Welcome to topmdi - ebook collection
Matahari Esok Pagi Karya : SH Mintardja
Jilid 1 KEDATANGANNYA kembali diterima dengan penuh haru
oleh orang-orang Kademangan Kepandak, terutama orangorang di
padukuhan Gemulung. Lebih dari sepuluh tahun ia meninggalkan rumah
itu. Tetapi kini ia terpaksa kembali. Suaminya, seorang prajurit
Mataram telah gugur dalam pengabdiannya kepada Tanah Kelahiran, pada
saat pasukan Mataram atas perintah Sultan Agung menyerang Betawi
yang diduduki oleh orang-orang Kulit Putih berkebangsaan Belanda.
Dan Nyai Wiratapa yang sudah menjadi janda itu terpaksa pulang ke
rumah orang tuanya. Ayahnya adalah orang tua yang sudah berkeriput.
Dan ibunya sudah mulai terbongkokbongkok. Rambutnya sudah menjadi
putih. Umur mereka telah melampaui pertengahan abad, dan bahkan,
laki-laki tua itu sudah lebih dari enampuluh tahun. Namun meskipun
demikian, laki-laki tua itu masih kuat mengangkat cangkul di atas
pundaknya. Setiap hari ia masih pergi ke sawahnya yang tidak
terlampau luas. Sekedar cukup memberinya makan sekeluarga. Kini
anaknya yang menjanda dan seorang cucunya ada diantara mereka.
Tetapi atas kemurahan hati Sultan Agung, prajurit-prajuritnya yang
gugur di medan perang, mendapat anugerah sebidang tanah meskipun
hanya sekedarnya, di daerah yang dipilih oleh jandanya, Dengan
demikian maka Nyai Wiratapapun mendapat sebidang tanah yang
diserahkannya kepada ayahnya yang tua itu pula untuk digarap. Sejak
kehadiran Nyai Wiratapa dan anaknya Sindangsari, rumah mereka banyak
dikunjungi oleh para tetangga. Mereka menyampaikan salam bela
sungkawa. Bahkan ada diantara mereka yang sambil memeluk
Sindangsari, menangis tersedusedu. Kepergian mereka sepuluh tahun
yang lalu seakan-akan baru saja kemarin terjadi. Dan gadis yang
sekarang sudah dewasa itu, adalah seorang gadis kecil yang manis
pada saat mereka berangkat ke kota. "Semua yang terjadi tidak dapat
disesali" berkata seorang laki-laki tua, setua kakek Sindangsari.
Nayi Wiratapa beserta ayah ibunya yang tua itupun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Sindangsari tidak dapat
menahan tit ik air yang mengambang di matanya. "Tuhan Maha Tahu"
orang tua itu melanjutkan "dan Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha
Penyayang. Apa yang terjadi adalah cobaanNya. Memang terasa pahit
oleh kita" Nyai Wiratapa mengangguk-angguk meskipun tenggorokannya
terasa menjadi pepat. Namun keakraban sikap tetangga-tetangga itu
dapat sedikit memberikan ketenteraman di hati Nyai Wiratapa.
Meskipun sepuluh tahun ia tidak ada di rumah itu, namun ia merasa
bukan orang asing ketika ia kembali berkumpul dengan ayah dan ibunya
serta tetangga-tetangganya. Bahkan bukan saja orang-orang tua yang
datang berkunjung ke rumah janda itu, tetapi gadis-gadis yang sebaya
dengan Sindangsaripun berdatangan pula. Mereka adalah kawan
bermain-main semasa mereka masih kanakkanak. Dan kini mereka bertemu
kembali di usia dewasa. Demikianlah Nyai wiratapa segera dapat
menyesuaikan dirinya hidup di padukuhannya kembali.
Keramah-tamahannya sangat menarik hati orang-orang di sekitarnya,
sehingga iapun segera mendapat tempat yang baik di dalam
lingkungannya. Orang-orang di sekitarnya menganggap Nyai Wiratapa
sebagai seorang yang mempunyai pengalaman agak lebih banyak dari
mereka, sehingga perempuan-perempuan padukuhannya selalu datang
berkunjung kepadanya untuk mendapatkan beberapa petunjuk dan nasehat
tentang bermacam-macam hal. Nyai Wiratapa dapat memberi beberapa
petunjuk memasak berbagai macam makanan yang belum dikenal oleh
orang Gemulung. bahkan orang-orang seluruh Kademangan Kepandak.
Sejalan dengan itu, gadis-gadis Gemulungpun banyak mendapat ceritera
tentang kota Mataram dari Sindangsari. Jalan-jalan yang lebar dan
regol-regol halaman yang tinggi dan besar. Rumah-rumah joglo
bertiang sebesar pohon randu alas pojok desa, dan pintu-pintu
berukir yang disungging dengan warna-warna emas. Dan gadis-gadis
desa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mata mereka memmancarkan
kekaguman hati. Satu dua diantara mereka memang ada yang pernah
pergi ke kota, tetapi hanya satu dua hari mengunjungi sanak saudara.
Tetapi merekapun akan segera kembali sebelum mereka melihat terlalu
banyak seperti yang dilihat oleh Sindangsari. Bukan saja gadis-gadis
yang sering mendengarkan ceritera Sindangsari. Kadang-kadang
anak-anak mudapun mengerumunminya di tepian apabila Sindangsari
bersama kawan-kawan gadisnya sedang mencuci di kali. "Aku pernah
melihat" berkata salah seorarlg anak muda yang berwajah keras
"tetapi hanya sehari" "Aku bermalam sepekan di Mataram" berkata yang
lain. "Aku melihat cukup banyak" "Tetapi belum sebanyak Sindangsari"
potong seorang gadis. "Tentu" jawab pemuda itu "meskipun demikian
lebih banyak dari kau" Gadis itu mengerutkan keningnya. Katanya "Aku
sebulan berada di rumah paman di Mataram" Anak muda itu mengerutkan
keningnya. Ketika ia memandang berkeliling dilihatnya senyuman di
setiap bibir. Tiba-tiba terpercik warna merah di pipinya, sehingga
tanpa sesadarnya iapun berkisar surut, sehingga akhirnya ia berada
di paling belakang. Seperti ibunya, di lingkungan anak-anak muda dan
gadisgadis, Sindangsari segera mendapat banyak kawan. Ia ramah dan
cerdas, melampaui kawan-kawan sebayanya. Lebih dari itu, ia
mempunyai sedikit kelainan di mata anak-anak mudanya. Meskipun
gadis-gadis Gemulung tidak kurang yang secantik Sindangsari, tetapi
cara mengetrapkan pakaiannya, cara berjalan dan berbicara,
Sindangsari mempunyai kelainan. Sebagai seorang gadis yang pernah
tinggal di kota kerajaan yang besar, Sindangsari mempunyai kebiasaan
yang agak berbeda dengan gadis-gadis desa asalnya, Gemulung. Dan
karena itulah, maka kehadiran Sindangsari justru telah menumbuhkan
persoalan-persoalan baru di padukuhannya. Persoalan-persoalan
anak-anak muda yang mulai mengaguminya. Di saat-saat matahari
terbit, dihampir setiap pagi, Sindangsari beserta dua tiga
kawan-kawannya selalu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Mereka
berusaha menyelesaikan pekerjaan mereka pagi-pagi, supaya
pakaianpakaian itu segera kering pula. Apalagi apabila langit
mendung dan hujan turun. Selain itu, mereka masih mendapat
kesempatan pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Tanpa disadarinya, setiap pagi apabila Sindangsari pergi ke kali
sepasang mata selalu memandanginya dari balik pintu regol rumahnya.
Sebuah rumah yang cukup besar dan berhalaman luas menurut ukuran
padukuhan Gemulung, bahkan menurut ukuran Kademangan Kepandak. Rumah
itu adalah rumah seorang pedagang ternak yang kaya. Ketika pagi itu
Sindangsari lewat pula bersama tiga orang kawannya, mata itupun
mengikut inya pula sampai gadis itu hilang di balik rimbunnya rumpun
bambu di halaman sebelah. Sambil mengerutkan keningnya orang itu
melambaikan tangannya, memanggil seseorang yang sedang bekerja di
halaman. "He, gadis itu lewat lagi" desisnya. Orang yang
dipanggilnya itupun mengerutkan keningnya. Sejenak ia mencoba
memandang kebalik pintu regol. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. "Ia
sudah jauh" bentak orang yang berdiri di muka regol. Orang yang
datang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepalanya yang botak.
Wajahnya yang kasar menjadi berkerut-kerut sejenak. Tetapi tubuhnya
yang tinggi besar itu tegak seperti patung. "Apakah maksudmu dengan
gadis itu? Apakah aku harus mengambilnya?" "Bodoh, kau memang bodoh"
Orang yang bertubuh tinggi besar berkepala botak itu diam mematung.
Tatapan matanya yang kosong menyentuh wajah orang yang memanggilnya,
namun wajah itupun segera berpaling. "Jadi apakah maksudmu?" ia
bertanya tanpa memandang wajah lawan bicaranya, seorang anak muda
yang gagah dalam pakaian yang bagus rapi. Ank muda itu termenung
sejenak. Namun kemudian ia berkata "Tidak apa-apa" Orang yang
bertubuh tinggi besar itu terheran-heran sejenak. Kemudian iapun
meninggalkan anak muda itu. Langkahnya satu-satu seperti derap kaki
seekor gajah. "Lamat" tiba-tiba anak muda itu memanggil. Dan orang
yang bertubuh tinggi besar itu terhenti. Kemudian sambil memutar
tubuhnya ia bertanya "Kau memanggil aku?" Anak muda itu tidak
menjawab. Tetapi ialah yang datang mendekat. "Kau pernah melihat
gadis itu bukan? "Ya" "Cantik?" "Cantik" "Huh, kau memang tidak
mempunyai otak yang dapat kau pergunakan untuk berpikir. Kau
menjawab asal saja menjawab " Orang yang tinggi besar itu
mengerutkan keningnya. Desisnya "Tetapi bukankah ia memang cant ik?"
"Sejak kapan kau mengenal seorang perempuan cantik?" Lamat, orang
yang botak itu tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah anak muda yang
kini tersenyum. Perlahan-lahan anak muda itu mendekatinya, kemudian
menepuk bahunya "Tentu, kaupun tentu mengenal wajah cantik seorang
perempuan, meskipun agaknya kau sama sekali t idak tertarik.
Terbukti sampai sekarang kau t idak mau kawin juga" Laki-laki itu
tidak menjawab. "He, kenapa kau tidak kawin Lamat?" Laki-laki botak
itu menarik nafas dalam-dalam. Pandangan wajahnya kemudian terlempar
kekejauhan. Jawabnya lambat "Wajahku terlampau jelek buat seorang
perempuan" Anak muda itu tertawa "Kau terlampau perasa. Betapapun
jeleknya wajah seorang laki-laki, tetapi itu tidak berarti menutup
segala kemungkinan untuk beristeri. "Kau tidak pernah mengerti
perasaanku, karena wajahmu tidak jelek" Anak muda itu masih saja
tertawa. "Pergilah" desis anakmuda itu "mungkin pada suatu ketika
aku memerlukan kau" Lamat menganggukkan kepalanya. Kemudian ia
melangkahkan kakinya kembali kepekerjaannya. Memecah kayu bakar di
halaman, dengan sebuah kapak yang besar dan bertangkai panjang.
Sejenak anak muda itu memandanginya. Kemudian mengangguk-anggukkan
kepalanya sambil melangkah, meninggalkan halamannya, keluar regol
dan menyusur di sepanjang jalan. Semula ia tidak tahu, kemana ia
harus pergi. Namun tanpa disadarinya ia telah pergi ke kali,
menyusul gadis-gadis yang sedang mencuci. Tetapi anak muda itu
berhenti beberapa puluh langkah dari tepian. Ia menjadi ragu-ragu
untuk mendekat, Kadang-kadang ia melihat seorang dua orang anak-anak
muda berada di tepian itu juga dengan berbagai macam alasan. Ada
yang mencuci cangkul, ada yang mencuci rumput yang baru disabitnya,
atau mencuci apapun. Tetapi karena tidak seorangpun yang tampak,
anak muda itu menjadi segan juga mendekat. Karena itu, maka iapun
kemudian melangkah kembali, berjalan dengan tergesa-gesa ke sawah
ayahnya yang luas, untuk melihat orang-orangnya yang sedang bekerja.
Sindangsari yang sedang mencuci itu sama sekali t idak menyadari,
bahwa dirinya telah menarik banyak perhatian. Anak-anak muda. Karena
itu, sikapnya sama sekali tidak berubah. Ia bersikap ramah kepada
siapapun, kepada anakanak muda yang manapun. Juga kepada anak muda
anak pedagang ternak yang kaya itu, yang bernama Manguri, tetapi
juga dengan anak-anak muda yang tidak begitu kaya, bahkan dengan
anak-anak muda yang miskin sekalipun. Itulah sebabnya, maka
Sindangsari tidak segan-segan berhenti di pematang apabila ia
mendengar seruling seorang gembala yang seakan-akan menyentuh
perasaannya. Meskipun gembala itu duduk di bawah sebatang pohon yang
rindang tanpa memakai baju. selain sehelai kain yang lungset dan
celana hitam yang longgar. Tetapi suara seruling itu sangat menarik
perhatiannya, seperti kicau burung yang berloncatan di dahan-dahan.
Lincah disela-sela desir angin yang lembut membelai batang-batang
padi yang hijau. "Kehidupan dipedesan mempunyai keindahannya
tersendiri" desisnya "tenang, damai seakan-akan t idak diburu-buru
oleh persoalan-persoalan yang memeningkan kepala" Tetapi ketenangan
hidup Sindangsari yang telah mulai mapan itu segera goyah. Adalah
mengejutkan sekali ketika pada suatu hari seorang datang berumahnya.
Seorang perempuan tua yang berpakaian rapi. "Aku diutus oleh angger
Manguri Nyai" berkata perempuan itu kepada Nyi Wiratapa. "Siapakah
angger Manguri itu?" bertanya Nyai Wiratapa itu. "Putera seorang
pedagang ternak yang paling kaya di seluruh Gemulung" Nyai Wiratapa
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku diutus menyerahkan bingkisan
ini kepada puteri Nyai yang bernama Sindangsari" Sepercik warna
merah menyala di wajah perempuan itu. Dengan ragu-ragu ia bertanya
"Apakah isi hingkisanitu?" "Sepengadeg kain, baju dan
kelengkapannya" "He" Nyai Wirata terkejut bukan buatan. "Apakah
maksudnya?" "Tidak apa-apa Nyai. Sekedar sebagai tanda persahabatan.
Bukankah Nyai sedang dirundung oleh kesusahan karena kehilangan
suami dan angger Sindangsari kehilangan ayah?" "Tetapi, tanda
persahabatan itu berlebih-lebihan" "Jangan memikirkan yang
tidak-tidak" Nyai Wiratapa terdiam sejenak. Dipandanginya sebungkus
bingkisan yang menurut keterangan perempuan yang membawanya berisi
sepengadeg pakaian. Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
kemudian ia berkata "Terima kasih atas kebaikan hati angger Manguri.
Tetapi maaf, bukan maksudku menolak tanda persahabatan. Namun saat
ini aku belum dapat menerimanya. Anakku seorang gadis dan angger
Manguri adalah seorang anak muda. Seandainya anakkkupun seorang anak
muda seperti angger Manguri, maka aku akan menerimanya dengan senang
hati" "O" perempuan itu mengerutkan keningnya maksud Nyai, Nyai
tidak dapat menerima bingkisan ini?" "Maaf, saat ini belum"
Perempuan itu menjadi tegang sejenak. Tetapi kemudian ia tersenyum
"Nyai, adalah suatu kehormatan yang tidak ada taranya karena angger
Manguri telah memberikan bingkisan sebagai tanda keakraban itu" Nyai
Wiratapa memandang perempuan itu semakin tajam. Senyumnya adalah
senyum yang tidak wajar. Semakin lama justru semakin memuakkan.
Agaknya perempuan tua itu salah menilai Nyai Wiratapa yang pernah
hidup di dalam pergaulan yang lebih luas. Justru perempuan tua yang
mencoba tersenyum-senyum itulah yang sama sekali tidak dapat
mengerti, siapakah lawan bicaranya. Kebiasaan yang dilakukan
sebelumnya dengan tingkah laku yang dibuat-buat itu selalu berhasil.
Tetapi terhadap perempuan-perempuan yang picik dan kurang dapat
menanggapi keadaan. Bukan terhadap Nyai Wiratapa. "Jangan
menyia-nyiakan kehormatan ini Nyai" desis perempuan tua itu sambil
bergeser maju. Didorongnya bingkisan yang dibawanya sambil tertawa
"Tidak akan ada seseorang yang berbaik hati seperti angger Manguri"
Nyai Wiratapa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia bertanya "Nyai,
apakah tidak ada pamrih apapun di balik pemberian ini" "O, tentu
tidak. Tentu tidak Nyai. Aku mengenal angger Manguri dengan baik.
Anak itu sudah seperti anakku sendiri" jawab perempuan tua itu.
"Jangan seperti sedang merayu anak perawan Nyai. Kita sudah cukup
berpengalaman. Aku pernah menjadi seorang gadis muda dan kaupun
pernah. Bagaimana perasaanmu selagi kau seorang gadis remaja vang
mendapat bingkisan dari seorang anak muda?" "Ah, kau berpikir
terlampau jauh. Itu berlebih-lebihan Nyai. Tetapi apabila
perkembangan persahabatan anak-anak kita akan sampai kesana, itu
bukan persoalan kita yang tua tua lagi. Bukankah wajar sekali, bahwa
pergaulan anak-anak muda akan sampai ke puncaknya dan diakhiri
dengan perkawinan yang bahagia?" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan
kepalanya. Jawabnya "Nah, bukankah itu tujuannya. Apapun yang kau
lakukan, tetapi kau sedang diutus oleh angger Manguri untuk merayu
anakku. Itulah" Semburat warna merah membayang di wajah perempuan
tua itu. Belum pernah ia mengalami perlakuan yang demikian selama
berpuluh-puluh tahun ia menjalankan tugasnya untuk berpuluh-puluh
anak-anak muda. Karena itu maka sejenak ia justru terdiam. Meskipun
bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang
diucapkannya. Sama sekali berbeda dengan kebiasaannya. Ia selalu
banyak berbicara apabila ia sedang menghadapi seorang ibu dari
seorang gadis yang sedang dibujuknya. Sambil tertawa dan
tersenyum-senyum diserahkannya sebuah bingkisan ke tangan perempuan
yang beranak gadis itu. Biasanya ia tidak gagal. Ia tahu pasti, ibu
gadis itu akan merasa berhutang budi, sehingga dengan segala usaha
ia akan mendorong gadisnya untuk menerima tawaran apapun dari anak
muda yang berbudi, yang telah melimpahkan kebaikan hati kepadanya.
Tetapi ibu yang dihadapinya kali ini ternyata agak berbeda, meskipun
ia tahu pasti, bahwa janda inipun masih banyak memerlukan
barangbarang serupa itu untuk mencukupi keperluan anak gadisnya
karena penghasilan sawahnya yang tidak seberapa luas. "Nyai" berkata
Nyai Wiratapa kemudian kepada perempuan tua itu "sekali lagi aku
minta maaf. Sebenarnyalah bahwa aku sangat berterima kasih. Tetapi
aku tidak mau memacu perhubungan anakku dengan siapapun juga.
Biarlah hati anakanak itu berkembang dengan wajar. Apabila kelak
anakku tertarik oleh anggger Manguri, aku tidak akan keberatan.
Tetapi biarlah semuanya berjalan sewajarnya" Wajah perempuan tua itu
kini benar-benar menjadi merah. Ditatapnya Nyai Wiratapa dengan
tajamnya. Tetapi perempuan tua itu kini sudah tidak lagi dapat
memilih katakata yang paling manis. Debar jantungnya yang semakin
cepat itu membuatnya gemetar, sehingga kata-kata yang keluar dari
mulutnya adalah kata-kata yang kasar "Kau menghina angger Manguri
Nyai. Kalau kau tidak boleh anakmu bergaul dengan anak pedagang yang
paling kaya itu, maka kau adalah janda yang paling bodoh. Bukan saja
anakmu akan menjadi menantu orang yang kaya raya itu tetapi kalau
nasibmu baik, kau sendiri akan mendapat kesempatan menjadi isteri
pedagang kaya itu. Baru-baru ini isterinya yang keempat baru saja
dicerainya, karena ia kedapatan mencuri beberapa helai kain, justru
yang akan diberikan kepadanya sendiri" Terasa sebuah tamparan
menyengat pusat syarat Nyai Wiratapa. Hampir saja ia t idak dapat
mengendalikan dirinya. Tetapi sebagai seorang perempuan yang lebih
bayak mengenal sudut-sudut penghidupan, maka ditahankannya hatinya.
Dengan susah payah ia menjawab sareh "Terima kasih atas kebaikan
hati itu. Tetapi maaf, bahwa semuanya aku tidak memerlukan. Sekarang
aku persilahkan kau membawa barang-barang itu kembali kepada angger
Manguri, meskipun aku tidak akan melarang anakku bergaul dengannya
sebagai kawan se padukuhan" Perempuan tua itu sudah tidak dapat
berkata apapun. Dihentakkannya bingkisan yang sudah diletakkannya di
amben bambu itu, kemudian dengan wajah yang berkerut merut, tanpa
minta ijin lagi ia segera berdiri dan melangkah keluar pintu.
Meskipun demikian Nyai Wiratapa masih mengantarkannya sampai ke muka
pintu. Namun ketika perempuan itu telah melintasi halaman rumahnya
dan turun kejalan, maka segera ia masuk kembali. Tanpa sesadarnya ia
terduduk di amben sambil mengusap dadanya. Ia tidak berhasil
membendungnya, ketika titik-titik air yang jernih meleleh di
pipinya. Betapa pedihnya hidup menjanda, menghadapi orang-orang yang
tidak berperasaan itu. Nyai Wiratapa cepat menyeka matanya ketika ia
mendengar langkah kaki ayahnya. Sambil berdesah panjang orang tua
itu melangkah masuk. Melepaskan caping bambunya dan menyangkutkannya
di dinding, di sisi pintu. Kemudian meletakkan cangkulnya di sudut
ruangan. "Panasnya bukan main" gumamnya. Nyai Wiratapa segera
menghampirinya. Semua kesan di wajahnya telah berhasil
dihalaukannya. Sambil tersenyum ia mengambil sebuah gendi berisi air
"Ayah haus" desisnya. Orang tua itu menerima gendi dari tangan
anaknya. Kemudian meneguknya. Segar sekali. "Dimana anakmu?"
bertanya laki-laki tua itu. "Keluar, ayah" jawab Nyai Wiratapa.
Laki-laki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambil
mengusap keringat di wajahnya yang sudah berkeriput ia berkata
"Udara panas sekali. Sebaiknya anakmu tinggal di rumah" Nyai
Wiratapa menganggukkan kepalanya "Ya ayah. Aku akan
memberitahukannya nanti" "Panas yang tajam dapat menimbulkan
penyakit. Apalagi anakmu. Ia tidak biasa berada di sawah dan
berjemur di terik matahari" "Ya ayah" Laki-laki tua itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah masuk keruang
dalam. Sementara ibu Nyai Wiratapa lagi sibuk menyiapkan makan di
dapur. Namun sementara itu, Sindangsari memang lagi bermain bersama
beberapa orangkawannya di pinggir desa. Beberapa orang gadis yang
baru pulang dari sawah, berhenti sebentar untuk beristirahat dan
bergurau. Tiba-tiba Sindangsari mengangkat wajahnya ketika suara
seruling lamat-lamat menyentuh telinga. Suara itu serasa langsung
menyusup ke dalamdadanya. Dalam panasnya udara, suara seruling itu
dapat memberikan kesegaran di hatinya. "Apa yang kau dengar?"
bertanya seorang kawannya. "Seruling. Siapakah yang meniup seruling
itu?" jawab Sindangsari sambil bertanya pula. "Disini hampir setiap
orang dapat meniup seruling. Akupun dapat. Ruri, Sasi, dan beberapa
orang lainpun dapat pula" Sindangsari mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ternyata gadis-gadis itu juga dapat meniup seruling.
Tetapi bunyi seruling ini agak lain dari bunyi seruling yang sudah
sering di dengarnya. Suara seruling ini seakan-akan sebuah alunan
perasaan yang mengambang dibawa angin mengembara sampai ke batas
yang jauh sekali. "Tetapi" berkata Sindangsari kemudian"aku belum
pernah mendengar suara seruling seperti ini. Lagu apakah yang
dibawakannya?" "Entahlah. Agaknya ia asal saja membunyikan
serulingnya tanpa patokan. Bukan Dandanggula, tetapi juga bukan yang
lain. Mirip sedikit dengan Asmaradana dipermulaannya, tetapi
kemudian berpindah pada Pangkur. Agaknya ia tidak mengenal gending"
"Ya. Tetapi justru dengan demikian perasaannya dapat bebas
mengembara didunianya. Tanpa kekangan yang dapat membatasi
sayap-sayap yang sudah mengembang, terbang tinggi di langit berlapis
tujuh" Kawan-kawan Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi
merekapun kemudian tersenyum"Kau lucu" Sindangsari yang semula
bersungguh-sungguh, kemudian tersenyumpula. "Suara itu datang dari
balik gerumbul di pinggir parit di sudut pategalan itu" tiba tiba
salah seorang kawannya berdesis. "Siapakah yang sering berada di
sana?" "Anak-anak kecil sering menggembala kambing di sana.
Kadang-kadang kakak mereka yang sedang beristirahat dari kerja
mereka di sawah, berteduh pula di sana" "O, aku tahu" sahut yang
lain "yang sering bermain seruling di sudut pategalan itu adalah
Pamot" "Tidak hanya Pamot, juga Windan dan Wisesa" Gadis-gadis itu
tersenyum, sedang Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Jadi yang bermain seruling itu mungkin Pamot, mungkin Windan dan
mungkin pula Wisesa" "Mungkin yang lain lagi" sahut kawannya. Dan
gadis-gadis itupun tertawa. Tetapi suara tertawa mereka segera
terputus ketika mereka melihat sesosok tubuh meloncat pematang di
sisi batangbatang jagung muda. Ketika orang itu berada di pinggir
jalan, barulah mereka jelas, bahwa yang meloncati pematang itu
adalah Manguri. "He, Manguri" desis seorang gadis. "Ya. Darimana
dia?" "Tentu dari sawahnya" Sindangsari mengerutkan keningnya ketika
kemudian ia melihat kawan-kawannya kemudian bersikap lain. Ada yang
dibuat-buat, tetapi ada juga yang justru menundukkan kepalanya.
Ketika anak muda. itu, lewat di hadapan mereka, maka salah seorang
kawannya menegur dengan ramahnya "Darimana kau Manguri?" Langkah
Manguri terhenti. Sambil tersenyum ia menjawab "Dari sawah"
"Matahari terlampau terik. Kenapa kau memerlukan pergi ke sawah
juga?" bertanya yang lain. "Apa salahnya. Anak-anak muda yang lain
juga pergi ke sawah" Tetapi kau tidak perlu. Kau dapat mengupah
orang. Ayahmu terlampau kaya" Manguri tertawa. Jawabnya "Itu adalah
pikiran yang salah. Bagaimanapun juga aku harus belajar bekerja.
Kalau t idak, maka kekayaan ayah nanti pasti akan segera habis. Aku
justru harus mengembangkannya" Gadis-gadis itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dengan tatapan mata kekaguman mereka memandang senyum
Manguri yang jernih itu. Dan tiba-tiba ia bertanya "Kenapa kalian
disini?" "Beristirahat. Panasnya bukan main" "Di sebelah ada penjual
dawet cendol aren. Kalian dapat minum di sana" "Darimana kami akan
membayar?" tiba-tiba salah seorang gadis memotong dengan manjanya.
Manguri tersenyum. Kemudian tangannya dimasukkannya ke dalam
sakunya. Katanya "Ini ada beberapa keping uang. Cukup buat membeli
dawet cendol. Berebutan gadis-gadis itu meloncat maju menerima uang
dari tangan Manguri. Salah seorang yang paling dahulu berteriak "Aku
yang diberinya" "Buat kalian semua" desis Manguri. "Terima kasih"
Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumnya yang cerah masih
saja menghiasi bibirnya. Namun kemudian tanpa berkata sepatah
katapun juga ia melangkah pergi. Tetapi beberapa langkah kemudian ia
berpaling. Kali ini ia berusaha menatap salah satu saja dari wajah
gadis-gadis yang sedang kegirangan itu. Sindangsari. Tanpa
sesadarnya Manguri menarik nafas dalam-dalam. Wajah itu memang tidak
terpaut banyak dari gadis-gadis cantik di Gemulung. Tetapi Manguri
melihat kelainan pada wajah itu. Namun Manguri kemudian meneruskan
langkahnya. Ditinggalkannya gadis-gadis yang sedang berebut uang
beberapa keping itu . "Aku, aku saja yang membawa" gadis yang
menerima uang itu mempertahankan. "Bagi, bagi saja" Yang agak lebih
dewasa kemudian berkata "Kita pergunakan bersama-sama. Mari, kita
pergi ke penjual dawet itu. Dawet dengan cendol dan legen aren"
Gadis itupun kemudian berlari-larian pergi ke sebelah tikungan.
Tetapi langkah merekapun kemudian tertegun. Ternyata diantara
gadis-gadis itu, seseorang tidak ikut berlari-lari. Bahkan dengan
termangu-mangu ia memandangi kawankawannya yang seakan-akan telah
melupakan panasnya udara yang telah memeras peluh mereka. "He Sari,
Mari, kita minum" Sindangari menggelengkan kepalanya sambil menjawab
"Aku tidak haus" "He, udara begini panas. Alangkah segarnya kita
minum dawet cendol" Sekali lagi Sindangsari menggelengkan kepalanya.
Katanya "Silahkan" "Kenapa kau? Malu?" "Tidak. Tetapi kepalaku
sering menjadi pening apabila aku minum air tawar di udara yang
begini panas" Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun
salah seorang dari mereka berkata "Cobalah. Beginilah kehidupan kami
di Gemulung. Mungkin memang agak berbeda dengan di kota Mataram"
"Tidak. Bukan begitu" sahut Sindangsari cepat-cepat "bukan maksudku
berkata begitu. Tetapi itu adalah sekedar kebiasaan saya sendiri,
karena kelemahanku. Aku tidak tahan minum air mentah apabila
keringatku sedang mengalir sebanyak ini" Sekali lagi gadis itu
saling memandang, kemudian salah seorang dari mereka berkata
"Baiklah. Tunggulah di situ atau kau ikut kami ke sebelah tikungan"
Sindangsari menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak beranjak.
Dipandanginya kawan-kawannya yang hilang di balik tikungan. Gadis
itu menjadi heran melihat sikap kawan-kawannya. Apakah ini memang
sudah menjadi kebiasaan mereka, menerima pemberian Manguri? Tetapi
itu tidak baik baginya. Ia tidak boleh menerima pemberian begitu
saja. Apalagi dari seorang anak muda. Karena itu, betapapun ia
menahan haus, tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan
kemudian dicarinya tempat di bawah sebatang pohon rindang, untuk
duduk beristirahat sambil bersandar batangnya. Dipandanginya cahaya
terik matahari yang seakan-akan membakar dedaunan. Di kejauhan
tampak seakan-akan uap air yang memenuhi udara. Menggelepar
kepanasan. Bahkan seakan-akan tampak bayangan lamat-lamat
meloncat-loncat seperti berpijak pada bara. Endeg pangamun-amun.
Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak beranjak dari
tempatnya. Panas udara serasa semakin membakar kulitnya, sedang
kawan-kawannya yang sedang pergi membeli dawet aren masih juga
belumtampak kembali. "Haus sekali" desisnya. Tetapi untuk ikut
bersama kawankawannya Sindangsari masih belum sampai hati. Namun
tiba-tiba Sindangsari mengangkat wajahnya. Lamatlamat ia mendengar
suara seruling. Semakin lama menjadi semakin dekat. Seolah-olah
seruling yang mendendangkan kidung yang segar itu sedang terbang
melayang mendekatinya. Tetapi akhirnya suara seruling itu tidak lagi
bergerak di tempatnya, meskipun suaranya menjadi semakin jelas
terdengar. Sindangsari perlahan-lahan berdiri. Ditajamkannya
telinganya untuk mengetahui, darimanakah arah suara seruling itu.
"Agaknya tidak terlampau jauh" katanya kepada diri sendiri. Tanpa
sesadarnya Sindangsari itupun berkisar dari tempatnya. Selangkah
demi selangkah ia berjalan menyusur jalan di pinggir desa sepanjang
rimbunnya dedaunan. Kadangkadang ia berhenti termangu-mangu. Namun
suara seruling yang anehku menarik perhatiannya. Justru karena lagu
yang dibawakannya tidak terikat oleh bentuk-bentuk yang sudah ada.
Ketika Sindangsari sampai di sudut desa. Ia melangkah sebuah parit
kecil. Kemudian disusunnya tanggul parit yang membujur di sepanjang
pagar batu. Suara seruling itu menjadi semakin dekat" gumamnya "aku
pergi ke arah yang benar" Namun akhirnya ia terhenti. Ia menjadi
ragu-ragu. Apakah ia akan berjalan terus mencari sumber suara itu?
Apakah itu baik?. Beberapa langkah lagi" desisnya. "Apakah
salahnya?" ia bertanya kepada dirinya. "Suara seruling itu sangat
menarik" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti di
tarik oleh sebuah pesona yang tidak dimengertinya, Sindangsaripun
kemudian melangkah terus. Ia tersadar ketika tiba-tiba saja suara
seruling itu berhenti. Alangkah terkejutnya gadis itu ketika
tiba-tiba saja ia mendengar seseorang menyapanya. Hampir saja ia
meloncat terjun ke dalam parit yang mengalirkan air yang gemericik
bening. "Sindangsari" terdengar suara yang berat dari balik pagar
batu "kemana kau?" Sindangsari berpaling. Dilihatnya sebuah kepala
tersembul dari balik pagar batu beberapa langkah di hadapannya. "Oh"
Sindangsari menarik nafas dalam-dalam "kau membuat aku sangat
terkejut. Hampir saja aku lari tunggang langgang" Seorang anak muda
muncul dari balik pagar. Di tangannya tergenggamsebatang seruling
yang panjang. "Kenapa kau menyusuri parit itu he? Apakah sawah
kakekmu kering?" bertanya anak muda itu. Sindangsari bingung sesaat.
Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata "Tidak.
Aku tidak sedang mencari air" "Lalu, kenapa kau menyusur tanggul
itu?" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
menjawab pertanyaan itu. Bahkan ialah yang kemudian bertanya "Kaukah
yang baru saja bermain dengan serulingmu itu?" Anak muda itu
mengerutkan keningnya. Diamat-amatinya seruling di tangannya
seakan-akan baru pertama kali itu di lihatnya. "Apakah anehnya?"
"Tidak apa-apa. Tetapi caramu meniup seruling acak berbeda dengan
kawan-kawanmu yang lain" "Apakah bedanya?" "Kau tidak mengikut i
ikatan-ikatan gending yang sudah ada" Anak muda itu tertawa. Katanya
"Mungkin aku memang tidak dapat memahami gending-gending itu. Tetapi
mungkin juga karena aku tidak puas dengan ikatan-ikatan yang ada"
"Itulah yang menarik" Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba ia berkata "Kemarilah. Halaman ini adalah halaman kakekku.
Karena kakek sudah terlampau tua dan tinggal bersama ayah dan ibu,
maka halaman ini menjadi kosong" Sindangsari berpikir sejenak.
Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya "Terima kasih. Kalau ada
waktu, biarlah lain kali saja aku datang" "Kenapa tidak sekarang?"
"Kau sendiri?" "Ya" "Terima kasih" Anak muda itu mengerutkan
keningnya. Dengan heran ia bertanya "Lalu apakah maksudmu
sebenarnya?" "Tidak apa-apa. Hanya sekedar ingin tahu" "Kau aneh.
Aku t idak dapat mengerti" Sindangsari tidak segera dapat menjawab.
Ia sendiri menjadi bingung apa yang harus dilakukannya. Sementara
itu anak muda itu telah meloncati dinding batu dan berdiri di
hadapannya. "Aku akan pulang" gumam Sindangsari. "He" anak muda itu
menjadi semakin heran "lalu apakah kepentinganmu dengan suara
seruling itu?" "Hanya ingin tahu. Sindangsari tidak menunggu jawaban
anak muda itu lagi. Segera ia memutar tubuhnya dan berjalan
tergesa-gesa meninggalkan anak muda yang keheranan sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika Sindangsari meloncati parit
kecil di pinggir desa itu, terdengarlah suara kawan-kawannya hampir
berbareng "Itu. itulah Sindangsari" Dan yang lain berteriak "Sari,
darimana kau?" Sindangsari t idak segera menjawab. Dengan
tergesa-gesa ia pergi mendapatkan kawan-kawannya. "Darimana kau he?"
bertanya salah seorang dari mereka. "Mencuci kaki diparit itu.
Panasnya bukan main" "Apakah baru sekarang kau sadari? Salahmu. Kau
tidak mau minumbersama kami. Alangkah segarnya" "Salahmu" sahut yang
lain. Sindangsari tersenyum. Jawabnya "Justru karena panasnya bukan
main itulah aku tidak berani minum air mentah. Bukankah sudah aku
katakan?" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
salah seorang dari mereka bertanya "Sekarang, setelah kita tidak
haus lagi, kemana kita pergi? Apakah kita akan kembali ke sawah?"
"Tidak" salah seorang menyahut sambil menggelengkan "aku segan"
"Kalau aku, mau tidak mau harus kembali lagi ke sawah. Biyungku ada
di gubug itu. Ia pasti akan menunggu aku sampai aku datang kesana"
"Kenapa kau sekarang berada disini?" "Panas sekali. Aku tidak tahan
berada ditengah-tengah sawah meskipun di dalam gubug" "Bohong" jawab
yang lain lagi "kau tahu Manguri akan lewat disini" "Ah, tentu
tidak. Siapa tahu ia akan lewat disini. Aku t idak tahu bahwa ia ada
di sawahnya" "Bohong, bohong" yang lain hampir berbareng. Dan gadis
itu menjadi merah padam. "Sudahlah, jangan mengganggu. Aku akan
kembali ke sawah" "Sebentar lagi Manguri akan menyusul" "Embuh ah"
dan gadis itupun kemudian dengan tergesagesa meninggalkan kawannya.
Tetapi beberapa langkah ia berpaling sambil melambaikan tangannya.
Sindangsari sama sekali tidak ikut di dalam sendau gurau itu. Ia
masih belum terbiasa dengan gadis-gadis kawan sepermainannya.
Hubungannya masih terbatas meskipun semakin lama menjadi semakin
akrab. Tanpa prasangka apapun ia bertanya kepada salah seorang
kawannya "Apakah menjadi kebiasaan Manguri membagikan uangnya?"
"Sering benar ia berbuat demikian" jawab salah seorang gadis "ia
terlalu baik" ulang Sindangsari. "Ia tidak pernah mendendam" desis
yang lain "ketika ia ditinggal oleh kekasihnya yang dahulu, ia sama
sekali tidak menuntut apapun. Baik dari gadis itu, maupun dari
laki-laki yang melarikannya" Sindangsari mengerutkan keningnya.
Apalagi ketika yang lain menyambungnya "Sudah lebih dari tiga kali
ia dit inggal oleh gadis-gadis yang semula tampaknya akrab sekali.
Ketiganya dilarikan oleh laki-laki lain setelah mereka mendapat
terlampau banyak dari Manguri" "Sampai t iga kali dan bahkan lebih?"
"Ya. Dan Manguri sama sekali t idak bersedih karenanya. Meskipun
untuk sehari dua hari ia t idak keluar dari rumahnya" Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam hatinya ia berkata "Itulah
agaknya sebabnya, kenapa Manguri senang sekali bergaul dengan
gadis-gadis. Agaknya ia ingin melupakan yang telah hilang itu"
"Kasian anak muda itu"terdengar suara seorang gadis dalam nada yang
rendah. Kawan-kawannya berpaling kepadanya, dan seorang berkata "He,
apakah kau ingin menggantikan yang hilang itu?" Jawabnya benar-benar
di luar dugaan Sindangsari Bukankah kita sama-sama menginginkannya?"
"Ah" gadis-gadis itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian mereka
tertawa hampir meledak. Sindangsari tidak dapat ikut tertawa, karena
ia tidak mengerti apakah yang harus ditertawakannya. Bahkan ia
menaruh iba terhadap Manguri yang sudah tiga kali bahkan lebih
kehilangan kekasihnya. "Marilah kita pergi ke sawah" berkata salah
seorang gadis diantara mereka. "Marilah. Kalau nasib kita baik, kita
akan bertemu lagi dengan Manguri. Di tengah-tengah bulak itu ada
penjual rujak nanas" Beberapa orang diantara mereka berpikir
sejenak. Dan hampir berbareng mereka berkata "Mari, mari kita pergi
ke sawah" Sindangsari menjadi ragu-ragu. Ia tidak mempunyai banyak
kepentingan di sawah. Apalagi panasnya liukan main. Ia tidak biasa
berada di teriknya matahari, meskipun ia mencoba untuk menyesuaikan
diri. Tetapi kadang-kadang kepalanya masih terasa pening. Dan belum
lagi ia mendapat keputusan, dilihatnya seorang laki-laki tua
berjalan sambil memanggul cangkul di pundaknya. Di kepalanya
tersangkut sebuah caping bambu yang kasar. Laki-laki itu adalah
kakeknya. "Itu kakek" desisnya. Kawan-kawannya memandang serentak
kepada laki-laki tua itu. Salah seorang diantara mereka berkata
"Nah, kau dapat bersama-sama dengan kakekmu" Sindangsari
menganggukkan kepalanya. Tetapi ketika laki-laki tua itu sampai ke
tempatnya, maka iapun berkata "Pulanglah Sari. Ibumu menunggumu"
Sindangsari mengerutkan keningnya. Jawabnya "Aku akan pergi ke sawah
bersama kawan-kawan kakek" Kakeknya berhenti sejenak. Dipandanginya
gadis-gadis yang ada di sekitarnya. Gadis Gemulung. Gadis-gadis yang
telah biasa berada di terik matahari, sehingga kulit mereka menjadi
merah tembaga. Namun karena kebiaaan mereka bekerja, tubuh merekapun
menjadi ketat berisi. Tetapi kakek tua itu berkata "Pulanglah. Kau
harus membiasakan dirimu sedikit demi sedikit, supaya kau tidak
sakit" Sindangsari menjadi kecewa. Tetapi ia tidak berani membantah.
Karena itu, maka ia berdesis kepada kawankawannya "Aku akan pulang"
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari
bahwa Sindangsari tidak dapat melanggar pesan kakeknya. Karena itu,
maka Sindangsari tidak ikut bersama dengan gadis-gadis itu ketika
mereka berjalan berjingkat-jingkat di panasnya matahari yang
seakan-akan telah membakar debu di jalan-jalan. Kini yang berdiri di
hadapannya tinggallah kakeknya. Dengan mengusap keringat di
keningnya laki-laki tua itu berkata "Kau belum biasa membakar diri
di terik matahari Sari. Pulanglah" Sindangsari mengangguk "Ya kakek"
Maka ketika kakeknya meneruskan perjalanannya ke sawah,
Sindangsaripun kemudian berjalan pulang ke rumahnya. Belum lagi ia
duduk ketika ia memasuki ruang depan rumahnya, ibunya telah bertanya
kepadanya "Darimana kau Sari?" "Dari sudut desa ibu. Bermain-main
dengan kawan-kawan" Ibunya memandanginya dengan sorot mata yang
aneh. Sorot mata yang seolah-olah belum dikenal oleh Sindangsari.
Tetapi Sindangsari tidak berani bertanya. "Keringatmu terlampau
banyak Sari" berkata ibunya sambil mengusap keningnya perlahan-lahan
"kau dapat menjadi sakit karenanya. Wajahmupun jadi merah seperti
terbakar. Apakah kau berjemur di panas matahari?" "Tidak ibu. Aku
berada di tempat yang teduh. Tetapi udara memang panas sekali" "Lain
kali jangan terlalu lama pergi" Sindangsari mengangguk-anggukkan
kepalanya. Di pojok desa aku bermain-main dengan kawan-kawan"
berkata Sindangsari "mereka sedang beristirahat sebentar" "Apakah
yang mereka kerjakkan?" bertanya ibunya. "Macam-macam" jawab
Sindangsari "ada yang menunggui padi yang sedang bunt ing. Ada yang
mengirimkan makanan ke sawah. Ada yang bermain-main saja" Ibunya
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Anak-anak muda juga banyak yang
beristirahat di pojok desa dan di pojok pategalan. Mereka bermain
seruling bu. Alangkah merdunya" "Siapa?" Hampir semua anak-anak muda
dan gadis-gadis Gemulung dapat bermain seruling" Ibunya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ibunya mengerutkan
keningnya ketika anaknya berkata "Manguri juga lewat di pojok desa
itu" "Manguri?" ulang ibunya. "Ya. Anak pedagang ternak yang kaya
itu. Ia sangat baik" Kerut-merut di wajah ibunya menegang. Dengar
nada yang datar perempuan itu bertanya "Apakah yang telah di
lakukan?" "Membagi uang" "Membagi uang" mata ibunya terbelalak
karenanya "Kau diberinya juga?" Sindangsari menggelengkan kepalanya
"Tidak. Aku tidak ikut memiliki pemberian itu. Kawan-kawan membeli
dawet aren beramai-ramai dengan uang pemberian Manguri. Tetapi aku
tidak mau" "Bagus Sari. Kau harus bersikap demikian. Tidak baik
menerima pemberian orang tanpa alasan" "Tetapi Manguri biasa berbuat
demikian. Ia memang anak yang baik bu. Baik sekali. Ramah dan tidak
kikir" Ibunya tidak segera menjawab. Di tatapnya saja wajah anaknya
dengan saksama. "Hampir semua kawan-kawan mengatakan tentang
Manguri. Bahkan ia tidak mendendam ketika kekasihnya lari bersama
laki-laki lain" "Ah. Kau mengerti terlalu banyak tentang anak muda
itu" "Kawan-kawan menceriterakan tanpa aku minta" "Ibunya menarik
nafas dalam-dalam. Kemudian katanya "Sudahlah. Sebaiknya kau
beristirahat. Kalau sudah kering keringatmu, pergilah mencuci muka.
Kau belum makan bukan?" Sindangsari menganggukkan kepalanya.
Kemudian iapun pergi ke sumur untuk mencuci mukanya. Setelah makan
siang. Sindangsari pergi ke kebun di belakang rumahnya. Di bawah
pohon yang rindang ia membentangkan sehelai tikar pandan. Kemudian
di lingkarkannya sehelai tali di pinggangnya bertaut dengan ujung
kakinya. Sejak ia kembali ke padukuhan Gemulung ia sudah mempelajari
cara-cara menganyam tikar, dan agaknya Sindangsari cepat dapat
mengerti. Meskipun demikian, meskipun jari-jarinya yang panjang
telah memegang helai-helai pandan yang sudah mulai teranyam, namun
kali ini, tangan itu sama sekali tidak bernafsu untuk bergerak.
Sekali-sekali terbayang wajah kawan-kawannya dipermainkan di pojok
desa. Wajah Manguri yang tersenyum cerah. Kemudian suara seruling
yang mengalun di sela-sela desau angin yang panas. "Hal yang tidak
pernah aku alami di kota" desisnya. Sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya Sindangsari merenungi dedaunan yang bergerak-gerak dibelai
angin. Kadang-kadang terasa sentuhan daun-daun kering yang jatuh
menimpanya. Angin yang silir telah membuatnya mengantuk. Tanpa
sesadarnya kadang-kadang kepalanya tertunduk. Namun kemudian ia
terkejut dan berusaha membuka matanya selebar-lebarnya. "Kau lelah
Sari" terdengar suara ibunya dari pintu belakang dapur. Sindangsari
berpaling sambil tersenyum "Udara membuat aku sangat mengantuk.
"Tidurlah" Tetapi Sindangsari menggeleng "Tidak ibu. Itu akan
menjadi kebiasaan" Ibunya tersenyum pula. Perlahan-lahan ia berjalan
mendekati anaknya dan kemudian duduk di sampingnya. Perlahan-lahan
tangannya membelai rambut anaknya yang hitam. "Sari" berkata ibunya
kemudian "kau sudah menjadi semakin besar" Sindangsari mengerutkan
keningnya. "Kau sekarang sudah menjadi gadis remaja" Sindangsari
masih belum menyahut. Dan ibunya berkata terus "Dengan demikian kau
harus menyadari, bahwa seandainya bunga, kau sudah hampir mekar"
"Ah" gadis itu berdesah. Ibunyapun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
iiba-tiba saja ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan bahwa Manguri
telah menyuruh seseorang datang memberikan hadiah kepadanya. Kesan
yang ditangkap oleh Nyai Wiratapa dari ceritera anaknya tentang
Manguri telah membuatnya bimbang. Mungkin anak itu memang baik.
Mungkin Kegagalannya yang berulang kali itulah yang membuatnya
berlaku aneh. "Tetapi cara itu sama sekali tidak aku sukai" berkata
Nyi Wiratapa di dalam hatinya "aku lebih senang perhubungan yang
wajar di antara mereka. Tetapi dengan menyuruh perempuan tua itu
datang ke rumah ini, penilaianku terhadap Manguri menjadi lain" Dan
Nyai Wiratapa memang tidak dapat menghapuskan kesan itu. Meskipun ia
belum mengenal Manguri dari dekat, tetapi ia sudah tidak
menyukainya. Dalam keragu-raguan itu ia mendengar Sindangsari
berkata "Ibu, pada suatu saat, aku ingin berbuat seperti kawan-kawan
di padukuhan ini. Menyampaikan makanan ke sawah, atau membantu
menunggui padi. Bahkan beberapa orang kawankawanku dapat juga
menyiangi tanaman dan menunggu air" Ibunya mengangguk-anggukkan
kepalanya "Sedikit demi sedikit kau akan dapat menyesuaikan dirimu
Sari. Tetapi tidak dengan tiba-tiba. Kau harus membiasakan dirimu
lebih dahulu" "Aku tidak mau disebut anak manja ibu. Apalagi kakek
seakan-akan bekerja sendiri di sawah. Sedang kakek sudah tua. Apakah
salahnya kalau aku bekerja seperti kawankawanku yang lain? Aku bukan
anak orang kaya" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya "Bagus
Sari. Kau memang anak yang baik. Tetapi kau harus menyesuaikan
kemampuanmu. Aku tidak berkeberatan, bahkan aku senang melihat kau
bekerja di sawah kelak, apabila kau sudah mampu melakukannya" "Tentu
aku akan mampu ibu. Sedang Manguri, anak pedagang yang kaya raya
itupun bekerja pula di sawah. Katanya tidak baik orang
bermalas-malas. Betapapun kekayaan tertimbun di rumah, tetapi
kekayaan itu kelak akan habis. Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan
kepalanya pula. Ternyata Manguri menyadari kewajibannya meskipun ia
anak seorang yang kaya raya. "Bukankah begitu ibu?" "Tentu, tentu
Sari. Pada saatnya kau akan bekerja pula di sawah" Sindangsari
tersenyum. Kemudian di pandanginya anyaman tikar yang sudah di
mulainya. Sesaat kemudian jari-jarinya telah mulai menari,
mempermainkan helai-helai pandan yang putih. Selarik demi selarik
tikar itupun seakan-akan tumbuh menjadi tikar pandan yang semakin
lebar meskipun belum begitu halus. Ibunya yang duduk di sampingnya
masih saja bimbang. Apakah ia harus mengatakannya kepada Sindangsari
bahwa ada seorang utusan Manguri yang datang untuk menyerahkan
sepengadeg pakaian?. "Anak ini sudah dewasa" katanya di dalam hati
ia harus mulai mengerti persoalan-persoalan yang menyangkut dirinya"
Karena itu, maka dengan hati-hati Nyai Wiratapa mengatakan, apa yang
terjadi, selagi ia tidak berada di rumah. "Perempuan itu adalah
utusan Manguri" berkata ibunya kemudian. Sindangsari terkejut.
Tetapi sepercik kebanggaan menggelora di dadanya. Ia ternyata
mendapat perhatian jauh lebih banyak dari kawan-kawannya, justru
Kawan-kawannya yang ingin dekat dengan anak muda itu. Teringat
olehnya salah seorang kawannya yang menjadi kemerah-merahan ketika
kawan-kawannya wanita lain mengganggunya, dan
menghubung-hubungkannya dengan Manguri. "Tetapi ternyata akulah yang
mendapat perhatian lebih banyak dari mereka; Mereka hanya mendapat
uang pembeli dawet cendol aren. Tetapi aku mendapat sepengadeg
pakaian" Namun ibunya justru menjadi cemas melihat kesan vaug
tersirat di wajah gadis itu. Karena itu, maka iapun segera
menyambung "Tetapi Sari, Sudah tentu ibu tidak dapat menerimanya"
Sekali lagi Sindangsari terkejut. Dan ia mendengar ibunya
menjelaskan "Itu tidak baik. Seorang gadis menerima pemberian
seorang anak muda. Kau sudah bersikap benar, bahwa kau tidak ikut
membelanjakan uang pemberiannya. Dan kaupun tidak akan dapat
menerima pemberian-pemberian yang lain" Sindangsari menundukkan
kepalanya dalam-dalam. Kau harus tahu Sari, bahwa pemberian serupa
itu pasti mempunyai pamrih" Sindangsari t idak menyahut. Tetapi hal
itu di sadarinya. "Cobalah mengerti, kenapa ibu menolak pemberian
itu. Bukan karena ibu tidak senang melihat kau berpakaian baik. dan
mahal. Tetapi, pakaian itu akan mengikatmu. Mengikat perasaanmu"
Sindangsari tidak menjawab. Bahkan kepalanya menjadi semakin
tertunduk. "Itulah yang ibu maksudkan. Kau sudah menjadi dewasa
sekarang. Anak-anak muda mulai memandangmu dari sudut yang lain.
Bukan sekedar kawan bermain kejar-kejaran lagi" Sindangsari
seakan-akan justru membisu. Dan ibunyapun mengerti, bahwa
Sindangsari tidak akan mengatakan apapun juga. Karena itu sambil
mengusap dahi gadisnya yang berkeringat Nyai Wiratapa berkata "Kau
harus menjadi semakin berhati-hati" Tanpa sesadarnya kepala gadis
itu terangguk kecil. "Nah, teruskanlah anyamanmu. Ibu akan membantu
nenek di rumah" Sindangsaripun kemudian dit inggalkannya sendiri,
duduk di bawah pohon yang rindang di kebun rumahnya. Tetapi kembali
tangannya seakan-akan membeku. Helai-helai pandan di tangannya sama,
sekali sudah tidak bergerak lagi. Sedang tatapan matanya jauh
hinggap pada bayangan matahari yang bermain-main di atas tanah yang
kering. Sindangsari tidak menyadari, betapa lama ia duduki
termenung. Ia terperanjat ketika ia mendengar derik sapu lidi di
halaman depan. Ternyata neneknya sudah mulai menyapu halaman. Adalah
kebiasaannya membantu neneknya dengan membersihkan kebun belakang.
Karena itu, iapun segera membenahi anyamannya yang hampir tidak
bertambah sama sekali. Dimasukkannya helaihelai pandan yang putih ke
dalam bakul. Kemudian disimpannya semuanya itu di dalam biliknya.
Dan sejenak kemudian Sindangsari telah memegang sebuah sapu lidi dan
ambil terbungkuk-bungkuk ia membersihkan kebun di belakang rumahnya.
Sindangsari menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat ibunya
membawa kelenting di lambung, mengusung air dari sumur ke dalam
dapur. Sepercik perasaan iba menyentuh pusat jantungnya. Tetapi
kemudian terdengar desah lirih "Kami harus bekerja keras. Jangankan
kami, sedang Manguri anak seorang yang kaya raya itupun bekerja
dengan keras pula" Dengan demikian maka tangannyapun segera bergerak
kembali, mengayun-ayunkan sapu lidinya dan beringsut setapak demi
setapak maju. Ketika ia menyimpan sapu lidi di sisi dapur, maka
dilihatnya kakeknya sudah ada di rumah. Laki-laki itu sedang sibuk
membersihkan lampu minyak di longkangan belakang. Tampaklah
keringatnya masih membasah di punggung dan keningnya. "Kakek baru
pulang dari sawah?" bertanya Sindangsari. Kakeknya berpaling,
kemudian kepalanya teranggukangguk "Ya Sari. Aku baru pulang"
Sindangsari menengadahkan kepalanya. Dilihatnya warnawarna senja
yang tersangkut di dedaunan. Dan sekali lagi ia berdesah di dalam
hati "Kami memang harus bekerja keras" Sejenak kemudian setelah
semua pekerjaan selesai, barulah mereka seorang demi seorang mandi.
Kemudian seperti hampir di setiap sore, mereka duduk-duduk di amben
bambu, melingkari mangkuk-mangkuk makanan yang sederhana. Tetapiv
Sindangsari kali ini agak berubah dari kebiasaannya. Ia tidak banyak
berbicara dan bertanya tentang bermacam-macam persoalan. Begitu ia
selesai makan, maka iapun segera minta ijin untuk masuk ke dalam
biliknya. "Kenapa kau Sari" bertanya neneknya. "Kepalaku agak pening
nek" jawab gadis itu. "Nah" sahut kakeknya "itulah akibatnya. Kau
terlampau lama berjemur di terik matahari siang tadi. Ingat Sari,
kau belumbiasa dibakar oleh udara sepanas itu" Sindangsari
menganggukkan kepalanya. "Di dalam geledeg masih ada beberapa buah
jeruk dan segumpal enjet. Lekatkan sepotong jeruk enjet di keningmu.
Mudah-mudahan pening kepalamu segera sembuh" berkata neneknya.
Sindangsari mengangguk. "Marilah Sari" ajak ibunya "aku bantu kau
mengobati peningmu itu" Sekali lagi Sindangsari mengangguk.
Keduanyapun kemudian berdiri. Ibunya mengambil pisau di dapur dan
Sindangsari mengambil sebuah jeruk pecel di geledeg dan sedulit
enjet putih. Setelah membantu Sindangsari sejenak, dan
membaringkannya di pembaringannya, maka Nyai Wiratapapun kembali
duduk-duduk di amben bersama ayah dan ibunya untuk berbincang. Di
pembaringannya Sindangsari sama sekali tidak dapat memejamkan
matanya. Sekali-sekali dipandanginya nyala lampu minyak kelapa yang
kekuning-kuningan. Lamat-lamat ia mendengar ibunya masih berbicara
perlahan-lahan dengan kakek dan neneknya. Tetapi betapapun ia
mencoba menangkap pembicaraan mereka, namun ia tidak berhasil sama
sekali. Sepatah katapun tidak ada yang dapat di dengarnya dengan
jelas. Sehingga akhirnya Sindangsari tidak menghiraukannya lagi,
meskipun kadangkadang timbul keinginannya untuk ikut berbicara
diantara mereka seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi ia sudah
terlanjur minta diri dan mengatakan kepada mereka bahwa kepalanya
sedang pening. Karena itu, maka Sindangsaripun tetap berbaring di
tempatnya. Namun angan-angannya tidak dapat dibatasinya. Ditembusnya
dinding-dinding ruangan yang sempit itu, menerawang jauh sekali
tanpa batas. Terbayang semuanya yang terjadi di siang hari. Manguri
yang tersenyum cerah. Gadis-gadis yang manja dan kepingkeping uang
yang di berikan oleh anak pedagang yang kaya raya itu. Sindangsari
menarik nafas dalam-dalam. Terbersitlah sebuah kekecewaan di hatinya
karena ibunya telah menolak pemberian Manguri kepadanya. Sindangsari
menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba telinganya menangkap
suara ibunya agak mengeras "Begitulah menurut Sindangari ayah"
Kakeknya yang tua tidak segera menjawab. Tetapi katakata itu sangat
menarik perhatian Sindangari. Perlahan-lahan iapun kemudian bangkit
dari pembaringannya dan berjalan berjingkat melekat dinding.
Beberapa langkah ia berhasil mendekati tempat duduk ibu dan kedua
kakek dan neneknya. Ternyata pembicaraan merekapun menjadi agak
mengeras "Kau harus berhati-hati mengurusi anakmu itu Wiratapa"
berkata kakeknya "Aku tidak senang ia bergaul dengan Manguri" "Aku
sudah mencoba memberitahukannya ayah" "Kau sudah bertindak tepat.
Jangan menerima pemberian apapun dari padanya" "Ya ayah" jawab
ibunya. Sejenak kemudian menjadi sepi. Baik ibunya, maupun kakek dan
neneknya tidak segera berbicara apapun. Tiba-tiba kakeknya bertanya
"Apakah Sari sudah tidur?" "Entahlah" jawab ibunya. "Lihatlah"
Ketika ibunya berdiri, maka sambil berjingkat Sindangsari pergi
tergesa-gesa ke pembaringannya. Dibaringkannya tubuhnya sambil
membentangkan selimut, sehelai kain panjang di atas tubuhnya.
Sindangsari mendengar pintu lereg biliknya berderit. Hanya sebentar.
Dan ketika untuk kedua kalinya pintu itu berderit kembali, ia
membuka matanya perlahan-lahan. Ternyata pintu kamarnya telah
tertutup rapat. "Agaknya anak itu telah tidur ayah" Sindangsari
mendengar suara ibunya. "Kemarilah, aku ingin memberitahukan sesuatu
kepadamu" Sejenak tidak terdengar sesuatu kecuali derak amben bambu
tempat ibu dan kakeknya berbicara. Tetapi pembicaraan yang kemudian
sama sekali tidak dapat di dengar oleh Sindangsari, selain
gemeremang suara kakek, nenek dan ibunya berganti-ganti. Meskipun
Sindangsari kemudian bangkit dari pembaringannya dan melekatkan
telinganya di dinding, namun pembicaraan orang-orang tua itu sama
sekali tidak jelas baginya. Hanya sekali-sekali ia mendengar namanya
di sebut, kemudian nama Manguri dan nama beberapa orang lain. "Huh"
akhirnya gadis itu menjadi kesal "biarlah mereka berbicara tentang
persoalan yang tidak mereka mengerti" Tetapi tiba-tiba gadis itu
menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Meskipun kata-kata itu
hampir tidak terdengar sama sekali, meskipun oleh dirinya sendiri,
namun ia menyesal sekali. Tidak pernah ia mempunyai perasaan yang
demikian terhadap ibu, kakek dan neneknya. "Tetapi, tetapi"
Sindangsari mencoba memperbaiki "maksud ibu, kakek dan nenek pasti
untuk kebaikanku. Pasti" Sindangsaripun kemudian meletakkan tubuhnya
di pembaringannya kembali. Ditariknya selimutnya untuk menutup
hampir sekujur tubuh, selain kepalanya. Dan Sindangsari benar-benar
tidak mendengar ketika kakeknya berkata "Memang demikianlah kesan
hampir setiap anak-anak muda di Gemulung tentang Manguri. Anak itu
memang terlampau julig, sehingga semua perbuatannya sama sekali
tidak berbekas. Tetapi hal yang serupa itu tidak boleh terjadi atas
Sari" Dengan mulut ternganga Nyai Wiratapa mendengarkan ceritera
ayahnya. Namun tanpa di sadarinya ia brdesis "Apakah memang
demikian?" "Ya. Hanya orang yang sangat terbatas yang mengetahui
keadaan yang sebenarnya. Dengan bujukan yang hampir tidak terelakkan
ia mencari anak-anak muda sebayanya. Dengan dibekali uang, pakaian
dan bermacam macam janji, maka anak muda itu di suruhnya membawa
gadis yang sudah dinodainya itu. Memang tidak ada pilihan lain bagi
gadis yang demikian. Sebab mereka merasa, bahwa tidak mungkin dapat
memaksa Manguri untuk bertanggung jawab. Mereka sadar, bahwa Manguri
dapat melakukan kekerasan atas mereka, justru karena ia kaya raya"
orang tua itu berhenti sejenak, lalu "demikianlah yang sudah
terjadi, tiga atau empat kali. Gadis yang telah ternoda itu
dipaksanya pergi bersama laki-laki yang telah disuap dengan apapun.
Mereka akan kawin dan bebaslah Manguri dari segala
macampertanggungan jawab" "O" keringat dingin mengalir di punggung
Nyai Wiratapa "Mengerikan sekali" "Demikianlah yang sebenarnya
terjadi. Namun kesan yang dibuat dari peristiwa itu adalah,
seakan-akan gadis-gadis Manguri itu meninggalkannya dan lari dengan
laki-laki lain" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
dadanya serasa menjadi pepat. Ia tidak menyangka, bahwa hal yang
serupa itu dapat terjadi. "Sekali dua kali, tidak ada seorangpun
yang menaruh curiga. Tetapi ketika hal itu terulang kembali, maka
mulailah beberapa orang tua-tua bertanya-tanya" "Apakah orang tuanya
tidak berbuat sesuatu" bertanya Nyai Wiratapa. Ayahnya yang tua itu
menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya "Memang kita tidak akan
menghukum Manguri sebagai seorang anak yang binal tanpa menghiraukan
orang tuanya. Kesalahannya memang tidak seluruhnya terletak pada
anak itu" laki-laki tua itu berhenti sejenak; kemudian "Ayah Manguri
adalah seorang pedagang ternak yang kaya raya. Ia jarang sekali
berada di rumahnya. Hampir setiap hari ia berkeliling dari pasar
ternak yang satu ke pasar yang lain. Kemudian melakukan jual beli
dalam jumlah yang besar dengan pedagang-pedagang dari Utara. Dari
Mataram, dari Bagelen dan dari daerah-daerah yang lain" Nyai
Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya "Jadi anak itu tidak
mendapat pengawasan secukupnya bukan? Tetapi bagaimana dengan
ibunya?" "Ibunya terlampau memanjakannya" jawab ayahnya, kemudian
suaranya menurun "tetapi lebih dari pada itu. Ayahnya adalah seorang
laki-laki yang tidak terkekang. Hampir di segala sudut daerah
Selatan mi ia mempunyai isteri. Bahkan kadang-kadang ia masih juga
mengganggu isteri orang" lakilaki tua itu berhenti sebentar,
kemudian dan isterinya, ibu Manguri itu, di dalam kesepian ia telah
melakukan hubungan yang terlarang. Dan hubungan itu diketahui oleh
anak lakilakinya. Celakanya, anak laki-laki itu sudah pandai memeras
ibunya. Setiap kali ia mengancam akan mengatakannya kepada ayahnya
apabila ibunya tidak memenuhi permintaannya. Apapun" "Gila, gila"
tanpa sesadarnya Nyai Wiratapa memotong kata-kata ayannya" "Sst"
desis ibunya "jangan terlampau keras, kau akan membangunkan anakmu"
Sebenarnyalah Sindangsari terkejut mendengar suara ibunya. Tetapi ia
tidak tahu, apakah yang sebenarnya sedang di persoalkan. Karena itu,
maka ia tidak mengacuhkannya lagi. Mungkin ibunya sedang menilai
anak-anak muda padukuhan Gemulung yang sudah menjadi kawan-kawanya
bermain. "Ayah" desis Nyai Wiratapa perlahan-lahan "jadi benar juga
kata-kata perempuan tua yang datang untuk menyerahkan pakaian
sepengadeg itu. Katanya, kalau nasibku baik, bukan saja Sindangsari
yang akan mendapat tempat di dalam keluarga yang kaya raya itu,
tetapi mungkin aku juga akan diambil selir oleh pedagang kaya itu"
"Yang benar adalah, perempuan itu berkata demikian" sahut ayahnya
"tetapi belum tentu hal itu akan sebenarnya terjadi" Nyai Wiratapa
menundukkan kepalanya. Terdengar ia berdesis perlahan "Sudah
demikian parahkah keadaan padukuhan ini, sehingga tidak lagi ada
tata kehidupan?" "Jangan salah sangka Wiratapa" berkata ibunya
"tidak semua orang Gemulung berbuat seperti itu" Nyai Wiratapa
mengangguk-angguk perlahan. "Mudah-mudahan aku dapat menyingkirkan
anakku dari bencana ini" berkata Nyai Wiratapa di dalam hatinya.
Sementara itu Sindangsari masih saja berbaring diam di dalam
biliknya. Matanya berkejap-kejap memandang langitlangit di atas
biliknya. Kadang-kadang seekor cicak melintas sambil menciap,
seperti anak burung yang memanggil induknya dari sarang. Tiba-tiba
Sindangsari mengerutkan keningnya. Di kejauhan terdengar suara
tembang yang mengambang di sepinya malam. Tembang macapat,
seakan-akan merambat di dinding biliknya. "Asmaradana" desis gadis
itu, lalu "kenapa masih sesore ini orang itu memilih lagu Asmaradana
dan bukan Dandanggula?" Namun suara tembang itu mengalun semakin
jelas menyentuh telinga Sindangsari. Tanpa sesadarnya terbayanglah
seorang anak muda yang meloncat dari balik dinding batu di pinggir
desa siang tadi. Anak muda yang bermain seruling dengan nada-nada
yang lain dari tembang-tembang macapat seperti yang didengarnya itu.
Dan tanpa sesadarnya Sindangsari telah memperbandingkannya dengan
anak muda periang yang bernama Manguri, anak seorang pedagang ternak
yang kaya raya. "Lain" desisnya "keduanya mempunyai cirinya
tersendiri. Manguri adalah seorang periang yang tampaknya tidak
pernah bersungguh-sungguh, ia berbuat sesuka hatinya, apa saja yang
sedang diingatnya di lakukannya. Tetapi anak yang berseruling itu
bukanlah seorang yang berbuat apa saja sesuka hati. Ia mempunyai
pertimbangan dan ada kesungguhan, meskipun ia tidak seriang Manguri"
Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Pada anak muda itu yang
paling menarik baginya adalah suara serulingnya. "Namanya tidak
begitu baik. Pamot" gadis itu berdesis. Namun sementara itu suara
tembang di kejauhan masih saja membelai telinganya, sehingga lambat
laun, seperti silirnya angin malam, telah mendorongnya ke dalam alam
yang lamat-lamat. Perlahan-lahan ia mulai terlena, sehingga akhirnya
Sindangsari tertidur dengan nyenyaknya. Ia sudah tidak mendengar
lagi ketika suara tembang itu kemudian beralih kepada nada-nada yang
lebih keras, sehingga sampailah kemudian ke dalam suasana perang
yang dahsyat "Durma" Ketika matahari terbit di keesokan paginya.
Sindangsari benar-benar merasa pening di kepalanya. Belahan jeruk
yang semalam dilekatkan di keningnya sudah terjatuh di sisinya
berbaring. Tetapi ia tidak mau tetap berada di dalam biliknya.
Seperti biasa ia bangun dan membantu neneknya menyapu halaman.
Tetapi pembicaraan ibu serta kakek dan neneknya semalam selalu
dikenangnya. Meskipun ia t idak mendengar pembicaraan itu, tetapi ia
merasa bahwa mereka sedang berbicara tentang dirinya. Setelah
selesai menyapu halaman, maka seperti biasanya Sindangsari
mengumpulkan pakaian-pakaian kotor yang akan dicucinya di kali
bersama beberapa orang kawan gadisnya. Tetapi tidak seperti
biasanya, ibunya mendapatkannya sambil berkata "Hati-hatilah Sari.
Jangan terlalu lama" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Jawabnya
"Ya bu. Kepalaku juga agak pening" Sindangsari hanya menunggu
sebentar ketika beberapa orang kawannya lewat di muka rumahnya.
Kemudian bersama-sama mereka pergi ke sungai sambil menjinjing
bakulnya masing-masing. Sementara itu, beberapa pasang mata sedang
mengintai. Tetapi mata itu kini memancarkan perasaan yang bergejolak
dan jantung yang berdentangan. "Lamat" Manguri memanggil orangnya
yang tinggi besar "Lihat, gadis itu lewat lagi" Lamat berjalan
dengan langkahnya yang berat mendekati Manguri. "Sindangsari telah
menolak pemberianku. Sesuatu yang selama hidupku belum pernah
terjadi" berkata Manguri "setiap gadis pasti tunduk di bawah
pengaruhku, bahkan apapun yang aku minta pasti diberikannya tanpa
banyak persoalan. Dan kini aku belum meminta sesuatu. Justru aku
baru memberi. Tetapi ia sudah menolak" Lamat mengerutkan keningnya.
Kemudian terdengar suaranya datar "Yang manakah gadis yang bernama
Sindangsari?" "Bodoh, bodoh kau. Kau memang bodoh seperti kerbau"
Lamat t idak menjawab. "Lihat, gadis yang berkain lurik hijau gadung
itu" "Yang menjinjing bakul?" "Semua menjinjing bakul. Apakah kau
tidak melihat?" Lamat terdiam. "Berkain lurik hijau gadung dan
berbaju coklat muda" Lamat t idak menjawab. Tetapi kepalanya
terangguk-angguk "Kau lihat he?" "Ya, ya. Aku melihat" "Nah, gadis
itu yang sudah menghinaku. Mengerti" Lamat mengangguk-angguk
kepalanya. Lalu ia bertanya "Apakah aku harus mengambilnya dan
membawanya kemari" Manguri tidak segera menjawab. Tetapi melihat
sikap gadis itu ia menjadi ragu-ragu. Sindangsari bersama beberapa
kawannya masih saja berjalan seperti biasanya. Kadangkadang mereka
berpaling memandangi pintu regol yang tampaknya tertutup. Tetapi
mereka tidak tahu bahwa Manguri sedang mengintip mereka dari balik
pintu yang mereka sangka tertutup rapat itu. "Tidak" kemudian ia
menjawab "Tidak sekarang. Aku ingin tahu, apakah anak itu atau
keluarganyalah yang berkeberatan. Mungkin aku masih mempunyai cara
lain. Tetapi kalau cara itu semuanya gagal, barulah aku memerlukan
kau" Orang yang bertubuh tinggi besar itu tidak menjawab.
Dipandanginya saja anak muda itu dengan kerut-merut di keningnya.
"Sebaiknya aku menemuinya dan bertanya langsung kepadanya" gumam
Manguri kepada diri sendiri. Lamat masih tetap berdiri di tempatnya.
Dan tiba-tiba saja Manguri berteriak "Pergi, pergi kau"
Perlahan-lahan Lamat melangkah surut. Kemudian dengan kepala tunduk
ia kembali ke pekerjaannya. Meskipun ia masih mendengar Manguri
bersungut-sungut sambil mengumpatumpat, tetapi ia sudah tidak
berpaling lagi. Sejenak kemudian Manguripun segera berlari masuk ke
dalam rumahnya. Ditemuinya ibunya sedang melipat pakaiannya di
dalambiliknya. "Bu, aku perlu uang" Ibunya mengangkat wajahnya. Di
pandanginya anaknya yang tampak tergesa-gesa. "Untuk apa?" bertanya
ibunya. "Aku akan menemui gadis itu langsung. Belum pernah seseorang
menolak pemberian kita. Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Dengan
ragu-ragu ia bertanya "Manguri, apakah kau mash juga akan berbuat
demikian? - Manguri mengerutkan keningnya "Maksud ibu?" "Duduklah"
Manguri tertegun sejenak. Tetapi iapun melangkah maju dan duduk di
amben. "Manguri, umurmu semakin lama menjadi semakin bertambah" "Ya"
"Kau harus menyadari, bahwa hidupmu kelak akan tergantung kepadamu
sendiri. Ayah dan ibu tidak akan dapat membimbing kau untuk
seterusnya. Suatu ketika ayahmu menjadi tua dan tidak dapat mencari
uang lagi. Kalau kau tidak belajar sejak sekarang, maka kau akan
mengalami kecanggungan kelak" Manguri terdiam sejenak. Tetapi
tiba-tiba ia tertawa. Katanya "Nasehat ibu baik sekali. Tetapi ayah
dapat melakukan kedua-duanya berbareng. Mencari uang dan perempuan"
Ibu Manguri menarik nafas dalam-dalam. Ia memang t idak dapat
ingkar. Karena itu maka katanya "Kau benar Manguri. Kalau aku
memberi kau nasehat lebih lanjut, mungkin kau akan menyentuh
kesalahan ibumu pula. Aku tidak ingkar. Ayahmupun tidak akan ingkar.
Hidupku dan ayahmu bukanlah contoh yang baik. Tetapi sudah tentu aku
tidak ingin melihat anakku berbuat seperti itu" Manguri masih
tertawa. Katanya "Tidak. Aku tidak akan menunjuk kesalahan ibu. Aku
tidak peduli. Aku merasa bahwa aku sudah cukup dewasa menanggapi
keadaan. Seharusnya aku tidak menjadi seorang anak muda yang
cengeng. Yang merintih sepanjang hidupnya karena kesalahan orang
lain. Tidak" Manguri berhenti sejenak, lalu "Tetapi beri aku uang"
"Manguri" suara ibunya merendah "kau harus sudah mulai berpikir
tentang masa depanmu" "Ya, aku memang sudah memikirkannya ibu, Masa
depan yang paling menyenangkan adalah cara hidup yang ditempuh oleh
ayah" "Oh" ibunya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Manguri sama
sekali tidak menghiraukan desah ibunya. Bahkan ia mendesak "Ibu,
beri aku uang" Ibunya yang tidak dapat mengatasi permintaan itu,
seperti biasanya lalu berkata "Ambillah di dalam kampil itu"
Manguripun segera meloncat mengambil uang di dalam kampil di
geledeg. Tanpa di hitungnya. Dan uang yang segenggam itupun kemudian
dimasukkannya ke dalam kantong ikat pinggangnya. Beberapa keping
berjatuhan di lantai tanpa di hiraukannya. "Kemana kau Manguri?"
ibunya masih bertanya. "Ke sawah. Mungkin aku akan dapat bertemu
dengan Sindangsari seperti! kemarin. Ia bermain-main di pinggir desa
bersama beberapa orang gadis" Ibunya tidak bertanya lagi.
Dibiarkannya Manguri meninggalkan biliknya. Namun sepercik kecemasan
telah merayapi jantungnya. Bagaimanakah masa depan anaknya itu?
Bagaimanapun gila ayahnya terhadap perempuan di segala tempat, namun
ayahnya dapat mencari uang untuk membeayai kegilaannya, dan
membeayai rumah tangganya yang sudah ada. Meskipun sifat-sifatnya
kurang disukai oleh orang-orang Gemulung, tetapi ia tetap seorang
yang terhormat karena ia kaya. Bahkan dirinya sendiri yang tidak
bersih lagi itupun masih tetap mendapat tempat yang baik, karena ia
dapat memberi pekerjaan dan sumber hidup bagi tetangga-tetangganya
yang ikut membantu di rumahnya dan memelihara sawah dan ternak.
Tetapi Manguri tidak dapat berbuat seperti ayahnya. Ia hanya meniru
satu segi dari kehidupan ayahnya. Justru kelemahannya. Bukan
kecakapan berusaha dan tanggung jawabnya. Sampai umurnya yang telah
menginjak dewasa Manguri sama sekali tidak mempunyai tanda-tanda
bahwa ia rajin bekerja seperti ayahnya. Bahwa ia mampu melakukan
pekerjaan yangberat dan bertanggung jawab. Yang dilakukannya
sehari-hari adalah menghamburkan uang untuk kepuasan semata-mata.
Dan ibunya menjadi sedih karenanya. Betapa kelamnya hati seorang
ibu, namun ia masih juga ingin melihat hidup anaknya yang cerah.
Tetapi Manguri tidak dapat diharapkannya sama sekali. Sementara itu
Manguri berjalan tergesa-gesa di sepanjang jalan padesan. Semula ia
akan menyusul gadis-gadis yang pergi mencuci ke sungai. Tetapi niat
itu diurungkannya. Ia masih juga segan turun ke sungai menunggui
gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi. Karena itu, maka iapun
pergi meniti pematang ke sawahnya, meskipun hanya sekedar tidur di
dalam gubug. Menghentikan penjual apapun yang lewat untuk
menghabiskan waktu, kemudian pergi menemui gadis-gadis di pinggir
desa. "Aku harus tidak hanya sekedar lewat dan memberikan uang. Aku
harus berhenti dan mencoba melakukannya sendiri. Tidak dengan
perantara-perantara yang bodoh. Aku tidak mau gagal kali ini. Jarang
aku menemui gadis seperti Sindangsari sepanjang hidupku. Juga di
masa yang akan datang" Dan bayangan-bayangan yang menegangkan urat
syarafnya selalu mengganggunya. Selagi ia berbaring di dalam gubug
di tengah-tengah sawahnya, hatinya selalu saja gelisah. Sama sekali
tidak ada perhatiannya atas burung-burung yang berterbangan di atas
batang-batang padi yang mulai menguning, seperti segumpal asap yang
berputar-putar. Kemudian menukik bertebaran di atas bulir-bulir padi
yang mulai menunduk. Namun sejenak kemudian terdengar
penunggu-penunggu sawah itu berteriak-teriak sambil mnarik tali-tali
penggerak orang-orangan di tengah-tengah sawah itu. Dan
burung-burung itupun menghambur berterbangan dalam gumpalan-gumpalan
memenuhi udara yang bersih. Dalam pada itu Sindangsari dan
kawan-kawannya lagi sibuk mencuci di pinggir kali. Tetapi
Sindangsari tidak segembira biasanya. Ia tiba-tiba saja menjadi
pendiam yang kadangkadang merenung untuk sesaat, sehingga
kawan-kawannya menjadi heran melihat perubahan itu. "He, Sari.
Kenapa kau selalu merenung" bertanya Kandi tiba-tiba "apakah semalam
kau bermimpi?" Sindangsari terkejut. Ia mencoba tersenyum, tetapi
terasa senyumnya hambar. "Ya, pasti bermimpi" sahut kawannya yang
lain "ayo katakan Sari, kau mimpi apa?" "Aku tidak pernah bermimpi"
jawab Sindangsari. "Bohong" hampir berbareng kawan-kawannya menyahut
"tidak ada orang yang tidak pernah bermimpi. Dan agaknya semalam kau
bermimpi bagus sekali" "Bermimpi tentang apa Sari. Ayo katakan"
"Sungguh. Aku tidak bermimpi" Sari mengelak "aku tidak bermimpi
tentang apapun" "Sari" berkata kawannya yang lain. Tampaknya
wajahnya menjadi sangat bersungguh-sungguh "Dengar. Aku tahu pasti,
bahwa kau bermimpi digigit ular" "Ya, mimpi digigit ular" hampir
berbareng kawan-kawannya menjerit. Sindangsari menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Tetapi ia t idak
marah. Ia tahu, bahwa kawan-kawannya hanya sekedar bergurau. Dan
kawannya yang bertubuh kecil dan pendek tiba-tiba berkata dengan
suara yang dibuat-buat "Eyang, akhirnya ular sebesar ibu jariku itu
lenyap. Yang ada adalah seorang kesatria yang gagah dan tampan.
Wajahnya cerah seperti matahari. Namanya ..........eh, siapa namanya
Sari" Sekali lagi suara kawan-kawannya berderai. Dan Sindangsari
menjadi semakin tunduk, meskipun ia mencoba tersenyum. "Sebaiknya
kau berterus-terang" desis kawannya yang duduk di sampingnya. Dan
tiba-tiba saja gadis itu terpekik karena Sindangsari mencubitnya di
pahanya. "Jangan Sari, jangan" Tetapi Sindangsari tidak
melepaskannya. Sehingga gadis itu mencoba meronta untuk melepaskan
diri. Karena hentakannya sendiri itulah ia kehilangan keseimbangan.
Sejenak kemudian ia terdorong dan jatuh ke dalam air. Gadis-gadis
itupun menjadi semakin riuh. Mereka justru menyiram gadis itu
bersama-sama, sehingga dengan demikian perhatian mereka beralih dari
Sindangsari yang ikut pula menyiram gadis itu sampai terengah-engah.
Senda gurau itu membuat Sindangsari melupakan dirinya sendiri untuk
sejenak. Tetapi setelah anak-anak itu tidak lagi berteriak-teriak,
pening di kepalanya terasa lagi. Dan sebelum kawan-kawannya
mengganggunya, maka Sindangsari mendahului berkata "Kepalaku memang
agak pening" Kandi yang agak lebih tua dari kawan-kawannya
mendekatinya sambil bertanya* "Sejak kapan kau merasa pening?"
"Kemarin sore" "Nah, kau kehausan kemarin" potong seorang kawannya.
Tetapi yang lain tidak menyambung ketika mereka melihat Kandi
meletakkan tangannya di dahi Sari. "Jangan terlalu lama berendam"
berkata Kandi "kau memang agak panas" Kawan-kawannya mengerutkan
keningnya. Salah seorang dari mereka bertanya "Apakah kau
benar-benar pening Sari?" Sindangsari menganggukkan kepalanya dan
kawannya yang lain menyahut "Kalau begitu, marilah kita cepat
pulang" "Apakah kau nanti tidak bermain di pinggir desa, di waktu
kami beristirahat dari kerja kami di sawah?" Sindangsari mengerutkan
keningnya. Jawabnya "Kalau kepalaku masih pening, aku tidak pergi ke
pinggir desa" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
salah seorang yang lain menyahut "Kau tidak ingin minum dawet cendol
atau rujak nanas Sari?" Sindangsari menggelengkan kepalanya. "Ayo,
cepat. Kita harus segera pulang. Matahari menjadi semakin tinggi.
Ayah menunggu aku di sawah" berkata Kandi. Dan gadis-gadis itu
mempercepat kerja mereka, supaya mereka segera dapat pulang. Dengan
demikian, maka Sindangsari tidak dapat pergi ke pinggir desa hari
itu. Ia berbaring saja di pembaringannya. Badannya terasa agak
panas. Tetapi tidak terlampau tinggi, sehingga tidak begitu
menggelisahkan ibu, kakek dan neneknya. Tetapi yang masih saja
gelisah adalah Manguri. Sekalisekali ia bangkit dan duduk di bibir
gubug yang berkaki tinggi. Kemudian berbaring lagi. Bahkan
kadang-kadang ia meloncat tunrun dan berjalan hilir mudik di
pematang. Namun terasa waktu berjalan terlampau lamban. "Apakah
gadis-gadis itu sudah berada di pinggir desa" ia bertanya kepada
diri sendiri. Setiap kali Manguri menengadahkan kepalanya. Setiap
kali ia mencoba melihat kalau-kalau ia melihat gadis-gadis yang
pergi berteduh ke pinggir desa. "Sudah waktunya" tiba-tiba ia
berdesis ketika ia melihat di kejauhan seorang gadis berjalan
berjingkat-jingkat ke pinggir desa untuk berteduh "mereka pasti
sudah berkumpul di sana. Aku akan memberi mereka beberapa keping.
Tetapi aku akan minta Sindangsari tinggal. Aku ingin berbicara"
Manguripun kemudian berjalan tergesa-gesa menyusur pematang seperti
yang dilakukannya kemarin. Ketika ia meloncat turun ke jalan, maka
ia mendengar beberapa orang gadis menyebut namanya. Justru sengaja
agar ia mendengarnya. Tetapi Manguri tetap mencoba menenangkan
dirinya. Ia berjalan seperti kemarin mendekati gadis-gadis itu.
Tetapi semakin dekat, hatinya menjadi semakin berdebardebar. Ia
tidak melihat Sindangsari di antara gadis-gadis itu. Meskipun
demikian ketika gadis-gadis itu menegurnya iapun berhenti pula.
Seperti kemarin diberikannya beberapa keping uang kepada mereka.
Tetapi kali ini ia bertanya "Di mana Sindangsari?" Gadis-gadis itu
saling berpandangan sejenak. Kemudian sambil tertawa tertahan mereka
saling mencubit. "Dimana?" Manguri mendesak. "Sindangsari sedang
sakit. Ia tidak keluar rumah siang ini" "Sakit" bertanya Manguri
sambil mengerutkan keningnya. "Ya. Kepalanya pening. Semalam ia
mimpi di gigit ular" yang lain berkelakar, dan suara tertawanya
meledaklah. Manguri tersenyum. Tetapi tanpa berkata apapun ia
melangkah meninggalkan gadis-gadis itu. Sebenarnya hatinya menjadi
sangat kecewa. Ia ingin segera bertemu gadis itu sendiri. Penolakan
atas pemberiannya itu benar-benar telah menyakitkan hatinya. Kalau
penolakan itu benar-benar dilakukan oleh Sindangsari, maka ia harus
berbuat sesuatu. Kalau perlu dengan kekerasan, atau dengan cara
lain. "Mungkin aku dapat membelinya. Ibunya adalah seorang janda,
dan kakeknya seorang petani miskin" Manguri menggeram "mereka tidak
akan dapat bertahan melihat uang yang cukup banyak. Bahkan mungkin
dua ekor lembu yang besar cukup untuk menukar gadis itu. Aku tidak
akan memerlukan sepasang lembu itu, bahkan dengan bajaknya sama
sekali, agar kakek tua itu dapat bekerja dengan baik di sawahnya"
Dan tiba-tiba Manguri itu bergumam "Aku akan pergi ke rumahnya
sekarang. Aku t idak mau terlambat" Dan langkah Manguripun menjadi
semakin cepat. Meskipun hatinya agak berdebar-debar juga, tetapi ia
melangkah terus. Ia harus segera mendapat penjelasan, kenapa,
pemberiannya itu terpaksa ditolak. Apakah perempuan yang di suruhnya
itu berkata sebenarnya, atau sekedar dibuat-buat. Yang ingin
diketahuinya, siapakah yang sebenarnya telah menolak pemberiannya
itu. "Apakah benar ibunya, seperti yang dikatakan oleh perempuan
bodoh itu, yang menolak pemberianku, atau memang Sindangsari
sendiri?" Manguri menggerutu di sepanjang jalan "aku harus
mengetahuinya" Dan langkahnyapun menjadi semakin cepat. Sementara
itu Sindangsari masih saja terbaring di dalam biliknya. Ia tidak
dapat melupakan perasaannya, bahwa ibu, kakek dan neneknya sedang
mempersoalkannya semalam. Tetapi ia t idak tahu, apakah yang
dipersoalkan itu. Dalam arus angan-angannya yang menggelepar di
dalam dadanya itu, tiba-tiba terselip gema suara yang lain. Suara
yang seakan-akan bergetar dari alamyang asing. Namun Sindangsaripun
segera menyadari. Bahwa yang di dengarnya itu adalah suara seruling.
Sehingga karena itu, maka tanpa sesadarnya ia mengangkat kepalanya.
"Begitu dekat" desisnya. Sindangsari kini sudah mengerti, bahwa anak
muda yang bermain seruling dengan cara yang tersendiri itu adalah
Pamot. Dan suara seruling yang di dengarnya kini adalah suara
seruling Pamot itu pula. "Tetapi dimana anak itu bermain?"
Sindangsari bertanya kepada diri sendiri "Rumahnya tidak berada di
sekitar tempat ini. Bahkan agak jauh di pinggir desa. Namun anak
yang sedang agak sakit itu tidak dapat mengekang dirinya.
Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan ke pintu biliknya. Ketika ia
menjengukkan kepalanya, dan tidak seorangpun yang dilihatnya di
ruang dalam, maka tertatihtatih ia melangkah keluar biliknya dan
langsung ke pintu depan. "Dimanakah ibu dan nenek" desisnya. Tetapi
ia tidak melihat keduanya. "Mungkin mereka ada di dapur" ia mencoba
menjawabnya sendiri. Karena itu, maka tanpa minta diri kepada
siapapun Sindangsari berjalan melintasi halaman, turun ke jalan.
Dipasangnya telinganya baik-baik, sehingga segera ia tahu arah suara
itu. "Di perempatan sebelah" desisnya. Seperti di tuntun oleh suara
yang mengumandang dari ujung seruling bambu itu. Sindangsari
berjalan terus. Tidak terlampau jauh. Hanya beberapa puluh langkah
dari regol halamannya. Sindangsari berhenti di muka sebuah gardu
peronda. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata "Kau
Pamot" Pamot mengangkat serulingnya dari mulutnya. Sambil
tersenyumia bertanya "He, aku dengar kau sedang sakit Sari"
"Darimana kau tahu?" "Aku bertemu Kandi di sawah" "O, hanya sedikit"
jawab Sindangsari "tetapi apa kerjamu disini" "Meniup seruling" "Kau
perlukan datang ke gardu ini sekedar meniup seruling?" Pamot
tertawa. Sambil menunjuk seikat kayu bakar ia berkata "Aku mengantar
kayu itu pulang dari pategalan. Tetapi agaknya aku kelelahan,
sehingga aku beristirahat di gardumu ini sebentar sambil meniup
seruling" Sindangsari memandang seonggok kayu disamping gardu itu.
Dengan dahi yang berkerut-merut ia bertanya "Kau kuat mengangkat
kayu sebanyak itu seorang diri?" "Kenapa?" tanya Pamot "setiap kali
aku mengantar kayu sebanyak itu dari pategalan" "Kau kuat sekali"
Pamot tersenyum "Bagi anak-anak muda Gemulung, kerja ini adalah
kerja yang kami lakukan sehari-hari" "Aku tahu" sahut Sindangsari
"tetapi anak-anak muda yang lain t idak sekuat kau" Kini Pamot
tertawa berkepanjangan. Namun tiba-tiba suara tertawanya terputus
ketika ia melihat seseorang berjalan tergesa-gesa ke gardu itu pula.
Dengan wajah yang tegang ia memandangi Sindangsari dan Pamot
berganti-ganti. "Sst, kau lihat anak itu?" desis Pamot. Sindangsari
berpaling. Di lihatnya Manguri berjalan cepatcepat ke arahnya.
Tetapi Manguri tidak tersenyum seperti biasanya. Dan wajah itu tidak
secerah wajah yang dilihatnya kemarin. Bahkan Sindangsari terkejut
ketika ia mendengar Manguri itu bertanya kepadanya, sebelum ia
berhenti. "He Sindangsari. Apa kerjamu di situ?" Sindangsari heran
mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia berusaha untuk bersikap wajar.
Ketika Manguri kemudian berhenti dan berdiri di hadapannya, barulah
ia menjawab "Aku mendengarkan suara seruling" "Seruling apa?" "Pamot
" Manguri berpaling. Kini di pandanginya wajah Pamot yang masih
duduk dengan tenangnya di bibir gardu. "Kenapa kau berada di sini?"
Pamot tersenyum. Jawabnya "Melepaskan lelah sebentar" Manguri
mengerutkan keningnya. Ia melihat seikat kayu bakar di samping
gardu, sehingga ia tahu bahwa pamot sedang mengantarkan kayu itu
pulang ke rumah. "Tidak biasa kau lewat jalan ini sejak kau
kanak-kanak" bentak Manguri. Pamot tidak segera menjawab, tetapi
sorot matanya memercikkan keheranan. "Kalau kau mau pulang, cepat,
pulanglah" berkata Manguri pula. Pamot menjadi semakin heran. Bahkan
ia bertanya "Kenapa kau berkeberatan aku berada di sini?" Wajah
Manguri menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba ia memandang
Sindangsari yang berdiri termangu-mangu sambil berkata "Sari,
pulanglah. Bukankah kau sedang sakit?" Sindangsari menjadi
terheran-heran. Ia tidak mengerti, hak apakah yang mendorong Manguri
untuk berlaku demikian kepadanya. Sebagai seorang gadis Sindangsari
dalam hidupnya sehari-hari adalah seorang yang rendah hati. Tetapi
menghadapi sikap Manguri, tiba-tiba hatinya justru mengeras. Dengan
nada datar ia bertanya "Kenapa aku harus pulang sekarang? Aku sedang
mendengarkan Pamot bermain dengan serulingnya" "Tetapi kau sedang
sakit" jawab Manguri "sebaiknya kau tetap berada di rumah" "Aku
sudah sembuh" "Kau masih pucat sekali" Sindangsari menarik nafas
dalam-dalam. Kini ia menjadi ragu-ragu. Dan Manguri berkata
selanjutnya "Kalau kau tidak segera sembuh, aku akan dapat
membantumu, mencari obat" Sindangsari masih belum menjawab. Kini
hatinya dicengkam oleh kebimbangan. Hampir saja ia menurut i
katakata Manguri, karena kemudian kata-kata itu terasa sebagai
ungkapan persahabatan mereka. Tetapi niat itu justru diurungkannya
ketika Manguri kemudian mengulangi katakatanya kepada Pamot "Kau
beristirahat terlampau lama di sini. Kenapa tidak di gardu simpang
empat sebelah pohon orah itu?" Pamot mengerutkan keningnya. Dan
Sindang-saripun mulai menilai sikap Manguri. "Akulah yang sakit"
berkata gadis itu "bukan Pamot" "Ya, kaulah yang sakit. Karena itu
kau sebaiknya pulang. Tetapi Pamot itu ternyata telah mengganggu ist
irahatmu hingga kau terpaksa keluar rumah dan pergi ke gardu ini"
"Itu terserah kepadaku" Pamot yang duduk keheran-heranan itu menjadi
semakin heran. Ia belum pernah melihat Sindangsari bersikap begitu
keras. Karena itu ia mulai menimbang-nimbang. Agaknya Manguri
meletakkan kesalahan itu kepadanya. Dan ia masih segan untuk
bertengkar dengan anak pedagang ternak yang kaya itu. Karena itu,
maka iapun kemudian berkata kepada Sindangsari "Memang sebaiknya kau
pulang Sari. Kau masih terlampau pucat" Dan sebelum Sindangsari
menjawab, Pamot telah meloncat dari bibir gardu dan berjalan dengan
langkah gontai ke sisi gardu. Perlahan-lahan ia merunduk. Kemudian
dengan satu hentakan ia mengangkat seikat kayu itu di atas
kepalanya. "Aku juga akan pulang" desisnya "aku sudah t idak lelah"
Sindangsari masih tetap berdiam diri. Di pandanginya saja langkah
Pamot menjauh. Semakin lama semakin jauh sambil membawa kayu di atas
kepalanya. Tiba-tiba Sindangsari berdesis "Aku akan pulang" "Tunggu"
sahut Manguri dengan serta-merta "tunggu sebentar" "Aku sedang
sakit" "Aku ingin bicara dengan kau, Hanya sebentar" Sindangsari
tertegun sejenak. "Hanya sebentar Sari" "Tetapi bukankah kau minta
aku segera pulang karena aku masih sakit" "Ya, tetapi aku minta kau
mendengarkan kata-kataku sejenak" Sindangsari mencoba untuk mengerti
atas keadaan yang sedang dihadapinya. Sementara hatinya masih diamuk
oleh kebimbangan, ia berkata kepada diri sendiri "Inilah sebabnya,
kenapa Manguri seakan-akan mengusir Pamot dari gardu ini. Agaknya ia
mempunyai suatu kepentingan khusus dengan aku" Tiba-tiba dada
Sindangsari menjadi semakin berdebardebar. Terngiang kata-kata
kawan-kawannya, gadis-gadis Gemulung tentang Manguri. Sebagai
seorang gadis yang sudah menjelang dewasa penuh Sindangsari segera
dapat mengerti, hasrat apa yang terimpan di dalam hati anak muda
itu. Apalagi Manguri telah pernah mencoba memberinya sesuatu, tetapi
ditolak oleh ibunya. Dan terngiang kata-kata kawannya di pinggir
desa kemarin "He, apakah kau ingin menggantikan yang hilang itu?"
Dan kawannya yang lain menjawab "Bukankah kita samasama
menginginkannya?" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Pada saat
ia mendengar dari ibunya bahwa Manguri menyuruh seseorang untuk
menyerahkan sepengadeg pakaian kepadanya, ia menjadi bangga. Kalau
kawan-kawannya bersama-sama ingin mendapat perhatian lebih banyak
dari Manguri, maka ia adalah yang terbanyak. Tetapi tiba-tiba
membersit pertanyaan di dadanya "Apakah hanya aku seorang diri yang
pernah mendapat pemberian serupa itu?" Dan pertanyaan itu dijawabnya
sendiri "Kalau ada orang lain yang pernah mendapatkannya, mereka
pasti akan bercerita dengan dada tengadah" Sindangsari terkejut
ketika ia mendengar suara Manguri "Sari, Kau mau mendengarkan
bukan?" Sindangsari t idak menjawab. "Kenapa pemberianku kemarin
ditolak oleh ibumu? Menurut perempuan tua itu. Ibumulah yang
menolaknya. Apakah benar begitu?" Terasa desir yang lembut menyentuh
dada Sindangsari. Dan hatinya yang lembut pula itupun segera
bergolak. Ia tidak membebankan penolakan itu kepada ibunya
semata-mata. Karena itu, maka sejenak ia justru terbungkam. "Aku
ingin mendengar keteranganmu Sari" Sindangsari menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian ia bertanya "Kenapa kau memberikan itu
kepadaku" "Kau akan mengerti maksudnya kelak" Tetapi tiba-tiba
Sindangsari menggelengkan kepalanya "Tetapi t idak sekarang Manguri.
Aku t idak dapat menerima pemberian itu" Sepercik warna merah
membayang di wajah anak muda itu "Jadi kau memang menolaknya?"
"Bukan maksudku menolak. Tetapi aku masih belum dapat menerima
sekarang" Tiba-tiba dada Manguri bergetar. Belum pernah ia mendengar
penolakan serupa itu, sehingga tiba-tiba saja perasaannya menjadi
meluap "Sari. Belum pernah pemberianku kembali seperti yang terjadi
kali ini. Semua gadis yang didatangi oleh pesuruhku itu selalu
menerima pemberianku sambil terbungkuk-bungkuk. Bahkan seandainya
aku menyebar pakaian di simpang empat ini, maka gadis-gadis di
seluruh padukuhan Gemulung, bahkan seluruh Kademangan Kepandak, akan
ikut berebutan" Tetapi luapan perasaan itu telah mengejutkan
Sindangsari, sehingga hampir tanpa sesadarnya ia bertanya "jadi kau
pernah memberikan barang-barang serupa kepada banyak gadis-gadis"
Pertanyaan itu tidak diduga sama sekali oleh Manguri, sehingga
sejenak ia tergagap. Namun kemudian ia menjawab "Ya Sari. Aku pernah
memberikannya kepada beberapa orang gadis. Pemberianku itu
diterimanya dengan baik. Tetapi akhirnya satu-satu mereka lari
dengan laki-laki lain. Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya kemudian "Hal yang serupa jangan sampai terulang lagi
Manguri. Itulah sebabnya aku tidak dapat menerimanya, supaya aku
tidak menambah deretan nama-nama gadis-gadis yang meninggalkan kau"
"Maksudmu?" mata Manguri terbelalak. "Hubungan yang
bersungguh-sungguh tidak dapat tumbuh dalam waktu yang singkat. Atau
sesudah aku menerima pemberianmu. Tidak Manguri. Ada atau tidak ada
pemberian serupa itu, apabila hati bertaut, maka t idak akan ada
apapun yang dapat menghalangi. Tetapi pemberian serupa itu memang
dapat menumbuhkan salah sangka. Dengan senang hati seorang gadis
menerima pemberianmu. Tetapi tanpa pertautan hati yang sebenarnya,
maka akan terulanglah peristiwa-peristiwa itu sekali lagi dan sekali
lagi" Manguri terdiambeberapa saat. "Karena itu Manguri. Bukan cara
itu yang sebaik-baiknya kau tempuh" Belum pernah Manguri menjumpai
gadis seperti Sindangsari. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa
gadis itu akan dapat berkata tentang masalah serupa itu. Gadis-gadis
Gemulung yang selalu dijumpainya setiap hari, akan bersoraksorak
menerima beberapa keping uang daripadanya. Yang lain akan kegirangan
setengah mati menerima pemberiannya, sepengadeg pakaian, sehingga
persoalan-persoalan selebihnya berjalan terlampau lancar. Tetapi
gadis ini berbicara tentang masalah yang belum pernah dipikirkannya.
Selama ini ia merasa, bahwa ia adalah laki-laki yang paling mengerti
tentang perempuan dan gadis-gadis. Bahkan dengan mudahnya ia akan
dapat menguasai sepuluh atau duapuluh orang gadis sekaligus apabila
ia menghendaki. Dengan sedikit umpan, maka ia pasti sudah akan
berhasil membawa siapapun. Tetapi kali ini ia menjumpai seorang
gadis yang lain. Dalam pada itu, selagi Manguri termangu-mangu,
Sindangsari berkata "Sudahlah Manguri. Aku akan pulang. Kepalaku
masih terasa pening" "Tunggu, tunggu Sari. Jadi bagaimana jawabmu"
Sindangsari berpaling sejenak. Sambil melangkah ia berkata "Aku
sudah menjawab" "Sari, tunggu" Manguri mencoba uuntuk mengikuti
Sindangsari dan berjalan disampingnya. Tetapi Sindangsari tidak
berhenti. "Dengarlah, aku belum selesai" "Kepalaku pening lagi
Manguri. Jangan kau bebani lagi aku dengan persoalan-persoalan yang
akan menambah sakit saja. Kau seharusnya dapat mencari maksud
kata-kataku" "Tetapi." Namun Sindangsari t idak berhenti, sehingga
ketika mereka sampai di regol halaman gadis itu. Manguri terhenti.
Ia hanya dapat memandangi gadis itu berjalan tergesa-gesa melintasi
halaman dan naik tangga rumahnya. Ketika ia membuka pintu,
dilihatnya ibunya berdiri beberapa langkah di hadapannya.
Sindangsari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak berani
memandang tatapan mata ibunya, yang seolah-olah langsung menembus ke
pusat jantungnya. "Darimana kau Sari?" bertanya ibunya. "Dari gardu
disimpang empat itu ibu" jawabnya. "Bersama Manguri?" Sindangsari
mengerutkan keningnya. Agaknya ibunya melihat ia berjalan
bersama-sama Manguri sampai ke depan regol. "Hanya kebetulan saja ia
lewat di jalan ini" Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Tatapan
matanya menjadi aneh, sehingga ketika sekilas Sindangsari
melihatnya, iapun menjadi semakin tunduk "Apakah betul hanya suatu
kebetulan Sari" Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Kini
mengerti, kenapa tatapan mata ibunya itu terasa aneh. Agaknya ibunya
tidak begitu mempercayai keterangannya. "Ya ibu. Hanya kebetulan"
"Dan kenapa kau pergi kegardu itu" Sindangsari menjadi ragu-ragu
sejenak. Tetapi lebih baik berterus terang daripada dituduh yang
bukan-bukan. Maka Jawabnya "Aku mendengar suara seruling, ibu. Aku
tertarik sekali, sehingga aku tidak dapat menahan diri untuk keluar
sejenak" "Manguri bermain seruling?" "Sindangsari mengegelengkan
kepalanya "Bukan. Bukan Manguri" "Siapa?" "Pamot " "Tetapi kenapa
kau berjalan bersama Manguri?" "Kebetulan. Hanya suatu kebetulan"
Ibunya tidak segera menyahut. Tetapi matanya menjadi semakin redup.
Perlahan-lahan didekatinya anaknya. Kemudian dielusnya ujung
rambutnya yang berjuntai "Sindangsari. Seumur hidupku kau tidak
pernah berdusta kepada ibu. Kenapa kau sekarang berdusta" "Ibu"
Sindangsari terkejut "aku tidak berdusta ibu" Dan Sindangsari
menjadi semakin terkejut ketika ia melihat sorot mata ibunya yang
sedih. Sindangsari" berkata ibunya "aku melihat kau berjalan bersama
Manguri. Tetapi kau mengatakan itu hanya suatu kebetulan. Padahal
sepengetahuan ibu, jarang sekali Manguri berjalan lewat jalan ini,
dan apalagi kau tadi ibu tinggalkan kebelakang sedang terbaring di
pembaringanmu" "Tetapi, tetapi.........." Sindangsarti tergagap.
"Apapun yang kau lakukan Sari, sebenarnya ibu lebih senang kalau kau
berkata terus terang" "Aku sudah berterus-terang ibu" Terasa
tenggorokan Sindangsari mulai tersumbat. Namun kemudian mereka
terkejut ketika terdengar suara berat di luar pintu, suara kakek
Sindangsari "Sari berkata sebenarnya Wiratapa" "O" Nyai Wiratapa
berpaling. Ketika pintu kemudian terbuka semakin lebar, tersembullah
tubuh laki-laki tua itu dengan sebuah cangkul di pundaknya dan
caping tua di tangannya. "Apakah ayah mengetahuinya" bertanya Nyai
Wiratapa. "Aku melihatnya" jawabnya "aku lagi singgah di rumah
sebelah gardu itu, melihat ayam jantan aduan yang baik sekali. Aku
melihat Sari datang ke gardu itu selagi Pamot sedang bermain dengan
serulingnya. Kemudian aku melihat pula angger Manguri datang" Nyai
Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pamot lah yang pulang
lebih dahulu, kemudian baru Sindangsari diikuti oleh angger Manguri.
Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ditatapnya wajah
anaknya yang menunduk. Desisnya "Ternyata ibu keliru Sari. Menuruti
kakekmu, kau sudah berkata sebenarnya" Sindangsari tidak menjawab.
Meskipun ibunya mengakui kekeliruannya, tetapi terasa, bahwa ibunya
tidak senang melihatnya berjalan bersama Manguri. "Dan apakah kau
sudah tidak pening lagi?" Sindangsari menjadi ragu-ragu. Tetapi ia
tidak dapat menganggukkan kepalanya, meskipun kepalanya memang masih
terasa pening. Bahkan kemudian ia menjawab "Tidak ibu. Aku sudah
sembuh" "Bagus" jawab ibunya "kau sudah dapat membantu nenek"
Perlahan-lahan kepala Sindangsari terangguk. Dan sebelum beranjak
dari tempatnya kakeknya yang baru saja meletakkan cangkulnya di
sudut rumah berkata "Pamot memang pandai bermain seruling. Hampir
setiap orang tertarik kepada suara serulingnya yang justru tidak
lajim. Agaknya Sindangsari tidak pernah mendengarnya di kota" Nyai
Wiratapa mengerutkan keningnya. Dan laki-laki tua itu berkata
selanjutnya "Dan Pamot adalah anak yang baik" Nyai Wiratapa masih
berdiam diri. Tetapi ia melihat Sindangsari menarik nafas
dalam-dalam. "Biarlah anak ini beristirahat" desis kakek gadis itu
"seandainya ia telah sembuh, biarlah sakitnya tidak kambuh kembali"
Nyai Wiratapa tidak menjawab. Di pandanginya saja anaknya yang masih
menundukkan kepalanya. "Masuklah ke bilikmu" berkata kakeknya pula.
Dengan langkah yang tertegun-tegun oleh keragu-raguan Sindangsari
melangkah ke dalam biliknya. Kemudian setelah menutup pintu,
dibantingnya dirinya di atas pembaringannya sehingga amben bambu itu
berderak-derak. Ketika ia mencoba memejamkan matanya, maka
melintaslah bayangan-bayangan yang kalut bercampur-baur. Kemudian
sedikit demi sedikit bayangan-bayangan itu mulai saling berpisah.
Akhirnya Sindangsari melihat wajah-wajah yang berkesan di hatinya.
Wajah Manguri yang riang, dan wajah Pamot yang bersungguh-sungguh.
Tetapi kini Sindangsari sudah mempunyai bahan banding yang lebih
lengkap. Ternyata Manguri yang riang itu agak terlampau kasar.
"Mungkin demikianlah kebiasaannya di rumah. Karena ia anak seorang
yang kaya raya, maka ia biasa berlaku kasar terhadap orang-orangnya"
berkata Sindangsari di dalam hatinya "tetapi apakah ia berhak
berbuat demikian juga kepadaku, kepada Pamot dan kepada
kawan-kawannya bermain?" Tanpa disadarinya Sindangsari
menggeleng-gelengkan kepalanya. "Agaknya Pamot dapat bersikap lebih
baik dari Manguri" ia meneruskan di dalam hatinya "Tetapi sayang,
Pamot terlampau asing bagi kawan-kawan, gadis-gadis Gemulung"
Sindangsari menarik nafas dalam-dalam "Suara seruling itu" ia
berdesah. Maka mau tidak mau, Sindangsari harus menilai keduanya di
dalam dirinya. Bahkan ia merasa menyesal, bahwa ia mengenal keduanya
dan tertarik oleh sifat yang khusus dimiliki oleh masing-masing anak
muda itu. Sementara itu, Manguri berjalan dengan tergesa-gesa pulang
ke rumahnya. Meskipun masih jugu terpercik secercah harapan, tetapi
ia merasa tersinggung sekali oleh sikap Sindangsari. Biasanya
gadis-gadis Gemulung segera bersimpuh di hadapannya, apabila ia
mulai menaburkan keping-keping uang dan pakaian kepadanya. Tetapi
Sindangsari bersikap lain. "Aku tidak sabar" desisnya. Namun terasa
sesuatu yang lain bergetar di hatinya. Penilaiannya terhadap
Sindangsari, ternyata berbeda justru karena ia merasa tersinggung
karenanya. Ada sepercik keseganan menyentuh jantungnya. "Anak ini
memang lain" Namun dengan demikian, keinginannya untuk menaklukkan
Sindangsari menjadi semakin menyala di dalam dadanya. "Aku harus
dapat mengambil dengan segala macam cara. Kalau perlu dengan
kekerasan" tetapi kemudian ia mengerutkan keningnya "aku akan
membelinya dari kakeknya yang tua. Ia harus menyerahkan gadis itu
kepadaku. Aku harus membukt ikan kepada Sindangsari, tidak seorang
gadispun dapat melawan kehendakku" Manguripun kemudian menghentakkan
tangannya sambil menggeram "Pada saatnya kau akan tunduk di bawah
kehendakku. Ikhlas atau tidak ikhlas" Pikiran Manguri dihari-hari
berikutnya, terpusat pada usahanya untuk menaklukkan Sindangsari
dengan segala macam cara. Namun sejalan dengan usahanya itu,
penilaiannya terhadap Sindangsari justru menjadi semakin mantap.
Maksudnya untuk mendapatkan Sindangsari sekedar untuk melepaskan
dendam hatinya, semakin bergeser. "Aku tidak dapat menganggapnya
seperti gadis-gadis Gemulung yang lain" desisnya "aku harus
mengambilnya dengan sungguh-sungguh. Kalau aku masih menginginkan
yang lain, itu tidak apa. Tetapi aku harus mempunyai seorang isteri
yang baik" Dan Manguripun harus mengakui, bahwa ia mempunyai
perasaan yang lebih mendalam pada gadis ini dari gadis-gadis yang
pernah bergaul terlampau rapat dengannya. Dan Manguri yang sudah
menjadi semakin dewasa itu mulai dapat membedakan, bahwa terhadap
Sindangsari ia tidak sekedar dicengkam oleh nafsu semata-mata.
Tetapi ia benar-benar mulai mencintainya. "Perasaan apapun yang
tersimpan di dalam hati" katanya kepada diri sendiri "tetapi aku
harus mendapatkannya lebih dahulu, sebelumorang lain mengambilnya"
Dengan demikian, maka cara yang dianggapnya terbaik itulah yang akan
dilakukannya. Ketika matahari yang terik berada di pusat langit,
Manguri berjalan tergesa-gesa menyusur pematang pergi ke sawah yang
sedang digarap. Sawah yang ditumbuhi oleh batangbatang padi muda
yang hijau segar. Dibatasi oleh pematang yang ditanami kacang
panjang dengan lanjaran bambu yang berjajar-jajar. Seorang laki-laki
tua yang sedang menyiangi tanamannya, terbungkuk-bungkuk di teriknya
panas matahari. Seluruh tubuhnya telah menjadi basah oleh keringat,
sedang kakinya yang terendam di air setinggi mata kakinya itu
berlumuran dengan lumpur-lumpur yang kehitam-hitaman. Orang tua itu
tertegun ketika ia mendengar seseorang memanggilnya "Kakek. Apakah
kakek tidak beristirahat? Tidak baik bekerja tepat di tengah hari"
Laki-laki tua itu menggeliat sambil menekan lambungnya dengan kedua
tangannya yang kotor. Kemudian perlahanlahan berpaling ke arah suara
yang menyapanya. "O, kau Manguri" orang tua itu tersenyum "Ya, kek,
Kakek bekerja terlampau keras" "Sekedar menyiangi" jawab laki-laki
tua itu. "Sebaiknya kakek beristirahat seperti orang-orang lain. Di
tengah hari kita beristirahat sebentar. Apabila matahari telah
turun, barulah kita memulainya lagi" Kakek tua itu tertawa. Jawabnya
"Kerjaku hanya tinggal kurang sedikit. Kalau aku pulang untuk makan,
maka aku akan malas kembali lagi ke sawah. Tetapi kalau aku
lanjutkan kerja ini, sebentar lagi sudah selesai. Barulah aku dapat
pulang dengan tenang, karena aku tidak perlu pergi lagi ke sawah
hari ini" "Kenapa kakek setiap tengah hari pulang?" "Makan. Aku
tidak biasa makan pagi. Dan bukankah orangorang lain berhenti
bekerja pula tengah hari" "Tetapi mereka tidak pulang. Mereka makan
di gubug masing-masing. Laki-laki tua itu tertawa "Ada yang
mengirimkan makanan mereka ke sawah" "Kenapa kakek t idak minta
dikirimi makanan" Kakek itu masih tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.
"Bukankah kakek mempunyai seorang anak dan seorang cucu. Lihat,
orang-orang lain juga dikirimi makanan di sawah oleh anak anak
mereka, atau cucu-cucu mereka. Juga gadisgadis pergi ke sawah
membawa makanan dan gendi air. Kenapa cucu kakek itu tidak mau
melakukannya? Itu tidak baik. Anak-anak muda dan gadis-gadis harus
belajar bekerja seperti kebiasaan kita para petani bekerja. Juga
anak dan cucumu itu kek" Kakek tua itu mengangguk-angguk. "Dengan
demikian kakek tidak kehilangan waktu mondarmandir ke sawah meskipun
tidak terlalu jauh" "Perlahan-lahan Manguri. Aku harus mengajari
anak dan cucuku itu menjadi petani. Tetapi tidak dengan tiba-tiba.
Sedikit demi sedikit mereka memang sudah mulai menyesuaikan diri
dengan kehidupan petani" "Kakek terlalu sayang kepada cucumu" "O,
siapa yang tidak sayang kepada anak dan cucunya?" "Tetapi
berlebih-lebihan" Kakek tua itu hanya tertawa saja. "Tetapi itupun
wajar" tiba-tiba Manguri menyambung "gadis itu adalah satu-satunya
keturunan kakek yang dapat menyambung nama kakek di masa datang.
Anak kakek hanya satu. Menantu kakek sudah mati dan cucu kakek hanya
satu pula Kalau yang satu ini gagal, maka berakhirlah garis
keturunan kakek. Bukankah begitu" "Ya, begitulah kira-kira" "Bukan
kira-kira. Begitulah yang pasti" Laki-laki tua itu menganggukkan
kepalanya. "Kalau begitu, Sindangsari harus mendapat tempat yang
sebaik-baiknya Bukankah begitu?" "Demikianlah yang aku harapkan
Manguri. Aku memang ingin melihat Sindangsari bahagia" Manguri
tersenyum. Kemudian katanya "Gadis kakek itu memang harus
berbahagia. Mungkin ia tidak biasa melakukan pekerjaan terlampau
kasar seperti gadis-gadis Gemulung" "Aku akan mengajarinya. Tetapi
sudah tentu sedikit demi sedikit" "Itu tidak perlu kakek" Kakek tua
itu mengerutkan keningnya "Kenapa ?" ia bertanya. "Kalau cucumu itu
kelak kawin dengan seorang yang dapat memberinya tempat yang baik,
maka ia tidak perlu turun ke dalam lumpur seperti kakek ini" Kakek
tua itu mengangkat wajahnya. Kemudian terdengar suara tertawanya.
"Aku berkata sebenarnya kek" "Mudah-mudahan Manguri" jawab kakek tua
itu "tetapi sebaiknya anak itu tidak membayangkan masa depan yang
terlalu baik, supaya ia tidak menjadi kecewa" Manguri terdiam
sejenak. Ia tahu, sawah kakek tua itu tidak begitu luas. Diseberang
jalan adalah sawah Kyai Wratapa yang diterimanya dari Sultan Agung
sebagai penghargaan atas jasa-jasa suaminya. Ki Wiratapa. "Kalau
kakek mempunyai sepasang lembu, aku kira kerja kakek menjadi lebih
ringan. Bahkan mungkin lembu itu dapat disewa oleh tetangga-tegangga
kakek di musim mengerjakan sawah sebelum menanam padi" "O, tentu
Manguri. Sepasang lembu akan dapat membantu sekali. Tetap darimana
aku mendapat sepasang lembu" "Di rumah kakek ada sepasang lembu yang
tidak kakek pergunakan. Bahkan sama sekali kakek simpan di
dalambilik" "He" kakek itu terkejut "maksudmu?" "Jangankan sepasang
lembu kek. Apa saja dapat kakek peroleh, kalau kakek dapat
memanfaatkannya" "Aku tidak mengerti" "Sindangsari" "He, jadi kau
anggap Sindangsari dan ibunya sebagai sepasang lembu?" Manguri
tertawa "Jangan salah sangka kek. Bukan maksudku berkata demikian.
Tetapi Sindangsari dapat mendatangkan tidak hanya sekedar sepasang
lembu" Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
tampaknya ia masih belum memahami benar-benar kata-kata Manguri.
"Apakah kakek membutuhkan sepasang lembu dan bajak?" Kakek tua itu
menarik nafas dalam-dalam. "Kalau kakek memerlukan, besok di halaman
rumah kakek akan terikat sepasang lembu dan sebuah bajak. Beberapa
orang akan bekerja di sana membuat kandang. Sedang kakek sama sekali
tidak perlu menyediakan bahan apapun dan upah apapun" Kakek tua itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera menjawab.
Bahkan kemudian ia melangkah beberapa langkah menepi dan naik ke
pematang di sebelah Manguri. Perlahan-lahan orang tua itu duduk
sambil bergumam "Duduklah Manguri" Manguri termangu-mangu sejenak.
Ia tidak tahu pasti, tanggapan orang tua itu atas tawarannya. Karena
itu, maka dadanya justru menjadi berdebar-debar. Tetapi iapun
kemudian duduk di samping kakek tua itu. Dentang jantungnya serasa
menjadi semakin keras memukul di dadanya, oleh kediaman orang tua
itu beberapa saat lamanya. "Bagaimana kek" Manguri t idak sabar
menunggu orang tua yang masih berdiam diri itu. "Manguri. Apakah
maksudmu, kau akan memberi aku sepasang lembu dan bajak, tetapi
kemudian kau akan mengambil Sindangsari?" Manguri tergagap
karenanya. Pertanyaan itu terlampau langsung pada persoalannya
sehingga ia menjadi agak bingung. Namun kemudian kepalanya terangguk
perlahan-lahan. Dan terdengar suaranya datar "Maksudku, aku ingin
mengambil Sindangsari kek. Apapun maskawinnya, aku sanggup
membayarnya" Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya
"Sebenarnya aku senang sekali Manguri. Tetapi semua keputusan berada
di tangan Sindangsari sendiri. Aku akan bertanya kepadanya, kepada
ibunya dan kepada neneknya" Manguri mengerutkan keningnya. Dengan
serta-merta ia menjawab "Tetapi bukankah kepala rumah tangga itu
adalah kakek sendiri? Kakek dapat menentukan segala-galanya" "Benar
Manguri. Tetapi persoalan ini adalah persoalan hari depan yang
panjang" "Kakek dapat memaksa gadis itu. Kakek mempunyai wewenang.
Kemudian apa yang kakek butuhkan, aku akan memenuhinya" Kakek tua
itu menggelengkan kepalanya "Jangan begitu Manguri. Bukankah kau
sudah mengatakan bahwa gadis itu adalah penyambung garis
keturunanku. Kalau aku memaksakan sesuatu yang tidak di senanginya,
kemudian gadis itu membunuh diri, nah, putuslah semua riwayat yang
pernah terbentang dari nenek moyangku hingga anakku dan cucuku itu
saja" "Itu pikiran yang cengeng. Gadis itu tidak akan membunuh diri.
Ia akan bahagia menjadi isteriku. Isteri seorang yang kaya raya.
Paling kaya di seluruh padukuhan Gemulung" "Apakah kebahagiaan itu
tergantung pada kekayaan melulu" "Tetapi itu dapat menjadi unsur
utama kek" "Kau keliru anak muda" kakek itu menggeleng "tetapi
biarlah Sindangsari yang menentukannya sendiri" Wajah Manguri
menjadi merah padam. Ternyata kakek tua ini sekeluarga mempunyai
pandangan sendiri, tentang masalah duniawi. Anaknya perempuan, ibu
Sindangsari pernah menolak pemberiannya untuk gadis itu. Sindangsari
sendiri pernah juga menyakiti hatinya, dan sekarang kakek tua itupun
menolak pemberiannya yang tidak terbatas. "Maaf Manguri. Tetapi aku
tidak dapat memutuskan. Keputusan terakhir ada di tangan cucuku"
Manguri sudah tidak mendengar kata-kata itu dengan jelas. Iapun
kemudian meloncat berdiri sambil berkata "Pertimbangkan, kek. Selagi
aku masih memberi kesempatan. Sawahmu akan bertambah luas dan cucumu
akan menjadi seorang yang kaya" Manguri tidak menunggu kakek itu
menjawab. Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan laki-laki tua itu
termangumangu. "Hem" orang tua itu berdesah "anak ini memang keras
kepala. Tetapi aku justru menjadi kasihan kepada Sindangsari" Dan
sejenak ia masih berdiri di pematang sawahnya sambil memandangi
Manguri yang berjalan tergesa-gesa, seperti dikejar hantu. Namun di
sepanjang jalan manguri mengumpat tidak habishabisnya. Agaknya ia
tidak akan dapat pula menembus jalan lewat kakek-kakek tua itu.
Semuanya akhirnya tergantung pada Sindangsari sendiri. Ibunya,
kakeknya, semuanya menyerahkan persoalannya kepada Sindangsari.
"Orang-orang bodoh" ia menggeram. Namun dengan demikian keinginannya
untuk memiliki Sindangsari apapun tanggapannya atas gadis itu
menjadi semakin menyala. Bahkan wajah gadis itu sama sekali tidak
mau menghindar dari pelupuk matanya. "Aku akan menunggu kesempatan"
desisnya. Ketika matahari menjadi semakin condong ke barat, maka
kakek Sindangsaripun meninggalkan sawahnya. Di sepanjang jalan
angan-angannya selalu di ganggu oleh sikap Manguri. "Ibunya harus
mengetahuinya" gumamnya. Dan hal itupun kemudian dikatakannya kepada
Nyai Wiratapa. Ketika mereka duduk bercakap-cakap setelah makan
malam, selagi Sindangsari mencuci mangkuk di belakang. "Anakmu harus
berhati-hati. Mungkin Manguri akan mempergunakan cara-cara yang
lain. Mungkin ia akan membujuknya, memberinya janji dan apapun juga,
sehingga anakmu yang hijau itu pada suatu saat akan tergelincir"
"Apakah aku dapat berterus terang?" bertanya Nyai Wiratapa. "Tidak
seluruhnya. Kalau kau katakan semuanya itu sekaligus, mungkin anak
itu justru tidak percaya" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan
kepalanya. Namun dengan demikian Nyai Wiratapa menjadi semakin
berhati-hati atas anak gadisnya. Setiap kali Sindangsari pergi
keluar halaman, ia selalu berpesan kepadanya, agar ia dapat menjaga
dirinya. Tetapi pesan yang terlampau sering itu justru menjadi
terlampau biasa di telinga Sindangsari. Sebagai seorang gadis,
kadang-kadang ia ingin juga bermain-main dengan kawankawan
sebayanya. Bahkan kadang-kadang tanpa setahu ibu, kakek dan
neneknya, ia pergi ke sawah kawan-kawannya. Namun demikian, yang
paling menarik perhatiannya adalah suara seruling Pamot. Apapun yang
sedang dikerjakan, apabila ia mendengar suara seruling itu, ia
selalu tertegun sejenak. "He, kau terbius oleh suara seruling itu?"
bertanya Kandi. "Aku senang sekali. Pamot ternyata seorang peniup
seruling yang baik" Tetapi kawan-kawannya sama sekali tidak tertarik
kepada anak muda pendiam dan yang jarang sekali bergaul dengan
mereka. Gadis-gadis Gemulung. memang lebih tertarik kepada Manguri
yang sering memberi mereka beberapa keping uang. "Aku akan belajar
meniup seruling" berkata Sindangsari kepada Kandi "bukankah kau
dapat juga berlagu dengan seruling" "Tetapi aku tidak sepandai
Windan. Belajarlah kepadanya" Sindangsari mengerutkan keningnya.
Katanya "Windan tidak memberikan warna tersendiri. Ia bermain
seperti orangorang lain" Kandi menjadi heran. Kemudian "Akupun
bermain seruling seperti orang lain. Apalagi aku tidak sepandai
Windan" Sindangsari termenung sejenak. Ia mengangkat wajahnya ketika
Kandi berkata "Maksudmu seperti Pamot yang tidak mengenal
gending-gending itu" Perlahan-lahan kepalanya terangguk "Ya" "Kalau
begitu kau harus belajar kepadanya" Sindangsari tidak menjawab.
Sementara itu gadis-gadis yang lainpun berdatangan berteduh di pojok
desa. "He. Manguri sudah meniti pematang" berkata salah seorang
gadis "sebentar lagi ia akan datang kemari" "Benar?" "Ya"
Berdesak-desakan gadis-gadis itupun kemudian duduk di atas seonggok
padas di pinggir jalan selain Sindangsari. Ia berdiri sambil
tersenyum melihat kelakuan kawan-kawannya. Hampir berbareng
gadis-gadis itu kemudian berdesis "Itu dia" Ketika mereka serentak
berpaling, maka Manguri telah berjalan menuju ke arah mereka. "Siapa
yang akan menerimanya kali ini" desis salah seorang dari mereka.
"Entahlah" sahut yang lain. Gadis-gadis yang duduk berdesak-desakan
itu sama sekali tidak menghiraukan apapun selain Manguri. Mereka
tidak mendengar suara seruling yang mengalun di sela-sela desir
angin yang lembut. "Suara itu" ia berdesis. Seorang gadis berpaling
kepadanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya "Apa yang kau katakan Sari?"
"Kau dengar suara seruling itu" "O" sahut kawannya "sempat juga kau
mendengar suara seruling itu. Jangan hiraukan. Aku haus sekali. Di
tikungan ada orang menjual rujak nanas" Tetapi Sindangsari tidak
mempedulikannya. Ia tidak berkepentingan sama sekali dengan Manguri.
Kini pandangannya terhadap Manguri sudah menjadi agak berubah, sejak
sikapnya yang kasar itu, meskipun ia tidak membencinya. Meskipun
demikian ia tetap berdiri di tempatnya. Sambil bersandar dinding
batu ia memandang langkah Manguri yang menjadi semakin dekat. Dan
seperti biasanya, Manguri kemudian berhenti di hadapan gadis-gadis
itu sambil tersenyum. Sekilas ia memandang wajah Sindangsari dan
sejenak kemudian ia mengambil beberapa keping uang dari kantong ikat
pingganghnya yang besar. "Kalian memerlukan ini?" "Ya, sahut
gadis-gadis itu" Manguri tersenyum. Ia tahu benar bahwa Sindangsari
tidak pernah ikut mempergunakan uang pemberiannya. Dengan polah yang
dibuat-buat seorang gadis mendekatinya "Buat apakah uang-uang itu
Manguri?" Manguri tertawa "Buat kalian" katanya "tetapi kalau kalian
tidak memerlukan tidak apa. Aku dapat memberikannya kepada orang
lain. Kau tahu, bahwa di Gemulung ini ada lebih dari duapuluh lima
gadis-gadis cantik, duapuluh lima gadisgadis sedang, dan puluhan
gadis-gadis kebanyakan. Semua itu memerlukan keping-keping uang.
Kalau ada diantara kalian yang menolak pemberianku itu hanya berarti
bahwa orang itu akan tersisih dari pergaulan di padukuhan Gemulung"
Dada Sindangsari berdesir mendengar kata-kata Manguri itu. Wajahnya
berkerut dan tiba-tiba jantungnya berdentang. Ia merasakan kata-kata
sindiran itu. Namun justru karena itu, ia sama sekali tidak dapat
berbuat sesuatu. Seakan-akan darahnya jadi membeku. Sejenak kemudian
ia melihat Manguri mengacungkan keping-keping uang itu, dan seperti
biasanya gadis-gadis itu berebutan untuk menerimanya. Tetapi karena
seorang diantara mereka telah mendekatinya dengan solah yang
dibuat-buat, maka ia adalah orang yang pertama-tama menangkap tangan
Manguri. Tetapi tingkah laku Manguri ternyata telah semakin
menyinggung perasaan Sindangsari. Ketika gadis-gadis itu berebutan,
justru tangannya tidak segera dibuka. Kepingankepingan uang itu
digenggamnya semakin erat. Terdengarlah gadis-gadis itu memekik dan
berteriak-teriak sambil mencoba membuka tangan Manguri. Mereka
berdesakdesakan dan tarik-menarik. Bahkan ada diantara mereka yang
justru menarik Manguri pada lengan dan tangannya. Akhirnya Manguri
membuka tangannya sambil tertawa berkepanjangan. Katanya "Kalian
berebutan untuk mendapatkan uang ini, atau kalian ingin sekedar
mendesakdesak aku?" Gadis-gadis itu tertawa. Salah seorang menjawab
"Keduaduanya" Sambil memandang Sindangsari yang masih berdiri di
tempatnya Manguri berkata "Kenapa kau tidak ikut?" Sindangsari
terkejut menerima pertanyaan yang tidak disangka-sangkanya itu.
Karena itu tergagap ia menjawab "Tidak. Aku tidak ikut" "Aku sudah
tahu" sahut Manguri "tetapi kenapa?" "Aku tidak haus" Manguri
mengerutkan keningnya. Tetapi gadis-gadis yang berebut uang itu
menjadi semakin riuh karena uang Manguri bertebaran jatuh di tanah.
Beberapa orang segera berjongkok memungutnya dan yang lain bahkan
begitu saja bersimpuh di kaki Manguri. Manguri tersenyum.
Seakan-akan ia berkata kepada Sindangsari "Lihat, gadis-gadis ini
telah bersimpuh di bawah kakiku untuk sekedar mendpat uang sekeping"
Namun Sindangsari telah menundukkan kepalanya untuk menghindari
tatapan mata Manguri itu. "Sindangsari" berkata Manguri kemudian
"kau tidak berbuat seperti kawan-kawanmu. Aku kira kau memang tidak
suka berkawan. Karena itu sebenarnya aku segan menyampaikan pesan
kakekmu yang harus aku katakan kepadamu" Sindangsari
mengerutkankeningnya. Dan tiba-tiba ia beranjak selangkah maju
"Apakah kakek berpesan sesuatu kepadamu?" "Ya" "Apakah pesannya"
Manguri mengerutkan keningnya. Kemudian ia berdesis "Biarlah kakekmu
saja nanti menyampaikannya sendiri, atau biarlah ia berpesan kepada
orang lain" "Kalau kakek sendiri dapat menyampaikan kepadaku, kenapa
ia harus berpesan?" bertanya Sindangsari. "Begitulah agaknya
"Manguri berpikir sejenak, lalu "kau nampaknya seperti orang aing
disini Sari" Gadis-gadis yang saling memperebutkan uang itupun kini
telah berdiri sambil mengibaskan pakaian mereka yang kotor oleh
debu. Mereka masih saja berteriak-teriak. Apalagi mereka yang tidak
mendapatkannya. "He" berkata Manguri "bagi adil. Semua harus
mendapat bagian" "Nah dengar. Semua harus mendapat bagian" "Ya,
semua harus mendapat bagian" Manguri masih berdiri di tempatnya
sambil tersenyum memandangi gadis-gadis yang kini saling mengejar di
sepanjang jalan, berputar-putar sambil tertawa. "Mereka adalah
gadis-gadis periang" desis Manguri. Sindangsari tidak
memperhatikannya kata-kata itu, Bahkan ia bertanya "Apakah pesan
kakek" "O, sama sekali tidak penting. Apakah aku harus
mengatakannya" "Penting atau tidak penting, aku ingin mendengar"
"Kau di panggilnya" Sindangsari mengerutkan keningnya pula. "Ketika
aku lewat di pematang sawah yang berbatasan dengan sawah kakekmu ia
berpesan kepadaku, agar kau datang ke sawah untuk mencoba
mencelupkan kakimu ke dalam lumpur" "Aku sudah sering melakukannya"
jawab Sindangsari. "Jangan kau katakan kepadaku. Katakanlah kepada
kakekmu. Atau barangkali kau tidak bersedia datang, terserah pula
kepadamu. Aku sudah menyampaikannya meskipun sikapmu tidak
menyenangkan aku" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Ia agak
ragu-ragu untuk mempercayainya. Tetapi ia ragu-ragu pula untuk tidak
menghiraukannya seandainya kakeknya benar-benar berpesan kepada anak
muda itu. Manguri yang acuh tak acuh terhadap Sindangsari itu kini
melihat gadis-gadis yang berebutan uangnya itu menghambur kebalik
tikungan untuk membeli rujak nanas atau dawet cendol aren. Bahkan
tanpa berpaling lagi Manguripun melangkah meninggalkan tempat itu.
"Manguri" Sindangsari memanggilnya. Manguri berhenti sejenak. Di
tatapnya wajah Sindangsari yang termangumangu. "Apa perlumu
memanggil aku?" "Apakah benar kakek berpesan kepadamu?" "Terserahlah
kepadamu. Percaya atau tidak percaya" Sindangsari menggigit
bibirnya. Sebelum ia berkata sesuatu manguri telah melangkah pergi,
"Tunggu" panggil Sindangsari pula. Sekali lagi langkah Manguri
tertegun. "Apalagi Sindangsari" "Maksudku, bagaimana pesan kakek
itu. Apakah aku harus datang sekarang" "Aku tidak tahu, kakekmu
hanya berkata begitu. Apakah itu berarti kau harus datang sekarang
atau besok atau kapanpun, aku tidak tahu" Sindangsari menjadi
semakin ragu-ragu. Tetapi ia t idak mendapat penegasan apapun dari
Manguri. Manguri telah melangkah pergi tanpa berpaling lagi. Sejanak
Sindangsari memandangi langkah Manguri. Anak muda itu berjalan
menyusur tanggul parit, dan kemudian hilang di balik batang-batang
jagung muda. "Ia kembali ke sawahnya" desis Sindangsari. Tetapi
pesan yang disampaikannya itu benar-benar mempengaruhinya. Kalau ia
tidak pergi, sedang kakeknya itu benar-benar mengharapkannya datang,
orang tua itu pasti akan menunggunya. "Ah, apa salahnya aku pergi ke
sawah" desisnya. Maka tanpa berpikir lagi Sindangsaripun segera
melangkahkan kakinya, pergi ke sawah kakeknya. Namun sepasang mata
dengan penuh kecurigaan selalu mengawasinya. Sejak gadis-gadis kawan
Sindangsari berebutan keping-keping uang, sepasang mata itu telah
memandangi mereka dengan kening yang berkerut-merut. Suara riuh,
gelak dan tawa yang di dengarnya, serasa tusukan-tusukan duri yang
runcing langsung mengenai jantungnya. Apalagi pesan yang disampaikan
oleh Manguri kepada Sindangsari, yang ternyata dipercayainya.
Sementara itu Sindangsari berjalan tergesa-gesa menyusuri pematang
ke sawahnya. Ia sama sekali tidak berprasangka apapun. Apalagi di
siang hari. Karena itu, iapun berjalan tanpa menghiraukan apapun
lagi. Seandainya Manguri membohonginya, kakeknya pasti tidak akan
marah kepadanya. "Biarlah kakek menegur Manguri nanti apabila ia
tidak berkata sebenarnya, dan hanya sekedar mengganggu aku karena
sikapku yang tidak disukainya" Dengan demikian, maka Sindangsaripun
berjalan semakin cepat. Ia tidak dapat berlari-lari seperti
kawan-kawannya yang sudah terlampau biasa. Ia kadang-kadang masih
tergelincir pada bagian-bagian yang agak licin, sehingga ia masih
harus berjalan berhati-hati sekali. Ketika Sindangsari menjadi
semakin dalam terbenam ke dalam tanaman-tanaman jagung muda itu,
terasa panas matahari semakin menyengat kepalanya. Tanpa sesadarnya
ia menengadahkan kepalanya. Matahari berada tinggi di puncak langit.
"Apakah kakek tidak pulang di saat begini" tiba-tiba saja pertanyaan
itu timbul di hatinya. "Apakah kakek benar-benar berpesan"
keraguraguannyapun mulai merambat di dadanya. Namun Sindangsari
masih melangkahkan kakinya di atas pematang. Tiba-tiba Sindangsari
menjadi berdebar-debar. Ketika ia memandang berkeliling, ia tidak
melihat seorangpun. Apalagi pandangan matanya dibatasi oleh
batang-batang jagung yang hampir setinggi dirinya sendiri. "Mereka
pasti sedang beristirahat di saat-saat begini. Dan kakekpun pasti
sudah pulang" Sindangsari tertegun sejenak. Hampir saja ia melangkah
kembali. Tetapi dalam keragu-raguan ia berdesis "Tetapi bagaimana
kalau kakek justru menunggu aku sekarang?" Dengan demikian maka
Sindangsaripun melanjutkan langkahnya. Namun kini ia berjalan
secepat dapat dilakukannya. Tiba-tiba saja langkah Sindangsari itu
terhenti. Dilihatnya seseorang muncul dari balik jagung-jagung muda
itu. Manguri. Terasa darah Sindangsari seakan-akan terhenti
mengalir. Kakinya menjadi gemetar dan nafasnya terengah-engah.
Ketika Manguri kemudian melangkah mendekatinya, Sindangsaripun
beringsut beberapa langkah surut. "Jangan takut Sindangsari" berkata
Manguri -aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku bukan termasuk orang
yang liar sama sekali meskipun aku bukan seorang yang terlalu baik.
Sindangsari t idak menjawab. "Aku hanya akan berbicara kepadamu
tanpa di dengar oleh orang lain" berkata Manguri selanjutnya.
"Tetapi, tetapi" Sindangsari tergagap "apakah kakek benarbenar
berpesan kepadamu?" Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak" "Jadi
kau menipu aku?" "Bukan maksudku Sari. Tetapi aku hanya sekedar
ingin berbicara kepadamu" "Tetapi kenapa kau ambil cara itu Manguri"
"Aku tidak mempunyai cara lain Sari" Manguri berhenti sejenak, lalu
"kalau kau tidak senang dengan caraku, aku minta maaf. Tetapi aku
minta kau mendengarkan kata-kataku selanjutnya" Sindangsari t idak
segera menjawab. "Sari" suara Manguri merendah "aku sudah menemui
kakekmu. Aku memang berbicara tentang kau. Sebenarnyalah bahwa aku
mengharap kau dapat mengerti perasaanku. Kakekmu sama sekali tidak
berkeberatan. Semuanya tergantung kepadamu sendiri" Sindangsari
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak bersiap sama sekali
untuk menerima pertanyaan itu. Dan wajahnya menjadi semakin menunduk
ketika anak muda itu mendesaknya "jawablah Sari" Sindangsari menjadi
semakin berdebar-debar. Terasa dadanya seakan-akan
berguncang-guncang. Dan ia sadar, apapun jawab yang akan diucapkan,
akan menyudutkannya dalam kesulitan. Tetapi yang terpenting baginya
sekarang, adalah melepaskan diri dari keadaan yang mendebarkan ini.
Ia harus berusaha untuk menenangkan hati Manguri tanpa memberikan
harapan kepadanya. Tetapi bagaimana ia dapat memberi jawaban itu
kalau hatinya sendiri sedang bergejolak. "Sari, kenapa kau diam
saja?" Sindangsari menggigit bibirnya. "Jawablah. Kau tahu banyak
tentang diriku. Aku adalah anak tunggal seperti kau. Ayahku adalah
seorang pedagang yang kaya raya. Bukankah ku dapat membayangkan,
siapakah yang akan memiliki kekayaan itu kelak?" Sindangsari masih
belum menyahut. "Kenapa kau diam saja Sari?" Sindangsari menjadi
semakin cemas. Karena itu, di usahakannya untuk mengatur
perasaannya. Kemudian dengan suara yang patah-patah ia mencoba
menjawab "Jangan kau minta jawaban itu sekarang manguri. Berilah aku
kesempatan untuk berpikir" "Kesempatan itu sudah cukup lama"
Sindangsari menggeleng "Aku baru mendengarnya sekarang" "Tetapi kau
pasti sudah mengerti maksudku sejak aku mengirimkan seseorang untuk
memberikan sepengadeg pakaian itu" Sindangsari terdiam sejenak.
Namun kemudian ia mengulangi jawaban satu-satunya yang dapat
diucapkan "Aku tidak dapat menjawab sekarang. Berilah aku waktu"
"Kau sudah mempunyai waktu yang cukup. Aku yakin bahwa kau sudah
dapat mengambil sikap" Manguri brhenti sejenak "semuanya terserah
kepadamu. Kakek, nenek dan ibumu tidak akan memaksamu untuk berbuat
lain dari keputusanmu sendiri" Tetapi Sindangsari menggeleng "Aku
tidak dapat menjawab sekarang" "Sari" Manguri menjadi tidak sabar
lagi "tidak pernah ada seorang gadispun yang pernah menolak aku. Kau
lihat sendiri, apapun yang akan aku lakukan atas kawan-kawanmu
bermain itu, aku tidak akan mendapatkan kesulitan sama sekali.
Jangankan seorang dari mereka, tiga empat orang sekaligus aku akan
mendapatkannya. Sindangsari t idak menjawab. Dan Manguri berkata
selanjutnya "Tetapi tidak seorangpun dari mereka yang menarik Sari.
Mungkin untuk kawan bergurau sehari dua hari. Namun aku tahu, bahwa
kau tidak dapat diperlakukan seperti itu. Karena itulah maka akupun
memperlakukan kau dengan cara yang lain. Agaknya benar kata ibuku,
bahwa aku sudah dewasa, dan aku harus memikirkan hidupku di masa
mendatang" Sindangsari menjadi semakin tunduk karenanya. "Karena itu
Sari" berkata Manguri seterusnya "aku memerlukan kau dengan
kesungguhan hati" Tetapi Sindangsari masih juga menjawab dengan
jawabannya yang itu-itu juga "Jangan kau tunggu jawabanku sekarang
manguri. Berilah aku waktu dua t iga hari lagi" "Ah" Manguri
melangkah maju "kau jangan mempersulit dirimu sendiri. Berkatalah
dengan jujur apa yang terbersit di hatimu sekarang" Karena Manguri
maju selangkah, maka Sindangsaripun surut selangkah pula "Manguri"
katanya dalam kecemasan "jangan kau paksa aku menjawab" "Aku
memerlukan, jawaban itu sekarang. Aku tidak dapat menunggu sampai
dadaku bengkah, atau sampai kau dilarikan orang" "Tidak Manguri. Aku
tidak dapat menjawab sekarang" "Tidak ada seorangpun yang dapat
menolak maksudku Sari. Ingat. Seluruh padukuhan Gemulung ini telah
dikuasai oleh ayahku. Apa yang dikehendakinya pasti terjadi, dan apa
yang aku kehendakipun harus terjadi pula. Sadari. Aku dapat menempuh
jalan dan cara seribu macam untuk mendapatkan apa yang aku kehendaki
itu, termasuk kau" Sepercik warna merah merambat kewajah gadis itu.
Kini kecemasan di dadanya menjadi semakin memuncak. "Jawablah Sari"
suara Manguri t iba-tiba merendah. Sari yang menjadi gemetar masih
juga menggelengkan kepalanya dan menjawab "Maaf Manguri. Aku tidak
tahu bagaimana aku akan menjawab pertanyaanmu itu. Karena itu
berilah aku waktu" "Sari" dan tiba-tiba saja nada suara Manguri
melonjak naik. Ia telah benar-benar kehilangan kesabaran" jawab
pertanyaanku sekarang. Tidak seorangpun dapat melawan kehendakku.
Kaupun t idak. Aku menghendaki kau menjawab sekarang. Karena itu kau
harus menjawab" Serasa darah Sindangsari berhenti mengalir. Kakinya
menjadi semakin gemetar dan mulutnya justru menjadi terkunci
karenanya. Manguri yang memang telah diketahuinya sebagai seorang
anak muda yang kasar itu, ternyata jauh lebih kasar dari dugaannya.
Meskipun ia adalah anak seorang prajurit yang harus mengutamakan
ketrampilan jasmaniah, tetapi ayahnya tidak sekasar Manguri. "Kau
tidak akan dapat melepaskan dirimu Sari" geram Manguri sambil
melangkah maju, sehingga Sindangsaripun mundur beberapa langkah "apa
yang aku ingin darimu harus kau berikan. Sebenarnya aku sangat
menghormatimu. Aku ingin kau menjadi seorang istri yang bahagia.
Tetapi kau tidak mau menjawab pertanyaanku sekarang" Sindangsari
benar-benar telah menjadi ketakutan sehingga ia tidak dapat menjawab
sama sekali. "Aku memang memilih saat ini Sari, sehingga t idak ada
orang lain yang dapat mengganggu kita. Apalagi di tengahtengah
tanaman jagung ini. Aku dapat berbuat apa saja. Bahkan membunuhmu
sekali apabila aku kehendaki" Manguri terhenti sejenak, lalu
dilanjutkannya "Sari. Aku tidak akan gila untuk minta sesuatu yang
berlebih-lebihan dari padamu sekarang. Tetapi aku hanya minta kau
menjawab pertanyaanku. Itu saja" Tetapi mulut Sindangsari justru
terkatub semakin rapat. "Sari, Sari" Manguri maju selangkah sambil
menghentakkan tangannya "jawab. Ayo jawab" Sindangsari bahkan telah
kehilangan kemampuan sama sekali untuk melakukan apapun juga. Kini
ia berdiri saja dengan tubuh gemetar. "Apakah kau tetap akan
membisu?" Suara Manguri menjadi semakin berat di sela-sela gemeretak
giginya. Sindangsari yang ketakutan itu tiba-tiba tidak lagi dapat
menguasai dirinya. Ketika ia mencoba melangkah surut tibatiba saja
ia tergelincir dan jatuh terbaring di pematang. Dengan wajah yang
pucat, Sindangsari menggelepar di atas rerumputan. Namun oleh
ketakutan yang sangat, ia justru mnjadi seakan-akan tidak berdaya
untuk bangkit. TIBA-TIBA mata Manguri menjadi merah melihat gadis
yang seolah-olah berbaring di hadapannya. Kakinya yang mencoba
mencari alas untuk berpijak itu seakan-akan justru memanggilnya
untuk mendekat. Sejenak Manguri terpaku di tempatnya. Perlahan-lahan
sifat-sifatnya mulai merambati dadanya. Sifat yang seakanakan
diturunkan oleh ayahnya kepadanya. "Sari" terdengar ia berdesis.
Suara itu seolah-olah sudah bukan suara Manguri lagi. Seperti
harimau yang akan menerkam korbannya, Manguri melangkah setapak demi
setapak maju, sedang Sindangsari yang ketakutan telah hampir menjadi
pingsan karenanya. Namun dalam keadaan yang demikian itu, selagi
Manguri masih berjarak selangkah dari Sindangsari yang tergolek di
tanah, tiba-tiba terdengar gemerisik batang-batang jagung di
sebelah. Sejenak kemudian Manguri melihat seseorang meloncat ke
pematang di belakang Sindangsari sambil menggenggam sebatang
seruling. Sejenak Manguri berdiri tegak di tempatnya. Namun sejenak
kemudian terdengar suaranya gemetar "Kau Pamot. Apa maksudmu datang
kemari?" "He" Pamot tersenyum "bukankah sawah di sebelah ini sawah
pamanku?" Manguri terdiam sejenak. Namun gejolak di dadanya menjadi
semakin menggelora. "Aku disuruh oleh pamanku itu menengoknya"
"Kenapa kau? Kau tidak biasa berada di sawah pamanmu ini" "He" Pamot
mengerutkan keningnya "kau selalu berkata begitu. Ketika kau melihat
aku beristirahat di gardu itu, kau juga berkata bahwa aku tidak
biasa berada di gardu itu. Kau juga berkata bahwa aku tidak biasa
berjalan lewat jalan itu sejak kanak-kanak. Sekarang kau juga
berkata bahwa aku tidak biasa berada di sawah pamanku" Pamot
berhenti sejenak, lalu "dengan demikian ternyata bahwa kau tidak
mengenal aku dengan baik" Manguri memotong dengan serta-merta "Tidak
ada seorangpun dari padukuhan Gemulung ini yang mengenal kau dengan
baik. Meskipun aku tahu, kau dilahirkan di sini, tetapi kau
seakan-akan menjadi orang asing di padukuhanmu sendiri" "He" Pamot
menyahut "benarkah begitu? Kau keliru Manguri. Aku memang tidak
banyak dikenal di Gemulung ini. Tetapi oleh gadis-gadis. Bukan oleh
anak-anak muda. Adalah sebaliknya dengan kau. Kau lebih banyak
dikenal oleh gadisgadis daripada oleh anak-anak muda" "Bohong"
teriak Manguri. "Apalagi aku memang tidak mempunyai terlampau banyak
waktu seperti kau. Setiap hari aku harus bekerja di sawah dan
pategalan. Mengusung kayu bakar, dan kadang-kadang membawanya kepada
mereka yang memerlukannya. Sekalisekali juga aku mengantar seonggok
kayu bakar ke rumahmu, karena ibumu membelinya" Pamot berhenti
sejenak, lalu "kemudian setiap sepekan dua kali aku harus berada di
Kademangan Kepandak. Nah, apakah kau tahu bahwa anakanak muda
mendapat kesempatan untuk berkumpul di Kademangan sepekan dua kali?"
"Persetan dengan igauanmu itu. Sekarang aku tidak membutuhkan kau.
Juga aku tidak ingin membeli kayu bakar. Aku baru berusaha untuk
menolong Sindangsari yang terjatuh itu" Pamot tercenung sejenak.
Dipandanginya sekilas Sindangsari yang masih terduduk di tanah.
"Bangkitlah Sari" desis Pamot. "Aku akan menolongnya" berkata
Manguri. "Jangan sentuh gadis itu" potong Pamot. "Kau adalah orang
yang paling dungu, yang tidak mengenal sopan santun sama sekali.
Adalah seharusnya seorang laki-laki menolong perempuan" "Tetapi
laki-laki itu bukan kau" jawab Pamot "dan bukan pula aku sekarang"
Wajah Manguri menjadi merah padam. Di pandanginya Sindangsari dan
Pamot berganti-ganti. Namun demikian ia masih juga bergeser maju.
"Gadis itu dapat bangkit sendiri" berkata Pamot "nah, bangkitlah
Sari" Kata-kata itu telah menjalar ke dalam jantung Sindangsari,
sehingga seolah-olah ia mendapat kekuatan baru. Meskipun ia masih
gemetar, tetapi perlahan-lahan ia mencoba untuk berdiri. "Nah,
bukankah ia dapat berdiri sendiri" desis Pamot kemudian kepada
Sindangsari ia berkata "pulanglah Sari. Kau pasti sudah ditunggu
oleh ibumu" Sindangsari tidak menjawab, dan juga tidak beranjak dari
tempatnya. "Pulanglah Sari" Pamot mengulang kata-katanya. Kata-kata
itu terasa benar pengaruhnya di dada Sindangsari. Kini ia tidak lagi
membeku karena ketakutan. Kehadiran Pamot yang tiba-tiba itu telah
membuatnya sedikit tenteram. Karena itu, maka dengan gemetar ia
melangkah meninggalkan tempat itu dengan pakaiannya yang kotor.
"Sari" t iba-tiba Manguri memanggilnya "jangan hiraukan anak edan
ini. Tinggallah di sini. Aku antarkan kau pulang ke rumah"
Sindangsari tertegun sejenak. Namun sebelum ia berbalik, terdengar
Pamot tertawa "Jangan kau sangka bahwa aku tidak tahu apa yang telah
terjadi. Adalah kebetulan sekali bahwa aku mendengar pembicaraan
kalian" "Kau mengintip?" Manguri hampir berteriak. "Jangan berteriak
Manguri. Kalau ada orang yang mendengarnya, maka mereka akan
berdatangan. "Apa peduliku kepada mereka. Kau takut barangkali,
karena mereka pasti akan berpihak kepadaku" "Kenapa aku takut? Aku
justru kasihan kepadamu. Setiap orang akan mengetahui, apa yang
telah kau lakukan di sini" Wajah Manguri yang merah menjadi semakin
merah. Dan ia mendengar Pamot berkata "Pulanglah Sari. Supaya tidak
tumbuh persoalan apapun, katakan kepada mereka yang bertanya
kepadamu, bahwa kau tergelincir di pematang. Tergelincir begitu
saja, tanpa sebab" Sindangsari t idak menjawab, Bahkan berpalingpun
t idak. Kakinya yang masih saja gemetar segera terayun di sepanjang
pematang. Lambat-lambat, karena ia benar-benar akan tergelincir
beberapa kali. Bukan karena pematang yang licin, tetapi justru
karena kakinya yang gemetar. Manguri yang melihat Sindangsari
berjalan terus, memanggilnya sekali lagi "Berhenti kau Sari. Aku
akan mengantarkan kau dan mengatakan kepada ibumu, apa yang telah
terjadi" "Tidak perlu Manguri" jawab Pamot "gadis itu berani pulang
sendiri" "Persetan" anak muda itu menggeram "jangan mencampuri
persoalanku" "Tidak, aku memang tidak mencampuri persoalanmu. Tetapi
apabila kau terdorong untuk melakukan tindakantindakan yang sesat,
aku wajib memperingatkan kau" "Apa yang akan aku lakukan? Apa?" "Kau
setidak-t idaknya sudah menakut-nakuti Sindangsari. Karena itu
biarlah ia pulang" Manguri menjadi marah sekali. Ia sudah tidak
dapat mengendalikan dirinya, sehingga ia berkata lantang "Pamot,
minggir kau. Atau aku harus memaksamu?" "Jangan terlampau kasar
Manguri" "Aku tidak peduli. Pergi. Seharusnya kau tahu, siapa aku"
"Tentu, aku mengerti bahwa kau adalah Manguri, anak seorang pedagang
ternak yang kaya" "Bukan itu saja. Sebagai laki-laki yang berhadapan
dengan laki-laki aku mempunyai pegangan" Pamot mengerutkan
keningnya. Dan tiba-tiba terdengar suaranya dalam nada yang rendah
"Aku tahu. Kau murid Kiai Pencar Jati. Tetapi kau tinggalkan
perguruanmu sebelum kau selesai" "Huh" jawab Manguri "aku sudah
memiliki semua ilmunya. Apa gunanya lagi aku berada di padepokan
terpencil itu" "Tetapi bagiku Manguri. Apakah kau putera seorang
pedagang yang kaya, apakah kau bekas murid Kiai Pencar Jati, namun
tindakanmu yang tidak sewajarnya itu memang harus dicegah. Manguri t
idak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Pamot.
Tetapi Pamotpun sudah bersedia. Ia sadar, bahwa Manguri pasti akan
sampai pada puncak tindakannya. Karena itu, maka iapun segera
menghindarkan dirinya betapa cepatnya serangan Manguri. Bahkan
dengan memutar tubuhnya, kakinya yang mendatar menyambar lambung
lawannya. Tetapi Manguri memang tangkas. Dengan lincahnya ia
berhasil meloncat selangkah mundur, kemudian bersiap kembali untuk
menyerang dengan sepasang tangannya. Ketika Sindangsari mendengar
kegaduhan itu, ia berpaling sejenak. Ia masih melihat kedua anak
muda itu berkelahi. Namun kemudian ia justru mempercepat langkahnya.
Meskipun ia anak seorang prajurit, tetapi jarang sekali ia
menyaksikan perkelahian yang sebenarnya. Yang sering dilihatnya
adalah latihan-latihan sodoran atau perangperangan di Alun-alun.
Ternyata kedua anak-anak muda itu berkelahi dengan sengitnya.
Masing-masing mempunyai kemampuan yang cukup. Manguri yang pernah
berguru kepada seorang tua di pinggir kali Praga dan bernama Kiai
Pencar Jati itu, memiliki kelincahan yang mengagumkan. Tetapi
lawannya adalah anak muda yang tangguh. Yang mempunyai kekuatan
tubuh melampaui kawan-kawannya. Namun semakin lama menjadi semakin
jelas, bahwa Manguri tidak dapat mengimbangi kekuatan Pamot,
Meskipun setiap kali serangan Manguri mengena, namun Pamot
seakanakan tidak merasakan apapun juga menyentuh tubuhnya yang
mempunyai daya ketahanan yang luar biasa. Selingkar batang-batang
jagung muda menjadi berserakserakan. Tanah yang gembur itu
seolah-olah baru saja selesai dicangkul. Bahkan beberapa batang
lanjaran kacang panjang di pematangpun menjadi roboh yang berbujur
lintang tidak keruan. Tetapi Manguri akhirnya harus menyadari
keadaannya. Meskipun ia tidak segera dapat dikalahkan, namun lambat
laun, ia menjadi kehabisan nafas. Beberapa kali ia berhasil memukul
lawannya. Tangannya dapat mengenai di beberapa bagian tubuh Pamot.
Lengannya, dan bahkan dadanya. Namun Pamot seolah-olah tidak
terpengaruh sama sekali. Tetapi apabila terjadi sebaliknya, apabila
tangan Pamot mengenai Manguri, terasa kesakitan yang sangat telah
menyengat tubuhnya. Apalagi ketika pada suatu kali, kelengahan
Manguri telah memberi kesempatan kepada Pamot sebaik-baiknya untuk
memasukkan pukulannya tepat mengenai kening. Manguri terdorong
beberapa langkah surut. Sebelum ia mampu menguasai keseimbangannya,
pukulan tangan Pamot yang lain mengangkat dagunya, sehingga ia
terlempar jatuh terlentang. Kini Pamot berdiri dengan kaki renggang
di samping tubuh Manguri yang masih terbujur di tanah. Di
pandanginya wajah yang biru pengab dan pakaiannya yang kotor oleh
lumpur. Manguri yang dengan susah payah bangkit dan duduk di
pematang menggeretakkan giginya. Dadanya serasa hampir meledak
karena marah. Dengan jari-jarinya yang bergetar ditudingnya hidung
Pamot sambil mengumpatinya "Setan kau Pamot. Kau t idak tahu siapa
aku" "Aku sadar dengan siapa aku berhadapan" "Tunggulah, besok atau
lusa, kau pasti akan menyesal" "Aku tidak akan menyesal. Sudah lama
aku menjadi muak melihat tingkah lakumu" "Kau sudah berani membuat
persoalan dengan Manguri, anak pedagang yang paling kaya di seluruh
Gemulung" "Aku bukan sejenis orang-orang yang dapat kau beli,
Manguri" "Mungkin kau tidak. Tetapi dengan uangku aku dapat membeli
berapa banyak tenaga yang aku kehendaki untuk melemparkan kau ke
kubangan yang paling kotor" Pamot tidak segera menjawab. Tetapi ia
dapat mengerti, bahwa hal itu memang dapat terjadi. Tanpa
disadarinya ia menarik nafas dalam-dalam. Perselisihan dengan
Manguri memang dapat berarti kesulitan baginya. Orang tuanya mungkin
akan ikut campur. Mungkin juga gurunya, meskipun kemungkinan itu
sangat kecil, karena gurunya sudah di kecewakannya. Ketika terlintas
di dalam ingatannya, seorang yang bertubuh tinggi kekar yang tinggal
bersama Manguri, dada Pamot memang berdesir. Orang dungu itu akan
dapat berbahaya baginya. "Jangan menyesal" tiba-tiba Manguri yang
tertatih-tatih berdiri berteriak "Jangan menyesal. Kau harus
mengembalikan hutangmu hari ini dengan bunga berlipat sembilan"
"Jangan banyak bicara" bentak Pamot "aku dapat membunuhmu sekarang"
"Dan kau akan di gantung di halaman Kademangan" Pamot terdiam. Dan
Manguri berkata selanjutnya "Hatihatilah kau untuk seterusnya. Kau
sudah menggali lubang untuk dirimu sendiri" "Aku tidak peduli" t
iba-tiba Pamot menjawab dengan lantang "tetapi satu perbuatan yang
baik menurut pendapatku sudah aku lakukan. Aku berhasil mencegah
kegilaanmu kali ini, meskipun akibatnya terlampau pahit. Jangan kau
kira aku akan menyerah pada keadaan. Kalau terjadi sesuatu atasku,
setiap orang akan mengetahui sebabnya" "Tidak seorangpun yang
menyaksikan persoalan ini" "Sindangsari mempunyai mulut juga"
"Persetan" geram Manguri sambil berjalan tertatih-tatih meninggalkan
tempat itu. Tetapi langkahnya tertegun ketika tiba-tiba saja mereka
melihat seseorang dengan menyandang pacul di pundaknya berjalan ke
arah mereka. Ketika orang itu melihat wajah Manguri dan pakaiannya
yang kotor ia menjadi heran. Di pandanginya anak muda itu dengan
herannya. Kemudian ditatapnya wajah Pamot yang tegang dan sikapnya
yang garang. "Kalian berkelahi?" bertanya orang itu. Kedua anak-anak
muda itu tidak menjawab. "Kalian berkelahi he?" Keduanya masih tetap
berdiamdiri" "Sial. Sial sekali. Kalian harus menyadari bahwa
perkelahian di antara kalian dapat membawa bencana bagi padukuhan
ini. Perkelahian dapat membuat tanaman-tanaman padi dan jagung ini
dimakan hama. Ayo, katakan, apa sebabnya kalian berkelahi?" Keduanya
tidak menjawab. Namun orang itu tiba-tiba mengerutkan keningnya.
Perlahan-lahan ia berkata "Aku melihat seorang gadis muncul dari
ujung pematang ini juga" ia berhenti sejenak. Matanya tiba-tiba
terbelalak sambil berkata "Apakah kalian berkelahi karena gadis itu?
Sial. Sial sekali. Panenan musim ini pasti akan morat-marit.
Danyang-danyang akan marah oleh perbuatan yang hina itu" "Paman"
tiba-tiba suara Manguri bergetar "jangan takut pagebluk yang
betapapun dahsyatnya. Di rumahku masih tersimpan padi dan jagung
berlumbung-lumbung. Aku akan memberi kau secukupnya kalau kau
memerlukan" "He?" sekali lagi mata orang itu terbelalak. Orang itu
kenal benar, bahwa ayah Manguri memang kaya raya. Anak muda itu sama
sekali pasti tidak sekedar membual. "Datanglah ke rumahku apabila
tanamanmu benar-benar dimakan hama. Anak setan itu memang tidak
menyadari apa yang dilakukannya" Orang itu mengerutkan keningnya.
Kini dipandanginya wajah Pamot yang masih tegang "Kenapa kau Pamot?"
"Kami memang berkelahi paman. Sudah tentu, bahwa kami berselisih
pendapat" "Tentang perempuan?" Pamot tidak segera menjawab. "Ya.
Apaboleh buat" Mangurilah yang menyahut "anak itu mencoba
menghalangi hubunganku dengan gadis yang barangkali paman lihat"
"Nah, apa kataku. Sawah dan ladang akan kering. Terutama tanah ini.
Di mana kalian berkelahi karena soal perempuan. Tanah ini akan
menjadi sangar. Kau lihat, tanaman jagung itu sudah menjadi
porak-poranda" "Ini sawah pamanku" jawab Pamot. "Persetan, sawah
setan belang sekalipun" potong orang itu. "Memang tanah ini akan
mendapat kutuk dari danyangdanyang" desis Manguri "tetapi tidak
sawah dan ladangku, karena aku dapat memberi syarat apapun yang
diperlukan" "Ya, kau tidak. Tetapi Pamotlah yang akan terkutuk
karenanya" "Paman belum mendengar persoalan yang sebenarnya" "Apakah
paman perlu mendengar" potong Manguri. Orang itu terdiam sejenak.
Tetapi terngiang kata-kata Manguri "Kalau paman memerlukan datang ke
rumahku. Di rumahku masih tersimpan padi dan jagung
berlumbunglumbung" Dan karena itulah maka tiba-tiba ia menjawab
"Persetan dengan bualanmu. Tetapi perkelahian dapat mendatangkan
bencana" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah dihadapkan
kepada suatu contoh kebenaran kata-kata Manguri. Ia dapat membeli
berapa orang saja yang diperlukan. "Ayo pergi setan-setan kecil"
teriak orang yang membawa pacul itu"kutuk danyang-danyang dan
orang-orang sepedukuhan harus kalian tanggungkan" kemudian suaranya
menurun "kecuali bagi mereka yang dapat memberikan sarana untuk
menghindarkan diri dari kutukan kutukan itu" Manguri tersenyum di
dalam hati. Dipandanginya wajah Pamot yang tegang. Tetapi ia tidak
berkata sepatah katapun. Tertatih-tatih ia melangkahkan kakinya di
pematang. Meninggalkan tempat yang telah mengotori pakaian dan
hatinya itu, "Kenapa kau masih berdiri disitu" bentak orang itu
ketika ia melihat Pamot masih tegak di tempatnya. "Aku memang sedang
berada di sawah paman ketika Manguri mencoba mengganggu Sindangsari"
jawab Pamot "dan sekarang aku akan menunggu paman, mengatakan apa
yang telah terjadi. Kerusakan sebagian tanamannya memang harus aku
pertanggung jawabkan" "Anak bengal" gerutu orang itu "kau akan
dipukuli pamanmu nanti" Pamot tidak menjawab. Ia sadar, bahwa orang
itu pasti tidak akan mempercayainya. Ia sudah dikuasai oleh Manguri,
meskipun baru dengan janji. Tetapi janji yang demikian memang dapat
melumpuhkan daya pikir seseorang sehingga ia tidak akan dapat
melihat jalan lurus dihadapkannya. "Hem" Pamot menarik nafas ketika
ia melihat orang yang menyandang pacul dipundaknya itu meneruskan
langkahnya. "Mudah-mudahan paman dapat mengerti" desahnya kemudian
sambil mencoba memperbaiki tanaman-tanaman yang rusak karena
perkelahian itu Dengan berdebar-debar Pamot menunggu kedatangan
pamannya. Biasanya meskipun hanya sebentar pamannya pasti datang ke
sawah. Biasanya setelah matahari lewat puncak langit, sesudah
beristirahat dari pekerjaan di sawahnya sebelah susukan yang mulai
dibajak, sebelum ia mulai bekerja lagi. Sejenak kemudian pamannya
itu benar-benar datang. Ia menjadi terkejut sekali melihat selingkar
tanaman jagungnya menjadi rusak, sedang Pamot duduk sambil bertopang
dagu di pematang. "Apa yang sudah terjadi Pamot?" pamannya bertanya
dengan cemas. Pamot menceritakan apa yang telah terjadi dari awal
sampai akhir. Ia menceritakan pula ancaman-ancaman yang diberikan
oleh Manguri dan sikap seseorang yang dengan mudahnya terpengaruh
oleh janji-janji seorang yang memang mempunyai bekal untuk memberi
janji-janji yang demikian. Pamannya menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Kau akan terlibat dalam kesulitan Pamot. Hati-hatilah.
Sebaiknya kau menghindari benturan dengan Manguri itu" "Aku tidak
mempunyai pilihan lain paman. Aku tidak sampai hati membiarkan hal
itu terjadi tanpa berbuat apapun" Pamannya mengangguk-anggukkan
kepalanya, Tetapi akibatnya akan terasa berat bagimu" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari sepenuhnya akan hal
itu. Tetapi untuk membiarkan hal yang tidak sepatutnya itu terjadi,
ia memang t idak akan sampai hati. Apalagi yang akan mengalami hal
itu adalah Sindangsari" "Kenapa Sindangsari" pertanyaan itu timbul
di hatinya dengan tiba-tiba "Bagaimana kalau gadis yang lain" Pamot
menarik nafas dalam-dalam. Dan ia mencoba melihat perasaannya
sendiri "Seandainya gadis lain sekalipun, aku tidak akan
membiarkannya. Itu sudah menjadi kuwajibanku. Bahkan kuwajiban
setiap orang" Pamotpun kemudian minta diri kepada pamannya setelah
ia minta maaf, karena tanaman jagung yang rusak itu. "Tanaman ini
tidak seberapa nilainya dibanding dengan keselamatanmu sendiri
Pamot" "Aku akan selalu mengingat pesan paman" Pamannya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika kemudian Pamot berjalan
menjauh, pamannya bergumam "Ia menghadapi masalah yang sulit. Ayah
dan ibunya harus mengetahuinya" Sementara itu Sindangsari berjalan
tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Di tikungan ia terkejut, ketika
hampir saja ia melanggar kakeknya yang akan berangkat lagi ke sawah.
"He" kakeknya menghentikannya "darimana kau Sari" Sindangsari tidak
segera menjawab. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. "Sari" panggil
kakeknya. Tetapi Sindangsari tidak berani memandang wajah kakeknya.
"Kami di rumah menunggumu. Biasanya kau tidak pulang terlampau
lambat seperti hari ini" kakeknya berhenti sejenak. Ketika ia
melihat pakaian Sindangsari yang kotor, maka hatinya menjadi
berdebar-debar "Kenapa pakaian sekotor itu Sari" Sindangsari masih
tetap berdiam diri. "Kenapa pakaianmu kotor?" desak kakeknya. "Aku
terjatuh kakek" jawab Sindangsari. "Dimana ?" "Aku meniti pematang
yang licin" "Darimana kau Sari" suara kakeknya merendah. Sekali lagi
Sindangsari terdiam. Ketika sekilas ia memandang wajah kakeknya,
dilihatnya wajah itu berkerut merut. Tetapi yang lebih terkejut lagi
adalah kakeknya. Ia melihat setitik air dipelupuk mata cucunya.
"Pulanglah Sari. Ibumu menunggu. Tetapi kenapa kau sebenarnya?"
Sindangsari justru tidak dapat berkata apapun lagi. Lehernya serasa
tersumbat dan matanya menjadi panas. Namun ternyata kakeknya cukup
bijaksana. Ia tahu benar bahwa Sindangsari sedang mengalami
kesulitan yang tidak dapat dikatakannya saat itu. Karena itu maka
katanya kemudian "Sudahlah. Pulanglah" Kakeknya pura-pura tidak
menghiraukannya lagi. Dengan langkah satu-satu orang tua itu
meneruskan perjalanannya, sedang Sindangsaripun dengan tergesa-gesa
pulang ke rumahnya. Ibunya terkejut ketika tiba-tiba saja pintu yang
terbuka sedikit itu berderak. Apalagi ketika ia melihat Sindangsari
berlari-lari masuk. "Sari" sapa ibunya. Sindangsari tertegun
sejenak. Ditatapnya wajah ibunya yang termangu-mangu. Namun gadis
itupun kemudian meloncat berlari memeluknya sambil menangis. "Sari.
Apakah yang sudah terjadi?" ibunya menjadi sangat cemas. Apalagi
ketika ia melihat pakaian anaknya yang kotor itu" "Sari. Sari"
diguncangnya lengan gadisnya sambil bertanya terbata-bata "Kenapa
kau he? Kenapa ?" Sindangsari menangis semakin keras sambil memeluk
ibunya. Tetapi ia tidak sempat menjawab pertanyaanpertanyaan yang
mengalir seperti banjir. "Kenapa kau he? Apakah yang sudah terjadi"
Neneknya yang berada di belakang mendengar suara Nyai Wiratapa dan
tangis cucunya. Karena itu tergopoh-gopoh ia masuk. Yang dilihatnya
adalah Sindangsari menangis sambil memeluk ibunya erat-erat. Tetapi
perempuan tua itu ternyata lebih tenang dari anakanaknya. Dengan
sareh ia membelai rambut cucunya sambil berkata lirih "Duduklah
Sari. Tenanglah. Aku ingin berbicara" Tetapi Sindangsari masih
berpegangan ibunya erat-erat. Air matanya telah membasahi baju
ibunya dan bajunya sendiri yang kotor" "Sudahlah Sari. Duduklah.
Kalau ada persoalan, marilah kita pecahkan. Dengan menangis
kesulitanmu tidak akan terselesaikan" Nyai Wiratapa yang matanya
menjadi basah juga menyambung kata-kata ibunya "Duduklah Sari.
Duduklah" Tetapi Sindangsari masih menangis terus. Ibunya yang sudah
menjadi agak tenang kemudian membimbingnya perlahan-lahan.
Didudukkannya anaknya di atas bale-bale, dan ia sendiri duduk di
sampingnya sebelah menyebelah dengan nenek gadis itu. "Tenanglah
Sari" berkata neneknya "kenapa kau tiba-tiba menangis?" Sindangsari
mencoba untuk menahan isak tangisnya. Dicobanya pula untuk mengatur
perasaannya. Sejenak ia menjadi ragu-ragu , apakah ia akan
mengatakan keadaan sebenarnya, atau seperti pesan Pamot, supaya ia
sekedar mengatakan, bahwa ia telah tergelincir di pematang. Ibunya
yang kecemasan mendesaknya "Sari. Apakah terjadi sesuatu atasmu ?"
Sambil terisak Sindangsari menjawab "Aku tergelincir ibu" Ibunya
mengerutkan keningnya "kau tergelincir" ia mengulangi" "Ya ibu"
"Hanya itu ?" "Ya ibu" Nyai Wiratapa terdiam sejenak. Menilik
pakaian anaknya yang kotor itu, maka ia mempercayainya. Tetapi
apabila anaknya hanya sekedar tergelincir, kenapa ia menangis sampai
terisak-isak. Sebagai gadis yang sudah dewasa, seandainya ia hanya
sekedar terjatuh di pematang, maka ia tidak akan menangis begitu
pedih. Neneknya yang sudah tua itupun tidak dapat menganggap bahwa
jawaban itu adalah jawaban yang sebenarnya. Karena itu, dengan
hati-hati ia bertanya "Dimana kau jatuh Sari ?" "Di pematang" "Ya,
tetapi diarah mana ?" "Dekat sawah pamannya Pamot" Neneknya
mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya "Kau bermain-main sampai
kesana Sari ? Apakah tidak ada orang yang menolongmu ?" Sindangsari
menjadi bingung. Wajahnya yang gelisah kini tidak dapat
disembunyikannya lagi. "Sari, Sari" ibunya justru menjadi lebih
gelisah lagi daripada Sindangsari sendiri "kenapa kau sampai ke
tempat itu Sari ?" Sindangsari mengusap air matanya "Tidak apa-apa
ibu" "Kau sendiri? Sendiri saja ?" Sindangsari t idak dapat segera
menjawab. "Katakan Sari. Apakah sudah terjadi sesuatu atasmu ?"
Sindangsari menundukkan kepalanya. "Sari" suara ibunya menjadi
semakin meninggi" katakan yang sebenarnya ? Apakah kau sudah
melanggar pesan itu" Sindangsari terkejut. Tiba-tiba air matanya
mengalir pula. Sambil menelungkupkan kepalanya dipangkuan ibunya ia
berkata "Aku tergelincir ibu" Tetapi ibunya menggelengkan kepalanya.
Sebagai seorang ibu, seolah-olah ada gema getaran suara hati anaknya
di dadanya sendiri. Karena itu terasa juga kepedihan perasaan gadis
itu. "Katakan Sari. Katakan, apakah yang sudah terjadi" Sindangsari
tidak segera menjawab. Namun neneknya ikut pula mendesaknya" katakan
Sari" Mereka berpaling ketika mereka melihat seseorang memasuki
rumah itu pula. Ternyata kakek Sindangsari tidak terus pergi ke
sawahnya, tetapi menilik gelagat cucunya, iapun kemudian berbalik
lewat jalan yang lain pulang ke rumah. "Ya Sari. Sebaiknya kau
mengatakan apa yang telah terjadi sebenarnya" berkata kakek tua itu.
Sindangsari tidak dapat ingkar lagi. Perlahan-lahan ia bangkit dan
duduk dengan gelisah. Kini kakeknya sudah duduk di atas sebuah
dingklik bambu yang tinggi di hadapannya. "Katakanlah, supaya kami
dapat membantu kesulitanmu Sari. Kau pasti tidak hanya sekedar
tergelincir dan jatuh di pematang. Jika demikian, kau tidak akan
menangis seperti kanak-kanak" Sindangsari menjadi semakin tersudut,
sehingga akhirnya ia tidak dapat berdusta lagi. Ketika ibunya, kakek
dan neneknya semakin mendesaknya, iapun terpaksa mengatakan apa yang
telah terjadi atasnya. Belum lagi ceriteranya selesai seluruhnya,
Sindangsari sudah tidak dapat menahan tangisnya. Sekali lagi
ditelungkupkan wajahnya dipangkuan ibunya. "Kau harus mengucap sokur
Sari, bahwa tidak terjadi bencana yang mengerikan atasmu" berkata
ibunya sambil membelai kepala anaknya. Tetapi air matanya sendiripun
satu demi satu menitik di kepala anaknya. Bukan saja karena
Sindangsari yang hampir saja mengalami nasib yang jelek, tetapi
perempuan itu memandang kenasibnya sendiri. Lukaluka yang tergores
di hatinya, pada saat suaminya meninggal seakan-akan telah kambuh
kembali. "Kalau ayah anak ini masih ada, tidak akan ada seorangpun
yang berani memperlakukan demikian" katanya di dalamhati Sementara
itu kakeknya menarik nafas dalam-dalam. Desisnya "Ya, untunglah ada
Pamot. Untunglah. Setidaktidaknya anak yang bernama Manguri itu
pasti akan memaksamu untuk menyetujui maksudnya. Ia memang sudah
menghubungi aku untuk membelimu dengan apapun yang aku minta.
Sepasang lembu dengan bajaknya. Lumbung, sawah dan apa lagi. Tetapi
sudah tentu aku tidak akan melemparkan kau ke dalamneraka itu"
Neneknya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sementara kakek
tua itu berkata lagi "Meskipun akibatnya akan menjadi sangat berat
bagi Pamot" Tiba-tiba Sindangsari mengangkat wajahnya. Butir-butir
air matanya masih mengambang di pelupuk "Akibat apakah yang dapat
terjadi atas Pamot kakek?" "Ia berhadapan dengan seorang yang kaya
raya, yang dapat mempergunakan kekayaannya untuk segala
kepentingannya" Sindangsari menjadi berdebar-debar. Kini ia duduk
dengan gelisah memandangi wajah kakeknya. "Apakah Manguri akan
mendendam Pamot ?" Tetapi orang tua itu menggelengkan kepalanya
"Entahlah. Mudah-mudahan tidak. Tetapi anak itu harus berhati-hati"
Sementara itu, Manguri bergegas masuk ke regol halamannya. Beberapa
orang pembantu rumahnya memandanginya dengan penuh keheranan. Anak
muda itu dilekati oleh lumpur dan kotoran tidak saja pada
pakaiannya, tetapi juga pada tubuhnya. Ketika Manguri sampai di
tangga pendapa rumahnya, tibatiba ia berteriak "Lamat, Lamat. Dimana
kau ?" Lamat yang sedang bekerja di sebelah rumah menengadahkan
kepalanya. Sekali lagi ia mendengar Manguri memanggil pamanya.
Diletakkannya kapal ditangannya , dan dengan tegesa-gesa pula ia
pergi memenuhi panggilan itu. "Cepat kemari kau dungu" bentak
Manguri. Lamatpun berjalan semakin cepat mendekati Manguri. "He, kau
lihat pakaianku ?" Lamat tidak segera mengerti maksud Manguri.
Meskipun ia melihat pakaian yang kotor itu, tetapi ia masih tetap
berdiam diri. "Apa kau tuli he ? Kau lihat pakaianku ?" Lamat
menganggukkan kepalanya sambil menjawab "Ya. Aku melihat" "Kenapa
pakaianku ?" Lamat mengerutkan keningnya. Dengan suara yang raguragu
ia menjawab "Kotor sekali" "Nah, kau mampu juga melihat pakaian
kotor meskipun kau sendiri selalu kotor. Kenapa pakaianku kotor he
?" Lamat t idak dapat menjawab. "Bodoh, bodoh kau" Manguri mengumpat
"dengar, aku telah berkelahi melawan Pamot" Sekali lagi Lamat
mengerutkan keningnya. "Kenapa kau diam saja he ?" "Apakah aku harus
menemui Pamot ?" "Tentu. Aku tidak dapat meremukkan tulang-tulang
iganya. Sayang ada orang yang melihat. Kalau tidak, aku tidak
memerlukan kau. Ketika aku hampir menyelesaikannya, seseorang telah
melerai. Tetapi ingat, kau tidak boleh gagal. Buat anak itu cacat.
Buat kakinya timpang atau tangannya lumpuh. Mengerti ?" Lamat
menganggukkan kepalanya. "Sekarang ?" "Bodoh, bodoh. Kau memang
terlalu bodoh. Sekarang ia berada di rumahnya" Manguri diam sejenak,
lalu "tunggu sampai ada kesempatan. Awasi anak itu. Kalau ia
terpisah dari orang lain, apalagi di malam hari, kau dapat
melakukannya. Jangan sampai dilihat orang. Jika demikian orang-orang
itu akan melerai, dan bahkan mungkin mereka akan mengambil sikap
terhadapmu" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik" "Bagus. Kau
akan mendapat hadiah. Aku akan memberimu sehelai kain panjang"
"Terima kasih" "Sekarang pergilah" Lamat menganggukkan kepalanya.
Dengan wajah yang beku ia berjalan meninggalkan Manguri yang masih
berdiri di tangga pendapa rumahnya. "Kalau Lamat gagal, aku dapat
membeli lima atau sepuluh orang untuk menyelesaikan anak itu" Sambil
menggeretakkan giginya, Manguripun segera masuk ke dalam rumahnya,
langsung ke biliknya. Sambil mengumpatumpat ia menukar pakaiannya
yang kotor oleh lumpur. "Baik Pamot maupun Sindangsari harus
mengerti, bahwa Manguri tidak terlawan di seluruh padukuhan
Gemulung. Apapun yang aku ingini pasti akan terjadi" Lamat yang
telah bekerja kembali, sekali-sekali tertegun. Diletakkannya
kapaknya di tanah. Kemudian disekanya keringat di keningnya. Sambil
menarik nafas dalam-dalam ia berdesis "Pamot. Pamot. Nanti malam aku
akan mencarinya" Pamot sendiri memang menyadari, seperti yang
dikatakan oleh pamannya, bahwa banyak kemungkinan dapat terjadi.
Manguri pasti tidak akan membiarkan dirinya terhina. Tetapi Pamot
bukan seorang pengecut. Ia telah bersiap menghadapi apa saja yang
dapat dilakukan oleh Manguri. Ia masih berprasangka baik terhadap
orang-orang sepedukuhannya. Manguri tidak akan mudah mendapatkan
orang-orang yang dapat disewanya untuk menyakiti orang
sepedukuhannya. "Hanya orang-orang gila saja yang akan melakukan hal
itu" desisnya. Tetapi ketika pamannya datang ke rumahnya dan
berbicara dengan orang tua Pamot, mereka berkata "Kaulah yang bodoh
Pamot. Untuk mendapatkan orang-orang yang dikehendaki Manguri tidak
akan mendapat kesulitan apapun" Pamot tidak menjawab. "Kau memang
harus berhati-hati. Hindarilah bentrokanbentrokan yang akan terjadi
kemudian. Hal itu tidak akan menguntungkan kau sama sekali" Pamot
mengangguk-angggukkan kepalanya. Jawabnya "Baik. Aku akan selalu
mencoba menghindarkan diri" Meskipun demikian Pamot tidak dapat
bersembunyi saja di dalam rumahnya. Ia harus melakukan pekerjaannya
saja di dalam rumahnya. Ia harus melakukan pekerjaannya seharihari.
Meskipun ia dapat mengerti pesan paman dan orang tuanya, namun ia
tidak berniat sama sekali untuk tetap tinggal di rumah sampai
berhari-hari. "Kalau kau melihat gelagat yang kurang baik Pamot"
pesan pamannya "lebih baik kau segera masuk ke padukuhan atau
bergabung dengan orang-orang laih di sawah. Di malam hari, kau dapat
pergi ke gardu perondan, sehingga dengan demikian kau dapat
menghindarkan dirimu dari bahaya" "Ya paman" jawab Pamot. Tetapi
kemudaannya tidak dapat diikat dengan bayanganbayangan yang
meremangkan bulu-bulunya. Ia sama sekali tidak merubah kebiasaannya.
Malam itu juga Pamot pergi seperti biasa menyusuri parit untuk
mendapatkan air. "Banyak orang berada di sawah menunggui tanamannya"
desisnya "bahkan mungkin anak-anak yang mengintai babi hutan itu
masih selalu berkumpul di perapatan". Dengan demikian maka Pamot
tidak mencemaskan dirinya. Ia percaya kepada dirinya sendiri.
Meskipun kadang-kadang terbersit juga pikiran "Kalau aku tidak dapat
melawan orangorang yang disewa oleh Manguri, aku adalah pelari yang
baik" Sambil berangan-angan Pamot telah berada di tengahtengah
sawah, meniti pematang. Bintang-bintang di langit bertaburan dari
ujung sampai ke ujung Gemerlapan seperti saling bersaing. Namun
bagaimanapun juga, terasa debar di jantung Pamot. Sekali-sekali ia
berpaling, kalau-kalau ada seseorang yang mengikut inya. Dadanya
berdesir ketika tiba-tiba saja ia melihat seorang yang bertubuh
tinggi kekar meloncat dari balik batang-batang jagung muda beberapa
langkah di belakangnya. Pamot segera mengenal, orang itu adalah
Lamat. Pembantu Manguri yang paling setia. Pamot menarik nafas
dalam-dalam. Orang itupun sudah diperhitungkannya pula, sebagai
orang yang pertama-tama akan melakukan tugas yang dibebankan oleh
Manguri kepadanya. Tetapi Pamot tidak berhenti karenanya. Ia
berjalan semakin cepat. Sekali-sekali terngiang ditelinganya pesan
pamannya, tetapi kadang-kadang darah mudanyalah yang berbicara.
"Apakah benar orang itu bertenaga raksasa seperti yang dikatakan
orang" berkata Pamot di dalam hatinya. Sebagai seorang anak muda
Pamot mempunyai kebanggaan pula atas kekuatannya. Memang seperti apa
yang pernah dikatakan oleh Sindangsari, Pamot mampu melakukan
sesuatu yang melampaui kemampuan kawan-kawannya. Tenaga Pamotpun
jauh melampaui kekuatan tenaga orang-orang biasa. "Meskipun
tenaganya sembilan kali lipat tenaga manusia biasa tetapi tampaknya
orang itu terlampau dungu" Pamot masih berkata kepada diri sendiri.
Dengan demikian, darah Pamot yang muda itu justru telah
menggelitiknya untuk mencoba kemampuan Lamat. Bahkan Pamot berkata
di dalam hatinya "Kalau aku dapat mengalahkan orang ini, maka
Manguri pasti akan menjadi segan" namun dibantahnya sendiri "atau ia
menjadi semakin sakit hati, dan menyewa limapuluh orang sekaligus
untuk mematahkan tanganku" Ketika Pamot berpaling, ia masih melihat
Lamat berjalan mengikut inya pada jarak yang tetap. "Setan" tetapi
tiba-tiba hatinya menjadi gelisah pula "Aku harus mengambil tindakan
lebih dahulu" Maka ketika Pamot kemudian berbelok, iapun segera
menyelinap di balik batang-batang jagung. Sambil menahan nafasnya ia
menunggu Lamat. Ia sudah bertekad untuk menyerang lebih dahulu.
Seandainya Lamat benar-benar mempunyai kelebihan, maka ia tidak akan
didahuluinya. Pada serangan yang pertama-tama dan tiba-tiba ia harus
mengurangi kemungkinan, bahwa lawannya akan dapat mengalahkannya.
Sejenak kemudian ia mendengar langkah Lamat yang berat semakin lama
menjadi semakin dekat. Namun agaknya langkah itupun telah membuatnya
semakin berdebar-debar. Tetapi Pamot telah bertekad bulat "Aku
adalah seorang laki-laki. Aku tidak dapat selalu menghindarkan diri
dari benturan serupa ini. Kalau sekarang kau menghindar, maka besok
atau lusa akhirnya akan terjadi juga. Kalau aku bersembunyi, maka
aku adalah seorang pengecut" Karena itu, ketika Lamat menjadi
semakin dekat, Pamotpun segera mempersiapkan diri. Ditahankannya
nafasnya, agar Lamat t idak mengetahui, bahwa ia berada dalambahaya.
Tetapi agaknya Lamatpun menjadi ragu-ragu. Ketika ia sampai di
tikungan, langkahnya terhenti. Ia merasa kehilangan buruannya.
Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Di pandanginya pematang yang
membujur memanjang di bawah kakinya, menghunjam kekegelapan. "Setan"
desis Pamot di dalam hatinya, "kenapa ia tidak maju lagi?" Tetapi
Lamat masih berdiri di tempatnya. Sekali-sekali ia memiringkan
kepalanya, seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu. Tubuhnya janjang
tinggi tegap itu seakan-akan menjulang semakin tinggi menurut
tangkapan mata Pamot yang sedang bersembunyi di balik tanaman jagung
sambil mengintip. Darah Pamot berdesir ketika tiba-tiba ia mendengar
suara raksasa itu datar "Pamot, kemarilah" Pamot menggeretakkan
giginya. "Jangan bersembunyi di situ" Pamot benar-benar merasa
terhina. Meskipun jantungnya menjadi kian berdebar-debar. Ternyata
raksasa itu bukanlah terlampau dungu seperti yang dikiranya. Ia
dapat menangkap desah nafasnya, meskipun barangkali belum melihat
orangnya. Kini Pamot tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus
mendahuluinya. Langsung ke tempat yang berbahaya di bagian tubuh
lawannya. Perlahan-lahan Pamot bergeser maju. Hati-hati sekali.
Meskipun ia sadar bahwa desir kakinya di atas tanah dan sentuhan
tubuhnya dengan daun jagung itu pasti di dengarnya pula. Pamot
melihat Lamat menggeser tubuhnya. Tetapi ia masih berdiri tegak di
tempatnya. Dalam keremangan malam Pamot melihat sesuatu mencuat dari
ikat pinggang Lamat. Sarung sebuah golok yang besar. Pamot menjadi
ragu-ragu sejenak. Ia tidak bersenjata. Yang dibawanya adalah
sebilah sabit. "Tetapi apakah aku akan melukainya dengan sabit ini?"
ia bertanya kepada diri sendiri. Dalam keragu-raguan itu ia
mendengar suara Lamat yang berat "Pamot, kemarilah" Kini Pamot tidak
dapat berlama-lama lagi. Ia harus segera bertindak. Tetapi ia masih
belum berhasrat melukai lawannya dengan sabitnya yang tajam. "Aku
harus memukulnya di pangkal lengannya atau di tengkuknya" katanya di
dalam hati "itu akan mengurangi kemampuannya melawan untuk
seterusnya. Kalau ia mencabut goloknya, apaboleh buat. Aku harus
mendahuluinya sekali lagi" Perlahan-lahan Pamot berkisar semakin
dekat. Kini dipegangnya sabitnya dengan tangan kirinya. Ia sudah
bertekad untuk meloncat, dan sekaligus memukul tengkuk orang itu
dengan sisi telapak tangannya. Lamat masih tetap berdiri tegak di
tempatnya. Ia hanya berputar sedikit, kemudian diam lagi. Kini Pamot
berada tidak lebih dari tiga langkah. Dengan segala kemampuannya ia
memusatkan segenap perhatiannya kepada orang yang masih berdiri di
pematang itu. Sejenak kemudian maka Pamot menghentakkan dirinya.
Dengan sigapnya ia meloncat berdiri beberapa langkah maju. Kemudian
dengan sebuah tendangan mendatar anak muda itu seolah-olah terbang
menghantam tubuh Lamat. Begitu cepatnya seperti lontaran anak panah
yang kepas dari busurnya. Tangan kanannya telah siap untuk
menghantam tengkuk lawannya apabila orang itu sedang berusaha
memperbaiki keseimbangan karena dorongan kakinya. Lamat yang masih
berdiri di pematang itupun terkejut mendapat serangan yang tiba-tiba
dan begitu cepatnya. Ia tidak mungkin lagi berbuat sesuatu. Serangan
yang tidak disangka-sangka itu langsung mengenai lambungnya,
sehingga ia terdorong beberapa langkah ke samping masuk ke dalam
gerumbul tanaman jagung muda. Pamot yang telah siap itupun segera
meloncat pula. Kali ini tangannyalah yang terayun ketengkuk Lamat
yang masih terhuyung-huyung. Tetapi adalah di luar dugaan Pamot,
bahwa Lamat bukanlah seorang raksasa yang dungu. Meskipun ia belum
menguasai keseimbangannya seluruhnya, namun ketika tangan Pamot
terayun ke tengkuknya, Lamat justru menjatuhkan dirinya dan
berguling beberapa kali. Tetapi Pamot tidak melepaskannya. Dengan
tangkasnya iapun meloncat maju tanpa menghiraukan batang-batang
jagung yang berserakan. Ketika Lamat meloncat berdiri, maka iapun
menyerangnya dengan sekuat tenaganya. Tetapi kali ini Pamot
terperanjat bukan buatan. Ia merasa tangkapan yang kuat pada
pergelangan tangannya, kemudian oleh kekuatannya sendiri, ditambah
dengan sebuah hentakkan yang tidak terlawan ia terlempar ke samping.
Kini Pamotlah yang tidak dapat menguasai keseimbangannya sama
sekali. Dengan derasnya ia jatuh terjerembab. Wajahnya membentur
sebongkah batu yang mencuat di pematang. Sekejap matanya menjadi
berkunang-kunang. Bintang-bintang di langit seolah-olah berputaran
seperti beras di penampian. Tetapi Pamot tetap menyadari dirinya,
bahwa ia sedang berkelahi melawan Lamat. Karena itu, maka iapun
segera berusaha bangkit, Namun ia menjadi kecewa, ketika ia sadar,
bahwa sabitnya telah terlepas dari tangannya. Ketika Pamot
tertatih-tatih berdiri, dilihatnya dalam kekaburan, Lamat sudah
berdiri tegak di hadapannya. Sebelum ia dapat menguasai dirinya
sepenuhnya, Lamat telah menyentuh dadanya, sehingga sekali lagi ia
terdorong dan jatuh terlentang. Tetapi Pamot menggeram. Ia tidak
menjadi berputus asa. Meskipun wajahnya yang membentur batu terasa
sakit bukan buatan, ia masih berusaha untuk berguling menjauhi
lawannya, kemudian berusaha pula bangkit berdiri. Namun seperti yang
baru saja terjadi. Ketika ia tegak di atas kedua kakinya yang masih
gemetar, Lamat telah berdiri di hadapannya, seperti batu karang yang
teguh dan tidak tergoyahkan oleh ombak dan badai. Pamot segera
mempersiapkan dirinya. Meskipun ia sudah tidak bersenjata sama
sekali, namun ia tidak mau menyerah. Ia akan melawan sampai
kemungkinan terakhir yang dapat dilakukannya. Tetapi Pamot menjadi
heran. Lamat yang mempunyai banyak kesempatan itu berdiri saja
membeku di tempatnya. Pandangan mata Pamot yang menjadi semakin
jelas, melihat orang itu diam mematung. Pamot menjadi ragu-ragu
sejenak. Sekilas terbayang wajah raksasa yang beku itu. Agaknya ia
dapat berbuat apa saja sekehendak hatinya tanpa mengerutkan
keningnya. Kekejaman yang mengerikan memancar dari mata Manguri
tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Pamot.
Tetapi Pamotpun sudah bersedia. Ia sadar, bahwa Manguri pasti akan
sampai pada puncak t indakannya. Lamat, justru karena wajahnya
seakan-akan t idak terpengaruh sama sekali oleh keadaan lawannya.
Kakinya yang renggang dan tangannya yang tergantung di kedua sisinya
membuat Pamot semakin bertanya-tanya di dalam hati "Apakah yang akan
dilakukannya?" Tetapi Lamat masih berdiri saja di tempatnya.
Dipandanginya Pamot yang gelisah itu seperti seekor kucing menatap
seekor tikus yang putus-asa. Namun Pamot sama sekali tidak berputus
asa. Ia sengaja membiarkan Lamat berdiri saja di tempatnya,
sementara ia dapat mengatur dirinya. Nafasnya yang tersengal-sengal,
dan pipinya yang serasa bengkak. "Mungkin ia membiarkan aku mat i
ketakutan" katanya di dalam hati "atau sedang berpikir cara yang
paling baik untuk melumpuhkan aku. Agaknya Manguri berpesan sesuatu
kepadanya" Karena itu maka sejenak mereka saling berdiam diri.
Betapapun ketegangan mencengkam hati masing-masing, hamun
masing-masing tidak segera berbuat sesuatu. Sejenak kemudian, Pamot
terkejut mendengar suara Lamat yang datar dan dalam "Kenapa kau
menyerang aku Pamot?" Pamot tidak menyangka, bahwa Lamat akan
bertanya demikian kepadanya, sehingga sesaat ia berdiri saja dengan
mulut yang bergerak-gerak meskipun tidak sepatah katapun yang
meluncur dari sela-sela bibirnya. "Kenapa?" terasa penyesalan
mewarnai pertanyaan Lamat. Pamot tidak segera dapat menjawab
pertanyaan itu. Dipandanginya saja wajah Lamat yang beku. "Kenapa
kau bersikap bermusuhan terhadapku?" Lamat bertanya pula. Dan Pamot
akhirnya merasa bahwa ia memang harus menjawabnya "Kenapa kau
bertanya Lamat? Pertanyaanmu itulah yang justru terdengar aneh di
telingaku" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya "Ya,
karena aku adalah budak Manguri" "Nah, kau sudah tahu jawabnya" "Ya.
Aku memang mendapat perintahnya untuk membuat kau cacat" Terasa dada
Pamot berdesir. "Persetan. Kalau aku tidak belas kasihan padamu, kau
sudah mati pada seranganku yang pertama. Aku memang tidak
mempergunakan sabit itu, karena aku memang tidak ingin membunuh"
"Perintah itu juga tidak untuk membunuh" suara Lamat masih mendatar.
Debar di dada Pamot menjadi semakin keras. Ditatapnya raksasa itu
dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya yang botak. Sejenak
kemudian, terdengar Pamot menggeram "Apakah yang akan kau lakukan?
Kau sangka aku akan menyerahkan diri begitu saja?" Lamat menarik
nafas dalam-dalam. "Pamot " berkata Lamat masih dalam nada yang
datar "kau memang tidak keliru. Semua orang akan menganggapku
begitu. Mungkin karena bentuk tubuh dan wajahku yang kasar, sehingga
mereka termasuk kau menganggap aku tidak lebih dari seekor serigala.
Itulah penderitaan yang paling pahit yang harus aku telan" Lamat
berhenti sejenak, dan Pamotpun menjadi terheran-heran. Sejenak
kemudian Lamat melanjutkan "Tetapi mungkin juga karena aku adalah
pembantu, bahkan lebih dari itu, seorang budak dari keluarga
pedagang yang kaya raya itu. Adalah wajar sekali kalau kau
berprasangka jelek terhadapku" Pamot kini diam mematung. "Pamot "
berkata Lamat kemudian "aku memang mendapat perintah dari Manguri
untuk membuat kau cacat. Tetapi ketahuilah, bahwa perintah itu telah
membuat aku menjadi semakin berprihatin. Aku semakin merasa bahwa
aku adalah manusia yang paling t idak berguna dan tidak berharga"
Pamot menjadi semakin tidak mengerti. "Apa yang harus aku kerjakan
itu sebenarnya bertentangan dengan kata hatiku sendiri" berkata
Lamat itu selanjutnya. Kepalanya tiba-tiba tertunduk, dan suaranya
menjadi semakin rendah "Tetapi aku sadar, bahwa tidak seorangpun
yang mempercayaiku. Wajahku yang jelek, tubuhku dan mungkin sorot
mataku" Pamot masih tetap berdiam diri. "Itulah kenyataanku Pamot.
Seharusnya aku tidak perlu heran karena kau telah menyerangku lebih
dahulu. Tetapi kadang-kadang aku ingin meyakinkan diriku sendiri,
apakah aku memang tidak sewajarnya bergaul dengan orang-orang yang
lain, yang tidak berwajah kasar dan barangkali berkesan kejam
seperti wajahku" Suara Lamat menjadi parau "Aku memang sekali-sekali
pernah bercermin di dalam air. Dan aku hanya dapat menerima semuanya
yang ada padaku, seperti juga aku t idak dapat pergi dari rumah
Manguri" "Kenapa?" tiba-tiba Pamot bertanya "kalau apa yang kau
lakukan itu sama sekali bertentangan dengan kata hatimu, kenapa kau
tidak pergi saja dari rumah itu?" Lamat menggelengkan kepalanya "Aku
tidak dapat melakukannya Pamot. Aku sudah berhutang budi kepada
keluarga itu. Sejak kecil aku mendapat makan dan pakaian, kebutuhan
hidup dan apapun yang perlu bagi kelangsungan hidupku" "Tetapi kau
sama sekali tidak berhutang budi Lamat" sahut Pamot "semua itu sudah
kau bayar tunai. Tenagamu sudah kau serahkan. Karena itu, semuanya
sudah lunas" Lamat menggelengkan kepalanya "Tidak Pamot " orang yang
botak itu terdiam. Ada sesuatu yang akan dikatakannya, tetapi
kalimat-kalimat yang sudah berada di rongga mulutnya itu seakan-akan
ditelannya. Dengan demikian maka sejenak mereka berdua saling
berdiam diri. Lamat yang bertubuh tinggi tegap berkepala botak dan
berwajah kasar itu menarik nafas beberapa kali, seakan-akan seluruh
udara malam di sawah itu akan dihirupnya. Dan tiba-tiba orang itu
terperanjat ketika Pamot bertanya "Lalu sekarang, apa yang akan kau
lakukan? Apakah kau akan melakukannya perintah itu?" Lamat
menggelengkan kepalanya "Tidak Pamot. Aku tidak dapat. Aku yakin
bahwa kau tidak bersalah" "Tetapi apakah dengan demikian Manguri
tidak akan marah kepadamu?" "Kalau ia tahu aku tidak berbuat
apa-apa, ia pasti akan marah" "Jadi bagaimana dengan kau?" Lamat
termenung sejenak. Dan tiba-tiba saja ia bertanya "Kenapa kau selalu
meraba-raba pipimu?" "Ketika aku kau kibaskan, kepalaku membentur
batu" Lamat memandang wajah Pamot sejenak. Kemudian katanya "Pamot.
Sebaiknya kau tinggal saja di rumah untuk sepekan atau dua pekan"
"Kenapa? Apakah pada waktu-waktu itu Manguri akan berbuat sesuatu
lagi atasku?" "Tidak. Tetapi aku minta tolong kepadamu, supaya aku
tidak dimarahinya. Aku akan berkata kepadanya, bahwa aku telah
mencoba melakukan perintahnya. Tetapi kau tidak sejinak seekor
kambing yang bodoh. Aku akan memberi kesan kepadanya, bahwa akibat
dari perkelahian itu, kau tidak dapat keluar dari rumahmu untuk
waktu yang lama, meskipun harus ada kesan pula, bahwa akupun
mengalami cidera" Pamot mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
berkata "Lamat. Kenapa kau harus berbuat demikian? Kau membuat
hidupmu menjadi semakin sulit. Sebaiknya kau berterus terang. Kau
harus mencoba untuk membaca apa yang tergurat di dalam hatimu. Kau
harus belajar menyatakannya kepada orang lain, meskipun orang lain
itu Manguri atau ayah dan ibunya sekaligus" Lamat menggelengkan
kepalanya "Tidak Pamot, aku tidak dapat" "Kau hidup dalam dunia yang
aneh. Kau selalu dibayangi oleh sikap berpura-pura. Itu tidak jujur
Lamat" "Aku sadar Pamot" "Kenapa kau biarkan dirimu di belenggu oleh
keadaan itu?" "Jangan kau tanyakan sekarang. Sekarang pulanglah, dan
jangan keluar halaman selama sepekan" Pamot mengerutkan keningnya.
Semula darahnya melonjak untuk menolak permintaan itu. Ia sama
sekali tidak perlu bersembunyi. Seharipun tidak. Kalau ia ingin
keluar rumah dan pergi ke manapun tidak ada orang yang dapat
menghalangi. Tetapi ketika terpandang olehnya kepala Lamat yang
menunduk, maka timbullah iba hatinya. Ia tidak harus bersembunyi,
tetapi menurut Lamat, ia harus menolongnya. "Hidupmu sulit sekali
Lamat" tanpa sesadarnya ia berdesis. "Kau benar Pamot" sahut Lamat
"tetapi untuk sementara aku masih harus menjalaninya" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Pipinya memang terasa sakit sekali,
seolah-oleh tulangnya menjadi retak. Namun kemudian iapun berkata
"Baiklah Lamat. Aku akan memenuhinya. Aku akan tinggal di rumah
sepekan meskipun itu tidak berarti bahwa aku tidak boleh keluar
halaman" "Aku minta tolong Pamot" "Baiklah" "Sekarang pulanglah"
"Sabitku terlempar, ketika kau menghentakkan tanganku" Lamatpun
kemudian membantu Pamot mencari sabitnya dan mencoba memperbaiki
batang-batang jagung yang berserakan. Ketika Pamot telah menemukan
sabitnya, maka iapun segera pulang kembali ke rumahnya. Di sepanjang
jalan tangannya tidak henti-hentinya meraba-raba pipinya yang
membengkak. Namun di sepanjang jalan pula, tidak hentihentinya ia
berpikir tentang Lamat, raksasa yang terbelenggu oleh perasaan
berhutang budi. "Aneh" desis Pamot di dalam hatinya "wajahnya yang
kasar itu ternyata tidak tumus sampai ke dalam hatinya. Ternyata ia
seorang perasa yang bahkan agak cengeng. Apalagi ilmunya sebenarnya
termasuk ilmu yang tinggi dan sulit di mengerti, seperti keadaan
hidupnya yang sulit pula di mengerti" Tetapi Pamotpun mengalami
kesulitan pula apabila ia akan mendapat pertanyaan dari orang tuanya
atau kawankawannya. Apakah yang akan dikatakannya? Lamat?" "Hem" ia
berdesah "aku tidak akan sampai hati menyebut namanya. Kalau orang
tuaku dan kawan-kawannya mendendamnya, maka hidupnya akan menjadi
semakin pahit. Ia menjadi semakin jauh tersingkir dari pergaulan
yang wajar. Kalau pada suatu saat ia menjadi putus-asa, dan merasa
dirinya memang tidak berharga, ia akan menjadi berbahaya. Mungkin ia
akan benar-benar menjadi seorang yang kejam, justru paling kejam,
karena ia merasa dunia telah berbuat terlalu kejam kepada dirinya"
Dalam keragu-raguan itu langkah Pamot menjadi semakin mendekati
pedukuhannya. Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke pojok desa.
Kalau kawan-kawannya berada di gardu, maka mereka pasti akan
bertanya kepadanya. Tiba-tiba Pamot berhenti sejenak. Kemudian ia
berbelok dan menyelinap menyusur pematang. Ia menghindari jalan yang
disangkanya akan berjumpa dengan seseorang. Sehingga dengan
demikian, maka akhirnya Pamot sampai juga ke halaman rumahnya tanpa
sebuah pertanyaanpun. Ketika serombongan peronda lewat, Pamot
sengaja berdiri di balik segerumbul perdu di halamannya sebelum ia
kemudian naik ke rumah. Ternyata bahwa wajah Pamot memang
mengejutkan orang tuanya. Meskipun Pamot tidak mengatakan sesuatu,
namun orang tuanya segera bertanya tentang pipinya yang memang
membengkak itu. Sejenak Pamot berada dalam kesulitan. Ia masih belum
menemukan jawaban. Tetapi ketika orang tuanya mendesak lagi, maka
iapun mencoba untuk membuat jawabnya "Aku berkelahi" "He, kau
berkelahi lagi. Setelah kau berkelahi melawan Manguri, sekarang
dengan siapa lagi kau berkelahi?" "Sebenarnya tidak dengan orang
lain. Ini adalah kelanjutan dari yang pernah terjadi. Manguri telah
menyewa seseorang untuk mencegatku di sawah" "He" orang tuanya
terperanjat, kemudian "bukankah sudah aku katakan, seperti juga
pamanmu telah mengatakannya" "Tetapi aku tidak kalah" jawab Pamot.
Orang tuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi terbayang di
wajah-wajah mereka kecemasan yang mendalam. Bahkan kakeknyapun
menjadi cemas pula melihat wajah cucunya yang menjadi biru pengab.
"Siapakah orang yang telah disewa Manguri itu?" Pamot menjadi
ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya "Aku
tidak tahu" "Apakah kau belum mengenalnya?" Sekali lagi ia
menggeleng "Aku tidak tahu" Kecemasan yang membayangi keluarga itu
kini sudah mulai menjadi kenyataan. Mungkin Manguri t idak akan puas
dengan pembalasan dendamnya kali ini, karena menurut Pamot, ia
melawan sekuat-kuat tenaganya sehingga lawannya tidak berhasil
mengalahkannya. "Aku kira iapun mendapat cidera" berkata Pamot
kemudian. "Tetapi kau harus berhati-hati Pamot, mungkin ia masih
akan berbuat lebih banyak lagi" Pamot mengangguk-anggukkan
kepalanya. Memang untuk sepekan ia tidak akan pergi kemanapun,
meskipun dengan demikian pekerjaannya akan terbengkelai. Sementara
itu, Lamatpun telah kembali ke rumah Manguri. Ternyata Manguri masih
menunggunya di pendapa. Ketika ia melihat Lamat berjalan
tertatih-tatih memasuki regol, segera ia berjalan menyongsongnya.
"Lamat" Manguri memanggil. Dan Lamatpun kemudian mendekatinya di
tangga pendapa. "Apa yang sudah kau kerjakan?" "Aku menemuinya di
tengah-tengah sawah" "Lalu?" Manguri tidak sabar. "Kami berkelahi"
"Berkelahi? Apakah kau tidak dapat meremasnya begitu saja sehingga
kau membuang-buang waktu untuk berkelahi?" "Ternyata Pamot tidak
selemah yang aku bayangkan. Ia mempunyai kemampuan untuk melawan,
sehingga kami harus berkelahi" "Persetan. Tetapi bagaimana
akhirnya?" "Aku berhasil melukainya. Wajahnya aku kira akan menjad
bengkak" "Cukup" bentak Manguri "apakah kau berhasil mematahkan
kakinya, atau tangannya?" Lamat merenung sejenak. Namun kemudian
Jawabnya "Ia berhasil lari. Tetapi ia pasti akan mendalami cidera.
"He" mata Manguri terbelalak. Dengan tangan gemetar ia menunjuk
hidung Lamat "jadi apa kerjamu he? Tubuhmu yang sebesar gajah itu
tidak mampu menangkap dan meremas tangannya?" Lamat tidak menjawab.
Ia memang sudah menduga kalau Manguri akan marah-marah kepadanya.
Tetapi kalau Pamot bersedia memenuhi permintaannya, maka kemarahan
Manguri itu tidak akan berkepanjangan sampai berhari-hari. "Tidak
ada gunanya aku dan ayah memanjakan kau? Kalau kau masih saja malas
dan tidak mau berbuat apa-apa, aku bunuh kau. Nyawamu memang
seharusnya sudah tidak kau miliki lagi, kalau kau tidak diselamatkan
oleh ayahku. Kini kau sama sekali tidak tahu membalas budi. Kau
tidak pernah dapat melakukan pekerjaan dengan baik, seperti yang aku
perintahkan" Lamat tidak menjawab. Sudah terlampau biasa Manguri
mengumpat-umpat, sehingga telinganya memang sudah agak kebal., Namun
setiap kali masih juga terasa pedih tergores di dinding jantungnya.
Lamat menggelengkan kepalanya seperti setiap kali ia menerima
pertanyaan serupa itu "Tidak" jawabnya. "Pergi. Pergi ke bilikmu"
bentak Manguri. Perlahan-lahan Lamat melangkah mengitari rumah itu
pergi ke biliknya di belakang longkangan tengah, di samping dapur.
Dengan tarikan nafas yang dalam ia membaringkan dirinya yang masih
basah oleh keringat. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya
anyaman bambu di langit-langit rumahnya, berjajar rapi, terikat oleh
tali ijuk yang hitam. Setiap kali langit langit itu dilihatnya, dan
setiap kali masih seperti yang kemarin. Tidak ubahnya dengan dirinya
sendiri. Sekarang dan kemarin masih juga serupa. Besok dan lusa.
"Apakah untuk seterusnya?" desisnya "setiap orang ingin perkembangan
di dalam hidupnya. Tetapi hidupku serasa mati" Perlahan-lahan Lamat
menarik golok dari pinggangnya. Kemudian diletakkannya di sisinya.
Sebenarnya ia sama sekali tidak memerlukan senjata itu. Ia sama
sekali tidak berkeinginan untuk mempergunakan senjata, apalagi
menumpahkan darah dan melenyapkan nyawa seseorang. "Ternyata nyawa
itu sangat berharga" katanya di dalam hati "aku harus menebus
nyawaku dengan seluruh umurku, tenagaku dan kehormatanku" Sejenak
terbayang masa kanak-kanaknya yang buram. Ketika padukuhannya diamuk
oleh segerombolan perampok yang tidak berperi-kemanusiaan. Ayahnya
yang termasuk orang berada menjadi pusat sasaran para perampok itu.
Maka terjadilah bencana itu. Rumahnya menjadi neraka oleh api yang
berkobar, setelah isinya dirampok habis-habisan bersama beberapa
rumah yang lain. Lamat yang masih kecil waktu itu, tidak tahu apakah
yang selanjutnya terjadi. Panas yang membakar tubuhnya telah
membuatnya pingsan. Ia sadar, ketika ia sudah berada diperjalanan,
di dalam sebuah pedati. Ternyata seorang kawan ayahnya, juga seorang
pedagang ternak telah menyelamatkannya. Orang itu adalah ayah
Manguri. Lamat sama sekali tidak pernah mempersoalkan, kenapa ayah
Manguri itu tiba-tiba saja ada di padukuhannya bahkan di rumahnya
dan berhasil menyelamatkannya. "Aku wajib berterima kasih kepadanya.
Terima kasih tanpa batas, karena ia telah menyelamatkan nyawaku"
desisnya "Apalagi kemudian aku dipeliharanya sampai aku menjadi
orang" Namun Lamat tidak berani memandang dengan wajah tengadah,
kenyataan yang dihadapinya. Ia selalu mencoba menekan setiap
perasaan yang hendak memberontak atas keadaan yang dialaminya selama
ini. "Aku harus berterima kasih. Aku harus mengenal budi orang
terhadap diriku" Sehingga ternyata apa yang telah terjadi itu telah
membuat bukan saja tubuh Lamat yang menjadi cacat oleh jilatan api,
tetapi jiwanyapun menjadi cacat pula. Ia seolah-olah terbelenggu
oleh kebaikan hati ayah Manguri. Lamat adalah seorang raksasa yang
dikekang oleh seutas kendali yang sangat kuat. Perlahan-lahan Lamat
bangkit dari pembaringannya. Diraihnya gendi yang berisi air dingin
diajuk-ajuk. Terasa betapa segarnya air yang mengusap
kerongkongannya. Namun kesegaran air itu tidak dapat melepaskannya
dari kegelisahan yang mencengkam. Seandainya Pamot tidak mau
memenuhi permintaannya, maka berhari-hari Manguri pasti masih saja
mengumpatinya. Namun Pamot memang sudah menyatakan kesediaannya
untuk menolongnya. Ketika matahari terbit, Pamot tidak segera bangun
dan mandi ke sungai seperti biasanya. Tetapi ia pergi kesumur dan
mandi pula disitu. "Kau tidak pergi ke sungai?" bertanya kakeknya.
Pamot menggelengkan kepalanya. "Bagus, kau memang harus berhati-hati
menanggapi keadaanmu yang agaknya memang t idak terlampau
menyenangkan" Dan di luar dugaannya kakeknya itu berkata "Tetapi kau
tidak usah menyesal. Kau sudah berbuat suatu kebajikan, meskipun kau
harus mendengarkan pendapat pamanmu" Pamot mengangguk-anggukkan
kepalanya. Hari itu, Pamot memang tidak meninggalkan halaman
rumahnya. Betapapun hatinya mendesaknya untuk keluar, tetapi ia
selalu bertahan. Bukan karena ia terlampau hati-hati seperti
disangka kakeknya, tetapi ia mencoba untuk memenuhi permintaan
Lamat. Adalah tanpa disangka-sangka sekali, bahwa tiba-tiba saja
Manguri telah berdiri di muka regol rumahnya. Kali ini dengan wajah
yang dibayangi oleh senyum mengejek ia memanggilnya "Pamot
kemarilah" Sejenak Pamot justru mematung. Dipandanginya Manguri yang
berdiri di luar regol halamannya itu seperti memandang hantu.
"Jangan takut Pamot, kemarilah" Terasa darah Pamot seakan-akan
menjadi semakin cepat mengalir. Hampir saja ia melompat dan menerkam
anak muda yang sombong itu. Tetapi untunglah bahwa ia segera
menyadari dirinya, sehingga diurungkan niatnya itu. Agaknya Pamot
memang masih segan untuk melakukan pertentangan terbuka dengan anak
pedagang ternak yang kaya itu. "Kanapa kau diam saja?" berkata
Manguri kemudian "kemarilah. Aku ingin berbicara sedikit" Dengan
langkah yang berat Pamot berjalan mendekat pula. Setiap kali
terngiang pesan pamannya, agar ia berhati-hati menghadapi anak orang
kaya raya itu. "Pamot " berkata Manguri ketika Pamot sudah mendekat.
Sambil mengerutkan keningnya Manguri menunjuk pipi Pamot membengkak
"Kenapa pipimu itu Pamot?" Pamot maju semakin dekat. Dipandanginya
wajah Manguri dengan tajamnya. "Apa maksudmu datang kemari Manguri?"
bertanya Pamot. Manguri tersenyum, katanya "Aku tidak sengaja datang
kemari. Aku lewat jalan ini ketika aku melihat kau di halaman" "Kau
tidak biasa lewat jalan ini?" "He" Manguri mengerutkan keningnya
"kau selalu berkata begitu. Kau selalu menganggap aku tidak pernah
lewat jalan yang manapun" Pamot menggeram ketika ia melihat senyum
mengejek di bibir Manguri. "Baik" jawab Pamot "kenapa kau memanggil
aku?" "Aku ingin bertanya, kenapa pipimu membengkak?" "Orangmu pasti
sudah melaporkannya kepadamu. Raksasa yang dungu pasti sudah
melaporkannya kepadamu" "Raksasa yang dungu itu memang harus
dibunuh. Diapakannya kau?" "Bertanyalah kepada orangmu itu. Ternyata
ia lebih bodoh dari kerbau" "Ah, kasian kau Pamot. Untunglah kau
berhasil melarikan diri. Kalau tidak, orang sebodoh kerbau itu pasti
akan meremukkan tulang-tulangmu" "Itu tidak mungkin" jawab Pamot
"kau kira aku terlampau lemah untuk melawannya. Ia memang lebih kuat
daripadaku. Tetapi ia tidak akan banyak berhasil, karena aku
mempunyai otak, dan orang dungu itu hanya mempunyai tenaga melulu"
Manguri mengerutkan keningnya. Ia melihat kebenaran kata-kata Pamot.
Lamat dipandangan matanya tidak lebih dari seekor kerbau "Itulah
sebabnya Lamat tidak berhasil" desis Manguri. Namun kemudian ia
tersenyum di dalam hatinya "Aku tidak boleh mengulangi kesalahan
ini. Ternyata aku tidak dapat mempercayai orang dungu itu" "Pamot "
berkata Manguri kemudian "ternyata kau masih mampu menolong dirimu
sendiri kali ini. Tetapi bahwa kau sudah terperosok ke dalam
persoalan yang rumit, jangan kau sesali" Pamot tidak menjawab.
Betapa hatinya menjadi sangat muak, tetapi ia masih selalu menahan
hati. Kemudian Manguripun pergi meninggalkan regol rumah Pamot.
Suara tertawanya yang menyakitkan hati terdengar menggelitik hati.
Namun Pamot masih tetap berdiri tegak di tempatnya. "Berapa hari kau
akan tinggal di rumah Pamot?" bertanya Manguri dari kejauhan. Pamot
tidak menjawab. Bahkan iapun kemudian berbalik dan masuk ke dalam
regol halaman rumahnya. Baru saja ia masuk, maka dilihatnya kakeknya
dengan tergesa-gesa datang menemuinya sambil bertanya "Apakah yang
telah terjadi?" "Anak gila itu selalu memancing persoalan" "Kau
sudah bertindak tepat Pamot. Jangan kau layani" Pamot
mengangguk-angguk meskipun jantung mudanya tidak mau menerima
nasehat itu, sehingga ia berkata di dalam hatinya "Kalau aku
mendapat kesempatan, aku putar leher anak itu" Dalam pada itu,
meskipun Manguri sudah melihat sendiri, bahwa wajah Pamot menjadi
bengkak, tetapi ia tidak puas atas keadaan itu. Kalau Pamot nanti
sembuh, maka ia pasti masih belumjera mencampuri persoalannya. "Aku
masih belum berputus-asa., Aku harus mendapatkan Sindangsari dengan
cara apapun juga" Tetapi yang terjadi kemudian benar-benar telah
menyakitkan hati Manguri. Sindangsari yang mendengar, bahwa Pamot
kemudian mendapat cidera di wajahnya, segera dapat menghubungkannya
dengan apa yang terjadi atas dirinya. Dan ternyata peristiwa itu
telah mendorong perasaannya semakin dekat dengan anak yang sering
bermain seruling dengan caranya sendiri itu. Bersama kakeknya
Sindangsari memerlukan pergi ke rumah Pamot. Selain untuk menyatakan
terima kasih mereka yang tidak terhingga, merekapun berhasrat
menengok anak muda itu. Cidera apakah yang sudah dialaminya, akibat
dari usahanya menolong Sindangsari. "Kami tidak dapat membayangkan,
apakah yang terjadi atas cucu kami apabila Pamot tidak melihat hal
itu terjadi dan kemudian menolongnya, meskipun ia sadar bahwa ia
akan selalu dibayangi oleh anak pedagang yang kaya itu" berkata
kakek Sindangsari. Orang tua Pamot dan kakeknya mengangguk-anggukkan
kepalanya, sedang Pamot yang ikut menemui tamu-tamu itupun hanya
menundukkan kepalanya saja. Sekali-sekali ia mencuri pandang wajah
Sindangsari. Tetapi wajah itupun tertunduk dalam-dalam. "Sekarang
hal itu sudah ternyata" berkata kakek Sindangsari selanjutnya "Pamot
telah mengalaminya" "Tidak seberapa kakek" sahut Pamot dengan nada
yang dalam. "Sokurlah, tetapi untuk selanjutnya kau harus
berhati-hati" Pamot mengangguk-angguk. Semua orang menasehatinya
untuk berhati-hati. "Sementara ini Pamot memang selalu berada di
rumah" berkata kakek Pamot "meskipun agaknya anak itu sendiri tidak
menghendaki" "Ada baiknya juga demikian" sahut kakek Sindangsari.
"Tetapi dengan demikian ayah bekerja terlampau berat" berkata Pamot.
"Sekedar untuk kebaikanmu" berkata ayah Pamot "mudahmudahan Manguri
segera melupakannya, sehingga kau tidak diancamnya lagi" Pamot tidak
menyahut. Sekilas terngiang kata-kata Manguri di muka regol rumahnya
"kau sudah terperosok ke dalam persoalan yang rumit. Jangan kau
sesali" "Aku tidak menyesal" berkata Pamot di dalam hatinya. Justru
ia sudah terlanjur melakukannya, maka ia tidak akan berhasrat mundur
setapakpun. Kunjungan kakek Sindangsari bersama gadis itu,
seakanakan telah meyakinkan Pamot, bahwa iapun harus berjalan terus.
Perlahan-lahan namun pasti, wajah Sindangsari semakin dalam terpahat
di dinding hatinya. Tetapi Pamot tidak dapat berlaku sekasar
Manguri. Dengan hati-hati dan perlahan-lahan ia mencoba mendekatkan
hatinya. Ia tahu Sindangsari senang mendengarkan suara serulingnya,
karena itu, maka setiap kali ia pergi ke rumah Sindangsari sebelum
ia turun ke sawah karena pipinya yang masih biru, selalu dibawanya
serulingnya. Ternyata hati Sindangsaripun telah terbuka pula
untuknya. Kekasaran Manguri justru telah mendesaknya semakin dekat
kepada Pamot yang jauh lebih sederhana dari Manguri sendiri.
Betapapun hal itu dirahasiakan, namun lambai laun peristiwa yang
terjadi atas Sindangsari itupun telah merambat dari telinga ke
telinga. Kawan-kawannya mulai membicarakannya pula. Bahkan satu dua
diantara mereka mulai berhati-hati menghadapi Manguri. Mereka tidak
mau menjadi sasaran kekecewaan anak muda itu, karena ia gagal
mendapatkan Sindangsari. Hal itulah yang membuat Manguri semakin
sakit hati. Hubungan antara Pamot dan Sindangsari yang semakin
rapat, dan gadis-gadis yang mulai menjauhinya. "Pamot memang tidak
jera" ia menggeram "usahaku yang pertama untuk mendapatkan
Sindangsari dengan cara apapun adalah menjauhkan Pamot daripadanya"
Tetapi Manguri tidak lagi ingin mempergunakan Lamat. Meskipun
menurut penilaian Manguri, Lamat tidak gagal sama sekali namun Pamot
berhasil melawannya dan melepaskan diri. Kini ia akan mempergunakan
tenaga yang meyakinkan. Pamot harus benar-benar jera. Dengan
demikian, maka Manguri telah mempergunakan kekayaannya untuk
memuaskan hatinya, seperti yang dikatakannya. Ia dapat menyewa
berapa orang saja yang dikehendakinya. Untuk membuat Pamot jera,
Manguri telah memanggil lima orang yang dianggapnya akan dapat
menyelesaikan masalahnya. Mereka harus menangkap Pamot, dan
membawanya kelumbung di belakang rumah. Manguri sendiri yang akan
memaksanya untuk berjanji, bahwa Pamot tidak akan berhubungan lagi
dengan Sindangsari. "Tetapi hati-hatilah menghadapi anak itu"
berkata Manguri "aku sendiri t idak berhasil mengalahkannya. Bahwa
ia dapat melepaskan diri dari tangan Lamat. Mungkin benar kata
Pamot, bahwa Lamat tidak berkelahi dengan otaknya, ia hanya
berkelahi dengan tenaganya saja" Kelima orang yang telah disewa oleh
Manguri itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sekarang bertanyalah
kepada Lamat, apa yang perlu kalian ketahui tentang Pamot. Maka
Lamatpun kemudian dipanggil oleh Manguri. Ia harus menjawab berbagai
macam pertanyaan tentang Pamot. Dan Lamatpun berusaha menjawabnya,
meskipun ia harus berhatihati. Tetapi kesan kedunguan di wajahnya,
sama sekali tidak menumbuhkan prasangka apapun apabila ia
kadang-kadang menemui kesulitan untuk menjawab pertanyaan salah
seorang dari kelima orang yang telah disewa oleh Manguri itu. "Nah"
berkata Manguri kemudian "kalian sudah mendapat gambaran tentang
Pamot. Kini Pamot telah melakukan kerjanya sehari-hari seperti
sediakala. Di malam hari kalian akan mendapat kesempatan
sebaik-baiknya. Hampir setiap malam Pamot pergi ke gubugnya di
tengah sawah ayahnya. Kalian dapat menemuinya di tengah sawah
ayahnya. Kalian dapat menemuinya di sana. Jangan menunggu terlampau
lama. Besok malam kalian sudah dapat melakukan pekerjaana itu.
Ingat, jangan gagal seperti Lamat yang dungu ini. Malam nanti
akurkan melihatnya, apakah ia berada di gubugnya bersama Lamat"
Kelimanya mengangguk-anggukkan kepala. Pamot, betapapun kuatnya,
bagi kelima orang itu sama sekali tidak akan menjadi beban yang
terlampau berat. Seorang demi seorang mereka tidak gentar melawan
anak muda yang kuat itu. Namun untuk menangkapnya dan membawanya ke
Lumbung di belakang rumah, memang diperlukan beberapa orang kawan.
"Sekarang kalian boleh pergi" berkata Manguri "besok siang kalian
kembali lagi kemari sebelum di malam harinya kalian harus melakukan
pekerjaan itu. Awas, kalau kalian gagal, maka tidak sekeping uangpun
aku berikan kepada kalian" "Jangan takut. Apalagi seekor tikus,
seekor serigalapun tidak akan lepas dari tanganku" Sepeninggal
orang-orang itu, maka Manguripun berkata kepada Lamat "Nanti malam
kau pergi bersama aku melihat apakah Pamot masih dalam kebiasaannya,
pergi ke gubugnya. Sekarang pergilah. Kau terlampau bodoh untuk
mengerti persoalanku, sehingga karena itu aku terpaksa mempergunakan
orang lain" Lamat tidak menjawab. Wajahnya yang tampak bengis namun
terlalu bodoh itu tertunduk dalam-dalam. Perlahanlahan ia
meninggalkan Manguri kembali ke pekerjaannya. Namun dalam pada itu,
sesuatu bergolak di dadanya. Meskipun ia berusaha untuk tidak
menghiraukannya, tetapi setiap kali jantungnya serasa dituntut oleh
suatu keharusan untuk berbuat sesuatu. Ia sudah terlalu biasa
dipergunakan oleh keluarga Manguri untuk menakut-nakuti orang yang
lambat membayar hutang. Bahkan kadang-kadang dengan sedikit
kekerasan. Tetapi kali ini ia tidak dapat menahan hati membiarkan
Pamot mengalami nasib yang terlampau jelek, justru ia yakin bahwa
anak itu tidak bersalah. "Anak itu bukan sanak bukan kadang" ia
mencoba menghilangkan kerisauan perasaannya itu. Tetapi kemudian ia
menggelengkan kepalanya "Aku harus memberitahukan kepadanya"
Demikianlah, ketika pada sore hari, seperti kebiasaannya Lamat pergi
ke sungai, dengan tergesa-gesa ia berusaha singgah ke rumah Pamot.
Ia menunggu hari mulai gelap, supaya tidak seorangpun yang
melihatnya, setidak-tidaknya melihatnya dengan pasti. "Mudah-mudahan
Pamot masih ada di rumahnya" desisnya "anak yang berani itu sama
sekali tidak gentar, meskipun Manguri mengancamnya seribu kali.
Dengan ragu-ragu Lamat berdiri di muka pintu rumah Pamot. Sejenak ia
mematung. Namun sejenak kemudian tangannyapun bergerak mengetuk
pintu rumah itu. "Siapa?" terdengar seseorang menyapa dari dalam.
Tetapi suara itu bukan suara Pamot. Meskipun demikian Lamat sudah
tidak dapat mundur lagi. Waktunya sudah menjadi terlampau sempit.
"Aku" jawabnya. Kemudian perlahan-lahan pintu rumah itu terbuka.
Ketika ayah Pamot yang membuka pintu itu melihat, siapa yang berada
di luar, terasa dadanya seolah-olah berguncang. Lamat. Sejenak ia
berdiam diri sambil memandangi raksasa yang berdiri tegak di dalam
keremangan malam. Namun dalam pada itu keringat dingin telah
membasahi seluruh tubuhnya. "Siapa yang di luar" bertanya ibu Pamot.
Suaminya tidak segera menjawab. Bahkan selangkah ia surut. Ia
mengerti betul bahwa Lamat adalah pembantu setia Manguri yang sangat
ditakuti orang. Ia mempunyai kekuatan seperti seekor gajah. Ayah
Pamot itu semakin tergetar hatinya ketika ia mendengar Lamat
bertanya "Dimanakah Pamot?" Sejenak ia tidak menjawab. Dan isterinya
bertanya sekali lagi "Siapa yang di luar ?" Ayah Pamot tidak
menjawab. Ia tidak menjawab pertanyaan istrinya, dan tidak menjawab
pertanyaan Lamat. Namun dalam pada itu, Pamot yang ada di ruang
dalam mendengar pembicaraan mereka. Karena itu, maka iapun segera
mendatanginya. Tetapi ia terkejut ketika begitu ia muncul ayahnya
hampir berteriak berkata kepadanya "Pergi, pergi kau Pamot" "Kenapa
?" "Pergi kau" Tetapi Pamot masih berdiri di tempatnya. Ia mencoba
melihat siapakah yang berdiri di luar pintu, yang telah membuat
ayahnya ketakutan. Namun sebelum Pamot berhasil mengenal orang itu,
terdengar suara di luar pintu "Aku, Pamot, Lamat" "O, kau. Masuklah"
"Pamot " ayahnya menahannya ketika ia mendekati pintu. "Ia tidak
apa-apa ayah. Lamat orang yang baik" "Tetapi" desis ayahnya.
"Biarlah ia masuk" Ayahnya tidak dapat mencegahnya lagi. Ibunya
terkejut pula ketika dari balik pintu muncul seseorang yang tinggi
besar dan berkepala botak. "Maafkah aku" berkata Lamat "barangkali
aku sudah mengejutkan kalian" Ayah dan ibu Pamot tidak menjawab.
Kakek Pamot yang kemudian datang pula keruang itu menjadi
bertanyaannya di dalam hati. "Aku hanya sebentar Pamot" berkata
Lamat kemudian "apakah kau akan pergi ke sawah malam ini" "Ya" Pamot
menganggukkan kepalanya tanpa ragu-ragu. "Baiklah. Aku bersama
Manguri akan mengintai, apakah kau ada di gubugmu atau tidak"
berkata Lamat selanjutnya "tetapi untuk besok malam, kau benar-benar
akan diintai oleh bahaya. Manguri telah menyewa lima orang untuk
menangkapmu" "He" Pamot membelalakkan matanya, sedang orang tuanya
menjadi pucat. "Hem" Pamot kemudian menggeram "ia benar-benar
mendendamku. Tetapi apaboleh buat" "Kau harus berhati-hati Pamot.
Lima orang yang disilaukan oleh uang itu dapat berbuat apa saja di
luar sadar mereka" "Terima kasih. Aku akan berhati-hati" "Sudahlah.
Aku harus segera berada di rumah. Nanti menjelang tengah malam aku
akan pergi bersama Manguri, melihat apakah kau berada di
dalamgubugmu itu" "Baiklah. Aku akan berada di sana. Dan besukpun
aku akan berada di sana pula" "Pamot " berkata Lamat "menghadapi
kelima orang itu kau jangan menuruti perasaanmu saja. Kau harus mau
melihat kenyataan, bahwa kau tidak akan dapat melawan mereka.
Sependengaranku, kau akan ditangkap dan dibawa ke lumbung di
belakang rumah Manguri. Manguri sendirilah yang akan mengurusmu
kelak. Aku tidak begitu tahu, apakah yang akan dilakukannya" Pamot
menggeretakkan giginya., "Ingat, jangan kau biarkan perasaanmu
bergejolak tanpa kendali. Kau tidak akan dapat menghindari
kenyataan. Kau akan menyesal kalau kau tidak mencari jalan keluar
dari kesulitan itu" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya "Terima
kasih Lamat" Dan Lamatpun kemudian segera minta diri, meninggalkan
seisi rumah yang keheran-heranan. "Aku tidak mengerti" desah ayah
Pamot "apakah kau t idak mengenalnya?" "Tentu, aku mengenalnya
dengan baik" "Bukankah aku tidak salah lihat, bahwa orang itu adalah
Lamat pembantu keluarga Manguri?" "Ya, bukankah ia telah menyebut
namanya pula?" "Tetapi, tetapi aku tidak tahu apa yang kalian
bicarakan" ayah Pamot masih bingung "menurut pendengaranku ia justru
memberimu peringatan bahwa kau terancam bahaya" "Ya ayah" jawab
Pamot. "Aku menjadi bingung. Aku kira ia akan menyeretmu keluar dan
memukulmu sampai pingsan. Wajahnya yang bengis tetapi bodoh itu
benar-benar meyakinkan bahwa ia adalah seekor kerbau yang telah
dicocok hidungnya" "Tetapi dugaan itu ternyata meleset. Akupun
semula menduganya demikian pula. Aku kira ia adalah seorang kejam
yang bodoh., Namun ternyata sebaliknya. Hatinya lunak dan bahkan
perasa. Ia sama sekali bukan seorang yang bodoh. Ia dapat menasehati
aku dan memberi arah jalan keluar" "Aku tidak menyangka. Selama ini
Lamat adalah sesosok hantu raksasa bagi orang-orang Gemulung dan
hampir di seluruh Kademangan Kepandak. Bahkan orang-orang Mangirpun
menyebut-nyebut namanya, sampai orang-orang di pesisir Selatan" "Aku
tidak tahu, kenapa kali ini ia bersikap lain" "Tetapi apakah kau
dapat mempercayainya?" bertanya ayahnya tiba-tiba. Pamot termenung
sejenak. Namun kemudian ia mengangguk "Aku mempercayainya. Kalau ia
ingin berbuat jahat, maka ia pasti sudah melakukannya" Ayah Pamot
tidak segera menjawab. "Ia telah melanggar perintah Manguri untuk
melakukan pembalasan. Aku memang tidak mengatakan kepada keluarga di
rumah ini sebelumnya, bahwa aku telah salah pahampula" Orang tua
Pamot dan kakeknya semakin terheran-heran. Apalagi ketika mereka
mendengar Pamot menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi,
ketika pipinya menjadi bengkak. "Kau berdusta saat itu Pamot?"
bertanya ayahnya. "Ya ayah" Jawabnya "Aku bingung, bagaimana aku
harus mengatakannya. Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian katanya "Kalau kau dapat mempercayainya, maka kau
benarbenar harus berhati-hati besok malam. Manguri yang hatinya
masih dibakar oleh kekalahannya itu telah menyewa lima orang yang
menurut Lamat tidak akan dapat kau lawan. Kalau begitu sebaiknya kau
telah berada di rumah saja. Tetapi Pamot menggelengkan kepalanya
"Tidak ayah. Aku akan mencari jalan lain. Tetapi tidak tetap tinggal
di rumah seperti perempuan yang takut mendengar suara anjing
menggonggong" "Bukan begitu Pamot, Lamat sudah mengatakan kepadamu,
bahwa kau harus melihat kenyataan. Kau tidak akan dapat melawan
mereka" "Ya. Aku memang harus mencari jalan keluar. Dan aku akan
berusaha" "Tetapi kau jangan menuruti perasaanmu saja Pamot. Aku
ikut menjadi cemas" berkata ibunya "kalau kau masih anakanak, aku
akan mendukungmu kemana aku pergi. Tetapi kau sekarang hampir t idak
dapat disentuh ujung kainmu" "Ibu jangan cemas. Aku akan
berhati-hati. Tetapi tidak sepantasnya anak seperti Manguri itu
dibiarkan untuk berbuat sesuka hatinya" "Ia mempunyai uang Pamot"
"Tidak selalu bahwa uang itu mempunyai nilai yang paling tinggi di
dalampergaulan hidup ini" Ibunya yang berkaca-kaca akhirnya berkata
"Aku hanya mengharap kau selamat. Tidak lebih dari itu" Pamot tidak
menjawab lagi. Kepalanya tertunduk dalamdalam. Tetapi ia sama sekali
tidak berhasrat untuk bersembunyi dimanapun. "Kau sudah cukup dewasa
Pamot" kakeknyalah yang kemudian berbicara "kau dapat membuat
pertimbanganpertimbangan yang waras. Tidak terlalu dibumbui oleh
darah mudamu seperti Manguri" "Ya kakek" "Aku percaya kepadamu"
Pamotpun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kepercayaan kakeknya
itu justru menumbuhkan kesungguhan kepadanya. Bahwa ia memang bukan
anak-anak lagi. "Biarlah ia mencari jalan" berkata kakeknya kemudian
kepada kedua orang tua Pamot "sebenarnya aku memang lebih senang
melihat ia berhasil membebaskan dirinya secara jantan. Tidak dengan
menyembunyikan diri. Sebab dengan demikian, Manguri pasti masih akan
mencarinya, sehingga persoalannya sebenarnya masih belumselesai"
Ayah Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ibunya diam saja.
"Aku tahu, bahwa kalian sangat cemas akan nasib anakmu, karena
kebetulan bahwa ia berselisih dengan Manguri. Memang Manguri
mempunyai harta dan kekayaan untuk mendapat kawan., Tetapi Pamotpun
mempunyai kelebihan yang lain. Ia memang mempunyai kawan yang
sebenarnya kawan" Pamot mengangkat wajahnya. Memang sudah terkilas
di kepalanya, bahwa ia akan menghubungi beberapa kawan dekatnya.
Kawan yang setiap kali bersama-sama pergi ke kademangan. "Mereka
pasti bersedia membantu aku" kata Pamot di dalam hatinya "Mereka
akan ikhlas berbuat apapun tanpa upah seperti yang dilakukan oleh
Manguri. Orang-orang upahan akan segera meninggalkan majikannya
apabila ada orang lain yang mengupahnya lebih banyak lagi. Hubungan
diantara mereka tidak ubahnya seperti hubungan jual belu saja. Yang
satu memberikan jasa, yang lain membayarnya" "Nah, sekarang biarlah
Pamot mempersiapkan dirinya" berkata kakeknya yang sudah tua itu
"sebentar lagi kau akan ke sawah melihat air" "Tetapi" potong
ibunya. "Tidak apa-apa. Akupun akhirnya percaya, bahwa Lamat berkata
dengan jujur" Ibunya tidak mencegahnya lagi, sedang ayahnya duduk
saja termangu-mangu. Namun sebenarnya iapun mulai dapat mempercayai,
bahwa Lamat tidak akan menjerumuskan anaknya ke dalam bencana. Kalau
ia ingin melakukannya, maka kesempatan itu telah pernah dimilikinya.
"Sekarang, kalian dapat tidur dengan tenang. Setidaktidaknya malam
nant i tidak akan terjadi sesuatu atas Pamot, meskipun itu bukan
berarti bahwa ia dapat berbuat sesuka hatinya. Ia tetap harus
berhati-hati dan bersiaga. Segala kemungkinan memang dapat terjadi
karena sifat Manguri itu sendiri" berkata kakek Pamot. Kemudian "Aku
memang lebih senang melihat anak-anak muda yang berani. Tetapi itu
hanya karena pengaruh hidupku di masa muda dahulu. Pada masa
anak-anak muda itu dapat dikekang lagi. Begitu Mataram berdiri, kami
langsung ikut berjuang menegakkannya. Tetapi kemudian kami
kehilangan sasaran ketika Mataram sudah t idak diguncang-guncang
lagi. Akibatnya memang tidak menyenangkan" Orang tua itu agaknya
merasakan kerinduan yang mendalam kepada masa mudanya, masa yang
memberinya kebanggaan. "Tetapi sekarang harus sudah lain. Sekarang
Mataram memang sedang memerlukan tenaga anak-anak mudanya. Bukankah
Pamot setiap kali harus pergi ke Kademangan? Disana ia menerima
latihan-latihan yang perlu, apabila setiap saat Mataram
memanggilnya. Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikian juga
kedua orang tuanya. "Nah, pergilah Pamot. Tetapi kau jangan menjadi
besar kepala, karena kepalamu itu masih dapat juga dibeli dengan
uang Manguri" Pamotpun kemudian berdiri. Kini ia tidak saja membawa
sabit, tetapi diselipkannya goloknya di pinggangnya. "Kau
bersenjata" bertanya ayahnya. Pamot mengangguk. Kakeknya kengerutkan
keningnya sejenak. Tetapi katanya kemudian "Sebenarnya senjata tidak
selalu membuat kau menjadi lebih aman. Ada dua kemungkinan yang
dapat terjadi. Kau menjadi liar karena kau merasa kuat, sehingga
akhirnya kau terperosok ke dalam suatu tindakan yang tidak kau
harapkan. Misalnya, tidak dengan sengaja kau telah melakukan
pembunuhan. Atau kemungkinan yang lain, senjata itu telah membakar
hati lawan-lawanmu dan memancing senjata-senjata mereka keluar dari
wrangkanya. Kau mengerti maksudku?" Pamot mengangguk "Ya kakek"
"Apa" "Aku dapat membunuh atau dibunuh karenanya" "Nah
pertimbangkan" "Tetapi kalau lawan-lawanku bersenjata dan aku t idak
bersenjata sama sekali, maka aku tidak akan dapat melawan mereka"
-
Jilid 2 "MESKIPUN demikian, mereka
tidak akan dengan serta merta membunuh kau" Pamot mengerutkan
keningnya. Ia memang dapat mengerti maksud kakeknya. Tetapi apakah
orang-orang yang membayanginya itu mempunyai
pertimbangan-pertimbangan yang waras. Kakeknya melihat keragu-raguan
di wajah Pamot, sehingga ia merasa perlu menjelaskan "Pamot,
perkelahian bersenjata selamanya selalu mencemaskan. Kalau kau kalah
kau akan dikubur, tetapi kalau kau menang, maka dengan banyak cara,
orang kaya itu dapat menyeretmu ke dalam hukuman yang berat" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik. Aku tidak akan membawa
senjata" Ketika Pamot meletakkan goloknya, ayahnyalah yang bertanya
"Apakah memang demikian seharusnya?" "Begitulah menurut
pertimbanganku" Ayah Pamotpun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia berkata "kau pergi dengan aku Pamot" "Jangan ayah" pinta
Pamot "Aku ingin agar mereka mempunyai kesan bahwa aku memang selalu
seorang diri di gubug itu" Ayahnya mengerutkan keningnya "Tetapi
kalau terjadi sesuatu atasmu, aku bukan sekedar penonton Pamot"
"Malam ini pasti tidak ayah" jawab Pamot. Ayahnya termangu-mangu
sejenak. Tetapi kemudian ia mengangguk "Baiklah. Tetapi kalau pada
saatnya kau belum kembali, aku terpaksa pergi. Aku tau, persoalan
ini adalah persoalan anak-anak. Tetapi Manguri telah memanfaatkan
kekayaan ayahnya. Sedang yang dapat aku berikan kepadamu Pamot,
adalah sekedar tenagaku" Pamot menundukkan kepalanya. Ia justru
terdiam sejenak. Dengan nada yang datar iapun kemudian berkata
"Maafkan ayah, ibu dan kakek. Aku sama sekali tidak bermaksud
membuat ayah, ibu dan kakek menjadi gelisah" "Aku tahu" jawab
ayahnya "tetapi yang sudah terlanjur terjadi ini akan
berkepanjangan. Pada suatu saat memang diperlukan penyelsaian yang
tuntas" Pamot mengangguk-angguk. "Sudahlah" berkata kakeknya
"berangkatlah" "Baik kakek" jawab Pamot. Anak muda itupun kemudian
minta diri kepada kedua orang tuanya beserta kakeknya,. Meskipun
hampir setiap malam ia melakukan pekerjaan ini tanpa ada persoalan
apapun, namun kali ini Pamot seolah-olah sedang bersiap untuk
berangkat kemedan perang. Dengan hati yang berdebar-debar orang
tuanya dan kakeknya melepaskannya. Sejenak kemudian Pamotpun telah
menyusup ke dalam gelap. Melintasi halaman dan berjalan menyusur
jalan pedukuhan. Jalan yang sudah setiap hari dilaluinya. Tetapi
rasa-rasanya jalan ini seperti menjadi bertambah panjang.
Langkah-langkahnya serasa menjadi terlampau pendek atau kakinya
memang gemetar?. Namun Pamot berjalan terus. Di tangannya tergenggam
sebilah sabit. Hanya itu. Senjata yang selalu dibawanya ke sawah dan
ke pategalan. Kadang-kadanga ia memang harus memotong kayu dan
membelahnya sama sekali. Kalau ia sengaja pergi menebang kayu maka
ia selalu membawa sebuah kapak yang besar. Tetapi sudah tentu tidak
di malam hari, sehingga karena itu maka Pamot tidak dapat membawa
kapak, meskipun kapak merupakan senjata yang lebih baik dari hanya
sebuah sabit. Ternyata bagaimanapun juga ia mencoba memahami pesan
kakeknya, namun Pamot pasti akan merasa dirinya lebih aman apabila
ia bersenjata, bukan sekedar sebuah sabit. Tetapi dengan sebuah
sabit, masih juga lebih baik daripada ia sama sekali t idak
bersenjata apapun. Namun agaknya apa yang dikatakan oleh Lamat
memang benar. Malam itu t idak ada apa-apa terjadi. Ketika ia duduk
memeluk lututnya justru di bawah gubugnya yang berkaki agak tinggi,
ia melihat dua orang berjalan di pematang sawahnya. Seorang yang
bertubuh tinggi besar sedangkan yang lain anak muda sebayanya.
"Manguri dan Lamat" desis Pamot. Tetapi Pamot itupun menjadi
berdebar-debar ketika keduanya berhenti beberapa langkah dari
gubugnya. Manguri mencoba memandangi gubug itu tajam-tajam. Tetapi
ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Pamot duduk di pematang justru
di bawah gubug yang kegelapan. Tiba-tiba tanpa di-sangka-sangka
Manguri justru menanggilnya. "Pamot, Pamot" Pamot menarik nafas
dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdiri dan keluar dari bawah
gubugnya sambil terbungkukbungkuk. "Kau mencari aku Manguri" "O"
Manguri agak terkejut "Kenapa kau bersembunyi?" "Aku tidak
bersembunyi. Aku sedang melihat tinggi air di sawahku" Manguri
tertawa "Benar begitu?" "Apa gunanya aku menipumu?" "Aku sangka kau
sudah menjadi seorang pengecut sehingga kau sudah tidak berani lagi
berada di atas gubugmu" "Apa yang aku takuti?" "Bagaimana kalau
sekarang Lamat sekali lagi meremukkan tulang kepalamu? Kau pasti t
idak akan dapat lari lagi. Kalau kami berdua berkelahi bersama-sama
maka kau dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atasmu" "Jangan
menghina" potong Pamot "apakah kalian ingin mencoba?" Manguri
tertawa. Benar-benar menyakitkan hati. "Kau memang terlampau
sombong. Tetapi aku sekali-sekali memang ingin melihat kepalamu
retak. Apakah kau mau mencoba?" Lamatlah yang menjadi
berdebar-debar. Kalau Pamot t idak dapat mengendalikan diri, maka
keadaan akan menjadi lain dari rencana semula. Mungkin mereka akan
terlibat dalam perkelahian yang sulit. Dan ternyata Pamotpun
menjawab "Apaboleh buat. Begitukah yang kau inginkan" Suara tertawa
Manguri tiba-tiba terputus. Dipandanginya wajah Lamat. Namun
kemudian ia berkata "Kita tinggalkan saja anak gila itu. Jangan
layani" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat
Manguri sudah melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, maka
Lamatpun segera mengikutinya pula. Ketika ia berpaling, dilihatnya
Pamot masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Lamat menjadi heran
ketika ia melihat Manguri tiba-tiba berhenti, sehingga hampir saja
ia melanggarnya. "Kenapa" tanpa sesadarnya ia bertanya. Manguri
tidak mengacuhkannya. Tetapi ia berkata kepada Pamot dibarengi
dengan suara tertawanya yang serasa menusuk-nusuk jantung "kau tidak
perlu menjadi demikian ketakutan dan bersembunyi di bawah gugubmu
anak manis. Kau lihat, bahwa kami bukan harimau-harimau kelaparan
yang siap menerkammu. Besok kau akan berjalan lewat pematang sawahmu
ini pula, untuk melihat, apakah kau juga masih bersembunyi di bawah
gubugmu" Manguri tidak menunggu jawaban Pamot. Suara tertawanya
tiba-tiba meninggi. Namun kemudian hilang di telan sepinya malam.
Lamat berjalan dengan patuh di belakang Manguri ketika ia
meninggalkan sawah keluarga Pamot itu. Sekali-sekali masih terdengar
Manguri tertawa kecil. Namun kemudian katanya "Anak yang sombong itu
besok pasti akan datang lagi. Biarlah ia merasakan, bahwa ia tidak
dapat bermain-main sekehendak hatinya dengan Manguri,. Besok ia akan
ditangkap dan dibawa ke lumbung yang sudah tidak penuh lagi itu. Aku
akan memaksanya berjanji untuk menjauhi Sindangsari. Setelah itu,
baru aku akan mencari cara untuk menjerat burung liar itu" Lamat
sama sekali tidak menjawab. Ia berjalan saja dengan kepala menunduk.
Ikat kepalanya, yang membelit saja tanpa menutupi botaknya itu,
berjuntai hampir sampai ke pundaknya. Sepeninggal Manguri dan Lamat,
Pamot menarik nafas dalam-dalam. Begitulah cara Manguri mengintai.
Ia sama sekali tidak bersembunyi di balik tanaman, atau di balik
batang-batang jarak di pojok-pojok sawah. Tetapi ia datang dengan
dada tengadah, dan bahkan memanggil manggil namanya. Pamotpun
kemudian naik ke gubugnya perlahan-lahan. Kini ia sudah dapat
beristirahat, justru setelah ia tahu, Manguri telah mendatanginya.
Ia sadar, bahwa Manguri sengaja mengelitik harga dirinya, supaya
besok ia benar-benar datang ke gubugnya. "Hem, ternyata Lamat
berkata sebenarnya" Pamotpun kemudian merebahkan dirinya di atas
galar yang kering, dialasi oleh selembar tikar yang kasar.
Perlahan-lahan silirnya angin telah membelai keningnya, sehingga
tanpa disadarinya, anak muda itupun akhirnya tertidur betapa ia
mencoba untuk tidak lengah sekejappun. Pamot terkejut ketika ia
mendengar derit di tangga gubugnya, sehingga gubugnya yang kecil itu
berguncang. Dengan serta-merta ia bangkit sambil menyambar sabit di
sampingnya. Namun ternyata bahwa sinar kemerah-merahan di timur
telah menyilaukannya. "Pamot " ia mendengar seseorang memanggil.
Kemudian sebuah kepala tersembul di hadapannya. Kepala ayahnya.
Pamot menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia terhenyak duduk
kembali. Sambil meletakkan sabitnya ia berkata "Ayah mengejutkan
aku" "Kau mencemaskan seluruh keluarga di rumah. Kau t idak kembali
pada saatnya" "Aku tertidur ayah" "Anak dungu" ayahnya mengumpat
"kami yang di rumah tidak sekejappun dapat tidur. Kau tidur mendekur
disini sampai matahari hampir terbit" Pamot menundukkan kepalanya.
Tetapi ia tersenyum. Ia beringsut ketika ayahnya duduk di
sampingnya. Diletakkannya paculnya di sudut gubugnya yang kecil itu.
"Tidak terjadi sesuatu apapun ayah" berkata Pamot. "Kau mengetahui
bahwa tidak terjadi sesuatu. Tetapi kami tidak" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku tertidur disini" "Kau
lengah Pamot. Kalau selagi kau tidur terjadi sesuatu atasmu, maka
kesalahan terbesar terletak padamu sendiri" "Tetapi aku tertidur
setelah aku merasa, bahwa tidak akan terjadi sesuatu" "Bagaimana kau
tahu?" "Setelah Lamat mengantarkan Manguri datang kemari" "Mereka
datang?" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Diceriterakannya
tentang Manguri dan Lamat yang lewat di pematang sawahnya sambil
menyindir-nyindirnya. Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya "Kalau
begitu malam nanti agaknya Manguri benar-benar mengharap kau berada
di gubug ini Pamot" "Ya ayah. Aku akan memenuhi keinginannya itu"
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam "kau terlalu dikuasai oleh
perasaanmu. Perasaan seorang anak muda" "Tidak ayah. Aku akan
membuat perhitungan sebaikbaiknya supaya aku tidak terjebak
karenanya" "Perhitunganmu adalah perhitungan yang terlampau
dipengaruhi oleh sifat-sifatmu" Pamot mengerutkan keningnya.
Terdengar ia berkata lirih "Aku akan mencoba untuk lebih dewasa
berpikir ayah" Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia berkata lirih "Aku sadar, bahwa pada suatu saat yang
tua-tua inipun tidak akan dapat tinggal diam. Aku lebih senang kalau
kau tidak terlibat dalam persoalan semacam ini, apalagi dengan
Manguri. Tetapi karena masalahnya sudah terlanjur, apaboleh buat"
Pamot tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.
"Pulanglah. Ibumu dan kakekmu menunggu. Mereka sama sekali t idak t
idur sekejappun" "Baik ayah" Pamotpun kemudian turun dari gubugnya,
menjinjing sabitnya dan berjalan pulang. Di sepanjang jalan ia
berusaha untuk mencari jalan agar ia terhindar dari malapetaka
tetapi tanpa menyembunyikan diri di rumah atau dimanapun. "Aku bukan
pengecut" desisnya. Langkah Pamot tiba-tiba terhenti ketika ia
melihat seseorang berjalan sambil berkerudung kain panjangnya.
Sejenak ia berpikir dan sejenak kemudian iapun melangkah semakin
cepat memotong jalan orang itu, lewat pematangpematang yang membujur
lintang diantara tanaman-tanaman di sawah. "Punta" Pamot memanggil.
Yang dipanggil itupun kemudian berhenti. Seorang anak muda sebaya
dengan Pamot. Tetapi anak itu agak lebih pendek, namun tampaklah
otot-ototnya menjelu-juri seluruh tubuhnya. "He, kau dari sawah?"
bertanya Punta. Pamot mengangguk "Dari mana kau?" "Dari Kademangan.
Bukankah malam ini aku mendapat giliran ronda?" Pamot
mengingat-ingat "O, ya Aku masih tiga hari lagi" Punta
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Punta" berkata Pamot
sungguh-sungguh "apakah kau mau menolong aku?" Punta mengerutkan
keningnya "Apakah kau mempunyai kesulitan? "Kau pasti sudah
mendengar" jawab Pamot. "Persoalanmu dengan Manguri?" "Ya" Pamot
menganggukkan kepalanya. Punta menarik nafas dalam-dalam. Sambil
menganggukanggukkan kepalanya ia berkata "Pamot. Aku adalah kawanmu
yang dekat, seperti beberapa kawan yang lain. Tetapi untuk
mencampuri persoalanmu secara langsung, kami agak berkeberatan.
Dengan demikian persoalan yang seharusnya semakin lama menjadi
semakin padam, justru akan menjadi sebaliknya. Aku membantumu, dan
Manguri akan mencari kawan-kawan pula. Dengan demikian persoalannya
tidak akan dapat selesai" Punta berhenti sejenak "apakah tidak ada
suatu cara yang baik untuk menyelesaikan masalah itu?" "Aku sudah
berusaha melupakannya Punta. Tetapi tiba-tiba aku dihadapkan pada
suatu keharusan untuk melawan. Manguri terlampau tinggi hati untuk
berbicara sebagai seorang kawan. Semalam ia datang ke gubugku di
sawah bersama Lamat. Agaknya ia memang akan membuat persoalan ini
menjadi besar" Punta mengerutkan keningnya "Apa yang akan
dilakukannya?" Pamot ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata
"Punta. Aku akan berkata sebenarnya dan apa yang ada. Terserah
tanggapanmu atas persoalan itu" Pamot berhenti sejenak. Ketika Punta
menganggukkan kepalanya, maka Pamotpun menceriterakan masalahnya
kepada Punta. Punta mengerutkan keningnya. Wajahnya kian lama
menjadi kian tegang. Sehingga akhirnya ia bertanya "kau berkata
sebenarnya? "Sudah aku katakan" jawab Pamot "kau mengenal aku sejak
kanak-kanak. Kau mengenal tabiat dan sifat-sifatku, sehingga
seharusnya kau dapat menebak apakah aku berbohong ataukah aku
berkata sebenarnya" "Pamot " jawab Punta "dalam persoalan
sehari-hari kau memang tidak pernah, atau katakanlah, jarang sekali
berbohong. Tetapi dalam persoalan-persoalan yang khusus, kebiasaan
kadang-kadang tidak berlaku lagi. Seseorang dapat berbuat aneh-aneh,
dan bahkan bertentangan sama sekali dengan kebiasaan dan pandangan
hidupnya sendiri. Apalagi seseorang yang sudah terlanjur terdorong
masuk ke dalam suatu perbuatan. Biasanya ia akan terlalu sulit untuk
menarik diri, meskipun untuk bertahan ia akan mempergunakan caracara
yang ditentang oleh hati nuraninya sendiri" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Terkilas sepintas diangan-angannya
bayangan seorang raksasa botak yang bernama Lamat. "Bukankah
begitu?" bertanya Punta. "Kau benar Punta" jawab Pamot "tetapi
bagaimana aku dapat meyakinkan kau, bahwa aku berkata sebenarnya?"
Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun bertanya "Jadi
bagaimana maksudmu sebenarnya?" "Sudah aku katakan bahwa aku akan
mengatakan yang akan terjadi. Kemudian aku justru mengharap sikapmu"
jawab Pamot "apakah kau menganggap bahwa hal itu sudah wajar, dan
sudah wajar pula untuk dibiarkan tanpa tanggapan apapun, atau sudah
wajar pula bahwa aku harus bersembunyi atau bagaimana?" Punta
menepuk bahu Pamot sambil tersenyum. Katanya "Baik Pamot. Kau
berhasil memaksa aku menurut caramu untuk melibatkan diri dalam
persoalan ini" berkata Punta kemudian "tetapi aku tidak akan
bersikap mutlak. Aku akan melihat perkembangan keadaan. Seandainya
ada perbedaan antara ceriteramu dengan apa yang akan terjadi, aku
dapat melakukan tindakan-t indakan darurat" "Sudah aku katakan,
terserah kepadamu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Memang,
agaknya kau tidak sedang bermain-main. Baiklah. Aku akan membantumu"
"Ingat, Manguri akan membawa lima orang kawankawannya "Pamot
berdesis, namun segera disusulinya "Bukan. Sama sekali bukan
kawan-kawannya, tetapi orang-orang upahannya" Punta
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya "Pamot, apa yang
akan kau lakukan seandainya kau tidak menjumpai aku pagi ini?" Pamot
mengerutkan keningnya. Katanya "Pada dasarnya aku memang akan minta
bantuan kepada kawan-kawanku. Tetapi seandainya aku tidak menemuimu
disini, mungkin aku akan langsung menghubungi pemimpin kelompok kita
di Kademangan" Punta tersenyum. Katanya "kau sudah benar-benar
kebingungan. Tetapi kau dapat mempercayai aku. Aku tidak akan
ingkar, selagi kau tidak menjerumuskan aku ke dalam kesulitan
sekedar untuk memuaskan hatimu. Maksudku, kaulah yang mencari
perkara. Tetapi selagi kau dalam sikap mempertahankan dirimu dan
kehormatanmu, aku akan membantumu" Pamot mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kemudian ia berdesis "Terima kasih. Apakah aku harus
datang ke rumahmu untuk memberikan penjelasan tentang keadaanku dan
tentang kelima orang itu?" " Aku kira keteranganmu sudah cukup
jelas. Aku akan mencoba menyesuaikan diriku, mengenai tempat dan
waktu. Kalau ada keragu-raguan, biarlah aku datang ke rumahmu. Kalau
aku sudah yakin, maka aku tidak perlu lagi menanyakan sesuatu"
"Terima kasih" "Mudah-mudahan kita berhasil. Sebenarnya akupun tidak
dapat melihat Manguri berbuat sekehendak hatinya lebih lama lagi.
Tetapi sudah tentu aku tidak akan berselisih dengan siapapun tanpa
sebab" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia berkata
"Terima kasih. Aku percaya kepadamu" Keduanyapun kemudian berpisah.
Pamot sudah menjadi agak lega, bahwa ia sudah berhasil menemukan
jalan yang mungkin dapat menghindarkannya dari bencana. Bukan
sekedar bersembunyi dan menunda penyelesaian. Kalau kali ini ia dan
kawan-kawannya berhasil, maka hal itu akan merupakan peringatan bagi
keluarga Manguri" "Tetapi bagaimana kalau Punta gagal?" desisnya
"Kalau Punta tidak dapat mengatasi dan mengalahkan orang-orang
Manguri, maka mereka akan menjadi semakin besar kepala" Kembali
keragu-raguan membayang di hati Pamot. Namun meskipun demikian ia
tidak lagi terombang-ambing dalam keadaan yang tidak menentu. Kalah
atau menang, entahlah. Tetapi kalau ia tidak seorang diri, maka
persoalannya akan. Manguri tidak lain akan dapat berbuat terlampau
banyak terhadap beberapa orang sekaligus. Ketika ia memasuki halaman
rumahnya, matahari sudah menjenguk dari balik perbukitan. Kakeknya
sudah mulai menyapu halaman dan ibunya sudah sibuk menuang air panas
ke dalam mangkuk. Ketika mereka melihat Pamot pulang, dengan serta
merta merekapun segera menyongsongnya. "Bagaimana dengan kau Pamot?"
bertanya kakeknya. "Lamat berkata sebenarnya, kakek. Tidak ada
apa-apa yang terjadi atasku" "Tetapi kenapa kau jauh terlambat
pulang? Apakah kau tidak bertemu dengan ayahmu" "Ketika ayah sampai
ke gubug, aku masih ada disana. Agaknya aku tertidur semalam" "Hem"
kakeknya menarik nafas dalam-dalam "dalam keadaan serupa itu kau
masih juga dapat tidur. Bukan main. Kamilah yang semalam selalu
gelisah. Kalau aku tahu, akulah yang menyusul kau ke sawah. Aku ikat
kaki dan tanganmu dengan tiang-tiang gubug" Pamot tidak menjawab.
Tetapi ia tersenyum di dalam hati. Namun dengan demikian ia kini
menyadari, bahwa seluruh keluarga telah ikut menjadi gelisah karena
pokalnya. Ayahnya, ibunya dan kakeknya yang sudah tua itupun
mencemaskannya. Bahkan semalam suntuk mereka sama sekali t idak
tertidur. "Aku telah membuat mereka selalu gelisah" katanya di dalam
hati. Tetapi sudah tentu Pamot tidak dapat berbuat lain. Ia masih
tetap merasa sebagai seorang anak laki-laki yang tidak boleh
melarikan diri dari kesulitan. "Minumlah" berkata ibunya kemudian.
Pamotpun kemudian masuk keruang dalam dan duduk di atas sebuah amben
besar. Sambil menyeka keringat dinginnya yang mengalir karena
berbagai masalah yang bergejolak di dalam dadanya, ia melepaskan
ikat kepalanya. Kemudian menggantungkannya pada dinding di sebelah
pintu masuk ke dalam bilik kiri. Sambil bertelekan pada lambungnya
ia menggeliat. "Kalau kau akan mencuci muka, pergilah kesumur lebih
dahulu" berkata ibunya. "Baik bu" jawab Pamot sambil mengangguk.
Ibunya ternyata begitu banyak menaruh perhatian kepadanya. Hal itu
sudah berjalan bertahun-tahun sejak ia masih kanak-kanak masih bayi
dan bahkan sejak di dalam kandungan. Tetapi dalam keadaan yang
demikian, kecemasan seorang ibu menjadi semakin terasa. Bahkan
mungkin kegelisahan ibunya melampaui kegelisahannya sendiri.
Pamotpun kemudian pergi kesumur membersihkan dirinya. Ia tidak
melupakan tanaman sirihnya. Disiramnya batangbatang sirih itu dengan
beberapa timba air yang dialirkannya lewat sebuah parit kecil.
Setelah minum beberapa teguk air hangat, Pamot tidak melewatkan
tugas-tugasnya di rumah. Membersihkan kebun belakang, kandang kerbau
dan mengisi tempat air di dapur. "Beristirahatlah" berkata ibunya
"kau tentu lelah" Pamot mengerutkan keningnya. Setiap malam ia pergi
ke sawah. Setiap malam ia melakukan pekerjaan serupa, bahkan
kadang-kadang ia sama sekali tidak tidur menunggui air. Di pagi
harinya kerja yang itu-itu juga yang dilakukannya. Bahkan
kadang-kadang membelah kayu. Tetapi kini tiba-tiba ibunya
menyusurnya beristirahat. Karena itu, maka Jawabnya "Aku t idak
lelah ibu" Ibunya tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah
anaknya. Wajah itu sama sekali tidak membayangkan kecemasan,
kegelisahan dan kelelahan, karena Pamot memang berusaha untuk
menyembunyikannya di hadapan ibunya. "Ibulah yang agaknya lelah"
berkata Pamot kemudian "bukankah aku sudah biasa melakukan pekerjaan
ini. Bahkan semakin aku dapat tidur di atas gubug" Ibunya menjadi
heran pula. Kenapa tiba-tiba ia menganggap anaknya menjadi terlampau
sibuk dan banyak sekali membuang tenaga. "Pamot benar" katanya di
dalam hati "Aku sendirilah yang kebetulan lelah sekali. Lelah,
gelisah, dan cemas" Hari itu Pamot sama sekali tidak menunjukkan
tanda-tanda yang aneh. Ia melakukan pekerjaannya sehari-hari seperti
biasanya. Di siang hari ia masih juga pergi ke pategalan membawa
sebuah kapak untuk mencari kayu bakar. Tetapi tidak setahu
keluarganya, ketika ia pulang dari pategalan ia memerlukan singgah
juga ke rumah Punta. "Bagaimana Punta?" bertanya Pamot" "Darimana
kau?" bertanya Punta pula. "Dari pategalan" "Jangan cemas. Aku sudah
berusaha. Mudah-mudahan usahaku berhasil" "Terima kasih" "Aku akan
berada di tempat yang baik. Aku akan datang jauh sebelumsaat yang
kita duga itu" "Terima kasih" Pamot merasa menjadi semakin ringan.
Beban yang menghimpit jantungnya telah tersalurkan untuk sebagian,
sehingga dadanya tidak lagi terasa seakan-akan pepat. Ketika ia
sampai di rumah, ayahnya telah berada di rumah pula. Sejenak
kemudian merekapun makan bersama-sama. Dan sudah tentu pula mereka
berbicara tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas Pamot,
malamnanti" "Aku sudah menghubungi kawanku" berkata Pamot. "Siapa?"
"Punta" Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya, Katanya "Anak baik.
Aku percaya kepadanya, meskipun keadaannya tidak lebih dari keadaan
keluarga kita" Kakeknyapun mengangguk-anggukkan pula. Katanya
"'Mudah-mudahan ia dapat menolongmu" Semakin sore, ibu Pamot menjadi
semakin gelisah. Meskipun Pamot sendiri dan ayahnya masih juga pergi
ke sawah. Berbagai macam bayangan hilir mudik di kepalanya. Kalau
terjadi sesuatu atas anaknya, maka hatinya pasti akan hancur seperti
mangkuk yang terjatuh di atas batu pualam. "Kakek" berkata Pamot
kepada kakeknya, ketika kakeknya berada di halaman belakang tanpa
ada orang lain "apakah malamnanti aku juga tidak boleh bersenjata?"
Kakeknya mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia berdesis "Pamot,
malam nanti kau akan menghadapi orang orang yang lain dari Manguri
sendiri. Mereka adalah orangorang upahan yang tidak mempergunakan
nalar sama sekali" Pamot mengangguk-angguk. "Mereka hanya sekedar
menjalankan perintah Manguri. Bukankah mereka diperintahkan
menangkap kau hidup-hidup dan membawa ke rumah Manguri?" "Ya" Mereka
tidak akan mempergunakan senjata yang akan dapat membahayakan
nyawamu" "Ya, tetapi aku sendiri bagaimana? Apakah aku boleh membawa
senjata atau tidak?" Sekali lagi kakek itu merenung sambil
mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia menjawab "Baiklah.
Orangorang yang akan kau hadapi adalah orang-orang liar. Mereka
tidak mau gagal, sehingga mereka kehilangan upah yang sudah
dijanjikan" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tahu
benar maksud kata-kata kakeknya. Orang-orang itu menggantungkan
hasil kerjanya pada usaha mereka menangkap Pamot. Kalau mereka
berhasil, mereka akan mendapat upah, kalau tidak, mereka tidak akan
mendapat apa-apa. Jadi dengan demikian, tujuan mereka hanyalah
menangkap Pamot, tanpa menghiraukan apapun juga. "Maka dari itu, kau
harus benar-benar siap menghadapi keadaan" berkata kakeknya pula
"apakah Punta sudah benar benar dapat kau percaya?" "Aku percaya
kek" "Dimana mereka akan menunggu kau?" "Mereka tidak
menyebutkannya. Tetapi mereka akan datang jatuh sebelum saat-saat
yang aku duga itu tiba, tengah malam" "Bagus" berkata kakeknya
"sekarang beristirahatlah. Sebentar lagi hari akan gelap. Kau harus
bersiap-siap untuk pergi. Ibumu pasti tidak akan dapat tidur semalam
suntuk" Pamot menganggukkan kepalanya. Maka sejenak kemudian
Pamotpun segera pergi ke sumur. Setelah membersihkan diri,
sebagaimana biasa setelah matahari terbenam, merekapun duduk di atas
amben yang besar di ruang tengah mengitari makan malam. Tetapi tidak
seorangpun yang dapat makan dengan enaknya. Semuanya sudah mulai
dibayangi oleh kegelisahan tentang keadaan Pamot pada malam yang
sudah mulai meraba pedukuhan Gemulung itu. Namun dengan demikian,
mereka justru tidak terlampau banyak berbicara seperti biasanya.
Pamot menyuapi mulutnya sambil menunduk. Ibunya hampir tidak menelan
nasi sama sekali, sedang ayah dan kakeknya hanya berbicara
satu-satu. Dan pembicaraan mereka itupun berkisar pada keadaan
Pamot, Manguri, Punta dan Lamat. "Kau memang harus berhati-hati
Pamot" desis kakeknya kemudian. Sedang ayahnya menyambung "Kalau
Punta salah hitung, maka keadaan akan sangat berlainan. Dalam
keadaan yang demikian, kau jangan terlampau membiarkan hatimu
berbicara, tetapi otakmu" "Baik ayah" "Nah, sekarang kau masih
mempunyai waktu untuk beristirahat atau melakukan apa-apa yang perlu
buatmu" "Aku akan berangkat agak awal ayah. Mungkin aku memerlukan
sesuatu" "Bagaimana dengan Punta?" kakeknya masih mencoba
menegaskan. "Ia akan datang lebih awal juga" Ayahnya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Kalau hal itu kau
anggap menguntungkan, maka terserahlah kepadamu" "Baiklah ayah"
jawab Pamot "aku akan dapat melihat keadaan sebelumnya " Pamotpun
kemudian mempersiapkan dirinya, meskipun hatinya juga dirayapi oleh
kegelisahan. Ia masih juga cemas, bagaimana kalau Punta tidak dapat
memenuhi janjinya. Tetapi ia memang keras hati. Ia tidak mau surut
selangkah. Apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya. Malam itu
Pamot berangkat jauh sebelum waktu yang biasa dilakukannya. Ia
berjalan berkerudung kain panjangnya untuk menyembunyikan sarung
parangnya yang mencuat di lambung kirinya. "He, kemana kau Pamot?"
bertanya seorang kawannya, seorang anak muda yang bertubuh tinggi
tegap. "Melihat air di sawah" jawab Pamot. "Masih terlalu sore.
Marilah kita duduk-duduk di gardu" "Terima kasih. Nanti, setelah aku
pulang dari sawah, aku akan duduk-duduk di gardu" "Ah kau" berkata
anak muda itu "Kenapa tergesa-gesa?" "Sore tadi aku tidak pergi ke
sawah. Sekarang aku harus menengoknya " "Aku melihat kau pergi
dengan ayahmu" Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia
bergumam "O, ya. Aku lupa. Tetapi sekarang aku perlu sekali"
Kawannya tidak segera menjawab. Dan Pamotpun terdiam sejenak. Ia
menjadi ragu-ragu. Anak muda yang bertubuh tinggi tegap itu adalah
kawannya bermain sejak kecil. Kawan yang baik. Kalau ia
memberitahukan kesulitannya, maka ia pasti akan membantunya seperti
Punta. "Tetapi aku sudah menyerahkan semua persoalan kepada Punta"
berkata Pamot di dalam hatinya "kalau aku masih menghubungi orang
lain, maka aku akan dianggapnya kurang mempercayainya. Akupun,
menurut pendapatku, sudah tidak keliru lagi, karena Punta adalah
tetua, meskipun tidak resmi, dari anak-anak muda gemulung yang
setiap kali ikut pergi ke Kademangan termasuk anak ini" "Maaf" Pamot
kemudian berkata "lain kali kita bermainmain. Sekarang aku takut
ayah marah" Pamot menjadi heran ketika ia melihat anak muda yang
bertubuh tinggi itu tertawa "Kau Pamot. Ada-ada saja yang kau
lakukan" "Kenapa?" Pamot menjadi heran. Tiba-tiba saja, tanpa di
sangka-sangka anak muda itu meraba lambung Pamot, sehingga Pamot
terkejut. "Apa yang kau bawa itu? Parang? Golok?" "Hus" Pamot
berdesis. "Aku sudah curiga. Biasanya kau membawa sabit atau cangkul
atau kapak. Tetapi sekarang kau membawa parang di dalam sarungnya.
Kenapa?" Pamot menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia
menjawab "Aku memang sering membawa parang, sejak babi hutan itu
mengganggu tanaman. Bahkan akhir-akhir ini aku mendengar ada seekor
harimau yang berkeliaran di daerah persawahan" Tetapi Pamot menjadi
semakin heran ketika kawannya itu tertawa semakin keras. Katanya
"Baik, baik. Pergilah. Sebentar lagi aku juga akan pergi ke sekitar
sawahmu" "Kenapa?" dada Pamot berdesir. Tetapi anak itu masih saja
tertawa. "Kenapa?" Pamot mendesak. Akhirnya anak muda itu berkata
"Jangan gelisah. Aku tahu semua persoalan yang sedang kau hadapi.
Bukankah kau akan berkelahi? Kau sudah bersiaga dengan senjata itu"
"Kau mimpi" jawab Pamot. "Punta sudah menemui aku. Bukankah kau
harus menghadapi lima orang bayaran yang akan dikirim oleh Manguri?"
Wajah Pamot menjadi tegang. Tetapi anak muda itu masih tertawa juga
"Aku adalah salah seorang dari kawan-kawan kita yang akan pergi
bersama Punta" Kini Pamot menarik nafas dalam. Sambil memukul lengan
kawannya yang tinggi besar itu ia berdesis "Kau membuat aku hampir
gila" katanya "terima kasih. Mudah-mudahan kita berhasil" "Aku
memang sudah muak pula melihat tingkah laku Manguri. Kadang-kadang
aku memang menunggu, kapan aku mendapat kesempatan serupa ini tanpa
memulainya. Kini kita tidak akan dapat dipersalahkan oleh siapapun,
karena kita memang membela diri. Setidak-tidaknya kau sedang membela
dirimu" "Terima kasih. Aku memang mengharap bantuan kalian. Aku
tidak dapat melawannya seorang diri. Manguri mempunyai uang untuk
melakukan apa saja. Tetapi aku mempunyai kawan" Anak yang tinggi
tegap itu masih saja tertawa "Pergilah. Aku akan menyusul kelak"
Pamotpun segera melanjutkan perjalanannya. Kini hatinya menjadi
semakin tenteram. Setidak-tidaknya ia sudah mempunyai dua orang
kawan. Yang tinggi tegap itu beserta Punta sendiri. Bertiga dengan
dirinya sendiri. "Kalau mereka benar-benar hanya berlima, maka tiga
dari kami sudah cukup untuk menghadapinya" desis Pamot di dalam
hatinya. Namun kemudian "Tetapi aku belum tahu, siapakah yang lima
itu?" Di sepanjang jalan Pamot selalu membayangkan apa yang
kira-kira bakal terjadi. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi
gemericik air di parit, di bawah kakinya. Batang-batang jagung muda
yang hijau dan kunang-kunang yang bertebaran seakan-akan tidak
tampak di matanya. Tetapi Pamot menarik nafas dalam-dalam ketika
terasa angin yang silir mengusap wajahnya yang berkeringat. "Hem"
Pamot menarik nafas sekali lagi dan sekali lagi, seakan-akan akan di
hirupnya udara malam di seluruh padang. Sebenarnya Pamot sama sekali
t idak menghendaki hal-hal yang dapat mengguncangkan ketenteraman
hidup rakyat Gemulung. Tetapi apabila tidak ada sikap apapun, maka
yang sudah berjalan itu akan berjalan terus tanpa batas. Khususnya
di lingkungan anak-anak muda dan gadis-gadis. Perbuatan Manguri
benar-benar tidak dapat dibiarkannya. "Tetapi apakah aku sudah
bertindak tepat" bertanya Pamot kepada diri sendiri "Aku seolah-olah
sekedar menuruti perasaan. Kawan-kawan akan terlibat dalam bentrokan
karena hubunganku dengan Sindangsari. Kalau hal itu yang akan
dijadikan sumber dari benturan ini, maka akulah yang telah menyeret
kawan-kawan itu ke dalam kesulitan. Apalagi apabila di antaranya ada
yang cidera" Pamot justru menjadi termangu-mangu. "Tetapi semuanya
sudah terlanjur, "untuk menenteramkan hatinya Pamotpun berkata
kepada diri sendiri "mereka tidak sekedar membantuku. Tetapi mereka
memang berpendirian, bahwa kelakuan Manguri itu sudah tidak pantas
lagi" Pamotpun kemudian menaiki gubugnya jauh sebelum masanya,
seperti yang dilakukannya sehari-hari. Tetapi dengan demikian ia
masih sempat mengatur getar di dadanya. Dari atas gubugnya ia
mencoba melihat-lihat berkeliling. Tetapi ia tidak melihat sesuatu,
selain hitamnya malam dan daun-daun yang hijau gelap menjorok ke
dalamkelam. Tanpa sesadarnya Pamot meraba-raba hulu parangnya.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata kepada diri sendiri
"Aku tidak memulainya" Sementara itu, agak jauh dari padukuhan
Gemulung, di bawah sebatang pohon nyamplung yang besar dan rimbun,
beberapa orang sedang duduk sambil berkelakar. Di antara mereka
terdapat Manguri dikawani oleh Lamat. "Sebentar lagi kalian harus
berangkat ke gubug itu" berkata Manguri "biasanya hampir tengah
malam ia baru datang, Jangan terlalu banyak menimbulkan kegaduhan,
karena kadang-kadang ada juga orang lain yang berkeliaran di
sepanjang pematang menyusur air. Kalian harus bertindak cepat, dan
membawa anak itu malam ini juga ke rumah. Ia harus benar-benar jera.
Bukan saja tidak lagi mengganggu gadis itu, tetapi ia tidak boleh
membuka mulutnya kalau ia ingin selamat" Orang-orang yang duduk di
bawah pohon nyamplung itu mengangguk-angguk. Salah seorang menjawab
"Kau masih saja ragu-ragu. Seharusnya kau sudah mengenal kami dengan
baik" Manguri menggelengkan kepalanya. Jawabnya "Di dalam setiap
persoalan yang baru, aku harus menganggapnya kalian orang-orang
baru. Persoalan kita bukan sekedar persoalan yang dapat diselesaikan
dengan kebiasaan, karena kerja yang kita hadapipun bukan masalah
kebiasaan pula. Orang-orang yang kau hadapi adalah orang-orang yang
berbeda-beda yang kadang-kadang kau belum tahu, sampai dimana
kemampuannya" "Meskipun seandainya anak itu dapat menangkap angin,
kami t idak akan gagal" Manguri mengangguk-anggukan kepalanya
"Mudahmudahan" "Nah, kapan kami harus berangkat?" "Kau dapat saja
berangkat sekarang. Tetapi awas jangan sampai seorangpun yang
mengetahui kehadiran kalian. Kalian akan tampak sebagai orang-orang
asing di padukuhan ini. Kecurigaan yang dapat timbul pasti akan
mengganggu pekerjaanmu" "Baiklah. Kami akan berangkat saja sekarang.
Kamu sudah tahu benar letak gubug yang kau katakan. Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berpalingkepada
Lamat sambil berkata "Apakah kalian memerlukan seorang penunjuk
jalan?" Orang-orang upahan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Merekapun
memandang Lamat dengan wajah bertanya-tanya. Sementara itu, dada
Lamat menjadi berdebar-debar. Kalau ia langsung dilibatkan ke dalam
masalah yang rumit ini, ia pasti tidak akan dapat menghindar lagi.
Bersama-sama dengan kelima orang itu ia tidak akan dapat
berpura-pura. Ia harus ikut bersama mereka menangkap Pamot dan
membawanya ke rumah Manguri. Tetapi setitik embun serasa jatuh ke
dinding jantungnya ketika ia mendengar salah seorang dari kelima
orang itu berkata "Tidak perlu. Kehadirannya akan mengurangi nilai
kerja kami. Seakan-akan tanpa orang lain kami tidak mampu
menyelesaikannya, sehingga tidak akan ada alasan bagimu untuk
memotong upah yang sudah kau janjikan" "Gila" Manguri berdesis "kau
kira aku berpikir sampai kesana?" Kelima orang itu tertawa "Jangan
tersinggung" berkata salah seorang dari mereka "kami pernah
mengalami hal serupa itu" "Tetapi bukan aku" "Ya, bukan kau" "Baik.
Lamat tidak akan menyertai kalian. Tetapi ingat, jangan gagal"
Sekali lagi kelima orang itu tertawa hampir berbareng. Salah seorang
dari mereka menjawab "Kau tampaknya kurang percaya kepada kami"
Manguri tidak menjawab. Dicobanya mengamati kelima orang itu satu
demi satu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata di dalam
hati "Mereka sudah terlampau biasa melakukan pekerjaan ini.
Mudah-mudahan mereka berhasil" Sejenak kemudian maka kelima orang
itupun minta diri. Mereka berjalan menyusur jalan kecil di pinggir
parit sebelum meloncat ke sebuah pematang. "Lamat" desis Manguri
"apakah kau dapat mempercayai mereka, bahwa mereka akan berhasil?
"Sudah tentu" sahut Lamat. "Bohong" tiba-tiba Manguri membentak
"jawab yang sebenarnya. Apakah kelima orang itu lebih kuat dari kau
seorang diri menghadapi Pamot" "Ya, ya" Lamat tergagap "aku kira
mereka pasti lebih kuat daripada aku seorang diri. Mereka dapat
menghadapi lawannya yang hanya seorang itu dari lima arah yang akan
sangat membingungkan" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya "Kalau kau tidak terlampau dungu, aku tidak perlu
mempergunakan orang-orang semacam monyet-monyet itu. Seharusnya kau
dapat memutar leher Pamot. tetapi kau gagal. Mudah-mudahan
orang-orang itu tidak gagal" Lamat tidak menjawab. Wajahnya yang
keras seolah-olah tambah mengeras seperti sebongkah batu asahan.
Namun terasa goresan-goresan yang pedih pada dinding hatinya yang
lunak. Perlahan-lahan kepalanya menunduk-meskipun ia masih tetap
berdiri tegak di atas kakinya yang renggang. Manguri masih berdiri
di tempatnya, memandang ke arah kelima orang upahannya itu
menghilang di balik tanaman. Terbayang orang-orang yang kasar dan
kuat itu mengepung Pamot yang ketakutan. "Huh" tiba-tiba ia bergumam
"salahnya sendiri. Kalau ia tidak membuat persoalan dengan Manguri,
maka tidak akan terjadi bencana baginya" Lamat mengangkat wajahnya.
Di pandanginya saja Manguri yang masih berdiri tegak sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lamat" katanya "bagaimana,
seandainya kau seorang diri harus berkelahi melawan kelimanya?
Apakah kau akan mampu mengalahkannya?" Dada Lamat menjadi
berdebar-debar kembali. Ia tidak tahu maksud itu. Apakah sesudah
mereka menangkap Pamot, kemudian ia harus mengusir kelima orang itu?
"He, apakah kau sudah mati?" bentak Manguri "kenapa kau diamsaja?"
Lamat menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya "Aku belum dapat
mengatakan. Aku belum mengetahui, sampai dimana kemampuan mereka
seorang demi seorang. "Tetapi apakah kau berani melawan mereka
berlima? "Aku tidak pernah takut terhadap apapun dan siapapun.
Tetapi aku tidak dapat mengatakan, apakah aku akan dapat memenangkan
perkelahian itu?" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
"Kau memang berani. Tetapi kau terlampau bodoh. Kau tidak dapat
menangkap Pamot, meskipun kau dapat menyakitinya" Sekali lagi Lamat
menarik nafas. Sudah lebih dari seribu kali Manguri menyebutnya
sebagai seorang yang bodoh karena tidak dapat menangkap Pamot.
Untunglah tidak tersengaja, Pamot telah membentur batu, sehingga
wajahnya menjadi bengkak dan biru pengab. Kalau Manguri tidak
melihat bengkak itu, maka ia akan mengumpatinya setiap saat.
"Marilah kita pulang. Aku mengharap kelimanya berhasil. Menilik
badan mereka yang kekar. Wajah mereka yang keras dan bengis. Mata
yang menyala seperti mata kucing. Dan nafsu yang tidak terkendalikan
untuk mendapatkan uang" Manguri menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
"yang bertubuh jangkung meskipun agak kurus itu memiliki sepasang
mata seperti mata setan. Sedang yang berjambang lebat dan berkumis
jarang itu bagaikan serigala yang kelaparan" Manguri tertawa
berkepanjangan. Sambil mengayunkan kakinya ia berkata di sela-sela
tertawanya "Aku akan melihat, bagaimana Pamot menjadi ketakutan. Aku
akan membuatnya jera. Sebenarnya jera" Dan suara tertawa Manguri
melengking di sepinya malam, di tengah-tengah bulak yang sunyi.
Keduanyapun kemudian berjalan semakin lama semakin cepat, pulang ke
rumah Manguri. Di sudut desa mereka melihat beberapa orang anak-anak
muda yang meronda. Salah seorang dari anak muda itu menyapanya
"Siapa he?" "Buka matamu" jawab Manguri "aku Manguri bersama Lamat"
Anak muda yang bertanya itu serasa tersentuh api di ujung
telinganya. Tiba-tiba saja ia meloncat turun dari gardu. Namun
ketika terpandang wajah Lamat yang kasar, dan matanya yang serasa
akan menelannya, anak muda itu menahan dirinya. "Darimana kau
Manguri?" bertanya anak muda itu. "Itu urusanku" "Biasanya kau tidak
sekasar itu" berkata anak muda yang berada di gardu.
Kawan-kawannyapun satu persatu turun dan berdiri berjajar di muka
gardu. Empat orang. Manguri tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba
terbersit di hatinya, kemungkinan-kemungkinan yang tidak
menyenangkan. Kini ia sedang menghadapi Pamot, yang jauh lebih dekat
pada anak-anak muda itu daripadanya sendiri. Karena itu, maka iapun
kemudian menjawab "aku tergesagesa. Maaf mungkin aku terlampau
kasar" Anak-anak muda yang berdiri di muka gardu itu menarik nafas.
"Aku akan pulang" Tidak seorangpun yang menjawab. Dan tiba-tiba
Manguri bertanya "He, apakah kalian sudah mendapat minum dan
makanan?" Anak-anak muda yang sedang meronda itu saling berpandangan
sesaat. Salah seorang dari mereka menjawab "Nanti, tengah malam"
"Kenapa kalian tidak beli saja gula kelapa dan ketela pohung?
Kemudian merebus air dan ketela sambil duduk mengelilingi perapian"
Tidak seorangpun yang menjawab. "Mungkin kalian memerlukan uang"
Manguri mengambil beberapa keping uang dari saku ikat pinggangnya
"kalian dapat membelinya" Anak-anak muda yang sedang berdiri di muka
gardu itu menjadi termangu-mangu. Namun slah seorang dari mereka
menjawab "Terima kasih Manguri. Tetapi tidak ada penjual gula kelapa
dan pohung yang masih ada di malambegini" "O" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya "Aku akan
mengirimkan dari rumah" "Tengah malam kami sudah mendapatkannya "
"Sebelum tengah malam, agar kalian tidak kedinginan" Manguri tidak
menunggu jawaban anak-anak muda itu. Ia berjalan terus dengan
tergesa-gesa. Di belakangnya Lamat mengayunkan kakinya sambil
menundukkan kepalanya. Begitu Manguri masuk ke halaman rumahnya,
langsung ia pergi ke belakang, membangunkan pembantu rumah
tangganya. "Rebus ketan hitam seberuk" Lamat mengerutkan keningnya.
Di gardu hanya ada empat orang. Betapa besar perut mereka, namun
mereka tidak akan dapat menghabiskan ketan seberuk. Tetapi ia tidak
berkata apapun. Ia duduk saja di muka pintu dapur menunggui
orang-orang yang merebus ketan sambil bersungut-sungut. Ia tahu
benar, bahwa ialah yang nanti harus mengantarkan ketan itu ke gardu.
Sepeninggal Manguri, anak-anak muda yang berada di gardu itupun
menjadi terheran-heran. Sikap Manguri agak terasa asing bagi mereka.
Biasanya, meskipun tidak terlampau baik. Manguri bukanlah orang yang
bersikap terlalu kasar, meskipun anak-anak muda itu mengetahui,
bahwa wataknya terlampau sombong. Tetapi ia tidak juga akan seramah
malam itu. Menyediakan uang untuk membeli pohung dan gula kelapa.
"Biasanya hanya gadis-gadislah yang sering diberinya uang disiang
hari untuk membeli rujak nanas, atau rujak degan" desis salah
seorang dari mereka. "Aneh" berkata yang lain "pasti pada sesuatu
yang sedang dipikirkannya. Mungkin ia tergila-gila kepada seorang
gadis, dan malam ini baru saja pergi melamarnya. Kawannya tersenyum.
Katanya "Anak itu sedang tergila-gila kepada Sindangsari. Bukankah
ia pernah berkelahi melawan Pamot karena ia mencegat Sindangsari di
sawah dan kebetulan Pamot melihatnya" "Itu hanya karena salah paham"
berkata yang lain, yang seakan-akan mengetahui persoalannya dengan
pasti. Tetapi pembicaraan itu terhenti, ketika hampir tengah malam,
Lamat datang dengan ketan yang masih hangat. Beberapa tangkep gula
kelapa dan sebungkus kelapa parut. "Aku disuruh Manguri menyampaikan
ini kepada kalian" suara Lamat dalamdan datar. Sekali lagi anak-anak
muda yang sedang bertugas ronda itu saling berpandangan. "Terimalah.
