[back to topmdi.net]

Mata Air Di Bayangan Bukit

Welcome to topmdi - ebook collection 

Jilid 01
TIDAK seorangpun tahu, sejak kapan kolam itu berada di dataran sempit di sebuah bukit. Dibawah sebatang pohon yang besar dan rimbun, berdaun tiga bentuk. Sebenarnya bukan karena pohon itu pohon ajaib yang berdaun tiga bentuk dalam jenis yang berbeda. Tetapi pohon  yang besar itu memang terdir i dar i tiga batang pohon. Tiga batang pohon yang tumbuh berimpitan. Ketika pohon itu menjadi semakin besar, maka ketiga batangnya seolah-olah luluh menjadi satu. Sedang cabang-cabangnya berhiaskan daunnya masing-masing yang berbeda. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun kolam itu tidak dijamah. Meskipun airnya bening dan bersumber dari mata air yang deras dibawah batang pohon raksasa yang berdaun tiga jenis itu. Namun sendang itu adalah sendang yang berada dilingkungan hutan kecil di bukit yang jarang disentuh kaki manusia. Airnya yang berlimpah menyusup disela-sela batu- batu padas dan mengalir t idak terarah, sehingga akhirnya terjun kedalamsebuah lereng terjal dan hilang masuk kedalam luweng yang dalam, menyatu dengan aliran air dibawah batu- batu padas yang keras. Dari musim kemusim, kolam itu tetap melimpahkan airnya yang bening. Meskipun langit bersih dan udara kering di musim kemarau, namun kolam itu seakan-akan tidak pernah susut. Sekali-kali dari gerumbul-gerumbul yang lebat diseputar kolam itu, beberapa ekor binatang turun dengan ragu-ragu. Jika terdengar aum harimau, maka binatang-binatang yang lainpun segera berlari tunggang langgang, hilang dibalik rimbunnya dedaunan. Binatang buas itu pulalah yang menyebabkan daerah itu jarang dikunjungi manusia. Meskipun dibawah bukit itu terdapat beberapa padukuhan, namun tidak seorangpun diantara mereka yang pernah bermimpi untuk menyadap air dari kolam itu bagi kepentingan padukuhan mereka. Karena itulah, maka padukuhan-padukuham dibawah bukit itu menggantungkan air bagi sawah dan ladang mereka dari hujan yang jatuh dari langit. Sehingga dimusim kemarau, tidak ada diantara mereka yang dapat menanam jenis padi yang manapun selain satu dua orang mencoba juga menanam padi gaga dan palawija. Meskipun demikian, orang-orang dipadukuhan dibawah bukit itu tidak berusaha merubah keadaan mereka. Mereka hidup seperti nenek moyang mereka yang tinggal sejak lama didaerah itu. Bahkan mereka merasa wajib menghormati dengan segala tata cara dan kebiasaan yang mereka pertahankan. Seolah-olah apa yang ada dan berlaku di padukuhan mereka haruslah mut lak berlangsung terus dari tahun ketahun. Dan agaknya tidak seorangpun yang mengganggu mereka hidup dalam dunia yang telah mereka hayati dengan tenang untuk waktu yang lama. Namun dalam pada itu, dijalan setapak yang panjang, dua orang sedang berjalan dalam terik panasnya matahari. Agaknya mereka adalah dua orang perantau yang datang dari tempat yang jauh dan telah menempuh jarak yang panjang. Wajah-wajah mereka yang merah terbakar oleh panasnya matahari di siang hari, dan dinginnya embun dimalam hari, membuat mereka nampak letih dan lelah. Tetapi keduanya sama sekali tidak mengeluh. Mereka melangkah terus menuruti jalan sempit itu menuju kebukit. “Ayah,“ desis yang seorang. Seorang gadis yang meningkat dewasa, “ada beberapa padukuhan kecil yang tersebar didaerah yang luas.” Yang seorang mengerutkan keningnya. Ia juga melihat padukuhan yang berpencar dibawah bukit. Tetapi ia menjawab, “Swasti, kita tidak akan menuju kepadukuhan itu. Di tanah berbatu padas sebelah, aku mendengar arus air dibawah tanah. Agaknya arus air itu berasal dari bukit yang nampak dibelakang daerah yang dihuni oleh orang dibeberapa padukuhan. Sedangkan didaerah ini aku sama sekali tidak melihat parit dan saluran air yang mengalir di musim kering ini.” “Ayah,“ jawab gadis itu, “sumber air yang mengalir dibawah tanah itu mungkin memang berasal dari bukit dibelakang padukuhan yang tersebar itu. Tetapi mungkin pula tidak. Air itu sudah berada dibawah tanah sejak dari seberang bukit.” Orang tua yang berjalan disamping anak gadisnya itu tersenyum. Jawabnya, “Marilah kita lihat Swasti. Nalur iku mengatakan bahwa sumber air itu berada dibukit yang nampak itu. Tetapi j ika aku salah, maka aku akan dapat menelusurinya sampai keseberang bukit. Pendengaranku masih cukup kuat untuk menangkap suara arus dibawah tanah dan mengikuti arahnya.” Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia percaya bahwa ayahnya memang dapat menangkap desir air dibawah tanah dan mengikuti arahnya, karena ayahnya memang seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Mereka masih berjalan terus menyusuri jalan setapak. Mereka sengaja menghindari padukuhan yang berada dibawah bukit, untuk tidak menarik perhatian penghuni-penghuninya. “Kau lelah?“ terdengar orang tua itu bertanya kepada anak gadisnya. Gadis itu t idak menjawab. Tetapi wajahnya yang kemerah- merahan menunduk dalam-dalam, seolah-olah ia ingin melihat sejenak ujung kakinya yang kecil melangkahi batu-batu disepanjang jalan sempit. Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika kau diam itu berarti bahwa kau memang lelah. Dan aku-pun mengerti bahwa kau memang sudah lelah.” Swasti tidak menjawab. “Kau adalah seorang gadis yang luar biasa Swasti,“ berkata orang tua itu. “Ayah selalu memuj i aku, agar aku tetap berjalan terus mengikut i ayah,“ desis gadis itu. Orang tua itu tersenyum. Jawabnya, “Kau menangkap maksudku Swasti. Tetapi akupun berkata sebenarnya. Tidak ada gadis yang akan dapat bertahan untuk berjalan-jalan berhari-hari seperti kau, sejak kita meninggalkan padepokan kita yang dilumatkan oleh gempa dan tanah longsor itu.” Swasti tidak menjawab. “Karena aku menyadari, bahwa perjalanan kita adalah perjalanan yang berat, maka aku tidak membawa para cantrik yang ada dipadepokan. Aku serahkan mereka kembali kepada orang tua mereka, dengan harapan, bahwa apabila kita sudah menemukan tempat untuk menetap, maka para cantrik yang lima orang itu akan aku panggil.” Swasti masih tetap berdiam diri. “Tetapi sudah tentu aku t idak dapat meninggalkan kau. Kau adalah anakku satu-satunya. Sepeninggal ibumu, kau adalah tumpuan hidupku, karena masa depanku ada padamu.” Swasti masih tetap melangkah sambil menundukkan kepalanya. “Swasti, jika kau memang lelah sekali, kita akan beristirahat dibawah pohon yang rimbun itu,“ berkata ayahnya kemudian. Swasti mengangkat wajahnya. Dipinggir jalan sempit itu dilihatnya sebatang pohon yang besar. Tetapi gadis itu bertanya, “Ayah, beberapa ratus tonggak lagi kita akan sampai kebukit itu. Nampaknya disekitar bukit itu masih terdapat hutan yang barangkali tidak begitu luas dan lebat. Jika kita berjalan terus, maka kita akan segera sampai. Dan kita akan dapat beristirahat dipinggir hutan itu.” Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa anak gadisnya telah sangat lelah. Tetapi Swasti ingin segera sampai ketujuan agar ia dapat beristirahat cukup lama dan tidak terganggu. Orang tua itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya dalam nada yang dalam, “Baiklah Swasti. Kita berdoa, mudah- mudahan mata air dari aliran dibawah tanah itu berada di lereng bukit itu, meskipun aku juga meragukannya, bahwa dipadukuhan ini tidak terdapat parit yang mengalir. Agaknya air dipadukuhan ini sangat tergantung kepada air hujan tanpa memanfaatkan arus air yang terdengar mengalir dibawah tanah.” “Tetapi air dibawah tanah itu cukup dalam ayah. Ketika aku menengok kedalam luweng yang terbuka itu, nampak arus itu berada jauh dibawah batu-batu padas.” “Itulah sebabnya kita harus menemukan sumbernya. Mudah-mudahan. Tetapi jika tidak, maka kita akan membuat pertimbangan lain.” Swasti hanya mengangguk-angguk saja. Ia mengikuti langkah ayahnya meskipun sekali-kali ia harus menyeka keringatnya dikening. Demikianlah maka keduanya berjalan terus. Ketika mereka sampai dibawah sebatang pohon yang rimbun, mereka hanya berhenti sebentar karena Swasti mengajak ayahnya melanjutkan perjalanan. Tetapi belum beberapa langkah, mereka tertegun. Dikejauhan mereka melihat beberapa orang petani berjalan mengikut i seseorang yang agak berbeda dalam sikap dan pakaian. “Kau lihat yang seorang itu Swasti ?“ bertanya ayahnya. Swasti memandang kearah beberapa orang yang berjalan disepanjang pematang, menyilang jalan sempat yang dilalui oleh kedua orang itu. Sambil mengangguk Swasti menjawab, “Ya ayah.” “Apakah kau juga melihat kelainan padanya ?” “Ya. Pakaiannya dan barangkali juga sikapnya.” Ayahnya mengangguk. Namun katanya kemudian, “Kita tidak mempunyai persoalan dengan mereka. Kita akan berjalan terus tanpa menarik perhatian mereka.” Swasti tidak menjawab. Tetapi keduanya dengan sengaja memper lambat langkah mereka, agar para petani dan seorang yang agak asing itu mendahului menyilang jalan setapak itu. Swasti dan ayahnya memang tidak banyak menar ik perhatian. Orang itu hanya sekedar berpaling. Namun merekapun segera berjalan terus tanpa menghiraukan kedua orang ayah dan anak perempuannya itu. Namun dalam pada itu, ternyata Swasti dan ayahnyalah yang banyak memperhatikan orang itu meskipun dengan diam-diam. Nampaknya ia memang orang asing atau pendatang dipadukuhan yang kering dimusim kemarau itu. “Agaknya ada juga orang-orang kota yang tertarik pada daerah kering ini ayah,“ berkata Swasti. Ayahnya mengangguk. Jawabnya, “Mungkin orang kota yang ingin berbuat sesuatu bagi kemajuan padukuhan yang lamban itu. Atau mungkin ia memang berasal dari salah satu padukuhan itu, kemudian pindah kekota atau merantau, untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Setelah ia berhasil, ia pulang kembali menengok keluarganya dengan sikap dan pakaian yang lain.” Swasti hanya mengangguk-angguk saja. Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan mereka meskipun sekali-sekali Swasti masih saja berpaling, memandang beberapa orang petani dan seorang yang asing itu berjalan semakin jauh. “Bulak ini panjang Swasti,“ berkata ayahnya, “nampaknya tanahnya kurang mendapat garapan.” Swasti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tetapi tanda itu ayah?” Ayahnya mengerutkan keningnya. Merekapun kemudian berhenti sejenak pada sebuah batu di pinggir jalan setapak itu. “Sebuah tanda perbatasan antara dua padukuhan yang dipimpin oleh Buyut yang berbeda,“ berkata ayahnya. Swasti memperhatikan batu yang disusun seperti sebentuk candi kecil dengan beberapa huruf yang terpahat padanya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya ayah. Dua kelompok padukuhan yang berbeda meskipun mula-mula mereka berada dalam satu lingkungan. Tetapi agaknya seorang Buyut yang mempunyai dua orang anak laki-laki kembar terpaksa membagi wilayahnya menjadi dua kelompok padukuhan dibawah pimpinan dua orang anak kembarnya.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah- mudahan kedua orang Buyut itu akan tetap rukun seperti dua orang saudara. Terlebih-lebih lagi keduanya adalah saudara kembar yang lahir pada saat yang hampir bersamaan dari seorang ibu yang sama.” Swasti masih memandang sesusun batu yang merupakan sebuah candi kecil itu. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Pembagian itu sudah terjadi agak lama ayah, sehingga kedua orang Buyut itu sudah setua ayah atau bahkan lebih.” “Ah,“ ayah Swasti menyahut, “aku belum terlalu tua. Kedua Buyut itu tentu jauh lebih tua daripadaku.” Swasti memandang ayahnya sejenak. Kemudian jawabnya, “Memang ayah belum terlalu tua. Jika ada uban yang tumbuh itu adalah karena musim kemarau yang terlalu panjang.” Ayahnya tertawa. Sambil bergeser ia berkata, “Marilah. Kita berjalan lagi. Bukankah kau ingin beristirahat setelah kita sampai keujung hutan dilereng bukit itu.” Swasti mengangguk. Iapun kemudian mengikuti ayahnya melanjutkan perjalanan menuju kekaki bukit. Ketika matahari turun di sebelah Barat, maka sinarnya yang terik mulai memudar. Awan yang putih terapung dilangit dihembus angin ke Utara. Sekumpulan burung bangau yang putih seperti awan yang dihanyutkan angin itu, terbang kearah yang berlawanan, dengan leher dan kaki yang terjulur panjang. Swasti menarik nafas dalam-dalam. Mereka sudah semakin dekat dengan ujung hutan dikaki bukit. Meskipun agaknya hutan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup padat oleh tetumbuhan liar. “Tentu masih dihuni oleh binatang buas,“ desis Swasti. Ayahnya mengangguk. Katanya, “Nampaknya demikian Swasti. Tetapi mudah-mudahan binatang-binatang buas itu tidak mengganggu. Meskipun demikian kita memang harus berhati-hati. Bukankah kau pandai memanjat ?” Swasti mengangguk. Tetapi tatapan matanya bagaikan tertambat pada batang-batang pohon di ujung hutan dihadapan mereka. Keduanya masih berjalan terus meskipun Swasti nampaknya menjadi semakin lelah. Tetapi hutan itu sudah dekat. Tanah yang basah dan getaran yang dapat ditangkap oleh ketajaman indera ayah gadis itu, memberikan harapan bahwa mata air itu akan dapat mereka ketemukan dihutan dihadapan mereka. Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika bayangan pepohonan hutan itu mulai menyentuh tubuhnya. Kemudian dilemparkannya seonggok bungkusan yang dibawanya. Dengan serta merta dijatuhkannya tubuhnya yang ramping diatas tanah dipinggir hutan itu tanpa menghiraukan kemungkinan binatang merayap yang dapat menyengat tubuhnya. “Tanah ini memang basah ayah,“ desis Swasti. Ayahnya mengangguk-angguk. Dipandanginya padang perdu yang sempit dipinggir hutan itu, yang membatasi daerah persawahan. Keheranan nampak membayang diwajahnya. “Apa yang ayah perhatikan ?” bertanya Swasti. “Tanah ini basah Swasti. Tetapi sawah itu justru nampak kering dimusim kemarau.“ sahut ayahnya. “Ada sesuatu yang kurang pada penghuni padukuhan yang tersebar ini ayah. Mereka kurang pengetahuan tentang bercocok tanam, atau mereka memang malas untuk mencari yang belumpernah mereka miliki.” Ayahnya mengangguk-angguk. Sejenak ia masih memandang daerah yang luas dihadapannya. Namun iapun kemudian duduk disebelah anaknya yang masih saja berbaring. Bahkan oleh angin yang semilir, Swasti mulai dijalari oleh perasaan kantuk. “Jangan tidur,“ desis ayahnya. Swasti menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun dengan malasnya bangkit dan duduk pula bersandar sebatang pohon. “Aku letih sekali ayah. Bagaimana kalau aku tidur barang sekejap?” “Sebentar lagi senja akan menjadi gelap. Jangan tidur disaat-saat seperti ini. Tunggulah sampai gelap. Kita akan membuat perapian dan t idur bergantian.” Swasti menggeliat. Katanya, “Tetapi aku memerlukan air sekarang ayah.” “Kau sudah minum bukan ? Di padukuhan lewat ujung bulak ini kita sudah mendapatkan belas kasihan dari seseorang yang sedang memetik kelapa. Kita mendapat air kelapa secukupnya.“ ayahnya berhenti sejenak, lalu. “tetapi jika kau sudah mulai haus lagi, marilah. Kita mencari batang merambat. Aku aku memotong pangkal dan ujungnya. Dan kita akan mendapatkan air untuk minum.” “Ayah hanya memer lukan air untuk minum. Tetapi aku tidak.” Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Baiklah. Kita akan segera mencar i air. Naluriku mengatakan, bahwa kita sudah dekat dengan mata air.” Swasti akan menjawab. Tetapi ia melihat ayahnya sedang memusatkan pendengarannya sambil menyentuh tanah dengan telapak tangannya. Karena itu Swasti tidak mengucapkan kata-katanya. Bahkan iapun kemudian berdiri dan melangkah untuk melihat-lihat keadaan disekitarnya. Didalam hati Swasti masih juga selalu mengagumi ayahnya. Dengan melekatkan telapak tangannya ditanah, seolah-olah lewat jalur urat nadinya, getaran-getaran bumi terdengar oleh telinga batinnya. Sehingga dengan demikian ayahnya dapat mengetahui arah arus air dibawah batu-batu padas yang dalam. Swasti berpaling ketika ayahnya memanggilnya. “Swasti,“ berkata ayahnya, “rasa-rasanya kita sudah tidak jauh lagi dari sebuah mata air. Tetapi apakah kau tidak ingin beristirahat barang sejenak? Atau mungkin semalam ini ? Besok pagi-pagi kita akan mencari mata air didaerah pebukitan ini.” “Kenapa tidak malam nanti ayah? Sekarang aku memang akan beristirahat. Mungkin aku memerlukan tidur sejenak, meskipun setelah malam menjadi gelap. Tengah malam kita melanjutkan perjalanan.” “Hutan ini belum pernah kita kenal,“ sahut ayahnya, “sebaiknya kita tidak memasukinya dimalamhari.” Swasti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Besok pagi2 kita melanjutkan perjalanan.” Perlahan-lahan gelap malam mulai turun menyelubungi bukit. Dengan batu titikan dan segumpal emput gelugut aren, ayah Swasti membuat api. Dengan dedaunan kering dan ranting-ranting yang berserakan, ia membuat perapian. Kemudian beberapa potong kayu diletakkannya pula diatas api. “Sekarang tidur lah,“ berkata ayah Swasti. Swasti yang memang sudah berbaring menguap. Kemudian jawabnya, “Ya ayah. Aku akan tidur.” Ayahnya memandang anak gadisnya dengan tatapan kebapaan. Ia merasa iba melihat gadisnya yang letih berbaring diatas rerumputan kering. Meskipun Swasti sempat membersihkan tempat ia berbaring, namun rasa-rasanya bergejolak juga jantung ayahnya melihat anak gadisnya terbaring diatas tanah. Tetapi orang tua itu berkata didalam hati, “Mudah- mudahan yang terjadi ini merupakan syarat keprihatinannya. Mudah-mudahan kelak Yang Maha Agung member ikan hari- hari yang lebih cerah kepadanya.” Swasti yang lelah itu dengan tenang tertidur nyenyak. Gadis itu terlalu percaya kepada ayahnya, bahwa ayahnya akan dapat melindunginya dari segala bahaya. Namun belum lagi tengah malam, Swasti terkejut. Tiba-tiba saja ayahnya membangunkannya dengan tangan menggigil. “Swasti, Swasti.” Swasti terkejut. Namun rasa-rasanya tubuhnya tertekan oleh himpitan kekuatan yang menahannya untuk meloncat bangkit. Bahkan kemudian rasa-rasanya tubuhnya menjadi sangat lemah. Namun ia memaksa dir i untuk bangkit dan duduk disebelah ayahnya yang ketakutan. “Ada apa ayah ?“ bertanya Swasti. “Seekor harimau Swasti. Seekor har imau yang garang sekali.” Swasti menjadi heran. Namun iapun mulai mendengar dengus binatang buas itu. “Tetapi …,“ suara Swasti terputus. Ia merasa tekanan pada urat nadi dipergelangan tangannya, sehingga ia tidak melanjutkan kata-katanya. Dengan tegang Swasti memandang ayahnya yang ketakutan. Sementara dengus harimau yang garang, semakin lama semakin lama semakin mendekat. “Ayah, apakah binatang buas tidak takut melihat api ?“ bertanya Swasti yang lemah. “Aku tidak tahu Swasti. Tetapi binatang itu tentu akan menerkam kita.” Ayah Swasti memalingkan wajahnya ketika tiba-tiba saja seekor harimau yang besar muncul dari balik gerumbul dan mulai merunduk mendekati kedua orang ayah dan anaknya itu. Swasti menjadi heran melihat sikap ayahnya. Tentu ada sebabnya kenapa ayahnya tidak berdiri tegak menghadapi harimau yang sedang merunduk itu, dan justru merengek- rengek seperti anak-anak. Sedang dirinya sendir i seolah-olah menjadi lemah tidak bertenaga. Sementara itu harimau yang garang itupun menjadi semakin dekat. Kemudian merendah di kaki depannya sehingga dadanya menyentuh tanah. Ekornya dikibas- kibaskannya perlahan, sedang kedua belah matanya bagaikan menyala. Harimau yang garang itu siap untuk meloncat menerkam orang tua dan anak gadisnya yang nampaknya ketakutan. Namun ketika har imau itu mengaum, tiba-tiba meloncatlah seorang anak muda disebelah perapian. Wajahnya yang tegang menyala dengan penuh kemarahan. “Jangan takut,“ geram anak muda itu, “aku akan membunuh har imau yang buas itu.” “O,“ ayah Swasti menyahut dengan suara gemetar, “tetapi harimau itu sangat besar.” Anak muda itu tidak menjawab. Ia berdiri dengan kaki renggang dan sebilah pisau belati ditangan, siap menghadapi harimau yang perhatiannya telah berpaling kepada anak muda itu. Swasti termangu-mangu. Ternyata anak muda itu adalah anak muda yang dilihatnya berjalan berir ing dengan para petani dipematang dengan pakaian dan sikap yang asing. Ketika kemudian terdengar harimau itu mengaum keras, maka anak muda itupun merendah pada lututnya. Ia telah bersiap sepenuhnya ketika harimau itu kemudian meloncat menerkamnya. Sejenak kemudian telah terjadi pertarungan yang dahsyat antara seekor harimau yang besar dan garang, melawan anak muda bersenjata pisau belati itu. Ternyata anak muda itu lincah sekali. Ia mampu mengelak, dan bahkan kemudian meloncat kepunggung harimau itu. Tangan kirinya memeluk leher harimau itu seperti melekat. Betapapun harimau itu berusaha, namun anak muda dipunggungnya tidak dapat dilemparkannya. Terdengar auman yang bagaikan menyobek sepinya hutan dilereng bukit itu, ketika anak muda itu mulai menghunjamkan pisau belatinya ketubuh harimau yang melonjak-lonjak dan sekali-kali berguling-guling. Tetapi harimau itu ternyata tidak berdaya. Semakin lama luka-luka ditubuhnya menjadi semakin banyak. Darah mengalir semakin deras. Tidak saja membasahi tubuhnya sendir i, tetapi anak muda itupun mulai dilumuri oleh warna-warna merah. Bukan saja karena darah harimau yang menjadi semakin tidak berdaya. Tetapi ternyata tubuh anak muda itu sendiri telah terluka pula karenanya. Swasti memandang perkelahian itu dengan tanpa berkedip. Ia menjadi kagum melihat kesigapan anak muda itu. Ia yakin bahwa sebentar lagi harimau yang garang itu tentu akan terbunuh. Ayahnya yang gemetarpun nampaknya menjadi semakin tenang. Ia melihat anak muda itu benar-benar telah menguasai lawannya. Akhirnya, dengan auman yang dahsyat harimau itu berusaha melonjak dan melepaskan dir i dengan sisa tenaganya. Tetapi tidak berhasil. Bahkan tusukan-tusukan berikutnya membuat harimau itu tidak berdaya. Sesaat kemudian, maka pertempuran itupun selesai. Anak muda yang perkasa itu melepaskan tubuh harimau yang telah dibunuhnya. Sambil mengusap pisaunya yang berlumuran darah ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Jangan takut lagi kakek tua, Harimau itu sudah mati.” “Terima kasih ngger. Terima kasih.“ suara ayah Swasti masih bergetar. Anak muda itupun kemudian berdiri tegak memandang orang tua itu berganti-ganti dengan anak gadisnya. Setapak ia melangkah maju kedekat perapian sambil berkata, “Jiwa kalian telah selamat.” “Tetapi, tetapi angger sendiri nampaknya teriuka,“ berkata ayah Swasti. Anak muda itu memandangi tubuhnya. Katanya sambil tersenyum, “Wajar sekali jika aku terluka. Kuku harimau itu lebih tajam dari duri. Kekuatannya melampaui kekuatan seekor kerbau gila.” “Tetapi angger dapat mengalahkannya.” Anak muda itu tersenyum. “Lalu. bagaimana dengan luka-luka itu?“ bertanya ayah Swasti. “Aku mempunyai obatnya. Aku akan mandi, kemudian mengobati luka-lukaku.“ ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi siapakah kau berdua ini ? Dan kemanakah tujuan kalian ? Aku lihat kalian sebagai dua orang yang sedang bepergian jauh. Siang tadi, ketika kita bertemu, aku t idak begitu menghiraukan kalian. Tetapi ketika aku melihat perapian, aku jadi teringat. Aku sudah menduga bahwa kalianlah yang berada dipinggir hutan ini.” “Ya ngger. Akupun ingat, bahwa kita telah berjumpa. Sebenarnyalah bahwa aku tidak mempunyai tujuan tertentu. Kami berdua dalam perjalanan perantauan menuruti kehendak hati.” Anak muda itu memandang Swasti sejenak. Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia tidak berniat untuk bertanya lagi kepada ayahnya, karena ia sudah dapat menangkap, apakah yang sebenarnya terjadi. Meskipun demikian, ia tetap mengagumi anak muda yang perkasa itu. Dalam usianya ia sudah memiliki ilmu kanuragan yang mantap, sehingga kekuatannya dapat mengimbangi kekuatan seekor harimau. Ketangkasannyapun melampaui ketangkasan orang kebanyakan. “Perjalanan kalian hampir merenggut j iwa kalian,“ berkata anak muda itu, “sayang sekali. Siapakah gadis itu?” “Anakku,“ jawab ayah Swasti. “Bawalah kepadukuhan. Tentu ada tempat bagi kalian berdua.” “Ah,“ jawab ayah Swasti, “kami tidak pantas tinggal bersama angger. Kami adalah perantau yang tidak ada harganya. Beribu terima kasih. Tetapi biarlah kami melanjutkan perjalanan kami.” “Jangan merajuk seperti anak-anak Kiai,“ berkata anak muda itu, “sekali lagi kalian bertemu dengan seekor har imau, maka kalian akan mati.” “Kami akan berhati-hati ngger. Adalah salah kami, bahwa kami t idak memanjat sebatang pohon. Biasanya kami tidur diatas pepohonan. Tetapi malam ini kami lengah, sehingga hampir saja maut menjemput kami.” Anak muda itu mengerutkan keningnya, ia menjadi heran mendengar jawaban orang tua itu. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Jadi anak gadismu itu juga pandai memanjat ?” Orang tua itu termangu-mangu, sedangkan Swasti menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah. “Begitulah ngger,“ jawab ayah Swasti, “karena kebiasaan kami merantau, maka kadang-kadang anak gadisku berbuat yang tidak biasa dilakukan oleh gadis-gadis yang lain. Ia memang dapat memanjat meskipun harus ditolong. Kami membuat anyaman tali pada dahan-dahan untuk menolong agar kami t idak terjatuh.” “Kau tidak takut harimau kumbang yang juga pandai memanjat ?” “Tidak banyak terdapat harimau kumbang ngger. Tetapi seandainya kami bertemu juga dengan har imau kumbang, maka aku mungkin akan dapat melawannya dengan pedangku. Harimau pada umumnya lemah j ika mereka berada diatas pepohonan.” Anak muda itu tersenyum. Jawabnya, “Nampaknya kau memang seorang perantau yang berpengalaman menjelajahi hutan. Tetapi pada suatu saat kau dihadapkan pada bayangan maut seperti yang baru saja kau alami.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi kau adalah orang yang aneh. Kau tidak jera karena peristiwa ini. Bahkan seolah-olah kau cepat melupakannya.” Orang tua itu termangu-mangu. Jawabnya, “Bukan begitu ngger. Tetapi aku berharap bahwa aku tidak akan bertemu lagi dengan seekor harimau. Atau aku tidak membuat kelengahan lagi seperti yang terjadi.” “Kau sangka bahwa harimau hanya dapat kau temui di malamhari ? Bagaimana disiang hari ?” “Biasanya kami tidak menyelusur i hutan seperti ini. Kami berjalan di bulak-bulak panjang. Dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain. Tetapi kami memang sering bermalam dipinggir-pinggir hutan agar kami tidak mengganggu penghuni padukuhan dengan kecur igaan dan mungkin tuduhan-tuduhan yang kurang baik.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Setiap kali diluar sadarnya tatapan matanya menyambar wajah Swasti yang tertunduk. Dalam keremangan cahaya api perapian, wajahnya nampak kemerah-merahan. Ada sesuatu yang menarik pada gadis yang nampak kotor dan kumal itu. Tetapi anak muda itupun kemudian berkata, “Terserahlah kepadamu kakek tua. Aku sudah mempersalahkan kau pergi kepadukuhan. Aku akan menanggungmu. Orang-orang padukuhan tidak akan berani berbuat sesuatu atas orang- orang yang ada dalamperlindunganku.” “Terima kasih ngger. Terima kasih.” “Baiklah. Aku akan pergi. Jika kau kemudian mengambil keputusan untuk datang kepadukuhanku, datanglah. Aku tinggal dipadukuhan terbesar disebelah batas. Disudut padukuhan itu nampak sebatang pohon randu alas yang besar.” “Baik, baik ngger. Tetapi kami belum mendengar nama angger. Mungkin pada suatu saat kami memang akan mencari angger.” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Namaku Daruwerdi.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Desisnya, “Nama itu bagus sekali. Apakah angger juga berasal dari padukuhan itu?” Anak muda yang bernama Daruwerdi itu tertawa semakin keras. Tanpa menjawab pertanyaan itu ia melangkah sambil berkata, “Aku akan pulang. Sekali lagi aku memberi kesempatan. Bawalah gadismu kepadukuhan itu. Jika kau mau, tinggallah disana. Barangkali itu lebih baik bagimu dan bagi masa depan anakmu. Pada suatu saat anakmu memer lukan sesuatu yang tidak dapat kau ketemukan diperantauanmu itu. Atau barangkali lebih baik kau t itipkan gadismu kepada seseorang yang dapat kau percaya agar ia dapat menikmati kehidupan sewajarnya seperti gadis-gadis yang lain.” “Ia satu-satunya anakku ngger.” “Kau terlalu mementingkan dirimu sendir i. Kau sama sekali tidak memikirkian nasib dan hari depan anakmu. Apalagi seorang gadis.” Orang tua itu tidak menjawab. Sementara anak muda itu melangkah menjauh. Tetapi ia masih berhenti dan berpaling, “Siapa nama anakmu itu kakek?” Orang tua itu memandang Daruwerdi sejenak. Kemudian jawabnya, “Swasti. Namanya Swasti ngger.” “Nama itupun bagus sekali. Jangan kau sia-siakan anakmu. Tatapan matanya mengandung kepahitan hidupnya. Dan kau masih mementingkan dirimu sendiri.” Daruwerdi tidak menunggu jawaban orang tua itu. Iapun kemudian melangkah semakin jauh dan hilang dalam kegelapan, di sela-sela pepohonan. Ketika anak muda itu telah hilang, Swasti beringsut mendekati ayahnya sambil bergumam, “Ayah memij it pusat nadi tanganku.” Orang tua itu tersenyum Jawabnya, “Anak muda yang luar biasa. Aku mendengar kedatangannya. Karena itu aku biarkan ia melawan harimau yang garang itu. Ternyata ia berhasil.” “Ayah membiarkan ia melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya itu,“ desis Swasti. “Jika ia tidak meyakini kemampuannya, ia tidak akan melakukannya.” Swasti tidak menjawab. Tubuhnya terasa telah pulih kembali. Ia mengerti, bahwa ayahnya memaksanya untuk tidak berbuat sesuatu saat Daruwerdi berkelahi dengan seekor harimaul yang garang itu. Namun dalam pada itu, wajah ayah Swastipun menegang pula. Tiba-tiba saja ia berbisik ditelinga anaknya, “Ia datang kembali. Aku mendengar desir lembut. Berbuatlah seperti yang aku kehendaki.” Swasti mengangguk. Meskipun badannya telah pulih kembali, tetapi ia tetap duduk dengan lemahnya seperti yang dikehendaki oleh ayahnya. Beberapa saat mereka menunggu. Desir halus itu terdengar semakin dekat. Tetapi ayah Swasti tidak memalingkan wajahnya seolah-olah ia sama sekali tidak mendengarnya. Baru kemudian ketika terdengar pepohonan yang dikuakkan, orang tua itu terkejut, sehingga ia tergeser beberapa jengkal. Dengan serta merta ia berpaling memandang kearah suara desir dedaunan yang tersibak. Tetapi ternyata orang tua itu benar-benar terkejut. Wajahnya menjadi tegang. Ternyata yang datang bukannya Daruwerdi. Tetapi orang lain. Juga seorang anak muda. Tetapi anak muda itu nampaknya lebih sederhana dalam pakaian seorang petani biasa. “O,“ desis ayah Swasti, “siapakah kau anak muda?” Anak muda itu mengangguk hormat. Dengan membungkuk-bungkuk ia melangkah mendekati sambil menjawab, “Kiai, jika berkenan dihati, aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah anak padukuhan disebelah hutan ini. Anak seorang janda miskin yang barangkali tidak berarti sama sekali bagi Kiai.” Anak Swasti mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya, “Aku tidak mengerti maksud anak muda.” Anak muda itu menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kedatangan Kiai kedaerah terpencil ini menumbuhkan pertanyaan dihatiku. Ketika aku mendengar aum seekor harimau, aku telah tertarik untuk melihatnya, karena sebenarnyalah aku memang melihat menjelang senja dua orang yang memasuki hutan ini. Agaknya Kiai dan perempuan yang barangkali sanak kadang Kiai.” “Ia adalah anakku,“ jawab ayah Swasti, “memang seekor harimau telah merunduk kami. Tetapi untunglah, seorang anak muda yang bernama Daruwerdi telah menolong kami. Lihatlah ngger, harimau itu telah dibunuhnya.” “Luar biasa,“ desisnya. Tetapi wajahnya sama sekali t idak menunjukkan perubahan apapun. Apalagi keheranan. Katanya selanjutnya, “Daruwerdi memang seorang anak muda yang perkasa, ia tinggal dipadukuhan disebelah hutan ini pula. Tetapi berbeda dengan padukuhan-padukuhan yang ada sebelah tanda batas itu. Ia berada dibawah kekuasaan Buyut yang berbeda dengan kelompok padukuhanku.” “O,“ ayah Swasti mengangguk-angguk. “Ia berhasil membunuh harimau itu dengan hanya mempergunakan pisau belati?” Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Tentu setiap orang ingin menolong Kiai dan anak gadis Kiai. Meskipun aku tidak berkemampuan kanuragan, akupun berniat untuk menolong seandainya diperlukan. Tetapi, rasa-rasanya yang dilakukan oleh Daruwerdi adalah sia-sia.” Swasti dan ayahnya terkejut mendengar kata-kata anak muda itu, sehingga dengan serta meria ayah Swasti bertanya, “Kenapa sia-sia ngger ?” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Apakah artinya yang telah dilakukan oleh Daruwerdi itu bagi Kiai ? Daruwerdi menyangka Kiai tidak mampu berbuat apa-apa dan benar- benar ketakutan melihat harimau itu datang merunduk Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi sentuhan jari-jar i Kiai pada nadi anak gadis Kiai, menumbuhkan pertanyaan dihatiku. Dan kemudian akupun yakin, bahwa seandainya Daruwerdi tidak menolong Kiai akupun tidak akan melakukannya, karena Kiai akan dapat membunuh harimau itu dengan sekali hembus tanpa menitikkan keringat dan apalagi darah Kiai sendiri.” Ayah Swasti menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Anak muda melihat semuanya yang telah terjadi ?” “Aku melihat semuanya yang terjadi. Aku tidak dapat menahan tertawa melihat tingkah laku Daruwerdi. Meskipun ia seorang anak muda yang berani dan memiliki kemampuan yang tinggi, tetapi ia tidak sempat melihat siapakah Kiai sebenarnya, sehingga ia dengan serta merta telah berusaha menolong Kiai,“ jawab anak muda itu. Ayah Swasti menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia bertanya pula, “Apakah angger yakin bahwa tanpa pertolongan anak muda yang berani itu aku dapat menyelamatkan diriku sendiri ?” Anak muda itu tertawa. Namun kemudian sambil mengangguk hormat ia menjawab, “Kiai adalah seorang yang memiliki ilmu tiada taranya. Karena itu, seperti yang aku katakan, tingkah laku Daruwerdi adalah kesia-siaan dihadapan Kiai.” Ayah Swasti memandang anak gadisnya yang mengerutkan kening. Sekilas Swasti memandang anak muda dalam pakaian dan sikap yang sederhana itu. Tetapi ketika tiba-tiba saja anak muda itu juga memandangnya, maka dilemparkannya tatapan matanya kepepohonan yang kehitam-hitaman didalam kelamnya malam. “Angger,“ berkata ayah Swasti kemudian, “dihari pertama kedatanganku didaerah ini, aku sudah dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa yang semula diluar dugaanku. Ternyata di dua kelompok padukuhan yang dipimpin oleh dua orang buyut yang berbeda, meskipun mereka adalah saudara kembar, masing-masing dihuni anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun kau tidak menunjukkan kemampuanmu seperti yang dilakukan oleh Daruwerdi, tetapi pengamatanmu atas keadaan kami telah menunjukkan bahwa angger adalah seorang anak muda yang luar biasa, yang tidak kalah tinggi ilmunya dari Daruwerdi.” “Ah,“ desis anak muda itu, “Kiai keliru. Aku hanya dapat melihat. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa.” “Jangan ingkar anak muda. Seperti anak muda dapat melihat keadaanku, maka akupun kini menyadari, siapakah yang ada dihadapanku.” Anak muda itu tersenyum. Katanya kemudian, “Daruwerdi memang seorang anak muda yang terlalu baik. Ia terdorong oleh keinginannya yang tidak terkendali untuk menolong seseorang, sehingga ia tidak melihat siapakah yang akan ditolongnya. Sementara aku adalah, seorang gembala yang tidak berarti, yang selain menggembalakan kambing, aku selalu tenggelam didalam lumpur.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Sambil tersenyum iapun menyahut, “Sungguh luar biasa. Daerah yang terpencil ini ternyata memiliki kemampuan yang mengagumkan. Angger apakah banyak anak-anak muda yang memiliki ilmu seperti angger Daruwerdi dan angger sendiri?” Anak muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Hanya seorang Kiai, Daruwerdi.” Orang tua itu masih saja tersenyum. Katanya, “Angger memang senang bergurau. Baiklah. Angger tentu mengetahui apa yang sudah aku ketahui tentang angger, seperti aku tahu apa yang angger ketahui tentang aku.” Ternyata bahwa anak muda itu memang banyak tertawa. Wajahnya nampak cerah, sedang jawabnyapun rancak. “Tepat Kiai. Dan karena itu pula aku tidak perlu bertanya, kemana Kiai akan pergi.” Orang tua itu bertambah heran. Dengan nada dalam dan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa angger tidak perlu bertanya, kemana kami akan pergi ?” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Meskipun aku tidak pasti, tetapi aku dapat menduga. Bukankah Kiai berjalan menyusuri suara arus air dibawah tanah ?” “Ah,“ orang itu menegang sejenak. Tetapi anak muda itu masih tetap tertawa dan meneruskan. “Kiai tentu ingin menemukan mata air yang menurut dugaan Kiai tersembunyi di dalam hutan dibayangan bukit ini.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Akhirnya ia menjawab, “Kami tidak ingkar ngger. Agaknya angger memiliki ketajaman penglihatan. Bukan saja penglihatan wadag yang telah melihat aku dengan sengaja menyentuh pusat madi anakku agar tidak menumbuhkan kecurigaain pada angger Daruwerdi. tetapi juga penglihatan perhitungan.” “Kiai tidak usah memuj i. Aku kira itu bukannya suatu kelebihan. Bukankah wajar jika seorang perantau memer lukan tempat yang dapat dihuni ? Salah satu syarat untuk sebuah padepokan adalah air.” “Ya ngger. Kami memang sedang mencari sumber air yang aku ketahui mengalir dibawah tanah.” “Baiklah Kiai. Aku dapat memberikan petunjuk serba sedikit karena aku adalah anak daerah ini.” “Terima kasih ngger.” “Kiai,” berkata anak muda itu, “pendengaran Kiai memang sangat tajam. Kiai telah menempuh jalan yang benar, tetapi pada suatu saat dapat kecewa karena arus air dibawah tanah itu sudah ada sejak dari seberang bukit.” “O,“ Swasti berdesis. Diluar sadarnya ia berkata, “Jadi kami harus mendaki dan menuruni bukit ini, atau mencari jalan melingkarnya ?” Anak muda itu memandang Swasti sejenak. Namun seperti yang selalu dilakukan, ia menjawab sambil tersenyum, “Tidak. Kalian tidak perlu melakukannya meskipun kemungkinan itu dapat terjadi jika ayahmu salah pilih.“ ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada ayah Swasti, “Kiai, dibawah tanah ini memang sudah mengalir sebuah sungai yang deras. Sementara sumber yang terdapat dibayangan bukit ini hanya merupakan sebagian saja dari arus sungai itu. Karena itu, jika Kiai menyelusuri suara sungai dibawah tanah itu, mungkin sekali Kiai akan mengikut i arus yang lebih besar dari seberang bukit.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih ngger. Terima kasih. Aku mengerti sekarang, bahwa ada tempuran dibawah tanah. Untunglah aku bertemu dengan angger di sini. Jika tidak, mungkin sekali aku salah memilih jalur air sehingga aku harus berjalan lebih jauh lagi.” “Jika demikian Kiai, marilah. Aku akan mengantar. Kiai sampai ke mata air itu. Sebenarnyalah bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat mapan untuk membuat sebuah padepokan.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi ia benar-benar telah menjadi heran. Dihari yang pertama didaerah itu, ia telah bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah diduganya. Namun keheranan ayah Swasti bukan saja karena sikap anak muda itu, tetapi bahwa ia mengetahui tentang manfaat air dari mata air di bukit itu. Meskipun demikian, sawah-sawah tetap kering dimusim kemarau. “Anak muda,“ akhirnya ayah Swasti tidak dapat menahan ingin tahunya, “menilik sikap dan keteranganmu tentang mata air itu, agaknya kau tahu benar guna manfaatnya.” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Aku sudah menyangka bahwa Kiai akan bertanya demikian. Jika di bukit ini ada mata air, dan aku mengetahuinya, kenapa aku tidak berbuat sesuatu bagi sawah kami yang kering.” Ayah Swasti mengangguk kecil. “Kiai,“ berkata anak muda itu, “ada banyak sebabnya. Penghuni dar i sekelompok padukuhan kami dan kelompok padukuhan yang lain, masih dikuasai oleh tata kehidupan yang sudah berpuluh tahun berlangsung. Mereka masih pula dibayangi oleh kepercayaan yang menghambat kemajuan cara berpikir mereka. Menurut pendapat mereka, daerah dilereng bukit ini merupakan daerah yang gawat. Tidak seorangpun yang akan berhasil memasuki hutan yang lebat dan apalagi menemukan mata air.” “Tetapi angger pernah melakukannya,“ potong orang tua itu. “Mereka tidak percaya. Mereka menyangka bahwa aku sekedar bermimpi.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “bahkan seandainya mereka percaya bahwa aku pernah menemukan sumber air itu, namun mereka tidak akan berani berbuat sesuatu.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan Daruwerdi?” “Ia seorang anak muda yang cakap. Ia melontarkan perhatiannya ketempat yang jauh. Ia mempunyai kawan dan hubungan dengan orang-orang yang tidak dikenal dipadukuhan kami, sehingga ia tidak mempedulikan lagi perkembangan padukuhan tempat ia t inggal.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Namun kemudian sambil berpaling kepada Swasti ia berkata, “Kita ternyata telah mendapat anugerah dari Yang Maha Agung. Angger ini bersedia mengantarkan kita sampai kemata air yang kita perlukan.” Swasti tidak segera menjawab. Sekilas ditatapnya mata anak muda yang jernih itu. Namun iapun hanya dapat menunduk dalam-dalam. “Angger,“ tiba-tiba saja ayah Swasti bertanya, “apakah angger sudah menyebut nama angger ?” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Apakah itu perlu sekali Kiai?” “Sebutlah, agar kami tidak canggung memanggil angger.” Anak muda itu memandang orang tua itu sesaat. Namun kemudian senyumnya yang cerah menghiasi bibirnya yang bergerak menyebut namanya, “Namaku jelek Kiai. Tidak sebaik Daruwerdi.“ ia nampak ragu-ragu. namun kemudian diucapkannya juga, “namaku Jlitheng.” “Bohong,“ diluar sadarnya Swasti tiba-tiba saja menjawab. Namun ketika terasa anak muda itu memandanginya, terasa wajahnya menjadi panas, sehingga iapun menunduk semakin dalam. Ayah Swastipun tertawa. Katanya, “Menurut pengamatanku, angger bukan seorang anak muda yang termasuk berkulit hitam.” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Menurut ibuku, saat aku lahir, kulitku hitam seperti arang. Kakekkulah yang memberi nama kepadaku Jlitheng.” “Itu bukan nama ngger. Tetapi panggilan. Atau nama panggilan. Tetapi angger tentu mempunyai nama lain.” Anak muda itu tertawa semakin keras. Katanya, “Panggil saja aku Jlitheng. Aku senang mendapat panggilanku.” Ayah Swasti termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Baiklah angger Jlitheng. Untuk sementara aku akan mempergunakan nama panggilan itu.” “Panggil saja namaku Kiai. Kiai tidak perlu memakai sebutan apapun. Bagiku terasa lebih akrab dan akupun jauh lebih muda dari Kiai. Mungkin sebaya atau lebih tua sedikit dengan anak Kiai.” Ayah Swastipun tertawa semakin keras. Tetapi Swasti menunduk semakin dalam. Rasa-rasanya pipinya menjadi tebal dan lehernya tidak dapat diangkatnya. Sehingga untuk beberapa lamanya ia duduk bagaikan membeku. “Tetapi Kiai, akupun ingin mendengar Kiai menyebut sebuah nama. Aku tidak peduli apakah itu benar-benar nama Kiai, atau sekedar nama panggilan atau bahkan gelar Kiai.” Orang tua itu tertawa. Jawabnya, “Aku ingin memberi gelar kepadaku sendiri. Mungkin aku dapat menyebut beberapa gelar kebesaran. Mungkin Gajah Limpad atau Garuda Yaksa atau gelar yang lebih dahsyat lagi. Tetapi aku tidak dapat mengingkar i namaku sendir i yang sederhana. Anak muda, panggillah aku dengan namaku yang sebenarnya, Kiai Kanthi. Ya, namaku memang Kiai Kanthi.” Anak muda itu mangerutkan keningnya. Sejenak ia seolah- olah sedang merenungi nama itu. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Dengan nada datar ia bertanya, “Aku memang tidak bertanya, kemana Kiai akan pergi, tetapi aku sekarang bertanya, dari manakah Kiai datang.” Orang tua yang menyebut namanya Kiai Kanthi itupun menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Aku berasal dari padepokan yang jauh ngger. Padepokan yang hancur dilanda gempa dan tanah longsor yang dahsyat. Unturglah bahwa kami sempat mengungsi. Ada beberapa orang penghuni padepokanku selain kami berdua. Merekapun sempat meninggalkan padepokan ketika hujan lebat dan angin prahara mulai melanda padepokan kami. Air yang mengalir dari lereng bukit bagaikan dituang dari langit. Ketika kemudian tanah bagaikan diguncang, maka runtuhlah tebing bukit diatas Padepokanku. Sementara banjir yang kemudian datang bagaikan menghanyutkan tanah garapan kami.” “Kiai,” tiba-tiba anak muda itu memotong, “apakah Kiai datang dari daerah Pucang Sewu disebelah Kali Buntung.” Orang tua itu termangu-mangu. “Sungai kecl itu memang seperti setan. Dimusim kering airnya tidak lebih dari titik-titik embun. Tetapi jika hujan turun dengan lebatnya, maka airnya dapat meluap sampai beratus- ratus tonggak,“ desis anak muda itu. Orang tua yang menyebut dirinya bernama Kiai Kanthi itu masih termangu-mangu. Ditatapnya wajah anak muda itu dengan tajamnya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Tentu berita tentang bencana alam itu sudah sampai kepadukuhan ini.” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Memang terdengar berita tentang bencana alam itu. Aku menghubungkan dengan ceritera Kiai. Jadi apakah Kiai benar datang dari daerah Pucang Sewu yang seakan-akan telah musnah itu ?” Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Benar ngger. Aku adalah salah seorang penghuni Pucang Sewu. Pucang Sewu di bagian Barat sampai saat ini masih tetap utuh. Tetapi agaknya daerah persawahannya tidak akan mencukupi lagi. Sedangkan padepokanku bagaikan hanyut oleh tanah yang longsor dilereng bukit, sedang sawah dan ladangku telah dihanyutkan oleh banjir Kali Buntung.” “Dan sekarang Kiai mencari tempat untuk membuka padepokan baru,“ sahut Jlitheng, “agaknya Kiai memang senang tempat dilereng bukit. Kali ini Kiai telah menuju kelereng bukit pula.” Kiai Kanthi mengerutkan keninignya. Kemudian sambil tersersyum ia menjawab, “Aku tidak pernah memikirkannya. Aku tidak pernah menganggap bahwa tinggal di lereng bukit adalah lebh baik dar ipada tinggal ditempat lain. Adalah kebetulan bahwa kali ini aku mengikuti arus air dibawah tanah sampai kelereng bukit pula.” Anak muda yang lebih senang dipanggil Jlitheng itu tettawa. Katanya, “Marilah Kai. Aku antarkan Kiai memasuki hutan ini. Sebelumpagi kita sudah akan sampai ditujuan.” Kiai Kanthi memandang anak gadisnya sejenak, seoah-olah ia ingin bertanya, apakah ia sudah tidak terlau lelah untuk melanjutkan perjalanan, meskipun sejak semula Swasti minta kepada ayahnya untuk melanjutkan perjalanan di malamhari. Tetapi dalam pada itu, sebelum ayahnya bertanya, Swasti sudah mendahului, “Terserahlah kepada ayah. Aku sudah beriitirahat meskipun sebentar. Tetapi ayah sama sekali belum.” “Akupun sudah,“ jawab ayahnya, “ketika kau tertidur, aku sudah cukup beristirahat.” Swasti tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja anak muda yang wajahnya nampak cerah dan selalu tersenyum itu sejenak. Namun semakin lama wajah itu menjadi semakin kabur karena api diperapian semakin susut. “Baiklah,“ berkata ayah Swasti, “mar ilah kita pergi.” Swastipun kemudian bangkit sambil membenahi dirinya dan sebungkus kecil pakaiannya. sementara ayahnya memadamkan perapian agar apinya tidak menimbulkan bahaya kebakaran pada hutan dilereng bukit itu. Sejenak kemudian, ketiga orang itupun telah melanjutkan perjalanann. Jlitheng berada dipaling depan. Dibelakangnya berjalan Kiai Kanthi. Sedang dipaling belakang adalah Swasti. Bagaimanapun juga Kiai Kanthi masih juga harus berhati- hati. Ia sadar bahwa anak muda itu tentu anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi, sedangkan ia masih belum mengenalnya dengan baik, sehingga kemungkinan yang tidak diharapkannya masih saja dapat terjadi. Tetapi agaknya anak muda itu benar-benar ingin menunjukkan mata air yang tersembunyi didalam hutan di bukit itu. Langkahnya tetap, seolah-olah tanpa berpaling. Sekali-kali mereka harus menyusur i celah-celah padas yang menanjak setinggi pepohonan. Namun sekali-kali mereka harus berloncatan dari batu-batu raksasa kebatu berikutnya. “Apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik ngger ?” bertanya Kiai Kanthi. Jlitheng menyahut tanpa berherti, “Ada Kiai. Tetapi jalan itu panjang sekali. Kita dapat menyusuri sela-sela pepohonan. Jalannya memang lebih baik dir i jalan yang kita tempuh sekarang. Tetapi kita akan terlalu lama mencapai mata air itu.” Kiai Kanthi tersenyum. Seakan-akan kepada diri sendiri ia berkata, “Kau cerdik anak muda. Bukankah kau ingin mengetahui, apakah anak gadisku mampu melakukan seperti yang kau lakukan sekarang.” “He?“ tiba-tiba saja Jlitheng tertegun. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia berpaling sambil tertawa. “Kiai mempunyai tangkapan yang tajam sekali. Dan sekarang ternyata bahwa Swasti adalah seorang gadis yang luar biasa. Ia tidak saja mempunyai ketahanan tubuh yang melampaui kebanyakan orang, bahkan laki-laki sekalipun, yang ternyata dengan perjalanannya yang berat. Tetap iapun, mampu melewati jalan ini. Ia mamnu berloncatan dari batu ke batu. Menanjak tebing dalam gelapnya malam. Mendaki batu- batu padas yang licin oleh lumut hijau dan keseimbangan yang mantap.” “Ah,“ Swasti berdesis, “jika aku tahu, aku tidak mau.” Jlitheng tertawa semakin panjang. Katanya, “Tetapi semuanya sudah terjadi. Akulah yang akan dapat memanfaatkan pertemuan ini sebaik-baiknya. Jika Kiai bersedia, aku akan mencoba mempelajari ilmu yang tentu tersimpan tanpa batas di dalam dir i Kiai.” “Ah,“ potong Kiai Kanthi, “jangan mengada-ada ngger. Aku sama sekali bukan orang yang kau maksud. Sekarang, marilah. Kita melanjutkan perjalanan.” Jlitheng menar ik nafas panjang, iapun kemudian mengangguk-angguk kecil. Tetapi tidak sepatah kata lagi keluar dari mulutnya. Ketiga orang itupun kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Kadang-kadang mereka mencuat dari hutan-hutan kecil lewat batu-batu padas. Namun kemudaan mereka kembali memasuki hutan, berjalan diantara pepohonan, dan kadang kadang menyusup diantara sulur-sulur yang bergayutan. Dalam gelap malam perjalanan mereka terasa tersendat- sendat. Langkah mereka menjadi lamban dan sempit. Meskipun mereka tetap maju menyusup semakin dalam. Betapa tajamnya telinga Kiai Kanthi ketika ia berdiri diatas batu padas yang basah, maka iapun berkata, “Jika kau menyebut tempuran itu ngger, agaknya kita sudah berada diatasnya.” “Ya Kiai,“ jawab Jlitheng, “karena itu kita sudah hampir sampai. Disebelah kita akan menemukan air itu mengalir diatas batu-batu padas dan tumpah kedalam parit-parit di sela-sela batu yang membawa air itu masuk kebawah tanah dan mengalir menyatu dengan sungai yang memang sudah terdapat sejak seberang bukit.” Kiai Kanthi menarik nafas panjang. Diluar sadarnya ia berpaling kepada anak gadisnya yang diketahuinya, tentu telah menjadi sangat letih. Hanya karena tempaan yang pernah diterimanya dari ayahnya sajalah, maka Swasti masih jalan dibelakangnya betapapun berat perjalanan itu. Yang dikatakan oleh Jlitheng hampir sampai itupun ternyata masih memerlukan waktu yang panjang. Mereka menyusup semakin dalamdiantara pepohonan. Semakin jauh mereka berjalan, maka semakin terasa pada kaki Kiai Kanthi, bahwa tanah memang menjadi semakin basah. Oleh ketajaman perasaannya, maka Kiai Kanthi pun mengetahui, bahwa perjalanan mereka memang sudah dekat. Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika ia mulai mendengar gemerisik air. Bahkan rasa-rasanya ia ingin meloncat berlari langsung menceburkan dir i kedalamnya. Namun ia masih menahan dir i. Apalagi ia menyadari bahwa ia belum pernah menginjak daerah itu. Daerah yang mungkin mempunyai rahasia yang dapat mencelakakannya. Ternyata seperti yang diduganya, maka Jlithengpun berkata, “Berhati-hatilah Kiai. Disini kita mendapatkan beberapa jalur parit yang curam dan dalam, yang menampung air yang meluap dari sebuah kolam.” “O, semacam luweng maksudmu ngger ?” “Ya. Luweng yang terbuka dan terbujur memanjang.” Kiai Kanthi tidak menjawab. Tetapi pendengarannya yang semakin jelas, seolah-olah telah memberikan gambaran, betapa berbahayanya daerah yang belum pernah dikenalnya itu. Namun akhirnya merekapun sampai kesebuah dataran yang agak luas. Hutan yang tumbuh pepat menunjukkan bahwa tanah dibawah kaki mereka adalah tanah yang basah dan subur. “Kita sudah sampai Kiai,“ desis Jlitheng, meskipun yang nampak disekitar mereka hanyalah kelebatan hutan semata- mata. Tetapi Kiai Kanthipun menangkap maksud anak muda itu. Iapun merasa bahwa ia telah sampai ketujuan. Hanya kelebatan hutan dan kelamnya malan sajalah yang masih member ikan jarak antara mereka dengan kolam yang sudah tidak jauh lagi dari mereka. “Kiai,“ berkata Jlitheng. “tugasku sudah selesai. Aku kira tidak ada lagi yang perlu aku kerjakan buat Kiai, seandainya ada seekor bahkan dua ekor har imau datang bersama-sama sekalipun, aku tidak per lu mencemaskan nasib Kiai dan anak gadis Kiai yang luar biasa itu.” “Kau memang aneh anak muda,“ jawab Kiai Kanthi, “namun demikian, aku kira kita masih akan berhubungan terus, seperti aku pun ingin selalu berhubungan kelak dengan angger Daruwerdi. Bukankah angger kenal baik dan bahkan mungkin bersahabat dengan angger Daruwerdi ?” “Tentu Kiai. Meskipun kelompok padukuhan kami dan kelompok padukuhan Daruwerdi diperintah oleh orang yang berbeda, tetapi kami tetap rukun seperti keluarga, karena pada dasarnya kami memang sekeluarga.” “Tetapi aku melihat kelainan pada sikap angger Daruwerdi,“ bertanya Kiai Kanthi. Anak muda yang menyebut dir inya Jlitheng itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang berbeda Kiai ?” “Menilik dari ujud lahir iahnya saja, ia berpakaian lain dari kawan-kawannya. Dan maaf, agak berbeda pula dengan pakaianmu ngger.” “Ah. Kiai aneh sekali. Sudah barang tentu pakaian kami berbeda-beda menurut selera kami masing-masing. Apakah Kai dapat melihat perbedaan selera memilih pakaian sebagai sesuatu yang perlu mendapat perhatian? Jika Kiai memperhatikan, mungkin terdapat kelainan pula pada pakaianku dengan pakaian kawan-kawanku dan sebaliknya.” Kai Kanthipun mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin angger benar. Ya, agaknya aku memang sudah pikun.” Jlitheng tertawa. Jawabnya, “Sudahlah Kiai. Aku mohon diri. Besok aku akan datang lagi ketempat ini. Mungkin sendiri mungkin bersama Daruwerdi. Ia tentu ingin juga bertemu dengan Kiai setelah ia menolong Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi aku kira Kiai belum mengatakan bahwa Kiai akan datang kemar i kepada Daruwerdi.” “Apakah angger akan memberitahukan kepadanya ?” bertanya Kiai Kanthi, “dan apakah itu per lu ?” Jlitheng mengerutkan dahinya. Dengan suara datar ia bertanya, “Jadi bagaimana pesan Kiai ?” “Sebaiknya jangan tergesa-gesa memberitahukan kerada siapapun ngger. Aku kira aku lebih senang melihat daerah ini untuk dua t iga hari, untuk dapat mengambil keputusan. apakah aku akan menetap atau kemungkinan itu terpaksa aku lepaskan karena daerah ini kurang memadai.” “Baiklah Kiai. Tetapi aku berharap Kiai akan kerasan tinggal dihutan ini. Disini ada air. Dataran yang cukup luas dan pohon buah-buahan yang dapat untuk sementara membantu Kiai. meskipun pepohonan yang memberikan buah-buahan yang dapat dimakan itu telah mengundang beberapa jenis binatang. Disini banyak kera Kiai. Tetapi kera itu bagaikan lenyap ditelan bukit, jika satu dua ekor harimau sampai ketempat ini.” “Terima kasih atas segala keterangan itu ngger. Aku akan melihat, apakah aku dapat berbuat sesuatu atas daerah ini.” Anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itupun sekali lagi minta dir i dan meninggalkan Kiai Kanthi serta anak gadisnya di daerah yang asing bagi keduanya itu. Sejenak Kiai Kanthi masih termangu-mangu. Ditebarkannya pandangan matanya kesekelilingnya. Tetapi gelap sisa malam masih sangat membatasi jarak jangkau tatapan matanya. Namun tatapan mata batin orang tua itu sudah melihat. bahwa didekat mereka terdapat sebuah kolam yang airnya melimpah menglir bertebaran, menuju keparit-parit dicelah- celah batu-batu padas yang seakan-akan telah disediakan oleh alam, yang membawanya kedalam arus sungai dibawah tanah. “Kita berist irahat Swasti,“ berkata ayahnya, “tidak lama lagi, kita akan sampai keujung malam. Kita akan segera menemukan air dan mempertimbangkan apakah kita dapat mempergunakan tempat ini. Setelah terang, baru kita akan mengetahui keadaan disekitar kita.” Swasti mengangguk. Dikuakkannya rumput-rumput liar dibawah kakinya. Namun desisnya kemudian, “Tidak ada tempat untuk tidur ayah. Tanah ini terlalu basah.” “Ya, tanahnya terlalu basah. Tetapi kau dapat beristirahat diatas dahan itu.” Swasti mengangkat wajahnya. Dilihatnya beberapa batang pohon besar. Dahannya yang bersilang melintang, member ikan kemungkinan untuk beristirahat kepadanya. “Tetapi apakah disini tidak ada laba-laba hijau yang beracun, atau sebangsa cicak berleher merah ?” “Mungkin memang ada Swasti, kita belum mengenal daerah ini baik-baik. Karena itu berhati-hatilah.” Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian mengumpulkan seonggok rerumputan liar dibawah sebatang pohon. Kemudian dijatuhkannya dirinya, duduk sambil bersandar. Perlahan-lahan angin yang silir terasa bagaikan membelai jantung, sehingga akhirnya, sambil duduk iapun memejamkan matanya. Ayahnyapun telah duduk didekatnya. Sejenak ia mengamati anak gadisnya. Dalam tidur nampak remang-remang di dalam kegelapan wajah gadis itu membayangkan beban yang berat menggantung dipundaknya. “Kasihan,“ desis ayahnya. Bagamampun juga sebagai seorang ayah ia dapat merasakan betapa berat perasaan anak gadisnya mengikut i cara hidup yang dipilihnya. Kadang- kadang terngiang kata-kata Daruwerdi tentang masa depan anaknya itu. “Kakek mementingkan dir i sendir i,” kata-kata itu bagaikan terdengar bergema direlung hatinya berulang-ulang. Kemudian, “Anak gadismu memer lukan masa depan sebagai seorang gadis sewajarnya.” “Ah,“ desah orang tua itu. Namun katanya kemudian didalam hati, seolah-olah ia telah mengucapkan janji. “Disini aku akan membuka sebuah padepokan. Aku akan berusaha member i kesempatan agar Swasti dapat hidup sebagai seorang gadis sewajarnya, berkawan dengan gadis-gadis yang lain dar i kedua kelompok padukuhan itu.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Sekilas ia melihat wajah anaknya yang muram. Kemudian keningnya menegang, ketika ia mendengar Swasti didalam tidurnya berdesah panjang. Ternyata bahwa malam segera sampai keujungnya. Langit menjadi merah. Sementara burung-burung liar berkicau bersahut-sahutan. Swasti membuka matanya. Dilihatnya ayahnya masih duduk memeluk lutut. “Ayah tidak beristirahat?“ bertanya Swasti. Tetapi Swasti sendiri mengerti bahwa ayahnya tidak akan dapat tidur j ika ia sendiri sedang tidur nyenyak. Ayahnya justru bangkit sambil menggeliat. Katanya, “Aku sudah cukup beristirahat. Alangkah nyamannya pagi yang bakal datang. Kita akan melihat, apakah yang ada disekitar tempat ini.” Swastipun kemudan bangkit pula. Setelah membenahi rambutnya maka iapun berkata, “Kita akan mencari mata air itu ayah.” Keduanyapun kemudian berjalan menyibak lebatnya gerumbul-gerumbul diantara batang-batang pohon besar yang tumbuh dihutan yang pepat itu. Namun seolah-olah Kiai Kanthi memiliki penglihatan jauh melampaui wadagnya, sehingga ia pun dengan tepat telah memilih arah yang benar menuju kesebuah kolam yang airnya melimpah-limpah disegala musim. Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Cahaya pagi sudah mulai menembus rimbunnya dedaunan hutan dan jatuh segumpal-segumpal diatas tanah yang lembab. Dengan tegang keduanya memandang air yang jernih meskipun kotor oleh daun-daun kering yang berjatuhan, tertimbun didasar. Warna lumut yang hijau dan batang-batang kayu yang berpatahan silang melintang. Namun dengan mata wadag, keduanya dapat melihat betapa kelompok-kelompok ikan berenang dekat didasar kolam, menyusup diantara setimbun sampah dan dahan-dahan yang rontok kedalam kolam itu. Di luar sadarnya Swasti berkata, “Tempat yang memungkinkan ayah. Kolam itu menyimpan ikan tidak terbilang banyaknya dari bermacam-macam jenis. Agaknya seperti yang dikatakan oleh Jlitheng. dihutan ini terdapat beberapa jenis pohon buah-buahan yang dapat dimakan.” Ayahnya mengangguk. Katanya, “Nampaknya kita menemukan tempat yang kita cari. Meskipun demikian, kita akan melihat barang satu dua hari. Apakah kita akan dapat membuka sebuah padepokan disini. Kita akan melihat, apakah hujan yang lebat tidak akan meruntuhkan tebing bukit itu dan menghancurkan lereng dibawahnya.” “Tetapi nampaknya kolam ini sudah berumur tua ayah. Jika tanah ditebing itu dapat diruntuhkan oleh air, maka kolam ini tentu sudah tertimbun, meskipun sedikit demi sedikit, tetapi itu terjadi setiap tahun dimusim basah.” Ayahnya mengangguk-angguk. Namun kemudan Swasti berkata, “Tetapi pohon besar itu ayah. Aku melihat kelainan dari pohon-pohon yang lain. Aku melihat didahannya terdapat jenis daun yang ber lainan.” Ayahnya memperhatikan pohon besar itu. Iapun melihat jenis daun yang berbeda. Namun iapun melihat serat-serat kayu yang berbeda pada batangnya yang besar, yang bagaikan anyaman sulur-sulur yang besar dan membelit tubuh batangnya. “Memang pohon itu mempunyai kelainan,“ berkata ayah Swasti. Namun kemudian, “kita akan mengetahui jika kita sudah berada disini.” Swastipun kemudian meletakkan sebungkus kecil pakaiannya. Katanya, “Aku akan membersihkan diri ayah. Aku memer lukan air itu.” Ayahnya mengangguk. Namun pesannya. Berhati-hatilah. Mungkin ditempat ini terdapat banyak ular atau binatang berbisa.” Swasti mengangguk sambil melangkah meninggalkan ayahnya memasuki gerumbul dan hilang di rimbunnya dedaunan. Ia mencar i arus air yang melimpah dari telaga yang jernih tetapi kotor itu. Rasa-rasanya Swasti sudah tidak tahan lagi. Dua har i ia tidak mandi. Ia hanya sempat mencuci wajahnya dipar it yang kebetulan dijumpainya diperjalanan. Tetapi Swasti terkejut ketika ia mendengar daun berdesir. Ketika ia menengadahkan wajahnya, ia bersungut-sungut karena dua ekor kera nampaknya sedang memperhatikannya. “Pergi,” bentak Swasti. Tetapi kera itu tetap ditempatnya. Baru ketika Swasti melemparnya dengan batu kerikil kera itupun melompat dari dahan kedahan yang lain. Sementara Swasti sedang mandi di belakang gerumbul, dengan air yang melimpah dari kolam yang bagaikan disaring oleh bebatuan sehingga daun-daun kering dan lumut yang terdapat ditelaga tidak mengotor i arus air itu. Kiai Kanthi dengan saksama memperhatikan tempat disekitarnya. Ketika ia menengadahkan kepalanya, dilihat disebelah lain dari kolam itu terdapat sebatang pohon gayamyang berbuah lebat. “Ada juga pohon gayam di sini,“ gumamnya. Namun bagi Kiai Kanthi hal itu merupakan isyarat yang baik. Untuk sementara pohon gayam itu akan dapat menjadi sandaran makan mereka sehari-hari disamping ikan yang berkeliaran di kolam dan binatang buruan dihutan. Bahkan dengan demikian ia yakin, bahwa ditempat itu tentu masih terdapat beberapa batang pohon gayam lainnya dan mungkin juga pohon yang lain yang dapat memberikan bahan makan baginya sebelum ia berhasil membuka sesobek ladang untuk menanampadi. Ketika kemudian Swasti kembali ketempat itu, maka hampir diluar sadarnya Kiai Kanthi berkata, “Aku sudah mendapat kepastian Swasti, bahwa kita akan t inggal disini.” Swasti menar ik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku senang ayah, bahwa aku tidak harus berjalan lagi menempuh jarak yang tidak pasti.” Kiai Kanthi memandang anaknya sejenak. Terasa dihatinya, betapa letihnya anak gadis itu meskipun ia tidak pernah membantah untuk mengikutinya kemana ia pergi. “Ya Swasti,“ suara orang tua itu menjadi dalam, “aku mengerti bahwa kau sudah t idak ingin lagi menempuh perjalanan yang melelahkan. Tetapi kita akan mendapat pekerjaan baru. Kita akan membuka hutan ini.” Swasti termangu-mangu. Dipandanginya beberapa jenis pohon yang besar yang tumbuh disekitar kolam itu. Suatu pekerjaan yang mustahil dilakukan. Bagaimana mungkin ia berdua dengan ayahnya akan dapat menebang pohon-pohon raksasa dan gerumbul-gerumbul perdu yang lebat dan bahkan diantaranya berduri. Kiai Kanthi agaknya melihat keragu-raguan anak gadisnya. Karena itu maka katanya, “Swasti. Sudah barang tentu kita tidak akan menebang pohon-pohon raksasa ini. Kita akan menebas pohon-pohon perdu dan membiarkan satu dua pohon besar yang tumbuh disana.“ “Jadi, kita tidak akan membangun padepokan ditepi telaga ini ayah ? Jika demikian, kenapa kita bersusah payah mengikut i arus air dibawah tanah itu ?” “Swasti. Kita sudah menemukan tempat ini. Tempat ini akan menjadi sumber dar i kehidupan dipadepokan yang akan kita bangun. Kita akan mengalirkan air yang tidak terkendali ini ketempat yang paling baik bagi sebuah padepokan. Tentu tidak jauh dari tempat ini.” Swasti mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud ayahnya. Dengan demikian yang harus mereka kerjakan adalah menebang perdu dan mungkin ilalang di sekitar tempat itu. yang kemudian harus menyiapkan sebuah parit untuk mengalir i daerah itu, agar dapat menjadi sawah yang subur, yang akan dapat menampung tebaran benih padi. “Kita akan berist irahat hari ini Swasti,“ berkata ayahnya, “alam telah menyediakan makanan bagi kita. Ikan di telaga itu, binatang buruan dihutan dan lihat, beberapa batang pohon gayam.” Swasti mengangguk-angguk. Namun wajahnya membayang harapan yang cerah. Apalagi kelika ayahnya berkata seterusnya, “Selanjutnya Swasti. kita akan bertetangga dengan dua kelompok padukuhan yang diperintah oleh dua orang buyut yang bersaudara kembar. Kita akan hidup dalam lingkungan yang lebih luas dan bersahabat dengan banyak orang.” Swasti menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu menyekat kerongkongannya. Setelah menempuh perjalanan yang panjang. meninggalkan padepokan yang hanyut oleh banjir dan tanah longsor, maka ditemuinya tempat tinggal yang akan dapat menjadi daerah harapan bagi masa depannya. Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, maka pada hari itu keduanya benar2 ingin berstirahat. Swasti memungut beberapa buah gayamterjatuh dan mengamat-amatinya. Namun dengan suara parau ia berkata, “Kita belum mempunyai belanga untuk merebusnya ayah.” Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan menghubungi orang-orang padukuhan kelak. Dihari ini kita akan mencari binatang buruan dan memanggangnya diatas api.” “Ada sebatang pohon jambu keluthuk ayah.” “Tentu tidak hanya sebatang. Bijinya akan terhambur dan tumbuh pohon-pohon yang lain disekitarnya.” “Ya. Ya. Ada beberapa batang. Tetapi beberapa ekor kera tentu telah mendahului memetik buahnya yang masak.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Teringat olehnya kata- kata anak muda yang menyebut drinya bernama Jlitheng. Anak muda itu akan kembali lagi untuk menengoknya, sehingga Kiai Kanthi itupun berkata, “Swasti. jika benar anak muda itu akan datang lagi, aku akan minta tolong kepadanya untuk meminjamkan belanga kepada kita.” Swasti memandang ayahnya sejenak. Tetapi ia tidak menyahut. Yang dilakukan oleh Swasti kemudian adalah duduk bersandar sebatang pohon sambil merenungi keadaannya. Merenungi dirinya dan masa depannya, sementara ayahnya berusaha untuk menangkap beberapa ekor ikan di telaga itu dengan kail. Dicarinya sepotong ranting kayu untuk mengikat serat pengikat kailnya yang sudah diberinya umpan. Ternyata Kai Kanthi tidak usah menunggu terlalu lama. Kailnya segera bergetar, dan seekor ikan telah menggelepar terkait oleh ujung kailnya. Dalampada itu. Jlitheng yang sudah tiba dirumahnya, sama sekali tidak mengatakan ke pada … bahwa ia telah bertemu dengan dua orang … sedang mengembara dan memasuki … kan iapun seperti yang dikatakan. … mengajaknya bersama- sama meng … gir telaga itu. Pertemuannya deng … kan pertanyaan didalam dirinya. … milih bukit itu untuk membangun … ditempatnya yang lama benar-benar sudah tidak memungkinkan bagi mereka untuk dapat hidup ? Atau kedatangannya ketempat ini didorong oleh maksud-maksud tertentu ? Sambil membelah kayu di kebun Jlitheng selalu berangan- angan tentang dua orang ayah dan anak itu. Bagaimanapun juga, ia harus menerima kehadiran orang-orang baru dengan curiga. Apalagi Jlitheng mengetahui dengan pasti, bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai Kanthi dan anak perempuannya yang bernama Swasti itu memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Jlitheng berpaling ketika ia mendengar seorang perempuan yang sudah separobaya memanggilnya. Dilihatnya ibunya berdiri di pintu sambil berkata, “Aku akan memetik daun ketela pohon sebentar Jlitheng. Kau tinggal dirumah saja. Jangan pergi.” “Baiklah biyung. Aku akan menyelesaikan kayu bakar ini,“ jawab Jlitheng. Namun tiba-tiba ia teringat kepada kedua ayah dan anak itu sehingga katanya kemudan, “tetapi nanti aku akan pergi sebentar biyung. Aku akan melihat apakah tanaman kita di pategalan dapat bersemi.” “Tunggu sampai aku pulang.” Jlitheng hanya mengangguk saja. Ketika ibunya meninggalkannya sendiri, maka Jlitheng malah berangan-angan kembali. Jlitheng terkejut ketika seorang anak muda sebayanya datang berlari-lari sambil memanggil namanya sejak di halaman depan rumahnya. Dengan serta merta iapun bangkit dan menyahut, “Aku disini.” Anak muda itupun segera melingkari rumahnya dan menemukannya dikebun belakang. “Jlitheng,“ katanya dengan nafas masih terengah-engah, “aku melihat Daruwerdi melintasi jalan kecil kebukit batu yang gundul itu lagi. Bahkan ia telah berjalan tidak dengan kawan- kawannya dari padukuhan sebelah. Aku melihat dua orang yang sama sekali belum aku kenal.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya ia berdesis, “Apakah ada hubungannya dengan orang tua itu.” “Orang tua yang mana ?“ bertanya kawannya. Tetapi Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Maksudku, apakah hubungannya dengan bukit batu yang gundul itu. Kita sudah melihat ia, dua tiga kali pergi ke bukit batu gundul itu.” Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia bertanya, “Sebenarnya apakah kepentinganmu dengan Daruwerdi sehingga kau menyuruh aku dan Jatra untuk member ikan kepadamu jika kami melihat Danuwerdi pergi ke bukit gundul itu?” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian duduk lagi sambil memungut parang kecilnya. Sambil membelah kayu ia menjawab, “Tidak ada kepentingan apa- apa. Tetapi kau lihat, bahwa bukit batu yang gundul itu benar- benar bukit batu padas yang keras dan tidak memberi kemungkinan apapun juga. Tetapi Daruwerdi sering pergi ke bukit itu. Aku sudah pernah melihat dua kali. Kau juga pernah melihat dua kali, tiga kali dengan sekarang ini dan Jatra pernah melihatnya sekali. Nah, bukankah hal itu sangat menarik perhatian ?” “Kenapa kau tidak bertanya saja kepadanya, apa yang dicarinya.” Jlitheng mengerutkan dahinya. Sambil tersenyum iapun kemudian berkata, “Duduklah disini.” Kawannyapun kemudian duduk disebelahnya. semenara Jlithengpun berkata, “Tentu saja aku tidak dapat berbuat demikian. Bahkan aku berharap bahwa Daruwerdi tidak mengetahui bahwa kita sedang mengawasinya, ia menganggap bahwa kita semuanya sama sekali tidak menaruh perhatian atas tingkah lakunya. Atau katakan, kami anak-anak pedukuhan yang bodoh ini tidak sempat memikirkan apakah yang dilakukan olehnya di pegunungan batu yang gundul itu. Apalagi kadang-kadang ia datang dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali.” Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi nampaknya ia tidak puas dengan jawaban Jlitheng. Sehingga Jlitheng perlu menjelaskan. “Dengarlah. Bukankah aku tidak minta kepada setiap orang untuk memperhatikan Daruwerdi ? Aku hanya percaya kepada kau dan Jatra. Itupun aku selalu berpesan, bahwa yang kita lakukan ini jangan diketahui oleh siapapum juga. Kawan-kawan kita yang lainpun jangan mengetahuinya. Baru kelak j ika kita sudah pasti mengetahui apa yang dilakukannya, maka kita akan memberitahukan kepada kawan- kawan dan kepada Ki Buyut.” “Kenapa dengan Ki Buyut?” “Maksudku, jika yang dilakukan oleh Daruwerdi itu akan merugikan kita semuanya disini.” “Apakah ruginya seandainya Daruwerdi akan menelan bukit batu yang gundul itu ?” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukit batu yang gundul itu memang tidak berarti. Meskipun letaknya di perbatasan antara dua kelompok padukuhan, namun baik Ki Buyut yang muda maupun Ki Buyut yang tua sama sekali tidak memperhatikannya. Tetapi kini Daruwerdilah yang menaruh perhatian besar terhadap bukit gundul itu.” Anak muda yang duduk disebelah Jlitheng itu mengangguk- angguk. Sementara Jlithengpun berkata terus, “Kita anak padukuhan ini. Kita wajib mengetahui apa saja yang terdapat dipadukuhan kita.” “Sebelum kau datang Jlitheng,“ sahut temannya, “gunung batu yang gundul itu sama sekali tidak mendapat perhatian kami disini.” “Agaknya memang demikian. Akupun tidak akan memperhatikan, jika Daruwerdi tidak memperhatikan gunung itu berlebihan.” “Coba sebutkan, siapakah yang datang lebih dahulu. Kau atau Daruwerdi.” Jlitheng tertawa. Katanya, “Mungkin aku, tetapi mungkin Daruwerdi. Aku tidak tahu pasti kapan ia datang. Yang aku ingat, aku tinggal di rumah biyung setelah pengembaraanku gagal. Aku tidak mendapat apa-apa dipengembaraan. Maksudku, agar hidupku dapat bertambah baik.” Anak muda disebelah Jlitheng itupun berpikir sejenak. Namun Jlitheng berkata, “Jangan bersusah payah mengingat saat kedatanganku dan kedatangan Daruwerdi. Tidak ada gunanya lagi.” Kawannya mengangguk-angguk. “Nah, aku masih tetap minta tolong kepadamu untuk member itahukan kepadaku jika kau melihat Daruwerdi datang kebukit batu yang gundul itu. Hanya jika kebetulan kau melihat. Kau tidak perlu dengan bersusah payah mengawasinya.” Kawan Jlitheng itupun termangu-mangu. Namun iapun kemudian mengangguk sambil berkata, “Karena kau sering menolong aku mengerjakan pekerjaanku disawah, maka aku tidak dapat menolak permintaanmu itu Jlitheng.” Jlitheng tertawa. Katanya, “Anggaplah ini sekedar suatu permintaan.” “Tetapi permainan ini berbahaya bagiku. Setiap orang mengetahui bahwa Daruwerdi bukannya anak muda seperti kita. Ia mempunyai banyak kelebihan dan pengetahuannyapun sangat luas.” Jlitheng mengangguk. Jawabnya, “Ya. Karena itu, lakukanlah dengan tidak menimbulkan kesan apapun padanya. Apalagi aku hanya ingin kau mengatakan kepadaku pada saat kau melihatnya tanpa membuang waktu khusus untuk mengawasinya. Adalah kebetulan bahwa sawahmu terletak dijalan menuju kebukit padas yang gundul itu.” “Bukan kebetulan. Tentu kau memilih aku dan Jatra karena sawah kami terletak didekat bukit itu.” Jlitheng tertawa. Jawabnya, “Tepat. Dan agaknya kau memang memiliki kecerdasan.” Kawan Jlitheng itupun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan kembali kesawah. tetapi coba katakan, apakah hasilnya aku dengan terengah-engah memberitahukan kepadamu bahwa sekarang Daruwerdi pergi kebukit padas itu. Kau, hanya mendengar berita sambil tersenyum, tertawa kemudian mengangguk-angguk. Sementara nafasku hampir putus dan jantungku berdebaran semakin keras.” Jlitheng tersenyum. Katanya, “Untuk sementara aku hanya ingin meyakinkan, bahwa ia memang sering sekali pergi kebukit gundul itu. Selebihnya masih per lu diselidiki. Dan kau tidak perlu berlari- lari begitu.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Iapun kemudian minta dir i untuk kembali kesawahnya. Sepeninggal kawannya, Jlitheng kembali duduk sambil membelah kayu. Beberapa potong ranting dan dahan-dahan kecil yang sudah terbelah dan terkelupas kulitnya, di jemurnya dibawah sinar matahari yang belum terlalu panas. Namun dalam pada itu, ia mulai teringat lagi kepada dua orang ayah dan anak gadisnya yang berada di bukit yang diselubungi oleh hutan yang meskipun tidak terlalu luas, tetapi cukup lebat. Tiba-tiba saja Jlitheng merasa bahwa ibunya telah terlalu lama pergi. Ia ingin segera melihat, apakah yang sudah dilakukan oleh Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang bernama Swasti itu. “Ibu tentu singgah di rumah tetangga,“ katanya kepada diri sendiri, “masih sepagi ini biyung sudah sempat membicarakan buruk baik tetangga-tetangga yang lain.” Tetapi ia tersenyum ketika melihat seorang perempuan berjalan-jalan perlahan-lahan sambil menj injing seikat dedaunan. “Sudah kau isi tempayan didapur itu?“ bertanya perempuan itu. “Sudah biyung. Pakiwanpun telah penuh dan kayu sudah kering sebagian. Tetapi tentu sudah ber lebihan untuk hari ini.” Perempuan itu mengangguk-angguk. Ketika melangkahi pintu masuk kedalam rumah ia sempat berkata, “Apakah kau akan pergi sekarang ?” “Ya biyung. Aku akan pergi ke pategalan.” “Aku sudah pergi kepategalan. Aku memetik lembayung, bukan daun ketela pohon.. Tetapi kalau kau akan pergi, pergilah. Tetapi jangan terlalu lama.” Jlitheng mengangguk sambil menjawab, “Aku hanya sebentar.” Ketika perempuan itu masuk, Jlithengpun menyelipkan parangnya didinding. Sejenak ia membenahi pakaiannya, sebelum ia dengan tergesa-gesa meninggalkan rumahnya. Namun demikian, Jlitheng masih sempat singgah di sawah sejenak. Dipandanginya bukit padas yang gundul diujung bulak sebelum jalan menjadi semakin sempit dan menuju kepadang perdu dipinggir hutan yang menyelubungi bukit agak jauh dari padukuhan. Bukit gundul itu memang menarik perhatiannya, karena Daruwerdi sering mengunjunginya. Tetapi ia tidak dapat langsung menyelidiki bukit padas itu, karena ia menduga, bahwa Daruwerdi mempunyai orang-orang yang dipercayainya mengawasi bukit gundul itu. Namun sejenak kemudian Jlithengpun meneruskan perjalanannya. Ia tidak mau menar ik perhatian orang lain, sehingga karena itu, maka iapun telah mencari jalan yang paling sepi. Ia singgah sebentar dipategalan, agar orang lain tidak memperhatikannya. Namun Jlitheng berharap, seandainya ada orang yang melihatnya pergi kehutan, mereka akan menganggapnya sedang mencari kayu bakar seperti yang sering dilakukannya untuk dit imbun di belakang rumah, sehingga apabila kayu itu sudah tertimbun banyak sekali, ia tidak perlu bersusah payah lagi untuk tiga empat pekan. Kedatangannya ditelaga dilorong bukit itu telah mengganggu Kiai Kanthi dan Swasti yang sedang beristirahat. Swasti tertidur sambil bersandar sebatang pohon besar, sementara Kiai Kanthi berbaring diatas sebuah batu meskipun ia tidak memejamkan matanya. “Silahkan Kiai,“ berkata Jlitheng ketika ia melihat Kiai Kanthi bangkit dan mempersilahkannya. “Aku sudah cukup lama beristirahat. Badanku terasa segar sekali. Swastipun sempat tidur setelah kita mencicipi ikan ditelaga itu.” Jlitheng mengangguk-angguk. Iapun melihat perapian yang tampaknya baru saja dipadamkan. Swasti yang terbangun pula, telah bergeser melingkari pohon tempat ia bersandar, seolah-olah ia dengan sengaja ingin menyembunyikan dir i. Agaknya, kelelahan dan keletihan yang sangat, membuat ia menjadi malas dan masih ingin melanjutkan tidurnya barang sejenak. “Aku sudah melihat beberapa puluh langkah disekitar tempat ini ngger,“ berkata Kiai Kanthi. Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika Kiai sependapat, sebenarnya aku sejak lama sudah mempunyai rencana. Tetapi bukan maksudku untuk mengatakan kepada Kiai, bahwa aku mempunyai kesempatan pertama. Kiai tetap orang pertama yang akan membuka kemungkinan baru bagi daerah ini dengan menguasai air.” “Apakah rencanamu ngger?” Jlitheng termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya aku tidak mengatakannya.” “Kenapa?“ bertanya Kiai Kanthi. “Seolah-olah aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat kemasa depan yang panjang. Dan seolah-olah aku tidak mau menerima kenyataan bahwa Kiailah orang yang pertama-tama melihat manfaat air di telaga ini.” Kiat Kanthi tersenyum. Katanya, “Aku bukan anak-anak ngger. Bukan pula orang yang ingin berada diatas nama orang lain. Apakah aku harus menutup penglihatanku tentang angger yang tentu sudah sejak lama memperhatikan air yang melimpah ini? Bukankah angger pernah berkata, bahwa hambatan yang paling besar datang dari sanak kadang dan tetangga angger sendiri yang menganggap bahwa setiap perubahan akan berarti pengingkaran terhadap peradaban yang telah ada ?” Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Terserahlah kepada Kiai. Tetapi j ika Kiai mau mendengar, biarlah aku katakan serba sedikit tentang sebuah impian.” “Katakan ngger?” “Kiai, dibawah bukit ini telah memerintah dua orang Buyut yang sebenarnya adalah saudara kembar.” “Aku sudah melihat tugu kecil bertulis yang merupakan batas dari dua kelompok padukuhan yang dipimpin oleh dua orang saudara kembar itu ngger.” “Ya Kiai. Tugu itu dibuat dekat sebelum Ki Buyut yang lama, yang menjadi tetua daerah ini wafat.“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Ternyata bahwa kedua anak kembarnya telah memenuhi harapannya. Mereka memimpin kedua kelompok padukuhan itu dengan rukun sampai saat ini. Nah, rencanaku itu adalah meyakinkan kedua orang Buyut itu bahwa air akan sangat berguna bagi sawah mereka yang kering dimusim kemarau.” “Kau sudah mencoba?” Jlitheng menggelengkan kepalanya. Katanya, “Belum Kiai.” “Kenapa ? Apakah Ki Buyut menurut pertimbanganmu juga tidak ingin melihat kemungkinan yang baik bagi masa depan itu ?” “Bukan Kiai. Aku memang belumsempat.” “Belum sempat? Apakah kerjamu selama ini?” Jlitheng tersenyum. Katanya, “Aku juga belum lama kembali kekampung halaman setelah aku pergi merantau, menjelajahi daerah yang luas.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah menduga. Angger tentu bukan sekedar anak padukuhan ini, tidak lebih dan tidak kurang, kedipan angger itulah yang membuat angger berbeda dengan kawan-kawan angger disini.” “Aku pergi sejak aku masih kecil. Itulah sebabnya ketika aku kembali kepada ibuku, seorang yang telah menjadi janda, banyak orang yang tidak dapat mengenali aku lagi. Bahkan orang-orang tua di padukulun inipun telah banyak yang melupakan, bahwa dari biyungku itu pernah lahir seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi besar diperantauan.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia mendapat sedikit gambaran tentang anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu. Jlitheng tentu bertemu dengan seseorang diperantauannya yang kemudian membimbingnya dalam olah kanuragan. Setelah ia mempunyai bekal yang cukup, maka ia melanjutkan perantauannya dan kemudian kembali ke kampung halamannya. Tetapi disamping Jlitheng masih ada seorang anak muda yang lain, yang bernama Daruwerdi. Mungkin anak muda itu mempunyai ceritera yang lain tentang dir inya. Terbersit keinginannya untuk bertanya sesuatu tentang Daruwerdi. Tetapi seperti yang pernah dilakukan, agaknya Jlitheng tidak dapat atau tidak mau mengatakan tentang anak muda yang agak lain dari kawan-kawannya dipadukuhan- padukuhan itu. Kiai Kanthi menarik nafas ketika Jlitheng bertanya, “Apakah yang Kiai renungkan ? Tentang perantauanku itu ? Atau tentang hal lain yang bersangkut paut dengan air itu ?” “Ya, ya ngger,“ Kiai Kanthi terbata-bata, “tentu tentang air yang melimpah itu. Tentang rencanamu untuk menguasai air dan memanfaatkannya bagi dua kelompok padukuhan itu. He, kau belum menyebut nama kedua padukuhan itu?” “Ditugu itu telah tertulis,“ jawab Jlitheng. “Yang ditulis hanyalah satu nama. Ki Buyut telah memer intah daerah yang bernama Lumban, yang terdiri dari beberapa padukuhan besar dan kecil dan tunduk kepada Yang Dimuliakan Maharaja Majapahit yang atas kehendaknya dan disetujui oleh para bebahu, telah membagi daerahnya menjadi dua bagian yang akan dipimpin masing-masing oleh seorang dari kedua anak kembarnya.” “Nah, itulah namanya. Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Ki Buyut yang tua memerintah Lumban Kulon, sedang Ki Buyut yang muda memimpin kelompok-kelompok padukuhan di Lumban Wetan. Pembagian itu telah terjadi pada masa kedua anak kembar itu masih muda. Sejak daerah ini masih langsung tunduk dibawah kekuasaan Majapahit serta para Adipati dibawah kuasanya. Sekarang, setelah kekuasaan berpindah ke Demak, dengan sendirinya kami berada dibawah kekuasaan Sultan Demak. Dan kedua orang Buyut itu sudah menjadi kakek-kakek. Sebenarnya kini anak-anak merekalah yang mengambil alih pimpinan atas daerah Lumban Kulon dan Lumban Wetan.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Gambarannya mengenal daerah yang dihadapinya menjadi semakin jelas. “Nah Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “Kiailah orang yang pertama-tama akan melakukan pekerjaan yang tentu akan sangat bermanfaat bagi daerah Lumban seluruhnya. Aku akan mencoba menjadi penghubung kelak dengan kedua Buyut yang sudah tua itu, namun yang masih dengan tekun berusaha memimpin daerah masing-masing sebaik-baiknya.” “Terima kasih ngger. Tetapi yang dapat aku lakukan dengan anak gadisku tentang merupakan pekerjaan yang sangat lamban dan mungkin t idak banyak manfaatnya.” Jlitheng tertawa. Katanya, “Kiai, bukan maksudku untuk mengurangi kemungkinan yang dapat Kiai lakukan. Tetapi adalah benar-benar karena aku ingin melihat manfaat dari air seperti yang Kiai kehendaki.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “apakah Kiai tidak berkeberatan jika aku membantu Kiai. Mungkin Kiai memerlukan tenaga seorang laki-laki untuk membantu Kiai bukan saja membuat parit untuk mengarahkan arus air itu, tetapi juga untuk membuat sebuah gubug kecil sebelum Kiai sempat membuat sebuah rumah yang pantas.” Tiba-tiba saja sebelum Kiai Kanthi menjawab, terdengar suara Swasti dari balik pohon, “Itu tidak perlu ayah. Kita yang sudah menetapkan rencana sejak kita belum bertemu dengan siapapun, harus berani melaksanakan sampai selesai tanpa orang lain.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun Kiai Kanthilah, yang menjawab, “Swasti. Hatimu memang keras. Tetapi kita jangan menyia-nyiakam setiap uluran tangan. Memang kita yang sudah terbiasa hidup terpisah karena kita tenggelam dalam kesibukan padepokan, kadang-kadang merasa bahwa kita akan dapat menyelesaikan semua persoalan kita tanpa orang lain. Di Pucang Sewu kita kurang rapat berhubungan dengan orang-orang padukuhan, sehingga kita terlalu yakin akan dir i kita sendir i. Swasti, sebaiknya kita merubah cara hidup yang demikian. Setidak-tidaknya kita mulai mencoba menyesuaikan dir i dengan daerah yang baru ini.” Sejenak Kiai Kanthi menunggu. Tetapi ia tidak mendengar lagi jawaban anaknya. Orang tua itu sadar, bahwa kata- katanya tentu tidak memberikan kepuasan sepenuhnya pada anaknya. Tetapi ia akan mencoba untuk melakukannya. Mencoba untuk memperbaharui tata cara hidupnya diantara orang banyak. “Angger,“ berkata Kiai Kanthi kemudian, “sebelumnya kami mengucapkan terima kasih. Mungkin kami masih harus belajar menyesuaikan dir i dengan kehidupan kami yang baru di daerah Lumban ini.” Jlitheng tersenyum. Katanya, “Baiklah Kiai. Tentu akupun akan mencoba menyesuaikan dir i dengan cara hidup Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi Kiai jangan terlalu cemas. Aku telah melaksanakan pesan Kiai untuk sementara tidak berceritera tentang kedatangan Kiai dan rencana Kiai menetap disini. Tetapi jika Kiai mulai berbuat sesuatu disini, maka tanpa mengatakan kepada siapapun juga, orang-orang Lumban tentu akan mengetahuinya juga.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Tentu ngger. Tetapi nampaknya orang-orang Lumban adalah orang yang ramah seperti angger.” Jlitheng tertawa. Kemudian katanya, “Aku akan pulang dahulu Kiai. Besok aku akan datang sambil membawa alat-alat yang Kiai perlukan. Aku akan datang sebelum matahari terbit agar tidak menarik perhatian orang lain j ika mereka melihat aku membawa kapak, cangkul dan alat-alat lain.” “Terima kasih ngger. Aku juga sudah membawa satu dua macam alat seperti itu. Tetapi memang kurang mencukupi. Karena itu, kami berterima kasih jika angger bersedia membawa untuk kami,“ Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu sejenak. Baru kemudian ia melanjutkan, “tetapi selain alat-alat itu. sebenarnyalah kami memer lukan belanga dan tempayan.” Jlitheng mengerutkan keningnya, namun iapun kemudian tertawa pendek. Katanya, “Baiklah Kiai. Aku akan membawa belanga, kelenting dan tempayan.” Sesaat kemudian Jlitheng itupun telah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang bersungut-sungut. Dengan nada datar Swasti berkata, “Ayah sudah menyeret orang lain dalam kerja ini.” Ayahnya tersenyum. Jawabnya, “Jangan marah Swasti. Pertolongan itu harus kita terima. Nampaknya Jlitheng bukan seorang yang mempunyai pamrih terlalu banyak. Apalagi ia memang sudah mempunyai rencana sebelumnya.” “Tidak. Rencana itu baru timbul di kepalanya setelah ia bertemu dengan ayah.” “Kau salah Swasti. Jlitheng tentu sudah memperhatikan air ini sejak lama. Jika tidak, ia tidak akan mengenal daerah ini demikian baiknya seperti mengenal halaman rumahnya sendiri.” Swasti tidak menjawab. Agaknya yang dikatakan ayahnya itu memang benar. Dalam pada itu, Jlitheng telah turun dengan tergesa-gesa agar ibunya tidak menunggunya terlalu lama. Ia masih harus mencari beberapa potong kayu untuk menghilangkan jejak pertemuannya dengan orang tua yang masih belum bersedia untuk dikenal oleh orang lain itu. Tetapi Jlitheng tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa potong kayu. Bahkan dalam waktu yang singkat ia sudah memanggul seonggok kayu yang sudah agak kering. Namun langkahnya terhenti ketika ia sampai dipinggiran hutan itu. Ia mendengar suara orang bebantah. Cukup keras, sehingga suaranya menembus pepohonan yang sudah mulai menipis. Karena itu, maka Jlithengpun kemudian sangat berhati-hati. Ia jarang mendengar orang-orang Lumban berbantah. Bahkan seandainya mereka orang Lumbanpun. apakah yang mereka cari dipinggir hutan itu ? Debar jantung Jlitheng menjadi semakin keras ketika suara itu menjadi semakin dikenal. Diluar sadarnya ia berdesis, “Daruwerdi.” Sebenarnyalah ketika ia dengan sangat berhati-hati berhasil mengintip dari balik gerumbul-gerumbul yang lebat di pinggiran hutan itu, ia melihat Daruwerdi sedang berbantah dengan dua orang yang berwajah kasar. “Aku tidak akan berkata apa-apa tentang pusaka itu,“ berkata Daruwerdi. “Kau jangan membuat kami marah,“ sahut salah seorang dari kedua orang berwajah kasar itu, “Kiai Pusparuri sudah member ikan wewenang kepadaku untuk mendapat keterangan tentang pusaka itu dari seorang anak muda dari Lumban yang bernama Daruwerdi. Apakah kau masih akan ingkar.” “Sudah seribu kali aku katakan. Aku tidak ingkar. Aku adalah Daruwerdi yang mengerti serba sedikit tentang pusaka- pusaka itu. Tetapi aku hanya akan berbicara dengan Kiai Pusparuri sendir i atau kepada seekor ular sanca bertanduk genap.” “Persetan, aku tidak mengerti kata-katamu. Jangan mengingau seperti orang gila. Katakan sesuatu tentang pusaka itu, atau berikan saja kepada kami jika memang sudah berhasil kau dapatkan.” Daruwerdi menjadi semakin tegang. Dari balik gerumbul Jlitheng melihat, bagaimana anak muda itu berusaha mengendalikan dir i. “Ki Sanak,“ berkata Daruwerdi, “jangan memaksa. Kecuali jika aku berhadapan dengan seekor ular sanca bertanduk genap.” “Anak iblis. Kenapa kau mengigau tentang ular sanca. Kiai Pusparuri sudah member ikan wewenang kepada kami untuk melakukan apa saja. Aku harus kembali kepadepokan Pusparuri dengan keterangan yang jelas atau membawa pusaka itu langsung untuk kami serahkan kepada guru.” Daruwerdi menggeleng. Jawabnya, “Ki Sanak. Jelas bahwa kalian bukannya utusan Kiai Pusparuri. Kalian sama sekali tidak membawa tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri.” “Aku adalah muridnya terpercaya. Aku memakai sabuk kulit ular. He, apakah sabuk semacam ini yang kau maksud dengan ular sanca, bertanduk genap ?” Daruwerdi tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Ikat pinggang semacam itu dapat dibuat oleh siapa saja. Setiap orang dapat menangkap seekor ular sanca, kemudian mengambil kulitnya.” “Jadi apa yang kau maksud dengan tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri. Dan apakah yang kau maksud dengan ular sanca bertanduk genap?” “Itulah yang menunjukkan kepadaku, bahwa kalian sama sekali bukan utusan dari padepokan Pusparuri. Jika kau memang murid Kiai Pusparuri, kalian akan dapat mengatakan, ciri-ciri khusus dari padepokan itu atau kalian tahu pasti siapakah ular sanca bertanduk genap itu.” Wajah kedua orang itu menjadi merah padam. Yang bertubuh tinggi besar menggeram, “Persetan. Menurut Kiai Pusparuri, hari ini aku harus menjumpaimu disini. Kau kira dari siapa kami mengetahui, bahwa aku harus datang menemuimu disini ?” Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Mungkin kau dapat menyadap rahasia pertemuan itu. Tetapi aku tetap yakin, bahwa kalian bukan mur id Kiai Pusparuri.” “Jadi, kau tetap tidak mengakui kehadiran kami ? Tempat ini hanya kami ketahui dari Kiai Pusparuri. Nama Daruwerdipun kami dengar dari Kiai Pusparuri. Pesan untuk mengenakan ikat pinggang kulit ular sanca inipun diucapkan oleh Kiat Pusparuri pula. Jika mungkin Kiai Pusparuri lupa member ikan pesan yang lain, itu bukan salah kami.” Daruwerdi memandang kedua orang itu berganti-ganti. Namun akhirnya dengan ketetapan hati ia menggeleng dan menjawab tegas, “Tidak. Aku tidak percaya kepada kalian.” Kedua orang itu benar-benar sudah kehilangan kesabaran Seperti Daruwerdi sendiri. Karena itu, maka ketika kedua orang itu bergeser merenggang, Daruwerdi justru meloncat surut sambil mempersiapkan dir i menghadapi segala kemungkinan.” “Kau memang terlalu sombong anak Lumban. Setinggi2 tinggi ilmu yang pernah kau capai, kau adalah anak padukuhan kecil dan miskin. Apalagi kau berhadapan dengan dua orang sekaligus. Jika kau masih mempunyai otak, pikirlah sepuluh kali lagi, sebelum kau menyesal.” Daruwerdi menggeram. Dengan suara datar ia menjawab, “Jangan mengigau lagi. Sebut siapa sebenarnya kalian berdua sebelum kalian mati.” “Gila. Kau, anak Lumban, akan membunuh kami berdua?” “Kita akan melihat, siapakah yang akan terbunuh.” Sejenak kedua orang berwajah kasar itu termangu-mangu. Namun salah seorang berkata, “Aku akan menyampaikan kepada Kiai Pusparur i, bahwa kami terpaksa membunuh anak Lumban yang bernama Daruwerdi, karena ia sudah menghina utusan yang mendapat wewenang sepenuhnya dari padepokan Pusparuri.” Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap sepenuhnya untuk bertempur melawan kedua orang itu. Namun dalam pada itu, ketiga orang yang sudah bersiap untuk berkelahi itu telah dikejutkan oleh suara derap seekor kuda. Ketika ketiganya berpaling, maka mereka melihat seekor kuda yang berpacu mendekat. Dipunggung kuda itu nampak seorang penunggang yang nampaknya sudah terlalu lemah, sehingga seolah-olah tertelungkup memeluk leher kudanya. Daruwerdi terkejut, Iapun segera meloncat menyongsong penunggang kuda itu. Dengan serta merta ia berusaha meraih kendali dan menahan kuda itu sehingga berhenti, sementara orang yang duduk dipunggungnya benar-benar telah menjadi terlalu lemah untuk menarik kendali. “Gila,“ tiba-tiba saja orang yang bertubuh tinggi dan besar itu menggeram, “aku binasakan monyet yang ternyata belum mati itu.” Tetapi kawannya menahannya. Katanya, “Tidak ada gunanya. Biarlah ia berceritera apa yang terjadi. Anak Lumban itu memang keras kepala. Jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ia akan menyadari, dengan siapa ia berhadapan.” Orang yang bertubuh tinggi besar itu tertegun. Ia hanya flSSfiaSSfi saja ketika Daruwerdi menolong penunggang kuda yang ternyata telah terluka parah itu. Dilambungnya tergantung sepasang sarung pedang, tetapi sudah kosong. “Sapa kau ?“ Daruwerdi meyakinkan. “ular sanca bertanduk genap?” “Ya,“ suaranya lemah, “bermata berian dan bertaring baja.” “Tepat. Tetapi kenapa kau ?” “Tandukku telah patah dan taringku telah lepas,“ suaranya semakin lemah, “aku sudah menduga bahwa keduanya akan datang kemar i. Mereka berhasil menyadap rahasia pertemuan ini. Mereka mencegat aku diperjalanan. Mereka mencoba membunuh dan melepas ikat pinggangku. Tetapi aku yakin, kau tidak akan mengatakan sesuatu kepada mereka.” “Aku tahu bahwa mereka bukan utusan Kiai Pusparur i. Tetapi bagaimana dengan kau ?” Orang itu menjadi semakin lemah. Namun dalam pada itu terdengar kedua orang kasar itu hampir berbareng tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Ia akan mati. Aku tidak peduli apakah ia akan mengatakan siapa sebenarnya kami berdua, karena anak Lumban itupun akan segera mati pula. Biarlah kita tidak mendapatkan rahasia tentang pusaka itu. Tetapi jika anak itu mati, maka Pusparur i tentu tidak akan mendapatkannya pula. Kita akan mulai bersama-sama dari permulaan, karena kita sama-sama tidak mempunyai bahan apapun juga. Dalam berlomba dengan orang-orang Pusparuri, kita masih mempunyai harapan.” Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia hanya mengangguk- angguk kecil. Sementara itu, Daruwerdi masih menekuni orang yang terluka parah. Terdengar ia mengucapkan sepalah dua patah kata yang tidak jelas. Namun tiba-tiba setelah meletakkan kepala orang itu diatas rerumputan. Danuwerdi berdiri tegak. Dengan suara bergetar ia berkata, “Jadi kalian adalah sepasang demit yang paling gila di pesisir Utara. Menurut utusan Kiai Pusparur i, kalian berdua adalah mur id-mur id dari perguruan Kendali Put ih.” Keduanya tertawa berbareng Orang yang bertubuh tinggi besar menyahut, “Ya. Kami datang dari perguruan Kendali Putih dipesisir Lor. Kami berdua telah mencegat tikus kecil yang ternyata kau sebut sebagai ular sanca bertanduk genap. Tetapi ia bukan seekor ular. Ja tidak lebih dar i seekor tikus.” “Gila. Kalianlah yang tidak malu. Kalian berdua telah berkelahi seperti perempuan. Kalian tidak berani berperang tanding menghadapi Ular Sanca bersenjata rangkap ini. Dan sekarang, kalianpun tentu akan berbuat serupa.” Keduanya tertawa. Yang seorang menjawab, “Nasibmulah yang buruk. Kau akan mengalami luka parah dan akan mati. Aku kira tikus itupun sudah mati ketika dengan tergesa-gesa aku datang ketempat ini menggantikan kedudukannya. Tetapi, aku masih mempunyai pertimbangan. Jika kau mau mengatakan sedikit saja mengenai rahasia pusaka itu, maka kau akan tetap hidup.” “Persetan. Tidak ada orang yang akan tetap tinggal hidup jika ia tidak berusaha melindungi hidupnya sendiri dihadapanmu. Setiap orang mengenal perguruan Kendali Putih yang sama sekali t idak memiliki warna putih seperti namanya walau sepeletikpun.” “Jika demikian, kaupun akan mati seperti murid Pusparuri itu.” Daruwerdi menggeram. Ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun ia masih sempat berkata kepada orang yang lerluka parah itu, “Kuatkan. Aku akan membunuh keduanya, dan aku akan berusaha mengobati luka-lukamu. Di Lumban ada seorang dukun yang pandai.” Yang terdengar adalah kedua orang murid dar i Kendali Putih itu tertawa. Yang seorang berkata, “Puaskan dir imu dengan angan-angan gila itu. Baru kemudian kau akan mati.” Daruwerdi tidak menjawab. Ia bergeser setapak. Kemudian berdiri dengan kaki renggang dan merendah diatas lututnya. Orang yang bertubuh tinggi besar itulah yang tidak sabar lagi. Dengan garangnya ia segera menyerang lawannya. Ia tidak mau membuang banyak waktu, sehingga dengan serta merta ia sudah mempergunakan senjatanya yang mengerikan. Sebatang besi sepanjang pedang yang kasar dan dibeberapa tempat nampak seolah-olah bergerigi tajam. Sementara kawannyapun telah mencabut senjatanya pula. Benar2 sebuah pedang yang besar. “Sebutlah nama ayah bundamu untuk yang terakhir kali,“ geramorang bertubuh tinggi dan besar itu.” Daruwerdi meloncat mengelakkan serangan lawannya sambil berdesis, “Kita akan melihat, siapakah yang akan mati. Aku atau kalian berdua.” Kedua lawan Daruwerdi t idak menjawab. Mereka serentak menyerang dengan garangnya. Senjata mereka terayun-ayun menger ikan, sementara orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram seperti seekor harimau yang merunduk mangsanya. Daruwerdi tidak mau menjadi korban senjata-senjata lawan yang mengerikan itu. Iapun kemudian mencabut pedangnya pula. Dengan lincahnya ia berloncatan melawan kedua lawannya yang ternyata sangat garang dan kekar. Beberapa langkah dari arena itu, murid dar i perguruan Pusparuri yang sudah menjadi semakin lemah, mencoba untuk melihat pertempuran yang sengit itu. Meskipun pandangan matanya mengabur, namun ia melihat, betapa kasarnya orang-orang dari perguruan Kendali Put ih itu. Seperti yang telah terjadi, maka ia tidak dapat mengelakkan dir i dari bencana melawan keduanya. Meskipun keseimbangan perasaannya tidak secerah saat- saat ia belum terlukai, namun ia masih dapat melihat, bahwa kedua orang Kendali Pulih itu memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, disamping sifat mereka yang kasar dan liar. Tetapi Daruwerdi dengan segala kemampuannya, berusaha untuk dapat mengimbangi lawannya, ia tidak mau jatuh menjadi korban seperti mur id Kiai Pusparuri yang. diberi nama di Ular Sanca bertanduk genap itu. Selain mur id dari perguruan Pusparuri itu. dibelakang gerumbul masih ada orang lain yang memerhatikan perkelahian itu dengan saksama. Sekali-kali nampak keningnya berkerut. Namun kemudian anak muda dibelakang gerumbul itu menark nafas lega. Jlithengpun mengikut i perkelahian itu dengan dada yang berdebar-debar. Ia melihat kegarangan dua orang dari perguruan Kendali Putih. Mereka bertempur bukan saja dengan ilmu yang mapan, tetapi mereka kadang-kadang juga berteriak2 dan membentak2 seperti orang-orang yang kerasukan setan. Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Kadang-kadang ia menjadi bingung, apakah ia akan tetap bersembunyi ditempatnya. Apakah ia akan tetap membiarkan tingkah laku yang tidak jujur dari orang-orang Kendali Putih. Setelah usahanya untuk menipu Daruwerdi tidak berhasil, maka ia mempergunakan kekerasan untuk membinasakannya sama sekali. Tetapi Jlithengpun merasa bimbang, karena dengan demikian, maka ia akan terlibat dalam persoalan yang tidak diketahuinya, dan yang bahkan justru ingin diketahuinya. Mungkin peristiwa itu ada hubungannya dengan tingkah laku Danuwerdi yang kadang-kadang menar ik perhatiannya. Terutama karena Daruwerdi mempunyai perhatian yang khusus terhadap bukit padas yang gundul itu. Selagi Jlitheng termangu-mangu, maka perkelahian itupun menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa Daruwerdi benar- benar seorang yang memiliki kemampuan yang sangat mengagumkan. Karena itulah maka kedua orang dari Perguruan Kendali Putih itu menjadi heran. Mereka mengira bahwa anak muda dari Lumban itu tidak akan terlalu sulit diselesaikan. Menurut dugaan mereka, mur id Pusparuri itu sama sekali tidak berdaya melawan mereka berdua. Apalagi anak padukuhan terpencil. Tetapi ternyata bahwa Daruwerdi mampu mengimbangi kemampuan mereka berdua. Dencan tangkas Daruwerdi berloncatan menghindar i serangan senjata lawan. Tetapi dengan tangkas pula ia berloncatan menyerang. Pedangnya berputar seperti baling-baling. Tetapi tiba-tiba saja terayun mendatar menyambar perut. Namun kadang-kadang terjulur mematuk seperti seekor ular bandotan. Kedua lawannya menjadi bingung. Pedang ditangan Daruwerdi seolah-olah beterbangan disekitar tengkuk dan lambung mereka. Dengan demikian maka kedua orang dari Perguruan Kendali Put ih itu bertempur semakin kasar. Mereka mencoba untuk menyerang Daruwerdi dar i dua arah yang berbeda. Dengan demikian mereka mencoba untuk memecah perhatian anak muda dar i Lumban itu. Tetapi ternyata mereka tidak berhasil. Daruwerdi mampu menempatkan dirinya. Iapun mengimbangi langkah- langkah lawannya yang panjang. Dengan tepat ia meloncat menempatkan diri pada sisi yang lepas dari gar is serangan lawannya. Bahkan tiba-tiba saja ialah yang meloncat dan mengejutkan lawannya dengan serangan yang tidak terduga. “Darimana anak Lumban ini mendapatkan ilmu iblis itu,“ geramsalah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu. Daruwerdi yang juga mendengarnya menjawab, “Aku t idak pernah mempelajari ilmu apapun. Tetapi karena kalian menempuh garis hidup yang salah, maka ada sajalah yang membantu aku untuk membunuh kalian berdua.” “Persetan dengan tahayul itu,“ geram orang yang tinggi besar, “kekuatan dan ilmu kanuragan akan menyelesaikan semua masalah. Kaupun akan segera mati dengan perut terbelah.” Daruwerdi tidak menjawab. Ia memusatkan perhatiannya kepada serangan lawannya. Ketiga orang itupun kemudian berputaran Senjata mereka telah terayun menghantam dahan-dahan pepohonan. Gerumbul-gerumbul perdu dipinggir hutan itu bagaikan terbabat bersih, sementara batang besi orang bertubuh tinggi itu telah mematahkan pepohonan diarena perkelahian itu. Jlitheng menjadi cemas. Jika arena itu menjadi semakin luas dan sempat ketempatnya bersembunyi. maka ia tidak akan ingkar lagi. Ia harus terlibat kedalam persoalan yang belumdimengertinya itu. Untunglah, bahwa berkisarnya arena pertempuran itu t idak menuju kearah tempat Jlitheng bersembunyi. Karena itu, ia tetap berada ditempatnya untuk melihat akhir dari pertempuran yang mendebarkan jantung itu. Yang semakin lama menjadi semakin seru. Langkah- langkah mereka menjadi semakin cepat, sedang ayunan senjata merekapun menjadi semakin mengerikan. Angin yang terbersit dari ayunan senjata mereka yang bertempur itu telah dapat mengguncang dahan- dahan kayu dan menggugurkan dedaunan yang mulai menjadi kuning. Namun semakin lama menjadi semakin nyata, bahwa Danuwerdi t idak dapat dikuasai oleh kedua orang Kendali Putih itu seperti mur id perguruan Pusparuri yang berhasil mereka lukai. Bahkan semakin lama Daruwerdi menjadi semakin cepat bergerak. Senjatanya semakin garang menyambar-nyambar. Dengan sebuah loncatan panjang Daruwerdi menyerang orang yang bertubuh tinggi besar itu dengan ayunan senjata mendatar. Namun t iba-tiba ia menggeliat dan kakinya yang menyentuh tanah telah melontarkannya tinggi-tinggi. Serangannya segera berubah. Pedangnya terayun menyambar kepala, seolah-olah Daruwerdi ingin membelah kepala itu pecah menjadi dua. Dengan serta merta orang bertubuh tinggi besar itu menyilangkan senjatanya untuk menangkis serangan yang mengejutkan itu. Sambil bergeser setapak ia memir ingkan kepalanya. Ketika sebuah benturan terjadi, maka bunga apipun telah berloncatan diudara. Kedua senjata ditangan dua orang yang berilmu tinggi itu bergetar. Namun ternyata bahwa tangan mur id dar i Kendali Putih itu terasa bagaikan tersayat. Senjatanya hampir saja terlepas dar i tangannya yang bagaikan terkelupas. Dengan loncatan panjang orang itu menjauhi lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Tetapi agaknya Daruwerdi menyadari, bahwa keadaan lawannya itu menjadi semakin lemah. Karena itu, ia tidak mau melepaskan kesempatan itu. Dengan cepat, iapun meloncat menyusul. Tetapi Daruwerdi terpaksa berputar ketika ia sadar, lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya pula dengan pedang terjulur. Ternyata bahwa lawannya itupun mampu bergerak cepat dan langsung memotong serangannya. Daruwerdi berputar. Selangkah ia bergeser, sehingga pedang lawannya terjulur sejengkal dar i lambung. Dengan cepat Daruwerdi memperhitungkan keadaan. Ia sengaja melepaskan lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Kini ia melihat pedang yang terjulur lurus. Karena itulah, maka dengan serta merta ia memukul pedang itu dengan, sekuat- kuat tenaganya. Getaran dari benturan pedang itu terasa menggigit telapak tangan lawannya. Betapapun ia berusaha, namun pedang itu telah meloncat dari genggaman. Yang dihadapi oleh Daruwerdi adalah seorang yang tidak bersenjata. Karena itu, maka jika ia berhasil memutar pe- dangnya mendatar, maka ia akan dapat menyobek dada lawan menyilang. Tetapi pada saat yang bersamaan, orang bertubuh tinggi kekar itu telah mencoba menyelamatkan kawannya. Iapun menyerang dengan serta merta. Dengan senjata ia memukul punggung Daruwerdi sekuat-kuat tenaganya. Daruwerdi menggeram. Ia terpaksa meloncat menghindari serangan itu. Namun demikian kerasnya ayunan senjatanya, maka orang itu justru terhuyung-huyung selangkah terseret oleh ayunan senjatanya sendiri. Kawannya melihat suatu kemungkinan untuk memungut senjatanya yang terjatuh. Dengan satu loncatan ia berusaha meraih pedangnya. Namun yang satu loncatan itu ternyata telah menyeretnya kedalam pelukan maut, karena ujung pedang Daruwerdi seolah-olah telah menunggunya dan langsung menghunjam kedalam jantungnya. Terdengar sebuah keluhan tertahan. Namun ketika Daruwerdi menarik pedangnya, maka orang itu langsung jatuh ditanah. Mati. Saat-saat yang demikian itu telah mengguncangkan hati lawan Daruwerdi yang lain. Ia mencoba mempergunakan saat- saat Daruwerdi menarik pedangnya yang terhunjam ketubuh lawannya. Sebuah ayunan yang keras menghantam tengkuknya. Namun Daruwerdi masih sempat mengelak. Demikian pedangnya terlepas dari himpitan tubuh lawannya, iapun segera meloncat mundur. Namun lawannya yang bagaikan menjadi gila menyerangnya dengan serta merta. Sebuah sambaran mendatar telah mengarah kelambung. Daruwerdi terpaksa menghindarinya pula. karena ia belum siap untuk menangkis serangan itu. Namun ia terlambat sedikit sehingga ujung tongkat besinya masih juga menyambar lengannya. Daruwerdi berdesis. Lengannya telah tersobek oleh gerigi yang terdapat pada tongkat besi yang menger ikan itu. Namun dengan demikian hatinya serasa menjadi terbakar. Kemarahan anak muda itu telah memuncak, sehingga wajahnya menjadi merah padam semerah darahnya yang telah mangalir dari lukanya. Tetapi Jlitheng yang melihat pertempuran itu dari permulaan segera dapat menilai, bahwa yang seorang itu tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Luka dilengan Daruwerdi tidak akan banyak mempengaruhinya. Bahkan kemarahannya benar-benar telah memuncak, sehingga tandangnyapun menjadi semakin garang. Setelah murid Kendali Putih yang seorang terbunuh, maka orang bertubuh tinggi besar itu tidak akan banyak dapat member ikan perlawanan. Segera ia terdesak. Betapapun ia mencoba melindungi dir inya dari sambaran pedang Daruwerdi yang marah itu, namun ia tidak banyak berhasil. Rasa- rasanya, kejaran maut telah menjadi semakin dekat ketika ujung pedang Daruwerdi berkali-kali telah berdesing ditelinganya. Dan waktupun rasa-rasanya menjadi semakin pendek bagi orang bertubuh tinggi besar itu. Ia tidak dapat berteriak lagi karena nafasnya menjadi semakin pendek. Hidungnya justru seolah-olah telah tertutup oleh dengusnya sendiri, sementara dadanya menjadi sesak. Daruwerdi tidak banyak memberinya kesempatan. Ia memburu dengan garangnya, ketika lawannya mencoba menghindarinya dengan loncatan-loncatan surut. Jlitheng memalingkan wajahnya ketika tiba-tiba saja ia melihat pedang Daruwerdi menyambar perut lawannya. Justru singgungan pada ujung pedang yang tajam itu, perut lawannya bagaikan tersayat melintang. Orang bertubuh tinggi besar itu masih sempat menggeram. Namun sekali lagi Daruwerdi yang marah itu meloncat dengan pedang terjulur. Lawannya yang bertubuh tinggi besar itu tidak dapat mengeluh lagi. Senjatanya yang mengerikan itupun terlepas dari tangannya ketika ia mulai terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur ditanah. Daruwerdi berdiri termangu-mangu. Sejenak kemudian iapun melangkah mendekati tubuh yang terbujur ditanah. Sekilas iapun menatap mayat yang terbujur di sebelah lain dari arena itu pula. Dua orang lawannya telah dibunuhnya. Jlitheng memandang wajah Daruwerdi yang kelam itu dengan hati yang berdebar-debar. Justru setelah kedua lawannya dibunuh, Jlitheng harus menjaga dir inya, agar tidak menimbulkan suara yang betapapun halusnya, karena ia yakin, pendengaran anak muda itupun sangat tajamnya. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Daruwerdi teringat kepada utusan dari Pusparuri yang telah terluka parah. Dengan tergesa-gesa iapun segera melompat mendekati tubuh yang terbaring diamitu. “Ki Sanak,“ desis Daruwerdi sambil berjongkok di samping tubuh itu, “he. ular sanca bertanduk genap.” Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Diguncang-guncangnya tubuh yang terbaring diamitu. “He, Ki Sanak. Ki Sanak.” Dengan serta merta Daruwerdi menempelkan telinganya didada orang itu. Namun kemudian dengan suara gemetar ia bergumam, “Mati, iapun telah mati.” Tubuh itu masih hangat. Tetapi nafasnya lelah terputus sama sekali. Daruwerdi kemudian berdiri termangu mangu. Ia tersadar ketika terasa tangannya menjadi pedih oleh luka dilengannya. “Gila,” ia menggeram. Diambilnya sebuah bungkusan kecil dikat pinggangnya. Kemudian ditaburkannya sebangsa serbuk pada lukanya. Beberapa saat Jlitheng masih melihat Daruwerdi termangu- mangu. Sekali-kali ia masih mengamat-amati mayat yang terbaring direrumputan dengan darah yang bagaikan tergenang. “AKU harus mencari orang untuk menguburkan mereka,“ gumam Daruwerdi sambil melangkah pergi. Ketika Daruwerdi telah hilang dibalik gerumbul-gerumbul perdu untuk pergi kepadukuhan, maka Jlithengpun telah keluar dari persembunyiannya. Didekatinya mayat-mayat itu satu demi satu. Pada murid padepokan Pusparuri ia melihat dipergelangannya membelit sebatang akar berwarna hitam dihiasi dengan kepala seekor ular yang terbuat dari perak. “Ikat pinggang orang ini telah diambil oleh murid dari perguruan Kendali Put ih itu,“ desis Jlitheng. Selebihnya anak muda itu tidak menemukan apapun juga. Namun bagi Daruwerdi agaknya yang penting adalah sebutan sandi dari ular sanca bertanduk genap itu, yang dijawabnya dengan mata berlian dan bertaring baja. “Apakah ia orang pertama setelah Kiai Pusparuri sendiri ?“ bertanya Jlitheng didalam hatinya. “Tetapi siapa-pun ular sanca itu, namun ternyata Daruwerdi mengetahui sesuatu rahasia tentang sebuah pusaka.” Diluar sadarnya Jlitheng melayangkan pandangan matanya kearah bukit padas yang gundul tidak terlalu jauh dari hutan itu. Bukit padas yang telah menar ik perhatiannya. Anak muda itupun sadar, bahwa persoalan yang ingin diketahuinya itu agaknya telah menyangkut beberapa pihak diluar padukuhan-padukuhan kecil yang bertebaran didaerah yang tidak terlalu luas, di sebelah bukit. Bukit yang berhutan lebat dan bukit batu padas yang gundul. Ketika ia memungut senjata orang dari perguruan Kendali Putih yang bertubuh tinggi besar itu, ia menar ik nafas dalam- dalam. Orang itu tentu mempunyai kekuatan yang sangat besar. Senjatanya, sepotong besi yang diberikan semacam gerigi-gerigi kecil itu adalah termasuk sebatang tongkat yang berat. Sedangkan orang yang terbunuh itu mampu mengayunkannya seperti mengayunkan lidi. Tetapi iapun menjadi kagum akan kekuatan Daruwerdi. Anak muda itu mampu melawan dua kekuatan raksasa di perguruan Kendali Put ih yang telah berhasil membunuh ular sanca dari perguruan Pusparuri itu. Namun Jlitheng itupun segera menyadari keadaannya. Iapun segera dengan tergesa-gesa mengambil seonggok kayu yang akan dibawanya pulang. Ia tidak mau terlibat kedalam persoalan itu. Jika Daruwerdi melihatnya sedang mengamat- amati mayat-mayat itu, maka mungkin sekali anak muda itu akan mencurigainya pula. Disepanjang jalan kembali sambil membawa seonggok kayu diatas kepalanya, Jlitheng selaki memikirkan peristiwa yang baru di lihatnya. Namun dengan demikian, ia menganggap bahwa Kiai Kanthi agaknya tidak mempunyai hubungan langsung dengan Daruwerdi. Meskipun demikian, ia mulai digelitik oleh kecur igaan, bahwa kedatangan Kiai Kanthi dan anaknya itu bukannya karena padepokannya yang lama tertimbun tanah longsor dan dihancurkan oleh badai dan banjir. Tetapi apakah tidak mungkin bahwa kedatangan Kiai Kanthi itu juga tertarik oleh berita yang sampai ketelinganya, bahwa anak muda yang bernama Daruwerdi dari padukuhan Lumban telah menyimpan satu rahasia tentang sebuah pusaka. Ketika Jlitheng sampai dirumah, ibunya sedang sibuk berada di dapur. Sambil bersungut-sungut ibunya menyapanya, “Kau tentu bermain-main dikali.” “Tidak biyung. Aku langsung pergi kehutan mencari kayu.” “Tetapi lama sekali. Dan bukankah kau masih mempunyai persediaan kayu yang cukup?” “Langit sudah mulai kelabu. Jika sebentar lagi musim hujan tiba, maka kita akan selalu diganggu oleh kayu bakar yang basah, yang berasap dan yang menyakitkan mata.” Ibunya memberengut. Katanya, “Kayumu itupun masih basah. Mataku sampai merah meniupnya.” Jlitheng tidak menjawab. Dilontarkannya onggokon kayu yang dibawanya itu di sebelah longkangan. “Nanti sajalah aku masukkan kebelakang lumbung.” “Jika kau mau makan, makanlah. Nasi sudah masak. Jlitheng membersihkan dir inya di pakiwan. Kemudian iapun masuk kedapur. Nasi dan lauknya telah tersedia di glodok bambu. Meskipun anak muda itu sibuk menyuapi mulutnya, namun lia masih saja memikirkan per istiwa yang baru saja dilihatnya. Ketika matahari telah menyusup kebalik cakrawala di ujung Barat, Jlitheng yang seperti biasanya duduk di mulut lorong padukuhannya bersama beberapa orang kawannya, telah mendengar cer itera tentang peristiwa yang terjadi. Salah seorang kawannya berkata dengan sangat bernafsu, “Mereka akan merampok Daruwerdi. Tetapi ternyata Daruwerdi memang seorang yang luar biasa. Ia mempunyai kekuatan dan ilmu yang tidak dipunyai oleh orang lain. Ilmu yang mungkin langsung diterimanya dari langit.” “Dari mana kau ketahui hal itu ?“ bertanya Jlitheng. “Setiap orang mengatakannya. Beberapa orang dari Lumban Kulon ikut membantunya menguburkan orang-orang itu. Mereka membawa senjata yang mengerikan,“ jawab anak muda yang berceritera itu. “Apakah Daruwerdi juga bersenjata ?“ bertanya Jlitheng. “Agaknya Daruwerdi dapat melihat apa yang bakal terjadi. Sebelum ia dirampok orang, ia selalu mempersiapkan senjata pula. Nampaknya ia memang selalu membawa sebilah pedang.” “Tetapi ia mempunyai j imat,“ desis anak muda yang lain, “Daruwerdi kebal dari segala macamsenjata.” “Tetapi ia terluka,“ tiba-tiba saja diluar sadarnya Jlitheng menyahut. Semua orang berpaling kearahnya. Seorang anak muda yang duduk didekatnya bertanya, “Siapa yang mengatakan bahwa ia terluka?” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Aku justru ingin bertanya, siapakah yang sore tadi mengatakan, bahwa Daruwerdi terluka.” Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka yang ingin dianggap paling tahu menjawab, “Ya. Daruwerdi memang terluka. Tetapi luka itu sama sekali tidak berarti. Justru lukanya itulah yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak muda yang kebal. Jika kau melihat senjata lawannya, maka setidak-tidaknya tangan Daruwerdi seharusnya sudah patah. Tetapi tangan itu hanya lecet saja sedikit.” Anak-anak muda yang mendengarkan ceritera itu mengangguk-angguk. Mereka masih duduk lebih lama lagi untuk mendengarkan ceritera-ceritera yang semakin lama menjadi semakin jauh dari kenyataan yang telah dilihat oleh Jlitheng. Anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan agaknya terlalu mengagumi Daruwerdi. Tetapi Jlitheng tidak membantahnya. Ia membiarkan anak- anak muda Lumban itu membuat khayalan-khayalan tersendiri tentang Daruwerdi yang mereka kagumi. Ketika kemudian malam menjadi gelap, dan anak-anak muda Lumban itu telah mulai merasa terganggu oleh nyamuk yang menggigit tengkuk dan lengan, maka merekapun meninggalkan mulut lorong. Hanya mereka yang bertugas ronda sajalah yang kemudian pergi ke gardu disudut padukuhan. “Sayang, Daruwerdi tinggal di Lumban Kulon,“ desis salah seorang dari mereka yang meronda, “beruntunglah anak-anak muda Lumban Kulon yang mendapat perlindungan dari anak muda seperti Daruwerdi.” Jlitheng yang juga pergi ke gardu mengangguk-angguk, Katanya, “Jika saja ia bersedia mengajari kita semua.” Kawan-kawannya yang masih tinggal mengerutkan keningnya. Yang seorang menyahut, “Tentui anak-anak Lumban Kulon dahulu yang mendapat kesempatan jika ia bersedia.Tetapi sampai saat ini, anak-anak Lumban Kulonpun belumada yang diajarinya dalam olah kanuragan.” “Apakah mereka pernah minta kepadanya ?“ bertanya Jlitheng. “Entahlah,” jawab kawannya, “tetapi ketika aku singgah di Lumban Kulon tadi siang, nampaknya merekapun ingin mendapat kesempatan itu. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa ada juga perampok yang sampai di padukuhan ini. Meskipun ,tidak banyak harta benda yang tersimpan di Lumban Kulon dan Wetan, namun sebaiknya kita harus berjaga-jaga. Jika kebetulan Darawerdi ada, maka persoalannya akan tidak terlalu berat. Tetapi jika kebetulan ia pergi.” Jlitheng tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-angguk saja seperti beberapa kawannya yang lain. Ketika malam menjadi semakin dalam, maka tiba-tiba saja Jlitheng berkata kepada kawan-kawannya, “Aku akan pergi kesungai sebentar. Tetapi mungkin aku akan terus menengok sawah. Aku lupa, apakah aku sudah mengalir i air sore tadi.” “Ah, kau. Kau terlalu ceroboh dengan sawahmu. Itulah sebabnya, kadang-kadang ibumu marah kepadamu. Air hanya setitik, dan kau tidak memanfaatkannya.” Jlitheng tidak menyahut. Iapun kemudian berlari menghambur kedalamgelapnya malam. Tetapi Jlitheng tidak pergi ke sungai dan kesawah. Ia pasti, bahwa sawahnya telah diselenggarakannya sebaik-baiknya. Dalam gelapnya malam Jlitheng berjalan tergesa-gesa menuju kebukit. Bahkan kadang-kadang ia berlari- lari kecil disepanjang pematang. Namun bagaimanapun juga ia sadar, bahwa ia harus berhati-hati. Padukuhan Lumban tenyata tidak saja dijamah oleh Daruwerdi dan kawan-kawannya yang masih merupakan rahasia baginya, tetapi juga oleh orang- orang dari pihak lain yang saling bermusuhan. Jlitheng tahu pasti, bahwa perguruan Pusparuri dan perguruan Kendali Putih tidak akan menghentikan usahanya sampai batas kematian satu dua orang-orangnya. Yang masih akan mereka lakukan tentu masih terlalu banyak. Bahkan mungkin perguruan-perguruan lainpun akan segera tersangkut pula. “Bahkan mungkin orang tua dan anak gadisnya itu,“ desis Jlitheng, “dan apakah dapat diyakini kebenarannya, bahwa gadis itu adalah benar-benar anaknya?” Bagaimanapun juga, Jlitheng memang harus berhati-hati menghadapi keadaan yang masih samar-samar baginya. Sejenak kemudian anak muda itu sudah memasuki hutan di kaki bukit. Tetapi daerah pebukitan itu telah dikenalnya dengan baik. Karena itulah maka iapun t idak mengalami kesulitan untuk menemukan sumber air yang dicari oleh Kiai Kanthi dan Swasti, betapapun gelapnya malam di hutan yang cukup pepat. Langkah Jlitheng tertegun ketika ia teringat, bahwa ia belum membawa pesanan Kiai Kanthi untuk membawa belanga dan tempayan. “Biar lah, besok saja aku bawa,“ desisnya. Kedatangan Jlitheng agak mengejutkan Swasti yang sedang duduk merenung dalam kegelapan. Gadis itu sedang menggantikan ayahnya berjaga-jaga. Ketika ia mendengar langkah mendekat, maka disentuhnya kaki ayahnya, sehingga orang tua itupun telah terbangun. Kiai Kanthipun segera mendengar desir lembut mendekat. Namun untuk beberapa saat ia masih berdiam diri sambil menunggu. Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar seseorang berkata masih dalam kegelapan, “Aku Kiai. Jlitheng.” Kiai Kanthipun segera bangkit. Sambil menggeliat ia bergumam, “Kau mengejutkan aku ngger.” Jlitheng yang kemudian menjadi semakin dekat menyahut, “Maaf Kiai. Aku datang terlalu malam.” Swastipun segera beringsut menjauh, seolah-olah sengaja duduk dibelakang sebatang pohon besar untuk memisahkan diri. Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun ia tidak memanggil anaknya. Dibiarkannya Swasti yang seakan2 berlindung dibalik sebatang pohon. Jlithengpun kemudian duduk bersama Kiai Kanthi. Betapa pun gelapnya malam namun seolah2 mereka saling dapat memandang wajah masing2. “Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “aku lupa pesanan Kiai.” Kiai Kanthi tertawa. Jawabnya, “Tidak apa ngger. Tentu banyak yang angger yang sedang dilakukan, sehingga meskipun masih muda, tetapi sudah menjadi seorang pelupa.” “Tidak banyak yang aku lakukan Kiai. Tetapi ada sesuatu yang sangat menarik perhatianku.” Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak, sementara Jlitheng- pun kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya dipinggir hutan itu. Swasti yang mendengar juga peristiwa yang diceriterakan oleh Jlitheng itu ternyata tertarik juga, sehingga iapun telah beringsut setapak. Kiai Kanthi mendengarkannya dengan penuh minat. Sekali- kali ia mengerutkan keningnya, sekali-kali menarik nafas dalam-dalam. Jlithengpun memperhatikan orang tua itu dengan saksama. Ia ingin melihat akibat dari ceriteranya untuk menjajagi apakah Kiai Kanthi mempunyai hubungan dengan peristiwa yang baru saja terjadi itu. Namun agaknya Kiai Kanthi yang tua itu dapat mengetahui, apa yang tersirat pada tatapan mata Jlitheng, sehingga sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Apakah ada yang angger ingin ketahui tentang aku dalam hubungannya dengan peristiwa itu?” --ooo0ooo—

Jilid 02
“HE,“ Jlithenglah yang justru terkejut, “maksud Kiai?” “Mungkin ada kecur igaan padamu ngger, bahwa aku mempunyai hubungan dengan peristiwa itu. Aku sadar, bahwa setiap orang baru yang datang ketempat yang kebetulan mempunyai persoalannya tersendiri, akan sangat menar ik perhatian. Meskipun sekali lagi, hanya kebetulan saja.” Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Ternyata aku tidak dapat bersembunyi lagi dihadapan Kiai. Banyak hal yang Kiai ketahui dari keinginan yang sebenarnya masih tersimpan dihati. Kali inipun Kiai ternyata dapat membaca perasaanku.“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Baiklah Kiai. Terus terang aku memang agak curiga terhadap kedatangan Kiai padi saat-saat ini. Aku ragu-ragu apakah benar-benar Kiai datang dari padepokan yang hancur karena tanah yang longsor, gempa, banjir dan angin pusaran. Apakah kedatangan Kiai kemari bukannya karena Kiai mempunyai hubungan dengan salah satu dari kedua perguruan itu. Pusparuri atau Kendali Putih. Atau Kiai adalah salah seorang yang mempunyai kepentingan yang sama dengan perguruan-perguruan itu, tetapi Kiai mempunyai pihak tersendir i.” Jlitheng terkejut ketika ternyata Swastilah yang menjawab lantang, “Kamipun sudah mengetahui bahwa kau mencur igai kami. Kesediaanmu menolong kami hanyalah karena kau ingin menjajagi kemampuan kami. Sekarang kau tahu, bahwa aku mampu melakukan apa yang dapat kau lakukan.” “Swasti,“ potong ayahnya. “Kamipan tahu,“ Swasti meneruskan tanpa menghiraukan kata-kata ayahnya, “kau menunjukkan tempat ini semata- mata karena kau ingin mengikat kami di tempat yang kau ketahui dengan pasti. Setiap saat kau ingin mengamati kami, maka kau tidak usah mencari kami diseluruh hutan ini.” “Ah,“ desah Kiai Kanthi, “jangan berprasangka terlalu jauh Swasti.” .Swasti memandang bayangan ayahnya dan Jlitheng didalam kegelapan. Namun iapun kemudian terdiam. Jlitheng mengangguk-angguk sambil bergumam, “Aku mohon maaf Kiai, bahwa sikapku agaknya telah menyakiti hati anak gadis Kiai.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Ia tidak mengira bahwa Jlitheng sama sekali t idak tersinggung oleh kata-kata Swasti, bahkan ia masih sempat minta maaf kepadanya. “Sebenarnyalah bahwa dalam keadaan seperti ini didaerah terpencil seperti padukuhan Lumban ini. banyak mengundang prasangka buruk.“ Jlitheng meneruskan. “Itu bukan salahmu ngger,“ berkata Kiai Kanthi, “tentu diantara kita masing-masing ada perasaan curiga karena kita masing-masing belum mengenal lahir dan batin. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita masing-masing sudah melakukan kesalahan.” “Baiklah Kiai. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Kita masih akan saling membuktikan tentang dir i kita masing- masing. Tetapi jika benar Kiai tidak bersentuhan dengan perguruan Pusparuri dan Kendali Putih? maka yang aku ceriterakan itu hendaknya menjadi bahan perhitungan Kiai menghadapi masa mendatang di padukuhan Lumban ini.” “Terima kasih ngger. Sebenarnyalah bahwa aku sudah mendengar serba sedikit tentang perguruan itu. Tetapi isinya aku sama sekali t idak mengerti. Apalagi hubungannya dengan angger Daruwerdi.” “Baiklah Kiai. Aku akan minta diri. Kita sudah saling mengerti bahwa kita masih selalu dibelit oleh pertanyaan tentang orang-orang yang sedang kita hadapi.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng melanjutkan, “Kiai. Sebagaimana Kiai yang berselubung kepapaan seorang perantau, maka terhadap siapa pun aku mohon Kiai untuk tidak mengatakan sesuatu tentang kemungkinan-kemungkinan yang Kiai anggap ada padaku. Terutama apabila pada suatu saat Kiai bertemu dengan Daruwerdi.” Kiai Kanthi tertawa kecil. Jawabnya, “Aku sudah menduga ngger. Sejak semula aku sudah tidak dapat mengerti, bahwa angger ini bernama Jlitheng anak seorang janda miskin dari padukuhan Lumban Wetan. Tetapi akupun tidak akan bertanya siapakah angger sebenarnya, karena angger tentu akan berusaha menyembunyikan diri.” Jlithengpun tersenyum. Katanya, “Untuk sementara kita dapat mengetahui menurut batas-batas yang kita buat sendiri diantara kita. Tetapi aku masih tetap akan membantu Kiai mendirikan sebuah gubug dipinggar hutan ini.” “Terima kasih ngger. Tetapi jangan lupa, besok aku memer lukan belanga dan tempayan.” Jlitheng tertawa. Iapun kemudian minta dir i kepada Swasti. “Silahkan,“ jawab Swasti pendek. Jlitheng tersenyum. Katanya kepada Kiai Kanthi, “Aku kira Swasti tidak menganggap aneh sikap kita masing-masing, karena iapun telah terlibat kedalamnya. Jika ia bersikap tegang, mungkin karena aku benar-benar telah menyinggung perasaannya. Sekali lagi aku mohon maaf Kiai.” “Tidak ngger. Anak gadisku tidak apa-apa. Itu memang sudah menjadi sifatnya. Swasti memang jarang bergaul sejak dipadepokan kami yang lama, yang agaknya kurang angger percaya itu.” Jlitheng tertawa semakin keras. Namun iapun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi dengan anaknya didalam gelapnya malam. “Anak itu terlalu kasar,“ gumam Swasti. Kiai Kanthi menggeleng lemah. Katanya, “Tidak Swasti. Ia tidak terlalu kasar. Tetapi ia dihputi oleh kecur igaan. Mungkin iapun mengemban suatu tugas yang memaksanya bersikap demikian.” Swasti tidak menyahut. Tetapi terdengar ia berdesah. “Kita memang tidak dapat menghindarkan dir i dari sikap- sikap demikian. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang di padukuhan Lumban.” “Kenapa kita memilih tempat ini ayah,“ berkata Swasti kemudian, “mumpung kita belum terlanjur mulai dengan membuat sebuah padepokan, sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Kita mencari tempat yang jauh dari persoalan- persoalan yang menegangkan seperti ini.” Kiai Kanthi menggeleng lemah. Jawabnya, “Tidak Swasti. Dimanapun juga hidup mempunyai tantangannya masing- masing. Mungkin berbeda dalam ujud, tetapi semuanya memer lukan kesediaan untuk mengatasinya. Kita sudah bergulat dengan tanah longsor, banjir dan angin pusaran serta gempa. Disini ternyata kita menghadapi tantangan yang berbeda.” Swasti masih tetap berdiam diri. “Apalagi setelah aku mendengar nama perguruan- perguruan itu disebut Swasti. Perguruan Pusparuri, aku belum banyak mengerti. Tetapi perguruan Kendali Putih, aku sudah mendengarnya. Mungkin sekali-kali aku pernah menyinggungnya.” Swasti tidak segera menjawab. Ia mencoba mengingat- ingat apa yang pernah diceriterakan oleh ayahnya tentang perguruan Kendali Put ih. “Apakah kau masih ingat Swasti, aku pernah mengatakan kepadamu, bahwa perguruan Kendali Putih adalah sarang dari orang-orang yang hanya mementingkan dir inya sendiri. Diperguruan itu berkumpul orang-orang yang memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Tetapi hidup mereka justru mereka habiskan untuk meneguk kepuasan duniawi. Mereka tidak segan membunuh untuk sekedar mendapatkan sekeping emas atau sebutir berlian,“ berkata ayahnya sambil memandang wajah anak gadisnya yang menegang. Swasti mengangguk kecil. Jawabnya, “Aku ingat ayah.” “Ternyata sekarang orang-orang Kendali Putih itu telah menjamah padukuhan yang terpencil ini justru karena disiini ada angger Daruwerdi.“ sambung Kiai Kanthi. “Namun dengan demikian, kita harus mencari keterangan, siapakah sebenarnya Daruwerdi itu ayah. Seperti Jlitheng. ia tentu mempunyai latar belakang kehidupan yang jauh berbeda dengan orang-orang Lumban itu sendiri. Bahkan menurut dugaanku, maka Lumban justru telah menjadi korban hadirnya Daruwerdi.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku belum dapat mengambil kesimpulan apapun juga Swasti. Untuk sementara kita masih tidak akan terlibat. Kita akan melakukan seperti yang kita rencanakan. Membuat sebuah tempat tinggal yang kecil, namun dapat memberikan pegangan hidup. Bukan saja buat aku yang sudah semakin tua ini, tetapi juga buatmu dimasa yang masih panjang.” Swasti tidak menyahut. Iapun sadar, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi keadaan yang masih samar-samar. “Nah,“ berkata ayahnya kemudian, “sekarang giliranmu untuk tidur. Aku akan berjaga-jaga. Mudah-mudahan tidak ada binatang buas yang tersesat sampai ketempat ini.” Swasti tidak menjawab. Iapun kemudian bersandar pada sebatang pohon sambil memejamkan matanya, sementara ayahnya duduk sambil berselimut kain panjangnya. Dalam pada itu, padukuhan Lumbanpun sedang ditelan oleh kesenyapan malam. Beberapa orang anak muda yang sedang ronda digardu dengan gelisah menunggu Jlitheng yang terlalu lama pergi. “Anak malas itu tentu sibuk dengan pematangnya yang pecah,“ desis yang seorang. Sedang yang lain menyahut, “Ia terlalu bodoh untuk mengerti.” Kawan-kawannya tertawa. Namun suara tertawa itu terputus ketika salah seorang melihat Jlitheng melangkah mendekat sambil memegang perutnya. Dalam cahaya obor didepan gardu itu, kawan-kawannya melihat wajah Jlitheng yang tegang. “Kenapa perutmu ?“ bertanya seorang kawannya. “Sakit,“ sahut Jlitheng yang langsung membaringkan dirinya di gardu yang sempit itu. Kawan-kawannya membiarkannya meskipun salah seorang dari mereka bergumam, “Kau sita tempat yang hanya sempit itu untuk dir imu sendir i.” Jlitheng tidak menyahut. Bahkan iapun melingkar sambil menyelubungi seluruh tubuhnya dengan kain panjangnya. Namun dalam pada itu, seisi gardu itupun terkejut ketika mereka mendengar derap kaki kuda memecah sepinya malam. Sejenak anak-anak muda itu tercengkam. Namun kemudaan mereka mulai berdesak-desakan sambil gemetar. “Kau dengar suara kaki kuda itu ?“ desis seseorang. Kawannya yang sudah gemetar menggeram, “Hanya orang tuli sajalah yang tidak mendengar suara derap kaki itu.” Yang lainpun terdiam. Namun salah seorang dari mereka tiba-tiba mengguncang kaki Jlitheng sambil berdesis, “Jlitheng, bangun. Ada seekor kuda datang.” Jlitheng tidak bergerak. Nampaknya ia sudah tertidur nyenyak. “Jlitheng, Jlitheng,“ yang lain ikut mengguncang. “O,“ Jlitheng tiba-tiba mengeluh, “perutku sakit.” “Bangun. Kau dengar derap kaki kuda yang semakin dekat itu?” “Peduli dengan seekor kuda.” “Gila,“ kawannya yang bertubuh tinggi menjadi jengkel, “jika kau dicekiknya, terserah. Kamipun tidak peduli.” Tiba-tiba Jlitheng bangkit. Dengan suara bergetar ia bertanya, “Apa yang terjadi ? Apa ?” “Diamlah, Kuda itu sudah dekat.” Jlitheng tidak sempat menjawab. Ketika ia turun dari gardu, ternyata yang dilihatnya mendekat bukannya seekor kuda. tetapi dua ekor kuda. Penunggaang2 kuda itu telah menarik kendali kuda masing- masing ketika mereka melihat beberapa orang anak muda berdiri dimuka gardu, sehingga kedua ekor kuda itu berhenti beberapa langkah saja dihadapan anak-anak muda itu. Anak-anak muda itu menjadi gemetar ketika mereka melihat dalam cahaya obor dua wajah yang garang memandang mereka dengan tegang. Dada mereka bagaikan retak ketika salah seorang dari keduanya tiba-tiba saja membentak, “He. kalian anak-anak Lumban ?” Tidak ada yang dapat segera menjawab. Mulut-mulut menjadi bagaikan membeku. “He, apakah semuanya tuli,“ yang lain hampir berteriak. Jantung anak-anak muda itu bagaikan rontok. Apalagi ketika salah seorang dar i kedua orang berkuda itu meloncat turun. “He, kalian bisu atau tuli ? Jawab, bukankah ini padukuhan Lumban ?” Anak muda yang bertubuh tinggi, yang kebetulan berdiri dipaling depan terpaksa berusaha untuk menjawab, “Ya Ki Sanak.” Orang itu tiba-tiba tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kau anak berani. Kemarilah.” Anak muda bertubuh t inggi itu menjadi semakin gemetar. Sedangkan orang itu masih saja tertawa sambil berkata, “Kemarilah anak muda. Kau nampaknya anak muda yang paling berani diantara semua kawan-kawanmu.” Anak muda bertubuh tinggi itu menjadi semakin gemetar. “Kenapa kau diam saja ?“ orang berwajah garang itu bertanya. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya.” Anak muda itu bagaikan menjadi lumpuh. Karena itu ia sama sekali tidak bergeser. “Baiklah. Jika kau tidak mau mendekat, akulah yang akan mendekat. Tetapi setidak-tidaknya kau tidak bisu dan tidak tuli.” Ketika orang berwajah garang itu maju selangkah, diluar sadarnya anak-anak muda Lumban Wetan itu bergeser mundur. Karena itulah maka orang itupun tertawa semakin keras. Katanya, “Lumban memang aneh. Ternyata anak-anak mudanya tidak lebih dari seekor cacing.” Anak-anak muda itu menjadi semakin gemetar. Nyawa mereka rasa-rasanya telah terloncat dari ubun-ubun ketika tiba-tiba saja orang itu membentak, “He, siapa diantara kalian yang melihat dua orang kawanku yang datang ke padukuhan ini he ?” Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan. “Kalian menjadi bisu lagi. He, kau yang paling berani yang tidak bisu dan t idak tuli. Jawab pertanyaanku.” Tetapi anak muda yang bertubuh t inggi itu benar-benar telah terbungkam. Keringatnya mengalir diseluruh tubuhnya, namun badannya terasa menjadi sangat dingin seperti air wayu sewindu. Orang bertubuh kekar dan berwajah garang itu maju lagi selangkah. Sekali lagi ia berteriak, “Siapa yang melihat dua orang kawanku datang kepadukuham ini ? Ia tidak kembali pada waktu yang sudah di tentukan. Dan aku pasti bahwa keduanya telah sampai kepadukuhan ini. Tetapi aku tidak dapat menjumpainya ditempat yang sudah di tentukan.“ Anak-anak muda itu benar-benar menggigil. Mereka segera mengetahui bahwa yang dimaksud tentu dua orang yang telah dibunuh oleh Daruwerdi disebelah bukit, yang kemudian dikuburkan bersama seorang yang lain yang menurut keterangan justru kawan Daruwerdi sendiri yang mati dibunuh oleh dua orang yang kemudian terbunuh pula itu. Tetapi tidak ada mulut yang dapat mengatakannya. Bahkan untuk menyebut bahwa kedua orang itu berurusan dengan orang-orang Lumban Kulonpun tidak ada yang dapat mengucapkannya. “He, cepat. Apakah kau merahasiakannya ? Apakah terjadi sesuatu dengan kawan-kawanku itu ? Katakan. Jika kalian mengetahui sesuatu tentang mereka.” Kediaman anak-anak muda Lumban Weton itu justru telah menumbuhkan kecur igaan pada kedua orang berwajah garang itu. Yang masih duduk dipunggumg kuda t iba-tiba saja berteriak, “Cepat, sebut apa yang terjadi. Kalian tentu mengetahui sesuatu yang kalian tidak dapat mengatakannya. Tetapi jika kalian tidak mau mengatakan, maka kami akan mengambil sikap. Kami akan memaksa kalian untuk mengatakannya.” Darah disetiap tubuh rasa-rasanya telah berhenti mengalir. Wajah-wajah garang itu bagaikan menyala. Orang yang sudah turun dari kudanya itupun menggeram, “Kalian tentu mengetahui. Setiap peristiwa akan segera diketahui oleh setiap orang dipadukuhan ini.” Anak-anak muda dimuka gardu itu seolah-olah telah menjadi patung yang beku. Nafaspun rasa-rasanya tidak lagi dapat mengalir sewajarnya, sehingga dada mereka merasa sesak, dan kepala mereka menjadi pening. “Cepat,“ tiba-tiba saja orang itu berteriak, “dipadukuhan seperti ini tidak ada yang dapat dirahasiakan. Juga tentang kedua orang kawanku itu. Aku berjanji untuk tidak berbuat sesuatu atas kalian jika kalian mengatakannya, dan jika kalian tidak terlibat dalampersoalan dengan mereka.” Tetapi mulut-mulut bagaikan tersumbat. “Aku tidak telaten,“ berkata orang yang sudah turun dari kudanya, “aku akan mengambil seorang dari mereka dan memaksanya untuk berbicara. Jika mulutnya tidak mau terbuka, maka aku akan memeras darahnya sampai kering.” Seorang anak muda yang kurus berwajah pucat tiba-tiba saja telah terjatuh dan menjadi pingsan. Namun tidak seorangpun yang berani bergerak untuk menolongnya. Ketika orang yang berwajah, garang itu melangkah maju sambil memandangi setiap wajah untuk menemukan seseorang yang akan diperasnya, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang merintih. Orang berwajah garang itu tertegun. Dengan tegang ia memperhatikan suara itu. “He, kenapa kau,“ t iba-tiba orang itu berteriak. “Perutku sakit,“ yang menjawab adalah Jlitheng sambil memegangi perutnya yang sakit. “Apakah aku boleh pergi kesungai ?” Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan. Bukan saja kedua orang berwajah garang itu, tetapi kawan-kawan Jlithengpun terkejut. Pertanyaan itu akan dapat mencelakakannya. Ternyata dugaan kawan-kawannya itu benar. Orang berwajah garang yang sudah tidak lagi berada dipumggung kudanya itu benar-benar merasa tersinggung oleh pertanyaan Jlitheng. Karena itu, maka t iba-tiba saja ia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Tetapi senyumnya itu nampaknya seperti senyum iblis yang melihat sesosok mayat yang baru diletakkan dilubang kuburnya. “Kemarilah cah bagus,“ desis orang berwajah garang itu. Tetapi panggilan itu rasa-rasanya bagaikan sembilu yang menggores setiap jantung. “Alangkah bodohnya Jlitheng, kawan-kawannya menyesalinya. Tetapi tidak seorangpun yang berani menolongnya. Tetapi Jlitheng memang seorang anak yang dungu dihadapan kawan-kawannya. Ia melangkah maju sambil terbungkuk-bungkuk. “Perutku sakit sekali,“ ia masih berdesis. “Baiklah. Marillah. Aku antar kau kesungai. Apakah kau dapat naik seekor kuda?” Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak dapat naik kuda.” “Kalau begitu mar ilah. Aku jaga agar kau tidak terjatuh.” “Tetapi sungai itu tidak begitu jauh,“ jawab Jlitheng. Orang itu tersenyum. Dibelainya kepala Jlitheng sambil berkata, “Meskipun tidak jauh, biarlah kami berdua mengantarmu cah bagus.” Ketika Jlitheng mendekati orang itu, kawan-kawannya menjadi semakin berdebar-debar. “Alangkah bodohnya,“ kawan-kawannya berteriak didalam hati. Rasa-rasanya mereka ingin menggapai Jlitheng dan menariknya, agar ia tidak mendekati orang berwajah garang itu. Tetapi merekapun telah membeku oleh ketakutan dan kecemasan. Tetapi Jlitheng melangkah terus sambil memegangi perutnya. “Terima kasih,“ desis Jlitheng. Orang berwajah garang itupun kemudian meloncat kepunggung kudanya. Dicahaya obor yang kemerah-merahan masih nampak ia tersenyum sambil berkata, “Kemarilah. Aku tolong kau naik kuda bersamaku.” Anak-anak muda itu menggigil ketika mereka melihat Jlitheng mendekati orang berkuda itu. Namun yang terdengar kemudian adalah keluhan yang panjang. Tiba-tiba saja orang itu menyambar tangan Jlitheng dan menariknya dengan semena-mena. “Cepat anak gila. Kau harus menunjukkan kepadaku, dimana kedua orang kawanku itu.“ bentak orang itu dengan kasar. “Aku akan pergi kesungai,“ Jlitheng mulai berteriak. “Tutup mulutmu. Aku bunuh kau,“ senyum diwajah orang itu sudah lenyap. Yang nampak kemudian adalah kegarangan wajah yang mengerikan. Kawan-kawannya hanya dapat memandang dengan tegang saat kuda-kuda itu mulai bergerak. Mereka melihat Jlitheng meronta. Tetapi tangan orang berwajah kasar itu bagaikan tanggembaja. Sejenak kemudian kuda itu telah berderap masuk kedalam kegelapan. Namun hati anak-anak muda itu bagaikan teriris ketika mereka mendengar suara teriakan Jlitheng yang tertinggal, disela-sela derap kaki-kaki kuda itu. Ketika kemudian Jlitheng hilang didalam kelam, maka anak- anak muda itu mulai saling berpandangan. Satu dua diantara mereka menar ik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk berdesis, “Kasihan J litheng yang dungu itu.” Kawan-kawannya masih menggigil. Namun salah seorang dari mereka mulai melangkah mendekati kawannya yang pingsan. “Bawa ia naik kegardu,“ desisnya. Beramai-ramai anak muda itu diangkat untuk dibaringkannya didalam gardu. Satu dua diantara mereka mulai memijat-mijat keningnya, sedang yang lain masih saja berdiri kebingungan. “Marilah kita pulang,“ tiba-tiba seorang diantara mereka berdesis, “bagaimana jika mereka kembali lagi kemari ?” “Ya. Kita pulang saja.” Beberapa orang menjadi ragu-ragu. Seorang yang paling tua berkata, “Mereka tidak akan kembali lagi. Kita menunggu sejenak, apa yang terjadi dengan Jlitheng.” Anak-anak muda itu menjadi semakin ragu-ragu. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang meninggalkan gardu. Hati mereka benar-benar menjadi kecut, sehingga mereka kebingungan, apakah yang sebaiknya dilakukan. Sementara itu, beberapa orang yang tinggal disebelah- menyebelah gardu itu terkejut mendengar keributan yang terjadi. Mereka mendengar beberapa orang berteriak. Membentak, tetapi juga mengaduh. Satu dua orang laki- laki telah keluar dari rumahnya. Dengan hati-hati mereka mulai mengint ip. Ketika mereka masih melihat obor digardu menyala, dan mereka masih melihat anak-anak muda dimuka gardu itu, maka merekapun segera mendekat. Mereka hanya dapat mendengar apa yang telah terjadi dengan Jlitheng. “Kasihan janda itu,“ desis seseorang, “anak itu hilang sejak kanak-kanak. Belum lama ia kembali. Kini ia mengalami bencana.” “Ya,“ sahut yang lain, “begitu lama anak itu pergi, sehingga kita yang tua ini tidak lagi dapat mengingat bahwa janda itu mempunyai anak laki-laki. Agaknya kini ia harus kehilangan untuk yang kedua kalinya.” “Apakah kita akan memberitahukan kepadanya?“ bertanya seorang anak muda. Seorang laki- laki tua maju selangkah. Dengan sareh ia berkata, “Jangan tergesa-gesa. Kita akan menunggu perkembangan dari per istiwa ini. Jika sekarang kita datang kerumahnya dan memberitahiulkannya kepada ibunya, maka perempuan itu akan pingsan. Bahkan mungkin mati.” Yang lain mengangguk-angguk Seorang anak muda berkata, “Baiklah. Kita menunggu perkembangannya. Besok pagi-pagi kita akan menelusuri jalan-jalan di Lumban Wetan dan kalau per lu di Lumban Kulon. Mungkin kita dapat menemukannya.” Anak muda itu tidak meneruskannya. Tetapi yang lain menyahut, “Menemukannya hidup atau mati.” Seorang tua menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita akan mengatakannya kepada Daruwerdi. Apakah yang sebaiknya kita lakukan.” “Ya. Besok kita menemui Daruwerdi di Lumban Kulon,“ hampir berbareng beberapa orang menjawab. Sejenak kemudian, maka orang-orang tua itupun minta diri, kembali kerumah masing-masing, sedang beberapa orang anak muda masih tetap berada digardu. Namun tidak seorang pun yang berani membar ingkan dirinya. Jika mereka mendengar derap kaki kuda, maka mereka sudah siap menghambur melarikan dir i. Sementara itu, kedua ekor kuda dengan penunggangnya telah berderap keluar padukuhan dengan membawa Jlitheng yang meronta-ronta. Namun himpitan tangan orang berwajah garang itu semakin lama menjadi semakin kuat mencengkam lengan Jlitheng. “Aku akan pergi kesungai,“ teriak Jlitheng. “Tutup miulutmu, atau aku bunuh kau.“ bentak orang berwajah garang itu, “sekarang tunjukkan, dimana kau melihat kedua orang kawanku. Dengan siapa mereka berhubungan, dan apakah yang sudah terjadi.” “Aku tidak tahu, aku t idak tahu,“ Jlitheng masih berteriak. “Jika kau tidak mau diam, aku cekik kau sampai mati,“ geramorang berwajah garang itu. Sejenak Jlitheng terdiam. Yang terdengar dikesunyian malam hanyalah derap kaki kuda yang berlari kencang dibulak panjang itu. Namun ketika mereka sudah sampai ditengah-tengah bulak, maka kuda itupun berjalan semakin lambat. Bahkan akhirnya berhenti sama sekali. Jlitheng masih tetap berada dipunggung kuda. Orang berwajah garang yang memeganginya berdesis, “Kita berada ditengah-tengah bulak anak manis.” Jlitheng tidak menjawab. “Nah, sekarang katakan kepadaku, apa yang kau ketahui tentang kedua orang kawanku yang sudah mendahului aku datang kepadulkuhan Lumban,“ bertanya orang berwajah garang itu, “akan dapat berbaik hati kepadamu. Tetapi aku juga dapat berbuat sesuatu yang barangkali belum pernah kau bayangkan.” Jlitheng masih tetap diam. “Misalnya,“ orang itu melanjutkan kata-katanya, “mengikatmu dan menarik dibelakang kaki kuda. Atau mengikatmu erat-erat dan menelungkupkan tubuhmu dipar it yang airnya hanya mengalir sedalam mata kaki, dengan sebuah batu besar dipunggung. Atau cara lain yang lain yang barangkali lebih menarik.” Jlitheng sama sekali t idak menjawab. “He,“ orang itu mulai kehilangan kesabaran,“ jawab pertanyaanku.” Adalah dihiar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Jlitheng justru tertawa. Bahkan kemudian dengan tangkasnya ia turun ajari punggung kudanya sebelum orang yang berwajah garang itu sempalt menyadari keadaannya. Pegangan tangannya yang agak mengendor telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Jlitheng, sehingga dengan mudah ia melepaskan dir i bahkan orang itu hampir jatuh karenanya. Sejenak kemudian Jlitheng telah berdiri beberapa langkah dari orang berwajah garang yang membawanya sambil bertolak pinggang. Sikap Jlitheng itu benar-benar telah mengejutkan orang- orang dari perguruan Kendali Putih itu. Sesaat mereka bagaikan terpukau sehingga keduanya justru membeku dipunggung kudanya. “Nah Ki Sanak,“ berkata Jlitheng dengan suara yang jauh berbeda dengan lengkingan-lengkingan ketakutan disaat ia meninggalkan gardu, “mar ilah kita berbicara dengan baik. Kau dapat bertanya dengan sopan, dan aku akan menjawab dengan wajar.” Yang terdengar kemudian adalah geram yang melontarkan kemarahan. Orang yang membawa Jlitheng bersamanya disatu punggung kuda itupun bertanya dengan suara bergetar, “Apakah kau sudah menjadi gila karena ketakutan ?” “Tidak Ki Sanak,“ jawab Jlitheng sareh, “aku memang ingin berbicara ditempat yang sepi seperti sekarang ini agar tidak menakut-nakuti kawan-kawanku yang berada digardu. Apalagi ketika aku menyadari, bahwa aku berhadapan dengan orang- orang dari perguruan Kendali Putih.” “Persetan,“ geram orang dari Kendali Putih yang seorang lagi, “jawablah. Dimana kedua kawan-kawanku yang telah datang lebih dahulu dipadukuhan ini.” “Mereka telah mat i,“ jawab Jlitheng pendek. Jawaban Jlitheng itu terdengar bagaikan ledakan petir ditelinga mereka. Hampir berbareng keduanya telah meloncat turun dari kuda mereka. Sejenak keduanya memandang Jlitheng dengan tanpa berkedip. Mereka telah menyadari, bahwa yang berdiri di hadapannya itu tentu bukannya anak Lumban yang pingsan karena ketakutan seperti yang terjadi, di gardu. Namun bagaimanapun juga bagi kedua orang Kendali Putih itu, Lumban adalah padukuhan yang tidak berarti apa-apa bagi mereka. Karena itu, salah seorang dari keduanya membentak dengan kasarnya, “Anak setan. Katakan, apakah yang telah terjadi.” Jlitheng memandang kedua orang itu berganti-ganti. Kemudian katanya, “Aku melihat semua dua orang Kendali Putih yang datang kepadukuhan Lumban Kulon. Keduanya telah melukai seorang dari perguruan Puspapur i dan berusaha untuk menipu Daruwerdi. Tetapi rahasia kawan-kawanmu itu dapat diketahui, karena mereka tidak mampu menjawab istilah sandi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Daruwerdi dengan perguruan Pusparuri. Dan itu adalah kebodohan yang menentukan bagi kedua kawan-kawanmu itu.” “Gila,“ geram kedua orang Kendali Putih itu, “siapakah kau sebenarnya? Apakah kau yang bernama Daruwerdi ?” “Bukan aku. Aku hanya melihat bagaimana Daruwerdi membunuh kedua orang kawanmu.” “Bohong. Tentu dua puluh atau tiga puluh orang Lumban telah beramai-ramai mengepung dan mengeroyoknya. Mungkin diantaranya terdapat Daruwerdi dan kau sendir i.” “Aku berkata sebenarnya,“ jawab Jlitheng, “bukankah aku sudah berjanji untuk menjawab dengan wajar?” “Tidak ada orang yang dapat mengalahkan murid-mur id dari perguruan Kendali Putih,“ teriak salah seorang dari mereka. “Ada. Daruwerdi. Kau dengar. Namanya Daruwerdi. Rumahnya Lumban Kulon. Ia seorang diri telah membunuh kedua orang kawan-kawanmu. Kau dengar.” Kata-kata Jlitheng itu membuat kedua orang Kendali Putih itu menjadi semakin marah. Dengan garangnya salah seorang dari keduanya membentak, “Jangan mengigau. Aku dapat membunuhmu.” Jlitheng termangu-nmngu. Ia bergeser setapak ketika ia melihat salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. Bahkan yang seorangpun telah berbuat serupa pula. Jlitheng sadar, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Tetapi ia sudah melakukannya dengan sengaja dan telah memperhitungkan akibatnya pula. “He anak gila,“ salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu menggeram, “kau belum mengenal kami berdua. Kau belum mengenal perguruan Kendali Putih. Karena itu, nampaknya kau menganggap kami berdua seperti anak-anak yang merengek minta makanan. Cobalah kau menyadari keadaanmu. Agaknya kau belum terlambat minta ampun kepada kami dan mengatakan sebenarnya seperti yang kami inginkan.” “Ki Sanak,“ jawab Jlitheng, “aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Kedua orang Kendali Putih yang datang untuk mencari keterangan tentang pusaka yang tidak aku ketahui namanya, telah terbuka rahasianya sehingga kemudian telah dibunuh oleh Daruwerdi, anak muda dari Lumban Kulon, setelah kedua orang Kendali Putih itu berhasil membunuh seorang dari perguruan Pusparuri yang seharusnya mendapat keterangan dari Daruwerdi,“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Ki Sanak. Jika kau bertanya sekali lagi, maka jawabku akan sama pula dengan jawabku itu dan jawaban-jawabanku sebelumnya. Karena itu, jangan bertanya lagi tentang kedua orang kawanmu. Mungkin kau lebih baik bertanya siapakah Daruwerdi dan dimanakah rumahnya.” Kedua orang itu tidak lagi dapat mengendalikan kemarahannya. Karena itu tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah mengayunkan tangannya menampar kening Jlitheng. Tetapi orang itu terkejut. Ternyata tangannya tidak menyetuh anak muda itu, meskipun Jlitheng tidak bergeser dari tempatnya. Ia hanya menarik kepalanya sambil memiringkan wajahnya. Kemudian seolah-olah seperti tidak terjadi sesuatu ia berkata, “Jangan cepat marah. Jika kau ingin bertemu dengan Daruwerdi, marilah. Mungkin kalian berdua juga akan dibunuhnya seperti kedua kawanmu yang telah mati itu.” Keduanya tidak dapat menahan diri lagi. Salah seorang dari mereka berkata kasar, “Setan alas. Aku akan membunuhmu dengan caraku. Baru kemudian aku akan mencari Daruwerdi yang kau katakan itu. Tetapi aku tidak percaya bualanmu, seolah-olah anak muda dari Lumban mampu membunuh orang-orang Kendali Put ih, apalagi seorang Daruwerdi melawan dua orang kawan-kawanku.” “Kenapa kau tidak percaya bahwa anak muda Lumban mampu mempertahankan dir inya meskipun ia berhadapan dengan orang-orang Kendali Putih?” Pertanyaan itu benar-benar tantangan dan penghinaan bagi kedua orang Kendali Putih itu. Karena itu, maka yang seorang dari keduanya segera meloncat menerkam kepala Jlitheng sambil berteriak, “Aku bunuh kau perlahan-lahan didalam parit itu.” Tetapi tangannya juga tidak menyentuh sehelai rambut- pun. Jlitheng mampu menghindar secepat terkaman orang Kendali Putih itu. “Gila,“ geram orang itu, “kau akan menyesal dengan sikapmu.” Orang itu tidak dapat menyelesaikan kata-katanya. Tiba- tiba saja terasa lambungnya bagaikan meledak. Kaki Jlitheng telah terjulur menghantam lambung tanpa diduga-duga. Orang itu terdorong selangkah. Terdengar ia menyeringai menahan sakit. Namun sekali lagi terjadi yang tidak terduga- duga pula. Bagaikan terbang Jlitheng meloncat menyerangnya. Orang itu tidak sempat menghindar. Karena itu, ia telah menyilangkan tangannya menahan serangan kaki Jlitheng yang terjulur lurus. Tetapi karena ia belum mapan pada keseimbangan seutuhnya, maka dorongan kaki lawannya telah melemparkannya, sehingga ia jatuh terguling ditanah. Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga mur id Kendali Putih yang seorang lagi itu sejenak justru bagaikan tercengkam oleh keheranannya. Namun ketika ia melihat kawannya jatuh berguling, maka dengan serta merta iapun meloncat menerkamJ litheng pada tengkuknya. Tetapi Jlitheng sempat menghindar. Seolah-olah ditengkuknya itu terdapat sepasang mata yang melihat tangan lawannya itu terjulur kearahnya. Bahkan dengan serta merta ia sempat memutar tubuhnya dan dengan tangannya menghantamdada. Lawannya ternyata cukup tangkas. Ia meloncat mundur selangkah, sehingga tangan Jlitheng tidak menyentuhnya. Pada saat Jlitheng siap untuk meloncat memburu, langkahnya terhenti. Lawannya yang seorang ternyata telah melenting berdiri dan siap untuk menyerangnya pula. Jlitheng mempersiapkan diri menghadapi kedua lawannya. Ia sadar, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi orang- orang Kendali Putih. Di pinggir hutan ia melihat, bagaimana orang-orang Kendali Put ih itu bertempur. Dan iapun melihat, seorang dari perguruan Pusparuri telah terluka arang kranjang. Ternyata kemarahan kedua orang Kendali Putih itu tidak tertahankan lagi. Apalagi ketika keduanya sadar, bahwa anak muda yang dihadapinya itu benar-benar memiliki bekal untuk melawan mereka. “Gila. Ternyata anak-anak muda Lumban memang harus dimusnakan,“ geram salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu. “Aku bukan anak muda dari Lumban,“ jawab Jlitheng, “Daruwerdi juga bukan anak Lumban. Jika orang-orang Kendali Putih mendendam anak-anak Lumban, maka itu adalah suatu kebodohan. Anak-anak muda Lumban adalah anak-anak muda yang hanya mengenal cangkul untuk bekerja disawah. Itulah sebabnya, aku merasa wajib untuk melndungi mereka.” Kedua orang lawannya menggeram. Salah seorang dari kedua lawannya bertanya dengan nada melengking, “Siapakah kau sebenarnya anak iblis ? Apakah kau juga yang membunuh kedua orang kawanku.” “Jangan terlampau dungu. Aku sudah menyebut beberapa kali. Yang membunuh kawanmu adalah Daruwerdi. Dan aku bukan Daruwerdi. Aku Jlitheng. Meskipun aku tinggal di Lumban, tetapi jangan salahkan anak-anak muda Lumban. Kalian, perguruan Kendali Putih hanya berurusan dengan Daruwerdi dan aku, Jlitheng.” “Persetan,“ orang-orang Kendali Putih itu menggeram. Yang seorang berteriak, “akan aku musnakan seluruh isi padukuhan Lumban.” “Ki Sanak,“ berkata Jlitheng, “aku tahu, bahwa kau berdua tentu akan mencari kesempatan untuk melepaskan dendammu atas kematian kawan-kawanmu. Karena itu, kalian merupakan bahaya yang sungguh-sungguh bagi Lumban. Agar anak-anak harimau tidak dibiarkan menjadi besar dan menerkam, maka anak-anak harimau itu harus dimusnakan.” Kemarahan telah memuncak karena sikap Jlitheng. Karena itu maka sejenak kemudian perkelahian itupun telah menyala kembali dengan dahsyatnya. Kedua orang Kendali Putih itu tidak lagi telaten bertempur dengan tangan. Apalagi ketika terasa bahwa Jlitheng justru telah berhasil membuat keduanya berkeringat. Sejenak kemudian, kedua orang Kendali Putih itu telah mencabut senjata mereka. Yang seorang telah menggenggam sebuah golok yang besar, sedangkan yang lain telah menarik pedang panjangnya. “Kau akan kami cincang menjadi sayatan-sayatan daging dan potongan tulang,“ geramsalah seorang dari keduanya. Jlitheng meloncat surut. Sekilas diperhatikannya senjata- senjata yang garang itu. Apalagi senjata2 itu berada ditangan orang-orang Kendali Putih. “Aku tidak boleh lengah,“ berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “dan aku t idak per lu berpura-pura. Aku harus melawan mereka dengan senjata pula.” Karena itulah, maka Jlithengpun kemudian menggeram, “Ki Sanak. Senjata kalian adalah ciri kekerasan dar i perguruan Kendali Putih. Kalian benar-benar ingin menyelesaikan setiap persoalan dengan kematian. Sikap kalian telah mendorong aku untuk berbuat serupa.” Kedua orang itu tidak menghiraukannya. Hampir berbareng mereka meloncat menyerang dengan senjata terjulur. Jlitheng sekali lagi meloncat agak jauh surut. Ia berusaha mendapat kesempatan untuk mengurai senjatanya. Senjata yang agak asing bagi lawann-lawannya. Dari bawah kain panjangnya yang kusut, Jlitheng mengurai sehelai ikat pinggang yang dibuatnya dari anyaman serat sehingga menyerupai sehelai tampar yang lemas. Tetapi karena didalam anyaman itu terdapat beberapa helai serat lulup kayu dadap cendana abang, serta tiga helai janget yang tipis, maka tampar yang lemas itu merupakan tampar yang kuat sekali. Sejenak kemudian, sehelai dadung ditangan Jlitheng itu telah berputar. Suaranya berdesing seperti ssndaren yang terbang diudara. Kedua orang Kendali Puitih itu terkejut melihat senjata lawannya. Apalagi setelah mereka mendengar suara berdesing bagaikan suara sendaren. Sejenak keduanya termangu-mangu. Dalam gelapnya malam mereka melihat sesuatu yang diujung dadung ditangan Jlitheng itu. Ujung tampar yang berkilat-kilat itu bagaikan seekor lalat yang berterbangan diseputar kedua lawannya. Jika sekali benda itu hinggap ditubuh, maka tubuh mereka tentu akan tersobek melintang. Karena itu, maka kedua orang Kendali Putih itu menjadi semakin hati-hati. Mereka berloncatan menghindar dan sekali- kali menyerang dengan garangnya. Mereka mencoba memecah perhatian Jlitheng pada dua sisi yang ber lawanan. Namun Jlitheng benar-benar seorang yang sangat tangkas. Kakinya bagaikan kaki kijang, sementara tangannya dengan senjatanya bagaikan sayap seekor burung raksasa yang mengembang menyebarkan maut. Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Jlithengpun harus bekerja bersungguh-sungguh. Seperti kedua orang itupun semakin lama menjadi semakin kasar. Jlitheng harus bekerja keras menghindari benturan- benturan kekerasan yang tidak per lu. Apalagi karena ia harus bertempur melawan dua orang. Namun sejenak kemudian, Jlitheng berhasil menguasai lawannya. Bukan saja karena ia telah menemukan kelemahan- kelemahan lawannya, namun justru karena lawannya telah terlalu banyak memeras tenaga mereka. Dengan garangnya Jlitheng memutar senjatanya. Sekali-kal ia masih harus meloncat menghindar i ujung senjata kedua orang Kendali Put ih itu. Namun kemudian, kedua orang itu telah berada dalam libatan tampar Jlitheng yang berdesing seperti sendaren. Benda yang tersangkut diujung dadung itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan tubuh lawannya. Sejenak kemudian, terdengar sebuah keluhan tertahan. Ternyata bahwa Jlitheng telah berhasil menyentuh punggung lawannya dengan ujung senjatanya. “Gila,“ geram orang itu. Lukanya telah mengalirkan darah, sementara perasaan pedih rasa-rasanya menggigit sampai ketulang. Ternyata luka itu telah membuatnya seperti orang gila. Orang yang bersenjata golok yang besar itu bertempur semakin garang dan kasar. Namun dalam pada itu, semakin jelas bagi Jlitheng, bahwa tenaganya telah menjadi semakin susut karenanya. Saat-saat selanjutnya sudah tidak terlampau berat lagi bagi Jlitheng. Luka dipunggung salah seorang lawannya itu, seolah- olah telah menyusut separo dari segenap kemampuannya. Kecuali perasaan sakit yang menyengat, tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah dan seolah-olah telah kehabisan tenaga. Jlitheng tidak mau melepaskan setiap kesempatan. Ia tidak mlau membiarkan kesulitan akan berlarut-larut mencengkam padukuhan Lumban, setidak-tidaknya Lumban Wetan. Ia berharap bahwa Daruwerdi akan bertanggung jawab bagi keselamatan anak-anak muda di Lumban Kulon, karena ia memang t inggal di padukuhan itu. Apalagi bahwa sumber persoalan ini sebenarnya terletak padanya. Jika ia tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang dari berbagai perguruan. maka Lumban akan tetap menjadi padukuhan yang damai. Yang perlu dilakukan bagi padukuhan itu adalah sekedar meningkatkan tata kehidupan mereka tanpa mengaduknya dengan kegelisahan dan kecemasan. “Sebenarnya yang mereka perlukan adalah sebuah parit induk,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “bukan titik-t itik darah seperti yang telah terjadi dipinggir hutan, dan sekarang terpaksa disini.” Tetapi Jlitheng tidak dapat ingkar. Ia harus menyelesaikan tugas yang dipetiknya seridiri. Kedua orang itu harus dapat dihapuskannya tanpa bekas, sehingga persoalannya tidak akan berkepanjangan. “Untuk itu aku terpaksa membunuh mereka,“ geram Jlitheng didalamhatinya. Dengan demikian maka Jliithengpun bertempur semakin cepat dan garang. Ia harus segera menyelesaikan pertempuran itu sebelum berkembang menjadi semakin buruk, karena ada pihak-pihak lain yang terlibat. Apalagi Jlitheng sendiri masih merasa perlu untuk menyelubungi dir inya dengan sikap yang lain dari kenyataan yang sebenarnya. Karena itulah, maka benda yang berkilat-kilat diujung dadung yang dipergunakan oleh Jlitheng sebagai senjatanya itu, berputar semakin cepat. Benda itu mulai menyengat- nyengat ditubuh lawannya. Dipundak, kemudian dibahu dan bahkan kening. Kedua lawannya yang menjadi semakin lemah karena tenaganya yang terperas habis, darahnyapun mengalir semakin banyak. Perlahan-lahan mereka mulai kehilangan kemampuan perlawanannya, sehingga luka ditubuh merekapun menjadi semakin banyak. Dalam keadaan yang tidak lagi dapat diatasi, salah seorang dari kedua orang itu menggeram, “Anak gila. Sebutkan, siapakah kau sebenarnya. Senjatamu dan sikapmu mengingatkan aku kepada sebuah perguruan yang hampir dilupa.” Jlitheng meloncat surut. Namun tiba-tiba sebuah serangan yang dahsyat telah melibat kedua lawannya. Betapapun kedua orang itu berusaha, namun senjata anak muda itu telah menghantam punggung dan dada, sehingga nafas mereka bagaikan terputus karenanya. Keduanya telah terhuyung-huyung hampir bersamaan. Senjata mereka per lahan-lahan terlepas pula, karena tangan mereka t idak lagi dapat menggenggam. Pada saat terakhir itulah maka Jlitheng yang berdiri tegak dengan senjatanya ditangan berkata dengan nada berat, “Ki Sanak. Aku tidak mempunyai pilihan lain bagi orang-orang Kendali Put ih. Aku kenal perguruan Kendali Putih dan telah ditegaskan pula oleh sikap kedua kawanmu yang dibunuh oleh Daruwerdi. Dan yang terakhir adalah sikap kalian berdua. Karena itu, bagi keselamatan orang-orang Lumban, aku telah mengambil keputusan untuk membunuh kalian.” “Persetan,“ geram salah seorang dari orang-orang Kendali Putih, “kami tahu, kami akan mati.” “Yang penting bagiku, bukan kematianmu. Tetapi kecemasanku melihat nasib anak-anak muda Lumban.” “Siapa kau ?