidak ada jawaban, karena mulut Sindangsari sudah terbungkam lagi. "Dengar" geram Manguri "aku akan melepaskan mulutmu, dan aku akan pergi keluar. Tetapi kalau kau berteriak lagi, aku akan berbuat apa saja menurut keinginanku. Aku tidak peduli lagi kepada orang lain di sekitar bilik ini. Kau tahu" Tidak ada jawaban. "Ingat. Kau tidak berdaya apapun disini "Perlahan-lahan Manguri melepaskan mulut Sindangsari. Agaknya Sindangsari menyadari keadaannya. Karena itu, ia tidak berteriak lagi. Ketika Manguri melepaskannya sama sekali perlahan-lahan ia melangkah surut. "Kau jangan benar-benar menjadi gila meskipun orang di sekitar rumah ini memang menganggapmu gila. Kau mengerti?" Sindangsari tidak menjawab. Ketakutan yang luar biasa membayang di wajahnya yang pucat. Bibirnya yang menjadi biru bergetar, tetapi tidak sepatah katapun yang diucapkan. "Sindangsari" berkata Manguri "masih ada waktu bagimu untuk menilai keadaanmu. Kau tidak akan dapat kembali ke Kepandak. Kau tidak akan dapat kembali kepada Pamot. Mungkin pada suatu saat kau dapat melarikan diri. Tetapi mereka tidak akan dapat menerimamu kembali, karena kau tidak sebersih pada saat kau meninggalkan Kepandak lagi. Kau tahu maksudku? Karena itu, sebaiknya kau menerima kenyataanmu, seperti pada saat kau direnggut dari tangan Pamot oleh Ki Demang di Kepandak. Agaknya kau sudah berhasil melampaui kesulitan perasaanmu, sehingga kau justru mengandung karenanya. Dengan demikian, kau tidak akan banyak mengalami kesulitan apabila kau harus mengulanginya sekali lagi, menyesuaikan diri dengan kenyataan yang kau hadapi sekarang ini" Kata-kata Manguri itu bagaikan ujung sembilu yang langsung menusuk jantungnya. Betapa sakitnya, betapa pedihnya. Betapa harga dirinya sebagai seorang perempuan sudah direndahkannya, bahkan diinjak-injaknya. Betapapun juga hatinya serasa menggelegak, tetapi tidak sepatah katapun yang diucapkannya. Wajahnya menjadi semakin pucat, bibirnya membiru dan bergetar, sedang tubuhnya menggigil seperti orang yang kedinginan. Manguri memandang perempuan itu sejenak. Kemudian katanya "Aku akan keluar. Benahilah pakaianmu. Mungkin ada orang lain yang memasuki ruangan ini. Bukan aku" Kata-kata itu membuat dada Sindangsari berdesir. Dan tiba-tiba saja iapun menjatuhkan dirinya diatas pembaringannya menelungkupkan diri. Perlahan-lahan Manguri melangkah keluar. Di depan pintu ia berpaling. Ia berdiri termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia melangkah terus. Lamat menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar pintu bergerit. Sejenak kemudian Manguri melangkah keluar. Keringatnya mengembun di dahi dan keningnya. Sejenak ia berpaling kepada penjaga yang duduk bersandar tiang di depan Lamat yang berdiri tegak "Aku t itipkan perempuan itu kepadamu, keselamatannya dan perawatan secukupnya" Penjaga itu menganggukkan kepalanya "Aku akan mencobanya" Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun melangkah pergi meninggalkan bilik itu. Namun justru setelah ia menemui Sindangsari, wajah perempuan yang pucat itu selalu membayanginya. Dalam keadaan yang kusut, dengan rambut yang terurai, Sindangsari tampak menjadi semakin cantik. Manguri mengambil nafas dalam-dalam. Keputusannya menjadi semakin mantap. Katanya di dalam hati "Aku harus memaksakan kenyataan itu sehingga Sindangsari kehilangan segala keinginan untuk lari" Demikianlah, maka bayangan malam lambat laun mulai menyaput langit. Semakin lama menjadi semakin rendah. Warna merah di bibir awan mulai menjadi pudar. Satu-satu kelelawar mulai berterbangan di udara yang kelam. Berputar-putar kemudian menukik menyambar seekor mangsanya dipepohonan. Di rumah isteri muda yang kesekian dari ayah Manguri itu mulai menjadi semakin sepi. Tanpa diatur terlebih dahulu, orang-orang yang ada di halaman rumah itu telah membagi dirinya. Orang Manguri dan orangorang Ki Reksatani Meskipun kadang-kadang satu dua diantara mereka ada juga saling berbicara, tetapi kemudian helai tikar sudah dibentangkan di ruang depan. Sementara kuda-kuda mereka meringkik di halaman. Hanya lamatlah yang selalu menyendiri. Kadang-kadang ia mengikut i saja kemana Manguri pergi, seolah-olah ia benarbenar mencemaskan keselamatannya di daerah yang kurang dimengerti ini. Tetapi apabila Manguri kemudian duduk bersama ayahnya dan Ki Reksatani, maka Lamatpun kemudian duduk di tangga. "Padukuhan ini terlampau sepi" berkata ayah Manguri kepada Ki Reksatani. "Ya. Padukuhan ini sudah berada di pinggir hutan, meskipun bukan hutan yang lebat" "Hutan perburuan. Hutan itu seolah-olah sengaja disediakan bagi mereka yang senang berburu" "Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak begitu tertarik pada hutan itu. Pikirannya masih juga mereka-reka apa yang sebaiknya dilakukan dalam waktu yang dekat. "Kalau kau lelah, tidurlah" Ki Reksatani mengangguk. Ia lebih senang berbaring sambil merenung daripada harus mendengarkan kata-kata ayah Manguri. Namun demikian ia masih juga bertanya "Padukuhan ini memang sepi. Tetapi kenapa kau sampai juga di tempat yang sepi ini di dalam perjalanan dagangmu. Apakah di padukuhan terpencil ini ada juga orang yang membeli ternak dalam jumlah yang menguntungkan bagi perdaganganmu" "Mereka tidak membeli, tetapi mereka justru menjual. Aku datang ke padukuhan-kepadukuhan kecil untuk membeli ternak dengan harga yang agak murah, dan untuk mendapatkan isteri-isteri muda" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab apapun. Sejenak keduanya tidak mengatakan apaapa. Mereka merenungi angan-angan di dalam dada masingmasing. Sedang Manguri yang duduk bersama merekapun menjadi jemu. "Aku akan beristirahat" katanya kemudian. "Aku juga" sahut Ki Reksatani. "Silahkan. Kalau begitu akupun akan tidur juga" Merekapun kemudian meninggalkan tempat masingmasing. Ki Reksatani perlahan-lahan melangkah mendekati orang-orangnya dan duduk diantara mereka yang sudah berbaring diatas tikar. Tetapi Ki Reksatani tidak mengatakan sepatah katapun. Orang-orangnyapun tidak menegurnya. Mereka sudah mulai terkantuk-kantuk setelah parjalanan yang cukup melelahkan sejak sebelumfajar. Dalam pada itu Manguri tidak segera pergi mendapatkan ayahnya yang sudah berbaring pula. Tetapi ia pergi ke regol halaman diikut i oleh Lamat. "Apakah kau akan pergi?" bertanya Lamat. Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak" Lamat tidak bertanya lagi. Dipandanginya saja Manguri yang kemudian berdiri di tengah-tengah pintu regol halaman yang rendah, seperti orang yang sedang mencari sesuatu ia memandang ke segala arah. Tetapi Lamat yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, sama sekali tidak bertanya apapun. Menguri yang berdiri termangu-mangu itu memandang sinar pelita rumah tetangga yang agak berjauhan letaknya: Seberkas sinar yang menembus lubang dinding jatuh diatas dedaunan di halaman. Manguri menarik nafas dalam-dalam. Lamat yang berdiri di belakangnya melihat anak muda itu menjadi gelisah. Bahkan kadang-kadang terdengar ia berdesah. "Apakah orang-orang didalarn rumah itu sudah tidur?" tibatiba saja Manguri bertanya. Lamat heran mendengar pertanyaan itu, sehingga iapun menjawab "Aku tidak tahu. Tetapi lampu-lampu di rumah itu masih terang. Aku kira masih ada diantara mereka yang terbangun" Manguri menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling, dilihatnya ruang depan rumah isteri muda ayahnya itu sudah sepi. "Kenapa mereka belum tidur?" ia bertanya kepada Lamat. Lamat menggeleng "Aku tidak tahu" Manguri masih saja berdiri di regol. Bahkan kemudian ia melangkah ke jalan di depan regol itu. Dicobanya melihat ke arah yang jauh di sepanjang jalan. Tetapi jalan yang seakanakan menghunjam ke dalam gelap itu sama sekali tidak berkesan apapun kepadanya, selain sepi. Manguri mengerutkan keningnya. Dipandanginya bayangan di dalam kegelapan. Lambat laun iapun dapat mengenalinya, sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis "O, ibu, e, maksudku bibi" "Ya" sahut suara itu "siapakah yang kau tunggu" "Tidak ada" Bayangan itu melangkah mendekatinya, lewat beberapa jengkal di samping Lamat. "Apakah kau tidak ingin menemani bakal isterimu itu?" bertanya perempuan itu "agaknya ia menjadi terlampau kesepian" Dada Manguri berdesir. Dan perempuan itu berkata seterusnya "Cobalah. Tetapi bersikaplah sebaik-baiknya. Jangan terlampau kasar. Perempuan itu adalah perempuan yang berlebih senang hanyut di dalam dunia angan-angan, harapan dan cita-cita daripada dunia yang sedang diinjaknya kini. Itulah sebabnya ia selalu bermimpi tanpa menghiraukan kenyataan yang dihadapinya" Manguri mengerutkan keningnya. "Kalau kau ingin menemuinya, marilah, aku antarkan" Manguri ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata "Aku ragu-ragu. Kalau ia menjerit, maka suaranya akan mengejutkan tetangga di malamhari" "Mereka menganggap perempuan itu gila" "Tetapi mereka akan muak mendengar teriakan siang dan malam di rumah ini. Dan mereka akan memaksa kau menyingkirkannya" Perempuan itu tertawa. Katanya "Kalau begitu, kaulah yang harus berhati-hati. Jangan membuatnya terkejut, takut dan muak melihatmu. Hati-hatilah. Marilah, aku antarkan kau" Manguri ragu-ragu sejenak. Tanpa sesadarnya dipandanginya ruang depan yang sepi. "Ayahmu ada di dalam. Aku sudah mendapat ijinnya" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. "Marilah" perempuan itupun melangkah maju mendekati Manguri. Sebelum Manguri menjawab, perempuan itu sudah menarik tangannya sambil berkata "Cepatlah sedikit" Manguri tidak dapat melawan lagi. Iapun kemudian melangkah mengikuti ibu tirinya ke halaman belakang. Lamat yang berdiri keheran-herananpun kemudian melangkah pula mengikuti mereka. Tetapi ibu tiri Manguri itu kemudian berkata "Sudahlah, biarlah Manguri pergi sendiri. Tidak pantas kau berada di dekat bilik itu. Akulah yang akan menemaninya" Langkah Lamatpun tertegun. Dipandanginya Manguri yang berpaling pula. "Biarlah pengawalmu itu di halaman depan. Biarlah ia tidur bersama yang lain" Manguri t idak sempat menjawab, Sekali lagi ibu tirinya menarik tangannya ke dalam gelap. Lamat masih berdiri termangu-mangu di tempatnya. Tetapi ia t idak maju lagi. Manguri terpaksa mengikuti saja tarikan tangan ibu tirinya. Anak muda itu langsung dibawa ke bilik Sindangsari lewat pintu butulan. Perlahan-lahan Lamat masih mendengar perempuan itu berkata "Jangan terlampau kasar. Sekeras-batu akik sekalipun, lambat laun akan lekuk juga oleh air yang menilik, setitik-titik tetapi terus menerus. Kau mengerti? Kalau sekaligus kau lemparkan ke dalam banjir bandang, maka batu itu akan lenyap dan hilang untuk selama-lamanya. Kau mengerti?" Tidak terdengar jawaban Manguri. Namun merekapun kemudian melewati longkangan dan sampai ke depan pintu butulan yang dijaga oleh seorang penjaga yang dengan malasnya duduk bersandar pintu itu. "Bukalah" desis perempuan itu. Lamat yang tidak sampai hati melepaskan Sindangsari di luar pengawasannya, diam-diam merayap mendekat di dalam kegelapan, Ia kini justru dapat melihat dan mendengar pembicaraan mereka lebih jelas. "Marilah" bisik perempuan itu. Lalu "Akulah yang akan mengatakannya. Kau jangan terburu nafsu" Manguri tidak menjawab. Ia berdiri saja di belakang ibu tirinya seperti anak-anak yang bersembunyi di balik ibunya. Penjaga yang duduk bersandar pintu itu berdiri tertatihtatih. Sekali ia menguap, kemudian tangannya mulai bergerak mengangkat selarak. Perlahan-lahan pintupun kemudian terbuka. Seberkas sinar meloncat keluar. Tetapi kedua orang yang melangkah memasuki ruangan itu terkejut. Mereka melihat Sindangsari memegangi lampu minyak yang dinyalakan besar-besar. "Kenapa kau pegangi lampu itu?" bertanya ibu tiri Manguri "Apakah tidak ada ajug-ajug atau bancik di dalam bilik ini" Sindangsari memandangi orang-orang yang masuk itu sejenak. Dibayanginya wajahnya dengan telapak tangannya karena silau. Ketika ia mendengar suara perempuan, maka iapun menjadi agak tenang. Tetapi kemudian ia melihat Manguri di belakang perempuan itu. Karena itu, maka katanya "Pergi, pergi dari bilik ini" "Tunggulah" berkata ibu tiri Manguri "kami tidak akan berbuat apa-apa. Aku ingin berbicara dengan kau sejenak dan dengan Manguri. Aku tahu, hubungan apakah yang ada di antara kalian. Hubungan yang sampai saat ini masih samarsamar. "Tidak. Tidak" potong Sindangsari "kalau kalian tidak pergi, aku akan berteriak " "Tidak ada gunanya. Kalau kau berteriak, maka dadamu akan sakit. Tetangga kita disini akan muak kepadamu dan mereka akan dapat kita hasut untuk berbuat apa saja. "Itu lebih baik" "Jangan begitu. Jangan menjadi putus asa. Itulah sebabnya aku ingin berbicara sedikit" "Tidak ada yang dibicarakan Kalau kau akan berbicara, berbicaralah. Tetapi suruh orang itu keluar" Ibu tiri Manguri berpaling kepadanya sejenak. Tetapi kemudian ia tersenyum "Jangan begitu. Aku ingin berbicara dengan kalian berdua, aku menjadi jaminan, bahwa tidak akan terjadi sesuatu tanpa kau kehendaki" "Tidak, tidak" "Jangan keras hati" "Pergi, pergi" "Sebaiknya kau mendengar kata-kataku "lalu ia berpaling kepada Manguri "kemarilah. Biarlah untuk sementara Singandangsari menolak. Tetapi ia akan mendengar katakataku, dan ia akan mengakui kebenarannya" "Tidak, tidak.Jangan mendekat " "Kemarilah Manguri" Tetapi ketika Manguri melangkah maju, maka Sindangsari mengangkat pelita di tangannya sambil berkata "Kalau satu langkah lagi kau maju, maka lampu ini akan aku lemparkan ke dinding, kita akan bersama-sama terbakar di dalambilik ini" Kedua orang itu terkejut. Manguri tertegun, sedang wajahnya menjadi tegang. Tetapi ibu tirinya kemudian justru tersenyum. Katanya "Tidak Nyai. Aku dan Manguri akan segera berlari keluar sebelum api menjilat. Kami akan menutup pintu dan membiarkan kau berada di dalambilik ini" "Itu lebih baik. Itulah yang aku ingini" Sindangsari berhenti sejenak, lalu "Tidak. Aku tidak akan melemparkan lampu ini kedinding. Aku akan menyiramkan minyaknya pada pakaianku, dan aku akan membakar diriku sendiri. Itu pasti akan lebih baik" Kini wajah ibu t iri Manguri benar-benar menegang. Namun ia tidak yakin bahwa Sindangsari benar-benar akan melakukannya. Karena itu, maka iapun berkata "Jangan hiraukan Manguri. Ia t idak akan berbuat demikian kerena ia sadar, bahwa ia sedang mengandung" Tetapi di luar dugaan. Ketika Manguri beringsut sedikit tibatiba saja Sindangsari sudah memercikkan minyak dipakaiannya. Dicelupkannya jari-jarinya pada dlupak yang sedang menyala itu. Kemudian dikibaskannya pada pakaiannya. "Kemarilah. Lihatlah mayatku yang hangus bersama, anakku di dalam kandungan. Itu adalah jalan yang lebih baik bagiku" Ketika Sindangsari memercikkan minyak lagi kepakaiannya, perempuan itu tiba-tiba menjadi gemetar "Jangan. Jangan" "Pergilah" Ibu tiri Manguri menarik nafas. Akhirnya ia berkata "Kau memang seorang perempuan yang berhati baja. Baiklah. Kami akan keluar. Tetapi sebaiknya kau memikirkannya, bahwa hidup ini harus berpijak diatas kenyataan" "Aku tidak mau mendengar. Aku tidak mau mendengar" Ibu tiri Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Baiklah" Keduanyapun kemudian melangkah keluar dari dalam bilik itu. Namun dengan demikian mereka semakin yakin, betapa keras hati Sindangsari. Ketika mereka melangkah keluar pintu, Lamatpun segera kembali ke tempatnya semula, sehingga ketika Manguri dan ibu t irinya sampai di tempat itu, mereka bertanya hampir berbareng "Kau masih disini?" "Ya" "Tidurlah" berkata Manguri "Aku juga akan t idur" Manguri benar-benar telah dicengkam oleh kekesalan. Kadang-kadang timbul niatnya untuk berbuat kasar. Namun ia masih mencoba menahan diri. Mungkin ibu tirinya dapat membujuk perempuan itu, agar hatinya tidak menjadi semakin sakit, dan ia tidak semakin membencinya. Manguripun kemudian pergi ke ruang depan. Ia langsung menuju ke tempat orang-orangnya berbaring. Dengan hati yang panas ia menjatuhkan dirinya diantara mereka, sementara ibunya yang tidak kalah kesalnya masuk ke ruang dalam. Sementara itu Lamat masih berdiri termangu-mangu di halaman. Agaknya Manguri yang kecewa itu tidak menghiraukannya lagi. Anak muda itu ingin melepaskan kekesalannya dengan memejamkan matanya, kemudian tidur semalam suntuk. Lamat menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin menghirup udara malam sepuas-puasnya. Perlahan-lahan ia melangkah melintasi halaman. Sejenak ia duduk bersandar sebatang pohon dikegelapan. Dan malam menjadi semakin gelap segelap hatinya. Tiba-tiba Lamat berdiri. Setelah memandang ruang depan yang sepi, ia berjalan ke regol halaman. Sejenak ia berdiri mematung, namun kemudian ia melangkah keluar. "Kalau Pamot sudah ada di padukuhan ini" katanya di dalam hati "ia pasti akan berusaha mendekati rumah ini. Aku akan berdiri disini. Mudah-mudahan ia dapat melihat aku, meskipun di regol itu tidak dipasang obor" Lamatpun kemudian berdiri bersandar tiang regol halaman. Dengan matanya yang tajam ditembusnya kegelapan malam. Tetapi bagaimanapun juga, ia tidak dapat melihat terlampau jauh. Bayang-bayang dedaunan membuat malam menjadi semakin gelap. Tetapi justru Lamat berdiri bersandar tiang regol, maka iapun telah dibayangi kegelapan yang hitam pula, sehingga tidak mudah untuk dapat dilihatnya. Karena itulah maka beberapa orang yang berada di halaman di sebelah rumah itu tidak melihatnya. Beberapa orang ternyata telah meloncati pagar batu di sebelah dalam dan perlahan-lahan beringsut mendekati dinding halaman rumah isteri ayah Manguri. Mereka sama sekali t idak melihat bahwa di regol halaman masih ada seseorang yang tidak tertidur. Orang itu adalah Lamat. Ketika orang-orang itu beringsut sepanjang dinding diseberang jalan di halaman rumah tetangga, maka mereka melintas di hadapan regol yang gelap itu. Kepala mereka yang sedikit tersembul diatas dinding batu, telah menarik perhatian Lamat yang masih berdiri tegak sambil menahan nafas. "Siapakah mereka itu?" bertanya Lamat di dalam hatinya. Tetapi ia masih tetap membeku. Ia tidak tahu pasti, siapakah yang mendekat itu. Pamot dan kawan-kawannya, atau orang-orang Ki Reksatani yang dengan diam-diam akan melakukan tugas yang dibebankan kepadanya. Tiba-tiba timbullah niat Lamat untuk mengetahui orangorang itu Karena itu, maka iapun beringsut perlahan-lahan justru menghilang di balik regol. Raksasa itupun kemudian dengan terbungkuk-bungkuk merayap di sepanjang dinding berseberangan jalan dengan orang-orang yang tadi dilihatnya. Sekali-sekali ia mencoba menjenguk di balik dedaunan. Dan ternyata ia berhasil mengetahui, dimana orang-orang itu berhenti. "Mereka sengaja mengawasi rumah ini" berkata Lamat di dalam hatinya. Ia masih bergeser lagi beberapa puluh langkah. Kemudian dengan hati-hati ia meloncat di tempat yang gelap, di bawah rumpun bambu yang rimbun menyilang jalan padukuhan, masuk ke halaman yang berseberangan dengan halaman rumah isteri muda ayah Manguri itu. Sejenak Lamat menunggu. Ia bersembunyi di balik dedaunan ketika orang-orang itu bergeser mendekati Namun kemudian raksasa itu menarik nafas dalam-dalam. Setelah orang-orang itu menjadi semakin dekat, dan merayap di hadapannya tanpa mengetahuinya, ia melihat bahwa diantara mereka terdapat Pamot dan Punta. Namun ternyata tarikan nafasnya itu dapat didengar oleh Pamot dan kawan-kawannya, seakan-akan terlontar dari senyapnya malam. Dan ternyata suara tarikan nafas itu telah mengejutkan orang-orang yang sedang merayap itu, sehingga merekapun segera berpencar dan bersiaga. Tanpa berjanji mereka mengepung gerumbul tempat Lamat bersembunyi. "Siapa?" Rajab berdesis perlahan-lahan. Lamat masih tetap diam. Ia menjadi ragu-ragu. Diantara mereka terdapat orang-orang yang belum dikenalnya. "Siapa?" Rajab mengulang. Dengan hati-hati Lamat bergeser. Kemudian untuk tidak menimbulkan salah paham ia berdesis pula "Aku Pamot" "Aku siapa?" desak Pamot. "Kau tidak mengenal suaraku lagi?" "Lamat?" "Ya" "O" Pamot lah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian "keluarlah. Kenapa kau bersembunyi di situ" "Siapakah orang ini Pamot?" bertanya Rajab. "Nantilah aku ceriterakan.. Tetapi orang ini tidak berbahaya meskipun ia berada di dalam lingkungan orang-orang yang melarikan Nyai Demang" Rajab tidak menyahut. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Perlahan-lahan Lamatpun merayap keluar dari gerumbul itu. Tetapi ia tidak mau berdiri. Bahkan ia berkata "Duduklah Kepalamu agak lebih tinggi dari dinding halaman ini" Pamot dan kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian merekapun menyadari, bahwa kepala mereka dapat dilihat dari luar halaman itu seandainya ada orang yang lewat di jalan padukuhan. Peronda atau orangorang yang kembali dari menunggui air di sawah. "Duduklah" Lamat mengulangi. Pamot dan kawan-kawannyapun kemudian duduk di seputarnya. Namun nampaknya Rajab masih tetap mencurigainya. "Bagaimana dengan Nyai Demang?" bertanya Pamot tidak sabar. "Ia masih selamat. Sampai saat ini ia masih dapat bertahan. Tidak ada seorangpun yang dapat mendekatinya" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya "Kenapa kau berada disini" "Aku melihat beberapa buah kepala yang bergeser di balik dinding batu ini. Karena itu aku berusaha untuk memastikan, apakah kalian bukan orang-orang yang berbahaya bagi Nyai Demang" Pamot dan kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun dalam pada itu, Rajab segera mengetahui, bahwa Lamat bukanlah orang kebanyakan. Ia dapat mendekati mereka tanpa mereka sadari. "Aku memang menunggu kalian" desis Lamat "tanpa kalian, aku tidak akan dapat berbuat banyak. Apalagi apabila Mangurilah yang pertama-tama menjadi kalap. Kalau Ki Reksatani berniat untuk membinasakan Sindangsari, aku kira Manguri pasti akan mencegahnya, sehingga aku masih mempunyai kawan untuk mempertahankan tetapi apabila Manguri yang kehilangan akal, akupun akan kehilangan akal pula" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya "Kami sudah berada di sekitar rumah ini. Bahkan Ki Jagabaya di Prambananpun telah berada di sini pula" "O, kau sudah menghubungi pimpinan Kademangan ini" "Ya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika demikian, maka kali ini semua persoalan harus selesai. Ki Jagabaya dan Ki Demang di daerah ini pasti tidak akan dapat membiarkan persoalan ini berlarut-larut dan terjadi di wilayah mereka. Tetapi Lamatpun mengetahui, bahkan hampir pasti, bahwa tidak ada seorangpun di padukuhan ini yang mampu mengimbangi Ki Reksatani di dalam olah kanuragan. "Baiklah" berkata Lamat kemudian "aku akan berusaha untuk selalu melindungi Nyai Demang dari dalam. Tetapi kalian harus tetap mengawasi keadaan. Jika aku terpaksa terlibat dalam sikap yang keras, maka kalian harus segera berusaha membantu. Kalau tidak, dalam waktu yang sekejap saja, kepalaku akan terpenggal oleh Ki Reksatani bersama orang-orangnya. "Apalagi apabila Manguri berdiri di pihak mereka" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya. Aku selalu siap bersama dengan kawan-kawan Rajab, adalah salah seorang anak muda Kali Mati yang berpengaruh" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sokurlah. Mudah-mudahan kita dapat menyelamatkan" "Apa yang harus kita kerjakan sekarang?" "Kalian harus mengawasi aku" "Apakah isyaratmu?" Lamat berpikir sejenak. Kemudian "Aku akan berteriak memanggil kalian. Aku tidak mempunyai tanda apapun, dan barangkali aku juga tidak akan sempat mempergunakan tanda tanda lain" Pamot dan kawan-kawannya menganggukkan kepalanya. Dan Pamotpun kemudian bertanya "Kapan hal itu terjadi?" "Aku belum dapat mengatakan" Lamat berhenti sejenak, lalu t iba-tiba ia bertanya "Berapa orang kalian sekarang?" "Enamorang" "Hanya enam orang?" "Tetapi dengan isyarat, kami dapat memanggil lebih dari lima belas orang saat ini" "Lima belas" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi jumlah itu masih meragukan. Meskipun jumlah itu sudah seimbang, bahkan sedikit lebih banyak dari jumlah orang-orang yang berkumpul di halaman ini, namun orangorang yang ada di halaman ini adalah orang upahan yang memang menyewakan dirinya untuk berkelahi. Mereka memang hidup dari kemampuan mereka bertempur. Baik mereka orang-orang Ki Reksatani, maupun orang-orang Manguri yang biasanya mengawal di daerah-daerah yang berbahaya. Sedang anak-anak Sembojan dan sekitarnya adalah petani-petani dan mungkin satu dua diantara mereka adalah pengawal-pengawal Kademangan dan pengawalpengawal khusus seperti Pamot dan Punta. "Bagaimana?" bertanya Pamot. "Di dalam halaman rumah ini berkumpul lebih dari sepuluh orang" berkata Lamat "Maksudmu? Apakah kita akan merebut dengan kekerasan?" "Berbahaya sekali. Kalian hanya akan menemukan mayat Nyai Demang di Kepandak" Lamat tidak segera menyahut. Ia mencoba membayangkan, bagaimanakah kira-kira kekuatan penjaga pintu bilik Nyai Demang itu. Kalau ia berhasil membungkamnya, maka ia akan dapat membuka pintu bilik itu. Pintu butulan. Tetapi Lamatpun sadar, untuk mendekati pintu bilik itu pasti sangat sulit. Kecuali kalau penjaganya tidur. Agaknya ayah Manguri cukup berpengalaman, sehingga ia sudah membersihkan beberapa puluh langkah dari pintu itu, sehingga orang yang mendekatinya, akan segera dapat diketahui sebelum ia menjadi dekat. "Baiklah kalian menunggu" berkata Lamat "tetapi bahwa aku tahu kalian disini, aku menjadi semakin mantap. Percayalah kepadaku. Selagi aku masih hidup, Nyai Demang akan selalu aku awasi. Namun demikian kalian harus membantu aku" "Jangan cemas. Beberapa orang diantara kami selalu dekat dengan rumah ini. Salah seorang dari kami t inggal di rumah sebelah. Dan aku, Punta beserta kedua kawan dari Gemulung, tinggal di rumah itu pula, meskipun harus selalu bersembunyi" "Baiklah" desis Lamat "sekarang pergilah. Awasilah dari rumah itu saja. Disini kalian selalu dibayangi oleh bahaya. Siapa tahu, Ki Reksatanipun berkeliaran di malam begini di sekitar rumah ini. Kalian baru akan menyadari setelah leher kalian tercekik dari belakang" Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Akupun akan kembali ke rumah itu. Tetapi aku sudah mempunyai pegangan, sehingga aku tidak menjadi ragu-ragu bertindak" "Baiklah" desis Pamot. Lalu nada suaranya menurun "Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga Lamat. Kau selalu baik kepadaku" "Ah, jangan menjadi cengeng. Pergilah" Anak-anak muda itupun kemudian merayap pergi meninggalkan tempat itu. Namun Rajab masih juga sempat bertanya "Apakah hubungannya dengan kalian, atau dengan Nyai Demang?" Pamot ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab "Tidak ada hubungan apa-apa diantara kami dan juga diantara Lamat, raksasa yang baru bangun dari tidurnya itu, dengan Nyai Demang di Kepandak. Tetapi ada semacam dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk melindungi perempuan yang malang itu" "Seperti kalian juga?" Pamot tidak segera dapat menjawab. Ternyata pertanyaan itu telah melontarkannya pada suatu pengakuan, bahwa ia tidak berusaha membebaskan Sindangsari dengan alasan yang sama dengan Lamat. Sekedar karena rasa keadilannya tersinggung, tanpa pamrih apapun. Lamat benar-benar telah berusaha melindungi Sindangsari karena percikan rasa keadilan dan kebenaran di dalam hatinya, meskipun sebelumnya ia merasa terikat oleh ikatan budi yang seakanakan tidak dapat diputuskannya. Tetapi bagi dirinya, ada sesuatu yang lain yang mendorongnya berbuat demikian. Ia mempunyai bekal yang masih tergores di hatinya, dan ia mempunyai kepentingan langsung dengan perempuan itu, karena benihnya yang tertabur di persemaian itu telah tumbuh. Karena Pamot tidak segera menjawab, maka Puntalah yang menolongnya menjawab "Ya. Kami juga berusaha menyelamatkannya. Bedanya, kami adalah orang-orang yang berada di luar lingkungan mereka, sedang Lamat adalah orang dalam, yang oleh lingkungan mereka pasti akan disebut pengkhianat. Tetapi ia yakin bahwa apa yang dilakukan itu benar, demi kemanusiaan" Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu kini, bahwa ia telah terseret pula untuk melakukan perbuatan serupa itu. Dengan kata sehari-hari, menolong sesama yang sedang dalam kesulitan. Dan ia adalah perwujudan dari rasa kemanusiaan. Seperti yang selalu didengarnya orang tua-tua mengajari agar setiap orang suka tolong-menolong di dalam kesulitan. Bukan sekedar kata-kata yang merdu didengar, tetapi yang lebih penting adalah melakukannya. Dan rajab merasa, kini ia telah melakukannya. Demikianlah maka merekapun kemudian saling berdiam diri. Perlahan dan hati-hati sekali mereka bergeser setapak demi setapak. Kemudian merekapun meloncati pagar-pagar batu beberapa kali, sebelum mereka sampai ke halaman rumah seorang kawan yang bertetangga dengan rumah yang dipergunakan oleh Sindangsari. "Kita harus selalu mengawasi rumah itu" berkata salah seorang dari mereka. Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana dengan Ki Jagabaya" "Ia sedang tidur. Ia berada di bilik tengah" "Biarlah ia tidur. Kalau keadaan memuncak, barulah ia kita bangunkan. Tetapi kita sudah berhasil menghubungi orang di dalam lingkungan mereka" Pamot sendiri tidak menyahut pembicaraan itu. Ia duduk di sudut amben, di dalam kegelapan, karena sinar pelita yang menyangkut pada tiang. Tetapi tidak seorangpun yang menghiraukannya selain Punta. "Kasihan anak itu" berkata Punta di dalam hatinya, seolaholah ia mengetahui apa yang bergolak di dalamhati Pamot. "Apakah yang telah mendorong aku bersusah payah mencarinya?" pertanyaan itu memang tumbuh di hati Pamot "Sindangsari bukan apa-apa lagi bagiku. Apakah ada seorangpun yang dapat meyakinkan bahwa anak di dalam kandungannya itu ada sangkut pautnya dengan aku?" Berbagai bayangan di dalam angan-angannya telah membuatnya berkeringat. Bahkan tumbuh pula di dalam dadanya seruan "Kenapa tidak kau serahkan saja kepada Ki Demang di Kepandak yang telah merampas perempuan itu dari tanganmu? Apa pedulimu seandainya perempuan itu mati, atau diperisterikan oleh Manguri dengan paksa, atau sebabsebab yang lain? Namun ketika tanpa sengaja ia melihat anak-anak muda yang ada di dalam ruangan itu, dan terlebih-lebih lagi terbayang wajah Lamat yang keras seperti batu, dada Pamot tergetar karenanya. "Apa pula hubungan mereka dengan Sindangsari? Apa pula kepentingan mereka atas perempuan itu dan bukankah mereka dapat tidak mempedulikannya sama sekali seperti kita melihat seekor t ikus yang hanyut di kali?" "Tidak, tidak" Pamot menggeram di dalam hati "perempuan itu memerlukan pertolongan. Kenal atau tidak kenal, berkepentingan atau tidak berkepentingan" Tiba-tiba saja angan-angannya terputus ketika ia mendengar hiruk pikuk di rumah sebelah. Hampir berbareng anak-anak muda yang ada di dalam ruangan itu berloncatan ke pintu. Dada mereka berdesir ketika mereka melihat api yang menyala di rumah sebelah, rumah yang dipergunakan untuk menyimpan Sindangsari. "Kebakaran" Punta bergumam. "Ya, kebakaran" sahut Pamot. Tetapi dengan demikian mereka tidak segera dapat mengambil sikap. Kebakaran tidak termasuk di dalam perhitungan mereka. Mereka hanya menunggu isyarat Lamat. Kalau mereka mendengar isyarat, mereka harus bertindak cepat. Kalau tidak, maka tidak akan terjadi apa-apa di rumah itu. Tetapi kini rumahitu terbakar. Anak-anak muda itu untuk sesaat hanya, berdiri mematung di halaman sambil memandang api yang mulai menjilat atap. Beberapa bagian di sisi belakang telah mulai berkobar. Orangorang yang ada di rumah itu menjadi sibuk. Mereka yang sedang tertidur oleh kelelahan, terperanjat bangun. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun sejenak kemudian merekapun segera berloncatan ke luar. "Kebakaran, kebakaran" Ayah Manguri yang ada di dalampun segera berlari keluar diikuti oleh isteri mudanya. Manguri dan orang-orangnya, juga Ki Reksatani dan pengiringnya, telah berkumpul di halaman. Sejenak mereka menilai keadaan, dan sejenak kemudian merekapun segera berloncatan. "Air, air" teriak salah seorang dari mereka. Halaman rumah itupun kemudian menjadi hiruk pikuk. Api yang menyala di bagian belakang semakin lama menjadi semakin besar. Diantara mereka yang berlari-larian kian kemari mencari air dan alat-alat untuk memadam kan kebakaran itu, Ki Reksatani berdiri termangu-mangu. Ia ingat, bahwa di bagian belakang rumah itu disimpan Sindangsari, nalurinya telah mendorongnya untuk menolong perempuan itu. Tetapi tibatiba ia berdiri tegak seperti patung. Bahkan kemudian ia berdesis "Biarlah perempuan itu mati dimakan api. Itu lebih baik daripada aku harus membunuhnya" Karena itu, niatnya untuk menolong Sindangsari diurungkannya. Tetapi selain Ki Reksatani, Manguripun menyadari hal itu. Karena itu, berlari-lari ia melingkar rumah itu sambil berteriak memanggil "Lamat, Lamat" Tetapi tidak ada seorangpun yang menyahut "lamat, Lamat" Suaranya seakan-akan tenggelam di dalam hiruk pikuk orang-orang yang berusaha memadamkan api yang berkobar semakin besar. Bahkan kemudian orang-orang di sekitar rumah itupun berlari-larian memberikan pertolongan. Mereka menebang batang-batang pisang dan dilontarkannya ke dalam api. Selagi Manguri sedang kebingungan, dan selagi Ki Reksatani memandangnya dengan senyum kecil di bibirnya, mereka telah terkejut ketika dinding di sudut belakang rumah itu terdorong oleh suatu kekuatan yang besar dari dalam. Dinding sudut yang sudah hampir termakan api pula itu, kemudian roboh, sementara sebuah bayangan telah meloncat keluar dari dalam. Semua orang terpukau sejenak memandangnya. Orang itu adalah Lamat yang mendukung Sindangsari. Meskipun beberapa bagian pakaian dan kulitnya telah tersentuh api, namun Lamat tidak menghiraukannya. Dan ia berhasil menyelamatkan Sindangsari. Tetapi perempuan itu selalu meronta-ronta. Bahkan ia berteriak-teriak "Lepaskan, lepaskan. Biarlah aku mati di dalam api itu. Lepaskan" Orang-orang yang mendengar teriakan itupun segera menduga bahwa perempuan gila itulah agaknya yang telah membakar rumah itu. Sebenarnyalah bahwa Sindangsari yang menjadi bingung dan gelap hati itu, tidak tahu lagi apa yang sebaiknya dilakukan. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa Manguri telah berada di dalam rumah itu pula. Oleh kebingungan yang tidak terpecahkan, maka hatinya benar-benar menjadi kelam. Ia lupa akan dirinya, lupa akan kandungannya, dan sejenak ia lupa akan adanya Tuhan Yang Maha Bijaksana. Ia telah mencoba menyelesaikan kesulitannya itu dengan caranya sendiri. Ternyata Sindangsari itu telah menyiram dinding biliknya dengan minyak lampu di dalam biliknya, kemudian membakarnya dari dalam tanpa menghiraukan keadaan dirinya sendiri. Karena itulah, ia melawan ketika Lamat ingin menolongnya dari lidah api yang sudah menjalar semakin besar. Tetapi Lamat tidak menghiraukannya. Sindangsari itupun kemudian dibawa menjauhi api yang semakin besar berkobar membakar rumah isteri muda ayah Manguri. Pedagang ternak itu berdiri termangu-mangu di halaman yang merah karena nyala api. Di sampingnya isteri mudanya menangis sambil berpegangan lengannya "Rumahku, rumahku" Ayah Manguri menarik nafas dalam-dalam. Ia hanya dapat memandang api yang semakin besar, bahkan hampir menelan seluruh bagian rumah itu. Lambat tetapi pasti, maka rumah itu akan menjadi abu sama sekali, karena pertolongan tetangga yang hampir seluruh padukuhan telah mengelilingi api dan mencoba memadamkannya, namun tidak berhasil. -


Jilid 9