Tidak ada apa-apanya " Salah seorang dari para peronda itu
menerimanya sambil berkata "Terima kasih" "Kalian akan menjadi
hangat. Kemudian kalian akan dapat tidur dengan nyenyak" "Kami
sedang ronda. Kami tidak akan tidur" "Manguri berpesan, agar kalian
makan ketan itu dan menghabiskannya" "Terima kasih" Lamatpun
kemudian meninggalkan gardu itu dengan langkah yang lamban. Keempat
anak-anak muda yang berada di gardu itu memandanginya dengan mata
yang hampir tidak berkedip. "Hantu yang menakutkan" desis salah
seorang dari mereka "kalau tanganmu dapat diremasnya, maka
tulang-tulangmu pasti akan remuk. Selain bertubuh raksasa, ia memang
mempunyai tenaga raksasa" "Ia merupakan pengawal yang sangat patuh
kepada Manguri. Apapun yang dikatakannya. Bahkan kadang-kadang ia di
bentak-bentaknya" Anak-anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi kemudian merekapun segera membuka bungkusan ketan ireng,
kelapa parut dengan sedikit garam dan gula kelapa. Dengan lahapnya
mereka makan kiriman itu, tanpa menghiraukan lagi apa yang telah
terjadi di bagian-bagian lain dari padukuhannya. Menjelang tengah
malam, di tengah-tengah sawahnya Pamot menjadi gelisah. Ia tidak
melihat seorangpun di sekitarnya. Ia tidak melihat Punta, tetapi
juga tidak melihat orang-orang Manguri yang lima. Dengan dada yang
berdebar-debar Pamot turun dari gubugnya. Ia lebih merasa aman di
bawah daripada di atas. Di bawah ia banyak mendapat kesempatan,
kalau perlu untuk bekejar-kejaran. Kalau lawannya lebih banyak
jumlahnya, maka bekejar-kejaran adalah permainan yang mengasikkan.
Dengan dada berdebar-debar Pamot berdiri tegak bersandar tiang
gubugnya. Tangannya sudah melekat di hulu parangnya. Setiap saat ia
siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi Pamot rasa-rasanya
masih dihadapkan pada suatu teka-teki. Apakah yang dikatakan Lamat
seluruhnya benar, atau seandainya benar, apakah Manguri tidak
merubah rencananya? Seandainya tidak, apakah Punta dapat menepati
janjinya?. Teka-teki itu telah membuat Pamot menjadi semakin
gelisah. Dadanya serasa sesak oleh bayangan-bayangan yang tidak
menentu. Ingin rasanya ia berteriak sekuat-kuatnya untuk melepaskan
himpitan di dalam dadanya yang sudah hampir tidak tertahankan lagi.
Di rumahnya Manguripun selalu diganggu oleh kegelisahan. Semakin
dekat dengan tengah malam, hatinya menjadi semakin berdebar-debar.
Ia mengharap kelima orang suruhannya itu segera menyelesaikan
tugasnya dan membawa Pamot ke lumbung di belakang. Ia akan dapat
berbuat apa saja atas anak muda itu, dan mengancamnya untuk tidak
mengatakannya kepada siapapun. Di bilik belakang, Lamatpun menjadi
gelisah pula. Terbayang kesulitan yang bakal dialami oleh Pamot,
yang menurut penilaiannya pasti tidak bersalah. Lamat menarik nafas
dalam-dalam. Ia tahu benar apa yang telah terjadi dengan gadis-gadis
yang pernah berhubungan dengan Manguri. Kasar atau halus, mereka
telah terpaksa mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Kemudian
kasar atau halus, mereka harus pergi dengan tuduhan yang hina lari
bersama laki-laki. Dada Lamat menjadi berdebar-debar semakin keras,
seperti juga Manguri dan Pamot. Ia sadar, bahwa ia telah turut ambil
bagian di dalam segala macam kecurangan yang telah dilakukan oleh
Manguri meskipun hanya sekedar menakutnakuti. "Apakah hidupku untuk
seterusnya tidak akan mengalami perubahan?" pertanyaan itu selalu
mengganggunya "sampai saat ini aku tidak lebih dari sesosok hantu
yang dapat menakut-nakuti setiap orang di Gemulung" Tanpa sesadarnya
Lamat berjalan hilir mudik di dalam biliknya Pada saat yang
bersamaan Manguripun telah sampai pada puncak kegelisahannya. Di
kejauhan sudah mulai terdengar ayam jantan berkokok untuk yang
pertama kalinya. Tengah malam. "O, apakah orang-orang sudah mati
dicekik hantu" geramnya. Tetapi tengah malam adalah waktu yang
dipilih oleh kelima orang upahan Manguri itu untuk merayap mendekati
gubug Pamot. Pamot sendiri hampir tidak sabar menunggu, apa yang
bakal terjadi atasnya. Seperti Lamat dan Manguri dibilik
masing-masing. Pamotpun kemudian melangkah beberapa langkah
mondarmandir di bawah gubugnya dengan penuh kewaspadaan. Ia
mendengarkan setiap desir yang tertangkap oleh telinganya, dan
mengamati setiap gerak yang tertangkap oleh matanya. Tetapi ia masih
belum mendengar dan melihat sesuatu. Tetapi ketika lamat-lamat ia
mendengar kokok ayam jantan di padukuhan, sahut menyahut, maka ia
berdesis "Tengah malam. Waktu inilah agaknya yang telah dipilih oleh
Manguri" Ternyata dugaan Pamot itu tepat. Belum lagi ia mengatupkan
bibirnya rapat-rapat, terdengar suara cengkerik yang berderik di
sudut sawahnya. "Kalau benar-benar cengkerik yang berderik itu, maka
cengkerik itu adalah cengkerik raksasa" gumam Pamot "Cengkerik tidak
akan mampu berderik sekeras itu" Tetapi cengkerik yang berderik itu
memang tidak berusaha untuk menyembunyikan dirinya. Suara itu hanya
sekedar abaaba untuk memanggil kawan-kawannya yang lain. Karena
sejenak kemudian bermunculan di segenap penjuru, lima orang yang
seakan-akan telah mengepungnya. Pamot berdiri tegak di tempatnya.
Kini ia benar-benar telah menggenggam hulu pedangnya, meskipun masih
belum ditariknya dari sarungnya. "Kaukah yang bernama Pamot?"
terdengar salah seorang dari mereka bertanya. Pamot tidak segera
menjawab. Ada niatnya untuk mengelabui orang-orang itu, dengan
mengingkari namanya. Tetapi itu tidak akan ada gunanya, karena
mereka pasti sudah yakin, bahwa dirinyalah yang bernama Pamot.
Manguri pasti sudah berpesan pula, ciri-ciri tentang dirinya. Karena
itu, maka kemudian dengan tabah ia menjawab "Ya, Aku Pamot. Siapakah
kalian?" "Kami berlima. Masing-masing mempunyai nama sendirisendiri.
Tetapi aku kira kami tidak mempunyai waktu untuk menyebutnya satu
demi satu. Karena itu, maka sama sekali tidak ada gunanya kau
bertanya tentang nama kami. Sekarang, menyerahlah. Kami tidak akan
berbuat apa-apa" Pamot mengerutkan keningnya. Kini ia yakin, bahwa
Lamat memang berkata dengan jujur. Ternyata pula, bahwa Lamat
bukanlah seorang yang bengis dan dungu seperti yang terbayang di
wajahnya. Di dalam hati, tersirat ucapan terima kasih Pamot yang
tidak ada taranya kepada raksasa yang malang itu. Namun kemudian,
apakah Punta sudah ada disekitar tempat itu pula?. Karena Pamot
tidak segera menjawab, kata-kata orangorang upahan itu, maka salah
seorang dari kelima orang itu berkata seterusnya "Menyerahlah.
Jangan banyak tingkah. Kami memang benar-benar tidak akan berbuat
apa-apa atasmu. Kami hanya sekedar ingin membawamu kepada seseorang
yang sangat ingin bertemu denganmu" "Siapa orang itu ?" bertanya
Pamot. "Apakah kau perlu mengetahuinya?" "Tentu. Baru aku dapat
mengambil keputusan apakah aku bersedia atau tidak" "Jangan begitu.
Jangan menentukan pilihan, bersedia atau tidak, karena kami memang
tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk memilih. Kami hanya
sekedar memberitahukan kepadamu, bahwa kami akan membawamu, karena
seseorang memerlukan kau" Dada Pamot berdesir. Kata-kata itu
benar-benar telah menyinggung perasaannya, sehingga tanpa berpikir
lagi ia menjawab "Kau siapa, dan aku siapa? Apakah ada hakmu untuk
memperlakukan aku demikian? Tidak seorangpun dapat memerintah aku
dalam persoalan yang tidak jelas. Ki Demangpun tidak. Hanya dalam
hubungan tugas-tugasku sajalah Ki Demang, pemimpin pengawal
Kademangan, dan tetua anak-anak muda pedukuhan Gemulung dapat
memerintah aku" Dada Pamot menjadi serasa bengkah ketika ia
mendengar beberapa orang dari kelima orang itu tertawa bersama-sama.
"Benar kata orang, bahwa Pamot adalah anak yang berani. Kau memang
luar biasa, Pamot, tidak seorangpun yang berani berbuat seperti kau
terhadap kami berlima. Memang agaknya kau belum mengenal kami.
Karena itu sebaiknya kau mendengar nama kami. Salah seorang dari
kami bernama Sura Sapi. Nah, karena itu maka gerombolan kami yang
lima ini disebut gerombolan Sura Sapi. Kau sadar sekarang, dengan
siapa kau berhadapan?" Sebuah desir yang tajam terasa seakan-akan
membelah jantung Pamot. Yang di hadapannya itu adalah gerombolan
Sura Sapi "Gila" ia mengumpat di dalam hatinya "begitu jauh tindakan
Manguri sehingga ia telah menghubung gerombolan Sura Sapi" "Apa
katamu sekarang?" Tetapi Pamot bukan seorang yang berhati kecil.
Karena itu, maka dihentakkannya kakinya sambil menggeretakkan gigi.
Jawabnya lantang "Siapapun kau, aku t idak akan menyerah. Aku memang
pernah mendengar nama Sura Sapi. Tetapi kalianpun pasti pernah
mendengar nama pengawal khusus Kademangan Kepandak. Aku adalah salah
seorang anggautanya. Tidak sepantasnya anggauta pengawal khusus
Kademangan Kepandak menyerah kepada gerombolan Sura Sapi" "Persetan"
ternyata salah seorang dari kelima orang itu, yang bertubuh pendek
dan berjambang tidak sabar lagi. Setapak ia maju sambil berkata
"Kenapa kita terlampau banyak berbicara? Aku sudah muak mendengar
kata-katanya. Marilah kita memberi kesempatan terakhir" Kemudian
kepada Pamot ia berkata "Lemparkan senjatamu, dan ikuti kami"
"Tidak" jawab Pamot tegas. "Setan alas. Kau mau kami mempergunakan
kekerasan" "Itu urusanmu" Orang yang pendek itu sudah tidak sabar
lagi. Perlahanlahan ia maju mendekat. Dalam pada itu kawan-kawannya
yang memencar itupun melangkah maju pula, sehingga kepungan kelima
orang itu menjadi semakin lama semakin sempit. Pamot memang menjadi
gelisah. Tetapi ia sudah bertekad, dengan atau tidak dengan orang
lain, ia akan melawan. Melawan sekuat-kuatnya. Dengan demikian maka
suasanapun meningkat semakin lama semakin tegang, seperti
wajah-wajah yang terpaku pada tubuh Pamot yang berdiri tegak seperti
patung di bawah gubugnya. Tetapi Pamot telah bertekad bulat. Bahkan
ia sudah tidak dapat menimbang-nimbang lagi seperti yang dikatakan
kakeknya. Dengan serta-merta ia menarik parangnya sambil menggeram
"Kalian hanya akan menemukan mayatku. Bawalah mayatku kemana kalian
kehendaki" "Kau memang bodoh" sahut yang jangkung agak kekuruskursan
"sebenarnya kau t idak perlu melakukan hal itu" Pamot tidak
menyahut. Tetapi hatinya berguncang ketika ia melihat orang-orang
itupun mulai mencabut senjatanya masing-masing. "Benar kata kakek"
desis Pamot. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Kini ia berhadapan
dengan lima orang yang bersenjata pula. "Tugas kami menangkap kau
hidup-hidup" berkata orang yang jangkung itu "tetapi kalau kau
menghina kami, persoalannya jadi lain. Persoalannya adalah kami akan
tetap mempertahankan kehormatan nama gerombolan. Sura Sapi tidak
pernah gagal. Kegagalan yang paling jauh kami alami adalah, karena
kami tidak berhasil menangkap seseorang hidup-hidup. Tetapi itu
adalah salahnya sendiri, seperti kau sekarang" Pamot tetap berdiri
di tempatnya. Namun wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang.
Ketika mereka telah berada di puncak ketegangan yang hampir meledak
itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh langkah seseorang menyelusuri
pematang. Seseorang berjalan dengan cangkul di pundaknya. Seperti
tidak terjadi sesuatu orang itu berhenti sambil berkata "He, Pamot,
apakah kau ada disitu?" Dada Pamot yang hampir meledak tiba-tiba
serasa terpecik air embun. Ia mengenal suara itu. Suara Punta.
Tetapi kehadiran seseorang itu telah semakin menegangkan urat syaraf
dari kelima orang yang menyebut dirinya gerombolan Sura Sapi.
Tiba-tiba salah seorang menggeram "Kita terlampau lama berbicara.
Marilah kita selesaikan sebelum orang yang lain datang" "Bagaimana
dengan orang itu?" "Terpaksa, kita harus berbuat sesuatu. Biarlah ia
pingsan dan tidak mengetahui apa yang terjadi" Orang yang pendek
tidak lagi menunggu perintah. Segera ia meloncat ke arah bayangan
yang berdiri di pematang sambil menyandang cangkul di pundaknya itu.
"Tidurlah anak muda" berkata orang yang pendek itu sambil
mengayunkan sarung pedangnya ke arah tengkuk Punta. Tetapi orang
yang pendek itu terkejut. Terasa sarung pedangnya membentur sesuatu.
Tangkai pacul. "Maaf" berkata Punta "aku masih mempunyai banyak
pekerjaan, sehingga aku masih belum berhasrat untuk tidur"
"Persetan" desis orang yang pendek itu. Kini ia tidak lagi
mempergunakan sarung pedangnya, tetapi pedangnyalah yang sudah mulai
bergetar. "Marilah kita selesaikan bersama-sama" katanya kepada
keempat kawannya. Tetapi sekali lagi orang-orang itu terganggu.
Tiba-tiba saja mereka mendengar suara tertawa di balik batang-batang
jagung muda. Sejenak orang-orang yang ada di ladang Pamot itu
seakanakan membeku. Dan suara tertawa di belakang tanaman jagung
muda itu menjadi semakin jelas. "Kau curang" tiba-tiba terdengar
suatu suara "kau bersembunyi disitu" "Apa pedulimu" jawab yang lain
"aku boleh bersembunyi dimana saja. Sekarang kau harus membayar
taruhan itu. Kau menemukan aku sudah lewat tengah malam" "Belum"
sahut yang lain. "Sudah. Aku sudah mendengar ayam jantan berkokok.
Dan bintang gubug penceng sudah tegak di selatan" "Baiklah. Aku akan
minta barang taruhan itu kepada Pamot" Suara itu berhenti sejenak.
Namun tiba-tiba salah seorang dari kelima orang upahan itu berkata
lantang "Setan alas. Jangan memperbodoh kami. Sekarang aku tahu,
bahwa kalian memang sudah menunggu kedatangan kami. Ini suatu
kebodohan. Apakah Manguri yang bodoh, atau ia memang sengaja
menjerumuskan kami. Tetapi mungkin juga kamilah yang bodoh, sehingga
satu dua orang melihat jejak atau bayangan kami. Tetapi itu kami
tidak akan peduli lagi. Kami sudah siap berkelahi. Gerombolan Sura
Sapi t idak pernah kalah. Disini kami mungkin akan terpaksa
membunuh" Pamot, Punta dan dua orang lainnya yang muncul dari balik
tanaman jagung kini berdiri tegak sambil memandang lawanlawan mereka
yang terpencar. Kemudian terdengar lagi seseorang yang menguap
keras-keras, dan muncullah seorang anak muda yang tinggi besar.
Ialah yang bertemu dengan Pamot ketika ia berangkat ke sawah. Tetapi
agaknya Punta tidak mau bermain-main menghadapi orang-orang upahan,
sehingga masih ada dua orang lagi yang datang ke sawah Pamot itu.
Semuanya ada enam orang, dan ditambah Pamot sendiri" "Kita sudah
lengkap" berkata Punta kemudian. "Kenapa kalian turut campur"
bertanya orang yang jangkung. "Sebagian dari kami adalah pengawal
khusus Kademangan Kepandak. Adalah tugas kami untuk mencegah
tindakan sewenang-wenang" Orang-orang upahan itu menggeram. Salah
seorang yang berjambang berkata "Anak-anak yang malang. Jangan
merasa diri kalian terlampau kuat, hanya karena kalian menjadi
pengawal khusus. Tujuh orang pengawal khusus sama sekali tidak akan
berarti apa-apa bagi kami" "Jangan menakut-nakuti. Kami dipersiapkan
untuk melawan orang-orang asing di Betawi. Pada suatu saat kami akan
berangkat. Menyesal sekali bahwa kami harus berbenturan dengan
saudara-saudara kita sendiri" "Kalau begitu kenapa hal ini kalian
lakukan?" "Pertanyaan yang aneh" Punta menjawab "aku memang tidak
segera menampakkan diri, karena aku ingin meyakinkan, apakah yang
sebenarnya terjadi. Aku tidak dapat mempercayai begitu saja
aduan-aduan yang kurang kami yakini. Tetapi kini kami melihat
sendiri. Kalian telah berbuat sewenang-wenang, meskipun kalian
sekedar orang upahan Manguri" "Kami tidak ingkar. Tetapi kami
memerlukan uang itu. Kami tidak dapat hidup tanpa makan. Dan
sekarang, kami sedang mencari makan. Ternyata kalian telah
mengganggu kami, sedang kami tidak pernah mengganggu kalian" "Jangan
memutar balik keadaan" jawab Punta "aku sudah menyaksikan sendiri.
Kau mencari makan dengan mengorbankan orang lain. Kau tidak
mempedulikan nasib orang lain itu. Padahal masih banyak jalan yang
terbuka. Tanah garapan masih luas" "Kami tidak biasa melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang tidak berarti apa-apa bagi seorang
laki-laki jantan" jawab salah seorang dari mereka. "Bagus" sahut
Punta "kamipun sedang melakukan tugas kami sebagai lelaki jantan.
Kami harus memerangi kesewenang-wenangan. Kami harus memerangi
tindak kekerasan seperti yang akan kalian lakukan itu" Orang-orang
yang tergabung dalam gerombolan Sura Sapi itu sama sekali sudah
tidak melihat kemungkinan lain daripada berkelahi. Anak-anak muda
yang sebagian terdiri dari apa yang mereka sebut pengawal khusus
Kademangan Kepandak itu agaknya memang bersungguh-sungguh. Karena
itu, maka orang yang tertua, yang sebenarnya bernama Sura Sapi
itupun segera berteriak "Hancurkan saja mereka" "Bagus" sahut Punta
"kalian sudah terperosok ke dalam lingkaran setan. Kalau kalian
kalah, kalian akan kami ikat dan kami bawa ke Kademangan. Tetapi
kalau kalian menang, maka Manguri akan segera ditangkap, dan ia akan
dipaksa menemukan kalian. Kalian akan dirampok seperti macan
dialun-alun Mataram" Tetapi orang-orang itu tidak menyahut lagi.
Tiba-tiba saja mereka telah berloncatan menyerang. Namun agaknya,
anak-anak muda yang sebagian terdiri dari pengawal-pengawal khusus
yang memang dipersiakan apabila Mataram memerlukan sewaktu-waktu
itu, sudah benar-benar mempersiapkan dirinya. Karena itu, maka
merekapun segera menanggapi serangan kelima orang-orang upahan yang
tergabung dalam kelompok yang sesat itu. Sejenak kemudian maka
perkelahianpun segera berkobar. Anak muda Gemulung berjumlah lebih
banyak. Tetapi ternyata bahwa orang-orang upahan itu memang
mempunyai kecakapan dan pengalaman lebih banyak dari mereka,
sehingga dengan demikian, maka benturan bersenjata itu menjadi
semakin lama semakin seru. Namun demikian ternyata anak-anak muda
Gemulung itu juga tidak mengecewakan. Satu dua orang dapat
memanfaatkan setiap keadaan. Mereka yang tidak mempunyai lawan,
berusaha untuk mengisi setiap kekurangan. Bahkan kadang-kadang
mereka dapat bertukar tempat dan bertukar lawan. Kelima orang-orang
upahan itu menjadi semakin marah. Mereka tidak menyangka bahwa
anak-anak muda itu telah memiliki kemampuan yang tidak mereka
sangka-sangka. Apalagi Pamot. Meskipun Pamot bukan tetua anak-anak
muda Gemulung, namun ia memiliki beberapa kelebihan. Ia kadangkadang
melontarkan unsur-unsur gerak yang sama sekali tidak dimiliki oleh
kawan-kawannya. Sehingga orang-orang upahan yang berpengalaman itu
segera mengetahui, bahwa Pamot tidak sekedar mendapatkan ilmunya
dari para pelatih yang didatangkan dari lingkungan keprajuritan
Mataram. Salah seorang dari gerombolan Sura Sapi itu berkata di
dalam hatinya "Pantas bahwa Manguri tidak dapat mengalahkannya, dan
bahkan anak ini berhasil melepaskan dirinya dari tangan Lamat,
raksasa yang menakutkan itu" Sedang yang lain berkata pula kepada
diri sendiri "Pamot memang memiliki kelebihan" Demikianlah maka
Pamot telah berhasil melawan dengan gigih. Ia tidak berada di bawah
kemampuan gerombolan itu seorang demi seorang, sehingga karena itu.
maka ia tidak memerlukan orang lain untuk membantunya. Bahkan
sejenak kemudian ternyata bahwa Pamot benarbenar dapat menguasai
keadaan. Selain Pamot, Punta, tetua anak-anak muda Gemulung itupun
mempunyai kemampuan yang cukup untuk bertahan. Ia mempunyai tenaga
yang kaut dan pengamatan yang baik atas lawannya. Karena itu, maka
ia tidak segera dapat didesak oleh lawannya. Demikian pula anak muda
yang tinggi tegap, yang bertemu dengan Pamot pada saat ia berangkat
ke sawahnya. Tetapi selain mereka, kawan-kawannya merasa berat
melawan orang-orang yang cukup berpengalaman itu. Untunglah bahwa
jumlah anak-anak muda itu agak lebih banyak, sehingga kelebihan itu
dapat membantu, menambah kekuatan anak-anak muda yang bukan dari
pengawal khusus Kademangan Kepandak. Demikianlah perkelahian itu
semakin lama menjadi semakin seru. Mereka sudah tidak lagi saling
mengekang diri. Kelima orang upahan itu sama sekali sudah tidak
dapat mengingat lagi pesan Manguri, bahwa mereka harus menangkap
Pamot hidup-hidup. Kini mereka masing-masing sedang bertahan karena
anak-anak muda Gemulung agaknya memang tidak dapat mereka abaikan.
Mereka sedang berusaha untuk mempertahankan hidup mereka
masing-masing. Manguri yang menunggu kedatangan orang-orangnya itu
di rumahnya, menjadi semakin lama semakin gelisah. Sekalisekali ia
menjengukkan kepalanya, lewat daun pintu yang tidak diselaraknya.
Tetapi yang dilihatnya hanyalah sekedar cahaya lampu di regol
halaman rumahnya. Selainnya sepi. Di bilik belakang, Lamatpun tidak
kalah gelisahnya. Apakah Pamot dapat mencari jalan keluar dari
kesulitan ini? Terloncat pula keinginannya untuk melihat, apakah
yang sudah terjadi. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan halaman itu.
Setiap saat Manguri akan memanggilnya. Dengan demikian, yang dapat
dilakukannya, adalah berjalan saja hilir mudik di dalam bilik yang
sempit. Menarik nafas panjang-panjang, kemudian duduk perlahan-lahan
di amben bambunya. Bukan saja Manguri dan Lamat yang menjadi
gelisah. Tetapi seisi rumah Pamot, tidak seorangpun yang dapat
tidur. Ayahnya, ibunya dan kakeknya. Merekapun sedang membayangkan,
apa yang terjadi atas Pamot saat itu. Tiba-tiba saja ayah Pamot
berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan kesudut ruang. Sejenak ia
berdiri memperhatikan sesuatu yang tergantung pada dinding di bawah
ajug-ajug lampu. Namun sejenak kemudian tangannya terjulur menyambar
benda itu. Sebuah golok. "He" bertanya kakek Pamot "apa yang akan
kau lakukan?" "Ayah, aku tidak dapat menunggu saja dengan gelisah di
rumah ini, sedang aku tahu, saat ini anakku di dalambahaya" "Pamot
sudah tahu, apa yang harus dikerjakan" "Tetapi aku masih saja selalu
gelisah. Aku ingin melihatnya" "Yang aku cemaskan" berkata kakek
Pamot kemudian "masalah ini akan berkembang semakin luas. Masalah
ini akan menjadi masalah orang tua-tua. Sampai saat ini, biarlah
parsoalannya dibatasi pada persoalan anak-anak muda saja" "Tetapi
Manguri telah mencari orang-orang upahan. Itu tidak jujur" "Dan
Pamotpun sudah menghubungi kawan-kawannya. Anak-anak muda. Aku kira
anak-anak muda Gemulung akan dapat menilai, apa yang sudah terjadi"
"Tetapi kita tidak tahu ayah, siapakah orang-orang upahan Manguri
itu. Kalau mereka terdiri dari orang-orang yang memang menempatkan
diri mereka dalam dunia yang buas itu. maka anak-anak Gemulung pasti
akan mengalami kesulitan. Belum lagi dapat dikatakan kalau jatuh
korban diantara mereka. Jika demikian, maka persoalannya tidak akan
menjadi sederhana lagi" Kakek Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian iapun bertanya "Sekarang, apa maksudmu?" "Aku ingin melihat
dahulu ayah. Apa yang telah terjadi, baru kemudian mengambil sikap"
Ibu Pamot yang kecemasan duduk di amben dengan kaki gemetar. Dengan
suara parau ia bertanya "Kau akan pergi kemana pak?" "Aku akan pergi
ke sawah" "Tetapi, kau tidak membawa seorang temanpun" "Aku hanya
akan sekedar melihat. Tetapi apabila keadaan memaksa, aku pasti
bukan sekedar seorang penonton" "Itulah yang aku cemaskan. Pedagang
ternak itupun pasti akan turut campur. Ia dapat mempargunakan
uangnya untuk maksud-maksud yang jahat" "Tetapi apaboleh buat. Aku
tidak akan dapat membiarkan anak itu berada dalam kesulitan"
Kakeknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Tetapi
kaupun harus berhati-hati. Bersikaplah sebagai seorang tua" "Ya
ayah. Aku akan berhati-hati. Aku akan menimbang setiap keadaan.
Kalau aku tidak perlu berbuat sesuatu, sudah tentu aku tidak akan
berbuat apapun juga" Kakek Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi itu Pamotlah yang agaknya menjadi semakin gelisah. "Tenanglah
di rumah" berkata suaminya "aku akan melihat ke sawah. Aku kita itu
lebih baik daripada aku tetak duduk diamdi rumah dengan hati
berdebar-debar" Isterinya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak
menjawab. "Sudahlah. Aku akan pargi sekarang" Isterinya
menganggukkan kepalanya pula, sedang kakek Pamot berdesis "Jangan
menambah suasana menjadi semakin kisruh" Sambil menggeleng ayah
Pamot menjawab "Aku akan memperhitungkan setiap kemungkinan. Sejenak
kemudian maka ayah Pamot itupun telah tenggelam di dalam kegelapan,
menyusur jalan menuju ke pinggir padukuhan. Dalam pada itu,
perkelahian yang terjadi di tengah-tengah sawah itupun semakin
menjadi sengit. Kedua pihak sudah mengerahkan segenap kemampuan yang
ada. Pamot masih tetap bertahan dan bahkan ia sama sekali tidak
berada dalam pengaruh lawannya. Puntapun masih selalu berhasil
mempertahankan dirinya. Tetapi kawan Pamot yang tinggi itu ternyata
masih belum dapat mengimbangi pengalaman lawannya. Lawannya yang
kasar dan liar sedikit demi sedikit berhasil mendesaknya, meskipun
belum membahayakan. Namun agaknya, anak muda itu terlampau bernafsu
sehingga semua tenaganya seolah-olah sudah dikurasnya. Dalam
saatsaat terakhir, ia seolah-olah sudah kehilangan sebagian dari
kekuatannya. Tetapi keempat kawan-kawannya yang lain, yang berkelahi
melawan dua orang anggauta gerombolan Sura Sapi masih tetap dapat
bertahan dengan baik. Mereka dapat berkelahi berpasangan, sehingga
keadaan mereka tidak mencemaskan. Namun keseluruhan dari perkelahian
itu adalah perkelahian yang seru, semakin lama semakin seru. Selagi
orang-orang di tengah sawah itu bertempur tanpa menghiraukan
tanaman-tanaman yang terinjak-injak kaki, yang patah dan berserakan,
maka di bagian lain, seorang tua dengan tekunnya menunggui air yang
mengalir diparit yang kecil. Tetapi agaknya air itu tidak memenuhi
keinginannya. Dengan penuh kesungguhan ia menelit i tanaman-tanaman
yang masih muda itu. Bahkan parlahan-lahan ia berdesis "Kalau aku
tidak mendapat cukup air, kasihan. Batang-batang padi muda ini akan
kehausan. Besok kalau matahari menjadi terik, daun-daunnya akan
layu. Masih agak baik batangbatang jagung itu. Seandainya air tidak
terlampau banyak, mereka masih dapat bertahan lebih kuat dari
batang-batang padi ini. Orang tua itupun kemudian sambil
bersungut-sungut mengambil cangkulnya sambil berkata "Aku harus
melihat ke sidatan air ini. Apakah airnya memang terlampau sedikit,
atau tambak di sidatan sobek" Tertatih-tatih orang itu kemudian
berjalan di sepanjang tanggul yang sempit. Apalagi di malam hari.
Meskipun demikian, ia tidak mau sawahnya kekurangan air. Sehingga
betapapun gelapnya ia berjalan juga ke sidatan parit yang mengaliri
sawahnya. Tetapi ketika sampai dikelokan, orang tua itu berhenti
sejenak. Namun kemudian ia berdesis "Lebih baik aku mengambil jalan
memintas" Maka kemudian diambilnya jalan pamatang yang akan langsung
sampai ke sidatan, tanpa mengikuti tanggul parit yang berkelok-kelok
seperti ular yang sedang berambat. Dengan hati-hati ia melangkah di
atas pematang yang agak licin sambil menyandang cangkulnya. Kini ia
berjalan di sepanjang batas tanaman jagung yang juga masih muda.
Sekali-sekali orang tua itu memandang ke langit yang ditaburi oleh
bintang-bintang yang gemerlapan. Binatang gubug penceng di ujung
Selatan telah bergeser sedikit kebarat. Namun tiba-tiba langkah
orang tua itu terhenti. Ketika ia menyusup semakin dalam di daerah
tanaman jagung muda itu, ia menjadi sangat berdebar-debar. Tiba-tiba
saja ia mendengar suara yang t idak dimengertinya. "He, suara apakah
itu?" orang tua itu bertanya kepada diri sendiri. Tiba-tiba teringat
olehnya, bahwa kadang-kadang masih saja ada babi hutan yang sering
mengganggu tanaman. Karena itu, maka dirabanya sabit yang terselip
dipunggungnya. Perlahan-lahan ia berdesis "Kalau suara itu suara
babi hutan, biarlah aku gedig kepalanya" Tetapi suara itu sama
sekali bukan suara babi hutan. Semakin dekat orang tua itu justru
semakin tidak mengerti. Meskipun demikian ia ingin juga tahu, apakah
yang telah menimbulkan bunyi yang aneh itu. Namun tiba-tiba matanya
terbelalak. Kini ia melihat bahwa beberapa orang sedang berkelahi.
Tanaman jagung di sekitarnya telah terinjak-injak tidak menentu.
Meskipun demikian orang tua itu tidak menjadi lemas dan terduduk di
tanah. Justru ia kemudian melemparkan cangkulnya dan berlari
kencang-kencang. Tetapi karena kakinya yang lamah, karena
ketuaannya, maka sekali-sekali iapun tergelincir dan jatuh terguling
di samping pematang. Orang-orang upahan yang liar itu melihat juga
kehadiran seorang lagi di dekat arena. Namun kemudian orang itu
berlari-lari meninggalkan perkelahian. Sekilas mereka dapat menerka,
bahwa orang itu sama sekali bukan kawan Pamot. Namun demikian orang
itu telah menumbuhkan debar pula di dada mereka. Tetapi tidak
seroangpun dari kelima orang itu sempat mencegah. Mereka harus
berhadapan dengan lawan masingmasing. Lawan yang tidak dapat segera
dikalahkannya. Karena itu, maka yang mereka lakukan adalah memeras
kemampuan mereka, untuk segera mengalahkan lawan masing-masing.
Dalam pada itu, orang tua yang melihat perkelahian itupun
berlari-lari sekencang-kencangnya dapat dilakukannya. Ketika ia
meloncat kejalan yang lebih lebar, begitu ia tergesa-gesa, sehingga
ia jatuh terjerembab. Tetapi iapun segera bangkit berdiri dan
berlari kesudut desa. Belum lagi ia mendekat, ia sudah
berteriak-teriak labih dahulu "He, ada orang berkelahi. Orang
berkelahi" Para peronda yang ada di dalam gardu di sudut desa
terkejut karenanya. Diantara mereka adalah ayah Pamot yang baru saja
duduk di gardu sebelum melanjutkan perjalanannya ke tengah sawah. Ia
ingin mendengar lebih dahulu apa bila para peronda itu mendengar
sesuatu tentang anaknya. Tetapi ternyata mereka tidak mengerti
apa-apa. Kini justru seseorang telah berlari-lari sambil
berteriak-teriak. Serentak setiap orang yang ada di gardu itupun
berloncatan turun. Seorang anak muda yang sedang bertugas ronda
segera menyongsong orang tua itu sambil bertanya "Dimana?" Nafas
orang tua itu menjadi terengah-engah. Sambil berdiri bertelekan
punggung ia menjawab terputus-putus "Di tengah sawah" "Siapa yang
berkelahi?" bertanya anak muda itu. Orang tua itu menggelengkan
kepalanya "Aku tidak tahu. Banyak orang berkelahi bersama-sama.
Mereka bersenjata" Anak muda itu berdiri termangu-mangu. Beberapa
orang yang menyusulnyapun saling berpandangan sejenak. "Bagaimana?"
bertanya anak muda itu kepada seseorang yang lebih tua daripadanya.
"Marilah kita lihat" jawab yang ditanya. "Tetapi, tetapi" orang tua
itu memotong "yang berkelahi adalah orang banyak. Bukan hanya
sekedar dua orang" "Kita tengok bersama-sama" sahut yang lain. "Lalu
gardu ini kita kosongkan?" Sejenak mereka termangu-mangu. Tiba-tiba
salah seorang berkata "Kita pukul kentongan" "Jangan" tiba-tiba ayah
Pamot ikut dalam pembicaraan "seluruh penduduk akan menjadi gempar.
Kita bangunkan saja satu dua orang di sekitar gardu itu. Kita minta
mereka menjaga gardu sejenak. Kita bersama-sama pergi ke sawah,
untuk melihat perkelahian itu" "Bagaimana kalau mereka ingin ikut
pula?" "Paling sedikit dua orang harus t inggal" Sejenak mereka
saling memandang. Namun kemudian merekapun mengangguk-anggukkan
kepala mereka. "Cepat. Marilah kita membangunkan mereka" "Kita
memerlukan kawan. Kalau keadaan menjadi sangat berbahaya, biarlah
salah seorang dari kita akan membunyikan kentongan. Terpaksa"
Beberapa orangpun kemudian berlari-larian membangunkan beberapa
orang saja yang rumahnya paling dekat dengan gardu perondan. Dengan
terkantuk-kantuk mereka mendengar beberapa penjelasan yang tidak
banyak mereka mengerti. Yang mereka dengar hanyalah permintaan para
peronda untuk membantu mereka tinggal di gardu, sedangkan anak-anak
muda yang sedang bertugas ronda akan pergi ke tengah sawah melihat
siapakah yang sudah berkelahi itu. Sambil berselimut kain panjang,
orang-orang yang baru saja terbangun itupun berjalan tertatih-tatih
ke gardu di pinggir desa. Tetapi ketika mereka sudah naik, maka
merekapun segera merebahkan diri melingkar berselimut kain. "Hem"
anak-anak muda yang sudah segera ingin pergi itu menarik nafas
dalam-dalam. "Biarlah" berkata salah seorang dari mereka. "Apakah
bapak akan tinggal disini ?" bertanya salah seorang anak muda kepada
ayah Pamot. Tetapi ayah Pamot menggeleng "Aku ikut bersama kalian"
Tidak seorangpun yang dapat mencegahnya. Karena itu, maka merekapun
segera pergi berlari-lari ke sawah yang ditunjukkan oleh orang tua
itu. Ke sawah keluarga Pamot. Mereka sampai ke tempat perkelahian
itu sejenak, sebelum keseimbangan benar-benar akan bergeser. Anak
muda yang tinggi tegap itu justru telah benar-benar terdesak,
meskipun belum sampai pada bahaya yang sebenarnya. Tetapi empat
anak-anak muda yang bertempur melawan dua orang gerombolan Sura Sapi
justru dapat mendesak lawan mereka, sedang Punta dan Pamot masih
tetap bertahan dalam keseimbangan. Meskipun demikian ternyata bahwa
orang upahan itu lebih pandai menempatkan diri. Mereka agaknya
sengaja memancing seluruh tenaga lawan-lawan mereka, sehingga
akhirnya Puntapun kelihatan menjadi berangsur lemah. Dalam keadaan
itulah, terdengar suara mereka yang berlari-lari mendekati tempat
perkelahian itu. Orang tua yang pertama-tama melihat, berteriak
lantang "Disitu, disitu" Teriakan-teriakan itu membuat orang-orang
upahan yang tergabung dalam gerombolan yang menyebut dirinya Sura
Sapi itu berpikir. Kehadiran orang-orang itu sudah pasti tidak akan
menguntungkan mereka. Kalau jumlah mereka cukup banyak, lima orang
atau lebih, maka keadaan mereka, gerombolan yang tidak terkalahkan
itu menjadi gawat. Lima orang dengan kemampuan seperti mereka yang
sudah datang lebih dahulu. Untunglah, bahwa gerombolan itu tidak
tahu banyak tentang anak-anak muda Gemulung. Hanya beberapa orang
sajalah yang mempunyai kemampuan berkelahi sebaik itu. Mereka adalah
anggauta-anggauta pengawal yang setiap kali berkumpul di Kademangan
untuk mendapatkan latihan keprajuritan. Apalagi pengawal khusus,
yang memang dipersiapkan untuk kepentingan Mataram. Setiap saat
mereka dapat diambil dan dibawa kemedan, seperti para prajurit yang
lain Karena itu, ketika mereka melihat beberapa orang berlarilari di
sepanjang pematang, dan menurut hitungan mereka lebih dari lima
orang, maka merekapun harus segera mengambil sikap. Betapa sakit
hati mereka, namun mereka tidak dapat berbuat lain. Selain mereka
kehilangan upah yang sudah dijanjikan oleh Manguri, merekapun harus
mengalami kegagalan dan kekalahan. Kalau mereka t idak mau melihat
kenyataan itu. maka akibatnya pasti akan lebih parah bagi mereka.
Mungkin satu dua dian-tara mereka masih dapat lolos. Tetapi meskipun
hanya seorang saja dari mereka yang tertangkap, namun nama mereka
pasti akan menjadi semakin cemar dalam lingkungan
gerombolan-gerombolan yang seakan-akan hidup di luar lingkungan
masyarakat dan peradabannya. Mereka pasti tidak akan mendapat tempat
lagi di dalam lingkungan mereka itu. Lingkungan yang tidak terikat
oleh peraturan apapun, selain terikat oleh tajamnya pedang dan
runcingnya ujung tombak. Karena senjata dan kekuatan bagi mereka
akan menentukan tinggi rendahnya martabat mereka di dalam
lingkungannya. Demikianlah, maka orang yang sebenarnya bernama Sura
Sapi, yang memimpin gerombolan itu harus segera mengambil keputusan.
Dan keputusan itu adalah menyingkir dari arena, karena mereka tidak
dapat melawan orang-orang Gemulung dalam jumlah yang jauh lebih
banyak. Sejenak kemudian, terdengar Sura Sapi berteriak memberikan
tanda, bahwa semua anggauta gerombolan yang berjumlah lima orang itu
harus melarikan diri. Perintah itu ternyata tidak perlu diulangi.
Setiap orang di dalam gerombolan itu mempunyai perhitungan yang
serupa, sehingga sejenak kemudian merekapun segera berloncatan
mundur. Pada saat orang-orang Gemulung menyerbu ke arena,
orang-orang itu seakan-akan telah lenyap tenggelam ke dalam tanaman
jagung yang masih muda. Apalagi gelapnya malam agaknya sangat
membantu, sehingga dalam beberapa saat, orang-orang Gemulung itu
sudah kehilangan lawan-lawan mereka. Punta dan kawan-kawannya memang
t idak mengejar mereka. Mereka menyadari, bahwa orang-orang upahan
itu dalam keadaan terpaksa, akan berbuat apa saja. Termasuk
perbuatan-perbuatan yang sangat licik. Namun demikian, meskipun
orang-orang upahan itu telah melarikan diri, Pamot dan Punta masih
saja berdiri termangumangu. Kini mereka pasti akan dihadapkan pada
persoalan yang lain. Orang-orang yang baru saja datang itu pasti
akan bertanya tentang pekerlahian itu. Sebab-sebabnya dan siapa saja
yang telah terlibat. "Apaboleh buat" berkata Punta di dalamhatinya
"memang agaknya hal ini lebih baik diketahui oleh setidaktidaknya
bebahu Kademangan yang berada di Gemulung atau malahan Ki Jagabaya
sama sekali" Dan ternyata dugaan itu benar-benar terjadi. Belum lagi
Pamot dan kawan-kawannya menyeka peluh mereka, maka seperti bunyi
seribu ekor burung betet, orang-orang Gemulung itu bertanya menurut
selera masing-masing. "Kami akan melaporkannya kepada Ki Jagabaya"
berkata Punta kepada mereka "besok kalian akan mendengar apa yang
telah terjadi" Namun mereka tidak puas dengan jawaban itu, sehingga
mereka justru memutari anak-anak mudayang baru saja berkelahi itu
dengan seribu macam partanyaan yang bersimpang siur. "Kami menjadi
bingung" berkata anak muda yang tinggi "tetapi pada dasarnya, kami
telah berkelahi melawan gerombolan Sura Sapi" "He" beberapa orang
menjadi terbelalak. Bahkan dada ayah Pamotpun menjadi
berdebar-debar. Ternyata yang dilawan oleh anak-anak muda itu adalah
gerombolan Sura Sapi. Namun demikian sepercik kebanggaan telah
mengembang di dalam dada orang tua itu. Anak-anak muda Gemulung
telah mampu bertahan terhadap orang-orang yang memang ditakuti
karena kebuasan mereka. "Kenapa tiba-tiba saja mereka telah berada
disini?" bertanya yang lain. "Entahlah" jawab anak muda yang tinggi
besar itu. Tetapi orang lain bertanya "Kenapa kalian berada disini
pula bersama-sama" Anak yang tinggi, yang nafasnya masih
terengah-engah itu berdesah. Namun pertanyaan-pertanyaan itu harus
dijawab. Katanya "Kebetulan saja, kebetulan aku sedang berada di
gubug Pamot. Kami sedang bermain kotekan" "Tetapi kami tidak
mendengar kotekan itu" jawab orang tua yang pertama kali melihat
perkelahian itu. Anak muda itu menarik nafas. Desahnya "Aku lelah
sekali. Ini tanganku berdarah tersentuh senjata orang-orang gila
itu" Tetapi orang-orang yang mengerumuninya tidak mempedulikan.
Mereka masih bertanya terus. Namun ternyata bahwa tidak semua
anak-anak muda itu menyimpan persoalan yang sebenarnya telah
terjadi. Satu dua diantara mereka, tanpa mereka sadari telah
mengatakan apa yang sebenarnya terjadi itu. Bahkan dengan berterus
terang, seorang anak muda yang bertubuh kecil berkata "Mereka telah
mendapat upah dari Manguri untuk menangkap Pamot" Demikianlah maka
berita itupun segera tersebar. Orangorang Gemulung yang kembali ke
padukuhan merekapun segera berceritera dan berbincang yang satu
dengan yang lain. Karena jawaban anak-anak muda yang berkelahi itu
tidak sama, karena mereka belum bersepakat apakah yang harus mereka
katakan, maka berita tentang perkelahian itupun menjadi bersimpang
siur. "Tetapi yang lebih dekat dengan nalar, adalah ceritera tentang
orang-orang upahan itu" berkata seseorang "bukankah beberapa saat
yang lampau Manguri pernah berkelahi dengan Pamot dan kemudian
raksasa itu pula ?" Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
diantara mereka masih juga ada dugaan-dugaan yang berbeda satu
dengan yang lain. Ketika ayah Pamot kemudian lewat di depan gardu
yang penuh dengan orang-orang yang sedang berbincang, maka salah
seorang telah menarik tangannya sambil berkata "Nah, kalau ayah
Pamot ini, aku kira mengerti persoalanpersoalannya dengan baik.
Sekarang ceriterakanlah apa yang telah terjadi dengan anakmu" Ayah
Pamot mengerutkan keningnya. Sejenak ia membuat
pertimbangan-pertimbangan. Namun kemudian ia menganggap, bahwa lebih
baik ia berkata sebenarnya. Dengan demikian maka tidak akan ada
salah pengertian lagi tentang apa yang sudah terjadi itu. Adalah
sangat membingungkan apabila setiap orang mempunyai ceritera
tersendiri tentang perkelahian di tengah sawah itu. Maka ayah
Pamotpun kemudian menceriterakan apa yang sesungguhnya telah dialami
oleh anaknya. Namun demikian, ayah Pamot masih juga membatasi
pembicaraannya. Ia sama sekali t idak menyinggung-nyinggung Lamat
sama sekali. Pada waktu yang bersamaan, anak-anak muda Gemulung yang
baru saja berkelahi itu telah mengetuk pintu rumah Ki Jagabaya.
Meskipun mereka agak ragu-ragu, tetapi adalah lebih baik bahwa Ki
Jagabaya mendengar peristiwa itu dari merika sendiri, daripada dari
sumber yang bersimpang siur. Ki Jagabaya yang baru tidur dengan
nyenyaknya, menggeliat sambil menguap. Lamat-lamat ia mendengar
pintu rumahnya diketuk perlahan-lahan Tetapi suara itu serasa
mengambang di dalam mimpinya. Baru ketika ia mendengar ketukan pintu
untuk kedua kalinya ia membuka matanya. Sekali lagi ketukan pintu
itu terdengar. "Huh, benar-benar tidak tahu aturan "ia menggeramang
"malam-malam begini mengetuk rumah orang" Sambil terkantuk-kantuk ia
bangkit dan duduk di pinggir pembaringannya. Ketika sekali lagi ia
mendengar pintu diketuk, maka iapun berteriak "Tunggu he? Apakah kau
takut diterkamhantu" Pamot, Punta dan kawan-kawannya saling
berpandangan sejenak. Tetapi merekapun kemudian mengerutkan kening
mereka. "Siapa?" terdengar suara Ki Jagabaya pula. "Aku" "Aku siapa?
Setan, gendruwo atau demit?" "Punta" "Punta siapa?" "Anak Gemulung"
Ki Jagabayapun kemudian berdiri. Sejenak ia ragu-ragu. Dipandanginya
bindinya yang tergantung pada dinging. Sekali lagi ia menguap.
Tetapi tangannya menyambar bindinya itu. Tertatih-tatih ia berjalan
menuju ke pintu pringgitan sambil bersungut-sungut. Tetapi ketika ia
berdiri di muka pintu, maka langkahnyapun telah menjadi mantap.
Dipandanginya pintu itu sejenak, kemudian dibenahinya pakaiannya.
Dengan tangan kirinya ia menarik selarak dan perlahan-lahan membuka
pintu. "He, kau" desisnya. "Ya Ki Jagabaya. Kami mempunyai keperluan
yang menurut pendapat kami tidak sebaiknya ditunda sampai besok.
Karena itu, maafkan kami, apabila kami sudah mengganggu" berkata
Pamot. "Apakah kalian anak-anak Gemulung?" "Ya" "Masuklah" Anak-anak
muda itupun kemudian masuk ke pringgitan. Mereka dipersilahkan duduk
di atas selembar tikar pandan yang kasar. Dengan kerut merut
didahinya Ki Jagabaya bertanya "Apakah keperluan kalian?" Maka
Pamotpun mulailah berceritera, dari awal sampai akhir, apa yang
sebenarnya pernah terjadi dengan dirinya. Tetapi seperti juga
ayahnya, ia sama sekali t idak menyinggung raksasa yang bernama
Lamat. Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia
berkata "Kenapa kalian mencoba mengatasi persoalan itu sendiri?
Kalau kalian mengerti, bahwa Manguri akan menyewa beberapa orang,
kenapa kalian tidak melaporkannya kepadaku sebelum hal itu terjadi,
he?" "Maaf Ki Jagabaya" berkata Pamot "aku t idak yakin bahwa hal
itu benar-benar akan terjadi" "Dari mana kau dengar, bahwa Manguri
akan melakukan hal itu?" Sejenak Pamot menjadi ragu-ragu. Namun
kemudian ia berkata "Dari salah seorang pembantu Manguri yang minta
dilindungi namanya " "Siapa? Ya siapa orang itu?" Pamot masih juga
tetap ragu-ragu. "Siapa?" Ki Jagabaya hampir berteriak. Pamot
menjadi gelisah. Akhirnya ia menjawab "Orang dari pedukuhan Sapu
Angin. Aku tidak begitu kenal namanya. Tetapi orang memanggilnya
Lamat" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya anakanak
muda itu satu persatu. Dan Ki Jagabayapun melihat keheranan memancar
di wajah mereka. "Bohong" tiba-tiba Ki Jagabaya berkata "aku kenal
Lamat. Ia adalah salah seorang yang termasuk di dalam pengamatanku.
Justru karena sifat-sifatnya yang tidak banyak aku kenal" Pamot
menelan ludahnya. Kemudian katanya "Tetapi Ki Jagabaya, seperti
permintaannya sendiri, ia minta dilindungi namanya" Kemudian kepada
kawan-kawannya iapun berkata "Kepada kalianpun aku minta, agar
kalian tidak mencelakakan anak itu" "Ia orang yang kasar dan bengis.
Kau kira ia dapat berbuat sebaik itu kepadamu?" berkata Ki Jagabaya.
"Sebenarnya Ki Jagabaya" "Itu pasti hanya sekedar suatu jebakan. Ia
akan berbuat lebih jauh dan kasar. Mungkin ia memang berusaha
menggagalkan kerja kelima orang itu, agar ia mendapat kesempatan
menangkap kau. Bukan orang lain, dan upah itu akan jatuh ke
tangannya" Bahkan dengan berterus terang, seorang anak muda yang
bertubuh kecil berkata "Mereka telah mendapat upah dari Manguri
untuk menangkap Pamot " Pamot mengerutkan keningnya. Kemungkinan itu
memang dapat terjadi. Tetapi jika demikian, maka Lamat justru sudah
mendapat kesempatan lebih dahulu dari kelima orang itu. Meskipun
demikian Pamot tidak membantah. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya
meskipun ia berpendapat lain. "Tetapi bagaimanapun juga kalian sudah
terlibat dalam perkelahian itu. Dan itu sudah mengganggu
ketenteraman" Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.
"Sudah tentu aku tidak akan dapat mempercayai kalian begitu saja.
Aku akan mengusut persoalannya. Aku akan memanggil Manguri dan
ayahnya. Tetapi apabila kalian berkata sebenarnya, Manguri memang
harus ditindak. Ia menjadi sumber persoalan yang semakin
berlarut-larut ini" "Terima kasih Ki Jagabaya" berkata Pamot "tetapi
bagaimanapun juga, aku minta, agar Ki Jagabaya tetap melindungi nama
Lamat apabila Manguri dan orang tuanya akan dipanggil kemari" Ki
Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya "Sepanjang aku
tidak memerlukan sekali, aku tidak akan menyebut namanya" "Terima
kasih" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Besok pagi aku akan
mengurusnya" berkata Ki Jagabaya kemudian, lalu "sekarang kalian
boleh pulang. Aku akan tidur lagi" Anak-anak muda Gemulung itu
saling berpandangan sejenak. Namun merekapun kemudian minta diri
untuk meninggalkan rumah Ki Jagabaya. "Kalian tidak boleh
meninggalkan padukuhan kalian" berkata Ki Jagabaya itu kemudian
"setiap saat aku memerlukan kalian. Terutama Pamot" Pamot mengangguk
sambil menjawab "Baik Ki Jagabaya" "Besok aku akan memanggil
Manguri, kalau perlu orang tuanya" Maka sejenak kemudian anak-anak
muda Gemulung itupun meninggalkan rumah Ki Jagabaya. Kini mereka
mengerti, bahwa persoalan mereka tidak terhenti sampai sekian.
Persoalan mereka masih akan berkepanjangan. "Aku minta maaf" berkata
Pamot kepada kawan-kawannya. "Kenapa?" bertanya Punta. "Ternyata aku
telah menyeret kalian ke dalam persoalan yang panjang" Punta tertawa
pendek "Itu sudah merupakan kewajiban kami" "Mudah-mudahan Ki
Jagabaya dapat segera menyelesaikan masalah ini" "Ia harus dapat
menyelesaikan. Itu adalah tugasnya" "Tetapi ayah Manguri adalah
seorang yang kaya dan berpengaruh tidak saja di Gemulung" "Aku
parcaya kepada Ki Jagabaya" berkata Punta. Pamot terdiam. Sedang
kawan-kawannyapun terdiam pula. Kini mereka berjalan semakin cepat.
Mereka merasa, bahwa mereka telah menempuh jalan yang
sebaik-baiknya. Menyampaikan masalahnya kepada Ki Jagabaya. Ketika
mereka melihat bayangan fajar di langit, maka merekapun mempercepat
langkah mereka kembali ke padukuhan Gemulung. Mereka mengharap bahwa
padukuhan mereka masih sepi agar mereka tidak dikerumuni oleh
pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. "Masih sepi" desis salah
seorang dari mereka. "Mudah-mudahan" sahut Pamot. Tetapi mereka
terkejut ketika mereka menjadi semakin dekat. Di sudut desa tampak
samar-samar berjejal-jejal orangorang Gemulung berkerumun di sekitar
gardu. Agaknya mereka memang menanti kedatangan anak-anak muda yang
pergi ke rumah Ki Jagabaya. "Sst, mereka menunggu kita agaknya"
desis Punta. "Ya" "Menjemukan sekali. Pertanyaan mereka tidak akan
berkeputusan. Marilah kita mengambil jalan lain. Semuanya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian merekapun menusup diantara
batang-batang jagung, menyusur pematang yang menyilang jalan menuju
kesudut desa. "Kita meloncat pagar batu" desis anak yang tinggi itu.
Tidak ada jawaban, tetapi merekapun menuju ke lambung pedukuhan dan
meloncati pagar batu. Dengan diam-diam mereka berjalan tergesa-gesa
ke rumah masing-masing. Orang-orang yang menunggu di pojok desa
masih juga menunggu. Mereka menyangka bahwa anak anak itu akan
segera kembali dan melewati jalan itu. Mereka ingin mendengar
langsung keterangan dari mulut-mulut mereka dan tanggapan dari Ki
Jagabaya atas paristiwa itu. Tetapi anak-anak itu tidak juga segera
lawat. Dengan demikian maka orang-orang yang menunggu itu menjadi
cemas. Salah seorang dari mereka berdesis "Apakah Ki Jagabaya
menjadi marah dan menahan mereka di rumahnya?" "Ah tentu tidak.
Anak-anak kita tidak bersalah" "Tetapi mungkin mereka harus menunggu
panyelesaian. Mungkin Ki Jagabaya memanggil orang-orang yang
berkepentingan" "Apakah Ki Jagabaya akan memanggil gerombolan Sura
Sapi ?" "Tentu tidak mungkin. Tetapi ia dapat memanggil Manguri dan
Lamat" Orang-orang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan
ayah Pamot yang ikut berkerumun di sudut desa itupun
mengangguk-angguk pula. Tetapi ia menjadi semakin lama semakin
cemas, sehingga ia berkata "Aku akan berganti pakaian. Lebih baik
aku menyusul mereka daripada berdiri termangu-mangu disini"
Tetangga-tetangganya yang berada di pojok desa itu mengerutkan
kening mereka. Sejenak mereka tidak menyahut. Tetapi sejenak
kemudian salah seorang dari mereka berkata "Kau akan disangkutkan
pula pada masalah ini" "Itu sudah sewajarnya. Aku adalah ayah Pamot.
Mau t idak mau aku pasti akan tersangkut" Orang itu tidak menjawab
lagi. Tidak seorangpun yang mencegahnya lagi ketika ayah Pamot itu
kemudian meninggalkan tetangga-tetangganya yang berkerumun di depan
gardu di pojok desa. Dengan tergesagesa ia pulang untuk mengganti
pakaiannya, karena ia ingin datang sendiri ke rumah Ki Jagabaya
menanyakan anaknya. Tetapi ia terkejut ketika ia memasuki pintu
rumahnya. Dilihatnya Pamot sudah ada di dalam. Anak itu duduk sambil
minum air hangat dan gula kelapa. Di sisinya duduk ibunya dan di
hadapannya kakeknya. "Kau sudah pulang Pamot?" bertanya ayahnya
dengan serta-merta. "Belum lama ayah" "Aku menunggumu di pojok desa.
Apakah kau tidak mengambil jalan itu?" Pamot menggeleng "Memang
tidak ayah. Kami bersepakat untuk mengambil jalan lain ketika kami
ketahui, banyak sekali orang yang berkerumun di pojok desa" "He,
kenapa kami t idak melihat kalian?" "Kami berjalan beriringan.
Tetapi agaknya orang-orang Gemulung sedang sibuk berbantah tentang
peristiwa semalam, sehingga mereka sama sekali tidak menghiraukan
apapun lagi" Ayah Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya
"Orang-orang itu pasti akan kecewa. Aku akan memberitahukan kepada
mereka, bahwa yang mereka tunggu telah pulang" "Jangan ayah. Aku
lelah sekali. Mereka pasti akan bertanya-tanya menurut kehendak
mereka sendiri tanpa menghiraukan orang yang mereka tanya. Sedang
aku benarbenar lelah dan kantuk" Ayahnya menarik nafas dalam-dalam.
Sambil duduk di amben itu pula ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
dapat mengerti keberatan Pamot itu. Tetapi apakah ia akan membiarkan
orang-orang itu menunggu?. Isterinyapun kemudian memberinya
semangkuk air panas pula. Sambil meneguk ia berdesah. Lalu katanya
"Tetapi orang-orang yang ada di pojok desa itu harus tahu, bahwa
yang mereka tunggu sudah lewat" ia berhenti sebentar "kalau begitu,
sebaiknya kau masuk saja ke dalam bilik. Aku akan mengatakan kepada
mereka, bahwa anak-anak itu sudah pulang, tetapi mereka baru tidur.
Mereka lelah sekali setelah semalam-malaman tidak tidur dan apalagi
berkelahi melawan gerombolan orang-orang yang liar itu" Pamot
mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Terserahlah kepada ayah"
Ayah Pamotpun kemudian berdiri sambil berkata "Akan pergi sekarang.
Mereka sudah terlampau lama menunggu" Sepeninggal ayahnya, maka
Pamotpun kemudian masuk ke dalam biliknya. Ia mengharap bahwa ia
benar-benar tidak akan diganggu oleh partanyaan-pertanyaan yang
membingungkan dan melingkar-lingkar tidak habis-habisnya. Badannya
yang latih dan matanya yang sangat kantuk, membuatnya malas untuk
bertemu dengan siapapun juga. Tetapi meskipun kemudian ia berbaring,
dan rasa-rasanya ia akan segera tertidur dengan nyenyaknya, namun
ternyata matanya sama sekali t idak mau terpejam. Terbayang semua
masalah dan peristiwa yang baru saja terjadi. Pertengkaran,
perkelahian demi perkelahian, sehingga akhirnya ia telah menyeret
kawan-kawannya ke dalampersoalan ini. Dalam pada itu, maka Pamotpun
sampai pada sumber persoalannya, Sindang Sari. Dadanya menjadi
berdebar-debar mengenangkan gadis itu. Gadis itu pasti akan segera
mendengar pula apa yang sudah terjadi. "Kasian anak itu" Pamot
terkejut ketika ibunya membuka pintu biliknya. Kemudian memasukinya
sambil membawa tempurung berisi air yang berwarna ke
kuning-kuningan. "Apa itu ibu?" bertanya Pamot. "O, jadi kau belum
tidur?" Pamot menggeleng sambil bangkit duduk di pinggir ambennya
"Aku tidak dapat tidur, betapa letihnya" "Aku membawa cairan param
untukmu Pamot. Aku tahu, kau pasti terlampau letih" Pamot menarik
nafas dalam-dalam. "Berbaringlah" Pamot tidak membantah. lapun
kemudian berbaring lagi. Ibunya menggosok kakinya, tangannya,
punggungnya dan seluruh tubuhnya dengan param yang hangat.
"Mudah-mudahan segala perasaan sakit dan letih akan berkurang"
berkata ibunya. "Terima kasih ibu" "Nah, cobalah untuk tidur"
Ibunyapun kemudian meninggalkan Pamot di dalam biliknya. Terasa
sekujur tubuhnya menjadi hangat. Perasaan letih dan sakit memang
berangsur berkurang. Tulangtulangnya tidak lagi serasa saling
terlepas. Tetapi Pamot tetap tidak dapat memejamkan matanya. Setiap
ia berusaha untuk tidur dan melepaskan segala ingatan tentang
apapun, maka bayangan Sindangsari justru menjadi semakin jelas
mengawang. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia
berdesah "Semuanya sudah terlanjut terjadi. Kawan-kawanku yang
semula tidak tahu menahu, kini telah terseret ke dalam parsoalanku.
Karena itu, apa-boleh buat. Aku t idak akan surut" Dalam pada itu,
Ki Jagabaya yang terlambat bangun, segera berkemas sambil
bersungut-sungut "Anak-anak Gemulung itu sudah mulai gila. Mereka
membuat persoalan saja. Kademangan ini sebenarnya sudah mulai baik
dan perlahan-lahan meningkatkan diri. Tetapi tiba-tiba saja,
anakanak muda itu terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang memuakkan"
Sambil menyuapi mulutnya dengan makan pagi Ki Jagabaya berkata
kepada isterinya "Aku akan pergi ke rumah Ki Demang" "Aku mendengar
persoalan semalam" berkata isterinya. "Manguri memang perlu mendapat
perhatian" Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian
ia berkata "Ki Demang sedang gelap hati" Ki Jagabaya mengerutkah
keningnya "Kenapa?" "Bukankah ia baru saja bercerai?" Ki Jagabaya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya "Itulah kegilaannya. Sudah
berapa kali ia bercerai dan kawin lagi?" "Seingatku lima kali.
Seorang meninggal karena sakitsakitan. Yang lain bercerai setelah
beberapa tahun kawin. Isterinya yang ketiga hanya betah tinggal di
rumah Ki Demang selama setengah tahun" Ki Jagabaya menarik nafas
dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata "Tetapi masalahnya harus
dibedakan. Aku akan membicarakan masalah Kademangan Kepandak dan
padukuhan. Ki Demang harus menyediakan waktu. Ia harus memisahkan
masalah tanggung jawabnya sebagai seorang Demang, dan
masalah-masalah pribadinya" Isterinya mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia mengerti apa yang dikatakan suaminya, tetapi ia
mengerti juga bahwa kadang Ki Demang kehilangan keseimbangan antara
tugastugas jabatannya dan masalah-masalahnya sendiri. Setelah makan
pagi, maka Ki Jagabayapun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke
rumah Ki Demang di Kepandak untuk menyampaikan masalah yang terjadi
semalam. Selain masalah anak-anak muda Gemulung, ternyata bahwa
gerombolan Sura Sapi telah mulai menyentuh kademangan ini pula,
meskipun agaknya diundang oleh orangorang Gemulung sendiri. "Dengan
demikian Manguri telah melakukan kesalahan dua kali lipat" desis Ki
Jagabaya di sepanjang jalan. Dengan demikian langkah Ki Jagabaya
menjadi semakin cepat. Tetapi sekali-sekali ia menguap, karena
semalam tidurnya agak terganggu oleh kehadiran anak-anak Gemulung
itu. Beberapa puluh langkah dari regol Kademangan, Ki Jagabaya
mengerutkan keningnya. Ia melihat seekor kuda tertambat di halaman
Kademangan. "Sepagi ini sudah ada tamu?" ia bertanya kepada diri
sendiri. Keinginannya untuk mengetahui, siapakah tamu yang datang
dipagi-pagi benar itu telah mendorongnya untuk berjalan lebih cepat
lagi. Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tidak seorangpun duduk di
pendapa. Ki Demang tidak dan apalagi tamunya. Tetapi ketika ia
melihat pintu pringgitan terbuka, maka iapun segera mengerti, bahwa
tamunya kali ini diterima di dalam pringgitan. Ki Jagabayapun
kemudian perlahan-lahan naik ke pendapa agar kedatangannya tidak
mengejutkan. Kemudian iapun mengetuk pintu yang memang sudah terbuka
itu. "Siapa" bertanya Ki Demang. "Aku Ki Demang, Supa" "Supa
Jagabaya?" "Ya" "O" terasa ada keragu-raguan sedikit pada nada suara
Ki Demang. Namun kemudian "masuklah" Ki Jagabaya itu mengerutkan
keningnya sejenaK. Tetapi iapun kemudian mendorong pintu pringgitan
dan menyembulkan kepalanya. Tetapi Ki Jagabaya tidak segera
melangkah masuk. Ia terperanjat melihat tamu yang sudah duduk di
dalam pringgitan, di atas sehelai tikar pandan yang putih dan bahkan
di hadapannya sudah tersedia beberapa macamhidangan. Orang itu
adalah pedagang ternak yang kaya raya dari Gemulung. Ayah Manguri.
"Masuklah" desis Ki Demang kemudian. Kini Ki Jagabayalah yang
menjadi termangu-mangu sejenak Dipandanginya saja wajah Ki Demang
dan wajah pedagang ternak yang kaya raya itu. "Masuklah" berkata Ki
Demang kemudian. Ki Jabagaya mengerutkan keningnya. Hatinya menjadi
berdebar-debar ketika ia masih saja melihat pedagang yang kaya itu
seakan-akan acuh tidak acuh saja atas kehadirannya. Namun akhirnya
Ki Jagabaya masuk juga ke dalam pringgitan dan duduk di atas tikar
pandan itu pula. "Kau datang terlampau pagi hari ini Ki Jagabaya?"
berkata Ki Demang Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian ia
bertanya pula "Apakah bebahu yang lain masih belum datang?" Ki
Demang tersenyum "Belum" "Aku merasa kesiangan" berkata Ki Jagabaya
"sehingga aku menjadi terlampau tergesa-gesa" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. Disambarnya wajah tamunya yang
pertama, kemudian wajah Ki Jagabaya. Keduanya sudah saling mengenal,
tetapi keduanya masih belumsaling menyapa. Meskipun Ki Jagabaya
merasa duduknya kurang tenang, namun ia sengaja tidak mau menyapa
pedagang kaya itu lebih dahulu. Ia tidak senang melihat sikapnya
yang angkuh "Kalau orang itu menyapa, baru aku akan menjawab"
katanya di dalam hati. Tetapi pedagang kaya itupun masih saja acuh
tidak acuh. Bahkan kemudian ia menundukkan kepalanya tanpa
menghiraukan lagi kepada Ki Jagabaya. Tetapi di dalam hatinyapun ia
berkata "Aku adalah tamu Ki Demang. Jagabaya ini memang sombong
benar. Apakah disangkanya jabatan Jagabaya itu merupakan jabatan
tertinggi di seluruh dunia? Aku adalah seorang yang kaya raya, yang
sudah menjelajahi hampir seluruh daerah Selatan" Ki Demang yang
menjadi tuan rumah merasa aneh, bahwa keduanya tidak saling menyapa.
Tetapi Ki Demang belum tahu, apakah sebenarnya yang telah membuat
sikap mereka menjadi kaku. Tanpa mereka sadari, sebenarnya di dalam
sudut hati Ki Jagabaya telah tersimpan perasaan tidak senang kepada
Manguri, anak pedagang kaya itu, yang telah mengundang gerombolan
Sura Sapi memasuki daerah Kademangan Kepandak. Hal itu pasti akan
mengganggu kedamaian dan ketenteraman Kademangan ini. Dan ini adalah
tugas yang akan dibebankan kepadanya. Dalam pada itu, pedagang kaya
itupun merasa bahwa pasti tersimpan suatu prasangka di dalam hati Ki
Jagabaya. Ia yakin bahwa anak-anak muda Gemulung yang berpihak pada
Pamot pasti sudah menghadap Ki Jagabaya. Apalagi anak-anak yang
termasuk dalam keanggautaan pengawal khusus Kademangan Kepandak.
Namun Ki Demang tidak membiarkan tamu-tamunya untuk duduk membeku,
sehingga dengan kaku pula ia berkata "He, bukankah kalian akan
saling memerlukan dalam masalah yang sedang kita hadapi?" Keduanya
berpaling memandang wajah Ki Demang. Dan sementara itu Ki Demang
melanjutkan "Kami bertiga memang harus berunding. Adalah kebetulan
sekali Ki Jagabaya datang pagi-pagi, sehingga masalahnya akan
menjadi semakin cepat kita selesaikan" Ki Jagabaya mengerutkan
keningnya. Tanpa sesadarnya ia memandang wajah pedagang kaya itu,
selagi pedagang itu memandangi wajahnya pula. Dengan demikian, maka
keduanyapun kemudian menganggukkan kepala mereka dengan kaku.
Sejenak kemudian seorang pelayan Ki Demang telah membawakan
semangkuk air panas untuk Ki Jabaya. Sambil mengerutkan keningnya Ki
Jagabaya menerima mangkuk itu. Namun di dalam hati ia berkata "Tamu
Ki Demang kali ini pasti seorang tamu yang luar biasa. Suguhannyapun
luar biasa pula. Tidak pernah seorang tamu di Kademangan ini
mendapat suguhan makanan sampai lima macam. Apalagi sepagi ini.
Darimana saja Ki Demang mendapatkannya?" "Minumlah Ki Jagabaya"
berkata Ki Demang. "Terimakasih" Namun belum lagi Ki Supa Jagabaya
meneguk mangkuknya, Ki Demang sudah berkata "Ki Jagabaya. Kedatangan
Ki Sukerta dari Gemulung ini ada sangkut pautnya dengan pergaulan
puteranya" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang
sudah menduga. "Ternyata anak-anak Gemulung sekarang sudah menjadi
liar. Mereka sama sekali sudah tidak mengenal sopan santun" Dada Ki
Jagabaya berdesir. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia sadar bahwa ceritera ini adalah ceritera ayah Manguri.
Sehingga apabila ada perbedaan warna dan nada, adalah wajar sekali.
Sejenak kemudian Ki Demang melanjutkan "Sejak beberapa saat yang
lalu telah terjadi beberapa kali perkelahian. Namun masalahnya masih
belum terlampau parah. Orang-orang tua padukuhan Gemulung sendiri
berusaha untuk menyelesaikannya. Namun ternyata anak-anak muda
Gemulung yang tidak mempunyai kesibukan tertentu itu hampir-hampir
tidak dapat dikendalikan lagi" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan
terus. Ia ingin mendengarkan pengaduan ayah Manguri itu sampai
habis. Dan Ki Demangpun berkata "Ki Sukerta, pedagang ternak ini
datang kepadaku untuk mengadukan masalah itu. Sudah tentu Ki Sukerta
mencemaskan nasib puteranya " Ki Jagabaya masih belum menjawab.
Sekilas ditatapnya wajah pedagang ternak itu. Ketika ia melihat
wajah itu tersenyum-senyum, maka iapun mengumpat di dalam hati.
"Nah, itulah yang perlu kau ketahui Ki Jagabaya" "Hanya itu"
tiba-tiba Ki Jagabaya menyahut sambil mencoba melihat tanggapan pada
wajah Ki Sukerta, pedagang yang kaya dari Gemulung itu. Tanggapan
itu memang seperti yang disangkanya. Pedagang itu mengerutkan
keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Sambil memandang wajah
Ki Jagabaya ia bertanya dengan serta-merta "Kenapa hanya itu?" Ki
Jagabayalah yang kini tersenyum. Jawabnya "Tidak ada pengaduan lain?
Misalnya anak-anak muda Gemulung sudah berhubungan dengan
orang-orang dari lain padukuhan untuk membentuk suatu gerombolan
atau bahkan dari lain Kademangan?" Ki Demangpun kemudian mengerutkan
keningnya. Di tatapnya wajah Ki Jagabaya yang tersenyum-senyum itu,
kemudian wajah Ki Sukerta yang tegang. "Apa maksudmu Ki Jagabaya?"
bertanya pedagang itu. "Aku tidak bermaksud apa-apa" jawab Ki
Jagabaya "tetapi aku bertanya. Kemungkinan yang demikian itu
sekarang dapat saja terjadi, dimana anak-anak muda Gemulung itu
tidak mempunyai kesibukan apapun" "Pasti ada latar belakang dari
pertanyaanmu itu" desis pedagang kaya itu "setidak-tidaknya kau
menganggap laporanku itu sebagai dongeng ngaya-wara, sehingga
tanggapanmu itu terlampau menyakitkan hati" "Kau mudah menjadi sakit
hati Ki Sukerta" berkata Ki Jagabaya "sebaiknya kau agak bersabar
sedikit. Biasanya seorang pedagang tidak lekas kehilangan kesabaran"
Wajah pedagang itu menjadi merah padam. Tetapi ia masih mencoba
untuk menahan diri. "Baiklah, baiklah aku memberi penjelasan"
berkata Ki Demang "perist iwanya terjadi semalam. Tetapi semalam itu
adalah akibat dari peristiwa beberapa hari sebelumnya " Ki Jagabaya
terdiam. Ia memang ingin mendengarkan laporan ayah Manguri itu.
"Anak-anak Gemulung telah mengganggu Manguri" berkata Ki Demang
seterusnya "tetapi sudah tentu sebagai seorang anak muda. maka
Manguripun mempertahankan harga dirinya. Masalah ini semula adalah
masalahnya Manguri dengan seorang anak muda yang bernama Pamot.
Tetapi agaknya Pamot membentuk suatu kelompok anak-anak muda untuk
melawan Manguri. Adalah kebetulan sekali bahwa kawan dan pembantu
Manguri yang bernama Lamat mampu melindunginya "Ki Demang berhenti
sejenak, lalu "tetapi kelompok anak-anak muda itu menjadi semakin
banyak, sehingga akhirnya Manguri, terpaksa minta bantuan
temantemannya pula. Karena anak-anak muda Gemulung sebagian terbesar
sudah dipengaruhi oleh Pamot. maka lebih aman bagi Manguri untuk
minta perlindungan orang-orang yang bekerja pada ayahnya.
Orang-orang yang setiap hari memelihara ternak yang belum terjual.
Orang-orang yang kerjanya mencari dedaunan dan rerumputan. Namun
sudah tentu bahwa mereka t idak akan dapat memadai, karena diantara
kawan-kawan Pamot dan Pamot sendiri adalah anggautaanggauta pengawal
khusus Kademangan Kepandak" "Pengawal Kademangan Kepandak, beserta
pengawal khususnya adalah orang-orang yang ada di dalam tanggung
jawabku" berkata Ki Jagabaya. "Ya. Itulah sebabnya, maka kita akan
mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya tanpa menyakit i hati kedua
belah pihak" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik.
Memang baik sekali" "Nah, marilah sekarang kita berbicara dengan
baik, agar kita dapat menemukan cara yang kita kehendaki itu. Ki
Jagabaya mengangguk anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera
menyahut. "Ki Demang" Ki Sukertalah yang kemudian berbicara
"sebaiknya aku minta diri. Terserahlah kepada Ki Demang,
penyelesaian yang manakah yang baik harus dilakukan. Aku hanya ingin
anakku tidak selalu dibayangi oleh kecemasan tentang dirinya
sendiri, karena anak-anak Gemulung yang selalu mengancamnya. Anakku
kini sudah tentu tidak akan berani keluar rumah. Dan karenanya aku
minta perlindungan kepada Ki Demang" "Tunggu" potong Ki Jagabaya
"aku kira akan lebih baik kalau kita mendengar laporan dari kedua
belah pihak. Aku condong untuk memanggil Manguri dan Pamot
bersamasama" "Buat apa?" bertanya pedagang ternak itu. "Aku ingin
mempertemukan. Aku ingin keduanya berbicara. Kemudian aku akan
menyarankan agar mereka berjanji untuk tidak bermusuhan lagi apapun
sebabnya" Pedagang ternak itu menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba
saja ia menggeram "Kau tidak dapat memanggil anakku, aku atau
keluargaku yang lain. Aku datang hari ini atas kehendakku sendiri"
"Kenapa ? Aku adalah petugas yang mengurusi masalahmasalah yang
dapat mengguncang ketenteraman. Aku dapat memanggil setiap orang
yang aku perlukan" "Kau dapat memanggil Pamot, memanggil
petani-petani kecil atau anak anak gembala. Tetapi tidak anakku.
Anak seorang pedagang yang bukan saja bergerak di padukuhan
Gemulung, tetapi aku sudah menjelajahi seluruh Mataram, bahkan
sampai ke Madiun" "Lalu kenapa? Kalau kau sudah sampai ke ujung
bumi, lalu kau bebas untuk berbuat sekehendakmu di kampung halamanmu
sendiri?" "Sudahlah" Ki Demang menengahinya "jangan ribut. Biarlah
Ki Sukerta pulang. Kita akan berbicara untuk mencari penyelesaian
itu" Ki Jagabaya tidak menjawab. Ditatapnya Ki Demang dan pedagang
ternak itu berganti-ganti. "Terima kasih Ki Demang" berkata Ki
Sukerta, kemudian katanya "ingat aku tidak mau diganggu oleh urusan
anakanak" Ki Jagabaya sama sekali sudah tidak mengacuhkannya lagi.
Ketika Ki Sukerta kemudian berdiri, Ki Jagabaya masih tetap saja
duduk di tempatnya. "Ki Jagabaya" berkata Ki Demang "Ki Sukerta akan
meninggalkan kita. Apakah kau masih mempunyai pertanyaan" Ki
Jagabaya menggeleng "Tidak. Aku akan memanggil yang berkepentingan.
Kalau ia t idak datang, aku dapat memakai kekerasan" "Persetan"
desis pedagang ternak itu. "Aku akan menentukan segala-galanya"
tiba-tiba Ki Demang memotong, sehingga Ki Jagabaya terkejut
karenanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak
dapat membantah lagi, apabila hal itu memang sudah dikehendaki oleh
pemimpin tertinggi Kademangan Kepandak. Ki Sukertapun kemudian
meninggalkan Kademangan itu. Ki Jagabaya yang akhirnya berdiri juga
hanya mengantarkannya sampai ke pintu pringgitan. Ia berdiri sambil
bersilang tangan di dada, bersandar uger-uger pintu, ketika Ki
Demang mengikut i tamunya sampai ke kudanya. "Ki Demang" Ki Sukerta
berbisik "aku akan memenuhi semua yang sudah aku katakan. Ki Demang
kelak dapat melihat sendiri, yang manakah yang Ki Demang kehendaki.
Aku kira Ki Demang memang harus segera kawin lagi. Sebagai seorang
Demang, tidak sepantasnya hidup sendiri hanya dilayani oleh
pembantu-pembantu yang barangkali tidak cukup cakap" Ki Demang
tersenyum "Kecuali itu, keperluan Ki Demang yang lain dapat pula aku
penuhi" "Ya, ya. Aku percaya bahwa kau mampu melakukannya. Tetapi
aku tidak memerlukan yang lain" "Baiklah. Sekarang aku minta diri"
Ki Sukerta itupun kemudian meloncat keatas punggung kudanya.
Kemudian tanpa berpaling lagi, kudanya berderap meninggalkan halaman
Kademangan itu. Ki Demang yang masih berdiri di bawah tangga pendapa
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun melangkah naik untuk
menemui Ki Jagabaya yang masih berdiri di tempatnya. Tetapi
langkahnya tertegun ketika ia melihat beberapa orang bebahu telah
mulai berdatangan. "Duduklah" berkata Ki Demang "aku masih mempunyai
keperluan dengan Ki Jagabaya" Bebahu Kademangan itupun menyahut
"Silahkan" Ki Demangpun kemudian masuk kembali ke pringgitan,
diikuti oleh Ki Jagabaya. Setelah mereka duduk kembali di tempat
semula maka Ki Jagabayapun bergumam "Pedagang dari Gemulung itu
terlampau sombong. Ia merasa orang yang kaya raya, yang dapat
mempergunakan uangnya untuk segala macam kepentingan" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, Karena itu kita memang harus
berhati-hati menghadapinya. Kalau ia marah, ia memang dapat berbuat
terlampau banyak. Setidaktidaknya ia dapat mengganggu ketenangan
pekerjaan kita sehari-hari" "Tetapi kita dapat bertindak tegas
terhadapnya. "Tidak semudah itu Ki Jagabaya. Aku sudah mendengar
banyak tentang pedagang kaya itu. Ia mempunyai banyak sekali
pelindung yang dapat digerakkan setiap saat. Beberapa kepeng uang
telah membuat seseorang kehilangan akal dan mengorbankan dirinya
untuk kepentingan pedagang itu" "Tetapi kita mempunyai pasukan Ki
Demang. Pasukan pengawal. Dan adalah kebetulan sekali bahwa Mataram
telah memilih beberapa orang pengawal untuk mendapat latihan khusus,
apabila setiap saat, Mataram akan mengirim pasukan lagi ke Betawi"
"Tetapi aku tetap menganggap bahwa apabila mungkin setiap masalah t
idak diselesaikan dengan kekerasan. Apakah kau mengerti maksudku?"
Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Juga masalah anak-anak
muda itu" Sekali lagi Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi ia berdesah "Kalau kita selalu memanjakannya, maka ia tidak
akan dapat mengerti, bahwa ia adalah salah seorang dari warga
Kademangan ini yang terikat oleh berbagai macam hubungan timbal
balik. Ia tidak dapat berdiri sendiri disini dengan dalih apapun.
Berbuat apapun. Aku kira lebih baik ia membawa orang-orangnya dan
membuka hutan di lereng Gunung Sewu Ia akan dapat membuat tata
pergaulan menurut seleranya. Kitapun kemudian t idak akan mengusik
dan mengganggu gugat apa yang dilakukannya, karena mereka tidak
merugikan kita, mengganggu kita dan melanggar tata pergaulan yang
sudah kita sepakati bersama" "Aku tahu Ki Jagabaya. Memang kita
harus berbuat sesuatu Yang kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana
cara yang sebaik-baiknya" "Ki Demang" berkata Ki Jagabaya "apakah Ki
Demang ingin mendengarkan laporan dari pihak lain? Bukan dari pihak
Manguri tetapi dari pihak Pamot?" Ki Demang mengerutkan keningnya.
"Mungkin laporan itupun tidak benar seluruhnya. Tetapi
setidak-tidaknya akan dapat menjadi pertimbangan Ki Demang sebelum
mengambil keputusan. Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini di
hadapan pedagang yang sombong itu. Tetapi aku tidak mendapat
kesempatan" Mau tidak mau Ki Demang harus menganggukkan kepalanya
"Baiklah. Katakanlah" "Ki Demang" berkata Ki Jagabaya "yang
terpenting adalah, bahwa Manguri telah mengundang gerombolan Sura
Sapi untuk ikut campur di dalam persoalannya" "He?" ternyata Ki
Demang terkejut pula mendengarnya. "Gerombolan Sura Sapi itulah yang
semalam berkelahi melawan anak-anak" Ki Demang termenung sejenak.
Tetapi tanggapannya benar-benar di luar dugaan Ki Jagabaya "Nah,
bukankah kau akhirnya harus percaya bahwa ia dapat berbuat terlampau
banyak? Jauh lebih banyak dari dugaanku. Kini ia baru memanggil Sura
Sapi, lain kali ia memanggil yang lain, yang lain lagi. Dengan
demikian maka Kademangan ini akan menjadi semakin kacau balau" Ki
Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Memang bukan
kegemaranku untuk berkelahi. Aku tahu bahwa Ki Demangpun mempunyai
kemampuan yang hampir tidak ada bandingnya. Jangankan gerombolan
Sura Sapi, gerombolangerombolan yang mempunyai agul-agul yang
betapapun tangguhnya, aku kira tidak akan dapat mengatasi Ki Demang
dari Kepandak. Namun Ki Demang masih selalu berpegangan, bahwa
berkelahi adalah cara yang sama sekali tidak dikehendaki. Tetapi
meskipun demikian Ki Demang, seperti terhadap anak-anak kita yang
nakal kita kadang-kadang harus menyelentiknya di kuping atau
mencubitnya di paha" "Tetapi terhadap pedagang itu lain lagi Ki
Jagabaya. Kalau kita nyelentik di kuping, ia akan memukul kening
kita, sedang kalau kita mencubit di paha, ia akan mematahkan tukang
belakang kita" "Kalau begitu kita cekik saja orang itu" "Nah,
kekakuanmu sudah tumbuh lagi" "Bukan begitu Ki Demang. Maksudku
memang pertamantama kita mencari jalan yang baik. Kita panggil
kedua-duanya supaya mereka saling berjanji untuk tidak mengulangi
masalahnya. Sedang gadis sumber persoalannya, sebaiknya harus segera
menentukan sikap, supaya tidak menumbuhkan salah paham di
pihak-pihak yang lain. Apabila kelak salah satu pihak melanggar
persetujuan itu, kita akan bertindak lebih tegas lagi" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku dapat mengerti. Tetapi
biarlah aku melihat persoalan itu dari dekat. Akulah yang nanti akan
datang ke Gemulung. Tentu bersama kau Ki Jagabaya" Ki Jagabaya
terperanjat "Kenapa kita yang harus pergi kesana? Jalan yang paling
mudah, kita panggil anak-anak itu. Kita adalah orang-orang tua yang
mempunyai wewenang dan tanggung jawab" "Jangan terlampau kaku.
Apakah salahnya kita melihat masalah ini langsung. Kita dapat
melihat tempat-tempat kejadian dan kita dapat mendengar keterangan
dari beberapa orang yang berdiri di luar masalah ini, sehingga
lengkaplah keterangan-keterangan kita sebelum kita menentukan sikap"
Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia tidak sependapat
dengan Ki Demang, bahwa pimpinan Kademangan harus terlampau mengalah
dan merendahkan diri terhadap pedagang ternak yang walaupun kaya
raya itu. Tetapi Ki Jagabayapun tidak dapat membantah keputusan yang
diambil oleh Ki Demang. Merekalah yang akan mengunjungi Gemulung,
melihat sendiri dari dekat, apa yang telah terjadi. "Aku sependapat
sekali untuk melihat keadaan itu langsung, Ki Demang. Tetapi kalau
hal ini didorong oleh keseganan kita memanggil Manguri, aku akan
berpikir lagi" desis Ki Jagabaya. "Tidak. Sebenarnya kita sama
sekali tidak boleh ragu-ragu untuk bertindak. Tetapi kali ini aku
memang ingin melihat sendiri, apa yang sudah terjadi di Gemulung.
Masalahnya bukan sekedar masalah yang dapat diselesaikan dengan
sepintas lalu. Yang tersangkut kali ini adalah anak pedagang yang
kaya raya itu, yang dapat banyak berbuat baik maupun buruk, beberapa
orang pengawal, bahkan pengawal khusus dan menurut keteranganmu,
Sura Sapi telah ikut pula di dalam perkelahian itu" "Bukan sekedar
turut serta, memang gerombolan itulah yang berkelahi melawan para
pengawal" Ki Jagabaya berhenti sejenak, lalu "tetapi aku dapat
berbangga. Ternyata pengawal itu mampu menandingi gerombolan Sura
Sapi. Itu saja baru anak-anak Gemulung. Belum anak muda dari
padukuhanpadukuhan lain. Bukankah dengan demikian kita dapat menilai
kekuatan yang tersimpan di padukuhan-padukuhan di seluruh
Kademangan" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya. Akupun
berbangga. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus selalu
mempergunakan kekerasan" "Tidak Ki Demang. Aku sudah menegaskan.
Bukan itu" Ki Demang mengerutkan keningnya. Kemudian katanya
"Baiklah nanti kita pergi ke Gemulung" Ki Jagabaya
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Minumlah" Ki Demang kemudian
mempersilahkan. "Terima kasih" berkata Ki Jagabaya "tetapi baiklah
aku melengkapi ceriteraku" "Tentang?" "Manguri dan Pamot" Dengan
segannya menunggu jawabannya, Ki Jagabaya langsung menceriterakan
apa yang didengarnya dari Pamot dan kawan-kawannya. Ki Demang
mengangguk-angguk "Memang ada beberapa perbedaan" katanya "tetapi
banyak persamaan. Masalahnya berkisar dari Sindangsari. Keduanya
mengaku, Sindangsari berada dipihaknya. Aku harus mendengar sendiri,
bagaimana sikap gadis itu" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya pula.
Sesuatu tersirat disorot matanya. Sesuatu yang tidak terkatakan.
Apalagi Ki Jagabaya mengerti, bahwa Ki Demang baru saja bercerai
dari isterinya yang kelima. Isterinya yang masih terlalu muda.
Meskipun Ki Demang masih belum tua, dan belum beranak pula, tetapi
Ki Demang sudah terlalu sering berganti isteri, sehingga agaknya ia
bukan seorang suami yang baik. Sejenak kemudian, maka keduanyapun
keluar dari pringgitan dan menemui beberapa orang bebahu yang lain,
yang duduk-duduk di pendapa. Mereka setiap hari datang menjenguk
Kademangan meskipun hanya sebentar, apabila ada sesuatu yang harus
mereka kerjakan. "Hari ini kita tidak mempunyai persoalan apa-apa"
berkata Ki Demang. Bebahu Kademangan yang berada di pendapa itu
mengangguk-anggukkan kepala mereka. Namun tiba-tiba salah seorang
dari mereka bertanya "Apakah Ki Demang dan Ki Jagabaya sudah
mendapat laporan tentang anak-anak Gemulung yang saling berkelahi?"
"O" Ki Demang tersenyum "sudah. Aku sudah mendengar laporan. Tetapi
itu sekedar persoalan anak-anak Aku dan Ki Jagabaya akan segera
menyelesaikannya" Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia berkata "Sokurlah. Tetapi menurut pendengaranku,
perkelahian itu bukan sekedar masalah anakanak" "Apa yang kau
dengar?" bertanya Ki Jagabaya. "Ternyata gerombolan Sura Sapi telah
ikut campur" Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah
Ki Demang sejenak. Katanya kemudian "Ya. Begitulah menurut
pendengaranku" "Bukankah dengan demikian masalahnya bukan sekedar
masalah anak-anak?" "Ya, begitulah menurut pendapatku" "Ah" Ki
Demang memotong "kita masih harus membukt ikan lebih dahulu. Sampai
seberapa jauh akibat yang timbul. Kadang-kadang kita membayangkan
sesuatu persoalan jauh lebih dahsyat dari apa yang sebenarnya
terjadi. Karena itu, yang paling baik adalah melihat sendiri
perkembangan dan peristiwa yang terjadi itu" Orang-orang yang berada
di pendapat itu menganggukanggukkan kepalanya. Diantara mereka
memang sependapat dengan keterangan Ki Demang. "Apapun yang terjadi,
sebaiknya langsung dapat dilihat dari dekat, supaya tidak salah
mengambil kesimpulan dan usaha penyelesaian" Tetapi mereka sama
sekali tidak menyimpan kerisauan seperti Ki Jagabaya. Usaha Ki
Demang untuk melihat persoalannya itu seakan-akan hanya karena ia
tidak dapat memanggil anak-anak yang terlibat di dalam masalah itu.
Namun demikian masih ada juga yang berkata "Tetapi Ki Demang,
betapapun juga kecil masalahnya, tetapi keterlibatan Sura Sapi
sebenarnya sudah memberikan kecemasan yang tidak dapat diabaikan"
"Kenapa kalian masih saja dihantui oleh nama gerombolan itu? Kalian
harus melihat kenyataan" jawab Ki Demang "gerombolan Sura Sapi sama
sekali tidak berdaya menghadapi anak-anak Gemulung. Sebab sebagian
dari mereka adalah pengawal-pengawal khusus Kademangan Kepandak.
Bukankah itu justru memberikan kebangggaan kepada kita?. "Ya, aku
mendengar Ki Demang. Tetapi apakah kira-kira masalahnya akan
berhenti sampai sekian? Apakah gerombolan Sura Sapi yang liar itu
dengan senang hati menerima kekalahannya? Kalau semua Sura Sapi
hanya sekedar menerima upah untuk melakukan sesuatu, maka dilain
kali ia akan menuntut balas atas kekalahannya itu tanpa diundang
oleh siapapun. Lebih ngeri lagi apabila Sura Sapi datang bersama
kawan-kawan mereka yang merasa tersinggung pula atas kekalahan itu"
"Kau menakut-nakuti dirimu sendiri" jawab Ki Demang "sudah aku
katakan, bahwa aku akan mengambil kesimpulan setelah aku melihat
sendiri apa yang terjadi di Gemulung. Nanti aku akan pergi
kepa-dukuhan itu bersama Ki Jagabaya. Seandainya Sura Sapi
benar-benar mendendam padukuhan Gemulung atau katakanlah Kademangan
Kepandak, apakah yang kita takutkan? Kita mempunyai sepasukan
pengawal. Kita mempunyai Ki Jagabaya, Ki reksatani, adikku yang
kalian mengetahui, dapat juga diketengahkan sebagai seorang yang
dapat dihadapkan pada gerombolan-gerombolan seperti Sura Sapi atau
bahkan gerombolan yang manapun, dan sudah tentu aku akan
mempertanggung jawabkan semuanya itu" Ki Demang berhenti sejenak,
lalu "Nah, apakah yang kalian cemaskan lagi?" Tidak seorangpun yang
menjawab. "Tetapi aku kira kita tidak akan terperosok demikian jauh.
Kita-memang sering berangan-angan" Orang-orang yang berada di
pendapa itu menganggukanggukkan kepala mereka. "Nah, sekarang,
terserah kepada kalian. Yang masih ingin berada di tempat ini aku
persilahkan. Yang mempunyai tugastugas lain di luar halaman inipun
aku persilahkan pula" Demikianlah maka beberapa orang diantara
merekapun segera meninggalkan Kademangan, termasuk Ki Jagabaya.
Kepada Ki Demang, Ki Jagabaya berkata "Aku akan segera kembali.
Lebih baik kita segera pergi ke Gemulung. "Aku akan mengambil
kudaku, supaya perjalanan kita agak lebih cepat" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, bagus sekali. Kita akan pergi
berkuda" Namun di sepanjang jalan, beberapa orang bebahu yang tidak
puas mendengarkan pembicaraan di pendapa Kademangan, masih saja
bertanya kepada Ki Jagabaya. Sedang Ki Jagabayapun sama sekali t
idak merahasiakan sesuatu. Apa yang diketahuinya disampaikannya
kepada bebahu yang lain, meskipun ia berpesan "Jangan kalian sebar
luaskan. Kalau masalah ini sudah menjadi pembicaraan setiap orang,
maka usaha penyelesaian justru akan tertanggu karenanya. Kalian
harus mencoba menyimpan serapat mungkin masalah-masalah yang
terjadi. Apalagi antara dua ceritera yang berbeda itu. Apakah kalian
dapat mengerti?" Orang-orang yang mendengarkan ceritera itupun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagaimanapun juga mereka
tidak dapat menganggap masalah itu sebagai masalah yang dapat
diabaikan. Seandainya masalahnya itu terbatas antara Manguri dan
Pamot beserta kawan masingmasing, maka usaha penyelesaian akan jauh
lebih mudah dari yang dihadapi sekarang. Tetapi mereka hanya dapat
menunggu untuk sementara. Menunggu dengan cemas. Kadang-kadang
timbul juga ketenangan di hati mereka "Memang kita kadang-kadang
terlampau mempertajam persoalan. Ki Demang dan Ki Jagabaya akan
dapat segera menyelesaikan persoalannya. Kenapa kita menjadi cemas?"
Demikianlah ketika matahari telah menjadi semakin tinggi, Ki
Jagabaya telah berada kembali di Kademangan dengan menunggang seekor
kuda. Mereka siap untuk pergi ke Gemulung, melihat sendiri apa yang
telah terjadi. Ki Jagabaya hanya berada sebentar di halaman
Kademangan, karena Ki Demangpun telah siap pula untuk berangkat.
"Kau tinggal disini sebentar" berkata Ki Demang kepada seorang yang
bertubuh tegap dan kekar, agak lebih tinggi dari Ki Demang sendiri.
Berkumis rata meskipun tidak begitu tebal, dan membiarkan bajunya
terbuka, sehingga bulu-bulu di dadanya tampak kehitam-hitaman.
"Apakah kakang tidak lama? orang itu bertanya. Ki Demang menggeleng.
"Apakah kau tidak ikut bersama kami, Ki Reksatani?" bertanya Ki
Jagabaya. Ki Reksatani, adik Ki Demang menggeleng sambil tersenyum
"Aku menunggui rumah ini. Sebenarnya aku hanya akan singgah ke rumah
ini sebentar. Tetapi terpaksa aku jadi penjaga" "Bukankah ada
pengawal di regol depan?" "Pengawal cukup lengkap" jawab adik Ki
Demang "tetapi kakang Demang minta aku tetap disini" "Sudahlah"
potong Ki Demang "kalau kau mau makan, makanlah. Di geledeg ada nasi
seceting dan sepotong ayam goreng" Adiknya tertawa. Ki Jagabayapun
tertawa pula. Keduanya kemudian meninggalkan halaman Kademangan di
atas punggung kuda. Langkah kaki kuda-kuda mereka tidak terlampau
cepat. Sambil melihat-lihat daerah Kademangan Kepandak mereka
berjalan ke Barat Menyusur jalan yang berbatu-batu di tengah daerah
persawahan. Setiap kali mereka berdua harus menganggukkan kepala
mereka apabila mereka berpapasan dengan orang-orang yang sedang
pergi atau pulang dari sawah, dari pasar dan dari manapun juga.
Setiap kali keduanya harus menjawab sapa yang ramah dari orang-orang
Kademangan Kepandak. Sebelum mereka sampai disebuah tikungan, Ki
Demang berkata "Kita ambil jalan memintas. Kita lewat jalan kecil
ini" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya "Kita tidak lewat Gunung
Sepikul?" "Tidak" sahut Ki Demang, Ki Jagabaya tidak menyahut lagi.
Kini mereka berbelok mengikut i sebuah jalan kecil. Kuda-kuda
merekapun berjalan semakin cepat, karena mataharipun menjadi semakin
tinggi, sehingga panasnya mulai terasa menyengat kulit. Perjalanan
ke Gemulung sama sekali bukan perjalanan yang panjang. Karena itu,
maka di tengah hari mereka berdua telah ada diambang padukuhan.
Kedatangan Ki Demang dan Ki Jagabaya hanya berdua agaknya telah
mengejutkan orang-orang Gemulung. Namun mereka langsung dapat
menebak, apakah keperluan kedua bebahu Kademangan itu, justru Ki
Demang sendiri. Mereka langsung menghubungkan kedatangan Ki Demang
itu dengan peristiwa anak-anak muda Gemulung baru-baru ini.
Perkelahian yang memang telah menggoncangkan ketenteraman hidup
rakyat Gemulung. Di mulut lorong yang memasuki padukuhan Gemulung,
Ki Demang berhenti sejenak. Ia melihat beberapa orang yang lewat
mendekatinya. Salah seorang dari mereka menyapanya "Selamat siang Ki
Demang dan Ki Jagabaya" "Ya, ya terima kasih" jawab Ki Demang. "Kami
sudah menduga, apakah keperluan Ki Demang dan Ki Jagabaya. Sudah
tentu bukan soal parit yang rusak di sebelah padukuhan ini. Kalau
masalahnya masalah parit itu, maka Ki ulu-ulunya yang akan datang
hari ini" Ki Demang tersenyum. Katanya "Baiklah. Kalau kalian sudah
tahu kepentingan kedatanganku, maka coba, sebaiknya aku harus datang
kepada siapa?" Orang itu termenung sejenak. Jawabnya kemudian t idak
disangka-sangka sama sekali oleh Ki Demang "Kalau aku Ki Demang,
sebaiknya Ki Demang datang saja ke rumah pedagang kaya itu. Ki
Demang dapat minta agar anaknya diajar supaya tidak selalu
mengganggu orang di padukuhan ini" Ki Demang mengerutkan keningnya.
Ketika ia memandang wajah Ki Jagabaya dengan sudut matanya,
dilihatnya Ki Jagabaya itu tersenyumsambil mengangguk-angguk. "Kalau
tidak ke rumah pedagang itu, kemana aku sebaiknya pergi untuk
mendapat keterangan lebih banyak" Orang itu mengerutkan keningnya.
Kemudian Jawabnya "Tentu saja ke rumah Pamot " Ki Demang mengerutkan
keningnya. Ketika ia memandang wajah Ki Jagabaya dengan sudut
matanya, dilihatnya Ki Jagabaya itu tersenyumsambil
mengangguk-angguk. Ki Demang mengangguk-angguk. Desisnya "Aku akan
pergi ke rumahnya sebelum ke rumah pedagang kaya itu. Aku ingin
mendengar banyak keterangan" Ki Jagabaya tidak membantah.
Dibiarkannya Ki Demang memilih arah. "Terima kasih, terima kasih"
berkata Ki Demang kemudian kepada orang-orang yang menyongsongnya
"aku akan pergi ke rumah Pamot " Ki Demang dan Ki Jagabayapun
kemudian memasuki lorong yang membelah padukuhan Gemulung, langsung
menuju ke rumah Pamot. Kedatangan Ki Demang benar-benar mengejutkan
keluarga itu. Ayah Pamot sendiri tidak ada di rumah, sehingga karena
itu, maka dengan tergesa-gesa disuruhnya seorang anak tetangga untuk
menjemputnya di sawah. Pamot dan kakeknyalah yang menemui kedua
tamunya sebelum ayahnya pulang dari sawah. Dengan dada berdebardebar
mereka duduk di amben panjang sambil menundukkan kepala mereka.
"Ayahmu pergi?" bertanya Ki Demang. "Sebentar lagi ia datang Ki
Demang" jawab kakek Pamot "seseorang sudah menyusulnya " Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku sudah mendengar ceritera
tentang kau dari Ki Jagabaya" berkata Ki Demang "tetapi agaknya
lebih puas mendengarnya dari kau sendiri" Pamot menarik nafas
dalam-dalam. "Ceriterakan yang penting" Pamot mengerutkan keningnya
"Kenapa aku harus menceriterakannya kembali ?" ia bertanya kepada
dirinya sendiri. Tetapi akhirnya ia menyadari, bahwa apa yang akan
diceriterakan harus tepat sama seperti yang dikatakannya kepada Ki
Jagabaya. Kalau ada perbedaan sedikit saja, maka seluruh ceriteranya
pasti tidak akan dipercaya lagi. Bahkan mungkin ia akan dianggap
telah memberikan keterangan dan pengaduan paslu. Karena itu, maka
dengan hati-hati Pamot mulai berceritera. Tetapi karena apa yang
diceriterakan adalah keadaan yang sebenarnya, maka sama sekali t
idak ada kesalahan apapun yang telah diucapkannya. Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Ki Jagabaya menarik nafas
dalam-dalam. "Jadi permusuhanmu sudah mulai beberapa lama sebelum
perkelahian itu terjadi?" bertanya Ki Demang. "Sebenarnya aku tidak
merasa permusuhan itu Ki Demang, tetapi sikap Manguri agak kurang
menyenangkan" "Pamot " bertanya Ki Demang "cobalah berkata berterus
terang. Apakah Sindangsari, gadis yang kau sebut-sebut itu
benar-benar telah memilih kau sebagai bakal suaminya?" Wajah Pamot
menjadi kemerah-merahan. Sejenak ia menunduk. Namun kemudian ia
menjawab "Aku belum dapat mengatakannya Ki Demang. Tetapi kami
memang telah terlibat dalam suatu hubungan yang agak lain dari sifat
hubungan kawan biasa" "Aku ingin mendengar, apakah bukan kau yang
terlalu perasa? aku belum yakin kalau Sindangsari menaruh hati juga
kepadamu. Menurut penilaian lahiriah, seorang gadis pasti akan
memilih Manguri daripada kau. Seandainya kau lebih tampan sedikit
dari Manguri, sedang menurut penilaianku Manguri juga cukup tampan,
maka seorang gadis pasti akan memilihnya, karena banyak sekali
masalah yang tidak ada padamu, tetapi ada padanya" Pamot mengerutkan
keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab Ki Jagabaya telah mendahului
"Pertanyaan itu kurang mengenai sasarannya Ki Demang. Meskipun Pamot
pantas juga diminta untuk memberikan keterangan tetapi pertanyaan
ini lebih tepat diberikan kepada Sindangsari" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata "Maksudku apakah
kita tidak keliru menangkap ceritera Pamot?" Ki Jagabaya tidak
segera menangkap kata-kata Ki Demang itu. Sementara itu, maka ayah
Pamotpun dengan tergesa-gesa memasuki rumahnya. Keringatnya yang
membasahi seluruh tubuhnya menitik satu-satu dilantai ketika ia
berdiri sambil membungkukkan kepalanya. "Maaf Ki Demang dan Ki
Jagabaya, aku tidak tahu, bahwa aku akan menerima tamu hari ini"
Pamot dan kakeknyalah yang menemui kedua tamunya sebelum ayahnya
pulang dari sawah. Dengan dada berdebardebar mereka duduk amben
panjang sambil menunduk kepala mereka. "Akupun tidak mimpi untuk
datang ke Gemulung kalau anakmu tidak berkelahi" jawab Ki Demang.
Ayah Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Ki Demang
dan Ki Jagabaya berganti-ganti, kemudian wajah anaknya, ayahnya dan
yang terakhir ia menganggukanggukkan kepalanya. "Aku sedang bertanya
tentang beberapa hal kepada anakmu" berkata Ki Demang. "O, silahkan
Ki Demang" "Duduklah disini" berkata Ki Demang selanjutnya
"pertanyaanku masih banyak" Ayah Pamotpun kemudian duduk pula di
samping anaknya. "Menurut anakmu, ia telah berkelahi dengan
gerombolan Sura Sapi" "Ya Ki Demang, akupun melihat sendiri
gerombolan itu" "He, apakah kau juga turut berkelahi?" "Tidak Ki
Demang. Kebetulan seseorang melihat anak-anak itu berkelahi di
sawah. Kami yang berada di gardupun berlarilarian ke sawah pula.
Kami masih sempat melihat perkelahian itu, tetapi kami tidak sempat
ikut membantu, karena gerombolan Sura Sapi segera melarikan diri" Ki
Demang mengerutkan keningnya, sedang Ki Jagabayapun
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi aku masih belum puas dengan
keterangan anakmu" berkata Ki Demang selanjutnya "ketika ia melihat
Manguri berusaha mengganggu Sindangsari, ia mencoba untuk melindungi
gadis itu. Aku menyangka kalau Pamot salah mengatakannya" Pamot,
ayahnya, kakeknya dan bahkan Ki Jagabaya sendiri tidak segera
mengerti maksud Ki Demang. "Menurut penilaianku, agaknya Pamotlah
yang terlalu perasa. Ia melihat Manguri berjalan bersama
Sindangsari. Kemudian karena ia merasa cemburu, maka ia telah
berbuat sesuatu yang mengejutkan keduanya. Sudah tentu Sindangsari
menjadi malu sekali, dan segera berlari meninggalkan Manguri, Nah,
ceritera inilah yang sengaja atau tidak sengaja telah kau
ceriterakan setelah kau sesuaikan dengan seleramu" "Ah" tiba-tiba
Pamot berdesah "tidak Ki Demang. Memang sebaiknya Ki Demang bertanya
kepada Sindangsari. Mungkin itu akan lebih baik, seperti kata Ki
Jagabaya. Dengan demikian Ki Demang tidak akan tertipu olehku, atau
barangkali oleh Manguri" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dan Ki Jagabayapun menyahut "Hanya Sindangsarilah yang mengetahui
perasaannya sendiri, lebih baik dari siapapun" "Ya, ya" berkata Ki
Demang "tetapi sudah tentu bahwa aku belum dapat mempercayaimu
Pamot. Kami masih memerlukan banyak sekali keterangan" Pamot tidak
menjawab, tetapi kepalanya menunduk dalamdalam. Kepada ayah Pamot Ki
Demang berkata "Jagalah anakmu baik-baik. Jangan kau ajari anakmu
berbohong atau jangan kau dorong ia untuk setiap kali berkelahi"
"Tentu tidak Ki Demang. Aku selalu mencoba mengawasinya agar ia
dapat berbuat sebaik-baiknya. "Kau terlampau banyak mempergunakan
waktumu untuk mencari uang, mencukupi kebutuhan hidupmu sehari-hari,
sehingga kau tidak mempunyai waktu lagi untuk mengawasi anakmu" "Aku
sudah mencoba Ki Demang" jawab ayah Pamot "aku membagi waktuku
sebaik-baiknya sehingga anakkupun selalu dapat aku awasi" "Baik"
jawab Ki Demang "tetapi kalau akhirnya ternyata masalahnya tidak
seperti yang kau katakan, maka aku akan mengambil tindakan"
"Silahkan Ki Demang. Agaknya anakku tidak berbohong" Ki Jagabaya
yang mendengarkan percakapan itupun tibatiba menyahut "Kau jangan
mencoba menghindari tanggung jawab atas perbuatan anakmu. Kalau ia
bersalah, kau harus melepaskannya untuk menerima hukumannya. Jangan
mencoba melindungi kesalahan anakmu dengan cara apapun juga" "Tentu,
tentu Ki Jagabaya. Kalau ternyata Pamot bersalah, aku serahkan anak
itu dengan kedua tanganku, apapun yang akan terjadi atasnya" "Bagus"
sahut Ki Jagabaya "sejak sekarang awasilah anakmu baik-baik.
Bukankah kau tidak terlampau sering pergi keluar Kademangan?" "Tentu
tidak Ki Jagabaya. Bahkan keluar padukuhanpun jarang sekali"
"Bukankah kau tidak selalu keluar rumah, mengurusi apapun
kemana-mana ? Ke Madiun dan kemanapun sehingga kau tidak sempat
mengurusi anakmu?" Ayah Pamot mendengar pertanyaan Ki Jagabaya itu
dengan mulut ternganga. Ia sama sekali tidak mengerti pertanyaan
itu. Dipandanginya wajah Ki Jagabaya dan Ki Demang berganti-ganti.
Tetapi Ki Demanglah yang menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti
maksud pembantunya itu. Sejak semula agaknya Ki Jagabaya tidak
sependapat dengan cara yang ditempuh oleh Ki Demang. Ki Demang tahu
benar, bahwa yang dimaksud oleh Ki Jagabaya adalah justru ayah
Manguri. Tetapi Ki Demang tidak kehilangan kesabaran. Bahkan ia
berkata "Bagus, kalau begitu baiklah. Aku kira kau tidak berbohong.
Mudah-mudahan anakmupun tidak berbohong" Ki Jagabaya menarik nafas
pula. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi. Keduanyapun kemudian
segera minta diri. Mereka bersepakat untuk menemui Sindangsari di
rumahnya. Kepadanyalah sebagian dari penyelesaian masalah ini dapat
dicari. Di sepanjang jalan Ki Jagabaya tidak terlampau banyak lagi
berbicara. Kini ia menjadi semakin men-yakini pendapatnya bahwa Ki
Demang agak tidak kurang wajar menanggapi masalah ini. Sikapnya
terhadap kedua orang tua dari anakanak yang bermusuhan itu tampak
jauh berbeda. Ayah Manguri terlampau mendapat penghormatan
daripadanya, sedang ayah Pamot justru diancamdan ditakut-takuti.
"Apakah yang sebenarnya telah terjadi?" pertanyaan itu selalu
mengganggu Ki Jagabaya "apakah memang harus ada perbedaan, karena
ayah Manguri seorang yang kaya raya, sedang ayah Pamot hanyalah
seorang petani biasa? Apakah dengan demikian kebenaranpun
terpengaruh pula oleh keadaan itu?" Tetapi Ki Jagabaya berjanji di
dalam hatinya "Aku: akan mencoba melihat kebenaran itu ditegakkan.
Aku tidak peduli siapakah ayah Manguri dan siapakah ayah Pamot.
Bahkan apapun yang dapat terjadi atasku seandainya ayah Manguri itu
mengancam" Namun nada suara hati itu menurun "Tetapi kalau Ki Demang
mengambil sikap lain, aku tidak akan banyak berdaya" Meskipun
demikian sejauh mungkin Ki Jagabaya akan berusaha untuk berdiri
tegak sebagai seorang petugas dan bebahu Kademangan Kepandak.
Semakin lama merekapun menjadi semakin dekat rumah Sindangsari.
Beberapa orang yang melihatnya, segera dapat menebak pula bahwa
keduanya pasti akan pergi ke rumah Sindangsari. Bahkan beberapa
orang anak-anak telah berlari-lari lebih dahulu dan berkata kepada
Sindangsari "Ki Demang pasti akan kemari" "Ki Demang?" Sindangsari
terkejut. "Ya. Bersama Ki Jagabaya. Mereka berkuda ke arah ini"
Sindangsaripun menjadi bingung. Ketika ia menyampaikannya pula
kepada ibunya, ibunyapun menjadi bingung pula. "Jangan bingung"
kakeknya yang kebetulan ada di rumah mencoba menenangkan mereka "apa
yang mesti di bingungkan? Ki Demang dan Ki Jagabaya pasti hanya
sekedar mencari keterangan tentang keributan yang baru saja terjadi.
Bukankah kau tidak bersalah?" kakeknya berhenti sebentar, lalu
"tetapi kau harus menjawab semua pertanyaannya sesuai dengan yang
terjadi sebenarnya. Ingat, apa adanya. Itu adalah perbuatan yang
sebaik-baiknya kau lakukan saat ini. Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian, sebenarnyalah Ki
Demang dan Ki Jagabaya telah memasuki halaman rumah kakek
Sindangsari. Dengan tergopoh-gopoh orang tua itu menyongsong mereka,
dan mempersilahkan mereka memasuki rumah mereka yang tidak terlampau
besar. Setelah mengikat kuda-kuda mereka, maka keduanyapun kemudian
mengikuti kakek Sindangsari, masuk keruang tengah dan duduk di atas
balai-balai bambu yang besar. "Aku hanya sebentar" berkata Ki Demang
"panggilan anakmu yang bernama Sindangsari" "Maksud Ki Demang,
cucuku?" "He, cucumu? Ya, cucumu" Maka dipanggilnyalah Sindangsari
bersama ibunya untuk menghadap Ki Demang dan Ki Jagabaya. Sejenak Ki
Demang memandangi kedua ibu dan anaknya itu berganti-ganti. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia bergumam "Jadi Sindangsari ini
adalah anakmu?" "Ya Ki Demang" "Baik, baik" desis Ki Demang
"duduklah disini. Marilah kita berbicara " Keduanyapun duduk pula
sambil menundukkan kepalanya di amben itu juga. "Aku akan berbicara
dengan Sindangsari" berkata Ki Demang. "Silahkan, silahkan" jawab
kakeknya. "Majulah" Dengan kepala yang semakin menunduk
Sindangsaripun beringsut sedikit. "Apakah kau sudah mendengar, apa
yang telah terjadi antara Pamot dan Manguri?" bertanya Ki Demang.
Dada Sindangsari berdesir. Tetapi ia selalu teringat akan pesan
kakeknya, bahwa ia harus berkata sebenarnya. Sambil mengangguk ragu
ia menjawab "Sudah Ki Demang" "Coba katakan, apakah yang sudah
terjadi?" "Beberapa anak muda telah berkelahi melawan gerombolan
Sura Sapi yang diundang oleh Manguri" "Ah" potong Ki Demang
"begitulah berita itu? Sindangsari mengangguk. "Dari siapa kau
mendengar?" Sindangsari ragu-ragu sejenak. Tetapi sekali lagi ia
teringat pesan kakeknya. Maka jawabnya "Dari kakek, Ki Demang" Ki
Demang mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kemudian kepada kakek
Sindangsari ia bertanya "Apakah benar demikian?" "Menurut
pendengaranku Ki Demang" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi kini ia memandang Sindangsari hampir tanpa berkedip lagi.
"Sindangsari" ia berkata "kau akan menjadi sumber penyelesaian dari
masalah ini. Coba katakan, apakah kau dapat memilih dengan tegas
salah seorang dari kedunyanya?" Ternyata pertanyaan itu telah
menggetarkan dada Sindangsari. Sebagai seorang gadis, maka
pertanyaan itu membuatnya tersipu-sipu. Pipinya menjadi merah, dan
kepalanya justru menunduk dalam-dalam. Ki Jagabaya menarik nafas
dalam-dalam. Pertanyaan Ki Demang itu dirasakannya terlampau
langsung. Dengan demikian, maka Sindangsari pasti akan menemui
kesulitan untuk menjawabnya. Karena itu maka Ki Jagabayapun kemudian
mencoba untuk menolongnya "Sindangsari" katanya "maksud Ki Demang
adalah, agar Manguri dan Pamot tidak selalu bertengkar karena
mungkin mereka salah paham. Sudah tentu semuanya itu bukan salahmu.
Mungkin kau sama sekali tidak menghendaki pertengkaran diantara
kawan-kawan se padukuhan. Tetapi salah paham itu memang mungkin saja
terjadi. Bahkan terlampau biasa terjadi. Nah, supaya hal itu hidak
berlarut-larut, maka kau harus menegaskan sikapmu" Ki Jagabaya
berhenti sejenak, lalu "Sindangsari, siapakah menurut anggapanmu
yang bersalah dari keduanya? Apakah Manguri ataukah Pamot?"
Sindangsari masih menundukkan kepalanya. Tetapi pertanyaan Ki
Jagabaya masih lebih mudah dijawab olehnya daripada pertanyaan Ki
Demang. "Tentu salah seorang dari keduanya keliru" sambung Ki Demang
"yang keliru sebaiknya mendapat peringatan. Supaya kami tidak salah
memberikan peringatan itu, nah, kaulah yang dapat menunjuk, siapakah
yang wajib mendapat teguran itu" Sejenak Sindangsari terbungkam.
Sambil mempermainkan ujung bajunya ia menggigit bibirnya. "Jawablah
Sari" bisik ibunya "semuanya ini untuk kebaikanmu dan kebaikan
padukuhan Gemulung. Apabila terjadi sesuatu, bukan kaulah yang akan
dipersalahkan lagi" Sindangsari bergeser sedikit. Perlahan-lahan
sekali terdengar suaranya "Yang salah adalah Manguri ibu" Ibunya
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berkata "Begitulah Ki Demang.
Menurut Sindangsari, Mangurilah yang bersalah" Ki Demang mengerutkan
keningnya, sedang Ki Jagabaya berkata "Nah, Ki Demang, kita tinggal
mengambil kesimpulannya. Kalau Manguri yang bersalah, tentu Pamotlah
yang benar. Begitu?" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Keterangan ini langsung kita dengar dari Sindangsari sendiri"
berkata Ki Jagabaya "sehingga keragu-raguan kita, apakah Pamot yang
mencegat Manguri yang sedang berjalan bersama Sindangsari, ataukah
ceriteranya lain lagi, atau ceritera-ceritera lain yang setiap orang
dapat mengarangnya, kini sudah mendapat penjelasan langsung dari
yang berkepentingan" Ki Demang mengangguk-angguk dan
mengangguk-angguk. Tetapi tampaklah sesuatu yang tersimpan di dalam
hatinya. Namun demikian ia tidak dapat membantah lagi kata-kata Ki
Jagabaya itu, karena sebenarnyalah bahwa Sindangsari memang sudah
menyebut sendiri, Mangurilah yang bersalah. Akhirnya terdengar suara
Ki Demang dalam nada yang datar "Baik, baik. Kita sudah mendengar
keterangan Sindangsari" ia berhenti sejenak, lalu "aku kira
keperluan kita sudah cukup hari ini" "Begitu tergesa-gesa Ki Demang
?" bertanya kakek Sindangsari. "Aku hanya memerlukan penjelasan itu"
jawab Ki Demang "Bukankah begitu Ki Jagabaya?" Ki Jagabaya
mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya Ki Demang. Aku kira keperluan
kita memang sudah selesai" Maka keduanyapun kemudian minta diri.
Sambil mengerutkan keningnya Ki Demang meninggalkan halaman rumah
Sindangsari. Sekali-sekali ia berpaling, namun kemudian kepalanya
tertunduk dalam-dalam. "Apakah kita akan pergi ke rumah pedagang
itu?" bertanya Ki Jagabaya. Ki Demang menggelengkan kepalanya.
Jawabnya "Tidak. Aku tidak memerlukan keterangannya lagi" "Jadi,
apakah kita sudah dapat mengambil kesimpulan, kemudian melakukan t
indakan-tindakan yang penting untuk mencegah terulangnya perstiwa
ini?" Ki Demang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tetapi ia
tidak menjawab. Ki Jagabaya menjadi heran. Apalagi yang dipikir oleh
Ki Demang ini?. Ki Demang hampir-hampir tidak menghiraukan lagi,
bahwa ia berkuda bersama-sama dengan Ki Jagabaya. Sesuatu yang bara,
yang sama sekali tidak terbayang di kepalanya sebelum ia berangkat,
kini tiba-tiba saja telah tumbuh. Namun dengan demikian, maka di
padukuhan Gemulung dan di Kademangan Kepandak telah timbul pula
suatu persoalan yang baru sama sekali. Ki Jagabaya hanya dapat
menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Ki Demang kemudian berkata
"Kita kembali ke Kademangan" Dan ternyata Ki Demang sama sekali
tidak memerlukan pertimbangan lagi. Tiba-tiba saja kudanya
dilarikannya semakin cepat. Sedang Ki Jagabaya mengikutinya saja di
belakang. Hanya kadang-kadang ia mengkibas-kibaskan lengan bajunya
karena debu yang diterbangkan oleh kaki-kaki kuda Ki Demang melekat
dibajunya itu. Sementara itu, Manguri yang merasa telah gagal untuk
sekian kalinya, menjadi semakin marah bukan buatan. Apalagi ketika
ia sadar, bahwa seluruh padukuhan kini mengetahuinya apa yang telah
dilakukannya. Sambil menggeretakkan giginya ia berjalan hilir mudik
di dalam biliknya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Ia
merasa seluruh padukuhan Gemulung kini mengarahkan pandangan mata
mereka kepadanya. "Gila" ia menggeram "ternyata nama Sura Sapi itu
sama sekali tidak berarti "namun kemudian "tetapi kenapa Pamot dapat
mengetahui bahwa gerombolan Sura Sapi itu akan mengeroyoknya,
sehingga ia sempat mempersiapkan dirinya bersama beberapa orang
kawan?" Tetapi pertanyaan itu tidak dapat dijawabnya. Karena itu ia
hanya dapat menghentakkan kakinya saja dilantai, atau memukul tiang
dengan telapak tangannya. Manguri terkejut ketika ia mendengar suara
ayahnya memanggilnya. Dengan tergesa-gesa ia mendatanginya.
"Duduklah" berkata ayahnya. Manguripun kemudian duduk di hadapan
ayahnya. "Kau sudah membuat aku pening" gumamayahnya. Manguri tidak
menyahut. "Tetapi agaknya aku dapat mengatasinya. Aku sudah bertemu
dengan Ki Demang. Karena Ki Demang baru saja kehilangan isterinya,
maka persoalannyapun berkisar kepada seorang calon isteri baru"
Manguri tidak menjawab. "Tetapi Jagabaya yang bernama Supa itu
agaknya memang besar kepala" Manguri mengerutkan keningnya. Kemudian
ia bertanya "Apa katanya?" "Tetapi sudah tentu ia berada di bawah
pengaruh Ki Demang" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. "Untuk
sementara kau harus tetap berada di rumah. Kalau kau keluar, mungkin
akibatnya kurang baik sekarang, sebelum Ki Demang mengambil
langkah-langkah yang dapat menguntungkan kita. Aku sudah menemui Ki
Demang sendiri pagi tadi, kemudian aku pergi ke tempat perempuran
yang dapat aku jadikan calon isteri Ki Demang itu. aku sudah
menjanjikannya" "Siapakah perempuan itu?" "Kenapa kau bertanya?
Sudah tentu bukan Sindangsari" "ibunya?" "Hus" bentak ayahnya
"apakah kau sangka Ki Demang itu sudah terlampau tua?" "Perempuan
itupun belum terlampau tua" "Aku mempunyai beberapa orang gadis yang
pantas untuknya" sahut ayahnya. Manguri mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya kemudian "Mudah-mudahan Ki Demang segera
bertindak" Manguri berhenti sejenak "tetapi bagaimana aku dapat
mendapatkan anak itu ?" "Jangan tergesa-gesa. Kalau kau
mempergunakan caramu yang bodoh itu, kau akan terjerumus lagi ke
dalam kesulitan. Dan aku lagi yang harus mengurusnya. Dengan
demikian aku akan kehilangan banyak waktu untuk mengurusi
pekerjaanku" "Seharusnya ayah memang menyediakan waktu untuk
mengurusi masalahku. Selama ini ayah hanya mengurusi lembu, kerbau
dan ibu-ibu muda saja" "Apa tahumu tentang hal itu" ayahnya
membelalakkan matanya "aku dan ibumu menyediakan uang dan semua
kebutuhanmu secukupnya. Seumurmu itu, kau harus sudah dapat mengurus
dirimu sendiri. Meskipun dalam masalahmasalah seperti kali ini aku
masih harus ikut menjadi sibuk. Kalau Jagabaya yang gila itu
berkeras kepala, pekerjaanku akan menjadi semakin panjang karenanya"
Manguri t idak menjawab. Kepalanya terangguk-angguk kecil. "Selain
urusanku dengan Ki Demang, jangan kau sangka bahwa orang dari
gerombolan Sura Sapi itu akan berdiam diri. Kau juga yang bodoh,
kenapa kau hubungi cucurut-cucurut itu. Akhirnya mereka tidak dapat
menyelesaikan tugasnya, bahkan kemudian rahasiamu diketahui oleh
orang se padukuhan, bahkan se Kademangan" "Itulah yang aneh ayah"
berkata Manguri kemudian "darimana Pamot tahu, bahwa Sura Sapi telah
mengancamnya" "Mungkin Sura Sapi sendiri. Mereka terlampau
membanggakan diri. Tetapi akhirnya mereka hanya dapat melarikan
dirinya saja" "Tidak mungkin ayah. Apakah mereka terlampau bodoh
untuk berbuat demikian?" "Jika tidak demikian, mereka pasti akan
mendendammu. Mereka merasa kau menjerumuskan mereka ke dalam suatu
kesulitan" Manguri mengerutkan keningnya. Hal itu memang mungkin
sekali terjadi. "Nah, sekarang kau lihat. Seharusnya besok aku pergi
ke tlatah Menoreh mengantarkan beberapa ekor sapi. Tetapi aku harus
menunda keberangkatanku karena masalahmu" Manguri tidak menjawab.
"Kalau kau juga mengingini gadis itu, maka masalah ini memang akan
berkepanpangan. Dan aku akan menjadi semakin cepat tua" "Sedang
ibu-ibu muda masih banyak menunggu" "Tutup mulutmu" ayahnya
menggeram "Kalau kau masih ribut saja, aku tidak akan menyelesaikan
urusanmu. Baik dengan Ki Demang, dengan anak-anak Gemulung, dengan
gerombolan Sura Sapi, maupun dengan Sindangsari" Manguri tidak
menjawab lagi. Kalau ayahnya menjadi marah, maka ia akan benar-benar
meninggalkannya pergi dan tidak mau lagi mengurus persoalannya itu.
Dalam pada itu, seperti yang diperhitungkan oleh ayah Manguri, maka
gerombolan Sura Sapi yang merasa terhina oleh kekalahan mereka dari
anak-anak Gemulung, tidak juga dapat melupakannya. Bagi mereka,
kesalahan pertama dilemparkannya kepada Manguri. Manguri pasti tidak
menyimpan rahasia penyergapan itu baik-baik, sehingga Pamot
mengetahuinya, dan sempat mempersiapkan beberapa orang kawannya.
"Aku akan menuntut kerugian daripadanya" desis Sura Sapi sendiri
kepada kawan-kawannya. Kawan-kawannya mendengarkannya dengan penuh
keragu-raguan. Apakah Manguri akan memenuhinya? Bahkan menurut
mereka, Manguri justru merasa telah dirugikan. "Manguri justru
menyesali kegagalan kita" berkata salah seorang dari mereka. "Itu
adalah karena salahnya" jawab Sura Sapi. "Gerombolan Sura Sapi tidak
pernah gagal sebelumnya. Kami selalu bekerja dengan teliti. Tidak
mungkin kedatangan kami telah mereka tunggu kalau berita tentang
usaha kami ini tidak dibocorkan oleh Manguri sendiri" Kawan-kawannya
hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kami akan mendatangi
rumahnya. Kami akan menuntut upah yang sudah dijanjikan" "Kalau ia
berkeberatan?" "Kami pergunakan kekerasan" Kawan-kawannya
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kita tidak pernah terkalahkan.
Bahwa kita gagal menangkap Pamot, adalah bagaikan arang yang
tercoreng di kening kita "Nilai harga diri kita jauh lebih tinggi
dari upah itu" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya pula.
Tetapi mereka masih juga ragu-ragu. Di rumah Manguri ada beberapa
orang pekerja yang tinggal di rumah itu siang dan malam. Sura Sapi
seakan-akan dapat membaca perasaan beberapa orang kawannya sehingga
ia berdesis "Apakah kalian berpikir bahwa para pekerja itu mampu
menahan kita? Mereka tidak lebih dari tukang-tukang rumput,
tukang-tukang sapu dan gamel" Kawan-kawannya masih juga
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi kalau kalian masih juga
ragu-ragu" berkata Sura Sapi "kita akan mengajak seorang kawan lagi
dan dapat dipercaya" Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Hal
serupa ini tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Mereka tidak
pernah membawa orang lain di dalam gerombolan mereka. Tetapi kali
ini pimpinan mereka menganggap perlu untuk membawa orang lain
bersama mereka. "Jangan cemas. Orang itu sebenarnya bukan orang
asing bagi kita. Ia adalah kakak kandungku sendiri yang kebetulan
pulang dari perantauan" "Pulang kemana?" tiba-tiba salah seorang
ang-gutanya bertanya. "Ke rumah. Rumah yang sudah sekian tahun aku
tinggalkan. Tetapi di rumah itu ada paman dan bibi. Sekalisekali aku
lewat juga di rumah itu. Dan aku melihat kakang Temon ada di rumah"
"Kau percaya kepada kakak kandungmu?" Sura Sapi tertawa, jawabnya
"Aku sudah ketemu dengan kakang Temon. Ia akan ikut bersama kami. Ia
memerlukan bekal untuk kembali ke tempatnya " "Dimana ia t inggal?"
' "Di ujung Gunung Kendeng" "Kalau kau sudah mempercayainya, kami
tidak akan berkeberatan" desis kawan-kawannya kemudian. Maka
merekapun kemudian sepakat untuk pergi ke rumah Manguri. Anak itu
harus membayar upah yang sudah dijanjikannya, karena kegagalan usaha
mereka menangkap Pamot dipengaruhi oleh keadaan di luar perhitungan,
yang menurut Sura Sapi, kesalahannya terletak justru pada Manguri.
"Nanti malam kita datangi rumahnya" "Tetapi anak-anak muda Gemulung
pasti masih berjagajaga karena peristiwa itu" berkata salah seorang
dari mereka. "Bodoh kau" bentak Sura Sapi "apakah kita tidak dapat
menemukan lubang sama sekali pada dinding padukuhan seluas itu?
Mereka pasti hanya akan berkumpul di gardu-gardu atau sekali dua
kali berbondong-bondong mengelilingi padukuhan lewat jalan diseputar
padukuhan itu" "Ya, ya" desis beberapa orang yang lain. "Nah,
sekarang kalian tidak mempunyai pekerjaan apapun. Kalau kalian mau
tidur tidurlah. Aku akan menemui kakang Temon" Demikianlah maka Sura
Sapi kemudian meninggalkan sarangnya. Wajahnya yang keras dan kasar,
pakaiannya yang justru terlampau bagus dan mahal, membuatnya tidak
mudah dikenal oleh orang-orang disekitar rumahnya. Sura Sapi
rasarasanya sudah berganti wajah. Karena itu tidak seorangpun yang
menaruh curiga ketika ia memasuki sebuah halaman rumah di pinggir
desa. Rumah yang sudah lama ditinggalkannya. Kakak kandungnya,
Temon, ternyata telah melakukan pekerjaan serupa dengan adiknya,
meskipun di tempat yang agak jauh. Karena itu tawaran Sura Sapi sama
sekali tidak ditolaknya. "Nanti malam kita pergi ke rumah pedagang
kaya itu" berkata Sura Sapi. "Apakah di rumah itu aku dapat
menemukan sesuatu?" "Maksudku, aku akan menuntut upah yang sudah
dijanjikan untuk pekerjaan yang sudah aku katakan tadi. Meskipun
tugas itu gagal" Temon mengangguk-anggukkan kepalanya "Apakah
pedagang itu akan membayar tuntutan kalian?" "Kami akan memaksa. Aku
kira ia tidak akan berani melawan. Setidak-tidaknya ia akan segan
bertengkar dengan kami, meskipun dalam keadaan terpaksa ia akan
melakukannya. Karena itu, tuntutan kitapun tidak akan terlampau
berlebih-lebihan supaya kita tidak memaksa ia melakukan perlawanan"
Temon mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik. Aku ikut bersama kalian"
Demikianlah maka gerombolan Sura Sapi mendapat tambahan seorang lagi
untuk sementara. Bagaimanapun juga Sura Sapi masih mempertimbangkan
kemungkinankemungkinan pahit yang dapat terjadi di halaman rumah
pedagang kaya itu. Ketika malam mulai menyentuh padukuhan Gemulung
dan sekitarnya, di ujung hutan rindang, Sura Sapi dan kawankawannya
sudah siap untuk pergi ke Gemulung dengan tuntutan yang
melonjak-lonjak di dalam dada mereka. Kalau mereka tidak mau
memberikan upah seperti yang dijanjikan, maka harga diri mereka akan
mereka tebus dengan kekerasan atas keluarga Manguri. Pada saat yang
bersamaan Ki Demang Kepandak duduk di pendapa rumahnya seorang diri
menghadapi sebuah dlupak minyak kelapa, semangkuk air panas dan
beberapa macam makanan. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya di
lihatnya sebuah lentera yang menyala di emper gardu di regol
halaman. Beberapa orang peronda sudah ada di dalamnya sambil
berbicara berkepanjangan. Biasanya Ki Demang sering turun juga
kehalaman dan berbicara dengan mereka. Tetapi kali ini Ki Demang
lebih senang duduk seorang diri sambil merenungi nyala api dlupaknya
yang bergerak-gerak, dibelai angin yang lembut. Sekali-sekali Ki
Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian giginya gemeretak
sambil menghentakkan tangannya ditelapak kakinya sendiri. "O, kenapa
aku datang sendiri di Gemulung" desisnya. Tetapi ia tidak dapat
berbuat apapun. Hal itu sudai. terlanjur dilakukan. Dan ia sudah
terlanjur melihat sendiri gadis yang bernama Sindangsari itu. "Aku
bukan seorang suami yang baik" katanya kepada diri sendiri "lima
kali aku kawin, dan lima kali pula perkawinan itu pecah. Apakah aku
masih mempunyai kesempatan untuk kawin lagi?" Dada Ki Demang serasa
menjadi sesak. Teringat olehnya janji pedagang ternak yang kaya dari
Gemulung, bahwa ia akan mencarikan seorang isteri buat Ki Demang.
"Aku memang masih ingin kawin" katanya kepada diri sendiri "tetapi
tidak bersungguh-sungguh. Kawin sekedar sebagai kelajiman saja" Ki
Demang kemudian berdesah "tetapi Sindangsari sangat menarik bagiku.
Ia seorang gadis yang cantik dan luruh. Agaknya ia' jujur pula.
Pantaslah bahwa Sindangsari dapat menimbulkan masalah di antara
anak-anak muda Gemulung" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya
perlahanlahan. Namun kemudian ia mengerutkan keningnya sambil
menggeram "0, aku harus mencegah benturan-benturan berikutnya. Kalau
gadis itu ada disini, maka t idak seorangpun yang akan mendendam.
Baik Pamot maupun Manguri, tidak akan berani mempersoalkannya lagi"
Dan tiba-tiba saja Ki Demang itu bangkit. Dengari tergesagesa ia
masuk ke pringgitan. Namun kemudian ia keluar lagi. Sesaat kemudian
terdengar suaranya menggeletar memanggil seorang peronda yang ada di
dalam gerdu di regol halamannya. Dengan tergesa-gesa pula peronda
itu mendekatinya sambil bertanya "Apakah Ki Demang memanggil aku?"
"Ya, ya" sahut Ki Demang "kemarilah" Peronda itu semakin mendekat.
"Panggil Ki Reksatani. Cepat" teriak Ki Demang. "Bukankah siang tadi
Ki Reksatani baru saja datang kemari Ki Demang?" "Aku tahu, aku
tahu. Tetapi panggil sekarang" Peronda itu mengerutkan keningnya.
Kemudian jawabnya "Baiklah. Aku akan memanggilnya" Maka peronda
itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan halaman Kademangan
setelah mengatakan keperluannya kepada kawan-kawannya. "Buat apa Ki
Reksatani dipanggil sekarang?" "Hus" desis peronda itu "lehermu
dapat dipuntirnya sampai patah" Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia
tersenyum kecut. Dengan langkah yang panjang peronda itupun kemudian
pergi ke rumah Ki Reksatani. "He, apa keperluanmu?" bertanya Ki
Reksatani ketika peronda itu sudah sampai ke rumahnya. "Ki Reksatani
dipanggil oleh Ki Demang" "Aku?" "Ya" "He, bukankah aku baru saja
bertemu dengan kakang Demang? Kakang Demang tidak mengatakan
apa-apa" "Tetapi mungkin berkembang suatu persoalan baru sehingga Ki
Demang memerlukan kawan berbincang" Ki Reksatani mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil
berkata "Baiklah. Aku akan pergi ke Kademangan. Pergilah dahulu.
Sebentar lagi aku akan menyusul" "Baiklah. Aku akan mendahului, dan
mengatakan kepada Ki Demang bahwa sebentar lagi Ki Reksatani akan
menyusul" "Ya" Peronda itupun kemudian meninggalkan rumah Ki
Rekstani, sementara Ki Reksatani merenung sejenak memandang
kekegelapan. "Apa lagi keperluan kakang Demang kali ini" desisnya.
Reksatani itupun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia minta diri
kepada isterinya setelah membenahi pakaiannya. "Aku dipanggil kakang
Demang" katanya. Isterinya yang mendengar peronda dari Kademangan
yang menyampaikan pesan Ki Demang kepada Ki Reksatani itupun berkata
"Tentu ada keperluan yang tiba-tiba. Bukankah kakang baru saja pergi
ke Kademangan?" "Ya, malahan aku disuruhnya menunggui rumah itu.
Disediakannya di dalam geledeg seceting nasi dan sepotong
ayamgoreng, meskipun tinggal sebelah sayapnya " Isterinya
tersenyum"Tentu ada kepentingan" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Aku akan pergi sekarang" Tetapi sebelum suaminya
melangkam tlundak pintu, Nyi Reksatani berkata lambat "Kakang,
bukankah kakang Demang baru saja kehilangan isterinya" Ki Reksatani
mengerutkan keningnya. "Apakah Kakang Demang baru saja berkeliling
wilayah?" "Siang ini kakang Demang pergi ke Gemulung" Isterinya
menarik nafas dalam-dalam. "Kenapa?" "Apakah agaknya kakang Demang
melihat perempuan cantik di sepanjang jalan?" Ki Reksatani tidak
segera menjawab. Ditatapnya wajah isterinya sejenak. Lalu terdengar
ia berdesah Itulah yang tidak aku sukai pada kakang Demang. Mungkin
ia akan membicarakan soal itu pula. Sebenarnya aku sudah jemu.
Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mudah-mudahan aku dapat
memberikan pendapatku kepadanya. Sudahlah, aku akan pergi. Apakah
anak-anak sudah tidur semuanya?" "Sudah kakang" Ki Reksatanipun
kemudian turun dari tangga rumahnya dan melintasi halaman yang
gelap. Di regol sebuah lentera yang redup, terguncang-guncang oleh
angin yang lemah. Ki Reksatani masih sempat menarik sumbu
lenteranya, sehingga nyalanya menjadi agak terang. Kemudian membuka
pintu regol dan hilang di balik dinding. Ki Demang yang menunggu
kedatangannya dengan dada yang berdebar-debar, hampir tidak sabar
lagi. Dengan gelisah ia duduk dipringgitan. Sekali-sekali ia berdiri
dan berjalan mondar-mandir. Namun kemudian ia duduk lagi menghirup
air panas dimangkuk yang masih setengah isi. Setiap kali ia
mendengar langkah seseorang, disangkanya Ki Reksatani sudah datang.
Ketika ia mendengar pintu pringgitan diketuk orang dengan
tergesa-gesa ia meloncat berdiri. Ketika pintu dibukanya ia melihat
peronda yang disuruhnya memanggil adiknya. "Dimana Reksatani ?" Ki
Demang bertanya dengan sertamerta. "Sebentar lagi ia akan menyusul
Ki Demang" "He, apakah kau t idak mengatakan bahwa aku memerlukannya
sekarang?" "Ya Demang" "Kenapa ia tidak datang bersamamu?" "Aku
disuruhnya dahulu, kemudian ia akan menyusul" "Setan elek" Ki Demang
mengumpat "kenapa tidak sekarang he" Peronda itu tidak menjawab.
"Kenapa kau berdiri saja disitu?" Peronda itu terkejut. Tetapi ia
tidak segera dapat menjawab. "Kembali ke gardumu" Peronda itu
menganggukkan kepalanya sambil menjawab "Baik Ki Demang" Namun
ketika ia baru saja beranjak, Ki Demang memanggilnya "He, kau" Orang
itu menjadi semakin bingung. "Eh, maaf. Seharusnya aku mengucapkan
terima kasih kepadamu "Ki Demang mengangguk-angguk "sebenarnya aku
sangat berterimakasih. Mungkin kepalaku sedang pening, sehingga
kadang-kadang aku kehilangan pengamatan diri" Peronda itu menarik
nafas dalam-dalam. Seolah-olah udara seisi pendapa itu mau
dihirupnya. "Nah, kembalilah ke gardumu. Tetapi apakah kau haus?"
"Di gardu sudah disediakan minum Ki Demang" "Lapar barangkali?"
Peronda itu menggeleng "Terima kasih Ki Demang, aku sudah makan di
rumah" "Baik, baik. Terima kasih" Peronda itupun kemudian kembali ke
gardunya. Ketika ia menuruni tangga pendapa Kademangan, ia menarik
nafas sekali lagi sambil berdesah "Hem, Ki Demang sudah mulai lagi.
Apabila ia ditinggalkan isterinya, entah mati entah cerai, maka ia
menjadi seperti orang yang kebingungan. Baru berapa pekan ia
bercerai kali ini. Ia sudah mulai lagi dijangkiti penyakitnya" Namun
gumamnya itu terputus. Sekali ia berpaling. Tetapi ketika ia tidak
melihat Ki Demang di pendapa, ia tersenyum sendiri. Baru sejenak
kemudian seseorang memasuki regol halaman Kademangan. Orang itu
adalah Ki Reksatani. Adik Ki Demang. Peronda yang tadi menjemputnya
menyongsongnya sambil berkata "Ki Demang sudah menunggu demikian
lama. Hampirhampir ia tidak sabar lagi, dan aku dibentak-bentaknya,
meskipun kemudian ditawarkan kepadaku makan" Mau tidak mau Ki
Reksatani tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia
menjawab "Sekarang kau sudah kenyang ya?" "Aku tidak mau, karena
baru saja aku makan di rumah" Adik Ki Demang itu tertawa "Biarlah
aku nant i yang makan" "Sekarang silahkan. Ki Demang sudah terlampau
gelisah" Ki Reksatani itupun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke
pringgitan. Desir langkahnya di pendapa telah didengar oleh Ki
Demang sehingga sebelum ia mengetuk, pintu pringgitan sudah terbuka.
"Anak demit kau" umpat Ki Demang "kenapa kau tidak datang bersama
anak itu?" Ki Reksatani tersenyum. Katanya "Bukankah aku harus
melihat apakah semua palang-palang pintu di rumah sudah baik?
Mungkin juga membenahi barang-barang. Tetapi bukankah aku sudah
pesan kepada peronda itu?" "Uh, ada saja alasanmu. Mari duduk
disini. Apakah kau sudah makan?" Ki Reksatani tertawa. Jawabnya
"Sudah kakang. Aku sudah makan" "Baik. Baik" desis Ki Demang
"sekarang, dengarkan. Aku mempunyai kepentingan yang tidak dapat aku
tunda-tunda lagi" Adiknya menganggukkan kepalanya. Jawabnya
"Kepentingan Kademangan Kepandak?" "Ya, ya. Kepentingan Kademangan
Kepandak" Ki Reksatani mengangguk-angguk pula "apakah kepentingan
itu kakang?" "Reksatani. Kau tahu, bahwa tidak ada keluarga lain
daripadaku, selain kau. Sepeninggal ayah dan ibu, maka kau adalah
satu-satunya keluargaku, sehingga kaulah yang pertama kali akan aku
ajak berbicara tentang masalahku kali ini. Ki Reksatani menarik
nafas dalam-dalam. Sekilas terkenang olehnya, tidak lebih dari
setahun yang lalu, kakaknya pernah berkata begitu pula kepadanya.
Kata-kata itu rasa-rasanya masih terngiang sampai saat ini. Dan kini
kakaknya telah mengucapkannya lagi. Sudah tentu untuk kepentingan
yang serupa. "Reksatani, kau tentu sudah tahu pula, bahwa isteriku
yang mengguk itu baru saja pergi dari rumah ini" Ki Reksatani
mengangguk-angrukkan kepalanya. "Aku sekarang hidup sendiri. Tidak
ada seorangpun yang dapat aku ajak berbicara dalam segala masalah.
Sedang di Kademangan Kepandak semakin hari semakin banyak persoalan
yang harus diselesaikan. Nah, kau dapat membayangkan. Aku selalu
kelelahan hampir setiap hari. Tetapi tidak ada orang yang dapat
memijitku, atau mengusapkan paremberas kencur di kakiku" Ki
Reksatani bergeser sejengkal maju. Sambil menarik nafas dalam-dalam
ia berkata "Bukankah maksud kakang, kakang ingin aku memberikan
pertimbangan terhadap seseorang yang baru saja kakang lihat hari
ini, mungkin diperjalanan ke Gemulung, atau mungkin dimanapun juga?"
"Hus" Ki Demang berdesis "darimana kau tahu" "Hal ini sudah kakang
lakukan berulang kali. Aku sudah menjadi terbiasa karenanya"
"Baiklah. Aku tidak ingkar. Aku memang ingin mendapat
pertimbanganmu. Bagaimana kalau aku kawin saja lagi?" "Kakang" jawab
Ki Reksatani kemudian "sebenarnya aku menjadi sangat sulit untuk
menjawab pertanyaan ini. Aku tahu, bahwa kakang ingin aku
mengiakannya. Menyetujui dan bahkan mendukungnya" "Tentu, tentu"
"Tetapi sebenarnya aku berpendirian lain kakang" Ki Reksatani
berhenti sejenak "siapakah orang yang kakang lihat itu?" Ki Demang
tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah adiknya dengan kening
yang berkerut-kerut. "Tetapi" berkata Ki Reksatani "siapakah
perempuan itu ? Janda atau gadis atau siapa?" "Katakanlah, apakah
kau setuju?" sahut Ki Demang "dan apakah yang kau maksud dengan
pendirianmu yang lain itu ?" "Seharusnya kakang mengatakannya lebih
dahulu, siapakah perempuan itu" Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak.
Dan adiknya berkata seterusnya "Kenapa kakang ragu-ragu. Biasanya
kakang tidak pernah ragu-ragu mengatakan. Apakah sekali ini kakang
mempunyai pertimbangan yang agak berbeda?" "Ya. Aku memang mempunyai
pertimbangan yang agak berbeda kali ini" jawab Ki Demang. "Sebaiknya
kakang mengatakan kepadaku. Baru kakang bertanya, bagaimana
pertimbanganku itu" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Meskipun ragu-ragu namun ia berkata "Baiklah Reksatani. Sebenarnya
terlampau berat bagiku untuk menyebutnya. Tetapi apaboleh buat. Aku
memang perlu pertimbanganmu" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Kali ini aku tidak semata-mata mementingkan diriku
sendiri" berkata Ki Demang, sedang Ki Reksatani mendengarkannya
dengan saksama "Seperti kau ketahui, anak-anak Gemulung baru saja
terlibat dalamperkelahian. Adiknya mengangguk, tetapi ia bertanya
"Apakah ada hubungannya dengan rencana kakang untuk kawin?" "Dengar
dulu, baru bertanya" "0, ya" "Persoalannya berkisar pada seorang
gadis" Ki Demang berhenti pula menarik nafas "Kau dengar?" "Ya, ya"
"Tentu saja hal itu tidak dapat dibiarkan saja. Jika demikian
masalahnya pasti akan menjadi berlarut-larut. Keduanya pasti akan
saling mendendam dan berusaha untuk merebut sumber persoalan itu" Ki
Reksatani mengerutkan keningnya. Ki Reksatani mengerutkan keningnya.
Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata
"Baiklah, aku akan pergi ke Kademangan. Pergilah dahulu. Sebentar
lagi aku akan menyusul" "Karena itu, maka sumber persoalannya itulah
yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Keduanya harus
mendapatkan atau kedua-duanya tidak. Tetapi bahwa keduaduanya harus
mendapatkan adalah tidak mungkin sama sekali" "O" tiba-tiba Ki
Reksatani memotong sambil menganggukangguk. Katanya "Sekarang aku
tahu. Daripada hal itu akan tetap menjadi masalah, maka sebaiknya
keduanya sama sekali tidak mendapatkannya. Tegas-tegas begitu. Dan
jalan yang akan kakang tempuh, mengambil saja sumber persoalannya,
dan dibawa ke rumah ini menjadi seorang isteri. Begitu?" Ki Demang
menegang sejenak. Namun kemudian ia mengangguk "Ya, begitulah" "Jadi
tegasnya, orang yang kakang inginkan itu seorang gadis yang bernama
Sindangsari?" "Bukan yang aku inginkan. Tetapi, sekedar untuk
mencegah masalahnya menjadi berlarut-larut" "Hem" Ki Reksatani
menarik nafas dalam-dalam "suatu pengorbanan yang luar biasa. Itu
adalah suatu tanggung jawab yang tidak kepalang tanggung" "Hus,
jangan menyindir" "Aku tidak menyindir kakang. Tetapi bagaimana
seandainya gadis yang bernama Sindangsari itu sama sekali tidak
pantas untuk dijadikan isteri seorang Demang? Mungkin wajahnya
terlampau jelek, atau katakan terlampau bodoh" "Ah, tentu tidak"
"Apakah kakang sudah melihat?" "Bukankah aku dari Gemulung?" Ki
Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tetapi
tampaklah bahwa senyumnya adalah senyum yang hambar. Dengan nada
yang rendah ia bertanya "Jadi kakang Demang sudah melihat sendiri
gadis yang bernama Sindangsari itu?" Ki Demang mengangguk-angguk
"Cantik?" Ki Demang ragu-ragu sejenak, lalu menggeleng sambil
menjawab "Tidak cantik. Tetapi itu t idak penting bagiku" "Tentu
cantik. Kalau tidak, ia tidak akan menimbulkan persoalan antara
anak-anak muda" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya
kemudian "Tetapi katakanlah, apakah kau setuju atau tidak? Aku sudah
memenuhi permintaanmu. Aku sudah menyebut namanya, dan kau sudah
mendapat gambaran latar belakang dari tindakanku kali ini" "Ki
Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejengkal ia bergeser
maju. "Kakang" katanya ragu-ragu "apakah aku boleh mengatakan
perasaanku yang sebenarnya, bukan sekedar untuk menyenangkan hati
kakang seperti biasanya?" Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi ia
tidak segera menjawab. Ditatapnya saja wajah adiknya tajam-tajam.
"Apa maksudmu?" desisnya kemudian. "Kakang, sebenarnya aku segan
untuk menjawab pertanyaan kakang itu" "Jangan segan. Jawablah" Ki
Reksatani mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia berkata "Tetapi
aku minta maaf sebelumnya kakang. Kali ini aku terpaksa mengatakan
isi hatiku yang sebenarnya" Reksatani berhenti sejenak, lalu
"sebenarnya aku berkeberatan atas rencana kakang Demang itu.
Sepengetahuanku Sindangsari itu pasti masih sangat muda. Lebih muda
dari Pamot yang sudah pernah aku kenal" Ki Reksatani berhenti
sejenak, lalu "Kakang, aku harap kakang berusaha mencari cara lain
untuk mengatasi persoalan itu. Meskipun seandainya dengan demikian,
persoalan itu dapat selesai, karena kedua belah pihak tidak dapat
lagi berbuat apa-apa. namun kakang telah mengambil korban yang
terlampau besar" "Apakah kau menyindir aku lagi?" "Bukan. Bukan
begitu. Maksduku, apakah Sindangsari akan dapat menerima cara
penyelesaian yang akan kakang tempuh? Sindangsari adalah seorang
gadis yang masih remaja. Ia masih menginginkan menikmati hari depan
yang baik dan panjang. Ki Demang menjadi tegang mendengar kata-kata
adiknya itu, dan Ki Reksatani berkata seterusnya "Maaf kakang.
Apakah aku dapat melanjutkannya?" Wajah Ki Demang menjadi merah.
Tetapi ia menjawab dengan kasar "katakan. Katakan isi hatimu
seluruhnya" "Kakang" berkata Reksatani "aku kira aku memang lebih
baik berkata sebenarnya menurut pertimbanganku, dari pada aku masih
juga berpura-pura" "Ya katakan. Katakan bahwa kau tidak setuju.
Katakan bahwa aku sudah tidak pantas lagi kawin dengan gadis kecil
itu. Aku memang sudah tidak remaja lagi meskipun belum tua. Dan aku
memang sudah pernah kawin entah berapa kali. Bukankah begitu ?" Ki
Reksatani menundukkan kepalanya. "Kenapa kau diam saja he?" "Aku
takut, kakang akan menjadi semakin marah" Ki Demang membelalakkan
matanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam "katakan. Aku
tidak akan marah. Kita sudah cukup tua untuk membuat
pertimbanganpertimbangan" "Apakah benar kakang tidak akan marah?"
"Ya" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya
"Begitulah kira-kira kakang. Tetapi sekali lagi, kita berbicara
sebagai seorang yang sudah mampu mengendalikan diri, sehingga tidak
sepantasnya kita saling bertegang urat untuk mempertahankan
pendirian masing-masing. Kalau pendirian kita berbeda, kakang, maka
demikianlah agaknya. Memang pendirian kita berbeda. Tetapi bukankah
aku tidak dapat mengikat kakang dalam suatu keharusan untuk
mentaatinya? Tetapi aku mengharap dengan sangat, agar
setidak-tidaknya kakang sempat mempertimbangkan pendapatku" Ki
Demang t idak menyahut. "Kakang, seperti yang sudah kakang katakan
sendiri. Kakang sudah beberapa kali kawin. Kalau aku tidak salah
menghitung, kakang sudah kawin lima kali. Apakah pantas kalau kakang
kini mengambil seorang gadis remaja untuk menjadi isteri kakang? Dan
apakah kakang tidak menaruh belas kasihan kepadanya, kepada gadis
itu?" "Bodoh kau. Kalau orang tuanya mengijinkan, persoalan gadis
itu sudah selesai" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Sejenak
ia tidak menyahut. Diangguk-anggukannya kepalanya perlahan-lahan,
namun tampak benar bahwa ia sama sekali tidak dapat mengerti jalan
pikiran kakaknya, Ki Demang di Kepandak. Ki Demangpun tidak segera
menyambung kata-katanya, sehingga ruangan itu menjadi hening
sejenak. Di luar, di gardu, masih terdengar para peronda
bercakap-cakap. Kadang-kadang terdengar gelak memecah sepinya malam.
Namun sejenak kemudian, seperti ada sesosok hantu yang lewat, gardu
itu menjadi sepi. Tetapi tiba-tiba pembicaraan diantara mereka telah
meledak lagi untuk mencegah kantuk yang mulai beraba-raba mata
mereka. "Jadi bagaimana?" bertanya Ki Demang. Ki Reksatani menarik
nafas dalam-dalam "Aku sudah mengatakan pendapatku kakang" "Jadi kau
tetap tidak setuju?" Ki Reksatani tidak menjawab "Kau benar-benar
tidak berperi-kemanusiaan" Ki Reksatani terkejut. Dengan serta-merta
ia bertanya "Kenapa aku justru tidak berperi-kemanusiaan?"
"Reksatani" berkata Ki Demang "kau tahu, bahwa sampai saat ini aku
sama sekali tidak mempunyai anak? Bukankah wajar sekali kalau aku
menginginkan seorang anak atau lebih?" Wajah Ki Reksatani tiba-tiba
menegang. Tetapi hanya sekejap, sehingga sama sekali t idak berkesan
pada kakaknya. Jawabnya kemudian "Tentu kakang. Adalah wajar sekali
kalau kakang menginginkan seorang anak. Tetapi, cobalah kakang
ingat, kakang sudah kawin berkali-kali. Dan kakang sama sekali belum
mempunyai seorang anakpun" "Tentu, tentu. Perempuan-perempuan mandul
itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku. Kalau aku masih juga
harus kawin dengan janda, dengan gadis sakit-sakitan atau dengan
perawan tua yang liar dan t idak terkendali sama sekali, sudah tentu
aku akan tetap tidak mempunyai seorang anakpun. Tetapi kalau suatu
ketika aku kawin dengan seorang gadis, gadis yang baik dan sehat,
mungkin aku akan mempunyai seorang anak. Ki Reksatani mengerutkan
dahinya. Katanya Kalau kakang baru satu dua kali kawin, maka kakang
dapat menyalahkan perempuan-perempuan itu. Tetapi untuk yang
kesekian kalinya kakang tetap tidak mempunyai seorang anakpun" "Jadi
kau akan mengatakan, bahwa akulah yang tidak mampu berbuat sebagai
seorang laki-laki, begitu he" wajah Ki Demang menjadi merah padam.
"Tidak kakang. Tidak" Reksatani menundukkan kepalanya "sudah aku
katakan, kalau kakang hanya akan marah saja, tidak ada gunanya aku
memberi pertimbangan Akibatnya akan tidak baik. Kakang adalah
saudara tuaku. Ganti orang tua. Sudah tentu aku tidak akan berani
menyanggah niat kakang, apabila kakang memang berkeras, apaboleh
buat. Sudah aku katakan, bahwa aku hanya sekedar memberikan
pertimbangan-pertimbangan" Ki Demangpun kemudian terdiam sejenak.
Terdengar nafasnya yang memburu, seolah-olah baru saja ia melakukan
pekerjaan yang memeras segenap tenaganya. "Reksatani" berkata Ki
Demang itu kemudian "sayang. Aku sudah berketetapan hati untuk
melamar gadis itu. Tentu saja tidak tergesa-gesa. Aku harus
menyiapkan diri sebelum aku mengadakan peralatan perkawinan itu"
Reksatani tidak menyahut. "Gadis itu memang tidak terlampau cantik.
Tetapi aku ingin mengambilnya sebagai seorang isteri yang baik.
Gadis itu tidak boleh jatuh ketangan anak muda cengeng yang hanya
mampu berkelahi. Manguri, meskipun anak seorang kaya, tetapi
kelakuannya agaknya memang tidak terpuji. Lebih buruk lagi, agaknya
ayahnya melindunginya. Dan aku sama sekali tidak gentar, apapun yang
akan dilakukannya. Aku percaya kepada Ki Jagabaya, kepadamu dan
kepada bebahu yang lain, kepada para pengawal dan apalagi para
pengawal khusus yang mendapat latihan keprajuritan dari
prajuritprajurit Mataram" Ki Reksatani hanya dapat menarik nafas
dalam-dalam. "Seandainya Sindangsari itu kemudian mendapat suami
yang meskipun dicintainya, Pamot, ia akan tetap berada dalam bahaya.
Manguri akan dapat berbuat terlampau banyak untuk mengganggu
ketenteraman keluarganya. Bahkan mungkin ia akan mengambil gadis itu
dengan kekerasan, sekedar untuk melepaskan nafsu dan sakit hatinya,
meskipun kemudian gadis itu akan dilepaskannya kembali. Tetapi
apakah keluarga yang demikian akan dapat bahagia?" Ki Demang
berhenti sejenak "Tidak Reksatani. Untuk kebaikan semuanya,
Sindangsari akan aku ambil saja" Ki Reksatani masih tetap tidak
menyahut. Kepalanya menjadi semakin tunduk. "Bagaimana pendapatmu ?"
Seperti biasa Ki Reksatani kini di sudutkan pada suatu keharusan
untuk menyetujuinya, seperti setiap kali mereka berbincang tentang
perempuan-perempuan yang akan diambil oleh Ki Demang untuk menjadi
isterinya. "Bagaimana?" desak Ki Demang "kenapa kau diam saja?" Ki
Reksatani mengangkat wajahnya. Sekali ia berdesah, kemudian jawabnya
"Sudah aku katakan kakang, kalau kakang memang berkeras hati untuk
mengambil gadis itu apaboleh buat" "Kau setuju apa t idak?" Ki
Reksatani menjadi semakin bingung. Tetapi akhirnya ia menganggukkan
kepalanya "Ya, aku setuju kakang" "Nah, kau memang adikku yang baik.
Kau selalu dapat mengerti perasaanku. Memang kadang-kadang kita
berbeda pendirian, tetapi akhirnya kau dapat mengerti juga" Ki
Reksatani mengangguk-anggukkana kepalanya. Tetapi ia menggerutu di
dalam hatinya. Bagaimanapun juga ia tidak dapat dengan ikhlas
menyetujui pendapat kakaknya. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat
lain, kecuali menganggukkan kepalanya sambil menyetujuinya.
"Reksatani" berkata Ki Demang kemudian "aku tidak mempunyai
kepercayaan lain, kecuali kau. Kaulah yang pada saatnya harus datang
kepada keluarga Sindangsari untuk melamar gadis itu" "Tetapi ..." Ki
Reksatani akan menjawab, namun Ki Demang memotongnya "Jangan
mengelak. Kau adalah satu-satunya keluargaku. Kau adalah adikku.
Tidak ada orang lain yang dapat mengerti perasaanku sedalam-dalamnya
selain dari pada kau. Kaulah yang akhirnya dapat menyetujui niatku
ini. Orang lain mungkin tidak. Meskipun mereka menganggukanggukkan
kepala mereka, tetapi belum tentu, bahwa hal itu akan meresap sampai
ke hatinya" "Bukan main" desah Ki Reksatani di dalam hati. Tetapi
iapun mengerti benar, bahwa kakaknya mencoba menyudutkannya agar ia
tidak dapat berbuat lain sama sekali. "Lusa kau datang kepada
keluarganya. Melamar gadis itu. Kemudian akan kita tentukan
hari-hari perkawinan. Tidak usah tergesa-gesa. Tetapi dengan
demikian, baik Manguri maupun Pamot tidak akan mempertentangkannya
lagi" Ki Reksatani tidak mendapat kesempatan apapun lagi. Karena itu
iapun hanya dapat menundukkan kepalanya saja sambil bersungut-sungut
di dalam hati. "Nah, pembicaraan kita sudah selesai" berkata Ki
Demang "apakah kau sudah makan?" "Sudah kakang" "O, ya. Aku sudah
menanyakannya" "Baiklah kakang. Kalau pembicaraan memang sudah
selesai, aku minta diri. Aku akan mengatur diri dan membenahi hati
yang agak gelisah ini, karena tugas yang berat itu" "Bukankah kau
juga yang melamar isteri-isteriku yang terdahulu?" "Ya, tetapi kali
ini agak lain kakang" dan di dalam hati Reksatani menggeram "aku
selalu gelisah begini setiap kali" "Baiklah. Aku akan menentukan
hari itu, kapan kau pergi kepada keluarga gadis itu. Kau harus
membawa tukon sama sekali. Setangkep pisang raja, kain, kemben dan
sebagainya" "Tetapi itu bukan suatu kebiasaan kakang. Kalau
pembicaraan telah selesai, barulah kakang memberikan peningset itu"
"Sekaligus. Bukankah dengan demikian pekerjaan akan segera selesai"
Ki Reksatani menggigit bibirnya.Kemudian ia menganggukangguk kecil
"Terserahlah kepada kakang. Tetapi sebaiknya kakang berbicara dengan
orang tua-tua di kademangan ini" "Aku hanya akan memberitahukan saja
kepada mereka. Tidak minta pertimbangan lagi" Ki Reksatani tidak
menjawab lagi. Ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat merubah lagi
pendirian kakaknya. Ki Demang benar-benar ingin kawin lagi dengan
seorang gadis, yang bernama Sindangsari itu. Iapun menyadari, bahwa
tidak akan ada seorangpun yang akan dapat mencegahnya lagi. Orang
tua-tua, para bebahu pembantunya dan siapapun juga. Karena itu, maka
sejenak kemudian Iapun berkata "Baiklah kakang, semuanya terserah
kepada kakang. Aku minta diri" "Tetapi bukankah kau menyetujui
rencana ini?" "Ya, ya. Aku menyetujui" "Bagus. Kau memang adikku
yang baik" Ki Reksatanipun kemudian berdiri. Sekali lagi ia minta
diri, kemudian meninggalkan halaman Kademangan itu dengan hati yang
bergelora. Sekali-sekali ia menghentakkan kakinya sambil menggeram
"Gila kakang Demang. Sungguh-sungguh gila" Tetapi ia berjalan terus.
Kadang-kadang giginya gemeretak oleh luapan perasaan dan dingin
malam yang menembus sampai ke tulang sungsum. Bersamaan waktunya,
sekelompok orang sambil mengendap-endap berjalan mendekati padukuhan
Gemulung. Mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi malam yang
dingin dan silirnya angin yang basah. Yang ada di dalam angan-angan
mereka adalah upah yang harus mereka terima dari Manguri, meskipun
usaha mereka menangkap Pamot gagal. Enam orang dari gerombolan Sura
Sapi yang ditambah seorang lagi itu, semakin lama menjadi semakin
dekat. "Kita meloncati pagar batu itu" desis Sura Sapi. Tidak ada
jawaban. Tetapi orang-orang yang lain mengikuti Sura Sapi di
belakangnya. "Sepi" desis Sura Sapi "aku sangka Manguri kini justru
terasing dari orang-orang di sekitarnya. Seandainya ada juga peronda
yang nganglang, maka rumah Manguri pasti akan di lampaui"
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian
mereka telah melekat dinding padukuhan. Dengan hati-hati mereka
menyelusur beberapa langkah. Setelah mereka yakin bahwa tidak
seorangpun yang melihat mereka, maka seorang demi seorang mereka
berloncatan memasuki padukuhan Gemulung. Sekali lagi mereka membeku
di tempat masing-masing, ketika mereka sudah berada di dalam pagar
batu. Mereka menunggu sejenak untuk melihat suasana. Ternyata malam
memang terlampau sepi. "Kita menyusur pagar ini" "Kita tidak akan
sampai ke rumah itu" sahut salah seorang dari mereka. "Bodoh. Kita
berbelok setelah kita mendekati rumahnya. Kita lewati kebun salak di
sebelah rumahnya, langsung meloncat masuk ke halaman belakang, tanpa
melalui regol" Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka mengikuti saja
Sura Sapi yang semakin lama menjadi semakin mendekati rumah Manguri.
"Mereka harus membayar" desis Sura Sapi itu di dalam hatinya "kalau
t idak, kami akan mengambil sendiri" Dengan hati-hati mereka maju
terus. Semakin lama menjadi semakin dekat. Dengan hati-hati pula
mereka kini memasuki kebun salak langsung menuju kebagian belakang
rumah pedagang ternak yang kaya itu. "Bukankah dinding yang tinggi
itu dinding rumah Manguri" desis Sura Sapi. "Ya "hampir bersamaan
kawan-kawannya menjawab. "Apakah kita akan meloncati dinding itu?"
bertanya Temon. "Ya" Temon mengerutkan keningnya. Kemudian katanya
"Kau yakin bahwa di balik dinding itu tidak ada peronda?" "Tidak ada
peronda di dalam halaman orang. Para peronda biasanya hanya
berkeliling padukuhan lewat jalan-jalan yang agak besar. "Maksudku
peronda yang dipasang dan diupah oleh pedagang itu sendiri" Sura
Sapi mengerutkan keningnya. Katanya "Di rumah itu memang terdapat
beberapa orang. Ada juga di antara mereka yang harus di
perhitungkan. Para pengawal ternak apabila pedagang itu mengirimkan
ternaknya keluar daerah. Tetapi mereka pada umumnya hanya bekerja
kalau pedagang kaya itu melakukan pengiriman. Kalau tidak, mereka
biasanya pulang ke rumah masing-masing. "Tetapi satu dua pasti ada
yang tinggal" "Mereka tidak banyak berarti" Temon
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
Apalagi mereka kini berada tepat di belakang rumah Manguri. "Aku
akan naik untuk melihat keadaan" berkata Sura Sapi. Kawan-kawannya
menganggukkan kepalanya. Dan dengan lincahnya Sura Sapi meloncat
keatas dinding. Sejenak ia berjongkok, dan sejenak kemudian ia
memberikan isyarat, bahwa halaman belakang itu ternyata sepi. Maka
berloncatanlah kelima orang yang lain susul menyusul, sehingga
sejenak kemudian, mereka berenam telah berada di halaman belakang
rumah Manguri. "Kita langsung mengetuk pintu samping" berkata Sura
Sapi. Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka mengikuti saja langkah
Sura Sapi dengan hati-hati. Sura Sapi yang memang pernah datang ke
rumah itupun kemudian mengetuk pintu samping rumah Manguri.
Perlahanlahan, beberapa kali. Yang pertama-tama mendengar ketukan
pintu itu justru ayah Manguri. Karena itu, maka iapun segera bangkit
dari pembaringannya. Perlahan-lahan ia melangkah keluar biliknya
Tetapi ia t idak segera membuka pintu. Ketukan di pintu samping itu
masih terdengar. Kecurigaan Ki Sukerta itu memang beralasan.
Waktunya sudah terlampau malam untuk seorang tamu. Namun ketukan itu
masih juga terdengar terus. Semakin lama semakin keras. Ki Sukerta
bukanlah seseorang yang tidak berperhitungan. Kecurigaannya
pertama-tama memang kepada gerombolan Sura Sapi. Ia merasa, bahwa
gerombolan itu pasti masih mengancam ketenangan anaknya justru
karena kegagalannya. Ternyata ketukan pintu itu telah membangunkan
Manguri pula. Ketika ia keluar dari biliknya ia melihat ayahnya
termangu-mangu. Tetapi ketika ia akan berbicara, ayahnya memberinya
isyarat dengan meletakkan telunjuk jarinya di mulutnya. Manguri
mengerutkan keningnya. Ia berdiri saja di tempatnya ketika ia
melihat ayahnya masuk kembali ke dalam biliknya yang sejenak
kemudian telah berdiri di muka pintu bilik itu kembali. Tetapi kini
ia membawa pedangnya di lambung. Manguri mengerutkan keningnya.
Namun kemudian iapun berjingkat masuk ke dalam biliknya pula untuk
mengambil senjatanya. Ketika ketukan pintu itu terulang kembali,
maka ayah Manguri itupun bertanya lantang "Siapa diluar he?"
Pertanyaan yang demikian kerasnya sama sekali t idak diduga oleh
Sura Sapi dan kawan-kawannya. Namun kemudian mereka sadar, bahwa
dengan demikian Ki Sukerta telah berusaha membangunkan orang-oranng
seisi rumah itu. "Setan alas" desis Sura Sapi "agaknya Ki Sukerta
tidak mau diajak berbicara" "Aku mengharap demikian" bisik Temon
"dengan demikian kita menjadi leluasa. Kita tidak hanya sekedar
minta upah yang sudah dijanjikan" "Lalu ?" "Kita mengambil sendiri
upah yang kita perlukan. Sura Sapi mengerutkan keningnya. Dan ia
mendengar lagi suara Ki Sukerta "Siapa di luar he?" Sura Sapi
ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia menyahut "Kami Sura Sapi dan
kawan-kawan " Ki Sukerta yang sudah menduga, sama sekali tidak
terkejut. Tetapi Manguri mengerutkan keningnya. "Apa maksud kalian
datang di malam hari begini?" "Tidak apa-apa Ki Sukerta. Kami hanya
sekedar ingin memberikan laporan. Kami tidak ingin disangka-sangka
bahwa kami sengaja menggagalkan usaha kami. Kami ingin memberikan
penjelasan" "Kenapa kalian datang di malam begini?" "Sudah tentu.
Kami tidak ingin dibantai oleh anak-anak muda Gemulung. Kalau mereka
melihat kami, maka mereka akan memukul kentongan beramai-ramai
menangkap kami seperti rampokan macan di alun-alun Mataram" Ki
Sukerta mengerutkan keningnya. Alasan itu memang masuk akal. Namun
demikian. Ki Sukerta masih tetap bercuriga. "Apakah Manguri dapat
menerima kami?" Ki Sukerta tidak segera menyahut, dipandarginya
Manguri yang berdiri termangu-mangu sejenak, seolah-olah ia ingin
mendapat pertimbangan daripadanya. Tetapi Manguri sama sekali t idak
memberikan tanggapan apa-apa. "Bagaimana Ki Sukerta" terdengar
pertanyaan itu lagi. "Tunggu" jawab Ki Sukerta sambil mendekati
anaknya. "Bagaimana" bertanya Ki Sukerta perlahan-lahan.
"Terserahlah kepada ayah" Ayahnya mengerutkan keningnya. Kemudian
katanya "Sebaiknya kita terima saja mereka. Apa yang mereka
kehendaki selagi ayah berada di rumah. Apapun yang akan terjadi, kau
tidak seorang diri" "Tetapi bagaimanakah kalau mereka menuntut yang
bukanbukan" "Aku ada sekarang" Manguri mengangguk-anggukkan
kepalanya "Terserah kepada ayah" Ayahnya masih berpikir sejenak.
Katanya kemudian "Lebih baik kita selesaikan sekarang daripada
mereka akan selalu mengganggumu. Kalau ayah pergi, mereka akan lebih
leluasa lagi sebelumnya kita menemukan penyelesaian" Manguri tidak
menjawab. "Biarlah, kita akan menerima mereka. Aku akan membuka
pintu. Jangan terlampau dekat di belakang ayah. Kalau aku memerlukan
jarak untuk menjaga diri. Tetapi kaupun harus bersiap pula apabila
terjadi sesuatu. Aku tidak mempercayai mereka sepenuhnya. Manguri
menganggukkan kepalanya. Tangannya kini telah melekat di hulu
pedangnya. Dengan dada yang berdebar ia melangkah beberapa langkah
di belakang ayahnya. Dengan penuh kewaspadaan ayahnya mendekati
pintu. Selangkah demi selangkah. "Bagaimana Ki Sukerta?" terdengar
suara Suara Sapi di luar. Ki Sukerta tidak menyahut. Tetapi maju
lagi beberapa langkah mendekati pintu. Tepat di muka pintu, ayah
Manguri itu masih juga raguragu. Tetapi kemudian ia menetapkan
keputusannya. Sekarang semuanya harus selesai. Perlahan-lahan
tangannya meraba selarak pintu. Perlahanlahan dan sangat
berhati-hati. Sejenak kemudian maka selarak pintu itu sudah
terlepas. Kini tangannya tiba-tiba menjadi gemetar ketika ia menarik
daun pintunya dengan tangan kirinya, sementara tangan kananya telah
melakat di hulu pedangnya. "Aku akan membukakan pintu" desisnya.
Namun t idak ada jawaban. Yang terdengar adalah desah nafas
gerombolan Sura Sapi yang tegang di luar pintu. Akhirnya pintu
samping itupun terbuka. Ki Sukerta menarik nafas dalam-dalam ketika
ia melihat beberapa orang yang berdiri di luar pintu tanpa
menggenggam senjata ditangan masing-masing. Apalagi ketika Sura Sapi
sendiri menganggukkan kepalanya sambil berkata "Selamat malam Ki
Sukerta" "Selamat malam "tanpa sesadarnya Ki Sukerta menjawab. "Kami
ingin bertemu dengan Manguri" Ki Sukerta tidak menyahut. Tetapi ia
berpaling memandang Manguri yang berdiri termangu-mangu. Namun
Manguripun kemudian melangkah maju. Dengan penuh kebimbangan ia
bertanya "Apakah keperluan kalian?" Sura Sapi termenung sejenak,
kemudian "Aku ingin menyampaikan laporan. Aku sudah menerima
tawaranmu. Adalah kewajibanku untuk melaporkan apa yang sudah
terjadi, supaya tidak hanya saling sangka-menyangka" Menguri
mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik. aku tidak berkeberatan" Sura
Sapi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia menunggu, tetapi
baik Manguri maupun ayahnya masih juga berdiam diri sambil berdiri
di pintu samping. "Apakah kami tidak kalian persilahkan masuk?"
bertanya Sura Sapi kemudian. Manguri menjadi ragu-ragu sejenak.
Dipandanginya wajah ayahnya untuk mendapat pertimbangan. Tetapi
ayahnya kemudian berkata "Sudah terlampau malam. Kau dapat berkata
seperlunya. Marilah kita duduk saja di pendapa" "Sangat berbahaya
bagi kami" desis Sura Sapi. "Pintu regol sudah tertutup. Apakah
kalian dapat membuka dari luar?" "Kami tidak melalui pintu regol"
"Nah, kalau begitu, silahkan naik ke pendapa" Kini gerombolan Sura
Sapi itulah yang saling berpandangan. Namun akhirnya Sura Sapi
jugalah yang harus mengambil keputusan "Apakah kalian menjamin bahwa
kehadiran kami di pendapa tidak akan menumbuhkan kecurigaan
seandainya ada peronda yang lewat?" "Sudah aku katakan, pintu regol
rumah kami telah kami selarak" "Tetapi mungkin pula seseorang
menjenguk lewat dinding batu disekitar halaman" "Mereka tidak akan
melihat kami. Pendapa itu gelap. Kami tidak menaruh lampu di sana"
Sura Sapi akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik, kami akan
naik ke pendapa" Sura Sapi dan kawan-kawannya itupun kemudian
berjalan mengitari rumah Ki Sukerta menuju ke pendapa di bagian
depan Setelah menutup pintu samping dan nenyelaraknya, maka Ki
Sukertapun pergi pula ke pendapa lewat bagian dalam rumahnya. Namun
sebelum ia keluar dari pringgitan ia berbisik kepada Manguri
"Manguri, aku tidak mempercayai mereka sepenuhnya. Pergilah ke
belakang sebentar" "Untuk apa ayah?" "Panggil Lamat" Manguri
mengagguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi
ke belakang sementara ayahnya membuka pintu dan keluar ke pendapa.
Perlahan-lahan Manguri mengetuk pintu Lamat. Ia tidak usah
mengulangi, karena pintu itu segera terbuka. "Pemalas kau" desis
Manguri "lihat, di pendapa ada enam orang dari gerombolan Sura Sapi"
"Kenapa mereka datang kemari?" bertanya Lamat. "Aku juga bertanya
begitu, kenapa mereka kemari" sahut Manguri "tetapi itu t idak pent
ing. Awasi mereka dari luar pendapa. Ayah dan aku akan menemuinya"
Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya
"Kenapa enamorang?" "? Ya, kenapa" Aku t idak tahu" "Maksudku,
gerombolan Sura Sapi itu hanya terdiri dari lima orang. Bukankah
begitu?" Manguri mengerutkan keningnya. Semula ia sama sekali tidak
memperhatikan jumlah itu. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan
kepalanya "He, kau agaknya dapat juga menghitung jumlah itu. Aku t
idak tahu siapa yang seorang lagi. Tetapi awasi mereka. Kau tidak
boleh tidur saja seperti kerbau" Lamat menganggukkan kepalanya
dengan tatapan mata yang kosong Manguripun kemudian dengan
tergesa-gesa meninggalkan bilik itu, dan masuk ke ruang dalam,
langsung menuju ke pendapa. Sepeninggal Manguri, Lamat menarik nafas
dalam-dalam Ia sudah mengira bahwa hal yarg serupa itu dapat
terjadi. Masalahnya tidak akan sekedar berhenti sampai kegagalan
itu. Dengan tanpa sesadarnya Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sebenarnya ia sudah mendengar meskipun tidak begitu jelas, Ki
Sukerta berkata lantang. Ia sudah terbangun sebelum Manguri mengetuk
pintu biliknya. Karena itu, maka begitu Manguri mengetuk, pintunya
sudah dibukanya. Lamat yang tinggi, besar dan berkepala botak itupun
kemudian meraih senjatanya dari dinding biliknya. Tetapi golok itu
disangkutkannya kembali. Agaknya ia mempunyai perhitungan lain,
karena kemudian ia melangkah ke sudut biliknya untuk mengambil
sebatang tombak pendek. Tombak pendek yang sangat sederhana dan sama
sekali tidak pantas disebut sebatang tombak. Lebih tepat disebut
sebatang galah berujung besi. Tetapi galah itu adalah kayu berlian
betapapun kasar buatannya. "Mudah-mudahan aku tidak membunuh" desis
Lamat. Dan sesuai dengan senjatanya, maka kemungkinan mematikan
adalah memang kecil sekali. Lamatpun kemudian melangkah meninggalkan
biliknya setelah ia menutup pintunya kembali. Kemudian berjalan
mengendap-endap ke bagian depan halaman rumah itu. Lamatpun kemudian
melangkah meninggalkan biliknya setelah ia menutup pintunya kembali.
Kemudian berjalan mengendap-endap ke bagian depan halaman rumah itu.
Ketika ia melewati kandang ternak, ia tahu benar bahwa ada seorang
pengawal ternak yang tidur di dalamnya, yang adalah kebetulan sekali
ia tidak pulang ke rumahnya yang agak jauh. Tetapi Lamat tidak
membangunkannya. Kalau keadaan berkembang semakin buruk, orang itu
pasti akan terbangun dengan sendirinya. Ketika ia sampai ke samping
pendapa, maka Lamatpun segera bersembunyi di balik gerumbul perdu.
Meskipun tidak begitu jelas, namun matanya yang tajam dapat melihat
bayangan kehitam-hitaman duduk dalam sebuah lingkaran di pendapa
yang sama sekali tidak berlampu. Bahkan meskipun lambat, Lamat dapat
menangkap pembicaraan orang orang di atas pendapa itu. Kadang-kadang
ia mendengar jelas, tetapi kadang-kadang ia sama sekali tidak
mendengar selain gemeremang yang tidak diketahui artinya. "Ki
Sukerta" berkata Sura Sapi kemudian "yang penting bagi kami sekarang
adalah memberi tahukan kepada Manguri, kenapa kami telah gagal malam
itu" Ki Sukerta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baik,
katakanlah" Sura Sapi beringsut sedikit, kemudian "Manguri. Ternyata
kami telah terjerumus ke dalam kesulitan malam itu" Manguri
mengerutkan keningnya. Pilihan kata-kata itu telah mendebarkan
jantungnya. "Ternyata Pamot telah bersiap bersama beberapa orang
kawan-kawannya menyambut kedatangan kami. Bahkan kemudian para
perondapun beramai-ramai berlari-larian menonton perkelahian yang
barangkali mereka anggap sangat menarik itu" "Ya, aku dengar Pamot
telah bersiap" sahut Manguri "itu membuat aku sangat menyesal.
Kegagalan kalian telah membuat namaku dan keluargaku semakin suram"
"Dan membuat nama gerombolan Sura Sapi menjadi bernoda" potong Sura
Sapi "kami tidak pernah gagal. Rencana kami selalu dapat kami
selesaikan dengan baik. Tetapi agaknya kami telah terjerumus kali
ini" "Kenapa kalian merasa terjerumus?" sela Ki Sukerta. "Kami
menjadi bertanya-tanya. Darimana Pamot dapat mengetahui bahwa kami
akan mendatanginya ke sawah malamitu ?" geramSura Sapi. Lamat yang
kebetulan mendengar percakapan itu menjadi berdebar-debar pula.
"Akulah yang seharusnya bertanya" berkata manguri "kenapa kalian
sampai terbentur pada anak-anak Gemulung yang sudah terlatih itu.
Agaknya kalian terlalu yakin akan kekuatan kalian, sehingga kalian
menjadi kurang berhati-hati" Sura Sapi mengerutkan keningnya.
Kemudian iapun berkata dengan nada yang dalam "Jangan memutar
balikkan keadaan. Aku dan kawan-kawanku tidak gila untuk berbuat
demikian. Seandainya kami mampu membunuh orang sepedukuhan ini,
namun kami pasti akan mengambil jalan yang paling mudah. Apalagi
upah yang kau janjikan itu sama sekali t idak memadai. Apakah kami
berusaha untuk mempersulit diri kami sendiri?" Sura Sapi berhenti
sejenak, lalu "nah, coba lah kau lihat dirimu sendiri. Siapakah yang
paling mungkin membocorkan rencana ini" "Akupun tidak gila" sahut
Manguri "aku ingin Pamot tertangkap hidup, supaya aku dapat
memberinya peringatan untuk menjauhi gadis itu" "Tetapi kau tidak
terlampau biasa menyimpan rahasia seperti kami, sehingga mungkin
tanpa kau sadari, kau sudah mengatakannya kepada siapapun" "Jangan
mencari-cari" jawab Manguri. "Tidak. Kami tidak mencari-cari. Tetapi
baiklah kita tidak mempersoalkan siapakah yang bersalah dan siapakah
yang benar. Kedatanganku kemari memang tidak untuk berbuat demikian"
Sura Sapi berhenti sejenak, lalu "tetapi bagaimanapun juga kami
sudah melakukan tugas kami. Karena itu kami ingin menerima upah kami
yang sudah kau janjikan" "Gila kau" Manguri hampir berteriak "aku
sudah mengatakan kepada kalian, kalau kalian gagal, maka sekepingpun
aku t idak akan membayar upah
itu.
Jilid 3 "MANGURI" berkata Sura Sapi
kemudian "jangan bersikap terlampau keras. Kegagalanku bukan karena
kesalahanku dan kawan-kawanku. Kita tidak membicarakan kemungkinan
yang ternyata telah terjadi itu, Kita tidak membicarakan, bagaimana
masalah upah itu kalau ternyata ada pihak lain yang campur tangan.
Menurut pengertianku, kau tidak akan membayar kalau kami gagal
menangkap Pamot. Pamot sendiri tanpa orang lain, seperti yang kau
katakan, bahwa Pamot selalu seorang diri di gubugnya di malam hari.
Tetapi ternyata tidak. Ternyata ada orang lain. Bahkan enam atau
tujuh orang. Nah, apa katamu ?" "Tidak. Aku tetap pada janjiku.
Kalau kalian tidak berhasil membawa Pamot kemari, upah itu tidak
akan aku bayar" "Tetapi kami menuntut" suara Sura Sapipun menjadi
semakin keras "kau jangan menganggap kami seperti anakanak yang
takut kau gertak. Kami sudah bekerja. Kami sudah bertempur, dan kami
hampir terjebak karenanya, yang menurut perhitunganku adalah karena
kebodohanmu. Nah, sekarang kau masih akan ingkar" "Tutup mulutmu"
bentak Manguri pula "aku berpegang teguh pada janji. Kalau kalian
laki-laki jantan, kalian juga tidak akan melanggar janji" "Kami
tidak melanggar janji. Tetapi kemungkinan yang terjadi itu tidak
kita bicarakan sebelumnya. Karena itu, karena kami sudah melakukan
tugas kami, dan kami memang sudah benar-benar melakukan perkelahian
sepenuh tenaga kami, maka kau harus mengerti. Kami tidak saja
memeras tenaga untuk mencoba menangkap Pamot seperti yang seharusnya
kami lakukan, tetapi kami harus juga mempertaruhkan nama kami" "Aku
tidak peduli" jawab Manguri "aku hanya mau membayar upah itu atas
penyerahan Pamot. Selain itu, aku tidak mau tahu" "Manguri" Sura
Sapi mulai membentak "kau jangan menutup mata atas kenyataan itu.
Apakah kau sengaja menjerumuskan kami dengan janji itu?" Wajah
Manguripun menjadi merah. Tetapi sebelum ia berbicara, ayahnya telah
menengahinya "Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Setelah aku
mendengar perdebatan kalian, maka aku ingin mengusulkan jalan tengah
yang barangkali dapat ditempuh. Kita memang tidak dapat bersitegang
atas janji yang sudah dibuat. Kenyataan yang pahit bagi kita di
kedua belah pihak, memerlukan pengertian yang cukup" Ki Sukerta
berhenti sejenak, lalu "aku berpendapat, bahwa sebaiknya kita
masing-masing harus mau mengorbankan nilai perjanjian itu. Bagaimana
kalau Manguri membayar separo dari upah yang dijanjikan?" Keduanya
terdiam sejenak. Namun kemudian Sura Sapi menggelengkan kepalanya
"Tidak. Harga tenaga kami tidak separo-separo. Sepenuhnya itupun
sebenarnya kami merasa berkeberatan karena ternyata kami telah
terjebak. Jangan menawar-nawar lagi" "Bukan menawar, bukan pula
merendahkan harga kalian" jawab ayah Manguri "tetapi kami dan kalian
masing-masing telah mengalami hal-hal yang tidak kita duga-duga
sebelumnya " "Harga tenaga kami bukan semacam ketela pohung yang
dapat ditawar-tawar" ternyata Temon yang selama ini menahan nafas,
tidak lagi dapat mengendalikan diri "kami minta sepenuhnya dan
ditambah lagi dengan harga kecuranganmu" Ki Sukerta mengerutkan
keningnya, Ditatapnya wajah Temon yang samar-samar di dalam
kegelapan. Tetapi wajah itu tidak dapat dilihatnya dengan jelas.
"Jangan mencoba menawar lagi" katanya "aku benar-benar tidak telaten
berbicara seperti sedang berjual beli dagangan" Ki Sukerta tidak
segera menjawab. Ia merasa tidak senang mendengar jawaban yang
terlampau kasar itu. Tetapi ia masih berdiam diri. Yang tidak dapat
mengendalikan dirinya adalah Manguri. Tiba-tiba saja ia berkata
lantang "kalau kalian tidak mau, kami tidak akan membayar sama
sekali" "Kami akan mengambil sendiri" teriak Temon. Suasana menjadi
semakin lama semakin tegang. Ayah Manguri masih tampak berpikir.
Namun agaknya ia tidak mau bertengkar lebih jauh lagi. Ia masih
mempunyai terlampau banyak urusan dengan ternaknya yang tersebar di
beberapa tempat. Karena itu, apabila ia terpancang dan terlibat
dalam persoalan Sura Sapi, urusannya pasti akan terganggu pula.
Karena itu, setelah berpikir sejenak ia berkata kepada Manguri
"Manguri, biarlah kita penuhi saja permintaan itu. Bagi kita, uang
itu tidak terlampau banyak artinya. Tetapi dengan demikian kita
sudah tidak mempunyai persoalan lagi dengan mereka" Manguri
mengerutkan keningnya "Tetapi, dengan demikian kita secara tidak
langsung mengakui bahwa kita telah bertindak salah" "Tentu tidak.
Kita membayar upah yang sudah dijanjikan. Itu saja. Tanpa pengertian
lain" Manguri t idak menyahut. Sejenak ia merenung. Namun sejenak
kemudian kepalanya terangguk kecil. "Begitulah" berkata ayah Manguri
kepada Sura Sapi "kami memang tidak ingin bertengkar. Kami akan
memenuhi permintaan kalian. Upah yang sudah dijanjikan itu akan
dibayar oleh Manguri" Sura Sapi mengerutkan keningnya. Sedang Temon
beringsut setapak maju. Perlahan-lahan ia menggamit adiknya sebagai
suatu isyarat. Tetapi Sura Sapi tidak segera mengerti maksud
kakaknya, sehingga kaena itu ia masih tetap berdiamdiri. Namun di
setiap kepala keenam orang itu terasa getar kemenangan yang
melonjak-lonjak. Mereka melihat seolaholah Ki Sukerta dan Manguri
sama sekali tidak berdaya menolak tuntutan mereka. Ternyata tanpa
kesulitan apapun mereka bersedia memenuhi tuntutan yang mereka
ajukan. "Kenapa kami t idak menuntut lebih dari itu" hampir
bersamaan timbul pertanyaan itu di dalamhati mereka. Agaknya
Temonlah yang paling t idak dapat mengekang dirinya. Perlahan-lahan
ia berbisik "Hanya itu? Perkelahian yang terjadi dengan tujuh orang
itu sama sekali tidak kau hitung?" Tetapi suara bisik itu terlampau
keras sehingga Manguri masih mendengarnya. "Apalagi yang akan kalian
minta?" anak muda itu tiba-tiba membentak. Sura Sapi menarik nafas
dalam-dalam. Pertanyaan kakaknya memang telah ada di dalam otaknya.
Tetapi ia tidak segera mengucapkannya, karena ia ragu-ragu, apakah
di dalam halaman itu tidak ada orang-orang yang benar-benar harus
dipertimbangkan. "Bagaimana?" Temon semakin tidak sabar. "Aku kira
pembicaraan kita sudah selesai" berkata ayah Manguri "Tidak ada lagi
persoalan-persoalan baru" "Tentu ada" jawab Temon "upah itu adalah
hak yang harus kami terima. Tetapi ganti tenaga yang sudah kami
curahkan di dalam perkelahian itu harus diperhitungkan. "Persetan"
sahut Manguri "itu bukan urusan kami. Seandainya ada diantara kalian
yang mati sekalipun kami sama sekali tidak peduli. Itu adalah
tanggung jawab yang kalian. Apalagi setelah kami membayar upah
kalian" Tiba-tiba terdengar suara Temon tertawa "He, kalian anggap
kami ini anak-anak ingusan. Manguri, kau jangan mencari perkara. Aku
kira ayahmu juga tidak senang terjadi keributan di halaman rumah
ini. Bagi ayahmu dan bagimu, agaknya lebih baik kalau kami
mengajukan permintaan itu daripada kami harus mengambil sendiri.
Dengan memenuhi permintaan kami itu masalahnya akan segera selesai.
Ayahmu yang mempunyai seribu macam persoalan itu tidak akan
terganggu lagi oleh masalah-masalah yang tidak berarti apaapa. Aku
yakin bahwa kalian menyimpan uang sepuluh atau duapuluh kali lipat
dari yang akan kami minta" "Tidak" Manguri hampir berteriak "kami
tidak akan memberi apa-apa lagi" "Jangan begitu" Sura Sapilah yang
berbicara "sebaiknya kalian mempertimbangkan. Ki Sukerta agaknya
mampu berpikir lebih baik dari Manguri. Darah muda Manguri yang
masih meluap-luap itu kadang-kadang dapat mencelakankannya. Bukankah
begitu Ki Sukerta?" Kini Ki Sukerta menyadari keadaannya. Sikapnya
yang lunak itu ternyata telah disalah artikan. Orang-orang itu
menganggap bahwa ia menjadi ketakutan dan tidak berani menolak
tuntutan mereka. Ternyata tuntutan gerombolan Sura Sapi itu semakin
lama menjadi semakin berkembang. Karena itu, kini Ki Sukertapun
harus mengambil sikap Kalau ia mau mundur ia harus bersedia
menyerahkan isi rumahnya kepada gerombolan Sura Sapi itu. Tetapi
kalau tidak, ia harus bersikap tegas. "Bagaimana Ki Sukerta?"
bertanya Sura Sapi "Aku kira lebih baik bagimu untuk memenuhi
permintaan kami yang tidak berarti itu. Besok kau akan segera
mendapatkan gantinya. Lima, sepuluh atau duapuluh kali lipat. Kami t
idak akan mengganggu kalian lagi" Tetapi Sura Sapi, Temon dan
kawan-kawannya terkejut ketika ia kemudian mendengar suara Ki
Sukerta yang berubah "Tidak. Kami tidak akan memberikan apa-apa
kepada kalian. Yang sudah aku janjikan, memenuhi upah yang sudah di
sanggupkan Manguri itupun aku cabut. Ternyata kalian menyalah
artikan kelunakan sikapku. Kalian sangka bahwa kalian akan dapat
memeras kami?" Wajah Sura Sapi menjadi merah padam. Apalagi Temon
yang darahnya lebih cepat mendidih. Sejengkal ia beringsut sambil
berkata "Ki Sukerta, apakah kau menyadari katakatamu itu?" "Tentu.
Aku menyadarinya. Aku sadar bahwa apabila kalian berani, kalian akan
mengambil cara yang biasa kalian pergunakan. Kekerasan" "Nah, kau
mengerti. Aku minta kau pertimbangkan sekali lagi. Dengan siapa kau
berhadapan?" "Aku tahu, aku berhadapan dengan Sura Sapi. Tetapi
kalianpun harus tahu, siapa Ki Sukerta" Wajah Sura Sapi menjadi
merah padam. Demikian juga Temon dan kawan-kawannya. Mereka merasa
tersinggung oleh sikap Ki Sukerta, yang seolah-olah langsung
menantangnya. Namun demikian merekapun tidak dapat menghindari
kenyataan, bahwa Ki Sukerta memang tidak dapat diabaikan. Ki Sukerta
yang sudah terlampau sering melakukan perjalanan tidak saja di
daerah Mataram, tetapi juga sampai ke wilayahnya yang tersebar itu,
pasti mempunyai kemampuan yang cukup untuk membela dirinya. Meskipun
demikian Sura Sapi memang sudah memperhitungkan hal itu. Karena itu,
maka dengan suara yang bergetar Sura Sapi berkata "Ki Sukerta. Jadi
Ki Sukerta ingin membuat persoalan yang kecil ini menjadi
perselisihan yang mungkin akan menimbulkan benturan diantara kita?"
"Tidak. Aku tidak ingin" Sura Sapi mengerutkan keningnya "Jadi
kenapa Ki Sukerta seakan-akan telah menantang kami?" "Siapa yang
menantang?" Sura Sapi terdiam sejenak. Tetapi sebelum ia berkata
selanjutnya, Temon telah mendahuluinya "Kau memang terlampau banyak
bicara. Berikan upah itu dan sekedar pengganti keringat kami yang
telah terlanjur menitik. Lima kali dari upah yang sudah ditentukan.
Kalau tidak, kami akan mengambil seratus kali lebih banyak dari itu"
"Tidak" "Nah, kalau begitu kau benar-benar ingin kekerasan" "Aku
tidak ingin. Tetapi aku juga tidak mau memberi apaapa kepada kalian.
Kalau kalian sedikit mempunyai otak, bertanyalah kepada diri
sendiri. Siapakah yang menginginkan keributan. Kalau kau mengajukan
permintaan yang tidak masuk akal, dan aku tidak mau memenuhinya,
apakah sudah wajar, bahwa akulah yang menginginkan keributan? Kalau
kau mau merampok kami dan kami mempertahankan hak kami, kamikah yang
membuat keonaran?" "Persetan" geram Sura Sapi "berikan yang kami
minta" "Tidak. Aku tidak akan memberikan apapun" "Huh, apakah kalian
akan melawan Sura Sapi? Aku kira kaupun sudah dipencilkan dari
pergaulan padukuhan ini. Aku kita tidak akan ada peronda yang datang
membantumu seandainya kalian sempat memukul tanda bahaya" "Aku tidak
memerlukan orang lain. Aku sudah cukup matang untuk bertindak
sendiri. Sadari ini, Di perjalanan, di hutan-hutan dan diara-ara
yang panjang, aku tidak memerlukan bantuan orang lain apabila ada
penyamunpenyamun yang mencegat perjalananku" "Setan alas" Sura Sapi
hampir berteriak "aku memang harus membunuh seisi rumah ini. Tidak
seorangpun yang akan menyangka bahwa kami yang melakukan. Biarlah
besok Pamot ditangkap oleh Jaga-baya Kepandak. Tuduhan pertama pasti
jatuh kepadanya dan keluarganya termasuk anak-anak muda yang
dipersiapkan melawan kami itu" "Aku tidak akan menghiraukan apa yang
akan dikatakan orang. Tetapi seandainya kamilah yang berhasil
membunuh kalian berenam dan melemparkan kepojok desa, tidak
seorangpun yang akan menyangka, bahwa kamilah yang telah menumpas
gerombolan Sura Sapi yang terkenal itu. Ki Jagabaya pasti akan
menyangka bahwa kalian telah dibunuh beramai-ramai oleh orang-orang
Gemulung. Namun seandainya ada orang yang melihat bahwa kamilah yang
telah membunuh kalian, maka mereka akan berterima kasih kepada kami.
"Gila kau" teriak Sura Sapi "aku memang harus membunuh kalian dan
mengambil semua milik kalian. Aku tidak peduli lagi, apakah itu
merupakan upah kaliah atau bukan" "Langkahi mayat kami" geram ayah
Manguri. Temonlah yang tidak dapat menahan hatinya. Tiba-tiba ia
meloncat berdiri sambil menarik senjatanya, sebuah golok yang besar
meskipun tidak begitu panjang. "Aku dapat memotong paha kerbau
dengan sekali gores" desisnya "bagaimana dengan leher kalian?" "Aku
tidak sedungu kerbau" Manguripun sudah meloncat berdiri pula dengan
senjata di tangan. Maka berloncatanlah orang-orang yang berada di
pendapa itu. Tiba-tiba saja mereka sudah menggenggam senjata
masing-masing. "Kalian memang terlampau bodoh" geram Sura Sapi, lalu
"kalian lebih mencintai harta kalian daripada nyawa Kau masih akan
dapat mencari harta dengan mudah, tetapi kau tidak akan dapat
membeli nyawa dimanapun dengan kekayaan yang betapapun banyaknya" Ki
Sukerta tidak menjawab. Tetapi dengan garangnya ia berdiri tegak di
atas kakinya yang renggang. Sambil menyilangkan pedangnya di dada ia
merendah sedikit pada lututnya. Gerombolan Sura Sapi itu mulai
bergerak memencar untuk mengepung Ki Sukerta dan Manguri yang kini
berdiri berlawanan arah. Namun Manguri masih mencoba menebarkan
pandangan matanya, mencari di mana Lamat bersembunyi. Dalam keadaan
yang tegang itulah, maka muncul seseorang yang bertubuh raksasa dari
balik dedaunan. Dengan tenangnya ia berjalan naik keatas pendapa
sambil menjinjing tombaknya. Sejenak ia berdiri di bibir pendapa itu
sambil melihat suasana yang sudah mencapai puncak ketegangannya.
Ternyata kehadirannya telah mendebarkan jantung Sura Sapi dan
kawan-kawannya. Tetapi mereka memang sudah memperhitungkan, bahwa di
halaman rumah itu ada seseorang raksasa yang dungu. Namun menurut
Manguri sendiri, raksasa itu sama sekali tidak berhasil menangkap
Pamot, sehingga dengan demikian, maka raksasa itu adalah raksasa
yang jinak. "Ikat raksasa itu" perintah Sura Sapi kepada
orangorangnya "biarlah aku dan kakang Temon menangkap pedagang yang
sombong ini beserta anaknya " Beberapa orang saling berpandangan.
Namun kemudian tiga dari anak buah Sura Sapi memisahkan diri
menyongsong Lamat yang melangkah semakin dekat. Lamat masih tetap
melangkah dengan tenang. Namun kemudian ia berhenti ketika ia
melihat tiga orang menyongsongnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam
ia meraba-raba tangkai tombaknya yang kasar. Sejenak ia melihat tiga
orang yang lain berhadapan dengan Ki Sukerta dan anaknya Manguri.
Sebelum mereka mulai menggerakkan senjata-senjata mereka, tiba-tiba
mereka terkejut ketika mereka mendengar langkah seseorang
berlari-lari. Serentak mereka berpaling, dan merekapun melihat
seseorang dengan tergesa-gesa meloncat naik ke pendapa. Sejenak ia
berdiri mematung sambil menggosok-gosok matanya. Agaknya ia terkejut
dari tidurnya dan dengan tergesa-gesa berlari keluar. Orang itu
adalah pengawal yang tidur di kandang ternak. "Apa yang telah
terjadi ?" desisnya. "Hati-hatilah" sahut Lamat. Orang itu maju
selangkah mendekati Lamat. "Lindungilah Manguri" bisik Lamat lirih.
Orang itu kini menyadari apa yang sedang dihadapinya. Karena itu
maka iapun segera menarik pedangnya. Perlahanlahan ia maju mendekati
Manguri yang berdiri di belakang ayahnya beradu punggung. Lamat
menyadari bahwa untuk melawan tiga orang sekaligus adalah pekerjaan
yang sangat berat baginya. Dan tiga orang ini adalah gerombolan Sura
Sapi. Tetapi Sura Sapi sendiri agaknya berusaha untuk dapat
berhadapan langsung dengan Ki Sukerta. "Aku harus bertahan. Hanya
bertahan dan mengikat ketiganya dalam perkelahian supaya salah
seorang dari mereka tidak dapat meninggalkan arena dan membantu Sura
Sapi menghadapi Ki Sukerta" berkata Lamat di dalam hatinya.
Demikianlah, maka di pendapa itu terjadi dua lingkaran yang akan
menjadi arena perkelahian. Lamat yang menghadapi tiga orang
gerombolan Sura Sapi dan di lingkaran yang lain, tiga orang
berhadapan dengan tiga orang pula. Tetapi dua diantara yang tiga itu
adalah Sura Sapi sendiri dan kakaknya Temon yang selama ini tinggal
di kaki Gunung Kendeng. "Apakah ini keputusanmu Ki Sukerta?" "Sura
Sapi masih bertanya. "Ya" jawab Ki Sukerta Apalagi kini di pendapa
itu telah hadir Lamat dan seorang pengawal upahannya. "Bagus" desis
Temon "aku tidak akan pernah melupakan sambutan yang hangat ini
sampai aku kembali ke Gunung Kendeng" Ki Sukerta tidak menjawab.
Tetapi ia bersiaga sepenuhnya. Untunglah bahwa pengawal ternaknya
itu berada di sampingnya. Ia akan dapat membantu melindungi Manguri
apabila ia segera terdesak. Sejenak kemudian Sura Sapi melangkah
maju. Ia bergeser beberapa langkah ke samping, kemudian tiba-tiba
saja ia meloncat menyerang Ki Sukerta dengan garangnya. Tetapi Ki
Sukerta benar-benar telah bersiap menghadapi serangan itu. Dengan
tangkasnya ia mengelak, dan bahkan pedangnyapun segera terjulur
lurus mengarah kelambung Sura Sapi. Sura Sapi menggeliat untuk
menghindari ujung pedang itu, dengan selingkar gerakan yang cepat,
ia menyerang mendatar. Ki Sukerta yang gagal menyentuh lambung lawan
terpaksa meloncat ke samping. ketika senjata lawannya menyambarnya.
Karena sura Sapi sudah mulai, maka yang lainpun segera berloncatan
pula. Temon segera menyerang Manguri, tetapi pengawal ternak yang
ada di sampingnya segera menempatkan dirinya untuk melawan. Sedang
orang yang lain lagi, mau tidak mau harus berhadapan dengan Manguri.
Di lingkaran perkelahian yang lain, ketiga orang gerombolan Sura
Sapi itupun segera menyerang Lamat hampir berbareng. Tetapi Lamat
yang meskipun tenang-tenang saja itu, mampu menghindari mereka
dengan cepat. Selangkah ia mundur, kemudian melingkar sebuah t iang
pendapa sambil mengangkat tombaknya. Ketika sebuah ujung pedang
terjulur kedadanya, maka tangkai tombaknya langsung memukul punggung
pedang itu Demikian kerasnya sehingga hampir saja pedang itu
meloncat dari tangan. Orang yang hampir kehilangan pedang itu
berdesis. Meskipun ia baru mulai, tetapi segera ia mendapat gambaran
kekuatan Lamat yang memang luar biasa itu. Ayunan tangkai tombak
yang tampaknya belum dilambari dengan sekuat tenaga itu saja, sudah
cukup menggetarkan jari-jarinya. Tetapi orang itu sama sekali tidak
mengeluh, dan bahkan sama sekali berusaha untuk tidak menumbuhkan
kesan, bahwa kekuatan Lamat memang luar biasa. Ia tidak mau
menumbuhkan kecemasan dan kebimbangan di hati kawankawannya.
Demikianlah muka perkelahian di atas pendapa itupun segera menjadi
semakin seru. Lamat yang harus melawan tiga orang, selalu berusaha
untuk menghindari serangan-serangan yang datang dari berbagai
jurusan. Tiang-tiang di pendapa rumah itu agaknya dapat membantunya.
Setiap kali ia berperisai tiang-tiang rendapa, kemudian meloncat
maju sambil menjulurkan ujung tombaknya yang tidak begitu tajam itu.
Sedang Sura Sapi sendiri berkelahi mati-matian untuk segera dapat
menundukkan Ki Sukerta. Tetapi ternyata seperti katanya sendiri, Ki
Sukerta yang selalu menjelajahi daerah yang luas itu benar-benar
seorang yang memang mempunyai bekal untuk mela akan pekerjaannya
yang berat. Ternyata ia sama isekali tidak dapat segera dikuasai
oleh Sura Sapi. Bahkan Ki Sukerta masin mendapat kesempatan untuk
sekalisekali melihat anaknya yang dengan susah payah mempertahankan
dirinya. Tetapi Ki Sukerta masih belum mencemaskan Manguri, karena
Manguri agaknya masih mampu bertahan. Seperti Lamat, Manguri dapat
memanfaatkan tiang-tiang pendapa untuk memperpanjang perlawanannya.
Sehingga Ki Sukerta masih dapat memusatkan perlawanannya atas Sura
Sapi sendiri. Temon tidak terlampau banyak mempunyai kelebihan dari
pengawal ternak Ki Sukerta, meskipun segera tampak, bahwa ia akan
berhasil memenangkan berkelahian itu pada suatu saat apabila mereka
dibiarkannya berkelahi seorang lawan seorang. Sementara itu Lamat
berusaha untuk tetap mengikat ketiga lawannya. Ia melihat bahwa
hanya Ki Sukerta sajalah yang agaknya akan mampu mengimbangi
lawannya untuk waktu yang lama. Tetapi melawan tiga orang gerombolan
Sura Sapi, merupakan pekerjaan yang berat pula bagi Lamat. Ia masih
tetap sadar bahwa sebaiknya ia tidak melakukan pembunuhan. Karena
itu maka Lamat tidak mempergunakan seluruh kekuatannya di dalam
perlawanannya. Meskipun sekali-sekali ia menyerang, namun sebagian
terbesar yang dilakukannya adalah menghindar dan menangkis. Apalagi
kelincahan lawanlawannya kadang kadang memang agak membingungkannya,
sehingga setiap kali ia selalu meloncat mengambil jarak dari ketiga
lawan-lawannya. Namun lambat laun Lamat tidak dapat berkelahi dengan
caranya. Ketika ujung pedang salah seorang gerombolan Sura Sapi itu
menyentuh kulit lengannya, sehingga darahnya menitik, sadarlah ia
bahwa ia tidak sedang bermain-main. Ki Sukerta, Manguri dan pengawal
yang seorang itupun sedang terancam bahaya kematian apabila
keadaannya tidak segera berubah. Karena itu, Lamat yang kemudian
dilanda oleh kebimbangan dan keragu-raguan itu terpaksa mencari
jalan untuk mengatasi perkelahian itu. "Akan lebih baik kalau aku
berkelahi di dalam kelompok itu pula" desisnya di dalam hati
"setidak-tidaknya aku dapat mengawasi dan mencoba mengurangi tekanan
atas Manguri" Dengan demikian maka Lamatpun berusaha dengan susah
payah untuk mendekati lingkaran perkelahian yang lain. Ketika
serangan-serangan lawannya membuatnya semakin bingung, maka
tiba-tiba ia menggeram. Diayunkannya tangkai tombaknya dengan sekuat
tenaganya menyerang salah seorang daripadanya, supaya lawan-lawannya
berloncatan surut, untuk memberinya kesempatan mengatur diri. Tetapi
agaknya ada diantara mereka yang tidak sempat berusaha untuk
menghindar. Dengan senjatanya ia mencoba menangkis ayunan tangkai
tombak Lamat yang dibuatnya dari kayu berlian itu. Terjadilah sebuah
benturan yang dahsyat. Sesaat mereka mendengar keluhan tertahan,
kemudian mereka mendengar gcmerincing pedang yang terjatuh di
lantai. Orang itu tidak berhasil mempertahankan senjatanya. Tenaga
Lamat ternyata terlampau kuat, meskipun lawannya itu salah seorang
dari gerombolan Sura Sapi yang terkenal. Bahkan tangkai tombak Lamat
masih juga menyentuh pahanya, sehingga iapun terpelanting jatuh.
Dengan susah payah orang itu meloncat berdiri. Tetapi kemudian
ternyata bahwa ia menjadi timpang karenanya. Rasa-rasanya tulang
pahanya menjadi retak. Kedua kawannya yang lain segera mencoba
melindunginya. Keduanya menyerang hampir bersamaan, sehingga Lamat
terdesak surut beberapa langkah. Kesempatan itu dipergunakan oleh
salah seorang gerombalan yang kehilangan senjatanya itu.
Tertatih-tatih ia berloncatan memungut senjatanya. Kemudian dengan
kaki timpang ia kembali memasuki arena perkelahian. Lingkaran
perkelahian Lamatpun semakin lama menjadi semakin dekat dengan arena
perkelahian Manguri, ayahnya dan pengawal yang seorang itu. Namun
agaknya lawanlawannyapun berusaha untuk menahannya dan mendorongnya
semakin jauh. Lamat masih saja berkelahi dengan tenangnya. Ia masih
berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan. Namun setiap kali tumbuh
pertanyaan "Bagaimana kalau justru Manguri sendiri yang terbunuh?
Betapapun bengalnya anak itu, tetapi ia masih agak lebih baik dari
gerombolan Sura Sapi. Dalam pada itu, isteri Ki Sukerta yang
mendengar hiruk pikuk di pendapa, mencoba untuk mengintipnya.
Meskipun dalam kegelapan, namun ia dapat melihat bayangan yang
samar-samar berloncatan kian kemari. Nafas yang berdesah dan dentang
senjata beradu. Dengan demikian segera ia mengetahui, bahwa di
pendapa rumahnya agaknya telah terjadi perkelahian yang dahsyat.
Nyai Sukerta itupun kemudian berlari-lari ke bagian belakang
rumahnya. Didorongnya saja pintu bilik Lamat. Tetapi ia sudah tidak
melihat orang itu di dalam biliknya. "Agaknya ia sudah ikut
berkelahi" desisinya. Dengan demikian maka iapun kemudian berlari ke
gubug-gubug di samping lumbung. Dibangunkannya para pekatik, para
gembala dan juru sapu. "Cepat, pergi ke pendapa. Mereka sedang
berkelahi" "Siapa?" bertanya salah seorang pekatik kuda. "Aku tidak
tahu" Orang-orang itu menjadi bingung. Mereka tidak mengerti
bagaimana mereka harus membantu. Hampir sepanjang umurnya mereka
tidak pernah berkelahi. Tetapi ada juga dua orang yang segera
berlari ke dalam biliknya untuk mengambil parang dan kapak. Dengan
tergesagesa keduanya pergi melingkari rumah ke pendapa, di bagian
depan dari rumah Ki Sukerta. Ketika mereka sampai ketangga pendapa
mereka melihat bahwa perkelahian yang seru masih berlangsung di
pendapa. Ternyata Manguri menemui banyak kesulitan di dalam
perkelahian itu. Anggauta gerombolan Sura Sapi yang berkelahi
melawannya, agaknya benar-benar akan berusaha menyelesaikan
pekerjaannya tanpa tanggung-tanggung. Meskipun kedua orang pembantu
Manguri itu bukan orang orang yang mempunyai pengetahuan yang cukup
di dalam olah senjata, tetapi agaknya mereka mampu melihat, bahwa
Manguri sudah hampir tidak mampu lagi untuk bertahan. Dengan
demikian, maka keduanyapun segera mendekatinya dan mencoba untuk
membantunya. Namun ternyata bahwa kedua orang itu tidak terlampau
banyak berpengaruh. Meskipun demikian, mereka telah dapat memecah
perhatian lawan Manguri, sehingga Manguri mempunyai sedikit
kesempatan memperbaiki keadaannya. Ayahnya, Ki Sukerta yang melihat
keadaan anaknya, menjadi sangat cemas. Itulah sebabnya, maka ia
telah mengerahkan segenap kemampuan dan ilmunya. Seluruh tenaga
cadangan yang ada di dalam dirinya telah dibangunkannya, untuk
mempercepat penyelesaian. Ternyata bahwa Ki Sukerta tidak sekedar
menyebut dirinya sebagai seorang pedagang keliling dan bahkan
seorang petualang hampir di segala bidang kehidupan. Telah
dijelajahinya sudut-sudut yang paling berbahaya di dalam usahanya
mencari kekayaan dan mengejar perempuan yang disukainya. Dengan
demikian, maka menghadapi Sura Sapi itu sendiri Ki Sukerta akhirnya
berhasil sedikit demi sedikit menguasainya. "Aku harus lebih dahulu,
sebelum Manguri kehabisan napas" katanya di dalam hati. Bagaimanapun
juga Manguri adalah satu-satunya anak dari isterinya yang paling
tua, isterinya yang sah. Sura Sapi menahan nafasnya untuk sejenak,
ketika hampir saja pundaknya tergores pedang lawannya. Meskipun ia
telah memperhitungkan, bahwa Ki Sukerta bukannya sekedar seorang
pedagang yang mempercayakan keselamatannya kepada para pengawalnya
saja, namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ki Sukerta itu
mampu mengimbanginya, bahkan semakin lama semakin terasa betapa
beratnya menghadapi pedagang ternak itu. "Setan alas" Sura Sapi
menggerutu. Sesaat terbayang kegagalan mereka di tengah-tengah sawah
sawaktu mereka menghadapi Pamot dan kawan-kawannya Apakah kegagalan
ini harus terulang?" "Sura Sapi tidak pernah gagal" desisnya. Tetapi
bagaimanapun juga, ternyata kemampuan Ki Sukerta tidak dapat
diingkarinya. Meskipun Temon sedikit demi sedikit dapat mendesak
lawannya, tetapi untuk mengalahkannya agaknya ia masih memerlukan
waktu yang cukup lama, sedang Sura Sapi semakin lama sudah menjadi
semakin lemah. "Sura Sapi tidak pernah gagal" terdengar Sura Sapi
itu menggeram. Di lingkaran perkelahian yang lain, yang semakin lama
menjadi semakin dekat, Lamat masih tetap bertahan. Meskipun ia tidak
segera tampak menguasai keadaan, tetapi agaknya keadaannya sama
sekali tidak mencemaskan. Demikianlah maka perkelahian itu menjadi
semakin lama semakin ribut. Desak mendesak tidak berketentuan. Yang
seorang dapat mendorong lawannya, sedang yang lain hampir-hampir
dapat dikuasai. Namun agaknya Sura Sapi sendiri berada di dalam
kesulitan. Setiap kali ia terdesak mundur. Setiap kali ia menggeram
karena ujung senjata Ki Sukerta menyentuh pakaiannya. Dan bahkan
ketika punggungnya terantuk tiang pendapa, sebuah goresan telah
menyobek lengannya. Terdengar Sura Sapi itu mengaduh tertahan.
Kemudian mengumpat sejadi-jadinya. Goresan itu ternyata telah
menitikkan darahnya, sehingga perasaan pedih seolah-olah menyengat
di segenap lekuk tangannya. Untunglah bahwa Sura Sapi mampu
mempergunakan kedua tangannya dengan kekuatan seimbang, sehingga
karena tangan kanannya terluka, maka senjatapun segera
dipindahkannya ke tangan kiri" Namun demikian titik-titik darah itu
telah membuatnya menjadi cemas, bahwa pada suatu saat ia akan
menjadi semakin lemah. Belum lagi gema desah Sura Sapi itu lenyap,
maka seorang yang melawan Lamat ternyata telah terpukul oleh tangkai
tombak Lamat, yang terbuat dari kayu berlian. Orang itu terpelanting
membentur sebuah tiang pendapa. Untunglah, bahwa ia masih dapat
melindungi kepalanya, sehingga dengan susah payah ia masih dapat
segera bangkit. Namun demikian, di bagian lain terdengar seseorang
menjerit ngeri. Agaknya salah seorang dari kedua orang yang membantu
Manguri tertusuk senjata lawannya di pahanya Tertatih-tatih ia
berlari menepi, kemudian tanpa dapat mempertahankan keseimbangannya
lagi ia terjatuh sambil mengaduh. Meskipun demikian, Sura Sapi
sendiri agaknya tidak akan mampu mengalahkan Ki Sukerta yang
tampaknya semakin lama menjadi semakin garang. Kali ini ia berkelahi
sepenuh tenaganya untuk menyelamatkan anaknya, harta bendanya dan
namanya. Dalam keadaan yang kalut demikian itulah, akhirnya Sura
Sapi tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Lukanya
menjadi kian pedih, sedang lawannya masih juga nampak segar. Raksasa
yang dianggapnya dungu itu ternyata tidak segera dapat dikalahkan
oleh ketiga orang-orangnya. Temon yang diharapkannya akan dapat
membantunya, ternyata terikat oleh perkelahian yang masih memerlukan
waktu yang lama. Apalagi ketika kemudian beberapa orang meskipun
dengan ragu-ragu, berdatangan mengerumuni pendapa. Orang-orang itu
adalah pekatik-pekatik, pelayan-pelayan dan tenaga-tenaga kasar di
rumah itu. Dita-ngan masing-masing tergenggam berbagai macam
senjata. Linggis, kapak, parang, bahkan kayu selumbat kelapa dan
pemukul kentongan. Meskipun mereka tidak akan dapat banyak berbuat,
namun kehadiran mereka benar-benar telah mempengaruhi niat Sura Sapi
untuk memaksakan kehendaknya. Demikianlah, maka sekali lagi Sura
Sapi merasa, bahwa ia akan gagal. Gagal seluruhnya seperti pada saat
gerombolannya akan menangkap Pamot. Itulah sebabnya maka ia tidak
mempunyai pilihan lain, kecuali seperti pada kegagalan yang dahulu,
meninggalkan arena. Sejenak kemudian maka terdengar Sura Sapi
memberikan aba-aba itu. Aba-aba yang pernah diberikannya juga dalam
perkelahiannya melawan anak-anak Gemulung. Kawan-kawannya tidak
menunggu keadaan berkembang semakin buruk. Dengan serta-merta
merekapun segera berloncatan menjauh. Kemudian berlari secepat-cepat
dapat mereka lakukan, turun dari pendapa, melintasi halaman samping
dan menghilang di kebun belakang untuk seterusnya berlari lintang
pukang meloncati dinding batu di belakang. Tetapi mereka tidak
berhenti sampai di balik dinding batu. Mereka masih berlari terus
masuk ke dalamrerungkudan. Demikian cemasnya, mereka hampir tidak
sempat berpaling. Bahkan di dalam gelap malam, tiba-tiba saja kaki
Temon terantuk sesosok tubuh yang sedang berjongkok, sehingga
keduanya terpelanting dan jatuh berguling-guling. "Setan alas,
dimana matamu he" bentak orang yang berjongkok itu, yang tidak lain
adalah Sura Sapi. "Siapa kau?" bertanya Temon. "O" suara Sura Sapi
merendah "kaukah itu kakang? "Ya aku. Kenapa kau berjongkok disitu?"
Nafas Sura Sapi menjadi semakin terengah-engah "Tanganku dan
pundakku terasa pedih sekali" "Kauterluka?" "Ya. Di lengan dan di
beberapa tempat lagi meskipun hanya goresan-goresan kecil" Temon
merangkak mendekati adiknya. Katanya kemudian "Marilah kita menjauhi
tempat terkutuk itu dahulu" Sura Sapipun kemudian berdiri
perlahan-lahan. Dengan hati-hati ia memandang berkeliling. "Tidak
ada orang yang mengejar kita" berkata Temon. "Ya. Agaknya merekapun
tidak berani keluar dari batas dinding rumahnya " "Kenapa?" "Agaknya
mereka tidak ingin terlibat dalam Kesalah pahaman dengan anak-anak
muda Gemulung" Temon mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi kita
harus cepat menyingkir" "Ya. Kita harus cepat menyingkir"
Keduanyapun kemudian berlari-lari kecil sambil terbungkukbungkuk di
sela-sela dedaunan yang rimbun di kebun-kebun yang tidak
terpelihara. Namun Sura Sapi semakin lama menjadi semakin lemah.
Darahnya masih saja mengalir meskipun t idak begitu deras, dari
luka-lukanya, terutama luka dilengannya. "Marilah" ajak Temon.
"Napasku" desis Sura Sapi "badanku menjadi sangat lemah. Darahku
masih saja mengalir" Temonpun kemudian mendekati adiknya. Dibantunya
Sura Sapi berjalan tertatih-tatih. Kemudian merekapun dengan
hatihati mendekati dinding padukuhan dan setelah mereka merasa aman,
maka dengan susah payah Sura Sapipun segera meloncat dibantu oleh
kakaknya. Malam yang gelap masih juga. terasa gelap, meskipun
bintang-bintang di langit bertebaran dari ujung sampai ke ujung.
Keenam orang dari gerombolan Sura Sapi termasuk Temon, berjalan
tersuruk-suruk menjauhi padukuhan Gemulung. "Lain kali kita bakar
padukuhan terkutuk itu" geram Sura Sapi. "Ya, kita jadikan nereka"
desis yang lain. Merekapun kemudian meneruskan langkah mereka
menyusur pematang. Beberapa orang dari mereka berjalan dengan t
impang karena kaki-kaki mereka terkilir. Tetapi Sura Sapi sendiri
menjadi semakin lemah, meskipun ia masih mampu berjalan dibantu oleh
kakaknya. "Dua kali kita gagal di neraka terkutuk itu" gumam Sura
Sapi "tetapi lain kali kita pasti akan berhasil" "Apa yang akan kau
lakukan lain kali?" "Membakar padukuhan itu menjadi karang abang.
Kemudian merampok rumah pedagang yang kikir itu habishabisan dan
membunuh seisi rumahnya" Temon tidak menjawab. Ia sadar, bahwa
kata-kata itu terlontar oleh kekecewaan yang sangat mencengkam dada
Sura Sapi. Sejenak kemudian merekapun terdiam. Mereka berjalan
tertatih-tatih semakin lama semakin jauh dari Gemulung, dengan
luka-luka tidak saja pada tubuh mereka, tetapi juga di hati.
Sementara itu Manguri yang hampir kehabisan nafas masih sempat
membentak-bentak Lamat yang berdiri termangumangu "Kenapa kau
biarkan mereka lari, he? Kenapa kau tidak mengejar mereka dan
menangkap meskipun hanya satu atau dua orang?" Lamat t idak
menjawab. Sekilas dipandanginya Ki Sukerta, dan sekilas kemudian
pengawal ternak yang berdiri diam membeku. "Kaupun tidak berbuat
apa-apa" bentak Manguri kepada pengawal itu. Pengawal itupun tidak
segera menjawab. "Semua orang di rumah ini sudah gila. Sekian banyak
orang berkeliaran tidak menentu. Apa yang kalian kerjakan? Kalian
membiarkan demit-demit itu melarikan dirinya. Kalau kalian berhasil
menangkap atau membunuh mereka, aku akan menyembelih tiga ekor sapi.
Tidak, tidak hanya tiga ekor. Dua ekor untuk setiap orang yang
tertangkap" Tidak seorangpun yang menjawab. Dan kemarahan Manguri
menjadi semakin melonjak-lonjak, .Wadah kemarahannya terutama adalah
Lamat. Katanya "Kau pemalas. Kau ingin segera tidur saja. Kau sama
sekali tidak berusaha untuk memenangkan perkelahian. Kau yang
sebesar gajah itu sama. sekali tidak berdaya menghadapi hanya tiga
orang lawan. Dan yang tiga itu t idak termasuk pemimpinnya " Lamat
menundukkan kepalanya. Ia sudah terlalu biasa diumpat-umpat dengan
kata-kata yang bagaimanapun menyakitkan, hati. Karena itu justru ia
menjadi kebal. "Sudahlah Manguri" ayahnya mencoba menahannya "untung
sekali kau masih dapat melihat matahari terbit esok pagi. Sekarang
biarlah mereka beristirahat. Orang yang terluka itu harus segera
mendapat pertolongan" "Tetapi itu terlalu sekali" geramnya
"seharusnya Lamat dapat berbuat sesuatu. Dengan keadaan ini kita
masih selalu harus berjaga-jaga. Mereka pasti masih akan menuntut
penyelesaian yang memberi kepuasan kepada mereka" "Tetapi kita sudah
dapat menduga sebelumnya, sehingga kita akan dapat berjaga-jaga"
sahut ayahnya. "Mereka, Sura Sapi dan gerombolannya itu., terlampai
buas. Mereka dapat membawa kawan-kawan mereka berdatangan ke rumah
ini, sedangkan kami tidak akan dapat mengharapkan orang-orang
Gemulung yang gila itu" "Aku dapat memanggil para pengawal ternak
yang biasa membantu aku dalam perjalanan. Merekapun orang-orang yang
dapat dipercaya. Tidak kalah dari orang-orang gerombolan Sura Sapi"
"Tetapi jumlah itu sangat terbatas" "Aku kira cukup banyak. Aku
mempunyai lima orang pengawal" "Hanya lima" "Disini ada kau, ada aku
dan Lamat serta seorang pengawal lagi" "Tetapi gerombolan Sura Sapi
adalah gerombolan yang paling gila dan liar. Mereka dapat berbuat
apa saja melampaui setan yang paling jahat" "Sudahlah, jangan ribut"
kemudian kepada Lamat Ki Sukerta berkata "rawatlah orang yang
terluka itu" Lamat tidak menjawab. Sambil memegang tombaknya di
tangan kiri ia memapah orang yang terluka itu dan dibawanya turun
dari pendapa. "Ingat pemalas" teriak Manguri "kaulah sumber
kegagalan kita menangkap orang-orang itu. Kalau sekali lagi kau
ulangi, maka kau akan menyesal seumur hidupmu" "Manguri" potong
ayahnya "jangan menjadi gila karena kegagalan kita kali ini.
Sebenarnya kita sama sekali tidak gagal. Kita sudah berhasil
mempertahankan diri dan hak milik kita" "Tetapi masalahnya
belumselesai ayah" "Katakan, siapakah yang telah membuka masalah
ini. Siapakah yang dengan dungunya menghubungi Sura Sapi untuk
keperluan yang gila itu pula. Siapa?" Manguri tidak menjawab. "Kau.
Kaulah yang bersalah. Kaulah sumber dari kekalutan yang telah
terjadi di rumah ini. Sekarang kau membentakbentak seperti orang
mabuk tuak" Manguri mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab,
karena ia sadar, bahwa ayahnya sudah mulai marah lagi kepadanya.
"Masuklah" berkata ayahnya "jangan ribut lagi" Dengan kepala tunduk
Manguripun kemudian berjalan masuk ke pringgitan. Ketika ia masuk ke
ruang dalam dilihatnya ibunya menggigil ketakutan. Begitu Manguri
muncul di pintu, maka dengan serta merta dipeluknya anaknya yang
sudah sebesar ayahnya itu sambil menangis "Kau tidak apaapa Manguri"
Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak ibu, aku t idak apa-apa"
"Nah, jadilah pelajaran bagimu, Manguri. Untuk seterusnya kau jangan
bermain api" "Bukankah hal itu sudah sewajarnya? Aku seorang anak
laki-laki ibu. Aku memang sudah seharusnya berusaha untuk
mendapatkan seorang gadis yang aku cintai" "Tetapi kau dapat mencari
gadis yang lain, yang tidak usah menumbuhkan banyak persoalan
seperti gadis anak janda prajurit itu" "Aku mencintainya ibu"
"Anakku. Kau harus dapat mempertimbangkan perasaanmu. Betapa besar
cintamu kepadanya, tetapi hal itu dapat membahayakan nyawamu, bahwa
berbahaya bagi seluruh keluarga" "Sudahlah bu" berkata Manguri
sambil melepaskan pelukan ibunya "ibu tidak usah mencemaskan aku"
"Tidak mungkin Manguri, karena kau adalah anakku" "Ibu akan menyakit
i perasaan ibu sendiri. Aku sudah bertekad untuk mendapatkannya
dengan segala cara" "Jangan Manguri. Berkatalah, gadis mana yang kau
cintai, selain gadis yang sudah jelas menolakmu itu. Aku akan
melamarnya untukmu" "Aku tidak mencintai gadis lain lagi, kecuali
gadis itu" "Tidak. Aku tidak menyetujui kau berhubungan lagi dengan
Sindangsari" "Ibu" Manguri membelalakkan matanya "kenapa tiba-tiba
ibu bersikap demikian" "Ibu tidak senang melihat hubungan yang
selalu mendebarkan jantung. Apakah kau akan merasa bahagia kelak,
apabila kau selalu diganggu oleh kegelisahan dan kecemasan. Apalagi
isterimu itu t idak mencintaimu" "Ibu, aku kadang-kadang merasa
bahwa semakin sulit aku berusaha mendapatkan seorang gadis, aku
merasa bahwa aku kelak akan menjadi semakin berbahagia, apabila aku
berhasil" "O, jalan pikiranmu sudah terbalik" "Bukankah cinta yang
berliku-liku itu justru memberikan kepuasan yang mendalam" "Tidak.
Kau keliru" "Ibu" Manguri tiba-tiba berbisik "ibu jangan melarang
aku. Sebenarnya aku tidak sejahat ini, karena aku harus memeras
ibuku sendiri. Tidak. Tetapi aku hanya ingin membuktikan, bahwa
kadang-kadang kita memang ingin hidup di dalam dunia yang lain dari
kewajaran hidup ini. Coba katakan, apakah yang ibu dapat dari
hubungan yang berbelit-belit antara ibu dengan laki-lki itu?"
"Manguri" ibunya hampir berteriak "kau sudah gila" "Maaf ibu, aku
hanya sekedar memberikan contoh, betapa di dalam hidup ini kita
memerlukan kelainan-kelainan yang kadang-kadang tidak masuk akal.
Maaf bahwa contoh yang paling mudah aku dapat kali ini adalah
kehidupan ibu sendiri. Hubungan itu menurut pendapatku adalah
terlampau mengerikan. Tetapi ibu melakukannya juga. Apakah dapat
dinikmati suatu kebahagiaan dalam ujud apapun, apabila setiap kali
ibu selalu diburu oleh kegelisahan kecemasan dan ketakutan?" "Diam,
diam kau Manguri" "Jangan berteriak ibu. Aku sudah berbisik-bisik
supaya tidak ada orang lain yang mendengar. Tetapi ibu justru
berteriakteriak seperti itu" "kau menghina ibumu sendiri Manguri.
Kau menyakiti hatiku" "Bukan maksudku. Karena itu aku minta maaf.
Tetapi dengan demikian, maka ibu akan dapat mengerti, bahwa aku kali
ini berbuat sesuatu yang aneh yang tidak patut atau katakanlah,
sangat berbahaya menurut penilaian orang lain Tetapi aku justru
ingin melakukannya karena dorongan yang tidak aku mengerti" "O"
tiba-tiba ibunya berlari ke biliknya. Dijatuhkannya tubuhnya di
pembaringannya. Yang terdengar kemudian adalah isak tangisnya,
sambil menelungkupkan wajahnya pada kedua tangannya yang bersilang.
Dengan dada yang berdebar-debar Manguri melihat ibunya menangis.
Perlahan-lahan ia mendekatinya dan duduk di bibir pembaringan itu.
"Aku minta maaf bu" Ibunya tidak menyahut. "Aku minta maaf. Sudah
aku katakan bahwa aku tidak ingin menyakit i hati ibu" Ibunya
mengangkat wajahnya. Kemudian terdengar suaranya parau di sela-sela
isak tangisnya "Inikah hukuman yang harus aku tanggungkan karena
dosa itu?" "Tidak ibu. Bukan" "Aku memang penuh dengan dosa Manguri.
Tetapi ternyata kau memang benar. Kadang-kadang kita menginginkan
sesuatu yang tidak pantas, yang tidak patut. Bahkan yang berbahaya
sekalipun. Tetapi aku tidak dapat menghentikannya. Setiap kali hal
itu terjadi, aku merasa bahwa untuk seterusnya aku tidak akan
mengulanginya lagi. Bahkan aku merasa sangat membencinya. Tetapi
apabila aku merasa kesepian, dan laki-laki itu menampakkan dirinya,
aku terdorong lagi ke dalam dosa itu" "Sudahlah ibu. Tidak pantas
hal itu disesali. Kalau hal itu memang terjadi, marilah kita nikmat
i sepuas-puas hati. Bukankah hal itu memang terjadi dan tidak dapat
kita elakkan lagi" "O, inilah. Inilah kutukan itu, Aku memang sudah
memberikan contoh kepadamu, untuk terjun ke dalam neraka yang paling
jahanam. Dan kau agaknya memang mengikuti jejak itu. Jejakku dan
jejak ayahmu" Manguri menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba
saja ia tersenyum di dalam hatinya. Kini ia benar-benar merasa hidup
di dalam kubangan yang paling kotor. Ia tidak akan dapat
membersihkan dirinya selama ia masih tetap berada di kubangan itu.
Seribu kali ia mandi sehari, maka ia akan segera dilumuri oleh
noda-noda yang paling kotor itu kembali. Tetapi Menguri t idak
mengatakannya. Ia bangkit berdiri dan berkata kepada ibunya "Ayah
berada di luar. Mungkin ayah sedang mengurusi orang-orang yang
kebingungan di halaman. Atau barangkali ikut menolong orang yang
terluka itu. Aku akan pergi keluar juga" Ibunya menganggukkan
kepalanya. Dengan ujung bajunya ia mengusap air mata yang masih
membasahi matanya. "Hati-hatilah" "Ya ibu" Manguripun kemudian
melangkah keluar bilik. Ditutupnya pintu bilik itu. Sekilas ia masih
melihat ibunya berbaring. Ibunya yang nampaknya masih sangat muda.
Ketika ia melangkah untuk kembali ke pendapa, maka sekilas ia
teringat kepada gadis-gadis yang pernah mengguratkan namanya pada
dinding jantungnya. Manguri tersenyum di dalam hati, meskipun senyum
yang pahit. "Dimanakah mereka sekarang" desisnya. Terbayanglah
gadis-gadis itu seorang demi seorang bersimpuh di hadapan kakinya.
Mula-mula mereka mengharapkan kehangatan cintanya. Namun beberapa
bulan kemudian, mereka bersimpuh sambil menangis seorang demi
seorang untuk minta belas kasihannya. "Aku mengandung"
kalimat-kalimat itulah yang mereka ucapkan. Hampir bersamaan dalam
nada dan susunan katakata. Hampir selalu pula gadis-gadis itu
membasahi kakinya dengan air mata. "Hanya seorang itulah yang
menjadi gila, dan hampir menikam aku" katanya. Kini Manguri
benar-benar tersenyum pada bibirnya, meskipun juga sebuah senyuman
yang pahit. Tetapi tidak seorangpun dari gadis-gadis itu yang
akhirnya berhasil menjadi isterinya. Manguri kemudian mencari dan
membayar anak-anak muda yang dungu, untuk melarikan gadis-gadis itu.
"Tidak" mula-mula gadis-gadis itu menolak "aku tidak mencintai anak
muda yang bodoh itu" "Kau tidak mempunyai pilihan lain" jawab
Manguri kepada mereka itu "kalau kau menolak, maka kau akan menjadi
sangat malu, karena kau mengandung di luar perkawinan. Aku tidak
akan dapat kau paksa mengawinimu, karena aku mempunyai seribu cara
untuk menolaknya. Sekarang ada anak muda yang dengan hati yang
bersih bersedia mengawinimu. Apakah itu bukan suatu anugerah?"
"Tetapi anak di dalam kandungan ini adalah anakmu" Saat itu Manguri
masih sempat tertawa "Tidak seorangpun di atas bumi ini dapat
membuktikan bahwa anak itu adalah anakku. Siapa tahu kau pernah
berhubungan dengan laki-laki yang lain" "Aku bersumpah. Aku
bersumpah" "Tidak akan ada gunanya" Manguri bahkan masih sempat
mengancam "atau kau memilih aku untuk mempergunakan jalan lain yang
pasti t idak akan kau senangi" "Jalan yang manakah itu ?"
"Membungkam mulutmu untuk selama-lamanya" "Jangan. Jangan. Jangan
kau bunuh aku" Sekali lagi Manguri tertawa. Katanya waktu itu "Nah
sambutlah suamimu. Cintailah. Ia akan mencintai kau juga. Ia akan
melupakan bahwa anak yang kau kandung itu bukan anaknya" Memang
tidak ada pilihan lain bagi gadis-gadis ayng sudah terdorong ke
dalam kegelapan itu. Mereka harus menerima keadaan mereka dengan
hati yang lemah. Kesenangan yang mereka kecap sebelumnya ternyata
tidak berimbang sama sekali dengan penyesalan yang akan mereka bawa
sampai di hari-hari terakhir nanti. Meskipun sesaat-saat mereka
dapat melupakan, namun setiap kali luka itu telah menyengat jantung
mereka kembali. Ternyata suami-suami upahan itupun tidak sebaik
suami yang lain. Meskipun ada juga diantara merema yang akhirnya
dapat saling menyesuaikan diri, namun anak-anak yang lahir kemudian
adalah jurang yang telah membatasi mereka. Tetapi ternyata
Sindangsari tidak dapat diperlakukan serupa itu. Memang hampir tidak
masuk akal, bahwa Sindangsari telah memilih Pamot, seorang anak muda
yang bagi Manguri, tidak ada artinya, yang hanya mempunyai sejengkal
sawah dan pategalan, setapak kebun kelapa yang tidak begitu subur di
pinggir desa. Tetapi Menguri t idak dapat mengelakkan kenyataan itu,
Dan kini ia sedang berusaha untuk merebut gadis itu dengan cara
apapun. Ketika Manguri menjengukkan kepalanya, dilihatnya pendapat
rumahnya sudah sepi. Agaknya ayahnya dan orangorang yang lain telah
membawa orangnya yang terluka ke biliknya. Tetapi sejenak kemudian
ia melihat beberapa orang dengan obor di tangan dan sebumbung air
naik ke pendapa itu. "Apa yang akan kalian kerjakan?" bertanya
Manguri "Ki Sukerta memerintahkan kepada kami untuk membersihkan
bekas-bekas perkelahian itu, termasuk tetestetes darah" Manguri
mengangguk anggukkan kepalanya. Di bawah sinar obor ia melihat darah
yang tergenang. Sedang di beberapa tempat lagi darah berceceran
menodai lantai pendapa. Dengan air orang-orang itu membersihkan
noda-noda darah itu. Bahkan ada yang melekat pada tiang. Manguri
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia kembali masuk ke pringgitan.
Setelah menutup pintu rumahnya, ia langsung masuk ke dalam biliknya.
Setelah melepas senjatanya dan meletakkannya di pembaringannya,
Manguripun merebahkan dirinya. Tetapi matanya tidak segera dapat
terpejam. Ia mendengar ketika ayahnya masuk dan menyelarak pintu,
kemudian desir langkahnya ke biliknya. "Apakah ayah tidak akan
melaporkannya kepada K i Demang?" bertanya Manguri di dalam hatinya.
Tetapi ia tidak dapat mencari jawabnya sendiri. "Lebih baik bertanya
kepada ayah besok" Meskipun keluarga Ki Sukerta berusaha untuk tidak
mengatakannya kepada siapapun, namun satu dua diantara para
pembantunya ada juga yang di luar sadarnya telah menceriterakan apa
yang teiah terjadi itu, sehingga berita kedatangan gerombolan Sura
Sapi ke rumah Ki Sukerta itupun segera tersebar. Berbagai tanggapan
telah berkembang diantara orangorang Gemulung dan anak-anak mudanya.
"Senjata itu hampir berbalik mengenai diri Manguri sendiri" desis
Punta kepada kawan-kawannya. Yang lain mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Mereka sama sekali tidak mau membunyikan tanda
apapun" "Mereka menganggap bahwa kita tidak akan menolong mereka"
"Apakah begitu?" "Tidak" Punta mengeleng "kalau kita tahu, kita
pasti akan membantu mereka. Seandainya kita tidak menolong Manguri,
maka kitapun wajib berusaha menangkap gerombolan Sura Sapi itu"
"Mungkin tanpa kita mereka merasa sudah cukup kuat" "Manguri merasa
bahwa ia bersalah" jawab Punta. "Tentu raksasa itu yang telah
menyelamatkan mereka. Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Tidak
ada orang lain yang dapat dibanggakan, selain Lamat" "Sukerta
sendiri?" "Ya. Sukerta sendiri" Dalam pada itu. Pamot mendengar
berita tentang Sura Sapi yang telah menyerang rumah Manguri itu
dengan hati yang berdebar-debar. Ternyata persoalan itu masih akan
berkepanjangan. Ia belum melihat langkah-langkah yang diambil oleh
Ki Demang dan Ki Jagabaya. Namun agaknya masih akan berkembang
masalah-masalah sampingan yang tidak akan kalah kalutnya dengan
masalahnya sendiri. Namun demikian, semua peristiwa yang terjadi itu
telah mendorongnya semakin dekat kepada Sindangsari. Meskipun orang
tua kedua belah pihak menganjurkan agar mereka untuk sementara
membatasi perhubungan mereka, namun hati yang sedang terbakar oleh
perasaan remaja itu seakanakan tidak dapat ditahankannya lagi.
Keduanya mempergunakan setiap kesempatan untuk bertemu.
Kadang-kadang di ladang, kadang-kadang di pinggir kali, selagi
Sindangsari mencuci pakaiannya. Kawan-kawan Pamot dan Sindangsari
sama sekali t idak mengganggunya lagi. Bahkan mereka merasa kasihan,
hubungan yang tulus itu agaknya masih harus mengalami
gangguan-gangguan yang tidak diharapkan. Apalagi kedua anak muda itu
sendiri. Kadang-kadang mereka merasa bahwa mereka seakan-akan
berdiri di ujung duri. Manguri dengan kekayaannya, setiap saat akan
dapat melakukan banyak sekali kemungkinan untuk memisahkan mereka.
Belum lagi dendam Sura Sapi yang telah mereka kalahkan. "Jangan
cemas" Punta yang sudah labih tua dari Pamot kadang-kadang mencoba
menenteramkan kegelisahan anak muda itu "kawan-kawan kita mengerti
apa yang harus mereka lakukan. Kami sudah bersiaga apabila Sura Sapi
datang untuk melepaskan dendamnya. Kini mereka baru mencoba membuat
perhitungan dengan Manguri, itupun gagal. Apalagi apabila mereka
ingin membuat perhitungan dengan seluruh padukuhan ini" "Aku percaya
kepadamu dan kepada kawan-kawan yang lain" desis Pamot. Dan ia
melihat dengan mata kepala sendiri kesiagaan anak-anak muda Gemulung
di gardu-gardu perondan di setiap malam. Tetapi kecemasan yang
sangat adalah pada Sindangsari Ia tidak melihat kesiagaan anak-anak
muda Gemulung. Berbeda dengan Pamot Sindangsari merasa bahwa dirinya
terlampau lemah. Apabila Manguri kemudian mempergunakan kekerasan
dan diarahkan kepadanya, maka ia tidak akan dapat berbuat apapun.
Meskipun demikian Sindangsari tidak ingin mundur Hatinya kini telah
benar-benar dicengkam oleh perasaannya. Dan ia telah menyerahkan
dirinya kepada perasaan itu Kakang berkata Sindangsari kepada Pamot
ketika mereka bertemu di pinggir kali "aku selalu dikejar oleh
kegelisahan" "Jangan gelisah Sindangsari" jawab Pamot "hampir setiap
orang di Gemulung berpihak kepada kita. Lebih-lebih anakanak
mudanya. Aku tahu benar, bahwa mereka telah berjagajaga apabila ada
sesuatu yang akan menimpa padukuhan ini Memang mungkin Sura Sapi
mendendam dan mungkin pula Manguri mengambil sikap lain. tetapi
percayalah, bahwa menghadapi sikap yang keras, kita tidak sendiri"
Sindangsari menundukkan kepalanya. Tetapi apa yang dapat
dilakukannya kalau tiba-tiba saja pada suatu malam seseorang atau
segerombolan orang datang ke rumahnya dan memaksanya pergi bersama
mereka. Namun demikian Sindangsari tidak mengatakannya. Yang
dikatakan kepada Pamot adalah "Kakang Pamot. Kapankah kita dapat
mengakhiri hubungan kita serupa ini?" "He" Pamot terkejut
"maksudmu?" "Maksudku, apakah kita tidak ingin meningkatkan hubungan
kita, sehingga kemungkinan-kemungkinan yang lain dapat kita
perkecil" Pamot tidak segera menjawab. "Di rumahku tidak ada
laki-laki lain kecuali kakek yang sudah tua. Sudah tentu kakek tidak
akan dapat melindungi aku karena umurnya yang sudah lanjut. Apalagi
di malam hari. Tetapi kalau persoalan kita menjadi sudah pasti, maka
kemungkinan-kemungkinan itu akan menjadi berkurang. Mungkin Manguri
juga akan kehilangan nafsunya lagi untuk mengganggu kita. "Maksudmu,
kita segera kawin?" Sindangsari t idak menjawab. "Sari" suara Pamot
menjadi dalam sekali "persoalan yang paling berat bagiku, aku sama
sekali belum mempersiapkan diri menghadapinya. Aku belum punya
apa-apa" "Meskipun belum sejauh itu kakang, tetapi setidak-tidaknya
seperti yang dimaksudkan oleh Ki Demang dan Ki Jagabaya. Persoalan
ini menjadi tegas. Aku merasa bahwa aku telah dipersalahkan, karena
sikapku dapat menumbuhkan salah paham pada beberapa orang kawanku.
Diantaranya kau dan Manguri. Tetapi kalau kau sudah bersikap tegas,
maka kemungkinan itu tidak akan ada lagi" "Jadi maksudmu?" "Kau dan
orang tuamu datang ke rumahku" "Melamar?" Sindangsari tidak
menyahut. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Ia tidak berani
memandang wajah Pamot. Namun di dalam dadanya bergeloralah harapan
agar Pamot dapat mengerti maksudnya, dan tidak menjadi salah paham
karenanya. Sejenak kemudian terdengar Pamot berkata perlahan-lahan
"Sindangsari. Aku dapat mengerti kegelisahanmu. Kau pasti selalu
berada dalam kegelisahan dan kecemasan. Kalau dengan demikian akan
sedikit dapat memberimu ketenteraman, maka aku akan segera
melakukannya. Dengan serta-merta Sindangsari mengangkat wajahnya
Sepercik harapan memancar dari sorot matanya. Namun ketika tatapan
mata mereka beradu. Sindangsari segera menundukkan kepalanya
kembali. Namun terdengar ia berkata lirih "Aku akan sangat berterima
kasih kepadamu kakang. Dengan demikian ikatan diantara kita menjadi
resmi dan disaksikan oleh keluarga kita masing-masing dan beberapa
orang tetua padukuhan ini" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah Sari. Tetapi kelanjutan dari lamaran itu harus
diperhitungkan sebaik-baiknya. Bukan karena aku ragu-ragu, tetapi
aku ingin mempersiapkan diri lebih dahulu" "Tentu aku tidak
berkeberatan kakang" "Permintaanmu itu akan segera aku penuhi. Aku
akan segera menyampaikannya kepada ayah dan ibuku" Setitik air mata
kegirangan meleleh di pipi Sindangsari Ia mengharap bahwa dengan
demikian, hubungannya dengan anak muda itu menjadi semakin kukuh.
Ketika untuk sejenak mereka saling berdiam diri sambil menundukkan
kepalanya, beberapa orang anak-anak muda yang baru saja naik dari
ladangnya berjalan ketepian. Tetapi mereka terhenti sejenak. Yang
paling depan diantara mereka berbisik "He, jangan ganggu anak anak
itu" Yang lainpun kemudian melangkah surut sambil tersenyumsenyum.
Tetapi salah seorang dari mereka tergelincir. Meskipun ia tidak
jatuh, tetapi beberapa buah kerikil yang tersentuh kakinya,
terlempar masuk ke dalam air. Pamot dan Sindangsari terkejut
karenanya. Ketika mereka berpaling, mereka melihat beberapa orang
sedang berdri termangu-mangu di pinggir tanggul. Pamot segera
berdiri sambil tersenyum. Seorang kawannya di atas tanggul berkata
"Maaf Pamot. Kami sama sekali tidak ingin mengganggu. Tetapi anak
ini tergelincir, sehingga melemparkan beberapa butir batu yang
ternyata telah mengejutkan kau" "Ah kau" jawab Pamot "kemarilah,
Bukankah kau akan membersihkan dirimu setelah kau berendam di
kubangan" Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun kemudian
merekapun melangkah turun perlahan-lahan. "Aku akan pulang saja
kakang" desis Sindangsari kemudian. "Apakah kau sudah selesai dengan
cucianmu ?" "Aku tidak mencuci hari ini" "Kenapa?" bertanya Pamot.
Sindangsari tidak menjawab. "Marilah, aku antarkan kau pulang"
Sindangsari menggeleng "Tidak usah. Aku berani pulang sendiri"
"Tetapi..." "Itu kawan-kawanmu datang" Sindangsari t idak menunggu
jawaban Pamot. Segera diambilnya bakul dan beberapa potong
pakaiannya yang tidak jadi dicucinya. "He, apakah kami mengganggu?"
bertanya salah seorang dari kawan-kawan Pamot yang baru datang.
"Tidak" jawab Pamot. "Tetapi kemana Singansari itu?" Pamot tidak
menjawab. Dipandanginya saja Sindangsari yang sudah mulai melangkah
"Kemana kau Sari?" bertanya kawannya yang lain. "Aku akan pulang"
"Kenapa? Apakah kami mengganggu?" "Tidak. Aku memang akan pulang.
Ternyata matahari sudah terlampai tinggi. Kalian sudah naik" "Belum
begitu tinggi. Kami baru akan makan pagi" Sindangsari tidak
menjawab. Tetapi ia berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan
tepian. "He, Sari. Ada yang ketinggalan" teriak salah seorang dari
kawan-kawannya. Sindangsari tertegun. Ketika ia berpaling kawannya
itu berkata "Telapak kakimu. "Uh" Sindangsari berdesah. "Yang lebih
besar lagi adalah Pamot " sahut yang lain. Kawan-kawannya tertawa.
Tetapi Sindagsari sudah tidak berpaling lagi. Meskipun demikian
terasa langkah Sindangsari menjadi ringan. Ia kini mulai
berpengharapan, bahwa segala sesutau akan menjadi kian baik nanti
apabila Pamot telah datang ke rumahnya. "Tentu tidak nanti sore"
Sindangsari berkata kepada diri sendiri "nanti sore Pamot baru
mengatakannya kepada orang tuanya. Besok sore orang tuanya
berunding, kemudian lusa orang tua Pamot menemui beberapa orang tua
untuk pergi melamar" Sindangsari tersenyum sendiri "Sepekan lagi.
Sepekan lagi orang tua Pamot akan melamar dengan resmi" Sepercik
kegembiraan melonjak di dalam hati Sindangsari. Meskipun Pamot
seorang anak muda yang sederhana, tetapi nampaknya ia mempunyai
tanggung jawab yang besar. Berbeda dengan Sindangsari, maka
sehari-harian Pamot labih banyak termenung sendiri. Ia sedang
mereka-reka kalimat bagaimana ia akan menyampaikan hal itu kepada
yahanya. "Ayah sudah tahu hubungan ini, sehingga ayah pasti tidak
akan terkejut. Tetapi bahwa begitu mendesak, mungkin masih akan
menjadi pertimbanganya" katanya di dalam hati "tetapi aku harus
berusaha memenuhi permintaan Sindangsari secepatnya, supaya ia tidak
menjadi kian gelisah. Dengan demikian betapapun beratnya, akhirnya
Pamot mengatakannya pula kepada ayahnya, bahwa sebaiknya ayahnya
segera melamar Sindangsari. Pamot menjadi heran, bahwa ayahnya sama
sekali t idak memberikan kesan apapun. Bahkan sambil
menganggukanggukkan kepalanya ia berkata "Baiklah Pamot. Aku akan
segera membicarakannya dengan orang tua-tua" Sindangsarilah yang
hampir tidak sabar lagi menunggu Setiap hari ia selalu menghitung
waktu. Ia mengharap agar waktu yang sepekan itu segera berlalu, dan
orang-orang tua yang menjadi utusan orang tua Pamot segera datang ke
rumah ini. Tetapi yang terjadi adalah sebuah prahara yang tidak
disangka-sangka, justru datang dari jurusan yang sama sekali tidak
diduga. Sebelum orang tua Pamot datang melamar, maka datanglah dua
orang utusan dari Kademangan, bahwa dalam waktu dua hari lagi, akan
datang serombongan utusan yang lain dari Ki Demang Kepandak. "Apakah
keperluan utusan-utusan itu?" bertanya ibu Sindangsari. "Aku tidak
diperkenankan mendahului utusan itu. Yang boleh aku beritahukan,
bahwa utusan-utusan itu akan membicarakan kemungkinan bagi puterimu
yang barnama Sindangsari" Jawaban itu bagaikan petir yang meledak di
atas kepala Sindangsari yang mendengar jawaban itu pula. Sejenak ia
membeku, namun kemudian terasa kepalanya menjadi pening. "Tetapi
apakah maksudnya membicarakan tentang anakku itu ?" "Baiklah,
barangkali keluarga ini memang perlu menyiapkan diri untuk menerima
utusan itu. Ki Demang ingin membicarakan kemungkinan, mengambil
Sindangsari sebagai isterinya" Sindangsari t idak dapat menahan diri
lagi. Tiba-tiba pandangan matanya menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja
ia tidak mengerti, apa yang terjadi atas dirinya selanjutnya. Ketika
seisi ramah menjadi bingung, maka utusan itupun minta diri, katanya
"Kami tidak mau mengganggu. Mudahmudahan anak itu tidak apa-apa. Ia
hanya sekedar terkejut. Mungkin ia tidak menyangka sama sekali,
bahwa nasibnya akan menjadi begitu baik" Orang tua Sindangsari tidak
sempat menjawab. Mereka sibuk dengan gadis yang pingsan itu. Ketika
Sindangsari kemudian sadar, maka sehari-harian ia hanya dapat
menangis saja. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa bencana yang
paling dahsyat justru datang dari Ki Demang, bukan dari Manguri atau
gerombolan Sura Sapi. "Sari" berkata kakeknya "sebaiknya kau jangan
tergesagesa menjadi gelisah dan cemas. Utusan yang sebenarnya itu
belum datang. Kalau mereka nanti datang, aku akan dapat menjelaskan,
bahwa kau sudah berjanji untuk hidup bersamasama dengan seorang
laki-laki" Sindangsari tidak menjawab, tetapi kepalanya tertunduk
semakin dalam. Apalagi ketika kakeknya berkata "Tetapi sayang, bahwa
seandainya benar demikian, orang tua anak itu atau utusannya sampai
saat ini masih belum datang untuk menyatakah maksudnya". Sindangsari
masih tetap berdiam diri. Sekilas memercik penyesalannya, bahwa
Pamot begitu lamban memenuhi permintaannya, sehingga orang-orang
Kademangan itu telah datang mendahuluinya. "Tetapi masih ada waktu
dua hari" berkata Sindangsari di dalam hatinya "kalau di dalam dua
hari ini utusan itu datang, maka mereka telah mendahului Ki Demang"
Sindangsari yang kebingungan itu, akhirnya berkata kepada kakeknya
"Kakek, bagaimana kalau mereka datang sebelum utusan Ki Demang itu
datang dua hari lagi?" "Siapa?" Terasa sangat berat untuk
mengucapkannya. Namun di paksanya juga ia berkata "Orang tua Pamot.
Kakeknya menarik nafas dalam-dalam "Aku tidak tabu sari. Apakah hal
itu dapat dimengerti oleh Ki Demang. Mungkin mereka akan menyangka,
bahwa itu hanya dalih saja yang dibuat-buat untuk menolak
lamarannya" "Kakek" bertanya Sindangsari "apakah keberatannya kalau
kakek memang menolaknya, meskipun tanpa dalih apapun" "Itulah Sari.
Aku menjadi bingung" jawab kakeknya "tetapi aku akan berusaha.
Berusaha sejauh-jauhnya. Aku tahu bahwa aku sama sekali tidak
menghendaki untuk menjadi isteri Ki Demang. Akupun sebenarnya tidak"
Titik-titik air mata telah mulai mengambang di mata gadis itu.
Bahkan ibunya seakan-akan sudah kehilangan nalar, sehingga sama
sekali ia tidak dapat lagi menyatakan pendapatnya. Yang ada di dalam
dirinya justru penyesalan yang dalam "Seandainya aku bukan seorang
janda. Seandainya aku tidak kembali ke rumah ini. Seandainya
Sindangsari bukan seorang gadis. Seandainya dan seandainya. Tetapi
semuanya bagaikan duri-duri yang menghunjam ke pusat jantungnya.
Meskipun ia tidak menangis, namun dari matanya yang kering itu
memancar kepahitan yang menggenangi dadanya. "Jangan menjadi
bingung" berkata kakeknya "aku akan berusaha" Tetapi Sindangsari
sama sekali tidak dapat menenangkan hatinya. Ketika dadanya
seakan-akan menjadi retak, Sindangsari sudah t idak dapat menahan
dirinya lagi. Diamdiam ia meninggalkan halaman rumahnya, menyelusur
jalan padukuhan pergi ke rumah Pamot. Kedatangannya telah membuat
orang tua Pamot terkejut. Di saat senja mulai kelam, gadis itu
datang dengan wajah yang muram. Tetapi orang tua Pamot cukup
bijaksana. Mereka tidak bertanya apapun kepada gadis itu.
Dipersilahkannya ia masuk, kemudian orang tua Pamot membiarkan
anaknya menemuinya. Agaknya memang ada sesuatu yang penting telah
terjadi. "Kenapa kau datang kemari di saat-saat begini?" bertanya
Pamot, yang baru saja selesai mandi, setelah bekerja di sawah
sehari-harian. Pertanyaan itu telah membuat Sindangsari menyadari
keadaannya. Sebagai seorang gadis, ia telah datang ke rumah Pamot
diwaktu malam mulai turun. "Ibu tentu mencari aku" desisnya di dalam
hati. Karena itu, maka katanya tiba-tiba "Aku akan pulang" "Sari"
sahut Pamot "tetapi kau belum mengatakan sesuatu kepadaku" "Tidak.
Kakek dan ibu pasti akan mencari aku" "Apakah kau tidak minta ijin
kepada mereka?" "Tidak. Aku pergi dengan diam-diam" "Tetapi kau
belum mengatakan maksudmu" "Aku akan pulang" "Sari" Sindangsari
tidak menunggu labih lama lagi, iapun segera berdiri. Tetapi ketika
ia meloncat dari tempatnya, tiba-tiba tangan Pamot telah
menangkapnya. "Tunggu Sari" "Lepaskan, lepaskan. Aku akan pulang"
"Tetapi kau belum mengatakan apa-apa" Sindangsari meronta. Ketika ia
menghentakkan tangannya tangan itu terlepas dari pegangan Pamot.
Segera ia berlari menuju ke pintu. Namun tiba-tiba ia tertegun
ketika ia melanggar ayah Pamot yartg sudah berdiri di muka pintu
ketika pintu itu didorongnya. "Angger Sindangsari" suara orang tua
itu sareh "aku sadar, bahwa hati angger Sindangsari sedang diliputi
oleh kegelapan" Sindangsari berdiri termangu-mangu. "Tenanglah.
Memang sebaiknya angger Sindangsari pulang. Marilah, aku antarkan,
tidak baik kau berjalan sendiri dalam gelap. Mungkin tidak
seorangpun yang melihat. Tetapi kalau kau bertemu dengan Manguri
atau orang-orangnya, mungkin kau akan dibawanya" Terasa bulu-bulu
kuduk Sindangsari meremang. "Marilah aku antarkan" Sidangsari tidak
menjawab. Tetapi ia berpaling. Dilihatnya Pamot berdiri di
belakangnya. "Atau barangkali Pamot dapat juga mengantarkan kau
ngger" Sepercik warna merah menjalar di wajah Sindangsari, sehingga
kepalanya tertunduk karenanya. "Nah, terserah kepadamu. Siapakah
yang akan mengantarkan kau pulang ngger. Tetapi sudah tentu tidak
sendiri" Sindangsari menjadi semakin tunduk. Tidak ada keberaniannya
untuk menjawab pertanyaan itu. Ayah Pamot menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian katanya "Biarlah Pamot mengantarkan kau. Hati-hatilah di
jalan" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ketika ayah Pamot menepi,
gadis itu melangkahi pintu perlahan-lahan. "Aku minta diri"
desisnya. "Baiklah" ayah Pamot berhenti sejenak, lalu "tetapi
sebaiknya kau berusaha untuk mengurangi beban yang agaknya terlampau
berat bagimu. Kau datang kemari, pasti dengan maksud tertentu,
meskipun mungkin karena kegelapan hati" Sindangsari t idak menyahut.
"Cobalah mengatakan ngger" berkata ayah Pamot kemudian, lalu "tetapi
baiklah kau pulang" Sindangsari melangkah perlahan-lahan, penuh
keraguraguan. Kepalanya masih menunduk, sedang hatinya seakanakan
menjadi pepat. Namun ia mendengar kata-kata ayah Pamot itu "Kau
datang kemari pasti dengan maksud tertentu, meskipun mungkin karena
kegelapan hati" Dan Sindangsari mendengar orang tua itu berkata
kepada Pamot "Antarkan angger Sindangsari sampai ke rumahnya.
Serahkanlah ia kepada orang tuanya " "Baik ayah" "Pergilah, mumpung
belum terlampau gelap" Sindangsari kemudian melangkah meninggalkan
rumah itu diikuti oleh Pamot. Perlahan-lahan mereka melintasi
halaman, kemudian menyelusur jalan padukuhan setelah mereka keluar
dari regol. Keduanya masih belum berbicara apapun juga. Mereka
berjalan beriringan, seperti mereka sedang berjalan di atas pematang
yang sempit. Tetapi suasana yang kaku itu membuat dada Pamot menjadi
tegang, sehingga akhirnya ia mempercepat langkahnya dan berjalan di
sisi Sindangsari. "Sari" ia berdesis perlahan-lahan "apakah
sebenarnya maksudmu datang ke rumah?" Sindangsari masih berjelan
sambil menundukkan kepalanya. Bahkan langkahnya semakin lama menjadi
semakin cepat. "Sudah tentu kau membuat seisi rumahku
bertanya-tanya. Sikapmu dan kesan di wajahnya menunjukkan bahwa kau
sedang diliputi oleh kegelapan hati" Sindangsari masih belum
menjawab. Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia berkata
"Apakah kau marah, karena aku masih belum memenuhi janjiku, minta
kepada orang-orang tua untuk datang melamarmu?" Sindangsari masih
berdiamdiri. "Aku sudah membicarakan dengan ayah, ibu, kakek dan
orang-orang tua. Mereka telah sepakat untuk datang besok ke rumahmu"
Pemberitahuan itu membuat dada Sindangsari berdesir. Tetapi ia masih
berjalan justru semakin cepat. Pamot menjadi bingung karenanya.
Sekali-sekali ditatapnya jalan sempit yang membujur di keremangan
malam. Di sebelah jalan itu terdapat sebuah kebun yang penuh dengan
tanaman salak, ubi dan tanaman-tanaman lain yang merambat. Di
sebelah yang lain adalah semak-semak liar yang tidak terpelihara
sama sekali. Beberapa puluh langkah di hadapannya tampak sebuah
lentera yang terpancang di regol halaman sebuah rumah yang sedang
besarnya. Pamot yang tidak tahu apa yang harus dikatakan itu
tibatiba berhenti, sehingga Sindangsari yang terkejut karenanya
berhenti pula selangkah di depannya. Dengan penuh pertanyaan
Sindangsari memandang wajah Pamot yang tidak begitu jelas disaput
oleh hitam malam yang menjadi semakin lama semakin pekat. Tiba-tiba
pula Pamot melangkah setapak surut sambil memandang lurus-lurus ke
depan. Setapak lagi dan setapak lagi. "Kakang, ada apa?" Sindangsari
mulai meremang. Tetapi Pamot tidak menjawab. Ia masih menatap lurus
ke depan, kebayangan yang kelam di dekat gerumbul liar di
hadapannya. "Kakang, kakang" Ketika Pamot mundur selangkah lagi,
Sindangsari menjadi ketakutan. Tiba-tiba saja ia berlari dan
berpegangan tangan Pamot erat-erat. "Ada apa kakang, ada apa?" Pamot
menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya "Tidak ada apa-apa?" "Tetapi?"
"Aku kebingungan, bagaimana memaksamu berbicara. Kalau kau masih
tetap diam aku akan meninggalkan kau berlari, atau aku akan berhenti
disini sampai esok pagi" "O" tiba-tiba Sindangsari mencubit tangan,
lengan dan punggung Pamot sejadi-jadinya "kau nakal sekali" "Sari,
Sari" "Biar, biar kulitmu hangus. Kau menakut-nakuti aku" "Sari.
Sari" Tetapi Sindangsari tidak mau berhenti, sehingga Pamot terpaksa
melangkah surut. Semakin lama semakin menepi, sehingga akhirnya ia
bersandar pada dinding batu di bawah rimbunnya dedaunan perdu yang
tumbuh di pekarangan yang tidak terpelihara. "Sudahlah Sari, Sari"
"Biar saja. Kau terlampau nakal" Karena Sindangsari tidak mau
berhenti juga, maka tiba-tiba tangan Pamot menangkap kedua
pergelangan tangan Sindangsari. Mula-mula Sindangsari meronta juga,
namun kemudian ia tidak melawan ketika Pamot menarik tangannya
sehingga tubuhnya menjadi semakin dekat. "Sudahlah Sari" terdengar
kemudian suara Pamot sareh "Sebenarnya aku hanya ingin tahu, apakah
yang membuat kau menjadi bingung?" Sindangsari terdiam sejenak.
Meskipun tidak tampak jelas olehnya, tetapi Sindangsari merasa,
bahwa Pamot sedang menatapnya. Sejenak, dada gadis itu bergelora.
Kecemasan, kebingungan dan segala macam perasaannya tiba-tiba saja
terungkat. Terbayang wajah Ki Demang yang sudah tidak muda lagi,
meskipun belum tua juga. Kemudian sekilas lewat bayangan Manguri
yang terseyum-senyum menghina. "Katakan Sari" desis Pamot. Suara itu
telah mendorong semua perasaannya yang telah tertahan di dadanya.
Dan tiba-tiba pula Sindangsari menjatuhkan kepalanya di dada Pamot
sambil menangis. "Sari" desis Pamot "jangan menangis disini. Kalau
nanti ada orang yang lewat di jalan ini, ia akan menyangka lain"
"Biar, biar aku menangis" sahut Sindangsari "aku akan
berteriak-teriak" "Jangan Sari" "Aku ingin melepaskan sakit di
dadaku. "Katakan, katakan saja. Kau tidak perlu berteriak-teriak
Kalau aku dapat membantumu Sari, aku akan mencoba membantumu"
Sindangsari t idak segera menjawab. "Katakan" desis Pamot.
Sindangsari mencoba menahan isaknya. Kemudian dengan terputus-putus
diceriterakannya kedatangan kedua utusan Ki Demang, memberitahukan
bahwa dua hari lagi, akan datang serombongan utusan yang lain untuk
melamarnya. Cerita. Sindangsari itu terdengar bagaikan ledakan guruh
yang dahsyat di telinga Pamot Sejenak ia berdiam diri. Namun terasa
oleh Sindangsari, dada anak muda itu bagaikan akan meledak. Betapa
Pamot mencoba menahan nafasnya yang terengahengah. Sedang giginya
menjadi terkatub rapat-rapat. Kedua anak-anak muda itu kembali
saling berdiam diri. Mereka telah dicengkam oleh sebuah angan-angan
yang mendebarkan jantung. Dalam ketegangan perasaan itu kemudian
terdengar Pamot berkata "Besok orang tua-tua akan melamarmu"
Sindangsari mengangkat wajahnya. Diusapnya air matanya dengan ujung
bajunya. Katanya "Apakah hal itu tidak dianggap sebagai suatu
permainan, justru setelah kedua utusan Ki Demang itu datang" "Aku
tidak peduli. Aku memang sudah mempersiapkannya. Apapun yang akan
terjadi atasku, aku tidak akan menghiraukannya lagi" Nafas Pamot
menjadi semakin cepat mengalir "Sari, katakan kepada orang tuamu,
kepada kakekmu, bahwa besok kami akan datang" Sindangsari mengangguk
perlahan-lahan. "Aku tidak menyangka bahwa masalahnya akan menjadi
terlampau rumit. Ki Demang sama sekali tidak memberikan perlindungan
kepada kita, tetapi justru ia sendiri telah melibatkan dirinya
secara langsung" Sekali lagi Sindangsari mengangguk-anggukkan
kepalanya, "Itulah yang tadi akan kau katakan?" "Ya Kakang. Hatiku
tidak dapat menampungnya. Aku menjadi bingung sekali, sehingga aku
pergi begitu saja dari rumah" Pamot mengangguk-anggukkan pula "Jadi
kau tadi t idak minta ijin?" Sindangsari menggeleng. "Marilah aku
antar kau pulang, sebelum kakekmu mencarimu kemana-mana" Sindangsari
kemudian mengusap air matanya pula sambil melangkah surut. Tiba-tiba
ia telah kehilangan perasaan malunya. Ia merasa tenang berada di
dekat anak muda itu, seakan-akan ia dapat berlindung padanya dari
segala bahaya yang akan menerkamnya. Keduanyapun kemudian meneruskan
langkah mereka pulang ke rumah Sindangsari. Berbagai macam perasaan
telah berkecamuk di dalamdada kedua anak-anak muda itu. "Sari"
berkata Pamot ketika mereka menjadi semakin dekat dengan rumah
Sindangsari "aku sudah bertekad untuk melamarmu" Sindangsari
menundukkan kepalanya. Tetapi kepala itu kemudian mengangguk.
"Bagiku, Sari, kini lebih terasa bahwa kau telah menjadi bagian dari
hidupku" Sekali lagi Sindangsari mengangguk. Namun Pamot kemudian
terdiam. Ia tidak dapat mengucapkan kata-kata yang lain lagi. Ingin
agaknya ia mengucapkan seribu macam janji, sumpah dan apalagi.
Tetapi mulutnya serasa tidak lagi dapat mengucapkannya. Bahkan
merayupun ia sudah tidak mampu lagi selagi mereka dihantui oleh
badai yang dapat menumbangkan cinta yang lagi bersemi di dalam hati
masingmasing. Malampun menjadi kian sepi. Meskipun sudah dinyalakan
di regol-regol, tetapi rasa-rasanya malam menjadi terlampau gelap,
seperti hati kedua anak-anak muda itu. Ketika mereka berbelok di
tikungan, maka mereka sudah melihat obor minyak jarak di muka regol
rumah Sindangsari Nyalanya yang terayun-ayun dibelai angin
melontarkan warna yang kemerah-merahan. "Aku akan pulang sendiri"
desis Sindangsari. "Tidak. Aku akan menyerahkan kau kepada orang
tuamu" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi ia tidak menolak ketika
Pamotpun kemudian berbelok memasuki regol rumahnya. Perlahan-lahan
Sindangsari mengetuk pintu rumahnya. Dan dari dalamnya terdengar
suara ibunya "Siapa?" "Aku bu" "Sindangsari?" "Ya" Yang terdengar
kemudian adalah langkah tergesa-gesa ke pintu depan. Kemudian
terdengar pintu itu terdorong ke samping. "Sari, darimana kau?"
Sindangsari tidak segera menjawab, tetapi ia berpaling kepada Pamot.
"Kau tidak sendiri?" Sindangsari menggelengkan kepalanya. "Dengan
siapa?" Sindangsari tidak menyahut. Tetapi yang terdengar adalah
jawaban Pamot "Aku bu. Pamot" "O, marilah. Masuklah" "Terima kasih.
Aku hanya mengantarkan Sindangsari. Kemudian aku minta diri" "Apakah
anak ini pergi ke rumahmu?" Pamot menjadi ragu-ragu sejenak, namun
kemudian ia menganggukkan kepalanya "Ya ibu" Ibunya memandang
Sindangsari dengan tajamnya. Namun kemudian ia berdesis "Kakekmu
mencari kau. Tetapi kakekmupun sudah menduga bahwa kau pergi ke
rumah Pamot" Kedua anak-anak muda itu sama sekali t idak menyahut.
Keduanya kini menunduk dalam-dalam. "Marilah, silahkan masuk. Apakah
kau akan menunggu kakek Sari? Ternyata Pamot dapat menanggapi
pertanyaan itu. Jawabnya "Terima kasih. Aku minta diri, hari sudah
terlampau malam" "Baiklah. Terima kasih" Pamot membungkuk sambil
berkata "Lain kali aku akan berkunjung" Pamotpun kemudian
meninggalkan rumah itu. Sebelum sampai di regol ia berpaling. Ia
masihmelihat ibu Sindangsari menarik gadis itu masuk ke rumahnya,
dan pintupun segera tertutup. "Kau pergi di malam hari begini Sari?"
desis ibunya "Ingat, kau adalah seorang gadis" Sindangsari menjadi
semakin tunduk. "Bagaimanapun juga, kau harus dapat menahan dirimu"
Sindangsari masih tetap berdiam diri. "Kau dengar Sari. Tahankanlah
perasaanmu sedikit. Jangan terlampau dicengkam oleh kebingungan,
sehingga kau sudah berbuat di luar kesadaran seorang gadis.
Bagaimana kalau ada seseorang yang melihat kau pergi ke rumah Pamot
di malam begini?" Sindangsari tetap mematung "Ingat, ingat Sari. Kau
mengerti ?" Perlahan-lahan kepala gadis itu terangguk lemah. "Aku
tahu bahwa hatimu sedang pepat. Tetapi kau tidak sebaiknya pergi ke
rumah anak muda itu. Apalagi di malam hari begini" "Belum terlampau
malam ibu" suara Sindangsari lirih "ketika aku pergi, aku masih
melihat cahaya matahari yang kemerah-merahan" "Tentu tidak. Aku
masih menyapu halaman senja tadi" Sindangsari tidak menjawab lagi.
Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Sedang di matanya
mulai mengambang air matanya yang jernih. Ketika ibunya masih akan
memarahinya lagi, terdengar pintu bergerit. "Ha, kau sudah kembali
Sari" kata kakeknya yang kemudian muncul dari balik daun pintu "aku
mencarimu ke rumah Pamot Ayahnya mengatakan bahwa kau sudah pulang,
diantar oleh Pamot sendiri" Kepala Sindangsari terangguk kecil.
"Sudahlah, pergilah ke belakang. Tetapi ingat, jangan kau ulangi.
Kau mengerti? Aku mendengar sedikit pesan ibumu" "Ya kakek" "Nah,
ambilkan kakek air panas. Kakek akan minum" Sindangsari kemudian
pergi ke belakang. Ibunya memandanginya sampai gadis itu hilang di
pintu dalam. Ia berpaling ketika ia mendengar ayahnya, kakek
Sindangsari itu berdesah. "Aku mengikutinya" desisnya. Nyai
Wiratapa, ibu Sindangsari itu, mengerutkan keningnya. Kemudian iapun
bertanya "Apakah ayah mengikutinya dari rumah Pamot ?" "Ya, ketika
aku sampai di sana, anak-anak itu baru saja pergi. Kemudian akupun
menyusulnya" Nyai Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kurang
baik di malam-malam begini berdua saja di jalanjalan yang gelap"
"Tetapi hampir setiap orang di padukuhan ini sudah mengetahui
hubungan anakmu dengan Pamot. Justru karena bermacam-macam masalah
yang menyertainya, tetanggatetangga kita menaruh perhatian terhadap
masalah ini. Mereka pada umumnya bersikap baik dan mengerti apa yang
teriah terjadi" "Memang ayah, mungkin tetangga-tetangga tidak akan
mengatakan apa-apa karena mereka menaruh iba dan welas kepada
anak-anak itu. Tetapi bahaya itu dapat datang dari diri mereka
sendiri" Kakek Sindangsari itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya
terangguk-angguk kecil. "Apalagi Sindangsari baru dilanda oleh
kecemasan melihat hari depannya yang suram terlebih-lebih lagi
setelah datang kedua utusan dari Kademangan. Kakek Sindangsari masih
tidak menjawab. "Bukankah begitu?" "Ya, ya" kakeknya
mengangguk-angguk lagi. Kakek Sindangsari menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Memang hal itu dapat terjadi. Tetapi kau jangan terlampau
menyalahkan anakmu dan Pamot. Kadang-kadang mereka didorong oleh
keadaan sehingga mereka, terutama seorang gadis, memerlukan tempat
untuk melepaskan pepat di dalam dadanya" "Tentu hal itu aku tidak
berkeberatan. Tetapi lebih dari pada itu. Di dalam gelap yang sepi,
iblis berkeliaran untuk mencari korbannya" "Wiratapa" berkata. kakek
Sindangsari "memang apa yang kau katakan itu dapat terjadi" "Ayah"
"Kadang-kadang seseorang tidak lagi dapat menguasai perasaanya yang
terlampau meledak-ledak oleh tekanan keadaan yang beruntun" "Maksud
ayah, apa yang aku cemaskan atas Sindangsari itu sudah terjadi?"
"Tentu tidak terlampau jauh. Memang menurut adat kita, keduanya
sudah melakukan perbuatan yang melampaui batas pergaulan yang
dibenarkan bagi anak anak muda yang belum diikat dalam suatu
perkawinan. Tetapi sudah aku katakan, tidak terlampau jauh, supaya
kau tidak menjadi pingsan" orang tua itu berhenti sejenak "namun
meskipun aku melihat, aku tidak dapat mencegahnya. Keduanya
melakukannya dengan jujur didorong oleh perasaan yang tidak
terkendali lagi" Nyai Wiratapa menundukkan kepalanya. Meskipun
demikian ia berkata "Aku mengerti apa yang ayah maksudkan. Tetapi
sudah tentu hal itu tidak boleh terulang lagi. Mereka sudah berada
di bibir tangga yang terakhir untuk melakukan dosa yang lebih besar
lagi" "Tentu, tentu. Memang hal itu t idak boleh terulang lagi.
Tetapi kita yang tua-tua inipun harus mengerti, bahwa pada suatu
saat kita akan dapat membedakan, sikap-sikap yang jujur dan bersih,
dengan sekedar pelepasan nafsu yang rendah di lingkungan anak-anak
kita seperti kita pernah menyaksikannya" Nyai Wiratapa tidak
menjawab karena didengarnya desir langkah Sindangsari yang membawa
semangkuk air panas. "Apakah ibu juga?" ia bertanya. Ibunya
menggelengkan kepalanya "Tidak. Aku tidak usah" "Sekarang, setelah
mencuci kakimu, tidurlah. Kau harus menenangkan hatimu" berkata
kakeknya. Sindangsari menganggukkan kepalanya. Kemudian setelah
membersihkan dirinya ia pergi ke biliknya. Namun ia sama sekali t
idak dapat segera memejamkan matanya. Sindangsari menahan nafasnya
ketika ia melihat seseorang masuk ke dalam biliknya. "Nenek" ia
berdesis. Perlahan-lahan neneknya mendekatinya. Kemudian duduk di
pembaringannya pula. Sambil membelai rambut cucunya ia bertanya "Kau
belum makan Sari? Sindangsari menggeleng "Aku tidak lapar, nek"
"Tetapi kau akan dapat menjadi semakin lemah. Akhir-akhir ini kau
tampaknya tidak ada selera makan sama sekali" Sindangsari t idak
menyahut. "Apakah kau gelisah?" Sindangsari masih tetap diamsaja.
"Sari" berkata neneknya "memang kadang-kadang hidup ini terasa
terlampau sulit. Seolah-olah memang sudah disediakan jalan yang
harus kita lewati. Jalan itu mungkin lurus dan licin, tetapi
kadang-kadang sempit, licin dan berbatu-batu tajam. Sindangsari
masih juga diam. "Aku dahulu Sari" berkata neneknya kemudian
"seperti juga ibunya, sama sekali belum pernah melihat dan mengenal
bakal suami kami. Melihat mungkin pernah, tetapi sekedar bentuk
lahiriahnya saja. Tetapi nenek menerimanya dengan ikhlas" Terasa
dada Sindangsari menjadi semakin Berdebar-debar. "Yang penting Sari,
kita akan berusaha. Tetapi Apabila usaha ini gagal, maka kau harus
menerima sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari lagi"
"Maksud nenek?" tiba-tiba Sindangsari bangkit. "Tenanglah. Nenek
hanya mencoba menenteramkan hatimu. Kalau kita memang harus
melampaui jalan yang terjal, licin dan berbatu-batu tajam maka kita
jangan kehilangan akal. Kita akan melaluinya dengan hati terbuka,
dengan ikhlas. "O?" Sindangsari membant ing dirinya di
pembaringannya. Tetapi tidak menjawab sama sekali. Namun demikian ia
menyadari sepenuhnya, bahwa sudah menjadi keharusan bagi setiap
gadis untuk menerima bakal suaminya begitu saja tanpa
mempersoalkannya pabila memang dikehendaki oleh orang tuanya. Tetapi
selama ini orang tuanya tidak mencegahnya berhubungan dengan Pamot.
Orang tuanya dan kakek serta neneknya tampaknya sama sekali tidak
berkeberatan atas kelangsungan hubungan itu untuk seterusnya. Tetapi
Sindangsaripun sadar, bahwa di Kademangan ini tidak ada orang lain
yang lebih berkuasa darr Ki Demang. Kalau Ki Demang memang
menghendaki demikian, maka ia akan menjadi korban yang tidak akan
dapat mengelak lagi. "Alangkah pahitnya" tiba-tiba kerongkongannya
serasa menjadi panas. Tetapi Sindangsari menahan dirinya untuk tidak
menangis di hadapan neneknya. "Tidurlah Sari" neneknya membelai
rambutnya kembali. Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Besok kau
bangun dengan tubuh yang segar" Sekali lagi Sindangsari
menganggukkan kepalanya. Perlahan-lahan neneknyapun kemudian bangkit
berdiri dan meninggalkannya di pembaringan. Namun begitu neneknya
hilang di balik pintu, maka meledaklah tangisnya yang
tertahan-tahan. "Apakah aku harus menerima nasib yang terlampai
pedih ini dengan ikhlas?" pertanyaan itu telah berulang kali
mengetuk dinding jantungnya. Tetapi Sindangsari masih mempunyai satu
harapan seperti yang dikatakan oleh kakeknya. Kakeknya akan berkata
kepada utusan Ki Demang, bahwa Sindangsari telah berhubungan
pembicaraan dan bahkan berjanji untuk hidup bersama seorang
laki-laki yang dipilihnya sendiri" Meskipun demikian, Sindangsari
tidak juga segera dapat memejamkan matanya sampai jauh melampaui
tengah malam Namun akhirnya, gadis yang sedang gelisah dan cemas
itupun jatuh tertidur pula. Tetapi sebelum fajar, iapun sudah
tergagap bangun, ketika ia diterkam oleh suatu mimpi yang
menakutkan. Seolah-olah tampak olehnya sebuah nyala api yang besar
yang mengepulkan asap yang hitam tebal. Asap itu semakin lama
semakin tebal membumbung tinggi sampai menyentuh langit. Tetapi
tiba-tiba seolah-Olah tumbuh sepasang tangan yang hitam dan
mengerikan dari kepulan asap itu. Tangan, yang dahsyat itu telah
menyambarnya dengan serta-merta tanpa seorangpun yang dapat
mencegahnya. Perlahan-lahan Sindangsari bangkit dan duduk di
pembaringannya. Mimpi itu benar-benar mengerikan. Dan ia mencoba
menghubungkannya dengan jalan hidup yang telah menganga di
hadapannya. "O, apakah aku tidak akan dapat menghindar lagi ?" setit
ik air matanya jatuh di pangkuannya. Meskipun kemudian ia merebahkan
dirinya pula, tetapi sampai kokok ayam jantan yang terakhir kalinya,
ia sama sekali t idak dapat lagi tertidur. Sehari-harian berikutnya
Sindangsari maIH tetap saja gelisah Ia mengharap matahari berjalan
lebih cepat lagi. Malam nanti, akan datang beberapa orang tamu yang
akan membawa lamaran Pamot untuknya. Meskipun kakeknya agak
ragu-ragu, tetapi kakeknya tidak menolak utusan itu. Katanya
"Baiklah, aku akan menerimanya meskipun Ki Demang akan dapat menuduh
apa saja yang dikehendakinya. Karena utusan itu datang justru
setelah Ki Demang memberitahukan bahwa iapun akan mengirimkan utusan
pula untuk melamar. Demikianlah di sore harinya, lewat senja,
beberapp orang tua-tua telah datang beserta orang tua Pamot untuk
menyampaikan lamaran. Mereka dengan segala macam tata cara, telah
minta untuk ikut serta mengaku anak atas Sindangsari, serta apabila
t idak berkeberatan akan dijodohkannya dengan Pamot. Memang sulit
sekali bagi kakek Sindangsari yang mewakili ayahnya, untuk
memberikan jawaban. Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat berdiam
diri saja. Karena itu, maka seperti yang sudah dipersiapkannya
setelah berpikir masak-masak, maka orang tua itupun mengatakan
dengan berterus terang, apa yang sebenarnya telah terjadi. "Kami t
idak menolak" katanya "apalagi kami, orang tua-tua ini mengetahui
bahwa kedua anak-anak muda itu agaknya sudah mempertautkan hati
masing-masing. Tetapi kami masih harus mempertimbangkan
kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi karena utusan Ki
Demang itu" Jawaban itu telah membuat orang tua Pamot menjadi cemas,
bahwa akhirnya mereka tidak akan dapat berbuat lain kecuali
menyaksikan gadis itu diambil oleh Ki Demang, ikhlas atau tidak
ikhlas. Tetapi merekapun menyadari kesulitan yang dihadapi oleh
orang tua dan kakek Sindangsari. Kalau besok mereka berhasil memberi
penjelasan kepada utusan Ki Demang, dan penjelasan itu diterima,
maka mereka masih mempunyai harapan untuk meneruskan pembicaraan
mereka dihari-hari kemudian. Tetapai kalau Ki Demang menghendaki
Sindangsari tanpa dapat dielakkan, maka mereka pasti t idak akan
dapat menemukan jalan lain daripada menerima hal itu sebagai suatu
kenyataan. Karena itu, maka orang tua Pamotpun tidak dapat
mendesakkan pembicaraan itu. Mereka menyadari kekuasaan yang
seakan-akan tidak terbatas di Kademangan Kepandak. Selain daripada
itu, mereka mengetahui, bahwa Ki Demang adalah seorang yang luar
biasa. Kemampuannya dalam olah kanuragan dan kekerasan hatinya yang
tiada batasnya. Apalagi kedudukannya yang memungkinkannya untuk
melakukan t indakan yang mendasarkan kepada kekuasaannya untuk
kepentingan apapun. Dengan demikian, maka orang tua Pamot itupun
kemudian hanya dapat menunggu Pada saatnya kakek Sindangsarilah yang
akan datang kepada mereka, menyampaikan persoalan itu, setelah
utusan Ki Demang datang besok malam. Sindangsari yang mendengarkan
pembicaraan itu dari balik dinding akhirnya menjadi kecewa. Meskipun
ia tahu, bahwa tidak akan dapat membicarakan persoalannya lebih dari
itu, tetapi ia kini menjadi kian terombang-ambing oleh kegelisahan
yang semakin mencengkamnya. Sehari semalam ia menunggu. Dan kini ia
masih harus menunggu lagi sehari semalam, apakah yang akan
dibicarakan oleh kakeknya dengan utusan Ki Demang besok Bahkan
harapan untuk dapat lolos rasa-rasanya menjadi semakin kecil.
Sindangsari kini sudah mulai merasa seperti seekor burung di dalam
sangkar. Betapa indahnya sangkar itu, dan betapa ia tidak kekurangan
makan dan minum, namun sangkar emas itu tidak akan lebih baik dari
sebuah kungkungan yang membatasi kebebasannya. Demikianlah
Sindangsari harus menunggu lagi di dalam kegelisahan. Sehari-harian,
ia tidak banyak berbicara. Matanya tampak bendul dan
kemerah-merahan. "Semalam ia pasti tidak tidur, dan bahkan menangis
terusmenerus" gumam ibunya. Neneknya menganggukkan kepalanya "Ia
selalu gelisah, Ketika aku menengoknya, lewat tengah malam, anak itu
menelungkup. Tetapi ia tidak tidur" "Kasihan" desis ibunya "ia sudah
tidak berayah dan sekarang pada umurnya yang masih terlampau muda,
ia harus menanggung keruwetan hidup yang pasti terasa sangat berat
baginya" Neneknya mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak menjawab
lagi. Dipandanginya saja Sindangsari yang sedang membersihkan
halaman depan. Tetapi gadis itu tidak dapat melakukannya selincah
biasanya. Kini kadang-kadang ia berhenti. Kemudian merenungi
dedaunan yang hijau di kejauhan. Beberapa lama ia berbuat demikian.
Apabila kemudian ia sadar, maka diteruskannya kerjanya. Ibunya hanya
dapat menarik nafas dalam-dalam. Kakeknya yang sedang mengemasi
alat-alat yang akan dibawanya ke sawah tertegun pula melihat
Sindangsari yang muram. Di dekatinya isterinya sambil berbisik
"Suruh ia bekerja di dalam. Ia sangat payah lahir dan batin" Nenek
Sindangsari mengangguk-anggukkan lagi "Baiklah" jawabnya. Maka
kemudian sepeninggal kakeknya, nenek Sindangsari itu menghampirinya.
Katanya "Sudahlah Sari, tinggalkan kerja ini. Biarlah aku atau ibumu
yang melakukannya. Sebaiknya kau beristirahat saja. Kau tampak
terlampau letih. Tetapi Sindangsari menggelengkan kepalanya "Tidak
nenek. Aku tidak lelah" "Kau kurang tidur, kurang makan dan kurang
beristirahat. Bukan saja tubuhmu, tetapi juga perasaanmu" berkata
neneknya "aku dapat menebak apa yang sedang bergolak di dadamu.
Karena itu, beristirahatlah. Kalau kau tidak mau, maka lakukanlah
pekerjaan yang lebih ringan di dapur Begitu?" Sejenak Sindangsari
justru diam mematung mendengar bujukan neneknya itu. Tetapi ia tidak
dapat mengelak lagi ketika ibunya datang mendekatinya, dan tanpa
mengatakan sesuatu anaknya dibimbingnya masuk sambil berkata
"Letakkan sapu itu Sari. Biarlah orang lain yang melakukannya"
Sindangsari t idak menjawab. Tetapi ia berjalan saja mengikut i
langkah ibunya. "Duduk sajalah" berkata ibunya setelah mereka berada
di dalam rumahnya "atau barangkali labih baik kalau kau dapat tidur
meskipun hanya sejenak" Sindangsari memandang ibunya sejenak, namun
kemudian ia menggeleng "Aku tidak akan t idur bu" "Kalau tidak,
berbaringlah. Barangkali akan membuat kau agak menjadi segar"
Sindangsari t idak menjawab, karena ibunya segera meninggalkannya.
Sejenak gadis itu masih saja duduk di tempatnya. Dipandanginya isi
rumahnya satu demi satu. Namun akhirnya, ia sampai kepada dirinya
sendiri yang rasa-rasanya berada di ujung senja yang menjelang
kelam. "Sore nanti mereka akan datang" desisnya kepada diri sendiri.
Betapapun juga, akhirnya mataharipun semakin lama menjadi semakin
rendah. Berbeda dengan hari sebelumnya. Sindangsari menunggu senja
dengan hati yang berdebardebar penuh harapan. Tetapi hari ini ia
menunggu senja dengan kecemasan yang mencengkam. Namun saat itupun
datang. Ketika ujung malam meraba padukuhan Gemulung, datanglah
beberapa orang memasuki halamah rumah Sindangsari. Beberapa orang
tua-tua, beberapa orang lagi membawa sanggan, setangkap pisang,
beberapa potong pakaian dan upacara yang lain, kemudian di belakang
mereka beberapa orang mengusung tiga buah jodang berisi makanan dan
pakaian. Kedatangan mereka benar-benar telah mengejutkan seisi
rumah. Bukan saja seisi rumah, tetapi setiap orang yang menyaksikan
kedatangan utusan itu. Meskipun orang tua dan beberapa orang
tetangga Sindangsari telah mendengar, bahwa malam itu utusan Ki
Demang akan datang melamar, tetapi mereka tidak menyangka bahwa tamu
itu akan membawa berbagai macam barang dan makanan. Sejenak kakek
Sindangsari berdiri termangu-mangu di depan rumahnya melihat
kehadiran utusan itu, sehingga ia terperanjat ketika seorang yang
masih agak muda, yang berdiri di paling depan, membungkukkan
kepalanya dalamdalam. "O, kau anakmas "kakek Sindangsari menyapanya
dengan jantung yang berdebaran "marilah, marilah. Silahkan masuk.