“ suara orang Kendali Putih itu semakin lambat. “Namaku Arya Baskara, murid dari perguruan yang memang sudah dilupakan sepeninggal Guruku, Kiai Baskara.” “Namamu nunggak semi nama gurumu. Jadi kau mur id Baskara dari perguruan Rasa Jati yang sudah punah itu ?” “Ya. Aku satu-satunya murid dar i perguruan Rasa Jati yang masih tinggal.” “O,“ orang Kendali Putih itu mengeluh, “kau memang gila. Gurumu menurut pendengaranku juga orang gila. Siapa namamu ?” Jlitheng memandang kedua orang yang semakin lemah itu. Selangkah ia mendekat. Kemudian katanya, “Namaku sendiri adalah Arya Candra Sangkaya.” “He,“ wajah kedua orang yang sudah tidak berdaya itu bagaikan menyala, “kau jangan mengigau. Apakah kau senang menyebut nama-nama orang yang disegani waktu itu ? Candra Sangkaya adalah nama seorang Pangeran keturunan Perabu Majapahit terakhir.” “Bukan Candra Sangkaya. Namanya Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Raden Kuda Surya Anggama. Salah seorang Senapati yang gagal mempertahankan Kota Raja Majapahit dan gugur dimedan. Usianya masih muda, meskipun waktu itu ia sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Akulah Candra Sangkaya yang jika aku mau, aku dapat mempergunakan gelarku meskipun aku buat sendir i, Jlitheng.” Kedua orang itu masih menggeram. Tetapi keduanya sudah menjadi semakin lemah. Namun salah seorang dari keduanya masih berkata, “Aku akan mati dengan senang hati, karena yang membunuhku adalah mur id yang tersisa dari perguruan Rasa Jati. Mungkin aku akan tersiksa disaat terakhir, jika kau mengatakan bahwa kau adalah benar-benar anak Lumban. Tetapi kau adalah orang yang memang pantas membunuhku.“ ia berhenti sejenak, nafasnya sudah menjadi semakin sendat, “tetapi siapakah Daruwerdi? Apakah ia orang dari perguruan Pusparuri ?” “Pasti bukan orang Pusparuri. Tetapi aku tidak tahu. Mungkin nama Daruwerdi itupun bukan namanya.” “Orang-orang gila. Kalian lebih senang bersembunyi dibalik nama yang aneh-aneh itu,“ nafasnya menjadi semakin lambat. Bahkan ketika Jlitheng melangkah semakin dekat, ia melihat yang seorang dari kedua lawannya itu benar-benar sudah tidak bernafas lagi. “Kawanmu sudah mat i,” desis J litheng. Orang Kendali Putih yang masih hidup itu berdesah. Katanya, “Kau cerdik. Kau berusaha menghilangkan jejakmu dengan membunuh kami berdua. Tetapi Kendali Putih tentu akan melacak perjalananku, karena mereka tahu. bahwa dua orang yang kau katakan dibunuh oleh Daruwerdi itu. dan kami berdua, telah pergi kepadukuhan ini.” “Apapun yang akan terjadi. Inilah yang. paling baik aku lakukan saat ini untuk kepentingan orang-orang Lumban.” Orang Kendali Putih itu termangu-mangu didalam saat-saat yang paling gawat. Dilihatnya Jlitheng mendekatinya. Namun matanya semakin lama menjadi semakin kabur. Meskipun demikian, disaat terakhir itu, masih terucapkan betapapun lir ihnya, “Jadi kau anak Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana itu ?” “Ya. Mungkin aku bukan berparas bangsawan, karena ibuku benar-benar seorang pidak pedarakan. Tetapi ibuku bukan seorang selir. Ibuku adalah isteri Pangeran Kuda Surya Anggana. Aku bangga atas ayahku yang berani menentang arus, kawin dengan seorang perempuan kecil, meskipun ia harus mengorbankan perasaan untuk waktu yang lama. Tetapi disaat-saat Majapahit memerlukan kepemimpinannya sebagai seorang Senapati, maka kedudukan ayahku telah pulih kembali.” Jlitheng masih akan berbicara tentang ayahnya, meskipun sebenarnya hal itu lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri. Tetapi ditelannya kata-katanya itu kembali. Bahkan japun segera berjongkok disampiing orang Kendali Putih itu. Namun ia sudah mati. “Aku memer lukan kau -,“ desis Jlitheng, “sekali-kali aku ingin juga menumpahkan beban yang tersumbat dihati. Hanya kepada orang-orang mati sajalah aku dapat mengatakannya, setidak-tidaknya untuk sementara.” Tetapi Jlitheng tidak dapat berceritera terus tentang dirinya sendiri. Ia harus menghapus jejak. Karena itu, maka iapun segera mengangkat kedua orang yang terbunuh itu kepunggung kuda mereka masing-masing dan menuntun kuda itu kekuburan. Jlitheng yang sebenarnya bernama Arya Candra Sangkaya itu harus bekerja keras untuk menggali sebuah lubang yang besar dan mengubur kedua orang itu kedalamnya. “Bagaimana dengan kedua ekor kuda ini?“ ia bergumam. Akhirnya Jlitheng telah melepas pelana dan rerakit pakaian kuda itu seluruhnya dan menguburnya pula disudut kuburan itu. Kemudian dituntunnya kedua ekor kuda itu dan menghadapkannya kearah yang tidak banyak dilalui orang, bahkan menuju ke hutan. “Hiduplah bebas kuda-kuda manis,“ gumamnya, “meskipun mungkin pada suatu saat kau akan menemukan jalan pulang kekandangmu.” Kemudian dilecutnya kedua ekor kuda itu, sehingga keduanya berlari seperti dikejar hantu menuju kedaerah yang tidak dikenalinya. Jlitheng yang berdiri di depan sebuah kuburan yang dipergunakan oleh orang-orang Lumban itu memandang kekejauhan. Didalam keremangan malam, ia mencoba untuk melihat bukit padas yang gundul. Namun yang nampak hanyalah bayangan kehitam-hitaman yang tidak jelas. Baru sejenak kemudian ia menyadari keadaannya. Tubuhnya tentu kotor dan bahkan bernoda darah. Karena itu, maka iapun segera berlari-lari kecil pergi kesungai. Meskipun dimalam yang dingin, ia memaksa diri untuk mandi dam mencuci pakaiannya. Tetapi ia tidak dapat menunggu pakaiannya kering. Dengan pakaian yang basah ia berjalan kembali kepadukuhannya. Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika menengadahkan wajahnya. Langit telah menjadi merah. Sebentar lagi fajar akan segera menyingsing. “Aku bekerja lamban sekali,“ ia bergumam, “hari sudah pagi. Mungkin anak-anak muda itu telah member itakukan kepada ibuku bahwa aku telah hilang dibawa oleh orang-orang Kendali Putih itu.” Jlitheng tidak singgah lagi digardu. Ia langsung pulang kerumahnya. Ketika ia sampai dipinta dapur, matahari sudah mulai menjenguk di ujung Timur. Langkahnya terhenti ketika ia melihat ibunya sedang sibuk menghembus bara di perapian untuk menyalakan api. “Biar lah aku saja yang menyalakan biyung,“ berkata Jlitheng dari pintu. Ibunya terkejut. Ketika ia berpaling dilihatnya Jlitheng yang basah kuyup, “He, darimana kau ? Apakah kau kehujanan?” “Tidak biyung, aku telah tergelincir disungai ketika aku sedang mencuci muka.” “Anak bengal. Berhati-hatilah. Cepat, ganti pakaianmu agar kau tidak menjadi sakit.” Jlithengpun segera pergi kebiliknya. Ternyata ibunya belum mengetahui peristiwa yang terjadi di gardu perondan itu. “Tetapi sebentar lagi tentu ada seseorang yang datang untuk member itahukan hal itu,“ berkata Jlitheng didalam hatinya. Ternyata bahwa dugaan Jlitheng tidak keliru. Baru saja ia selesai berganti pakaian, maka ia sudah mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Jlitheng tidak mau terlambat. Jika ibunya membuka pintu, maka ia akan segera mendengar peristiwa yang telah terjadi. Sehingga karena itu, maka iapun tergesa-gesa pergi keruang depan untuk membuka pintu rumahnya yang masih tertutup. Seperti yang diduganya, yang datang adalah seorang kawannya diantar oleh seseorang yang telah berusia separo baya. Alangkah terkejutnya kedua orang itu ketika mereka melihat Jlithenglah yang telah membuka pintu untuk mereka, sehingga untuk beberapa saat mereka berdiri termangu- mangu. “Marilah, silahkan masuk,“ Jlitheng mempersilahkan. Orang yang telah berusia separo baya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah aku melihat Jlitheng yang sebenarnya ?” “Ya paman. Aku memang Jlitheng. Aku tahu, bahwa paman tentu terkejut melihat bahwa aku sudah berada dirumah. Karena itu silahkan duduk, aku akan berceritera sedikit tentang peristiwa yang baru saja terjadi atasku. Tetapi aku mohon, paman jangan berceritera kepada biyung yang sudah tua dan sakit-sakitan itu.” “Yang terjadi seperti sekedar mimpi,“ gumam kawan Jlitheng. “Duduklah.” “Terima kasih. Lebih baik kita duduk diserambi saja,“ berkata orang yang sudah berusia separo baya. Ketiganyapun kemudian duduk di sebuah dingklik bambu diserambi. Hampir tidak sabar lagi kawannya bertanya, “Jlitheng, apakah yang sudah terjadi. Kami semuanya menjadi gelisah. Bahkan kami sudah mencoba mencarimu di bulak- bulak dan kesungai. Kami sudah berpikir buruk sekali.” “Aku mengerti,“ jawab Jlitheng, “akupun sudah menduga, bahwa aku akan dicekiknya dan mayatku akan dilemparkannya kesungai.” “Tetapi kau masih segar,“ berkata orang yang separo baya. “Ya paman. Ternyata aku masih segar.” “Mulailah berceritera,“ kawannya mendesak. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia harus berhati-hati agar ceriteranya tidak menumbuhkan persoalan yang dapat mempersulit anak-anak muda Lumban. Ia sadar, bahwa ceritanya tentu akan segera tersebar. Bukan saja di Lumban Wetan, tetapi tentu akan didengar oleh anak-anak muda Lumban Kulon, dan barangkali juga Daruwerdi. Dengan demikian maka tidak mustahil bahwa orang-orang Kendali Putihpun akan dapat menyadap keterangan yang akan dikatakannya itu. “He, kenapa kau diam saja ?“ kawannya benar-benar tidak sabar lagi. “Baiklah,“ berkata Jlitheng, “aku sudah hampir pingsan saat aku dibawa oleh kedua orang yang menyebut dirinya murid- mur id dar i perguruan Kendali Putih.” “Ya, kami sudah melihat,“ kawannya tidak sabar. Jlitheng tersenyum. Kemudian iapun melanjutkannya, “Ditengah bulak aku dipaksa untuk berceritera. Dan akupun tidak dapat ingkar, bahwa telah terjadi peristiwa seperti yang sudah kita ketahui di pinggir hutan itu.” “Kau mencer iterakannya ?“ bertanya kawannya, “apakah itu bukan berarti bahaya bagi Daruwerdi?” “Aku tidak dapat berbuat lain.” Kawannya dan orang yang separo baya itu mengangguk- angguk. Mereka menyadari, bahwa apabila Jlitheng t idak mau mengatakannya, ia sendiri akan dapat dibunuh oleh kedua orang itu. “Lalu?” kawannya mendesak lagi. “Orang-orang itu memang gila,“ berkata Jlitheng kemudian, “sebelum aku dilepaskannya, maka aku telah dicekiknya. seolah-olah mereka benar-benar ingin membunuhku. Kemudian akupun dibenamkannya didalam parit yang airnya hanya setinggi mata kaki. Tetapi ternyata mereka tidak membunuhku. Mereka meninggalkan aku yang gemetar kedinginan dan ketakutan didalam parit. Tetapi aku tidak berceritera kepada biyung. Aku mengatakan kepadanya, bahwa aku tergelincir disungai sehingga pakaianku basah kuyup.” Kedua orang yang datang kepadanya itu mengangguk- angguk. Yang separo baya kemudian bergumam, “Bersukurlah bahwa kau masih tetap hidup.” “Ya, aku masih beruntung bahwa aku dapat kembali kepada ibuku.” “Tetapi kami seisi gardu menjadi gelisah. Ketika fajar mulai membayang, kami mencoba mencarimu dibulak. Tetapi kami tidak menemukan tanda-tanda apapun, sehingga akhirnya aku berdua telah diserahi tugas oleh kawan-kawan untuk member itahukan kepada ibumu, bahwa kau telah hilang dibawa oleh dua orang yang t idak dikenal.” “Aku tidak dapat kembali kegardu dengan pakaian yang kotor dan basah. Aku ingin berganti pakaian. Baru kemudian menemui kalian.” Kedua kawannya itupun kemudian memberikan beberapa pesan, agar Jlitheng tidak keluar saja dahulu dari padukuhan. Mungkin yang terjadi itu masih akan mempunyai akibat yang berkepanjangan. “Jika mereka kemudian mencari Daruwerdi, apakah kira- kira nasib mereka akan seperti kedua orang kawannya yang datang terdahulu?“ tiba-tiba saja kawannya bertanya. Jlitheng menggeleng lemah. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan apa yang aku ketahui tanpa memperhitungkan apapun juga.” Akhirnya kedua orang kawannya itupun menianggalkan Jlitheng yang nampak ketakutan. Tetapi yang dapat dilakukan oleh kedua orang itu hanyalah beberapa pesan yang tidak berarti. Sepeninggal kedua kawannya Jlithengpun segera pergi ke dapur. Kepada ibunya yang bertanya tentang tamunya, Jlitheng hanya mengatakan, bahwa keduanya menanyakan tentang air diparit yang rusak diujung bulak, karena anak-anak kecil yang kurang berhati-hati saat-saat mereka menggembalakan kerbau dan menggiringnya kesungai untuk dimandikan. Sementara itu, seperti yang diduga oleh Jlitheng, maka ceritera yang dibuatnya itu segera tersebar diseluruh padukuhan. Bahkan ceritera itupun telah didengar pula oleh anak anak muda Lumban Kulon. “Daruwerdi akan mendengarnya juga,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “ia akan datang kepadaku dan bertanya, apakah yang sebenarnya telah terjadi.” Dugaan Jlitheng itupun tepat. Demikian berita tentang Jlitheng itu sampai ketelinga Daruwerdi, maka iapun dengan tergesa-gesa telah pergi ke Lumban Wetan untuk bertemu dengan Jlitheng. “Cariterakan,“ berkata Daruwerdi. Jlitheng menceritakan peristiwa itu seperti yang diceriterakan kepada dua orang Lumban Wetan yang datang kepadanya. “Jadi kau dilepaskan begitu saja ?” bertanya Daruwerdi. “Tidak. Aku telah dibenamkan didalampar it.” “Maksudku, kau t idak dibunuhnya.” “Tentu tidak. Seperti yang kau lihat, aku masih hidup. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia menahan kejengkelannya atas kebodohan Jlitheng. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah kau sadar, bahwa dengan demikian kau sudah menghadapkan aku kepada kedua orang itu ?” “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Jika aku t idak mengatakannya aku dicekiknya sampai mati.” Daruwerdi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Jlitheng. Itu memang bukan salahmu. Seandainya bukan kau namun tentu akan ada pula orang lain yang menceritakan apa yang telah terjadi dipinggir hutan itu. Dan akupun harus bersiap menghadapi segala kemungkinan.” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Daruwerdi. Apakah yang kira-kira akan kau lakukan jika pada suatu saat orang-orang yang mengatakan dir inya mur id dar i Kendali Putih itu datang dalam jumlah yang jauh lebih banyak ?” Daruwerdi memandang wajah Jlitheng yang cemas. Namun kemudian anak muda itu justru tertawa. Katanya, “Bersembunyi. Bukankah itu cara yang paling baik untuk melawan mereka yang berjumlah melampaui kekuatan dan kemampuan ?” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya lagi, “Mungkin kau berhasil bersembunyi. Namun agaknya orang-orang Kendali Putih itu adalah orang-orang yang kasar dan jahat. Bagaimanakah j ika seandainya ia melepaskan dendamnya kepada kami. anak-anak Lumban yang tidak dapat membela dir i ?” Jawab Daruwerdi benar-benar diluar dugaan. Suara tertawanya masih terdengar. Katanya, “Itu adalah nasib. Nasib mereka yang menjadi sasaran itulah yang agaknya terlampau malang.” Sejenak Jlitheng terdiam. Wajahnya menegang. Namun katanya kemudian, “Daruwerdi. Kami, setidak-tidaknya aku sendiri, merasa sangat cemas. Aku merasa tidak tenteram lagi karena peristiwa yang berurutan telah terjadi itu. Jika benar katamu, maka ada kemungkinan besok atau lusa, Lumban akan menjadi sasaran kemarahan orang-orang Kendali Putih.” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku akan memikirkannya. Aku akan berusaha agar orang- orang Kendali Putih hanya mendendam kepadaku.” “Kau dapat menjamin ?” Jawabnyapun sangat mendebarkan. “Aku hanya dapat berusaha. Sebaiknya kalian jangan tergantung sekali dengan usahaku itu.” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Daruwerdi yang berdiri tegak dengan wajah yang sedikit terangkat, diwajahnya sama sekali tidak membayang kecemasan dan kekhawatiran tentang kemungkinan- kemungkinan buruk yang menimpa dir inya. “Tetapi,“ Jlithengpun kemudian berkata, “kami hanya dapat menyandarkan keselamatan kami kepadamu. Ternyata kau adalah satu-satunya orang yang dapat melawan penjahat- penjahat seperti yang telah kau bunuh itu.” “Jritheng,“ jawab Daruwerdi, “seharusnya akulah yang menuntut perlindungan anak-anak muda Lumban. Bukankah kau yang telah membuka rahasia pembunuhan itu ? Meskipun sudah aku katakan itu bukan salahmu, dan sudah aku katakan, bahwa siapapun akan dapat menyebutnya demikian. Namun karena itu, jangan kau menyalahkan aku pula bahwa aku sudah terlibat kedalam suatu keadaan yang sebenarnya tidak aku kehendaki pula. Juga apabila hal ini akasi menyentuh anak-anak muda Lumban.” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Jika demikian, apakah kau mempunyai cara yang akan dapat membantu kami menghindarkan dir i dari bencana ini ?” “Jlitheng,“ jawab Daruwerdi, “nampaknya memang aneh, dan barangkali tidak pernah terpikir oleh kalian. Bagaimana jika kalian bersikap seperti seorang laki- laki. Bukankah kalian mempunyai tenaga dan pikiran ? Kenapa kalian tidak berusaha melindungi dir i kalian sendir i?” “Kami tidak terbiasa berkelahi. Kami tidak mempunyai bekal apapun untuk melawan langsung kepada orang-orang yang garang itu.” “Aku akan mengajari kalian untuk sekedar dapat membela diri. Mungkin seorang-seorang kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa, karena untuk mencapai tingkatan orang-orang Kendali Putih kalian memer lukan waktu satu atau dua tahun, bahkan lebih. Tetapi jumlah kalian yang banyak itupun mempunyai pengaruh pula. Dua atau tiga orang Kendali Putih tentu tidak akan mampu melawan kalian seluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.” Jlitheng memandang Daruwerdi sejenak. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Kau mau mengajar kami untuk membela dir i ?” Sekali lagi Daruwerdi menegaskan, “Ya. Ajaklah kawan- kawanmu. Kita akan segera mulai. Selain hal itu akan dapat melindungi kalian dan padukuhan Lumban, maka akupun akan mempunyai kawan untuk memnertahankan dir i, jika pada suatu saat orang-orang Kendali Putih datang lagi kepadukuhan ini.” Kesanggupan Daruwerdi itupun kemudian telah diceriterakan oleh Jlitheng kepada kawan-kawannya. Bahkan Jlitheng telah menambahnya dengan beberapa harapan dan kemungkinan yang dikarangnya sendir i. “Kita akan menjadi pengawal padukuhan kita seperti seorang prajurit mengawal Kota Raja,“ katanya. “Kau pernah melihat seorang prajurit mengawal Kota Raja ?“ bertanya kawannya. Jlitheng ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Jlithenglah yang kemudian menjadi penghubung antara anak-anak muda yang ingin mempelajari olah kanuragan dengan Daruwerdi. Pada hari itu juga, Jlitheng telah member itahukan beberapa nama kepada Daruwerdi. “Kami siap, kapanpun akan dimulai,“ berkata Jlitheng. Daruwerdi tersenyum. Katanya kepada Jlitheng, “Aku bangga atas kalian. Tetapi sayang. Agaknya kesediaan kalian untuk cepat-cepat memiliki kemampuan kanuragan itu karena didesak oleh perasaan takut.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum sambil menjawab, “Mungkin kau benar Daruwerdi. Kami menjadi sangat ketakutan. Siang malam kami merasa tidak tenteram.” “Peristiwa itu baru semalam terjadi. Tetapi kau sudah merasa sangat tersiksa.” “Karena itu, kami cepat-cepat ingin memiliki bekal betapapun kecilnya.” “Baik. Aku akan menyediakan sekedar waktu. Setiap sore kalian harus datang ke padang ilalang disebelah bukit padas yang gundul itu.” “Bukit padas?” diluar sadarnya Jlitheng bertanya. “Ya. Aku kira tempat itu adalah tempat yang paling baik. Cukup luas dan tidak akan terganggu. Jauh dari padukuhan, sehingga anak-anak kecil tidak akan berkerumun seperti nonton wayang beber.” “Terima kasih,“ Jlitheng mengangguk-angguk. Dengan tergesa-gesa iapun segera menemui kawan- kawannya. Baik dari Lumban Wetan maupun dari Lumban Kulon. Setiap sore mereka harus berkumpul di padang ilalang disebelah bukit padas. Mereka akan mendapat latihan membela diri j ika benar-benar terjadi kerusuhan di padukuhan itu. Kesediaan Daruwerdi itupun segera menjadi pusat pembicaraan. Setiap orang merasa wajib mengikutinya. Seperti dikatakan oleh Daruwerdi, dorongan yang paling kuat dari dir i mereka sebenarnya adalah perasaan takut. Namun dalam pada itu, Jlitheng tidak melupakan Kiai Kanthi yang berada dibukit sebelah. Rasa-rasanya ia sudah terikat pada suatu kewajiban untuk datang dan melaporkan apa yang telah terjadi. Seolah-olah orang tua di bukit itu mempunyai pengaruh yang kuat atas darinya tanpa dapat dihindar i. Karena itulah, maka ketika malam menjadi gelap, Jlitheng dengan diam-diam telah pergi kebukit sambil membawa sebuah belanga dan sebuah kelenting seperti yang dipesankan oleh Kiai Kanthi. Namun dalam pida itu, Jlitheng merasa heran kepada dirinya sendir i. Setelah pertanyaan tiba-tiba saja timbul, “Apakah yang aku lakukan ini sekedar didorong oleh belas kasihan, atau perikemanusiaan. atau karena orang tua itu melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginanku untuk membuat saluran air yang dapat bermanfaat bagi sawah dan ladang di padukuhan Lumban, atau sebab-sebab lain ?” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia menggeram, “Sebenarnya aku belum tahu pasti, apakah sudah sewajarnya aku menempatkan diriku dibawah pengaruh wibawanya. Aku harus tahu pasti, bahwa ia benar-benar seorang tua yang pantas dihormati. Bukan sekedar seorang perantau yang mencari tempat sandaran bagi hidupnya. Atau bahkan meyakinkan bahwa ia bukan orang-orang Kendali Putih.” Jlitheng tiba-tiba saja mempercepat langkahnya. Sekilas terbayang, betapa orang tua itu berusaha menahan anak gadisnya, saat mereka bertemu dengan seekor harimau. Mereka menyatakan diri mereka sebagai perantau yang perlu dikasihani. Saat itu Kiai Kanthi tentu mengetahui bahwa Daruwerdi ada disekitar mereka dan berusaha untuk tidak member ikan kesan bahwa mereka memiliki ilmu. Kiai Kanthi sempat menekan pusat syaraf anaknya, sehingga anaknya tidak dapat berbuat apa-apa. “Tetapi apakah benar mereka memiliki kemampuan yang berlebih-lebihan. Apa salahnya jika aku mengetahui lebih jauh. Bukan sekedar mengenal ketahanan jasmaniah orang itu dan anaknya itu saat mereka mendaki bukit melalui tebing tebing padas yang sulit.“ Jlitheng telah benar-benar meng ambil keputusan. Demikianlah, maka sejenak kemudian Jlitheng telah berada di dekat sumber air dibukit itu. iapun mulai mempersiapkan rencananya. Kedatangan Jlitheng seperti biasa disambut oleh Kiai Kanthi dengan gembira. Sebagaimana seseorang yang terpisah dari lingkungannya, maka setiap kunjungan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, karena memang pada kodratnya, seharusnya manusia hidup didalam suatu lingkungan bersama diantara mereka. “Aku membawa belanga dan kelenting Kiai,“ berkata Jlitheng. “O, terima kasih ngger. Terima kasih,“ berkata Kiaa Kanthi sambil menerima benda-benda itu, “dengan benda-benda ini kami akan dapat menyiapkan makanan kami lebih baik lagi, jauh lebih baik.” Jlitheng mengangguk-angguk. Sekilas dilihatnya Swasti duduk bersandar sebatang pohon, menghadap kearah lain, seolah-olah sedang menikmati kelamnya hutan dilereng bukit itu. “Ia sama sekali tidak mengacuhkan kedatanganku,“ gumam Jlitheng didalam hatinya, “seandainya ia tidak menghiraukan aku, apakah ia tidak merasa senang, bahwa aku telah membawa belanga dan kelenting baginya ?” Jlitheng sendir i tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia merasa tersinggung. Sikap itu adalah sikap Swasti sejak ia bertemu pertama kali. Gadis itu memang tidak pernah mengacuhkan kehadirannya. Bahkan kadang-kadang justru berlindung dibalik batang-batang pohon. Perasaan itu, telah membuat sikap Jlitheng agak berbeda. Peristiwa yang terjadi di Lumbanpun agaknya telah berpengaruh pula atasnya. Kiai Kanthi ternyata memiliki ketajaman penglihatan. Bukan saja atas sikap Jlitheng yang nampak, namun orang itu seolah-olah dapat membaca kerut dikening anak muda itu. Tetapi Kiai Kanthi bersikap hati-hati. Tentu ada sesuatu yang telah terjadi sehingga mempengaruhi sikap anak muda itu. Meskipun demikian Kiai Kanthi t idak menanyakannya. Dipersilahkannya anak muda itu duduk diatas sehelai ketepe yang dianyamnya dari daun ilalang. “Terima kasih Kiai,“ Jlitheng mengangguk-angguk. Namun sambil duduk ia berkata, “aku ingin berceritera tentang sesuatu yang telah terjadi di Lumban, Kiai.” “Apakah ada peristiwa lain yang telah terjadi ngger ?“ bertanya Kiai Kanthi. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mulai berceritera tentang dua orang Kendali Putih yang mencari keterangan tentang kedua kawannya yang hilang. “Tidak ada pilihan lain kecuali membunuh mereka,“ berkata Jlitheng. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Jlitheng telah dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit, sehingga tidak banyak kesempatan baginya untuk memikirkan tindakan yang lebih tepat dari membunuh mereka. Tetapi Kiai Kanthi terkejut ketika Jlitheng kemudian bertanya, “Kiai, apakah benar Kiai tidak mengerti apa yang telah terjadi di Lumban itu.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak tahu maksudmu ngger. Bagaimana aku dapat mengetahui peristiwa itu, karena setiap saat siang dan malam aku menunggui anakku disini. Sekali-kali aku mengejar seekor binatang buruan atau mengail ditelaga itu.” Kiai Kanthi berhenti sejenak, lalu, “tetapi memang sudah terpikir olehku, bahwa aku tidak akan dapat berada ditempat ini seperti orang yang sedang bersembunyi untuk waktu yang terlalu lama. Persediaan garam yang aku bawa pun telah tinggal sedikit, sehingga pada suatu saat, aku tentu akan datang ke Lumban.” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah orang tua itu sejenak. Dalam cahaya perapian yang kemerah- merahan Jlitheng memang melihat, kerut-kerut keheranan di wajah orang tua itu Tetapi Jlitheng sudah bertekat untuk meyakinkan, apatah orang tua itu pantas dicurigai atau tidak. Selebihnya, apakah benar seperti yang diduganya sejak ia melihat orang tua itu untuk pertama kali, bahwa ia memang memiliki ilmu yang dapat dibanggakan sehingga sudah sepantasnya ia menghormat inya seperti seharusnya diberikan kepada orang- orang tua dan orang-orang berilmu. Jlithengpun sadar, bahwa keinginannya untuk mengetahui ilmu orang tua itu, juga didorong oleh suatu kerinduan kepada gurunya. Sejak ia terpisah dari gunung, maka rasa-rasanya ia memang memerlukan seseorang yang dapat dianggapnya sebagai gurunya dan lebih- lebih lagi sebagai ayahnya yang juga sudah tidak ada lagi. “Tetapi tidak semua orang dapat aku anggap sebagai guru dan orang tuaku,“ anak muda itu menggeram didalamhatinya. Karena itu, maka tiba-tiba saja sikap Jlitheng telah benar berubah. Dengan suara yang lantang dan kata-kata yang agak keras ia berkata, “Kiai, lelucon yang Kiai buat disini seharusnya sudah berakhir. Sejak kedatangan Kiai dan anak gadis yang Kiai katakan anak Kiai itu, Lumban bagaikan diguncang oleh gempa. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang terjadi. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Lumban telah dijamah orang-orang Kendali Putih dan orang Pusparuri. Sementara itu, Kiai yang berpura-pura sebagai seorang perantau telah berada pula di tempat ini.” “Angger,“ Kiai Kanthi memotong dengan waj lah yang tegang, “kenapa tiba-tiba saja angger menuduh aku seperti itu ?” Jlitheng seolah-olah tidak mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan ia menambahkannya, “Semula aku percaya dan bahkan mengagumi rencana Kiai untuk membuka sebuah padepokan, justru didekat mata air di bukit itu. Tetapi ternyata kedatangan Kiai telah diikut i oleh pjeristiwa-peristiwa yang menumbuhkan korban jiwa.“ Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Wajah anak muda itu, seolah-olah ia ingin melihat, apakah yang tersirat pada kata-katanya itu. “Angger,“ berkata Kiai Kanthi sareh, “sebagai orang tua, aku mencoba untuk mengerti apakah yang angger maksud sebenarnya dibalik kata-kata dan terlebih-lebih lagi sikap angger. Mungkin angger benar-benar mencur igai kami. Tetapi mungkin angger mempunyai maksud-maksud lain tertentu dengan sikap itu.” “Apapun tanggapan Kiai, tetapi aku akan tetap pada sikapku. Aku ingin membawa Kiai dan perempuan yang Kiai sebut sebagai anak gadis Kiai itu ke Lumban. Kalian berdua harus dihadapkan kepada kedua Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon.” “Jangan begitu anakmas,“ berkata Kiai Kanthi, “kau belum darat membuktikan bahwa kami berdua berbuat salah. Adalah tidak adil bahwa angger akan menangkap kami dan membawa kami menghadap Ki Buyut. Memang kami sudah berniat untuk menghadap Ki Buyut dan menyatakan niat kami membuka sebuah padepokan. Tetapi bukan sebagai dua orang tawanan. Kami akan menghadap sebagai manusia yang bebas dan dapat menentukan sikap menurut keinginan kami.” “Jangan membantah Kiai. Aku dapat memaksa Kiai. Jika perlu aku akan minta bantuan kepada Daruwerdi. Aku sendiri dapat membunuh dua orang mur id perguruan terkenal Kendali Putih, dan Daruwerdipun dapat melakukannya pula. Karena itu, tidak ada kesempatan bagi Kiai untuk melawan kehendakku.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau memang aneh ngger. Malam ini kau membawa belanga dan kelenting kepada kami. Tetapi tiba-tiba saja kau bermaksud menangkap kami. Jika demikian maka belanga dan kelenting ini tidak akan ada artinya.” Pertanyaan itu benar-benar tidak diduga-duga oleh Jlitheng. Karena itu maka untuk sesaat ia justru terdiam. Dipandanginya belanga dan kelenting yang dibawanya dengan diam-diam dari padukuhan. Namun ternyata bahwa perasaannya telah digelut oleh berbagai macam tanggapan atas orang tua itu, sehingga ia telah mengambil sikap untuk meyakinkan siapakah sebenarnya yang telah dihadapinya itu. Apakah ia hanya sekedar seorang perantau, seorang yang benar-benar mencari daerah baru, atau seseorang yang memang mempunyai niat yang kurang baik seperti orang- orang Kendali Putih dan mungkin juga seperti orang-orang Pusparuri, meskipun dengan gaya yang berbeda-beda. Namun dalam pada itu, selagi Jlitheng merenungi pertanyaan Kiai Kanthi. tiba-tiba telah terdengar suara dari kegelapan, “Ayah, kenapa ayah masih juga belum berbuat apa-apa.” Jlitheng berpaling. Dilihatnya Swasti tidak lagi duduk bersandar sebatang pohon diarah yang berseberangan, namun ia telah berdiri tegak dengan sorot mata yang membara. “Ayah,“ berkata Swasti, “aku tahu. Kita berdua dianggapnya seperti orang-orang Kendali Putih. Atau setidak- tidaknya kita mempunyai hubungan dengan mereka. Jika memang anak muda itu berniat menangkap kami, maka ia harus membuktikan, bahwa ia memang mampu melakukannya.” Kiai Kanthi menegang sejenak. Namun kemudian ia melangkah mendekati anak gadisnya sambil berkata, “Sabarlah Swasti. Kita harus mengerti, bahwa kecurigaan yang demikian, dapat saja timbul dihati siapapun juga. Angger Jlitheng telah didorong oleh keadaan, sehingga ia telah berubah sikap. Semula ia mener ima kedatangan kami dengan baik. Itu adalah nuraninya yang sebenarnya. Perubahan yang timbul itu tentu ada sebabnya.” “Apapun sebabnya, tetapi aku tidak akan bersedia datang kepada siapapun sebagai seorang tangkapan,“ geramSwasti. “Aku sedang mencoba menjelaskan kepadanya.” Namun yang menjawab adalah Jlitheng, “Bersedia atau tidak bersedia. Aku mempunyai alasan untuk memaksa kalian. Pertama, karena aku adalah anak muda Lumban yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketenangan padukuhanku. Kedua, karena aku memang memiliki kemampuan untuk menangkap kalian berdua.” “Anakmas,“ berkata Kiai Kanthi, “sikap anakmas memang sangat meragukan. Tentu anakmas tidak akan dapat berkata kepada Ki Buyut Lumban Wetan apalagi Lumban Kulon, bahwa kaulah yang telah menangkap kami karena Jlitheng adalah sekedar anak seorang janda miskin di Lumban Wetan. Seorang anak muda yang dungu dan sedikit malas. Seorang pemimpi yang berangan-angan tentang air yang mengalir diparit meskipun dimusim kemarau. Tidak ngger. Tidak akan ada seorangpun yang mempercayaimu.” Wajah Jlitheng benar-benar menjadi tegang. Namun wajah itu bertambah tegang ketika Swasti meloncat maju sambil berkata lantang, “Ayah jangan bersikap terlalu lunak. Memang kita adalah orang-orang yang aneh. Kadang-kadang kita merasa perlu untuk hidup dan lingkungan sesama. Tetapi kita adalah orang-orang yang telah diracuni oleh kecurigaan dan permusuhan. Karena itu, biarlah ia memuaskan dirinya dengan sikapnya. Aku akan membuktikan, bahwa ia tidak mempunyai kesempatan apapun untuk menangkap kita. Apalagi ayah, sementara aku akan membela dir iku dengan kekerasan j ika ia akan memaksa dengan kekerasan pula.” “Swasti,“ potong Kiai Kanthi. Tetapi Swasti sudah melangkah maju mendekati Jlitheng. Sikapnyapun telah berubah, seperti sikap Jlitheng yang berubah pula. Gadis itu tidak lagi berlindung dibalik sebatang pohon, seakan-akan untuk menyembunyikan dir i dari tatapan mata anak muda yang belum banyak dikenalnya itu. Tetapi kini ia melangkah maju dan berhenti tidak lebih dari dua langkah dihadapannya. Dengan tajamnya ia menatap mata Jlitheng yang hitam pekat tanpa ragu-ragu. Ternyata dada Jlitheng menjadi berdebar-debar melihat sikap gadis yang mantap itu. Ia baru mengetahui, bahwa gadis itu mampu mengikutinya meloncat batu-batu padas di tebing pegunungan saat mereka mendaki mencari belumbang yang berair melimpah itu. Terasa kulitnya meremang ketika Jlitheng mendengar gadis itu berkata kepadanya, “Ki Sanak. Sekarang apa yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Jika kau memang mampu mengalahkan kami, separti kau mengalahkan orang-orang Kendali Putih, terserahlah apa yang akan kau lakukan. Mungkin kau merasa perlu membunuh kami seperti kau membunuh orang-orang Kendali Putih, mengubur mayat kami didekat belumbang itu atau membiarkan mayat kami menjadi makanan binatang buas. Kemudian, kau akan mengendalikan air belumbang itu sebagai seorang pahlawan bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon, untuk merebut perhatian rakyatnya yang kini tertuju kepada Daruwerdi.” Dada Jlitheng tergetar. Ia tidak menduga bahwa Swasti akan menghadapinya dengan tabah tanpa gentar sama sekali, meskipun ia sudah mencer iterakan tentang dua orang Kendali Putih yang telah dibunuhnya. Sehingga dengan demikian, maka Jlitheng mulai menjajagi kemampuan gadis itu menurut sikap dan tanggapannya. Karena itu, Jlithengpun menjadi semakin berhati-hati. Namun demikian ia harus selalu menyadari, apakah yang sebenarnya ingin dilakukan atas kedua orang itu. Ia tidak boleh terdorong sehingga yang terjadi kemudian akan menumbuhkan penyesalan dihatinya. Yang ingin dilakukan adalah sekedar meyakinkan dir i, siapakah yang sebenarnya sedang dihadapinya, sehingga ia akan dapat menempatkan diri dengan tepat sebaik-baiknya. Kecuali jika kemudian ternyata bahwa keduanya adalah orang- orang yang bersangkut paut dengan perguruan Kendali Putih atau perguruan lain yang mempunyai kepentingan dengan Daruwerdi dan bersikap seperti orang-orang Kendali Putih itu. Namun kini agaknya Swastilah yang berdiri dihadapannya. Bukan Kiai Kanthi. Apalagi ketika ternyata bahwa Kiai Kanthi agaknya membiarkan anak gadisnya itu menghadapinya. Bagaimanapun juga ternyata bahwa Jlitheng agak tersinggung. Dengan demikian Kiai Kanthi menempatkannya dalam tataran anak gadisnya, sehingga orang tua itu menganggap bahwa Swasti akan dapat menyelesaikan persoalannya. “Aku telah membunuh dua orang murid dari Kendali Put ih. Apakah orang tua itu tidak dapat mengerti, tataran kemampuan seseorang yang telah berhasil membunuh dua orang murid dari perguruan Kendali Putih?” Tetapi Jlitheng tidak dapat berpikir lebih lama lagi. Swasti benar-benar telah bersikap untuk melawannya. Bahkan kemudian gadis itu berkata, “Ki Sanak. Jangan menunggu lagi. Sebelum matahari terbit, kita harus sudah dapat menentukan, apakah yang akan kita lakukan masing-masing. Kau sudah mengambil jalan yang paling dekat untuk mengetahui siapakah kami. Aku dan ayah. Dan akupun akan memilih jalan serupa untuk menyatakan dir i kami.” Jlitheng tidak dapat menarik diri dar i persoalan yang sudah dimulainya. Karena itu, maka katanya kepada Kiai Kanthi, “Kiai. Apakah Kiai sudah mempertimbangkan, bahwa Swastilah yang harus berdiri didepan, karena tersinggung mendengar kata-kataku?” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Dengan nada yang datar ia menjawab, “Jangan bertanya begitu ngger. Aku menjadi bingung untuk menjawabnya. Bukankah angger dapat menjajagi maksudku seperti aku dapat menjajagi maksud angger ?” Karena itu, yang akan terjadi biarlah terjadi seperti yang kau hadapi tanpa keterangan apapun.” Debar jantung didalam dada Jlitheng terasa semakin cepat berdetak. Tetapi ia benar-benar tidak dapat mengurungkan niatnya. Karena itu, maka katanya, “Baiklah Kiai. Jika hal ini harus terjadi tanpa keterangan apapun juga.” Swasti yang tidak sabar lagi berkata, “Apapun yang kau sebutkan dengan peristiwa ini, bagiku jelas.” Jlithengpun segera mempersiapkan dir i. Dadanya menjadi semakin terguncang ketika ia melihat Swasti mulai bersikap. Ternyata bahwa gadis itu mengenakan pakaian rangkap sehingga ia telah siap menghadapi segala kemungkinan. Namun Jlitheng masih saja ragu-ragu menghadapi gadis itu. Meskipun menilik sikapnya, Swasti tentu memiliki bekal yang cukup. Apalagi gadis itu sudah mendengar, bahwa Jlitheng baru saja membunuh dua orang dari perguruan Kendali Putih. Karena Jlitheng masih ragu-ragu, Swasti yang tidak sabar lagi telah memancing perkelahian. Dengan tangannya ia menyerang kening meskipun tidak bersungguh-sungguh, karena iapun sadar, bahwa Jlitheng telah bersiap sepenuhnya. Meskipun demikian Jlitheng harus mengelak. Ia bergeser setapak sambil memir ingkan tubuhnya. Namun tidak diduganya, bahwa tiba-tiba saja Swasti telah menyerang dengan kakinya langsung kelambung anak muda itu. Serangan itu telah mengejutkan Jlitheng. Namun iapun mampu bergerak cepat, sehingga iapun telah meloncat surut. Tetapi Swasti tidak membiarkannya. Dengan cepat ia memburu. Serangan berikutnya datang beruntun. Kakinya berputar mendatar. Sekali lagi Jlitheng terpaksa bergeser. Namun yang terjadi telah menggetarkan dadanya. Ternyata Swasti benar-banar memiliki kelncahan bergerak dan tenaga yang besar. Jlitheng sadar, bahwa pada bagian-bagian pertama dari perkelahian itu, Swasti tentu masih belum mempergunakan segenap kekuatan dan kemampuannya. Namun telah terasa desir angin yang menyentuh tubuhnya, saat-saat serangan Swasti menyambarnya. Jlitheng tidak dapat merenungi saja serangan-serangan Swasti. ia merasa perlu untuk memperkecil kemungkinan yang dapat menjadi gawat baginya. Karena itu maka Jlithengpun bukan saja harus menghindar terus-menerus. Tetapi ketika ia mendapat kesempatan, maka iapun mulai menyerang pula. Sejenak kemudian, perkelahian itupun meningkat semakin cepat dan keras. Masing-masing telah dibumbui oleh kehangatan darah mudanya yang mulai menggelegak. Meskipun sejak semula Jlitheng telah menyangka bahwa Swasti memiliki kemampuan yang cukup, namun ketika keduanya mulai membenturkan ilmunya, barulah Jlitheng menyadari, bahwa yang dihadapinya bukannya sekedar murid- mur id dari Kendali Putih. Meskipun ia harus melawan dua orang murid perguruan Kendali Putih yang sudah banyak dikenal itu, namun ia merasa, bahwa seorang gadis yang bernama Swasti itu memiliki kemampuan yang lebih besar. Meskipun gadis itu berasal dari daerah yang dimusnakan oleh tanah longsor, gempa dan banjir menurut pengakuannya, namun ia menyimpan ilmu yang luar biasa dari perguruan yang belumdimengertinya. Dalam pada itu, perkelahian diantara kedua anak-anak muda itu semakin lama menjadi semakin sengit. Jlitheng terdorong oleh kecepatan gerak lawannya telah mengerahkan kemampuannya ipula untuk mengimbanginya. Bahkan ternyata. bahwa, kekuatan gadis itupun telah memeras kekuatannya pula. Ketika mula-mula ia menjajagi kekuatan serangan Swasti dengan menangkis serangannya, terasa bahwa tangannya telah tergetar. Meskipun saat itu Jlitheng belum mempergunakan segenap kekuatannya namun iapun menyadari, bahwa Swasti-pun masih lebih banyak menjajaginya pula. Tetapi semakin lama, kedua anak-anak muda itu tidak lagi sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Tenaga mereka perlahan- lahan telah tersalur semakin besar, sehingga akhirnya, keduanya tidak lagi mampu menahan diri dengan memperhitungkan hentakan-hentakan tenaga masing-masing. Kiai Kanthi memperhatikan perkelahian itu dengan dada yang berdebar. Sejak Swasti meningkat semakin besar menjelang remaja, ia sudah membuat gadis itu menyimpang dari kebanyakan kawan-kawannya. Mula-mula Swasti merasakan tekanan ayahnya yang memaksanya untuk memisahkan waktu bermainnya dengan t ingkah laku yang tidak disukainya. Bersembunyi ditempat yang tidak disentuh kaki manusia di balik rimbunnya hutan dilereng pegunungan sebelum gempa dan tanah longsor yang dahsyat menghancurkan hutan kecil itu, dengan latihan-latihan yang mula-mula terasa menjemukan. Namun perlahan-lahan Swasti ternyata tertarik juga pada olah kanuragan yang diajarkan oleh ayahnya. Ketika ia menginjak usia remajanya, maka Swasti telah memiliki dasar-dasar ilmu yang sudah jarang dikenal orang, meskipun ada juga beberapa perguruan lain yang memiliki persamaan. Tetapi ada cir i-cir i yang member ikan warna tersendiri bagi ilmu Kiai Kanthi yang diturunkannya kepada anak gadisnya. Kiai Kanthi mengerutkan keningnya ketika ia melihat gadisnya terpaksa menghindar, dua langkah surut. Namun dengan serta merta Swasti meloncat sambill menjulurkan kakinya lurus menyamping. Tetapi ternyata bahwa ia tidak benar-benar ingin menyerang dengan kakinya. Sebuah putaran telah mendorongnya kesampimg. Dengan lincahnya ia melenting dengan tangan terjulur lurus. Jlitheng sempat mengelak meskipun desir angin yang lembut telah menyentuh wajahnya. Hampir saja keningnya disambar tangan Swasti. Betapapun gelapnya malam, dan betapapun kecil api perapian yang menerangi arena perkelahian itu, namun Jlitheng mulai melihat ciri-ciri yang khusus pada lawannya. Ia melihat Swasti dalam sikap yang menumpukan kekuatan pada hentakkan-hentakkan yang cepat. Semula Jlitheng mengira bahwa sikap itu sesuai dengan unsur keperempuanan Swasti yang lebih sesuai dengan penempaan dir i dalam kecepatan bergerak daripada penyusunan kekuatan wadag. Namun ternyata dugaannya salah. Meskipun Swasti seorang gadis, tetapi kekuatan tubuhnya benar-benar mengagumkan. Pengenalan Jlitheng pada unsur gerak Swasti yang lain adalah, bahwa Swasti selalu membuka jari-jar i tangannya. Dalam keadaan yang tiba-tiba, serangannya lebih banyak tertuju kepada bagian yang lemah dengan mempergunakan ibu jarinya. Bukan jari- jari yang lain. Ketika Jlitheng agak terlambat mengelak, maka lehernya telah tersentuh ibu jari Swasti tepat mengenai sasarannya, maka perlawanannya tentu akan terhenti. Mungkin ia akan menjadi lemas dan pernafasannya bagaikan tersekat dikerongkongan. Selain serangan-serangan tangannya yang cepat dan berbahaya, kaki Swastipun merupakan bahaya yang setiap saat dapat melumpuhkannya. Nampaknya Swasti terlalu percaya kepada tumitnya. Sementara itu, Swastipun telah menilai unsur-unsur gerak lawannya pula. Seperti Jlitheng, iapun melihat beberapa kekuatan pada tata gerak Jlitheng. Jlitheng bergerak lebih mantap. Menurut pengamatan Swasti. Jlitheng banyak mempergunakan sikunya, bukan saja untuk menangkis, tetapi juga untuk menyerang. Tetapi lebih dari ujud dan gerak masing-masing, maka Jlitheng maupun Swasti telah menilai lawannya lewat sifat dan watak gerak masing-masing. Betapapun cepatnya dan berbahayanya ibu jari Swasti, namun menurut Jlitheng, watak ilmu gadis itu bukannya ilmu yang garang dan kasar. Ada beberapa dasar tata gerak yang langsung melumpuhkan lawan, tetapi bukannya serangan yang ganas dan langsung mematikan. Kecepatan bergerak Swasti adalah ujud dari percikan watak ilmunya yang lebih banyak menghindari benturan-benturan. Namun ternyata bahwa jika benturan itu harus terjadi, Swasti telah mempersiapkan dir i dengan kekuatan yang dapat diandalkan. Swastipun melihat, bahwa Jlitheng bukan saja bertempur dengan kekuatannya. Tetapi ia bertempur dengan lebih banyak mempergunakan otaknya. Geraknya kadang-kadang tidak dapat diduganya terlebih dahulu. Namun terasa, bahwa perhitungannya yang tepat, membuat lawannya kadang- kadang bingung dan dihadapkan kepada keadaan yang tidak terduga. Jika kedua, orang yang bertempur itu berusaha menilai kekuatan dan kelemahan masing-masing, maka Kiai Kanthi mendapat kesempatan yang cukup untuk melihat cir i-cir i gerak dan watak kedua ilmu yang saling berbenturan itu. Sekali-kali ia menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk lemah. Tetapi Kiai Kanthi t idak menjadi cemas. Nampaknya keduanya masih saling menjajagi. Dari unsur gerak yang paling sederhana, sampai kepada ketepatan gerak dan arah yang rumit. Sentuhan-sentuhan kecil sampai benturan- benturan yang dahsyat dengan mengerahkan segenap kekuatan wadag. Namun demikian, perlahan- lahan pertempuran itupun meningkat semakin seru. Bukan saja benturan-benturan wadag dengan sepenuh kekuatan, namun ketika tubuh mereka telah basah oleh keringat, dan jantung mereka berdentang semakin cepat, maka sadar atau tidak sadar, mulai mengalirlah kekuatan cadangan pada loncatan-loncatan yang cepat dan benturan-benturan yang keras. Kiai Kanthi yang berdiri diluar lingkaran pertempuran mengerutkan keningnya. Ia harus semakin berhati-hati menyaksikan pertempuran yang semakin meningkat itu. Bukan saja benturan kekuatan wajar, tetapi penyaluran kekuatan cadangan yang mulai bersentuhan, memberikan pertanda, bahwa keduanya semakin dalam dicengkam oleh perasaan daripada nalar. Apalagi keduanya masih dialiri darah kemudaan mereka yang panas dan cepat mendidih didalam jantung masing-masing. Meskipun demikian. Kiai Kanthi masih membiarkan keduanya bertempur. Dalam kegelapan ia menyaksikan pertempuran itu dengan saksama. Tetapi ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Apabila sesuatu terjadi pada salah seorang dari keduanya, maka ia akan dibebani oleh tanggung jawab, yang akan dapat membuatnya menyesal disepanjang hidupnya. Tetapi, sifat ingin tahunyapun telah mengekangnya pula untuk memisahkan keduanya, ia ingin lalui lebih jauh, betapa tinggi ilmu yang telah dikuasai oleh anak muda yang mengaku bernama Jlitheng itu. Karena itu, maka orang tua itu masih berdir i diam. Ia melihat Jlitheng menjadi semakin mantap dan Swastipun bergerak semakin cepat. Namun benturan-benturan yang kemudian terjadi telah mendebarkan jantungnya. Kedua anak muda itu telah tidak lagi sekedar mempercayakan dir inya pada kekuatan wajarnya. Dengan tegang Kiai Kanthi melihat Jlitheng yang terdesak surut, telah menghentakkan kakinya diatas tanah yang lembab. Kiai Kanthi sadar, bahwa Jlitheng telah menghentakkan kekuatan cadangannya pula lewat serangannya yang kemudian menyusul dengan cepat dan keras. Sambil menggeram anak muda itu menyerang dengan menjulurkan tangannya. Jari-jarinya nampak berkembang, seolah-olah ingin menerkam wajah lawannya. Tetapi Swasti yang menyadari keadaannyapun telah menyalurkan kekuatan cadangannya pula. Kakinya menjadi semakin cepat, sehingga gadis itu seolah-olah tidak berjejak diatas tanah. Tangannya yang kadang-kadang mengembang, membuatnya bagaikan terbang berputaran. Dengan tangkasnya ia menghindar i serangan Jlitheng. Sambil merendahkan dirinya ia sempat menyentuh tangan lawannya kesamping. Hampir diluar pengamatan mata wadag, kakinya telah terjulur menyerang lambung lawannya yang terbuka. Jlitheng tidak sempat mengelak. Tetapi ia tidak membiarkan lambungnya dihantam tumit Swasti. Meskipun kaki Swasti meluncur dengan cepat, namun Jlitheng masih sempat melindungi lambungnya dengan sikunya. Yang terjadi kemudian adalah suatu benturan kekuatan. Ketika keduanya tergetar dan terdorong selangkah surut, keduanya menyadari bahwa keduanya telah mulai mempergunakan kekuatan melampaui kekuatan wadag mereka yang sewajarnya. “Pantas anak ini dapat membunuh dua orang mur id Kendali Putih,” desis Kiai Kanthi yang hanya didengarnya sendiri. Ia yakin bahwa Jlitheng masih akan meningkatkan perlawanannya. Demikian pula Swasti, sehingga pada suatu saat mereka akan sampai pada tingkat yang membahayakan. Karena itu, maka iapun kemudian melangkah maju. Dengan nada tinggi ia berkata, “Swasti, sudahlah. Bukan caranya demikian untuk menyelesaikan masalah. Angger Jlitheng, sudahlah. Kita akan berbicara dengan baik. Kita sudah dapat mengetahui, siapakah sebenarnya kita masing-masing.” Tetapi jantung Kiai Kanthi berdentangan semakin cepat ketika ia mendengar Swasti menjawab, “Bukan salahku ayah. Aku hanya melayaninya. Aku hanya membela dir i dengan cara yang sama seperti yang dipilihnya.” “Angger Jlitheng …“ berkata Kiai Kanthi yang terputus oleh jawaban anak muda itu, “ … aku ingin membuktikan kata- kataku. Bahwa aku akan berhasil menangkap kalian berdua.” “Tidak ngger. Aku tahu, bukan itulah maksudmu yang sebenarnya.” Jlitheng tidak menjawab. Justru Swasti menyerang semakin cepat. Karena itu, maka Jlithengpun bergerak semakin cepat pula. “Ngger. Kau tentu hanya akan meyakinkan, siapakah yang kau hadapi sekarang ini. Yang kau lakukan sudah cukup. Bahkan sudah berlebihan.” Jlitheng tidak menjawab. Persoalan yang bergejolak dihatinya telah bergeser. Bukan saja keinginannya untuk menjajagi dan meyakinkan siapakah yang sedang dihadapi, namun harga dir inya sebagai seorang anak muda sudah tersinggung. Swasti adalah seorang gadis. Umurnya tidak akan lebih tua daripadanya. Sebagai seorang laki- laki yang pernah membunuh dua orang mur id perguruan Kendali Putih, apakah ia akan membiarkan dir inya diletakkan dalam tataran yang setingkat dengan seorang gadis perantau yang umurnya lebih muda daripadanya ? Tiba-tiba saja Jlitheng menggeram. Dengan tegang ia memandang ke dir inya sendiri sambil berkata didalam hati, “He, apakah kau akan menyerah terhadap seorang gadis kecil yang dungu dan binal itu ?” Karena itulah, maka Jlitheng justru semakin mengerahkan tenaganya. Tenaga cadangannya yang mempunyai kekuatan berlipat dari tenaga wajarnya. Bukan lagi seperti niatnya semula, tetapi semata-mata karena ia seorang laki-laki, sedang Swasti adalah seorang gadis yang lebih muda daripadanya. Tetapi ternyata bahwa Swastipun mampu pula berbuat serupa. Gadis itu tidak lagi sekedar bertumpu kepada kekuaatan wajarnya, ia tidak lebih dari seorang gadis yang menurut kodratnya tidak akan melebihi kekuatan seorang laki- laki. Tetapi Swasti ternyata memiliki kelebihan dari gadis-gadis kebanyakan. Ia mampu mengungkap kekuatan yang tersembunyi didalam dir inya, yang hanya dapat nampak dengan sikap dan laku yang khusus, yang memerlukan waktu dan kemampuan untuk mempelajarinya. Karena itu, betapapun Jlitheng mengerahkan kekuatan dan ilmunya, yang wajar maupun yang tersembunyi, ternyata bahwa Swasti mampu mengimbanginya. Kecepatan bergerak dari kaki gadis itu kadang-kadang membuat Jlitheng kehilangan sasaran. Meskipun iapun mampu melakukannya pula apabila Swasti menyerangnya. Kedua anak muda itu bertempur semakin dahsyat. Mereka tidak lagi dua orang yang bergerak dan berbenturan dalam keadaan wajar, sehingga karena itu, maka pertempuran itupun telah membuat suasana yang lain dihutan itu. Pepohonan berguncang bagaikan diputar oleh angin pusaran. Ge-rumbul-gerumbul berserakan dan dahan-dahan berpatahan. Batu-batu padas pecah dan terlempar berhamburan. Kiai Kanthi semakin lama menjadi semakin cemas. Ia melihat perkelahian itu berkembang semakin dahsyat. Bahkan kemudian nampaknya kedua anak muda itu benar-benar telah kehilangan kendali. Dengan hati-hati Kiai Kanthi mendekat. Sekali lagi ia mencoba berteriak menghentikan pertempuran yang semakin dahsyat titu. Tetapi suaranya bagaikan hilang ditelan oleh gemuruhnya angin yang timbul karena ayunan kekuatan yang terungkap dari kekuatan cadangan yang justru jauh lebih dahsyat dari kekuatan wajar kedua anak muda yang sedang bertempur itu. “Angger Jlitheng,“ teriak Kiai Kanthi, “hent ikan, hentikan.” “Aku bukan laki-laki cengeng yang menyerah kepada perempuan,“ geramJ litheng. Kiai Kanthi menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar bahwa yang kemudian bergejolak, didada Jlitheng adalah harga dirinya sebagai laki-laki. Karena itu, maka iapun mencoba menghentikan Swasti. Teriaknya, “Berhentilah Swasti. Mar ilah kita bicara.” Tetapi Swastipun berteriak tidak kalah lantangnya, “Aku bukan perampok yang mengulurkan kedua tangan dan kaki untuk dikat dan diseret kehadapan siapapun.” “Kita dapat berbicara dengan baik,“ Kiai Kanthipun berteriak pula. “Bukan aku yang mulai,“ jawab Swasti. “Siapapun yang mulai, hentikanlah.” “Bukan aku yang harus menghentikan lebih dahulu.” Kiai Kanthi menjadi bingung. Persoalannya sudah jauh bergeser, sehingga justru akan sangat sulit baginya untuk menghentikannya, karena yang berbicara dihati kedua anak- anak muda itu adalah perasaannya, bukan lagi nalarnya. Dalam pada itu, ternyata keduanya telah memeras segala kemampuan dan kekuatan. Swasti menyambar-nyambar seperti seekor burung lawet diudara, sementara Jlitheng mengimbangi kecepatan itu dengan sikap yang kuat dan tangguh seperti seekor burung elang. Tetapi sentuhan ujung jarinya akan mampu mematahkan tulang dan menyobek kulit daging. Semakin lama libatan serangan masing-masing tidak semuanya dapat dielakkan dan ditangkis. Satu-satu tubuh merelka telah tersentuh oleh kekuatan tenaga lawan yang dahsyat. Namun daya tahan tubuh mereka masing-masingpun melampaui daya tahan orang kebanyakan. Tetapi perasaan sakit dan nyeri telah merambati tubuh mereka. Benturan dan sentuhan semakin ser ing terjadi. Sekali- kali terdengar salah seorang diantara mereka berdesis tertahan. Namun kadang-kadang terdengar juga hentakkan yang keras. Kiai Kanthi menjadi semakin bingung. Nampaknya keduanya telah kehilangan kesadaran dan pertimbangan. “Aku harus menghentikannya,“ gumam orang tua itu. Karena itu maka Kiai Kanthipun justru menjauhi beberapa langkah. Sekilas ia masih sempat melihat dedaunan yang bergetar. Yang tidak mampu lagi berpegang pada ranting- rantingnya, telah runtuh berjatuhan diantara semak-semak yang hancur berserakkan. “Sekali lagi aku memperingatkan,“ teriak Kiai Kanthi. Tetapi kedua anak-anak muda itu tidak menghiraukannya. Kiai Kanthi yang cemas itu tidak dapat menunda lagi. Ia mulai melihat sentuhan-sentuhan yang berbahaya dari keduanya. Salah seorang dari kedua anak muda itu kadang- kadang terlempar jatuh. Meskipun ia segera melenting bangun, tetapi benturan-benturan berikutnya segera menyusul dengan dahsyatnya. Sejenak Kiai Kanthi termenung. Nampak ia masih tetap ragu-ragu. Namun kemudian ia menyilangkan tangannya didadanya. Dengan tajamnya dipandanginya kedua anak muda yang sedang bergulat dengan ilmunya masing-masing untuk mempertahankan harga dir inya. Kiai Kanthi tidak berteriak lagi. Perlahan-lahan bibirnya bergerak, “Cukup, berhentilah. Berhentilah.” Suaranya tidak terlalu keras. Tetapi berbareng dengan lontaran kata-kata itu, seolah-olah angin prahara telah bertiup. Ditelinga kedua anak muda yang sedang bertempur itu, suara Kiai Kanthi bagaikan ledakan seribu guruh dilangit. Sesaat kedua anak muda itu masih bertahan. Mereka masih terlempar oleh ilmu masing-masing dalam benturan yang dahsyat. Namun ketika Kiai Kanthi mengulangi kata-katanya maka merekapun bagaikan lumpuh. Suara itu menggelegar didalam dada mereka, seolah-olah meruntuhkan hati dan jantungnya. Ketika sekali lagi Kiai Kanthi bergumam, maka keduanya tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Keduanyapun diluar sadar, telah menutup telinga masing-masing sambil menyeringai menahan nyeri dijantungnya. “Berhentilah,“ Kiai Kanthi masih bergumam. “Cukup ayah. Cukup,“ teriak Swasti. “Ampun Kiai, aku akan berhenti,“ sambung Jlitheng. Kiai Kanthi masih berdir i ditempatnya. Dipandanginya kedua anak muda yang memegangi telinga mereka, seolah- olah kata-kata yang dilontarkan oleh Kiai Kanthi itu menyusup kedalamdada mereka lewat getaran selaput telinga. Tetapi bagaimanapun juga mereka menyumbat telinga mereka, namun suara itu tetap menghentak-hentak jantung, seolah-olah hendak merontokkannya. Namun perlahan- lahan hentakkan suara yang bergulung- gulung didalam dada bagaikan amuk prahara itu, semakin mereda. Semakin lama menjadi semakin lunak dan seolah- olah lenyap ditelan kesepian. Kembali hutan dilereng gunung itu menjadi senyap. Yang terdengar kemudian adalah gemerisik air dari beiumbang yang berair melimpah, disisipi oleh desir angin lembut didedaunan. “Angger Jlitheng,“ terdengar suara Kiai Kanthi dengan nada dalam, suara wajarnya, “aku tidak mempunyai cara lain untuk menghentikan kalian yang seolah-olah menjadi wuru karena terlalu banyak minum tuak. Kalian seolah-olah tidak mendengar suaraku lagi, atau kalian benar-benar telah kehilangan nalar. Angger Jlitheng tersinggung karena kau seorang laki-laki, sedang lawanmu adalah seorang perempuan. Sedangkan Swasti tersinggung karena kau akan ditangkap dan dibawa menghadap Ki Buyut Lumban Wetan atau Lumban Kulon.” Kedua anak muda itu kemudian duduk tepekur. Ternyata perkelahian yang baru saja terakhir itu telah menghisap sebagian besar tenaga mereka. Tenaga wajar dan tenaga yang tersimpan didalam dir i .sebagai tenaga cadangan, sehingga keduanya menjadi sangat letih. Nafas mereka bekejaran bagaikan berebut dahulu lewat dilubang hidung. Dengan susah payah mereka mencoba mengendalikan pernafasan mereka dan menguasai keletihan yang terjadi pada tubuh masing-masing. “ Yang ingin aku tanyakan, apakah yang kau dapatkan dengan perkelahian itu ? Harga dir i ?” Kedua anak muda itu masih duduk tepekur. Tetapi perlahan-lahan pernafasan mereka menjadi semakin teratur. “Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku mohon maaf. Semula aku sama sekali tidak ingin berkelahi karena harga diri. Aku sebenarnya ingin menjajagi, siapakah sebenarnya Kiai Kanthi. Tetapi yang berhadapan dengan aku kemudian ternyata adalah Swasti.“ Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tidak mengatakan demikian, sehingga Swastilah yang mula-mula tampil. Tetapi jika memang benar-benar kau kehendaki ingin menjajagi dan mengetahui siapakah sebenarnya aku dengan caramu ngger, mar ilah. Kau t idak akan lagi dibayangi oleh harga diri karena kau seorang laki- laki. Mungkin yang akan membayangi kemudian adalah karena kau masih muda sehingga sepantasnyalah bahwa kau harus dapat mengalahkan orang tua. Apakah begitu ?” “Tidak Kiai. Aku tidak akan berani lagi melakukannya. Aku sudah dapat mengetahui dengan bekal ilmuku yang sedikit. Jika aku tidak dapat melampaui kemampuan Swasti, serta jika isi dadaku bagaikan rontok mendengar suara Kiai, apakah aku masih akan mencoba menjajagi kemampuan Kiai?” “Mungkin saja ngger. Mungkin kau menganggap bahwa dengan demikian kau akan mengetahui, perguruan manakah yang sedang kau hadapi, seperti aku kini mengetahui, bahwa aku sedang berhadapan dengan, perguruan Risang Alit.” “Kiai,“ Jlitheng terkejut sehingga ia tergeser selangkah, “darimana Kiai mengetahui?” Kiai Kanthi tersenyum. Iapun kemudian duduk pula bersama kedua anak muda yang kelelahan itu. Dihadapannya bara perapian telah padamdan berserakkan. Tangan Kiai Kanthi yang sudah mulai dilukisi dengan kerut- kerut tahun itupun kemudian mengumpulkan beberapa potong dahan dan sisa-sisa bara yang masih hangat. “Perapian ini padam karena tanah dan padas yang berserakkan oleh kaki kalian yang sedang berkelahi tanpa pengendalian diri.” Jlitheng dan Swasti tidak menyahut. Sejenak Kiai Kanthi sibuk dengan dahan-dahan yang tinggal sepotong-potong sisa api. Dikumpulkannya sisa api itu diatas bekas perapian yang hangat. “Apakah Kiai akan menyalakan perapian itu ? Sebentar lagi fajar akan menyingsing,“ bertanya Jlitheng. “Dinginnya bukan main. Angger yang baru saja berkelahi mungkin tidak merasa dinginnya udara.” “Apakah Kiai membawa titikan ?“ bertanya Jlitheng pula, “biarlah aku saja yang menyalakan.” Kiai Kanthi tidak menjawab. Namun Jlitheng dan Swasti melihat orang tua itu menggeserkan dahan-dahan kering itu dengan tangannya. Sejenak kemudian Jlitheng sekali lagi tersentak, ia melihat bara mulai memerah dihadapannya, diantara dahan-dahan kayu sisa perapian itu. “Siapakah sebenarnya orang tua ini ?” pertanyaan itu bergetar dihatinya. Sejak semula ia memang ingin memastikan, apakah sudah sepantasnya ia berada dibawah pengaruh wibawanya. Namun kini J litheng jadi yakin, bahwa ia memang sudah seharusnya menghormati orang tua itu seperti gurunya sendiri. Apalagi karena orang tua itu telah mengetahui bahwa ia berasal dari ilmu keturunan yang diwariskan oleh perguruan Risang Alit. “Kiai,“ Jlithengpun kemudian bertanya dengan nada yang dalam, “pertanyaanku semula belum Kiai jawab. Darimana Kiai mengetahui bahwa aku adalah pewaris ilmu dari perguruan Risang Alit?” “Ah, kau masih pura-pura tidak tahu ngger. Bukankah kau sudah melepaskan hampir semua unsur gerak dari perguruanmu? Aku tidak tahu pasti, siapakah yang langsung menjadi gurumu, sehingga kau memiliki ilmu dari perguruan Risang Alit itu. Perguruan yang sudah tidak banyak disebut orang lagi. Tetapi itu bukan berarti bahwa kelebihan ilmu dari perguruan Risang Alit itu berkurang.” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun dihadapan orang tua itu ia tidak merasa perlu untuk berahasia lagi. Karena itu katanya, “Aku adalah murid Kiai Baskara yang lebih senang menyebut padepokannya dengan nama Rasa Jati.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Jadi kau menerima war isan ilmu Risang Alit lewat Kiai Baskara ? Jika demikian, wajarlah j ika kau mampu membunuh dua orang mur id Kendali Putih.” Jlitheng memandang Kiai Kanthi sejenak. Namun diluar sadarnya ia berpaling kearah Swasti sambil berkata didalam hatinya, “Tetapi ilmuku tidak lebih dari ilmu gadis itu. jika Swasti bertemu dengan kedua orang Kendali Putih itu, iapun tentu akan dapat mengalahkan mereka.” “Angger Jlitheng,“ berkata Kiat Kanthi kemudian, “jika kau ternyata murid Kiai Baskara. maka apakah salahnya jika kau mengatakan, siapakah sebenarnya kau ini. Kau tentu bukan anak seorang janda miskin yang merantau kemudian kembali pulang setelah kau sedikit menerima ilmu dari seseorang.” Jlitheng ragu-ragu sejenak, sekali lagi ia memandang Swasti yang nampaknya masih acuh tidak acuh saja. Dalam keremangan malam ia melihat Swasti memandang justru kearah kegelapan yang pekat. “Kiai,“ berkata Jlitheng jika aku tidak melihat betapa tingginya ilmu Kiai, maka aku tentu t idak akan mau mengatakannya. Meskipun aku pernah juga menyebut namaku, tetapi dihadapan orang-orang Kendali Putih yang aku yakin akan dapat aku selesaikan itu.” “Jika kau tidak berkeberatan, sebutlah namamu, keturunanmu dan barangkali sesuatu yang harus angger lakukannya dan asalnya seperti yang pernah dikatakan.” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengatakan serba sedikit tentang dirinya. Namanya, orang tuanya kepada murid-murid Kendali Putih yang telah dibunuhnya. Namun demikian, Jlitheng tidak mengatakan apakah tugas yang harus dilakukannya di Lumban itu. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ketika Jlitheng menyebut namanya, orang tua itu melihat anak gadisnya tergeser setapak. Agaknya nama itu telah menarik perhatiannya. Tetapi sejenak kemudian, pandangannya telah terlempar kembali kegelapnya dihutan itu. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hatinya, “Swasti adalah gadis yang sangat angkuh. Tetapi agaknya sikapnya yang berlebihan itu disebabkan oleh perasaan rendah diri menghadapi seseorang yang meskipun seorang yang sederhana pula seperti Jlitheng.” Namun Kiat Kanthi tidak dapat menyalahkan anak gadisnya. Ia memang melihat pakaian yang melekat pada anak gadisnya yang meningkat dewasa, sehingga ia tidak akan dapat berbangga dengan perkembangan wadagnya sebagai seorang gadis remaja. Itulah agaknya yang telah membuatnya menjadi seorang gadis yang mudah tersinggung. Menuruti perasaan rendah dirinya dengan sikap yang keras dan harga diri yang berlebih- lebihan. “Kasihan anakku itu,“ tiba-tiba saja perasaan ibanya lelah melonjak didalam hatinya, “aku akan berusaha, agar ia dapat hidup seperti gadis-gadis sebayanya. Bergaul dengan kawan- kawannya dan bekerja bersama-sama disawah atau ladang. Ikut serta dalam kesibukan peralatan bersama kawan kawan gadis yang lain dan ikut berdesak-desakan menonton wayang beber atau pertunjukkan tari. berlari-larian bersama gadis- gadis sebayanya dipematang disaat padi sedang berbunga serta mencuci pakaian di sungai sambil berdendang. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Swasti tidak pernah terlibat dalam nafas kehidupan sewajarnya. Sekali-kali ia bergaul juga dengan gadis-gadis padukuhan yang lenyap dilanda banj ir bandang dan gempa bumi serta tertimbun tanah longsor itu. Tetapi hanya-sesaat-saat, karena hidupnya sebagian besar telah dirampas oleh sebuah sanggar untuk menekuni olah kanuragan. “Swasti berhasil menjadi seorang gadis yang luar biasa. Ia dapat mengimbangi seorang anak muda dari perguruan yang pernah menggemparkan seluruh Majapahit. Perguruan yang dipimpin oleh Risang Alit. yang mempunyai cir i yang khusus, lewat seorang yang mengagumkan pula, Kiai Baskara. Apalagi anak muda itu adalah putera Pangeran yang dipercaya untuk menjadi salah seorang Senapati pada saat Majapahit mengalami kesulitan. Namun ia telah gugur dimedan perang,“ berkata Kiai Kanthi didalam hatinya. Namun kemudian, “Tetapi Swasti menjadi besar dengan sifat-sifatnya yang khusus pula. Ia merasa rendah diri dihadapan kawan-kawannya dan apalagi dihadapan anak-anak muda. Untuk mengisi perasaan itu, ia menjadi cepat tersinggung dan keras hati. Sementara itu Jlitheng sendiri menjadi termangu-mangu. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiai Kanthi setelah orang tua itu mendengar ceritera tentang dirinya. “Angger,“ berkata Kiai Kanthi, “aku percaya sepenuhnya apa yang angger ceriterakan itu. Aku melihat kejujuran memancar disorot mata angger. Selebihnya, meskipun angger tidak mengatakannya, aku dapat meraba, apakah yang harus angger lakukan disini.” “Tidak ada yang harus aku lakukan Kiai. Aku memang seorang perantau yang senang menjelajahi desa, gunung dan ngarai.” Tetapi Kiai Kanthi justru tersenyum. Sambil mengangguk angguk ia kemudian berkata, “Baiklah ngger. Tetapi masih selalu menjadi pertanyaan dihatiku, apakah hubunganmu yang sebenarnya dengan Daruwerdi. Apakah kalian telah bekerja bersama untuk suatu tugas tertentu, atau kalian ternyata justru saling mencur igai dan saling mengawasi, atau karena hubungan yang lain ?” Jlitheng. mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab, “Tidak ada hubungan apapun Kiai.” Kiai Kanthipun tertawa. Katanya, “Baiklah ngger. Adalah suatu kebodohan j ika aku mendesak terus, agar angger mengatakan apa yang tidak ingin angger katakan. Tetapi bagiku, yang angger sebutkan sudah cukup banyak, sehingga aku dapat mengenal angger yang sebenarnya.” “Sudahlah Kiai. Yang penting kemudian adalah bagaimana kita akan menguasai air yang melimpah ini. Aku akan membantu apa saja yang Kiai perintahkan. Dengan tulus aku menempatkan dir i sebagai seorang yang akan tunduk kepada segala perintah apapun juga.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melihat lebih dalam lagi, apakah yang sedang dilakukan oleh Jlitheng di padukuhan Lumban, sedang kan di padukuhan itu juga hadir Daruwerdi. “Baiklah ngger,“ berkata Kiai Kanthi kemudian, “aku sependapat, bahwa sebaiknya kita membicarakan bagaimana kita menguasai air yang tentu akan sangat bermanfaat itu. Sedangkan masalah-masalah lainnya, mungkin akan dapat aku dengar dari angger Daruwerdi sendiri.” Wajah Jlitheng menegang sejenak. Tetapi kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Mungkin itu lebih baik Kiai. Tetapi aku mohon, agar Kiai sama sekali tidak menyebut tentang Kiai Baskara dan tentang sumber ilmu yang mengalir dari perguruan Risang Alit. Aku kira itu tidak perlu bagi Daruwerdi.” Kiai Kanthi tertawa pendek. Katanya, “Aku orang tua ngger. Aku tidak akan mengatakan apapun juga. Tetapi pesan angger itu bagiku merupakan keterangan, bahwa angger dan Daruwerdi tidak sedang bekerja bersama untuk suatu tugas, namun angger justru sedang mengawasi angger Daruwerdi karena sesuatu yang tidak dapat angger katakan kepada sia- papun juga.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian mengangguk kecil sambil menyahut, “Mungkin Kiai benar.” Kiai Kanthi tidak menjawab lagi. Diangkatnya kedua tangannya di atas perapian yang hangat. “Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “baiklah aku mohon dir i. Aku sudah terlalu lama pergi. Jika biyung mengetahui aku tidak ada dirumah, ia akan menjadi gelisah.” Kiai Kanthi memandang Jlitheng sejenak. Nampak wajah anak muda itu bersungguh-sungguh. Karena itu, maka katanya, “Silahkan ngger. Tetapi jika angger ingin lekas mengendalikain air belumbang yang melimpah itu, sebaiknya kita segera membicarakan, apakah yang sebaiknya kita lakukan.” “Baiklah Kiai. Tentu Kiai tidak akan betah tinggal di sini tanpa berbuat sesuatu.” “Itu sudah aku kehendaki ngger. Aku akan melakukan apa saja. Tetapi adalah lebih baik jika yang aku lakukan itu berguna bukan hanya bagi aku dan anakku sendiri.” “Ya, ya Kiai. Aku mengerti,“ sahut Jlitheng cepat. Lalu, “Sekarang aku mohon dir i Kiai. Aku akan berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak dan keinginan Kiai.” “Datanglah secepatnya ngger.” “Tentu Kiai,“ Jlithengpun kemudian berdir i. Dipandanginya Swasti yang duduk sambil menundukkan wajahnya dalam- dalam. Namun dengan ragu2 Jlitheng berkata, “Aku minta diri Swasti. Aku minta maaf jika aku telah melakukan sesuatu yang tidak kau kehendaki.” Swasti sama sekali tidak bergerak. “Swasti,“ desis ayahnya, “kau harus menjawab. Dan seterusnya kita akan mulai dengan suatu pergaulan baru di padukuhan Lumban. Kita harus bergaul sebagaimana orang- orang Lumban bergaul diantara mereka.” Tetapi diluar dugaan Swasti menjawab, “Anak muda itu bukan anak Lumban.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Tetapi ia sudah menempatkan diri seperti anak muda dari Lumban.” Swasti terdiam. Tetapi terdengar nafasnya mengalir semakin cepat, seperti pada saat-saat ia memusatkan ilmunya didalampertempuran yang dahsyat. Sebenarnyalah terjadi ketegangan didalam jiwa gadis itu. Ia mencoba untuk mengerti keterangan ayahnya bahwa ia harus mulai dengan tata pergaulan baru. Tetapi, ia tidak cukup berani untuk menghadapi tantangan hubungan baru dengan Jlitheng setelah mereka bertempur dengan segenap kemampuan. Tetapi terlebih- lebih lagi, Swasti memang tidak terbiasa bergaul dengan anak muda sejak ia berada dipadukuhannya yang lama. “Swasti,“ ayahnya mendesak, “kau jangan terkeras hati.” Swasti mengangkat wajahnya. Dipandanginya ayahnya sejenak. Kemudian hampir diuar sadarnya, ia terpaling kearah anak muda yang termangu-mangu. Terasa dada Swasti bergetar. Cepat-cepat ia melemparkan pandangan matanya kekegelapan. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir, melampaui saat-saat ia berada, dipuncak ketegangan pertempuran. “Swasti,“ ayahnya berdesis sekali lagi. Swasti tidak dapat mengelak lebih lama. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akan mendesaknya terus sampai ia mengucapkan sepatah dua patah kata. Karena itu, maka katanya, “Biar lah ia meninggalkan kita dan melupakan apa yang telah terjadi ayah.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Bukan kepadaku. Kepada angger Jlitheng.” Swasti ingin menjerit. Tetapi dipaksanya mulutnya berkata, “Aku juga minta maaf.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah Kiai. Aku sudah merasa ringan, bahwa aku sudah dimaafkan meskipun dengan istilah apapun juga. Aku mohon diri sebelum pagi.” “Ya. ya ngger. Kembalilah kepada biyungmu. Tetapi kita sudah bersepakat untuk segera mulai dengan kerja kita. Membuat sebuah padepokan, menguasai air dan memberikan suasana yang lebih baik bagi padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.” Jlithengpun kemudian melangkah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak gadisnya. Ketika diluar sadarnya ia berpaling, maka dilihatnya Swasti cepat-cepat memalingkan wajahnya. Agaknya iapun sedang menatap langkah Jlitheng yang masuk kedalam kelamnya gerumbul-gerumbul liar didalam hutan disisa malamyang sepi. Sejenak kemudian Jlithengpun bagaikan ditelan oleh kegelapan. Yang tinggal kemudian adalah Swasti dan Kiai Kanthi. Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Kiai Kanthi berkata, “Beristirahatlah Swasti. Kau tentu letih.” Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian bangkit sambil mengibaskan pakaiannya yang lungset. “Aku akan mandi. Aku tidak akan dapat tidur. Pakaianku basah oleh ker ingat dan kotor oleh debu yang melekat.” “Jika kau masih basah oleh keringat, jangan mandi dahulu,“ cegah ayahnya. “Keringatku sudah kering. Tetapi pakaianku sangat kotor.” Kiai Kanthi tidak mencegah lagi. Dibiarkannya Swasti pergi keparit disebelah belumbang. Parit yang mengalirkan air yang melimpah itu tanpa terarah, sehingga air yang mengalir itu menyusup kecelah-celah batu padas dan hilang ditelan tanah. Ketika Swasti tidak nampak lagi, Kiai Kanthi mengelus dadanya sambil menghela nafas dalam sekali. Anak gadisnya hanya mempunyai selembar ganti pakaian. Jika ia mandi, ia sekaligus mencuci pakaiannya yang kotor, untuk nanti dipakai jika ia mandi dan mencuci pakaiannya yang selembar lagi. Namun disamping pakaiannya sebagai seorang gadis, Swasti mempunyai sepengadeg pakaian yang khusus, yang tidak dipunyai oleh gadis-gadis lain. Pakaian yang dipakainya dalam olah kanuragan, yang mirip dengan pakaian seorang laki- laki. Ketika Swasti kembali dari balik gerumbul-gerumbul yang rimbun, dilihatnya ayahnya duduk dipinggir belumbang sambil memegangi walesan kail. Ketika seekor ikan terkait pada mata kailnya, ia berkata, “Swasti, kita sekarang sudah mempunyai belanga dan kelenting. Kita akan dapat memasak lebih baik dari saat-saat sebelumnya. Kita dapat merebus gayam dan dedaunan.” Swasti memandangi belanga dan kelenting yang dibawa oleh Jlitheng sebelum ia berkelahi. Sejenak ia merenung, mencari makna dari peristiwa yang baru saja terjadi. “Anak muda itu tentu tidak bersungguh-sungguh ingin menangkap kami,“ katanya didalam hati setelah tubuhnya menjadi segar dan hatinya agak tenang, “jika demikian, ia tidak akan bersusah payah membawa belanga dan kelenting.” Tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi, sehingga ia sudah terlibat dalam perkelahian yang sengit, bukan saja mempergunakan tenaga wajarnya, tetapi sudah jauh daripada itu. Ketika kemudian matahari terbit, Swasti duduk dimuka perapian sebagai seorang gadis yang sedang menunggui masakannya. Beberapa ekor ikan yang didapat oleh ayahnya dengan kail dipainggangnya diatas api, sedang dengan belanganya ia merebus beberapa buah gayam yang sudah tua. Diluar sadarnya, Swasti menengadahkan wajahnya. Selembar awan hanyut dihembus oleh angin yang lembut mengalir ke Utara. Namun Swasti mulai berpikir, “Jika awan itu menjadi semakin banyak dan berwarna kelabu, maka itu adalah pertanda hujan akan turun. Dalam keadaan seperti ini, jika hujan turun, maka aku akan kedinginan sepanjang har i dan mungkin sepanjang malam, karena pakaianku akan menjadi basah semuanya.” Tetapi Swasti tidak mengatakannya kepada ayahnya, ia tahu, bahwa ayahnyapun sudah memikirkannya. Dalam pada itu, Jlitheng yang sampai kerumahnya menjelang pagi, langsung menuju kesumur untuk menimba air. Untunglah bahwa ibunya masih belum bangun, sehingga ia tidak digelisahkan oleh kepergiannya semalam suntuk. Sambil menarik sengget, Jlitheng masih saja berpikir tentang Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang aneh. Tetapi ia tidak ragu-ragu lagi, bahwa keduanya adalah orang-orang yang luar biasa. Gadis yang sedang meningkat dewasa, yang tentu masih lebih muda daripadanya itu, ternyata memiliki kemampuan yang sama sekali tidak diduganya. Jika saat keduanya datang, dan dibawanya naik kelereng bukit lewat batu batu padas yang bergumpal-gumpal, ia sudah menjadi heran, bahwa Swasti dapat juga berloncatan mengikutinya. Apalagi ketika ia sudah mengalami perkelahian yang hampir saja lepas dari kekangan nalarnya. Sementara itu, Jlitheng mulai mendengarkan ibunya bekerja didapur. Seperti biasanya merebus air dan ketela pohon. Jlitheng tidak langsung masuk kedapur. Setelah pakiwannya penuh, maka iapun segera pergi kehalaman depan sambil membawa sapu lidinya. Sehari itu, Jlitheng tidak banyak berkumpul dengan kawan- kawannya. Disiang hari ia berbaring dibelakang lumbung yang kosong. Apalagi jika paceklik panjang mencengkam padukuhun Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Maka hampir setiap lumbung dipadukuhan itu menjadi kosong. Hanya orang-orang yang terhitung kecukupan sajalah yang masih menyimpan beberapa ikat padi, sisa panen dimusim basah. Dimusim kering orang-orang Lumban hanya dapat menanam palawija yang tidak begitu banyak menghasilkan meskipun dapat juga dipakai untuk menyambung hidup mereka sampai musim basah mendatang. “Aku harus segera berbuat sesuatu,“ berkata Jlitheng. Tetapi ia masih ragu-ragu. Apakah sebaiknya ia mengatakannya lebih dahulu kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan atau Lumban Kulon atau ia lebih dahulu membantu Kiai Kanthi membuat gubug kecil sebelum dapat dibangun sebuah padepokan yang memadai buat orang yang luar biasa itu bersama anak gadisnya. Akhirnya Jlitheng mengambil keputusan untuk menyampaikannya saja lebih dahulu kepada Ki Buyut. Jika ia membuat sebuah gubug kecil dipinggir hutan itu, maka akan dapat menumbuhkan salah paham dan kecur igaan. Karena itu sebaiknya hal itu diberitahukannya lebih dahulu kepada Ki Buyut Lumban Wetan dan Luban Kulon. “Tetapi aku tidak akan member itahukannya kepada biyung,“ desis Jlitheng yang kemudian menggeliat bangkit. Kepada ibunya Jlitheng minta diri untuk pergi kegardu menemui kawan-kawannya, ia sama sekali tidak menyebut rencananya untuk menghadap Ki Buyut, agar ibunya tidak digelisahkan oleh persoalan-persoalan yang tidak diketahuinya. Yang mula-mula akan didatangi adalah Ki Buyut Lumban Wetan, karena ia berada didaerah Lumban Wetan itu pula. Sebagai seorang anak janda miskin yang tidak banyak dikenal, Jlitheng memang tidak terbiasa menghadap Ki Buyut atau bebahu padukuhan yang lain. Namun Jlitheng termasuk seorang anak-muda yang disukai oleh kawan-kawannya, karena ia suka membantu kawan-kawannya yang sedang mengalami kesulitan atau sedang melakukan pekerjaan yang agak berat. Ia sering membantu kawan-kawannya yang sedang memperbaiki dinding halaman, atau memperbaiki lumbung yang miring, atau kerja-kerja lainnya. Bahkan ia rela membantu kawan-kawannya dengan meminjamkan miliknya yang sedikit apabila diperlukan. Karena itu, ketika kawan-kawannya melihat ia menyusuri jalan padukuhan untuk pergi kerumah Ki Buyut, maka beberapa orang kawannya menyertainya dan bertanya disepanjang jalan, apakah keperluannya. “Aku menemukan dua orang perantau dihutan itu,“ berkata Jlitheng. “Bagaimana kau menemukannya ?“ bertanya kawannya. “ Ketika aku sedang mencar i kayu.” Kawan-kawannya tertarik akan ceritera itu. Mereka tahu bahwa Jlitheng memang sering mencari kayu kehutan dilereng bukit. “Aku merasa kasihan kepada mereka,“ berkata Jlitheng setelah ia menceriterakan serba sedikit tentang Kiai Kanthi dan anak gadisnya. “Kasihan. Lalu apakah yang mereka makan di hutan itu ?“ bertanya yang lain. “Kiai Kanthi menangkap binatang-binatang kecil dan memetik buah gayam yang banyak terdapat dihutan itu.” Demikian pandainya Jlitheng menyusun ceriteranya sehingga kawan-kawannya benar-benar menjadi iba mendengarnya. “Lalu, apakah yang ingin kau dapatkan dari Ki Buyut ?“ bertanya salah seorang kawannya. “Aku hanya akan minta ijin untuk membuat sebuah gubug kecil dipinggir hutan itu.” “Kenapa dipinggir hutan?” yang lain memotong, “biarlah ia tinggal di padukuhan ini. Apa salahnya?” “Aku sudah mengatakannya. Tetapi agaknya perantau itu mempunyai harga diri juga. Ia tidak mau mengganggu orang lain. Dipinggir hutan itu ia akan mencoba menghidupi diri mereka sendiri dengan hasil yang dapat mereka petik dari hutan yang luas itu. Mungkin buah-buahan, mungkin dedaunan atau binatang-binatang buruan yang kecil-kecil saja.” “Jika seekor harimau datang merunduk mereka, apalagi anaknya yang kau katakan seorang gadis.” “Mereka berkeras hati. Nampaknya harimau yang tidak begitu banyak terdapat dihutan itu, tidak ingin mengganggu mereka.” “Omong kosong. Darimana kau tahu ? Aku kira masalahnya hanyalah waktu. Pada suatu saat akan datang seekor harimau yang akan menerkamsalah seorang dari keduanya.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia menjadi sulit untuk mengatakan bahwa keduanya sama sekali tidak takut terhadap harimau yang paling garang sekalipun. Akhirnya ia menjawab, “Masih banyak binatang buruan bagi harimau di hutan itu, sehingga mereka tidak akan menerkam seseorang. Harimau yang berani menerkam seseorang, akan tersisih dari pergaulannya, karena hal itu tidak disukai oleh lingkungan mereka.“ Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun pernah mendengar ceritera tentang seekor harimau yang akhirnya membunuh dir i karena terpisah dari masarakatnya. Satu kesalahan telah dilakukannya, yaitu menerkam seorang petani yang sedang bekerja disawah. “Hanya harimau yang tua dan lemah sajalah yang karena terpaksa menghindari kelaparan telah berani menerkam seseorang,“ desis salah seorang dari mereka. Dalam pada itu, Jlitheng bersama beberapa orang kawannya menjadi semakin dekat dengan rumah Ki Buyut di Lumban Wetan. Satu dua orang yang ingin tahu telah mengikut inya dan bertanya-tanya diantara mereka. Dimuka regol halaman rumah Ki Buyut Jlitheng berhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Karena itu sejenak ia berdiri saja termangu-mangu. “Apakah Ki Buyut ada dirumah?“ t iba-tiba ia bergumam. “Marilah kita coba untuk menanyakannya,“ berkata seorang kawannya. Namun ternyata kedatangan mereka telah dilihat oleh seorang anak muda yang bertubuh sedang, berkulit kekuning- kuningan, yang berdir i di tangga pendapa. “Itu, kau lihat anak K i Buyut?“ desis seorang kawannya. “Ya. Marilah kita temui saja Kumbara agar ia menyampaikan kepada ayahnya bahwa kita akan menghadap,“ gumam Jlitheng. Kawan-kawannya mengangguk. Hampir berbareng merekapun melangkah memasuki regol halaman rumah Ki Buyut. Anak muda yang berdiri ditangga pendapa itu termangu- mangu. Ia melihat beberapa orang anak muda mendatanginya, sehingga dahinya telah berkerut. Bahkan dadanyapun menjadi berdebar-debar, karena agaknya anak- anak muda itu mempunyai keperluan yang cukup penting. “Ada apa ?” Kumbara tidak sabar menunggu. Jlithenglah yang menyahut, “Maaf Kumbara. Mungkin kedatangan kami telah mengejutkan kau dan barangkali Ki Buyut. Tetapi kami tidak mempunyai kepentingan yang dapat menggelisahkan. Kami hanya datang untuk menyampaikan sebuah ceritera. Barangkali Ki Buyut sempat mendengarkannya.” Kumbara termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. “Aku akan menyampaikannya kepada ayah. Duduklah.” Ketika Kumbara kemudian masuk kentang dalam, maka anak-anak muda itupun duduk diatas tikar yang sudah terbentang dipendapa. Sejenak mereka menunggu. Sementara Kumbara menyampaikan maksud anak-anak muda itu kepada Ki Buyut. Ternyata Ki Buyutpun tidak berkeberatan. Ia mengenal Jlitheng dan anak-anak muda padukuhannya sebagai anak- anak muda yang baik, yang tidak pernah menimbulkan kesulitan bagi padukuhan dan tetangga-tetangga mereka.