MANGURI sama sekali t idak menghiraukan lagi api yang seakan-akan melonjak-lonjak dalam tarian maut menyentuh langit yang hitam. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah Sindangsari. Karena itu dengan tergesa-gesa ia mengikuti Lamat yang kemudian meletakkan Sindangsari di sudut halaman belakang, diatas rerumputan yang kekuningkuningan. Oleh ketegangan yang luar biasa, maka Sindangsari yang sedang mengandung itupun telah menjadi pingsan. Dalam pada itu, Ki Reksatanipun menjadi bingung. Ia kecewa sekali melihat Lamat berhasil menolong perempuan yang telah menyalakan api di dalam hatinya pula. Ki Reksatani mengharap Sindangsari mati. Tetapi kini ia dapat di selamatkan. Apalagi halaman itu penuh dengan orang-orang dari padukuhan Sembojan. Apabila ia tidak dapat menyingkirkan Sindangsari, dan apabila karena sesuatu hal rahasia ini merembes keluar lingkungannya, maka ia akan mengalami bencana yang tidak terkirakan. Dalam kebingungan itu tiba-tiba ia mengambil keputusan. Perempuan itu harus mati. Manguri, ayahnya dan orangorangnyapun harus mati "Tetapi bagaimana dengan orangorang Sembojan?" pertanyaan itu melonjak di dalam kepalanya "mereka pasti akan berceritera tentang perkelahian yang timbul di rumah ini. Mereka Pasti akan bercerita tentang kematian demi kematian. Mereka akan berceritera tentang orang-orang yang datang dan berselisih disini. Gambarangambaran yang mereka berikan akan menunjukkan bahwa yang berkelahi dan yang saling berbunuhan adalah orangorang Kepandak. "Persetan" ia menggeram "padukuhan ini cukup jauh. Di dalam hiruk pikuk ini aku harus cepat melakukannya. Mungkin tidak ada orang yang mengetahui, siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu. Dengan diam-diam aku akan mendekati mereka seorang demi seorang. Dan aku akan membunuhnya tanpa menimbulkan suara apapun. Aku dapat menusuk setiap punggung. Kemudian meninggalkannya terbaring di tanah. Orang-orang yang sibuk dengan api itu, pasti tidak akan segera menyadari apa yang terjadi. Ki Reksatanipun kemudian menggeram. Dibisikkannya rencana itu kepada seorang pengikutnya. Dan rencana itupun segera menjalar. "Kau serahkan Manguri dan ayahnya serta raksasa itu kepadaku. Kalian tidak akan dapat berbuat banyak atas mereka. Lakukanlah atas pengiring-pengiringnya. Cepat, selagi orang-orang Sembojan dan pengiring Manguri itu sibuk memadamkan api. Aku akan mencari perempuan itu" Ki Reksatani tidak perlu mengulangi perintahnya. Orangorangnya yang segera mengetahui hal itu, mulai berusaha melakukan tugasnya. Dengan pisau-pisau belati pendek, mereka mendekati para pengiring Manguri dari belakang. Kemudian, mereka membenamkan pisau belati mereka di punggung di dalam kegelapan, selagi orang-orang itu sibuk mengambil air, atau mencari batang-batang pisang, atau selagi mereka berbuat apapun juga. Mereka mendorong mayat-mayat itu ke dalam rimbunnya halaman yang kurang terpelihara. Dan membaringkannya di tanah. Sementara itu, Manguri berdiri termangu-mangu di belakang Lamat yang sedang berjongkok merenungi wajah Sindangsari yang pucat. Dicobanya untuk menggerakkan tangannya perlahan-lahan. Kemudian menggerakkan kepalanya pula. Seperti seorang ibu yang menyentuh bayinya, Lamat memijit pundak Sindangsari dengan hati-hati. Tetapi perempuan itu masih saja pingsan. Manguri masih berdiri di belakangnya. Dibiarkannya Lamat berusaha membangunkannya. Bahkan dengan gelisahnya Manguripun maju selangkah. Tetapi ia berhenti ketika Lamat merentangkan tangannya tanpa berkata apapun juga. Semula Manguri tidak menghiraukannya. Tetapi ketika setiap kali ia ingin mendekat, Lamat selalu berusaha mencegahnya, maka iapun kemudian berkata "Biarlah aku yang mencoba membangunkannya" Alangkah terkejut Manguri mendengar jawaban Lamat. Dadanya hampir meledak karenanya dan jantungnya serasa berhenti mengalir. Lamat yang kemudian berdiri menghadangnya itu berkata "Jangan kau sentuh perempuan itu" "Lamat" Manguri memandanginya dengan tajamnya "apakah kau menjadi gila?" "Jangan kau sentuh" "Pergi, pergi kau. Aku akan membangunkannya. Perempuan itu masih pingsan" "Akulah yang menolongnya dari api. Kalau t idak ia sudah mati menjadi bara di dalam api itu. Kau tidak berhak lagi atasnya" Manguri berdiri membeku sejenak. Ia menjadi bingung menghadapi raksasa yang jinak, tetapi tiba-tiba menjadi buas. "Apakah kau kerasukan setan Sembojan, he Lamat. Jangan dungu. Perempuan itu akan mati kalau ia tidak segera mendapat pertolongan" "Serahkan ia kepadaku. Kau jangan mencampuri persoalanku dengan perempuan itu" "He Lamat. Apakah kau benar-benar menjadi gila he?" Lamat t idak menjawab. Ia masih berdiri saja mematung di tempatnya. Namun di dalam keremangan cahaya api yang kemerah-merahan, mata Lamat tampak menyala seperti bara. Manguri menjadi ragu-ragu sejenak. Seperti memelihara seekor harimau, betapapun jinaknya, pada suatu saat menggeram juga. Karena itu, maka ia harus berhati-hati. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja Lamat telah berubah sama sekali. Sebenarnyalah bahwa Manguri tidak mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati Lamat. Ia tidak mengerti perkembangan perasaan raksasa itu. Apalagi kini, di saat-saat terakhir, Lamat sudah tidak dapat membiarkan perlakuan yang memuakkan itu berlangsung terus sebelum terlanjur terjadi akibat yang tidak akan dapat dihapus seumur hidupnya. Semula Lamat masih ragu-ragu untuk bertindak. Tetapi ketika ia membawa Sindangsari ke sudut halaman, maka ia mendengar suara berbisik di balik dinding batu "Lamat, aku disini. Kami sudah siap. Agaknya saat ini merupakan salah satu saat yang baik untuk membebaskannya. Sindangsari sudah berada di tanganmu. Kemungkinan untuk membunuhnya dapat dibatasi sekecil-kecilnya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab "Baiklah Kita akan mulai" Pembicaraan itu terhenti ketika mereka melihat Manguri berlari-lari mendekati Lamat. Namun semuanya sudah jelas. Semuanya sudah pasti. Sindangsari harus dibebaskan. Sementara itu Pamot dan kawan-kawannyapun segera surut beberapa langkah. Mereka berloncatan kebalik dinding di dalam kegelapan. Agaknya oleh hiruk pikuk di halaman, tidak seorangpun yang memperhatikan mereka. Seandainya ada orang yang melihat mereka berloncatan, orang itu pasti mengira bahwa mereka adalah tetangga-tetangga terdekat yang akan menolong kebakaran itu pula. Dalam pada itu, Ki Reksatanipun dengan diam-diam telah mendekati Manguri yang sedang berbantah dengan Lamat. Sejenak ia menjadi heran. Kenapa tiba-tiba saja mereka tidak sependapat. Biasanya Lamat tidak pernah membantah, apapun yang dikatakan oleh Manguri. Namun kini tiba-tiba Lamat telah mencegah Manguri mendekati Sindangsari. Sejenak Ki Reksatani berpikir. Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Lamat atas perempuan itu. Kalau ia sudah jemu mengawasinya dan akan membunuhnya, maka biarlah raksasa itu melakukannya. Tetapi hal itu tidak akan mungkin terjadi. Raksasa itu pulalah yang telah membebaskan perempuan itu dari jilatan api. "Mereka sedang memperebutkan perempuan itu" berkata Ki Reksatani di dalam hatinya. Namun perkembangan keadaan itu menambahkannya menjadi cemas. Rahasia ini akan semakin cepat menjalar dan diketahui orang. Karena itu, iapun segera mengambil keputusan. Bukankah keduanya harus dimusnahkannya dan kemudian perempuan yang pingsan itu pula? Ki Reksatani dapat berpura-pura memihak salah satu dari keduanya. Kemudian setelah yang seorang selesai, maka yang lain akan diselesaikannya pula. Menurut perhitungan Ki Reksatani, maka untuk membunuh Manguri tidak akan ada kesulitan apapun. Tetapi untuk membunuh raksasa itu, mungkin ia memerlukan waktu. Apalagi agaknya orang-orang lain tidak akan mengganggunya. Misalnya ayah Manguri dan orang-orang yang sudah mengenal anak itu. Termasuk orang-orang Sembojan. Karena itu, maka ia memutuskan untuk berpihak kepada Manguri. Dengan demikian, rencananya akan dapat dilakukannya dengan lancar. Dengan keputusan itulah, maka Ki Reksatani melangkah mendekati keduanya yang masih berdiri berhadapan. "Apa yang terjadi?" ia bertanya seolah-olah ia tidak tahu apa yang sedang mereka percakapkan. Dada Lamat berdesir. Ia sadar bahwa ia harus berhadapan dengan orang yang tidak terkalahkan dari Kepandak itu. Tetapi ia sudah menyerahkan dirinya untuk menolong Nyai Demang. Ia sudah bulat bertekad untuk menyelamatkan jiwa perempuan itu, bahkan kalau perlu menukar dengan jiwanya yang sudah tidak berharga itu. "Lamat menjadi gila" desis Manguri. "Ia mendengar percakapan kita. Ia mengetahui bahwa kita tidak sependapat, aku tahu, bahwa orang ini sudah lama memperhatikan kita" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Selangkah ia maju sambil berkata "Ya, aku mendengar sebagian dari percakapan kalian. Tetapi aku tidak tahu, alasan apakah yang mendorong kalian untuk memperebutkan perempuan itu" "Aku akan menyelamatkannya. Menyelamatkannya dari tangan laki-laki yang dibakar oleh nafsunya dan menyelamatkannya dari laki-laki yang digelut oleh ketamakan" "Lamat" berkata Manguri "siapakah yang mengajarimu demikian?" "Tidak ada. Tetapi aku adalah seorang manusia seperti kebanyakan manusia yang lain. Mempunyai perasaan, harga diri dan perikemanusiaan. Apakah aku dapat membiarkan perempuan yang tidak berdaya ini menjadi korban kalian. Ia akan binasa lahir dan batinnya. Kalau ia t idak dibunuh secara badaniah, ia akan mati secara batiniah. Hidupnya bukan hidup lagi, meskipun ia tidak dapat segera dikubur. Karena itu, menyingkirlah kalian. Aku akan menyelamatkannya dan mengembalikannya kepada Ki Demang di Kepandak" Darah Manguri serasa berhenti mengalir mendengar jawaban itu. Namun sebelum ia menjawab, terdengar suara Ki Reksatani tertawa betapapun terasa pahitnya "Kau gila Lamat. Benar kata Manguri, bahwa kau sudah gila. Apakah kau sadar, bahwa dengan demikian, kau akan dapat mengalami akibat yang tidak pernah kau perhitungkan? Apakah kau sangka, begitu mudahnya mengembalikan Nyai Demang itu kepada suaminya?" "Aku tahu, bahwa tidak begitu mudah untuk melakukannya. Tetapi aku akan mencoba" Ki Reksatani memandang wajah Lamat yang tegang, sorot matanya memancarkan kebulatan hatinya yang membara. Karena itu, Ki Reksatani tidak dapat memperpanjang waktu lagi. Ia harus segera berbuat sesuatu. "Lamat" Ki Reksatani menggeram "aku terpaksa membunuhmu. Aku kira Manguripun tidak berkeberatan, karena selama ini kau adalah seekor kerbau dungu yang dipeliharanya diantara ternak yang diperdagangkan oleh ayahnya. Tetapi ternyata kau jauh lebih dungu dari yang aku duga semula. Ternyata saat ini kau sudah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan" Lamat justru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku menyadari, bahwa kau akan mengambil keputusan itu" Ki Reksatani maju selangkah lagi. Tetapi ia tertegun sejenak ketika ia mendengar dengan nafas di sektarnya. Tetapi Ki Reksatani tidak mengerti, siapakah orang-orang yang sedang mengerumuninya. Mungkin orang-orangnya, mungkin orang-orang lain yang melihat perselisihan itu, atau mungkin orang-orang Manguri. Tetapi Ki Reksatani t idak mau mengorbankan dirinya dan apalagi kepentingannya. Kalau orang-orang yang berada di sekitarnya itu tidak menguntungkannya, pasti akan mengganggu usahanya membunuh raksasa itu. Karena itu, maka tiba-tiba terdengar ia bersuit nyaring beberapa kali. Ia berharap bahwa orang-orangnya akan segera datang mempercepat penyelesaian semuanya. "Mudah-mudahan mereka sudah selesai" katanya di dalam hati. Orang-orang Ki Reksatani yang mendengar suitan itupun segera menyahut, sekaligus memberi isyarat bagi kawankawannya yang belum mendengar di tempat yang bertebaran. Karena itu, maka sejenak kemudian merekapun telah bergeser dari tempatnya mencari sumber bunyi isyarat itu, sementara beberapa dari mereka telah berhasil membinasakan orangorang Manguri yang ada di halaman. Ternyata suara suitan itu telah menimbulkan berbagai tanggapan pada penduduk Sembojan. Apalagi ketika salah seorang dari mereka yang berlari-lari terjatuh karena kakinya terantuk sesosok mayat. Maka sejenak kemudian hiruk pikuk di halaman itu telah berubah menjadi kegemparan yang kisruh. Tidak seorangpun yang dapat bertindak dengan mapan. Semuanya hanya menjadi kebingungan dan kehilangan akal. Sementara itu, Ki Reksatani sudah mulai bertindak. Dengan garangnya ia mendekati Lamat yang sudah bersiap pula menghadapi setiap kemungkinan. Seperti Ki Reksatani, Lamatpun sadar, bahwa beberapa orang telah mengerumuninya. Ia juga mendengar dengus nafas sebelum Ki Reksatani bersuit. Dan Lamatpun yakin, bahwa orang-orang yang bersembunyi di sekitarnya itu pastilah Pamot dan kawan-kawannya, sehingga dengan demikian Lamat berharap, bahwa Sindangsari benar-benar akan dapat diselamatkan, meskipun mungkin ia sendiri tidak. Sejenak kemudian, maka Ki Reksatanipun menyerang dengan cepatnya. Tetapi Lamat agaknya benar-benar telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Demikianlah, maka perkelahian diantara dua orang yang luar biasa itu segera mulai. Ki Reksatani yang selama ini hanya dikenal sebagai seorang yang tidak terkalahkan di Kepandak bersama Ki Demang, maka kini ia benar-benar telah melibatkan diri dalam suatu perkelahian melawan seorang raksasa yang selama ini dianggapnya terlampau jinak. Namun segera tampak, bahwa Lamat bukan seorang raksasa yang terlampau dungu. Ia bukan sekedar seekor kerbau yang menurut kemana saja ia dituntun oleh pemiliknya. Kini Lamat seakan-akan telah bangun dari tidurnya, dan mulai menyadari dirinya sendiri. Pada langkah-langkah permulaan dari perkelahian ternyata, bahwa Lamat mampu mengimbangi kecepatan bergerak Ki Reksatani yang selama ini seakan-akan merupakan tokoh di dalam dongeng-dongeng tentang seorang yang tiada duanya didunia. Meskipun demikian, perkelahian itu ternyata telah memukau setiap orang yang menyaksikannya. Serangan Ki Reksatani datang bagaikan badai yang melanda dengan dahsyatnya. Tetapi Lamat adalah raksasa yang berdiri tegak bagaikan batu karang. Manguri yang menyaksikan perkelahian itu berdiri termangu-mangu. Kini ia melihat kebenaran dari ceritera yang merambat dari mulut kemulut tentang Ki Reksatani. Tangannya dapat bergerak secepat tatit diudara. Sedang kakinya mampu meloncat melampaui loncatan belalang. Yang tidak diduganya adalah justru Lamat. Manguri mengetahui bahwa orang itu memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa. Tetapi ia tidak menyangka sama sekali, bahwa Lamat mampu melawan Ki Reksatani tidak sekedar mempergunakan kekuatan yang diterimanya dari alam. Tetapi ia mampu melawan dengan ilmu olah kanuragan yang mengagumkan. Lamatpun mampu berkelahi dengan dahsyatnya seperti juga yang dilakukan oleh Ki Reksatani, di samping kekuatannya yang melampaui kekuatan seorang manusia biasa. Demikianlah perkelahian itupun segera berlangsung dengan dahsyatnya. Perkelahian antara dua orang raksasa di dalam olah kanuragan. Perkelahian yang jarang terjadi, apalagi di padukuhan kecil seperti padukuhan Sembojan. Itulah sebabnya, maka perkelahian itu benar-benar telah menggemparkan orang Sembojan. Mereka melihat dua orang yang berkelahi dengan dahsyatnya. Mereka melihat di sudut halaman itu perempuan yang mereka sangka perempuan gila itu masih terbaring diam. Namun, tidak seorangpun dari mereka yang berani mendekati perkelahian itu. Tidak seorangpun yang berani berbuat sesuatu di dalam perkelahian itu. Dengan demikian, maka orang-orang yang semula sibuk dengan api yang hampir menelan seluruh bangunan itu perhatian menjadi terbagi. Sebagian memperhatikan api yang masih melonjak sampai ke langit, dan sebagian perhatian mereka terampas oleh perkelahian yang semakin lama menjadi semakin dahsyat itu. Perlawanan Lamat benar-benar tidak diduga pula oleh Ki Reksatani. Ia memang sudah memperhitungkan bahwa membunuh Lamat bukanlah pekerjaan-pekerjaan yang mudah. Tetapi bahwa Lamat mampu melawan dengan caranya, benarbenar telah menggetarkan dadanya. Namun demikian, kemarahannyapun menjadi semakin berkobar di dadanya. "Dari mana setan gundul ini mendapatkan ilmunya "Ki Reksatani menggeram di dalam hatinya. Namun nama Ki Reksatani benar-benar bukan sekedar sebutan yang kosong. Semakin lama menjadi semakin nyata, betapa ia menguasai ilmunya dengan matang. Kedua tangannya yang bergerak berputaran, benar-benar membingungkan. Sekali-sekali ia meloncat bagaikan terbang dengan tangannya yang mengambang. Kemudian menukik sambil mengayunkan serangan mautnya. Tandangnya bagaikan seekor burung garuda raksasa yang dengan garangnya menyerang mangsanya. Namun Lamat sama sekali tidak menjadi gentar karenanya. Bagaikan seekor naga yang perkasa ia melawan kuku-kuku garuda yang ganas yang menyambarnya dari segenap arah. Namun dengan taringnya yang tajam, naga raksasa itu berhasil menghalau lawannya yang mengerikan itu. Tetapi Ki Reksatani mampu menyerang lawannya dengan kedua tangannya yang menjulur ke depan, bagaikan seekor harimau yang menerkam lawannya. Dengan kuku-kukunya yang tajamnya dan giginya yang runcing ia siap untuk merobek tubuh mangsanya. Namun Lamat mampu pula bertempur bagaikan banteng ketaton. Tanpa menghiraukan keadaan tubuhnya sendiri Lamat mengamuk dengan dahsyatnya. Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Kaki-kaki mereka yang berloncatan telah menghamburkan debu yang putih keudara. Pepohonan perdu menjadi berserakan. Ranting-ranting berpatahan dan batubatu berterbangan tersentuh oleh kaki-kaki mereka. Manguri benar-benar membeku di tempatnya. Ia adalah seorang anak muda yang mempunyai pengetahuan tentang olah kanuragan. Tetapi ia t idak dapat membayangkan, bahwa perkelahian yang terjadi adalah perkelahian yang sedemikian dahsyatnya. Dalam pada itu, ketika keduanya sedang dicengkam oleh nafas maut yang berhembus di jalan pernafasan mereka, Manguri melihat Sindangsari mulai bergerak-gerak. Tiba-tiba timbullah niatnya untuk mendekatinya. Apapun yang akan terjadi dengan perkelahian itu, namun Sindangsari harus diselamatkan. Demikianlah, dengan diam-diam ia bergeser dari tempatnya. Sekali-sekali ia memandangi perkelahian yang hampir tidak dapat diikutinya itu. Kemudian dipandanginya sekelilingnya. Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan, diterangi oleh sinar api yang kemerahmerahan. Tetapi ketika Manguri berjongkok di samping Sindangsari ia merasa bahunya digamit seseorang. Ketika ia berpaling maka darahnya bagaikan berhenti mengalir. Dilihatnya seperti bayangan hantu yang tersembul dari dalam api yang menyala itu. Wajah yang keras tegang berwarna tembaga. Dengan gerak naluriah Manguri meloncat berdiri. Kemudian berdiri tegak diatas kakinya yang renggang. Wajahnyapun kemudian menegang. Dengan tajamnya ia memandang seorang anak muda yang berdiri di hadapannya. Pamot. "Kita bertemu disini Manguri" geram Pamot. "Gila" Manguripun menggeram "kenapa kau sampai juga ke tempat ini?" Pamot memandang Manguri dengan tajamnya. Sejenak ia mencoba untuk mengendapkan perasaannya, agar ia tidak terseret oleh arus darahnya yang bergolak seperti banjir. Dalam pada itu, Ki Reksatanipun terkejut pula ketika ia melihat Pamot telah berada di halaman itu pula. Sejenak ia meloncat mundur untuk mendapat kesempatan meyakinkan penglihatannya. Dan ia tidak salah lagi. Orang itu adalah Pamot. Dengan demikian, maka Ki Reksatanipun harus mengambil keputusan segera. Ternyata ia benar-benar menghadapi persoalan yang tidak diduganya sama sekali. Bukan saja Pamot tetapi beberapa anak-anak muda dari Gemulung telah ada di sekitar arena itu. Punta juga sudah berdiri tegak dengan wajah yang tegang. Ki Reksatani tidak mendapat kesempatan lagi. Ia harus segera megambil sikap karena Lamat telah menyerangnya pula dengan garangnya. "Selamatkan perempuan itu" tiba-tiba Ki Reksatani berteriak. Beberapa orang yang berdiri di sekitar arena itu menjadi termangu-mangu. Ia tidak begitu jelas mendengar perintah yang diteriakkan oleh Ki Reksatani. Bahkan mereka menangkap maksud kata-kata itu berlainan satu dengan yang lain. Bukankah Ki Reksatani merencanakan untuk membunuh Manguri dan orang-orangnya, kemudian sudah tentu juga Sindangsari? Apakah perintah itu berarti, bahwa mereka harus melakukannya sekarang, membunuh Sindangsari?. Dalam keragu-raguan itu sekali lagi terdengar Ki Reksatani berteriak "Jangan biarkan perempuan itu jatuh ke tangan anak-anak Gemulung" Kini barulah mereka menjadi jelas Merekapun segera meloncat menyerang Pamot yang berdiri berhadapan dengan Manguri. Tetapi Pamot tidak seorang diri. Bukan sekedar bersama Lamat. Tetapi Pamot berada di halaman itu bersama beberapa orang kawannya. Dari Gemulung, dari Kali Mati dan dari Sembojan sendiri. Bahkan Ki Jagabaya di Prambananpun telah ada di tempat itu pula. Dengan demikian, ketika serangan itu datang, bukan Pamot yang harus melawan mereka, tetapi anak-anak muda itupun segera berloncatan menyongsong mereka. "Gila" desis Ki Reksatani yang sambil bertempur sempat juga menyaksikan perkelahian yang segera membakar hampir seluruh halaman belakang "dari mana mereka mendapat kawan sebanyak itu?" Sejenak timbullah penyesalannya bahwa beberapa orang Manguri pasti sudah terlanjur terbunuh oleh orang-orangnya di dalam kekisruhan itu, sehingga apabila diperlukan, sulitlah baginya untuk mendapatkan bantuan dari pihak manapun juga. "Bagaimana mereka dapat sampai ke tempat ini" berkata Ki Reksatani di dalam hatinya. Namun tiba-tiba saja darahnya bagaikan menggelegak ketika terpandang olehnya wajah Lamat yang kasar sekasar padas. "Pasti kaulah pengkhianat itu" geram Ki Reksatani. Terasa dada Lamat berdesir tajam. Sungguh pahit untuk mendengar tuduhan itu. Pangkhianat. Apalagi ketika sejenak kemudian ia melihat ayah Manguri datang dengan tergesa-gesa ke arena itu. diikuti oleh isterinya yang berlari-lari kecil. Sejenak ayah Manguri itu membeku ketika ia melihat Lamat sedang bertempur dengan dahsyatnya melawan Ki Reksatani. Hampir tidak dapat di bayangkan, bahwa perkelahian yang demikian dapat terjadi. Sejenak kemudian ayah Manguri itupun melangkah mendekati Manguri yang berdiri tegak dengan tegangnya berhadapan dengan Pamot. Perlahan-lahan ayah Manguri itu berkata "Kita sudah dikhianati" "Lamatlah yang telah berkhianat" desis Manguri. Wajah ayah Manguri menjadi merah padam. Kini ia berdiri menghadap perkelahian antara Lamat dan Ki Reksatani. Perkelahian yang sama sekali tidak dapat diduga, siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah. Mereka adalah orang-orang yang tangkas ian kuat. Bahkan Ki Reksatani dan Lamat yang ingin segera memenangkan perkelahian sebelum nafas mereka menjadi semakin terengahengah itu telah mencabut senjata masing masing. Ki Reksatani menggenggam senjata di kedua tangannya. Sebilah pedang di tangan kanan dan keris pusakanya di tangan kiri. Sedang Lamatpun telah menggenggam senjatanya yang mengerikan, sebuah golok yang besar dan tebal. "Lamat" desis ayah Manguri "kenapa kau khianati kami?" Lamat tidak menyahut. Tetapi kata-kata itu sangat berpengaruh di hatinya. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh kata-kata itu. "Kau jugakah yang telah membunuh beberapa orang kami di halaman ini?" bertanya ayah Manguri "aku sudah menemukan tiga mayat dari mereka. Semuanya telah ditusuk di punggungnya. Suatu pembunuhan yang licik dan pengecut" Kata-kata itu benar-benar bagaikan duri yang menusuk dinding jantung raksasa yang sedang berkelahi itu. Tetapi Lamat berusaha agar ia sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata. "Lamat" ayah Manguri seakan-akan telah berbisik di telinganya "Kenapa kau sampai hati berbuat demikian?" Lamat mengatupkan giginya rapat-rapat. "Jawablah Lamat. Jawablah? Apakah salah kami sekeluarga kepadamu? Apakah aku sudah menyakiti hatimu? Atau barangkali anakku atau isteriku atau siapapun juga?" Lamat t idak menjawab. Ia tetap mengatubkan mulutnya rapat-rapat. Namun demikian terasa sesuatu menggelitik hatinya justru pada saat ia bertempur melawan seorang yang pilih tanding, Ki Reksatani. Untuk menghalau kegelisahan yang mulai menyentuh perasaannya tiba-tiba Lamat berteriak nyaring "Pamot, cepat bawa nyai Demang kepada suaminya, sebelum kita terlambat" "Gila" Ki Reksatanipun berteriak pula "kalau kau sentuh perempuan itu, aku akan membunuh kalian secepatnya" Namun Pamot mengerti, bahwa untuk melawan Lamat Ki Reksatani harus memeras segenap kemampuannya. Tetapi di dekat Sindangsari itu berdiri Manguri. Karena itu Lamat sadar, bahwa ia harus Mengambil Sindangsari dengan kekerasan. Apalagi ketika ia sadar, bahwa ia telah berada di tengah-tengah arena perkelahian yang seru. Anak-anak muda Gemulung yang datang bersamanya telah terlibat di dalam perkelahian. Bahkan Rajab dan kawan-kawannyapun telah membantu mereka, melawan orang-orang Ki Reksatani dan orang-orang Manguri yang tersisa. "Jangan sentuh perempuan itu" Manguri yang juga mendengar suara Lamat itupun menggeram. Tetapi Pamot maju selangkah, Manguri baginya adalah musuh bebuyutan. Manguri pernah berusaha untuk membinasakannya. Sehingga dengan demikian, maka kemarahannya itu serasa kini telah terungkat. "Manguri" geram Pamot "jangan halangi aku supaya kau tidak terlibat terlampau parah di dalam masalah ini" berkata Pamot. "Persetan" sahut Manguri "aku masih tetap akan membunuhmu. Ternyata kegagalan yang pernah terjadi adalah karena pengkhianatan Lamat. Aku tidak menyangka, bahwa ia seorang yang licik dan pengecut. "Jangan salahkan Lamat. Ia melihat bahwa kau berdiri di jalan yang sesat. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk membawamu kembali ke jalan yang benar. Ia selalu kau anggap sebagai seekor kerbau yang dungu. Seekor kerbau yang telah dicocok hidungnya. Apapun yang kau lakukan, ia tidak boleh membantah. Dan bahkan bertanyapun tidak ada kesempatan" "Bohong" teriak Manguri. "Sudahlah" berkata Pamot "jangan ganggu aku. Aku akan mengembalikan perempuan ini kepada suaminya" Manguri menggeretakkan giginya. Ketika ia berpaling sejenak, dilihatnya Sindangsari meggeliat. Namun ia tidak sempat berbuat apa-apa, karena Pamot telah melangkah maju* sambil berkata "Menyingkirlah, dan jangan ganggu perempuan itu lagi" Dada Manguri serasa meledak karenanya. Ia tidak menjawab lagi. Namun dengan tiba-tiba saja ia telah menyerang Pamot dengan garangnya. Serangan itu telah mengejutkan Pamot. Tetapi ia segera menguasai perasaannya, sehingga ia masih sempat menghindari serangan Manguri yang datang dengan tiba-tiba itu. Dengan demikian, maka keduanyapun kemudian telah terlibat dalam perkelahian pula. Manguri mencoba berjuang sekuat-kuatnya untuk dapat mengimbangi Pamot. Selama ini ia tidak pernah menjadi cemas, karena ia selalu dilindungi oleh Lamat. Tetapi kini Lamat telah memilih jalannya sendiri. Sehingga dengan demikian ia harus berjuang sendiri untuk menyingkirkan Pamot. Tetapi Manguri masih berpengharapan, karena ayahnya masih berdiri bebas. Ia mengharap bahwa ayahnya akan membantunya dan bersama-sama membinasakan Pamot. Dengan demikian maka, Manguripun telah mencoba menggeser diri sambil bertempur mendekati ayahnya yang berdiri termangu-mangu memandang perkelahian itu. Tetapi ternyata bahwa ayah Manguri tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun ia melihat anaknya bertempur melawan Pamot, namun ia masih tetap berdiri saja di tempatnya. Di sampingnya berdiri seorang yang berdahi lebar dan bermata tajam, Orang itu adalah Jagabaya di Prambanan. "Biarkan saja mereka berkelahi" berkata Ki Jagabaya "kau tidak perlu mencampurinya. Bukankah kau suami perempuan yang rumahnya terbakar itu?" Ayah Manguri tidak menyahut. "Perempuan itu hampir diusir dari padukuhan ini" berkata Ki Jagabaya selanjutnya "tetapi aku masih mencegahnya. Aku masih ingin menunggu, barangkali suaminya dapat berbuat sesuatu untuk memperbaiki tingkah lakunya" Ayah Manguri mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia tertarik kepada ceritera Ki Jagabaya. "Tetapi kau juga ikut bersalah, karena kau terlampau lama meninggalkan setiap kali. Kau jarang-jarang datang ke rumah ini. Justru karena ia pernah bersuami, dan suaminya tidak pernah datang kepadanya itulah yang telah membuatnya berbuat tidak senonoh di padesan ini. Tetapi ketika ia dipanggil oleh tetua padukuhan, ia sudah berjanji untuk memperbaiki kelakuannya" Dada ayah Manguri menjadi semakin berdebar-debar. Namun tiba-tiba ia seakan-akan terbangun dari tidurnya. Anaknya sedang bertempur mati-matian melawan Pamot. Tidak selayaknya ia memikirkan kepentingannya sendiri. Kalau perempuan ini memang pernah berbuat gila, biarlah rumahnya terbakar, dan ia tidak akan datang lagi ke padukuhan ini. "Sebaiknya kau tidak usah ikut campur" desis Ki Jagabaya. "Tetapi itu anakku" jawabnya. Anakmu bersalah. Ia mengelabui orang-orang di sekitar rumah ini. Kau katakan perempuan yang dilarikan oleh anakmu itu perempuan gila. Aku tahu sekarang, bahwa perempuan itu adalah isteri Ki Demang di Kepandak. Adalah tugas kami untuk saling menolong. Suatu saat, kami memerlukan pertolongan Ki Demang di Kepandak kalau terjadi sesuatu atas Kademangan ini, dan pelakunya berada di Kepandak" Ayah Manguri hanya dapat mengatupkan giginya rapatrapat. Ia tidak tahu, apakah Ki Jagabaya mempunyai kemampuan cukup untuk melawannya. Tetapi Ki Jagabaya mempunyai pengaruh yang besar di padukuhan ini, sehingga apabila ia memberi isyarat sedikit saja, maka orang-orang yang semula ketakutan, pasti akan berpikir sekali lagi. Apalagi apabila mereka sudah melihat Ki Jagabaya itu ikut bertempur. Perkelahian di halaman belakang rumah isteri muda ayah Manguri itu menjadi semakin seru. Ki Reksatani dan Lamatpun seolah-olah telah sampai pada puncak kemampuan masingmasing. Sedang di bagian lain anak-anak muda Kali Mati dan Sembojan berkelahi dengan sengitnya pula. Ternyata bahwa orang-orang Ki Reksatani dan sisa-sisa orang-orang Manguri mempunyai pengalaman berkelahi lebih banyak dari anak-anak muda itu. Hanya beberapa orang yang benar-benar telah mengalami tempaan lahir batin di dalam perjalanan ke Betawi sajalah yang sama sekali tidak gentar menghadapi lawan-lawan mereka, betapapun buas dan kasarnya tandang mereka. Sedang Pamot yang telah pernah menyimpan dendam kepada Manguri, seolah-olah kini teraduk kembali. Dengan penuh kemarahan ia mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera mengalahkan Manguri, agar anak itu tidak mengganggunya lagi, apabila ia akan membawa Sindangsari kembali ke Kepandak. Tetapi Manguripun berusaha melawan sebaik-baiknya. Ia telah memeras seluruh tenaganya. Ia sama sekali tidak rela, apabila Pamot masih juga menyentuh Sindangsari yang selama ini seakan-akan telah menjadi wewenangnya. Namun, bagaimanapun juga Manguri berjuang, ternyata Pamot memiliki ilmu yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka Manguripun segera dapat didesaknya. Dalam pada itu, Ki Reksatani yang bertempur melawan Lamatpun telah sampai pada ujung kemampuan mereka Ki Reksatani yang tidak terkalahkan itu ternyata mengalami kesulitan melawan raksasa yang tiba-tiba menjadi demikian garangnya. Apalagi Lamat memiliki kekuatan jasmaniah yang luar biasa. Tetapi meskipun ayah Manguri tidak dapat ikut bertempur, namun ia tidak tinggal diam. Ia sadar, bahwa kata-katanya dapat menyentuh hati Lamat. Dengan demikian ia akan dapat memperlemah perlawanannya, meskipun ayah Manguri itu masih belumtahu, apa yang akan terjadi kemudian. "Lamat" berkata ayah Manguri kemudian "apakah kau sudah benar-benar melupakan keluargaku? Mungkin kau tidak bersangkut paut dengan Ki Reksatani, tetapi kau tidak dapat berbuat demikian kepadaku" Lamat menggeretakkan giginya. Ia memusatkan segenap perhatiannya kepada sepasang senjata Ki Reksatani yang sangat berbahaya baginya. Kalau keris pusaka itu berhasil menyentuh kulitnya, maka itu akan berarti maut baginya. "Lamat" Ayah Manguri masih berkata terus "ingatlah. Di saat kau diterkam oleh maut di masa kecilmu, akulah yang menolongmu. Saat itu rumahmu terbakar, ayahmu dan ibumu tidak dapat menghindarkan dirinya karena perampokperampok yang datang ke rumahmu itu. Akulah yang sempat menyelamatkan kau, meskipun menyesal sekali, aku tidak dapat menolong ayah dan ibumu. Aku telah menyabung nyawaku melawan perampok-perampok itu. Akhirnya kau selamat. Aku telah memeliharamu sampai kau menjadi dewasa, dan kini kau telah tumbuh menjadi seorang raksasa yang perkasa" "Cukup, cukup" tiba-tiba Lamat berteriak. Suaranya menggelegar memenuhi halaman. Namun dengan demikian ayah Manguri yakin, bahwa usahanya akan berhasil. Karena itu ia berniat untuk terus mempengaruhi perasaan raksasa itu. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu lagi, Ki Jagabaya berdesis "Kau memang orang yang cerdas. Kau dapat bertempur tanpa bergeser dari tempatmu. Bukankah dengan demikian kau telah ikut menentukan kekalahan raksasa itu?" "Tidak. Aku berkata sebenarnya. Aku menyayanginya. Aku mencoba untuk menyadarkannya dari kekhilafan itu" Dada Lamat benar-benar telah bergelora. Karena itu, sekali lagi ia berteriak "Pamot, bawa Sindangsari pergi. Bawa ia secepatnya kepada suaminya, Ki Demang di Kepandak, sebelum aku kehilangan kemampuanku melawan hantu ini" "Diam kau, diam" bentak Ki Reksatani. Tetapi Ki Reksatanipun tidak dapat berbuat banyak selain membentakbentak, karena Lamat masih mampu menjaga keseimbangan perkelahian itu, betapapun perasaannya mulai dirayapi oleh kepahitan hidup di masa kanak-kanaknya. Pamot mendengar suara Lamat itu. Tetapi ia masih bertempur melawan Manguri meskipun ia yakin bahwa ia akan dapat mengalahkannya. Namun ia memerlukan waktu. Ia memerlukan waktu untuk menumpahkan kemarahan yang selama ini telah terangkat kembali di dadanya. "Aku bunuh anak ini" ia menggeram. Segores luka telah menyilang di pundak Manguri yang menyeringai kesakitan. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan suara Lamat, sehingga dengan demikian, ia justru menjadi termangu-mangu sejenak, sehingga kadang-kadang ia kehilangan pengamatan diri di dalam perkelahian itu. Bahkan sekali-sekali ia harus meloncat surut ketika ujung pedang Manguri hampir menyobek dadanya. Selagi Pamot menggeram sambil memusatkan segenap perhatiannya kepada ujung senjata lawannya, tiba-tiba seseorang meloncat di hadapannya dengan pedang telanjang. Orang itu langsung bertempur melawan Manguri sambil berkata "Pamot, kau dengar suara Lamat?" Orang itu adalah Punta. agaknya ia dapat membebaskan diri dari lawannya, dan berusaha untuk menggantikan Pamot. "Biarlah aku membunuhnya" Pamot menggeram "aku sudah melukainya. Sebentar lagi ia akan kehilangan segenap darahnya, dan ia akan mati terkapar di tanah" Manguri berdesir mendengar suara Pamot. Suara itu seakan-akan bukan suara Pamot sehari-hari. Seakan-akan suara yang geram itu bergetar dari dasar api yang paling panas, dan siap menyeretnya ke dalamnya. Manguri menjadi ngeri karenanya. Selama ini ia t idak pernah gentar berhadapan dengan siapapun. Tetapi kini ia sadar, bahwa hal itu bukan karena kepercayaannya kepada diri sendiri. Tetapi selama itu ia mempercayakan dirinya kepada Lamat. Raksasa yang jinak itu, tetapi yang pada suatu saat telah terbangun dan menjadi seakan-akan liar bagi Manguri. Dan kini, dalam keadaan yang dirasakannya terlampau lemah itu ia berdiri berhadapan dengan Pamot yang sedang diamuk oleh kemarahan. Namun dengan demikian, Manguri yang merasa dirinya tidak dapat mengelak lagi itupun menjadi seperti orang kesurupan. Dibayangi oleh keputus-asaan ia berkelahi seperti serigala kelaparan. Kini Punta datang untuk menggantikan Pamot. Bagi Manguri Punta dan Pamot hampir tidak ada bedanya. Keduanya adalah hantu-hantu bertangan maut yang dapat saja setiap saat mencabut nyawanya. Namun yang lebih menyakitkan hatinya kemudian adalah kata-kata Punta "Pamot, jangan hiraukan kelinci ini. Tanpa Lamat ia tidak berarti apa-apa. Sekarang, selamatkan Sindangsari. Seorang kawan Rajab telah menyiapkan seekor kuda buatmu, dan seekor lagi buat seseorang yang akan mengawanimu. Cepat, bawa Sindangsari kepada suaminya sebelum mengalami sesuatu disini" Pamot ragu-ragu sejenak. Justru karena itu, hampir saja sekali lagi senjata Manguri mengenainya. Untunglah Punta sudah siap mengambil alih perkelahian itu, sehingga senjata Manguri itu telah membentur senjata Punta. Pamotpun kemudian terdesak ke samping ketika Punta mulai menggerakkan senjatanya. Sekali lagi Punta berkata "Jangan termangu-mangu seperti orang linglung. Cepat berbuatlah sesuatu" Pamot mundur selangkah. Dan kini ia mendengar suara Lamat "Cepat Pamot. Lakukanlah. Aku akan menahan iparnya yang telah berkhianat" "Diam kau" bentak Ki Reksatani "kau juga telah berkhianat" "Ya. Kita sama-sama pengkhianat. Karena itu, apapun yang akan terjadiatas kita berdua, tidak sepantasnya mendapat perhatian. Kita akan sama-sama mati dan dicampakkan ke dalam tempat sampah dan akan dikubur di bawah timbunan kotoran yang paling hina" "Diam, diam" bentak Ki Reksatani "aku bukan pengkhianat, tetapi aku didorong oleh cita-cita" "Darimana kita memandang, aku dapat menyebut diriku sedang memperjuangkan sendi-sendi kemanusiaan yang akan kau tumbangkan bersama orang-orangmu di Kepandak" "Omong kosong" teriak Ki Reksatani sambil menyerang semakin garang. Pamot masih saja termangu-mangu. Namun sejenak kemudian seorang anak muda menggamitnya sambil berbisik "Pamot, kuda itu sudah siap" Pamot menjadi berdebar-debar. Dilihatnya Sindangsari yang masih terbaring, meskipun sekali-sekali ia sudah menggeliat. "Cepat" Pamot masih berdiri termangu-mangu. Bahkan sejenak disapunya halaman belakang itu dengan tatapan matanya. Ia melihat perkelahian yang tersebut di halaman itu. Agaknya anak-anak muda Kali Mati dan Sembojan telah membantu mereka dengan segenap hati, ditunggui oleh Ki Jagabaya sendiri. Sedang beberapa puluh orang Sembojan yang dengan cemas-cemas menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan, seakan-akan semuanya memandang ke arahnya. "Percayalah. Semuanya akan dapat dibatasi disini" desis anak muda itu "Kalau perlu, Ki Jagabaya tidak akan segansegan berbuat sesuatu. Orang-orang yang ketakutan itu akan segera terbangun apabila mereka mendengar perintah Ki Jagabaya di saat-saat yang berbahaya" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika ia melangkah maju mendekati, langkahnyapun tertegun. Tibatiba saja ia merasa, ada dinding penyekat yang kuat membatasinya dengan perempuan itu. Sendangsari kini sudah menjadi isteri orang lain. "Cepat Pamot. Kenapa kau menjadi bingung" teriak Punta yang tidak sabar lagi melihat sikap Pamot yang termangumangu "Apakah kau menunggu Sindang sari mat i di pertempuran ini?" Tiba-tiba Pamot tersadar. Ia harus menolong perempuan itu. Siapapun juga. Namun ia adalah isteri Ki Demang di Kepandak. Seperti juga yang lain, mereka menyerahkan dirinya di dalam suatu sikap itu. Menolong sesama. Pamotpun kemudian menggeretakkan giginya. Ia mencoba mengusir segenap perasaan yang ada padanya. Ia mencoba melepaskan dirinya dari kenangan dan ikatan yang pernah ada. Meskipun ia masih juga ragu-agu, tetapi iapun kemudian mendekati Sindangsari dan berjongkok di sampingnya. Dadanya berdesir ketika ia melihat Sindangsari mulai menggerakkan kepalanya. Namun ia tidak sempat berpikir lagi, ketika sekali lagi anak muda itu menggamitnya "Kudamu sudah siap, dan seorang kawanmu dari Gemulungpun sudah siap pula mengantar kau kembali membawa Nyai Demang di Kepandak" Pamot tidak lagi mau berpikir. Dengan hampir memejamkan matanya, Pamot mulai berbuat sesuatu. Ia bergeser maju, dan sambil menggeretakkan giginya, untuk mendorong kekuatan hatinya, Sindangsaripun kemudian diangkatnya diatas kedua tangannya. Perempuan yang masih sangat lemah itupun sama sekali belum menyadari sepenuhnya apa yang telah terjadi atasnya. Ketika ujung jari-jari Pamot menyentuh tubuh Sindangsari, terasa, seakan-akan darahnya berhenti mengalir. Hanya dengan menghentakkan diri ia mendapatkan kekuatan untuk mendukung Sindangsari itu keluar dari halaman belakang rumah isteri muda ayah Manguri itu. Ki Reksatani masih sempat melihat Pamot membawa Sindangsari yang lemah itu diatas kedua tangannya. Terasa jantung seolah-olah telah tersayat. Betapa kemarahan yang tidak tertahankan meledak-ledak di dalamdadanya. "He, anak gila" Ki Reksatani berteriak "lepaskan perempuan itu. Kau akan menyesal kalau kau tidak mau mendengar katakataku" Tetapi Pamot sama sekali tidak berpaling. Apalagi ketika ia mendengar kata-kata Lamat "Jangan hiraukan Pamot. Cepat, tinggalkan nereka ini" Pamot melangkah semakin cepat. Dan ia masih mendengar Ki Reksatani berteriak kepada anak buahnya "Tahan anak itu. Jangan biarkan perempuan itu dibawa pergi" Tetapi tidak seorangpun dari anak buahnya yang dapat mencegah Pamot meninggalkan halaman itu. Dengan hati-hati ia meloncati pagar dibantu oleh anak muda yang menyediakan kuda untuknya. "Pergilah" berkata anak muda itu "itu kudamu" Pamot melihat dua ekor kuda yang besar di halaman rumah tempat ia bersembunyi bersama kawan-kawannya. Kuda itu seperti kudanya yang ditinggalkannya di Kali Mati. Kuda yang didapat dari Mataram. "Kami akan memelihara kudamu baik-baik. Pakailah kudaku" Pamot memandang anak muda itu. Ia belum begitu mengenalnya. Mungkin ia pernah melihatnya di dalam perjalanan ke Betawi. Tetapi ia tidak ingat lagi. "Jangan hiraukan orang-orang yang kini sedang bertempur itu. Aku kira anak-anak muda Sembojan dan Kali Mati akan dapat menguasainya Apalagi ada Punta dan seorang anak Gemulung" anak muda itu berhenti sejenak, lalu "terlebih-lebih lagi seorang yang bertubuh raksasa itu. Tanpa orang itu, aku kira memang sulit untuk menguasai orang yang bernama Reksatani itu" Pamot menganggukkan kepalanya. Bersama seorang kawannya yang datang dari Gemulung. Iapun kemudian naik ke punggung kudanya sambil mendukung Sindangsari. Ditolong oleh kawannya, perlahan-lahan Sindangsari diletakkannya di dalam tangan Pamot. "Selamat jalan" berkata anak muda itu "berhati-hatilah. Bukan perjalanan yang dekat. Kau akan melampaui malam ini dan mungkin kau masih harus berpacu besok sampai matahari sampai ke puncak. Kau tidak dapat terlampau cepat, dan mungkin perempuan ini dapat menimbulkan pertanyaan di sepanjang perjalananmu" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar bahwa perjalanannya bukanlah perjalanan tamasya dengan seorang gadis menjelang hari perkawinan. "Aku akan mengambil jalan memintas. Mungkin jalannya kurang baik. Tetapi sejauh mungkin dapat menghindari kecurigaan orang lain. Mudah-mudahan aku dapat sampai ke Kademangan Kepandak dengan selamat" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Ketika tanpa disadarinya ia memandang wajah Sindangsari yang pucat, terasa dadanya berdesir. Namun dihalaunya segala macam perasaannya yang melonjak di dadanya. sebala macam perasaan yang melonjak di dadanya. Kini ia berada dalam keadaan yang serba cepat. Karena itu maka iapun kemudian berkata "Terima kasih atas semua pertolonganmu, Rajab dan kawan-kawan yang lain dari Kademangan ini. Terima kasih pula kepada Ki Jagabaya dan para bebahu yang telah melindungi kami. Aku akan segera minta diri. Mudah-mudahan Tuhan Yang Kuasa melindungi perjalananku" Anak muda itu mengangguk. Dengan hati yang berat ia melepaskan Pamot membawa Sindangsari meninggalkan halaman rumah itu, dikawani oleh seorang anak muda dari Gemulung pula. Sejenak kemudian, maka kedua ekor kuda itupun sudah berderap di kegelapan malam meninggalkan daerah peperangan yang semakin kisruh, serta menjauhi api yang