Tetapi, tetapi aku tidak menyangka, bahwa aku akan kedatangan tamu
sebanyak ini, sehingga aku sama sekali tidak menyediakan tempat
selayaknya" Orang yang berdiri di paling ujung itu tersenyum "Tidak
apa paman. Biarlah sebagian dari kami berada di luar" "Tidak. Tidak
Aku persilahkan kalian semuanya masuk, meskipun kalian akan duduk
berdesak-desakan" "Terima kasih" jawab orang itu, yang menjadi
pimpinan utusan Ki Demang. Orang itu adalah Ki Reksatani. adik Ki
Demang di Kepandak. Kedatangan utusan itu benar-benar telah menarik
perhatian hampir setiap orang di Gemulung. Meskipun hari telah mulai
gelap, namun beberapa orang telah memerlukan dengan tergesa-gesa
pergi ke seputar rumah Sindangsari. Meskipun mereka tidak
menyaksikan iring-iringan itu berjalan, tetapi mereka masih dapat
melihat beberapa orang yang masih berdiri di halaman. Baru sejenak
kemudian mereka memasuki rumah Sindangsari yang tidak begitu besar
sambil membawa semua barang-barang yang akan mereka serahkan kepada
orang tua Sindangsari. "Bukan main" desis seorang perempuan setengah
umur "agaknya nDaru sebulat rembulan penuh telah jatuh keatas rumah
ini" "Jangan iri. Kalau kau mempunyai anak secantik Sindangsari,
maka mungkin kau akan menjadi mertua Ki Demang di Kepandak"
Perempuan setengah tua itu mengerutkan keningnya. Katanya "Ya. Aku
ingin mempunyai anak yang cantik" "Tetapi kau terlambat" "Siapa
tahu, isteri Ki Demang yang inipun akan dicerainya pula" Lawannya
berbicara mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut. Yang
didengar adalah desis seorang laki-laki di sebelahnya "Lalu,
bagaimana dengan Pamot? Bukankah kemarin orang tuanya datang juga
untuk melamar?" "Kasihan" jawab orang yang berdiri di sebelahnya
"mereka hanya datang orang-orang saja" "Maksudmu?" "Mereka tidak
membawa sanggan. Tidak membawa setangkep pisang dan sepengadeg
pakaian. Belum lagi terhitung tiga buah jodang" Tetapi mereka
membawa sesuatu yang jauh lebih berharga dari semuanya itu" sahut
seorang anak muda yang berdiri di belakangnya. "Apa?" bertanya orang
yang pertama. "Tanggapan cinta Sindangsari. Mereka membawa hati
Pamot. Dan itu bagi seorang gadis adalah harta yang paling berharga
bagi hidupnya" Orang-orang tua itu mengerutkan keningnya. Meskipun
mereka tidak menjadi langsung, namun salah seorang dari mereka
berkata "Omong kosong. Anak-anak muda sekarang terlampau banyak
bersikap aneh. Mana ada cinta yang dikatakan lebih berharga dari
semuanya itu. Orang tidak akan dapat hidup hanya dengan cinta.
Tetapi kita perlu makan, sandang dan memelihara anak-anak kita
kelak. Hanya orangorang tua yang bodoh sajalah yang menolak lamaran
ini, meskipun seandainya ada kemungkinan untuk dicerai seperti
isteri-isteri yarig lain. Tetapi selama itu, keluarga ini sudah
dapat memanfaatkan keadaan. Setidak-tidaknya memperbaiki rumah yang
sederhana ini menjadi rumah joglo yang besar" Anak muda yang berdiri
di belakangnya itu mengerutkan keningnya. Kemudian iapun berdesis
"Kasihan" "Apa yang kasihan" "Anak-anak yang disewakan untuk
memperbaiki rumah joglo" "Hus" Orang tua itu tiba-tiba menjadi
marah. Tetapi ketika ia memutar tubuhnya, anak muda itu sudah pergi.
"Nah, kau dengar" berkata orang tua itu kepada orang yang berdiri di
sampingnya "begitulah anak-anak muda yang tidak tahu adat. Ia sudah
berani menentang pendapat orangorang tua. Bahkan menyindir dengan
kata-kata yang kasar. Kalau saja ia tidak pergi, aku ajari ia
bersikap sopan" Orang yang berdiri di sampingnya tidak menjawab.
Karena orang yang berdiri di sampingnya tidak menjawab maka orang
tua itupun terdiam. Namun sekarang mereka sudah tidak dapat melihat
seorangpun lagi di halaman. Semua orang sudah masuk ke dalam ruangan
yang tidak terlampau luas. Tiga buah jodang itupun telah dibawa
masuk pula dan diletakkan di tengahtengah ruangan di samping sebuah
amben bambu yang besar. "Silahkan, silahkan" kakek Sindangsari sibuk
mempersilahkan tamunya yang kemudian duduk berdesakdesakan di amben
itu pula. "Aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat menyediakan tempat
yang wajar" "Sudahlah jangan terlampau repot. Apa yang ada ini sudah
terlampau baik buat kami. Bukankah kami hanya akan duduk disini
sebentar saja?" "Tentu tidak hanya sebentar" "Kalian tidak usah
ribut-ribut. Kalian t idak usah memikirkan apa yang akan kalian
suguhkan kepada kami. Kami sudah membawa sendiri. Makanan di dalam
jodang itu adalah oleholeh yang sengaja kami bawa, agar kalian
disini tidak bingung, dengan apa kalian akan menjamu kami" "Terima
kasih" jawab kakek Sindangsari "terima kasih sekali" "Ambillah isi
jodang itu. Itu tidak termasuk dalam kelengkapan upacara yang kami
bawa di atas nampan ini" "Terima kasih" tetapi orang tua itu tidak
segera beranjak dari tempatnya untuk mengambil sebagian dari isi
jodang itu. "Ambillah, kenapa kau ragu-ragu" "Tidak, aku tidak
ragu-ragu, Tetapi biarlah nanti saja aku ambil" Reksatani
mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian iapun tersenyum "Baiklah.
Mungkin kau agak segan melakukannya. Tetapi sebenarnya kau tidak
perlu segan. Semuanya ini adalah pertanda hubungan yang akan kami
buka untuk seterusnya" "Terima kasih" Ki Reksatani
menganggung-anggukkan kepalanya. Kakek Sindangsari kini malahan
duduk pula di amben besar itu. Sementara ibu dan nenek Sindangsari
sibuk di dapur merebus air. Dengan penuh hormat orang tua itu
kemudian mengucapkan kata-kata kebiasaan bagi tamu-tamu yang
dihormati. Selamat datang, kemudian bertanya-tanya tentang
keselamatan masing-masing. "Kami bergembira sekali dapat berkunjung
ke rumah ini" berkata Ki Reksatani. "Aku sama sekali tidak
menyangka, bahwa rumah ini akan mendapat kehormatan kunjungan utusan
Ki Demang yang sedemikian lengkapnya" sahut kakek Sindangsari. Ki
Reksatani tertawa "Kami hanyalah sekedar menjadi utusan. Ki Demang
sendirilah yang menyiapkan semuanya ini" Kakek Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan matanya beredar dari
satu nampan ke nampan yang lain. Dari jodang yang satu ke jodang
yang lain. Adalah di luar mimpinya sekalipun bahwa Ki Demang akan
mengirim sekian banyak macam barang dan makanan kepadanya. Di luar
beberapa orang masih saja berdiri di kegelapan. Mereka masih juga
mempercakapkan keluarga kecil itu. Ada yang menganggap kehadiran
utusan itu sebagai suatu kurnia. Tetapi ada juga yang menjadi iba
dan belas kasihan, karena mereka sudah mengerti sebelumnya hubungan
Sindangsari dengan Pamot. "Tidak ada orang yang akan dapat
menyainginya" desis seseorang "beberapa buah nampan penuh dengan
peningset dan tiga buah jodang" "Terlampau tergesa-gesa" sahut yang
lain "lamaran itu baru diajukan sekarang. Tetapi mereka sudah
membawa peningset sekaligus. Bagaimana kalau lamaran itu ditolak"
"Tidak mungkin. Siapakah yang dapat memberikan peningset selengkap
itu?" "Satu-satunya orang adalah Manguri" Kawannya berbicara itupun
menarik nafas dalam-dalam. Memang Manguri akan dapat memberikan
sebanyak yang dibawa oleh utusan Ki Demang itu. Tetapi setiap
orangpun tahu, bahwa Sindangsari sama sekali tidak tertarik bahkan
membenci anak muda itu. Dalam pada itu, sebuah bayangan menyusup
diantara dedaunan di kebun sebelah rumah Sindangsari. Semakin lama
semakin dekat. Dengan wajah yang tegang ia memandang halaman rumah
yang telah kosong itu. Sekali-sekali terdengar ia berdesah. Namun
kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya. Ia berpaling ketika
seseorang menggamitnya dari belakang sambil berkata "Jangan
kehilangan akal Pamot" Pamot yang sedang berusaha menyaksikan apa
yang telah terjadi itu menarik nafas dalam-dalam. Seorang anak muda
yang lain kemudian mendekatinya "Kau harus dapat menimbang, panjang
dan pendek. Jauh dan dekat" "Hatiku terbakar Punta" jawab Pamot.
"Aku tahu. Tetapi kau harus tetap mempergunakan nalar" anak muda
yang lain itu berdesis "Coba apakah yang dapat kau lakukan sekarang
dengan kemarahanmu?" Pamot tidak menjawab. "Kau harus mengerti,
bahwa yang datang itu adalah utusan Ki Demang yang baru akan
melamar. Mereka belum menentukan apa-apa selain berbicara apakah
lamaran itu diterima atau tidak" Pamot menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia berdesis "Tetapi apakah ada seseorang yang dapat menolak
lamaran Ki Demang?" Puntalah yang kini terdiam. Dipandanginya pintu
yang masih terbuka di kejauhan. "Aku akan mendekat" "Untuk apa? Itu
hanya akan memanaskan hatimu sendiri?" Pamot mengerutkan keningnya.
Jawabnya kemudian "Aku tidak akan berbuat apa-apa Punta. Terima
kasih atas peringatanmu. Tetapi aku ingin mendekat. Aku tidak tahu
kenapa tumbuh keinginan itu" "Kau setiap saat dapat kehilangan
nalar, dan melakukan tindakan yang justru dapat merugikan kau
sendiri" Pamot menggelang "Tidak Punta. Aku akan selalu mencoba
mengingat akan hal itu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya
"Marilah aku ikut" tiba-tiba saja Punta berdesis "di sekitar rumah
itu masih ada beberapa orang yang melihat seperti mereka melihat
tontonan yang menarik" Pamot tidak menjawab. Tetapi ia segera
bergeser maju di ikuti oleh Punta. Mereka tertegun ketika mereka
melihat bayangan dua buah kepala yang tersembul di atas pagar batu.
Meskipun malam menjadi semakin gelap, tetapi Pamot masih melihat
bayangan yang bergerak-gerak itu. "Siapakah mereka?" Pamot berbisik.
"Tidak hanya mereka, tetapi banyak yang lain" "Tetapi yang dua ini
agaknya lain daripada orang-orang yang berdiri di luar halaman rumah
itu" "Ya, seperti kita berdua. Akupun kadang-kadang heran, kenapa
kita mesti harus mengendap-endap?" "Aku malu dilihat orang" Punta
mengerutkan keningnya. "Orang itu agaknya sengaja menyendiri pula.
Mungkin ia malu seperti kita, tetapi mungkin juga dengan maksud yang
lain" "Aku akan melihat" bisik Pamot kemudian "tunggulah disini.
Kalau terjadi sesuatu, kau jangan membiarkan aku sendiri" Punta
menganggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata lirih "Tetapi
hati-hati. Mungkin orang itu adalah pengawas-pengawas yang memang
dipasang oleh Ki Demang untuk mencegah sesuatu terjadi" Pamot
mengangguk-angguk "Ya, aku akan berhati-hati" Pamotpun kemudian
merangkak maju. Hati-hati sekali Semakin lama menjadi semakin dekat,
dan kedua bayangan itupun menjadi semakin jelas baginya. Bahkan
kemudian ia melihat di dalam samar-samar tubuh-tubuh mereka yang
berdiri melekat dinding. Keduanya agak membungkukkan punggungnya
sambil menelekankan tangan mereka yang bersilang di atas pagar batu,
agar tubuh mereka tidak terlampau banyak tersembul di atas pagar
itu. Pamot merangkak semakin dekat. Dadanya berdesir ketika ia
kemudian melihat sesuatu mencuat di lambung mereka. Senjata. "Mereka
membawa senjata" berkata Pamot di dalam hatinya "pasti bukan
orang-orang Gemulung yang sekedar ingin menonton" Karena itu, maka
nafsu Pamot untuk mengetahui keduanya menjadi semakin besar,
sehingga iapun merangkak semakin dekat. Tetapi tiba-tiba sekali,
sama sekali di luar dugaan, salah seorang dari kedua orang itu
menjatuhkan dirinya secepat kilat. Kemudian berguling-guling seperti
roda. Pamot tidak sempat berbuat apa-apa. Ia sadar ketika tangannya
seakan-akari telah terjepit oleh kepingan besi. Meskipun dengan
sebuah tenaga ia menghentakkannya, namun justru persendiannya
sendirilah yang menjadi sakit, seakan-akan tulang-tulang tangannya
akan terlepas satu dengan yang lain. Dalam keadaan itu, Pamot tidak
dapat berbuat lain dari pada menyerang dengan tangannya yang
sebelah. Namun ketika tangannya yang tergenggam itu terpilin ke
belakang, ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Meskipun ia masih
mencoba menyerang dengan kakinya, tetapi sama sekali tidak berhasil.
Karena itu, ia hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia mengharap
Punta dapat melihatnya. Kemudian membantunya. Kalau ia dapat
melepaskan tangannya, maka mungkin ia tidak akan semudah itu
ditundukkan, karena ia masih dapat mengharapkan kecepatannya
bergerak. Tetapi selagi ia menahan nafasnya, terasa pegangan tangan
orang itu mengendor. Perlahan-lahan bahkan tangannya dilepaskannya.
"Kau Pamot" desis orang itu. Begitu tangannya terlepas Pamotpun
segera berputar sambil menyiapkan dirinya. Namun orang yang telah
memilin tangannya itu tidak berbuat apa-apa. Pamotlah yang kemudian
menarik nafas dalam-dalam. Orang itu adalah Lamat. Namun selagi
mereka berdiri berhadapan, terdengar suara perlahan-lahan "Kenapa
kau lepaskan anak itu Lamat?" Pamot sadar, bahwa kedua orang itu
adalah Manguri dan Lamat. "Biar saja tangannya kau patahkan" Pamot
menggeretakkan giginya. "Jangan mencoba membuat keributan disini
Manguri" yang terdengar adalah suara dari kegelapan. Pamot segera
mengenal, bahwa suara itu adalah suara Punta "Kalau kau masih saja
ingin membuat persoalan dengan anak-anak Gemulung, maka kamipun
dapat berbuat lebih banyak dari gerombolan Sura Sapi yang dapat kau
usir itu. Kami dapat mengumpulkan tidak hanya lima atau enam orang
anak-anak muda, tetapi puluhan" Manguri menggeram. Tetapi ia tidak
ingkar, bahwa yang dikatakan Punta itu memang dapat terjadi. Bahkan
kemudian Manguri masih juga sempat tertawa. Katanya "Aku tidak
bersungguh-sungguh. Apakah gunanya kita sekarang bertengkar? Lihat,
gadis itu sekarang sudah diambil oleh Ki Demang. Lagi-lagi yang gila
perempuan itu. Berapa kali ia kawin dan berapa kali ia berpisah
lagi" Pamot tidak menjawab. Dan Manguri masih saja tertawa meskipun
perlahan-lahan. Katanya kemudian "Tetapi yang paling parah adalah
kau Pamot. Aku memang sudah kalah sejak kau hadir diantara kami.
Tetapi agaknya kau yang merasa menang itu kini harus menelan
kekalahan. Kekalahan yang sudah tentu sangat pahit" Pamot
mengerutkan keningnya. "Kita besok atau lusa atau sepekan lagi akan
melihat persiapan yang lebih bersungguh-sungguh. Akhirnya kita akan
melihat kedua mempelai itu bersanding" Manguri berhenti sejenak
"memang sakit rasanya. Tetapi itu lebih baik bagiku. Aku lebih
senang melihat Sindangsari menjadi isteri Ki Demang daripada menjadi
isterimu" "Tutup mulutmu" Pamot membentak dengan tiba-tiba. Darahnya
jang memang sedang bergolak itu terasa menggelegak sampai ke kepala
"jangan berolok-olok dalam keadaan begini Manguri" "Jangan menjadi
kalap Pamot. Kau harus berpikir baik-baik. Di tempat ini banyak
orang yang bertebaran di sekitar halaman rumah Sindangsari untuk
melihat utusan Ki Demang yang serba mentakjubkan itu. Beberapa buah
nampan berisi sanggan dan tiga buah jodang. Tiga buah jodang, Ingat.
Separo kekayaan ayahmu tidak cukup untuk membeli pakaian dan makanan
sebanyak itu. Apakah kau kira kau akan dapat menyainginya?" Manguri
berhenti sejenak "kalau aku memang mungkin sekali. Aku dapat membawa
lebih banyak hadiah untuk gadis itu. Tetapi agaknya itupun tidak
akan ada gunanya, karena Ki Demang selain seorang yang cukup kaya,
ia mempunyai kekuasaan" Hati Pamot serasa sudah menyala di dadanya.
Tetapi terasa tangan Punta menggamitnya. Katanya "Jangan kau
dengarkan anak itu mengigau. Lihat, betapa kecut wajahnya. Aku tidak
percaya bahwa hatinya tidak menjadi parah seperti hatimu. Kalau
Sindangsari tidak diambil oleh Ki Demang, Manguri pasti masih akan
berusaha terus. Tetapi usahanya kini telah tertutup. Dan ia mencoba
menutupi kekecewaannya dengan sikapnya itu" "Punta" mata Manguri
menjadi terbelalak "kau jangan turut campur" "Aku akan turut campur.
Masalahnya adalah masalah sikapmu yang berlebih-lebihan itu. Sudah
aku katakan. Aku dapat membawa lebih dari tiga kali lipat kekuatan
Sura Sapi ke rumahmu. Aku dapat berbuat apa saja. Membakar rumahmu
dengan segala isinya? Menangkap kau dan menyeret di sepanjang jalan
padukuhan? Apa lagi? Tidak seorangpun sempat mengurus perkara ini
karena Ki Demang sedang sibuk dengan hari perkawinannya. Aku yakin
bahwa Ki Jagabaya dan bebahu-bebahu lainnya ada di dalamrombongan
itu pula" "Persetan" Manguri berpaling ke arah Lamat. Tetapi raksasa
itu menundukkan kepalanya. "Tidak akan banyak artinya" desis Manguri
di dalam hati "kalau aku membuat keributan disini, mungkin
orang-orang di dalam rumah Sindagsari menjadi salah paham, dan
menyangka aku menjadi sakit hati dan berbuat keonaran" Dengan
demikian maka Manguripun tidak membuat persoalan itu menjadi
berlarut-larut. Bahkan kembali ia tertawa sambil berkata "Baiklah.
Aku memang lebih baik pergi. Tidak ada gunanya terlampau lama
disini. Itu memang hanya akan menyakitkan hati" ia berhenti sejenak,
lalu "Marilah Pamot. Tinggalkan saja Sindangsari. Lupakan gadis itu
yang sebentar lagi akan sudah menjadi Nyi Demang di Kepandak"
Manguri berhenti pula sambil melemparkan pandangan matanya ke pintu
yang terbuka. Seberkas cahaya pelita terlontar keluar dan jatuh di
atas tanah yang kering. "Pamot " tiba-tiba ia berdesis "kalau kau
setiap kali pergi ke Kademangan untuk berlatih, kau akan selalu
melihatnya. Kau akan dapat pergi ke dapur dan berkata kepadanya "Nyi
Demang, aku haus. Haus sekali" Manguripun kemudian tertawa pula.
Nadanya meninggi meskipun tidak menjadi terlampau keras. "Bukankah
kau salah seorang anggauta pengawal khusus?" "Diam, diam kau
Manguri" Pamot menggeram. Suara tertawa Manguri masih terdengar.
Katanya "Kita bersama-sama telah menjadi sakit hati karena peristiwa
ini. Ki Demang ternyata bukan seorang pemimpin yang baik. Ia lebih
mementingkan nafsunya sendiri daripada kesejahteraan rakyatnya "
Manguri tiba-tiba menjadi bersunggug-sungguh "he Pamot, apakah kau
dapat menelan kepahitan ini?" Pamot tidak menjawab. Manguri kemudian
menggeram, tetapi kata-kata yang terloncat dari bibirnya tidak
begitu jelas terdengar. "Lamat" katanya kemudian "marilah kita
tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku mengagumi gadis itu ketika ia
menolak pemberianku. Tetapi kalau pemberian Ki Demang ini
diterimanya, baik oleh Sindangsari maupun oleh orang tuanya, maka
gadis itu tidak lebih dari perempuan hina yang memperbandingkan upah
yang akan didapatkannya dari penyerahan dirinya. Dengan demikian
dongeng tentang cinta yang murni antara Sindangsari dan Pamot akan
segera lenyap dari padukuhan Gemulung. Kawan-kawan, para gembala dan
gadis-gadis yang mencuci di kali tidak akan lagi mendengarkan
tembang asmaradana yang mereka jalin dengan nama-nama Sindangsari
dan Pamot" Dada Pamot serasa akan retak karenanya. Tetapi ia masih
menahan diri. Dipandanginya saja Manguri yang kemudian melangkah
menyusup digerumbul-gerumbul liar diikuti oleh Lamat di belakangnya.
"Bagaimanapun juga anak itu tetap berbahaya" desis Punta. "Ya" Pamot
menganggukkan kepalanya. "Kau percaya bahwa ia akan berhenti sampai
disni meskipun Sindangsari kelak terpaksa dibawa oleh Ki Demang
Kepandak" Perlahan-lahan Pamot menggelengkan kepalanya. "Suatu
keadaan yang rumit" berkata Punta tetapi semuanya harus
diperhitungkan dengan nalar. Tidak hanya dengan perasaan
semata-mata" Pamot tidak segera menjawab. Tetapi kini dilemparkannya
pandangan matanya ke arah pintu yang masih terbuka itu. Meskipun ia
tidak melihat, tetapi terbayang di rongga matanya, utusan Ki Demang
itu sedang tertawa-tawa sambil mengunyah makanan yang mereka bawa
sendiri dari Kademangan. Tetapi Pamot tidak berani membayangkan,
apakah yang sedang dilakukan oleh Sindangsari sekarang. Apakah ia
juga tertawa melihat peningset yang dibawa oleh utusan Ki Demang itu
di atas nampan dan di dalam jodang, ataukah ia sedang menangis di
dalambiliknya. "Pamot " berkata Punta "sebaiknya kita tinggalkan
saja tempat ini. Aku kira tidak ada gunanya kau tetap disini. Tidak
ada gunanya bagimu dan tidak ada gunanya bagi Sindangsari" "Aku
ingin tahu apa yang akan mereka lakukan" jawab Pamot. "Kau pasti
sudah dapat memperhitungkannya berkata Punta kemudian "mereka akan
melamar dan menyerahkan barang-barang itu kepada ibu, nenek dan
kakek Sindangsari. Apakah kemudian lamaran itu mereka terima, kita
tidak akan tahu malam ini, meskipun kita menunggui mereka, sampai
mereka meninggalkan rumah itu" Pamot menarik nafas. "Marilah kita
kembali. Lebih baik bagimu untuk berkumpul dengan kawan-kawan di
gardu daripada kau berada disini" Pamot tidak menyahut. "Kau tidak
perlu melukai hatimu sendiri. Kalau luka itu memang sudah tumbuh,
jangan kau buat luka itu menjadi semakin parah" Akhirnya Pamot
menganggukkan kepalanya. Jawabnya "Baiklah" "Bagus" sahut Punta
"marilah. Biar sajalah apa yang akan terjadi di dalamrumah itu
terjadi" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengikuti saja
seperti anak-anak di belakang ayahnya. Dan keduanyapun kemudian
pergi ke sudut desa, berkumpul dengan kawan-kawan mereka di gardu.
Kakeknya yang sedang mengemasi alat-alat yang akan dibawanya ke
sawah tertegun pula melihat Sindangsari yang muram. Di dekatnya
istrinya sambil berbisik "Suruh ia bekerja di dalam. la sangat payah
lahir dan batin. Ternyata kawan-kawan Pamotpun dapat mengerti, bahwa
anak muda itu sedang mengalami goncangan yang dahsyat di dalam
dirinya. Karena itu, maka mereka sama sekali berusaha untuk
menjauhkan pembicaraan mereka dari persoalan Sindangsari yang malam
ini telah mendapat lamaran dari Ki Demang Kepandak. Dalam pada itu,
di dalam rumah Sindangsari, para utusan Ki Demang itupun sedang
menikmati minuman dairi mangkuk masing-masing. Diselingi oleh gelak
dan tertawa merekapun berbicara mengenai masalah mereka sehari-hari.
Mengenai air di sawah yang kadang-kadang tidak mengalir, mengenai
harga kebutuhan sehari-hari yang memanjat terus karena kebutuhan
yang meningkat, sejalan dengan meningkatnya persiapan Sinuhun Sultan
Agung yang berniat untuk mengusir orang yang berkulit putih dari
Betawi, yang nampaknya semakin lama semakin melanggar hak dan
Kekuasaan Mataram. Namun akhirnya, setelah malam menjadi semakin
dalam, Ki Reksatani yang menjadi pimpinan utusan itupun berkata
"Nah, agaknya hari menjadi semakin malam tanpa sesadar kita. Dengan
demikian, maka baiklah kiranya kami akan memulai mengatakan
keperluan kami datang kemari" Kakek Sindangsari menganggukkan
kepalanya sambil menjawab "Silahkan. Silahkanlah" "Mungkin keluarga
disini sudah mengetahui keperluan kami seperti yang pernah
diberitahukan oleh utusan pendahuluan kami yang datang dua hari yang
lampau" "Ya, ya. Demikianlah kiranya" "Meskipun demikian, kami akan
mengulanginya dengan semestinya, sesuai dengan tata cara yang
berlaku" Kakek Sindangsari mengangguk-angguk "Silahkan"katanya. Maka
Ki Reksatanipun kemudian mempersilahkan seorang yang sudah agak
lanjut usianya untuk menyampaikan keperluan mereka datang ke rumah
Sindangsari itu. Dengan segala macam kebiasaan seseorang yang datang
melamar, dengan menyebut segala macam kebaikan kedua belah pihak,
maka akhirnya orang tua itu berkata "Dengan demikian, maka sampailah
lamaran Ki Demang yang bijaksana itu cucunda Sindangsari yang telah
sesuai menurut pilihan hati Ki Demang dan orang tua-tua yang akan
merestuinya. Keduanyapun akan menjadi pasangan yang seimbang dan
sempurna. Kakek Sindangsari mendengarkan kata demi kata dengan
saksama. Sudah lebih dari sepuluh kali ia mendengar katakata serupa
itu apabila ia diminta oleh tetangga-tetangganya untuk menerima tamu
yang datang melamar di rumah mereka. Sebagai seorang yang termasuk
telah cukup tua, iapun sering diminta untuk mengikuti ututsan-utusan
dari anak-anak tetangganya, yang melamar bakal isteri mereka. Namun
kini ia sendirilah yang harus menerima lamaran itu. Karena itu, maka
baru kinilah ia mendengarkan kata-kata yang sudah tersusun demikian
itu dengan teliti" Ternyata kata-kata utusan itu hampir tidak ada
kebenarannya sama sekali. Semua pujian yang diucapkannya adalah yang
pernah didengarnya lebih dari sepuluh kali itu juga. Sedang jodoh
yang seimbang menurut penilaian orang itupun sama sekali bukan
penilaiannya yang sebenarnya. Katakata itu diucapkan seperti yang
seharusnya diucapkan siapapun yang disebutnya. Adalah tidak wajar
sama sekali bahwa kedua calon penganten ini, Ki Demang dan
Sindangsari adalah pasangan yang seimbang dan sempurna. Orang tua
itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak pernah
mempersoalkannya meskipun ia pernah menunggui seseorang yang
menerima lamaran dari seorang laki-laki tua yang sudah mempunyai dua
orang, isteri atas seorang gadis kecil. Tetapi baru sekarang ia
memperhatikan kata demi kata itu. "Demikianlah kata-kata lamaran
itu" berkata orang tua itu selanjutnya "dan kami sekeluarga
mengharap bahwa lamaran ini akan terkabulkan. Bersama ini kami
membawa sekedar tanda yang akan menguatkan ikatan dari pembicaraan
kita ini" Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
kemudian ia menjawab "Kami mengucapkan terima kasih atas lamaran ini
"ia berhenti sejenak, dan tiba-tiba saja ia telah kehilangan gairah
untuk menjawab lamaran itu seperti yang biasanya harus diucapkan.
Sekilas terbayang di wajah orang tua itu keragu-raguan, namun
kemudian ia berkata seperti kata di dalam hatinya "Ki Sanak, lamaran
ini memang merupakan kehormatan yang tiada taranya bagi kami. Tetapi
apaboleh buat, bahwa saat ini kami masih belum dapat menjawabnya.
Karena itu pula, maka kami masih belum dapat menerima tanda ikatan
yang kalian bawa dari Ki Demang" orang tua itu berhenti sejenak
Kemudian iapun berkata berterus terang "Aku tidak akan
menyembunyikan kenyataan, bahwa cucuku telah mengikatkan hatinya
dengan seorang anak muda yang bernama Pamot. Aku kira, Ki Demangpun
telah mengetahuinya pula. Bahkan Ki Demang pernah datang ke rumah
ini untuk menyelesaikan masalah anak-anak muda yang timbul di
Gemulung" Sejenak para utusan Ki Demang itu saling berpandangan.
Seharusnya kakek tua itu menjawab, bahwa ia tidak berkebaratan dan
ia akan bertanya kepada cucunya. Tetapi sudah tentu bahwa cucunya
itu tidak akan dapat menolak keputusan orang-orang tua itu. Tetapi
ternyata kakeknya itu tidak menjawab demikian, tidak menjawab
seperti yang seharusnya menurut mereka. Sementara itu kakek
Sindangsari melanjutkan "Apalagi kemarin telah datang utusan
keluarga Pamot untuk melamar cucuku, tanpa mengetahui lebih dahulu,
bahwa Ki Demangpun akan mengirimkan utusan ini. Wajah-wajah dari
para utusan itupun menjadi tegang. Sejenak mereka saling
berpandangan. "Demikianlah" kakek Sindangsari mengakhiri jawabannya
"Aku kira aku lebih baik berterus terang daripada aku mengucapkan
jawaban yang tidak didasarkan pada kenyataan yang kita hadapi
sekarang" Para utusan itu tidak segera dapat menanggapi keadaan itu.
Mereka seakan-akan justru terpesona oleh sikap kakek Sindangsari
yang keluar dari tatacara yang selajimnya. Dalam keragu-raguan
mereka saling berpandangan dengan sorot mata yang bertanya-tanya.
Namun adalah di luar dugaan pula ketika Ki Reksatanilah yang
kemudian menyahut "Terima kasih atas jawaban itu. Kami menghargai
setiap sikap berterus terang. Kami sadar, bahwa memang kami tidak
akan dapat berbuat banyak dalam hal ini. Apabila gadis itu memang
sudah resmi di dalam suatu ikatan janji dengan seorang laki-laki,
maka aku kira, demikianlah yang akan kita katakan kepada kakang
Demang" "Nanti dulu adi Reksatani" berkata salah seorang dari
anggauta utusannya "jangan tergesa-gesa menerima jawabannya. Kita
sudah mendapat kekuasaan sepenuhnya dari Ki Demang. Apalagi Ki
Demang sudah menyediakan sanggan dan perlengkapannya. Itu berarti
bahwa Ki Demang sudah menganggap pembicaraan ini adalah pembicaraan
yang sudah jadi" "Maksud kakang" bertanya Ki Reksatani. "Ki Demang
tidak akan menarik diri dalam keadaan apapun" jawab orang itu dengan
pasti. Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Tetapi kami adalah
utusan-utusan yang tidak dapat mengambil keputusan apapun. Kami
mendapat tugas untuk menyampaikan lamaran, dan kami sudah
menyampaikannya. Kini kami mendengar jawaban dari orang yang
berkepentingan. Bukankah tugas kita menyampaikan jawaban ini kepada
kakang Demang? Kalau kemudian kakang Demang mengambil keputusan,
kita akan memberitahukan keputusan itu pula" "Itu akan memakan
waktu. Apakah kita sekarang tidak dapat menyampaikan hasrat hati Ki
Demang yang sudah pasti kita ketahui" "Tentu" jawab Ki Reksatani
"tetapi itu kurang bijaksana agaknya" Orang itupun kemudian terdiam.
Ki Reksatani adalah pimpinan dari utusan ini, sehingga
keputusannyalah yang akan berlaku. Namun demikian para anggauta
utusan itu menjadi heran. Ki Reksatani agaknya tidak mendesakkan
maksud Ki Demang itu kepada kakek gadis itu. Setidak-tidaknya ia
dapat memberikan gambaran, bahwa niat Ki Demang ini tidak akan dapat
dicegah lagi. "Meskipun demikian" tiba-tiba Ki Reksatani itu berkata
"semua barang-barang yang telah kami bawa kemari, akan kami serahkan
kepada keluarga disini. Kami t idak akan membawa kembali sehelai
pakaianpun" Kakek Sindangsari mengerutkan keningnya. "Dan kami juga
tidak akan membawa kembali makanan yang sudah kami serahkan, kecuali
yang sudah kami makan" Ki Reksatani masih sempat tertawa.
Kawan-kawannya benar-benar tidak dapat mengerti sikap adik Ki Demang
ini. Agaknya ia acuh tidak acuh saja atas jawaban kakek Sindangsari
yang tidak berkepastian itu. "Kakek tua ini terlampau besar kepala"
berkata salah seorang dari utusan itu di dalam hatinya "kurang apa
lagi kurnia yang diterimanya. Ia akan mendapat menantu seorang
Demang dan mendapat peningset sekian banyaknya. Kalau saja aku
mempunyai seorang anak gadis" Tetapi yang lain berpikir "Ki
Reksatani melihat kejanggalan itu. Gadis itu tentu tidak akan merasa
berbahagia kawin dengan seorang laki-laki yang pernah beristeri lima
kali, meskipun ia masih muda. Apakah perkawinan ini merupakan
perkawinan yang dicita-citakan oleh seorang gadis seperti
Sindangsari? Dan agaknya kakek tua itu mencoba mengerti perasaan
cucunya, meskipun dibayangi oleh sekian banyak barang-barang yang
cukup berharga" Dan yang terdengar kemudian adalah suara kakek tua
itu "Tetapi, kami mengharap Ki Reksatani sudi membawa barangbarang
ini kembali. Bukan karena kami menolak. Tidak. Kami masih belum
menyatakan penolakan atas lamaran ini. Kami hanya minta Ki Demang
mengerti, bahwa Sindangsari telah terikat oleh suatu janji yang
telah disaksikan oleh orang tua masing-masing" "Tidak" jawab Ki
Reksatani "aku dapat mengerti persoalan ini sepenuhnya. Tetapi aku
tidak dapat memutuskannya. Adalah tidak pantas bahwa apa yang sudah
kami serahkan itu kami ambil kembali" "Soalnya bukan pantas atau
tidak pantas" jawab kakek Sindangsari "tetapi barang-barang itu
adalah suatu adat tatacara. Barang-barang itu adalah suatu pertanda
ikatan. Sedang ikatan itu masih belum dapat kami tentukan sekarang.
Dengan demikian maka peningset ini t idak sepantasnya pula kami
terima" Ki Reksatani tertawa. Jawabnya "Soalnya bukan pantas atau
tidak pantas. Tetapi barang-barang ini sudah ada disini. Terimalah
apapun namanya. Apakah barang-barang itu kau sebut peningset, atau
oleh-oleh atau barangkali alat untuk memaksa agar lamaran ini kau
terima, atau bahkan bukan apa-apa. Tetapi biarlah semuanya itu
disini. Kami t idak akan membawanya kembali ke Kademangan" Ketika
kakek Sindangsari masih akan menjawab Ki Keksatani mendahuluinya
"Jangan dipersoalkannya lagi. Kami akan segera minta diri dan
melaporkan kehadiran kami disini. Melaporkan apa yang telah terjadi
dan melaporkan jawaban kalian" Orang tua itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab lagi. Kepalanya yang
diwarnai oleh rambutnya yang telah memutih, yang satu-satu berjuntai
di bawah ikat kepalanya itupun menunduk. "Sangat berat rasanya
menghadapi persoalan ini" katanya di dalam hati. Kemudian Ki
Reksatani beserta kawan-kawannyapun segera minta diri. Mereka sama
sekali tidak mau lagi membicarakan jodang dan nampan-nampan yang
masih terletak di amben yang besar itu. Maka sejenak kemudian
merekapun meninggalkan rumah Sindangsari dengan angan-angan yang
berbeda-beda. Salah seorang tua yang ada di dalam rombongan itu
bertanya "Kenapa kau bersikap begitu Ki Reksatani. Seolaholah kau
tidak mengambil suatu kepastian bahwa Ki Demang benar-benar
mengingini anak itu" Ki reksatani menarik nafas dalam-dalam, katanya
"Aku juga mempunyai anak perempuan meskipun masih kecil. Terbayang
di dalam angan-anganku, betapa anakku itu menangis meronta-ronta
apabila ia menjadi kecewa. Nah, itulah kata hati yang
sejujur-jujurnya. Anak-anak berkata berterus terang. Ia tertawa
kalau ia sedang bergembira, dan ia menangis kalau ia sedang sakit,
kecewa, marah dan perasaan lain yang tidak menyenangkan" Orang tua
itu mengerutkan keningnya. "Orang-orang yang lebih besar dan apalagi
dewasa, dapat menyembunyikan perasaannya. Mereka dapat berpura-pura.
Bahkan kadang-kadang demikian cakapnya seseorang berpura-pura
sehingga kita tidak dapat mengerti, perasaan yang sebenarnya
tersembunyi di dalam hatinya. Nah, apakah katamu seandainya orang
tua itu menerima lamaran kakang Demang? Apakah, ia bersikap jujur?"
Orang tua itu tidak menjawab. "Orang tua itu sudah berkata
sebenarnya. Kita harus menghargai sikapnya " "Tetapi kaupun sudah
berpura-pura pula" sahut orang tua itu "kau tahu pasti bahwa Ki
Demang memang menghendaki Sindangsari. Sindangsari harus menjadi
isterinya. Kenapa kau tidak berkata begitu?" "Aku tidak berpura-pura
sekarang. Keberangkatanku inilah yang berpura-pura" Orang tua itu
menjadi bingung. "Kalau kau ingin mendengar penjelasannya, baiklah.
Aku memang t idak senang melihat kakang Demang kawin lagi dengan
gadis kecil itu. Dan aku sudah tidak jujur terhadap diriku sendiri
karena aku bersedia melamarnya. Tetapi aku tidak sampai hati untuk
memaksakan kehendak kakang Demang itu. Kau tahu, betapa parah hati
Sindangsari" Orang tua itu tiba-tiba menggeleng "Belum tentu"
bantahnya "aku sudah melihat lebih dari sepuluh orang gadis yang
harus kawin sesuai dengan pilihan orang tuanya. Mereka dapat hidup
tenteram, salah seorang dari mereka adalah isteriku sendiri.
Isteriku belum pernah melihat aku sebelumnya. Apalagi berkenalan"
"Tetapi bakal isterimu tahu. bahwa kau adalah seorang jejaka. Kau
seorang yang baik hati, yang rajin bekerja dan pandai menyesuaikan
diri dengan lingkungan-lingkungan baru" Orang tua itu mengerutkan
keningnya. Lalu "Ya, aku memang orang yang baik hati yang rajin
bekerja dan pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan
baru. Isteriku lambat laun mencintaiku juga" "Itulah bedanya "
"Tetapi" tiba-tiba ia sadar akan dirinya "aku juga pernah melihat
nah, kau pasti juga kenal, Kerta Bungkik. Ia sudah pernah kawin tiga
kali. Umurnya waktu itu lebih tua dari Ki Demang sekarang. Dan ia
kawin dengan seorang gadis kecil. Meskipun mula-mula gadis itu
menangis meronta-ronta, kau tahu, berapa anaknya sekarang?" Ki
Reksatani menarik nafas dalam-dalam. "Anaknya dua-belas" sambung
orang tua itu "ya dua-belas. Kalau ia tidak keguguran dua kali, maka
anaknya pasti menjadi ampat belas" Ki Reksatani tidak menjawab.
"Kemudian, aku dapat membuktikan bahwa perempuan yang menjadi
isterinya itu telah benar-benar jatuh cinta kepadanya meskipun
lambat laun. "Apa buktinya?" bertanya Reksatani. "Ketika Kerta
Bungkik itu kawin lagi dengan janda di sebelah rumahnya, isterinya
menangis tiga hari tiga malam. Bukankah itu suatu bukti bahwa ia
tidak mau kehilangan orang bungkik yang mengambil selagi ia masih
gadis walaupun bungkik itu sudah pernah kawin tiga kali?" "O" Ki
Raksatani berdesah. Katanya "pikiranmu memang sudah terbalik. Sudah
tentu perempuan itu menangis. Sama sekali bukan ia tergila-gila pada
suaminya yang bungkik itu. Tetapi ia merasa sakit hati. Ia sudah
dipaksa untuk menjadi isterinya, dan akhirnya ia harus mengalami
masa yang pahit. Hidup dimadu adalah hidup yang paling tidak
menyenangkan bagi perempuan" "Itupun tidak benar. Kalau demikian,
maka janda di sebelah rumah Bungkik itu tidak akan mau menjadi
isterinya, karena ia tahu pasti bahwa Bungkik sudah mempunyai
seorang isteri yang cantik meskipun anaknya sudah dua-belas" Ki
Reksatani menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak akan dapat
menjelaskan seluruh masalahnya dalam waktu singkat. Tetapi dengan
demikian ia mempunyai gambarangambaran yang jelas, bagaimana cara
orang tua-tuta itu menilai sebuah perkawinan. Dalam pada itu, mereka
yang ditinggalkan oleh utusan Ki Demang itupun menjadi sangat
gelisah. Apalagi Sindangsari sendiri. Ia tidak dapat lagi menahan
air matanya yang menitik satu-satu di pangkuannya. Kakeknyapun duduk
tepekur di amben yang besar itu sambil merenungi barang-barang yang
sama sekali belum disentuhnya, kecuali makanan yang kemudian
disuguhkannya kembali kepada utusan itu. "Apakah mereka akan memaksa
kek" bertanya Sindangsari. "Kakeknya tidak menyahut. Meskipun
tampaknya Ki Reksatani mencoba untuk mengerti alasannya, namun
menurut pembicaraan kawan-kawannya maka sama sekali tidak akan ada
harapan lagi bagi Sindangsari untuk mengelakkan dirinya. "Bagaimana
kek" desak Sindangsari. "Aku tidak dapat mengatakannya sekarang
Sari. Tetapi aku sudah mencoba untuk menjelaskan, bagaimana
keadaanmu sekarang. Kalau Ki Demang dapat mengerti keadaanmu, maka
mudah-mudahan ia akan memberi kesempatan. Tetapi semuanya masih
gelap bagiku" Titik air mata Sindangsari masih menetes di
pangkuannya. Ibunya yang duduk di sampingnya hanya mampu menundukkan
kepalanya sambil menahan diri, untuk tidak ikut menangis pula agar
ia tidak membuat anaknya menjadi semakin berkecil hati. Neneknya
sama sekali terdiam. Ia merenungi keadaan itu dengan saksama.
Perempuan tua itu mencoba menimbangTiraikasih Website http://kangzusi.com/ nimbang, apakah
salahnya kalau lamaran ini diterima. Bukankah akan jauh lebih baik,
bersuami seorang Demang daripada bersuamikan Pamot, seorang petani
yang sederhana saja. Tetapi perempuan itu tidak berani
mengucapkannya. Ia sadar, bahwa suaminya agaknya mempunyai
pertimbangan lain. Karena itu ia akan patuh saja kepada suaminya
seperti demikianlah yang diperbuatnya selama ia menjadi isterinya.
Jarang sekali ia mempunyai pendirian dan sikap yang dipertahankannya
di hadapan suaminya, karena orang tua selalu menasehatinya selagi ia
masih gadis "Laki-laki adalah tempatmu bertumpu. Sedih gembira,
sorga neraka, kau harus ikut bersamanya. Apapun yang akan terjadi,
ia adalah tempat kau menompangkan dirimu" "Sari" terdengar kemudian
suara kakeknya "sudahlah. Tidurlah. Jangan kau risaukan lagi masalah
ini. Masalah ini tentu akan berkembang sesuai dengan apa yang harus
terjadi. Kita memang wajib berusaha. Tetapi pada suatu saat kita
akan melihat kenyataan. Apakah kenyataan itu akan sesuai dengan
keinginan kita atau tidak, itu adalah di luar jangkauan" kakeknya
berhenti sejenak, lalu "tetapi adalah kurang bijaksana, bahwa kita
akan selalu dicengkam oleh kecemasan dan ketakutan. Pada suatu saat
kita memang harus berani menghadapi kenyataan itu betapapun
pahitnya. Dengan demikian kita tidak akan ditinggalkan oleh nalar"
Sindangsari masih menitikkan air mata. Ia kini sadar, bahwa
kakeknyapun menganggap, terlampau sulit untuk menghindarkan dirinya
dari Ki Demang yang telah lima kali kawin itu. "Tidurlah"
Sindangsari tidak menyahut. Tetapi iapun kemudian bangkit dan
melangkah ke biliknya. Demikianlah ia meletakkan dirinya di
pembaringannya, maka iapun segera menelungkup sambil mencurahkan air
matanya, seakan-akan banjir yang tertahan-tahan, pecah menghambur
tanpa dapat ditahan-tahan lagi. Di ruang dalam, kakeknya, neneknya
dan ibunya masih duduk sambil merenungi keadaan. Sekali-sekali
mereka memandangi barang-barang yang masih berada di tempat
masing-masing. Mereka seakan-akan sama sekali tidak menyentuhnya
sama sekali. "Ayah" terdengar suara ibu Sindangsari lirih
"bagaimanakah sebenarnya pertimbangan ayah?" "Aku kasihan kepada
anakmu" jawab ayahnya "tetapi kita semua tahu, tidak ada kekuasaan
yang dapat membatasi kekuasaan Ki Demang disini" "Ayah" berkata Nyai
Wiratapa "bagaimana kalau anak itu aku bawa saja ke kota?" "He"
ayahnya terkejut "lalu, kau akan tinggal dimana?" Nyai Wiratapa
terdiam. Terbayang masa-masa hidupnya sebagai seorang isteri
prajurit yang meskipun tidak kaya, tetapi kecukupan. Tetapi suaminya
kini sudah tidak ada lagi. Dan ia sudah memilih kampung halamannya
ini menjadi tempat tinggal. Sinuhun Sultan Agung sudah berkenan
memberikan sebidang tanah di dekat kampung halamannya sebagai
tongkat hidupnya sepeninggal suaminya. "Hidupmu akan menjadi
bertambah sulit" Nyai Wiratapa tidak menjawab. Namun seakan-akan
terkenang kembali apa yang pernah dialaminya sebelum ia pulang ke
kampung halaman. Seorang laki-laki pernah datang kepadanya dan
berkata dengan hati terbuka "Nyai Wiratapa, kita masing-masing sudah
ditinggalkan oleh sisihan kita. Isteriku sudah meninggal, dan kini
suamimu meninggal. Apakah kita tidak dapat hidup bersama-sama?"
Belum lagi ia mengambil keputusan, Sindangsari yang mendengar
persoalan itu menangis tanpa dapat ditenangkannya, sebelum ia
berjanji bahwa ia tidak akan menerima lamaran itu. Sebagai
orang-orang yang cukup dewasa maka laki-laki itupun dapat mengerti
keadaannya, dan iapun mengurungkan niatnya. Namun kini tiba-tiba
terkilas di dalam angan-angannya "Bagaimana kalau aku berbicara
kepada Sindangsari tentang hal itu supaya ia dapat pergi ke kota?"
Nyai Wiratapa memejamkan matanya. Ia tidak lagi memikirkan dirinya
sendiri, apakah ia mencintai laki-laki itu atau tidak. Yang penting
baginya adalah meninggalkan padukuhan Gemulung ini. Namun dengan
demikian Sindangsari akan terhindar dari kepedihan yang satu dan
akan jatuh ke dalam keadaan yang serupa pula, karena gadis itu tidak
dapat melihat perkawinan ayah dan ibunya ternoda, meskipun ayahnya
sudah meninggal. Air mata Nyai Wiratapapun menitik pula. "Sudahlah"
desis ayahnya "kau jangan menambah anakmu menjadi semakin bingung"
Nyai Wiratapa mengusap air matanya. Tetapi ia sama sekali tidak
mengatakan kepada ayahnya, apa yang sedang berkecamuk di dalamhati.
"Sebaiknya kau jangan berpikir kemungkinan untuk tinggal di kota"
berkata kakeknya "belum tentu kau dan anakmu akan dapat hidup
tenteram karena kau berdua adalah perempuan yang hidup sendiri.
Apakah kata orang-orang di sekitarmu tentang kau berdua" "Tetapi"
tiba-tiba Nyai Wiratapa berdesis "bagaimana dengan Sindangsari ayah.
Apakah aku akan sampai hati membiarkan anak itu terperosok ke dalam
kehidupan yang sama sekali tidak diingininya" "Aku juga berpikir
demikian. Namun kemampuan kita benar-benar terbatas" ayahnya
berhenti sejenak, lalu "beristirahatlah" "Jangan terlampau kau
pikirkan" berkata ibunya "kita masih belum tahu, apakah benar
Sindangsari tidak akan menemui kebahagiaan apabila ia menjadi isteri
Demang itu? Memang ia pernah kawin lima kali, tetapi isterinya yang
terdahulu sama sekali tidak pantas untuk menjadi seorang isteri
Demang yang baik. Apalagi mereka tidak mempunyai anak sama sekali.
Sedang Sindangsari mempunyai beberapa kelebihan dari gadis-gadis
padukuhan ini. Barangkali ia akan dapat memenuhi keinginan Ki Demang
dan tidak akan mengalami nasib seperti kelima isterinya yang
terdahulu" Nyai Wiratapa tidak menyahut. Itu adalah pemupus yang
paling dalam, apabila mereka memang sudah tidak berpengharapan untuk
menghindar. "Tidurlah" berkata ayahnya kemudian. Nyai Wiratapapun
kemudian berdiri dengan ragu-ragu. Namun ia tidak segera pergi ke
biliknya. Dijenguknya anaknya yang masih menangis di pembaringannya.
Meskipun seakan-akan Nyai Wiratapa tidak dapat lagi menahan
perasaannya, namun ia berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk tidak
menangis. Disentuhnya bahu anaknya sambil berbisik "Sudahlah Sari.
Tidurlah. Kakekmu akan berusaha terus, menghindarkan kau dari
kesulitan ini" Sindangsari sama sekali tidak menjawab. Isaknya masih
tetap menyesakkan dadanya. "Tidurlah sayang" bisik ibunya di
telinganya. Kemudian ditinggalkannya anaknya itu dengan hati yang
berat. Dalam pada itu, Ki Reksatani beserta rombongan kecilnya,
tidak segera pulang ke rumah masing-masing. Tetapi mereka langsung
pergi ke Kademangan untuk melaporkan hasil kunjungan mereka ke rumah
gadis yang bernama Sindangsari itu. Dengan tergopoh-gopoh Ki Demang
mempersilah-kan mereka masuk. Tanpa membenahi pakaiannya yang kusut,
ia segera menemui orang-orang yang baru pulang dari melamar itu.
"Bagaimana Reksatani? Kau tidak parnah gagal sebelumnya" berkata Ki
Demang. Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam
hati "Sudah tentu tidak akan pernah gagal, karena kekuasaan kakang
Demang "tetapi ia tidak mengucapkannya. Yang dikatakannya adalah
"Kami sudah melakukan tugas kami sebaik-baiknya kakang" "Bagus,
bagus" sahut Ki Demang "apakah kakek gadis itu sudah menentukan hari
dan tanggal perkawinan kami" Ki Reksatani mengerutkan keningnya.
Katanya "Aku belum sampai begitu jauh. Aku baru menyampaikan lamaran
kakang Demang untuk cucunya yang bernama Sindangsari" "Ya, ya. Itu
tidak perlu kau ulangi. Aku sudah tahu" "Tidak, Barangkali kakang
salah tebak" Ki Demang terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Ki
Reksatani dengan tajamnya. "Maksudmu?" ia bertanya. "Sebaiknya aku
menceriterakannya dari permulaan sekali, supaya kakang Demang tidak
salah paham karenanya" jawab Ki Reksatani. "Aku tidak telaten. Apa
yang sudah aku ketahui tidak usah kau ulangi. "Jangan tergesa-gesa.
Kali ini hasil rombongan kami agak berbeda dengan yang pernah kami
lakukan sebelumnya" "He" Ki Demang menjadi tegang. Ki Reksatani
bergeser setapak maju. Kemudian dengan hati-hati diceriterakannya
hasil pembicaraannya dengan kakek Sindangsari, tentang orang tua
Pamot dan tentang sikap Sindangsari sendiri menurut pendengarannya.
"Mereka agaknya sudah benar-benar saling mencintai, kakang. Apakah
kita akan sampai hati memisahkannya?" Wajah Ki Demang menjadi merah
padam. Dengan tangan gemetar ia menunjuk wajah Ki Reksatani
"Reksatani, kenapa kau berbuat begitu bodoh. Kau bukan anak-anak
lagi. Kau harus tahu menempatkan dirimu. Sudah aku katakan selagi
gadis itu masih berhubungan dengan Pamot atau Manguri, maka pasti
masih akan timbul persoalan diantara mereka. Satu-satunya jalan
adalah memisahkan keduanya. Dan aku sudah menempuh jalan ini.
Apalagi aku memang memerlukan seorang isteri" Ki Reksatani tidak
menyahut. Bahkan kepalanyapun kemudian ditundukkannya dalam-dalam.
Dan Ki Demangpun masih melanjutkannya "Reksatani, kalau aku tidak
tahu, bahwa kau terlampau setia kepada isterimu, aku pasti menuduh
bahwa kau sendirilah yang akan mengambil anak itu menjadi isterimu
kedua. Atau kalau kau mempunyai anak seorang jejaka mungkin gadis
itu akan kau ambil menjadi menantumu" Ki Reksatani masih tetap
berdiamdiri. "Apakah kau sengaja menggagalkan perkawinanku, karena
sejak semual agaknya kau sudah tidak setuju? Begitu?" Ki Reksatanai
menggelengkan kepalanya "Tidak kakang. Sama sekali bukan begitu"
"Lalu apa maksudmu sebenarnya?" "Aku sendiri tidak mempunyai maksud
apa-apa kakang. Aku hanya menyampaikan pesan kakek Sindangsari
barangkali ada belas kasihan kakang Demang untuk memikirkannya
sekali lagi tentang kemungkinan yang lain" "Tidak. Aku tidak akan
berpikir lagi. Aku sudah berkeputusan bahwa gadis itu harus menjadi
isteriku" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. "Aku sudah
memutuskannya. Tidak seorangpun dapat merubahnya lagi. Aku
memerlukan gadis itu" Ki Reksatani t idak menyahut. Ketika ia
memandang wajahwajah di sekitarnya, terasa bahwa merekapun telah
menyalahkannya pula. "Reksatani" berkata Ki Demang "besok kau
kembali ke rumah gadis itu. Katakan, bahwa aku sudah berketetapan
hati untuk mengambilnya. Aku mempersilahkan keluarga Sindangsari
untuk menentukan hari perkawinan itu. Tetapi tidak terlampau lama"
Reksatani tidak dapat menghindarkan dirinya lagi. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata "Baiklah kakang. Kalau
kakang memang tidak bersedia meninjau keputusan itu lagi, apaboieh
buat" "Cukup. Jangan kau singgung-singgung lagi keputusanku itu" Ki
Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sekarang, kalian boleh
pulang. Besok kalian akan berangkat seperti waktu kalian berangkat
tadi dari rumah ini pula. Kalian besok tidak perlu membawa apapun
lagi, sehingga karena itu, tidak perlu kalian pergi bersama-sama
sebanyak ini" Ki Reksatani dan kawan-kawannya mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Kalian dapat pergi tidak lebih dari tiga orang saja,
supaya kedatangan kalian tidak membuat keluarga yang kalian datangi
terlampau sibuk" "Baiklah kakang" jawab Rekstani "besok sore aku
akan datang kemari" "Baik. Tetapi kalian jangan membuat kebodohan
sekali lagi" "Baiklah kakang. Sekarang aku minta diri" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun ia masih bersungut-sungut.
Bahkan ia bergumam "Kalian sudah bukan anak kecil lagi. Seharusnya
kalian tidak usah mengulangi tugas ini" Sekali lagi wajah-wajah yang
hadir itu memandangi Ki Reksatani tetapi tidak seorangpun yang
mengatakan sesuatu. Sejenak kemudian, maka merekapun telah
meninggalkan rumah Kademangan pulang ke rumah masing-masing. Di
sepanjang jalan mereka membicarakan apa yang baru saja terjadi itu.
Ketika mereka sudah berpisah dengan Ki Reksatani, maka hampir setiap
orang menganggapnya telah bersalah. "Ia tidak bersikap tegas"
berkata salah seorang dari mereka. "Ya, tidak seperti biasanya. Ki
Reksatani tampak ragu-ragu" sahut yang lain. Dan yang lain lagi
berkata "Agaknya ia menaruh belas kepada kedua anak-anak muda itu"
"Ah, ia bukan orang yang cengeng" "Memang bukan, tetapi seperti yang
dikatakannya, ia dapat mengerti perasaan gadis itu. Apalagi ia juga
mempunyai seorang anak perempuan" Kawan-kawannya tidak menyahut.
Tetapi itu hanya sekedar untuk menghindari kemungkinan mereka saling
berbantah. Namun di dalam hati, sebagian terbesar dari mereka,
menganggap bahwa Ki Reksatani menjadi bimbang untuk bersikap tegas.
"Tetapi besok tidak boleh ada keragu-raguan lagi" berkata
orang-orang itu di dalam hati mereka. Ki Reksatani yang kemudian
berjalan seorang diri, mengeluh beberapa kali. Katanya "Kenapa aku
harus memaksa gadis itu untuk menjadi isteri kakang Demang" Pikiran
Ki Reksatani menjadi kusut. Ketika teringat katakata kakaknya, bahwa
seandainya ia tidak terlampau setia kepada isterinya, ia akan
dituduh mempunyai niat sendiri terhadap gadis itu. Ki Reksatani
tersenyumsendiri. "Gila" desisnya. Tetapi, ketika tumbuh pertanyaan
di dalam hatinya "Apakah benar aku terlampau setia kepada isteriku?"
Ki Reksatani menelan ludahnya. Sekali melintas di kepalanya seorang
perempuan yang selalu didatanginya di saat-saat ia kesepian di rumah
oleh beberapa macam sebab. Meskipun perempuan itu bukan seorang
gadis, bahkan bukan seorang perempuan muda, namun ia seakan-akan
sudah tidak akan dapat melepaskan diri lagi daripadanya, betapapun
keadaannya. "Tetapi aku tidak akan merusak keluargaku sendiri"
katanya. Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
tiba-tiba ia tertegun ketika ia menyadari keadaannya. Bahkan
kemudian ia mengedarkan pandangan matanya kesekelilingnya.
Kalau-kalau ada seseorang yang melihatnya. Ketika ia mengetuk pintu
rumahnya, maka dengan tergesagesa isterinya membuka pintu. Sebelum
Ki Reksatani sempat duduk di amben dalam sesudah menutup dan
menyelarak pintunya kembali, isterinya sudah bertanya "Bagaimana
hasilnya kakang?" Ki Reksatani mengangkat pundaknya sambil berdesah-
Akulah yang bernasib jelek" "Kenapa?" "Kakang Demang marah-marah
kepadaku" "Kenapa?" Ki Reksatani tidak segera menjawab.
Perlahan-lahan ia duduk di amben sambil mengipasi tubuhnya dengan
ujung kainnya. "Panasnya bukan main" desisnya "aku haus"
Isterinyapun kemudian dengan tergesa-gesa mengambil semangkuk air
dingin. "Apakah kakang ingin minum panas? Kalau kakang menghendaki,
aku akan merebusnya sebentar" "Tidak, Aku hanya haus saja" sahut Ki
Reksatani. Isterinyapun kemudian duduk di sampingnya sambil bertanya
"Kenapa kakang Demang marah" Setelah meletakkan mangkuknya, maka Ki
Reksatanipun menceriterakan pembicaraannya dengan kakek Sindangsari.
Ki Reksatani menggigit bibirnya. Tetapi ia melihat sesuatu yang aneh
di mata isterinya. Setelah meneguk air dari mangkuknya sekali lagi
Ki Reksatani meneruskan "Karena aku tidak mengambil keputusan saat
itu, maka kakang Demang menjadi sangat marah. Meskipun tidak
langsung, aku telah dituduh bsrusaha untuk menggagalkan perkawinan
ini" Isterinya mengangguk-angguk sambil berkata "Memang kasihan
anak-anak itu. Di usia mereka, maka khayalan cinta itu pasti
membubung setinggi langit Jangankan anak-anak muda, sedang
orang-orang tuapun yang sedang dibius oleh kemesraan cinta tidak ada
sesuatu yang akan dapat menghalangi" Ki Reksatani mengerutkan
keningnya "Maksudmu?" Isterinya menggeleng "Aku t idak bermaksud
apa-apa. Aku hanya mengatakan, bahwa orang-orang tuapun dapat
menjadi gila karena cinta itu. Misalnya, kakang Demang" "Sebenarnya
gadis itu memang kasihan" berkata isterinya "tetapi apaboleh buat.
Kakang Reksatani tidak akan dapat berbuat lain daripada melakukan
tugas yang diberikan oleh kakang Demang" Ki Reksatani tiba-tiba
telah merenung dalam-dalam. Keningnya menjadi berkerut-kerut. Sedang
kedua alisnya seakan-akan bertumpu menjadi satu. "Sebenarnya aku
memang berkeberatan atas perkawinan itu" "Aku tahu kakang. Tetapi
apaboleh buat. Kita tidak akan dapat membela kedua anak-anak muda
itu. Hal itu pasti akan melampaui kemampuan yang ada pada kita" Ki
Reksatani tidak menyahut. "Betapa kita menaruh belas kasihan, tetapi
sudah tentu kita tidak akan dapat melawan perintah kakang Demang,
karena kitapun harus menaruh belas kasihan kepada diri kita sendiri
pula" "Aku tahu maksudmu. Tetapi kita berkepentingan, bahwa
perkawinan itu batal" "Apakah kepentingan kita? Tidak. Kita tidak
mempunyai kepentingan langsung, selain perasaan keadilan kita
tersinggung. Apakah kita cukup mempunyai keberanian dan kekuatan
untuk memperjuangkan keadilan ini sekarang, selagi kakang Demang ada
di dalampuncak kekuasaannya" Ki Reksatani tidak segera menjawab. Ia
memang t idak dapat menyangkal kata-kata isterinya itu. Memang
sulitlah baginya untuk melawan keinginan Ki Demang Kepandak yang
agaknya memang sudah bertekad untuk kawin dengan Sindangsari. Tetapi
untuk membiarkan perkawinan itupun ia sebenarnya sangat
berkeberatan, sehingga dengan demikian terasa benturan-benturan yang
keras telah tarjadi di dadanya. "Kakang" berkata isterinya kemudian
"aku kira, sebaiknya kita tidak usah memikirkannya terlampau
panjang. Lakukankah perintah kakang Demang itu. Bukankah kakang
hanya sekedar menyampaikan pesan kakang Demang" "Tidak. Bukan
sekedar menyampaikan pesan" "Lalu?" "Aku sangat berkeberatan atas
perkawinan ini" "Kita tidak dapat memberatkan Sindangsari dari
kepentingan kita sendiri. Kalau kakang Demang marah kepada kita,
maka akibatnya pasti akan sangat tidak menyenangkan bagi kita" Ki
Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tampak betapa hatinya
sedang kisruh. "Apakah kakang sudah makan?" bertanya isterinya. Ki
Reksatani menggelengkan kepalanya "Belum" jawabnya "aku tidak
disuguh makan, dan kakang Demang yang marah itupun tidak menyuruhku
makan seperti biasanya" "Kalau begitu, biarlah aku sediakan makan
meskipun sudah dingin" "Tidak usah" jawab Reksatani "aku tidak
lapar" "Tetapi bukankah kakang belum makan" "Tidak ada nafsuku untuk
makan" "Kakang agaknya terlampau memikirkan gadis itu?" "He" Ki
Reksatani terkejut "maksudmu?" "Maksudku" isterinya segera
menjelaskan "kakang terlampau berbelas kasihan kepadanya, sehingga
mempengaruhi perasaan kakang" "Nyai" tiba-tiba suara Ki Reksatani
memberat "sebenarnya aku ragu-ragu untuk mengatakan pertimbanganku
yang sebenarnya, kenapa aku menjadi sangat berkeberatan atas
perkawinan itu" "Sudahlah kakang" "Nanti dulu. Kau belum tahu jalan
pikiranku" sahut Ki Reksatani "kalau kau masih belum terlampau lelah
dan kantuk, dengarlah" Isterinya menjadi berheran-heran. Bahkan
isterinya menjadi berdebar-debar karena Ki Reksatani masih belum
mengatakan sesuatu selain duduk tepekur sambil membelai ukiran
kerisnya. Nyai Reksatani yang kemudian duduk di sampingnya
membiarkannya mengangguk-anggukkan kecil tanpa sepatah
pertanyaanpun. Baru sejenak kemudian Ki Reksatani berkata "Nyai,
sebenarnya keberatanku itupun bertolak dari kepentingan kita
sendiri" Nyai reksatani menjadi heran, Dipandanginya saja wajah
suaminya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri. "Nyai, sebenarnya kita
memang tidak berkepentingan sama sekali dengan gadis yang bernama
Sindangsari atau gadis yang manapun juga. Dan akupun akan tetap
berkeberatan, seandainya kakang Demang akan mengawini gadis yang
lain, yang meskipun belum berhubungan pembicaraan dengan seroang
laki-laki, atau bahkan gadis yang tergila-gila kepada kakang Demang
sekalipun ditambah dengan perksetujuan orang tuanya. Nyai Reksatani
menjadi semakin heranmeskipun ia masih tetap terdiam, karena ia
menunggu suaminya selesai berceritera. "Yang penting bagiku, kakang
Demang tidak boleh kawin lagi. Apalagi dengan gadis-gadis muda"
Tanpa sesadarnya isterinya bertanya "Kenapa? "Aku sama sekali tidak
mempertimbangkan kepentingan Sindangsari kali ini. Tetapi
kepentingan kita" "Apakah hubungannya?" "Nyai" Ki Reksatani menelan
ludahnya "Aku sama sekali tidak ingin melihat kakang Demang
beristeri muda. Karena itu akan membahayakan hari depan kita. Kalau
isterinya itu kemudian melahirkan seorang anak, maka hilanglah semua
harapanku" Nyai Reksatani kini benar-benar tidak mengerti sama
sekali apa yang dikatakan oleh suaminya. Dengan tatapan mata yang
kosong ia merenungi wajah suaminya yang tegang. "Kalau kakang Demang
beristeri muda, maka kemungkinan itu menjadi bertambah besar. Kalau
kemudian isterinya itu benar-benar melahirkan seorang anak, maka
anak itu akan menyambung kedudukan yang akan ditinggalkannya apabila
ia meninggal" Isterinya mengangkat wajahnya mendengar penjelasan
itu. Dan sebelum ia menyahut, suaminya sudah meneruskannya "Aku
tidak tahu apakah kau setuju atau tidak. Tetapi aku sudah memikirkan
hari depan kita yang agak jauh. Hari depan anak-anak kita" "Aku
tidak jelas kakang" "Nyai" suaranya menjadi semakin dalam kalau
kakang Demang mempunyai anak, maka apabila kakang Demang kelak
meninggal, anaknya itulah yang akan menggantikannya menjadi Demang.
Kalau ia laki-laki, ia akan langsung menjabat kedudukan itu. Kalau
anak itu perempuan tanpa saudara lakilaki, maka suaminyalah yang
akan menjadi seorang Demang" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya.
Kini ia mulai berpikir. "Tetapi, kalau kakang Demang tidak mempunyai
seorang anak" berkata Ki Reksatani seterusnya "maka tidak akan ada
seorangpun keturunannya yang akan menggantikan kedudukannya."
Tiba-tiba isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebelum suaminya
melanjutkan, ia sudah mendahului "Jadi, maksud kakang, kalau kakang
Demang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai keturunan yang akan
meneruskan kedudukannya, maka kedudukan itu akan bergeser kepada
satu-satunya saudaranya" Ki Reksatani mengangguk "Ya" "Dan
satu-satunya saudara kakang Demang adalah kakang sendiri" "Ya"
Isterinya menarik nafas panjang. Panjang sekali. Namun dengan
demikian ia menjadi terdiam karenanya. Keduanyapun sejenak saling
berdiam diri. Dihanyutkan oleh arus perasaan masing-masing.
Tiba-tiba Nyai Reksatani itupun berdesah sambil berkata "Tetapi
apakah cara itu dapat dibenarkan kakang?" "Apakah salahnya? Aku
tidak berbuat apa-apa. Bukan salahku kalau kakang Demang t idak
mempunyai anak" "Tetapi kakang telah merintangi perkawinan itu"
"Perkawinan yang tidak seimbang" "Tetapi bukankah bukan keseimbangan
itu yang menjadi masalah yang sebenarnya?" Ki Reksatani mengerutkan
keningnya. Kemudian ia menganggukkan kepalanya "Ya" Isterinyapun
kemudian merenung sejenak. Lalu katanya "Tetapi kakang, apakah
kakang masih menyangka bahwa kakang Demang akan dapat mempunyai
keturunan?" "Kenapa tidak?" "Sudah beberapa kali ia kawin. Isterinya
tidak seroangpun yang pernah mempunyai anak. Bahkan salah seorang
dari mereka mengandungpun tidak. Apakah itu bukan pertanda bahwa
kakang Demang tidak akan mempunyai anak. Meskipun ia akan kawin
sepuluh kali lagi?" "Belum tentu" "Memang belum tentu. Tetapi kita
dapat memperkirakannya" "Ki Reksatani terdiam sejenak. Agaknya ia
sedang membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. "Kakang" berkata
isterinya kemudian "kita tidak usah menjadi gelisah. Kita biarkan
saja mereka kawin. Aku mempunyai dugaan bahwa isterinya itupun tidak
akan mempunyai keturunan" "Tetapi kalau perhitungan itu salah" "Apa
boleh buat" "Tetapi akan lebih baik kalau perkawinan itu batal"
"Mungkin kakang berhasil membatalkan perkawinan yang sekarang.
Tetapi kakang Demang akan segera mencari bakal isterinya yang lain.
Tentu berulang kali sampai ia berhasil" Ki Reksatani
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti jalan pikiran
isterinya. Memang terlampau sulit baginya untuk mencegah sama sekali
agar Ki Demang di Kepandak itu tidak akan kawin lagi. "Ya" katanya
kemudian "aku memang tidak akan mungkin menentang niat kakang Demang
"Aku sependapat dengan kau. Kita akan menunggu dan melihat, apakah
yang akan terjadi kemudian. Kalau gadis itu memang benar-benar
mendapat tanda-tanda akan mempunyai keturunan, aku akan berbuat
sesuatu, meskipun caranya akan menjadi lebih buruk dari mencegah
perkawinan itu" Isterinya tidak menjawab. Tetapi ia mengerti maksud
suaminya, bahwa apabila ada tanda-tanda isteri baru Ki Demang itu
akan mempunyai keturunan, usahanya akan menjadi lebih sulit lagi.
Namun Nyai Reksatani itu benar yakin bahwa Ki Demang Kepandak itu
tidak akan dapat mempunyai anak barang seorangpun. Kalau
perempuan-perempuan yang pernah diperisterikan itu mandul, sudah
tentu t idak kelima kalinya. "Setiap kemandulan pasti selalu
dipersalahkan kepada pihak perempuan" berkata Nyai Reksatani di
dalam hatinya "tetapi itu pasti hanya sekedar alasan, agar laki-laki
dapat kawin lagi tanpa banyak rintangan" meskipun demikian ia tidak
berani mengatakannya kepada suaminya. Demikianlah maka Ki Reksatani
tidak dapat lagi bersikap lain. Ia memang tidak mempunyai jalan
untuk menggagalkan perkawinan itu. Karena itu, maka mau tidak mau ia
harus melihat, kakaknya kawin sekali lagi. Kali ini yang akan
dijadikan isterinya adalah seorang gadis yang bernama Sindangsari.
Dihari berikutnya, ketika senja mulai turun, Ki Raksatani sudah
berada di rumah kakaknya lagi. Ia harus pergi sekali lagi ke rumah
kakek Sindangsari untuk memberikan ketegasan kepada kakek gadis itu,
bahwa t idak ada persoalan yang dapat menghalangi niat Ki Demang,
mengambil gadis itu untuk dijadikan isterinya. Ki Reksatani malam
itupun terpaksa berangkat sekali lagi. Tetapi kini mereka hanya
bertiga, dan kini mereka menyambung langkah mereka dengan duduk di
atas punggung kuda. Kakek Sindangsari sebenarnya sudah tidak
terkejut menerima kedatangan mereka. Ia sudah menyangka, bahwa
utusan Ki Demang itu akan segera kembali dan melamar cucunya dengan
nada yang lain. Nada seorang yang berkuasa tanpa batas di atas Tanah
Kepandak. "Aku hanya sekedar menyampaikan pesan kakang Demang"
berkata Ki Reksatani "semuanya itu sama sekali bukan maksudku
sendiri" Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
"Ya, aku mengerti. Sudah tentu semuanya ini bukan maksud Ki
Reksatani sendiri" "Demikianlah" jawab Ki Reksatani "lalu,
bagaimanakah jawaban yang harus aku sampaikan kepada Kakang Demang"
"Apakah aku masih harus menjawab?" desis kakek Sindangsari "kali ini
Ki Demang bukan melamar cucuku. Tetapi Ki Demang sudah merampasnya.
Lalu, apakah aku masih harus menjawab?" Ki Reksatani mengerutkan
keningnya. Tetapi ia masih sepapat tersenyum "Bukan maksudnya.
Tetapi kalau terasa demikian, aku kira, memang sulit lah untuk
dibedakan" "Nah" berkata kakek Sindangsari "aku tidak perlu
menjawab. Tetapi aku mengharap, bahwa pada suatu saat hati Ki Demang
itu terbuka, bahwa cucuku sama sekali tidak merasa berbahagia dengan
perampasan ini. Seluruh keluarga yang kecil dan sederhana ini merasa
kehilangan karenanya" "Tidak. Sindangsari tidak akan hilang. Ia akan
tinggal dikademangan Setiap saat kalian dapat mengunjunginya dan
Sindangsari dapat berkunjung ke rumah ini" "Memang, Sindangsari
tidak akan hilang. Dan kamipun tidak akan merasa kehilangan gadis
itu" Ki Reksatani menjadi heran. Karena itu ia bertanya "Tetapi
bukankah keluarga ini merasa kehilangan karena perkawinan itu"
"Tetapi bukan Sindangsarilah yang hilang" jawab kakeknya. "Lalu,
apakah yang hilang itu?" "Kebebasan anak itu. Kebebasan kami
menentukan nasib salah seorang anggauta keluarga kami" Ki Reksatani
menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah laki-laki tua itu
sejenak. Namun kemudian kepalanya segera terangguk-angguk. "Aku
dapat mengerti" "Karena itu, di dalam keadaan yang demikian, maka
aku tidak akan memberikan jawaban apapun" "Baiklah" jawab Ki
Reksatani "Aku akan segera minta diri. Aku akan menyampaikannya
kepada Ki Demang, apa yang sudah kami lakukan disini dan tanggapan
yang kami dapatkan" "Silahkan" Ki Reksatanipun segera minta diri.
Diperjalanan terasa jantungnya menjadi berdebar-debar? Sebenarnyalah
bahwa ia tidak lagi memikirkan nasib gadis itu. Tetapi kini yang
selalu melintas diangan-angannya adalah hari depannya sendiri. Hari
depan anak-anaknya. Kalau Ki Demang di Kepandak itu untuk seterusnya
tidak mempunyai keturunan, maka orang yang paling berhak atas
kedudukan itu adalah dirinya sendiri. Kemudian kedudukan itu akan
temurun kepada anak laki-lakinya. Tetapi kalau dari perkawinan ini
akan lahir seorang anak, maka cita-citanya itu akan pecah seperti
asap dihembus angin yang kencang. Selama ini ia sudah berhasil
berpura-pura, seolah-olah ia adalah seorang yang baik hati, yang
mengerti keberatan dan perasaan gadis yang bernama Sindangsari itu.
Seolah-olah ia sudah membela kebersihan cinta antara Sindangsari dan
Pamot, Namun ternyata permainannya yang baik itu tidak menghasilkan
sama sekali. "Persetan dengan keluarga Sindangsari dan Pamot" ia
justru menggeram di dalam hatinya "kenapa perempuan itu membawa
anaknya pulang ke Gemulung?" Kini yang menonjol dipermukaan hatinya
adalah sifatsifatnya yang sebenarnya. Bukan seorang Reksatani yang
sangat perasa, yang dengan iba hati melihat Sindangsari yang hatinya
terpecah-pecah. Tetapi kini ia justru mendendam kepada gadis yang
telah memikat hati kakaknya itu. "Aku tidak tahu, apakah yang akan
aku lakukan kelak seandainya ternyata gadis itu mulai mengandung"
katanya di dalam hatinya pula "agaknya aku tidak melihat jalan lain
daripada menyingkirkannya untuk selama-lamanya" Tiba-tiba wajah
Reksatani menjadi tegang. Senyum dan sorot mata yang penuh iba itu
sudah lenyap sama sekali. Kini matanya seakan-akan menjadi merah
membara, dibakar oleh nafsunya yang tidak terkendali. Usahanya untuk
mencegah perkawinan itu dengan cara yang paling baik itu telah
gagal. Sepeninggal Ki Reksatani, Sindangsari sama sekali tidak dapat
mengendalikan perasaannya lagi. Seperti di saat ia kematian ayahnya,
ia menangis sejadi-jadinya. Seluruh isi rumah itu tampaknya bukan
sedang menghadapi hari-hari perkawinan satu-satunya anak gadis
mereka. Tetapi keluarga itu bagaikan sedang kematian orang yang
sangat mereka kasihi. Kakek Sindagsari duduk tepekur di atas amben
besar di ruang tengah. Kerut-kerut ketuaannya rasa-rasanya menjadi
semakin banyak dan dalam. Sedang isterinya yang duduk di sampingnya
tidak berani menegurnya sama sekali. Sindangsari yang berada di
dalam biliknya menangis tanpa dapat ditenangkan. Ibunya yang
menungguinya justru tidak dapat menahan air matanya sendiri yang
menitik. "Ibu, kenapa aku harus mengalami perlakuan ini?" Ibunya
tidak dapat menjawab. Dibelainya saja rambut anaknya yang kusut
dengan curahan kasih seorang ibu. Semalam suntuk tidak ada
seorangpun yang dapat tidur. Di dalam geledeg masih tersusun rapi,
lembaran-lembaran pakaian yang telah dikirimkan oleh Ki Demang
ketika untuk pertama kalinya Ki Reksatani datang melamar. Seisi
rumah itu sama sekali tidak bernafsu untuk menjamah pakaian-pakaian
itu. Apalagi Sindangsari. Tetapi ia t idak akan dapat ingkar. Ketika
fajar membayang di langit, maka kakek Sindangsaripun turun kehalaman
untuk membersihkan dirinya, disusul oleh isterinya sambil menjinjing
sapu lidi. Nyai Wiratapa telah berada di dapur menunggui api yang
menyala, memanasi air. Dalam keremangan fajar itu, Sindangsari yang
tidak kuat lagi menahan gejolak perasaannya, dengan diam-diam
meninggalkan rumahnya. Berlari-lari kecil ia pergi ke rumah Pamot.
Ia ingin dapat mencurahkan segala sesak di dadanya yang rasa-rasanya
akan mencekiknya. Tetapi ketika ia berada di depan regol halaman
rumah Pamot, ia menjadi ragu-ragu. Seakan-akan sesuatu telah
membatasinya dari anak muda itu. Dan sebuah jerit yang memelas
terdengar di sudut hatinya "Tidak. Aku tidak berhak lagi datang
kepadanya. Ia akan mengusir aku karena aku harus ingkar akan janjiku
kepadanya" Tiba-tiba saja Sindangsari berhenti beberapa langkah di
depan regol itu. Ia tidak menghiraukan lagi rambutnya yang terurai
dan pakaiannya yang kusut. Adalah kebetulan sekali, bahwa Pamotpun
sudah bangun pula. Ia sudah berada meskipun ia belum mulai melakukan
sesuatu. Di tangannya sudah tergenggam tangkai sapu lidi yang
panjang. Namun ia masih saja berdiri di bawah rimbunnya dedaunan
menyelusuri angan-angannya yang membubung disela-sela bintang yang
suram. Ia terkejut ketika ia melihat bayangan yang samar-samar
berdiri di hadapan regol halaman rumahnya. Kemudian bayangan itu
segera berbalik dan berlari menjauh. Seperti digerakkan oleh tenaga
gaib, Pamotpun segera melemparkan sapunya, dan meloncat mengejar
bayangan itu. Ketajaman perasaannya segera memastikan bahwa orang
itu adalah Sindangsari. Ia tidak memerlukan waktu yang panjang untuk
menyusulnya. Dengan serta-merta Pamot menangkap tangan gadis itu,
kemudian ditariknya agar ia berhenti berlari. "Lepaskan lepaskan"
Sindangsari tiba-tiba saja merontaronta. Pamot terkejut melihat
tingkah laku Sindangsari yang aneh itu. Namun ia tidak melepaskan
tangannya, bahkan gadis itu ditariknya semakin mendekat. Tetapi
Sindangsari masih saja berusaha melepaskan diri sambil menggeram
"Lepaskan, lepaskan. Kau tidak berhak lagi berbuat sesuatu atasku"
"Sari, kenapa kau he?" "Lepaskan, kalau tidak aku akan berteriak "
"Tetapi kau datang ke rumahku" "Sama sekali tidak" suara Sindangsari
menjadi semakin keras "lepaskan" Sindangsari ternyata telah menjadi
terlampau bingung. Hampir saja ia berteriak, namun Pamot bergerak
cepat, menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Jangan berteriak"
Sindangsari menjadi semakin meronta, tetapi tangan Pamotpun semakin
keras mendekapnya "Jangan berteriak. Dengan demikian kau akan
membuat keributan" Sejenak Sindangsari masih berusaha melepaskan
diri, tetapi tangan Pamot terlampau kuat, sehingga akhirnya
Sindangsaripun menjadi semakin lemah. Ketika Sindngsari hampir
kehabisan tenaga ia mendengar Pamot berdesis "Kenapa kau menjadi
bingung Sari? Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Marilah,
mumpung masih agak gelap. Masuklah ke rumah, supaya tidak seorangpun
melihat keadaanmu yang begini" Sindnagsari mengibaskan tangan Pamot
yang menutup mulutnya sambil berkata "Kau menyakiti aku" "Kau akan
membuat dirimu sendiri menjadi pembicaraan orang. Kalau kau
berteriak, orang-orang akan datang kemari. Mereka akan melihat
keadaanmu yang kusut. Banyak arti yang dapat dibuat oleh orang-orang
yang melihatmu menurut selera masing-masing. Apakah kau t idak
menyadarinya?" Sindangsari terdiam. Di pandanginya wajah Pamot yang
tegang. Namun ketika tatapan mata mereka beradu, tiba-tiba
Sindangsari menjatuhkan kepalanya di dada anak muda itu sambil
menangis. "Sari, jangan menangis di sini. Marilah kita masuk ke
rumahku. Hal ini akan dapat menimbulkan salah paham apabila
seseorang melihat kita" Sindangsari tidak menjawab. Ia tidak
mengelak lagi ketika tangannya kemudian dibimbing oleh Pamot pergi
ke rumahnya. Keluarga Pamot terkejut melihat kedatangan Sindangsari
dalam keadaan itu. Dengan muka pucat ibunya bertanya "Pamot, apakah
yang sudah kau lakukan?" Pamot tidak segera menjawab.
Dipersilahkannya Sindangdari duduk di amben besar. Kemudian ia
sendiri duduk pula di sampingnya. "Pamot " suara ibunya menjadi
dalam. Tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya. Pamot menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian dengan jelas di katakannya apa yang sebenarnya
telah terjadi. "O" ibunya mematung di tempatnya. Di pandanginya
wajah Sindangsari yang kusut dan pucat. Rambutnya yang terurai dan
pakaiannya yang tidak teratur. "Sari" berkata perempuan itu
"benahilah pakaianmu dahulu. Keadaanmu memang dapat menimbulkan
salah mengerti" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi kepalanya
tertunduk dalam-dalam. Namun seperti orang yang kehilangan kesadaran
ia menurut saja ketika ibu Pamot membimbingnya masuk ke dalam bilik.
"Nah, benahilah dirimu. Pakaianmu, rambutmu dan air matamu"
Sindangsari masih tetap berdiam diri, tetapi ia menganggukkan
kepalanya. Dalam pada itu Pamot duduk di ruang tengah dengan hati
yang berdebar-debar. Meskipun Sindangsari belum mengatakan sesuatu,
tetapi Pamot sudah dapat meraba, apakah yang membuat Sindangsari
menjadi bingung dan kehilangan nalar. "Utusan Ki Demang itu pasti
sudah datang" katanya di dalam hati. Sejenak kemudian maka
Sindangsari yang telah selesai membenahi pakaian dan rambutnyapun
telah keluar dari dalam bilik dan duduk kembali di tempatnya. Namun
demikian kepalanya masih saja tertunduk dalam-dalam. "Sindangsari"
bertanya ibu Pamot "masih sepagi ini kau sudah sampai kemari? Apakah
kau tidak akan dicari oleh ibu atau kakekmu seperti beberapa hari
yang lalu?" Sindangsari t idak menjawab. "Bukankah kau tidak
memberitahukan kepergianmu ini kepada siapapun juga?" Perlahan-lahan
Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Lain kali kau harus minta diri
kepada ibu, Sari" berkata ibu Pamot kemudian "Perasaan seorang ibu
selalu saja dihinggapi oleh kecemasan apabila anaknya tidak ada di
sampingnya, meskipun anak itu sudah dewasa. Apalagi tanpa diketahui
kemana perginya" Sindangsari t idak menyahut "Apakah kau akan segera
pulang" bertanya ibu Pamot "marilah. Sekarang, akulah yang akan
mengantarkan Bukan Pamot dan bukan ayahnya" Sindangsari masih
berdiamdiri. "Sebentar lagi matahari sudah akan terbit" Sindangsari
menarik nafas dalam-dalam. "Tetapi, sebelum kau pulang, apakah kau
akan mengatakan sesuatu?" Sindangsari menjadi ragu-ragu.
"Katakanlah. Kau tahu, bagaimana perasaan kami terhadapmu"
Sindangsari mulai dijalari oleh perasaan pahit yang menyesakkan
dadanya kembali. Karena itu, maka matanya mulai basah, dan nafasnya
serasa tersumbat di kerongkongan. "Jangan menangis" bisik ibu Pamot
"kau tidak usah menangis lagi. Air matamu agaknya sudah cukup kau
peras. Aku dapat melihatnya pada matamu yang bendul" Sindangsari
beringsut setapak. Kemudian katanya terbatabata "Aku harus melakukan
sesuatu yang sama sekali tidak aku kehendaki" Ibu Pamot hanya dapat
mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun segera mengerti, bahwa agaknya
Ki Demang benar-benar menghendaki anak itu untuk dijadikan
isterinya. Dengan demikian, maka perempuan itupun tidak lagi dapat
mengatakan sesuatu. Ki Demang adalah orang yang paling berkuasa di
Kepandak. Tidak seorangpun dapat menghalangi maksudnya. Apalagi
keluarganya. Sejenak seisi ruangan itupun saling berdiam diri. Dada
Pamot serasa terbakar karenanya. Namun ia menyadari keadaannya dan
keluarganya. Namun sejenak kemudian ibu Pamot yang agaknya masih
tetap menguasai perasaannya berkata "Sindangsari, baiklah semuanya
ini merupakan persoalan yang harus kita pikirkan. Tetapi kasihan
ibumu yang kebingungan di rumah. Ia pasti menunggu kau. Marilah, aku
antarkan kau pulang" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi lewat pintu
yang terbuka ia melihat halaman yang sudah menjadi semakin terang.
"Marilah" desis ibu Pamot. Tetapi sebelum mereka beranjak dari
tempatnya, tampaklah seseorang memasuki halaman rumah itu dan
langsung menuju ke pintu. Orang itu adalah kakek Sindangsari. Dengan
tergopoh-gopoh ayah Pamot menyongsongnya keluar pintu sambil berkata
"Marilah, silahkan masuk" "Terima kasih" jawabnya. Dan iapun
kemudian bertanya "Apakah Sindangsari kemari ?" "Demikianlah" suara
ayah Pamot menjadi datar "ia ada di dalam" Kakek Sindangsari mencoba
melihat ke dalam ruangan yang masih agak gelap. Samar-samar ia
melihat seorang gadis duduk sambil menekurkan kepalanya.
Sindangsari. "Aku sudah menyangka, bahwa ia akan datang kemari" "Ya.
Aku juga sudah mendengar, meskipun tidak jelas, bahwa anak itu tidak
dapat lagi mengelakkan dirinya" Kakek gadis itu mengangguk-anggukkan
kepalanya "Suatu kenyataan yang pahit yang harus kami telan
sekeluarga" "Kami merasakannya pula" Orang tua itu mengangguk-angguk
dan menganggukangguk. Ia mengerti bahwa keluarga Pamotpun akan
terpercik kepahitan peristiwa yang menimpa keluarganya, karena
dengan demikian Pamotpun akan kehilangan sebagian dari hidup yang
selama ini telah membayanginya. "Kami sudah berusaha" berkata kakek
Sindangsari itu kemudian "Tetapi kami gagal" Ayah Pamot berdesah
perlahan-lahan. Namun tiba-tiba ia berkata "Silahkan masuk" "Terima
kasih. Aku ingin segera membawa Sindangsari pulang" Ayah Pamotpun
segera berpaling sambil berkata "Sindangsari ini kakekmu menyusulmu"
Tetapi Sindangsari sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. "Sari"
panggil kakeknya "ibumu menjadi bingung Marilah kita palang"
Sindangsari masih tetap duduk ditempuhnya. "Sari" panggil kakeknya
sekali lagi. Tetapi Sindangsari berpalingpun tidak. Kakeknya yang
tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya disela-sela desah
nafasnya "Aku dapat mengerti perasaannya" "Ya" sahut ayah Pamot
"harapan yang dijalinkannya di hari mendatang, tiba-tiba saja hanyut
tanpa dapat ditolaknya" Kakek Sindangsari terdiam. Meskipun
kepalanya masih terangguk-angguk, tetapi tatapan matanya menyorotkan
kegelisahan yang luar biasa. "Tadi, ibu Pamot juga berusaha untuk
mengantarkannya pulang" berkata ayah Pamot itu kemudian "tetapi
agaknya hatinya masih terlampau gelap" "Ibu Sindangsari menjadi
sangat cemas" "Tentu. Sebagai seorang ibu, ia adalah orang yang
paling dekat dari anak itu" ayah Pamot berhenti sejenak, kemudian
desisnya perlahan-lahan "marilah masuk. Mungkin anak itu dapat
ditenteramkan" Kakek Sindangsari tidak menolak lagi. Maka iapun
segera masuk mengikut i ayah Pamot dan duduk di samping cucunya.
"Sari" berkata orang tua itu sareh "marilah, kita pulang dahulu.
Kalau ada persoalan yang masih dapat kita bicarakan, nanti kita
bicarakan" Sindangsari sama sekali tidak bergerak. "Sari" desis
kakeknya, Tetapi Sindangsari benar-benar seperti sebuah patung yang
beku. Namun ketika kakeknya kemudian membelai pundaknya meledaklah
perasaan gadis itu. Tiba-tiba ia menangis sambil menelungkupkan
kepalanya di pangkuan kakeknya. "Aku tidak mau kakek. Aku tidak mau"
Kakeknya hanya dapat berdesah lewat mulutnya. Ia menyayangi cucunya
yang tidak berayah lagi itu. Karena itu, seandainya mungkin, ia
memang ingin mempertahankannya. Tetapi ia benar-benar tidak dapat
mengabaikan kenyataan, bahwa Ki Demang Kepandak sama sekali tidak
bermaksud mengurungkan niatnya. "Rasa-rasanya memang tidak ada yang
dapat aku lakukan" katanya di dalam hati. Dengan penuh pengertian
dibiarkannya saja Sindangsari itu menangis sepuas-puasnya.
Kadang-kadang ia memang berusaha menenteramkannya, namun orang tua
itu mengharap, bahwa dengan tangis itu, Sindangsari dapat mengurangi
beban yang menyesak di dadanya. Barulah ketika tangis itu mereda,
kakeknya mencoba memberinya beberapa petunjuk, agar gadis itu
sedikit mendapat kekuatan menghadapi jalan hidupnya yang terjal.
"Jangan seperti kanak-kanak lagi Sari" berkata kakeknya "marilah
semuanya ini kita hadapi dengan, sikap dewasa" Sindangsari masih
terisak, dan diantara isaknya ia menjawab "Tetapi aku t idak mau
kakek" Kakeknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku
mengerti, betapa beratnya hatimu menghadapi masalah ini. Tetapi kau
tidak dapat menyelesaikannya dengan sekedar pergi dari rumah dan
tidak mau pulang. Bukan itu. Kita harus mencari cara yang
sebaik-baiknya" Sindangsari terdiam. "Kasihan ibumu Sari" berkata
kakeknya kemudian "dan jangan kau sangka, bahwa ibumu tidak
berprihatin menghadapi masalahmu. Karena itu, marilah kau pulang. Di
rumah kita dapat banyak berbicara" Sindangsari masih tetap membeku.
Sekilas ia melihat sinar matahari yang kekuning-kuningan menyusup
diantara dedaunan. Pagi yang cerah. Tetapi hatinya sendiri masih
tetap kelam seperti kelamnya malam. "Semuanya itu masih dibatasi
oleh waktu. Perkawinan itu tidak akan terjadi nanti siang, seminggu
atau bahkan sebulan. Selama ini kita masih mempunyai kesempatan
untuk berpikir dan berbuat" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam.
"Marilah Sari" Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan kepalanya.
Maka kakek Sindangsaripun kemudian minta diri bersama cucunya. Kesan
yang pahit masih membayang di wajah keduanya. Namun juga di wajah
Pamot yang mengantarkan mereka sampai ke regol halamannya. Anak muda
itu tidak peduli ketika satu dua orang lewat di depan rumahnya,
memandang wajahnya yang suram dan matanya yang redup. Tatapan
matanya terlontar jauh ketikungan sebelah, dimana Sindangsari dan
kakeknya seakan-akan hilang ditelan gerumbul-gerumbul di pinggir
jalan. Pamot berpaling ketika ia mendengar suara ibunya
memanggilnya. Meskipun suaranya lirih, tetapi terdengar jelas di
telinga hatinya, betapa kasih seorang ibu kepada anaknya. "Sudahlah
Pamot. Jangan terlampau kau risaukan. Memang kadang-kadang kita
harus menghadapi kenyataan-kenyataan yang sama sekali tidak kita
inginkan. Tetapi kau adalah orang laki-laki. Kau tidak boleh
terbenam dalam kepedihan. Sedang dunia ini masih akan berputar terus
seperti roda pedati. Kalau kau berhenti, maka kau akan ketinggalan
dan kehilangan kesempatan untuk seterusnya" Pamot tidak menjawab.
"Masuklah" Pamotpun kemudian berjalan perlahan-lahan dengan kepala
tunduk. Ia mengerti maksud ibunya, bahwa ia tidak boleh terbenam
dalam persoalan itu saja. Persoalan Sindangsari .Dengan demikian
maka segi hidupnya yang lain akan terhenti pula. "Tinggallah hari
ini di rumah, Pamot" berkata ayahnya "biarlah aku selesaikan
pekerjaan di sawah. Tetapi Pamot menggeleng "Tidak ayah. Aku akan
pergi ke sawah" Ketika ayahnya akan mencegahnya, ibunya memotong
"Biarlah ia pergi ke sawah. Itu akan lebih baik baginya dari pada ia
duduk termenung saja di rumah" Ayahnya berpikir sejenak, namun
kemudian ia berkata "Baiklah. Kalau begitu mandilah. Aku akan
menunggumu" Pamotpun kemudian segera pergi ke belakang. Tetapi
angan-angannya tidak dapat lepas dari Sindangsari. Terbayang di
rongga matanya gadis itu kemudian akan tinggal di rumah Kademangan
Kepandak. Apabila setiap kali ia pergi ke Kademangan sebagai salah
seorang anggauta pengawal khusus maka ia akan melihat isteri Ki
Demang itu duduk merenung memandang kekejauhan. Pamot menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi memang lebih baik baginya mengisi waktunya
dengan kerja, supaya ia tidak semakin dalamterbenamdi dalam
kepahitan perasaan. Ternyata bukan hanya Pamot sajalah yang mendapat
goncangan perasaan. Di rumahnya Manguripun selalu marahmarah tanpa
sebab. Kalau Sindangsari menjadi isteri Ki Demang, maka lenyaplah
semua harapannya untuk mendapatkan gadis itu. Meskipun demikian
Manguri masih juga menemui ayahnya untuk mempersoalkan gadis itu.
"Ayah, apakah ayah tidak dapat menemui Ki Demang dan mengatakan
bahwa ayah ingin mengambilnya sebagai menantu" Ayahnya tidak segera
menjawab. "Ayah dahulu pernah berkata bahwa Ki Demang akan
menyelesaikan masalah ini sebaik-baiknya dan mencarikan kemungkinan
yang mendekatkan aku kepada gadis itu. Tetapi kini anak itu justru
diambilnya sendiri" "Itulah sulitnya, Manguri" jawab ayahnya "kalau
Ki Demang sendiri tidak mengingininya, aku akan lebih mudah
mendapatkan bantuannya. Tetapi tiba-tiba ia sendiri memerlukan gadis
itu" "Ayahlah yang bersalah. Kenapa ayah membawa Ki Demang itu ke
rumah Sindangsari" "Aku tidak membawanya kesana. Ia sendirilah yang
pergi ke rumah itu bersama Ki Jagabaya untuk mendapatkan keterangan
tentang kau dan Pamot" "Tetapi aku minta ayah berusaha. Apapun yang
dapat ayah jalankan untuk kepentingan ini" Manguri diam sejenak,
tibatiba ia berbisik "kita dapat menculiknya" "Gila kau" "Belum
tentu kalau kita akan mendapat tuduhan. Dan sudah tentu kita tidak
akan berbuat terlampau bodoh" Ayahnya mengerutkan keningnya. "Kita
culik bersama-sama, Sindangsari dan Pamot" "Buat apa Pamot?" "Kalau
keduanya hilang, semua orang, termasuk Ki Demang akan menyangka,
bahwa mereka berdua melarikan diri" Ayahnya tidak segera menjawab.
"Kita bunuh Pamot, dan kita lenyapkan bekasnya" Tetapi ayahnya
kemudian menggelengkan kepalanya "Tidak Manguri. Bahayanya terlampau
besar. Kalau kau ingin berbuat demikian, maka kau akan melakukan
kesalahan sekali lagi, seperti ketika kau mengundang Sura Sapi untuk
menangkap Pamot di sawahnya" Manguri mengerutkan keningnya. Dengan
bersungguhsungguh ia berkata "Apakah kita tidak dapat belajar dari
pengalaman? Tentu kita tidak akan berbuat sebodoh itu. Kita akan
melakukannya dengan hati-hati dan dengan perhitungan yang masak.
"Setelah mereka itu kita ambil, apakah yang dapat kau lakukan dengan
Sindangsari?" Manguri menarik nafas dalam-dalam. "Kita dengan mudah
akan membunuh Pamot, melenyapkan bekas-bekasnya. Tetapi sesudah itu,
apakah kau akan dapat kawin dengan Sindangsari?" Manguri berpikir
sejenak, lalu "Kita dapat menyingkir jauhjauh dari Gemulung"
"Siapakah dengan kita itu?" "Aku, ayah dan seluruh keluarga" "Kau
memang bodoh sekali. Aku adalah orang Gemulung sejak kecil. Aku
sudah mempunyai sawah, pategalan dan rumah disini. Bahkan paling
luas dibanding dengan orangorang lain. Rumah inipun adalah rumah
yang paling besar di seluruh Gemulung, bahkan di seluruh Kepandak"
ayahnya berhenti sejenak, lalu "Kita harus meninggalkan semuanya
itu, yang aku kumpulkan sedikit demi sedikit hanya karena kau
menjadi gila kepada gadis yang bernama Sindangsari itu ?" Manguri
mengerutkan keningnya. Namun ia masih menjawab "Kalau begitu,
biarlah aku saja yang menyingkir bersama Sindangsari" "Itupun
perbuatan gila. Kalau kau pergi setelah Sindangsari hilang, maka
setiap orang akan membuat perhitungan. Semula Sindangsari dan Pamot,
kemudian kau?" Manguri akhirnya menjadi jengkel "Lalu, bagaimanakah
yang sebaiknya menurut ayah?" "Manguri, telah berapa kali kau
terseret ke dalam keadaan serupa ini. Telah berapa orang gadis yang
terpaksa kau singkirkan. Tetapi kau tidak pernah menjadi segila
sekarang ini" "Ayah" berkata Manguri "kali ini aku bersikap lain
Sindangsari bukan sekedar seorang gadis yang pantas dimiliki untuk
sesaat, kemudian dilemparkan seperti gadis-gadis lain. Tetapi ia
mempunyai kelebihan yang sulit untuk dikatakan. Aku mengingininya
untuk menjadikannya seorang teman hidup yang baik" "Sekarang kau
berkata demikian. Tetapi kaupun akan segera menjadi jemu kalau kau
sudah berhasil. "Tidak" "Sekarang kau berkata tidak. Kau sangka aku
tidak mengerti perangaimu yang buruk itu" "Ayah" "Jangan membantah.
Aku tidak percaya bahwa kau akan bersikap sungguh-sungguh. Manguri
memandang ayahnya dengan tajamnya. Ia menjadi kecewa sekali bahwa
ayahnya tidak mempercayainya, sehingga karena itu maka ia berkata
"Ayah. Apakah aku dapat memberikan sebuah contoh, bahwa hal itu akan
dapat terjadi ?" "Apa contohmu ?" Manguri menjadi ragu-ragu sejenak,
tetapi kemudian ia berkata "Maaf ayah. Contoh itu tidak terlampau
jauh. Disini ayah mempunyai seseorang yang menjadi kawan hidup ayah
seterusnya, ibu, meskipun masih ada orang lain lagi di dalam hidup
ayah" "Diam" bentak ayahnya tiba-tiba "kalau kau ulangi lagi hal
itu, aku pukul kau" Manguri terdiam. Tetapi ia mengumpat-umpat di
dalam hatinya. "Manguri" berkata ayahnya "sebaiknya kau lupakan saja
gadis itu. Di Gemulung masih banyak gadis-gadis yang bersedia
menjadi kawan hidupmu. Bukan saja di Gemulung, di Kepandak masih
tersedia berapa saja yang kau ingini" "Terlampau sulit untuk
melupakannya ayah" jawab Manguri. "Perlahan-lahan. Kalau kau tidak
pernah melihatnya lagi, maka kau akan lupa kepadanya. Apalagi kalau
kau sudah mendapat kawan lain. Aku kira Sindangsari bukanlah gadis
yang paling cantik di Kepandak" Manguri berpikir sejenak, namun ia
kemudian menjawab "Tetapi aku minta ayah tetap berusaha" "Aku akan
berusaha. Tetapi kau jangan menganggap bahwa tanpa Sindangsari kau
tidak dapat hidup lagi. Jika demikian kau akan benar-benar tidak
akan dapat hidup seterusnya. Hidupmu akan terhenti, meskipun secara
badaniah kau masih tetap hidup" Manguri mengguk-anggukkan
kepalanya.Namun di dalam hatinya ia tidak dapat mengerti, apakah
keberatannya kalau gadis itu diambilnya saja dengan paksa, kemudian
disembunyikannya disuatu tempat? Setiap kali ia akan dapat
mengunjungi gadis itu, dikehendaki atau tidak dikehendakinya.
Sementara Pamot yang disingkirkannya itu, tidak akan dapat
mengganggunya lagi untuk selama-lamanya. "Ayah memang tidak mau
memikirkan anaknya" berkata Manguri di dalam hatinya "ia hanya
memikirkan dirinya sendiri. Kalau ayah sendiri yang menghendaki
seorang gadis, apapun dikorbankannya" Dengan demikian, maka meskipun
ayahnya tidak sependapat, tetapi ada benih pikiran di kepala
Manguri, bahwa Sindangsari sebaiknya diambilnya saja dengan paksa.
Bahkan bersama Pamot, yang harus segera dibunuhnya dan
dilenyapkannya. "Aku tidak peduli lagi. Tetapi aku harus mendapat
gadis itu" katanya di dalam hati. Tiba-tiba Manguri teringat kepada
ibunya. Apakah ibunya dapat menolongnya dengan caranya? Manguri yang
kecewa itu, sehari-harian hanya marahmarah saja. Dibentak-bentaknya
Lamat yang tidak mengerti ujung dan pangkal kemarahan Manguri.
Tetapi seperti biasa, Lamat tidak terlampau banyak bicara. Ia
melakukan apa saja yang dikehendaki Manguri. "Lamat" tiba-tiba
manguri itu memanggilnya "kemari. Aku akan berbicara sedikit" Lamat
termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak sempat berpikir lebih lama
lagi ketika Manguri membentak "Cepat" Dengan ragu-ragu Lamat
mendekatinya. Ditatapnya sejenak wajah Manguri yang gelap. Namun
iapun kemudian duduk di dekatnya. "Lamat" desis Manguri "kita akan
menghadapi kerja yang berat. Apakah kau sanggup ?" Lamat yang belum
mengerti, kerja apa yang harus dilakukan tidak segera menjawab dan
ia mendangar Manguri berkata pula "Kalau kerja ini gagal, maka kita
akan digantung bersama-sama" "Apakah yang harus aku kerjakan?"
bertanya Lamat. "Meskipun aku masih harus mengatakannya kepada ibu,
tetapi kau sebaiknya mempersiapkan dirimu lebih dahulu" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak mengerti. "Lamat"
suara Manguri menurun "pada saatnya kita akan mengambil Sindangsari
dengan paksa" Lamat terkejut sehingga darahnya terasa menjadi
semakin cepat mengalir. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan
kesan itu "Tidak ada jalan lain" Manguri meneruskan. "Tetapi"
berkata Lamat "apakah dengan demikian persoalannya tidak akan
menyangkut Ki Demang di Kepandak?" "Aku tahu" jawab Manguri. "Kalau
persoalannya sekedar menyangkut Pamot, kita tidak akan terlampau
banyak mengalami kesulitan. Tetapi kini Sindangsari ternyata
dikehendaki oleh Ki Demang itu sendiri" "Aku sudah tahu, aku sudah
tahu. Aku tidak sedungu kau mengerti" potong Manguri. Lalu suaranya
merendah "Dengarlah seluruh rencanaku. Aku akan menghubungi lakilaki
yang sering datang kepada ibu. Aku yakin bahwa ia akan dapat memberi
jalan kepadaku untuk mengambil gadis itu. Kemudian kita ambil pula
Pamot. Dengar baik-baik, supaya kau tidak salah dengar" Manguri
berhenti sesaat. Dipandanginya wajah Lamat yang tegang "Pamot itu
kita bunuh. Dan kita akan bebas dari segala tuduhan. Ki Demang akan
menyangka bahwa Sindangsari lari bersama Pamot" Darah Lamat menjadi
semakin cepat mengetuk pintu jantungnya, sehingga jantung itu
berdentangan di dalam dadanya. Ia tidak menyangka, bahwa rencana
Manguri akan sampai sedemikian jauh. Dengan demikian ia sudah
merancang sebuah pembunuhan dan penculikan. "Bagaimana pendapatmu
Lamat?" bertanya Manguri. Lamat menjadi bingung. Apakah yang harus
dikatakannya menjawab pertanyaan itu. "He, apakah kau tidur?" bentak
Manguri. Dalam kebingungan Lamat ganti bertanya "Apakah kau sudah
mengatakannya kepada ayahmu?" "Gila kau. Buat apa aku harus
mengatakannya kepada ayah" Tetapi kemudian ia membentak "Akulah yang
bertanya. Apakah kau setuju?" Lamat menarik nafas dalam. Dan ia
mendengar Manguri bertanya lantang "Kau takut he? Kau takut?"
"Soalnya bukan aku takut" jawab Lamat "tetapi hal itu akan sangat
berbahaya. Bukan saja bagi kita, tetapi bagi seluruh keluarga"
"Tutup mulutmu" potong Manguri "apa kau sangka aku tidak dapat
berpikir? Aku sudah mengerti kalau hal itu sangat berbahaya.
Berbahaya bagi kita dan keluarga kita. Tetapi kita mempunyai otak.
Nah, kau memang t idak pernah mempergunakan otakmu itu" Lamatpun
terdiam. Betapa dadanya menggelepar, tetapi ia tidak mengatakan
apapun lagi. Dengan sorot mata yang buram dipandanginya bayangan
matahari yang bermain di dedaunan. "Kau belum menjawab pertanyaanku"
desis Manguri kemudian "kau setuju atau tidak? Lamat menarik nafas
panjang. Apa yang dikatakan Manguri itu sebenarnya sama sekali bukan
pertanyaan. Ia harus menjawab seperti apa yang dikehendakinya.
Karena itu, maka iapun menganggukkan kepalanya seperti yang
seharusnya dilakukan sambil berkata "Aku setuju" "Bagus. Kita akan
mengatur langkah-langkah selanjutnya. Kita tidak usah tergesa-gesa"
Lamat hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Di pandanginya saja
kemudian Manguri yang melangkah meninggalkannya tanpa berkata
sepatah katapun lagi. "Siapa lagi yang akan diundang oleh Manguri
ini" Lamat berdesis di dalam hatinya "apakah ia akan memanggil
gerombolan-gerombolan perampok yang lain dari gerombolan Sura Sapi,
atau akulah yang kali ini harus melakukan?" Namun rencana itu
benar-benar telah menggelisahkan Lamat. Kalau ia harus melakukannya
dengan tangannya, maka ia pasti akan merasa tersiksa seumur
hidupnya. "Atau ......." Lamat menjadi ragu-ragu. Ia merasa
berhutang budi kepada keluarga Manguri. Bukan sekedar budi, tetapi
ia merasa bahwa keluarga ini pulalah yang telah menyambung nyawanya.
Kalau ia tidak ditolong oleh ayah Manguri saat itu, barangkali
umurnya sudah lama terpotong. Perlahan-lahan Lamat berdiri. Kemudian
dengan kepala tunduk ia melangkah kekebun belakang. Sejenak ia
berdiri termangu-mangu. Namun ia t idak menemukan pemecahan yang
dapat memberinya ketenteraman. "Mudah-mudahan Manguri membatalkan
rencananya, atau ada rencana lain yang lebih baik dari rencana
pembunuhan ini" desis Lamat. Untuk melupakan kerisauan hatinya, maka
segera diambil sebuah kapak yang besar. Di kebun belakang masih
tergolek sepotong kayu yang harus dipecahkan menjadi kayu bakar.
"Lamat mengerutkan keningnya ketika ia melihat seorang pekatik duduk
terkantuk-kantuk di bawah pohon jeruk sambil memeluk keranjangnya.
Tetapi ia melangkah terus sambil menjinjing kapaknya. Dalam pada
itu, setiap orang di Gemulung telah mempercakapkan lamaran Ki
Demang. Kadang-kadang mereka merasa iri, bahwa janda itu telah
mendapat nasib yang baik, karena anaknya akan diperisteri oleh
seorang Demang yang kaya. Tetapi kadang-kadang mereka menaruh juga
belas kasihan. Agaknya Sindangsari benar mencintai Pamot dan
sebaliknya. Meskipun hampir pasti Sindangsari akan menjadi isteri
Demaig di Kepandak, tetapi gadis itu tidak akan merasa berbahagia
karenanya. Perhatian seluruh rakyat Gemulung benar-benar telah
dicengkam oleh persoalan kedua anak-anak muda itu. Tetapi mereka
sama sekali tidak mengerti, bahwa dengan diam-diam Manguripun telah
menyusun rencananya. Yang langsung dapat dilihat oleh orang-orang
Gemulung adalah wajah Pamot yang suram, dan Sindangsari yang sering
mereka lihat membersihkan halaman rumahnya, selalu dibasahi oleh air
matanya. Namun di luar pengetahuan siapapun, Pamot selalu berusaha
untuk dapat menemui Sindangsari. Diam-diam ia selalu berkunjung ke
rumah gadis itu. Kalau malam menjadi semakin dalam, maka sampailah
saatnya keduanya melepaskan perasaan masing-masing. Apabila ibu,
kakek dan neneknya sudah tidur, Sindangsari sering merayap keluar
rumah. Ia tahu benar, bahwa Pamot menunggunya di belakang pakiwan di
sebelah sumur. Tetapi bahwa mereka menyangka tidak ada seorangpun
yang mengetahuinya adalah salah sekali. Beberapa orang ternyata
mengikutinya dengan diam-diam. Yang paling dekat dengan mereka
adalah kakek Sindangsari sendiri. Kadang-kadang ia mendengar gerit
pintu terbuka di malam hari. Namun orang tua itu sama sekali tidak
sampai hati untuk mengahalanginya. Meskipun demikian ia tidak dapat
melepaskannya kedua anak-anak muda itu tanpa pengawasan, sehingga
karena itu, maka lewat pintu yang lain, iapun menyusul mereka dan
mengawasinya dari kejauhan apabila kedua anak-anak itu terperosok ke
dalam jurang yang paling gawat dalam kehidupan anak-anak muda.
Tetapi bukan saja orang tua itulah yang selalu mengawasi apa yang
terjadi. Seorang petugas yang sengaja dikirim oleh Ki Demangpun
selalu mengawasinya. Meskipun tidak setiap malam ia berada di dekat
rumah Pamot dan Sindangsari, namun pada suatu ketika ia berhasil
melihat pertemuan kedua anak-anak muda itu. Orang itu menjadi
berdebar-debar karenanya. Ia ditugaskan oleh Ki Demang untuk
mengawasi gadis yang akan menjadi isterinya. Tetapi sebagai manusia
ia mengerti, bahwa ikatan yang menghubungkan hati kedua anak-anak
muda itu agaknya memang sulit diuraikan. Ia tidak berbuat apa-apa,
dan sama sekali tidak melaporkannya, ketika ia baru melihat sekali
dari pertemuan itu. Tetapi kemudian ia melihat kedua, ketiga dan
keempat kalinya. Orang itu justru menjadi bingung. Ia tidak mengerti
apa yang sebaiknya dilakukan. Tetapi kalau ia berdiam diri saja
apabila, kemudian timbul akibat yang tidak dikehendaki, maka ia akan
menjadi tempat yang harus menampung kemarahan Ki Demang di Kepandak.
Semula orang itu mengharap, bahwa hubungan itu semakin lama akan
menjadi semakin jarang. Tetapi harapannya itu sama sekali tidak
terpenuhi. Pamot masih saja selalu datang dengan diam-diam ke rumah
Sindangsari dalam waktu-waktu tertentu. "O" orang itu mengeluh
"Kenapa aku mendapat tugas yang gila ini. Mengint ip orang yang
saling berkasihan" Namun akhirnya orang itu tidak dapat memilih cara
lain daripada menyampaikan apa yang dilihatnya itu kepada Ki Demang,
agar ia tidak harus bertanggung-jawab apabila kedua anak anak muda
itu salah langkah. "He, kau melihatnya?" wajah Ki Demang menjadi
merah. "Ya Ki Demang" "Beberapa kali kau melihat pertemuan itu?
Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia kemudian menjawab
"Satu kali Ki Demang" "Hanya satu kali?" Sekali lagi orang itu
ragu-ragu. Ia tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang
dilihatnya. Kalau ia mengatakan tiga atau empat kali, maka darah Ki
Demang pasti akan segera mendidih. "Ya, sekali. Itupun samar-samar.
Tetapi aku memang menyangka bahwa mereka telah mengadakan pertemuan,
meskipun barangkali Sindangsari di dalam dinding rumahnya dan Pamot
berada di luar" Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Masih
juga anak itu berani menghubungi Sindangsari. Padahal sudah jelas
bagi setiap orang, bahwa Sindangsari akan menjadi isterinya.
Tiba-tiba saja Ki Demang itu menggeram "Pertemuan berikutnya harus
dicegah. Kalau mereka leluasa berbuat demikian, maka mereka pasti
akan mengulanginya" Orang yang mendapat tugas mengawasi Pamot itu
menundukkan kepalanya. Ia terkejut ketika Ki Demang kemudian berkata
"Besok bawa Kerpa serta" "Maksud Ki Demang?"orang itu menjadi
berdebar-debar. "Kerpa harus membuat Pamot jera. Tetapi ingat, Pamot
tidak boleh mengenal, bahwa orang yang menghalangi pertemuan itu
adalah Kerpa. Kalau ia mengetahui bahwa orang itu Kerpa, ia akan
langsung mengetahui, bahwa akulah yang menyuruhnya" "Apakah
keberatannya kalau Pamot mengetahui, bahwa memang Ki Demang yang
mencegah pertemuan itu. Bukankah hal itu sudah sewajarnya?"
"Sebaiknya sementara ini tidak" Orang itu mengangguk-angguk
kepalanya. Perlahan-lahan ia bertanya "tetapi bukankah Kerpa hanya
mencegah pertemuan itu. Tidak lebih daripada itu" "Ya" Orang itu
menggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah Besok aku akan pergi ke
Gemulung bersama Kerpa" Demikianlah pada malam berikutnya, dua orang
petugas yang dikirim oleh Ki Demang, dengan diam-diam mengawasi
jalan yang lewat di samping rumah Sindangsari. Ketika malam mulai
menjadi kelam, keduanya bersembunyi di balik segerumbul perdu.
Disitulah petugas Ki Demang itu setiap kali bersembunyi. "Mungkin
hari ini anak itu tidak datang kemari" desisnya. Kerpa mengerutkan
keningnya. Katanya "Aku mengharap ia datang. "Lalu? Apa yang akan
kau lakukan" Orang itu tertawa tertahan-tahan. Tetapi suara
tertawanya telah mendirikan bulu roma. Kawannya menjadi heran
mendengar suara tertawa Kerpa. Dipandanginya saja wajahnya yang
disaput oleh keremangan malam. Namun wajah itu seakan-akan menjadi
sangat menakutkan. "Kadang-kadang kita harus mengajari anak-anak
untuk sedikit sopan" geram Kerpa kemudian "Pamot adalah gambaran
anak-anak yang tidak mengenal adat" "Maksudmu?" bertanya kawan
Kerpa. Kerpa tidak segera menjawab, tetapi suara tertawanya
terdengar lagi. "Ingat Kerpa" berkata kawannya "kau hanya bertugas
mencegah pertemuan itu Tidak lebih" "Tentu, tentu. Tetapi aku tidak
ingin setiap malam mendekamdi tempat yang banyak sekali nyamuknya
itu" "Lalu?" "Aku akan membuatnya jera" "Ya, memang. Tetapi tidak
berlebih-lebihan" "Aku juga tidak akan berbuat terlampau banyak dan
berlebihan-lebih. Aku hanya akan membuat jera. Hanya itu" "Caramu?"
"Tergantung pada keadaan. Aku tahu bahwa Pamot adalah salah seorang
anggauta pengawal khusus yang terlatih baik. Kalau langkahku agak
terdorong sedikit, jangan menyalahkan aku. Karena kalau aku
terlampau baik hati, maka akulah yang akan dibuatnya jera" Kawannya
mengerutkan keningnya. Ia mengenal Kerpa dengan baik. Ia orang yang
bodoh, tetapi terlampau setia kepada Ki Demang, sehingga
kadang-kadang ia melakukan suatu tindakan yang agak
berlebih-lebihan. Maksudnya agar ia mendapat pujian dan hadiah
karena tindakannya itu, tanpa menghiraukan akibat yang dapat timbul
karenanya. Sejenak kemudian mereka terdiam. Tetapi debar jantung
kawan Kerpa itu menjadi semakin cepat. Ia sudah mulai membayangkan,
apa yang akan terjadi. Mungkin Kerpa akan membuat Pamot menjadi
cacat seumur hidupnya atau bahkan kalau ia kehilangan kendali, maka
ia akan berbuat sesuatu di luar dugaan. "Gila" desis Kerpa kemudian
"Kenapa anak itu belum juga datang" "Aku tidak yakin bahwa ia akan
datang" "Tetapi bukankah kau pula yang melaporkannya kepada Ki
Demang bahwa anak itu pernah menemui Sindangsari?" "Ya" "Itu memang
perbuatan yang paling gila" Kerpa menggeram "itu sudah suatu
perbuatan yang sebenarnya tidak dapat dimanfaatkan seandainya Ki
Demang bukan orang yang sangat sabar. Meskipun belum terjadi
perkawinan itu, tetapi Sindangsari sudah menjadi hak Ki Demang.
Tidak seorangpun lagi boleh mengganggunya" Kawannya tidak menyahut.
"Kalau Pamot itu mengganggu isteriku, maka isi perutnya pasti akan
kutumpahkan" "Tetapi sekarang, bahkan bakal istri Ki Demang" "Tetapi
Ki Demang tidak memerintahkan kepadamu lebih dari mencegah pertemuan
itu. Kalau kau melakukan yang lain, maka kau pasti akan mendapat
hukuman" Kerpa mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.
Namun demikian ia masih meragukan keterangan kawannya itu. Apakah
benar Ki Demang tidak marah sekali dan maksud kata-katanya itu tidak
lebih jauh dari mencegah saja hari ini. Maka selagi mereka hanyut
dalam angan-angan masingmasing, di kejauhan sesosok tubuh berjalan
mengendapendap di pinggir jalan padukuhan. Langkahnya semakin lama
menjadi semakin cepat. Kadang-kadang ia berhenti sejenak, kemudian
meneruskan langkahnya melekat dinding batu di pinggir jalan. Ia sama
sekali tidak menyangka, bahwa dua pasang mata di balik gerumbul
sedang memandanginya dengan tajamnya. Melihat kedatangannya Kerpa
tersenyum. Sambil menggamit kawannya ia berdesis "Akhirnya ia
datang. Agaknya kau telah memberikan keterangan yang benar, bahwa
Pamot memang pernah menghubungi Sindangsari. Kau tidak sekedar
mengada-ada untuk mendapat pujian dari Ki Demang bahwa kau memang
melakukan tugasmu dengan baik. Pertemuan antara keduanya itu bukan
sekedar desasdesus yang merambat dari mulut yang satu kemulut yang
lain" Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia menjadi berdebardebar
karenanya. "Kau duduk saja disini. Aku akan menyelesaikannya
sendiri" "Jangan gila. Kau hanya mencegah pertemuan ini" "Dan
membuatnya Ki Demang marah kepadamu" Kerpa tidak menjawab. Tetapi ia
tertawa tertahan-tahan. Sementara itu langkah Pamot semakin lama
menjadi semakin dekat. Tanpa berprasangka apapun ia masih tetap
berjalan menepi. Sama sekali tidak disangkanya, bahwa di dekat
halaman yang kosong, di balik sebuah gerumbul, seseorang telah
menunggunya dengan menahan nafas. Pamot menjadi sangat terkejut, dan
bahkan darahnya serasa berhenti ketika tiba-tiba. aja sepasang
tangan yang kuat menerkamnya dan menyeretnya masuk ke dalam
gerumbul. Tetapi Pamot adalah seorang anak muda yang cukup terlatih,
sehingga ia tidak langsung menyerah pada keadaan itu. Dengan
tangkasnya ia justru berguling melanda orang yang menerkamnya,
kemudian menggeliat untuk melepaskan pegangan sepasang tangan yang
menerkamnya itu. Pamot adalah seorang pengawal khusus yang memang
pernah mendapat latihan keprajuritan. Bahkan lebih dari itu. Iapun
memiliki bekal ilmu yang melengkapi latihan-latihan keprajuritannya
itu. Dengan demikian, maka geraknya yang cepat dan tangkas itu sama
sekali tidak diduga oleh Kerpa, sehingga tangkapan tangannyapun
terlepas karenanya. Hentakan tenaga Pamot telah menghempaskan
keduanya. Sejenak mereka terguling-guling. Dan hampir bersamaan
mereka berloncatan berdiri. Kini mereka tegak berhadapan. Sejenak
Pamot mencoba mengenal orang yang menutupi wajahnya dengan ikat
kepalanya itu. Tetapi ia tidak segera dapat mengetahui dengan siapa
ia berhadapan. "Siapa kau?" Pamot menggeram. Kerpa mengerutkan
keningnya. Dengan suara yang dibuatbuat agar Pamot tidak dapat
mengenalnya, ia menjawab "He, kau ingin tahu siapa aku?" "Ya.
Bukalah tutup wajah itu" "Tidak mau. Sebaiknya kau tidak usah
melawan. Aku hanya akan membuatmu lumpuh tanpa membunuhmu" Kawan
Kerpa yang bersembunyi di balik gerumbul itupun menjadi
berdebar-debar. Agaknya Kerpa benar-benar ingin membuat Pamot cacat,
agar ia menjadi benar-benar jera. Tetapi sudah tentu, bukan itu
maksud Ki Demang. Dalam pada itu ia mendengar Pamot menggeram "Apa
maksudmu mengganggu aku?" "Aku tidak sekedar mengganggumu. Aku
memang berusaha mencegahmu datang kepada gadis itu. Bukan hanya
malam ini, tetapi untuk malam-malam selanjutnya. Karena itu, kau
harus tidak dapat berjalan lagi" "Apa kepentinganmu" "Tidak ada"
"Kalau tidak ada, kenapa kau mencampuri urusanku" "He? Bukan tidak
ada. Tetapi tidak langsung" jawab Kerpa "kau tahu he, bahwa gadis
itu adalah bakal isteri Ki Demang. Kalau kau masih berhubungan
dengan dia, maka kau sudah melanggar pagar ayu. Kau tahu bahwa
padukuhan Gemulung dan Kademangan Kepandak dan kau pernah juga
mendengar, bahwa hampir seratus tahun yang lalu, Kademangan Kepandak
pernah ditimpa oleh bencana wabah yang luar biasa. Separo dari
penduduk Kepandak meninggal. Kakekku, yang sekarang berumur seratus
lebih tujuh tahun, masih ingat akan peristiwa itu. Kau ingin tahu
sebabnya? Ya, karena ada orang yang melanggar pagar ayu. Seorang
laki-laki iblis yang menghubungi isteri Ki Demang pada waktu itu.
Kakek Ki Demang yang sekarang. Nah, apakah kau akan mengulanginya
dan membuat Kepandak diterkam oleh wabah yang maha dahsyat itu
lagi?" "Omong kosong" bantah Pamot, namun kemudian ia menyambung
"maksudku, aku sama sekali tidak melanggar pagar ayu. Akulah yang
lebih dahulu melamarnya. Tetapi Ki Demang telah merampasnya. Apalagi
kalau anak itu diberi hak untuk memilih. Ia tidak akan memilih Ki
Demang yang sudah lima kali kawin" "Persetan. Tetapi yang sekarang
diakui, gadis itu adalah bakal isteri Ki Demang" "Seandainya
demikian, dan seandainya aku disebut melanggar pagar ayu, itupun
tidak akan membuat bencana apapun. Apakah kau berpura-pura tidak
tahu bahwa ada saja pelanggaran-pelanggaran yang serupa, bahkan yang
sudah lebih jauh dari sekedar sebuah pertemuan" "Diam kau" bentak
Kerpa "kau ingin membenarkan sikapmu dengan menyebut
kesalahan-kesalahan yang serupa. Aku tidak peduli. Tetapi pertemuan
yang demikian tidak boleh terjadi. Kau sangka aku tidak tahu bahwa
malam ini bukanlah malamyang pertama kau datang kepadanya" Wajah
Pamot menjadi merah. Kini ia telah benar-benar menjadi marah.
Katanya "Memang. Malam ini bukan yang pertama aku datang kepadanya.
Aku sudah datang kepadanya lebih dari seratus kali sejak aku
mengenalnya. Gadis itupun datang ke rumahku sebanyak bilangan itu
pula. Sampai saatnya Ki Demang di Kepandak berusaha memutuskan
hubungan kami. Pamot berhenti sejenak. Namun perasaan di dadanya
menghentak-hentak sehingga ia tidak sadar lagi dengan siapa ia
berbicara. Endapan-endapan yang serasa menyumbat dadanya kemudian
tertumpah saja tanpa dapat dikekangnya. Katanya "Tetapi itu
perbuatan yang bodoh sekali. Memang mungkin Ki Demang dengan
kekerasan apapun dapat menghalangi hubunganku dengan Sindangsari.
Tetapi itu hanya sekedar hubungan badaniah. Tetapi tidak seorang
manusiapun yang dapat memadamkan api yang telah menyala di dalam
dada kami masing-masing. Dan itulah yang dinamakan cinta" Kerpa
mengerutkan keningnya sesaat. Namun kemudian ia tertawa. Katanya
"Aku tidak tahu apakah hubunganmu dengan Ki Demang di dalam soal
cinta. Tetapi aku hanya mencegah wabah itu berjangkit lagi di
Kepandak. Itu saja" "Kenapa kau tidak datang kepada Ki Demang dan
mencegah Ki Demang merampas gadis itu? Jangan pura-pura tidak tahu,
bahwa disini sekarang sudah timbul wabah? Wabah yang jauh lebih
dahsyat dari penyakit apapun?" "Wabah apa?" "Wabah kekuasaan, di
mana orang-orang yang berkuasa dapat berbuat apa saja seperti yang
dilakukan oleh Ki Demang sekarang atas Sindangsari" "Persetan. Sudah
aku katakan. Aku tidak berurusan dengan Ki Demang. Tetapi adalah
kewajibanku untuk mencegahmu sekarang" Ketika Pamot akan menjawab
maka Kerpapun mendahuluinya "Jangan banyak bicara. Kau harus jera.
Tidak hanya sekedar mulutmu saja yang mengatakannya, tetapi lain
kali diam-diam kau langgarnya" "Dengar kau. orang yang tidak berani
menengadahkan wajahnya" geram Pamot "cacingpun akan menggeliat kalau
terpijak. Apalagi aku" "Tutup mulut, atau aku yang akan menutupnya"
Pamot tidak sempat menjawab lagi. Agaknya Kerpa memang sudah
kehabisan kesabaran. Karena itu, maka iapun segera meloncat
menyerang. Tetapi Pamot yang sudah sampai ke puncak kemarahannya
itupun telah bersiaga pula. Dengan demikian maka dengan tangkasnya
ia menghindarinya dan bahkan iapun segera membalas serangan itu
dengan sebuah serangan mendatar setinggi lambung. Kerpa menjadi
berdebar-debar. Ternyata anak ini memiliki kemampuan yang cukup
baik. Apalagi setelah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin
seru. Terasalah oleh Kerpa bahwa Pamot bukan sekedar seorang
pengawal yang mendapat latihan keprajuritan sekali sepekan atau dua
kali di halaman Kademangan oleh prajurit-prajurit Mataram yang
dikirim untuk itu. Karena itu, maka Kerpapun menjadi semakin
berhati-hati. Ia sadar, bahwa ia tidak boleh lengah. Ikat kepalanya
tidak boleh terlepas, dan apa lagi ia dapat dikalahkan dalam
perkelahian itu. Dengan demikian maka perkelahian itupun menjadi
semakin cepat. Pamot telah dibakar oleh darah mudanya, sehingga ia
sama sekali tidak peduli lagi, dengan siapa ia berkelahi. Sedang
Kerpa merasa bahwa dirinya mendapat kepercayaan dari Ki Demang untuk
melakukan tugas itu. Namun perkelahian yang sengit itu agaknya telah
membuat Kerpa menjadi semakin marah. Lambat laun ia tidak dapat
membatasi diri lagi, bahwa ia ditugaskan sekedar mencegah pertemuan
antara Pamot dengan gadis yang bakal menjadi isteri Ki Demang itu.
Namun serangan-serangannya yang gagal beberapa kali, dan bahkan
sentuhan-sentuhan serangan Pamot pada tubuhnya, telah menyeret Kerpa
itu ke dalam suatu perkelahian yang sesungguhnya, seperti juga Pamot
berkelahi bersungguh-sungguh. Kawan Kerpa yang bersembunyi di balik
gerumbul menyaksikan dengan hati yang bergelora. Meskipun ia tidak
mempunyai kemampuan sebesar Kerpa, namun ia dapat melihat bahwa
perkelahian itu telah memanjat menjadi perkelahian yang mendebarkan
jantung. Seperti Kerpa, ia memang tidak menyangka bahwa Pamot
memiliki ilmu yang setingkat lebih tinggi dari para pengawal khusus.
Apalagi dibandingkan dengan para pengawal yang lain. Namun orang
itupun mengerti bahwa Kerpa bukan orang kebanyakan. Karena itulah,
maka dadanya menjadi semakin sesak. Semakin gigih Pamot melawan,
orang itu akan menjadi semakin marah, sehingga pada saatnya, ia akan
berbuat halhal yang semakin buruk akibatnya bagi Pamot. Tetapi ia t
idak akan dapat mencegahnya lagi. Ia tidak dapat muncul di sekitar
arena. Dengan demikian Pamot akan mengenalnya dan pasti akan segera
mengenal bahwa lawannya berkelahi itu adalah Kerpa. Demikianlah
perkelahian di halaman kosong itu menjadi semakin seru.
Masing-masing telah berusaha untuk memeras tenaganya. Pamot memang
memiliki kelincahan dan kekuatan yang cukup. Namun Kerpa adalah
orang yang berpengalaman. Itulah sebabnya maka setelah mereka
berkelahi beberapa saat, tampaklah bahwa Pamot menjadi semakin lama
semakin terdesak. Tetapi hati Pamot memang sekeras batu karang, Ia
tidak segera menyerah kepada keadaan. Ia sadar, bahwa menyerahpun
akibatnya pasti sangat menyakitkan hatinya. Karena itu, maka ia
berkelahi terus sekuat-kuat tenaganya. Lambat laun namun pasti,
Kerpa berhasil menguasai lawannya. Sekali-sekali Pamot terpelanting
oleh pukulan atau hempasan kaki lawannya. Namun setiap kali ia
bangkit kembali dan melawan seperti orang kesurupan, meskipun karena
kelelahan dan kemarahan yang menggoncang jantungnya, geraknya
menjadi semakin tidak terarah. Serangan-serangannya tidak lagi
mengenai sasarannya, dan bahkan kadang-kadang ia terdorong oleh
tenaganya sendiri, sehingga sentuhan yang lambat telah membuatnya
jatuh tertelungkup. Kerpa yang memiliki pengalaman dan ilmu lebih
tinggi daripadanya, akhirnya yakin, bahwa Pamot tidak akan dapat
melawannya lagi. Karena itu, maka Kerpa akan segera mengakhiri
perkelahian itu. Ia tidak dapat lagi menahan kemarahan yang
menghentak di dadanya karena sikap Pamot. Apalagi beberapa bagian
badannya sendiri terasa juga bekas-bekas sentuhan serangan anak muda
yang kehilangan pengendalian diri itu. Pada saat-saat terakhir
itulah Kerpa kemudian justru memperbesar tenaga-tenaga serangannya,
sehingga Pamot menjadi jatuh bangun. Sekali ia terpental, kemudian
di saat yang lain ia jatuh terjerembab. Badannya menjadi merah biru,
sedang darahnya menit ik dari luka-luka hampir di seluruh tubuhnya.
Luka oleh serangan Kerpa, tetapi juga luka karena batu-batu padas di
bawah kakinya. Apabila ia terpelanting jatuh menimpa ujung batu yang
runcing, ujung-ujung kayu dan bahkan duri-duri kemarung sepanjang
kelingking, yang tumbuh berhamburan di kebun kosong itu. Betapa
besar nafsunya untuk melawan, namun tenaga Pamotpun memang terbatas.
Ia mampu melawan salah seorang dari anggauta gerombolan Sura Sapi,
tetapi kali ini ia mau t idak mau harus melihat kenyataan bahwa ia
sudah terkalahkan. Ketika sebuah pukulan mengenai dagunya, maka
kepalanyapun terangkat tinggi-tinggi. Tetapi ia tidak sempat jatuh
terlentang ketika tangan-tangan yang kuat menahan bajunya. Namun
terasa kemudian seolah-olah seluruh perutnya terpelanting keluar
ketika tangan-tangan yang kuat memukul perutnya bertubi-tubi.
Tiba-tiba kepala Pamot menjadi pening. Pandangan matanya menjadi
semakin kabur. Ketika pukulan-pukulan itu berhenti, maka ia tidak
lagi dapat berdiri tegak di atas kedua kakinya. Sejenak ia
terhuyung-huyung. Namun kemudian iapun jatuh tertelentang. Pamot
masih sempat melihat bintang yang bertaburan di langit yang
seakan-akan berputaran mengelilingi kepalanya. Semakin lama semakin
cepat, namun semakin kabur. Meskipun demikian Pamot tidak menjadi
pingsan. Meskipun ia tidak berhasil untuk mengatasi pening dan mual,
sehingga ia tidak lagi sempat bangun, namun ia masih melihat
bayangbayang lawannya yang kabur kehitam-hitaman. Pamot masih
mendengar orang itu tertawa, kemudian melangkah semakin dekat. Kini
orang itu berdiri bertolak pinggang selangkah di sampingnya.
Tangannya seolah-olah berguncang-guncang oleh gelak yang
tertahan-tahan. "Nah, apakah kau masih akan melawan?" terdengar ia
berdesis. Pamot tidak menyahut. Nafasnya serasa sudah benar-benar
hampir terputus. "Kau sudah membuat hatiku menjadi panas, berkata
Kerpa di sela-sela suara tertawanya yang menyakitkan hati. Tetapi
suara tertawa itupun merupakan lontaran dari sakit hatinya pula.
Katanya selanjutnya "Kalau kau tidak melawan, dan tidak
menyombongkan dirimu, maka aku kira aku t idak akan berbuat apa-apa.
Kalau kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan datang lagi menemui
gadis itu, maka persoalanku sudah selesai. Tetapi sekarang kau telah
membuat darahku menjadi panas. Nafasku hampir putus pula karenanya,
dan tubuhku menjadi sakit-sakit. Kau harus menebusnya dengan
penyesalan. Pamot sama sekali tidak menjawab. Kekuatannya seakanakan
telah lenyap, Bahkan untuk menggerakkan ujung jarinya saja, terasa
terlampau sulit. Karena itu, apapun yang akan dilakukan oleh orang
yang melindungi wajahnya dengan ikat kepalanya itu, ia tidak akan
dapat mencegahnya. "Dengar anak muda" desis Kerpa dari balik ikat
kepalanya "aku dapat membunuhmu" Pamot masih tetap berdiam diri.
"Tetapi aku akan memberimu kesempatan memilih. Mati atau cacat untuk
seumur hidupmu" Terasa darah Pamot berdesir. Bahkan kawan Kerpa yang
bersembunyi di balik rimbunnya dedaunanpun menjadi berdebar-debar.
Kerpa memang bukan seseorang yang dapat diajak bergurau dengan cara
apapun. Tetapi ia tidak dapat meloncat untuk mencegahnya. "Katakan,
manakah yang kau pilih?" Pertanyaan itu serasa telah membakar isi
dada Pamot. Namun ia masih tetap berdiamdiri. "Jawablah" bentak
Kerpa. Ketika Pamot tidak juga menjawab, maka dengan kakinya ia
mengguncang tubuh anak muda itu "Ayo jawab. Kalau kau ingin mati aku
tinggal menginjak lehermu saja. Tetapi kalau kau masih ingin hidup,
katakan, apa yang harus aku lakukan. Tetapi mulut Pamot serasa sudah
terkunci. Ia tidak ingin menjawab sepatah katapun. Ia tidak peduli
lagi, apa yang akan terjadi atas dirinya yang sama sekali tidak
berdaya itu. Tetapi ketika orang yang menutupi wajahnya dengan ikat
kepalanya itu sekali lagi mengguncang tubuhnya dengan kakinya,
tiba-tiba ia terdorong surut sambil mengaduh pendek. Terasa sesuatu
telah mengenai dadanya. Begitu kerasnya, sehingga seolah-olah
tulang-tulang rusuknya menjadi retak. "Setan alas" Kerpa mengumpat
"siapa yang menyerang aku dari persembunyiannya. Pengecut. Ayo
keluar" Tetapi tidak ada jawaban. Serangan itu datang dari arah yang
lain dari tempat persembunyian kawannya, sehingga ia tidak dapat
menuduhnya. Dan sebenarnyalah kawannya itu sama sekali tidak
mengerti, apa yang telah terjadi. Dengan heran ia melihat Kerpa
terhuyung-huyung sambil memegangi dadanya. "Siapa he? Kalau kau
memang laki-laki, ayo kita berhadapan" Tetapi tidak seorangpun yang
menampakkan dirinya. Tetapi ketika Kerpa akan membuka mulutnya lagi,
terasa sebuah batu kerikil mengenai lehernya. Leher Kerpa serasa
tercekik karenanya. Sejenak ia terbatuk-batuk sambil memegangi
lehernya. Lemparan itu pasti bukan lemparan orang kebanyakan. Selain
orang yang melemparnya itu seorang pembidik yang baik, ia pasti
mempunyai kekuatan yang cukup. Karena itu Kerpa harus berhati-hati.
Ia menghadapi seseorang yang kuat, tetapi licik. Menyerang dari
persembunyian. Dengan hati-hati Kerpa kemudian maju selangkah. Untuk
sementara ia membiarkan Pamot terbaring di tanah. Menurut penilaian
Kerpa Pamot sama sekali sudah tidak berbahaya lagi baginya. "Jangan
menyerang sambil bersembunyi. Marilah kita berhadapan sebagai
laki-laki" geram Kerpa. Namun dadanya berdesir ketika ia mendengar
jawaban yang lambat tersendat-sendat "Kau juga bersembunyi di balik
ikat kepala itu. Coba, bukalah ikat kepalamu. Aku akan keluar dari
persembunyianku" "Persetan" jawab Kerpa dengan suara bergetar
"dimana kau. Akulah yang akan datang kepadamu kalau kau tidak mau
keluar" "Aku bersembunyi" terdengar suara itu. Namun suara orang itu
telah menuntun Kerpa untuk menemukan tempat persembunyiannya. Ketika
Kerpa sudah yakin, dimana orang itu bersembunyi, maka segera iapun
meloncat melingkari sebuah gerumbul. Ia tidak mau kehilangan
lawannya yang licik itu. Dadanya berdesir ketika ia melihat sesosok
tubuh yang berjongkok di balik gerumbul itu. Sudah tentu tidak ada
orang lain lagi yang telah menyerangnya selain orang itu. Karena
itu, ia tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan serta-merta ia telah
menyerangnya. Tetapi ternyata kemampuan orang yang bersembunyi itu
jauh melampaui dugaannya. Demikian ia menyerang dengan lontaran
kakinya, tiba-tiba terasa kakinya tertangkap. Ia tidak dapat berbuat
apa-apa sama sekali, ketika tubuhnya serasa terbang berputaran.
Agaknya lawannya dengan mudahnya telah memutar tubuhnya di udara.
Kerpa masih berusaha menggeliat sambil menyerang dengan kakinya yang
lain. Namun tiba-tiba saja kakinya yang tertangkap itupun dilepaskan
sehingga ia terlempar beberapa langkah. Dengan kemampuan yang ada
padanya, Kerpa masih berusaha menempatkan diri ketika ia terbanting
jatuh. Dilipatnya tubuhnya, dan dilekatkannya tangannya di dadanya.
Kerpa berusaha menjatuhkan dirinya pada pundaknya, agar ia tidak
mendapatkan cidera di bagian dalam. Namun begitu kerasnya ia
terbanting, sehingga matanya menjadi berkunangkunang. Nafas Kerpa
serasa terputus di lehernya. Sejenak ia sama sekali t idak dapat
bergerak. Isi dadanya seakan-akan telah menyumbat lehernya. Sehingga
karena itu, ia tergolek seperti Pamot yang lemas itu pula. Kawannya
yang bersembunyi di balik gerumbul hanya melihat Kerpa terlempar.
Namun demikian hatinya menjadi kecut. Ia tidak memiliki kemampuan
seperti Kerpa. Karena itu, maka seandainya ia harus berkelahi
melawan lawan Kerpa yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas itu,
pasti ia tidak akan dapat bertahan. Dengan demikian, maka sejenak ia
kebingungan. Ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Selagi ia
menimbang-nimbang, sebutir batu telah jatuh tepat di hadapannya,
sehingga ia tersentak setapak surut. Dadanya yang berdebar-debar
menjadi semakin berdentangan. Ternyata lawan Kerpa yang mampu
memutarnya di udara kemudian melemparkannya itu telah melihat di
mana ia bersembunyi. Apalagi ketika ia mendengar suara berat
beberapa langkah saja di hadapannya "Apakah kau juga akan melawan?"
Seolah-olah tanpa sesadarnya ia menjawab "Tidak. Aku tidak akan
melawan" "Kalau begitu, pergilah" Orang itu tidak segera menjawab.
Tetapi ia menjadi raguragu. "Bawa kawanmu itu pergi. Cepat, sebelum
aku merubah pendirian" Orang itu ragu-ragu sejenak. Dan ia mendengar
suara itu lagi "Cepat" Tidak ada pilihan lain lagi baginya. Dengan
hati yang berdebar-debar ia berdiri dan melangkah setapak demi
setapak. "Cepat" Ia mempercepat langkahnya mendekati Kerpa yang
masih terbaring di tempatnya sambil menyeringai. "Bawa dia pergi"
Orang itupun segera menolong Kerpa. Dibantunya Kerpa itu berdiri,
kemudian dipapahnya berjalan melintasi halaman yang kosong itu
menyusup gerumbul-gerumbul liar. Meskipun sambil mengeluh, namun
Kerpa telah memaksa dirinya untuk meninggalkan tempat terkutuk itu.
Halaman kosong itupun kemudian menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah
desah nafas Pamot yang kesakitan. Dengan susah payah ia berusaha
untuk bangkit. Sambil mengerang iapun kemudian berhasil duduk
bertelekan kedua tangannya. Pamot berpaling ketika ia mendengar
suara gemerisik di balik gerumbul di belakangnya. Hatinya menjadi
berdebardebar. Ia melihat lawannya yang memakai tutup ikat kepala di
wajahnya itu telah dilontarkan oleh seseorang yang juga tidak
dikenalnya. "Apakah ia memang berusaha membantu aku atau sekedar
ingin mendapat kepuasan, mencekik aku dengan tangannya" berkata
Pamot di dalamhatinya. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia
melihat seseorang yang bertubuh tinggi kekar menghampirinya. "Lamat"
desis Pamot "kenapa kau berada di sini?" Lamat tidak segera
menjawab. Dihampirinya Pamot yang masih kesakitan. Setelah ia
berjongkok di sampingnya, iapun berkata "Kau tidak apa-apa?"
"Beginilah, seperti yang kau lihat" Lamat mengerutkan keningnya.
Katanya "Maksudku, tidak ada luka-luka yang parah di tubuhmu atau di
dalam. Mungkin tulang-tulangmu atau bagian-bagian yang lain?" Pamot
menggeleng "Aku kira t idak" jawabnya. "Apakah kau dapat berjalan
pulang" Pamot menarik nafas. Katanya "Sebaiknya aku beristirahat
dahulu. Nafasku serasa akan putus, dan seluruh tubuhku menjadi
sakit" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian iapun bertanya
"Apakah kau mengetahui siapakah lawanmu itu?" Pamot menggeleng
"Tidak. Aku tidak mengetahuinya. Kenapa kau tidak membuka tutup
kepalanya ketika ia menjadi hampir pingsan?" "Aku tidak berani
menampakkan diriku" "Kenapa?" "Justru karena aku t idak mengenalnya.
Aku tidak tahu siapa dan apakah maksudnya yang sebenarnya. Tetapi
aku kira ia akan segera dapat mengenal aku. Aku tidak dapat
menyembunyikan diriku meskipun aku memakai tutup wajah seperti orang
itu. Setiap orang di Gemulung dan bahkan di seluruh Kademangan
Kepandak akan segera mengenal bentuk tubuhku" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Kalau saja kau membuatnya
benar-benar pingsan" "Aku tidak berani melakukannya. Kalau aku agak
terdorong sedikit dan tanpa aku kehendaki aku telah membunuhnya,
maka aku akan menyesal" Sekali lagi Pamot mengangguk-anggukkan
kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya kembali "Kenapa kau ada
disini?" Lamat terdiam sejenak. Tatapan matanya terlontar kekejauhan
menembus hitamnya malam. "Kenapa?" "Aku ditugaskan oleh Manguri"
"Apa tugasmu?" "Mengawasi kau. Manguri masih menyangka bahwa kau
selalu datang mengunjungi Sindangsari" Pamot mengerutkan dahinya.
"Ternyata dugaannya itu benar. Kau masih selalu datang kepadanya.
Bahkan hampir setiap malam" Pamot mengangguk. "Dan ternyata itu
sangat berbahaya bagimu. Seandainya ada orang yang melihatnya, dan
orang itu tidak menyukaimu, maka kau akan dapat dilaporkan kepada Ki
Demang" Lamat berhenti sejenak, lalu "bahkan mungkin orang-orang
yang berkerudung di wajahnya itu juga suruhan Ki Demang" Pamot masih
mengangguk-angguk. Dan tiba-tiba suaranya tersentak "Kau benar
Lamat. Orang yang satu, yang bersembunyi tadi adalah orang yang
pernah aku kenal" "Akupun pernah melihatnya. Orang dari Sapit.
Tetapi siapakah yang menyuruhnya. Itu yang aku tidak tahu" "Kenapa
ia tidak kau paksa untuk berbicara" "Aku tidak mau mereka
mengenalku" Pamot menganggukangguk pula. "Ternyata banyak sekali
orang yang merasa berkepentingan atasmu. Manguri, orang-orang itu,
dan kakek Sindangsari sendiri. Jangan kau sangka bahwa kakek
Sindangsari t idak melihat apa yang kau lakukan selama
ini"
Jilid 4 PAMOT terkejut mendengar
keterangan itu. "Tetapi kalau sampai saat ini ia mungkin masih tetap
berdiam diri, itu agaknya bukan karena ia membenarkan pertemuan itu.
Ia hanya sekedar tidak dapat menahan perasaan iba dan kasihannya
kepada cucunya. Tetapi pada suatu saat ia pasti akan menyatakan
keberatannya" "Darimana kau mengetahuinya?" bertanya Pamot.
"Bukankah aku hampir setiap malam selalu mengawasi gerak-gerikmu
atas perintah Manguri? Semula aku memang merasa segan, namun
kemudian aku justru merasa berkewajiban. Orang yang datang bersama
orang yang menutupi wajahnya itupun telah pernah aku lihat pula di
malam-malam sebelum ini" "Kenapa kau tidak pernah memberitahukannya
kepadaku" "Kadang-kadang aku menjadi ragu-ragu. Apakah aku sudah
melakukan sesuatu yang tepat. Aku adalah seorang pembantu,
katakanlah seorang budak belian. Aku sudah terikat oleh perasaan
berhutang budi yang tidak akan dapat ditebus dengan cara apapun.
Dengan demikian aku harus bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku
tidak mengkhianati keluarga Manguri apabila aku keluar dari perintah
yang mereka berikan? Aku kadang-kadang dibayangi oleh berbagai
pertanyaan yang tidak dapat aku jawab sendiri. Pada saat Manguri
akan memanggil Sura Sapi, dan diam-diam aku memberikannya kepadaku,
beberapa malam aku tidak dapat tidur nyenyak karena dibayangi oleh
pertanyaan yang serupa itu" Pamot tidak menyahut. Tetapi ia dapat
membayangkan betapa perasaan raksasa itu kadang-kadang menjadi
sangat kalut. Perasaan berhutang budi, namun perbuatan-perbuatan
yang harus dilakukan adalah perbuatan-perbuatan yang bertentangan
dengan hati nuraninya. Pamot menarik nafas dalam-dalam ketika ia
mendengar Lamat berkata "Sekarang pulanglah" "Tetapi" desis Pamot
"Sindangsari pasti menunggu kedatanganku. Ia akan menjadi cemas dan
gelisah, apabila aku tidak datang kepadanya" "Sudah aku katakan,
hentikan permainan yang berbahaya ini" "Maksudmu, kau melarang aku
berhubungan lagi dengan Sindangsari? Apakah itu yang dikehendaki
Manguri" "Jangan salah paham Pamot" berkata Lamat "dan keadaan yang
demikian inilah yang menyulitkan kedudukan dan perasaanku. Aku
mencoba menasehatimu sejujur-jujur hatiku. Tetapi memang tidak aneh
kalau kau dapat menjadi salah paham" "Maaf, aku kadang-kadang memang
terdorong selangkah sebelum aku berpikir baik-baik" "Mungkin memang
demikianlah keadaan seseorang yang sedang dibayangi oleh perasaan
cinta. Tetapi meskipun demikian kau harus masih tetap mempergunakan
akalmu. Jangan hanya perasaanmu" Pamot tidak menjawab. "Apakah kau
dapat mengerti? Aku sama sekali t idak keberatan apabila kau masih
tetap berhubungan dengan Sindangsari, tetapi jangan dengan caramu
yang sekarang" "Jadi bagaimana?" Lamat mengerutkan keningnya. Namun
kemudian ia berkata "Aku tidak tahu. Cara apakah yang sebaik-baiknya
kau lakukan. Tetapi setidak-t idaknya kau lebih berhati-hati lagi
melakukannya. Tidak terlampau sering seperti yang kau lakukan
sekarang" Pamot mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Tetapi malamini
aku harus menemuinya" Lamat menggeleng-gelengkan kepalanya. Desisnya
"Kau memang keras kepala. Tetapi kalau memang tidak ada kemungkinan
lain, pergilah. Temuilah gadis itu untuk yang terakhir kalinya
dengan caramu yang sekarang. Untuk selanjutnya kau harus lebih
berhati-hati dan lebih bersikap dewasa" Pamot mengangguk "Baiklah.
Aku akan berbicara dengan Sindangsari" "Berterus teranglah, bahwa
kau selalu diawasi oleh beberapa pasang mata. Hari ini aku melihat
kau dihajar orang. Tetapi mungkin lain kali aku kebetulan tidak
berada disini" "Baiklah. Tetapi apakah yang kau katakan kepada
Manguri?" "Aku tidak dapat mengelabuinya bulat-bulat. Karena itu aku
mengatakan kepadanya, bahwa kau memang pernah datang ke rumah
Sindangsari" "Apakah katanya?" "Ia mengumpat-umpat. Tetapi tidak
mustahil bahwa ia membuat desas-desus tentang hal itu, agar didengar
oleh Ki Demang di Kepandak" "Aku mengerti. Aku berterimakasih
kepadamu Lamat. Mudah-mudahan hatimu tetap diterangi oleh kebajikan,
meskipun kau harus melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan.
Tetapi setidak-tidaknya kau menyadari dan mengerti, manakah yang
baik dan manakah yang tidak" "Mudah-mudahan" desis Lamat. Suaranya
menjadi dalam sekali. Lalu "Pergilah, dan cepat tinggalkan tempat
itu. Kalau orang-orang yang mengamati kau tadi utusan Ki Demang,
maka kau akan mendapat kesulitan apabila ia mengirimkan
orang-orangnya lebih banyak. Sudah tentu aku tidak dapat membantumu
dengan terang-terangan. Ki Demang akan marah kepadaku, dan akan
melaporkannya kepada ayah Manguri" "Terimakasih atas peringatanmu
itu Lamat. Sekarang, biarlah sekali lagi aku menemuinya. Aku akan
berbicara dengan Sindangsari bahwa keadaanku agak berbahaya
akhirakhir ini". "Kau dapat menunjukkan wajahmu yang merah biru,
atau barangkali luka-lukamu itu" Pamot menganggukkan kepalanya "Aku
akan mencoba membuatnya mengerti" Pamotpun kemudian meninggalkan
Lamat, meneruskan langkahnya menemui Sindangsari. Tetapi ia kini
mulai menilai perbuatan-perbuatannya di masa lampau. Terasa sesuatu
bergejolak di dalam dadanya. Ia memang menjadi ngeri sendiri. Tetapi
iapun merasa bahwa ia tidak akan dapat tidur nyenyak tanpa
mengunjungi Sindangsari lebih dahulu, meskipun hanya sekejap.
Meskipun demikian, ternyata Pamot masih dapat mempergunakan
nalarnya. Ia masih dapat memberikan penjelasan kepada Sindangsari
bahwa cara yang selama ini mereka lakukan adalah cara yang
berbahaya. "Bukan saja karena orang-orang yang mengintai kita"
berkata Pamot "tetapi bahaya itu datang dari diri kita sendiri"
Sindangsari menganggukkan kepalanya. Katanya "Aku mengerti kakang"
"Karena itu Sari" berkata Pamot kemudian "aku akan jarang-jarang
datang kemari untuk seterusnya. Tetapi bukan berarti bahwa aku
berusaha melupakan hubungan ini. Selama kau masih belum menjadi
isteri Ki Demang, aku masih berpengharapan, bahwa kita masih mungkin
menemukan jalan" Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Nah, untuk
seterusnya kita akan menjadi semakin jarang bertemu. Tetapi kalau
kau pergi ke Sungai, aku selalu berusaha memandangmu meskipun dari
kejauhan" Mata Sindangsari menjadi basah. Dalam keadaan demikian,
terasa hidupnya menjadi semakin malang. "Dalam saat-saat tertentu
aku akan datang Sari. Aku akan mengetuk dinding bilikmu. Dua kali,
tiga ganda berturut-turut" "Aku tidak mau terlampau lama kesepian
kakang" desis Sindangsari "jangan terlampau jarang berkunjung
kemari" "Baiklah Sari" suara Pamot tertahan sejenak, lalu "sekarang,
aku minta diri. Aku harus segera mengobati lukalukaku meskipun tidak
terlampau parah" "Hati-hatilah kakang" Pamot menganggukkan
kepalanya, lalu perlahan-lahan ia berkisar sambil berdesis
"Masuklah" Dengan hati-hati Sindangsari melangkah masuk ke rumahnya.
Ia kadang-kadang menjadi cemas juga kalau ibunya mengetahui apa yang
sudah dilakukannya. Tetapi dorongan dari dalam dadanya, seakan-akan
tidak dapat ditahannya. Bahkan kadang-kadang ia menghentakkan
tangannya yang kecil sambil menggeram "Aku tidak peduli. Aku tidak
peduli apa yang akan terjadi atas diriku" Dengan kepala tunduk Pamot
meninggalkan rumah Sindangsari. Sekali-sekali ia berpaling namun
yang dilihatnya hanyalah kegelapan malamdan dedaunan yang hitam.
Dengan dada yang berdebar-debar ia mencoba mencari jalan,
bagaimanapun ia tidak akan dapat terpisah lagi dari gadis itu.
Tetapi Pamot hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apakah aku
harus membawanya lari?" desisnya. Namun kemudian dijawabnya sendiri
"Apakah hidup yang demikian itu akan dapat tenteram? Kami akan
selalu merasa dikejar-kejar dan dibayang-bayangi. Mungkin oleh
orangorang Ki Demang, tetapi mungkin orang-orang yang diupah oleh
Manguri" Pamot menarik nafas dalam-dalam "Mungkin aku dapat menahan
hati, tetapi bagaimana dengan Sindangsari?" Dengan demikian, maka
Pamot tidak dapat segera melepaskan diri dari beban perasaannya.
Kadang-kadang hatinya menjadi gelap. Tetapi kadang-kadang, ia
mencoba untuk melihat kenyataan. "Manakah yang lebih baik?"
pertanyaan itu selalu mengikut inya kemana-mana "aku
mempertahankannya sebagai seorang laki-laki, atau merenungi
perhitungan yang tidak dapat aku ingkari. Kalau aku menerima nasib
ini, maka aku bukanlah seseorang yang berani mengorbankan diriku
untuk mempertahankan cinta yang tumbuh di hati kami. Tetapi kalau
aku merebutnya dengan kekerasan, maka sudah tentu tidak akan ada
artinya. Ki Demang bukan lawanku dalam segala hal. Kekayaan,
kemampuan dan ilmu. Pamot hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.
Ketika ia memasuki rumahnya, seisi rumah terkejut melihat luka-luka
di tubuhnya, pakaiannya, yang sobek dan wajahnya yang merah biru dan
bengkak-bengkak. "Pamot, kenapa kau?" bertanya ayahnya. Pamot tidak
dapat ingkar lagi. Ia berkata berterus terang, apa saja yang sudah
terjadi atasnya. "Kalau saja Lamat tidak melihat perkelahian itu,
aku tidak tahu, apakah yang akan terjadi" berkata Pamot kemudian.
Ayahnya menjadi tegang sejenak. Namun kemudian ia berkata "Pamot,
hal ini dapat kau jadikan pelajaran bagimu. Kau benar-benar telah
melakukan perbuatan-perbuatan yang berbahaya selama ini. Bukan saja
Ki Demang, orang tua Sindangsari kalau ia melihatnya, orang tuamu
sendiri, tetapi kau akan dikutuk oleh seluruh penduduk Gemulung dan
bahkan Kepandak. Kau memang dapat dianggap telah mengganggu isteri
atau bakal isteri seseorang. Ini harus kau sadari. Sampai saat ini
orang-orang Gemulung berpihak kepadamu, meskipun hanya di dalam
hati. Tetapi kalau mereka melihat atau mendengar bahwa kau telah
berbuat tidak senonoh itu, maka semuanya akan memalingkan wajahnya.
Apalagi Sindangsari telah pasti di kehendaki oleh Ki Demang,
meskipun seandainya Sindangsari itu bakal isterimu sendiripun,
perbuatan itu tidak dapat dibenarkan" Pamot hanya dapat menundukkan
kepalanya. Ia mengerti maksud ayahnya. Dan iapun sebenarnya mengerti
semuanya yang dikatakan, baik oleh ayahnya maupun siapa saja yang
telah menasehatinya, bahwa orang-orang Gemulung tidak akan senang
melihat perbuatannya itu. Bahkan apalagi nama Sindangsari. Gadis itu
pasti akan menjadi cemar karenanya. Namun demikian ia berkata di
dalam hatinya "Kalau gadis itu bakal isteriku sendiri buat apa aku
bersembunyi-sembunyi datang ke rumahnya. Aku tinggal menunggu, kapan
hari perkawinan itu datang. Aku selalu datang kepadanya, justru
karena ia akan terlepas dari tanganku" Tetapi Pamot tidak berani
mengatakannya. Kepalanya yang tunduk justru menjadi semakin tunduk.
Namun. semuanya seolah-olah menjadi bertambah gelap. Ayah dan
ibunyapun kemudian masih menasehatinya panjang lebar. Seperti yang
setiap kali dikatakan oleh orang tuanya, bahwa mengalah adalah jalan
menuju kekeluhuran. Berani mengalah, akan luhurlah pada akhirnya.
Sekali terdengar Pamot berdesah. Di dalam hatinya ia berkata "Kalau
setiap orang berpendirian demikian, maka alangkah damainya dunia
ini. Tetapi kalau tidak, maka malanglah mereka yang selalu mengalah
di saat-saat dan masa-masa seperti ini" Pamot menarik nafas
dalam-dalam. Dan ia masih saja berbicara kepada diri sendiri di
dalam hatinya "Asal aku masih tetap menyadari hak dan kewajibanku"
"Apakah kau dapat mengerti Pamot" berkata ayahnya kemudian. Pamot
tergagap. Ia tidak begitu mendengar nasehat ayah dan ibunya yang
berkepanjangan. Namun demikian ia menganggukkan kepalanya sambil
berkata "Ya ayah. Aku mengerti" "Bagus. Karena itu lain kali kau
harus berhati-hati" ayahnya berhenti sejenak, lalu "tetapi siapakah
orang yang kau katakan menutupi wajahnya itu? Kalau saja ia
benar-benar orangorang Ki Demang, maka mungkin sekali ia akan sangat
marah kepadamu. Ia dapat bertindak langsung atas dasar kekuasaannya,
tetapi ia juga dapat bertindak t idak langsung" Pamot tidak
menjawab, "Sekarang obati lukamu itu dengan minyak kelapa dan daun
sirih. Gosoklah perlahan-lahan" Pamot menganggukkan kepalanya "Baik
ayah" Dibantu oleh ibunya Pamotpun segera menggosok badannya yang
luka-luka itu dengan daun sirih dan minyak yang dihangatkan di atas
lampu jelupak. Dalam pada itu Kerpa telah menghadap Ki Demang di
rumahnya bersama kawannya. Dengan geram Kerpa menceriterakan apa
yang sudah terjadi atasnya, meskipun tidak selengkapnya, untuk
sedikit menutupi kekalahannya. "Kalau saja orang itu tidak
bersembunyi" desisnya. Ki Demang yang wajahnya menjadi merah
memotong "Tetapi kau sudah menemukannya bukan?" "Tidak begitu jelas
Ki Demang. Ia masih dibayangi oleh dedaunan. Kalau saja kita beradu
dada di tempat terbuka" "Bohong. Kalau beradu dada di tempat
terbuka, kau akan dibunuhnya" "Tentu tidak. Aku sama sekali tidak
menyangka, bahwa ia akan menyerangku begitu tiba-tiba" "Siapa yang
menyerang" "Orang itu selagi aku sedang mencoba mengenalnya karena
ia tidak menjawab pertanyaanku" "Alangkah bodohnya kau Kerpa. Orang
itu sudah jelas, menyerangmu. Kenapa kau masih juga melihat-lihat
seperti mengenali seorang gadis saja?" Kerpa menjadi bingung. Memang
sulit baginya untuk mengarang sebuah ceritera yang mapan untuk
mengelabuhi Ki Demang yang mempunyai tanggapan yang tajam atas
setiap peristiwa. Sehingga karena itu, ia terdiam sambil menundukkan
kepalanya. "Apakah Pamot mengerti bahwa kau adalah suruhanku?" "Aku
kira tidak Ki Demang" "Mudah-mudahan. Kalau hal ini kelak tersebar,
aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Ki Jagabaya, seandainya
diketahuinya bahwa akulah yang telah menyuruhmu" "Aku menutup
wajahku dengan ikat kepalaku" Kerpa berhenti sejenak, lalu "Tetapi
seandainya Ki Jagabaya mengetahui, apa sajalah yang dapat
dilakukannya? Bukankah ia harus tunduk kepada Ki Demang?" "Ya.
Akupun yakin bahwa ia akan tunduk perintahku. Tetapi itu hanyalah
lahiriahnya saja. Hatinya pasti akan mengutuk aku. Dan itu berbahaya
bagiku? Kalau sesuatu terjadi di Kademangan ini, sehingga
menumbuhkan putaran keadaanku, aku tidak akan dapat mengharapkan
bantuannya lagi, apalagi dukungannya" "Dan itu agaknya tidak akan
dapat terjadi" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya
"Mudahmudahan "Namun agaknya Ki Demang sama sekali tidak puas dengan
peristiwa yang baru saja terjadi. Ia tidak mendapat jaminan bahwa
Pamot tidak akan lagi datang ke rumah Sindangsari. "Tetapi, tetapi"
Kerpa menyambung keterangannya "aku yakin bahwa Pamot t idak akan
datang lagi ke rumah gadis itu" "Aku tidak yakin sebelum aku tahu
siapakah yang telah melindunginya itu. Tentu bukan orang kebanyakan
menurut ceritamu" Kerpa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kerpa"
berkata Ki Demang kemudian "aku harus menemukan cara lain yang lebih
baik untuk mencegah Pamot. Aku tidak akan dapat memakai kekerasan
itu dengan terangterangan. Agaknya rakyat Gemulung menaruh iba
kepada anak itu, sehingga aku tidak tahu pasti apakah pendirian
mereka yang sesungguhnya. Dalam keadaan wajar, orangorang Gemulung
pasti akan mengutuk Pamot karena perbuatannya itu. Tetapi dalam
keadaan ini mungkin mereka bersikap lain, seperti mereka tidak dapat
berbuat apa-apa atas Pedagang ternak yang kaya itu meskipun mereka
tahu, bahwa baik Pedagang ternak itu sendiri, maupun anak
laki-lakinya sering melakukan perbuatan yang tidak baik. Ini juga
suatu kelainan meskipun sebabnya jauh berbeda. Terhadap pedagang
ternak itu, orang-orang Gemulung agaknya kurang mempunyai keberanian
bertindak, atau bahkan lama kelamaan menjadi tidak acuh, sedang
terhadap Pamot mereka menaruh belas kasihan" Kerpa
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku akan mencari jalan itu" berkata
Ki Demang kemudian "untuk sementara kalian berdua masih harus
mengawasi. Mengawasi saja. Jangan berbuat apa-apa lebih dahulu. Pada
suatu saat mungkin orang yang melindungi Pamot itu akan menangkapmu,
kalau kalian memperlihatkan diri atau mencoba mencegah Pamot sekali
lagi" "Baik Ki Demang" jawab Kerpa. "Nah, pulanglah. Lakukanlah
tugas kalian untuk seterusnya sebaik-baiknya. Hati-hatilah. Kalau
seseorang mengetahui bahwa kalian mendapat tugas dari aku, aku
gantung kau berdua" "Ya, ya Ki Demang" jawab mereka hampir
bersamaan. Sejenak kemudian maka merekapun segera minta diri. Ketika
mereka keluar dari halaman Kademangan, para peronda di regol
memandangi mereka saja sampai mereka hilang di dalam kelamnya malam,
tetapi mereka tidak bertanya. Baru setelah mereka tidak tampak lagi,
salah seorang peronda bertanya "He, apa keperluannya malam-malam
begini menemui Ki Demang" Yang lain menjawab "Mereka mempunyai
kegemaran sama. Kuda" "Tetapi malam-malam begini mereka berbicara
tentang kuda?" "Mungkin saja. Kalau Kerpa mendengar orang yang akan
menjual seekor kuda yang baik, maka ia pasti datang kepada Ki
Demang. Kapan saja. Pagi, siang, sore dan juga malam" Kawannya
mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu percaya, tetapi ia tidak
membantah. Di saat yang hampir bersamaan, Manguri sedang menahan
kemarahan yang menyesak di hatinya. Di hadapannya Lamat duduk
tepekur sambil mengusap-usap lututnya. "Jadi Pamot masih saja datang
ke rumah Sindangsari?" "Ya" jawab Lamat "tetapi aku sudah
memperingatkannya. Bahkan aku mengancamnya, kalau sekali lagi ia
datang ke rumah gadis itu, aku akan bertindak kasar" "O, kau memang
bodoh. Kenapa kau tidak berbuat apa-apa atasnya? Kenapa kau
mengancamsaja, mengancam dan mengancam?" Lamat berpikir sejenak. Dan
tiba-tiba saja ia berkata "Aku sudah melakukannya. Aku tidak berani
mengatakannya. Aku takut kalau hal itu tidak menjadi kehendakmu"
"He, kau apakan dia?" "Hanya sekedar peringatan. Aku banting ia di
tanah sehingga pingsan" "Bohong. Bohong. Aku tidak percaya bahwa kau
berani melakukannya" Lamat tidak menyahut. Ia menjadi ragu-ragu.
Apakah Manguri melihatnya? Dan tiba-tiba Manguri itu berkata "Besok
aku akan membuktikannya. Kalau benar, pasti ada bekas-bekasnya pada
anak itu" Lamat masih tetap berdiam diri. "He, kenapa kau berdiam
diri? Kau cemas bahwa aku akan mengetahui kebohonganmu?" Lamat
menggeleng. Jawabnya "Tidak. Aku ingin ikut membuktikan besok"
Manguri mengerutkan keningnya. Sambil menganggukanggukkan kepalanya
ia berkata "Bagus. Besok kau pergi bersamaku" Lamat mengangguk
lemah. "Sementara aku harus menemukan jalan untuk mendapatkan
Sindangsari" berkata Manguri "Pamot harus dicegah, agar ia tidak
mendekati gadis itu lagi "Manguri berhenti sejenak, lalu "tetapi
sampai saat ini aku belum melihat jalan yang lebih baik daripada
mengambilnya dan membawanya pergi" Dada Lamat menjadi berdebar-debar
mendengar niat yang agaknya semakin kuat mencengkam hati Manguri.
"Tetapi aku masih menunggu laki-laki itu" "Laki-laki yang mana?" "Ia
akan datang kalau ayah pergi. Aku mengharap ayah akan pergi mengurus
dagangannya untuk beberapa hari. Lamat tidak menyahut. lapun
sebenarnya mengerti, bahwa setiap kali seorang laki-laki memasuki
rumah itu. Tetapi Lamatpun mengerti, bahwa laki-laki itu bukanlah
laki-laki kebanyakan. Ia dapat memasuki halaman dan rumah itu
seperti siluman. Dengan tanda-tanda tertentu ibu Manguri dapat
mengenalnya. Namun betapa pandainya mereka merahasiakan hubungan
itu, akhirnya Manguri dapat mengetahuinya juga, meskipun secara
kebetulan saja. Tetapi iblis kecil itu dengan licik mampu
memanfaatkannya untuk kepentingannya. Di pagi harinya, ternyata
Manguri tidak lupa dengan rencananya. Ketika matahari telah
melampaui ujung pepohonan, iapun mengajak Lamat pergi ke sawah.
Biasanya ia dapat menjumpai Pamot di ladangnya. "Kita melihat apakah
kau tidak berbohong" berkata Manguri kepada Lamat. "Baik" jawab
Lamat. Tetapi ia menjadi berdebar-debar juga. Katanya kemudian
"tetapi kita tidak dapat yakin bahwa Pamot hari ini ada di
ladangnya. Mungkin tubuhnya masih sakit. Tetapi mungkin juga ia
mampu pergi ke sawah. "Kita akan melihatnya" Mereka berduapun
kemudian pergi ke sawah. Mereka ingin melihat, apakah Pamot
benar-benar menjadi merah biru seperti yang dikatakan oleh Lamat.
Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan sawah Pamot, Lamatpun
menjadi semakin berdebar-debar. Ia belum sempat menemui Pamot untuk
mengatakan niat Manguri. "Nah, lihat. Anak itu ada di sawahnya"
berkata Manguri ketika mereka melihat Pamot berdiri di pematang
dengan geprak di tangannya untuk mengusir burung "Tampaknya ia
sehat-sehat saja" Lamat tidak menjawab. Tetapi hatinya menjadi
semakin berdebar-debar. Namun ketika mereka menjadi semakin dekat,
tampaklah oleh Manguri wajah Pamot yang membengkak meskipun tidak
terlalu nyata. Matanya di sebelah kiri masih tampak kebirubiruan,
sedang sebuah goresan memanjang di pipinya. "He" tiba-tiba Manguri
tidak dapat menahan perasaannya. Sambil tertawa ia bertanya "kenapa
wajahmu Pamot " Pamot berpaling. Di lihatnya Manguri dan Lamat
mendekatinya. "Kau terlampau rajin merias wajahmu. Kau apakan mata
dan keningmu itu?" Pamot mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya
wajah Lamat yang tegang. Tetapi Pamot masih berdiamdiri. Manguri
tertawa kecil melihat bentuk wajah Pamot. Perlahan-lahan ia
melangkah mendekatinya. "Aku masih menaruh belas kasihan kepadanya"
tiba-tiba Lamat berkata dengan nada suaranya yang parau "kalau aku
tidak ragu-ragu, mungkin ia masih belum dapat bangun pagi ini"
"Kanapa kau kasihan kepadanya" berkata Manguri. Lamat tidak
menjawab. Tetapi ketika Pamot memandangnya, ia mengangguk kecil.
Semula Pamot tidak mengerti maksudnya, namun ketika Lamat meraba
keningnya sendiri dan dengan isyarat jarinya menunjuk dirinya
sendiri pula, Pamot menjadi mengerti maksud raksasa itu. Karena itu
maka tiba-tiba ia menggeram "Manguri, buat apa kau ajak kerbau itu
datang kemari? Apakah ia masih belum puas dengan kebiadabannya
semalam?" Suara tertawa Manguri menjadi semakin keras. Jawabnya
"Jangan sakit hati Pamot. Aku memang menyuruhnya. Tetapi bahwa kau
menjadi merah biru itu sebenarnya adalah karena salahmu sendiri.
Kenapa kau masih berani juga datang ke rumah Sindangsari? Untunglah
bahwa Lamat yang melihatmu. Kalau yang mengetahui kecuranganmu itu
orang-orang Ki Demang, maka kau akan akan disatai di halaman
Kademangan, di hadapan para bebahu Kademangan dan pengawal
kawan-kawanmu" Pamot menggeretakkan giginya. Jawabnya "Apa pedulimu
kalau aku akan disatai di hahalaman Kademangan? Bukankah kau memang
berdoa agar hal itu terjadi?" "Ya, tepat sekali. Aku memang berdoa
agar kau celaka tujuh keturunan. Kemudian Ki Demangpun aku doakan
pula agar lekas mati. Kau tahu maksudku ?" "Kau sudah menjadi putus
asa" "Kenapa?" "Kau hanya dapat mengharapkan sesuatu yang tidak
bakal terjadi. Bukankah dengan demikian kau mengharap tidak ada
orang lain lagi yang bakal mengganggumu apabila kau menghendaki
Sindangsari?" "Jangan kau sangka aku hanya sekedar berdoa dan duduk
tepekur sambil berkumat-kamit" sahut Manguri "salah satu usahaku
adalah membuat kau jera. Apakah kau sangka Lamat tidak dapat berbuat
lebih dari itu?" "Persetan dengan kerbau dungu itu" "He, kau berani
menghina? Apakah kau ingin ia menampar mulutmu?" "Lakukanlah
sekarang kalau berani" Manguri menarik nafas. Ketika tanpa
sesadarnya matanya beredar, dilihatnya beberapa orang sedang bekerja
di sawahnya pula. Bahkan dua orang anak muda duduk dengan tenangnya
di tanggul parit sambil merendam kakinya ke dalam air. "Punta" desis
Manguri, lalu kepada Pamot ia bertanya "apakah kerja setan itu di
sini?" Pamot menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu" "Kau
memanggilnya" "Bagaimana aku memanggilnya? Aku berada di sini sejak
kau datang. Tetapi seisi padukuhan ini mengerti bahwa kau adalah
orang yang paling panasten di seluruh padukuhan bahkan di seluruh
Kademangan Kepandak. Karena itu jangan menyesal, jangan sakit hati
bahwa setiap gerak-gerikmu kau selalu diawasi" Manguri
menggeretakkan giginya. Dipandanginya Punta yang masih duduk
berjuntai di tanggul parit yang membelah bulak persawahan. "Biarlah
setan-setan itu dimakan demit" Manguri menggeram "kita tidak ada
gunanya terlampau lama menunggu manusia-manusia dungu ini" Lamat
tidak menjawab. Dan Manguripun kemudian melangkah meninggalkan
tempat itu sambil berkata kepada Pamot "Ingat Pamot, Kalau kau masih
berani mengulangi lagi, maka akibatnya pasti akan lebih parah lagi
bagimu" Pamot sama sekali tidak menjawab. Dipandanginya saja langkah
Manguri yang diikut i oleh Lamat di belakangnya. Namun demikian
Pamot berkata di dalam hatinya "Kasihan raksasa yang seolah-olah
telah terikat erat-erat kaki dan tangannya itu. Kenapa ia tidak
berusaha melepaskan diri dari keluarga yang gila itu?" Sepeninggal
Manguri dan Lamat, maka Punta dan kawannya datang mendekatinya "Apa
lagi yang dilakukan oleh anak itu? "Ia ingin melihat luka-luka di
wajahku" Punta mengerutkan keningnya. Baru saat itu ia melihat
luka-luka itu dari dekat. Karena itu tiba-tiba saja ia bertanya
"Kenapa kau luka di wajahmu? Apakah benar-benar Lamat yang
melukaimu?" Pamot menggeleng "Bukan Lamat" "Siapa?" "Aku tidak tahu.
Orang itu mempergunakan tutup wajah dengan ikat kepalanya " "Apa
salahmu, atau kira-kira apakah kepentingannya dengan kau saat itu?"
"Aku tidak tahu. Aku berjalan di lorong padukuhan ketika ia
menyerangku" namun nafas Pamot terasa semakin cepat mengalir. Ia
tidak berani mengatakan alasan yang sebenarnya, kenapa ia berkelahi
semalam, karena Pamot masih belum dapat meraba, tanggapan apakah
yang akan diberikan oleh anak-anak muda itu. Mungkin mereka menaruh
iba, tetapi mungkin benar kata ayah Pamot, orang-orang Gemulung akan
mengutuknya. Atau bahwa benar kata orang berkerudung itu bahwa
pelanggaran itu akan menumbuhkan wabah yang dahsyat di padukuhan
ini" "Omong kosong" ia menggeram di dalam hatinya. Dalam pada itu
Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mempercayai saja keterangan
Pamot yang sudah mulai berdusta kepada kawan-kawannya itu. Kalau
begitu hati-hatilah. Agaknya kau memang baru dibayangi oleh nasib
yang malang. Tetapi jangan lekas menyerahkan kepada keadaan" Pamot
mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu pasti maksud Punta. Apakah
dengan demikian Punta bermaksud mendorongnya, tetap pada sikapnya
untuk memiliki Sindangsari? Atau barangkali Punta mempunyai maksud
yang lain? Tetapi Pamot tidak menanyakannya. Ia bahkan mengangguk
sambil berkata "Aku memang tidak akan menyerah, apapun yang akan
terjadi" "Tetapi hati-hatilah. Bahaya dapat menerkammu dari segala
penjuru. Kalau aku tidak menyaksikan kedatangan Manguri, mangkin ia
akan memaksa Lamat berbuat sesuatu atasmu. Aku sudah melihat gelagat
itu. Jika demikian, Lamat pasti akan menjadi bingung" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya "Sudahlah. Teruskanlah kerjamu. Aku
juga akan kembali" "Terima kasih" desis Pamot. "Kenapa?" bertanya
Punta. "Kalau kau tidak datang, seperti katamu, mungkin Lamat akan
mengalami kesulitan. Dan tentu aku juga" Punta dan kawannya
tersenyum. Katanya "Lihat burung burung gelatik itu" Pamotpun
tersenyum pula. Ia memandang Punta dan kawannya yang berjalan
menyusuri pematang itu sejenak. Kemudian ia berpaling kepada
sekelompok burung betet yang terbang berputaran di atas sawahnya.
Sejenak kemudian burung-burung itu bersama-sama turun dan hinggap di
batang jagung. Sejenak kemudian terdengar suara goprak Pamot yang
dibarengi dengan teriakan-teriakan yang menghentak. Bukan saja untuk
mengusir burung-burung betet yang sedang mencuri jagungnya yang
masih muda, tetapi juga untuk melepaskan himpitan perasaannya yang
menyesak di dadanya. Sehari-hari Pamot tidak pulang ke rumahnya. Di
saat makanpun ia tetap berada di gubugnya. Direnunginya ujung
tanamannya yang hijau segar. Langit yang biru bersih dan terik
matahari yang serasa membakar tubuhnya. Pamot menarik nafas
dalam-dalam. Di kejauhan dilihatnya ndeg pangamun-amun. Seperti uap
air yang sedang mendidih. "Benarkah orang-orang berdosa dijemur di
terik matahari sebagai ndeg-pangamun-amun itu?" t iba-tiba saja
tumbuh pertanyaan di dalam hatinya. Ia pernah mendengar ibunya
berceritera ketika ia masih kanak-kanak, bawa orang yang berdosa,
yang tidak menurut orang-orang tua, yang nakal, yang menyalahi
sesama, kelak, di saat-saat tertentu di akhirat nanti akan dijemur
di terik matahari sebagai ndeg-pengamun amun, kalau malam akan
dibiarkan terendam oleh air embun yang sangat dingin. Pamot menarik
nafas dalam-dalam. "Sindangsari belum isteri Ki Demang" katanya di
dalam hati" dan iapun sebenarnya tidak ingin menjadi isteri Ki
Demang, sehingga aku tidak berdosa apabila aku menemuinya" Tiba-tiba
saja Pamot menggeretakkan giginya. Ia terkejut ketika gubugnya
berderak-derak. Ketika ia berpaling dilihatnya kepala ayahnya
tersembul "O, ayah" desisnya. "Kenapa kau tidak pulang?" ayahnya
bertanya "Aku menjadi cemas. Biasanya di waktu makan kau pulang,
sehingga kami tidak perlu mengirimkan makanan ke sawah" "O" Pamot
termenung sejenak "Aku tidak lapar ayah" Ayahnyapun kemudian naik ke
gubug itu pula. Ia membawa sebuah bungkusan makan buat Pamot "Ibumu
menyuruhku mengirimkan makanmu " "Ah, sebenarnya itu tidak perlu.
Aku memang t idak lapar" "Bukan itu soalnya. Tetapi kami memang
cemas. Kau sedang dibayangi oleh bermacam-macam peristiwa yang
kadang-kadang berbahaya bagimu meskipun di siang hari seperti ini"
Pamot menundukkan kepalanya. Ayahnya memang keras dan sering
memarahinya sejak ia masih kanak-kanak. Tetapi terasa betapa orang
tuanya itu selalu memikirkan dirinya, nasibnya dan hari depannya.
"Kalau kau t idak pulang, makanlah" Pamot mengangguk perlahan-lahan.
Desisnya "Terima kasih ayah" Selagi Pamot makan, maka ayahnyapun
turun dari gubugnya untuk melihat-lihat tanamannya. Tampaknya di
musim menuai jagung musim ini ia akan mendapatkan hasil yang baik.
Jagung-jagung yang masih muda sudah tampak memberikan harapan.
Sedang di bagian lain dari sawahnya, yang terietak agak lebih rendah
dan mampu dialiri oleh air dari parit sebelah, batang-batang padi
yang hijau subur telah menjadi semakin t inggi pula. Ayah Pamot
mengangguk-angguk kepalanya. Di dalam hati ia berdesis
"Mudah-mudahan hasil dari sawah ini menjadi lebih baik dari musim
yang lalu" Tetapi bila terlintas nasib anaknya, ayah Pamot itu
menjadi berdebar-debar. Agaknya masalahnya akan berkepanjangan.
"Sebaliknya Ki Demang segera mengawini gadis tu. Semuanya akan
selesai. Betapapun sakit hati Pamot, namun ia tidak lagi
terkatung-katung diantara harapannya yang kadangkadang masih tumbuh
dengan kenyataan yang dihadapinya" berkata ayah Pamot itu di
dalamhatinya. Namun ternyata bukan ayah Pamot sajalah yang berpikir
demikian. Ternyata Ki Demangpun akhirnya berpendapat bahwa ia memang
harus segera kawin untuk menghentikan segala macam kemungkinan yang
tidak dikehendakinya. "Tetapi kakek gadis itu sama sekali belum
memberitahukan, kapan dan hari-hari apa yang telah dipilihnya untuk
meresmikan perkawinan itu" berkata Ki Demang di dalam hatinya.
Tetapi akhirnya ia memutuskan "Biarlah aku yang menentukan hari itu.
Aku tidak dapat menunggu lebih lama lagi" Demikianlah akhirnya, Ki
Demang memanggil sanak saudaranya yang terdekat, yang masih ada
tali-temali dan bebahu Kademangan. Ia menyampaikan niatnya untuk
segera menentukan hari perkawinannya. "Kalau semuanya memang sudah
matang, sebaiknya Ki Demang segera melangsungkan perkawinan itu.
Tidak baik tertunda-tunda seperti membiarkan makanan di dalam
mangkuk di atas geledeg. Mungkin tikus, mungkin kucing yang
menunggui t ikus itu, atau mungkin apapun juga yang justru akan
menerkamnya" berkata salah seorang tua di dalam pertemuan itu. Ki
Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana pendapatmu
Reksatani?" bertanya Ki Demang "kau adalah satu-satunya keluargaku
yang terdekat" Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
ia berkata "Kalau kakang sudah memutuskan, sebaiknya perkawinan itu
memang tidak tertunda-tunda lagi" "He, aku memang sudah memutuskan,
Sudah lama. Kenapa kau masih menyebut-nyebutnya?" "Maksudku, kalau
kakang sudah memutuskan untuk segera kawin" Ki Demang mengerutkan
keningnya. Tetapi iapun kemudian tersenyum "Siapakah yang mempunyai
pertimbangan lain? Karena kebetulan aku adalah seorang Demang, maka
aku minta pertimbangan para bebahu. Kalau aku bukan seorang Demang,
persoalanku tidak akan menyangkut banyak segi seperti ini" Tidak
seorangpun yang menyahut. Ki Demang mengerutkan keningnya.
Dilihatnya Ki Jagabaya duduk di sudut bersandar dinding. Matanya
sama sekali tidak memandangi Ki Demang yang berbicara kepada mereka,
tetapi dipandanginya daun pintu yang t idak tertutup rapat.
"Bagaimana pendapatmu Ki Jagabaya?" Ki Jagabaya tergagap karenanya.
Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya "Tentu. Tentu
aku sependapat. Bukankah begitu Ki Reksatani?" "Ya, tentu kita semua
akan sependapat" Ki Demang mengerutkan keningnya. Dadanya berdesis
mendengar jawaban Ki Jagabaya dan Ki Reksatani itu. Ia merasa bahwa
apa yang mereka katakan tidak sesuai seperti yang mereka rasakan.
Tetapi Ki Demang kemudian mengatupkan giginya. Katanya di dalam hati
"Persetan. Tidak seorangpun yang dapat menghalangi aku" Namun
demikian, sesaat kemudian ia telah berhasil menguasai perasaannya
kembali. Sehingga sambil tersenyum ia berkata "Terima kasih kepada
kalian. Agaknya kalian memang menyetujui" Ki Demang berhenti
sejenak, lalu katanya "Baiklah. Aku akan segera menentukan hari itu"
kemudian katanya kepada Reksatani" Adikku, kaulah yang akan pergi ke
rumah gadis itu untuk mengatakan hari-hari yang telah aku pilih
untuk melangsungkan perkawinan" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan
kepalanya, meskipun dadanya serasa menjadi pepat "Kalau memang
kakang kehendaki, baiklah aku akan pergi kapan saja kakang tentukan
harinya" "Sehari ini aku akan membicarakan dengan erang tua-tua hari
apakah yang sebaiknya aku pilih. Kemudian becok sore kau akan pergi
ke rumah gadis itu" Sekali lagi Ki Reksatani mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tampaknya menjadi semakin mantap, meskipun hatinya
menjadi semakin sakit. Karena tidak ada masalah lagi yang harus
mereka bicarakan, maka pertemuan itu segera diakhiri. Ki Demang
minta orang tua-tua untuk datang malam nanti dengan
petunjuk-petunjuk hari apakah yang sebaiknya mereka pilih. Tetapi
ketika para tamu itu minta diri, Ki Demang berkata "Yang lain aku
persilahkan. Tetapi Ki Jagabaya aku minta untuk tinggal sebentar" Ki
Jagabaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya beberapa orang
kawannya, bebahu Kademangan Kepandak yang lain, kemudian disambarnya
pula wajah Ki Reksatani. Namun kemudian ia mengangguk sambil berkata
"Baiklah. Aku akan tinggal" "Dan kau jugaReksatani" desis Ki Demang.
Ki Reksatanipun mengangguk pula "Ya. Aku akan tinggal disini"
Demikianlah ketika orang-orang yang lain telah meninggalkan ruangan
itu, mulailah mereka ketiga berbicara tentang hari-hari perkawinan
itu. "Aku percaya kepadamu Ki Jagabaya. Aku sendiri tidak akan dapat
berbuat apa-apa di saat aku kawin. Karena itu, keselamatanku dan
keselamatan peralatan itu aku serahkan kepada Ki Jagabaya dan
kepadamu Reksatani. Aku percaya bahwa di seluruh Kepandak dan
sekitarnya tidak ada orang yang dapat menyamai kalian berdua secara
pribadi. Sedang kalian mempunyai pasukan pengawal yang dapat kalian
banggakan" Ki Jagabaya mengangkat wajahnya. Kemudian kepalanya
terangguk-angguk. Katanya "Itu sudah menjadi kewajibanku. Tetapi aku
yakin, tidak akan ada seorangpun yang akan mengganggu hari-hari
perkawinan itu" Mudah-mudahan" berkata Ki Demang "tetapi siapa tahu
Manguri mempunyai apa saja yang dapat dipergunakannya. Uangnya cukup
banyak untuk dapat menimbulkan persoalan di hari-hari perkawinan
itu" Ki Jagabaya memandang Reksatani sejenak. Lalu katanya "Aku kira
t idak akan berani. Betapapun juga. kita memiliki pasukan pengawal
yang banyak jumlahnya" Ki Reksatani menyahut pula "Aku kira bukan
dari Manguri. Manguri pasti akan merasa bahwa gadis itu sama sekali
tidak mencintainya. Bukankah kita sudah mengetahuinya, bahwa gadis
itu telah benar-benar jatuh cinta kepada Pamot?" "Maksudmu, apabila
terjadi keributan itu pasti berasal dari Pamot?" "Bukan begitu. Aku
tidak dapat memastikan. Mungkin Manguri memang dapat menjadi mata
gelap. Tetapi kemungkinan memperhatikan Manguri saja, mungkin kita
akan lengah. Justru Pamotlah yang merasa dirinya telah mengikat
perasaan dengan gadis itu, dan gadis itu telah menerimanya pula dan
mencintainya" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian.
Karena itulah aku minta Ki Jagabaya tinggal. Aku ingin membicarakan
beberapa masalah dengan kalian berdua" Ki Demang berhenti sejenak,
lalu "meskipun tampaknya tidak ada hubungannya dengan hari-hari
perkawinan itu dan seterusnya" Ki Jagabaya dan Ki Reksatani saling
berpandangan sejenak, tetapi mereka sama sekali tidak berkata
apapun. "Dengarlah" berkata Ki Demang, lalu "tetapi semuanya hanya
untuk kau berdua untuk sementara" Keduanya masih duduk membeku. "Aku
mendengar dari seorang perwira Mataram, bahwa Mataram memerlukan
beberapa orang pengawal khusus yang terbaik" Ki Jagabaya dan Ki
Reksatani terkejut. Dengan cepat Ki Jagabaya dan Ki Reksatani tahu,
kemana arah pembicaraan Ki Demang, sehingga sebelum Ki Demang
meneruskan katakatanya, Ki Jagabaya mendahului "Apakah Mataram sudah
akan mengirim pasukannya ke Betawi untuk kedua kalinya?" "Ingat. Ini
masih merupakan rahasia. Bukan rahasiaku. Tetapi rahasia Kerajaan,
Kau sadari?" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, aku
sadari. Tetapi bukan itu yang penting kita bicarakan dalam
hubungannya dengan keadaan di Kademangan ini. Sebenarnya kita
berbangga, bahwa pimpinan keprajuritan Mataram menaruh perhatian
terhadap tunas-tunas yang tumbuh di kademangan ini. Dengan demikian
Kademangan ini mendapat kesempatan untuk menegakkan tiang-tiang yang
kita dirikan di atas Tanah Air kita sendiri" "Kenapa sebenarnya?
Bukankah memang demikian?" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan
kepalanya "Aku mengharap, mudah-mudahan demikian hendaknya" "Kenapa,
kenapa kau sebenarnya Ki Jagabaya ?" bertanya Ki Demang. "Tidak
apa-apa. Aku akan memilih orang-orang terbaik dari Kademangan ini.
Setiap Padukuhan akan aku ambil seorang. Di Kademangan ini terdapat
lebih dari sepuluh padukuhan dan beberapa padukuhan-padukuhan kecil.
Kita akan dapat mengirimkan limabelas orang atau lebih" "Jangan
terkejut Ki Jagabaya. Perwira itu minta kepadaku agar Kademangan
Kepandak menyediakan kira-kira lima puluh orang pasukan pengawal
khusus. Bukankah jumlah itu dapat dicapai dan bahkan dilampaui. Di
seluruh Kademangan ini ada kira-kira tujuhpuluh lima pengawal khusus
dan lebih dari limapuluh pengawal yang sudah resmi, di samping
kegiatan anak-anak muda sega!a padukuhan" Ki Jagabaya mengerutkan
keningnya. Limapuluh orang. Tetapi agaknya Mataram memang memerlukan
banyak tenaga. Mungkin Sultan Agung telah mempelajari
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, berdasarkan kegagalannya
di masa lampau. Pasukan Mataram setahun yang lalu tidak berhasil
merebut kota itu dan mengusir orangorang asing yang mulai menanamkan
kekuasaannya di atas bumi tercinta ini. "Dalam keadaan yang
mendesak, tidak hanya lima puluh orang itu yang akan diambilnya"
berkata Ki Demang "Ya" sahut Ki Jagabaya "dalam keadaan yang
mendesak, setiap laki-laki adalah prajurit. Apalagi menghadapi orang
asing yang mulai menggoyahkan sendi-sendi kekuasaan kita di atas
Tanah kita sendiri" "Nah, kau akan dapat memperhitungkan, berapa
orang yang dapat kau ambil dari setiap padukuhan" "Empat orang.
Kira-kira empat orang" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Sejenak
dipandanginya Ki Demang dengan penuh kebimbangan. Namun kemudian
tumbuhlah kecurigaan di dalam hatinya. Agaknya Ki Demang ingin
memanfaatkan masalah ini untuk kepentingan pribadinya. Itulah
sebabnya ia membicarakan masalah ini, masih dalam rangkaian
pembicaraan hari perkawinannya. "Ya" berkata Ki Demang kemudian
"empat atau lima orang. Itu sudah cukup. Kita akan dapat memilih
siapa yang akan berangkat ke Mataramapabila nanti saatnya tiba" "O,
kita tidak perlu memilih" berkata Ki Jagabaya "kalau kita
mempergunakan cara itu, aku ragu-ragu apakah setiap orang menerima
pilihan itu dengan ikhlas" "Kenapa tidak? Bukankah mereka sudah
mengetahui kemungkinan itu sejak mereka bersedia menerima
latihanlatihan yang lebih baik dari kawan-kawannya oleh
prajuritprajurit dari Mataram, yang juga justru dalam rangka
persiapan ini? Tentu mereka t idak akan berkeberatan" Ki Jagabaya
mengangguk-anggukkan kepalanya "Memang, aku percaya, bahwa mereka
tidak akan berkeberatan. Tetapi kita tidak akan mengabaikan
masalah-masalah pribadi mereka seorang demi seorang. Mungkin ada
diantara mereka yang ibunya sedang sakit keras, atau barangkali
seseorang yang sudah menentukan, bahwa ia akan segera kawin, atau
kepentingan-kepentingan lain" Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun
ia masih bertanya "Jadi, bagaimana sebaiknya menurut kau?" "Kita
kumpulkan mereka semua. Kita akan bertanya, siapakah yang kali ini
bersedia untuk berangkat" Wajah Ki Demang menegang. "Ada beberapa
keuntungan" berkata Ki Jagabaya "mereka tidak akan merasa, kita
membeda-bedakan. Kalau kita memilih, kita dapat salah tunjuk. Orang
yang mempunyai beberapa keberatan karena keadaan pribadi mereka,
justru kita pilih, karena kita tidak mengetahuinya, sedang mereka
yang tidak kita sebut, akan menjadi sakit hati, karena mereka merasa
direndahkan atau justru dianak tirikan" "Tetapi bagaimana kalau yang
menyatakan diri kurang dari yang diperlukan?" bertanya Ki Demang.
"Aku berani bertaruh dengan ujung rambutku. Pasti lebih dari
limapuluh orang yang bersedia" "Kalau terlampu banyak Enam puluh
orang misalnya. Bagaimana menyisihkan yang sepuluh" "Kita undi" Ki
Demang termenung sejenak. Tetapi kemudian ia berkata "Kemungkinan
yang dapat terjadi, pengawal khusus yang kita ambil tidak akan
merata. Mungkin dari satu padukuhan kita mendapat sepuluh orang,
sedang dari padukuhan yang lain hanya satu dua atau bahkan tidak
sama sekali" "Kita akan menentukan cara undian itu" berkata Ki
Jagabaya "tidak seluruhnya sekaligus. Tetapi undian itu kita berikan
khusus bagi setiap padukuhan" Ki Demang terdiam sejenak. Namun
tampak bahwa ia tidak dapat menerima dengan mantap usul Ki Jagabaya
itu. Karena itu, ia masih berkata "Bagiku, lebih baik kita menunjuk.
Yang berkeberatan supaya mengajukan keberatannya. Kita akan
mempertimbangkan" Ki Jagabaya memandang wajah Ki Demang dengan penuh
kecurigaan. Sementara Ki Reksatani berkata "Kakang apakah aku boleh
menghubungkan masalah ini dengan hari perkawinan kakang?" Ki Demang
menjadi ragu-ragu sejenak. Sedang Ki Reksatani berkata pula "Aku
menduga, bahwa Ki Jagabaya akan mengatakan hal itu, tetapi ia
menjadi agak segan" "Apa yang kau maksudkan?" "Akupun sebenarnya
segan untuk mengatakannya, tetapi aku kira hal ini akan lebih baik,
apabila kita saling berterusterang. Kita tidak akan selalu merasa
dibayangi oleh masalahmasalah yang terasa belum selesai kita
bicarakan. Bukankah begitu?" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk lemah, katanya "Ya aku
kira kita akan saling berterus terang. Apakah yang ada dan apakah
yang tersimpan di hati kita masing-masing" Sekilas Ki Reksatani
memandang wajah Ki Jagabaya. Tetapi Ki Jagabaya tidak segera
mengatakan sesuatu, sehingga ruangan itupun sejenak menjadi sepi.
Yang pertama-tama berbicara adalah Ki Reksatani, katanya "Silahkan
Ki Jagabaya Kakang Demang sudah membuka pintu" Ki Jagabaya menarik
nafas dalam-dalam. Kemudian katanya "Ki Demang. Kalau aku boleh
berterus-terang, maka aku ingin bertanya, apakah Ki Demang berusaha
memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan Ki Demang sendiri?
Misalnya tentang penyingkiran Pamot?" Ki Demang berdesir mendengar
pertanyaan itu. Seolah-olah cacat yang disembunyikannya dapat
langsung disentuh oleh Ki Jagabaya itu. Namun, sejak semula Ki
Demangpun sudah menaruh prasangka bahwa Ki Jagabaya dan adiknya, Ki
Reksatani memang akan menebaknya dengan tepat. Karena itu, Ki Demang
merasa tidak perlu mengelak lagi. Dengan tegas ia menjawab "Ya.
Alasan ini akan aku pergunakan pula untuk menyingkirkan Pamot.
Bukankah ia termasuk salah seorang anggauta pengawal khusus. Ia
harus ikut di dalam tugas ini. Ia harus termasuk salah seorang dari
limapuluh orang yang akan pergi ke Mataram, kemudian dipersiapkan
untuk mengikuti pasukan Mataram yang akan menyerang Betawi" Ki
Jagabaya dan Ki Reksatan berpandangan sejenak. Namun karena Ki
Demang sudah berterus-terang, mereka bahkan seolah-olah tidak
mempunyai bahan lagi untuk membicarakannya. Karena itu, mereka masih
harus berdiam diri sambil mendengarkan Ki Demang berbicara "Aku kira
itu adalah jalan yang sebaik-baiknya buat Pamot. Aku tidak ingin
mempergunakan kekerasan. Aku tahu, ia sudah menyalahi adat, bahwa ia
masih saja menghubungi seorang gadis yang sudah ditentukan akan
kawin dengan orang lain. Kalau aku tidak ingin menghindari
keributan, maka aku dapat berbuat lebih dari apa yang akan aku
lakukan sekarang, menempatkan anak itu dalam pasukan yang justru
mendapat kehormatan untuk mempertahankan nama Tanah tercinta ini" Ki
Demang berhenti sejenak, lalu "Aku harap kalian tidak memandangnya
dari sudut yang terbalik. Seolah-olah aku mempergunakan kesempatan
ini untuk mencelakakannya. Aku justru masih ingin melihat Pamot
tidak kehilangan namanya. Coba katakan Ki Jagabaya, apa yang
sebaiknya dilakukan atas anak itu, apabila dapat dibuktikan bahwa ia
telah melanggar pagar ayu. Dan kau Reksatani. Apakah kau dapat
menyebut hukuman apa yang sebaiknya diberikan kepadanya?" Ki
Jagabaya mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa apabila kata-kata Ki
Demang itu benar, Pamot memang dapat dituntut oleh adat. Tetapi
bahwa hal itu tidak terjadi begitu saja, seharusnya mendapat
pertimbangan. Pamot tidak datang kepada Sindangsari setelah gadis
itu ditetapkan untuk menjadi isteri Ki Demang. Tetapi sebaliknya.
"Tetapi biasanya orang-orang padukuhan ini tidak mau memperhatikan
sebab-sebab yang dapat menumbuhkan suatu keadaan. Kadang-kadang
mereka memandang suatu persoalan hanya sepotong-sepotong yang mereka
perlukan, atau yang sedang mereka persoalkan itu saja" berkata Ki
Jagabaya di dalam hatinya "mereka tidak mau menelusur "Kenapa Pamot
berbuat demikian. Tuntutan adat itu tidak mau mengerti, bahwa Pamot
merasa telah kehilangan sesuatu, haknya yang dirampas oleh ki Demang
yamg kebetulan sedang mempunyai kekuasaan di Kademangan Kepandak"
Meskipun demikian Ki Jagabayapun melihat, bahwa sebagian terbesar
orang-orang Gemulung, di dalam persoalan ini berpihak kepada Pamot
seandainya mereka berani menyatakan hatinya. Dalam pada itu Ki
Reksatani hanya menundukkan kepalanya saja. Ia tidak berani
memberikan jawaban atas pertanyaan Ki Demang tentang pelanggaran
pagar ayu. Kalau ia harus menyebut hukuman apa yang sebaiknya
diberikan kepada mereka yang melanggar pagar ayu, terasa lidahnya
menjadi kelu. Karena tidak ada yang segera menjawab, maka Ki Demang
berkata pula "Kenapa kalian diam saja? Kalian harus memberi
pertimbangan. Aku sudah mencoba mencari jalan yang paling baik untuk
menyelesaikan masalah Pamot" Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam.
Kalau pertimbangan Ki Demang sudah sampai begitu jauh, maka ia tidak
akan dapat berbuat lain daripada menyetujui. Menyetujui dengan
sepenuh hati atau tidak. Namun tiba-tiba saja Ki Jagabaya teringat
kepada Manguri. Karena itu maka katanya "itukah sebabnya maka Ki
Demang pada permulaan pembicaraan ini hanya menekankan keamanan di
dalam peralatan itu dengan memperhatikan Manguri. Karena menurut
perhitungan Ki Demang, Pamot sudah tidak ada lagi di Kademangan ini"
Ki Demang menganggukkan kepalanya "Ya. Begitulah. Bukankah Ki
Jagabaya sudah menduganya" "Sayang" desis Ki Jagabaya. "Apa yang kau
sayangkan?" bertanya Ki Demang. "Kalau Manguri termasuk anggauta
pasukan pengawal khusus, iapun dapat dikirimkan ke Mataram" "Jadi,
apakah menurut Ki Jagabaya, pengawal khusus yang dikirim ke Mataram
itu sekedar tempat untuk membuang orang-orang yang tidak disukai di
Kademangan ini?" bertanya Ki Reksatani. "Aku tidak mengatakan
demikian" jawab Ki Jagabaya, lalu "tetapi menurut jalan pikiranku,
hal itu dapat terjadi atas Manguri apabila dapat terjadi atas Pamot,
Atau orang-orang lain di kemudian hari" "Ki Jagabaya" tiba-tiba Ki
Demang menggeram "Akulah yang memutuskan semua persoalan disini. Kau
adalah pembantuku di dalam bidangmu" Ki Jagabaya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya. "Ya. Aku sadari
kedudukanku. Dan bukankah aku tidak membantah untuk menjalankan
tugas itu" "Sekarang kau harus menjawab, cara yang manakah yang
sebaiknya ditempuh untuk menentukan siapakah yang akan berangkat ke
Mataram itu. Limapuluh orang dari pengawal khusus yang selama ini
telah mendapat latihan keprajuritan dari para prajurit Mataram yang
sengaja mempersiapkan mereka apabila diperlukan" Sambil mengangkat
dadanya Ki Jagabaya menjawab tegas "Kita akan menentukan dan memilih
mereka seorang demi seorang" Seleret warna merah membayang di wajah
Ki Demang. Ia tahu benar ungkapan kejengkelan Ki Jagabaya di dalam
nada jawabannya itu. Tetapi Ki Demangpun kemudian menyahut "Bagus.
Kau sudah memenuhi harapanku. Kau benar-benar sudah menjalani tugas
yang aku bebankan kepadamu, sebagai pembantuku di dalam bidangmu"
"Ya, dan aku ingin menjadi seorang pembantu yang baik" sahut Ki
Jagabaya. Ki Demang mengatupkan giginya rapat-rapat. Tetapi ia masih
selalu menahan dirinya. Selama ini Ki Jagabaya adalah pembantunya
yang benar baik. Tetapi kali ini agaknya ia mempunyai sikap yang
lain, meskipun diendapkannya di dalam dadanya. Sementara itu, Ki
Reksatani hanya mendengarkan pembicaraan Ki Demang dan Ki Jagabaya.
Kadang-kadang ia menjadi berdebar-debar. Tetapi seperti Ki Jagabaya,
ia tidak akan dapat berbuat banyak. Kakaknya adalah seorang yang
keras hati. Dalam pada itu terdengar Ki Demang kemudian berkata "Ki
Jagabaya. Sekali lagi aku berpesan, masalah ini masih menjadi
rahasia. Aku masih menunggu perintah resmi dari pimpinan prajurit
Mataram yang berkewajiban untuk itu" Ki Jagabaya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya" Baiklah Ki Demang. Tetapi
apakah hal itu masih memerlukan waktu yang lama?" "Tidak" jawab Ki
Demang "aku hanya menunggu untuk beberapa hari saja. Menurut
pendengaranku, perintah itu sudah disiapkan. Apabila benar kata
perwira itu, bahwa ada Kademangan lain yang sudah menerima perintah
itu masih harus menunggu kepastian. Kalau para prajurit yang membawa
perintah resmi itu datang, maka kau tentu akan aku minta hadir" Ki
Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nah, sejak sekarang kau
dapat memilih meskipun belum kau pastikan. Siapa-siapa yang akan
kita kirimkan ke Mataram, mewakili Kademangan ini untuk suatu
perjuangan yang luhur" "Baik Ki Demang, aku akan segera memilih.
Sudah tentu Pamot harus ikut serta" Ki Demang t idak menjawab
meskipun dahinya berkerut. "Sekarang kau Reksatani" berkata Ki
Demang "datanglah malam nanti kemari. Aku akan menentukan
bersama-sama orang tua-tua di Kademangan ini, hari yang
sebaik-baiknya untuk melangsungkan perkawinan itu. Besok kau pergi
ke rumah gadis itu untuk mengabarkan, bahwa hari itu sudah aku
pilih" "Baik kakang" "Nah, aku kira aku tidak mempunyai kepentingan
yang lain" Maka Ki Jagabaya dan ki Reksatanipun segera minta diri.
Pertemuan itu telah membuat dada mereka bergejolak meskipun dengan
alasan yang berbeda-beda. Ki Reksatani masih saja selalu
mengumpat-umpat di dalam hatinya. Ia tidak mau melihat pada suatu
saat isteri Ki Demang itu mengandung dan melahirkan anak. Dengan
demikian maka impiannya selama ini untuk mewarisi segala jabatan dan
kekayaannya akan menjadi kabur. Tetapi Ki Reksatani tidak dapat
mengelak, bahwa pada malam harinya ia mendengar keputusan para tetua
Kademangan, bahwa perkawinan antara Ki Demang dan Sindangsari harus
segera dilaksanakan. "Hari yang paling baik adalah hari kelahiran Ki
Demang sendiri" berkata salah seorang tetua "hari itu adalah hari
yang pertama-tama dinikmati oleh Ki Demang. Hari Kurnia dan hari
kelahiran. Bertolak dari kelahiran itulah maka semuanya terjadi
seperti sekarang ini" Orang tua-tua yang lain mengangguk-anggukkan
kepalanya pula. Salah seorang berkata "Memang tidak dapat
dipergunakan. Misalnya hari itu berbareng dengan hari kematian salah
saorang dari orang tua Ki Demang" Ki Demang mengerutkan keningnya.
"Apakah hari kelahiran Ki Demang itu?" "Soma. Soma pahing" jawab Ki
Demang. "Soma bernilai empat, dan Pahing bernilai semibilan. Jumlah
tiga belas" "Bagus" sahut yang lain "hari itu adalah hari yang
paling baik. Tiga belas" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian katanya "Baru sepekan ini aku memperingati, hari kelahiran
itu" "Lima hari yang lalu?" "Tepatnya empat hari yang lalu. Bukankah
hari ini hari Jumat?" Para tetua Kademangan ituupun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya mereka bersepakat, bahwa
perkawinan Ki Demang akan berlangsung di hari kelahirannya itu.
Tigapuluh satu hari yang akan datang. Di hari Soma-Pahing. Ketika
keputusan itu telah jatuh, maka berkatalah Ki Demang kepada Ki
Reksatani "Nah, kau dengan keputusan itu. Kau besok harus pergi ke
rumah gadis itu. Katakan kepada kakeknya, karena ia tidak memberikan
ancar-ancar hari, maka Ki Demang telah memutuskan, agar
perkawinannya dengan Sindangsari dilakukan pada hari yang sudah
ditentukan itu" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
"Baiklah. Besok aku akan pergi ke rumah gadis itu. Aku akan
mengatakan keputusan para tetua Kademangan ini, bahwa sebaiknya hari
itulah yang dipergunakan" "Kau jangan berbuat seperti kanak-kanak.
Kau dengan, bahwa hari adalah keputusan yang tidak dapat dirubah
lagi?" "Ya, aku dengar" "Lakukan tugasmu baik-baik. Tidak ada orang
lain yang dapat berbuat lebih baik dari kau. Karena itu kalau kau
tidak dapat menyelesaikannya, apalagi orang lain" "Apa yang harus
aku selesaikan dengan tugas ini. Bukankah aku hanya menyampaikan
keputusan kakang Demang saja, bahwa perkawinan akan berlangsung
besok pada hari Soma-Pahing, sebulan lagi?" Ki Demang menganggukkan
kepalanya. "Anak kecilpun dapat melakukannya seandainya pantas.
Tetapi karena masalahnya adalah masalah perkawinan, maka memang
sepantasnya bahwa orang tualah yang menyebutkan kalimat itu"
"Begitulah. Besok kau dapat langsung pergi ke rumah gadis itu. Kau
tidak perlu singgah kemari. Tetapi setelah kau selesai, maka kau
harus singgah kemari dahulu, sebelum pulang" "Baik kakang" jawab Ki
Reksatani "tetapi apakah aku sekarang sudah boleh pulang" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya. Persoalan kita sudah matang.
Tetapi sebaiknya kau t inggal dahulu sebentar. Kita akan makan
bersama-sama" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia berkata "Terima kasih kakang. Aku sudah makan di rumah"
Ki Reksatani t idak menunggu pelayan Ki Demang menyuguhkan makan
bagi tamu-tamunya yang sedang memperbincangkan hari-hari perkawinan
Ki Demang di Kepandak. Pada senja di hari berikutnya. Ki Reksatani
berangkat ke rumah kakek Sindangsari. Ia tidak pergi sendiri, tetapi
ia membawa seorang kawan untuk menyaksikan pembicaraan mereka.
Kedatangannya telah mengejutkan seisi rumah yang sederhana itu.
Dengan tergopoh-gopoh kakek Sindangsari segera mempersilahkannya
masuk. Dengan ramahnya orang tua itu menyapanya sebagai adat
kebiasaan. Mereka saling bertanya tentang keselamatan diri
masing-masing dan keluarganya. Sejenak kemudian maka
dihidangkannyalah minuman hangat di dalam mangkuk. Baru setelah
mereka meneguk minuman hangat itulah Ki Reksatani berkata "Sekali
lagi aku datang atas nama kakang Demang di Kepandak" Kakek
Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya "Apakah Ki Demang
menanyakan hari-hari perkawinan cucuku?" Ki Reksatani menggelengkan
kepalanya "Tidak, bukan itu" "Apakah Ki Demang ingin menggagalkan
pembicaraan ini?" "O, tidak, Tentu tidak" "Seandainya demikianpun
aku kira justru akan lebih baik bagi keluarga kecil ini" "Tidak.
Bukan maksudnya. Juga bukan untuk menanyakan hari apa yang sebaiknya
untuk melangsungkan perkawinan itu. Tetapi kakang Demang justru
memberitahukan keputusan yang telah diambilnya tentang hari
perkawinan itu" "O, kenapa Ki Demang yang memutuskan hari itu?
Seharusnya akulah yang menentukan. Pihak calon penganten perempuan"
"Aku tahu. Tetapi keluarga calon penganten perempuan telah terlampau
lama tidak memberikan kepastian, sehingga kakang Demang telah
mengambil keputusan untuk menentukan hari perkawinan itu" Kakek
Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. "Jadi, kapankah hari yang
telah dipilih itu?" "Hari kelahiran kakang Demang. "Hari apa? "Soma
Pahing" "Soma bernilai empat, dan paling bernilai sembilan.
Jumlahnya tigabelas. Tigabelas" orang tua itu merenung sejenak. Lalu
tiba-tiba "O, tentu tidak mungkin. Tidak mungkin" "Kenapa?" Ki
Reksatani mengerutkan keningnya. "Hari itu adalah hari yang paling
jelek bagi Sindangsari" "Kenapa?" "Hari itu adalah kematian ayahnya
di peperangan. Hari itu adalah hari kedatangan utusan Ki Demang
pertama kali untuk melamar Sindangsari. Hari itu hari yang pasti
tidak membuat kesan yang baik bagi cucuku itu" Ki Reksatani
terbungkam sebentar. Lalu katanya "Tetapi, tetapi ketika kami datang
untuk pertama kali, kami memang memilih hari itu pula. Atau
kebetulan sekali. Ya. hanya kebetulan karena kami sama sekali tidak
memperhitungkan hari saat itu" "Mungkin hanya sekedar kebetulan bagi
Ki Demang. Tetapi tidak bagi Sindangsari" kakek gadis itu berhenti
sejenak, lalu "pada suatu hari seorang prajurit datang ke rumahnya.
Prajurit yang kurus dan pucat, meskipun sorot matanya masih tetap
menyala. Ia adalah salah seorang prajurit yang baru datang dari
perjalanan yang jauh, memerangi orang-orang asing yang katanya mulai
menginjakkan kakinya di tanah Jawa. Prajurit itu berkata kepada anak
perempuanku, ibu Sindangsari itu "Suami Nyai telah gugur di medan
perang" Tentu saja isterinya menjerit. Dan prajurit itu meneruskan
"Ia gugur di sebelahku, karena akupun terluka waktu itu, meskipun
tidak parah. Pada hari Soma-Bang. He, bukankah Soma-Bang itu Soma
Pahing" Ki Reksatani menjadi termangu-mangu sejenak. Terngiang pesan
kakaknya "Karena itu, kalau kau tidak dapat menyelesaikan, apalagi
orang lain" Dan ia menjawab waktu itu "Bukankah aku hanya
menyampaikan keputusan Ki Demang saja" lalu "anak kecilpun dapat
melakukannya seandainya pantas" Namun tiba-tiba ia kini menghadapi
masalah itu. Kakek Sindangsari menolak hari yang diputuskan oleh Ki
Demang. Meskipun demikian Ki Reksatani masih mencoba menekankan hari
itu, katanya "Tetapi ini keputusan Ki Demang" "Tetapi apakah Ki
Demang benar akan menyiksa Sindangsari dengan segala macam cara. Ia
sudah mengambilnya meskipun ia tahu, gadis tersebut tidak
menghendakinya. Kini ia memilih hari yang paling pahit bagi bakal
isteri yang terpaksa menjalani perkawinan itu. Hari kematian
ayahnya. Itu tidak baik. Tidak baik untuk segalagalanya" Ki
Reksatani menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan memaksakan kehendak Ki
Demang seperti yang dikatakannya, atau ia harus menyampaikan jawaban
kakek tua ini kepada kakaknya. Jika ia kembali tanpa keputusan itu,
maka kakaknya pasti akan memaki-makinya. Tetapi kalau ia memaksakan
kehendak itupun, agaknya kesannya akan terlampau jelek. Berbagai
macam pertimbangan telah melintas di dalam kepalanya. Namun ia masih
tetap ragu-ragu. "Kalau aku pulang, maka kakang Demang pasti akan
menunjuk hidungku sambil berkata "Nah, percaya? Bukankah kau tidak
dapat menyelesaikannya?" desah Ki Reksatani di dalam hatinya. Karena
Ki Reksatani tidak segera menjawab, maka kakek Sindangsari itupun
berkata "Nah, Ki Reksatani. Sebaiknya hal ini sekali lagi
dibicarakan dengan Ki Demang. Aku harap Ki Demang sudi
mempertimbangkan keadaan bakal isterinya. Aku tidak berkeberatan
hari apapun juga. Aku memang menganggap bahwa semua hari itu baik.
Tidak ada hari pantangan. Tidak ada hari yang mencelakakan kita.
Tetapi pertimbangan kami tentang hari Soma-Pahing ini lain. Bukan
karena hari itu sendiri, tetapi apa yang telah terjadi pada hari
itu, yang akan selalu membayangi cucuku. Kalau pada hari itu ia
harus menjalani hari perkawinannya, tetapi pada hari itu ia
mengenang kematian ayahnya, apakah perkawinan itu akan dapat membuat
kesan yang baik baginya?" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam.
Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada diri sendiri "Apa pedulimu?
Biarlah kakang Demang marah. Lebih baik lagi kalau t iba-tiba saja
ia memutuskan semua hubungannya dengan gadis itu karena kemarahan
yang meluap-luap. Alangkah baiknya" Karena itulah maka Ki
Reksatanipun kemudian menjawab "Baiklah. Aku akan kembali kepada Ki
Demang. Aku akan mengatakan kepadanya, jawaban yang aku terima
tentang hari itu" "Ya, sebaiknya demikian. Dan aku mengucapkan,
terima kasih atas kesediaan Ki Reksatani" Dan apa yang dibayangkan
oleh Ki Reksatani benar-benar telah terjadi. Ki Demang menjadi marah
bukan buatan. Kalau saja ia belum setua itu, mungkin kakaknya itu
sudah menamparnya. Namun justru yang diharapkan oleh Ki Reksatani
tidak terjadi. Ki Demang itu dengan serta-merta membanting mangkuk
di atas batu umpak saka guru, sambil berteriak "Aku batalkan
perkawinan ini!" "Tidak!" Yang dikatakan kemudian adalah "Kembali ke
rumah itu. Aku tidak mau menunda lagi" "Kakang" Ki Reksatani mencoba
menjelaskan "masalahnya bukan untuk menunda hari perkawinan itu.
Tetapi hari yang dipilih itulah yang tidak sesuai. Hari itu adalah
hari kematian ayah Sindangsari" "Persetan dengan kematian siapapun
juga" "Kalau kakang Demang memang ingin lebih cepat, kakang Demang
dapat memilih hari lain, justru lebih cepat dari hari itu" Ki Demang
mengerutkan keningnya. Bahkan ia berkata di dalam hatinya "O, jadi
perkawinan itu dapat berlangsung lebih cepat. Sepuluh hari lagi
misalnya, atau setengah bulan. Sejenak ia merenung. Tetapi tiba-tiba
ia sadar, bahwa sebulan itu adalah hari yang sebaik-baiknya. Ia
memperhitungkan bahwa di hari-hari itu Pamot sudah tidak ada lagi di
Kademangan ini. Tetapi apabila lebih cepat dari itu, mungkin para
pengawal khusus masih belum ditarik ke Mataram, sehingga apabila
Pamot menjadi mata gelap, masalahnya akan menjadi bertambah sulit.
Karena itu maka katanya "Tidak. Aku tidak mau merubah hari yang
sudah menjadi keputusan itu. Bukan keputusanku sendiri, tetapi
keputusan beberapa orang tetua Kademangan Kepandak. "Aku tahu
kakang. Tetapi untuk kebaikan kakang sendiri. Para tetua Kademangan
tidak tahu, masalah apa yang dapat tumbuh pada keluarga kakang
nanti. Apakah kakang sampai hati melihat, justru di hari perkawinan
itu isteri kakang Demang menjadi murung dan sedih? Dan untuk
seterusnya isteri kakang Demang itu sama sekali tidak berani
mengenangkan hari perkawinannya justru karena hari perkawinannya itu
adalah hari duka baginya, hari kematiannya ayahnya" "Mungkin sebulan
dua bulan ia akan selalu terkenang. Tetapi lambat laun ia akan
melupakannya" sahut Ki Demang "dan apakah gunanya kami kelak selalu
mengingat-ingat hari perkawinan itu? Yang penting bagi kami adalah
keserasian hidup di hari-hari berikutnya" Ki Reksatani mengerutkan
keningnya. Apalagi ketika kemudian mendengar kakaknya berkata
"Pokoknya, aku sudah berkeputusan. Hari itu adalah hari yang paling
baik. Katakan kepada kakek gadis itu" Ki Reksatani mengumpat-umpat
di dalamhatinya. "Nah, pergilah kembali ke rumah itu" "Tetapi tentu
tidak sekarang, kakang" jawab Ki Reksatani "besok aku akan ke
rumahnya " "Kenapa besok?" "Bukankah sekarang sudah terlampau
malam?" "Baikklah. Kau besok harus pergi ke rumah itu. Katakan bahwa
keputusanku tidak dapat berubah" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan
kepalanya, meskipun ia mengumpat-umpat di dalamhati. Demikianlah, di
perjalanan pulang ke rumahnya, tidak henti-hentinya ia berdesah.
Perkawinan kakaknya kali ini benar-benar telah menyiksanya.
Perkawinan itu sendiri telah membuatnya gelisah dan cemas, bahwa
harapannya akan musna. Sedang pelaksanaannyapun telah membuatnya
pusing kepala. Namun tiba-tiba Ki Reksatani itu tertegun. Sejenak ia
merenung, dan sejenak kemudian kepalanyapun teranggukangguk. "O, aku
memang bodoh sekali" Ia menggeram "Kenapa aku tadi terpengaruh oieh
kata-kata kakek Sindangsari dan bahkan mengharap Kakang Demang
membatalkan niatnya? Bodoh sekali. Seharusnya aku tahu, bahwa kakang
Demang tidak akan mengurungkan niatnya apapun yang akan terjadi.
Sebenarnya bagiku lebih baik bertindak kasar seperti kakang Demang.
Biar kakek Sindangsari sakit hati, atau gadis itu akan selalu sedih.
Aku tidak peduli. Itu lebih baik bagiku. Menurut beberapa orang,
perkawinan yang selalu dibayangi oleh kemurungan dan kesedihan tidak
akan dapat melahirkan anak. Bahkan seandainya hari itu memang
mempunyai pengaruh, dan hari yang bernilai tigabelas itu tidak baik,
sokurlah. Biarlah salah seorang dari mereka mati atau kemudian
bercerai atas perkawinan itu sehingga perkawinan itu gagal dan tidak
ada anak-anak yang dilahirkan karenanya " Ki Reksatani
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sekilas ia berpikir "tetapi
kelak kakang Demang pasti akan kawin lagi dengan orang lain" Ki
Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berdesis
"Persetan waktu mendatang. Sekarang yang sedang aku hadapi adalah
Sindangsari" Ki Reksatanipun kemudian mempercepat langkahnya,
menembus gelapnya malam. Titik embun yang dingin membasahi ikat
kepala dan pakaiannya. Tetapi ia sudah tidak menghiraukannya sama
sekali. Angin malam yang dinginpun sama sekali tidak terasa
menyentuh kulitnya. Di malam hari berikutnya, sekali lagi Ki
Reksatani dengan seorang kawannya pergi ke rumah Sindangsari, Tetapi
kini sudah membawa ketetapan, bahwa hari yang ditentukan oleh Ki
Demang t idak akan dapat dirubah-rubah lagi. Kakek Sindangsari yang
menerimanya mengerutkan keningnya ketika Ki Reksatani itu berkata
"Maaf, bahwa kakang Demang agaknya sudah tidak mau merubah
rencananya" "Itu kurang bijaksana" jawab kakek Sindangsari. "Aku
juga sudah berusaha mengatakan alasan-alasan yang bagiku masuk akal.
Tetapi kakang Demang sama sekali tidak mau bergeser. Ia sudah
terlampau lama menunggu. Bahkan di dalam nada kata-katanya, ia
merasa, seakan-akan dirinya sama sekali tidak diacuhkan oleh
keluarga ini, sehingga sama sekali tidak ada niat untuk menentukan
hari perkawinan yang sebaik-baiknya. "Bukan maksud kami" jawab kakek
Sindangsari yang terpotong oleh kata-kata Ki Reksatani "Aku tahu.
Dan aku sudah mengatakannya kepada kakang Demang. Tetapi kakang
Demang sama sekali tidak mempercayai" Ki Reksatani berhenti sejenak,
lalu "pada pokoknya, dengan menyesal aku harus menyampaikan
keputusan Kakang Demang, bahwa hari yang sudah ditentukan itu tidak
akan dapat berubah" Kakek Sindangsari menarik nafas dalam-dalam.
Kini tidak ada lagi cara yang dipergunakannya untuk menunda hari
perkawinan itu. Ia harus melaksanakannya kalau keluarganya tidak
ingin mendapat kesulitan karena Ki Demang. "Bagaimana pendapat Ki
Demang, kalau aku minta waktu sekedar untuk mengadakan persiapan
secukupnya? Seandainya Ki Demang sudah mantap dengan hari itu,
bukankah selapan lagi hari itu akan datang kembali" "Maaf, maaf. Aku
tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Aku mendapat pesan dari kakang
Demang, bahwa hari itu tidak akan dapat bergeser sekejappun" Ki
Reksatani berhenti sejenak, lalu "memang sebenarnya terlampau berat
bagiku untuk mengatakannya. Tetapi apa boleh buat" Kakek Sindangsari
menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi, dan sekali lagi, seakan-akan
ingin melepaskan himpitan perasaan di dalam dadanya. Namun ia tidak
pernah berhasil meyingkirkan kepepatan yang menyesak itu. "Nah,
apakah yang harus aku sampaikan kepada kakang Demang nanti?"
bertanya Ki Reksatani. Orang tua itu menggeleng "Tidak ada. Tidak
ada yang pantas disampaikan kepada Ki Demang" Ki Reksatani
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia duduk merenungi lampu
minyak di atas ajuk-ajuk. Sejenak mereka saling berdiam diri.
Berbagai gambaran hilir mudik diangan-angan kakek Sindangsari. Ia
mengangkat wajahnya ketika ia mendengar lamat-lamat suara cucunya
menangis "Agaknya anak itu mendengar pembicaraan ini" katanya di
dalam hati. Ki Reksatani dan kawannyapun mendengar suara isak yang
tertahan-tahan. Merekapun segera mengerti, bahwa Sindangsarilah yang
menangis itu. "Menangislah sampai air matamu kering" berkata
Reksatani di dalam hatinya "mudah-mudahan kau menjadi sakit
karenanya, kemudian mati" Malam menjadi semakin malam. Ki Reksatani
dan kawannyapun kemudian minta diri. Namun ketika ia berdiri di muka
pintu, ia teringat suatu. Sejenak ia berpikir, namun ketika nafsunya
melonjak di dadanya, ia berkata kepada diri sendiri di dalam hati
"Aku harus mengatakannya. Biarlah hatinya menjadi semakin sakit.
Biarlah ia dimakan oleh duka dan sedih" Maka berkatalah Ki Reksatani
itu kemudian "Suruhlah cucumu itu diam. Aku tahu, betapa pahit jalan
hidup yang harus ditempuhnya. Tetapi aku kira ia harus berusaha
untuk menyesuaikan dirinya dengan kenyataan. Aku tahu bahwa cucumu
tidak akan dapat melepaskan tali perasaannya atas pemuda yang
bernama Pamot. Tetapi Pamot segera akan hilang dari Kademangan ini.
Bersama-sama dengan para pengawal khusus ia akan dikirim ke Mataram,
karena Mataram memerlukannya untuk menggempur orang orang kulit
putih yang kini mulai menjamah Tanah ini. Suruhlah anakmu berdoa
agar Pamot selamat, meskipun jarang sekali orang yang dapat pulang
dari medan yang ganas itu. He, kau tahu, bahwa orang orang asing itu
sama sekali tidak mengenal perikemanusiaan? Bertanyalah kepada
anakmu, dimana suaminya sekarang" Ki Reksatani berhenti sejenak,
lalu tiba-tiba suaranya menurun "Maaf. Bukan maksudku untuk
menakut-nakuti. Tetapi agaknya aku sudah terdorong perasaan, karena
kebencianku kepada orang-orang asing itu" Sekali lagi ia berhenti
berbicara, lalu "Sudahlah. Aku minta diri. Tetapi, lupakanlah saja
kata-kataku yang terakhir. Mudah-mudahan pendengaranku itu tidak
benar, bahwa Pamot dan beberapa orang pengawal khusus akan segera
berangkat ke medan perang" Wajah kakek Sindangsari itu menjadi
tegang. Sebelum ia bertanya Ki Reksatani sudah menyambung "Aku
memang terdorong kata. Hal ini masih menjadi rahasia. Karena itu,
aku minta kau dan seisi rumah ini merahasiakannya juga. Bahkan
seandainya kalian bertemu dengan Pamot, kalian jangan mengatakannya
lebih dahulu. Jika rahasia ini bocor sebelumnya, maka kakang Demang
pasti akan marah sekali. Dan sumbernya tidak ada dua. selain
keluarga ini, karena belumada orang lain yang mengetahuinya"
"Tetapi, tetapi" suara kakek Sindangsari tergagap "seandainya
rencana itu benar, kapankah mereka akan berangkat?" "Aku tidak tahu.
Itupun rahasia pula" Kakek Sindangsari menundukkan kepalanya.
Terbayang anak muda yang bernama Pamot itu berada diantara para
prajurit yang sedang berjalan dalam satu iringan menuju ke Barat.
"Sudahlah, aku minta diri" "O, silahkan, silahkan" jawab kakek
Sindangsari yang kemudian mengantarkan tamunya sampai ke regol
halaman. Sepeninggal Ki Reksatani, Sindangsari sama sekali tidak
dapat menahan hatinya yang pedih. Berita kepergian Pamot, keputusan
hari-hari perkawinan yang tidak dapat berubah, dan sikap Ki Demang
yang keras telah membuatnya hampir berputus-asa. Bahkan
kadang-kadang memang terbersit suatu pendirian "Alangkah senangnya
kalau maut datang menjemput sebelum hari perkawinan itu "tetapi
untuk membunuh dirinya, Sindangsari masih dibayangi oleh ajaran
agamanya, bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang bertentangan
dengan agama Islam. "Tetapi apakah aku akan dapat menanggung segala
penderitaan ini?" pertanyaan itu selalu mengguncangguncangkan
dadanya. Keluarga kecil itu benar-benar merasa ditimpa kemalangan.
Masalahnya berkisar pada gadis yang bernama Sindangsari itu. Tetapi
mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya tinggal menerima
nasib mereka yang suram. Dalam pada itu, Sindangsari benar-benar
tenggelam dalam duka. Pamot telah tidak pernah mengunjunginya lagi
sejenak peristiwa malam itu. Meskipun ia masih selalu mengharap
bahwa pada suatu ketika ia akan dapat bertemu lagi dengan Pamot,
namun berita tentang hari perkawinannya dan keberangkatan Pamot
meninggalkan padukuhan Gemulung, telah membuat hatinya menjadi
semakin sakit. Sementara itu Ki Reksatani menjadi sedikit berlega
hati, bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang dapat membuat keluarga
kecil itu menjadi semakin jauh dari Ki Demang di Kepandak, meskipun
pada suatu saat Ki Demang akan masuk ke dalam lingkungan keluarga
itu apabila perkawinan telah berlangsung. Kebencian keluarga itu
kepada Ki Demang, lebihlebih lagi Sindangsari, pasti akan membuat
perkawinan itu tidak tenteram. Tetapi ternyata bahwa pemberitahuan
secara resmi, bahwa Mataram memerlukan anak-anak muda yang sudah
mendapat latihan khusus itu datang lebih dari dugaan Ki Demang.
Karena Mataram sendiri ingin segera menyelesaikan persiapan
pengiriman pasukan itu, maka semuanya berjalan dengan cepat pula. Ki
Jagabaya di Kepandak tidak mempunyai pilihan lain untuk menentukan
siapa saja yang akan berangkat ke Mataram, kecuali seperti yang
dikehendaki oleh Ki Demang. Ia harus menunjuk limapuluh orang
pengawal khusus yang akan mewakili Kademangan mereka di dalam
perjuangan melawan orang-orang asing yang mulai menginjakkan kakinya
dibumi tercinta ini. Dan diantara limapuluh orang itu harus terdapat
nama Pamot. Berita itupun dalam sekejap, telah menjalar dari telinga
ketelinga. Setiap anak muda mempercakapkan kemungkinan bahwa lima
orang kawan-kawan mereka akan segera berangkat ke Mataram. Hampir
setiap orang yang merasa dirinya anggauta pengawal khusus berharap,
agar ia dapat terpilih untuk mengikut i pasukan yang akan
menjelajahi pulau Jawa ini sampai hampir ke ujung Kulon. Ki
Jagabayapun segera melakukan persiapan secukupnya. Selain memilih
nama-nama dari antara pasukan pengawal, Kademangan Kepandak harus
mempersiapkan juga senjatasenjata yang mereka perlukan, meskipun
Mataram pasti akan menyediakan pula. Pakaian dan
kelengkapan-kelengkapan yang lain. "Kalian tidak usah terlampau
ribut" berkata seorang perwira yang pada suatu hari datang di
Kepandak "Mataram sudah menyediakan segala-galanya. Apabila tidak
semua dari yang lima puluh orang itu akan berangkat. Kami masih
harus mengadakan latihan-latihan yang berat. Dalam latihan-latihan
itu akan dapat kami tentukan, siapakah yang benar-benar memenuhi
syarat untuk bersama dengan prajurit Mataram melawat ke Barat" Ki
Demang dan Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa
hati Ki Demang menjadi berdebardebar pula. Pamot pasti dapat berbuat
sedemikian, sehingga ia tidak cukup memenuhi syarat untuk dipilih
menjadi bagian dari pasukan Mataram itu. "Tetapi perkawinan itu
sudah berlangsung" berkata Ki Demang di dalam hatinya "ia tidak akan
dapat mengganggu lagi. Paling sedikit ia akan berada di Mataram
selama tiga bulan, sebelum pilihan terakhir jatuh. Dan waktu yang
tiga bulan itu sudah cukup bagiku untuk membuat Sindangsari seorang
isteri yang baik" Sementara itu Ki Jagabaya telah bekerja dengan
keras untuk menentukan siapa yang akan dipilihnya. Ia baru mempunyai
sebuah nama yang pasti. Pamot. Yang empatpuluh sembilan masih harus
ditentukannya dari seluruh anggauta pasukan pengawal. Di hari-hari
latihan, Ki Jagabaya dengan tekun menunggui para anggauta pengawal
itu. Bersama-sama dengan prajurit Mataram yang memimpin latihan itu,
ia mencoba memilih antar mereka. Ternyata bahwa prajurit yang
memimpin latihan itupun telah menunjuk anak muda yang bernama Pamot
itu pula. Ki Jagabaya yang mengerti latar belakang dari kehidupan
Pamot, hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak muda yang
lain, dapat berbangga diri, bahwa mereka terpilih untuk mewakili
Kademangan Kepandak ikut serta berjuang melawan tangan-tangan asing
yang mulai menyentuh Tanah ini. Tetapi apakah Pamot juga dapat
berbangga demikian, meskipun sebenarnya ia memang memiliki kemampuan
yang cukup? Pamot memang kadang-kadang merasa dirinya terlampau
kecil. Perasaan yang aneh tumbuh di dalam hatinya. Seperti yang
diduga oleh Ki Jagabaya. "Apakah kau hanya sekedar disingkirkan?"
Pertanyaan itu selalu melonjak-lonjak di dalam hatinya. Sehingga
pada suatu saat ia tidak dapat menahan hati lagi. Ditemuinya
kawannya yang dianggapnya cukup mengerti tentang keadaannya, Punta.
"Apakah kau yakin bahwa aku pantas untuk ikut bersamamu dan
kawan-kawan yang lain?" bertanya Pamot. Punta menjadi heran "Kenapa
?" "Aku merasa bahwa aku mempunyai masalah yang khusus. Seandainya
aku tidak pantas sekalipun, maka aku pasti akan diikut sertakan di
dalam latihan yang akan diadakan di Mataram itu" "Kenapa kau
sebenarnya" Puntalah yang kemudian bertanya "bukankah Ki Jagabaya,
pelatih yang datang dari Mataram itu, dan atas persetujuan Ki
Demang, kau terpilih?" "Tetapi aku merasa bahwa ada persoalan lain
yang memaksa untuk memilihku. Agar aku pergi dari Kademangan ini"
"Kau berprasangka" sahut Punta, namun kemudian ia meneruskan "atau
kau memang berkeberatan untuk pergi" "Tentu tidak Punta. Buat apa
aku tinggal di Kademangan ini lebih lama? Itu hanya akan menyiksaku"
"Kalau begitu kita pergi" "Tetapi aku tidak mau, kalau aku terpilih
sekedar karena aku harus pergi. Tetapi sebenarnya aku tidak memenuhi
syarat untuk dipilih" "Ah, kau mempersulit dirimu sendiri. Kalau
begitu, kau dapat mengajukan alasan, agar kau t idak ikut " Itupun
tidak dapat aku lakukan. Mereka pasti akan menyangka lain. Dikiranya
aku tidak mau pergi karena gadis itu" "Jadi bagaimana?" berkata
Punta kemudian "kau telah terlihat dalamsuatu lingkaran yang tidak
berujung pangkal" "Ya" jawab Pamot "karena itu aku minta
pertiMbanganmu" Punta menarik nafas dalam-dalam. Ia memang melihat
kesulitan di dalam hati Pamot. Karena itu, maka iapun mencoba ikut
memikirkannya, pemecahan apakah yang sebaik-baiknya dilakukan.
"Pamot " berkata Punta kemudian "sekarang kau harus melepaskan
dirimu dari masalah masalah yang seolah-olah tidak akan dapat kau
pecahkan itu, Bagaimanakah kata hatimu. Apakah kau ingin berangkat
atau tidak?" "Sudah tentu, aku ingin berangkat" berkata Pamot. "Kau
benar-benar ingin berangkat?" "Ya, tentu" "Kenapa kau ingin
berangkat?" Pamot menjadi terheranheran "Pertanyaanmu aneh Punta"
"Tidak. Aku ingin tahu apakah yang sudah mendorongmu untuk berangkat
ke Mataram, sudah tentu dengan harapan untuk dapat ikut serta dalam
pasukan yang akan dikirim ke Barat" Pamot menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Meskipun aku sama sekali tidak berarti apa-apa Punta,
tetapi aku akan menyumbangkan tenagaku untuk mengusir orang-orang
asing itu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Jadi bukan sekedar
melarikan diri dari kegagalanmu?" "Gila kau. Kau sudah menambah
hatiku menjadi bingung. Kalau demikian, aku tidak perlu ikut di
dalam pasukan ini. Aku dapat membunuh diriku, terjun keju-rang di
sebelah bendungan, atau menggantung diri" "Jangan marah Pamot. Aku
hanya sekedar meyakinkan" "Punta. Kau harus mengerti hal ini. Aku
tidak mau kalau kau kawanku yang terdekat masih meragukan. Kau
ingat, di saat-saat kami menyatakan diri kami untuk mendapat
kesempatan memasuki pasukan pengawal khusus? Bukankah sejak saat itu
kita sudah meletakkan diri dalam suatu arah, pada suatu saat kita
akan mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Kepandak. bagi
Mataram? Pada saat itu Kademangan Kepandak belum disentuh oleh
masalah-masalah seperti kini. Sindangsari masih belum pulang ke
padukuhan, karena ayahnya masih belum dinyatakan gugur" Punta
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku mengerti Pamot. Aku
minta maaf, bahwa aku masih harus meyakinkannya sekali lagi.
Kehadiran gadis itu, dan perkembangan keadaan, kadang kadang memang
dapat merubah pendirian seseorang" Punta berhenti sejenak, lalu
"tetapi kau masih tetap di dalam pendirianmu seperti yang kita
nyatakan di saat saat kita menyatakan diri kita untuk ikut serta di
dalam pasukan pengawal khusus. Dengan demikian, maka kau tidak perlu
ragu-ragu. Kalau kau akan pergi, pergilah. Kita bersama-sama atas
nama Kademangan Kepandak, telah berbuat sesuatu, ikut menegakkan
Mataram yang Agung ini" Pamot tidak segera menjawab. "Kau tidak usah
memikirkan, apakah kau pantas atau tidak. Atau orang orang Kepandak
ini sekedar menyingkirkan kau, atau alasan alasan yang apapun juga.
Kalau kau memang sudah bertekad untuk berjuang, kau tidak usah
mempedulikan apapun juga. Kau tidak usah mempersoalkan suara burung
kedasih yang merindukan kematian, atau kaok burung gagak yang
keta-gihan bangkai. Pergilah, kita akan pergi bersamasama, kita
seorang memang tidak berarti, tetapi keseluruhan pasukan Mataram itu
kelak pasti akan terdiri dari kita seorang dalam suatu kesatuan yang
besar" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya. Aku akan
pergi. Keputusan itu sebenarnya sudah ada sejak aku memasuki pasukan
pengawal khusus" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya "Kalau kau
sudah mengambil keputusan jangan hiraukan apapun lagi" Pamot
mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. "Apakah kau
masih juga ragu ragu?" "Tidak" Pamot menjawab dengan nada yang
rendah "tetapi aku harus minta diri kepada Sindangsari. Aku harus
mengatakkan kepadanya, bahwa aku akan pergi" Punta menarik nafas
dalam-dalam. "Aku bisa mengerti Pamot " Demikianlah, Pamot menjadi
gelisah. Ia sudah bertekad bulat untuk pergi meninggalkan
padukuhannya. Apapun yang dikatakan kepada Punta, tetapi ia tidak
dapat berbohong kepada diri sendiri, bahwa ia memang ingin pergi
dari Gemulung. Pergi, sejauh-jauhnya agar ia dapat melupakan
kepahitan yang mencengkamnya. "Tetapi bukan itu alasanku
satu-satunya "ia menggeram "Aku adalah pasukan pengawal khusus.
Kepergianku adalah tugas utama yang aku tunggu selama ini" Di
rumahnya Sindangsaripun selalu dibayangi oleh kepahitan hati. Hampir
setiap saat ia menangis. Kadangkadang di tengah-tengah malam ia
menghentak-hentakkan tangan dan kakinya. Tetapi ia tidak dapat
mengatakan, bahwa sebenarnya ia selalu diganggu oleh keinginannya
untuk bertemu lagi dengan Pamot" "Meskipun hanya satu kali"
desisnya. Tetapi ia terpaksa menekan keinginannya itu dalam-dalam di
dalam lubuk hatinya. Bahkan akhirnya, harapannya untuk dapat bertemu
dengan Pamotpun menjadi semakin luluh. Tetapi Pamot sendiri tidak
pernah berputus-asa. Ketika ia sudah mendapat kepastian bahwa ia
harus berangkat, maka tanpa menghiraukan apapun lagi, ketika
matahari menjadi semakin dalam terbenam, dan malampun menjadi
semakin kelam, dengan hati-hati Pamot keluar dari halaman rumahnya.
Niatnya sudah bulat, bahwa ia ingin bertemu dengan Sindangsari
meskipun hanya untuk minta diri. Sebelum :a dapat bertemu dengan
gadis itu, rasa-rasanya hatinya sama Sekali belum tenang. Dengan
hati-hati Pamot menyusuri jalan sempit menuju ke rumah Sindangsari.
Meskipun kadang-kadang tumbuh pula seperti yang pernah terjadi,
namun nalarnya telah menjadi buram. Ia sudah tidak dapat lagi
berpikir dengan bening. Yang menjadi persoalan baginya adalah minta
diri kepada Sindangsari. Pamot sama sekali tidak menyadari, bahwa
sepasang mata selalu mengikutinya. Setiap langkahnya. Dengan
diam-diam orang yang selalu memandanginya itupun melangkah semakin
mendekatinya. Pamot yang berjalan sambil berjingkat-jingkat itu
terkejut bukan kepalang, ketika sebuah lengan terjulur dari dalam
gerumbul mencengkam bahunya. Dengan serta-merta ia menggeliat, lalu
meloncat menjahuinya. Pada saat kedua kakinya berjejak di atas
tanah, maka iapun sudah bersiaga, apapun yang akan terjadi kemudian.
"Akan kemana kau Pamot" terdengar sebuah pertanyaan. Pamot menarik
nafas dalam-dalam. Ia mengenal suara itu dengan baik. Dan ternyata
pula, sejenak kemudian orang itupun telah muncul dari balik
gerumbul. "Kau membuat aku terkejut, Lamat" desis Pamot. "Apakah kau
akan mengunjungi Sindangsari?" Pamot termangu-mangu sejenak. Tetapi
kemudian ia menganggukkan kepalanya. Untunglah bahwa aku melihat
kau. Kalau t idak mungkin kau akan mengalami nasih yang kurang baik"
"Kenapa ?" bertanya Pamot. "Aku melihat dua orang yang bersembunyi
di pinggir jalan, di tempat kau berkelahi dahulu, meskipun agak
bergeser sedikit" "Siapa?" "Aku tidak jelas. Tetapi aku dapat
menduga, bahwa mereka adalah pengawas-pengawas yang dikirim oleh Ki
Demang. Apalagi setelah mereka memutuskan, bahwa kau akan ikut serta
bersama kelimapuluh orang yang akan dikirim ke Mataram" Pamot
menarik nafas dalam-dalam. "Ternyata perhitungan mereka tepat. Kau
masih berusaha untuk bertemu dengan Sindangsari" "Aku akan minta
diri" "Aku mengerti. Dan akupun mendapat tugas serupa. Manguripun
menduga, bahwa kau pasti masih berusaha untuk bertemu dengan
Sindangsari" Pamot tidak menjawab. "Sebaiknya, kau kembali saja
Pamot" Tiba tiba Pamot mengangkat wajahnya yang tegang. Dengan tegas
ia menjawab "Tidak. Aku harus bertemu dengan Sindangsari. Setiap
saat aku dapat diberangkatkan. Aku tidak mau pergu sebelum aku
mengatakan kepadanya, bahwa aku tidak lari" "Kau tidak perlu
mengatakan kepadanya ,bahwa kau tidak akan lari" "He, jadi kaupun
sekarang juga sudah menghalang aku" "Jangan lekas menjadi buram. Aku
kira kau lain dengan Manguri. Dengarlah, aku belumselesai" Pamot
menarik nafas dalam-dalam. Terdengar suaranya menurun "Maaf. Aku
sedang bingung" "Maksudku Pamot, kau jangan mengatakan bahwa kau
tidak akan lari. Sebaiknya kau minta diri. Minta diri saja, secara
wajar, agar gadis itu tidak mencoba mencari-cari jawab atas
teka-tekimu yang sulit itu" Pamot tidak segera menyahut. Namun
kemudian iapun mengangguk-anggukkan kepalanya "kau mengerti
maksudku?" "Ya" "Tetapi apakah kau harus menemuinya sekarang?" "Aku
takut, bahwa aku akan terlambat. Siapa tahu, besok aku harus sudah
masuk barak bagi mereka yang akan diberangkatkan ke Mataram, agar
kami masing-masing mendapat pengawasan yang se-baik-baiknya. Lamat
menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya jalan yang menjelujur di
hadapannya, menusuk kegelapan. Ia tahu dengan pasti, bahwa di
pinggir jalan ini dua orang sedang duduk terkantuk-kantuk untuk
mengawasi apakah Pamot pergi menemui Sindangsari malam ini. "Pamot "
berkata Lamat kemudian "kalau kau memang berkeras hati untuk pergi
ke rumah Sindangsari, kau harus memilih jalan lain, meskipun lebih
jauh. Tetapi dengan demikian, kau tidak akan dilihat oleh kedua
orang yang bersembunyi itu, karena mereka mengawasi jalan yang
melalui regol halaman rumah Sindangsari" "Jadi, apakah aku harus
memilih jalan belakang?" "Ya. Jangan melalui regol. Kau harus
meloncat dinding halaman, dan mendekati rumahnya melalui kebun
belakang. Pamot menjadi berdebar-debar. Ia benar-benar harus berbuat
seperti seorang pencuri. Tetapi ia sudah memutuskan, malam ini ia
harus bertemu dengan Sindangsari. Kalau tidak maka ia dapat
kehilangan setiap kemungkinan untuk itu. Karena itu, maka iapun
kemudian menjawab "Kalau menurut pendapatmu, aku harus melalui
halaman belakang., maka aku akan melakukannya. Aku memang harus
bertemu dengan Sindangsari malam ini. Rasa-sanya, aku tidak akan
dapat bertemu lagi untuk selanjutnya" Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Pergilah.Tetapi hati-hatilah" Pamotpun kemudian
meneruskan langkahnya. Tetapi ia memilih jalan yang lain. Ia
berbelok pada sebuah jalan yang sangat sempit diantara dinding
batu-batu halaman rumah di sebelah menyebelah. Lamat yang masih
berdiri di tempatnya menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan
terdengar ia berdesis "Kasihan anak itu. Ia jauh lebih menderita
dari Manguri, karena cinta Manguri tidak mendapat tanggapan dari
Sindangsari. Tetapi anak ini merasa, bahwa ia sudah mendapat tempat
di hati gadis itu. Namun tiba-tiba ia telah dicampakkan dengan
semena-mena" Lamat meraba kepalanya yang botak. Perlahan-lahan
dilingkarkannya ikat kepala yang hanya tersangkut dilehernya.,
berjuntai menutupi bagian dadanya yang telanjang. Perlan-lahan ia
memutar tubuhnya. Tetapi ketika kakinya terayun selangkah, ia
tertegun. Sekali lagi ia berpaling. Dipandanginya kehitaman malam
yang kelam, meskipun Pamot sudah tidak kelihatan lagi. Ternyata
Lamat tidak sampai hati melepaskan Pamot berjalan sendiri. Dengan
tergesa-gesa iapun sekali lagi berbalik dan berjalan searah dengan
langkah Pamot. "Kalau terjadi sesuatu atasnya" gumamnya. Sementara
itu, Pamot telah menyusupi gelapnya malam diantara pagar-pagar batu.
Sekali-sekali ia meloncat-loncat, namun kemudian ia berhenti melekat
dinding batu apabila ia mendengar sesuatu. Namun ternyata langkahnya
tidak terganggu sampai ia meloncat, memasuki kebun belakang rumah
Sindangsari. Tetapi kini tiba-tiba saja hatinya menjadi
berdebar-debar. Sejenak ia diam mematung, memandang rumah yang
membeku di dalam kekelaman malam. Pamot menarik nafas dalam-dalam.
Sekali lagi dan sekali lagi. Dicobanya untuk menenteramkan hatinya
dan mengatur pernafasannya yang melonjak-lonjak. "Aku harus
menemuinya" Pamot menggeretakkan giginya, untuk mengerahkan
keberaniannya yang serasa membeku. Perlahan-lahan Pamot merangkak
diantara pepohonan maju mendekati rumah Sindangsari. ia tahu benar
dimana Sindangsari sedang tidur. Tetapi tumbuh pula
keraguankeraguannnya. Apakah anak itu belumberpindah tempat?"
"Persetan" sekali lagi ia menghentak "Aku tidak boleh kehilangan
banyak waktu, sebelum aku gagal oleh sebabsebab yang tidak aku
duga-duga" Pamotpun merayap semakin dekat. Seperti yang pernah
dijanjikan, maka iapun mengetuk dinding bilik Sindangsari dari luar
dengan isyarat yang sudah mereka bicarakan sebelumnya. Sindangsari
yang berada di dalam bilik itu terkejut. Ia memang belum tidur.
Hampir setiap malam ia menunggu isyarat itu. Dan karenanya hampir
setiap malam ia hanya tidur beberapa saat, justru menjelang fajar,
sehingga tubuhnya menjadi kurus dan wajahnya menjadi pucat.
Sindangsaripun kemudian mengetuk biliknya perlahanlahan seperti
isyarat Pamot. Isyarat Sindangsari itu ternyata telah membuat hati
Pamot yang seakan-akan sedang membara itupun menjadi sejuk.
"Untunglah, Sindangsari masih berada di tempatnya" Gejolak yang ada
di dalam hati Sindangsari, sebagai seorang gadis remaja yang dibakar
oleh kepahitan cinta yang patah, telah mendorong Sindangsari untuk
perlahan-lahan dan dengan sangat hati-hati bangkit dari
pembaringannya. Seperti Pamot, gadis itu sama sekali tidak
menghiraukan apapun lagi, meskipun ia masih sempat untuk
berhati-hati. Kali ini, ternyata kakeknya tidak mendengar gerit
pintu butulan di belakang. Karena itu, tidak seorangpun yang
mengetahui bahwa Sindangsari telah keluar dari biliknya, dan bahkan
keluar dari rumahnya. Ketika pintu butulan itu terbuka sejengkal,
terasa bulu-bulu Sindangsari meremang. Yang melintas di depan pintu
adalah kegelapan malam yang pekat. Sehingga yang tampak olehnya
hanyalah hitam belaka. Namun dalam kebimbangan itu, terdengar suara
perlahanlahan di sisi pintu "Sari. Aku disini" "Pamot " desis
Sindangsari. "Ya" Hati Sindangsari menjadi berdebar-debar. Dengan
kaki gemetar ia melangkah keluar pintu, dan dengan hati-hati sekali
didorongnya pintunya sehingga tertutup kembali. Tetapi Sindangsari
tidak segera dapat melihat Pamot di dalam kegelapan. Karena itu,
sejenak ia berdiri, mematung di depan pintu yang sudah tertutup
dengan dada yang berdebardebar. "Sari" terdengar suara berdesis
perlahan-lahan. Sindangsari mencoba memandang ke arah suara itu.
Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Gadis itu terperanjat ketika
didengarnya desah nafas dekat di sampingnya, kemudian sentuhan
tangan dibahunya. "Marilah" Sindangsari t idak sempat berbuat
apa-apa ketika tangannya ditarik oleh Pamot menjauhi pintu butulan,
masuk ke dalam kebun yang kelam. Ketika mereka kemudian terhenti,
sejenak mereka saling berpandangan meskipun yang tampak hanyalah
bayangbayang yang kehitam-hitaman. Namun mata hati masingmasing
seolah-olah dapat langsung memandang ke pusat jantung. Sejenak
mereka terpaku diam. Namun sejenak kemudian, tanpa disadari,
didorong oleh gelora hari yang selama ini tertahan, Sindangsari
dengan serta-merta menjatuhkan kepalanya di dada Pamot yang bidang;
Tangisnyapun kemudian membanjir tanpa dapat di tahan-tahan lagi,
meskipun Sindangsari berusaha sekuat-kuatnya. Yang terdengar
kemudian hanyalah isak tangis gadis itu, yang menyentuh-nyentuh
sepinya malam. Namun sejenak kemudian Pamot menyadari, bahwa suara
tangis itu akan dapat didengar orang. Karena itu, maka iapun
berbisik di telinga Sindangsari "Diamlah Sari. Malam terlampau sepi,
Suara tangismu akan didengar orang" Sindangsari tidak menyahut.
Tetapi air matanya masih saja membasahi dada Pamot yang
berdebar-debar. "Jangan menangis" Sindangsari mencoba menahan
tangisnya. Namun kemudian ia berkata lirih diantara isaknya "Kakang
Pamot, apakah aku dilahirkan sekedar untuk membasahi padukuhan ini
dengan air mata?" "Ah, jangan berpikir begitu" "Sejak aku
menginjakkan kakiku di padukuhan tempat aku dilahirkan ini, aku
selalu menit ikkan air mata. Hampir di setiap saat. Tetapi agaknya
air mataku tidak juga akan setiap kering. Bukankah aku akan
berangkat ke Mataram, selanjutnya kau akan turut melawat ke Barat?"
"Ya Sari" "Seperti ayah?" Pamot tidak menyahut. Terasa dadanyapun
berdesir. Teringat olehnya, pasukan Mataram yang pertama hampir
setahun yang lalu, mengalami kegagalan dengan korban yang tidak
sedikit. "Katakan, apakah kau akan kembali?" desak Sindangsari "Aku
tidak tahu Sari. Tetapi aku percaya bahwa semuanya ada di tangan
Tuhan Yang Maha Esa" "Kakang" suara Sindangsari menjadi lirih
sekali, tetapi kau akan kembali bukan? Pamot menjadi termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian ia menjawab "Kita akan selalu berdoa Sari,
mudahmudahan aku diperkenankan untuk kembali ke padukuhan ini"
Sindangsari semakin melekatkan tubuhnya. Kini dipeluknya Pamot
erat-erat seperti tidak akan dilepaskannya lagi, seperti Pamot juga
memeluknya. "Kakang Pamot" suara Sindangsari semakin lirih "kalau
kau tidak ditunjuk menjadi salah seorang dari mereka yang akan
berangkat ke Mataram" t iba-tiba suaranya terputus. "Kenapa Sari?"
Sindangsari t idak segera menyahut. "Kenapa Sari? desak Pamot.
"Kalau kau tidak pergi kakang" desis Sindangsari "Aku akan
mengajakmu lari" "Lari?" Pamot mengulangi kata-kata itu tanpa
sesadarnya. Kata-kata itu memang pernah melintas di kepalanya. Dan
kini Sindangsari mengucapkan kata-kata itu pula. "Ya kakang" desis
Sindangsari "tetapi, kini aku tidak dapat melakukan justru karena
kau terpilih diantara mereka yang akan berangkat ke Mataram. Aku
tidak mau, bahwa aku akan disebut seseorang yang hanya sekedar
mement ingkan diriku sendiri, selagi Mataram dalam bahaya. Ayahku
sudah gugur. Tetapi seperti juga ibuku, ayah dilepaskannya dengan
cemas. Apakah sekarang aku akan menghalang-halangi kau, karena kau
harus lari dengan seorang gadis?" Terasa dada Pamot menjadi sesak.
Dalam keadaan yang demikian gadis itu masih juga sempat berpikir
tentang Tanah Tumpah darahnya. "Tetapi" Sindangsari berdesis "Aku
harap kau kembali kakang. Kau harus berusaha kembali ke padukuhan
ini" "Ya Sari. Aku akan berusaha kembali" "Kau, kau" suaranya
terputus. "Apa Sari?" "Kau jangan pergi karena aku kakang. Kau
jangan melepaskan hari depanmu, karena aku tidak dapat memenuhi
hasrat nuraniku. Impian kita bersama-sama" Pamot tidak menjawab.
Tetapi ditekannya gadis itu semakin rapat di dadanya. "Kakang,
berjanjilah. Bahwa kau akan datang kembali" Pamot masih berdiam
diri. Kini ia menyadari maksud Sindangsari. Gadis itu
mencemaskannya, bahwa karena kegagalannya mendapatkan Sindangsari,
ia akan lari dan membunuh diri di peperangan. "Kakang, kenapa kau
diamsaja?" "Pamot menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya terbata-bata
"Sari. Aku tentu akan berusaha untuk kembali, kecuali Tuhan memang
tidak mengijinkannya. Tetapi percayalah bahwa aku tidak akan
membiarkan diriku terbenam dalam keputus-asaan" Pamot berhenti
sejenak, lalu "Sari, akupun pernah beranganangan untuk lari seperti
yang kau katakan. Lari bersama-sama mencari daerah yang dapat
memberikan perlindungan kepada cinta kita. Tetapi sekarang aku tidak
dapat melakukannya. Kecuali aku tidak yakin bahwa kau akan dapat
menemukan ketenteraman dari bayangan Ki Demang dan mungkin juga
Manguri, maka kini kita dihadapkan kepada tugas yang berat itu" "Aku
akan berdoa untukmu kakang" suara Sindangsari hampir tidak dapat
didengar lagi "maafkan aku" "Kau tidak bersalah Sari" "Tetapi,
tetapi, kau berangkat ke medan perang dalam keadaan yang buram" "Aku
akan selalu berdoa, mudah-mudahan hatikumendapat terang dari padanya
" "O" tiba-tiba tangis Sindangsari menyentak. Air matanya seperti
dicurahkan dari rongga matanya. Tubuhnya terguncang-guncang karena
isaknya yang tertahan-tahan. "Kakang maaf kanaku kakang" "Kau tidak
bersalah Sari" "Tetapi percayalah, cintaku padamu tidak tergeser
seujung rambutpun. Aku selalu mengenangmu dan mengharap kau pulang
meskipun yang kau jumpai di padukuhan ini hanyalah kegagalan dan
kehampaan" "Ya Sari" "Meski tubuhku akan direnggut oleh kekuasaan di
Kademangan ini, tetapi hatiku tetap padamu" Pamot tidak menjawab.
Tetapi terasa darahnya menjadi semakin cepat mengalir. Apalagi
Sindangsari yang telah kehilangan kesadaran dirinya sebagai seorang
gadis itu, seakan akan tidak mau melepaskannya sama sekali. Dalam
dekapan malam yang sepi, maka keduanyapun tenggelam semakin dalam di
lautan darah remaja yang bergelora di dalam diri
masing-masing-Himpitan perasaan yang selama ini menindih hati
Sindangsari, seakan-akan meledak tanpa dapat dikendalikannya lagi.
Bahkan kini jantungnya serasa menyala dalam sentuhan tangan-tangan
seorang laki-laki yang dicintainya. Tiba-tiba sebuah hati terguncang
melihat peristiwa yang terjadi kemudian, di luar kesadaran manusia
yang terikat oleh adab yang berlaku. Lamat yang selalu
mengamat-amati Pamot karena kecemasannya bahwa anak itu akan
mengalami bencana, memalingkan wajahnya yang tegang. "Setan, anak
setan kau Pamot" geramnya di dalam hati "aku tidak peduli lagi,
apakah kau akan dicekik iblis. Tidak ada gunanya aku berbuat
kebaikan atasmu selama ini. Kenapa kau tidak mati dikeroyok oleh
orang-orang dari gerombolan Sura Sapi?" Dengan gigi yang terkatup
rapat-rapat, Lamat bergeser dari tempatnya, meninggalkan halaman
yang telah dinodai justru oleh cinta yang tulus. Betapa penyesalan
mengguncangkan dada keduanya, tetapi semuanya itu sudah terjadi.
Sindangsari duduk bersimpuh sambil menutup wajahnya dengan kedua
telapak tangannya yang basah oleh air mata. Air mata penyesalan yang
bercampur dengan kepahitan yang seakan-akan semakin lama semakin
bertimbun-timbun di dalam dirinya. "Kenapa hal ini terjadi kakang?"
isak Sindangsari. Dada Pamotpun serasa menjadi retak karenanya.
Terputusputus ia berkata "Aku, aku.....................tetapi aku
tidak tahu Sari. Semuanya terjadi dengan tiba-tiba di luar sadarku.
Aku minta maaf" Sindnagsari t idak menjawab. "Kalau ada yang dapat
aku lakukan, apapun aku mau melakukkannya" suara Pamot menjadi serak
"apakah aku harus mengatakan kepada Ki Demang?" "Kenapa?" bertanya
Sindnagsari. "Seandainya aku harus dihukum picis, akupun akan
menjalaninya" "Bukan salahmu sendiri kakang" "Jadi? Apakah yang
harus aku lakukan?" "Tinggalkan aku sendiri. Kalau kau akan
berangkat ke Mataramaku hanya dapat mengucapkan selamat jalan"
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" "Aku tidak akan membunuh diri
kakang. Aku sadar bahwa dengan demikian aku hanya akan menambah
panasnya api neraka" "Lalu?" "Tinggalkan aku sendiri" Pamot masih
mematung di tempatnya. Dilihatnya Sindangsari mengusap air matanya
yang tiba-tiba saja menjadi kering. Bahkan sambil menengadahkan
wajahnya ia berkata "Kakang Pamot, aku tidak dapat membebankan
kesalahan ini hanya kepadamu. Akupun sudah bersalah. Kalau ada azab
karena perbuatan kita, biarlah aku juga menanggungnya. Karena itu,
aku tidak akan membunuh diri: Aku akan berterus terang kepada setiap
orang yang akan bertanya kepadaku, seandainya ada akibat yang tumbuh
karenanya. Biarlah aku dicampakkan sebagai sampah, atau diarak
keliling padukuhan. Tetapi aku tidak akan membunuh diri, dan kau
juga tidak akan membunuh dirimu di peperangan" Sepercik keheranan
melonjak di dada anak muda itu. Apakah yang telah membuat
Sindangsari t iba-tiba saja menjadi begitu tabah menghadapi keadaan"
Tetapi ia tidak perlu bertanya, karena Sindangsari berkata "Kakang,
akhirnya aku menjadi kenyang akan kepahitan hidup ini. Kini
rasa-rasanya aku sudah sampai ke puncaknya. Aku tidak dapat lagi
merengek seperti anak-anak. Aku sudah dewasa. Apa yang terjadi
agaknya telah mengguncang isi dadaku, dan justru membuat aku sadar,
sebenarnya aku memang sudah dewasa. Semua masalah tidak akan selesai
dengan tangis dan keluh-kesah. Betapa penyesalan berkobar di dadaku,
tetapi semuanya telah terjadi. Apakah aku akan dapat ingkar lagi?
Aku sudah terdampar ke dalam suatu kenyataan, bahwa aku memang
mencintaimu sepenuh hati. Tetapi cintaku selama ini adalah cinta
yang belum dewasa. Peristiwa yang sekejap ini agaknya telah membuat
aku menyadari segala-galanya. Pamot hanya dapat menundukkan
kepalanya, Kini ia seakan-akan tidak berhadapan lagi dengan
Sindangsari yang selama ini selalu memeras air matanya. "Pamot,
tinggalkan aku sendiri" "Tetapi............" desis Pamot.
"Tinggalkan, aku sendiri" Seperti dipukau oleh pesona yang tidak
terlawan, tiba-tiba Pamot bergeser mundur. "Selamat jalan Pamot.
Mungkin kita tidak akan bertemu lagi sampai kau berangkat nanti.
Tetapi aku masih menghadap melihat, kau kembali, membawa kemenangan
bagi Mataram. Setidak-tidaknya kau dapat mengobati sakit hatiku,
karena ayahku telah gugur oleh ketamakan orang-orang asing itu"
Pamot menganggukkan kepalanya. Mulutnya serasa kini terkunci.
Setapak demi setapak ia bergeser ke dalam gelapnya malamdi dalam
kebun yang rimbun. Namun kemudian dipaksakannya juga berdesis
"Selamat tinggal Sindangsari, Semoga kau berbahagia" Kata-kata itu
hampir saja telah melemparkan Sindangsari ke dalam percikan air
matanya kembali. Namun ia bertahan sekuat-kuat tenaganya. Bahkan ia
masih sempat berkata "Hatiku besertamu" Sejenak Pamot memandangi,
Sindangsari yang masih duduk bersimpuh. Kemudian selangkah lagi anak
muda itu telah hilang di dalam malam yang kelam. Sepeninggal Pamot,
barulah Sindangsari membenahi dirinya. Kemudian dengan tergesa-gesa
ia masuk lewat pintu butulan dengan hati-hati. Tetapi ketika
tubuhnya telah terbujur di pembaringannya, maka sekali lagi ia
menumpahkan air matanya, seakan-akan ingin diperasnya sampai kering.
Kini bukan saja hari depannya yang suram yang membenahi hatinya,
tetapi juga penyesalan, penyesalan yang maha dalam. Sementara itu
Pamot berjalan tertatih-tatih di jalan sempit menjauhi rumah
Sindangsari. Seperti gadis itu, Pamotpun telah dicengkam oleh
penyesalan yang luar biasa. Ia tidak dapat mengerti, kenapa ia lelah
melakukannya. Pamot terkejut ketika t iba-tiba saja seseorang yang
bertubuh tinggi, kekar, berkepala botak berdiri di hadapannya. Tanpa
sesadarnya Pamot berdesis "Lamat" Tetapi wajah Lamat kini nampak
lain dari wajah yang selalu dilihatnya. Wajah itu benar-benar
mengerikan, seperti bentuk tubuhnya. Laki-laki itu bagaikan seorang
raksasa yang berdiri di tengah-tengah jalan siap untuk menerkamnya.
"Lamat" sekali lagi Pamot berdesis. "Kau memang anak yang tidak
pantas dilindungi" tiba-tiba Lamat menggeram. Pamot menjadi heran.
"Kau sangka aku tidak mengerti apa yang sudah kau lakukan?" suara
Lamat parau meninggi. "Apa yang aku lakukan?" bertanya Pamot.
"Perbuatan terkutuk itu" "Oh, kau mengintip?" Tiba-tiba Pamot
terdorong beberapa langkah, sebelum ia terbanting jatuh. Terasa
pipinya menjadi sakit, seakan-akan giginya berguncangan. Ketika
tangannya mengusap mulutnya, setitik cairan yang hangat membasahi
tangannya. Darah. "Lamat, kau memukul aku?" "Ya. Aku memukulmu"
Lamat menggeram "bahkan aku akan membunuhmu" Wajah Pamot menjadi
merah. Darah di bibirnya telah membuat darahnya mendidih. "Aku
menyesal, bahwa aku tidak pernah mendengar perintah Manguri selama
ini. Kalau aku mematuhi perintahnya, aku sudah mematahkan kakimu
sejak semula, maka kau tidak akan melakukan perbuatan setan itu"
Pamot masih membeku di tempatnya. "Dan kau masih juga berani
menuduhku, mengintip perbuatan iblismu itu?" nafas Lamat menjadi
terengah-engah "dengar, dengarlah. Aku tidak sampai hati melihat kau
kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan gadis itu, sehingga aku
berusaha untuk menolongmu. Aku mencoba mengawasimu agar kau tidak
terjebak oleh orang-orang yang memang sedang menunggumu. Tetapi
ternyata yang kau lakukan adalah perbuatan terkutuk itu. Tiba-tiba
terasa sesuatu menghentak di dada Pamot. Perlahan-lahan kepalanya
terkulai lemah, seakan-akan ia tidak berani lagi menatap sorot mata
Lamat yang menghunjam kedadanya. "Pamot " berkata Lamat "sekarang
aku berdiri di tempatku. Aku adalah pesuruh yang setia dari Manguri.
Aku harus membuat kau lumpuh atau mati sama sekali. Kalau kau akan
mencoba melawan, melawanlah. Kalau kau ingin berteriak memanggil
kawan-kawanmu, Punta dan siapa lagi, berteriaklah. Aku dapat
membunuh kau dalam rangkap lima sekaligus" Tetapi Pamot tidak
mengangkat wajahnya. Jawabannya sama sekali tidak disangka-sangka
oleh Lamat "Kalau kau ingin melakukan, lakukanlah Lamat. Barangkali
itu memang lebih baik" Pamot berhenti sejenak "Aku juga menyesal,
kenapa kau selama ini selalu berbaik hati kepadaku. Kalau kau bunuh
aku sejak semula kau mendapat perintah itu, maka aku tidak akan
mempunyai kesempatan membiarkan hatiku dicengkam oleh setan seperti
yang baru terjadi. Penyesalan yang bagaimanapun juga tidak akan ada
gunanya Lamat. Karena itu, aku memang mengharapkan sesuatu terjadi
atasku, agar dapat mengurangi beban penyesalan yang hampir tidak
tertanggungkan lagi" Lamat yang berdiri tegak di tengah jalan itu
mengerutkan keningnnya. Dan ia mendengar Pamot berkata "Kalau kau
ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Aku sudah siap untuk menjalani
apa saja. Apalagi kau, yang selama ini selalu berbuat baik kepadaku.
Bahkan kaulah yang selama ini melindungi aku dari bahaya yang
ternyata selalu mengerumuni aku" Lamat justru seakan-akan membeku di
tempatnya Dipandanginya saja Pamot yang menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Bahkan kemudian perlahan-lahan kekesalan hatinyapun
menjadi cair. Meskipun demikian Lamat berusaha untuk tidak
menampakkannya, sehingga dengan nada yang keras ia berkata. Jadi apa
yang kau kehendaki sebenarnya sekarang? Mati atau apa?" Pamot
menggelengkan kepalanya "Aku tidak mempunyai suatu keinginan apapun.
Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku kehendaki dalamsaat-saat
seperti ini" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat terus
menerus menegangkan lehernya, sehingga terdengar suaranya yang
menurun "kau sadari bahwa kau sudah berbuat suatu kesalahan yang
besar sekali?" "Ya" "Pamot " tiba-tiba suara Lamat merendah "kau
tahu akibat dari perbuatanmu?" Pamot mengangkat wajahnya. Tetapi ia
tidak menjawab. "Dengan demikian kau telah menaburkan bibit di
ladang orang lain. Kalau yang tumbuh itu tidak dikehendaki, maka
akan tersia-sialah akhirnya. Bukan kau. Bukan kau yang akan
menanggung kepahitan yang berkepanjangan" Dada Pamot berdesir tajam.
Dan kepalanyapun terkulai lemah. Tetapi Lamat tidak segera
meneruskan kata-katanya. Tampak sesuatu melintas di dadanya. Sekali
lagi Lamat mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk menenteramkan
hatinya. Tiba-tiba terlintas di kepalanya di saat-saat keluarganya
mengalami bencana. "Tidak" tiba-tiba ia menggeram dalam hatinya "Aku
tidak pernah mempersoalkan kenapa ayah Manguri itu ada di rumahku
pada saat timbul kebakaran. Kenapa ia berkeras hati untuk menolong
aku? Tidak. Itu adalah suatu kebaikan" Lamat memejamkan matanya
sambil menggelenggelengkan kepalanya. Sejak semula ia tidak berani
melihat kenyataan itu selengkapnya. Ia selalu mencoba untuk memotong
kenangan itu seperti yang dilakukan setiap kali. "Aku wajib
berterima kasih kepadanya, ia selalu berteriak di dalam hatinya
untuk mengatasi masalah-masalah lain yang tumbuh di hatinya. Tetapi
apa yang terjadi atas Pamot dan Sindangsari kini seakan-akan telah
mengungkat seluruh isi dadanya betapa ia mencoba mengenyahkannya.
"Hubungan yang demikian dapat melahirkan anak-anak yang tidak
dikehendaki" suara itu serasa bergumam di dalam rongga dadanya.
Terus menerus tidak henti-hentinya. Apalagi kemudian diantara suara
itu terdengar sebuah desis lamatlamat "kaupun salah satu dari
anak-anak yang tidak dikehendaki" "Tidak, tidak" tiba-tiba Lamat
menggeram, sehingga Pamot terkejut karenanya. "Apa maksudmu Lamat?"
bertanya Pamot. Lamat menjadi tegang sejenak. Namun kemudian ia
menjawab "Aku tidak akan berbuat apa-apa atasmu sekarang" Pamot
menjadi heran melihat tingkah laku Lamat. Tetapi ia tidak ingin
bertanya. Agaknya Lamatpun sedang diamuk oleh perasaan yang
terungkat dari dalam lubukhatinya yang paling dalam. Selagi Pamot
termangu-mangu, terdengar Lamat berdesis "Pulanglah. Pulanglah,
selagi orang orang yang mencarimu itu belum menemukan kau disini"
Pamot tidak segera dapat mengerti, kenapa Lamat sendiri menjadi
seakan-akan terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu. Tetapi
Pamot kemudian mendengar Lamat itu berkata pula "Cepat. Pergilah"
"Baiklah Lamat" jawab Pamot "Aku akan pulang". Seperti anak-anak
yang ketakutan melihat peronda yang marah, Pamotpun segera berjalan
tergesa-gesa pulang ke rumahnya. Tetapi ia tidak segera dapat
melepaskan diri dari kerisauan yang menghentak-hentak. Akhirnya,
hari yang ditentukan itupun datang. Di halaman Kademangan, limapuluh
orang pengawal khusus telah siap dalam sebuah barisan memanjang.
Mereka sedang mendengarkan beberapa penjelasan dari seorang perwira
prajurit Mataram yang akan membawa pasukan pengawal khusus itu.
Kemudian Ki Jagabaya dan Ki Demangpun memberikan pesan-pesan kepada
anak-anak mereka yang akan berangkat menunaikan kewajiban mereka
sebagai anakanak Mataram yang merasa tersinggung kehormatannya
karena kehadiran orang-orang asing di bumi tercinta. Pamot yang ada
diantana mereka, masih juga dirisaukan oleh keadaan dirinya sendiri.
Ia hampir t idak dapat mendengar sama sekali pembicaraan dari
orang-orang tua dan pemimpinpemimpin Kademangan, yang mengucapkan
selamat jalan dan beberapa nasehat itu. Hanya sepatah-sepatah ia
menangkap penjelasan dari perwira prajurit Mataram yang memberikan
gambaran kepada pa rapengawal khusus itu, apa yang akan mereka
lakukan kemudian. "Tidak ada keharusan bagi kalian untuk berangkat"
berkata perwira itu "pasukan yang akan berangkat harus merupakan
pasukan yang kuat dan tabah, sehingga dengan demikian harus didasari
atas niat yang mantap dan dengan suka rela. Kalian mungkin pernah
mendengar bahwa pasukan yang pernah dikirim sebelumnya, mengalami
kegagalan. Kini kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Pada
saatnya kita akah mengulangi lagi. Tetapi waktu yang tepat masih
harus kita perhitungkan" Para pengawal khusus itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya Pamot memandang
wajah Ki Demang dengan sudut matanya. Sekilas ia melihat kegelisahan
yang membayang disorot matanya. "Apakah Ki Demang meragukan aku?"
berkata Pamot diliatinya "barangkali aku mengajukan keberatan dan
tidak bersedia berangkat sekarang?" Tetapi Pamot memang sudah
bertekad untuk pergi ke Mataram, ikut di dalam persiapan untuk
melawan ke Barat. Tidak seorangpun yang tahu pasti, kapan mereka
akan berangkat, karena seperti yang dikatakan oleh perwira prajurit
Mataram itu, bahwa keberangkatan pasukan itu harus diperhitungkan
masak-masak dari segala segi. Namun ternyata bahwa yang limapuluh
orang itu tetap dalam sikap mereka. Mereka telah menyediakan diri
untuk mendapat tempaan lahir dan batin dalam bidang keprajuritan di
Mataram. "Ada dua kemungkinan bagi seorang prajurit" berkata perwira
itu "di peperangan kalian dihadapkan pada keadaan yang tanpa pilihan
selain dua kemungkinan itu. Hidup atau mati. Kemungkinan itu
kedua-duanya sama harganya dan kedua-duanya dapat terjadi atas
kalian semua" Setiap wajah kini menjadi tegang. Namun hati mereka
benar-benar telah mantap. Mereka akan pergi. Maka setelah semua
pesan-pesan dan pembicaraan selesai, pasukan kecil itupun segera
sipersiapkan. Beberapa orang keluarga mereka mengantarkan dengan
wajah yang muram. Mereka melepas anak-anak mereka dengan hati yang
berat. Tetapi seperti anak-anak itu sendiri, merekapun menyadari,
bahwa itu adalah suatu kewajiban bagi setiap putera Mataram.
Meskipun demikian ketika pasukan itu bergerak, ada juga beberapa
orang ibu yang menitikkan air mata. Anak-anak mereka itu seakan-akan
telah pergi dan tidak akan kembali lagi. Diantara mereka yang
mengantarkan pasukan kecil itu sampai ke pinggir padukuhan adalah
orang tua Pamot. Mereka memandang anaknya dengan dada yang
berdebar-debar. Kedua orang tuanya menyadari bahwa pamot pergi bukan
saja melakukan kewajibannya, tetapi iapun telah dibebani oleh
masalah pribadinya, meskipun kedua orang tua itu tidak tahu, bahwa
beban yang sebenarnya bagi anaknya adalah lebih dari yang mereka
duga. Ketika ibunya menitikkan air mata, ayah Pamot berkata "Itu
akan lebih baik bagi anakmu. Ia akan mendapat saluran untuk
melepaskan himpitan perasaannya selama ini. Kalau ia dan seluruh
pasukannya berhasil, maka ia akan mendapat obat bagi dirinya
sendiri" Ibunya menganggukkan kepalanya, tetapi titik air matanya
justru semakin banyak mengalir. "Sudahlah. Marilah kita pulang" ajak
ayah Pamot. Keduanyapun kemudian meninggalkan orang-orang yang masih
berkerumun di tepi padukuhan sambil melambailambaikan tangan mereka.
Dengan langkah yang berat keduanya berjalan pulang ke Gemulung. Ki
Demang yang ikut mengantar mereka sampai ke regol padukuhan menarik
nafas dalam-dalam ketika pasukan kecil itu menjadi semakin lama
semakin jauh. Keberangkatan pasukan itu terasa membuat hatinya
menjadi lapang. Sebagai seorang pemimpin di Kademangan Kepandak ia
sudah menyerahkan anak-anak terbaik yang ada di Kademangannya untuk
suatu tugas yang berat, tetapi mulia. Namun bersamaan dengan itu, ia
sudah melepaskan pula sepucuk duri yang menghunjam di dalam
dagingnya. Pamot. Pamot telah pergi bersama pasukan itu, sehingga ia
tidak akan dapat mengganggu lagi hubungannya dengan Sindangsari. "Ia
tidak akan segera kembali" berkata Ki demang di dalam hatinya
"seandainya ia sengaja membuat dirinya tidak terpilih, maka waktunya
pasti sudah akan lewat dari hari perkawinan itu" Dengan demikian,
maka Ki Demang merasa bahwa jalannya sudah menjadi licin. Manguri
tidak begitu penting baginya, karena Sindangsari sendiri tidak
menghendakinya. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa anak itu
tidak perlu diawasi. Sebab masih ada juga kemungkinan, meskipun
kecil sekali, Manguri akan mengambil Sindangsari dengan kekerasan.
"Tetapi semuanya sudah jelas" berkata Ki Demang "kalau pada suatu
saat Sindangsari hilang, maka hal itu pasti dilakukan oleh keluarga
Manguri. Meskipun di dalam keluarga itu ada raksasa bodoh itu
sekalipun, persoalannya tidak akan menjadi terlampau sulit, karena
agaknya raksasa itupun tidak setia mut lak kepada keluarga Manguri"
Maka sehari setelah pasukan itu berangkat ke Mataram. Ki Demang
sudah mulai sibuk membicarakan hari-hari perkawinannya.
Persiapan-persiapan sudah dilakukan sebaikbaiknya. Bahkan apa yang
diperlukan, oleh bakal isterinyapun sudah dicukupinya. "Rumah itu
harus diperbaiki" berkata Ki demang "dan di saat-saat hari
perkawinan pada rumah itu harus dipasang tarub. Peralatan akan
berlangsung di rumah penganten perempuan dan di hari kelima akan
berlangsung di Kademangan" Orang-orang tuapun mulai sibuk pula.
Bahkan setiap orang di Kademangan Kepandak menjadi sibuk. Meskipun
tidak dengan sepenuh hati, namun kakek, nenek, dan ibu
Sindangsaripun harus mengadakan persiapanpersiapan pula. Bahkan
beberapa orang tetangga telah sibuk membantu, orang-orang laki-laki
membantu memperbaiki rumahnya tanpa diminta, sedang
perempuan-perempuan membantu menyediakan makan untuk mereka. "Aku
tidak dapat menolak" berkata kakek sindangsari. Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Adalah mengherankan sekali bahwa
tiba-tiba saja sindangsari tidak lagi selalu menangis meksipun masin
tampak dari sorot matanya, luka yang pedih di hatinya. Namun anak
itu agaknya telah menemukan kenyataan diri, bahwa ia memang harus
menjalaninya. Mau tidak mau. Namun justru ibunyalah yang menjadi
semakin bersedih hati Sindangsari yang pasrah itu terasa sebagai
suatu pengorbanan yang tiada taranya dari anak gadisnya itu.
Sikapnya yang tiba-tiba menjadi matang dan dewasa menghadapi
keadaannya, menumbuhkan perasaan iba yang menyayat. Sebagai seorang
ibu, maka ikatan yang paling halus yang menghubungkan perasaannya
dengan perasaan puterinya, telah tergetar. Tetapi ibunya tidak tahu,
kejutan apakah yang telah membuat Sindangsari menjadi dewasa
sepenuhnya. Ketika ibunya melihat sindangsari justru ikut membantu
persiapan-persiapan yang dilakukan oleh tetanggatetangganya, hatinya
menjadi trenyuh. Ia tidak dapat menahan titik air mata yang meleleh
di pipinya. Semakin dekat hari-hari yang ditentukan itu, maka
semakin sibuklah rumah Sindangsari dan rumah Ki Demang. Bahkan
regol-regol di padesan-padesan yang termasuk wilayah Kademangan
Kepandak telah diperbaiki pula tanpa ada yang memberikan perintah.
Rakyat Kepandak menyambut perkawinan Ki Demang dengan gembira,
karena sudah menjadi kebiasaan mereka berbuat demikian. Setiap Ki
Demang kawin, maka seluruh Kademangan seolah-olah ikut
menyelenggarakan peralatan, meskipun terbatas sekali. Dan kali ini,
seperti biasanya, Ki demangpun menyelenggarakan pertunjukan tiga
malam di rumah penganten perempuan dan tiga malam di Kademangan.
Wayang beber, tari topeng dan sebagainya. Namun dalam pada itu,
semakin dekat hari perkawinan itu berlangsung, hati Manguripun
menjadi semakin gelisah. Bagaimanapun juga ia tidak dapat melupakan
gadis itu. Sindangsari telah benar-benar menjerat hatinya. "Aku
mengenal puluhan gadis di Gemulung dan padukuhan-padukuhan lain di
Kepandak, bahkan di luar Kademangan ini. Aku pernah berhubungan
dengan beberapa diantaranya. Tetapi tidak seorangpun yang dapat
mencengkam perasaanku seperti gadis ini" katanya di dalam hati
"memang Sindangsari bukan gadis yang mudah tunduk dan memang bukan
gadis yang pantas untuk mengisi waktu yang sepi. Tetapi aku pasti
akan segera kehilangan semua kesempatan untuk memilikinya " Manguri
yang tidak pernah murung, kali ini selalu duduk termenung.
Sekali-kali ia memanggil Lamat, tetapi tidak ada yang dapat
diperintahkan kepadanya lagi. "Kau tidak perlu berkeliaran lagi di
malam hari Lamat" berkata Manguri "Pamot sudah pergi. Aku kira ia
tidak akan kembali lagi" Lamat t idak menjawab. "Tetapi aku kira itu
lebih baik daripadaku yang setiap kali masih akan melihat gadis itu,
yang kemudian akan menjadi Nyai demang" Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya. "He, kenapa kau mengangguk-angguk ?" tiba-tiba Manguri
membentak. Lamat terkejut. Namun ia menjawab "Aku sependapat dengan
kau, bahwa memang lebih baik meninggalkan Kepandak seperti Pamot"
"Tetapi Pamot mempunyai alasan yang kuat. Bahkan alasan yang dapat
dikagumi oleh seluruh rakyat Kepandak, bahwa ia akan pergi berjuang"
Manguri berhenti sejenak, lalu "tetapi aku tidak mempunyai
kesempatan serupa" Hampir saja Lamat menunjukkan kesalahan Manguri,
bahwa selama ini ia tidak bergaul rapat dengan anak-anak muda yang
lain. Tetapi niatnya diurungkannya, karena hal itu pasti akan
menumbuhkan kemarahannya saja. Tetapi tiba-tiba Manguri menggeram
"Persetan dengan perang. Biarlah mereka yang tidah menghargai
nyawanya sendiri pergi berperang. Tetapi aku tidak. Aku mempunyai
kepentingan pribadi yang lebih penting dari kepentingan orang lain,
daripada perang itu. Biarlah orang lain berperang, tetapi aku akan
mencari jalan untuk mendapatkan anak itu. Lamat menarik nafas
dalam-dalam. Manguri telah benarbenar tergila-gila kepada
sindangsari. Tetapi bagaimanapun juga, apabila Sindangsari telah
menjadi isteri Ki Demang, semua jalan pasti sudah tertutup" "Aku
masih mempunyai satu kemungkinan" desis Manguri "laki-laki itu harus
membantuku. Kalau tidak, aku dapat menghancurkannya. Namanya maupun
tubuhnya " Tetapi Manguri terkejut ketika ia melihat Lamat
menggeleng-gelengkan kepalanya "Laki-laki itu bukan laki-laki
kebanyakan" "He" Manguri terkejut "kau kenal siapa laki-laki itu?"
Lamat tiba-tiba terdiam. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Tetapi ia
t idak menjawab. "Baik. Aku tidak berkeberatan kalau kau mengenal
siapa laki-laki itu. Itu bukan salahmu, seperti bukan juga salahku
kalau aku juga mengetahuinya" Manguri terdiam sejenak lalu "tetapi
kenapa kau menganggapnya bahwa ia bukan laki-laki kebanyakan?" Lamat
tidak dapat menolak untuk menjawab. Maka katanya "Ia memiliki
kemampuan diatas kemampuan kita kebanyakan" "Dan kau?" Namun Lamat
menggeleng. Jawabnya "Aku tidak tahu. Tetapi ia pasti dapat melawan
lima orang gerombolan Sura Sapi sekaligus apabila ia mau" Manguri
mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Itu kebetulan sekali. Ia
akan dapat membantu kita. Kau dan orang itu" Dada Lamat berdesir.
Tetapi ia berkata "Maksudku, kau tidak akan dapat mengancamnya. Baik
namanya maupun tubuhnya, karena seisi rumah ini bersama-sama sulit
lah untuk mengatasinya" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
sadar, bahwa laki-laki itu memang bukan laki-laki kebanyakan. Bahkan
ayahnyapun pasti tidak akan dapat melawannya. Tiga orang setingkat
ayahnyapun akan dapat dikalahkannya. "Tetapi" berkata Manguri
kemudian "meskipun ia dapat mengalahkan seisi rumah ini sekaligus,
namun ia tidak akan dapat mengalahkan ibu" Sesuatu yang tajam serasa
menusuk jantung Lamat. Sambil menahan perasaannya ia berkata di
dalam hatinya "Dunia ini telah menjadi sedemikian kotornya.
Dimana-mana aku menjumpai tingkah laku yang memuakkan. Manguri,
ayahnya, ibunya, dan bahkan Pamot, anak yang aku anggap bersih
itupun telah terjerumus ke dalam perbuatan yang serupa" Lamat
menggigit bibirnya ketika ia sampai pada suatu pertanyaan "tetapi
apakah perbuatan Ki Demang itupun tidak dapat dimasukkan ke dalam
suatu tindakan yang tercela? Ia dapat memaksakan kesaksian yang
membenarkan kekeliruannya itu. Sehingga dengan demikian ia tidak
perlu melakukan kesalahannya sambil bersembunyi" Namun kepala Lamat
menjadi semakin tertunduk ketika ia bertanya pula kepada diri
sendiri "Lalu. Bagaimana dengan aku? Aku adalah orang yang paling
tidak jujur di muka bumi. Aku telah mengiakan yang tidak sesuai
dengan nuraniku. Aku telah melakukan yang sebenarnya tidak aku
kehendaki. Tetapi itupun aku telah berkhianat karena perasaanku yang
ingkar" "He" tiba-tiba Manguri membentak "Kenapa kau diam saja?"
Lamat terkejut. Diangkatnya kepalanya sambil bertanya "apakah yang
harus aku katakan? Semuanya benar dan memang demikianlah adanya"
Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya. Aku harap ibu dapat
membantu aku. Sekarang harapanku satu-satunya adalah, agar ayah
pergi mengurus ternaknya keluar. Semakin jauh semakin baik, agar
laki-laki itu mendapat kesempatan menemui ibu" Kata-kata itupun
terasa menusuk jantung Lamat. Tetapi ia tidak dapat berkata apapun.
"Lamat" tiba-tiba Manguri berkata "apakah kau tidak dapat berusaha
bertemu dengan Sindangsari? Lamat terkejut mendengar pertanyaan itu
"Sekali saja?" "Untuk apa?" bertanya Lamat. "Cobalah bertanya
kepadanya. Sepeninggal Pamot, ia hanya dapat memilih satu diantara
dua. Aku atau Ki Demang. Kalau ia sempat berpikir, maka aku kira ia
akan memilih aku. Ia sudah mengenal aku sebagai seorang yang kaya
raya, meskipun Ki Demang juga kaya. Tetapi Ki Demang sudah lima kali
kawin, dan umurnya sudah tidak dapat disebut muda lagi" Dada Lamat
menjadi berdebar-debar. Terlonjak suatu jawaban, tetapi hanya di
dalam hatinya "Kau seharusnya sudah berapa kali kawin Manguri,
apabila kau bukan anak muda yang licik?" "Bagaimana" Manguri
mendesak. "Tetapi" suara Lamat dalam sekali "hampir setiap kali aku
mengawasi Pamot selama ini, aku selalu melihat dua orang petugas
yang dikirim oleh Ki Demang. Meskipun aku tidak dapat melihat
wajahnya dengan jelas, karena aku tidak dapat mendekatinya, namun
tampak bahwa keduanya adalah orangorang pilihan" "Kau tidak berani?"
"Bukan tidak berani. Tetapi apabila terjadi benturan kekuatan,
meskipun mungkin aku tidak kalah, namun mereka akan segera mengenal
aku. Bukankah dengan demikian Ki Demang akan dengan mudahnya
bertindak terhadapku dan mungkin terhadap seluruh keluarga ini?
Kecuali kalau kita memang sudah siap untuk menyatakan perang" "Gila
kau" bentak Manguri "tetapi, baiklah, aku akan mencari jalan lain.