-oooOooo—

Jilid 03
KARENA itu, maka Ki Buyutpun kemudaan keluar dari ruang dalam bersama Kumbara menemui anak-anak muda yang sudah menunggunya dipendapa. Meskipun demikian Ki Buyut itupun berkata, “Aku menjadi berdebar-debar karena kunjungan kalian. Kalian jarang sekali datang kemari. Tiba-tiba saja kalian datang bersama-sama beberapa orang.” Anak-anak muda itu saling berpandangan. Namun kemudian mereka seperti berjanj i memandang Jlitheng yang termangu-mangu.” “Ayo, siapakah yang akan menjadi pembicara dari kalian,“ Ki Buyut mendesak sambil tersenyum. Jlithenglah yang kemudian beringsut setapak. Dipandanginya Ki Buyut yang tua itu sejenak. Kemudian katanya, “Ki Buyut. Mungkin kami telah mengejutkan Ki Buyut. Biasanya kami tidak pernah datang bersama-sama, atau bahkan jarang sekali datang menghadap Ki Buyut.” “Ya, ya. Kataikan, apa keperluanmu. Aku tahu, bahwa kalian tentu mempunyai kepentingan sehingga kalian memer lukan datang kepadaku.” “Ya Ki Buyut,“ Jlitheng beringsut lagi, “sebenarnyalah bahwa aku telah menemukan dua orang perantau di lereng bukit itu.” “Menemukan?“ bertanya Ki Buyut. “Ya Ki Buyut. Maksudku, saat aku mencari kayu, aku telah bertemu dengan dua orang perantau yang barangkali dalam keadaan sulit dilereng bukit yang berhutan itu.” Ki Buyut mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Katakan tentang mereka berdua.” Jlithengpun kemudian menceriterakan serba sedikit tentang Kiai Kanthi dan Swasti seperti yang dikatakannya kepada anak-anak muda yang mengikutinya. Seperti kepada anak- anak muda itu iapun telah berhasil menumbuhkan perasaan iba pada Ki Buyut Lumban Wetan. Sambil mengangguk-angguk Ki Buyut berkata, “Sudah sewajarnya kita menaruh belas kasihan kepada sesama. He. kenapa mereka tidak mau menuju kepadukuhan ? Kenapa mereka berdua justru memilih untuk berada dihutan dilereng bukit itu?” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia menjawab, “Itulah anehnya Ki Buyut. Ketika aku tanyakan kepada mereka, orang tua itu mengatakan bahwa mereka t idak mau menyusahkan kita disini. Dan menilik kata-katanya, merekapun sebenarnya takut dicurigai.” Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Jlitheng. Jika mereka memang berkeras ingin tinggal dilereng bukit itu, sudah barang tentu, aku tidak berkeberatan. Jika kau ingin membantu, itu adalah perbuatan yang baik. Mungkin kau dapat meminjami alat-alat untuk keperluannya, atau bahkan kau dan beberapa kawan-kawanmu dapat membantu membuat sebuah gubug kecil. Tetapi sebaiknya kau memper ingatkan, bahwa di hutan itu terdapat beberapa ekor harimau yang mungkin dapat membahayakan mereka.” “Aku sudah mencoba memper ingatkan mereka Ki Buyut. Tetapi nampaknya keduanya pandai memanjat, sehingga mereka menganggap bahwa harimau itu akan dapat dihindar inya. Selebihnya mereka menganggap bahwa harimau tidak akan menerkamseseorang j ika t idak terpaksa sekali.” Ki Buyut mengangguk-angguk ketika ia mendengar Jlitheng mengulangi ceriteranya tentang seekor harimau yang terasing dari lingkungannya seperti yang dikatakannya kepada kawan- kawannya. Ki Buyutpun mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Adalah menjadi kuwajibanmu Jlitheng, untuk membantunya sebagaimana seharusnya dilakukan bagi sesama.” “Kami sudah siap Ki Buyut,“ berkata Jlitheng, “jika Ki Buyut sudah mengij inkan, maka kami tidak akan ragu-ragu lagi.” “Aku ikut bersamamu Jlitheng,“ tiba-tiba saja Kumbara memotong pembicaraan itu. Jlitheng mengerutkan keningnya, seolah-olah ia tidak percaya pada pendengarannya. Namun Kumbara mengulangi, “Aku akan ikut serta membantu orang tua itu. Mungkin ia memer lukan alat-alat, mungkin keperluan yang lain. Tetapi mungkin juga pangan.” Selagi Jlitheng termangu-mangu, terdengar Ki Buyut berkata, “Biarlah ia ikut serta Jlitheng. Apa anehnya ? Nampaknya kau menjadi heran. Bukankah kau kenal Kumbara sehari-hari seperti kau mengenal kawan-kawanmu yang lain?” “Ya, ya. Ki Buyut. Tetapi kedua orang itu hanyalah dua orang perantau. Biar kami sajalah yang membantunya. Kumbara tidak perlu ikut serta bersama kami. Ia mempunyai pekerjaan yang barangkali jauh lebih penting dari dua orang perantau itu.” “Apakah yang harus aku kerjakan ? Bukankah pekerjaanku tidak banyak berbeda dengan pekerjaanmu ? Menggarap sawah, memelihara ternak dan sekali-kali duduk digardu perondan ?“ sahut Kumbara. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, baiklah. Tentu kedua orang itu akan sangat berterima kasih. Apalagi bahwa putera Ki Buyut sendiri telah bersedia membantunya mempersiapkan sebuah gubug kecil.” Ki Buyutpun mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi Jlitheng. Aku masih menyarankan, agar kau menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon. Kakang Buyut di Lumban Kulonpun perlu mengerti. Bukankah kau tahu, bahwa bukit itu terletak diujung padukuhan kami, sehingga bukit itu tidak terletak didaerah Lumban Wetan, tetapi juga tidak di daerah Lumban Kulon seluruhnya. Kami t idak pernah membicarakan, siapakah yang berhak mengurusi bukit berhutan yang tidak menghasilkan apa-apa itu, seperti kami juga tidak pernah berbicara tentang bukit gundul yang gersang tanpa dapat member ikan apa-apa kepada padukuhan kami.” Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya Ki Buyut. Akupun sudah memikirkan kemungkinan itu. Aku akan menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon untuk mengatakan maksud kami membantu orang tua dan anak gadisnya itu.” “Aku kira kakang Buyut di Lumban Kulon juga tidak akan berkeberatan. Orang tua dan anak gadisnya itu sama sekali tidak akan mengganggu padukuhan Lumban Wetan maupun Lumban Kulon seperti yang diharapkannya sendiri.” “Ya Ki Buyut. Orang tua itu memang tidak ingin mempersulit keadaan kita yang tidak terlalu baik ini,“ jawab Jlitheng. “Bagiku, itu sudah, merupakan pertanda, bahwa orang tua itu tidak bermaksud buruk,“ berkata Ki Buyut, “ia bukam sejenis orang yang mementingkan diri sendiri. Tetapi ia dalam keadaan yang pahit, masih juga memikirkan orang lain.” “Baiklah Ki Buyut. Kami mohon diri. Kami akan menghadap Ki Buyut Lumban Kulon. Mungkin besok kami akan muliai dengan kerja kami, membantu orang tua itu.” “Dimana ia t idur malam ini ?” “Mereka telah memilih tempat didalam hutan itu. Mereka makan dar i buah-buahan yang mereka dapatkan, buruan kecil dan dedaunan.” “Berbuatlah sesuatu segera bagi mereka Jlitheng. Kau yang sudah mulai dengan niat yang baik, teruskanlah.” Jlitheng kemudian minta dir i. Ia masih akan menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon untuk minta ijin seperti yang dilakukannya pada Ki Buyut di Lumban Wetan. Ketika Jlitheng dan kawan-kawannya memasuki batas Lumban Kulon, maka beberapa orang anak-anak mudapun telah mengerumuninya dan bertanya, apakah keperluannya. Seperti yang sudah dilakukannya, maka iapun mengulangi lagi ceriteranya tentang kedua orang yang ditemuinya di lereng bukit. “Kasihan,“ desis salah seorang dari mereka, “nampaknya Ki buyut baru saja pulang dari sawahnya. Aku kira ia ada dirumahnya.” “Terima kasih,“ sahut Jlitheng. “Ia sedang sibuk memikirkan anak laki-lakinya,“ desis yang lain. “Kenapa dengan Nugata ?“ bertanya Jlitheng. “Ia sedang merajuk. Nugata ingin seekor kuda yang bagus, tegar dan besar. Tidak seperti kuda yang dimilikinya sekarang, yang menurut pendapatnya, kecil, kurus dan sakit-sakitan.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya, “Seekor kuda yang tegar, besar dan baik, harganya tidak sedikit.” “Itulah sebabnya Ki Buyut agak prihatin juga. Tetapi nampaknya ia berusaha untuk memenuhinya.” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Jika demikian, apakah kedatangan kami mungkin akan dapat mengganggu perasaannya yang memang sedang buram itu?” Tetapi anak-anak muda Lumban Kulon itu menjawab hampir bersamaan, “Aku kira tidak.“ Jlitheng mengangguk-angguk, sementara seorang anak muda Lumban Kulon berkata selanjutnya, “Cobalah. Jika kau memang menganggap penting tentang dua orang perantau yang memer lukan bantuan itu, datanglah. Jika Ki Buyut sedang sibuk atau sedang bingung, ia akan dapat minta kalian untuk datang lain kali.” Meskipun agak ragu-ragu namun Jlithengpun melanjutkan langkahnya menuju kerumah Ki Buyut di Lumban Kulon saudara kembar Ki Buyut di Lumban Wetan, tetapi yang dianggap saudara tua justru karena ia lahir kemudian. Menurut kepercayaan orang-orang Lumban saudara kembar yang tua akan lahir mengiringi saudaranya yang muda. Satu dua orang anak muda Lumban Kulon yang tertarik pada masalah itupun mengikut inya pula, sehingga iring-iringan anak-anak muda itu menjadi semakin panjang. Tetapi ada pula diantara mereka yang tidak mengacuhkannya. Bahkan seorang anak muda yang berkulit kuning bergumam diantara kawan-kawannya, “Jlitheng anak baik. Tetapi ia memang senang mencari pekerjaan.” “Ia ingin menolong kedua orang yang dikatakannya perantau itu,“ desis yang lain. Tetapi seorang anak muda yang gemuk pendek berkata, “He, kau tahu, kenapa Jlitheng bersusah payah tentang kedua orang itu ?” “Ah kau. Kau tentu berprasangka aneh. Justru kau sendirilah yang selalu mengejar gadis-gadis,“ sahut kawannya yang berkulit kuning, “bukankah kau akan mengatakan bahwa salah seorang dari kedua perantau itu seorang gadis ?” Anak muda yang gemuk itu tertawa. Namun seorang kawannya lagi berkata, “Meskipun ia seorang gadis, tetapi dapat dibayangkan. Seorang gadis kurus, sakit-sakitan, kumal dan barangkali suka merengek-rengek.” “Jangan menghina,“ potong kawannya. Namun anak-anak muda yang lain sempat pula tersenyum. Dalampada itu, selagi anak-anak muda itu masih berkelompok dimulut lorong, mereka mendengar derap seekor kuda. Dengan tergesa-gesa mereka menepi meskipun mereka belum melihat kuda itu mendekat. “Siapa ?” seseorang berteka-teki. “Daruwerdi atau Nugata.” Yang lain tidak sempat menjawab, karena dar i tikungan nampak seorang anak muda duduk dipunggung kudanya. Kuda itu mengurangi kecepatannya. Bahkan kemudian berhenti dimulut lorong. “Apakah yang kalian tunggu disini ?“ bertanya anak muda dipunggung kuda itu. “Kami akan pergi kesawah.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun kemudian, “Tetapi kalian masih saja berkumpul disini.” “Ya. Baru saja kami bertemu dengan Jlitheng,“ sahut yang lain. “Jlitheng anak Lumban Wetan ?” “Ya.” “Apa keperluannya ?” Salah seorang anak muda itupun kemudian menceriterakan tentang dua orang perantau sepertil yang dikatakan Jlitheng. Anak muda dipunggung kuda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Seperti kita masing-masing tidak mempunyai pekerjaan. Biarlah perantau itu mengurus dir inya sendiri.” Anak-anak muda dimulut lorong itu tidak menyahut. Mereka memandangi saja ketika kuda itu berderap dan hilang kedalampadukuhan. Anak-anak muda yang tinggal dimulut lorong itu memandang debu yang masih mengepul. Salah seorang berdesis, “Kuda itulah yang dikatakan kecil, kurus, sakit- sakitan.” “Seperti gadis perantau itu.” Yang lain tidak dapat menahan tertawa mereka. Namun suara tertawa itupun bagaikan hanyut oleh angin ketika anak muda berkulit kuning itu berkata, “Apa urusan kita. dengan kuda Nugata. Marilah, kita pergi kesawah. Sore nanti kita pergi ke bukit gundul. Daruwerdi tentu sudah menunggu, Kita akan berlatih olah kanuragan.” Anak-anak muda itupun kemudian bersama-sama menyusuri pematang dan berpisah menuju kesawah masing- masing. Tetapi sawah di Lumban Kulon dan Lumban Wetan memang t idak begitu baik. Tanahnya mulai kering dimusim kemarau. Palawijapun tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahkan dimusim kering yang panjang sawah mereka benar- benar menjadi padang yang gersang sejauh mata memandang. Dalam pada itu Jlitheng telah berada dirumah Ki Buyut di Lumban Kulon. Ki Buyut yang tua, tetapi yang lahir kemudian dari sepasang anak kembar itu, nampaknya memang lebih tua. Apalagi ia nampak selalu bersungguh-sungguh, meskipun sebenarnya hatinya cukup lapang. Kedatangan Jlithengpun mengejutkan pula. Namun Ki Buyut di Lumban Kulon itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia sudah mendengar maksud Jlitheng untuk menghadap. “Kalian membuat aku berdebar-debar,“ berkata Ki Buyut di Lumban Kulon. “Belum lama aku mendengar peristiwa yang terjadi di lereng bukit itu. Aku kira berita yang kau bawa adalah berita yang berhubungan dengan kematian dua orang yang dibunuh oleh Daruwerdi. Apalagi aku mendengar bahwa kaupun pernah dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Teringat sekilas, dua orang yang terpaksa dibunuhnya pula, dan yang dengan diam- diam telah dikuburnya sama sekali. Tidak seorangpun yang mengetahuinya, sehingga yang tersebar hanyalah peristiwa yang terjadi atas Daruwerdi. “Ki Buyut,“ berkata Jlitheng kemudian, “peristiwa itu memang telah membuatku hampir pingsan. Tetapi agaknya jika terjadi peristiwa berikutnya yang berhubungan dengan peristiwa itu, tentu akan lebih banyak menyangkut Daruwerdi.” Ki Buyut mengangguk-angguk. Gumamnya seolah-olah kepada diri sendiri, “Karena itu, latihan2 yang akan diadakan oleh anak-anak itu mungkin akan dapat berakibat buruk.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya, “Kenapa berakibat buruk Ki Buyut ?” “Orang-orang yang memusuhi Daruwerdi itu menganggap bahwa kita semuanya telah melibatkan dir i,“ jawab Ki Buyut. Jalan pikiran orang tua itu memang dapat dimengerti. Namun Jlitheng mencoba untuk menjelaskan, “Tetapi Ki Buyut. Jika jumlah kami cukup banyak, maka aku kira, orang- orang jahat itu tentu akan segan pula untuk berbuat sesuatu. Meskipun kami belum mumpuni, namun dengan jumlah yang berlipat ganda, mereka tentu akan memperhitungkan pula.” Ki Buyut menarik nafas panjang. Masih saja ia bergumam seolah-olah kepada dir i sendir i, “Selama ini tidak pernah terjadi malapetaka di padukuhan ini. Tetapi kedatangan orang-orang baru itu membuat aku menjadi cemas.” Jlitheng mengangguk-angguk. Nampaknya Ki Buyut di Lumban Kulon merasa bahwa keadaan terakhir di padukuhannya telah memburuk. Kehadiran orang-orang yang dianggapnya asing memang telah membawa persoalan tersendiri. Termasuk kedatangan Daruwerdi. “Apakah Ki Buyut juga mencur igai kehadiran Kiai Kanthi dan Swasti?” pertanyaan itu mulai merayapi hatinya. Namun ternyata Ki Buyut kemudian berkata, “Jlitheng. Aku tidak berkeberatan dengan maksudmu dan kawan-kawanmu untuk membantu kedua orang yang kau sebut perantau itu, jika Buyut Lumban Wetan juga tidak berkeberatan. Tetapi aku berharap bahwa kehadirannya didaerah iini tidak akan menambah persoalan-persoalan baru yang dapat menyulitkan keadaan kita disini.” Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ki Buyut. Kami akan melihat dengan saksama, apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh kedua orang itu. Yang seorang sudah terhitung orang tua, sedang yang satu adalah anaknya, seorang gadis. Aku kira mereka tidak akan menimbulkan persoalan apapun juga didaerah Lumban ini.” “Sokur lah. Mudah-mudahan untuk seterusnya kita akan dapat hidup tenang dan damai. Hidup seperti yang pernah kita alami dari tahun ketahun, dari masa ke masa. Disaat pergolakan terjadi dipusat pemerintahan, padukuhan ini tetap tenang. Kami berdua yang kebetulan dilahirkan kembar dan menjadi tetua di Lumban Kulon dan Lumban Wetan berusaha sekeras-kerasnya untuk mempertahankan tata cara dan kehidupan yang ber laku didaerah kecil ini. Setiap perubahan akan dapat menimbulkan goncangan-goncangan dan bahkan mungkin kekisruhan.” Jlitheng menjadi berdebar-debar. Yang dikatakan itu adalah sikap Ki Buyut di Lumban Kulon. Namun Jlitheng tidak berputus asa bahwa untuk selanjutnya tidak akan dapat ditembus dengan kenyataan dan harapan-harapan bagi masa datang. Namun sayang sekali, bahwa permulaan itu bersamaan saatnya dengan goncangan ketenangan oleh orang-orang Kendali Putih yang telah berusaha menipu Daruwerdi. Namun demikian, ijin yang diberikan oleh Ki Buyut itu telah membuat Jlitheng berbesar hati. Ia memang harus berhati- hati untuk mengayunkan langkah berikutnya. Perubahan- perubahan yang terjadi memang harus dijaga sebaik-baiknya, agar tidak menimbulkan kekisruhan yang mengganggu, apalagi menimbulkan pertentangan-pertentangan didalam padukuhan yang tenang itu. Dalam pada itu, ketika Jlitheng mohon diri kepada Ki Buyut, maka terdengar derap kuda memasuki halaman. Nugata yang masih berada di punggung kudanya, mengerutkan keningnya melihat Jlitheng bersama beberapa orang anak muda duduk dipendapa bersama ayahnya. Tetapi ternyata bahwa ia tidak tertarik sama sekali dengan persoalan yang dibawa oleh Jlitheng seperti yang sudah didengarnya diujung lorong. Sehingga karena itu, maka setelah kudanya diserahkan kepada seorang pembantunya, ia langsung masuk lewat longkangan tanpa berpaling lagi. Jlitheng dan kawan-kawannya yang berada dipendapa itu hanya memandanginya saja. Mereka menyangka bahwa Nugata memang belum mengetahui persoalannya. Namun mereka-pun mengerti, bahwa Nugata lebih suka mempersoalkan masalahnya sendiri daripada masalah orang lain. Karena itu Jlithengpun kemudian meninggalkan rumah Ki Buyut di Lumban Kulon itu. Ia ingin segera berbuat sesuatu, sehingga waktunya tidak banyak terbuang. Mulai terbayang di angan-angannya, sebuah gubug kecil dengan secuwil tanah buat halaman dan kebunnya. Kemudian orang tua itu tentu memer lukan sebidang tanah yang lebih luas bagi sawah dan ladangnya. Namun yang penting bagi Jlitheng adalah bahwa orang tua dan anak gadisnya itu kemudian akan berjuang menguasai air yang melimpah dilereng bukit itu untuk mengarahkannya kesawah dan ladangnya yang akan dibuka. Air itu tentu akan dapat dimanfaatkan pula bagi padukuhan Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Parit yang hanya menampung dan mengalir dimusim hujan itui tentu akan menjadi basah pula dimusim kering. Sementara itu beberapa orang anak muda mengikut Jlitheng sampai kesebuah gardu parondan yang berada didekat padukuhan kecil yang terletak dibatas daerah Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Namun padukuhan itu sendiri masih termasuk daerah Lumban Wetan. Satu dua anak muda Lumban Kulon masih tetap bersama mereka. Bahkan salah seorang dari mereka bertanya, “Jlitheng kapan kau akan mulai dengan kerjamu itu ?” anak muda itu berhenti sejenak, namun kemudian ia mulai berkelakar, “bukankah anak perantau itu seorang gadis yang manis?” “He, darimana kau tahu ?“ Jlitheng pura-pura bertanya. Kawan-kawannya tertawa. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang dapat membayangkan wajah gadis itu dengan tepat. Seperti anak-anak muda Lumban Kulon yang tidak ikut bersama mereka, maka bayangan tentang gadis perantau itu adalah sangat buram. Dalam pada itu Jlithengpun kemudian berkata, “Besok aku akan mulai. Tetapi tentu hanya sekedar di waktu-waktu senggang dan jika badan tidak terasa penat. Namun demikian, aku tidak sampai hati melihat kedua orang itu terlalu lama berada di hutan itu. Jika udara dingin malam hari mulai menyelimuti pepohonan, maka merekapun menjadi basah oleh embun.” “Apakah laki-laki itu sudah teramat tua?“ bertanya seseorang. “Belum tua sekali. Tetapi tenaganya tentu sudah jauh susut,“ jawab Jlitheng. Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Biarlah aku ikut membantumu disaat-saat senggang pula.” Jlitheng tersenyum kecut. Ia masih sempat pula berkelakar. “Tetapi jangan karena gadis yang manis itu.” Suara tertawa terdengar diantara mereka. Tetapi salah seorang dari mereka segera berkata, “Aku akan kesawah. Pagi ini kerjaku hanya berjalan hilir mudik saja. Bukankah hari ini kita belum akan mulai dengan gubug itu?” Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tentu belum.” “Nah, jika kau akan mulai kapan saja, dan jika kau memer lukan aku, panggillah aku. Aku sudah mengatakan bahwa aku bersedia membantu.” “Terima kasih,“ jawab Jlitheng. “Sekarang, bukankah kita masing-masing mempunyai pekerjaan ?“ desis anak muda itu. “Silahkan,“ sahut Jlitheng, “akupun akan pergi kesawah juga.” Anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan Jlitheng kepekerjaan masing-masing. Namun mereka telah menyatakan dir i, bersedia membantu rencana Jlitheng, pada saat Jlitheng akan mulai dan diwaktu-waktu mereka yang terluang. Yang tinggal digardu itu kemudian tinggal Jlitheng sendir i. Anak-anak Lumban Kulonpun telah pergi pula kesawah mereka masing-masing. Pada saat Jlitheng sudah mulai melangkah untuk pergi kesawahnya pula, tiba-tiba saja ia mendengar seseorang memanggilnya. Dengan serta merta iapun berpaling. Dilihatnya Daruwerdi berjalan tergesa-gesa mendekatinya. Jlitheng bergeser kembali dan duduk dibibir gardu. Sambil tersenyum ia bertanya, “Kau nampak tergesa-gesa ? Apakah ada sesuatu ?” “Aku memang mencarimu,“ jawab Daruwerdi. “Mencari aku ?“ Jlitheng mengerutkan keningnya, “apakah kau mempunyai kepentingan?” Daruwerdipun kemudian duduk pula disamping Jlitheng. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia mulai bertanya, “Apakah benar kau bertemu dengan dua orang perantau di lereng bukit itu ?” “Ya, kenapa ?“ Jlitheng mengerutkan keningnya. “Seorang laki- laki tua dan seorang gadis ?” “Ya.” Daruwerdi mengangguk-angguk. Seperti kepada diri sendiri ia berdesis, “Jadi keduanya masih dibukit itu.” “Kau pernah melihat mereka ?“ Jlitheng pura-pura bertanya. “Ya. Aku pernah menolong mereka ketika mereka hampir diterkam oleh seekor harimau. Tetapi aneh sekali bahwa keduanya justru berada dihutan yang hampir menelan mereka itu,“ desis Daruwerdi. “Apa yang telah terjadi ?“ Jlitheng masih berpura-pura. Daruwerdipun kemudian berceritera tentang seekor harimau yang garang. Untunglah ia melihatnya dan sempat menolongnya. “Aku kira keduanya telah pergi,“ gumam Daruwerdi. “Aku bertemu dengan mereka ketika aku sedang mencari kayu.” “Kau juga gila. Kenapa kau mencari kayu dihutan yang dapat membahayakan dirimu ? Dihutan itu ada beberapa ekor harimau. Dan kedua orang perantau itu nampaknya juga gila seperti kau.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku sudah sering sekali mencari kayu dihutan itu. Bukankah kau tahu juga kebiasaanku itu ? Baru sekali aku bertemu dengan seekor harimau yang nampaknya akan berbuat jahat. Tetapi aku dapat memanjat. Dan ternyata harimau itu tidak menunggui aku terlalu lama.” “Apakah nilai kayu bakar yang kau dapat dihutan itu lebih besar dari nyawamu ?“ bertanya Daruwerdi. Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia justru bertanya, “Apakah aku akan menukarkan nyawaku dengan kayu bakar?” Daruwerdi meloncat turun dari bibir gardu sambil bergumam, “Kau memang anak yang dungu. Sudah tentu bukan begitu maksudku. Tetapi aku hanya memberimu peringatan, bahwa kau dapat saja diterkam harimau.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah- mudahan tidak Daruwerdi. Kau membuat aku menjadi cemas. Selama ini aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tetapi tiba- tiba saja aku menjadi cemas.” “Nah, katakan pula kepada kedua orang perantau itu. Suruhlah mereka pergi saja dari lereng bukit. Tetapi kalau mereka memaksa untuk tinggal, suruhlah ia mendekati padukuhan ini agar mereka tidak akan menyesal.” Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku akan mencoba memperingatkan mereka, agar mereka tinggal dibawah bukit saja.“ Daruwerdipun kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Terserah kepadamu.“ lalu, “Sore nanti aku akan datang kebukit gundul itu. Bukankah anak-anak minta aku member ikan sedikit petunjuk tentang olah kanuragan ?” “Ya. Aku juga akan datang. Tetapi apakah aku mungkin akan dapat berkelahi seperti kau?” Daruwerdi yang sudah melangkah menjauh berhenti sejenak. Sambil berpaling ia berkata, “Kau memang anak yang paling dungu diseluruh Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Sampai matipun kau tidak akan dapat menyadap ilmu sejauh itu. Bahkan seandainya kau mempunyai seorang guru yang mumpuni sekalipun.” Jlitheng tidak menjawab. Dipandanginya saja Daruwerdi yang berjalan menjauh. Namun tiba-tiba saja Jlitheng berlari- lari menyusulnya sambil berkata, “He, Daruwerdi. Apakah benar Nugata minta kepada ayahnya untuk dibelikan seekor kuda yang besar dan tegar?” Daruwerdi berhenti. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Siapa yang mengatakannya ?” “Anak-anak Lumban Kulon.” “Itu adalah pertanda bahwa mereka tidak mempunyai pekerjaan lain daripada membicarakan kawan-kawan mereka sendiri. Itu bukan urusanku. Dan aku tidak akan mengurusnya pula meskipun ia akan membeli sepuluh atau duapuluh ekor lagi.” Jlitheng berdiri termangu-mangu. Sementara itu Daruwerdipun melangkah pula menjauh dan hilang ditikungan. Sepeninggal Daruwerdi J litheng menggeliat seperti orang yang baru bangun dari tidur yang nyenyak semalam suntuk. Bibirnya nampak tersenyum, namun tidak sepatah katapun yang diucapkannya meskipun bagi dirinya sendiri. Sejenak kemudian iapun dengan tergesa-gesa pula meninggalkan tempat itu. Disepanjang jalan seolah-olah membayang sekilas di kepalanya beberapa orang anak muda yang menarik perhatiannya di padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Anak-anak muda yang dengan serta merta bersedia membantunya. Kemudian wajah yang cerah dan terbuka dari anak Ki Buyut di Lumban Wetan yang bernama Kumbara. Disusul kemudian wajah yang acuh tak acuh dari putera Ki Buyut di Lumban Kulon. Yang terakhir adalah wajah Daruwerdi yang tampan dan bersungguh-sungguh. Jlitheng melangkah semakin cepat. Sambil tersenyum ia berkata kepada diri sendir i, “Lalu bagaimana dengan wajahku sendiri?” Seperti kawan-kawanya Jlithengpun kemudian menengok sawahnya. Tetapi tidak banyak yang dapat dikerjakan. Sawahnya adalah sawah yang kurang baik seperti pada umumnya sawah di Lumban Wetan dan Lumban Kulon, yang menggantungkan air pada hujan yang jatuh dimusim basah. Disiang hari, ketika kawan-kawannya pulang kerumah masing-masing, maka Jlithengpun justru pergi ke sungai. Kepada seorang kawannya ia berpesan agar disampaikannya kepada biyungnya, bahwa ia akan mencuci pakaiannya.” Tetapi setelah sawah menjadi sepi dipanasnya terik matahari, Jlithengpun telah pergi menyusuri sungai yang hampir tidak mengalir lagi dan apalagi dibatasi oleh tebing yang tinggi, mendekati bukit yang berhutan dan menyimpan mata air yang deras. Tidak ada harapan untuk dapat memanfaatkan sungai kecil yang dibatasi oleh tebing itu dimusim kemarau. Namun tiba- tiba Jlitheng berhenti sejenak. Dipandanginya tebing sungai itu serta batu-batu yang berserakan. Katanya didalam hati, “Untuk sementara air yang melimpah itu dapat disalurkan lewat sungai kecil ini. Yang perlu dilakukan kemudian adalah menyekat sungai ini dengan beberapa bendungan untuk menaikkan airnya kesawah.” Tetapi Jlitheng tidak yakin bahwa itu adalah cara yang terbaik. Mungkin Kiai Kanthi mempunyai cara tersendiri. Dengan berlari- lari kecil, Jlitheng memanjat tebing diantara pepohonan hutan. Setelah meloncati batu-batu padas yang terjal dan memanjat lereng yang bagaikan dinding, akhirnya ia sampai kedataran ditepi kolamyang berair melimpah. “O, marilah ngger,“ Kiai Kanthi mempersilahkan. Jlitheng mengangguk hormat. Sekilas ia memandang kesekelilingnya. Dilihatnya Swasti sedang duduk membersihkan buah gayam yang sudah tua dengan belanga yang dibawanya. Jlitheng mengerutkan keningnya. Meskipun Swasti t idak mengacuhkannya seperti biasa, tetapi seolah-olah ia baru dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas saat itu. Tetapi ia tidak berani terlalu lama memandanginya, karena iapun kemudian dipersilahkan oleh Kiai Kanthi duduk diatas sebuah batu yang nampaknya telah disediakan. “Silahkan. Aku memang telah menyediakan beberapa tempat duduk yang khusus,“ berkata Kiai Kanthi sambil tersenyum. “Kiai,“ berkata Jlitheng setelah mereka duduk berhadapan, “aku telah menghadap Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Keduanya menyatakan tidak berkeberatan untuk mengijinkan Kiai membuat sebuah gubuk kecil dilereng bukit. Namun persoalannya, setiap orang mencemaskan nasib Kiai berdua, jika seekor harimau datang menerkam Kiai atau Swasti.” “Aku memang menunggu seekor harimau yang akan menerkam aku,“ t iba-tiba saja Swasti menggeram. Jlitheng memandang Swasti sejenak. Tetapi Swasti tetap duduk sambil membersihkan buah gayam yang akan direbusnya, tanpa mengangkat wajahnya. Kiai Kanthi tersenyum melihat sikap anak gadisnya. Namun kemudian katanya, “Kau salah mengerti Swasti. Tentu saja maksud angger yang memilih mempergunakan gelar Jlitheng ini bukan benar-benar mencemaskan nasib kita berdua jika ada seekor harimau yang tersesat kemari. Tetapi bukankah kita tidak akan menepuk dada dihadapan orang-orang Lumban sambil mengatakan bahwa kami tidak takut menghadapi harimau, bahkan sepasang sekalipun? Jika ada kesan demikian, maka orang-orang Lumban tentu akan mencur igai kita, sehingga maksud kita untuk menemukan tempat baru yang tenang dan wajar, seperti kehidupan orang banyak dalam hubungan bertetangga tentu akan menjadi baur lagi. Orang-orang Lumban akan menganggap kita orang lain, atau orang yang tidak sewajarnya berada dalam pergaulan diantara mereka.” Swasti masih tetap pada sikapnya. Ia sama sekali tidak mengangkat kepalanya dan apalagi berpaling. “Karena itu ngger,“ berkata Kiai Kanthi, “peringatan itu tentu seharusnya kita perhatikan. Kita harus melakukan sesuatu yang dapat mereka mengerti tanpa menimbulkan masalah baru.” “Kiai,“ berkata Jlitheng, “Daruwerdi menyarankan, agar Kiai tinggal dekat dengan padukuhan, sehingga tidak akan mendapat gangguan binatang buas dihutan ini. Tetapi aku berpikir, j ika demikian, maka usaha Kiai tentu akan sedikit terganggu oleh jarak.” “Kau benar ngger. Usahaku mengalirkan sekaligus menguasai air itu akan menjadi semakin berat, karena aku tidak dapat menungguinya setiap saat.” “Karena itu Kiai. Untuk memenuhi keduanya, aku berpendapat, bahwa sebaiknya Kiai membuat sebuah padepokan kecil dibawah bukit ini. Jarak antara gubug yang akan dibangun dengan belumbang ini tidak terlalu jauh, sementara kecurigaan dan kecemasan orang-orang Lumban sudah berkurang.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dipandanginya Swasti sejenak. Tetapi ia nampaknya tidak mendengarkan percakapan itu. “Anak bengal,“ desis Kiai Kanthi lirih. “Selebihnya Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “sebelum Kiai berhasil menyusun jalur parit yang sesuai dengan keinginan Kiai, maka apakah Kiai sependapat, jika kita memanfaatkan sungai kecil yang hampir ker ing itu untuk menampung air yang melimpah itu.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Sementara Jlitheng meneruskan, “Kita akan dapat menyekat sungai itu dibeberapa tempat dengan bendungan-bendungan kecil dan mengangkat airnya kesawah dan ladang.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu terdengar Swasti berkata dengan nada dalam, “Tentu untuk kepentingan orang Lumban.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Sekilas dilihatnya wajah Kiai Kanthi yang buram. Namun kemudian orang tua itu tertawa kecil sambil berkata, “Angger. Setiap orang dilandasi oleh kepentingan diri yang dapat sama, tetapi dapat berbeda dengan orang lain. Yang berbeda itu kadang-kadang dapat menimbulkan persoalan jika yang satu memaksakan kepentingannya sendiri terhadap yang lain. Tetapi yang mempunyai kepentingan yang samapun dapat juga berbenturan karena mereka berebut kepentingan.” Jlitheng termangu-mangu mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Tetapi ia masih tetap menunggu penjelasannya. “Angger. Dengan jujur aku ingin mengatakan, bahwa penguasaan air yang melimpah itu pertama-tama tentu karena kepentingan pribadiku. Aku berjalan menyusuri arus dibawah tanah dengan suatu keinginan untuk menemukan air, sokur sumbernya, untuk mengaliri suatu padepokan yang akan aku bangun kemudian. Dan atas petunjuk angger, aku dapat sampai ketempat ini,“ Kiai Kanthi berhenti sejenak, lalu, “Karena itulah maka sampai saat ini aku masih memimpikan sebuah padepokan yang dikelilingi oleh tanah persawahan dan ladang secukupnya, yang dialiri oleh air tanpa henti disegala musim. Bahkan j ika mungkin sebuah belumbang untuk memelihara jenis-jenis ikan yang dapat menghiasi halaman dan kebun, tetapi juga dapat menghasilkan bagi hidup kami sehari-hari.” Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud Kiai Kanthi sehingga karena itulah maka ia tidak memotong kata-kata orang tua. “Meskipun demikian ngger,“ berkata Kiai Kanthi selanjutnya, “aku sudah barang tentu tidak akan dapat ingkar pada suatu kewajiban untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan lingkungannya. Dalam hal ini, sudah tentu adalah lingkunganku yang baru. Karena itu, maka aku tidak berkeberatan untuk menyalurkan air kedalam sungai kecil itu, setelah melalui padepokan yang masih ada didalam angan- anganku itu.” Jlitheng masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mohon maaf Kiai jika ada sesuatu yang kurang sesuai dengan jalan pikiran Kiai. Tetapi menurut pendapatku, apa yang Kiai katakan itupun merupakan pemecahan yang baik. Air itu akan mengalir kesawah ladang disekitar padepokan Kiai, akan dialirkan atau katakan dengan istilah lain, akan dibuang kesungai kecil itu.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Ya. Begitulah kira-kira.” “Jadi menurut Kiai, yang manakah yang akan kita kerjakan lebih dahulu. Menguasai dan mengarahkan arus air itu, atau membuat suatu padepokan dengan membuka hutan dilereng bukit ini lebih dahulu.” Kiai Kanthi termenung sejenak. Kemudian katanya masih sambil tersenyum, “Kau memang cerdik ngger. Aku menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi nampaknya aku harus menjawab, bahwa aku akan berusaha menguasai air lebih dahulu meskipun aku belum mempergunakannya, karena sawah dan ladang itu memang belum ada. Tetapi aku ingin mendapat gambaran tentang sawah dan ladang itu kelak sehingga arus air itu sudah dapat ditentukan, tanpa menunggu sawah dan ladang itu sendiri.” Jlithengpun tersenyum pula. Jawabnya, “Kira-kira memang demikian Kiai. Kita akan segera menanam patok.” Dalam pada itu wajah Swastipun menjadi gelap. Dengan demikian, maka orang-orang Lumban mungkin akan mempergunakan air itu lebih dahulu sebelum Kiai Kanthi mempergunakannya. Tetapi Swasti tidak mengatakan sesuatu. Bagaimanapun juga ia harus mempertimbangkan kesediaan Jlitheng untuk membantu membuat sebuah gubug yang dapat dipergunakannya untuk sementara, sebelum mereka dapat membangun sebuah padepokan yang tentu akan memer lukan waktu yang panjang. Dalam pada itu, Jlithengpun kemudian minta dir i setelah ia berjanji untuk datang dihari berikutnya bersama satu dua orang kawannya. “Besok kita akan mulai Kiai,“ berkata Jlitheng sambil melangkah. “Terima kasih ngger. Aku senang sekali.” Jlitheng tersenyum. Ketika ia berpaling memandang Swasti gadis itu sama sekali tidak beringsut. “Aku minta dir i Swasti.” Tanpa mengangkat wajahnya gadis itu menjawab, “Terima kasih.” “Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun juga tentang anak gadisnya itu. Seperti yang dikatakan Jlitheng, maka iapun telah bersetuju dengan empat orang kawannya yang sudah sempat membantunya untuk datang di lereng bukit itu menjelang matahari terbit. Namun disore hari, ketika anak-anak muda berkumpul di dekat bukit padas yang gundul, Jlitheng tidak mengatakannya kepada orang lain. Kepada keempat kawannya itu ia berkata, “Jangan terlalu banyak lebih dahulu. Kita akan menjajagi, apakah yang akan kita kerjakan.” Seperti yang dijanj ikan, Daruwerdi telah datang pula ketempat itu. Ia bersedia untuk mengajari anak-anak muda dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan untuk ber latih dalam olah kanuragan. “Bagaimana ia dapat mengajari anak-anak muda ini,“ berkata Jlitheng didalam hatinya ketika ia melihat anak-anak muda yang jumlahnya terlalu banyak. Namun ternyata bahwa Daruwerdi mempunyai kebijaksanaan tersendiri. Ketika anak-anak sudah berkumpul ditempat itu, maka iapun berdir i diatas sebuah batu padas dan mengucapkan sesorah singkat. Ia bersiap memberikan tuntunan olah kanuragan, tetapi anak-anak muda Lumban harus bersungguh-sungguh. Anak-anak muda Lumban menjawab saur-manuk. “Tetapi tidak mungkin untuk ber latih bersama dalamjumlah ini,“ berkata Daruwerdi, “aku akan membagi menjadi tiga kelompok besar. Kelak, jika kalian akan mempelajari ilmu yang lebih dalam lagi, kelompok-kelompok itu akan terbagi menjadi semakin kecil.” Daruwerdipun kemudian membagi anak-anak muda Lumban itu menjadi kelompok besar yang setiap kali akan diajarinya berurutan kelompok demi kelompok. Yang kemudian menjadi persoalan bagi Jlitheng, bagaimana ia dapat berbuat diantara anak-anak muda itu, sehingga Daruwerdi tidak dapat mengenali tata geraknya. Betapapun ia memperbodoh diri dalam sikap pura-pura namun ia masih juga cemas, bahwa Daruwerdi akan dapat melihat, bahwa sebenarnya ia sudah mempunyai bekal ilmu olah kanuragan. “Mudah-mudahan aku berhasil mengelabuinya,“ berkata Jlitheng didalamhatinya. Karena itulah, maka dihar i itu, Jlitheng yang mendapat giliran dihari ketiga, justru memperhatikan dengan saksama, bagaimana anak-anak muda Lumban yang belum memiliki bekal sama sekali itu mengikuti tuntunan Daruwerdi. Kadang-kadang Jlitheng harus menahan senyum melihat gerak-gerak yang menurut pendapatnya aneh dan lucu. Tetapi ia sadar, bahwa sikap yang demikian itulah yang harus dilakukannya pula. Ternyata bahwa dihari itu anak-anak Lumban telah berlatih dengan sebaik-baiknya. Rasa-rasanya matahari terlalu cepat turun dan hilang dibalik pegunungan, sehingga waktu rasa- raisanya berjalan terlampau laju. Jlitheng memperhatikan perkembangan keadaan di Lumban itu dengan pertimbangan yang dalam. Ia tidak dapat mengkesampingkan pendapat Ki Buyut di Lumban Kulon, bahwa latihan-latihan itu akan dapat dianggap oleh orang- orang yang memusuhi Daruwerdi, seolah-olah setiap anak muda di Lumban telah melibatkan dir i. “Tetapi ini adalah suatu permulaan dari perubahan- perubahan yang akan terjadi di Lumban,“ berkata Jlitheng kepada dirinya sendiri, “dengan perubahan-perubahan yang sedikit demi sedikit, maka akhirnya Lumban t idak akan tenggelam didalam suasana masa lampau tanpa menghiraukan masa depannya.” Selebihnya Jlitheng memang mengharap, bahwa perhatian anak-anak muda kebanyakan akan tertuju pada olah kanuragan. Hanya anak-anak muda dalam jumlah yang terbatas sajalah yang akan memperhatikan dua orang perantau yang akan membuka sebuah padepokan dilereng bukit. “Tetapi pada saatnya, semuanya akan diperlukan,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “untuk menguasai air itu diper lukan semua orang dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.” Didini hari ber ikutnya, Lumban bersama empat orang kawannya, dengan diam-diam telah pergi kebukit dengan membawa beberapa macam alat yang akan dipergunakan untuk membangun sebuah gubug kecil. Tidak seperti yang biasa dilakukan oleh Jlitheng j ika ia memanjat seorang diri, melalui tebing tebing curam dan meloncati batu-batu padas, tetapi ia memilih jalan setapak yang lebih baik agar kawan- kawannya tidak mengalami kesulitan meskipun dengan demikian perjalanan mereka akan bertambah panjang. Keempat kawan Jlitheng itu menjadi heran ketika mereka melihat dan kemudian diperkenalkan kepada Swasti. Mereka menyangka Swasti adalah seorang gadis perantau yang kusut, kurus dan sakit-sakitan. Tetapi ternyata Swasti adalah gadis yang nampak sehat dan segar, meskipun pemalu. “Seperti yang aku janj ikan kemarin Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “kami akan dapat mulai dengan kerja ini.” “Terima kasih ngger. Terima kasih. Tetapi apakah yapg dapat aku pergunakan untuk menyediakan minum j ika kalian haus, dan apa pula yang ada padaku, jika angger menjadi letih dan lapar.” Jlitheng tertawa mendengar pertanyaan Kiai Kanthi. Jawabnya, “Tentu kami mengerti Kiai, bahwa Kiai tidak akan dapat menyediakannya buat kami. Tetapi sudah barang tentu kami tidak akan mengharapkan sesuatu yang akan dapat menyulitkan Kiai. Jika Swasti mendapatkan banyak gayam dan merebusnya, itupun sudah memadai buat kami semuanya, karena kamipun senang sekali makan gayamrebus.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Terima kasih ngger. Ter ima kasih.” Dalam pada itu, maka Jlithengpun segera mengajak kawan- kawannya untuk mulai bekerja. Yang pertama-tama mereka lakukan adalah memotong dahan-dahan kecil dan diruncingkannya ujungnya untuk membuat patok-patok yang akan menandai daerah yang akan dibangun untuk sebuah padepokan kecil. Dengan patok-patok itu, maka sudah akan didapat gambaran, apakah yang akan terjadi kelak di lereng bukit itu. Sehingga dengan demikian, maka arus air yang akan mengalir lewat padepokan itupun akan dapat pula ditentukan arahnya. Kiai Kanthipun ikut serta pula membuat patok-patok kayu dan menyiapkan sebuah rancangan yang mereka perbincangkan bersama sambil memotong dan meruncingkan patok-patok kayu itu. “Aku kira sudah cukup untuk kali ini,“ berkata Jlitheng kemudian, “mar ilah kita turun dan menanam patok-patok ini setelah kita memperhitungkan segala segi dan kemungkinannya.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Swasti yang duduk dimuka perapian. Meskipun Swasti tidak berpaling, karena sikapnya yang seolah- olah acuh t idak acuh, tetapi orang tua itu melihat bahwa ada sesuatu yang terasa tergetar dihati gadisnya. Karena itu, maka iapun kemudian mendekatinya sambil berbisik, “Bagaimana pikiranmu tentang rencana ini ?” “Ayah lebih senang berbicara dengan anak itu daripada dengan aku.“ sungut gadis itu. “Ah, jangan begitu Swasti. Bukankah kita berterima kasih atas uluran tangan yang diberikan oleh angger Jlitheng. Dan kau sudah mendengar pula pengakuannya serba sedikit, kitapun harus memperhitungkannya pula. Ia bukan anak Lumban seperti yang lain-lain. Tentu iapun mempunyai perhitungan yang mapan, bukan sekedar ikut-ikutan seperti anak-anak muda Lumban yang lain.” “justru karena itu ayah. Mungkin kita akan terjebak pada rencananya.” “Jangan terlampau berprasangka Swasti. Tetapi bahwa ia telah mencoba menjajagi kemampuanmu itu ada pula baiknya. Ia tidak akan menganggap kita sekedar penurut yang tidak mempunyai sikap.” “Tetapi sampai sekarang ayah benar-benar seorang penurut,“ desis Swasti. “Itupun telah aku perhitungkan Swasti. Ia lebih banyak kesempatan bergaul dengan orang-orang Lumban, dengan Ki Buyut dan anak-anak mudanya. Tentu sikap dan pandangannya mempunyai hubungan dengan lingkungan yang sedang dihayatinya sekarang.” Swasti tidak menjawab lagi. Pandangan matanya seolah- olah telah terlekat pada perapian yang menyala ditungku yang dibuatnya dari batu. “Hati-hatilah tinggal disini Swasti. Aku akan turun bersama anak-anak muda itu. Tentu tidak terlalu jauh, karena aku tidak ingin membuat padepokan didekat salah satu dari padukuhan kecil yang termasuk Lumban Wetan atau Lumban Kulon.” Swasti mengangguk kecil. Meskipun ia tidak mengatakannya, tetapi Kiai Kanthi dapat merasakan, bahwa gadis itu masih belum puas dengan jawaban-jawaban yang telah diberikannya. Namun Kiai Kanthipun tidak akan memperbincangkan terlalu panjang. Jlitheng dan kawan-kawannya telah menunggu sambil mengikat patok-patok kayu yang telah mereka siapkan. Ketika Kiai Kanthi mendekati anak-anak muda Lumban, maka anak-anak muda itu sudah selesai mengikat patok-kayu yang akan mereka bawa turun untuk menelusur i tempat seperti yang sudah mereka perbincangkan. Tempat yang barangkali paling baik untuk membuat sebuah padepokan. Masih dilereng bukit, tetapi ditempat yang datar dan agak luas. Dibawah dataran itu akan dapat dibuka selembar tanah persawahan dan ladang yang cukup. “Bagaimana dengan Swasti, “Jlithenglah yang kemudian bertanya. “Biar lah ia merebus Gayam dan barangkali merebus air yang akan dapat kita minum, meskipun benar-benar hanya air putih,“ jawab Kiai Kanthi. “Tetapi, apakah itu tidak berbahaya baginya ?“ bertanya anak muda yang lain. “Ia pandai memanjat,“ jawab Kiai Kanthi, “jika ada binatang buas mendekat, maka ia akan memanjat dan tidur diatas dahan sampai binatang itu pergi. Dan aku kira jarang sekali ada seekor binatang buas yang mendekati manusia jika tidak terpaksa sekali.” “Seperti yang pernah aku ceriterakan,“ potong Jlitheng. Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk kecil. Sekilas dipandanginya Swasti yang sama sekali tidak acuh terhadap mereka yang sibuk dengan kerja itu, namun ada semacam kekhawatiran untuk meninggalkan gadis itu seorang dir i. Tetapi ketika anak-anak muda itu melihat ayah Swasti tidak mencemaskannya, maka merekapun mencoba untuk tidak mencemaskannya pula. Sejenak kemudian, maka Kiai Kanthi, Jlitheng dan beberapa orang kawannya telah meninggalkan tempat itu, sementara Swasti masih tetap duduk ditcmpatnya tanpa berpaling. Beberapa saat lamanya, Jlitheng dan kawan-kawannya menuruni tebing. Seperti saat mereka memanjat naik, maka Jlitheng telah memilih jalan yang paling mudah untuk dilalui, karena kawan-kawannya bukannya orang terlatih untuk mendaki bukit, menuruni lereng terjal dan ketrampilan kanuragan yang lain. Tetapi mereka tidak perlu mencari-cari lagi. Mereka telah membicarakan, bagian yang manakah yang akan mereka tandai, sebagai tempat yang akan dibangun sebuah padepokan, dan kelak dibawahnya untuk membuka tanah persawahan dan ladang. Dalam pada itu, Swasti masih tetap duduk dimuka perapiannya. Ia mencoba memikirkan masa depan yang belum terbentuk baginya. Namun sebagai seorang gadis, maka iapun mulai berangan-angan. Sekali-kali tangannya menyentuh ranting-ranting kecil yang sedang menyala. Dengan jari- jarinya yang panjang gadis itu kemudian bermain dengan bara-bara kecil yang pecah menjadi abu yang panas. Tetapi tangan Swasti agak terbiasa dengan panas, dipadepokannya yang lama. ia berlatih dengan pasir. Mula- mula pasir ditepian sungai. Jika tidak seorangpun yang ada ditepian, maka mulailah ia menusuk-nusuk pasir dengan jari- jarinya. Namun kemudian ayahnya memberikan latihan-latihan yang lebih berat. Pasir itu dipanasinya dan latihan-latihan berikutnya dilakukan ditempat tersembunyi. Karena itulah, maka jari-jari Swasti bukannya jari-jari seorang gadis yang halus dan lentik. Namun setiap orang tentu mengira, bahwa gadis itu terlalu banyak bekerja berat, sehingga jari-jar inya menjadi kasar. “Namun dalam pada itu, Swasti terkejut ketika ia mendengar desir mendekat. Telinganya yang terlatih segera mengetahui, bahwa seseorang sedang berjalan kearahnya. Bukan seseorang yang dengan bersembunyi merunduknya, tetapi seseorang yang berjalan agak cepat. Swasti selalu ingat pesan ayahnya, agar ia tidak memper lihatkan kemampuannya kepada orang-orang lain. Bahkan ayahnyapun selalu berusaha untuk merendahkan diri dalam olah kanuragan. Karena itulah, maka untuk mempersiapkan diri, ia berpura- pura melakukan sesuatu. Perlahan-lahan ia berdir i dan melangkah mengambil seonggok kayu kering untuk dibawa kedekat perapian. Tetapi Swasti kemudian berdiri tegak sambil menggeliat setelah ia melemparkan seonggok kayu itu. Bagaimanapun juga gadis itu harus mempersiapkan dir i, karena yang ada ditempat itu hanyalah ia sendiri. Tanpa ayahnya dan tanpa orang lain. Swasti tahu pasti dari arah mana suara itu datang. Dan iapun ternyata telah berdiri menghadap kearah itu. Tetapi Swasti menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang yang menyibakkan dedaunan. Seseorang yang pernah dilihatnya disaat ia datang lewat bulak persawahan di Lumban. Kemudian orang itu datang lagi untuk menolongnya dari kegarangan seekor harimau hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan Jlitheng. Tetapi karena Jlitheng kemudian berhasil melihat permainan ayahnya yang menekan pusat nadinya, sehingga ia tidak dapat berbuat banyak, maka Jlitheng sama sekali t idak menampakkan dir inya pada saat itu “Daruwerdi,“ ia berdesis didalamhatinya. Sementara itu Daruwerdi telah berdiri termangu-mangu. Dilihatnya Swasti menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa menyapanya. “He, bukankah kau gadis perantau itu ?” Daruwerdilah yang kemudian bertanya. “Ya,“ jawab Swasti pendek. “Dimana kakek tua itu?” “Pergi.” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Jawab gadis itu terlalu pendek bagi pertanyaan-pertanyaannya. Namun Daruwerdi mencoba untuk mengerti, bahwa gadis itu tentu jarang bergaul dan merasa rendah diri. “Kemana kakek tua itu ? Maksudku, pergi kemana ?” desak Daruwerdi. Swasti termangu-mangu sejenak. Namun iapun mengerti, bahwa kehadirannya tentu bukannya rahasia lagi bagi orang- orang Lumban. Ternyata Jlitheng telah membawa kawan- kawannya dan bahkan ia sudah minta ij in kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dari Lumban Kulon. Karena itu, maka jawabnya kemudian, “Ayah pergi bersama Jlitheng.” “Dengan Jlitheng,“ Daruwerdi mengerutkan keningnya, “hanya berdua?” “Tidak,“ jawab Swasti masih terlalu pendek, sehingga Daruwerdi mendesaknya, “Dengan siapa lagi?” “Anak-anak muda dari Lumban. Tiga atau empat orang.” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mendengar rencana Jlitheng untuk membantu orang tua itu membuat sebuah gubug kecil. “Dan kau sekarang sendiri?“ bertanya Daruwerdi tiba-tiba. Swasti menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Ya, aku seorang diri.” “Gila. Kau sudah gila. Dan kakek itupun sudah gila. Bukankah kau hampir mati dikunyah harimau saat kau datang beberapa hari yang lalu ? Dan sekarang kau ditinggalkan seorang diri disini?” Swasti kebingungan sejenak. Tetapi jawabnya kemudian seperti yang sering diucapkan ayahnya, “Aku dapat memanjat. Jika ada seekor harimau yang datang, aku akan memanjat pohon itu sampai har imau itu pergi.” “Kalian memang orang-orang yang tidak mengerti bahaya yang selalu merundukmu. Kedunguanmu itu dapat membunuhmu.” Swasti tidak menjawab. Tetapi kepalanya tunduk semakin dalam. Sekali-kali ia memandang ujung kaki Daruwerdi. Meskipun kaki itu kotor oleh lumpur, namun ia melihat kulit anak muda itu agak berbeda dengan kebanyakan anak-anak muda Lumban. Kulit Daruwerdi nampak lebih kuning dan cerah. Tetapi Swasti tidak berani mengangkat wajahnya dan memandang tubuh Daruwerdi lebih tinggi lagi, selain mata kakinya. “Sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini,“ berkata Daruwerdi tiba-tiba, “daripada kalian membuat gubug kecil diantara daerah perburuan beberapa ekor harimau, kenapa kalian t idak tinggal saja dekat padukuhan? Apakah Jlitheng tidak pernah mengatakannya demikian?” Swasti mengangguk kecil. Jawabnya, “Ya.” “Ya ? Ya, apa yang kau maksud ?” “Jlitheng pernah berkata demikian.” Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Gadis ini agaknya terlalu sulit untuk diajak berbicara. Karena itu, maka katanya, “Kearah mana kakek itu pergi?” Swasti termangu-mangu sejenak. Namun tatapan matanya mengarah ke semak-semak yang tersibak. “Kesana maksudmu?” desak Daruwerdi. Swasti mengangguk kecil. Daruwerdi tidak menunggu lebih lama lagi. Tanpa, minta diri, iapun segera meloncat menyusup kedalam gerumbul-ge- rumbul perdu diantara pepohonan hutan, dan kemudian menghilang. Sejenak Swasti termangu-mangu. Daruwerdi mempunyai kelainan dengan anak-anak muda di Lumban. Sikapnya, kata- katanya dan pakaiannya. “Jlitheng juga bukan anak Lumban,“ tiba-tiba saja Swasti memperbandingkan keduanya diluar sadarnya, “tetapi Jlitheng telah luluh dan menyatu dengan anak-anak muda Lumban, sedangkan Daruwerdi nampaknya masih tetap memelihara jarak itu.“ Swasti mengerutkan keningnya sejenak. Kemudian ia bertanya kepada diri sendir i, “Tetapi apakah Daruwerdi mengenal siapakah Jlitheng sebenarnya ?” Namun dalam pada itu, ketika Swasti menyadari apakah yang sedang diangan-angankan, wajahnya terasa menjadi panas. Meskipun tidak ada seorangpun, tetapi rasa-rasanya setiap lembar daun memandanginya sambil tersenyum. Seekor burung yang berkicau diatas dahan yang rendah rasa-rasanya telah menyindirnya dengan lagu yang nyaring. “Pergi, pergi kau,“ bentak Swasti sambil melempar burung itu dengan kerikil. Burung itu meloncat kedahan yang lebih tinggi. Tetapi Swasti tidak menghiraukannya lagi ketika burung itu kemudian berkicau lebih keras. Sementara itu Daruwerdi telah menuruni tebing bukit itu dengan tergesa-gesa. Dengan mudah ia dapat mengikuti arah Jlitheng bersama Kiai Kanthi dan beberapa orang anak muda Lumban. Sehingga karena itu, maka sejenak kemudian Daruwerdi telah menemukannya. Ketika Daruwerdi muncul dar i balik gerumbul, maka Jlithengpun menyapanya, “He, marilah Daruwerdi. Kami sudah mulai.” Daruwerdi tidak segera menjawab. Tetapi diperhatikannya tempat disekitarnya. Ia melihat beberapa batang patok telah ditancapkan diantara pepohonan hutan. “Jadi, kalian akan tetap membuat gubug itu disini ?“ bertanya Daruwerdi. “Ya. Tempat ini sudah cukup rendah. Jika Kiai Kanthi ingin pergi kepadukuhan, maka ia tinggal menuruni beberapa lapis padas.” “Tetapi tempat ini tetap merupakan tempat yang berbahaya. Setiap kali seekor harimau akan lewat.“ Daruwerdi berhenti sejenak. Tetapi ketika Kiai Kanthi akan menjawab. Daruwerdi mendahului, “Kau tentu akan mengatakan bahwa kau dan gadis itu dapat memanjat. Dan barangkali kau akan mencer iterakan sebuah dongeng tentang seekor harimau yang terasing karena menerkamseseorang.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum sambil berkata, “Ya, ya ngger. Aku memang akan berkata begitu.” “Tetapi saat kau datang, hampir saja kau diterkam seekor harimau j ika aku tidak datang menolongmu.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya tesendat-sendat, “Benar ngger. Dan aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah pernah terjadi itu.” “Tetapi kau tidak memperbaiki kesalahan yang pernah kau lakukan. Apakah untungmu membuat gubug disini ? Apakah tidak lebih baik jika kau tinggal dipadukuhan. Kau dapat memilih ,apakah kau ingin tinggal di Lumban Wetan atau di Lumban Kulon.” Kiai Kanthi termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Angger Daruwerdi. Aku tidak mempunyai secabik tanahpun didaerah Lumban. Disini aku akan berusaha untuk membuka hutan tanpa merugikan siapapun juga, selain belas kasihan angger Jlitheng dan kawan-kawannya, yang bersedia membantu kami.” “Kau orang aneh kakek. Kau perantau yang bernasib kurang baik. Tetapi kau menganggap dirimu seorang kesatria yang sungkan menerima belas kasihan orang lain. Bukankah belas tenaga dan sebidang tanah t idak banyak bedanya?” Kiai Kanthi menundukkan kepalanya. “Pikirkan Kakek. Ketika aku bertemu dengan kau untuk pertama kali, aku sudah mengatakan, bahwa kau terlalu mementingkan dirimu sendir i. Harga dir i atau mungkin kepuasan untuk mengalami suatu pederitaan seperti yang sering dilakukan oleh para petapa dengan gegayuhan tertentu. Tetapi apakah kau pernah memikirkan anak gadismu yang malang itu ?” Kiai Kanthi tidak segera menjawab. Namun kepalanya terangguk-angguk kecil. “Tetapi terserah kepadamu. Pendidikan seseorang kadang- kadang sulit dimengerti oleh orang lain, termasuk pendirianmu. Jlitheng dan kawan-kawannya telah menaruh belas kasihan kepadamu, tetapi tanpa mempergunakan otaknya. Mereka sudah berbangga, bahwa mereka dapat menolongmu. Tetapi mereka tidak memikirkan kelanjutan hidupmu dan hidup anak gadismu itu.” Kiai Kanthi masih menunduk. Jlitheng dan kanwan- kawannya hanya berdiam dir i sambil mengangguk-angguk kecil. Tetapi Daruwerdi tidak tinggal lebih lama lagi. Sekali lagi ia berkata, “Pikirkan. Jangan terlalu bodoh dengan memercayai ceritera tentang seeekor harimau yang terasing. Jangan membiarkan dirimu merasa bahagia oleh pender itaan hidup dan kesulitan rohaniah yang dialami anak gadismu. Orang- orang masih akan member i kesempatan.” Daruwerdi tidak menunggu Kiai Kanthi menjawab. Iapun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi yang berdiri termangu- mangu. Salah seorang kawan Jlithenglah yang memecahkan kesenyapan. “Aku kira, apa yang dikatakan oleh Daruwerdi itu benar.” Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin benar. Tetapi kita sudah mulai dengan kerja ini. Sebaiknya kerja ini kita lanjutkan. Kelak jika ada pertimbangan lain dari Kiai Kanthi terserah sajalah.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia menyahut, “Aku kira demikian ngger. Aku ingin meneruskan kerja ini sampai pada suatu saat hatiku menjadi teguh atau sama sekali aku ingin merubah sikapku ini.” Kawan-kawan Jlithengpun tidak menyahut. Bagi mereka, persoalan itu segera mereka lupakan. Yang mereka lakukan kemudian adalah menanam patok-patok sesuai dengan tempat-tempat yang ditunjuk oleh Jlitheng setelah dibicarakan dengan Kiai Kanthi “Nah,“ berkata Jlitheng kemudian, “dengan patok-patok itu kita akan mendapat gambaran, bagaimanakah ujud padepokan kecil yang akan Kiai bangun di dataran yang tidak terlalu luas dilereng bukit ini.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku tidak dapat memimpikan bahwa seumurku padepokan itu sudah akan siap.” “Kenapa tidak Kiai. Disini Kiai tidak begitu sulit mencari batu untuk dinding halaman padepokan Kiai, meskipun harus mengumpulkan dari daerah yang agak luas disekitar tempat ini. Rumah dan kelengkapannya akan dibangun dengan kayu yang melimpah dihutan ini meskipun bukan kayu yang terbaik,“ sahut Jlitheng. Kiai Kanthi tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-angguk kecil. Namun ia merasa betapa unsur kemanusiaan masih nampak jelas di padukuhan Lumban. Bahkan Jlitheng, yang bukan orang Lumbanpun adalah seorang yang sangat baik bagi sesama. Meskipun demikian Kiai Kanthi tidak menutup pengamatannya yang kadang-kadang tersembul dipermukaan pertimbangannya. Bukan mustahil bahwa orang-orang Lumban yang berbuat baik kepadanya, termasuk Jlitheng itu tidak mempunyai pamrih apapun juga. “Itu sudah wajar,“ berkata Kiai Kanthi, “tetapi jika pamr ih itu akan saling menguntungkan, maka sudah barang tentu, tidak akan ada keberatan apapun juga bagiku.” Dalam pada itu, maka yang dikerjakan oleh Jlitheng dan kawan-kawannya pada hari itu adalah baru menanam beberapa buah patok. Mereka masih akan menunggu Jiltheng dan Kiai Kanthi yang akan memperhitungkan pengendalian air, sehingga yang akan mereka kerjakan dikeesokan harinya, barulah membuat patok-patok juga. Setelah Kiai Kanthi dan Jlitheng mendapat kepastian arah air yang melimpah dari belumbang di lereng bukit itu, maka mereka baru akan menanam patok-patok berikutnya. Sebelum Jlitheng dan kawan-kawannya kembali ke padukuhan, maka mereka masih sempat singgah sejenak dipinggir belumbang untuk mendapat beberapa buah gayam yang direbus oleh Swasti. Sementara itu, ketika kawan-kawannya sedang sibuk makan jamuan yang terasa nikmat sekali itu, Jlitheng mendekati Kiai Kanthi sambil berbisik, “Daruwerdi nampaknya tidak setuju Kiai tinggal disini.” “Karena belas kasihan ngger. Angger Daruwerdi tidak sampai hati melihat salah seorang dari kami diterkam dan dikoyak oleh seekor harimau atau oleh anj ing hutan sekalipun.” “Kiai percaya bahwa itu alasannya?“ bertanya Jlitheng. “Jika bukan karena belas kasihan, apakah angger Jlitheng melihat alasan lain?“ bertanya Kiai Kanthi. “Aku melihat Kiai. Bukankah dibawah tempat ini beberapa saat yang lalu, Daruwerdi telah membunuh dua orang Kendali Putih.” “Bukankah itu bukan maksud angger Daruwerdi. Justru orang-orang Kendali Putihlah yang telah berusaha menipu angger Daruwerdi. Bukankah begitu menurut ceriteramu?” “Benar Kiai. Daruwerdi telah membunuh kedua orang Kendali Putih yang telah berusaha menipunya. Tetapi bahwa pertemuan antara Daruwerdi dan orang-orang Pusparur i itu memang direncanakan ditempat itu. Tetapi yang datang adalah orang-orang Kendali Putih yang mengaku sebagai orang dari perguruan Pusparuri.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dipandanginya sekilas anak-anak muda Lumban yang sibuk mengunyah gayam dan meneguk air putih dari bumbung-bumbung bambu. Namun nampaknya air putih itu demikian segarnya, melampaui air sere hangat dengan legen atau gula kelapa. “Angger,“ berkata Kiai Kanthi kemudian, “apakah dengan demikian justru ada kesengajaan pula angger memilihkan tempat bagi kami dilereng itu, agar kami langsung atau tidak langsung telah menjadi pengawas yang akan dapat membantu tugas-tugas angger yang belumaku ketahui.” “Ah,“ tiba-tiba saja Jlitheng tersenyum, “bukan maksudku Kiai. Tetapi jika terjadi demikian, sudah tentu aku wajib mengucapkan terima kasih.” “Tentu aku t idak berani berbuat demikian ngger. Jika pada suatu saat angger Daruwerdi mengetahui, maka nasibku akan menjadi sangat buruk.” Tiba-tiba saja meledak suara tertawa Jlitheng tanpa dapat ditahankannya lagi, sehingga kawan-kawannya berpaling kepadanya dengan heran. “Apa yang kau tertawakan ?“ bertanya salah seorang kawannya. Jlitheng memaksa diri untuk berhenti tertawa. Jawabnya kemudian, “Kiai Kanthi telah menceriterakan pengalamannya yang lucu dikala mudanya.” “Apa ?“ bertanya kawan-kawannya sekaligus. Bahkan Swasti yang duduk agak jauhpun telah memandangi ayahnya dengan kerut dikeningnya. “Apa yang sudah diceriterakan ayah,“ bertanya Swasti didalam hatinya. Tetapi Jlitheng menggeleng. Katanya, “Tidak. Kiai Kanthi tidak bersedia mengulangi ceriteranya.” “Kau cer iterakan,“ minta kawan-kawannya. Tetapi Jlitheng justru menjadi bingung. Ia tidak tahu, ceritera apa yang dapat dikatakannya kepada kawannya. Namun Jlitheng t idak kehilangan akal. Katanya, “Nanti sajalah jika kita pulang.” Kiai Kanthi sendiri masih tersenyum. Agaknya Jlitheng telah menertawakannya ketika ia mengatakan, bahwa Kiai Kanthi tidak berani berbuat sesuatu karena takut kepada Daruwerdi. Meskipun demikian, meskipun pembicaraan antara Kiai Kanthi dan Jlitheng itu diucapkan sambil bergurau, namun ternyata hal itu telah menjadi perhatian keduanya dengan bersungguh-sungguh. Dibawah dataran dilereng bukit itulah, telah terjadi perjanjian antara Daruwerdi dengan orang-orang Pusparuri yang membicarakan masalah sebuah pusaka yang tidak diketahui dengan pasti. Ketika kemudian Jlitheng dan kawan-kawannya meninggalkan tempat itu, dengan bersungut-sungut Swasti bertanya kepada ayahnya, “Apa yang ayah katakan kepada anak muda itu?” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak mengatakan apa-apa.” “Tentu tidak. Anak muda itu tertawa dengan serta-meria.“ desak Swasti. Kiai Kanthi terpaksa menceriterakan apa yang telah dipercakapkan dengan Jlitheng. Akhirnya katanya, “Yang penting Swasti, agaknya Jlitheng mempunyai pertimbangan tersendiri atas letak padepokan itu justru karena sikap Daruwerdi.” Swasti menarik nafas dalam-dalam. Sambil duduk bersandar sebatang pohon ia memandang kekejauhan. Seakan-akan ada sesuatu yang dicarinya. “Bagaimana pertimbanganmu Swasti ?“ bertanya ayahnya sambil duduk didekatnya. “Anak muda yang bernama Daruwerdi tadi datang kemari,“ tiba-tiba saja Swasti berdesis. “O,“ sahut ayahnya, “dan kau menunjukkan arah kerja kami ? Ia juga datang menemui aku.” “Ya,“ sahut Swasti. “Apa saja yang dikatakannya kepadamu?” “Ia menaruh belas kasihan. Nampaknya ia seorang yang sangat memperhatikan kesulitan orang lain,“ Swasti seolah- olah bergumam kepada diri sendiri. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Ia memang menganjurkan agar kami pindah kepadukuhan Lumban. Tetapi seperti yang aku katakan, Jlitheng mempunyai perhitungan lain atas sikap Daruwerdi itu. Bukan karena belas kasihan tetapi berdasarkan atas kepentingannya.” “Kenapa ia berprasangka buruk?“ tiba-tiba saja Swasti bertanya. Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menjawab, “Bukan sekedar prasangka, Swasti. Jlitheng mempunyai perhitungan tersendir i. Aku tidak mengatakan bahwa perhitungannya itu tentu benar.” “Nampaknya ayah sudah berada dibawah pengaruh anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu.” “Bukan begitu Swasti. Tetapi ia telah bersedia menolong kita. Ia sudah berbuat banyak.” “Tetapi apakah kira-kira yang akan dilakukan seandainya aku tidak dapat mengimbangi ilmunya. Bahkan seandainya ayah berada dibawah kemampuannya ?” “Sudah aku katakan Swasti. Dalam keadaan yang seakan- akan berkabut ini, kita memang saling mencurigai. Yang dilakukan adalah sekedar penjajagan. Bukan benar-benar bermusuhan.” Swasti tidak menyahut. Tetapi wajahnya nampak menjadi buram. Sekilas terbayang kedua anak muda yang sebenarnya merupakan orang lain bagi padukuhan Lumban itu. Seolah- olah semakin lama menjadi semakin jelas sifat dan tingkah laku keduanya. Dalam pada itu, Daruwerdi yang telah berada dirumahnya, duduk termenung sambil memandangi cahaya matahari yang seolah-olah masih bermain dihalaman meskipun sudah menjadi semakin condong. Sebentar lagi ia harus pergi ke bukit gundul untuk member ikan sekedar tuntunan kepada anak-anak muda Lumban dalam olah kanuragan. “Pekerjaan gila yang sia-sia,“ gumamnya. Tetapi Daruwerdi tidak dapat menolak. Bahkan iapun mengharap, bahwa dengan demikian, perhatian beberapa pihak diluar padukuhan Lumban terhadapnya, akan menjadi baur oleh sikap anak-anak muda Lumban. “Tetapi yang aku lakukan itu tentu merupakan sekedar lelucon bagi orang-orang Kendali Putih,“ desis Daruwerdi. Sejenak Daruwerdi masih merenung. Namun sejenak kemudian, iapun bangkit sambil bergumam, “Aku harus pergi ke bukit gundul. Tetapi malam nanti aku harus dapat bertemu dengan anak itu. Ia harus memberitahukan kepada orang- orang Pusparuri, hutan itu sudah dihuni orang.” Sambil berjalan per lahan-lahan Daruwerdi masih berangan- angan. Tidak ada niatnya untuk menyingkirkan kedua orang perantau itu dengan kekerasan. Meskipun mereka berada di hutan itu, tetapi nampaknya mereka tidak berbahaya. “Meskipun demikian, aku harus berhati-hati. Aku harus menemukan tempat lain yang lebih baik untuk berbicara dengan orang-orang Pusparuri atau orang-orang dari pihak manapun.” Namun Daruwerdi mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan, “Bagaimana j ika orang-orang Pusparuri menemukan perantau itu dan bertindak langsung sebelum aku menemuinya?” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Aku tidak peduli. Aku sudah memperingatkan kedua orang gila itu agar mereka menyingkir. Tetapi hutan itu cukup luas. Jika orang-orang Pusparuri atau pihak manapun juga tidak gila seperti kedua perantau itu, maka akan dapat diatur tempat lain yang lebih baik.” Sementara itu, Jlithengpun telah turun pula bersama kawan-kawannya. Mereka masih sempat pulang sejenak, sebelum merekapun pergi ke dekat bukit padas yang gundul untuk berlatih olah kanuragan. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Lumban t idak terlepas dari pengawasan orang asing. Justru karena kehadiran orang yang kemudian menetap di Lumban, maka ketenangan padukuhan itu benar-benar telah terganggu. Dalam pada itu, selagi Daruwerdi sibuk dengan anak-anak muda di dekat bukit padas, dua orang yang asing telah mendekati padukuhan Lumban. Dari kejauhan mereka melihat dataran di bawah bukit yang dihampari oleh tanah persawahan yang nampaknya tidak begitu subur. “Mereka semuanya tidak pernah kembali,“ desis salah seorang dari keduanya. “Daerah ini nampaknya seperti neraka. Tanah gersang, bukit padas yang gundul. Namun dibelakang nampak bukit yang hijau karena hutan yang barangkali cukup lebat.” Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya dataran yang luas terbentang diantara bukit padas yang gundul dan bukit yang berwarna hijau. Tetapi dataran itu sendiri nampaknya seperti wajah orang yang sakit-sakitan. Pucat dan gersang. “Kita akan melihat-lihat keadadaannya,“ berkata salah seorang dari mereka. “Nampaknya padukuhan itu memang menyimpan kekuatan yang berbahaya. Tentu kita tidak dapat mengabaikannya. Kau dengar bahwa orang-orang Kendali Putih yang pernah menginjakkan kakinya kedaerah ini juga tidak pernah kembali ?” “Tetapi mereka memang tidak berjanj i untuk datang kemari. Berbeda dengan kawan kita yang memang sudah bersepakat untuk mengadakan sebuah pembicaraan penting, percaya, bahwa orang-orang Kendali Putih dengan sengaja telah melakukan kejahatan terhadap orang Pusparuri.” Semuanya tidak jelas, Kita harus menyelidikinya. Tetapi kita harus berhati-hati. Mungkin kita akan dapat mendengar serba sedikit apabila kita sudah berada ditempat ini untuk beberapa hari.” “Sulit untuk menghubungi orang-orang didaerah kecil. Setiap orang baru akan segera dikenal dan karena peristiwa- peristiwa sebelumnya, akan dengan mudah dicur igainya pula.” “Ada dua cara. Kita menanggalkan pakaian kita dan menjadikan dir i kita sebagai pengemis, atau kita dengan diam- diam mengambil satu atau dua orang dan membawanya kehutan dilereng bukit itu. Kita memaksanya untuk berbicara, kemudian mereka kita bunuh tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya.“ “Aku condong untuk memilih yang kedua. Itu lebih cepat. Aku kira j ika terjadi sesuatu didaerah ini, maka setiap orang akan segera mengetahuinya.” Keduanya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, marilah kita bersembunyi dihutan dilereng bukit itu. Kita menunggu seseorang yang mungkin akan berguna bagi kita.” “Tetapi, apakah kita akan melalui padukuhan-padukuhan yang tersebar itu menuju kehutan dilereng bukit itu?” Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sebentar lagi matahari akan turun. Kita akan melanjutkan perjalanan setelah gelap.” Keduanyapun kemudian berhenti dan duduk dibawah sebatang pohon yang berdaun lebat menunggu matahari tenggelam. Dalam pada itu, ketika matahari terbenam di ujung Barat anak-anak Lumban telah kembali dari bukit padas yang gundul. Satu dua orang diantara mereka sempat singgah kesungai kecil yang hanya sekedar mengalir membasahi pasir dan bebatuan. Namun dipinggir sungai itu terdapat sebuah belik kecil yang berair jernih. Sementara anak-anak Lumban itu membersihkan dir i, maka dua orang yang menunggu gelap itupun telah mempersiapkan diri. Ketika bintang dilangit mulai nampak mereka-pun mulai melanjutkan perjalanan menyusuri jalan menuju kebukit yang menjadi kehitam-hitaman di malamhar i. Adalah suatu kebetulan, bahwa malam itu Jlitheng t idak berniat untuk naik kebukit berhutan yang mempunyai mata air yang melimpah itu. Ia berjanji kepada Kiai Kanthi dan Swasti untuk datang dikeesokan harinya bersama beberapa orang kawan. Sehingga malam itu, Jlitheng berada diruruahnya sampai menjelang tengah malam. Kemudian iapun minta diri kepada biyungnya untuk pergi kegardu. Digardu beberapa orang kawannya telah mendahuluinya. Tetapi ketika ia sampai, ia masih sempat ikut makan ketela pohon rebus yang dibawa oleh salah seorang kawannya. “Aku mencabut tiga batang dihalaman belakang,“ desis kawannya yang membawa ketela pohon itu. Jlitheng mengangguk-angguk sambil mengunyah. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku tidak melihat Kuncung,“ desis Jlitheng. “Ya. Biasanya ia sudah berada digardu sejak sore,“ sahut kawannya. “Mungkin ia sakit,“ yang lain menyahut, “jika t idak ia tentu datang, ia suka sekali bicara dan sedikit sombong. Tetapi menyenangkan. Tanpa Kuncung rasa-rasanya memang sepi.” “Kita tunggu beberapa saat,“ desis Jlitheng. “Jika ia tidak datang?“ bertanya kawannya. Jlitheng termangu-mangu. Gumamnya, “Apa kita akan menengok kerumahnya? Itu akan mengejutkannya dan mengganggu seluruh keluarganya.” “Jadi ?” “Tentu kita akan menunggu sampai besok. Besok pagi-pagi, salah seorang dari kita yang akan pulang kerumah, singgah sejenak untuk menanyakannya, kenapa ia tidak datang.” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dan perhatian merekapun kembali kepada ketela pohon ddtengah-tengah gardu itu. Dalam pada itu, dirumah anak muda yang bernama Kuncung itu telah timbul kegelisahan. Sejak sore ia telah pergi. Sampai tengah malam ia belum kembali. Biasanya, jika ia akan pergi ke gardu, anak itu tentu makan lebih dahulu. “Tanyakan ke gardu diujung desa,“ berkata ayahnya kepada adik Kuncung. “Aku takut,“ desis anak itu. “Marilah, aku antar ke gardu. Tetapi kaulah yang bertanya kepada kawan-kawan Kuncung.” Diantar oleh ayahnya adik Kuncung telah pergi ke gardu. Ternyata bahwa pertanyaan adik Kuncung itu telah mengejutkan kawan-kawannya. Salah seorang dari mereka menjawab, “Ia tidak datang kemari. Justru kami menunggunya.” “Ia belum pulang. Ia pergi kebukit padas yang gundul itu. Tetapi sampai sekarang ia t idak kembali.” Kawan-kawannya termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan. “Tolonglah,“ berkata adik Jlitheng, “bantulah mencari kakang Kuncung. Ibuku menjadi sangat cemas.” Jlitheng mendekati anak itu sambil menepuk pundaknya. Katanya, “Kami akan mencobanya. Mudah-mudahan kami menemukannya.” “Apakah anak itu dibawa wewe yang kehilangan anak?“ desis salah seorang dar i anak-anak itu. Pertanyaan itu telah membuat beberapa orang kawannya menjadi semakin berdebar-debar. Seorang yang memang penakut telah mendesak dan berdiri diantara kawan-kawannya dengan kaki gemetar. Dalam pada itu J litheng berkata kepada adik anak yang seakan-akan menghilang itu, “Pulanglah. Kami akan minta tolong kepada orang-orang padukuhan untuk mencari kakakmu.” Dengan cemas anak itupun memandang wajah Jlitheng. Sementara ayahnya termangu-mangu dikegelapan. Namun akhirnya ayahnyapun mendekat. Dengan gagap ia berkata, “Tolong ngger.” Hanya itulah yang terlontar dari mulutnya. Namun nampak kegelisahan yang sangat telah mencengkam wajahnya. Jlitheng memandang orang tua itu. Orang itu pendiam yang dalam keadaan sehari-hari memang sulit untuk berbicara diantara banyak orang. Namun tiba-tiba ia sudah dihadapkan pada suatu keadaan yang membuat hatinya sangat gelisah. Sepeninggal orang tua itu Jlitheng menjadi bingung. Apalagi ketika ia melihat kawan-kawannya yang bahkan telah kehilangan akal. “Apa yang dapat kita lakukan ?“ bertanya salah seorang dari mereka. “Kita akan mencarinya. Kita membawa obor, tampah, kentongan dan pisau. Kita cari Kuncung kemana saja. Mungkin ia memang dibawa oleh kuntilanak.” Kawan-kawannya termangu-mangu. Namun ternyata mereka t idak mempunyai jalan lain untuk mencarinya. Namun dalam pada itu, Jlitheng mempunyai pertimbangan lain. Jika dalam keadaan demikian Daruwerdi tidak berusaha menolong anak yang hilang itu, maka ia akan berbuat sendir i, karena menurut perhitungan Jlitheng, Kuncung telah mengalami nasib seperti yang pernah dialami. Tetapi agaknya Kuncung tidak akan dapat membebaskan dirinya sendir i j ika benar ia jatuh ketangan orang-orang yang ganas seperti orang-orang Kendali Putih. Sejenak kemudian padukuhan Lumban Wetan telah menjadi ramai. Beberapa orang dalam kelompok-kelompok kecil berputar-putar dipadukuhan. Mereka berjalan ber iring mendekati tempat-tempat yang dianggapnya wingit. Kuburan- kuburan pohon-pohon besar dan gerumbul-gerumbul yang lebat Dalam hiruk pikuk itulah Jlitheng hilang dari antara kawan- kawannya. Tetapi tidak seorangpun yang menghiraukannya, karena setiap kelompok mengira bahwa Jlitheng berada dikelompok yang lain. Hiruk pikuk itu akhirnya terdengar pula dari padukuhan- padukuhan yang lain, bahkan sampai ke Lumban Kulon, sedangkan Daruwerdi yang tidur nyenyakpun telah terbangun. “Ada apa ?” anak muda itu bertanya kepada orang-orang yang sudah turun ke jalan. “Seorang anak Lumban Wetan telah hilang. Mungkir dibawa wewe yang kehilangan anaknya. Mereka sedang mencari berkeliling padukuhan. Bahkan ada yang pergi keluar padukuhan,“ jawab salah seorang dari mereka yang berada dijalan. Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Sekilas terbersit pula dugaannya, seperti yang diperhitungkan oleh Jlitheng. Kuncung tentu sudah hilang, karena ia bertemu dengan orang-orang yang asing bagi padukuhan yang tenang itu. “Jarang sekali seseorang diterkam harimau didaerah ini,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya, “kecuali jika mereka sengaja mengumpankan diri kehutan seperti kedua orang perantau itu atau seperti Jlitheng yang sering mencari kayu dihutan itu meskipun mereka terlalu percaya kepada dongeng tentang harimau yang terasing itu.” Ketika Daruwerdi masuk kedalam biliknya, maka ia memutuskan untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. “Seandainya benar Kuncung ditangkap oleh orang-orang yang asing bagi padukuhan ini, maka ia tentu akan mengatakan apa yang diketahuinya tentang kematian orang- orang Pusparuri dan Kendali Putih dipinggir hutan itu. Seandainya aku tidak keluar mencarinya, maka akulah yang agaknya akan dicari oleh mereka karena ceritera Kuncung,“ gumam Daruwerdi kepada dir i sendiri. Namun tiba-tiba saja keningnya berkerut, “Tetapi dua orang yang menangkap Jlitheng itu tidak pernah datang kepadaku ? Apakah ada pertimbangan lain. bahwa mereka sedang menyiapkan kekuatan yang lebih besar sehingga yang datang sekarang adalah orang-orang yang yakin akan dapat mengalahkan aku ?” Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan melihat keadaan agar ia tidak terjebak didalam rumahnya yang sempit tanpa memastikan sebelumnya, apakah ia akan benar-benar ikut mencari Kuncung atau sekedar bersiaga. Namun dalam pada itu. baik Daruwerdi maupun orang- orang Lumban Kulon sama sekali tidak mengetahui, bahwa dari halaman seberang, dibawah rimbunnya dedaunan seseorang sedang bersembunyi dan mengintai dengan hati- hati. Ketika orang itu melihat Daruwerdi keluar lagi dari rumahnya dengan senjata dilambung, maka ia menarik nafas dalam-dalam. “Mudah-mudahan Daruwerdi dapat menebak apa yang terjadi dan membawa aku langsung ketempat yang aku cari,“ katanya didalamhati. Sebenarnyalah bahwa Jlitheng telah berusaha mengamati apa yang akan dilakukan oleh Daruwerdi. Ia sendiri sama sekali tidak tahu kemana ia harus mencar i. Tetapi ia berharap bahwa berdasarkan atas hubungan yang pernah dilakukan oleh Daruwerdi dengan orang-orang yang tidak dikenalnya itu, akan mempermudah pelacakannya terhadap anak yang malang itu. Sejenak kemudian Jlitheng telah meloncati dinding-dinding penyekat halaman untuk mengikuti Daruwerdi yang berjalan tergesa-gesa menyusuri jalan padukuhan. Ia sama sekali tidak berada diantara anak-anak muda yang lain dan orang-orang Lumban yang sedang mencari Kuncung dengan caranya. Ketika Daruwerdi telah berada di bulak, maka Jlitheng harus menjadi lebih berhati-hati. Daruwerdi bukannya anak- anak Lumban kebanyakan sehingga karena itu, ia harus berusaha dengan segenap kemampuan yang ada, agar Daruwerdi tidak menyadari, bahwa ia sedang diikuti oleh seseorang. Dalam pada itu Daruwerdi berjalan semakin lama semakin cepat. Dengan demikian, Jlithengpun menjadi semakin cepat pula mengikut inya. Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ternyata Daruwerdi telah menuju kearah bukit padas yang gundul. Rasa-rasanya memang ada hubungan yang khusus antara Daruwerdi dan bukit gundul itu. Beberapa orang kawan Jlitheng memang sering melihat, Daruwerdi pergi ke bukit itu tanpa dapat mengatakan, apa yang dikerjakannya disana. Dengan sangat hati-hati Jlitheng mengikutinya. Rasa- rasanya semakin dekat dengan bukit padas yang gundul itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Seolah-olah Jlitheng akan melihat sekelompok orang yang telah siap menunggu kedatangan Daruwerdi untuk melakukan segala perintahnya. Jlitheng segera bersembunyi dibalik semak-semak ketika Daruwerdi mulai melangkah naik keatas batu-batu padas. Dengan sangat hati-hati Jllitheng merayap dari balik gerumbul kebalik gerumbul lainnya, agar ia tidak terpisah terlalu jauh dari anak muda yang diikutinya. Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat tidak seorangpun berada di bukit padas itu. Bahkan kemudian ia mendengar Daruwerdi itu memanggil, “Cempaka. Cempaka.” Tetapi tidak terdengar jawaban apapun juga. Ia masih mendengar Daruwerdi memanggil beberapa kali. Namun tidak seorangpun yang menjawab. Daruwerdipun kemudian menengadahkan wajahnya. Terdengar ia bergumam, “Masih belum saatnya ia datang.” Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia melihat Daruwerdi kemudian duduk diatas batu padas. “Gila,“ desis Jlitheng didalam hatinya, “apakah ia hanya akan duduk saja disitu tanpa berbuat sesuatu.” Beberapa saat Jlitheng masih menunggu. Tetapi akhirnya ia menggeram, “Jika aku menunggu saja disini. anak yang hilang itu akan diketemukan menjadi mayat. Ternyata Daruwerdi tidak ada minat untuk menolongnya.” Sekilas ia membayangkan betapa Daruwerdi telah berusaha menyelamatkan jiwa Kiai Kanthi dan Swasti dari terkaman seekor harimau dihutan dibukit sebelah. Tetapi kenapa ia tidak berusaha dengan kesungguhan hati untuk menolong Kuncung yang hilang. “Agaknya waktu itu secara kebetulan saja Daruwerdi melihat peristiwa itu. Kehadiran Daruwerdi saat itu dihutan itu tentu ada kepentingan lain. Tentu karena ia menunggu satu dua orang dalam hubungan yang khusus dipinggir hutan itu seperti saat ia menunggu orang Pusparuri yang ternyata telah dibunuh oleh orang-orang Kendali Putih,“ J litheng mencoba menilai keadaan yang sedang dihadapinya. Dan ia-pun yakin karena ia mendengar Daruwerdi bergumam bahwa orang yang disebutnya Cempaka itu memang belum saatnya datang, sehingga yang dilakukan oleh Daruwerdi justru lebih banyak dihubungkan dengan kehadiran orang-orang yang asing bagi padukuhan Lumban. Namun dalam pada itu Jlitheng menjadi bingung. Ia tidak sampai hati membiarkan Kuncung hilang tanpa pembelaan. Tetapi iapun mempunyai keinginan yang kuat untuk melihat, siapakah yang bakal datang dibukit padas dan yang disebut dengan panggilan Cepaka itu. Sejenak Jlitheng berbantah dengan dirinya sendiri. Namun akhirnya ia menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri sendiri, “Nyawa anak itu harus diselamatkan dahulu. Baru aku akan datang lagi kemari.” Jlitheng tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun kernudian beringsut dengan hati-hati meninggalkan tempatnya. Ketika ia sudah menjadi semakin jauh dari bukit padas itu. maka iapun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah menyusuri bulak. “Tetapi kemana aku mencari anak itu?“ ia bertanya kepada diri sendir i, “daerah ini sangat luas. Mungkin dibulak, mungkin di padang perdu, mungkin dihutan itu.” Sejenak Jlitheng mengingat-ingat dimana ia terakhir bertemu dengan Kuncung. Dar i bukit gundul setelah mereka mengikut i latihan-latihan yang diberikan oleh Daruwerdi. Kuncung singgah sejenak dibelik ditepian. “Mungkin ketika ia pulang dari sungai itulah, ia bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal itu,“ berkata Jlitheng kepada diri sendir i. Tetapi Jlithengpun tidak segera dapat menebak, kemana Kuncung itu dibawa pergi. Ketika Jlitheng kemudian berlari- lari kecil menuju kelereng bukit, ia melihat dari kejauhan sekelompok orang-orang Lumban yang sedang mencari Kuncung. Dilihatnya beberapa buah obor di ujung padukuhan. Sementara diarah yang lain ia melihat pula beberapa obor dibawah pohon randu alas raksasa. “Orang-orang Lumban kebingungan,“ desisnya, “tetapi sulit untuk menemukannya.” Semula ada niatnya untuk memanjat tebing menemui Kiai Kanthi. Namun akhirnya iapun mengurungkannya, karena hal itu hanya akan membuang waktu saja. Sudah barang tentu, anak itu t idak akan dibawa sampai kelereng yang terlalu tinggi. Karena ia tidak menemukan sesuatu dilereng bukit itu. maka J lithengpun segera bergeser. Bahkan kemudian ia berlari-lari kecil. Dijelajahinya tempat yang dianggapnya tersembunyi dipinggir hutan itu. Namun ia tidak menemukan sesuatu. Dengan demikian maka Jlithengpun berusaha mencari ketempat yang lain. Tanpa mengenal lelah ia berlar i menuju kekuburan yang terpisah dari padukuhan. Meskipun ia tidak mencari kuntilanak, tetapi ia menganggap bahwa tempat itu cukup tersembunyi j ika ada orang yang sengaja menyembunyikan dir i bersama Kuncung. Tetapi Jlitheng tidak menemukan yang dicarinya. Keringat anak muda itu mulai membasahi seluruh tubuhnya. Bukan saja karena ia berlari-lari. Tetapi kegelisahannya telah membuatnya seakan-akan diperas, sehingga ker ingatnya telah mengalir diseluruh wajah kulitnya. Dalam pada itu, ternyata bahwa Jlitheng telah salah hitung. Justru karena ia mengurungkan niatnya memanjat tebing lebih tinggi lagi, maka ia tidak berhasil menjumpai anak muda yang sebenarnya memang dibawa oleh dua orang yang tidak dikenal. Adalah kebetulan bahwa dua orang yang berjalan menuju ketempat yang sepi itu telah bertemu dengan Kuncung seorang diri. Mula-mula Kuncung sama sekali t idak menghiraukan dua orang yang datang menuju kearah ia berjalan. Bahkan kemudian iapun berhenti ketika salah seorang dari kedua onang itu memanggilnya. “Ki Sanak,“ berkata salah seorang dari keduanya, “apakah kau dapat menolong kami?” Kuncung yang tidak berprasangka apapun itu menunggu keduanya. Baru ia merasa ngeri ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat. Wajah keduanya membayangkan kekerasan dan kekasaran. Tetapi Kuncung sudah terlambat. Salah seorang dari kedua orang itu telah melekatkan ujung pisau belati kelambungnya. “Jangan berbuat sesuatu yang dapat mempercepat kematianmu anak muda.” Kuncung menjadi gemetar. Iapun segera teringat peristit wa yang pernah dialami oleh Jlitheng. Karena itu, maka tu- buhnyapun segera menggigil. Namun demikian, iapun ingat, bahwa jika ia tidak berbuat sesuatu, maka iapun akan pulang dengan selamat seperti Jlitheng. Karena itu, maka Kuncungpun menurut saja apa yang dikatakan oleh kedua orang itu. Mereka bertigapun kemudian berjalan menuju kebutan dilereng bukit. “Disana kita tidak akan diganggu oleh siapapun,“ berkata salah seorang dari kedua orang itu. Kuncung berjalan dengan kaki gemetar. Tetapi ia tidak dapat menolak. Ketika mereka sudah sampai dikaki bukit, maka kedua orang itu telah membawa Kuncung untuk naik ketempat yang lebih tinggi. Salah steorang dari keduanya berkata, “Jika orang-orang Lumban menyadari bahwa kau tidak kembali, mereka tentu akan mencari. Aku kira ada orang-orang penting di Lumban. Bukan berarti bahwa kami berdua menjadi ketakutan. Tetapi kami ingin berbicara dengan, kau tanpa terganggu.” Kuncung tidak dapat berbuat lain. Dengan menggigil ia berjalan tertatih-tatih diantara pepohonan hutan yang semakin lama menjadi semakin lebat. Baru ketika mereka sudah berada ditempat yang agak tinggi, maka salah seorang dari keduanya-pun berkata, “Kita berhenti disini. Kita berbicara dengan hati terbuka. Kau mengerti maksudku ?” Kuncung yang ketakutan mengangguk. Dalam gelapnya malam yang seakan-akan semakin kelam didalam hutan, Kuncung t idak dapat melihat cukup jelas wajah-wajah orang yang tidak dikenalnya itu. “Jawab pertanyaanku anak muda,“ berkata salah seorang dari keduanya, “apakah kau pernah mendengar kabar tentang kedatangan orang-orang asing di padukuhan Lumban?” Kuncung mengerti, yang ditanyakan oleh kedua orang itu tentu peristiwa yang baru saja terjadi. Pembunuhan yang dilakukan oleh Daruwerdi di kaki bukit itu. Karena itu, agar ia segera dibebaskan, iapun berceritera tentang peristiwa itu menurut pendengarannya. Yang ia ketahui dengan pasti, saat itu ada tiga sosok mayat yang oleh orang-orang Lumban telah dikuburkan sebaik-baiknya. “Aku ikut menyelenggarakan. Semua upacara dilakukan menurut yang seharusnya,“ Kuncung mencoba mengambil hati orang-orang itu. Kedua orang berwajah kasar itu mendengarkan ceritera Kuncung dengan saksama. Namun kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah semuanya dibunuh oleh anak muda yang kau sebut bernama Daruwerdi itu ?” Sejenak Kuncung tertegun. Ia tidak dapat mengatakan dengan pasti, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Yang ia dengar dari kawan-kawannya adalah bahwa Daruwerdi telah membunuh lawan-lawannya. Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia menjawab, “Tiga orang yang mati.” “Kau sudah mengatakannya,“ orang itu membentak, “tetapi siapakah yang membunuh ? Apakah semuanya dibunuh oleh anak itu ?” “Ya,“ Kuncung tergagap. Namun ia nampak semakin ragu- ragu. Kedua orang itu mulai menjadi panas. Mereka menduga bahwa salah seorang dari tiga orang itu tentu dar i perguruan Pusparuri. Tetapi anak yang dibawanya itu tidak dapat mengatakan, siapakah yang telah membunuh mereka. “Anak gila,“ bentak salah seorang dari mereka, “apakah kau tidak pernah mendengar Daruwerdi berceritera, atau kau dengan sengaja dipesan agar kau tidak mengatakannya kepada siapapun juga?” Kuncung menjadi semakin gemetar. Orang-orang itu beringsut semakin dekat. Bahkan tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah menerkam rambutnya sambil berteriak, “katakan Siapa yang telah membunuh mereka.” Darah Kuncung bagaikan berhenti mengalir. Wajah-wajah itu seolah-olah telah berubah menjadi wajah hantu yang semakin mengerikan. Dalam kegelapan Kuncung membayangkan wajah-wajah itu telah berubah menjadi buas. Giginya telah tumbuh menjadi taring-taring yang tajam. Matanya menjadi merah seperti bara dan lidahnya menjadi bercabang seperti lidah ular. Kengerian yang sangat telah mencengkam hati Kuncung. Ia teringat kepada ceritera hantu yang sering menerkam dan menghisap darah. Dan kini rasa-rasanya ia sudah berhadapan dengan hatu-hantu itu. Dalam pada itu, dilereng bukit, disebelah peristiwa yang menger ikan bagi Kuncung itu, Kiai Kanthi duduk berselimut bersandar sebatang pohon. Sementara Swasti tidur diatas sehelai ketepe yang dianyamnya dari daun-daun ilalang yang kering. Udara malam yang terasa panas, menyebabkan kedua orang itu tidak menyalakan perapian. Namun rasa-rasanya nyamuknya semakin lama menjadi semakin banyak, sehingga Kiai Kanthi berusaha untuk menutup seluruh tubuhnya dengan kain panjangnya. Namun dalam pada itu, Kiai Kanthi tiba-tiba saja telah beringsut sambil mengangkat wajahnya. Lamat-lamat dari jauh sekali ia mendengar suara kentongan dalam irama yang aneh. Bahkan kadang-kadang tidak berirama sama sekali. “Apakah artinya,“ pertanyaan itu tumbuh didalamhatinya. Mula-mula ia tidak menghiraukannya. Mungkin ada sesuatu yang tidak dimengertinya telah terjadi. Tetapi, bukankah dipadukuhan itu ada Daruwerdi dan Jlitheng. Namun suara kentongan yang bagaikan berbisik dikejauhan itu masih saja terdengar. Masih dalam irama yang timpang dan aneh. Tiba-tiba saja Kiai Kanthi menjadi gelisah. Tetapi ia t idak sampai hati membiarkan Swasti seorang diri dalam keadaan tidur. Karena itulah maka iapun kemudian membangunkan gadis itu dan berkata, “Hati-hatilah. Aku akan turun sejenak.” “Ada apa ayah ?” Swasti masih mengantuk. “Dengarlah baik-baik. Kau akan mendengarkan suara kentongan dalam irama yang aneh.” Sejenak Swasti terdiam. Seperti kata ayahnya, ia mencoba mendengarkan suara disela-sela desir angin didedaunan. “Ya. Aku memang mendengar suara kentongan. Nampaknya dipukul begitu saja tanpa irama tertentu. Dan bukankah t idak hanya satu atau dua kentongan?” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Suara yang kadang- kadang agak jelas, namun kadang-kadang hilang itu memang sangat menarik perhatiannya. “Swasti,“ berkata Kiai Kanthi, “aku akan melihat, apakah yang telah terjadi. Suara itu tentu bukan suara gejog meskipun mereka yang baru belajar. Juga saatnya tidak tepat untuk bermain gejog, karena bulan tidak sedang bulat.” “Aku ikut ayah,“ tiba-tiba Swasti menyahut, “aku juga ingin melihat suara yang aneh itu. Seperti suara kotekan orang- orang padukuhan mencari anak yang dicuri kunt ilanak.” “He,“ tiba-tiba saja Kiai Kanthi menengadahkan wajahnya. Lalu, “Mungkin Swasti. Memang mungkin. Yang kita dengar dari jauh ini hanyalah suara kentongannya. Mungkin diantara suara kentongan terdapat suara tampah, gembreng dan suara-suara yang lain.” Swasti mengangguk-angguk. Gumamnya, “Menarik sekali. Marilah ayah. Aku ikut bersama ayah.” Tetapi Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu. Katanya, “Bagaimana jika justru kau yang mereka sangka wewe itu ?” “Ah,” Swasti memberengut, “menurut ceritera, wewe itu cantik sekali. Dan aku sama sekali tidak cantik.” Ayahnya tersenyum. Namun iapun kemudian berkata, “Marilah. Bersiaplah menghadapi setiap kemungkinan disepanjang jalan.” Swastipun membenahi pakaiannya. Bukan pakaian seorang gadis sewajarnya. Iapun kemudian menyelipkan senjatanya dilambung. Senjata yang selalu disembunyikannya diantara onggokan-onggokan pakaiannya yang sedikit. Dua buah pisau belati panjang dikedua lambungnya. Namun ia masih juga membawa beberapa buah pisau belati kecil dikat pinggangnya. Sejenak kemudian, kedua orang ayah dan anak itu menuruni tebing dengan hati-hati. Kecuali malam gelapnya bukan main, merekapun secara naluriah merasakan suasana yang berbeda. Tiba-tiba saja langkah Kiai Kanthi tertegun. Ia mendengar suara sesuatu agak dibawah. Sehingga karena itu maka iapun menjadi semakin berhati-hati. “Swasti,“ bisiknya, “kau mendengar suara lain ?” “Suara orang membentak-bentak ayah,“ jawab Swasti, “tetapi tidak tepat dibawah kita sekarang.” “Ya. Itupun tidak kalah menar iknya dengan suara kentongan itu.” Sejenak keduanya berhenti termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Kanthipun berkata, “Kita berbelok sedikit. Swasti. Mungkin suara kentongan itu ada hubungannya dengan peristiwa dibawah itu.” Keduanyapun kemudian bergeser menempuh jalan yang lain. Dengan sangat hati-hati mereka beringsut diantara pepohonan dan batu-batu padas. Tetapi suara-suara yang terdengar itu telah menuntun mereka ke arah yang benar. Semakin dekat mereka dengan suara itu, maka keduanyapun menjadi semakin berhati-hati. Mereka beringsut setapak demi setapak, sehingga akhirnya mereka dapat mendengarkan seluruh pembicaraan antara dua orang berwajah kasar itu dengan Kuncung yang ketakutan. “Jika kau tidak berterus terang, aku akan membunuhmu seperti membunuh seekor anj ing,“ geram salah seorang dari mereka. “Aku tidak tahu,“ suara Kuncung hampir tidak terdengar, “aku hanya tahu tiga orang mati dan orang-orang Lumban ikut menguburnya dengan baik-baik.” Dada Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar. Ia pernah mendengar, pembunuhan dilereng bukit itu, yang dilakukan oleh Daruwerdi. Dan iapun pernah mendengar ceritera Jlitheng tentang dua orang Kendali Putih yang datang kepadukuhan Lumban. “Aku sudah menduga, bahwa persoalannya tidak akan terhenti sampai kematian dua orang yang dibunuh Jlitheng itu,“ berkata Kiai Kanthi dengan berbisik ketelinga anak gadisnya. Swasti mengangguk kecil. Namun iapun sadar, bahwa ia harus bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Meskipun agak sulit, namun keduanya berhasil mendekat lagi beberapa langkah. Mereka menjadi semakin jelas setiap kata yang mengancam. Dan bahkan Kiai Kanthi mendengar, orang-orang itu agaknya mulai memukul korbannya. “Hem,“ desah Kiai Kanthi, “apakah yang mereka lakukan.” Swasti nampaknya tidak sabar lagi. Ia merangkak semakin dekat. Justru karena kedua orang itu sedang marah dan perhatiannya sepenuhnya telah terikat kepada anak muda Lumban itu, maka mereka t idak segera mendengar kehadiran orang lain disekitar mereka. “He, katakan. Apakah diantara mereka terdapat orang- orang Pusparuri atau orang Kendali Putih atau orang lain lagi ?” suara orang itu menjadi semakin keras. Yang terdengar kemudian adalah suara tangis. Agaknya Kuncung itu mulai menangis, “Aku tidak tahu. Sungguh aku tidak tahu.” “Aku bunuh kau.” “Jangan, jangan,“ tangis Kuncung semakin keras. “Anak gila,“ geram salah seorang dari mereka, “kita harus mencari orang lain yang lebih tahu tentang hal ini. Mungkin kita akan langsung berhubungan dengan Daruwerdi. Tetapi mungkin kita akan mencar i keterangan untuk menjajagi keadaan.” “Lalu, anak ini ?“ desis yang lain. “Bunuh saja. Dan lemparkan mayatnya di tempat yang lebih tinggi, yang tentu tidak akan diketahui orang. Bahkan mungkin akan menjadi mangsa harimau yang tentu masih ada dihutan ini.” Mendengar jawaban orang berwajah garang itu, tangis Kuncung menjadi semakin keras. Hampir berteriak ia berkata disela-sela tangisnya, “Jangan, jangan.” “Berteriaklah,“ berkata orang berwajah garang itu, “suaramu akan hanyut oleh angin dihutan ini. Tidak seorangpun yang mendengar kecuali binatang buas yang sebentar lagi akan mengoyak tubuhmu.” “Jangan, jangan,“ Kuncung berlutut sambil berpegangan kain salah seorang dari kedua orang yang garang itu. Namun sebuah hentakan kaki telah melemparkan anak yang malang itu. Adalah diluar kehendaknya bahwa kepala Kuncung telah terantuk batu padas, sehingga suaranyapun tiba-tiba terputus. “Kenapa anak itu ?” salah seorang dari keduanya bertanya. Yang seorang mendekatinya sambil meraba tubuh Kuncung. Katanya, “Anak itu masih hidup. Ia pingsan.” “Kau tinggal mencekiknya. Kemudian melemparkannya ketempat yang lebih dalam lagi agar tidak seorangpun yang menjupainya lagi.” “Tetapi bahwa anak itu hilang tentu akan menar ik perhatian orang-orang Lumban.” “Mereka tidak akan mengetahui siapakah yang telah membawanya.” “Mungkin. Tetapi Daruwerdi sendiri tentu akan sampai pada perhitungan yang demikian.” “Aku tidak peduli. Bahkan jika perlu, Daruwerdi akan mati juga disini.” Kawannya terdiam. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil. “Cepatlah. Kita masih mempunyai banyak persoalan.” Kawannyapun kemudian melangkah selangkah maju. Dipandanginya tubuh Kuncung yang terbaring dalam kegelapan. Namun kemudian tanpa ragu-ragu orang itupun berjongkok sambil mengulurkan tangannya untuk mencekik leher Kuncung yang sedang pingsan. Namun keduanya terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang mendehem. Hampir terlonjak keduanya melompat surut. “Selamat datang dipadepokanku anak-anak,“ terdengar seseorang berkata dari balik gerumbul. Kedua orang itu benar-benar terkejut. Apalagi ketika kemudian mereka melihat bayangan dua orang yang menyibak gerumbul dan mendekati tempat mereka berdir i termangu- mangu. “Siapa kau he ?” salah seorang dari kedua orang itu bertanya. Kiai Kanthi yang mengintip apa yang telah terjadi, tidak dapat membiarkan pembunuhan itu terjadi. Karena itu maka iapun telah keluar dari persembunyiannya untuk mencegah pembunuhan itu. “Siapa kau he ? Siapa ?” orang itu membentak semakin keras. “Kenapa kau berdua berani memasuki padepokanku dan menginjak- injak taman bunga yang aku pelihara rapi he?“ berkata Kiai Kanthi. “Gila. Apakah kau orang gila ?” “Aku adalah pemilik padepokan yang asri ini. Kau jangan merusakkan kebun bungaku. Dan kehadiranmu telah mengejutkan para cantrik, jejanggan dan para putut yang masih muda-muda.” “He, orang gila. Kenapa kau datang kemari.” “Aku bukan orang gila. Aku adalah pemilik petamanan dan padepokan ini. Aku datang keduniamu untuk memper ingatkanmu agar kau t idak melanjutkan tingkahmu yang merusakkan padepokanmu.” “Bunuh saja sama sekali,“ geram yang seorang dari kedua orang berwajah kasar itu. “Aku bukan mahluk dari duniamu sehingga kau tidak akan dapat membunuhku. Aku datang dengan anak gadisku kedunia manusia untuk mempertahankan milikku. Mungkin dari dunia manusia kau melihat daerah ini berupa hutan belukar. Tetapi sebenarnya ini adalah padepokan yang sangat asri.” Kedua orang itu tidak sabar lagi mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan Swastipun t idak sabar pula, Katanya, “Ayah terlalu berbelit-belit. Tangkap saja mereka dan barangkali ayah dapat membawanya ke Lumban Wetan atau Lumban Kulon bersama anak yang pingsan itu.” Yang terdengar kemudian adalah kedua orang itu menggeram. Salah seorang dari mereka berkata dengan suara bergetar oleh kemarahan, “Jangan banyak tingkah orang- orang gila. Kami terpaksa membunuh kalian pula seperti kami membunuh anak yang malang ini.“ “Apa salahnya kau akan membunuh anak itu,“ potong Swasti dengan lantang, “kau sama sekali tidak berperikemanusiaan. He, apakah kalian orang-orang Kendali Putih?” Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Hampir berbareng mereka bertanya, “Kau kenal orang-orang Kendali Putih?” “Aku tahu bahwa kau sedang memaksa anak itu mencer iterakan apa yang tidak diketahuinya. He, bukankah kau sedang bertanya tentang orang-orang yang mati dilereng bukit ini?” “Ya. Apakah kau mengetahuinya ? Anak ini menyebut tiga sosok mayat. Siapakah mereka ? Dan apakah ketiga-tiganya telah dibunuh oleh anak muda yang disebutnya bernama Daruwerdi ?” “Meskipun kau bunuh sekalipun anak itu tidak akan dapat mengatakannya, karena yang diketahuinya memang sangat terbatas.” “Apakah kau dapat mengatakannya ?“ bertanya salah seorang dari kedua orang itu. “Siapa kalian?“ t iba-tiba Swasti bertanya. Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Gadis itu sama sekali tidak gentar menghadapi mereka. Kata-katanya lantang dan sikapnya meyakinkan. Karena itulah maka keduanyapun menjadi berhati-hati karenanya. “Siapa kalian ?” suara Swasti semakin keras. “Kami adalah orang-orang Pusparur i,“ jawab salah seorang dari mereka, “karena itu. jangan mencoba mengelabui kami.” Swasti terdiam sejenak. Ketika ia berpaling ke ayahnya, maka dilihatnya ayahnya bergeser selangkah maju. Dengan ragu-ragu Kiai Kanthi bertanya, “Apakah benar kalian orang- orang Pusparuri ?” “Ya,“ geram salah seorang dari mereka, “karena itu jangan bermain-main dengan kami. Katakan saja apa yang kalian ketahui tentang kawanku yang terdahulu, yang sampai sekarang tidak pernah kembali.” “Apakah kau t idak tahu apa yang dilakukan oleh kawanmu itu ?” “Kami tahu pasti. Kawanku itu telah pergi ke padukuhan ini untuk suatu tugas.” Tiba-tiba saja Swasti menyahut mendahului ayahnya, “Tentu kau tidak akan membawa anak yang pingsan itu kemari j ika kau tahu pasti apa yang terjadi.” “Aku hanya tahu bahwa seorang kawanku datang kemari.” “Kau tahu tugas apa yang dilakukan disini ?” Kedua orang yang mengaku dari Pusparuri itu termangu- mangu. Namun salah seorang membentak, “Itu bukan persoalanmu. Jawab pertanyaanku, apa yang kau ketahui tentang orang Pusparuri yang datang kemar i.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mendengar per istiwa antara orang-orang Kendali Put ih, orang Pusparuri dan Daruwerdi, ia mengharap bahwa orang-orang Pusparuri itu memiliki sifat yang berbeda dengan orang-orang Kendali Putih. Ternyata diantara kedua perguruan itu nampaknya tidak banyak berbeda. Karena itulah, maka Kiai Kanthi justru mulai menilai Daruwerdi, yang telah berhubung an dan bahkan ada tanda-tanda kerja sama dengan orang- orang Pusparuri. “Jawab pertanyaan kami,“ tiba-tiba orang Pusparuri itu membentak. Swasti menggeram sambil bergumam, “Jangan membentak, seperti terhadap anak yang pingsan itu, supaya mulutmu tidak aku sumbat.” Kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Keduanya tidak mengira bahwa tiba-tiba saja gadis itu menantangnya. “Kau memang orang-orang gila yang tidak mengetahui siapa kami. Baiklah. Bersiaplah untuk mati Apapun yang akan kalian lakukan, kalian akan mati sepertianak. muda itupun akan mati. Tetapi jika kalian mau menceritakan apa yang terjadi, maka jalan kematianmu akan sempurna. Terutama bagi perempuan itu. Kematiannya tidak akan dialaminya dalam kengerian justru karena ia perempuan.” “Kemarahan Swasti telah melonjak jika ayahnya tidak menggamitnya. Bisiknya, “Hati-hatilah Swasti. Jangan terbiasa menurut i perasaan.” Tetapi Swasti berteriak, “Mereka bukan manusia wajar lagi ayah.” “Ketahuilah,“ berkata Kiai Kanthi tanpa menghiraukan kata- kata anaknya, “Kawanmu dar i Pusparuri itu memang datang. Tetapi agaknya orang-orang Pusparur i, seperti kalian, tidak tahu apa yang dilakukannya disini. Persoalannya mungkin terbatas antara Daruwerdi dan pimpinan tertinggi Pusparuri serta orang yang berciri sandi ular sanca bertanduk genap.” “Jangan mengingau. Dimana ia kawanku itu he ?” Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menceriterakan apa yang diketahuinya dari Jlitheng tentang orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih. “Gila,“ orang-orang Pusparuri itu menggeram, “jadi orang- orang Kendali Putih itu telah membunuh kawanku yang datang untuk menjumpai Daruwerdi ?” “Ya. Sekarang kembalilah kepada kawan-kawanmu. Katakan apa yang sudah terjadi disini. Mungkin kau mempunyai adat tersendiri untuk menyelesaikan persoalanmu.” Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Kami akan kembali untuk menghancurkan orang-orang Kendali Putih. Tetapi kami tidak akan dapat membiarkan kalian tetap hidup.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Sejenak ia justru termangu-mangu, sementara orang-orang Pusparuri itu benar- benar telah dibakar oleh kemarahan. Salah seorang dari mereka menggeram, “Tidak ada seorangpun yang akan tetap tinggal hidup agar semua rencanaku tidak kandas dijalan. Kami masih akan menjumpai Daruwerdi untuk mencari kebenaran ceriteramu. Tetapi j ika justru Daruwerdilah yang telah membunuhnya, maka iapun akan dimusnakan.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian orang-orang aneh. Kami sudah mengatakan apa yang kami ketahui. Seharusnya kalian berterima kasih kepada kami. Bukan justru sebaliknya. Bahkan jika kalian juga berbaik hati kalian tentu akan menceriterakan serba sedikit tentang Perguruan Pusparuri meskipun dalam hubungannya dengan Daruwerdi itu kau tidak mengerti.” “Cukup,“ bentak salah seorang dari mereka, “sudah aku katakan, tidak seorangpun yang akan tetap hidup. Kalian berdua akan mati. Dan anak itupun akan mati.” Ternyata Swastilah yang tidak sabar lagi. Dengan lantang ia berkata, “Sudahlah ayah. Jangan merajuk seperti kanak- kanak. Kalau mereka akan membunuh kita, kenapa bukan kita sajalah yang membunuh mereka lebih dahulu.” “Gila,“ salah seorang dari kedua orang Pusparuri itu hampir berteriak, “kalian memang orang-orang gila.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Terserah kepadamu Swasti. Apakah memang sudah menjadi keharusan, bahwa demikian kita menginjak t latah ini, kita dihadapkan pada keadaan yang sama sekali tidak kita inginkan.” “Sudahlah ayah,“ potong Swasti, “ayah masih saja merajuk. Biarlah aku mencoba mempertahankan diri. Jika terpaksa aku akan membunuh mereka berdua.” Kedua orang Pusparuri itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Karena itu, tanpa menjawab, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah meloncat menyerang Swasti. Tangannya langsung mengarah kedadanya dengan sepenuh tenaga. Jika tangan itu menyentuh sasaran, maka dada Swasti tentu akan sekaligus retak karenanya. Swasti sadar, bahwa orang-orang Pusparuri yang marah itu tentu akan menghantamnya sampai mati pada pukulan pertama. Itulah sebabnya, maka iapun sudah bersiaga, sepenuhnya. Dengan demikian maka ketika tangan orang Pusparuri itu terjulur kedadanya, Swasti sudah siap untuk meloncat menghindarinya. Orang-orang Pusparuri memang sudah mengira bahwa kedua orang itu tentu memiliki bekal kemampuan. Namun bahwa yang dilakukannya itu adalah tiba-tiba dan dibiar dugaan, tetapi masih dapat juga dihindari oleh gadis itu, tiba- tiba saja telah terbersit pertanyaan, “Apakah keduanya benar- benar mahluk dari dunia lain yang telah memasuki dunia manusia.” Dalam pada itu, ternyata Swasti tidak hanya sekedar menghindar. Meskipun malam gelap, apalagi didalam rimbunnya dedaunan sehingga mata bagaikan menjadi buta, namun ketajaman mata Swasti masih dapat menembus kelam, sehingga ia dapat melihat bayangan kedua orang Pusparuri. Dengan demikian, maka ketika lawannya gagal menyerangnya, justru Swastilah yang kemudian meloncat menyerang dengan cepat dan keras pula. Yang dilakukan Swasti itu telah membuat lawannya semakin heran. Lawannya yang terkejut karena serangannya, tiba-tiba saja telah menjatuhkan dir i untuk menghindari sambaran serangan Swasti. Orang Pusparuri yang lainpun tidak tinggal menontonnya saja. Meskipun ia juga dijalari oleh keragu-raguan, apakah yang dihadapinya itu mahluk sejenisnya, atau justru dari dunia yang lain. Sebelum kawannya yang berguling ditanah itu meloncat bangkit, maka kawannya telah mendahului menyerang Swasti pula. Dengan demikian, maka dalam kegelapan itu telah terjadi pertempuran yang dahsyat. Seorang gadis seorang diri bertempur melawan dua orang laki- laki yang garang. Untuk sejenak Kiai Kanthi masih berdiri diluar arena. Yang dilalukan kemudian adalah mengangkat Kuncung yang masih pingsan dan membawanya agak menjauh. Bahkan ketika kemudian Kuncung muliai menggeliat. Kiai Kanthi telah menyentuh pusat syarafnya, sehingga sekali lagi Kuncung seolah-olah jatuh tertidur. “Tidur sajalah anak muda,“ desis Kiai Kanthi, “agar kau tidak malah menjadi hambatan kami melawan orang-orang garang itu.” Dalam pada itu. Kiai Kanthipun kemudian menekuni anak gadisnya yang sedang bertempur. Bahkan kemudian timbul niatnya untuk melihat, apakah Swasti benar-benar dapat menempatkan diri diantara anak-anak muda yang mengagumkan di Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Daruwerdi telah berhasil membunuh dua orang Kendali Putih. Demikian juga Jlitheng. “Apakah anak gadisku juga mampu mempertahankan dirinya melawan keduanya meskipun mungkin tataran kemampuan orang-orang Kendali Put ih dan orang-orang Pusparuri tidak sama,“ desis Kiai Kanthi didalam hatinya. Dalam pada itu, pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Kedua orang Pusparuri itu telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengalalikan lawannya yang tidak lebih dari seorang gadis. Namun ternyata bahwa Swasti benar-benar tangkas, lincah dan bahkan memiliki kekuatan yang mengagumkan. Jauh melampaui kekuatan kebanyakan gadis. Kedua orang lawannyapun kemudian mengambil kesimpulan bahwa gadis itu memang orang aneh. Mungkin ia memang sejenis mahluk dari dunia lain. Tetapi mungkin juga manusia biasa yang pernah mengalami tempaan yang lama dan bersungguh-sungguh. Namun siapapuin perempuan itu. ia harus dibinasakan. Kedua orang Pusparuri itu tidak mau bekerja terlalu lama. Karena ku, ketika mereka menyadari bahwa lawannya adalah seorang yang tidak sewajarnya, maka merekapun tiba-tiba saja telah menggenggam senjata ditangaenya. Yang seorang menggenggam sebilah golok yang besar dan berat, aamentara yang lain memegang pedang yang tajamnya rangkap t imbal balik. Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar melihat senjata-senjata itu. Anak gadisnya tidak membawa senjata yang memadai. Gadis itu hanya membawa pisau belati panjang yang jauh lebih kecil dar i senjata-senjata yang garang itu. Namun Swasti benar-benar lincah. Dengan mantap iapun kemudian menggenggam kedua pisau belatinya dikedua tangannya. Dalam malam yang gelap itu, mereka telah terlibat dalam pertempuran senjata yang dahsyat. Sebuah golok yang besar terayun-ayun dengan derasnya, sementara pedang bertajam rangkap berputaran seperti baling-baling. Tetapi gelap malam itu justru member ikan kesempatan lebih banyak pada Swasti untuk mempergunakan batang- batang pepohonan sebagai perisainya. Sekali ia melenting menyerang dengan cepatnya, namun ketika kedua lawannya menyerang bersama-sama, Swasti meloncat diantara batang- batang pohon yang besar. Kedua lawannya yang garang itu menjadi semakin marah. Seperti seekor harimau yang diganggu oleh seekor kelinci kecil diantara keempat kakinya. Namun ternyata bahwa kedua orang itu akhirnya dapat mengurung dan membatasi gerak Swasti. Senjata mereka yang panjang dan tata gerak mereka yang garang dan kasar, berhasil mendesak Swasti sehingga Swasti lebih banyak menghindar sambil berloncatan diantara pepohonan. Meskipun demikian, serangan Swasti yang tiba-tiba masih tetap merupakan bahaya bagi kedua orang Pusparuri itu. Bahkan kadang-kadang keduanya seolah-olah telah kehilangan lawannya yang dengan tiba-tiba saja telah menyerang kearah lambung dengan pisau-pisau belatinya. Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Swasti tidak mempunyai cara lain untuk mengatasi kedua lawannya selain dengan kecepatannya berloncatan diantara batang-batang pohon dan gerumbul-gerumbul Tetapi lawannya yang marah tidak ingin melepaskannya. Keduanya ternyata mampu bekerja bersama sebaik-baiknya. Disaat-saat Swasti meloncat menghindari serangan pedang bermata rangkap, tiba-tiba saja golok yang besar itu telah terayun menebas lehernya. Swasti tidak menangkis dengan membenturkan senjatanya yang kecil. Ayunan tenaga lawannya yang kuat atas senjatanya yang berat, akan merupakan kekuatan yang besar. Meskipun dengan mengerahkan kekuatannya, Swasti dapat membentur senjata lawannya, tetapi dengan demikian ia akan terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga ia akan cepat menjadi lelah. Yang dilakukan oleh Swasti adalah memukul senjata lawannya menyamping, namun dengan pisaunya yang lain. ia berusaha menyerang dada lawannya yang terbuka. Namun lawannyapun cepat menghindar, sementara yang seorang lainnya telah menyerangnya pula. Kiai Kanthi yang menyaksikan pertempuran itu. akhirnya melihat bahwa keadaan Swasti tidak menguntungkan. Dengan hati-hati ia melangkah mendekati arena. Namun t iba-tiba saja Swasti berteriak, “Jangan ganggu aku ayah.” Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu kekerasan hati anaknya. Namun sudah barang tentu dalam keadaan yang gawat ia tidak akan membiarkan anaknya menjadi korban perasaannya itu. Dalam pada itu, Swasti masih bertempur dengan sengitnya. Sementara Kiai Kanthi mencoba menilai kedua lawannya. “Apakah orang-orang Kendali Putih itu juga memiliki kemampuan yang sama dengan orang-orang Pusparuri ?“ ia bertanya didalam hatinya. Namun dalam pada itu, debar jantung Kiai Kanthi menjadi semakin cepat. Swasti benar-benar mengalami kesulitan. Ayunan senjata kedua lawannya yang besar dan berat itu memang menyulitkan Swasti yang bersenjata sepasang pisau belati. Akhirnya Swasti tidak dapat mengingkari kenyataan itu. ia lebih banyak terdesak dan kadang-kadang tangannya mulai bergetar jika ia terpaksa membenturkan pisau belatinya menangkis ayunan senjata lawannya yang berat dan panjang. Kiai Kanthi masih termangu-mangu. Jika ia memaksa kearena, anaknya tentu akan marah kepadanya dan seperti biasanya jika ia marah, maka sehari penuh ia tidak akan mengucapkan sepatah katapun. Namun selagi Kiai Kanthi terrrtangn-mangu. tiba-tiba saja wajahnya menegang. Bahkan ia bergeser setapak maju. Ia melihat Swasti berdiri dalam keadaan yang sulit. Lawannya berada didua sisi yang berbeda, sementara keduanya sudah siap untuk menyerang. “Ia akan terpancing pada satu keadaan yang sulit. Keduanya akan bekerja bersama menjebak perhatian Swasti pada satu sisi,“ berkata Kiai Kanthi kepada diri sendir i. Karena itulah, maka iapun segera mempersiapkan diri pula jika keadaan memaksa. Ia lebih senang melihat Swasti diam sehari penuh atau bahkan dua atau tiga hari daripada Swasti dibantai oleh kedua orang lawannya. Seperti yang diperhitungkan oleh Kiai Kanthi. maka keduanya mulai bergerak. Tetapi seorang diantara mereka mencoba melingkar dengan putaran senjatanya yang bertajam dikedua sisinya. Demikian keras putaran itu, sehingga seolah- olah menimbulkan angin yang berdesing mengguncang dedaunan. Perhatian Swasti memang lebih banyak tertuju kepada pedang yang berputar itu. Namun sementara itu. lawannya yang bergolok besar, bergeser mnedekat, seperti seekor harimau yang perlahan- lahan merunduk lawannya. Namun tiba-tiba terjadi sesuatu diluar perhitungan kedua orang itu. Meskipun perhatian Swasti lebih banyak tertuju kepada desing pedang bertajam rangkap, tetapi ternyata iapun mempunyai perhitungan lain. Sejenak kemudian, seperti yang diperhitungkan, maka orang berpedang itupun meloncat menyerang, langsung menebas kekening. Dengan tangkasnya Swasti merendah sambil bergeser. Pada saat itulah lawannya yang lain meloncat menusuk dengan goloknya yang besar. Yang tidak diperhitungkan oleh orang bergolok itu adalah, bahwa Swasti tidak berguling atau meloncat jauh-jauh untuk menghindar, sementara seorang yang lain siap untuk memburunya. Bahkan Kiai Kanthipun tergetar hatinya melihat sikap anaknya. Bukan karena Swasti tidak lagi sempat berbuat sesuatu. Tetapi yang dilakukan adalah justru sangat mengejutkan. Ketika orang bergolok itu meloncat dengan senjatanya terjulur lurus, tanpa disangka-sangka Swasti justru telah melemparkan pisau belatinya. Demikian keras dan dengan bidikan yang tepat, maka yang terdengar kemudian adalah keluhan panjang. Ujung golok itul tidak sampai menyentuh lawannya, karena pisau belati yang menghunjam kepusat jantung. Yang terjadi itu benar-benar telah menggoncangkan hati orang berpedang yang menjadi tegang. Ia melihat kawannya terhuyung-huyung, kemudian jatuh menelungkup, hanya beberapa jengkal didepan Swasti. Meskipun goloknya masih tetap ditangan, namun tidak ada kekuatan lagi untuk menekankan goloknya itu ketubuh gadis yang masih berdiri merendah. Baru sekejap kemudian kawannya menyadari apa yang telah terjadi. Karena itu, maka terdengar ia menggeretakkan giginya. Diantara gemeretak giginya ia menggeram, “Anak gila, kuntilanak, setan, tetekan. Kau harus mati dan mayatmu akan dicincang sampai lumat.” Swasti meloncat selangkah menjauh. Ia kemudian harus bersiap menghadapi lawannya yang seorang lagi. Namun ia merasa bahwa tugasnya akan menjadi lebih ringan, meskipun senjatanya tidak lagi genap sepasang. Sementara itu, Kiai Kanthi maju selangkah mendekati arena sambil berkata, “Ki Sanak dari dunia wadag. Sudah aku katakan, bahwa kami adalah penghuni hutan ini yang tidak akan dapat kau kalahkan. Karena itu, mumpung kau masih belum cidera oleh kuntilanak itu, pergilah. Tinggalkan tempat ini.“ “Gila. Kalian bukan orang halus yang turun kedua wadag. Tetapi kalian adalah orang-orang gila yang berkesempatan untuk menyadap ilmu yang tinggi. Jika kalian tidak aku binasakan, maka kalian akan merupakan bahaya yang paling besar bagi sesamamu.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Tetapi Swasti sudah mendahuluinya, “Biarkan apa saja yang akan dilakukan ayah. Aku akan membunuhnya juga seperti kawannya agar ia tidak akan dapat berbicara tentang kita kepada siapapun juga.” “Ah,“ desah Kiai Kanthi, “kita dapat berbuat lain.“ Tetapi Swasti tidak menjawab, karena orang berpedang itu sudah meloncat menyerangnya dengan dahsyatnya. Ayunan pedangnya yang mengerikan itu, bagaikan badai yang melanda hutan itu, meskipun hanya selingkar kecil. Namun dedaunan dan dahan-dahan berpatahan dan runtuh ditanah. Gerumbul-gerumbul bagaikan ditebas, sementara pokok-pokok pepohonan telah terkelupas kulitnya. Namun Swasti mampu mengimbangi kecepatan bergerak lawannya. Setelah seorang dari mereka terbunuh, maka Swasti mempunyai kesempatan lebih banyak. Bahkan ia dapat bertempur berhadapan, meskipun ia hanya membawa sebilah belati panjang. Kiai Kanthi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Anak gadisnya memang seorang yang keras hati. Jika ia sudah bersikap maka sulitlah baginya untuk mengendorkannya. Karena itu, dengan berdebar-debar Kiai Kanthi menyaksikan apa yang telah terjadi. Ja hanya dapat menunggu akhir dari perkelahian itu, meskipun ia tidak meninggalkan kewaspadaan, karena bagaimanapun juga ia tidak akan dengan rela kehilangan anak gadisnya. Dalam pada itu. pertempuran itupun masih berlangsung dengan sengitnya. Namun Swasti telah berhasil mendesak lawannya, sehingga lawannya yang bersenjata pedang itulah yang kemudian lebih banyak berlindung diantara pepohonan. Namun Swasti memang mampu bergerak dengan cepat dan tangkas. Pisau belati panjangnya yang tinggal sebilah itu berputaran dan mematuk-matuk. Rasa-rasanya pisau itu telah menjadi rangkap sepasang seperti sebelumnya. Bahkan pisau itu bagaikan bertambah semakin banyak. Seolah-olah menjadi dua pasang, tiga pasang, dan kemudian seolah-olah berada diseputar tubuhnya. Sentuhan-sentuhan pertama dari ujung belati, membuat orang itu menjadi semakin garang dan kasar. Pedangnyapun berputaran, menebas mendatar, namun kadang-kadang menusuk dengan dahsyatnya. Namun ternyata bahwa Swasti mampu bergerak lebih cepat dari lawannya. Terasa pada beberapa bagian tubuhnya, perasaan pedih telah menyengat-nyengat. Darah mulai menitik dari luka- lukanya, meskipun luka-luka itu tidak segera membunuhnya. Namun kematian itu memang sudah membayang. Ia sama sekali tidak dapat menghindarkan diri dari tusukan pisau belati panjang Swasti dipunggung, pundak dan kemudian lambung. Betapa pedihnya luka-luka ditubuh itu. Tetapi lebih pedih lagi luka diliatinya. Ia datang dengan seorang kawannya untuk mencari orang yang terdahulu datang dipadukuhan ini. tetapi tidak kembali. Bahkan kini, ia sendiri telah terjebak dalam kesulitan dan bahkan kedalam belitan maut. “Apakah orang-orang ini pula yang telah membunuh orang- orang Pusparuri dan Kendali Put ih ?” pertanyaan itu tumbuh dihatinya. Tetapi ia tidak dapat mempersoalkan terlalu lama, karena ujung pisau belati gadis itu telah menggores lengannya. Kemarahan orang berpedang itu bagaikan telah membakar otaknya, sehingga ia tidak sempat lagi berpikir. Oleh perasaan pedih dikulitnya dan pedih diliatinya, maka iapun mengamuk seperti seekor harimau yang sedang wuru. Pedangnya diayun- ayunkannya sambil berteriak sekeras-kerasnya. Meloncat- loncat dan menyerang sejadi-jadinya tanpa menghiraukan apa yang telah dan akan terjadi atasnya. Bagaimanapun juga tabahnya hati Swasti, namun melihat lawannya menjadi gila, hatinya tergetar pula. Tiba-tiba saja ia merasa berhadapan dengan seseorang yang buas dan liar. Justru karena itulah, maka Swastipun kemudian justru terdesak. Bukan karena lawannya berhasil mengerahkan tenaga cadangan yang dapat mendorong kecepatan geraknya, tetapi semata-mata karena Swasti menjadi nger i, melihatnya. Kiat Kanthipun menjadi semakin berdebar-debar. Lawan Swasti telah menjadi putus asa, sehingga karena itu, maka yajig dilakukannya tidak lebih dari bunuh dir i. Tetapi keliarannya itu ternyata telah membuat Swasti menjadi ngeri. Namun dengan demikian, maka Swastipun telah kehilangan pengendalian dir i. Jika semula ia masih memikirkan kemungkinan untuk menghidupi lawannya dan memikirkan penyelesaiannya kemudian, maka pikiran itu telah lenyap bersama kenger ian yang mencengkamnya. Pada saat-saat yang gawat karena keliaran orang Pusparuri itulah, Swasti telah mengambil sikap seperti yang pernah dilakukannya. Ketika lawannya meloncat sambil memutar pedangnya dengan gila, gadis itu berdir i tegak menunggunya. Kemudian, sebuah loncatan yang deras telah melemparkan pisau belatinya tepat mematuk dada. Terdengar orang itu berteriak penuh kemarahan. Namun kemudian suaranya menghilang diantara desir lembut angin pegunungan. “Ayah,“ desis Swasti sambil memalingkan wajahnya. Ayahnya mendekatinya. Ketika ia menyentuh anak gadisnya, maka tiba-tiba saja Swasti telah memeluknya. Terasa didada ayahnya, nafas Swasti memburu seperti detak jantungnya. -oooOooo—

Jilid 04
SAMBIL menepuk punggung anaknya Kiai Kanthi. berkata, “Sudahlah Swasti. Beristirahatlah. Kau sudah menyelesaikan tugasmu dengan baik, meskipun bukan yang terbaik, karena kedua lawanmu telah kau bunuh.” Swasti tidak menjawab. Ketika ayahnya kemudian memegang pundaknya dan mendorongnya duduk dibawah sebatang pohon besar, Swasti seolah-olah tidak mempunyai sikap lagi menghadapi kenyataan itu. “Beristirahatlah Swasti. Kau tentu lelah.” Swasti mengangguk. Sementara ia melihat ayahnya telah memungut pisau belatinya dari tubuh tawannya, dan menusukkan ketanah beberapa kali, sehingga darah yang melekat telah menjadi bersih karenanya. “Inilah senjatamu. Nanti, kau dapat mencucinya di parit dibawah telaga itu,“ desis ayahnya. Swasti hanya mengangguk saja. Namun ia masih gemetat seperti juga nafasnya masih saling memburu dilubang hidungnya. “Kau dapat mengatur pernafasanmu. Kau harus menjadi tenang dan mengerti seluruhnya atas peristiwa yang baru saja kau alami,“ berkata ayahnya. Swasti mengangguk. Dicobanya untuk menguasai pernafasannya dan mengaturnya perlahan-lahan. Akhirnya Swasti berhasil menenangkan dirinya. Nafasnya mulai teratur dan detak jantungnya pun mulai menurun. Namun dalam pada itu. selagi ia duduk tenang dan menguasai diri sepenuhnya, perasaannya telah terganggu oleh suara dikejauhan. Lamat-lamat Swasti mulai mendengar lagi suara kentongan dalam irama yang tidak teratur. “Suara kentongan itu ayah,“ desis Swasti. Ayahnya mengerutkan keningnya. Katanya, “Agaknya anak yang dicari itu masih belum diketemukan. Dan mereka akan tetap mencari meskipun sampai tiga hari tiga malam. Baru setelah tiga hari tiga malam mereka tidak menemukannya, maka mereka akan menganggap anak itu benar hilang. Dan merekapun akan melakukan upacara seolah-olah anak itu sudah meninggal.” “Ayah,“ tiba-tiba saja Swasti bangkit, “apakah mereka mencari anak itu?” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Dipandanginya anak muda yang terbaring. Tetapi ia tidak pingsan lagi. ia tertidur karena sentuhan tangan Kiai Kanthi sebelum ia mengerti apakah yang telah terjadi atasnya. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin. Mungkin anak itulah yang dicarinya.” “Jadi, apakah kita akan mengatakannya kepada mereka, bahwa kita telah menemukannya disini?” Kiai Kanthi menjadi ragu-ragu. Kemudian katanya, “Jika demikian, maka akan timbul banyak pertanyaan tentang anak itu. Jika anak itu sadar, ia akan mengatakan, bahwa ia telah dibawa oleh dua orang Pusparuri. Dan orang-orang padukuhan itupun akan mengusut pula, dimana kedua orang Pusparuri itu. Terutama Daruwerdi. Agaknya ia memang mempunyai hubungan dengan pimpinan perguruan Pusparuri meskipun tidak diketahui sepenuhnya oleh orang-orang Pusparuri sendir i.” “Jadi apakah yang sebaiknya kita lakukan dengan anak muda itu, ayah?“ bertanya Swasti. Tiba-tiba wajah Kiai Kanthi menjadi cerah. Sambil tersenyum ia berkata, “Marilah kita bermain-main dengan orang-orang padukuhan Lumban. Kita akan menghilangkan jejak yang dapat menumbuhkan kecurigaan orang-orang padukuhan. Kita akan membawa anak muda itu dan menyerahkan kembali kepada orang-orang Lumban tanpa menampakkan diri.” “Maksud ayah?” “Kita bawa anak muda itu dan kita letakkan di bawah pohon randu alas di ujung padukuhan sebelah Utara, dibatas hutan perdu. Kita akan dengan mudah bersembunyi agar tidak dilihat oleh orang-orang Lumban yang sedang mencar i anak itu.” “Bagaimana jika mereka tidak mencar inya kerandu alas itu ?” “Aku akan membawa titikan dan membuat api. Dengan sepercik belerang, maka api emput itu akan menyala seperti jika kita menyalakan perapian. Api belerang yang kebiru- biruan itu akan mengundang perhatian mereka.” “Apakah mereka akan melihat api belerang yang kecil itu?” “Mudah-mudahan. Aku mengira, bahwa mereka masih akan berputar-putar diseluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon serta sekitarnya. Pada suatu saat tentu ada sekelompok dar i mereka yang akan lewat didekat randu alas itu meskipun sudah empat lima kali mereka lewati.” Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah kita coba ayah. Tetapi bagaimana membawa anak muda itu ?” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Nampaknya iapun mulai memikirkan bagaimana membawa anak yang tertidur itu. Tentu tidak mungkin untuk menyadarkannya, kemudian mengajaknya turun. Dengan demikian, ia tentu akan bercerita tentang hutan yang dihuni oleh dua orang ayah dan anak gila. “Swasti,“ berkata ayahnya, “meskipun aku sudah menjadi semakin tua, tetapi agaknya aku masih kuat mengangkatnya turun sampai keujung padukuhan itu.” Swasti termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Aku tentu juga dapat membantu ayah. Agaknya aku-pun kuat mengangkatnya diatas bahu.” “Tetapi itu tidak pantas. Ia seorang anak muda.” “Ah,” Swasti berdesah. Sejenak kemudian. Kiai Kanthipun mencoba mengangkat anak muda itu di atas pundaknya. Kemudian membawanya melangkah beberapa langkah. “Tidak terlalu berat Swasti. Agaknya aku akan dapat membawanya turun tanpa kesulitan.” Swasti memandang ayahnya sejenak. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Keduanyapun kemudian menuruni tebing pegunungan yang sudah tidak begitu tinggi meskipun kadang-kadang curam, tetapi kadang-kadang bagaikan sudah disediakan tangga- tangga batu padas. Tetapi keduanya dapat memilih jalan yang tidak terlalu sulit untuk mencapai dataran dibawah. Ternyata bahwa Kiai Kanthi yang tua itu masih cukup kuat dan tangkas. Bagaimanapun juga ia aaalah seorang yang mumpuni. Seorang yang memiliki kekuatan meiampaui kekuatan orang kebanyakana Dan iapun mempunyai aaya tahan melampaui orang kebanyakan pula. Tanpa mengalami kesulitan. Kiai Kamthn dan Swastipun kemudian telah berada didataran dibawah butut. Kemudan dengan hati-hati mereka membawa anak yang tertidur nyenyak itu kebawah sebatang randu alas yang besar dan berdaun rimbun. “Letakkan digerumbul dibawah pohon itu ayah,“ desis Swasti. “Mudah-mudahan anak itu tidak dipatuk ular.” “Ia tidak bergerak-gerak, tentu ia tidak akan dipatuk ular.” “Jadi, apakah ia akan kita biarkan tidur terus, dan tidak ada yang akan dapat membangunkannya ?” “Aku kira, Jlitheng yang sombong itu akan dapat membangunkannya.” “Tetapi biarlah kita menunggu sampai kita yakin akan diketemukan. Kemudian kita bangunkan anak itu, sementara itu kita bersembunyi baik-baik.” “Terserah saja kepada ayah,“ desis Swasti. Kiai Kanthipun kemudian meletakkan tubuh Kuncung didalam gerumbul yang tidak terlalu rimbun. Dengan sengaja ia membiarkan kaki anak muda itu terjulur. “Kita menunggu. Aku yakin, bahwa salah satu kelompok dari mereka yang mencari anak yang hilang itu akan datang lagi kebawah pohon randu alas yang besar ini.” “Tetapi, bagaimanakah jika yang sebenarnya mereka cari bukan anak ini ayah ?“ bertanya Swasti. “Siapapun juga. tetapi kita telah mengembalikan anak yang malang ini kepada keluarganya, sementara kita masih mempunyai pekerjaan mengubur dua sosok mayat yang kita tinggalkan dihutan itu.” Swasti mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan kelompok yang kita dengar suara kentongan dan tetabuhannya itu menuju kemari.” Beberapa saat lamanya keduanya menunggu. Tetapi ternyata kelompok pertama dari orang-orang yang mencari anak yang diculik hantu itu tidak lewat dibawah pohon randu alas itu. Namun beberapa saat kemudian kelompok yang lain telah mendekat pula. “Suaranya ribut sekali ayah,“ desis Swasti. “Ya.“ Mereka memukul apa saja yang mereka dapat. Kentongan, tambir, tampah dan mungkin potongan-potongan besi dan senjata. Mereka membunyikan asal saja membunyikan tanpa irama tertentu.” “Nah, kalau kelompok yang kemudian ini nampaknya benar-benar akan melalui jalan ini.” gumam Swasti. Untuk sesaat lagi mereka menunggu. Sejenak kemudian mereka melihat beberapa buah obor muncul dari padukuhan. Mereka melalui jalan bulak yang semakin lama menjadi semakin dekat dengan pohon randu alas itu. “Aku akan menyalakan api yang berwarna biru agar mereka tertarik dan datang kemari,“ berkata Kiai Kanthi. Kiai Kanthipun kemudian menyalakan api dengan titikan dan seperingkil belerang. Api yang berwarna kebiru-biruan telah menyala. Dengan menggerakkan api itu, maka Kiai Kanthi mengharap, bahwa api itu akan menarik perhatian. “Mereka akan mengira, api ini kemamang yang terbang mengitari pohon randu alas ini,“ desis Kiai Kanthi. “Jika demikian mereka akan takut mendekat,“ desis Swasti. “Tidak. Jika mereka seorang seorang, mereka memang akan takut mendekat. Tetapi bersama-sama mereka akan merupakan kelompok pemberani yang justru akan datang untuk melihat, apakah yang terdapat dibawah pohon randu alas ini.” Ternyata beberapa orang yang berjalan dibulak itu, benar- benar melihat sepercik api berwarna kebiru-biruan. Api yang seolah-olah terbang berputaran mengelilingi pohon randu alas, karena Kiai Kanthi memang membawa api diatas sebuah kulit kayu mengelilingi pohon randu alas itu. Api yang tidak begitu besar. Tidak lebih dar i sekepalan tangan. Namun dapat dilihat dari bulak yang pendek, yang tidak begitu jauh dari pohon randu alas itu, dan api itu mempunyai warna yang khusus. Karena itu, maka seperti yang diharapkan, maka nyata api yang kebiru-biruan itu benar-benar telah menarik perhatian. “He, kau lihat api dibawah pohon randu alas itu,“ desis seseorang yang sedang memukul sepotong besi dengan potongan besi yang lain. Seorang yang memukul kentongan disebelahnya mengerutkan keningnya. Iapun telah melihat api yang kebiru- biruan itu. Maka katanya, “Ya. Api itu agak aneh. Apakah api itu mempunyai arti yang khusus.” “Mungkin. Mungkin sekali,“ sahut yamg lain. Api belerang itu akhirnya telah menar ik perhatian seluruh kelompok pencari anak yang hilang itu. Seorang yang berambuti putih berdesis, “Menarik sekali. Apakah benar cahaya yang kebiru-biruan itu mempunyai arti khusus ?” “Mungkin sekali,“ sahut yang lain. “Marilah kita lihat,“ berkata orang tua itu lebih lanjut. Sejenak kawan-kawannya saling berdiam diri. Tetabuhan- nyapun terdiam beberapa saat. “Marilah,“ orang tua itu mendesak. Kawan-kawannya masih ragu-ragu. Namun akhirnya orang tua itu berkata, “Aku akan berdiri dipaling muka. Berikan obor itu kepadaku.” Seorang anak muda yang pucat member ikan obor kepada erang berambut putih itu. Kemudian, beriringan mereka menuju kepohon randu aitas yang diputari oleh semacam cahaya yang berwarna kebiru-biruan. Kiai Kanthi telah memperhitungkan, pada jarak yang mana ia harus bersembunyi. Sehingga karena itulah, maka kelompok-kelompok orang-orang itu tertegun ketika mereka pielihat tiba-tiba saja api yang berwarna kebiru-biruan itu hilang. Meskipun demikian, orang berambut putih itu berkata, “Kita akan membuktikannya kebawah randu alas itu. Pukul semua alat yang ada pada kita sekeras-kerasnya. Jika ada hantu di randu alas itu, biarlah mereka menyingkir karena telinga mereka menjadi sakit oleh suara ini.” Dengan demikian, maka tetabuhanpun menjadi semakin keras. Perlahan-lahan iring-iringan itu maju meskipun dengan hati yang berdebar-debar. Ketika mereka mendekati pohon randu alas yang besar itu, mereka sama sekali tidak melihat sesuatu. Mereka tidak melihat cahaya yang kebiru-biruan. Mereka tidak melihat seseorang dan tidak melihat apapun juga. “Tidak ada apa-apa,“ desis seseorang. “Ya. Tidak ada,“ sahut yang lain. Tetapi orang berambut putih itu berkata, “Kita akan mencari disekeliling randu alas ini. Bunyikan tetabuhan itu sekeras-kerasnya.” Sekali lagi ocang-orang dalam kelompok itu memukul benda-benda yang mereka bawa sekeras-kerasnya. Bunyinya benar-benaT memekakkan telinga, sehingga jika mereka berbicara diantara sesama mereka, maka merekapun harus berteriak sekeras-kerasnya pula. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka menjerit. Suaranya metengking mengatasi suara tetabuhan yang hiruk pikuk. “Ada apa ?“ bertanya seorang kawannya yang juga menjadi pucat. “Ya Ada apa ?” desak yang lain. Orang itu menjadi gagap. Sambil menunjuk kesebuab gerumbul ditepi jalan, dibawah randu alas itu ia berkata terputus-putus, “Itu, itu. Lihat.” Semua orang berpaling kearah gerumbul yang ditunjuk. Merekapun terperanjat ketika mereka melihat dua batang kaki yang terulur dari gerumbul itu. Belum lagi jantung mereka mereda, mereka telah dikejutkan lagi oleh suara yang mengerikan, yang telah mendirikan bulu tengkuk mereka. Suara itu adalah suara perempuan. Tetapi suara tertawa perempuan itu benar-benar suara tertawa hantu yang menakutkan. Suara tertawa yang bagaikan menghentak jantung setiap orang yang berada dibawah pohon randu alas itu. “Itu adalah iblis betina,“ berkata setiap orang dida-lam hati mereka masing-masing. Suara tertawa itu semakin lama terdengar semakin keras, Dan suara tertawa itu bagaikan meretakkan dada mereka. Setiap orang telah melepaskan benda-benda ditangannya. Mereka menutupi telinga mereka dengan kedua telapak tarzan. Bahkan ada diantara mereka yang terduduk lemah tidak berdaya. “Aku kembalikan anak itu kepada kalian orang-orang Lumban yang dungu,“ terdengar suara yang tidak jelas sumbernya, “aku tidak memer lukan anak yang bodoh dan penakut. Ambillah salah seorang anakmu ke orang-orang Lumban. Untuk beberapa saat ia akan tetap tertidur. Tetapi ia akan bangun pada saatnya. Mungkin untuk sehari dua hari ingatannya belumpulih. Tetapi itu bukan salahnya.” Orang-orang dibawah pohon randu alas itu menjadi gemetar. “Ambilah. Aku akan pergi,“ terdengar suara itu melanjutkan. Disusul oleh suara tertawa berkepanjangan. Semakin lama semakin jauh dan akhirnya hilang ditelan desau angin malamyang dingin. Beberapa saat lamanya orang-orang Lumban itu masih dicengkam ketakutan. Namun kemudian orang yang berambut putih dan menggenggam obor ditangannya itu berkata, “Anak itu sudah diserahkannya. Marilah, kita mengambilnya. Kita tidak bersalah dan kata tidak akan dikutuknya, karena yang terjadi adalah oleh kehendak iblis betina itu sendir i.” Beberapa orang masih ragu-ragu. Namun akhirnya merekapun mendekati gerumbul dibawah pohon randu atas itu. Mereka masih melihat dua batang kaki yang terjulur. “Itu tentu kaki Kuncung,“ berkata orang berambut put ih itu. Kemudian dibantu oleh beberapa orang yang masih berdebar-debar, mereka menarik kaki yang mereka lihat. “Kuncung, benar-benar-Kuncung,“ desis beberapa orang. Orang-orang yang kemudian mengerumuninya menar ik nafas dalam-dalam. Mereka telah menemukan anak yang mereka car i. Tetapi ternyata bahwa Kuncung masih berdiam diri. ia masih tetap tidur nyenyak. “Ia mati,“ desis seseorang. “Tidak, Ia tidur seperti yang dikatakan oleh iblis betina itu. ia masih tetap bernafas,“ sahut orang berambut putih. “Marilah kita bawa kembali kepadukuhan,“ berkata yang lain. Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun kemudian beramai-ramai menggotong Kuncung yang masih tertidur nyenyak dengan nafas yang mengalir teratur dari lubang hidungnya. Ketika anak itu dibawa masuk ke padukuhan, maka gemparlah padukuhan induk Lumban Wetan. Setiap orang telah keluar dar i rumahnya untuk melihat Kuncung yang baru saja dicuri oleh hantu betina. Sementara itu, Jlitheng yang kebingungan, seolah-olah telah kehilangan akal. Kemana ia harus mencari Kuncung yang hilang itu. Seluruh daerahl Lumban dan sekitarnya telah dijelajahinya Namun ia tidak menemukannya. Bahkan kemudian muliai tumbuh di pikirannya, “Apakah Kuncung benar-benar dibawa hantu ?” Dalam kebingungan itu tiba-tiba saja ia teringat kepada Daruwerdi yang berada di bukit gundul. Nampaknya ia memang menunggu seseorang. “Apakah tidak ada sekelompok orang yang mencari kebukit itu ?“ bertanya Jlitheng kepada diri sendir i. Tetapi Jlitheng menggelengkan kepalanya. Bukit itu benar benar gundul, sehingga orang-orang Lumban tentu menganggap bahwa tidak mungkin Kuncung disembunyikan ditempat itu. Namun Jlithenglah yang kemudaan berlar i-lari kebukit gundul itu. Ia ingin mengetahui, apakah yang dilakukan olehi Daruwerdi j ika orang yang ditunggunya itu sudah datang. Apakah ada hubungannya dengan hilangnya Jlitheng atau tidak. Tetapi ia menggeram ketika ternyata Daruwerdi telah tidak ada di bukit gundul itu. Sambil menghentakkan tangannya Jlitheng bergumam, “Gila. Aku kehilangan semuanya. Aku tidak menemukan Kuncung, sementara aku juga kehilangan Daruwerdi dan orang yang disebutnya Cempaka itu.” Sejenak Jlitheng justru termangu-mangu. Rasa-rasanya rahasia yang meliputi padepokan Lumban Wetan dan Lumban Kulon justru menjadi semakin tebal. Namun dalam pada itui Jlitheng terkejut ketika ia mendengar suara kentongan dalam nada dara-muhik. Diluar sadarnya ia bergumam, “Sokurlah. Anak itu sudah dapat diketemukan.“ Namun tiba-tiba wajahnya menegang, “Tetapi hidup atau mati.” Dengan serta merta Jlithengpun telah meloncat berlari dengan sekencang-kencangnya lewat pematang dan jalan- jalan sempit yang memintas, langsung menuju keinduk padukuhannya. Dengan nafas terengah-engah ia menemukan banyak orang yang berkerumun di banjar. Orang tua Kuncung duduk disamping anaknya yang terbujur diamsambil menangis. “Ia kehilangan j iwanya, meskipun tidak nyawanya,“ desis beberapa orang. Kuncung memang masih tertidur nyenyak. Nafasnya mengalir dengan teratur. Tetapi tidak seorangpun yang dapat membangunkannya. Untuk sesaat Jlijtheng termangu-mangu. Seorang kawannya yang melihatnya berlari-lari bertanya, “Kemana kau selama ini Jlitheng ?” “Aku ikut mencarinya. Tetapi aku tersesat. Seolah-olah jalan menjadi asing. Untunglah aku masih mendengar suara kentongan dan suara hiruk pikuk orang-orang yang mencari Kuncung,“ jawabnya. “O, agaknya kaupun hampir disambarnya,“ desis kawannya yang lain. Dari kawan-kawannya Jlitheng mendengar, bagaimana Kuncung itu diketemukan. Ketika sekelompok orang-orang Lumban lewat didekat randu alas, mereka telah melihat seekor kemamang berwarna kebiru-biruan terbang mengelilingi batang randu alas itu. Ketika kemudian mereka mendekat, mereka menemukan Kuncung, setelah lebih dahulu mereka mendengar suara hantu betina itu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Mengerikan sekali. He, bagaimana jika aku juga dibawa oleh hantu betina itu ?“ desis Jlitheng. “Kau akan pingsan untuk waktu yang lama, atau barangkali, yang sudah dikembalikan baru tubuhnya, belum jiwanya,“ sahut kawannya. Sejenak Jlitheng terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan melihat, apakah Kuncung terluka atau itidak.” “Tidak. Tidak ada tanda-tanda luka padanya,“ sahut kawannya. Namun Jlitheng mendesaknya. Ketika ia menyibakkan beberapa orang, maka orang-orang itu membentaknya, “He, apa yang akan kau lakukan Jlitheng ?” Jlitheng memandang berkeliling. Dilihatnya wajah-wajah yang tegang dan gelisah. “Aku hanya ingin melihat saja,“ desisnya. “Jangan kau ganggu. Kita menunggu ia terbangun.” “Apakah tidak dapat dibangunkan seperti membangunkan orang tidur nyenyak?” beritanya Jiiitheng. “Kau memang dungu. Ia tidak tidur sewajarnya tidur.“ sahut sallah seorang tua. “Tetapi nampaknya benar-benar seperti tidur,“ Jlitheng membantah. Tanpa menghiraukan orang-orang yang memandanginya dengan marah, Jlitheng mendekati tubuh Kuncung yang terbujur. Kemudian dirabanya seluruh tubuh itu. “Jlitheng, jika kau membuatnya celaka, maka kau akan dihukum oleh orang-orang disehiruh padukuhan,“ desis seorang bertubuh tinggi besar, “kita sedang menunggu Ki Buyut di Lumban Wetan. Sentuhan tanganmu mungkin akan menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki.” Jlitheng memandang orang itu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah aku boleh mengguncangnya seperti mengguncang orang t idur?” “Jangan,“ teriak seseorang. Tetapi Jlitheng sudah melakukannya. Perlahan-lahan diguncangnya kaki Kuncung yang tertidur nyenyak itu. Tidak seorangpun yang melihat, Jlitheng telah menyentuh tengkuk Kuncung disaat ia meraba-raba tubuh anak itu. Nampaknya Jlitheng menjadi curiga bahwa keadaan Kuncung disebabkan oleh kemampuan ilmu yang dapat membuatnya tidur. Ternyata yang dilakukan Jlitheng itu telah mengejutkan orang-orang yang berkerumun. Mereka hanya melihat Jlitheng mengguncang kaki Kuncung. Namun kemudian mereka melihat Kuncung itu per lahan-lahan mulai bergerak dan membuka matanya. “He, anak itu bangun,“ tiba-tiba saja Jlitheng berteriak. Setiap orang terguncang hatinya. Ternyata mereka benar- benar melihat Kuncung bergerak dan membuka matanya. Kemudian terdengar anak muda itu mer intih. Dengan cemas orang tua Kuncung bergeser mendekat. Diusapnya keningnya anaknya yang basah oleh keringat sambil menyebut namanya, “Supada, ngger Supada.” Tetapi ayahnya kemudian memanggil dengan nama panggilannya sehari-hari “Cung, Kuncung.” Namun itu lebih tajam menyentuh perasaannya, sehingga karena itu, maka iapun mencoba untuk bangkit. Dengan gemetar ayahnya membantunya mengangkat kepalanya. Kemudian membantunya pula duduk diantara orang-orang Lumban yang mengerumuninya. Sejenak Kuncung kebingungan. Dipandanginya orang-orang yang mengerumuninya. Kemudian terdengar ia bertanya, “Dimanakah aku sekarang ?” “Kau berada di banjar ngger. Banjar padukuhan kita sendiri,“ sahut ayahnya. Tetapi nampaknya Kuncung masih bingung. Bahkan tiba- tiba saja ia bertanya, “Dimanakah kedua orang yang menger ikan itu sekarang?” “Siapa ?“ bertanya beberapa orang-orang Lumban hampir berbareng. Kuncung menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak tahu. Tetapi mereka telah membawa aku naik kebukit itu. Mereka memaksa aku menceritakan sesuatu yang tidak aku ketahui.” “Apa yang harus kau cer itakan?” Kuncung menar ik nafas dalam-dalam. Beberapa orang kemudian berusaha untuk mengatur diri, sehingga orang- orang yang mengerumuni Kuncung dapat melihat dan mendengar ia berceritera. Kuncunmgpun kemudian mencer itakan apa yang dialaminya. Sejak ia kembali dari sungai yang hampir kering itu. Bagaimana ia bertemu dengan dua orang yang garang dan membawanya pergi. Iapun menceritakan apa yang ditanyakan oleh kedua orang itu kepadanya dan bagaimana ia mulai memukulnya. Orang-orang Lumban itu mendengarkan ceritera Kuncung dengan tegang. Bahkan merekapun menjadi ngeri mendengarnya, seolah-olah mereka melihat dan mengalami apa yang telah dialami olah anak muda itu. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar seseorang tertawa. Ketika orang-orang Lumban itu berpaling, mereka melihat Jlitheng berusaha menahan tertawanya. “Kenapa kau tertawa ?“ bertanya beberapa orang hampir bersamaan. Jlitheng terkejut ketika ia menyadari bahwa semua orang memperhatikannya Dengan gagap iapun menjawab, “Aku geli mendengar ceritera seseorang yang baru saja dibawa hantu betina. He, bukankah Kuncung diculik wewe dan dikembalikan dibawah pohon randu alas ?” Kata-kata itu telah memper ingatkan orang-orang Lumban, bagaimana mereka menemukan Kuncung. Karena itu, maka orang-orang Lumban itupun mengangguk-angguk sambil berkata kepada diri sendiri,“ ia benar-benar kehilangan ingatan. Yang diceriterakan itu tentu bayangan yang dibuat oleh hantu betina itu.” Namun tiba-tiba saja salah seorang dara mereka yang mengerumuni Kuncung itu bertanya, “Jlitheng, jika yang terjadi itu sekedar khayalan, maka kenapa hal itu pernah terjadi juga atasmu. Dan itu tentu bukan khayalan karena banyak orang yang melihat, bagaimana kau dibawa oleh dua orang yang garang, tepat seperti yang dikatakan oleh Kuncung.” “Itulah yang menggelikan,“ jawab Jlitheng, “ia pernah mendengar atau melihat dua orang yang membawa aku. Dalam ketidak sadarannya, karena ia dibawa oleh hantu betina, maka ingatan itu muncul seolah-olah terjadi atas dirinya. Dibantu oleh bayangan semu yang memang dibangunkan oleh ibhs betina itu, maka seolah-olah yang terjadi adalah benar-benar telah terjadi.” Orang-orang Lumban mengangguk-angguk kecil. Penjelasan Jlitheng memang masuk akal. Bahkan seorang tua berkata, “Darimana kau mendapatkan pengertian itu Jlitheng?” Pertanyaan itu telah mengejutkan Jlitheng. Namun ia berusaha menjawab, “Mungkin kek. Mungkin demikian. Aku hanya menduga-duga.” Tetapi orang-orang Lumban itu semakin mempercayai Jlitheng karena Kuncung kemudian tidak dapat menjelaskan, bagaimana mungkin ia berada dibawah pohon randu alas itu. Bahkan tertidur nyenyak seperti orang yang sedang pingsan.” Dalam pada itu, ketika Ki Buyut Lumban Wetan datang ke banjar, maka orang yang mengerumuni Kuncung itupun menyibak. Dihadapan Ki Buyut, Kuncung mencer iterakan kembali apa yang pernah diceriterakan. Sementara itu, ketika perhatian setiap orang tertuju kepada Ki Buyut dan Kuncung, maka Jlitheng berbisik kepada kawannya yang duduk disebelahnya, “Aku akan kesungai.” “Kenapa ?“ bertanya kawannya heran. “Perutku sakit sekali.” “He, kau dapat dibawa wewe seperti Kuncung.” “Sedangkan Kuncung saja telah dikembalikannya. Ia tentu tidak memer lukan orang lain lagi. Setidak-tidaknya untuk sisa malamini.” Kawannya tidak mencegahnya. Sementara yang lain t idak memperhatikannya, ketika Jlitheng kemudian meninggalkan banjar. Tetapi demakian ia sampai ketempat yang sepi maka iapun segera berlari sekencang-kencangnya. Bahkan ia telah mengerahkan kemampuan ilmunya untuk mendorong kekuatan kakinya, sehingga anak muda itupun kemudian telah berlari kencang sekali menuju kebukit yang berhutan lebat. Dengan tangkasnya anak muda itu meloncati batu-batu padas dilereng yang gelap. Didataran-dataran sempit, pepohonan tumbuh hampir pepat. Tetapi Jlitheng yang nampaknya sudah terbiasa itu, dapat menempuhnya dengan cepat seolah-olah ia sedang berjalan dijalan yang datar dan rata. Ketika ia sampai ketempat Kiai Kanthi, dilihatnya orang tua itu duduk merenungi perapian yang kecil. Ia berpaling ketika ia mendengar langkah seseorang mendekati. Namun Kiai Kanthi seolah-olah sudah mengetahui, bahwa yang datang itu adalah Jlitheng. Karena itu, maka ia sama sekali t idak bergeser. Hanya wajahnya sajadah yang bergerak sambil tersenyum. “Marilah ngger. Silahkan. Aku sudah menduga, bahwa kau akan datang kemari,“ berkata Kiai Kanthi. Jlitheng masih berdir i tegak. Nafasnya terasa memburu. “Duduklah,” sambung Kiai Kanthi. “Dimana Swasti, Kiai?“ bertanya Jlitheng. “Baru mandi dibalik gerumbul itu. Untunglah kau mengambil jalan ini. Jika kau mengambil sebelah, Swasti akan terpaksa membenamkan dirinya,“ jawab orang tua itu. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun duduk disamping Kiai Kanthi. Sejenak ia mengatur pernafasannya. “Kiai,“ katanya kemudian, “aku sudah menduga, bukankah Kiai sudah mengembalikan seorang anak muda Lumban di bawah pohon randu alas ?” Kiai Kanthi t idak menyangkal. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya ngger. Aku sudah bingung, bagaimana caranya mengembalikan anak itu tanpa menumbuhkan kecurigaan. Aku sudah membunuh dua orang dilereng bukit itu. Tepatnya, Swastilah yang sudah melakukannya.” “Aku sudah menduga, bahwa Kuncung tentu dibawa oleh orang-orang yang asing bagi kami. Siapakah kedua orang itu Kiai?” ber itanya Jlitheng. Kiai Kanthipun kemudian mencer iterakan apa yang dilihat dan didengarnya. Dari awal sampai akhir. “Jadi keduanya orang Pusparur i?” Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Menurut tangkapanku, keduanya memang orang-orang Pusparuri. Mudah-mudahan mereka tidak sedang menyelubungi diri dengan sikap dan sebutan itu.” “Dimana keduanya sekarang ?” “Aku mengubur mereka dibawah pohon nyamplung yang besar itu.” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Swasti menyibak gerumbul dan berjalan melintas. Seperti biasanya gadis itu tidak mau duduk bersamanya. Ia duduk beberapa langkah dibelakang ayahnya, bersandar sebatang pohon menghadap kedalam gelapnya malam. “Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “nampaknya daerah ini menjadi semakin banyak didatangi oleh orang-orang yang sebenarnya asing bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon.” “Termasuk kami berdua,“ tiba-tiba saja Swasti memotong. “Ya,“ jawab Jlitheng, “juga termasuk aku dan Daruwerdi. Bahkan ketika aku mengikuti Daruwerdi kebukit gundul, ketika kami sedang kebingungan mencari Kuncung, Daruwerdi sudah menyebut satu nama lagi. Cempaka. Mungkin nama sebenarnya, tetapi mungkin juga sekedar sebulan seperti Ular Sanca itu.” “Dan apakah angger melihat orang yang disebut Cempaka ?“ bertanya Kiai Kanthi. “Tidak Kiai. Aku lebih berat mencari Kuncung daripada menunggui Daruwerdi yang sedang menunggu Cempaka, Ketika kemudian aku kembali kebukit gundul itu, Daruwerdi sudah tidak ada lagi.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia berdesah, “Nasibku agaknya memang kurang baik. Aku telah memasuki daerah yang sedang bergejolak.” Jlitheng tidak menyahut. Namun Swastilah yang kemudian berkata, “Sudah aku katakan ayah. Apakah tidak sebaiknya kita mencar i tempat tinggal yang lain. Yang tidak dibayangi oleh kecurigaan dari segala pihak dan tidak selalu dicemaskan oleh peristiwa-per istiwa seperti yang baru saja terjadi. Kita berusaha menolong seseorang. Tetapi kita tidak dapat menyatakan dir i kita dengan terus terang.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang tempat ini dapat menumbuhkan ketegangan dihati. Tetap aku belum memastikan bahwa tempat ini tidak akan dapat menjadi tempat yang baik Swasti.” “Dugaan-dugaan yang mengandung banyak kemungkinan itu memang dapat saja kita lakukan. Tetapi kita tidak akan dapat hidup dengan tenang dalam bayangan kegelisahan seperti sekarang,” Swasti berhenti sejenak, lalu, “yang baru saja kita lakukan telah membuat kita sangat lelah. Bukan saja badan kita, tetapi perasaan kita. Suaraku hampir menjadi serak sama sekali, karena aku harus berteriak-teriak menirukan suara hantu betina yang belum pernah aku dengar. Kemudian kita berlari- lari bersembunyi, justru karena kita sudah menolong seseorang.” “Swasti,“ berkata ayahnya dengan sareh, “aku masih berharap untuk menemukan har i kemudian yang baik disini.” “Bukan itu,“ bantah Swasti, “aku tahu, justru keadaan yang menegangkan itulah yang sudah menarik hati ayah.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah hanya aku saja yang sudah tertarik? Seandainya aku mengiakan permintaanmu untuk meninggalkan tempat ini dan aku benar berangkat esok pagi, apakah kira-kira kau akan mengikut i aku atau kau justru akan tetap tinggal disini ?” “Ah,” Swasti berdesah. Sementara ayahnya tersenyum. Katanya, “Swasti. Aku mengenalmu sejak kau masih bayi. Aku tahu sifat dan watakmu.” “Ayah selalu berkata begitu,“ Swasti berdesis. Tetapi ayahnya masih saja tersenyum. Bahkan Jlitheng-pun tersenyum pula. Katanya, “Kiai, daerah seperti ini memang menjemukan, tetapi sekaligus sangat menarik untuk diperhatikan. Adalah wajar bahwa kita yang sudah terlanjur mengetahui serba sedikit bayangan-bayangan yang rahasia didaerah ini, ingin melihat kelanjutan dan apabila mungkin penyelesaian dari peristiwa ini.” “Sifat ingin tahu seseorang adalah wajar sekali ngger. Tetapi mungkin diantara kita ada beberapa perbedaan. Jika kami benar-benar hanya didorong oleh sekedar ingin tahu. Mungkin kau mempunyai kepentingan yang lain,“ berkata Kiai Kanthi. “Atau sebaliknya Kiai. Setidak-tidaknya kita masing-masing mempunyai kepentingan yang beralasan sudut penglihatan kita masing-masing,“ sahut J litheng. “Itulah ujud kecur igaan yang dikatakan oleh Swasti. Tetapi itupun wajar. Dan kadang-kadang saling mencurigai adalah menarik sekali,“ sahut Kiai Kanthi. Jlitheng tertawa. Namun kemudian katanya, “Ah, sudahlah Kiai. Aku hanya ingin meyakinkan, apakah dugaanku benar. Aku menjadi geli mendengar, bagaimana orang-orang Lumban mencer iterakan tentang hantu betina yang tertawa terkekeh- kekeh saat ia mengembalikan Kuncung.” “Tetapi suaraku hampir putus karena aku harus berteriak keras-keras,“ tiba-tiba saja Swasti menyahut hampir diluar sadarnya. Jlitheng tertawa tertahan, sementara Kiai Kanthi tersenyum sambil berkata, “Kami sadar apa yang kami lakukan. Kami-pun memang berharap bahwa angger dapat membangunkan anak yang tertidur itu meskipun kami agak cemas, bahwa yang menjumpai keadaan anak itu justru adalah angger Daruwerdi.” “Aku masih harus menemukan anak muda itu,“ berkata Jlitheng, “tetapi tentu aku sudah kehilangan orang yang disebutnya bernama Cempaka. Mudah-mudahan pada saat yang lain aku akan dapat menemukannya dalam keadaan yang bagaimanapun juga,“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “sudahlah Kiai. Aku minta diri. Mungkin masih ada yang harus aku lakukan. Jika kawan-kawanku tidak lelah karena hampir semalam suntuk mereka harus mencari Kuncung, maka aku akan kembali bersama mereka untuk meneruskan kerja kita, membuka padepokan kecil itu.” Ketika Jlitheng turun dari bukit itu dengan hati-hati. karena ia masih memperhitungkan kemungkinan hadirnya Daruwerdi, maka langit disebelah Timurpun mulai dibayangi oleh warna merah. Karena itu, maka ketika ia sudah yakin bahwa seorangpun yang melihatnya, maka iapun segera berlari-lari menuju kopadukuhannya. Ternyata banjar padukuhan Lumban Wetan telah sepi ketika ia datang memasuki regolnya. Hanya tiga orang anak muda yang sedang berbaring digardu. Mereka terkejut ketika tiba-tiba saja melihat seseorang berdiri dimuka gardu. “Anak setan,“ desis salah seorang dari mereka, “kau mengejutkan kami Jlitheng.” Jlithengpun kemudian duduk diantara mereka sambil bertanya, “Apakah Kuncung sudah pulang ?” “Ya. Ia masih saja mengigau tentang dua orang yang berwajah menger ikan,“ jawab salah seorang dar i mereka. Namun yang lain menyahut, “tetapi ada bekas biru-biru pengab diwajahnya. Jika ia tidak berkata sebenarnya, bahwa kedua orang itu telah memukulnya, maka apakah bekas biru- biru itu benar2 akan terdapat diwajahnya.” “Kau memang bodoh,“ jawab Jlitheng, “setan betina itu tentu tidak berhati-hati. Ketika ia membawa Kuncung, mungkin wajah anak itu telah membentur pepohonan atau mungkin batu atau apapun, sehingga wajah itu telah menjadi merah biru.” Yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Sudahlah. Aku akan tidur. Semalam suntuk aku tidak tidur sama sekali. Menjelang pagi aku masih mempunyai waktu. Mudah-mudahan tidak lambat bangun sehingga orang-orang yang- pulang dar i pasar lewat jalan ini akan membangunkan aku.” “Dan mudah-mudahan kau tidak dibawa hantu betina,“ desis Jlitheng. Tentu saat begini anak muda itu sambil membenai selimutnya. Jlitheng tidak lama berada digardu itu. Iapun kamudian bangkit dan melangkah pulang kerumahnya. Tetapi biyungnya tidak gelisah meskipun semalam suntuk Jlitheng tidak pulang, karena ia sudah mendengar dari seseorang, bahwa Jlitheng telah berada di Banjar. “Orang sudah lama pulang,“ berkata ibunya, “apa kerjamu di Banjar ?” “Menemani kawan-kawan yang bertugas digardu,“ jawab Jlitheng singkat, “dan aku pergi kesungai barang sebentar.” Ibunya tidak bertanya lagi. Sementara Jlithengpun kemudian pergi kepakiwan, mengisi jambangan dan kemudian mandi untuk menghapus keringat dan kotoran yang melekat di tubuhnya. Namun dalam pada itu, Jlitheng tidak dapat melepaskan ingatannya kepada peristiwa yang baru saja terjadi. Dua orang Pusparuri yang terbunuh. Sayang, bahwa mayatnya telah dikuburkan dan ia malas untuk membuka kembali. Jika belum terlanjur, maka ia akan dapat memastikan dari ciri-cirinya, apakah kedua orang itu benar-benar orang-orang Pusparuri, karena banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin orang-orang Kendali Putih yang menyebut dirinya sebagai orang-orang Pusparuri, atau mungkin justru pihak lain sama sekali, atau bahkan kawan-kawan Daruwerdi. Sehari itu Jlitheng tidak meninggalkan rumahnya. Siang hari ia berbaring dibelakang dapur, dibawah sebatang pohon yang rimbun, diatas sehelai ketepe daun kelapa yang dianyam. Sambil memandangi dedaunan yang bergetar ditiup angin, ia telah mencoba mengurai per istiwa yang telah terjadi dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon selama ini, sampai pada saat terakhir. Bahkan sepercik-percik masih juga membersit kecurigaannya kepada Kiai Kanthi dan anak gadisnya, Swasti. “Tetapi nampaknya mereka adalah orang-orang yang jujur dan sederhana dalam sikap,“ berkata Jlitheng kepada diri sendiri, “meskipun keduanya ternyata mewarisi cabang ilmu kanuragan yang luar biasa.” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya kedua orang ayah dan anak itu telah merupakan pesona yang tidak dapat dilupakannya, sehingga setiap saat, rasa-rasanya ia angin pergi kebutan itu seperti ia ingin pulang kerumah sendiri. Tetapi hari itu Jlitheng tidak dapat mengajak kawan- kawannya untuk pergi ke bukit, karena Jlitheng mengetahui bahwa kebanyakan lawan-kawannya lelah dan mengantuk, karena hampir semalam suntuk mereka telah mencari Kuncung. Sementara Jlitheng sendiri juga ingin beristirahat setelah semalam-malaman berlari- lari menyusuri bulak dan lereng bukit. Dari bukit gundul sampai kebukit yang berhutan lebat. Hari itu setiap mulut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih membicarakan bagaimana seorang anak muda telah hilang di culik iblis betina. Dari pintu kepintu orang-orang Lumban membicarakannya, bahkan ceritera itupun telah mekar dan menjadi semakin mengerikan. “Kuncung menjadi seperti orang gila. Ia mengigau tentang dua orang yang bertubuh tinggi kekar bermata merah dan bersenjata pedang yang besar sekali,“ berkata seseorang diantara kawan-kawannya. “Ia memer lukan waktu dua tiga hari untuk dapat pulih kembali kesadarannya,“ sahut yang lain. “Tetapi Kuncung dapat menceriterakan dengan pasti, apa yang terjadi atasnya berhubungan dengan dua orang yang dikatakannya itu,“ yang lain menyambung. Seorang tua yang berambut putih memotong pembicaraan itu, “Biasanya memang demikian. Seseorang yang dibawa oleh hantu perempuan, ia merasa mengalami sesuatu seperti benar-benar telah terjadi.” Orang-orang yang mendengarkan cer itera itu mengang- guk-angguk. Mereka percaya kepada orang tua yang mereka anggap, mempunyai banyak pengalaman itu. Namun dalam pada itu, disaat orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon sibuk berbicara tentang hantu perempuan yang membawa Kuncung, Daruwerdi mencoba merenungi ceritera itu dari sudut yang lain. Ia tertarik kepada ceritera Kuncung tentang dua orang yang datang kepadanya dan membawanya pergi kebukit. Karena itu, maka Daruwerdi telah memer lukan datang kerumah Kuncung untuk mendengar sendiri, apakah yang dialaminya, yang menurut orang banyak hanyalah sekedar bayangan yang tumbuh dikepalanya karena ia pernah melihat atau mendengar peristiwa serupa yang terjadi atas Jlitheng. Sehingga hantu perempuan itu tinggal mempertajam angan- angan ijtu, sehingga seolah-olah telah terjadi sebenarnya alasnya. Ceritera Kuncung memang menarik perhatian Daruwerdi. Meskipun ada juga kebimbangan, bahwa mungkin yang dikatakan oleh orang-orang Lumban itu benar, namun ada juga sepercik dugaan, bahwa sebenarnya yang diceriterakannya itu telah terjadi. “Dua orang itu benar-benar datang ke Lumban dan membawa Kuncung ke bukit. Kemudian memaksa Kuncung berbicara sehingga anak itu menjadi ketakutan. Ketika orang- orang itu mulai memukulnya, maka ia menjadi pingsan. “ Daruwerdi mencoba mencari kesimpulan “ baru ketika Kuncung dit inggalkan, terjadilah sesuatu yang aneh itu. Yang tidak dapat aku jajagi dengan nalar, bagaimana mungkin ia dapat sampai kebawah pohon randu alas.” Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menganggap bahwa hantu betina itu telah menemukan Kuncung. Tetapi ia kecewa bahwa anak itu seolah-olah tidak dapat berbuat apa-apa, justru karena ia pingsan. Karena hantu betina itu mengetahui bahwa orang-orang Lumban mencari seseorang maka hantu yang baik itu telah mengembalikan Kuncung kepada orang-orang Lumban. “Persetan,“ tiba-tiba Daruwerdi menggeram aku tidak peduli tentang hantu itu. Tetapi dua orang itu benar-benar menarik perhatian, setelah dua orang yang terdahulu datang menangkap Jlitheng.” Diperjalanan kembali kepondoknya, Daruwerdi menegang ketika ia teringat seorang gadis yang berada dilereng bukit itu. Ia mulai curiga sejak kedua perantau itu memilih tempat tinggal yang aneh tanpa mengenal takut terhadap binatang- binatang buas. Padahal mereka berdua hampir saja telah diterkamoleh seekor har imau. “Apakah ada hubungannya antara hantu betina itu dengan gadis perantau itu ?” pertanyaan itu mulai membersit dihatinya. Tetapi Daruwerdi belum dapat mengambil kesimpulan. Ia masih harus banyak melihat dan mendengar, apa yang di Lumban. Dalam pada itu, dihari-hari berikutnya, orang-orang Lumban sudah mulai melupakan peristiwa yang menggemparkan itu. Mereka tidak banyak lagi membicarakan hilangnya Kuncung, meskipun satu dua orang masih menggelengkan kepalanya apabila mereka bertemu dengan Kuncung di jalan-jalan padukuhan atau disawah. Karena setiap kali mereka berbicara, Kuncung masih tetap yakin, bahwa yang dialaminya dengan dua orang yang garang itu bukan sekedar bayangan. Tetapi benar-benar telah terjadi atasnya. Namun ia tetap tidak dapat mengatakan, kenapa tiba-tiba saja ia sudah berada dibawah pohon randu alas. Sementara itu, Jlitheng telah mulai sibuk pula membantu Kiai Kanthi bersama beberapa orang kawannya. Mereka telah membuka sebuah dataran sempit dilereng bukit itu. Merekapun mulai mempersiapkan membuat sebuah gubug kecil untuk tempat tinggal Kiai Kanthi dengan anak gadisnya. Disamping itu, maka Jlitheng tidak henti-hent inya memperhatikan arus air yang meluap dari belumbang dilereng bukit itu. Ia mulai membicarakan, kemana air itu akan diarahkan. Jlitheng dan Kiai Kanthi bersepakat, bahwa mereka tidak akan membuat parit yang khusus dilereng bukit. Mereka akan mengarahkan air itu kesebuah lekuk yang akan mengalirkan air itu turun sampai ketempat yang mereka kehendaki. “Setelah air itu berada didataran, barulah kita akan membuat saluran seperti yang kita rencanakan,“ berkata Kiai Kanthi, “selebihnya, sisa air itu akan sangat berguna pula.” “Untuk sementara kita akan mengalirkan air itu kesungai. Dengan demikian kita tidak perlu membuat saluran induk yang panjang. Apalagi sungai itu mengalir dekat perbatasan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Bahkan kadang-kadang sungai itu berada didaerah Lumban Wetan, tetapi di bagian yang lain sungai itu menjorok masuk kedaerah Lumban Kulon,“ sahut J litheng. “Tetapi, di wilayah manakah sungai itu memasuki daerah Lumban ngger?“ bertanya Kiai Kanthi. “Sungai itu memasuki daerah Lumban di Lumban Wetan Kiai. Katakanlah bahwa bukit dan dataran dibawah bukit yang menghadap kepadukuhan itu adalah daerah Lumban Wetan. Tetapi disisi yang lain, dataran itu adalah tlatah Lumban Kulon, meskipun mereka seakan-akan tidak menghiraukannya karena sampai saat ini tanah itu tidak pernah digarap.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Jlitheng yang agaknya mengetahui perasaan Kiai Kanthi berkata, “Kiai, terlalu memikirkan masa yang jauh didepan. Tetapi orang Lumban sendiri kurang memperhatikan batas antara dua kabuyutan itu.” Kiai Kanthi mengangguk. Jawabnya, “Ya ngger. Sejak ayunan cangkul yang pertama kita harus sudah mulai memikirkan. Jika sungai itu mengalirkan air yang lebih banyak, maka mulailah timbul persoalan antara Lumban Wetan dan Lumban Kulon yang sampai saat ini nampaknya tidak pernah berselisih. Air itu akan memancing masalah, karena jika air itu mengalir menyusuri sungai itu, maka kedua padukuhan itu tentu akan segera berpikir untuk memanfaatkannya. Mereka tentu ingin mengaliri sawah mereka yang kering seperti yang akan kita lakukan dibawah bukit ini.” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Kedua daerah itu akan dapat membicarakannya dengan baik. Mereka akan membendung sungai itu dan menaikkan airnya kekedua arah. Satu parit itu akan menyusuri bulak-bulak di Lumban Wetan dan satu lagi. kearah Lumban Kulon.” “Demikianlah menurut nalar. Tetapi kadang-kadang akan timbul perasaan yang dapat mengaburkan nalar yang bening. Iri, dengki dan barangkali juga ketamakan dari satu dua orang di Lumban Wetan atau di Lumban Kulon. Jika demikian halnya, maka mulailah persoalan yang tidak diharapkan itu,“ berkata Kiai Kanthi. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita berdoa Kiai. Mudah-mudahan tidak akan timbul persoalan yang demikian dipadukuhan ini.” “Mudah-mudahan ngger. Tetapi kita harus sudah berjaga- jaga, apakah yang sebaiknya dilakukan. Meskipun air itu masih kurang.” “Mudah-mudahan Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan dapat mengatasi masalahnya. Keduanya sudah tahu, bahwa Kiai akan membangun padepokan disini,“ desis Jlitheng. Demikianlah maka mereka semakin hari menjadi semakin gairah bekerja. Meskipun kawan-kawan Jlitheng t idak banyak, tetapi mereka senang melakukan pekerjaan itu, Disaat mereka tidak mempunyai pekerjaan disawah, mereka menemukan cara untuk mengisi waktu dilereng bukit itu. Sementara itu, Jlitheng sudah menelusuri lekuk- lekuk batu padas yang akan dapat dipergunakannya untuk menguasai arus air. Beberapa tempat, ia masih harus menimbuninya dengan tanah yang cukup banyak agar arah air itu tidak terbagi. Sedangkan dibagian lain, lekuk- lekuk padas itu sudah merupakan par it yang dibuat oleh arus air hujan dimusim basah. Ketika dataran sempit dan gubug kecil itu baru dikerjakan oleh anak-anak muda Lumban Wetan, Jlitheng dan Kiai Kanthi justru mulai menggarap saluran induk. Mereka menutup lekuk- lekuk yang tidak per lu, tetapi juga mengeduk batubatu padas yang membatasi lekuk yang satu dengan lekuk yang lain, yang sesuai dengan arah yang dikehendaki oleh Kiai Kanthi dan Jlitheng. Dengan demikian, maka kerja itu merupakan kerja yang menjadi semakin besar. Tetapi Jlitheng tidak ingin banyak menarik perhatian, sehingga hanya kawan-kawannya yang terdekat sajalah yang ikut membantunya, seolah-olah yang mereka kerjakan sama sekali tidak berarti apa-apa. Ketika anak-anak muda itu sibuk bekerja, maka Swasti-pun sibuk menyiapkan minum dan makanan apa saja yang ada. Kadang-kadang seekor binatang buruan. Tetapi kadang- kadang hanya beberapa buah gayam dan ikan air panggang. “Pada saatnya, kita akan dapat makan jagung disini,“ berkata Kiai Kanthi, “aku sudah menanamnya dilereng yang agak terbuka itu. Nampaknya benih itu sudah tumbuh.” Tetapi Jlitheng sambil tertawa menjawab, “Berapa bulan lagi jagung itu akan berobah Kiai? Apakah kira-kira saluran itu masih belumsiap seumur jagung itu ?” Kiai Kanthipun tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Namun betapapun Jlitheng membatasi kerja itu, tetapi hal itu sangat menarik perhatian Daruwerdi. Karena itu, maka iapun memerlukan naik kelereng bukit untuk menyaksikan sendiri, apa yang sebenarnya telah terjadi. Kehadirannya dilereng bukit itu telah mengejutkan Swasti yang baru sibuk memasak. Karena itu, sejenak ia tergagap. Namun kemudian ia mencoba untuk menguasai perasaannya. “Dimana ayahmu ?“ bertanya Daruwerdi. “Mereka sedang bekerja dibawah,“ jawab Swasti. “Apakah kau tidak takut berada disini sendir i ?” “Kenapa takut ? Bukankah sekarang siang har i ? Dimalam hari aku disini bersama ayah.” Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia memandang gadis perantau yang berpakaian kusut itu. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata didalam hati, “Gadis kumal ini berwajah cantik juga. Jika saja ia sempat merawat tubuhnya, maka ia akan menjadi seorang gadis yang tidak ada tandingnya di Lumban.” Swasti yang merasa dipandang oleh Daruwerdi dengan tajamnya, wajahnya menjadi merah. Selangkah ia beringsut. Tanpa disengaja maka iapun berjongkok dimuka perapian dan melemparkan pandang matanya ke api yang menyala. Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Beberapa langkah ia maju mendekat. Katanya, “Kenapa kau lebih senang tinggal disini daripada dipadukuhan ?” Swasti menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika ia mendengar langkah Daruwerdi yang mendekat. Tetapi Swastil tidak-berani memalingkan wajahnya. Sebagai seorang gadis yang jarang bergaul dengan orang lain, maka sikap Daruwerdi benar-benar membuat jantungnya bagaikan semakin cepat berdetak didalam dadanya. “Kenapa he?” Daruwerdi mendesak. Swasti menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia menjawab, “Semuanya terserah kepada ayah. Ayah memilih tempat ini. Dan akupun hanya mengikuti saja.” “Tetapi kau berhak untuk mengajukan pendapatmu. Katakan kepada ayahmu, bahwa kau takut berada disini seorang diri meskipun siang hari. Jika harimau itu datang kemari, maka kau akan dapat diterkamnya.” “Aku dapat memanjat,“ jawab Swasti tiba-tiba. Daruwerdi mengerutkan keningnya. Katanya, “Menarik sekali. He, cobalah memanjat. Anggaplah aku seekor harimau yang akan menerkammu.” Adalah diluar dugaan sama sekali, bahwa tiba-tiba saja Daruwerdi itupun berjongkok disampingnya. Swasti adalah seorang gadis yang memiliki keberanian yang melampaui orang kebanyakan. Ia berani melawan Jlitheng dan bahkan ia telah mengalahkan dan membunuh dua orang yang mengaku dari perguruan Pusparur i. Tetapi demikian seorang anak muda berjongkok disampingnya, maka tubuhnya tiba- tiba saja telah menjadi gemetar. “Swasti. Namamu Swasti bukan?