seakan-akan menyala dari dalamneraka. Tetapi api itu semakin lama menjadi semakin susut. Rumah isteri muda ayah Manguri itupun telah habis menjadi abu. Satu-satu masih terdengar sepotong bambu yang meledak, kemudian gemersik sisa-sisa kayu dan dinding yang masih menyala. Sepeninggal Pamot, maka kemarahan Ki Reksatani bagaikan memecahkan dinding dadanya. Hampir tidak masuk diakalnya, bahwa yang terjadi sama sekali jauh dari yang diduganya. Ia sama sekali tidak memperhitungkan pengkhianatan Lamat, tidak memperhitungkan kekuatan anakTiraikasih Website http://kangzusi.com/ anak Sembojan dan sekitarnya. Tetapi kini semuanya itu harus dihadapinya. Sambil menggeram Ki Reksatani mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Bukan sia-sia ia disebut orang yang tidak terkalahkan di Kademangan Kepandak. Semua ilmu yang ada padanya, semua kekuatan dan kemampuan, semua tenaga cadangannya lelah dikerahkannya untuk segera dapat mengalahkan lawannya. Namun Lamat melawannya dengan segenap kemampuan yang ada padanya pula. Dengan demikian, maka perkelahian merekapun menjadi semakin lama semakin seru. Seolah-olah mereka sama sekali bukan terdiri dari daging dan tulang yang dapat kehilangan kekuatan dan kemampuan apabila telah sampai pada batas kemungkinannya. Derap kaki-kaki kuda Pamot membuat darah Ki Reksatani benar-benar mendidih. Hampir di luar sadarnya, iapun berteriak "Sediakan kudaku" Beberapa orangnya mendengar teriakan itu. Tetapi mereka masih terikat dalam perkelahian sehingga sulitlah bagi mereka untuk melepaskan diri. Namun demikian, mereka menyadari, bahwa Ki Reksatani harus dapat menyusul Pamot yang membawa Sindangsari itu. Kalau keduanya berhasil mencapai Kademangan Kepandak, maka Ki Reksatani dan orang-orangnya tidak akan banyak mengalami kesulitan. Karena itu, bagaimanapun juga, salah seorang dari orang Ki Reksatani itupun dengan susah payah berhasil menyelinap diantara perkelahian itu. Dengan tergesa-gesa ia berlari ke tempat kuda mereka tertambat. Yang kemudian dipersiapkan, bukan saja kuda Ki Reksatani, tetapi kuda-kuda yang lainpun telah dipersiapkan pula. Ia menyadari, apabila perlu, maka kuda-kuda itupun pasti akan dipergunakan juga. Tetapi ternyata terlampau sulit bagi Ki Reksatani untuk dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan segera. Betapa ia mencoba mengerahkan semua kekuatan yang ada, namun ia tidak dapat memaksakan kehendaknya dengan cepat, sesuai dengan keinginannya. Dengan demikian, betapapun kemarahan, kecewa dan dendam membara di hatinya, tetapi ia masih harus tetap bertempur terus dengan sekuat tenaganya. Dalam pada itu, Pamot telah berusaha memacu kudanya secepat dapat dilakukan. Di belakangnya seorang kawannya selalu mengikutinya. Mungkin di perjalanan Pamot memerlukan bantuannya, dan mungkin pula Pamot memerlukan seorang saksi apabila ia menghadap Ki Demang di Kepandak untuk menyerahkan Sindangsari, bahwa bukan Pamotlah yang telah menyembunyikannya. Mereka telah memilih jalan melintas. Jalan yang lain dari yang ditempuhnya ketika mereka berangkat ke Kali Mati. Meskipun jalan yang ditempuhnya kini agak lebih jelek dari jalan di saat mereka berangkat, tetapi Pamot menganggap bahwa jalan ini adalah jalan yang paling aman. "Asal aku t idak tersesat" desisnya di dalam hati. Dan kudanyapun berlari terus, melalui pategalan dan jalan setapak di hutan rindang. Kadang-kadang mereka melalui bulak yang panjang di tengah-tengah padang rumput dan tanah-tanah tandus mereka harus menyusup rimbunnya daundaun perdu yang berserakan, sulur-sulur batang-batang merayap dan batang-batang ilalang. "Aku agak bingung" desis Pamot kemudian. "Jalan terus" berkata kawannya "kita akan sampai ke Tanjung Sari, kemudian kita akan menyusup hutan dan melingkari rawa-rawa. Kita akan sampai ke Tegal Payung. Kita akan melingkar kekanan" "Kalau sudah sampai di sana, barangkali aku tidak akan bingung lagi" "Nah, teruslah" Pamot berpacu terus. Tetapi terasa tangannya yang menahan tubuh Sindangsari menjadi lelah. Meskipun demikian ia harus berusaha melayaninya terus, agar perempuan itu tidak terjatuh. Ternyata angin yang silir telah membuat tubuh Sindangsari menjadi semakin segar. Perlahan-lahan ia mulai menyadari dirinya. Tetapi ia tidak segera dapat menangkap getaran di luar dirinya itu. Ia tidak segera mengerti, dimanakah ia, dan dalam keadaan bagaimana. Sindangsari merasa tubuhnya seakan akan telah diguncang-guncang. Kemudian sebuah desir angin yang halus mengusap wajahnya, seolah-olah belaian tangan ibunya di masa kanak-kanaknya. Tetapi Sindangsari tidak segera berani membuka matanya. Ia mencoba memulihkan kesadarannya sepenuhnya. Karena itu meskipun ia telah sadar, tetapi ia masih tetap memejamkan matanya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atas dirinya. Tiba-tiba bulu-bulunya meremang ketika ia berhasil mengingat di saat-saat terakhir. Ia dapat mengingatnya kembali, bagaimana ia menuangkan minyak pada dinding dari lampu yang ada di dalam biliknya. Kemudian menimbuninya dengan kayu-kayu yang ada di dalam bilik itu. Dingklik, petipeti kayu, pembaringan dan tikar. Bahkan semuanya yang ada di dalam bilik itu. Kemudian dengan api pelita itu pula, semuanya itu dibakarnya. Api yang menyala itupun segera menyambar dinding. Karena api yang memang sudah berkobar, maka dengan cepatnya, dinding biliknya itupun menyala pula. Sindangsari masih ingat, seseorang telah berteriak di luar biliknya. Tetapi ia tidak menghiraukannya lagi. Ia sudah pasrah diri, bahwa api pasti akan menelannya. Tetapi tiba-tiba dinding biliknya seakan-akan menjadi pecah Seseorang telah meloncat masuk dan menyambarnya. Betapapun ia berusaha melepaskan diri, namun akhirnya ia harus menyerah. Menerobos api yang berkobar, mereka berhasil keluar meskipun sebagian dari tubuh dan pakaiannya telah terbakar. Sesudah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi. Pingsan. "Apakah aku sudah mati?" Ia bertanya kepada diri sendiri "dan sekarang aku sedang dalam perjalanan ke sorga atau ke dalam api neraka?" Terasa dada Sindangsari berdebaran. Perlahan-lahan ia mencoba merasakan, apa yang telah terjadi atas dirinya kini. "Aku sedang didukung oleh malaikat ke surga atau ke neraka" katanya pula di dalamhati. Perlahan-lahan ia mencoba membuka matanya. Namun sebelum ia melihat sesuatu, matanya telah di pejamkannya lagi. Ia tidak berani memandang wajah pendukungnya. Mungkin wajah itu putih dan bersinar, tetapi mungkin merah seperti api dengan lidahnya yang terjulur panjang. Tetapi Sindangsari itu terkejut ketika ia mendengar suara "Langit sudah menjadi merah" "Ya" jawab suara yang lain. Sindangsari mencoba untuk mempertajam kesadarannya. Ketika angin yang sejuk mengusap wajahnya, ia menarik nafas dalam-dalam. Namun kepalanya masih terasa pening, dan ingatannya kadangkadang masih seperti bayangan di dalam mimpi, meskipun sudah lengkap. "Sebentar lagi, matahari akan terbit" suara itu terdengar lagi. Dan terasa oleh Sindangsari bahwa ia menjadi semakin terguncang. Bahkan kini ia mendengar derap kaki kuda. "Aku harus sampai ke tujuan sebelum matahari terbit?" katanya di dalam hati "mungkin ke tempat yang menyenangkan, tetapi mungkin aku mendapat tempat yang paling panas di dasar neraka, karena aku telah membunuh diri" Tiba-tiba terasa tubuhnya meremang. Namun derap kaki kuda yang didengarnya itupun merupakan persoalan baginya. Akhirnya Sindangsari memaksa dirinya untuk membuka matanya. Perlahan-lahan sekali. Di dalam kesuraman cahaya fajar ia melihat seraut wajah. Semakin lama menjadi semakin jelas. Wajah yang tegang dan basah oleh keringat dan embun. Tiba-tiba bibir Sindangsari bergerak. Tetapi tidak ada suara yang meloncat dari mulutnya, meskipun ia mengucapkan nama "Pamot. Apakah aku melihat Pamot" Pamot masih belum mengetahui, bahwa Sindangsari sudah membuka matanya. Ia masih memacu kudanya sambil mengerutkan wajahnya yang tegang. Dipandanginya jalan sempit yang menjelujur dihadapan kaki-kaki kudanya. Jalan setapak yang berbatu-batu. Sindangsari memandang wajah Pamot tanpa berkedip. Seakan-akan ia tidak percaya kepada matanya. Namun sejenak kemudian timbullah dugaan di dalam hatinya "Oh, aku benar-benar sudah mati. Agaknya Pamot juga sudah mati di perjalanan ke Betawi. Dan kini ia menjemput aku" Tanpa sesadarnya Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Ketika sekali lagi ia terguncang agak keras, tiba-tiba saja tangannya sudah berpegangan pada lambungi Pamot. Pamot terkejut. Ditundukkan kepalanya, dan dilihatnya bahwa Sindangsari sudah membuka matanya. Ketika tatapan mata mereka bertemu, terasa dada mereka berdesir tajam. Sejenak mereka terpukau oleh keadaan itu. Namun sejenak kemudian Pamot berhasil menguasai perasaannya dan berkata "kau sudah sadar Sari?" "Dimanakah aku sekarang?" bertanya Sindangsari. "Kau berada di perjalanan" "Apakah kita akan pergi ke surga?" Pamot mengerutkan keningnya. Katanya "Kau belum sadar sepenuhnya. Kau masih mengigau" "Aku sudah sadar sepenuhnya. Tetapi apakah aku masih tetap hidup bersama wadagku. Dan apakah aku masih hidup?" "Ya, kau masih hidup, seperti aku juga masih hidup" "O" Sindangsari mencoba mengangkat wajahnya. Kini ia melihat dengan jelas, pepohonan yang tumbuh di sebelah menyebelah jalan yang mereka lalui. Maka Sindangsari mulai yakin, bahwa ia memang masih hidup. Apalagi ketika terasa kulitnya yang pedih karena sentuhan api yang hampir membakarnya hidup-hidup. "Jadi" suara Sindangsari tertahan. "Ya, kau selamat" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian terasa sesuatu melonjak di hatinya. Hampir di luar sadarnya ia bertanya "Kenapa kau dapat menemukan aku?" "Kelak aku akan mengatakannya. Kini tidak ada waktu. Kita harus menyelamatkan diri kita" "Kita akan pergi kemana?" "Kembali ke Kepandak" "Kepandak? "Ya" Terasa dada Sindangsari berdesir. Nafasnya menjadi tersengal-sengal. Perasaan pedih di kulitnya semakin lama justru menjadi semakin terasa. "Kau sudah dapat duduk sendiri?" bertanya Pamot. Sindangsari tidak menjawab. Namun kemudian wajahnya tertunduk. Ia baru menyadari, bahwa ia bersandar pada tangan Pamot yang menjaganya agar tidak terjatuh. "Aku akan duduk sendiri" berkata Sindangsari. Pamotpun kemudian menolongnya untuk duduk sendiri. Tetapi ketika kudanya meloncati sebuah batu, hampir saja Sindangsari telempar jatuh, sehingga tanpa disengaja oleh gerak naluriah ia berpegangan pada leher Pamot, dan Pamotpun menangkapnya pula. Terasa sesuatu menjalari urat darah mereka sampai ke jantung, sehingga seakan-akan dada mereka menjadi sesak. Sekilas Pamot memandang wajah Sindangsari yang ketakutan dan seakan-akan mengharap perlindungan kepadanya. Sepenuhnya. Tetapi perlahan-lahan Sindangsari melepaskan tangannya. Sekali lagi perempuan itu mencoba duduk sendiri, miring, diatas punggung kuda. Keduanya kemudian tidak berbicara lagi. Tetapi dada merekalah yang bergelora dengan dahsyatnya. Tanpa mereka kehendaki sendiri, maka kenangan masa-masa lampau mereka terbayang kembali di dalam kepala mereka, seakan-akan baru saja kemarin terjadi. Bagaimana mereka pertama kali bertemu. Bagaimana Pamot telah menjauhkannya dari Manguri yang mula-mula dikaguminya. Dan bagaimana akhirnya hatinya telah tersangkut pada anak muda itu. Terbayang pula, di saat-saat Ki Demang di Kepandak mengunjunginya untuk yang pertama kali, setelah terjadi perselisihan antara Manguri dan Pamot. Bagaimana akhirnya Ki Demang memaksakan kehendaknya, mengambilnya sebagai isterinya. Dan hampir berbareng, terkenang pula oleh keduanya, saat-saat Pamot minta diri kepada Sindangsari di suatu malam. Saat-saat mereka kehilangan kendali dan terjerumus ke dalam suatu perbuatan yang dapat menodai kesucian hubungan mereka, sehingga Sindangsari sadar sepenuhnya bahwa karena itu ia mengandung. Dan kini ia telah berada kembali bersama-sama anak muda yang bernama Pamot itu, tetapi justru setelah ia menjadi isteri Ki Demang di Kepandak. Tiba-tiba Sindangsari menutup wajahnya yang menjadi kemerah-merahan dengan kedua tangannya. Semuanya itu seakan-akan terjadi kembali di saat itu di hadapan matanya. Pamot yang juga tenggelam di alam angan-angannya, terkejut melihat tingkah Sindangsari. Tiba-tiba saja perempuan itu telah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tetapi Pamotpun segera sadar, bahwa seperti dirinya sendiri, Sindangsari pasti sedang mengenangkan peristiwa yang memalukan itu. Namun keduanya tidak berkata apapun juga. Kuda mereka masih berderap terus. Untunglah bahwa kuda itu adalah kuda yang tegar dan kuat, sehingga meskipun harus membawa dua orang sekaligus diatas punggungnya, namun kuda itu dapat juga berlari cepat, meskipun tidak secepat apabila hanya ada seorang saja yang duduk di punggungnya. Kawan Pamot yang berkuda di belakangnya, melihat juga bahwa agaknya Sindangsari telah mendapatkan seluruh kesadarannya kembali. Tetapi justru karena itu, maka ia memperlambat lari kudanya, dan membuat jarak yang agak jauh. Sejenak kemudian fajar menjadi semakin terang. Warna merah di langit telah menjadi kekuning-kuningan oleh cahaya matahari yang semakin naik mendekati cakrawala. Ketika cahaya matahari pagi yang pertama terlempar keatas pepohonan, Sindangsari menundukkan kepalanya. Terasa dadanya berdesir, ketika ia melihat dan menyadari, bahwa pakaiannya sama sekali sudah tidak lengkap lagi. Hampir saja ia terpekik kecil melihat kenyataan itu. Tetapi agaknya Pamot menyadarinya, sehingga ia berkata "Jangan hiraukan apapun juga. Kau harus selamat sampai ke Kepandak. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa setiap saat Ki Reksatani dapat mengejar kita dan menangkap kita hidup atau mati. Tetapi hampir pasti, bahwa ia menghendaki kematian kita, terutama kau" Sindangsari mengerutkan keningnya. Sesaat ia melupakan pakaiannya yang sebagian sudah terbakar hangus. Wajahnya menjadi semakin pucat, dan dengan suara gemetar ia bertanya "Kenapa Ki Reksatani ingin membunuh aku? Apakah aku sudah melakukan kesalahan terhadapnya atau terhadap siapapun?" ia berhenti sejenak, lalu "atau, atau memang Ki Demang di kepandak yang menyuruhnya membunuhku karena kenyataan yang tidak dapat dilupakannya. Kenyataan tentang diriku?" Pamot mengerutkan keningnya, Tetapi ia tidak sempat menanyakan apakah yang dimaksud oleh Sindangsari itu. Bahkan ia berkata "Jangan salahkan diri sendiri. Dan pembunuhan itu sama sekali t idak ada sangkut pautnya dengan Ki Demang. Ki Demang sedang berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mencarimu. Siapapun yang mencoba menghalangi, akan dibunuhnya tanpa ampun lagi" "Tetapi kenapa aku dibiarkannya dibawa oleh adiknya?" "Tentu tidak. Ki Demang tidak tahu, bahwa kau telah dibawa oleh Ki Reksatani" Sindangsari merenung sejenak. Meskipun samar-samar ada juga dugaan di dalam hatinya, bahwa Ki Demang sengaja menyingkirkannya, tetapi dengan cara yang tidak diketahui oleh orang lain. Pamot seolah-olah melihat keragu-raguan itu, sehingga ia masih berusaha menjelaskan "Ki Demang hampir kehilangan keseimbangan berpikir. Bahkan hampir saja ia melawan seorang Senapati dari Mataram justru karena pikirannya sedang disaput oleh kebingungan" Sindangsari tidak menjawab, tetapi ia menganggukanggukkan kepalanya. Matahari yang kemudian bertengger di punggung bukit tampak begitu cerahnya dipagi yang segar. Angin berhembus dari Selatan menyusup dedaunan, membelai wajah-wajah mereka yang sedang berpacu diatas punggung kuda. Di belakang Pamot, kawannya mengikutinya dari kejauhan. Tetapi setiap kali ia mengerutkan keningnya. Agaknya kuda Pamot semakin lama menjadi semakin lambat. Pasti bukan karena kelelahan. Kuda itu adalah kuda yang kuat dan tegar. Jarak yang mereka tempuhpun belum terlampau jauh buat seekor kuda, meskipun kuda itu harus mendukung dua orang sekaligus. Kawannya itu menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia masih terlalu muda, tetapi ia mengetahui, bahwa sesuatu pasti bergolak di dalam dada kedua orang itu. Dua orang yang pernah terlibat dalam suatu ikatan perasaan anak-anak muda. Tetapi pada suatu saat, anak muda itu merasa bahwa mereka benar-benar berada di dalam bahaya. Matahari yang semakin tinggi seakan-akan memperingatkannya, bahwa mereka harus berpacu semakin cepat. Apalagi jalan di hadapan mereka, bukan saja sebuah lapangan yang penuh dengan batang ilalang diseling oleh pohon-pohon perdu yang lebat, namun mereka masih harus melingkari rawa-rawa, menyusup hutan-hutan rindang dan meskipun hanya di bagian ujungnya, mereka akan melalui hutan yang agak lebat juga, sebelum mereka sampai ke daerah yang lapang dan berpenghuni. Tetapi di daerah itupun mereka masih mempunyai beberapa persoalan. Bagaimana dengan perempuan yang duduk dipunggung kuda bersama-sama dengan Pamot itu? Apakah hal itu tidak akan menimbulkan persoalan, setidak-tidaknya di dalam hati mereka yang melihatnya? Apalagi menilik pakaian Sindangsari yang sudah tidak lengkap lagi itu?" Persoalan-persoalan itulah yang kemudian memaksanya untuk mendekat pada Pamot. Meskipun ia harus mendeham beberapa kali sebelum ia benar-benar berada di belakang kedua orang itu. "Pamot " katanya kemudian "apakah kita dapat mempercepat perjalanan kita?" Pamot tergagap. Seolah-olah ia baru terbangun dari tidur. Terbata-bata ia menjawab "O tentu. Tentu" Namun kemudian ia berkata "tetapi barangkali kuda ini memang sudah lelah" "Mungkin" kata kawannya "karena itu, supaya kudamu tidak terlalu lelah, kita tukar kuda kita" Pamot mengerutkan keningnya. Lalu Jawabnya "Baiklah. Marilah kita tukar" Merekapun kemudian berhenti. Dengan tergesa-gesa kawannya meloncat turun sambil berkata "Kita sampai ke daerah rawa-rawa. Kita harus berpacu semakin cepat" "Ya, kita harus mempercepat perjalanan ini" Pamotpun kemudian turun pula dari kudanya. Kemudian ditolongnya Sindangsari perlahan-lahan turun pula dari kuda itu. Ketika perempuan itu kemudian berdiri terhuyung-huyung diatas tanah, semakin sadarlah ia bahwa pakaiannya benarbenar sudah tidak pantas lagi, sehingga karena itu, maka tibatiba ia berjongkok sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya "Pakaianku sama sekali tidak pantas lagi. Aku malu sekali" desis Nyai Demang di Kepandak. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh. Yang dilihatnya hanyalah batang-batang ilalang setinggi lututnya, dan di sana-sini pohon-pohon perdu yang berserakan. "Tetapi kita harus berjalan terus" berkata kawannya. "Aku tidak dapat meneruskan perjalanan dengan pakaian begini "Sindangsari berhenti sejenak, lalu "bagaimana aku nanti apabila kita sampai di Kepandak. Apa kata orang tentang diriku" "Nyai Demang" berkata kawan Pamot "semua orang dapat melihat, bahwa pakaian Nyai berlubang oleh api. Bekasnya sudah mengatakan, kenapa pakaian Nyai menjadi compangcamping" Sindangsari t idak menyahut. Tetapi tanpa disadarinya, iapun mengamati pakaiannya yang telah sebagian dimakan api. "Pamot " berkata Sindangsari kemudian "apakah aku akan kau biarkan dalam keadaan ini?" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengerti, bagaimana ia dapat menolong keadaan Sindangsari itu. "Nyai" berkata anak muda kawan Pamot itu "sebentar lagi Ki Reksatani akan sampai di tempat ini. Kalau sekarang Nyai Demang segan memakan pakaian yang telah sobek dan berlubang-lubang oleh api itu? maka Ki Reksatani nanti akan melepaskan seluruh pakaian Nyai. Nyai akan terbaring di tanah ini tanpa selembar pakaianpun, selain noda-noda darah yang akan membasahi tubuh nyai dan memerahi rerumputan ini, dan kita akan terbunuh disini" Bulu-bulu Sindangsari meremang. Pamot yang kemudian menyadari keadaannya berkata "Marilah. Kita jangan terlambat" Sindangsari termangu-mangu sejenak, namun kemudian kawan Pamot itu berkata "Baiklah, pakailah kain panjangku. Pakailah ikat kepalaku, supaya Nyai Demang menjadi seperti seorang laki-laki. Banyak keuntungan yang akan kita dapatkan dari kesan itu. Di perjalanan nanti, apabila ada orang yang melihat kita berpacu, tidak akan menyangka, kita melarikan seorang perempuan. Mungkin mereka bertanya, kemana kita pergi. Tetapi kesan yang kita tinggalkan, tiga orang laki-laki berpacu diatas punggung kuda dalam keadaan yang aneh. Dua orang di antaranya naik diatas seekor kuda, sedang yang lain, tidak memakai kain panjang dan ikat kepala" Pamot berpikir sejenak, lalu "Jangan kau. Biarlah pakaianku saja yang dipakainya" Tetapi anak muda itu menggeleng "Sama sekali t idak pantas. Bagi yang belum mengenalmu, memang tidak akan menimbulkan kesan apapun. Tetapi apabila kita memasuki Kepandak, maka akan dapat tumbuh dugaan yang kurang mapan. Tanpa kain panjang dan ikat kepala, kau berkuda bersama. Nyai Demang di Kepandak, sedangkan setiap orang tahu, maaf, bahwa pernah ada sesuatu diantara kalian berdua di masa kegadisan Nyai Demang" Pamot menundukkan kepalanya, sedang wajah Sindangsari menjadi merah padam. "Cepatlah Pamot, ambillah keputusan" "Baiklah" "Tetapi kain panjangku terlampau kotor. Debu dan lumpur melekat di sana-sini" Anak muda itupun kemudian melepas kain panjangnya. Ia hanya sekedar memakai celana dari selembar baju panjang. Kemudian menyerahkan kain dan ikat kepalanya kepada Sindangsari. "Pakailah" Sindangsari menerima kain dan ikat kepalanya itu. Tetapi ia masih tetap berjongkok di tempatnya. "Cepat Sari, pakailah" Sambil memandang kekejauhan Pamot dan kawannya menunggu Sindangsari selesai mengenakan kain itu merangkapi pakaiannya yang telah sobek dan terbakar. Kemudian dipakainya pula ikat kepala yang diberikan kepadanya. Dengan demikian, maka Sindangsari tidak lagi jelas sebagai seorang perempuan, meskipun pakaiannya tampak membingungkan. Tetapi diatas punggung kuda bersama Pamot, maka kesan yang pertama-tama, ia seorang laki-laki muda yang tampan. Sejenak kemudian, mereka telah berada diatas punggung kuda yang sudah saling ditukar. Mereka sadar, bahwa waktu yang ada sangat berharga. Karena itu, merekapun segera berpacu kembali meneruskan perjalanan. Tetapi setiap kali kawan Pamot yang berkuda di belakang menarik nafas dalam-dalam. Pamot tidak dapat berkuda cukup cepat. Bahkan kadang-kadang terlampau lambat. "Mereka harus sadar, bahwa bahaya ada di belakang kita" desis kawan Pamot kepada diri sendiri. Dalam pada itu, di Sembojan masih terjadi perkelahian yang seru. Ki Reksatani masih bertempur melawan Lamat. Di bagian yang lain, Manguri berkelahi dengan gigihnya melawan Punta. Sedang bertebaran di halaman belakang rumah isteri muda ayah Manguri itu pertempuran masih berlangsung terus. Beberapa orang laki-laki berusaha mendekati arena, meskipun mereka tidak berani berbuat apa-apa, karena mereka merasa t idak cukup mampu untuk terjun di dalam pertempuran yang seru itu. Namun beberapa orang lain justru telah bersembunyi di dalam rumah masing-masing, menutup pintu dan memaksa anaknya untuk tetap berada di dalam biliknya masing-masing. "Apakah yang terdengar ribut itu ayah?" bertanya seorang anak laki-laki yang terbangun. "Tidur, tidur sajalah" Anak itu menjadi heran. Tetapi ia menjadi semakin heran melihat ibunya yang gemetar "Tidur sajalah sayang" Anak itu berbaring kembali di pembaringannya. Tetapi ia tidak lagi dapat tidur. Suara hiruk pikuk itupun semakin jelas terdengar di telinganya. Ki Jagabaya di Prambanan masih berdiri di sisi ayah Manguri yang gelisah. Setiap kali ia bergerak, Ki Jagabaya itupun berkata "Kau disini saja. Perkelahian ini akan segera selesai" Ayah Manguri itu mengumpat-umpat di dalam hatinya. Apalagi ketika ia melihat anaknya terdesak terus Apalagi lukalukanya menjadi semakin parah. Bukan saja luka yang timbul oleh bekas senjata Pamot, tetapi Puntapun telah berhasil melukainya pula. "Anak itu terluka" desis ayahnya. Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa setiap saat ayah Manguri itu akan kehilangan kesabaran dan meloncat ke dalam pertempuran. Apalagi setelah dilihatnya anaknya menjadi semakin lemah. Tetapi dengan demikian, maka iapun akan terjun pula melawannya. Bukan saja menunggui penyelesaian itu. Dengan dada berdebar-debar Ki Jagabaya dan ayah Manguri itu menyaksikan pertempuran yang berlangsung dengan serunya. Apalagi pertempuran antara Ki Reksatani dan Lamat. Namun ayah Manguri ternyata masih juga berusaha melemahkan pertahanan Lamat dengan caranya "Lamat, apakah kau masih dapat melihat api yang membakar sisa rumah itu? Api itu hampir padam. Tetapi ketika aku menyelamatkan kau, api itu seakan-akan justru akan membakar langit. Tetapi kau selamat saat itu, meskipun aku sendiri terluka hampir di segenap tubuhku" Tiba-tiba saja Lamat berteriak pula "Diam, diam" Ayah Manguri tidak mau diam. Katanya "Sekarang, kebakaran telah terjadi lagi. Tetapi tidak oleh perampokperampok yang merampok seisi rumah dan membunuh ayah ibumu. Aku t idak pula perlu menolong kau, karena kau ternyata seorang yang memiliki kemampuan luar biasa, yang barangkali kau dapat dari setan-setan di pinggir kuburan. Bahkan kau sudah dapat menolong dan menyelamatkan Nyai Demang di Kepandak" "Cukup, cukup" Lamat berteriak-teriak seperti orang yang dihantui oleh bayangan-bayangan yang menakutkan. Dengan demikian, maka pemusatan pikiran dan tenaganyapun tertanggu. Kadang-kadang seakan-akan sekilas membayang di rongga matanya, saat-saat ia dikepung oleh api yang menyala menelan rumahnya, ayah dan ibunya, dan seluruh isi rumahnya. Seakan-akan ia merasa dirinya disambar oleh seseorang yang kemudian menyelamatkannya. Orang itu adalah ayah Manguri" "Pengkhianat" suara Ki Reksatani yang menggeram itu bagaikan guruh yang meledak di dalam kepalanya. Lamat yang memiliki tenaga raksasa itupun mulai terdesak. Kini ia harus bertempur menghadapi dua lawan. Ia harus melindungi dirinya sendiri dari sengatan senjata Ki Reksatani, tetapi yang lebih berbahaya. Lamat harus berjuang melawan perasaan sendiri. Perasaan yang seakan-akan dihembushembuskan ke dalam dadanya oleh ayah Manguri. "Kau memang licik sekali" Ki Jagabaya berdesis "Aku tidak mengetahui latar belakang hubunganmu dengan orang yang bertubuh raksasa itu. Tetapi tampaknya kau mengetahui kelemahan perasaannya. Kau akan mempergunakan kelemahan itu untuk membantu lawannya. Dan itu adalah suatu tindakan yang paling tidak terpuji. Bahkan yang paling aku benci" Tetapi ayah Manguri menyahut "Dengan atau tidak dengan cara itu, kau pasti sudah membenci aku. Aku tidak berkeberatan" "Jangan berkata begitu. Isterimu ada di dalam wilayah kekuasaanku. Apalagi ia sudah mendapat cela yang tidak akan dapat dilupakan oleh tetangga-tetangganya. Kalau akhir-akhir ini ia sudah mencoba memperbaiki kesalahan itu, namun tibatiba timbullah persoalan yang membuat daerah kekuasaanku menjadi kisruh seperti ini" Jawabnya benar-benar di luar dugaan Ki Jagabaya itu. Katanya "Aku sudah tidak memerlukan lagi Ki Jagabaya. Aku masih mempunyai isteri di mana-mana" "Kau mungkin tidak berbohong. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku tidak dapat menghubungi Kademangankademangan yang lain. Juga Kademangan Kepandak? Kalau jalan perdagangan ternakmu tertutup, maka akan tamatlah ceritera petualanganmu di kalangan perempuan muda yang dapat kau beli dengan uang" Ayah Manguri tertawa. Betapapun pahitnya. Namun tibatiba matanya terbelalak ketika ia melihat. Manguri terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah. Meskipun ia dapat dengan tangkas berdiri, tetapi tampak oleh ayahnya, bahwa ia sudah menjadi sangat lemah. "Gila" Ia menggeram di dalam hatinya. Iapun kemudian memutuskan untuk berbuat sesuatu. Ia belum mengenal Ki Jagabaya di dalam olah kanuragan. Sedangkan semua yang terjadi di padukuhan ini adalah akibat dari tingkah anaknya. Anak laki-lakinya. Karena itu, apapun yang dapat terjadi, tidak boleh dihindarinya. Ia sendiri sudah memberikan perlindungan atas usaha menyembunyikan Sindangsari terhadap anaknya. Kini iapun harus memberikan perlindungan pula terhadap akibat yang timbul karenanya. Dalam pada itu, cahaya matahari pagi sudah menguakkan kehitaman malam. Perkelahian di halaman belakang itupun menjadi semakin nyata. Beberapa orang menjadi semakin menggigil karenanya dan dengan gemetar meninggalkannya. Mereka menjadi jelas,bagaimana mereka yang sedang bertempur itu benar-benar berusaha membunuh lawannya. Beberapa orang anak-anak muda Sembojan dan Kali Mati masih juga berkelahi dengan gigihnya. Punta dan seorang kawannya yang datang dari Gemulung sama sekali tidak mengecewakan, sebagai anak-anak muda yang pernah mendapat tempaan dari sebuah perjalanan yang berat. Diantara mereka, Lamat masih juga berusaha mengatasi getaran perasaannya, sehingga ia masih dapat berkelahi sebaik-baiknya, meskipun kadang-kadang seperti orang yang kehilangan kesadaran, ia menjadi bingung. Untunglah, di dalam setiap keadaan itu, Lamat selalu masih dapat menghindarkan diri, meskipun ia harus meloncat jauh-jauh. Tetapi perasaan yang ditiup-tiupkan oleh ayah Manguri itu terasa semakin menggelitik hatinya. Setiap kali ia harus menghentakkan giginya untuk mengatasi perasaan itu. Namun perlawanan Lamat terhadap perasaannya sendiri itupun menjadi semakin lemah sehingga perlahan-lahan perlawanannya terhadap Ki Reksatanipun mulai terpengaruh pula. Pada saat kecemasan di dada ayah Manguri memuncak melihat kadaan anaknya, tiba-tiba terdengar sebuah keluhan tertahan. Lamat meloncat jauh-jauh surut sambil meraba pundaknya. Titik darah telah memerah di tangannya. Ternyata pedang Ki Reksatani telah berhasil menggoreskan luka yang cukup dalam selagi Lamat diterkam oleh kebimbangan perasaan. Tetapi luka itu agaknya telah menyadarkannya. Seperti orang yang terbangun. Lamat menggeretakkan giginya. Mulailah perlawanannya yang garang dan bahkan seranganserangannya yang dahsyat melanda lawannya. Namun lawannya itu adalah Ki Reksatani. Itulah sebabnya, maka setiap kali Lamat bagaikan membentur dinding baja yang tidak tertembus. Ki Reksatanipun semakin menjadi gelisah pula. Pamot pasti sudah menjadi semakin jauh. Karena itu, maka lapun memperkuat serangan-serangannya atas raksasa yang mulai liar itu. Apalagi pundak kanan Lamat sudah tergores oleh senjata. "He" seru ayah Manguri. Ia sengaja berkata keras-keras, agar beberapa orang mendengarnya "kau terluka Lamat? Sayang, aku kali ini tidak dapat menyelamatkanmu lagi seperti di masa kanak-kanakmu. Sekarang aku yakin, bahwa memang tidak sepatutnya aku menolong dan apalagi memelihara dan membesarkanmu, karena akhirnya kau hanya akan menerkam kami yang memeliharamu dengan baik" Lamat yang sudah terluka itu menggeram "Kau pasti akan mendapat hukuman dari penghianatan ini Lamat" "Cukup" teriak Lamat "apakah yang pernah kau berikan kepadaku selain pertolonganmu yang tidak aku minta itu. Apakah kau benar-benar telah memelihara aku baik-baik selama aku tinggal di rumahmu dan anakmu telah memperlakukan aku tidak lebih dari seekor kerbau?" Ayah Manguri mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa kelakuan Manguri kadang-kadang memang berlebih-lebihan. Dan itulah yang dicemaskannya, bahwa pada suatu saat, jiwa Lamat yang selama ini tertekan itu akan meledak. Dan ternyata saat itu telah datang. Namun, betapapun juga Lamat mencoba mencari kebenaran landasan sikapnya itu, dan bahkan ia yakin bahwa demikian kata nuraninya, namun ia sama sekali tidak dapat melawan arus perasaannya. Perasaan berhutang budi, perasaan yang telah diungkit-ungkit oleh ayah Manguri itu, sehingga selain luka di pundaknya, seolah-olah jantungnyapun telah menjadi parah. Itulah sebabnya, maka Lamatpun lambat laun telah terdesak. Agaknya Ki Reksatani mampu mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan dahsyatnya ia menyerang Lamat yang terus-menerus terdesak surut. Darah raksasa itupun semakin banyak mengalir dari lukanya yang mulai terasa pedih. Matahari yang semakin terangpun membuat Ki Reksatani semakin bernafsu. Kini ia hampir pasti, bahwa ia akan dapat mengalahkan Lamat. Yang penting baginya adalah mempercepat kekalahan raksasa itu. Tetapi Lamat tidak segera menyerah pada keadaan. Bahkan ketika luka di pundaknya menjadi semakin pedih, perlawanannyapun menjadi semakin gigih. Namun setiap kali perasaannya tergetar oleh kenangan masa kecilnya, maka iapun kadang-kadang menjadi lengah. Bahkan Lamatpun kemudian berpikir "Mudah-mudahan Pamot sudah jauh. Mudah-mudahan Pamot mendapat kesempatan membawa Nyai Demang kembali ke Kepandak, kembali kepada suaminya" Sejalan dengan harapan itu, maka perlawanannyapun menjadi semakin susut. Darahnya tidak lagi dapat tertahan. Semakin banyak ia bergerak, semakin banyak arus darah dari lukanya. Beberapa orang anak-anak muda Sembojan, dan juga Punta. melihat luka di pundak Lamat. Sejenak mereka tergetar oleh kecemasan. Tanpa Lamat, maka perlawanan mereka akan menjadi tidak seimbang lagi, meskipun Ki Jagabaya ikut serta di dalam perkelahian itu. Mereka sadar, bahwa ternyata Ki Reksatani benar-benar seorang yang tidak terkalahkan. Bukan saja di Kademangan Kepandak, tetapi juga di daerah sekitarnya. Di Kademangan-kademangan yang lain memang sulitlah dicari orang-orang yang mampu mengimbanginya. Karena itu, mereka harus mengambil kebijaksanaan lain, Semula atas persetujuan Ki Jagabaya, anak-anak Sembojan dan Kali Mati yang merasa cukup kuat menghadapi orangorang yang telah membuat keributan di padukuhan mereka itu, tidak ingin menggemparkan seluruh Kademangan. Mereka bersepakat untuk tidak memukul tanda bahaya. Tetapi apabila Lamat dapat dikalahkan, maka anak-anak muda itu memerlukan lebih banyak kawan lagi untuk melawan Ki Reksatani. Karena itu, salah seorang dari mereka segera menghubungi Ki Jagabaya. Dengan nafas terengah-engah ia berkata "Keadaan bertambah gawat Ki Jagabaya" Sebelum Ki Jagabaya menyahut, ayah Mangurilah yang menjawab "Jangan ingkari kenyataan. Karena itu jangan menjadi kebiasaan mencampuri persoalan orang lain" "Persetan" geram Ki Jagabaya "sebentar lagi anakmu akan dibunuh oleh kawan sepadukuhannya, lalu katanya kepada anak muda yang datang kepadanya "usahakan bantuan" "Dengan kentongan?" Ki Jagabaya menganggukkan kepalanya. "Gila" potong ayah Manguri "kau akan melibatkan seluruh Kademangan?" "Apaboleh buat" jawab Ki Jagabaya "Ki Reksatani itu ternyata sangat berbahaya bagi kita disini" "Yang akan datang hanyalah akan memperbanyak korban" berkata ayah Manguri "aku mempunyai saran yang baik. Tariklah seluruh anak Sembojan dan Kali Mati dari perkelahian ini. Mereka akan menjadi korban yang sia-sia. Biarlah anakTiraikasih Website http://kangzusi.com/ anak Gemulung itu mati terbunuh disini. Bahkan Lamat itu sama sekali" "Cepat" berkata Ki Jagabaya tanpa menghiraukan kata-kata ayah Manguri "bunyikan tanda itu. Lamat benar-benar sudah terdesak. Tetapi itu bukan karena Ki Reksatani t idak terlawan olehnya. Ia mampu mengimbangi kegarangan Ki Reksatani itu. Tetapi karena kelicikan pedagang ternak yang tamak inilah, maka ia kehilangan keseimbangan perlawanannya" "Omong kosong" sahut ayah Manguri. Tetapi ia t idak sempat mengatakan kelanjutannya, karena Ki Jagabaya berkata lantang "Cepat. Jangan hiraukan apapun lagi" Anak muda itupun segera berlari-lari ke gardu di simpang tiga. Sementara Lamat menjadi semakin terdesak, maka terdengarlah suara titir dari gardu beberapa puluh langkah dari halaman rumah itu. "Gila" Ki Reksatani menggeram. Ia sadar akan bunyi tanda itu. Karena itu, serangannyapun menjadi semakin garang. Apalagi ketika suara titir itu telah disahut oleh bunyi kentongan dari gardu yang lain. Sambung menyambung, merambat dari gardu yang satu ke gardu yang lain. Ki Reksatani benar-benar telah kehilangan pengekangan diri. Ia berkelahi seperti setan takut kesiangan. Apalagi ketika sinar matahari mulai menyentuh tubuhnya, dan suara titir itu sudah memenuhi udara pagi di padukuhan Sembojan dan sekitarnya. Sejenak kemudian Lamat telah benar-benar terdesak. Tenaganya menjadi semakin lemah, karena darah yang semakin banyak mengalir. Bahkan sejenak kemudian, ujung senjata Ki Reksatani telah menyentuhnya sekali lagi. Meskipun tidak begitu dalam, namun ujung pedang yang menyobek kulit lambungnya. tu membuatnya semakin terdesak surut. "Kau akan mati pagi ini" geram Ki Reksatani. Tetapi Lamat tidak gentar, karena akibat itu sudah disadarinya. Jawabnya "Aku tidak takut melihat maut yang sudah menjemputku. Tetapi aku merasa bahwa aku sudah berbuat arti di dalam hidupku yang hina ini. Arti bagi perikemanusiaanku" "Tutup mulutmu" bentak Ki Reksatani sambil menyerang dengan cepatnya. Untunglah Lamat masih sempat memalingkan kepalanya. Namun demikian ujung pedang Ki Reksatani masih juga menyentuh pipinya. Setitik darah mengalir dari luka di pipinya. Sekali lagi tangan Lamat menjadi merah oleh darah ketika ia meraba luka di pipinya itu. Namun demikian ia masih tetap berusaha menyelamatkan diri dari sentuhan senjata Ki Reksatani yang satu lagi. Keris pusakanya. Karena Lamat sadar bahwa sentuhan keris itu akibatnya adalah maut. Racun pada keris itu akan segera bekerja di dalam tubuhnya tanpa ampun. Karena itu, perlawanannya kini ditujukan lebih banyak pada serangan-serangan keris itu daripada ujung pedangnya. Ternyata Ki Reksatani masih berhasil melukai lawannya lagi. Lengan Lamatpun telah tersobek pula. Kemudian pahanya, sehingga tubuhnya seakan-akan menjadi merah karena darah dan keringat yang mengaliri wajah, dada dan kakinya. Ki Jagabaya melihat luka-luka itu dengan tubuh yang bergetar karena marah. Ia bukan sanak bukan kadang dengan raksasa itu, bahkan mengenal secara pribadipun belum. Tetapi Ki Jagabaya telah meyakini kebenaran perjuangan Lamat, sehingga karena itu, dadanya serasa telah terbakar, melihat luka-luka yang seolah-olah telah memenuhi tubuh raksasa itu. "Licik" Ki Jagabaya menggeram "kaulah yang menyebabkan kekalahannya. Kalau kau tidak menyerang perasaannya, maka ia tidak akan dapat dikalahkan oleh Ki Reksatani. Karena itu, kaulah yang harus bertanggung jawab" Tetapi ayah Manguri sama sekali tidak menjawab. Ketika Ki Jagabaya berpaling kepada orang itu, ia terkejut bukan buatan. Wajah itu menjadi pucat dan tegang. Bahkan tubuhnyapun menjadi gemetar pula. Ki Jagabaya menjadi heran. Apalagi ketika tiba-tiba ayah Manguri itu berpaling sambil berdesah "Tahan. Tahanlah dia. Jangan disakiti anak itu. Jangan diperlakukan anak itu dengan semena-mena meskipun ia sudah berkhianat. Bunuh atau lepaskan. Jangan dikupas seperti mengupas pisang" Ki Jagabaya menjadi termangu-mangu sejenak. Bahkan ia bertanya "Kenapa kau? Apakah kau sudah menjadi gila" "Tolonglah anak itu" Ki Jagabaya menjadi bingung melihat tingkah laku ayah Manguri itu. Namun ia tidak melepaskan kewaspadaan. Ia masih saja curiga karena kelicikan ayah Manguri itu. Dalam pada itu, suara titir telah memenuhi seluruh Kademangan. Ki Reksatanipun menjadi semakin gelisah karenanya. Meskipun luka di tubuh Lamat, seolah-olah telah menjadi arang kranjang, tetapi raksasa itu sama sekali tidak menyerah. Ia masih tetap bertempur terus meskipun ia selalu terdesak mundur. "Gila, apakah kau menyimpan nyawa rangkap?" Ki Reksatani menggeram. Lamat tidak menjawab. Betapa perasaan sakit telah mencengkam seluruh tubuhnya, namun ia tidak mau menyerah. Akhirnya Ki Reksatani tidak sabar lagi. Ketika ia melihat orang yang pertama datang ke arena itu, kemudian disusul oleh beberapa orang lagi, yang agaknya sudah dipanggil oleh suara titir itu, hatinya berdesir. Mereka ternyata bukan penakut-penakut seperti orang-orang yang berdiri saja di kejauhan. Mereka agaknya pengawal-pengawal dari padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan Sembojan, seperti anak-anak muda yang telah berkelahi lebih dahulu. Sejenak Ki Reksatani mempertimbangkan keadaannya, Ia masih melihat beberapa orang-orangnya berkelahi dengan gigihnya. Karena itu, ia harus memilih. Melepaskan kemarahan dan dendamnya kepada Lamat, atau mengejar Sindangsari yang sudah dilarikan oleh Pamot dan akan diserahkan kepada suaminya. "Persetan dengan padukuhan Sembojan. Aku harus meninggalkan neraka ini. Persoalanku adalah persoalan Kademangan Kepandak. Aku tidak perlu terjerumus dalam perangkap orang-orang Sembojan yang suka mencampuri persolan orang lain ini" Karena itu, maka Ki Reksatanipun segera memberikan isyarat kepada anak buahnya yang masih ada beserta orangorang Manguri. Merekapun segera berloncatan dari arena, dan sambil mempertahankan diri, merekapun berlari- larian ke kuda masing-masing. Untunglah bahwa kuda-kuda itu sudah dipersiapkan sehingga merekadengan segera dapat berloncatan dan langsung memacunya. Ki Reksatani masih berusaha melindungi anak buahnya sejenak. Dengan kudanya ia menyerang anak-anak muda yang mencoba menghalangi anak buahnya yang akan naik ke punggung kudanya. Tidak seorangpun yang berani melawannya langsung. Karena itu maka seorang demi seorang, anak buahnya berhasil meninggalkan halaman rumah itu, meskipun beberapa diantara mereka telah terbunuh. Diantaranya adalah mereka yang justru terbunuh oleh kawan-kawan sendiri. Meskipun mendapat kesempatan tetapi ayah Manguri sama sekali t idak berniat untuk meninggalkan halaman rumah itu. Dengan wajah yang buram ia melihat beberapa orang berlarilarian dikejar oleh anak-anak muda Sembojan. Tetapi hanya karena ketangkasan Ki Reksatani mengayunkan senjatanya sambil mengendalikan kudanya sajalah, sebagian terbesar dari mereka dapat dengan selamat meninggalkan halaman rumah itu. Ki Jagabaya masih berdiri di dekat ayah Manguri yang termangu-mangu. Ia hanya mengikut i derap kuda yang berlari seperti dikejar hantu meninggalkan regol halaman. Kemudian hilang di balik pepohonan. Pada saat yang bersamaan, anak-anak muda di sekitar Sembojan berdatangan ke padukuhan itu. Bukan saja anakanak muda, tetapi laki-laki yang sudah menjelang setengah umurpun ikut pula berdatangan dengan senjata. "Apa yang terjadi?" bertanya seorang yang rambutnya sudah berwarna dua kepada seseorang yang berdiri di luar dinding halaman. "Untunglah kau datang terlambat" jawabnya "kalau kau sempat menyaksikan apa yang terjadi, maka kau akan pingsan disini" "Apa?" "Lihatlah bekasnya" Orang itu menjengukkan kepalanya. Ketika ia melayangkan pandangan matanya, ia memandang tepat di saat Lamat tidak lagi dapat menguasai dirinya. Perlahan-lahan ia jatuh terduduk, kemudian dengan lemahnya ia terkulai di tanah. Tetapi orang yang berambut dua warna itulah yang lebih dahulu pingsan melihat tubuh Lamat yang seakan-akan terbalut oleh darahnya yang merah. Karena itu, maka beberapa orang harus memapah orang separo baya itu menepi, sementara di dalam halaman belakang, Ki Jagabayapun berlari-lari dan kemudian berjongkok di samping Lamat yang sudah t idak berdaya lagi. "Bagaimana dengan kau?" bertanya Ki Jagabaya. Lamat memandanginya sejenak. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Agaknya ia telah memaksa dirinya, mengerahkan segala kemampuan dan tenaga, melampaui kemampuan yang sewajarnya. "Air, air" teriak Ki Jagabaya. Ketika ia berpaling, ia melihat ayah Manguripun sedang merenungi anaknya yang terbaring di tanah. Sementara Punta dengan senjata di tangan, berdiri di sampingnya. "Janggan kau bunuh anak ini" pinta ayah Manguri "Aku akan kehilangan kedua-duanya" Punta tidak tahu arti permintaan itu. Tetapi ia memang tidak ingin membunuh Manguri. Setelah ia berhasil menjatuhkan anak muda itu dan tidak mampu lagi untuk bangkit, maka Punta tidak lagi dikuasai oleh nafsu membunuh. Ia dapat mengendalikan dirinya. Dibiarkannya Manguri terbaring di tanah dengan nafas terengah-engah dan menyeringai kesakitan. Namun sejenak kemudian Manguri itupun menjadi pingsan. Kini suasana di halaman belakang rumah itu t idak lagi diwarnai oleh perkelahian dan dibisingkan oleh bunyi dentang senjata beradu. Beberapa orang pengawal yang terlukapun segera mendapat pertolongan, sehingga dengan demikian, kesibukan orang-orang di halaman itu telah beralih. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang berani melihat kenyataan di halaman itu. Beberapa orang yang semula datang dengan senjata di tangan karena titir yang sahut menyahut, ternyata sama sekali tidak berani menginjakkan kakinya ke halaman itu. Bekas perkelahian itu ternyata sangat mengerikan. Apalagi apabila mereka masih sempat melihat perkelahian yang terjadi. Untunglah, bahwa diantara mereka terdapat anak-anak muda yang telah mendapat tempaan khusus. Terutama mereka yang pernah mengikuti pasukan yang berjuang untuk mengusir orang-orang asing yang mulai berkuasa di tanah ini. "Punta" berkata ayah Manguri "bukankah kau tidak membunuhnya?" Punta menggelengkan kepalanya. Ayah Manguri mengguncang-guncang kePala anaknya yang pingsan. Kemudian menempelkan telinganya di dadanya. Ia masih mendengar detak jantung anak itu. "Ia masih hidup. Ia masih hidup" Ayahnyapun kemudian berusaha untuk menolongnya sejauh-jauh dapat dilakukan. Tetapi ternyata bahwa orang Sembojan adalah orang-orang yang berhati lapang. Meskipun mereka kemudian mengerti apa yang terjadi, namun mereka tidak sampai hati membiarkan Manguri tanpa mendapat pertolongan apapun, karena justru ayahnya menjadi kebingungan. Beberapa orang telah membantunya atas perintah Ki Jagabaya. Seperti Lamat, maka Manguripun segera mendapat pertolongan. Kedua nyapun kemudian telah dibawa ke rumah tetangga terdekat. Ditunggui oleh beberapa pengawal bersama Punta dan seorang kawannya yang datang dari Gemulung. Bagaimanapun juga mereka masih tetap harus bercuriga. Apalagi di dekat ayah Manguri itu terbaring pula Lamat yang sudah kehabisan tenaga. Seorang dukun tua telah berbuat sejauh-jauh dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa kedua orang itu. Sedang orang-orang lain yang meskipun juga terluka, tetapi tidak begitu parah, telah mendapat pertolongan pula. Untunglah bahwa tidak ada seorang pengawalpun yang menjadi korban sehingga meninggal. Yang ada diantara mereka adalah pengawal-pengawal yang terluka. Agaknya Manguri memang masih diberi kesempatan untuk hidup. Seandainya ia harus bertempur melawan Pamot yang menyimpan berbagai macam masalah di dadanya terhadap Manguri, maka harapan baginya untuk dapat tetap hidup adalah kecil sekali. Tetapi kini, dukun yang mengobatinya masih berpengharapan bahwa nyawanya akan dapat di selamatkan. Sedangkan Lamat, agaknya masih lebih baik dari keadaan Manguri. Meskipun luka-lukanya bersilang melintang di seluruh tubuhnya, namun luka-luka itu tidak membahayakan jiwanya. Satu dua ada juga lukanya yang dalam. Namun ketahanan tubuh Lamat, lernyata memang melampaui ketahanan tubuh manusia biasa. Dalam pada itu, di halaman yang baru saja menjadi kancah perkelahian itupun kini telah disibukkan oleh orang-orang yang sedang membersihkan halaman itu dari mayat-mayat dan mereka yang terluka. Setiap orang menjadi ngeri menyaksikan bekas-bekas dari apa yang telah terjadi. Ceritera tentang sebab-sebab perkelahian itupun segera menjalar ke segenap telinga, sehingga setiap orang telah terbakar batinya. Mereka menyesal bahwa Ki Reksatani dapat terlepas dari tangan mereka. Dan bahkan Lamat yang melawannya dengan gigih telah terluka parah. Orang-orang Sembojan meletakkan kesalahan terberat pada Ki Reksatani. Itulah agaknya sebabnya bahwa mereka masih dapat menguasai perasaan mereka terhadap Manguri. Perempuan-perempuan yang mendengar ceritera dan latar belakang dari peristiwa itupun mengusap dada mereka sambil berkata "Kasihan Nyai Demang di Kepandak" Sedang perempuan yang lain menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata "Aku agaknya telah ikut berdosa. Kenapa aku percaya bahwa perempuan itu sekedar perempuan gila. Dan bahkan aku pernah mengumpatinya karena ia berteriak-teriak sambil berlari-lari di sepanjang jalan? Agaknya Nyai Demang saat itu masih berusaha untuk melepaskan dirinya" Sementara itu, setelah mendapat perawatan seperlunya, Lamat sudah dapat mengingat semua yang terjadi dengan jelas. Bahkan ia sudah mulai gelisah dan berkata kepada Punta. yang menungguinya "Bagaimana dengan Pamot? Apakah masih ada kemungkinan Ki Reksatani menyusulnya di perjalanan?" Punta berpikir sejenak. Dengan ragu-ragu ia menjawab "Jaraknya cukup panjang Lamat" "Tetapi Pamot membawa Nyai Demang yang terluka bakar. Ia tidak akan dapat berpacu terlampau cepat" "Kita akan berdoa untuknya. Mudah-mudahan ia t idak tersusul di perjalanan. Kita mempunyai banyak harapan. Mungkin Pamot benar-benar tidak tersusul, mungkin jalan yang ditempuh oleh Pamot bukannya jalan yang dipilih oleh Ki Reksatani" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia mencoba untuk bangkit. Tetapi Ki Jagabaya dan dukun yang merawatnya telah mencegahnya. "Berbaringlah" berkata Ki Jagabaya "darahmu hampir mampat" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya yang kuat seperti kerbau itu memang terasa lemah sekali, sehingga seakan-akan ia tidak mampu lagi mengangkat kepalanya. "Hampir seluruh tubuhmu terluka parah" berkata Ki Jagabaya selanjutnya. Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang kembali perlawanannya atas Ki Reksatani. Adalah suatu perlindungan yang ajaib bahwa ia tidak terbunuh karenanya. Ia sadar, kemarahan Ki Reksatani kepadanya pasti melonjak sampai ke ujung ubun-ubun. Namun demikian, ditinggalkannya ia masih dalam keadaan yang memungkinkannya untuk tetap hidup. Ketika Lamat kemudian memalingkan kepalanya perlahanlahan di lihatnya Manguripun terbaring diam beberapa langkah daripadanya ditunggui oleh ayahnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya "Bagaimana dengan anak itu?" Puntapun berpaling pula memandang tubuh Manguri. Ia lah yang telah melukai tubuh itu setelah Lamot melukainya lebih dahulu. "Apakah ia terluka parah juga?" Punta menganggukkan kepalanya. "Kaulah yang melukainya?" "Aku hampir membunuhnya" desis Punta. Lamat tidak menyahut. Di tatapnya jalur-jalur bambu pada atap diatas pembaringannya. Dalam saat-saat yang diliput i oleh ketegangan dan kegoncangan perasaan itu semuanya seakanakan telah terbayang kembali. Namun tiba-tiba Lamat menjadi gelisah, ketika anganangannya sampai pada akhir peristiwa di Sembojan itu. Seakan-akan ia melihat Ki Reksatani sedang mengejar Pamot yang tidak dapat berpacu karena Sindangsari yang terluka dan apalagi perempuan itu sedang mengandung. Sedang derap kaki kudanya telah mengguncang-guncangnya. "Bagaimana dengan Pamot" t iba-tiba sekali lagi ia berdesis. "Mudah-mudahan ia t idak tersusul" sahut Punta. "Kalau ia tersusul di perjalanan, maka berakhirlah semuanya "Lamat berhenti sejenak, lalu "tetapi kalau ia berhasil mencapai Kademangan Kepandak, maka ia akan dapat berlindung pada Ki Demang. Satu-satunya orang yang dapat melawan Ki Reksatani. Mudah-mudahan Ki Demang mempercayainya" "Ada seorang saksi yang mengiringinya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bayangan keragu-raguan tampak pada tatapan matanya yang redup. Namun betapa mata itu redup, Lamat seolah-olah melihat apa yang sedang terjadi. Pamot yang kehilangan kesempatan untuk melepaskan diri. Keris Ki Reksatani. Darah. Tiba-tiba saja Lamat bangkit sambil berkata "Tolonglah, tolonglah anak itu" Punta, Ki Jagabaya dan dukun yang merawatnya segera menahannya dan berusaha membaringkannya kembali. Mereka menjadi berdebar-debar karena tubuh Lamat terasa menjadi panas. Apalagi ketika Ki Jagabaya meraba keningnya, seakan-akan kepala raksasa itu sudah membara. "Ambillah air" berkata dukun tua itu "rendamlah beberapa potong jeruk pecel" 'Seseorang segera berlari-lari mencari air dan jeruk pecel. Dengan sehelai kain, diusapkannya air jeruk pecel itu ke kening! Lamat. Tetapi ketika setitik air jeruk itu menyentuh lukanya, Lamat telah menggeliat kesakitan. "Bagaimana dengan Pamot, bagaimana?" ia masih bertanya terus. "Percayakan anak itu kepada Tuhan Yang Maha Penyayang" desis dukun tua yang menungguinya "kita bersama-sama berdoa untuknya" Jawaban itu bagaikan t itik-tit ik embun di ubun-ubunnya. Perlahan-lahan Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Ya. Kita percayakan anak itu kepada Tuhan. Mudah-mudahan ia selamat" "Tidurlah. Kalau kau sempat tidurlah" berkata Ki Jagabaya "badanmu akan terasa segar" Oleh air jeruk pecel yang menyeka keningnya, Lamat merasa tubuhnya benar-benar menjadi semakin segar. Namun ia masih belum dapat menghalau sama sekali kegelisahan yang membayang di hatinya. Bahkan katanya kemudian "Apakah aku dapat meninggalkan tempat ini" Punta bergeser maju, mendekati telinga Lamat. Katanya perlahan-lahan "Kau harus beristirahat. Kau memerlukan istirahat" "Aku sudah cukup beristirahat" Punta menggelengkan kepalanya. "Apakah kudaku masih ada?" tiba-tiba ia bertanya. "Jangan pikirkan tentang kuda. Kau harus beristirahat sebaik-baiknya" Lamat tidak menyahut lagi. Tetapi bayangan-bayangan yang mengerikan kembali mengganggunya. Namun titik-t itik air jeruk membuatnya agak tenang sehingga ia masih berhasil menguasai kegelisahan di dadanya. Kini bayangan-bayangan yang bermain di hadapannya adalah kenangan-kenangan masa yang agak jauh berlalu. Ketika tanpa sesadarnya ia sekali lagi melihat ayah Manguri yang duduk merenungi anaknya. Hampir tidak ada seorangpun yang menghiraukan anak yang pingsan itu. Yang dilihatnya hanyalah beberapa orang pengawal dengan senjata telanjang berdiri di depan pintu. Dua orang yang lain berdiri di sudut ruangan. Lamat mengerti benar, bahwa para pengawal itu sedang mengawasi Manguri dan ayahnya yang kini merupakan tawanan. Tetapi Lamat tidak melihat istri ayah Manguri yang muda berada diantara mereka. Namun demikian Lamat tidak bermaksud untuk menanyakannya. Dalam pada itu, isteri ayah Manguri yang muda itu masih berada di halaman rumahnya. Ia tidak menghiraukan sama sekali orang-orang yang sedang sibuk membersihkan halamannya itu. Mengangkat orang-orang yang terluka dan bahkan beberapa sosok mayat, ia tidak menghiraukan beberapa orang laki-laki yang hilir mudik dengan wajah yang tegang sambil menjinjing senjata. Perempuan itu berdiri tegak merenungi abu yang berserakan, yang masih mengepulkan asap yang kehitamhitaman. "Rumahku, rumahku" ia berdesis perlahan sekali "perhiasan yang aku kumpulkan sedikit demi sedikit sekarang telah musnah" Perempuan itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun tiba-tiba terdengar ia tertawa kecil. Kini ditatapnya seonggok abu yang masih panas itu. "He, itulah peti simpananku. Kenapa baru sekarang aku melihatnya. O, masih utuh. Sepuluh laki-laki yang sudah berhasil aku hisap uangnya, kekayaannya dan bahwa semua miliknya. Dan aku berhasil menyimpan seonggok permata" suara tertawanya menjadi semakin keras. Beberapa orang memandanginya dengan heran. Seorang perempuan tua telah memaksa dirinya untuk mendekatinya "Apakah yang kau cari?" "O, kau?" perempuan itu mengerutkan keningnya "kau akan merampas milikku?" "Tidak. Tentu tidak. Tetapi, sadarilah apa yang sudah terjadi" "Apa yang terjadi? Aku menyimpan simpananku sendiri. Apa salahnya. Dan kau tidak usah mempedulikan darimana aku mendapatkannya. Adalah salah laki-laki yang bersedia aku hisap darahnya sampai kering. Adalah salah mereka, bahwa mereka mau membeli belaian tanganku dengan seluruh kekayaannya. Apakah kau iri ya? Kau termasuk salah seorang dari mereka yang ingin mengusir aku dari sini. Dari rumahku yang aku buat sendiri diatas tanah milikku" "Tidak. Tidak. Aku tidak akan beriri hati. Tidak pula akan mengusirmu. Tetapi sadarilah dirimu" "Apa yang harus aku sadari? Maksudmu agar aku tidak menerima laki-laki lagi di rumahku ini selain suamiku yang hanya datang tiga bulan atau empat bulan sekali itu? Begitu?" Perempuan tua itu menjadi bingung. Dan ia hampir memekik ketika ia melihat isteri muda ayah Manguri itu tibatiba saja berlari terjun ke dalam onggokan abu yang masih panas. Tetapi yang sama sekali tidak dihiraukannya. Dan ia hanya dapat mengusap dadanya ketika ia melihat perempuan itu kemudian menjatuhkan dirinya, berlutut di dalam onggokan abu itu. Sambil mengaduk abu yang hangat itu ia tertawa berderai. Katanya "Semuanya sudah aku ketemukan kembali. Inilah perhiasanku yang tidak ternilai harganya. Aku akan menjadi semakin kaya. Perhiasan perempuan gila itu akan menjadi milikku juga. Perempuan gila itu" Semua orang yang ada di halaman itupun tertegun karenanya. Mereka memandang perempuan yang kemudian menjadi seakan-akan disaput dengan abu yang kotor pada seluruh tubuhnya itu sambil menarik nafas dalam-dalam. Dan perempuan itu tiba-tiba ia berdiri dan memandang berkeliling. Ketika tampak olehnya beberapa orang laki-laki yang seolaholah membeku di sekeliling bekas rumahnya, ia tertawa berkepanjangan "He, kau akan singgah ke rumah ini pula? Kau, kau, kau juga. Jangan bersama-sama. Aku tidak akan pergi. Datanglah berganti-ganti. Suamiku tidak akan mengetahuinya. Kemarilah. Kemarilah" Dan suara tertawanya menggelepar seperti tingkah perempuan itu. Di kejauhan terdengar seseorang berbisik kepada kawan yang berdiri di sampingnya "Ia menjadi gila. Semua kekayaan yang dikumpulkannya dengan jalan yang sesat itu agaknya telah ikut terbakar di dalamrumah itu" "Kasihan. Ternyata perempuan itulah yang menjadi gila. Bukan perempuan yang dikatakannya gila dan ternyata adalah Nyai Demang di Kepandak" "Agaknya ia telah kena kutuk" Dan dalam pada itu suara tertawanya masih saja berkepanjangan. Ketika beberapa orang mencoba mengajaknya meninggalkan onggokan abu yang masih panas itu ia justru mengumpat-umpat dengan kata-kata yang paling kotor yang pernah didengar oleh telinga. Akhirnya orang-orang itupun terpaksa membiarkannya berbuat sesuka hatinya di dalam ketidak-sadarannya. Kejutan perasaan itu ternyata tidak tertanggungkan lagi, sehingga ia telah berubah ingatan dengan tiba-tiba. Dalam pada itu, ketika seorang laki-laki memberitahukannya kepada ayah Manguri, laki-laki itu berkala dengan nada suara yang rendah dan datar "Aku tidak memerlukannya lagi. Aku sudah tidak memerlukan apa-apa" "Perempuan itu menjadi gila" Ayah Manguri mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu kemudian tertunduk kembali. Desisya "Dosaku memang sudah bertumpuk sampai menyentuh langit. Kini aku harus menanggung segala dosaku" perlahan-lahan kepalanya digelengkannya "mungkin besok atau lusa, aku akan dihukum gantung bersama anakku yang seorang ini" ia berhenti sejenak, lalu "mudah-mudahan anak itu selamat" katanya kemudian sambil berpaling kepada Lamat. Laki-laki yang memberitahukan tentang perempuan yang gila itu tidak mengerti maksudnya. Orang-orang yang mendengarpun tidak mengerti pula. Tetapi mereka menyadari, bahwa laki-laki itu bersama anaknya yang terluka adalah tawanan yang harus mempertanggung jawabkan semua kesalahannya. Tidak saja kepada Ki Demang di Prambanan, tetapi juga kepada Ki Demang di Kepandak. Karena itu, maka ditinggalkannya ayah Manguri itu di dalam kemuramannya. Dalam pada itu, Ki Reksatani memacu kudanya seperti dikejar hantu. Ia tidak mau lagi mengenangkan apa yang terjadi di Sembojan. Ia juga tidak mau lagi memikirkan, apakah yang akan terjadi kemudian dengan Kepandak. Yang kini tersangkut di kepalanya adalah rencananya untuk mengejar Pamot yang telah melarikan Sindangsari. Namun Ki Reksatani menjadi ragu-ragu sejenak. Tidak hanya ada satu jalan yang akan sampai ke Kademangan Kepandak. Ada jalan induk yang sudah agak baik melintasi hutan Tambakbaya. Ada jalan yang melintas di sebelah Utara. Tetapi ada juga jalan yang menerobos daerah rawa-rawa di sebelah Selatan. Semuanya akan sampai ke daerah pinggir kota Mataram yang kemudian dihubungkan dengan jalan-jalan yang melintang, sampai kepadukuhan-padukuhan di daerah Kademangan Kepandak, agak jauh di sebelah Selatan pusat pemerintahan Mataram. "Persetan, jalan mana yang akan diambilnya" geram Ki Reksatani "Aku harus sampai ke Kepandak secepat-cepatnya. Apakah aku dapat menemukannya di sepanjang jalan, atau aku harus mengambilnya lagi dengan paksa, di halaman Kademangan sekalipun, aku tidak akan mundur. Semuanya sudah terjadi, dan aku tidak akan dapat menarik diri lagi. Aku harus menengadahkan dadaku untuk menghadapi setiap kemungkinan" Dengan demikian maka Ki Reksatani tidak menghiraukannya lagi, apakah ia mengambil jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh oleh Pamot. Tetapi agaknya Ki Reksatani tidak ingin juga terganggu di sepanjang jalan. Kalau ia melalui jalan induk yang sampai langsung ke kota, maka akan timbul kecurigaan pada orangorang yang melihatnya. Kalau ia bertemu dengan peronda dari Mataram maka peronda itu pasti akan menegurnya dan bahkan mungkin menghentikannya disertai oleh beberapa pertanyaan yang menjemukan. Karena itu, maka Ki Reksatani memutuskan untuk mengambil jalan lain. Justru tanpa disengaja, ia mengambil jalan Selatan. Demikianlah maka iring-iringan kecil itu berpacu semakin lama semakin cepat. Matahari yang semakin tinggi bagaikan cambuk yang memaksa mereka untuk mempercepat perjalanan yang menegangkan itu. Setelah kuda mereka mengitari gerumbul-gerumbul perdu dan menusup ke dalam hutan yang rindang maka sampailah mereka kesebuah padang rumput yang sempit. Kemudian mereka akan sampai pula kegerumbul-gerumbul perdu yang agak lebat dan sejenak kemudian mereka akan melingkari rawa-rawa. Jalan yang mereka lalui memang jalan yang sempit. Namun karena jalan itu sering dilalui juga oleh rombonganrombongan pedagang yang beriring-iringan, maka kuda mereka masih juga dapat berpacu. Namun tiba-tiba mata Ki Reksatani yang tajam melihat sesuatu yang tersangkut pada sebatang ilalang di pinggir jalan sempit itu. Dengan tergesa-gesa menarik kekang kudanya sehingga kudanyapun berhenti dengan t iba-tiba. "Apakah menurut dugaanmu?" bertanya Ki Reksatani sambil memungut benda itu. Para pengiringnya yang ikut berhenti juga berdiri mengelilinginya sambil mengamat-amati benda itu. Dan tibatiba saja salah seorang dari mereka berkata Sepotong kain lurik. Lihat bekas terbakar itu masih jelas" "Pakaian barangkali. Sepotong sobekan pakaian" berkata yang lain. Pakaian siapa? suara Ki Reksatani menjadi parau, beberapa orang saling berpandangan. Tetapi tidak ada seorangpun yang segera menjawab, meskipun yang tergembul di dalam hati mereka masing-masing hampir bersamaan. Dan karena tidak ada seorang yang menjawab, maka Ki Reksatanipun berkata "Aku menduga bahwa pakaian ini memang pakaian yang baru saja tersentuh api" Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak mereka termenung ketika Ki Reksatani t iba-tiba saja mengamat-amati tanah di sepanjang jalan sempit itu. "Pasti. Pakaian ini pasti pakaian Sindangsari. Lihat, jejak kaki kuda ini adalah jejak kaki kuda Pamot" "Ya" hampir berbareng beberapa orang menjawab. "Pamot pasti mengambil jalan ini pula. Kita secara kebetulan mengambil jalan yang sama" "Ya" Ki Reksatani tidak berkata sepatah katapun lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat ke punggung kudanya. Sebuah hentakan kendali dan sentuhan pada perut kuda itu, membuatnya melonjak dan kemudian lari sekencang-kencangnya. Para pengiringnyapun segera menyusul pula. Mereka seakan-akan sedang berpacu berebut dahulu. Demikianlah maka iring-iringan itupun melanjutkan perjalanan mereka. Debu yang putih berhamburan di belakang kaki-kaki kuda yang menjadi semakin lama semakin panas. "Apakah aku masih dapat mengejarnya" bertanya Ki Reksatani di dalam hatinya. Namun agaknya jarak sudah menjadi demikian jauh. Meskipun demikian Ki Reksatani masih terus berusaha. Dengan kecepatan penuh kudanya berlari-lari mengitari rawa diantara padang perdu. Di hadapan mereka kemudian terbentang sebuah hutan yang rindang, sebelum mereka akan memotong sebuah sudut hutan yang masih agak lebat. Dalam pada itu, Pamotpun masih juga berpacu diatas punggung kudanya. Tetapi kawannya yang berkuda di belakangnya hampir tidak sabar karenanya. Pamot semakin lama menjadi semakin lambat. Bahkan kadang-kadang kudanya hampir berhenti sama sekali. "Pamot " desis Sindangsari "tubuhku terasa sakit sekali" "Tahankanlah Sari. Kita akan segera sampai ke tujuan" "Perutku" "Bagaimana dengan perutmu?" Sindangsari selalu berdesis karena perutnya terasa sakit, selain bekas bekas luka bakarnya. Perjalanan itu adalah perjalanan yang terlampau berat bagi Sindangsari yang sedang mengandung. Goncangangoncangan derap kaki kudanya membuatnya semakin kesakitan dan mual sehingga perempuan itu tidak dapat menahan diri lagi, sehingga muntah-muntah. Kawan Pamot menarik nafas dalam-dalam. Ia yakin bahwa di belakangnya Ki Reksatani bersama beberapa orang sedang mengejarnya. Meskipun jarak mereka cukup panjang, tetapi apa bila perjalanan ini seakan-akan tidak juga sempat maju, maka Ki Reksatani pasti akan dapat mengejarnya dan membinasakannya di perjalanan sebelum mereka sempat sampai ke Kademangan. "Apakah Lamat mampu bertahan lebih lama lagi" desis anak muda yang mengawani Pamot itu. Tetapi ia tidak dapat memaksa Pamot untuk berpacu lebih cepat lagi. Apalagi ketika Sindangsari muntah-muntah karenanya. Kalau terjadi sesuatu dengan kandungan itu, maka akibatnya pasti akan sangat jauh bagi Ki Demang di Kepandak yang sedang merindukan seorang anak. "Meskipun demikian kalau mereka terkejar oleh Ki Reksatani, akibatnya akan lebih parah lagi" berkata anak muda itu di dalamhatinya. Bagaimanapun juga, anak muda itu tidak lagi dapat menahan hatinya untuk setiap kali memperingatkan Pamot bahwa di belakang mereka Ki Reksatani sedang mengejarnya. Mudah-mudahan Lamat dapat mengalahkannya" desis Pamot. "Kemungkinan yang kecil sekali" berkata kawannya "dan pikiran itu berbahaya bagimu sekarang, karena kau akan menjadi lengah" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada Sindangsari "Kita akan mempercepat perjalanan ini Sari" "Tubuhku dan perutku semakin sakit " "Tetapi, bahaya yang lebih besar agaknya akan mengejar kita. Bagaimana kalau Ki Reksatani berhasil menangkap kita dan membunuhnya sekali" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ditatapnya mata Pamot yang suramdan tampaknya menjadi cekung. "Tahankanlah sedikit" berkata Pamot pula. Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan kepalanya. Namun tanpa sesadarnya ia berpegangan lengan Pamot yang memegang kendali kudanya erat-erat. Bahkan perempuan itu tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di dada anak muda itu sambil berdesis "Aku takut. Aku takut Pamot" "Jangan takut. Kita akan berpacu terus. Sebentar lagi kau akan mendapat perlindungan Ki Demang di Kepandak" Kuda mereka masih berlari terus meskipun tidak begitu kencang. Dan Sindangsari berkata "Aku takut kepada Ki Demang di Kepandak" "Kenapa? Ki Demang pasti akan menyambutmu dengan senang hati. Selama ini ia mencarimu seperti seorang ayah yang kehilangan anak satu-satunya" "Tetapi, tetapi............" suaranya terputus. "Kenapa Sari?" "Ia pasti tidak ingin melihat aku datang bersamamu" "Kenapa? Ia adalah suamimu. Kau adalah isterinya yang mempunyai kelebihan dari isteri-isterinya yang lain. Kau akan memberinya anak. Sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh isteriisterinya yang lain" "Pamot..." suara Sindangsari menjadi parau. Seperti kanak-kanak ia membenamkan wajahnya di dada Pamot sehingga tangan Pamot yang memegang kendali agak terganggu karenanya. Sindangsari tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Air matanya tiba-tiba telah mengambang di pelupuk matanya. Sebelum Pamot sempat berkata lagi, kawannya telah mendekatinya sambil berdesis "Pamot, maaf bahwa setiap kali aku terpaksa memperingatkannmu untuk keselamatanmu dan Nyai Demang di Kepandak" "O, terima kasih" jawab Pamot. "Apakah kita dapat lebih cepat sedikit?" "Ya, ya. Kita akan lebih cepat lagi" "Aku yakin Ki Reksatani mengejar kita. Seandainya Lamat belum terkalahkan sekalipun, namun agaknya Ki Reksatani tidak akan melepaskan Nyai Demang" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada Sindangsari "Kita memang harus mempercepat perjalanan ini" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi ia berpegangan semakin erat, seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi. Pamot menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang bergelora. Kalau yang dibawanya kali ini Nyai Demang di Kepandak, tetapi bukan Sindangsari, mungkin ia masih berhasil mengatasi perasaannya. Tetapi kali ini perempuan yang diselamatkan itu adalah Sindangsari yang sudah menjadi suami Demang di Kepandak. Meskipun demikian, Pamot masih berusaha mempercepat derap kudanya. Sejenak mereka melintasi bulak yang agak panjang di bawah terik matahari yang terasa membakar tubuh. Agak jauh di belakang mereka, Ki Reksatani berpacu seperti angin. Semakin lama justru menjadi semakin cepat. Bagaimanapun juga masih terpercik di dalam hatinya, suatu harapan untuk menyusul pamot di perjalanan. Ia akan membunuhnya dan Nyai Demang sekaligus. Kemudian barulah ia akan menghadap Ki Demang di Kepandak. Ia tidak akan ingkar lagi, Ia akan menghadapi semua akibat dari perbuatannya. Tetapi kematian Sindangsari akan membuat Ki Demang kehilangan nafsu hidupnya karena hari depannya benar-benar telah patah. Adalah tidak akan begitu sulit lagi untuk mengalahkan orang yang sudah kehilangan keinginan untuk tetap hidup. Dengan demikian maka nafsunyapun semakin berkobar di dalam dadanya. Seakan-akan ia tidak sabar lagi duduk diatas punggung kuda yang dirasanya terlampau lamban. Jejak kaki kuda yang masih baru, yang kadang-kadang tampak diatas tanah pada jalan sempit itu membuat Ki Reksatani menjadi semakin geram. Tangannya sudah menjadi gatal. Ia ingin segera dapat mencekik Pamot dan Sindangsari bersama-sama. Jarak antara keduanya memang menjadi semakin pendek Pamot yang membawa Sindangsari tidak dapat berpacu secepat-cepatnya, sedang Ki Reksatani justru semakin mempercepat derap kudanya. Hampir sehari-harian mereka berpacu. Namun demikian, mereka terpaksa kadang-kadang juga berhenti di pinggir parit untuk memberi kesempatan kuda mereka melepaskan hausnya. Bagaimanapun juga nafsu melonjak di dada Ki Reksatani, tetapi ia tidak dapat memaksa kuda itu berlari tanpa berhenti. Apabila mulut kudanya mulai berbusa, maka terpaksa iapun berhenti sejenak untuk mendapatkan air. Demikianlah maka laju kuda-kuda mereka semakin lamapun memang semakin lambat pula, karena kuda-kuda mereka menjadi lelah. Ki Reksatani tidak dapat lagi memaksa kudanya untuk berpacu lebih cepat lagi. Apalagi Pamot. Namun demikian jarak diantara mereka masih tetap menjadi semakin pendek, karena bagaimanapun juga, derap kuda Ki Reksatani masih tetap lebih cepat dari kuda Pamot. Apalagi Sindangsari hampir-hampir t idak tahan lagi duduk sehari-harian diatas punggung kuda meskipun ia menyadari keadaannya. Seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit. Bukan saja karena luka-luka bakar, tetapi juga karena perutnya dan pegal-pegal di punggung. "Kau harus dapat bertahan Sindangsari. Sebentar lagi kita akan sampai" Ketika Pamot berpacu lewat tanah persawahan di padukuhan padukuhan kecil yang dilampauinya, seperti yang telah diduga, beberapa orang menjadi heran melihat mereka. Tetapi karena Sindangsari memakai ikat kepala dan pakaian yang tidak keruan, setiap orang memang menyangka, bahwa ia adalah seorang laki-laki. Demikian pula anak muda yang berkuda di belakang mereka. Tanpa kain panjang dan ikat kepala ia juga menarik perhatian. Tetapi setelah mereka lewat, tidak ada lagi orang yang menghiraukan. Mereka menyangka, bahwa orang-orang berkuda itu adalah anak-anak muda yang senang dengan tindak tanduk yang aneh-aneh tanpa menghiraukan tata kesopanan. Tetapi belum lagi mereka selesai mengerjakan sekotak sawah mereka melihat beberapa ekor kuda berpacu pula. Bahkan beberapa orang telah mengenal, bahwa orang yang berkuda paling depan adalah Ki Reksatani. "He, bukankah orang itu adik Demang di Kepandak?" "Ya" sahut kawannya "Tampaknya agak aneh. Wajahnya tegang dan pakaiannya demikian kusutnya. "Ia pasti sedang mencari isteri kakaknya yang hilang" "Ya, aku juga mendengar. Isteri Demang di Kepandak telah hilang" "He" berkata yang lain "apakah ia sedang mengejar orang aneh yang berkuda beberapa saat sebelum ini" Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Salah seorang menyahut "Ya, aku juga melihat tiga orang yang mempergunakan dua ekor kuda" "Ya. Belum terlampau lama" "Sebentar lagi Ki Reksatani pasti akan menyusul kalau mereka t idak berselisih jalan" Sebenarnyalah bahwa jarak mereka memang semakin pendek. Beberapa bulak kecil lagi, Ki Reksatani pasti sudah dapat menyusul Pamot, sebelum matahari terlampau rendah. Tetapi Pamotpun sudah menjadi semakin dekat dengan Kademangan Kepandak. Setelah mereka melampaui sudut hutan yang agak lebat, maka jalan yang terbentang di hadapannya adalah jalan yang lapang. Jalan yang semakin luas dan terpelihara. Dengan dada yang berdebar-debar Pamot menyeberang sebuah bulak yang cukup panjang. Jauh di hadapannya terbentang tanah persawahan Kademangan tetangga. Di ujung bulak itu ia harus berbelok kekiri, kemudian ia akan sampai ditelatah Kademangan meskipun baru ujungnya. Matahari sudah menjadi semakin rendah, dan kuda-kuda yang berpacu itupun menjadi semakin lelah. Sekali-sekali Pamot mengusap peluh yang membasah di keningnya. Iapun sudah mulai merasa lelah. Tetapi ia t idak boleh berhenti. Seolah-olah ia memang mendapat firasat, bahwa di belakangnya Ki Reksatani berpacu semakin cepat. Tepat ketika Pamot dan kawannya berbelok memasuki sebuah padukuhan kecil setelah mereka mencapai ujung bulak Ki Reksatani muncul di ujung bulak itu pula. Tetapi ia t idak lagi sempat melihat anak-anak muda yang sedang dikejarnya. Yang mereka lihat hanyalah selapis debu yang putih. Tetapi mereka tidak tahu, apakah yang telah melemparkan debu itu ke udara. Demikianlah, maka sejenak kemudian Pamot telah memasuki jalan-jalan di telatah Kademangan Kepandak. Adalah di luar kemauannya sendiri, apabila kudanya berlari semakin cepat seakan-akan kuda itupun mengerti, bahwa bahaya yang mengejarnya menjadi semakin dekat pula. Anak muda yang mengikuti Pamot itupun segera mendekatinya sambil berbisik "Kita sudah menjadi semakin dekat. Tetapi kita masih belum lepas sama sekali dari setiap bahaya yang sedang mengejar kita. Karena itu, supaya kita tidak kehilangan arti dari usaha kita, kita justru harus mempercepat perjalanan ini. Jangan melalui jalan-jalan di tengah-tengah bulak. Kita harus berusaha menembus jalan yang paling dekat ke Kademangan" Pamot menganggukkan kepalanya, Kepada Sindangsari ia berkata "Tinggal selangkah lagi. Tahankan dirimu" Tetapi setiap kali Pamot mendengar Sindangsari berdesis, sehingga kadang-kadang tanpa disadarinya perhatiannya lebih banyak tertuju kepada Sindangsari daripada kepada perjalanannya yang gawat itu. Namun demikian, kudanya masih berlari terus, melintas jalan-jalan padukuhan yang sempit. Beberapa orang yang mendengar derap kaki-kaki kuda itu menjengukkan kepala mereka dari pintu regol. Mereka melihat dua ekor kuda yang berjalan beriringan. Ketika kuda itu lewat di depan hidungnya, ia berdesis "Pamot. Bukankah orang berkuda itu Pamot?" Namun ternyata ia tidak segera mengenal Sindangsari yang memakai ikat kepala. Mereka memang melihat wajah yang pucat. Tetapi wajah itu seperti wajah seorang laki-laki yang baru menjelang dewasa. Tetapi orang itu tidak sempat bertanya. Pamot mencoba untuk mempercepat langkah kudanya diiringi oleh temannya yang gelisah. Orang yang berdiri di pintu regol itu hanya menggelenggelengkan kepalanya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu sehingga kuda-kuda itu hilang dari tatapan matanya. Namun tiba-tiba ia terkejut karena ia mendengar derap kaki kuda berikutnya. Sejenak kemudian ia melihat beberapa orang yang juga berpacu diatas punggung kuda. "Ki Reksatani" desisnya. Tetapi seperti Pamot, Ki Reksatanipun tidak menghiraukan orang-orang yang berdiri termangu-mangu di sepanjang jalan yang dilaluinya. Yang terbayang diangan-angannya hanyalah Pamot yang membawa Sindangsari berpacu beberapa puluh langkah di hadapannya. Bagaimanapun juga Pamot berusaha, namun pada suatu saat ia tidak dapat menghindari lagi jalan persawahan. Ia sudah sampai di padukuhan terakhir sebelum ia mencapai induk Kademangan. Tetapi ia harus melintas sebuah bulak yang meskipun tidak begitu panjang tetapi cukup mendebarkan. "Apakah kita akan terus" bertanya Pamot kepada kawannya. "Segera kita harus melintas secepat-cepat dapat kita lakukan" Pamot mencoba melecut kudanya dengan ujung kendali. Tetapi kudanya seakan-akan tidak terpengaruh lagi. Agaknya kuda itu benar-benar telah lelah, meskipun ada juga usahanya untuk mempercepat derap kakinya. Sejanak kemudian mereka telah memasuki sebuah bulak yang melintas di tengah-tengah tanah persawahan. Sebelah menyebelah terbentang lautan batang batang padi muda yang menghijau kemerah-merahan ditaburi oleh cahaya matahari yang sudah menjadi semakin rendah: Perlahan-lahan angin dari Selatan mengusap ujung daun-daunnya yang tipis, membuat susunan gelombang yang susul menyusul. Dengan dada yang berdebar-debar ketiga orang itu melintas bulak tersebut. Sekali-sekali mereka berpaling, seakan-akan sudah terasa dipunggung mereka sentuhan jarijari tangan Ki Reksatani yang menyusulnya. Namun ketika mereka baru lepas melampaui tengah-tengah bulak itu, kawan Pamot hampir terpekik karenanya. Ketika ia berpaling ia telah benar-benar melihat iring-iringan orang berkuda yang mengejarnya. "Pamot " desisnya "lihat, siapakah orang yang mengejar kita itu?" Pamot berpaling. Dadanyapun berdesir tajam ketika ia melihat debu yang mengepul dari kaki-kaki kuda yang sedang berpacu. "Ki Reksatani" desisnya. "Ya, ia benar-benar mengejar kita" "Jadi, kita akan ditangkapnya?" Pamot tidak menyahut. Tetapi sindangsari yang ketakutan tiba-tiba saja telah memeluknya erat-erat. "Aku takut. Aku takut Pamot " Pamot tidak menjawab. Kini ia benar-benar berada dalam kesulitan. Kalau Ki Reksatani berhasil menyusulnya maka akibatnya dapat dibayangkannya. Karena itu, satu-satunya usahanya adalah mempercepat lari kudanya. Adapun yang akan terjadi, biarlah terjadi di hadapan KI Demang di Kepandak. Seandainya ia harus dibunuh oleh Ki Reksatani sekalipun. Dengan demikian, sekuat tenaganya ia melecut kaki kudanya. Kemudian menyentuh perut kuda itu dengan tumitnya sehingga kuda yang terkejut itu meloncat semakin cepat. Setiap kali Pamot berpaling, maka dilihatnya kuda Ki Reksatani semakin dekat di belakangnya. Bahkan Ki Reksatani yang sudah melihatnya pula mengacung-acungkan tangannya sambil berteriak-teriak. "Apakah umurku sudah sampai batasnya?" bertanya Pamot kepada diri sendiri. Tetapi Pamot masih berusaha terus. Kudanyapun agaknya mengerti bahwa ia harus berlari semakin cepat. Akhirnya Pamot berhasil melintas seluruh bulak. Tetapi ia tidak segera masuk ke halaman rumah Ki Demang. Ia masih harus berpacu melingkar-lingkar di padukuhan induk itu, barulah ia akan sampai ke halaman Kademangan. Pamot tidak mengerti, apa yang akan dilakukan oleh kawannya yang agaknya masih sempat berpacu mendahuluinya. Kudanya tidak selelah kuda Pamot yang dibebani oleh dua orang sekaligus. "Apa yang akan dilakukan?" pertanyaan itu telah mengganggunya. Ternyata kawan Pamot mendahului mencapai gardu di tikungan. Dengan serta merta ia meloncat turun di depan gardu yang masih kosong itu. Diambilnya selarak jalan yang biasa dipasang di malam hari. Sebuah bambu panjang, sepanjang lebar jalan itu. "Cepat Pamot cepat "serunya. Pamot agaknya mengerti maksud kawannya. Karena itu iapun mempercepat sejauh dapat dilakukan. Sejenak kemudian Pamotpun telah melampaui gardu yang kosong itu. Ketika ia berpaling dilihatnya kawannya sibuk memasang selarak seperti apabila ada sesuatu yang penting di malamhari. Tetapi agaknya kawan Pamot tidak sekedar memasang selarak itu saja. Ia tahu, bahwa orang-orang Ki Reksatanipun akan dengan mudahnya membuka selarak itu, meskipun mereka harus berhenti sekejap. Tetapi kawan Pamot itu memanjat sudut gardu itu dan mengambil kentongan kecil yang tergantung di ujung emper. Ketika ia meloncat turun, maka dilihatnya di tikungan beberapa ekor kuda berpacu dengan cepatnya menuju ke arahnya. Dada anak muda itu berdesir. Tetapi ia tidak boleh menyerah. Dengan tergesa-gesa ia berlari dan meloncat kepunggung kudanya sambil membawa kentungan itu. Sejenak kemudian kudanya sudah berpacu meninggalkan gardu itu tepat di saat Ki Reksatani berteriak "Lepaskan selarak itu. Cepat" Seseorang meloncat turun dari kudanya. Tetapi ketika tangannya mulai menyentuh selarak itu, ternyata anak muda yang berpacu sambil membawa kentongan itu telah memukul tanda bahaya. Sambil menyelusuri jalan padukuhan, bergemalah kentongannya dalam nada titir yang berkepanjangan. Karena orang yang akan membuka selarak itu menjadi ragu-ragu, Ki Reksatani telah berteriak "Cepat, apakah kau menjadi gila?" "O" orang itu tergagap. Dengan serta merta tangannya menarik selarak dan melemparkannya ketepi. Namun waktu yang sekejap itu agaknya telah membuat Ki Reksatani menjadi bimbang. Ternyata seseorang yang duduk di pintu rumahnya terkejut mendengar suara kentongan dalam nada yang mencemaskan. Tanpa berpikir panjang, iapun segera berlari ke sudut rumahnya dan memukul tanda yang serupa. Demikianlah maka tanda itu telah merambat dari kentongan yang satu kekentongan yang lain. Bukan saja kentongan di gardu-gardu tetapi juga kentongan di sudutsudut rumah. Bahkan seorang yang memiliki kentongan bongkotan glugu telah memukulnya pula sehingga suaranya bergema di seluruh padukuhan. "Gila" desis Ki Reksatani yang ragu-ragu. Ia mengerti, bahwa ia memerlukan waktu untuk mencapai Kademangan. Waktu yang sejenak selama ia membuka selarak, telah memberikan kesempatan kepada Pamot memperpanjang jarak daripadanya. Apalagi kini didengarnya suara kentongan dalam nada yang mencemaskan. "Beberapa orang akan sempat berkumpul di halaman Kademangan Kepandak" desis Ki Reksatani "aku tidak mau mati seperti harimau di dalam rampogan. Aku harus datang dalam kesiagaan menghadapi para pengawal dan kakang Demang di Kepandak" Para pengiringnya menjadi termangu-mangu. "Aku tidak akan segera pergi ke Kademangan sekarang. Aku akan mempersiapkan orang-orangku supaya aku tidak perlu mengulanginya. Pergilah kalian memanggil kawan-kawan kita yang masih ada di rumah. Panggilah mereka yang menunggu di pondokan-pondokannya" lalu kepada pengikut Manguri yang ada diantara mereka ia berkata "Kalian juga. Panggillah orang-orangmu. Pengawal-pengawal ternak yang ada. Kita sudah sampai pada batas terakhir untuk bertindak. Kalau kita terlambat, kita semua akan binasa. Sekarang kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita harus segera menguasai keadaan. Kita harus menguasai para bebahu dan anak-anak ingusan yang menyebut dirinya pengawal-pengawal Kademangan" Sejenak mereka termangu-mangu. "Kalian tidak usah menunggu Manguri yang terluka. Kalau kita berhasil, ia akan dapat kita selamatkan. Tetapi kalau kita mati dicincang orang disini, Manguri dan ayahnyapun akan mengalami nasib serupa" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu "Cepat. Semuanya kita lakukan sekarang. Aku menunggu di ujung desa ini" Sejenak kemudian, maka berpencaranlah kuda-kuda itu menuju ke arah masing-masing. Dua orang tinggal bersamasama Ki Reksatani. Merekapun kemudian menunggu di ujung desa dengan gelisahnya. Ternyata perhitungan Ki Reksatani tidak salah. Kentongan dalam nada titir itu telah mengejutkan setiap orang. Beberapa orang anak muda segera menyambar senjata masing-masing dan berlari-larian ke halaman Kademangan. Para bebahu dan laki-laki di sekitar rumah Ki Demangpun segera bersiaga. Ki Jagabaya yang ada di Kademanganpun terkejut pula. Karena ia belum mengerti apa yang sudah terjadi, maka iapun tidak segera dapat menjawab beberapa pertanyaan para pengawal. "Apa yang terjadi Ki Jagabaya?" Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. "Aku belum tahu" katanya "tenanglah. Sebentar lagi pasti akan ada laporan" Anak-anak muda yang sudah berada di halaman kademangan menjadi gelisah. Sementara anak-anak muda yang lain masih berlari-larian menuju ke halaman Ki Demang di Kepandak. Ki Demang di Kepandak sendiripun menjadi gelisah mendengar suara kentongan itu. Setelah menyisipkan senjatanya di pinggangnya, iapun kemudian menuruni tangga pendapa rumahnya, Hatinya yang selama ini sedang resah karena hilang nya Nyai Demang, kini serasa menjadi semakin bergejolak mendengar tanda bahaya yang sudah bergema di seluruh Padukuhan induk. Dan bahkan sudah merayapi ke padukuhan-padukuhan lain. Beberapa orang yang berlari-larian keluar dari regol masing-masing, tiba-tiba terkejut oleh derap kuda yang berlari dengan kencangnya. Dua ekor kuda. Yang di depan membawa dua orang sekaligus sedang yang di belakang seorang anak muda dalam pakaian yang tidak lengap berpacu sambil memukul kentongan. "Apakah mereka sedang saling berkejaran?" bertanya salah seorang. "Entahlah. Mereka menuju ke halaman Ki Demang" "Kita akan pergi ke Kademangan pula" Orang-orang itupun kemudian berlari-larian mengikuti arah kuda yang berderap di jalan padukuhan itu. Kademangan Kepandak yang gelisah itu tiba-tiba menjadi semakin hiruk pikuk. Kuda berlari-larian ke segenap arah. Suara titir yang mengumandang di seluruh kademangan. Anak-anak muda yang dengan tergesa-gesa berkumpul di Kademangan dengan senjata di tangan. Dalam pada itu Ki Reksatanipun menjadi gelisah pula. Hampir-hampir ia tidak bersabar lagi menunggu orangorangnya. Tetapi karena jaraknya yang cukup jauh, maka ia terpaksa menunggu dengan dada yang bergejolak. Tetapi Ki Reksatani yakin, bahwa Ki Demang di Kepandak tidak akan mencarinya ke ujung padukuhan. seandainya ia menyadari apa yang akan terjadi, ia akan bertahan di halaman Kademangan bersama para bebahu dan anak-anak muda yang disebut pengawal Kademangan. Ketika Ki Reksatani mengangkat wajahnya, dilihatnya langit sudah menjadi semakin merah. Matahari perlahan-lahan telah tenggelam di ujung Barat, meninggalkan sisa-sisa sinarnya yang tersangkut di bibir awan. Perlahan-lahan senja yang suram menjadi semakin kelam, seperti hati setiap orang di Kademangan Kepandak. Belum ada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti, apa yang sudah terjadi. Dalam pada itu, dua ekor kuda perlahan-lahan mendekati regol Kademangan yang menjadi semakin penuh dengan para pengawal di sana-sini anak-anak muda tampak bersiaga. "Aku takut kakang" tiba-tiba Sindangsari berdesis dengan suara yang gemetar. Pamotpun menjadi ragu-ragu karenanya. Sejenak mereka berhenti. Tetapi kawannya mendekatinya sambil berkata "Kita harus menyampaikannya kepada Ki Demang sebelum Ki Reksatani datang mendahului kita" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanyapun bergolak pula. Sekali-sekali iapun berpaling, tetapi ia tidak segera melihat Ki Reksatani menyusulnya. "Mungkin Ki Reksatani mempergunakan cara lain setelah ia mendengar t itir" berkata kawan Pamot. "Baiklah" desis Pamot. "Tetapi aku takut" sekali lagi Sindangsari berbisik. "Jangan takut Sari. Kau akan kembali kepada suamimu. Kau akan segera mendapat perlindungannya" "Tetapi" suara Sindangsari terputus. "Marilah" Terasa di tangan Pamot tubuh Sindangsari menjadi gemetar. Tetapi sebelum Pamot berkata lebih lanjut, beberapa orang yang melihatnya segera mendekatinya. Di dalam kesuraman senja orang-orang itu tidak segera mengenal, siapakah yang berada dipunggung kuda itu. Tiba-tiba seorang anak muda berdesis "Kau Pamot" "Ya" "Tetapi siapakah yang kau bawa?" Pamot menarik nafas sekali lagi. Agaknya tidak mudah mengenal seseorang di keremangan senja, apalagi dalam pakaian yang aneh. "Siapa?" orang itu mendesak sambil mendekat. "Aku akan menghadap Ki Demang" desis Pamot. Tanpa menunggu jawaban, Pamotpun segera menggerakkan kendali kudanya dan maju mendekati regol halaman. Orang-orang yang mendekatinya sama sekali tidak menahannya. Mereka telah mengenal Pamot dengan baik. Tetapi mereka heran juga melihat seseorang yang aneh duduk dipunggung kudanya pula. Ketika Pamot telah lalu, merekapun segera mendekati kawan Pamot yang masih termangu-mangu diatas punggung kudanya. Salah seorang segera bertanya kepadanya "Kenapa kau sebenarnya? Apakah kau datang dari sawah langsung kemari? Apakah karena kau sedemikian tergesa-gesa, tidak sempat mengenakan kain dan ikat kepala bahkan berkuda?" Anak muda itupun menggelengkan kepalanya "Dengarlah apa yang akan dikatakan Pamot kepada Ki Demang di Kepandak" "Apa yang akan dikatakannya?" "Aku kurang tahu" Orang-orang itupun menjadi termangu-mangu. Kemudian mereka tergesa-gesa kembali ke halaman untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Pamot kepada Ki Demang di Kepandak. Ketika kuda Pamot sampai di regol, orang-orang yang berdiri di regolpun segera menyibak. Di dalam keremangan senja yang semakin gelap mereka melihat Pamot membawa seseorang yang agak aneh di pandangan mereka. Tetapi beberapa orang berbisik "He, kau kenal orang yang dibawa Pamot diatas punggung kudanya?" Yang ditanya hanya menggigit bibirnya. Meskipun demikian orang itu berdesis di dalam hatinya "Wajah itu mirip sekali dengan Nyai Demang di Kepandak" Pamot langsung memasuki halaman diatas punggung kudanya. Dengan dada yang berdebar-debar ia melihat dua buah bayangan yang kehitam-hitaman berdiri di bawah tangga pendapa. Semakin dekat, menjadi semakin jelas baginya, meskipun kegelapan mulai menyelubungi Kademangan Kepandak, bahwa dua orang itu adalah Ki Demang dan Ki Jagabaya. Pamot baru menghentikan kudanya ketika ia sudah berada beberapa langkah di hadapan Ki Demang di Kepandak. Iapun kemudian meloncat turun. "Aku yang datang menghadap Ki Demang" "Kau Pamot?" bertanya Ki Demang "kaukah yang menyebabkan seisi Kademangan menjadi gelisah karena tanda bahaya itu?" "Ya Ki Demang" "Kenapa?" Pamot tidak segera menjawab. Dipandanginya Nyai Demang yang masih duduk diatas punggung kudanya. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan menolongnya turun perlahan-lahan. "Aku takut" masih terdengar desis itu. Ternyata desis itu telah menghentakkan dada Ki Demang di Kepandak. Suara itu suara seorang perempuan. Karena itu, maka Ki Demangpun segera meloncat mendekati sambil bertanya "Siapa orang ini? Suaranya suara seorang perempuan, tetapi ia memakai ikat kepala. seperti laki-laki" Pamot menjadi berdebar-debar. Tetapi ia berkata "Ki Demang. Aku datang untuk menyerahkan Nyai Demang di Kepandak" "He?" suara Ki Demang di Kepandak terputus di kerongkongan. Pernyataan Pamot yang tiba-tiba itu benar   benar telah mengguncang isi dadanya. Justru karena itu sejenak ia membeku di tempatnya. Dalam kegelapan yang semakin hitam, Ki Demang memandang seorang perempuan yang berdiri termangu-mangu di sisi Pamot. Bahkan tanpa sesadarnya, Sindangsari itu masih juga berpegangan pada lengan Pamot. Perlahan-lahan Ki Demang di Kepandak dapat mengenal wajah itu. Wajah itu adalah wajah isterinya. Sindangsari yang sedang mengandung. Yang hilang selagi Kademangan disibukkan oleh peralatan untuk menyambut bulan ke tujuh dari kandungan Sindangsari itu. Namun tiba-tiba terkilas di kepala Ki Demang di Kepandak, apa yang sebenarnya dihadapi. Ketika ia memandang perut Sindangsari yang membesar, sesuatu kenyataan telah menyambar kepalanya, bahwa sebenarnya anak di dalam kandungan itu sama sekali bukan anaknya. Karena itu, sesuatu terasa melonjak di dadanya. Kemudian jantungnya yang berdentangan serasa tersentuh seonggok bara. Dengan serta-merta Ki Demang di Kepandak meloncat maju menangkap baju Pamot. Sambil mengguncangguncangnya Ki Demang berkata geram "Jadi, jadi benar kau yang menculiknya Pamot? Jadi kaulah yang telah membuat Kademangan Kepandak ini bagaikan neraka? Kenapa hal itu kau lakukan he, kenapa?" "Tidak, tidak Ki Demang. Bukan aku. Bukan aku" "Jangan ingkar. Jangan ingkar. Darimana kau dapatkan perempuan itu kalau memang bukan kau yang menyembunyikannya" "Tidak, tidak Ki Demang" tiba-tiba terdengar suara Sindangsari. "O, agaknya semuanya memang sudah diatur. Agaknya kalian memang telah bersepakat untuk melakukannya" "Tidak Ki Demang" "Jangan ingkar" tiba-tiba tangan Ki Demang telah menarik baju Pamot sehingga anak itu terdorong maju. "Tunggu Ki Demang" cegah Ki Jagabaya "sebaiknya kita bertanya kepadanya. Apakah yang akan dilakukan dan apakah yang telah dilakukan" "Aku tidak mempunyai waktu untuk berbicara dengan orang-orang semacam ini. Ia telah menghinaku. Ia menganggapku sama sekali bukan seorang laki-laki" lalu bertanya kepada Pamot "Pamot, apakah kau merasa bahwa kau seorang laki-laki yang tanpa tanding? Apakah kau sekarang ingin menantang aku dalamperang tanding?" "Tidak Ki Demang" suara Pamot gemetar, sedang Sindangsari seolah-olah telah kehilangan akal tanpa dapat berbuat sesuatu. Dalampada itu kawan Pamot segera maju mendekat sambil berkata "Aku adalah saksi dari semua yang telah terjadi KiDemang" Ki Demang di Kepandak mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah anak muda itu dengan tajamnya. Tetapi Ki Demang seolah-olah justru terbungkam. "Ki Demang" berkata anak muda itu "Pamot sama sekali tidak bersalah" Ki Demang memandangnya semakin tajam. "Aku menyertainya sejak ia meninggalkan Kepandak untuk mencari Nyai Demang" "Kau mencoba melindunginya?" "Sama sekali tidak. Tetapi sebaiknya Ki Demang mendengarkan keteranganku" Ki Demang di Kepandak menjadi ragu-ragu sejenak. Sedangkan anak muda itu menjadi gelisah. Apabila tiba-tiba saja Ki Reksatani datang dan segera memberikan keterangan dan kesaksian palsu, maka mungkin sekali Ki Demang akan lebih mempercayainya. "Cepat katakan, apa yang telah kau saksikan?" berkata Ki Demang sambil melepaskan baju Pamot yang dipegangnya. "Ki Demang" berkata anak muda itu "baik Pamot maupun Nyai Demang di Kepandak sama sekali tidak bersalah, Ki Demang dapat melihat, bahwa Nyai Demang berpakaian tidak sewajarnya karena pakaiannya sendiri sebagian telah terbakar" "Terbakar?" "Ya. Nyai Demang berusaha untuk membunuh diri dengan membakar bilik tempat ia disembunyikan" "Siapakah yang menyembunyikan? Siapa?!!" Ki Demang seakan-akan tidak sabar lagi menunggu jawab anak muda itu "jangan berbohong. Kalau kau berbohong karena kau dan Pamot serta Sindangsari telah bersepakat, maka kalian akan aku gantung bersama-sama" "Aku mempunyai saksi. Tidak hanya seorang atau dua orang. Tetapi seluruh isi padukuhan Sembojan dan Kali Mati. Bahkan seluruh Kademangan Prambanan karena Ki Jagabaya di Prambanan ikut serta menyelesaikan masalah ini" "Cepat, katakan apa yang kau lihat" Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam keremangan malam ia melihat bayangan para bebahu dan pengawal kademangan telah mengerumuninya. "Cepat" bentak Ki Demang di Kepandak. Sekilas dipandanginya Sindangsari yang kelelahan. Ia masih saja berdiri di tengah-tengah lingkaran orangorang Kepandak. Tetapi anak muda itu tidak berani mengatakan sesuatu tentang Nyai Demang itu. Karenai itu, maka anak muda itupun segera mulai berceritera, sejak mereka berangkat meninggalkan Gemulung di malam hari, sampai saat-saat terakhir mereka berada di Sembojan. Bagaimana mereka harus berkelahi melawan orang-orang Ki Reksatani dan Manguri dan bagaimana mereka melarikan diri dari Sembojan dikejar oleh Ki Reksatani dan orang-orangnya. "Kami hampir saja dapat ditangkapnya. Ki Reksatani berada beberapa puluh langkah di belakang kami" Keterangan anak muda itu bagaikan bunyi guruh yang meledak diatas kepala mereka. Terlebih-lebih Ki Demang di Kepandak. Beberapa kali anak muda itu menyebut nama adiknya, Reksatani. Beberapa kali Ki Demang berusaha meyakinkan pendengarannya, apakah benar nama itu yang diucapkan oleh anak muda itu. Ki Demang di Kepandak hampir-hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya sendiri, atas nama itu. Nama satu-satunya adiknya. Karena itu, maka untuk meyakinkan dirinya Ki Demang kemudian bertanya dengan suara gemetar "Kau sebut nama Reksatani?" "Ya. Ya Ki Demang. Ki Reksatani. Memang hampir t idak masuk akal. Tetapi aku tidak berbohong" Terasa dada Ki Demang seolah-olah akan meledak karenanya. Anak muda itu telah menceriterakan semuanya. Semuanya yang diketahui tentang Ki Reksatani Semua yang telah dilihatnya dan semua yang pernah didengarnya dari Pamot. Ki Jagabayapun bagaikan membeku di tempatnya mendengar keterangan anak muda itu. Seperti melihat peristiwa di dalam mimpi yang mengerikan. Tetapi beberapa kali ia mendengar nama itu nama Reksatani. Reksatani. Dan akhirnya Ki Jagabaya yakin bahwa yang dimaksud adalah Ki Reksatani satu-satunya adik Ki Demang di Kepandak. Dalam pada itu, Ki Demang di Kepandak masih berdiri membeku di tempatnya. Sejenak ia mencoba membayangkan apa yang sebenarnya telah terjadi itu. Selama ini ia tidak pernah menaruh kecurigaan apapun terhadap adiknya. Bahkan ia sudah pernah mengatakan kepada Ki Reksatani, bahwa apabila Nyai Demang di Kepandak tidak segera dapat diketemukan, ia akan meninggalkan Kademangan dan menyerahkan pimpinan Kademangan ini kepada adiknya itu. Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Satu-satu peristiwa-peristiwa yang paling pent ing di dalam hidupnya telah membayang. Satu-satu terbayang pula wajah-wajah isterinya yang terdahulu. Isteri-isterinya yang tidak pernah dapat memberikan seorang anak kepadanya Kini isterinya yang terakhir itu sudah mengandung. Kandungan inilah yang membuat adiknya menjadi gila. Setelah sekian lama ia berpengharapan, agar Ki Demang di Kepandak tidak mempunyai seorang anak, tiba-tiba harapan itu lenyap seperti asap tertiup angin Nyai Demang yang terakhir telah mengandung. "Inilah sebabnya?" ia bertanya kepada diri sendiri kenapa ia tidak berterus terang mengatakan bahwa ia menginginkan jabatan ini?" Tetapi apa yang sudah dilakukan oleh Ki Reksatani telah membuat hati Ki Demang menjadi panas. Seandainya benar keterangan itu, maka justru ia tidak akan dapat begitu saja menyerah. Dalam kegoncangan perasaan itu, Ki Demang bertanya dengan suara yang dalam "Dimana Reksatani sekarang?" "Kami tidak tahu Ki Demang. Hampir saja kami dapat disusulnya. Tetapi ketika kami memasuki padukuhan ini, agaknya Ki Reksatani tidak mengejar terus" Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Dipandanginya Pamot yang masih berdiri membeku di kegelapan malam. Kemudian ditatapnya Wajah isterinya yang ketakutan. Dada Ki Demang tiba-tiba berdesir. Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah yang sangat muda. Wajah Sindangsari yang memang sebaya untuk menjadi isteri Pamot. Keduanya seolah-olah memiliki kesamaan. Tatapan mata mereka, bibir mereka, lengkung alis dan sudut dagu. "Sindangsari memang pantas menjadi isterinya" tiba-tiba saja, tanpa disadarinya tumbuh suatu pengakuan di dalam hati "Kenapa aku dahulu mengambilnya?" Barulah kini Ki Demang menyadari, betapa pahit hidup Sindangsari selama ini. Sejak ia diperebutkan oleh Pamot dan Manguri yang hampir saja terjadi korban ketika gerombolan penjahat ikut campur pula di dalamnya. Dan belum lagi hati gadis itu menjadi tenang, datanglah dirinya sebagai Demang di Kepandak, tanpa menghiraukan perasan kedua anak-anak muda itu telah merampas kebahagiaan mereka dengan paksa. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa setelah Sindangsari di Kademangan. Ia lebih banyak berbuat sebagai seorang ayah terhadap anak gadisnya daripada seorang suami. Ketika ia mengetahui bahwa Sindangsari mengandung oleh tetesan darah Pamot, hampir saja ia membunuh perempuan itu. Namun akhirnya ia memanfaatkannya, karena ia sendiri memang t idak akan dapat memberinya. Tetapi kandungan itulah yang telah menyeret Sindangsari ke dalam bencana. Tiba-tiba Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Seakan-akan ia dihadapkan pada sebuah cermin yang menunjukkan cacat di wajah sendiri. Bencana yang mengejar Sindangsari dan Pamot selama ini adalah akibat dari perbuatannya. Akibat dari keserakahannya. Bahkan ia telah dengan sengaja menjerumuskan Pamot ke dalam tangan maut, dengan mengirimkannya ke Mataram. Tetapi anak itu masih tetap hidup. Kenangan tentang perjalanan hidup Ki Demang itu jelas terbayang di wajahnya. Satu-satu. Sehingga akhirnya ia mengambil suatu keputusan "Pamot. Bawalah Sindangsari masuk ke dalam. Aku akan menunggu Reksatani disini" lalu kepada Ki Jagabaya "perintahkan beberapa pengawal menjaga setiap pintu. Tidak mustahil Reksatani akan masuk lewat pintu butulan" Ki Jagabaya menganggukkan kepalanya. Bersamaan waktunya dengan langkah Pamot mengantar Nyai Demang di Kepandak masuk ke ruang dalam, maka Ki Jagabayapun telah menyebar orang-orang kesegenap sudut halaman Kademangan. Ki Demang di Kepandak sadar, bahwa rencana Ki Reksatani bukanlah rencana yang baru disusun kemarin. Rencana ini pasti sudah diperhitungkan masak-masak dengan Manguri dan keluarganya. Karena itu, maka Ki Demangpun sadar, bahwa seandainya Ki Reksatani akan datang nanti, ia pasti membawa beberapa orang kawan bersamanya. Ki Reksatani pasti sudah siap untuk bertempur beradu dada. Dan kini, adik satusatunya itu pasti sedang mengumpulkan orang-orangnya. Betapa pahitnya Ki Demang di Kepandak menyadari kenyataan itu. Tetapi semuanya sudah merayap sampai ke puncaknya sehingga t idak akan mungkin diulang kembali. Seperti Ki Demang di Kepandak, Ki Rekstanipun seakanakan melihat seluruh perjalanan hidupnya yang membayang. Sekilas terkenang masa kanak-kanaknya. Kakaknya memang seorang kakak yang baik. Yang selalu berusaha mengasuhnya dan menuntunnya dalam banyak hal. "Tidak" Ki Reksatani menggeram "ia sama sekali bukan seorang kakak yang baik. Ia adalah seorang yang serakah. Seorang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia sama sekali t idak memberikan apapun kepada Kademangan ini selain merampas perempuan-perempuan cantik untuk dijadikan isterinya" Sambil menunggu kawan-kawannya Ki Reksatani merekareka apa yang akan dikerjakan. Ia harus menguasai seluruh halaman Kademangan, memusnahkan orang-orang yang setia kepada Ki Demang di Kepandak. Jumlah itu tidak begitu banyak. Pengawal ingusan itu akan segera menjadi gentar melihat peperangan yang kalut. Mungkin satu dua orang yang telah ikut serta pergi ke Betawi akan dapat bertahan. Tetapi merekapun akan segera dihancurkan. Setelah Ki Demang di Kepandak dan para bebahu Kademangan dibunuhnya, tugasnya tidak akan seberat itu lagi. Apalagi Ki Reksatani yakin, bahwa tidak semua pengawal pergi ke Kademangan karena sebagian dari mereka pasti menjaga padukuhan mereka masing-masing. "Tidak ada orang yang dapat menghalangi lagi. Kakang Demang bukan orang yang tidak terkalahkan. Aku kira, aku akan dapat mengimbanginya" berkata Ki Reksatani di dalam hatinya. Sekilas terbayang wajah Lamat raksasa yang baginya mulai menjadi Uar. Sehingga dalam pada itu ia berkata kepada diri sendiri "Ternyata Lamat memang seorang pengkhianat. Agaknya ia pulalah yang telah membunuh laki-laki muda yang hampir saja dapat menerkam Nyai Demang di Kepandak. Pasti Lamat pulalah yang telah membunuhnya waktu itu" Demikianlah, maka satu-satu orang-orang Ki Reksatani mulai berdatangan. Ada juga diantara mereka orang-orang Manguri yang tidak banyak mengetahui persoalannya. Tetapi mereka sadar, bahwa merekapun sudah terlibat pula di dalam persoalan ini, sejak mereka harus berjaga-jaga ketika di Kademangan diadakan peralatan menyambut bulan katujuh kandungan Sindangsari. Dalam pada itu, seluruh Kademangan Kepandak menjadi panas, terbakar oleh kekisruhan yang menyeluruh. Ibu Sindangsari yang baru saja pulang ke Gemulungpun menjadi gemetar. Setiap peristiwa yang terjadi, selalu dihubungkannya dengan hilangnya anak perempuannya dari Kademangan. Akhirnya, ketika malam menjadi semakin gelap, baik orangorang Ki Reksatani, maupun orang-orang yang merasa berkewajiban melindungi Kademangan Kepandak telah siap di tempat masing-masing. Rasa-rasanya Ki Reksatani sudah tidak sabar lagi. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan yang sudah setengah dilakukannya itu. Semisal orang yang menyeberang sungai, ia sudah terlanjur menjadi basah kuyup, sehingga lebih baik terus daripada kembali dari tengah. Demikianlah, maka Ki Reksatani sejenak memandang orang-orangnya yang hampir semua berada di punggung kuda. Satu-satu dua diantara mereka terpaksa mempergunakan seekor kuda untuk dua orang. "Kita sudah sampai pada bagian terakhir dari perjuangan ini" berkata Ki Reksatani kepada anak buahnya "Aku sudah mencoba menempuh jalan yang paling baik, yang tidak akan menumbuhkan pertentangan yang luas, yang tidak akan mengambil korban terlampau banyak. Tetapi aku sudah gagal. Sekarang, mau t idak mau, senang tidak senang, kita akan menempuh jalan kekerasan. Tetapi pekerjaan ini bukan pekerjaan yang terlampau berat. Jumlah kita cukup banyak. Yang kita hadapipun hanyalah sekedar kambing-kambing yang lemah. Bukan serigala" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu "Aku sadar, bahwa setelah semuanya selesai, aku masih harus mempertanggung jawabkan perbuatan ini kepada pemimpin pemerintahan di Mataram. Mungkin mereka akan mengirimkan beberapa orang untuk melihat kenyataan yang telah terjadi disini. Tetapi itu akan dapat aku lakukan kelak dengan sempurna. Aku mempunyai bukt i-bukti kelemahan kakang Demang di Kepandak" Tidak ada yang menyahut. Orang-orang yang ada di hadapan Ki Reksatani hampir tidak mempedulikan apa yang terjadi. Hanya beberapa orang yang berhasil dibakar hatinya sajalah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang lain sama sekali t idak menghiraukannya. Yang penting bagi mereka, kalau mereka berhasil, maka mereka akan mendapat upah yang cukup. Ada diantara mereka yang mendapat kesanggupan untuk menjadi tetua padukuhan-padukuhan di telatah Kepandak. Ada yang akan mendapat uang tunai. Ada pula yang akan mendapat garapan sawah turun tumurun. Bahkan orang-orang Manguripun mengharapkan hadiah serupa itu pula. Meskipun barangkali bukan dari Manguri, tetapi dari Ki Reksatani. Apalagi dari kedua-duanya, karena kekalahan Ki Demang akan berarti menyelamatkan Manguri meskipun andaikata Sindangsari tidak tertolong lagi. Demikianlah, maka ketika mereka merasa sudah cukup kuat, Ki Reksatanipun segera berteriak "Kita akan berangkat. Kita akan mengepung halaman depan Kademangan. Ingat, hanya halaman depan. Tetapi satu dua orang yang telah aku tunjuk akan mengawasi halaman belakang seandainya Sindangsari berusaha dilarikan orang. Adalah wewenangnya untuk sekaligus menyelesaikannya. Juga atas Pamot dan orang-orang lain yang melindungi perempuan itu. Kita akan menghadapi bebahu Kademangan yang berjiwa kerdil itu serta anak-anak ingusan yang merasa dirinya pengawal-pengawal yang tidak terkalahkan. Kalau kita menang, aku akan melunasi semua janjiku. Tetapi kalau kita tidak berhasil, maka kita semuanya akan digantung di pinggir padukuhan induk ini untuk menjadi tontonan. Karena itu, selagi kita bertaruh nyawa, kita tidak usah terlampau baik hati atas lawan-lawan kita nanti" Tidak ada yang menyahut. Dan karena tidak ada sepatah katapun maka Ki Reksatanipun berteriak "Marilah kita berangkat. Aku percaya kepaa kalian" Sejenak kemudian maka kuda-kuda itupun sudah berderap. Mereka yang tidak mempunyai kuda segera bergayutan pada punggung kuda kawan-kawannya. Dalam pada itu, orang-orang di halaman Kademangan sudah menjadi gelisah. Setelah memerintahkan para penawal berjaga-jaga di segenap sudut, Ki Jababayapun kembali, pula ke halaman. Sambil termangu-mangu ia berdiri di belakang Ki Demang di Kepandak. Di sisinya Pamotpun berdiri tegak seperti patung. Ditinggalkannya Sindangsari di dalam biliknya, yang setiap pintu telah dijaga oleh para pengawal. Bukan saja di luar rumah, tetapi juga di dalamrumah. "Mereka belumjuga datang" akhirnya Ki Jagabaya berdesis. Ki Demang t idak menyahut. "Apakah kita akan menunggu sampai kapanpun?" bertanya Ki Jagabaya kemudian "atau pada saatnya kita akan pergi ke rumahnya dan menangkapnya hidup atau mati?" "Ia pasti akan datang" geram Ki Demang "Aku yakin. Dan aku akan menunggunya" Ki Jagabaya tidak menyahut. Ketika ia sempat memandang wajah Ki Demang, walaupun di dalam kegelapan, namun tampak, betapa wajah itu menjadi tegang. Dan tiba-tiba saja Ki Demang itu berkata kepada Ki Jagabaya "Perintah memasang obor segala penjuru halaman ini. Kita sedang menyambut tamu agung" Ki Jagabaya termangu-mangu. "Cepat. Aku sedang menyambut satu-satunya adikku tersayang. Aku akan menyambutnya sebagai seorang tamu yang sudah lama sekali aku rindukan" Ki Jagabaya masih bingung. Tetapi iapun tidak bertanya sama sekali. Diperintahkannya beberapa orang menyalakan obor dan memasangnya di segala sudut. Di regol depan, di gardu, di pepohonan dan di dinding-dinding batu, sehingga halaman itu menjadi terang-benderang bagaikan siang. Tidak seorangpun yang segera mengerti maksud Ki Demang di Kepandak. Tetapi juga tidak seorangpun yang berani bertanya. Mereka hanya dapat menduga, bahwa apabila benar-benar terjadi bentrokan supaya setiap pihak dapat membedakan lawan dan kawan. Dalam cahaya obor yang kemerah-merahan tampaklah wajah-wajah yang tegang di seputar halaman. Di bawah tangga pendapa, di sisi-sisi regol, di pinggir gandok dan di sepanjang dinding batu. Bahkan ujung-ujung senjata yang telanjang bagaikan daun ilalang yang mencuat dengan lebatnya. Dalam pada itu Ki Reksatani dan orang-orangnya berderap menyusuri jalan padukuhan induk itu menuju ke halaman Ki Demang di Kepandak. Bagaimanapun juga hatinya menjadi berdebar-debar. Kadang-kadang memang terbayang masa kanak-kanak mereka,kakak beradik anak Demang di Kepandak. Namun justru kedudukan Demang di Kepandak itulah agaknya yang kini telah memisahkan mereka. Bahkan diantarai dengan tajamnya senjata. Semakin dekat halaman Kademangan, hati Ki Reksatani memang menjadi semakin berdebar-debar, Tetapi iapun kemudian menggeretakkan giginya "Aku sudah melampaui separo jalan. Apaboleh buat. Apaboleh buat. Kakang Demang adalah saudaraku karena kebetulan kami dilahirkan oleh ibu yang sama dari ayah yang sama pula. Tetapi kini kami harus mencari jalan kami masing-masing" Ki Reksatani telah berusaha mengingkari setiap kata hatinya tentang Ki Demang di Kepandak, bahwa sampai saat ini, dan sampai kapanpun, ikatan yang ada diantara mereka tidak akan dapat diputuskan. Ia tidak akan dapat ingkar, bahwa Demang di kepandak adalah saudara tuanya. "Tidak. Aku bukan adiknya lagi. Sejak ia menyimpang dari garis kebenaran, ia bukan kakakku lagi" Tetapi Ki Reksatani terkejut sendiri. Yang tampak olehnya adalah arti yang kabur dari kebenaran itu. Demikian derap kaki-kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan halaman Kademangan. Karena itu, maka sekali lagi ia berteriak kepada para pengikutnya "Hatihatilah. Jangan gagal kalau kalian tidak ingin digantung" Ki Reksatanipun segera mempercepat derap kudanya untuk mengimbangi debar jantungnya yang semakin cepat pula. Namun demikian ia menjadi heran melihat cahaya yang kemerah-merahan membayang di arah halaman Kademangan. "Api" desisnya "atau obor-obor yang banyak sekali" Namun ia menggeram "Persetan. Aku harus membinasakan mereka yang tidak tunduk atas kehendakku. Aku harus membunuh Sindangsari dan apabila mereka berkeras, para bebahu Kademangan selain Ki Demang sendiri" Sejenak kemudian, Ki Reksatanipun sudah melihat seperti yang disangkanya, obor yang bertebaran di halaman. Namun dengan demikian hatinya menjadi semakin berdebar-debar karenanya. Tetapi ia memang sudah membulatkan tekadnya, merampas kedudukan kakaknya dengan kekerasan. Orang-orang di Kademanganpun telah mendengar pula derap kuda yang mendekat. Tidak hanya tiga atau empat, tetapi banyak. Banyak sekali. Sehingga karena itu, tanpa perintah siapapun, orang-orang segera berloncatan masuk ke dalam dinding-dinding kebun dan halaman di sebelah menyebelah. Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Ia maju beberapa langkah dan berdiri hampir tepat di tengahtengah halaman rumahnya yang luas, yang beberapa waktu berselang dipergunakannya untuk berbagai keperluan. Untuk menyelenggarakan upacara dan pertunjukan-pertunjukan di saat-saat ia kawin beberapa kali. Untuk berlatih pasukan pengawal khusus yang terdiri dari anak-anak muda dari beberapa padukuhan di dalam lingkungan Kademangan Kepandak. Untuk menyelenggarakan upacara bulan ke tujuh kandungan Sindangsari di malam malapetaka itu. Dan yang terakhir, Ki Demang telah menerima anak-anak muda Kepandak yang kembali dari Mataram setelah mereka ikut berjuang merebut Betawi. Kini Ki Demang berada di halaman itu. Dengan tegangnya ia menerima isterinya kembali, dan kini ia sedang menunggu adiknya yang ternyata telah menimbulkan bencana tidak saja dari dirinya sendiri, tetapi juga bagi Kademangan di Kepandak. Sejenak kemudian dada Ki Demang di Kepandak itu berdesir. Ia melihat kuda yang pertama berlari langsung masuk ke halaman Kademangan, diikuti oleh beberapa ekor kuda yang lain, langsung bertebaran di jalan yang melingkari halaman Kademangan di Kepandak. Ki Jagabaya yang sudah mulai bergerak, tertegun kembali karena Ki Demang berdesis "Biarkan mereka datang" Ki Jagabaya berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tidak berani berbuat apapun juga tanpa ijin Ki Demang. Kuda yang langsung masuk ke halaman, berhenti beberapa langkah di dalam regol. Dua ekor kuda yang lainpun berhenti tepat di regol halaman tanpa menghiraukan anak-anak muda yang berjaga-jaga di sebelah menyebelah. Sedang yang lain, seakan-akan telah mengepung halaman Kademangan itu dengan rapatnya. Namun agaknya mereka tidak memperhatikan, bahwa di belakang mereka, di balik pagarpagar kebun dan halaman sebelah menyebelah, beberapa anak-anak mudapun telah siap menunggu kedatangan mereka. Ki Reksatani yang masih berada di punggung kudanya mencoba menenangkan hatinya sejenak. Ditatapnya Ki Demang yang berdiri tegak di tengah halaman seperti sebuah patung batu yang kokoh. "Ki Demang di Kepandak" berkata Ki Reksatani dengan lantangnya "mungkin Ki Demang sudah mendengar serba sedikit tentang usahaku membebaskan Kepandak dari ketamakanmu" Ki Demang tidak segera menjawab. Ia masih berdiri di halaman itu bagaikan sudah membeku. "He Ki Demang. Jangan ingkar. Rakyat Kademangan Kepandak sudah jemu melihat tingkah lakumu, seolah-olah seluruh isi Kademangan ini adalah milikmu. Kau dapat mengambil apa saja yang kau perlukan, termasuk perempuanperempuan" Ki Demang t idak menjawab. "Kau merasa bahwa perbuatanmu tidak dapat diganggu gugat. Kekasaranmu, ketamakanmu dan kegilaanmu pada harta benda dan perempuan membuat rakyat Kepandak menjadi muak. Aku adalah penerus dari hasrat hati mereka. Pada saatnya kau memang harus menyingkir. Kau harus pergi. dari Kepandak untuk selama-lamanya. Kau tidak dapat lagi mengotori tanah peninggalan orang-orang tua kita yang selama ini kita hormati. Kita agung-agungkan dan kita bina bersama-sama" Ki Demang masih tetap berdiam diri. Dan Ki Reksatanipun berteriak "Kenapa kau diam saja Ki Demang? Ayo, cobalah membela diri. Ingkarlah dari segala kejahatan yang pernah kau lakukan. Kini saatnya telah tiba. Aku membawa sepasukan pejuang yang akan membebaskan tanah ini dari ketamakanmu" Tidak ada jawaban. "Kenapa kau diam saja he? Kenapa? Apakah kau sudah menjadi bisu, tuli atau apa?" Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia maju beberapa langkah. Barulah ia berkata "Reksatani, aku menjadi heran. Kenapa kau tiba-tiba marahmarah kepadaku? Bukankah kau selama ini seorang adik yang baik bagiku? Adikku satu-satunya? Kau banyak memberikan petunjuk kepadaku di dalamtugasku. Kau banyak memberikan bantuan selagi aku dalam kesulitan. Sekarang, kenapa tibatiba kau berubah? Bukankah kau pergi dari padukuhan ini untuk mencari mbok-ayumu yang hilang? Kau belum mengatakan hasil dari usahamu, tiba-tiba saja kau mengumpat-umpat seperti orang mabuk" Ki Demang berhenti sejenak "Reksatani, turunlah, dan berbicaralah dengan baik" Jawaban Ki Demang itu benar-benar bagaikan menampar dada Ki Reksatani. Terasa sejenak dadanya menjadi sesak dan mulutnya bagaikan tersumbat, sehingga ia t idak dapat segera menjawab. "Reksatani" berkata Ki Demang selanjutnya "selama ini aku selalu melihat wajahmu yang cerah. Tingkah lakumu yang sopan dan hatimu yang aku sangka terbuka. Kini tiba-tiba kau marah-marah tanpa sebab" Sejenak Ki Reksatani masih terbungkam. Namun kemudian ia menghentakkan giginya sambil berteriak "Jangan berpurapura. Kenapa kau menyiapkan para pengawal di halaman ini? Kenapa kau panggil orang-orang yang selama ini menjilatmu dengan senjata di tangan?" "Aku tidak mengerti Reksatani. Aku bahkan terkejut mendengar tanda bahaya yang tiba-tiba saja bergema di seluruh Kademangan" Sekali lagi Ki Reksatani membeku. Namun kemudian suaranya menghentak "Jangan berpura-pura. Ki Demang di Kepandak. Sekarang perananmu sudah selesai. Kau harus menyingkir. Sudah waktunya orang lain memperbaiki tata kehidupan yang bernafaskan ketamakan itu" Tetapi Ki Demang di Kepandak justru tertawa pendek "Reksatani. Apakah yang sebenarnya kau kehendaki. Kau adalah adikku. Sebenarnya kau dapat berkata berterus terang. Kau tidak perlu menempuh jalan yang berliku-liku. Jalan yang sulit dan berbahaya. Tidak saja bagimu sendiri, tetapi juga bagi seluruh Kademangan" Pertanyaan itu telah menggetarkan dada Ki Reksatani. Sejenak ia memandang Ki Demang di Kepandak dalam cahaya obor yang terang benderang. Namun kemudian ia tidak mau terseret oleh arus perasaannya, sehingga ia berkata lantang "Aku menghendaki semuanya yang sekarang berkuasa bersamamu menyerahkan diri" Ki Demang mengerutkan keningnya. Lalu "Maksudmu, apakah aku harus menyerahkan jabatanku, begitu?" Pertanyaan itu memang agak membingungkan. Tetapi Ki Reksatani menyahut "Ya. Kau harus menyerahkan diri" "Reksatani, menurut adat yang berlaku, kalau aku tidak lagi dapat memegang jabatan ini, maka anakkulah yang harus menggantikannya. Padahal anakku masih ada di dalam kandungan" "Persetan dengan anak itu. Kau juga harus menyerahkan isterimu itu. Isterimu itupun harus disingkirkan untuk selamanya" "Reksatani, coba katakan, apakah salah Sindangsari? Misalnya aku seorang Demang yang tamak, seorang Demang yang hanya memikirkan diri sendiri dan mengambil apa saja yang aku kehendaki termasuk perempuan, maka itu adalah salahku, bukan salah Sindangsari. Justru Sindangsari telah terkena akibat dari kesalahanku itu. Kenapa sekarang Sindangsari harus diikut sertakan dalam kesalahan ini? Bahkan harus disingkirkan?"