Mudah-mudahan ayah segera pergi. Agaknya sudah ada tanda-tanda itu,
karena ayah sudah mulai menyiapkan beberapa puluh ekor ternak dan
sudah ada pembicaraan-pembicaraan tentang pengiriman ternak itu ke
Mataram, sebagai bekal para prajurit yang akan menyerang orang-orang
asing itu" Lamat tidak menjawab, tetapi ia mengeluh di dalam
hatinya. Rumah ini benar-benar seperti neraka yang diisi dengan
setan-setan iblis dan sebangsanya. Namun kini jelas bagi Lamat,
bahwa agaknya Manguripun tidak akan berhenti sampai t itik
perkawinan Ki Demang. Anak muda yang licik itu pasti akan mencari
jalan apapun juga untuk mendapatkan Sindangsari. Ketika Manguri
kemudian meninggalkannya, Lamat menarik nafas dalam-dalam.
Perlahan-lahan ia melangkah sambil menundukkan kepalanya. Terbayang
di mata hatinya, betapa kedua anak-anak muda, Pamot dan Sindangsari
saling mencintai. Tetapi cinta mereka telah direnggut oleh kekuasaan
Ki Demang di Kepandak . "Seandainya mereka tidak menjadi putus-asa,
hal itu pasti tidak akan terjadi. Mereka merasa bahwa mereka tidak
akan dapat saling mempertemukan hati kembali" tetapi tiba-tiba Lamat
menggeram "apapun alasannya, tetapi mereka telah melakukan perbuatan
terkutuk itu" Dalam pada itu, persiapan yang dilakukan oleh
keduabelah pihak, keluarga Sindangsari dan Ki Demang sudah semakin
sempurna. Rumah-rumah mereka sudah mulai memasang kerangka-kerangka
tarub. Janur-janur kuning sudah mulai disiapkan, sehingga saatnya
menjadi semakin dekat untuk menyangkutkannya pada kerangka-kerangka
yang sudah siap. Sejalan dengan itu, ayah Manguripun menjadi semakin
sibuk menyiapkan ternak-ternaknya. Ia memang mendapat pesanan dari
orang-orang yang memang menjadi lengganannya, untuk menyerahkan
beberapa puluh ekor sapi, yang harus disiapkan pula sebagai bekal
dari pasukan Mataram yang akan mengulangi serangannya atas
orangorang asing yang mulai membangun sebuah kota yang mereka
namakan Betawi. "Aku harus pergi di hari-hari peralatan itu" berkata
ayah Manguri "adalah memalukan sekali apabila aku mendapat undangan
untuk menghadirinya. Aku tidak dapat menolak untuk tidak hadir,
tetapi apabila aku hadir, perasaanku pasti akan menjadi panas,
karena aku sendiri pernah membicarakan masalah gadis Itu dengan Ki
Demang" "Lalu, apakah cukup bagi ayah dengan meninggalkan Kademangan
ini?" bertanya Manguri. "Maksudmu?" "Apakah tidak ada usaha lain
yang dapat dilakukan?" Ayahnya menggelengkan kepalanya "Kedudukanku
pasti akan menjadi sangat sulit. Aku tidak dapat melawan kekuasaan
Ki Demang di Kepandak" "Kita mempunyai uang ayah. Kita dapat berbuat
banyak" "Sudahlah Manguri. Jangan menjadi gila. Persoalan hidup ini
bukan sekedar persoalan Sindangsari. Aku harus mengurus
perdaganganku. Kalau aku tenggelam di dalam masalahmu saja, masalah
yang sebenarnya sudah jelas, maka hubunganku dengan orang-orang yang
selama ini selalu mengambil daganganku akan menjadi berkurang.
Mereka akan lari kepada orang lain, sehingga kita akan kehilangan
banyak pasaran" ayahnya berhenti sejenak, lalu "sebaiknya kau mulai
sejak sekarang. Isilah waktumu dengan kerja. Aku masih sempat untuk
mengajarimu sekarang. Kalau kelak aku menjadi semakin tua, dan pada
suatu saat aku sudah tidak kuat lagi bekerja, kau sudah pandai
mengambil alih pekerjaan ini" Manguri tidak segera menyahut. Dan
tiba-tiba ayahnya berbisik "Di sepanjang jalan, di kotakota lain,
kau akan menjumpai lebih dari sepuluh Sindangsari. Bahkan yang jauh
lebih cantik daripadanya. Kalau kau membawa uang banyak di dalam
kampilmu, maka tidak akan ada kesulitan apapun untuk mendapatkan
mereka" "Jangankan sepuluh ayah" berkata Manguri sambil
bersunggut-sungut "sedang dengan uang ayah yang banyak sekali ini,
satupun tidak kita dapatkan" "Bukan Sindangsari yang itu" berkata
ayahnya "karena itu berlajarlah merantau sebagai seorang pedagang"
Manguripun kemudian terdiam. Namun sekilas terbayang di dalam
angan-angannya, apabila ayahnya pergi, maka laki-laki itu pasti akan
datang. Dan ia akan dapat minta tolong kepadanya. Setidak-tidaknya
ia akan dapat memberikan petunjuk, jalan apakah yang harus
ditempuhnya. "Kalau ibu bersedia membantu, maka aku berharap untuk
mendapatkan jalan itu" katanya di dalam hati. Maka ternyata beberapa
hari kemudian ayah Manguripun sudah siap. Pada saat di rumah
Sindangsari mulai dipasang tarub, demikian pula di rumah Ki Demang,
maka ayah Manguripun pergi meninggalkan padukuhan Gemulung. "Aku
harus menunaikan panggilan suci" katanya kepada utusan Ki Demang
yang datang kepadanya, mengundangnya untuk datang keperalatan
perkawinannya "karena aku sudah tidak muda lagi, dan tidak dapat
ikut di dalam pasukan pengawal khusus, maka aku akan berjuang dengan
cara yang lain. Aku akan mengusahakan perbekalan mereka, supaya
mereka t idak kehilangan kekuatan dipeperangan" "Apa yang akan kau
lakukan?" bertanya utusan itu. "Aku akan menyediakan ternak.
Berpuluh-puluh. Aku harus segera menyerahkan sebagian yang sudah
dapat aku kumpulkan" Utusan itu mengangguk-anggukkan kepalanya
"Baiklah" katanya "nanti aku sampaikan kepada Ki Demang" "Aku minta
maaf "sambung ayah Manguri "mudahmudahan semuanya dapat berlangsung
dengan baik" "Terima kasih. Ki Demang tentu akan dapat mengerti"
Sepeninggal orang itu, Manguri menghampiri ayahnya dan bertanya
"Ayah benar-benar tidak akan hadir?" Ayahnya mengangguk "Ya. Aku
tidak akan hadir" "Karena tugas suci itu?" Ayahnya mengerutkan
keningnya, namun kemudian ia tersenyum "Kau harus pandai
mempergunakan kesempatan. Biarlah anak-anak muda itu berperang.
Namun justru dalam keadaan ini ternak menjadi meningkat harganya,
dan aku mendapat banyak keuntungan" Manguri mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dan ayahnya berkata pula "Karena kau tidak ikut di dalam
lingkungan pasukan pengawal, maka kau dapat pergi bersamaku dalam
tugas suci ini. Kau dapat ikut membanggakan dirimu, bahwa kaupun
telah membantu perjuangan. Kau dapat berkata kepada anak-anak muda
yang menyabung nyawanya itu, bahwa tanpa perbekalan yang cukup
mereka bukan apa-apa. Dan kitalah yang mengusahakan perbekalan itu"
"Tetapi bukankah persediaan itu bukan milik kita" "Tentu bukan. Kau
jangan terlampau bodoh, seperti sudah aku katakan, kita memanfaatkan
keadaan. Aku membeli ternak itu dengan harga biasa. Tetapi aku dapat
menjual kepada orang-orang yang ada di dalam lingkungan dalam
keprajuritan Mataram dengan harga yang tinggi. Mereka tidak akan
menolak karena mereka memerlukannya segera. Sudah tentu mereka tidak
akan sempat membeli seekor demi seekor seperti aku di
padukuhan-padukuhan kecil" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi tibatiba ia menjawab "tetapi tidak kali ini ayah. Kali ini
aku akan mencoba mengatur perasaanku lebih dahulu. Aku ingin
menyembuhkan luka yang telah mengoyak hatiku" "O, kau sekarang
tiba-tiba saja menjadi cengeng. Seperti pangripta cerita-cerita
dalam tembang macapat. Bukankah hatimu tidak terbuat dari daun
pisang yang mudah koyak?" Manguri tidak menyahut. "Besarkan hatimu.
Hari-harimu masih panjang. Kau masih mungkin sekali memiliki
hari-hari yang cerah. Hari ini matahari tenggelam, tetapi esok pagi,
matahari itu akan terbit kembali" Manguri tidak menjawab, dan
ayahnya berkata seterusnya "Tetapi lain kali kau harus bersedia
belajar melakukan pekerjaan ini, supaya kau kelak dapat menyambung
usaha ayah yang sudah kau lihat sendiri hasilnya " Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jika demikian, hati-hatilah kau di
rumah. Kendalikan Lamat baik-baik. Jangan terlampau kau sia-siakan
anak itu. Jangan terlalu sering kau bentak-bentak. Ia anak baik. Ia
dapat menjadi pelindung dari seluruh keluarga ini" Manguri
menganggukkan kepalanya pula. "Jaga ibumu baik-baik. Jangan kau
sakiti hatinya. Ia menjadi semakin tua meskipun tampaknya seperti
kakaknya saja" Sekali lagi Manguri menganggukkan kepalanya. "Kau
menjadi penggant iku di rumah kalau aku tidak ada" "Baik ayah" jawab
Manguri kemudian. Maka ayah Manguri itupun kemudian minta diri
kepada isterinya dan seisi rumahnya. Beberapa orang pengawal sudah
siap di halaman yang luas itu yang kemudian akan pergi bersama-sama
dengan ayahnya, mengambil ternak-ternak yang sudah terkumpul di
kebun peternakannya, dan membawanya ke Mataram. Ketika ayah Manguri
itu melintasi pintu regol, ia melihat Lamat berdiri termangu-mangu.
Sejenak ia berhenti, katanya "Jaga rumah ini baik-baik" Lamat
menganggukkan kepalanya dalam-dalam. "Keamanan rumah ini adalah
tanggung jawabmu. Kau tahu, bahwa banyak masalah masih dapat timbul
karena pokal Manguri itu. Mungkin orang-orang Sura sapi, mungkin
anakanak muda yang mendendamnya, atau barangkali karena
kesalahannya, maka Ki Demang berbuat sesuatu atas keluarga ini" "Aku
akan berusaha sebaik-baiknya" jawab Lamat. Ayah Manguri tersenyum.
Ia tahu benar kemampuan yang tersimpan di dalamdiri raksasa itu.
Sekali lagi ayah Manguri itu berpaling. Dilihatnya isteri dan
anaknya berdiri termangu-mangu di belakangnya. "Ingat Manguri"
katanya "jangan berbuat aneh-aneh" Manguri mengangguk. Maka
iring-iringan kecil itupun kemudian meninggalkan regol rumah Manguri
yang besar, menuju ke sebuah pategalan yang dipergunakan oleh ayah
Manguri untuk menyimpan ternaknya yang sudah terkumpul
sebelumterjual. Manguri dan ibunyapun kemudian berdiri di regol
sambil memandangi iring-iringan yang semakin lama menjadi semakin
jauh. Perlahan-lahan Manguri mengangguk-angguk. Tanpa sesadarnya ia
berkata "Semuanya membawa senjata" "Pekerjaan ayahmu adalah
pekerjaan yang berbahaya dalam keadaan seperti sekarang ini" berkata
ibunya "di sepanjang jalan dapat saja iring-iringan ternaknya
bertemu dengan beberapa orang penjahat" Manguri mengangguk-anggukkan
kepalanya, dan tiba-tiba saja ia berkata "Pekerjaan yang
menyenangkan, sebuah petualangan yang dapat memberikan banyak
penghasilan" Ibunya memandang wajah Manguri yang masih terpaku pada
bintik-bintik yang bergerak semakin jauh "Kau mulai tertarik pada
pekerjaan itu?" Manguri mengangguk "Ya. Banyak sekali yang dapat
dikerjakan. Mendapat uang, bertualang, dan apa saja di sepanjang
perjalanan" "Manguri" ibunya mengerutkan keningnya "itukah yang
menarik perhatianmu? Bukan usaha yang memerlukan ketekunan dan
keuletan?" "Tentu ibu. Tanpa ketekunan dan keuletan, ayah tidak akan
dapat menjadi pedagang ternak yang besar seperti sekarang" "Nah, hal
itulah yang harus mendapat perhatian" "Tentu. Tetapi di samping
kesibukan itu kadang-kadang seseorang memerlukan juga selingan yang
segar" "Manguri, apa maksudmu, dengan mengatakan hal itu?" "Tidak
ibu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Ibu tahu, saat ini hatiku serasa
sedang terluka. Aku memerlukan tempat yang dapat memberikan
kesejukan di dadaku yang serasa gersang" Ibunya menarik nafas
dalam-dalam "Ah kau" tetapi Manguri justru tersenyum. Bintik-bintik
di kejauhan itu kini sudah hilang ditelan tikungan. Dalam pada itu,
bintik-bintik di kejauhan itupun kini telah hilang di balik
tikungan, sehingga Manguri kemudian berkata "Ayah sudah tidak
kelihatan lagi. Perjalanannya kali ini adalah perjalanan yang
pendek. Ayah hanya pergi ke Mataram membawa ternaknya, sehingga
tidak lebih dari tiga atau empat hari ayah pasti akan sudh selesai
dengan segala urusannya " "Belum tentu" sahut ibunya "kadang-kadang
ayahmu memerlukan waktu sepekan untuk menunggu penyelesaian
pembayarannya. Kalau uang itu ditinggalkannya; maka pembayaran itu
justru akan tertunda-tunda semakin lama" Manguri mengangguk-angguk,
tetapi ia tidak menjawab lagi. Keduanyapun kemudian melangkah
meninggalkan regol halaman naik ke pendapa, sementara Lamat yang
masih berdiri di regol meggeleng-gelengkan kepalanya. "Keluarga ini
adalah keluarga yang kaya raya" desisnya "tetapi sekedar kekayaan
lahiriah. Mereka sama sekali tidak memiliki kekayaan batiniah.
Kekayaan rohani" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun
kemudian melangkah ke halaman belakang. Tetapi ia masih sempat
bertanya kepada diri sendiri "tetapi kenapa aku masih juga berada
disini?" Pertolongan yang diberikan oleh ayah Manguri, dan sekaligus
sebagai belenggu yang dipasang di hati Lamat itu agaknya benar-benar
sulit untuk dilepaskannya. Dalam pada itu, Kademangan Kepandak
menjadi semakin ramai karena hari perkawinan Ki Demangpun akhirnya
sampai juga. Tiga hari tiga malam di rumah Sindangsari akan
diselenggarakan pertunjukan yang pasti akan sangat menarik perhatian
orang-orang di sekitarnya. bukan saja dari padukuhan Gemulung,
tetapi juga dari padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Sedang pada hari
kelima, bertepatan dengan boyongan penganten, di Kademanganpun akan
diadakan peralatan yang serupa. "Namun penghuni rumah yang kini
sudah dihiasi dengan tarub itu sama sekali tidak mewarnai peralatan
yang diselenggarakannya. Wajah-wajah mereka tampak suram, betapapun
mereka mencoba tersenyum dengan tetanggaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ tetangga mereka
yang telah membantu menyiapkan segala keperluan perkawinan itu.
Meskipun demikian seorang perempuan gemuk berkata kepada kawannya
yang duduk di sampingnya "Lihat, bukankah Sindangsari sudah t idak
menangis lagi? Meskipun wajahnya masih muram, namun nanti, setelah
ia tinggal di Kademangan, ia akan segera tersenyum. Pamot itupun
akan segera dilupakannya. Baru berapa hari anak itu pergi,
Sindangsari sudah hampir melupakannya" Kawannya mengerutkan
keningnya. Jawabnya "Tentu, ia berpura-pura menolak, karena ia sudah
terlanjur menyatakan cintanya kepada Pamot, supaya kelihatannya ia
seorang gadis yang setia. Tetapi lihat saja, sebentar lagi ia akan
menjadi Nyai Demang yang baik. Mungkin ia adalah gadis yang terbaik
yang pernah menjadi isteri Ki Demang" "Apa yang baik pada gadis
ini?" "Ia adalah gadis yang cantik" "Belum tentu seorang gadis yang
cantik dapat menjadi seorang isteri yang baik. apalagi pada dasarnya
Sindangsari tidak menyukai Ki Demang" "Ia akan segera menyukai.
Pakaian yang bagus, perabot rumah tangga yang lengkap dan kedudukan
yang baik akan membuatnya menjadi seorang istri yang baik. Lebih
daripada itu, melihat badannya yang segar dan berisi, ia akan dapat
memberikan seorang anak atau lebih kepada Ki Demang" Tetapi kawannya
mengerutkan keningnya. Dengan bersungguh-sungguh ia berbisik "Apakah
begitu?" Kenapa isteri-isteri Ki Demang yang lain tidak pernah punya
anak? He" suaranya menjadi semakin lirih "isteri-isteri Ki demang
yang terdahulu tidak pernah merasa bersalah karena mereka tidak
punya anak. Apakah kau pernah berbicara dengan salah seorang dari
mereka?" "Tentu, tidak seorang perempuanpun yang mau mengakui, bahwa
ia tidak akan mempunyai anak. sebagai seorang janda ia tentu akan
mengalami banyak kesulitan untuk dipinang orang, apabila ia tidak
akan dapat mempunyai anak. Mereka mencoba melemparkan kesalahan
kepada suami-suami mereka. Kepada Ki Demang misalnya" Kawannya tidak
menyahut lagi, karena beberapa orang yang lain mendekati mereka dan
membantu pula pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Demikianlah,
maka ketika saat yang ditentukan tiba, hari itu adalah hari Soma
Pahing, rumah Sindangsari menjadi sangat ramai. Obor-obor telah
dipasang di regol halaman yang sudah diperbaiki. Lampu-lampu minyak
yang terletak diatas ajuk-ajuk bambu berserakan di seluruh halaman.
Tarub janur kuning menghiasi segala sudut dan bahkan di depan tarub
di tengah-tengah terikat sepasang tundun pisang, dua ikat padi,
jagung dan dedaunan. Kemudian di hadapan pintu depan tergolek sebuah
pasangan lembu, sejembangan air dan bermacam-macamrangkaian upacara
penganten. Peralatan yang diselenggarakan di rumah sindangsari
itupun menjadi sangat meriah. Ibu Sindangsari tidak hentihentinya
mempersilahkan tamu-tamunya duduk, menerima sumbangan berupa apa
saja, kelapa, beras, dan sayursayuran, mempersilahkan mereka makan,
kemudian mempersilahkan mereka pindah ke ruang depan. Tiga hari tiga
malam, rumah itu dihiasi dengan lampulampu minyak yang terang dan
obor-obor di regol. Tiga hari tiga malam seisi rumah itu seakan-akan
tidak tidur sekejappun. Ki Demang yang sudah untuk kesekian kalinya
menjadi pengantin, untuk sepekan akan tinggal di rumah Sindangsari
setelah di hari yang pertama ia menginjakkan kakinya sebagai
mempelai dilakukan segala macam upacara adat. Tetapi Ki Demang
sendiri selama sepekan itu sama sekali tidak dapat beristirahat
pula. Tamu-tamunya datang setiap saat dari segala penjuru
Kademangan. selain itu, kawankawannya para Demang dan bebahu
Kademangan yang lainpun berdatangan pula untuk mengucapkan selamat.
Kadang-kadang disuatu saat, di halaman rumah penganten perempuan itu
terikat lebih dari sepuluh ekor kuda sekaligus. Kuda yang dibawa
oleh para tamu yang datang dari luar Kademangan Kepandak. Namun Ki
Demangpun kadang-kadang harus mengerutkan keningnya. Ada pula
beberapa orang tamu yang kurang dapat menyesuaikan dirinya. Meskipun
hanya sambil bergurau, namun ada diantara mereka yang berkata "He,
Ki Demang di Kepandak, kau benar-benar seorang yang paling
beruntung. Bukankah kau kali ini kawin untuk yang kesekian kalinya?
Kau masih juga berhasil memikat hati seorang perawan yang begitu
cantik dan muda" Kawan-kawannya tertawa serentak, meskipun Ki Demang
sendiri menjadi tersipu-sipu dan menegangkan keningnya. Tetapi
betapa terkejutnya hati Ki Demang, ketika ia melihat beberapa ekor
kuda memasuki regol halaman rumah Sindangsari. Ternyata yang datang
itu adakah beberapa orang perwira dan prajurit Mataram. "Apakah yang
mereka kehendaki" katanya di dalam hatinya yang berdebar-debar "Aku
baru kawin. Agaknya ada sesuatu yang penting, sehingga beberapa
orang prajurit datang sekaligus" Karena itu, maka dengan
tergopoh-gopoh Ki Demang sendiri turun dari tangga rumah Sindangsari
menyongsong kedatangan mereka. Tetapi Ki Demang itupun kemudian
berdiri termangumangu. Sebelum ia menemui mereka, ternyata ibu
Sindangsari telah mendahuluinya. "Nyai tidak mengabari kami" berkata
salah seorang perwira. "Maaf kakang. Sebenarnya aku memang tidak
ingin mengabari siapapun juga" "Aku mendengar dari prajurit yang
bertugas di Kademangan Ini untuk melatih para pengawal khusus yang
masih tinggal dan menurut pendengaranku akan ditambah lagi" "Tentu,
tentu mereka mengetahuinya" Nyai Wiratapa berhenti sejenak, lalu
"silahkan" Ketika Nyai Wiratapa berpaling, dilihatnya Ki Demang
sudah berdiri di depan tangga rumahnya. "Itulah menantuku" desis
Nyai Wiratapa. Para prajurit itu mengerutkan keningnya "Bukankah ia
Demang di Kepandak" "Benar. Orang itulah Demang di Kepandak"
Beberapa orang perwira saling memandang sejenak. Tetapi mereka tidak
bertanya sesuatu. Meskipun demikian Nyai Wiratapa telah dapat
menebak isi hati mereka, sehingga tanpa malu-malu, bahkan
seolah-olah ia mendapat saluran untuk menumpahkan perasaannya, iapun
berkata "Jangan terkejut kalau menantuku terlampau lambat kawin"
"Apakah ia belum pernah kawin?" salah seorang dari prajurit yang
datang itu bertanya. Tetapi kawannya segera menggamitnya, sambil
berbisik "Aku dengar perkawinan ini adalah yang keenam kalinya"
Prajurit muda yang bertanya itu terkejut "He, bukankah Sindangsari
itu anak Ki Wiratapa itu?" "Sst "kawannya berdesis. Prajurit muda
itupun terdiam. Yang terdengar kemudian adalah suara Nyai Wiratapa
"Marilah, silahkan kalian masuk" Para prajurit itupun kemudian
berjalan perlahan-lahan mengikut i Nyai Wiratapa setelah menambatkan
kuda-kuda mereka. Namun prajurit muda itu masih saja bertanya kepada
kawannya yang terdekat "He mana mungkin Sindangsari kawin dengan
seorang yang telah kawin untuk kelima kalinya" "Jangan ribut. Hal
itu sudah terjadi" "Kalau aku tahu, aku datang melamarnya sejak ia
meninggalkan Mataram" Para prajurit itupun kemudian diperkenalkannya
dengan Ki Demang di Kepandak, mempelai laki-laki, menantu Nyai
Wiratapa. Beberapa orang diantara para prajurit itu terpaksa menahan
perasaannya, agar tertawanya tidak terloncat di bibirnya melihat
kejadian yang ganjil itu. Selain dengan Ki Demang, maka para tamu
itupun diperkenalkan pula dengan Ki Reksatani dan Ki Jagabaya, yang
seolah-olah menjadi pelindung Ki Demang selama Ki Demang menjalani
masa-masa perkawinannya di rumah isterinya. di samping beberapa
orang kepercayaan Ki Demang sendiri yang bertebaran disegala sudut
halaman" "Mereka adalah kawan-kawan ayah Sindangsari Ki Demang
berkata ibu Sindangsari. "O terima kasih. Terima kasih atas
kunjungan ini" berkata Ki Demang. Para prajurit itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Seorang perwira yang tertua berkata
"Kami sekedar datang untuk mengucapkan selamat. Meskipun kami tidak
diundang, tetapi kami adalah kawan-kawan baik Ki Wiratapa. Ki
Wiratapa adalah seorang prajurit yang jarang ada duanya. Berani,
tangkas dan memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan yang
tiba-tiba. Tetapi ia adalah seorang yang tidak mementingkan diri
sendiri, sehingga justru ia menjadi korban karena berusaha
melindungi teman-temannya" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi kunjungan kawan-kawan ayah Sindangsari itu merupakan suatu
persoalan baru baginya. Ternyata bahwa pengaruh keadaan dan
persamaan nasib di medan perang, telah mempengaruhi hubungan para
prajurit itu. Meskipun Ki Wiratapa sudah tidak ada lagi, namun
mereka masih tetap bersikap baik dan akrab dengan keluarganya. "Aku
harus mempertimbangkan keakraban hubungan ini" berkata Ki Demang di
dalam hatinya. Sehingga dengan demikian perlakuannya terhadap
keluarga Sindangsaripun harus dipertimbangkannya pula. Tetapi
tamu-tamu itu tidak lama duduk bercakap-cakap dengan ibu Sindangsari
dan menantunya. Setelah mereka mendapat sekedar jamuan dan
mengucapkan selamat kepada sindangsari sendiri, maka merekapun
segera minta diri. "Kami baru mempunyai banyak pekerjaan" berkata
perwira yang tertua. "Kalian tidak pernah mempunyai waktu terluang.
Kalian selalu mengatakan banyak pekerjaan" sahut Nyai Wiratapa.
"Tetapi kali ini kami benar-benar mempunyai banyak pekerjaan.
Bayangkan, kami menerima anak-anak muda dari Kademangan di sekitar
Mataram. Kami harus melatih mereka sebelum kami memilih siapakah
diantara mereka yang dapat kami kirimkan ke medan" "Jadi kalian akan
mengulangi serangan itu? Seperti yang dilakukan oleh kakang
Wiratapa?" "Ya" "Hampir setahun yang lalu, dua gelombang serangan
telah gagal. Apakah sekarang hanya prajurit-prajurit dari Mataram
saja yang berangkat" "Tentu tidak" jawab perwira itu "kekuatan
Mataram tidak berada di Mataram saja. Tetapi para prajurit di daerah
pantai Utarapun akan berangkat juga" "Lewat laut seperti gelombang
yang pertama hampir setahun yang lalu?" Perwira itu menggelengkan
kepalanya "Kami tidak tahu. Apakah kami harus mengulangi lagi
serangan lewat lautan, atau kami akan mengambil cara lain" Nyai
Wiratapa mengangguk-anggukkan kepalanya "Mudahmudahan kalian
berhasil. Seorang kemanakanku ada di dalam pasukan itu" "Dari
Kepandak?" "Ya. Kalau ia ikut terpilih kelak, aku titipkan ia kepada
kalian" "Siapa namanya?" Nyai Wiratapa ragu-ragu sejenak. Dengan
sudut matanya di sambarnya wajah Ki Demang yang tegang. "Siapa?"
desak prajurit itu. Nyai Wiratapa menarik nafas dalam-dalam. Ia
terlanjur mengatakannya kepada para prajurit itu oleh desakan
perasaannya, tetapi ketika ia menyadari bahwa Ki Demang duduk
diantara mereka, ia menjadi ragu-ragu. Meskipun demikian ia tidak
dapat menolak pertanyaan perwira itu, sehingga betapapun beratnya ia
menjawab "Namanya Pamot " Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya
"Pamot" ia mengulangi. Namun nama itu telah menggetarkan jantung Ki
demang. Apakah maksud ibu sindangsari itu? Kenapa ia masih saja
menyebut-nyebut nama Pamot dihadapannya justru pada hariTiraikasih
Website http://kangzusi.com/ hari
perkawinannya? Dan kenapa mertuanya itu menyebut Pamot sebagai
kemenakannya? Pertanyan-pertanyaan itu bergolak di dalam dada Ki
Demang. Namun kemudian iapun dapat mengambil kesimpulan bahwa bukan
saja Sindangsari yang berkenan atas kehadiran Pamot di dalam
keluarga itu. Tetapi juga keluarganya. Seluruh keluarganya. "Aku
akan membuktikan bahwa aku adalah menantu yang baik" berkata Ki
demang di dalam hatinya. Ternyata prajurit yang bertanya itu sama
sekali belum mengenal anak muda yang bernama Pamot. Karena itu
katanya "Baiklah Nyai. Aku akan mencari anak yang bernama Pamot dari
Kepandak. Kalau ia kemanakanmu, aku berharap bahwa ia akan menjadi
seperti pamannya Ki Wiratapa" "Gugur dipeperangan?" bertanya Nyai
wiratapa. "Tidak. Tidak. Maksudku, seperti Ki Wiratapa di dalam olah
tata dan sikap keprajuritannya" Nyai Wiratapa menarik nafas
dalam-dalam. "Sudahlah Nyai" berkata periwa itu "aku kini
benar-benar minta diri. Aku dapat berbicara sampai malam apabila aku
lupa waktu. Tetapi kami harus segera kembali" Para prajurit itupun
kemudian meninggalkan rumah bekas sahabatnya yang telah gugur.
Mereka masih juga saling mempercakapkan, kenapa Nyai Wiratapa
mengambil menantu seorang yang telah beberapa kali kawin. "Aku kira
Ki Demang itu agak menekan keluarga kecil itu" tiba-tiba salah
seorang berdesis. Kawan-kawannya mengerutkan keningnya "Mungkin. Hal
itu memang mungkin sekali. Tetapi kenapa Nyai Wiratapa tidak
mengatakannya?" "Bagaimana mungkin ia dapat mengatakannya.
Menantunya yang tercinta itu selalu menunggui pembicaraan kita"
"Maksudku, di kesempatan lain. Beberapa waktu sebelumnya" "Kita
pasti dapat mengerti. Ia seorang janda yang tinggal di daerah
kekuasaan Ki Demang Kepandak. Tentu ia tidak berani berbuat apa-apa.
Seandainya suaminya masih ada, persoalannya pasti akan lain,
meskipun mereka t inggal di Kademangan itu pula" "Tetapi semunya
sudah terlanjur. Perkawinan itu sudah terjadi" "Aku menyesal sekali"
gumam prajurit muda yang sejak semula selalu menggerutui perkawinan
itu "bukankah aku agak lebih tampan dari Ki Demang itu, bahkan aku
lebih muda?" "Tetapi" desis prajurit yang lebih tua "tiga rangkap
kau tidak akan dapat menyamai Demang di Kepandak di dalam olah
senjata" "Bohong" sahut prajurit muda itu. "Beberapa orang diantara
kita yang agak tua-tua ini pasti sudah mendengarnya. Kakak beradik
dari Kepandak itu. Meskipun aku sendiri baru kali ini melihat
orangnya" Prajurit muda itu bersungut-sungut? Katanya "Kalau
perkawinan itu belum terlanjur, aku bersedia melakukan perang
tanding dengan taruhan gadis itu. Tetapi karena perkawinan itu sudah
terjadi, dan kita tidak tahu apa yang sudah terjadi atas gadis itu,
maka aku tidak akan bersedia lagi untuk melakukannya" "Siapa yang
minta kepadamu untuk melakukan itu?" "Tidak ada" Kawan-kawannya
tersenyum. Sambil menepuk punggung prajurit muda itu kawannya
berkata "Tunggulah sampai ia menjadi janda. Agaknya umurmu masih
agak lebih panjang dari umur Ki Demang di Kepandak" "Itu kalau aku
tidak mat i dipeperangan" jawab prajurit itu sambil tersenyumpula.
Namun demikian salah seorang diantara para perwira itu berkata
"Tetapi kasihan juga janda dan anaknya itu. Kalau benar Ki Demang
melakukan tekanan, ia sudah menyalahgunakan kekuasaannya" Tidak
seorangpun yang menjawab. Perkawinan itu ternyata memang sudah
terjadi. Dalam pada itu, di rumah Sindangsari Ki Demang masih saja
memikirkan pesan ibu Sindangsari. Buat apa sebenarnya ia berpesan
kepada prajurit-prajurit itu agar mereka memperhatikan anak muda
dari kepandak yang bernama Pamot. "Apakah ibu Sindangsari ini masih
mengharapkan Pamot kembali dan pada suatu saat merebut Sindangsari
dari tanganku?" bertanya Ki Demang kepada diri sendiri. Tetapi
kemudian dijawabnya "Selama ini aku harus berhasil membuat kesan
yang lain kepada keluarga ini" Demikianlah maka tamu-tamu Ki Demang
seorang demi seorang telah meninggalkan rumah itu. Meskipun
perempuanperempuan di dapur masih saja sibuk. Namun keramaian di
rumah Sindangsaripun berangsur berkurang. Setelah lewat hari yang
ketiga, maka yang sibuk kemudian adalah orangorang yang membongkar
tarub-tarub yang sudah mulai layu. Janur-janur kuning yang menjadi
kering, dan tratag yang tidak berguna lagi. Yang kemudian menjadi
sibuk sekali adalah Kademangan Kepandak. Mereka justru baru
mempersiapkan tratag, terub dan berbagai macamalat upacara dan
keramaian. Rumah Sindangsari yang berangsur-angsur menjadi semakin
sepi, telah membuat Sindangsari menjadi berdebardebar. Tamu-tamu Ki
Demang sudah tidak banyak lagi, sehingga Ki Demang sudah banyak
mempunyai kesempatan untuk duduk berdua saja dengan isterinya.
Sindangsari. Dalam saat-saat yang demikian, Sindangsari sama sekali
tidak dapat melupakan anak muda yang bernama Pamot. Bukan saja
karena hatinya seakan-akan telah terjerat olehnya, tetapi langkahnya
yang terdorong di saat-saat terakhir telah membuatnya gelisah setiap
saat. Meskipun Sindangsari tidak lagi melakukan perlawanan atas
perkawinannya itu, namun hubungannya dengan suaminya terasa telah
dibatasi oleh sebuah garis yang tebal. "Apakah Ki Demang akan dapat
mengetahuinya, bahwa aku kini bukan gadis lagi?" pertanyaan itulah
yang selalu mengguncang hatinya. Namun dengan demikian, ia mengharap
semuanya agar segera terjadi. Kalau Ki Demang nanti akan mengetahui
apa yang sudah dilakukannya, biarlah segera mengetahui. Kalau ia
harus dibunuh karenanya, biarlah hal itu cepat pula terjadi. Dalam
kegelisahan itulah ia iustru mengharap Ki demang bersikap sebagai
seorang suami. Di malam terakhir menjelang malam kelima, yang sesuai
dengan rencana Sindangsari akan diboyong ke Kademangan, terasa
betapa malam itu sangat mencengkam perasaan Sindangsari. Besok malam
ia sudah akan meninggalkan rumah ini. rumah yang telah didiaminya
sejak ia pulang dari Mataram karena ayahnya telah gugur. Rumah
kakek, nenek dan ibunya. Besok ia akan berpisah dengan mereka,
mengikuti suaminya, ke rumah yang belum dikenalnya. Meskipun
Sindangsari telah pasrah diri dalam perkawinan yang sudah terjadi
itu, namun perpisahan dengan seluruh keluarganya telah membuatnya
menjadi sangat gelisah. Dengan hati yang pedih ia berbaring di
pembaringannya yang masih ditaburi dengan bunga-bunga yang beraneka
warna. Bunga mawar, melati, kantil dan kenanga. Di luar biliknya
masih terdengar beberapa orang tua-tua yang bercakap-cakap. Tetapi
semakin malam menjadi semakin sepi. Sejenak kemudian ia mendengar Ki
Reksatani minta diri. Sedang Ki Jagabaya sejak sore tidak tampak
datang ke rumah itu. "Aku akan pulang kakang" Ki Reksatani minta
diri "aku kira kakang Demang sudah dapat beristirahat, karena sudah
tidak banyak tamu lagi. Besok kakang Demang akan pulang ke
Kademangan. Agaknya tiga malam lagi kakang Demang akan tidak dapat
tidur. Tamu-tamu akan berdatangan lagi untuk selama t iga hari tiga
malampaling sedikit" Ki Demang mengguk-anggukkan kepalanya "Baiklah"
katanya "tetapi biarlah anak-anak itu tetap tinggal disini" "Ada
tiga orang yang masih ada di belakang. Mereka akan menjaga rumah
ini" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepeninggal Ki
Reksatani rumah itu menjadi semakin sepi. Meskipun demikian pintu
depan rumah itu masih tetap terbuka. Kakek Sindangsari duduk di
serambi depan rumahnya bersama-sama beberapa orang-orang tua
sebayanya. Sedang neneknya berada di dapur bersama ibunya mengawani
beberapa orang tetangga yang masih saja sibuk. Mengemasi alat-alat
yang sudah tidak dipergunakan lagi, tetapi juga masih menyediakan
makan bagi mereka yang membenahi rumah itu setelah sekian lama
dipergunakan untuk peralatan. Ki Reksatani yang meninggalkan halaman
rumah Sindangsari berjalan dengan langkah yang lamban. Kelelahan dan
kesal telah merambat di seluruh tubuh dan hatinya. Tiga malam ia
sama sekali tidak sempat tidur. Hanya siang hari ia dapat memejamkan
matanya meskipun hanya sebentar. "Setan betina itu benar-benar telah
menyiksaku" desisnya. Sambil bersungut-sungut Ki Reksatani
menyelusuri jalan padukuhan "Gila" ia mengumpat "kenapa aku tidak
membawa kuda?" sejenak ia ragu-ragu "Apakah aku akan kembali
mengambil kuda siapa saja yang dapat aku pinjam?" Tetapi niatnya
itupun diurungkannya "Besok aku harus mengembalikannya. Lebih baik t
idak usah" Maka Ki Reksatanipun mempercepat langkahnya untuk
menghilangkan dingin malam. Sambil bersilang tangan di dadanya ia
berjalan diatas jalan berbatu-batu. Tetapi ketika langkahnya sampai
ke simpang tiga di dalam padukuhan Gemulung itu ia tertegun sejenak.
Dipandanginya lorong yang bercabang di hadapannya. Ki Reksatani
menarik nafas dalam-dalam. Ditengadahkannya wajahnya ke langit.
Dilihatnya bintangbintang yang bertaburan memenuhi udara
berkeredipan tidak henti-hentinya. Ketika ia memandang ke Selatan,
dilihatnya bintang gubug penceng masih condong ke timur. "Belum
tengah malam" desisnya. Dan tiba-tiba saja Ki Reksatani mengerutkan
keningnya. Dipandanginya lorong yang menusuk gelapnya malam di
hadapannya. Ia menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian dengan
tergesa-gesa ia mengayunkan kakinya. Ia memilih jalan simpang yang
sebelah kanan. Dan jalan itu sama sekali bukan jalan pulang. Dalam
pada itu Sindangsari masih saja terbaring di dalam biliknya meskipun
matanya tidak terpejam. Meskipun bukan didorong oleh perasaannya,
namun nalarnya mengharap agar Ki Demang malam itu datang kepadanya.
Tamu-tamu sudah tidak terlampau banyak yang harus ditemuinya.
Biarlah kakeknya menemui orang-orang tua itu di serambi rumahnya.
"Kalau ia akan mencekik aku, biarlah sekarang selagi aku masih ada
di rumah ini. Biarlah kakek, nenek dan ibuku mengetahui apa yang
sudah terjadi. Kalau mereka sempat bertanya kepadaku biarlah aku
berkata berterus terang sebelum Ki Demang membunuhku. Meskipun
demikian hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar desir
langkah seseorang mendekati pintu biliknya. Ketika pintu itu
berderit, Sindangsari berpaling. Dalam keremangan lampu minyak yang
redup ia melihat bayangan Ki Demang memasuki bilik itu. Terasa
jantung Sindangsari berdentang semakin keras. Dadanya serasa menjadi
sesak dan nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Ditatapnya
langit-langit rumahnya dengan hati yang kosong. Bahkan kemudian ia
berkata didiam dirinya "Apakah aku hanya akan dapat menatap
langit-langit rumah ini untuk yang terakhir?" Sejenak kemudian
sekali lagi pintu biliknya berderit. Ketika berpaling lagi,
dilihatnya pintu itu sudah tertutup rapat. Perlahan-lahan Ki Demang
melangkah mendekati pembaringannya. Namun setiap langkah, terasa
sebagai sebuah sengatan yang sakit di hati Sindangsari. Bahkan
tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar dan darahnya serasa semakin cepat
mengalir sampai ke ubun-ubunnya. Meskipun demikian ia mencoba
menghentakkan perasaannya oleh pertimbangan nalarnya "Terjadilah
kalau akan terjadi sekarang ini" Sindangsaripun kemudian memejamkan
matanya. Tetapi ia berdoa, agar ia diampuni oleh sumber hidupnya.
Bukan karena ia takut dicekik, tetapi agar ia mendapat keringanan
apabila api neraka kelak akan menjilatnya. Sindangsari menahan
nafasnya ketika desir langkah Ki Demang berhenti di sisi
pembaringannya. Meskipun ia ingin melihat, apa yang sedang dilakukan
oleh laki-laki itu, tetapi Sindangsari t idak berani membuka
matanya. Sejenak ruangan itu menjadi sepi senyap. Yang terdengar
adalah suara nafas Ki Demang yang memburu. Dengan tajamnya ia
berdiri di samping pembaringan isterinya. Dipandanginya tubuh
Sindangsari yang membujur menelentang sambil memejamkan matanya.
Terasa sesuatu telah bergetar di dalam dada laki-laki itu.
Darahnyapun semakin lama menjadi semakin cepat mengalir. Sindangsari
adalah seorang gadis yang cantik. Kulitnya yang kuning langsat,
disaput oleh cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan, membuatnya
seakan-akan membara. Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Seperti
patung ia berdiri tegak di samping pembaringan Sindangsari. Ketika
hatinya serasa akan meledak, maka perlahan-lahan ia membungkukkan
badannya. Disentuhnya tangan gadis itu perlahan-lahan dengan
tangannya yang kasar. Sindangsari merasakan sentuhan itu. Tiba-tiba
saja terasa seluruh tubuhnya meremang. Hampir saja ia meloncat dan
berlari meninggalkan bilik itu. Untunglah bahwa ia masih berhasil
menguasai dirinya. Namun dengan demikian matanyapun menjadi semakin
terpejam. Tetapi alangkah kagetnya, ketika tiba-tiba ia mendengar Ki
Demang menghentakkan kakinya sambil menggeram, sehingga tanpa
sesadarnya Sindangsari membuka matanya. Ia melihat Ki Demang itu
memutar tubuhnya sambil meremas jari-jari tangannya sendiri.
Sepercik keheranan melonjak di dada Sindangsari. Ia t idak mengerti
perasaan apakah yang membersit di hati Ki Demang. Namun kemudian ia
melihat Ki Demang melangkah menjauhinya. Dengan desah nafas yang
panjang laki-laki itu membanting dirinya pada sebuah dingklik kayu
di sudut ruangan. Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Bahkan
rasarasanya seluruh tulang-tulangnya telah dilolosi. "Apakah Ki
Demang sudah mengetahui, bahwa aku bukan perawan lagi?" pertanyaan
itu membelit hatinya semakin kuat. "Tentu bukan karena itu" ia
membantah "ia belum berbuat apa-apa. Ia baru berdiri saja di samping
pembaringan ini" Namun ia membantah sendiri "Tetapi mungkin pengawas
pengawasnya telah melihatnya" Kini tubuh Sindangsari benar-benar
telah menggigil. Meskipun demikian ia masih mencoba membela diri
terhadap dirinya sendiri "Tetapi sikap Ki Demang ini begitu
tiba-tiba. Kalau ia sudah mengetahui sebelumnya, maka sikapnyapun
tidak akan sebaik kemarin dan kemarin dulu. Ia mungkin akan
membatalkan perkawinan ini sambil menjatuhkan hukuman yang paling
berat kepadaku dan kepada Pamot" Selagi goncangan-goncangan perasaan
itu mengamuk di dadanya, Sindangsari mendengar Ki Demang beberapa
kali mengeluh sambil menundukkan kepalanya. Bahkan kemudian iapun
berdiri dengan tergesa-gesa. Dengan langkah yang panjang ia
tiba-tiba saja meninggalkan Sindangsari di dalam bilik itu sendiri.
Heran, cemas, takut dan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada
Sindangsari. Bahkan tanpa sesadarnya ia bangkit dan duduk ditepi
pembaringannya. "Apakah yang telah mendorong Ki Demang meninggalkan
bilik ini?" ia bertanya kepada diri sendiri "apakah aku dianggapnya
kurang sopan karena aku tidak menyapanya? Atau barangkali aku
dianggap telah menghinanya? Atau, atau .." tetapi Sindangsari tidak
dapat memilih manakah yang paling mendekati kebenaran. Ki Demang
yang meninggalkan bilik Sindangsari itupun segera melangkah keluar.
Tanpa berpaling ia turun ke halaman dan berjalan ke dalam gelap
malam. Di bawah sebatang pohon mlandingan ia berhenti Sambil
menggeretakkan giginya ia mengusap dadanya, seolah-olah hendak
menenangkan jantungnya yang sedang bergelora. Kakek Sindangsari yang
melihat Ki Demang itu berjalan dengan tergesa-gesa menjadi terkejut
karenanya. Ia tahu bahwa Ki Demang memasuki bilik cucunya. Karena
itu, tumbuhlah berbagai macam pertanyaan di kepalanya. Bahkan
kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri di dalam hati "Bukan
salah gadis itu kalau ia menolak. Sejak semula ia sudah menyatakan
sikapnya" Namun sejenak kemudian ia melihat Ki Demang berjalan
perlahan-lahan mendekati serambi depan yang selama berlangsung
peralatan dindingnya telah dibuka. Perlahanlahan ia naik dan sambil
menarik nafas dalam-dalam ia ikut serta duduk diantara orang
tua-tua. "He Ki Demang" bertanya kakek Sindangsari "dari manakah Ki
Demang ini tadi?" Ki Demang t idak menjawab. Dipaksakannya bibirnya
untuk tersenyum"Dari halaman kek" jawabnya. Kakek Sindangsari
mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian tersenyumpula "Dari
kegelapan?" "Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apakah Ki
Demang tidak beristirahat saja dahulu? Mungkin Ki Demang sudah
terlampau lelah. Apalagi Ki Demang akan tidak sempat tidur dalamt
iga malam mendatang. "Terima kasih kek. Aku terlampau biasa tidak
tidur Dalam keadaan yang wajar sekalipun, tanpa peralatan, aku juga
hampir tidak pernah tidur nyenyak. Aku selalu meronda berkeliling
Kademangan dengan Ki Jagabaya, atau dengan anak-anak yang sedang
bertugas di Kademangan" Kakek Sindangsari mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ia menjadi heran bahwa Ki Demang malam itu lebih senang
duduk bersama orang-orang tua daripada berada di dalam bilik
isterinya yang baru saja melangsungkan perkawinannya itu.
Sindangsari yang duduk di pinggir pembaringannya masih saja diamuk
oleh berbagai macam perasaan. Kebingungan yang sangat telah melanda
dinding hatinya, sehingga tanpa disadarinya, air matanya telah
membayang dipelupuk matanya. Apa yang dialaminya ini sama sekali
jauh berbeda dari ceritera neneknya tentang seorang pengantin baru.
Apalagi apabila pengantin laki-laki bukan lagi seorang jejaka,
tetapi seorang duda seperti Ki Demang yang sudah terlampau sering
kawin. "Mungkin aku adalah seorang pengantin yang paling malang"
desis Sindangsari sambil mengusap air matanya. Bahkan kemudian ia
berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa apabila Ki Demang nanti masuk
kembali ke dalam bilik ini ia akan bersikap baik, Ia akan menyapanya
sebagai seorang isteri terhadap suaminya. Tetapi Ki Demang tidak
masuk ke dalam bilik itu kembali. Betapa ia menunggu dengan hati
yang berdebar-debar, namun sampai terdengar kokok ayam jantan untuk
yang terakhir kalinya, tidak seorangpun yang menyentuh daun pintu
biliknya. Ketika sinar matahari pagi mulai membayang diatas atap
rumahnya, Sindangsari yakin, bahwa Ki Demang tidak akan datang lagi
sampai saatnya ia diboyong ke Kademangan sore nanti. Dengan hati
yang kesal, bingung dan tidak berketentuan Sindangsari keluar dari
biliknya, langsung pergi ke pakiwan untuk mencuci mukanya. Namun
bagaimanapun juga, ibunya dapat mengetahuinya bahwa puterinya itu
menangis semalam. Hati Nyai Wiratapapun terasa seolah-olah tersayat.
Hati seorang ibu yang mengetahui penderitaan batin puterinya, tetapi
ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika Sindangsari melangkah kembali
ke dalam biliknya, ia berpapasan Ki Demang di muka pintu. Tetapi
ketika ia berhasrat untuk menegurnya, mulutnya menjadi seakan akan
terbungkam. Ia menjadi bingung ketika justru Ki Demang yang bertanya
kepadanya "Apakah kau semalamdapat tidur Sari?" Sindangsari
menggelengkan kepalanya "Tidak" "Kenapa?" Sindangsari t idak dapat
menjawab. Hanya kepalanya sajalah yang tertunduk dalam-dalam. "Di
Kademangan malam-malam yang sibuk akan terulang lagi. Kau harus
berusaha beristirahat sebelum malam nanti dan dua malam berikutnya,
kita harus menemui tamu-tamu yang akan datang bergantian"
Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Beristirahatlah dan tidurlah
siang ini kalau mungkin" berkata Ki Demang. Sekali lagi Sindangsari
menganggukkan kepalanya. Ki Demangpun kemudian melangkah pergi.
Beberapa saat kemudian Sindangsari berpaling. Tetapi Ki Demang sudah
t idak tampak. Dalam pembicaraan-pembicaraan singkat, ternyata Ki
Demang bukanlah orang yang menakutkan seperti yang dibayangkannya.
Ia sama sekali bukan orang yang rakus sedang kelaparan. Kata-katanya
cukup sopan dan matang, sebagai seorang yang telah tidak muda lagi.
Bahkan kadangkadang seperti kata-kata seorang ayah kepada anaknya.
Tetapi Sindangsari tetap tidak mengerti, dengan orang macam apakah
ia sedang berhadapan. Bagaimanapun juga yang ada di dalam hatinya
hanyalah kecemasan, kebingungan dan penyesalan. Tetapi malam
terakhir ia tinggal di rumah itu sudah lampau. Nanti malam ia sudah
tidak akan berada di rumah itu lagi. Nanti malam ia harus mengulangi
upacara-upacara perkawinan yang melelahkan. Tamu-tamu akan
berdatangan untuk mengucapkan selamat kepadanya dan kepada suaminya.
Ki Demang di Kepandak. Dalam kesibukan itu, suaminya pasti tidak
akan sempat beranjak dari pendapa Kademangan yang besar. Tamutamunya
pasti jauh labih banyak dari tamu-tamu yang datang di rumahnya
selama tiga hari tiga malam. Terbayang di dalam angan-angannya bahwa
ia pasti akan merasa kesepian. Tidak ada ibunya kakek dan neneknya
di rumah yang besar itu. Tetapi yang membuatnya terlampau cemas
adalah keadaan dirinya sendiri. Tiga malam ia pasti akan disiksa
oleh kegelisahan yang pahit. Kalau hal itu terjadi di malam
berikutnya, selagi Ki Demang sedang lelah dan kesal, maka ia tidak
dapat membayangkan apa yang terjadi atas dirinya. Jika Ki Demang
kemudian mengetahui bahwa ia bukan lagi seorang gadis seperti yang
dibayangkan oleh Ki Demang di Kepandak itu. Sedangkan apabila
terjadi sesuatu atas dirinya, ia tidak lagi berada di rumahnya.
Tetapi Sindangsari tidak dapat berbuat lain. Ia hanya dapat duduk
sambil merenung di dalambiliknya. Suasana rumah itu semakin lama
menjadi semakin ramai. Persiapan untuk upacara boyong penganten
sudah mulai dipersiapkan. Para tetangga telah mulai berdatangan pula
untuk membantu menyiapkan makan mereka yang nanti sore akan ikut
serta mengantarkan penganten ke Kademangan. Semakin siang rumah itu
menjadi semakin sibuk, meskipun tidak sesibuk dua tiga hari yang
lampau. Namun dengan demikian hati Sindangsari menjadi semakin
gelisah. Ki Demang sendiripun tampaknya menjadi gelisah pula. Ketika
ia melihat Ki Reksatani datang maka segera ia bertanya "Bagaimana
persiapan-persiapan yang ada di Kademangan?" "Semuanya sudah beres
kakang. Semuanya berlangsung dengan baik seperti rencana kakang
Demang semula" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dimana Ki
Jagabaya sekarang?" "Di Kademangan. Ia harus memimpin segala
persiapan" "Tetapi apakah ia tidak akan kemari?" "Tentu kakang. Ia
akan ikut mengiring kakang nanti sore dari rumah ini kembali ke
Kademangan" "Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Bagus. Aku
berterima kasih kepadamu, kepada Ki Jagabaya dan kepada semua
perabot yang lain. Ki Reksatani tidak menyahut Tetapi dengan lesu
iapun kemudian duduk diatas tikar yang sudah terentang. "Aku lesu
sekali" Ki Demang tidak menyahut, Itu adalah wajar sekali setelah
beberapa malam Ki Reksatani itu selalu sibuk. Bahkan disiang haripun
kadang-kadang ia ikut sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk
keperluan malamberikutnya. "Apakah kau akan tidur dahulu?" bertanya
Ki Demang kepada adiknya. Ki Reksatani ragu-ragu sejenak. Tetapi ia
menggelengkan kepalanya "Terima kasih kakang. Aku akan duduk-duduk
saja Aku sudah tidur meskipun hanya sekejap" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya "Terserahlah kepadamu. Kalau kau mau
makan, makanlah. Disini banyak makanan yang tersedia untukmu"
"Baiklah kakang. Nanti aku akan ke dapur. Barangkali aku masih
menemukan jeroan ayam" Ki Demang tersenyum. Lalu ditinggalkannya
adiknya duduk bersandar tiang sambil menyilangkan tangannya di
dadanya. Sejenak matanya menjadi terpejam oleh kantuk yang tidak
tertahankan lagi. Sementara itu, di rumah Manguri, anak muda itu
duduk di hadapan ibunya yang gelisah. Sambil mempermainkan ujung
jarinya anak muda itu bertanya "Tetapi bukankah ibu sudah mengatakan
kepadanya?" "Manguri" sahut ibunya "kau telah menyiksaku" "Tidak
ibu. Itu adalah permintaan wajar dari seorang anak. Bukankah
laki-laki itu datang semalam? "Darimana kau tahu?" "Aku mendengar
suara ketukan pada dinding luar bilik ibu, lima kali berturut-turut.
Semalam agaknya laki-laki itu harus mengulang t iga kali karena ibu
tidak segera terbangun" "Gila, gila kau Manguri" "Aku sama sekali
tidak sengaja ibu. Bukan salahku kalau aku dapat mendengarnya. Ayah
menyuruh aku melatih inderaku. Pendengaran, peraba pencium dan yang
lain-lain" "Tetapi, kau sudah menyiksaku. Kau membuat hatiku sakit
Manguri" suara ibunya menurun "aku tidak dapat menolaknya. Semua
sudah terjadi bertahun-tahun" "Aku tidak mempersoalkan itu lagi ibu.
Aku sudah tahu bahwa itu sudah terjadi sejak bertahun-tahun seperti
ayahpun bukan seorang laki-laki yang jujur. Dan itupun sudah terjadi
bertahun-tahun. Aku juga bukan anak muda yang baik sejak aku
meningkat remaja" Manguri berhenti sejenak lalu "tetapi bukan itu
yang aku persoalkan. Aku adalah putera ibu yang ibu lahirkan. Itu
pasti. Aku tidak dapat mengatakan bahwa ibuku adalah orang lain.
Berbeda tentang ayah" "Manguri" ibunya membentak keras-keras.
Manguri menarik nafas dalam-dalam "Maaf ibu. Sekali lagi aku
katakan, bahwa aku tidak mempersoalkan itu lagi" ia berhenti
sejenak, lalu "yang akan aku sampaikan kepada ibu adalah permintaan
seorang anak. Aku datang kepada ibu sebagai seorang anak yang datang
kepada orang tuanya. Ibu, seperti anak kecil yang melihat buah yang
masak di cabang sebatang pohon. Aku tahu. ibu mempunyai galah. Aku
tidak mempersoalkan lagi darimana ibu mendapatkan galah itu Tetapi
aku adalah anak-anak yang merengek kepada ibu minta agar ibu
mengambil buah itu untukku" Ibunya menarik nafas dalam-dalam.
Dipandanginya wajah Manguri sejenak, lalu "Kenapa kau masih saja
mengganggu ketenteramanku Manguri. Aku sudah menjadi semakin tua.
Aku ingin hidup tenteram. Tanpa persoalan-persoalan yang tidak dapat
aku pecahkan seperti yang kau berikan itu" "Tetapi kepada siapa aku
harus mengajukan segala kesulitanku kalau tidak kepada ibu dan ayah.
Agaknya dalam hal ini ayah sudah tidak mempunyai jalan lagi, Sedang
jalan yang ada pada ibu masih dapat dicoba" "Tidak Manguri. Aku
tidak dapat. Dan aku tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki itu"
"Bukankah ia baru datang mengunjungi ibu?" tiba-tiba suara Manguri
merendah "darimana ia tahu kalau ayah pergi. Bukankah orang itu
sekarang lagi sibuk?" "Gila. Gila kau Manguri" Mata ibunya mulai
basah "kau adalah anak yang paling durhaka terhadap ibunya. Kau tahu
kelemahan yang ada padaku. Dan kau telah mempergunakannya untuk
memaksakan kehendakmu" "Tidak ibu. Tidak. Ibu selalu salah sangka.
Karena ibu merasa bersalah, maka setiap persoalan yang sebenarnya
tidak ada sangkut pautnya dengan masalah itu, selalu saja ibu
hubungkan dengan kesalahan ibu itu" Ibunya mengerutkan keningnya,
dan mengusap air setit ik dipelupuknya. "Sudah aku katakan. Aku
tidak mempersoalkan hubungan itu. Tetapi apakah aku tidak dapat
minta kepada ibu sesuatu yang ibu mungkin dapat melakukannya?"
Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Dan kemudian ia menjawab lambat
"Manguri, sebenarnya akupun sudah mengatakannya. "Nah "Manguri
mengangkat wajahnya sambil tersenyum "bukankah ibu melihat
kemungkinan itu pula" "Ibunya menganggukkan kepalanya. "Apa
katanya?" "Sulit Manguri. Untuk saat-saat ini pasti tidak akan ada
jalan untuk memisahkan keduanya. Kali ini Ki Demang agaknya
berhasrat untuk beristeri sungguh-sungguh" Manguri mengerutkan
keningnya "Lalu apa nasehatnya?" "Tidak ada yang dapat dikatakannya.
Tetapi ia sendiri berhasrat pula untuk memecah perkawinan itu pada
suatu saat" "Pada suatu saat. Kapan saat itu datang?" "Aku tidak
tahu Manguri" "O" Manguri memegang keningnya "saat itu akan datang
kelak apabila aku sudah ubanan. Apabila aku sudah tidak dapat lagi
berbuat apa-apa. Bahkan kelak itu adalah waktu yang labih dari
setiap batasan tertentu" "Siapapun tidak akan dapat berbuat dengan
tergesa-gesa. Semuanya harus diatur sebaik-baiknya. Manguri t idak
segera menjawab. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mondar
mandir di hadapan ibunya. "Aku tidak dapat menunggu lagi" "Itu tidak
mungkin. Kalau kau memang benar-benar tidak dapat melepaskan niatmu
untuk mendapatkannya, maka kau harus memperhitungkan setiap
kemungkinan. Setiap langkah harus kau pikir masak-masak. Bukankah
kau pernah terperosok ke dalam kesulitan karena kau berhubungan
dengan Suro Sapi? Itu adalah suatu contoh bahwa ketergesagesaan itu
tidak akan menguntungkan" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi kemudian sambil menegangkan lehernya ia berkata "Tetapi
masalahnya bukan masalah yang dapat ditunda-tunda ibu. Kalau aku
berselisih tentang tanah, tentang pategalan atau tentang ternak
sekalipun, aku tidak akan demikian tergesagesa. Tetapi masalahnya
adalah masalah seorang gadis" "Manguri" berkata ibunya "Sindangsari
sudah menjadi isteri Ki Demang. Apakah kau masih juga berbicara
tentang seorang gadis?" Wajah Manguri menjadi merah. Tetapi kemudian
ia menjawab "Aku mencintainya ibu. Kali ini berbeda dengan
perempuan-perempuan yang pernah aku sebut namanya. Semakin jauh
Sindangsari daripadaku, aku menjadi semakin merasa kehilangan
meskipun aku belumpernah memilikinya" "Apakah kau benar-benar jatuh
cinta?" Manguri mengangguk "Perasaanku lain dari yang pernah tumbuh
di hatiku terhadap gadis-gadis yang lain. Karena itu, meskipun
Sindangsari bukan lagi seorang gadis, aku akan tetap berusaha untuk
mengambilnya" "Kau benar-benar menjadi gila. Tetapi jangan
tergesa-gesa" Manguri menganggukkan kepalanya. Sekali ia menarik
nafas dalam-dalam, kemudian katanya "Baiklah ibu. Aku percaya bahwa
ibu akan dapat menolong aku. Aku tidak mempersoalkan cara yang dapat
ibu tempuh" Ibunya tidak menyahut. Tetapi iapun merasa kasihan
melihat anaknya yang seakan-akan kehilangan segenap gairah masa
mendatang. Bagaimanapun juga Manguri adalah anaknya. Anak yang
dilahirkannya setelah dikandungnya sembilan bulan. "Mudah-mudahan
dari hari kehari ia akan melupakannya" gumam ibunya sepeninggal
Manguri "itu adalah penyelesaian yang paling baik. Mengambil gadis
itu dari Ki Demang adalah pekerjaan yang sulit sekali, kecuali kalau
dalam sebulan atau dua bulan anak itu tidak diperlukan lagi, dan
dicerai oleh Ki Demang seperti isteri-isterinya yang lain" Ibu
Manguri itu mengerutkan keningnya ketika terngiang kata-kata
laki-laki yang datang kepadanya itu "Sindangsari tidak boleh
melahirkan anak" Tetapi Nyai Sukerta, ibu Manguri itu mencibirkan
bibirnya "Kalau ia melahirkan anak sekalipun, bukan anakkulah yang
akan dirugikannya" Dan tiba-tiba saja melonjaklah sifat wanitanya
"Persetan dengan isterinya. Mudah-mudahan Sindangsari mempunyai
banyak anak, sehingga perempuan itu tidak memberi kesempatan orang
lain menguasai jabatan Demang di Kepandak" Nyai Sukerta kemudian
bangkit berdiri. Tetapi ia masih bergumam "Aku tidak peduli apapun
yang akan terjadi. Tetapi aku berharap mudah-mudahan Manguri dapat
melupakannya, meskipun aku harus menukarnya dengan sepuluh gadis
sekalipun" Sementara ibu Manguri dibingungkan oleh anaknya laki-laki
dan Kademangan Kepandak mulai riuh dengan persiapan untuk menerima
sepasang Penganten dari Gemulung yang akan datang sore hari, maka
seorang Perwira yang sudah agak lanjut usianya, sedang mencari-cari
seseorang diantara anak-anak muda yang datang dari beberapa daerah
Kademangan di sekitar kota Kerajaan Mataram. "Dimana anak-anak dari
Kepandak di tempatkan?" bertanya perwira itu kepada bawahannya yang
bertugas mengurusi anak-anak muda yang akan mendapat latihan-latihan
keprajuritan. "Di sana Tuan. Mereka di tempatkan digandok rumah Ki
Derpanala. Di sana ada tiga kesatuan. Satu diantaranya dari
Kepandak" Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apakah tuan
memerlukan seseorang?" Perwira itu menganggukkan kepalanya. "Apakah
aku dapat memanggilnya?" "Aku akan datang sendiri ke tempat itu?"
Perwira itupun kemudian pergi ke rumah Ki Derpanala untuk mencari
tempat penampungan anak-anak muda dari Kepandak. "Aku mencari anak
Gemulung. Namanya Pamot" berkata perwira itu. Sejenak kemudian maka
Punta, tetua anak Gemulung telah membawa Pamot menghadap perwira
yang mencarinya. Dengan hati yang berdebar-debar mereka, selangkah
demi selangkah mendekati perwira yang masih berdiri di halaman
bersama perwira yang mendapat tugas memimpin katiga pasukan
anak-anak muda dari tiga Kademangan itu. "Tuan memanggil kami?"
bertanya Punta. "Apakah kau bernama Pamot?" "Bukan aku tuan. Tetapi
kawanku ini. Aku adalah tetua anak muda Gemulung. Barangkali tuan
memerlukan kami berdua" Perwira itu mengerutkan keningnya. Kemudian
katanya "Terima kasih. Tetapi ini adalah persoalan pribadi. Aku
hanya memerlukan Pamot" "O" Punta menganggukkan kepalanya "apakah
aku diperkenankan kembali ke tempat kami?" "Ya. Terima kasih"
Puntapun kemudian meninggalkan Pamot sendiri dengan termangu-mangu.
Ia sama sekali belum pernah melihat perwira itu, apalagi
mengenalnya. "Aku memerlukannya sebentar" berkata perwira yang sudah
agak lanjut usia itu kepada perwira yang bertanggung jawab atas
anak-anak muda yang berada di halaman itu. "Silahkan" jawabnya.
Pamotpun kemudian diajak duduk di tangga pendapa rumah yang besar
itu. Dan tanpa membantah, Pamot hanya dapat mengikut inya dan
kemudian duduk dengan kepala tunduk. "Kau datang dari Gemulung?"
bertanya perwira itu. "Ya tuan" "Panggil aku Ki Dipajaya" "Ya Ki
Dipajaya" "Aku baru saja mengunjungi bibimu" "Bibi?" Pamot menjadi
heran "siapakah yang tuan maksud?" "Di Gemulung. Bukankah bibimu
baru sibuk mengadakan peralatan pengantin?" Pamot menjadi bingung.
"Aku adalah sahabat pamanmu. Di medan perang aku selalu
bersama-sama. Pamanmu adalah prajuritku yang paling aku percaya"
"Tetapi siapakah paman itu?" Ki Dipajaya menjadi heran "Coba
ingat-ingatlah. Ada berapa orang pamanmu yang menjadi prajurit
Mataram?" Sejenak Pamot mencoba mengingat-ingat. Namun kemudian ia
menggelengkan kepalanya "Tidak seorangpun dari paman-pamanku yang
menjadi prajurit" "Eh, kau masih semuda itu sudah menjadi pelupa.
Aku baru saja mengunjungi bibimu. Bibimulah yang memberitahu
kepadaku, bahwa kau ada disini" Pamot menjadi semakin bingung.
"Baiklah kalau kau benar-benar sudah pikun. Aku baru datang
mengunjungi bibimu meskipun aku dan beberapa orang kawan yang lain
tidak diundang dalam peralatan perkawinan puterinya yang diperisteri
oleh Ki Demang di Kepandak" Dada Pamot tiba-tiba berdesir. "Apakah
kau ingat?" "Tetapi, tetapi" Pamot tergagap "isteri Ki Demang itu
bernama Sindangsari" "Nah, kau akhirnya teringat juga. Ibu
Sindangsarilah yang berkata kepadaku, bahwa seorang kemanakannya ada
di dalam kelompok pengawal khusus dari Kepandak yang dibawa ke
Mataram dalam persiapan perlawanan kami ke Barat" "O" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya masih saja bergolak.
"Kenapa ibu Sindangsari itu menyebutku sebagai kemanakannya
laki-laki?" pertanyaan itu melonjak-lonjak di dadanya. "Bibimu
berkata kepadaku, bahwa ia menitipkan kau kepada bekas
sahabat-sahabat pamanmu" perwira itu berkata selanjutnya "apakah kau
tahu apa yang sudah dikerjakan oleh pamanmu?" Pamot yang menjadi
semakin bingung itu tiba-tiba saja menggelengkan kepalanya sambil
menjawab "Tidak tuan. Aku tidak tahu yang sudah dikerjakannya"
"Pamanmu adalah prajurit yang luar biasa. Berani, tangguh dan tidak
mementingkan keselamatan sendiri di peperangan" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi karena itulah maka ia gugur
di peperangan" Pamot masih mengangguk-angguk. Tetapi di dadanyapun
menjadi semakin berdebar-debar. "Sekarang ternyata kau mengikuti
jejaknya. Agaknya karena Ki Wiratapa sendiri t idak mempunyai anak
laki-laki Anaknya hanya seorang. Perempuan lagi" Pamot masih saja
mengangguk-angguk. "Sayang, ia harus kawin dengan Ki Demang di
Kepandak yang sudah pernah kawin untuk yang kesekian kalinya" "Kalau
tidak salah, keenam kalinya" tanpa sesadarnya Pamot menyela. "Sayang
sekali. Apakah kau, atau orang tuamu tidak diajak berbicara mengenai
perkawinan itu?" Kini Pamot benar-benar kebingungan. Tetapi ia
berusaha untuk menyesuaikan dirinya, sehingga jawabnya "Tetapi
pembicaraan dengan keluarga yang lain itu sama sekali tidak
menentukan" "Kenapa" "Kakek, nenek dan ibu Sindangsari sendiri
sebenarnya tidak setuju atas perkawinan itu" "Apakah laki-laki itu
pilihan Sindangsari sendiri?" "Juga bukan tuan" terasa kata-katanya
menjadi semakin sendat "tetapi, bukankah Ki Demang di Kepandak
mempunyai kekuasaan" Ki Dipajaya menarik nafas dalam-dalam. "Ya,
kita memang pernah mendengar bahwa Ki Demang di Kepandak kakak
beradik mempunyai ilmu yang tinggi. Dengan demikian, selain
kekuasaanya sebagai seorang Demang, maka sudah tentu tidak
seorangpun yang berani melawan kehendaknya sebagai orang yang tidak
terkalahkan di Kepandak" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi di dalam hati ia bertanya Apakah seandainya ada orang yang
mengalahkannya, secara pribadi, hal itu akan dapat menolong
Sindangsari?" Namun kemudian dijawabnya sendiri "Itupun tidak. Ayah
Manguri mempunyai apa saja. Lamat pasti tidak akan dapat dikalahkan
oleh Ki Demang. Selain itu uang. Tetapi Manguri tetap tidak dapat
merebut Sindangsari" "Tetapi bagaimanapun juga, perkawinan itu kini
sudah berlangsung, desis Ki Dipajaya. "Ya" sahut Painot dengan suara
parau. Sekilas terkenang olehnya, peristiwa yang telah membebani
perasaannya sampai saat ini, bahkan mungkin tidak akan terhapus dari
hatinya. Saat-saat ia lupa akan dirinya, sehingga terjadilah
perbuatan yang terkutuk itu. Dan kini Sindangsari telah menjadi
isteri Ki Demang di Kepandak. "Apakah yang akan dialami oleh anak
itu, apabila Ki Demang dengan cara apapun dapat mengetahui, bahwa
hal itu sudah terjadi? Apakah mungkin Sindangsari akan dicekik
sampai mati?" Hati Pamotpun kemudian menjadi gelisah karenanya.
Tetapi ia kini tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. "Seandainya
hal itu terjadi, itu adalah karena salahku" katanya di dalam hati.
Pamot terkejut ketika ia mendengar Ki Dipajaya berkata kepadanya
"Nah Pamot, biarlah perkawinan yang sudah terjadi itu berlangsung
terus. Mudah-mudahan anak pamanmu itu menemukan kebahagiaannya" Ki
Dipajaya berhenti sejenak, lalu "sekarang, bagaimana dengan kau?
Apakah kau ingin menjadi seorang prajurit seperti pamanmu, atau kau
ingin tetap dalam keadaanmu sekarang, Pasukan sukarela dari
anak-anak muda Kademangan Kepandak di samping anakanak muda dari
Kademangan-Kademangan yang lain?" Pamot menjadi bingung mendapat
pertanyaan itu. Ia tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan
yang mapan, sehingga jawabnya "Tuan, aku menjadi bingung dengan
pertanyaan itu". Ki Dipajaya tersenyum. Katanya kemudian "Tentu,
karena kau tidak bersedia menerima pertanyaan itu. Tetapi jawabnya
tidak tergesa-gesa kau ucapkan sekarang. Kau masih mempunyai waktu.
Aku akan tetap berada diantara kelompokkelompok anak-anak muda yang
akan bertugas sebagai prajurit-prajurit yang akan melawat ke Barat,
karena aku adalah sebagian dari prajurit-prajurit Mataram yang
ditugaskan untuk itu" Pamot menundukkan kepalanya. Jawabnya lirih
"Ya tuan Aku akan mencoba berpikir untuk beberapa saat" "Baiklah.
Tetapi aku berharap bahwa aku dapat membantumu. Tentu saja untuk
kebaikanmu. Sebagai seorang prajurit seseorang memang harus memiliki
bekal yang cukup" Ki Dipajaya berhenti sejenak, lalu "di dalam
latihan-latihan yang akan segera diadakan aku akan segera melihat,
apakah kau mempunyai bekal jasmaniah dan rokhaniah untuk menjadi
seorang prajurit apabila kau kehendaki" "Ya tuan" jawah Pamot
"Tetapi, sebagai sahabat Ki Wiratapa, aku ingin melihat kemampuanmu
dalam saat-saat yang khusus. Untuk tidak menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan pada kawan-kawanmu dan juga anak-anak muda
dari Kademangan yang lain, sebaiknya kita mencari tempat yang lain"
"Maksud tuan?" Perwira itu tersenyum "Sebenarnya aku merasa
berhutang budi kepada pamanmu. Bukan aku saja, tetapi beberapa orang
yang saat itu bersama-sama bertempur dalam suatu arena yang sempit
yang merupakan bagian kecil dari seluruh pertempuran yang terjadi"
Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hanya dengan cara itulah aku
dapat membalas budi pamanmu yang telah mendahului kami itu.
Selanjutnya apabila kau kehendaki aku akan berusaha menempatkan kau
sebagai seorang prajurit. Sudah tentu melalui cara-cara yang
dimungkinkan, dan dengan syarat-syarat yang dapat kau penuhi" Pamot
tidak dapat menyahut untuk sesaat. Ia belum mempunyai gambaran yang
jelas, apakah yang sebenarnya sudah terjadi atasnya dan kesempatan
yang terbuka baginya. Pamot mengangkat wajahnya ketika ia merasa
punggungnya ditepuk oleh perwira yang bernama Dipajaya itu. Sambil
berdiri ia berkata "Kau masih mempunyai kesempatan berpikir" "Ya
Tuan" jawab Pamot terbata-bata. "Nah, cobalah mempertimbangkan"
Dipajaya berhenti sejenak lalu "sekarang, aku mempunyai keperluan
yang lain. Kalau pada suatu saat kau mendapat keputusan, katakanlah
kepadaku" "Ya tuan. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih atas
perhatian tuan" Dipajaya tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya ia berkata "Kalau kau bersungguh-sungguh, aku melihat
kemungkinan-kemungkinan yang baik buat hari depanmu" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sekali lagi ia hanya dapat
berkata "Terima kasih tuan" Ketika Dipajaya kemudian
meninggalkannya. Pamot tanpa sesadarnya terduduk kembali di
tempatnya. Ia terperanjat ketika seseorang dengan tiba-tiba saja
telah duduk di sampingnya. "Kau Punta" Punta mengangguk "Siapakah
perwira itu?" ia bertanya. "Ki Dipajaya" "Dimana kau mengenalnya?"
"Aku belum pernah mengenalnya. Baru kali ini aku melihatnya" "Apa
perlunya ia mencari kau?" "Itulah yang aneh bagiku. Agaknya ia baru
saja menghadiri perkawinan Sindangsari" "O" "Tetapi itu tidak
penting. Yang aneh bagiku, kenapa ibu Sindangsari berkata kepada Ki
Dipajaya, bahwa aku, salah seorang pengawal khusus dari Kepandak,
adalah kemenakannya" "He?" Punta mengerutkan keningnya. "Aku tidak
tahu maksud ibu Sindangsari. Namun dengan demikian, aku mendapatkan
perhatian khusus dari Ki Dipajaya, karena Ki Wiratapa, ayah
Sindangsari adalah kawan Ki Dipajaya di peperangan ketika pasukan
Mataram dan pasukan dari pantai Utara melakukan serangan pertama
gelombang kedua ditahun yang lalu" Punta mengangguk-anggukkan
kepalanya. Terasa bahwa sebenarnya Pamot telah berhasil mengadakan
hubungan batin dengan keluarga Sindangsari. Hanya karena kekuasaan
Ki Demang sajalah, maka hubungan antara Pamot dan Sindangsari itu
harus dipisahkan. "Lalu, apa saja yang dikatakannya?" bertanya Punta
pula. Dengan singkat Pamot mengatakan, tawaran yang sudah diberikan
oleh Ki Dipajaya seandainya, ia ingin memasuki lapangan keprajuritan
seperti ayah Sindangsari. Punta masih saja mengangguk-anggukkan
kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata "Kau mempunyai kesempatan
Pamot. Pikirkanlah baik-baik. Ternyata bahwa hari depan masih
menyimpan banyak kemungkinan. Kegagalan pada satu segi, akan dapat
diimbangi dengan kemungkinan lain yang mungkin lebih baik" Pamot
tidak menjawab. Tetapi kepalanya teranggukangguk kecil. Sejenak
kemudian maka keduanyapun segera kembali ke tempat mereka, diantara
anak-anak Kepandak yang lain. Kepada kawan-kawannya Pamot dan Punta
hanya mengatakan, bahwa perwira itu adalah seorang yang pernah
mengenal keluarga Pamot. Mereka tidak mengatakan tentang ibu
Sindangsari dan tawaran-tawaran yang telah diterimanya. Namun ketika
matahari terbenam di ujung Barat, dan anakanak muda itu kemudian
telah terbaring di tempat masingmasing diatas tikar yang begitu saja
dibentangkan diatas lantai. Pamot mulai dibayangi oleh berbagai
angan-angan tentang dirinya sendiri. Tentang hari depannya, tentang
pesan ibu Sindangsari kepada Ki Dipajaya dan terkilas pula bayangan
Sindangsari yang duduk bersanding dengan Ki Demang di Kepandak.
Pamot yang menjadi gelisah itu mencoba untuk menghapus
bayangan-bayangan itu. Sekali ia miring kekanan, kemudian miring
kekiri. Bahkan kemudian ia menelungkupkan tubuhnya sambil
menyembunyikan wajahnya diantara tangannya yang bersilang. Tetapi
bayangan itu tidak juga dapat hilang dari kepalanya. Akhirnya Pamot
tidak dapat lari lagi. Ia terpaksa menelusuri dunia yang lain, yang
hanya ada di dalam angan-angannya itu. Sehingga perlahan-lahan ia
justru menelentangkan dirinya sambil menatap langit-langit. Pada
malam itu juga, di Kademangan Kepandak memang sedang berlangsung
upacara ngunduh penganten. Penganten perempuan telah dibawa oleh
suaminya, ke rumahnya. Penganten perempuan dengan demikian akan
terpisah dari keluarganya sendiri, mengikuti suaminya sebagai
seorang isteri. Sebagai seorang yang sepenuhnya akan mengurusi rumah
tangga sendiri. Ketika iring-iringan penganten mulai bergerak
meninggalkan rumah Sindangsari, maka ia tidak dapat menahan lagi
titik-titik air yang mengambang di pelupuknya membasahi pipinya.
Bagaimanapun juga ia mencoba pasrah diri, tetapi terasa hatinya
meronta. "Jangan menangis Sari" bisik ibunya "kau adalah orang yang
sedang berbahagia hari ini. Lihatlah, beberapa hari sebelum
berlangsung perkawinan ini, berapa orang yang telah bekerja dengan
sibuknya. Berapa ratus orang yang sudah tergerak untuk mengunjungi
peralatan ini, di hari-hari perkawinan dan di hari-hari yang akan
datang di rumah Kademangan. Semuanya itu sekedar menghormati kau.
Menghormati hari-hari bahagiamu" Sindangsari tidak menjawab. Dengan
ujung jarinya ia mengusap titik air di sudut matanya. "Senyumlah.
Semua tamu akan tersenyum pula" Sindangsari mengangguk-angguk.
Tetapi ia sama sekali tidak tersenyum. Ketika tanpa sesadarnya ibu
Sindangsari memandang wajah menantunya, tampaklah wajah itupun
menjadi suram. Bukan wajah seorang lalaki yang meskipun dengan cara
apapun, berhasil mengawini seorang perempuan yang dikehendaki.
Akhirnya, dengan luka-luka di dalam hati, Sindangsaripun berjalan di
samping Ki Demang di Kepandak, meninggalkan halaman rumahnya menuju
ke Kademangan. Sorak sorai anak-anak Gemulung yang melihat iring
iringan itu serasa air yang tersirampada luka di hati. Semakin
pedih. Dalam kesuraman senja, arak-arakan penganten itu menyelusuri
jalan di Gemulung menuju ke Kademangan Kepandak. Ki Demang sengaja
merencanakan iring iringan itu berjalan kaki disenja hari, sesuai
dengan saat yang telah dipilih oleh orang-orang tua. Tetapi juga
suatu cara dari Ki Demang untuk membuat Kadema-ngannya menjadi
sangat meriah. Jalan-jalan yang akan dilewati oleh sepasang
penganten itu menjadi ramai seperti hari-hari merti desa. Bahkan
melampaui. Di setiap regol terpasang obor-obor yang besar untuk
menerangi jalan. Di simpang-simpang t iga dan simpang empat. Setiap
tikungan dan bahkan hampir di setiap jengkal. Ikut dalam
iring-iringan itu, selain orang-orang tua yang mewakili keluarga
dari kedua belah pihak, ikut pula Ki Reksatani, Ki Jagabaya dan
beberapa orang bebahu Kademangan yang lain. Namun demikian beberapa
orang sempat memperhatikan wajah kedua pengantin yang berjalan
perlahan-lahan itu. Seorang perempuan muda menggamit kawannya sambil
berbisik "He, wajah-wajah kedua pengantin itu begitu suram seperti
suramnya senja ini" "Sudah tentu, Bukankah Sindangsari tidak
mencintai Ki Demang di Kepandak. Gadis itu mencintai kawan se
padukuhannya. Kau kenal Pamot bukan?" Jangan sebut gadis. Ia bukan
gadis lagi. Ia sudah bersuami sejak lima hari yang lalu" "Ah kau"
desis kawannya, kemudian "dan sekarang Pamot itu sudah pergi. Ia
ikut bersama anak-anak muda yang lain ke Mataram" "Ya, aku sudah
tahu. Tetapi lihat, wajah Ki Demangpun tampak begitu suram" "Tentu
ia kecewa, isterinya tidak menjadi gembira dalam hari-hari
perkawinan" "Bukankah hal itu sudah diketahuinya" "Kalian salah nak"
terdengar suara perempuan tua yang berdiri di belakang mereka. Kedua
perempuan yang sedang berbincang itu terkejut, sehingga serentak
merekapun berpaling. "Ah bibi" desis perempuan muda itu. "Setiap
kali Ki Demang kawin, wajahnya selalu muram. Aku pernah melihat ia
kawin beberapa kali. Seperti kalian, akupun selalu memperhatikan
wajahnya. Dan wajah itu selalu muram" perempuan tua itu berhenti
sejenak, lalu "ketika ia kawin untuk yang keempat dan kelima
kalinya, wajah isterinya berseri-seri seperti anak-anak yang akan
mendapat berbahagia, bahwa mereka akan menjadi Nyai Demang di
Kepandak. Tetapi pada saat itu wajah Ki Demangpun semuram wajahnya
kini" Kedua perempuan yang mendengarkannya menganggukanggukkan
kepalanya. Tetapi mereka tidak sempat menjawab, karena iring-iringan
penganten itu sudah lawat sampai orang yang terakhir sehingga
orang-orang yang berdiri di pinggir jalanpun telah mulai bubar,
meninggalkan tempatnya, masingmasing. Hanya beberapa orang anak-anak
sajalah yang mengikut i iring-iringan itu sambil berteriak-teriak.
Demikianlah, maka setelah mereka berjalan beberapa saat, melampaui
beberapa padukuhan, akhirnya merekapun memasuki padukuhan Kepandak.
Padukuhan ini tampak lebih meriah dan ramai dari padukuhan-padukuhan
lainnya. Apalagi senja telah disabut oleh gelapnya malam yang
menjadi semakin kelam. Maka cahaya obor yang kemerah-merahan membuat
suasana menjadi semakin hidup. Bukan saja orang-orang yang akan
menyaksikan penganten yang sedang diarak itu sajalah memenuhi jalan:
tetapi orangorang yang berjualanpun telah berderet berjajar di
sekitar halaman Kademangan. Di pendapa Kademangan memang sudah
dipersiapkan upacara penyambutan penganten, yang akan segera
diteruskan dengan keramaian dan pertunjukan semalam suntuk tiga
malam berturut-turut Tetapi semuanya itu sama sekali tidak
mempengaruhi hati Sindangsari yang gelap. Disepanjang jalan, ia
hanya sempat merenungi dirinya sendiri. Ia tidak melihat sama
sekali, kawan-kawannya melambai-lambaikan tangannya kepadanya. Dan
ia tidak melihat orang-orang tua tersenyum sambil bergumam
"Sindangsari memang gadis yang cantik sekali" Demikianlah maka
upacara yang diselenggarakan di Kademanganpun sama sekali tidak
menggerakkan hatinya. Ia berbuat apa saja yang harus dilakukan
dengan hati yang kosong. Kemudian dengan hati yang kosong pula ia
duduk di tengah-tengah ruang dalam bersanding dengan Ki Demang.
Sejak ia memasuki halaman, kepalanya selalu tertunduk dalam-dalam,
sehingga ia tidak melihat siapa saja yang berada di pendapa
menghormati kehadirannya. Upacara yang berlangsungpun sama sekali
tidak menarik perhatiannya. Ia tidak mendengar jelas kalimat demi
kalimat, bagaimana wakil dari orang tuanya menyerahkannya kepada
keluarga suaminya yang diterima oleh seorang yang telah ubanan dan
berkumis putih pula. Debar dijantungnya menjadi semakin keras
berdentang ketika upacara-upacara semuanya telah lalu. Oleh dua
orang perempuan setengah baya ia digandeng memasuki bilik yang sudah
disediakan. Kemudian masuklah seseorang yang tadi telah meriasnya.
"Kau terlampau lelah nak" katanya "karena itu segeralah
beristirahat. Tetapi sebaiknya kau bertukar pakaian dan melepas
pakaian pengantenmu" Sindangsari tidak menyahut. Seperti golek kayu
ia menurut saja apa yang harus dilakukannya dan diperlakukan atasnya
oleh juru riasnya. Ketika juru riasnya itu sudah selesai melepas
perhiasanperhiasan pengantinnya, dan kini ia sudah berpakaian yang
lebih sederhana, maka perempuan setengah baya yang membawanya
berkata "Nah, sekarang kau boleh beristirahat. Kau dapat berbuat
sesuka hatimu disini ngger. Rumah ini adalah rumahmu. Dada
Sindangsari berdesir mendengar kata-kata itu. Rumah ini adalah
rumahnya. Dan ia dapat berbuat sekehendaknya di rumah ini. "Nah,
kalau kau ingin beristirahat, beristirahatlah. Tetapi kalau kau
ingin melihat tontonan di pendapa, itupun akan lebih baik, karena
kau akan segera berkenalan dengan orangorang terdekat dari Ki
Demang, dan perempuan-perempuan yang akan menjadi tetanggamu nanti"
Semuanya itu terdengar aneh ditehnga Sindangsari Ia akan berkenalan
dengan perempuan yang dekat dengan Ki Demang. Mungkin dengan
keluarga dan saudara-saudaranya. Juga dengan perempuan-perempuan
yang akan menjadi tetangganya. Belum lagi ia menemukan
ketenangannya, tiba-tiba seorang perempuan masuk sambil menggendong
seorang bayi dan menggandeng seorang anak laki-laki.
Perempuan-perempuan yang sudah ada di dalam ruangan itu segera
berdiri dan mempersilahkannya dengan hormat. Tanpa sesadarnya
Sindangsaripun berdiri pula dan membungkukkan kepalanya seperti
perempuan-perempuan yang lain. "Ah mBok Ayu" perempuan itu berkata
"aku adalah adikmu" Sindangsari menjadi terheran-heran. Perempuan
itu pasti sudah labih tua daripadanya. Apalagi ia sudah mempunyai
beberapa orang anak. Tetapi ia menyebut dirinya sebagai adiknya.
Selagi Sindangsari terheran-heran, perempuan itu tertawa "Aku memang
ingin memperkenalkan diriku. Kita akan segera menjadi keluarga
terdekat. Aku adalah isteri Ki reksatani adik Ki Demang di Kepandak.
Bukankah aku harus menyebut mBok Ayu kepadamu? Sejenak Sindangsari
tidak dapat mengatakan sesuatu. Dipandanginya Nyai Reksatani itu
sejenak, kemudian perempuan-perempuan lain yang ada di dalam bilik
itu. "Kau adalah mBok Ayuku yang paling cantik yang pernah aku
kenal" berkata Nyai Reksatani kemudian "Aku sudah mengenal lima, dan
kini menjadi enam orang isteri kakang Demang. Tetapi kau adalah
isteri yang paling cantik dan muda. Mungkin karena kau sudah lama
hidup di kota, sehingga kau mempunyai beberapa kelebihan dari
perempuan-perempuan desa. Sindangsari menjadi semakin bingung. Hanya
karena keinginannnya untuk menanggapinya ia mengangguk kecil sambil
berkata "Ah, akupun seorang gadis desa" "He" sahut Nyai Reksatani
"kau bukan seorang gadis lagi" Dada Sindangsari berguncang mendengar
jawaban itu. Tetapi Nyai Reksatani melanjutkan "Kau sekarang menjadi
Nyai Demang di Kepandak. Biasakan dengan sebutan itu Nyai Demang"
Sindangsari tidak segera dapat menyahut. Apalagi ketika ia melihat
Nyai Reksatani itu kemudian tertawa berkepanjangan. Katanya kemudian
"Apakah sebutan itu janggal di telingamu? Memang mula-mula kau akan
merasa janggal. Mungkin kau labih senang disebut Rara Sindangsari.
Tetapi nama itu harus kau simpan. Namamu kemudian adalah Nyai Demang
di Kepandak" Bukan saja Nyai Reksatani yang kemudian tertawa, tetapi
kedua perempuan separo baya itupun tersenyumpula. "Nah mBok Ayu.
Biasakan dengan rumah ini. Rumah ini memang pernah dihuni oleh lima
orang perempuan isteri kakang Demang berganti-ganti. Aku mengenal
mereka semuanya dengan baik. Tetapi memang tidak seorangpun yang
secantik itu" Nyai Reksatani terdiam sejenak lalu "Namun demikian
mereka adalah perempuan-perempuan yang baik. Mereka segera kenal
dengan seisi rumah ini tanpa malu-malu. Meskipun kemudian menjadi
Nyai Demang di Kepandak, tetapi mereka tetap rendah hati. Dengan
senang hati mereka pergi ke dapur. Membantu para pembantu dan para
tetangga yang sibuk menyiapkan hidangan bagi tamu seperti malam ini
Mereka tidak perlu dilayani secara khusus di dalam bilik seoerti
seorang permaisuri. Tiba" tiba saja dada Sindangsari bergejolak. Ia
tidak mengerti maksud Nyai Reksatani Sekilas memang terasa semua itu
sebagai suatu sindiran. Kedua perempuan separo baya itu kini sudah
tidak tersenyum lagi. Bahkan juru rias yang masih ada di dalam bilik
itupun mengerutkan keningnya. "Eh, agaknya aku terlampau banyak
berbicara" berkata perempuan yang mendukung anaknya itu "kalau mbok
Ayu memang belum selesai silahkanlah. Aku akan melanjutkan kerjaku"
ia berhenti sejenak, lalu "t idak, akupun tidak berbuat apa-apa. Aku
hanya sekedar mempersilahkan para tamu untuk duduk di pendapa"
Sindangsari masih berdiri seperti patung. "Selama ini aku tidak
sempat ikut kakang Reksatani ke Gemulung. Aku terpaksa mengurusi
rumah ini selama persiapan hari-hari yang meriah ini. Sindangsari
masih tetap berdiam diri. Bahkan mulutnya kini serasa terbungkam.
Sambil tertawa pendek Nyi Reksatani segera melangkah keluar. Namun
ia masih sempat berkata "Kali ini kakang Demang mendapatkan seorang
isteri yang lain. Isteri yang berasal dari kota. Tetapi barangkali
memang isteri semacam inilah yang dicarinya selama ini. Dan
Kademangan ini akan segera menjadi segar oleh sekuntum bunga yang
indah. Bunga perhiasan" Hati Sindangsari serasa tergores oleh
tajamnya sembilu. Ia tidak menyangka bahwa di hari pertama ia
tinggal di rumah suaminya ia telah mengalami perlakuan yang
menyakitkan hati. Tetapi sepeninggal Nyai Reksatani, perempuan yang
sudah separo baya itu berkata lirih "Jangan hiraukan. Aku tidak
mengerti kenapa Nyai Reksatani tiba-tiba saja berubah. Sebenarnya ia
adalah perempuan yang baik. Ia tidak pernah bersikap sekasar itu
kepada siapapun juga. Apalagi kepada orang yang baru saja
dikenalnya" Dan perempuan yang lain menyambung "Mengherankan sekali.
Tetapi sebagai seorang perempuan ia mungkin sekali menjadi iri
melihat kau ngger. Bukan maksudku menyindir seperti Nyai Reksatani,
tetapi kau memang cantik sekali. Jauh lebih cantik dari Nyai
Reksatani itu sendiri" "Ah" Sindangsari hanya dapat berdesah. "Aku
berkata sesungguhnya. Bertanyalah kepada juru paes yang sudah
beratus kali merias penganten di Kepandak ini. Aku yakin bahwa ia
belum pernah menjumpai penganten secantik kau" "Jangan memuji bibi"
jawab Sindangsari kemudian "tetapi aku kira sikapku memang telah
memuakkan bagi Nyi Reksatani. Sebaiknya aku memang pergi ke dapur"
"O. tentu tidak. Jangan pergi ke dapur. Itu tidak perlu sama sekali.
Bukan hanya Nyai Reksatani saja yang pernah melayani penganten
disini sampai enam kali. Akupun selalu ada di rumah ini kalau Ki
Demang kawin. Bahkan Nyai Reksatani termasuk orang baru pula di
dalam keluarga Ki Demang. Ia termasuk keluarga Ki Demang setelah ia
kawin dengan Ki Reksatani" "Tetapi, tetapi apakah aku tidak menjadi
terlampau manja dengan sikapku sekarang ini?" "Tidak, tidak. Kau
terlampau baik. Percayalah. Bukan seharusnya kau pergi ke dapur.
Kalau kau mau keluar dari dalam bilik ini, pergilah ke pendapa. Kau
akan segera mengenal perempuan-perempuan di sekitarmu" "Tetapi.."
Sindangsari menjadi ragu-ragu. "Jangan hiraukan Nyai Reksatani.
Kaulah yang mempunyai wewenang disini. Kau dapat berbuat sesuka
hatimu. Tidak ada orang lain yang lebih berkuasa daripada kau
disini, selain Ki Demang itu sendiri. Dan Ki Demang itu adalah
suamimu. Sadari ini" Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Beruntunglah ia bahwa di rumah ini ada perempuan yang sudah agak
lanjut usia yang baik hati. "Jadi. Apakah kau akan pergi ke
pendapa?" bertanya salah seorang dari mereka. Tanpa sesadarnya
Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Marilah, aku akan mengantarmu.
Aku akan berbuat sesuatu kalau Nyai Reksatani masih saja
menyindir-nyindir kau" Sindangsari mengangguk pula. Karena itu, maka
diantar oleh kedua perempuan itu Sindangsari keluar dari dalam
biliknya. Sedang juru paesnya masih membenahi beberapa macam
perhiasan dan pakaian penganten yang baru saja dilepasnya. Ketika
Sindangsari melangkahi pintu pendapa, semua orang berpaling ke
arahnya. Di sebelah kiri beberapa orang laki-laki memandangnya
dengan penuh perhatian. Sekali-sekali mereka berpaling kepada Ki
Demang yang duduk diantara mereka. Kemudian kepada mempelai
perempuan itu. Tetapi sejenak kemudian Sindangsaripun dibawa masuk
kembali. Di pringgitan Sindangsari duduk diantara beberapa orang
perempuan. Diantara mereka terdapat beberapa orang yang masih ada
sangkut-paut kekeluargaan dengan Ki Demang, sedang yang lain adalah
isteri para bebahu Kademangan dan beberapa orang tetangga. Kehadiran
Sindangsari mereka sambut dengan riuhnya. Beberapa orang yang masih
termasuk muda. segera menyapanya dan memperkenalkan diri mendahului
orang tuatua. "Kami merasa senang sekali bahwa di rumah Kademangan
ini akan segera menjadi segar kembali. Manguri t idak segera
menjawab. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di
hadapan ibunya. Beberapa saat Kademangan ini terasa sepi, karena
tidak ada seseorang yang mendampingi Ki Demang di Kepandak.
"Sebentar lagi rumah ini pasti akan bercahaya, karena di dalamnya
akan tinggal seorang isteri yang cantik" berkata seseorang.
Kawan-kawannyapun mengangguk-anggukkan kepala mereka sambil
menyambung "Ya, tentu. Tentu" Sindangsari tahu benar, bahwa mereka
hanya sekedar berkelakar. Nadanya agak berlainan dengan nada ucapan
Nyai Reksatani. Itulah sebabnya ia mencoba untuk tersenyum
menanggapi kata-kata itu. Namun betapa hatinya yang pedih menjadi
bertambah pedih. Orang-orang tuapun kemudian menyebut dirinya
masingmasing. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang
tampaknya baik hati dan bersikap jujur terhadapnya. "Mudah-mudahan
kau kerasan tinggal di rumah ini" berkata seorang tua yang sudah
tidak bergigi lagi. "Mudah-mudahan" suara Sindangsari hampir t idak
terdengar. "Aku adalah tetanggamu yang terdekat" orang tua itu
melanjutkan "rumahku adalah rumah di sebelah rumah Ki Demang ini.
Memang masih ada hubungan keluarga meskipun sudah agak jauh. Kalau
kau memerlukan sesuatu panggillah aku" "Terima kasih" jawab
Sindangsari "aku akan selalu minta pertolongan dan petunjuk" Orang
tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaknya ia masih akan
berbicara, namun kemudian diurungkannya. Dalam pada itu di luar
suara gamelan telah menggelagar diantara suara riuh anak-anak di
sekitar pendapa. Mereka menunggu pertunjukan yang akan
diselenggarakan di pendapa. Beberapa orang penari terbaik dari
Kademangan kepandak akan mempertunjukkan beberapa jenis tari-tarian,
yang diambil dari lakon Panji Asmarabangun. Pertunjukan itu tidak
akan diselenggarakan di pendapa tetapi justru di halaman, mengitari
lampu obor yang terpancang pada sebuah ajug-ajug. Halaman rumah Ki
Demang itu semakin malam menjadi semakin riuh. Anak-anak yang
berlari-larian sambil berteriak-teriak tidak henti-hentinya
bersimpang-siur silang menyilang. Para penjual makanan duduk
terkantuk-kantuk sambil menunggui dagangan mereka. Sekali-sekali
mereka terkejut oleh anak-anak yang menyodorkan uang mereka untuk
membeli beberapa jenis makanan. Riuhnya anak-anak di halaman. Serasa
membuat hati Sindangsari semakin kisruh. Tetapi diantara
perempuanperempuan yang ada di pringgitan Sindangsari merasakan
sikap-sikap yang baik dan hormat kepadanya, sebagai seorang isteri
Demang. Meskipun Sindangsari tidak tahu, apa yang tersimpan di hati
mereka, namun menilik sikap dan kata-kata mereka, mereka sama sekali
tidak berpura-pura. "Agaknya hanya Nyai Reksatani sajalah yang
bersikap lain terhadapku" desis Sindangsari di dalam hatinya. Ketika
pertunjukan di luar kemudian dimulai, tamu-tamu perempuan di
pringgitan seorang demi seorang mulai meninggalkan pertemuan. Mereka
sebagian adalah orangorang yang sehari-harian sudah menunggui rumah
Ki Demang dan menyiapkan peralatan perkawinan itu. "Kita akan selalu
berhubungan di setiap hari" orang tua yang sudah tidak bergigi itu
berkata kepada Sindangsari sambil minta diri. "Ya, aku mengucapkan
diperbanyak terima kasih" "Jangan malu-malu dan jangan segan. Aku
senang sekali mempunyai seorang tetangga yang cantik sekali"
Kemudian ia berbisik "Belum pernah ada seorang perempuan secantik
kau tinggal di rumah ini. Meskipun kelima puteri Ki Demang yang
terdahulu, termasuk perempuan-perempuan yang cantik di Kademangan
ini, tetapi mereka adalah orang-orang desa ini pula. Sebagian dari
mereka menjadi mabuk karena kesempatan mereka menjadi Puteri seorang
Demang. Mereka bersikap aneh dan berlebih-lebihan. Tetapi kau adalah
perempuan yang cant ik dan luruh" "Ah" Sindangsari berdesah. "Umurku
menjelang tiga perempat abad. Aku sudah mengenal banyak sekali
orang-orang dengan segala macam wataknya. Pertemuan ini menunjukkan
kepadaku, bahwa kau seorang yang baik meskipun kau mempunyai banyak
kelebihan. Bukankah sudah lama kau tinggal di kota" Wajah
Sindangsari menjadi merah. Tetapi ia berterima kasih kepada Tuhan,
bahwa di dalam kepahitan hidupnya, ia telah dipertemukan dengan
orang-orang tua yang baik. Di rumah ini ia berada jauh dari
orang-orang tuanya. Ibu, kakek dan neneknya yang kadang-kadang masih
menganggapnya sebagai seorang gadis kecil. Yang kadang-kadang masih
membelai keningnya dan rambutnya. "Aku harus mendapatkan ganti
orang-orang tuaku" katanya di dalam hati. Maka sejenak kemudian
pringgitan itu menjadi semakin sepi. Mereka yang tidak minta diri
untuk pulang ke rumah masing-masing, telah pergi ke dapur untuk
menyiapkan hidangan bagi para tamu dan para penari. Akhirnya
Sindangsaripun bertanya kepada kedua orangorang tua yang
mengawaninya "Apakah aku sudah boleh beristirahat?" "Tentu. Tentu.
Kau dapat berbuat sesuka hatimu. Orangorang lainlah yang harus
menyesuaikan dirinya. Seandainya kau masih menghendaki orang-orang
lain duduk di pringgitan, kau berhak memanggilnya. Bahkan kau dapat
menentukan apa yang harus mereka lakukan di rumah ini" Sindangsari
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mempercayai mereka. Tetapi
belum lagi Sindangsari meninggalkan tempat itu, Nyai Reksatani
tiba-tiba telah masuk ke pringgitan. Kali ini ia sudah tidak lagi
menggendong anaknya. "Ah lelahnya" ia berdesah sambil duduk di
sebelah Sindangsari yang justru sudah hampir berdiri "berapa hari
aku bekerja keras di rumah ini. Akulah yang seolah-olah menjadi
penanggung jawab dari peralatan ini, atau bahkan seolah-olah akulah
yang telah menyelenggarakan peralatan" Sindangsari tidak menyahut.
Dipandanginya wajah kedua orang tua yang mengawaninya itu sejenak,
namun kemudian ia menundukkan kepalanya. "Malam ini barulah malam
yang pertama" desis Nyai Reksatani kemudian "masih ada dua malam
lagi. Oh, tanganku sudah serasa patah" tiba-tiba ia berpaling kepada
Sindangsari "mBok Ayu. Semuanya ini sekedar untuk merayakan hari
perkawinanmu. Semua orang yang sibuk tanpa henti hentinya selama
beberapa hari ini semata-mata karena kau" Sindangsari mengerutkan
keningnya. Tetapi ia sama sekali tidak dapat menjawab. Mulutnya
serasa terbungkam dan hatinya menjadi semakin bergejolak. "Nyai
Reksatani" orang tua yang mengawani Sindangsari itulah yang menyahut
"bukankah sudah sewajarnya demikian? Aku misalnya, Aku adalah
seorang anggauta keluarga besar dari Ki Demang di Kepandak, meskipun
hubungan darah itu sudah jauh. Aku berbuat seperti apa yang aku
lakukan sekarang ini oleh kehendakku sendiri" Nyai Reksatani
mengerutkan keningnya. Katanya "O, tentu. Tentu. Semuanya
melakukannya atas kehendak mereka masing-masing. Maksudku, agar mBok
Ayu itu mengetahui, apa saja yang sudah dilakukan orang untuknya.
Apakah dengan demikian ia akan dapat menutup mata dan tinggal saja
duduk merenung?" "Maksudmu Nyai?" bertanya perempuan yang lain. Nyai
Reksatani tidak segera menjawab. Ditatapnya perempuan itu sejenak,
lalu "Tidak. Aku tidak bermaksud apaapa" Sindangsari menjadi semakin
tidak senang mengalami perlakuan itu. Tetapi ia tidak perlu
mengucapkan sendiri, karena seakan-akan mengetahui apa yang
terkandung di dalam hatinya, perempuan tua yang mengawaninya itu
berkata "Bukan salah Nyai Demang. Ia tidak mengharapkan apa-apa.
Bukankah ia orang baru disini?. Kalau hal ini perlu
disinggung-singgung maka katakanlah saja kepada Ki Demang, atau Ki
Reksatanilah yang harus mengatakan, bahwa Ki Demang harus berterima
kasih kepada semua orang yang menjadi sangat lelah karenanya,
sehingga ia tidak akan dapat menutup mata" "Ah kau" potong Nyai
Reksatani "bukan itu maksudku. Kau salah menangkap maksud
kata-kataku" Perempuan tua itu mengerutkan keningnya. "Aku hanya
ingin mengatakan bahwa orang-orang di sekitar ini memang orang-orang
yang baik. Mereka dengan senang hati membantu peralatan ini"
Perempuan-perempuan tua itu tidak menjawab lagi. Salah seorang dari
mereka berkata "Marilah. Kau perlu beristirahat" "Beristirahatlah"
Nyai Reksatani menyahut "biarlah aku sendiri yang menyelesaikan
urusan dapur dan para tamu itu" Sindangsari menjadi bingung. Tetapi
perempuanperempuan itu kemudian membimbingnya dan membawanya masuk
ke ruang dalam, kemudian langsung ke biliknya. Nyai Reksatani
memandang langkah Sindangsari sambil mencibirkan bibirnya. Iapun
kemudian pergi meninggalkan pringgitan. Di depan pintu ia berpapasan
dengan suaminya. Ki Rekstani. "Apakah perempuan itu nampaknya akan
kerasan tinggal disini?" bertanya laki-laki itu. "Aku belumtahu"
jawab isterinya. "Usahakan, agar ia mendapat kesan yang jelek untuk
pertama kali ia tinggal disini. Buatlah anak itu marah, atau sakit
hati atau menangis atau apapun. Kesan yang pertama kali bagi
seseorang di tempat tinggalnya yang baru sangat berpengaruh baginya
untuk seterusnya" Sekali isterinya mengangguk. Ki Reksatanipun
kemudian melangkah pergi sambil berkata "Aku masih harus mengawasi
orang-orang yang menyediakan minuman" "Kenapa kakang sendiri yang
melakukannya? Apa tidak ada orang lain" "Itu lebih baik bagiku
daripada aku harus duduk di pendapa terus-menerus. Aku menjadi
sangat lelah. Biarlah Ki Jagabaya menemani kakang Demang disana. Aku
akan menunggui orang-orang di belakang sambil tidur" ia berhenti
sejenak, lalu "he, apakah nasi sudah masak" Isterinya mengangguk.
"Aku lapar. Sediakan makanku. Aku akan makan di belakang. Aku tidak
tahan menunggu makan bersama para tamu nanti tengah malam. Jangan
lupa. brutu ayam" Ki Reksatani itupun kemudian meninggalkan
isterinya berdiri termangu-mangu. Ternyata tugas yang dibebankan
suaminya kepadanya itu cukup berat baginya. Apalagi ketika ada
orang-orang lain yang mencampuri persoalannya. Kedua perempuan tua
itu telah mengganggu usahanya untuk membuat Sindangsari gelisah dan
sakit hati. Untunglah bahwa Nyai Reksatani tidak menyadari, bahwa
sebenarnya hati Sindangsari telah tersayat sejak lama. Kalau ia
dapat menguasai masalah perasaan seseorang, maka ia akan dapat
menempuh jalan yang paling pendek, untuk membuat Sindangsari semakin
kehilangan gairah masa depannya. Kalau Nyai Reksatani itu
menunjukkan perasaan iba dan terharu, serta sedikit menyinggung
masalah Pamot dan isteriisteri Ki Demang yang lain yang pernah
menghuni rumah ini dengan cara yang sebaliknya dari cara yang
ditempuhnya sekarang, maka hati Sindangsaripun pasti akan semakin
pedih. Luka itu pasti akan terkorek semakin dalam, sehingga akan
menjadi semakin parah pula karenanya. Justru karena sikapnya yang
kasar itu, maka Nyai Reksatani tidak segera mencapai sasarannya.
Kedua orang yang mengawani Sindangsari itu selalu berusaha untuk
memantapkan hati isteri baru Ki Demang itu. Dan di dalam hati
Sindangsaripun sebenarnya telah tumbuh pula semacam perlawanan atas
perlakuan yang menyakitkan hati itu. "Meskipun aku sama sekali tidak
menghendaki, tetapi aku adalah isteri Ki Demang disini" katanya di
dalam hati "seperti kata kedua perempuan itu. akulah yang paling
berkuasa disini, selain Ki Demang sendiri" Dalam pada itu malampun
menjadi semakin malam. Juru paes yang telah merias Sindangsaripun
telah pulang ke rumahnya, dijemput oleh suaminya. "Beristirahatlah"
berkata perempuan yang mengawani Sindangsari "kami berdua akan pergi
ke dapur. Kalau Nyai Reksatani itu datang kemari, jangan hiraukan
kata-katanya "ia berhenti sejenak, lalu "sebenarnya aku tidak sampai
hati mengatakannya, tetapi apaboleh buat. Ia sebenarnya menjadi
iri-hati kepadamu Karena itu anggaplah semua kata-katanya itu
sebagai angin saja" Sindangsari menganggukkan kepalanya "Baiklah.
Aku akan mencobanya " "Kau harus percaya kepadaku. Aku mengenal
semua isteri Ki Demang. Dan kaulah isteri yang agaknya akan menjadi
paling baik" "Ah" "Yakini. Dan jangan hiraukan ipar Ki Demang itu"
Kedua perempuan itupun kemudian meninggalkan Sindangsari di dalam
biliknya. Perlahan-lahan ia membaringkan dirinya sambil menyelusuri
jalan hidupnya yang berliku-liku. Sekali Sindangsari menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ketika terasa matanya menjadi panas, ia
mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Aku tidak boleh menangis" katanya
di dalam hati. Dan iapun ternyata berhasil. Di luar suara gamelan
menjadi semakin lama semakin keras dan cepat. Iramanyapun menjadi
semakin panas pula. Sedangkan teriakan kanak-kanak sudah menjadi
jauh berkurang. Sebagian dari mereka duduk di seputar arena sambil
melihat tari-tarian yang semakin ramai pula. Mereka menjadi terharu
melihat Kleting Kuning yang tersia-sia, dan mereka menjadi benci
kepada Keleting Abang yang kejam terhadap adik angkatnya. Sedang
anak-anak yang lebih kecil ternyata telah banyak yang jatuh tertidur
di tangga pendapa, di emper gandok dan di gardu regol halaman,
sehingga para peronda tidak mendapat tempat lagi untuk duduk. Tetapi
anak-anak itupun kemudian tersentak ketika gamelan t iba-tiba
mengejut keras sekali. Merekapun segera bangkit dan berlari-larian
kearena pertunjukan. Ternyata di tengah-tengah lingkaran penonton di
muka rancakan gamelan, seorang raksasa berambut gimbal sedang
menari-nari. "He, raksasa itu buas sekali" desis seorang anak
perempuan yang berdiri di dekat gamelan. "Itu bukan raksasa" jawab
yang lain. "Apa?" "Gendruwo. Lihat matanya merah dan bulat sebesar
biji benda" Anak perempuan yang pertama-tama menyebutnya sebagai
raksasa itupun terdiam. Tetapi seorang yang lebih besar lagi dari
mereka berkata "Kalian salah. Yang menari melonjak-lonjak itu bukan
raksasa dan bukan pula gendruwo. Tetapi itu adalah Yuyu Kangkang"
"Yuyu? Yuyu sebesar itu?" "Tentu bukan yuyu biasa. Tetapi Yuyu
Kangkang" "Apakah artinya Yuyu Kangkang? Nama atau jenis binatang?"
"Yuyu. Memang itu Yuyu Raksasa bernama Yuyu Kangkang. Ia dapat
berbicara seperti manusia" Kedua anak-anak yang berbicara tentang
yuyu dan menyangkanya sebagai raksasa dan gendruwo itupun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak dapat
membayangkan, betapa seekor yuyu dapat berbicara dan menari. Sejenak
kemudian para penontonpun menjadi semakin mendesak maju. Mereka kini
melihat Kleting Abang. Keleting Biru. Kleting Ijo dan Kleting Ireng
menghampiri Yuyu Kangkang itu. Mereka minta tolong agar mereka
diseberangkan sungai yang sedang banjir, yang merintangi jalan
mereka menuju ke rumah Ande-Ande Lumut, seorang pemuda yang tampan.
Lamat-lamat Sindangsari mendengar para penari itu bersenandung
dengan suara yang merdu, diselingi oleh senggakan yang kadang-kadang
agak miring dan bahkan lekoh. Tanpa disadarinya lewat
diangan-angannya bayangan seorang anak muda yang semakin lama
menjadi semakin jelas Pamot. "Dimanakah ia sekarang" suara itu
berdesis di hatinya. Tetapi harapannya untuk dapat bertemu kembali
dengan anak muda itupun menjadi semakin lama semakin pudar meskipun
ada sesuatu yang kini tidak akan dapat hilang dari dirinya.
Sindangsari itu terperanjat ketika ia mendengar gerit pintu biliknya
terbuka. Ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Demang berdiri di muka
pintu. Tiba-tiba saja Sindangsari bangkit dari pembaringannya. Ia
tidak mau melukai hati laki-laki itu, seperti di saat-saat ia datang
ke biliknya semalam, ketika masih berada di rumahnya. Tetapi sebelum
ia sempat berbicara apapun. Ki Demang itupun berkata "Tidurlah. Kau
memang lelah sekali" Dengan mengerahkan segenap keberanian yang ada
di dalam dirinya Sindangsari menjawab "Aku tidak akan tidur Ki
Demang" "Kenapa?" Ki Demang bertanya dengan herannya "apakah suara
gamelan itu mengganggumu?" "Tidak. Tetapi aku memang hanya akan
beristirahat sejenak. Aku masih akan menemui para tetangga yang
membantu di dapur" "O" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Selangkah ia maju. Ditatapnya Sindangsari yang masih dilapisi dengan
atal yang berwarna kekuning-kuningan itu dan membuatnya seolah-olah
menjadi semakin cantik. Ki Demang menarik nafas dalam. Dalam sekali.
Namun kemudian ia berkata "Tetapi kalau kau memang ingin
beristirahat, beristirahatlah. Di belakang sudah ada Nyai Reksatani
yang mewakili kau" "Tetapi agaknya lebih baik aku berkenalan dengan
mereka" "Kau tadi sudah ada di pringgitan" "Ya. Dan aku memang sudah
berkenalan dengan sebagian dari para tetangga yang datang" Ki Demang
mengangguk-angguk. Tetapi matanya kini seolah-olah telah lekat pada
tubuh Sindangsari. Dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya anak
itu t idak bercacat. Di dalam hati Ki Demang mengakui, bahwa
perempuan ini adalah isterinya yang paling cantik dari kelima
isterinya yang lain. Sindangsari yang merasakan tatapan mata yang
tajam itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun demikian terasa
bahwa kulitnya meremang. Meskipun demikian, ia memang mengharapkan
sesuatu dari Ki Demang. Bukan karena ia benar-benar telah pasrah dan
menerima keadaannya dengan ikhlas. Tetapi ia ingin melindungi noda
yang telah melekat pada dirinya. Dan seandainya noda itu akan tampak
pada suaminya, biarlah segera ia melihatnya dan menghukumnya apabila
dikehendaki. Tetapi Ki Demang itupun kemudian melangkah pergi sambil
berkata "Beristirahatlah. Jangan hiraukan para tetangga yang bekerja
di dapur" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi ia menjadi kecewa.
Seandainya ia mempunyai cukup keberanian, dan seandainya ia tidak
terikat oleh tata susila sebagai seorang perempuan, maka ia pasti
sudah menarik Ki Demang yang sedang melangkahi pintu itu. Namun Ki
Demang itu kemudian ternyata dibiarkannya pergi. Meskipun demikian,
sepeninggal Ki Demang, kembali kegelisahan yang sangat telah
menerkam jantungnya. Noda yang melekat pada dirinya itu ternyata
telah membebaninya terlampau berat, sehingga ia seakan-akan
melupakan, betapa pahitnya perpisahan yang dialaminya dari Pamot.
Ternyata kegelisahan itu telah mendorong Sindangsari meninggalkan
biliknya. Dengan ragu-ragu ia pergi ke dapur untuk sekedar mengisi
waktunya. Dengan berbaring dibiliknya, maka perasaannya dapat
dipengaruhi oleh angan-angannya yang selalu hilir mudik t idak
berketentuan, mengembara di sepanjang daerah yang gersang.
Kedatangannya di dapur telah mengejutkan perempuranperempuan yang
sedang bekerja. Salah seorang dari orang tua yang mengawaninya,
segera mendatangi sambil bertanya "He, kenapa kau pergi ke dapur?"
"Aku tidak dapat tidur. Aku menjadi gelisah dan kesepian sendiri"
Tiba-tiba beberapa perempuan muda tertawa kecil tertahan-tahan.
Salah seorang dari mereka berbisik "Apakah Ki Demang tidak
mengawaninya?" Sementara itu, perempuan tua itupun mempersilahkannya
duduk Katanya "Tetapi tempatnya tidak pantas untuk seorang yang lagi
dipersandingkan. Terlampau kotor" "Aku biasa berada di dapur. Akulah
yang melayani ibu apabila ibu sedang masak" "Tetapi kau sekarang
sedang menjadi permaisuri sehari, eh, tiga hari" sahut seorang
perempuan yang lain "silahkan duduk di ruang dalamsaja" "Terima
kasih. Biarlah aku disini" berkata Sindangsari. Akhirnya mereka
terpaksa membiarkan Sindangsari duduk diantara mereka yang sedang
mengatur makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang duduk
menonton di pendapa, yang seolah-olah mengalir tidak henti-hentinya.
Setiap ada seorang tamu, maka beberapa ancak makanan harus
dihidangkan. Semangkuk air panas dengan beberapa potonggula kepala.
Dalam pada itu, ketika Nyai Reksatani melangkahi pintu dapur, ia
terkejut melihat Sindangsari benar-benar berada di dapur. Karena
itu, maka diurungkannya niatnya, dan segera ia berbalik pergi. "Anak
bodoh" ia menggerutu "tetapi aku harus membuatnya tidak kerasan di
rumah ini. Aku masih mempunyai kesempatan beberapa hari lagi. Selama
tiga hari ini aku masih akan tetap tinggal di Kademangan. Mungkin
satu dua hari lagi, selama rumah ini diatur kembali seperti semula,
dan membenahi semua perkakas yang sedang dipergunakan ini"
Demikianlah selagi Sindangsari mencari pengisi waktunya di dapur,
dan selagi Ki Reksatani suami isteri mengumpat-umpat maka para tamu
di pendapapun menjadi semakin sedikit. Satu-satu mereka minta diri,
sedang yang lain, masih menyaksikan pertunjukan yang memetik lakon
Panji yang setelah digubah menjadi lakon Ande-ande lumut itu. Selagi
lakon Ande-ande Lumut itu menjadi semakin ramai, karena Yuyu
Kangkang menolak menyeberangkan Kleting Kuning yang jelek, setelah
Yuyu Kangkang itu bersedia menyeberangkan kakak-kakak angkatnya,
Kleting Abang dan ketiga saudaranya, maka dua orang berjalan dengan
kepala tunduk di jalan yang membujur di muka halaman Kademangan.
Seorang yang bertubuh raksasa berkata perlahan-lahan "Apakah kita
akan singgah melihat keramaian itu" "Bodoh kau" jawab yang lain "aku
tidak ingin menonton
apapun"
Jilid 5 ORANG yang bertubuh raksasa dan
berkepala botak itu mengerutkan keningnya dan bertanya "Lalu, kenapa
kita datang kemari malam ini?" Kawannya, Manguri hampir saja
berteriak mengumpatinya kalau ia tidak segera menyadari, bahwa di
sekitarnya banyak terdapat para penjual dan anak-anak yang
menghilangkan kantuknya dengan membeli makanan. "Lamat" desisnya
kemudian "kau memang orang yang paling bodoh yang pernah aku kenal.
Kau sangka aku berkepentingan dengan tontonan yang tidak bermutu
itu? Buat apa aku melihatnya? Ande-ande Lumut yang menjemukan"
Manguri berhenti sejenak, lalu "seharusnya kau mengerti, bahwa
kepentinganku bukanlah sama dengan kepentingan anak-anak ingusan
itu" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya" desisnya "maksudku,
apakah kita akan melihat suasana perkawinan itu dari dekat, diantara
para penonton pertunjukan di halaman itu?" "Ah, kau memang
benar-benar gila. Apakah kau kira tidak ada yang segera dapat
mengenal kau dan aku? Disini keadaan cukup gelap. Tetapi di halaman
itu?" Lamat tidak menjawab lagi. Ia melangkah mengikuti langkah
Manguri semakin lama semakin menjauhi halaman Ki Demang di Kepandak.
Ketika mereka sudah berada di tempat yang kelam, maka Manguripun
segera berhenti dan Lamat yang termangu-mangu berdiri di sampingnya.
"Perkawinan itu benar-benar telah berlangsung" desis Manguri. "Tidak
malam ini" sahut Lamat "sudah lima hari yang lampau. Malam ini
adalah sekedar upacara ngunduh penganten" "Gila. Laki-laki itu tidak
segera dapat memberikan jalan" Lamat menarik nafas dalam-dalam.
Iapun mengerti bahwa laki-laki itu telah datang ke rumah Manguri
selagi ayahnya tidak ada di rumah. "Apa katanya?" bertanya Lamat
dengan suara yang dalam. Manguri menggeleng-gelengkan kepalanya "Aku
tidak tahu, apakah aku masih dapat mengharap bantuannya" Lamat tidak
bertanya apapun lagi. Kini ia berdiri saja bersandar dinding batu di
pinggir jalan, sedang Manguri berdiri termangu-mangu. Ia sendiri
tidak mengerti, kenapa ia pergi juga ke rumah Ki Demang malam ini.
"Kita pulang" geramnya kemudian. Dan Lamatpun mengangguk kosong.
Dengan tergesa-gesa mereka kemudian berjalan menyusuri lorong-lorong
yang gelap pulang ke rumah Manguri. Anak muda itu tidak
henti-hentinya mengumpatumpat di sepanjang jalan. Tetapi suaranya
tidak begitu jelas terdengar. Sedang Lamat berjalan saja dengan
kepala tertunduk dalam-dalam. Sementara itu malampun menjadi semakin
dalam. Perlahan-lahan cahaya kemerah-merahan mulai membayang di
ujung Timur, disambut oleh kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan.
Di arena kini terjadi pertemuan yang mengharukan antara Ande-Ande
Lumut dan Kleting Kuning, yang sebenarnya adalah suami isteri Panji
Asmarabangun dan Dewi Candrakirana. Sedang mBok Randa nDadapan
berdiri termangu-mangu menyaksikan anak angkatnya laki-laki, yang
dikenalnya bernama Ande-ande Lumut itu kini telah berubah menjadi
seorang kesatria dan Kleting Kuning yang jelek dan berpakaian kumal
itu menjadi seorang Puteri secantik bidadari" Di sekitar arena
pertunjukan itupun ternyata sudah menjadi semakin sepi. Anak-anak
sudah tidak telaten lagi melihat adegan-adegan berikutnya.
"Perangnya sudah habis" teriak salah seorang dari mereka. "Pulang
saja. Aku sudah kantuk" teriak yang lain tanpa menghiraukan, bahwa
suaranya itu dapat mengganggu tembang para pemain di arena. Beberapa
orang perempuan sibuk mencari anak-anaknya yang terpisah, sedang
ibu-ibu yang menunggui rumah, bangkit dari pembaringannya dan pergi
ke halaman Kademangan untuk mencari anaknya yang belum pulang.
Seorang ibu yang kebingungan mencari anaknya hampir saja menangis.
Pertunjukan itupun akhirnya selesai juga. Halaman itu menjadi kian
sepi. Tetapi anak laki-lakinya yang berumur tujuh tahun belum
diketemukan. Tetapi ketika penabuh gong berdiri dari tempatnya, ia
terkejut. Hampir saja ia jatuh terlentang ketika kakinya menyentuh
tubuh seorang anak yang tertidur tepat di belakangnya. "He, anak
siapa yang tidur disini?" ia berteriak. Ibu yang kebingungan dan
hampir menangis itu berlari-lari mendekatinya. Ternyata anak itu
adalah anaknya yang dicaricarinya. "O ngger, ngger. Hampir pingsan
aku mencarimu" desah ibu itu, yang dengan serta-merta telah
mengangkat anaknya yang tertidur itu sehingga anak itu terkejut
bukan buatan. Tetapi ketika anak itu sudah terbangun, maka tiba-tiba
ibunya membentak "He, semalam suntuk kau tidak pulang he? Sampai
pertujukan sudah selesai, dan semua orang sudah pulang, kau masih
saja tidur mendekur disini? Anak itu tidak menjawab. Diusapknya
matanya, kemudian tertatih-tatih ia berjalan pulang diikuti oleh
ibunya. Ketika suara gamelan sudah tidak terdengar lagi, maka suara
burung-burung yang berkicaupun segera menghias pagi yang mulai
merekah. Sambil berloncatan dari dahan yang besar oleh embun kedahan
yang lain, suaranya memancar seperti pancaran cahaya merah di Timur.
Semakin lama semakin meriah. Sindangsari yang ternyata semalam
suntuk hanya dapat tidur sekejab, segera pergi ke pakiwan uhtuk
membersihkan dirinya. Dengan air wayu, ia mandi untuk menghapus
warna kuning atal di kulitnya. Terasa betapa segarnya air wayu.
Tetapi kemudian ternyata bahwa tubuhnya terasa meriang. Keningnya
menjadi pening, sehingga ia terpaksa untuk berbaring sejenak di
pembaringannya. Sindangsari terkejut ketika tiba-tiba saja pintu
biliknya terbuka. Dilihatnya Nyai Reksatani melangkah masuk. Namun
langkahnyapun kemudian tertegun ketika ia melihat Sindangsari di
pembaringan. "He, sepagi ini kau berbaring mBok ayu?" ia bertanya.
Sindangsari bangkit dan duduk di pinggir pembaringan. Jawabnya
"Kepalaku pening" Tetapi Nyai Reksatanipun tertawa berkepanjangan.
Katanya "Ah, sudah menjadi kebiasaan penganten baru. Pening, panas
dingin, sakit perut dan macam-macam lagi" ia berhenti sejenak, lalu
"kau masih kantuk mBok Ayu?" "Ah?" "Tentu. Akupun begitu juga waktu
itu. Lihat, kakang Demang masih juga t idur di gandok kulon" Dada
Sindangsari berdesir. Ternyata Ki Demang sempat juga tidur. Tidak di
bilik ini, tetapi di gandok kulon. "Kenapa?" ia bertanya kepada diri
sendiri. Tetapi jawaban yang diucapkan "Semalam suntuk ia t idak
masuk ke bilik ini" Suara tertawa Nyai Reksatani seakan-akan
meledak. "He, kenapa kau seperti malu begitu? Jangan berpura-pura.
Itu sudah biasa. Tidak apa-apa" Sindangsari mengerutkan keningnya.
Tetapi ia menjawab lagi. "Silahkan" berkata Nyai Reksatani kemudian
"kau tentu kantuk, lelah dan lungkrah. Memang sebaiknya kau
beristirahat. Penganten baru memang harus banyak beristirahat"
Kata-kata itu benar-benar telah menyentuh perasaan Sindangsari.
Tetapi ia masih bertanya pula "Apakah sudah lajimnya penganten baru
mendapat ejekan dari kawan-kawan dan saudara-saudaranya? Tetapi
maksudnya tentu hanya sekedar bergurau. Tidak lebih" "Lebih baik aku
pergi ke dapur" berkata Nyai Reksatani seterusnya "tugasku,
penganten yang sudah hampir lapuk ini, bekerja di dapur, sedang
penganten baru, sebaiknya berada di pembaringan" Nyai Reksatani
tidak menunggu jawaban. Iapun segera melangkah pergi. Terdengar
kemudian pintu bergerit, dan perempuan itupun hilang di balik
daunnya yang tertutup. Sejenak Sindangsari merenung. Ia tidak tahu
pasti, maksud kata-kata Nyai Reksatani Apakah ia menyindir, atau
sekedar bergurau. "Ah, baik juga aku mendengarkan nasehat
orang-orang tua itu. Sebaiknya kata-katanya aku anggap angin lalu.
Kalau aku menghiraukannya, hatiku akan menjadi semakin sakit" Maka
Sindangsaripun kemudian berbaring kembali, Dipijitpijitnya keningnya
yang sakit, sementara angan-angannya hanyut ke dunia yang asing.
Namun Sindangsari tidak dapat lama berbaring. Ketika matahari
menjadi semakin tinggi, di Kademangan itu telah terjadi
kesibukan-kesibukan baru. Tamu-tamu dari tempat yang jauh
berdatangan. Seorang demi seorang, tidak putusputusnya. Sindangsari,
sebaga. penganten puteri, maupun sebagai isteri Ki Demang terpaksa
menemui mereka, sehingga hampir sehari penuh ia duduk di pringgitan
tanpa dapat bergeser Sedang di pendapa, Ki Demangpun menemui tamunya
berganti-ganti. Sejak ia terbangun dari tidurnya dan membesihkan
dirinya, ia sama sekali t idak sempat meninggalkan tempatnya.
Demikianlah ketika malam datang, dan pertunjukan yang lain
berlangsung, semuanya seolah-olah telah terulang kembali. Duduk di
pringgitan, menemui tamu-tamu dan kemudian mengisi waktunya duduk di
dapur meskipun hanya sekejap beristirahat menjelang pagi. Maka
betapa lelahnya Sindangsari selama tiga hari tiga malam di rumah Ki
Demang, setelah di rumahnya sendiri iapun hampir t idak pernah
beristirahat, sejak hari perkawinannya. Namun yang lebih mengganggu
bagi Sindangsari, sama sekali bukanlah kelelahannya, tetapi sikap
Nyai Reksatani yang kadang-kadang sangat menyakitkan hati. Untuk
mengatakannya ha! itu kepada Ki Demang, Sindangsari masih belum
terucapkan. Tetapi untuk membiarkannya berkepanjangan, hatinya
serasa menjadi semakin pedih. Di hari-hari terakhir dari kerja yang
panjang itu. Nyai Reksatani memang tampak menjadi terlampau sibuk.
Ia harus membenahi semua perkakas yang dipergunakannya selama
berlangsung keramaian tiga hari t iga malam. Alat-alat yang dipinjam
Jari orang lain harus dikembalikannya, sedang alatalatnya Kademangan
sendiri harus dibersihkan dan disimpannya kembali seperti sediakala.
Menghadapi kerja yang sibuk itu, Sindangsari menjadi bingung. Apakah
ia harus membantu, atau justru tidak. Ia merasa bahwa apa yang
dilakukannya serba salah. Ketika ia mencoba membantu menghitung
belanga tembaga, Nyai Reksatani berkata "Jangan mengotori tanganmu
mBok Ayu. Sayang, perempuan secantik kau tidak pantas bekerja di
dapur" Sindangsari mengerutkan keningnya. Dan ia mencoba menjawab
"Aku sudah biasa bekerja di dapur" "Tetapi sebelum kau menjadi Nyai
Demang" sahut Nyai Reksatani yang kemudian menyambungnya "atau
barangkah kau takut kalau barang-barangmu ada yang hilang, pecah
atau aku bawa pulang?" "Ah" Sindangsari berdesah, tetapi tiba-tiba
mulutnya seakan-akan malahan terkunci. Yang dapat dilakukan adalah
menyaksikan Nyai Reksatani bekerja terus tanpa dapat berbuat
sesuatu. Tubuhnya rasarasanya menjadi kejang dan kehilangan cara
untuk menanggapinya. Tetapi di hari berikutnya, Sindangsari hampir
tidak dapat menahan hatinya. Berdasarkan atas sikap Nyai Reksatani
itu, maka Sindangsari memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi.
Ketika Nyai Reksatani menyelesaikan kerjanya, Sindangsari berada
saja di dalambiliknya. "Alangkah manisnya menjadi penganten baru"
berkata Nyai Reksatani sambil menjengukkan kepalanya ke dalam bilik
"kalau lagi berada di dalam biliknya, apapun yang terjadi di luar,
sama sekali tidak menarik perhatian. Biar sajalah orangorang lain
ribut sendiri, mengatur dan membersihkan dapur" Hampir saja
Sindangsari menjerit. Untunglah ia masih dapat menahan hati.
Ditenangkannya sendiri perasaannya. Katanya di dalam hati "Perempuan
itu tidak akan selamanya tinggal di rumah ini" Tetapi tiba-tiba
Sindangsari itupun menjadi semaian berdebar-debar. Semalam di
Kademangan ini sudah hampir tidak ada tamu lagi. Pertunjukan di
halaman sudah selesai. Namun Ki Demang sama sekali tidak ada di
dalam bilik ini. Ia hanya menjenguk, kemudian meninggalkannya
berbaring seorang diri. Sindangsari menjadi semakin bingung
menanggapi isi Kademangan ini. Namun demikian ia berjanji, bahwa
lambat laut ia akan mencoba menyesuaikan dirinya. Tetapi yang paling
mencemaskannya adalah keadaan dirinya sendiri. Sampai pekan yang
kedua telah lawat, ia masih belum dapat meyakinkan dirinya, bahwa Ki
Demang sebenarnya masih belum mengerti, apa yang telah terjadi
sebelum hari-hari perkawinan itu. Namun hal itulah yang justru
membuatnya selalu gelisah. "Mungkin masih ada satu dua orang tamu
yang harus dilayaninya "Sindangsari mencoba menghibur dirinya
sendiri. Namun kalau teringat olehnya tingkah laku Ki Demang di
rumahnya, di malam-malam yang tertuang, setelah tiga hari tiga malam
menunggui keramaian, debar jantungnya justru menjadi semakin cepat.
Meskipun tanpa keikhlasan hati, ia sudah pasrah, apapun yang akan
terjadi atas dirinya. Justru semakin cepat semakin baik. Dosa yang
membebani perasaannya, tidak akan dapat terlampau lama disimpannya.
Tetapi malam-malam itu berlalu begitu saja tanpa kesan apapun. Dan
Sindangsari masih tetap dibebani oleh kegelisahan karena noda yang
telah melekat pada dirinya. Ketika malam berikutnya mendatangi
Kademangan Kepandak, maka suasana rumah itu sudah menjadi jauh
berbeda. Tratak-tratak sudah dibuka, dan dinding-dinding yang
dilepas sudah dipasang kembali. Di pendapa sama sekali sudah tidak
ada tamu lagi selain para peronda yang duduk di tangga. Dengan kaku
Sindangsari duduk di pringgitan bersama Ki Demang dan adiknya, suami
isteri. "Kami berdua akan mohon diri kakang" berkata Ki Reksatani
"sekian lama kami berdua berada di Kademangan, terutama isteriku,
bahkan dengan anak-anak" "Akulah yang seharusnya mengucapkan
diperbanyak terimakasih. Kalian berdua sudah menyelenggarakan
perayaan perkawinan kami dengan baik" "Itu adalah kewajiban kami"
sahut Nyai Reksatani. "Kalau t idak ada kalian, maka semuanya pasti
tidak akan dapat berjalan dengan lancar" berkata Ki Demang kemudian
"sejak kami berdua masih berada di Gemulung, kalian berdua sudah
bekerja keras siang dan malam" Ki Reksatani tersenyum. Katanya "Pada
suatu saat kamilah yang akan minta tolong kepada kakang Demang
berdua" "Tentu kami t idak akan berkeberatan" jawab Ki Demang. Ki
Reksatani suami isteri itupun kemudian minta diri. Mereka merasa
bahwa tugas mereka sudah selesai dan mereka sudah tidak diperlukan
lagi berada di Kademangan. "Kenapa tergesa-gesa?" bertanya Ki
Demang. "Saat-saat berikutnya, kami hanya akan mengganggu saja"
sahut adiknya. "Ah, kau? gumam Ki Demang. Namun wajahnyapun kemudian
berkerut sejenak. "Lain kali kami akan datang menengok kakang
berdua" berkata Ki Reksatani "anak-anak sudah pulang lebih dahulu
bersama pengasuhnya. Kalau kami tidak pulang malam ini, mereka pasti
akan merengek sepanjang malam" Maka Ki Reksatani itupun kemudian
meninggalkan rumah Kademangan pulang ke rumah mereka sendiri. "Nyai"
berkata Ki Reksatani setelah mereka meninggalkan halaman Kademangan
"apakah usahamu berhasil? Tampaknya Sindangsari mempunyai kesan yang
baik atas rumah ini. Menilik hubungannya dengan Pamot saat itu, maka
malammalam pengantinnya pasti akan selalu dibasahi oleh air matanya.
Tetapi ternyata sama sekali tidak. Dan apakah kau tidak dapat
membuatnya marah atau kesal?" "Akulah yang menjadi kesal" sahut
isterinya "tetapi tentang hubungannya dengan Pamot, memang sangat
mengherankan. Banyak sekali orang yang membicarakannya. Pada saat
itu, seolah-olah Sindangsari sudah tidak akan dapat berpisah lagi
dari anak muda itu. Tetapi ternyata Sindangsari terlampau cepat
melupakannya" Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Rumah yang
besar, perabot yang cukup, telah membelokkan kenangan Sindangsari
atas Pamot. Malanglah nasib anak muda itu. Mungkin Pamot sampai saat
ini masih selalu dibayangi oleh wajah Sindangsari. Tetapi ternyata
Sindangsari sedang menikmati malam-malampengantinnya" "Apakah
perempuan yang demikian termasuk perempuan yang tidak setia menurut
penilaianmu?" bertanya isterinya. Ki Reksatani mengangkat bahunya
"Aku tidak mengerti. Mungkin ia memang perempuan yang tidak setia.
Cintanya cepat hanyut oleh harta dan benda-benda lahiriah. Tetapi
mungkin juga ia justru seorang gadis yang sudah berhasil menguasai
perasaannya dengan nalarnya. Dengan tabah ia melihat kenyataan,
bahwa ia tidak akan dapat memilih jalan yang lain" Isterinya
mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya "Lalu bagaimana pertimbangan
kakang sekarang?" Ki Reksatani tidak segera menjawab. Ia berjalan
lambil menundukkan kepalanya. Sekali-sekali ia menarik nafas
dalam-dalam, lalu berdesah panjang. "Kita hanya dapat menunggu
perkembangan keadaan" berkata Ki Reksatani kemudian "sudah lima kali
kakang Demang kawin. Hampir semuanya adalah perempuanperempuan yang
masih terlalu muda. Tetapi kelimanya tidak mempunyai keturunan.
Kalau ketiadaan keturunan itu disebabkan oleh kemandulan
isteri-Isterinya, maka aku kira tidak akan lima orang semuanya
kebetulan mandul" Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mudah-mudahan Sindangsaripun tidak akan dapat memberikan keturunan
kepada suaminya apapun sebabnya, agar aku tidak usah mengambil jalan
yang sulit untuk memotong garis keturunan kakang Demang dan
memindahkan kegaris keturunanku sendiri" berkata Ki Reksatani
kemudian. Isterinya tidak menjawab Namun kalau mula-mula ia tidak
begitu tertarik kepada ceritera tentang kedudukan. Demang di
Kepandak, lambat laun ia mulai memikirkannya. "Alangkah senangnya
kalau salah seorang anak-anakku kelak akan menjadi seorang Demang di
Kepandak. Hampir setiap niatnya dapat dipenuhi. Bahkan kawin untuk
keenam kalinya dengan seorang gadis yang masih remaja" berkata Nyai
Reksatani di dalam hatinya. Di Kademangan, sepeninggal Nyai
Reksatani, Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Dadanya serasa
menjadi lapang. Perempuan yang jauh lebih tua dari padanya itu, dan
yang memanggilnya mBok Ayu karena ia kawin dengan kakak iparnya,
telah membuat katinya selama ini menjadi bertambah-tambah pedih.
Kepergiannya akan dapat mengurangi sakit hatinya oleh kata-katanya
yang tajamseperti ujung duri. Namun dengan demikian, Kademangan itu
kini menjadi sepi. Yang ada di ruang dalam hanyalah Ki Demang dan
Sindangsari. Beberapa orang pembantunya selalu ada di belakang, dan
hanya masuk ke dalam apabila ada sesuatu yang harus dikerjakannya.
Dengan demikian, maka ketika Ki Reksatani suami isteri itu telah
meninggalkan rumah Kademangan, tinggallah Ki Demang duduk berdua
saja di ruang lengan dengan Sindangsari. Karena itu, maka suasanapun
menjadi kaku. Sindangsari hanya dapat menundukkan kepalanya, sedang
Ki Demang setiap kali hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
Ki Demang tidak membiarkan kekakuan suasana itu kemudian menjadi
tegang. Sehingga karena itu, maka ia telah berkata sekenanya "Apakah
kau lelah Sari?" Dada Sindangsari tiba-tiba saja menjadi
berdebar-debar. "Apakah kau tidak ingin tidur?" Sindangsari
menganggukkan kepalanya dan menjawab dengan suarau gemetar "Ya, aku
akan tidur" "Tidurlah. Aku akan menyelarak pintu-pintu" Dada
Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Sekilas terbayang wajah
Pamot di saat terakhir mereka bertemu. Seolah-olah terasa kehangatan
nafasnya menyentuh lehernya yang jenjang. Sedang dekapan tangannya
yang kuat, rasarasanya tidak akan terurai untuk seumur hidupnya.
Tetapi Pamot kini tidak ada lagi. Yang ada, dan yang akan
menggantikan tempatnya adalah seorang laki-laki yang jauh labih tua
daripadanya. Ki Demang di Kepandak. Kulit di seluruh tubuh
Sindangsari meremang karenanya Tetapi ia tetap menyadari keadaannya
dan kenyataan yang di hadapinya. Karena Sindangsari masih belum
beranjak dari tempatnya, maka Ki Demang mengulanginya "Sari. Kau
tentu lelah sekali. Tidurlah. Semua orang yang ikut di
dalamperalatan kita sudah sejak malam kemarin beristirahat
sepenuhnya. Agaknya kau masih belum mendapatkan kesempatan itu"
Sindangsari menganggukkan kepalanya, katanya lirih "Ya. Aku akan
tidur Ki Demang" Sindangsaripun kemudian bangkit berdiri.
Perlahan-lahan ia berjalan meninggalkan pringgitan masuk ke ruang
dalam dan langsung ke biliknya. Tetapi karena ia merasa, bahwa Ki
Demang selalu memandanginya, maka langkahnyapun menjadi semakin
berat. Namun dengan demikian, tanpa disengaja, langkah Sindangsari
bagaikan lambaian tangan, memanggil Ki Demang untuk mengikut inya.
"Hem" Ki Demang berdesah sambil meraba janggutnya. Ketika
Sindangsari sudah hilang di balik pintu, maka Ki Demangpun segera
berdiri pula. Dengan langkah yang berat ia pergi menyelusuri semua
pintu, melihatnya sekali lagi, kalau pembantunya kurang teliti
memasang selarak. Baru sejenak kemudian ia melangkah dengan kaki
yang teramat berat memasuki biliknya. Dadanya bergelora ketika ia
melihat Sindangsari sudah terbaring di tempatnya. Seperti yang
dilihatnya ketika ia masih ada di Gemulung. Sindangsari itu bagaikan
golek yang cantik tiada tara bandingnya. Perlahan-lahan Ki Demang
itupun mendekatinya. Desir langkahnya membuat jantung Sindangsari
semakin cepat berdentang. Tetapi kini ia tidak mau membuat hati
laki-laki itu menjadi sakit. Karena itu, dipaksanya juga tubuhnya
bangkit dan duduk ditepi pembaringannya. Namun demikian, mulutnya
seakan-akan masih saja tersumbat. "Kau belum tidur?" bertanya Ki
Demang yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan. Sejenak
Sindangsari berusaha menguasai perasaannya. Namun kemudian terlontar
jawabnya "Belum Ki Demang" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Selangkah ia maju, namun kemudian iapun berdiri mematung.
Sindangsari duduk dengan wajah yang tunduk. Debar jantungnya telah
membuat tubuhnya menjadi gemetar pula. Apalagi ketika ia mendengar
langkah Ki Demang mendekat. Tanpa sesadarnya ia telah berkisar
sejengkal ketika Ki Demang duduk di sebelahnya. Sejenak mereka
berdua saling berdiam diri. hanya nafas meraka sajalah yang
terdengar saling memburu. Dalam keheningan itulah kemudian terdengar
Ki Demang bertanya "Sindangsari, apakah kau kerasan tinggal disini?"
Sindangsari t idak menyangka bahwa ia akan mendapat pertanyaan itu.
Karena itu, maka sekenanya saja ia menjawab "Ya, Ki Demang. Aku
kerasan" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba
ia mengerutkan keningnya "Apakah kau berkata sebenarnya?" "Aku
berkata sebenarnya" Sindangsari menjadi heran. Ki Demang memalingkan
wajahnya. Kini dipandanginya sinar lampu minyak yang terletak pada
ajug-ajugnya yang melekat dinding. "Kau berbohong Sindangsari?"
suara Ki Demang menjadi dalam sekali. Namun demikian kata-kata itu
telah mengguncang dada Sindangsari. "Kau pasti merasa terpaksa
tinggal di rumah ini. Kau merasa bahwa aku telah merampas
kebebasanmu. Sindangsari t idak menyahut. "Benarkah begitu?"
Sindangsari masih tetap berdiam diri. "Tetapi aku memang terlampau
cinta padamu. Sejak aku melihat kau untuk yang pertama kalinya, aku
merasa sangat tertarik kepadamu" Sindangsari menjadi semakin tunduk
karenanya. "Kau memang cantik sekali" Selapis warna merah membayang
di pipi Nyai Demang yang masih terlampau muda itu. Tetapi kemudian
ia terperanjat, sehingga ia tergeser pula sejengkal "Apakah kau
masih teringat kepada Pamot?" Pertanyaan itu telah mengorek luka di
hatinya. Tetapi Sindangsari tetap bertahan, agar ia tidak menitikkan
air matanya meskipun hanya setetes. "Apakah kau masih selalu
membayangkannya?" Sindangsari tiba-tiba mengatupkan giginya
rapat-rapat, untuk mengungkat keberanian yang ada di dalam dirinya.
Sejenak kemudian iapun menjawab "Ki Demang. Aku memang masih
teringat kepada kakang Pamot kadang-kadang. Bukankah itu wajar,
seperti aku teringat kepada ibu, kepada kakek dan nenek. Kepada
orang orang yang pernah aku cintai?" Sindangsari berhenti sejenak
"tetapi aku sekarang sudah ada disini. Aku sekarang adalah isteri Ki
Demang" suaranya terputus oleh serak dikerongkongannya. Hampir saja
ia tidak dapat bertahan lagi. Namun akhirnya ia berhasil juga
setelah menahan nafas beberapa saat lamanya. "Tetapi, apakah kau
pada suatu saat akan dapat mencintai aku?" Terasa darah Sindangsari
menjadi semakin cepat mengalir. Sebuah pertanyaan tiba-tiba
terbersit di hatinya ".....Apakah kepada isteri-isterinya yang
terdahulu Ki Demang bertanya seperti ini pula? Atau barangkali
karena isteri-isteri yang terdahulu belum pernah berhubungan dengan
laki-laki lain?" Namun tiba-tiba hatinya melonjak "Apakah Ki Demang
sedang menyindir aku, karena ia mengetahui, apa yang telah terjadi"
Tiba-tiba hatinya meronta. Kenapa Ki Demang itu Sidak berterus
terang saja mengatakan apa yang sebenarnya dikehendaki? Kenapa Ki
Demang dengan perlahan-lahan sengaja menyakit i hatinya? Inikah yang
sebenarnya dikehendakinya?" Tetapi ia menjadi bertambah bingung
ketika Ki Demang kemudian berkata "Sindangsari. Mungkin hari ini kau
belum dapat mencintai aku. Tetapi kalau kita menjadi terbiasa dalam
satu hubungan yang tidak sekedar hubungan badaniah, maka perasaan
itu akan tumbuh dengan sendirinya. Seperti ayah dan ibumu dahulu,
mungkin mereka sama sekali belum mengenal sebelumnya ketika mereka
kawin. Tetapi akhirnya lahir pula kau" Sindangsari tiba-tiba pula
menganggukkan kepalanya dan berkata "Aku mengerti Ki Demang. Dan aku
sudah mencoba menyesuaikan diriku dengan kenyataan ini. Aku memang
mengharap bahwa kita akan mempunyai anak kelak" Wajah Ki Demang
menjadi tegang sejenak. Lalu "Bohong kau Sari. Bohong" Sindangsari
menjadi bingung "Kenapa aku berbohong? Apakah aku dapat berbuat lain
dari menerima hal ini sebagai suatu kenyataan?" Wajah Ki Demang
menjadi semakin tegang. Namun sebaliknya daripada itu, perlahan
lahan Sindangsari menemukan kemantapan sikap menghadapi orang yang
selama ini dirasanya aneh. "Tetapi aku tidak percaya" Ki Demang
hampir berteriak "kau hanya berusaha menyenangkan hatiku" "Tidak Ki
Demang. Aku berkata sebenarnya. Aku adalah isteri Ki Demang"
suaranya tiba-tiba menjadi gemetar. Hampir saja ia tidak kuasa
mengucapkannya, seandainya tidak ada desakan yang lebih dahsyat dari
dalam dirinya. Kecemasannya tentang noda yang ada di dalam dirinya,
sehingga terloncat pula kata-katanya "Sebagai seorang isteri aku
harus melakukan segala kewajibanku sebaik-baiknya " Tubuh Ki Demang
menjadi bergetar karenanya. Dadanya menjadi bergelombang semakin
cepat, secepat detak jantungnya yang panas. Tetapi Ki Demang untuk
sejenak terdiam. Meskipun demikian Sindangsari dapat merasakan,
bahwa pembaringannya bergetar. Meskipun Sindangsari masih terlampau
muda. tetapi ia tidak pernah membayangkan, bahwa Ki Demangpun
menjadi gemetar seperti anak-anak muda. Seperti pada saat Pamot
pertama kali menyentuh kulitnya. Seperti Pamot sesaat sebelum
kehilangan pengamatan dirinya dan seperti dirinya sendiri di
saat-saat nafas kegadisannya terguncang. Diantara desah nafasnya
yang semakin cepat Ki Demang berkata "Apakah kau berkata sebenarnya
Sari, sebenarnya bahwa kau akan mencoba mencintai aku dan sudah
tentu akan melupakan Pamot?" Sindangsari menganggukkan kepalanya.
"Jangan kau berpura-pura" "Aku tidak berpura-pura Aku memang sedang
berusaha seperti yang aku katakan. Karena itulah kenyataan yang aku
hadapi" "Aku tidak memerlukan kata-katamu melulu" Jantung
Sindangsari serasa berdesir. Tetapi segera ia berusaha menguasai
dirinya dengan nalar. Dicobanya untuk mengendalikan perasaannya
sejauh-jauh dapat dilakukannya. Betapa dahsyat guncangan-guncangan
yang melanda dinding dadanya, tetapi ia mencoba menjelaskan kepada
diri sendiri "Kecemasanmu tentang noda yang ada di dalam dirimu
harus dibatasi. Sekarang saatnya kau mengakhirinya. Apapun yang akan
terjadi" Sejenak Sindangsari membeku di tempatnya, namun di dalam
dadanya telah terjadi pergumulan yang dahsyat. Perasaannya melawan
nalarnya. Namun akhirnya Sindangsari tidak menemukan sikap yang
mantap. Ia hanya sekedar menundukkan kepalanya tanpa berbuat
sesuatu. "Sari" suara Ki Demang menjadi semakin gemetar "apakah kau
tidak hanya sekedar bermain dengan Kata-kata?" Kini Sindangsari
menghentakkan dirinya. Perlahan-lahan hampir tidak terdengar ia
berkata sejauh dapat diucapkan "Apakah yang kau kehendaki Ki Demang,
semuanya adalah hakmu" Dada Ki Demang berguncang dengan dahsyatnya.
Sejengkal ia bergeser mendekati Sindangsari sambil berdesis "kau
tidak akan ingkar?" Sindangsari menggeleng "Aku tidak akan ingkar"
Nafas Ki Demang menjadi semakin cepat mengalir, sedang seluruh
tubuhnya telah basah oleh keringat Ditatapnya wajah Sindangsari
tajam-tajam, seolah-olah isterinya itu akan ditelannya bulat-bulat.
Namun tiba-tiba ia meloncat berdiri sambil menggeram "Tidak, tidak"
Sindangsari terkejut. Tanpa sesadarnya ia berdiri "Ki Demang. Apakah
yang telah terjadi" Dengan serta-merta Ki Demang itu menangkap kedua
lengan Sindangsari. Diguncang-guncangnya gadis itu sambil berkata
"Kau bohong. Kau bohong dan berpura-pura. Disini kau menerima aku,
tetapi aku tidak tahu apa yang bermain di dalam angan-anganmu? Kau
pasti tidak melihat aku sebagai Demang di Kepandak Kau hanya
mempergunakan aku sebagai peraga angan-anganmu yang memuakkan dan
penuh dengan dosa itu" "Ki Demang" Sindangsari menjadi semakin
bingung "apakah maksudmu? Apakah kau ingin mengatakan bahwa…" "Ya"
"Ki Demang" Ki Demang memandang Sindangsari dengan tajamnya Lengan
Sindangsari masih dipegangnya erat-erat. Namun sejenak kemudian
tangannya menjadi seakan-akan kehilangan kekuatan. Dilepaskannya
lengan Sindangsari sambil berkata "Sari, kau berhak berbuat apa saja
dengan angan-anganmu. Tidak ada seorangpun yang akan dapat
mengetahuinya" Kini Sindangsari berdiri dengan gemetar. Mulutnya
menjadi seolah-olah terkunci. Ia menunggu saja apa yang akan
dikatakan Ki Demang selanjutnya tentang dirinya. Tentang noda dan
dosa yang telah melumuri tubuhnya tentang keperempuanannya yang
kehilangan trapsila. Tentang semuanya. Tetapi Ki Demang t idak
menyebutnya satu demi satu. Ternyata yang dikatakan oleh Ki Demang
adalah "Tetapi itu bukan salahmu Sari. Aku memang sudah mengetahui,
bahwa kau mencintai Pamot. Seharusnya aku tidak menjadi heran, bahwa
kau tidak akan dapat melupakannya" Sindangsari mengerutkan
keningnya. Ia benar-benar merasa berhadapan dengan seorang laki-laki
yang tidak dapat dimengertinya. Sehingga katanya di dalam hati
"Macam inikah sebabnya maka tidak seorangpun yang dapat menjadi
isteri Ki Demang untuk waktu yang cukup lama?" Dan dalam
keraguraguan ia berkata terus di dalam dirinya "Tetapi apakah
gunanya meninggalkannya. Aku tidak akan dapat kembali kepada Pamot.
Kalau pada suatu saat Ki Demang sudah berhasil menenangkan dirinya,
maka aku tidak berhak lagi mengharap Pamot kapanpun juga" Namun
Sindangsari terkejut ketika ia mendengar Ki Demang menggeram.
Seperti orang yang sedang diamuk oleh persoalan yang paling sulit di
dalam hidupnya, Ki Demang menjadi gugup. Tetapi akhirnya ia berkata
"Tidurlah Sari. Sayang bahwa malam ini aku mempunyai tugas yang
banyak. Aku harus pergi ke padukuhan-padukuhan yang sudah lama tidak
aku lihat" Sindangsari memandang laki-laki itu dengan herannya.
Bahkan sejenak ia justru terbungkam. "Tidurlah" "Ki Demang" desis
Sindangsari "apakah sebenarnya yang kau kehendaki dariku "tanpa
sesadarnya Sindangsari telah melontarkan pertanyaan yang membelit
hatinya. Ki Demang menggelengkan kepalanya "Malam ini aku ter lampau
sibuk" Terasa sesuatu bergejolak di dalam dada Sindangsari. Ia
merasa tidak lagi dapat menguasai keadaan. Di dalam kecemasannya ia
bertanya "Tetapi, tetapi, apakah semuanya itu tidak akan dapat
ditunda sampai besok atau bahkan lusa?" "Itu kewajibanku Sari"
"Tetapi Ki Demang juga mempunyai kewajiban lain. Kewajiban sebagai
seorang suami" "Diam. Diam" tiba-tiba Ki Demang membentak "itu
adalah persoalanku pribadi. Tidak ada seorangpun yang dapat memaksa,
kapan aku harus buat sebagai seorang suami. Bahkan seandainya aku
tidak berbuat apapun sebagai seorang laki-laki. tidak seorangpun
yang dapat menuntut. Aku adalah seorang Demang yang paling berkuasa
di Kepandak" Tiba-tiba Sindangsaripun dilanda oleh kecemasan yang
dahsyat. Sehingga di luar sadarnya ia berkata "Tetapi itu tidak
adil" "Diam, diam kau" mata Ki Demang menjadi merah. Dan
Sindangsaripun masih juga menjawab "Tetapi Ki Demang, bukankah Ki
Demang t idak merencanakan untuk pergi malam ini? Bukankah hanya
dengan tiba-tiba saja Ki Demang merasa perlu untuk meronda? Kalau Ki
Demang memang telah merencanakan hal itu, maka Ki Demang tidak akan
menyelarak semua pintu-pintu dan memadamkan lampu tengah" "Tutup
mulutmu" Ki Demang menjadi marah. Penyakitnya tiba-tiba pula telah
menjangkiti dirinya. Penyakit marahnya. Katanya "Kau tidak berhak
mengatur aku. Kau tidak berhak" Seperti yang sering dilakukan, Ki
Demang bahkan kadangkadang menyakiti isteri-isterinya yang terdahulu
apabila gejolak yang demikian telah merambati hatinya. Seakan-akan
ada sesuatu yang tertahan di dalam gelora dadanya yang panas. Namun
yang meluap adalah sifat-sifatnya yang kasar dan bahkan liar. Betapa
takutnya Sindangsari melihat Ki Demang yang tibatiba saja telah
berubah. Matanya yang merah dan wajahnya yang tegang telah membuat
Sindangsari gemetar, Di bagian belakang Kademangan itu, dua orang
perempuan duduk dengan hati yang berdebar-debar pula. Mereka adalah
pembantu Ki Demang, dan yang seorang adalah perempuan yang melayani
Sindangsari di saat-saat perkawinannya. "Apakah hal yang serupa akan
terjadi lagi?" perempuan setengah tua itu berbisik. Pelayan Ki
Demang tidak menjawab. Tetapi wajahnya tampak menjadi suram.
"Beberapa kali selalu saja hal itu terulang. Di hari-hari
perkawinannya Ki Demang selalu bertengkar dengan isteriisterinya.
Tetapi kali ini agaknya aku mengharap terjadi perubahan di
dalamdirinya. Belum lagi ia terdiam, ia mendengar sesuatu di ruang
dalam. Sesuatu yang tidak jelas. "Hem" ia menarik nafas dalam-dalam.
Sebenarnyalah bahwa Ki Demangpun waktu itu sudah bertengkar pula
dengan Sindangsari. Apalagi Sindangsari sendiri dibebani oleh noda
di dalamdirinya. Ia ingin egera mengakhiri kecemasan yang selalu
mengombang-ambingkan perasaannya. Namun ia tidak segera dapat
berhasil. Tetapi wajah Ki Demang yang merah itu telah membuatnya
sangat ketakutan. Dengan serta-merta ia memutar tubuhnya
membelakangi Ki Demang sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak
tangannya "O" suaranya terputus oleh sesak nafasnya. Ki Demang
berhenti selangkah di belakang Sindangsari. Tiba-tiba ia menyadari
keadaannya Karena itulah maka iapun menarik nafas dalam-dalamuntuk
menenangkan hatinya. Sejenak kemudian dipaksanya dirinya berkata
"Maaf Sari. Aku tidak ingin menyakiti hatimu. Tidurlah. Aku adalah
seorang Demang. Kau harus menyadari, bahwa kau adalah isteri seorang
Demang, sehingga kadang-kadang aku memang harus meninggalkan rumah
ini di malam hari" Ki Demang tidak menunggu Sindangsari menyahut. Ia
sadar, bahwa darahnya mudah sekali melonjak. Apalagi justru di
saat-saat seperti ini. Sehingga dengan demikian, iapun segera
melangkah pergi meninggalkan bilik itu. Sejenak kemudian Sindangsari
mendengar selarak pintu terbuka dan daun pintu lereg yang bergerit.
"O" tiba-tiba saja Sindangsari telah membanting dirinya di
pambaringannya. Ia tidak dapat menahan tangisnya lagi yang kemudian
mengalir seperti bendungan yang pecah. "Beginilah Ki Demang
memperlakukan isteri-isterinya? "pertanyaan itu selalu
melonjak-lonjak di dalam dadanya. Demikianlah, seperti pada
malam-malam sebelumnya, Sindangsari tergolek di pembaringannya
seorang diri. Bahkan seorang diri di dalam rumah Kademangan yang
besar. Pembantu-pembantu Ki Demang berada di belakang, sedang para
peronda berada di luar. Di malam yang sepi itu, isak tangis
Sindangsari telah menyentuh perasaan perempuan tua yang duduk di
longkangan belakang. Ia tidak menghiraukan lagi embun yang mulai
menitik. Perasaan iba telah melonjak-lonjak di hatinya. Perempuan
itu terkejut ketika pembantu Ki Demang menegurnya "Kenapa Nyai
berada disitu?" "Kemarilah" bisiknya "dengarlah. Apakah suara itu
suara isak tangis?" Pelayan itupun mendekat. Kepalanyapun kemudian
terangguk-angguk kecil "Ya. Isak yang ter tahan-tahan" "Kasihan,
Kasihan Sindangsari. Ki Demang harus menyadari bahwa isterinya kali
ini adalah seorang gadis yang lain dari isteri-isterinya yang
terdahulu" Kedua perempuan yang kini telah melekatkan dirinya pada
dinding ruang dalam itu menjadi bersedih pula. Beberapa kali mereka
mengalami hal yang serupa. Bahkan pernah Ki Demang tidak dapat
mengendalikan kemarahannya dan menyakit i isterinya. "Kasihan,
kasihan" desis perempuan itu. Sementara itu Ki Demang bersama dua
orang peronda telah berjalan dengan tergesa-gesa keluar halaman
Kademangan, seakan-akan sesuatu telah mengejarnya. Semakin cepat Ki
Demang melangkah, maka ia merasa semakin gelisah, karena ia tidak
segera berhasil membebaskan dirinya dari kejaran perasaannya
sendiri. "Persetan dengan perempuan itu" ia menggeram di dalam
hatinya "Aku adalah seorang Demang yang bertanggung jawab atas
keselamatan seluruh Kademangan. Aku tidak harus sekedar memikirkan
seorang isteri yang betapapun cantiknya. Keselamatan Kademangan ini
lebih penting dari segalagalanya" Dan Ki Demangpun kemudian
melangkah lebih cepat lagi. sehingga kedua peronda yang mengawaninya
menjadi terheran-heran. Mereka berlari-lari kecil mengikut i langkah
Ki Demang yang semakin lama menjadi semakin cepat. Ketika mereka
sampai di gardu peronda di ujung desa, maka sebelum para peronda itu
menyapa. Ki Demang sudah berteriak "He, kenapa kalian tidur saja?
Apa gunanya kalian berada disini kalau kalian hanya sekedar akan
tidur. Pulang saja. Tidak ada gunanya dipasang peronda-peronda yang
hanya berpindah tidur dari rumahnya ke gardu ini" Para peronda di
gardu itu terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa t iba-tiba saja Ki
Demang marah-marah kepada mereka. Salah seorang mencoba memberi
penjelasan "Ki Demang. Hanya sebagian dari kami yang tidur di gardu
ini. Kami memang sengaja membagi tugas. Sedang mereka yang tidak
sedang bertugas kami perkenankan untuk t idur disini" Ki Demang
mengerutkan keningnya. Namun kemarahan yang ada sejak ia berada di
rumahnya itu masih juga tertuang "Tetapi kebetulan saja aku lewat.
Kalau tidak, maka yang lainpun pasti akan segera menyusul tidur
pula" Tidak seorang lagi yang berani menjawab. Mereka menundukkan
kepala mereka sambil menahan hati. "Hati-hatilah" berkata Ki Demang
"malam ini aku akan lewat lagi di muka gardu ini. Kalau kalian tidur
semua aku bakar gardu ini seisinya " Ki Demang tidak menunggu
jawaban lagi. lapun melanjutkan perjalanannya dari satu padukuhan
kepadukuhan yang lain. Para peronda yang ditinggalkannya saling
berpandangan sejenak. Salah seorang berdesis "Kenapa Ki Demang
tiba-tiba saja marah-marah?" Kawannya menggeleng-gelengkan
kepalanya. Jawabnya "Entahlah, Kita semuanya tidak tahu. Mungkin
memang ada peronda di gardu-gardu yang semuanya jatuh tertidur,
sehingga membuatnya marah-marah. Sampai di gardu ini, kemarahan itu
masih juga dibawanya" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala
mereka yang sudah terbangun dari tidurnyapun tidak berani lagi
berbaring. Mereka berjalan-jalan saja hilir mudik di muka gardu.
"He, kau lihat manggis di rumahku sedang berbuah? Mari siapa yang
ingin makan manggis untuk mencegah kantuk" "Uh, aku t idak mau sakit
perut. Malam-malambegini makan manggis" sahut yang lain "kalau ada
ketela pendem, mungkin aku akan mempertimbangkannya" "Aku akan
mengambil ke rumah sebentar" seorang yang lain menyahut. Demikianlah
maka para peronda itu telah membuat kesibukan untuk mencegah agar
mereka tidak menjadi kantuk dan apalagi tertidur bersama-sama. Malam
itu agaknya telah benar-benar mencemaskan bagi Sindangsari. Apabila
malam-malam yang demikian selalu terulang maka ia akan menjadi
semakin tersiksa karenanya. Tetapi tidak ada yang dapat dilakukan
oleh Sindangsari, selain mengadu kepada dirinya sendiri sambil menit
ikkan air mata. Meskipun di Kademangan itu sudah tidak ada peralatan
dan tidak ada pertunjukan apapun, namun malam itu Sindangsari masih
juga tidak dapat tidur. Ia benar-benar telah dicengkam oleh
kegelisahan dan kecemasan. Bahkan karena kebingungan yang meledak di
kepalanya. Sindangsari telah jatuh ke dalam suatu rencana yang tidak
terpuji bagi seorang perempuan. Demikianlah, maka hari-hari
berikutnya sama sekali tidak menarik bagi Sindangsari. Ia melayani
Ki Demang tanpa hati. Menyediakan makan, minum dan
keperluan-keperluannya yang lain. Noda pada dirinya telah memaksanya
menunggu, kapan malam akan datang lagi. Betapapun lambatnya, namun
akhirnya, Kepandak telah disaput oleh gelapnya malam yang turun
perlahan-lahan. Ketika lampu-lampu di rumah Ki Demang telah menyala,
maka degup jantung Sindang-saripun terasa menjadi semakin cepat.
"Aku harus meyakinkan Ki Demang, bahwa aku memang mengharapkannya"
berkata Sindangsari kepada dirinya sendiri. Tetapi iapun tidak juga
dapat berbohong, bahwa ia tidak berbuat hal itu dengan sejujur
hatinya. Demikianlah ia pergi mendahului Ki Demang masuk ke dalam
biliknya. Kebingungan dan kecemasan yang memuncak telah membuatnya
hampir berputus-asa, bahwa ia akan berhasil menyembunyikan dosanya.
Ketika ia mendengar Ki Demang, Sindangsari menunggunya dengan
gemetar. Tanpa berkedip ia memandang pintu yang kemudian bergerak
perlahan-lahan. Dengan ragu-ragu Ki Demang melangkahkan kakinya
memasuki bilik itu. Ia tertegun ketika ia melihat Sindangsari yang
duduk di pinggir pembaringannya. Sindangsari yang sedang
berputus-asa dan kehilangan pikirannya yang bening, karena ia selalu
dikejar-kejar oleh pengakuan dosa di dalam hatinya. "He, apa yang
kau lakukan?" Ki Demang hampir berteriak. "Tetapi, tetapi aku tidak
tahu kalau Ki Demang akan masuk" "Kau tidak menggerendel pintu"
Sindangsari tidak segera menyahut. Sejenak ia duduk membeku di
tempatnya, namun kemudian ia berdesis "Aku sedang berganti pakaian"
Ki Demang berdiri saja seperti patung. Tetapi wajahnya tiba-tiba
telah berubah. Semakin lama menjadi semakin merah dan tegang.
Sindangsaripun telah benar-benar kehilangan akal. Ia tidak lagi
memikirkan kepantasan trapsilanya. Bahkan iapun kemudian berdiri
sambil berkata "Ki Demang, jangan dit inggal aku sendirian. Aku
takut" Tubuh Ki Demang kini bergetar seperti orang yang kedinginan.
Ketika Sindangsari maju selangkah lagi, Ki Demang itu kemudian
mundur sambil berkata lantang "Berhenti. Berhenti disitu. Kalau kau
maju lagi, aku bunuh kau" Sindangsari terkejut mendengar suara Ki
Demang. Meskipun ia sendiri seakan-akan telah kehilangan nalarnya
yang wajar, namun ia masih juga dipengaruhi oleh perasaan takut
melihat sikap dan sorot mata Ki Demang di Kepandak. "Ki Demang"
berkata Sindangsari kemudian "sudah berapa hari kita menjadi suami
istri. Tetapi sikap Ki Demang tidak dapat aku mengerti. Aku sudah
mencoba menyesuaikan diriku sebagai seorang isteri. Tetapi Ki Demang
tidak berbuat sebagai seorang suami" "Cukup. Cukup" Ki Demang
berteriak "sudah enam kali aku kawin Sari. Aku kira kau adalah
isteriku yang paling baik, yang paling cantik, dan yang paling
sopan. Tetapi ternyata kau adalah isteriku yang paling kasar. Yang
paling jauh dari sopan santun seorang perempuan. Mungkin pengaruh
kehidupan kota telah meresap ke dalam tubuhmu, sehingga kau sendiri
tidak menghargai lagi milikmu yang paling berharga. Sari, apalagi
orang lain. Orang lain akan menganggapmu tidak lebih dari barang
yang tidak berharga. Aku jadi muak melihat kau. Muak" Sejenak
Sindangsari terpaku di tempatnya. Dipandanginya wajah Ki Demang yang
membara. Namun kini keputus-asaan telah benar-benar mencengkamnya
sehingga tanpa sesadarnya ia berkata tidak kalah lantangnya "Jadi
apa maksudmu membawaku kemari Ki Demang? Apakah kau hanya sekedar
ingin menyiksa aku dengan memisahkan aku dari ruang yang paling aku
cintai? Atau barangkali kau mempunyai maksud lain yang tidak dapat
dimengerti oleh siapapun? Ki Demang, kalau memang begini tingkah
lakumu terhadap isteri-isterimu yang terdahulu, maka sudah tentu,
tidak seorangpun yang akan betah tinggal disini lebih dari seumur
bayi di dalam kandungan" "Jangan kau sebut-sebut, jangan kau
sebut-sebut. "Kenapa? Bukankah kau inginkan anak" "Tidak, tidak.
Tidak" "Kenapa Ki Demang? Kau tidak ingin mempunyai keturunan bagi
pewaris Kademangan ini" "Tutup mulutmu. Aku bunuh kau"Tiba-tiba Ki
Demang meloncat maju sambil mengembangkan jari-jari tangannya. Namun
ketika jari-jari tangannya itu melekat di leher Sindangsari,
terlintaslah bayangan di kepalanya saat-saat pernikahannya. "Uh" ia
berdesah sambil memalingkan wajahnya. Terbayang beberapa orang
prajurit berkuda datang ke rumah anak itu. Mereka adalah kawan-kawan
ayah Sindangsari. Bagaimanapun juga Ki Demang masih
mempertimbangkannya, bahwa prajurit-prajurit dan perwiraperwira itu
akan turut campur apabila ia berbuat kasar terhadap Sindangsari" "Ki
Demang, apakah kau akan membunuhku" tiba-tiba suara Sindangsari
menjadi mapan. Ki Demang menahan nafasnya yang serasa menjadi
semakin cepat mengalir. Kepalanya kini tertunduk dalamdalam. Di
belakangnya Sindangsari berdiri tegak justru dengan kepala tengadah.
Sekali lagi ia berkata "Ki Demang, kau akan membunuhku?" "Tidak"
suara Ki Demang menjadi lemah. "Kenapa tidak?" Ki Demang tersentak.
Sekali lagi ia berpaling, namun kemudian iapun segera melangkah
pergi meninggalkan Sindangsari di dalambiliknya. Sekali lagi
Sindangsari harus membant ing diri di pembaringan dan menangis
sejadi-jadinya. Apalagi ketika ia sadar akan dirinya dan cengkaman
keputus-asaannya, sehingga ia telah kehilangan trapsilanya sebagai
seorang perempuan. Masih terngiang di telinganya suara Ki Demang
"Sudah enam kali aku kawin. Ternyata kau adalah isteriku yang paling
kasar, yang paling jauh dari sopan santun seorang perempuan" "O,
beginikah aku sekarang" Sindangsari mengeluh tajam. Betapa kecewa
dan penyesalan menghentak-hentak dadanya. Akhirnya Ki Demang itupun
meninggalkannya pergi. "Seandainya nenek tidak pernah berceritera
bahwa bunuh diri adalah pekerjaan yang menjauhkan manusia dari
Tuhan, aku pasti akan membunuh diriku" tangis Sindangsari. Dan
betapa ia menjadi sangat malu kepada diri sendiri. Sejak saat itu,
maka hubungannya dengan Ki Demang menjadi semakin jauh. Meskipun ia
masih tetap melayani seperti biasa, menghidangkan makan, minum dan
keperluankeperluannya yang lain, tetapi lebih daripada itu. mereka
seakan-akan telah dibatasi oleh sebuah benteng yang tidak
tertembuskan. Sindangsari yang menjadi sangat malu akan usahanya
yang gagal itupun kemudian berdiri diatas harga dirinya yang
perlahan-lahan tumbuh diatas alas kecenderungannya pada pasrah diri.
Itulah sebabnya, maka ia tidak pernah lagi berbuat apapun juga,
meskipun di dalam remang-remang antara sadar dan tidak, sebelum ia
berusaha untuk jatuh tertidur, ia merasa bahwa Ki Demang berdiri di
sampingnya sambil mengawasinya. "Apa peduliku" katanya di dalam
hati. Dan sikapnya itu ternyata telah membuatnya agak tenteram.
Namun di hari-hari berikutnya, Sindangsari telah diguncang pula oleh
keadaan dirinya. Terasa sesuatu yang lain telah mengganggunya.
Mengganggu tubuhnya. Kepalanya menjadi pening dan perutnya
kadang-kadang menjadi mual. "Ah, kenapa aku ini" bertanya
Sindangsari kepada dirinya sendiri "agaknya aku terlampau lelah dan
kadang-kadang cemas. Aku juga kurang tidur" Tetapi perasaan mual di
perutnya telah membuatnya gelisah. Apalagi disertai dengan
tanda-tanda lain seperti yang pernah didengarnya dari neneknya.
"Apakah .............?" kadang-kadang sebuah pertanyaan telah
menggelit ik hatinya. Tetapi Sindangsari tidak berani melihat
kemungkinan itu. Setiap kali ia berusaha untuk menenteramkan dirinya
sendiri dengan berbagai macam alasan. Kurang tidur, lelah, gelisah
dan masih banyak lagi yang dapat disebutnya, yang membuatnya menjadi
pening dan mual. Tetapi tanda yang satu itu? Tanda yang hampir
memberinya kepastian bahwa memang telah terjadi perubahan di
dalamdirinya sendiri? Di dalam tubuhnya?. Peristiwa-peristiwa itu
benar-benar telah menyiksa perasaan Sindangsari. Siksaan yang hampir
tidak tertahankan. Dalam pada itu, ternyata Sultan Agung di Mataram,
berkeputusan untuk segera memberangkatkan pasukannya untuk menyerang
Betawi. Seperti yang diangan-angankan oleh Sindangsari, saat itu
Pamot telah bertekad untuk berusaha sekuat-kuat kemampuannya, agar
iapun dapat mengikuti pasukan yang akan dikirim untuk mengusir orang
asing yang kini mulai menjamah tanah kelahiran ini. Ternyata usaha
Pamot itupun berhasil. Selama ia berada di tempat penempaan, ia
telah menunjukkan kelebihan yang meyakinkan, sehingga iapun terpilih
bersama beberapa orang kawannya dari Gemulung. diantaranya Punta.
Namun ternyata bahwa usaha Pamot untuk dapat ikut serta itu, telah
dibantu sepenuhnya oleh Ki Dipajaya. Bukan dengan penilaian yang
diperingan, tetapi justru di setiap kesempatan Ki Dipajaya sendiri
telah membawa Pamot menyingkir untuk memberinya bekal yang lebih
banyak lagi baginya sebelum ia pergi kepeperangan. "Perjalanan itu
pasti bukan perjalanan tamasya Pamot" berkata Ki Dipajaya. Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya "Aku meyakini" jawabnya. "Bagus"
sahut Dipajaya kemudian "jalan yang akan kau tempuh penuh dengan
kesulitan dan penderitaan lahir dan batin" Sekali lagi Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau akan berperang menghadapi
orang-orang asing yang memiliki kelebihan jenis senjata. Senjata
yang tidak pernah kita punyai" Pamot masih mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tetapi ia sudah benar-benar bertekad bulat, bahwa ia akan
ikut dengan perjuangan ini. Keadaaan yang khusus pada dirinya telah
mendorongnya dan menjadikannya semakin mantap. "Aku harus pergi. Aku
harus pergi" katanya di dalam hati. Meskipun kadang-kadang ia masih
digelitik oleh perasaannya sendiri "Kau tidak pergi berjuang Pamot.
Tetapi kau sedang lari dari sakit hati yang tidak tertanggungkan"
"Tidak. Tidak" dibantahnya sendiri perasaannya itu "aku benar-benar
meyakini perjuanganku. Bahkan seandainya aku berhasil memperisteri
Sindangsari. Aku tahu benar tujuan perjuangan ini. Karena itu aku
akan berangkat dengan penuh keyakinan akan tujuan keberangkatanku.
Bukan sekedar sebuah pelarian. Mataram harus berhasil mengusir
orangorang bule itu dari bumi ini" Dan di malam-malam menjelang
keberangkatan pasukan Mataram, Sindangsari seakan-akan tersentuh
oleh getarangetaran yang terpancar dari tali perasaan yang tanpa
disadari masih juga mengikat kedua hati anak-anak muda itu. Pamot
dan Sindangsari. Selagi Sindangsari berbaring di pembaringan, dan
selagi ia merasa dunianya semakin sepi karena ia selalu seorang diri
di rumah yang besar itu, sebuah bayangan telah terlukis
diangan-angannya. "Pamot " perlahan-lahan ia berdesis. Tanpa
sesadarnya Sindangsari telah meraba perutnya. Seperti benar-benar
telah terjadi, dan bukan sekedar di dalam mimpi, bayangan Pamot itu
menjadi semakin jelas berdiri di hadapannya. Pamot yang kini
berpakaian keprajuritan dengan sehelai pedang di lambung dan keris
di punggung. "O"Sindangsari berdesah "kapan kau akan pulang Pamot?"
Sindangsari melihat bayangan itu menggelengkan kepalanya. Hanya
menggeleng, tetap sama sekali tidak menjawab. "Katakan, katakan
Pamot, kapan kau akan kembali kepadaku? Aku selalu disiksa oleh
kesepian dan perasaan bersalah. Kita bersama-sama telah melekatkan
noda yang tidak lagi dapat aku sembunyikan" Tetapi Pamot itu berdiri
saja seperti patung. "Pamot, Pamot" ia berdesis "mungkin kau akan
berhasil memenangkan perjuanganmu. Ayahku pernah gagal dan bahkan
gugur di peperangan. Mungkin kali ini kau akan menang" Sindangsari
berhenti sejenak "Tetapi akulah yang akan mengalami kekalahan. Dan
kalau kau kelak kembali ke Kademangan ini kakang, mungkin aku sudah
di kubur, karena Ki Demang pasti akan membunuhku" Bayangan itu
semakin lama menjadi semakin kabur oleh air mata yang mengembang di
pelupuk. Namun tiba-tiba semuanya lenyap ketika Sindangsari
tersadar. Di gardu di regol halaman terdengar suara kentongan yang
memecah sepinya malam. "O" Sindangsari berdesah sambil mengusap
matanya yang basah "aku tidak bermimpi. Aku tidak bermimpi" tetapi
Pamot itu sudah t idak ada lagi di dalam biliknya. Sindangsari tidak
dapat menahan tangisnya. Terlintas sebuah kenangan yang tidak akan
dapat dilupakan sepanjang umurnya. Kenangan yang indah, tetapi juga
permulaan dari siksaan yang dialaminya sampai saat ini. Sindangsari
mengusap matanya ketika ia mendengar pintu ruang dalam bergerit.
Kemudian dipejamkannya matanya, seolah-olah ia sudah tertidur
nyenyak. Di miringkannya tubuhnya membelakangi pintu biliknya. Ia
tahu benar, bahwa yang membuka pintu itu adalah Ki Demang sendiri.
Sejenak kemudian ia mendengar desir langkah mendekati biliknya.
Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar pintu bilik
itupun berderit pula. Meskipun Sindangsari tidak berpaling, tetapi
di dalam angan-angannya ia dapat melihat seperti kebiasaan yang
dilakukan hampir setiap malam oleh Ki Demang di Kepandak. Berdiri
tegak di muka pintu dengan wajah yang tegang memandang Sindangsari
yang tergolek di pembaringannya. Pada saat yang bersamaan. Pamotpun
sedang berdiri tegak dengan wajah yang tegang mendengarkan
penjelasan dari pemimpin kelompoknya. "Sinuhun Sultan Agung sudah
memutuskan, bahwa kita akan segera berangkat" berkata pemimpin
kelompok itu "kita tidak akan menunda waktu lagi. Malam ini kalian
harus sudah selesai berkemas. Besok di saat fajar menyingsing kita
akan meninggalkan alun-alun Mataram" Semua orang di dalam kelompok
itu menjadi berdebardebar. Dan mereka mendengar penjelasan lebih
lanjut "Kita akan singgah di kota-kota di sepanjang pesisir Utara"
Tidak seorangpun yang bergerak. Tetapi hampir setiap orang bertanya
di dalam hatinya "Apakah pasukan ini kelak juga akan menyerang
Betawi lewat lautan seperti pasukan Mataramhampir setahun yang
lalu?" Tetapi pemimpin kelompoknya menjelaskan "Kita harus berusaha
untuk tidak mengulangi kesalahan dari pasukan yang gagal itu.
Perjalanan lewat laut tidak dapat diperhitungkan waktunya dengan
tepat. Mungkin kalian pernah mendengar, bahwa pasukan penggempur
Mataram telah berhasil memasuki benteng musuh di Betawi dengan
berbagai cara. Ada yang menyamar sebagai pedagang ternak, ada yang
menyamar sebagai pedagang sayur-sayuran, dan cara-cara yang lain. Di
saat yang telah ditentukan, mereka telah berhasil menghancurkan
sebagian besar dari isi benteng itu. Bahkan mereka telah berhasil
membuka pintu benteng. Tetapi pasukan yang harus datang kemudian,
memasuki benteng itu, ternyata terlambat. Bukan kesalahan mereka.
Bukan karena tidak menepati tugas mereka, tetapi unsur angin dan
keadaan cuaca berpengaruh pula. Sehingga perjuangan itu diakhiri
dengan peristiwa yang tidak kita harapkan bersama. Pasukan
penggempur itu akhirnya habis, gugur di dalam perjuangan mereka
sebelum induk pasukan datang. Dan perjuangan mengusir orang asing
setahun yang lalu itupun gagal" pemimpin kelompok itu berhenti
sejenak, lalu "Sekarang kita tidak akan datang ke Betawi melalui
laut. Meskipun cara itu benar-benar telah mengejutkan musuh, karena
mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kekuatan laut Mataram dapat
dibanggakan. Tetapi kali ini kita akan berjalan melalui daratan"
Semua orang di dalam pasukan itu menganggukanggukkan kepala. Mereka
sadar bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berat.
Jarak yang harus mereka tempuh adalah jarak yang sangat jauh. Namun
tekad yang membara terbayang di wajah setiap orang. Setiap orang
yang ada di dalam pasukan yang harus sudah siap sebelum fajar. Di
dalam pasukan itu terdapat prajurit-prajurit Mataram dan anak-anak
muda yang sudah mendapat tempaan lahir dan batin untuk menghadapi
tugas yang terlampau berat itu. Demikianlah dengan nyala tekad yang
berkobar-kobar di dalam setiap dada, maka Matarampun telah mulai
dengan perjuangannya kembali untuk mengusir orang-orang asing yang
telah berani menjamah bumi tercinta. Betapapun kegagalan pernah
dialami oleh Sinuhun Sultang Agung, tetapi hasrat untuk tetap
berdiri tanpa sentuhan tangan-tangan asing itu masih tetap menyala
di dadanya. Bukan hanya di dalam dada Sinuhun Sultang Agung sendiri,
tetapi juga di setiap dada para pemimpin pemerintahan, pemimpin
keprajuritan dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah dan
bahkan di seluruh hati nurani rakyat. Ketika semua persiapan sudah
selesai, maka seluruh pasukan yang akan berangkat ke Betawi itupun
berkumpul di alun-alun. Hampir semua penghuni kota yang mendengar
berita keberangkatan pasukan itu, memerlukan keluar dari rumah-rumah
mereka dan pergi ke alun-alun untuk melihat, betapa pasukan Mataram
yang kuat telah siap untuk melakukan tugasnya yang berat. Di dalam
keremangan fajar, alun-alun Mataram telah berubah menjadi lautan
tajamnya senjata. Ujung-ujung tombak mencuat seperti daun ilalang
yang tumbuh memenuhi bagian terbesar dari seluruh alun-a lun. Sedang
mereka yang bersenjatakan pedangpun, telah menarik senjata mereka
dan mengacu-acukannya. Bahkan sebagian dari mereka telah menyentuh
perisai-perisai mereka dengan daun-daun pedang, membuat irama yang
khusus. Semakin lama menjadi semakin cepat, seperti anak-anak
bermain kotekan. Tetapi semua suara itupun tiba-tiba terhenti.
Alun-alun yang penuh dengan manusia itu seakan-akan menjadi sepi,
sesepi tanah pekuburan. Yang terdengar kemudian adalah suara gamelan
yang meneriakkan tekad perjuangan yang meledak-meledak, mengiringi
hadirnya Sinuhun Sultan Agung. Dengan dada tengadah Sinuhun Sultan
Agung naik kepanggung yang sudah disediakan. Tanpa mengucapkan
sepatah katapun dipandanginya seluruh pasukannya. Sentuhan matanya
seakan-akan telah menumbuhkan kekuatan baru di dalam diri setiap
prajurit dan anak-anak muda yang telah bersiap untuk pergi ke medan
itu. Sejenak kemudian pemimpin tertinggi pasukan Matarampun naik
pula ke panggung, untuk menerima sipat kandel, sebuah pusaka yang
berupa tombak sebagai lambang kepercayaan Sinuhun Sultan Agung
kepada pasukannya. "Aku sertakan Kiai Janur bersama pasukan ini"
hanya itulah yang diucapkan oleh Sultan Agung. Pemimpin tertinggi
pasukan itupun menyembah. Kemudian diterimanya tombak pusaka itu.
Kiai Janur, yang sudah tidak berwrangka lagi sebagai pertanda
kesia-gaan pasukan Mataramuntuk bertempur di setiap saat. Sejenak
kemudian maka pasukan itupun mulai bergerak. Di paling depan, adalah
beberapa orang terpilih berjalan mendahului pasukan. Kemudian
iring-iringan panji-panji dan umbul-umbul, rontek dan tanda-tanda
kebenaran yang lain. Di belakang tanda-tanda kebesaran itu,
seperangkat gamelan yang dipanggul oleh petugas-petugas yang khusus,
bergantungan pada tali-tali yang kuat. Para penabuh dengan pakaian
keprajuritan dan senjata di lambung mengayunayunkan alat-alat
pemukul mereka dengan penuh gairah, sehingga bunyinyapun telah
menumbuhkan pengaruh bagi seluruh pasukan. Sentuhan bunyi gamelan
itu telah menambah gairah perjuangan yang memang sudah berkobar di
dalam setiap dada. Namun demikian, ada juga satu dua orang, yang
berdiri di pinggir-pinggir jalan, menyaksikan keberangkatan pasukan
itu dengan air mata yang berlinang-linang. Anak-anak mereka, dan
mungkin juga suami-suami mereka, berada di dalam pasukan itu.
Seorang ibu yang tidak dapat menahan perasaannya, bergantung pada
pundak saudara laki-lakinya. Air matanya yang menitik, telah
membasahi baju saudaranya itu. "Jangan menangis" Perempuan itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi air matanya masih juga
menitik terus. Bahkan kemudian disela-sela isaknya ia berkata
"Setahun yang lalu ayahnya telah gugur. Sekarang anak itu pergi ke
tujuan yang sama" "Tetapi nasib anak itu berlainan dengan nasib
ayahnya " "Mudah-mudahan " "Kau harus berdoa, Bukan saja anakmu
dapat kembali dengan selamat, tetapi pasukan itu akan mendapatkan
kemenangan" Perempuan itu menganggukkan kepalanya. "Tuhan Maha Adil"
Sekali lagi perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia
masih bergumam "Perang selalu menumbuhkan kesedihan" "Ya. Kesedihan,
kecemasan dan ketakutan. Tetapi orang asing itupun menumbuhkan
berbagai macam kemungkinan yang barangkali jauh Lebih buruk dari
perang ini. Kalau pasukan ini berhasil mengusir mereka, maka kita
akan dapat membuat pertimbangan. Berapa banyak korban yang jatuh
Tetapi untuk seterusnya kita tidak akan dihantui lagi oleh kekuasaan
asing dibumi ini" Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula.
"Kalau kita memandang peperangan ini sepotong-sepotong, maka kita
akan kehilangan keseluruhan dan kebulatan kita sebagai rakyat
Mataram. Kalau kau memandang dari segi gugurnya suamimu saja, tanpa
memandang keseluruhan perjuangan, maka kau akan berontak,
seolah-olah suamimu dikorbankan untuk tujuan yang tidak kau hayati.
Tetapi kalau kau berdiri diatas pendirian yang lain, cinta dan
pengabdian, maka kau akan menerimanya dengan hati yang lebih lapang"
Sekali lagi perempuan itu mengangguk. Tetapi bagaimanapun juga
kepergian anaknya telah membuatnya bersedih dan cemas. Pengertiannya
tentang peperangan dan perjuangan ini dapat bersama-sama menghuni
hatinya dengan kecemasannya atas anaknya yang pergi dengan senjata
di tangan. Seperti setahun yang lalu, ia melihat iring-iringan
pasukan meninggalkan alun-alun ini. Ketika suaminya hilang di dalam
derapnya pasukan yang semakin jauh, maka ternyata untuk
selama-lamanya suaminya itu tidak lagi kembali kepadanya. Sekarang,
anak laki-lakinyalah yang pergi, seakanakan menyusul ayahnya yang
telah pergi lebih dahulu. Di saat itu, di saat fajar menjadi semakin
terang, di Kademangan Kepandak, Sindangsari telah tertidur sejenak.
Sekali lagi, seolah-olah tidak di dalam mimpi ia melihat ayahnya
melambai-lambaikan tangannya kepadanya. Tetapi yang mengherankannya,
ayahnya itu menjadi jauh lebih muda dari saat-saat keberangkatannya
ke medan perang. Sindangsari menjadi termangu-mangu di dalam batas
antara sadar dan tidak. Namun tiba-tiba saja ia menjerit ketika ia
melihat ayahnya itu terpelanting jatuh. Ia masih sempat melihat
seorang anak muda berlari-lari berusaha menolong ayahnya itu,
sementara ia merasa seseorang telah menahannya agar ia tidak
pingsan. Ketika tubuhnya terguncang-guncang oleh isaknya,
Sindangsari tersadar. "Kenapa kau Sari" terdengar suara di sisi
pembaringannya. Sindangsari segera berpaling dan membuka matanya. Ki
Demang berdiri dengan cemas di sampingnya. "Apakah kau bermimpi
buruk?" Perlahan-lahan Sindangsari bangkit. Perlahan-lahan ia
menganggukkan kepalanya. "Kau bermimpi apa Sari?" bertanya suaminya.
"Ayah" desis Sindangsari. "Kenapa dengan ayahmu?" Sindangsaripun
kemudian berkisar menepi. Dibenahinya pakaiannya dan rambutnya.
Kemudian jawabnya "Aku melihat ayah" Ki Demang mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dengan singkat ia menceriterakan mimpinya kepada Ki
Demang yang masih mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi Sindangsari
tidak mengatakan, bahwa ia masih sempat melihat seorang anak muda
yang berlari-lari mencoba menolong ayahnya, meskipun ia tidak tahu
apakah usaha itu berhasil atau tidak, karena ia segera tersadar. Dan
apalagi mengatakan, bahwa di dalam tangkapan perasaannya, anak muda
itu adalah Pamot. "Ah" ia berdesah di dalam hatinya "aku masih
selalu digoda oleh perasaan itu" "Kau selalu gelisah" berkata Ki
Demang kemudian "berusahalah menenteramkan hatimu" Sindangsari
menganggukkan kepalanya. "Atau barangkali kau sakit?" bertanya Ki
Demang "kau tampak terlampau pucat" Sindangsari menggelengkan
kepalanya "Tidak Ki Demang Aku tidak sakit" "Kalau kau masih akan t
idur, tidurlah. Kau perlu banyak beristirahat. Agaknya kau memang
tidak sehat" Sindangsari tidak menyahut. Dipandanginya saja Ki
Demang yang melangkah meninggalkan biliknya. Meninggalkannya seorang
diri. Sejenak Sindangsari duduk termangu-mangu di tempatnya Ketika
ia memandang langit-langit, terasa olehnya bahwa fajar sudah menjadi
semakin terang. Karena itu, maka Sindangsaripun kemudian berdiri.
Dilipatnya selimutnya, dan dibenahinya pembaringannya. Seperti yang
biasa dilakukan, Sindangsaripun segera pergi ke dapur. Air yang
sudah mendidih mengepul dibelanga. Pembantunya selalu menunggunya,
untuk membuat minuman bagi Ki Demang. Sindangsari sendirilah yang
selalu menuangkannya ke dalam mangkuk dan menghidangkannya di
pringgitan. Kemudian seperti biasanya pula ia mengambil sapu, dan
dibersihkannya ruang dalam. Kebiasaan itu memang agak lain dari
kebiasaan isteri Ki Demang yang terdahulu. Hampir tidak pernah
mereka menyentuh sapu dan apalagi bekerja di dapur. Mereka yang
sudah merasa dirinya menjadi Nyai Demang, menganggap bahwa tidak
pantaslah bagi mereka untuk berbuat sesuatu yang dapat mengotori
tangannya. Karena itulah maka tanggapan para pembantu Ki Demang
terhadap Nyai Demang yang satu ini agak berbeda. Karena pada umumnya
mereka sudah tahu ceritera tentang Sindangsari, maka mereka menjadi
semakin iba melihatnya. Ki Demang sendiri mempunyai tanggapan yang
lain pula terhadap Sindangsari dari isteri-isterinya yang terdahulu.
Memang kadang-kadang darahnya serasa mendidih sampai kekepala,
seperti yang selalu dialaminya dengan isteriisterinya yang
terdahulu. Ia memang sering menjadi marahmarah tanpa sebab.
Membanting barang-barang dan bahkan menyakit i isteri-isterinya.
Tetapi ia tidak dapat melakukannya terhadap Sindangsari. Mula-mula
ia dipengaruhi oleh sayap pergaulan ibu Sindangsari.
Prajurit-prajurit kawan ayah Sindangsari agaknya terlampau akrab
dengan keluarga isterinya, sehingga kalau ia berbuat sesuatu atas
isterinya itu tanpa sebab, maka prajuritprajurit itu tentu akan
tergerak untuk berbuat sesuatu, karena merekapun pasti akan
mengetahuinya, bagaimana caranya mendapatkan isterinya itu. Namun
lambat laun, Ki Demang melihat sesuatu yang memang lain pada
isterinya yang keenam itu. Meskipun Sindangsari pernah tinggal di
kota, tetapi ia adalah seorang isteri yang baik. Ia sendiri
menangani pekerjaan rumah tangga dengan rajin dan tekun. Dituntunnya
pembantu pembantunya untuk melakukan pekerjaan yang sebelumnya
hampir tidak pernah mereka kenal. Sambil menghadapi semangkuk air
panas dan beberapa potong makanan Ki Demang merenungi dirinya
sendiri. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadarinya
kepalanya terangguk-angguk lemah. "Hem" Ki Demang itu berdesah. Ia
berpaling ketika ia mendengar gerit pintu di-ujung pringgitan.
Dilihatnya Sindangsari kemudian membersihkan lantai dan
perabotperabot rumah tangganya. "Sayang sekali" Ki Demang itu
seakan-akan mengeluh di dalam hati. Ketika tanpa disengaja
Sindangsari berpaling dan tatapan mata mereka bertemu, maka Ki
Demangpun segera menundukkan kepalanya, sedang Sindangsari
melemparkan pandangan matanya ke pintu biliknya yang terbuka. Namun
dada keduanya menjadi berdebar-debar tanpa mereka ketahui sebabnya.
Ki Demang yang duduk di pringgitan itupun mencoba untuk melihat ke
dirinya sendiri. Beberapa kali ia sudah beristeri, tetapi ia tidak
pernah menemukan kebahagiaan yang sebenarnya. Selama ini ia t idak
pernah mau melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Karena itu,
maka ia selalu melemparkan kesalahan kepada isteri-isterinya dan
orangorang lain. Tiba-tiba Ki Demang menghentakkan giginya.
Diambilnya makanan yang terhidang di hadapannya. Disuapkannya
makanan itu ke dalam mulutnya. Dan dikunyahnya makanan itu dengan
tergesa-gesa, seolah-olah kesempatannya menjadi semakin tipis untuk
dapat menikmatinya. Sejenak kemudian Ki Demang itupun berdiri dengan
tergesa-gesa pula. Dipanggilnya Sindangsari dari tempatnya, seperti
anak-anak yang berteriak-teriak memanggil ibunya yang sedang berada
di kebun belakang. Sindangsari terkejut mendengar Ki Demang
berteriakteriak. Ia yakin bahwa Ki Demang mengetahui bahwa ia ada di
ruang dalam. "Aku akan pergi" katanya lantang. Sindangsari
memandanginya dengan heran. Namun kemudian ditenangkannya hatinya.
Ia sudah melihat sikap yang tidak dimengertinya itu berpuluh-puluh
kali, seperti pagi ini. "Kemana Ki Demang" ia mencoba bertanya. "He,
kemana?" Ki Demang membelalakkan matanya "kau masih juga belum
mengerti bahwa kau adalah seorang isteri Demang Kepandak. Adalah
tugasku untuk pergi berkeliling, melihat-lihat dan mengamati apa
yang terjadi di seluruh Kademangan ini. Tugasku tidak hanya sekedar
menunggui kau, meskipun kau adalah seorang isteri yang cantik"
Sindangsari menelan ludahnya. Tetapi iapun menganggukkan kepalanya
"Baiklah Ki Demang" "Seharusnya kau tidak bertanya lagi. Kau harus
sudah mengerti. Aku akan pergi kemana dan kapan aku harus pergi"
Sindangsari menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata apapun
lagi. Dengan tergesa-gesa Ki Demangpun kemudian melangkah pergi. Ia
tidak menghiraukan lagi, bahwa ia telah melangkahi makanan dan
mangkuk minumannya sendiri. Tetapi tiba-tiba di muka pintu ia
berhenti. Perlahan-lahan ia berpaling. Dipandanginya wajah
Sindangsari yang pucat. Seperti bukan kehendaknya sendiri Ki Demang
itu berkata "Beristirahatlah Sari. Jangan terlampau banyak bekerja.
Bukankah kau mempunyai beberapa orang pembantu yang dapat
membersihkan setiap ruangan di dalam rumah ini?" Sindangsari
mengangkat wajahnya. Ia merasa bahwa suaminya memang orang yang
aneh. Tanpa menunggu jawaban Sindangsari Ki Demang itupun menghilang
di balik pintu. Sejenak Sindangsari masih berdiri termangu-mangu.
Sekali ia menarik nafas. Kemudian dilanjutkannya kerjanya,
membersihkan ruangan dalam dan bilik-bilik di dalam rumah yang besar
itu. Namun tiba-tiba Sindangsari merasa seakan-akan kepalanya
berputar dan perutnya menjadi sangat mual. Hampir saja ia t idak
berhasil bertahan untuk berdiri, sehingga kedua tangannyapun
kemudian berpegangan pada tiang-tiang pintu. "O, perutku" desisnya.
Namun demikian ia menjadi cemas. Karena itu, maka dipanggilnya
seorang pembantunya yang kebetulan lewat di longkangan belakang.
"Kenapa Nyai?" pembantu itu menjadi cemas. "Kepalaku pening sekali"
desis Sindangsari "tolong, bawa aku ke pembaringan" Dengan dipapah
oleh pelayannya Nyai Demang itupun kemudian berjalan tertatih-tatih
masuk ke dalam biliknya. Perlahan-lahan ia merebahkan dirinya di
amben bambunya. Namun demikian perasaan mual di perutnya masih saja
bergejolak. Bahkan kemudian Sindangsari tidak dapat menahannya lagi,
sehingga terlontarlah dari mulutnya, hampir seluruh isi perutnya.
"O, kenapa kau Nyai, kenapa?" pelayannya menjadi semakin bingung.
Sejenak kemudian terdengar Sindangsari berdesis "Tolong, panggillah
bibi tua di rumah sebelah" "Baiklah Nyai" sahut pelayan itu sambil
dengan tergesagesa meninggalkan bilik Sindangsari. "Kenapa kau he?"
bertanya kawannya yang melihatnya berlari-lari lewat pintu butulan.
"Nyai Demang sakit. Ia muntah-muntah. Ambillah pasir dan taburkan di
bawah pembaringannya. Aku akan memanggil bibi tua di rumah sebelah"
Pelayan-pelayannya kemudian menjadi bingung. Beberapa orang
pembantunya telah membual minuman panas, meremas kunir dan asam,
sedang yang lain mengambil seonggok pasir. Berlari-lari mereka
memasuki bilik Sindangsari yang masih saja berbaring sambil mengaduh
terlahan-tahan. "Minumlah air panas Nyai" berkata salah seorang
pembantunya, sedang yang lain mendesaknya "minumlah kunir dan asam"
Sedang yang lain lagi mengusap kaki dan lengannya dengan minyak dan
berambang. Sejenak kemudian maka orang tua di rumah sebelah, yang
dipanggil oleh salah seorang pembantu Nyai Demang itupun datanglah
dengan tergesa-gesa pula. Ketika ia sudah berdiri disisi pembaringan
Sindangsari, maka segera dirabanya dahinya. "Kau tidak panas ngger"
desisnya. Perempuan tua itupun kemudian duduk di bibir pembaringan.
Katanya kepada para pembantu itu "Jangan bingung. Biarlah aku yang
menunggui Nyai Demang. Tinggalkanlah bilik ini supaya udaranya tidak
terlampau panas" Pembantu-pembantu Sindangsari itupun kemudian
seorang demi seorang melangkah pergi meninggalkan bilik itu. Namun
di belakang mereka masih juga sibuk berbicara tentang Nyai Demang
yang tiba-tiba saja menjadi sakit. "He, hari apakah ini?" bertanya
salah seorang dari mereka. "Kenapa?" yang lain ganti bertanya.
"Apakah sesajen di pinggir rumpun bambu peting pelung itu tidak
digant i?" "Sudah. Akulah yang menggantinya dengan yang baru. Setiap
sore aku menaruh sesajen baru di sana. Beberapa polong. makanan dan
secuwil kemeyan" Pembantu-pembantu itupun mengangguk-anggukkan
kepalanya. Namun mereka masih mencoba mencari sebab, kenapa Nyai
Demang tiba-tiba saja jatuh sakit. Di dalam biliknya, orang tua di
rumah sebelah, merabaraba kening Sindangsari yang memejamkan
matanya. "Kau memang pucat ngger" katanya "tapi kau tidak panas.
Mungkin kau tidak sakit" Sindangsari t idak menyahut. "Apakah
perasaan mual ini seringkali datang?" Sindangsari mengangguk.
Jawabnya perlahan-lahan "Ya bibi. Tetapi tidak sekeras kali ini".
Orang tua itu mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya tentang
beberapa hal mengenai Sindangsari. Mengenai keadaan tubuhnya dan
kebiasaannya. "O" tiba-tiba perempuan tua itu menepuk bahu
Sindangsari sambil tersenyum "jangan cemas. Jangan cemas Kau tidak
apa-apa ngger" Namun kata-kata itu ternyata telah menghentakkan dada
Sindangsari. Justru kecemasannya telah melonjak sampai ke kepala,
sehingga sejenak perasaan pening dan mualnya seakan-akan telah
terlupakan. "Apakah maksud bibi" Sindangsari tidak meneruskannya.
"Kau mengandung ngger. Kau mengandung. Tandatandanya telah lengkap.
Dan kau sekarang sedang ngidam" "O" Sindangsari menutup wajahnya
dengan kedua tangannya. "Bersyukurlah ngger. Enam kali Ki Demang di
Kepandak ini kawin. Tetapi kaulah satu-satunya isteri yang telah
mengandung" perempuan tua itu berhenti sejenak "Nah, apakah kau
menyadari artinya?" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi gelora di
dadanya menjadi semakin dahsyat menghentak-hentak perasaannya.
"Dengan demikian Ki Demang tidak akan lagi kawin dan cerai hampir di
setiap tahun sekali. Kau akan tetap menjadi isterinya karena kau
akan dapat memberikan anak kepadanya" "Tetapi, tetapi......" suara
Sindangsari terputus. "Tetapi kenapa ngger?" orang tua itu bertanya.
Karena Sindangsari tidak menjawab, maka ia berkata terus "Tenanglah
hatimu. Kegembiraan yang berlebih-lebihan kadang-kadang dapat
mengganggu pula" Leher Sindangsari serasa telah tercekik oleh
kegelisahan. Namun ia telah berjuang sekuat tenaganya untuk menahan
perasaannya. Bahkan kemudian ia mencoba untuk mengerti apa yang
sebenarnya telah terjadi. "Nyai Demang" berkata orang tua itu
"kaulah yang telah mendapat karunia, menurunkan pewaris Kademangan
di Kepandak ini. Kalau anakmu laki-laki, maka ia akan menjadi
pengganti ayahnya. Tetapi kalau anakmu perempuan maka kau akan
menunggu seorang anak laki-laki yang mungkin masih akan kau
lahirkan. Tetapi kalau kau memang tidak mempunyai anak laki-laki,
maka menantumulah kelak yang akan melakukan tugasnya sebagai seorang
Demang atas nama anak perempuanmu yang sulung" Sindangsari t idak
menjawab. Dadanya menjadi pepat dan kepalanya menjadi semakin
pening. "Tidurlah" berkata perempuan tua itu "jangan terlalu banyak
bekerja. Tanpa sesadarnya Sindangsari menganggukkan kepalanya.
"Sepengetahuanku, kau adalah isteri Ki Demang yang paling rajin.
Yang paling pandai mengatur rumah tangga. Lihat, betapa rumah ini
kini menjadi bersih dan hidup. Itulah agaknya yang membuat Ki Demang
terlampau cinta kepadamu. Dan hanya kaulah ternyata yang akan
mendapat keturunan daripadanya" Kalimat-kalimat itu rasa-rasanya
bagaikan ujung sembilu yang menusuk-nusuk jantung Sindangsari.
Tetapi ia tidak dapat memotong dan menghentikannya. Ia harus tetap
membiarkan perempuan tua itu berbicara terus betapapun ia menjadi
semakin tersiksa karenanya. "Sudahlah ngger. Tidurlah. Badanmu akan
menjadi agak baik. Tetapi biarlah salah seorang pembantumu
menungguimu di luar pintu. Mungkin kau memerlukannya" perempuan tua
itu berhenti sebentar, lalu "pada umumnya orang yang ngidam
menginginkan sesuatu. Jangan kau tahan. Katakanlah kepada suamimu.
Suami yang baik pasti akan berusaha mendapatkan keinginan itu,
supaya bayimu t idak selalu menitikkan liur" "Ah" Sindangsari
berdesah. Tetapi ia tidak kuasa untuk mengatakan sesuatu. "Tidurlah.
Kau harus banyak tidur. Kau terlampau lelah dan mungkin kurang
tidur" Perempuan tua itu menepuk bahu Sindangsari. Kemudian ia
berdiri sambil berkata "Biarlah pembantumu menungguimu. Aku akan
pulang sebentar. Aku buatkan untukmu air asam dengan gula aren.
Mudah-mudahan dapat mengurangi rasa mual di perutmu" Sindangsari
memandang perempuan tua itu dengan tatapan mata yang aneh. Namun
perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya. "Aku minta diri. Sebentar
lagi aku akan kembali" Sekali lagi Sindangsari mengangguk, dan
perempuan tua itupun segera meninggalkan bilik itu. Seorang pembantu
kemudian disuruhnya duduk di muka bilik Nyai Demang, apabila ia
memerlukan sesuatu setiap saat. Namun sepeninggal perempuan tua itu,
Sindangsari tidak dapat menahan diri lagi. Tangisnyapun segera
meledak tanpa dapat dibendungnya lagi. Pembantunya yang duduk di
muka biliknya menjadi termangu-mangu. Dijengukkannya kepalanya lewat
pintu yang tidak tertutup rapat, tetapi ia tidak berani menegurnya.
Karena itu, maka iapun menjadi gelisah sendiri. Dalam pada itu,
perasaan Sindangsari serasa telah terkoyak-koyak. Ia tidak dapat
mengingkari lagi akibat yang tumbuh di dalam dirinya, karena
kekhilafannya yang terjadi saat itu. "Tidak. Bukan salah Pamot"
katanya di dalam hati "akulah yang paling bersalah" Tangisnyapun
menjadi semakin deras mengalir. Air matanya seperti terperas dari
sepasang matanya. Di Kademangan ini tidak ada orang tempat ia
menumpahkan kepahitan perasaan. Tidak ada ibunya, tidak ada neneknya
dan tidak ada kakeknya. Yang ada disini adalah suaminya, yang
seharusnya dapat menjadi pelindungnya, pengganti orang tuanya.
Tetapi sudah tentu, di dalam masalah ini ia tidak akan dapat mengadu
kepadanya. Bahkan di dalam masalah-masalah yang lainpun, suaminya
terasa terlampau jauh dan asing daripadanya. Karena itu, maka
semuanya itu harus ditangguhkannya sendiri. Ia telah membuat
kesalahan, dan kesalahan itu kini harus dipertanggung jawabkan.
Seandainya ia masih berada di rumahnya sekalipun, dapatkah ia
mengadukan hal itu kepada ibu, nenek dan kakeknya?. Betapa pahit
jalan kehidupan yang dilaluinya. Karena itu, maka Sindangsari
hanyalah dapat menangis dan menangis. Menyesal dan kecewa.
Demikianlah yang dilakukannya sehari-hari. Ketika orang tua di
sebelah datang lagi kepadanya sambil membawa semangkuk air asam ia
mencoba untuk menahan tangisnya. "Kenapa kau menangis?" orang tua
itu bertanya. "Tidak bibi. Aku tidak menangis" Perempuan tua itu
tersenyum "Kau t idak perlu menangis. Memang kegembiraan yang
melonjak-lonjak di dalam hati dapat menitikkan air mata. Tetapi kau
harus mampu mengendalikan perasaanmu. Jangan berlebih-lebihan supaya
kesehatanmu tidak terganggu. Menangis apapun sebabnya, gembira,
menyesal, marah, kalau terlampau lama dapat membuat jantung menjadi
berdebar-debar dan nafas menjadi sesak" Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Angger Sindangsari" berkata
perempuan tua itu "kau harus dapat membuat hati suamimu senang
sekali. Kau dapat membuat kejutan dengan keadaanmu itu. Dengan
tiba-tiba kau katakan kepadanya sesuatu yang tidak tersangka-sangka.
Nah, ia akan terdiam sejenak seperti patung. Suamimu itu akan
memandangmu dengan penuh keheranan. Namun ketika ia sadar akan apa
yang didengarnya, maka ia pasti akan meloncat memelukmu sambil
berlinang-linang" perempuan tua itu berhenti sejenak, lalu
"percayalah kepadaku. Tetapi sudah tentu kau jangan menangis.
Tangismu akan dapat mengurangi gairah kegembiraannya" Sindangsari
mencoba menganggukkan kepalanya betapa hambar hatinya. "Nah, cobalah
bayangkan. Betapa gembira keluarga ini. Kau akan menjadi seorang ibu
muda yang cantik, dan Ki Demang akan menjadi seorang ayah selama
beberapa tahun ia gagal mencobanya" Sekali lagi Sindangsari
mengangguk. "Sekarang" berkata orang tua itu "minumlah air asam ini.
Mudah-mudahan dapat mengurangi perasaan mual" Sindangsari tidak
membantah. Perlahan-lahan ia bangkit dan menerima mangkuk itu.
Diminumnya air asam dengan gula aren itu sampai tetes yang terakhir.
"Sekarang, tidurlah. Jangan kau pikirkan lagi membersihkan rumah.
Jangan kau pikirkan lagi kerja di dapur. Jangan kau pikirkan apapun.
Kau harus beristirahat lahir dan batin selama kau ngidam. Kalau kau
mempunyai keinginan, jangan kau tahan-tahan. Katakan saja kepada
suamimu, ia harus mencarikannya, asal masih di dalam batas
kemungkinan. Kecuali kalau kau ingin menggigit rembulan, sudah
tentu, tidak akan ada seorangpun yang dapat memenuhinya"
Demikianlah, maka orang tua itupun segera minta diri pula sambil
berkata "Berbahagialah kau nak, eh, Nyai Demang" "Terima kasih bibi"
desis Sindangsari. Sepeninggal orang tua itu. kembali Sindangsari
merenungi nasibnya. Kalau Ki Demang datang, apakah yang sebaiknya
dikatakan kepadanya?" "O, ia pasti akan sangat marah. Ia akan
mencekik dan membunuhku. Kemudian ia akan berceritera kepada setiap
orang di Kepandak, bahwa ternyata aku telah ternoda ketika aku
memasuki Kademangan ini" Namun akhirnya seperti di saat-saat ia
tidak dapat ingkar lagi untuk menjalani hari-hari perkawinannya,
maka tidak ada kemungkinan lain daripada mengatakan apa yang telah
terjadi sebenarnya. "Lebih baik aku sendiri yang mengatakan
kepadanya daripada orang lain. Aku akan segera melihat akibat
daripadanya. Kalau ia akan membunuh aku, biarlah segera dilakukannya
pula" Demikianlah, maka keputusan Sindangsari telah bulat. Ia harus
mengatakannya kepada Ki Demang di Kepandak. Ia harus berterus terang
bahwa ia telah mengandung. Mengandung anak yang didapatnya dari
Pamot. Dengan gelisah Sindangsari menunggu Ki Demang pulang. Tetapi
Ki Demang tidak juga segera pulang. Meskipun matahari kemudian telah
menjadi terlampau rendah. Pelayan-pelayan Ki Demangpun menjadi
gelisah pula. Kemana agaknya Ki Demang pergi. Isterinya yang di
rumah tiba-tiba saja telah menjadi sakit. "Ki Demang sama sekali
tidak menghiraukan isterinya seperti biasanya" berkata salah seorang
dari mereka. "Tetapi kali ini ia seharusnya bersikap lain. Isterinya
kali ini adalah seorang perempuan yang baik. Seorang perempuan yang
rendah hati dan cantik. Karena ia pernah tinggal di kota, maka
caranya mengatur perabot rumahpun agak berbeda dengan isteri-isteri
Ki Demang yang terdahulu, yang hanya mengerti menghitung uang dan
mengucapkan makian dan umpatan" "Ya, perempuan ini tidak pernah
marah. Isteri Ki Demang yang terdahulu, terutama yang keempat,
selalu saja marahmarah" "Apalagi kepada kita, kepada Ki Demang ia
berani. Kalau Ki Demang berbuat kasar, iapun berbuat kasar pula.
Bahkan hampir saja ia dibunuh oleh Ki Demang yang kehilangan
kesabaran" Pembantu-pembantu Ki Demang itu menganggukanggukkan
kepala mereka. Tetapi mereka hanya dapat membicarakannya di
belakang. Mereka tidak akan berani mengatakannya kepada Ki Demang
sendiri. Ketika para pelayan itu kemudian menyalakan lampu di segala
ruangan, di sudut-sudut rumah dan di regol halaman, serta di gardu
perondan, maka barulah Ki Demang berjalan, tertatih-tatih menyusuri
jalan Kademangan pulang ke rumahnya. Beberapa orang yang melihatnya
Ki Demang tampak begitu lelah menjadi heran. Para peronda di gardu
halaman rumahnyapun menjadi heran pula. Seseorang memberanikan diri
untuk bertanya "Dari manakah Ki Demang pergi sehariharian sehingga
tampaknya lelah sekali?" "Nganglang'" sahut Ki Demang singkat. Para
peronda itu tidak berani bertanya lagi. Baru setelah Ki Demang
lampau, mereka saling berbisik "Ki Demang agaknya telah mengelilingi
Kademangan sambil berjalan kaki" "Seorang melihatnya ia berada di
rumah Ki Jagabaya" sahut yang lain "dan kemudian ia pergi bersama Ki
Jagabaya pula. Tetapi kemudian Ki Jagabaya pulang seorang diri.
Sudah lewat sedikit tengah hari" "Lalu kemana saja Ki Demang pergi
setelah ia berpisah dengan Ki Jagabaya?" Kawannya menggelengkan
kepalanya "Entahlah" "Sampai sesore ini ia baru kembali" Seorang
anak muda yang berkumis pendek berbisik "Kasihan isterinya yang muda
itu" "Hus, kalau Ki Demang mendengar, kau akan dipuntir kepalamu"
"Karena itu aku berbisik saja di telingamu" anak muda itu berhenti
sejenak, lalu "kalau ia menjadi isteri Pamot, tentu keduanya tidak
akan pernah berpisah" "He, masih juga kau teruskan?" Anak muda itu
menggeleng "Sudah. Hanya sampai sekian" Para peronda itupun kemudian
terdiam. Mereka duduk di gardu sambil memandang langit yang menjadi
semakin suram. Cahaya kemerah-merahan yang tersangkut di ujung
batangbatang nyiur telah menjadi semakin buram, sehingga akhirnya
semuanya menjadi hitam. Dengan ragu-ragu Ki Demang melangkahi
tanga-tangga pendapa rumahnya. Sinar lampu minyak yang terayun-ayun
dibelai angin, membuat hatinya semakin berdebar-debar. Sejenak ia
berdiri di tengah-tengah pendapa, memandangi pintu yang sudah
tertutup meskipun belum terlampau rapat, seolah-olah baru pertama
kali itu dilihatnya. Sekali ia menarik nafas Kemudian diayunkannya
kakinya melangkah menuju ke pringgitan. Gerit pintu pringgitan
ternyata telah menyentuh telinga Sindangsari yang sedang berbaring
di pembaringannya. Suara itu serasa telah menghentak isi dadanya.
Yang datang itu pasti Ki Demang, ternyata dari langkah dan desir
kakinya. Sindangsari serasa tidak berani berpaling dan menatap wajah
Ki Demang ketika pintu biliknya terbuka. Beban dosa di hatinya kini
dirasanya menjadi terlampau berat. Ingin ia menjerit
sekeras-kerasnya. Tetapi ia tidak berani melakukannya. Ki Demang
yang menjenguk dari balik pintu terteguh sejenak. Ia melihat
seonggok pasir di bawah pembaringan Sindangsari. Ketika ia melihat
geledeg di sisi pembaringan, hatinya menjadi berdebar-debar. Agaknya
Sindangsari bernar-benar sakit dan muntahmuntah. Di dalam mangkuk ia
masih melihat reramuan jamu yang sedikit tersisa. "Apakah kau sakit
Sari?" bertanya Ki Demang Sindangsari tidak segera menjawab. Ia
menyadari bahwa pada suatu saat Ki Demang pasti akan mengetahuinya
juga. Daripada ia mengetahui dari orang lain, maka biarlah ia
sendiri yang mengatakannya. Tiba-tiba Sindangsari yang selama ini
dicengkam oleh kecemasan, keragu-raguan dan ketakutan, kini
seakan-akan menemukan suatu sikap yang mantap. "Tidak ada pilihan
lain daripada mengatakannya sendiri langsung kepadanya" katanya di
dalam hati, namun kemudian ia mencoba untuk menenangkan hatinya
"Tetapi tidak sekarang. Biarlah Ki Demang beristirahat, supaya
hatinya menjadi agak bening" Karena Sindangsari tidak segera
menjawab, maka Ki Demang mengulanginya "Apakah kau sakit Sari?
Sindangsari mencoba bangkit dari pembaringannya. Wajahnya menjadi
semakin pucat dan perutnya masih merasa mual. Tetapi ia tidak
muntah-muntah lagi. "Ki Demang" katanya "sebaiknya Ki Demang
beristirahat dahulu. Bukankah Ki Demang baru saja pulang? Agaknya Ki
Demang masih lelah dan barangkali lapar. Biarlah aku sediakan makan
Ki Demang lebih dahulu" "Jangan bangun Sari. Kalau kau memang sakit,
berbaring sajalah. Biarlah orang lain menyediakan makanku" Ki Demang
sama sekali t idak menyangka bahwa sindangsari justru tersenyum.
Aneh sekali. Dan isterinya itu berkata "Itu adalah kewajiban Ki
Demang. Aku sudah tidak sakit lagi. Aku hanya sekedar pening sedikit
" Ki Demang berdiri termangu-mangu. Perempuan ini memang lain dari
isteri-isterinya yang terdahulu. Betapapun ia tersiksa oleh
kesepian, namun ia tetap berusaha bersikap manis. "Silahkan Ki
Demang, silahkan membersihkan diri. Mungkin Ki Demang akan mandi
lebih dahulu, kemudian makan dan beristirahat sebentar. Barulah aku
akan berceritera tentang diriku" Ki Demang masih tetap berdiri di
tempatnya. Seperti patung ia melihat Sindangsari membenahi
pakaiannya dan rambutnya yang kusut. "Silahkan Ki Demang" berkata
Sindangsari seperti kepada adiknya "jangan mandi terlampau malam.
Nanti Ki Demang menjadi pening" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian dengan kepala tunduk ia berjalan meninggalkan bilik itu,
langsung pergi ke pakiwan untuk membersihkan dirinya. Sejenak
kemudian Ki Demang telah duduk di ruang dalam, diatas sebuah amben
yang besar. Di hadapannya terhidang makan malamnya serta air panas
semangkuk. "Silahkan Ki Demang" berkata Sindangsari "tetapi hari ini
bukan akulah yang masak, karena aku sedang sakit" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku sudah biasa makan
seperti ini. Lauk yang di masak oleh para pelayan" "O" sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya "Aku hanya mencoba untuk memberikan
suasana baru selama ini, karena aku adalah isteri Ki Demang " "O,
ya, ya. Begitulah. Maksudku, bukan karena aku lebih senang makan
masakan mereka, tetapi kalau kau sedang sakit, maka sebaiknya kau
beristirahat" Sindangsari tidak menjawab. Dipandanginya saja Ki
Demang yang sedang mengangkat mangkuknya dan meneguknya. Digigitnya
segumpal gula kelapa, dan diteguknya air hangatnya sekali lagi.
"Silahkan Ki Demang makan" berkata Sindangsari. "Apakah kau tidak
makan?" bertanya Ki Demang. Sindangsari tidak menyahut. Tiba-tiba
saja bau masakan itu seperti mengaduk isi perutnya. Betapa ia
bertahan, namun seolah-olah tubuhnya telah diombang-ambingkan oleh
banjir sungai Praga. "Kenapa kau Sari?" bertanya Ki Demang.
Sindangsari t idak dapat menjawab. Namun karena ia tidak dapat
menahan diri lagi, iapun segera berlari masuk ke dalam biliknya.
Sebelum ia meletakkan tubuhnya di pembaringannya, maka iapun telah
muntah-muntah lagi. Karena hampir sepanjang hari ia tidak mengisi
perutnya sama sekali maka hanya air sajalah yang dapat
dimuntahkannya. "Sari" Sindangsari mendengar suara Ki Demang di
belakangnya "kau benar-benar sakit. Berbaringlah. Ketika mual
perutnya agak mereda, maka Sindangsaripun kemudian duduk di pinggir
pembaringannya. Tetapi perasaannyalah kini yang bergejolak dengan
dahsyatnya, sehingga ia tidak lagi dapat menahan diri. Air matanya
mulai mengalir dan menitik satu-satu dipangkuannya. Ki Demangpun
menjadi bingung karenanya. Ia tidak mengerti apa yang harus
dilakukannya. Yang dapat dikatakannya hanyalah kata-kata yang paling
cepat diketemukannya saja "Tidurlah Sari" Tetapi Sindangsari
menggelengkan kepalanya. Katanya "Aku tidak sakit Ki Demang" Ki
Demang menjadi heran "Kau muntah-muntah dan pucat" Sindangsari tidak
segera menyahut. Ia mencoba menilai keadaan. Apakah sudah tepat
waktunya untuk mengatakan kenyataan tentang dirinya?. Tanpa
disadarinya air matanya menitik semakin lama semakin deras. "Kau
sakit" berkata Ki Demang yang masih berdiri "kau sakit" Sekali lagi
Sindangsari menggeleng "Tidak Ki Demang" Ki Demang menjadi semakin
heran. Dan Sindangsari berkata selanjutnya "Ki Demang, silahkan
duduk. Aku ingin mengatakan sesuatu tentang diriku" Ki Demang masih
terpaku di tempatnya. Dipandanginya wajah Sindangsari yang pucat.
Meskipun dari kedua matanya masih menit ik air mata, tetapi wajah
itu tampaknya menjadi bersungguh-sungguh. Sindangsari seolah-olah
telah menemukan suatu kekuatan dan keberanian untuk berterus-terang
apapun yang akan terjadi. "Ki Demang" suara Sindangsari gemetar
"silahkan duduk" Ki Demang masih termangu-mangu. Bahkan kemudian ia
berkata "Tetapi, bagaimana dengan makanan di amben itu?" "Kalau Ki
demang belum terlampau lapar, aku persilahkan Ki Demang mendengakan
ceriteraku saja dahulu" Seperti dihisap oleh sebuah pesona yang
kuat, Ki Demangpun kemudian memungut sebuah dingklik kayu di sudut
ruangan, dan iapun kemudian duduk sambil menundukkan kepalanya,
seperti seseorang yang akan diadili oleh sidang sesepuh padukuhan.
"Ki Demang" berkata Sindangsari yang telah menemukan dirinya sebagai
suatu kenyataan "sebenarnya selama ini aku tidak mengerti,
bagaimanakah tanggapan Ki Demang terhadapku" Pertanyaan itu telah
mendebarkan dada Ki Demang Ia tidak mengerti, kenapa justru di
hadapan isterinya yang sekarang ia tidak dapat berbuat seperti
isteri-tererinya yang dahulu. Bahkan sekali ia pernah menampar pipi
isterinya, dan terhadap isterinya yang lain, ia pernah mendorongnya
sehingga isterinya itu terjatuh dan kepalanya membentur tiang.
Terhadap Sindangsari ia tidak dapat berbuat demikian. Ia hanya dapat
menghentak-hentakkan kakinya dan berteriakteriak. Kemudian pergi
meninggalkan rumahnya. Seolah-olah ia ingin lari dari perasaannya
sendiri yang menyiksanya. Tetapi celakanya, bahwa perasaannya itu
selalu ikut, kemanapun ia pergi. "Ki Demang" berkata Sindangsari
"menurut anggapanku, aku adalah isteri Ki Demang" Tiba-tiba Ki
Demang mengangkat wajahnya yang merah padam "Cukup. Bukankah kau
ingin mengatakan bahwa aku terlampau banyak pergi dan meninggalkan
kau seorang diri dalam kesepian? Bukankah kau ingin mengulangi
pertanyaanmu, apakah maksudku membawamu kemari? Apakah aku hanya
sekedar akan menyiksamu? Dan kau akan mengatakan bahwa seandainya
kau menjadi isteri Pamot, maka kau tidak akan kesepian seperti
sekarang? Begitu?" Jawaban Sindangsari benar-benar telah
mengejutkannya. Dengan dada yang seakan-akan menjadi sesak ia
mendengarkan isterinya itu menjawab "Ya. Begitulah. Dan aku
belumpernah mendengar jawaban" "O, gila. Gila. Itukah yang kau
maksud dengan ceritera tentang dirimu itu?" Tetapi kini Sindangsari
menggeleng, sehingga Ki Demang benar-benar menjadi bingung. "Bukan
itu Ki Demang" jawab Sindangsari "ada yang lain yang ingin aku
katakan. Mungkin akan mengejutkan Ki Demang, karena ceritera tentang
diriku itu akan lebih dalam dari pertanyaan-pertanyaan yang telah
pernah aku katakan, dan kini Ki Demang telah mengulanginya" "Apa
maksudmu?" bertanya Ki Demang. "Ki Demang" suara Sindangsari
merendah. Tetapi ia sudah bertekad untuk mengatakannya, seperti
Pamot yang sudah bertekad bulat pula untuk pergi ke medan perang
mengusir orang-orang asing yang mulai menancapkan kuku-kukunya di
bumi ini" Kemudian katanya lebih lanjut "aku akan pasrah diri kepada
Ki Demang. Ki Demanglah yang berhak mengadili aku, apapun yang akan
Ki Demang lakukan" Ki Demang menjadi semakin heran. Titik-titik air
mata Sindangsari yang semula telah kering, kini membasah lagi
pelupuk matanya. "Ki Demang. Lebih dahulu aku mohon maaf. Aku tidak
tahu, betapa besar dosaku dan betapa dalam aku telah menyakit i hati
Ki Demang. Sebenarnyalah aku tidak pantas lagi untuk duduk
berhadapan dengan Ki Demang sekarang ini" Ki Demang menjadi bingung.
Tetapi dibiarkannya Sindangsari berbicara terus. "Aku mohon maaf
bukan karena aku ingin melepaskan diri dari hukuman apapun. Tetapi
aku ingin bahwa aku tidak lagi menanggung dosa yang tidak
terlukiskan" "Aku tidak mengerti" Ki Demang akhirnya bergumam
Sindangsari terhenti sejenak. Terasa lehernya menjadi panas, dan
kerongkongannya seolah-olah tersumbat. Tetapi ia telah memaksa
dirinya untuk berkata terus "Ki Demang. Kini aku akan
berterus-terang. Betapa aku mengharap Ki Demang sebagai seorang
suami yang tidak meninggalkan aku di dalam kesepian, yang setiap
saat dapat memberikan ketenteraman lahir dan batin, namun
sebenarnyalah bahwa aku memang sudah tidak berhak lagi" Ki Demang
menjadi semakin bingung "Katakan, katakan supaya aku segera menjadi
jelas. Kau telah menyiksa aku dengan teka-teki yang tidak kunjung
selesai itu" "Ampun Ki Demang" suara Sindangsari menjadi semakin
lambat. Betapapun tekadnya sudah bulat, namun untuk mengatakannya"
ia masih harus berjuang sekuat tenaganya "aku sebenarnya sudah lama
ingin berterus terang. Tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk
mengatakannya" perempuan itu berhenti, sejenak, lalu "Namun kini aku
tidak akan dapat ingkar lari. Berani atau tidak berani aku harus
mengatakannya" Dahi Ki Demang menjadi semakin berkerut-kerut. Hampir
ia tidak sabar lagi menunggu. Tetapi ia masih tetap bertahan duduk
di tempatnya. Ki Demang menjadi semakin heran ketika ia melihat
Sindangsari kini terisak-isak. Namun betapa sulitnya, ia berkata
"Sekarang, agaknya sudah sampai saatnya aku berkata Ki Demang.
Hukumlah aku kalau Ki Demang ingin menghukumnya. Bunuhlah aku kalau
Ki Demang memang ingin membunuhku" "Apakah sebenarnya yang sudah
terjadi, apa?" Ki Demang semakin tidak bersabar. "Kini aku mengerti
Ki Demang. Kenapa Ki Demang selalu berusaha menghindar dari
isterinya, dari aku. Agaknya Ki Demang memang sedang menunggu
beberapa waktu untuk membuktikan bahwa aku tidak pantas lagi menjadi
isterimu. Dan kini Ki Demang akan dapat melihat bukti itu. Ki Demang
telah menang di dalam persoalan ini. Betapa aku berusaha untuk
mengambil hati Ki Demang, untuk menundukkan kekerasaan hati Ki
Demang, tetapi aku tidak berhasil. Dan kini Ki Demang akan dapat
menikmati kemenangan itu. Aku kini memang harus menyerah" "Aku tidak
mengerti, aku tidak mengerti" Ki Demang tibatiba menghentakkan
kakinya. Sindangsari. memandang Ki Demang dengan mata yang basah
oleh titik air mata yang masih meleleh. Tiba-tiba saja ia bersimpuh
di hadapan suaminya. Sambil menangis terseduTiraikasih Website http://kangzusi.com/ sedu ia berkata
"Apakah Ki Demang benar-benar tidak mengerti maksudku?" "Aku tidak
mengerti. Kenapa kau jadi begini. Aku tidak mengerti. Jangan membuat
aku menjadi gila" "Ki Demang" Sindangasari yang kini berlutut di
muka Ki Demang itu menengadahkan wajahnya "selama ini Ki Demang
tidak pernah berbuat sesuatu atasku sebagai seorang suami terhadap
seorang isteri. Dan kini Ki Demang dapat melihat, bahwa aku adalah
seorang perempuan yang penuh dosa. Karena saat ini, aku sebenarnya
sama sekali tidak sakit. Yang terjadi atasku adalah perubahan di
dalam diriku, di dalam tubuhku" suara Sindangsari menjadi semakin
gemetar "Aku mengandung Ki Demang" Kata-kata pengakuan Sindangsari
itu di dalam pendengaran Ki Demang bagaikan petir yang menyambar
kepalanya. Justru karena itu, maka sejenak ia membeku di tempatnya.
Jantungnya serasa berhenti berdetak dan hatinya berhenti menanggapi
keadaan di sekitarnya. Dalam pada itu Sindangsari kini menangis
sejadi-jadinya di kaki Ki Demang yang duduk membeku itu. Kata-kata
yang telah terlontai dari mulutnya itu bagaikan bendungan yang telah
pecah. Kini air yang selama ini tertahan-tahan tiba-tiba saja meluap
dengan dahsyatnya. Sesaat ruangan itu menjadi sepi dan tegang. Namun
tangis Sindangsari telah bergejolak memenuhi seluruh bilik. Tubuhnya
yang dengan lemahnya bersimpuh di lantai itu telah
berguncang-guncang oleh isaknya yang meledak-ledak. Ki Demang masih
juga membeku di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pada
suatu saat ia akan dihadapkan pada suatu kenyataan yang tidak pernah
diduganya. Namun sejenak kemudian jantungnya serasa telah disentuh
oleh nyala api yang dahsyat. Maka tiba-tiba saja dadanya serasa
meledak. Bersamaan dengan itu, meledak pulalah sifatnya yang selama
ini tertahan-tahan pula. Dengan serta-merta disambarnya rambut
Sindangsari yang ikal dan yang telah terurai di bawah kakinya.
Sambil menarik rambut itu ia menggeram seperti seekor harimau lapar
"Pengkhianat" Tetapi hanya itulah yang dapat diucapkan. Kalimat yang
berjejal-jejal di dadanya sama sekali tidak dapat dikatakannya.
Namun semuanya itu tersalur lewat tangannya yang gemetar. Oleh
tarikan tangan Ki Demang itu, maka kepala Sindangsari menjadi
terangkat. Sejenak ia mencoba memandang wajah Ki Demang, namun
kemudian matanya dipejamkannya. Mulut di Demangpun menjadi gemetar
pula karenanya. Kemarahan yang menghentak-hentak dadanya tidak dapat
diredakannya, sehingga perlahan-lahan namun sepenuh tenaga ia meraba
leher Sindangsari. Sindangsari sama sekali tidak mengelak.
Diserahkannya dirinya bulat-bulat kepada suaminya. Hukuman apapun
yang akan diterimanya, tidak dihiraukannya lagi. Bagi Sindangsari
kematian yang demikian adalah jauh lebih baik daripada apabila ia
harus membunuh dirinya. Ki Demang seakan-akan telah benar-benar
kehilangan keseimbangannya. Wajahnya menjadi merah padam dan matanya
seakan-akan menyala. Dengan kasarnya ia menghentak-hentakkan leher
isterinya. Bahkan ketika ia kemudian meloncat berdiri, leher itu
tidak dilepaskannya. Sindangsari yang benar-benar telah tercekik
tidak dapat bertahan duduk bersimpuh, sehingga iapun terpaksa
berusaha untuk berdiri dengan susah payah, betapapun ia sudah
pasrah. Tidak ada seorangpun di dalam rumah itu, selain Ki Demang
suami isteri yang sedang bertengkar itu. Dengan demikian maka tidak
ada orang lain yang akan dapat melerainya seandainya Ki Demang
benar-benar telah mata gelap dan berhasrat tanpa sesadarnya membunuh
isterinya. Dengan kemarahan yang tidak terkatakan Ki Demang
mengguncang-guncang tubuh isterinya. Disela-sela giginya yang
gemeretak, dipaksakannya berkata dengan sendat "Pengkhianat. Aku
bunuh kau. Aku bunuh kau" Sindangsari masih ingin menjawab. Tetapi
suaranya sudah tidak lagi dapat menyusup lewat kerongkongannya.
Namun tiba-tiba saja, di dalam keadaan yang seakan-akan sudah tidak
akan dapat dicegah lagi, keadaan yang akan mengakhiri hidup
Sindangsari itu, memercik sesuatu di hati Ki Demang. Seperti
memerciknya api di dalam gelapnya malam. Ketika ia memandang wajah
Sindangsari yang pucat dan pasrah itu, terbayanglah kembali wajah
gadis itu yang duduk dengan kepala tertunduk di belakang ibunya,
pada saat pertama-tama ia melihatnya. Wajah itu kini menjadi
sedemikian pucatnya. Wajah itu seakan-akan sudah tidak berdarah
lagi. Namun demikian Sindangsari sama sekali t idak berusaha untuk
membebaskan dirinya dari cekikan Ki Demang yang semakin lama menjadi
semakin keras. Ternyata Ki Demang bukanlah orang yang berhati batu.
Kenangan dan penglihatannya itu telah menyentuh perasaannya.
Sebenarnyalah bahwa ia bukanlah seorang yang kasar dan liar. Hanya
karena kekurangan yang ada di dalam dirinya yang seakan-akan telah
membunuh harapan di masa depannya itulah yang telah melonjak
mewarnai hidupnya yang gersang. Di dalam-dalam saat yang paling
mendebarkan jantung Ki demang telah menemukan getaran yang paling
dalam di dalam dirinya, yang selama ini telah tertimbun oleh
kekecewaan, kecemasan dan oleh keputus-asaan. Tanpa sesadarnya, maka
perlahan-lahan tangan Ki Demang itu menjadi semakin kendor. Degup
jantungnya yang serasa menjadi semakin keras. Lambat namun pasti,
akhirnya tangan Ki Demang itupun terlepas dari leher Sindangsari.
Tetapi Sindangsari telah menjadi begitu lemahnya. Ketika tangan Ki
Demang terlepas sama sekali, perempuan itu sudah tidak mampu lagi
untuk berdiri sendiri. Karena itu, maka iapun segera
terhuyung-huyung. Untunglah bahwa Ki Demang cepat meraihnya dan
dengan hati-hati diletakkannya Sindangsari di pembaringannya.
Ternyata Sindangsari itu telah pingsan. "Sari, Sari" desis Ki Demang
sambil menggerakkan kepala isterinya. Sindangsari t idak menyabut.
Matanya separo terpejam dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Ki
Demang tiba-tiba saja menjadi bingung. Di guncangguncangnya tubuh
yang tergolek di pembaringan itu sambil berdesis "Sari, Sari. Apakah
kau mati?" Sindangsari t idak menjawab. Baru saat itulah terasa di
dada Ki Demang, bahwa memang telah sekian lamanya ia mencoba
menyembunyikan kekurangan diri. Menyembunyikan kegersangan hidupnya
dengan sikap yang kasar dan keras, ia mencoba melemparkan kesalahan
dan kekurangan yang ada di dalam dirinya kepada orang-orang lain.
Kepada isteri-isterinya yang berganti-ganti. Sejenak Ki Demang
memandang Sindangsari yang masih terbaring diam. Gejolak hatinya
menjadi semakin dahsyat mengguncang-guncang dadanya. Karena itu maka
iapun segera berlari-lari ke belakang memanggil beberapa orang
pelayannya. "He, Sindangsari pingsan" katanya kebingungan"
panggillah siapa saja yang dapat mengobatinya" Para pelayan itupun
menjadi bingung pula. Beberapa orang berlari-larian merebus air,
mencari jeruk pecel dan ada yang memetik dadap srep dan tingkah laku
yang bermacammacam. Ada diantara mereka yang atas kehendak sendiri
telah pergi memanggil perempuan tua di rumah sebelah. Perempuan yang
dianggapnya mengerti lebih banyak tentang orang-orang yang
memerlukan perawatan, sedang yang lain berlari ke rumah yang lain,
memanggil tetangga-tetangga yang lain pula. Sejenak kemudian rumah
Ki demang menjadi ribut. Beberapa orang tetangga telah bersamaan
datang dengan tergesa-gesa. Ketika mereka melihat Sindangsari
tergolek di pembaringan maka merekapun segera berbuat apa saja yang
menurut pendapat mereka dapat membuatnya sadar. Namun tidak
seorangpun dari mereka yang mengetahui apakah sebab yang sebenarnya
yang telah membuat perempuan itu menjadi pingsan. Beberapa orang
segera memijit-mijit tengkuknya. Ada yang membasahi lehernya dengan
air jeruk. Ada yang menggosokgosok kakinya dengan minyak kelapa dan
berambang merah. Dan masih banyak lagi yang mereka lakukan atas Nyai
Demang yang masih muda itu. Tetapi ketika seseorang memijit
perutnya, perempuan tua di rumah sebelah, yang hadir juga di tempat
itu segera mencegahnya sambil berkata "Jangan. Jangan kau pijit
perutnya" "Mungkin dapat memperingan pernafasannya yang tampaknya
begitu sesak" "Jangan" perempuan tua itu menjawab "Nyai demang
sedang mengandung muda" "He" perempuan-perempuan yang mendengarnya
seakanakan tersentak. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun
sejenak kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepala. "Darimana kau
tahu?" bertanya seseorang. Perempuan tua itu tersenyum "Siang tadi
aku disini hampir sehari-harian. Aku pasti bahwa ia sedang
mengandung muda. Tanda-tandanya telah cukup" Sekali lagi
perempuan-perempuan itu mengangguk-angguk. Ki Demang yang ada di
dalam bilik itupun menjadi berdebar-debar. Ternyata perempuan tua
itu telah mengetahui bahwa isterinya mengandung. Namun Ki Demang
yakin, bahwa perempuan tua itu t idak mengerti, dari siapa
Sindangsari mendapatkan benih kandungannya. Sejenak kemudian, maka
perlahan-lahan Sindangsari mulai bergerak, setiap hatipun menjadi
lega dan berpengharapan lagi melihat perempuan yang pucat pasi
terbaring diam itu. Perempuan tua di rumah sebelah itupun segera
duduk di sampingnya. Sambil menggosok-gosok keningnya ia berbisik
"Nyai Demang, Nyai Demang?" Perlahan-lahan Sindangsari membuka
matanya. Pandangan matanya yang masih kabur menangkap bayangan yang
kehitam-hitaman bergerak-gerak di hadapannya. "He, dimanakah aku ini
"pertanyaan itulah yang pertamatama meloncat di hatinya "apakah aku
seuang dibayangi oleh hantu-hantu neraka?" Namun tatapan matanyapun
kemudian menjadi semakin lama semakin terang. Sehingga
perlahan-lahan ia dapat melihat satu demi satu perempuan-perempuan
yang mengerumuninya. "Nyai Demang, sadarlah" desis perempuan tua di
rumah sebelah. Nyai Demang itupun mengerutkan keningnya. Kini ia
sadar bahwa ia sedang dikerumuni oleh tetangga-tetangganya. "Kau
tidak apa-apa Sari" Sindangsari terkejut mendengar suara yang berat
itu. Perlahan-lahan ia berpaling. Dilihatnya Ki Demang berdiri
termangu-mangu di belakang perempuan-perempuan yang mengerumuninya
itu. Sindangsari mencoba mengingat-ingat sejenak, apa yang telah
terjadiatas dirinya. Terbayang wajah Ki Demang yang merah padam dan
matanya yang menyala, menerkamnya dan mecekiknya. "Kenapa aku tidak
mati?" ia bertanya kepada diri sendiri. Perlahan-lahan Ki demang
melangkah maju, sehingga perempuan-perempuan itupun menyibak. "Kau
tidak apa bukan, Sari?" bertanya Ki Demang pula. Sari masih diam
saja memandang wajah itu. Namun kini Sindangsari melihat sorot mata
yang jauh berbeda dari sorot mata yang dilihatnya sesaat sebelum Ki
Demang itu menerkam lehernya. Bahkan perlahan-lahan Ki Demang itu
menyentuh dahinya sambil bertanya pula "Kau tidak apa-apa?"
Sindangsari menggelengkan kepalanya. Larrbat sekali ia menjawab
"Tidak Ki Demang. Aku tidak apa-apa" "Sokurlah. Sokurlah" Ki Demang
mengangguk-angguk. Perempuan-perempuan yang mengerumuninya pun
kemudian meninggalkan bilik itu satu demi satu. Beberapa orang
saling bergumam "Ternyata Nyai Delmang itu sedang mangandung muda.
Nah, baru sekaranglah Ki Demang merasa berbahagia. Ia benar-benar
telah mendapatkan seorang isteri yang baik" "Ya. Mudah-mudahan
keadaan isterinya sehat-sehat saja" Dan yang lain lagi bertanya "He,
sejak kapan isterinya itu mengandung?" Kawan-kawannya
menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena mereka menganggap bahwa
keadaan Sindangsari sudah tidak berbahaya lagi, maka
perempuan-perempuan itupun kemudian minta diri untuk pulang ke rumah
masingmasing. Bahkan ada diantara mereka sambil tersenyum berkata
kepada Ki Demang "Selamat Ki Demang. Ki Demang telah memaksa
bibirnya untuk tersenyum pula. Jawabnya "Terima kasih, terima kasih"
Yang berada di dalam bilik Sindangsari t inggallah beberapa orang
perempuan saja. Diantaranya perempuan tua di rumah sebelah. Sambil
mengusap-usap lengan Sindangsari ia berkata "Kau benar-benar harus
banyak beristirahat ngger. Kau dengar?" Sindangsari menganggukkan
kepalanya. "Agaknya kau terlampau letih" Sindangsari mengangguk
sekali lagi. "Di waktu mengandung muda, kau harus berhati-hati.
Sangat berhati-hati. apalagi anak ini adalah anak yang baru pertama
kalinya akan didapat oleh Ki Demang di Kepandak" Dada Sindangsari
berdesir mendengarnya, tetapi ia mencoba untuk menyembunyikannya.
Bahkan kemudian sambil tersenyum ia menjawab "Ya bibi" "O ngger"
berkata perempuan tua yang lain "kau adalah satu-satunya isteri Ki
Demang yang pernah mengandung. Karena itu kau harus benar-benar
menjaga dirimu" Sindangsari menganggukkan kepalanya. Meskipun ia
tersenyumnamun hatinya serasa tertusuk duri. Ketika keadaan
Sindangsari sudah berangsur baik, maka perempuan-perempuan yang
tinggal itupun segera minta diri pula. Perempuan tua di rumah
sebelah mendekati Ki Demang sambil berbisik "Peliharalah isteri Ki
Demang dengan sepenuh hati. Ia telah mengandung. Suatu kebahagiaan
yang pasti tidak dapat terbayangkan sebelumnya bukan, Ki Demang?" Ki
Demangpun mencoba tersenyum "Ya, bibi" Perempuan tua itu tersenyum
pula. Katanya "Kalau Ki demang memerlukan sesuatu, panggillah aku.
Aku akan membantu Nyai Demang sedapat-dapatnya" "Terima kasih"
Perempuan tua itupun kemudian meninggalkan rumah Ki Demang bersama
beberapa orang yang lain. Di gardu ia bertemu dengan cucunya yang
sedang bertugas ronda. "Antarkan aku pulang sebentar" Cucunya tidak
menjawab apapun. Kepada kawan-kawannya ia minta ijin untuk mengantar
neneknya dan perempuanperempuan yang lain itu. "Sebentar lagi
Kademangan ini pasti akan mengadakan perayaan lagi. Pasti jauh lebih
meriah daripada saat Ki Demang kawin" berkata perempuan tua itu
kepada cucunya. "Kenapa?" cucunya itu bertanya. Istri KiDemang
sedang mengandung. Kalau bayi itu lahir, maka berbahagialah seluruh
Kademangan" Cucunya itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi
berita itu baginya bukan berita yang aneh. Nyai Demang kawin dengan
Ki Demang. Bukankah wajar kalau mereka akan mempunyai keturunan.
Namun ketika ia mengatakannya kepada kawannya ronda setelah ia
kembali dari mengantarkan neneknya dan perempuan-perempuan yang
lain, kawannya berkata "He, itu berarti suatu kurnia. Bukankah sudah
lima kali Ki Demang kawin dan baru yang keenam kalinya ia akan
mendapatkan keturunan?" Cucu perempuan tua itu mengangguk-anggukkan
kepalanya, meskipun ia tidak menyahut. Namun dengan demikian, berita
tentang isteri Ki Demang yang mengandung itupun segera menjadi
pembicaraan yang ramai. Perempuan-perempuan yang pulang ke rumah
masingmasingpun segera memperbincangkannya dengan keluargakeluarga
mereka yang lain. Sementara itu, sepeninggal tetangga-tetangganya
yang mengeremuninya, Sindangsari menjadi berdebar-debar kembali. Ia
t idak mengerti kenapa ia masih tetap hidup. "Mungkin selagi Ki
Demang mencekik aku, seorang tetangga atau seorang peronda telah
mencarinya" katannya di dalam hati "tetapi bagaimana setelah mereka
pergi?" Tiba-tiba saja dada Sindangsari telah dirayapi oleh
ketakutan dan kecemasan. Kalau semula ia telah pasrah, maka kini ia
merasa ngeri melihat kemungkinan yang dapat datang. "Apakah Ki
Demang akan meneruskan maksudnya, membunuh aku?" Bulu-bulu
Sindangsari meremang ketika terbayang tubuhnya tergolek di lantai
dan sudah t idak bernyawa lagi. Hatinya menjadi terguncang dan
darahnya serasa berhenti mengalir ketika ia melihat selangkah demi
selangkah Ki Demang memasuki biliknya. Namun Sindangsari sama sekali
tidak bergeser dari tempatnya. Ia mencoba untuk menemukan kembali
perasaannya yang pasrah. Namun ia kini tidak berhasil, karena
kengerian yang mencengkam hati. Meskipun demikian dipaksanya dirinya
untuk tetap di tempatnya dan tidak berusaha untuk membebaskan diri.
Tetapi Ki Demang itu ternyata tidak segera menerkamnya dan
mencekiknya. Bahkan dengan ragu-ragu ia menarik sebuah dingklik kayu
dan duduk di sebelah pembaringannya. "Bagaimana keadaanmu Sari?"
bertanya Ki Demang dengan suara yang parau. Sindangsari menahan
nafasnya. Katanya perlahan-lahan "Aku tidak apa-apa Ki Demang" Dan
tanpa diduga-duga Ki Demang itu berkata "Aku minta maaf Sari. Aku
hampir saja kehilangan akal. Kehilangan sifat kemanusiaanku. Tetapi
kini aku menyadari, bahwa dengan demikian aku tidak akan mendapatkan
kedamaian di dalam hati selama hidupku" "Jadi" "Lupakan yang sudah
terjadi" "Ki Demang" dengan serta merta Sindangsari bangkit,
seolah-olah ia telah mendapatkan seluruh kekuatannya kembali.
"Apakah maksud Ki Demang?" "Aku minta maaf atas kekhilafanku Sari.
Marilah semuanya ini kita lupakan saja" "O" Sindangsari tidak dapat
meneruskan kata-katanya. Namun tiba-tiba saja sekali lagi, ia
berjongkok di bawah kaki Ki Demang sambil menangis. "Sari, kenapa
kau menangis?" Tersendat-sendat Sindangsari berkata "Apakah Ki
Demang memaafkan aku?" Ki Demang t idak segera menyahut. "Katakan Ki
Demang" desak Sindangsari sambil mengguncang-guncang kakinya "apakah
Ki Demang memaafkan aku" Perlahan-lahan Ki Demang menganggukkan
kepalanya "Marilah semuanya kita lupakan. Kita akan menempuh hidup
yang baru sama sekali" "Tetapi, tetapi..." Sindangsari tidak dapat
mengatakannya. Namun tanpa sesadarnya ia meraba perutnya. "Ki
Demang" suara Sindangsari terputus oleh tangisnya. Dipeluknya kaki
Ki Demang erat-erat, seperti tidak akan dilepaskannya lagi.
"Berdirilah Sari. Duduklah yang baik. Kalau ada seseorang yang
melihatmu berbuat demikian, maka kesannya akan berlainan" berkata Ki
Demang kemudian sambil mengangkat Sindangsari dan mendudukkannya di
pembaringannya. Sindangsari masih menangis. Tetapi kini ia dicengkam
oleh perasaan yang aneh. Ia tidak mengerti, kenapa sikap Ki Demang
tiba-tiba saja berubah. Namun di samping itu, iapun merasa bahagia
bahwa ia mendapat kesempatan untuk memelihara bayi dalam perutnya
meskipun bayi itu bukan anak Ki Demang sendiri. Ki Demang masih
duduk membatu di sisi pembaringan Sindangsari, sedang Sindangsari
masih juga menangis tersedu-sedu. Sejenak kemudian Ki Demang itupun
menarik nafas dalamdalam sambil berkata "Sudahlah, Seperti kata
orang tua-tua beristirahatlah. Kau memerlukan banyak istirahat di
dalam keadaanmu itu" Sindangsari mengangguk kecil. Ki Demangpun
kemudian berdiri. Ditepuknya bahu isterinya perlahan-lahan sambil
berkata selanjutnya "Tidurlah. Aku akan keluar sebentar" Sekali lagi
Sindangsari menganggukkan kepalanya. Ki Demangpun kemudian melangkah
meninggalkan bilik itu. Di muka pintu ia berpaling. Tetapi ia tidak
berhenti. Sepeninggal Ki Demang, Sindangsari membanting dirinya
diatas pembaringannya. Ia tidak mengerti, perasaan apakah yang
sebenarnya bergolak di dadanya. Kini ia menjadi benarbenar yakin
bahwa ia memang tidak mengerti perasaan, sirat dan tabiat Ki Demang.
Meskipun telah beberapa lama ia berada di rumah itu, namun Ki Demang
baginya adalah rahasia yang seolah-olah tidak terpecahkan. Betapa
lelahnya Sindangsari lahir dan batin saat itu sehingga tanpa
sesadarnya, iapun telah tertidur. Ia tidak menyadari berapa lamanya
ia tidur di dalam biliknya, namun ketika ia terbangun, cahaya pagi
telah menyusup di sela-sela dinding. Seperti biasanya Sindangsari
langsung pergi ke pakiwan setelah bangun dari tidurnya. Ia menjadi
heran melihat wajah pembantunya yang berseri-seri. Seorang gadis
memberanikan diri mendekatinya sambil berkata "Aku senang sekali
Nyai Demang, bahwa pada suatu saat aku akan mendapat momongan"
Sindangsari mengerutkan keningnya "Dari mana kau tahu?" Semua orang
tahu. Semalam perempuan-perempuan yang datang ke rumah ini tahu,
bahwa Nyai Demang benar-benar telah mengandung" Sindangsari mencoba
tersenyum, betapa hambarnya. "Semua pekerjaan di dapur sudah kami
selesaikan" berkata gadis itu "Nyai Demang sejak sekarang tidak
boleh bekerja terlampau banyak" "Terima kasih" sahut Sindangsari
"tetapi aku sudah merasa sehat sekarang" "O, jangan. Jangan.
Silahkan Nyai Demang berada di dalam" Sindangsari menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi sambil tersenyumia berkata "Terima kasih"
Sindangsaripun kemudian kembali ke dalam biliknya. Tetapi ia memang
t idak dapat duduk bertopang dagu. Karena itu dibersihkannya
biliknya yang terlampau kotor karena keadaannya semalam. Di lantai
berhamburan kulit jeruk, beberapa empon-empon dan lembaran-lembaran
dadap serep. Seonggok pasir dan air yang terpercik di sana-sini.
Tetapi ketika seorang pelayannya melihatnya, dengan tergopoh-gopoh
sapu yang di tangannya itupun segera diminta sambil berkata "Biarlah
kami yang membersihkannya" Sindangsaripun kemudian duduk di
pembaringannya. Ada suatu perasaan gembira membersit di hatinya,
bahwa ia akan mendapatkan seorang anak. Anak dari seseorang yang
paling dicintainya. Tetapi apabila dibayangkannya nasib anaknya itu
kelak, maka iapun menjadi bingung dan cemas. Sekarang Ki Demang
agaknya dapat memanfaatkannya. Tetapi bagaimana sikapnya terhadap
anaknya itu kelak. Kalau anak itu akan disia-siakan, maka lebih baik
anak itu tidak usah lahir. Sejenak Sindangsari duduk termangu-mangu.
Namun sejenak kemudian iapun bangkit berdiri. Dibenahinya pakaiannya
dan di sisirnya rambutnya yang masih kusut terurai. Setelah selesai
semuanya, maka iapun melangkah keluar dari biliknya untuk melihat,
apakah persediaan minum dan makanan Ki Demang sudah disiapkan
sebaik-baiknya. Tetapi langkah Sindangsari tertegun ketika di
pendapa ia mendengar Ki Demang sedang bercakap-cakap. Agaknya Ki
Jagabaya dan seorang bebahu Kademangan yang lain telah datang. "Ah,
agaknya aku bangun terlampau siang" desisnya. Tetapi ketika
Sindangsari akan melangkah kembali ke dalam biliknya, ia menjadi
tertegun sejenak. Sekilas ia mendengar pembicaraan Ki Demang dengan
kedua pembantunya itu. Berkata Ki Demang "Nah Ki Jagabaya. Katakan
sekarang bahwa akulah yang mandul" Ki Jaga baya tidak menjawab. "Aku
dapat membuktikan sekarang, bahwa kelima isteriisteriku yang
terdahululah yang memang perempuanperempuan mandul. Ayo, sebutkan
sekarang, siapakah diantara mereka yang sudah beranak?" Ki Jagabaya
masih berdiam diri sambil menganggukanggukkan kepalanya. "Sekarang"
berkata Ki Demang "kalian akan melihat, bahwa isteriku yang
keenamtelah mengandung" "Selamat Ki Demang" berkata Ki Jagabaya
kemudian "Aku ikut merasa gembira. Mudah-mudahan Nyai Demang
dilindungi oleh Tuhan sampai kelahiran bayinya kelak"
"Mudah-mudahan" jawab Ki Demang "hal ini akan menjadi bukti bahwa
aku tidak mandul seperti yang mereka sangka" Dada Sindangsari
berdesir mendengar pembicaraan itu. Ia tidak mengerti, kenapa Ki
Demang dengan bangga mengatakan bahwa isterinya sudah mengandung.
Kenapa justru Ki Demang berbangga karenanya? Sindangsari tidak
berhasrat mendengarkan pembicaraan itu lebih lanjut. Karena itu
iapun segera kembali ke dalam biliknya yang telah selesai
dibersihkan sambil berteka-teki. Sedang di pendapa Ki Demang masih
juga berceritera tentang isterinya. Setiap orang yang baru datang,
segera diberitahukannya bahwa isterinya telah mengandung. "Semalam
suntuk aku hampir tidak t idur" berkata Ki Demang "Sindangsari
muntah-muntah hampir semalam suntuk. Bahkan tiba-tiba ia jatuh
pingsan sehingga banyak tetangga yang berdatangan. Untunglah segera
ia sadar. Kalau tidak hal itu pasti akan berbahaya bagi
kandungannya" Orang yang mendengar keterangan Ki Demang itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sokurlah" berkata salah seorang
dari mereka "Ki Demang akan mendapatkan seorang keturunan yang akan
dapat memperpanjang jabatan Ki Demang di Kepandak" "Tuhan agaknya
memang berbelas kasihan kepadaku" sahut Ki Demang. "Hampir setiap
orang memang menyangka bahwa Ki Demang t idak akan lagi dapat
mendapat anak. Lima kali Ki Demang kawin. Semuanya tidak mendapatkan
anak" "Aku memang sudah merasakan kelainan istriku yang sekarang
dari kelima isteri-isteriku yang dahulu, Ternyata bahwa perasaanku
itu cukup tajam menangkap isyarat itu" "Nah, kalau begitu Ki Demang
pasti akan mengadakan upacara sokur akan hal ini" berkata Ki
Jagabaya sambil tertawa. "Tentu. Nanti, di bulan ketujuh dari
kehamilan isteriku, aku akan mengadakan peralatan lagi, sesuai
dengan adat. Kemudian apabila kelak bayiku itu lahir, aku akan
mengadakan malamtirakatan selapan hari" Hampir bersamaan beberapa
orang menyahut "Aku akan datang setiap malam" Demikianlah, kehamilan
Sindangsari itu tampaknya menjadikan suatu kebahagiaan bagi Ki
Demang. Setiap orang yang dijumpainya diberitahukannya. Bahkan
orang-orang yang hampir tidak berkepentingan sama sekali. Orang tua
dan anak-anak muda. "Isteriku sudah hamil" katanya kepada seseorang
yang ditemuinya di tengah jalan. Orang itu mengerutkan keningnya.
Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk "Siapakah isterimu?" "He,
gila kau. Apakah kau tidak tidak tahu isteriku" Orang itu semakin
bingung. Namun kemudian ia berkata "Aku bukan orang Kepandak. Aku
belum mengenalmu" "He?" Ki Demang mengerutkan keningnya "Aku adalah
Demang di Kepandak" "O, maaf Ki Demang. Aku adalah orang Pliridan
yang baru pulang dari seberang sungai Praga. Aku hanya lewat saja di
Kademangan ini" "O, jadi kau bukan orang Kepandak?" bertanya Ki
Demang. Orang itu menggelengkan kepalanya. "Rupanya aku keliru. Kau
mirip benar dengan Supa TriniL Aku sangka kau adalah Supa Trinil
atau adik kembarnya" Orang itu tersenyum "Memang mungkin sekali
beberapa orang berwajah hampir serupa di dunia ini. Namun demikian
aku mengucapkan selamat bahwa isteri Ki Demang di Kepandak ini sudah
mengandung" "Terima kasih. Lima kali aku kawin. Kali ini adalah yang
keenam. Semula hampir setiap orang mengejekku. Disangkanya aku tidak
akan mendapat keturunan lagi. Diantaranya menurut pendengaranku
termasuk Supa Trinil" "O, dan sekarang, isteri yang keenam ini
agaknya akan memberikan kebahagiaan kepada Ki Demang" "Ya tentu.
Tentu" "Semoga" orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya "sekarang
perkenankanlah aku melanjutkan perjalanan" "Silahkan. Aku minta
maaf, bahwa aku sudah keliru" "Agaknya Ki Demang terlampau gembira"
"Tentu, tentu" Orang itupun kemudian minta diri setelah berulang
kali mengucapkan selamat. Ki Demang mengangguk-angguk kepalanya
sambil tersenyum-senyum. Tetapi ketika orang itu sudah hilang di
balik tikungan, tibatiba Ki Demang mulai merenung. Ia sadar bahwa
anak di dalam kandungan isterinya itu bukan anaknya. Anak itu adalah
anak Pamot. Anak gila itu. Tiba-tiba Ki Demang menghentakkan kakinya
sambil menggeram "Kalau anak itu kelak pulang hidup-hidup, aku akan
membunuhnya. Ia sudah menodai kesucian keluargaku. Kalau anak itu
kelak lahir, maka di dalam rumahku akan ada setitik noda yang
memuakkan. Aku akan selalu tersiksa oleh anak itu. Apalagi kalau
wajahnya mirip dengan wajah pamot" Namun tiba-tiba kepala Ki Demang
tertunduk lesu. Di dalam hatinya ia berkata "Aku telah membanggakan
anak yang ada di dalam kandungan itu kepada setiap orang. Aku selalu
mengatakan bahwa akhirnya isteriku hamil. Akhirnya aku dapat
membuktikan bahwa aku akan mempunyai keturunan" Ki Demang menarik
nafas dalam-dalam. Terbayang wajahwajah isterinya yang terdahulu.
Apakah kata mereka tentang Sindangsari yang ternyata telah
mengandung apabila mereka mengetahuinya? Perlahan-lahan Ki Demangpun
kemudian melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya. Kadang-kadang ia
memang merasa, bahwa kehamilan Sindangsari dapat dipakainya sebagai
alat kebanggaan. Tetapi ia tidak dapat lari dari kenyataan bahwa
anak itu sebenarnya memang bukan anaknya sendiri. Ki Demang itupun
terperanjat ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Ketika ia
berpaling dilihatnya Ki Jagabaya berjalan ke arahnya. "Agaknya Ki
Demang sudah ada disini" desis Ki Jagabaya. "Berjalan-jalan saja Ki
Jagabaya. Aku dengar jalur-jalur parit di padukuhan ini agak
terganggu oleh beberapa orang yang tidak menghiraukan persetujuan
penggunaan air, sehingga agak mengganggu aliran air di bagian bawah"
Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Akupun mendengar katanya
"tetapi semalam semuanya telah aku selesaikan" "Sokurlah" sahut Ki
Demang "akupun baru saja sampai. Aku belumberbuat apa-apa" "Pagi ini
aku memang akan melaporkannya kepada Ki Demang" "Baik. Marilah kita
kembali. Kita dapat banyak berbicara di Kademangan" Keduanyapun
kemudian berjalan kembali ke Kademangan. Namun pikiran Ki Demang
masih saja selalu dicengkam oleh kehamilan isterinya. Kadang-kadang
terlintas dianganangannya seolah-olah Pamot datang kepadanya,
menuntut agar anaknya kelak diserahkannya kepadanya. Karena itu,
maka pembicaraan Ki Jagabaya kadang-kadang tidak di tanggapinya.
Bahkan kadang-kadang ia salah menjawab dan sama sekali tidak
berhubungan dengan persoalan yang dike mukakan oleh Ki Jagabaya.
Tetapi Ki Jagabayapun cukup mengerti. Sebagai seseorang yang sudah
bukan orang muda lagi ia mengerti, bahwa kehamilan isterinya telah
membuat Ki Demang beranganangan. "Sudah sekian lama ia merindukan
anak" berkata Ki Jagabaya di dalam hatinya "sekarang agaknya Tuhan
telah memperkenankan" Namun ternyata bahwa Ki Jagabaya yang mencoba
untuk mengerti itu, telah tersesat dugaan. Seperti setiap orang
selain Sindangsari dan Ki Demang sendiri, ia tidak tahu apakah yang
sudah terjadi sebenarnya dengan Sindangsari. Tetapi sebenarnya
selain keduanya, masih ada seseorang yang menduga, bahwa hal itulah
yang telah terjadi. Orang itu adalah Lamat. Ketika berita tentang
kehamilan itu sampai kepadanya, maka dadanya telah berdesir
tajamsekali. "Kau, kau dengar bahwa Sindangsari telah mengandung
"pada saatu saat Manguri bertanya kepadanya. Lamat menganggukkan
kepalanya "Ya, aku sudah mendengar" "Siapa yang mengatakan
kepadamu?" "Setiap orang sudah mengetahuinya. Juru masakpun sudah
mengetahuinya pula" "Gila kau. Sekarang kerjaku menjadi bertambah
sulit" Lamat tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat menghindari
bayangan yarg selalu mengganggunya. tanpa disengajanya ia telah
melihat noda-noda itu terpetik pada hubungan yang tulus antara Pamot
dan Sindangsari. Kalau orang-orang lain menjadi heran, kemudian
bersokur bahwa setelah sekian lamanya Ki Demang mengharapkan anak
dan kini isterinya yang keenam sedang mengandung, maka Lamat
mempunyai dugaan yang lain. Anak itu pasti bukan anak Ki Demang di
Kepandak. Anak itu adalah anak Pamot. "Lamat" tiba-tiba Mnguri
membentak "kenapa kau diam saja?" Lamat menarik napas dalam-dalam.
Kemudian dengan ragu-ragu ia berkata "Ya. Sindangsari kini sudah
mengandung. Karena itu, sebaiknya perempuan itu kau lupakan saja.
Kau adalah seorang anak muda yang memiliki segala-galanya, wajah
yang tampan, uang dan muda. Apalagi?" "He, jadi maksudmu, agar aku
melupakan Sindangsari dan mencari perempuan lain?" Lamat
menganggukkan kepalanya. "Sudah tentu aku dapat melakukannya Lamat.
Aku akan dapat kawin sekaligus dengan empat orang. Tetapi aku tidak
dapat melupakan Sindangsari. Semakin jauh ia daripadaku, aku semakin
terkenang kepadanya" "Tetapi ia sekarang sudah menjadi isteri orang.
Apalagi ia sudah mengandung. Bagi Ki Demang nilai Sindangsari
sekarang pasti akan sama dengan nilai dirinya sendiri, sebab di
dalam tubuh isterinya itu terkandung bakal anaknya yang akan dapat
menyambung keturunannya" "Aku tidak peduli, tetapi aku mencintainya"
bantah Manguri "sekarang kau harus dapat membedakan, nilai cinta
yang sebenarnya dengan sekedar nafsu jasmaniah. Aku sendiri tidak
mengerti, kenapa aku benar-benar telah terikat oleh suatu
pengharapan untuk memperisterinya kapanpun juga" "Cobalah kau
mempergunakan pertimbangan-pertimbangan yang wajar. Sudah tentu kau
tidak akan mengambil isteri orang yang pernah mengandung dan
kemudian melahirkan anak" Manguri mengerutkan keningnya "Lamat"
suaranya dalam "aku sudah mencoba, tetapi aku tidak berhasil menget
rapkan pertimbangan itu. Aku mencintainya. Inilah yang tidak adil"
"Apa yang tidak adil" "Orang dapat menghargai cinta Pamot. tetapi
aku yakin bahwa cintaku tidak kurang dari cinta Pamot kepada
perempuan itu" "Memang" tiba-tiba Manguri membentak "pandanglah dari
sudut aku dan Pamot. Orang menghargai cinta. Bukan nafsu. Sekarang
aku telah dibakar oleh cinta. Cinta sejati. Tetapi orang tidak
menghargai aku. Aku bersedia berkorban apa saja demi cintaku. Aku
tidak peduli apakah Sindangsari mencintai aku atau tidak. Ini adalah
cintaku kepadanya. Meskipun Sindangsari tidak mencintai aku, itu
bukan suatu ukuran untuk mengurangi nilai cintaku itu" "Ya, ya"
Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "demikianlah hendaknya "Lamat
berhenti sejenak. Lalu katanya seakan-akan di luar sadarnya "Tetapi
cinta adalah pengorbanan. Pengorbanan bagi yang dicintainya"
"Misalnya" potong Manguri. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Contohnya dapat kita ketemukan di dalam ceritera wayang" "Siapa?"
"Di dalam perang Barata Yuda, tidak seorangpun yang segan
mengorbankan nyawanya untuk tanah yang mereka cintai" "Jangan bicara
tentang dongeng" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah, aku
mengenal orang semacam itu dipa-dukuhan ini" "Siapa?" "Ayah
Sindangsari" Manguri mengerutkan keningnya "Tetapi aku tidak bicara
tentang perang. Aku bicara tentang cinta. "Ya, mereka berperang
karena cinta. Bukan karena kebencian. Mereka mencintai tanah ini"
"Kau tahu darimana Lamat? Kau dengar dari siapa? Selama ini kau
hanya mampu membelah kayu dan mengambil air" Lamat menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu.
"Kau dengar dari siapa he?" Akhirnya ia harus menjawab "Aku sering
menonton wayang" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang
Lamat sering minta ijin kepadanya untuk melihat wayang apabila di
padukuhan ini ada pertunjukan wayang kulit atau beber. Ternyata anak
yang dungu menurut penilaian Manguri itu, mampu menyerap beberapa
persoalan yang tidak pernah mendapat perhatiannya. "Ternyata kau
juga tidak terlampau bodoh" berkata Manguri kemudian "tetapi yang
kau katakan adalah cinta kepada tanah kelahiran. Tidak kepada
seorang perempuan. Di dalam ceritera selalu aku dengar, bahwa negara
berperang melawan negara lain karena cinta rajanya terhadap
perempuan. Orang mengagumi cinta Bandung Bandawasa yang telah
menciptakan candi Prambanan, meskipun Rara Jonggrang sebenarnya
tidak mencintainya. Tetapi cinta yang tulus dan besar itu tidak
berkurang nilainya. Onang tidak dapat menilai cintaku terhadap
Sindangsari lebih rendah dari cinta Pamot. Soalnya, Sindangsari
mencintai Pamot. Tetapi seandainya tidak?" Lamat hanya dapat
mengangguk-anggukkan kepalanya. Cinta Manguri adalah cinta yang
mementingkan diri sendiri. "Jawab. Kenapa kau diam saja. Kita sudah
terlanjur berbicara tentang cinta. Apakah kau tidak mengerti arti
cinta yang sebenarnya karena kau tidak pernah mengalaminya?" Manguri
berhenti sejenak. Tetapi ia sama sekali tidak mengetahui atau tidak
peduli bahwa kata-katanya telah menusuk jantung Lamat sampai ke
pusatnya "kau hanya mendengar ceritera cerita wayang yang kau lihat.
Di dalam ceritera wayangpun perempuan adalah lambang kejantanan.
Kalau perin direbut dengan sayembara tanding" Lamat kini menundukkan
kepalanya dalam-dalam. Terkilas lagi bayangan Pamot dan Sindangsari
yang telah melakukan perbuatan dosa. Apakah yang pantas dikatakan
terhadap keduanya tentang hal itu dalam hubungannya dengan cinta
yang tulus? "Nah, akhirnya kau diam. Kau tidak tahu arti sebenarnya
dari cinta itu Lamat. Karena itu jangan mencoba menasehati aku. Aku
lebih berpengalaman daripadamu, aku sudah melupakannya sejak ia
menghinaku, mengembalikan pemberianku sesaat setelah ia kembali ke
padukuhan ini" Lamat masih tetap berdiam diri. "Lamat" kemudian
Manguri bersungguh-sungguh "ketahuilah, bahwa keinginanku untuk
mendapatkan Sindangsari tidak akan pernah padam. Sekarang, besok
atau kapanpun. Meskipun Sindangsari kelak sudah melahirkan, atau
anaknya sudah menjadi sepuluh sekalipun, setiap kesempatan yang
terbuka, aku akan mengambilnya. Semakin cepat semakin baik. Dan aku
akan berusaha terus" "Tetapi, tetapi ia adalah isteri Ki Demang"
"Persetan. Aku dapat mencurinya. Membawanya ke tempat yang
terpencil. Ke tempat yang asing, sehingga tidak seorangpun yang
mengenal aku" "Tetapi apakah Sindangsari akan bersedia?" "Bersedia
atau tidak bersedia. Kalau kami sudah berada di tempat yang jauh, ia
pasti akan dihadapkan pada suatu keharusan. Kau mengerti?" Lamat
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia t idak menjawab lagi.
Manguripun kemudian pergi meninggalkannya. Sekali sekali ia memang
memikirkan kata-kata Lamat. apakah memang tidak ada perempuan lain
yang dapat mengisi hatinya? "Aku sudah mengisi kekosongan hidupku
dengan perempuan macam apapun. Tetapi aku belum pernah benarbenar
jatuh cinta seperti kepada Sindangsari" katanya di dalam hati.
Sepeninggal Manguri, Lamat menjadi semakin muram. Dengan susah payah
ia menekan perasaannya. Kebencian yang setiap kali akan tumbuh,
selalu ditekannya kuat-kuat. Dan kini iapun berusaha untuk tetap
setia kepada sikapnya. Seperti kata orang tua-tua. Hutang budi
dibawa mati. Dan ia memang sudah berhutang budi kepada ayah Manguri.
Tetapi niat Manguri untuk mengambil Sindangsari dengan paksa telah
membuatnya semakin sedih. Kalau Manguri benarbenar melakukan
niatnya, maka hal itu akan dapat mencelakakannya. Bukan saja Manguri
sendiri, tetapi juga seluruh keluarganya. Dan yang paling sedih, ia
sendiri pasti akan terlibat di dalamnya. Bukan sekedar terlibat,
tetapi bagaimana kalau Manguri memerintahkan kepadanya untuk
menculik Sindangsari? Terbayang di matanya laki-laki yang sering
datang kepada ibu Manguri di saat-saat ayah Manguri tidak ada di
rumah. Laki-laki yang akan dapat memberikan jalan dan kemungkinan
kepada Manguri. Laki-laki yang sebenarnya berbahaya juga bagi
ketenangan keluarga Ki Demang di Kepandak. "Kenapa aku justru
dilihat kan oleh persoalan ini?" tiba-tiba Lamat menggeram "apapun
yang akan terjadiatas Sindangsari, sama sekali bukan urusanku.
Apapun yang akan dilakukan oleh laki -laki yang sering menemui ibu
Manguri itupun sama sekali bukan tanggung jawabku. Aku adalah
seorang yang tidak lebih dari seorang budak. Budak saja" Lamatpun
kemudian melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. disambarnya kapak
pembelah kayu dan disandangnya di pundaknya. Tanpa berpaling lagi
kemudian ia menuju ke kebun belakang. Dicobanya untuk melupakan
persoalan Sindangsari dengan mengerjakan pekerjaannya. Membelah
kayu. Namun demikian setiap saat persoalan itu masih juga muncul di
permukaan hatinya. Bahkan kadang-kadang tanpa disadarinya ia
meletakkan kapaknya, dan mulai merenung. Lamat mengerutkan keningnya
ketika terbayang pertunjukan wayang yang pernah ditontonnya. Betapa
Prabu Dasamuka dengan segala cara berusaha mencuri Sinta. "Apakah
Manguri mengagumi cinta Dasamuka yang tidak dapat padam sampai akhir
hayatnya. Cinta yang mendalam sampai ketulang sungsum, namun
didasari pada kepentingan diri sendiri?" Lamat bertanya di dalam
dirinya. Namun kemudian "Tetapi bagaimana dengan Ki Demang di
Kepandak. Ia tidak lebih baik dari Manguri di dalam persoalan
Sindangsari. Dan kini Sindangsari sudah mengandung. Tetapi yang
dikandung itu pasti bukan anak Ki Demang yang sudah lima kali kawin
tetapi tidak pernah mempunyai anak" Lamat tersentak ketika ia
melihat seorang pembantu Manguri lewat di sampingnya sambil bertanya
"Apa yang kau renungkan Lamat?" Lamat menarik nafas dalam-dalam.
Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab "Tidak ada" Sejenak
kemudian maka Lamatpun telah mengayunkan kapaknya pula. Keringat
yang seakan-akan terperas dari tubuhnya sama sekali tidak
dihiraukannya lagi. Suara yang berdentangan memercik diantara suara
lenguh sapi di kandang dan kokok ayam jantan yang hinggap diatas
pagar halaman. Namun ternyata bukan Manguri sajalah yang menjadi
gelisah karena Sindangsari telah mengandung. Orang yang paling
bersakit hati atas hal itu adalah Ki Reksatani, adik Ki Demang
sendiri. Kecemasan yang selalu menghantuinya di saat-saat Ki Demang
kawin, kini benar-benar telah menerkamnya. Sindangsari telah
mengandung. Apabila anak itu lahir, itu akan berarti bahwa Ki Demang
akan mempunyai keturunan yang dapat menggantikan kedudukannya.
Apalagi kalau anak itu laki-laki. Sedangkan apabila anak itu
perempuanpun, maka garis keturunan itu akan tetap berlaku, meskipun
yang akan menjalankan tugasnya adalah menantunya. Di rumahnya Ki
Reksatani seolah-olah sama sekali tidak tenang lagi. Setiap saat
dadanya menjadi berdebar-debar. Cita-citanya untuk dapat memotong
garis keturunan kakaknya dan mengambil alih dengan tidak menimbulkan
kesan yang kurang baik, kini menjadi pudar. "Perempuan itu
benar-benar anak iblis" ia mengumpatumpat. Isterinya yang mengerti
benar kegelisahan suaminya, tidak dapat berbuat apapun juga. Ia
sudah berusaha antuk membantu apa yang dapat dilakukannya. Tetapi
akhir dari semuanya itu ternyata sangat mengecewakan. "Kau kurang
sering mengunjungi perempuan itu" berkata Ki Reksatani. Isterinya
tidak menjawab. Ia tahu benar tabiat suaminya. Apabila hatinya
sedang gelap, ia menjadi cepat sekali marah. "Nyai" kataya kepada
isterinya "kau mulai sekarang harus sering datang berkunjung
kepadanya. Kau harus berusaha membuatnya tidak kerasan. Terserah
kepadamu, asal kau dapat mengeruhkan suasana rumah tangga Kakang
Demang. Kakang Demang bukan seorang yang sabar. Kalau isterinya
dapat kau hasut, maka pasti akan sering timbul pertengkaran diantara
mereka. Aku tidak peduli apakah isterinya nanti akan keguguran atau
akibat-akibat yang lain. Tetapi aku tidak mau melihat kakang Demang
mempunyai seorang anak laki-laki atau perempuan" Isterinya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya "Kakang. Aku
akan mencoba sejauh-jauh dapat aku lakukan. Tetapi agaknya perempuan
itu berhati batu. Di saat saat hari perkawinannya aku sudah
mencobanya. Bahkan aku telah menyebutnya dengan berbagai macam
sebutan yang bagi orang lain, pasti sangat menyakitkan hati. Tetapi
perempuan itu seperti tidak mendengarnya atau sama sekali t idak
menyentuh perasaannya" Ki Reksatani mengerutkan keningnya "kau harus
mencobanya" "Tentu. Aku akan berusaha. Tetapi kalau aku gagal" Ki
Reksatani tidak segera menjawab. Tetapi keningnya menjadi semakin
berkerut merut. "Apakah kakang akan mencari jalan lain?" "Ya. Kalau
kau gagal, aku akan terpaksa mencari jalan lain" "Aku belum tahu.
Tetapi kalau perlu aku akan menyingkirkannya" Isterinya menjadi
tegang. Terbata-bata ia bertanya "Apa maksudmu kakang? Bagaimana kau
akan menyingkirkannya?" "Dengan caraku" Tiba-tiba isterinya menjadi
pucat. Selangkah ia mendekati suaminya sambil bertanya "Tetapi,
bukankah kau tidak akan…" isterinya tidak meneruskannya. "Jangan
ikut campur dengari caraky. Aku lebih mementingkan hari depan,
anak-anakku daripada perempuan itu" "Tetapi, tetapi…" "Jangan turut
campur. Aku sudah cukup dewasa untuk membuat perhitungan
semasak-masaknya. Kalau aku berhasil kau akan ikut serta mengenyam
hasil itu. Anak-anak kita kelak akan mendapat tempat yang pertama,
di Kademangan Kepandak" Tiba-tiba isterinya membanting dirinya di
amben bambu, Diusapnya matanya yang menjadi basah. "He Nyai. Kau
berkeberatan?" Nyai Reksatani menggelengkan kepalanya. "Jadi
bagaimana?" "Aku adalah seorang ibu kakang. Aku juga seorang
perempuan seperti Sindangsari" ia berhenti sejenak, lalu "tetapi
lebih dari itu, aku mempunyai lebih dari seorang anak. Kalau
anak-anakku terlibat dalam pertikaian seperti yang terjadiatas
kakang Demang dan kakang sekarang ini, aku pasti akan menjadi sangat
bersedih hati" Kata-kata isterinya itu ternyata mampu juga menyentuh
hatinya. Sejenak Ki Reksatani merenung. Terbayang wajah anak-anaknya
yang sedang tumbuh. Apakah kelak mereka akan bertengkar dan bahkan
saling memfitnah seperti yang dilakukan sekarang terhadap Ki Demang,
kakak kandungnya? Bayangan yang buram itu mencengkamnya untuk
sesaat. Namun tiba-tiba ia menghentakkan kakinya sambil berkata
"Nyai. Anakku t idak hanya dua orang. Kalau anakku hanya dua orang
laki-laki, memang mungkiri mereka akan berebut kedudukan seperti
Kakang Demang dan aku sekarang. Itupun tidak semata-mata berebut
kedudukan. Aku hanya mencegah agar kakang Demang tidak mempunyai
wadah untuk menyalurkan kekuasaan yang ada di tangannya. Aku sama
sekali t idak merebutnya" Isterinya tidak menyahut. Tetapi wajahnya
masih saja muram. Bahkan dipejamkannya matanya dan di tutupinya
wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ketika terbayang
anak-anaknya sedang berkelahi memperebutkan kedudukan ayahnya.
Terbayang seolah-olah anak-anaknya sudah sebesar ayahnya. Mereka
saling menggenggarn keris di tangan. "O, tidak, tidak" "Apa, apa
yang tidak?" Ki Reksatani bertanya. "Anak-anakku tidak akan
berkelahi karena kedudukan" "Mereka tidak akan berkelahi. Akupun
tidak akan berkelahi. Tetapi aku t idak rela. kalau kedudukan kakang
Demang jatuh kepada anak Gemulung itu" "Tetapi anak mereka berhak
atas kedudukan itu" "Persetan. Karena itu aku mencegah agar mereka
tidak mempunyai anak. Karena hal itu agaknya sudah terlanjur, maka
jalan satu-satunya adalah menyingkirkan Sindangsari" "Kakang" "Kau
jangan mencampuri masalah ini Nyai. Ki Demang adalah kakak
kandungku. Biarlah aku bertanggung jawab atas kejadian apapun nant
i. Tetapi semuanya itu aku kerjakan dengan niat yang baik. Dengan
niat yang luhur bagi anakanakku" "Kakang, apakah segala cara dapat
ditempuh untuk mencapai sesuatu betapapun luhurnya" "Bagiku
demikian. Segala cara dapat aku tempuh. "O, itu dapat membahayakan
kau sendiri kakang" "Sudahlah Nyai. Kau harus membantu aku. Kalau
kau t idak ingin semuanya ini terjadi, kau harus berhasil membujuk
Ki Demang dan Sindangsari selalu diliputi oleh ketegangan. Kau tahu,
apabila seorang perempuan mengandung, jiwa dan tubuhnya selalu
diliputi oleh ketidak tenangan, maka kandungannya tidak akan
berkembang dengan baik" Nyai Reksatani tidak menjawab. Tugas itu
adalah tugas yang terlampau berat baginya. Meskipun demikian ia
tidak dapat mengelak. Sebagai seorang isteri yang patuh, ia tidak
dapat menolak keinginan suaminya. Apalagi keinginan itu sendiri
adalah keinginan yang baik bagi masa depan anakanaknya. Meskipun
demikian, kadang-kadang ia merasa ngeri memikirkan cara yang telah
dipilih oleh suaminya. Maka sejak saat itulah Nyai Reksatani sering
berkunjung ke rumah Ki Demang. Mula-mula kedatangannya adalah
kedatangan seorang saudara muda yang mendengar berita tentang
kebahagiaan yang meliputi keluarga Ki Demang. Dengan wajah yang
manis dan kata-kata yang ramah, Nyai Reksatani mengucapkan selamat
bahwa Nyai Demang kini sudah mulai mengandung. "Berapa puluh tahun
kakang Demang menunggu kesempatan serupa ini" berkata Nyai Reksatani
"Akhirnya kurnia itu datang pula" Ki Demang tersenyum sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya "Ya, permohonan yang
bersungguhsungguh, akhirnya terkabul pula" "Kalau anak Ki Demang
laki-laki, maka akan semakin bahagia rasanya" berkata Nyai Reksatani
"tetapi seandainya perempuan ia pasti seorang perempuan yang manis
seperti ibunya" Ki Demang tertawa pendek "Kau memang pandai memuji"
"Aku berkata sebenarnya kakang" sahut Nyai Reksatani "embok-ayu
adalah isteri Kakang Demang yang paling cantik" "Sudahlah. Jangan
kau sebut-sebut lagi" potong Ki Demang. "Kakang Demang memang suka
merendahkan diri. mBokayu yang baru inipun suka sekali merendahkan
dirinya pula" "Sudahlah" Nyai Reksatani tersenyum. Ditatapnya wajah
Sindangsari yang menunduk. Sekilas terbayang sorot yang aneh
memancar dari mata perempuan itu. Demikianlah, maka Nyai Rekatani
kemudian mulai mencoba untuk melakukan tugasnya. Kedatangannya di
hari-hari berikutnya, memang menumbuhkan pertanyaan di hati
Sindangsari. Nyai Reksatani datang ke rumahnya, di saat-saat
suaminya sedang pergi. Nyai Reksatani hampir dapat memperhitungkan,
bahwa menjelang matahari sampai ke puncak langit, Ki Demang sudah
selesai dengan pembicaraanpembicaraan di Kademangan dengan bebahu
Kademangan yang lain. Apalagi bila tidak ada persoalan-persoalan
yang penting. Sesudah itu biasannya Ki Demang pergi berjalan-jalan
di sepanjang Kademangannya. Kadang-kadang bersama Ki Jagabaya,
kadang-kadang bersama bebahu yang lain. Baru setelah matahari
melampaui titik tengah, Ki Demang pulang ke Kademangan untuk makan
siang. Kebiasaan itu menjadi rusak sesaat setelah Ki Demang kawin
dengan Sindangsari. Namun lambat laun, kebiasaan itu menjadi pulih
kembali, justru setelah Ki Demang menyadari apa yang sedang
dihadapinya, dan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan isterinya
Dengan sepenuh hati, ia mencoba untuk menerima kenyataanya betapapun
pahitnya itu. Ia tidak lagi pergi sehari-harian dan kadang-kadang
semalam suntuk. Dengan teratur Ki Demang mulai memperbaiki cara
hidupnya kembali. Di malam hari, hampir ia tidak pernah keluar lagi
dari rumahnya, apabila tidak ada keperluan yang penting, meskipun di
rumah ia selalu merenung dan menyendiri. Ketenangan hidup yang
perlahan-lahan mulai pulih kembali itulah, meskipun bagi Ki Demang
dan Sindangsari sendiri hanyalah tampak pada permukaannya saja, yang
hendak diguncang oleh nyai Reksatani. Berbagai cara telah ditempuh
oleh Nyai Reksatani. Kadang kadang dengan kata-kata tajam, namun
kadang-kadang dengan kata-kata sindiran yang halus. "mBok ayu"
berkata Nyai Reksatani "sebenarnya aku menjadi heran, kenapa
mbok-ayu dapat mengandung, sedang isteri-isteri Ki Demang yang lain,
bukan hanya satu dua orang, tetapi lima orang, tidak seorangpun yang
mengandung" Kata-kata itu tajamnya bagaikan ujung sembilu. Dengan
sekuat tenaga Sindangsari mencoba untuk bertahan, agar ia tidak
terguncang karenanya. "Semula aku meragukan, apakah kakang Demang
masih mempunyai kesempatan untuk menimang seorang anak" Nyai
Reksatani berhenti sejenak "he, bukankah kakang Demang itu saudara
tua kakang Reksatani? Kakang Demang itu adalah kakak kakang
Reksatani, yang sudah tentu umurnya lebih tua" Sindangsari t idak
menyahut. Namun hatinya menjadi pedih. "mBok-ayu" Nyai Reksatani
berbisik sambil tersenyum "ternyata Ki Reksatanipun sudah sulit
untuk mendapatkan anak lagi" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia mencoba untuk menjawab "Bukankah putera Ki Reksatani yang
terkecil masih belumdi sapih?" "O, ya. Memang anak kami yang paling
kecil masih terlampau kecil untuk mempunyai seorang adik. Tetapi
agaknya anak itu memang tidak akan punya adik lagi" Sindangsari
tidak menyahut lagi. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.
Di dalam hatinya ia bertanya "Apakah orang ini mengetahui apa yang
telah terjadi sebenarnya?" Namun pertanyaan itu di jawabnya sendiri
"Tentu tidak. Kalau ia tahu, ia pasti akan berkata berterus-terang"
Tetapi sindiran-sindiran yang setiap kali di dengar oleh Sindangsari
itu benar-benar telah mengganggunya. Setiap ia melihat Nyai
Reksatani dadanya berdesir dan berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat
mengelak. Ia harus menemuinya karena tidak ada orang lain yang dapat
melakukannya. Ia adalah isteri Ki Demang. Karena itu, yang dapat
dilakukannya adalah menabahkan hatinya. Seperti orang-orang tua
menase-hatkan, agar katakata Nyai Reksatani itu sama sekali tidak
dihiraukannya. Perempuan separo baya yang pada hari perkawinannya
selalu mengawaninya itu, diberitahunya tentang sikap Nyai Reksatani
itu. Sampai saat ini perempuan itu masih tetap menyakitkan hatinya.
Menyindir dan kadang-kadang dengan kasar melukai perasaannya.
"Bukankah sudah aku katakan" jawab perempuan setengah umur itu "Nyai
Reksatani agaknya iri hati kepadamu. Kau adalah perempuan yang
cantik, muda dan apalagi kini kau akan memberikan keturunan kepada
Ki Demang di Kepandak. Seandainya aku masih cukup muda, akupun pasti
iri terhadap kebahagian keluarga ini" perempuan itu berhenti
sejenak, lalu "karena itu, jangan hiraukan. Anggaplah seperti burung
prenjak, yang memang demikianlah bunyinya. Burung prenjak tidak akan
dapat bersiul dengan nada yang berbeda" Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Justru dosa yang sebenarnya telah
membebani hatinyalah yang membuatnya bertahan dengan tabahnya
menghadapi sindiran-sindiran dan kadang-kadang kata-kata kasar yang
menusuk perasaannya. Perasaan berdosa itu, telah mendasari hatinya,
seakanakan sudah sewajarnyalah kalau ia selalu mendengar
ucapanucapan yang menyakitkan hati. Bahkan penghinaanpenghinaan
sekalipun. Namun semakin dalam luka diliatinya, maka semakin
dekatlah ia dengan orang-orang tua yang dianggapnya sebagai
orang-orang yang baik, yang dapat menggantikan ibu, kakek dan
neneknya. Kandungan Sindangsari itu semakin lama menjadi semakin
besar. Sejalan dengan kecemasan yang semakin mencengkam hati Ki
Reksatani. "Kau tidak akan berhasil" katanya kepada isterinya pada
suatu saat. "Belum tentu kakang. Aku masih akan berusaha" "Aku tidak
telaten. Aku akan mengambil jalan yang paling singkat" "Jangan.
Jangan kau lakukan. Aku sudah mengorbankan diriku, apapun anggapan
Sindangsari terhadapku. Bahkan mungkin juga Ki Demang sendiri
apabila sindangsari menyampaikannya kepadanya" "Tetapi aku tidak
akan dapat menunggu lebih lama" "Tetapi cara yang kau tempuh itu
terlampau keji buat aku, seorang perempuan dan seorang ibu" Ki
Reksatani terpaksa menyabarkan hatinya, la masih memberi kesempatan
kepada isterinya mengambil cara lain. Namun, dalam usahanya untuk
mencegah cara yang akan diambil oleh suaminya, yang disebutnya
sangat keji itu, ternyata Nyai Reksatani mengambil cara yang hampir
serupa. Meskipun ujudnya jauh berbeda. Seperti biasanya, disaal-saat
matahari menjelang sampai ke puncak langit, Nyai Reksatani datang
berkunjung kepadanya. Tetapi kedatangannya kali ini sangat
mengejutkan Sindangsari. Nyai Reksatani tidak datang seorang diri.
Dengan kaku Sindangsari mempersilahkannya duduk di pringgitan.
Seperti biasanya pembantunya menyuguhkan air panas dan beberapa
potong makanan. "Panasnya bukan main" berkata Nyai Reksatani"
Sebenarnya aku tidak ingin datang kemari. Tetapi kami sangat haus,
sehingga kami memerlukan mampir sebentar untuk mendapatkan minum"
"Ah" desah Sindangsari "hanya air" "Air inilah yang kami perlukan di
saat-saat kami haus" sahut Nyai Reksatani "bukan yang lain"
Sindangsari tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya
"Marilah. Minumlah" Kedua lamunyapun kemudian minum air panas dari
dalam mangkuk masing-masing. Sementara itu, dengan sudut matanya
Sindangsari memandang wajah kawan Nyai Reksatani. Seorang anak muda
yang tampan dan seakan-akan penuh dengan gairah menghadapi
kehidupan. "Segar sekali" berkata Nyai Reksatani. "Dari manakah
kalian?" bertanya Sindangsari. "Entahlah "jawab Nyai Reksatani.