“ panggil Daruwerdi. Swasti menjadi semakin gelisah. Keringat dingin telah mengalir diseluruh batang tubuhnya, sehingga rasa-rasanya seluruh badannya menjadi basah. “Swasti,“ ulang Daruwerdi, “sebaiknya kau minta dengan sangat kepada ayahmu. Daripada ia membuat gubug di lereng bukit ini, aku kira ia lebih baik membuat gubug di padukuhan Lumban. Sementara gubug itu belum siap, maka kau dan ayahmu dapat tinggal dipondokku.” Swasti masih gemetar. Sejengkal ia bergeser. Kemudian katanya, “Semuanya terserah kepada ayah.” “Ah, tentu tidak. Kau adalah anak gadisnya. Kau bahkan mungkin satu-satunya anak. Karena itu, permintaanmu tentu didengarkannya,“ berkata Daruwerdi. Swasti tidak segera menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Keringatnya masih saja mengalir ditubuhnya. Sementara Daruwerdi berkata selanjutnya, “Kau tidak boleh menyia-nyiakan umurmu sekarang ini. Nampaknya kau sudah meningkat dewasa. Dan j ika kau sadar, maka kau berwajah cantik.” “Ah,“ tubuh Swasti tiba-tiba saja telah meremang. Ia hampir tidak pernah sempat menilai dirinya. Jika sekali-kali ia bercermin diwajah air telaga yang bening meskipun kotor, ia tidak berani menyebut wajahnya sendiri, apakah ia seorang gadis yang cantik. “Aku tidak berbohong,“ desis Daruwerdi, “hanya karena kau tidak sempat merias diri,maka kau tidak menyadari bahwa kau mempunyai bekal yang paling bernilai bagi seorang perempuan.” “Ah,“ sekali lagi Swasti berdesis, “aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menilai dir iku sendir i.” Daruwerdi tertawa pendek. Katanya, “Mulailah sekarang. Dan mulailah hidup dalam suatu lingkungan masarakat yang barangkali jauh lebih baik dari pada hidup memencilkan dir i. Aku bersedia menolongmu. Aku mempunyai pengaruh yang khusus di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kedua Buyut padukuhan Lumban itu serta anak-anaknya menaruh hormat kepadaku, sedangkan anak-anak muda di Lumban Wetan dan Lumban Kulon telah memohon agar aku memberikan tuntunan kanuragan kepada mereka. Karena itu, maka apa yang akan aku katakan, orang-orang Lumban tentu akan melakukannya. Apalagi orang-orang Lumban termasuk orang yang baik dan ramah. Mereka tentu dengan senang hati menerimamu.” Swasti menjadi semakin berdebar-debar. Ketika Daruwerdi bergeser sejengkal mendekat, maka Swastipun telah bergeser setapak menjauh. “Pikirkan,“ tiba-tiba Daruwerdi berdiri, “sebelum kau dikoyak harimau. Sekarang aku akan menemui ayahmu dan anak-anak Lumban Wetan yang membantunya. Sebenarnya perbuatan itu adalah perbuatan yang bodoh sekali. Tetapi juga mencur igakan.” Wajah Swasti menegang sejenak. Tetapi ia tidak menjawab. Baru ketika Daruwerdi melangkah meninggalkannya, ia menarik nafas dalam-dalam. Bahkan, diam-diam ia masih saja memperhatikan.anak muda itu hilang dibalik gerumbul-gerumbul yang padat. Ketika Daruwerdi tidak nampak lagi, maka Swastipun menjadi gelisah. Ia tidak tahu, perasaan apa yang tumbuh dihatinya. Ia menjadi jengkel atas sikap anak muda itu, sehingga ia menjadi gemetar. Tetapi ia t idak marah karenanya, meskipun ia tidak begitu senang karena sikap itu. “Hanya karena sikapnya ?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah tumbuh dihati Swasti. Tetapi Swasti tidak berani memikirkannya lebih jauh. Bahkan ia berusaha untuk membatasi perasaannya yang menerawang mengikuti anak muda yang bernama Daruwerdi itu. “Ah, aku harus menyiapkan makanan ini,” Swasti berdesah. Dicobanya untuk memusatkan perhatiannya kepada kerjanya. Namun kadang-kadang ia masih saja merenung tanpa ujung dan pangkal. Bahkan kadang-kadang ia menyesali sikap ayahnya. Pendapat anak muda yang bernama Daruwerdi itu ada baiknya juga. Ia dapat tinggal di padukuhan, meskipun mungkin dipaling ujung yang berbatasan dengan pategalan atau hutan perdu yang tidak tergarap. “Tetapi ayah lebih senang menunggui belumbang ini,“ desisnya. Dalam pada itu, Kiai Kanthi dibantu oleh Jlitheng dan beberapa orang kawannya, masih saja bekerja keras. Mereka telah membuka beberapa bagian dari dataran yang sempit dilereng bukit. Sementara Kiai Kanthi sendiri dan Jlitheng telah selesai menyiapkan saluran yang akan dilalui air j ika air itu sudah diarahkan menuju kelereng yang berhadapan dengan padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Dibawah bukit itu akan dibuka tanah persawahan yang akan digarap oleh Kiai Kanthi dengan anak gadisnya. Namun yang penting bahwa air itu akan dapat disalurkan kedaerah persawahan milik orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Meskipun tidak akan mencukupi untuk seluruh tanah persawahan, tetapi yang sebagian itu tentu akan member ikan banyak perubahan. Dengan tekun Jlitheng telah berbuat sejauh dapat dilakukan. Kiai Kanthi yang memiliki pengalaman lebih banyak, bahkan agaknya juga berpengalaman menguasai air, telah menanam patok-patok pada lereng-lereng padas yang akan menjadi saluran induk. Kadang-kadang Jlitheng harus menimbuni sebuah lekuk yang dalam, agar arus air tidak terlalu deras, sehingga dapat merusakkan tanggulnya sendiri. Namun kadang-kadang ia harus memecah padas yang keras untuk menghubungkan saluran-saluran yang akan dipergunakannya. Orang-orang yang bekerja dilereng bukit itu terkejut ketika mereka melihat Daruwerdi muncul dari balik gerumbul perdu. Dengan tatapan mata yang tajam ia memandangi keadaan sekelilingnya. Dalam waktu yang tidak terlalu panjang, maka telah terjadi perubahan yang besar dilereng bukit itu. Bukan hasil pekerjaan yang sudah hampir rampung tetapi Daruwerdi menjadi berdebar-debar melihat jiwa dari rencana itu. Dengan ketajaman nalarnya, ia segera dapat mengerti, apa yang akan terjadi. Karena itu, maka Daruwerdi menjadi berdebar-debar. sekilas terbayang hasil pekerjaan yang akan merubah tatanan kehidupan dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. “Inilah yang telah mengikat orang tua itu disini,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya, “bukan karena ia segan tinggal dipadukuhan seperti yang pernah dikatakannya, tetapi ternyata dikepala orang tua itu terbersit rencana yang besar.” Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun ia menjadi semakin kagum akan rencana itu. Meskipun kemudian ia mencoba memperkecil arti kerja orang tua itu, “Mungkin yang dipikirkannya adalah sekedar air bagi tanah yang akan dibuka untuk dirinya sendir i, tanpa menyadari kegunaannya yang besar bagi Lumban.” Tetapi ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat beberapa orang Lumban yang membantunya. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda dari Lumban Wetan. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat seorang anak muda dari Lumban Kulon ikut pula diantara mereka. “Artinya, bahwa kerja ini dilakukan oleh orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon meskipun dalam perbandingan yang tidak seimbang,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya. “Marilah ngger,“ Kiai Kanthipun kemudian mempersilahkannya, “ini adalah sekedar pikiran orang tua dan anak-anak muda yang sederhana. Mungkin yang kami lakukan mempunyai arti dan bahkan tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi nampaknya sangat menyenangkan hati.” Daruwerdi melangkah mendekat. Ketika ia memandang Jlitheng, maka Jlitheng itupun tersenyum sambil berkata, “Sekerdar mengisi waktu karena tidak ada kerja disawah Daruwerdi.” Daruwerdi mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya, “Apa rencana Kiai sebenarnya ?” “Ah, sekedar membuat tempat tinggal dan sebidang tanah untuk mencari makan ngger,“ jawab Kiai Kanthi. “Untuk itu Kiai telah bekerja begitu keras ?” “Tanpa bekerja keras, aku tidak akan memiliki apa-apa, ngger. Dengan bantuan beberapa anak muda ini, aku akan mempunyai sebuah pondok kecil dan secabik tanah untuk menyebar benih jagung.” “Dan apakah yang lakukan dengan jalur-jalur air hujan itu ?” Daruwerdi mendesak. “Untuk mengalirkan air kesebidang tanah itu ngger,“ jawab Kiai Kanthi. “Jika demikian, aku mempunyai pikiran,“ berkata Daruwerdi. Namun Jlitheng telah menyahut, “Itulah Daruwerdi. Tetapi air itu tidak akan ker ing dikotak-kotak pertama tanah Kiai Kanthi. Jika air itu tersisa, maka air itu tentu dapat dipergunakan oleh orang-orang Lumban.” “Itulah yang aku katakan. Hal itulah yang ada dibenakku. Justru karena aku mengerti kepentingan orang-orang Lumban,“ berkata Daruwerdi. “Dan kami sudah mengerjakannya,“ sahut Jlitheng, “meskipun sangat lamban.” Wajah Daruwerdi menegang. Ia merasa seolah-olah Jlitheng tidak mau mendengar tanggapannya atas air yang melimpah, atau karena Jlitheng merasa telah memikirkannya terlebih dahulu. Namun dalam pada itu Jlitheng berkata, “Tetapi, apa yang kami kerjakan ini bukanlah pikiran kami. Kiai Kanthilah yang mula-mula menyebutnya. Ia melihat air yang melimpah tanpa dimanfaatkan oleh orang-orang Lumban. Karena keinginannya untuk membuat sebuah padepokan, maka kami anak-anak Lumban dapat saling mengambil manfaat. Kami membantu Kiai Kanthi, tetapi kamipun akan mendapatkan air yang sangat berharga bagi Lumban.” Daruwerdi memandang Jlitheng dengan tajamnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ditempat itu terdapat beberapa orang saksi atas pembicaraan mereka, sehingga orang-orang itu tahu benar, bahwa ia tidak akan dapat mengatakan bahwa pikiran untuk mengalirkan air ke sawah orang-orang Lumban itu adalah karena pikirannya. Anak-anak muda Lumban itu memang sudah mengerjakannya bersama Kiai Kanthi. perantau yang aneh itu. Sejenak Daruwerdi termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Siapapun yang memikirkannya, tetapi air itu memang diperlukan oleh orang-orang Lumban. Karena itu, kalian harus berbuat sebaik-baiknya, sehingga air itu tidak justru menjadi larut kedalam jalur-jalur air hujan dan hilang kedalamtanah.” “Demikianlah yang terjadi sekarang, Daruwerdi,“ jawab Jlitheng, “air belumbang yang melimpah itu mengalir ke lubang-lubang dan meresap kedalam tanah. Tetapi air itu tidak membuat tanah di Lumban menjadi basah, karena air itu mengalir dengan derasnya dibawah tanah.” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat membantah. “Lakukanlah kerja ini sebaik-baiknya,“ berkata Daruwerdi kemudian, “aku akan memberikan petunjuk-petunjuk kelak jika air itu sudah mulai mengalir kedataran.” Jlitheng menegang sejenak. Tetapi ia segera berusaha menghapus kesan itu diwajahnya. Bahkan kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Terima kasih Daruwerdi. Kami tentu akan memerlukan petunjuk dari banyak pihak. Mungkin kau mempunyai pengetahuan yang cukup banyak tentang jalur jalur air ditanah persawahan. Dan kamipun tentu akan minta petunjuk Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon.” Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan wajah yang berkerut ia memperhatikan keadaan disekelilingnya. Meskipun belum ada ujud, tetapi ia sudah dapat membayangkan, bahwa didataran sempit itu akan dibangun sebuah gubug sesuai dengan patok kayu yang nampak diempat sudutnya. Tidak terlalu jauh dari gubug itu, akan mengalir air dari belumbang yang melimpah. Sedikit lebih tinggi, dari gubug itu, akan terdapat sebuah gerojogan air yang kemudian merambat menuruni lereng sampai kedataran. Didataran itu kelak akan terdapat kotak- kotak sawah yang tidak akan pernah kering disegala musim. Lumpur yang basah terbentang diantara kotak-kotak pematang. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari keterlambatannya. Selama ia berada di Lumban, ia tidak pernah memikirkan perubahan yang dapat dilakukan atas padukuhan itu, sehingga akan dapat menambah besar pengaruhnya atas orang-orang Lumban. “Aku lebih banyak berpikir tentang masalah-masalah yang besar,“ katanya didalam hati. “Namun air itu bagi orang-orang Lumban akan menjadi masalah yang jauh lebih besar, meskipun bagiku hanyalah masalah yang kecil.” Untuk beberapa saat Daruwerdi masih memperhatikan dataran sempit itu. Beberapa orang, anak muda yang sedang bekerja di lereng itupun berhenti sejenak memperhatikan, apakah yang akan dilakukan oleh Daruwerdi. Tetapi Daruwerdi tidak menemukan sesuatu yang dapat di lakukan sebagai imbangan kekecewaan hatinya. Ia tidak dapat menemukan sesuatu yang akan dapat dianggap pikiran baru yang bermanfaat bagi Lumban. “Masih banyak waktu,“ katanya kemudian didalam hati, “aku akan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi padukuhan itu, sehingga mereka akan tetap menganggap aku orang terpenting dipadukuhan ini.” Dengan demikian, maka Daruwerdi tidak berada terlalu lama dilereng bukit itu. Sekali lagi ia masih mencoba untuk menyarankan agar Kiai Kanthi dan anaknya tinggal dipadukuhan. Tetapi dengan nada dalam Kiai Kanthi menjawab, “Ter ima kasih ngger. Aku sudah mulai dengan pekerjaan ini dibantu oleh anak-anak muda dari Lumban.” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku pernah mengatakan kepadamu Kiai. Kau adalah orang yang mementingkan dir imu sendiri. Seharusnya kau memperhatikan anak gadismu yang malang itu. Mungkin kau ingin mendapat sebutan cikal bakal, atau orang yang babad-babad sebuah padepokan yang tentu kau harap akan dapat terkenal kelak. Tetapi ketenaran namamu itu kau tebus dengan mengorbankan anak gadismu. Bukan saja jasmani, tetapi juga jiwani. Ia akan menjadi gadis yang dungu dan bebal. Gadis yang tidak akan pernah mendapatkan jodohnya dimasa mendatang, meskipun ia sudah lama melampaui masa remajanya.” Kata-kata itu telah menyentuh perasaan Kiai Kanthi, sehingga terasa dadanya bergetar. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Anakku yang malang. Tetapi apakah memang nasib telah membawanya ketempat yang sepi dan terasing? Anakmas, meskipun aku akan membangun sebuah gubug disini, aku akan berusaha untuk member ikan kesempatan anakku bergaul dengan orang-orang padukuhan. Ia akan ikut serta bertanam padi bersama gadis- gadis Lumban jika diperkenakan. Ia akan ikut menuai dan melakukan kerja yang lain. Jika air itu sudah turun ke dalam parit, maka sawah akan terbentang semakin luas, dan kesempatan ikut menggarap sawah bagi gadis-gadispun akan bertambah.” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata. “Agaknya kau memang orang yang keras hati, meskipun tanpa perhitungan. Itu terserah kepadamu. Anak itu adalah anakmu. Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan kau dan anakmu.” Daruwerdi tidak menunggu jawaban lagi. Dengan kesan yang buram ia melangkah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak- anak muda yang sedang bekerja dilereng bukit untuk membuat sebuah gubug kecil bagi tempat tinggal Kiai Kanthi dan anaknya. Tetapi kerja yang lebih besar dari itu adalah usaha mereka untuk menguasai arus air dar i belumbang yang melimpah itu. Di lereng yang menurun Daruwerdi menghentakkan tangannya dengan geram. Namun iapun kemudian bergumam, “Persetan dengan orang-orang Lumban. Aku tidak peduli. Biar tanahnya menjadi ker ing dan gersang. Atau Jlitheng akan diangkat menjadi pahlawan. Aku bukan orang Lumban, dan aku tidak akan t inggal di Lumban terlalu lama.” Dengan wajah yang gelap Daruwerdi menuruni tebing semakin cepat. Dengan tangkas ia meloncat dari batu kebatu padas yang lain, tanpa berpaling lagi. Sementara itu, Kiai Kanthi dan beberapa anak muda dari Lumban itupun telah melanjutkan kerja mereka. Dua orang diantara mereka telah memotong beberapa batang kayu yang akan dipergunakan sebagai tiang gubug kecil yang akan dibangun, sementara yang lain masih menebangi pohon- pohon yang tidak diper lukan didataran sempit itu. Sedangkan Kiai Kanthi, Jlitheng dengan satu dua orang lainnya, masih saja sibuk membenahi saluran air yang juga ingin segera diselesaikan. Dalam pada itu, jauh dari daerah Lumban, disebuah padepokan yang besar, tidak jauh dari pusat Kota Demak, seseorang sedang duduk dihadap oleh dua orang lainnya. Seorang yang berwajah bulat, bermata terang dan tajam. Meskipun beberapa helai rambutnya telah putih, tetapi nampak betapa tubuhnya yang kekar itu menyimpan kemampuan tiada taranya. Sedangkan kedua orang lainnya, masih nampak lebih muda. Wajah mereka nampak keras dan bersungguh- sungguh. Seorang dari mereka berkumis lebat, sedangkan yang lain berwajah halus dan tampan. Dengan sungguh-sungguh ketiganya sedang membicarakan teka-teki yang sedang mereka hadapi. Seolah-olah teka-teki yang tidak terpecahkan. “Mereka tidak pernah kembali,“ desis yang berkumis lebat. “Dua orang yang menyusul itupum tidak kembali,“ sahut yang lain. Orang yang berwajah bulat itupun mengerutkan keningnya. Katanya, “Kedua orang itu tidak tahu, apakah yang telah dilakukan oleh Ular Sanca itu.” “Tidak Kiai,“ jawab orang berkumis lebat, “kami hanya memer intahkannya untuk menyusul kedaerah Lumban. Mereka harus mencari keterangan, dimanakah Ular Sanca itu, atau mendengarkan kabar, apakah sebenarnya yang telah terjadi di daerah Lumban. Tetapi mereka tidak pernah kembali.” “Apakah menurut dugaanmu, Daruwerdi yang bergelar Padmasana itu berbuat curang ? Ia telah melepaskan perjanjian diantara kita dan mencari keuntungan bagi dir inya sendiri atau bahkan ingin memilikinya sendiri, karena pusaka itu akan dapat membuatnya menjadi seorang prajur it pinunjul ?” “Kiai Pusparuri,“ berkata orang berkumis lebat itu, “aku tidak dapat mengatakannya demikian. Menurut pengamatanku, ia adalah seorang anak muda yang keras hati, tetapi juga memegang teguh janj i yang telah disepakati.” “Siapa tahu, bahwa ketamakan yang tumbuh dihatinya karena keinginannya untuk menanjak jauh lebih cepat, telah merubah sifat-sifat yang kau kenal itu,“ sahut kawannya yang berwajah bersih. “Aku yakin,“ bantah orang berkumis. Namun kemudian suaranya menurun, “tetapi banyak kemungkinan yang dapat terjadi.” “Jadi apakah yang baik menurut pertimbanganmu Sentika?“ bertanya orang berwajah bulat itu. Orang berkumis lebat itu termangu-mangu. Dipandanginya orang berwajah bersih itu sejenak. Namun karena orang itu menunduk, maka ia t idak mendapatkan kesan apapun. “Kiai,“ berkata orang berkumis itu, “sulit untuk mengatakannya sekarang. Agaknya daerah Lumban merupakan rahasia yang harus dijajagi sendir i. Aku akan menemui Daruwerdi untuk menuntut pertanggungan jawab atas persetujuan yang sudah kita buat.” “Apa pendapatmu Laksita?“ bertanya orang berwajahl bulat itu kepada yang berwajah bersih. “Kita kurang terbuka Kiai. Kita tidak mengatakan yang sesungguhnya kepada kedua orang yang kita perintahkan untuk menyusul Ular Sanca. Dengan demikian, mereka tidak mudah untuk mendapatkan keterangan tentang Daruwerdi dan Ular Sanca itu. Mereka hanya tahu, bahwa salah seorang dari kita telah pergi ke Lumban dan tidak pernah kembali.” “Jadi, apakah sebaiknya yang kita lakukan menurut pendapatmu ?” “Aku kira, masih belum perlu kita atau salah seorang dari kita untuk pergi ke Lumban. Kita akan dapat memerintahkan satu dua orang yang dapat kita percaya, tetapi dengan keterangan yang jelas. Mereka harus mengetahui dengan pasti, apakah yang seharusnya mereka lakukan.” “Bagaimana j ika orang-orang itu bertemu dengan orang- orang Gunung Kunir atau orang-orang Kendali Putih atau perguruan-perguruan yang lain ? Jika nasib mereka buruk, maka meteka akan dapat diperas dan dipaksa untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak mereka mengerti,“ sahut orang berkumis lebat itu. “Jadi menurut kakang Sentika, orang-orang Gunung Kunir dan Kendali Putih masih belum mengetahui sama sekali tentang pusaka-pusaka itu ?“ bertanya Laksita. Orang berkumis itu termangu-mangu. “Kita mendengar hal itu dari seorang perwira yang bertugas di Gedung perbendaharaan pusaka. Kemudian kita mendengar jalur perjalanan Pangeran Pracimasanti. Pengawalnya masih melihat pusaka itu sebelum Pangeran Pracimasanti dalam perjalanan jauhnya melewati daerah yang disebut Sepasang Bukit Mati. Yang satu bukit gundul dan yang lain berhutan lebat dan dihuni oleh binatang-biniatang buas. Sehingga hutan itu disebut hutan yang paling wingit, karena setiap orang yang menyentuhkan kakinya, akan mati ditelan binatang buas.” Kiai Pusparuri mengerutkan keningnya. Kemudian iapun memotong, “Kita sudah mendengar semuanya tentang hal itu. Tetapi bagaimana dengan orang-orang Kendali Putih, orang- orang Gunung Kunir, orang-orang yang menyebut dirinya perguruan Putih dar i aliran Gatra Bantala yang mempunyai ciri-ciri yang gila itu ?” Laksita termangu-mangu sejenak. Namun iapun menjawab, “Dugaanku justru yang menggelisahkan kita semuanya disini. Merekapun tentu sudah mendengar seperti yang kita dengar. Orang-orang dari Gedung Perbendaharaan Pusaka itu bukan orang-orang yang pandai menyimpan rahasia. Tetapi mungkin mereka belum mendengar jalur perjalanan Pangeran Pracimasanti yang melalui Sepasang Bukit Mati itu.” Kiai Pusparur i mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita akan segera mengambil sikap. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Pusaka itu akan member ikan pengaruh yang besar pada siapapun yang memilikinya. Orang itu akan mempunyai kewibawaan tinggi, kemampuan yang tidak ada duanya dalam olah kanuragan, dan pada pusaka itu sendiri tersimpan kekuatan gaib yang tidak ada duanya.” Sentika dan Laksita hanya mengangguk-angguk saja. Mereka tahu, bahwa yang akan mereka hadapi adalah tugas- tugas yang berat untuk memperebutkan sebuah pusaka seperti dongeng-dongeng yang sudah banyak mereka dengar. Pusaka ditangan seseorang pada umumnya justru tidak member ikan drajat, pangkat atau semat, tetapi malahan telah merampas nyawa mereka, karena diantara para sakti telah terjadi saling berebutan dengan taruhan yang paling mahal, ialah nyawanya. “Mustahil bahwa Kiai Pusparur i tidak memperhitungkan hal itu,“ berkata Sentika didalam hatinya. Tetapi Laksita berkata lain didalam dirinya, “Tentu bukan kewibawaan tinggi, kemampuan yang tidak ada duanya atau kekuatan gaib yang tersimpan didalam pusaka itu. Tentu karena Kiai Pusparur i mengetahui bahwa pada wrangka atau ukiran pusaka yang sedang dicari itu atau pada peti atau kain pembungkusnya, terdapat keterangan tentang harta yang tidak ternilai harganya, yang disimpan oleh Pangeran Pracimasanti sebagai bekal untuk membangun kembali kekuasaan Keturunan Raden Wijaya. Tetapi sebelum hal itu sempat dilakukan. Pangeran Pracimasanti telah dipanggil kembali menghadap penciptanya tanpa diketahui oleh siapapun kecuali oleh seorang hambanya yang paling setia, tetapi buta dan tuli.” Namun Laksita tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Tidak pula kepada Sentika. ia menyimpan hal itu didalam dirinya. Tetapi seperti bara didalam sekam, pengertian itu telah membakar jantungnya perlahan-lahan. Keinginan yang serupa untuk memiliki pusaka itu telah menghanguskan nalarnya, sehingga akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menemukan pusaka itu. Mengambil keterangan yang diperlukan, kemudian membiarkan pusaka itu diketemukan oleh orang lain. Tetapi seperti yang dikatakan, Laksita memang mencemaskan orang-orang dari perguruan lain. Jika ia berkesempatan mendengar hal itu, maka adalah tidak mustahil bahwa orang lainpun kesempatan yang sama. Bahkan mungkin merekapun dapat mendengarnya lebih banyak lagi tentang Pangeran Pracimasanti atau tentang pusaka itu sendiri. Dalam pada itu. Kiai Pusparuripun berkata, “Santika dan Laksita. Cobalah kau jajagi sampai dimana pendengaran orang-orang kita sendiri. Pelajar i, apakah untung dan ruginya jika kita memberikan perintah terbuka untuk mencari orang- orang kita yang telah pergi kedaerah Sepasang Gunung Mati itu.” Sentika dan Laksita mengangguk dalam-dalam. “Baiklah Kiai,“ berkata Santika yang berkumis lebat itu, “kami akan melakukannya.” “Waktu kalian tidak panjang. Aku akan segera mengambil keputusan yang menentukan.” “Baiklah Kiai,“ Laksitalah yang kemudian menjawab, “aku memang menganggap bahwa kami berdua belum perlu turun ke medan perburuan pusaka itu. Tetapi jika perlu dan keadaan memaksa, maka sudah barang tentu, kami berdua tidak akan berpangku tangan. Apalagi kami mengetahui, bahwa pusaka itu mempunyai arti yang sangat besar bagi seseorang yang memilikinya.” “Terima kasih. Tetapi lakukanlah perintahku yang pertama,“ sahut Kiai Pusparur i. “Ya Kiai,“ hampir berbareng keduanya menjawab. Kemudian Sent ika dan Laksitapun minta dir i dari hadapan Kiai Pusparur i. Mereka ingin segera mengetahui, apakah medan yang mereka hadapi merupakan medan yang sulit dan berat, bahkan tidak akan terseberangi. Di halaman padepokan, dibawah sebatang pohon yang rimbun, mereka sempat berbincang sejenak, apakah yang sebaiknya akan mereka lakukan. “Kita masuki barak anak-anak itu. Kita bertanya, apakah yang mereka ketahui tentang Pangeran Pracimasanti,“ desis Sentika. “Terlalu langsung,“ sahut Laksita, “kita mencoba berbelit- belit sejenak. Mengucapkan kata-kata yang sulit mereka mengerti. Kemudian baru kita akan sampai pada pokok masalahnya, sehingga seolah-olah yang kita tanyakan itu bukannya pokok persoalan yang sebenarnya. Dengan demikian mereka tidak akan terpancang pada persoalan itu saja. Kepada orang lainpun mereka tidak akan memperbincangkannya lagi.” “Kau selalu cerdik. Aku setuju. Karena itu, kau sajalah yang mula-mula berbicara. Sedikit berbelit-belit dan tidak mereka ketahui. Kemudian baru kau bertanya sambil lalu. Dan dengan acuh tidak acuh, apakah diantara mereka mengetahui serba sedikit tentang Pangeran Pracimasanti.” “Jika tidak seorangpun yang tahu, kita mundur sedikit. Kita bertanya tentang Sepasang Bukit Mati. Jika mereka tidak mengerti, kita bertanya tentang yang lain lagi. Tentang Lumban dan sekitarnya dan tentang Ular Sanca dan kedua orang kita yang tidak kembali itu.” Sentika mengangguk-angguk, ia memang menganggap laksita cerdik dan pandai berbicara. Karena itu, maka diserahkannya soal itu kepada Laksita untuk menyampaikannya kepada orang-orangnya. Orang-orang padepokan Pusparuri yang terikat kepada suatu anggapan, bahwa Kiai Pusparuri, guru mereka adalah orang yang paling mumpuni diseluruh muka bumi. Dengan demikian, maka apa yang dikatakan, apa yang diper intahkan dan apa yang diputuskan, adalah ketentuan yang tidak dapat diganggu gugat lagi. Ketika kemudian Sentika dan Laksita berdiri diantara orang- orang perguruan Pusparuri. seperti biasanya keduanya disambut dengan hati yang berdebar-debar dari orang-orang yang selalu siap menunggu perintah. Dengan caranya Laksita memberikan sesorah singkat, ia mengucapkan kata-kata yang muluk dan sulit dimengerti. Menyinggung mengenai masa depan dan harapan-harapan bagi setiap orang yang patuh. Namun akhirnya ia sampai juga pada maksudnya. Sambil lalu ia bertanya, “apakah ada diantara mereka yang pernah mendengar nama Pangeran Pracimasanti.” Ternyata tidak seorangpun yang pernah mendengarnya. Ketika kemudian Laksita bertanya tentang Sepasang Bukit Matipun tidak ada yang pernah mengetahuinya pula. Sedangkan ketika Laksita terpaksa menyebut padukuhan Lumban. maka beberapa orang diantara mereka menyatakan bahwa mereka memang pernah mendengarnya. “Tidak ada gunanya kita berbicara dengan mereka,“ berkata Laksita ditelinga Sentika, “mereka adalah kerbau- kerbau dungu yang hanya dapat diperintah dan dibentak.” “Jadi?” Laksita mengangkat pundaknya, Katanya, “Aku tidak melihat jalan lain. Akhirnya kita juga yang harus berbuat sesuatu untuk menemukannya.” “Kau tadi yang mengatakan bahwa kita belum perlu untuk pergi ke Lumban mencari keterangan tentang pusaka itu. Apakah kau mempunyai pertimbangan lain sekarang ?” “Aku mempunyai pertimbangan lain setelah aku melihat kenyataan ini.” “Apa?” Laksita tidak menjawab. Dipandanginya beberapa orang yang termangu-mangu memperhatikannya dengan saksama. “Nanti sajalah,“ desis Laksita. Seperti biasa Sentika tidak membantah. Ia terlalu percaya kepada kecerdikan Laksita, sehingga karena itu, maka iapun mengangguk-angguk diam. Sementara ku, maka Laksitapun segera menutup pertemuan itu. Dengan lantang ia berkata, “Bersiaplah. Mungkin dalam waktu dekat kalian akan mendapat tugas khusus. Mungkin dua atau tiga orang. Tetapi mungkin delapan atau sepuluh.” Wajah-wajah yang mendengar perintah itu menegang sejenak. Namun merekapun segera mengangguk-angguk. Ada diantara mereka yang merasa lebih senang berada di arena tugas betapapun beratnya. Kadang-kadang didalam tugas mereka mendapatkan sesuatu yang berharga, yang tidak diketahui oleh orang lain, sehingga dapat dimilikinya sendir i. Satu dua orang diantara mereka telah pernah mendapatkan keris atau timang dari emas. Kadang-kadang sebentuk cincin atau kadang-kadang mereka sempat merampas perhiasan yang sedang dipakai oleh seseorang. Atau dengan berdebar- debar menyempatkan diri berbuat kasar terhadap perempuan dan gadis-gadis. Ketika orang-orang itu telah meninggalkan Sentika dan Laksita, maka mulailah Laksita menjelaskan, “Tidak ada harapan. Aku masih berharap bahwa mereka dapat mengerti serba sedikit. Tetapi ternyata mereka memang terlalu bodoh dan dungu. Untuk melakukan kekerasan, mereka adalah orang-orang yang memang pilihan. Tetapi untuk menentukan sikap, memang seharusnya bukan mereka. Aku tadi keliru menilai.” “Jadi menurut pendapatmu, kita berdua lebih baik pergi ke Lumban untuk menangani masalah ini secara langsung ?” Laksita menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kita berdua, atau salah seorang dari kita. Atau kita bersama- sama mencari keterangan dengan sasaran yang berbeda agar kita dapat membagi tenaga dan kesempatan, tidak harus langsung ke Lumban.” “Jika demikian, kita akan menyampaikan kepada Kiai Pusparuri. Aku memang condong berbuat demikian sejak semula untuk mempercepat penyelesaian. Bagiku lebih cepat lebih baik. Korban akan dapat dikurangi.” “Kita mendapat waktu satu har i satu malam untuk menyampaikan gagasan kita,“ desis Laksita. “Aku condong untuk segera menyampaikannya, agar kita segera dapat berbuat sesuatu.” “Jangan tergesa-gesa. Kita menunggu semalam. Mungkin kita masing-masing menemukan sesuatu yang lebih baik dari yang kita pikirkan sekarang ini.” Sentika mengangguk-angguk. “ Baiklah. Aku akan menyabarkan diri semalam ini. Aku akan tidur dirumah isteriku yang ke tiga. Ia memerlukan aku malam ini, karena sudah dua hari ia sakit panas.” “Persetan dengan isterimu yang ketiga, keempat atau ketigapuluh sembilan. Masalah yang kita hadapi adalah masalah yang gawat. Dengan pusaka itu ditangan, Kiai Pusparuri akan mempergunakan segala pengaruh dan wibawa yang ada untuk mempengaruhi pimpinan pemerintahan. Sementara Kiai Pusparuri sedang memperhitungkan setiap langkah, bagaimana ia dapat menyelusuri jalan yang licin disela-sela kuasa para Adipati dan pimpinan tanah Perdikan diluar istana, dan para Bupati dan Nayaka serta para Panglima didalam istana, kau ribut dengan isterimu yang tidak terhitung jumlahnya itu.” “Bukan maksudku. Memang mereka tidak penting. Tetapi bagaimanapun juga merupakan sebagian dari hidupku.” “Besok pagi-pagi kita bertemu. Kita akan menentukan langkah yang paling baik menghadapi masalah yang gawat ini. Kita masih harus memikirkan orang-orang Kendali Putih, orang-orang Gunung Kunir dan ibhs-iblis dari Sanggar Gading,“ berkata Laksita sambil menghentakkan tangannya. Dalam pada itu, di daerah Lumban, anak-anak muda masih saja bernafsu untuk mendapatkan pengetahuan olah kanuragan dari Daruwerdi. Ketika senja mulai turun, maka, latihan yang diadakan didekat bukit gundul itu berakhir. Sakelompok-sekelompok anak-anak muda dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon meninggalkan bukit gundul itu kembali kepadukuhan. Tidak ada diantara mereka yang berani seorang diri singgah disungai. Karena itulah, maka sebagian anak-anak muda itu bersama-sama dalam kelompok yang besar turun dan mandi bersama-sama. Meskipun demikian, ketika warna merah dilangit menjadi buram kehitam-hitaman maka dengan tergesa-gesa mereka berpakaian dan berlari- lari naik keatas tanggul. “Tunggu, he tunggu,“ teriak seorang anak muda yang gemuk. “Cepat,“ sahut kakaknya, “jika kau ketinggalan, maka kau akan disergap hantu.” “Jangan sebut,“ anak gemuk itu semakin ketakutan, “tunggu aku.” Tetapi justru karena ia menjadi semakin ketakutan, maka kakinya menjadi gemetar. Beberapa kali ia tergelincir ketika ia memanjat tebing. “Tunggu, hei tunggu,“ kakaknyapun berteriak. Beberapa orang anak muda berhenti. Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang kawannya sedang menolong adiknya yang gemuk naik keatas tanggul. “Cepat,“ teriak salah seorang dari anak-anak muda itu. “Tunggulah sebentar.” Jlitheng yang ada diantara mereka kemudian berkata, “Kita menunggu mereka sebentar.” “Sebentar lagi gelapnya menjadi semakin pekat,“ desis seorang kawannya. “Tetapi kita tidak sendir i. Kita akan dapat saling menolong. Hantu itu t idak akan berani mengganggu kita berenam.” Kawan-kawannya berhenti juga meskipun gelisah. Yang lain telah menjadi semakin jauh dan hilang dibalik gerumbul perdu. Sejenak kemudian kedua kakak beradik itu telah menyusul. Merekapun semuanya bergegas menyusul kawan-kawannya yang telah menjadi semakin jauh. Namun dalam pada itu, yang menjadi perhatian Jlitheng sama sekali bukan gelapnya malam dan hantu-hantu yang mulai berkeliaran. Tetapi ia menjadi curiga, bahwa Daruwerdi masih berada dibukit gundul ketika anak-anak muda dari Lumban sudah meninggalkannya. “Apakah ia mempunyai rencana tersendiri?“ berkata Jlitheng didalamhatinya. Tetapi bersama-sama dengan beberapa kawannya Jlitheng kembali kepadukuhan Lumban Wetan agar tidak menar ik perhatian mereka. Apalagi kawan-kawannya yang disiang hari ikut serta membantunya membuat gubug dilereng bukit berhutan, sebelum mereka pergi kebukit gundul mengikuti latihan yang diselenggarakan oleh Daruwerdi. “Pikiran orang tua itu ternyata akan sangat bermanfaat,“ desis seorang kawannya yang bersama Jlitheng kembali kepadukuhan. “Kita akan segera menyelesaikannya,“ sahut Jlitheng, “jika air itu sudah mengalir, maka akan terbukalah hati setiap orang dipadukuhan ini,“ ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan member ikan harapan yang berlebih- lebihan kepada sanak kadang. Jika kerja ini meleset, mereka akan menjadi sangat kecewa.” “Ah, tentu tidak,“ jawab kawan Jlitheng, “aku belum mengatakan kepada siapapun.” “Kemarin aku dengar kau berceritera tentang air kepada pamanmu,“ tiba-tiba kawannya menyahut. “O, ya. Baru kepada paman,“ jawab anak muda itu. “Kepada Ki Lengit disudut padukuhan, kau juga mengatakannya.” “O ya. Hanya kepada paman dan Ki Lengit.” “Aku mendengar kau berceritera tentang kerja dilereng bukit itu kepada Jinten, gadis berambut jagung itu.” “Ah. Ya, ya. Baru kepadanya.” “Baru kepada satu, dua, tiga, sepuluh, duapuluh orang.“ Kawan-kawannya tertawa. Sementara Jlitheng sambil tersenyum menengahi, “sudahlah. Tetapi untuk seterusnya, jangan kau cer iterakan lagi.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu. ketika anak-anak muda dari Lumban Wetan yang pulang bersama Jlitheng itu satu-satu sudah masuk kedalam rumahnya, maka Jlithengpun dengan tergesa-gesa pulang pula kerumahnya. Tetapi ia hanya sekedar minta ij in kepada ibunya. Kepada perempuan tua itu ia berkata, bahwa ia akan berada digardu. karena ada masalah yang akan dibicarakan dengan kawan-kawannya. Tetapi kemudian dengan tergesa-gesa. Jlitheng telah pergi kebukit gundul. Seperti yang pernah dilakukannya, maka dengan sangat berhati-hati ia mencoba untuk mengintai, apa yang terjadi diatas bukit padas itu. Beberapa saat lamanya, Jlitheng bersembunyi dibalik gerumbul dibawah bukit. Jika ia mulai memanjat, maka ia tidak akan dapat mencari perlindungan dedaunan lagi. Ia hanya dapat berlindung diantara batu-batu padas yang mencuat dan lekuk- lekuk yang digoreskan oleh air hujan. Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat bayangan dalam kegelapan. Tidak jauh dari tempatnya bersembunyi. Bayangan itu melintas kekaki bukit. Namun kemudian nampak ia duduk diatas batu padas. “Bukan Daruwerdi,“ desis Jlitheng didalam hatinya. Namun Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Menurut perhitungannya, tentu Daruwerdi akan segera datang. Padahal, ketika anak-anak muda Lumban meninggalkan tempat itu, ia masih tetap duduk diatas batu padas beberapa langkah dar i orang asing itu duduk. Karena itu, maka Jlitheng harus berhati-hati. Jika ia bernasib baik, maka ia akan mendengar beberapa masalah yang selama ini masih tetap gelap baginya meskipun pokok- pokok persoalannya telah pernah di dengarnya. Jlitheng menjadi gelisah, karena nampaknya orang itu masih tetap duduk dengan tenang. Sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan seseorang yang sedang menunggu. Jlithenglah yang kemudian menjadi berdebar-debar. Ia hampir tidak sabar lagi melihat sikap orang itu, yang sama sekali t idak terpengaruh oleh keadaan disekelilingnya. “Mungkin waktunya memang belum sampai,“ desis Jlitheng. Tetapi ia harus menahan nafas ketika ia kemudian melihat bayangan yang lain. Bayangan seseorang yang mendekati orang yang telah duduk menunggunya. “Akhirnya kau datang juga Cempaka,“ desis orang yang baru datang. Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Orang itu adalah Cempaka, yang namanya pernah didengarnya beberapa saat yang lampau. “ Aku sudah mengirimkan pesan itu Daruwerdi,“ jawab Cempaka, “apakah kau tidak mener ima?” “Ya. Tetapi aku terlambat menerima pesanmu. Karena itu, aku menunggumu ditempat ini untuk waktu yang sangat lama. Bersamaan dengan per istiwa yang sebenarnya sangat menarik, yang telah terjadi dipadukuhan Lumban.” “Apa yang telah terjadi ?“ bertanya Cempaka. “Seorang anak muda yang dibawa oleh hantu,“ jawab Daruwerdi. “Wewe?” “Mungkin.” Orang disebut Cempaka itu tertawa. Katanya, “Memang sangat menarik. Sayang, aku tidak dapat datang pada waktu itu. Apakah kau tidak berusaha mencari keterangan yang lebih mendalam?” “Aku terikat disini. Sebenarnya aku juga ingin mencari anak itu,“ jawab Daruwerdi yang kemudian menceriterakan serba sedikit tentang hilangnya Kuncung untuk hampir semalam suntuk. Cempaka tertawa semakin keras. Katanya, “Daerah ini memang penuh dengan rahasia. Aku sudah mendengar, orang-orang Kendali Put ih itu hilang di daerah ini. Kemudian orang-orang Pusparuri juga tidak pernah kembali ke padepokannya. Aku memang mencur igaimu.” Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertanya, “Berapa orang menurut pendengaranmu yang telah hilang didaerah ini?” “Tiga orang Pusparur i dan empat orang Kendali Putih,“ jawab Cempaka. Daruwerdi tertawa. Katanya, “Ceritera yang sangat menarik.” “Kau yang membunuhnya ?“ bertanya Cempaka. Daruwerdi memandang wajah Cempaka yang bersungguh- sungguh. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Kau bersungguh-sungguh dengan kecur igaanmu itu ?” “Tentu. Apakah kau dapat menyebut orang lain kecuali kau?” “Aku tidak ingkar. Tetapi jumlahnya agak berbeda. Ketika aku berjanji untuk mener ima Ular Sanca, maka dua orang Kendali Putih telah ikut campur dengan membunuhnya. Karena keduanya memaksa aku untuk berbicara tentang pusaka itu, maka aku tidak dapat menahan kesabaranku lagi sehingga keduanya telah aku bunuh. Tetapi hanya itu.” Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ceritera itu sudah berkembang, atau kau sudah ingkar.” “Kau kenal aku Cempaka. Buat apa aku ingkar ? Kau kira aku takut terhadap orang-orang Kendali Put ih dan orang- orang Pusparuri seandainya mereka mengetahui bahwa aku yang melakukannya ?” Cempaka mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku mengerti. Kau tidak pernah takut terhadap siapapun juga. Tetapi ceritera itu memang aneh.” “Ceritera itu agaknya memang sudah berkembang. Tetapi bahwa ada dua orang Kendali Put ih yang pernah datang, memang mungkin sekali. Seorang anak muda dari Lumban Wetan mengaku pernah diseret oleh dua orang yang tidak dikenal. Tetapi ia tetap hidup.” Cempaka mengerutkan keningnya. Katanya, “Daerah yang disebut Bukit Mati ini memang daerah yang aneh. Mungkin memang benar bahwa Sepasang bukit ini adalah bukit yang tidak dapat dijamah oleh manusia. Siapa yang bermain-main dengan Sepasang Bukit ini akan mat i karenanya.” “Kau mulai mempercayainya ?“ bertanya Daruwerdi. Cempaka tertawa. Katanya, “Dan kau masih juga belum mati sampai hari ini. Tetapi memang mungkin akan terjadi besok atau lusa.” “Dan kaupun mulai bermain dengan Sepasang Bukit Mati itu pula,” jawab Daruwerdi Keduanya tertawa. Sementara Jlitheng menahan nafasnya. Ia sadar bahwa kedua orang dibukit gundul itu adalah orang- orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga j ika ia tidak berhati-hati, maka ia akan terjebak dalam kesulitan. Sementara itu, Cempaka berkata, “Sudahlah Daruwerdi. Biarlah aku mencar i keterangan yang lebih banyak tentang orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri yang hilang itu. Meskipun aku sudah berpesan kepada murid-murid Sanggar Gading, bahwa jika aku juga tidak kembali, maka aku telah ditelan oleh Sepasang Bukit Mati.” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau bergurau. Tetapi mungkin itu mempunyai kepentingan dengan kau.” “Butalah,“ jawab Cempaka “ .tetapi bagaimana dengan persoalan kita ? Aku tahu. bahwa kau sudah mempunyai sikap yang pernah kau tawarkan kepada orang-orang Pusparuri. Tetapi mungkin kau mempunyai pertimbangan lain tentang pusaka itu ?” “Sudah pernah aku katakan. Aku sudah berjanj i dengan orang-orang Pusparuri. Kecuali jika pihak lain dapat menunjukkan bukti bahwa mereka lebih berkepentingan dengan pusaka itu daripada Kiai Pusparuri sendir i.” “Bukti itu pernah aku tawarkan. Bukan aku sendir i. Tetapi seseorang yang mempunyai derajat yang sesuai dengan pusaka itu. Jika ia memiliki pusaka itu, maka ia akan menjadi seorang yang berderajat sesuai dengan derajatnya yang sebenarnya. Ia sama sekali tidak ingin merampas kemukten dengan memiliki tahta. Tetapi ia ingin menggenggam hakekat dari kekuasaan yang sebenarnya, yaitu pada inti kekuatan. Dengan kekuatan itu ia akan dapat berbuat apa saja bagi kebahagiaan hidup umat manusia.” Daruwerdi tidak segera menjawab. Agaknya ia sedang merenungi kata-kata Cempaka. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah maksudnya ? Apakah ia ingin menjadi Senapati Agung yang pengaruhnya akan melampaui pengaruh Raja justru karena ia menguasai prajur it ?” Cempaka memandang Daruwerdi dengan tajam. Kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya. Begitulah. Dengan kekuasaan yang benar-benar berlandaskan kekuatan ia akan dapat berbuat banyak. Ia dapat memperbaiki segala kesalahan dan kekurangan yang ada, yang nampaknya tidak terjadi secara kebetulan.” Daruwerdi terdiam sejenak. Namun t iba-tiba saja ia tertawa. Semakin lama semakin keras, sehingga tubuhnya terguncang-guncang. “Kenapa kau tertawa ?” bertanya Cempaka. Daruwerdi berusaha untuk menahan tertawanya. Disela- sela suara tertawanya yang tertahan-tahan ia berkata, “Aneh sekali. Tetapi memang mungkin sekali hal itu dapat dilakukan. Setelah mempunyai pengaruh yang sangat besar maka ia akan mengusir raja yang sedang berkuasa.” Cempaka termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Jangan terlalu bodoh. Orang yang aku katakan itu, bukan orang yang berpikiran kerdil. Ia sadar tentang apa yang dilakukan.” Tetapi suara tertawa Daruwerdi justru meledak. “Daruwerdi, apakah kau sudah menjadi gila ?” “Cempaka,“ berkata Daruwerdi diantara gelak tertawanya yang semakin menurun, “kau jangan mengira akulah yang terlalu bodoh atau yang berpikiran kerdil. He, kau kira orang yang kau katakan itu benar-benar ingin mendapatkan pusaka itu karena pengaruh gaibnya ? Karena dengan memiliki pusaka itu ia akan mendapatkan kekuasaan dan derajat?” “Daruwerdi,“ Cempaka memotong, “kau mulai mengigau. Coba katakan, jika kau mengerti, apakah yang sebenarnya ?” “Tidak. Aku tidak mengerti. Bertanyalah kepada orang yang kau sebut itu. Apakah benar seperti yang aku duga ? Atau benar-benar pengertiannya memang sangat kerdil ?” Cempaka menjadi semakin tegang. Dengan nada dalam ia bertanya, “Kau membuat aku semakin bingung. Daruwerdi. coba katakan, apakah yang kau maksud sebenarnya.” “Aku tidak tahu Cempaka. Tetapi baiklah kau sampaikan kepada orang yang kau maksud. Selebihnya, aku akan berusaha untuk menemukan pusaka itu secepatnya berdasarkan keterangan yang kuterima. Setiap orang tentu mengira bahwa akulah orang yang memiliki keterangan terbanyak tentang pusaka itu, karena akulah orang yang dapat bertemu dan berhubungan dengan pengiring Pangeran yang terusir dan telah meninggal itu. Meskipun pengir ing itu tua dan cacat.” Cempaka menggeram. Katanya, “Kau memang iblis Daruwerdi. Tetapi berhati-hatilah sedikit dengan sikapmu itu. Mungkin kau memang seorang yang pilih tanding. Tetapi tentu ada orang yang melampaui kemampuanmu dan dapat mencekikmu sampai mati jika kau tidak mau menyebut rahasia itu.” “Siapapun dapat memaksa aku membuka rahasia. Tidak usah dengan mencekikku. Tetapi aku minta seperti yang pernah aku katakan,“ jawab Daruwerdi. “Kau memang orang gila. Kau minta yang sulit dilakukan. He, apakah kau kira permintaanmu itu wajar ?“ bertanya Cempaka. Daruwerdi tertawa kecil. Katanya, “Orang-orang Pusparuri telah menyanggupinya. Tetapi itu tidak terlalu mengikat bagiku. Jika pihak lain dapat menemukan orang itu lebih dahulu, maka aku akan mengatakan kepadanya, sejauh yang aku ketahui tentang pusaka itu.” “Kenapa kau sendir i tidak melakukannya Daruwerdi ? Jika kau merasa seorang yang pinunjul, tentu kau akan berani datang ke istana Kapangeranan dan menantangnya perang tanding.” “Pertanyaan semacam itu sudah aku dengar beberapa puluh kali. Orang-orang lain juga bertanya seperti itu kepadaku. Dan jawabku selalu tidak berubah. Aku harus mengerti tentang diriku sendir i. Aku tidak akan mampu melawan para pengawalnya yang jumlahnya jauh melampaui jumlah pengawal Senapati Agung. Tetapi aku tidak akan dapat melupakan dendamku kepadanya, karena ia telah membunuh ayahku,“ jawab Daruwerdi. “Kau merasa dir imu terlalu lemah. Tetapi kau memang keras kepala. Bagaimana jika terjadi sekelompok kekuatan menangkapmu dan memeras keterangan dari mulutmu dengan kekerasan.” “Adakah kelompok yang akan berbuat demikian ? Aku adalah orang yang mudah mati. Jika aku ditangkap oleh sekelompok yang manapun juga, maka rahasia tentang pusaka itu tidak akan terungkapkan. Kelompok-kelompok yang sedang memburu pusaka itu akan mendendam terhadap siapapun yang berani membunuhku. Dengan demikian, maka kelompok itu tentu akan musna.” “Kau kira tidak ada kekuatan yang dapat menangkapmu tanpa diketahui oleh orang lain ? Sekarang misalnya. Aku akan dapat menangkapmu dan membawamu kepadepokan tanpa diketahui oleh orang lain. Dengan satu isyarat, maka orang- orangku akan datang dengan tali yang tidak akan dapat kau putuskan.” “He, kau kira aku juga sendir i, sehingga kau dapat berbuat curang begitu ?“ bertanya Daruwerdi. “Anak iblis,“ geram Cempaka, “aku tahu, kau hanya menggertakku.” “Kalau begitu lakukanlah yang ingin kau lakukan itu. Tetapi jangan menyesal bahwa padepokanmu akan menjadi karang abang. Orang-orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih dan orang yang mana lagi. akan bersatu dan menghancurkan padepokanmu yang sombong itu.” “Gila. Kau sungguh-sungguh gila. Tetapi baiklah, aku akan mempertimbangkan kemungkinan yang kau kehendaki.” “Kau mempunyai sepasukan pengikut seperti orang-orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih. Kau dapat menyerbu ke istana Pangeran yang tamak itu dan kemudian menangkapnya dan menyeretnya kepadaku. Aku akan membunuhnya perlahan-lahan meskipun ia akan merengek minta maaf kepadaku. Aku tidak gentar berperang tanding. Tetapi ia sangat curang, sehingga aku tidak akan dapat mempercayai kejantanannya dengan datang keistananya dan menantangnya perang tanding, ia t idak akan segan-segan menggerakkan pengawalnya untuk membunuhku dengan licik.” “Persetan. Aku tidak perlu ceriteramu yang sombong itu. Katakanlah bahwa kau tidak mampu menghadapinya. Aku akan melakukannya. Tetapi jika kau ingkar tentang pusaka itu. maka kau akan mengalami nasib yang paling buruk yang pernah terjadi atas seseorang.” Daruwerdi tertawa. Dipandanginya orang yang menyebut dirinya Cempaka itu dengan pandangan yang kecut. “Jangan mengancam. Belum tentu bahwa kaulah yang akan dapat membawa pangeran itu kepadaku. Mungkin orang- orang Pusparuri. Mungkin dari pihak lain. Aku akan member ikan penawaran terbuka kepada siapapun. Hanya orang-orang Kendali Putihlah yang bodoh, yang ingin memaksakan kehendaknya tanpa melalui pembicaraan yang baik. Karena itu mereka tidak akan pernah kembali kepadepokannya.” “Dan kau telah melakukan sampai dua rambahan. Dua orang yang kau bunuh terdahulu. Kemudian dua orang lagi. Sedangkan yang terakhir adalah dua orang Pusparuri.” “Itu ceritera yang sangat gila. Kau sengaja membuat ceritera semacam itu agar orang-orang Kendali Put ih dan Pusparuri mendendamku. Tetapi j ika mereka membunuh aku, maka kaupun kehilangan kesempatan sama sekali untuk memiliki pusaka itu.” Orang yang disebut Cempaka itu menarik nafas dalam- dalam. Katanya kemudian, “Ternyata aku berhadapan dengan orang yang paling licik yang pernah aku kenal. Daruwerdi, aku kira bahwa kau adalah seorang laki-laki jantan dan berpegang teguh pada setiap janji yang kau ucapkan. Tetapi sekarang, kau sudah berubah sama sekali. Kau bukan lagi Padmasana yang aku kenal. Setelah kau memasang gelar yang asing itu, kau benar-benar menjadi orang asing bagiku.” “Mungkin,“ jawab Daruwerdi, “tetapi itu bukan terjadi dengan tiba-tiba dan dengan sendirinya. Ada sebab yang menyebabkan aku berubah jika dugaanmu benar.” “Kematian ayahmu ?“ bertanya Cempaka. “Ya. Kematian ayahku telah membuat aku lupa segala- galanya. Aku lupa akan diriku sendir i disaat yang lampau. Lupa akan sifat dan watak itu. Yang aku inginkan kemudian hanyalah membalas dendam. Itu saja. Dan bagi mereka yang dapat menolongku, aku menyediakan imbalan yang tidak ternilai harganya, meskipun belum sepadan dengan nilai ayahku itu.” “Kau memang anak iblis. Tetapi baiklah, aku akan melakukannya. Berapa hari kau memberi aku waktu ?” “Lebih cepat lebih baik,“ jawab Daruwerdi. “Dan pusaka itu kini sudah ditangaumu ?“ bertanya orang itu. “Pertanyaanmu juga gila. Aku tidak dapat menjawab. Tetapi demikian orang yang aku maksud itu kau serahkan kepadaku, maka imbalan itupun akan kalian terima.” “Perubahan sifat dan watakmu membuat aku ragu-ragu.“ “Terserah kepadamu,“ jawab Daruwerdi. Cempakapun kemudian bangkit dan berjalan selangkah maju. Katanya, “Aku akan melakukannya. Bukan saja karena pusaka itu. Tetapi aku menjadi kasihan melihat seorang anak muda yang pernah dipuj i karena kejantanannya, tiba-tiba telah menjadi licik dan pengecut.” Tiba-tiba saja Daruwerdi tertawa berkepanjangan. Katanya, “Jangan mencoba menyinggung harga diriku. Aku sudah tidak mempunyai harga diri lagi. Kau boleh menghina aku. Kau boleh mengumat tanpa kendali. Apa saja yang kau katakan tentang diriku tidak akan aku hiraukan. Bagiku, orang itu dapat kau bawa kemar i.” Terdengar Cempaka menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih berjalan mondar-mandir. “Sudahlah Cempaka,“ berkata Daruwerdi kemudian, “aku tidak dapat terlalu lama disini. Aku akan pergi kegardu ronda. Aku senang berada digardu bersama anak-anak muda yang bodoh dan dungu. Yang hanya tahu merebus ketela pohon sambil berkelakar tanpa arti. Jika kau perlukan aku, hubungi aku. Aku akan sangat bergembira j ika kau segera datang dengan orang yang aku inginkan itu.” Cempaka menggeram. Tetapi ia t idak menjawab. Daruwerdilah yang kemudian meninggalkan tempat itu lebih dahulu, sambil berpesan, “Jika kau terlambat, maka pusaka itu akan jatuh ketangan orang lain, dan kau akan kehilangan kesempatan tanpa batas kemungkinan.” “Gila,“ geram Cempaka sambil menghentakkan tangannya. Tetapi Daruwerdi justru tertawa sambil meninggalkan tempat itu. Sepeninggal Daruwerdi, Cempaka masih duduk beberapa saat sambil merenungi kata-kata Daruwerdi. Sekali-kali masih terdengar ia menggeramdengan kesal. Dalam pada itu, Jlitheng yang merasa tidak perlu lagi menunggui Cempaka yang sedang merenung itupun kemudian beringsut. Ia akan segera meninggalkan tempat itu, menemui kawan-kawannya digardu. Jika ia terlalu lama tidak nampak, mungkin kawan-kawannya akan mencarinya. Apalagi jika mereka tidak menemukannya dirumah. Maka tentu akan timbul berbagai macam dugaan. Mungkin justru ada yang menyangka bahwa ia telah dibawa hantu seperti Kuncung. Tetapi malang bagi Jlitheng. Diluar sadarnya, betapapun ia berhati2, namun seekor burung gemak yang bersembunyi digerumbul pula, telah terkejut dan meloncat berlari sambil memekik-mekik karena tersentuh kakinya. “Gila,“ geram Jlitheng didalam hatinya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan lagi. Cempaka ternyata seorang yang tangkas dan cepat menanggapi keadaan. Demikian ia mendengar gemerasak dedaunan yang tersibak oleh burung gemak itu, maka iapun telah meloncat berdiri sambil menggeram, “Siapa yang telah jemu memandang bintang di langit ?” Jlitheng menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak ingin menanggapi orang itu. Ia masih harus tetap merahasiakan dirinya sejauh dapat dilakukan. Jika ia t idak menghindar, maka berarti bahwa ia harus bertempur. Pilihannya adalah dibunuh atau membunuh. Jika ia mati, maka tugasnya akan selesai tanpa arti sama sekali. Tetapi jika ia membunuh, maka ia tidak akan dapat mengikuti perkembangan persoalan yang telah didengarnya. Kematian Cempaka akan menutup penyelidikannya, karena Daruwerdi akan segera berhubungan dengan orang lain yang tidak dikenalnya, dan yang masih harus diselidikinya sejak permulaan sekali. Tetapi Jlitheng tidak banyak mendapat kesempatan. Cempaka yang telah berdiri, telah maju selangkah dengan penuh kewaspadaan. Untuk sesaat Jlitheng masih tetap berada ditempatnya yang terlindung oleh rimbunnya dedaunan. Namun ia telah bersiap untuk berbuat sesuatu yang dianggapnya paling baik yang diketemukan dalam waktu pendek itu. Dalam pada itu, Cempaka yang bergeser mendekat menggeram, “Keluarlah dari persembunyian itu. Marilah kita berhadapan dengan jantan. Apakah kau orang yang disebut kawan Daruwerdi yang mengawasinya j ika terjadi sesuatu ?” Jlitheng tidak menjawab. Ia masih berdir i diam. “Cepat, sebelum aku mengambil sikap yang mungkin tidak akan menyenangkan bagimu,“ suara Cempaka menjadi semakin keras. Karena Jlitheng tidak menjawab dan sama sekati t idak berbuat sesuatu, maka Cempakapun melangkah semakin dekat. Dengan suara yang gemetar oleh kemarahan, ia berkata, “He, apakah kau seorang pengecut atau seorang yang gila.” Memang tidak senang disebut sebagai seorang pengecut. Tetapi Jlitheng masih tetap mengendalikan dirinya. Ia tidak akan melayani orang itu dalam satu pertengkaran jasmaniah. Ia tidak mau dibunuh, tetapi terhadap orang itu, ia tidak ingin membunuh. “Jika kau tetap tidak mau keluar, aku akan. mengeluarkanmu dari gerumbul itu,“ agaknya kemarahan orang itu tidak terkendai lagi. Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Cempaka itu memungut batu padas sebesar genggaman tangannya. Kemudian ia memusatkan pendengarannya untuk mengetahui dimanakah arah yang paling tepat dari orang yang bersembunyi dibalik gerumbul itu. Jlitheng yang berada dibalik gerumbul dapat melihat dari sela-sela dedaunan, apa yang akan dilakukan oleh Cempaka. Nampaknya memang sederhana sekali. Cempaka akan melemparkan sebuah batu padas kedalam gerumbul itu. Namun Jlithengpun sadar, bahwa kekuatan lontar orang yang bernama Cempaka itu tentu bukanlah kekuatan orang kebanyakan. Karena itulah, maka iapun telah mempersiapkan dirinya pula. Seperti yang diduganya, maka sejenak kemudian, Cempaka telah melemparkan batu padas itu dengan sekuat tenaganya. Seperti yang diperhitungkan, maka kekuatan lontarannya benar-benar mengerikan. Yang terdengar kemudian adalah suara gemerasak, bagaikan angin prahara. Batu yang hanya segenggam tangan itu telah melanda gerumbul tempat Jlitheng bersembunyi, bagaikan sebuah pisau yang terbang menebas dedaunan pada gerumbul itu. Ranting-rantingpun berpatahan dan desir anginnya bukan saja menggugurkan daun-daun yang sudah menjadi kuning, tetapi gerumbul itu bagaikan disapu menjadi gundul. Namun dalam pada itu, orang yang bernama Cempaka itu sempat melihat, bayangan hitam yang bagaikain angin, terlontar dari balik gerumbul yang dihantamnya itu kebalik gerumbul yang lain, sehingga karena itu, kemarahannyapun telah menjadi semakin menyala dihatinya. “Siapa kau he ? Siapa ? Jika kau pengikut Daruwerdi, katakanlah. Aku tidak akan membunuhmu, meskipun yang kau lakukan atas perintahnya itu sangat menjengkelkan.” Jlitheng tidak menjawab. Tetapi seolah-olah ia tidak berani berkedip, karena Cempaka telah memungut batu padas sebesar genggaman tangannya pula. “Kau harus mengerti, dengan siapa kau berhadapan,“ geramCempaka. Jlitheng telah bersiap-siap menghadapi prahara yang luar biasa itu. Jika sekali lagi Cempaka melemparkan batunya, maka iapun harus segera bergeser kebalik gerumbul berikutnya. Tetapi apakah ia akan berbuat demikian sampai tiga empat kali ? Jika akhirnya ia tidak sempat lagi berpindah gerumbul- gerumbul yang akan menjadi gundul, maka da harus menghadapi orang itu. Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Cempaka bersiap untuk mengayunkan batu itu. Dengan sungguh-sungguh Jlitheng memperhatikan, apa yang akan terjadi kemudian. Akhirnya Jlitheng memutuskan untuk meninggalkan saja tempat itu selagi orang yang menyebut dirinya bernama Cempaka itu belum melihat wajah dan ujudnya. Selain malam yang buram, juga karena Jlitheng tidak pernah dengan terang- terangan menghadapinya. Karena itu, ketika sekali lagi Cempaka melontarkan batu padas ditangannya bagaikan hembusan badai yang dahsyat, Jlitheng tidak lagi meloncat dan bersembunyi kegerumbul yang lain. Tetapi iapun kemudian meloncat berlari meninggalkan tempat itu. “Pengecut,” Cempaka berteriak ketika ia melihat bayangan yang dengan tangkas meloncat menghindari lontaran batu padasnya. Bukan saja bersembunyi dibalik gerumbul yang lain seperti yang telah dilakukan, tetapi bayangan itupun berlari dengan cepatnya meninggalkan kaki bukit gundul itu tanpa menghiraukan gerumbul yang bagaikan dihantam amukan badai yang mengerikan, hanya oleh sebutir batu padas yang besarnya tidak lebih dari genggaman tangannya, namun yang lontarannya dilambari oleh kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Agaknya Cempaka tidak mau melepaskan orang yang telah mengganggunya itu begitu saja. Karena itu, maka iapun segera meloncat mengejarnya. Cempaka merasa bahwa ia akan dapat menyalurkan, kemampuannya pada lontaran kakinya untuk mempercepat larinya, sehingga ia akan segera dapat menangkap orang yang telah membuatnya marah itu. Sejenak kemudian maka Cempaka telah berlari seperti angin. Ia menyalurkan kemampuannya yang luar biasa tidak lagi pada ayunan tangannya yang melontarkan batu padas itu. Tetapi pada ayunan kakinya untuk segera menangkap Jlitheng. Tetapi Cempaka terkejut melihat orang yang dikejarnya. Ternyata orang yang dikejarnya itupun mampu berlari sangat cepat. Seperti yang dilakukannya. “Gila,“ geramnya, “sejak aku melihat ia berhasil menghindari lemparanku, aku sudah cur iga, bahwa ia bukannya orang yang tidak berilmu.” Karena itu, maka Cempakapun kemudian telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Ia tidak mau kehilangan orang yang telah mengint ipnya dan mendengarkan segala pembicaraannya, meskipun orang itu memang mungkin sekali diperintahkan oleh Daruwerdi. Dalam pada itu, Jlithengpun mengumpat didalam hatinya. Ternyata orang yang menyebut dirinya Cempaka itu benar- benar orang yang luar biasa, sehingga ia tidak dapat memperpanjang jarak antara dirinya dengan orang yang mengejarnya itu. Tetapi Jlitheng tidak mau tertangkap. Karena itu iapun berusaha mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak. Bahkan kemudian iapun memotong arah, melintasi pematang dan meloncati parit-parit. Jlithengpun kemudian sadar, bahwa ia tidak akan dapat berlari lebih cepat lagi. Dan iapun sadar, bahwa ia tidak akan dapat meninggalkan orang yang mengejarnya. Karena itu, maka yang dilakukannya adalah memilih jalan yang mungkin dapat mengurangi kecepatan laju langkah orang yang mengejarnya, karena Jlitheng merasa, bahwa ia lebih mengenal jalan-jalan sempit, .pematang-pematang, tanggul parit dan bahkan menyusup diantara gerumbul-gerumbul perdu. Tetapn betapum juga, Jlitheng masih sempat membuat pertimbangan. Ia tidak mau memberikan kesan, bahwa ia adalah orang dari Lumban Wetan. Iapun tidak mau member ikan kesan, bahwa ia tinggal diatas bukit berhutan, karena dengan demikian akan dapat menuntun perhitungan Daruwerdi atas dirinya yang tinggal di Lumban Wetan, atau mereka yang menghuni bukit berhutan itu. Karena itu, Jlitheng justru berlari kearah yang lain sama sekali. Iapun juga tidak berlari menuju ke Lumban Kulon, karena dengan demikian ia akan menyusul Daruwerdi yang tentu berjalan tidak secepat ia berlari. Sambil ber lari orang yang menyebut dirinya Cempaka itu- pun mencoba untuk menebak. Namun ia sama sekali tidak dapat menduga-duga, siapa orang itu, jika ia bukan pengikut Daruwerdi. “Jika benar ia pengikut Daruwerdi, maka pantaslah jika orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri yang pernah datang kemarn tidak akan pernah kembali,“ berkata Cempaka itu didalamhatinya. Karena pikiran itulah, maka ia mulai menimbang-nimbang. Ia mulai membayangkan, apakah memang begini cara Daruwerdi membinasakan lawannya. Ia memancing orang yang tidak disukainya dengan cara seperti yang sedang terjadi itu. Kemudian dengan licik membinasakan mereka. “Persetan,“ geram Cempaka, “aku bukan orang yang hanya setingkat dengan budak-budak dari Kendali Putih dan budak- budak Pusparuri. Aku tidak peduli siapakah orang itu. Aku harus menangkapnya dan kemudian memaksanya berbicara. Tetapi setiap kali orang yang menyebuit dir inya Cempaka itu tanya dapat mengumpat, karena ia jt idak dapat segera menangkap lawannya. Sebenarnyalah bahwa diantara kedua orang itu telah terjadi pertempuran yang aneh. Mereka tidak mengadu ketangkasan, kecepatan bergerak dalam tata kanuragan, tidak pula mengadu ilmu pedang dan membenturkan kekuatan. Tetapi mereka sedang berlomba kecepatan berlari dan daya ketahanan mereka. Mereka harus mengatur pernafasan mereka sebaik-baiknya agar mereka tidak segera diburu oleh desah nafas dilubang hidung. Merekapun harus tetap mempertahankan kecepatan ayunan kaki mereka, agar mereka setidak-tidaknya dapat mempertahankan jarak antara keduanya. Demikianlah, maka keduanya telah berlari seperti angin didalam gelapnya malam. Jlithenglah seolah-olah yang telah memilih jalan yang akan mereka lalui. Kesempatan memilih dan pengenalan atas daerah yang menjadi arena bertarungan itulah agaknya yang memberikan keuntungan kepadanya, ia dapat dengari tiba-tiba berbelok karena ia memang mengenal jalur jalan itu dengan baik. ia dengan tangkasnya meloncati parit yang cukup lebar meskipun tidak berair dimusim ker ing, ia dapat berlalu seperti angin dipematang yang sempit, karena ia mengerti, dimanakah tanah yang keras dan dimanakah yang gembur atau licin. Karena itulah, maka jarak yang semula bagaikan telah ditentukan itu semakin lama menjadu semakin panjang. Jlitheng perlahan-lahan dapat menjauhi orang yang mengejarnya “Persetan,“ geram Cempaka, “orang gila itu harus dibunuh biarpun ia pengikut Daruwerdi.” Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena orang yang dikejarnya seolah-olah menjadi semaikin jauh. Setiap kali ia mengatur keseimbangan selagi berlari dipematang yang sempit apalagi kadang-kadang licin dan mir ing, sehingga kecepatannya harus dikuranginya. “O, gila.“ ia menggeram. Tetapi orang yang menyebut dirinya bernama Cempaka itu tidak dapat berbuat apa-apa. Justru yang terjadi adalah, bahwa jarak mereka semakin lama menjadi semakin panjang. Kenyataan itu memang sangat menyakitkan hati. Tetapi ia tidak dapat mengingkar inya. Dengan kemarahan yang menghentak jantung, ia melihat orang yang dikejarnya semakin lama menjadi semakin jauh menusuk kepusat kegelapan. “Berhenti pengecut,“ oleh kemarahan yang memuncak, maka iapun telah berteriak sekuat-kuatnya. Apalagi Cempaka menyadari, bahwa mereka sedang berada dibulak yang panjang, sehingga tidak akan ada orang yang mendengarnya. Mungkin ada satu dua orang yang berada disawahnya dimalam hari, tetapi mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu atau memberikan keterangan suatu apapun tentang suaranya. Tetapi Jlitheng sama sekali t idak berhenti. Ia tidak dapat menurut i perasaannya yang sakit oleh teriakan-teriakan orang yang menyebut dirinya Cempaka itu dengan mengumpatinya sebagai seorang pengecut. Tetapi iapun tidak dapat melepaskan perhitungannya untuk waktu yang cukup panjang dalamtugasnya. Karena itulah, Jlithetng masih berlari terus, Ia sudah mengelilingi beberapa padukuhan di Lumban Wetan dan Lumban Kulon lewat bulak-bulak panjang. Bahkan kadang- kadang ia sudah terdorong ketempat yang agak jauh dari padukuhan Lumban. Namun Jlitheng setiap kali telah melingkar kembali mendekati bukit gundul itu. Akhirnya Cempakapun harus mengakui, bahwa ia tidak akan dapat mengejar orang yang telah bersembunyi dan mendengarkan percakapannya dengan Daruwerdi. Namun dugaannyapun kuat, bahwa orang itu adalah pengikut Daruwerdi yang mendapat tugas daripadanya untuk mengamati keadaan, seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi sendiri. Ada keinginannya untuk menemui Daruwerdi dan mengumpatinya, karena kecurigaannya. Tetapi iapun sudah terlanjur mengatakan kepada Daruwerdi bahwa dengan isyarat, ia akan dapat memanggil orang-orangnya untuk datang kebukit gundul dan menangkap Daruwerdi. Karena itu, niatnya untuk bertemu dengan Daruwerdi itu- pun diurungkannya. Lebih baik baginya untuk meninggalkan tempat itu, dan mempersiapkan dir i menghadapi tugas-tugas berikutnya sehubungan dengan permintaan Daruwerdi untuk menangkap seseorang yang pernah membunuh ayahnya. Tetapi Cempaka t idak dapat tergesa-gesa berbuat demikian, karena ia masih harus melaporkan hasil pembicaraannya dengan Daruwerdi dan merencanakan langkah-langkah ber ikutnya yang mapan. Dalam pada itu, Jlitheng masih saja berlari. Baru ketika ia yakin bahwa orang yang menyebut dir inya Cempaka sudah tidak mengejarnya terus, ia memilih arah yang sebenarnya. Hampir diluar sadarnya, maka iapun telah melangkah dengan tergesa-gesa menuju kebukit berhutan. Seolah-olah ada keharusan baginya untuk datang dan menceriterakan apa yang terjadi kepada orang tua yang bernama Kiai Kanthi itu. Ketika Jlitheng mendekati tempat yang dihuni oleh Kiai Kanthi, malam telah menjadi semakin kelam. Namun agaknya Kiai Kanthi masih belum tidur menunggui anak gadisnya yang nyenyak. Karena itu, maka iapun mendengar desir halus mendekati tempatnya. “Aku Kiai,“ desis Jlitheng sebelum Kiai Kanthi meloncat berdiri. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu ada ceritera yang menarik.” “Apakah Kiai sudah mengetahuinya ?” bertanya Jlitheng. Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Belum ngger. Tetapi menilik nafasmu yang bekejaran, maka kau tentu sedang dalam ketegangan. Dan mungkin kau sudah melakukan sesuatu yang telah memeras tenagamu.” Jlitihengpun kemudian duduk disampiing Kiai Kanthi diatas anyaman ilalang. Sejenak ia mengatur pernafasannya. Baru kemudian ia mulai berceritera. “Aku tidak tahu Kiai apakah Kiai terlibat didalam masalah ini atau tidak. Seandainya Kiai akut serta dalam perebutan pusaka itu, maka aku telah terjebak disini,“ berkata Jlitheng. “Kau masih saja ragu-ragu ngger,“ berkata Kiai Kanthi, “tetapi akupun menyadari bahwa hal itu wajar sekali. Namun jika masih ada sedikit kepercayaan, biarlah sekali lagi aku menegaskan, bahwa aku telah mengungsi dari padepokanku yang hancur oleh banj ir, gempa dan tanah longsor.” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata, “Aku percaya Kiai.” Namun tiba-tiba saja terdengar Swasti yang masih memejamkan matanya menyahut, “Percaya atau tidak percaya, itu bukan persoalan kita ayah, seperti juga kita dapat percaya atau tidak percaya. Karena sebenarnyalah bahwa kadang-kadang orang yang menginginkan sendiri, selalu mempersoalkan niat orang lain.” “Ah,“ desis Kiai Kanthi, “j ika kau masih tidur, tidur sajalah. Jangan separo tertidur, separo ikut dalam pembicaraan ini, sehingga kata-katamu tidak ubahnya seperti orang yang sedang mengingau didalam tidur.” “Aku tilak t idur ayah,“ jawab Swasti. Tetapi ia tidak bangkit. Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak banyak menghiraukan gadis itu. Setelah beberapa kali ia bertemu maka iapun mulai mengenal sifat gadis itu. Tetapi tiba-tiba saja Swasti bertanya masih sambil berbaring dibelakang pohon, “Kenapa Daruwerdi harus dicurigai dan dibayangi ?” Kiai Kanthi menarik nafas pula. Katanya, “Seperti yang selalu aku katakan Swasti, pendatang didaerah ini tentu akan saling mencurigai.” “Tetapi Daruwerdi tidak mencur igai siapapun disini,“ berkata Swasti kemudian. Kiai Kanthi tersenyum. Katanya, “Ia terlalu banyak bertanya dan banyak memperhatikan kita. Apakah itu salah satu bentuk kecurigaan atau bukan, aku tidak dapat mengatakannya.” Swasti mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Jlitheng yang termangu-mangupun kemudian berkata, “Kiai. Besok aku dan beberapa orang kawan akan melanjutkan kerja ini. Mudah-mudahan air itu cepat dapat dikendalikan. Besok kita akan mencoba, mengalirkan sebagian kecil dari arusnya, apakah air itu dapat mengalir seperti yang kita kehendaki.” “Baiklah mgger. Aku kira besok kita sudah dapat melakukannya. Kita membuka sedikit tebing arus air yang mengalir ke luweng dibawah tanah itu. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui dan menentukan kerja kita seterusnya.” “Sementara yang lain mulai menaikkan tulang-tulang atap gubug Kiai itu,“ desis Jlitheng kemudian. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Alangkah senangnya tinggal dibawah atap, meskipun atap ilalang.” “Beberapa saat lagi, padepokan Kiai akan siap dilereng bukit ini. Bukan sekedar rumah beratap ilalang. Jika orang- orang Lumban dapat memetik hasil jerih payah Kiai dengan mempergunakan air itu, maka mereka akan membantu dengan senang hati.” Kiai Kanthi tertawa. Desisnya, “Mudah-mudahan ngger.“ Jlithengpun kemudian minta diri. Ia harus segara kembali kepada kawan-kawannya. Jika ada kecurigaan Daruwerdi dan mencarinya, maka tugasnya akan bertambah sulit. Dihari berikutnya, Jlitheng dan beberapa orang kawannya telah mulai bekerja pula membantu Kiai Kanthi dilereng bukit berhutan itu. Salah satu dari yang disebut Sepasang Bukit Mati. Selagi beberapa orang sibuk memasang tulang-tulang rumah gubug Kiai Kanthi, maka Jlitheng dan Kiai Kanithi sendiri dengan sungguh-sungguh sedang memperhitungkan kemungkinan arus air yang akan mulai dialirkan sedikit demi sedikit lewat saluran yang sudah disiapkannya. “Kita akan menyobek tebing saluran air itu sedikit,“ berkata Kiai Kanthi. “Dengan demikian, kita akan mengetahui apakah jalur air itu sudah benar.” “Kita akan memecah batu padas itu Kiai, agar alirannya tidak cepat membesar karena pintu airnya juga dengan cepat membesar,“ berkata Jlitheng. “Bagus ngger. Bagus. Kita akan membuat pintu air justru pada batu padas yang keras,“ sahut Kiai Kanthi. Kedua orang ituipun kemudian memilih tempat yang paling baik, sesuai dengan jalur parit yang sudah tersedia. Dengan hati-hati mereka memecah tanggul yang terjadi dari batu batu padas yang keras. Seperti yang mereka perhitungkan, maka ketika pintu yang dibuat oleh Jlitheng dan Kiai Kanthi itu cukup dalam, air yang bergejolak didalam jalurnya menuju keluweng dibawah tanah itupun mulai meluap. Sedikit demi sedikit, lewat pintu pada batu padas yang cukup keras. “Sudah cukup Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya air yang meluap dan kemudian menjalar menyusuri jalur jalan yang memang sudah disediakan, menuruni tebing bukit berhutan itu. “Kita akan melihat, apakah air itu dapat terkendali sampai kebawah bukit Kiai,“ berkata Jlitheng, “dan kita akan mengikut i, apakah luapan air itu akan benar-benar masuk kedalamsungai.” “Jadi?“ bertanya Kiai Kanthi. “Kita akan turun. Aku akan minta agar kawan-kawan meneruskan kerja mereka, sementara kita turun,“ jawab Jlitheng. Keduanyapun kemudian berlar i-lari menuruni tebing, setelah mereka berpesan kepada anak-anak muda yang lain, yang sibuk dengan gubug Kiai Kanthi. Mereka seolah-olah berlomba dengan ujung arus air yang menuruni jalurnya. Kadang-kadang Jlitheng memotong arah, memintas sehingga ia dapat mendahului arus air yang cukup cepat, meskipun tidak terlalu deras, karena pintu yang dibuat oleh Jlitheng dan Kiai Kanthi memang belum terlalu besar. Ketika mereka sampai dibawah bukit, mereka masih sempat melihat ujung air itu meleleh dan masuk kedalam parit yang sudah tersedia. Lewat parit itu, maka airpun menuju ke padang perdu, menyusup disela-sela gerumbul-gerumbul liar menuju kesungai yang hampir tidak berair dimusim ker ing. “Kita akan segera dapat membuktikan Kiai,“ berkata Jlitheng sambil tersenyum, “orang-orang padukuhan Lumban tidak akan segan berbuat sesuatu bagi Kiai, yang akan membangun sebuah padepokan. Mungkin padang perdu ini akan segera berubah menjadi tanah persawahan dan pategalan yang subur, yang basah disegala musim.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati yang berdebar-debar Kiai Kanthi melihat, air yang masih terlalu sedikit itu akhirnya tumpah kedalam sungai seperti yang mereka kehendaki. “Kerja kita sudah selesai Kiai, pada tahap pertama,“ berkata Jlitheng kemudian. “Ya. Kita akan dapat mengatur, seberapa banyak air yang akan kita sadap dari belumbang itu,“ sahut Kiai Kanthi. “Seluruhnya Kiai. Bukankah itu lebih baik daripada air itu hilang ditelan tanah ?” Tetapi wajah Kiai Kanthi nampaknya dibayangi oleh keragu- raguan, sehingga Jlithengpun bertanya, “Apa Kiai mempunyai pendapat lain?” -oooOooo—


Jilid 05