"Di dalam perutnya ia menyimpan anak keturunanmu. Itulah salahnya. Dan kesalahan itu harus ditebus dengan nyawanya" "Reksatani. Lima kali aku kawin. Tidak seorangpun yang dapat memberikan seorang anak kepadaku. Sekarang, ketika aku kawin untuk keenam kalinya, isteriku itu sudah mengandung. Nah, tentu kau tahu Reksatani, bahwa aku menjadi sangat berharga karenanya. Aku berpengharapan bahwa kelak akan ada keturunan yang dapat menyambung hidupku" "Cukup" bentak Reksatani "itulah yang harus dicegah" "Kenapa? Apakah kau tidak sedang mendapatkan seorang kemanakan?" "Anak yang lahir karena kekuasaan itu sama sekali tidak berhak atas kedudukan Demang di Kepandak" "Kenapa atas kekuasaan? O, maksudmu, aku mengambil Sindangsari karena kekuasaanku. Baiklah. Jika demikian Sindangsari t idak dapat kau anggap bersalah" "Persetan semuanya. Pokoknya, kalian harus disingkirkan. Aku akan merampas segala kekuasaan" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kenapa kau tidak berterus terang sebelumnya Reksatani. Kalau kau berterus terang, aku tidak akan berkeberatan. Aku tahu kemudian, bahwa kau menjadi gila justru isteriku telah mengandung. Kau telah kehilangan harapan untuk mendapatkan kedudukan ini apabila aku mempunyai seorang anak"
"Cukup. Aku tidak akan ingkar. Aku akan menengadahkan dadaku menghadapi apapun juga" "Apakah kau sadar, bahwa apa yang kau lakukan itu bertentangan dengan adat?" "Aku sadar" "Itu berarti bahwa kau menentang adat? Dan itu berarti kau tidak lagi tunduk kepada keharusan yang dibenarkan oleh Mataram?" Ki Reksatani menggeretakkan giginya. Sekarang sudah tidak lagi ada kesempatan untuk menghiraukan segala macam persoalan itu. Ia sudah sampai di puncak perjuangannya untuk merebut hari depan bagi dirinya sendiri dan bagi anakanaknya. Karena itu, maka iapun menjawab "Ki Demang di Kepandak. Kau sangka orang-orang Mataram selama ini tidak mengetahui, bahwa kau adalah seorang Demang yang tamak, yang serakah. Yang sudah sewajarnya disingkirkan. Aku sama sekali tidak akan mendapat hukuman. Tetapi aku justru akan mendapat penghargaan dan hadiah. Mungkin tanah ini justru akan mendapat penghargaan dan hadiah. Mungkin tanah ini justru akan mendapat kekancingan menjadi tanah perdikan karena jasa-jasaku melepaskan tanah ini dari kekuasaanmu yang tamak itu" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Sokurlah. Itu artinya kau yakin akan perjuanganmu sekarang. Kau yakini perbuatanmu sebagai suatu perbuatan yang baik bagi tanah ini. Bukan sekedar ingin merebut kedudukanku sebagai Demang. Bukan sekedar terbakar melihat isteriku mengandung setelah lima kali aku kawin tanpa menghasilkan buah apapun, dan selama itu, sedikit demi sedikit telah tertimbun harapan di hatimu, bahwa apabila aku tidak mempunyai seorang anakpun, kau akan mewarisi kedudukan ini kelak" "Diam, diam" bentak Ki Reksatani "kau jangan mengadaada. Kau tidak usah menutupi kesalahanmu. Sekarang, kau harus tunduk atas kehendakku" "Kalau aku tunduk atas kehendakmu, apakah yang akan kau lakukan atasku? Apakah aku harus menyerahkan kedudukanku dan menyingkir dari Kademangan ini?" Pertanyaan ini sama sekali tidak diduga-duganya. Karena itu sejenak Ki Reksatani terdiam. Di tatapnya wajah kakaknya di bawah sorot obor yang terang benderang di halaman. Tanpa disadarinya tatapan mata Ki Reksatanipun segera merambat ke wajah Ki Jagabaya yang tegang. Wajah Pamot yang keras dan wajah-wajah bebahu Kademangan Kepandak yang lain. Wajah-wajah yang memandangnya dengan penuh kebencian dan kemarahan. Wajah-wajah yang seakan-akan menudingnya menyimpan seribu macam pamrih pribadi yang memuakkan. "Gila" tiba-tiba ia berteriak "kalian harus mati. Kalian harus mati" "Reksatani" berkata Ki Demang kemudian "kalau kau hanya sekedar ingin kedudukanku sebagai Demang di Kepandak, baiklah, aku akan mengalah. Memang mungkin selama ini aku kurang berhasil. Mungkin aku tidak pernah menghiraukan padukuhan-padukuhan terpencil. Mungkin aku memang menyalah gunakan kekuasaanku untuk merampas perempuanperempuan. Kaulah yang selama ini bekerja keras membangun bendungan dan parit-parit, meskipun yang langsung dapat bermanfaat bagi sawahmu. Tetapi tentu bermanfaat pula bagi sawah di sekitarnya" Ki Demang berhenti sejenak, lalu "Baiklah. Aku akan berkemas untuk menyerahkan jabatanku kepadamu. Aku akan hidup sebagai seorang petani biasa seperti orang-orang lain" Wajah Ki Reksatani menjadi merah padam. Sedang Ki Jagabayapun menjadi semakin tegang pula. Sejenak dipandanginya Ki Demang dengan sorot mata yang aneh. Tetapi Ki Demang justru menjadi sangat tenang. Karena Ki Reksatani tidak menyahut, maka ia melanjutkan kata-katanya "Reksatani. Kau dapat tinggal di Kademangan ini. Aku akan membawa isteriku pindah ke rumah lain. Rumah seorang petani biasa. Aku berjanji bahwa aku tidak akan mengganggumu. Kau berhak memerintah sebagai seorang Demang sepenuhnya. Kepada pimpinan pemerintahan di Matarampun aku akan mengatakan, bahwa aku menyerahkan kekuasaanku dengan suka rela" Wajah Ki Reksatani menjadi bagaikan menyala. Dengan suara gemetar ia berkata "Tetapi, tetapi bagaimana dengan anamu kelak? Apakah kau menjamin bahwa ia tidak akan menuntut haknya?" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku akan memberitahukan kepadanya kelak, bahwa hak itu sudah aku berikan kepadamu. Kepada satu-satunya adikku" Tiba-tiba dada Ki Reksatani bergetar. Seperti guruh yang meledak terdengar kata-katanya "Bohong. Semuanya omong kosong. Mungkin karena ketakutan sekarang kau bersedia menyerahkan kedudukanmu. Tetapi kelak, anakmu pasti akan kau ajari menuntut haknya. Apalagi apabila kau masih merasa kuat. Pengikut-pengikutmu yang selama ini menjadi penjilat itu akan dapat kau gerakkan pada suatu saat untuk merebut kembali hak itu daripadaku. Dari keturunanku" Ki Demang mengerutkan keningnya. Katanya "Jadi kau sudah tidak mempercayai aku sama sekali Reksatani?" "Tidak. Orang semacam kau memang tidak dapat dipercaya lagi" "Jadi" "Tidak ada tempat bagimu di Kepandak" Ki Demang memandang Ki Reksatani dengan wajah yang semakin tegang "Jadi maksudmu, aku akan kau usir dari Kepandak?" "Ya. Tidak saja dari Kepandak. Tetapi kau harus dilenyapkan supaya pada suatu saat baik kau maupun anakmu tidak akan dapat lagi membuat onar di Kademangan ini" "Reksatani" potong Ki Demang di Kepandak "jadi maksudmu, kau akan membunuh aku sekeluarga? "Ya" suara Reksatani tegas. Bagaimanapun juga Ki Demang menjaga perasaannya, namun jawaban yang tegas itu membuatnya gemetar. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya perlahan-lahan "Reksatani. Adalah menjadi naluri manusia untuk mempertahankan hidupnya, seperti kita ingin mempertahankan kehadiran kita dan kelanjutan garis keturunan kita Bahkan mahluk yang paling lemah sekalipun akan berusaha mempertahankan hidupnya di saat-saat menghadapi kematian" "Aku sudah memperhitungkannya" jawab Ki Reksatani "dan sudah siap menghadapinya. Aku datang bukan seorang diri. Aku datang bersama-sama rakyat Kepandak yang meyakini keadaan dan mengharap masa depan yang jauh lebih baik" Tiba-tiba saja Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Sekian lama ia mencoba menyabarkan diri untuk menjajagi niat adiknya yang sebenarnya. Dan kini dadanya itu rasa-saranya hampir meledak karenanya. "Reksatani" suara Ki Demang tiba-tiba menjadi bergetar sehingga semua orang yang mendengarnya menjadi terkejut karenanya. Mereka yang sudah mengenal Ki Demang bertahun-tahun segera mengetahui, bahwa Ki Demang telah sampai pada puncak kemarahannya "Aku memang sudah mengetahui apa yang akan kau lakukan. Tetapi seperti yang kau lihat, akupun sudah siap menyambutmu. Kau sangka anak-anak Kepandak tidak mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan di hatimu" "Itu hanya akan menambah korban. Sebaiknya mereka yang aku kehendaki menyerah tanpa perlawanan. Yang lain akan aku ampuni dan akan mendapat kesempatan untuk ikut serta membangun Kademangan ini sebaik-baiknya" "O, jadi maksudmu, kami beberapa orang yang tidak kau sukai harus berdiri berjajar sambil menundukkan kepala kami untuk kau penggal satu demi satu?" "Ya" "Termasuk Sindangsari dan anak di dalam kandungan itu?" "Ya" "Gila kau Reksatani. Hatimu sudah dicengkam oleh kehitaman hati setan yang paling jahanam. Jangan kau sangka bahwa kami, orang-orang Kepandak adalah cucurut yang tidak mengenal harga diri. Kau tidak akan dapat memaksakan kehendakmu itu atasku. Aku sudah siap. Apakah yang akan kau lakukan" Dada Ki Reksatani berdegup semain keras. Sejenak ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling halaman. Dilihatnya orang-orangnya sudah siap diatas punggung kudanya. Bahkan merekapun sudah siap dengan senjata di tangan masing-masing. Orang-orang itu hanya menunggu aba-abanya saja. Mereka pasti akan langsung menyerbu masuk ke halaman dan membunuh setiap orang yang melakukan perlawanan. Kuda-kuda mereka pasti akan sangat membantu di dalampertempuran itu. Tetapi sebelum ia menjatuhkan perintah, tiba-tiba-tiba terdengar suara Ki Demang di Kepandak lantang "Reksatani. Persoalan ini sebenarnya adalah persoalan diantara kita. Kau dan aku. Aku kebetulan lahir lebih dahulu daripadamu, sehingga aku menurut adat, menerima warisan kedudukan ayah Demang di Kepandak. Sekarang kau menuntut hak itu agar temurun kepadamu. Semua persoalan yang kemudian tumbuh adalah persoalan sampingan yang sebenarnya tidak menyentuh persoalan pokoknya. Isteri, anak, bebahu dan anak-anak muda itu adalah sekedar rangkaian dari peristiwa ini. Tetapi marilah kita kembali kepada sumber persoalan tanpa mengorbankan orang lain yang tidak berkepentingan langsung dengan persoalan ini. Karena itu, seperti yang dicitacitakan oleh ayah kita, bahwa kita akan menjadi seorang lakilaki jantan, kita akan menyelesaikan persoalan ini tanpa menyeret orang-orang lain ke dalamnya.
Tanpa mengorbankan bebahu Kademangan Kepandak. Tanpa mengorbankan para pengawal dan tanpa mengorbankan apapun juga, terlebih-lebih ikatan persatuan rakyat Kepandak. kalau aku mati di dalam perang tanding ini, kau berhak atas segala-galanya. Para bebahu Kademangan inipun akan tunduk kepadamu. Merekapun akan melindungi namamu terhadap orang-orang Mataram seandainya mereka mencium persoalan ini. Terhadap isteri dan anakkupun kau dapat berbuat sesuka hatimu. Apakah mereka akan kau buhuh, atau kau perlakukan seperti apapun juga. Tetapi kalau kau kalah, semua orangorangmu harus menyerah. Tetapi siapa yang mencoba melakukan perlawanan, aku akan membunuhnya tanpa ampun. Nah, apa katamu?" Terasa darah Ki Reksatani seakan-akan mendidih sampai ke ujung ubun-ubun. Ia sadar, bahwa tantangan ini adalah tantangan laki-laki jantan. Dan Ki Reksatanipun ternyata bukan seorang pengecut. Sambil menggeretakkan giginya ia meloncat dari kudanya sambil berteriak "Aku terima tantanganmu Ki Demang di Kepandak. Seperti cita-cita ayah kita. Kita adalah laki-laki jantan" Tetapi terbersit di hati Ki Demang di Kepandak "Tetapi bukan menjadi cita-cita ayah kita, bahwa kita harus berhadapan di arena seperti ayam jantan di aduan" Tetapi iblis benar-benar sudah merasuk ke dalam hati Ki Reksatani. Ia tidak melihat apapun lagi, selain Ki Demang di Kepandak. Tidak ada keinginan apapun lagi di hatinya saat itu, selain membunuh saudara kandungnya. Setiap dada serasa bernafas, ketika mereka melihat di bawah cahaya obor yang terang di halaman Kademangan, dua orang laki-laki yang pilih tanding sedang berhadapan. Terlebih lagi keduanya adalah saudara sekandung, seibu dan seayah. Ki Jagabaya memalingkan wajahnya sejenak. Hampir tidak tahan ia melihat dua orang laki-laki sekandung itu menarik senjata masing-masing.
Pusaka yang mereka terima dari sumber yang sama, dari ayah mereka berdua. "O" terdengar Ki Jagabaya mengeluh pendek. Ia bukan seorang yang memanjakan perasaannya. Tetapi di dalam keadaan itu, hatinya benar-benar bergetar. Pamot berdiri membeku di tempatnya. Ia tidak tahu, apakah sebenarnya yang bergejolak di dalam hatinya. Tetapi terasa betapa suasana di halaman itu menjadi tegang dan seakan-akan tidak lagi memberikan udara buat bernafas. Bukan saja keduanya, terlebih-lebih orang-orang tua yang mengintip dari kejauhan. Orang-orang tua yang pernah mengalami hidup pada suatu masa dengan Demang di Kepandak yang terdahulu. Ayah dari kedua laki-laki yang kini berhadapan di halaman rumah itu. Rumah mereka semasa kanak-kanak. Di halaman itu pula mereka dahulu bermainmain. Di halaman itu pula mereka dahulu berkejar-kejaran. Dan kini, di halaman itu pula mereka bermain-main dengan senjata. Alangkah pahitnya peristiwa yang terjadi itu. desis salah seorang dari mereka. Demikianlah kedua kakak beradik itu sudah berhadapan dengan senjata di tangan masing-masing. Keris yang mereka terima dari ayah mereka. Pusaka peninggalan yang tidak pernah di impikan saat itu oleh ayahnya, bahwa pada suatu saat kedua keris itu akan beradu di arena perkelahian. "Reksatani" berkata Ki Demang "apakah kau benar-benar sudah kehilangan pertimbangan" "Aku tidak akan berbicara lagi. Kita akan berkelahi" "Kau benar-benar sudah kerasukan iblis. Apaboleh buat. Aku tidak mau mati sambil menundukkan kepala" "Persetan. Itu urusanmu. Tetapi aku akan membunuhmu, kemudian membunuh perempuan itu" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ia berpaling. Ditatapnya wajah Pamot yang tegang. Namun Ki Demang itu t idak berkata sepatahpun juga. "Cepat" teriak Ki Reksatani "aku akan mulai" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah Reksatani. Kalau itu keputusanmu" Ki Reksatani tidak dapat menahan gelora di dadanya. Iapun kemudian segera meloncat menyerang. Seperti di saat-saat ia berkelahi melawan Lamat, maka iapun segera mengerahkan segenap kemampuannya. Ia tidak mau mengalami kegagalan sekali lagi. Ia tidak mau kehilangan waktu. Kalau pada saat itu Nyai Demang disingkirkan, maka ia akan kehilangan perempuan itu sekali lagi. Tetapi Ki Reksatani sudah memerintahkan beberapa orang untuk mengawasi seluruh halaman dan kebun belakang dari Kademangan ini. Tidak akan ada seorangpun yang akan dapat lolos dari tangannya apabila ia sudah berhasil membunuh Ki Demang di Kepandak. Demikianlah maka perkelahian itu segera menjadi perkelahian yang seru.
 Darah Ki Reksatani benar-benar telah mendidih. Tidak ada lagi yang menghalanginya kini. Perasaannya seakan-akan telah membeku. Keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding. Keduanya berguru pada guru yang sama untuk waktu yang hampir sama pula. Meskipun Ki Demang di Kepandak lebih tua dari Ki Reksatani, namun saat-saat mereka memasuki perguruan hampir bersamaan. Demikian pula saat-saat mereka meninggalkan perguruan setelah ilmu yang mereka serap dianggap cukup. Bahkan umur Ki Reksatani yang lebih muda, agaknya membuat nafas Ki Reksatani masih lebih segar dari Ki Demang di Kepandak. Karena itulah, maka perkelahian itu benar-benar merupakan perkelahian yang mendebarkan. Desak mendesak silih berganti. Kedua senjata di tangan kedua orang itu berputar dengan dahsyatnya. Sekali-sekali mematuk, kemudian menyambar mendatar. Disusul oleh seranganserangan yang hampir tidak dapat diikuti oleh mata telanjang. Dua helai keris di tangan Ki Reksatani dan Ki Demang itu, di mata mereka yang mengelilingi arena, seakan-akan telah berubah menjadi berpuluh-puluh keris yang berputaran di tangan sepasang penari yang sedang menarikan tari maut. Orang-orang yang ada di seputar arena itu menjadi seakanakan membeku. Meskipun diantara mereka pernah menyaksikan perkelahian yang dahsyat, tetapi perkelahian diantara dua orang kakak beradik itu benar-benar telah menggetarkan dada mereka, seakan-akan jantung mereka menjadi berhenti berdetak. Mereka yang selama ini sekedar mengagumi Ki Demang di Kepandak dan Ki Reksatani sebagai pelindung Kademangan mereka dari kejahatan-kejahatan para perusuh dan penjahat, kini mereka melihat bagaimana sebenarnya kemampuan mereka berdua. Ki Jagabaya yang berdiri di halaman itu juga, seakan-akan telah membeku di tempatnya. Terasa dadanya bagaikan akan pecah menyaksikan perkelahian itu. Meskipun ia mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka, namun melihat perkelahian itu jantungnya bagaikan akan rontok. Ia telah ikut membina Kademangan ini bertahun-tahun. Meskipun kadang-kadang ia tidak sesuai dengan kehendak Ki Demang di Kepandak, terutama mengenai persoalan pribadinya, namun bagi Kademangan, ia telah bekerja keras bersamanya. Bahkan bersama-sama keduanya, kakak beradik yang kini tengah berkelahi mat i-matian mempertaruhkan nyawa mereka. "Kenapa tiba-tiba Ki Reksatani telah dicengkam oleh kekuasaan iblis untuk merebut kedudukan kakaknya?" tersirat pertanyaan di hati Ki Jagabaya. Namun peristiwa ini memang tidak berdiri sendiri. Bahkan hampir setiap bebahu Kademangan dan orang-orang yang berdiri mengitari arena itu telah mengetahui bahwa keinginan Ki Reksatani itu telah tumbuh perlahan-lahan. Sehingga akhirnya ia telah terjerumus ke dalam kelemahan hati. "Tetapi kalau Ki Demang di Kepandak menyadari keadaan itu sejak semula, keadaan pasti akan lain" desis Ki Jagabaya di dalam hatinya pula. Tetapi siapa dapat membaca hati seseorang. Meskipun demikian Ki Jagabayapun, melihat juga ketamakan Ki Demang di Kepandak. Enam kali ia kawin. Perkawinan yang tidak menghasilkan anak, selain yang terakhir. Perkawinan yang lima kali itulah sebenarnya yang telah memupuk tumbuhnya niat yang hitam di hati Ki Reksatani tanpa dikehendakinya sendiri. Namun demikian, perkelahian diantara keduanya telah membuat dada Ki Jagabaya bergelora. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sadar, bahwa keduanya sedang dibakar oleh perasaan yang meluap-luap, sehingga nalar mereka pasti tidak akan dapat bekerja sewajarnya, meskipun Ki Demang di Kepandak masih berusaha untuk mencari keseimbangannya. Demikianlah, hati rakyat di Kademangan Kepandak telah tergetar menyaksikan apa yang telah terjadi di halaman Kademangan. Sampai beberapa saat mereka tidak dapat menduga, siapakah di antara keduanya yang akan menang. Meskipun rakyat di Kepandak, kadang-kadang juga tersinggung rasa keadilan mereka karena tindakan-tindakan Ki Demang yang selama ini mereka anggap sebagai seorang lakilaki yang menggetarkan hati setiap orang yang mempunyai anak gadis, namun di saat-saat ia bertempur mati-matian melawan Ki Reksatani, diam-diam mereka berharap agar Ki Demang di Kepandak dapat selamat keluar dari perkelahian itu. Bagaimanapun juga sikap Ki Reksatani, yang seakan-akan telah merebut kekuasaan kakaknya dengan kekerasan, bahkan sebelumnya ia telah berusaha mengorbankan seorang perempuan yang tidak bersalah yang untung dapat diselamatkan, sama sekali t idak menarik bagi rakyat Kepandak. Maka semakin lama perang tanding diantara kakak beradik itupun menjadi semakin sengit. Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam diri masing-masing, kemampuan yang bersumber pada guru yang sama. Ki Demang di Kepandak yang lebih tua, ternyata memiliki perhitungan yang lebih masak. Ia tidak banyak bergerak di dalam olah senjata. Tetapi setiap ia melangkah, maka udara maut telah berdesing di telinga Ki Reksatani. Namun Reksatani yang lebih muda itu memiliki nafas yang lebih segar. Ia mampu bergerak lebih lincah dan cepat. Seperti bilalang ia meloncat berputaran mengelilingi lawannya sambil memutar kerisnya. Sekali-sekali ia melingkar sudut, namun tiba-tiba kerisnya telah menyambar lambung. Demikian cepatnya, sehingga kadang-kadang orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi bingung. Tetapi Ki Demang di Kepandak sama sekali tidak bingung. Beberapa langkah dari arena, di belakang Ki Jagabaya, Pamot berdiri termangu-mangu. Iapun tidak mampu menilai perkelahian itu. Tetapi yang lebih dalam menekan perasaanya,bahwa iapun tidak mengerti, apakah yang diharapkan dari perkelahian itu. Seandainya ia mengharap Ki Demang di Kepandak memenangkan perkelahian itu, maka selama hidupnya hatinya akan tersayat melihat Sindangsari setiap kali duduk di pendapa Kademangan memangku anak yang kini sedang dikandungnya. Selama ia berpacu diatas punggung kuda membawa perempuan itu dari Sembojan, terasa tunas yang tumbuh di dalam hatinya, dan yang ingin dipadamkannya itu rasa-rasanya menjadi bertambah mekar. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi Sindangsari baginya adalah seorang perempuan yang telah mendapat tempat di hatinya. Meskipun ia berdiri di arena perkelahian itu, namun ia masih sempat membayangkan, Nyai Demang di Kepandak, duduk bersama suaminya menunggui anak mereka yang berlari-larian di halaman, bermain-main dengan biji-biji kemiri atau beradu kecil dengan kawan-kawannya. "Alangkah sakit hati ini" desisnya. Tetapi Pamotpun tidak dapat mengharapkan Ki Reksatani memenangkan perkelahian itu. Jika demikian, maka niat Ki Reksatani untuk membunuh Sindangsari itupun pasti akan dilaksanakannya, karena di dalam perut Sindangsari terimpan anak yang dianggap berhak atas warisan yang akan ditinggalkan oleh Ki Demang di Kepandak. Meskipun seandainya Ki Reksatani berhasil, maka hak atas Kademangan ini akan tetap menjadi milik anak di dalam kandungan itu sehingga anak itu harus dilenyapkan pula. Dengan demikian, maka Pamot telah terlibat di dalam persoalan yang menyangkut dirinya sendiri. Bagaimanapun juga ia berusaha melenyapkannya, dan bagaimanapun juga ia berusaha melihat persoalan itu lepas dari persoalan pribadinya, namun setiap kali bayangan itu telah timbul diangan-angannya. "Persetan" Pamot tiba-tiba saja mengumpat di dalam hatinya "apapun yang terjadi, aku tidak akan mendapatkan Sindangsari. Biar saja Ki Demang di Kepandak terbunuh, kemudian Sindangsari dan anaknya dibunuh pula. Itu barangkali lebih baik daripada aku setiap hari melihatnya duduk di pendapa Kademangan ini berdua dengan Ki Demang di Kepandak" Namun dalam pada itu, terdengar suara di dalam hatinya "Itu pikiran gila. Setiap orang berusaha menegakkan kemanusiaan. Punta dan kawan-kawan telah bersusah payah membantu membebaskan Nyai Demang di Kepandak. Bahkan Lamat yang selama ini merasa dirinya telah tergadai oleh ayah Manguripun melihat bahwa keadilan sedang terancam di Kademangan Kepandak, dan bahkan Ki Reksatani sedang berusaha menegakkan kekuasaan berdasarkan kekuatan" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian digertakkan giginya sambil berkata "Ki Reksatani memang sedang berkhianat. Aku tidak boleh terpancang pada persoalan pribadiku. Namun demikian Pamot tidak segera dapat berbuat apaapa. Tetapi seandainya para pengikut Ki Reksatani berbuat curang, maka ia tidak akan dapat tinggal diam. Ia tidak sekedar membebaskan Sindangsari dari Sembojan dan membawanya ke Kepandak karena ada ikatan batin diantara dirinya dan Sindangsari, tetapi itu merupakan suatu keharusan bagi mereka yang ingin menegakkan kemanusiaan dari kesewenang-wenangan. Pamot seakan-akan sadar dari mimpinya ketika ia melihat Ki Reksatani meloncat menyerang dengan dahsyatnya. Namun Ki Demang di Kepandak yang leih masak itu masih berhasil mengelakkan dirinya dengan beringsut selangkah. Tetapi Ki Reksatani masih memburunya. Seperti orang yang kehilangan akal, ia menyerang membabi buta. Tandangnya jauh lebih kasar dari tandang kakaknya, meskipun ilmunya serupa, nafsu yang menggelora di dadanya telah membuatnya menjadi seakan-akan bertambah buas. Bagai seekor harimau yang lapar, Ki Reksatani menyerang kakaknya. Senjatanya ternyata melampaui ketajaman kukukuku harimau yang paling ganas. Tetapi Ki Demang di Kepandak yang lebih tenang bertempur bagaikan seekor banteng yang terluka. Setiap geraknya yang mantap pasti mendesak lawannya beberapa langkah surut. Selagi di Kepandak terjadi perkelahian yang mengerikan, yang tidak diketahui kapan akan berakhir, di Sembojan Lamat menggeliat dengan gelisahnya. Obat yang ditaburkan pada lukanya, serta cairan yang telah diminumnya membuat tubuhnya yang memiliki daya tahan luar biasa itu menjadi agak segar. Namun hatinyalah yang rasa-rasanya menjadi bertambah kalut. Ia tidak berhasil menyingkirkan bayangan yang mengerikan yang dapat terjadi atas Pamot di sepanjang perjalanannya. "Tidurlah" berkata dukun tua yang menungguinya. Lamat menganggukkan kepalanya, tetapi jangankan tidur meskipun hanya sejenak, sedangkan memejamkan matanya saja rasa-rasanya tidak dapat dilakukannya. Setiap kali dadanya berdesir, seolah-olah ia mendengar jerit Sindangsari di tengah perjalanan dan terbayang mayat Pamot terbujur di telapak kaki Ki Reksatani. "Punta" desis Lamat kemudian. Punta yang menungguinya mendekatkan telinganya. "Bagaimana dengan Pamot?" Punta menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Kita berharap agar ia selamat" "Tetapi hatiku rasa-rasanya selalu berdebaran" "Tenangkan perasaanmu Lamat. Kau harus beristirahat" "Tubuhku sudah terasa segar. Barangkali lukaku sudah tidak sakit lagi" Lamat berhenti sejenak, lalu "aku sudah dapat berkuda ke Kepandak" "Jangan sekarang" "Aku tidak mau terlambat. Kalau Pamot dan Sindangsari masih hidup, aku ingin melihat mereka berdua di Kademangan Kepandak. Tetapi kalau mereka sudah mati, aku ingin melihat mayatnya" "Tunggulah sampai besok Lamat" "Badanku sudah segar. Aku sudah berhasil menguasai bukan saja perasaan sakit, tetapi juga urat-urat nadi di segenap tubuhku. Dengan bantuan obat yang ditaburkan dari luar, dan obat cair yang aku minum, aku sudah menemukan kekuatanku kembali" "Kau masih terlampau lemah" "Tidak" Tetapi dukun tua di sampingnya berkata "Kau masih harus beristirahat. Jangan kau paksa dirimu melakukan langkahlangkah yang dapat membuat luka-lukamu kambuh dan berdarah lagi" Lamat tidak menjawab. Tetapi tarikan nafasnya yang panjang menyatakan kegelisahan perasaannya. Sejenak kemudian Lamat tidak mengatakan apapun juga. Bahkan perlahan-lahan matanya mulai terpejam. Sekali-sekali masih terdengar tarikan nafasnya yang dalam. Namun semakin lama nafasnya menjadi semakin teratur, sehingga Punta yang menungguinya menjadi agak tenang pula. "Ia tertidur" bisiknya kepada dukun yang menungguinya. "Ya. Ia tertidur" Puntalah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya dua orang yang terkantuk-kantuk duduk di depan pintu. Agaknya mereka masih harus menunggui Manguri dan ayahnya yang ada di ruang itu pula. Tetapi seperti Lamat, merekapun tidak dapat tertidur pula. Dengan gelisahnya ayah Manguri berjalan hilir mudik, kemudian duduk sejenak, dan segera bangkit pula dengan tarikan nafas yang dalam. Dalam pada itu, ketika Lamat telah tertidur nyenyak, maka Puntapun merasa perlu untuk beristirahat pula. Tetapi ia tidak sampai hati meninggalkan Lamat tertidur di pembaringan itu tanpa pengawalan, karena ayah Manguri yang mendendamnya akan dapat berbuat banyak hal yang tidak terduga duga. Karena itu, maka diserahkannya Lamat kepada seorang kawannya dari Kali Mati yang masih ada di tempat itu juga untuk mendapatkan dua orang yang dapat dipercaya untuk menunggui Lamat yang tertidur nyenyak. "Biarlah aku saja yang menungguinya" berkata kawannya. "Kau juga lelah seperti aku" sahut Punta. Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sendiri memang terlampau lelah. Karena itu, maka dimintanya dua orang anak muda yang masih segar untuk menunggui Lamat yang sedang tertidur nyenyak. Punta dan kawan-kawannya yang telah memeras tenaga itupun kemudian meninggalkan ruangan itu dan pergi ke gandok. Merekapun merebahkan diri pula untuk sekedar dapat beristirahat, sebelum tugas-tugas lain masih akan menunggu besok. Sepeninggal Punta, dukun tua dan kawan-kawannya, maka perlahan-lahan Lamat menggeliat. Ketika ia membuka matanya perlahan-lahan, ternyata bahwa yang menungguinya anak-anak muda yang belum dikenalnya. "Ia sudah pergi" desisnya. Sebenarnyalah bahwa Lamat sama sekali tidak tertidur. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari pengawasan Punta dan dukun yang mengobatinya. Ternyata ia sudah tidak dapat lagi mengekang perasaannya, untuk melihat apa yang terjadi dengan Pamot dan Sindangsari di perjalanan. Karena itu perlahan-lahan ia menggerakkan kepalanya. Kemudian tangan dan kakinya. Rasa-rasanya tubuhnya sudah menjadi jauh lebih segar dan kekuatannyapun sudah hampir dimilikinya kembali, meskipun luka-lukanya masih juga terasa pedih. "Tidurlah" berkata salah seorang anak muda yang menungguinya. Lamat mencoba tersenyum. Tetapi justru ia bangkit perlahan-lahan. "Jangan bangkit" "Aku sudah sehat" "Tetapi tidurlah" Lamat mengangguk. Dan diletakkannya kepalanya kembali diatas pembaringan. Tetapi iapun kemudian bangkit kembali sambil berkata "Di manakah pakiwan? Aku akan pergi ke pakiwan sebentar saja" "Tetapi kau harus beristirahat" "Perutku sakit. Dan aku ingin mencuci tangan dan kaki supaya badanku menjadi semakin segar" "Luka-lukamu akan menjadi sangat pedih apabila tersentuh air" "Aku kira tidak lagi. Tetapi akupun hanya akan sekedar membasahi telapak tangan dan kaki, serta sedikit pada ubunubunku yang panas" Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun merekapun saling menganggukkan kepalanya. "Marilah" berkata salah seorang "tetapi hati-hatilah" Lamatpun kemudian bangkit berdiri dari pembaringannya. Dirabanya untuk mengetahui keadaan tubuhnya. Digerakgerakkannya segenap persendiannya. Dan agaknya tubuh itu sudah tidak terlampau lemah lagi. "Marilah aku tolong" berkata salah seorang anak muda itu. Lamat tersenyum. Jawabnya "Aku sudah dapat berjalan sendiri" Kedua anak-anak muda itu menjadi kagum. Luka-luka Lamat yang arang kranjang itu seakan-akan sudah tidak terasa lagi. Dengan langkah yang mantab, Lamat berjalan seperti seorang yang tidak pernah terkena sesuatu menuju ke pintu" "Dimana pakiwan itu?" "Di belakang" Lamatpun kemudian mengikuti salah seorang dari anakanak muda itu yang membawanya ke pakiwan di belakang rumah. "O, itu agaknya, di dekat sumur" berkata Lamat. "Ya" "Sudahlah. Tinggalkan aku. Aku akan segera kembali ke ruang depan" Tanpa prasangka apapun anak muda itupun kembali kepada kawannya yang masih berdiri di depan rumah. "Mana orang itu?" "Di pakiwan. Agaknya ia tidak menahan lagi" Keduanya tidak lagi mempersoalkannya. Mereka mulai berbicara tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka masih juga menyinggung-nyinggung Lamat dengan penuh kekaguman. "Adik Demang di Kepandak itu benar-benar orang luar biasa. Aku kira Demang kita tidak akan dapat menyamainya" "Ya. Aku kira demikian. Tetapi Lamat itupun ternyata orang yang luar biasa pula. Menurut Ki Jagabaya, sebenarnya Lamat tidak akan dapat dikalahkan oleh Ki Reksatani meskipun ia juga belum pasti dapat memenangkannya. Tetapi ayah Manguri itulah yang licik. Ia berhasil melemahkan hati Lamat lewat kata-kata sindirannya yang tajam" "Dan luka-luka yang tampaknya demikian parahnya, segera dapat diatasinya. Hampir seluruh tubuhnya terluka parah" "Tetapi luka-luka itu tidak begitu dalam meskipun merata. Dan luka-luka yang demikian tidak lebih berbahaya dari satu luka, tetapi langsung menghunjamke dalam dada" "Tentu, lebih-lebih lagi satu luka yang memisahkan kepala dari lehernya" "Ah, macam kau" desis kawannya. Tetapi keduanya tersenyum. Demikianlah beberapa lamanya keduanya berbicara tentang berbagai persoalan yang sedang berkecamuk di padukuhan mereka yang sepi, yang biasanya tenang dan tenteram meskipun bukan berarti beku. Namun yang tiba-tiba saja telah dibakar oleh perkelahian yang menggetarkan dada setiap orang. "He" tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata "kanapa Lamat sedemikian lamanya berada di pakiwan?" "Ya. Terlampau lama" "Eh, apakah ia tiba-tiba pingsan?" "Marilah kita lihat" Keduanyapun kemudian dengan tergesa-gesa berjalan ke pakiwan. Selangkah di samping pakiwan, salah seorang dari mereka memanggil "Lamat. Lamat. Apakah kau sudah selesai" Tidak terdengar jawaban. "Lamat" Pakiwan itu masih tetap sepi. Sejenak keduanya saling berpandangan. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata "Aku akan menengoknya" Dengan tergesa-gesa anak muda itupun mendorong pintu pakiwan dan menjengukkan kepalanya ke dalam. Tetapi pakiwan itu telah kosong. Mereka tidak menemukan Lamat di dalamnya. "Apakah ia sudah kembali ke ruang dalam tanpa kita ketahui karena kau terlampau banyak berbicara?" desis salah seorang dari mereka. "Marilah kita lihat" Keduanya melangkah dengan tergesa-gesa masuk ke ruang dalam. Tetapi pembaringan Lamat ternyata masih juga kosong. "Apakah ia melarikan diri" "Kenapa melarikan diri. Lamat sama sekali bukan seorang tawanan. Berbeda dengan Manguri dan ayahnya itu" "Ya. Tetapi ia harus banyak beristirahat. Punta dan dukun tua itu menghendaki ia tidur sebanyak-banyaknya, bukan pergi kemanapun juga" "Beritahu Punta di gandok sebelah. Aku akan mencarinya di belakang. Siapa tahu, mungkin keadaan tubuhnya masih terlampau lemah, sehingga ia pingsan di sekitar pakiwan itu" Yang seorang dari merekapun segera pergi ke pakiwan untuk mencari Lamat sekali lagi. Yang lain dengan tergesagesa pergi ke gandok memberi tahukan hal itu kepada Punta. Anak muda yang mencari Lamat di belakang rumah itu terperanjat ketika ia mendengar ringkik kuda di kandang. Dengan tergesa-gesa ia berlari-lari mendekatinya. Tetapi ia justru tertegun ketika ia melihat seekor kuda meloncat keluar. Di punggung kuda itu duduk agak merunduk Lamat yang sedang dicarinya. "Lamat, Lamat" anak muda itu memanggil. Tetapi Lamat tidak menghiraukannya. Dipacunya kudanya menuju ke halaman depan. Punta yang sudah diberi tahupun terperanjat pula. Ketika ia keluar dari gandok, didengarnya derap kaki kuda. Dari sisi rumah ia melihat seekor kuda berlari kencang. Dengan demikian, maka iapun segera meloncat ke halaman. Tetapi kuda itu telah mendahuluinya, sehingga Puntapun kemudian termangu-mangu beberapa saat seolah-olah membeku di halaman. Dalam pada itu, Lamat yang berada dipunggung kuda sempat memperlambat kudanya sambil berkata "Maaf Punta, aku mendahului. Jagalah Manguri dan ayahnya baik-baik. Mungkin ia masih berbahaya" Sebelum Punta menjawab, Lamat sudah berpacu keluar regol halaman dan berlari menyelusuri jalan padukuhan Sembojan. Beberapa orang yang berada di regol, justru menyibak ketika kuda itu berlari seperti dikejar hantu diantara mereka. "Lamat memang keras hati" desis Punta "aku akan menyusulnya. Keadaan tubuhnya masih sangat lemah. Apakah masih ada kuda yang lain" Anak-anak Sembojan itupun segera mengusahakannya dua ekor kuda. Bersama kawannya ia menyusul Lamat, setelah ia minta diri kepada kawannya dari Kali Mati dan berpesan seperti pesan Lamat atas Manguri dan ayahnya. "Besok aku akan segera kembali bersama Ki Jagabaya di Kepandak" berkata Punta sambil memacu kudanya. Sejenak kemudian merekapun telah hilang ditelan gelap. Yang terdengar tinggallah derap kaki-kaki kuda itu memecah sepinya malamyang dingin. Demikianlah anak-anak Sembojan dan padukuhan di sekitarnya memandang mereka dengan termangu-mangu. Orang-orang itu datang jauh dari luar Kademangan mereka. Dan mereka telah menjadikan Sembojan sebagai ajang pertengkaran, yang bahkan membawa beberapa akibat bagi anak-anak muda Sembojan dan sekitarnya, karena ada diantara mereka yang terluka. Bahkan mereka menemukan beberapa sosok mayat pula di halaman itu. "Tetapi Punta akan kembali bersama Ki Jagabaya di Kepandak, yang akan menyelesaikan segala sesuatu tentang persoalan ini. Merekapun harus mengambil dan membawa Manguri bersama ayahnya yang untuk beberapa saat hanya akan menjadi beban kita disini" berkata salah seorang dari mereka. "Sebelum Ki Jagabaya di Kepandak datang dan berbicara dengan Ki Jagabaya dan Ki Demang di Prambanan, kita masih mendapat beban ini" sahut kawannya. Tetapi demi sesamanya yang sedang dilanda oleh malapetaka, maka anak-anak Sembojan dan padukuhan di sekitarnya telah menyediakan waktu mereka untuk melakukannya. Menjaga Manguri dan ayahnya, menjaga perempuan yang menangisi anak-anaknya yang terluka dan bahkan merekapun harus menguburkan mayat-mayat yang terdapat di halaman rumah yang terbakar itu. Dalam pada itu, Lamat telah berpacu secepat-cepat dapat dilakukan oleh kudanya. Meskipun ia sadar, bahwa selisih waktunya sudah terlampau panjang, namun ia berharap untuk tidak terlambat berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak tahu, apakah sesuatu yang dapat dilakukannya itu. Meskipun demikian, sesuatu telah mendorongnya untuk segera sampai ke Kepandak. Ia ingin segera melihat, apa saja yang sudah terjadi. Apakah Kepandak menjadi karang abang, atau sekedar terjadi pembunuhan di jalan menuju ke Kademangan itu, dan Ki Reksatani masih berhasil mengelabuhi Ki Demang lagi. Angin yang dingin justru membuat tubuh Lamat menjadi semakin segar. Sekali-sekali masih juga terasa pedih-pedih lukanya menyengat kulit. Namun karena daya tahannya yang luar biasa, maka semuanya itu seakan-akan dapat dilupakannya. Sementara itu, di halaman Kademangan Kepandak, Ki Reksatani masih bertempur mati-matian seorang melawan seorang dengan Ki Demang di Kepandak. Setiap orang yang menyaksikannya seakan-akan harus menghentikan pernafasannya. Halaman yang bersih rata itu menjadi seperti kubangan yang kering. Debu berhamburan membayangi warna kemerah-merahan api obor di segenap sudut halaman. Berbeda dengan Ki Reksatani, maka Ki Demang di Kepandak, sebagai saudara yang lebih tua, kadang-kadang masih juga dipengaruhi oleh kenangan di masa kanak-kanak. Kadang-kadang wajah Ki Reksatani yang tegang itu membayang seperti wajahnya di masa kanak-kanak. Memang sebagai dua orang bersaudara keduanya pernah juga bertengkar, bahkan berkelahi. Tetapi apabila wajah adiknya telah memucat dan matanya menjadi basah, Ki Demang di Kepandak semasa kanak-kanaknya, selalu menghentikan perkelahian. Dengan iba ditatapnya wajah adiknya yang basah oleh air mata. "Jangan menangis" desisnya "karena itu jangan nakal. Tetapi Ki Demang di Kepandak terperanjat bukan kepalang. Selagi angan-angan itu bermain sejenak, hanya sejenak, tidak lebih dari kejapan mata, terasa lengannya tergores oleh senjata. Senjata yang digenggam oleh Ki Reksatani. Dan senjata itu adalah pusaka peninggalan ayahnya. Tanpa sesadarnya Ki Demang meloncat surut. Dengan wajah tegang dipandanginya adiknya yang tertegun sejenak. Sejenak kemudian maka perkelahian itupun telah meledak lagi. Keduanya mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Mereka tidak lagi memperhitungkan apapun juga selain membinasakan lawannya. Demikian juga Ki Demang di Kepandak. Luka di tangannya telah mengusir segala macam perasaan yang selalu membayanginya. Dengan demikian, maka tiba-tiba tandangnya menjadi semakin garang meskipun ia berumur lebih tua dari Ki Reksatani. Tidak seorangpun dapat meramalkan, kapan perkelahian itu akan berakhir. Menurut pendengaran mereka, Ki Demang di Kepandak seperti juga adiknya Ki Reksatani, mampu, bertempur sehari semalam tanpa berhenti sama sekali. Dan kini keduanya bertemu di arena perang tanding. Mereka pasti akan bertahan sampai kemungkinan yang terakhir. Mungkin benar-benar sehari semalam mereka akan tetap bertempur di halaman itu, mungkin lebih. Beberapa orang yang berdiri diseputar halaman itupun ikut menjadi semakin tegang pula. Beberapa orang yang tidak tahan lagi, meskipun ia sendiri menggenggam senjata, menundukkan kepalanya yang menjadi pening. Tetapi, sekalisekali mereka masih ingin juga melihat, apa yang akan terjadi kemudian. Sehingga diantara ya dan tidak, mereka melihat bayangan yang berputaran di halaman semakin lama semakin cepat. Tetapi ternyata racun warangan pada ujung keris Ki Reksatani benar-benar telah berpengaruh pada Ki Demang di Kepandak. Terasa tubuhnya menjadi semakin panas, dan tenaganya semakin susut. Namun karena itulah, maka Ki Demang di Kepandak telah mengerahkan sisa-sisa tenaga yang masih ada padanya, beserta segenap ilmunya. Ki Reksatani yang yakin bahwa warangan kerisnya akan segera bekerja di dalam darah Ki Demang di Kepandak, mulai melihat setiap kali Ki Demang mengusap keringat di keningnya. Semakin banyak Ki Demang memeras tenaganya, maka darah akan semakin deras mengalir di dalam tubuhnya, sehingga racun warangan keris itupun akan menjadi semakin cepat berpengaruh pada tubuhnya. Tetapi Ki Reksatanipun tidak dapat mengingkari, bahwa telah terjadi sesuatu di dalam dirinya. Kelelahan yang tidak dapat dielakkannya lagi telah mulai merayapi otot-ototnya. Ia baru saja memeras tenaga, berkelahi melawan Lamat di padukuhan Sembojan. Kemudian berpacu ke Kepandak. Bagaimanapun juga, maka kemampuan seseorang bukan tidak berbatas. Demikianlah meskipun mereka masih belum bertempur semalam penuh, tetapi pada keduanya telah tampak, bahwa tenaga mereka mulai susut. Namun kemarahan yang bergetar di dalam dada masing-masing masih juga memaksa mereka untuk mengerahkan tenaganya. Ki Demang yang sudah merasa bahwa luka di tangannya itu akan menyeret nyawanya, berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk menghentikan kematian, kematian-kematian seterusnya. Meskipun ia tidak ingin membunuh Ki Reksatani sebagai tujuan, namun orang itu memang harus dibinasakan untuk menghentikan perbuatan-perbuatan terkutuknya. Kekerasan hati Ki Demanglah yang kemudian seakan-akan memulihkan segenap kemampuannya. Keyakinannya atas kebenaran sikapnya kali ini membuatnya semakin mantap. Apalagi ketika darahnya serasa menjadi semakin panas karena pengaruh racun warangan. Di saat-saat berikutnya, Ki Demang menyerang lawannya dengan garangnya. Kerisnya berputar semakin cepat, meskipun tidak sekuat sebelumnya. Tetapi lawannyapun menjadi semakin lemah pula, bahkan sekali-sekali Ki Reksatani telah berhasil didesaknya. "Anak setan" geram Ki Reksatani di dalamhatinya "ia masih mampu bertahan dari racun itu, apakah orang ini" Namun belum lagi umpatan di dalam hati itu selesai, Ki Reksatanipun terperanjat bukan buatan. Serangan yang tidak diduga-duga telah meluncur dengan cepatnya. Ujung keris Ki Demang di Kepandak seakan-akan tidak lagi dapat dilihatnya. Namun tiba-tiba saja telah terasa goresan pada jari-jarinya. Ketika ia sempat memperhatikan jari-jarinya itu, tampaklah tulang yang memutih. Tetapi tidak setitik darahpun yang mengalir. Dengan sigapnya Ki Reksatani meloncat surut. Dengan cepat ia menarik pisau belati dari ikat pinggangnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, maka dipotongnya jari-jarinya yang telah tersentuh warangan racun keris kakaknya. Ki Demang di Kepandak tertegun sejenak menyaksikan hal itu. Tetapi ketika ia melihat darah mengalir dari luka itu hatinya menjadi berdebar-debar. Sekilas dilihatnya keris Ki Reksatani yang tergolek di sampingnya. Kemudian dilihatnya Ki Reksatani melemparkan pisau belatinya dan memungut kerisnya kembali. "Lukaku akan sembuh" geramnya "tetapi kau akan mati" Ki Demang menggelengkan kepalanya "Kaupun akan mati. Keris itu tidak akan berguna lagi. Kau sudah melupakan pantangan yang diberikan oleh ayah kita. Keris pusaka itu tidak boleh diletakkan diatas tanah" Sekilas wajah Ki Reksatani berubah, tetapi terdengar ia menggeram "Omong kosong. Aku tidak memerlukan tuah dari keris itu. Aku memerlukan racun yang ada pada warangannya. Dan itulah yang akan membunuhmu" Tetapi belum lagi ia selesai, Ki Demang sudah menyerangnya lagi. Dengan susah payah Ki Reksatani menghindarinya dan mencoba untuk menyerang kembali. Namun darah dari jari-jarinya yang dipotongnya mengalir terus. Kekalahan yang ditambah dengan arus darah itu membuatnya semakin lemah. Ia berharap dengan arus darah itu membuatnya semakin lemah. Ia berharap bahwa Ki Demang akan segera kehilangan kemampuan perlawanannya karena racun kerisnya.
Tetapi ternyata Ki Demang masih tetap bertempur dengan sengitnya. Bahkan semakin lama semakin mendesaknya. Di saat-saat tubuh Ki Demang serasa terbakar, diperasnya segenap ilmu yang ada padanya. Kerisnya tiba-tiba telah berputaran seperti puluhan keris yang berterbangan mengitari lawannya. Ki Reksatani yang menjadi semakin lemah oleh lelah dan darah yang mengalir dari lukanya, semakin lama menjadi semakin pening oleh serangan-serangan Ki Demang yang membadai. Sebenarnya serangan-serangan itupun sudah mulai mengendor. Tetapi daya perlawanan Ki Reksatanipun sudah semakin susut. Ketika keris Ki Demang menyambar dengan dahsyatnya, Ki Reksatani berusaha menghindarinya.
Tetapi rasa-rasanya keris itu tidak lagi hanya sehelai. Keris itu bagaikan lidah api yang menjilat kemanapun ia pergi. Ki Reksatani menggeram ketika sekali lagi ia merasa keris kakaknya tergores ditabuhnya, dan kali ini justru di kening. Dengan demikian Ki Reksatani tidak lagi dapat melepaskan bagian yang tergores oleh senjata itu dari tubuhnya. "Kita akan mati bersama-sama" desis Ki Demang di Kepandak. "Persetan" Ki Reksatani yang telah dibakar oleh nafsu itu bagaikan orang yang kehilangan akal. Bahkan kemudian jantungnya telah dirayapi oleh perasaan putus-asa tanpa sesadarnya.
Ujung keris yang tergores di keningnya itu adalah suatu pertanda bahwa tidak ada lagi jalan baginya untuk melepaskan diri. Dengan demikian maka Ki Reksatani itupun kemudian mengamuk seperti orang yang terganggu ingatannya. Iapun bertempur dengan tanpa harapan dapat keluar dari peperangan itu, sehingga dengan demikian, tandangnya menjadi buas dan liar. Di saat-saat itu pula Lamat memacu kudanya menjelajahi bulak-bulak yang panjang, hutan-hutan perdu dan padang ilalang. Tanpa menghiraukan apapun juga, kudanya berlari secepat-cepat dapat dilakukan. Setiap kali Lamat selalu menyentuh perut kudanya dan memaksa kudanya berlari lebih cepat lagi. Tetapi Kepandak masih terlampau jauh. Dan ia masih memerlukan waktu separo hari untuk mencapai daerah itu apabila kudanya dapat berpacu dengan kecepatan yang ajeg. Agak jauh di belakang Lamat, Puntapun berpacu secepatcepatnya. Menurut pendapatnya, Lamat pasti masih terlampu lemah, sehingga mungkin sekali terjadi sesuatu di perjalanan. Karena itu dengan cemasnya ia berusaha untuk dapat menyusul Lamat yang belumterlampau lama mendahuluinya. Ternyata selama di perjalanan tubuh Lamat justru terasa menjadi semakin segar. Angin yang sejuk membuat lukaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ lukanya tidak lagi terasa panas dan nyeri. Bahkan luka-luka yang pedih itu seakan-akan telah ditiup-tiup oleh nafas yang segar. Dalam pada itu, perkelahian di halaman Kademangan Kepandak telah sampai di puncaknya. Luka ditubuh Ki Reksatani telah bertambah-tambah. Goresan demi goresan. Betapa ia mencoba berkelahi seperti harimau lapar, namun ternyata bahwa ia tidak akan dapat menolong dirinya. Akhirnya luka ditubuhnya tidak lagi dapat dihitung. Namun di dalam keadaan putus asa itu, ia masih juga sempat melukai Ki Demang di Kepandak dengan beberapa goresan. Namun sampailah pada suatu saat, Ki Reksatani kehabisan kekuatan. Luka-luka yang pedih, kelelahan dan racun yang bekerja ditabuhnya, membuatnya semakin lemah, sehingga akhirnya seperti kehilangan segenap tulang-tulangnya, Ki Reksatani menjadi terhuyung-huyung. Sekali ia masih menggerakkan tangannya untuk menggoreskan kerisnya. Namun tangan itupun segera terkulai bersamaan dengan lenyapnya kemampuannya untuk berdiri tegak. Perlahan-lahan Ki Reksatani jatuh diatas lututnya. Meskipun kerisnya masih di dalam genggaman, namun ia sudah tidak berdaya lagi untuk menggerakkannya. Sesaat Ki Demang di Kepandak masih dapat berdiri tegak. Ditatapnya wajah adiknya yang pucat. Goresan-goresan yang merah kehitam-hitaman tetapi tidak menitikkan darah.
Tiba-tiba Ki Reksatani itupun jatuh tersimpuli bertumpu pada kedua tangannya. Sekilas ia menengadahkan wajahnya dan dilihatnya kakaknya, Ki Demang di Kepandak berdiri di hadapannya dengan keris di tangannya. "Ki Demang" suaranya menjadi parau "kenapa kau t idak menghunjamkan keris itu di dadaku sama sekali" Ki Demang t idak menyahut. "Ternyata aku tidak berhasil sekedar membunuhnya. Tetapi aku juga akan mati karenanya" Ki Demang masih tetap berdiam diri. "Ki Demang" suara Ki Reksatani semakin lambat "kita akan mati bersama-sama. Apakah kau tidak menyadarinya?" "Ya. Reksatani. Kita akan mati bersama-sama. Kau akan mati lebih dahulu, kemudian baru aku akan menyusulmu" Ki Reksatani menjadi semakin lemah. Namun ia masih mencoba mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang-orang yang berdiri di seputar halaman. Tampaknya seperti bayangan-bayangan hantu yang hitam pekat di bawah cahaya obor yang kemerah-merahan. Kemudian tatapan matanya merayap kekaki Ki Demang di Kepandak dan perlahan-lahan memanjat naik. Sekali lagi ia melihat wajah Ki Demang, wajah kakaknya. Ketika Ki Demang memandang wajah adiknya itu pula, wajah yang pucat pasi, tiba-tiba terbayang di wajah itu, kenamgan yang sesaat telah terusir dari hatinya. Kini seakanakan dilihatnya wajah Reksatani di masa kanak-kanak. Serasa mereka adalah kanak-kanak itu. Kanak-kanak yang bermainmain di halaman Kademangan. Kanak-kanak yang berkelahi di Kademangan itu pula. Serasa Ki Demang di Kepandak menghayati kembali hidupnya beberapa puluh tahun yang lampau. Kalau ia mendapatkan permainan, maka adiknya itu selalu berusaha merebutnya. Kadang-kadang mainan itu diberikannya, tetapi kadang-kadang dipertahankannya, sehingga sekali-sekali merekapun berkelahi. Tetapi Ki Reksatani di masa kanakkanak selalu gagal. Bagaimanapun juga Ki Reksatani tidak akan dapat menang. Yang dapat dilakukan kemudian adalah menangis. Terasa dada Ki Demang di Kepandak berdesir ketika tampak olehnya kilatan pantulan cahaya obor di mata Ki Reksatani. Bukan Ki Reksatani di masa kanak-kanak. Tetapi Ki Reksatani yang telah berusaha membunuhnya. Benar-benar membunuhnya dengan keris peninggalan ayahnya. "Kakang" terdengar suara itu lirih sekali. Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Rasarasanya udara di halaman Kademangan itu telah menjadi kering sama sekali, sehingga hampir-hampir tidak ada yang berhasil dihisapnya melalui hidungnya. "Kita akan mati bersama-sama" desis Ki Reksatani kemudian.
 Ki Reksatani menggeram ketika sekali lagi ia merasa keris kakaknya tergores di tubuhnya, dan kali ini justru di kening. Dengan demikian Ki Reksatani tidak lagi dapat melepaskan bagian yang tergores oleh senjata itu dari tubuhnya. Ki Demang t idak menjawab. Dan tiba-tiba saja diluar dugaannya, Ki Reksatani berkata terbata-bata" semuanya sudah terlanjur. Dan semuanya sudah gagal" Ki Demang sekali lagi mencoba menarik nafas. "Aku minta maaf kakang" Bagaimanapun juga terasa sesuatu menyentuh hatinya. Reksatani adalah adiknya. "Aku minta maaf, bahwa aku telah melakukannya. Aku tidak mengerti, dorongan apakah yang membuat aku seakan menjadi gila" Ki Reksatani berhenti sejenak "tetapi semuanya sudah terlanjur. Aku akan mati, dan kau juga akan mati. Tetapi kau mati diatas dasar hakmu sendiri kakang. Aku akan mati sebagai seorang pengkhianat apalagi seorang adik yang telah membunuh kakaknya pula" Ki Demang tidak menjawab. Tetapi seakan-akan ia melihat dada Reksatani yang terbuka. Seolah-olah ia melihat bahwa di dalam dada itu kini memancar pengakuan dan penyesalan. Seakan-akan di dalam dada yang gelap kelam itu telah menyala pelita yang memberinya penerangan. Namun sudah terlambat. Yang dapat dilakukan oleh adiknya di saat-saat terakhir adalah pengakuan. Hanya pengakuan yang ikhlas. Tetapi ia t idak akan dapat lagi memperbaiki kelakuannya dan membenarkan perbuatannya yang salah. "Kakang, apakah kau masih bersedia memaafkan aku" suaranya menjadi semakin lambat dan terputus-putus. Ki Demang di Kepandak masih berdiri membeku. Nafasnya serasa menjadi semakin sesak. Badannya bagaikan terbakar karena racun yang keras telah bekerja di seluruh tubuhnya, meskipun racun warangan keris yang mencengkam darahnya tidak sebanyak warangan yang masuk ke dalam tubuh adiknya. "Kakang" suara Ki Reksatani menjadi semakin lirih "apakah kau mau memaafkan?" Ki Demang maju selangkah. Tetapi iapun sudah mulai terhuyung-huyung. Dipandanginya wajah adiknya yang pucat penuh penyesalan. "Aku tahu, tidak akan ada gunanya lagi kakang. Tetapi aku menyesal sekali. Aku menyesal" "Belum terlambat Reksatani. Kau masih dapat mengucapkannya sendiri" "Sudah terlambat. Aku akan mati" "Mati adalah batas kesatuan roh dan wadag dihidup yang fana. Tetapi penyesalanmu akan berpengaruh di dalam hidupmu yang baka. Kita akan bersama-sama menghadap sumber dari hidup kita" "Tetapi, tetapi.." suara Ki Reksatani terputus-putus ".....aku akan terjerumus ke dalam kancah dosaku. Aku akan kehilangan jalan untuk menghadap Tuhan. Semua pintu akan tertutup bagiku. Tetapi tidak bagimu kakang" "Tidak ada manusia yang bersih dari dosa. Tetapi penyesalan yang tulus di saat terakhir akan mendekatkan kita kepadanya. Kau menyesali dosa-dosamu, dan aku akan menyesali dosa-dosaku. Marilah kita yakini bahwa Tuhan Maha Pengampun" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun ia berdesis "Tetapi juga Maha Adil. Tuhan akan menghukum yang salah sesuai dengan kesalahannya" "Dan semua penyesalan dan taubat akan diperhitungkannya" Ki Reksatani mencoba menarik nafas. Dengan sisa tenaganya ia mengangkat kepalanya. Dipandanginya bayangan hitamyang semakin kabur. Tiba-tiba saja ia berteriak "Pergi. Pergi semua orang yang datang bersamaku. Jangan kalian mengganggu Kademangan ini lagi. Korban yang paling berharga telah jatuh di Kademangan ini. Kakang Demang di Kepandak dan aku sendiri. Jangan menambah korban lagi. Pergi, pergi.." Suara Ki Reksatani terputus. Sejenak ia mencoba bertahan. Namun perlahan-lahan iapun tertelungkup. "Reksatani " Ki Demang berjongkok disampingnya, dengan lemahnya. Dicobanya untuk mengangkat adiknya. Tetapi tangannya seakan-akan tidak bertulang lagi. Orang-orang yang berdiri di sekeliling halaman, bagaikan mengalami sebuah mimpi yang mengerikan. Sesaat mereka berdiri termangu-mangu. Namun kemudian Ki Jagabaya meloncat mendekati mereka berdua yang telah sampai pada perbatasan hidupnya. Sambil menahan nafas iapun kemudian berjongkok pula di samping Ki Demang di Kepandak. "O" desah Ki Demang "Ki Jagabaya. Tolong, terlentangkan adikku" Ki Jagabaya memandanginya sejenak. Namun kemudian tangannya terjulur menggapai tubuh Ki Reksatani. Perlahanlahan tubuh itupun ditelentangkannya. Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. Namun sekali lagi Ki Reksatani mencoba untuk membuka matanya sambil tersenyum. Ia masih melihat bayangan yang kabur. Namun masih juga dikenalinya Ki Demang di Kepandak dan Ki Jagabaya. "Aku minta maaf" suaranya parau dan hampir t idak terdengar "katakan kepada mBok-ayu Sindangsari. Aku minta maaf" Ki Jagabaya yang menahan kepala Ki Reksatani mengangguk-angguk "Ya, Ki Reksatani" "Juga kepadamu dan kepada semua rakyat Kepandak" "Ya Ki Reksatani" Ki Reksatani tidak dapat mengucapkan kata-kata lagi. Sekali lagi ia mencoba tersenyum. Namun kemudian wajahnya yang pucat menjadi seputih kapas. Sebuah tarikan nafas yang terakhir telah lewat di hidungnya. Ki Demang memejamkan matanya sejenak. Ketika ia membuka matanya kembali, terasa kepalanya menjadi pening sekali. Tubuhnya bagaikan terbakar. Ketika ia mencoba untuk berdiri, ia sudah tidak berhasil meskipun ia berpegangan Ki Jagabaya. "Ki Jagabaya" suaranyapun mulai serak "akupun akan mati. Warangan keris itu sudah bekerja di seluruh tubuhku. Tidak ada obat yang dapat menolongku" "Apakah aku harus memanggil dukun yang paling pandai Ki Demang" Ki Demang menggelengkan kepalanya "Tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya Ki Jagabaya" Ki Jagabaya menjadi tegang. Seperti semua orang yang ada di sekeliling halaman itu. "Ki Jagabaya" desis Ki Demang "panggillah Sindangsari" Ki Jagabaya menganggukkan kepalanya. Diletakkannya kepala Ki Reksatani perlahan-lahan. Kemudian iapun berangkat berdiri dan meloncat ke ruang dalam. Ketika ia melangkah dengan tergesa-gesa ke halaman, ia diikuti oleh Sindangsari. Tetapi dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat Ki Demang sudah semakin lemah. Tetapi kini beberapa orang bebahu Kademangan telah mengelilingi. Sindangsari berdiri termangu-mangu sejenak. Ketika ia melihat Ki Demang yang duduk bersandar seorang bebahu Kademangannya, tiba-tiba saja ia menjerit. "Kakang Demang. Kakang Demang" Perempuan itupun berlari-lari melintasi halaman. Sambil menjatuhkan dirinya di sisinya Sindangsari menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Kakang Demang. Apa yang terjadi?" Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya dipandanginya mayat adiknya yang terbujur di sisinya. "Sindangsari" berkata Ki Demang di Kepandak "kita tidak menghendaki semua ini terjadi. Tetapi ternyata kita tidak dapat mengelakkannya. Aku terpaksa membunuh Reksatani" Sidangsari terkejut sehingga tanpa sesadarnya ia mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan ia berpaling mengikuti arah tatapan mata Ki Demang di Kepandak. "O" dengan tergesa-gesa Sindangsari melemparkan pandangannya jauh ke sudut halaman. Terasa dadanya berdentangan oleh denyut jantungnya yang semakin cepat. "Reksatani sudah mati Sari" suara Ki Demang parau" ia sudah menebus kesalahannya dengan nyawanya" Ki Demang berhenti sejenak, lalu "tetapi bukan saja Reksatani. Akupun harus menebus ketamakanku" "Kakang Demang" wajah Sindangsari menjadi semakin tegang. "Akupun akan mati" "Kakang...." suara Sindangsari terputus. "Ya Sari. Aku juga akan mati. Tubuhku telah tergores keris Reksatani. Keris pusaka peninggalan ayah yang mempunyai kekuatan warangan yang luar biasa. Apalagi keris itu dipelihara oleh Reksatani sebaik-baiknya. Dan keris itu ternyata telah melukai kulitku. Dengan demikian maka aku tidak akan dapat hidup lebih lama lagi" "Tidak. Tidak" teriak Sindangsari "kau tidak akan mati kakang. Kau tidak akan mati" "Agaknya memang sudah sampai pada batas perjalanan hidupku Sari. Aku akan mat i" "Jangan" tangis Sindangsari t idak tertahankan lagi. Dan tanpa diduga-duga tiba-tiba Sindangsari menjatuhkan dirinya di dada Ki Demang di Kepandak yang sudah sampai dibatas akhir hidupnya. "Jangan tinggalkan aku kakang. Kau tidak akan mati" Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Demang di Kepandak. Selama hidupnya ia belum pernah memeluk Sindangsari sebagai istrinya. Seakan-akan diantara keduanya terdapat jarak yang tidak tertembuskan. Namun di saat-saat ajal mulai merabanya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada padanya, Ki Demang menggerakkan tangannya membelai rambut Sindangsari yang terurai kusut. Karena itu maka didekapnya Sindangsari di dadanya. Ia merasa bahwa ia seorang suami yang sah dari perempuan itu. Tetapi di dalam pergaulannya sehari-hari ia lebih bersikap sebagai seorang ayah terhadap anak gadisnya. Di bawah tangga pendapa Pamot berdiri termangu-mangu. Ketika ia melihat Sindangsari menjatuhkan diri dipelukan Ki Demang, tiba-tiba saja kepalanya tertunduk. Hatinya bergolak tanpa dapat dikendalikan lagi. Bagaimanapun juga hatinya serasa tersayat melihat Sindangsari berada di dalam belaian tangan Ki Demang di Kepandak, meskipun ia tahu, bahwa perempuan itu adalah isteri Ki Demang itu sendiri. Tanpa sesadarnya Pamot mengatupkan giginya rapat-rapat, seakan-akan menahan gejolak yang dahsyat di dalam dadanya. Namun demikian ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, seperti orang-orang lain yang juga tidak beranjak dari tempatnya. Tetapi Pamot itu terkejut ketika perlahan-lahan ia mendengar seolah-olah namanya disebut beberapa kali. Perlahan-lahan pula ia mengangkat wajahnya. Dan suara itu masih didengarnya. "Pamot " yang terdengar jelas kemudian adalah suara Ki Jagabaya. Pamot mengerutkan keningnya. "Kemarilah" Ki Jagabaya meneruskan. Gejolak di dada Pamot menjadi semakin keras. Sekali lagi ia menundukkan kepalanya ketika ia melihat Sindangsari menelungkup ditubuh Ki Demang yang lemah.
 "Pamot, kemarilah. Ki Demang memanggilmu" ulang Ki Jagabaya. Pamot menjadi termangu-mangu sejenak. Dadanya telah diamuk oleh kebimbangan. Ia tidak dapat menyaksikan Sindangsari yang menangisi Ki Demang di Kepandak. Tetapi Ki Demang justru telah memanggilnya. "Cepat sedikit Pamot" pinta Ki Jagabaya. Pamot tidak dapat menolak lagi. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Ki Demang yang bersandar seorang bebahu Kademangan, sedang Sindangsari masih menangis membasahi dada Ki Demang yang bidang itu. Sejenak Pamot berdiri di samping Ki Jagabaya yang berjongkok. "Kemarilah" desis Ki Demang di Kepandak dengan suara yang parau dan dalam. "Berjongkoklah" gumam Ki Jagabaya. Pamotpun kemudian berjongkok di samping Ki Demang yang menjadi semakin lemah. "Pamot " bisik Ki Demang dengan suara yang parau "umurku tidak akan lebih panjang dari malam ini" Pamot tidak menyahut. "Aku akan mati. Semua yang ada di Kademangan ini akan aku tinggalkan. Rumah, ternak, sawah, halaman ini dan rakyat Kepandak yang baik. Juga Sindangsari dan anak di dalam kandungannya" Pamot masih tetap berdiam diri. "Tetapi rasa-rasanya aku segan untuk berangkat, sebelum aku yakin bahwa yang aku tinggalkan tidak akan mengalami kesulitan apapun juga. Terutama isteri dan anak di dalam kandungannya itu" "Pamot " desis Ki Demang. Suaranya menjadi semakin dalam "Semua yang mendengar kata-kataku ini akan menjadi saksi. Bahwa sebagai kelajiman dan adat kita, sepeninggalku, anakkulah yang akan berhak menggantikan kedudukanku. Karena anakku masih ada di dalam kandungan, maka diperlukan seseorang yang dapat mewakilinya untuk sementara. Sampai pada saatnya anakku kelak dapat menjabat kedudukan Demang di Kepandak. Kalau ia laki-laki, maka ia adalah Demang itu. Tetapi kalau ia perempuan, maka suaminyalah yang akan melakukan tugasnya sebagai Demang di Kepandak. Ki Jagabaya, para bebahu yang ada di sekitar Ki Demang di Kepandak mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Pamot masih saja menundukkan kepalanya. "Pamot " berkata Ki Demang kemudian dengan suara yang terputus-putus "aku sudah akan mati. Baiklah aku berkata berterus terang, karena aku tidak mempunyai waktu lagi" ia berhenti sejenak menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah nafasnya telah hampir terputus dilubang hidungnya "Aku akan mati. Aku tahu, dan hampir seluruh orang-orang Kepandak tahu, bahwa aku telah melakukan kesalahan yang besar terhadapmu dan Sindangsari. Karena itu sepeninggalku Pamot, aku serahkan Sindangsari kembali kepadamu. Terimalah. Aku minta sebelum ajalku, kau mau menerimanya sebagai isterimu. Kau pulalah yang aku percaya untuk mewakili anakku melakukan tugas Kademangan ini sebaikbaiknya, sampai saatnya kelak anak itu dapat menjalankannya sendiri. Aku percaya bahwa kau mampu melakukan. Kau masih muda. Kau masih mempunyai seribu macam harapan buat masa depan. Dalam olah kanuragan dan olah kasukman. Semoga Tuhan melindungimu" Nafas Ki Demang menjadi semakin pendek. Tetapi ia masih bertanya "Apakah kau bersedia Pamot?" Dada Pamot benar-benar telah dilanda kebimbangan yang dahsyat. Ia tidak mengerti, perasaan apakah yang sebenarnya bergolak di dadanya terhadap Sindangsari. Apakah benar ia memang mengharapkannya, atau sekedar hatinya diremas oleh perasaan cemburu? Atau perasaan-perasaan lain yang tidak dikenalnya?"