Namun tiba-tiba ia tersenyum "Jangan kau katakan kepada kakang
Demang, bahwa aku singgah kemari bersama anak muda ini. Namanya
Puranta" Sindangsari mengerutkan keningnya. "Tetapi jangan salah
sangka. Kami hanya sekedar berjalan bersama-sama" sambung Nyai
Reksatani. Sindangsari kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Anak ini anak baik" katanya. Sedang anak muda yang disebutnya
dengan nama Puranta itu tersenyum tersipu-sipu. Sedang Sindangsari
melemparkan tatapan matanya jauh ke halaman. "Anak muda ini sudah
mengenal Pamot" berkata Nyai Reksatani, sehingga dada Sindangsari
berdesir karenanya. "Ya, Pamot adalah kawan baikku" tiba-tiba anak
muda itu berkata "aku sudah mengetahui hubungan kalian dengan Pamot.
Kalian saling mencintai. Tetapi sayang, bahwa kau terpaksa sama
sekali t idak berimbang lagi" "Kasihan umurmu yang masih terlampau
muda" berkata Nyai Reksatani "kau masih memerlukan banyak sekali
dari kehidupan ini. Tetapi tiba-tiba kau terlempar ke dalam tangan
yang sudah mulai layu dan sebentar lagi akan terkulai" "Ah" desis
Sindangsari. "Aku, yang barangkali lebih tua daripadamu,
kadangkadang masih memerlukan kegairahan di dalam hidup ini. Ki
Reksatanipun sebenarnya sudah terlampau tua buatku. Apalagi Ki
Demang" Nyai Reksatani tersenyum sambil berpaling kepada anak muda
yang bernama Puranta itu "Bukannya begitu?" Anak muda itu tersenyum,
namun ia t idak menjawab. Sikap itu tiba-tiba saja telah menumbuhkan
perasaan yang aneh di dalam hati Sindangsari. Tanpa sesadarnya ia
selalu memperhatikan senyumyang asing di bibir Nyai Reksatani.
Tetapi tiba-tiba Nyai Reksatani berkata "Ah, aku tidak akan tinggal
terlalu lama disini; Aku harus segera kembali sebelum kakang Demang
pulang. Anak muda ini bukan anak Kepandak. la berasal dari
Kademangan yang lain" "Jadi?" Sindangsari tidak mengerti maksud
pertanyaan sendiri. Namun ia mendengarkan jawaban "Jadi, kami akan
pulang ke rumah masing-masing. Di saat lain, kami akan dapat bertemu
lagi" Sindangsari t idak mengerti maksudnya. Namun ia t idak
bertanya. Keduanyapun kemudia minta diri. Diambang pintu Nyai
Reksatani berkata "Jangan bersedih, kau masih terlampau muda" lalu
bisiknya di telinganya Sindangsari "anak itu anak baik" Dada
Sindangsari berdesir mendengar bisikan itu. Tetapi ia tidak menjawab
sama sekali. "He, mBok-ayu, apakah para peronda di gardu itu selalu
berada di sana siang dan malam?" "Yang pasti di malam hari" jawab
Sindangsari "tetapi hampir setiap hari, gardu itu selalu terisi"
Nyai Reksatani mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tersenyum.
Diantara senyumnya ia bertanya "He apakah kau seorang gadis
pingitan?" "Kenapa?" "Kau hampir tidak pernah keluar rumah.
Sebaiknya sekalisekali kau berkunjung ke rumahku" "Baiklah, lain
kali" "Atau barangkali kau ingin melihat-lihat kali Praga di musim
begini?" Sindangsari benar-benar menjadi heran. Ia tidak mengerti
sama sekali, apa saja yang dimaksud oleh Nyai Reksatani.
Kunjungannya kali ini seolah-olah membuat teka-teki yang selama ini
tidak terpecahkan menjadi semakin sulit membelit hatinya. Tetapi
bagaimanapun juga, Sindangsari tidak pernah mengatakannya kepada Ki
Demang. Ia hanya mengatakan bahwa Nyai Reksatani telah
mengunjunginya. Selebihnya, disimpannya saja di dalam hati. Apa lagi
kunjungan Nyai Reksatani kali ini bersama seorang anak muda yang
tampan dan bernama Puranta. Belum lagi teka-teki yang membuat pening
itu kabur di dalam ingatan, beberapa hari kemudian Nyai Reksatani
telah datang pula. Kali ini sendiri. "Aku tidak mengajaknya singgah"
katanya "para peronda itu akan dapat mengganggu hubungan kami" "Apa
maksudmu?" bertanya Sindangsari. "Ah, kau" Nyai Reksatani tersenyum
"Mbok-ayu anak itu adalah anak yang baik. Ia bersedia menolong kita
apabila kita memerlukannya" "Pertolongan apakah yang dapat
diberikannya?" "Kalau kita sedang kesepian" "Ah" desah Sindangsari.
Nyai Reksatani tertawa. Katanya "Jangan kau sangka aku tidak tahu
perasaan seorang perempuan muda. Aku yang sudah lebih tua inipun
selalu merasa terganggu. Apalalgi akhir-akhir ini kakang Reksatani
sibuk dengan bendungan yang sedang disiapkan. Siang dan malam ia
berbicara tentang bendungan, siang dan malam ia pergi mengurusi
bendungannya. "Tetapi bukankah itu sudah menjadi kewajibannya" "Ya,
tetapi aku bukan benda mati yang dapat ditinggalkannya begitu saja"
suara Nyai Reksatani menurun "mBok-ayu, tiba-tiba aku jadi cemburu.
Anak itu selalu menyebut-nyebut namamu. Kau dianggapnya perempuan
yang paling cantik yang pernah dilihatnya" "Ah" "Aku berani
bersumpah" lalu perempuan itu berbisik "kau adalah seorang yang
masih sangat muda" "Ah" Nyai Reksatani tertawa. Katanya "mBok-ayu.
Aku dengar kakang Demang akhir-akhir ini terlampau sering pergi?"
"O. tidak. Kakang Demang sekarang justru tidak pernah pergi
terlampau lama. Di siang hari beginipun kadang ia tinggal di rumah.
Tetapi karena sudah menjadi kebiasaannya, maka sambil berjalan-jalan
ia dapat langsung melihat-lihat keadaan dan kehidupan Kademangan
ini" Nyai Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, kakang
Demang memang seorang yang rajin, seorang Demang yang baik. Dahulu,
ayahnyapun seorang Demang yang baik pula. Aku sudah mengenalnya.
Sebagai menantunya aku terlalu dikasihinya. Tetapi sayang, baru
beberapa bulan aku kawin, ayah mertua itu meninggal dunia, dan
kakang Demang ini menggantikannya" Sindangsari mengerutkan
keningnya. "Tetapi kakang Demang baru kawin untuk pertama kalinya"
Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ah. aku sudah terlalu
lama duduk disini. Tetapi kapan mBok-ayu berkunjung ke rumahku?"
"Lain kali. Aku memang ingin datang ke rumah saudarasaudara Ki
Demang. Apalagi yang terdekat seperti Ki Reksatani" "Marilah, pergi
sekarang" "Ah, Tentu tidak mungkin" "Kita menunggu Ki Demang
sejenak. Lalu kau minta ijin pergi ke rumahku" "Jangan sekarang. Dan
bukankah sebaiknya aku pergi berdua dengan Ki Demang" "Seperti
pengantin baru" tiba-tiba suaranya meninggi "kau memang penganti
baru. tetapi Ki Demang bukan. Ia pasti bersikap lain" "Ki Demang
sudah pernah menyebut-nyebut rencana itu. Kami memang akan
berkunjung ke rumah saudara-saudara terdekat dan orang-orang tua"
Nyai Reksatani tertawa. Katanya "Kau memang masih terlampau hijau"
lalu ia berbisik "laki-laki itu hampir menjadi gila. sekali-sekali
kau harus menemuinya" "Tidak. Aku tidak mau" "Tentu. Kau tentu tidak
mau melayaninya. Tetapi temuilah dan katakanlah hal itu kepadanya.
Supaya ia yakin dan melupakan impiannya itu" "Tidak" "mBok-ayu, itu
akan lebih baik bagimu sendiri dan baginya. Kalau kau tidak bersedia
menemuinya dimanapun, ia akan datang kemari. Dan itu sangat
berbahaya bagimu" "Ia tidak berhak berbuat begitu. Aku tidak mau"
Nyai Reksatani mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa
"Jangan terlampau kasar. Ia anak muda yang baik. Aku senang kau
menolaknya. Semalam aku sudah tidak dapat tidur karena cemburu.
Tetapi kau harus memakai cara yang sebaik-baiknya" "Apa yang harus
aku lakukan?" "Pamitlah kepada Ki Demang bahwa kau akan pergi ke
rumahku" Sindangsari merenung sejenak. Dan Nyai Reksatani berbisik
pula "mBok-ayu. Kau agaknya belum mengenal anak itu baik baik.
Cobalah berbicara beberapa kalimat lagi. Kau akan segera mengenal
pribadinya. Ia sama sekali bukan anak muda yang sering berkeliaran
tidak menentu. Ia juga bukan anak muda yang suka mengganggu isteri
orang. Tetapi ia mempunyai kelebihan yang tidak dipunyai oleh orang
lain. Karena itu terus-terang, aku suka kepadanya" "Ah" Sindangsari
berdesah. "Marilah. Kita pergi sejenak. Beritahukan kepadanya bahwa
kau adalah seorang isteri yang setia, meskipun suamimu bukanlah
laki-laki yang sebenarnya kau harapkan" "Jangan berkata begitu" "He,
kenapa? Bukankah aku tahu, bahwa laki-laki yang kau harapkan adalah
Pamot, yang umurnya sebaya dengan anak yang datang bersamaku itu"
Tiba-tiba kepala Sindangsari menunduk. Tanpa sesadarnya telah
mengenangkan Pamot yang pergi ke medan perang. Dadanya tersirap
ketika ia mendengar Nyai Reksatani berbisik "Ki Demang itu pasti
tidak akan dapat memberi apaapa lagi kepadamu selain mement ingkan
dirinya sendiri" Sindangsari t idak menyahut. "Marilah. Kalau kau
memang ingin menolak. Katakanlah" Sindangsari masih tetap diam.
"Atau, kalau kau berpendirian lain, kau akan mendapat kesempatan"
Sindangsari tidak menyahut. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.
"Marilah, pergi ke rumahku" Tiba-tiba Sindangsari mengusap matanya.
Katanya "Aku tidak dapat pergi sekarang" "O" Nyai Reksatani
terdiamsejenak "jadi kapan?" "Aku tidak dapat mengatakan" "mBok-ayu.
Besok aku datang lagi kemari. Besok kita pergi bersama-sama untuk
menemui anak itu. Katakanlah apa yang akan kau katakan. Semata-mata
untuk kepentinganmu. Kalau kau tidak bersedia sekali lagi aku
peringatkan, ia akan datang kemari. Ia sudah menjadi mata gelap. Dan
itu berbahaya sekali bagimu. Bagi kebahagiaanmu, Apalagi kau sudah
mengandung. Kecuali kalau kau berpendirian lain" Nyai Reksatanipun
kemudian minta diri. Sambil menepuk bahu Sindangsari, di halaman ia
berdesis "Kau muda dan cantik. Sekuntum bunga yang indah dan lagi
mekar, tidak akan banyak artinya, jika sekedar disembunyikan di
dalam dapur, di bawah belanga atau di balik perapian" "Ah" Nyai
Reksatani tertawa sambil melangkah meninggalkan halaman rumah Ki
Demang. Sekali lagi ia berpaling. Dilihatnya Sindangsari berdiri
dengan gelisahnya. Kegelisahan dan kebingungan itulah memang yang
dimaksudkan. Apalagi apabila ia berhasil menjeratnya ke dalam
perangkap yang langsung dapat menjerumuskan isteri Ki Demang yang
masih muda itu ke dalamjurang kehinaan. Ternyata sepeninggal Nyai
Reksatani, Sindangsari telah dicengkam oleh kegelisahan. Memang
sekali-sekali terbayang wajah anak muda yang tampan dan sopan itu
Sekilas senyumnya seolah-olah ditujukan kepadanya. Bahkan
sekalisekali menganggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya Sindangsari
berdesah di dalam hati. Dengan perasaan yang aneh ia pergi ke dalam
biliknya. Ketika ia meletakkan tubuhnya di pembaringan, maka
mulailah ia berangan-angan. Sindangsari menarik nafas dalam-dalam.
Terkenang olehnya, masa-masa yang mesra di saat-saat Pamot masih
selalu menjumpainya. Terlintas pula kenangan yang tidak akan
terlupakan, betapa indah namun betapa pahitnya. Di saat-saat
terakhir kalinya ia bertemu dengan anak muda yang dicintainya.
Setelah itu, ia selalu dibakar oleh kesepian. Sebagai seorang isteri
Sindangsari tidak pernah menemukan arti yang sebenarnya. Ki Demang
bukanlah seorang suami yang baik baginya. "Anak muda itu memang
mirip dengan Pamot" tanpa sesadarnya tumbuhlah perasaan yang asing
di dalam hatinya. Namun kemudian Sindangsari menghentakkan tangannya
"Tidak, tidak. Aku tidak akan mengulangi genangan noda yang hampir
saja menenggelamkan aku dan nama seluruh keluargaku. Untunglah Ki
Demang seorang yang baik, yang bersedia menyimpan rahasia itu,
meskipun rahasia itu telah melukai hatinya sendiri" Namun kemudian
"Tetapi apakah artinya. Sebagai seorang isteri aku berhak menuntut"
Lalu terngiang di telinganya katakata Nyai Reksatani "Sekuntum bunga
yang indah dan lagi mekar, tidak akan banyak artinya jika sekedar
disembunyikan di dalam dapur di bawah belanga atau di balik
perapian" "Ah" Sekali lagi Sindangsari berdesah. Selama ini ia t
idak pernah menilai dirinya sendiri. Ia tidak pernah
menghiraukannya, apakah ia seorang gadis yang cantik atau bukan.
Apakah ia seperti sekuntum bunga yang mekar atau sudah layu. Namun
tiba-tiba kini ia mulai memandang kepada dirinya, kepada bentuk
tubuhnya. Perlahan-lahan Sindangsari bangkit dari pembaringannya.
Ketika ia melangkah keluar biliknya, dilihatnya seorang pembantunya
lewat. "Maaf, aku tidak dapat membantu kalian di dapur hari ini"
berkata Sindangsari "kepalaku pening" "O" silahkan beristirahat
Nyai" jawab pembantu rumahnya "kami sudah dapat menyelesaikannya
seperti petunjukpetunjuk Nyai" Nyai Demang mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ketika pembantunya sudah hilang di balik pintu, maka
Sindangsaripun pergi ke pakiwan di belakang rumah. Tiba-tiba saja
Sindangsari ingin melihat dirinya sendiri, ketika ia melihat
bayangan di wajah air jambangan. Sejenak ia berdiri mematung.
Ditatapnya seraut wajah yang cantik meskipun agak pucat, di dalam
air. Sekali tersenyum, kemudian mengerling. Sindangsari terperanjat
ketika selembar daun kering jatuh ke dalam jambangan itu. Wajah yang
cantik dan pucat itu tiba-tiba telah lenyap ditelan oleh gejolak
yang lembut dipermukaan air. Sindangsari menjadi kecewa karenanya.
Tetapi ia tidak menunggu air itu menjadi tenang kembali.
Ditinggalkannya jambangan air itu dengan berbagai macam persoalan di
dalam hatinya. Seakan-akan baru saat itu ia mengerti, bahwa ia
adalah seorang perempuan yang cantik. Sedang suaminya adalah seorang
yang sudah jauh lebih tua daripadanya dan tidak dapat memberinya
kebahagiaan sebagai seorang isteri. "Bukan salahnya" Sindangsari
menelungkup di pembaringannya ketika ia sudah berada di dalam
biliknya kembali "Akulah yang telah bersalah. Aku sudah menodai
kesucian perkawinan ini" Tanpa disadarinya, air mata Sindangsari
mulai membasah di pelupuknya. Ia menyesal, kenapa ia jatuh ke tangan
Demang di Kepandak ini. Kalau ia dibiarkan kawin dengan Pamot, maka
ia pasti akan merasa bahagia. Sindangsari terperanjat ketika
tiba-tiba pula hatinya telah diterkam oleh gema suara Nyai Reksatani
di dalam hatinya "kau muda dan cant ik" Sekilas lewat di dalam
angan-angannya anak muda yang datang bersama dengan Nyai Reksatani
itu. "Tidak, tidak" Sindangsari menjadi gelisah. Sekali ia
menelungkup, kemudian menelentang. Sindangsari t idak menyadari
berapa lama ia berbaring dengan gelisah di pembaringannya. Tiba-tiba
saja ia sudah mendengar desir langkah yang dikenalnya baik-baik.
Langkah Ki Demang setelah terdengar pintu pringgitan berderit.
Dengan tergesa-gesa Sindangsari bangkit. Dibenahinya pakaiannya dan
diusapnya matanya yang basah. Tetapi sebelum ia keluar dari dalam
biliknya, Ki Demang sudah menjengukkan kepalanya sambil bertanya
"Apakah kau merasa tidak enak badan lagi?" "O, tidak Ki Demang"
jawab Sindangsari terbata-bata "Aku hanya merasa sedikit pening" Ki
Demang mengangguk-anggukkan kepalanya "Kau memang harus banyak
beristirahat. Tidurlah" "Aku sudah lama berbaring Ki Demang" Ki
Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Sindangsari berkata
seterusnya "Biarlah aku menyiapkan makan siang. Barangkali agak
terlambat karena aku tidak membantu di dapur" "Aku belum lapar.
Biarlah orang-orang di dapur itu menyelesaikannya. Kalau kau mencium
bau berambang kau akan muntah-muntah lagi" "Sekarang justru t idak
Ki Demang" Ki Demang tidak menyahut. Dibiarkannya Sindangsari
melakukan apa yang dikehendakinya. Sambil memandang isterinya sampai
hilang di balik pintu. Ki Demang berkata di dalam hatinya "Keluarga
ini adalah keluarga yang aneh. Namun semakin lama aku justru semakin
mencintainya, meskipun aku tidak dapat melupakan noda yang melekat
pada dirinya. Anak itu merupakan duri di dalam hubungan kekeluargaan
ini, tetapi sekaligus memberi kebanggaan pula kepadaku" Sejenak
kemudian maka Sindangsaripun setelah menyiapkan makan siang buat Ki
Demang. Ia mencoba untuk berbuat seperti kebiasaannya tanpa sentuhan
apa-apa di dalam hatinya. Namun setiap kali dadanya terasa berdesir.
Setiap kali terbayang wajah Nyai Reksatani yang tertawa
berkepanjangan. Kemudian wajah seorang anak muda yang tampan yang
sudah tentu lebih tampan dan jauh lebih muda dari Ki Demang di
Kepandak. Bahkan kadang-kadang yang melintas di dalam angan-angannya
adalah wajah anak muda yang kini sedang pergi ke medan perang.
Pamot. Setiap kali Sindangsari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dicobanya untuk mengusir segala macam angan-angan yang
mengganggunya. Namun setiap kali bayangan, gambaran dan anyaman
perasaannya sendiri, selalu kembali mengganggunya. Untunglah bahwa
menurut tanggapanKi Demang, Sindangsari masih diganggu saja oleh
kehamilannya. Wajahnya yang pucat, dan sorot matanya yang suram,
membuatnya menjadi beriba hati. Ketika Ki Demang sudah selesai dan
ketika semua alat alat dan sisa-sisa makanan sudah dibersihkan, maka
Ki Demangpun berkata "Sudahlah Sari. Tidurlah. Jangan terlampau
banyak bekerja. Kau harus menjaga kesehatanmu sebaik-baiknya"
Sindangsari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Akupun akan
beristirahat di gardu" "Ki Demanglah yang sebenarnya terlampau
kurang beristirahat" berkata Sindangsari kemudian. "Tetapi aku
sehat. Aku tidak sedang dalam keadaan seperti kau. Adalah kelajiman
seorang perempuan yang sedang hamil, bahwa ia harus banyak
beristirahat" Sindangsari menganggukkan kepalanya. "Nah, tidurlah"
Sindangsaripun kemudian kembali ke biliknya. Tetapi wajah Nyai
Reksatani masih saja seolah-olah melekat di rongga matanya. "Tidak.
Tidak. Aku tidak akan pergi. Tetapi kata-kata itu dibantahnya
sendiri, bagaimana kalau justru anak muda itu yang datang kemari?
Aku tentu akan menemui kesulitan karenanya" Kebingungan yang
bergolak di dadanya telah membuatnya menjadi sangat gelisah. Dan
kegelisahan itu membayang di dalam sikap dan perbuatannya
sehari-hari. Kadang kadang ia bermaksud untuk minta ijin kepada Ki
Demang, untuk memenuhi ajakan Nyai Reksatani. Namun kadang-kadang ia
menjadi ketakutan, apakah yang sebenarnya akan terjadi dengan
dirinya? Sindangsari merasa bahwa dirinya bukanlah seorang yang
tabah dan kuat. Ternyata ia sudah tergelincir bersama Pamot.
Meskipun pada mulanya ia berteguh hati terhadap anak muda inipun
Sindangsari merasa cemas. Ia sama sekali tidak ingin berkhianat lagi
terhadap perkawinannya dan terhadap cintanya kepada Pamot, yang
dianggapnya cinta yang paling luhur, namun di dalam keadaan di luar
sadarnya, mungkin oleh tekanan keadaan yang tidak terhindarkan lagi,
ia akan terjerumus untuk kedua kalinya. Demikianlah dada Sindangsari
bergolak sehari-harian. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa perasaan
yang demikian itulah yang memang dikehendaki oleh Nyai Reksatani.
Bahkan lebih dari itu apabila ia dapat melakukannya. Kegelisahan itu
menjadi semakin memuncak ketika di hari berikutnya. Nyai Reksatani
datang pula kepadanya dan bertanya "Bagaimana? Apakah kau sudah
minta diri kepada suamimu, kakang Demang, bahwa hari ini kau akan
pergi ke rumahku?" Sindangsari menggelengkan kepalanya. "Ah kau. Aku
sudah ikut cemas memikirkan keadaanmu apabila anak itu datang
kemari" "Kenapa anak itu kau bawa singgah kemari?" bertanya
Sindangsari dengan kesal. "Aku tidak tahu, bahwa kedatangannya akan
membawa akibat yang panjang" "Karena itu, hentikan persoalan ini.
Katakan kepadanya, aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa" Nyai
Reksatani mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa "Jangan
berkata begitu mBok-ayu. Pada suatu saat kaulah yang akan
mencarinya" "Tidak, tentu tidak" sahut Sindangsari dengan
serta-merta. Ia tidak senang sekali mendengar kata-kata Nyai
Reksatani itu. Tetapi Nyai Reksatani hanya tersenyum saja. Katanya
"mBok-ayu. Aku sendiri pernah mengumpat-umpatinya, mengusirnya
seperti anjing. Tetapi ia memang anak yang baik. Ia tidak pernah
mendendam dan marah. Dengan sabar ia mencoba meluluhkan hatiku. Ah,
begitulah kira-kira yang sudah terjadi" Sindangsari tidak menyahut.
Kepalanya kini ditundukkannya. "Mbok-ayu, anak itu sekarang ada di
luar padukuhan ini. Ia menunggu di bawah pohon preh" Nyai Reksatani
berhenti sejenak" atau barangkali kau merasa rindu kepada ibu, kakek
dan nenekmu?" "Seminggu yang lalu, kakek datang kemari" "O. tetapi
ibumu" "Aku akan mengunjunginya. Tetapi sudah tentu bersama dengan
Ki Demang" Nyai Reksatani menarik nafas. Hampir saja ia menjadi
putus-asa. Tetapi ia masih mencoba "Terserahlah kepadamu mBok-ayu.
Apakah kau menunggu anak itu datang ke rumah ini dan menemui Ki
Demang" "Gila" "Usahakan menemuinya dan mengatakan isi hatimu. Besok
aku akan datang kemari lagi. Kau harus minta diri kepada Ki Demang
bahwa kau akan mengunjungi aku" Nyai Reksatani tidak menunggu
jawaban Sindangsari. Iapun segera berdiri dan minta diri sambil
berkata "Jangan sia-siakan kemudaan dan kecantikanmu. Kau sekarang
sedang mengandung. Tidak akan ada akibat yang dapat membahayakan
hubunganmu dengan Ki Demang" "Ah, gila. Gila" Sindangsari hampir
berteriak. Apalagi ketika ia melihat Nyai Reksatani tertawa.
Wajahnya menjadi merah padam. "Terserahlah" berkata Nyi Reksatani
kemudian sambil meninggalkan halaman rumah Ki Demang. Hari itu
Sindangsari menjadi semakin bingung. Hampir saja ia kehilangan akal
dan berbuat di luar sadarnya, mencari kesempatan untuk pergi. Tetapi
untunglah bahwa kemudian ia sadar, bahwa hal itu tidak akan mungkin
dapat dilakukan. Akhirnya Sindangsari tidak dapat lari dari kejaran
perasaannya. Betapapun beratnya, ia terpaksa mengatakan kepada Ki
Demang, bahwa Nyai Reksatani mengharapkannya datang berkunjung
kepadanya. "Aku akan segera mencari kesempatan" berkata Ki Demang
"Aku memang ingin mengunjungi keluarga itu. Sudah lama sekali aku
tidak datang kesana" "Ki Demang" berkata Sindangsari "Aku tidak
ingin mengganggu tugas Ki Demang. Kalau Ki Demang mengijinkan, besok
Nyai Reksatani akan singgah kemari" Ki Demang mengerutkan keningnya.
"Dimana kau bertemu dengan Nyai Reksatani" "Siang tadi ia datang
kemari. Ia mengajak aku pergi hari ini. Tetapi aku berkeberatan,
karena aku belum minta ijin Ki Demang lebih dahulu" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya "Apakah kau
ingin berkunjung kepada keluarga itu?" Sindangsari menganggukkan
kepalanya. Ki Demang merenung sejenak, lalu "Baiklah kalau kau
memang ingin mengunjunginya. Tetapi kau mempunyai persoalan yang
lain dari Nyai Reksatani" Sindangsari mengerutkan dahinya. "Sari,
sebaiknya aku berterus terang. Sebenarnya aku tidak sampai hati
melepaskan kau pergi sendiri. Bukan karena aku tidak percaya lagi
kepadamu karena peristiwa yang pernah terjadi. Tetapi aku cemas
bahwa masih ada orang-orang yang berniat kurang baik terhadapmu"
Sindangsari masih tetap berdiam diri. Tetapi sorot matanya
seolah-olah bertanya kepada Ki Demang, apakah maksudnya.
"Sindangsari, di Kademangan ini masih ada orang yang tergila-gila
kepadamu. Bahkan mungkin tidak hanya satu atau dua, setelah Pamot
dan aku. Tetapi yang paling banyak harus diperhatikan adalah
Manguri" Dada Sindangsari berdesir mendengar nama itu. Karena itu,
ia menjadi semakin terbungkam. Kalau terjadi sesuatu, maka akibatnya
pasti akan sangat menyakitkan hatinya. Sejenak ia telah dicengkam
oleh kebimbangan yang dalam. Kalau ia pergi, peringatan Ki Demang
itu memang seharusnya mendapat perhatiannya. Tetapi kalau ia tidak
juga pergi bagaimanakah jadinya kalau laki-laki muda itu benar akan
datang kepadanya, tanpa menghiraukan apakah suaminya ada atau tidak.
Dengan demikian Sindangsari telah dicengkam oleh kebimbangan tentang
bermacam-macam persoalan. Laki-laki muda itu, Nyai Reksatani,
suaminya dan bulu-bulunya meremang ketika diingatnya seorang anak
muda yang bernama Manguri itu. "Meskipun barangkali kecemasanku itu
berlebih-lebihan Sari" berkata Ki Demang pula "karena setiap orang
kini sudah mengetahui bahwa kau adalah isteriku" Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. "Kalau kau
memang ingin pergi ke rumah Reksatani" Ki Demang meneruskan "tidak
ada salahnya kalau kau memilih waktu yang tepat. Jangan terlampau
siang. Di tengah hari, jalan-jalan menjadi sepi. Kalau kau pulang
terlampau sore, suruhlah Reksatani mengantarkanmu" "Baik Ki Demang"
jawab Sindangsari "besok aku akan berangkat begitu Nyai Reksatani
datang. Ia mengharap sekali aku berkunjung ke rumahnya" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sama sekali t idak berprasangka
apapun terhadap adik iparnya. Di keesokan harinya, Ki Demang sengaja
tidak pergi berjalan jalan di sekitar padukuhannya. Ia ingin bertemu
dengan Nyai Reksatani yang akan menjemput isterinya yang sedang
mengandung itu. "Aku titipkan Sindangsari kepadamu" berkata Ki
Demang. Nyai Reksatani menjadi berdebar-debar. Ia tidak mengira
bahwa Ki Demang memerlukan menunggunya dan justru menyerahkan
Sindangsari kepadanya. Karena itu, dengan ragu-ragu ia menganggukkan
kepalanya sambil menjawab "Baiklah kakang Demang. Aku akan
menjaganya baik-baik" Demikianlah tanpa kecurigaan apapun juga.
Sindangsari telah dilepaskannya pergi bersama Nyai Reksatani.
Setelah ia berpesan agar mereka menempuh jalan yang ramai sampai ke
rumah Ki Reksatani. "Apakah kakang Demang takut kalau Nyai Demang
hilang di jalan?" "Tentu tidak" "Atau anak-anak muda yang
menggilainya masih akan mengganggunya?" Ki Demang tidak menjawab.
Tetapi karena angan-angannya dapat ditebak oleh Nyai Rekksatani,
maka iapun hanya tersenyumsaja. "Jangan takut Ki Demang. Jalan ke
rumahku tidak melewati Gemulung, kalau kakang Demang mencemburui
anak muda yang bernama Manguri itu" "Ah" Sindangsari berdesis.
Sedang Nyai Reksatani tertawa pendek. "Tetapi hati-hatilah" Ki
Demang masih berpesan. Dengan hati yang berdebar-debar, maka
Sindangsaripun kemudian berangkat mengikuti Nyai Reksatani. Ketika
ia meninggalkan halaman rumahnya ia menjadi ragu-ragu, sehingga
langkahnyapun menjadi tertegun-tegun. Ketika ia berpaling, dan
melihat Ki Demang berdiri di regol, terasa dada Sindangsari
berdesir. Hampir saja ia lari kepadanya dan mengadukan persoalan itu
dengan jujur. Namun dalam kebimbangan itu Nyai Reksatani berbisik
"mBok-ayu, jangan ragu-ragu. Kau harus menemuinya dan berkata
kepadanya, bahwa kau sama sekali tidak mengharapkan apa-apa
daripadanya. Semuanya akan segera selesai, dan kau tidak akan selalu
dibayangi oleh kecemasan dan kegelisahan. Aku juga tidak lagi
dibayangi oleh kecemburuan. Kecuali kalau kau memang merasa
terlampau kesepian. Aku tidak berhak untuk mencegahnya, karena aku
dan anak muda itu t idak mempunyai ikatan yang mutlak" "Tidak,
tidak" sahut Sindangsari" "Jangan berteriak" desis Nyai Reksatani.
Sindangsaripun terdiam. Dan Nyai Reksatani berkata selanjutnya
"Katakan, apa yang tersimpan di hatimu. Dengan jujur. Kau tidak usah
berpura-pura setia atau segala macam kebiasaan. Hanya seakan-akan
kebiasaan dan keharusan. Bukan memancar dari sanubari" Ketika
Sindangsari akan menjawab, Nyai Reksatani mendahuluinya "Jangan kau
jawab. Lihat sajalah ke dalam dirimu sendiri" Keduanyapun kemudian
terdiam. Langkah mereka semakin lama menjadi semakin cepat. Apalagi
ketika mereka telah berada di luar padukuhan. Meskipun belum sampai
ke puncak namun terasa matahari menyengat kulit. Beberapa orang yang
bekerja di sawah telah mulai mengemasi alat-alat, sedang orang-orang
yang berjalan di jalan-jalan tampak menjadi sangat tergesa-gesa.
Meskipun demikian Nyai Reksatani dan Sindangsari yang menempuh jalan
seperti yang dinasehatkan oleh Ki Demang masih banyak berpapasan
dengan orang-orang yang pulang dari pasar. Sementara itu, seseorang
yang bertubuh raksasa dan berkepala botak, sedang duduk di pematang
sambil membersihkan cangkulnya dengan air parit yang mengalir
gemericik di bawah kakinya. Sekali-sekali orang yang bertubuh
raksasa itu menengadahkan wajahnya. Namun kemudian menarik nafas
dalam-dalam. Ia berpaling ketika seseorang memanggilnya dari atas
gubug "He, Lamat. Aku akan pulang dahulu. Tunggu air itu sampai
sawah menjadi penuh" Lamat berdiri sejenak. Sambil menganggukkan
kepalanya ia menjawab "Baik. Aku akan menunggui sawah ini" "Kalau
kau mau makan, makanlah nasi ini. Aku akan makan di rumah saja" "Ya"
sahut Lamat pendek. Anak muda yang berada di dalam gubug ilupun
kemudian meloncat turun dan berjalan menyusuri pematang pulang ke
rumahnya. Lamat kemudian t inggal sendiri di sawahnya. Ia kembali
duduk di pematang sambil memandangi air yang mengaliri parit yang
membujur di daerah persawahan itu. Sekali-sekali tangannya menyentuh
percikan air yang jernih itu. Kemudian kembali ia mengangkat
wajahnya memandang kekejauhan. Semula ia tidak memperhatikan sama
sekali, ketika ia melihat seorang anak muda yang berjalan dengan
tergesagesa. Namun ketika anak muda itu menjadi semakin dekat,
berjalan dijaian yang menyilang parit tempat ia mencuci cangkulnya.
Lamat menjadi berdebar-debar. Tanpa sesadarnya ia berjongkok dan
bergeser surut, ke balik tanaman yang sedang menghijau. "Anak itu"
desisnya "Kenapa ia berada di Kademangan ini?" Dengan penuh
pertanyaan Lamat memperhatikannya, tanpa diketahui oleh orang yang
sedang lewat itu. "Apa kerja Puranta itu disini?" pertanyaan itu
telah memburunya. Lamat menarik nafas dalam-dalam ketika Puranta itu
telah menjadi semakin jauh. Perlahan-lahan Lamat berdiri.
Dipandanginya orang yang berjalan dengan tergesa-gesa itu sampai
jauh di balik ndeg pengamun-amun. Lamat yang kemudian duduk kembali
di pematang, ditepi parit itu menjadi selalu bertanya-tanya tentang
Puranta. Ia tidak dapat membiarkannya tanpa merenungkan, apakah
kepentingannya berada di Kademangan ini. "Untunglah Manguri sudah
pergi" desisnya "kalau Manguri melihatnya, maka perselisihan itu
dapat saja terjadi setiap saat. Kalau aku tidak memisahnya, mereka
pasti sudah berkelahi karena perempuan itu" Terbayang di dalam
angan-angan Lamat, bagaimana keduanya berbareng datang ke rumah
seorang janda muda. Perselisihan t idak dapat dihindarkan. Untunglah
Manguri masih mendengar nasehatnya saat itu "Jangan berkelahi.
Persoalan ini akan membuat keluarga Manguri semakin dijauhi orang.
Kenapa kau harus berkelahi karena janda yang hina itu? Ternyata ia
menerima siapa saja datang ke rumahnya" Betapapun kemarahan
menghentak-hentak di dada Manguri, namun agaknya ia masih cukup
mempunyai harga diri, sehingga ditinggalkannya perempuan itu. Namun
sesudah itu, tanpa dikehendakinya sendiri, Lamat mendengar bahwa
ayah Manguripun pernah bertengkar dengan anak itu. Bahkan anak itu
hampir saja dibunuhnya. Persoalannya adalah persoalan yang serupa.
Akhirnya dari Manguri ia mendengar bahwa anak muda yang bernama
Puranta itu adalah anak yang selalu membuat onar ia tidak lagi,
menghiraukan pagar ayu. Apalagi kini ia merasa kuat, karena ia
mempunyai beberapa orang kawan yang sejalan. "Kalau saja ia tinggal
di Kademangan ini" desis Lamat "maka ia dan Manguri akan dapat
menjadi kawan yang baik, atau menjadi musuh bebuyutan" Tetapi
Lamatpun kemudian mencoba untuk t idak menghiraukannya lagi. Mungkin
ia kebetulan saja berjalan melalui Kademangan ini untuk pergi ke
tempat kawankawannya atau saudara-saudaranya. "Apa peduliku" desis
Lamat Dan bahkan ia sama sekali tidak berniat untuk mengatakannya
kepada Manguri. Karena itu, maka Lamatpun segera pergi ke gubug di
tengah-tengah sawah. Di dalam gubug itu terdapat sebungkus nasi.
Perlahan-lahan ia membuka bungkusan itu, dan mulai menyuapi
mulutnya. Namun setiap kali ia terhenti apabila ia teringat anak
muda yang bernama Puranta itu. Dalam pada itu Puranta berjalan
dengan tergesa-gesa ke rumah Ki Reksatani. Ia sudah mendapat
kepastian bahwa hari ini Sindangsari akan datang ke rumah itu. Ia
tahu benar bahwa segala sesuatunya pasti sudah diatur. Ki Reksatani
pasti tidak ada di rumah karena Ki Reksatanipun tahu benar akan
rencana yang telah disusun oleh isterinya itu. Ketika Puranta sampai
ke rumah Ki Reksatani, ternyata Sindangsari telah ada di rumah itu
pula. Sejenak ia tertegun di depan pintu. Ditatapnya wajah
Sindangsari dengan sorot mata yang membara sehingga Sindangsari sama
sekali tidak berani mengangkat wajahnya. "Masuklah" berkata Nyai
Reksatani "kakang Reksatani tidak ada di rumah hari ini" "Ya, aku
tahu. Aku melihatnya ia pergi ke pasar ternak. Agaknya Ki Reksatani
ingin membeli seekor atau dua ekor lembu" "Mungkin" sahut Nyai
Reksatani "marilah. Sindangsari sudah terlampau lama menunggu" "Ah"
Sindangsari berdesah. "Maaf Nyai Demang" berkata Puranta "Aku
terlambat. Aku harus meyakinkan dahulu, apakah Ki Reksatani
benar-benar tidak ada di rumah" Tiba-tiba saja dada Sindangsari
terasa menghentak-hentak. Apalagi ketika anak muda itu kemudian
melangkahi tlundak pintu, masuk ke pringgitan dan tanpa di duga-duga
telah duduk di sampingnya. "Apakah Nyai Demang sudah lama?" bertanya
Puranta. Sindangsari tidak segera dapat menyahut. Mulutnya serasa
tersumbat dan dadanya menjadi terlampau sesak. "Sudah" Nyai
Reksatanilah yang menyahut "sudah terlalu lama. Kemanakah kau
sepanjang pagi ini?" "Sudah aku katakan, meyakinkan apakah Ki
Reksatani tidak ada di rumah" Nyai Reksatani tersenyum. Namun
tiba-tiba ia berkata "kau tentu haus. Aku ambilkan air sebentar"
Nyai Reksatanipun kemudian bangkit dari tempatnya. Namun sebelum ia
melangkah Sindangsari berkata "Duduklah Nyai, biarlah aku yang
mengambil minumuntuk tamumu" "Aneh sekali. Kau juga tamu disini"
"Bukan, aku bukan tamu. Aku adalah keluarga sendiri. Duduklah
menemui tamumu" "Akulah yang mempunyai rumah dan akulah yang
mempunyai tamu" Nyai Reksatani tertawa. Kemudian tanpa berkata
apapun lagi ia meninggalkan Sindangsari dan Puranta di pringgitan.
Hati Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Tanpa sesadarnya ia
bergeser menjauhi Puranta yang duduk di sampingnya. "Panasnya bukan
main" Puranta berdesis "tetapi ruangan ini terasa terlampau sejuk"
Sindangsari t idak menyahut. "Nyai Demang" bertanya Puranta kemudian
"apakah Nyai Reksatani pernah berkata sesuatu tentang aku?" Denyut
jantung Sindangsari serasa menjadi semakin cepat bergetar. Sejenak
ia masih tetap berdiam diri, sedang keringat dinginnya membasahi
segenap tubuhnya. "Maksudku" berkata Puranta selanjutnya "apakah
Nyai Reksatani pernah menceritakan hubungannya dengan aku?" Hampir
tanpa disadarinya Sindangsari menggeleng "Tidak" jawabnya lirih.
"Bagus" berkata Puranta kemudian "hubungan kami tampaknya memang
terlampau baik. Aku sering dimintanya datang kalau suaminya tidak
ada di rumah. Akhir-akhir ini Ki Reksatani memang sering pergi
meninggalkannya. Tetapi itu sama sekali bukan maksudku. Aku tahu,
bahwa berhubungan dengan seorang perempuan yang sudah bersuami
adalah suatu dosa" Sindangsari mengerutkan keningnya. Kata-kata anak
muda itu terdengar mapan sekali. Ia menyadari bahwa hubungan yang
demikian itu adalah suatu dosa. Sindangsari mengerutkan keningnya.
Kata-kata anak muda itu terdengar mapan sekali. Ia menyadari bahwa
hubungan yang demikian itu adalah suatu dosa. "Tetapi aku terlampau
kasihan kepadanya" berkata Puranta selanjutnya "itu adalah
kelemahanku. Aku tidak tahan melihat seseorang yang bersedih hati.
Nyai Reksatani benar-benar merasa kesepian, sehingga aku telah
terjebak ke dalam rumah ini. Bukan saja ke dalam rumah ini, tetapi
aku sudah terseret masuk ke dalam biliknya" suaranya kemudian
menurun "sebenarnya aku menyesal sekali. Setiap kali aku memutuskan
untuk pergi daripadanya. Tetapi setiap kali aku tidak sampai hati
menyakiti perasaannya" Tanpa sesadarnya Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata anak ini bukan anak yang
terlampau jelek. Ia mengerti apa yang baik dan apa yang buruk.
Tetapi ia tidak dapat menolak karena perasaannya yang terlampau
halus" "Kini aku seolah-olah telah dibelenggunya. Aku seakan akan
telah terhutang budi, karena aku sering menerima pemberiannya"
Kegelisahan Sindangsari lambat laun menjadi semakin berkurang. Ia
menyangka bahwa anak itu akan berbuat kurang sopan. Tetapi ternyata
ia mengerti apa yang sebaiknya dilakukannya. Puranta berhenti
berbicara ketika Nyai Reksatani kemudian memasuki ruangan itu sambil
membawa beberapa mangkuk air panas. Katanya "Nah. minumlah. Bukankah
kalian haus. Akupun haus pula. Tetapi, biarlah aku mengambil
beberapa potong makanan untuk kalian" Sindangsari kini tidak menahan
lagi ketika Nyai Reksatani meninggalkannya. Bahkan sekilas
dipandanginya wajah anak muda yang bernama Puranta itu. Tampaklah
matanya menjadi redup dan wajahnya selalu menunduk. Wajah yang
seakanTiraikasih Website http://kangzusi.com/ akan telah
berubah sama sekali dari wajahnya di saat ia datang dengan tatapan
mata yang membara. Sepeninggal Nyai Reksatani anak muda itu berkata
seterusnya "Sebenarnya hatiku telah tertutup bagi perempuan yang
manapun juga sepeninggal bakal istriku beberapa tahun yang lalu"
Puranta mengangkat wajahnya sejenak ketika ia mendengar Sindangsari
t iba-tiba bertanya "Kemanakah bakal isterimu itu?" "Lari. Lari
dengan seorang laki-laki lain" suaranya menjadi dalam "Aku tidak
tahu kenapa ia begitu saja meninggalkan aku. Tanpa pesan dan tanpa
penjelasan apapun" Sindangsari menarik nafas, seakan-akan ia ingin
melepaskan sesak nafasnya selama ia menahan diri dalam kegelisahan.
"Berbeda dengan kau Nyai Demang" berkata Puranta kemudian "kau sama
sekali tidak lari. Kau terpaksa memenuhi nafsu Ki Demang yang tidak
terkendalikan" Puranta berhenti sejenak, lalu "apakah kau ingin
tahu, siapakah perempuan yang lari dengan laki-laki itu?"
Seolah-olah tidak disengaja Sindangsari mengangguk. "Mereka tidak
lari jauh. Maksudku, lari daripadaku. Perempuan itu adalah isteri Ki
Demang yang kelima. Laki-laki itu adalah Ki Demang, suamimu. Berbeda
dengan kau, perempuan itu dengan senang hati menanggapi lamaran Ki
Demang" Sindangsari terperanjat mendengar keterangan itu. Sejenak ia
seolah-olah membeku. Ditatapnya wajah Puranta yang menjadi semakin
suram. "Perempuan itu melepaskan aku, tidak seperti kau terlepas
dari Pamot" Sindangsari masih tetap terdiam diri. Tiba-tiba saja
timbullah perasaan ibanya kepada laki-laki itu. "Alangkah
berbahagianya Pamot, apalagi jika ia berhasil mengawinimu. Laki-laki
yang mempunyai seorang isteri seperti kau, tentu akan merasa bahwa
ia telah berada di pintu gerbang sorga" "Ah" Sindangsari berdesah.
"Sindangsari" tiba-tiba saja laki-laki itu memanggil namanya,
sehingga jantung Sindangsari berdentangan karenanya "Aku belum
pernah melihat seorang perempuan secantik kau. Bukan saja bentuk
lahiriah, tetapi juga hati dan jiwamu. Itulah agaknya, meskipun kau
sama sekali tidak berniat kawin dengan Ki Demang kau tetap setia
pula kepadanya " Wajah Sindangsari menjadi merah padam. "Maafkan
aku. Aku hanya ingin sekedar menyebut namamu. Hanya menyebut namamu
saja. Tidak dengan sebutan Nyai Demang. Tetapi namamu sendiri yang
manis semanis orangnya. Sindangsari" "Ah" Sekali lagi Sindangsari
berdesah. Tetapi ia merasa aneh, kenapa tiba-tiba saja ia merasa
gemetar. Bukan lagi karena ketakutan karena anak muda itu duduk di
sampingnya. Sejenak anak muda itu tidak berkata sesuatu. Sehingga
dengan demikian ruangan itupun menjadi sepi. Kesepian itupun
kemudian dipecahkan oleh suara Nyai Reksatani yang datang sambil
membawa beberapa potong makanan. Katanya "Tidak ada apa-apa yang
pantas aku suguhkan. Hanya ini. Jadah bakar. Tidak seperti di
Kademangan" "Jangan terlampau sibuk Nyai" berkata Sindangsari.
Tetapi ia tidak mempersilahkan Nyai Reksatani itu duduk bersama
mereka. Namun setelah meletakkan makanan itu, Nyai Reksatanipun
duduk diantara mereka. Katanya "Apa saja yang sudah kalian
bicarakan. Aku tidak mendengar kalian tertawa atau berkelakar.
Agaknya kalian berbicara bersungguh-sungguh. "Tidak Nyai" jawab
Puranta "kami berbicara tentang diri kami masing-masing" "O, kau
juga berbicara tentang aku?" "Tidak" "Bohong" "Tidak Nyai, sungguh.
Aku tidak berbicara tentang Nyai" Nyai Reksatani memandang
Sindangsari sejenak, kemudian berganti di pandanginya Puranta.
Tiba-tiba saja Nyai Reksatani itu tersenyum "Ha, kenapa t idak kau
katakan saja kepadanya langsung? Bahkan Sindangsari adalah perempuan
yang paling cantik di muka bumi ini. Jauh lebih cantik daripadaku"
"Ah Nyai" potong Puranta. "Itu lebih baik bagimu. Kau lebih senang
menyebutnya dengan namanya, Sindangsari daripada Nyai Demang di
Kepandak. Begitu?" "Jangan begitu Nyai" "Aku tidak apa-apa. Kalian
adalah anak-anak muda. Seandainya kalian memang sudah menemukan
sesuatu di dalam diri masing-masing, aku sama sekali tidak
berkeberatan. Tetapi aku masih ingin mengajukan syarat, bahwa
Puranta tidak boleh meninggalkan aku sama sekali" "Ah, Nyai
terlampau cepat mengambil kesimpulan" sahut Puranta. "Kau sangka aku
tidak tahu hati anak-anak muda?" berkata Nyai Reksatani "sejak
pertama kali kau bertemu dengan perempuan itu, kau selalu mengigau.
Sindangsari, Sindangsari adalah nama yang manis sekali" Sindangsari
sendiri duduk sambil menunduk dalam-dalam. Wajahnya menjadi merah
oleh perasaan yang tidak menentu. Setelah sekian lama ia berada di
rumah Kademangan Kepandak, dan setelah sekian lama ia seolah-olah
hidup sendiri dalam kesepian, tiba-tiba seorang anak muda yang
tampan telah menyebut namanya. "He, jangan termenung mBok-ayu"
berkata Nyai Reksatani sambil tersenyum"marilah, minum dan makanlah
apa adanya" "Terima kasih" Sindangsari tergagap. "mBok-ayu tidak
usah tergesa-gesa pulang. Nanti biarlah kakang Reksatani
mengantarkan seperti pesan, Ki Demang. Ia akan pulang sebelum senja"
Nyai Reksatani terdiam sejenak "Apabila kau lelah, biarlah mBok-ayu
berbaring saja disini, di dalam bilikku" "Terima kasih" sahut
Sindangsari "Aku tidak lelah" Sambil memandang wajah Puranta, Nyai
Reksatani bertanya pula "apakah kau ingin beristirahat?" "Aku akan
duduk disini mengawani Sindangsari" jawab Puranta. Sebuah desir yang
halus telah menyentuh jantung Sindangsari sehingga iapun tunduk
semakin dalam. "Baiklah, agaknya lebih baik kita berbicara saja.,
Nah, mulailah, tentang apa saja" Merekapun kemudian berbicara,
tentang berbagai macam hal. Dari persoalan yang mereka hadapi
sehari-hari sampai masalah yang paling pelik di dalam hidup mereka.
Namun Sindangsari sendiri, seakan-akan hanya sekedar menjadi
pendengar. Tetapi akhirnya anak muda itupun menjadi lelah juga,
sehingga iapun kemudian terdiam, sambil menganggukTiraikasih Website
http://kangzusi.com/ angguk.
Apalagi ketika kemudian mereka dijamu dengan makan. Maka ruangan
itupun menjadi semakin sepi. Setelah beristirahat sejenak, maka anak
muda itupun minta diri untuk pulang ke rumahnya. "Sebentar lagi Ki
Reksatani pasti akan pulang" katanya "Aku minta diri Nyai" "Belum.
Ki Reksatani akan pulang nanti menjelang senja" "Siapa tahu.
Tiba-tiba saja ia muncul di muka pintu" "Kenapa cemas? Aku dapat
mengatakan bahwa kau adalah kawan Sindangsari" "Ah" Sindangsari
berdesis lemah "jangan" Nyai Reksatani tertawa "Kau masih sangat
hijau" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi kepalanya saja yang
tertunduk dalam-dalam. "Baiklah" berkata Nyai Reksatani kemudian
"kalau kau ingin pulang, pulanglah. Kau harus segera datang kembali.
Hampir setiap hari Ki Reksatani tidak ada di rumah. Ia sedang sibuk
dengan bendungannya" Puranta tertawa. Sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya ia berkata "Aku akan berusaha" lalu kepada Sindangsari ia
berkata "sudahlah Sari. Pertemuan kita berakhir sampai disini saja
hari ini. Tetapi kau bagiku adalah seorang perempuan yang paling
baik, lahir dan batin" "Ah" Sindangsari berdesah. Ia sama sekali
tidak berani mengangkat wajahnya. Meskipun kemudian anak muda itu
berdiri diikuti oleh Nyai Reksatani dan diantarkannya sampai keluar
rumah, Sindangsari masih tetap duduk di tempatnya. Ketika keduanya
sampai ke regol Nyai Reksatani berpaling sejenak. Karena Sindangsari
tidak dilihatnya, maka iapun kemudian berkata "Bersabarlah. Kau akan
mendapat segalaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ galanya. Kau
akan mendapat perempuan cantik itu dan sekaligus upah yang cukup
banyak dari Ki Reksatani. Kalau pada suatu saat Ki Reksatani dapat
membukt ikan bahwa isteri Ki Demang itu berbuat sedeng, maka ia
pasti akan diceraikannya" "Tetapi, bagaimana kalau Ki Demang menjadi
marah dan bahkan membunuh kami berdua bersama-sama. Bukankah Ki
Demang seorang yang tidak terlawan? Bukan saja di Kademangan
Kepandak, tetapi hampir di seluruh daerah Selatan ini mengenal
siapakah Demang di Kepandak itu" "Tetapi kau tahu juga, bahwa Ki
Reksatani adalah adiknya. Ia dapat mengusulkan, agar kalian berdua
diusir saja dari Kepandak. Dan kalian dipaksa untuk kawin. Terutama
kau. Kau dipaksa untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Apa kau
mau?" Puranta tertawa. Jawabnya "Kalau Ki Reksatani bersedia
memberiku bekal untuk modal rumah tanggaku, aku tentu bersedia.
Kalau aku sudah mempunyai isteri secantik Sindangsari mungkin aku
akan berhenti bertualang. Seandainya Nyai Reksatani bukan isteri Ki
Reksatani, maka kata-kata Puranta terputus oleh suara tertawanya.
"Ora nyebut" sahut Nyai Reksatani "anakku sudah sekandang" Puranta
masih saja tertawa "Aku yakin, akan berhasil" berkata Nyai Reksatani
kemudian. "Dan Ki Reksatanipun berhasil pula" "Meskipun perempuan
itu sudah mengandung, tetapi ia akan dapat menjadi isteri yang baik"
"Tetapi hal itu akan merupakan tanggung jawab yang berat bagiku
Nyai. Aku pada suatu saat mungkin akan berhadapan dengan Manguri
atau Pamot kalau ia kembali dari medan" "Anak itu akan mati di medan
perang. Jarang sekali orang berhasil kembali dengan selamat" Puranta
mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu iapun minta diri meninggalkan
halaman rumah Ki Reksatani. Nyai reksatani yang kemudian masuk
kembali dan duduk di sebelah Sindangsari bertanya "He, mBok-ayu.
Kenapa kau diam saja setelah kau bertemu sendiri dengan orangnya?
Untunglah aku belum mengatakan kepadanya, bahwa kau tidak akan
bersedia bertemu lagi dengan anak itu. Kalau demikian, maka akulah
yang disangka iri atau cemburu yang berlebih-lebihan" "O"
Sindangsari mengangkat wajahnya sejenak, namun wajah itu lalu
menunduk lagi ketika ia mendengar Nyai Reksatani berkata "Nah,
bukankah kau berpendirian lain setelah kau bertemu dan berbicara
agak panjang dengan anak itu?" "Tidak" sahut Sindangsari, tetapi
suaranya seolah olah tersangkut di kerongkongan. "Tetapi kau tidak
mengatakan apa-apa. Kau diam saja, bahkan asyik berbicara" "Aku
lupa, benar-benar terlupa" jawab Sindangsari yang mencoba untuk
membela diri "Kenapa kau tidak mengingatkan aku?" "Bagaimana mungkin
aku dapat mengingatkan kau di hadapan anak itu" sahut Nyai Reksatani
"dan bagaimana mungkin kau dapat melupakan hal itu? Kau datang
kemari dengan satu-satunya keperluan untuk berkata kepada anak itu,
bahwa kau t idak akan mau menemuinya lagi. Kau tidak mau terganggu,
karena kau adalah seorang perempuan yang sangat setia kepada suami.
Tetapi, keperluan satu-satunya itu ternyata telah kau lupakan. Lalu
apakah kerjamu datang kemari? Bukan maksudku un tuk mengatakan
penyesalanku bahwa kau sudah berkunjung kemari. Aku dan Ki Reksatani
akan senang sekali menerima mBok-ayu disini. Tetapi bahwa kau lupa
mengatakan keperluanmu itu ternyata menggelikan sekali" Sindangsari
tidak segera dapat menjawab. Ia memang merasa aneh terhadap dirinya
sendiri. Kenapa tiba-tiba saja ia terlupa, bahwa ia ingin
menghentikan semua hubungan yang dapat menyeretnya ke dalamsuatu
keadaan yang sesat. Tetapi hal itu memang sudah terjadi. Anak muda
itu sudah pergi sehingga ia tidak akan mempunyai kesempatan lagi
hari ini untuk mengatakan bahwa hubungan mereka tidak akan
berlangsung lebih lama lagi. "mBok-ayu. Akibai daripada iui adaiah,
bahwa anak itu pasti akan selalu mencari kesempatan bertemu dengan
kau" Tiba-tiba saja Sindangsari menjadi ragu-ragu. "Nah, pikirlah
masak-masak" Nyai Reksatani tertawa. Wajah Sindangsari menjadi merah
"Tidak. Tidak" Nyai Reksatani tidak menjawab. Tetapi ia tertawa saja
berkepanjangan. Suara tertawa itu terputus ketika ia mendengar
seseorang mendehem di halaman. Dengan wajah yang tegang Nyai
Reksatani berdesis "Ki Reksatani" "Untung sekali" dengan serta-merta
Sindangsari menyahut. "Kenapa?" "Anak muda itu telah pergi" Nyai
Reksatani tersenyum "Tidak akan ada persoalan apaapa" Sejenak
kemudian pintupun berderit. Ketika sebuah kepala tersembul di pintu
pringgitan, maka Sindangsaripun berdiri sambil menganggukkan
kepalanya. "O, mBok-ayu" Ki Reksatani menyapanya dengan suara yang
jernih "mimpi apa aku semalam? Itulah agaknya maka burung perenjak
sehari penuh kemarin dan sejak fajar selalu berkicau di sebelah kiri
pendapa. Agaknya hari ini seorang tamu agung telah berkunjung ke
rumah yang kotor ini" "Ah, Ki Reksatani selalu merendahkan diri"
"Aku senang sekali mendapat kunjungan mBok-ayu. Silahkan. Silahkan.
Aku akan mencuci kaki" Demikianlah, setelah membersihkan dirinya dan
makan siang, Ki Reksatani menemui Sindangsari seperti seorang adik
yang baik menemui kakak iparnya. "mBok-ayu akan bermalam disini"
"Aku pulang nanti" "Kaulah yang harus mengantarkan menurut pesan
kakang Demang" potong Nyai Reksatani "Aku?" "Ya" "Kakang Demang t
idak kemari?" "Kakang Demang baru sibuk" Ki Reksatani menarik nafas
dalam-dalam "Begitulah mBok-ayu. Sebaiknya mBok-ayu berusaha untuk
menyesuaikan diri. Belajarlah dari pengalaman isteri-isteri kakang
Demang yang lalu. Mereka yang tidak tahan oleh kesepian, tidak akan
dapat bertahan lebih satu atau dua tahun" Dada Sindangsari menjadi
berdebar-debar. "mBok-ayu harus belajar mengatasi kesepian itu.
Lakukanlah dengan apa saja. Belajar menenun. Apakah mBokayu sudah
bisa? Kalau belum belajarlah disini" "Ya" Nyai Reksatani hampir
berteriak, sehingga suaminya berdesis "Sst, kenapa kau
berteriak-teriak" "Aku senang sekali mendapat kawan di rumah. Kau
sangka aku tidak selalu kesepian juga?" "Ah. Jangan merasa dirimu
seperti pengantin baru" Nyai Reksatani tersenyum. Demikianlah, maka
ketika matahari telah menjadi semakin rendah, Ki Reksatanipun
bersiap-siap pula untuk mengantarkan Sindangsari pulang ke rumahnya,
rumah Ki Demang di Kepandak. Sementara itu, tanpa disengaja, sekali
lagi Lamat melihat seseorang yang berjalan dengan langkah yang
lamban melintasi jalan persawahan. Wajahnya tampak cerah seperti
cerahnya langit yang kemerah-merahan. "Hem"Lamat berguman "dari mana
sebenarnya anak itu" Tetapi Lamat, sama sekali tidak berbuat
apa-apa. Ia berjongkok saja di balik dedaunan yang hijau rimbun.
Dalam pada itu, Ki Reksatani yang telah selesai bersiap-siap
bertanya kepada isterinya "Apakah kau tidak ikut mengantarkan
mBok-ayu pulang?" "Nanti anak-anak rewel. Silahkan. Aku sudah pergi
ke Kademangan menjemputnya tadi pagi" Ki Reksatani
mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Hatihatilah di rumah" ia
berhenti sebentar "tetapi bukankah kau membuat pondoh jagung gurih?
Kakang Demang senang sekali makanan serupa itu" "Ah, di Kademangan
ada lebih dari sepuluh macam makanan yang jauh lebih enak dari
pondoh jagung gurih" "Bungkuslah. Kau tidak percaya? Kakang Demang
gemar sekali. Bukankah begitu mBok-ayu" Sindangsari mengangguk
sambil tersenyum "Begitulah" sahutnya . Demikianlah, maka ketika
matahari telah berada di pungung bukit. Ki Reksatani berjalan
perlahan-lahan di belakang Sindangsari. Bayangan senja yang
kemerahmerahan, membuat wajah Sindangsari menjadi semakin bercahaya.
Dari belakang Ki Reksatani melihat betapa lehernya yang jenjang dan
betapa langkahnya yang sudah mulai guntai oleh perutnya yang semakin
besar. "Perempuan ini memang cantik" ia berdesis di dalam hatinya
"tetapi perempuan ini benar-benar telah membunuh masa depanku dan
masa depan anak-anakku" Ki Reksatani mengerutkan keningnya.
Dipandanginya saja punggung Sindangsari yang berjalan tanpa
berpaling. "Kalau aku masih muda, semuda Puranta, ia bergumam terus
di dalam hatinya. Tiba-tiba saja ia terkenang kepada sebuah
permintaan yang aneh baginya. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan saja
permintaan itu, karena permintaan itu datang dari seorang perempuan.
Seorang perempuan yang selama ini tersangkut di dalam perjalanan
hidupnya, namun yang sempat dirahasiakannya, sehingga hampir tidak
seorangpun yang mengetahuinya, selain orang-orang yang paling dekat
dengan perempuan itu, termasuk anak laki-lakinya. Ki Reksatani
menarik nafas dalam-dalam, sehingga tanpa sesadarnya Sindangsari
berpaling. "O" Ki Reksatani tergagap "kita memang sedang
berprihatin" "Kenapa? bertanya Sindangsari" "Musim panas yang
panjang. Sawah menjadi kering" "Tetapi bukankah parit-parit selalu
mengalirkan air seperti parit di sisi jalan ini?" "O, ya, ya.
Kebetulan. Kebetulan sekali hari ini parit ini mengalir. Itulah
sebabnya aku sedang sibuk dengan bendungan, agar bahaya kering tidak
melanda persawahan terutama di daerah Kepandak" Sindangsari hanya
dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya
apapun lagi. Ki Reksatanipun kemudian hanyut kembali ke dalam
anganangannya. "Tetapi itu berbahaya sekali" desisnya "Ki Demang
akan segera mengetahuinnya dan bertindak atasnya dan mungkin
keluarganya. Kalau kakang Demang menjadi gila dan memeras mereka
dengan kekerasan, akan sampai pula akhirnya ia menyebut namaku" Ki
Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Tetapi kalau anak ini,
Puranta, setiap orang yang agak binal sedikit, dapat mengenal
namanya. Mungkin kakang Demang akan membunuhnya, dan Sindangsari
diceraikannya. Baru sesudah itu aku akan berpikir untuk perempuan
yang ditangisi anaknya itu. Semuanya seakan-akan telah masak di
kepala Ki Reksatani. Bahkan kemudian "Kalau kakang Demang tidak
membunuh Puranta karena ia sempat menahan hati, akulah yang akan
membunuhnya dengan seribu alasan, agar mulutnya terbungkam. Setiap
orang akan mempercayai tindakanku sebagai tindakan sakit hati yang
tidak pantas untuk diusut dan dihukum. Ki Reksatani tersenyum
sendiri sambil menganggukanggukkan kepalanya. Seakan-akan semua itu
sudah terjadi, dan jabatan tertinggi di Kademangan Kepandak itu
telah berada di tangannya. "Kakang Demang pasti sudah menunggu"
berkata Sindangsari tiba-tiba sehingga Ki Reksatani tergagap
karenanya. "Tidak, tentu tidak" "Ia akan menjadi cemas karenanya"
"Bukankah kakang Demang sudah berpesan agar aku mengantarkanmu?
Memang itu lebih aman. Kalau ada laki-laki yang karena sakit hati,
atau karena sesuatu sebab, mendendammu, maka kau memang memerlukan
perlindungan disenja begini. Kalau di siang hari sebelum matahari
naik ke puncak langit, aku kira tidak akan ada seorangpun yang
berani berbuat gila di padukuhan yang tenteram ini, kalau ia tidak
ingin menjadi merah biru dan bengkak-bengkak seluruh tubuhnya.
Tetapi di malam hari, hal itu memang dapat saja terjadi, karena
tidak ada seorangpun yang mengetahuinya " Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat memaklumi keterangan adik
iparnya itu. "Aku hanya membuat repot saja" berkata Sindangsari
kemudian. "Tidak. Tidak. Bukan begitu. Itu adalah suatu sikap
berhatihati" Merekapun kemudian terdiam. Langkah-langkah mereka
sajalah yang terdengar berdesir menyentuh rerumputan yang sudah
mulai berwarna kekuning-kuningan. Ketika mereka sampai di bulak yang
panjang, maka hari sudah menjadi semakin suram. Yang tampak kemudian
adalah ujung-ujung mega yang kemerah-merahan membentang di langit.
Tiba-tiba terbersit pikiran di kepala Ki Reksatani "Aku dapat
membunuhnya sekarang" Dada Ki Reksatani menjadi berdebar-debar "Aku
dapat menguburnya di tengah-tengah sawah. Kemudian aku akan berkata
kepada kakang Demang, bahwa Sindangsari telah pulang lepas tengah
hari. Ia tidak sabar menunggu aku" Sejenak Ki Reksatani
menimbang-nimbang dengan dada yang tegang. Terasa jantungnya menjadi
semakin cepat berdenyut. "Tetapi, apakah kakang Demang
mempercayainya? Dan sudah barang tentu isterikulah yang
dipersalahkannya" Akhirnya Ki Reksatani menggelengkan kepalanya
"Lebih baik aku tidak tergesa-gesa" katanya "agaknya Puranta akan
berhasil. Aku harus memancing Nyai Demang ini untuk bermalam semalam
saja di rumahku. Kemudian memanggil Puranta. Kalau anak itu sudah
datang aku akan menghubungi Ki Demang. Aku harus memberitahukan
kepadanya bahwa isterinya telah berbuat serong. Ternyata rumahku
adalah sekedar tempat mereka membuat janji" Ki Reksatani
mengangguk-anggukkan kepalanya "Aku dapat mencari seribu alasan
sehingga kakang Demang akan mempercayainya" Demikianlah, keduanyapun
sampai ke rumah Kademangan Kepandak setelah lampu-lampu dinyalakan.
Bahkan obor regolpun telah dipasang. Di depan regol Ki Reksatani
tertegun sejenak ketika ia melihat seseorang berdiri bersilang
tangan di dada. Di belakangnya dua orang berdiri bersandar dinding.
"Hem" ia menarik nafas dalam-dalam "agaknya perempuan itu
benar-benar telah mengikat hati Ki Demang. Benar juga dugaan
Sindangsari. Ia sudah menjadi gelisah menunggunya. Hal yang tidak
pernah terjadi dengan isteri-isterinya yang lain" "Hampir saja aku
pergi menyusul" berkata Ki Demang, ketika Sindangsari sampai di
depan regol. "Ki Reksatani suami isteri selalu menahan kalau aku
minta diri" jawab Sindangsari. "Kami mengharap mBok-ayu bermalam di
rumah kami meskipun hanya semalam. Anak-anak kami senang sekali
mendapat kunjungan bibinya. Bibi yang kali ini lain dengan bibi-bibi
yang pernah
dikenalnya
Jilid 6 "Ah" Sindangsari berdesah.
"Jangan aneh-aneh Reksatani" berkata Ki Demang. Ki Reksatani tertawa
"Tetapi aku minta ijin, agar mBokayu pada suatu saat boleh menginap
di rumahku. Kemanakannya pasti akan senang sekali. Lebih, daripada
itu Sindangsari, eh, mBokayu, akan belajar menenun" Ki Demang hanya
tersenyum saja, Ia sama sekali, segelugutpun tidak menaruh prasangka
apapun. Ternyata Ki Reksatani benar-benar telah mematangkan
rencananya. Ketika malam itu ia pulang dari Kademangan, maka bersama
isterinya dibuatnya perangkap yang paling baik untuk menjebak
Sindangsari dan Puranta. "Persetan, apakah keduanya akan dibunuh
oleh Ki Demang" desis Reksatani. "Tetapi jangan Sindangsari" minta
Nyai Reksatani. Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam "Ya,
Sindangsari tidak" Namun dalam pada itu Ki Reksatani sedang
memikirkan permintaan perempuan yang ditangisi anaknya, yang
tergilagila kepada Sindangsari. Katanya di dalam hati "Mudahmudahan
aku mendapatkan kedua-duanya. Sindangsari terlepas dari kakang
Demang dan anak itu mendapatkan janda itu" Tetapi masih ada satu
persoalan yang dipikirkannya "Bagaimana anak di dalam kandungan itu?
Anak itu adalah anak kakang Demang. Meskipun seandainya Sindangsari
telah diceraikannya, namun anak itu akan dapat menuntut haknya.
Sekali lagi terbersit cara yang paling keji "Bayi itu harus mati di
saat lahirnya" Dengan demikian, maka dengan segala cara, Nyai
Reksatani telah membujuk agar Sindangsari mau bermalam semalam saja
di rumahnya. "Kau harus mengatakannya. Setiap hari anak itu bertanya
kepadaku. Hampir saja ja memaksa untuk datang kemari" Tetapi
Sindangsari selalu berusaha untuk mengelak. Demikian ia berada dekat
dengan suaminya ia merasa, bahwa ia memang harus menghentikan
permainan yang dapat membakar dirinya. Namun kadang-kadang di malam
hari Sindangsari sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Apabila
ia berada di pembaringannya, seorang diri sejak hari perkawinannya,
terasa betapa kesepian telah membakar jantungnya. Memang
kadang-kadang terbayang, betapapun suramnya, bayangan wajah anak
muda yang bernama Puranta itu. Kadang-kadang merupakan sebuah
bayangan rangkap, Pamot dan samar-samar garis-garis wajah Puranta
itu. "Tidak. Aku adalah seorang isteri. Bagaimanapun juga aku
mempunyai seorang suami" geramnya. Tetapi Nyai Reksatani tidak
berputus-asa. Ia berusaha terus. Membujuk, merajuk dan bahkan
kadang-kadang mengancam. Sedang Ki Reksatani setiap kali berkata
kepada Ki Demang "Kenapa mBokayu tidak kakang perbolehkan bermalam
di rumahku?" "Aku bukan tidak memperbolehkan" jawab Ki Demang
"tetapi mBokayumu agaknya masih belum berhasrat" "Ah, mBokayu
sendiri pernah mengatakan, bahwa ia ingin bermalam meskipun hanya
semalam untuk mempelajari cara menenun" "Kalau memang diinginkannya,
aku tidak berkeberatan" Akhirnya usaha suami istri itupun tidak
sia-sia. Lewat cara apapun juga, mereka berhasil membujuk
Sindangsari untuk bermalam di rumah Ki Reksatani. "Ia akan
menemuimu" berkata Nyai Reksatani kepada Sindangsari, Kemudian
"Jangan lupa. Katakan apa yang ingin kau katakan. Kalau kau memang
tidak ingin bertemu lagi dengan orang itu, katakanlah
berterus-terang. Tetapi kalau kau memerlukannya karena kau kesepian,
aku tidak berkeberatan, katakanlah kepadanya. Aku yakin, ia dapat
mengerti. Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar. Ia tidak mengerti
apakah sebenarnya yang telah bergolak di dalam dirinya. "Kau harus
berbuat sebaik-baiknya Nyai" pesan Ki Reksatani "kalau datang
saatnya, aku akan memanggil kakang Demang. Berkuda supaya cepat"
"Aku akan membawanya ke rumah itu. Aku sudah menyediakan sebuah alat
tenun yang baik" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya "Ingat, keterangan yang akan kita berikan kepada Ki Demang
harus sama. Jangan sampai terjadi kekeliruan, apalagi pertentangan,
karena kakang Demang adalah seorang yang teliti dalam menghadapi
persoalan yang paling rumit" "Ya. Tetapi belum tentu kakang Demang
dapat menelit i hal yang menyangkut perasaan sendiri seperti
persoalan orang lain" "Mungkin. Memang mungkin" Malam yang telah
direncanakan itupun datang pula pada saatnya. Ki Demang melepaskan
isterinya dengan sepenuh kepercayaan kepada adiknya. "Besok pagi aku
akan menjemputnya" berkata Ki Demang. "Ya, kami menunggu kakang"
Bersama Ki Reksatani suami isteri Sindangsari meninggalkan rumahnya,
lepas tengah hari. Ia membawa beberapa helai pakaian karena ia
berjanji akan bermalam. "Mudah-mudahan mBok ayu senang bermalam di
rumah kami" "Tentu" jawabnya ragu-ragu. Di sepanjang jalan, jantung
Sindangsari terasa semakin berdebar-debar. Bagaimanakah caranya
untuk mengatakan maksudnya kepada Puranta, bahwa ia berkeberatan
untuk bertemu dengannya. Bahwa hubungan apapun harus diputuskannya.
Dada Sindangsari berdesir ketika mereka berhenti di sebuah halaman,
beberapa patok sebelum mereka sampai di rumah Ki Reksatani. Dengan
tertawa Ki Reksatani berkata "Bukankah mBok-ayu ingin belajar
menenun. Alat tenun kami yang paling baik berada di rumah ini.
Apalagi disini tidak ada anak-anak kecil yang akan mengganggu.
Biarlah isteriku mengawanimu disini" Sejenak Sindangsari berdiri
termangu-mangu. Ditatapnya wajah suami isteri itu berganti-ganti,
seolah-olah ingin mendapat penjelasan yang lebih banyak lagi dari
mereka. "Silahkan" Ki Reksatani mempersilahkan. Iapun kemudian
mendahuluinya memasuki regol halaman yang tidak begitu lebar itu"
"Ini juga rumahku" berkata Ki Reksatani "kalau aku jemu berada di
rumah sebelah karena kericuhan anak-anak, aku pergi dan tidur di
rumah ini. Disinilah alat-alat tenun kami yang baik kami simpan"
Sindangsari masih belum menjawab. Meskipun Ki Reksatani sudah berada
di dalam regol, namun Sindangsari masih berdiri di tempatnya.
Akhirnya ia terpaksa melangkah maju ketika tangan Nyai Reksatani
membimbingnya. "Jangan takut" katanya "daerah ini adalah daerah yang
paling aman. Apalagi setiap orang tahu bahwa rumah ini adalah rumah
Ki Reksatani. Hanya orang yang ingin membunuh diri sajalah yang
berani mengganggu rumah ini. Sindangasari tidak menyahut. Dengan
penuh kebimbangan ia berjalan melintasi halaman naik ke pendapa
rumah yang tidak begitu besar itu. Tetapi ketika ia menjengukkan
kepalanya ke dalam, dilihatnya rumah itu cukup bersih, sebersih
rumah Ki Reksatani yang pernah dikunjungnya. "Ada dua orang pelayan
yang khusus mengurusi rumah ini" berkata Ki Reksatani "duduklah.
Tetapi barangkali disini terdapat banyak kekurangan, karena pada
dasarnya rumah ini kosong. Di siang hari dipergunakan oleh beberapa
orang untuk menenun. Sesudah senja, rumah ini hanya ditunggui oleh
dua orang pelayan, suami isteri" Kecurigaan Sindangsari atas rumah
itupun semakin lama menjadi semakin berkurang. Dipandanginya
dinding-dinding kayu nangka yang kekuning-kuningan dihiasi oleh
serat-serat yang berwarna coklat muda sampai kecoklat tua. Setelan
mereka duduk sejenak di sebuah amben yang besar, maka pelayan yang
menunggui rumah itu menyuguhkan air panas, gumpalan-gumpalan gula
kelapa dan beberapa jenis makanan. "Berlakulah seperti di rumah
sendiri mBokayu" berkata Ki Reksatani "jangan merasa dirimu asing
disini" "Terima kasih" jawab Sindangsari kaku. "Di dalam bilik
itulah alat tenunku yang paling baik, yang khusus aku pergunakan
sendiri aku simpan,. Nanti, kita coba bersama, apakah mBok-ayu
tertarik pada pekerjaan kasar itu" Sindangsari mengangguk-anggukkan
kepalanya. Ketika ia berpaling dilihatnya lewat lubang pintu yang
terbuka sebuah alat tenun yang terletak disebuah amben yang besar
pula. Demikianlah setelah berbicara sejenak, maka Ki Reksatanipun
kemudian berkata "Maaf mBok-ayu. Aku akan pergi ke rumah sebelah
sejenak. Nanti aku akan datang lagi kemari. Belajarlah menenun.
Barangkali mBok-ayu tertarik pada pekerjaan itu untuk sekedar
mengisi waktu selagi mBakayu kesepian" Sindangsari menganggukkan
kepalanya "Baiklah. Aku akan belajar" Sepeninggal Ki Reksatani, Nyai
Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Hampir saja aku lupa
menyahut katakata kakang Reksatani, bahwa mBok-ayu akan dapat
mencari kesempatan untuk mengisi kesepian dengan cara yang jauh
lebih baik dari menenun. Bukankah begitu?" "Ah" Sindangsari
berdesah. "Jangan takut. Anak itu akan datang kemari" "Tetapi aku
tidak ingin menemuinya malam ini" Nyai Reksatani tertawa "Semua
sudah aku persiapkan baikbaik. Jangan takut. Kakang Reksatanipun
tidak akan tahu" Dada Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar.
Dalam pada itu, Nyai Reksatani memandang Sindangsari dengan tatapan
mata yang aneh. Selagi Sindangsari menundukkan kepalanya, Nyai
Reksatani menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah di dalam hatinya
"Bukan maksudku mBok-ayu. Tetapi kepentingan hari depan anakanakku
telah menuntut agar aku berusaha membantu suamiku dalam pekerjaan
ini" Terbayang di dalam angan-angannya apa yang akan terjadi
malamitu. "Kalau Puranta telah datang, kau harus secepatnya
memberitahu agar aku segera dapat mengundang kakang Demang" pesan Ki
Reksatani itu selalu terngiang di telinganya. Dengan demikian, maka
hati Nyai Reksatani yang tampaknya selalu tersenyum dan tertawa itu,
sebenarnya telah dicengkam oleh kegelisahan yang semakin memuncak,
Semakin rendah matahari, hati Nyai Demang menjadi semakin
berdebar-debar. Ketika senja turun, maka Nyai Reksatanipun
mempersilahkan Sindangsari mandi dipakiwan di belakang rumah.
Kemudian mereka berdua duduk bercakap-cakap sejenak. Nyai Reksatani
berkata "Marilah, lihatlah, bagaimana aku menenun" Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya "Lalu bagaimana
dengan anak-anak, kalau kau berada disini?" "Aku mempunyai
pembantu-pembantu. Nanti sebentar aku memang harus pulang. Aku akan
mengambil anakku yang terkecil. Di malam hari ia masih sering
menanyakan biyungnya" Sindangsari masih mengangguk-angguk ketika
kemudian Nyai Reksatani membawanya masuk ke dalambilik tenunnya. Di
sudut bilik itu lampu minyak telah menyala. Cahayanya yang
kemerah-merahan membuat ruangan itu serasa menjadi semakin panas.
Bayangan yang bergerak-gerak memantul dari benang-benang yang
berwarna tajam yang telah tersusun pada alat tenun Nyai Reksatani.
Sejenak kemudian perempuan itupun telah duduk pada alat tenunnya.
Ketika semuanya telah siap, maka mulailah ia melemparkan coba, alat
untuk melontarkan gulungan benang yang akan menyilang benang-benang
yang telah disusun membujur. Dengan sungguh-sungguh Sindangsari
memperhatikan gerak tangan Nyai Reksatani. Dengan memberikan
beberapa petunjuk, tangannya bergerak terus, bahkan kakinya untuk
menggerakkan suri dari benang yang membujur. Namun tiba-tiba Nyai
Reksatani berkata "mBok-ayu, sebentar lagi ia akan datang. Kau akan
dapat kesempatan segala-galanya. Kalau kau memang tidak mau bertemu
lagi dengan anak itu, kau akan mendapat kesempatan untuk
mengatakannya, sedangkan kalau kau memerlukan yang lain, aku tidak
akan mencegahnya" "Ah" Sindangsari selalu hanya dapat berdesah.
Tetapi dengan demikian tiba-tiba perhatiannya terhadap gerak tangan
dan kaki Nyai Reksatani menjadi kabur. Sejenak Sindangsari menjadi
bingung. Ia sendiri tidak mengerti apakah sebenarnya yang
diinginkannya. Apakah ia ingin memutuskan semua hubungan, ataukah
sebenarnya ia memang mengharapkannya untuk mengisi kesepian. "Malam
ini aku tahu, kakang Reksatani akan berjaga-jaga di rumah tetangga
yang sakit keras. Ia sudah mengatakan kepadaku pagi tadi"
Sindangsari menjadi semakin berdebar-debar. Pikirannya menjadi
semakin kalut sehingga ia sama sekali tidak menjawab lagi. "Kita
menunggu kedatangannya. Akulah yang meminta kepada kakang Reksatani,
agar kami diperkenankan mempergunakan rumah ini. Rumah yang biasanya
hanya dipergukan untuk mengerjakan pekerjaan khusus dan menenun"
Dada Sindangsari menjadi sesak. Ia merasa terjebak karenanya. Namun
ada juga terbersit sesuatu yang memang diharapkannya. Namun kemudian
ia mencoba menemukan seluruh kekuatan yang ada di dalam dirinya.
Meskipun tidak terucapkan ia mencoba berkata kepada diri sendiri
"Aku adalah Nyai Demang di Kepandak" Karena Sindangsari tidak
menjawab, maka Nyai Reksatanipun terdiam pula. Hanya tangan dan
kakinya sajalah yang masih bergerak-gerak mempermainkan alat
tenunnya. Sementara langit di luar menjadi semakin lama semakin
kelam. "Kalau anak itu datang, aku harus segera berlari
memberitahukannya kepada kakang Reksatani" desis Nyai Reksatani. Dan
dalam pada itu Ki Reksatanipun telah menyusun rencananya dengan
lengkap. Begitu isterinya memberitahukan kedatangan anak muda itu,
ia akan berpacu kepada kakaknya. "Kakang Demang pasti mempercayai
aku" desisnya. Sementara itu, ketika Kademangan Kepandak telah
menjadi semakin gelap, seseorang berjalan dengan tergesa-gesa
melintasi jalan persawahan. Sekali-sekali ia tersenyum sendiri.
Terngiang kata-kata Ki Reksatani "Jangan sampai gagal. Bukankah kau
tidak pernah gagal menghadapi perempuan yang bagaimanapun juga keras
hatinya? Kau harus tetap ada pada perempuan itu sampai kakang Demang
datang. Semuanya serahkan kepadaku. Kalian akan selamat. Tetapi
kakang Demang pasti akan memaksamu kawin dengan perempuan itu" Anak
muda yang bernama Puranta itu kemudian mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya di dalam hati "Kali ini aku mendapat pekerjaan
yang aneh. Biasanya aku melakukannya sebagai suatu keharusan oleh
dorongan dari dalam diriku sendiri. Tetapi kali ini aku akan
mendapatkan kedua-duanya" Sekali lagi ia tersenyum seorang diri
sambil melangkah terus. Namun sama sekali tidak terbersit suatu
prasangka apapun kepada Ki Reksatani. Ia tidak berpikir terlampau
jauh, bahwa Ki Reksatanilah yang akan membinasakannya, karena Ki
Reksatani sama sekali tidak ingin, bahwa rahasia ini pada suatu saat
akan bocor dan anak di dalam kandungan Sindangsari itu apabila
berkesempatan hidup akan menuntutnya kelak, atau orang-orang lain
yang setia kepada Ki Demang. "Jagabaya yang bodoh itu pasti tidak
akan dapat diajak berbicara dengan cara apapun. Kalau pada suatu
ketika ia mengerti tentang rencana ini, maka tidak ada cara lain, ia
harus dihadapi menurut cara yang dipilihnya. Ia pasti akan
mempergunakan kekerasan" pertimbangan itupun agaknya telah
mempengaruhi keputusannya. Sementara itu Puranta berjalan semakin
cepat. Menurut Ki dan Nyai Reksatani, ia harus datang setelah
padukuhan menjadi sepi, tetapi jangan sampai lewat tengah malam.
Dalam pada itu, Lamat yang tidak mempunyai pekerjaan lagi di rumah,
masih saja selalu dikejar oleh pertanyaan, apakah yang dilakukan
oleh Puranta di Kademangan Kepandak ini. Bukan hanya satu kali ia
melihat anak itu lewat. Dengan demikian kecurigaannyapun menjadi
semakin kuat, bahwa Puranta telah melakukan perbuatan yang terkutuk
itu pula, kali ini di Kademangan Kepandak. "Apakah peduliku" ia
bergumam. Bahkan kemudian "Kenapa aku mempersoalkan anak itu, sedang
di rumah inipun ada pula seorang anak muda yang melakukan perbuatan
serupa?" Lamat mencoba menghilangkan pikiran itu sambil berbaring di
pembaringannya. Tetapi setiap kali wajah anak muda yang bernama
Puranta itu selalu saja terbayang. Lamat terkejut ketika tiba-tiba
saja pintu biliknya terdorong keras-keras. Ketika bilik itu terbuka,
ia melihat Manguri berdiri di muka pintu dengan wajah yang tegang.
"He, kau benar-benar seorang pemalas" tiba-tiba saja ia membentak.
Lamatpun segera bangkit. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan
mendekati Manguri "Apakah ada sesuatu?" "Ikut aku" Lamat tidak
menyahut. Iapun kemudian berjalan mengikuti Manguri keluar biliknya
dan pergi ke regol halaman. "Lamat, ada kerja yang harus kita
lakukan" "Apa?" "Kau pernah melihat anak muda yang bernama Puranta
itu?" Hati Lamat menjadi berdebar-debar. Sambil mengangguk ia
menjawab "Ya. Aku pernah melihatnya" "Ia kini berkeliaran di
Kademangan ini" berkata Manguri. Lamat menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia masih belum menjawab. "Kau tahu apa yang ia lakukan di
sini?" Lamat menggelengkan kepalanya. "Bodoh kau. Kau pasti harus
mengetahuinya" "Tetapi aku tidak tahu apa yang dilakukannya. "Kita
sudah mengenalnya. Jadi kita dapat memastikan, bahwa ia sudah mulai
meraba Kademangan ini dengan tangannya yang kotor itu" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya, itu suatu dugaan" "Bukan sekedar
dugaan. Aku dapat memastikan" "Sebaiknya, jangan pedulikan anak itu.
Dengan demikian kau hanya akan menambah lawan. Biar sajalah ia
melakukan apa saja yang dikehendakinya" "Aku tidak menolak cara
apapun yang akan dilakukannya. Tetapi kalau laki-laki itu adalah
anak muda yang bernama Puranta, aku sama sekali tidak akan dapat
menerima" "O, jadi kita akan menutup mata? Dan kita akan membiarkan
perbuatan terkutuk itu terjadi di Kademangan ini?" Manguri berhenti
sejenak sedang nafasnya tiba-tiba memburu "aku tidak rela. Atau
barangkali kau ingin mengatakan, bahwa akupun sering melakukan hal
yang serupa seperti juga ayahku? Baiklah, jika demikian apa yang
dilakukan di Kepandak adalah suatu penghinaan bagiku, seolah-olah di
Kepandak tidak ada seorang laki-lakipun" Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya, meskipun ia berdesah di dalam hati. "Marilah kita pergi
ke sawah. Aku pernah melihatnya lewat di jalan itu, melintasi bulak
di sebelah sawah kita" "Tetapi tentu di siang hari" "Tidak.
Kadang-kadang di malam hari" Lamat menggeleng-gelengkan kepalanya
"Ia lewat di saatsaat yang tidak kita mengerti" Manguri mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia berbisik "Lamat, aku menghubungkan
kehadirannya dengan ceritera ibu" Lamat mulai tertarik. "Menurut
ibu, yang selalu aku desak, agar ibu dapat mengambil langkah sesuatu
untuk mengambili Sindangsari dari sisi Ki Demang, usaha itu memang
sudah dilakukan. Lakilaki yang sering datang itu mengatakan, bahwa
ia sedang berusaha memisahkan Sindangsari dari suaminya. Ia telah
berusaha dengan mengungkat perasaan cemburu. Seorang anak muda telah
dipanggilnya untuk mengganggu ketenangan rumah tangga Ki Demang"
Terasa dada Lamat berdesir tajam, meskipun wajahnya sama sekali
tidak berkesan sesuatu. "Aku tidak menolak cara apapun yang akan
dilakukannya. Tetapi kalau laki-laki itu adalah anak muda yang
bernama Puranta, aku sama sekali tidak akan dapat menerima" Dada
Lamat menjadi semakin berdebar-debar. Dan Manguri berkata seterusnya
"Malam ini rencana itu akan dilakukan. Semuanya sudah teratur" "Apa
yang akan terjadi malam ini?" "Aku tidak tahu pasti. Tetapi kalau
benar kata ibu, bahwa anak itulah yang akan dijadikannya alat, maka
untuk selamanya Sindangsari tidak akan terlepas dari tangannya. Aku
tidak akan dapat mengharapkan apa-apa lagi selain kekecewaan yang
membara" "Apakah itu bukan sekedar perasaan cemburu dan katakanlah
semacam persaingan yang mengendap di dalam dada dan tiba-tiba saja
kini terangkat?" "Aku tidak tahu pasti. Mungkin juga demikian.
Tetapi aku menghubungkan ceritera ibu itu dengan kehadiran anak muda
itu di Kademangan ini. Aku sudah pernah melihat sekali lewat di
bulak. Untung aku masih sempat mengendalikan diri. Hampir saja aku
menyergapnya" "Itu tidak menguntungkan sama sekali. Kalau kalian
berkelahi di tengah sawah, dan anak-anak muda Gemulung melihat
perkelahian itu, namamu akan menjadi semakin dijauhi, karena pasti
satu dua orang anak muda Gemulung pernah juga mengenal Puranta"
Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya "Kau benar. Tetapi sekarang,
marilah kita lihat, apakah laki-laki itu benarbenar akan lewat"
Lamat menarik nafas dalam-dalam. Kalau anak itu lewat, maka
persoalannya pasti akan berkepanjangan. Tetapi ia tidak dapat
menolak ketika sekali Manguri berkata "Berpakaianlah. Kita pergi"
Keduanyapun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan
padukuhan mereka, pergi ke persawahan. Mereka sama sekali tidak
menghiraukan lagi air parit yang menjadi semakin susut karena musim
kering yang berkepanjangan. "Aku tidak dapat menerima kekalahan ini"
desis Manguri. "Kenapa ini kau anggap sebagai kekalahan?" "Apakah
yang aku dapat adalah hasil usaha Puranta. Tetapi aku kira aku
justru tidak akan mendapatkan apa-apa lagi. Karena itu, usaha dengan
cara ini harus di hentikan" Lamat tidak menyahut. Dipandanginya
jalur jalan yang membujur membelah bulak yang menjadi semakin kelam.
Selagi keringat mereka masih membasah di punggung, darah mereka
serasa semakin cepat mengalir ketika mereka melihat seseorang yang
berjalan semakin lama semakin dekat. Sambil menggamit Manguri,
Lamatpun beringsut, dan berlindung di balik dedaunan. "Benar setan
itu" desis Manguri. Hampir saja ia meloncat, tetapi Lamat telah
menahannya. Sejenak mereka menahan nafas ketika Puranta berjalan
cepat melintas di hadapan mereka. "Kenapa kau menahanku" bisik
Manguri ketika Puranta telah membelakanginya. "Jangan tergesa-gesa.
Kita belum pasti, bahwa ada hubungan antara anak itu dengan rencana
seperti yang dikatakan ibumu" "Aku yakin. Tidak ada orang lain.
Apalagi kali ini ia mendapat bantuan dari orang dalam. Sedang tanpa
orang lainpun ia sanggup melakukannya. Ia mengetahui benar, bahwa
Sindangsari tidak mencintai Ki Demang di Kepandak" "Tetapi itu belum
merupakan kesimpulan. Kalau Sindangsari tidak mencintai Ki Demang,
itu bukan berarti bahwa Sindangsari akan dengan mudahnya
tergelincir. Kau tahu, betapa kuatnya hati gadis itu bahwa sebelum
ia terikat oleh Pamot" Manguri mengerutkan keningnya. Memang apa
yang dikatakan oleh Lamat itu dapat dimengertinya. Meskipun
demikian, ia masih tetap merasa curiga atas kehadiran Puranta itu di
Kademangan Kepandak, apalagi setelah ia mendengar rencana laki-laki
yang sering mengunjungi ibunya itu. Sebenarnya, Lamat sendiri telah
dicengkam oleh kecurigaan pula. Jalan pikiran Manguri dapat di
mengertinya pula. Tidak ada orang lain yang lebih baik untuk
melakukan pekerjaan itu selain Puranta, atau Manguri sendiri. Tetapi
di dalam hal ini, tentu Manguri tidak akan dapat melakukannya
sendiri. "Lamat" berkata Manguri "bagaimanapun juga aku tetap
mencurigainya. Karena itu, aku akan menyusulnya, melihat apa yang
dikerjakannya di Kepandak" "Jangan kau" berkata Lamat "kau sudah
dikenalnya dengan baik" "Maksudmu?" "Biarlah aku yang pergi
mengikutinya" "Kau kira anak itu tidak akan segera mengenalmu?" "Aku
akan berusaha. Sedang masalah yang mungkin dapat timbul t idak akan
segera menodai nama keluargamu apabila seseorang melihatnya. Apalagi
di dalam hal ini menyangkut nama Sindangsari" Manguri berpikir
sejenak. Namun Lamat mendesaknya "Mumpung anak itu masih belum
terlampau jauh. Apakah aku diperbolehkan menyusul?" Manguri tidak
sempat berpikir terlampau lama. Karena Lamat sudah mulai
melangkahkan kakinya, iapun kemudian berkata "Pergilah. Tetapi
hati-hati. Jangan berbuat bodoh, karena kau hanya mampu
mempergunakan tenagamu, tidak otakmu" Lamat berpaling sambil
mengangguk "Aku akan mencoba" jawabnya. Sejenak kemudian Lamatpun
telah hilang di dalam gelapnya malamyang menjadi semakin kelam.
Sementara itu Puranta berjalan semakin lama semakin cepat. Ia sama
sekali tidak menyangka, bahwa seseorang telah mengikutinya. Ia sudah
tahu pasti, kemana ia harus pergi. Ia tidak perlu singgah lagi ke
rumah Ki Reksatani. Tetapi ia akan langsung pergi ke rumah yang
hanya berjarak beberapa patok saja dari rumah Ki Reksatani itu.
Kecurigaan Lamatpun semakin lama menjadi semakin besar, ketika ia
mulai menduga, bahwa Puranta telah pergi ke jurusan yang
mendebarkan. Puranta telah pergi ke padukuhan tempat tinggal Ki
Reksatani. "Apakah benar yang dikatakan oleh Manguri?" desisnya.
Dengan demikian, semakin dekat mereka dengan padukuhan tempat
tinggal Ki Reksatani. Lamatpun menjadi semakin yakin, bahwa orang
yang dimaksud oleh ibu Manguri adalah Puranta itu. Sekali Lamat
menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat suatu permainan yang keji.
Sebenarnyalah bahwa Lamat bukanlah orang yang terlampau dungu.
Berdasarkan atas beberapa kenyataan, iapun menarik suatu kesimpulan,
bahwa Ki Reksatani memang telah membuat suatu rencana yang sangat
baik baginya. Ia akan dapat memenuhi keinginan ibu Manguri, namun
sekaligus menyingkirkan isteri Ki Demang yang sudah mulai mengandung
itu, sehingga Ki Demang tidak akan mendapat keturunan yang akan
dapat menerima pelimpahan jabatannya. "Tetapi apakah Ki Demang
mengetahui hubungan yang sudah terlampau jauh antara isterinya itu
dengan Pamot?" ia bertanya kepada diri sendiri. "Namun bagi Ki
Reksatani, siapapun yang ada di dalam kandungan Sindangsari, pasti
akan menjadi hambatan baginya dan keturunannya" desisnya kemudian.
Akhirnya Lamat tidak sangsi lagi, bahwa demikianlah yang terjadi.
Puranta itu adalah laki-laki yang dikatakan, sebagai alat untuk
mengungkat kecemburuan Ki Demang. "Pasti ada sesuatu yang akan
terjadi malam ini seperti yang dikatakan oleh Manguri" berkata Lamat
di dalam hatinya "tetapi dalambentuk apakah sesuatu yang terjadi
itu?" Lamat sendiri tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi.
Tetapi dengan demikian maka niatnya untuk mengetahui kemana anak itu
pergi menjadi semakin besar. Dengan hati-hati Lamat mengikutinya
terus. Sekali-sekali ia terpaksa berjongkok melekat gerumbul di
pinggir-pinggir jalan, atau pagar-pagar pategalan, kalau tiba-tiba
saja Puranta berhenti sejenak. Dada Lamat menjadi semakin
berdebar-debar ketika merekapun kemudian memasuki padukuhan tempat
tinggal Ki Reksatani. "Anak itu pasti akan menemui Ki Reksatani
untuk menerima petunjuk-petunjuknya "ia bergumam kepada diri
sendiri. Tetapi Lamat mengerutkan keningnya ketika Puranta itu
berhenti di sebuah regol halaman rumah yang lain. Bukan rumah Ki
Reksatani "He, apa yang akan dilakukan oleh anak itu?" Lamat
mendekat dengan tergesa-gesa ketika Puranta kemudian hilang di balik
regol. Dengan hati-hati Lamat mengint ip ke halaman. Ia masih
melihat Puranta mendekati pintu. "Aku harus mendekat" desisnya.
Tetapi Lamat tidak berani melintasi halaman supaya Puranta tidak
melihatnya. Karena itu, ketika Puranta lagi asyik mengetuk pintu,
Lamat meloncat pagar batu samping dan dengan hati-hati mendekati
rumah itu. Ia menahan nafasnya ketika dari dalam rumah itu ia
mendengar seseorang berkata "O, kau akhirnya datang juga. Marilah,
masuklah. Lamat berdiri melekat dinding rumah itu ketika pintu
kemudian berderit. Ia berusaha menemukan sebuah lubang yang dapat
dipergunakannya untuk mengintip ke dalam. Tetapi ia t idak berhasil.
"Siapakah perempuan itu?" Ia bertanya kepada diri sendiri. Namun
debar jantungnya serasa menjadi semakin menghentak-hentak dadanya
ketika ia mendengar Puranta itu berkata "O, kau sudah ada disini
pula Sari" Sejenak tidak terdengar jawaban, sementara nafas Lamat
menjadi semakin sesak. "Sindangsari itu sudah ada disini. Apakah
benar begitu mudahnya Sindangsari terperosok ke dalam keadaan ini"
berbagai pertanyaan telah menghentak-hentak dada Lamat. Ia mencoba
untuk mengerti, betapa kekecewaan telah melanda hati perempuan muda
itu pada saat ia ditinggalkan oleh Pamot, kemudian kawin dengan Ki
Demang di Kepandak yang umurnya jauh lebih tua dari padanya. Apalagi
Lamat sendiri menyangsikan kemungkinan Ki Demang untuk masih
mendapatkan anak lagi, karena sudah lima kali ia j kawin tidak
seorang dari isteri-isterinya yang pernah mengandung. "Sindangsari
mengandung oleh benih yang didapatkannya dari Pamot" katanya di
dalam hati. Dalam pada itu hatinya masih tetap bergejolak. Ia tidak
dapat menerima kenyataan kehidupan Sindangsari itu sebagai alasan
untuk berbuat demikian tercela. Ia menahan nafas pula ketika ia
mendengar seorang perempuan berkata "Ia sudah menunggumu sejak
senja" "Tidak" sahut suara yang lain. Dan Lamat segera mengenal
suara itu. Suara Sindangsari. "O, kenapa tidak" bertanya suara
perempuan yang pertama. "Aku datang untuk memenuhi undanganmu" sahut
Sindangsari "bukan dengan maksud yang lain. Kalian Ki Reksatani dan
kau tidak memaksa aku bermalam di rumah ini, aku tidak akan datang"
Yang terdengar adalah suara tertawa perempuan yang lain yang menurut
dugaan Lamat orang itu pastilah Nyai Reksatani. Dan dugaan itu
ternyata tidak keliru. "Tetapi kenapa di rumah ini" bertanya Lamat
di dalam hatinya. Demikianlah keinginannya untuk dapat mengint ip
isi rumah itu menjadi semakin besar, sehingga akhirnya ia bergeser
mendekati pintu. Usahanya ternyata dapat berhasil. Dari daun pintu
yang tidak tertutup rapat, ia memang dapat melihat, siapa saja yang
berada di pringgitan. Anak muda yang bernama Puranta, Nyai Reksatani
dan Sindangsari yang telah keluar dari dalam bilik tenun, dan duduk
sambil menundukkan kepalanya. "Jangan begitu mBok-ayu" berkata Nyai
Reksatani "ia sudah datang di malam yang gelap ini. Kenapa tiba-tiba
saja kau bersikap begitu?" "Ah" desis Sindangsari. Tetapi ia tidak
dapat melanjutkan kata-katanya. "Sari" berkata Puranta "kesempatan
untuk bertemu dengan kau selalu aku tunggu-tunggu. Kali ini
kesempatan itu aku peroleh. Jangan terlampau kaku. Bukankah aku
tidak berbuat apa-apa di sini?" Sindangsari t idak menyahut. "Aku
datang sekedar untuk memandang wajahmu. Hanya memandang saja. Sorot
matamu dan apalagi apabila sekalisekali kau tersenyum, memberikan
sesuatu yang terasa asing di dalam hatiku. Aku tidak dapat
mengatakan Sari. Perasaan apakah itu sebenarnya" Sindangsari sama
sekali tidak dapat menjawab. Nafasnya serasa menjadi sesak oleh
perasaan yang tidak menentu. Sejak Pamot meninggalkannya, ia tidak
pernah mendengar kata-kata serupa itu. Ketika tanpa sesadarnya ia
mengangkat wajahnya dan menatap mata Puranta, dadanya berdesir
tajam. Seakan-akan hatinya telah terbentur oleh sorot mata yang
langsung meremukkan perasaannya, sehingga dengan tergesa-gesa ia
melemparkan tatapan matanya keatas anyaman tikar alas duduknya.
Puranta yang mempunyai pengalaman yang hampir lengkap tentang
sifat-sifat perempuan segera menemukan suatu kelemahan pada
Sindangsari yang hidupnya terlampau gersang itu. Sambil tersenyum ia
beringsut maju tanpa menghiraukan lagi Nyai Reksatani yang masih
juga duduk, disitu "Aku melihat sesuatu yang lain padamu Sari. Kalau
kau ini sebuah telaga yang berair sejernih batu permata, maka kau
adalah telaga yang terbentang di padang yang kering dan gersang,
tanpa sehelai daunpun yang melindungimu. Dengan demikian semakin
lama airmu akan menjadi semakin susut sebelum dinikmati oleh para
perantau yang kehausan dan kepanasan" Tubuh Sindangsari seakan akan
telah membeku. Ia sama sekali tidak kuasa berbuat apapun juga.
Bahkan ia sudah tidak kuasa lagi untuk beringsut dari tempatnya
ketika Puranta duduk semakin dekat. Nyai Reksatani sama sekali tidak
mengganggunya. Dibiarkannya saja semua itu terjadi di hadapan
hidungnya. Apabila datang waktu yang tepat, dan ia yakin bahwa hal
yang dihadapkannya itu dapat terjadi, ia harus berlari pulang dan
memberitahukannya kepada suaminya yang pasti sudah menyediakan
seekor kuda. "Sindangsari" suara Puranta menurun "kenapa kau diam
saja?" Sindangsari yang seakan-akan telah kehilangan dirinya sendiri
itu hanya dapat menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahkan kemudian
tumbuhlah pengakuan di dalam hatinya, bahwa hidupnya selama ini
adalah gersang. Bagai telaga yang ada di padang yang kering. Semakin
lama akan menjadi semakin susut airnya tanpa arti. Sudah kira-kira
setengah tahun ia berada di rumah Ki Demang. Bahkan kandungannya itu
sudah hampir waktunya di selamati pada bulan ke tujuh. Namun ia sama
sekali belum pernah merasa bahwa ia adalah seorang isteri dari
seorang suami. Yang selama ini terjadi di rumah Kademangan,
seakan-akan hanyalah sekedar hidup bersama-sama dengan Ki Demang di
Kepandak. Bahkan mirip dengan seorang kemanakan yang melayani
pamannya, sekedar menyediakan makan dan minum. "Sindangsari"
terdengar suara Puranta langsung menyentuh dinding hatinya "kenapa
kau diam saja?" Sindangsari benar-benar tidak kuasa untuk menolak
cengkaman perasaan yang semakin kuat. Bahkan ketika Puranta duduk
semakin dekat. Terasa pakaian anak muda itu telah mulai menyentuh
ujung kain panjangnya yang berjuntai di bawah lututnya. Dan ternyata
sentuhan itu seakan-akan merambat lewat saluran darahnya
menggetarkan seluruh urat nadinya. Lamat yang berdiri di luar pintu
mengintip dengan dada yang berdebar-debar. Apakah yang akan terjadi
kemudian? Hampir saja ia menghentakkan tangannya dan meninggalkan
tempat itu ketika terbersit kata-kata di dalam hati "Persetan
perempuan gila itu. Aku kira ia jatuh ke dalam noda yang paling
kotor bersama dengan Pamot karena ia terseret oleh cintanya yang
tulus. Tetapi kalau sekali lagi ia menyerahkan dirinya kepada setan
itu, aku tidak perlu mempedulikannya lagi. Ia tidak lebih dari
seorang perempuan yang lemah. Terlampau lemah dan bahkan mungkin ia
memang seorang perempuan yang berhati binal, meskipun secara
lahiriah ia adalah seorang perempuan yang luruh. Disinilah letak
teka-teki alam yang tidak mudah terpecahkan. Orang-orang biasanya
menilai seseorang dari bentuk dan ujud lahiriahnya" Tetapi sebelum
hal itu terjadi, sebelum Lamat meninggalkan tempatnya, ia mendengar
suara Nyai Reksatani "Ah, sebaiknya aku pergi. Aku tidak boleh
mengganggu kalian. Aku akan menyiapkan makan dan minuman kalian,
sementara kalian dapat berbuat apa saja disini. Aku berkata
sejujurjujurnya. Aku akan senang sekali kalau tamuku mendapatkan
kesenangan dan kegembiraan yang setinggi-tingginya di rumah ini.
Sejenak Puranta dan Sindangsari terdiam. Mereka hanya memandang saja
wajah Nyai Reksatani yang kemerahmerahan. "Duduklah kalian berdua.
Aku akan merebus air" Lalu kepada Sindangsari ia berkata "mBok-ayu,
kalau kau ingin belajar menenun, belajarlah. Puranta pandai juga
mengajarimu. Silahkan mempergunakan alat tenunku di dalam bilik itu"
Tanpa sesadarnya Sindangsari berpaling ke pintu bilik yang masih
terbuka. Di pandanginya sebuah alat tenun yang ada diatas sebuah
amben yang besar, terlalu besar untuk sekedar tempat alat tenun itu
saja. "Marilah" desis Puranta "aku ajari kau menenun Jangan kau
sangka bahwa aku kalah cekatan mempermainkan coba dari Nyai
Reksatani" "Silahkan mBok-ayu, silahkan" "Marilah Sindangsari" Suara
itu rasa-rasanya berputaran di kepalanya sehingga sejenak ia
memejamkan matanya. Dicobanya untuk mencernakan apa yang sedang
didengarnya. "Sari" suara Puranta tiba-tiba saja telah berdesing
terlampau dekat di telinganya. "Silahkan mBok-ayu" Sindangsari
mencoba sekali lagi. Dipusatkannya segenap perhatiannya kepada
dirinya yang sedang diombangambingkan oleh ketidak tentuan yang
tidak di mengertinya itu. Dengan sepenuh kekuatannya ia mencoba
melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. "Kenapa kau diam saja
mBok-ayu. Marilah, berdirilah" Sindangsari merasa Nyai Reksatani
menarik tangannya, dan ketika ia sudah berdiri perempuan itu telah
membimbingnya. Di sampingnya berdiri Puranta dengan nafas yang
terengahengah. "Jangan ragu-ragu. Jangan ragu-ragu" berkata
laki-laki itu. Namun tiba-tiba Sindangsari menemukan sesuatu di
dalam dirinya. Ia tertegun ketika di kejauhan terdengar suara
kentongan di gardu perondan. Suara kentongan dalam nada dara-muluk.
Semakin lama semakin t inggi, semakin tinggi. Rasa-rasanya suara itu
telah menghentak-hentak dinding jantungnya. Sindangsari tidak tahu,
apa yang sebenarnya telah memaksanya untuk melangkah maju setapak
lagi. Kali ini bukan saja Nyai Reksatani yang membimbingnya, tetapi
terasa tangan Puranta telah meraba pundaknya. Ketika suara kentongan
itu sampai ke puncak iramanya, terbayanglah beberapa orang anak-anak
muda yang duduk terkantukkantuk di gardu perondan itu. Dan tiba-tiba
saja Sindangsari menutup wajahnya yang menjadi kemerah-merahan.
Sekilas terbayang wajah Pamot diantara para peronda yang berkerudung
kain panjang di malam yang dingin. "Sari" terdengar suara Puranta
berdesis. Dekat sekali di sisi telinganya. Bahkan kemudian sekali
lagi. Wajah anak muda itu telah menyentuh daun telinganya "Sari"
Tiba-tiba saja Sindangsari menghentakkan dirinya. "Jangan, jangan"
Puranta dan Nyai Reksatani terkejut. Mereka t idak menyangka bahwa
tiba-tiba saja Sindangsari melangkah surut. Dengan mata yang merah
dan wajah yang tegang ditatapnya wajah Nyai Reksatani dan Puranta
berganti-ganti. Sejenak kemudian terdengar suaranya gemetar "Apa
yang akan kalian lakukan atasku?" Nyai Reksatanipun menjadi tegang
sejenak. Wajahnya membayangkan kecemasan yang luar biasa. Seakan
akan rahasianya telah dapat terbongkar pada saat itu juga. Namun
tiba-tiba ia mendengar Puranta tertawa. Perlahanlahan sekali Katanya
"Kenapa kau seperti orang yang ketakutan melihat hantu di sawah.
Kami hanya mencoba menunjukkan kepadamu, bagaimanakah cara menenun
yang paling baik. Kalau kau bersedia, marilah. Kalau tidak, silahkan
duduk kembali. Karena itu, sebaiknya kau menjawab setiap pertanyaan
kami, sehingga kami tahu, apakah yang sebenarnya kau kehendaki.
Menilik tanggapan wajahmu kau benar-benar ingin mempelajari cara
bagaimana kita dapat menghasilkan kain tenun yang sebaik-baiknya.
Dan aku dapat menunjukkan cara itu" Sindangsari berdiri membeku di
tempatnya. Ia seolah-olah telah dilanda oleh kebingungan yang
sangat, sehingga ia tidak mengerti lagi apa yang sebaiknya
dilakukan. "Ah, mungkin kau tertidur mBok-ayu, sehingga kau bermimpi
buruk. Duduklah. Aku akan menyediakan air panas. Mungkin kau akan
segera sadar, apa yang sebenarnya kau hadapi" "Aku tidak akan pergi.
Aku hanya akan merebus air di dapur" "Aku akan melakukannya.
Duduklah. Akulah yang akan merebus air" "Ah, kenapa kau selalu
berkata begitu?" bertanya Nyai Reksatani. "Biarlah. Temuilah tamumu"
"Jangan menjadi bingung mBok-ayu. Agaknya kau benarbenar telah
mengantuk. Karena itu, duduklah sebentar, aku akan merebus air.
Atau, barangkali kau akan tidur sejenak?" "Ya" bertanya Puranta
pula. Sindangsari tidak menjawab. "Baiklah, durlah sejenak. Kau akan
menjadi segar kembali. Marilah, masuklah ke dalam bilik itu" "Atau
aku harus menunjukkan tempatnya" desis Puranta. Dada Lamat
seakan-akan telah bergejolak dahsyat sekali, sehingga hampir saja ia
tidak dapat menahan diri. kini ia sadar, bahwa Sindangsari sedang di
dalam suatu perjuangan. Ia sedang berjuang untuk mempertahankan
dirinya sebagai seorang perempuan yang setia kepada keadaannya. Ia
adalah seorang isteri. Apapun yang terjadi atasnya, Namun demikian
Lamat sempat juga bertanya kepada diri sendiri "Apakah sebenarnya
yang dikehendakinya? Kalau ia berjuang atas dasar kesetiaan yang
seharusnya dilakukan oleh seorang isteri tanpa dorongan dari dalam
dirinya, maka ia adalah seorang yang hanya pandai berpura-pura"
Tetapi Lamat terkejut ketika Sindangsari itu kemudian mundur
selangkah sambil bergumam "Nyai, jangan seret aku ke dalam keadaan
yang akan menyiksaku. Kalau Nyai dapat melakukannya tanpa
menumbuhkan beban apapun pada diri Nyai, lakukanlah. Aku tidak akan
berkhianat. Tetapi aku tidak dapat Nyai. Bukan karena aku seorang
perempuan yang bersih, atau berpura-pura bersih dan mencoba menekan
nafsu di dalam diri. Tidak. Tetapi segala perbuatan yang hanya akan
menambah beban siksaan batinku yang selama ini serasa telah
mengoyak-menyayat hati, sebaiknya aku tidak melakukannya" Nyai
Reksatani menjadi semakin tegang. Tetapi kini ia sadar, bahwa
Sindangsari masih belum tahu benar peranan yang dilakukannya. Karena
itu, iapun justru tertawa sambil berkata "Memang mBok-ayu. Untuk
pertama kali rasa-rasanya kita selalu disiksa oleh perasaan kita.
Kita kadang-kadang merasa menyesal dan dikejar-kejar oleh kecemasan.
Tetapi, kalau kesepian itu mencekik kita kembali, maka terulanglah
hal yang serupa. Semakin lama hal itu akan terasa menjadi suatu
kebiasaan" Tubuh Sindangsari serasa menggigil seperti orang
kedinginan. Dalam keadaan itu, justru bayangan Ki Demang seakan-akan
muncul diambang pintu sambil menunjuk wajahnya. Namun bayangan
itupun kemudian lenyap tertutup oleh bayangan yang lain. Bayangan
seorang anak muda yang dicintai dengan sepenuh hatinya.
Perlahan-lahan ia mendengar suara dari dasar hatinya "Jangan kau
khianati suamimu. Ia akan dapat membunuhmu. Dan jangan pula kau
khianati cintamu. inta yang kau anggap sebagai cinta yang tulus"
Demikianlah maka di saat terakhir itu, Sindangsari justru menemukan
kekuatannya kembali, sebagai seorang isteri dan sebagai seorang
perempuan yang mendambakan cintanya kepada seorang laki-laki.
"mBok-ayu" terdengar kemudian suara Nyai Reksatani "apakah kau
mengerti?" Sindangsari t idak menyahut. "Kau salah sangka Sari"
berkata Puranta kemudian dalam nada yang dalam "semuanya terserah
kepadamu sendiri. Tetapi sebaiknya kau jujur terhadapmu sendiri. Aku
akan menolongmu. Bukan sekedar mengisi kekosongan seperti yang kau
bayangkan. Tetapi juga dalam hal-hal yang lain, belajar menenun
misalnya? Bukankah begitu?" Sindangsari masih berdiamdiri.
Sebenarnya Lamat sendiri telah dicengkam oleh kecurigaan pula. Jalan
pikiran Manguri dapat di mengertinya pula. Tidak ada orang lain yang
lebih baik untuk melakukan pekerjaan itu selain Puranta, atau
Manguri sendiri. "Atau kau terlampau pening? Kenapa kau tidak
menyuruhku memijit keningmu, supaya perasaan sakitmu itu berkurang?"
Sindangsari masih belum menjawab. Puranta yang melihat kelemahan
telah merambati hati Sindangsari kembali, merasa mendapat kesempatan
baru. Karena itu ia berkata seperti kepada anak-anak yang sedang
merengek "Marilah Sari. Kau agaknya sedang sakit. Biarlah aku
mencoba mengobatinya" Lamat yang berdiri di luar pintu tidak dapat
menahan hatinya lagi. Ia sadar, bahwa Puranta adalah iblis yang
paling licik. Setelah ia mendengar pengakuan Sindangsari, bahwa
sebenarnya ia sama sekali tidak menghendaki apapun terjadi sadarlah
Lamat, bahwa hampir saja ia salah menilai perempuan itu. Ternyata
sikap Sindangsari adalah sikap yang matang, meskipun sebagai seorang
gadis yang hidup di dalam ketidak tentuan, ia masih juga dilanda
oleh kelemahankelemahan perasaan. Karena itu, maka ia berkata di
dalam hatinya "Apapun yang akan terjadi, aku harus menyelamatkannya"
Demikianlah, ketika Puranta berusaha sekali lagi membujuk
Sindangsari, bahwa kemudian membimbingnya melangkah, tiba-tiba seisi
rumah itu telah dikejutkan oleh suara orang tertawa tertahan-tahan
di balik dinding. Puranta dengan serta merta melepaskan Sindangsari.
Sejenak ia berdiri tegak untuk mencoba menangkap suara yang
seakan-akan telah membekukan darahnya itu. "Ki Reksatani" ia
berdesis. "Tentu bukan" Nyai Reksatani menyahut. Selangkah demi
selangkah Puranta maju mendekati pintu diikuti oleh Nyai Reksatani.
Sedang Sindangsari berdiri dengan tubuh yang semakin gemetar.
"Bagaimana dengan Ki Reksatani" Puranta berbisik. "Ia menunggu aku.
Begitu kau berhasil, aku akan memberitahukan kepadanya. Ia pasti
sudah siap dengan kudanya sekarang, dan bahkan pasti sudah menunggu
aku" "Siapa yang tertawa di luar?" Nyai Reksatani menggelengkan
kepalanya. Dalam pada itu suara tertawa itupun terdengar lagi.
Perlahan-lahan dan tertahan-tahan. Puranta yang berdarah muda itupun
tidak sabar lagi menunggu. Segera ia menyingsingkan kain panjangnya,
dan disangkutkannya pada ikat pinggangnya. Ia merasa bahwa sesuatu
yang tidak wajar telah terjadi. Dengan hati-hati ia memutar keris
yang terselip dipunggungnya ke samping. Perlahan-lahan dengan penuh
kewaspadaan. Ia melangkah ke pintu. Ia tertegun sejenak ketika ia
mendengar suara tertawa itu kembali. Tidak terlampau jauh. Di muka
pintu Puranta berdiri dengan tegangnya. Kemudian perlahan-lahan ia
menyapa "Siapa di luar?" Suara tertawa itupun terputus. Dan malampun
menjadi hening kembali. Hanya desah nafas Sindangsari yang menggigil
terdengar berkejar-kejaran lewat lubang hidungnya. Puranta menunggu
sejenak. Tetapi masih tidak terdengar jawaban. "Siapa di luar" ia
mengulang. Tetapi masih juga tidak ada jawaban. Puranta benar-benar
tidak sabar lagi. Dipusatkan pendengarannya untuk menangkap desah
nafas seseorang di luar. Ternyata ia tidak mendengar sesuatu di
belakang pintu. Karena itu, maka dengan hati-hati ia meraba daun
pintu lereg. Sejenak ia diam. Sekali lagi ia mencoba menangkap
setiap bunyi. Ketika ia yakin bahwa di luar pintu pringgitan itu
tidak terdapat seseorang yang berdiri melekat daun pintunya, maka
dengan serta-merta ia menyentakkan daun pintu lereg itu. Sejenak
kemudian ia sudah meloncat an berdiri di luar pintu. Puranta berdiri
dengan tegangnya. Tetapi matanya vang tajam masih menangkap bayangan
seseorang yang menghilang di balik dedaunan di halaman. "He siapa
kau?" bertanya Puranta, meskipun ia tidak berteriak terlalu keras,
supaya tetangga-tetangga sebelah menyebelah tidak terbangun
karenanya. Sejenak ia menunggu. Tetapi sama sekali t idak ada
jawaban. Puranta menjadi semakin berdebar-debar. Jelas bahwa orang
itu pasti bukan Ki Reksatani ia pasti tidak akan membuat pertanda
yang aneh-aneh dan menyingkir ketika ia keluar dari rumah itu.
Apalagi usahanya untuk menerkam Sindangsari justru hampir berhasil.
"Siapa kau" Puranta mengulangi. Meskipun ia menunggu lagi, tetapi ia
sama seikali t idak mendengar jawaban apapun. Puranta menjadi sangat
marah karenanya. Usaha yang hampir berhasil itu tiba-tiba telah
gagal. Sudah tentu Sindangsari t idak akan dapat lagi dibujuknya
pada malam ini. Kejutan suara tertawa itu membuat Sindangsari
menjadi semakin jauh dari padanya. Dengan gigi gemeretak ia
melangkah perlahan-lahan di halaman menuju ke tempat bayangan itu
menghilang. "Apakah justru Ki Demang sendiri?" tiba-tiba Puranta
telah diganggu oleh pertanyaan itu. Karena itu maka langkah
Purantapun segera terhenti ia berdiri sambil termangu-mangu. Kalau
bayangan itu Ki Demang di Kepandak, maka itu suatu alamat, bahwa
umurnya sudah akan sampai kebatas. Apalagi saat itu Ki Reksatani
masih belumhadir. "Tentu bukan" geramnya kemudian "kalau orang itu
Ki Demang, maka ia tidak akan dapat menahan hati. Ia pasti akan
langsung memecah pintu dan mencekik aku atau Sindangsari. Atau ia
menunggu sejenak, untuk membuktikan bahwa isterinya memang bersalah"
Akhirnya Puranta itu menghentakkan kakinya sambil berkata di dalam
hati "Persetan. Siapapun orang itu, aku harus menangkapnya. Hidup
atau mati" Dengan hati-hati Puranta melangkah maju. Tangannya telah
meraba hulu kerisnya. "Siapa kau?" ia berdesis. Tidak ada jawaban.
"Siapa kau?" Masih tidak ada jawaban. Selangkah Puranta maju lagi.
Kini ia berdiri beberapa langkah saja dari gerumbul itu. Sejenak ia
memusatkan perhatiannya, namun sejenak kemudian seakan-akan anak
muda itu melenting ke belakang gerumbul yang gelap itu. Sejenak
Puranta berdiri tegak bagaikan patung batu yang beku. Ia melihat
seseorang berdiri di dalam bayangan dedaunan yang gelap. Tetapi ia
tidak segera dapat mengenalnya. "Siapa kau?" anak muda itu menggeram
"dan apakah sebenarnya maksudmu?" Bayangan itu sama sekali t idak
menjawab. "He, apakah kau bisu atau tuli, atau kau memang sudah mati
membeku?" Perlahan-lahan bayangan itu bergerak. Ketika bayangan itu
maju selangkah, Purantapun surut melangkah pula. "Apakah maksudmu
he? Sebaiknya kau berkata berterus terang. Aku tahu bahwa kau tidak
akan lari. Kalau kau ingin melarikan diri atau bersembunyi, kau
pasti tidak akan membuat suara yang sangat menyakitkan hati itu"
"Ya" bayangan itu menjawab "aku memang tidak akan lari" "Siapa kau?"
"Apakah kau belum mengenal aku?" Puranta tidak segera menyahut.
Dengan tajamnya di pandanginya bayangan itu. Tetapi ia masih juga
belum mengenalnya. "Tidak ada gunanya kau mengenal aku, tetapi
seandainya kau mengenal, pengaruhnyapun tidak ada sama sekali.
Tetapi ketahuilah, bahwa aku adalah salah seorang penduduk
Kademangan Kepandak" "Apa maksudmu?" "Aku sudah mengenalmu Mengenal
pokal dan kegemaranmu. Karena itu, aku terpaksa mengikuti kau kemana
kau pergi selama kau berada di Kademangan ini" "Apa pedulimu?"
"Kalau kau melakukannya di luar Kademangan ini, aku tidak akan
menghiraukannya sama sekali. Tetapi kalau kau berbuat sedeng di
Kademangan ini, kami, seluruh penduduk Kademangan ikut bertanggung
jawab. Apalagi kedua perempuan yang ada di rumah in adalah Nyai
Demang di Kepandak dan Nyai Reksatani adik Ki Demang di Kepandak"
"Persetan dengan mereka. Apakah salahnya kalau mereka yang
memerlukan aku?" "Aku mendengarkan percakapan mereka. Mungkin Nyai
Reksatani tidak lagi menjadi persoalan bagimu, tetapi Nyai Demang di
Kepandak, bukan orangnya yang dapat kau bujuk dengan rayuan iblismu
itu" "Aku tidak membujuknya. Perempuan itu kesepian" Bayangan di
dalam gelap itu tertawa "Kau sangka aku tidak mendengar seluruhnya?
Jangan menipu aku. Ki dan Nyai Reksatani yang agaknya sudah jatuh ke
tanganmu itu sedang sibuk membujuk agar Sindangsaripun terjerumus ke
dalam neraka jahanam ini. Mungkin Nyai Reksatani yang kecewa dan
menyesal, mencoba mengurangi tekanan perasaannya dengan mengumpankan
orang lain. Dengan kawan yang semakin banyak di dalam neraka, maka
panas api neraka akan serasa semakin berkurang. Tetapi itu t idak
akan mungkin. Nyai Demang adalah seorang perempuan yang kuat"
"Bohong" "Memang tampaknya kau hampir berhasil. Tetapi jangan mimpi.
Dan ternyata kau memang tidak akan berhasil. Tanpa akupun kau tidak
akan berhasil tanpa mempergunakan kekerasan" "Omong kosong. Ia sudah
menyerah" Bayangan itu tertawa lagi "Kau yang omong kosong. Apakah
kita akan membuktikan, menemui Nyai Demang dan bertanya kepadanya?"
"Gila. Ia tentu akan ingkar. Betapapun liarnya seorang perempuan,
tetapi ia tidak akan dengan begitu saja mengakui keliarannya"
"Ternyata kau benar-benar memahami perasaan seorang perempuan.
Tetapi kali ini kau jangan membohongi aku, karena aku mendengar
sendiri kau membujuknya" bayangan itu berhenti sejenak, lalu "Tetapi
lebih daripada itu, jangan kau sangka bahwa aku tidak tahu latar
belakang dari perbuatanmu kali ini. Kau akan mendapat keuntungan
rangkap dengan segala perbuatanmu ini. Kau akan mendapatkan Nyai
Demang yang masih terlalu muda itu, dan sekaligus kau pasti akan
mendapat penghargaan apapun bentuknya dari Ki Reksatani" "Kenapa?"
"Sudahlah. Hal itu sebaiknya tidak usah kita persoalkan sekarang.
Aku hanya minta kau meninggalkan tempat ini. Urungkan niatmu yang
terkutuk itu, karena dengan demikian kau sudah merusak sendi-sendi
kehidupan berumah tangga. Dan apalagi bagi Ki Demang di Kepandak. Ki
Demang akan merasa kehilangan segala-galanya apabila kau berhasil"
"Persetan dengan ocehanmu" "Aku berjanji untuk tetap berdiam diri,
kalau kau bersedia mengurungkan niatmu. Tetapi kalau kelak, pada
suatu saat kau akan mengulanginya, maka aku tidak akan segan-segan
membuka rahasia ini" "Diam kau" Puranta tiba-tiba membentak.
"Sudahlah. Jangan berteriak-teriak supaya kau tidak membangunkan
banyak orang" Puranta terdiam sejenak. Ditatapnya bayangan hitam
yang berdiri tegak itu. Semakin biasa matanya berada lidalam gelap,
maka semakin jelaslah ujud orang yang berdiri di dalam kegelapan
itu. "Kau" desis Puranta kemudian. "Kau mengenal aku?" Puranta tidak
segera menjawab. Tetapi ia menjadi sangat gelisah. Agaknya orang ini
tahu benar bahwa ia sedang melakukan tugas yang dibebankan oleh Ki
Reksatani. "Orang ini terlampau berbahaya" desis Puranta "meskipun
ia berjanji untuk tetap berdiam diri, namun pada suatu saat ia akan
dapat berkata tentang aku" "Apakah kau setujui tawaranku?" "Apa?"
"Kau mengurungkan niatmu dan meninggalkan maksudmu untuk menodai
Sindangsari buat selama-lamanya?" Puranta tidak segera menjawab.
Tetapi ia kini seolah-olah telah berdiri di hadapan ujung tombak
yang mengarah ke jantungnya. Kalau ia lengah maka ujung tombak itu
pasti akan menembus dadanya. "Kalau orang itu masih ada, aku tidak
akan dapat berbuat apa-apa lagi di saat-saat mendatang terhadap Nyai
Demang di Kepandak. Bukan soal upah yang akan aku lerima. Soalnya
Puranta tidak akan pernah gagal. Pertempuran itu sudah terlanjur
mengungkat nafasku, yang pasti tidak akan terkendali lagi" Puranta
mengerutkan keningnya, lalu "orang ini harus dilenyapkan. Ia akan
dapat menjadi rintangan seumur hidupnya. "Aku tidak peduli darimana
ia mendengar rahasia tentang maksud ini. Tetapi setiap orang yang
mengetahui rahasia ini harus dilenyapkan. Termasuk orang ini" Dengan
demikian, maka kini Puranta tidak dapat berbuat lain. Ia tidak saja
menolak permintaan orang itu, tetapi orang itulah yang harus
dilenyapkan. "Bagaimana?" bertanya bayangan itu "apakah kau
sependapat? Aku berjanji, bahwa aku tidak akan membuka rahasiamu"
Puranta menggeretakkan giginya. Dengan garangnya ia menggeram
"Darimana kau tahu rahasia tentang hal ini, meskipun pertanyaan ini
bukan berarti bahwa aku telah membenarkannya" "Kau tidak perlu tahu
darimana aku mendengarnya. Tetapi yang penting, aku mendengar
rahasia itu" Sejenak Puranta bergeser maju. Sambil menuding wajah
bayangan itu, ia menggeram pula "Aku telah mengenal kau. Kau adalah
kawan anak Gemulung yang bernama Manguri itu" "Ya. Kalau kau ingin
tahu, namaku Lamat" "Ya. Namamu Lamat. Aku ingat sekarang. Kau yang
mencegah perkelahian yang hampir saja terjadi antara aku dan
Manguri. Sayang kau mencegahnya saat itu. Kalau tidak aku pasti
sudah membunuhnya" "Bukan sekedar persoalan Manguri. Tetapi kau
pernah bertengkar pula dengan ayahnya. "Ya. Ayah Manguri. Setan tua
itu" Puranta maju semakin dekat "sekarang kau mau apa? Apakah
mereka, Manguri dan ayahnya ada disini juga? Aku bukan Puranta yang
dahulu. Aku sekarang pasti sanggup menghadapi mereka berdua dan
bertiga dengan kau orang bodoh" "Jangan marah-marah. Tawaranku cukup
baik" "Aku tidak peduli. Sekarang aku tahu, bahwa sebenarnya kalian
sedang diamuk oleh perasaan cemburu" "Bukan Puranta. Kali ini bukan
persoalan Manguri. Tetapi persoalan seluruh Kademangan Kepandak,
karena perempuan itu adalah Nyai Demang di Kepandak. Soalnya akan
berbeda pula kalau Nyai Demang itu sendirilah yang memang berniat
mengundangmu datang kepadanya. Tetapi kali ini juga tidak" "Lamat"
suara Puranta tiba-tiba merendah "kini aku tahu, bahwa kau dan
mungkin juga Manguri telah mengetahui rahasia yang masih belum dapat
kau buktikan kebenarannya itu. Karena itu, menyesal sekali. Aku
tidak mempunyai cara lain untuk menyelamatkan diriku sendiri
daripada melenyapkan kau dan kemudian Manguri. Adalah kebetulan
sekali kalau Manguri itu berada disini pula saat ini" "Jangan
berkata begitu. Kau dapat mengambil cara yang semudah-mudahnya tanpa
membunuh seseorangpun" "Sudah aku katakan, menyesal sekali bahwa kau
sudah mencoba untuk mencampuri persoalanku" Lamat menarik
nafasdalam-dalam. Ditatapnya wajah Puranta dalam-dalam, namun
semakin lama ia memandanginya, maka tanpa disadarinya, Lamatpun
menjadi semakin muak. "Anak ini memang anak iblis" desisnya di
dalamhati. "Ayo" geram Puranta "panggil Manguri dan ayahnya sekali.
Hadapi aku bersama-sama. Jangan seorang demi seorang. Kalian pasti
akan menyesal sekali" "Jangan berkata begitu Puranta" berkata Lamat
yang masih berusaha menahan diri "kau tidak tahu hubungan yang
sebenarnya ada diantara kita. Hubungan yang sangat berbelitbelit.
Hubungan antara kau dan Ki Reksatani, antara Ki Reksatani dengan
Manguri dan antara kalian berdua dengan Sindangsari. Hubungan itu
memang merupakan hubungan yang kisruh. Karena itu, batalkan niatmu.
Apakah itu untuk kepentingan nafsu kelaki-lakianmu yang tidak
terkendali, atau nafsu ketamakanmu akan upah yang akan kau terima"
"Cukup,cukup" "Masih ada sedikit yang aku katakan. Marilahkita
membuat janji. Kau batalkan perbuatan ini, kau pulang saja ke
rumahmu. Kita masing-masing akan menutup mulut. Aku tidak akan
mengatakannya kepada siapapun, kepada Manguripun tidak. Tetapi kau
juga t idak usah bercerita tentang aku" "Tidak. Tidak demikian. Kau
memang akan menutup untuk seterusnya. Tetapi aku tidak. Kau akan
segera mati sedang aku akan segera mendapatkan Nyai Demang di
Kepandak. Kalau usahaku dengan membujuk dan merayunya gagal oleh
pokalmu itu, maka aku akan mempergunakan kekerasan. Aku tidak
peduli. Seandainya Ki Demang marah sekalipun, aku tidak akan takut.
Pada dasarnya aku memang bukan anak Kepandak" Bagaimanapun juga
Lamat menyabarkan diri, namun terasa jantungnya berdebaran semakin
cepat, seperti juga darahnya mengalir semakin cepat pula "Agaknya
anak ini memang tidak akan dapat diajak berbicara" berkata Lamat di
dalam hatinya. Dengan demikian maka iapun segera manyiapkan dirinya
menghadapi setiap kemungkinan. Di dalam rumah itu, Sindangsari
menjadi bingung. Ia menggigil semakin keras. Kali ini ditambah lagi
dengan ketakutan yang mencengkam. Tetapi bukan saja Sindangsari yang
ketakutan, namun Nyai Reksatani menjadi kebingungan juga. Ia tidak
tahu apa yang telah terjadi. Agaknya sesuatu yang sama sekali tidak
dapat diperhitungkannya sebelumnya. Sehingga dengan demikian untuk
sesaat ia kehilangan pegangan apakah yang sebaiknya dilakukannya.
Dalam kebingungan itu, kemudian diingatnya suaminya. Apapun yang
akan terjadi, maka cara yang paling baik untuk menyelesaikan masalah
ini, harus diserahkannya kepada suaminya. "mBok-ayu" katanya
"agaknya sesuatu yang tidak kita kehendaki sudah terjadi. Seseorang
dengan sengaja telah mengganggu ketenteraman kita disini"
Sindangsari sama sekali tidak menyahut. "Karena itu, aku akan
mencari Ki Reksatani sejenak. Aku akan mengajaknya kemari"
"Dimanakah Ki Reksatani sekarang?" bertanya Sindangsari. "Tentu di
rumah" "Aku ikut" "mBok-ayu tinggal disini sebentar" "Aku takut"
Keduanya menjadi ragu-ragu sejenak. "Kalau kau pergi aku ikut pergi
bersamamu" "Tetapi" Nyai Reksatani menjadi bimbang. Apa bila ia
pergi bersama Sindangsari, ia tidak akan dapat mengatakan keadaan
itu seluruhnya. Ia tidak akan dapat menyebut-nyebut nama Puranta.
"Aku takut" Sindangsari justru malah berpegangan tangannya. "Kau
disini. Akulah yang akan pergi" "Tidak" Nyai Reksatani berpikir
sejenak. Katanya di dalam hati "Aku dapat berbicara dengan Ki
Reksatani di tempat yang terpisah. Itu akan lebih baik daripada aku
tetap berada disini" Karena Sindangsari tidak mau melepaskannya,
maka akhirnya Nyai Reksatani berkata "Baiklah. Marilah, cepat"
Keduanyapan kemudian berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu.
Tetapi mereka tidak berani berjalan lewat halaman depan. Karena itu,
maka melalui pintu butulan mereka menerobos halaman belakang dan
keluar melalui regol samping, turun ke sebelah jalan sempit. Dalam
pada itu, baik Lamat maupun Puranta sudah t idak dapat menahan diri
lagi. Apalagi Puranta yang merasa usahanya yang sedang akan berhasil
telah terganggu. Karena agaknya lawannya benar-benar telah siap
menghadapinya tanpa gentar sama sekali, mulailah ia menyerang
sepenuh tenaganya. Tetapi Lamat yang benar-benar telah muak melihat
wajah Puranta, telah siap pula menghadapinya. Karena itu maka iapun
dapat memperhitungkan serangan yang datang dengan tiba-tiba itu,
sehingga dengan tangkasnya, ia berhasil mengelakkan dirinya. Puranta
benar-benar telah dibakar oleh nyala di dalam hatinya. Iapun segera
menyerang dengan serangan-serangan beruntun. Tetapi Lamat sama
sekali tidak menjadi bingung. Justru serangan-serangan itu telah
memberinya petunjuk, betapa besarnya kekuatan lawannya itu Namun
dalam pada itu Lamatpun menyadari, bahwa Puranta bukannya anak-anak
yang dapat diabaikannya. Ia memiliki kecepatan bergerak yang
mengagumkan, sehingga Lamat bergumam di dalam hatinya "Seandainya
Manguri benar-benar berkelahi di tengah sawah, maka ia tidak akan
dapat memenangkan perkelahian itu. Puranta benar-benar telah
mendapat banyak pengetahuan tentang ilmu bela diri yang cukup rumit"
Demikianlah, maka Lamatpun merasa harus berhati-hati menghadapinya,
meskipun Lamat sendiri memiliki cukup kemampuan. Kali ini ia
berkelahi bukan sekedar untuk kepentingan Manguri, tetapi lebih dari
itu. Orang-orang seperti Puranta memang harus dibuat jera. Namun
demikian sempat juga terbersit pengakuan di hatinya "Aku benar-benar
tidak jujur menghadapi persoalan ini. Aku mencoba untuk mencegah
Puranta. Tetapi aku tidak berbuat apa-apa terhadap Manguri" Pikiran
itulah yang kemudian mengendorkannya. Kemarahannya yang semula telah
menjalari seluruh darahnya, seakan-akan dengan perlahan-lahan telah
menurun kembali. Meskipun demikian ia sama sekali t idak ingin
mengubah niatnya membatalkan perbuatan Puranta, tidak saja kali ini,
tetapi untuk seterusnya. Ia harus mendapat jaminan, bahwa Puranta
telah menjadi benar-benar menjadi jera. Dengan demikian, maka Lamat
masih tetap berhasil menguasai dirinya. Kini ia menjadi semakin
tenang dan penglihatannya atas lawannya menjadi semakin bening"
Namun agaknya Puranta menjadi salah tangkap. Ia menyangka bahwa
Lamat memang sudah mencapai puncak kemampuannya. Dengan demikian
maka ia menjadi semakin berbesar hati. Orang yang tinggi besar itu
akan segera dapat ditundukkannya dan dibungkamnya untuk
selama-lamanya. "Tetapi kalau orang ini mati kemana mayatnya harus
aku sembunyikan?" pertanyaan itulah yang tersirat di hatinya. Tetapi
Puranta menjadi heran, bahwa serangannya sama sekali masih belum
berhasil menyentuh tubuh lawannya. Setiap kali ia gagal. Lamat masih
saja dapat mengelak dan kadang-kadang menangkis. "Aku harus segera
mengakhirinya" katanya di dalam hati. Dengan demikian mata
Purantapun kemudian melepaskan segenap kemampuan yang ada padanya.
Ia bergerak semakin cepat. Tangannya menyerang berpasangan. Bahkan
kemudian seakan-akan menjadi berpuluh-puluh pasang yang mematuk dari
segala arah. Bahkan kakinyapun rasa-rasanya menyambar-nyambar
seperti sekelompok ular di dalam sarangnya. Lamat menarik nafas
dalam-dalam. Bahkan katanya di dalam hati "Ternyata orang ini
memiliki-llmu yang mantap juga" Dengan demikian maka perkelahian itu
semakin lama menjadi semakin sengit. Meskipun demikian, karena
kelincahan kedua belah pihak, maka langkah mereka hampirhampir tidak
menimbulkan suara dan apalagi keributan. Keduanya dapat tanpa
membangunkan seorang tetanggapun. Yang gelisah menunggu pada saat
itu adalah Ki Reksatani. Waktu yang ditentukan sudah jauh lewat.
Namun isterinya masih belum datang juga memberitahukan, bahwa
Puranta telah berhasil menjerat Sindangsari. "Anak itu memang agak
sulit" katanya untuk menenteramkan hatinya sendiri "tetapi aku
yakin, Puranta akan berhasil. Puranta adalah seorang laki-laki yang
seolahTiraikasih Website http://kangzusi.com/ olah mempunyai
daya mengikat yang tidak terlawan oleh perempuan yang manapun"
Sejenak Ki Reksatani dapat menenangkan hatinya. Namun sejenak
kemudian kegelisahannyapun telah tumbuh kembali. Kadang-kadang ia
tidak dapat menahan perasaannya, sehingga dengan gelisahnya ia
berjalan hilir mudik di halaman. "Apakah setan ini mengingkari
kesanggupannya?" geramnya. Sementara Ki Reksatani berjalan hilir
mudik di halaman maka Nyai Reksatani dan Sindangsari berjalan dengan
tergesa-gesa menyusuri jalan-jalan sempit di dalam padukuhannya.
Jarak kedua rumah itu sebenarnya tidak begitu jauh. Tetapi karena
mereka menempuh jalan yang berbelit-belit, maka mereka memerlukan
waktu juga untuk sampai ke rumah Nyai Reksatani itu. Ki Reksatani
terkejut melihat isterinya datang, tetapi tidak seorang diri.
Sehingga sepercik pertanyaan melonjak di hatinya "Kenapa ia membawa
Sindangsari?" Sebelum ia bertanya, Nyai Reksatani sudah
mendahuluinya "Kakang. Rumah kami telah dirampok orang" "He, apa
katamu? Dirampok orang?" "Aku tidak tahu pasti, tetapi, tetapi..."
Nyai Reksatani menjadi ragu-ragu. Kemudian katanya "Marilah kita
masuk. Aku takut. Takut sekali" Ki Reksatani menjadi heran melihat
sikap isterinya. Isterinya tahu benar, bahwa ia adalah seseorang
yang pasti tidak akan takut terhadap rampok yang manapun juga.
Karena itu, segera ia menangkap semacam isyarat bahwa sesuatu yang
kurang wajar telah terjadi. Karena itulah maka ia sama sekali tidak
membantah ketika Nyai Reksatani kemudian mengajaknya masuk. Dengan
tergesa-gesa ketiganyapun kemudian naik keatas pendapa dan langsung
masuk ke pringgitan. Setelah mereka duduk, tiba-tiba Nyai Reksatani
bangkit kembali berkata "Dimana barang itu kau simpan?" "Barang
apa?" bertanya Ki Reksatani. Tetapi Nyai Reksatani tidak
menghiraukannya. Iapun segera melangkah masuk ke dalam biliknya. Ki
Reksatani yang kebingungan segera menyusulnya. Ia tidak mengerti,
apakah sebenarnya yang dimaksud isterinya. Ketika Ki Reksatani sudah
masuk ke dalam bilik pula, maka isterinya segera menangkap tangannya
dan menariknya semakin dalam ke sudut bilik. "Ada apa? Ada apa?" Ki
Reksatani bertanya "Ssst" isterinya menyentuh bibirnya dengan jari
iri unjuk "kemarilah. Dengarlah" Ki Reksatani menjadi semakin
bercuriga sehingga dengan dada yang berdebar-debar ia maju semakin
dekat lagi kepada isterinya. "Celaka kakang" desis isterinya.
"Kenapa?" "Sesuatu yang tidak pernah kita perhitungkan lelah
terjadi" "Apa?" "Campur tangan pihak ketiga" Wajah Ki Reksatani
menegang "Siapa? Siapa yang telah berani mencampuri persoalanku?"
"Aku tidak tahu kakang " "Tetapi darimana kau mendapat keterangan,
bahwa ada pihak lain yang mencampuri urusan ini?" Nyai Reksatani
menelan ludahnya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya sejenak.
Kemudian, mulailah ia menceriterakan apa yang sebenarnya telah
terjadi. "Puranta sudah hampir berhasil" katanya "ketika tiba-tiba
terdengar suara tertawa itu" Sorot mata Ki Reksatani seolah-olah
menyala karenanya, melampaui nyala lampu minyak yang tergantung di
sudut ruangan. "Siapa orang itu?" "Aku tidak tahu" "Lalu, apakah
yang dilakukan Puranta?" "Ia lari mengejar suara itu" "Apakah ia
berhasil?" "Aku tidak tahu. Aku segera bermaksud memberitahukan
kepadamu kakang. Tetapi Sindangsari yang ketakutan selalu
berpegangan tanganku Saja" "Lalu kau bawa ia kemari?" "Ya. Aku tidak
mau terlambat" Ki Reksatani terdiam sejenak. Tetapi wajahnya tampak
menjadi tegang. Tiba-tiba saja ia kemudian menggeram "Aku akan pergi
dan melihat apa yang telah terjadi" Tanpa menunggu jawaban Ki
Reksatani menyambar kerisnya yang tergantung di dinding.
Diselipkannya kerisnya itu di lambungnya. Kemudian dengan
tergesa-gesa ia melangkah t lundak pintu dan melintasi pringgitan.
"Duduklah disini mBok-ayu. Jangan takut, aku akan melihat apa yang
telah terjadi" Sindangsari t idak sempat menjawab karena Ki
Reksatani kemudian hilang di balik daun pintu pringgitan.
Sepeninggal Ki Reksatani isterinyapun kemudian duduk di hadapan
Sindangsari. Wajahnya masih membayangkan kegelisahan hati. "Apakah
Ki Reksatani akan pergi ke rumah itu?" bertanya Sindangsari. "Ya.
Kakang Reksatani akan melihat apa yang telah terjadi" Wajah
Sindangsari menjadi pucat. Dengan suara yang bergetar ia bertanya
"Tetapi bagaimanakah akibatnya, kalau Ki Reksatani menemukan Puranta
di sana?" Pertanyaan itu membuat Nyai Reksatani agak gugup. Tetapi
kemudian ia menjawab "Mudah-mudahan ia sudah pergi" "Seandainya
belum?" "Kakang Reksatani belum mengenalnya dengan baik. Apalagi ia
t idak menemukan anak itu bersama kita" "Tetapi ia dapat bertanya
kepadanya. Apabila anak itu berkata terus terang, apakah Ki
Reksatani tidak akan marah kepada kita berdua?" "Ah" sahut Nyai
Reksatani "jangan hiraukan anak itu. Biarlah Ki Reksatani
menyelesaikannya. Mudah-mudahan anak itu dapat menempatkan dirinya,
bagaimanapun caranya" Sindangsari menjadi terdiam karenanya.
Meksipun masih banyak sekali masalah-masalah yang mendesak di dalam
dadanya, namun ia sudah t idak bertanya lagi. Yang terasa kemudian
adalah penyesalan yang tiada taranya" "Kalau aku tidak bermalam di
rumah ini, aku tidak akan mengalami persoalan serupa ini" ratapnya
di dalam hati. Tetapi semuanya sudah terlanjur sehingga ia tidak
akan cepat berbuat apa-apa lagi. Ia hanya dapat menunggu, apa yang
akan terjadi. Bahkan menunggu suatu kemungkinan anak muda yang
bernama Puranta itu telah menyeret namanya pula ke dalam kesulitan.
Sementara itu, selagi Ki Reksatani berlari-lari kecil menuju ke
rumah yang dipergunakannya untuk menjerat Sindangsari, di halaman
rumah itu Lamat masih juga berkelahi dengan sengitnya melawan
Puranta yang mengamuk seperti seekor serigala lapar. Namun
ketenangan Lamat selalu berhasil mengatasi, serangan yang betapapun
dahsyatnya, Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya dari yang diduga
oleh Puranta sendiri. Ternyata ia tidak segera dapat menundukkan
Lamat. Yang terjadi adalah, sekali-sekali serangan Lamat telah
mengenainya. Kadang-kadang di tempat-tempat yang berbahaya, "Setan
manakah yang telah memberinya kemampuan begitu besar sehingga
melampaui kemampuan Manguri dan barangkali juga kemampuan ayahnya?"
ia mengumpat di dalam hatinya. Bahkan kemudian betapa ia berusaha
menyembunyikan, namun terbersit pula pengakuan, bahwa ia tidak akan
segera dapat menundukkannya. Karena itu, karena Puranta merasa bahwa
ia sudah terlalu lama berkelahi, dan ia ingin segera
menyelesaikannya, untuk kemudian dengan cara apapun menerkam
Sindangsari yang disangkanya masih ada di dalam rumah itu, segera
memeras kemampuannya. Bahkan kemudian dengan gemetar tangannya
meraba hulu kerisnya "Apakah kau benar-benar ingin mati?" ia
berdesis. "Akulah yang seharusnya bertanya" sahut Lamat "apakah kau
benar-benar ingin membunuhku? "Ya" "Adalah wajar apabila aku harus
membela diri" berkata Lamat kemudian "tetapi kalau kau mau menerima
tawaranku, maka persoalan kita akan segera selesai" Puranta tidak
menyahut. Tetapi tiba-tiba saja di tangannya yang gemetar telah
tergenggamsebilah keris. "Kau akan mati malam ini" ia menggeram.
Lamat tidak sempat menjawab, karena tiba-tiba saja. Puranta telah
meloncat sambil menjulurkan kerisnya kelambung Lamat yang masih
berdiri termangu-mangu. Lamat tidak menduga sama sekali bahwa
Puranta akan dengan tiba-tiba saja menyerangnya begitu cepat. Karena
itu, betapapun juga Lamat terkejut karenanya, sehingga ia tidak
mempunyai banyak kesempatan untuk mempertimbangkan tata geraknya
kemudian. Itulah sebabnya maka ketika keris itu hampir saja mematuk
lambungnya, Lamatpun segera bergeser setengah langkah sambil
memiringkan tubuhnya. Pada saat yang bersamaan, ketika keris Puranta
terjulur dekat sekali di sisinya, dengan serta-merta Lamat menangkap
pergelangan tangan Puranta. Dengan sekuat tenaganya Lamat
melontarkan tangan itu sambil memutarnya, sehingga Puranta sama
sekali tidak berdaya untuk melawannya. Yang terjadi adalah di luar
dugaan Lamat sendiri. Ketika Lamat mendengar tulang Puranta
berderak, hatinya telah berdesir tajam. Apalagi ketika ia melihat
lontarannya yang hampir di luar sadarnya. Puranta yang terpelanting
itu terputar sekali di udara. Kemudian dengan kerasnya kepalanya
membentur dinding batu halaman. Dalam pada itu, keris yang di
tangannya tidak dapat dikuasainya dengan baik, sehingga di luar
kemampuannya untuk mencegah, ternyata keris itu telah menggores
perutnya sendiri. Keris yang dipeliharanya baikbaik dengan warangan
yang tajam, sehingga karena luka-luka di kepala dan racun dan
kerisnya sendiri, Puranta tidak akan dapat menghindarkan diri dari
terkaman maut. Ia hanya dapat menggeliat sekali. Kemudian ia terdiam
untuk selamanya. Lamat yang melihat akibat dari perkelahian itu
berdiri mematung. Wajahnya menjadi pucat dan jantungnya serasa
berhenti berdetak. Ia sama sekali tidak sengaja untuk membunuh
lawannya. Membunuh sesamanya. Melawan penjahat yang paling jahatpun,
tidak pernah terlintas suatu kesengajaan untuk membunuh, seperti
jiwanya sendiri yang telah diselamatkan oleh seseorang. "Alangkah
mahalnya jiwa seseorang" ia berdesis "tetapi kini tanpa aku sengaja,
aku telah membunuh. Tiba-tiba saja tubuh Lamat menjadi gemetar.
Perlahanlahan ia mendekati Puranta dan berjongkok di sampingnya.
Tetapi Puranta itu telah mati. Mati. Dan tidak ada kekuatan yang
dapat menghidupkannya lagi, selain keajaiban dari Yang Maha Kuasa
sendiri. Wajah Lamat yang pucat itupun tertunduk dalam-dalam.
Dirabanya tubuh Puranta yang masih basah oleh keringat dan embun
malam yang menit ik dari dedaunan. Selagi Lamat merenungi mayat itu,
tiba-tiba telinganya yang tajam telah menangkap langkah seseorang
yang dengan tergesa-gesa mendekati halaman rumah itu. Karena itu,
maka iapun segera mencoba menyadari keadaannya. Dengan tergesa-gesa
pula ia merangkak melekat dinding di balik sebatang pohon perdu.
Demikian seseorang memasuki regol, maka Lamatpun segera meloncati
pagar batu, terlindung oleh rimbunnya daun perdu, sehingga orang
yang memasuki halaman itu sama sekali t idak melihatnya, dan tidak
mendengar langkahnya yang sudah dijaganya baik-baik. Meskipun
demikian Lamat masih mencoba menjengukkan kepalanya. Dan ia melihat
bahwa orang yang memasuki halaman rumah itu adalah Ki Reksatani.
Tidak ada jalan lain baginya daripada menghindarkan diri. Meskipun
Lamat belum pernah melihat sendiri, betapa tinggi ilmunya, namun di
dalam keadaan serupa ini, lebih baik baginya untuk menghindar.
Karena itu, maka dengari hati-hati ia merayap surut menjauhi pagar
batu itu. Kemudian setelah ia berada di tempat yang terlindung,
segera ia berjalan secepat-cepatnya meninggalkan tempat itu. "Apakah
yang akan aku katakan kepada Manguri nanti?" gumamnya di sepanjang
jalan. Sedang jantungnya masih juga berdebaran apabila terbayang
olehnya mayat Puranta yang terbujur di halaman itu dibasahi oleh
keringat, embun dan darahnya yang mengalir dari luka oleh senjatanya
sendiri Dalam pada itu, Ki Reksatani melangkah dengan hati-hati
memasuki halaman. Tetapi halaman itu tampak sepi. Tidak ada
seseorang yang dilihatnya, Puranta tidak dan apalagi orang lain.
Sejenak ia berdiri mematung. Dicobanya untuk menangkap setiap bunyi.
Tetapi bunyi nafas yang halus sekalipun tidak didengarnya sama
sekali. Apalagi langkah-langkah orang yang sedang bertempur. Kalau
Puranta menemukannya, pasti terjadi sesuatu. Tiba-tiba dada Ki
Reksatani serasa berguncang. Sebuah pertanyaan telah terbersit pula
di hatinya. "Kalau orang itu orang sewajarnya, maka Puranta pasti
akan dapat menyelesaikan. Setidak-tidaknya ia mempunyai kesempatan
yang cukup untuk mempertahankan diri" nafas Ki Reksatani tiba-tiba
menjadi tertahan-tahan "apakah justru kakang Demang di Kepandak?"
Ingatan itu telah membuat tubuhnya menjadi gemetar. Tanpa
disadarinya ia melangkah maju, semakin lama semakin dalam memasuki
halaman rumahnya. Tetapi ia masih tetap tidak mendengar sesuatu.
Namun tiba-tiba langkahnya tertegun ketika ia melihat sebatang pohon
perdu yang ranting-rantingnya berpatahan. Dengan wajah yang tegang
Ki Reksatani mendekatinya. Diamat-amatinya pohon perdu itu dengan
saksama. Semakin lama semakin nyata baginya, bahwa memang telah
terjadi sesuatu di halaman rumah ini. Apalagi ketika tampak olehnya,
beberapa batang pohon yang lainpun agaknya telah menjadi rusak pula
karenanya. "Hem" ia berdesah "setan manakah yang telah mengganggu
rencanaku" Namun sekali lagi melintas ingatannya kepada Ki Demang di
Kepandak sendiri. Ki Reksatani terperanjat bukan buatan ketika ia
kemudian melihat sesosok tubuh yang tergolek di dekat pagar. Dengan
tergesa-gesa ia mendekatinya. Darahnya serasa berhenti mengalir
ketika ia kemudian mengenalinya. Puranta yang sudah menjadi mayat.
Dengan tangan gemetar ia menyentuh tubuh itu. Masih belum menjadi
dingin. Sedang darahnya masih Juga belum mengering. "Aku terlambat
sedikit" desisnya. Dengan tangan yang bergetar Ki Reksatani memungut
sebilah keris yang terletak di dekat jari-jari tangan Puranta yang
mengembang. Keris itu masih basah oleh darah. "Keris inilah agaknya
yang telah melukainya" desis Ki Reksatani. Maka dengan saksama ia
mengamati keris itu, kalau-kalau ia sudah mengenalnya. Beberapa
keris kakaknya ia sudah pernah melihat, karena Ki Demang sering
menunjukkannya kepadanya. "Aku belum pernah melihat keris ini.
Agaknya bukan keris kakang Demang" desisnya. Tetapi tatapan
matanyapun kemudian menangkap wrangka keris yang masih terselip di
lambung Puranta. Wrangka yang sudah tidak lagi menyimpan wilahannya.
Ketika wrangka itu diambilnya dan dicobanya untuk merangkum keris
yang masih bernoda darah itu, dada Ki Reksatani menjadi semakin
berdentangan. Ternyata keris itu adalah keris Puranta sendiri.
"Setan alas" ia mengumpat "pasti bukan orang kebanyakan yang telah
datang mengganggu. Mungkin kakang Demang. Mungkin orang lain" Ki
Reksatanipun kemudian meloncat berdiri sambil menggeretakkan giginya
"Siapapun yang melakukannya, Reksatani telah siap menghadapinya.
Bahkan seandainya kakang Demang sendiripun aku tidak akan gentar.
Apaboleh buat. Aku sudah terlanjur basah di tengah-tengah bengawan.
Aku tidak dapat kembali. Aku harus menyeberang terus" Dengan wajah
yang tegang, sorot mata yang membara Ki Reksatani membelai hulu
kerisnya. Nafasnya yang terengahengah serasa akan terputus di
tenggorokan. Namun sejenak kemudian Ki Reksatani itu menyadari
keadaannya. Ia kini berdiri seorang diri di hadapan mayat Puranta.
Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Sambil menundukkan kepalanya
ia mulai berpikir. "Mungkin aku dapat berhadapan dengan Ki Demang
seorang dengan seorang. Tetapi apakah alasan yang dapat aku
kemukakan kepada rakyat Kepandak? Kepada Ki Jagabaya yang dungu itu.
Aku dapat membunuh kerbau yang bodoh itu. Tetapi ia tidak berdiri
sendiri. Bersama-sama bebahu yang lain mereka akan menangkap aku,
atau membunuhku seperti rampokan macan di alun-alun Mataram. Ki
Reksatani kini berdiri dengan tegangnya. Sejenak ia menjadi
kebingungan. "Persetan" geramnya kemudian "sekarang aku harus
berbuat sesuatu atas mayat ini supaya besok tidak menumbuhkan
keonaran di padukuhan ini" Ki Reksatani tidak mau membiarkan
rahasianya diketahui oleh seorangpun. Karena itu, maka iapun segera
mencari cangkul di dapur rumah itu. Dengan diam-diam. ia menggali
lubang yang dalam untuk mengubur mayat Puranta di halaman rumah itu
juga tanpa upacara apapun juga bersama dengan kerisnya sama sekali.
"Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihatnya. Hanya orang yang
membunuhnya sajalah yang tahu bahwa disini telah terjadi raja pati.
Dalam waktu yang singkat aku akan tahu siapakah yang telah membunuh
anak ini. Sebentar kemudian, maka Ki Reksatani telah selesai
mengubur mayat Puranta di sudut halaman itu. Dengan nafas
terengah-engah maka disimpannya cangkulnya. Tetapi ia tidak segera
kembali ke rumahnya. Ia sendiri menjadi bingung menanggapi peristiwa
yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa diduga-duganya sama sekali itu.
"Besok aku akan tahu. Kalau yang membunuh Puranta itu kakang Demang
sendiri, akupun akan segera mendapat penjelasan. Kakang Demang pasti
akan memanggil aku dan minta pertanggungan jawab bahwa hal ini telah
terjadi. Tetapi kalau yang membunuh orang lain, aku akan berusaha
untuk menemukannya diantara orang-orang yang berkepentingan dengan
anak ini atau Sindangsari" Dalam pada itu, maka Nyai Reksatani dan
Sindangsari telah menunggu dengan gelisah karena Ki Reksatani tidak
juga segera pulang. Berbagai angan-angan telah hilir mudik di kepala
mereka. Apalagi Nyai Reksatani. Bahkan kemudian timbullah niatnya
untuk menyusul suaminya. "Kau tinggal disini saja mBok-ayu. Aku akan
mengajak dua orang pembantu untuk mengantarku" "Tidak. Aku takut.
Aku ikut kemana kau pergi" "Jangan. Persoalannya nanti akan menjadi
berlarut-larut karenanya" "Tidak. Aku tidak mau" Nyai Reksatani
menjadi bingung dan ragu-ragu. Kadangkadang ia berusaha untuk
menenangkan saja hatinya sambil menunggu. Tetapi kadang-kadang
dadanya bergejolak terlampau cepat. Namun sebelum Nyai Reksatani
mengambil keputusan, mereka terkejut mendengar pintu pringgitan
bergerit. Serentak mereka berpaling, dan merekapun melihat Ki
Reksatani melangkah masuk. "Bagaimana kakang?" dengan serta-merta
Nyai Reksatani bertanya. Ki Reksatani tersenyum "Bukan apa-apa"
jawabnya "memang mungkin kau benar Perampok yang belum mengenal
bahwa rumah itu adalah rumah Ki Reksatani. Namun agaknya mereka
tidak menemukan sesuatu di rumah itu. Semua barang-barang masih
utuh. Dan sudah barang tentu mereka tidak akan merasa perlu membawa
alat-alat tenun yang besar itu. Nyai Reksatani mengangguk-anggukkan
kepalanya. Meskipun berbagai macam pertanyaan berdesakan di dadanya,
namun ia terpaksa menyimpannya. Demikian juga agaknya Sindangsari.
Ia tidak berani bertanya apakah yang sudah terjadi dengan Puranta.
Dan iapun tidak berani bertanya, apakah Puranta itu selamat atau
mengalami apapun juga. "Jangan hiraukan lagi" berkata Ki Reksatani
"tetapi aku menyesal, bahwa hal itu pasti sudah mengganggu
ketenangan mBok-ayu disini" Sindangsari sama sekali tidak dapat
mengucapkan jawaban sepatahpun juga. "Sudahlah. Bawalah mBok-ayu
tidur" berkata Ki Reksatani kepada isterinya "besok sajalah belajar
menenun" Sindangsari hanya dapat menganggukkan kepalanya saja,
sementara Ki Reksatani langsung pergi ke ruang dalam. Tetapi ia
tidak berhenti di sana. Ia masih membuka pintu belakang dan pergi ke
pakiwan untuk membersihkan dirinya. Nyai Reksatani segera
menyusulnya setelah menyelarak pintu. Ia melihat pakaian Ki
Reksatani yang kusut, bahkan kotor sekali. Karena itulah maka ia t
idak dapat menahan perasaannya lagi. Ia ingin segera tahu, apa yang
telah terjadi sebenarnya dengan Puranta dan orang yang tertawa di
luar dengan nada yang mengerikan itu. "Kakang" desis Nyai Reksatani
yang berdiri termangumangu diambang pintu belakang. Ia agak
ragu-ragu untuk langsung turun ke dalamgelapnya malam. "He" sahut
suaminya. "Dimana kau?" "Pakiwan" Nyai Reksatani yang tidak dapat
bersabar lagi segera menyusulnya. Dengan nada yang dalam
terbata-bata ia bertanya "Apa yang telah terjadi kakang" Ki
Reksatani segera keluar dari pakiwan. Sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya ia menggeram "Ada setan yang mengganggu usaha kita"
"Bagaimana dengan Puranta?" Ki Reksatani menjadi ragu-ragu sebentar.
Namun kemudian ia menyahut "Jangan hiraukan lagi anak itu. Kita
tidak dapat menggantungkan kepercayaan kita kepadanya" "Kenapa?" "Di
dalam keadaan yang gawat ia tidak akan dapat menyelesaikan masalah
ini. Ia adalah seorang laki-laki yang haus akan kehangatan
perempuan. Itu saja. Di dalam masalah yang lebih jauh dari masalah
perempuan, ia memang tidak berarti apa-apa" "Tetapi bagaimana dengan
anak itu sekarang? Apakah ia berhasil menangkap orang yang telah
mengganggu usahanya" "Aku tidak dapat mengharap apa-apa lagi
daripadanya. Katakanlah bahwa usaha kita dengan cara ini sudah
gagal. Gagal sama sekali. Kalau ada satu orang saja yang mengetahui,
maka semuanya tidak akan berarti lagi" "Apakah ada orang yang
mengetahui?" "Ada. Orang yang mengganggu itu dan Puranta. "Jadi,
jadi bagaimana kalau mereka berkhianat dan mengadukan hal ini kepada
kakang Demang? "Jangan takut. Aku dapat menganggap semua ceritera
yang tidak dapat dibuktikan sebagai fitnah" "Tetapi, bagaimana kalau
Sindangsari juga berceritera tentang Puranta?" "Tidak. Ia tidak akan
berani berceritera tentang hal itu kepada kakang Demang. Ia akan
tetap menutup mulutnya" Nyai Reksatani menjadi termangu-mangu
sejenak. "Kita membuat rencana yang lain. Rencana yang sudah pernah
aku katakan" "Jadi, maksud kakang, kita tidak dapat menempuh jalan
lain?" Ki Reksatani menggelengkan kepalanya "Sayang, aku tidak
melihat jalan itu" "Jangan kakang. Jangan" "Aku tidak dapat
mengurungkan niat ini. Semua jalan sudah aku coba. Hanya jalan yang
satu inilah yang belum aku lakukan" "Jangan. Aku tidak sependapat"
"Kau jangan terikat oleh perasaanmu yang cengeng" mata Ki Reksatani
menjadi merah "kesempatan itu kini telah terbuka" "Sekarang?" "Aku
sedang mempertimbangkannya" "Tidak. Itu tidak mungkin. Ia pergi ke
rumah ini bersama kita dan atas ijin Ki Demang. Kalau kau kehilangan
akal dan melakukannya sekarang, maka kau akan gagal lagi. Kegagalan
yang mutlak dan yang akan menjerat seluruh keluargamu" suara Nyai
Reksatani menjadi gemetar "aku masih mengharap kau mencari jalan
lain kakang. Jalan lain yang dapat kita tempuh dengan aman" Ki
Reksatani berdiri saja mematung. Sekali-sekali dilontarkannya
pandangan matanya ke arah bintang-bintang yang bertaburan di langit.
Kemudian kembali mendarat kewajah isterinya yang kecemasan. "Apakah
kau benar-benar kehilangan akal kakang?" Ki Reksatani menggelengkan
kepalanya "Aku masih tetap sadar" "Karena itu pertimbangkan semua
perbuatan ini baik-baik. Jangan sekedar terburu nafsu. Kakanglah
yang agaknya telah hanyut dalam arus perasaan yang tidak terkendali.
Bukan aku" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia
ingin menemukan ketenangan di dalamhati. "Hilangkan niat itu
sekarang. Kita masih mempunyai waktu" "Aku tidak tahu, apa saja yang
akan dilakukan oleh orang yang telah mengganggu usaha Puranta itu.
Aku juga tidak tahu, siapakah orang itu. Dengan demikian, banyak
kemungkinan yang dapat terjadi atas kita" "Apakah kakang menduga
orang itu kakang Demang sendiri?" "Mungkin. Tetapi mungkin juga
bukan" Nyai Reksatani menjadi tegang. "Tetapi jangan cemas. Apapun
yang akan terjadi, sudah aku siapkan. Aku akan menghadapinya,
seandainya orang itu Ki Demang sekalipun" "Apa yang akan kakang
lakukan" "Sudahlah. Serahkan semuanya kepadaku" "Tetapi jangan
lakukan itu sekarang. Aku tidak mau. Aku tidak mau" Ki Reksatani
tidak menyahut. "Jangan kakang. Berjanjilah Aku akan membantu segala
usaha kakang. Tetapi t idak untuk melakukannya sekarang" Ki
Reksatani masih termenung sejenak. Lalu katanya "Baiklah, Aku tidak
akan membunuhnya sekarang. Tetapi aku tidak mempunyai jalan dan cara
lain. Sindangsari harus dibunuh. Akan lebih baik apabila hal itu
dilakukan tanpa diketahui oleh kakang Demang, dan kita dapat
menghilangkan jejak. Tetapi kalau tidak sekali lagi, apaboleh buat"
"Kau sudah melakukan pemberontakan kakang" "Aku akan mencari alasan
yang paling baik. Aku akan menghubungi orang yang tidak puas.
Mungkin ayah Manguri, mungkin orang-orang lain lagi. Orang-orang
kaya dan orangorang yang mempunyai kekuatan yang cukup" "Mengerikan
sekali" desis Nyai Reksatani sambil menyembunyikan wajahnya di balik
kedua telapak tangannya. "Terpaksa" "Apakah hari depan kita dan
anak-anak kita cukup bernilai untuk ditukar dengan korban-korban
jiwa yang mungkin dapat jatuh?" Ki Reksatani tertawa pendek "Nyai,
untuk kepentingan hari depan kita, apa salahnya kita mengorbankan
jiwa orang-orang bodoh yang dapat kita peralat? Aku sudah sampai
pada suatu kesimpulan, bahwa cara apapun akan aku tempuh untuk
mendapatkan kedudukan yang aku kehendaki. Aku tidak akan
mempedulikan lagi korban-korban yang bakal jatuh. Ita adalah akibat
dari kebodohan mereka, dan justru juga ketamakan. Kalau mereka dapat
aku bujuk dengan upah, dengan uang dan kedudukan, maka orang itu
adalah orang yang tamak seperti kita. Kita sama sekali tidak akan
merasa kehilangan apabila mereka akan binasa di dalam geseran
keadaan itu. Akupun tidak akan menyesal apabila kelak aku akan
berdiri pada kedudukanku beralaskan bangkai-bangkai orang-orang yang
dungu, tamak dan bodoh itu" "O, mengerikan sekali. Mengerikan
sekali" "Sayang Nyai. Aku tidak mempunyai jalan lain. Pada suatu
saat hal itu akan terjadi" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu
"sekarang kembalilah kepada perempuan yang ketakutan itu. Biarlah ia
menikmati hidupnya yang masih tersisa. Aku tidak dapat memaafkannya
lagi. Semakin lama kedudukannya akan menjadi semakin baik. Apalagi
kalau ia sudah beranak" Nyai Reksatani tidak menyahut. Tetapi ia
mengusap matanya yang basah. Sebenarnya ia tidak dapat menyesuaikan
dirinya dengan rencana suaminya. Tetapi ia tidak dapat berbuat
apapun juga. Ia hanya seorang perempuan, yang hanya dapat
menempatkan diri di dalam segala lingkaran suaminya Sorga atau
neraka, sekedar mengikut. Setelah matanya yang basah itu kering,
Nyai Reksatanipun kemudian melangkah perlahan-lahan masuk ke ruang
dalam, kemudian memasuki pringgitan. Dilihatnya Sindangsari masih
duduk di tempatnya, meskipun seakan-akan ia sudah dibakar oleh
kegelisahan. "O, Kau lama sekali meninggalkan aku ketakutan"
katanya. "O, maaf mBok-ayu. Aku harus menyediakan minuman panas buat
kakang Reksatani. Biasanya di malam hari, apabila ia datang
darimanapun juga, kakang memerlukan minuman panas" Sindangsari
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. "mBok-ayu,
hari telah terlampau jauh malam. Marilah aku persilahkan mBok-ayu
tidur saja" Sindangsari menjadi ragu-ragu. "Silahkanlah" desak Nyai
Reksatani. "Aku takut" desis Sindangsari. "Kenapa takut. Di rumah
ini ada kakang Reksatani, mBokayu tidak usah takut" Sindangsari
tidak menjawab, tetapi ia masih tetap raguragu. "Marilah" Nyai
Reksatani mendesaknya pula "silahkanlah" Akhirnya Sindangsari
bangkit pula dan berjalan ke bilik yang ditunjukkan oleh Nyai
Reksatani untuknya. Betapa ia diamuk oleh bimbang dan ragu-ragu,
namun ia masuk pula ke dalam bilik itu. Ki Reksatani yang kemudian
masuk pula ke ruang dalam menjenguk ke dalam bilik itu sambil
berkata "Aku disini mBokayu. Kalau ada apa-apa, panggil aku"
Sindangsari menganggukkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan "Terima
kasih" "Sekarang, silahkanlah tidur. Tidak akan ada apa-apa lagi di
rumah ini" Sindangsari menganggukkan kepalanya sekali lagi. Tetapi
hatinya terasa menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika
kemudian Ki Reksatani suami isteri meninggalkannya seorang diri di
dalam bilik yang hanya diterangi oleh lampu minyak kelapa dengan
cahayanya yang kekuning-kuningan. Namun sejenak kemudian Sindangsari
berhasil menenangkan hatinya sendiri. Agaknya rumah ini memang tidak
akan mendapat gangguan apapun juga. Meskipun demikian, sebuah
penyesalan telah melonjak lagi di dadanya. "Kalau saja ada Ki
Demang" desisnya perlahan-lahan sekali. Dalam keadaan yang demikian
terasa, betapa ia memerlukan Ki Demang di Kepandak. Bagaimanapun
juga, laki-laki yang dingin itu dapat memberinya ketenangan.
Meskipun Ki Demang di Kepandak tidak pernah berbuat apapun juga
sebagai seorang suami, tetapi dalam keadaan yang berbahaya ia pasti
tidak akan tetap tinggal diam. Ia pasti akan berbuat sesuatu untuk
melindunginya, Ketika Sindangsari sudah berbaring, terlintas juga di
dalam angan-angannya anak muda yang bernama Puranta. Kadangkadang
terasa juga sentuhan-sentuhan pada perasaannya sebagai seorang
perempuan muda. Tetapi kemudian terasa betapa bulu-bulunya meremang.
Laki-laki itu membuatnya sangat gelisah. Ketika kemudian terbayang
di angan-angannya wajah Pamot, Sindangsari menarik nafas
dalam-dalam. Kenangan atas anak muda itulah yang sebenarnya telah
membantu menahannya untuk tidak terjerumus ke dalam jurang yang
lebih dalam lagi. Namun angan-angannya pecah ketika ia mendengar
kokok ayam yang bersahut-sahutan. Agaknya semalam suntuk ia sama
sekali tidak tertidur. Karena ketegangan dan kecemasannya, ia tidak
merasa, bahwa sebenarnya malam telah berlangsung hampir seluruhnya.
Dan kini agaknya fajar telah membayang pula di ujung Timur. Dalam
pada itu, Ki Reksatani masih juga duduk di pinggir pembaringannya,
selagi isterinya berbaring dengan gelisahnya. "Aku harus segera
mulai" berkata Ki Reksatani "kalau t idak aku akan terlambat"
"Kakang" bisik isterinya "kenapa tidak kita lepaskan saja
angan-angan itu?" "Tidak mungkin lagi. Tidak mungkin lagi" "Kakang
tidak mau memikirkan akibatnya" "Nyai" berkata Ki Reksatani
"dengarlah. Aku masih akan menempuh jalan yang paling aman. Aku akan
mengambil perempuan itu. Kalau kakang Demang tidak mengetahui bahwa
aku yang mengambilnya, maka apa yang kau bayangkan itu tidak akan
pernah terjadi. Kakang Demang pasti justru akan meminta bantuanku
untuk mencari isterinya" "Tetapi laki-laki yang datang mengganggu
usaha Puranta itu?" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. "Dan
apakah Puranta sendiri untuk seterusnya akan diam? Agaknya ia
benar-benar telah terjerat oleh Sindangsari. Sebagai seorang
laki-laki ia akan berusaha untuk mendapatkannya. Kau upah atau
tidak" "Ia tidak akan dapat mengganggu Sindangsari lagi. Atas
permintaan kita atau tidak" "Kakang" tiba-tiba Nyai Reksatani
bangkit. "Kenapa dengan anak itu" ia bertanya. "Puranta sudah mati"
jawab Ki Reksatani. "Kenapa?" "Aku tidak tahu. Agaknya orang yang
mengganggu usaha Puranta itulah yang sudah membunuhnya" "Siapa?
Siapakah orang itu?" "Aku tidak tahu" Ki Reksatani menggelengkan
kepalanya. "O, apakah itu berarti bencana bagi kita? Bagi keluarga
kita?" "Aku tidak tahu pasti. Itulah sebabnya aku berpendirian,
bahwa aku tidak akan dapat melangkah surut lagi. Aku harus berjalan
terus, apapun yang akan aku hadapi. Aku sudah terlanjur mulai dengan
rencana ini" "Tetapi, aku menjadi takut kakang" "Jangan takut" Ki
Reksatani mencoba menenteramkan hati isterinya. Namun terasa
kata-katanya mengandung keraguraguan. "Rencanamu membuat aku tidak
akan dapat tidur sepanjang waktu" "Dengarlah Nyai" berkata Ki
Reksatani "memang hatiku masih selalu melonjak-lonjak. Kadang-kadang
timbullah keinginanku untuk mencekik saja Sindangsari itu. Tetapi
sudah tentu kau tidak akan sependapat. Karena itu, sudah aku
katakan. Aku masih akan menempuh jalan yang paling aman. Sementara
aku berusaha menemukan orang yang telah membunuh Puranta itu" Nyai
Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih tetap dicengkam
oleh kegelisahan, sehingga iapun sama sekali tidak dapat memejamkan
matanya sampai cahaya fajar membayang pada lubang-lubang dinding
biliknya. Nyai Reksatani tidak dapat berbaring terus di dalam
biliknya. Iapun kemudian bangkit untuk pergi ke dapur, selagi
anak-anaknya masih tidur nyenyak ditunggui oleh pembantunya. Tetapi
ia terkejut ketika ia melihat pintu belakang sudah terbuka, dan
pembantunya sudah ada di dapur. "Siapakah yang membuka selarak
pintu?" ia bertanya. "Aku Nyai" jawab pembantunya. "Sepagi ini?"
"Nyai Demang membangunkan aku" "Dimana ia sekarang?" "Di pakiwan"
Nyai Reksatanipun kemudian melangkah keluar. Dilihatnya langit telah
menjadi semakin cerah. Ayam-ayam telah turun ke halaman dan
burung-burung liar sudah mulai berkicau bersahut-sahutan menyambut
cahaya matahari yang telah mewarnai langit. "Kau sudah bangun
mBok-ayu" Nyai Reksatani bertanya. "Aku sama sekali tidak dapat
tidur sekejappun" jawab Sindangsari dari dalampakiwan. "O, apakah
kau masih ketakutan?" "Ya" "Di rumah ini mBok-ayu sebenarnya tidak
usah takut. Di sini ada Ki Reksatani" "Tetapi ...." Sindangsari
tidak melanjutkannya. "Tetapi apa?" Nyai Reksatani mendekati dinding
pekiwan "apakah kau takut kalau anak itu menyusulmu kemari?" "Ya"
Nyai Reksatani tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Ditinggalkannya
Sindangsari yang masih ada di dalam pakiwan untuk membersihkan
dirinya. Namun, ketika suara tertawa Nyai Reksatani itu terhenti,
terasa dadanya sendiri menjadi sakit. Bahkan timbul pula pertanyaan
dalam hatinya "Kenapa aku tertawa?" Nyai Reksatani mengusap dadanya
dengan telapak tangannya. Tanpa sesadarnya ia mengeluh
perlahan-lahan. Seharusnya ia tidak akan dapat tertawa lagi. Sama
sekali tidak. Nyai Reksatani terkejut ketika tiba-tiba saja
Sindangsari yang sudah selesai membersihkan dirinya berdiri di
belakangnya. Sambil menggamit pundaknya ia berkata "Aku minta
diantar pulang pagi ini" katanya. "He? Kenapa tergesa-gesa" bertanya
Nyai Reksatani. "Aku takut. Aku takut sekali" "Bukankah hari sduah
siang?" "Tetapi banyak sekali sebab yang membuat aku ketakutan di
rumah ini" "Nantilah sebentar. Nanti aku antarkan" "Tidak. Jangan
hanya kau sendiri. Aku minta kau antarkan berdua dengan Ki
Reksatani" "Ah, aku tidak tahu apakah kakang Reksatani mempunyai
waktu untuk mengantarkan mBok-ayu" "Aku minta. Aku minta dengan
sangat. Aku tidak berani pulang sendiri" Nyai Reksatani tidak segera
menjawab. Tetapi kebimbangan yang tajam membayang di wajahnya.
"Cobalah. Katakan kepada Ki Reksatani. Apakah ia dapat mengantar aku
sekarang" Nyai Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya ia
berkata "Baiklah. Aku akan minta kepadanya. Tetapi bagaimana kalau
kebetulan kakang Reksatani sedang sibuk" "Kalau Ki Reksatani sedang
sibuk, biarlah ia berkuda sejenak ke Kademangan. Biarlah kakang
Demang menjemputku" Nyai Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya "Baiklah. Aku akan bertanya kepadanya" Sementara Nyai
Reksatani menemui suaminya, maka Sindangsaripun berpakaian di dalam
biliknya. Ia sudah memutuskan untuk segera kembali ke Kademangan.
Pagi ini juga. Ki Reksatani yang mendengar permintaan Sindangsari
itupun menjadi berdebar-debar. Sekilas terbayang di dalam
angan-angannya, bahwa semalam Ki Demanglah yang telah datang
mengamati isterinya, dan kemudian membunuh Puranta, karena ia tahu,
bahwa Purantalah yang telah membujuk-bujuk isterinya, sedang
isterinya tidak bersedia melakukannya. "Kenapa harus aku?" ia
bergumam. "Kalau kakang berkeberatan maka ia minta kakang ke
Kademangan sejenak, untuk memanggil Ki Demang" "Itu sama saja"
"Tidak. Kakang dapat berpacu diatas punggung kuda sejenak" Ki
Reksatani mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata "Biarlah aku
yang mengantarkannya" "Aku ikut bersamamu kakang" "Itu akan membuang
waktu. Tanpa kau aku akan dapat berjalan cepat, selagi aku pulang"
"Tetapi aku ingin ikut" "Kau takut aku membunuhnya di jalan" Nyai
Reksatani tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.
"Sudah aku katakan. Aku tidak akan membunuhnya karena kau tidak
sependapat, bahwa aku melakukannya sekarang, meskipun aku sudah siap
menghadapi setiap kemungkinan. Apakah aku harus berbohong, membuat
eeritera ceritera palsu, atau aku harus berkelahi" Isterinya tidak
segera menyahut. "Bagaimana?" Namun isterinya menjawab "Aku ikut
kakang" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Baiklah.
Seharusnya kau menunggui anakmu. Setiap hari anakmu kau tinggal, dan
kau percayakan saja kepada pembantupembantu" "Tetapi bukankah
kepergianku juga dalam rangka rencana kakang? Bahkan aku harus
menghina diri sendiri dengan berpura-pura melakukan perbuatan sedeng
dengan Puranta?" "Sudahlah, sudahlah" potong Ki Reksatani "cepatlah
berkemas" Nyai Reksatanipun kemudian mengenakan pakaiannya setelah
mandi. Ia tidak sampai hati membiarkan Ki Reksatani yang mendendam
itu mengantarkan Sindangsari seorang diri. Setelah kedua perempuan
itu selesai, maka Nyai Reksatanipun mengajak Sindangsari untuk makan
lebih dahulu sebelum mereka berangkat. Tetapi leher Sindangsari itu
serasa tersumbat, sehingga hampir tidak mampu untuk menelan
butiran-butiran nasi hangat. Namun bukan saja Sindangsari yang
menjadi gelisah. Ki Reksatanipun telah dicengkam oleh kegelisahan
pula. Ia selalu dikejar-kejar oleh pertanyaan "Apakah yang akan
dikatakannya, kalau semalam, orang yang membunuh Puranta itu Ki
Demang sendiri?" Karena Ki Reksatani tidak mampu mengatasi
kegelisahannya, maka ketika mereka siap untuk berangkat,
diselipkannya keris pusakanya di lambungnya, sambil bergumam "Aku
tidak tahu, apakah aku akan menjumpai bahaya di sepanjang jalan"
Ketiganyapun kemudian berangkat ke Kademangan, ketika matahari telah
bertengger diatas punggung bukit. Cahayanya yang cerah memancar
keseluruh permukaan bumi. Daun-daun yang hijau kekuning-kuningan
tampak menjadi semakin kuning. Sedang parit-parit yang kering
seolah-olah menjadi bertambah kehausan. "Semakin siang, udara akan
menjadi semakin panas" desis Ki Reksatani "rasa-rasanya kita akan
berjalan diatas perapian. Kalau dalam beberapa pekan mendatang hujan
tidak turun, maka tanaman di sawah akan menjerit kekurangan air"
Isterinya dan Sindangsari tidak menyahut. Mereka hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya saja, meskipun tanpa mereka sadari,
merekapun menebarkan pandangan mata mereka menyapu tanah persawahan
yang terbentang di hadapan mereka. Ketika Ki Reksatani yang berjalan
di belakang kedua perempuan itu, agak terpisah jauh, maka Nyai
Reksatanipun kemudian berbisik di telinga Sindangsari "mBok-ayu,
apakah mBok-ayu nanti akan mengatakan semuanya dengan berterusterang
kepada Ki Demang?" Pertanyaan itu telah membingungkan hati Nyai
Demang di Kepandak, sehingga untuk sesaat ia tidak mampu untuk
menjawab. "mBok-ayu" berkata Nyai Reksatani "sekali-sekali kita
memang harus berbohong. Tidak semua kebohongan itu salah. Suatu
ketika akupun berbohong kepada anak-anakku. Kadang-kadang aku tidak
berkata terus terang, bahwa aku akan bepergian. Kadang-kadang aku
berkata, bahwa aku akan berobat kedukun, agar anak-anak tidak ingin
ikut serta" Nyai Reksatani berhenti sejenak, lalu "Akupun berbohong
kepada Ki Reksatani, bahwa aku mengenal seorang laki-laki yang
bernama Puranta. Kebohongan kepada suami, kadang-kadang dapat
menimbulkan ketenteraman rumah tangga. Kau mengerti? Kalau suami
kita tidak tahu bahwa sekali-sekali kita memilih jalan simpang, maka
hal itu tidak akan menumbuhkan persoalan. Tetapi kalau kita berterus
terang, dengan jujur, meskipun kita bersimpuh di bawah kakinya,
belum tentu kalau rumah tangga kita dapat terpelihara baik"
Sindangsari tidak menyahut. Tetapi bulu-bulu tengkuknya serasa
meremang. Terbayang sejenak, bagaimana Ki Demang menjadi marah, dan
hampir saja membunuhnya ketika ia berterus terang, apa yang sudah
terjadiatasnya sebelum mereka kawin. "Dengan demikian persoalan itu
akan selesai. Ia tidak lagi dibebani oleh siksaan batin yang tidak
ada henti-hentinya. Sepanjang saat, kecuali apabila ia sedang
tertidur" "Kalau aku mengatakan persoalan ini dengan berterus
terang, tetapi kakang Demang menjadi salah paham, apakah ia akan
dapat memaafkan aku untuk kedua kalinya?" pertanyaan itu terlontar
di dalam hati Sindangsari. Dalam pada ituNyai Reksatani mendesaknya
"Apakah kau mengerti mBok-ayu? Kalau kita tidak berbuat jujur kita
sebenarnya bermaksud baik" Sindangsari masih berdiam diri. Tetapi
dadanya bergolak semakin cepat. Ia tidak mengerti sepenuhnya maksud
Nyai Reksatani, meskipun terasa, betapa liciknya cara itu. "Tetapi
terserahlah kepadamu" berkata Nyai Reksatani kemudian "Aku hanya
menasehatkan kepadamu, berdasarkan pengalamanku" Sindangsari masih
tetap berdiam diri. Sementara kaki-kaki mereka melangkah semakin
cepat. Ki Reksatani yang berjalan di belakang kedua perempuan itu
tidak menghiraukan apa yang sedang mereka percakapkan. Kegelisahan
yang semakin memuncak telah mencekam dadanya. "Apakah benar yang
telah membunuh Puranta itu kakang Demang sendiri? Di padukuhan ini
sukar agaknya untuk menemukan orang yang dapat mengalahkan Puranta
dengan mudah. Apalagi Puranta mempergunakan keris. Dan bahkan
agaknya kerisnya sendiri itulah yang sudah tergores di tubuhnya" ia
selalu menimbang-nimbang di dalam hatinya. Tetapi akhirnya ia
menggeram "Persetan. Aku tidak peduli. Dan aku bukan pengecut" Ki
Reksatani mencoba menggeretakkan giginya untuk mengatasi kecemasan
di dadanya. Namun masih juga terasa debar jantungnya yang
menggelora. Semakin dekat mereka dengan rumah Kademangan, hati Ki
Reksatani menjadi semakin berdentangan. Bahkan tanpa sesadarnya
tangannya telah menyentuh hulu kerisnya. Tetapi ternyata tangan itu
gemetar. Apalagi ketika mereka sudah berada diambang regol halaman.
Ketika isterinya dan Sindangsari sudah melangkah memasuki halaman.
Sejenak ia termangu-mangu. Dilihatnya dua orang peronda masih ada di
dalam gardu. Dan yang lebih mendebarkan dadanya, di pendapa
dilihatnya Ki Jagabaya sudah duduk menghadapi semangkuk air panas.
Ketika Ki Jagabaya melihat kedatangan Nyai Demang dan Ki Reksatani
berdua, iapun segera berdiri. Sambil mengerutkan keningnya, orang
yang kekar itu melangkah menyongsongnya. "He, sepagi ini kalian
sudah datang" ia menyapa ramah. Dalam pada itu Nyai Reksatani
berbisik "Ingat mBokayu. Sebaiknya mBok-ayu tidak mengatakan
apa-apa. mBok-ayu mengatakan ingin pulang tanpa sebab. Itu saja.
Kalau mBokayu mengatakan sesuatu, maka kakang Demang akan bertanya
lebih banyak lagi, sehingga pada suatu saat, mBokayu terpaksa
mengatakan, bahwa mBok-ayu telah berjanji untuk menemui seorang
laki-laki bernama Puranta" "He" Sindangsari terkejut. Tetapi sebelum
ia berkata sesuatu. Nyai Reksatani sudah mendahului "Karena itu
jangan mengatakan apa-apa" Mereka tidak dapat berbincang lebih
banyak lagi, karena mereka telah berdiri di hadapan Ki Jagabaya,
yang sekali lagi bertanya "Pagi pagi kalian sudah datang?" Nyai
Reksatani tersenyum. Sejenak ia berpaling kepada suaminya yang
tertawa. Tetapi sebelum suaminya menjawab, Nyai Reksatani berkata
lirih "Ah seperti kau tidak tahu saja Ki Jagabaya. Bukankah mBok-ayu
Demang ini masih termasuk pengantin baru?" Ki Jagabaya tertawa
berkepanjangan seperti juga Ki Reksatani, sedang Sindangsari
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Agaknya suara tertawa mereka
telah terdengar oleh Ki Demang, sehingga iapun kemudian menjengukkan
kepalanya. Ketika dilihatnya isterinya diantar oleh Ki Reksatani
suami isteri, maka iapun segera mendapatkannya. "Aku kira kau akan
pulang siang nanti. Aku sudah berpikir apakah aku akan menjemputmu
pagi ini. Tetapi akhirnya aku memutuskan, bahwa aku akan pergi agak
siang nanti, menjelang matahari sampai ke puncak" "mBok-ayu tidak
kerasan berada di rumah kami. Semalaman ia tidak dapat tidur" sahut
Nyai Reksatani. "Kenapa?" "Kenapa kakang Demang masih bertanya? Di
rumahku tidak ada kakang Demang. Itulah sebabnya begitu fajar
menyingsing, mBok-ayu sudah mulai merengek, minta diantar pulang"
"Ah" Ki Demang hanya dapat tersenyum.. "Sudah aku katakan kepada Ki
Jagabaya, mBokayu masih termasuk penganten baru" "Ada-ada saja kau
Nyai" desis Ki Demang "mari, marilah masuk" "Ki Reksatani hanya
tertawa-tawa saja. Tetapi sebenarnyalah bahwa dadanya telah
terguncang-guncang. Ia masih juga dicemaskan oleh dugaannya, bahwa
ada kemungkinan orang yang membunuh Puranta itu adalah Ki Demang
sendiri. Tetapi menilik sikap dan kata-kata Ki Demang, agaknya
dugaan itu tidak benar. Agaknya Ki Demang sama sekali tidak
mengetahui, apa yang sudah terjadi di rumah adiknya. Ketika mereka
kemudian berbicara, bersama Ki Jagabaya, maka setiap kali Ki
Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Semakin lama iapun menjadi
semakin yakin, bahwa bukan Ki Demanglah yang telah melakukannya.
Dengan demikian, maka ia menjadi malu sendiri, bahwa ia telah
membawa kerisnya, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan bahaya
yang mengancam jiwanya. "Agaknya memang demikianlah seorang isteri
yang sedang mengandung" berkata Nyai Reksatani kemudian "semalam
saja ia tidak bersama suaminya, rasa-rasanya sudah seperti
bertahun-tahun" Ki Demang hanya dapat tersenyum saja. Sekali-sekali
memang dicobanya untuk memandang wajah isterinya yang tunduk. Namun
kemudian dilemparkannya tatapan matanya jauh-jauh. "Tetapi kami
tidak dapat berlama-lama disini kakang" berkata Ki Reksatani "kami
akan segera kembali. Sebenarnya aku mempunyai pekerjaan di rumah,
mengawasi pembuatan bendungan itu. Tetapi mBok-ayu tidak dapat
menunda sesaatpun, meskipun kakang Demang sudah berjanji untuk
menjemputnya. "He-he, kenapa tergesa-gesa. Apakah kalian sudah
makan?" bertanya Ki Demang. "Terima kasih. Setiap kali aku datang
kemari, aku pasti dijamu makan" jawab Ki Reksatani. "Aku tahu, kau
senang sekali makan" Ki Reksatani tertawa dan Ki Jagabayapun turut
tertawa juga. "Tetapi, sebaiknya aku t inggal disini sebentar
kakang" potong Nyai Reksatani. Ki Reksatani mengerutkan keningnya.
Dipandanginya isterinya sejenak. Namun ketika terpandang olehnya
sorot matanya ia menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah "Baiklah.
Kalau kau akan t inggal disini, tinggallah" "Aku masih lelah. Kalau
kakang ingin pergi ke bendungan pergilah. Di rumah akupun hanya
seorang diri" "Bagaimana dengan anak-anak?" bertanya Ki Reksatani.
"Pembantu itu sudah tahu benar, bagaimana ia harus melayani
anak-anak kita" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah
kalau kakang Demang berdua t idak berkeberatan" "Tentu tidak" sahut
Ki Demang "biarlah isterimu tinggal disini. Nanti sore kau dapat
menjemputnya" "Nanti siang aku akan datang kakang. Kasihan anak-anak
yang terlalu lama menunggu ibunya" Ki Reksatanipun kemudian minta
diri dan meninggalkan rumah Kademangan. Di sepanjang jalan ia
mencoba untuk mencari kemungkinan, siapakah yang telah melakukan
pembunuhan itu. Ternyata Ki Demang sama sekali tidak tahu menahu.
"Pasti bukan orang kebanyakan" desisnya. Memang ada juga pikiran di
kepalanya, bahwa kemungkinan yang lain adalah Manguri atau ayahnya.
"Tetapi Manguri seharusnya mendukung rencana ini. Rencana untuk
memisahkan Sindangsari dari Ki Demang di Kepandak, karena dengan
demikian kemungkinannya untuk mendapatkan perempuan itu menjadi
semakin besar" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam. Teka-teki itu
adalah teka-teki yang cukup rumit. Namun akhirnya ia jatuh ke dalam
suatu kesimpulan "Aku harus mengambil jalan lain. Jalan yang pasti.
Bukan sekedar mencoba-coba seperti yang dilakukan selama ini" "Aku
akan mengambilnya. Sebentar lagi kakang Demang akan melakukan
upacara Mitoni kalau kandungan genap tujuh bulan. Agaknya peralatan
itu akan dilakukannya dalam waktu yang dekat. Dalam saat itu akan
mendapat kesempatan" berkata Ki Reksatani di dalam hatinya "tetapi
sebelum itu aku harus sudah siap. Aku harus dapat menyusun bebahu
tandingan buat Kademangan ini. Apabila keadaan memaksa, maka aku
akan siap menghadapinya. Sebagian terbesar dari rakyat Kepandak
sendiri pasti tidak akan dapat bersikap. Aku dapat memberikan alasan
apa saja untuk mengelabuhi mereka. Tetapi akan lebih baik. kalau
kakang Demang tidak tahu, bahwa akulah yang telah mengambil
isterinya. Dengan demikian tidak akan terjadi keributan apa-apa,
sementara niatku untuk menghapus keturunan Kakang Demang dapat
terlaksana" Dalam pada itu sekilas teringat pula olehnya keinginan
Manguri untuk mendapatkan Sindangsari. Tetapi bagi Ki Reksatani
melenyapkan Sindangsari adalah tujuan yang paling utama baginya,
Kepentingannya pasti berada diatas kepentingan orang lain. Kecuali
apabila ada pertimbanganpertimbangan yang saling menguntungkan.
"Bagaimana kalau Manguri itu minta lewat ibunya, supaya Sindangsari
dihidupi, tetapi disembunyikan, untuk selanjutnya
diperisterikannya?" pertanyaan itu memang tumbuh juga di hatinya.
"Tetapi itu seperti menyimpan bara di dalam sekam. Setiap kali
asapnya pasti akan tampak juga. Kecuali kalau pada suatu saat kakang
Demang sudah tidak ada" Ki Reksatani kemudian menghentakkan kakinya.
"Yang harus aku lakukan adalah menyingkirkan Sindangsari dan anaknya
dari Kademangan. Kakang Demang harus kehilangan keturunannya" Ki
Reksatanipun kemudian mempercepat langkahnya. Ia sadar bahwa ia
harus mulai sejak hari itu. Ia tidak boleh menunda-nunda waktu lagi.
Setiap saat kini akan sangat berharga baginya. Apalagi ia masih
harus berhadapan dengan orang yang tidak diketahuinya. Orang yang
telah membunuh Puranta. Bagaimanapun juga, orang itu harus
dipertimbangkannya. Setiap saat orang itu dapat dengan tibatiba saja
muncul dengan pukulan maut atasnya. "Tetapi kalau aku berhasil
menyusun kekuatan, aku t idak akan gentar menghadapi siapapun juga"
katanya di dalam hati. Dan bahkan tiba-tiba saja tumbuh suatu
pikiran "Kenapa aku tidak terang-terangan saja mengusir kalang
Demang?" "Ah" pikiran itu dibantahnya sendiri "itu terlampau kasar.
Bukan saja rakyat Kepandak yang akan menilainya, tetapi juga para
pemimpin dari Mataram. Kalau aku dapat menyiapkan alasan yang
sebaik-baiknya barulah aku dapat melakukannya" Ki Reksatani menjadi
tegang. Ia telah dihadapkan pada suatu sikap yang memerlukan banyak
sekali pertimbangan dan perhitungan. Tetapi niatnya sudah bulat,
menyingkirkan Sindangsari untuk memotong garis keturunan Ki Demang
di Kepandak. Apapun akibatnya, meskipun ia merasa perlu membuat
perhitungan-perhitungan untuk menghadapinya. Sementara itu, di
Kademangan Kepandak, Nyai Reksatani selalu berusaha untuk menuntun
setiap pembicaraan sehingga sama sekali t idak menyinggung apa yang
sudah terjadi di rumahnya, meskipun hanya sebagian kecil.
Sindangsari seolah-olah memang ingin pulang karena ia tidak dapat
pergi terlampau lama meninggalkan rumahnya. Ki Demang sama sekali
memang tidak menaruh kecurigaan apapun. Bahkan kemudian seperti
biasanya, ia pergi memutari beberapa padukuhan bersama Ki Jagabaya.
Dalam kesempatan itulah Nyai Reksatani dapat memberikan banyak
sekali petunjuk-petunjuk, bagaimana ia harus membohongi suaminya.
Sejak hari itu, maka Ki Reksatani sudah mulai dengan usahanya
mencari pengikut. Banyak sekali masalah yang dipergunakannya untuk
mendapatkan dukungan. Terutama kelemahan Ki Demang sudah enam kali
kawin itu, terletak pada kesewenang-wenangannya mendapatkan isteri.
Selain itu Ki Reksatani dapat menceritakan apa saja yang dapat
menumbuhkan ketidak senangan dan ketidak puasan rakyat kepada Ki
Demang di Kepandak. Tetapi lebih daripada itu, ia masih selalu
berusaha menemukan orang yang telah membunuh Puranta dan mencari
kesempatan menyingkirkan Sindangsari. Tetapi pada suatu saat, Ki
Reksatani tidak lagi dapat menghindarkan dirinya dari sebuah
pembicaraan yang langsung menyangkut Sindangsari. Selama ini
ternyata bukan saja Ki Reksatani yang selalu dirisaukan oleh
Sindangsari. Setiap kali Manguripun selalu memikirkannya. Ketika
pada suatu saat Lamat berkata kepadanya bahwa Puranta gagal
melakukan peranannya untuk meruntuhkan keteguhan hati Sindangsari.
Manguri selalu berusaha untuk menemukan jalan, bagaimana ia
mendapatkan perempuan itu. "Kenapa kau bunuh anak itu?" bertanya
Manguri. "Aku sama sekali tidak sengaja" jawab Lamat. "Kalau orang
yang menyuruhnya mengetahui, maka kau akan diancamnya" "Tidak
seorangpun yang mengetahuinya kecuali kau" "Bagaimana kalau aku
mengatakan hal itu kepadanya. Kepada orang yang menyuruh Puranta
datang ke rumah itu?" Lamat memandang Manguri dengan wajah yang
aneh. Tetapi sejenak kemudian wajah itu sudah menjadi tenang
kembali. "Bagaimana?" desak Manguri. "Aku mungkin akan dibunuhnya
juga" "Tentu. Jadi bagaimana?" "Aku tidak berkeberatan" "Gila kau.
Kau memang gila. Kau adalah seorang raksasa tetapi raksasa yang
pengecut" Lamat t idak menyahut. "Apakah kau tidak akan melawan?"
Lamat tidak menyahut. Ia tidak mengerti apa yang harus dikatakannya,
karena ia tidak mengerti maksud Manguri yang sebenarnya. Tetapi
Manguri tidak bertanya lagi kepadanya. Bahkan dia sekedar berkata
kepada diri sendiri "Aku harus berkata kepadanya, bahwa akulah yang
akan memiliki Sindangsari. Bukan orang lain. Dan bukan untuk
dimusnahkan" Lamat masih tetap berdiam diri. Ia tidak merasa wajib
untuk menjawabnya. Demikianlah Manguri telah datang lagi kepada
ibunya. Tetapi ia tidak mengatakan apa yang telah terjadi dengan
lakilaki yang telah mencoba untuk memisahkan Sindangsari dengan Ki
Demang di Kepandak. Meskipun usaha itu nampaknya paling aman
dilakukan, tetapi perasaan cemburunya yang meluap-luap telah
menolaknya, sehingga akibatnya justru lebih jauh dari yang
diharapkannya, Puranta telah mati. Tetapi kematian itu tetap
dirahasiakannya. "Ibu" berkata Manguri kepada ibunya "dalam
kesempatan serupa ini, selagi ayah pergi untuk beberapa hari,
biasanya laki-laki itu datang. Kalau ia t idak datang, maka ibulah
yang memanggilnya" "Manguri, kau selalu menyakiti hati ibu" "Kali
ini aku sama sekali tidak bermaksud begitu ibu. Tetapi sebagai
seorang anak, aku merengek di hadapan ibu" "Apalagi Manguri. Usaha
itu sudah dilakukannya" "Tetapi ibu dapat menanyakannya kepadanya,
apakah usahanya yang terakhir ini dapat berhasil" "Aku yakin, bahwa
ia akan berhasil Manguri" "Bertanyalah kepadanya ibu,. Kalau
berhasil, bersukurlah kita semua. Kalau tidak, apakah ibu tidak
berkeberatan kalau aku berbicara kepadanya" "Manguri, itu sama
sekali tidak bijaksana" "Aku tidak menghiraukan siapa laki-laki itu,
dari apa. hubungannya dengan ibu. Tetapi laki-laki itu dapat "ku
bawa berbicara tentang Sindangsari. Itulah yang penting. Ibu jangan
mempergunakannya sebagai alasan. Marilah kita jujur di dalam
kegelapan ini. Kalau ibu ingin melanjutkan, lanjutkanlah. Dan
biarlah ayah juga memilih jalannya sendiri. Tetapi sebaiknya ibu
juga memberi kesempatan aku mencari jalanku" Ibunya tidak menjawab.
Tetapi kepalanya menjadi tertunduk dalam. "Ibu, beri aku kesempatan
untuk mempersoalkannya" Ibunya tidak segera menjawab. "Aku mengharap
bahwa dengan demikian persoalan ini akan segera selesai" Ibunya
masih belum menjawab. Kepahitan yang dalam telah menerkam hatinya.
Tetapi semuanya itu memang sudah terjadi. Dan Manguri kini bukan
lagi anak-anak yang setiap kali dapat dikelabuhinya. Manguri sudah
mengetahui betapa kadang-kadang kesepian mencengkam, sehingga ia
tidak lagi dapat mengatakan kepada anak itu seperti pertama tama ia
melakukannya. "Laki laki itu seorang yang baik Manguri. Aku
memerlukannya di saat-saat tertentu, meskipun ayahmu tidak
menghendakinya. Karena itu, jangan kau katakan kepada ayah, supaya
ayah tidak menjadi sangat marah" "Bagiku. Aku tidak akan
mempersoalkan masalah-masalah lain yang tidak aku mengerti. Aku
tidak akan meributkan lagi hubungannya dengan ibu yang sudah terjadi
bertahun-tahun. Dan bukankah selama ini akupun tidak pernah
mempersoalkannya dan apalagi mengatakannya kepada ayah? Bahkan
mungkin ayahpun sudah mengetahuinya. Tetapi karena kedudukan ayahpun
lemah di dalam soal keluarga ini, maka ia t idak akan mengambil
suatu sikap apapun" "Jangan berkata begitu Manguri. Kau membuat
hatiku pedih. Sudah berapa kali aku katakan kepadamu, bahwa aku akan
menghentikan permainan ini. Tetapi ketika aku hampir berhasil,
datanglah persoalanmu dengan perempuan itu sehingga aku masih harus
memperpanjang hubungan itu" Manguri yang saat itu masih terlampau
muda memang tidak mengatakannya kepada ayahnya karena ibunya memberi
uang. Tetapi semakin dewasa anak itu, maka hati ibunyapun menjadi
semakin sakit dibuatnya. Tetapi iapun tidak pernah berhasil berusaha
untuk memutuskan hubungan itu. Ada sesuatu yang serasa telah
mengikatnya erat-erat. Dan kini tuntutan Manguri memang terasa
terlampau berat. Bertemu langsung dengan orang itu. Bagaimanapun
juga ibu Manguri merasa cemas, bahwa keduanya tidak akan dapat
menyesuaikan diri. Ada kepentingan yang sama dari keduanya atas
dirinya. Keduanya merasa berhak menentukan suatu sikap atasnya.
Manguri sebagai anaknya, dan laki-laki itu yang selama ini selalu
mengisi kekosongan hatinya di saat-saat suaminya pergi untuk waktu
yang lama. "Percayalah ibu" berkata Manguri kemudian "Aku sudah
cukup dewasa menghadapi persoalan ini" "Manguri" berkata ibunya
kemudian "permintaanmu itu memang terlampau berat. Tetapi baiklah
aku akan mengatakan kepadanya. Mungkin ia mempunyai cara yang lain
yang lebih baik dari pembicaraan itu. Apalagi kalau usahanya
memisahkan perempuan itu dari Ki Demang sudah berhasil, maka jalan
pasti akan terbuka bagimu" "Terima kasih" berkata Manguri "Aku akan
sangat berterima kasih kalau usaha itu berhasil. Tetapi kalau tidak,
sudah aku katakan, aku ingin bertemu langsung dan membicarakannya"
Ibunya kembali terdiam sambil menundukkan kepalanya. Manguripun
kemudian meninggalkan ibunya yang muram, dengan rencananya sendiri
di kepalanya. Dalam pada itu, meskipun Ki Reksatani sudah
mempersiapkan beberapa orang pengikut yang apabila diperlukan sudah
siap membantunya, dengan memberi harapan dan janji-janji kepada
mereka, namun Ki Reksatani sendiri masih mempunyai harapan untuk
mengambil Sindangsari dengan diam-diam, tanpa menumbuhkan keributan.
Setelah ia yakin bahwa pembunuh Puranta itu bukan Ki Demang, maka
jalan yang paling aman itu masih akan dicobanya. "Saat yang paling
tepat adalah apabila kakang Demang, membuat peralatan di bulan ke
tujuh dari kandungan perempuan itu" berkata Ki Reksatani di dalam
hatinya "ia dapat menyiapkan beberapa orang yang harus membawa
Sindangsari pergi. Ia sendiri dan isterinya akan mencari jalan untuk
membawa Sindangsari menjauhi suaminya dan orangorang yang sedang
sibuk dalam peralatan itu. Ki Reksatani mengangguk anggukkan
kepalanya. Sudah terbayang di kepalanya, bagaimana isterinya membawa
perempuan itu ke halaman belakang yang sepi. Sebelum Sindangsari
sadar, maka ia harus dipukul sampai pingsan. Sementara orang-orang
yang sudah disiapkan, harus membawanya pergi dan melarikannya diatas
punggung kuda yang harus siap agak jauh dari rumah itu. "Tentu tidak
seorangpun yang akan segera mengetahui bahwa Nyai Demang telah
hilang, karena kesibukan di dalam rumah kakang Demang desis Ki
Reksatani itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian
ia mengumpat tidak habis habisnya, karena ia masih belum berhasil
menemukan pembunuh Puranta. "Persetan dengan pembunuh yang licik
itu" geram Ki Reksatani "Ki Demang akan menyadari keadaan isterinya
setelah perempuan itu tidak bernyawa lagi dan dikubur di tempat yang
tidak akan mungkin ditemukan orang" Dengan demikian semakin dekat
bulan ke tujuh dari kandungan Sindangsari, maka Ki Reksatani menjadi
semakin sibuk. Ia harus mempersiapkan rencananya dengan cermat.
Bahkan iapun harus memperhitungkan apabila rencananya itu gagal. Ia
harus siap dengan kekuatan yang akan dapat setidak-tidaknya menyamai
kekuatan bebahu di Kepandak. Sementara itu, Ki Reksatani sendiri
memang sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi Ki Demang di
Kepandak. Keduanya adalah saudara sekandung dan saudara seperguruan.
Ki Demang yang lebih tua mempunyai pengalaman yang lebih banyak,
tetapi Ki Reksatani yang lebih muda memiliki kekuatan badani yang
lebih besar dari kakaknya. Umurnya yang masih lebih mudapun
mempengaruhi kemauan mereka dalam mendalami ilmu masing-masing.
Sehingga dengan demikian Ki Reksatani merasa bahwa apabila ia
dihadapkan pada suatu keharusan untuk bertempur melawan Ki Demang,
ia masih mempunyai harapan untuk dapat keluar dari pertarungan itu
hidup-hidup. Namun, sebelum semuanya itu terjadi, sebelum genap
tujuh bulan kandungan Sindangsari, Kepandak telah digetarkan oleh
berita yang datang dari Mataram bahwa pasukan Mataram yang pergi ke
ujung Barat kota yang telah dijamah oleh orang-orang asing itu,
terpaksa ditarik kembali. Sinuhun Sultan Agung memutuskan, bahwa
kali ini niatnya untuk mengusir orang bule itu belum dapat
dilanjutkannya, karena berbagai macam sebab. Salah satu dari alasan
penundaan serangan itu adalah karena penghianatan Lumbung-lumbung
padi Persediaan makan bagi para prajurit Mataram telah terbakar.
Agaknya ada beberapa orang yang sengaja menjual rahasia persiapan
Sinuhun Sultan Agung itu kepada Belanda. Dengan demikian maka
pasukan Mataram yang terdiri dari segenap kekuatan rakyat yang
tinggal di daerah pedalaman dan daerah pantai, kali ini telah gagal
lagi. Tetapi kegagalan ini sama sekali tidak memadamkan api
kebebasan yang menyala di setiap dada rakyat Mataram. Agaknya
Sinuhun Sultan Agung telah membuat perhitungan yang sebaik-baiknya.
Kalau serangan atas kota Betawi itu dilanjutkan, maka korban akan
berjatuhan. Persediaan makan dan perlengkapan tidak memadai, dan
penyakit yang sudah mulai berjangkit dikalangan prajurit Mataram.
Terutama disebabkan karena kekurangan makan. Karena itu, maka untuk
menyelamatkan jiwa para prajuritnya, sedang hasil yang dicapai masih
belum dapat dipastikan, Sinuhun Sultan Agung mengambil
kebijaksanaan, bahwa pasukannya ditarik dari medan. Berita penarikan
pasukan Mataram itu telah menumbuhkan berbagai tanggapan. Bukan saja
rakyat Kepandak, tetapi rakyat Mataram seluruhnya, terutama mereka
yang melepaskan keluarganya pergi beberapa bulan yang lalu.
"Penyakit yang ganas telah menyerang prajurit Mataram yang
kekurangan makan karena penghianatan itu" berkata salah seorang yang
mendengar dari kawan-kawannya yang datang dari kota untuk
mendapatkan kebenaran berita itu. "Apakah dengan demikian banyak
korban yang jatuh karena penyakit itu?" bertanya yang lain. "Kami
belum tahu. Tetapi kami merasa cemas bahwa hal itu telah terjadi"
Dengan demikian, maka orang Kepandak dan padukuhanpadukuhan lain,
hanya dapat menunggu sampai pasukan itu datang. Apakah yang
sebenarnya telah terjadi dengan mereka. Beberapa orang utusan yang
mendahului serta para penghubung yang hilir mudik menghubungkan
pasukan itu dengan pusat pemerintahan di Mataram, sama sekali tidak
mau memberikan keterangan kepada siapapun juga, sehingga gambaran
yang sebenarnya dari pasukan yang ditarik kembali itu sangat gelap.
Orang-orang Kepandak yang telah melepaskan anak-anak mereka,
suami-suami muda mereka dan bahkan kekasih mereka, menanti dengan
jantung yang berdebaran. Kapan pasukan itu datang dan kapan mereka
mendengar nasib keluarga mereka masing-masing. Berbeda dengan
kepentingan para keluarga yang dengan harap harap cemas menunggu
pasukan itu, datang, ternyata Ki Reksatanipun menjadi gelisah, Di
dalam pasukan itu terdapat seorang anak muda yang bernama Pamot.
Meskipun Pamot kini sama sekali tidak lagi bersangkut paut dengan
Sindangsari, tetapi nama itu membuat hati Ki Reksatani menjadi
semakin kisruh. Kadang kadang ia menjadi heran, kenapa ia harus
mempersoalkan Pamot. Sindangsari adalah isteri Ki Demang. Sama
sekali tidak ada masalah dengan Pamot. "Adalah suatu kemungkinan,
bahwa Pamot telah mati di tengah perjalanan, diterkam oleh penyakit
yang ganas itu" Ki Reksatani mencoba menenteramkan hatinya sendiri.
Tetapi ia tidak berhasil. Setiap kali nama Pamot itu selalu
mengganggunya. Selain Ki Reksatani, maka Pamot memang menimbulkan
persoalan persoalan pula pada Ki Demang di Kepandak, pada
Sindangsari yang sudah mendengar pula tentang pasukan yang ditarik
itu, dan bagi Manguri yang sedang berusaha untuk merebut Sindangsari
dengan cara apapun juga. Karena itu, maka merekapun. tidak luput
dari kegelisahan yang setiap hari menjadi semakin memuncak. Mereka
sama sekali tidak digelisahkan oleh kemungkinan yang kurang baik
yang menimpa Pamot, tetapi mereka justru digelisahkan oleh kehadiran
anak itu kembali di Kademangan Kepandak. Dengan demikian, maka Ki
Reksatanipun segera mengambil sikap. Rencananya harus segera
terlaksana sebelum ada persoalan baru apabila Pamot sudah ada di
Gemulung. "Perempuan itu harus segera disingkirkan" geram Ki
Reksatani yang duduk bersama isterinya di rumahnya. "Apakah tidak
ada kemungkinan lain kakang" berkata isterinya. "Kemungkinan lain,
rencana kita gagal mutlak. Dan aku tidak mau, Aku sudah terlanjur
sampai disini. Karena itu aku harus berjalan terus" Nyai Reksatani
merasa, bahwa ia tidak akan dapat mencegah lagi. Ia tahu, seperti Ki
Demang di Kepandak, suaminya adalah orang yang keras hati. Apabilaia
sudah mempunyai niat, maka niat itu akan dicapainya dengan cara
apapun juga. Tetapi dalam pada itu. Manguripun sudah mempunyai
keputusan tersendiri. Kini ia datang kepada ibunya membawa keputusan
itu. "Ibu, rencana yang semula itu pasti sudah gagal. Ternyata
sampai saat ini tidak ada kelanjutannya apapun. Sindangsari sama
sekali tidak dicerai oleh suaminya karena perbuatan sedengnya"
Ibunya tidak menyahut. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya saja.
"Nah, bukankah ibu sudah tahu?" "Ya" "Sekarang, aku harus
menemuinya. Kapan saja ia dapat menerima. Secepat-cepatnya" "Aku
tidak dapat mengatakannya Manguri" "Aku masih mempunyai kesempatan.
Ayah baru akan kembali kira-kira tiga hari lagi. Tetapi seperti
biasanya, kedatangan ayah pasti akan tertunda. Apalagi kalau disuatu
tempat ayah menemukan perawan yang cantik" "Manguri" potong ibunya.
"Sudahlah. Jangan dipersoalkan lagi kata-kataku itu ibu. Sekarang,
aku harus menemuinya. Kalau tidak, aku akan mengambil tindakan
sendiri, sesuai dengan rencanaku. Aku tidak peduli apakah rencanaku
itu bertentangan dengan rencananya" "Jangan tergesa-gesa Manguri.
Kau tidak berhadapan dengan orang kebanyakan. Kalau kau terlibat
dalam suatu tindak kekerasan,akibatnya tidak akan menguntungkan"
"Karena orang itu memiliki kemampuan yang tidak terhingga?"
"Sebagian karena itu, meskipun bukan tidak terhingga, tetapi ia
adalah seseorang yang sukar dicari tandingnya di Kepandak" "Mungkin
ibu, tetapi aku tidak akan gentar. Betapapun dungunya, tetapi Lamat
adalah orang yang luar biasa. Alam telah membekalinya dengan
kemampuan yang hampir tidak terbatas. Ia kuat seperti singa, tetapi
bodoh seperti keledai. Justru karena itu, ia adalah orang yang
sangat berbahaya bagi orang-orang yang tidak aku senangi" Wajah
ibunya menjadi tegang mendengar kata-kata Manguri itu. Ia mengerti,
bahwa Lamat memang orang yang luar biasa seperti yang selalu
dikatakan oleh ayah Manguri. Tidak seorangpun yang mengetahui, kapan
dan dari mana ia berguru. Tetapi agaknya alam memang telah
membekalinya. "Nah, terserah kepada ibu" berkata Manguri kemudian.
"Apa yang kau maksudkan?" "Aku tidak yakin bahwa laki-laki itu dapat
mengalahkan Lamat" "O" ibunya menjadi semakin bingung. Dengan
gemetar ia menjawab "Berilah aku kesempatan untuk
mempertimbangkannya Manguri" "Waktunya sudah terlampau sempit ibu.
Sebentar lagi anak-anak yang mengikuti pasukan Mataram ke Betawi itu
akan pulang. Pasti tidak semua dari mereka terbunuh. Kalau diantara
mereka terdapat Pamot yang masih hidup, maka persoalannya akan
menjadi bertambah rumit. Mungkin Pamot tidak akan berbuat apa-apa
selagi Sindangsari masih tetap menjadi isteri Ki Demang. Tetapi
kalau terjadi sesuatu perubahan keadaan, misalnya Sindangsari
dicerai, atau keadaan yang lain, maka Pamot pasti akan ikut berbuat
sesuatu. Bahkan mungkin ia merasa orang yang paling berhak atas
Sindangsari sesudah Ki Demang di Kepandak" Ibunya menarik nafas
dalam-dalam. Desisnya "Kau memang aneh Manguri. Kau dapat mencari
gadis berapapun kau kehendaki. Kenapa kau begitu bernafsu atas
seseorang yang sudah bersuami, dan bahkan sudah mengandung?" Jangan
bertanya begitu ibu, nanti aku bertanya pula kepada ibu, kenapa ibu
begitu gairah atas laki-laki itu. sedang ibu sudah bersuami dan
laki-laki itupun sudah beristeri dan beranak beberapa orang"
"Manguri" potong ibunya. "Baiklah aku tidak mengatakannya lebih
panjang. Tetapi usahakan hubungan itu" Ternyata ibu Manguri tidak
dapat menolak lagi. Anaknya terlampau banyak mengetahui
persoalannya, sehingga apabila ia menolak, mungkin akan terjadi
sesuatu yang tidak dikehendakinya. Meskipun ayah Manguri menyadari
kekurangannya apabila ia harus berhadapan dengan laki-laki itu,
tetapi Lamat adalah orang yang berbahaya. Lamat adalah kekuatan yang
ditabiri oleh suatu rahasia. Tidak seorangpun tahu pasti, betapa
besar kemampuannya. Demikianlah, maka ibu Manguri harus mengatakan
kepada laki-laki itu, bahwa Manguri ingin menemuinya dan
membicarakannya tentang Sindangsari. "Tidak ada yang dapat
dibicarakan" jawab laki-laki itu "aku sudah memutuskan untuk
membunuhnya" "Jangan begitu" jawab ibu Manguri "mungkin ada jalan
dan cara yang dapat ditempuh" "Aku tidak melihatnya lagi. Aku sudah
kehabisan akal" lakilaki itu berhenti sejenak "sudahlah. Disini kita
tidak usah membicarakan perempuan itu. Aku sudah jemu berbicara. Aku
datang untuk mengendorkan ketegangan yang mencengkam hatiku selama
ini. Bersikaplah seperti biasa. Jangan berwajah muram seperti itu.
Kita masing-masing sudah menempuh jalan ini. Sudah tentu kita tidak
akan melibatkan diri dalam persoalan-persoalan yang mendalam seperti
sepasang suami isteri. Kita sekedar berbicara tentang diri kita
sendiri, tentang saat-saat yang hanya dapat kita hayati beberapa
kejap, sebelum kita akan terjun kembali ke dalam kenyataan hidup
kita masing-masing. Kita sudah membuat hubungan ini sebagai suatu
pelarian dari keadaan kita yang sebenarnya. Karena itu, janganlah
kita mempersoalkan masalah-masalah yang dapat mengerutkan saat-saat
yang pendek ini" Ibu Manguri menjadi termangu-mangu. Tetapi setiap
kali terngiang kata-kata Manguri, bahkan sebuah ancaman, bahwa ia
akan bertindak sendiri bersama Lamat. "Mungkin Manguri akan lari ke
ayahnya" berkata ibunya itu di dalam hati "kalau ayahnya dapat
memberinya peluang dan kesempatan lebih besar dari aku, maka ia
pasti tidak akan memerlukan aku lagi" Karena itu iapun berkata
"Sebenarnyalah demikian. Saatsaat kita lari dari kehidupan kita
sehari-hari, tidak sepantasnya kita kotori dengan
kesulitan-kesulitan yang ingin kita lupakan sejenak. Tetapi kali ini
aku tidak mampu melepaskan diri dari kehidupan serupa itu. Kapanpun.
Juga sekarang" Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Katanya
"Pertemuan kita akan kehilangan arti bagi kita. Aku lari dari
ketegangan, disini aku bertemu dengan ketegangan-ketegangan baru"
"Penuhi permintaannya. Untuk seterusnya, aku tidak akan mengganggumu
lagi. Kita akan bersama-sama mempergunakan setiap kesempatan sebagai
suatu wadah pelarian kita sebaik-baiknya. Tetapi apabila masalah ini
masih belum dapat diselesaikan, maka hatiku akan tetap dipengaruhi
olehnya. Oleh masalah ini" Laki-laki itu menjadi tegang sejenak.
Katanya "Bukan kewajibanku untuk mengurusi anak itu. Ia mempunyai
ayah yang lebih berhak mendengar pengaduannya" "Bukan soal berhak
atau tidak berhak. Tetapi anak itu melihat bahwa kau mempunyai
kesempatan apabila kau menghendakinya" Akhirnya laki-laki itu
menganggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah. Aku memberikan waktuku
sekarang. Hanya sekarang.Besok, lusa dan seterusnya tidak. Aku
datang untuk menemui kau. Tidak untuk yang lain-lain" "Terima kasih"
berkata ibu Manguri "Anak itu akan aku panggil saja ke dalam bilik
ini. Kau tidak boleh keluar dari bilik khusus ini supaya tidak ada
orang lain yang mengetahui, bahwa kau ada disini" "Anakmu?" "Ia
sudah mengetahui sejak lama. Bukankah sudah aku katakan?" Laki-laki
itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ternyata anakmu baik
juga terhadapmu. Apakah ia tidak akan mengatakan kepada ayahnya pada
suatu saat?" "Sampai saat ini tidak, asal ia tidak terlalu aku
kecewakan. Karena itulah aku t idak dapat mengkesampingkan
permintaannya kali ini" Laki-laki itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tetapi ia berkata "Anak itu harus tahu, bahwa aku telah
mengambil keputusan. Aku hanya akan memberitahukan keputusan itu,
tidak untuk membicarakannya. "Tentu untuk membicarakannya. Kalau di
dalam pembicaraan itu ditemukan sesuatu kesimpulan yang dapat
memenuhi kepentingan bersama, bukankah itu lebih baik?" Laki-laki
itu mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia berdesis "Aku t idak
melihat kemungkinan itu. Tetapi baiklah, Bawa anak itu kemari" Ibu!
Manguri itupun kemudian keluar dari biliknya, untuk menuju ke ruang
dalam mencari Manguri. Tetapi begitu ia melangkahi pintu tengah, ia
terkejut. Ternyata Manguri sudah berdiri bersandar uger-uger. "Aku
tahu, laki-laki itu sudah datang" desis Manguri. Ibunya mengusap
dadanya yang menjadi berdebar-debar. "Jantungku hampir berhenti
berdetak. Kau mengejutkan aku Manguri" "Aku memang sudah menunggu
disini. Aku sudah berketetapan hati, kalau laki-laki itu menolak
menemui aku, ia tidak akan dapat keluar dari rumah ini" "Manguri,
apa yang akan kau lakukan?" "Lamat sudah siap untuk menangkapnya. Ia
akan menjadi pangewan-ewan" "Gila. Apakah kau sudah gila? Apakah kau
tidak menyadari, bahwa dengan demikian ibumu akan dihinakan juga di
hadapan orang-orang Gemulung?" "Aku akan mencoba memfitnahnya. Aku
dapat berkata, bahwa ia memasuki halaman rumah kami untuk keperluan
apapun, yang barangkali tidak menyangkut nama ibu" "Itu tidak
mungkin. Orang itu bukan orang bisu" "Lamat dapat membuatnya bisu"
"O, kau benar-benar telah menyiksa hati ibumu" "Tidak. Bukan ibu"
Manguri tersenyum. Tetapi senyumnya seperti senyum iblis yang
melihat sesosok mayat baru "Sudahlah ibu. Jangan risau. Aku t idak
akan mencemarkan nama ibu" Ibunya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia
tidak dapat berbuat lain kecuali membawa Manguri itu kepada
laki-laki yang sudah menunggunya di dalam biliknya. Beberapa langkah
di depan pintu Manguri masih berdesis "Lamat ada di luar dinding
ini. Pintu rahasia ibu itu sudah diketahuinya" "Aku tidak membuat
pintu rahasia Manguri. Pintu itu sudah ada sejak rumah ini dibuat.
"Maksudku, pintu yang dipergunakan oleh laki-laki itu" "Sudahlah.
Sekarang temui laki-laki itu. Tetapi kenapa kau membawa Lamat pula.
Ia akan mengetahui rahasia ini, dan itu berbahaya" "Ah, ibu. Lamat
mengetahui sejak lama. Lama sekali. Ia adalah seseorang yang
memiliki kemampuan di luar dugaan. Ia melihat apa yang tidak kita
lihat, dan ia mendengar apa yang tidak kita dengar. Sayang otaknya
kurang baik untuk mencernakan apa yang dilihat dan didengarnya"
Ibunya menjadi tegang. "Tetapi ada juga baiknya ia berotak tumpul,
sehingga ia tidak dapat membedakan, mana yang baik dan yang buruk.
Kalau ia mampu membedakannya, maka raksasa bodoh itu akan bersikap
lain terhadap keluarga ini, karena ia akan mampu menilai, betapa
kelamnya hati kami seisi rumah ini. Tetapi itu pula agaknya
kelebihan kita. Meskipun kita mengetahui bahwa langkah kita sesat,
kita tetap berjalan lurus" "Manguri" desis ibunya "bukankah kau
ingin menemuinya? Jangan mengatakan tentang yang lain. Bicarakan apa
yang akan kau bicarakan" "Baik ibu. Apakah aku harus juga masuk ke
dalam bilik ibu?" Ibunya mengangguk. "Apakah kita tidak bicara saja
di luar?" Ibunya menggeleng "Tidak Manguri" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya. aku tahu. Orang itu
orang asing yang diliputi oleh kabut rahasia di rumah ini" "Manguri"
Manguri tidak menjawab. Tetapi ia hanya tersenyumsaja. Sejenak
ibunya memandangi senyum aneh yang terbayang di bibir Manguri. Namun
kemudian ia berkata "Manguri aku minta kepadamu sebagai seorang ibu.
Jagalah pembicaraan ini baik-baik. Kalau terjadi sesuatu, aku,
ibumu, akan ikut tercemar pula karenanya" "Jangan takut. Aku akan
menjaga nama baik ibu dan seluruh keluargaku. Aku sudah terlatih
untuk mengelabui mata orang-orang di sekitar kita" "Mengelabui? Apa
maksudmu Manguri?" "Maksudku, aku dapat menjaga bahwa nama yang
sebenarnya memang sudah tidak baik ini, akan tetap menjadi
seolah-olah baik" "O, kata-katamu benar-benar telah menyayat hatiku"
Ibunya menundukkan wajahnya. Sejenak kemudian terdengar suara
perempuan itu parau "Aku memang harus menerima akibat yang pahit ini
karena perbuatanku" "Jangan ibu salah tangkap. Bukan maksudku. Bukan
maksudku "Manguri maju selangkah mendekati ibunya. Lalu "Sudahlah
ibu, dimana laki-laki itu" Ibunya mengusap matanya. Jawabnya "Di
dalam bilik itu. Marilah kita masuk" Ibunya kemudian melangkah maju
mendekati pintu. Hatinya terasa menjadi semakin berdebar-debar
seperti juga hati Manguri. Tetapi ia sudah bertekad untuk
menemuinya. Menemui laki-laki itu. Ketika tangan ibunya
perlahan-lahan mendorong daun pintu, terasa bahwa tangan itu menjadi
gemetar. Sekali perempuan itu berpaling. Dilihatnya Manguri, anak
laki-lakinya itu, berdiri tegak dengan tegangnya memandangi lubang
pintu yang semakin lama menjadi semakin luas. Ketika pintu itu sudah
terbuka lebar, Manguri menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia
ingin mengendapkan perasaannya yang bergolak. Kini barulah disadari,
bahwa hatinya terguncang juga melihat laki-laki yang duduk diatas
pembaringan ibunya. Sudah lama ia mengetahui, seorang lakilaki yang
sering memasuki bilik itu. Tetapi baru kali inilah ia melihatnya.
Melihat seorang laki-laki lain yang duduk dipembarihgan ayah ibunya.
Tetapi kini, yang duduk disitu itu sama sekali bukan ayahnya,
meskipun ia seorang laki-laki juga. "Masuklah Manguri" desis ibunya.
Darah Manguri serasa menjadi semakin cepat mengalir ketika ia
memasuki bilik itu. Di bawah cahaya lampu yang kemerah-merahan,
tampak wajahnya menjadi semakin merah. Dengan tegangnya ditatapnya
laki-laki yang berwajah keras itu. Laki-laki yang bertubuh tegap,
bermata tajam. Dan lakilaki itu dikenalnya bernama Ki Reksatani Ia
sudah sering melihat laki-laki itu. Ia sering bertemu di simpang
jalan, di bulak dan kadang-kadang di pasar ternak. Tetapi ketika ia
melihat laki-laki itu duduk di amben orang tuanya, dadanya masih
juga terguncang-guncang. "Marilah Manguri. Duduklah" berkata Ki
Reksatani itu. Manguri masih tetap berdiri di depan pintu. Ketika
ibunya kemudian menutup pintu itu, ia sama sekali tidak bergeser
dari tempatnya. "Duduklah" berkata laki-laki itu pula. "Akulah yang
harus mempersilahkan kau. Bukan kau mempersilahkan aku" geram
Manguri. "Rumah ini rumahku" berkata Manguri seterusnya "kaulah tamu
di rumah ini, meskipun di dalam bilik ibuku sekalipun" "Manguri.
Sudah aku katakan. Kau jangan berbuat gila. Bukankah kau bermaksud
berbicara tentang Sindangsari?" potong ibunya. Manguri terdiam
sejenak. Namun kemudian ia mengangguk kecil. Jawabnya "Ya. Aku akan
berbicara tentang Sindangsari" Ternyata Ki Reksatani masih dapat
mengendalikan dirinya. Ia masih tetap sareh. Katanya "Baiklah.
Biarlah ibumu yang mempersilahkan kau duduk" Manguripun kemudian
menarik sebuah dingklik kayu di sudut ruangan. Sambil menyodorkan
dingklik itu kepada Ki Reksatani ia berkata "Silahkan kau duduk
disini. Biarlah aku yang duduk di pembaringan. Wajah Ki Reksatani
menegang sejenak. Namun iapun kemudian berdiri dan meletakkan
dirinya diatas dingklik kayu itu sambil berkata "Baiklah, aku akan
duduk disini. Agaknya kau masih belum rela melihat seorang laki-laki
yang bukan ayahmu duduk di pembaringan ibumu" "Ya" sahut Manguri.
"Baiklah. Aku mengerti" Ki Reksatani diam sejenak, lalu "supaya kita
tidak terseret oleh arus perasaan kita masingmasing, marilah kita
segera mulai dengan persoalan yang sebenarnya akan kita bicarakan"
Manguri yang kemudian duduk di pinggir pembaringan ibunya
mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar ibunya berkata "Itu agaknya
yang paling baik kita lakukan sekarang. Nah, bagaimana dengan
Sindangsari yang kini sudah mengandung, dan bahkan beberapa hari
lagi akan dilakukan upacara genap tujuh bulan dari kandungannya itu"
Manguri tidak segera menyahut. Ditatapnya saja wajah lakilaki yang
masih juga berbicara apapun tentang Sindangsari itu. "Kenapa kalian
berdiam diri? Bukankah kalian akan membicarakan perempuan itu?"
"Baiklah. Akulah yang akan berbicara. Aku sudah mengambil keputusan
untuk menyingkirkan perempuan itu" "Apa yang akan kau lakukan
atasnya, sesudah ia tersingkir dari Ki Demang di Kepandak?" bertanya
Manguri. "Aku tidak menghendaki anak laki-laki itu lahir. Juga aku
tidak menghendaki ibunya hidup, agar ia tidak dapat mengatakan
apapun juga tentang dirinya" "Tidak. Perempuan itu harus tetap
hidup" "Kau menghendakinya?" "Ya" "Tidak akan ada gunanya. Kalau ia
masih hidup, ia akan tetap berada di Kademangan" "Tentu tidak. Ia
akan menjadi isteriku" "Aku sudah mencoba memisahkannya dengan suatu
cara. Tetapi aku tidak berhasil. Karena itu, bagiku, tidak ada cara
yang lain, kecuali membinasakannya" "Kepentinganmu bertentangan
dengan kepentinganku. Kalau kau dapat mengerti, biarlah perempuan
itu disingkirkan dari Ki Demang di Kepandak tetapi ia tidak perlu
mati. Ia akan menjadi isteriku. Dan bukankah dengan demikian ia
sudah tersingkir juga dari Kademangan dan ia tidak akan memberi
keturunan lagi kepada Ki Demang?" "Apakah kau sangka, Ki Demang
tidak akan mengambilnya daripadamu dan membunuhmu?" "Bodoh sekali.
Apakah aku begitu gila, datang kepada Ki Demang dan mengambil
Sindangsari di siang hari di depan hidungnya pula?" "Maksudmu, kau
akan menculiknya?" "Kalau kau sependapat, kita bersama-sama
melakukannya. Kau adalah orang yang dekat dengan Ki Demang
sepengetahuan kami. Kau dapat membantu aku memberi kesempatan untuk
mengambil Sindangsari tanpa diketahui oleh siapapun. Aku akan
menyembunyikannya dan kalau perlu membawanya jauh sekali dari
Kepandak" Ki Reksatani merenungi kata-kata Manguri itu. Sebenarnya,
cara itu hampir bersamaan dengan cara yang sudah direncanakannya.
Tetapi kalau Sindangsari itu masih tetap hidup, dan anak yang ada di
dalam kandungan itu kelak lahir, apakah pada suatu saat tidak akan
timbul lagi suatu persoalan diantara mereka. Karena Ki Reksatani
tidak segera menjawab, maka Manguri berkata "Jadi, pokok dari
persoalanku adalah, Sindangsari harus tetap hidup" Ki Reksatani
menarik nafas dalam-dalam. "Hal itu berbahaya bagiku. Kau tidak akan
dapat menyembunyikan perempuan itu untuk seumur hidupnya" "Kenapa
tidak?" "Dan anak itu kelak pasti akan mengetahui, bahwa Kademangan
ini seharusnya berada di tangannya" "Aku tidak akan berbicara
tentang anak itu. Terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan atas
bayi yang kelak akan lahir. Bayi itu bagiku tidak akan ada gunanya.
Ia hanya akan mengganggu ketenangan rumah tanggaku saja. Sebab aku
yakin, bahwa pada suatu saat Sindangsari akan dapat menerima
kenyataan, seperti sekarang ia menjadi isteri Ki Demang. Ia tidak
mempersoalkan lagi, bagaimana cara Ki Demang mendapatkannya.
Ternyata pula bahkan ia sudah mengandung" Ki Reksatani masih
berpikir sejenak. Namun tiba-tiba ia berkata "Terlampau berbahaya
bagiku, apabila perempuan itu masih tetap hidup. Kau akan dapat
menunjuk gadis yang manapun yang kau kehendaki. Tetapi jangan
perempuan itu" Manguri menggelengkan kepalanya "Aku menuntut
perempuan itu. Aku memang dapat mendapatkan lebih dari sepuluh gadis
yang aku kehendaki tanpa diajari oleh orang lain bahkan aku akan
dapat menceraikan sepuluh rumah tangga yang baru saja dibangun
dengan caraku. Karena itu gadis-gadis itu tidak menjadi persoalan
lagi bagiku. Aku akan mendapatkan kapan aku mau. Tetapi tidak
demikian dengan Sindangsari" "Jadi, kepentingan kita berbeda" "Kau
tidak dapat berbuat demikian atasnya" "Kalau begitu, siapa saja yang
paling dahulu melakukannya. Kau dahulu yang mengambilnya atau aku
dahulu yang membunuhnya" "Tidak Ki Reksatani. Kau harus
memperhatikan kepentinganku. Kalau tidak, aku akan mengatakan kepada
Ki Demang di Kepandak" "Gila kau" potong Ki Reksatani. "Apa boleh
buat" Wajah Ki Reksatani menjadi merah padam. Dipandanginya Manguri
dengan sorot mata yang membara. Dalam pada itu, ibu Manguri yang
melihat gelagat yang kurang baik segera mencoba menengahi "Kenapa
kalian tidak dapat mempertemukan pendapat kalian. Kalian sebenarnya
mempunyai kepentingan yang sama. Mengambil Sindangsari dari Ki
Demang. Apa yang akan kalian lakukan, sebenarnya dapat dicari suatu
cara yang sebaik-baiknya yang menguntungkan kalian berdua"
"Perempuan itu sangat berbahaya bagiku. Pada suatu saat ia akan
dapat berbicara tentang dirinya. Seandainya kakang Demang sudah
matipun, ia akan dapat berkata kepada semua orang di Kepandak apa
yang sudah terjadiatasnya" "Kau sebenarnya tidak usah ikut campur.
Biarkan aku mengambil Sindangsari. Kau hanya menolong memberikan
kesempatan itu. Seterusnya kau akan ikut mengenyam hasilnya" "Kau
tidak menanggapi kata-kataku. Perempuan itu berbahaya bagiku.
Bagaimana aku harus mengambilnya, sama sekali bukan suatu kesulitan.
Tanpa orang lain aku dapat melakukannya, bukan sekedar ikut
mengenyamhasilnya" "Jadi, apakah kita akan bersimpang jalan? Ingat,
aku akan mengatakan kepada Ki Demang kalau perempuan itu benarbenar
mati. Sindangsari sendiri barangkali memang tidak akan dapat membuka
rahasia itu. Tetapi akulah yang akan melakukannya" Hampir saja Ki
Reksatani kehilangan kesabaran. Seandainya ia tidak berada di rumah
anak itu dan seandainya ibu anak itu tidak berdiri di dalambilik itu
pula. Namun demikian ia menggeram "Manguri, jangan kau sangka bahwa
aku tidak dapat membunuh siapa saja yang berbahaya bagiku. Dalam hal
ini, aku tidak akan memandang siapa saja. Yang berbahaya bagiku,
harus aku singkirkan" "Ki Reksatani. Memang mudah sekali membunuh
Sindangsari. Tetapi lain dengan aku" "Tidak ada kesulitan" "Mungkin
aku dapat terbunuh. Tetapi ada saksi yang lain. Ibuku. Apakah kau
juga akan membunuh ibuku" "Gila. Gila sekali" "Cukup. Cukup" potong
ibu Manguri "Jika kalian berkeras hati, maka pembicaraan ini tidak
akan selesai. Kenapa kalian tidak dapat saling memberi dan
menerima?" "Maksud ibu?" bertanya Manguri. "Yang penting perempuan
itu meninggalkan Kademangan. Kalau perempuan itu harus tetap hidup,
maka kau menjadi jaminan, bahwa perempuan itu untuk seterusnya tidak
akan membuka rahasia. Kau mengerti?" "Kalau hal itu sudah
berlangsung bertahun-tahun, dan tidak akan ada harapan lagi bagi
Sindangsari untuk kembali ke Kademangan, aku kira ia tidak akan
membuka rahasia. Ia tidak akan mau kehilangan suaminya sampai dua
kali" "Tetapi anak itu" sahut Ki Reksatani. "Kalau kau ingin bebas
daripadanya, terserahlah kepadamu" Ki Reksatani menggigit bibirnya,
Ia tidak dapat mengabaikan anak dari perempuan yang telah untuk
sekian lamanya bersama-sama mengisi kekosongan hati masingmasing.
"Apakah kau sependapat?" bertanya Manguri "aku memberikan jaminan,
bahwa rahasia ini tidak akan terbuka. Sebenarnya memang tidak ada
pilihan lain yang dapat kau lakukan. Ingat, di belakangku ada
laki-laki dungu yang bertubuh raksasa itu. Namanya Lamat. Bukankah
kau pernah mengenalnya? Kau tidak dapat sekedar bermain-main dengan
orang dungu itu. Ia dapat lunak seperti seekor kucing. Tetapi ia
dapat buas seperti seekor harimau. Sangat tergantung kepadaku" "Aku
memang sedang berpikir. Tetapi jangan mencoba menakut-nakuti aku.
Aku bukan anak kecil lagi. Jangankan Lamat yang dapat sebuas
harimau, sedangkan di tepi-tepi hutan aku tidak gentar menghadapi
harimau yang sebenarnya" "Sudahlah" potong ibu Manguri "kalian akan
berbelok lagi. Batasilah pembicaraan kalian, supaya kalian tidak
terjerumus ke dalam persoalan yang sebenarnya tidak kalian
kehendaki" Ki Reksatani menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia
ingin mengendapkan perasaan yang hampir melonjak. Sedangkan
Manguripun kemudian menundukkan kepalanya. Dicobanya untuk menilai
pembicaraan yang baru saja dilakukannya dengan laki-laki yang
sebenarnya, sadar atau tidak sadar sangat dibencinya, karena ia
begitu sering memasuki rumah ini, dan bahkan memasuki bilik ayahnya,
selagi ayahnya tidak ada di rumah. Tetapi iapun sangat kecewa
terhadap ibunya sendiri. Tanpa hasrat dari ibunya sendiri, maka hal
itu tidak akan dapat terjadi. Apalagi untuk waktu yang lama dan
bahkan setiap kali ayahnya pergi untuk waktu yang cukup memberi
peluang kepada mereka. Namun ayahnyapun bukan orang yang baik. Dan
ia harus membenci pula berpuluh-puluh perempuan yang telah
menggantikan tempat ibunya untuk waktu-waktu tertentu di sepanjang
perjalanan ayahnya yang memang sering dilakukannya. Dalam pada itu,
terdengar ibunya berkata "Sudahlah. Agaknya kalian telah menemukan
suatu singgungan yang dapat kalian pergunakan sebagai landasan untuk
berbuat. Nah, apakah kau dapat menyebutkan Manguri?" Manguri
mengangkat wajahnya. Kemudian katanya "Menurut penilaianku, kita
sudah menemukannya. Perempuan itu kita sisihkan dari Kademangan,
kemudian kita ambil dan kita asingkan. Aku harus menjamin bahwa
perempuan ini akan terpisah dari pergaulan dan rahasia ini tidak
akan diketahui oleh sipapapun juga" "Dan kau akan melaksanakan
dengan baik?" "Aku tidak gila ibu. Kalau rahasia itu diketahui
orang, maka akulah yang pertama-tama harus berhadapan dengan Ki
Demang, karena isterinya ada padaku" "Apakah begitu?" bertanya ibu
Manguri kepada Ki Reksatani. Ki Reksatani termenung sejenak. Tetapi
akhirnya iapun mengangguk "Baiklah. Untuk sementara aku dapat
menyetujuinya" "Kenapa untuk sementara?" "Aku akan melihat
perkembangan keadaan. Mudahmudahan perempuan itu tidak berbahaya
bagiku dan bagi Manguri sendiri" "Aku bertanggung jawab" sahut
Manguri. Ki Reksatani mengangguk-angguk kepalanya "Baiklah" katanya
"kita tinggal merencanakan, bagaimana kita akan mengambilnya dari
rumah Ki Demang" "Tidak sulit. Kau bawa Sindangsari ke tempat yang
sepi. Kemudian serahkan kepada Lamat. Ia akan membawa Sindangsari ke
tempat yang akan aku siapkan. Kalau kau tidak dapat mempercayainya,
kau dapat membantunya, menyiapkan beberapa orang yang akan mengawasi
keadaan dan melindungi Lamat sebelum ia meninggalkan tempat itu"
"Baiklah. Aku akan memberitahukan tempat-tempat yang paling baik
baginya untuk menunggu Sebaiknya ia bersedia seekor kuda" "Lamat
tentu tidak akan berkeberatan" "Jadi, apakah pembicaraan ini sudah
selesai?" bertanya Ki Reksatani kemudian. Manguri mengerutkan
keningnya. Ditatapnya wajah ibunya namun ibunya justru menundukkan
kepalanya. Sekilas Manguri melihat wajah yang tunduk itu menjadi
kemerahmerahan. Dalam pada itu Manguri bahkan bertanya "Jadi, apakah
aku harus segera meninggalkan bilik ini?" "Ah" Manguri mendengar
ibunya berdesah sementara Ki Reksatani memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba saja ia berdiri dengan gelisahnya dan berjalan hilir mudik
di dalam ruangan itu. "Baiklah" berkata Manguri kemudian "aku akan
segera meninggalkan bilik ini. Tetapi pembicaraan kita tidak akan
berubah. Perempuan itu tidak boleh mat i. Kita akan menentukan
kemudian, kapan kita akan melakukannya" Ki Reksatani t idak
menyahut, sedang ibu Manguri masih saja menundukkan wajahnya.
Sejenak kemudian Manguripun berdiri. Namun terasa betapa dadanya
menjadi berdebar-debar. Masih ada sesuatu yang terasa bergejolak di
dalam dadanya, ketika ia melihat langsung seorang laki-laki berada
di dalambilik itu. Tetapi Manguripun kemudian melangkah ke pintu.
Sekali ia berpaling, tepat pada saat ibunya mengangkat wajahnya.
"Selamat malam ibu" desis Manguri. Sekali lagi ibunya menundukkan
wajahnya. Ia tidak berani menatap sorot mata anaknya. Ki
Reksatanipun masih tetap berdiri menghadap dinding seperti juga ibu
Manguri, ia tidak mau memandang mata Manguri yang memancarkan sorot
yang aneh. Sejenak kemudian mereka mendengar daun pintu berderit,
kemudian dengan kerasnya terdengar daun pintu itu berdentang
tertutup. Ki Reksatani berpaling. Terdengar giginya gemeretak.
Tetapi ia mendengar suara ibu Manguri "Jangan salahkan anak itu.
Marilah kita melihat kesalahan yang melekat pada diri kita sendiri"
Ki Reksatani tidak menyahut. Namun kemudian iapun menarik nafas
dalam-dalamsambil mengusap dadanya. Manguri yang meninggalkan bilik
ibunya langsung pergi ke halaman samping untuk menemui Lamat. Ketika
ia keluar dari pintu depan, terasa udara malam yang sejuk menyentuh
tubuhnya yang seakan-akan baru saja dipanggang diatas bara. Manguri
menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya
mencari Lamat. Lamat masih duduk di tempatnya. Tempat yang agak
terlindung oleh bayangan serambi, sehingga tidak segara dapat
terlihat dari halaman, meskipun Lamat dapat melihat ke halaman yang
remang-remang. "Kau masih disitu?" bertanya Manguri. Lamat
mengangguk sambil berdesis "Ya. Apakah kau sudah bertemu dengan
lakilaki itu" "Hampir aku tidak dapat menahan hati. O, bagaimana
iblis itu berada di bilik ayah seperti di biliknya sendiri" Lamat t
idak menyahut. "Aku sudah berbicara" berkata Manguri kemudian "ia
tidak dapat memilih jalan lain, kecuali menerimanya" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tetapi laki-laki itu benar-benar
memuakkan. Aku hanya memerlukannya di saat-saat itu. Saat-saat kita
mengambil Sindangsari. Seterusnya, kita tidak akan memerlukannya
lagi" Lamat mengerutkan keningnya Tanpa sesadarnya ia bertanya
"Maksudmu?" "Kepandak akan menjadi rusak kalau ia kelak benar-benar
dapat mengambil alih kekuasaan Ki Demang seperti yang diimpikannya"
Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana mungkin Kepandak
diperintah oleh orang serupa itu atau anak-anaknya yang pasti tidak
akan jauh menyimpang dari tabiatnya, seperti aku juga tidak jauh
menyimpang dari tabiat ayahku" Lamat masih tetap berdiam diri.
"Tetapi aku tidak peduli. Apakah Kepandak akan menjadi rusak dan
bahkan menjadi hutan kembali tanpa peradaban, aku tidak peduli. Yang
penting, aku sudah mendapatkan Sindangsari. Aku tidak tahu, kenapa
aku seakan-akan telah menjadi gila. Semakin sulit aku mendapatkannya
semakin besar hasratku untuk memperisterikannya" Lamat masih belum
berbicara apapun. "Tetapi" tiba-tiba saja Manguri berdesis "apabila
Sindangsari itu hilang dari Kademangan, apakah tidak mungkin Ki
Demang mengambil gadis lain untuk menjadi isterinya?" Karena Lamat
masih berdiam diri, Manguri membentaknya "He, apakah kau sudah
tertidur?" Lamat menarik nafas. Jawabnya "Tidak. Aku sedang
mendengarkannya" "Apa pendapatmu?" Lamat ragu-ragu sejenak .Katanya
kemudian "Aku tidak mengerti. Tetapi sebaiknya kau tanyakan saja
kepada Ki Reksatani. Mungkin hal itu belum menjadi pertimbangannya"
Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menggeram "Aku
segan untuk menemuinya kalau tidak terpaksa sekali" Namun di saat
itu, di dalam bilik ibu Manguri ternyata sedang bertanya pula kepada
Ki Reksatani "Apakah Ki Demang tidak akan kawin lagi dan mempunyai
kemungkinan yang serupa bagi iuterinya yang baru itu?" "Aku sudah
memikirkannya. Tetapi dengan demikian aku akan dapat membiuskan
ketidak puasan bagi rakyat Kepandak. Hal itu pasti akan mematangkan
suasana, sehingga aku dapat bertindak dengan segala macam dalih"
"Apakah kau sudah membayangkan, bahwa dengan demikian dapat terjadi
bentrokan bersenjata dan akibatnya dapat menggoncangkan sendi sendi
kehidupan di Kepandak?" Ki Reksatani tidak menyahut. Isterinya di
rumah berkata seperti itu pula. Kini, selagi ia ingin melupakan
keteganganketegangan itu, ia menjumpai masalah yang sama. Karena
itu, maka katanya "Jangan hiraukan hal itu Kau berjanji bahwa kau
tidak akan mempersoalkannya. Kita ingin melupakan ketegangan yang
mencengkam hati kita masingmasing" Ibu Manguri tidak menyahut,
sedang Ki Reksatani berkata "Dan bukankah masalah Sindangsari untuk
sementara sudah kita anggap selesai?" Perempuan itu tidak menyahut.
Dipandanginya lampu minyak di dalam bilik itu yang rasa-rasanya
semakin lama menjadi semakin redup. Ketika Manguri sudah masuk ke
dalam rumah itu pula tinggallah Lamat yang duduk merenung seorang
diri. Ia merasa bahwa beban yang selama ini dicemaskannya, pada
suatu saat akan jatuh pula di pundaknya. Mengambil perempuan yang
bersama Sindangsari yang sekarang sudah menjadi Nyai Demang itu.
Sekilas terbayang mayat Puranta yang terbujur di halaman. Ia tidak
tahu pasti, apakah yang telah terjadi dengan mayat itu. "Kalau aku
membiarkannya, maka aku kira persoalan ini akan berakhir lain.
Mungkin Sindangsari benar-benar akan dicerai dari Ki Demang, tetapi
untuk seterusnya akan menjadi isteri Puranta. Atau kedua-duanya akan
dicekik sampai mati oleh Ki Demang sendiri" Lamat menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian menggelengkan kepalanya "Memang
hal itu tidak akan dapat dibiarkan. Kasihan perempuan itu.
Kegagalannya untuk mendapatkan seorang laki-laki yang didambakannya
telah, membuatnya kehilangan pegangan. Tetapi tidak sepantasnya ia
jatuh ke tangan laki-laki seperti Puranta, apalagi dalam rangka
usaha Ki Reksatani yang terkutuk itu" Tetapi Lamat hanyalah seorang
budak. Ia tidak dapat berbuat apapun juga, ia hanya dapat
menjalankan perintah, meskipun perintah itu akan menyakiti hatinya.
Dan perintah yang bakal datang kemudian adalah, menculik Sindangsari
dan mengurungnya di suatu tempat. "Betapa bagusnya sebuah sangkar,
namun apabila pintunya terbuka, maka burung yang ada di dalamnya
pasti akan terbang keluar" desisnya. Dan ia sudah membayangkan,
bahwa Sindangsari akan mengalami nasib seperti seekor burung.
Dikurung disuatu bilik yang gelap tanpa mendapat kesempatan untuk
keluar. Setiap kali ia harus menerima kedatangan Manguri yang merasa
dirinya sebagai suaminya. Meskipun seandainya Sindangsari mendapat
makan yang paling baik dan pakaian dari keping-keping emas, tetapi
hal itu pasti merupakan siksaan yang tidak terkirakan baginya. "Lalu
apapula yang akan terjadi dengan anak di dalam kandungan itu. Anak
yang sama sekali tidak berdosa?" "Memang Pamotlah yang gila"
tiba-tiba ia menggeram "Pamot telah membuat perempuan itu mengalami
siksaan tanpa batas. Kalau Pamot tidak gila di malam itu, aku yakin
Sindangsari tidak akan mengandung seperti isteri-isteri Ki Demang
yang lain. Dengan demikian Sindangsari tidak perlu mengalami bencana
seperti yang direncanakan oleh Ki Reksatani sekarang" Padahal, kini
Pamot itu t idak ada di rumah, bahkan t idak ada di Kepandak. Tanpa
sesadarnya Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya ketika terlintas di
dalam ingatannya, bahwa pasukan yang pergi menyerang Betawi itu
sudah berada di perjalanan pulang. "Tetapi apakah Pamot masih ada di
dalam pasukan itu? Sudah tentu ada sebagian dari anak-anak Gemulung
yang gugur" Lamat menarik nafas dalam-dalam "kalau saja Pamot masih
hidup" Tetapi Lamat menjadi bingung apakah yang akan dapat dilakukan
oleh Pamot seandainya ia pulang kembali ke Gemulung dalam keadaan
ini? Ia akan menemukan sekelompok orang yang sudah siap melakukan
rencananya yang keji. Dan ia sendiri pasti ada di dalamnya, sebagai
seorang budak yang tidak berharga. "Tenagaku tidak lebih dari tenaga
seekor kerbau yang menarik bajak di sawah. Demikian juga harga
diriku. Tetapi aku tidak dapat berbuat sesuatu, seperti kerbau tidak
dapat memutuskan tali yang mencocok hidungnya" Dengan demikian maka
Lamat hanya dapat menunggu di dalam kegelisahan. Bahkan
kadang-kadang timbullah niatnya akan lari dari keadaannya. Tetapi
setiap kali ia selalu dikekang oleh perasaan terima kasihnya yang
tidak terhingga, Ia benarbenar merasa berhutang budi kepada ayah
Manguri, bahwa ia telah diselamatkan jiwanya. Kalau tidak, maka
pasti sudah mati. "Lamat tidak ada lagi kini di dunia. Karena itu
Lamat yang sekarang ini seolah-olah sudah bukan lagi Lamat yang
berpribadi seutuhnya. Lamat yang sekarang adalah Lamat yang telah
dikuasai oleh kehendak orang lain, sebagai pembayaran atas hutangnya
Hutang budi" Demikianlah, maka hari demi hari menjadi semakin maju.
Kandungan Sindangsaripun menjadi semakin besar. Dengan demikian maka
hari peralatan bulan ke tujuh dari kandungan itu menjadi semakin
dekat. Ki Reksatani menjadi berdebar-debar ketika pada suatu hari ia
telah dipanggil oleh Ki Demang di Kepandak. "Apakah kira-kira yang
akan dipersoalkan?" bertanya isterinya. Ki Reksatani menggelengkan
kepalanya. Katanya "Baru dua hari yang lalu aku singgah di rumah
kakang Demang. Sekarang kakang Demang telah memanggil aku. Agaknya
memang ada sesuatu yang akan dibicarakannya" Nyai Reksatani tampak
menjadi gelisah. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ketika Ki
Reksatani meninggalkan rumahnya memenuhi panggilan kakaknya, ia
berkata kepada isterinya "Jangan cemas Tidak ada apa-apa"
Sebenarnyalah memang tidak ada apa-apa dengan Ki Reksatani. Hampir
tengah malam ia pulang. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia
melangkahi pintu pendapa, setelah isterinya membukakan selarak dan
mendorong daun pintunya. Dengan serta-merta isterinya bertanya "Apa
yang dibicarakan oleh kakang Demang?" Ki Reksatani tersenyum.
Katanya "Kita memang terlampau berprasangka. Agaknya karena rencana
kita yang telah masak itulah yang membuat kita sendiri kadang-kadang
menjadi cemas" Nyai Reksatani mengerutkan keningnya. Ia berdiri saja
mematung ketika suaminya kemudian menutup dan menyelarak pintu.
"Duduklah" berkata suaminya kemudian. Nyai Reksatanipun kemudian
duduk di ruang tengah di hadapan suaminya. Meskipun demikian hatinya
masih juga berdebar-debar. "Apakah anak-anak sudah tidur semua?"
"Sudah kakang" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
kemudian "Aku dipanggil kakang Demang untuk membicarakan hari
peralatan yang akan dilakukan, pada bulan ke tujuh kandungan
Sindangsari" "O" Nyai Reksatanipun menarik nafas dalam-dalam
"sukurlah kalau persoalan itu yang dibicarakan oleh kakang Demang.
Aku sudah kecemasan bahwa kakang Demang sudah mencium rencanamu
kakang. "Tentu tidak. Aku melakukan dengan sangat hati-hati" "Tetapi
semakin banyak orang yang kau hubungi, semakin berbahaya bagimu,
bahwa rahasia itu akan bocor karenanya" "Aku sudah
memperhitungkannya dengan cermat. Jangan takut. Mereka adalah
orang-orang yang kecewa, orang-orang yang tamak dan dengki
orang-orang yang terlampau dibayangi oleh nafsu kebendaan dan
pangkat" Ki Reksatani berhenti sejenak, lalu "mereka akan menyimpan
rahasia ini baik-baik" "Tetapi kalau kau mengecewakan mereka, maka
mereka pasti akan membuka rahasia ini" "Tentu tidak. Sementara aku
tidak akan membuat mereka kecewa. Aku mendapat dukungan dari seorang
anak muda yang bernama Manguri Karena ia menginginkan Sindangsari
untuk dijadikan isterinya. "Anak pedagang ternak yang kaya itu" "Ya"
"Jadi perempuan itu tidak akan kau bunuh?" Ki Reksatani
menggelengkan kepalanya. Katanya "Ia akan disimpan di dalam satu
sangkar. Tetapi sebenarnya ini sama sekali t idak termasuk
rencanaku. Nyai Reksatani tidak segera menyahut. "Rencanaku yang
sebenarnya masih tetap" "Membunuh perempuan itu?" "Ya" "Tetapi ia
sudah menjadi isteri Manguri" "Kalau perlu kedua-duanya. Aku tidak
akan dapat hidup tenteramselagi perempuan itu masih hidup" "Kenapa
tidak kau biarkan saja mereka hidup berdua. Merekapun pasti akan
tetap menjaga rahasia itu. Lebih-lebih Manguri. Ia pasti berusaha
agar Ki Demang tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sebab kalau Ki Demang mengetahuinya, maka setidak-tidaknya
Sindangsari akan diambilnya kembali, atau tuntutan hukuman yang
lebih berat" "Dan sudah tentu akan menyangkut namaku. Tetapi kalau
mereka sudah mat i, kemungkinan itu tidak akan ada sama sekali.
Sementara ini aku hanya sekedar memenuhi permintaan laki-laki yang
tergila-gila kepada Sindangsari itu karena kalau tidak, ia dapat
berbuat sesuatu yang berbahaya bagiku" Isterinya tidak menyahut ia
sama sekali tidak mengerti, bahkan tidak menyangka sama sekali,
bahwa ada hubungan lain antara suaminya dan anak muda yang bernama
Manguri. Nyai Reksatani tidak menduga sama sekali bahwa pada setiap
kali, suaminya pergi ke rumah pedagang kaya itu selagi pedagang itu
sendiri t idak ada di rumah. Menurut dugaannya, suaminya dan anak
muda itu sekedar bersinggungan kepentingan tentang Sindangsari saja.
Suaminya memerlukan dukungan uang dari anak muda itu untuk membeayai
rencananya. Apalagi apabila suaminya memerlukan bantuan dari
beberapa orang jika ia harus menghadapi Ki Demang dengan kekerasan.
Sejenak kedua orang itupun saling berdiam diri. Tetapi kengerian
yang tajam telah mencengkam jantung Nyai Reksatani. Ia sudah mulai
membayangkan kekisruhan yang bakal terjadi di Kademangan Kepandak.
Nyai Reksatani menyesal, kenapa suaminya mempunyai keinginan yang
gila itu, untuk mewarisi kedudukan kakaknya. Seandainya pada
perkawinan yang pertama Ki Demang sudah mempunyai anak atau
selambat-lambatnya pada perkawinan yang kedua, maka pasti tidak akan
tumbuh niat itu pada suaminya. Tetapi karena Ki Demang t idak
mempunyai anak sampai perkawinannya yang kelima kali, maka timbullah
harapannya, bahwa Ki Demang memang tidak akan mempunyai anak untuk
seterusnya. Alangkah kecewa Ki Reksatani itu setelah pada perkawinan
yang keenam, isteri Ki Demang benar-benar telah mengandung. Namun
demikian kadang-kadang terbersit juga anganangannya, betapa
senangnya menjadi isteri seorang Demang yang berkuasa. Kalau bukan
ia sendiri dapat mengalami, maka ia akan dapat melihat, betapa
senangnya salah seorang anaknya menjadi seorang Demang yang
berkuasa. Di Kademangan ini, maka kekuasan Demang seakan-akan tidak
terbatas. Semua niatnya dapat terlaksana. Sampai kawin untuk keenam
kalinya sekalipun. Nyai Reksatani terkejut ketika tiba-tiba saja
suaminya berdiri sambil berkata "Aku akan tidur. Masih banyak yang
harus aku kerjakan besok dan hari-hari berikutnya. Kaupun harus
banyak beristirahat menjelang peralatan yang akan diselenggarakan di
Kademangan itu" Isterinya menganggukkan kepalanya. "Jangan cemas"
berkata Ki Reksatani kemudian "aku bukan anak-anak. Aku akan bekerja
secermat-cermatnya. Aku masih mempunyai waktu untuk memperhitungkan
setiap kemungkinan. Juga kedatangan anak-anak muda yang ditarik dari
Betawi. Kalau diantara mereka terdapat Pamot, akupun sudah
mempertimbangkannya" Sekali lagi isterinya menganggukkan kepalanya,
meskipun dadanya masih saja berdebar-debar. Nyai Reksatani itupun
kemudian berdiri pula dan melangkah masuk ke dalam bilik
anak-anaknya. Dilihatnya mereka tidur dengan nyenyaknya. Sama sekali
tidak terlintas di dalam angan-angan mereka, pergolakan yang terjadi
di dalam dirinya. Mereka tidak tahu, apa yang direncanakan ayah
mereka untuk kepentingan mereka kelak, meskipun jalan yang ditempuh
adalah jalan yang berbahaya. Semakin dekat dengan peralatan bulan ke
tujuh kandungan Sindangsari, maka Ki Reksatani semakin sering pergi
ke rumah kakaknya. Bahkan kadang-kadang bersama isterinya. Namun
semakin sering pula ia berhubungan dengan Manguri, meskipun dengan
diam-diam. Mereka selalu membicarakan perkembangan-perkembangan baru
yang terjadi. Mereka mulai membicarakan, dimana dan kemana
Sindangsari akan diambil dan dibawa. "Aku sudah menyiapkan sebuah
rumah kecil di pinggir Kademangan ini" berkata Manguri. "Bodoh kau"
jawab Ki reksatani "selama perempuan itu masih berada di Kademangan
ini, maka ia pasti akan diketemukan olah kakang Demang" "Tidak.
Rumah itu adalah rumah yang kecil yang tidak banyak bedanya dengan
gardu pengawas dari halaman yang luas. Ayah biasanya menyimpan dan
mengumpulkan ternaknya di sana sebelum dibawa ke tempat-tempat yang
jauh" "Itu lebih bodoh lagi" berkata Ki Reksatani "di sana pasti ada
beberapa orang. Mereka dapat melihat kehadiran Sindangsari di sana"
"Mereka akan memegang rahasia itu" "Itu yang aku ragukan" Manguri
berpikir sejenak, lalu "Baiklah. Aku akan minta tempat itu
dikosongkan. Ayah akan membeli tanah yang lain untuk kepentingannya.
Tempat itu akan menjadi tempat penyimpanan Sindangsari. Tidak akan
ada orang lain di tempat itu, selain Lamat dan sudah tentu aku" "Kau
akan tinggal di tempat itu juga?" "Ya" "Kau memang bodoh sekali.
Kalau kau hilang dari rumahmu, maka Kakang Demang akan segera
mengetahui, bahkan kaulah yang telah mengambil perampuan itu" Tetapi
aku bukan sebodoh itu. Sudah tentu aku tidak pergi dari rumahku. Aku
akan tetap tinggal di rumah. Tetapi aku akan berada di tempat
persembunyian itu setiap kali. Tidak akan ada orang yang mencurigai
aku. Aku memang sering berada di tempat ibu. Dan aku tidak akan
mengosongkan tempat itu sama sekali. Satu dua ekor ternak yang dapat
dipelihara sendiri oleh Lamat akan tetap berada di tempat itu.
Bahkan sekali-sekali ayah akan tetap menampung ternaknya di sana.
Sementara Sindangsari akan tetap berada di dalam biliknya. Ia tidak
boleh menjengukkan kepalanya keluar bilik apabila ada orang lain di
halaman rumah itu" Ki Reksatani tidak menyahut. Untuk sementara ia
harus menyetujui rencana itu. Tetapi ia sadar bahwa hal itu sangat
berbahaya baginya. Sindangsari bukan sekedar sebuah golek kayu yang
tidak mempunyai akal untuk melepaskan diri apalagi anaknya akan
segera lahir pula. "Kau setuju?" bertanya Manguri kemudian. Ki
Reksatani tidak dapat berbuat lain, kecuali menganggukkan kepalanya.
Meskipun begitu ia berkata "Untuk sementara" "Kenapa untuk
sementara" "Barangkali kau menemukan tempat yang jauh lebih baik
dari yang kau rencanakan sekarang" Manguri tidak menyahut. Tetapi ia
mengangguk kecil. Meskipun setiap kali mereka bertemu dan berbicara
tentang rencana itu, namun meraka sadar, bahwa hubungan mereka
adalah sekedar karena singgungan kepentingan. Namun diantara
keduanya masih tetap tergores jarak yang masih belumterloncati.
Namun ternyata bahwa Manguri mampu membatasi dirinya untuk
kepentingannya sendiri. Ia mengatakan Kencananya itu kepada ayahnya.
Bahkan ia mengatakan pula, bahwa ia telah bekerja sama dengan Ki
Reksatani, karena Ki Reksatani juga berkepentingan untuk
menyingkirkan Sindangsari. "Apakah kau tidak mempunyai pilihan lain
Manguri?" bertanya ayahnya. Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak
ayah. Ini sudah menjadi keputusanku" Ayahnya mengangguk-anggukkan
kepalanya "Baiklah. Aku akan membantumu. Tetapi apakah kau yakin
bahwa Ki Reksatani itu bersikap jujur terhadapmu?" Meskipun Manguri
sendiri ragu-ragu. tetapi untuk memantapkan perasaan ayahnya ia
mengangguk "Aku yakin ayah. Ia jujur" Ayahnya mengangguk-angukkan
kepalanya. Katanya "Kalau sampai pada suatu saat, keadaan menjadi
lain, maka kita memang harus bersiap-siap. "Apakah maksud ayah?"
bertanya Manguri dengan curiga. Ayahnya menarik nafas dalam-dalam.
"Apa maksud ayah" "'Sudahlah. Lakukan rencanamu" berkata ayahnya
"tetapi bawa Lamat besertamu Ia dapat dipercaya. Tetapi kau jangan
terlampau kasar. Ia manusia juga seperti kita. Ia mempunyai perasaan
yang lengkap. Kecewa, jengkel ,sedih,dan sebagainya. Hanya karena
merasa berhutang budi, ia dapat kila perlakukan sekehendak kita.
Tetapi jangan kau perlakukan ia seperti seekor kerbau bajak" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih tetap bertanya-tanya
di dalam hati, apakah sebenarnya ayahnya sudah tahu, apa yang
terjadi di rumah ini?. Terutama hubungan antara ibunya dengan
laki-laki yang bernama Reksatani itu?. "Ki Demang yang sekarang
memang bukan orang yang paling baik untuk memerintah Kademangan
Kepandak" berkata ayahnya kemudian "tetapi tidak mudah untuk
menyingkirkannya, karena ia memiliki kemampuan yang luar biasa,
ilmunya cukup t inggi dan pengikutnya cukup banyak" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Rencana Ki Reksatani adalah rencana
yang paling baik sebenarnya apabila berhasil. Ia tidak menyingkirkan
Ki Demang sendiri, tetapi memotong garis keturunannya" "Ya" sahut
Manguri. "Tetapi kau harus mempertimbangkan, anak di dalam kandungan
Sindangsari adalah garis keturunan itu" "Tetapi kalau sejak lahir ia
sudah terpisah, ia tidak akan tahu, siapakah ayahnya yang
sebenarnya" "Kata-kata itu kau ucapkan sekarang" sahut ayahnya "dan
seandainya kau bermaksud jujur dengan ucapanmu itu. Ki Reksatani
pasti tidak akan percaya, pada suatu saat, kau dapat memperalat anak
itu. Sambil menunjukkan Sindangsari di hadapan umum beserta anaknya,
kau akan dapat mewarisi kedudukan Ki Demang di Kepandak" "Tidak
ayah. Buat apa aku berusaha untuk merebut kedudukan ini? Dengan
kekayaan yang ada pada kita, kita sudah memiliki kekuasaan yang
tidak jauh berbeda dengan kekuasaan Ki Demang, meskipun t idak atas
orang-orang di Kepandak. Tetapi dengan uang yang melimpah-limpah
yang ada pada kita, kita hampir dapat berbuat apa saja" "Tetapi Ki
Reksatani dapat berpikir lain. Uang dan kekuasaan merupakan suatu
gabungan yang sangat menarik hati" Manguri mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Jadi, maksud ayah?" "Kaupun harus mempersiapkan dirimu
menghadapi setiap kemungkinan. Untuk kepentingannya, Ki Reksatani
pasti sudah mempersiapkan orang-orangnya, apabila pada suatu saat
keadaan memaksa. Perlahan-lahan ia menghimpun kekuatan, sementara
kau membeayainya. Tetapi di samping itu, kaupun harus membuat
sekelompok orang yang dapat kau percaya benar-benar apabila Ki
Reksatani kelak mempunyai pendirian lain terhadapmu" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya pula. "Anak itu akan merupakan
persoalan tersendiri" berkata ayahnya pula. "Mungkin, mungkin bayi
itu akan diambilnya pada saat ia lahir kelak" "Memang mungkin sekali
Sekarang bukankah kau melihat, bahwa pamrih itu dapat merubah orang
menjadi lebih buas dari seekor binatang?" Dada Manguri berdentangan
mendengar kata-kata ayahnya itu. Wajahnya tiba-tiba menegang.
"Tetapi ia agaknya sudah menjadi kebiasaan manusia ini pula. Ki
Reksatani, kau dan juga aku" Manguri sama sekali tidak menyahut.
"Sudahlah. Tetapi kau harus mempersiapkan dirimu. Lamat dapat
dipercaya sepanjang ia masih tetap seperti sekarang. Karena itu
jangan terlampau sering kau sakiti hatinya. Dalam keadaan yang gawat
di dalam perebutan pamrih ini, kau tidak akan dapat menggantungkan
nasibmu kepada ibumu" Manguri terperanjat mendengar kata-kata
ayahnya. Ditatapnya wajah ayahnya itu dengan sorot mata yang aneh.
Tetapi ayahnya justru tersenyum sambil berkata "Jangan hiraukan
kata-kataku" Manguri t idak sempat menjawab karena ayahnya segera
meninggalkannya. Namun di dalam hati ter-bersit pertanyaan "Apakah
sebenarnya ayah memang sudah mengetahui hubungan ibu dengan
laki-laki itu? Tetapi Manguri tidak mau memikirkannya lagi. Bahkan
ia berkata di dalam hatinya "Kami sudah terlibat dalam kepentingan
kami masing-masing. Aku tidak peduli, apakah ayah sudah mengetahui
atau tidak. Yang penting, baik ayah maupun ibu di dalam keadaannya,
bersedia membantu aku dengan cara mereka sendiri-sendiri" Namun
demikian Manguri percaya bahwa ayahnya tidak akan sampai hati
membiarkannya apabila ia menemui kesulitan. Dan Manguripun
mengetahui, bahwa sebenarnya ayahnya telah mempunyai orang-orangnya
yang khusus. Orang-orang yang biasanya ikut membawa ternak
kedaerahdaerah yang jauh. Mereka adalah orang-orang terpilih, yang
di dalam keadaan tertentu bukan saja cakap mengatur ternak, tetapi
orang-orang yang mampu berkelahi. "Tentu aku akan dapat
mempergunakan mereka di dalam keadaan yang terpaksa. Bersama dengan
Lamat, mereka akan merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan df
Kademangan ini" berkata Manguri di dalamhatinya. Ketika kemudian
Manguri menyampaikan semuanya itu kepada Lamat, maka hati raksasa
itu menjadi semakin pedih. Betapa ia terpaksa menyaksikan
bayangan-bayangan yang buram penuh dengan noda-noda yang kotor. "Apa
katamu?" bertanya Manguri "kau akan menjadi seorang Senapati yang
memimpin sepasukan prajurit. Aku akan minta kepada ayah,
orang-orangnya harus bersedia membantuku apabila pada suatu saat aku
perlukan" "Kau tidak usah heran Ayah sudah menyadari, bahwa untuk
kepentingan pamrih pribadi manusia dapat menjadi labih buas dari
binatang. Kau mengerti? Lamat mengangguk pula "Karena itu kita
jangan membiarkan diri kita menjadi korban kebuasan itu. Kita harus
bersiap menghadapinya" "Kita akan menjadi buas pula?" tiba-tiba
Lamat bertanya "Tentu. Dalam keadaan tertentu kita akan menjadi
buas. Akupun kini menyadarinya. Bahkan kita bersama-sama telah
melakukannya" Lamat menundukkan kepalanya. Tetapi ia t idak
menyahut. "He, kau tidak setuju?" Lamat t idak menyahut. "He, apakah
kau sudah tuli he? Atau bisu?" bentak Manguri. Lamat menarik nafas
dalam-dalam. "Bagaimana dengan pendirianmu, dungu?" "Aku sependapat"
desis Lamat dengan suara yang gemetar. "Nah, kau memang harus
sependapat. Kau tidak dapat berbuat lain. Ayahkupun sudah
menyetujuinya. Ayah pulalah yang menyerahkan semua tanggung jawab
pengamanan rencana ini kepadamu. Mungkin ayah mengetahui, bahwa
tidak ada orang lain yang dapat menandingi Ki Reksatani, apalagi Ki
Demang, selain kau" Lamat t idak segera menyahut, sehingga Manguri
membentaknya pula "Apa katamu?" Kepala Lamat terangguk-angguk kecil
"Aku menjadi sangat terharu atas kepercayaan itu. Tetapi aku tidak
dapat mengatakan bahwa aku akan dapat mengimbangi Ki Demang atau Ki
Reksatani apabila keadaan memaksa demikian" "Kau takut?" "Bukan
takut. Tetapi tidak ada ukuran yang dapat aku pergunakan untuk
menilai kemampuan keduanya. Aku belum pernah melihat mereka
bertempur. Aku baru mendengar kemampuan mereka yang tanpa tanding
dari mulut ke mulut" "Huh, hatimu agaknya sudah goyah. Seandainya
mereka orang-orang yang mempunyai kelebihan tanpa batas, kau tidak
perlu takut. Kau mempunyai prajurit-prajurit yang akan bertempur
bersamamu" Lamat tidak menyahut. Tetapi kepalanya menjadi semakin
tertunduk. "He" berkata Manguri kemudian "bukankah kau laki-laki?"
Pertanyaan itu terdengar aneh di telinga Lamat, sehingga karena itu,
ia mengangkat mukanya. "Dengar" berkata Manguri kemudian "kalau kita
sudah berhasil, dan keadaan sudah menjadi tenang, aku tidak akan
melupakan. Selama ini kau selalu berbuat apa saja, berdasarkan
perasaan berhutang budi. Meskipun demikian, aku tidak akan
membiarkan hal itu berlangsung terusmenerus. Kau adalah laki-laki
seperti aku, seperti ayah, seperti Ki Reksatani dan seperti Ki
Demang yang sudah enam kali kawin" Manguri berhenti sejenak. Sambil
menepuk pundak Lamat ia berkata "Pada suatu saat kaupun harus kawin
Aku akan memberimu hadiah seorang perempuan yang cantik untuk
menjadi isterimu" Manguri mengerutkan keningnya ketika ia melihat
wajah Lamat sama sekali tidak berubah. "Kau tidak suka?" Lamat
merenung sejenak. Jawabnya "Tentu, tentu aku suka sekali" "Bagus.
Berbuatlah sebaik-baiknya Waktunya sudah menjadi semakin dekat.
Besok atau lusa Ki Reksatani akan memberitahukan segala sesuatunya.
Ia akan menunjukkan tempat-tempat yang baik untuk menunggu. Ingat,
pekerjaan ini bukan sekedar main-main seperti menghadapi Pamot.
Tetapi kita harus bersungguh-sungguh. Kalau Ki Demang mengetahui apa
yang sebenarnya telah terjadi, maka pasti akan terjadi perang
diantara orang-orang Kepandak sendiri. Pengikut Ki Reksatani dan
pengikut kita, melawan para bebahu Kademangan dan para pengawal yang
masih tersisa. Tetapi itupun bukan penyelesaian yang terakhir. Pada
suatu saat aku dan Ki Reksatanipun akan berselisih jalan" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sudah terbayang di rongga
matanya, apa yang mungkin dapat terjadi. "Sudahlah. Kau sejak
sekarang boleh mengharap seorang isteri yang cantik, meskipun
wajahmu menakutkan dan kepalamu botak" Lamat tidak menyahut, dan
Manguripun memang tidak menunggu jawabannya lagi. Sepeninggal
Manguri, maka Lamat masih duduk di tempatnya sambil merenung.
Seperti kata ayah Manguri, seseorang memang dapat menjadi buas
melampaui binatang. Dan ia memang berada disarang manusia-manusia
yang buas itu. "Akupun harus menjadi buas pula untuk kepentingan
pribadi. Bukankah berhutang budi itu semata-mata masalah pribadiku?
Untuk membayar hutang yang tidak akan dapat terlunaskan itu, akupun
harus mengorbankan orang lain. Bahkan mengorbankan diriku sendiri"
Lamat menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Ia memang tidak akan
dapat ingkar lagi, bahwa ialah yang harus melakukannya. Mengambil
Sindangsari. Manguri t idak akan percaya apabila orang lain yang
melakukannya. Orang-orang Ki Reksatani, misalnya. Ketika terlintas
di dalam ingatannya seorang anak muda yang bernama Pamot, hatinya
berdesir, Pamot kini sedang berada di dalam perjalanan pulang dari
Betawi kalau ia masih ada diantara mereka yang selamat. "Kalau Pamot
sudah ada di Kademangan ini" desisnya. Tetapi kemudian sebuah
pertanyaan menyusul "Kalau ia ada apakah yang dapat dilakukan untuk
menghadapi permainan yang mengerikan dari Ki Reksatani dan Manguri
ini?" Akhirnya Lamat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dicobanya untuk
melupakan saja persoalan yang membuatnya pening. Perlahan-lahan ia
kemudian melangkah dengan kepala tunduk. "Aku tidak usah
memikirkannya. Aku memang tidak pernah mendapat kesempatan untuk
menyatakan pikiranku. Aku hanya tinggal melaksanakan apa yang sudah
dipikirkan oleh orang lain" katanya di dalam hati. Sementara itu, Ki
Demangpun sudah mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk merayakan
genap tujuh bulan kandungan isterinya. Para bebahu Kademangan
Kepandak selalu mendorongnya untuk merayakannya dengan peralatan
yang besar, karena setelah kawin untuk keenam kalinya, barulah ia
akan mendapatkan seorang anak. "Tentu" berkata Ki Demang "peralatan
ini adalah peralatan yang terbesar yang pernah aku selenggarakan.
Lebih besar dari peralatan perkawinanku yang pertama" "He, apakah Ki
Demang masih ingat, apa saja yang diselenggarakan waktu itu?"
bertanya Ki Jagabaya. Ki Demang tersenyum. Jawabnya "Tentu. Tujuh
hari tujuh malam diselenggarakan pertunjukan di halaman rumah
isteriku yang pertama itu" "Aku juga nonton waktu itu" berkata Ki
Jagabaya kemudian "tetapi aku belum seorang Jagabaya. Saat itu, aku
memang merasa iri melihat peralatan yang begitu besar. "Apalagi
sekarang" sahut bebahu yang lain. "Tentu tidak" jawab Ki Jagabaya
"sekarang aku ikut merasa berbahagia sekali. Bayangkan. Berapa tahun
Ki Demang menunggu. Bahkan sampai diulanginya kawin lima kali. Dan
yang keenam sekarang ini. Sudah tentu kita masing-masing akan
mendapat hadiah yang lebih besar dari hadiah manapun yang pernah
kita terima dari Ki Demang" Para bebahu Kademangan Kepandak itu
tertawa serentak, sedang Ki Demang hanyalah tersenyum-senyum saja.
Dalam pada itu Ki Reksatani yang hadir juga menyambung "Para bebahu
Kademangan Kepandak memang akan mendapat hadiah yang paling besar
dari yang pernah diberikan oleh kakang Demang. Tetapi apakah aku
juga akan menerima?" Ki Demang berpaling. Sambil tertawa ia berkata
"Makan sajalah. mBok-ayumu tadi menyuruh orang menyembelih ayam" Ki
Reksatani mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa.
"Bukankah sejak kecil kau hanya memikirkan makan saja?" bertanya Ki
Demang. "Tetapi aku tidak dapat menjadi gemuk" sahut Ki Reksatani.
"Justru karena kau terlalu banyak makan. Selain makan, agaknya, kau
memang tidak mempunyai kebutuhan lain" Para bebahu Kademangan yang
ada di tempat itupun tertawa, Ki Demang masih juga tertawa, sedang
Ki Reksatanipun tertawa pula. Justru berkepanjangan. Namun tidak
seorangpun yang melihat, apakah yang sebenarnya tersirat di kepala
adik Ki Demang di Kepandak itu. Adik yang selama ini selalu patuh.
Tetapi kalau saja dapat dilihat wajah lahiriah Ki Reksatani,
diperbandingkan dengan wajah batinnya, maka akan tampak sekali
betapa keduanya akan sangat jauh berbeda. Senyum dan tawa yang
membayang di bibirnya, adalah lukisan maut yang terukir di dinding
hatinya. "Sayang sekali kakang Demang" berkata Ki Reksatani di dalam
hatinya "aku terpaksa sekali melakukannya justru karena isterimu
yang keenam ini mengandung. Kalau tidak, maka aku akan sabar
menunggu sampai batas umurmu Tetapi kini agaknya semuanya harus
diparcepat dengan segala macam cara" Ki Reksatani memandang wajah
kakaknya sekilas. Wajah itu tampaknya diwarnai oleh hatinya yang
cerah. Sebentarsebentar ia tersenyum dan tertawa, diantara kelakar
para pembantunya. "Kalau datang saat itu, kau tidak akan tertawa
lagi kakang Demang" berkata Ki Reksatani pula di dalam hatinya "kau
akan menangis dan alangkah baiknya kalau kau membunuh diri" Tanpa
disadarinya tiba-tiba telah tumbuh pikiran yang labih jahat lagi di
hati Ki Reksatani. Hilangnya Sindangsari belum merupakan jaminan
terakhir bahwa niatnya akan terlaksana. Sebuah pertanyaan selalu
mengganggunya "Bagaimana kalau ia kawin lagi dan isterinya itu kelak
mengandung?" "Kalau begitu umur Ki Demangpun harus diperpendek"
desisnya di dalam hati Pikiran itu mula-mula memang mengejutkannya
sendiri. Tetapi semakin lama justru menjadi semakin jelas terbayang
diangan-angannya, justru pada saat ia ikut serta tenggelam dalam
kelakar yang segar diantara para bebahu Kademangan Kepandak. "Kalau
Sindangsari sudah disingkirkan" berkata Ki Reksatani di dalam
hatinya pula "sampailah saatnya Ki Demang harus diakhiri pula dengan
cara yang paling halus. Kecuali kalau kemudian karena sesuatu hal
harus ditempuh jalan kekerasan. Itupun aku sudah siap menghadapinya.
Sementara aku dapat mempergunakan Manguri dan tenaga Raksasa yang
dungu itu. Demikianlah, pikiran itu ternyata tidak dapat begitu saja
disingkirkan dari kepala Ki Reksatani. Meskipun ia belum mendapat
gambaran yang lebih jelas, namun setiap kali seakan-akan terngiang
di telinganya "Kakang Demangpun harus disingkirkan. Kalau aku dapat
melakukannya dengan cara yang tidak diketahui orang, maka semuanya
akan berlangsung dengan baik, tenang dan tanpa kekisruhan apapun"
Dalam pada itu, Ki Reksatani sendiri selalu mengikuti perkembangan
keadaan di Kademangan. Ia amat rajin datang setiap saat. Bahkan
semua kebutuhan kakaknya, diusahakannya. Ia sama sekali tidak pernah
berkeberatan atau mengelak, apabila Ki Demang menyuruhnya untuk
berbuat apa saja, terutama yang menyangkut kepentingan peralatan
yang sebentar lagi akan diselenggarakan. Namun di samping itu, ia
juga telah menyiapkan segala kepentingan yang langsung atau tidak
langsung, untuk menyingkirkan Sindangsari. Dengan diam-diam ia telah
memperhitungkan tempat-tempat yang paling baik untuk melaksanakan
maksudnya. "Sindangsari itu harus disingkirkan dari orang banyak" ia
berkata di dalam hatinya. Dan Ki Rekstanipun telah menemukan tempat
untuk itu. "Isteriku harus membujuknya agar Sindangsari pergi ke
tempat itu" katanya di dalam hati. Dan selanjutnya, Lamatlah yang
akan membawanya pergi. Beberapa hari menjelang peralatan tersebut,
maka beberapa orang yang berkepentinganpun telah memerlukan
melihat-lihat tempat yang sudah ditunjuk itu, meskipun hanya dari
kejauhan. Di malam hari mereka seorang demi seorang dengan diam-diam
lewat di jalan samping, di sebelah rumah Ki Demang. Dengan hati-hati
mereka berusaha melihat keadaan di dalam halaman dan kebun belakang.
Apabila malam telah menjadi sepi, maka orang-orang yang
berkepentingan itu memanjat pepohonan justru di halaman rumah
sebelah untuk mendapat gambaran yang jelas. Terutama Lamat dan
Manguri. "Besok, kita akan meyakinkannya" berkata Ki Reksatani
"panjatlah pohon manggis di halaman sebelah. Kau akan melihat aku
pergi ke halaman belakang sambil membawa upet. Kau akan melihat bara
di ujung upet itu. Aku akan memutarnya, agar kau dapat membedakan,
kalau ada orang lain yang lewat membawa upet pula. Di tempat aku
berhenti, disitulah Lamat harus bersiap-siap. Sindangsari akan
dibujuk untuk pergi ke tempat tersebut" Di malam berikutnya, Manguri
membawa Lamat pergi ke halaman sebelah kebun Kademangan. Ketika
tidak ada seorangpun lagi yang mungkin melihat mereka, keduanya
memanjat keatas. Dua orang yang dibawa oleh Ki Reksatani memanjat
sebatang pohon randu di sebelah pohon manggis itu. Kedua orang itu
adalah orang-orang yang dipercaya oleh Ki Reksatani untuk mengawasi
suasana pada malam yang telah ditentukan itu. Sementara beberapa
orang yang lain akan disiapkan di ujung padukuhan Apabila mereka
gagal, sehingga para peronda melihat usaha penculikan itu, kekerasan
tidak akan dapat dihindari lagi. Mereka pasti akan bertempur. Tetapi
Ki Reksatani masih berusaha menghindari akibat itu. Kekerasan tidak
akan menguntungkannya meskipun barangkah apabila ia dapat
mengalahkan Ki Demang tidak akan ada lagi orang yang berani
menentangnya. Tetapi dengan demikian ia sudah membuat jarak dengan
orangorang di seluruh Kademangan Kepandak. Apalagi apabila pimpinan
pemerintahan di kota Mataram ikut campur. Keadaan akan menjadi gelap
dan tidak dapat diperhitungkan dengan baik. Hanya apabila hal itu
tidak dapat dihindari, maka apaboleh buat. Ibarat orang menyeberang,
pakaiannya sudah terlanjur basah Terus basah, kembalipun basah.
Lamat dan Manguri yang duduk diatas sebatang cabang yang rimbun
akhirnya melihat sepeietikbara api yang bergerak-gerak di kebun
belakang rumah Ki Demang. Sejenak bara api itu berhenti, dan sejenak
kemudian berputaran. "Itulah dia" desis Manguri "ingat-ingat tempat
itu. Kau kelak harus bersembunyi di sana Kalau Sindangsari telah
berada di tempat itu, cepat-cepat tangkap perempuan itu. Jangan
sampai memekik supaya tidak timbul keonaran" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bawa perempuan itu segera keluar
halaman. Di ujung halaman rumah sebelah sudah disediakan seekor kuda
yang besar buat kau dan Sindangsari. Ingat kau harus segera membawa
perempuan itu ke tempat yang sudah aku sediakan. Kau mengerti?"
Lamat mengangguk. "Kau mengerti?" Manguri mengulangi "seekor kuda
buat kau dan Sindangsari " Lamat mengangguk sekali lagi Tetapi kali
ini ia menjawab "Ya. Aku mengerti" "Baik. Tetapi kau tidak boleh
keliru. Kalau kau gagal maka bukan hanya lehermu sajalah yang akan
dipenggal. Tetapi leherku dan leher Ki Reksatani. Kau tidak usah
mempedulikan Rektasani. Tetapi kalau akulah kelak yang dihukum mati.
maka kau akan berdosa pula. Kau tidak dapat menyelamatkan nyawaku
meskipun nyawamu telah diselamatkan ayah" Lamat mengangguk-angguk
sambil menjawab "Ya" "Bagus. Lihat itu. Bara yang merah itu sekali
lagi berputarputar. Kita sudah pasti, di sanalah nanti pada saatnya
kita akan menunggu" "Apakah di tempat itu kelak di saat peralatan
berlangsung akan sepi dan tidak dijaga oleh seorangpun" "Kita tidak
usah memikirkannya. Itu pasti sudah diperhitungkan oleh Ki
Reksatani" "Tetapi alangkah baiknya kalau kita dapat menguasai
keadaan seluruhnya, sehingga tugas ini akan selesai dengan baik dan
selamat" "Ki Reksatani pasti sudah menyiapkan segala sesuatunya.
Kalau di tempat itu banyak orang, maka ia adalah orang yang paling
gila yang pernah aku jumpai. Sedangkan kalau di tempat itu terdapat
banyak orang dan kau melangsungkan juga penculikan ini, maka kaupun
sudah kejangkitan penyakit gila itu juga. Mengerti? Kali ini kau
jangan berbuat bodoh kalau kau masih sayang akan nyawamu yang pernah
diselamatkan oleh ayah itu" Lamat tidak menjawab. Ia hanya dapat
menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap dadanya. Sementara Manguri
berkata seterusnya "Kali ini kita berhadapan dengan Ki Demang di
Kepandak. Kemudian dengan Ki Reksatani sendiri" Lamat masih tetap
berdiam diri. "Apa kau dengar?" geram Manguri. "Ya, ya. Aku
mendengar" desis Lamat. Keduanyapun kemudian terdiam. Tatapan mata
mereka kembali kepada bara di ujung upet yang berputar-putar. Namun
kemudian bara sepelitik itupun kemudian seakan-akan hilang begitu
saja di dalam kegelapan. "Ya. Dan kitapun sudah cukup mengenal
tempat itu Aku harus mengingat-ingatnya" "Nah, agaknya kau mampu
juga berpikir" sahut Manguri. Lamatpun terdiampula. "Tugas kita
malam ini sudah selesai. Kita akan segera pulang. Kita menunggu
keterangan lebih lanjut dari Ki Reksatani" Lamat tidak menjawab.
Tetapi keduanyapun kemudian turun dari pohon manggis. "Bagaimana
dengan kedua orang dipohon randu itu?" bertanya Lamat. "Mereka tahu
apa yang harus mereka lakukan. Keduanya bukan urusan kita" jawab
Manguri. Dengan demikian maka tanpa memberitahukan kepada kedua
orang yang masih berada diatas pohon randu, keduanyapun meninggalkan
tempat itu. "Mereka akan melihat kita pergi" berkata Manguri
"kecuali apabila mereka tertidur diatas pohon itu. Jika demikian
maka itu adalah salah mereka sendiri. Manguri dan Lamatpun kemudian
dengan tergesa-gesa meninggalkan tempatnya, pulang ke rumah mereka.
Di sepanjang jalan, telah terbayang pada keduanya, apa yang akan
terjadi. Namun ternyata sudut pandangan mereka jauh berbeda. Manguri
mengharap agar Lamat berhasil dan membawa Sindangsari ke tempat yang
tersembunyi. Memang mungkin Sindangsari menolaknya di hari-hari
pertama. Tetapi pada suatu saat hati perempuan itu pasti akan luluh.
"Setelah ia berada di rumah Ki Demang, akhirnya ia mengandung juga"
berkata Manguri di dalam hatinya "pasti demikian juga setelah ia
berada di rumah yang akan dihuninya itu. Meskipun rumah itu kecil
dan t idak sebagus Kademangan, tetapi aku akan melengkapinya dengan
perabot yang paling mahal di Mataram" Namun agaknya Lamat berpikir
lain, meskipun ia membayangkan juga apa yang akan terjadi atas
Sindangsari, yang akan mengalami nasib yang sangat pahit. Di
sepanjang jalan Lamat sedang mencoba menghitung, betapa besar dosa
yang akan diperbuatnya nanti. Demikianlah, maka semua persiapan yang
dilakukan oleh Ki Reksatani sudah menjadi sangat rapi. Apabila tidak
terjadi sesuatu yang berada di luar perhitungan, semuanya akan
berlangsung dengan baik. Meskipun demikian Ki Reksatani telah
bersiap-siap pula apabila rencana ini gagal. Sesuai dengan
pengalamannya, Ki Reksatani tidak dapat memastikan bahwa rencana
yang tampaknya sudah masak benar itu dapat berlangsung tanpa
rintangan apapun. Sepertiyang pernah terjadi atas Puranta.
Seakan-akan semuanya telah diperhitungkan dan akan berjalan dengan
sendirinya sesuai dengan maksudnya. Tetapi yang terjadi adalah
sebaliknya Puranta itu didapatinya mati tanpa dapat diketahui siapa
pembunuhnya. Karena itu, Ki Reksatani tidak mau mengalami kegagalan
sekali lagi. Kalau perlu, semuanya akan diselesaikan dengan
kekerasan. Selain Ki Reksatani, Manguripun telah mempersiapkan
dirinya pula. Seperti Ki Reksatani, ia tidak dapat mempercayakan
diri kepada rencananya semata-mata. Kalau rencana itu gagal, ia
harus mempunyai alat untuk melindungi dirinya. Di dalam hal yang
demikian ia akan dapat bekerja bersama dengan Ki Reksatani. Tetapi
apabila rencana ini berhasil, ia masih juga harus bersiap-siap
menghadapi kemungkinan yang sama sekali tidak dikehendakinya.
Apabila Ki Reksatani ingkar janji seperti perhitungan ayahnya, ia
sudah menyusun kekuatan untuk bertahan. "Aku akan ada di rumah pada
hari-hari yang ditentukan itu kelak" berkata ayah Manguri "semua
orang-orangku akan berkumpul. Mereka adalah orang-orang yang dapat
dipercaya. Bersama Lamat, kau dan aku Kademangan ini akan dapat kita
kuasai. Apalagi orang yang bernama Reksatani itu. Pada suatu saat
aku memang ingin membunuhnya" "Ayah" desis Manguri. Ayahnya tidak
menjawab Tetapi ia hanya tersenyumsaja. Dengan demikian maka hati
Manguri menjadi kian berdebar-debar. Agaknya ayahnya memang sudah
mengetahui hubungan rahasia antara ibunya dan adik Ki Demang di
Kepandak itu. "Tetapi Manguri kemudian t idak peduli lagi. Biarlah
apa saja yang akan terjadi. Tetapi Sindangsari harus jatuh ke
tanganku. Pelaksanaan rencana itu kemudian ditandai oleh kepergian
Ki Reksatani ke rumah kakek, nenek dan ibu Sindangsari Meskipun
mereka sudah mendengar, tetapi secara resmi Ki Reksatani menjadi
utusan Ki Demang untuk mengundang mereka pada peralatan tujuh bulan
kandungan Sindangsari. "Tentu, tentu, kami tentu akan datang"
berkata ibu Sindangsari "aku akan segera punya cucu, dan kakek
Sindangsari berdua akan mempunyai seorang cicit" "Kami sangat
mengharap kehadiran kalian" berkata Ki Reksatani kemudian "tidak
sekedar tepat pada hari peralatan, tetapi dua atau tiga hari
sebelumnya" "Aku mungkin dapat melakukannya" jawab ibu Sindangsari
"tetapi kakek dan nenek Sindangsari mempunyai banyak tanggung jawab.
Di rumah dan di sawah" jawab ibu Sindangsari. "Tetapi sudah tentu
kalian akan bermalam di Kademangan "sambung Ki Reksatani. "Ya,
mudah-mudahan" "Besok, orang-orang di Kademangan pasti sudah mulai
menyiapkan segala sesuatu. Peralatan itu tinggal kurang sepekan
lagi" "Ya, sudah barang tentu" "Kapan kalian akan datang, terutama
ibu mBok-ayu Demang di Kepandak itu?" "Aku akan berusaha datang tiga
hari sebelum hari peralatan itu" "Baik. Aku akan mengatakannya
kepada kakang dan mBokayu Demang" sahut Ki Reksatani "mereka pasti
akan bersenang hati. Tugasku sendiri ternyata masih cukup banyak.
Aku masih harus mencari buah kelapa gading sepasang yang kelak akan
dilukisi gambar Kama dan Ratih, atau Arjuna dan Sumbadra. "Bukankah
masih ada waktu beberapa hari lagi?" bertanya ibu Sindangsari. "Ya,
memang masih ada waktu. Tetapi aku harus sudah mulai sejak sekarang,
supaya besok pada saatnya, aku tidak dikejar-kejar oleh kegelisahan
karena kekurangan waktu" Ki Reksatanipun kemudian minta diri. Memang
masih banyak yang harus dikerjakan. Selain persiapan peralatan itu
sendiri, juga persiapan tentang rencananya bersama Manguri. Tetapi
karena ayah Manguri ada di rumah, Ki Reksatani tidak dapat pergi ke
rumah itu. Ia telah membuat tempat pertemuan yang khusus dengan
Manguri untuk mematangkan setiap rencana. Semakin dekat dengan hari
peralatan itu, mereka harus semakin sering berhubungan. "Sepekan
lagi" berkata Ki Reksatani "siapkan dirimu. Jasmaniah dan batiniah
Jangan gelisah dan bingung. Dengan demikian maka banyak rencana yang
justru akan gagal" "Aku bukan anak-anak lagi" jawab Manguri "aku
tahu pasti, apakah yang sebaiknya aku kerjakan" "Jangan berkata
begitu. Kau dan aku masing-masing tidak akan tahu pasti apa yang
harus kita kerjakan masing-masing apabila kita tidak selalu saling
berhubungan" Akhirnya Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya.
Jawabnya "Baiklah, Aku akan selalu menghubungi kau dan mendapatkan
petunjuk-petunjukmu untuk seterusnya" "Bagus. Usaha ini bukan
sekedar usaha kecil-kecilan. Taruhannya nyawa. Nyawa kita
masing-masing dan mungkin nyawa banyak orang di Kepandak" "Aku
menyadari. Tetapi akupun sudah siap menghadapi setiap kemungkinan"
Demikianlah, maka tampaknya rencana Ki Reksatani memang sudah masak.
Mereka tinggal menunggu dengan hati yang berdebar-debar hari yang
merayap lamban sekali maju. Namun tidak dapat dilepaskan dari
perhitungan Ki Reksatani sebab-sebab Puranta mati terbunuh.
Pembunuhnya sampai saat terakhir masih belum diketemukannya. Kalau
tibatiba saja ia muncul merusak rencananya, maka ia harus
mempergunakan caranya yang terakhir. Kekerasan. Tetapi selagi
kemungkinan yang paling baik itu dapat dilakukan, maka cara itulah
yang akan ditempuhnya lebih dahulu. Hari demi hari datang beruntun.
Yang lima t inggal empat, kemudian yang empat itupun tinggal tiga.
Kademangan Kepandak telah mulai ramai membicarakan peralatan
besar-besaran yang akan diadakan oleh Ki Demang untuk menyambut
bulan ke tujuh dari kehamilan isterinya. Sebagaimana yang
direncanakan, maka peralatan kali ini benar-benar suatu peralatan
yang besar. Tidak saja di halaman Kademangan akan diselenggarakan
berbagai macam pertunjukan di setiap malam sampai malam ke tujuh,
tetapi di halaman banjar desa dan di padukuhan-padukuhan yang
lainpun, rakyat Kepandak ikut merayakannya. Di hari ketiga sebelum
peralatan jalan-jalan padukuhan sudah dipenuhi dengan oncor-oncor
jarak yang dibuat oleh anak-anak. Sehari-harian mereka mencari buah
jarak kepyar. Setelah dijemur di panas matahari maka bijinya
dirangkainya panjang sekali. Biji-biji jarak itu merupakan obor yang
baik meskipun tidak dapat tahan terlampau lama. Tetapi di setiap
jalan simpang, yang terpancang bukan sekedar obor-obor jarak, tetapi
lampu-lampu minyak jarak, yang dapat tahan sampai semalamsuntuk. Di
hari itu ibu Sindangsari memerlukan datang ke Kademangan menunggui
anaknya yang sedang menjadi pusat perhatian setiap orang. Pada
saatnya Sindangsari akan dimandikan bersama suaminya. Kemudian
diikuti oleh berbagai macamupacara seperti yang lajim dilakukan. Di
hari-hari yang semakin dekat dengan hari peralatan itu, Ki
Reksatanipun menjadi semakin berdebar-debar. Siang malam ia sudah
tidak beranjak dari Kademangan bersama isterinya. Bahkan
anak-anaknya yang kecilpun dibawanya pula, agar Nyai Reksatani tidak
setiap kali harus pulang menengok anak-anaknya, Sindangsari
kadang-kadang menjadi heran melihat perbedaan tingkah laku Nyai
Reksatani. {a kini menjadi seorang perempuan yang baik, yang ramah
dan yang berusaha menempatkan dirinya sebagai seorang saudara muda.
Jauh berbeda dengan beberapa saat yang lampau, selagi ia mencoba
menjebaknya dan menjatuhkannya ke tangan seorang laki-laki, meskipun
akhirnya semuanya akan tergantung kepada dirinya sendiri. Untunglah
bahwa aku tidak terjerumus karenanya "Sindangsari selalu mengucap
sukur di dalam hati "Tuhan masih tetap melindungi aku " Bahkan tanpa
disangka sangkanya Nyai Reksatani itu di dalam suatu kesempatan
berkata kepadanya "mBok-ayu, maafkan tingkah lakuku beberapa saat
yang lampau. Lupakanlah Kau akan menjadi seorang ibu yang
berbahagia. Sebentar lagi kau akan melahirkan. Mudah-mudahan anak
itu kelak akan menjadi seorang ianafe yang utama. Kalau ia lakilaki
biarlah ia menjadi seorang laki-laki yang baik, yang bermanfaat bagi
Kademangan ini, berjebih-lebih lagi bagi Mataram. Kalau ia
perempuan, biarlah ia menjadi perempuan yang setia. Setia kepada
orang tua, kepada suami dan kepada tanah kelahirannya, seperti
kesetiaan ibunya" "Ah" desah Sindangsari. Tetapi ia tidak menyahut.
Keheranheranannya kian bertambah. Nyai Reksatani kini seakan-akan
menjadi seorang perempuan yang berpandangan sangat luas. Bukan saja
tentang dirinya sendiri, tentang keadaan diseputarnya, tetapi juga
tentang keseluruhan yang melingkunginya. "Anggaplah semua yang sudah
terjadi itu seperti sebuah mimpi. Dan mBok-ayu sekarang sudah
terbangun. Dengan demikian maka sudah tidak ada lagi hubungan apapun
dengan mimpi yang buruk itu" Sindangsari mengangguk-anggukkan
kepalanya "Ya Aku mengerti" Nyai Reksatani menepuk bahunya. Kemudian
ditinggalkannya Nyai Demang itu sambil berkata "Pekerjaanku masih
banyak. Kau tidak usah ikut melakukan apapun juga. Jagalah
kandunganmu baik-baik" "Terima kasihi" jawab Sindangsari. Namun
dalam pada itu Nyai Reksatani menganyam-anyam cara yang
sebaik-baiknya. Katanya, di dalam hati "Aku harus mendapatkan
kepercayaannya kembali. Di malam itu aku harus membawanya ke tempat
yang sepi itu. Maka akan hilanglah perempuan yang di hari ini dan di
hari-hari mendatang sedang dieluk-elukan seperti seorang Permaisuri
ini" Tetapi betapapun sibuknya, Ki Reksatani masih juga sempat
sesaat keluar dari halaman Kademangan menemui Manguri di ujung
padukuhan di malam hari. Karena Kademangan Kepandak telah menjadi
semakin ramai, mnka kadang-kadang Manguri harus menunggunya di
tengahtengah bulak. Anak itu tidak dapat mendekati padukuhan apalagi
di sekitar rumah Ki Demang karena anak-anak muda sudah mulai ramai
di jalan-jalan padesan. "Kalian harus mengikuti jalannya upacara
dengan baik" berkata Ki Reksatani "sesudah mandi, kedua suami isteri
itu akan diarak mengelilingi rumah. Kemudian mereka akan berhenti di
halaman depan. Keduanya akan melangkahi perapian kecil, dan
selanjutnya keduanya akan dibawa masuk ke rumah. Kalau kau tidak
dapat melihat apa yang terjadi di dalam rumah itu, kau dapat
memperhitungkan waktunya. Perempuan itu harus makan rujak yang
disebutnya rujak edan. Kemudian ia harus berganti pakaian tujuh
kali. Ingat tujuh kali. Sesudah itu sepasang kelapa gading yang
sudah digambari Kama dan Ratih akan diselusupkan diantara kainnya
yang ke tujuh sebelum upacara yang terakhir. Merias perempuan itu
sebaik-baiknya dengan pakaiannya yang ke tujuh" "Begitu banyak?"
bertanya Manguri "jadi, apakah kami nanti harus menunggu sampai
tengah malam. "Memang tengah malam. Mereka dimandikan di tengah
malam, Kalian baru dapat bertindak di dini hari. Ingat, Upacara baru
mulai di tengah malam" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya kemudian "Kalau begitu, untuk mengurangi kemungkinan yang
tidak dikehendaki, aku akan datang sesudah tengah malam, supaya aku
tidak terlalu lama menunggu" "Terserah. Tetapi kau tidak boleh
terlambat. Begitu upacara selesai, isteriku akan membawa Sindangsari
ke belakang Ke tempat yang sudah aku tunjukkan kepadamu" "Kau yakin
tempat itu sepi" "Akulah yang mengatur tempat di Kademangan selama
peralatan berlangsung. Kakang Demang sama sekali tidak akan
mencampuri karena ialah yang akan menjadi sasaran upacara" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah. Aku akan memperhatikan
semuanya. Lamat akan berada di tempatnya pada saat yang sudah
ditentukan" "Hati-hatilah" "Aku sudah tahu akibatnya kalau usaha ini
gagal. "Terserah kepadamu. Orang-orangkupun akan siap pada saat-saat
menjelang tengah malam. Mereka akan berada di mulut-mulut lorong dan
di tempat kuda Lamat disediakan" "Baik" "Apakah kau juga membawa
orang-orang khusus?" Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak. Hanya
beberapa orang untuk membantu Lamat apabila diperlukan" Ki Reksatani
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya iapun menaruh curiga
kepada Manguri. Ia sadar, bahwa ayah Manguri juga mempunyai beberapa
orang upahan yang sehari-hari harus memelihara dan menjaga
ternaknya, sedang di saat-saat tertentu mengawal ternak itu ke
tempattempat yang jauh Tetapi bukanlah saatnya untuk
memperbincangkan prasangka masing-masing, seperti juga Manguri
berprasangka. Di Kademangan, tidak seorangpun yang menyangka, bahwa
di Kademangan Kepandak sedang dipersiapkan suatu rencana yang
mengerikan. Mereka tenggelam di dalam kerja yang melelahkan, tetapi
menggembirakan. Setiap kali mereka berkelakar diseling oleh suara
tertawa yang meledak-ledak. Baik di dapur, yang dengan Jenaka
beberapa orang perempuan menyindir-nyindir Sindangsari, maupun di
pendapa, para bebahu Kademangan yang duduk bersamasama dengan Ki
Demang. "He, lihatlah. Menilik lekuk di pipi, anak yang pertama ini
pasti laki-laki" desis seseorang yang duduk di samping Nyai Demang.
"He, kenapa yang pertama?" bertanya yang lain. "Tentu. Tentu akan
segera disusul oleh yang kedua, yang ketiga dan seterusnya" "Sampai
yang keberapa?" "Jangan bertanya kepadaku. Bertanyalah kepada Nyai
Demang. Berapa saja dibutuhkannya" "Jangan kepada Nyai Demang"
potong seorang perempuan yang masih cukup muda" bertanyalah kepada
Ki Demang" Suara tertawapun meledaklah. Sedang Sindangsari hanya
menundukkan kepalanya sambil tersenyum-senyum. "He, jangan
mengganggu, Kalian hanya akan menunggu, kapan kalian mendapat
kesempatan menghadiri peralatan serupa ini lagi" berkata yang lain.
"Mana mungkin. Peralatan semacam ini, menyambut bulan ke tujuh dari
kandungan seorang ibu, hanya dilakukan satu kali. Yang pertama. Lain
kali, meskipun seandainya Nyai Demang akan mengandung sepuluh kali
lagi, tentu tidak akan ada peralatan serupa ini" "Memang. Peralatan
seperti ini hanya satu kali. Tetapi rangkaian dari peralatan ini
kelak banyak sekali. Hari kelahiran Sepasar dan selapan. Apabila di
setiap malam sebelum puputan, di pendapa banyak terdapat orang-orang
yang berjaga-jaga sambil membaca kitab dan kidung, maka kalian akan
mendapat kesempatan pula untuk menunggui dapur ini sampai limabelas
hari, bahkan lebih" "Sekali lagi terdengar perempuan-perempuan yang
sedang membantu memasak berbagai macam masakan itu tertawa.
Demikianlah, maka siang dan malam para tetangga beramai-ramai
membantu segala keperluan di Kademangan yang akan mengadakan
peralatan besar-besaran. Para bebahupun selalu hadir di pendapa
berganti-gantian. Yang seorang pulang yang lain datang. Lebih-lebih
Ki Jagabaya. Seperti Ki Rekstani, ia hampir t idak pernah
meninggalkan Kademangan. Namun di dalam suasana yang cerah itu, Ki
Demang kadang-kadang masih juga sempat merenung. Ia sadar
sesadar-sadarnya, bahwa anak yang kini sedang dielu-elukan dengan
segala macam upacara yang segera akan diselenggarakan itu sama
sekali bukan anaknya, tetapi anak orang lain. Kini ia harus
menyelenggarakan peralatan yang besar, menyediakan beaya, tenaga dan
semua yang mungkin diadakan untuk kepentingan dan keselamatan anak
itu. Sekali-sekali Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia
tidak akan dapat mengelakkan diri. Seolah-olah sudah menjadi
keharusan baginya untuk menerima keadaan yang bagaimanapun juga
menjelang kelahiran anak itu. "Tetapi anak itu merupakan suatu
kenyataan. Anak itu dapat memberikan kebanggaan kepadaku, karena
setiap orang tidak akan lagi menuduhku, sebagai seorang laki-laki
yang tidak dapat memberikan keturunan. Tetapi anak itu juga
merupakan duri di dalam jantungku Setiap kali terasa betapa
pedihnya" Bukan saja Ki Demang, tetapi juga Sindangsari kadangkadang
merasakan juga perasaan yang aneh. Seperti Ki Demang iapun
mengetahui dengan pasti, bahwa anak itu didapatkannya dari seorang
anak muda yang bernama Pamot. Bukan Ki Demang yang saat ini telah
menyediakan apa saja untuk menyambut kandungannya yang genap berumur
tujuh bulan. Tetapi keduanya, baik Ki Demang, maupun Sindangsari
setiap kali selalu berusaha menyembunyikan perasaan itu Di hadapan
para tamu, mereka selalu tertawa dan tersenyumsenyum. Apalagi Ki
Demang. Ia dapat menanggapi kelakar para bebahu dan
tetangga-tetangganya yang selalu mengunjunginya menjelang peralatan
itu. Akhirnya, malam yang dinantikan itu tiba juga. Malam peralatan
menyambut bulan ke tujuh kandungan Sindangsari. Malam pertama dari
rangkaian peralatan itu, akan dilakukan dengan bermacam-macam
upacara sesuai dengan adat. Upacara yang akan dipimpin oleh orang
tua-tua. Di malam itu masih belum ada pertunjukan apapun di halaman,
karena upacara baru dimulai sesudah tengah malam. Baru di malam
berikutnya direncanakan pertunjukan di halaman yang akan berlangsung
sepekan penuh. Semua rombongan pertunjukan yang akan mengisi halaman
Ki Demang sudah dihubungi, dan semuanya telah siap pula
melakukannya. Tari topeng, wayang beber, dan berbagai pertunjukan
yang lain. Namun tidak seorangpun yang menyadari, bahwa di samping
rombongan pertunjukan yang telah menyiapkan diri untuk meramaikan
malam-malam berikutnya, di luar padukuhan itupun telah bersiap pula
sebuah rombongan yang lain. Rombongan orang-orang yang siap untuk
menyingkirkan Sindangsari. Ternyata persiapan Ki Jagabaya malam ini
tidak seketat pada saat Ki Demang mengawini Sindangsari. Kali ini Ki
Jagabaya merasa bahwa kemungkinan terjadi keributan hampir tidak
dilihatnya. Betapa cinta Pamot dan Manguri kepada Sindangsari,
tetapi Sindangsari kini adalah isteri Ki Demang. Apalagi perempuan
itu sudah mengandung pula. Sehingga keduanya pasti tidak akan lagi
berbuat sesuatu. Apalagi Pamot yang masih belum dapat dipastikan,
mati atau hidup itupun sebenarnya dapat diabaikan, karena ia pasti
belum berada di Kademangan Kepandak meskipun seandainya ia masih
hidup. Demikianlah maka sejak senja, rumah Ki Demang telah penuh
dengan orang-orang yang akan ikut di dalam upacara. Terutama
orang-orang tua. Mereka nanti akan memandikan Ki Demang dan
isterinya dengan air tawar yang diambilnya dari tujuh sumber air.
Ketika malam mulai gelap, beberapa orang segera mencari air ke
halaman-ke halaman tetangga Agar pasti, bahwa mereka mendapatkan air
dari tujuh mata air, maka merekapun mengambil dari tujuh buah sumur
di sekitar rumah Kademangan. Di ruang dalam, telah tersedia pula
setumpuk pakaian yang terdiri dari tujuh pengadeg. Tujuh lembar kain
dan tujuh lembar baju untuk Sindangsari yang diletakkan diatas
nampan disentong tengah, ditaburi dengan bunga-bungaan. Demikianlah
meskipun orang-orang tua itu sibuk bekerja, namun mereka sama sekali
tidak merasa lelah. Juga perempuan-perempuan di dapur. Beberapa
orang perempuan tua telah mengatur sajen yang akan diletakkan di
sudut-sudut halaman, disimpang empat dan dirumpun-rumpun bambu
petung. Sebelum upacara mulai di tengah malam, maka sajensajen itu
harus sudah diletakkan di tempatnya. Dalam pada itu, semua orang
bekerja dengan wajah yang cerah sesuai dengan tugas masing-masing.
Nyai Reksa tanilah yang berjalan hilir mudik mengatur segala
sesuatu, karena ialah yang diserahi seluruh tanggung jawab peralatan
ini bersama suaminya. Namun, selagi semua persiapan berjalan dengan
baik. seorang perempuan yang diserahi tugas menanak nasi setiap kah
mengusap keningnya yang berkeringat. Meskipun ia selalu berada di
depan perapian, namun terasa keringatnya yang meleleh di
punggungnya, adalah keringat yang dingin. "Tidak pernah aku
mengalami hal serupa ini" katanya sambil mengaduk nasi yang sedang
ditanaknya di dalam kukusan. Dengan cemas ia mencoba untuk membuat
nasi Itu masak. "He. kenapa kau bibi?" bertanya seorang perempuan
muda yang mengambil seonggok kayu di samping perapian. "Lihat"
berkata perempuan tua itu. "Apa?" "Nasiku tidak mau masak. Setiap
kali, bagian atas sudah masak, bagian bawah ternyata masih mentah"
"Aduk saja bibi" "Kau lihat juga, bahwa aku sedang mengaduk" "Ya.
Tunggulah. Sebentar lagi nasi itu akan masak. Masih belum tergesa
gesa. Bukankah mereka akan dijamu makan setelah semua perlengkapan
selesai. Air, cengkir kelapa sawit, pakaian, seonggok merang di
halaman" "Ya, memang belum tergesa-gesa. Tetapi dengarlah sudah
lebih lima kali aku mengaduk nasi ini. Tetapi setiap kali aku
menemui keanehan ini. Bagian ataslah yang masak sedang bagian bawah
masih juga mentah" "Kalau di balik. Bagaian yang masak itu taruhlah
di bawah. Yang mentah, biarlah diatas" "Yang bawah akan menjadi
mentah" "Aneh" perempuan muda itu mengerutkan keningnya "kalau
begitu, ambil sajalah bagian yang sudah masak itu. Bibi tinggal
mematangkan yang masih mentah" "Yang masak hanya selapis. Kalau aku
ambil bagian yang masak, maka tentu akan turut terambil juga yang
mentah" "Aneh. Aku kira tidak begitu. Bibi sudah sangat lelah.
Biarlah bibi beristirahat" "Lalu siapakah yang akan menanak nasi"
"Biarlah orang lain yang melakukannya. Bibi dapat beristirahat
sejenak" Perempuan muda itupun kemudian memanggil seorang tua yang
lain, yang juga sering menanak nasi diperalatanperalatan. Karena
menanak nasi merupakan pekerjaan yang khusus. Pekerjaan bagi mereka
yang sudah biasa melakukannya. "Kenapa mBok-ayu" bertanya orang yang
baru itu. "Mungkin benar. Aku terlalu lelah. Umurku sudah semakin
tua, sehingga tenagakupun tidak lagi sekuat orang-orang muda
meskipun aku masih ingin tetap demikian. "Beristirahatlah. Biarlah
aku yang melanjutkannya" Perempuan tua itupun menganggukkan
kepalanya. Kemudian ditinggalkannya perapian. Sejenak ia duduk
diatas amben di sudut dapur sambil mengunyah sirih. Selagi ia
terkantuk-kantuk, iapun terkejut ketika seorang perempuan muda yang
lain mendatanginya dengan tergesagesa. Katanya "Bibi, bibi.
lihatlah" Perempuan itu berpaling. Dilihatnya perempuan muda yang
datang kepadanya itu membuka sebungkus makanan. "Hawug-hawug ini
mentah bibi" Perempuan tua itu mengerutkan keningnya, Sambil
menyentuh makanan itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya memang
belum masak. Sebentar lagi hawug-hawug ini akan masak" "Perempuan
muda itu menggelengkan kepalanya. Katanya "Air di dalam dandang itu
hampir kering. Tetapi hawug-hawug ini t idak mau masak. Biasanya
tidak begitu lama seperti kali ini" Perempuan tua itu memandang
makanan mentah itu dengan kerut-kerut didahinya. "Bukankah bibi
tahu" berkata perempuan muda itu seterusnya "bukankah di padukuhan
ini tidak ada orang yang lebih cakap dari padaku untuk membuat
makanan serupa ini? Berapa puluh kali aku membuat makanan serupa ini
di setiap peralatan. Tetapi aku tidak pernah mengalami hal yang aneh
seperti ini. Aku sudah menghabiskan sebongkok kayu. Tetapi makanan
ini t idak mau masak juga" Perempuan tua itu menjadi semakin
gelisah. Ia sendiri mengalami keanehan. Nasinya tidak mau masak di
bagian bawah Bagian yang sudah masakpun akan menjadi mentah kembali,
apabila nasi itu diaduk rata. Tetapi perempuan itu tidak
mengatakannya. Bahkan ia berkata "Cobalah sekali lagi, Mungkin
kukusan yang kau pergunakan kurang baik. Lubang-lubangnya terlampau
kecil, sehingga uap air dari dandang di bawah kukusan itu tidak
dapat masuk" Perempuan muda yang membuat makanan itu
mengangguk-anggukkan kepalanya Sejenak kemudian iapun kembali ke
tempatnya. Seperti pendapat perempuan tua itu. dicobanya sekali lagi
untuk mematangkan masakannya. Sepeninggal perempuan muda itu, maka
terasa betapa kantuk yang tidak tertahankan, Meskipun perempuan tua
itu masih mengunyah sirih, namun tiba-tiba saja matanya terpejam. Di
dalam hirup pikuk perempuan-perempuan yang bekerja di tempatnya
masing-masing, perempuan tua itu sempat tertidur sambil bersandar
tiang. "Bibi memang lelah sekali" desis perempuan yang duduk di
depan pintu sambil membuat sudi. "Ya, ia sempat tertidur"
Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Mereka
membiarkannya perempuan tua itu tertidur sejenak. Namun dalam pada
itu, perempuan lain yang menggantikannya menanak nasi itupun menjadi
gelisah pula. Seperti perempuan yang terdahulu ia mengalami keanehan
serupa. "Aneh. Inilah yang membuat mBok-ayu gelisah. Memang tidak
masuk akal" gumamnya kepada diri sendiri. Namun tiba-tiba ia
terperanjat, seperti semua orang yang ada di dapur itu, ketika
tiba-tiba saja jambangan air di sudut pecah tanpa sebab. Airnya
tertumpah dan mengalir menggenangi lantai. Beberapa orang perempuan
bangkit dari tempatnya dan berjalan dengan tergesa-gesa ke sudut
dapur. Sebagian yang lain segera menyibakkan setumpuk kayu yang
tersentuh air yang tertumpah itu, sedang yang lain mencoba menahan
air itu dengan sapu lidi. "He. jambangan itu pecah sendiri" desis
seseorang sambil meraba-raba pecahan jambangan itu. "Aneh, Tidak ada
seorangpun yang menyentuhnya" "Kucing barangkali?" "Tidak ada
kucing" "Lalu apa?" Seorang perempuan separo baya mendekati
jambangan itu sambil berkata "Anak yang mengisi jambangan ini memang
keras kepala. Sudah aku katakan, jangan diisi sampai penuh Jambangan
ini masih baru. Tentu tidak akan dapat menahan air yang sekian
banyaknya. Setelah dipergunakan beberapa lama, barulah jambangan
semacam ini dapat diisi sepenuhnya" "Siwurnya ada di dalam pula"
berkata yang lain "siwur ini agaknya tenggelam ketika dari lubang
tangkainya air mengisi penuh. Nah, agaknya ketika siwur ini
tenggelam, .sentuhan dengan jambangan baru ini terlampau keras,
sehingga jambangan ini pecah berantakan" Beberapa orang perempuan
yang lain menganggukanggukkan kepalanya. Tetapi yang lain lagi
menjadi gelisah, seolah-olah ia melihat suatu pertanda yang tidak
menyenangkan. Perempuan tua yang tertidur itupun terbangun pula
karena suara ribut. Ketika ia melihat jambangan di sudut itu pecah
maka t iba-tiba saja ia menjadi pucat. Tetapi ia tidak mengatakan
apapun juga. Meskipun demikian, tergesa-gesa ia bangkit melangkah
mencari Nyai Reksatani. "Nyai" berkata perempuan itu "ada beberapa
keanehan yang telah terjadi di dapur" Nyai Reksatani mengerutkan
keningnya "Maksudmu?" ia bertanya. "Hal-hal yang tidak biasa
terjadi, telah terjadi" "Apa saja" Maka perempuan itupun
menceriterakan apa yang telah terjadi. Nasinya yang mentah, makanan
yang tidak mau masak dan yang terakhir jambangan yang pecah. Nyai
Reksatanipun menjadi berdebar-debar. Apalagi ia tahu pasti, apa yang
akan terjadi di malam nanti, setelah upacara tengah malamberakhir.
"Lebih daripada itu Nyai" berkata perempuan tua itu "yang paling
aneh bagiku, bahwa aku sudah tertidur di dalam kesibukan itu. Itu
sangat aneh bagiku. Tetapi seandainya itu karena aku terlampau
lelah, baiklah. Aku memang mencoba untuk menganggapnya demikian.
Tetapi, di dalam tidurku yang hanya sejenak itu, aku telah bermimpi.
"Apa mimpimu" bertanya Nyai Reksatani dengan sertamerta. "Mimpi yang
mendebarkan" jawab perempuan itu. Nyai Reksatanipun menjadi semakin
berdebar-debar pula "Katakanlah" katanya kemudian. "Di dalam tidurku
yang hanya sejenak bersandar tiang itu. aku sempat bermimpi melihat
Kademangan ini sedang sibuk" "He, daradisah. Bukankah begitu
kenyataannya?" "Ya. Mungkin antara sadar dan tidak sadar, aku memang
masih mendengar kesibukan di dapur" "Lalu" "Kesibukan di malamhari
juga seperti ini" "Ya" "Seluruh halaman menjadi terang benderang,
seperti siang Lampu terpasang dimana-mana. Obor-obor raksasa disemua
sudut" "Ya" "Tetapi peralatan yang diadakan di dalam mimpiku sama
sekali bukan peralatan menyambut bulan ke tujuh seperti ini .Di
dalam mimpiku aku mendengar bahwa di Kademangan akan ada peralatan
pengantin. "Pengantin?" bertanya Nyai Reksatani. Suaranya menjadi
rendah dan terasa kuat tubuhnya meremang. Menurut kepercayaan orang
tua-tua. mimpi tentang pengantin adalah mimpi yang buruk. "Ya.
Dikademangan ini ada pengantin. Pengantin perempuannya adalah Nyai
Demang. Ya, Nyai Demang itu, Sindangsari. Tetapi aku tidak melihat
dan tidak mengetahui siapa pengantin laki-lakinya" "Ki Demang
barangkali?" Perempuan tua itu menggeleng "Bukan Ki Demang" "Siapa?"
"Aku tidak tahu" jawab perempuan tua itu. Setelah menelan ludahnya
sambil mengusap keringatnya ia meneruskan "tetapi ketika semua orang
sudah siap menyambut kedatangan penganten laki-laki, maka
Sindangsari tiba-tiba telah hilang" "Hilang? Kemana?" "Tidak
seorangpun yang tahu. Yang terjadi kemudian adalah angin prahara
yang keras sekali bertiup dari Utara. Batang-batang pohon di halaman
seperti diputar kian kemari. Dan akhirnya semua lampu dan obor padam
satu demi satu, sehingga akhirnya habis sama sekali. Semuanya
menjadi gelap. Aku tidak melihat apapun lagi selain hitam. Tetapi
aku masih mendengar hiruk-pikuk. Semakin lama semakin keras,
sehingga akhirnya aku terbangun. Ternyata di dapur itupun memang
terjadi hiruk pikuk, karena jambangan yang pecah itu" Nyai Reksatani
terdiam sejenak.Terasa dadanya bergetar semakin cepat. Mimpi orang
tua itu, serta apa yang telah terjadi di dapur seolah-olah merupakan
perlambang tentang Nyai Demang itu sendiri. Dengan susah payah Nyai
Reksatani mencoba menguasai perasaanya. Dicobanya untuk
mempergunakan akalnya sebaik-baiknya agar semua rencana suaminya
tidak gagal. Ia tahu benar, kalau rencana itu gagal, yang terjadi
adalah pertumpahan darah. Tetapi kalau rencana itu berhasil,
persoalannya masih dapat dibatasi meskipun Nyai Demang harus
dikorbankan. "Kalau ia kelak akan terbunuh juga, apaboleh buat.
Nyawa banyak orang memang lebih berharga dari nyawanya" katanya di
dalam hati. Nyai Reksatani itu terperanjat ketika orang tua yang
masih berada di mukanya itu bertanya "Apakah pendapat Nyai?" Nyai
Reksatani merenung sejenak. Sedang orang tua itu masih berkata
"Sebaiknya Nyai memperhatikan hal-hal yang agaknya tidak masuk akal
ini. Apakah Nyai akan mengatakan kepada Ki Demang, agar Ki Reksatani
dan Ki Jagabaya mendapat perintahnya untuk lebih berhati-hati?"
Namun sejenak kemudian Nyai Reksatani tersenyum sambil menepuk bahu
orang tua itu, Katanya "Jangan berpikir yang bukan-bukan bibi. Aku
tidak menolak pendapatmu bahwa kita harus berhati-hati. Tetapi
jangan mempercayai hal-hal serupa itu dengan berlebih-lebihan.
Jambangan itu memang jambangan baru. Siapa tahu, bahwa jambangan itu
sebenarnya memang sudah retak, kemudian diisi air terlampau banyak,
atau seseorang meletakkan siwur di bibirnya dan kemudian terjatuh ke
dalam. Dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lain " Nyai
Reksatani berhenti sejenak, lalu "sedangkan mimpimu itupun agaknya
terpengaruh oleh keadaanmu dan sekitarnya. Mungkin kau terlampau
lelah. Kau sehari-harian berada di dekat api, sehingga mimpi mupun
dikerumuni oleh api, meskipun berupa lampu dan obor-obor. Karena itu
jangan terlampau terpengaruh" Orang tua itu menundukkan kepalanya.
Dianggukanggukkannya kepalanya. Namun ia tidak meyakininya. Ia masih
sangat terpengaruh oleh pendapat orang-orang yang lebih tua
daripadanya, bahwa mimpi dapat menjadi sasmita. "Tetapi aku akan
menyampaikannya "sambung Nyai Reksatani "meskipun tidak kepada Ki
Demang yang sedang sibuk, aku akan mengatakannya kepada Ki
Reksatani" Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah
Nyai" "Seperti kau ketahui Ki Demang malam ini tidak boleh
dipengaruhi oleh persoalan-persoalan yang dapat membuatnya berkecil
hati. Malam ini ia menjadi benda yang harus diselenggarakan oleh
orang tua-tua" "Baiklah. Terserahlah kepada Nyai. Tetapi aku sudah
mengatakan agar aku tidak menyesal kelak" "Bagus. Kau tidak usah
cemas Kita akan lebih berhati-hati untuk seterusnya" "Kalau aku
cemas, maka yang paling mencemaskan adalah nasi itu. Kalau nasi itu
benar-benar tidak dapat matang, lalu dengan apa kita akan menjamu
tamu-tamu kita?" Nyai Reksatani termenung sejenak. Namun kemudian ia
berkata "Cobalah terus. Kalau nasi itu masih juga tidak mau masak,
maka cobalah menanak yang lain di tempat yang lain dan dengan
alat-alat yang lain pula. Mungkin mulut dandangnya sudah tidak bulat
lagi, atau kukusannya yang salah" Orang itu mengangguk-anggukkan
kepalanya "baiklah Nyai, aku akan
mencoba"
Jilid 7 "MASIH ada waktu. Jangan
tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan kadang-kadang menimbulkan banyak
kesalahan" Perempuan tua itu mengangguk sekali lagi "Baiklah Nyai.
Aku akan ke dapur lagi" Maka dilakukannya pesan Nyai Reksatani itu.
Tetapi ia tidak menunggu apakah nasi yang ditanaknya semula itu akan
masak. Supaya tidak dikejar oleh waktu, maka iapun menanak nasi di
tempat dan dengan alat yang lain. "Kau menanak nasi lagi mBok ayu?"
bertanya orang yang menggantikannya. "Nyai Reksatani menyuruh aku
menanak nasi yang lain. Kalau nasi itu tidak juga mau masak, kita
tidak akan kebingungan. "Kalau nasi ini nanti mau masak juga?"
"Masih ada banyak sekali mulut yang akan makan" Yang mendengar
pembicaraan itu tersenyum. Perempuan muda yang membuat hawug-hawug
itupun datang mendekatinya "Lambat laun makanan itu masak juga bibi"
"Nah. kalau begitu, kukusannyalah yang salah. Lubangnya pasti
terlampau kecil, seperti kukusan yang dipergunakan untuk menanak
nasi itu" "Tetapi kenapa justru yang di bawah yang mentah?"
Perempuan tua itu. tidak menjawab. Sambil mengangkat bahu ia berkata
"Tetapi nasi itu akhirnya akan masak juga" Ternyata kata-katanya itu
benar. Meskipun jauh lebih lama dari waktu yang biasanya
dipergunakan, nasi itupun masak juga. Tetapi rasanya tidak sesedap
nasi yang biasa, seakanakan nasi itu terlampau lama terendamdi
dalamair. Tetapi tidak banyak orang yang memperhatikan hal itu.
Perempuan tua, perempuan separo baya yang menggantikannya, perempuan
muda yang membuat makanan, ternyata tidak banyak menceriterakannya
kepada orang lain agar tidak menumbuhkan kegelisahan. Meskipun
demikian sambil berbisik-bisik hal itupun meloncat dari mulut
ketelinga kemudian ke telinga yang lain pula, sehingga semakin
malam, semakin banyak pula orang yang mengerti. Tetapi mimpi yang
mendebarkan itu tidak pernah diceritera-kan kepada orang lain
kecuali Nyai Reksatani. Demikianlah maka malampun menjadi semakin
malam. Ketika semua persiapan sudah selesai, menjelang tengah malam,
maka semua orang yang ikut serta di dalam upacara itupun telah
dijamu makan. Sebentar lagi mereka akan segera mengikut i upacara
adat, memandikan kedua suami isteri yang sedang menyambut kandungan
anak mereka genap tujuh bulan. Pendapa Kademangan Kepandak yang
terang benderang seperti siang itupun tampak gembira sekali. Setiap
kali suara tertawa meledak diantara para tamu yang sedang dijamu
makan Sempat juga mereka menyuapi mulut mereka sambil berkelakar. Di
ruang dalam perempuan-perempuan tua telah siap dengan segala macam
persiapan mereka. Rujak edan, pakaian tujuh pengadeg, cengkir kelapa
sawit bergambar Kama dan Ratih serta berbagai macamperlengkapan yang
lain. Ketika ayam jantan berkokok di tengah malam dan menjalar dari
kandang kekandang, maka orang-orang tuapun berdiri dari tempatnya
masing-masing. Seorang yang diserahi memimpin upacara itupun segera
membawa sepasang suami isteri itu ke pakiwan yang sudah diisi dengan
air yang diambil dari tujuh buar sumur. Setelah dibacakan mantera,
maka orang tua itulah yang pertama-tama menyiram kedua suami isteri
yang duduk bersanding itu dari ujung rambut mereka sampai keseluruh
tubuh, dengan air dari tujuh mata air itu yang sudah ditaburi dengan
bunga-bungaan. Setelah pemimpin upacara itu selesai memandikannya,
maka disiramnya kedua suami isteri itu dengan air gendi, sambil
mengusap kepala masing-masing berganti-ganti. Setelah air gendi itu
habis, maka gendi itupun dibantingnya sampai pecah. Setelah itu,
maka mulailah para tamu, terutama perempuan-perempuan tua, berurutan
memandikan keduanya. Setiap orang menyiram Ki Demang dan Nyai Demang
dengan air yang dingin itu. Tidak hanya satu dua kali, tetapi
kadang-kadang mereka memandikannya seperti memandikan bayi,
menggosok tubuh mereka dan bahkan ada juga yang masih membaca
doa-doa. "Alangkah dinginnya" desis Ki Demang di dalam hati Meskipun
bibirnya menjadi biru dan gemetar, tetapi ia masih harus tetap duduk
di tempatnya sampai orang terakhir selesai menyiram kepalanya dengan
air yang dingin itu. Demikian pula Sindangsari. Iapun menjadi
kedinginan dan gemetar. Tetapi ia harus bertahan sampai semuanya
mendapat giliran memandikan mereka berdua. Ketika orang yang
terakhir telah selesai, maka orang tua yang memimpin upacara itupun
segera kembali masuk ke dalam pakiwan. Sekali lagi ia menyiram
keduanya, lalu katanya kepada orang yang masih berkerumun di luar
pakiwan "Ambillah lampu itu. Bawa pergi" Seseorang segera mengambil
lampu itu. Mereka sudah tahu, bahwa pakiwan itu memang harus menjadi
gelap. "Nah, sekarang tergantilah. Lepaslah pakaianmu yang basah dan
pakailah yang kering ini" berkata perempuan tua itu. Ki Demang dan
isterinya menjadi ragu-ragu sejenak. Sambil tersenyum tersipu-sipu
Ki Demang berkata "Nanti saja. Di dalam" "Sekarang. Harus sekarang.
Kau sekarang bukan Demang. Akulah yang berkuasa sekarang" berkata
perempuan tua itu. Terdengar suara tertawa di luar pakiwan. Ki
Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi karena pakiwan itu sangat
gelap, maka dengan terpaksa sekali Ki Demangpun akhirnya bersedia
juga berganti pakaian. "Nyai Demang" berkata perempuan tua itu "Kau
masih harus mencuci pakaian suamimu itu sebagai syarat bahwa kau
benar-benar bakti dan setia" Sindangsari tahu benar bahwa perempuan
tua itu sama sekali tidak bermaksud apa-apa. Sebagai seseorang yang
sudah terlampau biasa memimpin upacara semacam itu, maka urut-urutan
upacara itupun sudah dihafalnya. Namun demikian dada Sindangsari
berdesir juga. Ia tahu, bahwa ia bukannya perempuan yang setia.
Tidak setia kepada suaminya yang sekarang, dan tidak setia pula
kepada cintanya. Tetapi ia mencoba menyembunyikan perasaannya.
Apalagi di dalam gelap. Sedang Ki Demang yang berganti pakaian di
sampingnyapun tidak begitu terlihat olehnya dan oleh orangorang yang
berkerumun di luar pakiwan, meskipun pintu pakiwan itu tidak
tertutup. Dengan demikian, meskipun seandainya ada kesan yang
melonjak ke wajahnya sekalipun tentang perasaannya yang bergejolak
itu, tentu tidak seorangpun yang akan melihatnya. Perempuan tua itu
tidak dan suaminyapun tidak. Ki Demang yang masih ada di pakiwan itu
masih harus menunggui isterinya mencuci pakaiannya yang basah ketika
ia dimandikan. Kemudian menunggu Sindangsari mengganti pakaiannya
yang basah dengan yang kering pula. "Nah, semuanya sudah selesai.
Berdirilah berjajar di pintu" Keduanyapun kemudian berdiri berjajar
di pintu meskipun mereka belum berpakaian lengkap. Sementara itu,
perempuan tua yang memimpin upacara itu mengayunkan siwur. gayung
yang dipakainya untuk memandikan sepasang suami isteri itu, yang
dibuat dari kelapa, bukan saja tempurungnya, tetapi juga bersama
daging kelapanya, keatas sebuah batu sehingga gayung itupun pecah
pula berantakan. Setelah itu, barulah Ki Demang yang hanya
mengenakan celana dan isterinya berkain pinjung diarak ke halaman
depan. Sindangsari masih harus meloncati perapian di halaman. Merang
seonggok yang baru mulai menyala" Dari halaman keduanya dibawa masuk
ke pringgitan. Tepat di muka pintu mereka harus berhenti untuk makan
rujak tepat di tengah pintu. "Ki demang" berkata perempuan yang
memimpin upacara "sekarang Ki Demang boleh berpakaian lengkap,
sedang Nyai Demang masih harus mencoba beberapa macam pakaian. Yang
manakah nanti yang paling sesuai. Pada saat Ki Demang mengenakan
pakaiannya di dalam biliknya, setiap kali ia mendengar
perempuan-perempuan yang ada di pringgitan berseru "Tidak'. Tidak
sesuai. Tidak pantas" Maka Sindangsaripun harus berganti pakaian.
Demikian terulang sampai enam kali. Dan ia harus mengenakan
pakaiannya yang ke tujuh. Kain lurik berwarna hijau lumut dan baju
dari bahan yang sama dan berwarna sama. Selembar kemben yang
kehitam-hitaman dan selendang berwarna batu bata. "Nah, kini baru
pantas" berkata seseorang yang disahut oleh yang lain "Ya, sekarang
baru pantas" Hampir semua yang hadir menyambut pula "Ya. Sekarang
sudah baik, sudah pantas dan cantik sekali" Sindangsari hanya
tersipu-sipu saja sambil menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak
berbuat apa-apa sementara orang-orang tua mengganti pakaiannya dan
mengenakan pakaiannya yang ke tujuh di hadapan perempuan-perempuan
yang memenuhi pringgitan. Setelah ia mengenakan pakaiannya yang
terakhir, maka perempuan yang memimpin upacara itupun kemudian
menyelusupkan sepasang kelapa gading di dalam kain Sindangsari yang
diterima dengan selendang diantara kedua kakinya sambil berkata
"Nah. Nyai Demang. Kelak apabila anakmu laki-laki, ia akan setampan
Kama dan apabila perempuan ia akan secantik Dewi Ratih" Demikianlah
maka upacara mengenakan pakaian itu sudah selesai. Sindangsaripun
kemudian dibawa masuk ke dalam biliknya untuk benar-benar berpakaian
dan menyisir rambutnya yang basah kuyup. Dengan bibir yang biru dan
gemetar karena dingin Sindangsari meneguk minuman panas yang memang
disediakan untuknya. "Dingin sekali" ia berdesis. Beberapa orang
perempuan mengusap kakinya dengan minyak kelapa "Nanti akan segera
menjadi hangat" Namun dalam pada itu, Manguri yang menunggu upacara
itu di kebun mengumpat-umpat di dalamhati. Katanya "Apa saja yang
dikerjakan oleh orang-orang gila itu" Lamat mengerutkan keningnya.
Tetapi ia tidak menjawab. "Semua sudah siap" berkata Manguri
"perempuanperempuan itu sudah keluar dari pringgitan. Upacara itu
sudah selesai. Sebentar lagi Nyai Reksatani akan membawa Sindangsari
keluar. Kau harus dapat melakukan tugasmu dengan baik" Lamat
mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. "Semua sudah siap"
berkata Manguri "perempuanperempuan itu sudah keluar dari
pringgitan. Upacara itu sudah selesai. Sebentar lagi Nyai Reksatani
akan membawa Sindangsari keluar. Kau harus dapat melakukan tugasmu
dengan baik" Lamat menganggukkan kepalanya. "Di ujung lorong ini
telah tersedia seekor kuda untukmu dan seekor lagi kudaku. Di sudut
padukuhan kita akan melampaui beberapa orang Ki Reksatani.
Mudah-mudahan mereka t idak mengganggu kita" "Kenapa mereka
mengganggu?" bertanya Lamat. "Mungkin mereka menginginkan
Sindangsari pula Tetapi sudah tentu, mereka akan membunuhnya" Lamat
mengerutkan keningnya. "Kalau ia segera dibunuh itu akan cukup baik
buatnya. Tetapi aku tidak percaya pada laki-laki liar serupa itu.
Mereka akan banyak berbuat sebelum mereka membunuh Sindangsari.
Karena Itu kita harus menyelamatkannya" "Apakah kira-kira mereka
akan berbuat demikian?" "Aku tidak tahu, mudah-mudahan tidak. Tetapi
seandainya demikian aku sudah mengatur orang-orangku di pinggir
parit di seberang jalan" Lamat t idak menyahut. "Kalau mereka akan
merebut Sindangsari, kita akan mempertahankannya" Lamat masih tetap
berdiam diri. "He, apakah kau sudah tuli he?" Manguri
mengguncangguncang tubuh Lamat. "Ya, Aku mendengar dan aku mengerti.
Aku sedang mencoba untuk menilai tugas yang akan aku lakukan" "Apa
yang perlu kau nilai?" Lamat menggelengkan kepalanya "Bukan apa-apa"
"Nah, sekarang kau harus masuk ke halaman. Kau harus menempatkan
dirimu di tempat yang sudah di tentukan. Aku sudah jemu menunggu"
"Baiklah. Aku akan mencoba melakukan tugasku baik-baik" "Kalau kau
membuat kesalahan, maka seluruh Kademangan akan menjadi gempar. Di
pendapa terdapat Ki Demang, Ki Jagabaya, para bebahu Kademangan yang
lain, dan beberapa orang kepercayaan Ki Demang" Lamat menganggukkan
kepalanya. "Kegagalan itu akan berarti, mereka akan saling berkelahi
melawan Ki Reksatani dan orang-orangnya termasuk kau dan aku, dan
barangkali ayah juga" "Ya, aku mengerti" "Cepat, masuklah ke
halaman" Lamatpun kemudian dengan hati-hati mendekati dinding
halaman belakang Kademangan. Di dalam bayangan dedaunan ia
menjengukkan kepalanya. Ternyata tempat yang ditunjukkan oleh Ki
Reksatani memang sepi. Meskipun dari tempatnya Lamat melihat
beberapa orang duduk-duduk sambil berkelakar, namun mereka sama
sekali tidak membayangkan, karena orang-orang itu sama sekali tidak
memperhatikan tempat yang telah ditentukan itu. Dengan lincahnya
Lamatpun kemudian meloncat naik keatas dinding batu. Di lekatkannya
tubuhnya rapat-rapat pada dinding itu sambil memperhatikan keadaan
di sekitarnya. Lamat menjadi berdebar-debar ketika ia melihat
seseorang berjalan menelusur dinding batu itu. Sambil menahan
nafasnya ia semakin melekatkan tubuhnya. Namun demikian ia sempat
melihat, orang yang menelusuri dinding itu menjadi semakin dekat.
"Gila" desisnya "siapakah orang ini?" Tetapi agaknya orang itu sama
sekali tidak memperhatikan bahwa ada seseorang yang berbaring
menelungkup melekat pada dinding batu. Namun demikian Lamat menjadi
semakin berdebar-debar. Bahkan Manguri yang ada di luar dindingpun
menjadi berdebar-debar pula, karena iapun mendengar langkah
seseorang mendekati Lamat. Ketika orang itu telah lewat, Lamat
menarik nafas dalamdalam. Agaknya orang itu adalah salah seorang
keluarga dari orang-orang yang membantu bekerja di dapur. Orang itu
agak malu membawa sisa makanan lewat pintu depan. Karena itu, ia
memilih jalan halaman belakang sambil membawa makanan sisa yang
besok akan dijemurnya untuk makanan itik. Meskipun demikian Lamat
masih menunggu sejenak. Ketika ia sudah yakin bahwa tidak ada lagi
orang yang akan melihatnya, maka iapun segera meloncat masuk ke
halaman dan langsung bersembunyi di dalam gerumbul perdu. Sedang
Manguri berada di luar halaman sambil mengawasi keadaan. Ia
mengetahui dengan pasti bahwa di sekitar tempat itu ada satu atau
dua orang pengawas yang di pasang oleh Ki Reksatani, meskipun
pengawas itu telah mengambil tempatnya sendiri tanpa memberitahukan
kepada Manguri. Dalam pada itu, di dalam rumah Ki Demang di
Kepandak, perempuan-perempuan tua yang melayani Sindangsari dan
meriasnya telah selesai. Ketika Sindangsari dibawa keluar dari dalam
biliknya, beberapa orang perempuan yang masih tinggal di pendapa
menyambutnya dengan ramah. "Perempuan ini memang cantik sekali"
desis salah seorang dari mereka. Di dalam mengandung tujuh bulan,
wajahnya menjadi semakin cerah seperti bulan" Kawannya yang duduk di
sampingnya menganggukkan kepalanya..Katanya "lihatlah ibunya yang
duduk di sudut itu. Ibunyapun pasti seorang perempuan yang cantik
sekali di masa remajanya" Keduanyapun kemudian mengangguk-anggukkan
kepalanya. Mereka memandang Sindangsari dengan mata yang seakan-akan
tidak berkedip. Ketika Sindangsari kemudian duduk di sebelah ibunya,
maka setiap mata seakanakan telah terpancang pada keduanya.
"Alangkah cantiknya" tiba-tiba terdengar suara dari ruang dalam.
Seseorang kemudian muncul sambil mengatupkan kedua telapak tangannya
di muka dadanya "mBok-ayu memang cantik sekali" Sindangsari
berpaling. Namun kepalanyapun kemudian tertunduk sambil
tersipu-sipu. Orang itu, Nyai Reksatanipun kemudian mendekatinya
sambil berkata "Aku menjadi sangat iri. Ketika aku menyambut bulan
ke tujuh kandunganku yang pertama, aku tidak secantik mBok-ayu.
Bukankah begitu bibi?" bertanya Nyai Reksatani kepada ibu
Sindangsari" "Ah" desis ibunya. "Tentu saja" tiba-tiba seseorang
menyahut "lihatlah. Keduanya memang sangat cantik. Kecantikan itu
agaknya memang menurun" "Ah" Sekali lagi ibu Sindangsari berdesah
"jangan memuji. Rambutku telah berwarna dua" Perempuan-perempuan itu
tertawa. Nyai Reksatanipun tertawa pula. "Sayang" bisik seorang
perempuan yang duduk di belakang "ibu Nyai Demang itu menjanda sejak
suaminya meninggal. Kalau ia mau, pasti masih puluhan laki-laki yang
ingin memperisterinya" "Hidupnya semata-mata buat gadisnya sejak
suaminya meninggal. Aku dengar, kawan suaminya seorang prajurit
ingin juga memperisterikannya. Bahkan seorang perwira. Tetapi ia
tidak bersedia. Ia lebih senang hidup bersama puteri dan kedua ayah
ibunya" Kawannya berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam
pada itu, maka Nyai Reksatanipun kemudian bertanya kepada Nyai
Demang "mBok-ayu, apakah masih ada yang perlu dilakukan malam ini?"
Sindangsari tidak segera menyahut, karena ia tidak mengetahui maksud
pertanyaan itu. Dipandanginya saja Nyai Reksatani dengan tatapan
mata yang ragu-ragu. "Eh, maksudku, apakah mBok-ayu akan
beristirahat? Setelah mandi di tengah malam, kemudian berganti
pakaian sampai tujuh kali, barangkali mBok-ayu merasa lelah"
Sindangsari menggelengkan kepalanya "Tidak. Aku tidak lelah"
"Sokurlah" jawab Nyai Reksatani. Tetapi ia mulai gelisah. Ia
mendapat tugas untuk membawa Sindangsari keluar, ke tempat tugas
untuk membawa Sindangsari keluar, ke tempat yang sudah ditentukan,
sedang di pringgitan masih juga ada beberapa orang perempuan yang
duduk-duduk mengawani Sindangsari dan ibunya. Sejenak Nyai Reksatani
kebingungan. Namun sejenak kemudian ia mendapat akal. Katanya
"Agaknya masih ada diantara kita yang akan tinggal disini semalam
suntuk. Karena itu, sebaiknya kalian duduk-duduk saja sejenak, aku
akan menyiapkan jamuan untuk kalian. Biarlah orang-orang di dapur
menanak nasi. Nasi panas pasti akan menambah gairah kalian tinggal
bersama bidadari yang manis itu" Ternyata pancingan itu mengena.
Seorang perempuan tua segera menyahut "Sudahlah Nyai. Menjelang
tengah malam, sebelum upacara dimulai, kami sudah makan. Dan kamipun
agaknya tidak akan terlampau lama lagi tinggal disni" "O, jangan
begitu. Aku seakan-akan telah mengusir kalian. Tidak. Aku berharap
agar kalian tinggal disini semalam suntuk" "Kami perlu beristirahat"
"Tinggallah sebentar. Selama orang di dapur menanak nasi. mBok-ayu
pasti kedinginan dan menjadi lapar. Kalian akan mengawaninya makan,
karena sebenarnya mBok-ayu Demang masih belum makan. "Biarlah ia
makan bersama suaminya "Perempuanperempuan di pringgitan itupun
justru minta diri seorang demi seorang. Sebagian dari mereka t idak
segera pulang. Tetapi pergi ke dapur atau ke bilik pengrantunan.
Nyai Reksatani menarik nafas karenanya. Ia harus bekerja cepat.
Sebelum fajar, semuanya harus sudah selesai, sementara Ki Reksatani
berusaha mengikat Ki Demang dan para tamu laki-laki untuk tetap
duduk-duduk saja di pendapa. "Makanlah dahulu mBok-ayu" bisik Nyai
Reksatani kepada Nyai Demang "bersama bibi barangkali?" "Aku sudah
makan bersama para tamu" jawab ibu Sindangsari "makanlah sendiri,
atau kau menunggu suamimu?" "Ah" sahut Nyai Reksatani "kakang Demang
t idak usah diganggu. Biarlah ia menemui tamu-tamunya. Marilah, aku
layani kau makan mBok-ayu, selagi kau malam ini menjadi ratu" "Ah"
Sindangsari berdesah sementara Nyai Reksatani tertawa. Tanpa
menunggu jawabannya lagi, maka ditariknya tangan Sindangsari dan
dibawanya ke bilik dalam. "Makanlah sudah sedia" katanya.
Sindangsari tidak dapat menolak lagi. Iapun kemudian berdiri sambil
berkata kepada ibunya "Apakah ibu tidak makan dahulu" "Ya, marilah"
sahut Nyai Reksatani. "Terima kasih. Aku sudah makan bersama para
tamu sebelum upacara. Sindangsari memang belum makan, karena itu
makanlah" Sindangsaripun kemudian dibimbing oleh Nyai Reksatani ke
biliknya sambil berkata "Biarlah disediakan makanmu di dalam bilikmu
saja" Nyai Reksatanipun kemudian membimbing Nyai Demang masuk ke
dalam biliknya. Dalam pada itu. di halaman belakang, Manguri hampir
tidak sabar lagi menunggu. Setiap kali ia selalu menengadahkan
wajahnya ke langit, memandang bintang-bintang yang bergeser
perlahan-lahan dari tempatnya. "Semuanya harus dilakukan sebelum
fajar" desisnya "kalau orang-orang di sekitar halaman ini sudah
bangun, maka gagallah semua usaha yang sudah dirancang begitu
matang. Untuk mendapatkan kesempatan yang lain agaknya terlampau
sulit" berkata Manguri di dalam hati "sudah tentu kita tidak dapat
berbuat apa-apa pada saat Sindangsari melahirkan. Anak itu akan
menjadi hantu yang paling menakutkan bagi Ki Reksatani, sehingga
mungkin sekali, sebelum hari kelahiran ia akan mengambil cara yang
paling kasanMembunuh Sindangsari dengan caranya" Manguri menarik
nafas dalam-dalam. Keringat dingin telah membasahi di seluruh
tubuhnya. Sekali-sekali ia mencoba melekat pada dinding batu dan
menengok ke halaman belakang Kademangan Kepandak. Tetapi ia tidak
dapat melihat Lamat yang sudah bersembunyi di sana. Selagi Manguri
dilanda oleh kegelisahan, Lamatpun sedang mereka-reka apa yang akan
dilakukan kemudian setelah Sindangsari berhasil dibawa ke tempat
persembunyiannya itu. "Apakah aku dapat membiarkan semuanya itu
terjadi?" katanya di dalam hati. Tetapi setiap kali Lamat hanya
dapat berdesah di dalam hati "Apakah aku benar-benar telah
terbelenggu oleh hutang budi itu sepanjang umurku? Umur yang
seolah-olah sudah bukan milikku lagi ini?" Lamat menarik nafas
dalam-dalam. Sejenak ia menjengukkan kepalanya dari sela-sela
dedaunan. Tetapi ia tidak melihat seorangpun yang datang mendekat.
Bahkan kadang-kadang timbul pikirannya "Mudah-mudahan tidak ada
kesempatan untuk membawa Sindangsari kemari, sehingga seandainya
malam ini gagal, maka kegagalan itu bukan terletak pada kesalahanku"
Tetapi dalam pada itu Nyai Reksatani telah berhasil memisahkan
Sindangsari dari ibunya. Dilihatnya seseorang yang disuruhnya telah
menyajikan makan bagi Sindangsari ke dalam bilik itu, sementara ia
berjalan hilir mudik di ruang tengah. Namun sepeninggal orang yang
mengantar makan ke dalam bilik itu, Nyai Reksatani segera masuk ke
dalam. Dengan nada yang tergesa-gesa ia berkata "mBok-ayu, agaknya,
masih ada yang kurang di dalamperalatan ini" Sindangsari mengerutkan
keningnya. "Apakah mBok-ayu mendengar ceritera yang telah terjadi di
dapur?" "Jambangan yang pecah itu?" "Ya, dan nasi yang tidak mau
masak seperti biasanya? Meskipun akhirnya masak juga, tetapi
cobalah, rasakanlah nasi itu yang agaknya sama sekali tidak sedap"
Sindangsari t idak segera menjawab "mBok-ayu tahu sebabnya?"
Sindangsari menggeleng. "Tentu ada sesaji yang kurang. Beruntunglah
kita kalau yang diganggu hanya sekedar macam-macam masakan atau
jambangan pecah, tetapi kalau yang lain?" "Apakah yang lain itu?"
"Kita. Salah seorang dari kita. Atau" Nyai Reksatani t idak
melanjutkannya. "Atau" Sindangsari mengulang. "Sudahlah. Makanlah"
"Tetapi apakah yang kau maksud?" "Makanlah" Sindangsari menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian menyenduk nasi dengan
entong kayu dan menaruhnya diatas mangkuk. "Kau tidak makan?" ia
bertanya kepada Nyai Reksatani. "Aku sudah makan. Lima kali sejak
tengah hari. Sindangsari tersenyum. Kemudian iapun mulai menyuap
mulutnya. Namun ia tertegun ketika ia melihat Nyai Reksatani menjadi
gelisah sekali. "Kenapa kau?" "Perasaanku menjadi tidak enak. Tetapi
apakah kau merasakan sesuatu pada kandunganmu?" "Tidak. Kenapa?"
Sindangsari menjadi gelisah pula. "Sesaji itu" bisiknya "bibi juru
adang di dapur bermimpi sambil duduk di muka perapian. Ini tidak
biasa terjadi. "Mimpi apa?" "Kiai Candil di rumpun bambu petung di
belakang" "Kenapa?" "Yang memberikan sesaji agaknya bukan orang yang
biasa membuat untuknya. Bukan aku. Ternyata ada kekurangannya"
"Apa?" "Sadak kinang yang diramu dengan daun sirih muda" "O, kenapa
tidak disediakan?" "Aku akan pergi melengkapinya" Nyai Reksatanipun
kemudian berdiri, lalu "aku sudah menyediakan sadak kinang itu" ia
termenung sejenak, lalu "marilah, Ikutlah. Aku akan menunjukkan
kepadamu, dimanakah letak sesaji itu seharusnya. Karena kau akan
tinggal di rumah ini untuk seterusnya. Kau harus tahu dan harus
mengerti, apa yang sebaiknya kau lakukan untuk keselamatan seluruh
keluarga dan terlebih-lebih untuk bayimu" "Jadi?" "Kita pergi ke
kebun belakang sebentar. Sebentar saja" "Baiklah, aku selesaikan
sebentar makanku ini" "Ah, marilah. Tinggalkan itu sebentar supaya
kau tidak tergesa-gesa dan kau dapat makan dengan tenang"
Sindangsari termangu-mangu sejenak. Dan tiba-tiba saja ia bertanya
"Tetapi kenapa baru sekarang kau akan melengkapi sesaji itu? Selagi
aku sudah mulai makan? Kalau kau mengetahui hal itu sebelumnya,
tentu aku tidak akan tergesagesa menyenduk nasi" "Aku mencoba untuk
menunggu sampai kau selesai makan. Aku tidak mau mengganggu
ketenanganmu" Nyai Reksatani berhenti sejenak, lalu "tetapi aku
menjadi sangat gelisah" Sindangsari termenung sejenak Namun iapun
menjadi gelisah karenanya. Tanpa sesadarnya dirabanya perutnya yang
terasa semakin membesar. "Marilah sebentar mBok-ayu. Hanya sebentar.
Kita akan menjadi tenteram. Tinggalkan sajalah makanan itu, nanti
kau ulangi lagi" Sindangsari tidak dapat menolak lagi. Kemudian
diikut inya Nyai Reksatani keluar dari biliknya. Tetapi Nyai
Reksatani tidak mengambil jalan tengah yang melalui dapur. Ia lebih
senang lewat butulan sebelah kiri. "Kenapa kita memilih jalan yang
gelap?" bertanya Sindangsari. "Aku menghindari orang-orang yang ada
di dapur Mereka akan bertanya segala macam persoalan yang
menjemukan. Kita pergi saja sendiri lalu semuanya akan selesai tanpa
pembicaraan yang kadang-kadang tidak masuk akal dan bahkan
menyimpang dari persoalan yang sebenarnya" Sindangsari tidak
bertanya lagi. Ia berjalan saja mengikuti Nyai Reksatani keluar dari
pintu butulan sebelah kiri. Ketika Sindangsari menjejakkan kakinya
di halaman, terasa bulu tengkuknya meremang. Serasa sesuatu merayapi
hatinya yang cemas dan gelisah. Di sebelah rumah itu agaknya sudah
menjadi sepi. Anak-anak muda yang duduk-duduk sambil berkelakar
sudah meninggalkan tempatnya dan tidur di gandok. Meskipun lampu
yang terang benderang di pendapa masih melemparkan cahayanya ke
halaman depan, tetapi agaknya mereka yang duduk di pendapapun sudah
menjadi lelah dan kantuk. Tidak banyak lagi terdengar gelak tertawa
diantara mereka. Sindangsari berjalan berjingkat tanpa sesadarnya di
belakang Nyai Reksatani. Meskipun tengah malam telah jauh lewat,
tetapi malam masih kelam bukan kepalang. "Di rumpun bambu yang
mana?" bisik Sindangsari Terasa suaranya menjadi gemetar. "Itu,
rumpun bambu petung" "Kenapa kita tidak membawa obor? Atau aku akan
mengambilnya sebentar?" "Ah tidak perlu. Kita sudah hampir sampai"
Sindangsari tidak berkata-kata lagi. Meskipun terasa dadanya
bergetar, tetapi ia berjalan saja di belakang Nyai Reksatani. Tanpa
diketahui sebabnya, setiap langkah terasa semakin bertambah berat.
Tetapi dipaksakannya ia berjalan terus. Ia justru mencoba mengusir
segala perasaan takut dan cemas. Manguri yang ada di luar halaman
mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara dua orang perempuan
di halaman belakang. Meskipun seolah-olah mereka hanya saling
berbisik, tetapi telinga Manguri yang tajam segera dapat
menangkapnya, dan dengan segera pula ia memastikan bahwa keduanya
itulah Nyai Reksatani dan Sindangsari. Terasa jantung Manguri
berdetak semakin cepat. Dengan tegangnya ia mencoba menjenguk dari
atas dinding batu yang melingkari halaman itu. Darahnya serasa
berhenti ketika ia melihat dua orang perempuan berjalan ke arah
tempat yang telah ditentukan oleh Ki Reksatani. "Pasti mereka"
desisnya meskipun Manguri masih belum dapat melihat wajah-wajah
mereka di dalam gelap. Sejenak Manguri seakan-akan membeku di
tempatnya. Nafasnya menjadi terengah-engah dan dadanya serasa
berdentangan. "Mudah-mudahan Lamat berhasil tanpa menimbulkan
persoalan yang rumit" katanya di dalamhati. Sementara itu, Lamat
masih berjongkok di tempatnya. Ketika ia mendengar suara perempuan
dan melihat dua bayangan mendekat, iapun menjadi berdebar-debar.
Tiba-tiba saja kepalanya menunduk dalam-dalam seakan-akan ia ingin
melihat warna hati di dalam dadanya. "Apakah aku akan melakukannya?"
pertanyaan itu tiba-tiba telah meronta di dalamdadanya. Kedua
bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka berjalan
menuju kerumpun bambu petung di sebelah rumpun perdu tempat Lamat
tersembunyi. "Disitu mBo-ayu berkata Nyai Reksatani "mbok-ayulah
yang harus meletakkannya.. "Aku?" "Ya" "Dimana?" "Di rumpun bambu
itu telah ada sesaji. Tetapi sesaji itu kurang memenuhi keinginan
penunggu rumpun bambu itu. Karena itu taruhlah sadak kinang ini ke
dalam ancak sesaji itu" Sindangsari termangu-mangu sejenak, seperti
Lamat masih juga termangu-mangu. Sejenak ia menahan nafas sambil
memandang keduanya. Dadanya serasa menjadi retak oleh pergolakan
perasaannya sendiri. "Aku tidak dapat lari dari dunia yang kelam
ini. Aku adalah orang yang paling palsu di muka bumi. Aku adalah
orang yang sama sekali tidak berani melihat kejujuran di dalam diri"
berkata Lamat di dalam hatinya "dan kini aku harus melakukannya.
Sebuah kepalsuan yang tidak berperikemanusiaan sama sekali" Lamat
masih menundukkan kepalanya. Wajahnya yang kasar menjadi tegang.
Nafasnya tertahan-tahan dan tangannya tiba-tiba menjadi gemetar.
Lamat adalah seorang yang bertubuh raksasa, berwajah kasar seperti
batu padas. Namun di dalam keadaan yang paling sulit, terasa matanya
menjadi panas. Ia merasa betapa dirinya kini menjadi manusia yang
paling tidak berharga, sehingga tidak seorangpun yang dapat mengerti
dan menghargai perasaannya. Hampir saja Lamat tidak dapat menahan
diri. Ia sadar ketika terasa setitik air menghangati tangannya.
Ketika ia mengangkat wajahnya, ia melihat Sindangsari sedang
membungkukkan punggungnya meletakkan sadak kinang di dalam ancak
sesaji. Bayangan kegelapan rumpun bambu seakan-akan telah
melindunginya. Ketika ia selesai, maka iapun segera tegak kembali
dan melangkah surut. "Begitukah?" ia bertanya. "Ya. Begitu" sahut
Nyai Reksatani yang menjadi gelisah. Ia sudah berhasil membawa
Sindangsari ke tempat yang ditentukan. Tetapi tidak seorangpun yang
datang untuk mengambil Sindangsari. Manguripun mengumpat-umpat di
dalamhati. "Apakah yang ditunggu anak gila itu?" Manguri menggeram
di dalam hatinya. Dalam pada itu, Lamat menyadari, bahwa ia tidak
mempunyai waktu lagi. Ia harus segera bertindak di dalam waktu yang
singkat. Ia sadar, bahwa Nyai Reksatani sudah menjadi gelisah,
karena ia masih belum berbuat apa-apa. "Maafkan aku Sindangsari" ia
berdesis di dalam hati. Namun sejenak kemudian ia menggeretakkan
giginya, seolaholah mencari sandaran kekuatan bagi hatinya yang
ringkih. Sejenak kemudian Lamat itupun segera meloncat seperti
seekor harimau menerkam Sindangsari. Betapa terkejutnya perempuan
itu. Seperti juga Nyai Reksatani yang terkejut pula. Tetapi
Sindangsari sama sekali tidak sempat berteriak. Tangan yang kokoh
kuat tiba-tiba saja telah menyumbat mulutnya. Dalam keadaan yang
tidak terkuasai itu, ia masih mendengar seseorang berdesis "Maafkan
aku. Bukan maksudku menyakiti kau" Setelah itu, ia merasakan tekanan
yang berat pada urat di sisi lehernya. Kemudian ia tidak merasakan
sesuatu lagi. Pingsan. Nyai Reksatani masih berdiri mematung di
tempatnya. Dipandanginya Lamat seperti memandang hantu. Namun
demikian ketika ia melihat Sindangsari yang lemas di tangan raksasa
itu, terasa dadanya seakan-akan retak. "Hati-hatilah "ia berdesis.
Lamat terkejut mendengar pesan itu. Tetapi ia tidak segera menyahut.
"Perlakukan perempuan itu dengan baik. Apalagi ia sedang mengandung"
Lamat mengangguk perlahan-lahan "Baik Nyai jawabnya dengan suara
yang berat "aku akan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya"
"Katakanlah kepada Manguri, jagalah perempuan itu. Bukan saja
tubuhnya, tetapi juga perasaannya. Kalau Manguri menghendakinya, ia
harus menerima perempuan itu seutuhnya. Jangan hanya Sindangsari
yang tampak itu. Seorang perempuan muda yang cantik yang barangkali
telah menggelegakkan nafsunya sebagai seorang laki-laki. Tetapi
Manguripun harus menerima semua yang ada padanya. Yang disenangi
maupun yang tidak" "Ya Nyai" "Kau tahu, aku juga seorang perempuan
dan aku juga mempunyai anak perempuan" Lamat tidak menjawab. Terasa
matanya menjadi panas lagi dan tenggorokannya serasa tersumbat
ketika ia mendengar Nyai Reksatani itu terisak. "Sudahlah, bawalah"
Lamat mengangguk "Aku akan menjaganya Nyai" tiba-tiba saja terloncat
dari bibir Lamat, sehingga justru Lamat sendiri terkejut karenanya.
Tetapi Nyai Reksatani tidak menyahut lagi. Bahkan dengan
tergesa-gesa ia memutar dan pergi meninggalkan Lamat yang
termangu-mangu. Lamat terkejut ketika ia merasa seseorang
menggamitnya. Ketika ia berpaling ternyata Manguri sudah berdiri di
sampingnya. "Kau jangan menjadi gila. Cepat, kalau kau terlambat,
maka semuanya akan rusak" bisik Manguri. Lamat menganggukkan
kepalanya. Keduanyapun kemudian pergi meninggalkan halaman itu
sambil membawa Sindangsari yang pingsan. Lamat dan Manguripun
kemudian segera pergi ke tempat kuda-kuda mereka disediakan. Lamat
segera meloncat naik sambil mendukung Sindangsari, sedang Manguripun
naik pula keatas punggung kudanya. "Marilah "ajak Manguri.
Keduanyapun kemudian meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang
berbeda-beda. Namun keduanya tidak segera memacu kudanya, supaya
derap kaki kuda-kuda itu tidak menimbulkan berbagai macam pertanyaan
di hati penduduk. Apalagi apabila diantara mereka ada yang menjenguk
keluar dan melihat siapakah mereka. Di ujung desa mereka melewati
beberapa orang yang di tempatkan oleh Ki Reksatani untuk bertindak
setiap saat, apabila keadaan memburuk. Tetapi agaknya mereka sama
sekali t idak berbuat apa-apa terhadap Manguri dan Lamat. "Apakah
kalian sudah berhasil?" bertanya salah seorang dari mereka. "Ya,
semuanya sudah selesai" jawab Manguri. "Baiklah. Supaya tidak
menimbulkan kesan apapun bagi orang-orang yang melihat, meskipun
dari kejauhan, maka kita akan berpencar" berkata salah seorang dari
mereka. "Ya, berpencarlah" sahut Manguri. "Pada saatnya kami akan
menemui Ki Reksatani "Silahkan. Akupun akan mencari kesempatan pula"
Manguri dan Lamatpun kemudian meneruskan perjalanan mereka membawa
Sindangsari yang sedang pingsan. Namun agaknya Lamat benar-benar
telah menjaga sebaik-baiknya. Ia menyadari bahwa kandungan
Sindangsari akan terganggu apabila derap kudanya nanti akan
mengguncang-guncang tubuh perempuan itu. Setelah mereka sampai
kebulak yang panjang harulah mereka mempercepat langkah kuda kuda
mereka. Apalagi setelah mereka melihat bayangan kemerahan di langit.
Di tengah-tengah bulak, Manguri berhenti sejenak. Dari sela-sela
batang jagung muda beberapa orang merangkakrangkak keluar dan
berloncatan kejalan. "Tidak terjadi sesuatu?" bertanya salah seorang
dari mereka, orang-orang yang memang di tempatkan oleh Manguri untuk
mengawasi keadaannya apabila lerjadi sesuatu yang tidak
terduga-duga. "Tidak. Kembalilah Jangan menimbulkan kesan yang dapat
merugikan aku dan kita semua" "Baiklah" Orang-orang itu adalah
orang-orang yang biasanya ikut mengawal ternak apabila ayah Manguri
mengirim ternak keluar daerah dan ke tempat-tempat yang jauh.
Sejenak kemudian maka Manguri dan Lamatpun berpacu semakin cepat
menuju ke tempat terpencil. Tempat penampungan ternak yang jarang
dikenal. Yang ada di tempat itu hanyalah kandang kandang yang besar,
patok-patok dan pelanggaran untuk mengikat tali-tali ternak yang
sedang dikumpulkan sebelum dibawa keluar daerah. Ternyata, baik
orang-orang Ki Reksatani, maupun orang Manguri, segera telah
berhasil menghilangkan jejak mereka. Setelah mereka berpencaran,
maka merekapun berjalan seenaknya di jalan-jalan persawahan seperti
orang-orang yang akan pergi ke pasar yang jauh. Tidak seorangpun
yang menumbuhkan kecurigaan kepada orang-orang yang mereka temui di
sawah-sawah karena mereka sedang menunggui air yang menjadi bagian
mereka malam itu, karena air agak sulit didapat di musim kering yang
panjang. Dalam pada itu, Manguri dan Lamatpun segera sampai pula ke
tempat tujuan mereka, karena kuda-kuda mereka berpacu semakin cepat.
Dengan tergesa-gesa mereka meloncat turun dan menambatkan kuda-kuda
mereka. Dengan tergesa-gesa pula Lamat mendukung Sindangsari menuju
ke gubug di pinggir pekarangan yang sangat luas itu. Mereka terkejut
ketika mereka melangkah masuk. Ternyata ayah Manguri telah duduk di
dalamnya menghadapi sebuah pelita minyak. "Ayah" desis Manguri. "Ya.
Aku sudah menunggu. Aku menjadi cemas kalau terjadi sesuatu atas
kalian. Tetapi yang paling cemas adalah apa yang akan terjadi
kemudian " "Kenapa?" "Lalu, apakah yang akan kau lakukan setelah kau
berhasil membawa Sindangsari kemari" "Biarlah ia ada di sini untuk
beberapa lama. Bukankah ayah sudah mendapatkan tempat yang lain
untuk menampung ternak sebelumayah membawanya pergi" "Kenapa tempat
lain" "Menurut Ki Reksatani semakin banyak orang yang mengetahui hal
ini, akan semakin berbahaya baginya" "Ia benar" sahut ayahnya "aku
akan membatasi hanya orang-orang yang memang sudah mengetahui hal
ini sajalah yang akan datang ke tempat ini. Tetapi untuk memindahkan
dengan serta-merta tempat penampungan ternak ini, pasti akan
menimbulkan kecurigaan orang" Manguri mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Sekarang apa yang akan kau lakukan?" "Sekarang?" "Ya,
sekarang ini" Manguri mengerutkan keningnya "Maksud ayah, apa yang
harus aku kerjakan sekarang ini?" "Ya" Manguri menarik nafas
dalam-dalam. Jawabnya "Tidak ada. Aku akan beristirahat disini. Aku
lelah sekali. Aku lelah dan mengantuk" "Aku sudah menduga. Karena
itulah maka aku datang kemari" "Maksud ayah? Apa lagi yang harus aku
lakukan pagi ini?" "Pulanglah cepat. Masuklah ke dalam bilik kalian
masingmasing, dan tidurlah seperti biasa, seperti tidak terjadi
apaapa" Manguri tidak segera mengetahui maksud ayahnya, sehingga
sejenak ia memandang Lamat, kemudian memandang ayahnya. "Apakah
maksud ayah, aku harus membawa Sindangsari pulang ke rumah?" "Tentu
tidak. Biarlah ia disembunyikan disini. Taruhlah ia di dalam bilik
sempit di sebelah. Kalau karena kecurigaan Ki Demang, ia mengirim
orang kemari, biarlah aku yang bertanggung jawab. Tidak seorangpun
yang akan melihat, bahwa di balik gledeg itu adalah pintu sebuah
bilik" "Lalu kenapa aku harus kembali pulang dan masuk ke dalam
bilik seperti biasa dan seperti tidak terjadi apa-apa" "Cepat,
letakkan perempuan itu di dalam bilik kecil itu, dan segera pulang.
Kau dengar?" Manguri menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah
Sindangsari yang masih pingsan, kemudian wajah ayahnya
berganti-ganti. "Jangan cemas. Aku akan menungguinya seperti
menunggui anakku sendiri. Tetapi kau harus segera pulang sekarang"
Lamatpun kemudian masuk ke dalam bilik kecil di belakang gledeg itu
untuk meletakkan Sindangsari. Katanya "Ia akan segera sadar" "Aku
akan menungguinya. Kalau ia berbuat sesuatu yang dapat berbahaya
bagi kita, aku akan membuatnya pingsan pula" Lamat mengerutkan
keningnya Dan tanpa sesadarnya ia berkata "Ia sangat lemah" Ayah
Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya "Baiklah. Aku akan
menyesuaikan keadaannya dengan kemungkinan yang dapat terjadi"
Meskipun ragu-ragu tetapi Manguri dan Lamatpun kemudian segera
berpacu pulang ke rumahnya. Seperti pesan ayahnya, merekapun segera
membersihkan diri, mencuci kaki dan berganti pakaian, kemudian masuk
ke dalam bilik masingmasing" Sementara itu, di Kademangan Kepandak.
Nyai Reksatani yang telah mengumpankan Sindangsari ke halaman
belakang, langsung kembali masuk ke dapur. Ia tidak kembali lagi ke
bilik Sindangsari atau ke pringgitan. Sejenak kemudian iapun sudah
sibuk bekerja diantara orang-orang yang masih ada di dapur
menyiapkan makan pagi bagi orang-orang yang semalam-malaman membantu
di rumah itu, serta untuk mereka yang tertidur di gandok dan di
pendapa. Yang masih tinggal di pringgitan adalah ibu Sindangsari, Ia
duduk dengan satu dua orang perempuan tua sambil berbicara tentang
berbagai masalah. Ibu Sindangsari itu adalah perempuan yang paling
banyak melihat dunia di luar lingkungan Kademangan Kepandak dari
orang-orang lain. Karena itu, maka ialah yang paling banyak
berceritera tentang segala sesuatu yang pernah dilihatnya. Namun
setelah sekian lama mereka berbicara, Sindangsari masih belum juga
datang kembali diantara mereka: Tetapi perempuan-perempuan itu tidak
menghiraukannya. Mereka menyangka bahwa Sindangsari masih terlampau
lelah, sehingga ia tertidur atau berbaring di biliknya. "Biar
sajalah" berkata seorang perempuan tua "ia lelah sekali. Apalagi
perutnya yang sudah menjadi semakin besar.Ia memang perlu
beristirahat" Karena itu maka tidak seorangpun yang segera
mengetahui, bahwa Sindangsari sudah tidak ada di dalam biliknya.
Ketika seorang perempuan yang menyediakan makan Sindangsari itu
kemudian masuk lagi ke dalam biliknya untuk mengambil sisa makannya,
ia terkejut. Makanan Sindangsari yang sudah disenduk di dalam
mangkuk masih belum dimakannya. Karena itu, maka iapun segera
mencarinya ke pringgitan. "Apakah Nyai Demang duduk disini?"
perempuan itu bertanya. "Ia ada di dalam biliknya" jawab ibu
Sindangsari bersamaan dengan beberapa orang perempuan lainnya.
"Tidak ada. Aku baru saja masuk ke dalambilik itu" "O, barangkali ia
ada di dapur" "Juga tidak ada. Sejak tengah malamaku ada di dapur"
Ibu Sindangsari mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata
"Mungkin ia sedang berada di pendapa atau di tempat-tempat lain"
"Tetapi NyaiDemang masih belum makan" "Ia pergi ke dalambiliknya
bersama Nyai Reksatani" "Ya, akulah yang menyiapkan makan untuknya.
Nasi sudah disenduk. Tetapi masih belum dimakannya" "Bertanyalah
kepada Nyai Reksatani" Perempuan itupun kemudian pergi mencari Nyai
Reksatani di dapur. Kepadanya ia bertanya pula tentang Sindangsari.
Betapa dada Nyai Reksatani serasa pepat. Namun kemudian ia menjawab
"Ia berada di biliknya. Bukankah ia sedang makan? Dan bukankah kau
tadi yang menyediakan makan buatnya" "Ya. Aku memang akan mengambil
sisa makan itu. Tetapi nasi yang sudah disenduk masih belum
dimakannya" "Ah, jangan berkhayal" "Nyai tidak percaya" Nyai
Reksatani mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada seorang
perempuan yang duduk di sampingnya "Lihatlah ke dalam bilik itu. Aku
sedang mengukur kelapa. Tanganku kotor sekali" Perempuan itupun
kemudian berdiri dari tempatnya dan pergi ke dalam bilik Sindangsari
bersama perempuan yang telah menyediakan makan buatnya. "Nah, kau
lihat?" Perempuan itu mengerutkan keningnya. "Aneh sekali. Nasi yang
sudah disenduk ke dalam mangkuk itu ditinggalkannya begitu saja.
Bukankah aku tidak mengigau atau berkhayal atau mimpi?" Perempuan
itu mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya "Memang aneh sekali"
Keduanyapun kemudian bersama-sama kembali ke dapur dan mengatakan
apa yang mereka lihat kepada Nyai Reksatani. Beberapa orang yang
lain ikut pula mendengarkannya. Hampir bersamaan mereka bergumam
"Aneh sekali" "Mari kita lihat" berkata Nyai Reksatani. Merekapun
kemudian bersama-sama pergi ke dalam bilik Sindangsari. Yang mereka
ketemukan di sana adalah persediaan makan buat Nyai Demang. Nasi
yang sudah disenduk ke dalam mangkuk dan beberapa potong lauk sudah
berada dimangkuk itu pula. "Kemana mBok-ayu ini" desis Nyai
Reksatani "tidak pantas nasi yang sudah disenduk ditinggal begitu
saja. Apakah ia berada di pringgitan?" "Tidak. Aku sudah kesana" "Di
pendapa? "Aku belum melihatnya" Nyai Reksatani sendiri kemudian
pergi ke pringgitan untuk mencari Sindangsari. Karena di pringgitan
tidak ada, maka iapun kemudian bergumam "Apakah ia berada di pendapa
menemui tamu suaminya?" "Marilah kita lihat" desis seseorang. Nyai
Reksatani termenung sejenak. Tetapi yang direnungkan sama sekali
bukan dimana Sindangsari berada, tetapi apakah orang-orang yang
melarikan Sindangsari sudah sampai tujuannya. "Bagaimana Nyai"
bertanya seseorang. Nyai Reksatani tergagap. Ia sudah tidak dapat
berusaha mengulur waktu lagi. Karena itu maka iapun berkata "Marilah
kita lihat, apakah ia berada di pendapa" Nyai Reksatanipun kemudian
pergi ke pendapa diikuti oleh ibu Sindangsari yang menjadi sangat
gelisah. "Tidak mungkin ia tidak dapat diketemukan" berkata Nyai
Reksatani kepada ibu Sindangsari. "Tetapi, bukankah ia meninggalkan
nasi yang sudah di senduk ke dalam mangkuk" "Memang aneh" Ketika
mereka sampai di pendapa. Ki Demang mengerutkan keningnya. Ki
Reksatanipun kemudian bertanya "Siapakah yang kalian cari disini?"
"mBok-ayu" "He" sahut Ki Demang "bukankah ia ada di dalam?" "Tidak
ada" jawab ibu Sindangsari. "Ah. Ia tidak ada disini. Cobalah cari
di biliknya, di dapur atau barangkali ia berada di pakiwan" "Kami
sudah mencari kemana-mana. Semua orang sudah mencarinya. Kecuali di
pakiwan" "Ia tentu mendengar kami ribut apabila ia berada di
pakiwan" berkata seorang perempuan yang lain. Ki Jagabaya tidak
mengucapkan sepatah katapun. Tetapi ia langsung berdiri. Kemudian ia
melangkah turun dan pergi ke pakiwan "Nyai Demang" ia berdesis.
Tidak ada yang menyahut. Tiba-tiba saja Ki Jagabayapun menjadi
gelisah. Ketika ia kembali ke pendapa, beberapa orang perempuan
masih berdiri di tangga dengan wajah yang gelisah. "Di pakiwanpun
tidak ada" desis Ki Jagabaya. "Aneh sekali. Apakah kalian sudah
menjadi gila?" Ki Demangpun kemudian berdiri pula diikuti oleh
tamutamunya yang lain. Mereka yang sudah mengantukpun tibatiba
tersadar dan meloncat berdiri pula. Dengan tergesa-gesa Ki Demang
masuk kepringgitan, kemudian ke dalam bilik Sindangsari. Ia masih
melihat nasi yang sudah disenduk, lauk pauk dan kelengkapannya. "Ia
baru mulai makan" desisnya. Ki Jagabaya yang mengikutinyapun
memandang nasi yang sudah berada di dalam mangkuk itu dengan dada
yang berdebar-debar. Bahkan tanpa sesadarnya ia telah menengok
kebawah pembaringan. "Ia tidak akan bersembunyi di sana" desis Ki
Demang. "Mungkin tanpa disengaja" "Maksudmu, gangguan hantu atau roh
halus yang jahat?" Ki Jagabaya tidak menyahut. Tetapi wajahnya
menjadi tegang. Dalam pada itu, seluruh isi Kademangan menjadi
gempar. Nyai Reksatani berlari-larian hilir mudik di dalam rumah
itu. Demikian pula ibu Sindangsari dan bahkan Ki Demang telah
menjelajahi setiap sudut dan kemudian berpencaran di halaman dengan
obor di tangan. Tetapi tidak seorangpun yang dapat menemukan
Sindangsari, bahkan jejaknyapun tidak. "Apakah Nyai Demang telah
dibawa wewe?" bertanya seseorang. "Hanya anak-anak sajalah yang
sering dibawa oleh kuntilanak" sahut yang lain. "Tidak.
Kadang-kadang orang tua-tuapun dibawanya. Apalagi Nyai Demang sedang
mengandung. Aku dengar ada kuntilanak yang sering mencari perempuan
yang sedang mengandung. Ia mengharap bahwa apabila kelak anaknya
lahir, maka anak itu akan diambilnya. Kuntilanak itu takut
kedahuluan oleh kuntilanak yang lain apabila ia menunggu bayi itu
lahir" Yang lain tidak menyahut lagi. Mereka menjadi ngeri
membicarakan hal itu diantara mereka. Dalam pada itu, perempuan tua
yang menunggui dandang penanak nasi, duduk sambil bertopang dagu. Ia
menghubungkan peristiwa itu dengan mimpinya, dengan jambangan yang
pecah dan dengan keanehan-keanehan yang terjadi di dapur. Ternyata
kini Nyai Demang Kepandak, yang malam ini dirayakan karena
kandungannya yang sudah genap tujuh bulan itu t iba-tiba telah
hilang begitu saja. "Nyai Reksatani agaknya kurang percaya kepada
makna mimpi. Karena itu, ia tidak mengambil sikap untuk mencegah hal
serupa ini terjadi" desisnya. Sementara itu, semua orang menjadi
bingung. Semua orang diliputi oleh berbagai macam pertanyaan, dan
semua orang dicengkamoleh kecemasan. Beberapa orang tua-tua tidak
sempat lagi berpikir panjang. Mereka segera mencari beberapa helai
penampi, pisau parang dan kelinting kerbau. Dengan memukul semuanya
itu beramairamai, dibarengi de-nf.an kentongan-kentongan kecil,
mereka memanggil-manggil nama Nyai Demang di seluruh halaman dan
kebun belakang. Bahkan kemudian mereka meloncat keluar pagar dan
mencarinya di sepanjang padukuhan. Di rumpun-rumpun bambu, di
tikungan-tikungan dan di bawah pohon pohon besar. Tetapi mereka
tidak menemukan sesuatu. Namun dalam pada itu, Ki Demang, Ki
Jagabaya dan para bebahu Kademangan bersikap lain. Bersama dengan Ki
Reksatani mereka segera berbincang. "Kita lihat rumah Pamot"
tiba-tiba Ki Reksatani menggeram. "Apakah ia sudah pulang?" "Aku
tidak tahu. Tetapi siapa tahu, ia pulang hari ini dan mBok-ayu lari
kepadanya" "Tidak mungkin" sahut Ki Demang "ia sudah kerasan disini"
"Maaf. Aku harus mencurigai setiap orang di dalam saat serupa ini.
Bagaimana pendapatmu Ki Jagabaya?" "Marilah kita lihat" sahut Ki
Jagabaya "Kalau ia ada di rumah, maka kita memang perlu
mencurigainya. Setidaktidaknya ia memang sudah pulang" "Belum
seorangpun yang sudah pulang diantara mereka" berkata Ki Kebayan.
"Hampir sehari semalam Ki Kebayan ada di rumah ini" sahut Ki
Jagabaya. Ki Kebayan mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
berkata "Baiklah. Supaya kita yakin, kita akan melihat rumah itu"
Demikianlah maka beberapa orang laki-laki segera mempersiapkan diri.
Ki Jagabaya yang merasa tersinggung karena peristiwa itu berkata
"Aku sendiri akan memimpin pencaharian ini" Ki Reksatani menjadi
berdebar-debar karenanya. Kalau Ki Jagabaya tidak menemukan
Sindangsari di rumah Pamot, maka kemungkinan lain, Ki Jagabaya akan
mencarinya ke rumah Manguri. Apabila pada saat Ki Jagabaya datang ke
rumah itu, Manguri tidak ada di rumah, maka anak muda itu pasti akan
dicurigai. Karena itu, untuk meyakinkan dirinya pula, apakah ia aman
atau tidak, Ki Reksatanipun berkata "Aku ikut bersamamu Ki Jagabaya"
"Bagus" sahut Ki Jagabaya. Kemudian kepada Ki Demang ia berkata "Ki
Demang supaya tinggal saja di rumah. Apabila kemudian Nyai Demang
diketemukan dimanapun juga sebelum kami kembali, kami harap, Ki
Demang menyuruh satu dua orang menyusul kami" "Baikklah" "Supaya
perjalanan kami cepat, kami akan berkuda" "Ya. Cepatlah memberi
kabar. Kalau perlu aku sendiri akan mencari dari rumah ke rumah"
geram Ki Demang. Demikianlah maka Ki Jagabayapun kemudian menyiapkan
segala keperluannya, termasuk beberapa ekor kuda dan senjata.
Hilangnya Sindangsari dari halaman Kademangan merupakan lumpur yang
memercik di wajahnya. Ia ada di Kademangan pada saat itu, pada saat
Nyai Demang hilang dari rumahnya. "Kita harus menemukannya" ia
menggeram "Nyai Demang pasti belum lama hilang dari Kademangan.
Nasinya masih berada di dalam mangkuknya" Demikianlah maka dengan
darah yang serasa mendidih di dadanya Ki Jagabaya membawa sejumlah
laki-laki berkuda meninggalkan halaman Kademangan, termasuk Ki
Reksatani. Sementara itu, perempuan-perempuan tua dan beberapa orang
laki-laki yang tidak lagi heran berlari diatas punggung kuda, masih
berusaha mencari Nyai Demang dengan bunyibunyian. Menyusup
rumpun-rumpun bambu, sudut-sudut padukuhan yang rimbun dan pinggir
parit yang ditumbuhi empon-empon setinggi orang. Di bawah sebatang
pohon cangkring yang tua, beberapa orang berteriak-teriak memanggil
nama Sindangsari, tetapi tidak ada jawaban apapun. Kemudian
merekapun pergi ke sendang di bawah pohon Selikur yang berdaun tujuh
macam. Tetapi merekapun tidak menemukan seseorang meskipun mereka
tidak henti-hentinya memukul tetabuhan yang mereka bawa. Bahkan
beberapa orang justru menggigil karenanya, seolah-olah pohon Selikur
yang besar itu memandang mereka dengan matanya yang merah.
Tangan-tangannya yang berbelitan pada. batang pohonnya seakan-akan
bergerak siap untuk menerkam. Sampai fajar menyingsing di Timur,
mereka sama sekali tidak menemukan apapun, bahkan jejak
Sindangsaripun tidak. Sementara itu, Ki Jagabaya bersama beberapa
orang lakilaki berderap diatas punggung-punggung kuda memecah
sepinya pagi. Orang-orang yang baru saja terbangun, telah dikejutkan
oleh gemeretak suara kaki kuda diatas batu-batu di jalan yang
membelah padukuhan mereka. Beberapa orang segera menjengukkan
kepalanya. Tetapi mereka tidak sempat melihat siapakah yang baru
saja lewat di depan rumah mereka. Dengan mulut yang terkatub
rapat-rapat Ki Jagabaya memacu kudanya seperti dikejar hantu.
Dadanya yang pepat serasa ingin meledak. Begitu beraninya
orang-orang gila itu mengambil Nyai Demang dari hadapan hidungnya
dan hidung suaminya, Ki Demang di Kepandak yang hampir tidak ada
duanya di daerah Selatan ini, yang ditunggui pula oleh Ki Reksatani
yang pernah mendapat gelar Macan Luwe oleh kawan-kawannya selagi
mereka masih muda, karena Ki Keksatani adalah seorang yang garang
seperti seekor harimau, tetapi ia selalu saja lapar. Setiap kali ia
pergi ke Kademangan, ia pasti langsung pergi ke dapur mencari makan,
sehingga sampai saat tuanyapun Ki Demang masih selalu bertanya
kepadanya, apakah ia sudah makan. Iring-iringan orang berkuda itu
langsung menuju ke ke rumah Pamot yang masih tertutup rapat. Seisi
rumah itu terkejut bukan kepalang ketika mereka mendengar derap
kakikaki kuda memasuki halaman. Yang pertama-tama terlintas di
kepalanya adalah Pamot. Bagaimana dengan Pamot? Dengan tergesa-gesa
ayahnya berlari-lari membuka pintu. Ia terkejut sejenak, ketika ia
melihat di dalam keremangan cahaya pagi Ki Jagabaya, Ki Kebayan dan
beberapa orang lagi, termasuk Ki Reksatani. Hampir tanpa disadarinya
ayah Pamot bertanya "Apakah kalian ingin memberikan kabar tentang
anakku? Bagaimana dengan Pamot? Ki Jagabaya mengerutkan keningnya.
Tetapi sejenak kemudian ia bertanya dengan suara lantang "Dimana
Pamot?" Ayah Pamot menjadi bingung. Dengan suara yang tinggi ia
bertanya pula "Siapakah yang sebenarnya harus bertanya? Aku atau
kalian? Aku kira kalian datang setelah kalian mendengar berita
tentang anakku. Sekarang Ki Jagabaya justru bertanya dimana Pamot.
Bukankah kita bersama-sama tahu bahwa Pamot ikut di dalam pasukan
yang menyerang Betawi bersama seluruh kekuatan Mataram?" Ki Jagabaya
tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Ki Reksatani, Ki Kebayan dan
para bebahu padukuhan yang lain yang ikut serta bersamanya. "Ki
Jagabaya?" bertanya ayah Pamot "apakah yang sebenarnya ingin Ki
Jagabaya katakan? Apakah Ki Jagabaya ingin menyampaikan berita yang
paling jelek buat kami? Dan agar supaya kami t idak terkejut, Ki
Jagabaya mencoba mencari cara yang sebaik-baiknya untuk
mengatakannya?" Ki Jagabaya masih tetap berdiam diri. Justru ia
menjadi agak bingung untuk menjawab pertanyaan ayah Pamot yang
datang beruntun. "Ki Jagabaya" berkata ayah Pamot kemudian
"sebaiknya Ki Jagabaya berkata berterus terang. Apakah Ki Jagabaya
sudah menerima pemberitahuan dari Matarambahwa anakku mati?" Ki
Jagabaya mengerutkan keningnya. Namun dengan suara yang menghentak
dari dalamdadanya ia berkata "Aku mencari Pamot" "Kenapa Ki Jagabaya
mencari Pamot?" ayah Pamot menjadi semakin bingung "apakah ia
ternyata lari dari kesatuannya?" Ki Jagabaya memandang ayah Pamot
dengan sorot mata yang semakin lama menjadi semakin lunak. Ia
melihat kejujuran pada wajah ayah Pamot, seorang petani yang
sederhana, yang pasti tidak akan mampu membohonginya. "Jadi Pamot
tidak pulang atau belum pulang?" la kemudian bertanya. "Aku menunggu
berita tentang anakku itu. Jadi bagaimana sebenarnya? Anak itu mati
atau lari atau apalagi yang lebih jahat? Membunuh, merampok atau
apa?" Ki Jagabaya menggelengkan kepalanya. Katanya "Baiklah kalau
anakmu masih belum pulang. Aku hanya ingin meyakinkan diri, apakah
anak-anak kita memang belum kembali dari medan" "Aku tidak mengerti"
desis ayah Pamot "aku merasa, sesuatu pasti terjadi. Tetapi Ki
Jagabaya agaknya masih merahasiakannya" "Tidak. Tidak apa-apa" jawab
Ki Jagabaya "Punta dan yang lain lagi juga belumada di rumahnya"
Ayah Pamot menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kini hatinya serasa
tertusuk duri. Setiap tarikan nafas, bagaikan ujung duri itu semakin
dalam menghunjam masuk ke dalam jaringan hatinya. "Baiklah, aku akan
melanjutkan perjalanan" "Kemana?" Ki Jagabaya menjadi bingung
sejenak. Namun kemudian ia menjawab "Keliling Kademangan" Ketika Ki
Jagabaya sudah siap meninggalkkan halaman itu, ayah Pamot
mendekatnya sambil berdesis "Perasaanku telah terguncang Ki
Jagabaya. Aku memang bukan orang yang pandai, tetapi kadang-kadang
secara naluriah aku merasa bahwa sesuatu telah atau akan terjadi.
Adalah tidak biasa terjadi, Ki Jagabaya bersama beberapa orang
bebahu dan para pengawal di pagi-pagi buta berderap berkeliling
Kademangan diatas punggung kuda seperti sepasukan prajurit yang
pergi berperang" "Kau benar" sahut Ki Jagabaya "aku sendiri merasa
aneh atas perbutan kami ini. Tetapi apaboleh buat. Kalau kau ingin
juga tahu, maka sebentar lagi kau pasti akan tahu, apakah alasan
kami datang kemari untuk meyakinkan bahwa Pamot memang belum kembali
hari ini" "Jadi Ki Jagabaya berteka-teki?" "Tidak. Tetapi aku tidak
perlu mengatakannya, sekarang aku minta diri" Ki Jagabaya tidak
mununggu jawaban. Iapun segera memacu kudanya meninggalkan halaman
rumah Pamot, diikuti oleh orang-orang lain yang bersamanya mencari
sindangsari. "Kemana kita sekarang?" bertanya salah seorang
pengikutnya. "Masih ada seorang yang pantas kita curigai. Manguri"
Dada Ki Reksatani menjadi berdebar-debar. Ia memacu kudanya lebih
cepat sehingga ia berada di samping Ki Jagabaya "Kita pergi ke rumah
Manguri sekarang?" ia bertanya. "Ya" "Apakah mungkin ia
melakukannya?" "Mungkin sekali. Ia jauh lebih kasar dari Pamot.
"Tetapi kalau ia berniat untuk mengambil, kenapa ia menunggu sampai
hari ini, sampai kandungan mBok-ayu Sindangsari genap berumur tujuh
bulan?" "Aku tidak sempat mempertimbangkannya sekarang. Aku
mencurigainya dan aku akan melihat rumiahnya, apakah ia
menyembunyikannya di rumahnya" "Kita akan membuang buang waktu.
Lebih baik kita berpencar dan mencari jejak di seluruh Kademangan"
"Terserah. Tetapi aku akan pergi ke rumah Manguri. Memang agak
kurang meyakinkan bahwa ia menunggu justru ketika di rumah Ki Demang
sedang banyak orang, termasuk Ki Reksatani dan para bebahu. Tetapi
mungkin ia menganggap, justru di dalam kesibukan itulah semua orang
menjadi lengah" Ki Reksatani tidak dapat mencegahnya lagi. Karena
itu ia merasa wajib untuk ikut serta bersama Ki jagabaya. Mungkin
apabila perlu ia dapat mengambil tindakan secepat-cepatnya. Tanpa
disadarinya, Ki Reksatani meraba kerisnya. Keris yang dipakai
sebagai pakaian kebesarannya dalam peralatan di rumah kakaknya.
Tetapi keris itu adalah sebuah keris pusaka yang dapat
diandalkannya. Kalau Ki Jagabaya menemukan jejak sindangsari di
rumah Manguri, maka anak itu harus segera dibungkam untuk
selama-lamanya" katanya di dalam hati "kalau tidak, anak itu memang
cukup berbahaya bagiku. Aku mempunyai alasan yang cukup untuk
menikamnya tanpa menunggu keputusan kakang Demang. Semua orang pasti
menyangka aku kehilangan kesabaran, dan membunuhnya dengan
sertamerta" Namun kemudian tumbuh pertanyaan "Lalu bagaimana dengan
perempuan itu? Ia kini pasti menyadari, bahwa isteriku telah
menjerumuskannya. Ia akan dapat banyak berbicara" Ki Reksatani
menggeretakkan giginya, di dalam hati ia menggeram "Persetan. Aku
tahu dimana perempuan itu disembunyikan. Sudah tentu aku tidak akan
dapat membunuhnya di hadapan orang-orang yang mencarinnya. Kami
memang harus berpencar dan tidak boleh seorangpun yang tahu, bahwa
aku telah membunuhnya" Sejenak kemudian derap kaki-kaki kuda itu
menjadi semakin dekat dengan padukuhan Gemulung. Merekapun langsung
berpacu ke rumah seorang pedagang ternak yang kaya-raya. Semakin
dekat mereka itu ke rumah Manguri, maka dada Ki Reksatani menjadi
semakin berdebar-debar. Ia tidak dapat membayangkan apa yang sedang
dilakukan oleh Manguri saat itu. Apakah ia tidak berada di rumahnya
karena ia sedang menyembunyikan Sindangsari atau justru ia membawa
sindangsari ke rumahnya sebelum disembunyikannya. "Mudah-mudahan
anak itu bukan anak yang dungu atau gila sama sekali. Ia harus
menyembunyikan Sindangsari itu. Tidak seharusnya ia membawanya
pulang apapun alasannya" katanya di dalam hati. Sejenak kemudian,
rombongan orang-orang berkuda itupun telah memasuki regol rumah
pedagang kaya yang luas dan bersih itu. Beberapa orang pelayan
menjadi terkejut karenanya. Mereka yang sedang membersihkan halaman
berlari-lari ke belakang, sedang mereka yang sedang menimba airpun
terpaksa berhenti karenanya. Ki Reksatani yang sangat cemas merasa
sedikit tenang ketika ia melihat Lamat yang berdiri di depan kandang
sambil menjinjing kapak. Di bawah kakinya beberapa potong kayu sudah
terbelah kecil-kecil "He, dimana Manguri" terdengar suara Ki
Jagabaya tegas. Lamat menyandarkan kapaknya pada dinding kandang.
Perlahan-lahan ia melangkah mendekati orang-orang berkuda yang tidak
juga mau turun meskipun mereka sudah berhenti di halaman. "Dimana
Manguri?" bertanya Ki Jagabaya. "Ia ada di dalam Ki Jagabaya" jawab
Lamat sareh. "Benar ia ada di rumah?" "Ya. Ia ada di rumah" "Apakah
semalam ia ada di rumah?" "Ya, semalamia ada di rumah. Kenapa?" Ki
Jagabaya mengerutkan keningnya. Lalu "Panggil anak itu kemari" "Ia
barangkali masih tidur" "Kenapa ia masih tidur sesiang ini?" "Bagi
Manguri, hari masih terlampau pagi. Ia biasa bangun setelah nasi
masak" jawab Lamat. "Panggil ia sekarang" Lamat mengerutkan
keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk sambil menjawab "Baiklah.
Aku akan memanggilnya" "Apakah ayahnya juga ada di rumah?" "Sudah
tiga atau empat hari ini ia pergi mengantar ternak" "Kemana?" Lamat
menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu" "Kenapa kau tidak tahu?"
Lamat termangu-mangu sejenak. Lalu "Ki Jagabaya tahu, aku seorang
pelayan disini. Apakah aku harus mengetahui apa yang dilakukan oleh
tuanku?" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya "Baik. Sekarang
panggil Manguri cepat. Ia tidak boleh berbuat sesuatu yang dapat
menumbuhkan kecurigaanku" Lamat menganggukkan kepalanya sambil
menjawab "Aku akan memanggilnya" Lamatpun kemudian meninggalkan
orang-orang berkuda itu di halaman depan. Namun agaknya Ki Jagabaya
tidak mempercayai isi rumah itu, sehingga perintahnya kepada
orang-orangnya "Awasi semua sudut, aku tidak mau seorangpun ada yang
meninggalkan halaman rumah ini sebelum aku selesai" Beberapa
orangpun kemudian berpencar di sekitar rumah yang besar itu, di
halaman yang luas di depan dan di belakang. Sambil menggosok matanya
Manguri keluar dari pembaringannya. Ia masih sempat berbisik kepada
Lamat "Jadi, inilah agaknya kenapa ayah dengan tergesa-gesa menyuruh
kita segera pulang. Ternyata perhitungan ayah tepat. Mereka segera
datang ke rumah untuk mencari aku" Karena Manguri benar-benar telah
tertidur maka matanyapun menjadi merah, sekali-kali ia menguap "Aku
benar-benar tertidur" desisnya "apa jawabku kalau mereka bertanya,
kenapa aku masih tidur sampai saat begini?" "Aku sudah mengatakan,
bahwa setiap hari kau bangun pada saat nasi masak. Merekapun
bertanya tentang ayahnu. Aku katakan bahwa ayahmu pergi sejak tiga
hari yang lalu" "Bagaimana kalau mereka bertanya kepada ibu?" "Aku
akan memberitahukannya" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian perlahan-lahan ia berjalan keluar sambil menunggu Lamat
yang singgah sejenak di bilik ibunya. Ibu Manguri menjadi
termangu-mangu sejenak. Namun Lamat berkata "Demi keselamatannya"
"Ibu Manguri menganggukkan kepalanya "Baiklah" Kepada seorang
Pelayan yang sedang membersihkan ruang dalampun Lamat berpesan, agar
semua orang diberitahukan, bahwa ayah Manguri dianggap pergi sejak
tiga hari yang lalu. "Kenapa?" bertanya pelayan itu. "Kita malas
untuk mencari kemana ia pergi. Jawaban itu akan segera menutup
kemungkinan agar kita mencarinya" Pelayan itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Iapun kemudian pergi keluar menemui orang-orang vang
berkumpul di dapur sambil memperbincangkan orang berkuda yang
dipimpin oleh Ki Jagabaya sendiri. "Jangan lupa. Kalau orang-orang
itu bertanya, jawablah, bahwa tuan kita telah pergi mengantar ternak
sejak tiga hari yang lalu" Sejenak kemudian Lamatpun telah mengantar
Manguri keluar rumahnya. Namun demikian Manguri masih juga
berdebar-debar. Ketika ia turun tangga pendapa rumahnya, dadanya
berdesir ketika ia melihat Ki Reksatani ada diantara mereka. "Apakah
Ki Reksatani akan berkhianat?" pertanyaan itu membersit pula di
hatinya. Tetapi ia menggelengkan kepalanya sambil berkata "Tentu
tidak. Ia juga berkepentingan. Bahkan berkepentingan sekali buat
masa depannya" "Manguri" berkata Ki Jagabaya kemudian dengan suara
yang lantang "apa benar kau semalaman ada di rumah? Debar jantung
Manguri serasa menjadi semakin cepat. Ia melihat wajah Ki Jagabaya
yang tegang dan seakan-akan menyalakan kemarahannya di dadanya.
"Benar?" desak Ki Jagabaya. "Ya Ki Jagabaya, semalaman aku di rumah.
Kenapa? "Kau tidak pergi sama sekali?" Manguri menggelengkan
kepalanya "Tidak. Aku ada di rumah" "Kau dapat membuktikan?" Manguri
mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya "Bagaimana caranya
agar dapat membuktikan bahwa aku semalaman di rumah" "Terserah
kepadamu. Apa saja, asal kau dapat meyakinkan kami bahwa kau
semalaman memang berada di rumah" Manguri t idak segera menyahut.
Ditatapnya wajah-wajah yang tegang dari orang-orang berkuda itu.
Bahkan dilihatnya beberapa orang yang berpencaran di halamannya,
seakanakan mereka sedang mengepung musuh di peperangan. "Cepat.
Buktikan bahwa kau memang ada di rumah" Ki Jagabaya dan orang-orang
berkuda itu serentak berpaling ketika mereka mendengar suara dari
pintu butulan "Ia berada di rumah semalaman" Ki Jagabaya menjadi
semakin tegang, seorang perempuan berdiri di muka pintu butulan.
Orang itu adalah ibu Manguri. "Kau tahu benar bahwa ia semalaman ada
di rumah?" bertanya Ki Jagabaya kepada ibu Manguri. "Aku tahu benar
bahwa ia ada di rumah. Kami makan bersama-sama, kemudian aku melihat
ia pergi ke biliknya. Aku masih menegurnya ketika hampir tengah
malam ia masih juga membaca kidung dengan keras" "Sesuatu itu?"
"Anak itu pergi ke pembaringan" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya.
Sebelum ia mengucapkan pertanyaan-pertanyaan lagi Ki Reksatanilah
yang mendahuluinya "Benar begitu Manguri?" Manguri mengangguk "Ya.
Benar begitu" "Itukah sebabnya kau bangun terlampau siang pagi ini?"
"Aku biasa bangun siang. Aku tidak mempunyai pekerjaan apapun di
pagi hari sambil menunggu nasi masak" Ki Reksatani
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Lamat ia bertanya
"Kaupun ada di rumah semalaman?" "Aku hampir tidak pernah keluar
halaman ini. Apalagi malamhari" Sejenak Ki Reksatani memandang wajah
Ki Jagabaya kemudian wajah-wajah yang tegang di sekelilingnya.
"Dimana ayahmu?" t iba-tiba Ki Jagabaya bertanya. "Ia pergi
mengantarkan ternak keluar daerah" "Kemana?" "Ayah tidak pernah
membicarakannya dengan siapapun di rumah ini. Kadang-kadang dengan
ibu, tetapi kadang-kadang juga tidak" Ki Jagabaya berpaling kepada
ibu Manguri -Benar begitu?" "Ya. Suamiku jarang sekali mempersoalkan
pekerjaannya di rumah. Katanya, persoalan itu adalah persoalannya.
Persoalan laki-laki. Ia hanya memberi uang untuk keperluan rumah
tangga ini secukupnya" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Tetapi
agaknya ia masih, belum mempercayai seluruh keterangan itu. Karena
itu maka tiba-tiba ia berkata "Aku akan melihat seisi rumah ini"
"Ada apa sebenarnya?" bertanya Manguri. "Aku ingin melihat apakah
tidak ada sesuatu yang mencurigakan disini" "Ya, tetapi apa alasan
kalian menggeledahi rumah ini. Ayah yang memiliki rumah ini sedang t
idak ada di rumah. Seharusnya kalian menunggu sampai ayah pulang"
"Aku tidak dapat menunda lagi" kemudian kepada orangorangnya Ki
Jagabaya memberikan perintah "lihatlah isi rumah ini. Apakah ia ada
di dalamnya" "Coba, sebutkan apa yang kalian cari. Kalau kalian
mengatakan apa yang kalian cari, barangkali kalian tidak perlu
menggeledah rumah ini" berkata ibu Manguri "kalau kami tahu apa yang
kalian cari, dan ternyata yang kalian cari itu memang ada di rumah
ini, kami akan menunjukkannya" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya.
Yang menyahut adalah Ki Reksatani "Seandainya ada, kalian pasti
tidak akan berterus terang" "Apakah kalian menuduh kami telah
merampok dan menyembunyikan barang-barang rampokan itu di rumah
ini?" Ki Jagabaya menjadi ragu-ragu. "Apakah kalian sangka bahwa
kami akan kelaparan apabila kami tidak merampok? Apakah kalian
sangka bahwa hidup kami telah begitu sengsara sehingga kami harus
mencari nafkah dengan cara yang menakutkan itu?" "Kami tidak menuduh
kalian merampok. Kami tidak mencari barang rampokan di rumah ini"
"Apa yang kalian cari. Kalau kalian tidak mau mengatakan kami, seisi
rumah ini menyatakan keberatan bahwa rumah kami akan kalian periksa"
"Kau tidak dapat menyatakan keberatan itu terhadapku. Terhadap
Jagabaya Kademangan Kepandak. Aku berhak berbuat apa saja untuk
ketenteraman Kademangan ini" "Tetapi Ki Jagabaya tidak boleh
menyalah gunakan wewenang itu" "Aku tidak menyalah gunakannya
sekarang" "Kalau begitu beritahu, apakah yang kalian cari" Ki
Jagabaya masih juga ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata
"Kami mencari Sindangsari, Nyai Demang" "He?" Manguri pura-pura
terkejut "kalian mencari Nyai Demang di rumah ini? Alasan apakah
yang telah mendorong kalian berbuat demikian? Apakah kalian sangka
bahwa Nyai Demang itu lari dan bersembunyi disini?" Ki Jagabaya
tidak menyahut lagi. Tetapi ia mengulangi perintahnya "Cari di
seluruh bagian rumah dan halaman" Manguri menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ketika ia akan melangkah meninggalkan tempat itu, Ki
Reksatani berkata "Kau tidak boleh pergi. Kau tetap disini" Manguri
berpaling memandanginya. Namun kemudian ia mengangguk "Baiklah. Aku
akan tetap disini. Tetapi apakah kalian menjamin bahwa tidak ada
barang-barangku yang akan hilang?" Ki Jagabaya memandang Manguri
dengan sorot mata yang tajam"Kau mencurigai kami, para petugas?"
"Bukan Ki Jagabaya. Aku percaya kepada Ki Jagabaya. Tetapi bagaimana
dengan orang-orang lain itu" "Aku akan mengawasinya. Biarlah ibumu
ikut mengawasinya pula. Tetapi kau tetap disini dengan Ki Reksatani"
Ki Jagabaya itupun kemudian meloncat dari punggung kudanya, untuk
memimpin orang-orangnya mencari Sindangsari di dalam rumah itu.
Sementara Ki Reksatani yang kemudian meloncat turun pula dari
kudanya, tetap tinggal di tempatnya bersama Manguri dan Lamat.
Ketika Ki Jagabaya dan orang-orangnya sudah meninggalkan Ki
Reksatani, maka Ki Reksatanipun berbisik "Apakah perempuan itu ada
di rumah ini?" Manguri tersenyum sambil menggeleng "Aku bukan anak
gila seperti yang kau sangka" Ki Reksatani menarik nafas
dalam-dalam. Iapun menjadi berlega hati, bahwa perempuan yang dicari
itu tidak ada disini. "Di mana kau sembunyikan?" bertanya Ki
Reksatani pula. "Di tempat yang sudah aku tentukan" "Hati-hatilah.
Agaknya Kakang Demang menjadi sangat tersinggung. Juga Ki Jagabaya
yang dungu itu. Mungkin mereka akan mencari Nyai Demang dari rumah
ke rumah. Kami baru saja pergi ke rumah Pamot. Tetapi Pamot masih
belumpulang" Manguri tertawa kecil. Katanya "Ki Demang benar-benar
menjadi kebingungan. Tetapi percayalah bahwa Ki Demang tidak akan
dengan mudah dapat menemukan perempuan itu. "Ingat, kalau perempuan
itu dapat diketemukan, maka taruhannya adalah leher kita. Aku kau
dan Lamat dan mungkin juga ayahmu dan isteriku" "Aku mengerti" "Atau
kademangan ini dilanda oleh perang diantara kita. Apabila demikian
kita harus menyusun alasan, yang akan kita pertanggung jawabkan
kepada pimpinan pemerintahan di Mataram" "Itu urusanmu" "Aku tahu,
karena akulah yang akan menjadi orang yang paling berkuasa di
Kademangan ini. Aku dapat berbuat apapun sekehendak hatiku seperti
kakang Demang sekarang. Kawin enam kali, dan apapun juga" "Dan
apakah yang akan kau lakukan? Kau akan kawin lagi sampai enam kali?"
"Ah, tentu tidak" "Lalu apa?" "Jangan kita percakapkan sekarang. Kau
harus tatap seperti keadaanmu semula. Aku tetap mengawasi, kau dan
Lamat" KiReksatani berhenti sejenak, lalu "lihat, mereka sudah
memasuki rumahmu" "Ibu akan mengawasi mereka" Demikianlah maka
orang-orang yang datang berwarna Ki Jagabaya itupun memerik setiap
sudut rumah dan halaman Manguri. Setiap gerumbul, kandang-kandang
ternak yang berserakan telah dimasuki. Dapur dan bahkan pakiwan.
Kini mereka memasuki rumah di bawah pengawasan Ki Jagabaya dan ibu
Manguri. Dengan teliti mereka memeriksa semua ruangan. Bahkan di
dalam kolong pembaringan dan amben di ruang dalam. Di balik gleleg
dan disentong-sentong. Tetapi mereka tidak menemukan siapapun juga.
Tidak ada seorangpun juga yang bersembunyi di rumah itu. Yang ada
hanyalah para pembantu dan pelayan. Pekatik dan gamer serta mereka
yang tinggal di rumah Itu. Beberapa orang yang kemudian berkumpul di
pringgitan menggelengkan kepalanya sambil berkata kepada Ki Jagabaya
"Tidak kami ketemukan di rumah Ini Ki.Jagabaya" Ki Jagabaya tidak
segera menjawab. Tetapi ia menjadi ragu-ragu atas dugaannya. Ia
semula menyangka bahwa Sindangsari pasti telah diambil oleh
seseorang. Atas persetujuannya sendiri atau tidak. Tetapi dua orang
yang paling dicurigai ternyata sama sekali tidak memberikan kesan
apapun, bahwa merekalah yang telah melakukannya. Bagi Ki Jagabaya
Pamot jelas masih belum kembali. Sedang kini, mereka telah
menggeledah rumah Manguri, mereka sama sekali t idak menemukan
apa-apa. "Gila" geram Ki Jagabaya "apakah benar pikiran
perempuan-perempuan tua, Sindangsari dibawa hantu? Tetapi alangkah
malunya, apabila aku t idak dapat menemukannya hidup atau mati.
Dibawa hantu atau dibawa siapapun juga" Tetapi Ki Jagabaya tidak
dapat melepaskan kenyataan yang dihadapinya. Sulitlah untuk tidak
percaya, bahwa Manguri memang tidak pergi kemanapun juga semalam.
Beberapa keterangan yang didengarnya memang telah meyakinkannya
bahwa Sindangsari tidak akan dapat diketemukan di rumah ini.
Keterangan yang meyakinkan mengatakan bahwa semalam Manguri ada di
rumah. "Kalau begitu bagaimana?" pertanyaan itulah yang
berputar-putar di kepala Ki Jagabaya. "Apakah aku pulang dengan
tangan hampa, atau aku harus menjelajahi seluruh Kademangan ini?"
Pertanyaan itu melonjak-lonjak di dalam dada Ki Jagabaya, sehingga
justru ia sejenak menjadi kebingungan. Di luar Manguri dan Lamat
duduk di tangga pendapa ditunggui oleh Ki Reksatani yang berjalan
mondar mandir sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Ia merasa
sedikit tenang karena Sindangsari memang tidak ada di rumah itu.
Tetapi apabila nanti Ki Demang sendiri yang merasa sangat
tersinggung itu menyebar orang-orangnya dan memasuki setiap rumah,
maka sudah pasti rumah yang terpencil itu akan didatangi juga.
Apalagi kalau Ki Demang atau Ki Jagabaya mengetahui bahwa rumah itu
adalah rumah ayah Manguri. Tiba-tiba Ki Reksatani itu berhenti
sejenak sambil berbisik "Dimana ayahmu sebenarnya?" "Kenapa?"
bertanya Manguri. "Aku ingin tahu" "Kau memerlukan ibu?" "Persetan.
Aku tidak sempat. Jangan gila" "Ayah menunggui perempuan itu" Ki
Reksatani mengerutkan keningnya "Maksudmu menunggui Sindangsari?"
Manguri menganggukkan kepalanya. Ki Reksatani berdesis "Ayahmu sudah
merestuimu. Seorang ayah yang membantu anaknya berbuat kejahatan"
Manguri tersenyum. Dipandanginya wajah Ki Reksatani yang tegang.
Katanya kemudian "Tetapi itu lebih baik. Bagaimanapun juga seorang
ayah menginginkan anaknya mendapatkan apa yang dicita-citakan.
Seperti kau juga bercita-cita untuk keturunanmu kelak, meskipun kau
harus mengkhianati kakakmu sendiri" "Kau memang anak gila" Manguri
tidak menyahut. Ia masih duduk di tangga pendapa rumahnya, dan di
bibirnya masih terbayang sebuah senyuman. Namun Ki Reksatani sudah
tidak menghiraukannya lagi. Kini ia berjalan lagi hilir mudik di
halaman sambil menyilangkan tangannya di dada. Dalam pada itu Lamat
duduk sambil menundukkan kepalanya. Terbayang di kepalanya suatu
perbuatan yang keji yang kini tengah berlangsung di Kademangan
Kepandak. Ia sadar, bahwa apabila kali ini mereka berhasil, maka
tindakan mereka pasti akan merembet kepada pengkhianatan yang lebih
berani. Bukan sekedar membunuh Sindangsari, tetapi pasti Ki Demang
sendiri. Ki Reksatani pasti masih memperhitungkan bahwa Ki Demang
akan segera kawin lagi dan kemungkinan untuk menumbuhkan keturunan
telah dilihatnya kini, meskipun Lamat sendiri yakin, bahwa keturunan
itu sama sekali bukan keturunan Ki Demang seperti yang telah terjadi
bahwa kelima isterinya yang terdahulu tidak dapat melahirkan seorang
anakpun. Lamat tahu dengan pasti, hubungan yang tidak terkekang lagi
antara perempuan yang kini menjadi Nyai Demang itu dengan Pamot. Ki
Jagabaya mengerutkan keningnya "Namun dengan suara yang menghentak
dari dalam dadanya la berkata "aku mencari Pamot" Tetapi Lamat tidak
mengerti seluruhnya, hubungan vang sebenarnya antara Sindangsari dan
suaminya itu, seperti juga setiap orang tidak akan dapat mengetahui
keseluruhan dari orang lain. Lamat tidak tahu, bahwa Sindangsari
telah mengatakan berterus terang kepada suaminya, meskipun hampir
saja nyawanya dikorbankannya. Sejenak kemudian Lamat mengangkat
wajahnya ketika ia mendengar Ki Reksatani berkata kepada Manguri
perlahanlahan "Kau harus mempertimbangkan tempat itu baik-baik.
Kakang Demang pasti akan mencari sampai ke tempat yang kau
pergunakan untuk menyembunyikan perempuan itu. Apalagi apabila ia
mengetahui bahwa gubug itu milikmu" Manguri menganggukkan kepalanya.
"Kau harus memberitahukan pula kepada ayahmu, bahwa ia harus tidak
menampakkan diri untuk beberapa hari kalau ia memang ingin
membantumu" Sekali lagi Manguri menganggukkan kepalanya. "Nah,
sepeninggal kami, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Kau harus
cepat-cepat menghubungi ayahmu dan menyingkirkan Sindangsari" "Ia
akan aman di tempat itu" "Kau bodoh" berkata Ki Reksatani sambil
memandang Manguri tajam-tajam "Ki Jagabaya seolah-olah sudah menjadi
gila, seperti kakang Demang sendiri" Manguri tidak menyahut. Tetapi
kata-kata Ki Ueksatani itu masuk diakalnya juga. Ki Jagabaya pasti
akan menggeledah semua rumah yang mungkin dipergunakannya untuk
menyembunyikan Sindangsari. Sejenak kemudian, maka Ki Jagabaya
beserta beberapa orang telah keluar dari pringgitan. Dengan hati
yang tegang Ki Jagabaya berkata kepada Manguri "Aku tidak
menemukannya di rumah ini Manguri" Manguri yang kemudian berdiri
menyahut "Ki Jagabaya. Buat apa sebenarnya Ki Jagabaya mencari
seorang perempuan yang sedang mengandung ke rumah ini? Aku tidak
ingkar bahwa aku pernah tergila-gila kepada perempuan itu. Dan aku
tidak ingkar bahwa aku memang seorang yang banyak berhubungan dengan
perempuan. Tetapi justru karena itu, apakah aku masih juga
menghendaki seorang perempuan, suami orang lain, apalagi suami Ki
Demang yang sudah mengandung tujuh bulan?" Ki Jagabaya mengerutkan
keningnya. Tetapi ia menjawab "Aku wajib mencurigai setiap orang.
Bahkan orang-orang yang belumpernah berhubungan dengan Sindangsari
sekalipun" Manguri mengangkat bahunya "Terserahlah. Tetapi Ki
Jagabaya sudah mengetahui, apa yang ada di rumah ini" "Kau tidak
usah banyak memberikan tanggapan" bentak Ki Reksatani tiba-tiba "Ki
Jagabaya dan kami semuanya pasti tidak akan dapat menganggap bahwa
kata-katamu itu keluar dari hatimu yang jujur" namun suara Ki
Reksatani kemudian merendah "tetapi kita memang tidak menemukannya
disini" Ki Jagabaya memandang. Ki Reksatani dan Manguri berganti
ganti. Namun seolah-olah tanpa disadarinya iapun bergumam pula "Ya,
kita memang tidak menemukannya disini" "Lalu, kemana kita sekarang?"
bertanya Ki Reksatani. Ki Jagabaya termenung sejenak. Ia menjadi
bingung, kemana ia harus mencari. "Kita kembali ke Kademangan"
berkata Ki Reksatani "Kita minta pertimbangan Ki Demang. Sejak kita
mendengar mBokayu hilang, kita belum pernah memperbincangkannya
dengan bersungguh-sungguh. Kita tergesa-gesa meengambil sikap dan
berpacu diatas punggung kuda. Kini kita harus bertindak dengan
pertimbangan yang matang, agar kita tidak sia-sia saja melakukan
sesuatu" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah"
katanya "kita kembali ke Kademangan. Kita akan memperhitungkan
langkah selanjutnya" Ki Reksatani memandang Manguri sejenak.
Kemudian ditatapnya kepala Lamat yang botak yang tidak tertutup oleh
ikat kepalanya. Sementara Lamat masih saja tetap duduk di tempatnya.
Ki Jagabayapun memandang Lamat sejenak. Ia mempunyai tanggapan yang
lain terhadap raksasa itu, karena Pamot pernah datang menghadapnya
bersama dengan Punta dan mengatakan serba sedikit tentang raksasa
yang berwajah sekasar batu padas itu. "Marilah" tiba-tiba ia
berdesis "kita segera menghadap Ki Demang" Ki Jagabaya diikuti oleh
orang-orangnyapun kemudian melangkah menuju ke kuda masing-masing.
Ki Keksatanipun kemudian meninggalkan Manguri sambil berkata lantang
"tetapi kami masih akan tetap mengawasi setiap orang yang kami
curigai. Terutama kau dan Pamot. Meskipun Pamot masih belumpulang,
siapa tahu, ia berbuat lebih licik lagi" Manguri memandang Ki
Reksatani sejenak, lalu "Kalau kalian masih belum puas, pintu rumah
kami selalu terbuka. Aku kelak akan mengatakan kepada ayah, bahwa
kalian telah berkenan mengunjungi rumah kami" "Persetan" bentak Ki
Reksatani sambil meloncat ke punggung kudanya. Ki Jagabayapun
kemudian meninggalkan halaman ramah itu diikuti oleh Ki Reksatani
dan kawannya. Ketika mereka berderap di sepanjang jalan padukuhan,
mereka merasa bahwa berpuluh-puluh pasang mata rakyat Gemulung
menatap iring-iringan itu dengan hati vang cemas. Beberapa orang
berkerumun di balik regol-regol halaman sambil berbincang. Kemudian
mereka mulai menduga-duga, karena mereka masih belum tahu pasti apa
yang telah terjadi sebenarnya. "Apakah yang telah terjadi?" bertanya
seorang laki-laki tua kepada anaknya yang baru mengint ip
iring-iringan itu dari balik pintu regol halaman rumahnya. "Entahlah
ayah" jawab anaknya "Aku tidak tahu. Tetanggatetanggapun masih belum
ada yang tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi. Laki-laki itu
menjadi semakin cemas. Katanya kepada anaknya "Tinggal sajalah di
rumah hari ini. Hatiku menjadi berdebar-debar. Mudah-mudahan tidak
terjadi sesuatu di Kademangan dan apalagi di padukuhan ini" Anaknya
tidak menyahut. Tetapi iapun menjadi berdebardebar pula. Meskipun
demikian anaknya berkata "Aku harus pergi ke sawah ayah. Hari ini
kami mendapat giliran air" "Jangan hiraukan air itu. Kita belum
tahu, apakah yang sebenarnya sudah terjadi" "Tetapi, di musim kering
serupa ini, kita harus mempergunakan air sebaik-baiknya. Kalau kita
kehilangan kesempatan sehari ini, tanaman kita di sawah akan layu
dan bahkan mungkin sebagian akan mati. Kasihan ayah. Kasihan tanaman
yang sedang tumbuh itu dan kasihan kita semuanya kalau kita tidak
dapat menuai di musimyang kacau ini" Ayahnya mengerutkan keningnya.
Katanya kemudian "Kita akan segera mengetahui apakah yang sebenarnya
sudah terjadi" Anak laki-lakinya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun ternyata mereka tidak usah menunggu terlampau lama. Berita
tentang hilangnya Nyai Demang di Kepandak segera tersebar keseluruh
Padukuhan Gemulung, dan bahkan keseluruh Kademangan Kepandak
Sementara itu, perempuan dan laki-laki tua di Kademangan masih sibuk
mencari Nyai Demang dengan cara mereka. Mereka tetap menganggap
bahwa Nyai Demang di Kepandak telah dibawa oleh hantu-hantu atau
kunt ilanak yang akan memeliharanya sampai anaknya kelak lahir.
"Kita cari sampai ketemu" desis seorang perempuan tua. "Tidak ada
tempat yang kita lampaui di sekitar Kademangan ini. Tetapi kita
tidak menemukannya" sahut yang lain. "Kita tidak hanya sekedar
mencari di sekitar Kademangan. Kita cari Nyai Demang sampai keluar
Kademangan. Kita minta beberapa orang laki-laki untuk mencarinya ke
Gunung Sepikul, Kelokan Kali Praga dan bahkan sampai ke Pandan
Segegek, di pasisir Selatan" Kawannya berbicara mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya kemudian "Kita bilang saja kepada Nyai Reksatani"
Perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun kemudian
kembali ke Kademangan untuk menyampaikan maksud mereka, mencari Nyai
Demang sampai keluar Kademangan Kepandak. Hampir bersamaan,
perempuan dan orang tua yang kembali ke Kademangan dengan rombongan
Ki Jagabaya yang memasuki halaman dengan tergesa-gesa. Mereka segera
berloncatan dari punggung kuda masing-masing dan langsung naik ke
Pendapa mendapatkan Ki Demang yang menjadi semakin gelisah.
"Bagaimana?" Ki Demang bertanya dengan serta merta. "Kami belum
menemukannya Ki Demang" sahut Ki Jagabaya dengan suara tertahan.
"Kemana saja kalian mencarinya?" bertanya Ki Demang pula. "Kami
sudah pergi ke rumah Pamot. Ternyata Pamot masih belum kembali. Kami
langsung pergi ke rumah Manguri. Tetapi kami t idak menemukan Nyai
Demang di sana, meskipun kami sudah menggeledah seluruh sudut rumah
itu" "Apakah Manguri ada di rumah?" Ya, semua ada di rumah kecuali
ayahnya" "Kemana ayahnya itu?" "Seperti biasanya, mengantar ternak
keluar daerah" Ki Demang menggeretakkan giginya. Kemarahannya sudah
melonjak sampai ke ujung ubun-ubunnya. Kalau Pamot tidak ada di
rumah, ia yakin bahwa Sindangsari tidak akan pergi atas kehendak
sendiri. Ia selama ini tampak sudah mulai kerasan tinggal di
Kademangan. Apalagi setelah perempuan itu yakin, bahwa Ki Demang itu
tidak akan berbuat sesuatu atas kandungannya, meskipun kandungan itu
didapatkannya dari orang lain. Karena itu, dugaan bahwa Sindangsari
sengaja melarikan diri adalah tidak mungkin sama sekali.
Terlebih-lebih lagi, ibu Sindangsari ada di Kademangan itu pula.
"Apakah kalian yakin bahwa anak-anak yang pergi ke Betawi itu memang
belum kembali?" bertanya Ki Demang kemudian. "Ya. Kami yakin. Dan
kami justru bertanya, apakah masih ada diantara mereka yang akan
dapat kembali lagi" sahut Ki Jagabaya. Ki Demang menundukkan
kepalanya. Rasa-rasanya dadanya menjadi panas, seolah-olah
jantungnya sudah menjadi bara karenanya. Dalam pada itu seorang
perempuan tua yang sejak semula mendengarkan percakapan itu menyela
"Kalian pasti tidak akan menemukannya kalau kalian mencarinya ke
rumah orang. Siapapun juga orangnya" Ki Demang mengangkat wajahnya.
Dipandanginya perempuan tua itu. Sorot matanya membayangkan
kekisruhan hati yang tiada taranya. "Jadi kemana kita harus mencari
nini?" bertanya Ki Jagabaya. "Kami sudah mencari ke seluruh sudut
Kademangan. Setiap pohon besar, setiap gerumbul-gerumbul yang singup
dan kuburan-kuburan. Tetapi kami belum menemukannya. Kalau kalian
mau mendengarkan aku pergilah kalian ke Gunung Sepikul atau tikungan
Kali Praga atau Pandan Segegek sekali. Kalian adalah laki-laki yang
dapat lari cepat diatas punggung kuda. Sebelumhal yang tidak bisa
kita inginkan terjadi. Sejenak Ki Demang terdiam. Dipandanginya
wajah Ki Jagabaya sekilas, kemudian wajah adiknya Ki Reksatani.
"Kalian tentu tidak mempercayai aku" desis perempuan tua itu. "Bukan
tidak mempercayai nini. Kami belum menjawab apapun" "Aku dapat
melihat kesan di wajah kalian. Terserahlan kepada kalian" Ki
Reksatani kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya-Kami akan
memperhatikannya nini" "Bukan sekedar untuk diperhatikan. Tetapi,
sebaiknya kalian benar-benar melakukannya. Kalau tidak, aku tidak
ikut bertanggung jawab lagi" Ki Reksatani memandang Ki Demang
sejenak. Dengan ragu-ragu ia berkata "Bagaimana pendapatmu kakang
Demang?" Ki Demang yang sedang bingung itu menjawab "Kita lakukan
semua usaha. Disini ada berpuluh-puluh orang yang dapat disebar
untuk mencari Sindangsari dengan segala cara" Ki Reksatani
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kalau Ki Demang benar-benar
menyuruh beberapa orang menjelajahi daerah Selatan ini, iapun
menjadi cemas. Barangkali Manguri benar-benar berusaha memindahkan
Sindangsari. Dengan demikian maka di sepanjang jalan akan mungkin
sekali bertemu dengan orang-orang Ki Demang yang bertebaran
kesegenap penjuru. Karena Ki Reksatani seolah-olah tidak
menanggapinya karena ia sedang sibuk sendiri dengan angan-angannya,
Ki Demang membentaknya "He, bagaimana pikiranmu Reksatani? "Ya, ya.
Aku sependapat. Segala cara memang dapat ditempuh. Tetapi sudah
tentu kita akan mempergunakan cara yang paling mungkin dapat
ditempuh dan paling mungkin menghasilkan" "Terserahlah kepadamu dan
kepada Ki Jagabaya" berkata Ki Demang. Kemudian "Aku menunggu hasil
kerja kalian hari ini. Kalau kalian gagal aku sendiri akan
menjelajahi setiap rumah di Kademangan ini. Kalau ternyata ia tidak
diketemukan di Kademangan ini, aku akan mencarinya kemana saja. Aku
tidak peduli. Siapa yang berusaha merintangi usahaku, aku akan
mempergunakan kekerasan. Setiap orang di daerah Selatan tahu,
siapakah Demang di Kepandak. Aku akan memasuki Kademangan di sekitar
Kepandak. Tidak ada seorang Demangpun yang akan menghalangi aku,
apabila mereka t idak ingin aku menghancurkan mereka" Semua orang
terdiam karenanya. Mereka mengerti, dalam keadaan itu, tidak
sebaiknya seseorang menanggapi katakatanya. Ki Demang memang seorang
yang dikenal di daerah Selatan. Semua orang menghormat inya. Bahkan
Demang di sekitar Kepandakpun mengormat inya pula. Dalam keadan
wajar, Ki Demang tidak pernah menumbuhkan gangguangangguan dan
perselisihan dengan tetangga-tetangga Kademangannya. Tetapi di dalam
kegelapan hati, mungkin ia akan berbuat lain. Meskipun Ki Reksatani
menjadi berdebar-debar juga, tetapi iapun berkata di dalam hati
"Apabila keadaan memaksa, apaboleh buat. Setiap orang di daerah
Selatanpun tahu, siapakah orang yang bernama Reksatani, adik Demang
di Kepandak" Dalam pada itu Ki Jagabayapun kemudian berkata "Jadi
apakah kita akan menempuh segala jalan itu?" "Ya. Semua jalan dan
semua cara" jawab Ki Demang tegas. "Baiklah. Aku akan segera membagi
orang yang ada. Sebagian akan pergi keluar Kademangan, mencarinya ke
Gunung Sepikul, ketikungan Kali Praga dan ke Pandan Segegek di
pesisir Selatan" desis Ki Jagabaya. "Terserahlah kepada kalian. Aku
menunggu sampai senja" "Baiklah" lalu kepada Ki Reksatani Ki
Jagabaya berkata "kita akan membagi tugas" "Ya. Kita akan membagi
tugas. Tetapi kita harus berbicara dahulu dengan sebaik-baiknya,
supaya kita tidak banyak kehilangan waktu, karena kita dengan mata
gelap berlarilarian di sepanjang jalan" "Ya, berbicaralah" sahut Ki
Demang "buatlah rencana yang sebaik-baiknya" Ki Reksatani memandang
Ki Demang sekilas, wajahnya yang kemerah-merahan itu memancarkan
kemarahan yang hampir tidak tertahankan. Tanpa menunggu jawaban
lagi, Ki Demang itupun kemudian melangkah masuk ke ruang dalam.
Sejenak Ki Jagabaya dan Ki Reksatani saling berpandangan. Namun
sejenak kemudian Ki Reksatanipun melangkahkan kakinya pula mengikuti
Ki Demang yang langsung masuk ke dalam biliknya. Dari luar bilik,
lewat pintu yang tidak tertutup rapat, Ki Reksatani melihat Ki
Demang membuka sebuah peti kayu di geledegnya. Kemudian dari
dalamnya diambilnya sebilah keris. Keris yang jarang sekali diambil
dari simpanannya. Terasa bulu-bulu tengkuk Ki Reksatani meremang. Ia
sadar, bahwa kakaknya sudah sampai pada puncak kemarahannya. Tanpa
sesadarnya Ki Reksatanipun kemudian meraba kerisnya sendiri. Keris
pusaka yang didapatnya bersama-sama dengan keris Ki Demang itu dari
almarhum ayahnya. Sebagai dua orang anak laki-laki, keduanya
menerima peninggalan yang senilai. Tetapi yang berbeda pada keduanya
adalah, hubungan darah. Ki Demang telah lahir lebih dahulu dari Ki
Reksatani, sehingga ia menjadi saudara tua. Dan saudara tualah yang
berhak untuk menerima warisan kedudukan Demang di Kepandak.
Perlahan-lahan Ki Reksatani melangkah surut sebelum kakaknya
mengetahui, bahwa adiknya ada di luar pintu. Di luar, Ki Jagabaya
menunggu Ki Reksatani dengan berdebar-debar. Begitu Ki Reksatani
keluar, iapun bertanya dengan serta-merta "Apa yang dilakukannya?"
"Kakang Demang sudah sampai kebatas kesabarannya. Ia sudah mengambil
keris pusakanya. Keris yang tidak pernah keluar dari simpanan"
"Keris dapur sangkelat itu?" Ki Reksatani menganggukkan kepalanya.
Ki Jagabayapun menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah lama mengenal Ki
Demang sebagai pemimpin tertinggi di Kademangan Kepandak. Ia
mengenal pula tabiat dan kemampuannya. Karena itu, ia kini merasa,
bahwa keadaan Ki Demang sudah benar-benar parah. Kalau tidak ada
orang yang dapat sedikit memberinya ketenangan, maka keadaannya
pasti akan menjadi sangat sulit. Apalagi kalau Ki Demang benar-benar
menjadi mata gelap, dan melangkah keluar rangkahnya, keluar daerah
Kademangan Kepandak. "Kademangan ini akan diliputi oleh suasana yang
suram" berkata Ki Jagabaya selanjutnya "banyak kemungkinan dapat
terjadi karena hilangnya Sindangsari" Ki Reksatani menganggukkan
kepalanya "Ya. Perselisihan dengan Kademangan-kademangan tetangga
mungkin sekali terjadi. Kalau kakang Demang memaksa untuk mencari
Sindangsari kemana saja yang dikehendaki, maka perselisihan memang
mungkin akan t imbul" "Mudah-mudahan kita akan dapat membatasi diri.
Mudahmudahan nanti malam Ki Demang menjadi sedikit tenang dan
menemukan cara yang sebaik-baiknya" Ki Reksatani
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sekarang, marilah kita membagi
kerja. Kita harus segera berangkat mencari keseluruh daerah
Kademangan ini" "Marilah kita duduk sejenak. Marilah kita bicara,
supaya kita mendapatkan landasan dari usaha kita ini. "Dan kalian
tetap tidak mendengarkan usulku" terdengar suara perempuan tua yang
ternyata masih juga berada di tempat itu" "Tentu nini, kami akan
mencari ke tempat-tempat seperti yang nini sebutkan. Beberapa orang
akan segera berangkat" "Mudah-mudahan kau tidak membohongi aku"
"Tidak, tentu tidak" Perempuan itupun kemudian meninggalkan pendapa
Kademangan bersama beberapa orang yang masih menunggunya. "Jadi,
maksud Ki Reksatani, kita menentukan arah kita masing-masing setelah
kita membagi orang-orang kita?" bertanya Ki Jagabaya. "Tentu. Tetapi
sebaiknya kita bertanya dahulu kepada ibu Sindangsari, barangkali ia
dapat memberikan petunjuk untuk mencari anaknya" jawab Ki Reksatani.
"Apa yang dapat dilakukannya?" bertanya Ki Jagabaya. "Barangkali,
barangkali ia mempunyai pendapat" jawab Ki Reksatani "sementara itu,
sementara kau bertanya kepadanya aku akan pergi ke dapur lebih
dahulu" "Untuk apa?" "Makan. Aku sudah lapar. Kita akan menjelajahi
kademangan sehari penuh" "Ki Reksatani masih juga sempat merasakan
perutnya yang lapar. Tetapi aku kira baik juga kalau semua orang
yang akan pergi bersama kita, mendapat makan paginya lebih dahulu.
Aku kira di dapur sudah tersedia seadanya, meskipun barangkali nasi
sisa makan malam" "Baiklah. Kaupun harus makan, tetapi temui dulu
mBok-ayu Demang itu" Ki Jagabayapun kemudian berusaha menemui ibu
Sindangsari sementara Ki Reksatani dan orang-orang yang akan mencari
Nyai Demang yang hilang itu mencari makan di dapur. Namun tidak
seorangpun yang tahu bahwa sebenarnya Ki Reksatani sedang berusaha
memperpanjang waktu, ia berusaha memberi kesempatan kepada Manguri
untuk menyingkirkan Sindangsari dari persembunyiannya. Dalam pada
itu, Manguri memang sedang sibuk merencanakan, apa yang sebaiknya
dilakukan. Tetapi kemungkinan-kemungkinan seperti yang terjadi ini
agaknya tidak dibayangkan. Ia memang sudah memperhitungkan, bahwa Ki
Demang akan menyebar orang-orangnya untuk mencari isterinya. Tetapi
tidak terbayang, bahwa Ki Jagabaya membawa pasukan seperti hendak
berperang, menjelajahi lorong-lorong padukuhan. Bahkan memaksa semua
orang untuk membuka pintu rumahnya. "Jika demikian" berkata Manguri
kepada Lamat "memang mungkin sekali rumah itupun pada suatu saat
akan dimasuki oleh Ki Jagabaya. Apalagi kalau mereka tahu, bahwa
rumah itu adalah rumah ayah. Bahkan mungkin rumah itulah yang
pertama-tama akan didatangi. Mereka masih tetap mencurigai aku dan
Pamot. Tetapi karena Pamot tidak ada, maka kecurigaan mereka di
pusatkan kepadaku" Lamat menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak
menyahut. "Jadi, sebaiknya perempuan itu memang harus dipindahkan"
Lamat menganggukkan kepalanya pula. "He, kenapa kau hanya sekedar
mengangguk-angguk saja? Apakah kau tidak bisa bicara lagi?" "Ya, ya.
Aku sependapat" "Kau memang seorang raksasa yang dungu. Kau sama
sekali tidak dapat berpikir. Kau hanya dapat menganggukangguk sambil
mengiakan pendapat orang lain" Lamat menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Maksudku, pikiran Ki Reksatani itu memang masuk akal.
Mungkin Ki Jagabaya akan mendatangi semua rumah. Dan yang
pertamaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ tama adalah
rumah-rumah yang dicurigainya. Termasuk rumah kecil yang terpencil
itu" "Jadi bagaimana menurut pendapatmu?" "Kita pergi ke rumah itu.
Mungkin ayahmu dapat memberikan petunjuk" "Ya. Kita pergi menemui
ayah" sahut Manguri kemudian "sekarang berkemaslah. Kita akan pergi.
Orang-orang ayah yang terpencar itupun agaknya langsung pergi kesana
pula" Manguri dan Lamatpun segera berkemas pula. Mereka menyediakan
kuda-kuda mereka. Dan Manguri masih sempat memperingatkan "Lamat,
bawalah senjatamu. Kita tidak tahu apakah yang akan terjadi di dalam
kekisruhan ini" Lamat menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian
iapun melangkah ke dalam biliknya. Diambilnya sebuah parang dari
dinding bilik itu dan diselipkannya pada ikat pinggangnya. Setelah
minta diri kepada ibunya, maka Manguripun segera berpacu ke gubug
yang terpencil itu diiringi oleh Lamat. Ketika mereka sampai ke
gubug itu, didapatinya ayahnya sedang duduk di ruang depan. Karena
itu, maka dengan tergesa-gesa Manguri menceriterakan apa yang telah
terjadi di rumah mereka. "Kami mengatakan bahwa ayah sudah tiga hari
meninggalkan rumah kita. Kalau ada orang yang melihat ayah disini,
maka kecurigaan mereka pasti akan segera meningkat" Ayah Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap tenang. "Jadi"
berkata ayah Manguri itu kemudian "menurut pertimbanganmu, sebaiknya
aku meninggalkan padukuhan ini?" "Bukankah begitu sebaiknya?" "Ya.
Kemungkinan bahwa Ki Demang akan sampai ke tempat ini memang ada"
"Jika demikian, apakah yang akan ayah lakukan?" "Sebaiknya aku
memang menyingkir untuk beberapa hari" "Tetapi bagaimana dengan
Sindangsari? Dimana ia sekarang?" "Di dalam. Aku terpaksa menyumbat
mulutnya. Setelah sadar, ia mencoba berteriak-teriak saja. Aku tidak
sampai hati untuk membuatnya pingsan lagi. Ia akan menjadi sangat
lemah. Apalagi ia sedang mengandung" Darah Manguri berdesir. Iapun
menyadari, bahwa seandainya Ki Demang, atau Ki Jagabaya sampai ke
gubug ini, maka rumah ini pasti akan digeledahnya sampai ke bawah
kolong sekalipun. "Ayah" berkata Manguri kemudian "Ki Reksatani
berpendapat bahwa sebaiknya Sindangsaripun disingkirkan pula" "He"
ayahnya mengerutkan keningnya "Aku kira ia berada di tempat yang
aman sekarang. Pintu di belakang gledeg itu tidak mudah terlihat
oleh siapapun" "Tetapi siapakah yang akan menungguinya disini?" "Kau
dan Lamat? "Itu akan menumbuhkan kecurigaan mereka. Baru saja mereka
menemui kami di rumah. Kemudian kami sudah berada di tempat ini"
"Katakan bahwa kalian sedang mengurusi ternak-ternak itu, karena aku
tidak ada di rumah" "Mungkin sekali aku dapat menghapus kecurigaan
karena aku ada disini. Tetapi aku tidak akan dapat mencegah mereka
merusak dinding dan bahkan membongkar gubug ini sama sekali. Apalagi
perempuan itu akan dapat membuat bunyi apapun meskipun mulutnya
disumbat" "Kalau jelas mereka akan mencari kemari, kau dapat membuat
perempuan itu pingsan untuk sementara seperti yang tadi kau lakukan"
Manguri termenung sejenak. Namun kemudian berkata. Ayah. Ki Demang
benar-benar seperti orang kesurupan menurut Ki Reksatani. Bahkan Ki
Jagabayapun menjadi sangat garang, karena tugasnya yang gagal. Ia
merasa tersinggung sekali atas hilangnya Nyai Demang dari depan
hidungnya di Kademangan" Ayah Manguri mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Ada baiknya juga aku meninggalkan tempat ini
membawa Sindangsari. Tetapi kemana?" "Apakah ayah tidak dapat
mencari tempat yang aman di sepanjang perjalanan yang sering ayah
lakukan?" "Aman bagi ternak. Tetapi belum pasti bagi seorang
perempuan curian seperti Sindangsari" ayah Manguri kemudian menarik
nafas dalam-dalam. Katanya selanjutnya "kau memang gila Manguri. Kau
selalu membuat orang tua menjadi pening" "Sekali ini saja ayah.
Biasanya aku tidak pernah mengganggu ayah. Aku sudah dapat mencari
gadis-gadis sendiri. Tetapi sekali ini aku memerlukan bantuan" "Ah,
kau. Kau harus mencoba untuk memulai dengan kehidupan wajar" "Tentu
ayah. Setelah aku mengawini perempuan itu" "Begitu?" ayah Manguri
menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terbayang di rongga matanya suatu
kehidupan yang justru selalu diliputi oleh rahasia dan kecemasan.
Bagaimana mungkin Manguri dapat hidup berumah tangga sewajarnya
kalau isterinya harus selalu disembunyikannya? Padahal isterinya
adalah seseorang yang lengkap. Jasmaniah dan rohaniah. Yang dapat
berpikir dan berbuat, sehingga setiap saat akan dapat melarikan
dirinya. "Manguri memang keras kepala" ia berdesah di dalam hatinya
"semakin sulit ia mendapatkan seorang gadis, maka ia menjadi semakin
bernafsu. Ia tidak mau menarik niatnya, sebelum ia berhasil. Agaknya
kali ini ia benar-benar mendapatkan kesulitan" Tetapi ayahnya tidak
mengucapkannya. Terbayang sekilas cara hidupnya sendiri. Cara hidup
yang sama sekali juga tidak terpuji. "Jadi, bagaimana selanjutnya
ayah. Kita harus berbuat cepat. Keadaan menjadi sangat gawat"
"Baiklah" berkata ayahnya "meskipun aku belum tahu, kemana aku harus
pergi, tetapi aku akan pergi. Nanti malam kalian dapat
menyembunyikan Sindangsari di tempat yang akan aku beritahukan lewat
seseorang" "Tidak nanti malam ayah. Sekarang perempuan itu harus
disingkirkan" "He, sekarang?" "Hari ini Ki Demang atau Ki Jagabaya
pasti akan segera menjelajahi isi Kademangan. Semakin cepat, semakin
baik. Bahkan sebaiknya sekarang ayah membawanya pergi" "Sekarang?
Kalau aku sendiri dapat saja sekarang pergi berkuda kemanapun. Aku
mempunyai banyak sekali kenalan. Aku dapat berpura-pura mengurus
ternakku yang masih tersisa belum dibayar, atau dengan dalih apapun.
Tetapi dengan membawa seorang perempuan yang sedang mengandung, aku
harus berpikir beberapa kali lagi" "Terserahlah kepada ayah. Tetapi
aku minta ayah menyingkirkannya sekarang. Kalau tidak, apabila ada
bencana yang menimpa aku, ayah pasti akan tersangkut pula. Kita
tahu, bahwa sulit sekali untuk melawan Ki Demang dengan kekerasan.
Ia adalah seorang yang pilih tanding. Hampir tidak ada duanya di
daerah Selatan ini" Ayah Manguri termangu-mangu sejenak. Sambil
mengerutkan keningnya ia berkata "Manguri, aku sudah memperingatkan
sebelumnya. Carilah perempuan lain. Sekarang kau terlibat dalam
suatu kesulitan yang akan sulit kau atasi" "Sudah ayah. Aku sudah
mencari perempuan lain. Sejak itu aku sudah mendapatkan lebih dari
lima orang berganti-ganti. Aku sudah menjadi jemu dengan mereka,
sehingga satu-satu sudah aku lepaskan atau aku serahkan kepada
laki-laki yang mau mengawininya dengan sedikit bekal untuk hidup
mereka. Tetapi aku tidak dapat melupakan Sindangsari" Sekali lagi
ayahnya berdesah. Katanya "Agaknya kau akan menempuh jalan yang
lebih hitam dari jalanku Manguri" "Tidak ayah. Setelah aku
mendapatkan perempuan itu, tentu tidak" "Seperti perempuan lain
Manguri. Kau akan segera menjadi jemu. Tetapi kalau kali ini kau
menjadi jemu, kau tidak akan dapat melemparnya begitu saja, atau
membeli seorang lakilaki berhati tikus untuk mengawininya. Tidak"
"Tentu tidak ayah. Aku tidak akan jemu dengan Sindangsari"
"Mudah-mudahan" "Tetapi, agaknya bukan waktunya sekarang untuk
mempersoalkannya ayah. Apakah ayah bersedia menyelamatkan perempuan
itu" Manguri memotong. Ayahnya tidak segera menjawab. "Ayah. Apakah
ayah dapat menyingkirkannya?" Ayah Manguri menarik nafas
dalam-dalam. "Ayah" ulang Manguri. "Bagaimana aku akan membawanya"
Ayahnya bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri. "Ayah"
suara Manguri menjadi gemetar "demi keselamatan kita dan keselamatan
perempuan itu. Kalau aku gagal menyembunyikannya, maka Ki Reksatani
akan menempuh jalannya sendiri. Jalan yang paling selamat buat
dirinya" "Jalan apakah itu?" "Apakah aku belum pernah mengatakan
kepada ayah? Jalan itu adalah jalan yang paling mudah baginya.
Membunuh Sindangsari" Ayah Manguri mengangkat wajahnya sejenak, lalu
"Keturunan Ki Demang itu selalu menghantuinya. Ia ingin memiliki
warisan kedudukan ini. Aku sudah mengerti" "Karena itu ayah, selagi
ada kemungkinan untuk menyingkirkannya " Sejenak ayah Manguri
termenung. Namun kemudian ia mengangguk-angguk kecil "Baiklah. Aku
akan membawanya pergi" Manguri bergeser setapak. Katanya "Terima
kasih ayah. Tetapi bagaimana ayah akan membawanya supaya tidak
terlihat oleh seseorang?" "Suruh siapkan pedati. Aku akan pergi
dengan pedati" "Dengan pedati?" "Tidak ada cara yang lebih baik dari
sebuah pedati" Dada Manguri menjadi berdebar-debar "Tetapi
perjalanan ayah akan lambat sekali dan barangkali akan makan waktu
yang panjang" "Tetapi aku tidak melihat kemungkinan lain" lalu
katanya kepada Lamat "Lamat, suruhlah kusir pedati menyiapkan
pedatinya. Aku akan pergi. Tiga orang yang ada di sini akan ikut
bersama aku" "Kenapa?" "Kalau aku bertemu dengan orang-orang Ki
Demang di jalan aku tidak mau berbuat tanggung-tanggung" Sekali lagi
dada Manguri berdesir, bahkan terasa dada Lamat bergejolak keras.
Agaknya demikianlah tabiat ayah Manguri. Dalam keadaan yang memaksa,
ia tidak mau berbuat tanggung-tanggung. Terbayang di dalam
angan-angan Lamat, beberapa orang yang sedang mencari Sindangsari,
yang berjumpa dengan ayah Manguri di perjalanan, tidak akan dapat
kembali pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada seorangpun dari
mereka yang sempat berceritera, siapakah yang telah melakukan hal
itu. Kecuali kalau diantara mereka terdapat Ki Demang atau Ki
Jagabaya sendiri. Maka keadaannya pasti akan berbeda. "Cepat" Lamat
terkejut ketika ia mendengar Manguri membentaknya. Dengan
tergesa-gesa iapun pergi ke sudut halaman yang luas itu. Seperti apa
yang diperintahkan oleh ayah Manguri, maka iapun menyuruh kusir
pedati untuk menyiapkan pedati lembunya. "Kemana Ki Lurah akan
pergi?" Lamat menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu. Tiga orang
pengawalnya akan dibawanya serta" "Kami" bertanya salah seorang dari
ketiga pengawal. "Ya. Kalian akan dibawa pergi" "Lalu siapakah yang
akan menunggui rumah dan halaman ini? Disini masih ada beberapa ekor
lembu dan bahkan di dalam gubug itu ada Nyai Demang" "Hus" desis
Lamat "jangan kau sebut-sebut. Jadi kau tahu bahwa Nyai Demang ada
disini?" "Ya. Semula aku ragu-ragu ketika aku melihat kau datang
membawanya. Tetapi ketika aku diminta oleh Ki Lurah untuk membantu
mengikat dan menyumbat mulutnya, barulah aku yakin" "Jadi perempuan
itu diikat sekarang?" "Ia selalu meronta-ronta. Supaya kandungannya
tidak terganggu, maka Ki Lurah memutuskan untuk mengikatnya.
Ternyata ia menjadi tenang setelah ia yakin, bahwa ia tidak akan
dapat melepaskan tali pengikatnya" Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata "Jangan mengatakan kepada
siapapun di luar halaman ini. Kalau hal ini diketahui orang, maka
kalian akan kami gantung di pinggir hutan, dan tubuh kalian akan
kami lemparkan agar menjadi makanan harimau atau burung gagak"
"Tetapi bagaimana kalau bukan kami yang menyebarkannya?" "Tidak ada
orang lain yang mengetahui" "Para pengawal yang kalian pergunakan di
Kademangan semalam? Mereka pasti tahu juga apa yang telah terjadi"
"Mereka sudah berjanji akan menutup mulut. Bagaimana dengan kalian?"
"Jangan menganggap kami anak-anak lagi. Kami tahu apa yang harus
kami rahasiakan dan apa yang tidak" "Apakah kalian mau berjanji
juga" "Kami tahu apa kewajiban kami disini" "Apakah kalian mau
berjanji" "Kami sudah mengerti, bahwa rahasia itu tidak boleh
merembes keluar halaman ini" "Aku bertanya, apakah kalian mau
berjanji?" Para pengawal ternak itu menarik nafas dalam-dalam.
Akhirnya mereka saling berpandangan. "Baiklah. Kami berjanji" jawab
salah seorang dari mereka. "Yang lain?" "Kami berjanji" jawab yang
lain hampir bersamaan. "Nah, sekarang siapkan pedati. Kalian akan
segera pergi" "Bagaimana dengan tempat ini" "Tinggalkan saja.
Sebentar lagi, orang-orang yang pergi ke Kademangan semalamakan
segera berdatangan" "Tidak semuanya kemari. Mereka bahkan akan
kembali ke rumah Ki Lurah" "Aku akan segera menyuruh mereka kemari.
Dua atau tiga orang sudah cukup" "Baiklah" sahut salah seorang dari
mereka "kami sekedar menjalankan perintah" Demikianlah, maka
orang-orang itupun segera menyiapkan pedati dan sebuah perjalanan.
Perjalanan yang lain dari perjalanan yang biasa mereka lakukan. Kali
ini mereka tidak mengawal ternak ke luar daerah, tetapi akan
mengawal sebuah perjalanan yang diliput i oleh suatu rahasia.
Sejenak kemudian maka pedati itupun sudah siap. Di dalam pedati
ditaruhnya seonggok jerami, rendeng dan beberapa macam barang
lainnya. Keranjang-keranjang kosong dan bakul-bakul berisi bahan
makanan mentah. "Aku akan mencoba mencari persembunyian di tempat
kawan-kawanku. Mungkin aku akan memilih tempat yang agak jauh sama
sekali, supaya aku tidak selalu berpindah-pindah persembunyian.
Tetapi dengan demikian kau tahu Manguri, bahwa aku telah kehilangan
beberapa hari dan kesempatan untuk mengadakan jual beli ternak.
Beberapa hari bagiku adalah kerugian" berkata ayah Manguri kemudian.
"Sekali-sekali ayah" jawab Manguri. "Tetapi kita masih belum tahu,
apakah yang akan kita kerjakan kemudian. Apakah aku harus menunggui
perempuan itu sampai aku tua, atau kita akan mendapat pemecahan
lain" "Tentu tidak ayah. Akulah yang akan bertanggung jawab
seterusnya" "Kau menghilang dari Gemulung? Kau tahu akibatnya"
"Tidak begitu. Tetapi baiklah. Kita akan membicarakannya kelak"
Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah" katanya "sekarang,
naikkanlah Sindangsari ke dalam pedati itu" Manguri memandang
ayahnya sesaat. Kemudian katanya kepada Lamat "Ambillah perempuan
itu" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun segera pergi ke
bilik di belakang geledeg. Setelah memindahkan geledeg bambu, maka
iapun segera membuka pintu. Dilihatnya Sindangsari memang terikat di
pembaringan, sedang mulutnya tersumbat rapat-rapat" Sejenak Lamat
berdiri termangu-mangu. Ia melihat sorot mata yang aneh yang
seakan-akan menembus langsung ke jantungnya, sehingga tanpa
sesadarnya iapun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tetapi akhirnya
ia sadar, bahwa ia harus segera melakukannya. Karena itu, maka
selangkah ia maju sambil berkata "Maafkan aku nyai Demang" Sorot
mata itu serasa semakin sakit menusuk dadanya. Tetapi ia tidak dapat
berdiam diri lebih lama lagi. Perlahanlahan ia mendekati Sindangsari
sambil berdesis "Maafkan. Maafkan aku" Ketika tangan Lamat menyentuh
tali pengikatnya. Sindangsari sudah mulai meronta lagi. Demikian
satu tangannya terlepas, begitu ia merenggut sumbat di mulutnya
"Gila, kau gila. Lepaskan aku" teriaknya nyaring. "Tenanglah Nyai
Demang" bisik Lamat. Tetapi Sindangsari meronta semakin keras dan
berteriak-teriak tidak menentu. "Tenanglah Nyai Demang. Tenanglah"
Suara Lamat sama sekali tidak di dengarnya. Meskipun tangannya yang
sebelah masih terikat, tetapi ia meronta-ronta sekuat-kuatnya. Lamat
menjadi bingung sejenak. Namun t iba-tiba ia berteriak keras sekali,
sehingga gubug itu seolah-olah telah bergetar dan meledak. "Diam,
diam kau" Teriakan itu ternyata telah mengejutkan Nyai Demang. Suara
Lamat jauh melampaui suaranya sendiri. Dengan demikian maka Nyai
Demang itu tanpa sesadarnya telah terdiam. Ketika Nyai Demang telah
diam barulah lamat bergeser semakin dekat. Tetapi kini yang
terbayang adalah ketakutan yang dahsyat telah mencengkam Nyai Demang
di Kepandak. Lamat kemudian berjongkok di dekat Nyai Demang.
Perlahan-lahan sekali ia berbisik "Tenanglah Nyai Demang. Aku akan
mencoba melindungimu sejauh dapat aku lakukan. Karena itu jangan
kehilangan akal. Jagalah dirimu baik-baik di saat-saat aku tidak
ada. Tetapi, kau dapat mempercayai aku" Nyai Demang mengerutkan
keningnya. Tetapi di wajahnya masih terbayang campur aduk dari
ketakutan dan keraguraguan. Yang penting, jagalah kandunganmu.
Jangan merontaronta supaya kandunganmu tidak terganggu. Nyai Demang
masih ragu-ragu "Aku tahu, bahwa kandunganmu sama sekali bukan anak
Ki Demang di Kepandak. Tetapi anak yang akan lahir itu adalah anak
Pamot Mata Sindangsari terbelalak karenanya. "Aku sama sekali t idak
sengaja ketika aku melihat Pamot minta diri kepadamu, pada saat ia
akan berangkat meninggalkan padukuhan ini" "Kau melihat" tiba-tiba
wajah Sindangsari merah padam. "Tanpa aku sengaja" "Gila. Kau memang
gila" "Diamlah. Tenanglah. Aku bermaksud baik. Aku akan mengatakan
selanjutnya. Tetapi sekarang tidak ada waktu lagi" Sindangsari
ternyata tidak dapat menahan hatinya lagi. Meskipun ia tidak
meronta-ronta dan membiarkan Lamat melepaskan tali pengikat dari
seluruh tubuhnya, namun air matanya menjadi semakin deras mengalir.
Bahkan kemudian setelah kedua tangannya bebas ia menutup wajahnya
dengan kedua telapak tangannya. "Aku malu sekali" desisnya "kenapa
kau berbuat gila itu?" "Jangan ribut. Aku tidak bermaksud
mengatakannya. Tetapi barangkali aku sudah terlanjur. Sekarang yang
penting, apa yang sedang kau hadapi kini, untuk sementara kau harus
menurut. Jangan mencoba melawan, itu tidak akan ada gunanya. Tetapi
percayalah kepadaku" Sindangsari masih menangis. "Sebenarnyalah
jiwamu terancam" "Aku memang ingin mati" "Ah, jangan begitu Nyai"
"Aku tidak percaya kepada setiap orang. Semuanya hanya mementingkan
dirinya sendiri" "Tetapi kadang-kadang seseorang mempunyai
kepentingan bersama dengan orang lain. Dan semuanya itu sebenarnya
tidak penting sama sekali. Yang penting bagi Nyai Demang adalah
kandungan Nyai Demang meskipun Nyai Demang ingin mati, tetapi anak
itu tidak seharusnya ikut menjadi korban perasaan yang meledak
sesaat itu" "O" suara Sindangsari terputus oleh isaknya. Tiba-tiba
saja ia menyadari keadaannya, bahwa sebenarnya ia memang sedang
mengandung. Sejenak Lamat masih berdiam diri berjongkok di samping
Nyai Demang, yang meskipun sudah terlepas dari ikatannya, tetapi ia
masih tetap berbaring sambil menangis. Bahkan ia kembali menutup
wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa malu sekali
menatap wajah Lamat, yang ternyata telah mengetahui rahasianya yang
paling dalam, yang sebenarnya tidak boleh dilihat oleh siapapun
juga. Namun Lamat tidak dapat membiarkan hal itu terjadi terlampau
lama. Di luar ayah Manguri sudah menunggunya. "Marilah. Nyai Demang
harus segera menyingkir dari tempat ini. Jangan melawan, agar
kandungan Nyai Demang tidak terganggu. Selanjutnya, biarlah kita
bersama-sama berusaha mencari jalan, agar Nyai Demang dapat
melepaskan diri dari bencana" Sindangsari t idak menyahut. "Kali ini
aku mengharap Nyai Demang mempercayai aku" Sindangsari masih tetap
tidak menjawab. Tetapi ketika Lamat berdiri, Sindangsari bangkit
pula. "Marilah. Aku persilahkan Nyai berjalan sendiri"
Sindangsaripun kemudian melangkahkan kakinya. Ia kini sadar, bahwa
ia pasti berada di tangan Manguri. Ia mengenal raksasa itu dan ia
mengenal juga saudagar ternak yang kaya, yang telah mengikatnya.
Ayah Manguri. Ketika Sindangsari melangkah kakinya keluar pintu,
dadanya berdesir. Ternyata Manguri benar-benar telah berada di luar,
berdiri tegak di samping ayahnya. Terasa sesuatu melonjak di
dadanya. Kebenciannya kepada anak muda itu serasa akan meledakkan
dadanya. Tiba-tiba saja ia merasa, bahwa ia lebih aman berada di
samping Ki Demang yang telah jauh lebih tua itu, daripada di dekat
Manguri. Terbayang betapa anak muda itu menjadi begitu ganas dan
kasar. Sedang Ki Demang ternyata cukup mengerti tentang dirinya dan
kadang-kadang bersikap seperti seorang ayah. Apalagi Ki Demang itu
sama sekali t idak menyentuhnya selama ini. Tiba-tiba saja
Sindangsari ingin berlari. Berlari kemana saja menjauhi anak muda
itu. Tetapi ketika ia ingin melangkah, Lamat yang berada di
belakangnya segera menangkap kedua lengannya "Tenanglah Nyai Demang"
Sindangsari meronta. Tetapi tangan Lamat bagaikan besi yang telah
menghimpit tubuhnya. "Sayangilah kandunganmu" bisik Lamat.
"Lepaskan, lepaskan" Tetapi tangan Lamat sama sekali tidak terlepas.
Bahkan terasa semakin keras menghimpit lengannya. "Maafkan Nyai
Demang" berkata Manguri sambil membungkukkan kepalanya "maafkan
kekasaran raksasa yang dungu itu. Aku juga mendengar ia
berteriak-teriak di dalam. Bukan maksudku berbuat begitu kasar.
Tetapi Lamat tidak dapat berbuat lebih baik dari itu" Sindangsari t
idak menjawab. "Kami terpaksa menyelamatkan Nyai Demang dari
Kademangan, karena Nyai Demang terancam. Jiwa Nyai Demang
benar-benar harus mendapat perlindungan" "Bohong, bohong" "Nyai
Demang" berkata Manguri "mungkin Nyai Demang tidak percaya. Ki
Reksatani, adik Ki Demang itu, benar-benar ingin membunuh Nyai
Demang" "Bohong" "Alasannya karena Nyai Demang sudah mengandung. Ki
Reksatani ingin semua isteri Ki Demang tidak mengandung, karena Ki
Reksatani tidak mau melihat Ki Demang mempunyai keturunan. Dengan
demikian maka tidak akan ada seorangpun yang akan dapat menggantikan
kedudukannya. Tetapi ternyata Nyai Demang sekarang sedang
mengandung" "Tetapi" suara Sindangsari terputus karena tangannya
segera menutup mulutnya sendiri. "Tetapi, apa?" bertanya Manguri.
"Tidak. Tidak" tangis Sindangsari meledak lagi. Semakin keras.
Bahkan timbullah pertanyaan di dalam kepalanya "Apakah Manguri
melihat juga apa yang telah terjadi itu seperti Lamat?" "Diamlah"
desis Manguri "aku persilahkan Nyai menyingkir untuk keselamatan
Nyai. Silahkan Nyai naik kepedati. Ayah akan mengantarkan Nyai
bersembunyi untuk sementara" Dada Nyai Demang menjadi sesak. Tanpa
sesadarnya ia berpaling memandang wajah Lamat yang kasar sekasar
batu padas. Tetapi tiba-tiba ia melihat sesuatu yang lembut di wajah
itu. Tatapan matanya. Ya tatapan mata Lamat. Karena itu, ketika
Lamat menganggukkan kepalanya, tibatiba saja ia telah dicengkam oleh
kepercayaan terhadap orang yang tinggi besar dan berkepala botak
itu. Perlahan-lahan Sindangsari melangkah mendekati pedati yang
sudah tersedia. Lamat mengikutinya di belakangnya. Ketika ada
kesempatan ia berbisik "Manguri tidak tahu sama sekali tentang
kandunganmu. Ia mengira, anak itu anak Ki Demang di Kepandak"
Sindangsari mengerutkan keningnya. Tetapi ia t idak menjawab dan
bahkan berpalingpun tidak. Tetapi kini ia mempercayai keterangan
itu. Ia percaya bahwa Manguri tidak mengetahuinya. Kalau ia tahu,
mungkin ia sudah mempergunakan hal itu untuk memerasnya sejak
permulaan hari-hari perkawinannya dengan Ki Demang. Sejenak kemudian
Sindangsari telah naik keatas pedati ditolong oleh Lamat. Dan Lamat
sempat pula berbisik "Aku tidak ikut bersama Nyai sekarang. Jagalah
dirimu baik-baik. Aku akan selalu berada di dekat Manguri. Aku tahu
apa yang akan dikerjakannya" Nyai Demang t idak juga menjawab.
Tetapi ia mengangguk kecil. Sejenak kemudian, maka ayah Manguri dan
ketiga pengawalnyapun telah naik pula keatas pedati itu. Ketika
pengemudinya telah siap pula, ayah Manguri berkata "Hatihatilah.
Jagalah rumah dan ibumu baik-baik. Aku sekarang terpaksa melibatkan
diri dalam permainan yang gila ini. Aku akan segera mengirimkan
orang untuk mengambil pakaian, apabila aku harus berada
dipersembunyian sampai sepekan. Aku tidak membawa pakaian sama
sekali" "Ya ayah, aku akan menyediakan" "Baiklah" lalu kepada Lamat
ia berkata "Jagalah seluruh milikku baik-baik" Lamat mengangguk
dalam dalam Jawabnya "Aku akan mencobanya" Maka sejenak kemudian
pedati itupun maju perlahan-lahan. Ketika pedati itu mulai bergerak,
terasa hati Sindangsaripun meronta pula. "Tidak, tidak" tiba-tiba
saja ia berteriak "aku akan turun. Lepaskan aku" "Jangan berbuat
bodoh Nyai. Aku dapat mengikatmu lagi" desis ayah Manguri "kami
semua telah berusaha dengan susah payah menyelamatkan Nyai dari
ketamakan Ki Reksatani. Nyai harus menyadari hal ini" "Tetapi, aku
tidak mau. Biarlah Ki Demang melindungi aku" "Ki Demang terlampau
percaya kepada adiknya itu. Sudahlah, tenanglah. Kami bermaksud
baik" Mata Sindangsari yang basah itu menjadi semakin, basah.
Tiba-tiba perasaan takut yang mencengkamnya, semakin memuncak lagi.
Ia berada di dalam satu pedati dengan lima orang laki-laki yang
kasar. Laki-laki yang tidak dikenalnya dengan baik watak dan
tabiatnya. Bahkan menurut pendengarannya, ayah Manguri itu adalah
seorang laki-laki yang tidak berbeda dengan Manguri sendiri.
Tetapi-dalam pada itu Sindangsaripun menyadari bahwa ia tidak akan
dapat melawan. Bahkan memang sebaiknya ia tetap mempergunakan
pikirannya. Karena itu, maka akhirnya Sindangsari itu duduk berdiam
diri. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. Meskipun ia merasa, bahwa
semua laki-laki yang ada di dalam pedati itu seakanakan tidak
menghiraukannya, namun setiap kali terasa kulit di seluruh tubuhnya
meremang. Demikianlah maka pedati itu berjalan perlahan-lahan keluar
dari halaman yang luas itu, turun kejalan padukuhan yang sepi.
Kemudian menyelusuri jalan itu keluar dari telatah Kademangan
Kepandak. Manguri dan Lamat mengantar mereka sampai ke regol
halaman. Dengan mata yang suram Lamat memperhatikan pedati yang
berjalan terguncang-guncang ditarik oleh dua ekor lembu itu. Semakin
lama semakin jauh, membawa Sindangsari ke tempat yang masih belum
diketahui. Setelah pedati itu hilang di kelok jalan, maka Lamatpun
menarik nafas dalam-dalam. "Kita harus segera kembali" desis
Manguri. Lamat menganggukkan kepalanya "Ya. Kita harus segera
kembali" "Sebentar lagi, Ki Demang akan menyebar orang-orangnya.
Kita harus sudah berada di rumah" Lamat menganggukkan kepalanya.
Tetapi ia bertanya "Bagaimana dengan halaman ini?" "Biarlah, kita
tinggalkan saja" "Beberapa ekor ternak yang ada disini?" "Biar
sajalah. Ternak itu tidak akan hilang" Lamat tidak bertanya lagi.
Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk. Tetapi wajahnya masih
saja diliput i oleh kecemasan tentang nasib Nyai Demang di Kepandak.
Keduanyapun kemudian berpacu meninggalkan tempat itu, setelah
menutup pintu-pintu gubug dan mengikat beberapa ekor ternak yang ada
erat-erat. Tetapi beberapa ekor ternak itu hampir t idak berarti
sama sekali bagi Manguri yang kaya raya, seandainya ternak itu
hilang sekalipun. Dalam pada itu, orang-orang di Kademangan telah
siap pula untuk melakukan pencaharian yang lebih lama dan luas.
Mereka sudah selesai makan dan berkemas. Seperti yang diperintahkan
oleh Ki Demang mereka diperkenankan menempuh semua cara untuk
menemukan Sindangsari. "Sebagian dari kita akan pergi menjelajahi
setiap rumah yang pantas dicurigai" berkata Ki Jagabaya "Dan
sebagian kecil akan pergi ke tempat-tempat yang wingit seperti yang
disebutkan oleh nini itu. Gunung Sepikul, Tikungan Kali Praga, kalau
perlu dicari sampai kepesisir Kidul, Pandan Segegek, sungapan Kali
Praga dan dimana saja" Orang-orang yang mendengarkannya
menganggukanggukkan kepalanya. Merekapun merasa wajib untuk ikut
serta menemukan Nyai Demang yang begitu saja hilang dari Kademangan
pada saat ia sedang makan di dalambiliknya. "Hampir tidak masuk
akal" berkata salah seorang dari mereka. "Memang mungkin ia telah
dibawa oleh hantu" jawab yang lain. Demikianlah, maka Ki Jagabayapun
segera membagi orangorangnya. Setiap kelompok terdiri dari tiga
sampai lima orang. Ia sendiri bersama dua orang ikut pula di dalam
usaha pencaharian itu. Sedang Ki Reksatanipun ikut pula bersama dua
orang yang lain. "Kita jelajahi setiap pintu" desis Ki Jagabaya
"mustahil Nyai Demang dapat hilang begitu saja seperti ditelan bumi"
Demikianlah maka orang-orang itupun mulai berpencaran. Beberapa
kelompok pergi ke timur, kelompok yang lain ke Barat, ke Selatan dan
ke Utara. Sedang sekelompok yang lain harus mencarinya keluar
Kademangan, ke daerah-daerah yang wingit. Seperti pasukan yang
berangkat ke medan perang, maka kelompok-kelompok itupun mulai
berpencar. Mereka menuju ke arah masing-masing, dan setiap kelompok
dipimpin oleh seorang bebahu Kademangan termasuk Ki Jagabaya dan Ki
Reksatani. Sejenak kemudian, maka berderaplah kaki-kaki kuda di
seluruh daerah Kademangan Kepandak. Debu yang putih berhamburan
ditiup angin yang kering. Mereka akan mulai dengan pencaharian
mereka dari daerah yang paling jauh, kemudian perlahan-lahan
mendekati induk Kademangan. Sedang sekelompok yang lain harus pergi
ke tempat-tempat yang wingit. Kelompok yang harus mencari Nyai
Demang keluar Kademangan itupun berpacu seperti angin. Mereka harus
menjelajahi tempat-tempat yang jaraknya agak berjauhan. Karena itu,
maka kuda-kuda merekapun berderap cepat sekali, secepat dapat
dilakukan. Yang pertama-tama mereka datangi adalah Gunung Sepikul.
Dua buah gumuk kecil yang berdekatan. Diatas gumuk itu tumbuh
berbagai macam tumbuh-tumbuhan liar. Sebatang pohon cangkring yang
sudah tua tumbuh pada salah sebuah gumuk itu, sedang pada gumuk yang
lain tumbuh sebatang pohon nyamplung yang besar-sekali. Orang-orang
berkuda yang dipimpin oleh Ki Kebayan itu berhenti beberapa langkah
dari kedua gumuk itu, tepat di tengah-tengah. Sejak mereka berdiri
mematung. Namun tanpa mereka sadari, bulu-bulu tengkuk merekapun
meremang. Sejenak mereka memandangi kedua batang pohon itu
berganti-ganti. Pohon cangkring yang meskipun tidak sebesar pohon
nyamplung, namun tampaknya benar-benar angker. Dahan-dahannya yang
ditumbuhi duri yang besar bersilang melintang. Sedang daun-daunnya
yang rimbun bagaikan selimut yang tebal membungkus dahan dahannya
itu. Namun pohon nyamplung itupun tidak kurang mengerikan. Batangnya
besar dan tinggi. Bahkan lurus seperti sebuah galah yang ingin
menusuk langit. Baru pada bagian ujungnya sajalah batang itu
ditumbuhi oleh dahan-dahan yang besar dan teratur, ke segala arah
menunjuk kesegala penjuru. Daunnya yang besar dan tebal bergayutan
di ujung dahan. "Dimana kita mencari?" bertanya salah seorang dari
mereka. "Kita masuk kegerumbul liar itu" jawab Ki Kebayan. Beberapa
orang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi merekapun kemudian
membulatkan tekad mereka untuk menemukan Nyai Demang. Mereka percaya
bahwa Ki Kebayan termasuk salah seorang yang mempunyai ilmu yang
gaib. Sejenak kemudian merekapun mengikatkan kuda-kuda mereka.
Ketika Ki Kebayan melangkah ke gumuk yang ditumbuhi oleh pohon
cangkring, maka semua orang mengikut inya pula. Di bawah gumuk itu
Ki Kebayan berhenti sejenak. Ia menekurkan kepalanya sambil
berkumat-kamit. Kemudian ia memasukkan sesuatu di mulutnya. Setelah
dikunyahnya maka kemudian diambilnya lagi dari mulutnya, dan
dilemparkannya menyebar keatas gumuk itu. "Marilah" katanya kemudian
"tetapi hati-hati. Gumuk itu terkenal, banyak dihuni ular. Kalau kau
bertemu juga dengan seekor ular jangan dibunuh. Tetapi aku sudah
berusaha menyingkirkan ular-ular itu. Mudah-mudahan kita tidak
diganggu oleh ular-ular itu dan oleh danyang yang menunggui Gunung
Sepikul ini" Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
tidak seorangpun yang menjawab. Namun demikian sekali lagi bulu-bulu
tengkuk mereka meremang. Meskipun demikian, merekapun mengikuti Ki
Kebayan naik keatas gumuk itu. Dengan pedangnya Ki Kebayan
menyibakkan rerumputan liar dan kemudian pohon-pohon perdu yang
rapat. Sedang kawan-kawannya mengikut inya saja di belakang. Langkah
Ki Kebayan tertegun ketika tiba-tiba saja seekor ular sawah yang
besar bergeser dari tempatnya, menyelusur menyilang langkah Ki
Kebayan. Tetapi Ki Kebayan membiarkannya saja. Ia sama sekali tidak
mengganggunya, dan ular itupun seolah-olah acuh tidak acuh saja
terhadap kehadiran manusia yang jarang sekali datang itu. "Ular itu
tidak melihat kita" desis seseorang "ternyata ular yang sekian
besarnya itu berpalingpun tidak. Rupa-rupanya jampi Ki Kebayan
memang tajam" Kawannya tidak menyahut. Tetapi rasa-rasanya debar
jantungnya menjadi semakin cepat. Semakin lama merekapun menjadi
semakin dekat dengan pohon cangkring yang tua itu. Dengan demikian,
terasa nafas merekapun menjadi semakin memburu. Mereka terkejut
ketika tiba-tiba saja mereka melihat kelepak seekor burung yang
sangat besar pada sebatang dahan cangkring itu. Seekor burung elang
jantan yang agaknya terkejut melihat kehadiran orang-orang yang
jarang sekali mendatangi tempat itu. "Hem" salah seorang dari mereka
menarik nafas, sedang tangannya tiba-tiba saja telah melekat di hulu
pedangnya" Tetapi Ki Kebayan sendiri masih tetap melangkah maju
mendekati pohon cangkring itu. Sambil berkumat-kamit ia memandang
rimbunnya daun cangkring itu dengan saksama. Orang-orang yang pergi
bersamanya itupun melangkah mengikut inya, meskipun dengan hati yang
berdebar-debar. Meskipun demikian, karena Ki Kebayan tidak juga
mengurungkan niatnya untuk mencari Nyai Demang, maka merekapun maju
terus. Ki Kebayan itu kemudian berhenti setelah ia berdiri di bawah
pohon cangkring yang tua itu. Dengan wajah yang tegang ia mengamati
batangnya yang dipenuhi oleh lelumutan yang hijau keputih-putihan.
Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat seekor kala merayap dan
kemudian menyusup kebalik kulit kayu yang kering. Ki Kebayan menarik
nafas dalam-dalam. Sejenak ia berdiam diri di tempat.
Diangguk-anggukkannya kepalanya sambil menggosok-gosokkan telapak
tangannya di muka dadanya. Tiba-tiba Ki Kebayan itu menengadahkan
wajahnya, memandang ke dahan cangkring yang bersimpang siur di
antara daun-daunnya yang lebat. "He" Ki Kebayan itu kemudian
berteriak "Nya Demang Apakah kau ada disana?" Suaranya bergema
sekali. Kemudian hilang dibawa angin "He, Nyai Demang" sekali lagi
ia memanggil. Tetapi sama sekali t idak ada jawaban. Ki Kebayan
menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya mengamati setiap dahan yang
rimbun, kalau-kalau Nyai Demang tersembunyi di sana tanpa
dikehendakinya sendiri. Tetapi baik Ki Kebayan, maupun para
pengikutnya tidak seorangpun yang melibatnya. Ki Kebayanpun kemudian
menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis "Apakah ada yang
melihat Nyai Demang?" Hampir berbareng semua menggelengkan kepalanya
"Tidak. Kami tidak melihat apa-apa" Ki Kebayan mengangguk-angguk
pula. Katanya "Memang, kita tidak melihat apa-apa. Marilah kita
lihat di gumuk sebelah" Dengan hati yang berdebar-debar merekapun
meninggalkan pohon tua itu menuju kegumuk yang lain. Seperti gumuk
yang mereka tinggalkan, gumuk inipun tidak kalah rimbunnya pula.
Batang ilalang dan daun-daun perdu mengelilingi sebatang pohon
nyamplung yang tinggi besar yang berdiri hampir di tengah-tengah
gumuk itu. Tetapi disinipun mereka tidak menemukan sesuatu. Mereka
tidak melihat Nyai Demang berada di dalam gerumbulgerumbul liar, dan
t idak juga diatas pohon nyamplung itu. "Tidak ada" berkata Ki
Kebayan "kita tidak menemukannya disini" "Lalu?" bertanya salah
seorang pengikutnya. "Kita pergi ke tikungan Kali Praga. Di sana ada
sebatang Randu Alas yang besar sekali. Dahulu seorang gembala yang
hilang dari padukuhan Gemulung, pernah diketemukan diatas pohon
Randu Alas itu" Sejenak para pengikutnya saling berpandangan.
Kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepalanya. Marilah. Kita harus
segera kesana. Kalau kita tidak menemukannya di sana, kita akan
pergi ke pesisir" Sejenak kemudian merekapun segera berpacu
ketikungan Kali Praga, kesebatang pohon Randu Alas yang besar
serkali. Tetapi di sanapun mereka tidak menemukan sesuatu, sehingga
mereka memutuskan untuk pergi ke pantai Selatan, ke Pandan Segegek.
Seperti pasukan yang. berangkat berperang, maka merekapun berderap
kembali diatas jalan berbatu-batu, melemparkan debu yang putih
mengepul di belakang iringTiraikasih Website http://kangzusi.com/ iringan itu.
Apabila mereka melewati tanah persawahan, maka beberapa orang petani
yang sedang bekerja di sawah memandangi mereka dengan penuh
pertanyaan. "Siapakah mereka itu?" bertanya seseorang. Yang lain
menggelengkan kepalanya. Namun tiba-tiba seseorang berkata "Kebayan
dari Kademangan Kepandak" "Kemana ia pergi bersama beberapa orang
itu?" apakah mereka sedang mengejar penjahat yang telah melakukan
kejahatan di Kepandak?" "Tidak tahu. Tentu kita sama-sama tidak
tahu. Tetapi apabila mereka mengejar penjahat, pasti Ki Jagabaya
atau justru Ki Demang sendiri ada diantara mereka" "Kau mengenal
keduanya?" "Aku mengenal Ki Demang di Kepandak tetapi aku belum
mengenal Ki Jagabaya dengan baik" Merekapun kemudian terdiam. Mereka
hanya melihat debu yang kemudian pecah dit iup angin yang lambat.
Dalam pada itu, Ki Kebayan bersama beberapa orang pengiringnya
berpacu secepat-cepatnya. Mereka tidak boleh terlambat. Apabila
benar Nyai Demang telah dibawa lelembut ke Pandan Segegek, maka ia
harus segera diketemukan, sebelum ia menjadi kalap dan hilang
bersama raganya. Dengan demikian, maka merekapun segera mempercepat
derap kuda mereka melintasi jalan yang panjangdi tengahtengah bulak.
Ki Kebayan mengerutkan keningnya ketika ia melihat jauh di
hadapannya sebuah pedati berjalan lambat sekali. Pedati yang ditarik
oleh dua ekor lembu putih. "Kalian melihat pedati itu?" bertanya Ki
Kebayan. "Ya" sahut salah seorang dari pengiringnya "Jarang ada
pedati menempuh jalan ini" desis Ki Kebayan. "Ke daerah pesisir.
Mungkin pedati yang akan mengambil garamyang dibuat sepanjang
pantai" "Tetapi bukan pantai Pandan Segegek" "Mungkin pedati itu
akan berbelok ke Timur dan melintasi Caluban kesuangan Kali Opak" Ki
Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Kita akan
melihat, apakah yang dibawanya" "Mungkin gula kelapa" "Kenapa justru
dibawa ke Selatan?" "Ditukar dengan garam" Sekali lagi Ki Kebayan
mengangguk-anggukkan kepadanya. Tetapi keinginannya untuk mengetahui
isi pedati itu justru menjadi semakin besar. Karena itu tanpa
disadarinya ia memacu kudanya semakin cepat, sehingga debu di
sepanjang jalan mengepul semakin pekat. Dalam pada itu, pedati yang
dikejarnya berjalan terguncang-guncang di jalan berbatu, batu.
Sekali-sekali terdengar lecutan cambuk di punggung lembu yang malas.
"Ayo, cepat sedikit teriak pengemudinya. Namun kemudian ia bertanya
"tetapi kita akan pergi kemana?" Yang ada di dalam pedati itu adalah
ayah Manguri yang sedang berusaha menyingkirkan Sindangsari. Sambil
terkantuk-kantuk ayah Manguri menjawab "Berjalanlah terus. Kita akan
berhenti apabila lembu itu sudah lelah, dimanapun juga" "Tetapi?"
"Aku mempunyai kenalan di segela penjuru daerah ini. Dimanapun aku
akan mendapat tempat yang baik. Isteriku tersebar dimana-mana"
"Orang-orang yang ada di dalam pedati itu menganggukanggukan
kepalanya. Mereka percaya bahwa dimana-mana memang ada saja
perempuan yang diambilnya menjadi isterinya yang ke tujuh, ke
delapan atau bahkan ke limabelas. Namun dalam pada itu bulu di kuduk
Sindangsari meremang. Ternyata benar kata orang bahwa ayah Manguri
tidak ada bedanya dengan anaknya. Selagi mereka membayangkan apa
yang akan mereka lakukan, menurut angan-angan masing-masing,
tiba-tiba orang yang duduk di pinggir belakang mengerutkan
keningnya. Dilihatnya di kejauhan debu mengepul diudara, semakin
lama semakin jelas. "Lihatlah" desisnya "debu itu" Semuanya
berpaling. Ayah Manguri menjadi tegang. Katanya "Beberapa orang
berkuda" "Ya. Beberapa orang berkuda" Merekapun kemudian terdiam
sejenak. Dengan wajah yang tegang mereka memandang debu yang
seakan-akan telah mengejar mereka. Semakin lama semakin dekat.
"Siapakah mereka itu?" desis ayah Manguri. Dan tanpa sesadarnya
Sindangsari bergumam "Kakang Demang. Pasti kakang Demang" Ayah
Manguri berpaling kepadanya. Sejenak kemudian ia berdesis "Tentu
bukan. Tentu bukan Ki Demang di Kepandak" "Beberapa orang" desis
seorang yang lain. Ayah Manguri menjadi tegang sejenak. Ia sedang
sibuk memutar akalnya, bagaimana ia harus membebaskan diri dari
orang-orang berkuda itu apabila mereka ternyata sedan mencari
Sindangsari. "Mereka tentu orang-orang Kademangan Kepandak" tibatiba
Sindangsari menyahut "mereka sedang mencari aku. Kalau kalian tidak
mau menyerahkan aku, kalian pasti akan dihukum" Wajah ayah Manguri
menjadi semakin tegang. "Kalian tidak akan dapat lolos lagi. Pedati
ini tidak akan dapat lari secepat kuda-kuda itu" Dada ayah Manguri
dan setiap orang di dalam pedati itu menjadi semakin berdebar-debar.
Mereka menyadari bahaya yang kini sedang mengancam. Memang
kemungkinan terbesar, penunggang kuda itu adalah orang-orang yang
sedang mencari Sindangsari. "Tetapi darimana mereka mengetahui,
bahwa kami sedang lari kejurusan ini" bertanya ayah Manguri kepada
diri sendiri. Orang-orang di dalam pedati itu benar telah menjadi
gelisah. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka tidak
tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan. "Mereka pasti akan
menolongku" gumam Sindangsari seperti ditujukan kepada diri sendiri.
Namun perempuan itu terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar ayah
Manguri memberi perintah "Sediakan senjatamu. Tetapi sebelumnya
sembunyikanlah di bawah jerami. Kau harus dapat mengambilnya dengan
tiba-tiba apabila keadaan memaksa" "Tetapi, tetapi" suara
Sindangsari tergagap "kalian tidak akan dapat melawan kakang Demang"
Ayah Manguri tidak menyahut. Tetapi kini ia seolah-olah terpaku
memandang debu yang semakin dekat. "Perempuan ini, cukup berbahaya"
desisnya di dalam hati "setiap saat ia dapat berteriak" Sementara
itu, Ki Kebayan berpacu semakin cepat. Ia masih belum dapat melihat
dengan jelas, apakah pedati itu berisi orang atau barang atau apapun
juga. Tetapi sebentar lagi ia pasti akan segera dapat menyusulnya.
"Cepatlah sedikit" berkata Ki Kebayan. Pedati itu tidak akan dapat
lari" sahut salah seorang pengikutnya "apalagi tidak ada jalan
simpang di hadapan kita. Kita pasti akan segera menyusulnya dan
mengetahui apa isinya" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi tanpa disadarinya kudanya semakin cepat berpacu mengejar
pedati yang berjalan tersuruk-suruk seperti siput di jalan yang
sangat panjang. Karena itu, Ki Kebayan tidak memerlukan waktu yang
lama. Sebentar kemudian iapun segera berhasil menyusul pedati itu.
Bersama seorang pengiringnya ia mendahului dan kemudian berhenti di
depan dua ekor lembu yang menarik pedati itu. "Berhenti" ia
memberikan perintah. "Kenapa kami harus berhenti?" bertanya
pengemudinya. "Berhenti" "Siapa kau? Apakah kau akan merampok kami?"
bertanya pengemudi itu. "Gila. Kau sangka kami segerombolan
perampok. "Karena itu sebut dirimu. Siapa kau?" "Berhenti" Ki
Kebayan berteriak. Pedati itupun kemudian berhenti. Pengemudinya
yang masih tetap duduk di tempatnya memandang Ki Kebayan dengan
tegang. "Kau belum mengenal aku?" bertanya Ki Kebayan. Pengemudi
pedati itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menggeleng "Belum.
Aku belum mengenal kalian" "Aku Kebayan di Kepandak" "O" pengemudi
itu mengangguk-anggukkan kepalanya "jadi kau Kebayan di Kepandak.
Maaf Ki Kebayan di Kepandak. Kami tidak mengenal Ki Kebayan dan Ki
Sanak yang lain. Tetapi kenapa Ki Kebayan mengejar kami dan
menghentikan kami?" "Siapakah kalian dan dari manakah pedati ini?"
bertanya Ki Kebayan di Kepandak. "Kami adalah orang-orang dari
Menoreh" "Seberang kali Praga?" "Ya" "Kalian menyeberang bersama
pedati ini?" Pengemudi itu menggelengkankepalanya. Katanya "Tidak.
Tentu tidak. Kami menyewa pedati ini dari orang-orang di daerah
Mangir" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian
ia bertanya lagi "Kemanakah kalian akan pergi?" "Kami akan pergi ke
pesisir" "Pandan Segegek?" "Tidak. Kami akan pergi ke parang endog
di sebelah suwangan Kali Opak" Ki Kebayan mengangguk-angguk. Tetapi
ia masih juga bertanya "Apakah kepentingan kalian kesana? "Maaf Ki
Kebayan" jawab pengemudi itu "itu adalah kepentingan pribadi.
Terlampau pribadi" "Ya apa" "Sebaiknya Ki Kebayan bertanya yang
lain" "Tidak. Aku bertanya, apakah kepentinganmu" Pengemudi pedati
itu menggelengkan kepalanya "Ki Kebayan di Kepandak tidak berhak
memaksa kami untuk menjawab kepentingan kami ke Parang Endog. Kami
tidak mempunyai hubungan apapun dengan Ki Kebayan, sehingga
sebaiknya kita melakukan tugas dan kepentingan kita masingmasing
tanpa saling mengganggu" Ki Kebayan mengerutkan keningnya. Tetapi ia
masih bertanya lagi "Dalam keadaan yang wajar, kami memang tidak
mempunyai kepentingan apapun. Tetapi kami sedang dalam keadaan yang
genting sekarang" "Kenapa? Apakah Kepandak sedang didatangi oleh
perampok atau apa?" "Tidak" "Lalu?" Ki Kebayan menjadi ragu-ragu
sejenak. Tetapi ia tidak mengatakan bahwa Kepandak telah kehilangan
isteri Demangnya. "Kami sedang mencari seseorang" katanya kemudian.
"Siapa. Perampok?" Ki Kebayan menggeleng. "Jadi siapa?" "Salah
seorang keluarga kami. Keluarga Kademangan Kepandak" "Kenapa orang
itu dapat menjadi buruan?" Ki Kebayanpun kemudian menjawab "Itupun
persoalan kami. Tetapi kami memang sedang mencarinya kemanapun"
Tukang pedati itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku tahu
sekarang. Kalian mencurigai kami. Mungkin orang yang kau cari itu
bersembunyi di dalam pedati kami. Kalau begitu, baiklah. Silahkan
kalian melihat, apakah orang yang kalian cari itu ada di dalam
pedati kami" pengemudi itu berhenti sejenak, lalu "sebaiknya kami
berterus terang, supaya kalian tidak tetap mencurigai kami. Kami
akan pergi ke Parang Endog untuk mencari terang di hati kami"
"Bertapa?" "Bukan bertapa. Sekedar menyepi" Ki Kebayan
mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Sedang tukang pedati itu
berkata sekali lagi "Silahkanlah melihat isi dari pedati kami. Kami
membawa bahan makanan kami sekedarnya" Ki Kebayan mengerutkan
keningnya. Dilihatnya beberapa orang laki-laki duduk di dalam pedati
itu. Laki-laki yang belum dikenalnya. "Baiklah" berkata Ki Kebayan
yang tidak jadi mendekati pedati itu "aku kira aku sudah cukup. Maaf
kalau kami telah mengganggu kalian" "Tidak apa Ki Kebayan. Kami tahu
kesulitan kalian, sehingga kalian memang memerlukan bantuan. Ki
Kebayan mengangguk-angguk sekali lagi. Katanya "Baiklah, kami akan
meneruskan perjalanan kami" "Silahkanlah Ki Kebayan. Mudah-mudahan
Ki Kebayan segera menemukan orang itu "tukang pedati itu berhenti
sejenak, lalu "tetapi apakah kami boleh tahu, siapakah orang itu,
seandainya kami bertemu di perjalanan kami?" "Terima kasih. Kami
akan mencarinya sendiri" Tukang pedati itu mengangkat pundaknya.
Tetapi ia tidak menyahut. "Silahkan Ki Sanak meneruskan perjalanan.
Tetapi apakah Ki Sanak akan dapat menyeberangi sungai Opak dengan
pedati itu?" "Entahlah. Kalau t idak, kami akan menitipkan pedati
ini. Tetapi perjalanan sudah dekat. Kami akan dapat membawa
barang-barang kami dengan keranjang-keranjang, sedapat dan sekuat
kami" Ki Kebayanpun kemudian meninggalkan pedati itu diikuti oleh
para pengiringnya. Mereka sama sekali tidak berminat untuk
menjengukkan kepalanya lebih dalam ke dalam pedati itu, karena dari
luar yang tampak hanyalah seonggok jerami dan keranjang-keranjang
yang besar. Ketika Ki Kebayan sudah menjadi semakin jauh, maka dari
dalam t imbunan jerami, muncullah sebuah kepala. Ayah Manguri.
Sambil menarik nafas dalam-dalam ia mengumpat. Katanya "Gila Kebayan
itu. Aku hampir mat i kehabisan nafas" "Bagaimana dengan Nyai
Demang" desis salah seorang dari mereka. Ayah Manguripun segera
bangkit sambil mengibaskan jerami yang masih melekat pada
pakaiannya. Kemudian dengan hati-hati ia menyibakkan jerami yang
menimbuni tubuh Sindangsari yang pingsan. "Maaf" desis ayah Manguri
"aku terpaksa membuatnya pingsan sekali lagi" Untuk sesaat
Sindangsari masih terbaring pingsan. Beberapa orang laki-laki yang
ada di sekitarnya memandanginya dengan dada yang berdebar-debar.
Perempuan yang sedang mengandung itu terbaring seperti seseorang
yang sedang tidur nyenyak. Tidak seorangpun yang tahu, apakah yang
sedang dipikirkan oleh orang lain. Demikian pula setiap laki-laki di
dalam pedati itu. Mereka tidak mengetahui, bahwa di setiap dada
telah tumbuh pengakuan "Alangkah cantiknya perempuan itu. Adalah
wajar sekali kalau orang laki-laki menjadi tergila-gila kepadanya.
Manguri, Ki Demang, Pamot dan mungkin masih banyak lagi" Tetapi
tidak seorangpun yang mengucapkannya. Bahkan ayah Manguripun tidak
mengatakannya. Ia adalah laki-laki yang tidak pernah menahan kata
hatinya atas perempuan. Apalagi di hadapan orang-orangnya yang
dianggapnya sudah tahu benar tentang dirinya. Tetapi perempuan yang
dibawanya kali ini adalah sekedar tit ipan dari anaknya sendiri.
Meskipun demikian setiap kali ia masih memandangi wajah itu. Wajah
Sindangsari yang sedang pingsan. Perempuan yang sedang mengandung
untuk pertama kalinya itu, tampaknya justru menjadi kian cantik.
Pedati itu masih berjalan terus terguncang-guncang diatas jalan
berbatu. Di sebelah menyebelah jalan, tanah persawahan yang kering.
Di beberapa bagian tampak tanaman Palawija yang sudah hampir dipetik
hasilnya. Kacang tanah, dele dan di kejauhan batang-batang jagung.
"Kita harus berbelok" desis ayah Manguri "kita sudah mengatakan
bahwa kita akan pergi ke Parang Endog" "Ya. Nanti kita akan sampai
pada sebuah jalan simpang" "Tetapi kemana Ki Kebayan itu akan
mencari Sindangsari?" Tidak seorangpun yang menyahut. "Mungkin ia
akan mencarinya ke tempat-tempat yang angker Pandan Segegek.
Bukankah jalan ini akan menuju kesana?" "Ya. Ki Kebayan itu menurut
pendengaranku adalah orang yang dapat berhubungan dengan
hantu-hantu" desis ayah Manguri. Lalu "Untunglah bahwa Ki Kebayan
belum banyak mengenal kalian karena kalian bukan orang Kepandak"
"Ya" Ayah Manguripun kemudian terdiam. Dipandanginya Sindangsari
yang masih terbaring diam. Tanpa sesadarnya, tangannya telah
mengusap kening perempuan yang dikotori oleh jerami yang kering.
Ketika pedati itu kemudian berbelok mengambil jalan simpang kuda Ki
Kebayan sudah berlari semakin jauh menuju ke pantai Selatan. Pandan
Segegek. Tetapi kuda-kuda mereka tidak dapat langsung sampai
ketujuah karena rawa-rawa yang menebar di sepanjang pantai. "Kita
akan berjalan kaki" berkata Ki Kebayan "Kita tinggalkan kuda kita
disini?" bertanya seseorang. "Ya" "Begitu saja?" "Kuda-kuda itu
tidak akan hilang" "Tetapi" berkata salah seorang dari mereka "Aku,
aku akan menunggui kuda kita" "Kenapa?" bertanya Ki Kebayan. Orang
itu ragu-ragu sejenak. Kemudian katanya "Bukan aku tidak mau Ki
Kebayan, tetapi aku tidak sadar, bahwa kita akan datang ke tempat
ini" Ki Kebayan mengerutkan keningnya. "Aku memakai kain hijau
gadung" Ki Kebayan dan kawan-kawannya menganggukkan kepalanya.
Mereka mengerti bahwa sebaiknya orang yang memakai pakaian hijau
gadung tidak mendekat ke pantai. "Baiklah" berkata Ki Kebayan
"tunggui kuda-kuda ini. Tetapi ingat. Kalau ada orang memanggil
namamu, jangan kau jawab sebelum kau melihat orang yang memanggilmu.
Kau tahu" Orang itu merenung sejenak. "Supaya kau tidak kalap" desis
kawannya "mungkin bukan orang sesungguhnya yang memangilmu, kecuali
kau sudah melihat orang itu. Apalagi kau memakai pakaian hijau itu"
Orang yang memakai pakaian hijau itu menganggukanggukkan kepalanya
"Ya,aku mengerti" "Nah,tinggallah disini. Hati-hati" berkata Ki
Kebayan "kalau kau melihat perempuan cantik, jangan kau coba
mengganggunya. Kau mengerti?" Orang itu tidak segera menjawab. Dan
Ki kebayanpun berbisik di telinganya "Mereka adalah orang
jadi-jadian. Sebenarnya mereka itu adalah buaya-buaya dari sungapan
Kali Praga yang mencari mangsanya. Kau mengerti? Di sini ada semacam
persaingan antara Laut Selatan dengan buayabuaya di Sungapan Kali
Praga. Mereka dahulu-mendahului menangkap mangsa mereka
masing-masing. Kalau kau merasa bahwa keadaanmu tidak wajar sebelum
kau kehilangan akal sebutlah nama Kiai Jamur Dipa yang bersemayam di
Gunung Merapi. Kau akan terlepas dari bencana, karena kau disangka
pengikutnya" Orang itu menganggukkan kepalanya. "Dan ini berlaku
pula bagi kalian semua" berkata Ki Kebayan "sebutlah nama Kiai Jamur
Dipa. Jangan lupa. Kiai Jamur Dipa. Akupun selalu menyebutnya" Para
pengiring Ki Kebayan itupun mengangguk-anggukkan kepala mereka.
Namun terasa juga hati mereka bergetar. Mereka menganggap bahwa
pantai Selatan, apalagi Pandan Segegek adalah tempat yang jarang
sekali diambah kaki manusia. Demikianlah merekapun kemudian berjalan
menyeberangi rawa-rawa yang dangkal. Namun kadang-kadang mereka
harus menghindar dan melingkar agak jauh apabila mereka menjumpai
rawa-rawa lumpur yang dalam. Mereka sadar, bahwa di dalam rawa-rawa
itu banyak terdapat binatang air yang berbisa. Bahkan ular hitam
berleher putih. Sedangkan diatas pasir pantai di daerah rawa-rawa
yang berair tawar, diantara semak-semak pandan yang lebat, terdapat
pula berbagai jenis binatang. Campuran dari binatang air tawar dan
binatang air laut. Juga binatang darat yang hidup diantara duri-duri
pandan. Ki Kebayan dan para pengiringnya berjalan dengan sangat
hati-hati melintasi daerah rawa-rawa dan semak -semak pandan. Mulut
mereka tidak hent i-hentinya menyebut nama Kiai Jamur Dipa, supaya
mereka tidak diterkam oleh bencana yang dapat timbul setiap saat.
Sejenak kemudian, setelah mereka semakin dekat dengan pantai dan
sudah berada diantara semak-semak pandan yang lebat, maka mulailah
Ki Kebayan berkumat-kamit. Sejenak kemudian iapun mulai meneriakkan
nama Nyai Demang di Kepandak. "Mungkin ia tidak mengenal nama itu
lagi" desis salah seorang. "Jadi?" bertanya Ki Kebayan. "Panggil
dengan nama nya sendiri" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian iapun mulai memanggil. Tetapi t idak dengan nama Nyai
Demang di Kepandak. "Sindangsari, Nyai Sindangsari" Tetapi suara Ki
Kebayan hilang saja ditelan oleh deru ombak yang semakin lama
seolah-olah menjadi semakin besar. Di bawah terik matahari, ujung
gelombang yang keputih-putihan setinggi gunung anakan itu
seakan-akan saling mengejar,kemudian meluncur menghantam pantai
berpasir susul menyusul. Ki Kebayan masih juga memanggil. Tetapi
sampai suaranya menjadi parau, mereka sama sekali t idak menemukan
Nyai Demang di Kepandak. Apalagi mendengar jawabannya. Yang mereka
dengar hanyalah angin pantai yang bertiup kencang, dibarengi oleh
debur ombak yang menggelegar bertautan. Di telinga orang-orang
Kepandak suara itu semakin lama menjadi semakin kisruh, dan bahkan
ada diantara mereka yang mendengar seolah-olah suara itu telah
berubah menjadi suara yang memancar dari pusat Samodra yang besar
itu, memanggil namanya perlahan-lahan. Beberapa orangpun kemudian
menjadi pucat. Tetapi mereka t idak henti-hentinya menyebut nama
Kiai Jamur Dipa. "Kita tidak menemukannya disini" desis Ki Kebayan.
Para pengiringnya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mungkin kita
sudah terlambat" berkata Ki Kebayan selanjutnya "Nyai Demang hilang
dari Kademangan hampir dini hari. Baru sekarang kita sampai disini"
Tidak seorangpun yang menyahut. Tetapi ketika mereka membentangkan
pandangan mata mereka, mereka melihat suatu padang pandan berduri
yang sangat luas di sepanjang pantai. "Seandainya benar Nyai Demang
disembunyikan diantara semak-semak ini, bagaimana mungkin dapat
menemukannya apabila ia sendiri tidak dapat berteriak memanggil.
Itupun kalau kebetulan kami lewat di dekatnya. Kalau ia berada di
ujung sebelah Timur atau di ujung Barat, maka tidak akan ada orang
yang dapat mendengarnya" beberapa orang berkata di dalam hatinya
sendiri. Ki Kebayanpun agaknya berpikir demikian pula. Karena itu,
maka tiba-tiba ia berkata "Marilah, kita menyusur pantai" Beberapa
orang saling berpandangan. Namun mereka mengikut i saja ketika Ki
Kebayan pergi ke sebelah Timur menyusur pasir pantai. Sekali-sekali
ia harus menjauh, menghindari deburan ombak yang besar
bergulung-gulung diatas pasir. Tetapi ketika Ki Kebayan kemudian
berteriak-teriak di sepanjang pantai, maka suaranyapun hilang,
tenggelam ke dalam gelora suara ombak dan angin yang kencang.
Akhirnya, setelah Ki Kebayan hampir kehabisan suaranya, dan setelah
ia menyusur dari sebelah Timur sampai ke sebelah Barat, maka iapun
berkata "Kita sudah cukup berusaha. Marilah kita kembali ke
Kademangan. Mungkin kita dapat mencarinya dengan jalan lain"
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas mereka masih
memandang gerumbul-gerumbul pandan yang lebat yang bertebaran di
sepanjang pesisir. Kemudian ombak yang semakin besar di-siang hari
dan angin yang menampar wajah mereka semakin keras di bawah terik
matahari yang membakar kulit. "Marilah kita kembali" Sejenak
kemudian Ki Kebayan bersama para pengiringnyapun telah kembali
melintasi daerah yang berawarawa. Kemudian mereka segera meloncat
keatas punggung kuda masing masing dan berpacu meninggalkan pantai
yang panas itu. "Aku haus sekali" desis seseorang. Kawannya yang
mendengarpun menyahut "Ya, akupun haus sekali. Kuda-kuda kitapun
haus pula" Ki Kebayan mendengar pula pembicaraan itu. Karena itu,
ketika mereka melintas sebuah parit yang mengalir, meskipun hanya
setinggi mata kaki mereka, ia berhenti dan berkata "Biarlah kuda
kita minum sejenak." Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi yang dapat minum barulah kuda-kuda mereka. Sedang orang orang
Kepandak itu masih belum sampai hati untuk ikut serta minum air
parit yang hanya gemercik kecil karena musim panas yang panjang.
Karena itu, mereka hanya dapat menelan ludah mereka sendiri yang
sudah hampir kering pula. Beberapa orang yang merasa terlampau panas
hanya membasahi tangan mereka kemudian mengusap kening mereka dengan
tangan yang basah itu. "Kita akan mencari kelapa muda di padukuhan
yang pertama kali kita lalui" berkata Ki Kebayan yang mengetahui
bahwa para pengiringnya sudah kehausan. Tidak seorangpun yang
menyahut. Tetapi orang-orang yang kemudian sudah berpacu pula itu,
menganggukanggukkan kepalanya. Dalam pada itu, pedati yang
ditumpangi oleh ayah Manguri bersama para pengawalnya dan
Sindangsari sudah menjadi semakin jauh. Ketika para penunggang kuda
yang dipimpin oleh Ki Kebayan melintasi jalan simpang, mereka
melihat bahwa bekas roda pedati itu memang berbelok menuju kesuangan
Kali Praga. Oleh usapan angin dari Selatan, perlahan-lahan
Sindangsaripun menyadari dirinya kembali. Ketika ia membuka matanya,
dilihatnya beberapa orang laki-laki duduk di sekitarnya. Sejenak ia
mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atasnya. Namun
kemudian ia menjadi berdebar-debar. Lakilaki yang ada
disekelilingnya masih juga laki-laki yang membawanya pergi dengan
pedati itu, sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis "Dimanakah
mereka?" Ayah Manguri yang melihat Sindangsari telah sadar,
tersenyumsambil bertanya "siapakah yang kau cari?" "Mereka,
orang-orang berkuda yang mencari aku" "Mereka sudah lewat" Tiba-biba
saja Sindangsari bangkit sambil bertanya "Dimana mereka, dimana?
Bukankah mereka menyusul aku atas perintah Ki Demang?" Tetapi ayah
Manguri menggeleng "Mereka tidak mencari kau Nyai Demang. Mereka
hanya sekedar lewat di samping pedati ini" "Tidak.Mereka pasti
mencari aku" "Tidak. Mereka sudah melihat kau tertidur di dalam
pedati ini. Tetapi mereka tidak berkata apa-apa" Sindangsari terdiam
sejenak. Namun kemudian hampir berteriak ia berkata "Tidak, Mereka
pasti mencari aku. Dimana mereka. Dimana" Hampir saja Sindangsari
berdiri dan meloncati orang-orang yang duduk di sekitarnya. Namun
tangan ayah Manguri lebih cepat lagi menangkapnya dan mendorongnya
duduk "Jangan menjadi bingung dan kehilangan akal. Kandunganmu harus
kau ingat. Anak di dalam perutmu itu kelak akan lahir menjadi
seorang bayi. Kaulah yang bertanggung-jawab, apakah bayimu itu sehat
atau tidak" Nyai Sindangsari terdiamsejenak. "Karena itu, jangan
berbuat sesuatu yang dapat mengganggu anak di dalam kandungan itu"
Sindangsari t idak menjawab. Tetapi tiba-tiba matanya menjadi basah.
Ia merasa bahwa ia telah di sudutkan pada suatu keadaan yang tidak
dapat dihindarinya. Karena itu, sebagai seorang perempuan, yang
dapat dilakukannya, adalah sekedar menangis. Dan Sindangsaripun
menangis pula karenanya. Menangisi nasibnya yang terlampau jelek
sejak ia ditinggalkan oleh ayahnya. Beberapa orang laki-laki yang
ada di sekitarnya adalah lakilaki yang kasar. Laki-laki yang selalu
mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain membawa ternak yang
sedang diperdagangkan. Apakah mereka sedang membeli atau menjual. Di
dalam perjalanan itu, mereka terpisah dari keluarga dan isteri
mereka, sehingga baik ayah Manguri maupun para pengawalnya,
kadang-kadang harus berhadapan dengan perempuan yang sekedar dapat
mengisi waktunya. Dengan demikian maka tanggapan mereka terhadap
perempuan kadang kadang tidak sewajarnya. Tetapi ketika mereka
melihat Sindangsari menangis mereka menundukkan kepala mereka.
Bahkan mereka seakan-akan dihadapkan pada suatu keadaan yang selama
ini hampir tidak dimengertinya. Kesetiaan dari seorang perempuan.
Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Ayah Manguripun t idak.
Perempuan itu adalah titipan anaknya yang akan diperisterikannya.
Bahkan dengan susah payah telah diculiknya dari halaman rumah Ki
Demang di Kepandak. Dengan hati yang berat, laki-laki yang ada di
pedati itu terpaksa duduk diam tanpa berbuat apapun juga. Sedang
roda pedati itu masih juga berputar diatas tanah yang berbatubatu.
Dalam pada itu, orang-orang yang mencari Sindangsari ke segala
penjuru masih juga berkeliaran di seluruh daerah Kademangan
Kepandak. Hampir setiap rumah dimasuki oleh kelompok-kelompok yang
berpencaran. Bahkan rumah-rumah yang sama sekali tidak mengenal
orang yang bernama Pamotpun telah dimasukinya. Ibu Sindangsari yang
masih ada di Kademangan hanya dapat menangis. Ayah dan ibunya masih
juga mencoba menghiburnya, meskipun hati mereka sendiri serasa
tersayat karenanya. "Jangan bersedih" berkata ayahnya, kakek
Sindangsari "Ki Demang pasti akan menemukannya" Ibu Sindangsari
hanya menganggukkan kepalanya. Tetapi air matanya masih tetap
mengalir membasahi pipinya. Ki Demang sendiri duduk di ruang dalam
hampir t idak bergeser sedikitpun. Wajahnya gelap dan tegang.
Dipinggangnya terselip keris pusakanya yang jarang sekali diambilnya
dari simpanan. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam sambil
mengusap dadanya, seolah-olah ingin mengendapkan perasaannya yang
sedang bergolak. Hampir tidak sabar ia menunggu orang-orangnya yang
berkeliaran di seluruh Kademangan mencari isterinya yang hilang. Ia
merasa bahwa suatu penghinaan yang tiada taranya telah mencoreng
wajahnya. "Aku harus membunuhnya. Membunuh orang yang berani
menghinakan aku, mengambil isteriku" ia menggeram. Namun
kadang-kadang terbersit pertanyaan "Bagaimana kalau Sindangsari
pergi atas kemauannya sendiri?" "Tidak mungkin. Tidak mungkin. Ia
sudah menjadi kerasan di rumah ini "tetapi kemudian "Kecuali kalau
Pamot telah kembali dan membujuknya untuk pergi" "Tidak" tiba-tiba
ia tersentak bangkit "itupun tidak mungkin Pamot tidak akan dapat
menghubunginya tanpa diketahui oleh orang lain di Kademangan ini,
kecuali setiap orang, termasuk para peronda sudah bersepakat
dengannya. Dan itu tidak mungkin sama sekali" Ki Demang
menggeretakkan giginya. Ia membanting dirinya dan duduk kembali di
tempatnya. Ki Demang tersentak ketika ia mendengar derap kaki kuda.
Semakin lama semakin dekat. Seperti anak-anak yang menunggu ibunya
pulang dari pasar Ki Demang segera berlari keluar. Bukan saja Ki
Demang, tetapi juga ibu Sindangsari, kedua orang tuanya, dan
orangorang lain yang mendengarnya. Nyai Reksatani yang ada di
Kademangan itu menjadi berdebar-debar. Kalau benar Sindangsari dapat
diketemukan, maka ia pasti akan dapat berceritera tentang dirinya.
Karena itu, dengan hati yang berdebar-debar iapun berlarilari pula
menyongsong beberapa ekor kuda yang kemudian memasuki halaman. Orang
yang paling depan diantara mereka adaah Ki Kebayan. Sebelum Ki
Kebayan turun dari kudanya, Ki Demang sudah bertanya "Apakah kau
berhasil?" Ki Kebayan tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia turun
dari kudanya, kemudian menyerahkan kudanya kepada salah seorang yang
berdiri di halaman. "Bagaimana?" Ki Demang mendesaknya. Ki Kebayan
yang seolah-olah mandi karena keringatnya itu melangkah
mendekatinya. Tetapi kepalanya kemudian digelengkannya sambil
menjawab "Maaf Ki Demang. Aku tidak menemukannya" "Kau mencarinya di
mana?" bertanya Ki Demang sambil membelalakkan matanya. "Gunung
Sepikul, Tikungan Kali Praga, dan kemudian terus ke Pandan Segegek"
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam "Kau t idak ikut mencarinya di
Kademangan ini?" "Kami sudah membagi diri. Bahkan aku kira bahwa
salah satu kelompok yang ada, disini telah menemukannya" "Kalau
perempuan itu sudah di ketemukannya, aku tidak akan bertanya lagi
kepadamu" Ki Kebayan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
kemudian "Kalau begitu, kami akan ikut mencarinya" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Temuilah salah sebuah
kelompok. Ikutlah bersama mereka" "Baiklah" jawab Ki Kebayan. Tetapi
ketika ia berpaling, dilihatnya pengiringnya yang sudah turun pula
dari kuda mereka, tampak letih dan berwajah kemerah-merahan. Karena
itu, maka katanya "Kita akan segera berangkat lagi. Tetapi baiklah
kalian berist irahat dan minum sejenak. Barangkali kalian masih
haus, meskipun kalian telah mengambil banyak sekali kelapa muda di
sepanjang perjalanan" Pengiring Ki Kebayan itu saling berpandangan
sejenak. Tampaknya mereka agak segan-segan juga. Tetapi Ki Demang
sendiri kemudian berkata "Ya, minumlah dan barangkah kalian dapat
makan pula di dapur. Mintalah Nyai Reksatani" Nyai Reksatani yang
ada diantara mereka yang menyongsong orang-orang yang datang itu
menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa aman, karena Sindangsari tidak
di ketemukan. Karena itu ketika ia mendengar kata-kata Ki Demang
kepada orang-orang yang mencari Sindangsari itu, dengan penuh gairah
ia menyahut "Mari, marilah kalian makan dahulu. Di dapur masih
banyak sekali persediaan" Sejenak orang-orang itu masih saling
berpandangan. Namun kemudian Ki Kebayan sendirilah yang berkata
"Marilah. Aku juga akan makan lagi, meskipun ketika kami akan
berangkat, kami sudah makan lebih dahulu" Ketika orang-orang itu
pergi ke dapur, Ki Demangpun kembali ke ruang dalam dan duduk di
amben bambu. Sekali lagi ia melepaskan pandangan matanya menembus
pintu pringgitan yang terbuka, ke kejauhan. Bahkan meskipun matanya
terbuka, tetapi seakan-akan ia tidak melihat sesuatu. Sedang ibu
Sindangsari yang mendengar keterangan para penunggang kuda itupun
menjadi lemah. Derap kaki-kaki kuda itu ternyata hanya mampu
menumbuhkan pengharapannya saja. Tetapi Sindangsari masih belum
diketemukan. Sejenak kemudian, orang-orang yang sudah selesai makan
itupun segera minta diri pula kepada Ki Demang untuk melanjutkan
usaha mereka mencari Sindangsari. "Mereka pasti tidak mencari dengan
telit i" desis perempuan tua yang minta orang-orang Kepandak mencari
ke Gunung Sepikul, tikungan kali Praga dan ke Pandan Segegek
"Kemanapun mereka cari, mereka tidak akan dapat menemukannya" Tetapi
perempuan tua itu tidak mengatakannya kepada Ki Demang dan kepada
setiap laki-laki yang sedang sibuk dengan usaha mereka itu. Ternyata
sekelompok laki-laki sampai pula sekali lagi ke rumah Manguri.
Mereka dipimpin sendiri oleh Ki Jagabaya. Kali ini Ki Jagabaya tidak
akan mencari Sindangsari di rumah itu, tetapi ia berkata kepada
Manguri "Jadi rumah di ujung Kademangan itu rumah ayahmu?" "Ya"
jawab Manguri. "Siapakah yang sekarang menunggui rumah itu?"
"Kenapa" "Kami akan mencarinya ke dalamrumah itu" Manguri
mengerutkan keningnya. Katanya "Silahkan" "Tetapi aku tidak akan
masuk tanpa seorangpun dari pemiliknya ada di sana. Apakah ada orang
yang menungguinya?" "Mestinya ada. Tetapi hari ini mereka t idak ada
di rumah itu. Mungkin sore nanti mereka akan datang. Di siang hari
kami t idak merasa perlu untuk menungguinya" "Ya, kami telah sampai
ke tempat itu. Tetapi gubug itu kosong. Meskipun ada beberapa ekor
ternak yang terikat di patok-patok, tetapi tidak ada seorangpun
dipekarangan itu" "Ya. Sebagian besar dari orang-orang kami mengikut
i ayah sejak beberapa hari. Yang lain masih belum datang" "Sekarang,
kami akan membuka gubug itu. Antarkan kami" "Silahkan. Tanpa
seorangpun dari kami, gubug itu dapat saja dibuka" "Tidak. Aku tidak
mau timbul dugaan yang bukan-bukan. Kalian dapat saja membuat
ceritera tentang kami yang membuka rumah kalian tanpa seorangpun
dari kalian yang menunggui kami" Manguri mengerutkan keningnya.
Dipandanginya Lamat sejenak. Lamat yang berdiri di sampingnya dengan
kepala tertunduk, sehingga botaknya menjadi semakin jelas tampak di
antara ikat kepalanya yang tidak menutup kepala itu rapatrapat.
"Lamat" berkata Manguri"kita akan pergi ke gubug itu" Lamat
mengangkat wajah. Kemudian kepala itupun terangguk-angguk. "Marilah
Ki Jagabaya. Kami antarkan kalian kesana" "Ya. Dua orang kami masih
tinggal di sana" Merekapun kemudian pergi bersama-sama ke ujung
Kademangan itu. Ki Jagabaya masih saja mencurigai, kalaukalau
Manguri menyembunyikan Sindangsari dimanapun juga. Ditunggui oleh
Manguri dan Lamat. Ki Jagabaya bersama dengan orang-orangnya telah
memasuki gubug itu. Ternyata mata Ki Jagabaya yang tajam, dapat
melihat juga pintu yang berada di belakang gledeg. Sambil
mengerutkan keningnya ia bertanya "Apakah itu sebuah pintu?" Manguri
tidak dapat ingkar. Jawabnya "Ya" "Kenapa ditaruh gledeg di mukanya?
Bukankah dengan begitu, pintu itu sukar dibuka?" "Ya" "Kenapa? Dan
apakah ada seseorang di dalam bilik yang sengaja dirahasiakan itu?"
Manguri menggigit bibirnya. Untunglah bahwa Sindangsari sudah
disingkirkan. Kalau belum. Dan apalagi seperti yang dikatakan oleh
ayahnya, bahwa orang yang datang ke rumah itu pasti tidak akan
memperhatikan pintu itu, maka keadaan Kademangan Kepandak pasti akan
segera berubah. Mungkin segera akan timbul kerusuhan dan
perkelahian. "He, apakah ada seseorang di dalam bilik itu?" desak Ki
Jagabaya. Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak" jawabnya. "Kenapa
pintu itu tertutup rapat?" "Bilik di balik pintu kosong" jawab
Manguri. "Seandainya benar kosong, kenapa ayahmu membuat bilik
rahasia itu?" "Sama sekali bukan bilik rahasia. Bilik itu adalah
bilik biasa. Tetapi karena rumah ini jarang sekali dipergunakan oleh
keluarga kami, maka bilik itupun jarang sekali dibuka, sehingga
orang meletakkan perkakas di tempat yang tidak semestinya. Bahkan di
muka pintu sekalipun" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian
kepada orang-orang yang datang bersamanya ia berkata "Bukalah pintu
itu. Singkirkan dahulu geledeg itu" Beberapa orangpun kemudian
menyingkirkan geledeg itu, sehingga pintu itu tidak tertutup lagi.
Ki Jagabaya sendirilah yang kemudian mendekati pintu itu.
Perlahan-lahan ia mendorong ke samping, sehingga akhirnya pintu itu
terbuka sama sekali. Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Ia melihat
pembaringan yang kusut. Tikar yang menyingkap dan sebagian telah
menyentuh lantai. "Ruangan ini terlampau pengab" katanya. "Ya.
Ruangan ini memang jarang sekali dipakai. Biasanya ayah sajalah yang
tidur disini, apabila karena sesuatu hal ia harus menunggui ternak
disini. Mungkin ayah sedang terikat oleh suatu pembicaraan dengan
seseorang yang akan membeli atau sebaliknya menjual ternaknya ke
tempat ini" Ki Jagabaya tidak menjawab. Tetapi diamatinya ruangan
itu dengan saksama. Hati Manguri menjadi berdebar-debar ketika
tangan Ki Jagabaya memungut sesuatu dari pembaringan itu. Tusuk
konde. "Gila" Manguri mengumpat di dalam hatinya "Tusuk konde itu
agaknya terjatuh dari sanggul Sindangsari selagi ia meronta-ronta"
"Manguri" desis Ki Jagabaya "apakah kau pernah melihat benda serupa
ini" "Ya" jawab Manguri. Terasa keringat dingin telah membasahi
punggungnya. Tanpa setahu Ki Jagabaya Manguri berpaling memandang
wajah Lamat. Tetapi agaknya Lamat berusaha untuk menghapuskan setiap
kesan di wajahnya. "Kau mengerti, apakah ini?" sekali lagi Ki
Jagabaya bertanya. "Ya" jawab Manguri. "Sebut, apa namanya?" "Tusuk
konde" Manguri masih juga berusaha untuk tersenyum"apakah Ki
Jagabaya menyangka aku belumpernah berkenalan dengan perempuan" Ki
Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya. Aku tahu,
bahwa kau banyak berkenalan dengan gadisgadis. Bukan sekedar
berkenalan. Dan bahkan bukan sekedar gadis-gadis. Kau adalah
laki-laki yang rakus" Wajah Manguri menjadi merah padam. Sejenak ia
memandang Ki Jagabaya dengan tajamnya. Bagaimanapun juga kata-kata
itu telah menyinggung perasaannya. Tetapi tiba-tiba wajah itu
mengendor. Sebelum Ki Jagabaya melihat ketegangan itu, Manguri
justru sudah tersenyum karenanya. Ia dengan demikian, seolah-olah
mendapat petunjuk dari Ki Jagabaya, bagaimana ia harus menangani
keadaan. "Apakah kau tahu Manguri" bertanya Ki Jagabaya selanjutnya
"Tusuk konde siapakah yang terjatuh ini" Manguri masih saja
tersenyum. "Tusuk konde siapa?" ia mendesak. "Ah. Kenapa Ki Jagabaya
mengurus tusuk konde itu?" "Aku sedang mencari seorang perempuan.
Kau mengerti" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan suara
yang dalam ia bertanya "Jadi, Ki Jagabaya mengira, bahwa tusuk konde
itu milik Sindangsari, eh, Nyai demang?" "Bukan begitu. Aku justru
bertanya kepadamu. Tetapi pantas juga aku mencurigai bahwa Nyai
Demang pernah kau sembunyikan disini. Nah, jawab, tusuk konde
siapakah itu?" "Sebenarnya aku malu untuk menyebutkannya. Tetapi aku
minta Ki Jagabaya jangan mengatakan kepada ayah, kalau ayah kelak
pulang" Manguripun berpaling sambil berkata kepada Lamat "jangan kau
katakan kepada ayah" Lamat mengerutkan keningnya. "Jangan kau
katakan kepada ayah, kau dengar?" bentak Manguri. "Ya, ya. Aku tidak
akan mengatakannya. Tetapi apakah soalnya?" "Tusuk konde itu" sahut
Manguri. Lalu katanya kepada Ki Jagabaya "Kemarin aku membawa
seorang perempuan ke tempat ini. Aku tidak sempat membenahi tempat
ini, dan ternyata tusuk kondenya telah terjatuh disini. Adalah
kebetulan sekali kini tusuk konde itu diketemukan. Kalau ayah yang
menemukannya, maka aku akan dimarahinya" Ki Jagabaya mengerutkan
keningnya. Sejenak ia terdiam. Dipandanginya wajah Manguri dan tusuk
konde itu bergantiganti. "Lamat" berkata Manguri "buanglah tusuk
konde itu jauhjauh. Kalau ayah kelak mengetahuinya, maka kaulah yang
harus bertanggung jawab" "Anak setan" desis Ki Jagabaya "kerakusan
ayahmu menurun kepadamu" Manguri t idak menyahut. Tetapi sekali lagi
ia berkata kepada Lamat "Buanglah tusuk konde itu" "Buanglah" Ki
Jagabayapun segera melemparkan tusuk konde itu ke depan kaki Lamat.
Diusapkannya tangannya pada tiang, seolah-olah ia ingin
menghilangkan bekas-bekas sentuhannya dengan tusuk konde yang kotor
itu. Dengan ragu-ragu Lamat membungkukkan kepalanya memungut tusuk
konde itu. Kemudian iapun melangkah keluar membawa tusuk konde itu
ke sudut halaman belakang. "Kita harus segera keluar dari bilik
keparat ini" geram Ki Jagabaya sambil melangkahkan kakinya. Tetapi
sekali lagi ia tertegun. Diamatinya seutas tali yang terkapar di
lantai bilik itu. Namun kemudian ia tidak memperhatikannya lagi.
Bilik itu baginya adalah bilik yang sangat kotor, dikotori oleh
kelakuan Manguri yang gila. Perlahan-lahan ia berdesis "Kalau kau
anakku, Manguri. Aku cekik kau sampai mat i" Manguri tidak menjawab.
Tetapi ia menjadi tersipu-sipu. Meskipun demikian ia tertawa di
dalam. hati, karena ia berhasil melenyapkan bekas yang hampir saja
menjeratnya. Ki Jagabayapun dengan tergesa-gesa dan dengan wajah
yang merah telah keluar dari rumah itu. Kemudian tanpa minta diri
kepada Manguri iapun pergi meninggalkannya. Terbayang di kepalanya,
suatu permainan yang paling kotor yang telah terjadi di dalam bilik
itu selagi ayahnya tidak ada di rumah. "Anak itu benar-benar anak
setan yang liar. Ayahnya terlalu sering meninggalkannya sehingga ia
telah kehilangan pengawasan orang tuanya. Apalagi orang tuanya
sendiri bukanlah orang tua yang baik, yang dapat memberikan contoh
yang baik pula kepada satu-satunya anak laki-laki" katanya hampir
menggeram. Para pengiringnya tidak menyahut. Tetapi merekapun
meninggalkan tempat itu pula dengan tergesa-gesa, seolaholah justru
merekalah orang-orang yang harus segera menyembunyikan diri, karena
mereka telah dikejar oleh utusan Ki Demang di Kepandak. Sepeninggal
orang-orang itu, Manguri tidak dapat menahan tertawanya. Seperti
orang yang mendapat permainan yang sangat menyenangkan ia tertawa
berkepanjangan. Lamat berdiri saja termangu-mangu di sampingnya.
Suara tertawa Manguri itu semakin lama terasa semakin bising di
telinganya. Tetapi ia tidak berani mencegahnya. "He, Lamat. Dimana
tusuk konde itu he?" "Aku buang ke parit di belakang dinding batu
kebun belakang" "Bodoh kau" "Kenapa?" "Ambil, ambil tusuk konde itu
sebelum hanyut" Lamat tidak segera mengerti maksud Manguri, sehingga
karena itu ia masih saja berdiri termangu-mangu. "Cepat ambil.
Kenapa kau berdiri saja seperti patung?" Meskipun Lamat masih belum
tahu maksud Manguri yang sebenarnya, namun ia pergi juga mengambil
tusuk konde itu. Untunglah bahwa tusuk konde itu masih belum hanyut
terlalu jauh, karena parit itupun hanya mengalir terlampau kecil.
"Tusuk konde itu harus kita musnahkan" Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kini baru ia tahu maksud Manguri. Tusuk konde itu tidak
boleh menjadi barang bukti, bahwa Sindangsari pernah berada di
tempat ini "Kalau Ki Jagabaya menyadari keadaannya, kemudian
berusaha mendapatkan tusuk konde itu, dan ditunjukkannya kepada Ki
Demang atau ibunya yang barangkah mengenalnya, maka kita pasti akan
menemui kesulitan. Aku sudah mengorbankan diriku untuk dihinakannya
karena aku mengatakan, bahwa aku membawa seorang perempuan ke dalam
bilik ini" berkata Manguri kemudian. Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Ya, tusuk konde ini memang harus dihancurkan"
"Tusuk konde itu terbuat dari penyu. Bakar sajalah" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian menyalakan api di
kebun belakang, dan melemparkan tusuk konde penyu itu ke dalamnya.
Sejenak kemudian maka baunya telah membubung memenuhi halaman itu.
"Kita sudah melenyapkan bukti itu" berkata Manguri "ternyata kau
sama sekali t idak bekerja dengan baik. Seharusnya ketika kau
mengambil Sindangsari dari bilik itu, tidak boleh ada sesuatu yang
ketinggalan, yang dapat memberikan suatu petunjuk. Tusuk konde dan
tali pengikat itu hampir saja menyeret kita ke dalam kesulitan" "Aku
sangat tergesa-gesa. Dan aku tidak biasa melakukan pekerjaan serupa
itu" "He, kau sangka aku biasa melakukannya? Itu hanya karena otakmu
memang terlampau tumpul" Lamat t idak menjawab. "Nah, singkirkan
tali di dalam bilik itu, dan benahi tikar serta ambennya" "Baik"
Ketika Lamat memasuki bilik itu, Manguri kemudian berjalan hilir
mudik di depan gubugnya. Sekilas terbayang wajah Sindangsari yang
sedih dan pucat. Dan sekilas wajah Ki Demang di Kepandak yang merah
padam. "Ki Demang benar-benar akan mencari isterinya sampai ketemu"
desis Manguri. Dan tanpa sesadarnya terasa bulu tengkuknya meremang.
Ki Demang adalah orang yang tidak ada duanya di daerah Selatan ini.
"Aku mempunyai Lamat" geramnya "Lamat yang mempunyai tenaga sekuat
kerbau itu pasti akan mampu melawan Ki Demang betapapun tinggi
ilmunya. Apalagi kalau aku sempat membantunya. Aku dapat
mempergunakan otakku, sedang Lamat akan mempergunakan tenaganya"
Sejenak kemudian Lamatpun sudah selesai dengan tugasnya. Iapun
segera menutup semua pintu lalu mendekati Manguri sambil bertanya
"Sekarang, apakah yang akan kita lakukan" "Kita kembali. Kita
mengharap utusan ayah segera datang, supaya kita dapat
memberitahukan apa yang telah terjadi disini" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Banyak kemungkinan yang bakal
terjadi di sini" berkata Manguri "sehingga karena itu, Sindangsari
harus disembunyikan jauh sekali" Lamat tidak menyahut. Ia hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya saja. "He, apakah kau tidak
mendengar" Lamat mengangkat wajahnya. Katanya "Ya, aku mendengar.
Nyai Demang memang harus di sembunyikan jauh sekali. Ki Demang
agaknya akan menyebar orangorangnya ke segenap penjuru daerah
Selatan ini. Ke Kademangan-kademangan tetangga, bahkan mungkin
sampai ke seberang Sungai Opak dan Praga. Manguri tidak menyahut.
Tetapi ia merasa ngeri juga. Sejak semula ia memang sudah menyangka,
bahwa Ki Demang pasti akan marah dan mencari Sindangsari. Tetapi
tidak terbayang di dalam kepalanya, bahwa suasana Kademangan
Kepandak seakan-akan seperti sedang dalam keadaan perang. Kudakuda
berkeliaran hilir mudik. Orang-orang yang bersenjata di lambung dan
mata yang merah pada wajah-wajah yang tegang. "Marilah, kita segera
pulang. Orang-orang itu masih belum juga datang" desis Manguri
kemudian. "Siapa?" bertanya Lamat. "Orang-orang itu. Orang-orang
yang semalam ikut serta ke Kademangan" Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Mereka mungkin telah menyingkir atau pulang ke
rumah masing-masing" "Mereka orang yang berdatangan dari kejauhan"
"Ada yang rumahnya di Kademangan tetangga. Mungkin mereka singgah di
rumah kawan-kawannya itu sampai keadaan menjadi tenang" "Mungkin
mereka sudah ada di rumah sekarang" Lamat tidak menyahut lagi.
Merekapun kemudian dengan tergesa-gesa pulang ke rumah Manguri.
Ditinggalkannya lagi ternak dan segala isi halaman itu tanpa
seorangpun yang menungguinya. Dalam pada itu, hampir setiap rumah di
Kademangan Kepandak telah dimasuki. Tetapi tidak seorangpun dari
orangorang yang mencari Sindangsari itu menemukannya. Bahkan
bekasnyapun tidak, seolah-olah perempuan itu telah hilang lenyap. Ki
Jagabaya, Ki Kebayan, semua laki-laki yang mengelilingi Kademangan
Kepandak, menjadi semakin panas. Mereka merasa diri mereka menjadi
semakin kecil karena mereka sama sekali tidak berhasil menemukan
seorang saja yang telah hilang dari Kademangan. "Gila" Ki Jagabaya
mengumpat-umpat "apakah Sindangsari benar telah ditelan setan?"
Pengiring-pengiringnya tidak menyahut. Wajah-wajah merekapun menjadi
tegang dan kemerah-merahan. "Kemana lagi kita harus mencari?" geram
Ki Jagabaya "semua rumah dan bahkan kandang-kandang lembu dan
kandang kuda telah kita masuki. Daerah yang diserahkan kepada kita
agaknya sudah habis kita lihat. Tetapi kami t idak menemukan
apa-apa. Para pengiringnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya
saja. Mereka tetap berdiam diri, meskipun hati mereka bergejolak
pula seperti Ki Jagabaya. "Tidak masuk akal" Ki Jagabaya masih saja
menggerutu "nasinya masih belum selesai dimakan ketika ia tiba-tiba
saja hilang dari Kademangan. Tidak masuk akal" Sementara itu, di
bagian lain dari Kademangan Kepandak, Ki Reksatani yang yakin bahwa
Sindangsari sudah tidak ada di Kademangan Kepandak itupun telah
memasuki setiap rumah pula. Bahkan dengan lantang ia
berteriak-teriak "Siapa yang diketemukan menyembunyikan Nyai Demang
atau menyediakan tempat baginya, akan dihukum seberatberatnya.
Tetapi apabila dalam kesempatan ini ia berterus terang dan
menunjukkan tempat persembunyiannya, maka kesalahannya akan
dimaafkan" Tetapi sudah tentu tidak ada seorangpun yang datang
kepadanya dan menunjukkan tempat Nyai Demang di Kepandak. "Kemana
lagi kita harus mencari?" desisnya kemudian dengan nada dalam "aku t
idak sampai hati melihat kakang Demang menjadi bersedih. Lima kali
ia kawin, semuanya tidak dapat memberikan keturunan kepadanya. Kini
ketika isterinya yang keenam mengandung, perempuan itu lenyap begitu
saja" Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. "Aku
tidak dapat membayangkan, bagaimana ia dapat hilang begitu saja.
Nasi yang sudah disenduknya masih belum seluruhnya dimakannya ketika
tiba-tiba saja ia lenyap" desis Ki Reksatani pula. Beberapa orang
kawannya hanya dapat menganggukangguk dan mengangguk-angguk saja.
Merekapun tidak dapat membayangkan apa yang telah terjadiatas Nyai
Demang yang hilang selagi ia belum selesai makan itu. "Tetapi"
tiba-tiba seseorang di antara mereka berkata "apakah Nyai Demang
sudah dicari di dalamruangan itu?" "Kenapa kau bertanya begitu?"
"Anak di rumah sebelah pernah juga di sangka hilang. Tetapi ternyata
ia berada di kolong pembaringannya. Agaknya ia memang di sembunyikan
oleh hantu, karena untuk beberapa lama ia tidak dapat berbicara"
"Bukan hanya kolong pembaringan. Di semua tempat sudah dicari.
Perempuan-perempuan dan laki-laki tua mencarinya sambil memukul
perampi, bakul dan pisau. Tetapi perempuan itu tidak di
ketemukannya" Kawan-kawannyapun terdiam. Tidak ada lagi yang
mengatakan sesuatu. Sejenak kemudian merekapun meneruskan perjalanan
mereka dengan kepala tunduk, seperti serombongan orang-orang yang
mengantarkan mayat ke kuburan. Di bagian lain, setiap kelompok
menjadi gelisah pula, karena mereka tidak menemukan orang yang
mereka cari. "Mungkin Nyai Demang kini sudah ada di kademangan"
berkata seseorang. "Tentu ada tanda-tanda yang dibunyikan. Kentongan
misalnya" Kawannya yang berbicara mula-mula itupun
menganggukanggukkan kepalanya "Ya. Tentu ada tanda-tanda" "Lalu,
apakah yang sebaiknya kita lakukan sekarang. Tidak ada tempat bagi
yang terlampaui. Bahkan kita sudah mencarinya di kuburan kalau-kalau
ia di sembunyikan atau bersembunyi di sana" Tidak ada yang menjawab.
Dan merekapun berjalan terus, seakan-akan tanpa tujuan. Hari itu
Kademangan Kepandak telah benar-benar dibakar oleh kegelisahan.
Suaranya benar-benar seperti suasana perang, seakan-akan mereka
sedang menunggu sepasukan musuh yang akan memasuki Kademangan itu
dari segala penjuru. Tetapi akhirnya, orang-orang yang mencari
Sindangsari itupun sampai pada suatu kesimpulan, bahwa mereka tidak
dapat menemukan perempuan itu di dalam daerah Kademangan Kepandak.
Bagaimanapun juga mereka harus melihat suatu kenyataan, bahwa di
setiap rumah, di setiap gubug dan bahkan di setiap kandang yang
sudah mereka masuki, mereka tidak menemukan Sindangsari. Dengan
demikian, meskipun hati mereka sangat berat, namun merekapun
akhirnya kembali pula ke Kademangan. Dengan kepala tunduk,
sekelompok demi sekelompok memasuki halaman Kademangan, seperti
pasukan-pasukan yang pulang dari peperangan tanpa membawa
kemenangan. "Bagaimana usaha kalian?" bertanya Ki Demang kepada Ki
Jagabaya yang telah kembali ke Kademangan pula. Ki Jagabaya
menggelengkan kepalanya "Maaf Ki Demang Aku sudah berusaha sejauh
dapat aku lakukan. Tetapi aku masih belum menemukannya" Wajah Ki
Demang menjadi merah padam. Katanya "Soalnya bukan sekedar aku
kehilangan seorang istri. Tetapi kini sudah dihinakan oleh keadaan
ini. Seolah-olah di Kademangan Kepandak ini tidak ada seorang
laki-lakipun yang dapat melindungi seorang perempuan" Ki Jagabaya
tidak menyahut. "Bagaimana kau Reksatani?" Ki Reksatani menarik
nafas dalam-dalam. Sejenak ia memandangi kawan-kawannya. Kemudian
jawabnya "Kami tidak dapat menemukan pula kakang. Semua rumah sudah
aku masuki. Semua pintu sudah terbuka. Tetapi kami tidak dapat
menemukannya" "Persetan" Ki Demang menggeram "aku yakin yang lainpun
akan menjawab seperti itu pula. Ayo, siapa yang mempunyai jawaban
lain?" Tidak seorangpun yang duduk di pendapa Kademangan itu yang
berani mengangkat wajahnya. Semuanya tunduk tepekur dengan hati yang
berdebar-debar. Mereka sadar, bahwa Ki Demang kini benar-benar sudah
sampai pada puncak kemarahannya. "Baiklah" berkata Ki Demang
kemudian "aku besok akan mencarinya sendiri. Sebentar lagi senja
akan turun. Aku tidak akan dapat banyak berbuat di malam hari.
Tetapi, aku tidak mau terjebak oleh waktu. Karena itu, setiap lorong
yang keluar dari Kademangan Kepandak di segala padukuhan harus
dijaga. Kalau hari ini Sindangsari masih ada di Kademangan ini,
jangan sampai malam nanti ia berhasil dibawa keluar atau kalau ia
sengaja lari atas kehendak sendiri, ia tidak akan dapat pergi dari
daerah ini" Semua kepala terangguk-angguk. "Bukan hanya itu. Yang
lain harus memencar ke daerah di sekitar Kademangan ini. Mungkin
kalian bertemu dengan seseorang yang membawanya. Kalau karena
kelicinannya ia dapat membawanya keluar, maka di sepanjang jalan
kalian mungkin akan menjumpainya" Sekali lagi semua kepala
terangguk-angguk. "Terserah kepada kalian, bagaimana kalian akan
membagi diri. Akupun akan keluar malam ini. Sendiri. Ki Jagabaya
menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ki Reksatani,
kemudian kepada orang-orang lain, tampaklah kegelisahan yang
membayang di setiap wajah. "Sekarang beristirahatlah. Semua
pertunjukan dibatalkan. Tetapi kalian dapat makan dari semua
persediaan yang ada di dapur" Ki Demang tidak menunggu lagi. Iapun
segera bangkit dan melangkah masuk. Di ruang dalam ia melihat ibu
Sindangsari yang duduk sambil mengusap air matanya di samping kedua
orang tuanya. Ki Demang tertegun sejenak. Kemudian menghampirinya
sambil berkata "Maaf. Hari ini aku belum sempat menemukannya. Tetapi
aku berjanji, bahwa aku harus mendapatkannya. Kapan saja dan dimana
saja. Kalau perlu aku akan meninggalkan Kademangan ini mengelilingi
Tanah Mataram dari ujung sampai ke ujung. Pengembaraan ini tidak
akan berakhir sebelum aku menemukan isteriku" Ibu Sindangsari
mencoba untuk tersenyum. Jawabnya "Terima kasih. Tetapi Ki Demang
tidak akan dapat meninggalkan tugas Ki Demang di sini sebagai
pemegang kemudi" "Aku dapat menit ipkannya kepada Reksatani. Ia
adalah adikku. Dan iapun berhak pula atas Kademangan ini. Ia dapat
mengganti aku dalam wewenang dan hak yang sama, apabila aku tidak
kembali lagi ke Kademangan ini" "Taruhan itu terlampau berat Ki
Demang" "Tetapi buat apa aku tetap berada disini? Seandainya aku
bertahan di dalam kedudukanku buat apakah sebenarnya? Aku bukan
orang yang paling baik di Kademangan ini. Aku bukan satu-satunya
orang yang dapat mengemudikannya dan aku bukan satu-satunya orang
yang berhak. Kalau aku kehilangan isteriku yang sedang mengandung
itu, aku sudah kehilangan semua harapan untuk mendapatkan keturunan.
Tidak akan ada orang yang kelak dapat menggantikan kedudukannya
sebagai seorang Demang. Dengan demikian maka kedudukan itu pasti
akan berpindah pula kepada Reksatani atau anakTiraikasih Website http://kangzusi.com/ anaknya. Dan
aku tidak tahu, apakah ia justru tidak lebih baik daripadaku untuk
memimpin Kademangan ini. Ia adalah orang yang rajin yang
bercita-cita dan berpikiran hidup. Mungkin ia akan lebih baik
daripadaku disini" "Tetapi keputusan itu terlampau tergesa-gesa Ki
Demang. Kini Ki Demang sedang dibayangi oleh kegelapan hati"
"Mungkin, dan aku akan berpikir kembali. Tetapi bagaimanapun juga,
aku harus menemukan isteriku" Ibu Sindangsari tidak menyahut lagi.
Di pandanginya wajah Ki Demang yang kemudian menunduk. Tampaklah
betapa hatinya sedang dilanda oleh kegelisahan dan kebingungan.
Setapak demi setapak Ki Demang itupun kemudian meninggalkan ibu
mertuanya. Kepalanya masih juga tertunduk dan hatinya bahkan menjadi
semakin risau. Namun tiba-tiba Ki Demang itu menggeram "Aku harus
menemukannya. Harus. Apapun yang akan terjadi" Ketika bayangan gelap
mulai meraba wajah Kademangan Kepandak, maka Ki Demangpun segera
bersiap. Malam itu ia ingin keluar dan pergi kemana saja. Ia tidak
ingin ditemani oleh siapapun juga, supaya ia dapat berbuat sesuka
hatinya. Demikianlah, ketika malampun turun, beberapa orang telah
memencar untuk mengawasi semua jalan keluar dan masuk Kademangan
Kepandak. Tidak ada sebuah lorongpun yang terlampaui. Bahkan
pematang-pematang di tengah sawahpun mendapat pengawasan yang
saksama. Tidak ada seorangpun yang dapat keluar dari Kademangan
tanpa melalui pengawasan. Lamat yang ketika senja turun berada di
sawah, melihat betapa orang-orang Kademangan Kepandak menjadi sibuk
sejak malam menjadi gelap. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia
berkata kepada diri sendiri "Alangkah pengecutnya aku ini. Kalau aku
memiliki keberanian untuk melupakan kepentinganku sendiri kalau aku
mempunyai keberanian untuk melupakan budi itu, aku dapat berbuat
sesuatu. Orang-orang di Kepandak tidak perlu menjadi kebingungan
seperti sarang semut yang tersentuh api. Aku cukup datang kepada Ki
Demang di Kepandak dan mengatakan di mana Sindangsari itu berada. Ki
Demang pasti akan segera bertindak" Tetapi Lamat menggelengkan
kepalanya. Katanya kepada diri sendiri pula "Alangkah jahatnya aku
ini. Keluarga ini sudah melepaskan aku dari bencana. Umurku sudah
disambungnya. Dan aku tidak akan dapat mengkhianatinya" Ketika
terbayang olehnya wajah Sindangsari yang pucat dan ketakutan di
hadapan mata Manguri yang membara, Lamat memejamkan matanya. Sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya ia berdesis "Tidak. Itu tidak boleh
terjadi" Namun kemudian melonjak sebuah pertanyaan di hatinya "Kalau
itu terjadi, apakah yang akan kau lakukan?" Tubuh Lamat terasa
menjadi lemah. Hampir tidak bertenaga ia terduduk diatas pematang
berpegangan pada tangkai cangkulnya. Ia tidak menghiraukan lagi
ketika terasa kakinya menjadi basah karena air di sawah itu menjadi
semakin tinggi, bahkan ketika ujung kainnya yang berjuntai di antara
kedua kakinyapun menjadi basah pula. Dalam pada itu, Ki Demangpun
telah berjalan menyusuri jalan-jalan Kademangan. Ia tidak tahu apa
yang akan dilakukannya. Tetapi ia berjalan juga dari satu padukuhan
ke padukuhan yang lain. Para peronda yang melihatnya hanya dapat
menganggukkan kepalanya saja, karena Ki Demang tidak mau menjawab
pertanyaan apapun selain berkata "Aku akan berjalan-jalan" Di
tiap-tiap mulut lorong, dua atau tiga orang yang mengawasi orang
yang lewat, masih sempat berganti-gantian tidur. Yang satu tidur,
yang satu berjaga-jaga. Atau yang dua tidur, yang satu berjaga-jaga.
Mereka masih dapat, meskipun hanya sekejap beristirahat untuk
melepaskan lelah. Tetapi Ki Demang di Kepandak tidak demikian. Ia
tidak mempunyai seorang kawanpun yang dapat membantunya,
menggantikannya berjalan sepanjang jalan-jalan padukuhan. Tidak
seorangpun yang dapat membantunya memikul beban yang terasa sangat
berat menghimpit dadanya. Di sepanjang jalan, seakan-akan telah
terbayang kembali, apa yang telah terjadi sepanjang umurnya.
Terutama sejak ia menjadi seorang Demang menggantikan kedudukan
ayahnya. Ki Demang menundukkan kepalanya kalau terbayang kembali di
kepalanya, bagaimana ia telah mengambil enam orang perempuan
berturut-turut menjadi isterinya. Beberapa orang di antaranya sama
sekali tidak berkeberatan, bahkan ada yang dengan bangga menepuk
dada, bahwa ia akan menjadi isteri Demang di Kepandak. Tetapi yang
lain, perkawinan itu sama sekali tidak memberikan kebahagiaan. Ia
telah merampas perempuan-perempuan itu dari laki-laki yang telah
saling mencintai. Ia telah merusakkan hati sepasang manusia yang
sedang membina pengharapan di hari-hari mendatang. Tetapi tidak
seorangpun yang dapat menentang kekuasaan. Selain ia seorang Demang
yang berkuasa, iapun seorang lakilaki yang hampir tidak ada
bandingnya di daerah Selatan ini. Baru sekarang Ki Demang mencoba
melihat kembali, apakah yang sebenarnya telah terjadi itu. Alangkah
sakitnya seseorang yang tiba-tiba saja harus berpisah dengan
orangorang yang dikasihinya. Seperti yang dialaminya kini meskipun
ia bukan seorang suami yang sebenarnya bagi Sindangsari. Tetapi
kehidupan mereka yang mulai tenang, telah menumbuhkan suatu ikatan
bagi keduanya, terutama bagi Ki Demang di Kepandak. Semuanya itu
seolah-olah terbayang kembali di hadapannya. Jelas sekali. Satu
persatu isterinya membayang di dalam kegelapan. Seorang dari mereka,
seperti pada saat ia masih menjadi isterinya, telah memaki-makinya
dengan katakata yang paling menyakitkan hati, sehingga hampir saja
perempuan itu dibunuhnya. Tetapi seorang diantara mereka, menyimpan
segala derita di dalam hati, Sehingga akhirnya ia tidak dapat
melawan kepahitan hidup. Perlahan-lahan ia telah dicekik oleh maut.
Beberapa lama ia menderita sakit, sehingga sampai juga pada saatnya,
perempuan itu meninggal dunia. Akhirnya ia menjumpai Sindangsari. Ia
telah merenggut perempuan itu dari tangan seorang laki-laki yang
dicintainya dengan paksa. Dengan menengadahkan dadanya, ia berkata
"Tidak ada seorangpun yang dapat melawan kehendakku" Namun
perkawinan itupun hampir saja menumbuhkan pembunuhan ketika Ki
Demang sadar, bahwa isterinya itu telah mengandung, justru dengan
laki-laki yang dicintainya. Laki-laki yang telah di singkirkannya.
Bahkan di jerumuskannya ke dalamjeratan maut. Tetapi apa yang
terjadi kemudian. Ketika ia sudah mulai memahami kenyataan tentang
bayi di dalam kandungan itu, tiba-tiba isterinya telah hilang.
Hilang tanpa diketahui kemana. Ki Demang itu menggeretakkan giginya.
Ternyata kekuasaan yang ada padanya tidak mampu mempertahankan
perempuan yang telah direnggutnya itu. "Aku telah berdosa dua kali
lipat" seolah-olah terdengar suara dari dalam sudut hatinya yang
paling dalam "Aku sudah mengambilnya dari laki-laki yang dicintainya
dan kini aku tidak dapat melindunginya" Kepala Ki Demang menjadi
semakin tunduk karenanya. Di pandanginya ujung kakinya yang
melangkah satu-satu diatas tanah yang berpasir. "Tetapi bagaimana
kalau perempuan itu sengaja melarikan diri karena Pamot sudah pulang
atau sudah ada isyarat daripadanya?" pertanyaan itu telah
mengganggunya pula. "Aku bunuh perempuan itu" geram Ki Demang "kalau
ia sengaja menghinakan aku, aku bunuh ia bersama laki-laki itu"
Tiba-tiba Ki Demang menggeretakkan giginya. Namun kemudian ia
menarik nafas dalam-dalam. Dirabanya dadanya dengan telapak
tangannya, seakan-akan ingin menjaga agar dada itu tidak meledak.
Langkah Ki Demang terhenti ketika ia melihat dua orang duduk diatas
rerumputan di pinggir lorong. Di sampingnya seorang lagi berbaring
di bawah selimut kain panjang yang menutup seluruh tubuhnya.
"Selamat malam Ki Demang" salah seorang dari mereka telah
menegurnya. Ki Demang memandang kedua orang yang kemudian berdiri di
hadapannya. "Kami mendapat tugas disini Ki Demang" berkata seorang
yang lain. "Terima kasih atas kesediaan kalian" gumam Ki Demang.
Tetapi kata-kata itu rasa-rasanya seperti begitu saja meloncat dari
mulutnya. Tanpa bertanya apapun lagi, Ki Demang itupun kemudian
berbalik dan melangkah pula dengan kepala tunduk menyelusuri jalan
di Kademangannya. "Kasihan" desis salah seorang dari kedua orang
yang bertugas mengawasi jalan itu. "Ia menjadi terlampau bingung.
Lima isterinya tidak memberikan keturunan untuknya" Kedua orang itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun kemudian duduk kembali
diatas rerumputan. "Ketika aku dengar ia mengambil seorang gadis
yang sebenarnya telah saling mencintai dengan seorang laki-laki
Gemulung, aku mengumpatinya. Tetapi sekarang, aku menaruh kasihan
juga kepadanya" Kawannya tidak menyahut. Dipandanginya saja Ki
Demang yang seakan-akan menjadi semakin kabur dan hilang di dalam
kegelapan malam. Ternyata, seperti orang yang kehilangan perasaan,
Ki Demang berjalan hampir semalam suntuk. Baru ketika fajar
membayang di langit, ia melangkahkan kakinya kembali ke Kademangan,
setelah di dalam perjalanannya yang hampir semalam suntuk tidak
dijumpainya sesuatu yang berhubungan dengan hilangnya isterinya.
Hati Ki Demang itu menjadi semakin pudar ketika ia memasuki ruangan
dalam rumahnya, di lihatnya ibu Sindangsari masih duduk di amben
tengah. Agaknya perempuan yang telah kehilangan anak satu-satunya
itupun tidak dapat tidur semalamsuntuk. Tetapi ibu Sindangsari itu
sama sekali tidak bertanya sesuatu kepada Ki Demang. Ia tahu, bahwa
Ki Demang tidak menemukan anaknya. Kalau ia menemukan Sindangsari,
maka Sindangsari, pasti sudah dibawanya pulang. Namun justru karena
itu, Ki Demang menjadi semakin merasa, seakan-akan ibu Sindangsari
meletakkan semua kesalahan kepadanya. Perlahan-lahan Ki Demang
memasuki biliknya. Ia mencoba berbaring sejenak tanpa berganti
pakaian. Tanpa mencuci kaki dan tanpa melepaskan kerisnya dari
lambungnya. Tetapi hatinya seakan-akan justru menjadi semakin gelap.
Atap rumahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun ditatapnya, sama
sekali tidak memberikan kesegaran apapun baginya. Seperti tidak
disadari Ki Demang itupun berdiri dan berjalan sambil menundukkan
kepalanya ke bilik isterinya. Di muka pintu ia tertegun sejenak.
Memang tidak lajim, bahwa sepasang suami isteri mempunyai dua bilik
yang berbeda. Tetapi demikianlah yang dialaminya. Sejak isterinya
yang pertama sampai isterinya yang ke enam, Ki Demang selalu tidur
di biliknya sendiri. Dan kini, bilik Sindangsari itu menjadi sepi.
Sepi sekali. Apalagi hatinya sendiri. Tetapi Ki Demang tidak
memasuki bilik yang kosong itu. Ia kemudian melangkah terus menuju
ke dapur. Ia sendiri tidak tahu, apakah yang sudah membawanya
kesana. Di dapur ia melihat Nyai Reksatani yang agaknya baru saja
bangun duduk di amben yang besar. Beberapa orang perempuan sudah
mulai menyalakan api dan merebus air. Tetapi Ki Demang tidak
mengucapkan sepatah katapun juga. Ia melangkah terus ke halaman
belakang. Namun kemudian ia kembali lagi ke dalam biliknya dan
mencoba sekali lagi untuk berbaring. Sejenak kemudian maka terdengar
ayam jantan mulai berkokok untuk yang terakhir kalinya di malam itu.
Bersahutsahutan dari kandang yang satu ke kandang yang lain,
memenuhi seluruh Kademangan Kepandak. Beberapa rang yang mengawasi
lorong-lorong yang keluar dari Kademangarpun mulai meninggalkan
tempat mereka. Kepada beberapa orang petani yang sudah ada di sawah
mereka berpesan, apabila mereka melihat seseorang yang mereka
curigai, kalau perlu sebaiknya orang itu ditahan sejenak atau dibawa
ke Kademangan. Ketika matahari mulai menyembulkan dirinya di
punggung bukit maka hampir semua orang yang bertugas mengawasi
lorong-lorong dan jalan-jalan keluar dari Kademangan Kepandak telah
berada di Kademangan kembali, termasuk Ki Jagabaya dan Ki Reksatani.
"Sekarang kalian beristirahat sebentar. Kalian dapat mandi, makan
dan berganti pakaian. Nanti, sebagian dari kalian akan mengelilingi
Kademangan ini sekali lagi. Aku sendirilah yang akan memimpin
pencaharian itu. Kalau hari ini kami tidak menemukannya disini, maka
besok kita akan pergi ke Kademangan tetangga. Kita akan minta
bantuan mereka untuk mencari Sindangsari di daerah mereka
masing-masing" Dada mereka yang mendengarnya menjadi berdebar-debar.
Dalam keadaan demikian, akan mudah sekali timbul salah paham dengan
daerah tetangga. Tetapi di daerah Selatan ini, tidak ada seorang
Demangpun yang dapat mengimbangi ilmu Ki Demang di Kepandak. Hal ini
disadari pula oleh Ki Demang di Kepandak, sehingga justru karena
itu, hatinya yang buram dapat menumbuhkan banyak masalah di daerah
Selatan ini. Ki Jagabaya yang hadir juga di pendapa, hanya dapat
menarik nafas dalam-dalam. Semua persoalan yang dapat tumbuh akan
menjadi bebannya pula. Tetapi dalam keadaan yang demikian ia tidak
berani langsung mempersoalkannya. "Mudah-mudahan setelah sehari ini
Ki Demang menjadi agak tenang" berkata Ki Jagabaya di dalam hatinya
"sehingga aku mendapat kesempatan untuk memberikan pendapatku" Dalam
pada itu Ki Reksatani hanya dapat menundukkan kepalanya saja.
Meskipun ia juga menjadi berdebar-debar, bahwa persoalan ini akan
berkembang semakin luas, namun ia tidak dapat melangkah surut.
"Adalah kebetulan sekali kalau kakang Demang menjadi gila" katanya
di dalam hati "mungkin ia akan mengalami bencana di dalam
kegilaannya, atau ia harus berhadapan dengan pasukan yang pasti akan
dikirim oleh Sinuhun di Mataram, atau setidak-tidaknya oleh para
Senapati yang berwenang di daerah Selatan ini, apabila di daerah ini
timbul kerusuhan yang tidak teratasi. Para Demang yang merasa
dirugikan pasti akan menghadap para pemimpin pemerintah yang
berkewajiban atas daerah ini. Setidak-tidaknya seorang Bupati akan
menaruh perhatian" Demikianlah ketika matahari telah menjadi semakin
tinggi maka Ki Demangpun kemudian mempersiapkan orangorangnya. Ia
hanya mengambil beberapa orang saja untuk menyertai Ki Reksatani, Ki
Jagabaya, Ki Kebayan dan beberapa orang bebahu di tambah beberapa
orang saja, di antara dari para pengawal Kademangan. Anak-anak muda
yang tidak ikut serta terpilih untuk dikirim ke Mataram. "Kita akan
menjelajahi Kademangan ini sekali lagi. Meskipun harapan untuk
menemukannya tipis sekali, tetapi aku akan mencobanya sebelumaku
akan melangkah keluar" Orang-orang yang hadir di pendapa itu
menganggukanggukkan kepalanya. "Apakah kalian sudah siap?" bertanya
Ki Demang. "Sudah Ki Demang" Ki Jagabayalah yang menyahut. "Baiklah.
Kali ini kita akan berkuda pula. Kita akan mulai dari ujung Barat.
Kemudian sampai ke ujung Timur" "Apakah kita akan memasuki setiap
rumah?" Ki Demang menjadi bingung sejenak. Ia tidak tahu, cara yang
manakah yang akan ditempuhnya. Namun kemudian ia menggelengkan
kepalanya. Katanya "Tidak. Kita tidak akan memasuki setiap rumah.
Kita akan menjelajahi lorong-lorongnya saja. "Tetapi Ki Demang,
apakah yang dapat kita temui di lorong-lorong itu" "Kita akan
memasuki rumah yang kita curigai. Aku akan menemui tetua padukuhan.
Kalau ternyata isteriku di sembunyikan di padukuhannya, maka aku
akan menghukumnya. Mereka, sesudah hari ini, harus membantu berusaha
mencari Sindangsari di daerah masing-masing, Kalau dalam waktu
sepekan Sindangsari tidak dapat di ketemukan dengan cara itu di
daerah ini, aku akan mengambil sikap lain, sementara mulai besok aku
akan mencarinya keluar daerah" Demikianlah maka setelah semuanya
siap, Ki Demangpun kemudian berangkat di iringi oleh beberapa orang
kepercayaannya diatas punggung kuda. Seperti pasukan yang hendak
berperang, mereka mulai perjalanan mereka ke arah Barat. Dari ujung
Baratlah kemudian mereka memasuki setiap padukuhan satu demi satu.
Ki Demang sendiri telah menemui setiap tetua padukuhan. Ia minta
mereka membantunya mencari isterinya. Tetapi ia juga mengancam
hukuman yang seberat-beratnya apabila ternyata Sindangsari kelak
diketemukan di padukuhan itu oleh orang lain, bukan oleh orang
padukuhan itu sendiri. "Kami akan membantu Ki Demang. Kami akan
meneliti lebih teliti lagi" berkata salah seorang tetua padukuhan.
"Terima kasih. Aku segera menunggu keterangan. Aku memberi waktu
sepekan sebelum aku menempuh kebijaksanaan lain" Para tetua
padukuhan itu hanya menarik nafas dalamdalam: Namun terbayang di
rongga mata mereka, betapa mereka menjadi cemas menghadapi keadaan
itu. Ternyata pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang cepat dapat
diselesaikan. Ki Demang sendiri sama sekali tidak tampak letih
meskipun semalam suntuk ia tidak tidur sama sekali. Ia masih dapat
berbicara dengan lantang kepada setiap tetua padukuhan, bahkan
sekali-sekali membentak-bentak. Namun kemudian dengan rendah hati ia
mengucapkan terima kasih atas semua kesanggupan para tetua padukuhan
itu. Kelompok orang-orang berkuda itu semakin lama semakin merayap
kesebelan Timur. Tidak ada padu-kuhan yang tidak terlampaui. Tidak
ada seorang tetua padukuhanpun yang tidak ditemui oleh Ki Demang.
Ketika matahari naik ke puncak mereka telah hampir sampai ke
tengah-tengah Kademangan Kepandak. Tetapi Ki Demang tidak berhenti.
Ia masih tetap meneruskan usahanya. Kadang-kadang kuda-kuda mereka
itu berpacu di tengahtengah bulak yang mengantarai padukuhan yang
satu dengan padukuhan yang lain. Namun kemudian menyusuri
jalan-jalan sempit perlahan-lahan. Semakin rendah matahari,
merekapun menjadi semakin jauh ke Timur. Di hadapan mereka kini
tinggallah dua padukuhan lagi. Padukuhan kecil. Karena itu, maka Ki
Demang tidak lagi menjadi tergesa-gesa meskipun ia tetap gelisah.
Sejenak Ki Demang memandang kedua padukuhan yang tidak begitu jauh
letaknya itu berganti-ganti. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam
seolah-olah ingin menekan semua perasaannya yang sedang bergejolak.
Bahkan seolah-olah ia sudah meyakini, bahwa ia tidak akan dapat
menemukan Sindangsari di padukuhan itu. Tetapi setidak-tidaknya ia
sudah dapat menemui tetua dari kedua padukuhan itu untuk mengawasi
daerah masing-masing. Tetapi tiba-tiba Ki Demang itu tertegun
sejenak. Dari kejauhan ia melihat debu yang mengepul. Semakin lama
semakin dekat. Bukan saja Ki Demang, namun orang-orang lain di dalam
rombongannyapun terkejut puia. Ki Jagabaya dan Ki Reksatani yang
berada di belakangnya, tiba-tiba mendesak maju dan berhenti di
samping Ki Demang. "Sekelompok orang-orang berkuda" desis Ki
Jagabaya. "Ya" sahut Ki Demang "sekelompok orang-orang berkuda. Ki
Reksatanipun menjadi tegang pula. Katanya "Siapa kah mereka itu?" Ki
Demang menggelengkan kepalanya "Tidak seorangpun dari antara kita
yang tahu, siapakah mereka itu" Merekapun kemudian terdiam. Dengan
tegangnya mereka melihat debu yang mengepul semakin tinggi dan
semakin dekat. "Kita menunggu disini" berkata Ki Demang "agaknya
mereka datang ke arah ini" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan
kepalanya. Beberapa orang yang ada di belakang Ki Jagabayapun
menjadi tegang pula. Mereka tidak melihat sekelompok orang-orang
berkuda sampai sebanyak itu. "Aneh" berkata Ki Demang "apakah yang
datang itu sepasukan prajurit dari Mataram?" Tidak seorangpun yang
menyahut. Mereka terpancang pada debu yang semakin tinggi mengepul
diudara. "Duapuluh lima ekor kuda" berkata salah seorang. "Lebih
dari itu" sahut Ki Jagabaya "empat puluh kurang lebih" "Ya, empat
puluh kurang sedikit" sahut Ki Reksatani. Dengan hati yang
berdebar-debar Ki Demang berhenti di tengah Jalan menunggu
orang-orang berkuda itu mendekat. Namun demikian, karena hatinya
sendiri memang lagi gelap, iapun segera menanggapi kedatangan
orang-orang berkuda itu dengan hatinya yang gelap itu pula. "Apabila
kita berhadapan dengan orang-orang jahat yang barangkali telah
menculik Sindangsari, salah seorang dari kalian harus segera kembali
ke Kademangan. Siapkan semua orang, terutama para pengawal untuk
membantu kita disini. Jumlah mereka lebih banyak dari jumlah kita
yang ada sekarang" Ki Jagabaya mengangguk anggukkan kepalanya.
Katanya "Baik Ki Demang. Dua orang akan melakukan tugas itu" Ki
Demangpun kemudian berdiam diri sejenak, namun wajahnya menjadi
semakin tegang. Kuda-kuda itupun menjadi semakin dekat pula. Dengan
nada yang dalam Ki Demang berkata "Bukankah mereka kesatuan prajurit
Mataram?" "Ya" sahut Ki Jagabaya. "Apakah yang akan mereka lakukan?
Mereka datang dalam suatu kelompok yang besar, pasukan berkuda pula"
Ki Jagabaya tidak menjawab. Tetapi kerut-merut di keningnya menjadi
semakin dalam. Pasukan itupun kemudian menjadi semakin dekat, dan Ki
Demang serta orang-orangnya menjadi semakin jelas, bahkan akhirnya
mereka mengenali beberapa wajah dari pasukan itu. "Anak-anak kita"
Ki Jagabaya hampir berteriak "anak-anak kita yang selama ini kita
tunggu-tunggu" Wajah Ki Jagabaya tiba-tiba menjadi cerah. Hampir
saja ia bergerak menyongsong pasukan itu. Tetapi Ki Demang
menahannya sambil berkata "Kita menunggu disini" Wajah Ki
Reksatanipun menjadi tegang. Kedatangan mereka pasti akan
berpengaruh bagi tata kehidupan Kademangan Kepandak. Ia tidak dapat
meramalkan, perubahan yang manakah yang bakal terjadi. Apakah yang
akan menguntungkannya, atau sebaliknya. Seorang Senopati prajurit
Mataram yang ada di paling depan kemudian mengangkat tangannya.
Beberapa langkah di hadapan Ki Demang ia menghentikan kudanya.
Sambil tersenyum ia bertanya "Ki Demang di Kepandak. Bukankah aku
berhadapan dengan Ki Demang di Kepandak" "Ya tuan" berkata Ki Demang
"tuan berhadapan dengan Demang di Kepandak" "Nah, terima kasih. Dari
manakah kalian tahu, bahwa hari ini aku akan mengantarkan anak-anak
Kepandak kembali, setelah menunaikan tugasnya sebaik-baiknya" Ki
Demang mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia menyahut "kami
tidak tahu bahwa tuan akan datang" "Tetapi agaknya Ki Demang telah
mempersiapkan suatu penyambutan diperbatasan Kademangan" Ki Demang
menjadi bingung sejenak. Namun kemudian ia menjawab "Tidak tuan. Ini
adalah suatu kebetulan saja. Kami sama sekali tidak tahu bahwa
anak-anak kami sudah kembali" "Kami sudah datang beberapa hari yang
lampau. Tetapi sengaja kami tidak memberitahukan kepada kalian
disini, supaya tidak menimbulkan ketegangan. Dan hari ini aku
mendapat tugas untuk menyerahkan mereka kembali kepada Ki Demang" Ki
Demang menjadi tegang. Dan tiba-tiba ia bertanya. Jadi pasukan ini
sudah datang beberapa hari yang lampau?" "Ya. Beberapa hari yang
lampau" Ki Demang terdiam sejenak. Dengan sorot mata yang tajam,
dipandanginya wajah wajah anak Kepandak itu satu demi satu. Meskipun
sedikit tertutup oleh orang yang berkuda di depannya, namun Ki
Demang segera mengenal satu di antara mereka "Pamot " Tiba-tiba saja
dada Ki Demang berdesir. Sejenak matanya terpaku pada anak muda itu.
Anak muda yang tampak agak kekurus-kurusan dibandingkan ketika ia
berangkat dari Kademangan Kepandak beberapa bulan yang lampau. Pamot
yang merasa tatapan mata Ki Demang seolah-olah terhunjam ke
jantungnyapun kemudian menundukkan kepalanya. Ia tidak mengerti,
perasaan apakah yang sebenarnya berkecamuk di dalam hati Demang di
Kepandak itu. "Tuan" berkata Ki Demang kemudian "kalau anak-anak ini
sudah kembali sejak beberapa hari yang lalu, apakah sebabnya tuan
tidak memberi tahukan hal itu kepada kami, setidak-tidaknya pimpinan
Kademangan, kalau hal itu tuan cemaskan akan dapat menimbulkan
ketegangan. Kami, para pemimpin dari Kademangan ini pasti akan dapat
memperhitungkan, manakah yang baik dan manakah yang tidak baik kami
lakukan" Senapati Mataram yang berada di paling depan itu
mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian menjawab "Maaf Ki Demang.
Anak-anak masih perlu beristirahat. Kalau keluarga mereka tahu,
bahwa mereka sudah ada di Mataram, maka mereka akan
berbondong-bondong pergi untuk menengok keluarganya itu. Dengan
demikian maka tidak akan ada keterangan yang pasti tentang diri
mereka. Mungkin ada yang tidak dapat di ketemukan diantara yang
datang, mungkin ada yang masih terlampau payah, ada yang sakit dan
sebabsebab yang lain. Di waktu yang singkat, kami berusaha untuk
menyusun laporan yang pasti tentang anak-anak dari Kepandak yang
hari ini akan kami serahkan kembali kepada Ki Demang" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sorot matanya seakan-akan
sama sekali tidak menanggapi kata-kata Senapati itu. Bahkan di dalam
hatinya ia berkata "Di dalam beberapa hari itu. Pamot dapat berbuat
apa saja. Ia dapat lari dari kesatuannya untuk beberapa lama. Di
saat-saat itulah ia mendapat kesempatan untuk mengambil Sindangsari
setelah ia berhasil menghubunginya dahulu. Mungkin ia mempergunakan
orang lain untuk menyampaikan maksudnya kepada Sindangsari dan
Sindangsari telah membantu pula usaha itu" "Ki Demang" berkata
Senapati itu, sehingga Ki Demang agak terperanjat karenanya "Kenapa
Ki Demang agak termangu-mangu menerima anak-anak ini kembali"
"Tidak, tidak" Ki Demang agak tergagap "tetapi aku sedang memikirkan
beberapa masalah yang timbul di dalam Kademangan ini. Kami akan
menerima dengan senang hati kedatangan anak-anak kami ini, dan kami
akan menerimanya dengan resmi di halaman Kademangan" "Terima kasih"
sahut Senapati itu "jadi, apakah kami dapat meneruskan perjalanan
kami ke Kademangan?" "Tentu tuan, tetapi…" kata-kata Ki Demang
terputus. "Tetapi…." Senapati itu mengulang. Ki Demang tidak segera
menyahut. Setiap kali tatapan matanya menyambar wajah Pamot yang
agak pucat. Pamotpun menjadi berdebar-debar pula. Ia merasa tatapan
mata Ki Demang itu mengandung arti yang mendebarkan jantungnya.
Tetapi ia tidak tahu, apakah yang akan dilakukan Ki Demang di
Kepandak itu atasnya. "Apakah ada sesuatu yang kurang wajar?"
bertanya Senapati itu "atau karena Ki Demang merasa kecewa, bahwa
kami tidak memberitahukan dahulu kedatangan anak-anak ini? Aku kira
Ki Demang dapat mengerti alasan kami" "Bukan, bukan itu" jawab Ki
Demang. Sejenak ia merenung, namun kemudian ia berkata "Tuan,
apaboleh buat, apakah aku dapat berterus-terang" "Tentu, silahkan"
Tetapi sebelum Ki Demang berkata sesuatu. Ki Jagabaya telah
menggamitnya sambil berkata "Ki Demang, apakah tidak lebih baik kita
terima dahulu anak-anak itu di halaman Kademangan? Aku tahu bahwa Ki
Demang tergesa-gesa mengemukakan persoalan Ki Demang sekarang.
Agaknya itu kurang bijaksana" Ki Demang berpaling kepada Ki
Jagabaya. Sejenak ia terdiam namun kemudian ia berkata "Tidak Ki
Jagabaya. Lebih baik bagiku apabila aku mengemukakan persoalanku
sekarang. Kami akan menerima anak-anak yang sama sekali bersih dari
segala kejahatan yang mungkin dilakukannya" "Tetapi bukankah itu
masih belum pasti. Bukankah Ki Demang juga baru menyangka bahwa hal
itu dilakukannya?" potong Ki Jagabaya yang sedikit banyak dapat
membaca perasaan yang terpahat di hati Ki Demang di Kepandak.
"Tidak" Ki Demang menggelengkan kepalanya "Aku akan menerima
anak-anak kami. Tetapi aku akan menyisihkan dahulu anak yang mungkin
berbuat suatu kejahatan" "Ki Demang" bertanya Senapati yang memimpin
anak-anak di Kepandak itu "apakah yang Ki Demang maksudkan?" "Tuan"
berkata Ki Demang "sesuatu telah terjadi di Kademangan ini. Dan aku
telah mencurigai, bahwa hal itu dilakukan oleh salah seorang dari
anak-anak kami itu" "Apakah yang sudah terjadi? Dan bagaimana
mungkin anak-anak ini dapat melakukannya?" "Semula aku memang t idak
menyangka. Tetapi setelah aku mendengar bahwa anak-anak ini telah
beberapa hari berada di Mataram, maka kecurigaankupun segera tumbuh"
"Apakah yang sudah terjadi? "Jarak antara Mataramdan Kepandak tidak
terlampau jauh" "Ya, tetapi apakah yang sudah terjadi?" "Tuan" Ki
Jagabaya memotong "agaknya hal itu kurang baik apabila kita
bicarakan sekarang" Kemudian kepada Ki Demang Ki Jagabaya itu
berkata "Cobalah Ki Demang menahan hati sedikit. Kita akan menerima
mereka dahulu di Kademangan. Anak-anak yang baru saja menunaikan
tugas negara. Bukan sekedar melakukan perjalanan tamasya ke daerah
yang belumpernah dilihatnya" "Aku tahu. Aku tahu" tiba-tiba Ki
Demang membentak "Aku akan mengadakan malam-malam penyambutan tujuh
hari tujuh malam. Semua pertunjukan yang dibatalkan akan dilanjutkan
untuk menyambut anak-anak kami, kebanggaan kami. Tetapi yang seorang
dari antara mereka harus diserahkan kepadaku lebih dahulu. Aku akan
meyakinkannya, apakah benar-benar ia tidak bersalah. Kalau aku
kemudian yakin ia tidak bersalah, aku akan melepaskannya. Tetapi
kalau aku tidak yakin, aku akan menggantungnya di regol Kademangan"
"Ki Demang" potong Senapati itu "apakah sebenarnya yang sudah
terjadi? "Tetapi Ki Demang terlampau tergesa-gesa karena Ki Demang
membiarkan perasaan Ki Demang berbicara" berkata Ki Jagabaya
mendahului. "Diam, diam kau" t iba-tiba Ki Demang berteriak. Suasana
itupun menjadi tegang. Ki Demang duduk diatas punggung kudanya
seperti seorang yang sedang menghadapi sepasukan musuh yang kuat.
Baik pada pengikut Ki Demang di Kepandak, maupun anakanak Kepandak
yang baru saja datang dari Mataram itu seolah-olah telah membeku di
tempatnya. Apalagi Pamot. Kini ia merasa, bahwa yang seorang itu
pastilah dirinya yang selama ini selalu diawasi oleh Ki Demang
dengan tatapan mata yang tajam. "Ki Demang" berkata Senapati itu
kemudian dengan sareh "agaknya sesuatu memang sudah terjadi sehingga
Ki Demang agaknya menjadi sangat terpengaruh karenanya. Sikap Ki
Demang kali ini benar-benar mengherankan. Kami sudah lama mendengar
nama Ki Demang di Kepandak. Tetapi ternyata ketika anak-anaknya
datang dari daerah yang paling gawat Ki Demang sedang diamuk oleh
suatu goncangan perasaan sehingga bersikap agak kekanak-kanakan"
"Jangan menghina tuan" potong Ki Demang "Aku hormati tuan sebagai
tamu kami. Kalau tuan mengetahui persoalan kami, maka aku kira tuan
tidak akan mengatakan demikian" "Baiklah Ki Demang, aku ingin
mendengar persoalan itu. Kalau Ki Demang memang merasa perlu
menyampaikannya sekarang, akupun tidak akan berkeberatan" "Baiklah"
sahut Ki Demang "Aku memang akan mengatakannya sekarang. Aku tidak
mau anak itu sempat melarikan dirinya" "Katakanlah" "Tuan, ternyata
istriku telah hilang dari Kademangan" "He" semua orang yang
mendengar itupun terkejut karenanya. Terlebih-lebih lagi Pamot.
Namun ia masih dapat menahan dirinya. Bahkan dengan singkat ia dapat
menangkap persoalan yang tengah berkecamuk di kepala Ki Demang di
Kepandak. Agaknya Ki Demang telah mencurigainya. Di dalam waktu
beberapa hari sepulangnya dari Betawi, ia telah dituduh melakukan
perbuatan itu, melarikan Sindangsari. Tetapi Pamot masih tetap
berdiam diri, menahan segala perasaan yang bergejolak di dalam
dadanya. "Ki Demang" berkata Senapati itu "Aku ikut berprihatin,
bahwa Nyai Demang di Kepandak telah hilang. Banyak masalah yang akan
dihadapi oleh Ki Demang" "Ya. Kalau tuan menjumpai kami disini
sekarang, kami memang sedang mencari isteriku yang hilang itu. Kami
datangi setiap padukuhan dan setiap pemimpin dan tetua padukuhan.
Kami minta pertolongan mereka untuk mencari di daerah dan di
padukuhan masing-masing. Sehari kemarin Ki Jagabaya dan para
pengawal memasuki setiap rumah di seluruh Kademangan Kepandak.
Tetapi isteriku itu masih belum dapat diketemukan. Tetapi kami belum
tahu bahwa anak-anak kami sudah datang sejak beberapa hari yang
lalu. Kalau kami tahu, mungkin kami tidak perlu melakukan semuanya
itu" "Maksud Ki Demang?" bertanya Senapati itu. "Kami memerlukan
seseorang dari anak-anak itu" "Apakah Ki Demang mencurigainya?" "Ya"
"Kenapa?" Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian
berkata "Setiap orang di Kepandak telah mengetahuinya, sebelum
perempuan itu menjadi isteriku, ia sudah berhubungan dengan anak itu
lebih dahulu" Senapati itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia
menggeleng-gelengkan kepalanya "Tidak mungkin Ki Demang" "Tuan
jangan mendahului kenyataan yang akan dapat dibuktikan nant i"
"Tetapi siapakah anak itu?" Ki Demang terdiam sejenak. Dipandanginya
wajah-wajah yang tegang di seputarnya. Apalagi ketika ia memandang
wajah anak-anak yang baru saja kembali dari Betawi itu. "Katakan Ki
Demang" berkata Senapati itu "anak-anak ini adalah tanggung jawabku.
Mungkin aku akan menaruh curiga pula kalau Ki Demang menyebut nama
anak yang bengal diantara mereka" Ki Demang masih ragu-ragu. "Aku
kira hal ini kurang bijaksana" potong Ki Jagabaya "Aku tetap
menganggap, bahwa sebaiknya kita pergi ke Kademangan lebih dahulu"
"Dan membiarkan anak itu lari?" bentak Ki Demang di Kepandak.
"Akulah taruhannya" Ki Jagabaya masih juga menjawab "kalau anak itu
lari, akulah yang akan digantung di regol Kademangan" Mata Ki Demang
menjadi merah padam. Sejenak ia justru terbungkam. Ki Jagabaya tidak
pernah membantah perintah dan pendapatnya. Namun tiba-tiba kini ia
mempunyai pendirian sendiri yang dipertahankannya. "Biarlah" justru
Senapati dari Mataram itulah yang kemudian menjawab "biarlah Ki
Demang mengatakannya. Aku dapat mengerti sekarang, kenapa Ki Demang
telah diguncang oleh perasaannya. Bagi seorang laki-laki hal itu
memang dapat menumbuhkan suatu pergolakan jiwa yang sangat dahsyat"
Ki Jagabaya memandang Senapati itu sejenak. Namun kemudian ia
berkata "Jika demikian, terserahlah kepada tuan" Senapati itu
mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak berbicara lagi. Ia
hanya sekedar menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Ki Demang di
Kepandak. "Tuan" berkata Ki Demang di Kepandak "terserahlah pada
penilaian tuan. Aku memang ingin mengambil salah seorang dari
anak-anak itu. Aku berjanji bahwa aku tidak akan berbuat lebih
daripada mencari keterangan tentang isteriku yang hilang itu"
"Siapakah anak itu? Aku kira tuan sudah sampai pada suatu taraf
mencurigainya" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
"Baiklah. Aku memang mencurigainya" "Ya, siapakah namanya" "Pamot "
Senapati itu terkejut. Tetapi orang-orang lain, baik ia pengikut Ki
Demang, maupun kawan-kawan Pamot sama sekali tidak terkejut lagi
karenanya. Dan merekapun saling berpandangan sejenak, kemudian
seperti berjanji mereka memandang wajah Pamot yang menjadi merah
karenanya. Senapati yang terkejut itu sejenak duduk terdiam diatas
punggung kudanya. Kedua prajurit pengawalnyapun menjadi
terheran-heran pula. Mereka mengenal Pamot sebagai seorang anak yang
baik. Anak yang tekun dan sama sekali tidak menunjukkan
kebengalannya. "Apakah Ki Demang tidak keliru?" bertanya Senapati
itu. "Tidak tuan, Aku yakin" "Apakah Ki Demang sekedar mencari
keterangan, atau karena Ki Demang sudah yakin bahwa Pamot sudah
bersalah?" "Sebagian aku yakin" "Kenapa?" "Semua orang di Kepandak
akan dapat memberikan alasannya kenapa aku mencurigainya, dan bahkan
sebagian meyakininya, setelah aku tahu, bahwa sejak beberapa hari ia
sudah berada di Mataram" "Tetapi aku belum tahu. Sekarang katakanlah
kepadaku, apakah alasan Ki Demang" "Aku sudah mengatakan" "Jadi,
yang Ki Demang maksudkan adalah laki-laki yang sudah mengadakan
hubungan dengan Nyai Demang sebelum ia menjadi isteri Ki Demang?"