Namun di saat terakhir seolah-olah Ki Demang dapat membaca guratan perasaannya "Pamot. Kau ragu-ragu?" Ki Jagabaya berpaling. Ditatapnya wajah Pamot yang tegang penuh pertentangan di dalamdiri. "Jawablah Pamot" desak Ki Jagabaya "kaulah yang mendapat kepercayaan itu" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Sindangsari yang terisak di dada Ki Demang di Kepandak. "Nafasnya tinggal satu dua. Aku ingin mendengar jawabmu Pamot" "Pamot " desak Ki Jagabaya. Sekali lagi Pamot menarik nafas. Lalu terdengarlah suaranya yang dalam "Baiklah Ki Demang. Aku menerimanya" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ia masih akan berbicara. Tetapi bibirnya hanya dapat tersenyum. Perlahanlahan ia mencoba meraba kening isterinya. Tetapi ketika tangan itu menyentuh wajah Sindangsari, maka tangan itu terkulai dengan lemahnya. Namun masih juga dipaksakannya berbisik "Sindangsari, kembalilah kepadanya. Kepada Pamot" agaknya Ki Demang masih ingin berkata, tetapi suaranya sudah tidak dapat melalui kerongkongannya. Perlahan-lahan Ki Demang menggerakkan kepalanya. Kemudian sebuah tarikan nafas yang dalam. Dan mata Ki Demang itupun terpejam dengan sebuah senyum di bibirnya. "Ki Demang" desis Ki Jagabaya. Sindangsari yang menelungkup di dada Ki Demang mengangkat kepalanya. Terasa tarikan nafasnya terhenti. Dan ketika dilihatnya Ki Demang telah memejamkan matanya, maka tiba-tiba perempuan itu menjerit keras sekali. "Kakang Demang. Kakang Demang" Tetapi Ki Demang sudah tidak mendengarnya. Tidak ada jawaban yang meloncat melalui bibirnya. Sekali lagi Sindangsari menjatuhkan kepalanya sambil menangis sejadi-jadinya. Bagaimanapun juga ia mempunyai kenangan tersendiri selama ia hidup di Kademangan. Ki Demang di Kepandak itu serasa seorang ayah yang selalu mencoba mengerti keadaannya sebaik-baiknya. Tetapi juga seorang suami yang memerlukan pelayanannya dalam hidup sehari-hari. Ia jugalah yang setiap hari menyediakan makan dan minum. Membersihkan bilik dan pembaringannya. Menyapanya kalau ia pulang dengan lelah setelah melakukan tugasnya. Tetapi yang selalu bertanya pula kepadanya apabila ia mengeluh tanpa sesadarnya "Apakah aku dapat membantumu Sari?" Sejenak para bebahu Kademangan Kepandak seakan-akan membeku. Mereka tidak segera dapat berbuat sesuatu. Dibiarkannya Sindangsari menangis sepuas-puasnya, menangisi suaminya yang gugur mempertahankan bukan saja haknya, tetapi juga isteri dan anak di dalam kandungan. Tetapi sejenak kemudian Ki Jagabaya berbisik "Sudahlah Nyai Demang. Biarkan kami mendapat kesempatan menyelenggarakan jenazah Ki Demang di Kepandak. Sebaiknya Nyai Demang masuk saja ke dalam rumah Kademangan" Tetapi Nyai Demang di Kepandak sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. "Panggillah perempuan-perempuan tua" desis Ki Jagabaya kepada seorang bebahu yang duduk di sampingnya. Sejenak kemudian perempuan-perempuan tua itupun telah berdatangan. Dengan lembut mereka mencoba mengajak Sindangsari masuk ke rumahnya. "Lihatlah" berkata seorang perempuan "di sekitar halaman ini masih banyak sekali laki-laki yang menggenggam senjata telanjang. Marilah. Biarlah Ki Jagabaya menyelesaikan semuanya. Perlahan-lahan namun akhirmya Sindangsaripun melepaskan suaminya. Dengan dibimbing oleh perempuanperempuan tua, Nyai Demang itupun dibawa masuk ke ruang dalam. Tetapi ketika di bawah tangga pendapa ia berpaling, dilihatnya Pamot berdiri termangu-mangu. Terasa dada Sindangsari berdesir. Pamot itu seakan-akan memandangnya seperti baru pertama kali melihatnya. Sorot mata anak muda itu serasa menembus sampai ke pusat jantungnya. "Pamot " Nyai Demang itu berdesis. Hampir saja ia berlari kepada anak muda itu. Namun perempuan-perempuan tua yang membimbingnya membawanya naik ke pendapa. Pamot memalingkan wajahnya menyapu halaman. Beberapa orang sedang mengangkat tubuh Ki Demang ke pendapa. Yang lain mengangkat tubuh Ki Reksatani. Namun di sekitar halaman itu masih dilihatnya para pengawal yang bersenjata dan orang-orang berkuda yang berdatangan bersama Ki Reksatani. Namun wajah-wajah merekapun telah tunduk dalam-dalam. Hati mereka sempat juga merenungi apa yang baru saja terjadi. Tetapi agaknya Ki Jagabayapun segera bertindak pula atas nama Ki Demang "He, orang-orang yang telah menjerumuskan diri ke dalam pengkhianatan. Kini Ki Reksatani sudah tidak ada lagi di antara kalian. Kalian telah mendengar sendiri pesannya dan janji jantannya sebelum ia melakukan perang tanding?" Ki Jagabaya berhenti sejenak, lalu "Apakah kalian ingin meyakinkan siapa yang kalah dan siapa yang menang? Ki Reksatani telah meninggal lebih dahulu. Karena itu, maka iapun dapat dianggap telah kalah. Apalagi ia sendiri telah meneriakkan perintah kepada kalian untuk pergi meninggalkan halaman ini" sekali lagi ia berhenti, lalu "Tetapi yang penting bukan itu. Bukan sekedar kalian pergi meninggalkan halaman ini. Tetapi apakah kalian telah menyadari, bahwa yang terjadi adalah bencana buat Kademangan ini? Kalau kalian t idak dapat menyadarinya, maka memang lebih baik kalau kita bertempur sekarang. Siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang. Siapa yang akan tumpas dan siapa yang akan menguasai Kepandak sebagai kuburan raksasa" Tidak seorangpun yang menjawab. "Nah, sekarang kalian dapat memilih. Kalau kalian menyesali perbuatan kalian, tinggalkan halaman ini. Kalau tidak, kita akan segera bertempur. Kami sudah siap" Beberapa orang berkuda itu saling berpandangan. Tetapi bagi mereka agaknya tidak akan ada gunanya lagi untuk bertempur. Mereka sadar, bahwa Ki Jagabaya dan para pengawal pasti akan menghancurkannya. Tetapi kalau mereka meninggalkan halaman itu, mereka akan dimanfaatkan. Ki Jagabaya agaknya tidak akan melakukan tuntutan lebih lanjut atas mereka. Karena itu, maka ketika seorang dari mereka bergerak, maka yang lainpun segera mengikutinya. Satu-satu mereka pergi meninggalkan jalan-jalan diseputar halaman Kademangan Kepandak. Para pengawal yang semula berdebar-debar, satu-satu mulai menarik nafas lega. Mereka tidak lagi harus bertempur. Namun demikian kembali mereka harus menundukkan kepala, karena di pendapa dua orang kakak beradik yang selama ini mereka hormati, telah meninggal justru dalam perang tanding diantara mereka sendiri. Pamot yang masih termangu-mangu, terkejut ketika Ki Jagabaya menepuk pundaknya. Bisiknya "Kenapa kau seperti kehilangan akal Pamot. Kau berdiri merenung seperti orang tua yang linglung" Pamot tidak segera dapat menjawab. Tiba-tiba saja ia menjadi tergagap. "Pamot " berkata Ki Jagabaya seterusnya "berbuatlah sesuatu. Kau sekarang adalah Demang di Kepandak" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya dipandanginya pintu pringgitan yang masih terbuka sedikit. Secercah cahaya meloncat keluar menarik garis yang lurus. "Masuklah ke rumah itu. Terimalah Sindangsari. Hatinya terlampau pedih mengalami peristiwa ini. Kau adalah satusatunya orang yang paling dekat di hatinya. Selebihnya kau adalah seorang laki-laki. Jangan kehilangan akal" Tetapi Pamot bahkan kemudian menggelengkan kepalanya. Katanya "Ki Jagabaya. Aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup melakukan semuanya. Ki Jagabaya sajalah yang menjadi Demang di Kepandak" "Meskipun Ki Demang di Kepandak yang baru saja meninggal itu bukan orang yang bersih sama sekali, tetapi kami mencoba untuk memenuhi permintaannya yang terakhir. Kau juga sebaiknya memenuhinya. Apalagi kau sudah menyanggupinya"
"Aku hanya ingin menyenangkan hatinya di saat-saat ia akan meninggal" "Jangan kau ingkari janjimu di hadapan orang yang akan meninggal" "Pamot " terdiam. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk. "Pamot " berkata Ki Jagabaya "kau mempunyai pengetahuan. Kau juga mempunyai pengalaman. Kalau masih ada yang kurang, kau dapat mempelajarinya dari orang-orang yang ada di sekitarmu. Dari aku, dan bebahu yang lain dan dari seluruh rakyat Kepandak" Pamot t idak menjawab. Dan di luar sadarnya beberapa orang bebahu yang lain telah berdiri mengitarinya. "Nah, masuklah. Mulailah berbuat sesuatu atas Nyai Demang yang pasti sedang murung itu" Pamot tidak dapat menolak ketika Ki Jagabaya mendorongnya ke pendapa. Dengan berat kakinya melangkah, menaiki tangga satu demi satu. Ketika ia sampai di tangga teratas, sekali lagi langkahnya tertegun. Tetapi Ki Jagabaya mendorongnya. "Masuklah. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, menjelang penyelenggaraan jenazah Ki Demang dan Ki Reksatani. Kau mempunyai wewenang mengatur dan mempergunakan apa saja yang ada di rumah ini dengan seizin Sindangsari. Karena itu temuilah perempuan itu. Berbicaralah, bahwa masih ada yang harus dilakukan. Bahwa jenazah suaminya masih harus dikuburkan. Dan kaulah pelaksananya. Kami akan membantu sejauh dapat kami lakukan" Pamot masih juga termangu-mangu. Namun kemudian kakinya melangkah juga ke pintu pringgitan. Dengan ragu-ragu Pamot mendorong pintu yang masih terbuka sedikit itu. Dengan kaki gemetar ia maju selangkah, memasuki pringgitan rumah Kademangan di Kepandak. Tetapi pringgitan itu ternyata kosong. Tidak ada seorangpun yang ada di pringgitan itu. Sejenak Pamot berdiri termangu-mangu. Ia tidak segera tahu, apakah yang sebaiknya dikerjakan. Dipandanginya saja isi pringgitan itu. Lampu yang menyala diatas ajug-ajug. Sehelai tikar pandan yang tergantung di dinding dan sepasang tombak yang silang menyilang. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Hatinya berdesir ketika dari balik pintu yang masuk ke ruang dalam ia mendengar isak tangis Sindangsari. Seorang perempuan mencoba menenteramkan hatinya. Namun Sindangsari masih juga menangis. Tiba-tiba Pamot mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara seorang laki-laki di dalam. Agaknya laki-laki itu telah masuk lewat pintu butulan. Perlahan-lahan ia berkata kepada salah seorang perempuan "Katakan kepadanya, bahwa Ki Demang telah menentukan siapakah yang akan menjadi pelindungnya. Biarlah hatinya menjadi agak tenang. Meskipun ia sudah mendengar sendiri, tetapi barangkali ia perlu meyakinkan" "Siapa?" bertanya perempuan itu. "Kita, yang menunggui di saat Ki Demang menarik nafas terakhirnya menjadi saksi. Ki Demang telah menyerahkan seluruhnya kepada Pamot. Ialah yang akan menjadi wali anak di dalam kandungan itu sampai anak itu kelak dapat menggantikan kedudukan ayannya, Demang di Kepandak" "O" desis perempuan itu. Sejenak kemudian tidak terdengar suara apapun. Agaknya laki-laki itu telah pergi meninggalkan Sindangsari yang menangis.
Pamot masih saja berdiri di tempatnya dengan termangumangu. Iapun kemudian mendengar perempuan-perempuan itu mencoba menghibur hati Sindangsari. Dengan hati-hati seorang perempuan tua berkata "Nyai Demang. Sudahlah. Jangan ditangisi lagi yang sudah pergi. Biarlah Ki Demang dapat menempuh jalan lapang tanpa tertegun-tegun di perjalanannya. Bukankah Ki Demang sudah menjatuhkan pesan sebelum ia meninggal? Nah, pesan itu merupakan suatu penghibur yang dapat mengurangi kepahitan perasaanmu. Mungkin kau tidak segera dapat menyesuaikan diri dengan pesan itu. Tetapi pesan itu harus mendapat perhatian. Setidak-tidaknya kau mendapat seorang kawan berbincang selama kau menghadapi percobaan yang sangat berat ini" Nyai Demang tidak menjawab. Ia memang mendengar sendiri bagaimana Ki Demang menyerahkan dirinya ke dalam perlindungan Pamot. Bagaimana Ki Demang mengatakan, bahwa anak di dalam kandungannya itulah yang kelak berhak menjadi penggantinya, karena anak itu diakuinya sebagai anaknya. Sindangsari t idak tahu perasaan apakah yang sebenarnya bergolak di dalam hatinya. Apakah ia bersedih apakah ia merasa dirinya terlepas dari kekangan dan dapat kembali kepada Pamot. Atau kedua-duanya kini sedang bergulat di dalam hatinya?" Ia memang bersedih atas kematian Ki Demang di Kepandak. Tetapi ia berpengharapan bahwa ia akan menjelang suatu kehidupan yang lain bersama Pamot yang tidak pernah dilupakannya sekejappun. Namun justru karena Ki Demang mengetahui perasaannya itulah maka ia menjadi sedih atas kematiannya. Agaknya selama ini Ki Demangpun mencoba untuk mengerti tentang dirinya sedalam-dalamnya. Dibiarkannya dirinya selalu berangan-angan tentang Pamot. Tentang anak muda yang tidak akan dapat diuraikan lagi daripadanya karena ikatan yang ada di dalam dirinya itu. Anak muda yang telah meletakkan benih yang sedang tumbuh. Semakin lama menjadi semakin besar. Selama ini Ki Demang tidak pernah mengganggu gugat, meskipun ia sudah tahu keadaannya yang sebenarnya. Demikianlah Sindangsari tidak segera dapat menguasai dirinya sendiri. Kebingungan dan kegelisahan telah membakar dadanya. Ia tidak dapat menemukan perasaannya sendiri. Dan suara perempuan-perempuan tua di sekitarnya itu justru telah membuatnya menjadi semakin bingung. "Kau harus menerima pesan itu Nyai" terdengar seseorang berkata. "Jangan bersedih lagi. Ki Demang sudah menghadap Tuhannya kembali" Dan yang lain "Kita bersama-sama telah bersedih hati atas kematiannya. Tetapi semuanya yang terjadi ini tidak akan dapat kembali lagi. Tidak dapat diulang kembali. Karena itu, terimalah keadaan yang mendatang" Masih ada lagi yang berbisik "Jangan tenggelam dalam kepedihan. Kau masih harus berbuat sesuatu atas jenazah suamimu. Kau dapat memanggil Ki Jagabaya dan terutama, kau akan mendapat sisihan baru dalam kesulitan ini. Panggilan Pamot dan para bebahu yang lain" Nyai Demang masih saja menangis. Dan seorang perempuan yang lain berkata "Jagalah kandunganmu Nyai. Jangan kau turutkan kata hatimu" Suara-suara itu serasa berputar di kepalanya. Semakin lama semakin cepat sehingga seakan-akan Sindangsari itu telah diputar oleh pusaran yang semakin lama semakin menyeretnya ke dalamarus yang t idak terlawan. Dalam keadaan itulah, seorang anak muda berdiri di muka pintu ruang dalam. Dengan tatapan mata yang kosong ia memandangi perempuan-perempuan yang sedang berkerumun di seputar Sindangsari. Ketika salah seorang melihatnya, tiba-tiba ia berdesis "Pamot. Pamot telah datang" Semua orang berpaling kepadanya. Dan bahkan Sindangsari yang sedang menangispun mengangkat wajahnya pula. Ketika Sindangsari menatap wajah Pamot yang berdiri termangu-mangu di muka pintu itu, Pamotpun ternyata sedang memandanginya pula. Benturan tatapan mata mereka yang tiba-tiba itu, terasa menggetarkan hati Sindangsari. Sejenak ia membeku, namun tanpa disadarinya, oleh dorongan yang tidak dikenalnya, maka tiba-tiba saja ia meloncat berdiri dan berlari kepada anak muda itu. Sambil berpegangan kedua lengannya yang kokoh, Sindangsari meletakkan kepalanya di dadanya yang bidang. Tangisnya justru seakan-akan menjadi semakin keras dan meledak-ledak. Perempuan-perempuan tua yang menyaksikan hal itu seakan-akan telah membeku di tempatnya. Mereka berdiri termangu-mangu tanpa berbuat apapun juga. Satu dua diantara mereka berdiri berpandangan. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Bahkan sejenak kemudian salah seorang dari mereka berkata "Marilah, kita tinggalkan keduanya. Biarlah mereka berbicara dan berbuat sesuatu" Perempuan yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan merekapun saling menggamit dan satu-satu mereka meninggalkan ruangan itu. Sesaat kemudian yang ada di dalam ruangan itu tinggallah Pamot dan Sindangsari. Sindangsari seakan-akan mendapat tempat untuk menumpahkan segenap himpitan perasaannya. Karena itu, maka iapun menangis semakin menjadi-jadi, sehingga tubuhnya, terguncang-guncang karenanya. Tetapi Pamot masih saja berdiri membeku. Seakan-akan ia tidak mengerti, bagaimana harus menanggapi sikap Sindangsari. Tangannya masih saja terkulai lemah di sisinya. Dibiarkannya saja Sindangsari berpegangan pada bahunya yang kokoh kuat dan membasahi dadanya dengan air matanya. "Kakang, kakang Pamot, aku takut " desis Sindangsari. Pamot sama sekali tidak menyahut. Ia masih saja berdiri membeku di tempatnya. "Kakang, kakang " Tetapi Pamot tidak juga menjawab. "Kakang" perlahan-lahan Sindangsari mengangkat wajahnya. Dadanya berdesir melihat wajah Pamot yang kosong. Bahkan tatapan matanya jauh menjangkau melalui lubang pintu butulan yang masih terbuka. "Kakang, kakang" panggil Sindangsari sambil mengguncang-guncang tubuh Pamot "kenapa kau bersikap seperti ini?" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dibiarkannya Sindangsari melepaskan pundaknya dan mundur selangkah surut. "Kenapa kau memandang seperti itu?" Pamot kini menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergolak di dalam dadanya. Tetapi tidak sepatah katapun yang dapat dikatakannya. "Kenapa kau kakang?" desak Sindangsari. Sejenak perempuan itu merenung. Namun tangisnya justru mereda "Aku memerlukan seseorang di dalam keadaan ini. Aku telah kehilangan sandaran kakang. Satu-satunya orang yang pantas adalah kau, dan kau jugalah yang mendapat kepercayaan Ki Demang di saat terakhir" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengar suaranya yang berat datar "Sindangsari. Kenapa Ki Demang menyerahkan kau kepadaku?" Pertanyaan itu telah mengejutkan Sindangsari. "Dan apakah aku hanya dapat sekedar menerima penyerahan?" "Kakang" wajah Sindangsari menjadi tegang. "Sari, apakah aku masih dapat menerima kau kembali kepadaku?" "Tetapi, apakah kau sudah menyanggupinya kakang. Kau akan menjadi pelindungku dan anak di dalam kandungan ini" "Itulah yang akan aku katakan kepadamu. Kau adalah seseorang yang bukan saja terdiri atas kesadaran akan adamu serta kehidupan batiniah yang setia dan bersih atas cinta dan kasih diantara kita, tetapi kau juga terdiri atas wadagmu yang mempunyai kenyataan sendiri. Kau, kau yang kasat mata ini adalah isteri Demang di Kepandak. Kau pernah menjadi isterinya dan sekarang kau mengandung anaknya. Sindangsari. Apakah aku masih harus menerimamu seperti dahulu? Kalau sekarang aku terpaksa menerima kau dan memenuhi permintaan Ki Demang di Kepandak di saat-saat terakhir, maka akupun hanya akan menerima wadagmu. Meskipun di dalam wadagmu masih tersimpan kesetiaan hidup batiniahmu. Tetapi aku sudah tidak akan mempunyai kegairahan hidup dalam keutuhan yang bulat antara jasmaniah dan batiniah. Ada semacam pertentangan di dalam diriku, antara nalar dan perasaan menghadapi persoalan sekarang ini" "Kakang" suara Sindangsari menjadi gemetar. Dan tiba-tiba saja wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian wajah itu menjadi kemerah-merahan. "Kakang, sebagai seorang perempuan, aku harus menjaga harga diriku. Sebaiknya aku tidak menjajakan diriku lagi kepada siapapun juga. Terlebih-lebih lagi kepadamu. Tetapi aku ingin memberikan penjelasan kakang. Aku selama ini masih aku yang dahulu" Pamot mengerutkan keningnya. "Apakah tanggapanmu nanti, aku tidak akan mempedulikan. Seandainya kau ingkar sekalipun, aku tidak akan menyesal" Sindangsari berhenti sejenak "aku tahu perasaanmu. Kau menyangka bahwa aku tidak lagi sebersih saat kau tinggalkan. Bersih dalam pengertian cinta kita yang telah kita nodai bersama. Kau ingat? Dan inilah hasil dari percikan noda itu. Aku telah mengandung. Anak di dalam kandungan ini sama sekali bukan anak Ki Demang di Kepandak. Terserah kepadamu, percaya atau tidak. Tetapi selama aku menjadi isteri Ki Demang di Kepandak dalam pengertian ketentuan yang berlaku setelah aku kawin dengannya, namun ia tidak lebih dari seorang bapak bagiku. Aku tidak pernah disentuhnya. Aku tidak tahu, kenapa ia berbuat begitu. Dan aku juga sudah mengatakan kepadanya, ketika ia bertanya kepadaku, kenapa aku mengandung. Aku berkata terus terang, bahwa anak di dalam kandungan ini adalah anakmu. Dan ia memperlakukan anak di dalam kandungan ini seperti anaknya sendiri. Dan kau dengar, bahwa anak ini, anakmu inilah yang kelak akan menggantikannya menjadi Demang di Kepandak" "Sari" wajah Pamot menjadi pucat. "Kalau kau tidak percaya, terserahlah. Tetapi itulah kenyataannya. Dan kalau kau sekarang akan ingkar, ingkarlah. Pergilah dan tinggalkanlah aku sendiri disini. Aku masih mampu berbuat apa saja. Aku masih dapat menyelenggarakan jenazah suamiku. Ki Demang di Kepandak" Pamot berdiri di tempatnya seakan-akan membeku. Namun masih juga terloncat di bibirnya "Tetapi bukankah selama ini kau berada di Kademangan?" "Ya. Aku selama ini memang berada di rumah ini. Di rumah Ki Demang di Kepandak. Bukankah kau akan mengatakan bahwa di dalam satu rumah aku berada dengan seorang lakilaki untuk waktu yang lama? Dan kau akan tidak percaya bahwa selama itu tidak pernah terjadi hubungan antara aku dan Ki Demang di Kepandak sebagai seorang laki-laki, yang dengan demikian kehidupan wadagku sudah tidak sebersih di saat kau tinggalkan?" Pertanyaan-pertanyaan yang meluncur seperti air terjun itu tidak segera dapat dijawab. Bahkan Pamot seakan-akan telah membeku di tempatnya. "Kakang Pamot. Aku memang berada di rumah ini bersama seorang laki-laki tanpa orang lain. Kalau kau percaya percayalah. Kalau tidak terserahlah. Aku masih tetap bersih seperti dahulu. Noda yang melekat diwadagku adalah noda yang telah kita buat bersama-sama. Bukan noda yang dipaksakan oleh Ki Demang di Kepandak" Pamot masih berdiri saja seperti patung. Kata-kata Sindangsari yang terngiang-ngiang di telinganya membuat pening. Sekali lagi ia diseret oleh amukan pertentangan antara perasaan dan nalarnya. Namun dalam ketegangan yang memuncak itu, keduanya terkejut ketika mereka mendengar suara seorang perempuan yang lembut di pintu butulan "Nyai Demang di Kepandak benar" Keduanya serentak berpaling. Sejenak mereka termangumangu ketika mereka melihat perempuan itu melangkah semakin dekat. Seorang perempuan yang menjelang pertengahan usia, tetapi perempuan itu masih tampak segar dan cantik. "Pamot " berkata perempuan itu "aku yakin bahwa Nyai Demang masih sebersih saat-saat ia diarak memasuki jenjang perkawinannya. Dan akupun yakin, bahwa sebelum itu, Nyai Demang pasti sudah membawa bibit yang kemudian tumbuh di dalam dirinya. Sebelum aku mendengar dari siapapun juga, aku sudah tahu, bahwa Nyai Demang di Kepandak pernah berhubungan dengan seorang laki-laki sebelum ia kawin dengan Ki Demang" Pamot dan Sindangsari berdiri tegak bagaikan patung. Tetapi tubuh mereka basah oleh keringat yang seakan-akan terperas dari kulitnya. "Adalah kebetulan sekali, bahwa kalian hanya berdua di ruangan ini. Adalah Kebetulan bahwa perempuan-perempuan tua itu pergi meninggalkan kalian. Tetapi sebaiknya kita berbicara tidak terlampau keras agar tidak ada orang yang mendengarnya" orang itu berhenti sejenak, lalu "jangan terkejut Nyai Demang, bahwa ada orang lain kecuali kalian berdua dan Ki Demang di Kepandak yang mengetahui hal itu. Bahkan mungkin masih ada satu dua orang lain lagi yang mengetahuinya, setidak-tidaknya menduga demikian" "Siapa?" bertanya Sindangsari "dan darimana kau tahu?" "Seperti katamu, Ki Demang tentu tidak akan pernah menyentuhmu. Benar ia seorang laki-laki jantan. Ia adalah seorang yang pilih tanding di peperangan. Tetapi ia bukan laki-laki yang utuh bagi perempuan. Itulah jawabnya" "Darimana kau tahu?" Perempuan itu terdiam sejenak. Ditatapnya wajah Sindangsari dan Pamot berganti-ganti. Kemudian jawabnya benar-benar telah menggetarkan hati keduanya "Aku adalah salah seorang dari bekas isteri Ki Demang di Kepandak" "O" Sindangsari berdesis "jadi?" "Ya. Itulah sebabnya aku mengetahui keadaan Ki Demang di Kepandak sampai sedalam-dalamnya" perempuan itu berhenti sejenak "ia hampir menjadi gila karena kegagalankegagalannya, sehingga karena itu kadang-kadang ia berbuat aneh-aneh terhadap isterinya. Kadang-kadang ia menyakiti dan kadang-kadang membentak-bentak tanpa sebab. Itulah agaknya salah seorang isterinya menjadi sakit-sakitan dan meninggal. Tetapi aku tidak. Aku tidak menjadi sakit-sakitan, dan bahkan aku tidak menjadi sakit hati. Aku membiarkan Ki Demang berbuat apa saja untuk mengisi kepedihan hatinya" suara perempuan itu tiba-tiba hampir hilang ditelannya kembali "Aku sangat mencintainya" Pamot dan Sindangsaripun menundukkan kepalanya. Dan mereka mendengar perempuan itu berkata lambat sekali "Karena itulah aku tahu pasti bahwa anak di dalam kandungan Nyai Demang itu bukan anaknya. Ki Demang tidak akan mempunyai anak meskipun ia akan kawin sepuluh kali lagi" "O" Sindangsari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menjadi malu sekali mengenang semuanya yang telah terjadi atasnya, dan yang ternyata diketahui oleh beberapa orang lain. Perempuan itu, beberapa orang perempuan lain dan bahkan Lamat. "Tetapi anak itu ternyata akan kembali kepada ayahnya. Karena itu, jangan dirisaukan lagi apa yang sudah terjadi di Kademangan ini. Aku memang merasa iri, kenapa Ki Demang berbuat lain terhadap Nyai Demang yang terakhir. Aku tidak pernah mendengar Ki Demang berbuat kasar terhadapnya. Aku juga tidak pernah mendengar keduanya bertengkar. Hal itu mungkin disebabkan karena Nyai Demang sedang mengandung, atau Ki Demang telah berhasil mengendapkan perasaannya. Bahkan ia berhasil bersikap seperti seorang bapak terhadap anaknya" Tidak ada jawaban. Tetapi terdengar perempuan itu terisak. "Laki-laki yang aku cintai itu sekarang sudah meninggal" katanya pula, lalu "tetapi aku ingin mohon ijin kepada Nyai Demang apakah aku diperkenankan ikut merawat jenazah bekas suamiku itu?" Sindangsari t idak segera menjawab. "Nyai Demang" katanya pula "apakah Nyai Demang mengizikannya? Aku akan sangat berterima kasih kalau Nyai Demang tidak berkeberatan" Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan kepalanya. Suaranya yang parau terdengar terputus-putus "Silahkan Nyai. Aku tidak berkeberatan sama sekali" "Terima kasih" jawab perempuan itu sambil mengusap matanya yang basah "kau memang baik hati. Kesempatan ini adalah kesempatan yang terakhir bagiku" Sindangsari t idak menyahut lagi. Dipandanginya saja perempuan yang kemudian melangkah perlahan-lahan ke pendapa. Di pintu pringgitan, di samping Pamot ia berkata "Pamot, Sindangsari kembali kepadamu seperti pada saat ia meninggalkan kau" Pamot tidak menyahut, dan perempuan itupun kemudian berpaling kepada Sindangsari "Aku akan ke pendapa. Aku akan berkata kepada Ki Jagabaya, bahwa kau sudah memberi aku ijin" Ketika Sindangsari kemudian menganggukkan kepalanya, maka perempuan itupun meneruskan langkahnya. Sepeninggal perempuan itu, Pamot dan Sindangsari saling berdiam diri sejenak. Keduanya menundukkan kepala mereka sambil menahan nafas yang memburu. Namun sejenak kemudian Pamot mengangkat wajahnya sambil berkata lirih "Sari, maafkan aku. Ternyata aku telah keliru menilaimu. Aku minta maaf" Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Perlahan-lahan iapun mengangkat wajahnya pula. Sekali lagi pandangan mata bertemu, dan sekali lagi jantung mereka bergetar. "Maafkan aku Sari" desis Pamot sekali lagi. Sindangsari ternyata tidak dapat lagi menahan perasaannya. Sekali lagi ia berlari kepada anak muda itu. Ketika ia berpegangan pada bahu yang kokoh dan melekatkan kepalanya ke dada yang bidang, maka Pamotpun kemudian memeluknya sambil berkata "Aku minta maaf. Mudah-mudahan hatimu selapang lautan" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi air matanya sajalah yang mengalir membasahi dada Pamot. Ki Jagabaya yang membuka pintu pringgitan, tertegun melihat keduanya. Perlahan-lahan ia berjingkat surut dan menutup pintu pringgitan itu tanpa menimbulkan bunyi apapun. Sejenak kemudian, maka Pamotpun melepaskan tangannya sambil berkata "Sari, aku akan pergi ke pendapa. Aku akan mengatur segala sesuatunya untuk pemakaman Ki Demang besok. Dan aku akan menerima semua tanggung jawab yang akan dibebankan kepadaku, baik mengenai Kademangan Kepandak, maupun tentang kau dan anakmu" "Anak kita" "Ya, anak kita" Sindangsaripun melepaskan Pamot pula. Perlahan-lahan anak muda itu melangkah melintasi pringgitan yang kosong. Mendorong pintu perlahan, dan langsung ke pendapa, ke tempat kedua jenazah kakak-beradik itu dibujurkan. "Kita menyiapkan perlengkapan buat menguburkan kedua kakak beradik ini Ki Jagabaya" berkata Pamot. "Ya. Perempuan-perempuan telah menyiapkan segala sesuatunya. Dan para bebahupun telah menghubungi segala pihak yang berkepentingan" Demikianlah semalam suntuk, di Kademangan Kepandak seakan-akan tidak ada seorangpun yang sempat tidur. Para bebahu hilir mudik kesana kemari, dan perempuanperempuanpun sibuk pula di gandok dan di dapur. Namun dalam pada itu, kedua orang yang meninggal di pendapa Kademangan itu bagaikan tumbal bagi Kademangan Kepandak. Dengan demikian maka badai yang seakan-akan melanda Kademangan Kepandak, kini telah mereda kembali. Tetapi Kepandak telah kehilangan dua puteranya yang terbaik. Berita tentang peristiwa di halaman Kepandak itupun telah tersebar tidak saja di seluruh Kademangan Kepandak. Tetapi juga di padukuhan-padukuhan di sekitar Kepandak. Setiap orang dengan ragu-ragu mendengar berita itu. "Apakah benar Demang di Kepandak mati sampyuh dalam perang tanding melawan adiknya?" hampir setiap orang bertanya di dalamhatinya. Nyai Reksatani yang menunggu kedatangan suaminya dengan hati yang gelisah, akhirnya mendengar juga berita tentang kematian suaminya. Tetapi bagi Nyai Reksatani berita itu seperti ceritera tentang mimpi saja, sehingga ia tidak segera dapat mempercayainya. "Nyai Reksatani" berkata seseorang yang mendapat tugas untuk menjemput Nyai Reksatani "marilah Nyai pergi ke Kademangan Ki Jagabaya ingin bertemu dan mengatakan sesuatu" "Apakah mereka akan menangkap aku?" "Tidak Nyai. Nyai tidak akan ditangkap" Nyai Reksatani menjadi ragu-ragu. Kalau ia pergi, apakah yang akan terjadi atas dirinya? Tetapi kalau tidak, janganjangan Ki Reksatani benar-benar menemui bencana. "Percayalah kepadaku Nyai. Sebaiknya Nyai pergi ke Kademangan. Seandainya Ki Jagabaya ingin menangkap Nyai, buat apa aku harus membujuk Nyai dan menjebaknya? Tiga atau empat pengawal akan datang. Dan kekuatan itu telah cukup memaksa Nyai untuk menyerah. Tetapi Ki Jagabaya tidak bermaksud demikian" Nyai Reksatani termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkemas juga. Kepada pembantunya ia berkata "Rawatlah anak-anakku baik-baik. Aku berharap dapat segera pulang kembali. Kalau tidak jagalah mereka seperti anakanakmu sendiri" "Nyai, apakah Nyai akan pergi jauh?" "Tidak, aku akan pergi ke Kademangan" Pembantu rumahnya itu memandangnya dengan heran. Tetapi ia t idak bertanya apapun juga. "Sudahlah. Jagalah seisi rumah ini seperti milikmu sendiri" Pembantunya menjadi semakin terheran-heran. Tetapi ia masih juga tidak bertanya.
Nyai Reksatanipun kemudian pergi dengan hati yang berdebar-debar ke Kademangan. Hampir tidak sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya di sepanjang jalan. Kepalanya yang selalu tunduk dan kakinya yang gemetar membuatnya kadang-kadang tampak terlampau gugup. Ketika ia sampai di regol Kademangan, kakinya serasa tidak mau melangkah lagi. dipandanginya saja orang-orang yang hilir mudik di halaman. "Marilah Nyai" Ki Jagabaya telah menyongsongnya "masuklah" Nyai Reksatani tidak menjawab. "Jangan berprasangka" Masih tidak ada jawaban. "Nyai" berkata Ki Jagabaya "marilah, Masuklah dan naiklah ke pendapa" Perlahan-lahan Nyai Reksatani melangkah maju. Ketika ia melintasi pendapa serasa ia harus menyeberangi sungai banjir yang amat luas. Kakinya serasa tidak mau bergerak lagi ketika ia melihat dua sosok jenazah di pendapa. Namun dipaksakannya juga melangkah naik. Perlahan-lahan sekali. "Siapa?" terdengar suaranya lambat sekali. Ki Jagabaya yang berdiri di sampingnya menundukkan kepalanya. Kata-katanya seakan-akan telah tersangkut di kerongkongan. "Siapa?" sekali lagi Nyai Reksatani bertanya. Meskipun telah membayang jawaban atas pertanyaan itu di hatinya, namun ia masih juga ingin meyakinkannya. Ki Jagabaya tidak dapat menjawab. Tetapi dipersilahkannya Nyai Reksatani dengan isyarat untuk melihat siapakah yang terbaring di bawah selimut yang menutupi sekujur tubuhtubuh yang terbaring itu. Sekali lagi Nyai Reksatani menghentakkan kekuatan yang tersisa pada dirinya. Ketika ia membuka salah satu kerudung jenazah itu, dilihatnya wajah Ki Demang di Kepandak yang pucat seperti kapas. Cepat-cepat kerudung itu ditutupkannya kembali. Dan kini dengan penuh keragu-raguan ia mendekati jenazah yang satu lagi. Dengan tangan yang gemetar maka jenazah itu dibukanya perlahan-lahan sekali. Tiba-tiba tubuhnya serasa membeku. Ia melihat Ki Reksatani terbaring diam dengan wajah yang tergores luka. Wajah yang putih seperti wajah Ki Demang di Kepandak. Nyai Reksatani sudah tidak dapat menjerit lagi. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Dan Nyai Reksatani tidak sadar bahwa kemudian Ki Jagabaya harus menangkapnya dan menahannya ketika ia terjatuh pingsan. Tubuh Nyai Reksatani itupun kemudian dibawa pula ke ruang dalam. Beberapa orang perempuan mencoba mengobatinya, agar ia segera dapat sadar kembali. Sindangsari menjadi berdebar-debar ketika ia melihat perempuan yang pingsan itu. Ternyata perempuan itu telah melibatkan diri dalam rencana yang paling jahat yang pernah terjadi atas isteri Ki Demang di Kepandak. Bahkan Nyai Reksatani telah mencoba pula untuk menjerumuskannya ke dalam suatu perbuatan yang bernoda. Noda yang paling kotor dari segala noda. Dirinya sendiri memang telah ternoda, karena cintanya yang dalam. Tetapi ia sudah menyerahkan segalanya untuk menerima noda itu. Bukan seperti noda yang hampir saja terpercik padanya karena dorongan Nyai Reksatani. Tetapi ketika ia melihat perempuan itu pingsan, maka hatinyapun menjadi iba pula, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa selain memandanginya dengan mata yang basah. Dalam pada itu semuanya telah berlangsung seperti seharusnya mereka menyelenggarakan pemakaman. Bunga dan sesaji telah tersedia. Kedua jenazah itupun telah diselenggarakan sebaik-baiknya dan semua orang yang berkepentingan sudah hadir di Kademangan. Sejenak kemudian akan datanglah saatnya, jenazah itu dikebumikan. Namun dalam pada itu, halaman Kademangan itu telah dikejutkan oleh derap kaki-kaki kuda yang berpacu semakin dekat. Para pengawalpun kemudian segera
Berloncatan ke regol ketika mereka melihat seorang yang bertubuh raksasa duduk diatas punggung kuda. "Lamat. Ia adalah kepercayaan Manguri" desis salah seorang dari para pengawal. Namun Pamotlah yang kemudian berlari-lari menyongsongnya. Dengan cemas ia bertanya sebelum Lamat meloncat dari kudanya "Bagaimana dengan kau Lamat?" Ketika Lamat melihat Pamot menyongsongnya, maka iapun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang itu masih tetap hidup. "Kau terluka. Bukan sekedar satu dua, tetapi tubuhmu menjadi arang kranjang, dan kau sempat juga sampai kemari" Lamat turun dari kudanya. Dilayangkannya tatapan matanya berkeliling. Ketika dilihatnya dua sosok jenazah di pendapa, hatinya berdesir. Perlahan-lahan ia bertanya "Siapa?" "Ki Demang di Kepandak dan adiknya, Ki Reksatani" "Keduanya?" suaranya meninggi, namun kemudian ia bergumam "Sampyuh. Begitu?" "Ya, keduanya telah sampyuh" Lamat tidak bertanya lagi. Tetapi direnunginya halaman Kademangan Kepandak. Terasa meskipun halaman itu hampir penuh, dengan orang-orang yang melawat, dan para pengawal, tetapi terasa betapa sunyinya. Sejenak kemudian Punta dan kawannyapun datang pula ke halaman itu. Seperti Lamat mereka hanya dapat menekurkan kepalanya. Dengan trenyuh mereka terpaksa menyaksikan kematian yang tidak disangka-sangka akan terjadi di Kademangan Kepandak ini. Demikianlah, sampai juga saatnya kedua sosok jenazah itu di berangkatkan dari pendapa Kademangan. Sekali lagi Nyai Reksatani jatuh pingsan, sedang Sindangsari menangis di pringgitan. Rakyat Kepandak melepas kedua jenazah itu dengan perasaan yang tidak menentu. Mereka bersedih tetapi juga bersyukur, bahwa bencana yang lebih besar tidak melanda Kepandak, meskipun Ki Demang sendiri harus dikorbankan. Sepeninggal kedua jenazah itu, dan ketika keduanya telah dikebumikan, maka tinggallah tugas-tugas yang membebani para bebahu Kademangan Kepandak. Ki Jagabaya masih harus menyelesaikan persoalan Manguri dengan ayahnya, meskipun ada juga pengampunan bagi mereka, tetapi mereka tetap bersalah. Mereka harus meyakinkan para bebahu dan orang-orang di Kepandak, bahwa mereka tidak akan lagi berbuas jahat seperti yang pernah dilakukan. Demikianlah ketika matahari terbit diesok pagi, mulailah Kepandak dengan nafas baru. Orang-orang Kepandak telah mendapat pelajaran dari perist iwa yang baru saja terjadi. Pertentangan diantara keluarga sendiri, keluarga sedarah dan keluarga sekampung halaman, setanah kelahiran, tidak akan membawa manfaat apapun. Bahkan Kepandak nyaris menjadi karang abang seandainya keadaan itu tidak segera dapat diatasi meskipun harus jatuh korban yang paling mahal. Dan sejak matahari terbit diesok pagi itu pulalah, Pamot harus memangku tugasnya yang baru, tugas seorang Demang di Kepandak. Ia akan menjadi pemangku jabatan Demang yang masih sangat muda. Selain para bebahu Kademangan Kepandak yang menyadari sepenuhnya keadaan yang mereka hadapi, maka para pengawal, terutama mereka yang masih muda, sebaya dengan Pamot, telah menyatakan diri untuk membantu semua tugas yang dibebankan kepadanya. Karena merekapun menyadari, bahwa kehadiran mereka pada tugas-tugas yang penting ternyata benar-benar diperlukan oleh Kademangan Kepandak. Dengan didukung oleh lapisan anak muda, maka Kepandak akan menjadi Kademangan yang banyak mempunyai arti. Diantara mereka yang mendampingi Pamot adalah seorang raksasa yang bernama Lamat. Ia kini telah menjadi sahabat anak anak muda di Kepandak. Meskipun wajahnya masih tetap keras seperti batu padas, ternyata hatinya lunak, selunak lumpur yang basah. Namun kadang-kadang Lamat sendiri masih saja disentuh oleh kenangan yang buram dari dirinya sendiri. Masa kanakkanaknya dan saat-saat ia ditelikung oleh perasaan berhutang budi. Tetapi perasaan itu hampir meledak dan tidak terkendali ketika ia mendengar keadaannya yang sebenarnya. Dari ayah Manguri ia pernah mendengar, bahwa iapun termasuk diantara anak-anak yang lahir tanpa dikehendaki karena hubungan yang suramdari sifat-sifat rakus orang-orang tua. Namun, setiap kali ia melihat Sindangsari yang tidak lagi dibayangi oleh kemuraman wajah, Lamat berkata kepada diri sendiri "Tetapi anak yang dikandung oleh Nyai Demang itu akan menemukan cinta orang tuanya yang sejati tanpa dibayangi oleh kabut buram. Ia akan menjadi anak yang tumbuh dan berkembang dengan wajar seperti anak-anak lain yang lahir bersamanya, di bawah sayap kasih sayang yang sebenarnya" Tetapi ketika matahari terbit itu pulalah, Pamot mengantarkan Sindangsari sampai ke regol halaman. Dilepaskannya Sindangsari pergi bersama ibu dan kakeknya meninggalkan Kademangan di Kepandak, kembali ke rumahnya. "Hati-hatilah" desis Pamot. Sindangsari. menganggukkan kepalanya. Matanya menjadi basah dan sebuah senyum yang samar membayang di bibirnya. "Jagalah kandunganmu baik-baik" Pamot melanjutkan. Sekali lagi Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Aku akan menjaganya baik-baik" sahut ibu Sindangsari.
"Terima kasih" desis Pamot kemudian. Sejenak kemudian, merekapun pergi meninggalkan Kademangan, meninggalkan Pamot dan seisi rumah yang pernah didiaminya untuk beberapa saat. Ki Jagabaya yang berdiri di samping Lamat bersandar pada tiang regol, mengerutkan keningnya ketika Punta bertanya kepadanya "Ki Jagabaya, kenapa Sindangsari itu justru pergi?" "Ia belum menjadi isteri Pamot. Karena itu, tidak sebaiknya ia tinggal dalam satu rumah" "Kenapa mereka tidak segera kawin? Bukankah Ki Demang almarhum justru minta hal itu kepada Pamot, dan bukankah keduanya memang saling mencintai?" Untuk beberapa saat Ki Jagabaya tidak menjawab. "Ki Jagabaya" desis Punta lirih "apakah Pamot menjadi kecewa karena Sindangsari pernah menjadi isteri orang lain dan bahkan telah mengandung Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. Jawabnya "Aku tidak tahu pasti Punta. Tetapi aku kira Pamot tidak terlalu kecewa. Ia sudah menyatakan kesediaannya menerima Sindangsari sebagai isterinya dan anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya sendiri. Tetapi untuk segera kawin, mereka tidak akan mungkin. Bayi itu harus lahir lebih dahulu. Anak Ki Demang almarhum itulah yang kini masih membatasi keduanya" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dipandanginya Sindangsari yang berjalan semakin jauh. Sekali perempuan itu berpaling. Tetapi iapun kemudian melangkah di sisi ibunya semakin lama semakin jauh, sampai saatnya ia akan kembali lagi ke Kademangan itu.
- TAMAT –
ISTANA YANG SURAM Jilid ini adalah jilid terakhir dari ceritera karya S.H. Mintardja yang berjudul "Matahari Esok Pagi". Pada bulan yang akan datang, akan diterbitkan kembali karya S.H. Mintardja yang lain yang berjudul "ISTANA YANG SURAM". Ceritera yang berkisar di lingkungan istana tua yang menyimpan rahasia. Satu pergumulan telah terjadi untuk menemukan rahasia yang tersimpan rapat itu. Diantara rahasia yang tersembunyi di dalam istana yang suram itu, betapa rumitnya pula rahasia yang tersimpan di hati seseorang. Korban jatuh satu-satu, namun tumbuh dan semilah harapan bagi masa depan. Di bagian akhir dari ceritera ini tertulis: Namun istana kecil itu sudah menemukan bentuknya yang baru. Penghuninya kini bertambah meskipun hanya untuk sementara. Tetapi yang sementara itu merupakan rangkaian dari masa depan yang panjang. Terutama bagi anak-anak muda yang tinggal bukan saja karena tugas mereka, tetapi hati mereka yang terpaut telah mengikat mereka untuk menentukan masa datang yang lebih cerah. 

 (c) topmdi.net 2011. All Rights Reserved.