"Ya" "Kemudian itu merupakan alasan dan bahkan hampir suatu
keyakinan bahwa ia bersalah?" "Ya" Senapati itu menggelengkan
kepalanya "Ki Demang keliru. Meskipun anak-anak itu datang beberapa
hari yang lampau, tetapi mereka sama sekali tidak boleh keluar dari
barak-barak mereka. Sama sekali tidak. Pamot juga tidak" "Itu adalah
peraturan yang ditentukan oleh para pemimpin pasukan. Tetapi
anak-anak dapat saja lari meninggalkan kesatuan tanpa diketahui.
Kalau kemudian ia kembali lagi, maka seolah-olah ia masih tetap
berada di dalam pasukannya" "Kawan-kawannya akan dapat
mengatakannya" Ki Demang terdiam sejenak. Namun dengan berat ia
kemudian berkata "Anak-anak kadang-kadang mempunyai setia kawan yang
kuat" "Memang mungkin. Tetapi aku yakin bahwa Pamot tidak
melakukannya. Ia tetap di dalampengawasan para prajurit" "Itu akan
ternyata kemudian tuan. Tetapi aku sekarang memerlukannya. Aku akan
memeriksanya sendiri" Tiba-tiba sebelum Senapati yang memimpin
anak-anak Kepandak itu menjawab, seorang anak muda yang berjambang
lebat maju ke depan, ke samping Senapati itu. Dengan
bersungguh-sungguh ia berkata "Ki Demang. Aku adalah salah seorang
dari mereka yang ikut bersama Pamot. Aku adalah tetua anak-anak yang
dari Gemulung" Ki Demang mengerutkan keningnya. Anak muda itu adalah
Punta yang kini memelihara jambang dan janggutnya yang lebat.
"Punta" desis Ki Demang. "Ya Ki Demang. Aku ingin menambah
keterangan tentang Pamot. Ia berada di dalam satu barak dengan aku,
bahkan ia berada di bawah pengawasanku. Kalau Ki Demang bermaksud
menuduh Pamot setelah ia kembali dari perjalanannya, maka aku
bertanggung jawab, bahwa hal itu tidak dilakukannya" Sejenak Ki
Demang menjadi tegang. Tetapi kemudian ia berkata "Itu akan terbukti
kelak. Tetapi aku akan memeriksanya. Aku akan memeriksanya. Aku
adalah Demang di Kepandak" "Benar Ki Demang" sahut Punta "tetapi
akulah yang langsung mempertanggung jawabkannya karena ia termasuk
di dalam kelompokku. Akulah pemimpin kelompok itu" "Aku tidak
peduli" Ki Demang tiba-tiba berteriak "kalian dapat saja saling
melindungi. Tetapi aku minta, Pamot diserahkan kepadaku" "Sayang Ki
Demang" berkata Senapati Mataram "selama ia masih menjadi tanggung
jawabku, aku t idak dapat berbuat demikian. Aku tidak akan
menyerahkan, anak anak Kepandak, seorang demi seorang. Aku akan
menyerahkannya semuanya sekaligus" "Tidak. Aku tidak dapat menerima
pasukan yang di dalamnya terdapat seorang penjahat. Aku akan
menyingkirkan penjahat itu lebih dahulu. Kemudian aku akan menerima
yang lain dengan segala macam upacara" Ki Jagabaya hanya dapat
menarik nafas saja. Ketika ia melihat wajah Ki Reksatani Ki jagabaya
menjadi heran. Ia melihat mata itu seakan-akan bercahaya. "Apakah
peristiwa ini sangat menarik bagi Ki Reksatani?" bertanya Ki
Jagabaya di dalam hatinya "atau seperti kakaknya ia sudah langsung
menghukum Pamot yang dianggapnya bersalah melarikan Nyai Demang di
Kepandak?" Dalam pada itu Ki Jagabaya mendengar Senapati dari
Mataram itu berkata "Ki Demang. Ki Demang jangan tenggelam di dalam
arus perasaan yang sedang bergejolak. Ki Demang sebaiknya mencoba
untuk mempergunakan nalar. Aku mengerti, betapa Ki Demang sedang
diguncang oleh peristiwa ini. Tetapi Ki Demang jangan kehilangan
pertimbangan yang bening" "Aku sudah mempertimbangkan" jawab Ki
Demang "anak itu aku minta dan akan aku bawa langsung ke Kademangan.
Itu sudah menjadi keputusanku. Keputusan Demang di Kepandak" "Sayang
Ki Demang. Aku tidak dapat memberikannya sekarang sebelum aku
menyerahkan semuanya sama sekali. Setelah itu, setelah semua
diterima dengan baik, maka terserahlah kepada Ki Demang, apakah Ki
Demang akan memeriksanya. Itupun harus masih dibatasi menurut
peraturan yang berlaku. Perlindungan kepada setiap orang masih harus
mendapat perhatian, sehingga Ki Demang tidak akan dapat berbuat
sewenang-wenang" "Tuan" berkata Ki Demang "tuan adalah seorang
Senapati. Tuan berkuasa atas satu pasukan. Tetapi kekuasaan di
Kademangan Kepandak ada di tanganku. Maaf, aku tidak ingin menerima
campur tangan orang lain" Sejenak Senapati itu terdiam. Wajahnya
menegang. Namun kemudian, sebagai seorang Senapati yang sudah masak,
ia justru tersenyum. Katanya "Ya, kau benar Ki Demang. Aku berkuasa
atas suatu pasukan. Pasukan itu adalah anak anak Kepandak ini.
Karena itu, aku wajib melindungi anak-anak itu. Kalau Ki Demang
tidak dapat menerima mereka sekarang baiklah, aku akan membawa
mereka kembali ke Mataram" "Tidak. Itu tidak mungkin" teriak Ki
Demang "dan tuan akan mencoba menyembunyikan anak itu?" Sekali lagi
wajah Senapati itu menegang. Sejenak ia berdiam diri memandang
wajah-wagah orang Kepandak yang menegang pula. Namun dalam pada itu,
sebelum ia menjawab, Pamot telah maju pula. Sambil menganggukkan
kepalanya ia berkata "Ki Demang. Adalah pantas sekali kalau Ki
Demang telah mencurigai aku. Tetapi meskipun demikian, Ki Demang
harus memperhatikan kemungkinan yang dapat terjadi. Ki Demang sudah
mendengar penjelasan pimpinan pasukan kami, dan Ki Demang sudah
mendengar keterangan Punta. Kalau Ki Demang masih tidak mempercayai
keterangan-keterangan itu, maka terserahlah kepada Ki Demang"
kemudian ia berpaling kepada Senapati dari Mataram "tuan, biarlah Ki
Demang melakukan kehendaknya. Aku tidak berkeberatan karena aku sama
sekali tidak merasa bersalah" Tetapi Senapati itu menggelengkan
kepalanya "Tidak. Itu tidak mungkin. Aku masih bertanggung jawab
atas kalian" Ternyata Ki Jagabaya tidak dapat menahan hatinya lagi
dan berkata kepada Ki Demang di Kepandak "Ki Demang. Aku masih ingin
mempersilahkan Ki Demang untuk bersabar. Ki Demang memang sebaiknya
menerima anak-anak kita. Kemudian terserahlah, apa yang akan
dilakukan kemudian" Wajah Ki Demang yang merah menjadi semakin
merah. Sejenak dipandanginya wajah Ki Jagabaya. Kemudian wajahwajah
yang lain berganti-ganti. Namun sejenak kemudian ia berkata "Tidak.
Aku tidak ingin anak itu melarikan diri. Aku tidak memerlukan orang
lain untuk menjadi gantinya. Aku inginkan anak itu" "Tetapi ia tidak
akan melarikan diri" sahut Ki Jagabaya. "Aku tidak peduli" Ki Demang
berteriak "Aku memerlukannya sekarang" Semua wajah yang tegang
tambah menegang. Pamot justru menjadi terbungkam karenanya. Ia tidak
mengerti apa yang harus dilakukannya. Dalam pada itu Ki Demangpun
berkata pula kepada Senapati Mataram itu "Tuan. Aku terpaksa
melakukannya sekarang. Aku memerlukan anak itu. Aku tidak mau ia
terlepas dari tanganku karena kejahatan yang tidak termaafkan itu"
"Ki Demang terlampau tergesa-gesa mengambil kesimpulan" "Aku tidak
perduli anggapan orang lain atas keputusanku ini. Tetapi ia harus
ditangkap sekarang" "Itu tidak mungkin" "Aku akan melakukannya "
"Aku tidak mengijinkan" Sorot mata Ki Demang kini telah benar-benar
menyala. Ia maju setapak. Sambil memegang kendali kudanya dengan
tangan kirinya, ia mengacukan tangan kanannya sambil berkata lantang
"Tidak seorangpun dapat menghalangi keputusan Demang di Kepandak.
Tidak seorangpun dapat menahan kemauannya. Kalau tuan tidak
memberikannya, aku akan mempergunakan kekerasan. Tuan pasti sudah
mendengar, siapakah Demang di Kepandak" Kini wajah Senapati itupun
menjadi merah. Namun ia masih dapat menahan hatinya. Katanya "Ki
Demang. Saat ini Ki Demang baru diliputi oleh kegelapan hati. Kami
sadar, bahwa bukan seharusnya kami menjadi gelap pula. Karena itu,
kami masih ingin memperingatkan Ki Demang sekali lagi" Ki Demang
menggeretakkan giginya, sementara Ki Jagabaya menjadi bingung.
Dengan suara gemetar ia berbisik kepada Ki Reksatani "Cobalah.
Peringatkan kakakmu yang sedang kehilangan akal itu" Ki Reksatani
mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab "Kenapa? Bukankah ia sudah
berbuat sebaik-baiknya? Anak itu memang harus ditangkap" "Jadi kau
sependapat?" Ki Reksatani mengangguk, tetapi Ki Jagabaya mengumpat
di dalam hatinya.
-
Jilid 8 DALAM pada itu Ki Demang
menjawab "Aku tidak mau mendengar alasan dan bujukan apapun lagi.
Aku harus mendapatkan anak itu sekarang. Sudah aku katakan, aku akan
mempergunakan kekerasan" Ki Jagabaya yang kecemasan itu bergeser
setapak. Tetapi Ki Reksatani sudah mendahului "Tuan, sebaiknya tuan
menyerahkan saja anak itu. Apakah sebenarnya keberatan tuan?
Bukankah pada saatnya tuan juga akan menyerahkan semuanya?"
Kesabaran Senapati itu menjadi semakin menipis pula. Apalagi ketika
ia mendengar Reksatani berkata selanjutnya "Tuan harus menyadari
bahwa kekuasaan di Kademangan ini ada di tangan kakang Demang
meskipun seandainya kakang Demang t idak mempergunakan kekerasan
apapun. Kalau tuan mencoba mempersulit penyelesaian berdasarkan
kekuasaan itu, maka kakang Demang pasti akan mempergunakan
kekerasan. Seperti yang dikatakan oleh kakang Demang, tuan pasti
sudah pernah mendengar tentang Demang di Kepandak. Dan kini Demang
di Kepandak tidak seorang diri. Ia datang bersama para bebahu dan
adiknya, Reksatani. Tuanpun pasti sudah pernah mendengar sebutan
Harimau Lapar dari Kepandak, eh, maksudku Macan Kelaparan di daerah
Selatan ini. Sedang tuan hanya datang bertiga. Apakah yang
sebenarnya dapat tuan lakukan?" Kini wajah Senapati itulah yang
menyala. Kesabarannya benar-benar telah terbakar oleh persoalan yang
dihadapinya. Meskipun demikian ia masih mencoba menarik nafas
dalamdalam, untuk mengatur kata-kata yang kemudian terlontar dari
mulutnya "Ki Demang di Kepandak dan para bebahu, serta Ki Reksatani
yang perkasa. Aku memang pernah mendengar bahwa di daerah Selatan
ini tidak ada orang lain kecuali Ki Demang kakak beradik. Demang di
Kepandak adalah seorang yang sakti dan mumpuni dalam olah kanuragan.
Selain kekuasaannya sebagai seorang Demang, maka apabila perlu iapun
dapat menumbuhkan kekuasaan yang lain berdasarkan atas kemampuannya
itu, kemampuan berkelahi. Bukan kemampuan memberi pengertian atas
sikap dan pendapatnya kepada orang lain. Sekarang kalianpun akan
mencoba memaksakan kekuasaan yang tidak sewajarnya itu karena kalian
mempunyai kekuatan. Bukan karena hak kalian untuk berbuat demikian"
"Tidak" potong Ki Demang "daerah ini adalah daerah Kademangan
Kepandak" "Tetapi setiap orang di dalam pasukanku berada di bawah
kekuasaanku. Aku akan mempertanggung jawabkannya. Bahkan kepada
Senapati tertinggi di Mataram. Tidak sekedar kepada Demang di
Kepandak. Karena itu Ki Demang di Kepandak. Aku tidak akan tunduk
kepada kekuasaan siapapun selain kekuasaan Senapati yang lebih
tinggi dari padaku. Aku tahu bahwa sepasang harimau dari Selatan ini
mempunyai kemampuan yang luar biasa. Tetapi aku adalah salah seorang
Senapati yang mendapat kepercayaan dari Sinuhun Sultan Agung untuk
ikut memimpin pasukan ke Betawi. Aku pernah mengemban tugas untuk
mempertahankan keadilan di Tanah Mataram ini. Sekarang tuan-tuan di
Kepandak akan menakutnakuti aku. Maaf Ki Demang. Aku akan
mempertahankan sikapku. Seperti setiap orang pernah mendengar nama
Demang di Kepandak, maka setiap prajurit Mataram pasti pernah
mendengar Gelar Tumenggung Dipanata, pasangan dari Tumenggung
Dipajaya yang sayang tidak dapat hadir di dalam permainan ini"
Ternyata ketika Senapati itu menyebutkan namanya, dada Ki Demang di
Kepandak dan Ki Reksatani menjadi tergetar pula. Nama itupun adalah
nama yang sudah terlampau banyak disebut-sebut orang. Meskipun
demikian, karena semuanya sudah terlanjur, Ki Demang tidak ingin
melangkah surut. Dengan nada yang tajam ia berkata "Siapapun tuan,
tetapi aku tetap pada pendirianku. Tuan hanya bertiga. Kami adalah
orang-orang dari seluruh Kademangan" "Apa bedanya?" sahut Ki
Dipanata "Aku sadari akibat terakhir dari setiap pelaksanaan tugas
seorang prajurit. Disinipun aku sedang mempertahankan keadilan.
Bukan kesewenang-wenangan" "Pekerjaan tuan akan sia-sia. Tuan akan
hilang ditelan oleh Kademangan ini" "Aku mengemban tugas kerajaan.
Wewenangku sekarang adalah wewenang Sinuhun Sultan Agung. Siapa yang
melawan petugas kerajaan dan yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari
Sinuhun Sultan Agung, ia sudah memberontak terhadap pemerintah" Ki
Demang terdiam sejenak. Dadanya serasa terguncangguncang semakin
dahsyat. Tetapi Ki Reksatani berkata "kamipun sedang menuntut
keadilan. Kami tidak akan takut melawan siapapun untuk
mempertahankan keadilan itu" "Kami tetap pada pendirian kami" geram
Ki Demang kemudian "dan sekali lagi kami peringatkan, tuan akan
tenggelam di Kademangan ini. Semua yang ada di sekitar tuan adalah
orang-orang dari Kademangan Kepandak selain dua prajurit pengawal
tuan itu" Senapati dari Mataram itu sama sekali tidak menundukkan
kepalanya. Bahkan matanya menjadi bersinar, dan tidak sesadarnya ia
telah meraba senjatanya. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Punta
telah mendahuluinya "Ki Demang di Kepandak. Kami dilahirkan dan
dibesarkan di Kademangan ini. Kami adalah anak-anak muda, pengawal
Kademangan yang setia, yang atas nama Kademangannya pula, kami telah
mencoba untuk ikut mempertahankan kehadiran Mataram di muka bumi.
Tetapi kami menjadi sangat kecewa melihat peristiwa ini terjadi
justru pada saat keringat kami seolah-olah masih belum kering. Kami
baru saja menempuh perjalanan yang jauh. Kami telah gagal merebut
kembali sebagian dari Tanah kami karena berbagai macam sebab.
Terutama karena, pengkhianatan. Kami berjanji di dalam hati kami
bahwa akan datang saatnya kami mengusir orang asing itu dari bumi
sendiri. Jadi, apakah begini cara Ki Demang menyambut kami" Dada Ki
Demang serasa diguncang mendengar kata-kata Punta itu. Kata-kata
anak ingusan dari Kademangannya sendiri. Dan ia masih harus
mendengarkan anak itu berkata "Maaf Ki Demang. Kami adalah satu.
Aku, Pamot dan pengawal-pengawal yang lain. Kalau Ki Demang ingin
menangkap Pamot, maka Ki Demang harus menangkap kami semuanya. Kami
tidak akan melawan kekerasan dengan kekerasan. Kami justru minta
agar kami semuanya saja ditangkap untuk mendapat tuduhan yang sama,
sebab kami dapat berbuat kemungkinan yang sama. Kami semua adalah
laki-laki muda dan kami semua menganggap Sindangsari adalah gadis
yang cantik saat itu, sebelum Ki Demang mengambilnya dengan paksa"
"Gila, gila kau. Aku bunuh kau pertama-tama" teriak Ki Demang. Punta
sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan kemudian ia berkata kepada
Ki Dipanata "Tuan, serahkanlah kami semuanya kepada Ki Demang di
Kepandak untuk memberinya kepuasan yang sebesar-besarnya. Ia masih
belum puas merampas perempuan itu dari tangan anak-anak muda di
Kepandak yang juga mengingininya. Kini ia masih akan berbuat lebih
jauh lagi" "Diam, diam, diam" suara Ki Demang semakin keras. Bahkan
kudanya telah maju beberapa langkah mendekati Punta. Tetapi Ki
Demang itupun terhenti ketika kuda Ki Dipanata menyilang di
hadapannya. "Terserahlah apa yang akan dilakukannya nanti Punta"
berkata Ki Dipanata. Lalu "Tetapi sebelum aku menyerahkannya, kalian
adalah tanggung jawabku. Aku bukan pengecut yang akan lari dari
kewajiban. Aku adalah prajurit sejak umurku meningkat dewasa. Kini
rambutku sudah mulai ubanan. Apa artinya Demang di Kepandak bagiku.
Aku pernah ikut di dalam peperangan besar di daerah Timur dan Barat.
Tetapi aku memang belum pernah bertempur di daerah Selatan yang
sempit ini" Telinga Ki Demang di Kepandak benar-benar serasa
terbakar. Tetapi sebelum ia berbuat sesuatu Ki Jagabaya telah
berkata mendahuluinya "Ki Demang. Aku adalah seorang bebahu yang
paling setia. Aku selama ini telah membuat diriku sendiri seperti
seekor kerbau yang telah dicocok hidungku. Aku tidak pernah
membantah semua perintah, meskipun kadang-kadang aku t idak mengerti
maknanya. Tetapi kali ini aku tidak ikut campur di dalam
pemberontakan ini. Aku tidak dapat melawan kekuasaan Mataram.
Kekuasaan yang dilimpahkan dari Sinuhun Sultan Agung. Bukan karena
aku silau melihat seorang Tumenggung yang bernama Dipanata, yang
pernah bertempur di berbagai medan karena akupun sadar, bahwa akibat
yang paling jauh dari perkelahian adalah mati. Kalau seseorang sudah
menyingkirkan perasaan takut terhadap mati, maka ia tidak akan takut
bertempur di medan yang manapun. Namun sebelum mat i aku masih
sempat berpikir. Dan tiba-tiba aku merasa bahwa aku tidak seharusnya
melawan kali ini" "Pengecut" Ki Keksatanilah yang berteriak "kau
ternyata seorang pengecut" "Mungkin. Mungkin aku seorang pengecut "
"Kau akan dihukum gantung karena kau telah berkhianat terhadap
kampung halaman" "Sudah aku katakan. Aku tidak takut mati. Tetapi
aku t idak melihat bahwa kalian telah berbuat benar kali ini" "Gila,
gila" Ki Reksatani hampir tidak dapat menguasai dirinya. Tetapi
ketika tangannya telah meraba hulu kerisnya, justru tangan Ki
Demanglah yang telah menahannya. Ki Reksatani menjadi termangu-mangu
sejenak. Ketika ia berpaling ia menjadi sangat terkejut melihat
wajah kakaknya. Demang di Kepandak. Wajah itu sama sekali tidak lagi
terasa kegarangannya. Bahkan wajah itu menjadi layu seperti selembar
daun yang dibakar oleh terik matahari. "Kenapa kau kakang?" Ki
Reksatani bertanya. Ki Demang tidak segera menjawab. Tetapi tampak
di wajahnya, suatu benturan perasaan telah terjadi di dalam dadanya.
"Apakah hati kakang menjadi lemah seperti hati Jagabaya pengecut
itu?" Ki Demang tidak segera menyahut. Tetapi tatapan matanya yang
buram melontar jauh ke bayangan sinar matahari yang sudah menjadi
kemerah-merahan. "Kakang" Ki Reksatani mengguncang-guncang lengan
kakaknya, Namun Ki Demang di Kepandak masih tetap berdiam diri.
Akhirnya Ki Reksatanipun terdiam. Perlahan-lahan ia mencoba menilai
semua yang telah terjadi. Ia memang berusaha menjerumuskan kakaknya
untuk melawan Mataram. Meskipun ia ikut terlibat, tetapi ia dapat
menghindarkan perbuatan langsung di dalam perkelahian apabila sudah
dapat dinyalakannya. Ia dapat surut dan bahkan kalau perlu
mengkhianati kakaknya sendiri sebagai suatu alasan untuk mendapat
pengamatan dari Mataram dan mendapat kesempatan untuk menggantikan
kedudukan kakaknya. Tetapi usahanya itu belum berhasil ketika ia
justru tenggelam di dalam arus perasaannya sendiri di luar
pertimbangannya. Apakah kemudian ia akan menjadi orang pertama yang
berdiri di paling depan di dalam perlawanan ini kalau kakaknya
memang mulai bersikap lain. Dengan demikian, usahanya untuk merebut
pengakuan dari Mataram akan menjadi terlampau sulit. Karena itu,
ketika Ki Demang di Kepandak tidak berbuat apapun juga, Ki
Reksatanipun seakan-akan membeku pula. Bahkan tiba-tiba mendahului
Ki Demang di Kepandak, ia berkata "Ya, memang sebaiknya kita
berpikir untuk kesekian kalinya" Senapati Mataram yang bernama
Dipanata itu masih tetap dalam sikapnya. Duduk diam diatas punggung
kudanya meskipun ia sudah bersiaga menghadapi segala kemungkinan.
Demikian juga kedua prajurit yang mengawalnya. Tetapi ketika ia
mendengar kata-kata Ki Reksatani ia menarik nafas dalam-dalam. Ki
Reksatani itupun kemudian berpaling kepada Ki Jagabaya sambil
berdesis "Maaf Ki Jagabaya. Aku terlampau kasar karena luapan
perasaan selagi hatiku gelap" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan
kepalanya "Aku mengerti" Namun Ki Demang sendiri masih tetap diam,
seakan-akan benar-benar membeku diatas kudanya. Baru sejenak
kemudian ia berkata "Aku kira Reksatani benar. Kita harus berpikir
lagi sebelum kita bertindak "Lalu kepada Tumenggung Dipanata ia
berkata "Maafkan kami tuan. Kami telah terdorong oleh perasaan yang
meluap" Tumenggung Dipanata mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
sebelum ia menjawab, Ki Reksatani lelah menyambung "Aku juga minta
maaf tuan. Aku sebenarnya telah dicengkam oleh perasaan iba. Aku
tidak sampai hati melihat wajah kakang Demang yang selalu bersedih.
Ia tidak pernah makan, minum dan apalagi tidur sejak mBok-ayu
Sindangsari hilang dari Kademangan" "Aku dapat mengerti" berkata
Tumenggung Dipanata "mudah-mudahan kalian benar-benar dapat melihat
persoalannya dengan hati yang bening" "Baiklah tuan" berkata Ki
Demang "aku akan mencobanya" Lalu ia berpaling kepada Punta "Aku
minta maaf kepada kalian. Aku telah mengganggu saat-saat yang
barangkali telah kalian nanti-nantikan untuk dapat segera bertemu
dengan keluarga" Puntapun justru menundukkan kepalanya. Katanya
"Akupun minta maaf pula kepada Ki Demang. Mungkin aku tidak sempat
menyaring kata-kataku. Tetapi seperti Ki Demang aku dan
kawan-kawanpun agaknya sedang berpikir keruh. Kami telah kehilangan
beberapa kawan-kawan kami di perjalanan, seperti Ki Demang
kehilangan isteri Ki Demang itu di Kademangan" Hati Ki Demang
menjadi semakin pedih. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia
berkata "Seharusnya aku menyambut kalian sebagai prajurit yang
datang dari medan perang. Apapun yang sudah terjadi di peperangan,
berhasil atau tidak berhasil, tetapi kalian sudah berjuang.
Perjuangan yang seharusnya kami lanjutkan kapan saja kesempatan
terbuka di hadapan kami" "Agaknya kita sudah dapat mendekatkan hati
kita" berkata Tumenggung Dipanata. "Marilah tuan" berkata Ki Demang
"aku persilahkan tuan dan anak-anak kami. Kami akan menerima
anak-anak kami dengan sepenuh hati" "Atas nama. Senapati tertinggi
dari pasukan Mataram yang telah mencoba membersihkan tanah ini, kami
mengucapkan terima kasih" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam.
Sejenak di pandangmya wajah Pamot yang agak kepucat-pucatan. Dan
agaknya bukan Pamot saja yang menjadi pucat, tetapi hampir semuanya.
Wajah-wajah itu menjadi merah oleh ketegangan yang mencengkam
sesaat. Tetapi kini wajah-wajah itu telah menjadi pucat kembali.
Demikianlah, maka Ki Demangpun kemudian kembali ke Kademangan dengan
kepala tunduk di samping Ki Tumenggung Dipanata. Berbagai macam
persoalan telah bergolak di dalam hatinya. Tiba-tiba saja Ki Demang
merasa hidupnya menjadi sangat sepi. Ia kini merasa, dimana ia
sebenarnya berdiri. Di dalam keadaan yang memaksa ia dapat melihat,
bagaimanakah sebenarnya pendapat orang tentang dirinya. Ki Demang
itu merasa dirinya seakan-akan terlempar ke dalam sebuah ruang yang
kosong, sepi. Sepi sekali. Satu-satu orang di sekitarnya pergi
meninggalkannya. Isterinya, anakanak muda kebanggaannya, Ki Jagabaya
yang setia dan mungkin seisi Kademangannya. Ki Demang di Kepandak
menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang semua persoalan yang
dihadapinya. Kini, yang tetap berdiri teguh di belakangnya tanpa
menilai baik dan buruk, benar atau salah, tinggallah adiknya, Ki
Reksatani. "Ia adalah seorang adik yang baik" desis Ki Demang di
dalam hatinya "ia tidak mempersoalkan apakah yang aku lakukan dan
siapakah yang dihadapinya. Ia adalah saudara laki-laki yang dapat
dibanggakan" Ki Demang sekali lagi menarik nafas "Sayang, bahwa ia
terseret dalam persoalan ini. Persoalan yang tidak menguntungkannya.
Untunglah bahwa benturan ini belum terlanjur. Jika demikian, maka
Kademangan di Kepandak mungkin akan diambil oleh Mataram, karena
kami disini dianggap memberontak. Kini} masih ada kesempatan bagi
kami disini. Kalau aku tidak mungkin lagi dapat duduk diatas
jabatanku karena kekosongan di dalam diriku sendiri, maka aku dapat
menuntut agar Keksatanilah yang menggantikan aku. Aku juga tidak
mempunyai seorang keturunanpun. Aku harus menumpang pada keturunan
Reksatani kelak. Merekalah yang berhak atas Kademangan ini di masa
mendatang" Dan Ki Demang itu merasa, bahwa waktu itu sudah menjadi
semakin dekat. Agaknya ia tidak boleh bertahan lagi terlampau lama
pada kedudukannya yang sekarang. "Kalau ternyata bahwa keterangan
Senapati dan anak-anak Gemulung itu benar, bahwa Pamot tidak pernah
berhubungan dan apalagi mengambil Sindangsari, maka aku akan
meninggalkan Kademangan ini. Aku pasti tidak akan kembali sebelum
aku menemukan Sindangsari, dan sudah tentu aku harus menyerahkan
semua kewajibanku kepada Reksatani" Ki Demang di Kepandak hampir t
idak mendengarnya ketika Ki Tumenggung Dipanata bertanya kepadanya
"Apakah Ki Demang sudah berusaha sepenuhnya untuk mencari Nyai
Demang?" Ki Demang mengangkat kepalanya yang tertunduk. Di tatapnya
Tumenggung Dipanata itu sejenak. Kemudian jawabnya "Sudah aku
katakan. Semua rumah di Kademangan Kepandak sudah dimasuki, tetapi
aku tidak menemukannya. Hari ini aku menemui setiap pemimpin dan
tetua padukuhan, kecuali dua padukuhan di ujung Timur yang belum
sempat aku datangi. Mereka harus membantu mencari isteriku. Aku
minta mereka menolongku, tetapi aku juga mengancam mereka. Aku
mempergunakan kekuasaan, kedudukan dan sekaligus kemampuanku sebagai
seorang yang pilih tanding di daerah Selatan ini. Kalau aku tidak
menemukannya di daerah Kademangan ini, aku akan masuk ke Kademangan
tetangga, Mudah-mudahan tidak menumbuhkan salah paham, tetapi
seandainya demikian apaboleh buat" Senapati dari Mataram itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Para pengawal yang baru
datang itu akan membantu dengan senang hati. Tetapi ketenangan di
daerah Selatan ini harus tetap dipelihara" "Semula aku tidak
menghiraukan ketenangan itu sahut Ki Demang "Hatiku benar-benar
gelap. Tetapi sekarang aku sudah berpendirian lain" Ki Tumenggung
Dipanata mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak dipandanginya wajah
Ki Demang di Kepandak. Kemudian katanya "Agaknya Ki Demang telah
menemukan sikap yang lebih mapan" Ki Demang mengangguk-angguk "Ya"
katanya ternyata tindakan yang tergesa-gesa itu tidak akan
menguntungkan" "Lalu apakah yang akan kau lakukan?" "Aku tidak akan
mencari isteriku dengan cara itu. Seperti sepasukan prajurit yang
maju ke medan perang" Ki Tumenggung Dipanata tidak segera menyahut,
sedang Ki Demang berkata selanjutnya "Aku akan pergi seorang diri,
sebagai seorang laki-laki yang kehilangan isterinya" "Maksud Ki
Demang" "Aku akan mengembara sampai aku menemukan isteriku. Aku kira
aku memerlukan waktu" "Lalu Kademangan di Kepandak?" "Masih ada
Reksatani. Ia berhak atas Kademangan ini seperti aku apabila aku
berhalangan. Kami berdua adalah saudara laki-laki yang sering
disebut uger-uger lawang" Ki Dipanata menganguk-anggukkan kepalanya.
Ia tidak membantah niat itu. Ia sadar, bahwa hati Ki Demang masih
belum terang benar. Mungkin Ki Demang masih memerlukan dua tiga hari
untuk dapat berpikir bening. Demikianlah maka iring-iringan itu
semakin lama menjadi semakin mendekati pusat Kademangan di Kepandak.
Beberapa orang yang ada di sawah dan di pinggir-pinggir desa melihat
pasukan yang lewat itu dengan mulut ternganga-nganga. Baru sejenak
kemudian mereka berdesis diantara mereka "He, bukankah itu anak-anak
kepandak?" "Ya, bukankah itu anak-anak Kepandak?" Sejenak kemudian
meledaklah berita tentang kedatangan anak-anak di Kepandak.
Anak-anak berlari-larian mengikut i iring-iringan berkuda itu.
Beberapa diantara mereka berteriak-teriak menyebut nama kakaknya
yang ada di antara pasukan yang baru datang. Tetapi seorang anak
perempuan menjadi berdebar-debar. Ia menatap hampir semua wajah
anak-anak muda yang lewat di depannya, di jalan padukuhan. Tetapi ia
tidak melihat wajah kakaknya. Kakak yang dikasihinya. Tanpa
sesadarnya anak itu mengusap kepala golek kayu yang dibuat oleh
kakaknya itu ketika ia akan berangkat meninggalkan keluarganya.
"Simpan golek ini baik-baik denok" pesan kakaknya itu "besok kalau
kakak kembali, kakak membawa sehelai kain buatan Parangakik untuk
golek ini" "Tetapi kakang tidak ada diantara mereka" desis anak
perempuan itu. Ketika ia t idak dapat menahan perasaannya lagi, maka
ia bertanya kepada seorang anak muda yang dikenalnya, yang berkuda
di paling belakang "Apakah kau tidak datang bersama kakang?" Anak
muda yang berkuda di paling belakang itu berpaling. Dipandanginya
wajah anak perempuan itu. Hampir saja ia menjawab pertanyaannya,
tetapi tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Gadis
kecil itu tidak tahu apa yang terloncat di dalam angan-angan anak
muda itu. Tanpa sesadarnya ia mengikut inya di sisi kudanya sambil
sekali lagi bertanya "Apakah kau datang bersama kakang?" Anak muda
itu menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak berani mengucapkan
jawabannya. Gadis kecil itu akhirnya berhenti. Dipandanginya
iringiringan yang seakan-akan semakin lama menjadi semakin panjang.
Anak-anak kecil dan bahkan anak-anak tanggung mengikut inya di
belakang sambung bersambung. Tetapi gadis kecil itu terhenti di
tempatnya. Perlahan-lahan tangannya yang kecil membelai golek
kayunya yang masih telanjang. Ia menunggu kakaknya datang membawa
kain dari Parangakik atau Kuta Inten. Tetapi kakaknya tidak terdapat
diantara anak-anak muda yang datang itu. "Apakah kakang tidak
pulang" desisnya. Sebutir air mata yang bening menitik di pipinya.
Gadis itu terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia
berpaling dilihatnya seorang kakaknya yang lain berdiri di
belakangnya. "Kakang, apakah kakang Ireng t idak datang bersama
kawan-kawannya itu?" ia bertanya. Kakaknya tidak menjawab.
Dibimbingnya tangan adiknya sambil berkata "Biyung mencarimu.
Marilah kita pulang " "Tetapi bagaimana dengan kakang Ireng?
"Biarlah ayah nanti bertanya kepada prajurit itu? "Yang manakah
prajurit itu?" "Yang berkuda paling depan di samping Ki Demang"
"Apakah prajurit sering membunuh orang?" "Tidak. Tidak. Prajurit
tidak membunuh orang. Prajurit harus melindungi kita semua dari
bahaya" Gadis kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia
masih bertanya "Kakang akan membawa kain dari Parangakik atau dari
Kuta Inten. Tetapi kakang belum pulang" "Besok aku cari kain dari
Parang Akik atau dari Kuta Inten" Tetapi anak perempuan itu
menggeleng "Tidak kakang. Nanti kau juga tidak kembali seperti
kakang Ireng. Aku tidak mempunyai lagi kawan bermain. Tidak ada lagi
yang membuat golek kayu dan bandulan. Kakaknya mengangguk-anggukkan
kepalanya "Marilah. Biyung sudah menunggu. Bukankah kau belum
makan?" "Aku tidak makan kakang" "Kenapa? Kau akan lapar" "Biarlah
disediakan untuk kakang Ireng, kalau tiba-tiba saja ia pulang malam
nanti" "Sudah. Kakang Ireng sudah mendapat bagiannya sendiri. Biyung
sudah menyediakan buatnya" Gadis kecil itu tidak menjawab. Di
tatapnya mata kakaknya yang tiba-tiba saja menjadi buram. Tetapi
kakaknya itu kemudian membimbingnya di sepanjang jalan padukuhan,
pulang kepada ibunya. Dalam pada itu, iring-iringan anak-anak muda
Kepandak itu sudah memasuki induk padukuhan dari Kademangan
Kepandak. Sejenak kemudian merekapun telah menyelusuri jalan yang
membelah padukuhan itu langsung menuju ke Kademangan. Berita
kedatangan anak-anak muda itu telah tersebar di seluruh Kademangan,
secepat kalimat yang berloncatan dari mulut ke mulut. Orang-orang
yang berada di sawah segera pulang menyimpan alat-alatnya. Setelah
membersihkan kakinya yang kotor oleh lumpur, mereka yang merasa
mempunyai salah seorang anggauta keluarganya ikut di dalam pasukan
pengawal khusus yang dikirim ke Mataram itupun segera pergi ke
Kademangan. Bahkan mereka yang tidak mempunyai seorang keluargapun
ingin juga melihat, siapakah yang telah berhasil pulang kembali ke
kampung halaman. Anak-anak mudapun berlari-larian ke halaman
Kademangan. Mereka ingin menyambut kawan-kawan mereka yang baru
pulang dari arena perjuangan meskipun kali ini mereka belum
berhasil. Lamat yang duduk di belakang rumah Manguripun telah
mendengar pula berita itu. Anak muda yang berlari-larian di jalan
sebelah dinding berkata "Mereka telah kembali" "Kapan?" bertanya
yang lain dari halaman rumah sebelah. "Baru saja" Lamat menarik
nafas dalam-dalam. Ia t idak tahu, siapa saja yang ikut di dalam
barisan, dan siapa saja yang telah gugur di dalam perjuangan.
Sejenak terbayang olehnya wajah Pamot yang suram. Kemudian terbayang
wajah Sindangsari dan Ki Demang di Kepandak. Lamat menarik nafas
dalam-dalam. Katanya di dalam hatinya "Persoalan di dalam kepalaku
benar-benar persoalan yang sangat pelik. Kenapa tidak terbayang
betapa dahsyatnya perjuangan untuk mengatasi segala macam kesulitan
yang timbul karena pengkhianatan itu? Perjuangan melawan orangorang
asing yang ganas dan perjuangan menghadapi diri sendiri, menghadapi
pengkhianat-pengkhianat" Lamat menarik nafas dalam-dalam "Aku belum
pernah melihat perjuangan sedahsyat itu. Aku baru melihat perjuangan
untuk merebut seorang perempuan di halaman Kademangan. Aku baru
melihat perjuangan untuk merebut kedudukan seorang Demang di
Kepandak. Lamat menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia terkejut
ketika dari kejauhan ia mendengar Manguri berteriak "Lamat kemari
kau" Dengan malasnya Lamat berdiri dan berjalan ke gandok. Tetapi ia
tidak menemui Manguri disitu. Agaknya ia telah pergi ke pringgitan.
Dari pringgitan ia berteriak "Aku disini. Apakah kau sedang tidur
atau sudah mati sama sekali?" Lamatpun pergi ke pringgitan pula.
Dengan wajah yang tegang Manguri berkata. "Aku harus, menunggumu
sampai tua. Apakah kau tidak mendengar?" Lamat t idak menjawab.
"Duduklah" Lamatpun kemudian duduk diatas tikar pandan. Sekali di
tatapnya wajah Manguri yang tegang. Namun kemudian iapun menundukkan
wajahnya. "Dimana kau selama ini?" bertanya Manguri. "Aku berada di
belakang, di sisi dapur" Manguri memandanginya dengan tajam,
seolah-olah ia tidak sabar lagi menunggu Lamat datang kepadanya.
"Apakah kau sudah mendengar berita tentang anak yang pergi ke
Mataram itu?" Lamat menganggukkan kepalanya "Ya, aku sudah
mendengar" Dari mana kau mendengarnya?" "Anak anak yang lewat di
jalan sebelah saling berbicara tentang anak-anak yang telah kembali
itu" "Kau bertanya kepada mereka?" Lamat menggelengkan kepalanya
"Tidak. Aku tidak bertanya kepada mereka" "Kenapa?" Lamat t idak
segera menjawab. "Kenapa?" Manguri berteriak. "Mereka bersikap
kurang baik kepada kita. Aku segan untuk berbicara dengan anak-anak
itu" Manguri menggeram. Namun kemudian ia berkata "Aku juga sudah
mendengar. Anak-anak itu sudah kembali, termasuk Pamot " Lamat
mengangkat wajahnya "Jadi Pamot juga sudah kembali?" "Ternyata ia
tidak mati di perjalanannya. Ia sempat kembali dan melihat
Sindangsari hilang" Lamat kini menjadi tegang pula tanpa
diketahuinya sendiri, apakah sebabnya. Ia tidak takut kepada Pamot.
Ia tidak membenci Pamot dan ia t idak begitu berkepentingan.
Seandainya Pamot marah karena Sindangsari hilang, maka persoalannya
akan berkisar pada Ki Demang di Kepandak. Bahkan mungkin mereka akan
saling tuduh menuduh sehingga keduanya akan berbenturan. Sudah tentu
Pamot tidak akan berarti apa-apa bagi Ki Demang di Kepandak. "Aku
pasti tidak akan tersentuh oleh persoalan ini. Apalagi Pamot, sedang
Ki Demang di Kepandakpun t idak tahu, bahwa aku telah terlibat di
dalam persoalan hilangnya Sindangsari ini" berkata Lamat di
dalamhatinya. Namun ia tidak dapat lari dari perasaan sendiri. Ia
merasa berdebar-debar dan dikejar-kejar oleh kecemasan yang tidak
dimengertinya sendiri. "Lamat" berkata Manguri kemudian "apa katamu
tentang Pamot yang telah kembali itu?" Seperti yang mendesak di
hatinya, maka seakan-akan tidak berpikir lagi Lamat menyahut
"Mungkin akan terjadi sesuatu karena kedatangannya" "Apa? Apakah
anak itu akan menuduh kita?" "Mungkin. Tetapi bukankah mereka tidak
dapat membuktikan?" "Bagaimana menurut pertimbanganmu?" Tiba-tiba
Manguri membentak "Akulah yang bertanya kepadamu" "Ya, ya. Mungkin
karena perasaan cintanya, Pamot akan ikut serta merasa kehilangan.
Memang mungkin ia akan ikut mencari perempuan itu. Tetapi bukankah
ia dapat melibatkan kita seperti Ki Demang juga tidak berhasil
menyeret kita di dalam persoalan ini?" "Jawablah dengan tegas.
Dengan pasti. Kau sendiri tidak yakin akan jawabanmu. Nada
kata-katamu sangat meragukan" "Maksudku, Pamot tidak akan dapat
membuktikan bahwa kita terlibat di dalam persoalan ini. Ya,
begitulah. Kita tidak usah cemas, siapapun yang akan ikut serta
mencari Sindangsari" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
kemudian "Aku mengharap suruhan ayah akan datang malam ini. Aku
harus segera tahu dimana perempuan itu disembunyikan" "Ya, Aku kira
malam ini suruhan itu pasti akan datang. Waktunya sudah cukup lama.
Tetapi sebaiknya ia tidak datang terlampau malamsupaya tidak
menumbuhkan kecurigaan" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya iapun kemudian berjalan hilir
mudik dengan gelisahnya. "Ya, suruhan ayah tidak boleh datang pada
waktu yang dapat menumbuhkan kecurigaan" Lamat tidak menyahut. Di
biarkan saja Manguri berjalan hilir mudik sambil sekali-sekali
mengusap keringat dinginnya. Dalam pada itu, maka senjapun
perlahan-lahan turun menyelimuti Kademangan di Kepandak. Di halaman
rumah Ki Demang, sepasukan anak-anak muda Kepandak berbaris rampak
diatas punggung kuda. Di paling depan, adalah Ki Tumenggung Dipanata
diapit oleh kedua pengawalnya. Di hadapan mereka adalah Ki Demang di
Kepandak yang kebetulan memang duduk pula diatas punggung kuda. Di
sampingnya para bebahu Kademangan dan Ki Reksatani yang duduk diatas
kudanya pula. Di belakang mereka adalah para bebahu yang lain, para
pengawal Kademangan dan rakyat Kepandak yang tidak sabar menyambut
anak-anak mereka yang baru saja kembali. Di hadapan Ki Demang di
Kepandak Ki Tumenggung Dipanata menceriterakan segala sesuatu
mengenai anak-anak muda dari Kepandak. Ia sengaja berkata lantang,
agar rakyat di Kepandak dapat mendengar langsung dari mulutnya, apa
yang sebenarnya telah terjadi di perjalanan. Dengan demikian maka
mereka akan dapat menggambarkan betapa berat perjuangan anak-anak
Kepandak itu selama mereka menunaikan tugas negara. Tugas yang
merupakan tanggung jawab bagi setiap orang yang lahir di bumi
Mataram, yang minum sumber air Tanah Mataram, dan yang makan hasil
bumi Tanah Mataram. "Kami sama sekali tidak dapat menghindarkan diri
dari kemungkinan yang pahit" berkata Ki Tumenggung Dipanata "Jer
Basuki Mawa Bea. Karena itulah maka ada diantara anakanak kami yang
kini tidak dapat pulang bersama-sama dengan kami" Wajah-wajahpun
segera menjadi tegang. Apalagi mereka yang tidak dapat melihat
anak-anak mereka, suami-suami mereka yang belum lama mengikat
perkawinan, adik-adik mereka dan kekasih-kekasih mereka. Sejenak Ki
Dipanata terdiam. Iapun melihat, diantara wajah-wajah orang
Kepandak, adalah wajah-wajah yang kecemasan. Dan merekapun harus
menerima suatu kenyataan, bahwa ada diantara anak-anak Kepandak yang
memang tidak kembali dan tidak akan pernah kembali. Akhirnya Ki
Tumenggung Dipanata berkata "Aku kira, aku memang lebih baik
berterus terang. Aku tidak ingin menyangkutkan harapan pada hati
yang gelisah. Apalagi harapan yang tidak akan pernah datang" Ki
Tumenggung berhenti sejenak, lalu "Memang ada diantara anak-anak
kami yang gugur di peperangan atau karena sebab-sebab lain. Tetapi
semuanya itu merupakan korban bagi perjuangan yang agaknya masih
panjang" Wajah-wajah orang Kepandakpun menjadi semakin tegang.
Bahkan mereka yang telah melihat keluarga mereka di antara anak-anak
muda yang datang, menjadi berdebar-debar pula. Ki Tumenggung
Dipanatapun kemudian menyebutkan nama-nama dari mereka yang tidak
dapat kembali. Di antara yang berangkat, seperempat yang tidak dapat
melihat kampung halamannya kembali. Halaman Kademangan itu menjadi
hening sejenak. Tidak seorangpun yang mengucapkan kata-kata ketika'
Ki Tumenggung Dipanata menyebutkan nama-nama itu. Namun sejenak
kemudian meledaklah tangis diantara mereka. Ibuibu, isteri-isteri
yang masih muda, saudara kandung dan kekasih-kekasih yang menjadi
pasti bahwa yang mereka tunggu tidak akan pulang tidak dapat menahan
air mata mereka. Mereka telah kehilangan yang mereka kasihi. Anak
yang dipelihara sejak bayi, hilang ketika ia meningkat dewasa.
Anak-anak yang masih sangat muda harus sudah meninggalkan hijaunya
dedaunan dan beningnya air sumur di Kepandak. "Mereka telah mat i"
desis seorang perempuan tua. Dan tiba-tiba seorang perempuan muda
meloncat maju sambil menyingsingkan kainnya. Dengan air mata yang
membanjir ia berlari mendekati Tumenggung Dipanata. Sambil menunjuk
dengan jarinya ia berteriak "Kau, kau adalah pembunuh. Kau
jerumuskan suamiku itu ke dalam neraka yang paling jahat. Sekarang
ia mati, sedang aku lagi mengandung. Siapakah yang akan dapat
menunjukkan kepada anak ini, betapa wajah ayahnya yang sejuk.
Suamiku kau bunuh sebelum ia memeluk bayinya" Ki Tumenggung Dipanata
mengerutkan keningnya. "Sekarang kau tanpa perasaan apapun menyebut
namanama orang yang telah kau jerumuskan ke dalam kematian itu.
Kenapa bukan kau sendiri yang mati? Kenapa?" Ki Tumenggung Dipanata
masih tetap berdiam diri, sementara suasana menjadi semakin tegang.
Ki Reksatani yang memang sedang berhati gelap, meloncat turun dari
kudanya sambil berkata "He, perempuan bodoh. Bukan kau sendiri yang
kehilangan. Kau harus rela suamimu mati. Bukan Ki Tumenggung
Dipanatalah yang membunuhnya. Tetapi peperangan. Peperangan itu
sendirilah yang telah membunuh, bukan saja suamimu, tetapi
berpuluh-puluh orang yang lain, bahkan beratus-ratus" "Tetapi
prajurit itulah yang telah menjerumuskan suamiku ke dalam
peperangan. Ialah yang pantas mati. Ia seorang prajurit. Bukan
suamiku, bukan suamiku" Perempuan itu berteriak-teriak sambil
menunjuk wajah Ki Tumenggung Dipanata. "Pergi, pergi kau" teriak Ki
Reksatani sambil melangkah mendekatinya. Wajahnya menjadi merah
padam dan giginya gemeretak. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia
mendengar Ki Tumenggung Dipanata berkata "Biarlah. Biarlah ia
mencurahkan isi hatinya. Kita dapat membayangkannya, betapa sakitnya
seseorang yang kehilangan" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Tanpa
sesadarnya ia berpaling memandang wajah Ki Demang. Tetapi wajah itu
tertunduk dalam-dalam. Sedang Ki Tumenggung masih melanjutkannya
"Dan perempuan ini telah kehilangan suaminya. Tanpa harapan untuk
dapat menemukan kembali" Suasana di halaman itu menjadi hening. Ki
Jagabayapun telah turun dari kudanya. Perlahan-lahan ia melangkah
maju mendekati perempuan yang sedang menangis itu. Perempuan itu
adalah kemanakannya. "Sudahlah" berkata Ki Jagabaya "jangan menangis
lagi. Kita tidak dapat menuntut atas kematian seseorang, karena
hidup dan mati itu bukan terletak di tangan kita. Dimanapun kita
dapat dijemput oleh maut. Di rumah, di sawah, disungai dan bahkan
selagi kita tidur sekalipun. Apalagi suamimu sedang berada di
peperangan" "Kenapa suamiku dibawa ke peperangan paman?" bertanya
perempuan itu. "Bukan suamimu sendiri yang dibawa kepeperangan.
Seperti kau mempertahankan milikmu sendiri, maka suamimu telah
mempertahankan miliknya pula. Milik kita semua. Dan karena itu, maka
anak-anak muda kita sudah berangkat. Tetapi hidup dan mati bukanlah
kita yang menentukan" Perempuan itu masih menangis. Tetapi Ki
Jagabaya kemudian membimbingnya menepi. Diserahkannya perempuan itu
kepada seorang perempuan tua tetangganya. "Apakah mertuanya tidak
datang?" ia bertanya kepada perempuan tua itu. Perempuan tua itu
menggeleng. "Kenapa?" "Ia takut mengalami kejutan seperti ini. Ia
sedang mencoba mengatur perasaannya, karena ia mendengar dari
anak-anak yang melihat iring-iringan ini, bahwa anaknya tidak ada di
antara mereka" Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
iapun kembali ke samping kudanya. Tetapi ia tidak meloncat naik,
sementara Ki Reksatanipun masih juga berdiri di samping kudanya
pula. "Kita tidak dapat mengingkari perasaan itu" berkata Ki
Tumenggung Dipanata "bukankah di dalam hati kita masingmasing juga
melonjak perasaan yang serupa, meskipun dalam ukuran yang berbeda?
Kita masih sempat mempertimbangkannya dengan nalar, tetapi agaknya
perempuan itu tidak" Suasana di halaman Kademangan itu menjadi
hening. Sekali-sekali mereka masih mendengar isak yang semakin
menjauh Perempuan yang kehilangan suaminya itu telah dibimbing oleh
tetangganya meninggalkan halaman Kademangan. "Sudahlah" perempuan
tua itu mencoba meredakan tangisnya "berdoalah kepada Tuhan yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, agar bayimu yang hampir lahir itu
mendapat perlindungannya" "Tetapi ia tidak akan pernah melihat
ayahnya" "Kita memang tidak dapat ingkar dari keharusan yang telah
tergores di sepanjang perjalanan hidup kita masing-masing.
Percayalah kepada kebesaran Tuhan. Pasti bukan maksudnya untuk
sekedar menyiksa perasaan kita tanpa arti. Memang mungkin sekali
akal dan nalar kita yang picik tidak akan pernah dapat mengerti
isyarat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita masing-masing"
Perempuan itu tidak menyahut. Tetapi ia masih menangis dan suara
isaknya telah menyelusuri jalan-jalan di padukuhan Kepandak. Di
halaman Kademangan Ki Tumenggung Dipanata masih memberikan beberapa
petunjuk dan penjelasan. Dengan hati yang tersayat ia menyaksikan
wajah-wajah yang pucat dan mata yang basah. Akhirnya Ki Tumenggung
Dipanata itu berkata kepada Ki Demang di Kepandak "Ki Demang. Aku
menyesal sekali bahwa aku tidak dapat menyerahkan kembali anak-anak
muda Kepandak sejumlah yang pernah kalian serahkan kepada Mataram.
Tetapi seluruh Mataram tidak akan pernah melupakan perjuangan
mereka. Mungkin para pemimpin dikemudian hari sama sekali t idak
mengenal dan tidak pernah mendengar nama-nama anak-anak muda yang
telah gugur, tetapi jasa yang pernah diberikan tidak akan dapat
terhapus, walaupun tidak seorangpun yang akan menyebutnya lagi.
Darah yang pernah menitik di bumi Tanah Air akan tetap seperti yang
pernah terjadi. Diakui atau tidak diakui orangorang yang akan datang
kelak" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Cahaya senja yang
merah mulai membayang di langit, sehingga wajah-wajah mereka yang
berada di halaman Kademangan itupun menjadi kemerah-merahan pula.
Namun dalam pada itu, hati Ki Demang sendiri justru perlahan mulai
mengendap. Seolah-olah ia mendapatkan beberapa orang kawan
sepenanggungan. Beberapa orang yang telah kehilangan seperti dirinya
sendiri. Bahkan mereka dapat menyebut diri mereka, keluarga seorang
pahlawan. Ki Demang di Kepandak menundukkan kepalanya. Kini baru
terasa, bahwa ia telah terdorong oleh perasaannya tanpa pertimbangan
nalar yang bening. Untunglah bahwa Ki Tumenggung Dipanata seorang
perwira yang bertanggung jawab. Kalau tidak, seandainya saja ia
menyerahkan Pamot kepadanya selagi hatinya gelap, ia tidak dapat
membayangkan, apa yang telah dilakukannya. Ia pasti berusaha untuk
memeras anak itu agar ia mengakui, bahwa ia telah mengambil
Sindangsari. Benar atau tidak benar. Kalau ia sudah mengucapkan
pengakuan, meskipun terpaksa, maka pengakuan itu akan menjadi alasan
untuk berbuat apa saja atasnya lebih jauh lagi. "Nah" berkata Ki
Tumenggung Dipanata kemudian "terimalah anak-anak kalian kembali.
Aku masih akan sering datang ke Kademangan ini karena tugasku belum
selesai. Anak-anak yang tidak dapat kembali kepada keluarganya, akan
sekedar mendapat pernyataan terima kasih dari Sinuhun Sultan Agung.
Mereka akan mendapat sebidang tanah yang akan diserahkan kepada
keluarganya. Tanah yang akan dibeli oleh Sinuhun Sultan Agung di
daerah mereka masing-masing" Ki Demang mengangkat wajahnya. Dengan
kata-kata yang dalam ia menerima anak-anak muda di Kepandak kembali
ke rumah masing-masing, meskipun tidak sebanyak pada saat mereka
berangkat. Setelah penyerahan itu selesai maka anak-anak muda yang
baru saja kembali itupun kemudian diperkenankan pulang. Mereka
mendapat hadiah masing-masing seekor kuda, Kuda yang cukup baik bagi
anak-anak di Kepandak. Namun dalam pada itu, Pamot masih
termangu-mangu di luar regol halaman. Betapa ia ingin segera pulang,
tetapi rasarasanya sesuatu telah membebani hatinya. "Marilah Pamot"
ajak ayahnya yang menjemputnya di halaman itu pula. "Silahkan ayah
pulang dahulu. Aku akan segera menyusul" "Seisi rumah menunggumu
Pamot" "Ya, ya ayah. Aku tahu. Aku akan segera pulang. Tetapi aku
akan menunggu dahulu. Aku persilahkan ayah mendahului" Ayahnya
menjadi berdebar-debar. Teringat olehnya beberapa saat yang lampau,
beberapa orang telah mencari anaknya yang saat itu belumdatang.
"Apakah ada sesuatu yang penting?" ia bertanya "Silahkan ayah
mendahului" berkata Pamot kemudian "aku akan segera menyusul"
Ayahnya tidak dapat memaksanya. Karena itu, maka ditinggalkannya
Pamot di depan regol dengan hatinya yang berat. Bahkan langkahnyapun
kadang-kadang tertegun. Ketika ia berpaling, dilihatnya Punta telah
berada di samping anaknya. "Kau tidak pulang" bertanya Punta.
"Hatiku serasa dibebani oleh sesuatu. Aku akan menghadap Ki Demang
di Kepandak. Barangkali hal itu akan menjadi lebih baik bagiku
daripada aku harus menunggu ia mengambilku di rumah. Apalagi dengan
paksa" Punta menarik nafas dalam-dalam. Ia masih melihat Ki
Tumenggung Dipanata dijamu dipandapa. "Apakah kau akan menghadap
sekarang?" bertanya Punta. Pamot mengangguk. "Marilah. Aku antar kau
menghadap Ki Demang, mumpung Ki Tumenggung masih ada" "Apakah kau
tidak segera pulang?" "Aku menunggumu sebentar. Aku akan
mempersilahkan ayah mendahului" "Ayahku juga sudah dahulu pulang"
Punta yang mempersalahkan ayahnya mendahului, kemudian mengantarkan
Pamot masuk kembali ke halaman Kademangan Kepandak. Meskipun mereka
agak ragu-ragu, namun merekapun kemudian meloncat turun dari
punggung kuda mereka, dan mengikat kuda itu di halaman. Di pendapa
Kademangan, Ki Demang di Kepandak yang sedang menjamu Ki Tumenggung
Dipanata bersama para bebahu Kademangan menjadi heran melihat Pamot
dan Punta yang tidak segera pulang dan justru kembali ke pendapa.
Berbeda dengan nafsu Ki Demang yang meluap-luap untuk menangkap
Pamot ketika ia baru datang, kini ia justru menjadi berdebar-debar
melihat Pamot kembali. Meskipun ia belum melakukan tuduhan apapun
yang ditekankannya kepada anak muda itu, tetapi rasa-rasanya Pamot
akan mengajukan keberatannya atas tuduhan itu. Karena itu, maka
justru Ki Demang seakan-akan telah terbungkam karenanya. Hanya
perasaannya sajalah yang bergolak di dalam dadanya. Yang mula-mula
bertanya kepada Pamot justru adalah Ki Tumenggung Dipanata "Kenapa
kau kembali lagi Pamot?" Pamot masih berdiri di bawah tangga pendapa
bersama Punta. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia menjawab
"Tuan, aku menjadi bimbang untuk meninggalkan Kademangan. Terasa
sesuatu telah memberati langkahku. Aku ingin pulang dengan tenang
dan dapat berist irahat dengan tenang pula" "Kenapa kau menjadi
gelisah. Kau sudah dapat pulang sekarang. Pulanglah. Tidak ada
persoalan lagi yang perlu kau gelisahkan" "Tetapi rasa-rasanya aku
tidak akan dapat tidur. Setiap saat aku dapat diambil dari rumahku.
Karena itu, aku ingin semuanya menjadi jernih dahulu. Dengan
demikian aku akan dapat pulang dengan tenang. Punta akan menjadi
saksi dari semua persoalanku" "Kau memang bodoh" Ki Reksatanilah
yang menyahut "kau sudah mendapat kesempatan pulang. Sekarang kau
menantang kakang Demang. Apakah kau sangka bahwa setelah kau pulang
dari perjuanganmu itu kau menjadi kebal?" "Bukan begitu Ki
Reksatani" jawab Pamot "aku hanya ingin, bahwa aku dapat pulang dan
beristirahat dengan tenang, Aku ingin meyakinkan diriku sendiri
bahwa aku t idak akan terganggu lagi karenanya" "Itu tidak mungkin.
Selama persoalan mBok-Ayu Demang di Kepandak belum selesai,
kemungkinan yang demikian masih ada" sahut Ki Reksatani pula "kami
masih tetap mencurigai kau, sebelum kau benar-benar dapat
membuktikan bahwa kau tidak bersalah" "Nah, yang aku inginkan,
biarlah hal-hal yang demikian itu menjadi jernih sama sekali" "Kalau
begitu kau ingin aku tangkap he?" bentak Ki Reksatani "atau kau
ingin memanfaatkan kehadiran Ki Tumenggung Dipanata, agar kau
mendapat Perlindungannya?" "Ki Reksatani agaknya menjadi salah
paham" berkata Punta lambat "bukan maksudnya menantang persoalan.
Tetapi justru karena ia merasa terganggu oleh persoalan itu, ia
ingin mencoba untuk mendapat penyelesaian sehingga ia benarbenar
dapat pulang dengan hati tenteram" "Persetan kau" bentak Ki
Reksatani "kau tidak tahu apapun tentang persoalan ini" Ki
Tumenggung Dipanata mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak
senang melihat sikap Ki Reksatani sejak ia bertemu di jalan. Tetapi
karena Ki Reksatani adalah adik KiDemang di Kepandak, maka Senapati
Mataram itu masih mencoba menahan hatinya. Ki Demang yang selama itu
hanya berdiam diri saja, kemudian mengangkat wajahnya sambil menarik
nafas dalamdalam. Kemudian katanya "Sudahlah Reksatani, biarlah aku
menyelesaikannya" "Sekarang?" bertanya adiknya. "Ya. Sekarang" Ki
Reksatani menjadi heran. Bahkan orang-orang lain yang ada di pendapa
itupun menjadi heran pula. "Pamot " berkata Ki Demang "kemarilah,
dan duduklah bersama kami sebentar. Aku tahu, seluruh keluargamu
menunggu kedatanganmu" Pamot ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun
naik ke pendapa diikuti oleh Punta. Sejenak kemudian kedua anak-anak
muda itu telah duduk sambil menundukkan kepalanya. "Pamot " berkata
Ki Demang dengan nada suara yang dalam. Sama sekali t idak lagi
terbayang di dalam getaran suaranya, nafsu yang menyala di dadanya
untuk memaksa anak itu mengatakan sesuatu tentang Sindangsari
"Sebelum kau datang, aku memang menyimpan kecurigaan atasmu. Apalagi
setelah aku mendengar bahwa kau telah berada beberapa hari di
Mataram. Dan kini aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau telah
mengambil Sindangsari dari Kademangan ini?" Pamot mengerutkan
keningnya. Ia tidak menyangka bahwa begitu tiba-tiba Ki Demang
bertanya kepadanya di hadapan sekian banyak orang termasuk Ki
Tumenggung Dipanata. "Cobalah, jawablah pertanyaanku itu Pamot?"
"Sejak aku datang Ki Demang, aku sama sekali tidak boleh keluar dari
barak, dan akupun mematuhinya" "Ya, aku sudah menduga. Dan aku
percaya bahwa kau telah mematuhi peraturan itu. Karena itu, aku juga
percaya bahwa kau tidak mengambil Sindangsari dari Kademangan. Pamot
menjadi semakin heran. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu. Dan Ki
Demanglah yang berkata kemudian "Sekarang, semua persoalan sudah
selesai bagimu. Kau boleh pulang dengan hati yang lapang. Aku tidak
akan mengganggumu lagi" "Kakang Demang" potong Ki Reksatani "apakah
cukup begitu saja?" "Aku sudah menganggapnya cukup" "Tunggu" Ki
Reksatani bergeser setapak mendekati kakaknya "aku masih belum puas.
Masih banyak sekali kemungkinan dapat terjadi. Ia dapat meminjam
tangan orang lain untuk melakukannya, meskipun anak itu sendiri
tidak meninggalkan baraknya" Ki Demang merenung sejenak. Namun
kemudian ia berkata "Aku percaya kepadanya. Ia sudah mengatakan
bahwa ia tidak mengambil isteriku" Ki Reksatani masih akan berkata
sesuatu, tetapi Ki Jagabaya mendahuluinya "Kalau pendapat Ki Demang
ternyata keliru, lain kali kita dapat memperbaikinya. Sekarang, aku
kira Pamot memang sudah boleh pulang. Keluarganya pasti sudah
menunggunya. "Ia memang sudah diijinkan pulang sejak semula" bantah
Ki Reksatani "tetapi ia datang sendiri menantang kakang Demang untuk
membuka persoalan mengenai Sindangsari. Kalau ia sejak semula tidak
lagi membuat ribut disini, akupun tidak akan mengganggunya" "Jangan
diperbincangkan lagi" berkata Ki Demang kemudian "aku menganggap
sudah cukup" Lalu katanya kepada Pamot "pergilah sebelum aku merubah
keputusanku" Pamot beringsut surut. Tetapi tampaknya Ki Reksatani
masih belum puas sama sekali. Namun demikian ketika Ki Demang
berpaling menatap matanya, Ki Reksatani tidak mengatakan sesuatu
lagi. Ki Tumenggung Dipanata menarik nafas dalam-dalam. Dengan susah
payah ia menahan hatinya. Dibiarkan Ki Demang di Kepandak mencegah
adiknya sendiri kalau ia ikut campur betapapun perasaannya
melonjak-lonjak maka harga diri Ki Reksatani pasti akan lebih
mempersulit penyelesaian. Pamotpun kemudian minta diri bersama Punta
yang selalu mengawaninya. Dengan hati yang masih diliputi oleh
keraguraguan Pamot meninggalkan halaman Kademangan. "Ternyata aku
masih belum mendapatkan ketenangan itu" berkata Pamot kepada Punta.
"Tetapi kau dapat beristirahat dengan lebih baik. Setidaktidaknya
sekarang kau mengetahui, siapakah sebenarnya yang masih berkeras
hati mencurigaimu. Aku mengharap bahwa sikap Ki Demang itu tidak
segera berubah" "Apakah ia akan tetap berpendirian begitu seandainya
Ki Tumenggung Dipanata sudah kembali ke Mataram?" Punta termenung
sejenak. Lalu "Aku kira demikian. Ki Demang bukan seorang pengecut.
Kalau ia mempunyai sikap pribadi, ia tidak akan mudah terpengaruh
oleh kehadiran siapapun juga. Agaknya ia menemukan persoalan baru di
dalam dirinya, sehingga ia telah mengurungkan niatnya. Aku, Ki
Jagabaya dan Ki Tumenggung Dipanata telah mencoba menyentuh
perasaannya, sehingga mungkin sekali persoalanpersoalan baru itu
telah dapat merubah sikapnya" Pamot tidak menyahut. Tetapi kepalanya
teranggukangguk. Keduanyapun kemudian berpisah di ujung jalan yang
memasuki padukuhan Gemulung. Mereka telah memilih jalan ke rumah
masing-masing. Malam itu Ki Tumenggung Dipanata bermalam satu malam
di Kademangan Kepandak. Ki Demang bahkan telah menyanggupi, bahwa di
kesempatan yang dekat, ia akan menyelenggarakan malam-malam
penyambutan resmi bagi anak-anak Kepandak yang telah kembali itu.
"Lain kali aku akan menga akan pertunjukan di halaman ini untuk
mereka" berkata Ki Demang "tetapi sementara ini aki ingin mengatur
perasaanku lebih dahulu.Aku memang harus malu terhadap mereka yang
kehilangan suami mereka. Mereka terpaksa menerima keadaan itu, sama
sekali tanpa harapan bahwa suami mereka itu akan datang kembali"
"Justru karena itu" sahut Ki Reksatani yang duduk di belakangnya
"seandainya mBokayu sudah diketemukan mati sama sekali, kita tidak
akan bersusah payah mencarinya. Tetapi kita sekarang selalu
dibayangi oleh gambarangambaran apakah yang sedang terjadiatasnya
kini. Saat ini. Malam ini dan malam-malam berikutnya, selagi ia
mengandung tua" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
menjawab. Dalam pada itu, Manguri dengan gelisahnya menunggu pesuruh
ayahnya yang akan memberi tahukan, dimanakah kini Sindangsari itu
disembunyikan. "Malam ini pesuruh itu harus datang" desis Manguri.
Lamat, yang diajaknya berbincang hanya dapat mengangguk-anggukkan
kepalanya sambil mengulangi katakata Manguri "Ya, malam ini pesuruh
itu harus datang" Sejak senja Manguri tidak beringsut dari tangga
pendapa rumahnya. Matanya melekat pada pintu regolnya yang tertutup.
Hatinya berdesir setiap kali daun pintu regol itu bergerit. Tetapi
yang lewat bukanlah orang yang ditunggunya. Mereka adalah
pelayan-palayan yang sedang pulang dari sawah, atau dari sungai atau
dari manapun juga. Juga anakanak yang menyabit rumput buat ternak di
kandang. "Kalau ia datang terlampau malam, ia pasti dicurigai oleh
para peronda yang seakan-akan ikut menjadi gila pula sekarang"
berkata Manguri. Kemudian "Kalau salah seorang dari pesuruh itu
tertangkap, dan tidak dapat menyimpan rahasia lagi, maka semuanya
akan hancur berantakan. Usaha yang kita lakukan sampai saat ini akan
menjadi sia-sia saja" "Bukan saja sia-sia "sambung Lamat "tetapi
Kademangan ini pasti akan dibakar oleh kerusuhan yang tidak mudah
teratasi, kecuali apabila Pasukan Mataram datang untuk melerainya"
"He" Manguri membelalakkan matanya "jadi kau pikir, apabila keadaan
memaksa, kita tidak akan dapat menyelesaikan persoalan ini sehingga
kita harus menyerahkannya kepada orang-orang Mataram?" Lamat
mengerutkan keningnya. "Kau sangka mereka akan berbuat
sebaik-baiknya disini? Tidak. Mereka justru akan menambah kekeruhan
saja. Mereka akan memeras kita kedua-belah pihak. Mereka akan
merampas apa saja yang mereka kehendaki. Bahkan termasuk Sindangsari
sendiri" "Itu tidak mungkin" tiba-tiba saja Lamat membantah,
sehingga Manguri menjadi terheran-heran. "Kenapa tidak mungkin?"
"Ayah Sindangsari juga seorang prajurit" Lamat melanjutkannya.
Jawaban Lamat itu ternyata dapat dimengerti pula oleh Manguri,
Sindangsari memang anak seorang prajurit. Namun tiba-tiba ia berkata
pula "Mungkin kau benar. Sindangsari memang anak seorang prajurit
meskipun prajurit itu sudah mati. Tetapi masalah yang lain kecuali
Sindangsari, akan terjadi seperti yang aku katakan" Lamat
menggelengkan kepalanya Desisnya "Mudahmudahan tidak. Memang mungkin
ada satu dua orang prajurit yang berbuat demikian. Tetapi
kawan-kawan mereka pasti akan mencegahnya dan bahkan pemimpin mereka
pasti akan menghukumnya" Manguri menjadi heran mendengar kata-kata
Lamat. Karena itu ia bertanya "Dari siapa kau dengar hal itu?" Lamat
tiba-tiba saja menjadi bingung. Tetapi ia kemudian menjawab "Aku
sering mendengar pembicaraan orang-orang yang lewat di jalan sebelah
apabila aku sedang berada di regol atau sedang memperbaiki dinding
batu yang pecah atau aku sedang berjalan ke sawah. Sejak anak-anak
Gemulung pergi ke Mataram, hampir setiap orang berbicara tentang
prajurit dan anak-anak muda yang pergi itu" Manguri mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia menggeram "Persetan. Tetapi pesuruh
ayah itu harus datang" Lamat tidak menyahut. Tetapi ia menjadi
berdebar-debar pula. Bahkan kemudian terbayang di rongga matanya apa
yang akan terjadi di Kademangan ini seandainya permainan Manguri dan
Ki Reksatani gagal. Tetapi seandainya permainan itu berhasil apakah
yang akan terjadi dengan Sindangsari dan Ki Demang di Kepandak?"
Lamat kemudian duduk membisu ketika Manguri berjalan hilir mudik
dengan gelisahnya. Bahkan ketika malam menjadi gelap. Ia berkata
"Kita menunggu di depan regol" Lamat tidak membantah. Diikutinya
saja Manguri yang berjalan ke regol halaman rumahnya. Namun sebelum
mereka sampai keregol, mereka melihat pintu regol yang sudah
tertutup itu tersibak. Seorang laki-laki yang menuntun seekor kuda
melangkah memasuki halaman. "Siapa?" Manguri bertanya. "Aku, Bandil"
"O, kau" desis Manguri "apakah kau membawa pesan ayah?" "Ya" "Bagus.
Bagus.Marilah, masuk sajalah ke pringgitan" Setelah membawa kudanya
ke belakang, laki-laki yang bernama Bandil itupun dibawa masuk oleh
Manguri dan Lamat ke pringgitan. "Apakah kau baru saja datang?" "Ya.
Aku kemalaman di jalan" "Kenapa?" "Aku agak terlambat memasuki
Kademangan Kepandak. Aku takut dicurigai. Karena itu, aku menempuh
jalan-jalan sempit dan bahkan menuntun kudaku di jalan setapak. Aku
menghindari gardu-gardu peronda supaya tidak ada seorangpun yang
melihat aku datang" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
ia bertanya "Kenapa kau datang terlampau malam?" Orang itu tidak
segera menjawab. "Kenapa he?" Manguri mendesak. Sejenak orang itu
menatap wajah Manguri, namun kemudian ia menundukkan kepalanya.
Namun ia masih tetap diam. "Kenapa?" akhirnya Manguri membentak.
Tetapi orang itu justru tersenyumtersipu-sipu. Sambil beringsut
sedikit ia berkata "Memang, memang aku agak kemalaman" "Apakah ayah
memang terlambat menyuruhmu berangkat?" Orang itu menggeleng "Tidak
aku tidak terlambat berangkat" "Jadi bagaimana?" "Aku singgah
sejenak" "Singgah dimana?" "Di rumah isteri mudaku" "Gila. Kau
benar-benar gila. Kami yang menunggu disini serasa berdiri diatas
bara. Kau seenaknya singgah di rumah isteri mudamu. Kau
sungguh-sungguh sudah gila. Kalau ayah mendengar, kau akan
dihajarnya habis-habisan" Manguri menggeretakkan giginya. Tangannya
sudah menjadi gatal. Kalau saja orang itu bukan orang yang disuruh
ayahnya membawa kabar penting dan rahasia, orang itu pasti sudah
dipukulnya "Kau tahu akibat dari kelambatanmu karena kau singgah di
rumah isteri mudamu itu he? Kalau kau tertangkap dan kau dipaksa
berbicara, semuanya akan berantakan" "Sebenarnya aku juga tidak
ingin singgah di rumah isteri mudaku itu. Tetapi jalan yang aku
lalui lewat tepat di muka rumahnya. Dan kebetulan sekali isteri
mudaku itu baru berada di regol halaman" "Kau dapat mengatakan bahwa
kau sedang bergegas" "Aku sudah mengatakan" "Kenapa kau singgah
juga" "Ia menangis kalau aku tidak mau singgah" "Menangis?" "Ya.
Isteriku itu baru berumur empat belas tahun" "Gila. Kau benar-benar
gila. Kau sudah setua itu masih mempunyai seorang isteri berumur
empat belas tahun" "O, itu masih belum mengherankan. Apakah kau
tidak heran kalau salah seorang isteri Ki Sukerta, baru berumur tiga
belas tahun. Jadi setahun lebih muda dari isteriku itu?" "Persetan.
Persetan. Aku tidak berurusan dengan isteriisteri muda itu. Aku
ingin segera mendengar keterangan tentang Sindangsari" Laki-laki
yang bernama Bandil itu menarik nafas dalamdalam. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata "Ya, aku memang mendapat
tugas untuk menyampaikan pesan tentang. Nyai Demang" "Dimana dia
sekarang?" "Ki Sukerta telah menyembunyikannya baik-baik" "Ya,
tetapi dimana ayah menyembunyikannya" "Ki Sukerta membawanya ke
Sembojan" "Sembojan? Dimanakah Sembojan itu?" "Di sebelah Temu Agal,
Kademangan Prambanan" "Begitu jauh?" "Ya. Tentu semula Ki Sukerta
menganggap bahwa tempat itu adalah tempat yang paling aman. Cukup
jauh, tetapi masih dapat dicapai dalam waktu yang tidak terlampau
lama" "Semula, kenapa kau mengatakan semula ayah menganggap tempat
itu paling aman?" "Agaknya Ki Sukerta mempertimbangkan akan
membawanya ke tempat lain" "Kenapa?" "Dengan berpindah-pindah
tempat, maka jejaknya tidak akan mudah diketahui oleh orang lain"
"Tetapi bagaimana aku harus menghubunginya? "Setiap kali akan ada
seseorang yang memberitahukan kepadamu disini" "Tetapi kami harus
menetap. Kami akan hidup seperti manusia sewajarnya. Tidak seperti
seekor burung yang membuat sarangnya di sembarang tempat dan
berpindahpindah" "Tentu. Tetapi kau memerlukan waktu. Setelah semua
orang melupakannya, kau dapat menetap di suatu tempat yang kau pilih
dari antara sekian banyak yang ditentukan oleh ayahmu" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kapan waktu itu akan datang.
Kapan semua orang akan melupakan hilangnya Nyai Demang di Kepandak?
Sejenak Manguri berdiam diri. Ternyata tidak semudah yang
disangkanya untuk memperisteri Sindangsari. Tidak sekedar
melarikannya dan menyingkir dari lingkungan orangorang Kepandak.
Ternyata untuk waktu yang lama orangorang Kepandak pasti masih
berusaha menemukan Nyai Demang yang hilang. Apalagi kini Pamot telah
t iba kembali di Kademangan. Bagaimanapun juga ia pasti akan ikut
campur di dalam persoalan ini. Tetapi ia sudah bertekad, bahwa ia
tidak akan mundur setapak. "Mungkin aku akan tetap tinggal disini.
Aku akan dapat mengunjunginya setiap pekan sekali" berkata Manguri
di dalam hatinya. Tetapi kemudian "Tidak mungkin. Siapakah yang akan
menungguinya selama aku tidak ada di tempat itu. Tidak seorang
perempuanpun yang dapat dipercaya untuk mengatasi kekerasan hati
Sindangsari. Ia pasti akan berusaha melarikan dirinya. Tetapi tidak
seorang laki-lakipun yang dapat dipercaya menunggui perempuan
secantik Sindangsari. "Gila" akhirnya Manguri mengumpat-umpat. Dalam
kebingungan ia berkata di dalam dirinya "Biarlah aku akan memaksanya
secara kasar. Kalau semuanya sudah terjadi, ia tidak akan dapat lari
lagi. Ia justru akan merasa malu menjumpai orang-orang yang sudah
dikenalnya. Dan ia akan tetap bersembunyi di tempat yang sudah
disediakan itu" Demikianlah saat itu Manguri harus menerima keadaan
yang masih belum dapat dibayangkan, apa yang akan terjadi kemudian.
Namun bahwa Sindangsari sudah sampai di tempat yang jauh, ia sudah
menjadi agak tenteram. Di hari-hari mendatang, tinggal mengatur
apakah yang akan dilakukannya atas perempuan itu. Meskipun demikian,
malam itu Manguri tidak dapat tidur dengan tenteram. Kadang-kadang
ia bangkit dan berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Ia tidak
pergi bersama Lamat ke sawah untuk mengairi tanamannya yang sedang
tumbuh. Hatinya selalu terganggu oleh bayangan-bayangan yang
kadang-kadang sangat mencemaskan. Hampir tengah malam Manguri t idak
dapat menahan kegelisahannya. Tiba-tiba saja ia menyambar pedang
yang tergantung di dinding. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dan
pergi ke belakang. Di pintu bilik Lamat ia mengetuk perlahanlahan
sambil memanggilnya "Lamat, Lamat?" Tidak ada yang menyahut. Sedang
di dalam bilik itu tampak masih gelap. "Orang ini masih belum
pulang" desis Manguri. Untuk menghilangkan kegelisahannya, maka
Manguripun kemudian menggeram "Apakah ia tertidur di tengah sawah"
Tiba-tiba saja Manguri berhasrat untuk menyusulnya. Tanpa minta diri
kepada siapapun ia berjalan keluar dari regol halamannya dan dengan
tergesa-gesa pergi ke sawah. Di depan gardu peronda, seorang anak
muda menghentikannya sambil bertanya "Siapa?" "Apakah kau belum
mengenal aku?" sahut Manguri. Anak muda itu mengerutkan keningnya
"O, kau. Tetapi aku tidak melihat wajahmu di kegelapan" Manguri t
idak menyahut lagi. Ia berjalan terus menuju kebulak yang terbentang
di sebelah padukuhan Gemulung. "Anak itu masih saja sangat sombong"
desis anak muda yang menyapanya. "Kaulah yang kurang kerja malam
ini. Kenapa kau sapa anak gila itu? Diantara kami tidak ada lagi
orang yang sempat menyapanya" "Di dalam kegelapan, aku tidak begitu
mengenalnya" "Kau memang agak mengantuk. Langkahnya dari jarak
seratus patok sudah dapat dikenal, bahwa ia adalah Manguri yang
perkasa" Kawan-kawannya yang lain tertawa, sedang anak muda yang
menyapanya itu diam tersipu-sipu. Dalam pada itu Lamat yang berada
di sawah sedang sibuk membendung air yang mengalir diparit yang
menyusuri kotakkotak sawah ayah Manguri. Mumpung air yang mengalir
cukup banyak ia mengharap bahwa semalam nanti sawahnya akan mendapat
air yang cukup. Ketika air sudah mulai mengalir masuk ke dalam kotak
sawah, maka Lamatpun menggeliat sambil menekan lambungnya dengan
telapak tangannya. Dipandanginya air yang gemericik di bawah kakinya
itu sejenak. Setelah mencuci cangkulnya, maka iapun kemudian
meninggalkan bendungan kecil itu menuju ke gubug di tikungan
pematang. Tetapi alangkah tertegunnya ketika ia melihat bayangan
seseorang yang berjalan menyusuri pematang ke arahnya. Tampaknya
agak ragu-ragu dan sangat hati-hati. "Siapa?" desis Lamat di dalam
hatinya. Dan bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat
sehingga akhirnya Lamat dapat mengenalnya juga. "Kau Pamot" sapa
Lamat perlahan-lahan "Ya" sahut Pamot ragu-ragu. "Ternyata kau
kembali dengan selamat meskipun kau tampak agak kurus" "Ya Lamat.
Semua yang ada di dalam pasukan itu menjadi kurus. Aku juga, Punta
juga dan yang lain juga" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.
Desisnya "Beruntunglah kau, bahwa kau sudah mendapat kesempatan
untuk memberikan sesuatu kepada Tanah Mataram" "Kelak akan datang
giliranmu" Tetapi Lamat menggelengkan kepalanya "Aku adalah sekedar
kerbau penarik pedati. Tidak pantas bagiku untuk membawa senjata di
bawah panji-panji kebesaran Mataram" Pamot tidak menyahut. "Marilah"
ajak Lamat "kita duduk di gubug itu. Pamot ragu-ragu sejenak. Tetapi
kemudian ia menggeleng "Aku hanya sebentar" Lamat mengerutkan
keningnya. Lalu "Tetapi sebaiknya kita duduk. Duduklah disini.
Tetapi pematang sawah di Gemulung masih tetap kotor Pamot" Pamot
menarik nafas dalam-dalam. "Duduklah diatas batu itu" Pamotpun
kemudian duduk diatas sebuah batu di samping Lamat. "Aku senang
sekali dapat bertemu dengan kau sekarang, selagi Manguri tidak ada
He. kau dapat memilih waktu dengan tepat" "Aku melihat kau berjalan
sendiri. Aku berada di belakang gardu ketika kau lewat" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kenapa Manguri t idak pergi?"
"Jarang sekali Manguri pergi ke sawah sekarang" "Kenapa?" Lamat
tidak menyahut. Tetapi kemudian ia berkata "Berceriteralah tentang
perjalananmu Pamot. Aku ingin sekali mendengarkan" "Perjalanan yang
sangat berat. Apalagi bagi kami, anakanak muda dari padukuhan yang
kurang terlatih. Tetapi perjalanan itu memberikan kebanggaan juga
bagiku" "Ceriterakan" "Tetapi, aku memerlukan keteranganmu juga
Lamat" Lamat mengerutkan keningnya pula. Semakin dalam. Ia sudah
merasa bahwa arah percakapan Pamot pasti akan bergeser ke arah yang
mendebarkan jantung baginya. Karena itu ia masih ingin mengelak
"Ceriterakan saja dahulu perjalananmu. Di Gemulung tidak ada
peristiwa yang menarik seperti perjalanan itu" "Ada Lamat. Justru
sangat menarik" "Ah, tetapi itu bukan urusan kita. Aku ingin
mendengar kau menceriterakan, betapa panjangnya pasukan Mataram
ketika mulai berangkat dari alun-alun. Dan betapa pula panjangnya
pasukan itu setelah melampaui daerah Kadipaten Pesisir Utara. Di
sepanjang jalan pejuang-pejuang yang akan mengusir orang asing itu
pasti semakin bertambah-tambah. Gamelan yang menurut pendengaranku
mengiringi pasukan itu pasti akan menambah gairah perjuangan di
setiap dada" "Ya. Kau sudah tahu semuanya Lamat. Dari siapa kau
mendengarnya?" Lamat menundukkan kepalanya "Aku mendengar dari
orang-orang yang berbicara di sebelah simpangan parit di seberang
jalan. Kami telah membagi air untuk malam ini di sana. Dan mereka
berbicara tentang pasukan yang pergi ke Betawi. "Ya. Seperangkat
gamelan telah dibawa dan ditabuh di sepanjang jalan" "Alangkah
megahnya perjalanan itu" "Tetapi, aku memerlukan keteranganmu Lamat"
Lamat terdiam. "Aku kira kau mengerti meskipun t idak seluruhnya"
"Apa yang ingin kau tanyakan Pamot" "Apakah kau tahu serba sedikit,
atau mendengar dari orang-orang yang sering berkumpul disimpangan
parit diseberang jalan tentang Sindangsari?" Dada Lamat menjadi
berdebar-debar. Meskipun ia sudah menduga, tetapi pertanyaan itu
masih mengetuk jantungnya keras-keras. "Bagaimana mungkin
Sindangsari itu hilang?" "Pamot " suara Lamat tiba-tiba menurun "aku
tidak ubahnya seperti seekor binatang peliharaan seperti aku
katakan. Bagaimana mungkin aku dapat mengerti tentang Sindangsari"
"Kau juga mendengar ceritera tentang pasukan yang berangkat itu. Kau
mendengar ceritera tentang seperangkat gamelan yang ikut bersama
pasukan mataram. Jadi tidak mustahil kalau kau mendengar juga
ceritera serba sedikit tentang Sindangsari. Mungkin dari orang-orang
yang membagi air tetapi mungkin juga dari Manguri. Aku tahu bahwa
Manguri juga mencintai Sindangsari. Bahkan dengan segala macam cara
ia ingin memilikinya sebelum Sindangsari menjadi isteri Ki Demang di
Kepandak. Bila perlu Manguri tidak segan-segan mempergunakan
kekerasan" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku tidak
mengerti Pamot. Aku mengerti tentang Sindangsari di saat terakhir
kau menemuinya dan terjadi hal yang terkutuk itu sehingga kemudian
Sindangsari telah mengandung" "Lamat" potong Pamot "tetapi bukankah
Sindangsaritelah menjadi isteri Ki Demang" Lamat t idak menyahut.
"Aku berharap kau t idak menyebutkan hal itu lagi. Sudah aku katakan
sejak itu, bahwa aku menjadi sangat menyesal. Tetapi menurut
pendengaranku, hidup Sindangsari menjadi baik dan rumah tangganya
cukup tenteram menurut pengamatan orang di luar rumah itu. Tetapi
kenapa tiba-tiba saja perempuan itu hilang" Lamat menggelengkan
kepalanya "Aku tidak tahu sama sekali" "Lamat" berkata Pamot
kemudian "selama ini kau tetap berada di Kademangan Kepandak.
Sebelum aku pergi kau menaruh banyak perhatian atas hubungan kami.
Maksudku aku dan Sindangsari. Ketika tiba-tiba saja perempuan itu
hilang, aku kira kau memerlukan mendengar dugaan orang tentang hal
itu. "Tidak seorangpun yang dapat menduga, kemana Nyai Demang itu
pergi. Apakah ia pergi atas kehendaknya sendiri atau diambil oleh
orang lain. Bahkan selama ini Ki Demang telah mengerahkan
orang-orangnya, termasuk para pengawal Kademangan. Ki Jagabaya, Ki
Reksatani dan bebahu Kademangan yang lain untuk mencarinya. Tetapi
sampai saat ini, sama sekali t idak ada kabar beritanya" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Lamat berkata selanjutnya
"Barangkali yang aku dengar tidak lebih banyak dari yang didengar
oleh ayahmu atauoleh tetanggatetanggamu" Pamot tidak menyahut.
Ketika ia memandang wajah Lamat, dilihatnya wajah itu tertunduk
dalam-dalam. Tetapi di dalam gelapnya malam Pamot tidak dapat
melihat, betapa. wajah Lamat menjadi pucat dan matanya seakan-akan
telah padam sama sekali. "Baiklah Lamat" berkata Pamot kemudian
"selama ini aku percaya kepadamu, karena kau adalah orang yang
paling banyak memberikan pertolongan kepadaku. Memang aku mendengar
juga dari orang-orang lain. Tetapi aku baru puas setelah aku
mendengarnya darimu. Aku tahu, kepadaku kau tidak pernah berbohong.
Bahkan sejak Sindangsari masih menjadi seakan-akan rebutan di
Gemulung" Lamat tidak dapat menjawab. Terasa kerongkongannya menjadi
kering. Kering sekali. Dalam pada itu, Manguri berjalan tergesa-gesa
menyusuri jalan simpang. Kemudian ia meloncati sebuah parit dan
kemudian melangkah di sepanjang pematang. Ia menjadi demikian
tergesa-gesa seakan-akan ada sesuatu yang harus segera
diselesaikannya, sehingga kadang-kadang ia hampir tergelincir
karenanya. Sekali-sekali angin malam yang berhembus dari Selatan
telah mengusap wajahnya. Terasa dinginnya menyentuh kulit. Tetapi
karena langkahnya yang cepat, maka Manguri dapat mengatasi rasa
dinginnya, dan bahkan tubuhnya mulai basah oleh keringat Di kejauhan
kunang-kunang berkeredipan pada batangbatang padi muda, sedang suara
cengkerik berderik bersahutsahutan. Sejenak kemudian Manguri telah
sampai di ujung sawahnya. Langkahnya semakin lama menjadi semakin
cepat. Ia merasa selalu dikejar oleh kegelisahan yang
menghentakhentakkan dadanya, sehingga ia harus melarikan dirinya, ke
tengah tengah sawah yang gelap dan sepi. Sebelum Manguri sampai ke
gubug yang berdiri diatas tiang yang agak tinggi, ia sudah memanggil
"Lamat, Lamat apakah kau ada disitu?" Manguri terlonjak ketika ia
mendengar jawaban dekat di sampingnya "Aku ada disini" "Anak Setan"
ia menggeram "kau membuat aku terkejut" "Aku sudah menjawab
perlahan-lahan sekali" Manguri memandangnya dengan tegang. Namun
kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. "Kenapa kau menyusul?"
tiba-tiba saja Lamat bertanya. Pertanyaan itu ternyata telah membuat
Manguri menjadi bingung. Setelah ia sampai di tengah sawah, ia tidak
tahu lagi, apa yang akan dilakukannya. Namun kemudian ia menjawab
"Ya. Aku tidak dapat tidur. Udara terlampau panas. Aku ingin tidur
di gubug itu saja" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya "Tidurlah.
Aku sedang menunggui air. Aku mengharap bahwa air akan dapat
menggenangi seluruh kotak sawah kita malam ini" "Ya. Tungguilah air
yang hanya sedikit itu, kalau-kalau dicuri orang di bagian atas"
"Kami sudah membagi. Kita akan mendapat bagian sampai tengah malam,
kemudian kita akan memberikan kepada kotak-kotak sawah di bawah"
"Kenapa mesti diberikan? Biar saja sawah mereka menjadi kering.
Sebelum sawah kita cukup, kita tidak akan menutup pematang itu.
Mungkin kau dapat menghapus bendungan kecil itu, tetapi pematang
kita, biar saja tetap terbuka" Lamat tidak menjawab meskipun hal itu
berarti menyalahi persetujuan. Namun, Manguri pasti t idak akan
menunggui pematang semalam suntuk. Ia pasti akan tertidur juga di
gubug itu. Sedang menurut perhitungannya, apabila aliran air diparit
itu tetap, maka sawahnya akan cukup tergenang. Sepeninggal Manguri
yang kemudian pergi ke gubug, Lamat menarik nafas dalam-dalam.
Dengan isyarat ia menyuruh Pamot yang bersembunyi diantara
batang-batang padi yang subur untuk segera merangkak pergi. "Hampir
saja" desis Lamat "kalau Manguri melihat Pamot disini, ia pasti akan
segera menjadi curiga. Semuanya akan menjadi kacau, dan segala
macamprasangka akan t imbul" Dan kini Lamat dapat mengelus dadanya
karena Pamot telah berhasil menyingkir tanpa diketahui sama sekali
oleh Manguri. Namun sepeninggal Pamot Lamat duduk merenung diatas
sebuah batu di pinggir parit sambil memandangi air yang mengalir.
Tidak terlampau banyak seperti di musim basah. Tetapi cukup memberi
kesegaran kepada tanamannya. Ternyata pertemuannya dengan Pamot
telah membuatnya berangan-angan. Perasaannya menjadi kisruh, seperti
daun ilalang yang tertiup angin pusaran. Meskipun tubuhnya kuat
seperti raksasa, dan tenaganya seperti seekor kerbau jantan, namun
ia tidak dapat bersikap sekuat tubuhnya. Hatinya justru terlampau
lemah dan kadang-kadang t idak mempunyai sikap sama sekali. "Aku
telah tersiksa oleh diriku sendiri, justru karena aku menyadari
kelemahanku" katanya di dalam hati "dan kini aku sampai pada puncak
kebingungan yang hampir tidak tertanggungkan. Mungkin aku harus
memilih, apakah aku akan mengorbankan seisi Kademangan Kepandak,
atau aku tetap berdiamdiri dan mengorbankan Sindangsari" Tetapi
Lamat tidak juga mendapat pemecahan di dalam dirinya. Ia tetap masih
dicengkam oleh kebimbangan yang hampir tidak teratasi, sehingga
dengan demikian maka dunianya serasa menjadi semakin gelap. Lamat
menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan
menyusur pematang. Ketika ia sampai pada kotak terakhir dari
hamparan sawah Manguri, maka ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
Agaknya air telah cukup banyak menggenangi sawahnya. Karena itu,
maka iapun segera pergi ke pintu air yang dibuatnya pada pematang
sawah itu. Ketika ia menengadahkan kepalanya, dilihatnya bintang
gubug penceng di ujung Selatan sudah mulai condong ke Barat,
sehingga Lamat dapat mengetahui, bahwa tengah malam memang telah
lampau. Seperti yang sudah saling disetujui, maka Lamatpun segera
membuka bendungan kecil yang menahan air parit dan membelokkannya ke
dalam kotak-kotak sawah Manguri. Tetapi ia memang tidak segera
menutup pematangnya. Ditunggunya barang sejenak, dan dibiarkan air
yang gemercik masih masuk ke dalam sawah. Tetapi sebagian terbesar
dari air parit itu sudah mengalir terus, ke sawah yang lain seperti
yang sudah disetujuinya. Bahkan sejenak kemudian, pematangnyapun
telah ditutupnya sama sekali, karena air telah jauh daripada cukup.
Lamatpun kemudian perlahan-lahan pergi ke gubug pula. Di dalam
kekeruhan pikiran, ia tidak melihat, jalan keluar yang paling baik
baginya. Lamat yang bingung itu hanya dapat menarik nafas sambil
berdesis "Untunglah bahwa Manguri tidak melihat Pamot dan untung
pulalah, bahwa Manguri yang tidak mengetahui kehadiran Pamot sama
sekali tidak menyebut tentang Nyai Demang di Kepandak yang
disembunyikannya itu. Seandainya karena tidak diketahuinya, ia
menyebutnya barang sepatah kata saja, maka Pamot pasti akan segera
mengambil kesimpulan. Namun langkah Lamat itupun kemudian tertegun.
Sekali lagi ia melihat sesosok bayangan yang berjalan tergesa-gesa
diatas pematang. Semakin lama menjadi semakin cepat. Namun ia yakin
bahwa yang datang itu sama sekali bukan Pamot. Setelah bayangan itu
menjadi semakin dekat, maka iapun kemudian berdesis tanpa sesadarnya
"Ki Reksatani" Ki Reksatani berhenti sejenak. Lalu katanya "Kau
mengenal aku di dalam gelapnya malam?" "Ya Ki Reksatani. Ki
Reksatani sudah cukup dikenal oleh semua orang Kepandak. Apalagi
akhir-akhir ini Ki Reksatani sering mengunjungi rumah kami" Ki
Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya. Tetapi dimana
Manguri?" "Ia ada di gubug itu" "Aku ingin menemuinya" "Silahkan.
Mungkin ia sudah tidur" "Aku baru datang dari rumahnya. Aku
mencarinya di sana, tetapi ia tidak ada di dalam biliknya, tidak
seorangpun yang tahu. Tetapi ibunya mengatakan bahwa mungkin ia
menyusulmu ke sawah" "Ya, ia telah menyusul aku" "Dimana anak itu.
Aku sudah menyusup di jalan-jalan sempit untuk menghindari
kecurigaan orang. Kalau ada seorangpun yang melihat aku menemui
Manguri, maka rahasia kita akan terbongkar. Lambat atau cepat" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kecemasan yang tajam telah
menyengat hatinya. Ia tidak tahu pasti, apakah Pamot benar-benar
sudah meninggalkan tempat itu dan pergi jauh. Kalau ia masih ada di
sekitar tempat itu, maka ia pasti akan mencurigai Ki Reksatani dan
Manguri. Sejenak kemudian Ki Reksatanipun menyusur pematang pergi ke
gubug yang berada diatas empat buah tiang bambu. Di dalam gubug itu
Manguri membaringkan dirinya diatas sehelai tikar pandan yang sudah
menjadi kekuning-kuningan. Angin malam yang sejuk telah membuatnya
seakan-akan, terbius. Sehingga tanpa disadarinya, iapun telah jatuh
tertidur. Manguri terkejut ketika gubugnya itu terguncang. Kemudian
sebuah kepala tersembul di dalam keremangan malam. Dan orang yang
naik itu ternyata bukan Lamat. "O, kau Ki Reksatani" desis Manguri
sambil bangkit dan duduk. "Ya. Aku memerlukan menemui kau. Aku
mempunyai waktu sedikit. Aku dan isteriku masih berada di
Kademangan. Agaknya kakang Demang benar-benar akan menyambut
kedatangan anak-anak itu dengan berbagai macam upacara dan
keramaian" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dalam pada
itu Ki Reksatanipun kemudian bertanya "Manguri. Agaknya kedatangan
anak-anak muda beserta Pamot itu akan berpengaruh juga. Mereka pasti
akan segera ikut serta mencari Sindangsari. Beberapa lama mereka
berada di medan yang sulit. Sudah tentu itu akan sangat mempengaruhi
mereka. Jiwa mereka dan tabiat merekapun sedikit banyak akan
mengalami sentuhan-sentuhan dari pengalaman mereka yang pahit.
Dengan demikian, maka mereka akan dapat banyak berbuat sesuai dengan
pengaruh yang mereka dapat selama ini" Manguri mengerutkan
keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk-anggukkan kepalanya "Ya,
aku mengerti" katanya. "Karena itu, penyingkiran Sindangsari harus
benar-benar tidak memungkinkan lagi, salah seorang dari mereka
menemukannya" "Aku bertanggung jawab" sahut Manguri "Dimana
perempuan itu sekarang?" "Ia sudah berada di tempat yang jauh" "Ya,
dimana? Turi atau Kepanjen atau tlatah Menoreh?" Manguri
menggelengkan kepalanya "Bukan" "Ya. Tetapi dimana?" "Perempuan itu
kini berada di Sembojan" "Sembojan?" Ki Reksatani mengulang. Manguri
menganggukkan kepalanya. Terbayang di dalam angan-angan suatu
padukuhan kecil yang jauh. Ia sudah pernah pergi ke Sembojan di
kademangan Prambanan karena kebetulan sekali ia mempunyai seorang
kenalan yang bertempat tinggal di Temu Agal. Ketika ia berkunjung ke
rumah kenalannya it u, ia dibawanya ke rumah orang tuanya di
Sembojan. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Ki Reksatani
bergumam "Sebuah padukuhan kecil. Di sebelah Utara padukuhan itu
masih terdapat sebuah hamparan hutan yang rindang. Kemudian di
seberang hutan masih terdapat beberapa padukuhan lagi, sebelum
sampai ke daerah hutan yang lebat di kaki gunung Merapi" "Apakah Ki
Reksatani pernah menjelajahi daerah itu?" "Ya. Aku pernah mencari
sebatang pohon Manca Warna bersama seorang kenalan yang tinggal di
padukuhan Temu Agal. Kami menyusur di sepanjang tepi hutan itu"
Manguri tidak menyahut. Namun Ki Reksatani berkata seakan-akan
kepada diri sendiri "Tetapi aku tidak menemukan pohon Manca Warna
seperti yang dikatakan orang. Aku hanya melihat tidak lebih dari
sebatang pohon beringin" Tiba-tiba Ki Reksatani itu menggeram "Aku
akan melihat pohon itu sekali lagi. Pohon yang dapat memberikan
gambaran tentang nasib seseorang" "Bagaimana mungkin?" bertanya
Manguri. "Kalau aku melihat pohon itu berbunga lebih dari tiga
macam, itu pertanda bahwa nasibku baik. Orang yang nasibnya sangat
baik dapat melihat bunga pohon Manca Warna itu sampai tujuh macam.
Dan orang yang akan mendapat derajad yang luhur, ia akan dapat
melihat diantara macam-macam bunga itu, sekuntumbunga melati susun"
Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ceritera itu tidak
begitu menarik perhatiannya. Yang membuatnya termenung justru
kedatangan anak-anak muda anggauta pengawal khusus itu. Mereka pasti
akan membantu Ki Demang menjelajahi seluruh dataran di sebelah
Selatan Gunung Merapi ini. "Manguri" berkata Ki Reksatani kemudian
"pada suatu saat kita harus melihat, apakah tempat persembunyian itu
benarbenar dapat dipertanggung jawabkan" "Kapan kita akan pergi?"
"Sudah tentu kita tidak akan dapat pergi bersama-sama Aku harus
menunggu sampai saat-saat penyambutan itu selesai. Mungkin Kakang
Demang akan mengadakan keramaian meskipun hatinya sendiri sedang
terluka. Itu hanya sekedar sikap lahiriahnya saja. Mungkin tiga
hari. Mungkin hanya sehari. Sesudah itu aku akan mendapat
kesempatan. Aku yakin sebelum saat-saat itu, anak-anak itupun tidak
akan sempat keluar Kademangan, apalagi mencari Sindangsari" Manguri
mengangguk-anggukkan Kepalanya. Tetapi ia menjawab "Sebenarnya Ki
Reksatani tidak perlu merisaukan Sindangsari. Aku akan bertanggung
jawab. Serahkan semuanya kepadaku dan aku harap Ki Reksatani dapat
mempercayai aku" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Namun
bagaimanapun juga ia tidak dapat melepaskan begitu saja dan
memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Manguri. Kalau terjadi
kegagalan, maka iapun akan terlibat dan justru ia akan dituntut oleh
kakaknya dan rakyat Kepandak sebagai seorang pengkhianat. Bahkan
sejenak kemudian terbersit pikiran di kepalanya "Yang paling baik
bagiku adalah melenyapkan perempuan itu. Aku tidak akan selalu
diganggu lagi oleh kecemasan dan kegelisahan sepanjang hidupku.
Meskipun untuk waktu yang lama perempuan itu tidak diketahui, namun
apabila pada suata saat anaknya muncul di Kepandak beberapa puluh
tahun yang akan datang, maka ia pasti akan merupakan duri bagi
anak-anakku yang aku harapkan dapat menguasai jabatan kakang Demang"
Namun demikian Ki Reksatani masih tetap menyimpannya di dalam hati.
Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi pikiran itu masih saja tetap
melonjak-lonjak di dadanya. Sejenak kemudian, ketika bintang Gubug
Penceng semakin condong ke Barat, maka Ki Reksatanipun berkata
"Sudahlah. Aku akan kembali ke Kademangan, supaya tidak ada orang
yang mencurigaiku. Untuk sementara Sembojan cukup jauh bagi
persembunyian Sindangsari. Namun pada suatu saat aku akan
membuktikannya sendiri supaya aku menjadi tenang. "Percayalah
kepadaku, dan percaya pulalah kepada ayah" "Tetapi sudah tentu
ayahmu tidak akan dapat tenggelam di dalam persoalan ini
selama-lamanya. Ia harus bekerja, mencari nafkah dan melanjutkan
usahanya di dalam perdagangan ternak yang ternyata telah memberinya
kekayaan yang melimpah. Kalau ia terpancang pada persoalanmu, maka
usahanya pasti akan mundur, dan kalian akan jatuh miskin" "Aku
sedang memikirkannya" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sejenak kemudian maka iapun segera meninggalkan gubug itu dan
kembali ke Kademangan. Sepeninggal Ki Reksatani ternyata Manguri
menyesal, bahwa ia sudah mengatakan tempat persembunyian
Sindangsari. Sampai saat-saat terakhir? agaknya Ki Reksatani masih
saja berusaha untuk melenyapkan perempuan itu. "Ia tidak akan berani
melakukannya" desis Manguri "dengan demikian ia pasti akan segera
dihancurkan oleh Ki Demang. Ia pasti memperhitungkan, bahwa aku akan
membuka rahasianya kalau ia menggagalkan niatku, memperisteri
perempuan itu" Namun demikian Manguri telah menjadi sangat gelisah,
sehingga di luar sadarnya ia berteriak memanggil "Lamat, Lamat" Dan
sekali lagi ia terkejut ketika ia mendengar jawaban justru dari
bawah gubugnya "Aku disini" "Gila kau. Kemari. Naiklah" Lamatpun
kemudian naik ke gubug itu pula. Sambil mengusap titik embun yang
membasahi ikat kepalanya iapun duduk di hadapan Manguri yang
gelisah. "Aku terlanjur menunjukkan tempat persembunyian Sindangsari
di Sembojan" berkata Manguri. Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.
Jawabnya "Aku mendengar percakapan kalian" "Kau mendengarkannya?"
"Ya, Aku berada di bawah gubung ini" "Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Sebaiknya kita ikut serta, apabila pada suatu Ki Reksatani akan
pergi ke Sembojan" "Aku belum mengatakannya" "Kita dapat
menghubunginya. Kita minta, agar Ki Keksatani memberi tahukan
apabila ia akan pergi. Sudah tentu kita tidak akan keluar dari
Kademangan ini bersama-sama. Tetapi kita berjanji bertemu disuatu
tempat" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Pikiranmu
baik juga. Dengan demikian Ki Reksatani tidak akan dapat berbuat
apa-apa terhadap Sindangsari" "Ya" "Semakin cepat semakin baik"
gumam Manguri kemudian "aku harus segera mendapatkannya. Kalau perlu
aku dapat mempergunakan kekerasan, sehingga ia tidak akan berniat
untuk lari lagi karena ia merasa tidak akan mendapat tempat lagi,
baik di Kademangan maupun di rumah Pamot" Terasa bulu-bulu di
seluruh tubuh Lamat meremang. Ia pernah menyaksikan hubungan
badaniah antara Pamot dan Sindangsari yang didorong oleh perasaan
cinta mereka yang tidak terkendali, apalagi pada saat itu mereka
dihadapkan pada suatu saat yang sangat menegangkan. Pamot dengan
hati yang tersayat minta diri untuk meninggalkan Kepandak dan
Sindangsari untuk waktu yang tidak terbatas. Seandainya Pamot masih
sempat juga pulang, maka Sindangsari sudah menjadi isteri orang.
Pada saat itu, ia sudah merasa berdiri diatas seonggok bara. Hatinya
meronta hampir tidak terkekang lagi. Dan saat ini ia mendengar
Manguri akan melakukannya dengan kekerasan untuk mengikat
Sindangsari agar tidak meninggalkannya. "Gila. Itu suatu pendirian
yang gila. Apakah aku dapat membiarkannya terjadi?" Lamat menangis
di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa pada saat
itu. Ia harus tetap diam dan duduk dihadapan Manguri. "Kita harus
segera menentukan saat itu" desis Manguri kemudian "nanti kita
pikirkan. Kau harus mengatur hubungan dengan Ki Reksatani. Sudah
tentu bukan kau sendiri. Tetapi kita dapat mengirim salah seorang
dari para pengawal ternak yang tidak banyak dikenal di padukuhan dan
di Kademangan ini" Lamat menganggukkan kepalanya. "Sekarang
pergilah. Aku akan tidur" Lamatpun segera turun dari gubug itu.
Betapa hatinya serasa tersayat mendengar rencana Manguri. Sambil
berjalan di sepanjang pematang ia merenungi nasib Sindangsari.
Perempuan itu dihadapkan pada dua kemungkinan yang sama-sama pahit,
la tidak akari dapat memilih satu diantara dua. Menjadi korban
ketamakan Ki Reksatani dan menyerahkan nyawanya atau menjadi korban
nafsu Manguri yang menggelagak sampai keubun-ubunnya. "Alangkah
buruk nasib perempuan itu" desis Lamat "jauh lebih buruk dari
nasibku sendiri" Dengan kepala tunduk Lamatpun kemudian duduk di
pematang sawahnya yang basah. Dibelainya tangkai cangkulnya sambil
memandang jauh ke dalam kegelapan. Tiba-tiba ia tersentak. Sebuah
bayangan berjalan menjauh dengan cepatnya. Kemudian hilang menyuruk
di dalam rimbunnya dedaunan yang hijau gelap. Namun demikian matanya
yang tajam masih menangkap, siapakah orang yang mencoba untuk
menyingkir itu. "Hem" desisnya "ternyata Pamot masih ada di sekitar
tempat ini. Apakah ia mengetahui bahwa yang datang itu adalah Ki
Reksatani? Jarak dari tempatnya bersembunyi cukup jauh. Adalah
kebetulan sekali bahwa aku melangkah mendekati tempat
persembunyiannya" Sejenak Lamat menjadi termangu-mangu. Seandainya
ia tidak ditahan oleh kebimbangan, maka bagi Lamat, tidak akan
terlampau sulit apabila ia meloncat dan mengejar bayangan itu. Ia
yakin bahwa ia pasti akan dapat menangkap Pamot. Tetapi memang ada
sesuatu yang menahannya setangga ia masih tetap duduk di tempatnya
dengan dada yang berdebardebar. Meskipun demikian, terasa di hati
Lamat, bahwa sesuatu masih akan terjadi. Pamot bukan seorang anak
muda yang mudah berputus asa. Ada dua hal yang mendorongnya untuk
berusaha menemukan Sindangsari. Ia sendiri mencintai perempuan itu.
Bagaimanapun juga ia tidak akan sampai hati membiarkan Sindangsari
menjadi korban perbuatan apapun juga, meskipun ia tidak mungkin lagi
akan mendapatkannya. Juga Pamot pasti ingin menghilangkan segala
kecurigaan siapapun juga kepadanya. Ia pasti akan berusaha
membuktikan bahwa bukan dirinyalah yang telah mengambil Sindangsari
dari Kademangan. Dan kini Pamot ternyata telah berkeliaran di
sekitar sawah Manguri yang mungkin juga di sekitar rumahnya. Sudah
pasti, bahwa di dalam hatinya ada sepercik kecurigaan kepada Manguri
meskipun secara resmi Manguri sudah dinyatakan bersih dari segala
tuduhan, karena Ki Jagabaya sendiri telah datang ke rumahnya dan
tidak menemukan apapun juga. Persoalan itu menjadi semakin rumit
bergulat di kepala Lamat. Namun kemudian ia berdesis "Entahlah.
Terserahlah apa yang akan terjadi. Mungkin aku akan dibakar juga
oleh akibat perbuatanku di dalam persoalan ini, atau mungkin seluruh
Kademangan akan menjadi bara" Tiba-tiba Lamat menggeretakkan
giginya. Ia berusaha mengusir segala macam persoalan itu. Ia ingin
beristirahat barang sejenak. Ia ingin mendapat ketenangan dan
menyingkir dari kejaran perasaan yang sangat menggelisahkannya.
Tetapi Lamat tidak pernah berhasil. Ia selalu dibayangi oleh
gambaran-gambaran tentang Sindangsari, Ki Rekstani dan bahkan
kadang-kadang Kademangan Kepandak yang seakanakan telah menyala
dibakar oleh pertengkaran yang memuakkan. "Gila" Lamat mengumpat di
dalam hatinya "apakah aku harus mengorbankan kata nuraniku sekedar
untuk tahu budi karena aku telah diselamatkan hidupku?" "Ya Harus"
terdengar suara di dalam hatinya "orang yang paling baik adalah
orang yang mengenal dan bahkan membalas budi orang lain kepadanya"
"Juga untuk melakukan kejahatan seperti ini?" "O" akhirnya Lamat
serasa menjadi lemah dan t idak bertenaga. Ia duduk terkulai
bersandar tangkai cangkulnya. Di bawah kakinya air parit mengalir
gemericik mengusik sepinya malamyang merayap terus menjelang fajar.
Manguri turun dari gubugnya ketika matahari mulai membayang di ujung
Timur. Sejenak ia mengusap matanya, kemudian mulai berteriak
memanggil "Lamat, Lamat" Lamat masih duduk di tempatnya.
Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Kemudian iapun bangkit
berdiri dengan malasnya. "Kita harus segera pulang" Lamat
menganggukkan kepalanya. Sekali lagi dilihatnya air di sawahnya.
Kemudian dibetulkannya pematang sawah yang belumtertutup rapat.
Sejenak kemudian maka Lamat itupun melangkah mengikut i Manguri yang
dengan tergesa-gesa pulang ke rumahnya, seakan-akan ia tidak mau
tersentuh oleh sinar matahari dipagi yang cerah itu. Ketika
burung-burung bersiul dipepohonan, maka di halaman Kademangan telah
disiapkan tiga ekor kuda. Ki Tumenggung Dipanata dan pengawalnya
akan segera meninggalkan Kademangan Kepandak, kembali ke Mataram
setelah ia menunaikan tugasnya menyerahkan anak-anak Kepandak itu
kembali, meskipun tidak seluruhnya seperti ketika mereka berangkat.
"Apakah Ki Tumenggung tidak menunggu sampai besok? Kami bermaksud
untuk menyelenggarakan keramaian, menyambut anak-anak kami yang
telah kembali. Meskipun tidak seluruhnya dapat melihat kampung
halamannya, tetapi kami ingin menunjukkan kebanggaan kami atas
mereka" "Terima kasih" jawab Ki Tumenggung "kami masih mempunyai
tugas-tugas lain yang harus kami selesaikan. Kami sudah menyerahkan
anak-anak Ki Demang itu kembali. Dan perlakukan mereka seperti
anak-anak Ki Demang pula. Tidak ada kecualinya. Kalau ada persoalan
sebaiknya dilihat dengan saksama dan dengan hati yang bening supaya
Ki Demang tidak salah langkah. Bagaimanapun juga, kami, para
prajurit, pernah berjuang bersama mereka, sehingga diantara kami dan
anak-anak muda Kepandak itu seakan-akan telah terikat oleh kesatuan
nasib di medan yang ganas" Ki Demang di Kepandak
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia segera dapat menangkap maksud Ki
Tumenggung, sehingga Ki Demang itupun kemudian menjawab "Aku akan
mencobanya. Aku akan mencoba mengamati hatiku yang sedang buram saat
ini" Ki Tumenggung Dipanata tersenyum. Kemudian setelah ia merasa
bahwa tugasnya benar-benar telah selesai, iapun segera minta diri
kepada Ki Demang dan bebahu Kademangan yang ada di pendapa itu pula,
termasuk Ki Reksatani. Sejenak kemudian, diantar oleh Ki Demang dan
paru bebahu itu sampai ke regol, Ki Dipanayapun meninggalkan halaman
Kademangan Kepandak bersama pengawalnya. Di tikungan ia masih
berpaling. Namun kemudian kudanya berpacu semakin cepat meninggalkan
padukuhan itu. Di ujung Kademangan Ki Tumenggung Dipanata sempat
bergumam "Kasihan Demang di Kepandak itu. Anak yang selama ini
diidam-idamkannya, tiba-tiba hilang bersama ibunya selagi masih di
dalam kandungan" Kedua pengawalnya tidak menyahut. Namun mereka
dapat mengerti, kenapa Ki Demang mencurigai Pamot dan seperti yang
mereka dengar selama di Kademangan, ia mencurigai juga Manguri.
Sepeninggal Ki Tumenggung, meskipun dengan hati yang muram Ki Demang
memerintahkan juga para bebahu dan adiknya Ki Reksatani menyiapkan
keramaian. Bahan-bahan yang semula disediakan untuk menyambut bulan
ke tujuh dari kehamilan Sindangsari, kini dipergunakannya untuk
menyelenggarakan keramaian menyambut anak-anak Kepandak yang kembali
dari medan. Namun Ki Demang berkata kepada Ki Reksatani. "Aku hanya
ingin mengadakan keramaian semalam saja" Dan seperti yang dikatakan
oleh Ki Demang, di hari berikutnya keramaian itu memang hanya
dilakukan semalam. Bukan saja karena Ki Demang sedang bersusah hati,
namun wajah-wajah dari anak-anak Kepandak yang baru pulang itupun
tidak secerah wajah-wajah mereka sebelum mereka berangkat karena ada
diantara mereka yang tidak pulang bersama mereka. Bayangan tubuh
mereka yang terbujur di medan itu selalu menyertai mereka, meskipun
sedang berada di tengah-tengah keramaian sekalipun. "Semalam sudah
cukup" berkata Ki Reksatani kepada Ki Demang di Kepandak "sebenarnya
kita harus mengadakan upacara berkabung karena ada diantara mereka,
bahkan beberapa, tidak dapat kembali ke rumah masing-masing" Ki
Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menganggap bahwa kata-kata
adiknya itu memang lepat. "Apalagi kakang Demang sendiri sedang
mengalami kesulitan" "Ya" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kehidupan yang wajar harus segera pulih kembali di Kademangan ini,
setelah dikejutkan oleh hilangnya mBok-ayu dan kedatangan anak-anak
itu" Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun Ki Reksatani cepat-cepat
meneruskan "Bukan berarti usaha kila mencari mBok-ayu terhenti.
Tetapi justru supaya usaha itu tidak terganggu oleh bermacam-macam
persoalan" Ki Demang tidak menyahut. Tetapi direnunginya dedaunan
yang bergerak-gerak disentuh angin di luar pendapa. Sejenak hatinya
diguncang oleh keragu-raguan. Namun kemudian ditetapkannya niatnya
untuk menemukan isterinya yang hilang itu. Maka katanya "Ke
Reksatani. Aku kira, setelah semuanya dapat berjalan sewajarnya,
datanglah saatnya, aku dengan sungguh-sungguh mencari isteriku. Itu
adalah terutama kewajibanku. Bukan kewajiban orang lain. Karena itu
iku ingin mengatakan kepadamu, lakukanlah tugasku sehari-hari
sebagai Demang di Kepandak. Aku akan pergi untuk waktu yang tidak
tertentu. Aku harus menemukan mBok-ayumu yang hilang itu" Dada Ki
Reksatani berdesir. Ia belum sempat melihat sendiri, dimana
Sindangsari disembunyikan. Ia belum sempat mengatur segala sesuatu
yang berhubungan dengan itu. Dan Ki Reksatani sama sekali lidak
mengira, bahwa Ki Demang akan begitu cepat mengambil keputusan untuk
meninggalkan Kepandak. "Apakah kau dapat mengerti?" bertanya Ki
Demang kemudian karena Ki Reksatani tidak segera menjawab. "Kakang
Demang" berkata Ki Reksatani agak tergagap "agaknya kakang Demang
menjadi terlampau tergesa-gesa. Bukankah kakang Demang merencanakan
untuk mencarinya di Kademangan di sekitar Kepandak? Kakang Demang
dapat membawa beberapa orang bebahu dan pembantu, sementara aku akan
mencarinya dengan sungguh-sungguh pula di tempat yang lain" "Ki
Demang di Kepandak menggelengkan kepalanya. Katanya "Niat itu aku
batalkan. Aku tidak ingin menumbuhkan geseran-geseran dengan
tetangga, Kalau kita datang dengan sekelompok bebahu dan pengawal,
seakan-akan kita akan melakukan tindak kekerasan di daerah tetangga.
Setelah aku renungi, maka niat itu sebaiknya aku batalkan saja. Yang
akan aku lakukan kemudian adalah perbuatan seorang suami, bukan
seorang Demang. Aku harus menemukan isteriku tanpa menimbulkan
benturan-benturan dan apalagi korban-korban yang tidak bersalah. Ki
Reksatani menjadi semakin cemas. Ternyata Ki Demang telah menemukan
ketenangan sehingga ia dapat memikirkan cara yang sebaik-baiknya dan
bahkan dengan sikap seorang laki-laki. Meskipun demikian Ki
Reksatani masih berusaha "Baiklah kakang. Tetapi kakang tidak perlu
segera berangkat. Apakah artinya Reksatani sebagai seorang saudara
muda. Aku akan mencobanya lebih dahulu" "Aku lebih berkewajiban"
"Benar kakang. Tetapi ada kewajiban kakang yang lain sebagai seorang
Demang. Aku minta waktu sepuluh hari. Kalau di dalam sepuluh hari
aku tidak dapat menemukan mBok-ayu Sindangsari, maka terserahlah
kepada kakang Demang. Apa yang akan kakang Demang lakukan. Namun
demikian setiap saat aku akan melakukan perintah kakang apabila
kakang menghendaki. Ki Demang mengangguk-angguk sambil berkata
"Terima kasih Reksatani. Aku kira aku dapat memenuhi permintaanmu
Tetapi tidak lebih dari sepuluh hari supaya aku tidak terlambat
apabila kau gagal menemukannya" Serasa setitik embun jatuh di hati
Ki Reksatani yang gersang. Ia mendapat waktu sepuluh hari. Di dalam
waktu sepuluh hari itu ia dapat pergi kemanapun tanpa kecurigaan
sama sekali. Dan di dalam waktu yang sepuluh hari itu ia akan dapat
berbuat banyak sekali atas Sindangsari yang disembunyikan di
Sembojan. "Baiklah kakang" berkata Ki Reksatani kemudian "aku akan
mempergunakan waktu yang sepuluh hari itu sebaik-baiknya. Aku akan
berusaha untuk menemukan mBok-ayu. Di dalam waktu yang sepuluh hari
itu aku dapat menjelajahi seluruh daerah Selatan ini. Bahkan sampai
ketelatah Mangir dan Menoreh" Demikianlah, maka Ki Reksatani merasa
bahwa ia harus memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya. Sesudah
sepuluh hari, kalau kakaknya benar-benar akan meninggalkan
Kademangan, maka ia pasti akan terikat oleh jabatan yang akan
dipangkunya, meskipun jabatan itulah yang selama ini diimpikan. "Di
dalam pengembaraannya itu, mungkin sekali kakang Demang akan dapat
menemukan Sindangsari" katanya di dalam hati. Karena itu, maka
kecemasan yang melonjak-lonjak selalu menggetarkan dadanya. "Yang
paling baik bagiku adalah menyingkirkan Sindangsari. Menyingkirkan
sejauh-jauhnya, sehingga tidak mungkin lagi seseorang dapat
menemukannya" tiba-tiba saja ia menggeram. Memang bagi Ki Reksatani
t idak ada jalan yang paling baik daripada membunuh perempuan itu.
Bahkan kemudian "Kalau perlu bersama Manguri dan ayahnya sama
sekali. Tidak akan ada orang yang mencarinya seandainya untuk
beberapa lama Manguri tidak tampak di Gemulung. bahkan seandainya ia
dibicarakan orang, maka setiap orang pasti justru akan
mencurigainya, melarikan Sindangsari dan tidak kembali lagi ke
Kademangan Kepandak. Ki Reksatani yang menyadari kelebihannya, sama
sekali tidak mencemaskan kemampuan ayah beranak itu. Bahkan Lamat
yang bertubuh raksasa itu sama sekali tidak dihiraukannya. Menurut
pengertian Ki Reksatani. Lamat adalah raksasa yang kuat, tetapi
betapa bodohnya. Pada hari itu Ki Reksatani minta diri kepada
kakaknya untuk meninggalkan Kademangan. "Besok aku akan berangkat
kakang" berkata Ki Reksatani "karena itu, biarlah isteriku pulang
menunggui anak-anaknya" Ki Demang di Kepandak mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Hati-hatilah di perjalanan. Jangan lengah tetapi
juga jangan tergesa-gesa menentukan sikap apapun. Dengan demikian
kau tidak akan mudah masuk perangkap, tetapi juga tidak mudah
terjerumus ke dalam kekeliruan. Mungkin kau sendiri t idak akan
mendapat cidera karena kekeliruanmu itu. Tetapi apabila kau sudah
terlanjur bertindak atas seseorang, maka korbanmu itu akan
mengutukmu sepanjang abad" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan
kepalanya "Baiklah kakang. Sekaligus aku minta diri. Selama sepuluh
hari aku tidak berada di Kademangan. Bendungan yang sedang digarap
itupun akan aku tinggalkan untuk sementara. Tetapi beberapa orang
sudah akan dapat mengurusnya" Ki Demang mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tanpa curiga sama sekali ia menjawab "Baiklah. Aku
sekali-sekali akan menengok bendungan yang sedang kau garap itu" Ki
Reksatanipun kemudian meninggalkan Kademangan itu bersama isterinya,
pulang ke rumahnya. Ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi
tugas yang cukup berat baginya. "Aku akan melihat perkembangan
keadaan" katanya kepada isterinya ketika mereka sudah berada di
rumah "kalau aku menganggap bahwa tidak mungkin lagi menyembunyikan
Sindangsari, apaboleh buat" "Tetapi jangan dibunuh perempuan itu. Ia
sedang mengandung" "Justru karena ia mengandung. Kandungannya itulah
yang akan menjadi duri selama hidupku. Kalau anak di dalam kandungan
itu harus mati, lebih baik membunuhnya sekarang, sebelum ia lahir
dan hidup" "Kita akan berdosa" "Itu lebih baik. Dosa kita akan
berlipat kalau kita menunggu bayi itu lahir" Nyai Reksatani tidak
dapat menjawab lagi. Tetapi kepalanya tertunduk. Hatinya adalah hati
perempuan. Bagaimanapun juga, terasa bahwa jalan yang diambah
suaminya adalah jalan yang sesat. Tetapi ia tidak kuasa untuk
berbuat lebih banyak dari memberinya peringatan. Namun di dalam
hatinya sendiri, kadang-kadang tumbuh juga keinginan seorang ibu.
Keinginan melihat anak-anak nya nanti menjadi orang yang terpandang,
seperti dikehendaki oleh suaminya. Benturan-benturan itulah yang
membuatnya kadangkadang kehilangan kemampuan berpikir lagi, sehingga
kadang-kadang ia bergumam "Aku tidak tahu. Terserahlah apa yang akan
terjadi" Demikianlah, maka dengan hati yang berdebar-debar Ia
melihat suaminya mempersiapkan dirinya. Keris pusakanya selalu
disiapkannya di lambung meskipun ia masih akan berangkat besok. "Aku
harus membawa Manguri" katanya di dalam hati "kalau perlu aku akan
dapat membunuhnya sekali" Adalah kebetulan sekali, bahwa sebelum ia
memberitahukan keberangkatannya kepada Manguri, seorang pesuruh anak
muda itu telah datang kepadanya dan bertanya kapan ia akan pergi ke
Sembojan. "Aku akan pergi besok" berkata Ki Reksatani "kalau Manguri
akan pergi juga, suruhlah ia menunggu di luar Kademangan ini, supaya
tidak ada orang yang melihat sehingga dapat menumbuhkan kecurigaan"
Demikianlah maka pesuruh itupun segera pulang dan menyampaikannya
kepada Manguri. "Lamat" berkata Manguri kemudian "besok kita akan
pergi" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasakan perbedaan
nada kata-kata Manguri Kali ini Manguri tampak bersungguh-sungguh
dan bukan sekedar ingin membentakbentak saja. Berkata anak muda itu
pula "Kita harus berhatihati. Banyak hal dapat terjadi" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kita akan menunggu di luar
Kademangan Kepandak. Dan kita akan pergi bersama-sama dengan Ki
Reksatani" Lamat menarik nafas dalam-dalam. Terbayang di rongga
matanya, suatu perjalanan yang tegang dan mendebarkan. Setiap saat
Ki Reksatani dapat berubah pendirian. Apalagi Ki Reksatani adalah
seorang yang tidak bedanya seperti Ki Demang di Kepandak sendiri. Ia
adalah orang yang tidak terlawan. "Kita akan berangkat sebelum
terang tanah, supaya tidak seorangpun yang melihat kita. Apalagi
apabila orang itu melihat pula Ki Reksatani meninggalkan Kademangan
ini" "Ya" Lamat mengangguk. "Selain kau, aku akan membawa dua tiga
orang kawan yang lain. Mungkin mereka kita perlukan di perjalanan"
"Kita akan berangkat berlima atau enam bersama-sama?" "Tentu tidak.
Biarlah orang-orang itu mendahului kita berpencaran. Tetapi kita
berjanji untuk bertemu di luar Kademangan ini" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa ia harus
mempersiapkan semuanya. Kuda, memilih orangorang terbaik dan
menyiapkan senjata yang akan mereka bawa, dan senjatanya sendiri.
Demikianlah, Lamat yang selalu diguncang oleh perasaannya itu
menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di
perjalanan. Mungkin Ki Reksatani sudah puas melihat persembunyian
Sindangsari. namun mungkin karena kecemasannya, tiba-tiba saja
tumbuh keinginannya membunuh Sindangsari. "Kalau Ki Reksatani ingin
membunuh Sindangsari" berkata Lamat di dalam hatinya "sudah pasti,
ia yang termasuk orangorang yang dapat menjadi saksi dari pembunuhan
itu akan dimusnahkannya pula" Tanpa sesadarnya Lamat meraih sehelai
golok di dinding biliknya. Jarang sekali golok itu dibawanya keluar.
Kadangkadang ia hanya sekedar membawa sehelai parang. Tetapi kali
ini, tiba-tiba saja tumbuh keinginannya untuk membawa goloknya.
Meskipun golok itu tidak terlampau panjang, tetapi beratnya hampir
dua kali lipat dari berat pedang biasa Bahkan selain golok itu,
Lamat telah menyisipkan pula sehelai pisau belati kecil
dipinggangnya. Ia sendiri t idak tahu, kenapa ia menganggap perlu
untuk membawa senjata-senjata itu. Bahkan ketika malam menjadi
gelap, dan Lamat masih harus pergi ke sawah, senjata-senjata itu
sudah dibawanya pula selain cangkul di pundaknya. Seolah-olah di
tengah sawah telah pula menunggu bahaya yang akan mengancam jiwanya.
Jiwanya yang seolah-olah telah tergadaikan itu. "Malam ini aku akan
beristirahat di rumah" berkata Manguri "Besok kita akan berangkat
lagi. Kaupun harus segera pulang dan tidur. Kita tidak boleh
terlambat bangun" Lamat mengangguk "Aku akan segera pulang apabila
sawah itu sudah penuh. Mungkin kita akan meninggalkan dua tiga hari,
sehingga kita tidak akan dapat mengairinya selama itu. Aku kurang
yakin bahwa orang-orang lain, para pekerja itu dengan
sungguh-sungguh akan melakukan pekerjaan yang menjemukan ini"
"Terserahlah kepadamu. Tetapi besok kita akan berangkat menjelang
fajar. Kita akan menunggu Ki Reksatani di luar Kademangan" Dengan
kepala tunduk Lamatpun kemudian melangkahkan kakinya menyelusuri
jalan padukuhan pergi ke sawah. Ia hanya menganggukkan kepalanya
saja apabila ia bertemu dengan anak-anak muda Gemulung. Hubungannya
dengan anak-anak muda itu tidak begitu baik seperti juga Manguri
Tetapi anak-anak muda Gemulung menganggap bahwa Lamat hanyalah
sekedar lembu perahan yang bodoh dan tidak bersikap apapun juga.
Dengan demikian, maka anak-anak muda Gemulung justru tidak
menumpahkan kebencian mereka kepadanya. Bahkan ada beberapa diantara
mereka yang merasa kasihan kepada raksasa yang tidak lebih dari
seorang budak itu. Seperti biasanya, orang-orang di Padukuhan
Gemulung berusaha untuk menghindarkan pertengkaran berebutan air.
Karena itu, setiap kali mereka saling berbincang, bagaimana malam
nanti mereka akan membagi air yang tidak terlampau deras mengalir.
Dengan demikian, maka pertengkaran akan dapat dihindari
sejauh-jauhnya. Setiap orang tidak berniat sama sekali untuk
mengingkari persetujuan mereka sehingga dengan demikian semuanya
dapat berlangsung dengan lancar dan baik. Setelah mendapat ketetapan
pembagian air, maka Lamatpun segera pergi ke gubugnya. Ia mendapat
pembagian air sedikit lewat tengah malam, sehingga karena itu, ia
akan dapat tidur barang sejenak. "Mudah-mudahan aku tidak terlanjur
tertidur sampai pagi" desisnya. Tetapi apabila seseorang tertidur
dan membiarkan air yang menjadi bagiannya lewat, kadang-kadang
tetangga-tetangga yang mengetahuinya membangunkannya juga. Karena
merekapun mengetahui, betapa besarnya nilai air di musim yang kering
ini. Tetapi ketika Lamat baru saja membaringkan dirinya, ia merasa
gubugnya bergerak-gerak. Karena itu, maka iapun segera bangkit dan
memperhatikan keadaan di sekitarnya dengan saksama. Telinganya yang
tajam segera menangkap desah nafas di bawah gubugnya.
Perlahan-lahan. Tetapi cukup jelas baginya. Dengan dada yang
berdebar-debar Lamat menunggu. Siapakah yang sedang berdiri di bawah
gubugnya itu. Sudah pasti bukan Manguri. Kalau yang datang itu
Manguri, ia akan segera berteriak memanggil, atau dengan segera
meloncat naik. Lamat masih menunggu sejenak. Tetapi orang yang
berada di bawah gubugnya itu masih tetap berada di tempatnya.
Akhirnya Lamat tidak menunggu lagi. Dari sela-sela alas gubugnya ia
mencoba mengintip. Namun ia tidak dapat melihat dengan jelas
siapakah yang berada di bawah gubugnya itu. Ia hanya melihat
seseorang berdiri bersandar tiang. Lamat menjadi ragu-ragu sejenak.
Namun kemudian iapun mencoba menyapa "Siapa yang di bawah?" Sejenak
tidak ada jawaban, sehingga Lamat mengulanginya "Siapa yang di bawah
itu?" Ketika orang itu kemudian menengadahkan wajahnya, Lamat dapat
menduganya, bahwa orang itu adalah Pamot. "Aku Lamat" terdengar
jawaban. Lamat menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba-menahan gelora
yang melonjak-lonjak di hatinya. Tiba-tiba saja Pamot kini menjadi
hantu yang menakutkan baginya. "Siapakah yang kau cari disini?"
Lamat bertanya. "Aku mencarimu Lamat" "Aku?" "Ya. Turunlah, atau aku
akan naik?" Lamat menjadi ragu-ragu sejenak. Ia sadar, bahwa
pertanyaan Pamot akan berkisar di sekitar Sindangsari. Sehingga
karena itu, iapun kemudian menjawab "Aku lelah sekali. Aku ingin
tidur" "Aku ingin berbicara sedikit saja Lamat. Kalau aku naik, dan
Manguri datang setiap saat, maka aku akan diketahuinya datang
menemui kau" "Pergilah" berkata Lamat kemudian. Detak jantungnya
serasa menjadi semakin cepat mengguncang isi dadanya "aku tidak
sempat berbicara apapun sekarang" "Sebentar saja. Atau aku akan
berteriak dari bawah" "Pergi. Pergilah Pamot, Jangan membuat aku
marah" Pamot mengerutkan keningnya. Namun ia tidak segera pergi.
Bahkan ia berkata pula "Kau tentu bersedia turun sejenak. Hanya
sejenak. Aku akan segera pergi supaya aku tidak mengganggumu disini"
"Pergilah sekarang" "Aku harap kau turun sejenak Lamat, aku tidak
mempunyai tempat lagi untuk bertanya Aku menganggap bahwa pertanyaan
ini dapat aku sampaikan kepadamu. Dan aku mengharap kau masih
bersedia menolongku" "Cukup. Pertolonganku kepadamu sudah cukup
banyak. Sekarang kau jangan mengganggu aku lagi. Aku tidak tahu
apa-apa tentang Sindangsari. Aku tidak tahu apa-apa tentang dunia
luar dinding halaman rumah Manguri. Aku tidak tahu apa-apa. Bahkan
keadaan di dalam halaman itupun aku tidak mengetahui banyak" "Tetapi
aku tidak bertanya tentang Sindangsari Lamat" Terasa desir yang
tajam tergores di dada Lamat. Sejenak ia merenung. Bahkan kemudian
ia menjengukkan kepalanya. Dilihatnya Pamot kini berdiri di depan
tangga. "Kenapa kau selalu menggelisahkan aku Pamot. Kau tahu siapa
aku. Tidak seharusnya kau selalu mengejar aku dan menghantui aku
dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang tidak aku mengerti" "Apakah kau
tidak akan turun?" bertanya Pamot. Lamat menarik nafas dalam-dalam.
Namun iapun kemudian bergeser menepi. Katanya "Baiklah. Aku akan
turun. Tetapi jangan bertanya tentang Sindangsari, tentang Ki Demang
dan persoalan-persoalan yang bersangkut paut dengan itu" "Ya" "Kau
berjanji?" "Ya" Lamat terdiam sejenak. Namun kemudian iapun menuruni
tangga gubugnya menemui Pamot yang masih berdiri di bawah. "Cepat
bertanyalah" berkata Lamat. "Lamat" sahut Pamot "Kenapa kau sekarang
berubah? Ketika aku berada di dalam kesulitan, di saat-saat aku akan
meninggalkan Gemulung, kau selalu melindungi aku. Bahkan
kadang-kadang di luar dugaanku dan dapat membahayakan dirimu
sendiri. Tetapi sekarang kau bersikap sangat berbeda. Apakah aku
sudah berbuat kesalahan yang menyinggungmu? Atau barangkali, kau
tidak dapat melupakan dosa yang telah aku lakukan di luar sadarku
itu?" Dada Lamat menjadi semakin berdebar-debar. Namun kemudian ia
memotongnya "Cepat katakan keperluanmu" "Apakah kau tidak mau lagi
berbicara dengan tenang dan baik seperti dahulu" "Diam" Lamat
tiba-tiba membentak "cepat katakan dan cepat tinggalkan tempat ini.
Sebentar lagi Manguri akan datang kemari. Kau tidak akan dapat
bersembunyi lagi" Pamot menarik nafas dalam-dalam. "Ya. Memang
mungkin sekali kau sudah terlampau muak kepadaku. Malam itu kau
masih dapat menahan hati. Kau masih sempat memberi kesempatan aku
bersembunyi" "Ya. Sekarang aku sudah benar-benar muak melihat
wajahmu. Aku tidak dapat melupakan noda yang memercik di hatimu. Aku
tidak dapat melupakan betapa jahatnya kau malam itu. Kau sudah
berbuat sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang
beradab" "Baiklah. Aku minta maaf sekali lagi" "Kenapa kau minta
maaf kepadaku. Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan kau,
dengan Sindangsari dan dengan Ki Demang yang isterinya telah kau
nodai. Aku tidak berkepentingan apapun" "Baiklah Lamat. Baiklah.
Tetapi apakah aku boleh bertanya sesuatu kepadamu. Sebuah pertanyaan
saja" Lamat memandang Pamot dengan mata yang gelisah. Dan tiba-tiba
ia membentak "Cepat, katakan pertanyaanmu itu" "Lamat" suara Pamot
merendah "kenapa Ki Reksatani pada malamitu datang menemui Manguri?"
Pertanyaan itu serasa menghentakkan seluruh isi dada Lamat. Sejenak
ia membeku di tempatnya. Namun sejenak kemudian ia membentak pula
"Kau sudah berjanji, kau tidak akan bertanya tentang Sindangsari, Ki
Demang atau yang bersangkut paut dengan itu. Kenapa kau melanggar
janjimu?" "Aku tidak bertanya tentang Sindangsari, tentang Ki Demang
dan yang bersangkut paut dengan itu Lamat. Tetapi aku bertanya,
kenapa Ki Reksatani memerlukan menemui Manguri di malam hari?" Pamot
hampir tidak dapat menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba saja
terasa tangan Lamat menampar pipinya, sehingga Pamot terputar ke
samping. Bahkan karena kakinya tergelincir, maka iapun kemudian
terjatuh di tanah berlumpur. Sebelum ia sempat bangkit, maka tangan
Lamat yang kuat telah menerkambajunya dan menariknya. "Kau gila
Pamot. Kau sudah melanggar janjimu. Kau membuat hidupku yang pahit
ini menjadi semakin parah" Betapa geramnya tangan Lamat mengguncang
tubuh Pamot yang seakan-akan tidak berdaya sama sekali. "Kau tidak
berhak memaksa aku menjawab pertanyaanmu yang manapun juga. Karena
itu, kau harus segera pergi. Kau jangan membuat aku menjadi gila
dengan pertanyaanpertanyaan serupa itu. Atau aku harus membunuhmu
sebelum aku benar-benar menjadi gila?" Sebelum Pamot menjawab, maka
didorongnya tubuh anak muda itu sehingga sekali lagi ia terlempar
dan jatuh di dalam lumpur. "Pergilah. Dan jangan bertanya apapun
juga" Tertatih-tatih Pamot berusaha bangkit. Apalagi setelah ia
menjadi bagian dari pasukan Mataram yang melawat ke Betawi. Oleh
seorang perwira ia mendapat tuntutan khusus di dalam olah kanuragan.
Namun Pamot sama sekali tidak berusaha melawan. Ia sadar sepenuhnya,
bahwa ia tidak akan dapat menang apabila ia sengaja melawan raksasa
itu. Tetapi lebih daripada itu, Pamot memang tidak berhasrat sama
sekali untuk bertengkar dengan Lamat. "Baiklah Lamat" berkata Pamot
kemudian "ternyata yang aku jumpai sekarang bukan Lamat yang dahulu"
"Diam, diam kau" "Ya, ya Lamat. Aku akan diam. Selamat malam. Aku
akan pergi. Aku tidak akan kembali lagi kepadamu, supaya kau tidak
merasa terganggu, meskipun aku tidak berniat demikian" Lamat sama
sekali tidak menjawab. Ia sama sekali tidak mau lagi memandang wajah
Pamot yang kotor oleh lumpur. Bahkan hampir seluruh tubuh dan
pakaiannya. "Aku akan pergi Lamat" Lamat sama sekali tidak menjawab.
Tetapi ketika Pamot mulai melangkahkan kakinya, Lamat menggeram
"Seharusnya aku bunuh kau. Kau dapat menimbulkan salah paham. Kalau
kau memang melihat Ki Reksatani menemui Manguri, itu karena Ki
Reksatani mencurigainya. Dan setiap saat selalu mendesaknya agar
Manguri mengaku bahwa ia telah ikut terlibat di dalam masalah itu"
Pamot memandang Lamat dengan tajamnya. Tetapi ia tidak berkata
sepatah katapun. "Tetapi dugaan itu sangat bodoh. Manguri t idak
memerlukan perempuan itu. Perempuan yang sudah mengandung karena kau
dan yang sudah menjadi isteri orang pula. Manguri dapat mengambil
gadis yang manapun juga. Yang jauh lebih cantik dari Sindangsari"'
Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Seakan-akan tanpa disadarinya
ia berkata "Ya Lamat. Memang Ki Reksatani bodoh sekali di dalam hal
ini" "Diam, diam kau. Kau tidak usah turut berbicara" Pamot menarik
nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian ia melihat kegelisahan yang
memuncak pada diri Lamat. Kegelisahan yang tidak dapat
disembunyikannya lagi. Sambil menarik nafas dalam-dalam Pamot
berkata "Sudahlah Lamat. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengatakan
kepada siapapun bahwa aku melihat Ki Reksatani datang ke tempat ini
dan memaksa Manguri untuk mengakui sesuatu yang tidak dilakukannya"
"Diam, diam" Lamat hampir menjerit. Berbareng dengan itu sekali lagi
tangannya menampar pipi Pamot, sehingga Pamot sekali lagi terputar
dan jatuh ke dalam lumpur. Perlahan-lahan Pamot berdiri. Kini terasa
darahnya mulai menjadi panas. Bagaimanapun juga, ia tidak akan dapat
membiarkan dirinya dipukuli tanpa berbuat sesuatu. Sebelum ia sempat
bangkit, maka tangan Lamat yang kuat telah menerkambajunya dan
menariknya. Tiba-tiba Pamot menggeretakkan giginya. Selangkah ia
maju sambil berkata "Lamat. Aku percaya bahwa kau dapat membunuh
aku. Kenapa hal itu tidak kau lakukan? Aku kira itu akan menjadi
lebih baik daripada kau seakan-akan benarbenar telah gila. Apakah
kau sadari kelakuanmu itu? Nah. Kalau kau ingin membunuh aku,
lakukanlah. Ketika aku datang untuk pertama kalinya di Kepandak,
selagi aku masih berada di dalam barisan berkuda itu, Ki Demang juga
akan melakukannya. Ki Demang menuduh aku melarikan Sindangsari dan
menuntut agar aku diserahkannya kepadanya. Tetapi Ki Tumenggung
Dipanata tidak mau karena ia tahu, bahwa aku tidak bersalah.
Sekarang kau yang agaknya sudah menjadi gila itu akan membunuh aku
pula, karena aku melihat Ki Reksatani datang menemui Manguri dan
memaksa Manguri untuk mengakui tanpa melakukan kesalahan seperti,
aku" Pamot berhenti sejenak, lalu melangkah lagi ia mendekat
"lakukanlah. Kau malam ini membawa senjata yang mengerikan itu.
Sekali ayun, leherku akan lepas dari tubuhku. Kau tinggal menyeret
mayatku dan melemparkannya ke kali. Tidak akan ada orang yang akan
menuduhmu. Semua orang pasti akan menyangka bahwa Ki Demanglah yang
telah melakukannya atau orang-orang yang disuruhnya seperti ketika
aku merayap ke rumah Sindangsari sebelumaku pergi" "Cukup, cukup"
Lamat tiba-tiba menutup kedua telinganya dengan tangannya. Sama
sekali tidak seperti yang diduga oleh Pamot. bahwa Lamat itu akan
marah sekali dan mencekiknya sampai mati. Tetapi tiba-tiba Lamat
menjatuhkan dirinya dan duduk di pematang sambil menutup telinganya
rapat-rapat. Pamot menjadi heran. Karena itu, maka iapun justru
terdiam. Perlahan-lahan ia mendekati Lamat yang duduk sambil
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sejenak mereka saling berdiam
diri. Pamot masih berdiri termangu-mangu, sedang Lamat duduk
terpekur seakan-akan merenungi air di bawah kakinya. "Maaf Lamat
Apakah aku menyakiti hatimu?" desis Pamot kemudian "baiklah, aku
akan diam. Aku hanya akan minta diri kepadamu kalau kau tidak ingin
membunuh ku. Aku tidak akan mengganggumu lagi" Lamat tidak menjawab.
Ia masih menekurkan kepalanya. Namun dalam pada itu, dadanya
bergejolak dahsyat sekali. Ia sedang diamuk oleh keragu-raguan dan
hampir kehilangan kesadarannya tentang dirinya sendiri, Lamat hampir
tidak dapat mengenal lagi kata-kata hatinya sendiri. Ia tidak tahu,
apakah sebenarnya yang kini dikehendakinya, diinginkannya dan
persoalan yang dihadapinya. Dan bahkan ia tidak lagi dapat
membedakan, mana yang benar dan mana yang tidak benar menurut
nuraninya. "Aku sudah menjadi gila Pamot. Benar-benar gila"
desisnya. Pamot mendekatinya dan seperti tanpa disadarinya ia duduk
di samping raksasa itu "Aku tidak mengetahui dengan pasti, apakah
yang sedang bergolak di hatimu. Tetapi kalau semuanya itu karena
singgungan kata-kataku, pertanyaanku dan barangkali kecurigaanku,
aku minta maaf. Mudahmudahan kau dapat melupakannya" Lamat tidak
menjawab. Tetapi kata-kata Pamot itu justru membuatnya semakin
bingung. Hatinya seakan-akan telah menjadi gelap pekat. Ia tidak
tahu lagi jalan yang harus dilaluinya. "Aku memang sudah gila. Aku
benar-benar sudah gila. Aku hanya tinggal mengenal nama-nama orang,
namamu, nama Manguri, Ki Reksatani, Ki Demang, Sindangsari, tetapi
aku tidak akan dapat mempunyai tanggapan apapun juga" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melihat beban yang terlampau
berat di hati raksasa yang jinak itu. "Pamot " tiba-tiba Lamat
berkata dalam nada yang dalam "kalau kau berdiri di simpang jalan,
jalan yang manakah yang akan kau pilih?" Pamot menjadi bingung
mendengar pertanyaan itu. Karena itu ia ganti bertanya "Aku tidak
mengetahui maksudmu dengan pasti Lamat. Dan aku tidak mengenal kedua
ujung dari jalan simpang itu, sehingga aku tidak akan dapat memilih"
Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya, kau tidak
mengenal ujung jalan simpang itu. Tetapi manakah yang lebih baik
bagimu. Membalas budi atau menyelamatkan jiwa seseorang. Aku
berhutang budi kepada seseorang yang telah menyelamatkan jiwaku
Pamot, tetapi kini aku melihat jiwa seseorang sedang terancam.
Mungkin ia akan mati terbunuh, tetapi seandainya tidak, maka jiwa
itupun akan di rampas oleh malapetaka sepanjang hidupnya seperti
hidupku sendiri. Bahkan lebih parah lagi" Pamot tidak segera
menjawab. Di wajahnya membayang keheranannya yang memuncak. "Pamot "
berkata Lamat kemudian "apakah sebaiknya yang akan kulakukan
seandainya Manguri menyuruh aku membunuhmu, sedang kau tidak
bersalah?" Dada Pamot berdesir mendengar pertanyaan itu. Dengan
serta merta ia bertanya "Jadi kau mendapat perintah Manguri untuk
membunuh aku?" "Tidak" "Jadi" Pamot mendesak "jadi bagaimana"
"Seandainya, hanya seandainya. Aku telah berhutang budi kepada
Manguri karena ayahnya telah menyelamatkan nyawaku di masa
kanak-kanak. Padahal aku tahu bahwa kau sama sekali tidak bersalah.
Hal itu hanya dilakukan sekedar untuk kesenangannya saja"
"Kesenangan?" "Ya. Sekedar kepuasan karena ia ingin melihat kau
mati" Pamot tidak menyahut. "Pamot, apakah yang akan kau lakukan"?
Apakah karena aku berhutang budi, maka aku harus membunuhmu tanpa
pertimbangan? Atau aku harus mencegahnya, meskipun akibatnya akan
membuat aku tidak lagi dapat membalas budi" "Persoalanmu memang aneh
Lamat" berkata Pamot "aku tidak dapat membantumu memecahkan
parsoalan itu. Tetapi kalau ayah Manguri benar seorang yang baik, ia
tidak akan menuntut balas budi dari pertolongannya itu. "Maksudmu
aku dapat melupakannya dan tidak memperhitungkannya lagi di
dalamsetiap t indakanku?" "Bukan begitu. Tetapi sampai dimanakah
batasnya seseorang harus membalas budi?" Lamat tidak menyahut.
Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Sejenak ia membeku
seperti itu. Bahkan kemudian terasa tubuhnya menjadi dingin sekali.
Pamot yang duduk di samping Lamat membiarkannya duduk terpekur.
Namun dada Pamot menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar nafas
Lamat yang semakin cepat. Bahkan kemudian terengah-engah seakan-akan
Lamat sedang melakukan pekerjaan yang sangat berat. Sebenarnyalah,
di dalam hati raksasa itu sedang terjadi benturan yang dahsyat.
Suatu pergolakan perasaan yang hampir tidak teratasi. Dengan sekuat
kemampuannya Lamat mencoba mengatasi. Sambil mengatupkan giginya
rapat-rapat Lamat memeras perasaan di dadanya. Sebuah pemberontakan
yang tidak tertahankan telah meledak di dadanya. Tiba-tiba Lamat itu
menghentakkan kakinya sehingga Pamot terkejut karenanya. Apalagi
ketika Lamat itu menggeram "Tidak. Aku harus berdiri diatas nuraniku
sendiri. Aku masih tetap mempunyai pribadi. Aku bukan seekor kerbau.
Aku bukan seekor lembu perahan yang tidak berhak menentukan sikap"
Pamot bergeser setapak menjauh. Dipandanginya Lamat yang
perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Ditatapkan kepekatan malam
dengan mata yang seakanakan menyala. "Aku telah menemukannya. Aku
telah memutuskannya apapun yang akan terjadi. Aku tidak dapat
membiarkan kegilaan itu berkepanjangan" Pamot masih duduk diam,
Sejengkal lagi ia bergeser menjauh tanpa menghiraukan pakaiannya
yang semakin kotor karena lumpur pematang. Bahkan kemudian ia
menjadi cemas melihat Lamat. "Apakah Lamat telah benar-benar menjadi
gila?" Pamotpun kemudian berdiri ketika ia melihat Lamat berdiri. Ia
harus bersiap menghadapi setiap kemungkinan di dalam kegilaan itu,
apabila Lamat benar-benar menjadi gila. Lamat yang berdiri tegak itu
menjadi terengah-engah. Tubuhnya menjadi gemetar dan bibirnya
bergerak-gerak. "Lamat" suara Pamot perlahan-lahan "apakah yang
sudah terjadi atasmu?" Lamat t idak menjawab. Kini mulutnya terkatub
rapat-rapat. "Lamat, apakah ada sesuatu yang telah mengguncangkan
hatimu" "Ya" tiba-tiba Lamat menjawab "Aku telah berusaha menguasai
diriku sendiri" Lamat berpaling. Dipandanginya wajah Pamot yang
tegang "Pamot. Aku bersumpah bahwa aku adalah Lamat. Aku manusia
juga seperti kau, seperti Manguri, seperti Ki Reksatani, meskipun
aku pernah berhutang budi. Bukankah aku tetap seorang yang
berpribadi?" Tanpa mengetahui maksudnya Pamot mengangguk "Ya"
desisnya. "Ya. Dan aku akan bersikap sebagai seseorang yang
berpribadi. Aku tidak dapat membiarkan semuanya itu terjadi" "Apa
yang akan terjadi Lamat?" Perlahan-lahan Lamat menarik nafas.
Tangannya yang menggenggam perlahan-lahan terurai. Sekali lagi ia
memandang kekejauhan sambil berkata "Apakah kau masih percaya
kepadaku Pamot?" "Ya" Pamot menjawab dengan serta-merta sebelum ia
sempat berpikir. "Baiklah Pamot. Kalau kau masih percaya kepadaku,
dengarlah" Lamat berhenti sejenak. Sekali lagi ia menarik nafas.
Kemudian katanya "Duduklah" Pamot tidak menjawab. Tetapi ketika
Lamat duduk di pematang yang basah itu, Pamotpun segera duduk pula
di sampingnya. "Pamot " suara Lamat menurun "Apaboleh buat. Aku
harus mengkhianati kebaikan budinya" "Apa yang sebenarnya telah
terjadi atasmu Lamat" "Kau tidak usah tahu Pamot" Lamat berhenti
sejenak, lalu "Pergilah kau besok pagi-pagi ke Sembojan" "Sembojan?
Dimanakah Sembojan itu?" "Pergilah sebelum fajar. Kau harus
mendahului kami" "Tetapi apakah kepentinganku?" "Sindangsari berada
di Sembojan" Betapa terkejut Pamot mendengar keterangan yang tidak
disangka-sangka itu, sehingga rasa-rasanya darahnya berhenti
mengalir. Sejenak ia justru membeku. Dipandanginya Lamat dengan
mulut ternganga. "Bukankah kau masih percaya kepadaku?" bertanya
Lamat. "Ya, ya" jawab Pamot terbata-bata "Aku masih percaya Tetapi
apakah aku dapat mempercayai pendengaranku. Kau berkata bahwa
Sindangsari berada di Sembojan?" "Ya. Aku memang berkata demikian.
Besok sebelum fajar, aku harus mengantar Manguri pergi ke padukuhan
itu. Selain kami, Ki Reksatanipun akan pergi pula. Apakah kau dapat
mengerti?" Pamot tidak menyahut. Keringat dingin telah mengembun di
seluruh tubuhnya. "Ki Reksatani dan Manguri telah bersepakat
mengambil Sindangsari dari Kademangan. Itulah sebabnya, maka hampir
tidak seorangpun dapat membayangkan, bagaimana perempuan itu dapat
hilang begitu saja. Akulah yang membawanya meloncat pagar batu di
halaman belakang, setelah Nyai Reksatani berhasil memancingkan
kebawah rumpun pering petung" Pamot masih saja membeku. Sebuah
kejutan yang dahsyat telah membuatnya seolah-olah tidak mampu lagi
berpikir untuk sejenak. "Pamot " desis Lamat "keduanya bertemu pada
suatu kepentingan Sindangsari harus pergi dari Kademangan. Manguri
masih menginginkannya, sedang Ki Reksatani ingin menyingkirkannya,
karena Sindangsari, mengandung, dan akan memberikan keturunan yang
kelak dapat mewarisi jabatannya" "Gila. Itu perbuatan gila"
tiba-tiba Pamot menggeram "dan kau tidak berusaha mencegahnya?
Malahan kau membantu menculik perempuan itu" tiba-tiba Pamot berdiri
dan menuding wajah Lamat. "Sekarang kaulah yang menjadi gila" sahut
Lamat. Ketenangan Lamat telah membuat Pamot menyadari dirinya. Ia
mengangguk dan menjawab "Ya, kita bergantian menjadi gila. Sesudah
kau, sekarang aku" "Kau harus dapat memandang persoalan ini dengan
tenang. Ingat, besok mereka akan pergi ke Sembojan, di daerah
Kademangan Prambanan, sebelah Timur Hutan Tambak Baya" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau harus mendahului kami. Banyak
hal dapat terjadi Mungkin pembunuhan, sesuai dengan kepentingan Ki
Reksatani, tetapi mungkin juga perkosaan menurut kebutuhan Manguri
yang ingin memperisterikannya, meskipun dengan paksa" Terdengar gigi
Pamot gemeretak. Tiba-tiba ia berkata "Aku akan menghadap Ki Demang"
"Jangan. Kita masih belum yakin, apakah kita dapat menemukan
Sindangsari. Kalau Sindangsari tidak ada di Sembojan, maka Ki Demang
akan menuduhmu mengada-ada" "Jadi apa yang harus aku lakukan?"
"Bawalah beberapa orang kawan yang kau percaya. Jangan terlampau
banyak supaya tidak menumbuhkan kecurigaan di sepanjang jalan. Kau
dapat menghubungi anak-anak muda di Sembojan, barangkali ada juga
yang baru pulang dari tugasnya, seperti yang kau lakukan?" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau kau sampai di Sembojan lebih
dahulu, kau dapat mencari anak-anak muda itu dan minta bantuan
mereka apabila kau perlukan. Tetapi ingat, tunggu apa yang akan
terjadi. Kau harus mencari tempat Sindangsari disembunyikan, dan kau
harus dapat mengamati apa yang akan terjadi. Dengan bantuan
anak-anak muda Sembojan, aku yakin kau dapat melakukannya" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Terima kasih Lamat
Aku masih tetap percaya kepadamu. Aku yakin bahwa ujud lahiriahmu
tidak sejalan dengan ujud batinmu. Aku berhutang budi kepadamu sejak
aku belum berangkat ke Betawi" "Jangan kau sebut-sebut tentang
hutang budi. Aku menolongmu dengan ikhlas sehingga aku tidak merasa
mempunyai piutang yang akan aku tagih setiap waktu. Hutang budi itu
akan mengikatmu seperti aku telah terikat olehnya pula" "Tetapi itu
t idak berarti bahwa kita tidak tahu budi. Yang harus kita timbang
adalah nilai dari harga diri kita masingmasing dengan bagaimana kita
harus membalas budi. Kita harus menentukan keseimbangan di dalam
saat-saat seperti yang kau hadapi itu" Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Betapapun besar hutang budiku kepada seseorang, tentu
aku tidak akan dapat mengorbankan pribadiku, seperti aku tidak akan
dapat menyerahkan isteriku misalnya, kepada orang itu. Tetapi adalah
harga seseorang itupun dapat dilihat bagaimana ia menghargai budi
seseorang" Lamat masih mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nah, Lamat
sebaiknya, aku berangkat sekarang. Aku akan membawa beberapa orang
kawan dari Gemulung. Tiga atau empat orang. Aku akan berusaha
menghubungi anak anak muda di Sembojan. Aku kira pasti ada juga yang
ikut di dalam barisan Mataram, karena aku mendengar juga anak-anak
muda berdatangan dari Prambanan dan sekitarnya" "Hati-hatilah. Kau
harus dapat memilih saat dan keadaan yang tepat. Kalau kau salah
hitung, maka kau pasti hanya akan mendapatkan mayat Sindangsari. Kau
mengerti?" Pamot mengangguk. Katanya "Aku akan berusaha. Aku harus
mendahului mereka" Pamotpun dengan tergesa-gesa meninggalkan sawah
Manguri Ketika ia menengadahkan kepalanya, ia melihat bintang Gubug
Penceng telah condong ke Barat. Tengah malam baru saja dilampaui.
Karena itu, ia harus segera mendapat kawan yang dapat dipercayanya
untuk bersamasama pergi ke Sembojan. Ia harus keluar lebih dahulu
dari Kademangan sebelum Manguri dan Ki Reksatani. Apalagi mereka
mengetahui, bahwa Ki Reksatani adalah seorang yang tidak terlawan di
samping Ki Demang di Kepandak sendiri. Sepeninggal Pamot, maka
Lamatpun segera berkemas pula. Ia sudah menentukan suatu sikap,
sehingga iapun harus bersedia menanggung akibatnya. Manguri baginya
kini bukan lagi seorang yang akan dapat mengikatnya, setelah ia
berhasil mematahkan ikatan perasaan yang selama ini membelenggunya.
Sehingga tiba-tiba saja Lamat merasa dirinya seorang yang bebas,
yang tidak terikat lagi. Ia tidak perlu lagi selalu menundukkan
kepalanya apabila Manguri membentak-bentaknya. Tetapi Lamat sadar,
bahwa ia tidak dapat berbuat demikian dengan tiba-tiba, sehingga
dapat menimbulkan kecuriaan Manguri kepadanya. Bagaimanapun juga ia
harus bersikap seperti biasa, merendahkan diri dan menahan hati,
apabila anak muda itu memperlakukannya seperti budak belian di jaman
negeri antah berantah. Sambil menjinjing cangkulnya Lamat berjalan
menyelusuri pematang. Ia harus segera pulang untuk menenangkan
hatinya, sebelum ia berangkat bersama Manguri keluar Kademangan
Kepandak. Namun ketika ia meloncati parit, dilihatnya air yang
gemericik. Tiba-tiba saja ia teringat pada pembagian air yang sudah
saling disetujui. Lewat tengah malam adalah bagiannya. "Persetan
dengan sawah iblis kecil itu" geramnya. Dan Lamatpun melangkah
terus. Tetapi ketika dilihat batang-batang padi muda yang seolaholah
tertunduk lesu karena kehausan, maka timbullah perasaan iba di
hatinya. Meskipun yang dihadapi hanyalah sekedar tumbuh-tumbuhan dan
bukan sejenis makhluk yang dapat merasakan betapa hausnya kekeringan
air, namun Lamat tidak juga sampai hati untuk membiarkan
tumbuhtumbuhan itu layu. Lamat berhenti sejenak termangu-mangu.
Namun ia terpaksa melangkah kembali. Dibendungnya parit kecil dan
dialirkannya air parit itu ke dalam kotak-kotak sawah. Meskipun ia
sama sekali tidak ingin lagi bekerja untuk Manguri namun
tanaman-tanaman yang masih muda itu memang memerlukan air. Sejenak
Lamat duduk menunggui air yang mengalir masuk ke dalam sawah,
seperti yang sudah saling disetujui. Lewat sedikit tengah malam
adalah bagiannya. Dan Lamat masih juga sempat mempergunakan
kesempatan itu. Bahkan kemudian Lamat menunggui percikan air itu
sambil bertopangdagu. "Kalau aku belum datang, Manguri pasti belum
akan pergi. Biar Pamot sempat membawa kawan-kawannya meninggalkan
Kademangan beberapa saat mendahului. Kalau Manguri dan apalagi Ki
Reksatani sempat menyusulnya, maka akibatnya akan menjadi semakin
parah" berkata Lamat di dalam hatinya. Demikianlah, meskipun setiap
kali Lamat menengadahkan kepalanya, memandang langit yang menjadi
kemerahmerahan, namun ia masih tetap duduk di pematang menunggui air
yang telah memenuhi sawahnya. Lamat terkejut ketika ia mendengar
langkah yang tergesagesa mendekatinya. Ketika ia berpaling
dilihatnya Manguri bergegas mendapatkannya. Sambil menghentakkan
kakinya anak muda itu mengumpat "He, Lamat, apakah kau sudah menjadi
gila?" Lamat tidak menjawab, Kali ini ia memaksa dirinya untuk tetap
diam, agar Manguri t idak mencurigainya. "Apa kau tidak melihat
langit yang sudah semakin merah?" Lamat menengadahkan wajahnya
"Kurang sedikit, Sawah ini hampir penuh" "Tinggalkan saja sawah itu
terbuka Nanti airnya akan penuh dengan sendirinya" "Tetapi menjelang
fajar, aku harus membuka parit itu untuk sawah di sebelah" "Apa
pedulimu dengan sawah orang lain" "Kami sudah saling berjanji"
"Tutup mulutmu" Manguri membentak "kalau kau takut kepada tetangga,
tutup saja air yang mengalir ke sawah kita. Aku kira airnya juga
sudah cukup banyak" Lamat tidak menyahut Dengan malasnya ia berdiri
dan membuka parit serta penutup pematang sawahnya. "Cepat kita
pulang" desis Manguri "Kita harus segera berangkat, sebelum Ki
Reksatani mendahului kita" Keduanyapun kemudian berjalan
tergesa-gesa meninggalkan sawah mereka. Mereka masih harus pulang
dahulu, berkemas dan dengan hati-hati meninggalkan padukuhan. Mereka
harus membawa kuda mereka perlahanlahan agar tidak menumbuhkan
kegaduhan dan kecurigaan tetangga-tetangga mereka yang memang tidak
begitu senang kepada keluarga Manguri itu. Selagi Manguri dan Lamat
mempersiapkan diri, setelah mereka makan pagi karena mereka akan
menempuh perjalanan yang tidak menentu, maka Pamotpun telah
mendahului keluar dari padukuhan. Bersama tiga orang kawannya mereka
berkuda tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain. Mereka berempat
kemudian berpacu di tengahtengah bulak yang memisahkan
padukuhan-padukuhan kecil di Kademangan Kepandak. Namun, mereka
memilih jalan yang meskipun agak melingkar, namun sejauh-jauh
mungkin dari padukuhan-padukuhan itu, sehingga tidak mengejutkan dan
membangunkan penghuni-penghuninya yang masih tidur nyenyak. "Kita
menempuh jalan Utara" berkata Pamot. "Kenapa?" bertanya Punta yang
ikut pula bersama mereka. "Kita harus menghindari, andaikata Manguri
ternyata telah lebih dahulu daripada kita menunggu Ki Reksatani"
Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya. Perhitunganmu
baik sekali. Mungkin Manguri juga berangkat sebelum fajar" Keempat
orang itupun kemudian berpacu semakin cepat. Angin malam yang dingin
menampar wajah-wajah mereka yang tegang. Suara cengkerik masih juga
berderik bersahutsahutan dengan suara bilalang di rerumputan. "Aku
mengenal seorang anak muda yang ikut pergi ke Betawi" berkata Punta
"Adalah kebetulan kalau aku bertanya kepadanya, dimana rumahnya"
"Dimana?" "Kali Mati. Tidak begitu jauh dari Sembojan. Juga termasuk
Kademangan Prambanan. Ia anak muda yang baik dan bertanggung jawab"
"Jadi maksudmu?" "Apakah kita dapat datang kepadanya dan minta
bantuannya. Kita tidak mengenal pimpinan pengawal Kademangan
Prambanan. Kita juga tidak mengenal dan tidak dikenal oleh bebahu
Kademangan Prambanan. Kalau kita keliru sepatah kata saja, mungkin
justru kitalah yang dicurigainya" Pamot mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Baiklah. Kita datang kepadanya. Kita akan
melihat perkembangan keadaan sebelum kita mengambil sikap tertentu.
Tetapi aku kira hal itu akan menjadi lebih baik daripada kita
berbuat sesuatu tanpa petunjuk apapun" Punta mengangguk-anggukkan
kepalanya. Namun sejenak kemudian t idak ada seorangpun diantara
mereka yang berbicara. Mereka berpacu terus di jalan persawahan yang
gelap, meskipun kemudian mata mereka menjadi semakin biasa dan
lambat laun seakan-akan malam menjadi semakin remang-remang. Apalagi
karena langit di Timurpun menjadi semburat merah pula. Fajar telah
hampir menerangi malam yang kelam. Namun anak-anak muda Gemulung itu
telah keluar dari telatah Kademangan Kepandak. Dalam pada itu,
setelah mempersiapkan diri dengan tergesa-gesa, maka Manguri dan
Lamatpun keluar dari regol halaman rumah mereka. Betapapun gelisah
hati Manguri, tetapi mereka harus tetap berjalan perlahan-lahan.
Merekapun sadar, bahwa kejutan kaki-kaki kuda yang berderap
terlampau cepat, akan dapat menumbuhkan pertanyaan yang aneh di
dalam hati tetangga-tetangganya. "Berapa orang yang yang telah
mendahului kita?" bertanya Manguri kepada Lamat. "Seperti yang kau
perintahkan. Hanya tiga orang termasuk pesuruh ayahmu itu" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi keningnya kemudian
berkerut-merut. Katanya "Apakah sudah cukup? Apabila kita menghadapi
sesuatu, kita memerlukan banyak tenaga" "Bersama ayahmu masih ada
empat orang lagi di sana" sahut Lamat. "Tetapi bagaimana dengan Ki
Reksatani? Apakah ia tidak membawa banyak orang bersamanya?" Lamat
merenung sejenak, namun kemudian jawabnya "Aku kira tidak. Kita
masih belum tahu pasti, apa yang akan dilakukannya. Kita hanya
saling mencurigai" Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun
demikian ia masih juga ragu-ragu. Tiga orang-orangnya yang
terpercaya telah disuruhnya mendahului dan menunggu di luar
Kademangan. Mereka akan bersama-sama menunggu pula Ki Reksatani yang
sudah berjanji akan pergi bersama mereka ke Sembojan. Ketika mereka
telah keluar dari padukuhan, maka merekapun segera berpacu pula.
Namun setiap kali mereka memasuki padukuhan berikutnya, maka derap
kuda merekapun harus diperlambat. Betapapun perjalanan itu terasa
menjengkelkan sekali, tetapi akhirnya merekapun sampai juga di luar
Kademangan. Di tempat yang sudah ditentukan tiga orang kepercayaan
Manguri telah berada di tempat itu. Mereka menambatkan kuda- kuda
mereka agak jauh dari jalan, di belakang gerumbul. Seorang diantara
mereka duduk diatas rerumputan, sedang dua orang yang lain berbaring
beralaskan rumputrumput kering. Bahkan seorang diantaranya telah
tertidur dengan nyenyaknya. Ketika Manguri menghampiri mereka, maka
orang yang berbaring tetapi tidak tertidur itu menguap sambil
menggeliat "Apakah kita masih akan menunggu lagi?" "Apakah kalian
sudah melihat Ki Reksatani lewat?" bertanya Manguri kepada salah
seorang dari mereka yang tidak tertidur. Orang yang duduk diatas
rerumputan itu menjawab "Belum. Aku belum melihat seorangpun lewat"
Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Ya, kalau begitu
kita harus menunggu lagi" Orang yang berbaring itu berdesah "Memang
sebaiknya aku tidur saja dahulu" "Tidurlah" sahut kawannya yang
masih tetap duduk "Mudah-mudahan mimpimu menarik" "Aku tidak akan
mimpi" jawabnya. Manguri dan Lamatpun kemudian mengikat kuda-kuda
mereka pula, serta duduk diantara orang-orang yang telah mendahului
mereka itu. "Lebih baik kita menunggu daripada kita harus
mengejarnya" "Tentu tidak" jawab Lamat "kalau Ki Reksatani
mendahului ialah yang akan menunggu kita" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun kemudian bersandar sebatang
pohon perdu di pinggir jalan yang sepi. Meskipun ia tidak memejamkan
matanya, namun seolaholah anak muda itu tidak melihat apapun juga.
Angan-angan nyalah yang terbang menyerawang ke dunia yang lain.
Hatinya yang selalu cemas dan gelisah kini serasa semakin menyempit
Ia tidak tahu, apakah yang bakal terjadi kemudian di Sembojan.
Mungkin ia dapat mengatasi keadaan dan benarbenar mengikat
Sindangsari. Tetapi mungkin pula Ki Reksatani menjadi gila, dan
mencoba membunuhnya, Atau. masih ada seribu kemungkinan yang bakal
terjadi. Lamat duduk tepekur di samping Manguri. Ia masih tetap
berlaku sebagai Lamat yang dahulu. Namun, meskipun Lamat telah
bertekad untuk menyelamatkan Sindangsari, tetapi hatinya masih juga
tetap bergolak. Ia tidak tahu, apa yang bakal terjadi, seperti juga
Manguri. Selain itu Lamatpun berpikir pula tentang Pamot. Apakah
Pamot sudah berangkat mendahului atau ia kini sedang mempersiapkan
diri dengan kawan-kawannya yang baru berhasil dihubunginya. "Kalau
Pamot lewat jalan ini pula, maka kami pasti akan bertempur disini.
Kami tidak akan sampai ke Prambanan" Katanya di dalam hati "tetapi
mudah-mudahan ia sudah mendahului kami disni" Tanpa sesadarnya Lamat
menarik nafas dalam-dalam. Tidak ada rencana yang masak dapat
disusunnya. Tetapi mudah-mudahan, baik Pamot maupun dirinya sendiri,
berhasil menyesuaikan diri dengan keadaan, sehingga akibatnya tidak
justru mencelakakan Sindangsari. Baik dicelakai oleh Ki Reksatani
maupun oleh nafsu Manguri. Demikianlah setelah sejenak mereka
menunggu, dan langit di Timur telah menjadi semakin terang, barulah
mereka melihat tiga orang berkuda datang dari jurusan Kepandak.
"Agaknya mereka itulah Ki Reksatani" berkata Manguri. "Belum tentu"
sahut salah seorang kawannya "sebaiknya kita bersembunyi. Terutama
Manguri. Aku belum banyak dikenal disini" Manguri tidak segera
menjawab. Ditatapnya wajah Lamat, seakan-akan ia ingin mendapat
pertimbangan daripadanya. Ketika ia melihat Lamat mengangguk kecil,
maka iapun kemudian beringsut beberapa langkah surut dan berlindung
di balik gerumbul jarak yang tumbuh di pinggir jalan. Lamatpun
kemudian berbuat serupa pula, bersembunyi di belakang dedaunan.
Sejenak kemudian maka tiga orang berkuda itupun menjadi semakin
dekat. Lamat dan Manguri yang mengintip dari sela-sela gerumbul,
ketika kuda-kuda itu berhenti, ia segera melihat bahwa mereka adalah
Ki Reksatani dengan dua orang pengawalnya. Manguripun kemudian
meloncat keluar, sedang Lamat menyuruk perlahan-lahan dari balik
dedaunan. "Kenapa kalian bersembunyi?" bertanya Ki Reksatani. "Kami
disini belum yakin, bahwa Ki Reksatanilah yang datang" jawab
Manguri. "Kalian cukup berhati-hati. Berapa orang kalian semuanya?"
"Lima orang" Ki Reksatani mengerutkan keningnya. "Ki Reksatani hanya
bertiga?" "Aku masih harus menunggu tiga orang lagi" "Kenapa masih
harus menunggu?" "Kami tidak dapat berangkat bersama-sama. Karena
itulah maka aku berangkat dulu, sedang tiga orang yang lain akan
menyusul kemudian" "Dan kami akan menunggu disini?" "Ya. Tetapi
tidak akan terlampau lama. Mereka akan segera datang" Manguri tidak
menjawab. Iapun kemudian duduk kembali bersandar sebatang pohon.
Sedang Lamat, masih saja duduk diatas rumput. Kawan Manguri yang
tertidur justru telah terbangun. Tetapi ia masih tetap berbaring
diam. Ki Reksatani sendiri sama sekali tidak turun dari kudanya.
Demikian juga kedua pengawalnya. Dengan gelisah mereka menunggu tiga
orang yang akan mengawani mereka pergi ke Sembojan. Ternyata mereka
memang tidak usah menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian di dalam
keremangan malam tampak tiga orang berkuda berpacu di sepanjang
jalan. "Marilah" berkata Ki Reksatani kemudian "mereka telah datang"
Manguripun kemudian berdiri sambil memandang ketiga ekor kuda yang
berlari mendekat. Kemudian iapun melangkah kekudanya sambil berkata
"Marilah-Lamat" Dengan malas Lamatpun berdiri pula. Demikian juga
kawan-kawan Manguri. Apalagi orang yang telah tertidur nyenyak.
Sambil menguap ia bangkit Kemudian menggeliat sambil berkata "Aku
masih ingin t idur beberapa lama lagi" "Tidurlah" sahut kawannya.
Tetapi keduanyapun kemudian melangkah juga kekuda masing-masing.
Sejenak kemudian mereka telah berpacu beriringan ke Sembojan. Mereka
tidak melewati Pusat Pemerintahan Mataram, tetapi mereka menembus
jalan-jalan padukuhan yang sepi, agar tidak menumbuhkan pertanyaan,
apalagi apabila mereka berjumpa dengan beberapa pasukan pengawal dan
prajurit. Dalam pada itu, jauh di depan mereka Pamot juga berpacu
bersama kawan-kawannya. Keempat orang itu t idak langsung pergi ke
Sembojan, tetapi mereka pergi ke Kali Mati. Keempat anak-anak muda
itu melampaui hutan Tambak Baya setelah matahari merayap di kaki
langit. Sinarnya telah mulai menggatalkan kulit. Namun mereka
berpacu terus. Mereka meminta di jalan sempit di sebelah Timur Cupu
Watu ke arah Utara. Di hadapan mereka Gunung Merapi yang hijau
kemerah-merahan berdiri tegak seakan-akan batas yang menyekat dua
bagian dunia yang asing. Di sebelah Selatan dan di sebelah Utara.
Pamot dan kawan-kawannya sempat juga menarik nafas dalam-dalam,
menghirup kesejukan udara pagi. Derap kaki kuda mereka ternyata
telah menghalau burung-burung yang berterbangan di pohon-pohon perdu
yang rendah. Di kejauhan terdengar burung tekukur memanggil-manggil
anaknya. Sedang diatas kepala mereka, di sebatang dahan, burung
jalak bersiut tanpa menghiraukan derap kaki-kaki kuda dan debu yang
putih. Setelah menyeberangi sebatang sungai yang landai, maka
merekapun melintasi beberapa bulak kecil. Kemudian beberapa saat
mereka menyusuri hutan yang rindang, sampai ke ujungnya. Berbatasan
dengan sebuah pategalan di ujung hutan yang rindang itulah terletak
sebuah padukuhan kecil yang disebut Kali Mati. Mereka tidak menemui
kesukaran apapun untuk mencari kawannya yang dikenalnya selama
perjalanan. Di ujung padukuhan mereka bertanya kepada seorang anak
muda yang menyandang cangkul dibahunya. Maka segera anak muda itu
menjawab "O, Rajab yang ikut di dalam pasukan Mataram ketika
menyerang Betawi" "Ya. Rajab atau Mudai, aku kenal keduanya" sahut
Punta. "Yang masih tinggal adalah Rajab. Mudai gugur di peperangan"
"O" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Di perjalanan kembali ia
memang tidak bertemu dengan keduanya. Untunglah bahwa masih ada
salah seorang dari mereka yang hidup "Sayang" desis Punta "Mudai
adalah anak yang baik. Tetapi baiklah, aku ingin bertemu dengan
Rajab" "Pergilah ke ujung padukuhan. Kalau kau jumpai sebuah rumah
limasan, berhalaman penuh dengan pohon so dan sepasang kelapa
gading. Regolnya sudah agak rusak, karena sepeninggal Rajab, regol
itu tidak terpelihara. Sampai saat ini agaknya Rajab masih belum
sempat mengganti selain diperbaiki saja di beberapa bagian" "Terima
kasih" sahut Punta. "Apakah kau kawannya di dalam pasukan itu" Punta
mengangguk "Ya. Terima kasih atas segala petunjuk Ki Sanak. Aku akan
mencarinya di ujung padukuhan" Demikianlah mereka melanjutkan
perjalanan. Tetapi jarak yang terbentang di hadapan mereka tinggal
beberapa puluh langkah saja karena mereka telah sampai ke padukuhan
yang mereka tuju. Kehadiran Punta dan kawan-kawannya ternyata telah
mengejutkan Rajab. Baru saja ia bersiap untuk pergi ke sawah sambil
menuntun lembunya untuk membajak. Tetapi ia melihat beberapa ekor
kuda, maka iapun segera mengurungkan niatnya. Sejenak Rajab berdiri
termangu-mangu. Namun kemudian ia berteriak "He, bukankah kau Punta
yang pergi ke Betawi itu juga?" Punta dan kawan-kawannya meloncat
turun dari kuda mereka. Sambil tersenyum Punta menjawab "Apakah kau
masih ingat?" "Tentu, Marilah" Punta dan kawan-kawannyapun kemudian
menuntun kuda mereka memasuki halaman. Setelah mereka mengikat kuda
mereka, maka merekapun segera dipersilahkan masuk ke dalam rumah
limasan tua yang besar. Di bagian depan dari rumah itu terbuka,
berdinding hanya setinggi lambung. "Duduklah" Rajab mempersilahkan
"mimpi apa aku semalam. Hari ini aku menerima tamu dari jauh" Punta,
Pamot dan kawan-kawanyapun kemudian duduk diatas tikar yang
dibentangkan diatas sehelai kepang bambu. "Aku sama sekali tidak
menyangka bahwa kalian akan datang hari ini. Apakah kalian semuanya
ikut pada saat itu?" "Ya" sahut Punta "semuanya kami ikut. Apakah
kau t idak dapat mengenal kami?" Rajab mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Ya, mungkin aku sudah melihat kalian. Tetapi di
dalam pasukan sebesar itu, kadang-kadang kita tidak saling
berkenalan. Kebetulan aku mengenal Punta saat itu" "Memang suatu
kebetulan" "Ternyata kau memenuhi janjimu untuk datang berkunjung
kemari" "Kami sedang mencoba kuda-kuda kami" Rajab tersenyum "Kudaku
kemarin dulu aku pacu mengelilingi Gunung Merapi" "He, kau tidak
singgah ke Kepandak?" Rajab tersenyum "Maaf, aku tidak sempat saat
itu. Aku berpacu melawan beberapa orang. Kami bertiga mengelilingi
Gunung Merapi dengan putaran ke kanan, sedang tiga orang yang lain
berpacu mengelilingi dengan putaran kekiri" "Menarik sekali" sahut
Punta "kalau aku tahu, aku ikut di dalam pacuan itu" "Di hutan Sela
kami berhenti sejenak, karena kami dengan tiba-tiba telah berhadapan
dengan seekor harimau" "Dahsyat sekali" Punta hampir berteriak.
Demikianlah mereka kemudian berceritera tentang pengalaman
masingmasing. Pembicaraan mereka berkembang sampai kepada
persoalan-persoalan yang aneh-aneh. Namun agaknya Punta menyadari
hal itu, sehingga perlahan-lahan ia berhasil membawa pembicaraan
mereka kepada tujuannya. Pembicaraan mereka terputus sejenak ketika
adik Rajab menghidangkan minuman panas dengan gula kelapa dibarengi
dengan beberapa macam makanan. Baru kemudian Punta berkata "Rajab,
apakah kau pernah pergi ke Mataram selama ini?" Rajab menggelengkan
kepalanya "Aku hanya lewat di sebelah Utara Kota, ketika aku berpacu
kemarin dulu" Punta mengangguk-angguk. Lalu "Apakah kau sering pergi
ke Sembojan?" "Sembojan?" Rajab mengerutkan keningnya "kenapa dengan
Sembojan? Apakah hubungannya Mataram dan Sembojan?" Punta tersenyum,
ia tidak ingin mengejutkan kawannya dengan sebuah pertanyaan yang
tampaknya dengan tiba-tiba berubah menjadi bersungguh-sungguh.
"Tidak apa-apa. Aku pernah dengar, bahwa rumahmu dekat Sembojan"
"Ya. Padukuhan di sebelah itulah Sembojan. Di sebelah hutan kecil
dan pategalan buah-buahan" "Jadi, diantara sebuah hutan?"
"Sebenarnya bukan sebuah hutan. Tetapi daerah yang kurang
menguntungkan untuk digarap, sehingga dibiarkannya menjadi bera dan
tidak terpelihara Meskipun demikian, kita dapat berburu kijang
dihutan itu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kenapa Sembojan
lebih terkenal dari padukuhanmu ini?" Rajab mengerutkan keningnya.
Jawabnya "Aku tidak tahu. Aku tidak melihat kekhususan dari
padukuhan itu" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia
berkata "Ada beberapa orang yang lewat padukuhan Kepandak. Mereka
yang datang dari Menoreh dan sekitarnya. Menurut keterangan mereka,
mereka akan pergi ke Sembojan menengok keluarganya. Apakah hanya
suatu kebetulan bahwa satu dua orang saudaranya tinggal di Sembojan.
Tetapi belum lagi lewat sehari, ada tiga orang yang katanya dari
Sungapan Kali Praga yang akan pergi ke Sembojan pula" Tiba-tiba
Rajab tertawa. Katanya "Tentu mereka adalah saudara orang gila yang
sekarang berada di Sembojan itu" "Orang gila?" "Ya" jawab Rajab "di
Sembojan ada seorang perempuan gila yang membuat keluarganya menjadi
terlampau sibuk. Mungkin mereka telah memberi kabar keluarga mereka
yang bertempat tinggal di Menoreh dan di Sungapan Kali Praga itu"
Punta mengerutkan keningnya. Dipandanginya Pamot sejenak. Tampaklah
ia menjadi kecewa. Ternyata yang menarik perhatian Rajab adalah
seorang gila. Bukan kedatangan orang yang tidak mereka kenal di
daerah Sembojan yang sedang menyembunyikan Sindangsari. "Lucu
sekali" berkata Rajab "kebetulan sekali, aku sedang berada di
Sembojan, di rumah bibi, ketika orang gila itu berlari-lari dikejar
oleh beberapa orang keluarganya" Pamot menarik nafas dalam-dalam.
Dipandanginya Punta sejenak. Tetapi Puntapun menjadi kecewa. Tetapi
mereka tidak dapat memotong Rajab berceritera "Menurut keluarganya
yang menunggui orang gila itu, tidak seorangpun saudara-saudaranya
yang mau menerima orang gila itu di rumahnya, selain kakak
perempuannya di Sembojan itu" Pamot, Punta dan kawan-kawannya
menganggukanggukkan kepalanya, sekedar mengangguk-angguk. Ceritera
itu sama sekali tidak menarik baginya. Tidak hanya di Sembojan,
hampir di setiap padukuhan ada orang yang kurang waras. Tetapi kalau
ia sekedar gila karena kesadarannya yang tidak lengkap itu sama
sekali tidak dapat dipersoalkan. Tetapi orang-orang gila yang
menyadari kegilaannya itulah yang berbahaya, seperti Manguri Ki
Reksatani dan orang-orangnya. Meskipun demikian, meskipun Punta,
Pamot dan kawankawannya sama sekali tidak tertarik, namun Rajab
masih berceritera terus sambil tersenyum-senyum "Kalau seorang yang
gila berlari-lari di sepanjang padukuhan sambil berteriakteriak,
sama sekali tidak menarik perhatianku. Itu adalah hal yang wajar.
Tetapi hampir setiap orang menaruh belas kepada orang gila itu
justru karena orang gila itu sedang mengandung, dan agaknya
laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab, tidak mau menerimanya.
Mungkin karena perempuan itu gila" "Jadi orang gila itu perempuan?"
bertanya Pamot dengan serta merta. Terasa dadanya tergetar dan
wajahnya menegang "Apakah kau pernah melihat?" Perhatian yang
tiba-tiba itu justru telah membuat Rajab menjadi heran. Apalagi
ketika ia melihat wajah-wajah kawan Pamot yang tiba-tiba menjadi
bersungguh-sungguh. "Kenapa dengan perempuan gila itu?" "Maksudmu,
apakah perempuan itu masih muda? "Ya. Masih muda dan cantik. Tetapi
ia terlampau kusut karena kegilaannya" "Ia tidak gila. Ia bukan
orang gila" Pamot hampir berteriak. Tetapi Punta menggamitnya sambil
berkata "Tenanglah Pamot, kita berbicara dengan tenang, supaya Rajab
tidak menjadi bingung" Rajablah yang kemudian menjadi
terheran-heran. "Rajab" berkata Punta kemudian "apakah kau pernah
melihat perempuan yang kau katakan gila itu?" "Ya. aku melihat.
Keluarganya sendirilah yang mengatakan bahwa ia gila ketika
perempuan itu mencoba melepaskan diri dari rumahnya dan berlari-lari
di sepanjang padukuhan sambil berteriak-teriak" "Apakah yang
diteriakkannya?" "Perempuan itu memanggil ibunya, kakek dan
neneknya" Dada Punta menjadi berdebar-debar pula. Apalagi Pamot.
Wajahnya yang tegang menjadi merah padam. "Maaf Rajab" berkata Punta
"agaknya kau dapat memberikan beberapa keterangan tentang perempuan
itu?" "Ya, beberapa yang aku ketahui. Aku tidak terlampau sering
pergi ke Sembojan" "Apakah perempuan itu memang tinggal di Sembojan
sejak lama?" Rajab menggeleng "Belum, belum lama. Baru saja ia
dibawa kepada kakak perempuannya di Sembojan. "Dan kau katakan bahwa
perempuan itu mengandung?" "Ya. Mengandung. Aku tahu betul, dan
semua orang justru mempercakapkan karena ia mengandung" "Apakah kau
tahu namanya" Rajab menggelengkan kepalanya "Tidak seorangpun yang
tahu namanya" "Keluarganya tidak pernah mengatakannya?" Rajab
menggeleng pula. Sejenak mereka berdiam diri. Terbayang
diangan-angan Pamot Punta dan kawan-kawannya saat itu Ki Reksatani
dan Manguri diikuti oleh beberapa orang kepercayaannya sedang
berpacu ke Sembojan, atau barangkali mereka telah sampai di
padukuhan itu saat ini. Rajab benar-benar menjadi heran melihat
sikap tamutamunya. Agaknya perempuan gila di Sembojan itu benarbenar
telah menarik perhatian mereka sehingga mereka dengan
sungguh-sungguh ingin mengetahui beberapa persoalan tentang orang
gila itu. "Rajab" berkata Punta sejenak kemudian "Maaf kalau akan
selalu bertanya tentang perempuan itu. Maksudku, perempuan yang kau
sangka gila itu" "Bukan aku menyangka perempuan itu gila" sahut
Rajab "Tetapi keluarga merekalah yang mengatakan bahwa perempuan itu
gila. Memang sikapnya agak aneh dan pakaian serta rambutnya yang
kusut itu memberikan kesan, bahwa ia dalam keadaan terganggu
kesadarannya" Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia semakin yakin
bahwa perempuan itu bukan perempuan gila. Tetapi perempuan itu
adalah perempuan yang dicarinya. Apalagi Pamot, Hampir saja Pamot
tidak dapat menahan perasaannya jika setiap kali Punta tidak
menggamitnya. "Rajab" berkata Punta kemudian "Aku kira, perempuan
itu bukan perempuan gila. Tetapi perempuan itu memang terganggu.
Bukan ingatannya, tetapi kebebasannya" "Rajab mengerutkan keningnya.
Ia menjadi bingung. Katanya "Aku tidak tahu maksudmu" "Kau akan
segera tahu" sahut Punta "Karena perempuan itulah agaknya aku
kemari" "O, aku semakin tidak mengerti" "Meskipun aku belum dapat
memastikan bahwa dugaanku benar, tetapi aku kira perempuan itulah
yang kami cari. Perempuan yang sedang mengandung itu" "Kenapa kalian
mencarinya?" Punta menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Pamot
sejenak, lalu katanya "Kami sangat berkepentingan dengan perempuan
itu. Kalau kami dapat meyakini bahwa perempuan itu adalah perempuan
yang kami cari, maka kami akan segera menentukan sikap" "Ya, tetapi
kenapa kau mencarinya?" bertanya Rajab mendesak. "Rajab" berkata
Punta kemudian dalam nada yang dalam "kau adalah satu-satunya orang
yang aku kenal disini. Aku belum tahu pasti tentang kau. Tetapi
karena kita pernah bertemu di perjalanan selagi kita bersama-sama
berjuang untuk Mataram, maka aku percaya bahwa kau bersedia membantu
kami" "Ya, tetapi kau belum mengatakan persoalanmu. Apalagi di dalam
hubungannya dengan perempuan gila, eh, perempuan yang sedang
mengandung itu" Punta memandang Pamot sejenak. Kemudian ia bertanya
"Sebaiknya aku berterus terang Pamot" Pamot mengangguk. "Baiklah
Rajab. Aku akan berterus terang. Perempuan yang dikatakan gila itu,
apabila perempuan yang kami cari, ia adalah isteri Ki Demang di
Kepandak" "He?" Rajab terkejut sekali, sehingga ia bergeser
sejengkal maju "isteri Demang di Kepandak? "Ya" "Tetapi, apakah ia
memang sakit ingatan dan dibawa ke rumah kakaknya di Sembojan?"
"Mudah-mudahan tebakan kami benar. Perempuan itu sama sekali tidak
sakit. Kalau ia berlari-lari dan berteriak-teriak itu karena ia
ingin melepaskan diri. Tegasnya, ia kini di dalam penguasaan orang
yang tidak berhak atasnya" "Diculik maksudmu?" Punta menganggukkan
kepalanya. Wajah Rajab kini menegang. Sejenak ia membeku sambil
memandang Pamot, Punta dan kawan-kawannya bergantiganti. Namun
tiba-tiba ia mengangguk-angguk "Itulah sebabnya, tidak ada
seorangpun yang boleh mendekatinya. Meskipun alasan mereka,
perempuan itu berbahaya. Seorang dukun yang menawarkan dirinya untuk
mengobatinya, telah ditolak pula. Memang mungkin. Mungkin sekali
perempuan itu sama sekali bukan perempuan gila" "Tetapi apakah ada
cara yang baik untuk meyakininya?" Rajab mengerutkan keningnya.
"Kalau aku berbuat sesuatu disini, dan ternyata bukan perempuan itu
yang kami cari, maka kami telah melakukan kesalahan" "Apakah isteri
Ki Demang itu sedang mengandung?" "Ya" "Mungkin sekali. Tetapi
bagaimana kalian dapat melihatnya" Sejenak mereka saling berdiam
diri pula. Mereka sedang mencoba mencari jalan, bagaimana
mengetahui, bahwa perempuan itu benar-benar Sindangsari yang sedang
mereka cari. Tiba-tiba saja Pamot berkata "Punta, bukankah hari ini
beberapa orang akan datang ke tempat Sindangsari disembunyikan?"
Punta menganggukkan kepalanya. "Kalau dapat diketahui bahwa mereka
datang ke tempat perempuan yang mereka katakan gila itu, maka sudah
pasti bahwa perempuan itu adalah Sindangsari" "Siapakah namanya?
Sindangsari?" "Ya, namanya Sindangsari, tetapi ia sudah menjadi Nyai
Demang di Kepandak" Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. "Rajab"
berkata Punta kemudian "aku tidak mengenal orang lain disini. Apakah
kau bersedia membantu kami?" "Apakah kau berhasrat untuk mengambil
Nyai Demang di Kepandak itu?" "Ya. Kami ingin berbuat sesuatu untuk
Demang kami" Rajab menganggukkan kepalanya. Katanya "Apakah yang
dapat aku lakukan? Apakah aku harus mengumpulkan beberapa kawan lagi
dan merebut Nyai Demang di Kepandak itu dengan kekerasan?" "Memang
mungkin kita harus mempergunakan kekerasan. Tetapi kita harus
berhati-hati. Kalau kita salah langkah, maka jiwa Nyai Demang itu
berada dalam bahaya" Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia
bertanya "Bagaimana mungkin dapat terjadi begitu? Dan apakah Demang
di Kepandak itu masih muda semuda kita?" "Kenapa?" "Perempuan yang
disebut gila itu masih sangat muda" "Ya. Ia masih sangat muda. Anak
yang dikandungnya itu adalah anaknya yang pertama, yang sudah
berumur tujuh bulan di dalam kandungan" "Ya. Ya. Kandungan itu
memang kira-kira berumur tujuh bulan. Aku kira memang itulah
orangnya" Rajab berhenti sejenak, lalu "Tetapi sudah tentu kita
tidak akan dapat bertindak sendiri langsung di Kademangan ini. Kalau
ada kesalah pahaman, maka Ki Jagabaya dan Ki Demang pasti akan
menumpahkan kesalahan kepada kita. Apapun yang kita lakukan" Punta
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Tepat Rajab. Karena itu,
aku tidak berkeberatan apabila kami kau hadapkan kepada Ki Jagabaya.
Setidak-tidaknya tetua padukuhan Sembojan" "Aku tidak berkeberatan"
sahut Rajab. Tetapi Pamot menyahut "Dimanakah rumah Ki Jagabaya?
Bagaimana kalau kita bertemu dengan Ki Jagabaya? Aku tidak
mencemaskan nasib kita. Tetapi nasib Nyai Demang di Kepandak itu"
"Apakah sebenarnya maksud orang-orang yang menculik Nyai Demang itu
sehingga kau mencemaskan jiwanya" Punta menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian setelah memandang Pamot sejenak, yang menganggukkan
kepalanya, Punta menceriterakan serba sedikit tentang Nyai Demang di
Kepandak, meskipun ia tidak menyinggung sama sekali tentang Pamot.
Ia hanya mengatakan, apa alasan masingmasing dari orang-orang yang
menculiknya. Rajab mengerutkan keningnya. Sambil menganggukanggukkan
kepalanya ia berkata "Memang masuk akal. Keduanya masuk akal. Bahwa
anak muda yang kau sebut bernama Manguri dan adik Ki Demang di
Kepandak yang bernama Ki Reksatani itu, memang mempunyai alasan
masing-masing. Tetapi mereka adalah orang-orang yang dikuasai oleh
nafsu" "Ya. Kademangan kami kini penuh dengan orang-orang yang
sedang dikuasai oleh nafsu. Bukan saja Ki Reksatani, Manguri, tetapi
Ki Demang sendiri. Perkawinannya dengan perempuan itu adalah
perkawinannya yang keenam kalinya" "Keenam kalinya?" Rajab
terbelalak. "Ya" sahut Punta "Dan ia adalah satu-satunya isterinya
yang mengandung" Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya
"Perkawinan lima kali berturut-turut tanpa anak itulah yang
mendorong Ki Reksatani untuk mengharapkan kedudukan kakaknya. Dan
agaknya ia hampir pasti, bahwa Ki Demang di Kepandak itu tidak akan
mempunyai keturunan" "Ya. Kehamilan isterinya yang keenam membuatnya
sangat kecewa sehingga ia terperosok ke dalam perbuatan yang sangat
keji" Rajab mengangguk-angguk. Kemudian setelah merenung sejenak ia
berkata "Baiklah. Aku akan membantu kalian. Aku akan menempatkan
beberapa kawanku di Sembojan. Terutama anak-anak yang memang sering
berada di Sembojan untuk melihat, apakah perempuan yang mereka
katakan gila itu mendapat tamu. Kemudian kita akan pergi ke rumah Ki
Jagabaya. Pamot mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia berkata
sesuatu Rajab berkata "Kita akan menempuh jalan yang lain sama
sekali dari jalan yang mungkin dilalui orang-orang yang datang dari
Barat, termasuk kalian dan Ki Reksatani" Pamot mengangguk-anggukkan
kepalanya dan Punta berkata "Baiklah. Aku percaya kepadamu" Rajabpun
kemudian mengurungkan niatnya untuk pergi ke sawah. Dipesankannya
agar adiknya sajalah yang pergi menengok sawah itu. "Kau akan pergi
kemana?" bertanya ibunya yang sudah agak lanjut. "Aku mempunyai
beberapa orang tamu. Aku akan mengantarkannya sebentar" Ibunya
mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak mengerti apa yang
akan dilakukan anaknya itu. Rajabpun segera menghubungi beberapa
orang kawannya. Yang mula-mula dipilihnya kawan-kawannya yang pergi
juga bersamanya ke Betawi. Kawan-kawan itulah yang dianggapnya
mempunyai pengetahuan olah kanuragan. melebihi kawan-kawannya yang
lain, karena latihan-latihan yang pernah mereka terima dari prajurit
Mataram, di padukuhannya dan apalagi dalam persiapan mereka sebelum
mereka berangkat ke Betawi. "Ah kau" berkata salah seorang kawannya
"kau selalu mencari kerja. Bukankah hal ini bukan urusan kita?
Padahal akibatnya tidak dapat kita bayangkan. Mungkin kita harus
berkelahi, atau melakukan t indakan kekerasan lainnya" "Memang
mungkin" sahut Rajab "tetapi kalau kita melihat seseorang yang
tenggelam di sungai, apakah kita akan diam saja seandainya ia masih
mungkin ditolong?" "Itu persoalan lain. Kita menolong jiwa
seseorang, bukan orang-orang yang sedang berebut perempuan" Rajab
mengerutkan keningnya. Lalu katanya "He, apakah aku kurang lengkap
memberitahukan apa yang telah terjadi?" Kawannya terdiam dan Rajab
mencoba menerangkan apa yang telah terjadi sebenarnya. "O, begitu?"
kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya "kalau begitu persoalannya
jadi lain. Kau tadi hanya mengatakan bahwa perempuan itu dilarikan
orang" "Seandainya demikian, dan kita mampu menolong?" "Ya" kawannya
ragu-ragu "sebaiknya memang kita tolong" "Macam kau" desis Rajab.
Lalu "Nah, kita akan membagi kerja. Amatilah rumah itu. Bukankah kau
sering berada di Sembojan? Pergilah tiga atau empat orang. Kau dapat
mencari kawan di Sembojan. Anak-anak Sembojan pasti mau membantumu"
"Baiklah. Aku akan mencoba" Demikianlah, maka kawan Rajab yang
dipercaya segera melakukan tugas yang telah mereka sanggupkan.
Tetapi mereka sadar, bahwa mereka harus berhati-hati dan tetap
merahasiakan persoalan yang sebenarnya, kecuali kepada orang-orang
yang telah mereka kenal baik dan dapat dipercaya. Sebab mereka telah
mendapat gambaran, bahwa nyawa Nyai Demang di Kepandak dapat
terancamkarenanya. Sementara itu Pamot dan kawannya bersama Rajab
telah pergi ke rumah Ki Jagabaya yang tinggal di sebelah Sungai
Opak. Dengan singkat mereka menceriterakan kepentingan mereka datang
ke Kademangan di Prambanan. "Apakah Ki Demang di Kepandak tidak
datang sendiri? "Ki Demang belum tahu, bahwa Nyai Demang ada di
sini. Kami mencoba meyakinkannya lebih dahulu. Sebenarnyalah apabila
benar Nyai Demang ada disini, dan kami berhasil membebaskannya, kami
akan membuat Ki Demang terkejut dan bersenang hati" "Aku menjadi
tanggungan Ki Jagabaya" berkata Rajab "aku mengenal mereka di
perjalanan ke Betawi" "Tetapi kau belum mengenalnya sebelum dan
sesudah itu. Kau tidak tahu siapa mereka sebenarnya, dan apa yang
mereka lakukan di Kademangannya" Anak-anak muda itu mengerutkan
keningnya. Namun Rajab kemudian menyahut "Tetapi aku akan
mempertaruhkan diriku. Aku percaya kepada mereka. Keterangan mereka
dapat kami mengerti" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi kemudian ia berkata "Aku harus melihat sendiri, apa yang akan
terjadi. Ketenteraman Kademangan ini adalah tanggung jawabku"
Sejenak Rajab terdiam. Ditatapnya wajah Pamot, Punta dan
kawan-kawannya berganti-ganti. "Kita tidak berkeberatan" berkata
Punta kemudian "maksud kita baik. Dan Ki Jagabaya kelak akan dapat
bertanya langsung kepada Nyai Demang dan kepada Ki Demang di
Kepandak" Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya "Aku
pernah mendengar nama Ki Demang di Kepandak. Ia adalah seseorang
yang pilih tanding. Tetapi kenapa ia tidak pergi sendiri mencari
isterinya kalau jelas, isterinya ada disini?" "Kami ingin membukt
ikannya lebih dahulu Ki Jagabaya. Tetapi agaknya keadaan telah
gawat. Kalau kita menunda karena kita kembali memberitahukan kepada
Ki Demang, maka kemungkinan yang tidak kita harapkan mungkin sekali
sudah terjadi. Dan seperti yang sudah kami katakan, kami akan
membuat Ki Demang bersenang hati" Ki Jagabaya mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Baiklah. Aku akan mengawasi mereka langsung.
Barangkali aku akan dapat berbicara dengan mereka" "Berbahaya sekali
Ki Jagabaya" berkata Pamot "kalau mereka mengetahui, bahwa tempat
persembunyian mereka telah diketahui, mereka akan menjadi mata
gelap. Lebih-lebih Ki Reksatani. Dan apabila Ki Jagabaya pernah
mendengar nama Ki Demang di Kepandak, maka keduanya adalah saudara
kandung dan saudara seperguruan. Keduanya adalah orang-orang yang
tidak terlawan" "Jadi bagaimana?" "Kita hanya akan mengawasi. Kalau
tidak terjadi sesuatu, kita akan mencari kesempatan untuk
mengambilnya tanpa diketahui oleh Ki Reksatani. Orang-orang lain
yang ada di sekitarnya, sama sekali tidak akan banyak berarti" Ki
Jagabaya mengangguk-anggukkan pula. Sedang Rajab berkata "Aku sudah
mengirimkan beberapa orang kawan yang bersedia menolong kami. Mereka
untuk sementara akan mengawasi rumah itu" Ki Jagabaya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya "Tetapi kalian harus
memberitahukan setiap perkembangan keadaan. Aku harus hadir
seandainya terjadi sesuatu" "Baiklah Ki Jagabaya" "Kalau kalian
berkata sebenarnya, kami pasti akan membantu kalian. Hubungilah
bebahu padukuhan Sembojan. Katakan bahwa kalian telah menghubungi
aku" "Terima kasih" Anak muda itupun segera kembali ke Kali Mati.
Ketika mereka sampai di rumah Rajab, seorang kawannya yang pergi ke
Sembojan telah ada di rumah itu. "Apa yang kau lihat?" "Aku melihat
beberapa orang berkuda. Ada tujuh atau delapan orang. Aku tidak
begitu jelas. Tetapi semuanya berada di rumah itu" Dada Pamot serasa
akan meledak karenanya. Terbayang sesuatu yang mengerikan dapat
terjadi setiap saat. Tetapi ia masih percaya kepada Lamat. Ia
mengharap bahwa Lamat masih akan berusaha untuk melindungi, sejalan
dengan kepentingan Manguri. Pihak Manguri pasti akan mencegah
apabila Ki Reksatani benar-benar telah kehilangan kesabaran dan
menganggap Sindangsari terlampau berbahaya bagi rencananya Puntalah
yang bertanya "Delapan orang?" "Mungkin lebih dari itu" Punta
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Rajab yang mengerutkan
keningnya. "Jumlah mereka cukup banyak. Diantaranya terdapat seorang
yang bernama Ki Reksatani" desis Rajab "jika demikian apabila
terjadi sesuatu, jumlah kitapun harus memadai" Punta
mengangguk-anggukkan kepalanya "Kalau Ki Jagabaya yang
memerintahkan, maka dalam waktu sekejab, lebih dari duapuluh orang
dapat dikumpulkan" sahut Rajab. "Tetapi tentu makan waktu. Bukan
sekejap. Dan waktu yang diperlukan itu, sangat berbahaya bagi Nyai
Demang di Kepandak" berkata kawan Rajab itu. Rajab
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian "Kita mengumpulkan
kawan sebanyak-banyaknya. Sepuluh atau dua belas di dua padukuhan
ini. Sembojan dan Kali Mati. Di dua padukuhan ini ada sepuluh orang
yang kembali dari Betawi bersama kami. Kami berharap bahwa ikatan
yang ada diantara kami masih tetap utuh. Menegakkan adab adalah
perjuangan yang tidak kalah pent ingnya. Apalagi menyelamatkan jiwa
seseorang. Selebihnya, kawan-kawan pengawal padukuhan kami akan
dapat kami kerahkan" Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tetapi" berkata Rajab "yang pertama-tama kita hubungi, biarlah
kawan-kawan yang dapat kita percaya saja. Kalau keadaan tidak
memaksa, kita tidak akan menggunakan kekerasan" Demikianlah dengan
diam-diam, padukuhan Kali Mati dan Sembojan menjadi sibuk. Tetapi
orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali tidak mengerti
apakah yang sedang dilakukan oleh anak-anak mereka. Bahkan
kedatangan orang-orang berkuda itupun sama sekali tidak menarik
perhatian. Mereka hanya memperhatikan mereka sejenak. Kemudian
mereka bergumam "Orang-orang itu pasti keluarga orang gila itu.
Kasihan. Ternyata keluarganya adalah orang yang agaknya cukup
terpandang menilik pakaian dan sikap mereka. Dosa apakah yang telah
membebani keluarga yang malang itu. Sehingga seorang perempuan yang
cantik telah menjadi gila dan mengandung pula. Atau gadis itu gila
karena mengandung di luar perkawinan? Tidak seorangpun yang tahu
pasti, apakah jawabnya Penghuni rumah tempat Sindangsari
disembunyikan itupun tidak pernah mengatakan apa-apa, selain,
perempuan itu adalah perempuan gila yang malang. Kehadiran beberapa
orang berkuda itu, membuat hati Sindangsari menjadi semakin kecut.
Sejak ia berusaha melarikan diri tetapi gagal, ia mendapat perlakuan
yang lebih jelek lagi. Orang yang menungguinya selalu mengancam,
menakut-nakuti, bahkan berlaku kasar kepadanya. Tetapi Sindangsari
tidak segera mengetahui, siapakah tamu-tamu berkuda itu. Ia hanya
mendengar derap kaki kuda itu. Kemudian beberapa pembicaraan yang
tidak begitu jelas, karena ia harus tinggal saja di dalam biliknya
yang sempit di ujung belakang. Namun demikian hatinya serasa
tersayat, apabila ia menyadari bahwa ia kini berada di dalam
kekuasaan keluarga Menguri. Setiap saat Manguri akan datang
kepadanya, dan ia akan dapat berbuat apa saja. "Lebih baik dibunuh
saja" berkata Sindangsari di dalam hati "Apakah yang akan terjadi
atas diriku, jika Manguri tidak dapat dicegah. Ketika aku menjadi
isteri Ki Demang, aku sudah ternoda. Sekarang, apabila ada orang
yang menodai aku lagi, maka aku tidak akan dapat lagi kembali kepada
Ki Demang. Aku tidak akan merasa tenang, meskipun karena bukan
salahku Ki Demang menceraikan" Tanpa disadarinya, air matanya mulai
menit ik dipangkuannya. Dengan lesu ia duduk di bibir pembaringan
bambu dengan pakaian yang kusut dan rambut yang terurai. Benar-benar
seperti seorang perempuan gila. Yang dapat dilakukan oleh
Sindangsari dalam keadaan itu adalah berdoa. Satu-satunya harapan
yang ada padanya, justru adalah harapan yang tertinggi. Pertolongan
dari Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Ketika pintu bilik
itu terbuka, Sindangsari terperanjat. Dada berdesir tajam sekali.
Tetapi ternyata yang dilihatnya adalah penjaganya. Seorang laki-laki
berwajah sekasar batu padas. "Mereka sudah datang" desisnya.
Sindangsari menatap orang itu dengan tajamnya. Tetapi ia t idak
berkata sepatah katapun. "Sebenarnya aku sudah jemu menunggui kau
disini" berkata orang itu. Sindangsari masih tetap diam. "Selama ini
kau menyiksa aku" orang itu menyambung "cobalah sekarang kau lari
lagi. Bukan hanya kami disini yang akan mengejarmu. Tetapi
orang-orang padukuhan ini pasti akan membantu karena mereka
menganggapkau seorang perempuan gila" Sindangsari tersentak
mendengar kata-kata orang itu. Tetapi kemudian kepalanya tertunduk
lagi. Ia sama sekali tidak ingin orang itu berbicara tentang apa
saja. "Ini, makanmu" berkata orang itu kemudian sambil
mempersilahkan seorang perempuan masuk. "Makanlah Nyai" berkata
perempuan itu "jangan hiraukan igauan penjaga yang kurang waras itu.
Makanlah, supaya badanmu tetap segar dan kau tetap cantik"
"Kecantikannya itulah yang telah menyeretnya ke neraka ini" sahut
penjaga di muka pintu. "Coba ulangi" desis perempuan yang membawa
makan bagi Sindangsari itu. Tetapi penjaga itu justru terdiam.
"Jangan hiraukan orang gila itu" berkata perempuan kepada
Sindangsari "yang paling menyiksanya, bukan karena ia harus duduk di
muka bilik ini, atau harus selalu mengawasi pintu itu. Tetapi
siksaan yang paling berat baginya, adalah karena kau cantik, muda
dan segar. Apalagi pakaianmu tidak mapan, sehingga setiap kali ia
selalu saja membuka pintu dan mengumpatimu" "O" tiba-tiba saja
Sindangsari menyadari keadaan dirinya. Tanpa dikehendakinya sendiri,
tangannya telah membenahi pakaiannya yang kusut. "Sekarang makanlah
Aku sendiri masak untukmu" Sindangsari tidak menjawab. Ketika
mangkuk-mangkuk makanan itu diletakkan di pembaringannya.
Sindangsari justru beringsut menjauh. "Kau memang sukar dikuasai.
Tetapi lapar dan haus sama sekali t idak menguntungkan bagimu.
Ingat, kau sedang mengandung. Mungkin kau dapat menyakiti dirimu
atau membunuh diri dengan tidak makan berhari-hari. Tetapi kau akan
berdosa karena dengan demikian berarti kau sudah membunuh anakmu
yang masih berada di dalam kandungan" Sindangsari berpaling sejenak.
Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. "Makanlah" desis perempuan itu.
Sindangsari masih tetap diam. "Bukan untuk kau sendiri, tetapi untuk
anakmu" Dada Sindangsari serasa menjadi retak. Tanpa disadarinya ia
meraba perutnya yang menjadi semakin besar. Pada saatnya bayi itu
akan lahir. Apakah jadinya apabila ia masih tetap berada di tempat
yang sesak dan pengab ini. Tiba-tiba saja Sindangsari terisak. Air
matanya meleleh di pipinya yang semakin susut. "Jangan menangis"
perempuan itu mencoba menenangkannya "Aku tahu, betapa sakitnya
perasaanmu. Aku juga seorang perempuan. Karena itu. sebaiknya kau
menerima kenyataan ini dengan hati yang lapang. Kau tidak akan dapat
ingkar lagi. Dengan demikian kau tidak akan merasa tersiksa
sepanjang umurmu" Tangis Sindangsari justru menjadi semakin keras.
"Nyai Demang" berkata perempuan itu "Mula-mula akupun berontak
terhadap keadaanku. Ketika orang tuaku memberitahukan bahwa aku
dipinang oleh seorang laki-laki yang mempunyai anak laki-laki
sebesar aku, dan bernama Manguri, aku hampir pingsan. Tetapi ayah
dan ibuku mempunyai banyak hutang kepadanya. Karena itu aku harus
menerimanya Namun lambat laun aku menjadi biasa. Aku menerima
keadaan ini dengan hati terbuka, meskipun aku tahu, bahwa aku adalah
isterinya yang kesekian kalinya, bahkan barangkali aku sudah tidak
mendapat angka lagi. Sindangsari sama sekali tidak menyahut. "Tetapi
apabila kita dapat menyesuaikan diri, kita akan justru menemukan
kesenangan. Setiap kali aku ditinggal sendiri karena suamiku pulang
ke rumahnya di Kepandak" lalu perempuan itu berbisik "Tetapi aku
tidak mau kesepian. Aku dapat berbuat apa saja asal tidak diketahui
orang, supaya kami t idak dihukum rajam atau yang lebih pahit,
diasingkan dari pergaulan. Tetapi orang yang menghukum itupun dengan
diam-diam melakukannya pula" kembali ia terdiam, lalu "Nah, karena
itu, pandanglah dunia ini apa adanya. Kau harus berani melihat yang
paling kotor sekalipun supaya kau dapat menimbang keadaanmu" Detak
jantung Sindangsari seakan-akan menjadi semakin cepat berdetak.
Sekilas terbayang kembali bagaimana Nyai Reksatani telah
membujuknya, untuk menemui seorang anak muda yang hampir saja
menerkamnya seperti seekor harimau yang mendapatkan seekor anak
domba yang tersesat. Dan tiba-tiba saja Sindangsari menjatuhkan
dirinya, menelungkup sambil menangis. "Jangan menangis. Jangan
menangis. Tangis tidak akan ada artinya bagimu di dalam keadaan yang
demikian" berkata perempuan itu "makan sajalah. Makanlah" Tetapi
Sindangsari sama sekali tidak mendengarnya. Ia masih saja menangis
dan terisak. "Dengarlah" berkata perempuan itu berbisik di
telinganya "Manguri sudah datang. Ia akan segera mengawanimu di
dalam bilik yang sempit ini. Terimalah kenyataan itu. Carilah
kegembiraan pada setiap keadaan yang bagaimanapun juga" Perempuan
itu tidak menunggu Sindangsari berhenti menangis. Ditinggalkannya
saja mangkuk-mangkuk berisi makanan itu di amben yang seakan-akan
diguncang-guncang oleh isak Sindangsari. Ketika perempuan itu sudah
pergi, maka penjaga yang berada di pintu, perlahan-lahan mendorong
daun pintu itu. Tetapi sebelum tertutup rapat, ia menjengukkan
kepalanya sambil berkata "Jangan menangis. Kau dengar, Manguri sudah
ada disini" Sindangsari masih tetap menangis ketika pintu itu
berderit dan kemudian tertutup rapat. Di ruang depan rumah itu,
beberapa orang laki-laki duduk berkeliling diatas sehelai tikar. Ki
Reksatani, Manguri, Ayah Manguri dan beberapa orang lagi. Sedangkan
orang-orang yang lain berada di halaman, duduk di bawah batang
pepohonan yang rindang. Di ujung gandok Lamat duduk bersandar tiang
sambil memandang kekejauhan. Meskipun matanya separo terpejam,
tetapi di dalam dadanya telah terjadi gejolak yang semakin dahsyat.
Di tempat itu ia seakan-akan hanya seorang diri dikelilingi oleh
serigala-serigala yang liar. Di pendapa Manguri dan Ki Reksatani
adalah dua orang iblis yang buas, meskipun kepentingan mereka
berbeda-beda. Tetapi Lamat tidak menjadi cemas seandainya Ki
Reksatani akan melakukan rencananya segera, seandainya ia benarbenar
ingin membunuh Sindangsari. Seandainya demikian, maka Lamat masih
melihat, kemungkinan untuk menyelamatkannya. Karena dengan demikian
pasti akan terjadi benturan antara Ki Reksatani dan Manguri. Menurut
perhitungan Lamat, kekuatan mereka masih dapat dianggap seimbang,
seandainya ia mampu melawan Ki Reksatani, atau setidak-tidaknya,
mengikatnya dalamperkelahian tersendiri. Tetapi apabila yang terjadi
Mangurilah yang akan melakukan rencananya, maka ia pasti akan
kebingungan, Kalau ia mencegah tanpa alasan yang masuk akal,
sehingga Manguri tidak akan mengurungkan niatnya, apakah yang akan
dilakukan? Kalau ia memaksakan dengan kekerasan, melindungi
Sindangsari, maka pasti akan terjadi benturan pula. Tetapi ia akan
berdiri sendiri. Bahkan Ki Reksatanipun pasti akan berpihak kepada
Manguri. Lamat menarik nafas dalam-dalam. "Melawan Ki Reksatani
seorang diripun aku belum tahu, apakah aku akan dapat bertahan.
Apalagi apabila aku berdiri sendiri, sedang Ki Reksatani berada di
pihak Manguri dan orang-orangnya yang lain" berkata Lamat di dalam
hatinya. Tetapi Lamat tidak dapat meramalkan, apakah yang akan
segera terjadi di rumah itu. Di ruang depan Ki Reksatani sedang
mendengarkan beberapa keterangan mengenai Sindangsari. Ia
mengerutkan keningnya ketika ia mendengar ceritera, bahwa
Sindangsari pernah mencoba melarikan diri, sehingga beberapa orang
terpaksa mengejarnya. "Itu berbahaya sekali" berkata Ki Reksatani
"ia dapat berkata apa saja yang dikehendaki, berteriak-teriak
memanggil-manggil dan menyebut-nyebut namanya dan nama orang-orang
yang dikehendakinya itu" "Sindangsari memang berteriak-teriak.
Tetapi atas kehendaknya sendiri, ia selalu menyebut-nyebut ibu,
kakek dan nenek, Tidak ada orang lain yang disebut namanya" jawab
ayah Manguri. Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
sebenarnya di dalam dadanya telah terjadi pergolakan pula. Baginya,
hal itu sangat berbahaya. Kalau suatu ketika Sindangsari menyebut
nama Demang di Kepandak atau nama orang-orang Gemulung, maka
rahasianya akan segera dapat diketahui orang. Tetapi Ki Reksatani
belum menyatakan kecemasannya. Bahkan kemudian iapun menarik nafas
dalam-dalam ketika ayah Manguri berkata "Tetapi setiap orang di
sekitar rumah ini menganggapnya ia seorang perempuan gila. Kami
sengaja mengatakan, bahwa perempuan itu adalah perempuan gila.
Itulah sebabnya, maka tidak banyak orang yang menaruh perhatian
kepadanya. Kedatangan kalianpun tidak menarik perhatian pula. Kami
selalu mengatakan, bahwa keluarga kami yang jauh, akan berdatangan
untuk menengok perempuan gila ini. Kami disini menyebutnya sebagai
adik isteriku" "Isterimu?" bertanya Ki Reksatani. "Ya, isteriku" Ki
Reksatani mengerutkan keningnya. Tetapi ia sudah mendengar bahwa Ki
Sukerta mempunyai banyak isteri dimana-mana, sehingga iapun segera
mengerti, bahwa perempuan yang tinggal di rumah itu adalah isterinya
yang kesekian. Meskipun demikian, ia masih tetap membayangkan
kemungkinan-kemungkinan yang pahit yang dapat terjadi kalau
Sindangsari masih hidup, apalagi apabila bayinya kelak lahir dan
menjadi besar. Tetapi Ki Reksatani masih belum akan mengambil
kesimpulan apapun. Ia masih akan mempelajari keadaan dengan saksama.
Bahkan ia tidak juga ambil pusing apa yang akan dilakukan Manguri.
Baginya apa saja yang akan terjadi, tidak akan berpengaruh atas
keputusan manapun yang akan diambilnya. Sehingga dengan demikian,
seolah-olah Ki Reksatani acuh tidak acuh saja kepada keadaan di
rumah itu. Ia mengangkat wajahnya ketika ayah Manguri bertanya
"Setelah kau melihat keadaan perempuan itu, apakah yang akan kau
lakukan? Membiarkan perempuan itu disini, atau kau mempunyai
pendapat lain, misalnya, dalam waktu singkat harus segera
dipindahkan lagi? Seandainya menurut pertimbanganmu, Sindangsari
harus segera dipindahkan, aku tidak akan menemukan kesulitan
apa-apa. Isteriku di segala tempat pasti tidak akan berkeberatan,
seandainya aku membawa menantuku itu ke rumahnya" "Ia belum
menantumu" desis Ki Reksatani. Ayah Manguri tertawa "Lambat laun" Ki
Reksatani tidak menyahut. Tetapi ia menggeram di dalam hatinya
"Kalau aku berkeputusan lain, ia tidak akan menjadi menantumu untuk
selama-lamanya. Bahkan kau akan kehilangan anakmu dan kau sendiri"
Oleh kata hatinya itu Ki Reksatani mengerutkan keningnya. Dan ia
berkata kepada diri sendiri seterusnya "Jika demikian apakah aku
harus membunuh sekian banyak orang? Manguri, ayahnya, Sindangsari
dan bayi di dalam kandungan, kemudian sudah tentu raksasa yang dungu
itu beserta pengikutpengikutnya yang mengetahui apa yang sudah
terjadi disini" Terasa rambut di seluruh tubuh Ki Reksatani
meremang, Namun kemudian ia merapatkan giginya sambil berkata di
dalam hati "Persetan. Aku sudah terlanjur basah. Kenapa aku tidak
mandi sama sekali. Aku tidak peduli, berapa banyak orang yang harus
mati. Bahkan seluruh isi Kademangan Kepandak sekalipun" Dada Ki
Reksatani itu seolah-olah bergetar karenanya. Namun kemudian timbul
pertanyaan "Bagaimana dengan pengikut-pengikut Manguri yang tidak
ikut serta di tempat ini? Apakah aku harus membunuhnya pula?"
Pertanyaan itu melingkar-lingkar di dalamhatinya, sehingga pada
suatu saat ia menemukan jawaban "Tidak perlu. Mereka tidak
mengetahui apa yang terjadi. Seandainya mereka membuat ceritera
tentang hilangnya Sindangsari, tidak akan ada orang yang akan
mempercayainya. Apalagi karena Manguri menghilang. Akulah yang akan
menyebarkan ceritera, bahwa Manguri telah lari membawa Sindangsari"
Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia terkejut ketika
tiba-tiba saja ayah Manguri bertanya "Jadi bagaimana menurut
pertimbanganmu" Ki Reksatani menjawab asal saja terloncat dari
bibirnya "Untuk sementara sudah cukup" "Baiklah. Kalau begitu,
biarlah untuk sementara ia disini. Dan bagaimana dengan kau dan
orang-orangmu? Kalau kalian tidak berkeberatan kalian juga dapat
bermalam disini. Tetapi sudah tentu tempat yang dapat kami sediakan
terlampau sederhana" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya
"Sudah cukup. Bagi kami, tidur dimanapun tidak ada bedanya, kami
adalah orang-orang ladang. Agaknya memang lain dengan para pedagang
yang biasa hidup mewah" "Kau keliru. Pedagang seperti aku adalah
pedagang keliling. Kadang-kadang kami harus berhenti disembarang
tempat dan kamipun tidur dimanapun juga" "Tetapi dimanapun juga kau
mempunyai seorang isteri" "Ah" ayah Manguri tertawa. Sekilas
dilihatnya wajah anaknya yang menjadi kemerah-merahan. Tetapi
Manguri tidak mengucapkan sepatah katapun menanggapi kelakar Ki
Reksatani yang menyakitkan hatinya sebagai seorang anak. Terbayang
perbuatan laki-laki itu di rumahnya di saat-saat ayahnya tidak ada.
Tidak ubahnya seperti ayahnya di perjalanan. Untuk menghindarkan
diri dari pembicaraan yang baginya memuakkan itu tiba-tiba saja ia
berkata "Ayah. Apakah aku diperkenankan menengok Sindangsari?"
Ayahnya mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Ki Reksatani
sejenak. Tetapi Ki Reksatani seakan-akan acuh tidak acuh saja atas
permintaan Manguri itu. Ia sudah mengambil sikap, bahwa apapun yang
dilakukan oleh Manguri tidak akan berpengaruh kelak terhadap
keputusan yang manapun yang akan dijatuhkan atas Sindangsari.
"Bagaimana ayah" "Terserahlah kepadamu" berkata ayahnya "tetapi
hatihatilah. Ia masih saja berusaha melarikan dirinya atau berbuat
hal-hal yang dapat menimbulkan persoalan, meskipun agaknya kini
telah dapat dibatasi. Orang-orang di sekitar rumah ini menganggapnya
perempuan gila, sehingga seandainya ia berteriak-teriak, tidak akan
ada orang yang memperhatikannya. Manguri mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Baiklah. Aku akan berhati-hati" Manguripun
kemudian meninggalkan ruang depan turun ke halaman. Ia mengambil
jalan lewat longkangan samping menuju ke bilik di ujung belakang.
Dada Lamat yang melihat Manguri lewat berdesir karenanya. Tetapi
tanpa disadarinya iapun berdiri dan melangkah mengikuti. Lamat
mengerutkan keningnya ketika Manguri berhenti, Sambil memandang
Lamat dengan tajamnya ia bertanya "Kau akan kemana?" Lamat bingung
sejenak. Tetapi ia kemudian menjawab "Tempat ini adalah tempat yang
berbahaya. Kita tidak tahu apa yang tersimpan disini. Dimana
bercampur baur orangorang yang tidak sependirian" Manguri
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa bertanya apapun lagi, iapun
kemudian meneruskan langkahnya, dan membiarkan Lamat mengikutinya di
belakang, meskipun ia tidak begitu senang karenanya. Namun alasan
Lamat itu dapat dimengertinya. Di muka bilik di ujung belakang, ia
berhenti sejenak. Ada dua orang yang menjaga Sindangsari. Di pintu
butulan seorang dan di pintu dalamseorang. Manguri termangu-mangu
sejenak. Dadanya menjadi berdebar-debar Ternyata Sindangsari tidak
lebih dari seorang tawanan yang dijaga sebaik-baiknya. "Apakah untuk
sepanjang hidupnya aku harus mengupah orang untuk menjaganya? Dan
apakah pada suatu saat penjaga-penjaga laki-laki itu masih juga
dapat dipercaya?" pertanyaan itu timbul di dalamhatinya. Manguri
yang termangu-mangu itu terkejut ketika salah seorang penjaganya itu
menyapanya "Nah, marilah. Silahkan" Manguri mengerutkan keningnya.
Perlahan-lahan ia melangkah maju Dan penjaga itu berkata pula
"Sebenarnya aku sudah jemu duduk disini menunggui Nyai Demang di
Kepandak" "Sst" desis Manguri. "Tidak ada yang mendengar" "Apakah
kau tidak pernah mendapat giliran" "Ya. Sehari aku bertugas
menjagainya. Dua orang. Kemudian bergantian dua orang yang lain.
Ayahmu juga ikut bergantian dengan kami apabila ia sempat, seperti
di saat-saat yang gawat, sedang seorang kawan kami tidak ada disini.
Seorang penghuni rumah ini telah membantu kami pula, kadang-kadang
ikut menggantikan kami disini" Manguri mengangguk-angguk. "Kalau ada
pekerjaan lain, aku lebih senang melakukan tugas yang lain.
Mengantar ternak meskipun melewati daerahdaerah yang berbahaya" "Kau
akan segera bebas dari tugasmu yang tidak kau sukai ini" "Terima
kasih. Aku benar-benar tersiksa disini. Aku tidak tahu, yang manakah
yang paling tersiksa, diantara kami. Yang dijaga atau justru yang
menjaga. Manguri tidak menjawab. "Apalagi di dalam bilik ini
terdapat seorang perempuan yang cantik, yang sudah tidak sampai
menghiraukan dirinya sendiri, termasuk pakaiannya. "Tutup mulutmu"
Manguri menggeram. Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tanpa
disadarinya di pandanginya wajah Lamat yang berdiri di belakang
Manguri. Tiba-tiba saja penjaga itu menundukkan kepalanya. Ia sadar,
bahwa tangan raksasa itu dapat meremukkan tulang-tulangnya. "Aku
ingin melihatnya" desis Manguri kemudian sambil melangkah ke pintu.
"Silahkan" Sejenak Manguri ragu-ragu berdiri di muka pintu yang
tertutup. Lamatpun berdiri dengan cemasnya di sampingnya. "Kau
disini Lamat" desis Manguri. Lamat menganggukanggukkan kepalanya.
"Awasilah keadaan" Sekali lagi Lamat mengangguk. Dengan ragu-ragu
Manguri membuka pintu perlahan-lahan. Ketika pintu itu terbuka
sedikit, maka iapun menjengukkan kepalanya, memandang ke dalam bilik
itu. Manguri terkejut melihat keadaan Sindangsari, Ia menelungkup
sambil menangis. Sedang di pembaringannya terdapat beberapa buah
mangkuk berisi makanan. Bahkan ada pula mangkuk-mangkuk yang
terguling di lantai dan isinya tumpah ruah. Dengan dada yang
berdebar-debar Manguri menarik daun pintu semakin lebar, dan
perlahan-lahan pula ia melangkah masuk. Ketika pintu itu kemudian
tertutup lagi, Lamat mengatupkan giginya rapat. Ia sadar, bahwa
sesuatu dapat meledak pada saat itu. Mungkin ia harus bertindak.
Mungkin ia dapat menyelamatkan Sindangsari, tetapi mungkin ia justru
terbunuh karenanya. Setelah ia mati, apapun dapat terjadi atas
Sindangsari. Sekilas melintas di kepala Lamat, Pamot bersama
beberapa anak-anak muda di Gemulung telah ada di sekitar rumah itu.
"Kalau mereka ada di sini" berkata Lamat "mungkin aku dapat berbuat
sesuatu. Tetapi kalau tidak, entahlah. Aku tidak dapat meramalkan"
Dalam pada itu Manguri mendekati pembaringan Sindangsari
perlahan-lahan. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar Pantaslah
kalau tetangga-tetangga yang pernah melihat Sindangsari menyangkanya
orang gila, karena Sindangsari sama sekali tidak sempat lagi
menghiraukan dirinya sendiri. Perlahan-lahan Manguri kemudian
memanggilnya "Sari, Sindangsari" Meskipun suara Manguri tidak begitu
keras, tetapi suara itu langsung menyentuh dada Sindangsari. Ia
tidak biasa mendengar panggilan itu sehari-hari. Dan t iba-tiba kini
ada seseorang yang memanggil namanya. Perlahan-lahan pula
Sindangsari mengangkat wajahnya. Kemudian dengan ragu-ragu ia
berpaling. Tiba-tiba saja Sindangsari berteriak ketika ia melihat
Manguri berdiri ditepi pembaringannya "Pergi. Pergi, pergi kau"
Manguripun terkejut Sejenak ia tidak tahu apa yang akan
dilakukannya. Sementara itu Sindangsari masih berteriak "Pergi,
pergi atau bunuh aku" Manguri menjadi bingung. Ia cemas kalau suara
Sindangsari mengejutkan tetangga-tetangga meskipun tidak terlampau
dekat. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah mencoba menutup
mulut Sindangsari. Tetapi Sindangsari meronta sehingga
mangkuk-mangkuk yang ada di pembaringannya berserakan. "Pergi "
Manguri yang menjadi semakin bingung tidak sempat berpikir lagi.
Dengan serta-merta dibungkamnya mulut Sindangsari. Betapapun juga
perempuan itu meronta-ronta, namun ternyata tangan Manguri lebih
kuat dari tenaga Sindangsari. "Jangan berteriak-teriak" geram
Manguri "atau aku cekik kau sampai mati" Sindangsari t idak dapat
menjawab, karena tangan Manguri menutup mulutnya erat-erat. Namun
justru dengan demikian pakaian Sindangsari menjadi semakin kusut.
Rambutnya terurai menutup sebagian wajahnya. Tangannya yang
menggapai-gapai sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan diri"
"Kau harus sadar bahwa tidak ada gunanya berteriakteriak. Aku dapat
berbuat apa saja. Mengerti?" Sindangsari sama sekali tidak menjawab.
Tetapi justru ia mulai meronta-ronta lagi. Manguri masih tetap
membungkam mulutnya. Tangannya melingkar di belakang kepala
Sindangsari, sedang tangannya yang lain menahan gerak tangan
Sindangsari yang masih saja selalu mencoba melepaskan diri. "Jangan
berbuat begitu" Manguri menjadi semakin kasar "kau akan menyesal.
Kandunganmu akan terganggu" Tetapi Sindangsari sudah tidak dapat
berpikir tentang apapun juga. Tentang dirinya sendiri, tentang
kandungannya dan tentang pakaiannya, ia masih saja menggeliat dan
meronta. Bahkan kemudian dengan tiba-tiba saja ia membuka mulutnya
dan menggigit tangan Manguri. Manguri terkejut. Dengan serta-merta
ditariknya tangannya. Sindangsari yang sedikit terlepas itu berusaha
bangkit berdiri dan berlari menjauh. Tetapi Manguri sempat menangkap
ujung bajunya, sehingga justru bajunya sobek karenanya. Sindangsari
tidak sempat lari lagi. Tangan Manguri yang kuat telah menyumbat
mulutnya pula. "Duduk" Manguri menjadi semakin kasar "ingat. Aku
dapat berbuat baik tetapi dapat berbuat kasar. Aku dapat memukul
tengkukmu sehingga kau menjadi pingsan. Aku dapat membunuhmu dan aku
dapat berbuat menurut keinginanku" Tidak ada jawaban, karena mulut
Sindangsari sudah terbungkam lagi. "Dengar" geram Manguri "aku akan
melepaskan mulutmu, dan aku akan pergi keluar. Tetapi kalau kau
berteriak lagi, aku akan berbuat apa saja menurut keinginanku. Aku
tidak peduli lagi kepada orang lain di sekitar bilik ini. Kau tahu"
Tidak ada jawaban. "Ingat. Kau tidak berdaya apapun disini
"Perlahan-lahan Manguri melepaskan mulut Sindangsari. Agaknya
Sindangsari menyadari keadaannya. Karena itu, ia tidak berteriak
lagi. Ketika Manguri melepaskannya sama sekali perlahan-lahan ia
melangkah surut. "Kau jangan benar-benar menjadi gila meskipun orang
di sekitar rumah ini memang menganggapmu gila. Kau mengerti?"
Sindangsari tidak menjawab. Ketakutan yang luar biasa membayang di
wajahnya yang pucat. Bibirnya yang menjadi biru bergetar, tetapi
tidak sepatah katapun yang diucapkan. "Sindangsari" berkata Manguri
"masih ada waktu bagimu untuk menilai keadaanmu. Kau tidak akan
dapat kembali ke Kepandak. Kau tidak akan dapat kembali kepada
Pamot. Mungkin pada suatu saat kau dapat melarikan diri. Tetapi
mereka tidak akan dapat menerimamu kembali, karena kau tidak
sebersih pada saat kau meninggalkan Kepandak lagi. Kau tahu
maksudku? Karena itu, sebaiknya kau menerima kenyataanmu, seperti
pada saat kau direnggut dari tangan Pamot oleh Ki Demang di
Kepandak. Agaknya kau sudah berhasil melampaui kesulitan perasaanmu,
sehingga kau justru mengandung karenanya. Dengan demikian, kau tidak
akan banyak mengalami kesulitan apabila kau harus mengulanginya
sekali lagi, menyesuaikan diri dengan kenyataan yang kau hadapi
sekarang ini" Kata-kata Manguri itu bagaikan ujung sembilu yang
langsung menusuk jantungnya. Betapa sakitnya, betapa pedihnya.
Betapa harga dirinya sebagai seorang perempuan sudah direndahkannya,
bahkan diinjak-injaknya. Betapapun juga hatinya serasa menggelegak,
tetapi tidak sepatah katapun yang diucapkannya. Wajahnya menjadi
semakin pucat, bibirnya membiru dan bergetar, sedang tubuhnya
menggigil seperti orang yang kedinginan. Manguri memandang perempuan
itu sejenak. Kemudian katanya "Aku akan keluar. Benahilah pakaianmu.
Mungkin ada orang lain yang memasuki ruangan ini. Bukan aku"
Kata-kata itu membuat dada Sindangsari berdesir. Dan tiba-tiba saja
iapun menjatuhkan dirinya diatas pembaringannya menelungkupkan diri.
Perlahan-lahan Manguri melangkah keluar. Di depan pintu ia
berpaling. Ia berdiri termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia
melangkah terus. Lamat menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar
pintu bergerit. Sejenak kemudian Manguri melangkah keluar.
Keringatnya mengembun di dahi dan keningnya. Sejenak ia berpaling
kepada penjaga yang duduk bersandar tiang di depan Lamat yang
berdiri tegak "Aku t itipkan perempuan itu kepadamu, keselamatannya
dan perawatan secukupnya" Penjaga itu menganggukkan kepalanya "Aku
akan mencobanya" Manguri mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun
melangkah pergi meninggalkan bilik itu. Namun justru setelah ia
menemui Sindangsari, wajah perempuan yang pucat itu selalu
membayanginya. Dalam keadaan yang kusut, dengan rambut yang terurai,
Sindangsari tampak menjadi semakin cantik. Manguri mengambil nafas
dalam-dalam. Keputusannya menjadi semakin mantap. Katanya di dalam
hati "Aku harus memaksakan kenyataan itu sehingga Sindangsari
kehilangan segala keinginan untuk lari" Demikianlah, maka bayangan
malam lambat laun mulai menyaput langit. Semakin lama menjadi
semakin rendah. Warna merah di bibir awan mulai menjadi pudar.
Satu-satu kelelawar mulai berterbangan di udara yang kelam.
Berputar-putar kemudian menukik menyambar seekor mangsanya
dipepohonan. Di rumah isteri muda yang kesekian dari ayah Manguri
itu mulai menjadi semakin sepi. Tanpa diatur terlebih dahulu,
orang-orang yang ada di halaman rumah itu telah membagi dirinya.
Orang Manguri dan orangorang Ki Reksatani Meskipun kadang-kadang
satu dua diantara mereka ada juga saling berbicara, tetapi kemudian
helai tikar sudah dibentangkan di ruang depan. Sementara kuda-kuda
mereka meringkik di halaman. Hanya lamatlah yang selalu menyendiri.
Kadang-kadang ia mengikut i saja kemana Manguri pergi, seolah-olah
ia benarbenar mencemaskan keselamatannya di daerah yang kurang
dimengerti ini. Tetapi apabila Manguri kemudian duduk bersama
ayahnya dan Ki Reksatani, maka Lamatpun kemudian duduk di tangga.
"Padukuhan ini terlampau sepi" berkata ayah Manguri kepada Ki
Reksatani. "Ya. Padukuhan ini sudah berada di pinggir hutan,
meskipun bukan hutan yang lebat" "Hutan perburuan. Hutan itu
seolah-olah sengaja disediakan bagi mereka yang senang berburu" "Ki
Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak begitu
tertarik pada hutan itu. Pikirannya masih juga mereka-reka apa yang
sebaiknya dilakukan dalam waktu yang dekat. "Kalau kau lelah,
tidurlah" Ki Reksatani mengangguk. Ia lebih senang berbaring sambil
merenung daripada harus mendengarkan kata-kata ayah Manguri. Namun
demikian ia masih juga bertanya "Padukuhan ini memang sepi. Tetapi
kenapa kau sampai juga di tempat yang sepi ini di dalam perjalanan
dagangmu. Apakah di padukuhan terpencil ini ada juga orang yang
membeli ternak dalam jumlah yang menguntungkan bagi perdaganganmu"
"Mereka tidak membeli, tetapi mereka justru menjual. Aku datang ke
padukuhan-kepadukuhan kecil untuk membeli ternak dengan harga yang
agak murah, dan untuk mendapatkan isteri-isteri muda" Ki Reksatani
mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab apapun. Sejenak
keduanya tidak mengatakan apaapa. Mereka merenungi angan-angan di
dalam dada masingmasing. Sedang Manguri yang duduk bersama merekapun
menjadi jemu. "Aku akan beristirahat" katanya kemudian. "Aku juga"
sahut Ki Reksatani. "Silahkan. Kalau begitu akupun akan tidur juga"
Merekapun kemudian meninggalkan tempat masingmasing. Ki Reksatani
perlahan-lahan melangkah mendekati orang-orangnya dan duduk diantara
mereka yang sudah berbaring diatas tikar. Tetapi Ki Reksatani tidak
mengatakan sepatah katapun. Orang-orangnyapun tidak menegurnya.
Mereka sudah mulai terkantuk-kantuk setelah parjalanan yang cukup
melelahkan sejak sebelumfajar. Dalam pada itu Manguri tidak segera
pergi mendapatkan ayahnya yang sudah berbaring pula. Tetapi ia pergi
ke regol halaman diikut i oleh Lamat. "Apakah kau akan pergi?"
bertanya Lamat. Manguri menggelengkan kepalanya "Tidak" Lamat tidak
bertanya lagi. Dipandanginya saja Manguri yang kemudian berdiri di
tengah-tengah pintu regol halaman yang rendah, seperti orang yang
sedang mencari sesuatu ia memandang ke segala arah. Tetapi Lamat
yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, sama sekali tidak
bertanya apapun. Menguri yang berdiri termangu-mangu itu memandang
sinar pelita rumah tetangga yang agak berjauhan letaknya: Seberkas
sinar yang menembus lubang dinding jatuh diatas dedaunan di halaman.
Manguri menarik nafas dalam-dalam. Lamat yang berdiri di belakangnya
melihat anak muda itu menjadi gelisah. Bahkan kadang-kadang
terdengar ia berdesah. "Apakah orang-orang didalarn rumah itu sudah
tidur?" tibatiba saja Manguri bertanya. Lamat heran mendengar
pertanyaan itu, sehingga iapun menjawab "Aku tidak tahu. Tetapi
lampu-lampu di rumah itu masih terang. Aku kira masih ada diantara
mereka yang terbangun" Manguri menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia
berpaling, dilihatnya ruang depan rumah isteri muda ayahnya itu
sudah sepi. "Kenapa mereka belum tidur?" ia bertanya kepada Lamat.
Lamat menggeleng "Aku tidak tahu" Manguri masih saja berdiri di
regol. Bahkan kemudian ia melangkah ke jalan di depan regol itu.
Dicobanya melihat ke arah yang jauh di sepanjang jalan. Tetapi jalan
yang seakanakan menghunjam ke dalam gelap itu sama sekali tidak
berkesan apapun kepadanya, selain sepi. Manguri mengerutkan
keningnya. Dipandanginya bayangan di dalam kegelapan. Lambat laun
iapun dapat mengenalinya, sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis "O,
ibu, e, maksudku bibi" "Ya" sahut suara itu "siapakah yang kau
tunggu" "Tidak ada" Bayangan itu melangkah mendekatinya, lewat
beberapa jengkal di samping Lamat. "Apakah kau tidak ingin menemani
bakal isterimu itu?" bertanya perempuan itu "agaknya ia menjadi
terlampau kesepian" Dada Manguri berdesir. Dan perempuan itu berkata
seterusnya "Cobalah. Tetapi bersikaplah sebaik-baiknya. Jangan
terlampau kasar. Perempuan itu adalah perempuan yang berlebih senang
hanyut di dalam dunia angan-angan, harapan dan cita-cita daripada
dunia yang sedang diinjaknya kini. Itulah sebabnya ia selalu
bermimpi tanpa menghiraukan kenyataan yang dihadapinya" Manguri
mengerutkan keningnya. "Kalau kau ingin menemuinya, marilah, aku
antarkan" Manguri ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata "Aku
ragu-ragu. Kalau ia menjerit, maka suaranya akan mengejutkan
tetangga di malamhari" "Mereka menganggap perempuan itu gila"
"Tetapi mereka akan muak mendengar teriakan siang dan malam di rumah
ini. Dan mereka akan memaksa kau menyingkirkannya" Perempuan itu
tertawa. Katanya "Kalau begitu, kaulah yang harus berhati-hati.
Jangan membuatnya terkejut, takut dan muak melihatmu. Hati-hatilah.
Marilah, aku antarkan kau" Manguri ragu-ragu sejenak. Tanpa
sesadarnya dipandanginya ruang depan yang sepi. "Ayahmu ada di
dalam. Aku sudah mendapat ijinnya" Manguri mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. "Marilah" perempuan
itupun melangkah maju mendekati Manguri. Sebelum Manguri menjawab,
perempuan itu sudah menarik tangannya sambil berkata "Cepatlah
sedikit" Manguri tidak dapat melawan lagi. Iapun kemudian melangkah
mengikuti ibu tirinya ke halaman belakang. Lamat yang berdiri
keheran-herananpun kemudian melangkah pula mengikuti mereka. Tetapi
ibu tiri Manguri itu kemudian berkata "Sudahlah, biarlah Manguri
pergi sendiri. Tidak pantas kau berada di dekat bilik itu. Akulah
yang akan menemaninya" Langkah Lamatpun tertegun. Dipandanginya
Manguri yang berpaling pula. "Biarlah pengawalmu itu di halaman
depan. Biarlah ia tidur bersama yang lain" Manguri t idak sempat
menjawab, Sekali lagi ibu tirinya menarik tangannya ke dalam gelap.
Lamat masih berdiri termangu-mangu di tempatnya. Tetapi ia t idak
maju lagi. Manguri terpaksa mengikuti saja tarikan tangan ibu
tirinya. Anak muda itu langsung dibawa ke bilik Sindangsari lewat
pintu butulan. Perlahan-lahan Lamat masih mendengar perempuan itu
berkata "Jangan terlampau kasar. Sekeras-batu akik sekalipun, lambat
laun akan lekuk juga oleh air yang menilik, setitik-titik tetapi
terus menerus. Kau mengerti? Kalau sekaligus kau lemparkan ke dalam
banjir bandang, maka batu itu akan lenyap dan hilang untuk
selama-lamanya. Kau mengerti?" Tidak terdengar jawaban Manguri.
Namun merekapun kemudian melewati longkangan dan sampai ke depan
pintu butulan yang dijaga oleh seorang penjaga yang dengan malasnya
duduk bersandar pintu itu. "Bukalah" desis perempuan itu. Lamat yang
tidak sampai hati melepaskan Sindangsari di luar pengawasannya,
diam-diam merayap mendekat di dalam kegelapan, Ia kini justru dapat
melihat dan mendengar pembicaraan mereka lebih jelas. "Marilah"
bisik perempuan itu. Lalu "Akulah yang akan mengatakannya. Kau
jangan terburu nafsu" Manguri tidak menjawab. Ia berdiri saja di
belakang ibu tirinya seperti anak-anak yang bersembunyi di balik
ibunya. Penjaga yang duduk bersandar pintu itu berdiri
tertatihtatih. Sekali ia menguap, kemudian tangannya mulai bergerak
mengangkat selarak. Perlahan-lahan pintupun kemudian terbuka.
Seberkas sinar meloncat keluar. Tetapi kedua orang yang melangkah
memasuki ruangan itu terkejut. Mereka melihat Sindangsari memegangi
lampu minyak yang dinyalakan besar-besar. "Kenapa kau pegangi lampu
itu?" bertanya ibu tiri Manguri "Apakah tidak ada ajug-ajug atau
bancik di dalam bilik ini" Sindangsari memandangi orang-orang yang
masuk itu sejenak. Dibayanginya wajahnya dengan telapak tangannya
karena silau. Ketika ia mendengar suara perempuan, maka iapun
menjadi agak tenang. Tetapi kemudian ia melihat Manguri di belakang
perempuan itu. Karena itu, maka katanya "Pergi, pergi dari bilik
ini" "Tunggulah" berkata ibu tiri Manguri "kami tidak akan berbuat
apa-apa. Aku ingin berbicara dengan kau sejenak dan dengan Manguri.
Aku tahu, hubungan apakah yang ada di antara kalian. Hubungan yang
sampai saat ini masih samarsamar. "Tidak. Tidak" potong Sindangsari
"kalau kalian tidak pergi, aku akan berteriak " "Tidak ada gunanya.
Kalau kau berteriak, maka dadamu akan sakit. Tetangga kita disini
akan muak kepadamu dan mereka akan dapat kita hasut untuk berbuat
apa saja. "Itu lebih baik" "Jangan begitu. Jangan menjadi putus asa.
Itulah sebabnya aku ingin berbicara sedikit" "Tidak ada yang
dibicarakan Kalau kau akan berbicara, berbicaralah. Tetapi suruh
orang itu keluar" Ibu tiri Manguri berpaling kepadanya sejenak.
Tetapi kemudian ia tersenyum "Jangan begitu. Aku ingin berbicara
dengan kalian berdua, aku menjadi jaminan, bahwa tidak akan terjadi
sesuatu tanpa kau kehendaki" "Tidak, tidak" "Jangan keras hati"
"Pergi, pergi" "Sebaiknya kau mendengar kata-kataku "lalu ia
berpaling kepada Manguri "kemarilah. Biarlah untuk sementara
Singandangsari menolak. Tetapi ia akan mendengar katakataku, dan ia
akan mengakui kebenarannya" "Tidak, tidak.Jangan mendekat "
"Kemarilah Manguri" Tetapi ketika Manguri melangkah maju, maka
Sindangsari mengangkat pelita di tangannya sambil berkata "Kalau
satu langkah lagi kau maju, maka lampu ini akan aku lemparkan ke
dinding, kita akan bersama-sama terbakar di dalambilik ini" Kedua
orang itu terkejut. Manguri tertegun, sedang wajahnya menjadi
tegang. Tetapi ibu tirinya kemudian justru tersenyum. Katanya "Tidak
Nyai. Aku dan Manguri akan segera berlari keluar sebelum api
menjilat. Kami akan menutup pintu dan membiarkan kau berada di
dalambilik ini" "Itu lebih baik. Itulah yang aku ingini" Sindangsari
berhenti sejenak, lalu "Tidak. Aku tidak akan melemparkan lampu ini
kedinding. Aku akan menyiramkan minyaknya pada pakaianku, dan aku
akan membakar diriku sendiri. Itu pasti akan lebih baik" Kini wajah
ibu t iri Manguri benar-benar menegang. Namun ia tidak yakin bahwa
Sindangsari benar-benar akan melakukannya. Karena itu, maka iapun
berkata "Jangan hiraukan Manguri. Ia t idak akan berbuat demikian
kerena ia sadar, bahwa ia sedang mengandung" Tetapi di luar dugaan.
Ketika Manguri beringsut sedikit tibatiba saja Sindangsari sudah
memercikkan minyak dipakaiannya. Dicelupkannya jari-jarinya pada
dlupak yang sedang menyala itu. Kemudian dikibaskannya pada
pakaiannya. "Kemarilah. Lihatlah mayatku yang hangus bersama, anakku
di dalam kandungan. Itu adalah jalan yang lebih baik bagiku" Ketika
Sindangsari memercikkan minyak lagi kepakaiannya, perempuan itu
tiba-tiba menjadi gemetar "Jangan. Jangan" "Pergilah" Ibu tiri
Manguri menarik nafas. Akhirnya ia berkata "Kau memang seorang
perempuan yang berhati baja. Baiklah. Kami akan keluar. Tetapi
sebaiknya kau memikirkannya, bahwa hidup ini harus berpijak diatas
kenyataan" "Aku tidak mau mendengar. Aku tidak mau mendengar" Ibu
tiri Manguri mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Baiklah.
Baiklah" Keduanyapun kemudian melangkah keluar dari dalam bilik itu.
Namun dengan demikian mereka semakin yakin, betapa keras hati
Sindangsari. Ketika mereka melangkah keluar pintu, Lamatpun segera
kembali ke tempatnya semula, sehingga ketika Manguri dan ibu t
irinya sampai di tempat itu, mereka bertanya hampir berbareng "Kau
masih disini?" "Ya" "Tidurlah" berkata Manguri "Aku juga akan t
idur" Manguri benar-benar telah dicengkam oleh kekesalan.
Kadang-kadang timbul niatnya untuk berbuat kasar. Namun ia masih
mencoba menahan diri. Mungkin ibu tirinya dapat membujuk perempuan
itu, agar hatinya tidak menjadi semakin sakit, dan ia tidak semakin
membencinya. Manguripun kemudian pergi ke ruang depan. Ia langsung
menuju ke tempat orang-orangnya berbaring. Dengan hati yang panas ia
menjatuhkan dirinya diantara mereka, sementara ibunya yang tidak
kalah kesalnya masuk ke ruang dalam. Sementara itu Lamat masih
berdiri termangu-mangu di halaman. Agaknya Manguri yang kecewa itu
tidak menghiraukannya lagi. Anak muda itu ingin melepaskan
kekesalannya dengan memejamkan matanya, kemudian tidur semalam
suntuk. Lamat menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin
menghirup udara malam sepuas-puasnya. Perlahan-lahan ia melangkah
melintasi halaman. Sejenak ia duduk bersandar sebatang pohon
dikegelapan. Dan malam menjadi semakin gelap segelap hatinya.
Tiba-tiba Lamat berdiri. Setelah memandang ruang depan yang sepi, ia
berjalan ke regol halaman. Sejenak ia berdiri mematung, namun
kemudian ia melangkah keluar. "Kalau Pamot sudah ada di padukuhan
ini" katanya di dalam hati "ia pasti akan berusaha mendekati rumah
ini. Aku akan berdiri disini. Mudah-mudahan ia dapat melihat aku,
meskipun di regol itu tidak dipasang obor" Lamatpun kemudian berdiri
bersandar tiang regol halaman. Dengan matanya yang tajam ditembusnya
kegelapan malam. Tetapi bagaimanapun juga, ia tidak dapat melihat
terlampau jauh. Bayang-bayang dedaunan membuat malam menjadi semakin
gelap. Tetapi justru Lamat berdiri bersandar tiang regol, maka iapun
telah dibayangi kegelapan yang hitam pula, sehingga tidak mudah
untuk dapat dilihatnya. Karena itulah maka beberapa orang yang
berada di halaman di sebelah rumah itu tidak melihatnya. Beberapa
orang ternyata telah meloncati pagar batu di sebelah dalam dan
perlahan-lahan beringsut mendekati dinding halaman rumah isteri ayah
Manguri. Mereka sama sekali t idak melihat bahwa di regol halaman
masih ada seseorang yang tidak tertidur. Orang itu adalah Lamat.
Ketika orang-orang itu beringsut sepanjang dinding diseberang jalan
di halaman rumah tetangga, maka mereka melintas di hadapan regol
yang gelap itu. Kepala mereka yang sedikit tersembul diatas dinding
batu, telah menarik perhatian Lamat yang masih berdiri tegak sambil
menahan nafas. "Siapakah mereka itu?" bertanya Lamat di dalam
hatinya. Tetapi ia masih tetap membeku. Ia tidak tahu pasti,
siapakah yang mendekat itu. Pamot dan kawan-kawannya, atau
orang-orang Ki Reksatani yang dengan diam-diam akan melakukan tugas
yang dibebankan kepadanya. Tiba-tiba timbullah niat Lamat untuk
mengetahui orangorang itu Karena itu, maka iapun beringsut
perlahan-lahan justru menghilang di balik regol. Raksasa itupun
kemudian dengan terbungkuk-bungkuk merayap di sepanjang dinding
berseberangan jalan dengan orang-orang yang tadi dilihatnya.
Sekali-sekali ia mencoba menjenguk di balik dedaunan. Dan ternyata
ia berhasil mengetahui, dimana orang-orang itu berhenti. "Mereka
sengaja mengawasi rumah ini" berkata Lamat di dalam hatinya. Ia
masih bergeser lagi beberapa puluh langkah. Kemudian dengan
hati-hati ia meloncat di tempat yang gelap, di bawah rumpun bambu
yang rimbun menyilang jalan padukuhan, masuk ke halaman yang
berseberangan dengan halaman rumah isteri muda ayah Manguri itu.
Sejenak Lamat menunggu. Ia bersembunyi di balik dedaunan ketika
orang-orang itu bergeser mendekati Namun kemudian raksasa itu
menarik nafas dalam-dalam. Setelah orang-orang itu menjadi semakin
dekat, dan merayap di hadapannya tanpa mengetahuinya, ia melihat
bahwa diantara mereka terdapat Pamot dan Punta. Namun ternyata
tarikan nafasnya itu dapat didengar oleh Pamot dan kawan-kawannya,
seakan-akan terlontar dari senyapnya malam. Dan ternyata suara
tarikan nafas itu telah mengejutkan orang-orang yang sedang merayap
itu, sehingga merekapun segera berpencar dan bersiaga. Tanpa
berjanji mereka mengepung gerumbul tempat Lamat bersembunyi.
"Siapa?" Rajab berdesis perlahan-lahan. Lamat masih tetap diam. Ia
menjadi ragu-ragu. Diantara mereka terdapat orang-orang yang belum
dikenalnya. "Siapa?" Rajab mengulang. Dengan hati-hati Lamat
bergeser. Kemudian untuk tidak menimbulkan salah paham ia berdesis
pula "Aku Pamot" "Aku siapa?" desak Pamot. "Kau tidak mengenal
suaraku lagi?" "Lamat?" "Ya" "O" Pamot lah yang kemudian menarik
nafas dalam-dalam. Katanya kemudian "keluarlah. Kenapa kau
bersembunyi di situ" "Siapakah orang ini Pamot?" bertanya Rajab.
"Nantilah aku ceriterakan.. Tetapi orang ini tidak berbahaya
meskipun ia berada di dalam lingkungan orang-orang yang melarikan
Nyai Demang" Rajab tidak menyahut. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu.
Perlahan-lahan Lamatpun merayap keluar dari gerumbul itu. Tetapi ia
tidak mau berdiri. Bahkan ia berkata "Duduklah Kepalamu agak lebih
tinggi dari dinding halaman ini" Pamot dan kawan-kawannya
mengerutkan keningnya. Namun kemudian merekapun menyadari, bahwa
kepala mereka dapat dilihat dari luar halaman itu seandainya ada
orang yang lewat di jalan padukuhan. Peronda atau orangorang yang
kembali dari menunggui air di sawah. "Duduklah" Lamat mengulangi.
Pamot dan kawan-kawannyapun kemudian duduk di seputarnya. Namun
nampaknya Rajab masih tetap mencurigainya. "Bagaimana dengan Nyai
Demang?" bertanya Pamot tidak sabar. "Ia masih selamat. Sampai saat
ini ia masih dapat bertahan. Tidak ada seorangpun yang dapat
mendekatinya" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia
bertanya "Kenapa kau berada disini" "Aku melihat beberapa buah
kepala yang bergeser di balik dinding batu ini. Karena itu aku
berusaha untuk memastikan, apakah kalian bukan orang-orang yang
berbahaya bagi Nyai Demang" Pamot dan kawan-kawannya saling
berpandangan sejenak. Namun dalam pada itu, Rajab segera mengetahui,
bahwa Lamat bukanlah orang kebanyakan. Ia dapat mendekati mereka
tanpa mereka sadari. "Aku memang menunggu kalian" desis Lamat "tanpa
kalian, aku tidak akan dapat berbuat banyak. Apalagi apabila
Mangurilah yang pertama-tama menjadi kalap. Kalau Ki Reksatani
berniat untuk membinasakan Sindangsari, aku kira Manguri pasti akan
mencegahnya, sehingga aku masih mempunyai kawan untuk mempertahankan
tetapi apabila Manguri yang kehilangan akal, akupun akan kehilangan
akal pula" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya "Kami sudah
berada di sekitar rumah ini. Bahkan Ki Jagabaya di Prambananpun
telah berada di sini pula" "O, kau sudah menghubungi pimpinan
Kademangan ini" "Ya" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika
demikian, maka kali ini semua persoalan harus selesai. Ki Jagabaya
dan Ki Demang di daerah ini pasti tidak akan dapat membiarkan
persoalan ini berlarut-larut dan terjadi di wilayah mereka. Tetapi
Lamatpun mengetahui, bahkan hampir pasti, bahwa tidak ada seorangpun
di padukuhan ini yang mampu mengimbangi Ki Reksatani di dalam olah
kanuragan. "Baiklah" berkata Lamat kemudian "aku akan berusaha untuk
selalu melindungi Nyai Demang dari dalam. Tetapi kalian harus tetap
mengawasi keadaan. Jika aku terpaksa terlibat dalam sikap yang
keras, maka kalian harus segera berusaha membantu. Kalau tidak,
dalam waktu yang sekejap saja, kepalaku akan terpenggal oleh Ki
Reksatani bersama orang-orangnya. "Apalagi apabila Manguri berdiri
di pihak mereka" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya. Aku
selalu siap bersama dengan kawan-kawan Rajab, adalah salah seorang
anak muda Kali Mati yang berpengaruh" Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Sokurlah. Mudah-mudahan kita dapat menyelamatkan" "Apa
yang harus kita kerjakan sekarang?" "Kalian harus mengawasi aku"
"Apakah isyaratmu?" Lamat berpikir sejenak. Kemudian "Aku akan
berteriak memanggil kalian. Aku tidak mempunyai tanda apapun, dan
barangkali aku juga tidak akan sempat mempergunakan tanda tanda
lain" Pamot dan kawan-kawannya menganggukkan kepalanya. Dan Pamotpun
kemudian bertanya "Kapan hal itu terjadi?" "Aku belum dapat
mengatakan" Lamat berhenti sejenak, lalu t iba-tiba ia bertanya
"Berapa orang kalian sekarang?" "Enamorang" "Hanya enam orang?"
"Tetapi dengan isyarat, kami dapat memanggil lebih dari lima belas
orang saat ini" "Lima belas" Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi jumlah itu masih meragukan. Meskipun jumlah itu sudah
seimbang, bahkan sedikit lebih banyak dari jumlah orang-orang yang
berkumpul di halaman ini, namun orangorang yang ada di halaman ini
adalah orang upahan yang memang menyewakan dirinya untuk berkelahi.
Mereka memang hidup dari kemampuan mereka bertempur. Baik mereka
orang-orang Ki Reksatani, maupun orang-orang Manguri yang biasanya
mengawal di daerah-daerah yang berbahaya. Sedang anak-anak Sembojan
dan sekitarnya adalah petani-petani dan mungkin satu dua diantara
mereka adalah pengawal-pengawal Kademangan dan pengawalpengawal
khusus seperti Pamot dan Punta. "Bagaimana?" bertanya Pamot. "Di
dalam halaman rumah ini berkumpul lebih dari sepuluh orang" berkata
Lamat "Maksudmu? Apakah kita akan merebut dengan kekerasan?"
"Berbahaya sekali. Kalian hanya akan menemukan mayat Nyai Demang di
Kepandak" Lamat tidak segera menyahut. Ia mencoba membayangkan,
bagaimanakah kira-kira kekuatan penjaga pintu bilik Nyai Demang itu.
Kalau ia berhasil membungkamnya, maka ia akan dapat membuka pintu
bilik itu. Pintu butulan. Tetapi Lamatpun sadar, untuk mendekati
pintu bilik itu pasti sangat sulit. Kecuali kalau penjaganya tidur.
Agaknya ayah Manguri cukup berpengalaman, sehingga ia sudah
membersihkan beberapa puluh langkah dari pintu itu, sehingga orang
yang mendekatinya, akan segera dapat diketahui sebelum ia menjadi
dekat. "Baiklah kalian menunggu" berkata Lamat "tetapi bahwa aku
tahu kalian disini, aku menjadi semakin mantap. Percayalah kepadaku.
Selagi aku masih hidup, Nyai Demang akan selalu aku awasi. Namun
demikian kalian harus membantu aku" "Jangan cemas. Beberapa orang
diantara kami selalu dekat dengan rumah ini. Salah seorang dari kami
t inggal di rumah sebelah. Dan aku, Punta beserta kedua kawan dari
Gemulung, tinggal di rumah itu pula, meskipun harus selalu
bersembunyi" "Baiklah" desis Lamat "sekarang pergilah. Awasilah dari
rumah itu saja. Disini kalian selalu dibayangi oleh bahaya. Siapa
tahu, Ki Reksatanipun berkeliaran di malam begini di sekitar rumah
ini. Kalian baru akan menyadari setelah leher kalian tercekik dari
belakang" Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Akupun
akan kembali ke rumah itu. Tetapi aku sudah mempunyai pegangan,
sehingga aku tidak menjadi ragu-ragu bertindak" "Baiklah" desis
Pamot. Lalu nada suaranya menurun "Aku mengucapkan terima kasih yang
tidak terhingga Lamat. Kau selalu baik kepadaku" "Ah, jangan menjadi
cengeng. Pergilah" Anak-anak muda itupun kemudian merayap pergi
meninggalkan tempat itu. Namun Rajab masih juga sempat bertanya
"Apakah hubungannya dengan kalian, atau dengan Nyai Demang?" Pamot
ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab "Tidak ada hubungan
apa-apa diantara kami dan juga diantara Lamat, raksasa yang baru
bangun dari tidurnya itu, dengan Nyai Demang di Kepandak. Tetapi ada
semacam dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk melindungi
perempuan yang malang itu" "Seperti kalian juga?" Pamot tidak segera
dapat menjawab. Ternyata pertanyaan itu telah melontarkannya pada
suatu pengakuan, bahwa ia tidak berusaha membebaskan Sindangsari
dengan alasan yang sama dengan Lamat. Sekedar karena rasa
keadilannya tersinggung, tanpa pamrih apapun. Lamat benar-benar
telah berusaha melindungi Sindangsari karena percikan rasa keadilan
dan kebenaran di dalam hatinya, meskipun sebelumnya ia merasa
terikat oleh ikatan budi yang seakanakan tidak dapat diputuskannya.
Tetapi bagi dirinya, ada sesuatu yang lain yang mendorongnya berbuat
demikian. Ia mempunyai bekal yang masih tergores di hatinya, dan ia
mempunyai kepentingan langsung dengan perempuan itu, karena benihnya
yang tertabur di persemaian itu telah tumbuh. Karena Pamot tidak
segera menjawab, maka Puntalah yang menolongnya menjawab "Ya. Kami
juga berusaha menyelamatkannya. Bedanya, kami adalah orang-orang
yang berada di luar lingkungan mereka, sedang Lamat adalah orang
dalam, yang oleh lingkungan mereka pasti akan disebut pengkhianat.
Tetapi ia yakin bahwa apa yang dilakukan itu benar, demi
kemanusiaan" Rajab mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu kini,
bahwa ia telah terseret pula untuk melakukan perbuatan serupa itu.
Dengan kata sehari-hari, menolong sesama yang sedang dalam
kesulitan. Dan ia adalah perwujudan dari rasa kemanusiaan. Seperti
yang selalu didengarnya orang tua-tua mengajari agar setiap orang
suka tolong-menolong di dalam kesulitan. Bukan sekedar kata-kata
yang merdu didengar, tetapi yang lebih penting adalah melakukannya.
Dan rajab merasa, kini ia telah melakukannya. Demikianlah maka
merekapun kemudian saling berdiam diri. Perlahan dan hati-hati
sekali mereka bergeser setapak demi setapak. Kemudian merekapun
meloncati pagar-pagar batu beberapa kali, sebelum mereka sampai ke
halaman rumah seorang kawan yang bertetangga dengan rumah yang
dipergunakan oleh Sindangsari. "Kita harus selalu mengawasi rumah
itu" berkata salah seorang dari mereka. Yang lain
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana dengan Ki Jagabaya" "Ia
sedang tidur. Ia berada di bilik tengah" "Biarlah ia tidur. Kalau
keadaan memuncak, barulah ia kita bangunkan. Tetapi kita sudah
berhasil menghubungi orang di dalam lingkungan mereka" Pamot sendiri
tidak menyahut pembicaraan itu. Ia duduk di sudut amben, di dalam
kegelapan, karena sinar pelita yang menyangkut pada tiang. Tetapi
tidak seorangpun yang menghiraukannya selain Punta. "Kasihan anak
itu" berkata Punta di dalam hatinya, seolaholah ia mengetahui apa
yang bergolak di dalamhati Pamot. "Apakah yang telah mendorong aku
bersusah payah mencarinya?" pertanyaan itu memang tumbuh di hati
Pamot "Sindangsari bukan apa-apa lagi bagiku. Apakah ada seorangpun
yang dapat meyakinkan bahwa anak di dalam kandungannya itu ada
sangkut pautnya dengan aku?" Berbagai bayangan di dalam
angan-angannya telah membuatnya berkeringat. Bahkan tumbuh pula di
dalam dadanya seruan "Kenapa tidak kau serahkan saja kepada Ki
Demang di Kepandak yang telah merampas perempuan itu dari tanganmu?
Apa pedulimu seandainya perempuan itu mati, atau diperisterikan oleh
Manguri dengan paksa, atau sebabsebab yang lain? Namun ketika tanpa
sengaja ia melihat anak-anak muda yang ada di dalam ruangan itu, dan
terlebih-lebih lagi terbayang wajah Lamat yang keras seperti batu,
dada Pamot tergetar karenanya. "Apa pula hubungan mereka dengan
Sindangsari? Apa pula kepentingan mereka atas perempuan itu dan
bukankah mereka dapat tidak mempedulikannya sama sekali seperti kita
melihat seekor t ikus yang hanyut di kali?" "Tidak, tidak" Pamot
menggeram di dalam hati "perempuan itu memerlukan pertolongan. Kenal
atau tidak kenal, berkepentingan atau tidak berkepentingan"
Tiba-tiba saja angan-angannya terputus ketika ia mendengar hiruk
pikuk di rumah sebelah. Hampir berbareng anak-anak muda yang ada di
dalam ruangan itu berloncatan ke pintu. Dada mereka berdesir ketika
mereka melihat api yang menyala di rumah sebelah, rumah yang
dipergunakan untuk menyimpan Sindangsari. "Kebakaran" Punta
bergumam. "Ya, kebakaran" sahut Pamot. Tetapi dengan demikian mereka
tidak segera dapat mengambil sikap. Kebakaran tidak termasuk di
dalam perhitungan mereka. Mereka hanya menunggu isyarat Lamat. Kalau
mereka mendengar isyarat, mereka harus bertindak cepat. Kalau tidak,
maka tidak akan terjadi apa-apa di rumah itu. Tetapi kini rumahitu
terbakar. Anak-anak muda itu untuk sesaat hanya, berdiri mematung di
halaman sambil memandang api yang mulai menjilat atap. Beberapa
bagian di sisi belakang telah mulai berkobar. Orangorang yang ada di
rumah itu menjadi sibuk. Mereka yang sedang tertidur oleh kelelahan,
terperanjat bangun. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun
sejenak kemudian merekapun segera berloncatan ke luar. "Kebakaran,
kebakaran" Ayah Manguri yang ada di dalampun segera berlari keluar
diikuti oleh isteri mudanya. Manguri dan orang-orangnya, juga Ki
Reksatani dan pengiringnya, telah berkumpul di halaman. Sejenak
mereka menilai keadaan, dan sejenak kemudian merekapun segera
berloncatan. "Air, air" teriak salah seorang dari mereka. Halaman
rumah itupun kemudian menjadi hiruk pikuk. Api yang menyala di
bagian belakang semakin lama menjadi semakin besar. Diantara mereka
yang berlari-larian kian kemari mencari air dan alat-alat untuk
memadam kan kebakaran itu, Ki Reksatani berdiri termangu-mangu. Ia
ingat, bahwa di bagian belakang rumah itu disimpan Sindangsari,
nalurinya telah mendorongnya untuk menolong perempuan itu. Tetapi
tibatiba ia berdiri tegak seperti patung. Bahkan kemudian ia
berdesis "Biarlah perempuan itu mati dimakan api. Itu lebih baik
daripada aku harus membunuhnya" Karena itu, niatnya untuk menolong
Sindangsari diurungkannya. Tetapi selain Ki Reksatani, Manguripun
menyadari hal itu. Karena itu, berlari-lari ia melingkar rumah itu
sambil berteriak memanggil "Lamat, Lamat" Tetapi tidak ada
seorangpun yang menyahut "lamat, Lamat" Suaranya seakan-akan
tenggelam di dalam hiruk pikuk orang-orang yang berusaha memadamkan
api yang berkobar semakin besar. Bahkan kemudian orang-orang di
sekitar rumah itupun berlari-larian memberikan pertolongan. Mereka
menebang batang-batang pisang dan dilontarkannya ke dalam api.
Selagi Manguri sedang kebingungan, dan selagi Ki Reksatani
memandangnya dengan senyum kecil di bibirnya, mereka telah terkejut
ketika dinding di sudut belakang rumah itu terdorong oleh suatu
kekuatan yang besar dari dalam. Dinding sudut yang sudah hampir
termakan api pula itu, kemudian roboh, sementara sebuah bayangan
telah meloncat keluar dari dalam. Semua orang terpukau sejenak
memandangnya. Orang itu adalah Lamat yang mendukung Sindangsari.
Meskipun beberapa bagian pakaian dan kulitnya telah tersentuh api,
namun Lamat tidak menghiraukannya. Dan ia berhasil menyelamatkan
Sindangsari. Tetapi perempuan itu selalu meronta-ronta. Bahkan ia
berteriak-teriak "Lepaskan, lepaskan. Biarlah aku mati di dalam api
itu. Lepaskan" Orang-orang yang mendengar teriakan itupun segera
menduga bahwa perempuan gila itulah agaknya yang telah membakar
rumah itu. Sebenarnyalah bahwa Sindangsari yang menjadi bingung dan
gelap hati itu, tidak tahu lagi apa yang sebaiknya dilakukan.
Apalagi ketika ia mengetahui bahwa Manguri telah berada di dalam
rumah itu pula. Oleh kebingungan yang tidak terpecahkan, maka
hatinya benar-benar menjadi kelam. Ia lupa akan dirinya, lupa akan
kandungannya, dan sejenak ia lupa akan adanya Tuhan Yang Maha
Bijaksana. Ia telah mencoba menyelesaikan kesulitannya itu dengan
caranya sendiri. Ternyata Sindangsari itu telah menyiram dinding
biliknya dengan minyak lampu di dalam biliknya, kemudian membakarnya
dari dalam tanpa menghiraukan keadaan dirinya sendiri. Karena
itulah, ia melawan ketika Lamat ingin menolongnya dari lidah api
yang sudah menjalar semakin besar. Tetapi Lamat tidak
menghiraukannya. Sindangsari itupun kemudian dibawa menjauhi api
yang semakin besar berkobar membakar rumah isteri muda ayah Manguri.
Pedagang ternak itu berdiri termangu-mangu di halaman yang merah
karena nyala api. Di sampingnya isteri mudanya menangis sambil
berpegangan lengannya "Rumahku, rumahku" Ayah Manguri menarik nafas
dalam-dalam. Ia hanya dapat memandang api yang semakin besar, bahkan
hampir menelan seluruh bagian rumah itu. Lambat tetapi pasti, maka
rumah itu akan menjadi abu sama sekali, karena pertolongan tetangga
yang hampir seluruh padukuhan telah mengelilingi api dan mencoba
memadamkannya, namun tidak berhasil.
-
Jilid 9 MANGURI sama sekali t idak
menghiraukan lagi api yang seakan-akan melonjak-lonjak dalam tarian
maut menyentuh langit yang hitam. Yang menjadi pusat perhatiannya
adalah Sindangsari. Karena itu dengan tergesa-gesa ia mengikuti
Lamat yang kemudian meletakkan Sindangsari di sudut halaman
belakang, diatas rerumputan yang kekuningkuningan. Oleh ketegangan
yang luar biasa, maka Sindangsari yang sedang mengandung itupun
telah menjadi pingsan. Dalam pada itu, Ki Reksatanipun menjadi
bingung. Ia kecewa sekali melihat Lamat berhasil menolong perempuan
yang telah menyalakan api di dalam hatinya pula. Ki Reksatani
mengharap Sindangsari mati. Tetapi kini ia dapat di selamatkan.
Apalagi halaman itu penuh dengan orang-orang dari padukuhan
Sembojan. Apabila ia tidak dapat menyingkirkan Sindangsari, dan
apabila karena sesuatu hal rahasia ini merembes keluar
lingkungannya, maka ia akan mengalami bencana yang tidak terkirakan.
Dalam kebingungan itu tiba-tiba ia mengambil keputusan. Perempuan
itu harus mati. Manguri, ayahnya dan orangorangnyapun harus mati
"Tetapi bagaimana dengan orangorang Sembojan?" pertanyaan itu
melonjak di dalam kepalanya "mereka pasti akan berceritera tentang
perkelahian yang timbul di rumah ini. Mereka Pasti akan bercerita
tentang kematian demi kematian. Mereka akan berceritera tentang
orang-orang yang datang dan berselisih disini. Gambarangambaran yang
mereka berikan akan menunjukkan bahwa yang berkelahi dan yang saling
berbunuhan adalah orangorang Kepandak. "Persetan" ia menggeram
"padukuhan ini cukup jauh. Di dalam hiruk pikuk ini aku harus cepat
melakukannya. Mungkin tidak ada orang yang mengetahui, siapakah yang
telah melakukan pembunuhan itu. Dengan diam-diam aku akan mendekati
mereka seorang demi seorang. Dan aku akan membunuhnya tanpa
menimbulkan suara apapun. Aku dapat menusuk setiap punggung.
Kemudian meninggalkannya terbaring di tanah. Orang-orang yang sibuk
dengan api itu, pasti tidak akan segera menyadari apa yang terjadi.
Ki Reksatanipun kemudian menggeram. Dibisikkannya rencana itu kepada
seorang pengikutnya. Dan rencana itupun segera menjalar. "Kau
serahkan Manguri dan ayahnya serta raksasa itu kepadaku. Kalian
tidak akan dapat berbuat banyak atas mereka. Lakukanlah atas
pengiring-pengiringnya. Cepat, selagi orang-orang Sembojan dan
pengiring Manguri itu sibuk memadamkan api. Aku akan mencari
perempuan itu" Ki Reksatani tidak perlu mengulangi perintahnya.
Orangorangnya yang segera mengetahui hal itu, mulai berusaha
melakukan tugasnya. Dengan pisau-pisau belati pendek, mereka
mendekati para pengiring Manguri dari belakang. Kemudian, mereka
membenamkan pisau belati mereka di punggung di dalam kegelapan,
selagi orang-orang itu sibuk mengambil air, atau mencari
batang-batang pisang, atau selagi mereka berbuat apapun juga. Mereka
mendorong mayat-mayat itu ke dalam rimbunnya halaman yang kurang
terpelihara. Dan membaringkannya di tanah. Sementara itu, Manguri
berdiri termangu-mangu di belakang Lamat yang sedang berjongkok
merenungi wajah Sindangsari yang pucat. Dicobanya untuk menggerakkan
tangannya perlahan-lahan. Kemudian menggerakkan kepalanya pula.
Seperti seorang ibu yang menyentuh bayinya, Lamat memijit pundak
Sindangsari dengan hati-hati. Tetapi perempuan itu masih saja
pingsan. Manguri masih berdiri di belakangnya. Dibiarkannya Lamat
berusaha membangunkannya. Bahkan dengan gelisahnya Manguripun maju
selangkah. Tetapi ia berhenti ketika Lamat merentangkan tangannya
tanpa berkata apapun juga. Semula Manguri tidak menghiraukannya.
Tetapi ketika setiap kali ia ingin mendekat, Lamat selalu berusaha
mencegahnya, maka iapun kemudian berkata "Biarlah aku yang mencoba
membangunkannya" Alangkah terkejut Manguri mendengar jawaban Lamat.
Dadanya hampir meledak karenanya dan jantungnya serasa berhenti
mengalir. Lamat yang kemudian berdiri menghadangnya itu berkata
"Jangan kau sentuh perempuan itu" "Lamat" Manguri memandanginya
dengan tajamnya "apakah kau menjadi gila?" "Jangan kau sentuh"
"Pergi, pergi kau. Aku akan membangunkannya. Perempuan itu masih
pingsan" "Akulah yang menolongnya dari api. Kalau t idak ia sudah
mati menjadi bara di dalam api itu. Kau tidak berhak lagi atasnya"
Manguri berdiri membeku sejenak. Ia menjadi bingung menghadapi
raksasa yang jinak, tetapi tiba-tiba menjadi buas. "Apakah kau
kerasukan setan Sembojan, he Lamat. Jangan dungu. Perempuan itu akan
mati kalau ia tidak segera mendapat pertolongan" "Serahkan ia
kepadaku. Kau jangan mencampuri persoalanku dengan perempuan itu"
"He Lamat. Apakah kau benar-benar menjadi gila he?" Lamat t idak
menjawab. Ia masih berdiri saja mematung di tempatnya. Namun di
dalam keremangan cahaya api yang kemerah-merahan, mata Lamat tampak
menyala seperti bara. Manguri menjadi ragu-ragu sejenak. Seperti
memelihara seekor harimau, betapapun jinaknya, pada suatu saat
menggeram juga. Karena itu, maka ia harus berhati-hati. Ia tidak
tahu, kenapa tiba-tiba saja Lamat telah berubah sama sekali.
Sebenarnyalah bahwa Manguri tidak mengetahui apa yang tersimpan di
dalam hati Lamat. Ia tidak mengerti perkembangan perasaan raksasa
itu. Apalagi kini, di saat-saat terakhir, Lamat sudah tidak dapat
membiarkan perlakuan yang memuakkan itu berlangsung terus sebelum
terlanjur terjadi akibat yang tidak akan dapat dihapus seumur
hidupnya. Semula Lamat masih ragu-ragu untuk bertindak. Tetapi
ketika ia membawa Sindangsari ke sudut halaman, maka ia mendengar
suara berbisik di balik dinding batu "Lamat, aku disini. Kami sudah
siap. Agaknya saat ini merupakan salah satu saat yang baik untuk
membebaskannya. Sindangsari sudah berada di tanganmu. Kemungkinan
untuk membunuhnya dapat dibatasi sekecil-kecilnya" Lamat
mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab "Baiklah Kita akan
mulai" Pembicaraan itu terhenti ketika mereka melihat Manguri
berlari-lari mendekati Lamat. Namun semuanya sudah jelas. Semuanya
sudah pasti. Sindangsari harus dibebaskan. Sementara itu Pamot dan
kawan-kawannyapun segera surut beberapa langkah. Mereka berloncatan
kebalik dinding di dalam kegelapan. Agaknya oleh hiruk pikuk di
halaman, tidak seorangpun yang memperhatikan mereka. Seandainya ada
orang yang melihat mereka berloncatan, orang itu pasti mengira bahwa
mereka adalah tetangga-tetangga terdekat yang akan menolong
kebakaran itu pula. Dalam pada itu, Ki Reksatanipun dengan diam-diam
telah mendekati Manguri yang sedang berbantah dengan Lamat. Sejenak
ia menjadi heran. Kenapa tiba-tiba saja mereka tidak sependapat.
Biasanya Lamat tidak pernah membantah, apapun yang dikatakan oleh
Manguri. Namun kini tiba-tiba Lamat telah mencegah Manguri mendekati
Sindangsari. Sejenak Ki Reksatani berpikir. Apakah kira-kira yang
akan dilakukan oleh Lamat atas perempuan itu. Kalau ia sudah jemu
mengawasinya dan akan membunuhnya, maka biarlah raksasa itu
melakukannya. Tetapi hal itu tidak akan mungkin terjadi. Raksasa itu
pulalah yang telah membebaskan perempuan itu dari jilatan api.
"Mereka sedang memperebutkan perempuan itu" berkata Ki Reksatani di
dalam hatinya. Namun perkembangan keadaan itu menambahkannya menjadi
cemas. Rahasia ini akan semakin cepat menjalar dan diketahui orang.
Karena itu, iapun segera mengambil keputusan. Bukankah keduanya
harus dimusnahkannya dan kemudian perempuan yang pingsan itu pula?
Ki Reksatani dapat berpura-pura memihak salah satu dari keduanya.
Kemudian setelah yang seorang selesai, maka yang lain akan
diselesaikannya pula. Menurut perhitungan Ki Reksatani, maka untuk
membunuh Manguri tidak akan ada kesulitan apapun. Tetapi untuk
membunuh raksasa itu, mungkin ia memerlukan waktu. Apalagi agaknya
orang-orang lain tidak akan mengganggunya. Misalnya ayah Manguri dan
orang-orang yang sudah mengenal anak itu. Termasuk orang-orang
Sembojan. Karena itu, maka ia memutuskan untuk berpihak kepada
Manguri. Dengan demikian, rencananya akan dapat dilakukannya dengan
lancar. Dengan keputusan itulah, maka Ki Reksatani melangkah
mendekati keduanya yang masih berdiri berhadapan. "Apa yang
terjadi?" ia bertanya seolah-olah ia tidak tahu apa yang sedang
mereka percakapkan. Dada Lamat berdesir. Ia sadar bahwa ia harus
berhadapan dengan orang yang tidak terkalahkan dari Kepandak itu.
Tetapi ia sudah menyerahkan dirinya untuk menolong Nyai Demang. Ia
sudah bulat bertekad untuk menyelamatkan jiwa perempuan itu, bahkan
kalau perlu menukar dengan jiwanya yang sudah tidak berharga itu.
"Lamat menjadi gila" desis Manguri. "Ia mendengar percakapan kita.
Ia mengetahui bahwa kita tidak sependapat, aku tahu, bahwa orang ini
sudah lama memperhatikan kita" Ki Reksatani mengerutkan keningnya.
Selangkah ia maju sambil berkata "Ya, aku mendengar sebagian dari
percakapan kalian. Tetapi aku tidak tahu, alasan apakah yang
mendorong kalian untuk memperebutkan perempuan itu" "Aku akan
menyelamatkannya. Menyelamatkannya dari tangan laki-laki yang
dibakar oleh nafsunya dan menyelamatkannya dari laki-laki yang
digelut oleh ketamakan" "Lamat" berkata Manguri "siapakah yang
mengajarimu demikian?" "Tidak ada. Tetapi aku adalah seorang manusia
seperti kebanyakan manusia yang lain. Mempunyai perasaan, harga diri
dan perikemanusiaan. Apakah aku dapat membiarkan perempuan yang
tidak berdaya ini menjadi korban kalian. Ia akan binasa lahir dan
batinnya. Kalau ia t idak dibunuh secara badaniah, ia akan mati
secara batiniah. Hidupnya bukan hidup lagi, meskipun ia tidak dapat
segera dikubur. Karena itu, menyingkirlah kalian. Aku akan
menyelamatkannya dan mengembalikannya kepada Ki Demang di Kepandak"
Darah Manguri serasa berhenti mengalir mendengar jawaban itu. Namun
sebelum ia menjawab, terdengar suara Ki Reksatani tertawa betapapun
terasa pahitnya "Kau gila Lamat. Benar kata Manguri, bahwa kau sudah
gila. Apakah kau sadar, bahwa dengan demikian, kau akan dapat
mengalami akibat yang tidak pernah kau perhitungkan? Apakah kau
sangka, begitu mudahnya mengembalikan Nyai Demang itu kepada
suaminya?" "Aku tahu, bahwa tidak begitu mudah untuk melakukannya.
Tetapi aku akan mencoba" Ki Reksatani memandang wajah Lamat yang
tegang, sorot matanya memancarkan kebulatan hatinya yang membara.
Karena itu, Ki Reksatani tidak dapat memperpanjang waktu lagi. Ia
harus segera berbuat sesuatu. "Lamat" Ki Reksatani menggeram "aku
terpaksa membunuhmu. Aku kira Manguripun tidak berkeberatan, karena
selama ini kau adalah seekor kerbau dungu yang dipeliharanya
diantara ternak yang diperdagangkan oleh ayahnya. Tetapi ternyata
kau jauh lebih dungu dari yang aku duga semula. Ternyata saat ini
kau sudah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan" Lamat justru
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya "Aku menyadari, bahwa kau
akan mengambil keputusan itu" Ki Reksatani maju selangkah lagi.
Tetapi ia tertegun sejenak ketika ia mendengar dengan nafas di
sektarnya. Tetapi Ki Reksatani tidak mengerti, siapakah orang-orang
yang sedang mengerumuninya. Mungkin orang-orangnya, mungkin
orang-orang lain yang melihat perselisihan itu, atau mungkin
orang-orang Manguri. Tetapi Ki Reksatani t idak mau mengorbankan
dirinya dan apalagi kepentingannya. Kalau orang-orang yang berada di
sekitarnya itu tidak menguntungkannya, pasti akan mengganggu
usahanya membunuh raksasa itu. Karena itu, maka tiba-tiba terdengar
ia bersuit nyaring beberapa kali. Ia berharap bahwa orang-orangnya
akan segera datang mempercepat penyelesaian semuanya. "Mudah-mudahan
mereka sudah selesai" katanya di dalam hati. Orang-orang Ki
Reksatani yang mendengar suitan itupun segera menyahut, sekaligus
memberi isyarat bagi kawankawannya yang belum mendengar di tempat
yang bertebaran. Karena itu, maka sejenak kemudian merekapun telah
bergeser dari tempatnya mencari sumber bunyi isyarat itu, sementara
beberapa dari mereka telah berhasil membinasakan orangorang Manguri
yang ada di halaman. Ternyata suara suitan itu telah menimbulkan
berbagai tanggapan pada penduduk Sembojan. Apalagi ketika salah
seorang dari mereka yang berlari-lari terjatuh karena kakinya
terantuk sesosok mayat. Maka sejenak kemudian hiruk pikuk di halaman
itu telah berubah menjadi kegemparan yang kisruh. Tidak seorangpun
yang dapat bertindak dengan mapan. Semuanya hanya menjadi
kebingungan dan kehilangan akal. Sementara itu, Ki Reksatani sudah
mulai bertindak. Dengan garangnya ia mendekati Lamat yang sudah
bersiap pula menghadapi setiap kemungkinan. Seperti Ki Reksatani,
Lamatpun sadar, bahwa beberapa orang telah mengerumuninya. Ia juga
mendengar dengus nafas sebelum Ki Reksatani bersuit. Dan Lamatpun
yakin, bahwa orang-orang yang bersembunyi di sekitarnya itu pastilah
Pamot dan kawan-kawannya, sehingga dengan demikian Lamat berharap,
bahwa Sindangsari benar-benar akan dapat diselamatkan, meskipun
mungkin ia sendiri tidak. Sejenak kemudian, maka Ki Reksatanipun
menyerang dengan cepatnya. Tetapi Lamat agaknya benar-benar telah
bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Demikianlah, maka perkelahian
diantara dua orang yang luar biasa itu segera mulai. Ki Reksatani
yang selama ini hanya dikenal sebagai seorang yang tidak terkalahkan
di Kepandak bersama Ki Demang, maka kini ia benar-benar telah
melibatkan diri dalam suatu perkelahian melawan seorang raksasa yang
selama ini dianggapnya terlampau jinak. Namun segera tampak, bahwa
Lamat bukan seorang raksasa yang terlampau dungu. Ia bukan sekedar
seekor kerbau yang menurut kemana saja ia dituntun oleh pemiliknya.
Kini Lamat seakan-akan telah bangun dari tidurnya, dan mulai
menyadari dirinya sendiri. Pada langkah-langkah permulaan dari
perkelahian ternyata, bahwa Lamat mampu mengimbangi kecepatan
bergerak Ki Reksatani yang selama ini seakan-akan merupakan tokoh di
dalam dongeng-dongeng tentang seorang yang tiada duanya didunia.
Meskipun demikian, perkelahian itu ternyata telah memukau setiap
orang yang menyaksikannya. Serangan Ki Reksatani datang bagaikan
badai yang melanda dengan dahsyatnya. Tetapi Lamat adalah raksasa
yang berdiri tegak bagaikan batu karang. Manguri yang menyaksikan
perkelahian itu berdiri termangu-mangu. Kini ia melihat kebenaran
dari ceritera yang merambat dari mulut kemulut tentang Ki Reksatani.
Tangannya dapat bergerak secepat tatit diudara. Sedang kakinya mampu
meloncat melampaui loncatan belalang. Yang tidak diduganya adalah
justru Lamat. Manguri mengetahui bahwa orang itu memiliki kekuatan
tubuh yang luar biasa. Tetapi ia tidak menyangka sama sekali, bahwa
Lamat mampu melawan Ki Reksatani tidak sekedar mempergunakan
kekuatan yang diterimanya dari alam. Tetapi ia mampu melawan dengan
ilmu olah kanuragan yang mengagumkan. Lamatpun mampu berkelahi
dengan dahsyatnya seperti juga yang dilakukan oleh Ki Reksatani, di
samping kekuatannya yang melampaui kekuatan seorang manusia biasa.
Demikianlah perkelahian itupun segera berlangsung dengan dahsyatnya.
Perkelahian antara dua orang raksasa di dalam olah kanuragan.
Perkelahian yang jarang terjadi, apalagi di padukuhan kecil seperti
padukuhan Sembojan. Itulah sebabnya, maka perkelahian itu
benar-benar telah menggemparkan orang Sembojan. Mereka melihat dua
orang yang berkelahi dengan dahsyatnya. Mereka melihat di sudut
halaman itu perempuan yang mereka sangka perempuan gila itu masih
terbaring diam. Namun, tidak seorangpun dari mereka yang berani
mendekati perkelahian itu. Tidak seorangpun yang berani berbuat
sesuatu di dalam perkelahian itu. Dengan demikian, maka orang-orang
yang semula sibuk dengan api yang hampir menelan seluruh bangunan
itu perhatian menjadi terbagi. Sebagian memperhatikan api yang masih
melonjak sampai ke langit, dan sebagian perhatian mereka terampas
oleh perkelahian yang semakin lama menjadi semakin dahsyat itu.
Perlawanan Lamat benar-benar tidak diduga pula oleh Ki Reksatani. Ia
memang sudah memperhitungkan bahwa membunuh Lamat bukanlah
pekerjaan-pekerjaan yang mudah. Tetapi bahwa Lamat mampu melawan
dengan caranya, benarbenar telah menggetarkan dadanya. Namun
demikian, kemarahannyapun menjadi semakin berkobar di dadanya. "Dari
mana setan gundul ini mendapatkan ilmunya "Ki Reksatani menggeram di
dalam hatinya. Namun nama Ki Reksatani benar-benar bukan sekedar
sebutan yang kosong. Semakin lama menjadi semakin nyata, betapa ia
menguasai ilmunya dengan matang. Kedua tangannya yang bergerak
berputaran, benar-benar membingungkan. Sekali-sekali ia meloncat
bagaikan terbang dengan tangannya yang mengambang. Kemudian menukik
sambil mengayunkan serangan mautnya. Tandangnya bagaikan seekor
burung garuda raksasa yang dengan garangnya menyerang mangsanya.
Namun Lamat sama sekali tidak menjadi gentar karenanya. Bagaikan
seekor naga yang perkasa ia melawan kuku-kuku garuda yang ganas yang
menyambarnya dari segenap arah. Namun dengan taringnya yang tajam,
naga raksasa itu berhasil menghalau lawannya yang mengerikan itu.
Tetapi Ki Reksatani mampu menyerang lawannya dengan kedua tangannya
yang menjulur ke depan, bagaikan seekor harimau yang menerkam
lawannya. Dengan kuku-kukunya yang tajamnya dan giginya yang runcing
ia siap untuk merobek tubuh mangsanya. Namun Lamat mampu pula
bertempur bagaikan banteng ketaton. Tanpa menghiraukan keadaan
tubuhnya sendiri Lamat mengamuk dengan dahsyatnya. Demikianlah
perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Kaki-kaki mereka
yang berloncatan telah menghamburkan debu yang putih keudara.
Pepohonan perdu menjadi berserakan. Ranting-ranting berpatahan dan
batubatu berterbangan tersentuh oleh kaki-kaki mereka. Manguri
benar-benar membeku di tempatnya. Ia adalah seorang anak muda yang
mempunyai pengetahuan tentang olah kanuragan. Tetapi ia t idak dapat
membayangkan, bahwa perkelahian yang terjadi adalah perkelahian yang
sedemikian dahsyatnya. Dalam pada itu, ketika keduanya sedang
dicengkam oleh nafas maut yang berhembus di jalan pernafasan mereka,
Manguri melihat Sindangsari mulai bergerak-gerak. Tiba-tiba
timbullah niatnya untuk mendekatinya. Apapun yang akan terjadi
dengan perkelahian itu, namun Sindangsari harus diselamatkan.
Demikianlah, dengan diam-diam ia bergeser dari tempatnya.
Sekali-sekali ia memandangi perkelahian yang hampir tidak dapat
diikutinya itu. Kemudian dipandanginya sekelilingnya. Orang-orang
yang menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan, diterangi oleh sinar
api yang kemerahmerahan. Tetapi ketika Manguri berjongkok di samping
Sindangsari ia merasa bahunya digamit seseorang. Ketika ia berpaling
maka darahnya bagaikan berhenti mengalir. Dilihatnya seperti
bayangan hantu yang tersembul dari dalam api yang menyala itu. Wajah
yang keras tegang berwarna tembaga. Dengan gerak naluriah Manguri
meloncat berdiri. Kemudian berdiri tegak diatas kakinya yang
renggang. Wajahnyapun kemudian menegang. Dengan tajamnya ia
memandang seorang anak muda yang berdiri di hadapannya. Pamot. "Kita
bertemu disini Manguri" geram Pamot. "Gila" Manguripun menggeram
"kenapa kau sampai juga ke tempat ini?" Pamot memandang Manguri
dengan tajamnya. Sejenak ia mencoba untuk mengendapkan perasaannya,
agar ia tidak terseret oleh arus darahnya yang bergolak seperti
banjir. Dalam pada itu, Ki Reksatanipun terkejut pula ketika ia
melihat Pamot telah berada di halaman itu pula. Sejenak ia meloncat
mundur untuk mendapat kesempatan meyakinkan penglihatannya. Dan ia
tidak salah lagi. Orang itu adalah Pamot. Dengan demikian, maka Ki
Reksatanipun harus mengambil keputusan segera. Ternyata ia
benar-benar menghadapi persoalan yang tidak diduganya sama sekali.
Bukan saja Pamot tetapi beberapa anak-anak muda dari Gemulung telah
ada di sekitar arena itu. Punta juga sudah berdiri tegak dengan
wajah yang tegang. Ki Reksatani tidak mendapat kesempatan lagi. Ia
harus segera megambil sikap karena Lamat telah menyerangnya pula
dengan garangnya. "Selamatkan perempuan itu" tiba-tiba Ki Reksatani
berteriak. Beberapa orang yang berdiri di sekitar arena itu menjadi
termangu-mangu. Ia tidak begitu jelas mendengar perintah yang
diteriakkan oleh Ki Reksatani. Bahkan mereka menangkap maksud
kata-kata itu berlainan satu dengan yang lain. Bukankah Ki Reksatani
merencanakan untuk membunuh Manguri dan orang-orangnya, kemudian
sudah tentu juga Sindangsari? Apakah perintah itu berarti, bahwa
mereka harus melakukannya sekarang, membunuh Sindangsari?. Dalam
keragu-raguan itu sekali lagi terdengar Ki Reksatani berteriak
"Jangan biarkan perempuan itu jatuh ke tangan anak-anak Gemulung"
Kini barulah mereka menjadi jelas Merekapun segera meloncat
menyerang Pamot yang berdiri berhadapan dengan Manguri. Tetapi Pamot
tidak seorang diri. Bukan sekedar bersama Lamat. Tetapi Pamot berada
di halaman itu bersama beberapa orang kawannya. Dari Gemulung, dari
Kali Mati dan dari Sembojan sendiri. Bahkan Ki Jagabaya di
Prambananpun telah ada di tempat itu pula. Dengan demikian, ketika
serangan itu datang, bukan Pamot yang harus melawan mereka, tetapi
anak-anak muda itupun segera berloncatan menyongsong mereka. "Gila"
desis Ki Reksatani yang sambil bertempur sempat juga menyaksikan
perkelahian yang segera membakar hampir seluruh halaman belakang
"dari mana mereka mendapat kawan sebanyak itu?" Sejenak timbullah
penyesalannya bahwa beberapa orang Manguri pasti sudah terlanjur
terbunuh oleh orang-orangnya di dalam kekisruhan itu, sehingga
apabila diperlukan, sulitlah baginya untuk mendapatkan bantuan dari
pihak manapun juga. "Bagaimana mereka dapat sampai ke tempat ini"
berkata Ki Reksatani di dalam hatinya. Namun tiba-tiba saja darahnya
bagaikan menggelegak ketika terpandang olehnya wajah Lamat yang
kasar sekasar padas. "Pasti kaulah pengkhianat itu" geram Ki
Reksatani. Terasa dada Lamat berdesir tajam. Sungguh pahit untuk
mendengar tuduhan itu. Pangkhianat. Apalagi ketika sejenak kemudian
ia melihat ayah Manguri datang dengan tergesa-gesa ke arena itu.
diikuti oleh isterinya yang berlari-lari kecil. Sejenak ayah Manguri
itu membeku ketika ia melihat Lamat sedang bertempur dengan
dahsyatnya melawan Ki Reksatani. Hampir tidak dapat di bayangkan,
bahwa perkelahian yang demikian dapat terjadi. Sejenak kemudian ayah
Manguri itupun melangkah mendekati Manguri yang berdiri tegak dengan
tegangnya berhadapan dengan Pamot. Perlahan-lahan ayah Manguri itu
berkata "Kita sudah dikhianati" "Lamatlah yang telah berkhianat"
desis Manguri. Wajah ayah Manguri menjadi merah padam. Kini ia
berdiri menghadap perkelahian antara Lamat dan Ki Reksatani.
Perkelahian yang sama sekali tidak dapat diduga, siapakah yang akan
menang dan siapakah yang akan kalah. Mereka adalah orang-orang yang
tangkas ian kuat. Bahkan Ki Reksatani dan Lamat yang ingin segera
memenangkan perkelahian sebelum nafas mereka menjadi semakin
terengahengah itu telah mencabut senjata masing masing. Ki Reksatani
menggenggam senjata di kedua tangannya. Sebilah pedang di tangan
kanan dan keris pusakanya di tangan kiri. Sedang Lamatpun telah
menggenggam senjatanya yang mengerikan, sebuah golok yang besar dan
tebal. "Lamat" desis ayah Manguri "kenapa kau khianati kami?" Lamat
tidak menyahut. Tetapi kata-kata itu sangat berpengaruh di hatinya.
Meskipun demikian ia masih berusaha untuk melepaskan diri dari
pengaruh kata-kata itu. "Kau jugakah yang telah membunuh beberapa
orang kami di halaman ini?" bertanya ayah Manguri "aku sudah
menemukan tiga mayat dari mereka. Semuanya telah ditusuk di
punggungnya. Suatu pembunuhan yang licik dan pengecut" Kata-kata itu
benar-benar bagaikan duri yang menusuk dinding jantung raksasa yang
sedang berkelahi itu. Tetapi Lamat berusaha agar ia sama sekali
tidak terpengaruh oleh kata-kata. "Lamat" ayah Manguri seakan-akan
telah berbisik di telinganya "Kenapa kau sampai hati berbuat
demikian?" Lamat mengatupkan giginya rapat-rapat. "Jawablah Lamat.
Jawablah? Apakah salah kami sekeluarga kepadamu? Apakah aku sudah
menyakiti hatimu? Atau barangkali anakku atau isteriku atau siapapun
juga?" Lamat t idak menjawab. Ia tetap mengatubkan mulutnya
rapat-rapat. Namun demikian terasa sesuatu menggelitik hatinya
justru pada saat ia bertempur melawan seorang yang pilih tanding, Ki
Reksatani. Untuk menghalau kegelisahan yang mulai menyentuh
perasaannya tiba-tiba Lamat berteriak nyaring "Pamot, cepat bawa
nyai Demang kepada suaminya, sebelum kita terlambat" "Gila" Ki
Reksatanipun berteriak pula "kalau kau sentuh perempuan itu, aku
akan membunuh kalian secepatnya" Namun Pamot mengerti, bahwa untuk
melawan Lamat Ki Reksatani harus memeras segenap kemampuannya.
Tetapi di dekat Sindangsari itu berdiri Manguri. Karena itu Lamat
sadar, bahwa ia harus Mengambil Sindangsari dengan kekerasan.
Apalagi ketika ia sadar, bahwa ia telah berada di tengah-tengah
arena perkelahian yang seru. Anak-anak muda Gemulung yang datang
bersamanya telah terlibat di dalam perkelahian. Bahkan Rajab dan
kawan-kawannyapun telah membantu mereka, melawan orang-orang Ki
Reksatani dan orang-orang Manguri yang tersisa. "Jangan sentuh
perempuan itu" Manguri yang juga mendengar suara Lamat itupun
menggeram. Tetapi Pamot maju selangkah, Manguri baginya adalah musuh
bebuyutan. Manguri pernah berusaha untuk membinasakannya. Sehingga
dengan demikian, maka kemarahannya itu serasa kini telah terungkat.
"Manguri" geram Pamot "jangan halangi aku supaya kau tidak terlibat
terlampau parah di dalam masalah ini" berkata Pamot. "Persetan"
sahut Manguri "aku masih tetap akan membunuhmu. Ternyata kegagalan
yang pernah terjadi adalah karena pengkhianatan Lamat. Aku tidak
menyangka, bahwa ia seorang yang licik dan pengecut. "Jangan
salahkan Lamat. Ia melihat bahwa kau berdiri di jalan yang sesat.
Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk membawamu kembali ke jalan
yang benar. Ia selalu kau anggap sebagai seekor kerbau yang dungu.
Seekor kerbau yang telah dicocok hidungnya. Apapun yang kau lakukan,
ia tidak boleh membantah. Dan bahkan bertanyapun tidak ada
kesempatan" "Bohong" teriak Manguri. "Sudahlah" berkata Pamot
"jangan ganggu aku. Aku akan mengembalikan perempuan ini kepada
suaminya" Manguri menggeretakkan giginya. Ketika ia berpaling
sejenak, dilihatnya Sindangsari meggeliat. Namun ia tidak sempat
berbuat apa-apa, karena Pamot telah melangkah maju* sambil berkata
"Menyingkirlah, dan jangan ganggu perempuan itu lagi" Dada Manguri
serasa meledak karenanya. Ia tidak menjawab lagi. Namun dengan
tiba-tiba saja ia telah menyerang Pamot dengan garangnya. Serangan
itu telah mengejutkan Pamot. Tetapi ia segera menguasai perasaannya,
sehingga ia masih sempat menghindari serangan Manguri yang datang
dengan tiba-tiba itu. Dengan demikian, maka keduanyapun kemudian
telah terlibat dalam perkelahian pula. Manguri mencoba berjuang
sekuat-kuatnya untuk dapat mengimbangi Pamot. Selama ini ia tidak
pernah menjadi cemas, karena ia selalu dilindungi oleh Lamat. Tetapi
kini Lamat telah memilih jalannya sendiri. Sehingga dengan demikian
ia harus berjuang sendiri untuk menyingkirkan Pamot. Tetapi Manguri
masih berpengharapan, karena ayahnya masih berdiri bebas. Ia
mengharap bahwa ayahnya akan membantunya dan bersama-sama
membinasakan Pamot. Dengan demikian maka, Manguripun telah mencoba
menggeser diri sambil bertempur mendekati ayahnya yang berdiri
termangu-mangu memandang perkelahian itu. Tetapi ternyata bahwa ayah
Manguri tidak dapat berbuat apa-apa. Meskipun ia melihat anaknya
bertempur melawan Pamot, namun ia masih tetap berdiri saja di
tempatnya. Di sampingnya berdiri seorang yang berdahi lebar dan
bermata tajam, Orang itu adalah Jagabaya di Prambanan. "Biarkan saja
mereka berkelahi" berkata Ki Jagabaya "kau tidak perlu
mencampurinya. Bukankah kau suami perempuan yang rumahnya terbakar
itu?" Ayah Manguri tidak menyahut. "Perempuan itu hampir diusir dari
padukuhan ini" berkata Ki Jagabaya selanjutnya "tetapi aku masih
mencegahnya. Aku masih ingin menunggu, barangkali suaminya dapat
berbuat sesuatu untuk memperbaiki tingkah lakunya" Ayah Manguri
mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia tertarik kepada ceritera Ki
Jagabaya. "Tetapi kau juga ikut bersalah, karena kau terlampau lama
meninggalkan setiap kali. Kau jarang-jarang datang ke rumah ini.
Justru karena ia pernah bersuami, dan suaminya tidak pernah datang
kepadanya itulah yang telah membuatnya berbuat tidak senonoh di
padesan ini. Tetapi ketika ia dipanggil oleh tetua padukuhan, ia
sudah berjanji untuk memperbaiki kelakuannya" Dada ayah Manguri
menjadi semakin berdebar-debar. Namun tiba-tiba ia seakan-akan
terbangun dari tidurnya. Anaknya sedang bertempur mati-matian
melawan Pamot. Tidak selayaknya ia memikirkan kepentingannya
sendiri. Kalau perempuan ini memang pernah berbuat gila, biarlah
rumahnya terbakar, dan ia tidak akan datang lagi ke padukuhan ini.
"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur" desis Ki Jagabaya. "Tetapi
itu anakku" jawabnya. Anakmu bersalah. Ia mengelabui orang-orang di
sekitar rumah ini. Kau katakan perempuan yang dilarikan oleh anakmu
itu perempuan gila. Aku tahu sekarang, bahwa perempuan itu adalah
isteri Ki Demang di Kepandak. Adalah tugas kami untuk saling
menolong. Suatu saat, kami memerlukan pertolongan Ki Demang di
Kepandak kalau terjadi sesuatu atas Kademangan ini, dan pelakunya
berada di Kepandak" Ayah Manguri hanya dapat mengatupkan giginya
rapatrapat. Ia tidak tahu, apakah Ki Jagabaya mempunyai kemampuan
cukup untuk melawannya. Tetapi Ki Jagabaya mempunyai pengaruh yang
besar di padukuhan ini, sehingga apabila ia memberi isyarat sedikit
saja, maka orang-orang yang semula ketakutan, pasti akan berpikir
sekali lagi. Apalagi apabila mereka sudah melihat Ki Jagabaya itu
ikut bertempur. Perkelahian di halaman belakang rumah isteri muda
ayah Manguri itu menjadi semakin seru. Ki Reksatani dan Lamatpun
seolah-olah telah sampai pada puncak kemampuan masingmasing. Sedang
di bagian lain anak-anak muda Kali Mati dan Sembojan berkelahi
dengan sengitnya pula. Ternyata bahwa orang-orang Ki Reksatani dan
sisa-sisa orang-orang Manguri mempunyai pengalaman berkelahi lebih
banyak dari anak-anak muda itu. Hanya beberapa orang yang
benar-benar telah mengalami tempaan lahir batin di dalam perjalanan
ke Betawi sajalah yang sama sekali tidak gentar menghadapi
lawan-lawan mereka, betapapun buas dan kasarnya tandang mereka.
Sedang Pamot yang telah pernah menyimpan dendam kepada Manguri,
seolah-olah kini teraduk kembali. Dengan penuh kemarahan ia
mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera mengalahkan Manguri,
agar anak itu tidak mengganggunya lagi, apabila ia akan membawa
Sindangsari kembali ke Kepandak. Tetapi Manguripun berusaha melawan
sebaik-baiknya. Ia telah memeras seluruh tenaganya. Ia sama sekali
tidak rela, apabila Pamot masih juga menyentuh Sindangsari yang
selama ini seakan-akan telah menjadi wewenangnya. Namun,
bagaimanapun juga Manguri berjuang, ternyata Pamot memiliki ilmu
yang lebih tinggi. Dengan demikian, maka Manguripun segera dapat
didesaknya. Dalam pada itu, Ki Reksatani yang bertempur melawan
Lamatpun telah sampai pada ujung kemampuan mereka Ki Reksatani yang
tidak terkalahkan itu ternyata mengalami kesulitan melawan raksasa
yang tiba-tiba menjadi demikian garangnya. Apalagi Lamat memiliki
kekuatan jasmaniah yang luar biasa. Tetapi meskipun ayah Manguri
tidak dapat ikut bertempur, namun ia tidak tinggal diam. Ia sadar,
bahwa kata-katanya dapat menyentuh hati Lamat. Dengan demikian ia
akan dapat memperlemah perlawanannya, meskipun ayah Manguri itu
masih belumtahu, apa yang akan terjadi kemudian. "Lamat" berkata
ayah Manguri kemudian "apakah kau sudah benar-benar melupakan
keluargaku? Mungkin kau tidak bersangkut paut dengan Ki Reksatani,
tetapi kau tidak dapat berbuat demikian kepadaku" Lamat
menggeretakkan giginya. Ia memusatkan segenap perhatiannya kepada
sepasang senjata Ki Reksatani yang sangat berbahaya baginya. Kalau
keris pusaka itu berhasil menyentuh kulitnya, maka itu akan berarti
maut baginya. "Lamat" Ayah Manguri masih berkata terus "ingatlah. Di
saat kau diterkam oleh maut di masa kecilmu, akulah yang menolongmu.
Saat itu rumahmu terbakar, ayahmu dan ibumu tidak dapat
menghindarkan dirinya karena perampokperampok yang datang ke rumahmu
itu. Akulah yang sempat menyelamatkan kau, meskipun menyesal sekali,
aku tidak dapat menolong ayah dan ibumu. Aku telah menyabung nyawaku
melawan perampok-perampok itu. Akhirnya kau selamat. Aku telah
memeliharamu sampai kau menjadi dewasa, dan kini kau telah tumbuh
menjadi seorang raksasa yang perkasa" "Cukup, cukup" tiba-tiba Lamat
berteriak. Suaranya menggelegar memenuhi halaman. Namun dengan
demikian ayah Manguri yakin, bahwa usahanya akan berhasil. Karena
itu ia berniat untuk terus mempengaruhi perasaan raksasa itu. Tetapi
sebelum ia berkata sesuatu lagi, Ki Jagabaya berdesis "Kau memang
orang yang cerdas. Kau dapat bertempur tanpa bergeser dari tempatmu.
Bukankah dengan demikian kau telah ikut menentukan kekalahan raksasa
itu?" "Tidak. Aku berkata sebenarnya. Aku menyayanginya. Aku mencoba
untuk menyadarkannya dari kekhilafan itu" Dada Lamat benar-benar
telah bergelora. Karena itu, sekali lagi ia berteriak "Pamot, bawa
Sindangsari pergi. Bawa ia secepatnya kepada suaminya, Ki Demang di
Kepandak, sebelum aku kehilangan kemampuanku melawan hantu ini"
"Diam kau, diam" bentak Ki Reksatani. Tetapi Ki Reksatanipun tidak
dapat berbuat banyak selain membentakbentak, karena Lamat masih
mampu menjaga keseimbangan perkelahian itu, betapapun perasaannya
mulai dirayapi oleh kepahitan hidup di masa kanak-kanaknya. Pamot
mendengar suara Lamat itu. Tetapi ia masih bertempur melawan Manguri
meskipun ia yakin bahwa ia akan dapat mengalahkannya. Namun ia
memerlukan waktu. Ia memerlukan waktu untuk menumpahkan kemarahan
yang selama ini telah terangkat kembali di dadanya. "Aku bunuh anak
ini" ia menggeram. Segores luka telah menyilang di pundak Manguri
yang menyeringai kesakitan. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan suara
Lamat, sehingga dengan demikian, ia justru menjadi termangu-mangu
sejenak, sehingga kadang-kadang ia kehilangan pengamatan diri di
dalam perkelahian itu. Bahkan sekali-sekali ia harus meloncat surut
ketika ujung pedang Manguri hampir menyobek dadanya. Selagi Pamot
menggeram sambil memusatkan segenap perhatiannya kepada ujung
senjata lawannya, tiba-tiba seseorang meloncat di hadapannya dengan
pedang telanjang. Orang itu langsung bertempur melawan Manguri
sambil berkata "Pamot, kau dengar suara Lamat?" Orang itu adalah
Punta. agaknya ia dapat membebaskan diri dari lawannya, dan berusaha
untuk menggantikan Pamot. "Biarlah aku membunuhnya" Pamot menggeram
"aku sudah melukainya. Sebentar lagi ia akan kehilangan segenap
darahnya, dan ia akan mati terkapar di tanah" Manguri berdesir
mendengar suara Pamot. Suara itu seakan-akan bukan suara Pamot
sehari-hari. Seakan-akan suara yang geram itu bergetar dari dasar
api yang paling panas, dan siap menyeretnya ke dalamnya. Manguri
menjadi ngeri karenanya. Selama ini ia t idak pernah gentar
berhadapan dengan siapapun. Tetapi kini ia sadar, bahwa hal itu
bukan karena kepercayaannya kepada diri sendiri. Tetapi selama itu
ia mempercayakan dirinya kepada Lamat. Raksasa yang jinak itu,
tetapi yang pada suatu saat telah terbangun dan menjadi seakan-akan
liar bagi Manguri. Dan kini, dalam keadaan yang dirasakannya
terlampau lemah itu ia berdiri berhadapan dengan Pamot yang sedang
diamuk oleh kemarahan. Namun dengan demikian, Manguri yang merasa
dirinya tidak dapat mengelak lagi itupun menjadi seperti orang
kesurupan. Dibayangi oleh keputus-asaan ia berkelahi seperti
serigala kelaparan. Kini Punta datang untuk menggantikan Pamot. Bagi
Manguri Punta dan Pamot hampir tidak ada bedanya. Keduanya adalah
hantu-hantu bertangan maut yang dapat saja setiap saat mencabut
nyawanya. Namun yang lebih menyakitkan hatinya kemudian adalah
kata-kata Punta "Pamot, jangan hiraukan kelinci ini. Tanpa Lamat ia
tidak berarti apa-apa. Sekarang, selamatkan Sindangsari. Seorang
kawan Rajab telah menyiapkan seekor kuda buatmu, dan seekor lagi
buat seseorang yang akan mengawanimu. Cepat, bawa Sindangsari kepada
suaminya sebelum mengalami sesuatu disini" Pamot ragu-ragu sejenak.
Justru karena itu, hampir saja sekali lagi senjata Manguri
mengenainya. Untunglah Punta sudah siap mengambil alih perkelahian
itu, sehingga senjata Manguri itu telah membentur senjata Punta.
Pamotpun kemudian terdesak ke samping ketika Punta mulai
menggerakkan senjatanya. Sekali lagi Punta berkata "Jangan
termangu-mangu seperti orang linglung. Cepat berbuatlah sesuatu"
Pamot mundur selangkah. Dan kini ia mendengar suara Lamat "Cepat
Pamot. Lakukanlah. Aku akan menahan iparnya yang telah berkhianat"
"Diam kau" bentak Ki Reksatani "kau juga telah berkhianat" "Ya. Kita
sama-sama pengkhianat. Karena itu, apapun yang akan terjadiatas kita
berdua, tidak sepantasnya mendapat perhatian. Kita akan sama-sama
mati dan dicampakkan ke dalam tempat sampah dan akan dikubur di
bawah timbunan kotoran yang paling hina" "Diam, diam" bentak Ki
Reksatani "aku bukan pengkhianat, tetapi aku didorong oleh
cita-cita" "Darimana kita memandang, aku dapat menyebut diriku
sedang memperjuangkan sendi-sendi kemanusiaan yang akan kau
tumbangkan bersama orang-orangmu di Kepandak" "Omong kosong" teriak
Ki Reksatani sambil menyerang semakin garang. Pamot masih saja
termangu-mangu. Namun sejenak kemudian seorang anak muda
menggamitnya sambil berbisik "Pamot, kuda itu sudah siap" Pamot
menjadi berdebar-debar. Dilihatnya Sindangsari yang masih terbaring,
meskipun sekali-sekali ia sudah menggeliat. "Cepat" Pamot masih
berdiri termangu-mangu. Bahkan sejenak disapunya halaman belakang
itu dengan tatapan matanya. Ia melihat perkelahian yang tersebut di
halaman itu. Agaknya anak-anak muda Kali Mati dan Sembojan telah
membantu mereka dengan segenap hati, ditunggui oleh Ki Jagabaya
sendiri. Sedang beberapa puluh orang Sembojan yang dengan
cemas-cemas menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan, seakan-akan
semuanya memandang ke arahnya. "Percayalah. Semuanya akan dapat
dibatasi disini" desis anak muda itu "Kalau perlu, Ki Jagabaya tidak
akan segansegan berbuat sesuatu. Orang-orang yang ketakutan itu akan
segera terbangun apabila mereka mendengar perintah Ki Jagabaya di
saat-saat yang berbahaya" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi ketika ia melangkah maju mendekati, langkahnyapun tertegun.
Tibatiba saja ia merasa, ada dinding penyekat yang kuat membatasinya
dengan perempuan itu. Sendangsari kini sudah menjadi isteri orang
lain. "Cepat Pamot. Kenapa kau menjadi bingung" teriak Punta yang
tidak sabar lagi melihat sikap Pamot yang termangumangu "Apakah kau
menunggu Sindang sari mat i di pertempuran ini?" Tiba-tiba Pamot
tersadar. Ia harus menolong perempuan itu. Siapapun juga. Namun ia
adalah isteri Ki Demang di Kepandak. Seperti juga yang lain, mereka
menyerahkan dirinya di dalam suatu sikap itu. Menolong sesama.
Pamotpun kemudian menggeretakkan giginya. Ia mencoba mengusir
segenap perasaan yang ada padanya. Ia mencoba melepaskan dirinya
dari kenangan dan ikatan yang pernah ada. Meskipun ia masih juga
ragu-agu, tetapi iapun kemudian mendekati Sindangsari dan berjongkok
di sampingnya. Dadanya berdesir ketika ia melihat Sindangsari mulai
menggerakkan kepalanya. Namun ia tidak sempat berpikir lagi, ketika
sekali lagi anak muda itu menggamitnya "Kudamu sudah siap, dan
seorang kawanmu dari Gemulungpun sudah siap pula mengantar kau
kembali membawa Nyai Demang di Kepandak" Pamot tidak lagi mau
berpikir. Dengan hampir memejamkan matanya, Pamot mulai berbuat
sesuatu. Ia bergeser maju, dan sambil menggeretakkan giginya, untuk
mendorong kekuatan hatinya, Sindangsaripun kemudian diangkatnya
diatas kedua tangannya. Perempuan yang masih sangat lemah itupun
sama sekali belum menyadari sepenuhnya apa yang telah terjadi
atasnya. Ketika ujung jari-jari Pamot menyentuh tubuh Sindangsari,
terasa, seakan-akan darahnya berhenti mengalir. Hanya dengan
menghentakkan diri ia mendapatkan kekuatan untuk mendukung
Sindangsari itu keluar dari halaman belakang rumah isteri muda ayah
Manguri itu. Ki Reksatani masih sempat melihat Pamot membawa
Sindangsari yang lemah itu diatas kedua tangannya. Terasa jantung
seolah-olah telah tersayat. Betapa kemarahan yang tidak tertahankan
meledak-ledak di dalamdadanya. "He, anak gila" Ki Reksatani
berteriak "lepaskan perempuan itu. Kau akan menyesal kalau kau tidak
mau mendengar katakataku" Tetapi Pamot sama sekali tidak berpaling.
Apalagi ketika ia mendengar kata-kata Lamat "Jangan hiraukan Pamot.
Cepat, tinggalkan nereka ini" Pamot melangkah semakin cepat. Dan ia
masih mendengar Ki Reksatani berteriak kepada anak buahnya "Tahan
anak itu. Jangan biarkan perempuan itu dibawa pergi" Tetapi tidak
seorangpun dari anak buahnya yang dapat mencegah Pamot meninggalkan
halaman itu. Dengan hati-hati ia meloncati pagar dibantu oleh anak
muda yang menyediakan kuda untuknya. "Pergilah" berkata anak muda
itu "itu kudamu" Pamot melihat dua ekor kuda yang besar di halaman
rumah tempat ia bersembunyi bersama kawan-kawannya. Kuda itu seperti
kudanya yang ditinggalkannya di Kali Mati. Kuda yang didapat dari
Mataram. "Kami akan memelihara kudamu baik-baik. Pakailah kudaku"
Pamot memandang anak muda itu. Ia belum begitu mengenalnya. Mungkin
ia pernah melihatnya di dalam perjalanan ke Betawi. Tetapi ia tidak
ingat lagi. "Jangan hiraukan orang-orang yang kini sedang bertempur
itu. Aku kira anak-anak muda Sembojan dan Kali Mati akan dapat
menguasainya Apalagi ada Punta dan seorang anak Gemulung" anak muda
itu berhenti sejenak, lalu "terlebih-lebih lagi seorang yang
bertubuh raksasa itu. Tanpa orang itu, aku kira memang sulit untuk
menguasai orang yang bernama Reksatani itu" Pamot menganggukkan
kepalanya. Bersama seorang kawannya yang datang dari Gemulung. Iapun
kemudian naik ke punggung kudanya sambil mendukung Sindangsari.
Ditolong oleh kawannya, perlahan-lahan Sindangsari diletakkannya di
dalam tangan Pamot. "Selamat jalan" berkata anak muda itu
"berhati-hatilah. Bukan perjalanan yang dekat. Kau akan melampaui
malam ini dan mungkin kau masih harus berpacu besok sampai matahari
sampai ke puncak. Kau tidak dapat terlampau cepat, dan mungkin
perempuan ini dapat menimbulkan pertanyaan di sepanjang
perjalananmu" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar bahwa
perjalanannya bukanlah perjalanan tamasya dengan seorang gadis
menjelang hari perkawinan. "Aku akan mengambil jalan memintas.
Mungkin jalannya kurang baik. Tetapi sejauh mungkin dapat
menghindari kecurigaan orang lain. Mudah-mudahan aku dapat sampai ke
Kademangan Kepandak dengan selamat" Pamot menarik nafas dalam-dalam.
Ketika tanpa disadarinya ia memandang wajah Sindangsari yang pucat,
terasa dadanya berdesir. Namun dihalaunya segala macam perasaannya
yang melonjak di dadanya. sebala macam perasaan yang melonjak di
dadanya. Kini ia berada dalam keadaan yang serba cepat. Karena itu
maka iapun kemudian berkata "Terima kasih atas semua pertolonganmu,
Rajab dan kawan-kawan yang lain dari Kademangan ini. Terima kasih
pula kepada Ki Jagabaya dan para bebahu yang telah melindungi kami.
Aku akan segera minta diri. Mudah-mudahan Tuhan Yang Kuasa
melindungi perjalananku" Anak muda itu mengangguk. Dengan hati yang
berat ia melepaskan Pamot membawa Sindangsari meninggalkan halaman
rumah itu, dikawani oleh seorang anak muda dari Gemulung pula.
Sejenak kemudian, maka kedua ekor kuda itupun sudah berderap di
kegelapan malam meninggalkan daerah peperangan yang semakin kisruh,
serta menjauhi api yang seakan-akan menyala dari dalamneraka. Tetapi
api itu semakin lama menjadi semakin susut. Rumah isteri muda ayah
Manguri itupun telah habis menjadi abu. Satu-satu masih terdengar
sepotong bambu yang meledak, kemudian gemersik sisa-sisa kayu dan
dinding yang masih menyala. Sepeninggal Pamot, maka kemarahan Ki
Reksatani bagaikan memecahkan dinding dadanya. Hampir tidak masuk
diakalnya, bahwa yang terjadi sama sekali jauh dari yang diduganya.
Ia sama sekali tidak memperhitungkan pengkhianatan Lamat, tidak
memperhitungkan kekuatan anakTiraikasih Website http://kangzusi.com/ anak Sembojan
dan sekitarnya. Tetapi kini semuanya itu harus dihadapinya. Sambil
menggeram Ki Reksatani mengerahkan segenap kemampuan yang ada
padanya. Bukan sia-sia ia disebut orang yang tidak terkalahkan di
Kademangan Kepandak. Semua ilmu yang ada padanya, semua kekuatan dan
kemampuan, semua tenaga cadangannya lelah dikerahkannya untuk segera
dapat mengalahkan lawannya. Namun Lamat melawannya dengan segenap
kemampuan yang ada padanya pula. Dengan demikian, maka perkelahian
merekapun menjadi semakin lama semakin seru. Seolah-olah mereka sama
sekali bukan terdiri dari daging dan tulang yang dapat kehilangan
kekuatan dan kemampuan apabila telah sampai pada batas
kemungkinannya. Derap kaki-kaki kuda Pamot membuat darah Ki
Reksatani benar-benar mendidih. Hampir di luar sadarnya, iapun
berteriak "Sediakan kudaku" Beberapa orangnya mendengar teriakan
itu. Tetapi mereka masih terikat dalam perkelahian sehingga sulitlah
bagi mereka untuk melepaskan diri. Namun demikian, mereka menyadari,
bahwa Ki Reksatani harus dapat menyusul Pamot yang membawa
Sindangsari itu. Kalau keduanya berhasil mencapai Kademangan
Kepandak, maka Ki Reksatani dan orang-orangnya tidak akan banyak
mengalami kesulitan. Karena itu, bagaimanapun juga, salah seorang
dari orang Ki Reksatani itupun dengan susah payah berhasil
menyelinap diantara perkelahian itu. Dengan tergesa-gesa ia berlari
ke tempat kuda mereka tertambat. Yang kemudian dipersiapkan, bukan
saja kuda Ki Reksatani, tetapi kuda-kuda yang lainpun telah
dipersiapkan pula. Ia menyadari, apabila perlu, maka kuda-kuda
itupun pasti akan dipergunakan juga. Tetapi ternyata terlampau sulit
bagi Ki Reksatani untuk dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan
segera. Betapa ia mencoba mengerahkan semua kekuatan yang ada, namun
ia tidak dapat memaksakan kehendaknya dengan cepat, sesuai dengan
keinginannya. Dengan demikian, betapapun kemarahan, kecewa dan
dendam membara di hatinya, tetapi ia masih harus tetap bertempur
terus dengan sekuat tenaganya. Dalam pada itu, Pamot telah berusaha
memacu kudanya secepat dapat dilakukan. Di belakangnya seorang
kawannya selalu mengikutinya. Mungkin di perjalanan Pamot memerlukan
bantuannya, dan mungkin pula Pamot memerlukan seorang saksi apabila
ia menghadap Ki Demang di Kepandak untuk menyerahkan Sindangsari,
bahwa bukan Pamotlah yang telah menyembunyikannya. Mereka telah
memilih jalan melintas. Jalan yang lain dari yang ditempuhnya ketika
mereka berangkat ke Kali Mati. Meskipun jalan yang ditempuhnya kini
agak lebih jelek dari jalan di saat mereka berangkat, tetapi Pamot
menganggap bahwa jalan ini adalah jalan yang paling aman. "Asal aku
t idak tersesat" desisnya di dalam hati. Dan kudanyapun berlari
terus, melalui pategalan dan jalan setapak di hutan rindang.
Kadang-kadang mereka melalui bulak yang panjang di tengah-tengah
padang rumput dan tanah-tanah tandus mereka harus menyusup rimbunnya
daundaun perdu yang berserakan, sulur-sulur batang-batang merayap
dan batang-batang ilalang. "Aku agak bingung" desis Pamot kemudian.
"Jalan terus" berkata kawannya "kita akan sampai ke Tanjung Sari,
kemudian kita akan menyusup hutan dan melingkari rawa-rawa. Kita
akan sampai ke Tegal Payung. Kita akan melingkar kekanan" "Kalau
sudah sampai di sana, barangkali aku tidak akan bingung lagi" "Nah,
teruslah" Pamot berpacu terus. Tetapi terasa tangannya yang menahan
tubuh Sindangsari menjadi lelah. Meskipun demikian ia harus berusaha
melayaninya terus, agar perempuan itu tidak terjatuh. Ternyata angin
yang silir telah membuat tubuh Sindangsari menjadi semakin segar.
Perlahan-lahan ia mulai menyadari dirinya. Tetapi ia tidak segera
dapat menangkap getaran di luar dirinya itu. Ia tidak segera
mengerti, dimanakah ia, dan dalam keadaan bagaimana. Sindangsari
merasa tubuhnya seakan akan telah diguncang-guncang. Kemudian sebuah
desir angin yang halus mengusap wajahnya, seolah-olah belaian tangan
ibunya di masa kanak-kanaknya. Tetapi Sindangsari tidak segera
berani membuka matanya. Ia mencoba memulihkan kesadarannya
sepenuhnya. Karena itu meskipun ia telah sadar, tetapi ia masih
tetap memejamkan matanya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah
terjadi atas dirinya. Tiba-tiba bulu-bulunya meremang ketika ia
berhasil mengingat di saat-saat terakhir. Ia dapat mengingatnya
kembali, bagaimana ia menuangkan minyak pada dinding dari lampu yang
ada di dalam biliknya. Kemudian menimbuninya dengan kayu-kayu yang
ada di dalam bilik itu. Dingklik, petipeti kayu, pembaringan dan
tikar. Bahkan semuanya yang ada di dalam bilik itu. Kemudian dengan
api pelita itu pula, semuanya itu dibakarnya. Api yang menyala
itupun segera menyambar dinding. Karena api yang memang sudah
berkobar, maka dengan cepatnya, dinding biliknya itupun menyala
pula. Sindangsari masih ingat, seseorang telah berteriak di luar
biliknya. Tetapi ia tidak menghiraukannya lagi. Ia sudah pasrah
diri, bahwa api pasti akan menelannya. Tetapi tiba-tiba dinding
biliknya seakan-akan menjadi pecah Seseorang telah meloncat masuk
dan menyambarnya. Betapapun ia berusaha melepaskan diri, namun
akhirnya ia harus menyerah. Menerobos api yang berkobar, mereka
berhasil keluar meskipun sebagian dari tubuh dan pakaiannya telah
terbakar. Sesudah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi. Pingsan. "Apakah
aku sudah mati?" Ia bertanya kepada diri sendiri "dan sekarang aku
sedang dalam perjalanan ke sorga atau ke dalam api neraka?" Terasa
dada Sindangsari berdebaran. Perlahan-lahan ia mencoba merasakan,
apa yang telah terjadi atas dirinya kini. "Aku sedang didukung oleh
malaikat ke surga atau ke neraka" katanya pula di dalamhati.
Perlahan-lahan ia mencoba membuka matanya. Namun sebelum ia melihat
sesuatu, matanya telah di pejamkannya lagi. Ia tidak berani
memandang wajah pendukungnya. Mungkin wajah itu putih dan bersinar,
tetapi mungkin merah seperti api dengan lidahnya yang terjulur
panjang. Tetapi Sindangsari itu terkejut ketika ia mendengar suara
"Langit sudah menjadi merah" "Ya" jawab suara yang lain. Sindangsari
mencoba untuk mempertajam kesadarannya. Ketika angin yang sejuk
mengusap wajahnya, ia menarik nafas dalam-dalam. Namun kepalanya
masih terasa pening, dan ingatannya kadangkadang masih seperti
bayangan di dalam mimpi, meskipun sudah lengkap. "Sebentar lagi,
matahari akan terbit" suara itu terdengar lagi. Dan terasa oleh
Sindangsari bahwa ia menjadi semakin terguncang. Bahkan kini ia
mendengar derap kaki kuda. "Aku harus sampai ke tujuan sebelum
matahari terbit?" katanya di dalam hati "mungkin ke tempat yang
menyenangkan, tetapi mungkin aku mendapat tempat yang paling panas
di dasar neraka, karena aku telah membunuh diri" Tiba-tiba terasa
tubuhnya meremang. Namun derap kaki kuda yang didengarnya itupun
merupakan persoalan baginya. Akhirnya Sindangsari memaksa dirinya
untuk membuka matanya. Perlahan-lahan sekali. Di dalam kesuraman
cahaya fajar ia melihat seraut wajah. Semakin lama menjadi semakin
jelas. Wajah yang tegang dan basah oleh keringat dan embun.
Tiba-tiba bibir Sindangsari bergerak. Tetapi tidak ada suara yang
meloncat dari mulutnya, meskipun ia mengucapkan nama "Pamot. Apakah
aku melihat Pamot" Pamot masih belum mengetahui, bahwa Sindangsari
sudah membuka matanya. Ia masih memacu kudanya sambil mengerutkan
wajahnya yang tegang. Dipandanginya jalan sempit yang menjelujur
dihadapan kaki-kaki kudanya. Jalan setapak yang berbatu-batu.
Sindangsari memandang wajah Pamot tanpa berkedip. Seakan-akan ia
tidak percaya kepada matanya. Namun sejenak kemudian timbullah
dugaan di dalam hatinya "Oh, aku benar-benar sudah mati. Agaknya
Pamot juga sudah mati di perjalanan ke Betawi. Dan kini ia menjemput
aku" Tanpa sesadarnya Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Ketika
sekali lagi ia terguncang agak keras, tiba-tiba saja tangannya sudah
berpegangan pada lambungi Pamot. Pamot terkejut. Ditundukkan
kepalanya, dan dilihatnya bahwa Sindangsari sudah membuka matanya.
Ketika tatapan mata mereka bertemu, terasa dada mereka berdesir
tajam. Sejenak mereka terpukau oleh keadaan itu. Namun sejenak
kemudian Pamot berhasil menguasai perasaannya dan berkata "kau sudah
sadar Sari?" "Dimanakah aku sekarang?" bertanya Sindangsari. "Kau
berada di perjalanan" "Apakah kita akan pergi ke surga?" Pamot
mengerutkan keningnya. Katanya "Kau belum sadar sepenuhnya. Kau
masih mengigau" "Aku sudah sadar sepenuhnya. Tetapi apakah aku masih
tetap hidup bersama wadagku. Dan apakah aku masih hidup?" "Ya, kau
masih hidup, seperti aku juga masih hidup" "O" Sindangsari mencoba
mengangkat wajahnya. Kini ia melihat dengan jelas, pepohonan yang
tumbuh di sebelah menyebelah jalan yang mereka lalui. Maka
Sindangsari mulai yakin, bahwa ia memang masih hidup. Apalagi ketika
terasa kulitnya yang pedih karena sentuhan api yang hampir
membakarnya hidup-hidup. "Jadi" suara Sindangsari tertahan. "Ya, kau
selamat" Sindangsari menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
terasa sesuatu melonjak di hatinya. Hampir di luar sadarnya ia
bertanya "Kenapa kau dapat menemukan aku?" "Kelak aku akan
mengatakannya. Kini tidak ada waktu. Kita harus menyelamatkan diri
kita" "Kita akan pergi kemana?" "Kembali ke Kepandak" "Kepandak?
"Ya" Terasa dada Sindangsari berdesir. Nafasnya menjadi
tersengal-sengal. Perasaan pedih di kulitnya semakin lama justru
menjadi semakin terasa. "Kau sudah dapat duduk sendiri?" bertanya
Pamot. Sindangsari tidak menjawab. Namun kemudian wajahnya
tertunduk. Ia baru menyadari, bahwa ia bersandar pada tangan Pamot
yang menjaganya agar tidak terjatuh. "Aku akan duduk sendiri"
berkata Sindangsari. Pamotpun kemudian menolongnya untuk duduk
sendiri. Tetapi ketika kudanya meloncati sebuah batu, hampir saja
Sindangsari telempar jatuh, sehingga tanpa disengaja oleh gerak
naluriah ia berpegangan pada leher Pamot, dan Pamotpun menangkapnya
pula. Terasa sesuatu menjalari urat darah mereka sampai ke jantung,
sehingga seakan-akan dada mereka menjadi sesak. Sekilas Pamot
memandang wajah Sindangsari yang ketakutan dan seakan-akan mengharap
perlindungan kepadanya. Sepenuhnya. Tetapi perlahan-lahan
Sindangsari melepaskan tangannya. Sekali lagi perempuan itu mencoba
duduk sendiri, miring, diatas punggung kuda. Keduanya kemudian tidak
berbicara lagi. Tetapi dada merekalah yang bergelora dengan
dahsyatnya. Tanpa mereka kehendaki sendiri, maka kenangan masa-masa
lampau mereka terbayang kembali di dalam kepala mereka, seakan-akan
baru saja kemarin terjadi. Bagaimana mereka pertama kali bertemu.
Bagaimana Pamot telah menjauhkannya dari Manguri yang mula-mula
dikaguminya. Dan bagaimana akhirnya hatinya telah tersangkut pada
anak muda itu. Terbayang pula, di saat-saat Ki Demang di Kepandak
mengunjunginya untuk yang pertama kali, setelah terjadi perselisihan
antara Manguri dan Pamot. Bagaimana akhirnya Ki Demang memaksakan
kehendaknya, mengambilnya sebagai isterinya. Dan hampir berbareng,
terkenang pula oleh keduanya, saat-saat Pamot minta diri kepada
Sindangsari di suatu malam. Saat-saat mereka kehilangan kendali dan
terjerumus ke dalam suatu perbuatan yang dapat menodai kesucian
hubungan mereka, sehingga Sindangsari sadar sepenuhnya bahwa karena
itu ia mengandung. Dan kini ia telah berada kembali bersama-sama
anak muda yang bernama Pamot itu, tetapi justru setelah ia menjadi
isteri Ki Demang di Kepandak. Tiba-tiba Sindangsari menutup wajahnya
yang menjadi kemerah-merahan dengan kedua tangannya. Semuanya itu
seakan-akan terjadi kembali di saat itu di hadapan matanya. Pamot
yang juga tenggelam di alam angan-angannya, terkejut melihat tingkah
Sindangsari. Tiba-tiba saja perempuan itu telah menutup wajahnya
dengan kedua tangannya. Tetapi Pamotpun segera sadar, bahwa seperti
dirinya sendiri, Sindangsari pasti sedang mengenangkan peristiwa
yang memalukan itu. Namun keduanya tidak berkata apapun juga. Kuda
mereka masih berderap terus. Untunglah bahwa kuda itu adalah kuda
yang tegar dan kuat, sehingga meskipun harus membawa dua orang
sekaligus diatas punggungnya, namun kuda itu dapat juga berlari
cepat, meskipun tidak secepat apabila hanya ada seorang saja yang
duduk di punggungnya. Kawan Pamot yang berkuda di belakangnya,
melihat juga bahwa agaknya Sindangsari telah mendapatkan seluruh
kesadarannya kembali. Tetapi justru karena itu, maka ia memperlambat
lari kudanya, dan membuat jarak yang agak jauh. Sejenak kemudian
fajar menjadi semakin terang. Warna merah di langit telah menjadi
kekuning-kuningan oleh cahaya matahari yang semakin naik mendekati
cakrawala. Ketika cahaya matahari pagi yang pertama terlempar keatas
pepohonan, Sindangsari menundukkan kepalanya. Terasa dadanya
berdesir, ketika ia melihat dan menyadari, bahwa pakaiannya sama
sekali sudah tidak lengkap lagi. Hampir saja ia terpekik kecil
melihat kenyataan itu. Tetapi agaknya Pamot menyadarinya, sehingga
ia berkata "Jangan hiraukan apapun juga. Kau harus selamat sampai ke
Kepandak. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa setiap saat Ki
Reksatani dapat mengejar kita dan menangkap kita hidup atau mati.
Tetapi hampir pasti, bahwa ia menghendaki kematian kita, terutama
kau" Sindangsari mengerutkan keningnya. Sesaat ia melupakan
pakaiannya yang sebagian sudah terbakar hangus. Wajahnya menjadi
semakin pucat, dan dengan suara gemetar ia bertanya "Kenapa Ki
Reksatani ingin membunuh aku? Apakah aku sudah melakukan kesalahan
terhadapnya atau terhadap siapapun?" ia berhenti sejenak, lalu
"atau, atau memang Ki Demang di kepandak yang menyuruhnya membunuhku
karena kenyataan yang tidak dapat dilupakannya. Kenyataan tentang
diriku?" Pamot mengerutkan keningnya, Tetapi ia tidak sempat
menanyakan apakah yang dimaksud oleh Sindangsari itu. Bahkan ia
berkata "Jangan salahkan diri sendiri. Dan pembunuhan itu sama
sekali t idak ada sangkut pautnya dengan Ki Demang. Ki Demang sedang
berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mencarimu. Siapapun yang
mencoba menghalangi, akan dibunuhnya tanpa ampun lagi" "Tetapi
kenapa aku dibiarkannya dibawa oleh adiknya?" "Tentu tidak. Ki
Demang tidak tahu, bahwa kau telah dibawa oleh Ki Reksatani"
Sindangsari merenung sejenak. Meskipun samar-samar ada juga dugaan
di dalam hatinya, bahwa Ki Demang sengaja menyingkirkannya, tetapi
dengan cara yang tidak diketahui oleh orang lain. Pamot seolah-olah
melihat keragu-raguan itu, sehingga ia masih berusaha menjelaskan
"Ki Demang hampir kehilangan keseimbangan berpikir. Bahkan hampir
saja ia melawan seorang Senapati dari Mataram justru karena
pikirannya sedang disaput oleh kebingungan" Sindangsari tidak
menjawab, tetapi ia menganggukanggukkan kepalanya. Matahari yang
kemudian bertengger di punggung bukit tampak begitu cerahnya dipagi
yang segar. Angin berhembus dari Selatan menyusup dedaunan, membelai
wajah-wajah mereka yang sedang berpacu diatas punggung kuda. Di
belakang Pamot, kawannya mengikutinya dari kejauhan. Tetapi setiap
kali ia mengerutkan keningnya. Agaknya kuda Pamot semakin lama
menjadi semakin lambat. Pasti bukan karena kelelahan. Kuda itu
adalah kuda yang kuat dan tegar. Jarak yang mereka tempuhpun belum
terlampau jauh buat seekor kuda, meskipun kuda itu harus mendukung
dua orang sekaligus. Kawannya itu menarik nafas dalam-dalam.
Meskipun ia masih terlalu muda, tetapi ia mengetahui, bahwa sesuatu
pasti bergolak di dalam dada kedua orang itu. Dua orang yang pernah
terlibat dalam suatu ikatan perasaan anak-anak muda. Tetapi pada
suatu saat, anak muda itu merasa bahwa mereka benar-benar berada di
dalam bahaya. Matahari yang semakin tinggi seakan-akan
memperingatkannya, bahwa mereka harus berpacu semakin cepat. Apalagi
jalan di hadapan mereka, bukan saja sebuah lapangan yang penuh
dengan batang ilalang diseling oleh pohon-pohon perdu yang lebat,
namun mereka masih harus melingkari rawa-rawa, menyusup hutan-hutan
rindang dan meskipun hanya di bagian ujungnya, mereka akan melalui
hutan yang agak lebat juga, sebelum mereka sampai ke daerah yang
lapang dan berpenghuni. Tetapi di daerah itupun mereka masih
mempunyai beberapa persoalan. Bagaimana dengan perempuan yang duduk
dipunggung kuda bersama-sama dengan Pamot itu? Apakah hal itu tidak
akan menimbulkan persoalan, setidak-tidaknya di dalam hati mereka
yang melihatnya? Apalagi menilik pakaian Sindangsari yang sudah
tidak lengkap lagi itu?" Persoalan-persoalan itulah yang kemudian
memaksanya untuk mendekat pada Pamot. Meskipun ia harus mendeham
beberapa kali sebelum ia benar-benar berada di belakang kedua orang
itu. "Pamot " katanya kemudian "apakah kita dapat mempercepat
perjalanan kita?" Pamot tergagap. Seolah-olah ia baru terbangun dari
tidur. Terbata-bata ia menjawab "O tentu. Tentu" Namun kemudian ia
berkata "tetapi barangkali kuda ini memang sudah lelah" "Mungkin"
kata kawannya "karena itu, supaya kudamu tidak terlalu lelah, kita
tukar kuda kita" Pamot mengerutkan keningnya. Lalu Jawabnya
"Baiklah. Marilah kita tukar" Merekapun kemudian berhenti. Dengan
tergesa-gesa kawannya meloncat turun sambil berkata "Kita sampai ke
daerah rawa-rawa. Kita harus berpacu semakin cepat" "Ya, kita harus
mempercepat perjalanan ini" Pamotpun kemudian turun pula dari
kudanya. Kemudian ditolongnya Sindangsari perlahan-lahan turun pula
dari kuda itu. Ketika perempuan itu kemudian berdiri
terhuyung-huyung diatas tanah, semakin sadarlah ia bahwa pakaiannya
benarbenar sudah tidak pantas lagi, sehingga karena itu, maka
tibatiba ia berjongkok sambil menyilangkan kedua tangannya di
dadanya "Pakaianku sama sekali tidak pantas lagi. Aku malu sekali"
desis Nyai Demang di Kepandak. Pamot menarik nafas dalam-dalam.
Dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh. Yang dilihatnya hanyalah
batang-batang ilalang setinggi lututnya, dan di sana-sini
pohon-pohon perdu yang berserakan. "Tetapi kita harus berjalan
terus" berkata kawannya. "Aku tidak dapat meneruskan perjalanan
dengan pakaian begini "Sindangsari berhenti sejenak, lalu "bagaimana
aku nanti apabila kita sampai di Kepandak. Apa kata orang tentang
diriku" "Nyai Demang" berkata kawan Pamot "semua orang dapat
melihat, bahwa pakaian Nyai berlubang oleh api. Bekasnya sudah
mengatakan, kenapa pakaian Nyai menjadi compangcamping" Sindangsari
t idak menyahut. Tetapi tanpa disadarinya, iapun mengamati
pakaiannya yang telah sebagian dimakan api. "Pamot " berkata
Sindangsari kemudian "apakah aku akan kau biarkan dalam keadaan
ini?" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengerti, bagaimana
ia dapat menolong keadaan Sindangsari itu. "Nyai" berkata anak muda
kawan Pamot itu "sebentar lagi Ki Reksatani akan sampai di tempat
ini. Kalau sekarang Nyai Demang segan memakan pakaian yang telah
sobek dan berlubang-lubang oleh api itu? maka Ki Reksatani nanti
akan melepaskan seluruh pakaian Nyai. Nyai akan terbaring di tanah
ini tanpa selembar pakaianpun, selain noda-noda darah yang akan
membasahi tubuh nyai dan memerahi rerumputan ini, dan kita akan
terbunuh disini" Bulu-bulu Sindangsari meremang. Pamot yang kemudian
menyadari keadaannya berkata "Marilah. Kita jangan terlambat"
Sindangsari termangu-mangu sejenak, namun kemudian kawan Pamot itu
berkata "Baiklah, pakailah kain panjangku. Pakailah ikat kepalaku,
supaya Nyai Demang menjadi seperti seorang laki-laki. Banyak
keuntungan yang akan kita dapatkan dari kesan itu. Di perjalanan
nanti, apabila ada orang yang melihat kita berpacu, tidak akan
menyangka, kita melarikan seorang perempuan. Mungkin mereka
bertanya, kemana kita pergi. Tetapi kesan yang kita tinggalkan, tiga
orang laki-laki berpacu diatas punggung kuda dalam keadaan yang
aneh. Dua orang di antaranya naik diatas seekor kuda, sedang yang
lain, tidak memakai kain panjang dan ikat kepala" Pamot berpikir
sejenak, lalu "Jangan kau. Biarlah pakaianku saja yang dipakainya"
Tetapi anak muda itu menggeleng "Sama sekali t idak pantas. Bagi
yang belum mengenalmu, memang tidak akan menimbulkan kesan apapun.
Tetapi apabila kita memasuki Kepandak, maka akan dapat tumbuh dugaan
yang kurang mapan. Tanpa kain panjang dan ikat kepala, kau berkuda
bersama. Nyai Demang di Kepandak, sedangkan setiap orang tahu, maaf,
bahwa pernah ada sesuatu diantara kalian berdua di masa kegadisan
Nyai Demang" Pamot menundukkan kepalanya, sedang wajah Sindangsari
menjadi merah padam. "Cepatlah Pamot, ambillah keputusan" "Baiklah"
"Tetapi kain panjangku terlampau kotor. Debu dan lumpur melekat di
sana-sini" Anak muda itupun kemudian melepas kain panjangnya. Ia
hanya sekedar memakai celana dari selembar baju panjang. Kemudian
menyerahkan kain dan ikat kepalanya kepada Sindangsari. "Pakailah"
Sindangsari menerima kain dan ikat kepalanya itu. Tetapi ia masih
tetap berjongkok di tempatnya. "Cepat Sari, pakailah" Sambil
memandang kekejauhan Pamot dan kawannya menunggu Sindangsari selesai
mengenakan kain itu merangkapi pakaiannya yang telah sobek dan
terbakar. Kemudian dipakainya pula ikat kepala yang diberikan
kepadanya. Dengan demikian, maka Sindangsari tidak lagi jelas
sebagai seorang perempuan, meskipun pakaiannya tampak membingungkan.
Tetapi diatas punggung kuda bersama Pamot, maka kesan yang
pertama-tama, ia seorang laki-laki muda yang tampan. Sejenak
kemudian, mereka telah berada diatas punggung kuda yang sudah saling
ditukar. Mereka sadar, bahwa waktu yang ada sangat berharga. Karena
itu, merekapun segera berpacu kembali meneruskan perjalanan. Tetapi
setiap kali kawan Pamot yang berkuda di belakang menarik nafas
dalam-dalam. Pamot tidak dapat berkuda cukup cepat. Bahkan
kadang-kadang terlampau lambat. "Mereka harus sadar, bahwa bahaya
ada di belakang kita" desis kawan Pamot kepada diri sendiri. Dalam
pada itu, di Sembojan masih terjadi perkelahian yang seru. Ki
Reksatani masih bertempur melawan Lamat. Di bagian yang lain,
Manguri berkelahi dengan gigihnya melawan Punta. Sedang bertebaran
di halaman belakang rumah isteri muda ayah Manguri itu pertempuran
masih berlangsung terus. Beberapa orang laki-laki berusaha mendekati
arena, meskipun mereka tidak berani berbuat apa-apa, karena mereka
merasa t idak cukup mampu untuk terjun di dalam pertempuran yang
seru itu. Namun beberapa orang lain justru telah bersembunyi di
dalam rumah masing-masing, menutup pintu dan memaksa anaknya untuk
tetap berada di dalam biliknya masing-masing. "Apakah yang terdengar
ribut itu ayah?" bertanya seorang anak laki-laki yang terbangun.
"Tidur, tidur sajalah" Anak itu menjadi heran. Tetapi ia menjadi
semakin heran melihat ibunya yang gemetar "Tidur sajalah sayang"
Anak itu berbaring kembali di pembaringannya. Tetapi ia tidak lagi
dapat tidur. Suara hiruk pikuk itupun semakin jelas terdengar di
telinganya. Ki Jagabaya di Prambanan masih berdiri di sisi ayah
Manguri yang gelisah. Setiap kali ia bergerak, Ki Jagabaya itupun
berkata "Kau disini saja. Perkelahian ini akan segera selesai" Ayah
Manguri itu mengumpat-umpat di dalam hatinya. Apalagi ketika ia
melihat anaknya terdesak terus Apalagi lukalukanya menjadi semakin
parah. Bukan saja luka yang timbul oleh bekas senjata Pamot, tetapi
Puntapun telah berhasil melukainya pula. "Anak itu terluka" desis
ayahnya. Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa setiap
saat ayah Manguri itu akan kehilangan kesabaran dan meloncat ke
dalam pertempuran. Apalagi setelah dilihatnya anaknya menjadi
semakin lemah. Tetapi dengan demikian, maka iapun akan terjun pula
melawannya. Bukan saja menunggui penyelesaian itu. Dengan dada
berdebar-debar Ki Jagabaya dan ayah Manguri itu menyaksikan
pertempuran yang berlangsung dengan serunya. Apalagi pertempuran
antara Ki Reksatani dan Lamat. Namun ayah Manguri ternyata masih
juga berusaha melemahkan pertahanan Lamat dengan caranya "Lamat,
apakah kau masih dapat melihat api yang membakar sisa rumah itu? Api
itu hampir padam. Tetapi ketika aku menyelamatkan kau, api itu
seakan-akan justru akan membakar langit. Tetapi kau selamat saat
itu, meskipun aku sendiri terluka hampir di segenap tubuhku"
Tiba-tiba saja Lamat berteriak pula "Diam, diam" Ayah Manguri tidak
mau diam. Katanya "Sekarang, kebakaran telah terjadi lagi. Tetapi
tidak oleh perampokperampok yang merampok seisi rumah dan membunuh
ayah ibumu. Aku t idak pula perlu menolong kau, karena kau ternyata
seorang yang memiliki kemampuan luar biasa, yang barangkali kau
dapat dari setan-setan di pinggir kuburan. Bahkan kau sudah dapat
menolong dan menyelamatkan Nyai Demang di Kepandak" "Cukup, cukup"
Lamat berteriak-teriak seperti orang yang dihantui oleh
bayangan-bayangan yang menakutkan. Dengan demikian, maka pemusatan
pikiran dan tenaganyapun tertanggu. Kadang-kadang seakan-akan
sekilas membayang di rongga matanya, saat-saat ia dikepung oleh api
yang menyala menelan rumahnya, ayah dan ibunya, dan seluruh isi
rumahnya. Seakan-akan ia merasa dirinya disambar oleh seseorang yang
kemudian menyelamatkannya. Orang itu adalah ayah Manguri"
"Pengkhianat" suara Ki Reksatani yang menggeram itu bagaikan guruh
yang meledak di dalam kepalanya. Lamat yang memiliki tenaga raksasa
itupun mulai terdesak. Kini ia harus bertempur menghadapi dua lawan.
Ia harus melindungi dirinya sendiri dari sengatan senjata Ki
Reksatani, tetapi yang lebih berbahaya. Lamat harus berjuang melawan
perasaan sendiri. Perasaan yang seakan-akan dihembushembuskan ke
dalam dadanya oleh ayah Manguri. "Kau memang licik sekali" Ki
Jagabaya berdesis "Aku tidak mengetahui latar belakang hubunganmu
dengan orang yang bertubuh raksasa itu. Tetapi tampaknya kau
mengetahui kelemahan perasaannya. Kau akan mempergunakan kelemahan
itu untuk membantu lawannya. Dan itu adalah suatu tindakan yang
paling tidak terpuji. Bahkan yang paling aku benci" Tetapi ayah
Manguri menyahut "Dengan atau tidak dengan cara itu, kau pasti sudah
membenci aku. Aku tidak berkeberatan" "Jangan berkata begitu.
Isterimu ada di dalam wilayah kekuasaanku. Apalagi ia sudah mendapat
cela yang tidak akan dapat dilupakan oleh tetangga-tetangganya.
Kalau akhir-akhir ini ia sudah mencoba memperbaiki kesalahan itu,
namun tibatiba timbullah persoalan yang membuat daerah kekuasaanku
menjadi kisruh seperti ini" Jawabnya benar-benar di luar dugaan Ki
Jagabaya itu. Katanya "Aku sudah tidak memerlukan lagi Ki Jagabaya.
Aku masih mempunyai isteri di mana-mana" "Kau mungkin tidak
berbohong. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku tidak dapat
menghubungi Kademangankademangan yang lain. Juga Kademangan
Kepandak? Kalau jalan perdagangan ternakmu tertutup, maka akan
tamatlah ceritera petualanganmu di kalangan perempuan muda yang
dapat kau beli dengan uang" Ayah Manguri tertawa. Betapapun
pahitnya. Namun tibatiba matanya terbelalak ketika ia melihat.
Manguri terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah.
Meskipun ia dapat dengan tangkas berdiri, tetapi tampak oleh
ayahnya, bahwa ia sudah menjadi sangat lemah. "Gila" Ia menggeram di
dalam hatinya. Iapun kemudian memutuskan untuk berbuat sesuatu. Ia
belum mengenal Ki Jagabaya di dalam olah kanuragan. Sedangkan semua
yang terjadi di padukuhan ini adalah akibat dari tingkah anaknya.
Anak laki-lakinya. Karena itu, apapun yang dapat terjadi, tidak
boleh dihindarinya. Ia sendiri sudah memberikan perlindungan atas
usaha menyembunyikan Sindangsari terhadap anaknya. Kini iapun harus
memberikan perlindungan pula terhadap akibat yang timbul karenanya.
Dalam pada itu, cahaya matahari pagi sudah menguakkan kehitaman
malam. Perkelahian di halaman belakang itupun menjadi semakin nyata.
Beberapa orang menjadi semakin menggigil karenanya dan dengan
gemetar meninggalkannya. Mereka menjadi jelas,bagaimana mereka yang
sedang bertempur itu benar-benar berusaha membunuh lawannya.
Beberapa orang anak-anak muda Sembojan dan Kali Mati masih juga
berkelahi dengan gigihnya. Punta dan seorang kawannya yang datang
dari Gemulung sama sekali tidak mengecewakan, sebagai anak-anak muda
yang pernah mendapat tempaan dari sebuah perjalanan yang berat.
Diantara mereka, Lamat masih juga berusaha mengatasi getaran
perasaannya, sehingga ia masih dapat berkelahi sebaik-baiknya,
meskipun kadang-kadang seperti orang yang kehilangan kesadaran, ia
menjadi bingung. Untunglah, di dalam setiap keadaan itu, Lamat
selalu masih dapat menghindarkan diri, meskipun ia harus meloncat
jauh-jauh. Tetapi perasaan yang ditiup-tiupkan oleh ayah Manguri itu
terasa semakin menggelitik hatinya. Setiap kali ia harus
menghentakkan giginya untuk mengatasi perasaan itu. Namun perlawanan
Lamat terhadap perasaannya sendiri itupun menjadi semakin lemah
sehingga perlahan-lahan perlawanannya terhadap Ki Reksatanipun mulai
terpengaruh pula. Pada saat kecemasan di dada ayah Manguri memuncak
melihat kadaan anaknya, tiba-tiba terdengar sebuah keluhan tertahan.
Lamat meloncat jauh-jauh surut sambil meraba pundaknya. Titik darah
telah memerah di tangannya. Ternyata pedang Ki Reksatani telah
berhasil menggoreskan luka yang cukup dalam selagi Lamat diterkam
oleh kebimbangan perasaan. Tetapi luka itu agaknya telah
menyadarkannya. Seperti orang yang terbangun. Lamat menggeretakkan
giginya. Mulailah perlawanannya yang garang dan bahkan
seranganserangannya yang dahsyat melanda lawannya. Namun lawannya
itu adalah Ki Reksatani. Itulah sebabnya, maka setiap kali Lamat
bagaikan membentur dinding baja yang tidak tertembus. Ki
Reksatanipun semakin menjadi gelisah pula. Pamot pasti sudah menjadi
semakin jauh. Karena itu, maka lapun memperkuat serangan-serangannya
atas raksasa yang mulai liar itu. Apalagi pundak kanan Lamat sudah
tergores oleh senjata. "He" seru ayah Manguri. Ia sengaja berkata
keras-keras, agar beberapa orang mendengarnya "kau terluka Lamat?
Sayang, aku kali ini tidak dapat menyelamatkanmu lagi seperti di
masa kanak-kanakmu. Sekarang aku yakin, bahwa memang tidak
sepatutnya aku menolong dan apalagi memelihara dan membesarkanmu,
karena akhirnya kau hanya akan menerkam kami yang memeliharamu
dengan baik" Lamat yang sudah terluka itu menggeram "Kau pasti akan
mendapat hukuman dari penghianatan ini Lamat" "Cukup" teriak Lamat
"apakah yang pernah kau berikan kepadaku selain pertolonganmu yang
tidak aku minta itu. Apakah kau benar-benar telah memelihara aku
baik-baik selama aku tinggal di rumahmu dan anakmu telah
memperlakukan aku tidak lebih dari seekor kerbau?" Ayah Manguri
mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa kelakuan Manguri
kadang-kadang memang berlebih-lebihan. Dan itulah yang
dicemaskannya, bahwa pada suatu saat, jiwa Lamat yang selama ini
tertekan itu akan meledak. Dan ternyata saat itu telah datang.
Namun, betapapun juga Lamat mencoba mencari kebenaran landasan
sikapnya itu, dan bahkan ia yakin bahwa demikian kata nuraninya,
namun ia sama sekali tidak dapat melawan arus perasaannya. Perasaan
berhutang budi, perasaan yang telah diungkit-ungkit oleh ayah
Manguri itu, sehingga selain luka di pundaknya, seolah-olah
jantungnyapun telah menjadi parah. Itulah sebabnya, maka Lamatpun
lambat laun telah terdesak. Agaknya Ki Reksatani mampu mempergunakan
kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan dahsyatnya ia menyerang Lamat
yang terus-menerus terdesak surut. Darah raksasa itupun semakin
banyak mengalir dari lukanya yang mulai terasa pedih. Matahari yang
semakin terangpun membuat Ki Reksatani semakin bernafsu. Kini ia
hampir pasti, bahwa ia akan dapat mengalahkan Lamat. Yang penting
baginya adalah mempercepat kekalahan raksasa itu. Tetapi Lamat tidak
segera menyerah pada keadaan. Bahkan ketika luka di pundaknya
menjadi semakin pedih, perlawanannyapun menjadi semakin gigih. Namun
setiap kali perasaannya tergetar oleh kenangan masa kecilnya, maka
iapun kadang-kadang menjadi lengah. Bahkan Lamatpun kemudian
berpikir "Mudah-mudahan Pamot sudah jauh. Mudah-mudahan Pamot
mendapat kesempatan membawa Nyai Demang kembali ke Kepandak, kembali
kepada suaminya" Sejalan dengan harapan itu, maka perlawanannyapun
menjadi semakin susut. Darahnya tidak lagi dapat tertahan. Semakin
banyak ia bergerak, semakin banyak arus darah dari lukanya. Beberapa
orang anak-anak muda Sembojan, dan juga Punta. melihat luka di
pundak Lamat. Sejenak mereka tergetar oleh kecemasan. Tanpa Lamat,
maka perlawanan mereka akan menjadi tidak seimbang lagi, meskipun Ki
Jagabaya ikut serta di dalam perkelahian itu. Mereka sadar, bahwa
ternyata Ki Reksatani benar-benar seorang yang tidak terkalahkan.
Bukan saja di Kademangan Kepandak, tetapi juga di daerah sekitarnya.
Di Kademangan-kademangan yang lain memang sulitlah dicari
orang-orang yang mampu mengimbanginya. Karena itu, mereka harus
mengambil kebijaksanaan lain, Semula atas persetujuan Ki Jagabaya,
anak-anak Sembojan dan Kali Mati yang merasa cukup kuat menghadapi
orangorang yang telah membuat keributan di padukuhan mereka itu,
tidak ingin menggemparkan seluruh Kademangan. Mereka bersepakat
untuk tidak memukul tanda bahaya. Tetapi apabila Lamat dapat
dikalahkan, maka anak-anak muda itu memerlukan lebih banyak kawan
lagi untuk melawan Ki Reksatani. Karena itu, salah seorang dari
mereka segera menghubungi Ki Jagabaya. Dengan nafas terengah-engah
ia berkata "Keadaan bertambah gawat Ki Jagabaya" Sebelum Ki Jagabaya
menyahut, ayah Mangurilah yang menjawab "Jangan ingkari kenyataan.
Karena itu jangan menjadi kebiasaan mencampuri persoalan orang lain"
"Persetan" geram Ki Jagabaya "sebentar lagi anakmu akan dibunuh oleh
kawan sepadukuhannya, lalu katanya kepada anak muda yang datang
kepadanya "usahakan bantuan" "Dengan kentongan?" Ki Jagabaya
menganggukkan kepalanya. "Gila" potong ayah Manguri "kau akan
melibatkan seluruh Kademangan?" "Apaboleh buat" jawab Ki Jagabaya
"Ki Reksatani itu ternyata sangat berbahaya bagi kita disini" "Yang
akan datang hanyalah akan memperbanyak korban" berkata ayah Manguri
"aku mempunyai saran yang baik. Tariklah seluruh anak Sembojan dan
Kali Mati dari perkelahian ini. Mereka akan menjadi korban yang
sia-sia. Biarlah anakTiraikasih Website http://kangzusi.com/ anak Gemulung
itu mati terbunuh disini. Bahkan Lamat itu sama sekali" "Cepat"
berkata Ki Jagabaya tanpa menghiraukan kata-kata ayah Manguri
"bunyikan tanda itu. Lamat benar-benar sudah terdesak. Tetapi itu
bukan karena Ki Reksatani t idak terlawan olehnya. Ia mampu
mengimbangi kegarangan Ki Reksatani itu. Tetapi karena kelicikan
pedagang ternak yang tamak inilah, maka ia kehilangan keseimbangan
perlawanannya" "Omong kosong" sahut ayah Manguri. Tetapi ia t idak
sempat mengatakan kelanjutannya, karena Ki Jagabaya berkata lantang
"Cepat. Jangan hiraukan apapun lagi" Anak muda itupun segera
berlari-lari ke gardu di simpang tiga. Sementara Lamat menjadi
semakin terdesak, maka terdengarlah suara titir dari gardu beberapa
puluh langkah dari halaman rumah itu. "Gila" Ki Reksatani menggeram.
Ia sadar akan bunyi tanda itu. Karena itu, serangannyapun menjadi
semakin garang. Apalagi ketika suara titir itu telah disahut oleh
bunyi kentongan dari gardu yang lain. Sambung menyambung, merambat
dari gardu yang satu ke gardu yang lain. Ki Reksatani benar-benar
telah kehilangan pengekangan diri. Ia berkelahi seperti setan takut
kesiangan. Apalagi ketika sinar matahari mulai menyentuh tubuhnya,
dan suara titir itu sudah memenuhi udara pagi di padukuhan Sembojan
dan sekitarnya. Sejenak kemudian Lamat telah benar-benar terdesak.
Tenaganya menjadi semakin lemah, karena darah yang semakin banyak
mengalir. Bahkan sejenak kemudian, ujung senjata Ki Reksatani telah
menyentuhnya sekali lagi. Meskipun tidak begitu dalam, namun ujung
pedang yang menyobek kulit lambungnya. tu membuatnya semakin
terdesak surut. "Kau akan mati pagi ini" geram Ki Reksatani. Tetapi
Lamat tidak gentar, karena akibat itu sudah disadarinya. Jawabnya
"Aku tidak takut melihat maut yang sudah menjemputku. Tetapi aku
merasa bahwa aku sudah berbuat arti di dalam hidupku yang hina ini.
Arti bagi perikemanusiaanku" "Tutup mulutmu" bentak Ki Reksatani
sambil menyerang dengan cepatnya. Untunglah Lamat masih sempat
memalingkan kepalanya. Namun demikian ujung pedang Ki Reksatani
masih juga menyentuh pipinya. Setitik darah mengalir dari luka di
pipinya. Sekali lagi tangan Lamat menjadi merah oleh darah ketika ia
meraba luka di pipinya itu. Namun demikian ia masih tetap berusaha
menyelamatkan diri dari sentuhan senjata Ki Reksatani yang satu
lagi. Keris pusakanya. Karena Lamat sadar bahwa sentuhan keris itu
akibatnya adalah maut. Racun pada keris itu akan segera bekerja di
dalam tubuhnya tanpa ampun. Karena itu, perlawanannya kini ditujukan
lebih banyak pada serangan-serangan keris itu daripada ujung
pedangnya. Ternyata Ki Reksatani masih berhasil melukai lawannya
lagi. Lengan Lamatpun telah tersobek pula. Kemudian pahanya,
sehingga tubuhnya seakan-akan menjadi merah karena darah dan
keringat yang mengaliri wajah, dada dan kakinya. Ki Jagabaya melihat
luka-luka itu dengan tubuh yang bergetar karena marah. Ia bukan
sanak bukan kadang dengan raksasa itu, bahkan mengenal secara
pribadipun belum. Tetapi Ki Jagabaya telah meyakini kebenaran
perjuangan Lamat, sehingga karena itu, dadanya serasa telah
terbakar, melihat luka-luka yang seolah-olah telah memenuhi tubuh
raksasa itu. "Licik" Ki Jagabaya menggeram "kaulah yang menyebabkan
kekalahannya. Kalau kau tidak menyerang perasaannya, maka ia tidak
akan dapat dikalahkan oleh Ki Reksatani. Karena itu, kaulah yang
harus bertanggung jawab" Tetapi ayah Manguri sama sekali tidak
menjawab. Ketika Ki Jagabaya berpaling kepada orang itu, ia terkejut
bukan buatan. Wajah itu menjadi pucat dan tegang. Bahkan tubuhnyapun
menjadi gemetar pula. Ki Jagabaya menjadi heran. Apalagi ketika
tiba-tiba ayah Manguri itu berpaling sambil berdesah "Tahan.
Tahanlah dia. Jangan disakiti anak itu. Jangan diperlakukan anak itu
dengan semena-mena meskipun ia sudah berkhianat. Bunuh atau
lepaskan. Jangan dikupas seperti mengupas pisang" Ki Jagabaya
menjadi termangu-mangu sejenak. Bahkan ia bertanya "Kenapa kau?
Apakah kau sudah menjadi gila" "Tolonglah anak itu" Ki Jagabaya
menjadi bingung melihat tingkah laku ayah Manguri itu. Namun ia
tidak melepaskan kewaspadaan. Ia masih saja curiga karena kelicikan
ayah Manguri itu. Dalam pada itu, suara titir telah memenuhi seluruh
Kademangan. Ki Reksatanipun menjadi semakin gelisah karenanya.
Meskipun luka di tubuh Lamat, seolah-olah telah menjadi arang
kranjang, tetapi raksasa itu sama sekali tidak menyerah. Ia masih
tetap bertempur terus meskipun ia selalu terdesak mundur. "Gila,
apakah kau menyimpan nyawa rangkap?" Ki Reksatani menggeram. Lamat
tidak menjawab. Betapa perasaan sakit telah mencengkam seluruh
tubuhnya, namun ia tidak mau menyerah. Akhirnya Ki Reksatani tidak
sabar lagi. Ketika ia melihat orang yang pertama datang ke arena
itu, kemudian disusul oleh beberapa orang lagi, yang agaknya sudah
dipanggil oleh suara titir itu, hatinya berdesir. Mereka ternyata
bukan penakut-penakut seperti orang-orang yang berdiri saja di
kejauhan. Mereka agaknya pengawal-pengawal dari padukuhan-padukuhan
di sekitar padukuhan Sembojan, seperti anak-anak muda yang telah
berkelahi lebih dahulu. Sejenak Ki Reksatani mempertimbangkan
keadaannya, Ia masih melihat beberapa orang-orangnya berkelahi
dengan gigihnya. Karena itu, ia harus memilih. Melepaskan kemarahan
dan dendamnya kepada Lamat, atau mengejar Sindangsari yang sudah
dilarikan oleh Pamot dan akan diserahkan kepada suaminya. "Persetan
dengan padukuhan Sembojan. Aku harus meninggalkan neraka ini.
Persoalanku adalah persoalan Kademangan Kepandak. Aku tidak perlu
terjerumus dalam perangkap orang-orang Sembojan yang suka mencampuri
persolan orang lain ini" Karena itu, maka Ki Reksatanipun segera
memberikan isyarat kepada anak buahnya yang masih ada beserta
orangorang Manguri. Merekapun segera berloncatan dari arena, dan
sambil mempertahankan diri, merekapun berlari- larian ke kuda
masing-masing. Untunglah bahwa kuda-kuda itu sudah dipersiapkan
sehingga merekadengan segera dapat berloncatan dan langsung
memacunya. Ki Reksatani masih berusaha melindungi anak buahnya
sejenak. Dengan kudanya ia menyerang anak-anak muda yang mencoba
menghalangi anak buahnya yang akan naik ke punggung kudanya. Tidak
seorangpun yang berani melawannya langsung. Karena itu maka seorang
demi seorang, anak buahnya berhasil meninggalkan halaman rumah itu,
meskipun beberapa diantara mereka telah terbunuh. Diantaranya adalah
mereka yang justru terbunuh oleh kawan-kawan sendiri. Meskipun
mendapat kesempatan tetapi ayah Manguri sama sekali t idak berniat
untuk meninggalkan halaman rumah itu. Dengan wajah yang buram ia
melihat beberapa orang berlarilarian dikejar oleh anak-anak muda
Sembojan. Tetapi hanya karena ketangkasan Ki Reksatani mengayunkan
senjatanya sambil mengendalikan kudanya sajalah, sebagian terbesar
dari mereka dapat dengan selamat meninggalkan halaman rumah itu. Ki
Jagabaya masih berdiri di dekat ayah Manguri yang termangu-mangu. Ia
hanya mengikut i derap kuda yang berlari seperti dikejar hantu
meninggalkan regol halaman. Kemudian hilang di balik pepohonan. Pada
saat yang bersamaan, anak-anak muda di sekitar Sembojan berdatangan
ke padukuhan itu. Bukan saja anakanak muda, tetapi laki-laki yang
sudah menjelang setengah umurpun ikut pula berdatangan dengan
senjata. "Apa yang terjadi?" bertanya seorang yang rambutnya sudah
berwarna dua kepada seseorang yang berdiri di luar dinding halaman.
"Untunglah kau datang terlambat" jawabnya "kalau kau sempat
menyaksikan apa yang terjadi, maka kau akan pingsan disini" "Apa?"
"Lihatlah bekasnya" Orang itu menjengukkan kepalanya. Ketika ia
melayangkan pandangan matanya, ia memandang tepat di saat Lamat
tidak lagi dapat menguasai dirinya. Perlahan-lahan ia jatuh
terduduk, kemudian dengan lemahnya ia terkulai di tanah. Tetapi
orang yang berambut dua warna itulah yang lebih dahulu pingsan
melihat tubuh Lamat yang seakan-akan terbalut oleh darahnya yang
merah. Karena itu, maka beberapa orang harus memapah orang separo
baya itu menepi, sementara di dalam halaman belakang, Ki Jagabayapun
berlari-lari dan kemudian berjongkok di samping Lamat yang sudah t
idak berdaya lagi. "Bagaimana dengan kau?" bertanya Ki Jagabaya.
Lamat memandanginya sejenak. Nafasnya menjadi semakin cepat
mengalir. Agaknya ia telah memaksa dirinya, mengerahkan segala
kemampuan dan tenaga, melampaui kemampuan yang sewajarnya. "Air,
air" teriak Ki Jagabaya. Ketika ia berpaling, ia melihat ayah
Manguripun sedang merenungi anaknya yang terbaring di tanah.
Sementara Punta dengan senjata di tangan, berdiri di sampingnya.
"Janggan kau bunuh anak ini" pinta ayah Manguri "Aku akan kehilangan
kedua-duanya" Punta tidak tahu arti permintaan itu. Tetapi ia memang
tidak ingin membunuh Manguri. Setelah ia berhasil menjatuhkan anak
muda itu dan tidak mampu lagi untuk bangkit, maka Punta tidak lagi
dikuasai oleh nafsu membunuh. Ia dapat mengendalikan dirinya.
Dibiarkannya Manguri terbaring di tanah dengan nafas terengah-engah
dan menyeringai kesakitan. Namun sejenak kemudian Manguri itupun
menjadi pingsan. Kini suasana di halaman belakang rumah itu t idak
lagi diwarnai oleh perkelahian dan dibisingkan oleh bunyi dentang
senjata beradu. Beberapa orang pengawal yang terlukapun segera
mendapat pertolongan, sehingga dengan demikian, kesibukan
orang-orang di halaman itu telah beralih. Hanya orang-orang tertentu
sajalah yang berani melihat kenyataan di halaman itu. Beberapa orang
yang semula datang dengan senjata di tangan karena titir yang sahut
menyahut, ternyata sama sekali tidak berani menginjakkan kakinya ke
halaman itu. Bekas perkelahian itu ternyata sangat mengerikan.
Apalagi apabila mereka masih sempat melihat perkelahian yang
terjadi. Untunglah, bahwa diantara mereka terdapat anak-anak muda
yang telah mendapat tempaan khusus. Terutama mereka yang pernah
mengikuti pasukan yang berjuang untuk mengusir orang-orang asing
yang mulai berkuasa di tanah ini. "Punta" berkata ayah Manguri
"bukankah kau tidak membunuhnya?" Punta menggelengkan kepalanya.
Ayah Manguri mengguncang-guncang kePala anaknya yang pingsan.
Kemudian menempelkan telinganya di dadanya. Ia masih mendengar detak
jantung anak itu. "Ia masih hidup. Ia masih hidup" Ayahnyapun
kemudian berusaha untuk menolongnya sejauh-jauh dapat dilakukan.
Tetapi ternyata bahwa orang Sembojan adalah orang-orang yang berhati
lapang. Meskipun mereka kemudian mengerti apa yang terjadi, namun
mereka tidak sampai hati membiarkan Manguri tanpa mendapat
pertolongan apapun, karena justru ayahnya menjadi kebingungan.
Beberapa orang telah membantunya atas perintah Ki Jagabaya. Seperti
Lamat, maka Manguripun segera mendapat pertolongan. Kedua nyapun
kemudian telah dibawa ke rumah tetangga terdekat. Ditunggui oleh
beberapa pengawal bersama Punta dan seorang kawannya yang datang
dari Gemulung. Bagaimanapun juga mereka masih tetap harus bercuriga.
Apalagi di dekat ayah Manguri itu terbaring pula Lamat yang sudah
kehabisan tenaga. Seorang dukun tua telah berbuat sejauh-jauh dapat
dilakukan untuk menyelamatkan jiwa kedua orang itu. Sedang
orang-orang lain yang meskipun juga terluka, tetapi tidak begitu
parah, telah mendapat pertolongan pula. Untunglah bahwa tidak ada
seorang pengawalpun yang menjadi korban sehingga meninggal. Yang ada
diantara mereka adalah pengawal-pengawal yang terluka. Agaknya
Manguri memang masih diberi kesempatan untuk hidup. Seandainya ia
harus bertempur melawan Pamot yang menyimpan berbagai macam masalah
di dadanya terhadap Manguri, maka harapan baginya untuk dapat tetap
hidup adalah kecil sekali. Tetapi kini, dukun yang mengobatinya
masih berpengharapan bahwa nyawanya akan dapat di selamatkan.
Sedangkan Lamat, agaknya masih lebih baik dari keadaan Manguri.
Meskipun luka-lukanya bersilang melintang di seluruh tubuhnya, namun
luka-luka itu tidak membahayakan jiwanya. Satu dua ada juga lukanya
yang dalam. Namun ketahanan tubuh Lamat, lernyata memang melampaui
ketahanan tubuh manusia biasa. Dalam pada itu, di halaman yang baru
saja menjadi kancah perkelahian itupun kini telah disibukkan oleh
orang-orang yang sedang membersihkan halaman itu dari mayat-mayat
dan mereka yang terluka. Setiap orang menjadi ngeri menyaksikan
bekas-bekas dari apa yang telah terjadi. Ceritera tentang
sebab-sebab perkelahian itupun segera menjalar ke segenap telinga,
sehingga setiap orang telah terbakar batinya. Mereka menyesal bahwa
Ki Reksatani dapat terlepas dari tangan mereka. Dan bahkan Lamat
yang melawannya dengan gigih telah terluka parah. Orang-orang
Sembojan meletakkan kesalahan terberat pada Ki Reksatani. Itulah
agaknya sebabnya bahwa mereka masih dapat menguasai perasaan mereka
terhadap Manguri. Perempuan-perempuan yang mendengar ceritera dan
latar belakang dari peristiwa itupun mengusap dada mereka sambil
berkata "Kasihan Nyai Demang di Kepandak" Sedang perempuan yang lain
menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata "Aku agaknya telah
ikut berdosa. Kenapa aku percaya bahwa perempuan itu sekedar
perempuan gila. Dan bahkan aku pernah mengumpatinya karena ia
berteriak-teriak sambil berlari-lari di sepanjang jalan? Agaknya
Nyai Demang saat itu masih berusaha untuk melepaskan dirinya"
Sementara itu, setelah mendapat perawatan seperlunya, Lamat sudah
dapat mengingat semua yang terjadi dengan jelas. Bahkan ia sudah
mulai gelisah dan berkata kepada Punta. yang menungguinya "Bagaimana
dengan Pamot? Apakah masih ada kemungkinan Ki Reksatani menyusulnya
di perjalanan?" Punta berpikir sejenak. Dengan ragu-ragu ia menjawab
"Jaraknya cukup panjang Lamat" "Tetapi Pamot membawa Nyai Demang
yang terluka bakar. Ia tidak akan dapat berpacu terlampau cepat"
"Kita akan berdoa untuknya. Mudah-mudahan ia t idak tersusul di
perjalanan. Kita mempunyai banyak harapan. Mungkin Pamot benar-benar
tidak tersusul, mungkin jalan yang ditempuh oleh Pamot bukannya
jalan yang dipilih oleh Ki Reksatani" Lamat menarik nafas
dalam-dalam. Perlahan-lahan ia mencoba untuk bangkit. Tetapi Ki
Jagabaya dan dukun yang merawatnya telah mencegahnya. "Berbaringlah"
berkata Ki Jagabaya "darahmu hampir mampat" Lamat menarik nafas
dalam-dalam. Tubuhnya yang kuat seperti kerbau itu memang terasa
lemah sekali, sehingga seakan-akan ia tidak mampu lagi mengangkat
kepalanya. "Hampir seluruh tubuhmu terluka parah" berkata Ki
Jagabaya selanjutnya. Lamat mengangguk-anggukkan kepalanya.
Terbayang kembali perlawanannya atas Ki Reksatani. Adalah suatu
perlindungan yang ajaib bahwa ia tidak terbunuh karenanya. Ia sadar,
kemarahan Ki Reksatani kepadanya pasti melonjak sampai ke ujung
ubun-ubun. Namun demikian, ditinggalkannya ia masih dalam keadaan
yang memungkinkannya untuk tetap hidup. Ketika Lamat kemudian
memalingkan kepalanya perlahanlahan di lihatnya Manguripun terbaring
diam beberapa langkah daripadanya ditunggui oleh ayahnya. Dan
tiba-tiba saja ia bertanya "Bagaimana dengan anak itu?" Puntapun
berpaling pula memandang tubuh Manguri. Ia lah yang telah melukai
tubuh itu setelah Lamot melukainya lebih dahulu. "Apakah ia terluka
parah juga?" Punta menganggukkan kepalanya. "Kaulah yang
melukainya?" "Aku hampir membunuhnya" desis Punta. Lamat tidak
menyahut. Di tatapnya jalur-jalur bambu pada atap diatas
pembaringannya. Dalam saat-saat yang diliput i oleh ketegangan dan
kegoncangan perasaan itu semuanya seakanakan telah terbayang
kembali. Namun tiba-tiba Lamat menjadi gelisah, ketika anganangannya
sampai pada akhir peristiwa di Sembojan itu. Seakan-akan ia melihat
Ki Reksatani sedang mengejar Pamot yang tidak dapat berpacu karena
Sindangsari yang terluka dan apalagi perempuan itu sedang
mengandung. Sedang derap kaki kudanya telah mengguncang-guncangnya.
"Bagaimana dengan Pamot" t iba-tiba sekali lagi ia berdesis.
"Mudah-mudahan ia t idak tersusul" sahut Punta. "Kalau ia tersusul
di perjalanan, maka berakhirlah semuanya "Lamat berhenti sejenak,
lalu "tetapi kalau ia berhasil mencapai Kademangan Kepandak, maka ia
akan dapat berlindung pada Ki Demang. Satu-satunya orang yang dapat
melawan Ki Reksatani. Mudah-mudahan Ki Demang mempercayainya" "Ada
seorang saksi yang mengiringinya" Lamat mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tetapi bayangan keragu-raguan tampak pada tatapan matanya
yang redup. Namun betapa mata itu redup, Lamat seolah-olah melihat
apa yang sedang terjadi. Pamot yang kehilangan kesempatan untuk
melepaskan diri. Keris Ki Reksatani. Darah. Tiba-tiba saja Lamat
bangkit sambil berkata "Tolonglah, tolonglah anak itu" Punta, Ki
Jagabaya dan dukun yang merawatnya segera menahannya dan berusaha
membaringkannya kembali. Mereka menjadi berdebar-debar karena tubuh
Lamat terasa menjadi panas. Apalagi ketika Ki Jagabaya meraba
keningnya, seakan-akan kepala raksasa itu sudah membara. "Ambillah
air" berkata dukun tua itu "rendamlah beberapa potong jeruk pecel"
'Seseorang segera berlari-lari mencari air dan jeruk pecel. Dengan
sehelai kain, diusapkannya air jeruk pecel itu ke kening! Lamat.
Tetapi ketika setitik air jeruk itu menyentuh lukanya, Lamat telah
menggeliat kesakitan. "Bagaimana dengan Pamot, bagaimana?" ia masih
bertanya terus. "Percayakan anak itu kepada Tuhan Yang Maha
Penyayang" desis dukun tua yang menungguinya "kita bersama-sama
berdoa untuknya" Jawaban itu bagaikan t itik-tit ik embun di
ubun-ubunnya. Perlahan-lahan Lamat menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Ya. Kita percayakan anak itu kepada Tuhan. Mudah-mudahan ia
selamat" "Tidurlah. Kalau kau sempat tidurlah" berkata Ki Jagabaya
"badanmu akan terasa segar" Oleh air jeruk pecel yang menyeka
keningnya, Lamat merasa tubuhnya benar-benar menjadi semakin segar.
Namun ia masih belum dapat menghalau sama sekali kegelisahan yang
membayang di hatinya. Bahkan katanya kemudian "Apakah aku dapat
meninggalkan tempat ini" Punta bergeser maju, mendekati telinga
Lamat. Katanya perlahan-lahan "Kau harus beristirahat. Kau
memerlukan istirahat" "Aku sudah cukup beristirahat" Punta
menggelengkan kepalanya. "Apakah kudaku masih ada?" tiba-tiba ia
bertanya. "Jangan pikirkan tentang kuda. Kau harus beristirahat
sebaik-baiknya" Lamat tidak menyahut lagi. Tetapi bayangan-bayangan
yang mengerikan kembali mengganggunya. Namun titik-t itik air jeruk
membuatnya agak tenang sehingga ia masih berhasil menguasai
kegelisahan di dadanya. Kini bayangan-bayangan yang bermain di
hadapannya adalah kenangan-kenangan masa yang agak jauh berlalu.
Ketika tanpa sesadarnya ia sekali lagi melihat ayah Manguri yang
duduk merenungi anaknya. Hampir tidak ada seorangpun yang
menghiraukan anak yang pingsan itu. Yang dilihatnya hanyalah
beberapa orang pengawal dengan senjata telanjang berdiri di depan
pintu. Dua orang yang lain berdiri di sudut ruangan. Lamat mengerti
benar, bahwa para pengawal itu sedang mengawasi Manguri dan ayahnya
yang kini merupakan tawanan. Tetapi Lamat tidak melihat istri ayah
Manguri yang muda berada diantara mereka. Namun demikian Lamat tidak
bermaksud untuk menanyakannya. Dalam pada itu, isteri ayah Manguri
yang muda itu masih berada di halaman rumahnya. Ia tidak
menghiraukan sama sekali orang-orang yang sedang sibuk membersihkan
halamannya itu. Mengangkat orang-orang yang terluka dan bahkan
beberapa sosok mayat, ia tidak menghiraukan beberapa orang laki-laki
yang hilir mudik dengan wajah yang tegang sambil menjinjing senjata.
Perempuan itu berdiri tegak merenungi abu yang berserakan, yang
masih mengepulkan asap yang kehitamhitaman. "Rumahku, rumahku" ia
berdesis perlahan sekali "perhiasan yang aku kumpulkan sedikit demi
sedikit sekarang telah musnah" Perempuan itu menutup wajahnya dengan
kedua tangannya. Namun tiba-tiba terdengar ia tertawa kecil. Kini
ditatapnya seonggok abu yang masih panas itu. "He, itulah peti
simpananku. Kenapa baru sekarang aku melihatnya. O, masih utuh.
Sepuluh laki-laki yang sudah berhasil aku hisap uangnya, kekayaannya
dan bahwa semua miliknya. Dan aku berhasil menyimpan seonggok
permata" suara tertawanya menjadi semakin keras. Beberapa orang
memandanginya dengan heran. Seorang perempuan tua telah memaksa
dirinya untuk mendekatinya "Apakah yang kau cari?" "O, kau?"
perempuan itu mengerutkan keningnya "kau akan merampas milikku?"
"Tidak. Tentu tidak. Tetapi, sadarilah apa yang sudah terjadi" "Apa
yang terjadi? Aku menyimpan simpananku sendiri. Apa salahnya. Dan
kau tidak usah mempedulikan darimana aku mendapatkannya. Adalah
salah laki-laki yang bersedia aku hisap darahnya sampai kering.
Adalah salah mereka, bahwa mereka mau membeli belaian tanganku
dengan seluruh kekayaannya. Apakah kau iri ya? Kau termasuk salah
seorang dari mereka yang ingin mengusir aku dari sini. Dari rumahku
yang aku buat sendiri diatas tanah milikku" "Tidak. Tidak. Aku tidak
akan beriri hati. Tidak pula akan mengusirmu. Tetapi sadarilah
dirimu" "Apa yang harus aku sadari? Maksudmu agar aku tidak menerima
laki-laki lagi di rumahku ini selain suamiku yang hanya datang tiga
bulan atau empat bulan sekali itu? Begitu?" Perempuan tua itu
menjadi bingung. Dan ia hampir memekik ketika ia melihat isteri muda
ayah Manguri itu tibatiba saja berlari terjun ke dalam onggokan abu
yang masih panas. Tetapi yang sama sekali tidak dihiraukannya. Dan
ia hanya dapat mengusap dadanya ketika ia melihat perempuan itu
kemudian menjatuhkan dirinya, berlutut di dalam onggokan abu itu.
Sambil mengaduk abu yang hangat itu ia tertawa berderai. Katanya
"Semuanya sudah aku ketemukan kembali. Inilah perhiasanku yang tidak
ternilai harganya. Aku akan menjadi semakin kaya. Perhiasan
perempuan gila itu akan menjadi milikku juga. Perempuan gila itu"
Semua orang yang ada di halaman itupun tertegun karenanya. Mereka
memandang perempuan yang kemudian menjadi seakan-akan disaput dengan
abu yang kotor pada seluruh tubuhnya itu sambil menarik nafas
dalam-dalam. Dan perempuan itu tiba-tiba ia berdiri dan memandang
berkeliling. Ketika tampak olehnya beberapa orang laki-laki yang
seolaholah membeku di sekeliling bekas rumahnya, ia tertawa
berkepanjangan "He, kau akan singgah ke rumah ini pula? Kau, kau,
kau juga. Jangan bersama-sama. Aku tidak akan pergi. Datanglah
berganti-ganti. Suamiku tidak akan mengetahuinya. Kemarilah.
Kemarilah" Dan suara tertawanya menggelepar seperti tingkah
perempuan itu. Di kejauhan terdengar seseorang berbisik kepada kawan
yang berdiri di sampingnya "Ia menjadi gila. Semua kekayaan yang
dikumpulkannya dengan jalan yang sesat itu agaknya telah ikut
terbakar di dalamrumah itu" "Kasihan. Ternyata perempuan itulah yang
menjadi gila. Bukan perempuan yang dikatakannya gila dan ternyata
adalah Nyai Demang di Kepandak" "Agaknya ia telah kena kutuk" Dan
dalam pada itu suara tertawanya masih saja berkepanjangan. Ketika
beberapa orang mencoba mengajaknya meninggalkan onggokan abu yang
masih panas itu ia justru mengumpat-umpat dengan kata-kata yang
paling kotor yang pernah didengar oleh telinga. Akhirnya orang-orang
itupun terpaksa membiarkannya berbuat sesuka hatinya di dalam
ketidak-sadarannya. Kejutan perasaan itu ternyata tidak
tertanggungkan lagi, sehingga ia telah berubah ingatan dengan
tiba-tiba. Dalam pada itu, ketika seorang laki-laki
memberitahukannya kepada ayah Manguri, laki-laki itu berkala dengan
nada suara yang rendah dan datar "Aku tidak memerlukannya lagi. Aku
sudah tidak memerlukan apa-apa" "Perempuan itu menjadi gila" Ayah
Manguri mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu kemudian tertunduk
kembali. Desisya "Dosaku memang sudah bertumpuk sampai menyentuh
langit. Kini aku harus menanggung segala dosaku" perlahan-lahan
kepalanya digelengkannya "mungkin besok atau lusa, aku akan dihukum
gantung bersama anakku yang seorang ini" ia berhenti sejenak, lalu
"mudah-mudahan anak itu selamat" katanya kemudian sambil berpaling
kepada Lamat. Laki-laki yang memberitahukan tentang perempuan yang
gila itu tidak mengerti maksudnya. Orang-orang yang mendengarpun
tidak mengerti pula. Tetapi mereka menyadari, bahwa laki-laki itu
bersama anaknya yang terluka adalah tawanan yang harus
mempertanggung jawabkan semua kesalahannya. Tidak saja kepada Ki
Demang di Prambanan, tetapi juga kepada Ki Demang di Kepandak.
Karena itu, maka ditinggalkannya ayah Manguri itu di dalam
kemuramannya. Dalam pada itu, Ki Reksatani memacu kudanya seperti
dikejar hantu. Ia tidak mau lagi mengenangkan apa yang terjadi di
Sembojan. Ia juga tidak mau lagi memikirkan, apakah yang akan
terjadi kemudian dengan Kepandak. Yang kini tersangkut di kepalanya
adalah rencananya untuk mengejar Pamot yang telah melarikan
Sindangsari. Namun Ki Reksatani menjadi ragu-ragu sejenak. Tidak
hanya ada satu jalan yang akan sampai ke Kademangan Kepandak. Ada
jalan induk yang sudah agak baik melintasi hutan Tambakbaya. Ada
jalan yang melintas di sebelah Utara. Tetapi ada juga jalan yang
menerobos daerah rawa-rawa di sebelah Selatan. Semuanya akan sampai
ke daerah pinggir kota Mataram yang kemudian dihubungkan dengan
jalan-jalan yang melintang, sampai kepadukuhan-padukuhan di daerah
Kademangan Kepandak, agak jauh di sebelah Selatan pusat pemerintahan
Mataram. "Persetan, jalan mana yang akan diambilnya" geram Ki
Reksatani "Aku harus sampai ke Kepandak secepat-cepatnya. Apakah aku
dapat menemukannya di sepanjang jalan, atau aku harus mengambilnya
lagi dengan paksa, di halaman Kademangan sekalipun, aku tidak akan
mundur. Semuanya sudah terjadi, dan aku tidak akan dapat menarik
diri lagi. Aku harus menengadahkan dadaku untuk menghadapi setiap
kemungkinan" Dengan demikian maka Ki Reksatani tidak menghiraukannya
lagi, apakah ia mengambil jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh
oleh Pamot. Tetapi agaknya Ki Reksatani tidak ingin juga terganggu
di sepanjang jalan. Kalau ia melalui jalan induk yang sampai
langsung ke kota, maka akan timbul kecurigaan pada orangorang yang
melihatnya. Kalau ia bertemu dengan peronda dari Mataram maka
peronda itu pasti akan menegurnya dan bahkan mungkin menghentikannya
disertai oleh beberapa pertanyaan yang menjemukan. Karena itu, maka
Ki Reksatani memutuskan untuk mengambil jalan lain. Justru tanpa
disengaja, ia mengambil jalan Selatan. Demikianlah maka
iring-iringan kecil itu berpacu semakin lama semakin cepat. Matahari
yang semakin tinggi bagaikan cambuk yang memaksa mereka untuk
mempercepat perjalanan yang menegangkan itu. Setelah kuda mereka
mengitari gerumbul-gerumbul perdu dan menusup ke dalam hutan yang
rindang maka sampailah mereka kesebuah padang rumput yang sempit.
Kemudian mereka akan sampai pula kegerumbul-gerumbul perdu yang agak
lebat dan sejenak kemudian mereka akan melingkari rawa-rawa. Jalan
yang mereka lalui memang jalan yang sempit. Namun karena jalan itu
sering dilalui juga oleh rombonganrombongan pedagang yang
beriring-iringan, maka kuda mereka masih juga dapat berpacu. Namun
tiba-tiba mata Ki Reksatani yang tajam melihat sesuatu yang
tersangkut pada sebatang ilalang di pinggir jalan sempit itu. Dengan
tergesa-gesa menarik kekang kudanya sehingga kudanyapun berhenti
dengan t iba-tiba. "Apakah menurut dugaanmu?" bertanya Ki Reksatani
sambil memungut benda itu. Para pengiringnya yang ikut berhenti juga
berdiri mengelilinginya sambil mengamat-amati benda itu. Dan
tibatiba saja salah seorang dari mereka berkata Sepotong kain lurik.
Lihat bekas terbakar itu masih jelas" "Pakaian barangkali. Sepotong
sobekan pakaian" berkata yang lain. Pakaian siapa? suara Ki
Reksatani menjadi parau, beberapa orang saling berpandangan. Tetapi
tidak ada seorangpun yang segera menjawab, meskipun yang tergembul
di dalam hati mereka masing-masing hampir bersamaan. Dan karena
tidak ada seorang yang menjawab, maka Ki Reksatanipun berkata "Aku
menduga bahwa pakaian ini memang pakaian yang baru saja tersentuh
api" Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak mereka
termenung ketika Ki Reksatani t iba-tiba saja mengamat-amati tanah
di sepanjang jalan sempit itu. "Pasti. Pakaian ini pasti pakaian
Sindangsari. Lihat, jejak kaki kuda ini adalah jejak kaki kuda
Pamot" "Ya" hampir berbareng beberapa orang menjawab. "Pamot pasti
mengambil jalan ini pula. Kita secara kebetulan mengambil jalan yang
sama" "Ya" Ki Reksatani tidak berkata sepatah katapun lagi.
Tiba-tiba saja ia meloncat ke punggung kudanya. Sebuah hentakan
kendali dan sentuhan pada perut kuda itu, membuatnya melonjak dan
kemudian lari sekencang-kencangnya. Para pengiringnyapun segera
menyusul pula. Mereka seakan-akan sedang berpacu berebut dahulu.
Demikianlah maka iring-iringan itupun melanjutkan perjalanan mereka.
Debu yang putih berhamburan di belakang kaki-kaki kuda yang menjadi
semakin lama semakin panas. "Apakah aku masih dapat mengejarnya"
bertanya Ki Reksatani di dalam hatinya. Namun agaknya jarak sudah
menjadi demikian jauh. Meskipun demikian Ki Reksatani masih terus
berusaha. Dengan kecepatan penuh kudanya berlari-lari mengitari rawa
diantara padang perdu. Di hadapan mereka kemudian terbentang sebuah
hutan yang rindang, sebelum mereka akan memotong sebuah sudut hutan
yang masih agak lebat. Dalam pada itu, Pamotpun masih juga berpacu
diatas punggung kudanya. Tetapi kawannya yang berkuda di belakangnya
hampir tidak sabar karenanya. Pamot semakin lama menjadi semakin
lambat. Bahkan kadang-kadang kudanya hampir berhenti sama sekali.
"Pamot " desis Sindangsari "tubuhku terasa sakit sekali"
"Tahankanlah Sari. Kita akan segera sampai ke tujuan" "Perutku"
"Bagaimana dengan perutmu?" Sindangsari selalu berdesis karena
perutnya terasa sakit, selain bekas bekas luka bakarnya. Perjalanan
itu adalah perjalanan yang terlampau berat bagi Sindangsari yang
sedang mengandung. Goncangangoncangan derap kaki kudanya membuatnya
semakin kesakitan dan mual sehingga perempuan itu tidak dapat
menahan diri lagi, sehingga muntah-muntah. Kawan Pamot menarik nafas
dalam-dalam. Ia yakin bahwa di belakangnya Ki Reksatani bersama
beberapa orang sedang mengejarnya. Meskipun jarak mereka cukup
panjang, tetapi apa bila perjalanan ini seakan-akan tidak juga
sempat maju, maka Ki Reksatani pasti akan dapat mengejarnya dan
membinasakannya di perjalanan sebelum mereka sempat sampai ke
Kademangan. "Apakah Lamat mampu bertahan lebih lama lagi" desis anak
muda yang mengawani Pamot itu. Tetapi ia tidak dapat memaksa Pamot
untuk berpacu lebih cepat lagi. Apalagi ketika Sindangsari
muntah-muntah karenanya. Kalau terjadi sesuatu dengan kandungan itu,
maka akibatnya pasti akan sangat jauh bagi Ki Demang di Kepandak
yang sedang merindukan seorang anak. "Meskipun demikian kalau mereka
terkejar oleh Ki Reksatani, akibatnya akan lebih parah lagi" berkata
anak muda itu di dalamhatinya. Bagaimanapun juga, anak muda itu
tidak lagi dapat menahan hatinya untuk setiap kali memperingatkan
Pamot bahwa di belakang mereka Ki Reksatani sedang mengejarnya.
Mudah-mudahan Lamat dapat mengalahkannya" desis Pamot. "Kemungkinan
yang kecil sekali" berkata kawannya "dan pikiran itu berbahaya
bagimu sekarang, karena kau akan menjadi lengah" Pamot
mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada Sindangsari
"Kita akan mempercepat perjalanan ini Sari" "Tubuhku dan perutku
semakin sakit " "Tetapi, bahaya yang lebih besar agaknya akan
mengejar kita. Bagaimana kalau Ki Reksatani berhasil menangkap kita
dan membunuhnya sekali" Sindangsari tidak menjawab. Tetapi
ditatapnya mata Pamot yang suramdan tampaknya menjadi cekung.
"Tahankanlah sedikit" berkata Pamot pula. Perlahan-lahan Sindangsari
menganggukkan kepalanya. Namun tanpa sesadarnya ia berpegangan
lengan Pamot yang memegang kendali kudanya erat-erat. Bahkan
perempuan itu tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di dada anak muda itu
sambil berdesis "Aku takut. Aku takut Pamot" "Jangan takut. Kita
akan berpacu terus. Sebentar lagi kau akan mendapat perlindungan Ki
Demang di Kepandak" Kuda mereka masih berlari terus meskipun tidak
begitu kencang. Dan Sindangsari berkata "Aku takut kepada Ki Demang
di Kepandak" "Kenapa? Ki Demang pasti akan menyambutmu dengan senang
hati. Selama ini ia mencarimu seperti seorang ayah yang kehilangan
anak satu-satunya" "Tetapi, tetapi............" suaranya terputus.
"Kenapa Sari?" "Ia pasti tidak ingin melihat aku datang bersamamu"
"Kenapa? Ia adalah suamimu. Kau adalah isterinya yang mempunyai
kelebihan dari isteri-isterinya yang lain. Kau akan memberinya anak.
Sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh isteriisterinya yang lain"
"Pamot..." suara Sindangsari menjadi parau. Seperti kanak-kanak ia
membenamkan wajahnya di dada Pamot sehingga tangan Pamot yang
memegang kendali agak terganggu karenanya. Sindangsari tidak dapat
mengatakan apa-apa lagi. Air matanya tiba-tiba telah mengambang di
pelupuk matanya. Sebelum Pamot sempat berkata lagi, kawannya telah
mendekatinya sambil berdesis "Pamot, maaf bahwa setiap kali aku
terpaksa memperingatkannmu untuk keselamatanmu dan Nyai Demang di
Kepandak" "O, terima kasih" jawab Pamot. "Apakah kita dapat lebih
cepat sedikit?" "Ya, ya. Kita akan lebih cepat lagi" "Aku yakin Ki
Reksatani mengejar kita. Seandainya Lamat belum terkalahkan
sekalipun, namun agaknya Ki Reksatani tidak akan melepaskan Nyai
Demang" Pamot mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya
kepada Sindangsari "Kita memang harus mempercepat perjalanan ini"
Sindangsari tidak menyahut. Tetapi ia berpegangan semakin erat,
seakan-akan tidak akan dilepaskannya lagi. Pamot menarik nafas
dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang bergelora. Kalau yang
dibawanya kali ini Nyai Demang di Kepandak, tetapi bukan
Sindangsari, mungkin ia masih berhasil mengatasi perasaannya. Tetapi
kali ini perempuan yang diselamatkan itu adalah Sindangsari yang
sudah menjadi suami Demang di Kepandak. Meskipun demikian, Pamot
masih berusaha mempercepat derap kudanya. Sejenak mereka melintasi
bulak yang agak panjang di bawah terik matahari yang terasa membakar
tubuh. Agak jauh di belakang mereka, Ki Reksatani berpacu seperti
angin. Semakin lama justru menjadi semakin cepat. Bagaimanapun juga
masih terpercik di dalam hatinya, suatu harapan untuk menyusul pamot
di perjalanan. Ia akan membunuhnya dan Nyai Demang sekaligus.
Kemudian barulah ia akan menghadap Ki Demang di Kepandak. Ia tidak
akan ingkar lagi, Ia akan menghadapi semua akibat dari perbuatannya.
Tetapi kematian Sindangsari akan membuat Ki Demang kehilangan nafsu
hidupnya karena hari depannya benar-benar telah patah. Adalah tidak
akan begitu sulit lagi untuk mengalahkan orang yang sudah kehilangan
keinginan untuk tetap hidup. Dengan demikian maka nafsunyapun
semakin berkobar di dalam dadanya. Seakan-akan ia tidak sabar lagi
duduk diatas punggung kuda yang dirasanya terlampau lamban. Jejak
kaki kuda yang masih baru, yang kadang-kadang tampak diatas tanah
pada jalan sempit itu membuat Ki Reksatani menjadi semakin geram.
Tangannya sudah menjadi gatal. Ia ingin segera dapat mencekik Pamot
dan Sindangsari bersama-sama. Jarak antara keduanya memang menjadi
semakin pendek Pamot yang membawa Sindangsari tidak dapat berpacu
secepat-cepatnya, sedang Ki Reksatani justru semakin mempercepat
derap kudanya. Hampir sehari-harian mereka berpacu. Namun demikian,
mereka terpaksa kadang-kadang juga berhenti di pinggir parit untuk
memberi kesempatan kuda mereka melepaskan hausnya. Bagaimanapun juga
nafsu melonjak di dada Ki Reksatani, tetapi ia tidak dapat memaksa
kuda itu berlari tanpa berhenti. Apabila mulut kudanya mulai
berbusa, maka terpaksa iapun berhenti sejenak untuk mendapatkan air.
Demikianlah maka laju kuda-kuda mereka semakin lamapun memang
semakin lambat pula, karena kuda-kuda mereka menjadi lelah. Ki
Reksatani tidak dapat lagi memaksa kudanya untuk berpacu lebih cepat
lagi. Apalagi Pamot. Namun demikian jarak diantara mereka masih
tetap menjadi semakin pendek, karena bagaimanapun juga, derap kuda
Ki Reksatani masih tetap lebih cepat dari kuda Pamot. Apalagi
Sindangsari hampir-hampir t idak tahan lagi duduk sehari-harian
diatas punggung kuda meskipun ia menyadari keadaannya. Seluruh
tubuhnya benar-benar terasa sakit. Bukan saja karena luka-luka
bakar, tetapi juga karena perutnya dan pegal-pegal di punggung. "Kau
harus dapat bertahan Sindangsari. Sebentar lagi kita akan sampai"
Ketika Pamot berpacu lewat tanah persawahan di padukuhan padukuhan
kecil yang dilampauinya, seperti yang telah diduga, beberapa orang
menjadi heran melihat mereka. Tetapi karena Sindangsari memakai ikat
kepala dan pakaian yang tidak keruan, setiap orang memang menyangka,
bahwa ia adalah seorang laki-laki. Demikian pula anak muda yang
berkuda di belakang mereka. Tanpa kain panjang dan ikat kepala ia
juga menarik perhatian. Tetapi setelah mereka lewat, tidak ada lagi
orang yang menghiraukan. Mereka menyangka, bahwa orang-orang berkuda
itu adalah anak-anak muda yang senang dengan tindak tanduk yang
aneh-aneh tanpa menghiraukan tata kesopanan. Tetapi belum lagi
mereka selesai mengerjakan sekotak sawah mereka melihat beberapa
ekor kuda berpacu pula. Bahkan beberapa orang telah mengenal, bahwa
orang yang berkuda paling depan adalah Ki Reksatani. "He, bukankah
orang itu adik Demang di Kepandak?" "Ya" sahut kawannya "Tampaknya
agak aneh. Wajahnya tegang dan pakaiannya demikian kusutnya. "Ia
pasti sedang mencari isteri kakaknya yang hilang" "Ya, aku juga
mendengar. Isteri Demang di Kepandak telah hilang" "He" berkata yang
lain "apakah ia sedang mengejar orang aneh yang berkuda beberapa
saat sebelum ini" Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Salah
seorang menyahut "Ya, aku juga melihat tiga orang yang mempergunakan
dua ekor kuda" "Ya. Belum terlampau lama" "Sebentar lagi Ki
Reksatani pasti akan menyusul kalau mereka t idak berselisih jalan"
Sebenarnyalah bahwa jarak mereka memang semakin pendek. Beberapa
bulak kecil lagi, Ki Reksatani pasti sudah dapat menyusul Pamot,
sebelum matahari terlampau rendah. Tetapi Pamotpun sudah menjadi
semakin dekat dengan Kademangan Kepandak. Setelah mereka melampaui
sudut hutan yang agak lebat, maka jalan yang terbentang di
hadapannya adalah jalan yang lapang. Jalan yang semakin luas dan
terpelihara. Dengan dada yang berdebar-debar Pamot menyeberang
sebuah bulak yang cukup panjang. Jauh di hadapannya terbentang tanah
persawahan Kademangan tetangga. Di ujung bulak itu ia harus berbelok
kekiri, kemudian ia akan sampai ditelatah Kademangan meskipun baru
ujungnya. Matahari sudah menjadi semakin rendah, dan kuda-kuda yang
berpacu itupun menjadi semakin lelah. Sekali-sekali Pamot mengusap
peluh yang membasah di keningnya. Iapun sudah mulai merasa lelah.
Tetapi ia t idak boleh berhenti. Seolah-olah ia memang mendapat
firasat, bahwa di belakangnya Ki Reksatani berpacu semakin cepat.
Tepat ketika Pamot dan kawannya berbelok memasuki sebuah padukuhan
kecil setelah mereka mencapai ujung bulak Ki Reksatani muncul di
ujung bulak itu pula. Tetapi ia t idak lagi sempat melihat anak-anak
muda yang sedang dikejarnya. Yang mereka lihat hanyalah selapis debu
yang putih. Tetapi mereka tidak tahu, apakah yang telah melemparkan
debu itu ke udara. Demikianlah, maka sejenak kemudian Pamot telah
memasuki jalan-jalan di telatah Kademangan Kepandak. Adalah di luar
kemauannya sendiri, apabila kudanya berlari semakin cepat
seakan-akan kuda itupun mengerti, bahwa bahaya yang mengejarnya
menjadi semakin dekat pula. Anak muda yang mengikuti Pamot itupun
segera mendekatinya sambil berbisik "Kita sudah menjadi semakin
dekat. Tetapi kita masih belum lepas sama sekali dari setiap bahaya
yang sedang mengejar kita. Karena itu, supaya kita tidak kehilangan
arti dari usaha kita, kita justru harus mempercepat perjalanan ini.
Jangan melalui jalan-jalan di tengah-tengah bulak. Kita harus
berusaha menembus jalan yang paling dekat ke Kademangan" Pamot
menganggukkan kepalanya, Kepada Sindangsari ia berkata "Tinggal
selangkah lagi. Tahankan dirimu" Tetapi setiap kali Pamot mendengar
Sindangsari berdesis, sehingga kadang-kadang tanpa disadarinya
perhatiannya lebih banyak tertuju kepada Sindangsari daripada kepada
perjalanannya yang gawat itu. Namun demikian, kudanya masih berlari
terus, melintas jalan-jalan padukuhan yang sempit. Beberapa orang
yang mendengar derap kaki-kaki kuda itu menjengukkan kepala mereka
dari pintu regol. Mereka melihat dua ekor kuda yang berjalan
beriringan. Ketika kuda itu lewat di depan hidungnya, ia berdesis
"Pamot. Bukankah orang berkuda itu Pamot?" Namun ternyata ia tidak
segera mengenal Sindangsari yang memakai ikat kepala. Mereka memang
melihat wajah yang pucat. Tetapi wajah itu seperti wajah seorang
laki-laki yang baru menjelang dewasa. Tetapi orang itu tidak sempat
bertanya. Pamot mencoba untuk mempercepat langkah kudanya diiringi
oleh temannya yang gelisah. Orang yang berdiri di pintu regol itu
hanya menggelenggelengkan kepalanya. Sejenak ia berdiri
termangu-mangu sehingga kuda-kuda itu hilang dari tatapan matanya.
Namun tiba-tiba ia terkejut karena ia mendengar derap kaki kuda
berikutnya. Sejenak kemudian ia melihat beberapa orang yang juga
berpacu diatas punggung kuda. "Ki Reksatani" desisnya. Tetapi
seperti Pamot, Ki Reksatanipun tidak menghiraukan orang-orang yang
berdiri termangu-mangu di sepanjang jalan yang dilaluinya. Yang
terbayang diangan-angannya hanyalah Pamot yang membawa Sindangsari
berpacu beberapa puluh langkah di hadapannya. Bagaimanapun juga
Pamot berusaha, namun pada suatu saat ia tidak dapat menghindari
lagi jalan persawahan. Ia sudah sampai di padukuhan terakhir sebelum
ia mencapai induk Kademangan. Tetapi ia harus melintas sebuah bulak
yang meskipun tidak begitu panjang tetapi cukup mendebarkan. "Apakah
kita akan terus" bertanya Pamot kepada kawannya. "Segera kita harus
melintas secepat-cepat dapat kita lakukan" Pamot mencoba melecut
kudanya dengan ujung kendali. Tetapi kudanya seakan-akan tidak
terpengaruh lagi. Agaknya kuda itu benar-benar telah lelah, meskipun
ada juga usahanya untuk mempercepat derap kakinya. Sejanak kemudian
mereka telah memasuki sebuah bulak yang melintas di tengah-tengah
tanah persawahan. Sebelah menyebelah terbentang lautan batang batang
padi muda yang menghijau kemerah-merahan ditaburi oleh cahaya
matahari yang sudah menjadi semakin rendah: Perlahan-lahan angin
dari Selatan mengusap ujung daun-daunnya yang tipis, membuat susunan
gelombang yang susul menyusul. Dengan dada yang berdebar-debar
ketiga orang itu melintas bulak tersebut. Sekali-sekali mereka
berpaling, seakan-akan sudah terasa dipunggung mereka sentuhan
jarijari tangan Ki Reksatani yang menyusulnya. Namun ketika mereka
baru lepas melampaui tengah-tengah bulak itu, kawan Pamot hampir
terpekik karenanya. Ketika ia berpaling ia telah benar-benar melihat
iring-iringan orang berkuda yang mengejarnya. "Pamot " desisnya
"lihat, siapakah orang yang mengejar kita itu?" Pamot berpaling.
Dadanyapun berdesir tajam ketika ia melihat debu yang mengepul dari
kaki-kaki kuda yang sedang berpacu. "Ki Reksatani" desisnya. "Ya, ia
benar-benar mengejar kita" "Jadi, kita akan ditangkapnya?" Pamot
tidak menyahut. Tetapi sindangsari yang ketakutan tiba-tiba saja
telah memeluknya erat-erat. "Aku takut. Aku takut Pamot " Pamot
tidak menjawab. Kini ia benar-benar berada dalam kesulitan. Kalau Ki
Reksatani berhasil menyusulnya maka akibatnya dapat dibayangkannya.
Karena itu, satu-satunya usahanya adalah mempercepat lari kudanya.
Adapun yang akan terjadi, biarlah terjadi di hadapan KI Demang di
Kepandak. Seandainya ia harus dibunuh oleh Ki Reksatani sekalipun.
Dengan demikian, sekuat tenaganya ia melecut kaki kudanya. Kemudian
menyentuh perut kuda itu dengan tumitnya sehingga kuda yang terkejut
itu meloncat semakin cepat. Setiap kali Pamot berpaling, maka
dilihatnya kuda Ki Reksatani semakin dekat di belakangnya. Bahkan Ki
Reksatani yang sudah melihatnya pula mengacung-acungkan tangannya
sambil berteriak-teriak. "Apakah umurku sudah sampai batasnya?"
bertanya Pamot kepada diri sendiri. Tetapi Pamot masih berusaha
terus. Kudanyapun agaknya mengerti bahwa ia harus berlari semakin
cepat. Akhirnya Pamot berhasil melintas seluruh bulak. Tetapi ia
tidak segera masuk ke halaman rumah Ki Demang. Ia masih harus
berpacu melingkar-lingkar di padukuhan induk itu, barulah ia akan
sampai ke halaman Kademangan. Pamot tidak mengerti, apa yang akan
dilakukan oleh kawannya yang agaknya masih sempat berpacu
mendahuluinya. Kudanya tidak selelah kuda Pamot yang dibebani oleh
dua orang sekaligus. "Apa yang akan dilakukan?" pertanyaan itu telah
mengganggunya. Ternyata kawan Pamot mendahului mencapai gardu di
tikungan. Dengan serta merta ia meloncat turun di depan gardu yang
masih kosong itu. Diambilnya selarak jalan yang biasa dipasang di
malam hari. Sebuah bambu panjang, sepanjang lebar jalan itu. "Cepat
Pamot cepat "serunya. Pamot agaknya mengerti maksud kawannya. Karena
itu iapun mempercepat sejauh dapat dilakukan. Sejenak kemudian
Pamotpun telah melampaui gardu yang kosong itu. Ketika ia berpaling
dilihatnya kawannya sibuk memasang selarak seperti apabila ada
sesuatu yang penting di malamhari. Tetapi agaknya kawan Pamot tidak
sekedar memasang selarak itu saja. Ia tahu, bahwa orang-orang Ki
Reksatanipun akan dengan mudahnya membuka selarak itu, meskipun
mereka harus berhenti sekejap. Tetapi kawan Pamot itu memanjat sudut
gardu itu dan mengambil kentongan kecil yang tergantung di ujung
emper. Ketika ia meloncat turun, maka dilihatnya di tikungan
beberapa ekor kuda berpacu dengan cepatnya menuju ke arahnya. Dada
anak muda itu berdesir. Tetapi ia tidak boleh menyerah. Dengan
tergesa-gesa ia berlari dan meloncat kepunggung kudanya sambil
membawa kentungan itu. Sejenak kemudian kudanya sudah berpacu
meninggalkan gardu itu tepat di saat Ki Reksatani berteriak
"Lepaskan selarak itu. Cepat" Seseorang meloncat turun dari kudanya.
Tetapi ketika tangannya mulai menyentuh selarak itu, ternyata anak
muda yang berpacu sambil membawa kentongan itu telah memukul tanda
bahaya. Sambil menyelusuri jalan padukuhan, bergemalah kentongannya
dalam nada titir yang berkepanjangan. Karena orang yang akan membuka
selarak itu menjadi ragu-ragu, Ki Reksatani telah berteriak "Cepat,
apakah kau menjadi gila?" "O" orang itu tergagap. Dengan serta merta
tangannya menarik selarak dan melemparkannya ketepi. Namun waktu
yang sekejap itu agaknya telah membuat Ki Reksatani menjadi bimbang.
Ternyata seseorang yang duduk di pintu rumahnya terkejut mendengar
suara kentongan dalam nada yang mencemaskan. Tanpa berpikir panjang,
iapun segera berlari ke sudut rumahnya dan memukul tanda yang
serupa. Demikianlah maka tanda itu telah merambat dari kentongan
yang satu kekentongan yang lain. Bukan saja kentongan di gardu-gardu
tetapi juga kentongan di sudutsudut rumah. Bahkan seorang yang
memiliki kentongan bongkotan glugu telah memukulnya pula sehingga
suaranya bergema di seluruh padukuhan. "Gila" desis Ki Reksatani
yang ragu-ragu. Ia mengerti, bahwa ia memerlukan waktu untuk
mencapai Kademangan. Waktu yang sejenak selama ia membuka selarak,
telah memberikan kesempatan kepada Pamot memperpanjang jarak
daripadanya. Apalagi kini didengarnya suara kentongan dalam nada
yang mencemaskan. "Beberapa orang akan sempat berkumpul di halaman
Kademangan Kepandak" desis Ki Reksatani "aku tidak mau mati seperti
harimau di dalam rampogan. Aku harus datang dalam kesiagaan
menghadapi para pengawal dan kakang Demang di Kepandak" Para
pengiringnya menjadi termangu-mangu. "Aku tidak akan segera pergi ke
Kademangan sekarang. Aku akan mempersiapkan orang-orangku supaya aku
tidak perlu mengulanginya. Pergilah kalian memanggil kawan-kawan
kita yang masih ada di rumah. Panggilah mereka yang menunggu di
pondokan-pondokannya" lalu kepada pengikut Manguri yang ada diantara
mereka ia berkata "Kalian juga. Panggillah orang-orangmu.
Pengawal-pengawal ternak yang ada. Kita sudah sampai pada batas
terakhir untuk bertindak. Kalau kita terlambat, kita semua akan
binasa. Sekarang kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita harus
segera menguasai keadaan. Kita harus menguasai para bebahu dan
anak-anak ingusan yang menyebut dirinya pengawal-pengawal
Kademangan" Sejenak mereka termangu-mangu. "Kalian tidak usah
menunggu Manguri yang terluka. Kalau kita berhasil, ia akan dapat
kita selamatkan. Tetapi kalau kita mati dicincang orang disini,
Manguri dan ayahnyapun akan mengalami nasib serupa" Ki Reksatani
berhenti sejenak, lalu "Cepat. Semuanya kita lakukan sekarang. Aku
menunggu di ujung desa ini" Sejenak kemudian, maka berpencaranlah
kuda-kuda itu menuju ke arah masing-masing. Dua orang tinggal
bersamasama Ki Reksatani. Merekapun kemudian menunggu di ujung desa
dengan gelisahnya. Ternyata perhitungan Ki Reksatani tidak salah.
Kentongan dalam nada titir itu telah mengejutkan setiap orang.
Beberapa orang anak muda segera menyambar senjata masing-masing dan
berlari-larian ke halaman Kademangan. Para bebahu dan laki-laki di
sekitar rumah Ki Demangpun segera bersiaga. Ki Jagabaya yang ada di
Kademanganpun terkejut pula. Karena ia belum mengerti apa yang sudah
terjadi, maka iapun tidak segera dapat menjawab beberapa pertanyaan
para pengawal. "Apa yang terjadi Ki Jagabaya?" Ki Jagabaya
menggelengkan kepalanya. "Aku belum tahu" katanya "tenanglah.
Sebentar lagi pasti akan ada laporan" Anak-anak muda yang sudah
berada di halaman kademangan menjadi gelisah. Sementara anak-anak
muda yang lain masih berlari-larian menuju ke halaman Ki Demang di
Kepandak. Ki Demang di Kepandak sendiripun menjadi gelisah mendengar
suara kentongan itu. Setelah menyisipkan senjatanya di pinggangnya,
iapun kemudian menuruni tangga pendapa rumahnya, Hatinya yang selama
ini sedang resah karena hilang nya Nyai Demang, kini serasa menjadi
semakin bergejolak mendengar tanda bahaya yang sudah bergema di
seluruh Padukuhan induk. Dan bahkan sudah merayapi ke
padukuhan-padukuhan lain. Beberapa orang yang berlari-larian keluar
dari regol masing-masing, tiba-tiba terkejut oleh derap kuda yang
berlari dengan kencangnya. Dua ekor kuda. Yang di depan membawa dua
orang sekaligus sedang yang di belakang seorang anak muda dalam
pakaian yang tidak lengap berpacu sambil memukul kentongan. "Apakah
mereka sedang saling berkejaran?" bertanya salah seorang. "Entahlah.
Mereka menuju ke halaman Ki Demang" "Kita akan pergi ke Kademangan
pula" Orang-orang itupun kemudian berlari-larian mengikuti arah kuda
yang berderap di jalan padukuhan itu. Kademangan Kepandak yang
gelisah itu tiba-tiba menjadi semakin hiruk pikuk. Kuda
berlari-larian ke segenap arah. Suara titir yang mengumandang di
seluruh kademangan. Anak-anak muda yang dengan tergesa-gesa
berkumpul di Kademangan dengan senjata di tangan. Dalam pada itu Ki
Reksatanipun menjadi gelisah pula. Hampir-hampir ia tidak bersabar
lagi menunggu orangorangnya. Tetapi karena jaraknya yang cukup jauh,
maka ia terpaksa menunggu dengan dada yang bergejolak. Tetapi Ki
Reksatani yakin, bahwa Ki Demang di Kepandak tidak akan mencarinya
ke ujung padukuhan. seandainya ia menyadari apa yang akan terjadi,
ia akan bertahan di halaman Kademangan bersama para bebahu dan
anak-anak muda yang disebut pengawal Kademangan. Ketika Ki Reksatani
mengangkat wajahnya, dilihatnya langit sudah menjadi semakin merah.
Matahari perlahan-lahan telah tenggelam di ujung Barat, meninggalkan
sisa-sisa sinarnya yang tersangkut di bibir awan. Perlahan-lahan
senja yang suram menjadi semakin kelam, seperti hati setiap orang di
Kademangan Kepandak. Belum ada seorangpun yang dapat mengetahui
dengan pasti, apa yang sudah terjadi. Dalam pada itu, dua ekor kuda
perlahan-lahan mendekati regol Kademangan yang menjadi semakin penuh
dengan para pengawal di sana-sini anak-anak muda tampak bersiaga.
"Aku takut kakang" tiba-tiba Sindangsari berdesis dengan suara yang
gemetar. Pamotpun menjadi ragu-ragu karenanya. Sejenak mereka
berhenti. Tetapi kawannya mendekatinya sambil berkata "Kita harus
menyampaikannya kepada Ki Demang sebelum Ki Reksatani datang
mendahului kita" Pamot menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanyapun
bergolak pula. Sekali-sekali iapun berpaling, tetapi ia tidak segera
melihat Ki Reksatani menyusulnya. "Mungkin Ki Reksatani
mempergunakan cara lain setelah ia mendengar t itir" berkata kawan
Pamot. "Baiklah" desis Pamot. "Tetapi aku takut" sekali lagi
Sindangsari berbisik. "Jangan takut Sari. Kau akan kembali kepada
suamimu. Kau akan segera mendapat perlindungannya" "Tetapi" suara
Sindangsari terputus. "Marilah" Terasa di tangan Pamot tubuh
Sindangsari menjadi gemetar. Tetapi sebelum Pamot berkata lebih
lanjut, beberapa orang yang melihatnya segera mendekatinya. Di dalam
kesuraman senja orang-orang itu tidak segera mengenal, siapakah yang
berada dipunggung kuda itu. Tiba-tiba seorang anak muda berdesis
"Kau Pamot" "Ya" "Tetapi siapakah yang kau bawa?" Pamot menarik
nafas sekali lagi. Agaknya tidak mudah mengenal seseorang di
keremangan senja, apalagi dalam pakaian yang aneh. "Siapa?" orang
itu mendesak sambil mendekat. "Aku akan menghadap Ki Demang" desis
Pamot. Tanpa menunggu jawaban, Pamotpun segera menggerakkan kendali
kudanya dan maju mendekati regol halaman. Orang-orang yang
mendekatinya sama sekali tidak menahannya. Mereka telah mengenal
Pamot dengan baik. Tetapi mereka heran juga melihat seseorang yang
aneh duduk dipunggung kudanya pula. Ketika Pamot telah lalu,
merekapun segera mendekati kawan Pamot yang masih termangu-mangu
diatas punggung kudanya. Salah seorang segera bertanya kepadanya
"Kenapa kau sebenarnya? Apakah kau datang dari sawah langsung
kemari? Apakah karena kau sedemikian tergesa-gesa, tidak sempat
mengenakan kain dan ikat kepala bahkan berkuda?" Anak muda itupun
menggelengkan kepalanya "Dengarlah apa yang akan dikatakan Pamot
kepada Ki Demang di Kepandak" "Apa yang akan dikatakannya?" "Aku
kurang tahu" Orang-orang itupun menjadi termangu-mangu. Kemudian
mereka tergesa-gesa kembali ke halaman untuk mendengar apa yang akan
dikatakan oleh Pamot kepada Ki Demang di Kepandak. Ketika kuda Pamot
sampai di regol, orang-orang yang berdiri di regolpun segera
menyibak. Di dalam keremangan senja yang semakin gelap mereka
melihat Pamot membawa seseorang yang agak aneh di pandangan mereka.
Tetapi beberapa orang berbisik "He, kau kenal orang yang dibawa
Pamot diatas punggung kudanya?" Yang ditanya hanya menggigit
bibirnya. Meskipun demikian orang itu berdesis di dalam hatinya
"Wajah itu mirip sekali dengan Nyai Demang di Kepandak" Pamot
langsung memasuki halaman diatas punggung kudanya. Dengan dada yang
berdebar-debar ia melihat dua buah bayangan yang kehitam-hitaman
berdiri di bawah tangga pendapa. Semakin dekat, menjadi semakin
jelas baginya, meskipun kegelapan mulai menyelubungi Kademangan
Kepandak, bahwa dua orang itu adalah Ki Demang dan Ki Jagabaya.
Pamot baru menghentikan kudanya ketika ia sudah berada beberapa
langkah di hadapan Ki Demang di Kepandak. Iapun kemudian meloncat
turun. "Aku yang datang menghadap Ki Demang" "Kau Pamot?" bertanya
Ki Demang "kaukah yang menyebabkan seisi Kademangan menjadi gelisah
karena tanda bahaya itu?" "Ya Ki Demang" "Kenapa?" Pamot tidak
segera menjawab. Dipandanginya Nyai Demang yang masih duduk diatas
punggung kudanya. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan menolongnya
turun perlahan-lahan. "Aku takut" masih terdengar desis itu.
Ternyata desis itu telah menghentakkan dada Ki Demang di Kepandak.
Suara itu suara seorang perempuan. Karena itu, maka Ki Demangpun
segera meloncat mendekati sambil bertanya "Siapa orang ini? Suaranya
suara seorang perempuan, tetapi ia memakai ikat kepala. seperti
laki-laki" Pamot menjadi berdebar-debar. Tetapi ia berkata "Ki
Demang. Aku datang untuk menyerahkan Nyai Demang di Kepandak" "He?"
suara Ki Demang di Kepandak terputus di kerongkongan. Pernyataan
Pamot yang tiba-tiba itu benar benar telah mengguncang
isi dadanya. Justru karena itu sejenak ia membeku di tempatnya.
Dalam kegelapan yang semakin hitam, Ki Demang memandang seorang
perempuan yang berdiri termangu-mangu di sisi Pamot. Bahkan tanpa
sesadarnya, Sindangsari itu masih juga berpegangan pada lengan
Pamot. Perlahan-lahan Ki Demang di Kepandak dapat mengenal wajah
itu. Wajah itu adalah wajah isterinya. Sindangsari yang sedang
mengandung. Yang hilang selagi Kademangan disibukkan oleh peralatan
untuk menyambut bulan ke tujuh dari kandungan Sindangsari itu. Namun
tiba-tiba terkilas di kepala Ki Demang di Kepandak, apa yang
sebenarnya dihadapi. Ketika ia memandang perut Sindangsari yang
membesar, sesuatu kenyataan telah menyambar kepalanya, bahwa
sebenarnya anak di dalam kandungan itu sama sekali bukan anaknya.
Karena itu, sesuatu terasa melonjak di dadanya. Kemudian jantungnya
yang berdentangan serasa tersentuh seonggok bara. Dengan serta-merta
Ki Demang di Kepandak meloncat maju menangkap baju Pamot. Sambil
mengguncangguncangnya Ki Demang berkata geram "Jadi, jadi benar kau
yang menculiknya Pamot? Jadi kaulah yang telah membuat Kademangan
Kepandak ini bagaikan neraka? Kenapa hal itu kau lakukan he,
kenapa?" "Tidak, tidak Ki Demang. Bukan aku. Bukan aku" "Jangan
ingkar. Jangan ingkar. Darimana kau dapatkan perempuan itu kalau
memang bukan kau yang menyembunyikannya" "Tidak, tidak Ki Demang"
tiba-tiba terdengar suara Sindangsari. "O, agaknya semuanya memang
sudah diatur. Agaknya kalian memang telah bersepakat untuk
melakukannya" "Tidak Ki Demang" "Jangan ingkar" tiba-tiba tangan Ki
Demang telah menarik baju Pamot sehingga anak itu terdorong maju.
"Tunggu Ki Demang" cegah Ki Jagabaya "sebaiknya kita bertanya
kepadanya. Apakah yang akan dilakukan dan apakah yang telah
dilakukan" "Aku tidak mempunyai waktu untuk berbicara dengan
orang-orang semacam ini. Ia telah menghinaku. Ia menganggapku sama
sekali bukan seorang laki-laki" lalu bertanya kepada Pamot "Pamot,
apakah kau merasa bahwa kau seorang laki-laki yang tanpa tanding?
Apakah kau sekarang ingin menantang aku dalamperang tanding?" "Tidak
Ki Demang" suara Pamot gemetar, sedang Sindangsari seolah-olah telah
kehilangan akal tanpa dapat berbuat sesuatu. Dalampada itu kawan
Pamot segera maju mendekat sambil berkata "Aku adalah saksi dari
semua yang telah terjadi KiDemang" Ki Demang di Kepandak mengerutkan
keningnya. Ditatapnya wajah anak muda itu dengan tajamnya. Tetapi Ki
Demang seolah-olah justru terbungkam. "Ki Demang" berkata anak muda
itu "Pamot sama sekali tidak bersalah" Ki Demang memandangnya
semakin tajam. "Aku menyertainya sejak ia meninggalkan Kepandak
untuk mencari Nyai Demang" "Kau mencoba melindunginya?" "Sama sekali
tidak. Tetapi sebaiknya Ki Demang mendengarkan keteranganku" Ki
Demang di Kepandak menjadi ragu-ragu sejenak. Sedangkan anak muda
itu menjadi gelisah. Apabila tiba-tiba saja Ki Reksatani datang dan
segera memberikan keterangan dan kesaksian palsu, maka mungkin
sekali Ki Demang akan lebih mempercayainya. "Cepat katakan, apa yang
telah kau saksikan?" berkata Ki Demang sambil melepaskan baju Pamot
yang dipegangnya. "Ki Demang" berkata anak muda itu "baik Pamot
maupun Nyai Demang di Kepandak sama sekali tidak bersalah, Ki Demang
dapat melihat, bahwa Nyai Demang berpakaian tidak sewajarnya karena
pakaiannya sendiri sebagian telah terbakar" "Terbakar?" "Ya. Nyai
Demang berusaha untuk membunuh diri dengan membakar bilik tempat ia
disembunyikan" "Siapakah yang menyembunyikan? Siapa?!!" Ki Demang
seakan-akan tidak sabar lagi menunggu jawab anak muda itu "jangan
berbohong. Kalau kau berbohong karena kau dan Pamot serta
Sindangsari telah bersepakat, maka kalian akan aku gantung
bersama-sama" "Aku mempunyai saksi. Tidak hanya seorang atau dua
orang. Tetapi seluruh isi padukuhan Sembojan dan Kali Mati. Bahkan
seluruh Kademangan Prambanan karena Ki Jagabaya di Prambanan ikut
serta menyelesaikan masalah ini" "Cepat, katakan apa yang kau lihat"
Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam keremangan malam
ia melihat bayangan para bebahu dan pengawal kademangan telah
mengerumuninya. "Cepat" bentak Ki Demang di Kepandak. Sekilas
dipandanginya Sindangsari yang kelelahan. Ia masih saja berdiri di
tengah-tengah lingkaran orangorang Kepandak. Tetapi anak muda itu
tidak berani mengatakan sesuatu tentang Nyai Demang itu. Karenai
itu, maka anak muda itupun segera mulai berceritera, sejak mereka
berangkat meninggalkan Gemulung di malam hari, sampai saat-saat
terakhir mereka berada di Sembojan. Bagaimana mereka harus berkelahi
melawan orang-orang Ki Reksatani dan Manguri dan bagaimana mereka
melarikan diri dari Sembojan dikejar oleh Ki Reksatani dan
orang-orangnya. "Kami hampir saja dapat ditangkapnya. Ki Reksatani
berada beberapa puluh langkah di belakang kami" Keterangan anak muda
itu bagaikan bunyi guruh yang meledak diatas kepala mereka.
Terlebih-lebih Ki Demang di Kepandak. Beberapa kali anak muda itu
menyebut nama adiknya, Reksatani. Beberapa kali Ki Demang berusaha
meyakinkan pendengarannya, apakah benar nama itu yang diucapkan oleh
anak muda itu. Ki Demang di Kepandak hampir-hampir tidak dapat
mempercayai pendengarannya sendiri, atas nama itu. Nama satu-satunya
adiknya. Karena itu, maka untuk meyakinkan dirinya Ki Demang
kemudian bertanya dengan suara gemetar "Kau sebut nama Reksatani?"
"Ya. Ya Ki Demang. Ki Reksatani. Memang hampir t idak masuk akal.
Tetapi aku tidak berbohong" Terasa dada Ki Demang seolah-olah akan
meledak karenanya. Anak muda itu telah menceriterakan semuanya.
Semuanya yang diketahui tentang Ki Reksatani Semua yang telah
dilihatnya dan semua yang pernah didengarnya dari Pamot. Ki
Jagabayapun bagaikan membeku di tempatnya mendengar keterangan anak
muda itu. Seperti melihat peristiwa di dalam mimpi yang mengerikan.
Tetapi beberapa kali ia mendengar nama itu nama Reksatani.
Reksatani. Dan akhirnya Ki Jagabaya yakin bahwa yang dimaksud adalah
Ki Reksatani satu-satunya adik Ki Demang di Kepandak. Dalam pada
itu, Ki Demang di Kepandak masih berdiri membeku di tempatnya.
Sejenak ia mencoba membayangkan apa yang sebenarnya telah terjadi
itu. Selama ini ia tidak pernah menaruh kecurigaan apapun terhadap
adiknya. Bahkan ia sudah pernah mengatakan kepada Ki Reksatani,
bahwa apabila Nyai Demang di Kepandak tidak segera dapat
diketemukan, ia akan meninggalkan Kademangan dan menyerahkan
pimpinan Kademangan ini kepada adiknya itu. Ki Demang menarik nafas
dalam-dalam. Satu-satu peristiwa-peristiwa yang paling pent ing di
dalam hidupnya telah membayang. Satu-satu terbayang pula wajah-wajah
isterinya yang terdahulu. Isteri-isterinya yang tidak pernah dapat
memberikan seorang anak kepadanya Kini isterinya yang terakhir itu
sudah mengandung. Kandungan inilah yang membuat adiknya menjadi
gila. Setelah sekian lama ia berpengharapan, agar Ki Demang di
Kepandak tidak mempunyai seorang anak, tiba-tiba harapan itu lenyap
seperti asap tertiup angin Nyai Demang yang terakhir telah
mengandung. "Inilah sebabnya?" ia bertanya kepada diri sendiri
kenapa ia tidak berterus terang mengatakan bahwa ia menginginkan
jabatan ini?" Tetapi apa yang sudah dilakukan oleh Ki Reksatani
telah membuat hati Ki Demang menjadi panas. Seandainya benar
keterangan itu, maka justru ia tidak akan dapat begitu saja
menyerah. Dalam kegoncangan perasaan itu, Ki Demang bertanya dengan
suara yang dalam "Dimana Reksatani sekarang?" "Kami tidak tahu Ki
Demang. Hampir saja kami dapat disusulnya. Tetapi ketika kami
memasuki padukuhan ini, agaknya Ki Reksatani tidak mengejar terus"
Ki Demang di Kepandak menggeretakkan giginya. Dipandanginya Pamot
yang masih berdiri membeku di kegelapan malam. Kemudian ditatapnya
Wajah isterinya yang ketakutan. Dada Ki Demang tiba-tiba berdesir.
Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah yang sangat muda. Wajah
Sindangsari yang memang sebaya untuk menjadi isteri Pamot. Keduanya
seolah-olah memiliki kesamaan. Tatapan mata mereka, bibir mereka,
lengkung alis dan sudut dagu. "Sindangsari memang pantas menjadi
isterinya" tiba-tiba saja, tanpa disadarinya tumbuh suatu pengakuan
di dalam hati "Kenapa aku dahulu mengambilnya?" Barulah kini Ki
Demang menyadari, betapa pahit hidup Sindangsari selama ini. Sejak
ia diperebutkan oleh Pamot dan Manguri yang hampir saja terjadi
korban ketika gerombolan penjahat ikut campur pula di dalamnya. Dan
belum lagi hati gadis itu menjadi tenang, datanglah dirinya sebagai
Demang di Kepandak, tanpa menghiraukan perasan kedua anak-anak muda
itu telah merampas kebahagiaan mereka dengan paksa. Namun ia tidak
dapat berbuat apa-apa setelah Sindangsari di Kademangan. Ia lebih
banyak berbuat sebagai seorang ayah terhadap anak gadisnya daripada
seorang suami. Ketika ia mengetahui bahwa Sindangsari mengandung
oleh tetesan darah Pamot, hampir saja ia membunuh perempuan itu.
Namun akhirnya ia memanfaatkannya, karena ia sendiri memang t idak
akan dapat memberinya. Tetapi kandungan itulah yang telah menyeret
Sindangsari ke dalam bencana. Tiba-tiba Ki Demang di Kepandak
menggeretakkan giginya. Seakan-akan ia dihadapkan pada sebuah cermin
yang menunjukkan cacat di wajah sendiri. Bencana yang mengejar
Sindangsari dan Pamot selama ini adalah akibat dari perbuatannya.
Akibat dari keserakahannya. Bahkan ia telah dengan sengaja
menjerumuskan Pamot ke dalam tangan maut, dengan mengirimkannya ke
Mataram. Tetapi anak itu masih tetap hidup. Kenangan tentang
perjalanan hidup Ki Demang itu jelas terbayang di wajahnya.
Satu-satu. Sehingga akhirnya ia mengambil suatu keputusan "Pamot.
Bawalah Sindangsari masuk ke dalam. Aku akan menunggu Reksatani
disini" lalu kepada Ki Jagabaya "perintahkan beberapa pengawal
menjaga setiap pintu. Tidak mustahil Reksatani akan masuk lewat
pintu butulan" Ki Jagabaya menganggukkan kepalanya. Bersamaan
waktunya dengan langkah Pamot mengantar Nyai Demang di Kepandak
masuk ke ruang dalam, maka Ki Jagabayapun telah menyebar orang-orang
kesegenap sudut halaman Kademangan. Ki Demang di Kepandak sadar,
bahwa rencana Ki Reksatani bukanlah rencana yang baru disusun
kemarin. Rencana ini pasti sudah diperhitungkan masak-masak dengan
Manguri dan keluarganya. Karena itu, maka Ki Demangpun sadar, bahwa
seandainya Ki Reksatani akan datang nanti, ia pasti membawa beberapa
orang kawan bersamanya. Ki Reksatani pasti sudah siap untuk
bertempur beradu dada. Dan kini, adik satusatunya itu pasti sedang
mengumpulkan orang-orangnya. Betapa pahitnya Ki Demang di Kepandak
menyadari kenyataan itu. Tetapi semuanya sudah merayap sampai ke
puncaknya sehingga t idak akan mungkin diulang kembali. Seperti Ki
Demang di Kepandak, Ki Rekstanipun seakanakan melihat seluruh
perjalanan hidupnya yang membayang. Sekilas terkenang masa
kanak-kanaknya. Kakaknya memang seorang kakak yang baik. Yang selalu
berusaha mengasuhnya dan menuntunnya dalam banyak hal. "Tidak" Ki
Reksatani menggeram "ia sama sekali bukan seorang kakak yang baik.
Ia adalah seorang yang serakah. Seorang yang hanya mementingkan
dirinya sendiri. Ia sama sekali t idak memberikan apapun kepada
Kademangan ini selain merampas perempuan-perempuan cantik untuk
dijadikan isterinya" Sambil menunggu kawan-kawannya Ki Reksatani
merekareka apa yang akan dikerjakan. Ia harus menguasai seluruh
halaman Kademangan, memusnahkan orang-orang yang setia kepada Ki
Demang di Kepandak. Jumlah itu tidak begitu banyak. Pengawal ingusan
itu akan segera menjadi gentar melihat peperangan yang kalut.
Mungkin satu dua orang yang telah ikut serta pergi ke Betawi akan
dapat bertahan. Tetapi merekapun akan segera dihancurkan. Setelah Ki
Demang di Kepandak dan para bebahu Kademangan dibunuhnya, tugasnya
tidak akan seberat itu lagi. Apalagi Ki Reksatani yakin, bahwa tidak
semua pengawal pergi ke Kademangan karena sebagian dari mereka pasti
menjaga padukuhan mereka masing-masing. "Tidak ada orang yang dapat
menghalangi lagi. Kakang Demang bukan orang yang tidak terkalahkan.
Aku kira, aku akan dapat mengimbanginya" berkata Ki Reksatani di
dalam hatinya. Sekilas terbayang wajah Lamat raksasa yang baginya
mulai menjadi Uar. Sehingga dalam pada itu ia berkata kepada diri
sendiri "Ternyata Lamat memang seorang pengkhianat. Agaknya ia
pulalah yang telah membunuh laki-laki muda yang hampir saja dapat
menerkam Nyai Demang di Kepandak. Pasti Lamat pulalah yang telah
membunuhnya waktu itu" Demikianlah, maka satu-satu orang-orang Ki
Reksatani mulai berdatangan. Ada juga diantara mereka orang-orang
Manguri yang tidak banyak mengetahui persoalannya. Tetapi mereka
sadar, bahwa merekapun sudah terlibat pula di dalam persoalan ini,
sejak mereka harus berjaga-jaga ketika di Kademangan diadakan
peralatan menyambut bulan katujuh kandungan Sindangsari. Dalam pada
itu, seluruh Kademangan Kepandak menjadi panas, terbakar oleh
kekisruhan yang menyeluruh. Ibu Sindangsari yang baru saja pulang ke
Gemulungpun menjadi gemetar. Setiap peristiwa yang terjadi, selalu
dihubungkannya dengan hilangnya anak perempuannya dari Kademangan.
Akhirnya, ketika malam menjadi semakin gelap, baik orangorang Ki
Reksatani, maupun orang-orang yang merasa berkewajiban melindungi
Kademangan Kepandak telah siap di tempat masing-masing. Rasa-rasanya
Ki Reksatani sudah tidak sabar lagi. Ia ingin segera menyelesaikan
pekerjaan yang sudah setengah dilakukannya itu. Semisal orang yang
menyeberang sungai, ia sudah terlanjur menjadi basah kuyup, sehingga
lebih baik terus daripada kembali dari tengah. Demikianlah, maka Ki
Reksatani sejenak memandang orang-orangnya yang hampir semua berada
di punggung kuda. Satu-satu dua diantara mereka terpaksa
mempergunakan seekor kuda untuk dua orang. "Kita sudah sampai pada
bagian terakhir dari perjuangan ini" berkata Ki Reksatani kepada
anak buahnya "Aku sudah mencoba menempuh jalan yang paling baik,
yang tidak akan menumbuhkan pertentangan yang luas, yang tidak akan
mengambil korban terlampau banyak. Tetapi aku sudah gagal. Sekarang,
mau t idak mau, senang tidak senang, kita akan menempuh jalan
kekerasan. Tetapi pekerjaan ini bukan pekerjaan yang terlampau
berat. Jumlah kita cukup banyak. Yang kita hadapipun hanyalah
sekedar kambing-kambing yang lemah. Bukan serigala" Ki Reksatani
berhenti sejenak, lalu "Aku sadar, bahwa setelah semuanya selesai,
aku masih harus mempertanggung jawabkan perbuatan ini kepada
pemimpin pemerintahan di Mataram. Mungkin mereka akan mengirimkan
beberapa orang untuk melihat kenyataan yang telah terjadi disini.
Tetapi itu akan dapat aku lakukan kelak dengan sempurna. Aku
mempunyai bukt i-bukti kelemahan kakang Demang di Kepandak" Tidak
ada yang menyahut. Orang-orang yang ada di hadapan Ki Reksatani
hampir tidak mempedulikan apa yang terjadi. Hanya beberapa orang
yang berhasil dibakar hatinya sajalah yang mengangguk-anggukkan
kepalanya. Yang lain sama sekali t idak menghiraukannya. Yang
penting bagi mereka, kalau mereka berhasil, maka mereka akan
mendapat upah yang cukup. Ada diantara mereka yang mendapat
kesanggupan untuk menjadi tetua padukuhan-padukuhan di telatah
Kepandak. Ada yang akan mendapat uang tunai. Ada pula yang akan
mendapat garapan sawah turun tumurun. Bahkan orang-orang Manguripun
mengharapkan hadiah serupa itu pula. Meskipun barangkali bukan dari
Manguri, tetapi dari Ki Reksatani. Apalagi dari kedua-duanya, karena
kekalahan Ki Demang akan berarti menyelamatkan Manguri meskipun
andaikata Sindangsari tidak tertolong lagi. Demikianlah, maka ketika
mereka merasa sudah cukup kuat, Ki Reksatanipun segera berteriak
"Kita akan berangkat. Kita akan mengepung halaman depan Kademangan.
Ingat, hanya halaman depan. Tetapi satu dua orang yang telah aku
tunjuk akan mengawasi halaman belakang seandainya Sindangsari
berusaha dilarikan orang. Adalah wewenangnya untuk sekaligus
menyelesaikannya. Juga atas Pamot dan orang-orang lain yang
melindungi perempuan itu. Kita akan menghadapi bebahu Kademangan
yang berjiwa kerdil itu serta anak-anak ingusan yang merasa dirinya
pengawal-pengawal yang tidak terkalahkan. Kalau kita menang, aku
akan melunasi semua janjiku. Tetapi kalau kita tidak berhasil, maka
kita semuanya akan digantung di pinggir padukuhan induk ini untuk
menjadi tontonan. Karena itu, selagi kita bertaruh nyawa, kita tidak
usah terlampau baik hati atas lawan-lawan kita nanti" Tidak ada yang
menyahut. Dan karena tidak ada sepatah katapun maka Ki Reksatanipun
berteriak "Marilah kita berangkat. Aku percaya kepaa kalian" Sejenak
kemudian maka kuda-kuda itupun sudah berderap. Mereka yang tidak
mempunyai kuda segera bergayutan pada punggung kuda kawan-kawannya.
Dalam pada itu, orang-orang di halaman Kademangan sudah menjadi
gelisah. Setelah memerintahkan para penawal berjaga-jaga di segenap
sudut, Ki Jababayapun kembali, pula ke halaman. Sambil
termangu-mangu ia berdiri di belakang Ki Demang di Kepandak. Di
sisinya Pamotpun berdiri tegak seperti patung. Ditinggalkannya
Sindangsari di dalam biliknya, yang setiap pintu telah dijaga oleh
para pengawal. Bukan saja di luar rumah, tetapi juga di dalamrumah.
"Mereka belumjuga datang" akhirnya Ki Jagabaya berdesis. Ki Demang t
idak menyahut. "Apakah kita akan menunggu sampai kapanpun?" bertanya
Ki Jagabaya kemudian "atau pada saatnya kita akan pergi ke rumahnya
dan menangkapnya hidup atau mati?" "Ia pasti akan datang" geram Ki
Demang "Aku yakin. Dan aku akan menunggunya" Ki Jagabaya tidak
menyahut. Ketika ia sempat memandang wajah Ki Demang, walaupun di
dalam kegelapan, namun tampak, betapa wajah itu menjadi tegang. Dan
tiba-tiba saja Ki Demang itu berkata kepada Ki Jagabaya "Perintah
memasang obor segala penjuru halaman ini. Kita sedang menyambut tamu
agung" Ki Jagabaya termangu-mangu. "Cepat. Aku sedang menyambut
satu-satunya adikku tersayang. Aku akan menyambutnya sebagai seorang
tamu yang sudah lama sekali aku rindukan" Ki Jagabaya masih bingung.
Tetapi iapun tidak bertanya sama sekali. Diperintahkannya beberapa
orang menyalakan obor dan memasangnya di segala sudut. Di regol
depan, di gardu, di pepohonan dan di dinding-dinding batu, sehingga
halaman itu menjadi terang-benderang bagaikan siang. Tidak
seorangpun yang segera mengerti maksud Ki Demang di Kepandak. Tetapi
juga tidak seorangpun yang berani bertanya. Mereka hanya dapat
menduga, bahwa apabila benar-benar terjadi bentrokan supaya setiap
pihak dapat membedakan lawan dan kawan. Dalam cahaya obor yang
kemerah-merahan tampaklah wajah-wajah yang tegang di seputar
halaman. Di bawah tangga pendapa, di sisi-sisi regol, di pinggir
gandok dan di sepanjang dinding batu. Bahkan ujung-ujung senjata
yang telanjang bagaikan daun ilalang yang mencuat dengan lebatnya.
Dalam pada itu Ki Reksatani dan orang-orangnya berderap menyusuri
jalan padukuhan induk itu menuju ke halaman Ki Demang di Kepandak.
Bagaimanapun juga hatinya menjadi berdebar-debar. Kadang-kadang
memang terbayang masa kanak-kanak mereka,kakak beradik anak Demang
di Kepandak. Namun justru kedudukan Demang di Kepandak itulah
agaknya yang kini telah memisahkan mereka. Bahkan diantarai dengan
tajamnya senjata. Semakin dekat halaman Kademangan, hati Ki
Reksatani memang menjadi semakin berdebar-debar, Tetapi iapun
kemudian menggeretakkan giginya "Aku sudah melampaui separo jalan.
Apaboleh buat. Apaboleh buat. Kakang Demang adalah saudaraku karena
kebetulan kami dilahirkan oleh ibu yang sama dari ayah yang sama
pula. Tetapi kini kami harus mencari jalan kami masing-masing" Ki
Reksatani telah berusaha mengingkari setiap kata hatinya tentang Ki
Demang di Kepandak, bahwa sampai saat ini, dan sampai kapanpun,
ikatan yang ada diantara mereka tidak akan dapat diputuskan. Ia
tidak akan dapat ingkar, bahwa Demang di kepandak adalah saudara
tuanya. "Tidak. Aku bukan adiknya lagi. Sejak ia menyimpang dari
garis kebenaran, ia bukan kakakku lagi" Tetapi Ki Reksatani terkejut
sendiri. Yang tampak olehnya adalah arti yang kabur dari kebenaran
itu. Demikian derap kaki-kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin
dekat dengan halaman Kademangan. Karena itu, maka sekali lagi ia
berteriak kepada para pengikutnya "Hatihatilah. Jangan gagal kalau
kalian tidak ingin digantung" Ki Reksatanipun segera mempercepat
derap kudanya untuk mengimbangi debar jantungnya yang semakin cepat
pula. Namun demikian ia menjadi heran melihat cahaya yang
kemerah-merahan membayang di arah halaman Kademangan. "Api" desisnya
"atau obor-obor yang banyak sekali" Namun ia menggeram "Persetan.
Aku harus membinasakan mereka yang tidak tunduk atas kehendakku. Aku
harus membunuh Sindangsari dan apabila mereka berkeras, para bebahu
Kademangan selain Ki Demang sendiri" Sejenak kemudian, Ki
Reksatanipun sudah melihat seperti yang disangkanya, obor yang
bertebaran di halaman. Namun dengan demikian hatinya menjadi semakin
berdebar-debar karenanya. Tetapi ia memang sudah membulatkan
tekadnya, merampas kedudukan kakaknya dengan kekerasan. Orang-orang
di Kademanganpun telah mendengar pula derap kuda yang mendekat.
Tidak hanya tiga atau empat, tetapi banyak. Banyak sekali. Sehingga
karena itu, tanpa perintah siapapun, orang-orang segera berloncatan
masuk ke dalam dinding-dinding kebun dan halaman di sebelah
menyebelah. Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Ia maju
beberapa langkah dan berdiri hampir tepat di tengahtengah halaman
rumahnya yang luas, yang beberapa waktu berselang dipergunakannya
untuk berbagai keperluan. Untuk menyelenggarakan upacara dan
pertunjukan-pertunjukan di saat-saat ia kawin beberapa kali. Untuk
berlatih pasukan pengawal khusus yang terdiri dari anak-anak muda
dari beberapa padukuhan di dalam lingkungan Kademangan Kepandak.
Untuk menyelenggarakan upacara bulan ke tujuh kandungan Sindangsari
di malam malapetaka itu. Dan yang terakhir, Ki Demang telah menerima
anak-anak muda Kepandak yang kembali dari Mataram setelah mereka
ikut berjuang merebut Betawi. Kini Ki Demang berada di halaman itu.
Dengan tegangnya ia menerima isterinya kembali, dan kini ia sedang
menunggu adiknya yang ternyata telah menimbulkan bencana tidak saja
dari dirinya sendiri, tetapi juga bagi Kademangan di Kepandak.
Sejenak kemudian dada Ki Demang di Kepandak itu berdesir. Ia melihat
kuda yang pertama berlari langsung masuk ke halaman Kademangan,
diikuti oleh beberapa ekor kuda yang lain, langsung bertebaran di
jalan yang melingkari halaman Kademangan di Kepandak. Ki Jagabaya
yang sudah mulai bergerak, tertegun kembali karena Ki Demang
berdesis "Biarkan mereka datang" Ki Jagabaya berdiri termangu-mangu.
Tetapi ia tidak berani berbuat apapun juga tanpa ijin Ki Demang.
Kuda yang langsung masuk ke halaman, berhenti beberapa langkah di
dalam regol. Dua ekor kuda yang lainpun berhenti tepat di regol
halaman tanpa menghiraukan anak-anak muda yang berjaga-jaga di
sebelah menyebelah. Sedang yang lain, seakan-akan telah mengepung
halaman Kademangan itu dengan rapatnya. Namun agaknya mereka tidak
memperhatikan, bahwa di belakang mereka, di balik pagarpagar kebun
dan halaman sebelah menyebelah, beberapa anak-anak mudapun telah
siap menunggu kedatangan mereka. Ki Reksatani yang masih berada di
punggung kudanya mencoba menenangkan hatinya sejenak. Ditatapnya Ki
Demang yang berdiri tegak di tengah halaman seperti sebuah patung
batu yang kokoh. "Ki Demang di Kepandak" berkata Ki Reksatani dengan
lantangnya "mungkin Ki Demang sudah mendengar serba sedikit tentang
usahaku membebaskan Kepandak dari ketamakanmu" Ki Demang tidak
segera menjawab. Ia masih berdiri di halaman itu bagaikan sudah
membeku. "He Ki Demang. Jangan ingkar. Rakyat Kademangan Kepandak
sudah jemu melihat tingkah lakumu, seolah-olah seluruh isi
Kademangan ini adalah milikmu. Kau dapat mengambil apa saja yang kau
perlukan, termasuk perempuanperempuan" Ki Demang t idak menjawab.
"Kau merasa bahwa perbuatanmu tidak dapat diganggu gugat.
Kekasaranmu, ketamakanmu dan kegilaanmu pada harta benda dan
perempuan membuat rakyat Kepandak menjadi muak. Aku adalah penerus
dari hasrat hati mereka. Pada saatnya kau memang harus menyingkir.
Kau harus pergi. dari Kepandak untuk selama-lamanya. Kau tidak dapat
lagi mengotori tanah peninggalan orang-orang tua kita yang selama
ini kita hormati. Kita agung-agungkan dan kita bina bersama-sama" Ki
Demang masih tetap berdiam diri. Dan Ki Reksatanipun berteriak
"Kenapa kau diam saja Ki Demang? Ayo, cobalah membela diri.
Ingkarlah dari segala kejahatan yang pernah kau lakukan. Kini
saatnya telah tiba. Aku membawa sepasukan pejuang yang akan
membebaskan tanah ini dari ketamakanmu" Tidak ada jawaban. "Kenapa
kau diam saja he? Kenapa? Apakah kau sudah menjadi bisu, tuli atau
apa?" Ki Demang di Kepandak menarik nafas dalam-dalam.
Perlahan-lahan ia maju beberapa langkah. Barulah ia berkata
"Reksatani, aku menjadi heran. Kenapa kau tiba-tiba marahmarah
kepadaku? Bukankah kau selama ini seorang adik yang baik bagiku?
Adikku satu-satunya? Kau banyak memberikan petunjuk kepadaku di
dalamtugasku. Kau banyak memberikan bantuan selagi aku dalam
kesulitan. Sekarang, kenapa tibatiba kau berubah? Bukankah kau pergi
dari padukuhan ini untuk mencari mbok-ayumu yang hilang? Kau belum
mengatakan hasil dari usahamu, tiba-tiba saja kau mengumpat-umpat
seperti orang mabuk" Ki Demang berhenti sejenak "Reksatani,
turunlah, dan berbicaralah dengan baik" Jawaban Ki Demang itu
benar-benar bagaikan menampar dada Ki Reksatani. Terasa sejenak
dadanya menjadi sesak dan mulutnya bagaikan tersumbat, sehingga ia t
idak dapat segera menjawab. "Reksatani" berkata Ki Demang
selanjutnya "selama ini aku selalu melihat wajahmu yang cerah.
Tingkah lakumu yang sopan dan hatimu yang aku sangka terbuka. Kini
tiba-tiba kau marah-marah tanpa sebab" Sejenak Ki Reksatani masih
terbungkam. Namun kemudian ia menghentakkan giginya sambil berteriak
"Jangan berpurapura. Kenapa kau menyiapkan para pengawal di halaman
ini? Kenapa kau panggil orang-orang yang selama ini menjilatmu
dengan senjata di tangan?" "Aku tidak mengerti Reksatani. Aku bahkan
terkejut mendengar tanda bahaya yang tiba-tiba saja bergema di
seluruh Kademangan" Sekali lagi Ki Reksatani membeku. Namun kemudian
suaranya menghentak "Jangan berpura-pura. Ki Demang di Kepandak.
Sekarang perananmu sudah selesai. Kau harus menyingkir. Sudah
waktunya orang lain memperbaiki tata kehidupan yang bernafaskan
ketamakan itu" Tetapi Ki Demang di Kepandak justru tertawa pendek
"Reksatani. Apakah yang sebenarnya kau kehendaki. Kau adalah adikku.
Sebenarnya kau dapat berkata berterus terang. Kau tidak perlu
menempuh jalan yang berliku-liku. Jalan yang sulit dan berbahaya.
Tidak saja bagimu sendiri, tetapi juga bagi seluruh Kademangan"
Pertanyaan itu telah menggetarkan dada Ki Reksatani. Sejenak ia
memandang Ki Demang di Kepandak dalam cahaya obor yang terang
benderang. Namun kemudian ia tidak mau terseret oleh arus
perasaannya, sehingga ia berkata lantang "Aku menghendaki semuanya
yang sekarang berkuasa bersamamu menyerahkan diri" Ki Demang
mengerutkan keningnya. Lalu "Maksudmu, apakah aku harus menyerahkan
jabatanku, begitu?" Pertanyaan itu memang agak membingungkan. Tetapi
Ki Reksatani menyahut "Ya. Kau harus menyerahkan diri" "Reksatani,
menurut adat yang berlaku, kalau aku tidak lagi dapat memegang
jabatan ini, maka anakkulah yang harus menggantikannya. Padahal
anakku masih ada di dalam kandungan" "Persetan dengan anak itu. Kau
juga harus menyerahkan isterimu itu. Isterimu itupun harus
disingkirkan untuk selamanya" "Reksatani, coba katakan, apakah salah
Sindangsari? Misalnya aku seorang Demang yang tamak, seorang Demang
yang hanya memikirkan diri sendiri dan mengambil apa saja yang aku
kehendaki termasuk perempuan, maka itu adalah salahku, bukan salah
Sindangsari. Justru Sindangsari telah terkena akibat dari
kesalahanku itu. Kenapa sekarang Sindangsari harus diikut sertakan
dalam kesalahan ini? Bahkan harus disingkirkan?" "Di dalam
perutnya ia menyimpan anak keturunanmu. Itulah salahnya. Dan
kesalahan itu harus ditebus dengan nyawanya" "Reksatani. Lima kali
aku kawin. Tidak seorangpun yang dapat memberikan seorang anak
kepadaku. Sekarang, ketika aku kawin untuk keenam kalinya, isteriku
itu sudah mengandung. Nah, tentu kau tahu Reksatani, bahwa aku
menjadi sangat berharga karenanya. Aku berpengharapan bahwa kelak
akan ada keturunan yang dapat menyambung hidupku" "Cukup" bentak
Reksatani "itulah yang harus dicegah" "Kenapa? Apakah kau tidak
sedang mendapatkan seorang kemanakan?" "Anak yang lahir karena
kekuasaan itu sama sekali tidak berhak atas kedudukan Demang di
Kepandak" "Kenapa atas kekuasaan? O, maksudmu, aku mengambil
Sindangsari karena kekuasaanku. Baiklah. Jika demikian Sindangsari t
idak dapat kau anggap bersalah" "Persetan semuanya. Pokoknya, kalian
harus disingkirkan. Aku akan merampas segala kekuasaan" Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kenapa kau tidak berterus terang
sebelumnya Reksatani. Kalau kau berterus terang, aku tidak akan
berkeberatan. Aku tahu kemudian, bahwa kau menjadi gila justru
isteriku telah mengandung. Kau telah kehilangan harapan untuk
mendapatkan kedudukan ini apabila aku mempunyai seorang anak"
"Cukup. Aku tidak akan ingkar. Aku akan menengadahkan dadaku
menghadapi apapun juga" "Apakah kau sadar, bahwa apa yang kau
lakukan itu bertentangan dengan adat?" "Aku sadar" "Itu berarti
bahwa kau menentang adat? Dan itu berarti kau tidak lagi tunduk
kepada keharusan yang dibenarkan oleh Mataram?" Ki Reksatani
menggeretakkan giginya. Sekarang sudah tidak lagi ada kesempatan
untuk menghiraukan segala macam persoalan itu. Ia sudah sampai di
puncak perjuangannya untuk merebut hari depan bagi dirinya sendiri
dan bagi anakanaknya. Karena itu, maka iapun menjawab "Ki Demang di
Kepandak. Kau sangka orang-orang Mataram selama ini tidak
mengetahui, bahwa kau adalah seorang Demang yang tamak, yang
serakah. Yang sudah sewajarnya disingkirkan. Aku sama sekali tidak
akan mendapat hukuman. Tetapi aku justru akan mendapat penghargaan
dan hadiah. Mungkin tanah ini justru akan mendapat penghargaan dan
hadiah. Mungkin tanah ini justru akan mendapat kekancingan menjadi
tanah perdikan karena jasa-jasaku melepaskan tanah ini dari
kekuasaanmu yang tamak itu" Ki Demang mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Sokurlah. Itu artinya kau yakin akan
perjuanganmu sekarang. Kau yakini perbuatanmu sebagai suatu
perbuatan yang baik bagi tanah ini. Bukan sekedar ingin merebut
kedudukanku sebagai Demang. Bukan sekedar terbakar melihat isteriku
mengandung setelah lima kali aku kawin tanpa menghasilkan buah
apapun, dan selama itu, sedikit demi sedikit telah tertimbun harapan
di hatimu, bahwa apabila aku tidak mempunyai seorang anakpun, kau
akan mewarisi kedudukan ini kelak" "Diam, diam" bentak Ki Reksatani
"kau jangan mengadaada. Kau tidak usah menutupi kesalahanmu.
Sekarang, kau harus tunduk atas kehendakku" "Kalau aku tunduk atas
kehendakmu, apakah yang akan kau lakukan atasku? Apakah aku harus
menyerahkan kedudukanku dan menyingkir dari Kademangan ini?"
Pertanyaan ini sama sekali tidak diduga-duganya. Karena itu sejenak
Ki Reksatani terdiam. Di tatapnya wajah kakaknya di bawah sorot obor
yang terang benderang di halaman. Tanpa disadarinya tatapan mata Ki
Reksatanipun segera merambat ke wajah Ki Jagabaya yang tegang. Wajah
Pamot yang keras dan wajah-wajah bebahu Kademangan Kepandak yang
lain. Wajah-wajah yang memandangnya dengan penuh kebencian dan
kemarahan. Wajah-wajah yang seakan-akan menudingnya menyimpan seribu
macam pamrih pribadi yang memuakkan. "Gila" tiba-tiba ia berteriak
"kalian harus mati. Kalian harus mati" "Reksatani" berkata Ki Demang
kemudian "kalau kau hanya sekedar ingin kedudukanku sebagai Demang
di Kepandak, baiklah, aku akan mengalah. Memang mungkin selama ini
aku kurang berhasil. Mungkin aku tidak pernah menghiraukan
padukuhan-padukuhan terpencil. Mungkin aku memang menyalah gunakan
kekuasaanku untuk merampas perempuanperempuan. Kaulah yang selama
ini bekerja keras membangun bendungan dan parit-parit, meskipun yang
langsung dapat bermanfaat bagi sawahmu. Tetapi tentu bermanfaat pula
bagi sawah di sekitarnya" Ki Demang berhenti sejenak, lalu "Baiklah.
Aku akan berkemas untuk menyerahkan jabatanku kepadamu. Aku akan
hidup sebagai seorang petani biasa seperti orang-orang lain" Wajah
Ki Reksatani menjadi merah padam. Sedang Ki Jagabayapun menjadi
semakin tegang pula. Sejenak dipandanginya Ki Demang dengan sorot
mata yang aneh. Tetapi Ki Demang justru menjadi sangat tenang.
Karena Ki Reksatani tidak menyahut, maka ia melanjutkan kata-katanya
"Reksatani. Kau dapat tinggal di Kademangan ini. Aku akan membawa
isteriku pindah ke rumah lain. Rumah seorang petani biasa. Aku
berjanji bahwa aku tidak akan mengganggumu. Kau berhak memerintah
sebagai seorang Demang sepenuhnya. Kepada pimpinan pemerintahan di
Matarampun aku akan mengatakan, bahwa aku menyerahkan kekuasaanku
dengan suka rela" Wajah Ki Reksatani menjadi bagaikan menyala.
Dengan suara gemetar ia berkata "Tetapi, tetapi bagaimana dengan
anamu kelak? Apakah kau menjamin bahwa ia tidak akan menuntut
haknya?" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Aku akan
memberitahukan kepadanya kelak, bahwa hak itu sudah aku berikan
kepadamu. Kepada satu-satunya adikku" Tiba-tiba dada Ki Reksatani
bergetar. Seperti guruh yang meledak terdengar kata-katanya "Bohong.
Semuanya omong kosong. Mungkin karena ketakutan sekarang kau
bersedia menyerahkan kedudukanmu. Tetapi kelak, anakmu pasti akan
kau ajari menuntut haknya. Apalagi apabila kau masih merasa kuat.
Pengikut-pengikutmu yang selama ini menjadi penjilat itu akan dapat
kau gerakkan pada suatu saat untuk merebut kembali hak itu
daripadaku. Dari keturunanku" Ki Demang mengerutkan keningnya.
Katanya "Jadi kau sudah tidak mempercayai aku sama sekali
Reksatani?" "Tidak. Orang semacam kau memang tidak dapat dipercaya
lagi" "Jadi" "Tidak ada tempat bagimu di Kepandak" Ki Demang
memandang Ki Reksatani dengan wajah yang semakin tegang "Jadi
maksudmu, aku akan kau usir dari Kepandak?" "Ya. Tidak saja dari
Kepandak. Tetapi kau harus dilenyapkan supaya pada suatu saat baik
kau maupun anakmu tidak akan dapat lagi membuat onar di Kademangan
ini" "Reksatani" potong Ki Demang di Kepandak "jadi maksudmu, kau
akan membunuh aku sekeluarga? "Ya" suara Reksatani tegas.
Bagaimanapun juga Ki Demang menjaga perasaannya, namun jawaban yang
tegas itu membuatnya gemetar. Sekali lagi ia menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya perlahan-lahan "Reksatani. Adalah
menjadi naluri manusia untuk mempertahankan hidupnya, seperti kita
ingin mempertahankan kehadiran kita dan kelanjutan garis keturunan
kita Bahkan mahluk yang paling lemah sekalipun akan berusaha
mempertahankan hidupnya di saat-saat menghadapi kematian" "Aku sudah
memperhitungkannya" jawab Ki Reksatani "dan sudah siap
menghadapinya. Aku datang bukan seorang diri. Aku datang
bersama-sama rakyat Kepandak yang meyakini keadaan dan mengharap
masa depan yang jauh lebih baik" Tiba-tiba saja Ki Demang di
Kepandak menggeretakkan giginya. Sekian lama ia mencoba menyabarkan
diri untuk menjajagi niat adiknya yang sebenarnya. Dan kini dadanya
itu rasa-saranya hampir meledak karenanya. "Reksatani" suara Ki
Demang tiba-tiba menjadi bergetar sehingga semua orang yang
mendengarnya menjadi terkejut karenanya. Mereka yang sudah mengenal
Ki Demang bertahun-tahun segera mengetahui, bahwa Ki Demang telah
sampai pada puncak kemarahannya "Aku memang sudah mengetahui apa
yang akan kau lakukan. Tetapi seperti yang kau lihat, akupun sudah
siap menyambutmu. Kau sangka anak-anak Kepandak tidak mengetahui apa
yang sebenarnya tersimpan di hatimu" "Itu hanya akan menambah
korban. Sebaiknya mereka yang aku kehendaki menyerah tanpa
perlawanan. Yang lain akan aku ampuni dan akan mendapat kesempatan
untuk ikut serta membangun Kademangan ini sebaik-baiknya" "O, jadi
maksudmu, kami beberapa orang yang tidak kau sukai harus berdiri
berjajar sambil menundukkan kepala kami untuk kau penggal satu demi
satu?" "Ya" "Termasuk Sindangsari dan anak di dalam kandungan itu?"
"Ya" "Gila kau Reksatani. Hatimu sudah dicengkam oleh kehitaman hati
setan yang paling jahanam. Jangan kau sangka bahwa kami, orang-orang
Kepandak adalah cucurut yang tidak mengenal harga diri. Kau tidak
akan dapat memaksakan kehendakmu itu atasku. Aku sudah siap. Apakah
yang akan kau lakukan" Dada Ki Reksatani berdegup semain keras.
Sejenak ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling halaman.
Dilihatnya orang-orangnya sudah siap diatas punggung kudanya. Bahkan
merekapun sudah siap dengan senjata di tangan masing-masing.
Orang-orang itu hanya menunggu aba-abanya saja. Mereka pasti akan
langsung menyerbu masuk ke halaman dan membunuh setiap orang yang
melakukan perlawanan. Kuda-kuda mereka pasti akan sangat membantu di
dalampertempuran itu. Tetapi sebelum ia menjatuhkan perintah,
tiba-tiba-tiba terdengar suara Ki Demang di Kepandak lantang
"Reksatani. Persoalan ini sebenarnya adalah persoalan diantara kita.
Kau dan aku. Aku kebetulan lahir lebih dahulu daripadamu, sehingga
aku menurut adat, menerima warisan kedudukan ayah Demang di
Kepandak. Sekarang kau menuntut hak itu agar temurun kepadamu. Semua
persoalan yang kemudian tumbuh adalah persoalan sampingan yang
sebenarnya tidak menyentuh persoalan pokoknya. Isteri, anak, bebahu
dan anak-anak muda itu adalah sekedar rangkaian dari peristiwa ini.
Tetapi marilah kita kembali kepada sumber persoalan tanpa
mengorbankan orang lain yang tidak berkepentingan langsung dengan
persoalan ini. Karena itu, seperti yang dicitacitakan oleh ayah
kita, bahwa kita akan menjadi seorang lakilaki jantan, kita akan
menyelesaikan persoalan ini tanpa menyeret orang-orang lain ke
dalamnya. Tanpa mengorbankan bebahu Kademangan Kepandak. Tanpa
mengorbankan para pengawal dan tanpa mengorbankan apapun juga,
terlebih-lebih ikatan persatuan rakyat Kepandak. kalau aku mati di
dalam perang tanding ini, kau berhak atas segala-galanya. Para
bebahu Kademangan inipun akan tunduk kepadamu. Merekapun akan
melindungi namamu terhadap orang-orang Mataram seandainya mereka
mencium persoalan ini. Terhadap isteri dan anakkupun kau dapat
berbuat sesuka hatimu. Apakah mereka akan kau buhuh, atau kau
perlakukan seperti apapun juga. Tetapi kalau kau kalah, semua
orangorangmu harus menyerah. Tetapi siapa yang mencoba melakukan
perlawanan, aku akan membunuhnya tanpa ampun. Nah, apa katamu?"
Terasa darah Ki Reksatani seakan-akan mendidih sampai ke ujung
ubun-ubun. Ia sadar, bahwa tantangan ini adalah tantangan laki-laki
jantan. Dan Ki Reksatanipun ternyata bukan seorang pengecut. Sambil
menggeretakkan giginya ia meloncat dari kudanya sambil berteriak
"Aku terima tantanganmu Ki Demang di Kepandak. Seperti cita-cita
ayah kita. Kita adalah laki-laki jantan" Tetapi terbersit di hati Ki
Demang di Kepandak "Tetapi bukan menjadi cita-cita ayah kita, bahwa
kita harus berhadapan di arena seperti ayam jantan di aduan" Tetapi
iblis benar-benar sudah merasuk ke dalam hati Ki Reksatani. Ia tidak
melihat apapun lagi, selain Ki Demang di Kepandak. Tidak ada
keinginan apapun lagi di hatinya saat itu, selain membunuh saudara
kandungnya. Setiap dada serasa bernafas, ketika mereka melihat di
bawah cahaya obor yang terang di halaman Kademangan, dua orang
laki-laki yang pilih tanding sedang berhadapan. Terlebih lagi
keduanya adalah saudara sekandung, seibu dan seayah. Ki Jagabaya
memalingkan wajahnya sejenak. Hampir tidak tahan ia melihat dua
orang laki-laki sekandung itu menarik senjata masing-masing.
Pusaka yang mereka terima dari sumber yang sama, dari ayah
mereka berdua. "O" terdengar Ki Jagabaya mengeluh pendek. Ia bukan
seorang yang memanjakan perasaannya. Tetapi di dalam keadaan itu,
hatinya benar-benar bergetar. Pamot berdiri membeku di tempatnya. Ia
tidak tahu, apakah sebenarnya yang bergejolak di dalam hatinya.
Tetapi terasa betapa suasana di halaman itu menjadi tegang dan
seakan-akan tidak lagi memberikan udara buat bernafas. Bukan saja
keduanya, terlebih-lebih orang-orang tua yang mengintip dari
kejauhan. Orang-orang tua yang pernah mengalami hidup pada suatu
masa dengan Demang di Kepandak yang terdahulu. Ayah dari kedua
laki-laki yang kini berhadapan di halaman rumah itu. Rumah mereka
semasa kanak-kanak. Di halaman itu pula mereka dahulu bermainmain.
Di halaman itu pula mereka dahulu berkejar-kejaran. Dan kini, di
halaman itu pula mereka bermain-main dengan senjata. Alangkah
pahitnya peristiwa yang terjadi itu. desis salah seorang dari
mereka. Demikianlah kedua kakak beradik itu sudah berhadapan dengan
senjata di tangan masing-masing. Keris yang mereka terima dari ayah
mereka. Pusaka peninggalan yang tidak pernah di impikan saat itu
oleh ayahnya, bahwa pada suatu saat kedua keris itu akan beradu di
arena perkelahian. "Reksatani" berkata Ki Demang "apakah kau
benar-benar sudah kehilangan pertimbangan" "Aku tidak akan berbicara
lagi. Kita akan berkelahi" "Kau benar-benar sudah kerasukan iblis.
Apaboleh buat. Aku tidak mau mati sambil menundukkan kepala"
"Persetan. Itu urusanmu. Tetapi aku akan membunuhmu, kemudian
membunuh perempuan itu" Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tanpa disadarinya ia berpaling. Ditatapnya wajah Pamot yang tegang.
Namun Ki Demang itu t idak berkata sepatahpun juga. "Cepat" teriak
Ki Reksatani "aku akan mulai" Ki Demang mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya "Baiklah Reksatani. Kalau itu keputusanmu" Ki
Reksatani tidak dapat menahan gelora di dadanya. Iapun kemudian
segera meloncat menyerang. Seperti di saat-saat ia berkelahi melawan
Lamat, maka iapun segera mengerahkan segenap kemampuannya. Ia tidak
mau mengalami kegagalan sekali lagi. Ia tidak mau kehilangan waktu.
Kalau pada saat itu Nyai Demang disingkirkan, maka ia akan
kehilangan perempuan itu sekali lagi. Tetapi Ki Reksatani sudah
memerintahkan beberapa orang untuk mengawasi seluruh halaman dan
kebun belakang dari Kademangan ini. Tidak akan ada seorangpun yang
akan dapat lolos dari tangannya apabila ia sudah berhasil membunuh
Ki Demang di Kepandak. Demikianlah maka perkelahian itu segera
menjadi perkelahian yang seru. Darah Ki Reksatani
benar-benar telah mendidih. Tidak ada lagi yang menghalanginya kini.
Perasaannya seakan-akan telah membeku. Keduanya adalah orang-orang
yang pilih tanding. Keduanya berguru pada guru yang sama untuk waktu
yang hampir sama pula. Meskipun Ki Demang di Kepandak lebih tua dari
Ki Reksatani, namun saat-saat mereka memasuki perguruan hampir
bersamaan. Demikian pula saat-saat mereka meninggalkan perguruan
setelah ilmu yang mereka serap dianggap cukup. Bahkan umur Ki
Reksatani yang lebih muda, agaknya membuat nafas Ki Reksatani masih
lebih segar dari Ki Demang di Kepandak. Karena itulah, maka
perkelahian itu benar-benar merupakan perkelahian yang mendebarkan.
Desak mendesak silih berganti. Kedua senjata di tangan kedua orang
itu berputar dengan dahsyatnya. Sekali-sekali mematuk, kemudian
menyambar mendatar. Disusul oleh seranganserangan yang hampir tidak
dapat diikuti oleh mata telanjang. Dua helai keris di tangan Ki
Reksatani dan Ki Demang itu, di mata mereka yang mengelilingi arena,
seakan-akan telah berubah menjadi berpuluh-puluh keris yang
berputaran di tangan sepasang penari yang sedang menarikan tari
maut. Orang-orang yang ada di seputar arena itu menjadi seakanakan
membeku. Meskipun diantara mereka pernah menyaksikan perkelahian
yang dahsyat, tetapi perkelahian diantara dua orang kakak beradik
itu benar-benar telah menggetarkan dada mereka, seakan-akan jantung
mereka menjadi berhenti berdetak. Mereka yang selama ini sekedar
mengagumi Ki Demang di Kepandak dan Ki Reksatani sebagai pelindung
Kademangan mereka dari kejahatan-kejahatan para perusuh dan
penjahat, kini mereka melihat bagaimana sebenarnya kemampuan mereka
berdua. Ki Jagabaya yang berdiri di halaman itu juga, seakan-akan
telah membeku di tempatnya. Terasa dadanya bagaikan akan pecah
menyaksikan perkelahian itu. Meskipun ia mengerti apa yang
sebenarnya telah terjadi diantara mereka, namun melihat perkelahian
itu jantungnya bagaikan akan rontok. Ia telah ikut membina
Kademangan ini bertahun-tahun. Meskipun kadang-kadang ia tidak
sesuai dengan kehendak Ki Demang di Kepandak, terutama mengenai
persoalan pribadinya, namun bagi Kademangan, ia telah bekerja keras
bersamanya. Bahkan bersama-sama keduanya, kakak beradik yang kini
tengah berkelahi mat i-matian mempertaruhkan nyawa mereka. "Kenapa
tiba-tiba Ki Reksatani telah dicengkam oleh kekuasaan iblis untuk
merebut kedudukan kakaknya?" tersirat pertanyaan di hati Ki
Jagabaya. Namun peristiwa ini memang tidak berdiri sendiri. Bahkan
hampir setiap bebahu Kademangan dan orang-orang yang berdiri
mengitari arena itu telah mengetahui bahwa keinginan Ki Reksatani
itu telah tumbuh perlahan-lahan. Sehingga akhirnya ia telah
terjerumus ke dalam kelemahan hati. "Tetapi kalau Ki Demang di
Kepandak menyadari keadaan itu sejak semula, keadaan pasti akan
lain" desis Ki Jagabaya di dalam hatinya pula. Tetapi siapa dapat
membaca hati seseorang. Meskipun demikian Ki Jagabayapun, melihat
juga ketamakan Ki Demang di Kepandak. Enam kali ia kawin. Perkawinan
yang tidak menghasilkan anak, selain yang terakhir. Perkawinan yang
lima kali itulah sebenarnya yang telah memupuk tumbuhnya niat yang
hitam di hati Ki Reksatani tanpa dikehendakinya sendiri. Namun
demikian, perkelahian diantara keduanya telah membuat dada Ki
Jagabaya bergelora. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sadar,
bahwa keduanya sedang dibakar oleh perasaan yang meluap-luap,
sehingga nalar mereka pasti tidak akan dapat bekerja sewajarnya,
meskipun Ki Demang di Kepandak masih berusaha untuk mencari
keseimbangannya. Demikianlah, hati rakyat di Kademangan Kepandak
telah tergetar menyaksikan apa yang telah terjadi di halaman
Kademangan. Sampai beberapa saat mereka tidak dapat menduga,
siapakah di antara keduanya yang akan menang. Meskipun rakyat di
Kepandak, kadang-kadang juga tersinggung rasa keadilan mereka karena
tindakan-tindakan Ki Demang yang selama ini mereka anggap sebagai
seorang lakilaki yang menggetarkan hati setiap orang yang mempunyai
anak gadis, namun di saat-saat ia bertempur mati-matian melawan Ki
Reksatani, diam-diam mereka berharap agar Ki Demang di Kepandak
dapat selamat keluar dari perkelahian itu. Bagaimanapun juga sikap
Ki Reksatani, yang seakan-akan telah merebut kekuasaan kakaknya
dengan kekerasan, bahkan sebelumnya ia telah berusaha mengorbankan
seorang perempuan yang tidak bersalah yang untung dapat
diselamatkan, sama sekali t idak menarik bagi rakyat Kepandak. Maka
semakin lama perang tanding diantara kakak beradik itupun menjadi
semakin sengit. Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan yang
ada di dalam diri masing-masing, kemampuan yang bersumber pada guru
yang sama. Ki Demang di Kepandak yang lebih tua, ternyata memiliki
perhitungan yang lebih masak. Ia tidak banyak bergerak di dalam olah
senjata. Tetapi setiap ia melangkah, maka udara maut telah berdesing
di telinga Ki Reksatani. Namun Reksatani yang lebih muda itu
memiliki nafas yang lebih segar. Ia mampu bergerak lebih lincah dan
cepat. Seperti bilalang ia meloncat berputaran mengelilingi lawannya
sambil memutar kerisnya. Sekali-sekali ia melingkar sudut, namun
tiba-tiba kerisnya telah menyambar lambung. Demikian cepatnya,
sehingga kadang-kadang orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu
menjadi bingung. Tetapi Ki Demang di Kepandak sama sekali tidak
bingung. Beberapa langkah dari arena, di belakang Ki Jagabaya, Pamot
berdiri termangu-mangu. Iapun tidak mampu menilai perkelahian itu.
Tetapi yang lebih dalam menekan perasaanya,bahwa iapun tidak
mengerti, apakah yang diharapkan dari perkelahian itu. Seandainya ia
mengharap Ki Demang di Kepandak memenangkan perkelahian itu, maka
selama hidupnya hatinya akan tersayat melihat Sindangsari setiap
kali duduk di pendapa Kademangan memangku anak yang kini sedang
dikandungnya. Selama ia berpacu diatas punggung kuda membawa
perempuan itu dari Sembojan, terasa tunas yang tumbuh di dalam
hatinya, dan yang ingin dipadamkannya itu rasa-rasanya menjadi
bertambah mekar. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi Sindangsari
baginya adalah seorang perempuan yang telah mendapat tempat di
hatinya. Meskipun ia berdiri di arena perkelahian itu, namun ia
masih sempat membayangkan, Nyai Demang di Kepandak, duduk bersama
suaminya menunggui anak mereka yang berlari-larian di halaman,
bermain-main dengan biji-biji kemiri atau beradu kecil dengan
kawan-kawannya. "Alangkah sakit hati ini" desisnya. Tetapi Pamotpun
tidak dapat mengharapkan Ki Reksatani memenangkan perkelahian itu.
Jika demikian, maka niat Ki Reksatani untuk membunuh Sindangsari
itupun pasti akan dilaksanakannya, karena di dalam perut Sindangsari
terimpan anak yang dianggap berhak atas warisan yang akan
ditinggalkan oleh Ki Demang di Kepandak. Meskipun seandainya Ki
Reksatani berhasil, maka hak atas Kademangan ini akan tetap menjadi
milik anak di dalam kandungan itu sehingga anak itu harus
dilenyapkan pula. Dengan demikian, maka Pamot telah terlibat di
dalam persoalan yang menyangkut dirinya sendiri. Bagaimanapun juga
ia berusaha melenyapkannya, dan bagaimanapun juga ia berusaha
melihat persoalan itu lepas dari persoalan pribadinya, namun setiap
kali bayangan itu telah timbul diangan-angannya. "Persetan" Pamot
tiba-tiba saja mengumpat di dalam hatinya "apapun yang terjadi, aku
tidak akan mendapatkan Sindangsari. Biar saja Ki Demang di Kepandak
terbunuh, kemudian Sindangsari dan anaknya dibunuh pula. Itu
barangkali lebih baik daripada aku setiap hari melihatnya duduk di
pendapa Kademangan ini berdua dengan Ki Demang di Kepandak" Namun
dalam pada itu, terdengar suara di dalam hatinya "Itu pikiran gila.
Setiap orang berusaha menegakkan kemanusiaan. Punta dan kawan-kawan
telah bersusah payah membantu membebaskan Nyai Demang di Kepandak.
Bahkan Lamat yang selama ini merasa dirinya telah tergadai oleh ayah
Manguripun melihat bahwa keadilan sedang terancam di Kademangan
Kepandak, dan bahkan Ki Reksatani sedang berusaha menegakkan
kekuasaan berdasarkan kekuatan" Pamot menarik nafas dalam-dalam.
Sejenak kemudian digertakkan giginya sambil berkata "Ki Reksatani
memang sedang berkhianat. Aku tidak boleh terpancang pada persoalan
pribadiku. Namun demikian Pamot tidak segera dapat berbuat apaapa.
Tetapi seandainya para pengikut Ki Reksatani berbuat curang, maka ia
tidak akan dapat tinggal diam. Ia tidak sekedar membebaskan
Sindangsari dari Sembojan dan membawanya ke Kepandak karena ada
ikatan batin diantara dirinya dan Sindangsari, tetapi itu merupakan
suatu keharusan bagi mereka yang ingin menegakkan kemanusiaan dari
kesewenang-wenangan. Pamot seakan-akan sadar dari mimpinya ketika ia
melihat Ki Reksatani meloncat menyerang dengan dahsyatnya. Namun Ki
Demang di Kepandak yang leih masak itu masih berhasil mengelakkan
dirinya dengan beringsut selangkah. Tetapi Ki Reksatani masih
memburunya. Seperti orang yang kehilangan akal, ia menyerang membabi
buta. Tandangnya jauh lebih kasar dari tandang kakaknya, meskipun
ilmunya serupa, nafsu yang menggelora di dadanya telah membuatnya
menjadi seakan-akan bertambah buas. Bagai seekor harimau yang lapar,
Ki Reksatani menyerang kakaknya. Senjatanya ternyata melampaui
ketajaman kukukuku harimau yang paling ganas. Tetapi Ki Demang di
Kepandak yang lebih tenang bertempur bagaikan seekor banteng yang
terluka. Setiap geraknya yang mantap pasti mendesak lawannya
beberapa langkah surut. Selagi di Kepandak terjadi perkelahian yang
mengerikan, yang tidak diketahui kapan akan berakhir, di Sembojan
Lamat menggeliat dengan gelisahnya. Obat yang ditaburkan pada
lukanya, serta cairan yang telah diminumnya membuat tubuhnya yang
memiliki daya tahan luar biasa itu menjadi agak segar. Namun
hatinyalah yang rasa-rasanya menjadi bertambah kalut. Ia tidak
berhasil menyingkirkan bayangan yang mengerikan yang dapat terjadi
atas Pamot di sepanjang perjalanannya. "Tidurlah" berkata dukun tua
yang menungguinya. Lamat menganggukkan kepalanya, tetapi jangankan
tidur meskipun hanya sejenak, sedangkan memejamkan matanya saja
rasa-rasanya tidak dapat dilakukannya. Setiap kali dadanya berdesir,
seolah-olah ia mendengar jerit Sindangsari di tengah perjalanan dan
terbayang mayat Pamot terbujur di telapak kaki Ki Reksatani. "Punta"
desis Lamat kemudian. Punta yang menungguinya mendekatkan
telinganya. "Bagaimana dengan Pamot?" Punta menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Kita berharap agar ia selamat" "Tetapi hatiku
rasa-rasanya selalu berdebaran" "Tenangkan perasaanmu Lamat. Kau
harus beristirahat" "Tubuhku sudah terasa segar. Barangkali lukaku
sudah tidak sakit lagi" Lamat berhenti sejenak, lalu "aku sudah
dapat berkuda ke Kepandak" "Jangan sekarang" "Aku tidak mau
terlambat. Kalau Pamot dan Sindangsari masih hidup, aku ingin
melihat mereka berdua di Kademangan Kepandak. Tetapi kalau mereka
sudah mati, aku ingin melihat mayatnya" "Tunggulah sampai besok
Lamat" "Badanku sudah segar. Aku sudah berhasil menguasai bukan saja
perasaan sakit, tetapi juga urat-urat nadi di segenap tubuhku.
Dengan bantuan obat yang ditaburkan dari luar, dan obat cair yang
aku minum, aku sudah menemukan kekuatanku kembali" "Kau masih
terlampau lemah" "Tidak" Tetapi dukun tua di sampingnya berkata "Kau
masih harus beristirahat. Jangan kau paksa dirimu melakukan
langkahlangkah yang dapat membuat luka-lukamu kambuh dan berdarah
lagi" Lamat tidak menjawab. Tetapi tarikan nafasnya yang panjang
menyatakan kegelisahan perasaannya. Sejenak kemudian Lamat tidak
mengatakan apapun juga. Bahkan perlahan-lahan matanya mulai
terpejam. Sekali-sekali masih terdengar tarikan nafasnya yang dalam.
Namun semakin lama nafasnya menjadi semakin teratur, sehingga Punta
yang menungguinya menjadi agak tenang pula. "Ia tertidur" bisiknya
kepada dukun yang menungguinya. "Ya. Ia tertidur" Puntalah yang
kemudian menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya dua orang
yang terkantuk-kantuk duduk di depan pintu. Agaknya mereka masih
harus menunggui Manguri dan ayahnya yang ada di ruang itu pula.
Tetapi seperti Lamat, merekapun tidak dapat tertidur pula. Dengan
gelisahnya ayah Manguri berjalan hilir mudik, kemudian duduk
sejenak, dan segera bangkit pula dengan tarikan nafas yang dalam.
Dalam pada itu, ketika Lamat telah tertidur nyenyak, maka Puntapun
merasa perlu untuk beristirahat pula. Tetapi ia tidak sampai hati
meninggalkan Lamat tertidur di pembaringan itu tanpa pengawalan,
karena ayah Manguri yang mendendamnya akan dapat berbuat banyak hal
yang tidak terduga duga. Karena itu, maka diserahkannya Lamat kepada
seorang kawannya dari Kali Mati yang masih ada di tempat itu juga
untuk mendapatkan dua orang yang dapat dipercaya untuk menunggui
Lamat yang tertidur nyenyak. "Biarlah aku saja yang menungguinya"
berkata kawannya. "Kau juga lelah seperti aku" sahut Punta. Kawannya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sendiri memang terlampau lelah.
Karena itu, maka dimintanya dua orang anak muda yang masih segar
untuk menunggui Lamat yang sedang tertidur nyenyak. Punta dan
kawan-kawannya yang telah memeras tenaga itupun kemudian
meninggalkan ruangan itu dan pergi ke gandok. Merekapun merebahkan
diri pula untuk sekedar dapat beristirahat, sebelum tugas-tugas lain
masih akan menunggu besok. Sepeninggal Punta, dukun tua dan
kawan-kawannya, maka perlahan-lahan Lamat menggeliat. Ketika ia
membuka matanya perlahan-lahan, ternyata bahwa yang menungguinya
anak-anak muda yang belum dikenalnya. "Ia sudah pergi" desisnya.
Sebenarnyalah bahwa Lamat sama sekali tidak tertidur. Ia berusaha
untuk melepaskan diri dari pengawasan Punta dan dukun yang
mengobatinya. Ternyata ia sudah tidak dapat lagi mengekang
perasaannya, untuk melihat apa yang terjadi dengan Pamot dan
Sindangsari di perjalanan. Karena itu perlahan-lahan ia menggerakkan
kepalanya. Kemudian tangan dan kakinya. Rasa-rasanya tubuhnya sudah
menjadi jauh lebih segar dan kekuatannyapun sudah hampir dimilikinya
kembali, meskipun luka-lukanya masih juga terasa pedih. "Tidurlah"
berkata salah seorang anak muda yang menungguinya. Lamat mencoba
tersenyum. Tetapi justru ia bangkit perlahan-lahan. "Jangan bangkit"
"Aku sudah sehat" "Tetapi tidurlah" Lamat mengangguk. Dan
diletakkannya kepalanya kembali diatas pembaringan. Tetapi iapun
kemudian bangkit kembali sambil berkata "Di manakah pakiwan? Aku
akan pergi ke pakiwan sebentar saja" "Tetapi kau harus beristirahat"
"Perutku sakit. Dan aku ingin mencuci tangan dan kaki supaya badanku
menjadi semakin segar" "Luka-lukamu akan menjadi sangat pedih
apabila tersentuh air" "Aku kira tidak lagi. Tetapi akupun hanya
akan sekedar membasahi telapak tangan dan kaki, serta sedikit pada
ubunubunku yang panas" Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu
sejenak. Namun merekapun saling menganggukkan kepalanya. "Marilah"
berkata salah seorang "tetapi hati-hatilah" Lamatpun kemudian
bangkit berdiri dari pembaringannya. Dirabanya untuk mengetahui
keadaan tubuhnya. Digerakgerakkannya segenap persendiannya. Dan
agaknya tubuh itu sudah tidak terlampau lemah lagi. "Marilah aku
tolong" berkata salah seorang anak muda itu. Lamat tersenyum.
Jawabnya "Aku sudah dapat berjalan sendiri" Kedua anak-anak muda itu
menjadi kagum. Luka-luka Lamat yang arang kranjang itu seakan-akan
sudah tidak terasa lagi. Dengan langkah yang mantab, Lamat berjalan
seperti seorang yang tidak pernah terkena sesuatu menuju ke pintu"
"Dimana pakiwan itu?" "Di belakang" Lamatpun kemudian mengikuti
salah seorang dari anakanak muda itu yang membawanya ke pakiwan di
belakang rumah. "O, itu agaknya, di dekat sumur" berkata Lamat. "Ya"
"Sudahlah. Tinggalkan aku. Aku akan segera kembali ke ruang depan"
Tanpa prasangka apapun anak muda itupun kembali kepada kawannya yang
masih berdiri di depan rumah. "Mana orang itu?" "Di pakiwan. Agaknya
ia tidak menahan lagi" Keduanya tidak lagi mempersoalkannya. Mereka
mulai berbicara tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka
masih juga menyinggung-nyinggung Lamat dengan penuh kekaguman. "Adik
Demang di Kepandak itu benar-benar orang luar biasa. Aku kira Demang
kita tidak akan dapat menyamainya" "Ya. Aku kira demikian. Tetapi
Lamat itupun ternyata orang yang luar biasa pula. Menurut Ki
Jagabaya, sebenarnya Lamat tidak akan dapat dikalahkan oleh Ki
Reksatani meskipun ia juga belum pasti dapat memenangkannya. Tetapi
ayah Manguri itulah yang licik. Ia berhasil melemahkan hati Lamat
lewat kata-kata sindirannya yang tajam" "Dan luka-luka yang
tampaknya demikian parahnya, segera dapat diatasinya. Hampir seluruh
tubuhnya terluka parah" "Tetapi luka-luka itu tidak begitu dalam
meskipun merata. Dan luka-luka yang demikian tidak lebih berbahaya
dari satu luka, tetapi langsung menghunjamke dalam dada" "Tentu,
lebih-lebih lagi satu luka yang memisahkan kepala dari lehernya"
"Ah, macam kau" desis kawannya. Tetapi keduanya tersenyum.
Demikianlah beberapa lamanya keduanya berbicara tentang berbagai
persoalan yang sedang berkecamuk di padukuhan mereka yang sepi, yang
biasanya tenang dan tenteram meskipun bukan berarti beku. Namun yang
tiba-tiba saja telah dibakar oleh perkelahian yang menggetarkan dada
setiap orang. "He" tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata
"kanapa Lamat sedemikian lamanya berada di pakiwan?" "Ya. Terlampau
lama" "Eh, apakah ia tiba-tiba pingsan?" "Marilah kita lihat"
Keduanyapun kemudian dengan tergesa-gesa berjalan ke pakiwan.
Selangkah di samping pakiwan, salah seorang dari mereka memanggil
"Lamat. Lamat. Apakah kau sudah selesai" Tidak terdengar jawaban.
"Lamat" Pakiwan itu masih tetap sepi. Sejenak keduanya saling
berpandangan. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata "Aku akan
menengoknya" Dengan tergesa-gesa anak muda itupun mendorong pintu
pakiwan dan menjengukkan kepalanya ke dalam. Tetapi pakiwan itu
telah kosong. Mereka tidak menemukan Lamat di dalamnya. "Apakah ia
sudah kembali ke ruang dalam tanpa kita ketahui karena kau terlampau
banyak berbicara?" desis salah seorang dari mereka. "Marilah kita
lihat" Keduanya melangkah dengan tergesa-gesa masuk ke ruang dalam.
Tetapi pembaringan Lamat ternyata masih juga kosong. "Apakah ia
melarikan diri" "Kenapa melarikan diri. Lamat sama sekali bukan
seorang tawanan. Berbeda dengan Manguri dan ayahnya itu" "Ya. Tetapi
ia harus banyak beristirahat. Punta dan dukun tua itu menghendaki ia
tidur sebanyak-banyaknya, bukan pergi kemanapun juga" "Beritahu
Punta di gandok sebelah. Aku akan mencarinya di belakang. Siapa
tahu, mungkin keadaan tubuhnya masih terlampau lemah, sehingga ia
pingsan di sekitar pakiwan itu" Yang seorang dari merekapun segera
pergi ke pakiwan untuk mencari Lamat sekali lagi. Yang lain dengan
tergesagesa pergi ke gandok memberi tahukan hal itu kepada Punta.
Anak muda yang mencari Lamat di belakang rumah itu terperanjat
ketika ia mendengar ringkik kuda di kandang. Dengan tergesa-gesa ia
berlari-lari mendekatinya. Tetapi ia justru tertegun ketika ia
melihat seekor kuda meloncat keluar. Di punggung kuda itu duduk agak
merunduk Lamat yang sedang dicarinya. "Lamat, Lamat" anak muda itu
memanggil. Tetapi Lamat tidak menghiraukannya. Dipacunya kudanya
menuju ke halaman depan. Punta yang sudah diberi tahupun terperanjat
pula. Ketika ia keluar dari gandok, didengarnya derap kaki kuda.
Dari sisi rumah ia melihat seekor kuda berlari kencang. Dengan
demikian, maka iapun segera meloncat ke halaman. Tetapi kuda itu
telah mendahuluinya, sehingga Puntapun kemudian termangu-mangu
beberapa saat seolah-olah membeku di halaman. Dalam pada itu, Lamat
yang berada dipunggung kuda sempat memperlambat kudanya sambil
berkata "Maaf Punta, aku mendahului. Jagalah Manguri dan ayahnya
baik-baik. Mungkin ia masih berbahaya" Sebelum Punta menjawab, Lamat
sudah berpacu keluar regol halaman dan berlari menyelusuri jalan
padukuhan Sembojan. Beberapa orang yang berada di regol, justru
menyibak ketika kuda itu berlari seperti dikejar hantu diantara
mereka. "Lamat memang keras hati" desis Punta "aku akan menyusulnya.
Keadaan tubuhnya masih sangat lemah. Apakah masih ada kuda yang
lain" Anak-anak Sembojan itupun segera mengusahakannya dua ekor
kuda. Bersama kawannya ia menyusul Lamat, setelah ia minta diri
kepada kawannya dari Kali Mati dan berpesan seperti pesan Lamat atas
Manguri dan ayahnya. "Besok aku akan segera kembali bersama Ki
Jagabaya di Kepandak" berkata Punta sambil memacu kudanya. Sejenak
kemudian merekapun telah hilang ditelan gelap. Yang terdengar
tinggallah derap kaki-kaki kuda itu memecah sepinya malamyang
dingin. Demikianlah anak-anak Sembojan dan padukuhan di sekitarnya
memandang mereka dengan termangu-mangu. Orang-orang itu datang jauh
dari luar Kademangan mereka. Dan mereka telah menjadikan Sembojan
sebagai ajang pertengkaran, yang bahkan membawa beberapa akibat bagi
anak-anak muda Sembojan dan sekitarnya, karena ada diantara mereka
yang terluka. Bahkan mereka menemukan beberapa sosok mayat pula di
halaman itu. "Tetapi Punta akan kembali bersama Ki Jagabaya di
Kepandak, yang akan menyelesaikan segala sesuatu tentang persoalan
ini. Merekapun harus mengambil dan membawa Manguri bersama ayahnya
yang untuk beberapa saat hanya akan menjadi beban kita disini"
berkata salah seorang dari mereka. "Sebelum Ki Jagabaya di Kepandak
datang dan berbicara dengan Ki Jagabaya dan Ki Demang di Prambanan,
kita masih mendapat beban ini" sahut kawannya. Tetapi demi sesamanya
yang sedang dilanda oleh malapetaka, maka anak-anak Sembojan dan
padukuhan di sekitarnya telah menyediakan waktu mereka untuk
melakukannya. Menjaga Manguri dan ayahnya, menjaga perempuan yang
menangisi anak-anaknya yang terluka dan bahkan merekapun harus
menguburkan mayat-mayat yang terdapat di halaman rumah yang terbakar
itu. Dalam pada itu, Lamat telah berpacu secepat-cepat dapat
dilakukan oleh kudanya. Meskipun ia sadar, bahwa selisih waktunya
sudah terlampau panjang, namun ia berharap untuk tidak terlambat
berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak tahu, apakah sesuatu yang dapat
dilakukannya itu. Meskipun demikian, sesuatu telah mendorongnya
untuk segera sampai ke Kepandak. Ia ingin segera melihat, apa saja
yang sudah terjadi. Apakah Kepandak menjadi karang abang, atau
sekedar terjadi pembunuhan di jalan menuju ke Kademangan itu, dan Ki
Reksatani masih berhasil mengelabuhi Ki Demang lagi. Angin yang
dingin justru membuat tubuh Lamat menjadi semakin segar.
Sekali-sekali masih juga terasa pedih-pedih lukanya menyengat kulit.
Namun karena daya tahannya yang luar biasa, maka semuanya itu
seakan-akan dapat dilupakannya. Sementara itu, di halaman Kademangan
Kepandak, Ki Reksatani masih bertempur mati-matian seorang melawan
seorang dengan Ki Demang di Kepandak. Setiap orang yang
menyaksikannya seakan-akan harus menghentikan pernafasannya. Halaman
yang bersih rata itu menjadi seperti kubangan yang kering. Debu
berhamburan membayangi warna kemerah-merahan api obor di segenap
sudut halaman. Berbeda dengan Ki Reksatani, maka Ki Demang di
Kepandak, sebagai saudara yang lebih tua, kadang-kadang masih juga
dipengaruhi oleh kenangan di masa kanak-kanak. Kadang-kadang wajah
Ki Reksatani yang tegang itu membayang seperti wajahnya di masa
kanak-kanak. Memang sebagai dua orang bersaudara keduanya pernah
juga bertengkar, bahkan berkelahi. Tetapi apabila wajah adiknya
telah memucat dan matanya menjadi basah, Ki Demang di Kepandak
semasa kanak-kanaknya, selalu menghentikan perkelahian. Dengan iba
ditatapnya wajah adiknya yang basah oleh air mata. "Jangan menangis"
desisnya "karena itu jangan nakal. Tetapi Ki Demang di Kepandak
terperanjat bukan kepalang. Selagi angan-angan itu bermain sejenak,
hanya sejenak, tidak lebih dari kejapan mata, terasa lengannya
tergores oleh senjata. Senjata yang digenggam oleh Ki Reksatani. Dan
senjata itu adalah pusaka peninggalan ayahnya. Tanpa sesadarnya Ki
Demang meloncat surut. Dengan wajah tegang dipandanginya adiknya
yang tertegun sejenak. Sejenak kemudian maka perkelahian itupun
telah meledak lagi. Keduanya mengerahkan segenap kemampuan yang ada
padanya. Mereka tidak lagi memperhitungkan apapun juga selain
membinasakan lawannya. Demikian juga Ki Demang di Kepandak. Luka di
tangannya telah mengusir segala macam perasaan yang selalu
membayanginya. Dengan demikian, maka tiba-tiba tandangnya menjadi
semakin garang meskipun ia berumur lebih tua dari Ki Reksatani.
Tidak seorangpun dapat meramalkan, kapan perkelahian itu akan
berakhir. Menurut pendengaran mereka, Ki Demang di Kepandak seperti
juga adiknya Ki Reksatani, mampu, bertempur sehari semalam tanpa
berhenti sama sekali. Dan kini keduanya bertemu di arena perang
tanding. Mereka pasti akan bertahan sampai kemungkinan yang
terakhir. Mungkin benar-benar sehari semalam mereka akan tetap
bertempur di halaman itu, mungkin lebih. Beberapa orang yang berdiri
diseputar halaman itupun ikut menjadi semakin tegang pula. Beberapa
orang yang tidak tahan lagi, meskipun ia sendiri menggenggam
senjata, menundukkan kepalanya yang menjadi pening. Tetapi,
sekalisekali mereka masih ingin juga melihat, apa yang akan terjadi
kemudian. Sehingga diantara ya dan tidak, mereka melihat bayangan
yang berputaran di halaman semakin lama semakin cepat. Tetapi
ternyata racun warangan pada ujung keris Ki Reksatani benar-benar
telah berpengaruh pada Ki Demang di Kepandak. Terasa tubuhnya
menjadi semakin panas, dan tenaganya semakin susut. Namun karena
itulah, maka Ki Demang di Kepandak telah mengerahkan sisa-sisa
tenaga yang masih ada padanya, beserta segenap ilmunya. Ki Reksatani
yang yakin bahwa warangan kerisnya akan segera bekerja di dalam
darah Ki Demang di Kepandak, mulai melihat setiap kali Ki Demang
mengusap keringat di keningnya. Semakin banyak Ki Demang memeras
tenaganya, maka darah akan semakin deras mengalir di dalam tubuhnya,
sehingga racun warangan keris itupun akan menjadi semakin cepat
berpengaruh pada tubuhnya. Tetapi Ki Reksatanipun tidak dapat
mengingkari, bahwa telah terjadi sesuatu di dalam dirinya. Kelelahan
yang tidak dapat dielakkannya lagi telah mulai merayapi
otot-ototnya. Ia baru saja memeras tenaga, berkelahi melawan Lamat
di padukuhan Sembojan. Kemudian berpacu ke Kepandak. Bagaimanapun
juga, maka kemampuan seseorang bukan tidak berbatas. Demikianlah
meskipun mereka masih belum bertempur semalam penuh, tetapi pada
keduanya telah tampak, bahwa tenaga mereka mulai susut. Namun
kemarahan yang bergetar di dalam dada masing-masing masih juga
memaksa mereka untuk mengerahkan tenaganya. Ki Demang yang sudah
merasa bahwa luka di tangannya itu akan menyeret nyawanya, berusaha
sekuat-kuat tenaganya untuk menghentikan kematian, kematian-kematian
seterusnya. Meskipun ia tidak ingin membunuh Ki Reksatani sebagai
tujuan, namun orang itu memang harus dibinasakan untuk menghentikan
perbuatan-perbuatan terkutuknya. Kekerasan hati Ki Demanglah yang
kemudian seakan-akan memulihkan segenap kemampuannya. Keyakinannya
atas kebenaran sikapnya kali ini membuatnya semakin mantap. Apalagi
ketika darahnya serasa menjadi semakin panas karena pengaruh racun
warangan. Di saat-saat berikutnya, Ki Demang menyerang lawannya
dengan garangnya. Kerisnya berputar semakin cepat, meskipun tidak
sekuat sebelumnya. Tetapi lawannyapun menjadi semakin lemah pula,
bahkan sekali-sekali Ki Reksatani telah berhasil didesaknya. "Anak
setan" geram Ki Reksatani di dalamhatinya "ia masih mampu bertahan
dari racun itu, apakah orang ini" Namun belum lagi umpatan di dalam
hati itu selesai, Ki Reksatanipun terperanjat bukan buatan. Serangan
yang tidak diduga-duga telah meluncur dengan cepatnya. Ujung keris
Ki Demang di Kepandak seakan-akan tidak lagi dapat dilihatnya. Namun
tiba-tiba saja telah terasa goresan pada jari-jarinya. Ketika ia
sempat memperhatikan jari-jarinya itu, tampaklah tulang yang
memutih. Tetapi tidak setitik darahpun yang mengalir. Dengan
sigapnya Ki Reksatani meloncat surut. Dengan cepat ia menarik pisau
belati dari ikat pinggangnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, maka
dipotongnya jari-jarinya yang telah tersentuh warangan racun keris
kakaknya. Ki Demang di Kepandak tertegun sejenak menyaksikan hal
itu. Tetapi ketika ia melihat darah mengalir dari luka itu hatinya
menjadi berdebar-debar. Sekilas dilihatnya keris Ki Reksatani yang
tergolek di sampingnya. Kemudian dilihatnya Ki Reksatani melemparkan
pisau belatinya dan memungut kerisnya kembali. "Lukaku akan sembuh"
geramnya "tetapi kau akan mati" Ki Demang menggelengkan kepalanya
"Kaupun akan mati. Keris itu tidak akan berguna lagi. Kau sudah
melupakan pantangan yang diberikan oleh ayah kita. Keris pusaka itu
tidak boleh diletakkan diatas tanah" Sekilas wajah Ki Reksatani
berubah, tetapi terdengar ia menggeram "Omong kosong. Aku tidak
memerlukan tuah dari keris itu. Aku memerlukan racun yang ada pada
warangannya. Dan itulah yang akan membunuhmu" Tetapi belum lagi ia
selesai, Ki Demang sudah menyerangnya lagi. Dengan susah payah Ki
Reksatani menghindarinya dan mencoba untuk menyerang kembali. Namun
darah dari jari-jarinya yang dipotongnya mengalir terus. Kekalahan
yang ditambah dengan arus darah itu membuatnya semakin lemah. Ia
berharap dengan arus darah itu membuatnya semakin lemah. Ia berharap
bahwa Ki Demang akan segera kehilangan kemampuan perlawanannya
karena racun kerisnya. Tetapi ternyata Ki Demang masih tetap
bertempur dengan sengitnya. Bahkan semakin lama semakin mendesaknya.
Di saat-saat tubuh Ki Demang serasa terbakar, diperasnya segenap
ilmu yang ada padanya. Kerisnya tiba-tiba telah berputaran seperti
puluhan keris yang berterbangan mengitari lawannya. Ki Reksatani
yang menjadi semakin lemah oleh lelah dan darah yang mengalir dari
lukanya, semakin lama menjadi semakin pening oleh serangan-serangan
Ki Demang yang membadai. Sebenarnya serangan-serangan itupun sudah
mulai mengendor. Tetapi daya perlawanan Ki Reksatanipun sudah
semakin susut. Ketika keris Ki Demang menyambar dengan dahsyatnya,
Ki Reksatani berusaha menghindarinya. Tetapi rasa-rasanya keris
itu tidak lagi hanya sehelai. Keris itu bagaikan lidah api yang
menjilat kemanapun ia pergi. Ki Reksatani menggeram ketika sekali
lagi ia merasa keris kakaknya tergores ditabuhnya, dan kali ini
justru di kening. Dengan demikian Ki Reksatani tidak lagi dapat
melepaskan bagian yang tergores oleh senjata itu dari tubuhnya.
"Kita akan mati bersama-sama" desis Ki Demang di Kepandak.
"Persetan" Ki Reksatani yang telah dibakar oleh nafsu itu bagaikan
orang yang kehilangan akal. Bahkan kemudian jantungnya telah
dirayapi oleh perasaan putus-asa tanpa sesadarnya. Ujung keris
yang tergores di keningnya itu adalah suatu pertanda bahwa tidak ada
lagi jalan baginya untuk melepaskan diri. Dengan demikian maka Ki
Reksatani itupun kemudian mengamuk seperti orang yang terganggu
ingatannya. Iapun bertempur dengan tanpa harapan dapat keluar dari
peperangan itu, sehingga dengan demikian, tandangnya menjadi buas
dan liar. Di saat-saat itu pula Lamat memacu kudanya menjelajahi
bulak-bulak yang panjang, hutan-hutan perdu dan padang ilalang.
Tanpa menghiraukan apapun juga, kudanya berlari secepat-cepat dapat
dilakukan. Setiap kali Lamat selalu menyentuh perut kudanya dan
memaksa kudanya berlari lebih cepat lagi. Tetapi Kepandak masih
terlampau jauh. Dan ia masih memerlukan waktu separo hari untuk
mencapai daerah itu apabila kudanya dapat berpacu dengan kecepatan
yang ajeg. Agak jauh di belakang Lamat, Puntapun berpacu
secepatcepatnya. Menurut pendapatnya, Lamat pasti masih terlampu
lemah, sehingga mungkin sekali terjadi sesuatu di perjalanan. Karena
itu dengan cemasnya ia berusaha untuk dapat menyusul Lamat yang
belumterlampau lama mendahuluinya. Ternyata selama di perjalanan
tubuh Lamat justru terasa menjadi semakin segar. Angin yang sejuk
membuat lukaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ lukanya tidak
lagi terasa panas dan nyeri. Bahkan luka-luka yang pedih itu
seakan-akan telah ditiup-tiup oleh nafas yang segar. Dalam pada itu,
perkelahian di halaman Kademangan Kepandak telah sampai di
puncaknya. Luka ditubuh Ki Reksatani telah bertambah-tambah. Goresan
demi goresan. Betapa ia mencoba berkelahi seperti harimau lapar,
namun ternyata bahwa ia tidak akan dapat menolong dirinya. Akhirnya
luka ditubuhnya tidak lagi dapat dihitung. Namun di dalam keadaan
putus asa itu, ia masih juga sempat melukai Ki Demang di Kepandak
dengan beberapa goresan. Namun sampailah pada suatu saat, Ki
Reksatani kehabisan kekuatan. Luka-luka yang pedih, kelelahan dan
racun yang bekerja ditabuhnya, membuatnya semakin lemah, sehingga
akhirnya seperti kehilangan segenap tulang-tulangnya, Ki Reksatani
menjadi terhuyung-huyung. Sekali ia masih menggerakkan tangannya
untuk menggoreskan kerisnya. Namun tangan itupun segera terkulai
bersamaan dengan lenyapnya kemampuannya untuk berdiri tegak.
Perlahan-lahan Ki Reksatani jatuh diatas lututnya. Meskipun kerisnya
masih di dalam genggaman, namun ia sudah tidak berdaya lagi untuk
menggerakkannya. Sesaat Ki Demang di Kepandak masih dapat berdiri
tegak. Ditatapnya wajah adiknya yang pucat. Goresan-goresan yang
merah kehitam-hitaman tetapi tidak menitikkan darah. Tiba-tiba
Ki Reksatani itupun jatuh tersimpuli bertumpu pada kedua tangannya.
Sekilas ia menengadahkan wajahnya dan dilihatnya kakaknya, Ki Demang
di Kepandak berdiri di hadapannya dengan keris di tangannya. "Ki
Demang" suaranya menjadi parau "kenapa kau t idak menghunjamkan
keris itu di dadaku sama sekali" Ki Demang t idak menyahut.
"Ternyata aku tidak berhasil sekedar membunuhnya. Tetapi aku juga
akan mati karenanya" Ki Demang masih tetap berdiam diri. "Ki Demang"
suara Ki Reksatani semakin lambat "kita akan mati bersama-sama.
Apakah kau tidak menyadarinya?" "Ya. Reksatani. Kita akan mati
bersama-sama. Kau akan mati lebih dahulu, kemudian baru aku akan
menyusulmu" Ki Reksatani menjadi semakin lemah. Namun ia masih
mencoba mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang-orang yang berdiri
di seputar halaman. Tampaknya seperti bayangan-bayangan hantu yang
hitam pekat di bawah cahaya obor yang kemerah-merahan. Kemudian
tatapan matanya merayap kekaki Ki Demang di Kepandak dan
perlahan-lahan memanjat naik. Sekali lagi ia melihat wajah Ki
Demang, wajah kakaknya. Ketika Ki Demang memandang wajah adiknya itu
pula, wajah yang pucat pasi, tiba-tiba terbayang di wajah itu,
kenamgan yang sesaat telah terusir dari hatinya. Kini seakanakan
dilihatnya wajah Reksatani di masa kanak-kanak. Serasa mereka adalah
kanak-kanak itu. Kanak-kanak yang bermainmain di halaman Kademangan.
Kanak-kanak yang berkelahi di Kademangan itu pula. Serasa Ki Demang
di Kepandak menghayati kembali hidupnya beberapa puluh tahun yang
lampau. Kalau ia mendapatkan permainan, maka adiknya itu selalu
berusaha merebutnya. Kadang-kadang mainan itu diberikannya, tetapi
kadang-kadang dipertahankannya, sehingga sekali-sekali merekapun
berkelahi. Tetapi Ki Reksatani di masa kanakkanak selalu gagal.
Bagaimanapun juga Ki Reksatani tidak akan dapat menang. Yang dapat
dilakukan kemudian adalah menangis. Terasa dada Ki Demang di
Kepandak berdesir ketika tampak olehnya kilatan pantulan cahaya obor
di mata Ki Reksatani. Bukan Ki Reksatani di masa kanak-kanak. Tetapi
Ki Reksatani yang telah berusaha membunuhnya. Benar-benar
membunuhnya dengan keris peninggalan ayahnya. "Kakang" terdengar
suara itu lirih sekali. Ki Demang di Kepandak menarik nafas
dalam-dalam. Rasarasanya udara di halaman Kademangan itu telah
menjadi kering sama sekali, sehingga hampir-hampir tidak ada yang
berhasil dihisapnya melalui hidungnya. "Kita akan mati bersama-sama"
desis Ki Reksatani kemudian. Ki Reksatani menggeram ketika
sekali lagi ia merasa keris kakaknya tergores di tubuhnya, dan kali
ini justru di kening. Dengan demikian Ki Reksatani tidak lagi dapat
melepaskan bagian yang tergores oleh senjata itu dari tubuhnya. Ki
Demang t idak menjawab. Dan tiba-tiba saja diluar dugaannya, Ki
Reksatani berkata terbata-bata" semuanya sudah terlanjur. Dan
semuanya sudah gagal" Ki Demang sekali lagi mencoba menarik nafas.
"Aku minta maaf kakang" Bagaimanapun juga terasa sesuatu menyentuh
hatinya. Reksatani adalah adiknya. "Aku minta maaf, bahwa aku telah
melakukannya. Aku tidak mengerti, dorongan apakah yang membuat aku
seakan menjadi gila" Ki Reksatani berhenti sejenak "tetapi semuanya
sudah terlanjur. Aku akan mati, dan kau juga akan mati. Tetapi kau
mati diatas dasar hakmu sendiri kakang. Aku akan mati sebagai
seorang pengkhianat apalagi seorang adik yang telah membunuh
kakaknya pula" Ki Demang tidak menjawab. Tetapi seakan-akan ia
melihat dada Reksatani yang terbuka. Seolah-olah ia melihat bahwa di
dalam dada itu kini memancar pengakuan dan penyesalan. Seakan-akan
di dalam dada yang gelap kelam itu telah menyala pelita yang
memberinya penerangan. Namun sudah terlambat. Yang dapat dilakukan
oleh adiknya di saat-saat terakhir adalah pengakuan. Hanya pengakuan
yang ikhlas. Tetapi ia t idak akan dapat lagi memperbaiki
kelakuannya dan membenarkan perbuatannya yang salah. "Kakang, apakah
kau masih bersedia memaafkan aku" suaranya menjadi semakin lambat
dan terputus-putus. Ki Demang di Kepandak masih berdiri membeku.
Nafasnya serasa menjadi semakin sesak. Badannya bagaikan terbakar
karena racun yang keras telah bekerja di seluruh tubuhnya, meskipun
racun warangan keris yang mencengkam darahnya tidak sebanyak
warangan yang masuk ke dalam tubuh adiknya. "Kakang" suara Ki
Reksatani menjadi semakin lirih "apakah kau mau memaafkan?" Ki
Demang maju selangkah. Tetapi iapun sudah mulai terhuyung-huyung.
Dipandanginya wajah adiknya yang pucat penuh penyesalan. "Aku tahu,
tidak akan ada gunanya lagi kakang. Tetapi aku menyesal sekali. Aku
menyesal" "Belum terlambat Reksatani. Kau masih dapat mengucapkannya
sendiri" "Sudah terlambat. Aku akan mati" "Mati adalah batas
kesatuan roh dan wadag dihidup yang fana. Tetapi penyesalanmu akan
berpengaruh di dalam hidupmu yang baka. Kita akan bersama-sama
menghadap sumber dari hidup kita" "Tetapi, tetapi.." suara Ki
Reksatani terputus-putus ".....aku akan terjerumus ke dalam kancah
dosaku. Aku akan kehilangan jalan untuk menghadap Tuhan. Semua pintu
akan tertutup bagiku. Tetapi tidak bagimu kakang" "Tidak ada manusia
yang bersih dari dosa. Tetapi penyesalan yang tulus di saat terakhir
akan mendekatkan kita kepadanya. Kau menyesali dosa-dosamu, dan aku
akan menyesali dosa-dosaku. Marilah kita yakini bahwa Tuhan Maha
Pengampun" Ki Reksatani mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia
berdesis "Tetapi juga Maha Adil. Tuhan akan menghukum yang salah
sesuai dengan kesalahannya" "Dan semua penyesalan dan taubat akan
diperhitungkannya" Ki Reksatani mencoba menarik nafas. Dengan sisa
tenaganya ia mengangkat kepalanya. Dipandanginya bayangan hitamyang
semakin kabur. Tiba-tiba saja ia berteriak "Pergi. Pergi semua orang
yang datang bersamaku. Jangan kalian mengganggu Kademangan ini lagi.
Korban yang paling berharga telah jatuh di Kademangan ini. Kakang
Demang di Kepandak dan aku sendiri. Jangan menambah korban lagi.
Pergi, pergi.." Suara Ki Reksatani terputus. Sejenak ia mencoba
bertahan. Namun perlahan-lahan iapun tertelungkup. "Reksatani " Ki
Demang berjongkok disampingnya, dengan lemahnya. Dicobanya untuk
mengangkat adiknya. Tetapi tangannya seakan-akan tidak bertulang
lagi. Orang-orang yang berdiri di sekeliling halaman, bagaikan
mengalami sebuah mimpi yang mengerikan. Sesaat mereka berdiri
termangu-mangu. Namun kemudian Ki Jagabaya meloncat mendekati mereka
berdua yang telah sampai pada perbatasan hidupnya. Sambil menahan
nafas iapun kemudian berjongkok pula di samping Ki Demang di
Kepandak. "O" desah Ki Demang "Ki Jagabaya. Tolong, terlentangkan
adikku" Ki Jagabaya memandanginya sejenak. Namun kemudian tangannya
terjulur menggapai tubuh Ki Reksatani. Perlahanlahan tubuh itupun
ditelentangkannya. Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. Namun
sekali lagi Ki Reksatani mencoba untuk membuka matanya sambil
tersenyum. Ia masih melihat bayangan yang kabur. Namun masih juga
dikenalinya Ki Demang di Kepandak dan Ki Jagabaya. "Aku minta maaf"
suaranya parau dan hampir t idak terdengar "katakan kepada mBok-ayu
Sindangsari. Aku minta maaf" Ki Jagabaya yang menahan kepala Ki
Reksatani mengangguk-angguk "Ya, Ki Reksatani" "Juga kepadamu dan
kepada semua rakyat Kepandak" "Ya Ki Reksatani" Ki Reksatani tidak
dapat mengucapkan kata-kata lagi. Sekali lagi ia mencoba tersenyum.
Namun kemudian wajahnya yang pucat menjadi seputih kapas. Sebuah
tarikan nafas yang terakhir telah lewat di hidungnya. Ki Demang
memejamkan matanya sejenak. Ketika ia membuka matanya kembali,
terasa kepalanya menjadi pening sekali. Tubuhnya bagaikan terbakar.
Ketika ia mencoba untuk berdiri, ia sudah tidak berhasil meskipun ia
berpegangan Ki Jagabaya. "Ki Jagabaya" suaranyapun mulai serak
"akupun akan mati. Warangan keris itu sudah bekerja di seluruh
tubuhku. Tidak ada obat yang dapat menolongku" "Apakah aku harus
memanggil dukun yang paling pandai Ki Demang" Ki Demang
menggelengkan kepalanya "Tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya Ki
Jagabaya" Ki Jagabaya menjadi tegang. Seperti semua orang yang ada
di sekeliling halaman itu. "Ki Jagabaya" desis Ki Demang "panggillah
Sindangsari" Ki Jagabaya menganggukkan kepalanya. Diletakkannya
kepala Ki Reksatani perlahan-lahan. Kemudian iapun berangkat berdiri
dan meloncat ke ruang dalam. Ketika ia melangkah dengan tergesa-gesa
ke halaman, ia diikuti oleh Sindangsari. Tetapi dadanya menjadi
semakin berdebar-debar. Ia melihat Ki Demang sudah semakin lemah.
Tetapi kini beberapa orang bebahu Kademangan telah mengelilingi.
Sindangsari berdiri termangu-mangu sejenak. Ketika ia melihat Ki
Demang yang duduk bersandar seorang bebahu Kademangannya, tiba-tiba
saja ia menjerit. "Kakang Demang. Kakang Demang" Perempuan itupun
berlari-lari melintasi halaman. Sambil menjatuhkan dirinya di
sisinya Sindangsari menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua
telapak tangannya "Kakang Demang. Apa yang terjadi?" Ki Demang di
Kepandak menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya dipandanginya
mayat adiknya yang terbujur di sisinya. "Sindangsari" berkata Ki
Demang di Kepandak "kita tidak menghendaki semua ini terjadi. Tetapi
ternyata kita tidak dapat mengelakkannya. Aku terpaksa membunuh
Reksatani" Sidangsari terkejut sehingga tanpa sesadarnya ia
mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan ia berpaling mengikuti arah
tatapan mata Ki Demang di Kepandak. "O" dengan tergesa-gesa
Sindangsari melemparkan pandangannya jauh ke sudut halaman. Terasa
dadanya berdentangan oleh denyut jantungnya yang semakin cepat.
"Reksatani sudah mati Sari" suara Ki Demang parau" ia sudah menebus
kesalahannya dengan nyawanya" Ki Demang berhenti sejenak, lalu
"tetapi bukan saja Reksatani. Akupun harus menebus ketamakanku"
"Kakang Demang" wajah Sindangsari menjadi semakin tegang. "Akupun
akan mati" "Kakang...." suara Sindangsari terputus. "Ya Sari. Aku
juga akan mati. Tubuhku telah tergores keris Reksatani. Keris pusaka
peninggalan ayah yang mempunyai kekuatan warangan yang luar biasa.
Apalagi keris itu dipelihara oleh Reksatani sebaik-baiknya. Dan
keris itu ternyata telah melukai kulitku. Dengan demikian maka aku
tidak akan dapat hidup lebih lama lagi" "Tidak. Tidak" teriak
Sindangsari "kau tidak akan mati kakang. Kau tidak akan mati"
"Agaknya memang sudah sampai pada batas perjalanan hidupku Sari. Aku
akan mat i" "Jangan" tangis Sindangsari t idak tertahankan lagi. Dan
tanpa diduga-duga tiba-tiba Sindangsari menjatuhkan dirinya di dada
Ki Demang di Kepandak yang sudah sampai dibatas akhir hidupnya.
"Jangan tinggalkan aku kakang. Kau tidak akan mati" Terasa sesuatu
berdesir di dada Ki Demang di Kepandak. Selama hidupnya ia belum
pernah memeluk Sindangsari sebagai istrinya. Seakan-akan diantara
keduanya terdapat jarak yang tidak tertembuskan. Namun di saat-saat
ajal mulai merabanya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ada padanya, Ki
Demang menggerakkan tangannya membelai rambut Sindangsari yang
terurai kusut. Karena itu maka didekapnya Sindangsari di dadanya. Ia
merasa bahwa ia seorang suami yang sah dari perempuan itu. Tetapi di
dalam pergaulannya sehari-hari ia lebih bersikap sebagai seorang
ayah terhadap anak gadisnya. Di bawah tangga pendapa Pamot berdiri
termangu-mangu. Ketika ia melihat Sindangsari menjatuhkan diri
dipelukan Ki Demang, tiba-tiba saja kepalanya tertunduk. Hatinya
bergolak tanpa dapat dikendalikan lagi. Bagaimanapun juga hatinya
serasa tersayat melihat Sindangsari berada di dalam belaian tangan
Ki Demang di Kepandak, meskipun ia tahu, bahwa perempuan itu adalah
isteri Ki Demang itu sendiri. Tanpa sesadarnya Pamot mengatupkan
giginya rapat-rapat, seakan-akan menahan gejolak yang dahsyat di
dalam dadanya. Namun demikian ia sama sekali tidak beranjak dari
tempatnya, seperti orang-orang lain yang juga tidak beranjak dari
tempatnya. Tetapi Pamot itu terkejut ketika perlahan-lahan ia
mendengar seolah-olah namanya disebut beberapa kali. Perlahan-lahan
pula ia mengangkat wajahnya. Dan suara itu masih didengarnya. "Pamot
" yang terdengar jelas kemudian adalah suara Ki Jagabaya. Pamot
mengerutkan keningnya. "Kemarilah" Ki Jagabaya meneruskan. Gejolak
di dada Pamot menjadi semakin keras. Sekali lagi ia menundukkan
kepalanya ketika ia melihat Sindangsari menelungkup ditubuh Ki
Demang yang lemah. "Pamot, kemarilah. Ki Demang
memanggilmu" ulang Ki Jagabaya. Pamot menjadi termangu-mangu
sejenak. Dadanya telah diamuk oleh kebimbangan. Ia tidak dapat
menyaksikan Sindangsari yang menangisi Ki Demang di Kepandak. Tetapi
Ki Demang justru telah memanggilnya. "Cepat sedikit Pamot" pinta Ki
Jagabaya. Pamot tidak dapat menolak lagi. Perlahan-lahan ia
melangkah mendekati Ki Demang yang bersandar seorang bebahu
Kademangan, sedang Sindangsari masih menangis membasahi dada Ki
Demang yang bidang itu. Sejenak Pamot berdiri di samping Ki Jagabaya
yang berjongkok. "Kemarilah" desis Ki Demang di Kepandak dengan
suara yang parau dan dalam. "Berjongkoklah" gumam Ki Jagabaya.
Pamotpun kemudian berjongkok di samping Ki Demang yang menjadi
semakin lemah. "Pamot " bisik Ki Demang dengan suara yang parau
"umurku tidak akan lebih panjang dari malam ini" Pamot tidak
menyahut. "Aku akan mati. Semua yang ada di Kademangan ini akan aku
tinggalkan. Rumah, ternak, sawah, halaman ini dan rakyat Kepandak
yang baik. Juga Sindangsari dan anak di dalam kandungannya" Pamot
masih tetap berdiam diri. "Tetapi rasa-rasanya aku segan untuk
berangkat, sebelum aku yakin bahwa yang aku tinggalkan tidak akan
mengalami kesulitan apapun juga. Terutama isteri dan anak di dalam
kandungannya itu" "Pamot " desis Ki Demang. Suaranya menjadi semakin
dalam "Semua yang mendengar kata-kataku ini akan menjadi saksi.
Bahwa sebagai kelajiman dan adat kita, sepeninggalku, anakkulah yang
akan berhak menggantikan kedudukanku. Karena anakku masih ada di
dalam kandungan, maka diperlukan seseorang yang dapat mewakilinya
untuk sementara. Sampai pada saatnya anakku kelak dapat menjabat
kedudukan Demang di Kepandak. Kalau ia laki-laki, maka ia adalah
Demang itu. Tetapi kalau ia perempuan, maka suaminyalah yang akan
melakukan tugasnya sebagai Demang di Kepandak. Ki Jagabaya, para
bebahu yang ada di sekitar Ki Demang di Kepandak
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Pamot masih saja menundukkan
kepalanya. "Pamot " berkata Ki Demang kemudian dengan suara yang
terputus-putus "aku sudah akan mati. Baiklah aku berkata berterus
terang, karena aku tidak mempunyai waktu lagi" ia berhenti sejenak
menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah nafasnya telah hampir
terputus dilubang hidungnya "Aku akan mati. Aku tahu, dan hampir
seluruh orang-orang Kepandak tahu, bahwa aku telah melakukan
kesalahan yang besar terhadapmu dan Sindangsari. Karena itu
sepeninggalku Pamot, aku serahkan Sindangsari kembali kepadamu.
Terimalah. Aku minta sebelum ajalku, kau mau menerimanya sebagai
isterimu. Kau pulalah yang aku percaya untuk mewakili anakku
melakukan tugas Kademangan ini sebaikbaiknya, sampai saatnya kelak
anak itu dapat menjalankannya sendiri. Aku percaya bahwa kau mampu
melakukan. Kau masih muda. Kau masih mempunyai seribu macam harapan
buat masa depan. Dalam olah kanuragan dan olah kasukman. Semoga
Tuhan melindungimu" Nafas Ki Demang menjadi semakin pendek. Tetapi
ia masih bertanya "Apakah kau bersedia Pamot?" Dada Pamot
benar-benar telah dilanda kebimbangan yang dahsyat. Ia tidak
mengerti, perasaan apakah yang sebenarnya bergolak di dadanya
terhadap Sindangsari. Apakah benar ia memang mengharapkannya, atau
sekedar hatinya diremas oleh perasaan cemburu? Atau
perasaan-perasaan lain yang tidak dikenalnya?" Namun di saat
terakhir seolah-olah Ki Demang dapat membaca guratan perasaannya
"Pamot. Kau ragu-ragu?" Ki Jagabaya berpaling. Ditatapnya wajah
Pamot yang tegang penuh pertentangan di dalamdiri. "Jawablah Pamot"
desak Ki Jagabaya "kaulah yang mendapat kepercayaan itu" Pamot
menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Sindangsari yang terisak di
dada Ki Demang di Kepandak. "Nafasnya tinggal satu dua. Aku ingin
mendengar jawabmu Pamot" "Pamot " desak Ki Jagabaya. Sekali lagi
Pamot menarik nafas. Lalu terdengarlah suaranya yang dalam "Baiklah
Ki Demang. Aku menerimanya" Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ia
masih akan berbicara. Tetapi bibirnya hanya dapat tersenyum.
Perlahanlahan ia mencoba meraba kening isterinya. Tetapi ketika
tangan itu menyentuh wajah Sindangsari, maka tangan itu terkulai
dengan lemahnya. Namun masih juga dipaksakannya berbisik
"Sindangsari, kembalilah kepadanya. Kepada Pamot" agaknya Ki Demang
masih ingin berkata, tetapi suaranya sudah tidak dapat melalui
kerongkongannya. Perlahan-lahan Ki Demang menggerakkan kepalanya.
Kemudian sebuah tarikan nafas yang dalam. Dan mata Ki Demang itupun
terpejam dengan sebuah senyum di bibirnya. "Ki Demang" desis Ki
Jagabaya. Sindangsari yang menelungkup di dada Ki Demang mengangkat
kepalanya. Terasa tarikan nafasnya terhenti. Dan ketika dilihatnya
Ki Demang telah memejamkan matanya, maka tiba-tiba perempuan itu
menjerit keras sekali. "Kakang Demang. Kakang Demang" Tetapi Ki
Demang sudah tidak mendengarnya. Tidak ada jawaban yang meloncat
melalui bibirnya. Sekali lagi Sindangsari menjatuhkan kepalanya
sambil menangis sejadi-jadinya. Bagaimanapun juga ia mempunyai
kenangan tersendiri selama ia hidup di Kademangan. Ki Demang di
Kepandak itu serasa seorang ayah yang selalu mencoba mengerti
keadaannya sebaik-baiknya. Tetapi juga seorang suami yang memerlukan
pelayanannya dalam hidup sehari-hari. Ia jugalah yang setiap hari
menyediakan makan dan minum. Membersihkan bilik dan pembaringannya.
Menyapanya kalau ia pulang dengan lelah setelah melakukan tugasnya.
Tetapi yang selalu bertanya pula kepadanya apabila ia mengeluh tanpa
sesadarnya "Apakah aku dapat membantumu Sari?" Sejenak para bebahu
Kademangan Kepandak seakan-akan membeku. Mereka tidak segera dapat
berbuat sesuatu. Dibiarkannya Sindangsari menangis sepuas-puasnya,
menangisi suaminya yang gugur mempertahankan bukan saja haknya,
tetapi juga isteri dan anak di dalam kandungan. Tetapi sejenak
kemudian Ki Jagabaya berbisik "Sudahlah Nyai Demang. Biarkan kami
mendapat kesempatan menyelenggarakan jenazah Ki Demang di Kepandak.
Sebaiknya Nyai Demang masuk saja ke dalam rumah Kademangan" Tetapi
Nyai Demang di Kepandak sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.
"Panggillah perempuan-perempuan tua" desis Ki Jagabaya kepada
seorang bebahu yang duduk di sampingnya. Sejenak kemudian
perempuan-perempuan tua itupun telah berdatangan. Dengan lembut
mereka mencoba mengajak Sindangsari masuk ke rumahnya. "Lihatlah"
berkata seorang perempuan "di sekitar halaman ini masih banyak
sekali laki-laki yang menggenggam senjata telanjang. Marilah.
Biarlah Ki Jagabaya menyelesaikan semuanya. Perlahan-lahan namun
akhirmya Sindangsaripun melepaskan suaminya. Dengan dibimbing oleh
perempuanperempuan tua, Nyai Demang itupun dibawa masuk ke ruang
dalam. Tetapi ketika di bawah tangga pendapa ia berpaling,
dilihatnya Pamot berdiri termangu-mangu. Terasa dada Sindangsari
berdesir. Pamot itu seakan-akan memandangnya seperti baru pertama
kali melihatnya. Sorot mata anak muda itu serasa menembus sampai ke
pusat jantungnya. "Pamot " Nyai Demang itu berdesis. Hampir saja ia
berlari kepada anak muda itu. Namun perempuan-perempuan tua yang
membimbingnya membawanya naik ke pendapa. Pamot memalingkan wajahnya
menyapu halaman. Beberapa orang sedang mengangkat tubuh Ki Demang ke
pendapa. Yang lain mengangkat tubuh Ki Reksatani. Namun di sekitar
halaman itu masih dilihatnya para pengawal yang bersenjata dan
orang-orang berkuda yang berdatangan bersama Ki Reksatani. Namun
wajah-wajah merekapun telah tunduk dalam-dalam. Hati mereka sempat
juga merenungi apa yang baru saja terjadi. Tetapi agaknya Ki
Jagabayapun segera bertindak pula atas nama Ki Demang "He,
orang-orang yang telah menjerumuskan diri ke dalam pengkhianatan.
Kini Ki Reksatani sudah tidak ada lagi di antara kalian. Kalian
telah mendengar sendiri pesannya dan janji jantannya sebelum ia
melakukan perang tanding?" Ki Jagabaya berhenti sejenak, lalu
"Apakah kalian ingin meyakinkan siapa yang kalah dan siapa yang
menang? Ki Reksatani telah meninggal lebih dahulu. Karena itu, maka
iapun dapat dianggap telah kalah. Apalagi ia sendiri telah
meneriakkan perintah kepada kalian untuk pergi meninggalkan halaman
ini" sekali lagi ia berhenti, lalu "Tetapi yang penting bukan itu.
Bukan sekedar kalian pergi meninggalkan halaman ini. Tetapi apakah
kalian telah menyadari, bahwa yang terjadi adalah bencana buat
Kademangan ini? Kalau kalian t idak dapat menyadarinya, maka memang
lebih baik kalau kita bertempur sekarang. Siapa yang akan kalah dan
siapa yang akan menang. Siapa yang akan tumpas dan siapa yang akan
menguasai Kepandak sebagai kuburan raksasa" Tidak seorangpun yang
menjawab. "Nah, sekarang kalian dapat memilih. Kalau kalian
menyesali perbuatan kalian, tinggalkan halaman ini. Kalau tidak,
kita akan segera bertempur. Kami sudah siap" Beberapa orang berkuda
itu saling berpandangan. Tetapi bagi mereka agaknya tidak akan ada
gunanya lagi untuk bertempur. Mereka sadar, bahwa Ki Jagabaya dan
para pengawal pasti akan menghancurkannya. Tetapi kalau mereka
meninggalkan halaman itu, mereka akan dimanfaatkan. Ki Jagabaya
agaknya tidak akan melakukan tuntutan lebih lanjut atas mereka.
Karena itu, maka ketika seorang dari mereka bergerak, maka yang
lainpun segera mengikutinya. Satu-satu mereka pergi meninggalkan
jalan-jalan diseputar halaman Kademangan Kepandak. Para pengawal
yang semula berdebar-debar, satu-satu mulai menarik nafas lega.
Mereka tidak lagi harus bertempur. Namun demikian kembali mereka
harus menundukkan kepala, karena di pendapa dua orang kakak beradik
yang selama ini mereka hormati, telah meninggal justru dalam perang
tanding diantara mereka sendiri. Pamot yang masih termangu-mangu,
terkejut ketika Ki Jagabaya menepuk pundaknya. Bisiknya "Kenapa kau
seperti kehilangan akal Pamot. Kau berdiri merenung seperti orang
tua yang linglung" Pamot tidak segera dapat menjawab. Tiba-tiba saja
ia menjadi tergagap. "Pamot " berkata Ki Jagabaya seterusnya
"berbuatlah sesuatu. Kau sekarang adalah Demang di Kepandak" Pamot
menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya dipandanginya pintu
pringgitan yang masih terbuka sedikit. Secercah cahaya meloncat
keluar menarik garis yang lurus. "Masuklah ke rumah itu. Terimalah
Sindangsari. Hatinya terlampau pedih mengalami peristiwa ini. Kau
adalah satusatunya orang yang paling dekat di hatinya. Selebihnya
kau adalah seorang laki-laki. Jangan kehilangan akal" Tetapi Pamot
bahkan kemudian menggelengkan kepalanya. Katanya "Ki Jagabaya. Aku
tidak sanggup. Aku tidak sanggup melakukan semuanya. Ki Jagabaya
sajalah yang menjadi Demang di Kepandak" "Meskipun Ki Demang di
Kepandak yang baru saja meninggal itu bukan orang yang bersih sama
sekali, tetapi kami mencoba untuk memenuhi permintaannya yang
terakhir. Kau juga sebaiknya memenuhinya. Apalagi kau sudah
menyanggupinya" "Aku hanya ingin menyenangkan hatinya di
saat-saat ia akan meninggal" "Jangan kau ingkari janjimu di hadapan
orang yang akan meninggal" "Pamot " terdiam. Tetapi kepalanya
menjadi semakin tunduk. "Pamot " berkata Ki Jagabaya "kau mempunyai
pengetahuan. Kau juga mempunyai pengalaman. Kalau masih ada yang
kurang, kau dapat mempelajarinya dari orang-orang yang ada di
sekitarmu. Dari aku, dan bebahu yang lain dan dari seluruh rakyat
Kepandak" Pamot t idak menjawab. Dan di luar sadarnya beberapa orang
bebahu yang lain telah berdiri mengitarinya. "Nah, masuklah.
Mulailah berbuat sesuatu atas Nyai Demang yang pasti sedang murung
itu" Pamot tidak dapat menolak ketika Ki Jagabaya mendorongnya ke
pendapa. Dengan berat kakinya melangkah, menaiki tangga satu demi
satu. Ketika ia sampai di tangga teratas, sekali lagi langkahnya
tertegun. Tetapi Ki Jagabaya mendorongnya. "Masuklah. Kau tahu apa
yang harus kau lakukan, menjelang penyelenggaraan jenazah Ki Demang
dan Ki Reksatani. Kau mempunyai wewenang mengatur dan mempergunakan
apa saja yang ada di rumah ini dengan seizin Sindangsari. Karena itu
temuilah perempuan itu. Berbicaralah, bahwa masih ada yang harus
dilakukan. Bahwa jenazah suaminya masih harus dikuburkan. Dan kaulah
pelaksananya. Kami akan membantu sejauh dapat kami lakukan" Pamot
masih juga termangu-mangu. Namun kemudian kakinya melangkah juga ke
pintu pringgitan. Dengan ragu-ragu Pamot mendorong pintu yang masih
terbuka sedikit itu. Dengan kaki gemetar ia maju selangkah, memasuki
pringgitan rumah Kademangan di Kepandak. Tetapi pringgitan itu
ternyata kosong. Tidak ada seorangpun yang ada di pringgitan itu.
Sejenak Pamot berdiri termangu-mangu. Ia tidak segera tahu, apakah
yang sebaiknya dikerjakan. Dipandanginya saja isi pringgitan itu.
Lampu yang menyala diatas ajug-ajug. Sehelai tikar pandan yang
tergantung di dinding dan sepasang tombak yang silang menyilang.
Pamot menarik nafas dalam-dalam. Hatinya berdesir ketika dari balik
pintu yang masuk ke ruang dalam ia mendengar isak tangis
Sindangsari. Seorang perempuan mencoba menenteramkan hatinya. Namun
Sindangsari masih juga menangis. Tiba-tiba Pamot mengangkat wajahnya
ketika ia mendengar suara seorang laki-laki di dalam. Agaknya
laki-laki itu telah masuk lewat pintu butulan. Perlahan-lahan ia
berkata kepada salah seorang perempuan "Katakan kepadanya, bahwa Ki
Demang telah menentukan siapakah yang akan menjadi pelindungnya.
Biarlah hatinya menjadi agak tenang. Meskipun ia sudah mendengar
sendiri, tetapi barangkali ia perlu meyakinkan" "Siapa?" bertanya
perempuan itu. "Kita, yang menunggui di saat Ki Demang menarik nafas
terakhirnya menjadi saksi. Ki Demang telah menyerahkan seluruhnya
kepada Pamot. Ialah yang akan menjadi wali anak di dalam kandungan
itu sampai anak itu kelak dapat menggantikan kedudukan ayannya,
Demang di Kepandak" "O" desis perempuan itu. Sejenak kemudian tidak
terdengar suara apapun. Agaknya laki-laki itu telah pergi
meninggalkan Sindangsari yang menangis. Pamot masih saja berdiri
di tempatnya dengan termangumangu. Iapun kemudian mendengar
perempuan-perempuan itu mencoba menghibur hati Sindangsari. Dengan
hati-hati seorang perempuan tua berkata "Nyai Demang. Sudahlah.
Jangan ditangisi lagi yang sudah pergi. Biarlah Ki Demang dapat
menempuh jalan lapang tanpa tertegun-tegun di perjalanannya.
Bukankah Ki Demang sudah menjatuhkan pesan sebelum ia meninggal?
Nah, pesan itu merupakan suatu penghibur yang dapat mengurangi
kepahitan perasaanmu. Mungkin kau tidak segera dapat menyesuaikan
diri dengan pesan itu. Tetapi pesan itu harus mendapat perhatian.
Setidak-tidaknya kau mendapat seorang kawan berbincang selama kau
menghadapi percobaan yang sangat berat ini" Nyai Demang tidak
menjawab. Ia memang mendengar sendiri bagaimana Ki Demang
menyerahkan dirinya ke dalam perlindungan Pamot. Bagaimana Ki Demang
mengatakan, bahwa anak di dalam kandungannya itulah yang kelak
berhak menjadi penggantinya, karena anak itu diakuinya sebagai
anaknya. Sindangsari t idak tahu perasaan apakah yang sebenarnya
bergolak di dalam hatinya. Apakah ia bersedih apakah ia merasa
dirinya terlepas dari kekangan dan dapat kembali kepada Pamot. Atau
kedua-duanya kini sedang bergulat di dalam hatinya?" Ia memang
bersedih atas kematian Ki Demang di Kepandak. Tetapi ia
berpengharapan bahwa ia akan menjelang suatu kehidupan yang lain
bersama Pamot yang tidak pernah dilupakannya sekejappun. Namun
justru karena Ki Demang mengetahui perasaannya itulah maka ia
menjadi sedih atas kematiannya. Agaknya selama ini Ki Demangpun
mencoba untuk mengerti tentang dirinya sedalam-dalamnya.
Dibiarkannya dirinya selalu berangan-angan tentang Pamot. Tentang
anak muda yang tidak akan dapat diuraikan lagi daripadanya karena
ikatan yang ada di dalam dirinya itu. Anak muda yang telah
meletakkan benih yang sedang tumbuh. Semakin lama menjadi semakin
besar. Selama ini Ki Demang tidak pernah mengganggu gugat, meskipun
ia sudah tahu keadaannya yang sebenarnya. Demikianlah Sindangsari
tidak segera dapat menguasai dirinya sendiri. Kebingungan dan
kegelisahan telah membakar dadanya. Ia tidak dapat menemukan
perasaannya sendiri. Dan suara perempuan-perempuan tua di sekitarnya
itu justru telah membuatnya menjadi semakin bingung. "Kau harus
menerima pesan itu Nyai" terdengar seseorang berkata. "Jangan
bersedih lagi. Ki Demang sudah menghadap Tuhannya kembali" Dan yang
lain "Kita bersama-sama telah bersedih hati atas kematiannya. Tetapi
semuanya yang terjadi ini tidak akan dapat kembali lagi. Tidak dapat
diulang kembali. Karena itu, terimalah keadaan yang mendatang" Masih
ada lagi yang berbisik "Jangan tenggelam dalam kepedihan. Kau masih
harus berbuat sesuatu atas jenazah suamimu. Kau dapat memanggil Ki
Jagabaya dan terutama, kau akan mendapat sisihan baru dalam
kesulitan ini. Panggilan Pamot dan para bebahu yang lain" Nyai
Demang masih saja menangis. Dan seorang perempuan yang lain berkata
"Jagalah kandunganmu Nyai. Jangan kau turutkan kata hatimu"
Suara-suara itu serasa berputar di kepalanya. Semakin lama semakin
cepat sehingga seakan-akan Sindangsari itu telah diputar oleh
pusaran yang semakin lama semakin menyeretnya ke dalamarus yang t
idak terlawan. Dalam keadaan itulah, seorang anak muda berdiri di
muka pintu ruang dalam. Dengan tatapan mata yang kosong ia
memandangi perempuan-perempuan yang sedang berkerumun di seputar
Sindangsari. Ketika salah seorang melihatnya, tiba-tiba ia berdesis
"Pamot. Pamot telah datang" Semua orang berpaling kepadanya. Dan
bahkan Sindangsari yang sedang menangispun mengangkat wajahnya pula.
Ketika Sindangsari menatap wajah Pamot yang berdiri termangu-mangu
di muka pintu itu, Pamotpun ternyata sedang memandanginya pula.
Benturan tatapan mata mereka yang tiba-tiba itu, terasa menggetarkan
hati Sindangsari. Sejenak ia membeku, namun tanpa disadarinya, oleh
dorongan yang tidak dikenalnya, maka tiba-tiba saja ia meloncat
berdiri dan berlari kepada anak muda itu. Sambil berpegangan kedua
lengannya yang kokoh, Sindangsari meletakkan kepalanya di dadanya
yang bidang. Tangisnya justru seakan-akan menjadi semakin keras dan
meledak-ledak. Perempuan-perempuan tua yang menyaksikan hal itu
seakan-akan telah membeku di tempatnya. Mereka berdiri
termangu-mangu tanpa berbuat apapun juga. Satu dua diantara mereka
berdiri berpandangan. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Bahkan
sejenak kemudian salah seorang dari mereka berkata "Marilah, kita
tinggalkan keduanya. Biarlah mereka berbicara dan berbuat sesuatu"
Perempuan yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan
merekapun saling menggamit dan satu-satu mereka meninggalkan ruangan
itu. Sesaat kemudian yang ada di dalam ruangan itu tinggallah Pamot
dan Sindangsari. Sindangsari seakan-akan mendapat tempat untuk
menumpahkan segenap himpitan perasaannya. Karena itu, maka iapun
menangis semakin menjadi-jadi, sehingga tubuhnya, terguncang-guncang
karenanya. Tetapi Pamot masih saja berdiri membeku. Seakan-akan ia
tidak mengerti, bagaimana harus menanggapi sikap Sindangsari.
Tangannya masih saja terkulai lemah di sisinya. Dibiarkannya saja
Sindangsari berpegangan pada bahunya yang kokoh kuat dan membasahi
dadanya dengan air matanya. "Kakang, kakang Pamot, aku takut " desis
Sindangsari. Pamot sama sekali tidak menyahut. Ia masih saja berdiri
membeku di tempatnya. "Kakang, kakang " Tetapi Pamot tidak juga
menjawab. "Kakang" perlahan-lahan Sindangsari mengangkat wajahnya.
Dadanya berdesir melihat wajah Pamot yang kosong. Bahkan tatapan
matanya jauh menjangkau melalui lubang pintu butulan yang masih
terbuka. "Kakang, kakang" panggil Sindangsari sambil
mengguncang-guncang tubuh Pamot "kenapa kau bersikap seperti ini?"
Pamot menarik nafas dalam-dalam. Dibiarkannya Sindangsari melepaskan
pundaknya dan mundur selangkah surut. "Kenapa kau memandang seperti
itu?" Pamot kini menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergolak di
dalam dadanya. Tetapi tidak sepatah katapun yang dapat dikatakannya.
"Kenapa kau kakang?" desak Sindangsari. Sejenak perempuan itu
merenung. Namun tangisnya justru mereda "Aku memerlukan seseorang di
dalam keadaan ini. Aku telah kehilangan sandaran kakang.
Satu-satunya orang yang pantas adalah kau, dan kau jugalah yang
mendapat kepercayaan Ki Demang di saat terakhir" Pamot menarik nafas
dalam-dalam. Dan terdengar suaranya yang berat datar "Sindangsari.
Kenapa Ki Demang menyerahkan kau kepadaku?" Pertanyaan itu telah
mengejutkan Sindangsari. "Dan apakah aku hanya dapat sekedar
menerima penyerahan?" "Kakang" wajah Sindangsari menjadi tegang.
"Sari, apakah aku masih dapat menerima kau kembali kepadaku?"
"Tetapi, apakah kau sudah menyanggupinya kakang. Kau akan menjadi
pelindungku dan anak di dalam kandungan ini" "Itulah yang akan aku
katakan kepadamu. Kau adalah seseorang yang bukan saja terdiri atas
kesadaran akan adamu serta kehidupan batiniah yang setia dan bersih
atas cinta dan kasih diantara kita, tetapi kau juga terdiri atas
wadagmu yang mempunyai kenyataan sendiri. Kau, kau yang kasat mata
ini adalah isteri Demang di Kepandak. Kau pernah menjadi isterinya
dan sekarang kau mengandung anaknya. Sindangsari. Apakah aku masih
harus menerimamu seperti dahulu? Kalau sekarang aku terpaksa
menerima kau dan memenuhi permintaan Ki Demang di Kepandak di
saat-saat terakhir, maka akupun hanya akan menerima wadagmu.
Meskipun di dalam wadagmu masih tersimpan kesetiaan hidup
batiniahmu. Tetapi aku sudah tidak akan mempunyai kegairahan hidup
dalam keutuhan yang bulat antara jasmaniah dan batiniah. Ada semacam
pertentangan di dalam diriku, antara nalar dan perasaan menghadapi
persoalan sekarang ini" "Kakang" suara Sindangsari menjadi gemetar.
Dan tiba-tiba saja wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang.
Bahkan kemudian wajah itu menjadi kemerah-merahan. "Kakang, sebagai
seorang perempuan, aku harus menjaga harga diriku. Sebaiknya aku
tidak menjajakan diriku lagi kepada siapapun juga. Terlebih-lebih
lagi kepadamu. Tetapi aku ingin memberikan penjelasan kakang. Aku
selama ini masih aku yang dahulu" Pamot mengerutkan keningnya.
"Apakah tanggapanmu nanti, aku tidak akan mempedulikan. Seandainya
kau ingkar sekalipun, aku tidak akan menyesal" Sindangsari berhenti
sejenak "aku tahu perasaanmu. Kau menyangka bahwa aku tidak lagi
sebersih saat kau tinggalkan. Bersih dalam pengertian cinta kita
yang telah kita nodai bersama. Kau ingat? Dan inilah hasil dari
percikan noda itu. Aku telah mengandung. Anak di dalam kandungan ini
sama sekali bukan anak Ki Demang di Kepandak. Terserah kepadamu,
percaya atau tidak. Tetapi selama aku menjadi isteri Ki Demang di
Kepandak dalam pengertian ketentuan yang berlaku setelah aku kawin
dengannya, namun ia tidak lebih dari seorang bapak bagiku. Aku tidak
pernah disentuhnya. Aku tidak tahu, kenapa ia berbuat begitu. Dan
aku juga sudah mengatakan kepadanya, ketika ia bertanya kepadaku,
kenapa aku mengandung. Aku berkata terus terang, bahwa anak di dalam
kandungan ini adalah anakmu. Dan ia memperlakukan anak di dalam
kandungan ini seperti anaknya sendiri. Dan kau dengar, bahwa anak
ini, anakmu inilah yang kelak akan menggantikannya menjadi Demang di
Kepandak" "Sari" wajah Pamot menjadi pucat. "Kalau kau tidak
percaya, terserahlah. Tetapi itulah kenyataannya. Dan kalau kau
sekarang akan ingkar, ingkarlah. Pergilah dan tinggalkanlah aku
sendiri disini. Aku masih mampu berbuat apa saja. Aku masih dapat
menyelenggarakan jenazah suamiku. Ki Demang di Kepandak" Pamot
berdiri di tempatnya seakan-akan membeku. Namun masih juga terloncat
di bibirnya "Tetapi bukankah selama ini kau berada di Kademangan?"
"Ya. Aku selama ini memang berada di rumah ini. Di rumah Ki Demang
di Kepandak. Bukankah kau akan mengatakan bahwa di dalam satu rumah
aku berada dengan seorang lakilaki untuk waktu yang lama? Dan kau
akan tidak percaya bahwa selama itu tidak pernah terjadi hubungan
antara aku dan Ki Demang di Kepandak sebagai seorang laki-laki, yang
dengan demikian kehidupan wadagku sudah tidak sebersih di saat kau
tinggalkan?" Pertanyaan-pertanyaan yang meluncur seperti air terjun
itu tidak segera dapat dijawab. Bahkan Pamot seakan-akan telah
membeku di tempatnya. "Kakang Pamot. Aku memang berada di rumah ini
bersama seorang laki-laki tanpa orang lain. Kalau kau percaya
percayalah. Kalau tidak terserahlah. Aku masih tetap bersih seperti
dahulu. Noda yang melekat diwadagku adalah noda yang telah kita buat
bersama-sama. Bukan noda yang dipaksakan oleh Ki Demang di Kepandak"
Pamot masih berdiri saja seperti patung. Kata-kata Sindangsari yang
terngiang-ngiang di telinganya membuat pening. Sekali lagi ia
diseret oleh amukan pertentangan antara perasaan dan nalarnya. Namun
dalam ketegangan yang memuncak itu, keduanya terkejut ketika mereka
mendengar suara seorang perempuan yang lembut di pintu butulan "Nyai
Demang di Kepandak benar" Keduanya serentak berpaling. Sejenak
mereka termangumangu ketika mereka melihat perempuan itu melangkah
semakin dekat. Seorang perempuan yang menjelang pertengahan usia,
tetapi perempuan itu masih tampak segar dan cantik. "Pamot " berkata
perempuan itu "aku yakin bahwa Nyai Demang masih sebersih saat-saat
ia diarak memasuki jenjang perkawinannya. Dan akupun yakin, bahwa
sebelum itu, Nyai Demang pasti sudah membawa bibit yang kemudian
tumbuh di dalam dirinya. Sebelum aku mendengar dari siapapun juga,
aku sudah tahu, bahwa Nyai Demang di Kepandak pernah berhubungan
dengan seorang laki-laki sebelum ia kawin dengan Ki Demang" Pamot
dan Sindangsari berdiri tegak bagaikan patung. Tetapi tubuh mereka
basah oleh keringat yang seakan-akan terperas dari kulitnya. "Adalah
kebetulan sekali, bahwa kalian hanya berdua di ruangan ini. Adalah
Kebetulan bahwa perempuan-perempuan tua itu pergi meninggalkan
kalian. Tetapi sebaiknya kita berbicara tidak terlampau keras agar
tidak ada orang yang mendengarnya" orang itu berhenti sejenak, lalu
"jangan terkejut Nyai Demang, bahwa ada orang lain kecuali kalian
berdua dan Ki Demang di Kepandak yang mengetahui hal itu. Bahkan
mungkin masih ada satu dua orang lain lagi yang mengetahuinya,
setidak-tidaknya menduga demikian" "Siapa?" bertanya Sindangsari
"dan darimana kau tahu?" "Seperti katamu, Ki Demang tentu tidak akan
pernah menyentuhmu. Benar ia seorang laki-laki jantan. Ia adalah
seorang yang pilih tanding di peperangan. Tetapi ia bukan laki-laki
yang utuh bagi perempuan. Itulah jawabnya" "Darimana kau tahu?"
Perempuan itu terdiam sejenak. Ditatapnya wajah Sindangsari dan
Pamot berganti-ganti. Kemudian jawabnya benar-benar telah
menggetarkan hati keduanya "Aku adalah salah seorang dari bekas
isteri Ki Demang di Kepandak" "O" Sindangsari berdesis "jadi?" "Ya.
Itulah sebabnya aku mengetahui keadaan Ki Demang di Kepandak sampai
sedalam-dalamnya" perempuan itu berhenti sejenak "ia hampir menjadi
gila karena kegagalankegagalannya, sehingga karena itu kadang-kadang
ia berbuat aneh-aneh terhadap isterinya. Kadang-kadang ia menyakiti
dan kadang-kadang membentak-bentak tanpa sebab. Itulah agaknya salah
seorang isterinya menjadi sakit-sakitan dan meninggal. Tetapi aku
tidak. Aku tidak menjadi sakit-sakitan, dan bahkan aku tidak menjadi
sakit hati. Aku membiarkan Ki Demang berbuat apa saja untuk mengisi
kepedihan hatinya" suara perempuan itu tiba-tiba hampir hilang
ditelannya kembali "Aku sangat mencintainya" Pamot dan
Sindangsaripun menundukkan kepalanya. Dan mereka mendengar perempuan
itu berkata lambat sekali "Karena itulah aku tahu pasti bahwa anak
di dalam kandungan Nyai Demang itu bukan anaknya. Ki Demang tidak
akan mempunyai anak meskipun ia akan kawin sepuluh kali lagi" "O"
Sindangsari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia
menjadi malu sekali mengenang semuanya yang telah terjadi atasnya,
dan yang ternyata diketahui oleh beberapa orang lain. Perempuan itu,
beberapa orang perempuan lain dan bahkan Lamat. "Tetapi anak itu
ternyata akan kembali kepada ayahnya. Karena itu, jangan dirisaukan
lagi apa yang sudah terjadi di Kademangan ini. Aku memang merasa
iri, kenapa Ki Demang berbuat lain terhadap Nyai Demang yang
terakhir. Aku tidak pernah mendengar Ki Demang berbuat kasar
terhadapnya. Aku juga tidak pernah mendengar keduanya bertengkar.
Hal itu mungkin disebabkan karena Nyai Demang sedang mengandung,
atau Ki Demang telah berhasil mengendapkan perasaannya. Bahkan ia
berhasil bersikap seperti seorang bapak terhadap anaknya" Tidak ada
jawaban. Tetapi terdengar perempuan itu terisak. "Laki-laki yang aku
cintai itu sekarang sudah meninggal" katanya pula, lalu "tetapi aku
ingin mohon ijin kepada Nyai Demang apakah aku diperkenankan ikut
merawat jenazah bekas suamiku itu?" Sindangsari t idak segera
menjawab. "Nyai Demang" katanya pula "apakah Nyai Demang
mengizikannya? Aku akan sangat berterima kasih kalau Nyai Demang
tidak berkeberatan" Perlahan-lahan Sindangsari menganggukkan
kepalanya. Suaranya yang parau terdengar terputus-putus "Silahkan
Nyai. Aku tidak berkeberatan sama sekali" "Terima kasih" jawab
perempuan itu sambil mengusap matanya yang basah "kau memang baik
hati. Kesempatan ini adalah kesempatan yang terakhir bagiku"
Sindangsari t idak menyahut lagi. Dipandanginya saja perempuan yang
kemudian melangkah perlahan-lahan ke pendapa. Di pintu pringgitan,
di samping Pamot ia berkata "Pamot, Sindangsari kembali kepadamu
seperti pada saat ia meninggalkan kau" Pamot tidak menyahut, dan
perempuan itupun kemudian berpaling kepada Sindangsari "Aku akan ke
pendapa. Aku akan berkata kepada Ki Jagabaya, bahwa kau sudah
memberi aku ijin" Ketika Sindangsari kemudian menganggukkan
kepalanya, maka perempuan itupun meneruskan langkahnya. Sepeninggal
perempuan itu, Pamot dan Sindangsari saling berdiam diri sejenak.
Keduanya menundukkan kepala mereka sambil menahan nafas yang
memburu. Namun sejenak kemudian Pamot mengangkat wajahnya sambil
berkata lirih "Sari, maafkan aku. Ternyata aku telah keliru
menilaimu. Aku minta maaf" Dada Sindangsari menjadi berdebar-debar.
Perlahan-lahan iapun mengangkat wajahnya pula. Sekali lagi pandangan
mata bertemu, dan sekali lagi jantung mereka bergetar. "Maafkan aku
Sari" desis Pamot sekali lagi. Sindangsari ternyata tidak dapat lagi
menahan perasaannya. Sekali lagi ia berlari kepada anak muda itu.
Ketika ia berpegangan pada bahu yang kokoh dan melekatkan kepalanya
ke dada yang bidang, maka Pamotpun kemudian memeluknya sambil
berkata "Aku minta maaf. Mudah-mudahan hatimu selapang lautan"
Sindangsari tidak menjawab. Tetapi air matanya sajalah yang mengalir
membasahi dada Pamot. Ki Jagabaya yang membuka pintu pringgitan,
tertegun melihat keduanya. Perlahan-lahan ia berjingkat surut dan
menutup pintu pringgitan itu tanpa menimbulkan bunyi apapun. Sejenak
kemudian, maka Pamotpun melepaskan tangannya sambil berkata "Sari,
aku akan pergi ke pendapa. Aku akan mengatur segala sesuatunya untuk
pemakaman Ki Demang besok. Dan aku akan menerima semua tanggung
jawab yang akan dibebankan kepadaku, baik mengenai Kademangan
Kepandak, maupun tentang kau dan anakmu" "Anak kita" "Ya, anak kita"
Sindangsaripun melepaskan Pamot pula. Perlahan-lahan anak muda itu
melangkah melintasi pringgitan yang kosong. Mendorong pintu
perlahan, dan langsung ke pendapa, ke tempat kedua jenazah
kakak-beradik itu dibujurkan. "Kita menyiapkan perlengkapan buat
menguburkan kedua kakak beradik ini Ki Jagabaya" berkata Pamot. "Ya.
Perempuan-perempuan telah menyiapkan segala sesuatunya. Dan para
bebahupun telah menghubungi segala pihak yang berkepentingan"
Demikianlah semalam suntuk, di Kademangan Kepandak seakan-akan tidak
ada seorangpun yang sempat tidur. Para bebahu hilir mudik kesana
kemari, dan perempuanperempuanpun sibuk pula di gandok dan di dapur.
Namun dalam pada itu, kedua orang yang meninggal di pendapa
Kademangan itu bagaikan tumbal bagi Kademangan Kepandak. Dengan
demikian maka badai yang seakan-akan melanda Kademangan Kepandak,
kini telah mereda kembali. Tetapi Kepandak telah kehilangan dua
puteranya yang terbaik. Berita tentang peristiwa di halaman Kepandak
itupun telah tersebar tidak saja di seluruh Kademangan Kepandak.
Tetapi juga di padukuhan-padukuhan di sekitar Kepandak. Setiap orang
dengan ragu-ragu mendengar berita itu. "Apakah benar Demang di
Kepandak mati sampyuh dalam perang tanding melawan adiknya?" hampir
setiap orang bertanya di dalamhatinya. Nyai Reksatani yang menunggu
kedatangan suaminya dengan hati yang gelisah, akhirnya mendengar
juga berita tentang kematian suaminya. Tetapi bagi Nyai Reksatani
berita itu seperti ceritera tentang mimpi saja, sehingga ia tidak
segera dapat mempercayainya. "Nyai Reksatani" berkata seseorang yang
mendapat tugas untuk menjemput Nyai Reksatani "marilah Nyai pergi ke
Kademangan Ki Jagabaya ingin bertemu dan mengatakan sesuatu" "Apakah
mereka akan menangkap aku?" "Tidak Nyai. Nyai tidak akan ditangkap"
Nyai Reksatani menjadi ragu-ragu. Kalau ia pergi, apakah yang akan
terjadi atas dirinya? Tetapi kalau tidak, janganjangan Ki Reksatani
benar-benar menemui bencana. "Percayalah kepadaku Nyai. Sebaiknya
Nyai pergi ke Kademangan. Seandainya Ki Jagabaya ingin menangkap
Nyai, buat apa aku harus membujuk Nyai dan menjebaknya? Tiga atau
empat pengawal akan datang. Dan kekuatan itu telah cukup memaksa
Nyai untuk menyerah. Tetapi Ki Jagabaya tidak bermaksud demikian"
Nyai Reksatani termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkemas
juga. Kepada pembantunya ia berkata "Rawatlah anak-anakku baik-baik.
Aku berharap dapat segera pulang kembali. Kalau tidak jagalah mereka
seperti anakanakmu sendiri" "Nyai, apakah Nyai akan pergi jauh?"
"Tidak, aku akan pergi ke Kademangan" Pembantu rumahnya itu
memandangnya dengan heran. Tetapi ia t idak bertanya apapun juga.
"Sudahlah. Jagalah seisi rumah ini seperti milikmu sendiri"
Pembantunya menjadi semakin terheran-heran. Tetapi ia masih juga
tidak bertanya. Nyai Reksatanipun kemudian pergi dengan hati
yang berdebar-debar ke Kademangan. Hampir tidak sepatah katapun yang
terlontar dari bibirnya di sepanjang jalan. Kepalanya yang selalu
tunduk dan kakinya yang gemetar membuatnya kadang-kadang tampak
terlampau gugup. Ketika ia sampai di regol Kademangan, kakinya
serasa tidak mau melangkah lagi. dipandanginya saja orang-orang yang
hilir mudik di halaman. "Marilah Nyai" Ki Jagabaya telah
menyongsongnya "masuklah" Nyai Reksatani tidak menjawab. "Jangan
berprasangka" Masih tidak ada jawaban. "Nyai" berkata Ki Jagabaya
"marilah, Masuklah dan naiklah ke pendapa" Perlahan-lahan Nyai
Reksatani melangkah maju. Ketika ia melintasi pendapa serasa ia
harus menyeberangi sungai banjir yang amat luas. Kakinya serasa
tidak mau bergerak lagi ketika ia melihat dua sosok jenazah di
pendapa. Namun dipaksakannya juga melangkah naik. Perlahan-lahan
sekali. "Siapa?" terdengar suaranya lambat sekali. Ki Jagabaya yang
berdiri di sampingnya menundukkan kepalanya. Kata-katanya
seakan-akan telah tersangkut di kerongkongan. "Siapa?" sekali lagi
Nyai Reksatani bertanya. Meskipun telah membayang jawaban atas
pertanyaan itu di hatinya, namun ia masih juga ingin meyakinkannya.
Ki Jagabaya tidak dapat menjawab. Tetapi dipersilahkannya Nyai
Reksatani dengan isyarat untuk melihat siapakah yang terbaring di
bawah selimut yang menutupi sekujur tubuhtubuh yang terbaring itu.
Sekali lagi Nyai Reksatani menghentakkan kekuatan yang tersisa pada
dirinya. Ketika ia membuka salah satu kerudung jenazah itu,
dilihatnya wajah Ki Demang di Kepandak yang pucat seperti kapas.
Cepat-cepat kerudung itu ditutupkannya kembali. Dan kini dengan
penuh keragu-raguan ia mendekati jenazah yang satu lagi. Dengan
tangan yang gemetar maka jenazah itu dibukanya perlahan-lahan
sekali. Tiba-tiba tubuhnya serasa membeku. Ia melihat Ki Reksatani
terbaring diam dengan wajah yang tergores luka. Wajah yang putih
seperti wajah Ki Demang di Kepandak. Nyai Reksatani sudah tidak
dapat menjerit lagi. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Dan Nyai
Reksatani tidak sadar bahwa kemudian Ki Jagabaya harus menangkapnya
dan menahannya ketika ia terjatuh pingsan. Tubuh Nyai Reksatani
itupun kemudian dibawa pula ke ruang dalam. Beberapa orang perempuan
mencoba mengobatinya, agar ia segera dapat sadar kembali.
Sindangsari menjadi berdebar-debar ketika ia melihat perempuan yang
pingsan itu. Ternyata perempuan itu telah melibatkan diri dalam
rencana yang paling jahat yang pernah terjadi atas isteri Ki Demang
di Kepandak. Bahkan Nyai Reksatani telah mencoba pula untuk
menjerumuskannya ke dalam suatu perbuatan yang bernoda. Noda yang
paling kotor dari segala noda. Dirinya sendiri memang telah ternoda,
karena cintanya yang dalam. Tetapi ia sudah menyerahkan segalanya
untuk menerima noda itu. Bukan seperti noda yang hampir saja
terpercik padanya karena dorongan Nyai Reksatani. Tetapi ketika ia
melihat perempuan itu pingsan, maka hatinyapun menjadi iba pula,
sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa selain memandanginya dengan
mata yang basah. Dalam pada itu semuanya telah berlangsung seperti
seharusnya mereka menyelenggarakan pemakaman. Bunga dan sesaji telah
tersedia. Kedua jenazah itupun telah diselenggarakan sebaik-baiknya
dan semua orang yang berkepentingan sudah hadir di Kademangan.
Sejenak kemudian akan datanglah saatnya, jenazah itu dikebumikan.
Namun dalam pada itu, halaman Kademangan itu telah dikejutkan oleh
derap kaki-kaki kuda yang berpacu semakin dekat. Para pengawalpun
kemudian segera Berloncatan ke regol ketika mereka melihat
seorang yang bertubuh raksasa duduk diatas punggung kuda. "Lamat. Ia
adalah kepercayaan Manguri" desis salah seorang dari para pengawal.
Namun Pamotlah yang kemudian berlari-lari menyongsongnya. Dengan
cemas ia bertanya sebelum Lamat meloncat dari kudanya "Bagaimana
dengan kau Lamat?" Ketika Lamat melihat Pamot menyongsongnya, maka
iapun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang itu masih tetap
hidup. "Kau terluka. Bukan sekedar satu dua, tetapi tubuhmu menjadi
arang kranjang, dan kau sempat juga sampai kemari" Lamat turun dari
kudanya. Dilayangkannya tatapan matanya berkeliling. Ketika
dilihatnya dua sosok jenazah di pendapa, hatinya berdesir.
Perlahan-lahan ia bertanya "Siapa?" "Ki Demang di Kepandak dan
adiknya, Ki Reksatani" "Keduanya?" suaranya meninggi, namun kemudian
ia bergumam "Sampyuh. Begitu?" "Ya, keduanya telah sampyuh" Lamat
tidak bertanya lagi. Tetapi direnunginya halaman Kademangan
Kepandak. Terasa meskipun halaman itu hampir penuh, dengan
orang-orang yang melawat, dan para pengawal, tetapi terasa betapa
sunyinya. Sejenak kemudian Punta dan kawannyapun datang pula ke
halaman itu. Seperti Lamat mereka hanya dapat menekurkan kepalanya.
Dengan trenyuh mereka terpaksa menyaksikan kematian yang tidak
disangka-sangka akan terjadi di Kademangan Kepandak ini.
Demikianlah, sampai juga saatnya kedua sosok jenazah itu di
berangkatkan dari pendapa Kademangan. Sekali lagi Nyai Reksatani
jatuh pingsan, sedang Sindangsari menangis di pringgitan. Rakyat
Kepandak melepas kedua jenazah itu dengan perasaan yang tidak
menentu. Mereka bersedih tetapi juga bersyukur, bahwa bencana yang
lebih besar tidak melanda Kepandak, meskipun Ki Demang sendiri harus
dikorbankan. Sepeninggal kedua jenazah itu, dan ketika keduanya
telah dikebumikan, maka tinggallah tugas-tugas yang membebani para
bebahu Kademangan Kepandak. Ki Jagabaya masih harus menyelesaikan
persoalan Manguri dengan ayahnya, meskipun ada juga pengampunan bagi
mereka, tetapi mereka tetap bersalah. Mereka harus meyakinkan para
bebahu dan orang-orang di Kepandak, bahwa mereka tidak akan lagi
berbuas jahat seperti yang pernah dilakukan. Demikianlah ketika
matahari terbit diesok pagi, mulailah Kepandak dengan nafas baru.
Orang-orang Kepandak telah mendapat pelajaran dari perist iwa yang
baru saja terjadi. Pertentangan diantara keluarga sendiri, keluarga
sedarah dan keluarga sekampung halaman, setanah kelahiran, tidak
akan membawa manfaat apapun. Bahkan Kepandak nyaris menjadi karang
abang seandainya keadaan itu tidak segera dapat diatasi meskipun
harus jatuh korban yang paling mahal. Dan sejak matahari terbit
diesok pagi itu pulalah, Pamot harus memangku tugasnya yang baru,
tugas seorang Demang di Kepandak. Ia akan menjadi pemangku jabatan
Demang yang masih sangat muda. Selain para bebahu Kademangan
Kepandak yang menyadari sepenuhnya keadaan yang mereka hadapi, maka
para pengawal, terutama mereka yang masih muda, sebaya dengan Pamot,
telah menyatakan diri untuk membantu semua tugas yang dibebankan
kepadanya. Karena merekapun menyadari, bahwa kehadiran mereka pada
tugas-tugas yang penting ternyata benar-benar diperlukan oleh
Kademangan Kepandak. Dengan didukung oleh lapisan anak muda, maka
Kepandak akan menjadi Kademangan yang banyak mempunyai arti.
Diantara mereka yang mendampingi Pamot adalah seorang raksasa yang
bernama Lamat. Ia kini telah menjadi sahabat anak anak muda di
Kepandak. Meskipun wajahnya masih tetap keras seperti batu padas,
ternyata hatinya lunak, selunak lumpur yang basah. Namun
kadang-kadang Lamat sendiri masih saja disentuh oleh kenangan yang
buram dari dirinya sendiri. Masa kanakkanaknya dan saat-saat ia
ditelikung oleh perasaan berhutang budi. Tetapi perasaan itu hampir
meledak dan tidak terkendali ketika ia mendengar keadaannya yang
sebenarnya. Dari ayah Manguri ia pernah mendengar, bahwa iapun
termasuk diantara anak-anak yang lahir tanpa dikehendaki karena
hubungan yang suramdari sifat-sifat rakus orang-orang tua. Namun,
setiap kali ia melihat Sindangsari yang tidak lagi dibayangi oleh
kemuraman wajah, Lamat berkata kepada diri sendiri "Tetapi anak yang
dikandung oleh Nyai Demang itu akan menemukan cinta orang tuanya
yang sejati tanpa dibayangi oleh kabut buram. Ia akan menjadi anak
yang tumbuh dan berkembang dengan wajar seperti anak-anak lain yang
lahir bersamanya, di bawah sayap kasih sayang yang sebenarnya"
Tetapi ketika matahari terbit itu pulalah, Pamot mengantarkan
Sindangsari sampai ke regol halaman. Dilepaskannya Sindangsari pergi
bersama ibu dan kakeknya meninggalkan Kademangan di Kepandak,
kembali ke rumahnya. "Hati-hatilah" desis Pamot. Sindangsari.
menganggukkan kepalanya. Matanya menjadi basah dan sebuah senyum
yang samar membayang di bibirnya. "Jagalah kandunganmu baik-baik"
Pamot melanjutkan. Sekali lagi Sindangsari menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menjaganya baik-baik" sahut ibu Sindangsari. "Terima
kasih" desis Pamot kemudian. Sejenak kemudian, merekapun pergi
meninggalkan Kademangan, meninggalkan Pamot dan seisi rumah yang
pernah didiaminya untuk beberapa saat. Ki Jagabaya yang berdiri di
samping Lamat bersandar pada tiang regol, mengerutkan keningnya
ketika Punta bertanya kepadanya "Ki Jagabaya, kenapa Sindangsari itu
justru pergi?" "Ia belum menjadi isteri Pamot. Karena itu, tidak
sebaiknya ia tinggal dalam satu rumah" "Kenapa mereka tidak segera
kawin? Bukankah Ki Demang almarhum justru minta hal itu kepada
Pamot, dan bukankah keduanya memang saling mencintai?" Untuk
beberapa saat Ki Jagabaya tidak menjawab. "Ki Jagabaya" desis Punta
lirih "apakah Pamot menjadi kecewa karena Sindangsari pernah menjadi
isteri orang lain dan bahkan telah mengandung Ki Jagabaya
menggelengkan kepalanya. Jawabnya "Aku tidak tahu pasti Punta.
Tetapi aku kira Pamot tidak terlalu kecewa. Ia sudah menyatakan
kesediaannya menerima Sindangsari sebagai isterinya dan anak di
dalam kandungannya itu sebagai anaknya sendiri. Tetapi untuk segera
kawin, mereka tidak akan mungkin. Bayi itu harus lahir lebih dahulu.
Anak Ki Demang almarhum itulah yang kini masih membatasi keduanya"
Punta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Sindangsari
yang berjalan semakin jauh. Sekali perempuan itu berpaling. Tetapi
iapun kemudian melangkah di sisi ibunya semakin lama semakin jauh,
sampai saatnya ia akan kembali lagi ke Kademangan itu. - TAMAT –
ISTANA YANG SURAM Jilid ini adalah jilid terakhir dari ceritera
karya S.H. Mintardja yang berjudul "Matahari Esok Pagi". Pada bulan
yang akan datang, akan diterbitkan kembali karya S.H. Mintardja yang
lain yang berjudul "ISTANA YANG SURAM". Ceritera yang berkisar di
lingkungan istana tua yang menyimpan rahasia. Satu pergumulan telah
terjadi untuk menemukan rahasia yang tersimpan rapat itu. Diantara
rahasia yang tersembunyi di dalam istana yang suram itu, betapa
rumitnya pula rahasia yang tersimpan di hati seseorang. Korban jatuh
satu-satu, namun tumbuh dan semilah harapan bagi masa depan. Di
bagian akhir dari ceritera ini tertulis: Namun istana kecil itu
sudah menemukan bentuknya yang baru. Penghuninya kini bertambah
meskipun hanya untuk sementara. Tetapi yang sementara itu merupakan
rangkaian dari masa depan yang panjang. Terutama bagi anak-anak muda
yang tinggal bukan saja karena tugas mereka, tetapi hati mereka yang
terpaut telah mengikat mereka untuk menentukan masa datang yang
lebih cerah.
|