“NAMPAKNYA memang demikian ngger. Air itu akan lebih baik kita pergunakan disini daripada hilang didalam tanah. Tetapi kau lupa, bahwa pada suatu saat, tempat yang rendah. Mungkin air yang muncul dar i dalam tanah itu, sejak lama menjadi sumber penghidupan orang-orang disekitarnya. Jika kita yang disini, menyadap air itu seluruhnya, maka mata air ditempat yang jauh itu akan menjadi kering. Kau dapat membayangkan akibatnya atas orang-orang yang mengantungkan diri pada sumber air itu.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk- angguk ia berkata, “Kiai benar. Aku tidak memikirkan sampai sejauh itu, Kiai.“ ia berhenti sejenak, lalu, “justru sikap itu harus kita perhatikan. Kita harus memberitahukan hal itu kepada orang-orang lain yang mungkin akan dengan serakah mengambil air dari belumbang itu seluruhnya bagi tanah Lumban Wetan atau Lumban Kulon.” “Kemungkinan itu memang besar sekali. Meskipun demikian, kita akan berusaha untuk meyakinkan mereka, bahwa mereka tidak boleh terlalu mementingkan diri sendiri.” Jlitheng mengangguk-angguk. Sementara itu, gemericik air yang menuruni tebing, telah menyatu dengan arus air sungai yang hampir kering. Pengaruh air dari belumbang itu memang belum nampak. Tetapi bagi Kiai Kanthi dan Jlitheng, rasa-rasanya semuanya sudah jelas. Bahkan Jlithengpun kemudian berkata, “Kiai, kita akan dapat menunjukkan air itu kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Mereka akan dapat mengerahkan orang- orangnya untuk membendung sungai atau untuk sementara mengalirkan arus air itu kedadam parit yang sudah ada, meskipun kering dimusim kemarau.” Tetap Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Semula aku tidak memikirkannya ngger. Tetapi sekarang aku melihat, bahwa jika air itu akan dialirkan langsung keparit, maka par it itu hanya akan mengairi sawah dan ladang di daerah Lumban Wetan. Hal itu akan dapat menimbulkan persoalan bagi Lumban Kulon. Karena itu, memang sebaiknya kita melakukan seperti yang kau katakan beberapa saat yang lampau. Air itu masuk kedalam sungai, kemudian diangkat kedalam par it disebelah menyebelah sungai, sehingga Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan dapat menikmat inya meskipun tidak memenuhi segala kebutuhan dimusim kering, tetapi sudah akan dapat mendorong kemajuan hasil tanah yang cukup besar.” Jlitheng mengangguk-angguk. Sambil memandang kearah Lumban Wetan dan Lumban Kulon ia berkata, “Kiai benar. Sekali lagi nampak, bahwa Kiai berpikir jauh. Agaknya aku masih harus mengendapkan dir i untuk dapat melihat jarak seperti yang Kiai lihat. Meskipun sampai saat ini nampaknya tidak ada persoalan atas Lumban Wetan dan Lumban Kulon. tetapi jika masailah air itu mulai terasa, justru akan dapat menimbuilkan persoalan baru yang cukup gawat. Apalagi menilik sikap putra Ki Buyut di Lumban Kulon. Agaknya sikapnya tidak selunak sikap ayahnya yang menjadi semakin tua.” Kiai Kanthipun memandangi pula beberapa pedukuhan diantara bulak-bulak yang tidak begitu subur dan bahkan kering dimusim kemarau. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Mudah-mudahan akan segera terjadi perubahan. Tetapi bukan perubahan sifat dan watak orang-orang Lumban yang ramah dan baik hati. Jika air itu mulai menyentuh daerah yang kering itu, maka akan mudah timbul nafsu ketamakan dan rakus. Hal itulah yang harus dihindarkan pada setiap usaha perubahan keadaan. Beberapa orang akan mungkin sekali berusaha untuk mendapat yang lebih banyak dari orang lain.” “Tetapi tentu tidak benar pula apabila kita akan membiarkan kesempatan perbaikan itu terjadi Kiai.” “Ya, ya, ngger. Kesulitannya adalah mencari keseimbangan itulah,“ jawab Kiai Kanthi. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku akan berbicara dengan Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon, bahwa air telah dapat diarahkan sesuai dengan kepentingan orang-orang Lumban. Tetapi tidak segera Kiai.” “Malam nanti ?” Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Lebih baik dua atau tiga hari lagi setelah semuanya cukup meyakinkan. Sementara gubug Kiai Kanthipun akan sudah menjadi rapat. Dalam waktu satu dua hari ini, aku akan pergi Kiai.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Ada hubungannya dengan permintaan Daruwerdi seperti yang pernah angger ceriterakan ?” “Ya. Malam nanti aku pergi. Mudah-mudahan sehari besok aku dapat menyelesaikan pekerjaan itu, sehingga malam besok aku sudah berada disini. Jika aku terlalu lama pergi, akan timbul kecur igaan orang-orang Lumban, terutama Daruwerdi sendiri. Jika orang yang menyebut dirinya Cempaka itu sempat mencer iterakan kepada Daruwerdi bahwa ada orang yang mengintainya saat mereka berdua mengadakan pembicaraan, maka Daruwerdi tentu akan mencari jawab, siapakah orang yang telah melakukannya itu.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia mengerti, tentu Jlitheng berkepentingan dengan rencana Cempaka untuk memenuhi permintaan Daruwerdi sebagai ganti pusaka yang dijanjikannya. Meskipun pusaka itu sendiri masih belum ditunjukkannya. “Aku wajib mencar i, siapakah orang yang dimaksud oleh Daruwerdi membunuh ayahnya itu. Apakah benar hal itu pernah terjadi. Jika benar, maka aku akan dapat mencari jalur, siapakah sebenarnya Daruwerdi itu, dan untuk siapa sebenarnya ia bekerja. Sampai saat ini nampaknya ia bekerja untuk pihak manapun yang dapat memenuhi permintaannya itu. Tetapi aku masih menyangsikan, apakah pemintaannya itu memang benar-benar beralasan. Atau ia sengaja membenturkan kekuatan-kekuatan yang disebutnya sebagai perguruan Kendali Putih, Pusparuri, dan perguruan yang dianut oleh Cempaka itu sendiri.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku adalah orang tua yang sangat picik ngger. Aku tidak pernah mengetahui apapun juga selain padepokanku yang dilanda banjir, gempa dan tanah longsor itu. Karena itu, aku tidak akan dapat ikut membantu, memecahkan masalah itu. Yang dapat aku lakukan t idak lebih dari membuat parit ini.” “Kiaipun masih perlu diselidiki, apakah yang Kiai katakan itu benar. Seandainya Kiai benar-benar orang padepokan terpencil yang dilanda bencana itu, tetapi setidak-tidaknya Kiai tentu pernah mendengar dan mengetahui beberapa perguruan yang ini. Apalagi aku mengerti, sampai dimanakah tingkat ilmu Kiai yang sebenarnya.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah kita tidak berbicara tentang hal itu. Jika angger mau pergi, berhati- hatilah, karena masalah yang angger hadapi agaknya masalah yang cukup gawat.” “Ya Kiai,“ jawab Jlitheng, “tidak banyak Pangeran yang aku kenal. Jika ada diantara mereka masih mempunyai ikatan permusuhan karena suatu pambunuhan, maka orang itu pantas aku telusur lebih jauh, apakah benar orang itu yang dimaksud oleh Daruwerdi. Jika benar, maka orang itu akan berada dalam bahaya.” “Tetapi tanpa orang itu, apakah kau akan dapat mencapai akhir dari tugasmu, sampai saat pusaka itu dapat diketemukan ?” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah- mudahan aku menemukan satu jalur yang dapat memecahkan hal itu. Mungkin aku dapat berbicara dengan orang yang menjadi sasaran dendam Daruwerdi, sehingga aku menemukan cara untuk memancing pusaka itu.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Silahkan ngger. Tentu banyak cara. Tetapi tentu banyak pula kesulitannya. Silahkan pergi barang satu dua hari. Tetapi angger benar, bahwa lebih cepat lebih baik. karena penyelidikan itu tidak akan angger lakukan sendir i. Angger tentu mempunyai orang-orang yang akan angger tugaskan.” Jlitheng tersenyum. Jawabnya, “Kiai mulai berkhayal. Aku adalah aku seorang diri. Tetapi aku tidak akan membantah khayalan Kiai yang wajar itu.” Kiai Kanthipuin tertawa juga, sementara Jlitheng berkata, “Marilah Kiai. Kita kembali. Anak-anak yang membuat gubug itu tentu sudah ingin beristirahat. Merekapun akan bergembira jika mereka mendengar bahwa air itu sudah dapat tersalur. Tetapi tidak terlalu besar.” Keduanyapun kemudian menanggalkan tepian sungai yang hampir kering dimusim kemarau itu, kembali memanjat tebing. Seperti yang dikatakan oleh Jlitheng, maka kawannya telah merasa lelah dan haus, sehingga mereka memer lukan istirahat. “Swasti tentu sudah menyediakan minuman dan makanan bagi kita,“ berkata Jlitheng kemudian. Seperti biasanya, maka anak-anak muda ituipun kemudian naik untuk beristirahat. Seperti biasanya pula, Swasti telah menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka. Hari itu, anak-anak muda yang membantu Kiai Kanthi membuat gubug telah mendengar dan kemudian ketika mereka pulang, memerlukan melihat, bahwa air telah dapat tersalur lewat jalur yang dipersiapkan turun kesungai. Air itu akan sangat berguna bagi padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon dihari-hari mendatang. “Tetapi jangan ceriterakan kepada siapapun lebih dahulu,“ berkata Jlitheng, “kita memerlukan pertimbangan yang jauh.” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti setelah Jlitheng member ikan penjelasan lebih jauh dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi karena air itu. “Karena itu, aku akan menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Sebelum itu, aku minta kalian benar-benar diam.“ minta Jlitheng sekali lagi. Kawan-kawannya masih mengangguk-angguk. Sementara Jlithengpun kemudian berkata, “Dua atau tiga hari lagi aku akan menghadap Ki Buyut bersama kalian dan memperkenalkan Kiai Kanthi.” “Kenapa dua t iga hari lagi Jlitheng ?“ bertanya seorang kawannya. “Itulah sayangnya,“ sahut Jlitheng, “besok aku harus pergi kerumah pamanku. Aku sudah mengatakan kepada biyung, bahwa aku sedang sibuk. Tetapi biyung berkeras menyuruh aku menemui paman. Dengan demikian, aku harus pergi barang satu dua hari.” “Apakah pamanmu sakit ?“ bertanya kawannya yang lain. “Sudah lama biyung tidak bertemu dengan paman, adik satu-satunya. Semalam biyung bermimpi bahwa rumah paman dilanda banj ir. Karena itu biyung minta agar aku segera pergi kerumah paman untuk melihat apa yang terjadi.” Kawan-kawannya mengangguk-angguk, sementara Jlitheng berkata terus, “Jika saja bukan biyungku yang menyuruhnya, aku tidak akan bersedia pergi. Tetapi aku tidak dapat membantah per intah biyung.” Kawannya mengagguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa ibu Jlitheng yang sudah menjadi janda itu tidak dapat menyuruh orang lain, kecuali Jlitheng. Dan agaknya Jlithengpun sangat mengasihi ibunya seperti ibunya mengasihinya. “Jadi besok dan lusa, sebelum kau kembali, kita tidak naik kebukit ?” “Pergilah. Bantulah orang tua itu.“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan lupa membawa senjata seperti biasanya. Jika kalian bertemu dengan harimau, maka kalian harus melawan beramai-ramai. Jangan justru melarikan dir i. Karena jika kalian melarikan dir i, salah seorang dar i kalian akan dikejarnya sampai dapat. Tetapi jika kalian bersama- sama melawan, maka harimau itu tentu akan dapat kalian kalahkan, betapapun juga kuat dan garangnya seekor harimau. Apalagi kalian, dihampir tiga atau empat hari sekali masih terus berlatih kanuragan.” “Ah,“ desis anak-anak muda itu. Salah seorang berkata, “Apa yang sudah dapat kita lakukan.” “He, aku sudah dapat mengayunkan parang dengan dangan baik. Jika harimau itu datang, kalian harus menyerang beramai-ramai dengan parang atau golok terhunus. Kalian dapat melakukannya sambil berteriak-teriak. Mungkin harimau itu akan menjadi takut dan berlar i.” “Sudahlah,“ berkata kawannya, “mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan harimau seperi biasanya. Kebiasaan kami berteriak-teriak berdendang dan ura-ura agaknya dapat menakut-nakuti binatang jenis apapun juga.” “Mudah-mudahan,“ Jlitheng. mengangguk-angguk, ia-pun sependapat bahwa kebiasaan kawannya berteriak-teriak didalam hutan itu telah menakut-nakuti harimau yang tidak terbiasa mendengar suara yang demikian, meskipun Jlitheng- pun tahu, bahwa kawan-kawannya berteriak-teriak karena ada juga yang berasaan takut dan ngeri memasuki hutan yang masih dihuni binatang buas itu. Demikianlah, maka ketika bayangan senja turun diatas padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kuton. maka Jlithengpun menemui ibunya untuk minta ijin pergi barang satu dua hari. “Pekerjaan di bukit itu hampir selesai biyung. Kami bersepakat untuk mengerjakannya siang dan malam.” “Kau mengada-ada saja Jlitheng. Mana mungkin kerja itu kau lakukan malam hari. Kau akan membuang-buang waktu saja, dan bahkan mungkin salah seorang dari kalian akan dapat tergelincir jatuh.” “Malam hari kami hanya mengerjakan anyaman. Dinding, tutup keyong, atap ilalang dan lain-lain yang masih kurang. Pagi-pagi kami dapat lekatkannya pada gubug yang sudah siap itu.” “Ah, terserah saja kepadamu. Tetapi hati-hati. Binatang buas berkeliaran dimalamhar i.” “Kami menyalakan obor biyung. Binatang buas takut kepada api,” jawab Jlitheng. Lalu, “Malam nanti aku akan mulai.” Ibunya tidak melarangnya. Karena itu, maka ketika malam mulai gelap, Jlithengpun minta dir i. “Hantu betina itu akan mencari anak. Pakailah dingo atau kunyit dikeningmu. Akar dingo akan menjauhkan kau dari hantu-hantu.” Jlitheng menahan senyumnya. Tetapi ia menurut. Ia mengambil sepotong akar dingo dan diusapkan pada keningnya. Baru kemudian Jlitheng berangkat meninggalkan padukuhan Lumban Wetan. “Dimalam hari Jlitheng berjalan dengan cepatnya. Ia tidak berjalan lewat jalan-jalan yang rata. Tetapi ia memintas melewati jalan-jalan sempit dan bahkan pematang. Dengan hati-hati ia melintas tidak terlalu jauh dari bukit gundul. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Apa lagi Daruwerdi atau orang-orang yang berhubungan dengan anak muda itu. Untuk menghilangkan kesan tentang dirinya, maka Jlitheng telah mengenakan pakaian yang lain sekali dari pakaian- pakaiannya yang disembunyikan di bulak panjang, di antara pakaiannya yang disembunyikan di bulak panjang, di antara batu-batu padas didekat sebatang randu alas yang jarang di dekati seseorang. Dengan pakaian itu, ia tidak lagi nampak sebagai seorang anak petani yang hidup sederhana sekali. Dengan demikian, jika ada seseorang yang tanpa dapat dihindar i melihatnya, sama sekali tidak akan menghubungkannya dengan seorang anak petani di padukuhan Lumban Wetan. Karena waktu yang ada bagi Jlitheng tidak terlalu banyak maka iapun berjalan dengan tergesa-gesa. Ia harus sampai ketempat ia menyimpan kudanya disebuah padukuhan yang besar yang agak jauh dari Lumban Wetan, yang dititipkan kepada seorang saudagar yang sudah dikenalnya sebelumnya, dipercayanya dan mengerti persoalannya, karena sentuhan ilmu dari sumber yang sama. Baru tengah malam ia sampai kerumah saudagar itu. Ketika ia mengetuk pintu, maka saudagar itupun terkejut. Dengan hati-hati ia bangkit dari pembaringannya, meraih senjatanya. Baru kemudian ia berjalan keruang dalam. “Siapa ?“ ia bertanya. Sementara tangannya telah memegang hulu pedangnya. “Aku paman. Arya Baskara.” “He ?” tetapi ia masih ragu-ragu, “benar kau angger Baskara ?” “Ya,“ jawab Jlitheng. “Baskara siapa ? Ada seribu orang yang bernama Baskara.“ saudagar itu masih bertanya. “Baskara Candra Sangkaya,“ jawab Jlitheng, “apakah paman sudah lupa suaraku.” “O, kau ngger,“ dengan tergesa-gesa saudagar itu membuka selarak pintu. Ketika pintu itu terbuka, maka seorang anak muda berdiri sambil tersenyum didepan pintu. Oleh cahaya lampu minyak yang redup, maka saudagar itu segera mengenal, bahwa yang datang itu memang Arya Baskara. “Silahkan ngger, silahkan. Kau datang ditengah malam, sehingga aku terkejut karenanya.“ saudagar itu mempersilahkan. “Aku dalam perjalanan ke Demak paman,“ berkata Jlitheng yang dikenal oleh saudagar itu bernama Arya Baskara. “Sehubungan, dengan tugas anakmas ?“ bertanya saudagar itu. “Tentu paman. Dan agaknya persoalannya menjadi semakin buram. Nampaknya tempat yang disebut Sepasang Bukit Mati itu menjadi semakin menarik perhatian orang.” “Itu sudah wajar ngger. Kabar tentang Sepasang Bukit Mati itu tentu cepat tersebar. Jika salah satu kelompok mulai memperhatikan tempat itu, maka kelompok yang lainpun tentu akan segera mendengar karena tidak mustahil bahwa mereka mempunyai orang-orang yang saling menyusup diantara kelompok-kelompok yang bersaing itu,“ berkata saudagar itu pula. Kemudian iapun bertanya, “Lalu, apa pula yang akan angger lakukan di Kota Raja ?” “Banyak masalah yang tidak aku ketahui dengan pasti, paman. Karena itu aku memer lukan bantuan orang-orang yang berada di Kota Raja. Karena tugas yang aku lakukan mungkin akan memerlukan bantuan.” Saudagar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Itu sudah wajar sekali, anakmas. Tetapi berhati-hatilah. Mungkin ada orang-orang yang hilir mudik pula Sepasang Bukit Mati itu, sehingga kau akan menjumpainya diperjalanan. Jika kau dapat mengimbangi kemampuannya, maka itu bukannya hambatan yang berarti. Tetapi jika yang kau jumpai adalah sekelompok orang yang tidak kau kenal, maka akibatnya akan dapat menyulitkanmu.” Jlitheng tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan tidak paman. Mudah-mudahan aku tidak bertemu dengan orang- orang itu.” Saudagar itu termangu-mangu. Namun nampak kecemasan membayang diwajahnya. Sehingga akhirnya ia berkata, “Apakah aku dapat mengawanimu diperjalanan?” Jlitheng tertawa. Katanya, “Terima kasih paman. Paman masih harus melanjutkan beristirahat.” “Aku juga mempunyai rencana ke Kota Raja meskipun sebenarnya tidak perlu tergesa-gesa karena urusan pekerjaanku. Aku meninggalkan beberapa barang ditempat kawanku berdagang.” “Terima kasih. Aku t idak ingin menyulitkan paman. Apalagi tugas dan pekerjaan paman adalah mencar i hubungan seluas- luasnya. Jika karena sesuatu hal paman mulai bermusuhan dengan satu dua pihak, maka daerah pekerjaan paman akan menyempit.” “Ah,“ saudagar itu tertawa pula. Jawabnya, “Tentu aku tidak dapat terlalu mementingkan diriku sendiri. Tetapi j ika kau dapat pergi sendiri, pergilah ngger. Besok atau lusa aku akan pergi juga ke Kota Raja.” “Aku hanya akan berada di Kota Raja sehari paman. Besok malam aku akan sampai ketempat ini menjelang tengah malam. Dan aku akan meneruskan perjalananku ke Lumban Wetan dengan berjalan kaki.” “Begitu tergesa-gesa ?” “Karena keadaanku dan tugas yang harus aku lakukan didekat Sepasang Bukit Mati itu.” Saudagar itu tidak menyarankan sesuatu lagi. iapun kemudian mempersiapkan kuda yang akan dipergunakan oleh Arya Baskara. Sengaja ia tidak membangunkan pekatiknya, agar tidak bertanya-tanya sesuatu tentang tamunya yang aneh itu, dan yang bahkan mungkin akan diceriterakannya kepada tetangga-tangganya. Lewat tengah malam, Jlitheng berpacu meninggalkan rumah saudagar itu. ia harus berlomba dengan waktu. Pagi- pagi benar ia harus sudah berada di Kota Raja. “Tetapi waktunya tidak terlalu mendesak,“ desis Jlitheng sambil menengadahkan wajahnya, memandang bintang- bintang dilangit. Seperti yang pernah dipelajarinya, ia dapat melihat waktu dengan memperhatikan letak bintang-bintang yang bergeser dilangit. Namun demikian, Jlitheng tidak memperlambat lari kudanya, yang suara derap kakinya, bagaikan mengoyak kesepian malam yang dalam. Tetapi tiba-tiba saja Jlitheng mengerutkan keningnya, ia mulai menar ik kekang kudanya, sehingga derap kakinya menjadi semakin lambat. Sehingga akhirnya berhenti sama sekali. Beberapa puluh langkah dihadapannya, ia melihat beberapa orang terlibat dalam perkelahian yang sengit. Tetapi Jlitheng masih belum mengetahui dengan pasti, apakah yang sebenarnya terjadi. Karena itu, iapun harus berhati-hati. Mungkin ia tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Tetapi mungkin ia akan terlibat kedalamnya. Sejenak Jlitheng mengamati perkelahian itu. Meskipun malam cukup gelap, namun ketajaman matanya dapat menangkap peristiwa itu dengan jelas. Sejenak kemudian Jlithengpun meloncat turun dari kudanya. Ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon perdu di pinggir jalan. Selangkah-selangkah ia maju mendekat. Jjatheng ingin melihat, apakah diantara mereka yang terlibat ada yang pernah dikenalnya. Dalam pada itu, orang-orang yang sedang berkelahi itupun telah melihat kehadirannya. Mereka menjadi berdebar-debar, karena perkelahian yang seakan-akan telah seimbang itu tentu akan segera berubah, jika ada orang lain yang memilih salah satu pihak untuk dibantunya. “Siapa kau he pendatang,“ tiba-tiba Jlitheng mendengar seseorang diantara mereka yang bertempur itu berteriak. Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi dia sempat mengetahui, yang bertanya kepadanya adalah seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, yang bertempur dengan senjata yang tidak begitu banyak dipergunakan. Dua potong besi yang satu sama lain dihubungkan dengan seutas rantai. Namun nampaknya senjata itu sangat berbahaya ditangan orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu. Sekali kali kedua potong besi itu berada dikedua tangannya. Namun kadang-kadang sepotong diantaranya terlepas dan berputar menyambar-nyambar. “Apa yang kalian perebutkan ?“ bertanya Jlitheng kemudian. “Jangan hiraukan kami,“ jawab yang lain. Tetapi jawaban itu benar-benar telah mengejutkan Jlitheng, Dengan seksama ia memperhatikan orang yang suaranya pernah dikenalnya itu. “Cempaka,“ desis Jlitheng yang hanya dapat didengarnya sendiri. Sejenak Jlitheng termangu-mangu, Ia mencoba menilai, apakah yang sedang dihadapi, dan apakah sebaiknya yang harus dilakukan. Tetapi ia sudah berada ditempat yang jauh dari Lumbaa Wetan dan Lumban Kulon. Ia sudah jauh dar i sepasang Bukit Mati, sehingga Cempaka tentu tidak akan menghubungkannya dengan orang yang disangkanya pengikut Daruwerdi, yang pernah dikejarnya, tetapi tidak dapat ditangkapnya. “Jika kau ingin lewat, lewatlah,“ terdengar suara orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang sedang bertempur dengan orang yang menyebut dir inya Cempaka itu. “Pergilah,“ teriak Cempaka Kemudian. Tetapi Jlitheng masih tetap berdiri ditempatnya. Dari pengamatannya yang singkat, ia segera melihat, bahwa Cempaka bersama dua orang kawannya harus bertempur melawan lima orang lawan. Namun agaknya keseimbangan pertempuran itu tidak segera berubah, sehingga sulit untuk mengetahui, pihak manakah yang akan menang. Sejenak Jlitheng masih termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Apakah aku dapat berdiam diri melihat perkelahian semacam ini ? Meskipun aku tidak mengetahui persoalannya, tetapi aku berhak mengajukan permohonan, agar perkelahian ini dihentikan. Apakah tidak ada cara lain yang lebih baik dari berkelahi dan saling membunuh ?” “Persetan,“ jawab orang yang kekurus-kurusan itu, “bukan urusanmu.” Tetapi Jlitheng berkata pula, “Itu adalah persoalan setiap orang. Karena kalian dan aku adalah sesama titah yang disebut manusia.” “Jangan sesorah,“ bentak orang yang kekurus-kurusan itu sambil bertempur, “pergilah j ika kau tidak ingin mengalami nasib buruk disini.” Jlitheng terdiam sejenak. Hampir saja ia memanggil nama orang yang menyebut dirinya Cempaka. Tetapi bibirnya yang sudah akan bergerak itu terkatub lagi, karena j ika nama itu hanya dipergunakan di bukit gundul itu, maka Cempaka akan segera menghubungkannya dengan orang yang telah gagal ditangkap itu. Karena itu, maka Jlithengpun kemudian berkata, “Kalian tentu bukan anak-anak lagi. Cobalah berpikir. Apakah yang sebenarnya terjadi.” “Diam kau,“ orang yang tinggi kekurus-kurusan itu berteriak. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia berkepentingan dengan orang yang disebutnya bernama Cempaka itu. Karena itu, maka dengan cepat ia mencoba mengambil sikap yang paling baik. “He orang kurus,“ teriak Jlitheng, “kau jangan membentak- bentak. Aku bermaksud baik. Dan adalah menjadi kewaj ibanku untuk mencegah pertumpahan darah. Dengar, kau tentu belum mengenal aku. Aku adalah Raden Bantaradi. Seorang Senapati dalam susunan keprajuritan Demak. Aku dapat juga berbuat lebih buruk dari yang kau lakukan.” Orang-orang yang sedang bertempur itu agaknya terpengaruh juga oleh kata-kata Jlitheng. Apalagi pada saat itu Jlitheng memang mengenakan pakaian sebagaimana dipakai oleh orang-orang Kota Raja. Namun tiba-tiba orang bertubuh tinggi itu berkata, “Aku tidak paduli siapa kau. Tetapi aku harus membunuh kelinci dari Sanggar Gading ini.” “Sanggar Gading,“ Jlitheng terkejut. “Apakah kau pernah mendengar nama perguruan Sanggar Gading ?” justru Cempaka itulah yang bertanya. Jlitheng termamgu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Sebagai seorang Senapati aku banyak mengetahui nama-nama perguruan. Aku kenal Sanggar Gading sebagai sebuah perguruan yang besar. He, apakah benar kau anak Sanggar Gading?” Cempaka tertawa. Ia masih bertempur dengan sengitnya meskipun derai tertawanya terdengar berkepanjangan. Diantara derai tertawanya dan dengus nafasnya ia berkata, “Dari manapun aku datang, tidak ada bedanya bagimu Senapati. Kami adalah orang-orang yang hidup dalam keterasingan kami.” “Kau benar. Tetapi padepokan dan perguruan bukannya papan untuk menempa dir i sekedar karena nafsu ketamakan dan kesombongan. Karena itu, apakah sebenarnya yang menjadn sebab perkelahian ini ?” Hampir berbareng kedua orang yang sedang bertempur itu tertawa. Yang terdengar adalah jawaban orang yang kekurus- kurusan, “Pergilah, sebaiknya kau t idak usah melibatkan diri meskipun aku tahu bahwa kau sebenarnya bukan seorang Senapati, karena setiap orang akan dengan mudah menyebut dirinya seorang Senapati.” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Dan akupun tidak akan memaksamu untuk berhenti berkelahi. Yang akan mati, matilah dalam pstempuran itu. Yang tetap hidup, biarlah hidup. Aku t idak mempunyai urusan dengan kalian.” Jlithengpun kemudian melangkah menepi dan duduk diatas sebuah batu dipinggir jalan sambil memperhatikan perkelahian itu. “Kenapa kau t idak segera pargi he ?“ bertanya orang yang kekurus-kurusan sambil bertempur. “Jangan urusi aku. Uruslah tugas dan kewajibanmu sendir i. Jika kau harus bertempur, bertempurlah. Aku ingin duduk disini melihat apa yang akan terjadi. Aku ingin tahu pasti siapakah yang akan kalah dan siapakah yang akan menang. Aku ingin melihat darah memancar dari luka.” “Persetan,“ orang yang kekurus-kurusan itu mengumpat, “jika lawanku sudah terbunuh, dan kau masih ada disitu, maka kaupun akan aku bunuh.” “Baik. Aku akan memperhitungkan akibat itu. Dan aku akan tetap berada disini,“ jawab Jlitheng. Sikap Jlitheng benar-benar membuat orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu menjadi semakin marah. Sementara orang yang bernama Cempaka itu melihat kemungkinan yang dapat dimanfaatkannya. Karena itu, maka ia tidak lagi mengumpati orang yang duduk memperhatikan pertempuran itu dan mengaku sebagai seorang Senapati. Beberapa saat kemudian, pertempuran itu ber langsung dengan sengitnya. Meskipun jumlah Cempaka dan kawan- kawannya lebih sedikit dari jumlah lawannya, namun untuk beberapa saat, ia masih mampu bertahan. Tetapi agaknya Cempaka dan kawan-kawannya itu telah terlalu memaksa diri memeras segenap kemampuannya. Karena itu, maka ikemudiah ternyata bahwa tenaganyalah yang menjadi lebih dahulu susut. Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu mulai bergeser. “Sebentar lagi kau akan mati tikus kecil dari Sanggar Gading. Jangan menyesal. Kecuali jika kalian bersedia menyebutkan, siapakah yang kini menyimpan pusaka itu,“ berkata orang yang kekurus-kurusan. “Kau gila. Sudah aku katakan. Tidak seorangpun yang mengerti dimana letak pusaka itu,“ jawab Cempaka. “Jika demikian, kami sendiri akan pergi ke bukit yang disebut Sepasang Bukit Mati itu. Kami akan menemui anak muda yang dianggap sumber dari segala macam keterangan tentang pusaka itu.” “Jika kau mau pergi, pergilah. Aku tidak mempunyai sangkut paut. Kenapa kalian memaksa kami bertempur disini?“ bertanya Cempaka. Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu berkata, “Ternyata kau bertanya pula seperti orang gila yang mengaku dirinya Senapati itu.” “Ya. Mungkin sebagian benar.” Jlitheng yang duduk dipinggir jalan itu tertawa. Katanya. “Berbantahlah sambil berkelahi. Menarik sekali untuk dilihat dan didengarkan. Akupun menunggu jawab atas pertanyaan itu.” “Semua sudah gila,“ teriak orang yang kekurus-kurusan itu, “He, tikus dari Sanggar Gading. Aku pasti, bahwa kau baru datang dari Sepasang Bukit Mati. Kau tentu sudah bertemu dengan anak muda yang dianggap satu-satunya sumber keterangan itu. Kau tentu sudah membicarakan sesuatu syarat bagi penyerahan pusaka itu. Karena itu maka sebaiknya kau jtidak usah kembali keperguruanmu. Dengan demikian jalur antara Sanggar Gading dan anak muda itu akan terputus.” “Dan kau akan membuat jalur baru,“ potong orang yang menyebut dir inya Cempaka. “Ya. Aku akan membuat jalur baru. Dan akulah satu- satunya orang yang akan mendengar dari mulutnya, dimanakah pusaka itu tersimpan.” Orang yang menamakan diri Cempaka itu tertawa. Katanya, “Aku sudah dapat menebak sejak semula. Pertanyaanmu dan tuduhanmu bahwa aku mengerti sesuatu tentang pusaka itu adalah sekedar cara untuk memaksa aku berkelahi.” “Membunuh tanpa alasan memang berat bagiku. Tetapi membunuh dalam perkelahian apapun alasannya memang sangat menarik.” Orang yang bernama Cempaka itu tidak menjawab kata- kata lawannya. Namun bahkan ia berteriak kepada Jlitheng yang duduk diatas batu, “Nah Senapati. Kau dengar apa katanya ? Aku sudah bertanya hal itu untuk kepantinganmu.” “Terima kasih,“ jawab Jlitheng. “Aku tidak peduli,“ teriak lawan Cempaka, “siapa-pun dan apapun sebabnya, aku akan membunuh semua orang dengan caraku. Termasuk kau yang menganggap dirimu sendiri seorang Senapati. Tetapi itu adalah salahmu karena kau tidak mau pergi dari tempat ini.” Jlitheng termangu-mangu. Semakin lama ia melihat keadaan Cempaka dan kawan-kawannya menjadi semakin sulit. Karena itu, maka tiba-tiba iapun berdir i sambil berkata, “Sebaiknya aku tidak melihat saja perkelahian ini. Aku akan ikut serta.” Cempaka dan lawannya menjadi berdebar-debar. Mereka mulai menebak, kepada siapakah orang itu akan berpihak. “Aku melihat perkelahian yang tidak adil,“ berkata Jlitheng, “tiga orang yang harus bertempur melawan jumlah yang lebih banyak. Karena itu, aku akan bergabung dengan orang yang lebih sedikit tanpa memperhatikan alasan-alasannya perkelahian ini, meskipun nampaknya orang yang berjumlah lebih banyak itulah menyebabkan pertengkaran ini terjadi.” Orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang yang ingin melibatkan diri itupun tentu bukan orang kebanyakan. Mungkin ia bemar- banar seorang Senapati. Tetapi setidak-tidaknya ia dapat mengukur diri setelah memperhatikan perkelahian itu. Dalam pada itu, Jlithengpun ternyata tidak hanya bermain- main. Iapun kemudian mempersiapkan diri untuk melibatkan diri dalamperkelahian yang mulai berat sebelah itu. Sebenarnyalah bahwa ia memang mempunyai kepentingan. Setelah diperhitungkan untung dan ruginya, maka Jlitheng menganggap bahwa Cempaka baginya lebih penting dari orang yang belum dikenalnya sama sekali. Jika ia berhasil mmyelamatkan Cempaka, maka langkah penyelidikannya lebih lanjut telah mendapat pancadan. Ia akan dapat mulai dengan orang yang bernama Cempaka dari Sanggar Gading. Seandainya ia tidak akan melakukannya sendiri, maka seorang kawannya akan dapat menelusur, siapakah Cempaka itu sebenarnya dan siapakah yang akan menjadi sasarannya sesuai dengan permintaan Daruwerdi. Orang yang disebut telah membunuh orang tuanya. Dan orang itu adalah seorang Pangeran. Karena itu, ketika ternyata Cempaka menjadi semakin terdesak, iapun berkata, “Ki Sanak dari Sanggar Gading yang tidak aku ketahui namanya. Aku berada dipihakmu.” “Apa kepentinganmu ?“ bertanya orang yang menyebut dirinya Cempaka. “Entahlah. Tetapi karena lawanmu mengumpat-umpat, aku menjadi benci kepadanya. Aku ingin memanfaatkan pertempuran ini untuk menangkapnya, hidup atau mati,“ Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “tetapi bagaimana j ika aku ingin memanggilmu.” “Ia bergelar Cempaka Kuning,“ orang yang kekurus- kurusan itulah yang menjawab. “Dan kau ?” bertanya Jlitheng kemudian kepada lawan Cempaka. “Persetan. Masuklah kearena jika kau ingin mati pula,“ geramorang yang kekurus-kurusan itu. Cempakalah yang kemudian tertawa. Katanya, “Orang itu adalah keluarga dari padepokan Kendali Putih. Ia merasa kehilangan orang-orangnya. Dan sekarang ia menjadi gila dan berbuait apa saja diluar nalar dan perhitungan. Ia ingin membunuh siapa saja yang mungkin dibunuhnya tanpa sebab.” “Kendali Put ih,“ gumam Jlitheng. “Kau kenal perguruan Kendali Putih ?“ bertanya Cempaka. “Seperti aku mengenal perguruan Sanggar Gading, aku-pun mengenal perguruan Kendali Putih. Perguruan Pusparuri dan perguraan-perguruan yang lain. Banyak perguruan telah diketahui oleh kalangan keprajuritan di Demak, sesuai dengan sifat dan bentuk perguruan. Yang manakah yang menurunkan ilmu putih dan yang manakah yang diwarnai oleh ilmu hitam.” “Persetan. Jangan banyak bicara. Aku akan membunuhmu,“ geramorang bertubuh kekurus-kurusan itu. Tiba-tiba saja orang itu telah meloncat meninggalkan Cempaka yang digelari Cempaka Kuning itu, langsung menyerang Jlitheng yang menyebut dirinya seorang Senapati. Cempaka tidak dapat memburunya, karena seorang yang lainpun segera menyerangnya pula dengan sengitnya, sehingga iapun harus meloncat menghindar dan kemudian bertempur melawannya. Jlitheng yang mengaku seorang Senapati itulah yang kemudian harus bertempur melawan orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu. Seperti yang dilihatnya, maka orang itu memakai tenaga yang tidak seimbang dengan tubuhnya yang kurus. Ketika orang itu membenturkan kekuatannya, maka terasa tubuh Jlitheng tergetar karenanya. “Orang Kendali Putih ini memang kuat sekali,“ berkata Jlitheng didalamhatinya. Sebelumnya ia pernah bertempur melawan dua orang yang karena tidak ada jalan lain, harus dibunuhnya. Tetapi yang seorang ini mempunyai tataran ilmu yang lebih tinggi, sehingga iapun harus mengerahkan kemampuannya untuk bertempur seorang melawan seorang. Demikianlah maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Cempaka dan kawan-kawannya menjadi lebih mantap menghadapi lawannya yang jumlahnya berkurang. Bahkan kemudian mereka bertiga, segera dapat menemukan keseimbangan pertempuran itu kembali, meskipun mereka telah memeras segenap kemampuan mereka. Dalam pada itu, Jlithengpun segera terlibat dalam pertempuran yang keras. Orang bertubuh kekurus-kurusan itu ternyata lebih senang membenturkan senjatanya dilambari dengan kekuatannya yang dibanggakannya daripada meloncat menghindari serangan yang datang dari lawannya. Orang yang kurus itu merasa bahwa kekuatannya jarang dapat dimbangi oleh lawannya. Tetapi melawan Cempaka ia sudah merasa, bahwa ia tidak dapat membanggakan kekuatannya saja, karena Cempaka Kuningpun memiliki kekuatan melampaui orang kebanyakan. Ketika ia mulai dengan serangannya atas lawannya yang baru, ia menganggap bahwa orang baru itu tentu akan terkejut membentur kekuatannya. Tetapi orang yang kekurus- kurusan itulah justru yang terkejut. Ternyata seperti Cempaka, orang yang mengaku bernama Senapati Bantaradi itupun memiliki kekuatan yang luar biasa. Semakin lama maka orang yang kekurus-kurusan kupun bertempur semakin kasar. Bukan saja ia mencoba mendesak lawannya dengan kekuatannya yang keras dan liar, tetapi ia juga ingin mempengaruhi lawannya dengan hentakkan dan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. “Jangan berteriak-teriak orang kurus,“ berkata Jlitheng, “nanti seisi beberapa padukuhan disekeliling bulak ini akan terbangun dan berdatangan kemari.” “Aku akan membunuh mereka semua,“ teriak orang kekurus-kurusan itu. “Membunuh akupun kau tidak mampu. Apalagi orang dari beberapa padukuhan yang bersenjata. Meskipun seorang demi seorang, mereka tidak dapat melawanmu, tetapi bersama- sama mereka akan dapat membunuhmu sepertil dalam rampogan macan di alun-alun.” “Tutup mulutmu,“ teriak orang yang kekurus-kurusan itu. Jlitheng sempat tertawa sambil meloncat menghindari serangan lawannya yang datang dengan kasarnya, “Jika setiap orang melemparmu dengan sebuah batu, maka kau akan berkubur dibawah timbunan batu-batu itu. Betapapun besar kekuatanmu, tetapi kau tidak akan dapat melawan lontaran batu dari segala penjuru. Sementara merekapun akan melemparkan senjata-senjata mereka pula kearahmu.” Orang yang kekurus-kurusan itu menggeram. Namun tiba- tiba ia berkata, “Kau terlalu sombong. Tetapi sebenarnya hatimu sebesar menir. Kau berkhayal bahwa orang-orang padukuhan akan datang membantumu. He, orang yang mengaku prajurit. Bagaimana jika orang-orang padukuhan datang dan justru melempar imu dengan batu.” “Mereka tidak akan melakukan. Mereka tidak akan melawan prajurit Demak yang sedang mengemban tugas.” “Mereka tidak akan percaya bahwa seorang perwira dari tatanan keprajuritan Demak dalam pakaian kebesarannya berkeliaran seorang diri. Kau adalah seorang prajurit yang memalsukan. Kau bukan prajurit. Dan orang-orang padukuhan akan segera mengetahuinya.” Tetapi Jlitheng hanya tertawa saja. Sambil menyerang ia berteriak, “Kau juga pandai berkhayal.” Orang kekurus-kurusan itu tidak menjawab lagi. Iapun segera menyerang dengan garangnya. Dengan sepenuh tenaga ia ingin segera mengakhiri peirtempuran yang menjengkelkan itu, karena kehadiran seseorang yang mengaku dirinya seorang prajur it. Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin keras dan kasar. Orang yang kekurus-kurusan iu benar-benar seorang yang mempergunakan segala macam cara untuk mengalahkan lawannya. Kasar, liar dan licik. Sementara itu Jlitheng menyesuaikan diri dengan pengakuannya, bahwa ia adalah seorang Senapati. Pakaiannya memang meyakinkan, bahwa ia seorang Senapati dari Demak. Karena itu, maka iapun berusaha, untuk tidak tergelincir dalam sikap dan perbuatannya, sebagaimana seorang Senapati perang yang berwibawa. Dengan demikian, maka ia berusaha untuk tidak terseret oleh kekasaran lawannya. Justru karena itu, maka ia dapat menilai segala macam tata gerak dan Imu lawannya sebaik- baiknya. Dengan kecepatan gerak dan kekuatannya, Jlitheng mampu mengimbangi kekasaran dan keliaran lawannya. Bahkan dengan pengamatan dan perhitungan yang cermat, akhirnya ala berhasil mendesak lawannya yang meskipun agak kekurus-kurusan, tetapi memiliki ilmu yang luar biasa dan kekuatan raksasa pula. Sementara itu, Cempaka dan kawan-kawannyapun berhasil tetap bertahan melawan jumlah yang lebih banyak. Mereka mulai dapat membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. Mereka mulai memperhitungkan ketahanan waktu untuk melawan keempat orang yang kasar dan garang itu. “Kita tidak dapat memperhitungkan, kapan pertempuran ini akan selesai,“ berkata Cempaka didalam hatinya, “mungkin menjelang pagi, mungkin setelah matahari naik, bahkan mungkin masih akan berlangsung sehari penuh.” Namun dengan kesadaran yang demikian, ia selalu berusaha untuk mengamati tata geraknya, sehingga ia membatasi diri pada tata gerak yang menentukan pertempuran itu, meskipun bersama dengan kedua orang kawannya, ia juga berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran yang seru itu. Tetapi agaknya kedua belah pihak t idak mau membiarkan senjata lawan menyobek tubuhnya dan menghentakkan nyawanya dari tubuhnya. Karena itu, maka masing-masing telah bertempur dengan segenap kemampuan dan ilmu yang ada. Namun dalam pada itu, lambat laun, Jlitheng berhasil mendesak lawannya, betapapun orang yang kekurus-kurusan itu berusaha untuk mempertahankan dirinya dengan kasar dan liar. Bahkan kadang-kadang ia masih saja meloncat sambil berteriak. Senjatanya yang agak asing itu berputaran. Sekali- kali tongkat yang terikat pada sepotong rantai itu menyambar, namun kemudian mematuk dengan cepatnya. Bahkan kemudian dua potong tongkat besi itu, tiba-tiba saja telah berada didalamgenggaman seperti sepasang bindi. Melawan senjata yang demikian, Jlitheng harus berhati- hati. Ia kemudian tidak mempergunakan senjata panjang, karena dengan demikian, senjatanya akan dapat terbelit oleh rantai pengikat dua potong besi itu. Yang dipergunakannya adalah sebuah trisula bertangkai pendek, yang terbuat dari besi baja pilihan. Dengan trisula bertangkai pendek itu, maka ia tidak ragu-ragu untuk memukul potongan besi yang berputaran. Bahkan ialah yang berusaha untuk melihat rantai lawannya dengan ujung-ujung trisulanya. Tetapi lawannya cukup cepat pula mempemainkan senjatanya. Bahkan kadang-kadang Jlitheng harus meloncat beberapa langkah surut jika senjata lawannya menyambar mendatar setinggi lambungnya. Melawan Jiltheng orang yang kekurus-kurusan itu memang harus membuat perhitungan yang khusus, karena Jlitheng mampu membentur tongkat besinya yang berputar seperti baling-baling. Setiap kali, dengan bangga ia berhasil merenggut atau mematahkan pedang lawannya. Tetapi trisula Jlitheng ternyata memiliki kekhususan, sehingga setiap benturan justru membuat tangannya menjadi pedih. Sementara itu. Cempaka sempat menilai ilmu orang yang mengaku Senapati dan yang menyebut dirinya bernama Bantaradi itu. Ternyata bahwa Senapati itu mempunyai ilmu yang cukup tinggi, sehingga akhirnya ia berhasil mendesak lawannya. “Aku tidak dapat memperhitungkan, bagaimana akhirnya jika aku harus bertempur melawannya,“ berkata Cempaka didalam hatinya. Kemudian, “Mudah-mudahan ia benar-benar seorang Senapati. Ia bukan sekedar membantu aku, karena aku dalam kedudukan yang lemah, yang menurut perhitungannya, akan lebih mudah dibinasakan pula setelah kelima orang Kendali Putih itu dapat dilumpuhkan.” Tetapi menilik tata geraknya, maka Cempaka menganggap bahwa orang yang mengaku Senapati itu sama sekali bukan dari kelompok orang-orang liar dan kasar yang sekedar mengaku-aku sebagai seorang Senapati, meskipun seperti yang dikatakan oleh orang kekurus-kurusan itu bahwa agak aneh, seorang perwira dalam pakaian kebesaran hanya seorang diri berkeliaran dimalamhar i. “Nanti, setelah semuanya selesai, aku akan dapat memperkenalkannya,“ berkata Cempaka Kuning didalami hatinya. Sementara itu, benturan-benturan senjata antara Jlitheng dan orang yang kekurus-kurusan itu terjadi semakin sering. Justru karena Jlitheng sudah pasti tentang kekuatan lawannya, maka iapun mulai dengan usahanya untuk mer ingkihkan bukan saja genggaman lawannya, tetapi juga hatinya. Jika setiap kali tangannya terasa pedih dan sakit, maka iapun akan menjadi gelisah pula karenanya. Namun kemudian lawannyalah yang berusaha untuk menghindari benturan. Orang yang kekurus-kurusan itu tidak lagi memutar tongkat besinya pada ujung sepanjang rantai pengikatnya. Tetapi ia lebih banyak menggenggam sepasang senjatanya itu ditangan. Dengan dua potong besi itu, ia berusaha untuk menyerang lawannya tanpa mengadakan benturan kekuatan dengan langsung. Jlitheng yang mengaku seorang Senapati itupun kemudian bertempur semakin tangkas dan cepat. Trisulanya menyambar-nyambar dan setiap kali mematuk dada lawan dengan dahsyatnya. Lawannya mulai terdorong surut oleh serangan-serangan Jlitheng yang membadai. Ia tidak segan menyerang lawannya meskipun ia yakin, bahwa lawannya akan mampu menangkisnya, karena setiap benturan akan memberikan tekanan kepada lawannya. Dengan segenap kemampuannya, maka orang yang kekurus-kurusan itu berusaha mempergunakan kecepatannya untuk melawan kekuatan dan kegarangan Jlitheng. Tetapi ternyata bahwa Jlithengpun mampu mengimbangi kecepatannya. Itulah sebabnya, maka semakin lama semakin terasa, bahwa orang yang kekurus-kurusan itu akan kehilangan kesempatan untuk mempertahankan dir inya lebih lama lagi. Tetapi orang yang kekurus-kurusan itu tidak mau menyerah. Ia adalah seseorang yang mendapat kepercayaan oleh pimpinannya untuk menentukan sikap terhadap siapapun juga yang dianggap dapat mempersulit kedudukan perguruannya. Termasuk orang-orang dari perguruan Sanggar Gading, yang menurut perhitungannya telah membuat hubungan khusus dengan anak muda yang berada disekitar Bukit Mati. Namun ternyata bahwa Jlitheng benar-benar tidak dapat dimbanginya. Bahkan semakin lama, terasa ujung trisula lawannya yang bertangkai sangat pendek itu semakin dekat dari kulitnya. Sekali-kali terasa angin yang berdesir lembut jika ujung trisula itu menyambar tubuhnya hanya berjarak setebal daun. Bahkan rasa-rasanya ujung trisula itu sudah mulai menjamahnya. Orang yang kekurus-kurusan itu terkejut ketika terasa sentuhan pada pundaknya. Tetapi ternyata bahwa pundaknya tidak tersayat. Segores tipis warna kemerah-merahan memang membekas. Tetapi darahnya tidak menitik karenanya. “Gila,“ teriak orang kekurus-kurusan itu. “Menyerahlah,“ desis Jlitheng, “aku akan membawamu ke Demak. Kau harus memberikan keterangan tentang perguruanmu dan usahamu untuk menguasai pusaka yang belumdikenal di tlatah Sepasang Bukit Mati,“ sahut J litheng. “Persetan,“ geramnya. Dengan buasnya ia justru menyerang Jlitheng dengan sekuat tenaganya dan segenap kemampuan ilmunya. Jlitheng surut selangkah. Namun kemudian iapun meloncat maju. Tepat saat lawannya justru mengayunkan tongkat ditangan kirinya. Jlitheng tidak menghindar. Dengan trisulanya ia sengaja menangkis tongkat besi itu. Ketika tongkat besi itu menyusup disela-sela ujung trisulanya, maka dengan sepenuh tenaganya ia memutar trisulanya sambil menghentak merenggut tongkat besi itu dari tangan lawannya. Tetapi Jlitheng terkejut karena lawannya sama sekali tidak mempertahankan tongkatnya. Dibiarkannya tongkatnya terlepas begitu saja dari tangannya. Namun sekejap kemudian tongkat yang terlepas itu telah berputar justru menyerang kening Jlitheng yang termangu-mangu. Namun Jlitheng sempat merendah sambil bergeser. Baru tersadar, bahwa tongkat itu terikat oleh seutas rantai. Justru dengan serta merta lawannya telah mempergunakan tongkat itu untuk menyerang. Jlitheng kemudian semakin tertarik kepada rantai lawannya. Jika ia ingin melibat, lebih baik langsung pada rantainya. Tidak pada tongkat-tongkat besi yang terayun-ayun diujung rantai itu. Namun seperti yang pernah dilakukan, lawannyapun segera menangkap tongkat-tongkat besi itu dan mengganggamnya ditangan seperti sepasang pedang. “Gila,“ geramJlitheng. Dengan demikian pertempuran itu masih merupakan pertempuran yang sengit. Sementara Cempaka dan dua orang kawannya, masih harus berhadapan dengan jumlah yang lebih banyak, sehingga Cempaka sendirilah yang kemudian harus melawan dua orang lawan sekaligus. Tetapi keduanya bukan orang-orang sekuat orang kekurus- kurusan itu. Sehingga meskipun dengan memaksakan diri dan memeras segenap tenaga dan kemampuan, Cempaka masih berhasil mempertahankan dirinya. Sementara kawannya yang dua orang itupun bertempur dengan memeras kemampuan, karena lawan merekapun adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Namun dalam pada itu, Jlitheng yang semakin mendesak lawannya, justru merasa dirinya dikejar pula oleh waktu itulah sebabnya, maka iapun bertepur semakin garang. Trisulanya menyambar-nyambar semakin cepat menyusup diantara kedua ujung tongkat besi orang-orang kekurus-kurusan itu. Bahkan diantara putaran tongkat yang dahsyat itu diujung rantai pengikatnya. Ketika Jlitheng berhasil memukul tongkat ditangan kiri lawannya, maka ia dengan serta merta telah meloncat maju selangkah. Tiba-tiba saja kakinya terayun deras sekali mengarah lambung. Tetapi lawannya tidak membiarkan lambungnya dihantam kaki Jlitheng. Dengan tongkat ditangan kanan, lawannya menangkis serangan kaki Jlitheng. Tetapi ternyata bahwa Jlitheng telah menarik serangannya. Ia meloncat dan berputar setengah lingkaran. Trisulanya berputar seiring dengan putaran tubuhnya. Kemudian dengan derasnya terayun langsung kekepala lawannya. Tetapi ternyata lawannyapun mampu bergerak cepat. Dengan tangkasnya ia telah menggenggam pangkal tongkatnya. Dengan merentang rantainya ia melindungi kepalanya. Sementara itu, trisula Jlitheng telah terayun deras sekali. Ketika trisulanya menyentuh rantai itu, terasa rantai itu mengendor. Namun tiba-tiba saja orang kekurus-kurusan itu menghentakkan tangannya sehingga rantai itu menegang dengan tiba-tiba. Untunglah bahwa Jlitheng cukup cepat sehingga trisulanya tidak terpental dari tangannya. Namun dalam pada itu, lawannya yang kekurus-kurusan itu akhirnya tidak dapat mengimbangi kenyataan, bahwa akhirnya ia tidak akan dapat mempertahankan diri lebih lama lagi. Karena itulah, maka ia mulai memikirkan jalan yang paling baik untuk menyelamatkan dir i. Jlitheng yang masih belum memperhitungkan kemungkinan itu, terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar isyarat dari mulut lawannya. Demikian tiba-tiba dan disusul dengan loncatan surut dan kemudian langkah-langkah panjang menghindarkan dir i dari arena perkelahian, diikut i oleh kawannya. Mula-mula Jlitheng berusaha untuk mengejarnya. Namun akhirnya ia menyadari kepentingannya. Ia harus segera berada di Demak dan segera pula kembali ke padukuhan Lumban. Karena itu, maka niatnya untuk mengejar lawannya itupun diurungkannya. Karena Jlitheng kemudian berhenti, maka Cempaka dan kawan-kawannyapun berhenti pula. Meskipun demikian, nampak betapa mereka menjadi kecewa. Namun tidak seorang-pun diantara mereka yang menanyakannya kepada Jlitheng, karena mereka sadar, bahwa mereka tidak berhak untuk menuntut agar Jlitheng melakukan tindakan lebih jauh lagi dar i yang sudah dikerjakan. Tetapi agaknya Jlitheng mengetahui perasaan Cempaka dan kawan-kawannya sehingga ia berusaha menjelaskan sikapnya, “Aku tidak perlu mengejar mereka. Bahwa aku sudah tahu tenteng mereka, itu sudah cukup. Karena pada setiap saat aku akan dapat mengambil tindakan atas perguruan Kendali Put ih.” Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mengangguk sambil berkata, “Terserah kepadamu. Tetapi apakah kau benar seorang Senapati prajurit dari Demak ?” Jlitheng tertawa. Katanya, “Apakah pakaianku memang pantas disebut seorang Senapati ?” Cempaka mulai ragu-ragu. Dipardanginya wajah Jlitheng yang tidak member ikan kesan kesungguhan. Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Seharusnya kau dapat membedakan, apakah aku benar-benar seorang Senapati atau bukan. Pakaianku memang mir ip pakaian seorang prajurit. Tetapi aku bukan seorang prajur it.” “Siapakah kau sebenarnya ?“ bertanya Cempaka. “Aku adalah orang yang kabur kanginan. Orang yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Aku melihatkan diri karena aku melihat ketidak adilan. Kau bertiga harus melawan lima orang sehingga pertempuran itu menjadi berat sebelah. He, apakah kau memang dari perguruan Sanggar Gading ?” “Ya,“ Cempaka tidak dapat ingkar lagi. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Satu keterangan telah didapatkannya. Cempaka adalah orang Sanggar Gading. “Aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu,“ berkata Cempaka kemudian. “Itu tidak pening. Tetapi apakah sebenarnya yang menyebabkan kalian bertempur dengan orang-orang Kendali Putih.” “Kau sudah mendengar sebagian dari persoalan itu.” “Ya,“ Jlitheng menarik nafas dalam-dalam, “tetapi apakah arti pusaka yang kalian perebutkan itu ? Apakah pusaka itu mempunyai nilai gaib yang dapat membuat seseorang menjadi sesembahan, atau membuat seseorang menjadi pilih tanding, atau nilai-nilai yang lain?” Jlitheng mengerutkan keringnya ketika ia melihat Cempaka tersenyum. Tetapi Cempaka kemudian berkata, “Aku titak tahu. Tetapi pusaka itu penting sekali bagi perguruan Sanggar Gading.” “Dan kau sudah mendapatkannya ?” Cempaka itupun tiba-tiba telah tertawa. Katanya, “Belum. Dan aku berkata sebenarnya, bahwa aku belum mendapatkan pusaka itu.” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun iapun kemudan tertawa pula. Justru berkepanjangan. Diantara deri tertawanya ia berkata, “Alangkah lucunya. Kalian sudah mempertaruhkan nyawa kalian untuk sesuatu yang tidak jelas. Apakah artinya itu bukan suatu kedunguan atau bahkan kegilaan ?” “Kita memang orang-orang gila. Tetapi memperebutkan pusaka itu bukan suatu kegilaan yang lebih gila dari kegilaanmu mencampuri persoalanku yang dapat merenggut nyawamu juga,“ berkata Cempaka. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya ingin menolongmu. Jika kau tersinggung dengan istilah itu, baiklah aku katakan lagi, bahwa aku tidak senang melihat ketidak adilan. Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan pusaka itu dan segala tingkah lakumu kemudian. Aku akan meneruskan perjalananku. Mungkin aku akan singgah di Demak. Mungkin tidak. Tetapi mungkin aku justru akan singgah di perguruan Sanggar Gading.” “Pergilah kesana. Tandangmu membuat aku tertarik kepadamu. Jika kau bersedia, bergabunglah dengan kami. Ada tugas penting yang akan kami lakukan,“ berkata Cempaka. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya, “Tugas apa?” “Aku belum tahu pasti. Tetapi jika kau bersedia, datanglah,” sambung Cempaka. Dada Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia teringat pembicaraan Cempaka dengan Daruwerdi di Bukit Gundul. Bahkan Daruwerdi menuntut imbalan yang mahal dar i pusaka yang dijanjikan. Karena itu, sejenak kemudian Jlitheng berkata, “Apakah persoalannya ada hubungannya dengan pusaka itu ? Jika ada, aku lebih baik tidak ikut campur, karena aku tidak mau terlibat dalam persoalan yang menyangkut banyak pihak. Tetapi jika persoalan itu benar-benar tugas perguruanmu, aku mungkin akan dapat mempertimbangkan.” Cempaka memandang Jlitheng sejenak. Tetapi ia tidak melihat kesan yang mencurigakan pada wajah itu. Dalam keremangan malam ia melihat, seakan-akan Jlitheng berkata dengan jujur dan tanpa maksud tertentu. Karena itu, maka iapun kemudian menjawab, “Tidak. Tidak ada sangkut pautnya dengan pusaka itu. Tetapi yang harus kami lakukan adalah persoalan yang menyangkut harga diri perguruan Sanggar Gading.” “Dendam? Kebencian? Atau menyangkut harta, benda?” “Harga dir i,“ sahut Cempaka, “tetapi aku tidak tahu pasti.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia melihat satu kemungkinan untuk maju selangkah dalam tugasnya. Tetapi iapun melihat bahaya yang tersembunyi dibalik kemungkinan itu. Sambil mengangguk-angguk iapun kemudian berkata, “Ki Sanak. Mungkin aku akan benar-benar datang ke padepokanmu. Mungkin aku akan dapat berbuat sesuatu. Tetapi keterlibatanku memer lukan kejelasan, sehingga aku tidak akan salah sasaran. Mungkin yang telah menyentuh harga dirimu itu justru orang yang pernah aku kenal baik, atau malahan sahabat-sahabatku. Tetapi hal itu dapat aku bicarakan kelak j ika benar-benar aku sempat datang ke Sanggar Gading.” “Kau orang yang aneh. Apakah keterlibatanmu kali ini mempunyai alasan dan landasan yang jelas? Kau tidak mengenal aku dan kaupun t idak mengenal orang-orang kendali Putih. Tetapi kau langsung terjun digelanggang perselisihan ini.” “Tetapi bagiku cukup jelas. Orang-orang Kendali Putih itu bukan sanak kadangku. Bukan sahabat-sahabatku dan bukan saudara-saudara seperguruanku,“ jawab Jlitheng. Cempaka mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kau ingin datang, datanglah. Tetapi yang akan kami lakukan tidak akan menunggu sampai waktu yang lebih dari yang sudah ditentukan.” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan datang pada waktu yang kau tentukan. Jika dalam sepuluh hari itu aku tidak datang, maka mungkin aku sudah berada ditempat yang jauh. Mungkin aku sudah berada di Tuban atau mungkin di Blambangan. Bahkan mungkin aku sudah menyeberang ke Bali.” Cempaka mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi siapa namamu ?” “Namaku memang Bantaradi. Tetapi aku bukan Senapati Demak seperti yang aku katakan. Pertemuan kita mungkin ada gunanya. Tetapi mungkin tidak berkelanjutan apapun juga,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku- minta dir i. Aku akan melanjutkan perjalananku yang masih sangat jauh, karena perjalananku memang tanpa batas.” Cempaka tidak menahannya lagi. Ia memandang Jlitheng dengan kening yang berkerut. Ia melihat sesuatu yang asing pada anak muda itu. Dan nampaknya Jlitheng telah berhasil menimbulkan anggapan, bahwa ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang menjadi rebutan diantara baberapa golongan itu. Sejenak kemudian Jlitheng telah meloncat kepunggung kudanya dan kemudian berkata, “Berhati-hatilah menghadapi orang-orang Kendali Putih. He, apakah kau akan mengajak aku datang kepadepokan Kendali Putih sebelum sepuluh hari ini?” Cempaka menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia menggeleng. “Tidak. Meskipun aku tidak tahu pasti, apa yang akan aku lakukan, karena aku hanya akan melakukannya. Kakak kandungkulah yang mengetahui dengan pasti, persoalan yang bagaikan mengindap didalam jantung perguruan.” Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian sambil menggerakkan kendali kudanya ia berkata, “Kita berpisah. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.” Cempaka menarik nafas dalam-dalam, ia hanya memandangi saja kuda yang kemudian berlari meninggalkannya membawa Jlitheng dipunggungnya. “Anak muda yang luar biasa,“ berkata Cempaka. Kedua orang kawannya hanya mengangguk-angguk saja. “Ia memiliki tenaga yang cukup besar dan kecepatan bergerak yang mengagumkan. Ia akan dapat menjadi kawan yang baik dalam tugas berat yang mendatang,“ berkata Cempaka pula. “Tetapi kita belum mengenalnya dengan baik,“ berkata salah seorang dari kawan Cempaka. “Aku telah dapat menarik kesimpulan, bahwa ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang diperebutkan itu. Mungkin iapun akan mempunyai tuntutan tertentu atau sama sekali tidak, namun sudah tentu tidak berkisar pada pusaka yang bernilai sangat tinggi bagi perguruan kita itu,“ sahut Cempaka. “Agaknya memang demikian. Tetapi jika kemudian ia mendengar serba sedikit tentang pusaka itu, mungkin sikapnya akan berubah.” “Kita akan menunggunya,“ desis Cempaka kemudian, “seandainya ia mempunyai maksud tertentu, bukan persoalan yang sulit bagi kita, karena ia hanya seorang diri.” “Maksudmu, setelah kita mempergunakannya, anak muda itu akan kita singkirkan ?“ bertanya seorang kawannya. “Jika ia akan dapat menjadi pengganggu. Jika tidak, biarlah ia pergi tanpa kita sakiti hatinya,“ jawab Cempaka. Kedua kawannya tidak bertanya lagi. Merekapun kemudian bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka. Namun dalam pada itu, Cempaka telah tenggelam kedalam angan-angannya. Jika ia berhasil mememuhi permintaan Daruwerdi, maka ia akan mendapatkan pusaka yang sangat diperlukan oleh saudara tuanya, yang memimpin padepokan Sanggar Gading Setidak-tidaknya ia akan mendapat petunjuk pasti, untuk menemukan pusaka itu. Karena pada pusaka itu terdapat petunjuk yang sangat berharga. Mungkin tergores pada wrangkanya, atau mungkin pada peti tempat pusaka itu disimpan, atau pada selembar kain yang terdapat dalam peti itu pula. Tetapi menurut pendengarannya, bahwa pada pusaka itu terdapat petunjuk, dimanakah harta benda yang tidak ternilai harganya telah disimpan. “Mungkin pusaka itu memang mempunyai pengaruh gaib,“ berkata Cempaka didalam hatinya, “tetapi harta benda yang tidak ternilai itupun mampunyai daya tarik dapat membuat banyak orang menjadi gila.“ Tetapi Cempaka tidak mengatakan kepada seorangpun juga dari perguruannya, selain kakak kandungnya. Keduanya berusaha untuk mendapatkan pusaka itu, apapun yang harus mereka lakukan. Seperti juga beberapa perguruan dan beberapa kelompok orang-orang pilihan yang sudah mendengar serba sedikit tentang pusaka itu, telah berusaha untuk menemukannya. Apakah mereka tertarik karena mereka menganggap pusaka itu akan dapat mengangkut mereka kejenjang kekuasaan tertinggi atau karena mereka memang sudah mengetahui, bahwa disamping pusaka itu terdapat harta benda yang sangat besar. Dalam pada itu, Jlitheng berpacu dengan kencang menuju ke Kota Raja. Ia sudah mempunyai rencana tersendiri untuk melaksanakan niatnya. Peristiwa yang baru saja terjadi, telah menjadi salah satu bahan yang dapat menambah bekal dalam tugasnya. Sebelum matahari terbit, Jlitheng telah memasuki Kota Raja. Ia langsung menuju kesebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas, meskipun rumah itu terletak di bagian yang tidak cukup ramai. Tetapi Jlitheng tidak turun dihalaman depan dan menambatkan kudanya pada tonggak disudut pendapa, tetapi ia langsung memasuki seketeng sebelah kir i dan masuk ke halaman samping. Seorang penghuni rumah itu terkejut melihat seekor kuda dengan penunggangnya langsung memasuki seketeng. Karena itu, maka iapun segera menyongsong dan menghentikannya. Jlitheng tersenyum. Iapun segera meloncat turun sambil berkata, “Jangan terkejut. Aku ingin bertemu dengan paman Sri Panular.” Orang itu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah Ki Sanak?” Jlitheng tersenyum. Katanya pula, “Sampaikan pesanku. Cepatlah sedikit. Matahari sudah akan terbit.” Orang itu masih termangu-mangu. Namun iapun berpaling ketika seorang perempuan menjelang setengah usia datang menyapa anak muda yang datang berkuda itu, “Kau ngger. Marilah. Pamanmu sudah berada disanggar.” Jlitheng mengangguk hormat. Jawabnya, “Terima kasih bibi. Aku datang agak kesiangan.” Perempuan itu tertawa sambil mendekatinya ia berkata, “Masuklah. Aku akan memanggil pamanmu.” “Biar lah aku menyusul ke sanggar saja bibi,“ jawab Jlitheng. Perempuan itu mengeratkan keningnya. Katanya, “Duduk sajalah dipr inggitan. Biarlah aku memanggil pamanmu.” “Aku tidak ingin mengganggu paman, bibi. Biarlah aku pergi ke Sanggar.” Perempuan itu menarik nafas panjang. Lalu, “Baiklah. Marilah aku bawa kau ke Sanggar di belakang.” Jlithengpun kemudian menyerahkan kudanya kepada orang yang masih kebingungan. Kemudian mengikuti perempuan itu menuju ke longkangan dibelakang. Dibelakang longkangan terdapat sebuah bilik yang terpisah. Lewat bilik itu mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, berdinding kayu. Agak lebih rapat dari bagian-bagian yang lain dari rumah yang besar itu. “Kakang Sri Panular,“ terdengar perempuan itu berkata ketika mereka memasuki sebuah pintu, “angger Arya Baskara datang untuk menghadap.” Sejenak mereka menunggu. Baru kemudian terdengar jawaban dari keremangan ruangan Sanggar, “Aku senang sekali oleh kedatangannya. Marilah ngger. Mendekatlah.” “Masuklah,“ berkata perempuan itu, “aku akan menyiapkan jamuan bagi angger.” “Ah,“ desis Jlitheng, “bibi jangan menjadi terlalu sibuk karena kedatanganku.” Perempuan itu tersenyum. Katanya, “Tidak ngger. Sudah seharusnya aku menjamu seorang tamu.” “Terima kasih bibi,“ jawab Jlitheng kemudian. Sepeninggal perempuan itu, maka Jlithengpun kemudian memasuki sanggar yang masih remang-remang. Disudut ia melihat seseorang duduk diatas sebuah batu hitam yang dialasi dengan sehelai kulit harimau loreng. “Marilah ngger,“ orang yang duduk itu mempersalahkan. Jlithengpun kemudian mendekat. Dengan hormatnya ia membungkuk dihadapan orang yang duduk diatas batu itu sambil berkata, “Aku menyampaikan baktiku paman.” Terdengar suasa tertawa tertahan. Lalu, “Silahkan duduk diamben bambu itu ngger. Kau selalu membuat hatiku menjadi cerah. Semakin ser ing kau datang, aku tentu akan menjadi semakin muda.” Jlithengpun kemudian duduk disebuah amben beberapa langkah dari batu hitam itu. Diluar sadarnya ia mulai mengedarkan pandangan matanya keseluruh ruangan yang menjadi semakin terang disaat matahari mulai terbit. “Tidak ada perubahan, apapun juga,“ berkata orang yang duduk di atas batu hitam itu. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang sebilah ujung tombak yang tidak bertangkai, yang terpancang pada sebuah lubang bambu disamping sebuah perisai yang terbuat dari baja, maka orang yang duduk itu berkata, “Senjata itulah yang baru bagi sanggar ini ngger. Aku mendapatkannya dari seorang kawan yang berhasil merampasnya dari para bajak laut yang kadang-kadang turun kepantai dan merampok para nelayan yang memang sudah miskin. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi menilik bentuknya, senjata dan perisai itu bukan milik kita paman. Maksudku, bukan prajur it dan orang-orang Demak.” “Tepat ngger. Senjata dan perisai itu dapat dirampas dari bajak laut, yang barangkali mendapatkannya dari orang-orang seberang. Entah dengan cara apa. Apakah senjata itu ditukar dengan kebutuhan mereka, atau para bajak laut itu merampas dengan kekerasan.” Jlitheng mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia berdesis, “Dan sekarang senjata dan perisai itu berada ditangan paman.” Orang itu tertawa pendek. Katanya, “Aku mengumpulkan berbagai jenis senjata. Bukan saja senjata yang aku dapatkan dari masa kemasa, pemerintahan yang berpindah-pindah di negeri ini lewat siapapun juga seperti yang kau lihat bergantung dididing. Tetapi juga senjata dari negeri seberang.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Di sanggar itu memang terdapat senjata sejak jaman purbakala di tanah ini. Kapak batu, tombak dan sumpit yang sederhana. Tetapi juga senjata yang sudah berlapis emas dengan teretes berlian dari masa kejayaan kerajaan demi kerajaan.” Tetapi kedatangan Jlitheng ketempat itu, bukannya untuk berbicara tentang berbagai macam senjata. Tetapi ia mempunyai keperluan yang penting, sehubungan dengan niatnya untuk membayangi Sepasang Bukit Mati yang bersangkutan dengan pusaka yang mempunyai nilai tersendiri itu. Karena itu maka sejenak kemudian, setelah member ikan beterapa penjelasan maka Jlithengpun berkata, “Paman, kedatanganku adalah satu usaha untuk memecahka rahasia yang meyelimuti pusaka itu. Aku telah mendapatkan beberapa bahan yang barangkali penting untuk dibicarakan.” Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang sudah menduga, bahwa kau sudah menemukan sesuatu yang barangkali dapat dipakai sebagai sandaran usahamu untuk memecahkan rahasia pusaka itu. Jika masalahnya tetap berkepanjangan, maka akan semakin banyak kelompok yang terlibat kedalamnya, yang akan berarti menambah korban yang sama sekali tidak berarti. Sesuatu yang kecil dan tidak berarti, lewat berita dan ceritera mulut kemulut, akan dapat memjadi sesuatu yang sangat dikagumi. Sepercik api akan dapat dianggap sebagai panasnya luapan Gunung yang sedang meledak.” “Agaknya demikian juga tentang pusaka itu paman. Setiap orang menganggap pentingnya pusaka yang sekarang masih belumditemukan,“ sahut Jlitheng. “Apalagi pusaka itu yang memang disertai dengan satu keterangan tentang harta benda yang disimpan oleh Pangeran Pracimasanti. Berita dan ceritera tentang pusaka itu tentu akan berkembang semakin besar, seolah-olah siapa yang memiliki pusaka itu, adalah orang yang akan dapat menjadi Maha Raja diatas permukaan bumi,“ berkata Sri Panular. Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, "Kedatanganku akan mohon petunjuk kepada paman, apakah yang harus kita kerjakan selanjutnya.” Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Apa yang sudah kau ketahui dan bagaimana menurut pendapatmu ?” Jlithengpun kemudian menceriterakan apa yang ada dan apa yang telah terjadi di sekitar Sepasang Bukit Mati. Kedatangan orang-orang dari padepokan Kendali Putih, orang- orang Pusparuri dan orang-orang dari Sanggar Gading yang telah berhubungan dengan seorang anak muda yang bernama Daruwerdi. Kemudian, yang masih merupakan teka-teki baginya adalah dua orang ayah dan anak perempuan yang berada di salah saru dari Sepasang Bukit Mati itu. Orang yang menurut pengakuannya harus berpindah dar i daerahnya, karena banjir, gempa dan tanah longsor. Sri Panular mendengarkan keterangan Jlitheng dengan saksama. Apalagi ketika Jlitheng menceriterakan apa yang didengarnya tentang pembicaraan Daruwerdi dan Cempaka, serta apa yang dialaminya diperjalanannya ke Demak dari Lumban. Orang tua itu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata, “Kau sudah mendapat jalan itu ngger, meskipun kau harus sangat berhati-hati. Memasuki padepokan Sanggar Gading bukan satu pekerjaan yang mudah. Bukan pula satu permainan yang akan menyenangkan.” “Aku sadar paman. Tetapi aku kira itu adalah jalan yang paling baik. Diluar perhitunganku, kebetulan sekali aku mendapat kesempatan untuk menolong anak Sanggar Gading itu,“ berkata Jlitheng kemudian, “tetapi disamping kemungkinan yang baik itu, aku harus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Akupun harus mendapat akal untuk meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak lama.” “Apakah kau berniat untuk datang kepadepokan Sanggar Gading ?” “Agaknya aku akan menempuh jalan itu untuk mangetahui, siapakah yang menjadi sasaran dendam Daruwerdi. Jika dendam itu tidak benar-benar membakar hati dan jantungnya, aku kira Daruwerdi tidak akan bersedia menukarnya dengan pusaka yang menjadi rebutan itu.” “Kau yakin bahwa Daruwerdi benar-benar mengetahui dengan pasti tentang pusaka itu?“ bertanya Sri Panular. Jlitheng menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Menurut pengakuannya. Jika tidak, apakah ia akan berani mempertaruhkannya untuk mendapatkan orang yang dimaksudkan ?” Sri Panular mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah ngger. Jika kau sudah bertekad untuk melakukannya.” “Tetapi paman,“ berkata Jlitheng dengan serta merta, “itu barulah salah satu jalan. Jalan yang semula ingin aku sampaikan kepada paman, adalah bahwa sebaiknya paman mencari keterangan, siapakah diantara para Pangeran yang pernah berhutang nyawa, yang pernah membunuh seseorang dalam persoalan apapun juga. Jika demikian, maka kita akan dapat mencari keterangan, siapakah yang telah dibunuh, dan orang yang dibunuh itulah yang mempunyai hubungan dengan Daruwerdi, yang menurut pengakuan anak muda itu adalah ayahnya.“ Sri Panular mengangguk-angguk. Namun iapun berkata, “Baiklah. Itu salah satu jalan yang dapat ditempuh. Tetapi tentu ada jalan lain. Kita akan mencari keterangan tentang Daruwerdi itu sendiri. Jika orang-orang Pusparuri dapat menghubunginya, tentu ada diantara mereka yang sudah mengenalnya sebelumnya. Demikian juga orang Sanggar Gading itu.” “Jalan yang dapat juga dilalui meskipun tentu agak licin. Tetapi kita memang harus menempuh segala jalan. Sementara aku akan melalui jalan yang lebih pendek, meskipun sangat berbahaya.” “Kau sudah benar-benar bertekad melakukannya ?” “Ya paman. Aku kira jalan itu adalah kesempatan yang paling dekat, meskipun yang paling berbahaya.” Sri Panular mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Semua jalan akan kita tempuh untuk melacak jejak Pangeran Pracimasanti. Jika saja pengawalnya yang setia, meskipun cacat itu dapat diketemukan, mungkin kita tidak akan kehilangan jejak. Tetapi abdinya yang setia itupun bagaikan hilang ditelan bumi. Karena itu, tentu ada rahasia tersendiri, kenapa anak muda yang bernama Daruwerdi itu mengaku dapat menunjukkan pusaka yang hilang itu. Mungkin anak muda itu, sengaja atau tidak sengaja, dapat menguasai abdi yang setia dan cacat itu. Namun bagaimanapun juga, kita harus menyelamatkan apa yang pernah disimpan oleh Pangeran Pracimasanti. Dengan demikian kita sudah berbuat satu kebajikan bagi sesama.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar sepenuhnya akan tugas yang akan dilakukannya. Yang tersimpan disamping pusaka itu tentu harta benda yang tidak sedikit, yang akan dapat dipergunakan untuk kepentingan Demak yang sedang tumbuh! Selain pusaka itu sendiri akan kembali ke gedung perbendaharaan pusaka, maka harta benda itupun tentu akan sangat bermanfaat. Demak memer lukan banyak sekali beaya untuk membangun dir inya, sementara beberapa pihak lebih senang untuk bekerja bagi kepentingan dir i sendiri. Dalam pada itu, maka Jlithengpun kemudian berkata, “Paman. Sebelum aku memasuki sarang orang-orang Sanggar Gading, aku harus kembali ke Lumban lebih dahulu. Aku harus menghapus segala kecur igaan karena aku akan pergi untuk beberapa hari.” “Lakukanlah. Akupun akan melakukan usaha yang lain. Seperti yang kau maksud, aku akan mencari keterangan tentang seorang Pangeran yang pernah terlibat dalam pertentangan dan pembunuhan, sehingga Daruwerdi mendendamnya.” “Itulah yang akan aku sampaikan. Selebihnya, kita akan mengikut i perkembangan keadaan.” “Dan kau akan berada disini berapa hari ?“ bertanya Sri Panular. “Malam nanti aku harus kembali ke Lumban paman. Kepergianku yang lama akan menimbulkan pertanyaan bagi anak-anak muda Lumban. Tetapi juga akan dapat menarik perhatian Daruwerdi.” Sri Panular mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Waktu itu sangat pendek. Tetapi untuk menambah bekal tugasmu, biarlah yang pendek ini kita pergunakan sebaik-baiknya.” “Maksud paman?“ bertanya Jlitheng. “Kau tentu sudah mendapat banyak bekal dari kakang Baskara. Kau tentu sudah memiliki beberapa jenis senjata yang sering dipergunakan. Tetapi untuk menjaga keselamatanmu j ika kau berada didalam lingkungan lawan yang banyak. … aku akan memberikan beberapa petunjuk yang mungkin pernah kau ketahui pula dari kakang Baskara. Tetapi yang kemudian aku kembangkan.” “Apakah itu paman ?“ bertanya Jlitheng. “Aku mempunyai sejenis paser yang mungkin berguna bagimu. Jika orang-orang Sanggar Gading kemudian mengenalimu, dan kau harus menyelamatkan diri dar i orang- orang Sanggar Gading, atau di dalam lingkungan yang manapun juga, maka senjata semacam itu akan sangat berguna. Kau tidak perlu menganggap dirimu licik, jika kau berusaha melepaskan diri dari satu kepungan dengan mempergunakan paser-paser semacam itu.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa senjata itu tentu akan sangat berguna, karena Sri Panular adalah salah seorang ahli senjata dari jenis apapun juga. Jika didinding sanggarnya tersimpan banyak senjata, bukannya sekedar sebagai perhiasan. Tetapi semuanya telah dipelajarinya dan diperhitungkannya untung dan ruginya. Demikianlah, waktu yang sehari itu telah dipergunakan oleh Jlitheng untuk menguasai penggunaan senjata kecil yang dapat dipergunakannya dalam jumlah yang banyak. Ia tidak saja melemparkan paser satu demi satu. Tetapi ia akan dapat melemparkan dua, tiga dan bahkan lima buah paser sekaligus dengan arah yang memencar, sehingga dengan demikian ia akan dapat membuka jalan dihadapannya, apabila beberapa orang menghalanginya. “Aku terpaksa mempergunakan racun,“ berkata Sri Panular, “tetapi racunku bukan racun yang membunuh. Seseorang akan dapat pingsan karenanya. Tetapi seorang yang mengerti serba sedikit tentang obat-obatan, akan dapat menyembuhkannya. Memang mungkin akan dapat terjadi kematian jika seseorang tidak tertolong sama sekali, dan orang itu tidak mempunyai daya tahan yang cukup. Tetapi kejadian itu adalah satu dar i sepuluh.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Sri Panular bukannya seorang ahli senjata yang tidak berperikemanusiaan. Meskipun ia selalu bermain-main dengan senjata, tetapi senjata baginya adalah, alat yang paling buruk untuk menyelesaikan, persoalan-persoalan yang timbul diantara sesama. Dengan senjata paser-paser kecil, maka Jlitheng telah mendapatkan sebuah ikat pinggang yang khusus pula dari Sri Panular. Ikat pinggang yang dapat dipergunakannya untuk membawa paser-paser kecil cukup banyak. “Tetapi berhati-hatilah,“ berkata Sri Panular, “jangan terlalu sering dipergunakan. Tetapi juga jangan menganggap bahwa paser-paser ini akan selalu dapat menyelesaikan tugasmu, karena banyak diantara orang-orang yang berkeliaran dalam dunia kekerasan yang mampu menghindari lontaran tanganmu.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya setiap pesan dari Sri Panular. Maka katanya, “Paman, bagaimanapun juga, paser-paser ini telah menambah bekalku. Terutama niatku untuk berada ditengah-tengah orang-orang Sanggar Gading.” “Kau akan memasuki daerah yang sangat berbahaya. Aku akan berada dirumah pada saat-saat yang gawat bagimu itu. Disekitar sepuluh sampai lima belas hari, aku selalu bersiap jika aku kau perlukan. Disaat-saat orang-orang Sanggar akan memenuhi permintaan Daruwerdi itu akan mungkin sekali terjadi sesuatu yang tidak kau duga sama sekali,“ berkata Sri Panular, lalu, “berbuatlah dengan keyakinan. Kau adalah mur id Ki Baskara yang telah menurunkan ilmu pedang yang luar biasa kepadamu. Kau juga mampu mempergunakan senjata lentur. Dan sekarang, kau kuasai penggunaan senjata- senjata kecil itu. Latkukanlah dengan penuh tanggung jawab. Tetapi segalanya harus kau landasi dengan permohonan kepada Yang Maha Kasih. Jika kerjamu kau tujukan bagi kebajikan sesama, maka kau akan selalu mendapat perlindungannya.” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun hatinya bagaikan berkembang. Ia sadar sepenuhnya, apakah yang sedang dihadapinya. Tetapi iapun menganggap, sudah sewajarnya ia mempertaruhkan nyawa bagi pusaka dan harta benda yang akan sangat besar manfaatnya bagi Demak dan sesamanya itu. Karena Jlithengpun mengerti, bahwa Pangeran Pracimasanti tidak bermaksud membangun kembali Kajayaan Majapahit dalam arti yang sempit. Menurut pendapat Jlitheng, maka Majapahit bukanya nama dan tempat kedudukan puncak pemerintahan. Tetapi apa yang sudah pernah dicapainya. Persatuan yang mengikat seluruh persada Nusantara. Apapun namanya dan dimanapun kedudukan Kota Raja sebagai tempat pimpinan pemerintahan, dan siapapun nama orang yang memegang kendali, bukan masalah yang pertama. Tetapi ujud dan isi Nusantara itulah yang tentu akan diperjuangkan oleh Pangeran Pracimasanti dengan bekal yang disediakannya, tetapi tidak sempat dipergunakannya. “Bekal itu tentu jauh dari pada mencukupi,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “tetapi itu lebih baik daripada bekal itu jatuh ketangan orang-orang yang hanya mement ingkan pribadi masing-masing.” Karena itulah, maka tekat Jlithengpun menjadi semakin bulat. Ia adalah murid Baskara, orang yang aneh. Dan iapun mempunyai kegemaran yang kadang-kadang aneh pula bagi orang lain. Namun, terhadap tekadnya untuk menemukan pusaka dan harta benda itu adalah bersungguh-sungguh. Justru karena Jlitheng memang sudah memiliki ketrampilan yang tinggi, maka dalam satu hari ia sudah pandai mempergunakan senjata-senjata kecil itu. Sehingga karena itu, maka iapun merasa dirinya menjadi semakin kuat untuk tampil diantara orang-orang Sanggar Gading. Ketika senja turun, maka Jlithengpun bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Sri Panular. Ia harus kembali lagi ke Lumban. Kemudian mengatur dir i, agar kepergiannya ke Sanggar Gading untuk beberapa hari tidak menumbuhkan kecurigaan. “Menjelang saat yang berbahaya itu, lakukanlah latihan sebaik-baiknya ngger,“ berkata Sri Panular, “kau sudah menguasai ilmu pernafasan. Kau harus mematangkan ilmu itu dalam waktu kurang dari sepuluh har i ini. Kau harus mampu menguasai segenap bagian dari tubuhmu dalam keadaan yang gawat. Kau harus melatih diri mempertajam gerak-gerak naluriah yang terkendali. Kesadaranmu harus dapat dengan cepat menanggapi keadaan yang berkembang setiap saat.” “Ya Paman,” Jlitheng mengangguk-angguk, “aku akan mempergunakan waktu yang pendek itu sebaik-baiknya.” “Bahaya bagimu bukan saja di Sanggar Gading. Tetapi j ika kau benar-benar akan menyertai mereka memasuki daerah yang belum kau ketahui itu, maka kaupun akan dapat menjadi umpan yang mungkin tidak kau sadari. Mungkin kau akan dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading memasuki sebuah gapura yang dijaga oleh pengawal-pengawal yang terlatih. Jika kau berhasil masuk, maka kau akan berhadapan dengan pengawal-pengawal yang melindungi rumah itu, yang sudah barang tentu bukannya orang kebanyakan.” “Terima kasih paman,“ sahut Jlitheng, “aku akan melakukannya segala pesan paman.” “Kau masih juga harus memperhatikan orang tua yang datang kebukit bersama anaknya itu. Jangan terlalu percaya. Tetapi juga jangan terlampau mencurigainya. Mungkin ia benar-benar orang yang menyingkir dari gempa, banjir dan tanah longsor. Tetapi mungkin mereka adalah orang-orang yang juga ingin mendekati Sepasang Bukit Mati.” Jlitheng memperhatikan segala pesan pamannya itu dengan sungguh-sungguh. Sepeninggal gurunya, maka Sri Panular adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Dalam olah kanuragan juga dalam setiap usaha dalam tugas-tugas kewajibannya. Ketika gelap sudah menyelubungi seluruh Kota Raja, maka Jlithengpun mohon dir i kepada Sri Panular dan isterinya. Ia harus kembali ke Lumban tanpa diketahui oleh siapa-pun. Apalagi oleh Cempaka atau orang Sanggar Gading yang lain. Ketika ia meninggalkan Kota Raja, maka kudanyapun dipacunya semakin cepat. Dilaluinya padukuhan-padukuhan kecil dan besar dengan meninggalkan pertanyaan pada orang- orang yang mendengar derap kaki kudanya. Bahkan kadang- kadang Jlitheng benar-benar tidak dapat menghindari anak- anak muda yang sedang berada di gardu-gardu. Tetapi kesan yang ditinggalkannya adalah, bahwa ia adalah seseorang yang bepergian jauh dengan tergesa-gesa. Agar tidak menimbulkan kesan yang mencur igakan, Jlitheng kadang-kadang terpaksa menganggukkan kepalanya sambil tertawa dihadapan gardu-gardu yang diterangi dengan obor, ditunggui oleh beberapa orang yang sedang meronda. “Selamat malam,“ Jlitheng mengucapkan salam kepada orang-orang yang memperhatikannya. “Siapa ?” seorang anak muda digardu bertanya kepada kawannya. Kawannya menggeleng. Jawabnya, “Aku belum mengenalnya.” “Tetapi nampaknya ia telah mengenal kami.” “Mungkin saja. Kami adalah pengawal-pengawal yang banyak dikenal orang, tetapi kami belum tentu dapait mengenalnya seorang demi seorang.” “Ah. Sombong benar anak ini,“ desis seorang yang duduk disudut, “kau baru menjadi pengawal padukuhan kecil. Jika kau menjadi seorang Bupati, apa saja yang akan kau katakan tentang dirimu ?” Kawan-kawannya tertawa. Anak muda itu menjadi tegang sejenak. Tetapi iapun kemudian tertawa pula. Jlitheng yang berpacu kembali ke Lumban itu telah mengambil jalan lain dari jalan yang dilaluinya ketika ia berangkat ke Kota Raja. Namun iapun harus sampai ke Lumban sebelum pagi. Disepanjang jalan Jlitheng sudah mulai menganyam angan- angan. Bagaimana sebaiknya ia minta diri kepada kawan- kawannya agar tidak memancing kecurigaan Daruwerdi. Kepada Kiai Kanthi ia dapat mengatakan, bahwa ia akan pergi untuk lima hari atau lebih dalam usahanya untuk mencar i jejak orang yang dimaksud oleh Daruwerdi tanpa menyebut orang- orang Sanggar Gading dan peristiwa yang ditemuinya diperjalanan, karena seperti pesan Sri Panular, maka ia tidak boleh terlalu percaya kepada orang yang kurang diketahuinya asal-usulnya itu. Tetapi kedua orang yang mengaku ayah dan anak itu sudah terlanjur mengetahui tentang dir inya. “Tetapi aku yakin, bahwa keduanya adalah orang yang baik,“ berkata Jlitheng kepada dir i sendir i, “sayang anak gadisnya masih terlalu lugu dan kurang mempertimbangkan sikapnya. Agaknya ia benar-benar seorang gadis yang kurang bergaul selain dengan ayahnya dan barangkali seorang dua orang tetangganya ditempatnya yang lama. Meskipun demikian ia memiliki ilmu yang ngedab-edabi.” Demikianlah, Jlitheng harus melakukannya seperti saat ia berangkat. Ia harus singgah untuk menitipkan kudanya. Kemudian iapun segera minta diri kepada saudagar yang sudah mengenalnya dengan baik itu. “Aku menjadi bimbang,“ berkata saudagar itu, “ada maksudku untuk menyusul anakmas ke Demak. Tetapi jangan- jangan kita berselisih jalan. Karena itu aku lebih baik menunggu saja dirumah sampai anakmas kembali ke Lumban.” “Aku harus segera berbuat sesuatu paman,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku sudah menghubungi orang yang aku percaya di Demak, yang dengan sepenuh hati bersedia membantu membebaskan pusaka yang menjadi rebutan itu dari tangan orang-orang yang tidak berhak.” Saudagar itu mengangguk-angguk. Namun dengan ragu- ragu ia bertanya, “Apakah aku dapat mengetahui, siapakah orang yang pantas untuk dihubungi di Demak itu ? Maksudku, apakah aku boleh ikut campur secara langsung!” “Paman,“ berkata Jlitheng, “sebenarnyalah aku tidak ingin melibatkan paman secara langsung dalam persoalan ini. Bantuan paman sudah cukup banyak. Tetapi akupun tidak berkeberatan jika paman mengetahui, siapakah orang yang aku hubungi di Demak, karena orang itu adalah keluarga sendiri. Justru orang yang bagiku seperti guruku sendir i.” Saudagar itu mengerutkan keningnya. Ia juga mempunyai sangkut paut dalam hubungan jalur ilmu kanuragan Karena itu, maka katanya, “Siapakah orang itu ?” “Paman Sri Panular.” Saudagar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mengira. Tetapi aku t idak dapat menyebutnya sebelum kau mengatakannya. Tetapi agaknya orang itu adalah orang yang tepat. Kau tentu tahu serba sedikit tentang perjalanan hidup Sri Panular, ngger.” Jlitheng mengangguk-angguk. “Agaknya persoalanmu telah menggelitik hatiku untuk ikut mencampur inya secara langsung. Tetapi aku tidak akan berbuat apa-apa. Maksudku, jika kau memer lukan bantuanku, aku tidak berkeberatan untuk melakukannya. Misalnya kau memer lukan hubungan dengan kakang Sr i Panular, tetapi kau tidak sempat pergi langsung kepadanya.” “Terima kasih paman. Sejauh ini aku berharap, paman t idak dengan langsung terlibat, karena tugas paman sehari-hari. Adalah agak sulit bagi paman untuk memisahkan antara kewajiban paman dengan tugas-tugas yang sulit ini. Sebagai seorang saudagar paman memerlukan hubungan seluas- luasnya. Mungkin orang-orang yang berdiri berseberangan dalam hubungan dengan pusaka itu, ternyata adalah orang- orang yang memerlukan sesuatu dari paman.” “Jika aku mengetahuinya, maka hubungan itu akan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya,“ jawab saudagar itu. Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Katanya, “Paman terlalu baik. Tetapi paman jangan berkorban terlalu banyak. Bantuan paman telah cukup memberikan landasan kerjaku disini.” Saudagar itu tersenyum. Katanya, “Apa yang dapat aku lakukan, aku ingin melakukan lebih banyak lagi ngger. Tetapi aku akan menjaga, bahwa aku justru tidak mengganggu langkah-langkah yang sudah angger tentukan.” Jlithengpun tersenyum. Meskipun ia berkata, “Bukan maksudku paman. Tetapi baiklah aku mengucapkan banyak terima kasih.” Jlithengpun kemudian minta dari. Seperti ketika datang, iapun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa. Setelah menukarkan pakaiannya dan menyembunyikannya, maka dengan tergesa-gesa pula Jlitheng kembali kerumahnya di Lumban Wetan. Karena ketika ia datang, hari masih belum pagi, maka iapun langsung pergi ke kandang dan berbaring diatas tumpukan jerami kering. Sejenak kemudian, iapun telah tertidur. Betapa dinginnya malam, namun diatas setumpuk jerami, rasa-rasanya badan Jlitheng telah menjadi hangat. Ketika fajar menyingsing, Jlitheng terbangun oleh suara senggot timba. Karena itu, sambil megusap matanya, iapun bangkit dengan malasnya. “Biar aku yang mengisinya biyung,“ berkata Jlitheng kepada ibunya yang sedang mengambil air. “He, kau sudah datang?“ bertanya ibunya. Semalam aku turun. Aku tidak betah tidur di bukit yang banyak nyamuknya itu,“ berkata Jlitheng. Sambil menguap ia berjalan kesumur. Kemudian ia mulai menarik senggot timba dan mengambil air untuk mengisi jambangan di dapur dan di pakiwan. “Apakah pekerjaanmu di bukit itu sudah selesai,“ tiba-tiba saja ibunya bertanya. “Belum biyung. Ternyata tidak secepat yang kami duga. Karena itu maka kami putuskan untuk mengerjakannya disiang hari saja. Dimalam hari, yang kami lakukan ternyata sangat sedikit. Kecuali malam sangat dingin, nyamuknya banyak sekali, sehingga kami hanya sempat saling berebut dekat dengan perapian tanpa berbuat apa-apa.” “Aku tidak mengerti, apakah sebenarnya yang kalian lakukan dibukit itu ? Membuat rumah buat seorang kakek dan anak gadisnya ? Kenapa kalian begitu baik hati dengan bersusah payah melakukan kerja ini ?“ bertanya Ibunya. “Biyung,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku adalah salah seorang yang pernah merasakan betapa seseorang merasa dirinya dalam kurnia yang tiada taranya, apabila ia mendapatkan kasih dar i sesamanya. Aku adalah salah satu dari banyak orang yang memer lukan pertolongan. Biyung telah memberikan segala-galanya kepadaku. Karena itulah rasa-rasanya akupun wajib berbuat demikian sekarang, ketika aku sudah merasa hidup tenang.” “Ah,“ ibu Jlitheng berdesah. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun sekilas teringat olehnya, bagaimana anak muda itu datang kepadanya dalam keadaan yang menyedihkan, sehingga ia menjadi belas kasihan kepadanya. Menerimanya sebagai anaknya yang disebutnya telah pergi sejak masa kanak-kanaknya. Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam, ia berkeras mengatakan demikian meskipun ada beberapa orang yang menjadi heran karenanya. Karena menurut ingatan mereka, perempuan itu memang tidak mempunyai anak. “Sekitar duapuluh tahun yang lalu,“ berkata perempuan itu kepada tetangga-tetangganya yang meragukannya, “aku sendiri sudah hampir lupa. Apalagi kalian.” Tetangga-tetangganya tidak menghiraukannya lagi. Apalagi ternyata kemudian bahwa Jlitheng bersikap baik dan segera dapat luluh dalam pergaulan anak-anak muda di Lumban Wetan, sehingga kehadirannya tidak menimbulkan persoalan apapun juga. Keragu-raguan tetangga-tetangganyapun segera dapat dilupakannya dan Jlitheng diterima dengan senang sebagai keluarga sendiri di Lumban Wetan. Perempuan itupun kemudian meninggalkan Jlitheng dan masuk kedapur. Pikirannya yang sederhana seperti juga orang-orang Lumban yang lain tidak pernah menghubungkan kehadiran anak angkatnya itu dengan segala macam persoalan yang tidak banyak diketahuinya didaerah itu. justru dikampung halamannya. Perempuan itu tidak pernah mengetahui, apakah yang terjadi didaerah yang oleh orang- orang lain disebut Sepasang Bukit Mati itu. Perempuan itu tidak pernah mempersoalkan dan mengingat-ingat lagi, apakah di daarah itu pernah dilalui seorang Pangeran trah Majapahit langsung yang bernama Pangeran Pracimasanti. Jlitheng yang kemudian melanjutkan mengambil air, sempat juga bertanya kepada diri sendir i, “Apakah orang- orang Lumban tidak ada yang pernah mendengar ceritera tentang Pangeran Pracimasanti yang lewat didaerah Sepasang Bukit Mati, yang membawa bekal cukup banyak dan kemudian tersimpan disekitar tempat ini. Sekilas terbayang oleh Jlitheng, seorang anak muda yang lain yang berada dipadukuhan itu pula. Dan J lithengpun bertanya pula kepada dir i sendir i, “Apakah sebenarnya yang diketahui oleh Daruwerdi? Apakah ia mengerti dengan pasti tentang pusaka itu atau ia juga pernah mendengar tentang harta yang tersimpan dan hanya diketahui oleh orang cacat, abdi Pangeran Pracimasanti yang setia itu?” Tetapi Jlithengpun kemudian menyingkirkan masalah itu dari angan-angannya. Desisnya, “Nanti sajalah, pada saatnya aku harus menyelidikinya. Bukan sekedar menduga-duga.” Dengan demikian maka tangannyapun menjadi semakin cepat menarik senggot timba sehingga suaranya berderit semakin keras. Seperti biasanya maka Jlithengpun mengisi segala jambangan dan persediaan air sampai penuh. Baru kemudian ia kembali kekandang dan berbaring diatas setumpuk jerami kering. Tetapi ia tidak dapat memejamkan matanya, karena hari menjadi semakin terang. “Aku harus mempergunakan hari-har iku sebaik-baiknya,“ berkata Jlitheng didalam hati, “sebelum sepuluh hari, aku harus sudah berada di padepokan Sanggar Gading.” Anak muda itu menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi kembali bukit gundul membayang di angan-angannya. Kembali ia bertanya-tanya apakah yang sebenarnya dicari Daruwerdi di bukit gundul itu ? Apakah ia sudah pasti bahwa yang ditinggalkan oleh Pangeran Pracimasanti ada dibulkiit gundul itu, pusaka dengan beberapa petunjuk mengenai penyimpanan harta benda, atau justru harta bendanya sendiri memang berada di bukit gundul itu. Atau bukit itu sekedar tempat yang baik untuk bertemu dengan orang-orang yang membuat janj i dengannya. Tiba-tiba saja Jlitheng bangkit. Ia ingin menemui kawan- kawannya yang akan pergi ke bukit berhutan untuk membantu Kiai Kanthi menyelesaikan gubugnya dan melihat apakah sudah waktunya ia menemui Ki Buyut Lumban Wetan dan Ki Buyut Lumban Kulon. Salelah minta diri kepada ibu angkatnya, maka Jlitheng-pun kemudian meninggalkan rumahnya mencar i kawan-kawannya. Ternyata kawan-kawannya yang dipesannya untuk bekerja terus meskipun ia tidak ada, telah bersiap-siap untuk berangkat kebukit. “He, kau sudah datang,“ bertanya salah seorang kawannya. “Ya. Aku tergesa-gesa kembali setelah aku mengetahui bahwa paman tidak apa-apa. Paman sehat-sehat saja. Bahkan panen musim basah yang lalu melimpah-limpah. Pategalannya juga menghasilkan jagung ber lipat dari panen yang lalu.” “O,“ kawan-kawannya mengangguk, “sokur lah.” “Itulah agaknya makna dari banjir sesuai dengan mimpi biyung,“ berkata Jlitheng kemudian. “Banjir dalam arti yang baik,“ desis seorang kawannya. Seperti biasanya, maka merekapun kemudian berangkat ke buikit berhutan yang menjadi pasangan bukit gundul sehingga daerah itu disebut Sepasang Bukit Mati. Dua bukit yang mati menurut pengertian yang berbeda. Yang satu mati tanpa dapat ditanami dan dimanfaatkan hasilnya sedangkan yang lain mati tanpa dapat dimanfaatkan untuk apapun juga meskipun daerah itu berhutan lebat, karena dihutan itu banyak didapat binatang-binatang buas dan binatang melata yang berbisa. Tetapi orang tua dan anak gadisnya itu telah menembus batas mati bukit berhutan itu. ia tidak mengindahkan peringatan beberapa orang kepadanya, termasuk Daruwerdi. Bahkan kemudian Jlitheng sendir i telah terseret pula naik keatas bukit itu bersama beberapa orang kawannya. “Bukit yang sebuah ini telah mulai hidup,“ desis Jlitheng didalam hatinya, “bahkan akan dapat menghidupi daerah sekitarnya. Air yang tersimpan dibukit sudah akan mulai mengalir.” Ketika kemudian mereka memanjat naik, Kiai Kanthi yang melihat Jlitheng telah berada diantara kawan-kawannya itupun menyongsongnya sambil berkata, “Kau t idak hadir sehari ngger. Bagaimana dengan pamanmu yang menurut mimpi Ibumu rumahnya dilanda banjir itu ? Bukan demikian ? Aku mengetahuinya dari kawan-kawanmu.” Jlitheng tersenyum. Ia tahu bahwa Kiai Kanthi ingin menyesuaikan diri sesuai dengan pengertian kawan-kawannya tentang kepergiannya. Karena itu, maka kepada Kiai Kanthi pun ia menjawab seperti jawabannya yang diberikan kepada kawan-kawannya. “Sokur lah,“ berkata Kiai Kanthi, “dengan demikian maka kita akan dapat segera menemui Ki Buyut dan menyerahkan air itu kepada mereka berdua. Ki Buyut Lumban Kulon dan Ki Buyut Lumban Wetan.” Jlitheng mengangguk-angguk. Iapun ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu, dan kemudian meninggalkan Lumban untuk beberapa lamanya masuk kedalam sarang orang-orang Sanggar Gading. Karena itu, maka katanya, “Kita harus menyiapkan segalanya. Jika saatnya datang, maka air yang mengalir kesungai itu akan kita buka sesuai dengan kemungkinan yang pertimbangan kita sebanyak-banyaknya yang mungkin dapat disalurkan agar tidak menganggu kemungkinan-kemungkinan lain. Kemudian, kita harus sudah dapat menyerahkan gubug kecil itu kepada Kiai Kanthi yang akan membuka sebidang tanah garapan dibawah bukit, yang akan diairi air dari belakang itu juga.” “Aku tidak terlalu banyak memerlukan air itu, “sahut Kiai Kanthli, lalu, “meskipun mungkin akan berkembang, sesuai dengan perkembangan padepokanku.” “Ya,“ jawab Jlitheng, “namun semuanya sudah jelas. Tanah garapan Kiai Kanthipun sudah jelas, seperti pathok-pathok yang telah kita pasang. Demikian pula saluran air bagi tanah garapan yang tidak begitu luas dibawah bukit itu.” “Dengan demikian, maka kapankah sebaiknya kita akan menghadap Ki Buyut. Mula-mula Ki Buyut Lumban Wetan kemudian Ki Buyut Lumban Kulon,“ bertanya anak-anak muda yang ikut bersama Jlitheng ke bukit itu. “Kita segera menghadap. Dengan demikian, kita akan segera dapat memanfaatkan air,“ desis Jlitheng. Kiai Kanthi hanya mengangguk-angguk saja. “Gubug itu sudah siap,“ berkata seorang anak muda. “kita tinggal mengetrapkan pintunya. Malam nanti, jika dikehendaki, Kiai Kanthi sudah dapat tidur didalam gubugnya meskipun belumada perabotnya sama sekali.” Kiai Kanthi tertawa. Katanya, “Aku tidak tergesa-gesa ngger.” “Tetapi j ika gubug itu memang sudah selesai, bukankah lebih baik Kiai mempergunakannya?” bestanya Jlitheng. “Ya. ya. Aku akan mempergunakannya.” “Disaat lain, jika Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon sudah dapat mengenyam hasil air yang akan segera menyusuri parit persawahan padukuhan Lumban. maka ia tidak akan keberatan untuk membantu membuat sebuah padepokan kecil di kaki bukit ini,“ berkata Jlitheng kemudian, “menurut pendengaranku, bukankah Kiai tidak bersedia tinggal bersama kami dipadukuhan ?” “Bukan maksudku ngger. Tetapi aku ingin tidak mengganggu padukuhan yang sudah mapan itu dengan persoalan-persoalan baru. Biarlah aku membuat sebuah padepokan kecil yang terpisah meskipun dalam tata kehidupan aku merupakan bagian dari Lumban.” “Tetapi bukankah maksud Kiai, meskipun padepokan Kiai merupakan bagian dari Lumban, namun bukan Lumban Wetan dan bukan Lumban Kulon,“ desis Jlitheng. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian liapun tersenyum. Katanya, “Bagi Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon, aku tidak akan ada artinya.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Meskipun t idak terucapkan, tetapi Kiai Kanthi seolah-olah melihat gerak hati Jlitheng “Bukankah Kiai ingin berdiri tanpa kewajiban tertentu kepada Ki Buyut sebagai setiap orang di Lumban ?” Tetapi Kiai Kanthi t idak berkata apapun tentang tanggapannya itu. Karena Jlitheng tidak mengatakan apa-apa lagi. maka Kiai Kanthipun kemudian terdiam. Dalam pada itu, anak-anak muda yang ikut serta bersama Jlitheng naik kebukit itu sudah mulai mengerjakan pintu gubug Kiai Kanthi, sementara dua orang diantara mereka telah memanjat dinding untuk memasang tutup keyong. “Kalian harus mengikat tutup keyong itu erat-erat,“ berkata Jlitheng, “sudah sering terjadi, seekor macan kumbang masuk kedalam rumah seseorang atau kedalam kandang, lewat tutup keyong.” “Kami membuatnya dengan anyaman khusus dan kami mengikatnya dengan ijuk rangkap,“ sahut kawannya yang sedang memanjat. Jlitheng mengangguk-angguk ia memang melihat anyaman tutup keyong itu cukup kuat. Beberapa buah bambu menyilang terkait pada rusuk atap yang terbuat dari anyaman ilalang. Dalam pada itu, maka Jlithengpun berkata kepada kawan- kawannya, “Selesaikan gubug itu. Trapkan pintu. Kalian harus memperkuat uger-ugernya dengan tali-tali ijuk rangkap, seperti tali pengikat tutup keyong. Aku dan Kiai Kantihi akan menyelusur i air. Mudah-mudahan sawah kalian akan cepat menjadi basah dimusim kemarau.” Demikianlah bersama Kiai Kanthi, Jlithengpun pergi memanjat tebing menuju kebelumbang yang masih saja meluap. Sambil berbincang mereka menilai, betapa tingginya nilai kerja yang sedang mereka lakukan. “Tetapi Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “dalam waktu dekat aku akan meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak panjang.” “Kemana?“ bertanya Kiai Kanthi. Sekilas terngiang pesan Sr i Panular, agar ia tidak terlalu terbuka terhadap siapapun juga. Demikian pula terhadap kedua orang perantau yang tinggal dibukit itu. Karena itu, maka katanya, “Aku masih harus melakukan berbagai macam tugas. Meskipun aku tidak jelas, tugas apa yang akan dibebankan kepadaku. Tetapi pada suatu saat aku akan kembali lagi kepadukuhan ini. Sementara sebelum aku pergi maka parit, gubug dan rencana padepokan Kiai harus sudah menjadi masak, agar aku dapat ikut membayangkan masa depan yang baik bagi Kiai dan anak perempuan Kiai yang garang itu.” “Ah,“ desis Kiai Kanthi, “tentu tugas itu tugas yang penting. Lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. Meskipun aku dan anakku bukanlah seseorang yang memiliki harga sama sekali, tetapi jika Kami harus membantumu, kami akan berbuat apa saja sesuai dengan keadaan dan kemampuan kami.” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Kiai. Memang mungkin aku memer lukan bantuan seseorang. Tetapi sebelum aku tahu pasti, apa yang akan aku lakukan, maka aku tidak dapat berbuat sesuatu.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa yang akan dilakukan oleh Jlitheng tidak perlu diketahuinya. Dalam pada itu keduanyapun pergi kebelumbang yang airnya melimpah dan seolah-olah hilang dibawah tanah lewat luweng dan terowongan-terowongan air. Ketika mereka melalui tempat yang dipergunakan oleh Kiai Kanthi untuk sementara tinggal dibawah pepohonan dan anyaman ketepe yang disangkutkan pada dahan-dahan kayu, mereka melihat Swasti sedang sibuk dengan perapiannya. Swasti berpaling ketika ia mendengar langkah mendekat. Dilihatnya ayahnya dan Jlitheng berjalan menuju kebelumbang. “Kami akan membuka air,“ berkata Kiai Kanthi. Swasti menar ik nafas dalam-dalam katanya. Kemudian, “Dan orang-orang Lumbanlah yang pertama-tama akan menikmatinya.” “Tidak,“ berkata Kiai Kanthi. Lalu, “Kita.” “Kenapa kita ? Kita belum mulai membuka sawah dan ladang dibawah bukit.” “Tetapi kita sekarang sudah mempunyai tempat tinggal. Rumah itu sudah dapat kita diami sejak hari ini. He apakah rumah itu bukan hasil dari melimpahnya air ini. meskipun tidak secara langsung ?” Swasti termangu-mangu, sementara ayahnya tertawa sambil berkata, “Kita akan merayakan hari yang berbahagia ini. Kita akan pindah kerumah kita yang baru.” Swasti mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menjawab. Ia kemudian memalingkan wajahnya ketika ia melihat Jlithengpun tertawa pula. Swasti tidak bertanya lagi. Ia kembali sibuk dengan kerjanya, sementara Kiai Kanthi dan Jlitheng memanjat mendekati blumbang yang menyimpan air cukup banyak itu. Sejenak Kiai Kanthi dan Jlitheng memperhitungkan setiap kemungkinan. Air belumbang itu melimpah lewat beberapa jalur dari tanggul belumbang yang telah dibuat oleh alam. “Kita ambil beberapa arah saja Kiai, karena seperti Kiai katakan sebelumnya, bahwa kita akan dapat menutup air itu seluruhnya, sehingga kemungkinan yang buruk akan terjadi atas padukuhan yang meskipun terletak agak jauh dari bukit ini, tetapi mempergunakan air dari sumber dibelumbang ini, yang mengalir dibawah tanah, dan muncul kepermukaan sebagai sumber mata air,“ bertata Jlitheng kemudian. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia mulai member ikan beberapa tanda pada jalur air yang meluap pada tanggul belumbang itu. Sebagian dari luapan air itu akan disalurkan lewat jalur-jalur padas dilereng bukit itu, yang sebelumnya telah digarapnya bersama Jlitheng. “Kita akan mengundang Ki Buyut dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kita dengan beberapa anak muda itu, akan membuka jalur itu dengan disaksikan oleh Ki Buyut di Lumban Kulon dan Lumban Wetan,“ berkata Jlitheng. “Ah,“ desis Kiai Kanthi, “apakah itu perlu ? Kita buka saja air itu sekarang. Nanti kau pergi kepada Ki Buyut untuk melaporkan, bahwa air sudah mengalir kesungai. Besok Ki Buyut dapat mengerahkan beberapa puluh orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk menyempurnakan bendungan sungai itu, dan menaikkan airnya kedalam parit. Tetapi hanya dimusim hujan, tetapi juga dimusim kemarau, meskipun sudah barang tentu tidak aklan mencukupi segala kebutuhan. Tetapi air itu akan dapat membantu untuk keperluan yang memakai.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga, bahwa Kiai Kanthi tentu tidak ingin mempergunakan segala macam upacara yang hanya akan nampak dalam gelar, tetapi tidak mempengaruhi isi yang sebenarnya dari peristiwa itu. Bahkan dengan segala macam upacara, orang tua itu justru akan menjadi bingung. Apalagi j ika ada diantara mereka yang ingin singgah dan melihat-lihat gubugnya yang dibuat oleh anak-anak muda dar i Lumban itu. Karena itu, maka Jlithengpun berkata, “Baiklah Kiai. Jika demikian, nanti aku akan datang kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk mengatakan, bahwa besok pagi kita akan mulai membuka jalur air yang akan mengalir kesungai kecil itu. Biarlah Ki Buyut Lumban Wetan berdiri disebelah Timur sungai, sementara Ki Buyut di Lumban Kulon akan berdir i di sebelah Barat sungai pada tempat yang berhadapan, didekat air itu akan dinaikkan kedalam parit. Biarlah mereka menyaksikan air itu mulai mengalir. Dan biarlah mereka dengan penuh harapan memerintahkan untuk menyempurnakan bendungan agar air dapat segera naik.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Lalu iapun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Biarlah mereka menunggu disebelah menyebelah sungai. Mereka akan bergembira melihat ujung air itu mengailir dimusim ker ing. Air sungai yang hampir kering itu akan bertambah besar dan dengan bendungan, air itu akan naik kedalam parit.“ Namun kemudian suara Kiai Kanthi menurun, “Mudah-mudahan air itu tidak justru menumbuhkan persoalan bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon.” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Kiai. Tetapi sampai hari ini kita semuanya dapat melihat, bahwa kedua Buyut yang sebenarnya adalah saudara kembar itu dapat menyesuaikan diri masing-masing dengan damai dan tenang. Tetapi entahlah. Apakah anak-anak mereka akan dapat juga berbuat demikian.” “Mereka mempunyai anak laki-laki yang menurut katamu, agak berbeda sifat dan pembawaannya,“ berkata Kiai Kanthi. “Ya. Tetapi mudah-mudahan mereka dapat melihat kepentingan orang-orang Lumban lebih dari kepentingan mereka masing-masing.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng berkata, “Tetapi itu bukan berarti kita harus tidak berbuat sesuatu bagi orang-orang Lumban dan bagi Kiai sendir i. Setelah gubug itu selesai, kita akan membuka hutan perdu dibawah bukit. Tidak begitu sulit. Kita akan membuat pematang, membajak dan kemudian mengairi tanah yang segera dapat Kiai tanami. Kami, orang-orang Lumban tentu akan dengan senang hati memberikan benih kepada Kiai, karena Kiaipun telah member ikan air kepada kami, orang- orang Lumban.” “Siapakah yang memberikan air ?“ bertanya Kiai Kanthi. “Kiai, Kiai Kanthi. Sebelumnya tidak ada satu usaha sama sekali untuk memanfaatkan air. Bahkan bukit ini dan bukit gundul sebelah disebut dengan Sepasang Bukit Mati.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi angger harus menentukan, kapan angger akan pergi kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Kulon itu. Kemudian kita akan menentukan hari yang akan membuka kemungkinan baru bagi tanah persawahan di Lumban. Setidak-tidaknya sebagian dar i Lumban.” “Nanti aku akan menghadap Ki Buyut, Kiai. Aku akan mohon kesempatan kepada keduanya untuk dapat hadir dipinggir sungai. Kita akan memecah batu-batu padas yang merupakan tanggul alam belumbang itu pada tempat yang sudah Kiai tandai. Air akan mengalir cukup deras, sementara bagian yang lain masih akan tetap mengalir menembus kebawah tanah untuk tempat yang jauh.” “Terserahlah kepada angger. Aku akan menunggu, kapan hal itu akan kita lakukan.” “Baiklah Kiai. Jika patok-patok itu sudah selesai, dan semua tanda sudah cukup, sebaiknya aku turun saja dan pergi kepada Ki Buyut,“ berkata Jlitheng kemudian, lalu, “sementara itu biarlah, kawan-kawan menyelesaikan gubug itu. Malam nanti Kiai akan dapat menempatinya.” “Kawan-kawan angger akan menjadi heran. Tiba-tiba saja kau menjadi seorang yang dengan berani hilir mudik seorang diri melalu hutan dibukit Mati ini.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mereka tidak akan berpikir sampai sejauh itu. Kita berdua juga menjadi orang-orang berani. Bahkan Swasti tidak mereka persoalkan, karena menurut mereka Swasti pandai memanjat. Aku-pun pandai memanjat j ika seekor harimau merundukku.” Kiai Kanthi tersenyum. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah ngger. Agaknya semuanya sudah siap. Semakin cepat hal itu dilakukan akan menjadi semakin baik. Juga bagiku, karena aku akan segera berani membuka tanah garapan dibawah bukit ini setelah orang-orang Lumban Wetan dan Kulon menganggap, aku telah berbuat sesuatu bagi padukuhan mereka.” Dalam pada itu, maka Jlithengpun segera minta dir i. Ketika ia lewat disebelah perapian Swasti, ia berhenti sejenak sambil bertanya, “Apa yang sudah masak Swasti ?” Swasti mengerutkan keningnya. Jawabnya acuh tak acuh, “Air.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Swasti memang t idak begitu ramah terhadapnya. Tetapi menurut dugaan Jlitheng dan penglihatannya selama ia bersama beberapa anak muda ikut serta membantu Kiai Kanthi membuat gubug, Swasti memang tidak terlalu ramah terhadap orang lain. “Ia sangat sedikit bergaul dengan orang lain. Siang malam ia sibuk dengan ayahnya yang sudah tua, yang agaknya dengan bersungguh-sungguh ingin mmurunkan ilmunya kepada anak gadisnya, yang barangkali karena justru tidak ada orang lain yang dapat diambil menjadi mur idnya,“ berkata Jlitheng didalamhatinya. “Terima kasih Swasti,“ berkata Jlitheng kemudian, “sebenarnya aku juga sudah haus. Air jambu keluthuk yang direbus dengan gula kelapa dan sepotong daun sere itu memang segar sekali. Tetapi biarlah nanti saja aku datang lagi untuk minum bersama-sama dengan kawan-kawan.” Tetapi Swasti t idak berpaling. Ia masih sibuk dengan kerjanya. Merebus setandan pisang yang didapatkannya pada serumpun pisang liar yang tumbuh dilereng bukit itu. Swasti tidak sabar menunggu pisang itu masak. Apalagi, ia akan menjadi kehilangan, karena ia harus berebut dengan beberapa ekor kera. Karena itu, ia lebih senang mengambil pisang itu sebelum masak benar menyimpannya satu dua hari dan merebusnya. Jlithengpun kemudian berlari turun tebing menemui kawan- kawannya, sementara Kiai Kanthi telah singgah pula melihat- lihat Swasti yang sedang sibuk. Kepada kawan-kawannya Jlitheng minta dir i, untuk menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. “Sekarang?“ bertanya seorang kawannya. “Ya, sekarang,“ jawab Jlitheng “Sendir i ?” yang lain bertanya. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Keheranan diantara kawannya memang ada. Namun Jlitheng menjawab, “Ya sendiri. Kenapa?” “Jika kau bertemu dengan seekor harimau, apakah kau dapat melawanya seorang diri ?” bertanya yang lain pula. “Aku pandai memanjat. Harimau tidak akan dapat memanjat. Apalagi disiang hari jarang sekali ada harimau yang berkeliaran.” “Mungkin sekali kau bertemu dengan seekor harimau.” “Jika tidak terpaksa karena kelaparan, harimau tidak akan berbuat apa-apa,“ jawab Jlitheng. Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Dibiarkannya saja Jlitheng kemudian menuruni tebing pergi menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban Kulon. Kedatangan Jlitheng kepada Ki Buyut di kedua bagian dari padukuhan Lumban itu telah disambut dengan baik. Ternyata kedua orang itu dapat mengerti penjelasan Jlitheng tentang manfaat air yang akan mengalir untuk sementara langsung turun kesungai dan kemudian harus diangkat lagi kedalam parit. “Tetapi kaulah yang bertanggung jawab Jlitheng,“ berkata Ki Buyut di Lumban Wetan, “jika penunggu bukit itu marah, kau harus dapat menjelaskan kepada mereka. Dengan demikian mereka tidak akan mengganggu orang-orang Lumban dengan pegebluk misalnya.” “Aku sudah berbicara dengan mereka lantaran orang tua yang datang bersama anak gadisnya itu Ki Buyut. Nampaknya orang tua itu sudah mendapat persetujuan.” Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika memang tidak ada bahayanya, air itu akan sangat bermanfaat bagi kami.” “Tentu Ki Buyut. Air itu sangat berguna bagi Lumban.” Sementara Jlitheng menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon, maka masalah yang dikemukakan oleh Ki Buyut itupun hampir sama. Jika orang-orang halus yang menghuni Bukit Mati itu memperkenankan, maka Lumban t inggal mener ima saja sebagai suatu anugerah. “Anugerah dari Yang Maha Agung, Ki Buyut,“ berkata Jlitheng. Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun iapun mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Dari Yang Maha Agung. Tetapi bagaimana dengan penghuni Bukit Mati itu ?” “Kuasanya tidak menyamai bahkan mendekatipun tidak dari Yang Maha Agung itu,“ jawab Jlitheng. Ki Buyut di Lumban Kulon itu termangu-mangu. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Demikianlah.” Jlithengpun kemudian minta dir i setelah segala sesuatunya disetujui. Jlitheng telah berbicara tentang hari, tentang tempat dimana kedua Buyut itu akan berdiri berhadapan diseberang menyeberang sungai. Kemudian mereka akan menyaksikan air yang akan mengalir dibawah kaki mereka. Dan Jlithengpun telah berbicara tentang cara mengangkat air sehingga air itu dapat mengalir ke bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Setelah semua pembicaraan selesai dan ditemukan kesepakatan waktu, maka Jlithengpun dengan tergesa-gesa kembali ke Bukit bermata air itu. Tetapi langkahnya tertegun diujung padukuhan Lumban Kulon ketika ia bertemu dengan Daruwerdi. Dengan sungguh- sungguh Daruwerdi bertanya kepadanya, “Apa keperluanmu menghadap Ki Buyut, Jlitheng ?” Jlitheng tidak menyembunyikan persoalan yang dibawanya. Ia mengatakan tentang air dan tentang kedua orang Buyut yang telah bersedia datang kepinggir sungai. “Kau gila,“ geram Daruwerdi. “Kenapa ?“ bertanya Jlitheng, “bukankah air itu akan bermanfaat.” “Kau kira orang tua itu tidak mempunyai pamrih apapun juga? Aku justru mulai cur iga bahwa pada suatu saat kedua orang itu akan berbuat sesuatu yang dapat merugikan Lumban Kulon dan Lumban Wetan,“ berkata Daruwerdi. “Aku kira tidak Daruwerdi,“ jawab Jlitheng, “tetapi bahwa ia memang mempunyai pamr ih itu sudah dikatakannya. Ia mohon kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk dapat membuat sebuah daerah garapan dibawah bukit itu. Kemudian membuat rumah yang lebih baik dari rumah gubugnya yang sekarang. Dan akan lahirlah sebuah padepokan dibawah bukit itu.” “Dan kalian akan diperbudaknya. Membuat padepokan tanpa mendapat keuntungan apapun juga,“ desis Daruwerdi. “Keunitungan itu telah kami dapatkan lebih dahulu. Air.” “Tetapi air itu bukan mlik orang tua itu. Tanpa orang tua itupun kita dapat memanfaatkan air dibukit yang lebat itu.” “Tetapi sampai saat terakhir kita tidak berbuat apa-apa. Kedatangan orang tua itulah yang telah mendorong kami untuk melakukannya. Mengendalikan air yang melimpah itu. Kedua orang Buyut itupun dapat menerimanya meskipun mula-mula mereka agak cemas juga tentang orang-orang halus yang menunggui bukit itu.” “Persetan dengan dua orang Buyut tua itu.“ Daruwerdi menggeram pula. Namun kemudian, “Dan kau akan menompang pada keberhasilan orang tua itu menguasai air. Kau akan berdiri diatas semua orang, terutama anak-anak mudanya dengan menepuk dada. Seolah-olah kau ikut menentukan, mengendalikan air bagi bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulan.” “Ah,“ desah Jlitheng, “aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya perantara yang lari kian kemari dalam hubungan ini. Tetapi dengan itupun aku sudah cukup bangga akan dir iku.” “Pantas sekali,“ sahut Daruwerdi dalam nada datar, “kau memang tidak lebih dari budak kecil yang tidak mempunyai arti. Tetapi nikmatilah kebanggaanmu itu sepuas-puasnya. Anak-anak muda di Lumban Kulon dan Lumban Wetan pada saatnya akan dapat menilai, siapakah yang lebih penting bagi mereka. Kau atau aku.” “Aku atau kau ?” Jlitheng menjadi heran, “aku tidak mengerti. Apakah hubungan hal ini dengan aku dan kau ?” “Kau memang dungu. Sengaja atau tidak sengaja kau telah berbuat sesuatu yang bodoh. Tetapi karena kebodohanmu itulah aku dapat memaafkannya sehingga aku tidak menantangmu berkelahi.” “Berkelahi ? Mana mungkin,“ desis Jlitheng dengan suara gemetar. “Ya kau memang bodoh sekali. Pada saat seperti sekarang, dimana aku memerlukan pemusatan pikiran terhadap sesuatu kewajiban yang penting, kau teluh menar ik perhatian orang- orang Lumban dengan tingkahmu yang aneh-aneh itu. Kau telah menarik perhatian mereka dengan air.” “Aku tidak sengaja berbuat sesuatu yang menyakiti hatimu.” “Aku tidak sakit hati. Tetapi aku muak melihat tingkah lakumu. Jika kau seorang yang memiliki ilmu, maka aku tantang kau berperang tanding. Tetapi dengan kedunguanmu itu, hal itu tidak mungkin aku lakukan. Karena orang-orang akan mengatakan bahwa aku telah berbuat sewenang- wenang, karena dengan sangat mudah aku akan membunuhmu.” “Tetapi, tetapi aku tidak berbuat apa-apa yang dapat mengganggumu,“ suara Jlitheng menjadi semakin gemetar. “Pergilah kelinci dungu. Tetapi jika kau masih tetap dungu, kau akan menyesal bahwa air sungai yang mengali semakin deras karena menampung luapan air belumbang dar i bukit itu akan menyeretmu hanyut sampai kekedung yang dihuni oleh buaya yang buas.” “Tetapi, tetapi aku tidak bersalah,“ Jlitheng menjadi ketakutan. “Pergi. Pergi. Tetapi hati-hati. Jangan menjadi sombong dan merasa dirimu orang yang paling berguna di Lumban Kulon dan Lumban Wetan karena tingkah orang tua itu.” Jlitheng tidak menjawab lagi. Tetapi dengan tergesa-gesa iapun melangkah meninggalkan Daruwerdi yang berdiri bertolak pinggang. Namun Daruwerdi t idak melihat, bahwa Jlithengpun kemudian menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Jika perlu, kaupun harus dipaksa untuk mengerti tentang kebutuhan orang-orang Lumban.” Namun Jlitheng tidak berpaling. Ia berjalan terus menuju kebukit berhutan lebat itu. Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian ia ber lari sekencang angin semilir di lembah yang akan segera menjadi basah. Ketika Jlitheng sampai kepada kawan-kawannya diatas bukit, mereka sudah mengumpulkan alat-alat mereka. Kerja mereka telah selesai. Pintu telah terpasang, dan tutup keyongpun telah melekat diujung sebelah njenyebelah dengan ikatan-ikatan yang kuat. “Sudah selesai,“ desis Jlitheng sambi tersenyum. Kiai Kanthipun tersenyum pula. Katanya, “Nanti malam aku sudah dapat tidur di dalam gubugku yang hangat. Menyenangkan sekali ngger. Aku mengucapkan beribu terima kasih.” Jlitheng dan kawan-kawannyapun merasa senang pula karena mereka telah berhasil menyelesaikan kerja mereka. Gubug itu benar-benar telah berujud, meskipun sederhana sekali dengan kayu yang mereka dapat disekitar tempat itu. “Tetapi belum ada perabotnya sama sekali Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian. “Mudah sekali ngger. Aku dapat membuatnya dengan kayu dan bambu-bambu liar dilereng.” “Kami masih akan tetap membantu, Kiai,“ jawab Jlitheng, “tetapi kitapun harus mempersiapkan saat-saat kita mengalirkan air kesungai dengan disaksikan oleh Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu pula.” Jlitheng pun kemudian mencer iterakan hasil pertemuannya dengan Ki Buyut dikedua bagian dar i Lumban itu. Mereka telah bersetuju untuk datang kepinggir sungai pada saat yang ditentukan, disebelah menyebelah untuk menyaksikan air yang akan mengalir disungai itu. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Iapun tidak ingkar, bahwa hal itu akan dapat memberikan kesempatan kepadanya untuk mendapat tempat di daerah Lumban Wetan dan Lumban Kulon. “Aku memang mempunyai pamrih, selain aku akan ikut berbahagia melihat sawah yang hijau disegala musim didaerah Lumban ini,“ berkata Kiai Kanthi kemudian. Sekali lagi Jlitheng dan kawan-kawannya membuat rencana apa yang akan mereka kerjakan. Pada hari yang sudah ditentukan mereka akan membawa alat-alat khusus untuk memecah batu-batu padas pada bibir belumbang. Linggis dan dandang, selain cangkul dan parang. Setelah tidak ada lagi yang perlu diperbincangkan, maka Jlitheng dan kawan-kawannyapun segera minta diri. Besok mereka tidak akan datang lagi. Tetapi mereka akan datang pada saat yang ditentukan untuk membuka air belumbang itu. “Aku mengucapkan beribu terima kasih ngger, bahwa dengan demikian kami akan dapat tinggal disebuah gubug yang dapat melindungi kami dari dinginnya malam. Apalagi jika musim hujan datang, maka gubug ini akan sangat berguna bagi kami!” “Kiai akan menempatinya untuk satu musim menjelang musim berikutnya. Mudah-mudahan tanah garapan dibawah bukit ini segera akan dapat dibuka. Bukankah dengan demikian, padepokan kecil yang barangkali Kiai inginkan itu dapat dimulai pembuatannya pula ? Padepokan kecil yang akan berada dibawah bukit yang basah,“ berkata Jlitheng, “tentu akan sangat menyenangkan.” Kiai Kanthi tertawa. Jawabnya, “Sebuah mimpi yang indah. Tetapi sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan kalian.” Jlitheng dan kawan-kawannyapun kemudian meninggalkan tempat itu. Mereka sibuk membicarakan saat-saat untuk membuka tanggul belumbang itu, sehingga airnya akan melimpah mengalir lewat jalur yang sudah dipersiapkan masuk kedalamsungai. “Ki Buyut dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan tentu akan senang sekali melihat sebagian dari sawah yang gersang dan kering dimusim kemarau itu akan menjadi hijau disegala musim.” Demikianlah, maka hari-har i yang ditentukan itu selalu membayang diangan-angan anak-anak muda yang merasa dirinya ikut mengambil bagian pada kerja yang akan sangat besar artinya bagi orang-orang Lumban itu. Namun dalam pada itu, Jlitheng sendiri telah disibukkan dengan saat-saat yang menegangkan. Dengan waktu yang sangat sempit itu ia berusaha meningkatkan kemampuannya. Ia sudah bertekad untuk benar-benar memasuki sarang serigala yang garang. Sanggar Gading. Dimalam hari, Jlitheng masih harus menampakkan diri barang sejenak digardu bersama kawan-kawannya. Namun kemudian dengan berbagali alasan, ia minta dir i. Ia mengatakan bahwa kesehatannya sangat buruk, sehingga ia harus tidur dirumah. Namun dalam pada itu, malam-malam yang gelap itu telah dipergunakannya sebaik-baiknya. Tetapi Jlitheng sama sekali tidak mendekati bukit gundul, karena ia tahu, Daruwerdi sering pergi kebukit itu. Dalam kelamnya malam, Jlitheng lebih senang pergi ke sungai yang hampir kering. Ditikungan sungai yang r imbun oleh pepohonan, dengan beberapa buah batu besar, ia menemukan tempat untuk berlatih. Mula-mula Jlitheng hanya mengulang unsur-unsur gerak yang sudah dikuasainya. Ia bergerak dengan wajar untuk menghangatkan tubuhnya. Namun kemudian semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga akhirnya Jlitheng mulai dengan tekanan-tekanan yang berat pada unsur-unsur gerak tertentu. Jlitheng berusaha untuk meningkatkan kecepatan tangan dan kakinya. Karena pada saat-saat terakhir ia memang jarang sekali mempergunakan kesempatan khusus untuk meningkatkan ilmunya. Dengan sungguh-sungguh Jlitheng bukan saja melakukan gerakan-gerakan yang cepat dan kuat, tetapi ia menilai pula, apakah ada diantara unsur-unsur geraknya yang masih mungkin disempurnakan menurut kemampuannya. Pada tingkat terakhir Jlitheng bergerak bagaikan burung sikatan. Meloncat-loncat dari batu kebatu dengan gerak yang mantap. Kadang-kadang Jlitheng melenting tinggi namun kadang-kadang bagaikan bergeser saja tampi menggerakkan kakinya. Tetapi geseran itu telah mendorongnya melangkah batas antara batu yang satu dengan batu yang lain. Tetapi latihan-latihan itu tidak memberikan kepuasan kepada Jlitheng. Ia hanya dapat mengungkapkan unsur-unsur gerak dasar yang sudah dikuasainya. Namun dalam keadaan yang sebenarnya, ia harus menyesuaikan diri dengan gerak lawan dan kepentingan saat didalamarena yang sebenarnya. Meskipun demikian, latihan-latihan itu akan dapat member ikan kemungkinan yang lebih baik bagi kecepatannya bergerak dan kekuatan tenaganya. Dengan mengingat pesan yang diberikan oleh Sri Panular, maka Jlithengpun telah bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun dalam pada itu, selagi ia tenggelam dalam latihan- latihan kecepatan geraknya, tiba-tiba saja terasa sesuatu telah menyentuh tubuhnya. Tidak hanya satu kali, tetapi dua tiga kali. Sehingga akhirnya Jlitheng justru telah menghentikan latihannya. Sambil berdir i tegak diatas sebuah batu yang besar, ia memperhatikan keadaan disekelilingnya ia mencoba mendengar atau melihat setiap lembar daun. Namun keburaman malam masih tetap membatasi pandangan matanya yang tajam. -oooOooo—

Jilid 06
UNTUK beberapa saat lamanya Jlitheng berdir i diam. Dengan segenap kemampuan inderanya ia mencoba mengetahui, apakah yang ada disekelilingnya. Tetapi ia tidak mendengar sesuatu dan tidak melihat sesuatu selain pepohonan, bebatuan dan air yang tidak lebih dari setinggi mata kaki. Namun sekali lagi merasa tubuhnya tersentuh sesuatu. Tidak terlalu keras, tetapi ia mulai mengerti, bahwa ia telah dikenal oleh sentuhan batu kerikil yang kecil yang dilontarkan dari tempat yang tidak diketahui. Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Ia mencoba mengurai keadaan. Tentu seseorang dengan sengaja telah mengintainya dan mencobanya dengan melemparkan sebutir kerikil kecil. “Apakah mungkin Daruwerdi”Ia bertanya kepada diri sendiri “atau orang-orang dari Sanggar Gading, atau dari padepokan yang lain, atau Kiai Kanthi, Paman Sr i Panular, atau.....” Jlitheng menjadi bingung. Dalam pada itu, selagi ia masih termangu-mangu, tiba-tiba didengar suara tertawa meledak. Suara yang tiba-tiba saja terdengar di segala arah oleh gema yang bersahut-sahutan. “Gila“ Jlitheng menggeram. Dengan seksama ia mencoba mendengar suara itu. Tetapi agaknya ia belum pernah mendengar suara yang bernada rendah tetap demikian kerasnya, “Anak yang dungu“ suara ittu masih melingkar-lingkar dari segala arah “apa yang dapat kau lakukan dengan latihan- latihan yang tidak terarah itu. Apakah dengan meloncat-loncat dan melenting- lenting itu kau kira, kau dapat mengalahkan lawan-lawanmu? Jika kau ingin bergabung dengan orang- orang yang sibuk mencari pusaka itu kau harus dapat meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau bukannya anak ingusan yang sekedar ikut-ikutan” Jlitheng menggeretakkan giginya. Dengan nada tinggi ia berteriak “Siapa kau, siapa?“ Suara tertawa itu terdengar semakin keras dalam nada rendah. Terdengar suara itu menyahut “Kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Tetapi aku adalah salah seorang dari mereka yang menginginkan pusaka yang tersembunyi di sekitar Sepasang Bukit Mati ini. Sementara disini ada kau dan Daruwerdi, maka aku harus berbuat sesuatu untuk mengatasi kau dan Daruwerdi. Tetapi ada kelebihan Daruwerdi dari padamu Jlitheng yang bergelar Arya Baskara, bahwa kau sama sekali tidak berarti apa-apa disini, sementara Daruwerdi sedikit banyak dapat dijadikan pancatan untuk mengetahui rahasia pusaka itu” “Gila“ geram Jlitheng “siapa kau he?“ “Kau perlu mengetahui siapa aku?“ suara itu meIingkar- lingkar semakin keras. “Ya” Yang terdengar adalah suara tertawa meledak seolah-olah tidak dapat ditahan lagi. Katanya “Aku adalah orang yang paling berhak atas pusaka iitu. Aku tahu, betapa besar kekuatan gaib yang tersimpan pada pusaka itu, sehingga setiap kelompok yang merasa mempunyai cukup kekuatan saling berebut untuk memilikinya” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Dan suara itu masih bergema “Yang terjadi sekarang barulah benturan-benturan kecil yang tidak berarti. Dua tiga orang saling membunuh tanpa arti. Tetapi pada suatu saat, pertentangan yang sebenarnya akan meledak. Aku akan menghancurkan segalanya. Kau, orang-orang Kendali Putih, orang-orang Sanggar Gading orang-orang Pusparuri, dan kemudian Daruwerdi dengan kelompoknya setelah ia. aku paksa untuk membuka rahasia penyimpanan pusaka itu” “Ia tidak akan mengatakannya“ sahut Jlitheng. Suara tertawa itu bagaikan melingkar-lingkar diseluruh ngarai dan lereng Sepasang Bukit Mati, disepanjang sungai dan di bulak-bulak yang luas dan gersang. “Kau memang aneh. Jika aku menangkapnya, maka dengan hukuman picis ia tentu akan berbicara” Terasa kulit tubuh Jlitheng meremang. Namun ia membentak “Keluarlah. Kita berbicara secara jantan. Dan j ika tidak ada persesuaian lagi dilantara kita. kita akan bertempur sekarang” “Belum waktunya Jlitheng“ sahut suara itu “aku sedang mengawasi gerak-gerik orang-orang Pusparuri yang sedang mendekati daerah ini. Bukan orang-orang Kendali Putih. Tetapi aku tidak mau menyia-nyiakan tantanganmu itu. Aku hanya akan membuktikan bahwa aku mempunyai kelebihan daripadamu” “Persetan, keluarlah” “Tidak perlu. Sudah aku katakan bahwa hal itu belum waktunya. Yang akan aku lakukan adalah bermain-main dengan kerikil. He, cobalah kau menghindari kerikil-ker ikil yang akan aku lemparkan. Ker ikil-kerikil itu tidak terlalu kecil. Kau akan dapat melihat dikeremangan malam. Seandainya kau memiliki sedikit ketajaman penglihatan. Jika kau berhasil menghindari Semua lontaranku, maka aku akan mengambil waktu satu dua tahun untuk berguru lagi kepada orang yang lebih pandai dari guruku yang sekarang. Baru kemudian aku akan datang memperebutkan pusaka itu” “Persetan“ Jlitheng berteriak. “Kita akan mulai. Bersiaplah” Sebelum Jlitheng menjawab, ia telah melihat sebuah kerikil terlempar dari sebuah gerumbul kearahnya. Dengan tangkasnya ia meloncat menghindar. Bukan saja menghindar, tetapi dengan serta merta, iapun telah meloncat kearah gerumbul itu. Dengan kekuatan yang luar biasa dan kecepatan yang tidak terduga-duga, Jlitheng berhasil daikun sekejap, sampai kegerumbul itu. Namun ketika dengan sepenuhnya tenaga ia menerjang ke dalamnya, ia sama sekali tidak menemukan seorangpun. Jlitheng terkejut ketika ia mendengar suara tertawa beberapa langkah dibelakangnya. Namun ketika suara terjawa itu berhenti, maka ia meliilhat gerumbul diseberanglah yang bergetar. “Gila“ J litheng menggeram “jangan lari” Tidak terdengar jawaban. Karena itu, maka Jlithengpun menjadi semakin gelisah dan bahkan marah. Baru sejenak kemudian ia mendengar suara yang melingkar-lingkar itu lagi. Katanya “Kembalilah diantara batu- batu itu. Kita belum selesai. Kau sempat menghindari batu kerikilku yang pertama. Tetapi itu belum satu kemenangan, karena aku akan melemparmu seperti hujan. Dan kau tidak akan. dapat menghindar karenanya” Jlitheng termamgu-mangu sejenak, la mencoba berpikir, bagaimana caranya untuk dapat berhadapan langsung dengan orang yang bersembunyi itu. Sejenak ia masih tetap berdiri dlempatnya, sementara Suara itu terdengar lagi “Apakah kau takut menghadapi ker ikil- kerikil kecilku aank muda. Kaulah yang menantang aku. Dan ternyata kau menjadi ngeri sendiri” “Persetan“ geram Jlitheng. Namun iapun kemudian menemukan akal. Ia akan turun ke sungai dan berada diantara batu-batu. Ia akan sempat memperhatikan dari manakah arah batu-batu kerikil itu dilontarkan. Dengan demikian, apa bila terbuka kesempatan, ia akan dapat menyergap orang yang merahasiakan dir inya itu. Oleh pikiran itu, maka iapun kemudian menjawab “Kita langsungkan parang tanding dengan caramu. Tetapi j ika kau kalah, maka kau harus menunjukkan dir imu. Dan perang tanding akan berlangsung dengan cara yang lain. Dengan cara seorang laki- laki jantan” Suara tertawa terdengai menyusur jurang disepanjang sungai dan seakan-akan membentur lereng bukit gundul dan bukit berhutan itu, memencar memenuhi bulak-bulak yang luas. “Bagus. Kau memang seorang anak muda yang berani, Baiklah. Aku setuju dengan perjanjianmu itu” Jlithengpun kemudian mempersiapkan dir inya diantara batu-batu. Tetapi ia dengan saksama memperhatikan, dari manakah batu-batu kerikil itu akan berloncatan. Sejenak tidak terdengar suara apapun Jlitheng masih berdiri tegak sambil memusatkan segenap kemampuan daya tangkap inderanya. Pendengarannya dan penglihatannya dipergunakannya sebaik-baiknya. Betapapun malam diselubungi oleh kekelaman, namun Jlitheng masih mampu melihat melintasnya bayangan yang mengarah ketubuhnya. Sementara itu, ia mencoba untuk mendengar gemerisik dedaunan di gerumbul-gerumbul yang terdekat pada tanggul sungai kecil itu. Sejenak kemudian yang didengar Jlitheng adalah suara tertawa yang menjengkelkan itu sehingga dengan marah Jlitheng menggeram “Cukup Cukup. Aku akan muak mendengar suara tertawa itu” Suara tertawa itu semakin lama menjadi semakin susut. Sejenak kemudian, terasa sesuatu tergetar didadanya, tepat pada ujung suara tertawa yang kemudian terhenti itu, “Luar biasa“ desahnya di dalam hati “suara tertawa itu membuktikan, bahwa aku berhadapan dengan seseorang yang pilih tanding” Dalam pada itu, ketika suara tertawa itu terhenti, maka Jlithengpun mendengar suara gemer isik lembut. Ketika ia berpaling, dilihatnya sebuah batu kerikil meluncur kepunggungnya. “Gila. Ia berada dibelakangku“ geramnya sambi meloncat menghindari. Namun kerikil yang pertama itu telah disusul dengan kerikil yang kedua, ketiga dan keempat berurutan, “Persetan“ Jlitheng mengumpat “kau pengecut” Tidak terdengar jawaban. Tetapi jarak lontaran kerikil itu semakin lama menjadi semakin rapat, sehingga dengan demikian, Jlitheng harus berloncatan semakin cepat. Bukan saja diantara batu batu, tetapi iapun harus meloncat dari satu batu ke batu yang lain. Namun sementara itu, Jlithengpun selalu memperhatikan darimana kerikil itu dilontarkan. Pada saat Jlitheng telah yakin, arah lontaran kerikil itu, maka iapun segera mempersiapkan dirinya. Sambil berloncatan menghindar ia berusana mendekati tebing di bawah gerumbul dari arah kerikil itu dilontarkan. “Aku harus mendapatkannya. Betapapun saktinya, tetapi aku tidak mau direndahkan seperti ini” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Karena itu, maka iapun segera menghimpun tenaganya Sambil menghindari lontaran-lontaran itu, maka iapun segera bersiap untuk meloncat naik keatas tanggul. Namun tiba-tiba saja lontaran-lontaran itu berhenti tepat pada saat Jlitheng sudah siap untuk meloncat. Karena itu, maka Jlithengpun justru tertegun. Dipandanginya gerumbul diatas tanggul itu. Sepi, Iatidak melihat selembar daunpun yang bergerak. “Persetan“ geramnya “Aku harus mendapatkannya. Tetapi ketika ia benar-benar akan meloncat, maka terdengar lagi suara tertawa itu. Di sela-sela suara tertawa itu ia mendengar orang yang bersembunyi itu berkata “Bagus anak muda. Hari ini kau berhasil lolos. Tidak sebuah kerikilpun yang dapat mengenaimu. Tetapi itu bukan kemenangan. Aku memang sengaja berbuat demikian, agar kau menjadi agak berbesar hati. Ternyata meskipun ilmumu cukup baik, tetapi hatimulah yang sangat kerdil. Besok aku akan datang. Dan kau akan mendapat perlakuan yang lebih keras dan mungkin kasar, sehingga kau harus mengakui, bahwa kau kalah dari aku. Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa mengenai pusaka itu. Dengan demikian, sebaliknya kau mengundurkan dir imu sebelum kau mati. Baru kemudian, aku akan berbuat serupa terhadap Daruwerdi, tetapi dengan tuntutan yang lebih berat, justru karena ia mengetahui serba sedikit tentang pusaka yang sama-sama diperebutkan itu. Namun sebelum itu, aku masih harus melindunginya dari orang-orang Pusparuri yang mendekati daerah Bini isekiarang, orang-orang Kendali Putih, orang-orang Sanggar Gading, dan kau. Aku belum tahu apakah kakek tua di bukit itu juga mempunyai sangkut paut dengan pusaka itu. Jika demikkan, meskipun agak sulit, tetapi iapun harus dibinasakan pula” “Pengecut“ Jlitheng menggeram “turunlah. Kita berhadapan sekarang” “Sudah aku katakan. Waktuku sedikit. Orang-orang Pusparuri mendekati daerah ini sekarang. Aku perlu mengawasinya“ Jlitheng tidak mau kehilangan, Itulah sebabnya, maka tiba- tiba saja iapun segera meloncat naik. Dengan sigapnya ia menerjang gerumbul pada arah batu-batu kerikil itu dilontarkan. Namun seperti yang telah dilakukannya. Iapun menjadi kecewa. Ia tidak menemukanapa-apa di gerumbul itu. Jlitheng mengumpat ketika ia mendengar suara di gerumbul yang lain, agak jauh daripadanya “Besok kita ketemu lagi disini anak muda” Jlitheng hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia melihat bayangan yang bagaikan terbang, hidang dalam kegelapan. Bayangan seseorang yang tidak dapat diketahui ciri-cirinya, tanpa baju dan hanya melilitkan kain panjangnya di lambung. “Gila“ geram Jlitheng. Tetapi Jlitheng tidak mengejarnya. Ia sadar, bahwa tentu akan sangat sulit untuk dapat mengejar orang itu. Jika ia mencobanya juga, maka ia hanya akan kehilangan banyak waktu dan tenaga. Namun tiba-tiba saja Jlitheng seperti orang terbangun dari mimpinya. Iapun kemudian meloncat berlari sekencang- kencangnya menuju ke bukit berhutan. Salah seorang yang dicurigainya melakukan permainan itu adalah Kiai Kanthi. Meskipun Kiai Kanthi akan sampali lebih dahulu ke gubugnya, namun orang tua itu tentu basah oleh keringat atau tanda- tanda lain bahwa ia baru saja berlari- lari. Ketika Jlitheng sampai ke dekat gubug yang telah dihuni olah Kiai Kanthi, hatinya menjadi berdebar-debar. Jika benar orang tua itu yang melakukannya, apakah yang kemudian akan diperbuatnya? Meskipun demikian, Jlithengpun kemudian mengetuk pintunya perlahan-lahan. “Siapa?“ terdengar suara KM Kanthi dari dalam. “Aku Kiai. Jlitheng” jawab Jlitheng diluar. Jlitheng mendengar amben berderit Kemudian ia mendengar langkah Kiai Kanthi ke pintu. Ketika pintu terbuka, maka dilihatnya Kiai Kanthi menggosok matanya sambil berselimut kain panjangnya. “O, marilah ngger. Masuklah. Tetapi aku belum dapat mempersalahkan angger duduk. Yang baru dapat aku buat adalah amben yang hanya dapat aku pakai untuk sementara, karena tulang-tulangnya hanya aku ikat saja satu dengan yang lain. Aku belum sempat membuat amben yang baik dengan adon-adonan pada setiap sambungan” “Sudahlah Kiai“ Jlitheng memotong agar ceritera itu t idak berkepanjangan “Aku hanya lewat saja malam ini” “Angger dari mana?“ bertanya Kiai Kanthi Jlitheng termangu-mangu. Ternyata Kiai Kanthi tidak menunjukkan tanda-tanda apapun yang dapat disimpulkan, bahwa Kiai Kanthillah yang telah melakukannya, Nafasnya tidak terengah-engah. Nampaknya dalam cahaya lampu minyak. ia sama sekali tidak berkeringat. Seandainya keringatnya telah dihapus, maka keringat itu akan timbul lagi membasahi keningnya. Selagi Jlitheng termangu-mangu, terdengar dari balik dinding- penyekat suara anak gadis Kiai Kanthi “Siapa yang datang malam-malam begini ayah?“ “O, anggar Jlitheng“ jawab Kiai Kanthi “hanya singgah sebentar. Tidur lah. Kenapa kau terbangun juga” “Kenapa tidak besok pagiHpagi saja?“ desis Swasti. Jlitheng justru tersenyum karenanya. Lalu katanya “Sudahlah Kiai Aku mohon diri. Aku akan melanjutkan perjalanan” Jlitheng kemudaan meninggalkan gubug Kiai Kanthi. Dengan tergesa-gesa iapun menuruni tebing dan kembali ke rumahnya. Sepeninggal Jlitheng, Swastipun bangkit dari pembaringannya. Sambi memberengut ia berkata “Ayah memanjakannya. Akulah yang harus menjadi korban” Kiai Kanthi tersenyum. Jawabnya “Bukan maksudku Swasti” “Tetapi ilmu anak itulah yang meningkat. Bukan ilmuku” “Kau juga mendapat kesempatan. Jika kerja ani selesai, maka kau mempunyai banyak waktu” “Tetapi sekarang akulah yang seharusnya mendapat waktu khusus diantara kerja yang belum selesai” Kiai Kanthli tertawa. Sambil duduk diambennya yang sederhana ia berkata “Aku mengira, bahwa ia benar-benar datang. Ia mencurigai kita” “Besok, biar ayah saja sendiri datang ke sungai itu. Ayah sendiri sudah cukup mampu untuk membuatnya bingung” “Benar Swasti. Tetapi yang penting bukan itu. Aku ingin menunjukkan kepadamu, satu segi olah kanuragan yang agak berbeda dengan yang kita miliki. Meskipun kau pernah bertempur melawan anak muda itu, bukan sekedar bermain- main, tetapi dengan demikian, kau akan dapat melihat lebih jelas. Sambil bertempur, kau memusatkan perhatianmu kepada pertempuran itu sendiri. Namun dengan cara ini kau akan mendapat kesempatan lebih luas untuk memperhatikannya. Kau akan dapat mengambil keuntungan daripadanya” Swasti menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “ Ada dua orang aneh disini Tetapi kenapa ayah memilih Jlitheng. Bukan Daruwerdi. Nampaknya ayah tidak begitu senang kepada Daruwerdi yang barangkali mempunyai dasar yang lebih baik. Ia benar-benar nampak sebagai seorang yang mempunyai wibawa” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya “Benar Swasti. Aku memang memilih Jlitheng. Nampaknya ia lebih bederhana. Lebih jujur. Dan aku percaya sepenuhnya kepadanya meskipun nampaknya Jlitheng sendiri masih mencur igai aku. Tetapi Daruwerdi nampaknya seorang yang tinggi hati dan menganggap dirinya lebih baik dari orang lain” “Sejak semula ayali sudah memihak. Bukankah salah kita, bahwa kita tidak menyatakan diri, siapakah kita sebenarnya, sehingga ayah tidak merasa direndahkan oleh Daruwerdi” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku memang lebih senang terhadap Jlitheng, Swasti. Aku sadar, bahwa perasaan seseorang bukannya ukuran yang tepat untuk menilai buruk dan baik Tetapi kita mempunyai waktu untuk meniilainya. Mudah-mudahan aku tidak keliru” Swasti itidak menjawab lagi. Iapun kembali berbaring diatas ambennya yang berderik-derik. “Tidurlah. Kau tentu lelah. Tetapi itu merupakan latihan tersendiri bagimu” “Aku memer lukan waktu khusus ayah” “Ya. Jlitheng hanya mempunyai waktu yang pendek sekali sebagai persiapan untuk melakukan tugas-tugasnya yang mungkin sangat berat. Kita tidak tahu pasti. Tetapi nampaknya ia sudah menemukan jalan” “Ia akan mengecewakan ayah jika ternyata ia berbuat bagi dirinya sendir i” desis Swasti. Kiai Kanthi mengangguk-angguk sambil menjawab “Ya Swasti. Aku akan menjadi sangat kecewa jika ternyata Jlitheng berbuat semuanya ini bagi kepentingan dir inya sendiri. Tetapi menilik sikapnya terhadap air yang akan disalurkan lewat sungai kecil itu, maka ia berbuat untuk kepentingan banyak orang” “Mudah-mudahan itu bukan sekedar sikap pura-pura, seperti yang dilakukannya dalam hidupnya sehari-hari” desis Swasti. “Mudah-mudahan tidak Swasti. Kepura-puraannya itu dilakukannya dengan sadar untuk satu tujuan yang dianggapnya sangat pentang” sahut Kiai Kanthi, Swasta tidak menjawab lagi. Tetapi ia bersungut-sungut “Pokoknya aku minta waktu agar ayah bersedia meningkatkan ilmuku. Jika tidak, aku akan kalah dar i anak muda itu” “Tentu Swasti. Tetapi aku minta kau ikut ke sungai besok malam. Kau akan melihat ungkapan ilmu Jlitheng. Kemudian seperti hari ini, kau mendahului aku kembal ke gubug ini. Semuanya biar lah aku selesaikan” Swasti tidak menjawab. Ia ingin mempergunakan sisa malamitu untuk beristirahat dan t idur nyenyak. Dalam pada itu, Jlitheng yang sudah berada di rumahnya menjadi gelisah. Ia masih memutarkan seseorang yang telah mengganggunya dari tebing sungai. Ia masih belum tahu dengan pasti, apakah yang sebenarnya ingin dilakukan oleh orang itu. Namun lebih dar i itu, iapun menggelisahkan keterangan dari orang yang tidak diiketahuinya itu, bahwa ia akan mengawasi orang-orang Pusparuri yang akan mendekati daerah Sepasang Bukit Mati. Orang-orang Pusparuri yang telah lebih dahulu membuat perjanjian dengan Daruwerdi sebelum orang dar i Sanggar Gading. “Jika orang-orang Pusparuri mendahului orang-orang Sanggar Gading, maka aku akan dapat kehilangan lacak. Meskipun demikian, mungkin aku masih mendapat kesempatan untuk mengetahui sasaran yang telah diminta oleh Daruwerdi sebagai pengganti pusaka yang dijanjikannya itu” berkata Jlitheng kepada dir i sendir i. Dalam kegelisahannya, JIitheng mencoba untuk berbaring dan tidur barang sejenak. Oleh lelah dan letih, maka akhirnya iapun dapat tidur meskipun t idak terlalu lama. Di siang hari t idak banyak yang dilakukan oleh Jlitheng. Bersama beberapa orang kawannya ia pergi ke sungai. Ke tebing yang sudah dipersiapkan bagi Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon yang akan berdir i berhadapan, menyaksikan ujung aliran air yang akan dialirkan dari belumbang diatas bukit. Namun ketika kawan-kawannya kembafi ke padukuhan, Jlitheng tinggal untuk mencuci pakaiannya diisungad yang hampir kering itu. Tetapi demikian kawani-kawannya tidak dilihatnya lagi, maka iapun segera menyusuri sungai. Ia ingin melihat apa yang telah terjadi semalam ketika ia sedang ber latih. Jlitheng memang melihat bekas-bekas pada gerumbul- gerumbul disekitarnya. Ranting-ranting yang patah dan tersibak. Namun ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun juga. Namun karena itu, maka Jlithengpun menjadi semakin bernafsu untuk dapat mengetahui siapakah orang yang telah mencampur i masalahnya itu. “Malam nanti, aku harus datang” desis Jlitheng. Sebenarnyalah ketika malam menjadi semakin dalam, Jlitheng telah pergi ke sungai yang sepi. Ia mengatakan kepada kawan-kawannya, bahwa kesehatannya masih belum pulih kembali sehingga ia tidak dapat ikut berada di gardu seperti kebiasaannya. Seperti pada malam pertama, ternyata suara itu didengarnya lagi. Batu-batu itupun telah dilontarkan dari tebing. Sekali-kali Jlitheng mendengar orang itu tertawa. Namun kemudian suara itu bagaikan lenyap ditelan dedaunan. Tetapi suara itu kemudian telah muncul dlbalik gerumbul yang, lain. Berbeda pada hari yang pertama, maka di hari kedua Jlitheng tidak dapat menghindarkan diri dari kerikil-ker ikil yang di tempatkan oleh orang yang tidak mau menampakkan wajahnya itu. Bagaimanapun juga ia berusaha, tetapi beberapa buah kerikil yang cukup besar telah mengenainya. Bukan saja menyentuhnya, tetapi terasa tubuhnya menjadi sakit. “Kau sama sekali tidak berdaya melawan aku“ terdengar suara itu bergema. Jliheng mengerahkan segenap kemampuannya. Diluar sadarnya, ia sudah mulai menjamah tenaga cadangan yang ada di dalam dir inya. Bahkan kemudian ia sudah terpancing oleh perasaan sakitnya, sehingga akhirnya Jlitheng telah mempergunakan semua kekuatan yang ada pada dirinya. Tenaga cadangannya telah dikerahkan untuk mendorong tata geraknya sehingga menjadi semakin cepat, sementara kekuatannyapun bagaikan berlipat. Kekuatan yang tersimpan itu telah tersalur pada anggota badannya sehingga kakinya bagaikan menjadi sekuat kaki bilalang yang mampu melontarkan tubuhnya beberapa kali lipat panjang tubuhnya sendiri, Sementara itu, Swasti berada pula dipinggiir sungai itu bersama dengan ayahnya. Seperti pesan Kiai Kanfhi, maka iapun memperhatikan segala tata gerak yang dilakukan oleh Jlitheng, yang semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan dengan dorongan gerak naluriah dialasi oleh kemampuan ilmunya yang luar biasa. Dengan mata yang hampir tidak berkedip Swasti menyaksikan, betapa Jlitheng berusaha menghindari batu-batu kerikil yang dilemparkan oleh ayahnya. Kadang-kadang dengan mudah, namun kadang-kadang Jlitheng terpaksa melakukan gerak yang seakan-akan tiba-tiba saja melontarkan tubuhnya dari batu ke batu yang lain. Malam itu, seperti malam sebelumnya. Jlithengpun t idak berhasil bertemu dengan orang yang sengaja merahasiakan dirinya itu. Dan malam itu Jlitheng tidak lagi ber lari ke bukit untuk membukt ikan bahwa yang melakukannya bukan Kiai Kanthi. Namun di hari kedua Jlitheng mempunyai pertimbangan lain. Hatinya tidak lagi sedang menyala. Ia sudah bersiap untuk mengalami perlakuan itu sejak ia datang. Bahkan ia merasa, bahwa dengan demikian, la telah mendapat keuntungan, karena ia tidak harus berlatih sendir i. Batu kerikil itu telah mendorongnya untuk berbuat jauh lebih banyak dari pada ia berlatih seorang dir i. Dihari kedua Jlitheng mempunyai tanggapan yang lebih baik dari orang yang merahasiakan dir inya itu. Ia mulai condong kepada dugaan bahwa orang itu bukannya orang yang bermaksud jahat kepadanya. Karena itu, ia tidak lagi memasang nama Daruwerdi diantara mereka yang diduganya telah melakukannya. “Apalagi kemampuan Daruwerdi tidak akan sebesar kemampuan orang yang telah melempar i aku dengan batu kerikil itu” Pada hari kedua, orang yang tidak diketahui oleh Jlitheng itupun telah menantang agar Jlitheng datang pada hari ketiga. Ternyata Jlithengpun tidak berkeberatan. Ia telah berjanji untuk datang di malamberikutnya. Di waktu yang telah dijanj ikan, Jlitheng telah datang pula ke sungai itu. Tetapi orang tidak menampakkan diiri itu tidak lagi melemparinya dengan batu kerikil yang kecil, tetapi ia sudah mulai melemparinya dengan batu yang lebih besar. “Persetan“ geram Jlitheng. Jika satu dua butir batu mengenainya, ia benar-benar merasa tubuhnya menjadi sakit Sementara batu-batu itu menjadi semakin sering menyentuh tubuhnya.. Pundaknya, lengannya, dadanya, parutnya, bahkan kepalanya. Ketika Jlitheng mulai menyeringai menahan sakit, maka terdengar suara dari baik gerumbul “Jlitheng, ternyata kemampuanmu tidak seberapa. Aku tahu, tubuhmu tentu menjadi merah biru. Lengan dan tanganmu tentu terasa sakit karena itu kau berusaha selain menghindar juga menangkis. Nah, bagaimana dengan ilmu pedangmu. Inilah cobalah dengan ilmu pedang untuk menangkis serangan-seranganku” Sebelum Jlitheng menjawab, ia melihat sepotong kayu yang meluncur dari dalam gerumbul. Jelas dapat dilihatnya. Gerumbul yang rimbun di atas tebing. Tetapi ia sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk meloncat dan menerjang ke dalamnya untuk mencari orang yang telah melemparinya dengan batu dan kemudian memberinya sepotong kayu” Hampir diluar sadarnya, Jlitheng kemudian menerima sepotong kayu itu dan mempergunakannya untuk menangkis batu-batu yang dilemparkan kepadanya. Dalam pada. itu, dengan dada yang berdebar-debar Swasti menyaksikan Jlitheng mempergunakan tongkat kayu. Dengan demikian Swasti telah menyaksikan betapa Jlitheng menguasai ilmu pedang yang mengagumkan. Dengan sepotong kayu itu, ia berloncatan sambil menangkis batu-batu yang semakin besar yang dilontarkan kepadanya Bukan saja batu-batu itu menjadi semakin besar, tetapi juga semakin keras. Ternyata Jlitheng benar-benar tangkas. Setiap kali ia berhasil memukul batu-batu yang mengarah ke tubuhnya. Meskipun satu dua butir diantaranya berhasil mengenainya, tetapi sebagian dari batu-batu itu berhasil ditangkis dan dihindar inya. Permainan yang mula-mula dianggap oleh Jlitheng sebagai suatu hal yang mengganggunya, ternyata menjadi sangat menarik. Tetapi ia sadar, bahwa waktunya tidak terlalu banyak, la tidak akan dapat bermain-main seperti itu untuk waktu yang lama, sehingga ilmunya akan menjadi jauh meningkat. Waktunya sangat sempit. Sejak ia kembali dari Demak, tidak lebih dari sepuluh har i. Namun demikian, apa yang terjadi itu baginya sudah memadai. Seolah-olah ia mendapat kawan untuk meningkatkan ilmunya dalam waktu yang sangat singkat. Siapapun orang itu, tetapi ternyata bahwa yang diakukan justru telah membantunya banyak sekali. Dengan sepotong kayu, Jlitheng seolah-olah telah berlatih dan mempertinggi kemampuan ilmu pedangnya. Kecepatan bergerak dan bahkan meningkatkan kekuatan pergelangan tangannya. Tetapi disamping kepentingan bagi dir inya sendiri, Jlitheng masih mempunyai kewajiban lain. Di malam hari ia memanfaatkan hari-harinya yang pendek, sementara di siang hari ia sudah berjanj i dengan Ki Buyut dari Lumban Wetan dan Lamban Kulon untuk melakukan upacara sederhana, membuka aliran air dari belumbang di bukit. Karena itu, ketika, saatnya telah tiba, maka Jlithengpun menjadi sibuk. Bersama beberapa orang kawannya ia naik ke atas bukit sambil membawa cangkul, dandang dan beberapa jenis alat yang lain. Sementara ia mempersilahkan kawan- kawannya yang lain untuk berada dupinggir sungai. Di tempat Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di Lumban KuIon yang akan saling berdir i berhadapan. Ternyata yang datang ke pinggir sungai saat itu, bukannya hanya Ki Buyut dan para bebahu. Orang-orang dari Lumban Wetan dan Lumban Kulonpun bagaikan ditumpahkan seluruhnya ke pinggir sungai. Mereka ingin melihat air yang akan meluap dari belumbang di bukit dan mengalir di sungai kecil. Seperti yang mereka dengar, bahwa air itu akan dapat diangkat untuk mengaliri sawah mereka, meskipun hanya sebagian dari seluruh tanah persawahan yang ada di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. ”Danyang dan semua makhkuk halus sudah dihubungi oleh orang tua yang tinggal di bukit itu” berkata salah seorang dari mereka “karena itu, maka mereka tidak akan marah lagi apabila kita mempergunakan air yang mengalir dari belumbang itu” Tetapi bukit itu tentu akan minta tumbal. Mungkin seseorang akan hanyut jika sungai ini banjir di musim hujan. Mungkin salah seorang anak-anak dar i Lumban akan diterkam harimau. Atau kemungkinan-kemungkinan lain yang menger ikan” “Tidak. Orang tua itu sudah berjanji untuk berdamai dengan para lelembut di bukit itu. Mungkin ia sudah dapat mengganti tumbal itu dengan yang lain” Kawannya tidak menyahut. Namun dengan berdebar-debar ia berada diantara banyak orang yang berdiri diatas tanggul. Dalam pada itu, Jlitheng sudah berpesan, jika semuanya sudah siap, seorang kawannya harus membakar sampah yang sudah disediakan. Jika asap mulai membubung, bagi Jlitheng akan menjadi pertanda, bahwa ia harus segera membuka air dari belumbang seperti yang sudah ditandai oleh Kiai Kanthi. Demikianlah, kawan Jlitheng yang sudah dipersiapkan dengan seonggok kayu dan ranting-ranting kecil, setelah mendapat persetujuan dari Ki Buyut berdua, maka anak muda itupun mulai membakar kayu dan ranting-ranting kecil yang sudah disediakan. Sejenak kemudian, maka asappun telah mengepul dan naik tinggi keudara. Asap yang putih kehitam-hitaman itu merupakan pertanda yang akan segera dilihat oleh Jlitheng di bukit berhutan itu. Meskipun angin yang lembut bertiup dan mengguncang asap yang mengepul, namun ternyata bahwa Jlitheng dan kawan-kawannya yang berada di bukit itupun sempat melihatnya. Seorang yang berdiri dialas batu karang, di tempat yang agak terbuka berteriak “Jlitheng, aku sudah melihat asap” Jlitheng menarik nafas. Kemudian katanya kepada Kiai Kanthi yang menungguinya “Semua sudah siap Kiai” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya “Silahkan ngger. Silahkan memecah tebing padas itu” Jlitheng dan kawan-kawannyapun kemudian turun ke dalam air. Sejenak nampak sesuatu membayang di wajah mereka. Kebanggaan dan harapan nampak membersit di hati anak-anak muda itu. Sejenak kemudian, maka dandang dan cangkul merekapun mulai memecah tebing sesuai dengan tanda-tanda yang telah diberikan oleh Kiai Kanthi. Demikian tebing dan tanggul itu pecah, maka airpun mulai mengalir periahan-Iahan. Sementara kawannya yang lain justru telah menutup air yang memang sudah meluap dan menyalurkannya kedaiam alur yang telah dipersiapkan, Demikianlah, maka air belumbang itupun mulai dikendalikan dan mengalir ke jalur yang menuju kebawah bukit dan langsung masuk ke dalam sungai kecil yang airnya hampir menjadi kering di musim kemarau. Dengan hati yang berdebar-debar anak-anak muda itu menyaksikan air itu meluap dan bergejolak menuruni tebing. Semakin lama semakin deras, sehingga akhirnya mereka melihat sebatang sungai yang cukup besar. Dalam kebanggaan dan harapan, Jlitheng masih sempat memperhatikan keadaan air belumbang itu, Kepada Kiai Kanthi ia bertanya “Bukankah Kiai sudah memperhitungkan, bahwa air yang melimpah ke dalam lubang di bawah tanah itu masih akan tetap mengalir?“ “Ya ngger. Meskipun berkurang. Tetapi air di bawah tanah Itu tidak akan kering. Di tempat yang jauh, jika air itu muncul menjadi sumbar dan membasahi tempat disekitarnya. meskipun terasa susut, namun masih akan mencukupi” Sementara itu, Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Beberapa saat air di dalam par it itu masih saja mengalir tidak lebih dari setinggi mata kaki. Beberapa saat lamanya mereka menjadi gelisah. Bahkan kemudian salah seorang bebahu telah bertanya kepada orang yang berdiri disampitngnya “Apakah kita tidak sedang dipermainkan anak-anak?“ Tetapi sebelum pertanyaan itu dijawab, tiba-tiba saja ia mendengar orang-orang yang berdiri di tempat yang lebih tinggi bersorak gemuruh. Dengan gembira mereka berteriak ”Air Air” Ki Buyut mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia memang melihat air yang mengalir semakin deras. Sehingga akhirnya sungai itupun tidak lagi merupakan sungai yang hampir kering, tetapi sungai kecil itu benar-benar telah mengalirkan air” Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu menar ik nafas dalam-dalam, Sekilas mulai terbayang, jika orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon bersedia memperbaiki bendungan, maka air itu akan darat diangkat untuk mengeliri sawah. Meskipun t idak semua tanah persawahan, tetapi yang sebagian itu tentu akan dapat memperbaiki kehidupan rakyat Lumban. Ketika air yang mengalr itu kemudian menjadi bening, maka Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon yang berdiri berhadapan disebelah-menyebelah sungai itupun segera turun. Mereka mencelup kaki mereka dan kemudian merekapun mencuci muka mereka dengan air yang semakin besar itu. Seperti setiap orang yang menyaksikan air itu mengalir, tumbuhlah harapan dihati kedua Buyut itu. Ki Buyut yang tua berkata “Kurnia ini mudah-mudahan akan bermanfaat bagi kita“ “Ya kakang. Kita berharap bahwa kurnia ini akan member ikan kesejahteraan bagi anak cucu” Beberapa saat Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih berbincang. Bahkan keduanyapun kemudian telah berjalan menyusur sungai diikuti oleh para bebahu. Beberapa orang masih tetap berdir i diatas tanggul menyaksikan, apa yang akan dilakukan oleh kedua pemimpin mereka. Ternyata bahwa kedua orang Buyut itu telah menentukan, bahwa tempat yang paling baik untuk mengangkat air adalah pada bendungan yang lama, tetapi perlu diperbaiki dan dipertinggi. Disebelah menyebelah masih terdapat mulut- mulut susukan kecil yang kemudian mengalirkan air ke dalam parit yang akan merambah tanah persawahan. Mengalir ke bulak-bulak yang kering dan gersang di musim kemarau. “Kita akan segera mulai” berkata Ki Buyut di Lumban Wetan. “Ya. Orang-orangku akan segera turun memperbaiki bendungan itu” sahut Ki Buyut di Lumban Kulon. Demikianlah, ketika keduanya telah cukup memperhatikan keadaan yang mengandung harapan itu, maka keduanyapun meninggalkan sungai itu dan kembali ke rumah masing- masimg diikuti oleh para bebahu. Disepanjang jalan Ki Buyut sempat berbincang dengan pembantu-pembantunya untuk dalam waktu dekat mengerahkan orang-orang Lumban untuk memperbaiki parit dan kemudian memperbaiki bendungan untuk mengangkat air yang jauh lebih banyak dari arus air di sungai itu sendir i. Sementara itu, ketika orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon sudah pergi meninggalkan sungai yang mengalir semakin deras itu, seorang anak muda duduk diatas sebuah batu dipinggir sungai. Ia tidak menghiraukan kakinya yang menjadi basah. “Anak Gila” Ia menggeram “justru pada saat aku digelut oleh persoalan yang gawat, ia berhasil mendapat tempat dihati rakyat Lumban. Meskipun ia mengaku anak Lumban di saat lahirnya, namun kini iapun seorang pendatang seperti aku” Sejenak Daruwerdi itu termang-mangu. Namun kemudian ia menggeram “Persetan. Aku tidak perlu orang-orang Lumban. Aku perlu orang-orang yang dapat membantuku menyerahkan orang itu kepadaku. Agaknya orang-orang Pusparuri masih tetap ragu-ragu, sementara orang Sanggar Gading agaknya lebih bersungguh-sungguh” Sambil menghentakkan kakinya, maka Daruwerdi kemudian berdiri. Sejenak ia memandang air yang mengalir semakin deras di bawah kakinya. Namun kemudian iapun melangkah menyeberangi sungai kecil itu sambil bergumam kepada diri sendiri “Cempaka menjanjikan bahwa dalam waktu dekat ia akan melakukannya. Mudah-mudahan ia berkata sebenarnya” Dengan tangkasnya Daruwerdi itupun kemudian meloncat naik keatas tebing. Ia Sudah tidak melihat seorangpun lagi disebelah menyebelah sungai itu. Karena itu, maka iapun segera melangkah dengan tergesa-gesa menuju ke bukit gundul. Sejenak ia berdiri termangu-mangu memandang keselilingnya Ketika ia yakin bahwa tidak ada seorangpun yang melihatnya, maka iapun segera memanjat naik dan menyusup diantara batu-batu karang. Sejenak ia berdiri tegak ketika ia berada dihadapan sebuah batu karang yang datar, yang seakan-akan telah dibuat oleh seseorang. Ia memandang pada jalur-jalur yang tergores pada wajah batu karang itu. Namun dengan geram ia berkata “Hanya orang itulah yang akan dapat membacanya dan mengatakan, dimana pusaka itu tersimpan. Tetapi jalan masih terlalu jauh. Aku harus menunggunya dengan tidak sabar. Sementara berita tentang pusaka itu semakin tersebar sehingga semakin banyak orang yang ingin memilikinya” Daruwerdi berdesah di dalam hati. Untuk beberapa saat ia masih berdiri diantara batu-batu karang, sehingga orang- orang yang lewat disekitar bukit gundul itu tidak akan melihatnya. Ia masih mencoba melihat dan mengurai jalur-jalur yang tergores pada batu karang yang datar itu, seperti yang sudah dilakukannya berpuluh bahkan beratus kali. Namun ia tidak menemukan ujung dari uraiannya, sehingga ia masih tetap tidak mengetahui apa yang dihadapinya. Jika ia menemukan tanda-tanda pada goresan-goresan itu, ia sudah selalu mencoba menemukan sesuatu yang mungkin berhubungan dengan tanda-tanda itu. Namun ia masih tetap buta menghadapi goresan-goresan yang ia yakini, adalah tanda- tanda dan isyarat yang pernah ditinggalkan oleh Pangeran Pracimasanti dan pengiringnya yang cacat itu. Pada jalur yang tergores itu, kadang-kadang ia melihat hubungan bentuk antara batu-batu karang pada bukit gundul itu, sehingga ia menduga, bahwa tempat itu adalah tempat penyimpanan pusaka yang dicar inya. Tetapi ternyata ia selalu gagah Ketika ia menduga bahwa pusaka itu tersimpan di bawah lekuk batu karang yang menjorok disebelah goresan itu, dan dengan susah payah ia bekerja tiga hari untuk menggalinya, namun ia tidak menemukan apa-apa. Tanda-tandapun tidak. Karena itu, maka ia bertekad untuk memaksa orang-orang yang sedang menjadi gila untuk mendapatkan pusaka itu untuk menangkap orang yang dianggapnya mengetahuinya dan membawanya kepadanya, sementara Daruwerdi telah menyiapkan sebuah peti dan pusaka yang dipalsukannya, yang disembunyikannya di bukit gundul itu pula. Ia sudah menyiapkan sebilah wilahan keris tanpa hulu dan tanpa wrangka, disimpan pada sebuah peti yang buruk dan sudah mulai retak retak. Dibeberapa bagian justru sudah ger ipis dimakan rayap. Namun-dengan demikian seakan-akan pati dan pusaka itu sudah terlalu lama tersimpan di tempat yang tidak terawat. “Orang memer lukan waktu untuk mengetahui, apakah pusaka itu sebenarnya atau bukan. Selama itu aku akan mendapatkan jalan keluar dan pusaka yang sebenarnya tentu sudah aku ketemukan” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Seperti biasanya, dengan menggeretakkan giginya iapun meninggalkan goresan-goresan yang tidak dimengertinya itu. Kemudian menuruni bukit gundul dan kembali ke Lumban Kulon, Dalam pada itu, setelah air sungai itu mengalir cukup besar, sehingga apabila bendungan yang rusak itu berhasil diperbaiki, maka airpun akan terangkat. Di musim hujan, arus air itu tentu akan menjadi semakin besar dan kemungkinan akan datang banjir. Sehingga karena itu, maka bendungan yang akan dibuat itu haruslah bendungan yang cukup kuat. Dalam pembicaraan selanjutnya, Jlitheng yakin, bahwa orang-orang Lumban tentu akan mengerjakannya, karena kedua orang Buyut kakak beradik itu telah sepakat dan berjanji untuk melaksanakan sebaik-baiknya. Dengan demikian .maka Jilithengpun merasa, bahwa tugasnya sudah sebagian lewat. Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan diri untuk meninggalkan Lumban dengan alasan yang dibuat-buat, sementara ia benar-benar telah menempa diri lahir dan batinnya untuk memasuki sarang yang tidak terlalu dikenalnya selain pengenalannya bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat berbahaya. Pada hari-hari terakhir, Jlitheng memerlukan datang kepada Kiai Kanthi untuk minta diri. Tetapi Jlitheng tidak mengatakannya, kemana aa akan pergi, sementara Kiai Kanthipun tidak berterus terang, bahwa setiap malam ia melihat apa yang dilakukan oleh Jlitheng dipinggir sungai itu. “Aku tahu ngger” berkata Kiai Kanthi “bahwa saatnya telah tiba bagi angger untuk berbuat sesuatu. Mungkin yang angger lakukan itu adalah suatu tindakan yang sangat berbahaya. Tetapi kita masing-masing tidak akan dapat ingkar, jika tugas itu memang dibebankan diatas bahu kita” “Aku mohon restu Kiai. Aku minta maaf, bahwa aku belum dapat mengatakan, apa yang akan aku lakukan. Tetapi pada saatnya, Kiai akan mengetahuinya juga” “Terima kasih atas kepercayaan yang akan angger berikan pada saatnya itu ngger” Jlitheng tersenyum. Namun katanya “Akupun belum tahu pasti apa yang akan aku lakukan” “Baiklah ngger. Mudah-mudahan kita masing-masing selalu mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Sementara angger pergi, maka biarlah aku berbuat sesuatu bagi padepokan yang aku impikan itu” “Aku sudah berpesan Kiai, beberapa orang kawanku akan selalu datang membantu“ “Terima kasih ngger. Kita masing-masing akan selaki berdoa“ Jlithengpun kemudian meninggalkan gubug Kiai Kanthi. Ketika ia minta dir i kepada Swasti, maka seperti biasanya, jawabnyapun teramat singkat. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam, sementara Kiai Kanthi hanya dapat menggelengkan kepalanya saja. Namun ketika ia mengantarkan Jlitheng sampai keluar gubugnya la bergumam “Aku mohon maaf atas sikap anak itu ngger” Jlitheng tersenyum. Jawabnya “Tidak apa-apa Kiai. Sifatnya memang demikian. Kiai tentu lebih mengetahui. Namun pada saatnya ia akan berubah. Jika ia kelak banyak berhubungan dengan gadis-gadis Lumban Wetan dan Lumban Kulon” “Mudah-mudahan ngger. Aku harap bahwa aku akan segera dapat tinggal di bawah bukit dan berhubungan dengan orang-orang Lumban seperti kebanyakan orang yang berada didalam lingkungannya” Sejenak kemudian maka J lithengpun meninggalkan gubug kecil itu. la masih sempat singgah sejenak di pinggir sungai. Tetapi ia t idak lagi berloncatan dari batu ke batu atau memperdalam unsur-unsur gerak pokok dari ilmunya, namun ia mempergunakan waktu yang pendek itu untuk membiasakan diri dengan senjata kecilnya. Dengan sungguh- sungguh ia mencoba berulang kali sehingga ia yakin, bahwa ia tidak akan meleset lagi dengan lontaran-lontarannya. Demikianlah, maka pada saatnya Jlitheng telah siap meninggalkan Lumban. Ia terpaksa berbohong lagi kepada kawan-kawannya dan kepada biyungnya, karena ia tidak dapat mengatakan apa yang sebenarnya akan dilakukan. “Kau harus segera kembali Jlitheng” berkata ibunya.. “Tentu biyung, aku akan segera kembali” “Aku tidak tahu apakah yang sebenarnya kau lakukan. Tetapi aku mohon, janganlah berbuat sesuatu yang dapat menyulitkan dirimu” “Aku tidak akan berbuat sesuatu biyung. Tetapi aku hanya ingin melihat daerah yang lebih luas dari padukuhan kecil ini” “Suatu keinginan yang jaaang terjadi pada anak-anak padesan, Jlitheng. Ketika aku menemukan kau, aku berharap bahwa kau adalah anak yang baik dan penurut. Beberapa puluh tahun lamanya aku hidup sendiri. Kedatanganmu membangkitkan kesegaran pada hidupku yang gersang, meskipun ada juga keragu-raguan, siapakah sebenarnya kau. Tetapi setelah kau berada di rumah ini, aku mulai percaya, sebenarnya kau anak yang baik dan kau benar-benar mengalami kesulitan ketika aku ketemukan. Namun pada saat- saat terakhir kau membuat aku gelisah” “Kenapa biyung menjadi gelisah?“ “Jlitheng, Kau jangan terpengaruh oleh anak-anak muda yang kehilangan pegangan hidupnya. Biarlah kita hidup miskin dan kekurangan. Tetapi jangan berbuat sesuatu yang melanggar hukum Tuhan” Jlitheng tersenyum. Katanya sambil mengangguk-angguk “Aku mengerti biyung Biyung menjadi cemas, bahwa aku terseret oleh kebengalan anak-anak muda sebayaku yang menempuh jalan sesat. Tidak biyung. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang dapat menyakiti hati biyung. Jika aku ingin pergi beberapa hari, adalah karena kerinduanku pada sebuah perjalanan. Tetapi aku tidak akan berhenti pada orang lain lagi dalam pengembaraan ini, karena aku sudah mempunyai tempat tinggal dan seorang ibu yang sangat baik kepadaku. Dengan demikian, dimanapun aku berhenti, aku akan tetap teringat untuk pulang kembal ke rumah ini” Jlitheng termangu-mangu ketika ia melihat mata perempuan tua itu menjadi, basah. Ternyata perempuan tua itu bukannya sekedar mengiakan saja segala ceriteranya yang dibuatnya sebagai alasan untuk pergi meninggalkan Lumban. Tetapi perempuan itu menjadi cemas dan benar-benar seperti akan ditinggalkan oleh anaknya sendir i. Tetapi Jlitheng benar-benar berjanji kepada diri sendiri, jika ia sudah selesai dengan segala macam tugasnya dengan selamat, maka ia benar-benar tidak akan melupakan perempuan tua itu. Demikianlah, pada saatnya Jlitheng meninggalkan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Seperti yang pernah dilakukannya, maka ia dengan sengaja pergi menjelang malam. Kecuali tidak banyak orang yang dijumpainya di bulak dan pategalan, maka perjalanannya akan segera disaput oleh gelapnya malam. Tetapi Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seseorang berdiri diujung padukuhaninya Seakan-akan orang itu dengan sengaja telah menunggunya. “Daruwerdi“ Jlitheng berdesis. “Kau akan pergi kemana Jlitheng?“ bertanya Daruwerdi. Jlitheng menjadi termangu-mangu. Namun akhirnya ia menjawab “Aku disuruh biyung pergi ke rumah paman lagi. Ada sesuatu yang penting harus aku sampaikan” “Apakah yang penting itu?“ bertanya Daruwerdi. “Ini adalah persoalan keluargaku Daruwerdi” jawab Jlitheng. “Jawablah” suara Daruwerdi tiba-tiba menjadi berat “Kau tahu siapa aku” “Tetapi itu adalah masalahku” “Katakan, atau kau tidak akan dapat pergi ke rumah pamanmu itu“ Jlitheng sadar, bahwa Daruwerdi yang mempunyai tugas khusus itu ternyata telah menjadi curiga oleh kepergiannya. Karena itu, maka katanya kemudian “Baiklah Daruwerdi Tetapi masalahnya sebenarnya terlalu pr ibadi” “Sebutlah” “Biyung mulai dengan pembicaraan keluarga. Biyung mempunyai anak laki-laki dan paman mempunyai anak perempuan yang sudah menjelang dewasa” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa berkepentingan. Katanya “Kau datang melamar bagi dir imu sendiri?“ “Tidak. Tidak begitu. Aku hanya membawa pesan biyung karena tidak ada orang lain yang disuruhnya pergi” Daruwerdi masih tertawa. Namun kemudian sambil melangkah pergi ia bergumam “Jika kau kawin, isterimu akan kau beri makan apa, Jlitheng? Kau kira air sungai itu akan dapat membuat Lumban dalam satu dua hari menjadi padukuhan yang hijau subur?“ “Aku juga tidak akan kawin dalam dua tiga hari ini Daruwerdi” Daruwerdi masih tertawa. Suara tertawanya masih terdengar meskipun anak muda itu sudah melangkah menjauh masuk ke dalam padukuhan. “Anak Gila“ geram Jlitheng kemudian. Namun ia tidak menghiraukannya lagi. Demikianlah Jlitheng mulai menempuh perjalanannya yang berbahaya. Sebagai yang pernah dilakukan, maka iapun singgah untuk mengambil pakaiannya, la tidak ingin datang ke perguruan Sanggar Gading dalam pakaian seorang petani miskin, la akan datang sebagai yang pernah dilihat oleh Cempaka beberapa saat yang lampau. Dengan pakaiannya dan kelengkapan seorang yang akan menempuh perjalanan yang berbahaya, Jlitheng pergi ke rumah saudagar tempat ia menitipkan kudanya Saudagar yang sangat baik kepadanya, karena ia telah mengenal siapa sebenarnya anak muda yang menyebut dirinya bernama Jlitheng itu. Namun demikian, Jlitheng tidak mengatakan seluruh rencananya Bagaimanapun juga, ia harus berhati-hati menghadapi padepokan Sanggar Gading “Mudah-mudahan orang-orang Sanggar Gading t idak didahului oleh orang-orang Pusparari yang justru telah mempunyai kesanggupan lebih dahulu. Namun agaknya Sanggar Gading telah siap lebih dahulu untuk melakukan seperti yang diminta oleh Jlitheng sementara orang-orang Pusparuri masih sedang membicarakan berkepanjangan” berkata Jlitheng kepada dirinya sendiri. Lalu “meskipun demikian, jika orang-orang Sanggar Gading berhasil, berarti perguruan itu harus berhadapan dengan perguruan Pusparuri, Kendali Putih dan mungkin juga dari perguruan yang lain. Bahkan mungkin perguruan Hantu di Gunung Kunir“ Ternyata saudagar yang baik itu telah menyediakan diri untuk berbuat apa saja j ika Jlitheng menghendaki. “Pada saatnya, jika aku memerlukan, aku akan mohon bantuan paman” jawab Jlitheng “tetapi sementara aku melihat-lihat kemungkinan yang akan terjadi, biarlah aku pergi seorang diri” Jika angger memer lukan aku, jangan segan-segan. Angger dapat memanggil aku uatuk melakukan apa saja, karena aku mengerti, bahwa angger adalah pengemban tugas kebenaran meskipun tugas itu angger bebankan dtaitas pundak angger atas kemauan angger sendiri” berkata saudagar itu. Jlitheng tersenyum. Jawabnya “Terima kasih paman. Aku tentu akan datang kepada paman, jika aku memang memer lukan. Akupun tahu, bahwa paman yang mempunyai sangkut paut ilmu dengan aku dan guru, adalah orang yang luar b:asa. Sudah renta pada kesulitan yang tidak teratasi aku akan lari kepada paman” “Ilmuku tidak seberapa ngger. Aku hanya mempunyai kemauan karena pertimbangan tentang perjuangan angger” sahut saudagar itu, Jlitheng tersenyum. Namun kemudian iapun segera mohon diri untuk melanjutkan perjalanannya ke Demak. Berkuda Jlitheng pergi ke Demak. Ia memerlukan singgah sejenak dirumah Sri Panular. Ia ingin mendapatkan pesan terakhir, sehingga dengan demikian akan dapat membuat hatinya semakin mantap. “Pergilah” berkata Sri Panular “Kau sudah melengkapi dirimu dengan senjata yang dapat kau pergunakan sebaik- baiknya. Namun aku ingin memberimu barang selembar bekal perjalanan” Jlitheng menjadi berdebar-debar. Sementara Sri Panular meneruskan “ngger. Aku mempunyai sebilah pedang tipis meskipun cukup besar dan panjang, Namun, meskipun pedang itu tipis, tetapi terbuat dari besi baja pilihan sehingga pedang itu tidak mudah patah. Seandainya kau harus membenturkan pedang itu dengan senjata lawan yang betapapun kuatnya, bahkan dengan pedang yang terbuat dari wesi aji sekalipun, pedang itu tidak akan patah” Jlitheng mengangguk-angguk dengan penuh harap ”Keuntungan dar i pedang itu ngger” berkata Sri Panular “jangkauan yang cukup jauh karena panjangnya, sementara pedang itu terlalu ringan dibandingkan dengan bentuknya” berkata Sri Panular lebih lanjut “dengan demikian kau dapat merggerakkannya dengan cepat, tangkas namun kuat dan dengan penuh kepercayaan” Jlitheng mengangguk homat sambil berkata “Aku hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih” Jlithengpun kemudian menerima pedang itu di dalam sanggar Sri Panular. Beberapa saat lamanya, Jlitheng dipersilahkan untuk mencobanya. Membiasakan diri mempergunakannya dan dengan heran Jlitheng melihat, betapa kuatnya pedang tipis Itu. Dengan sekuat tenaga Jlitheng menghantam pedang itu sama sekai tidak patah. Bahkan lukapun tidak. “Pakailah. Disamping paser-paser kecil itu. Tugasmu adalah tugas berat” berkata Sri Panular. Setelah beberapa kali mengucapkan terima kasih, maka Jlithengpun kemudian ber istirahat sejenak, menunggu matahari terbit. Ia masih sempat berbaring di rumah Sri Panular. Pada saatnya, setelah makan pagi dan minum minuman panas, maka Jlithengpun minta diri. Matahari telah naik agak tinggi. Namun padukuhan Sr i Panular ternyata memang bukan padukuhan yang ramai. Setelah mendapat pesan-pesan terakhir, maka Jlithengpun meninggalkan padukuhan itu. Ia berkuda menyusur i jalan di pinggir kota Demak. Kemudian lewait pintu gerbang samping anak muda itu keluar nienonggailkan kota menuju keperguruan Sanggar Gading. Jlitheng belum pernah mengenal perguruan itu. Tetapi ia mendapat beberapa petunjuk meskipun samar-samar dari Cempaka, apabila ia memang benar-benar angin datang ke padepokannya. ”Masih ada waktu, sebelum hari kesepuluh itu” berkata Jlitheng “Aku harap bahwa aku belumterlambat” Sebagai seorang yang berpandangan tajam, maka Jlithengpun segera mengenal isyarat yang diberikan oleh Cempaka. Karena itu, maka iapun yakin, bahwa ia berjalan ke jurusan yang benar. Meskipun demkian Jlitheng tidak meninggalkan kewaspadaan. Ia tidak mempercayai orang seperti Cempaka itu sepenuhnya, bahwa yang dikatakannya itu bukan sekedar perangkap.. Jalan yang diIaluinya ternyata semakin lama menjadi semakin sempit dan sunyi Nampaknya jalan itu bukannya jalan yang sering dilalui oleh para pejalan dari atau menuju ke Demak. Tetapi pada jalan itu Jlitheng melihat tanda-tanda yang pernah diberikan oleh Campaika meskipun hanya sekilas. Ia melihat sebatang pohon meranggas. Batangnya menjulang dengan ranting-rantingnya yang tidak berdaun. Disebatang parit yang menyilang jalan, Jlitheng bertemu dengan dua orang yang membawa cangkul dipundaknya. Demikian kedua orang itu melihat Jlitheng, nampak wajahnya segera berubah. Jlitheng melihat perubahan itu. Justru karena itu ia menjadi tertarik dan berhenti dua langkah di dekat mereka. Wajah kedua orang itu menjadi tegang. Ketika Jlitheng meloncat turun dari kudanya, kedua orang itu bergeser dan wajah mereka mulai nampak ketakutan. “Ki Sanak” bertanya Jlitheng kemudian “Apakah Ki Sanak tahu, jalan ini menuju kemana?“ Kedua orang itu saling bepandangan. Namun pada wajah mereka nampak ketegangan yang begejolak di dalam jantungnya. Jlitheng yang melihat gelagat itu justru bertanya “Kenapa Ki Sanak nampak menjadi ketakutan?“ Sejenak keduanya tennangu-mangu. Namun yang seorang kemudian bertanya “Anakmas, apakah anakmas belum mengenal daerah ini?“ Jlitheng menggeleng. Jawabnya “Belum Ki Sanak. Aku baru kali ini lewat jalan ini” “Anakmas dari mana?” bertanya yang seorang. “Aku orang Demak” Keduanya saling berpandangan lagi. Yang seorang bertanya “Apakah benar anakmas orang Demak? Jika anakmas orang Demak, aku kira anakmas tentu sudah mengenal daerah ini. Setidak-tidaknya mengetahui dan mendengar tentang daerah ini” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk- angguk lia berkata “Aku memang bukan orang dar i daerah Timur. Tetapi aku mempunyai sanak kadang di Demak” Kedua orang itu mengangguk-angguk. Yang seorang bertanya “Sekarang, anakmas akan pergi kemana?“ “Aku tidak mempunyai tujuan. Aku hanya ingin pergi saja melihat-lihat keadaan disekitar kota Demak yang kini menjadi pusat pemerintahan” jawab Jlitheng. Keduanya masih mengangguk-angguk. Salah seorang dari keduanya kemudian berkata “Jika demikian, sebaliknya anak mas tidak menempuh jalan ini. Jalan ini akan sampai ke padukuhan Watu Tadah. Padukuhan yang sudah banyak dikenal orang sebagai tempat yang paling gawat di daerah Demak” “Kenapa? Apakah tempat itu sedang menyusun kekuatan untuk memberontak?“ bertanya Jlitheng. “Jika demikian persoalannya akan lebih cepat diselesaikan” “Jadi?“ “Padukuhan itu adalah tempat tanggal para perampok, penyamun dan penjahat-penjahat lain. Seolah-olah turun temurun mereka adalah penjahat-penjahat” “Apakah para pemimpin prajurit Demak tidak dapat berbuat apa-apa?“ bertanya Jlitheng. “Sudah banyak yang mereka lakukan. Tetapi untuk menangkap penjahat yang sebenarnya di padukuhan itu tidak mudah. Satu pasukan prajurit segelar sepapan pernah memasuki padukuhan itu. Tetapi yang mereka jumpai adalah perempuan dan anak-anak. Satu dua mereka bertemu dengan laki- laki tua dan anak-anak remaja. Tetapi para prajurit itu tidak berhasil menemukan seorang penjahatpun” berkata salah seorang dari kedua orang itu. “Menarik sekali. Jika demikian, aku ingin melihat, apa yang ada di padukuhan itu. Sebenarnyalah aku hanya akan lewat saja“ bekata Jlitheng kemudian. “Jangan anakmas. Kau masih terlalu muda untuk mengalami kesulitan di daerah itu. Bahkan mungkin sebelum kalian memasuki padukuhan Watu Tadah, kalian sudah bertemu dengan bahaya yang dapat mengancam jiwa anakmas” Jlitheng termangu-mangu. Ia mengerti, bahwa orang itu berusaha untuk menghindarkannya dari bahaya yang gawat. Tetapi menurut Cempaka, ia harus menempuh jalan itu. Meskipun Cempaka tidak pernah menceriterakan sesuatu tentang padukuhan yang disebut Watu Kendeng. “Ki Sanak” berkata Jlitheng “Ter ima kasih atas peringatan yang kau berikan. Dengan demikian aku akan dapat berhati- hati Aku akan dapat .menyiapkan diri j ika benar-benar orang- orang Watu Tadah berbuat jahat terhadapku” “Mereka bukan saja berbuat jahat kepada orang lain. Tetapi diantara mereka sendiri sering timbul bentrokan-bentrokan berdarah. Kematian diantara mereka sama sekali bukan persoalan yang perlu diperbincangkan oleh para bebahu padukuhan” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia justru menduga, bahwa padukuhan itu mempunyai sangkut paut dengan Sanggar Gading. Karena itu, maka katanya “Aku akan berjalan terus Ki Sanak. Mudah-mudahan aku selamat keluar dari padukuhan Watu Tadah yang mengerikan itu?” “Jika anakmas mau mendengarkan kami, aku persilahkan anakmas melihat bagian lain dari Demak” Jlitheng tersenyum. Justru ia kemudian bertanya “Kenapa kau berdua tidak takut berada di bulak ini?“ “Jaraknya masih cukup jauh anakmas. Apalagi mereka tahu, bahwa kami adalah orang-orang miskin yang tidak akan dapat mereka peras” ia berhenti sejenak lalu “namun demikian gadis-gadis yang dianggap cantik di padukuhan kami perlu mendapat perhatian. Jika seorang gadis kecil mulai tumbuh menjelang dewasa, maka ia akan dikir im kesanak kadang diluar padukuhan yang cukup jauh. Setelah kawin mereka akan kembali Namun demikian, ada kalanya, perempuan, bersuamipun merasa tidak tenang hidup disekitar padukuhan Watu Tadah” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya “He, apakah kau pernah mendengar perguruan Sanggar Gading?“ Kedua orang itu terkejut. Seorang diantaranya berkata “Jangan sebut perguruan itu anakmas. Aku tidak mengenal dan mengerti apa isinya. Namun setiap orang tidak berani menyebutnya. Watu Tadah masih juga terucapkan oleh kami. Tetapi perguruan itu sama sekal tidak” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Dengan demikian ia mengerti, bahwa ia memang berada dijalan yang benar. Namun kesan yang didapatkannya atas Sanggar Gading benar-benar telah mendebarkan jantungnya. Meskipun demikian ia bertanya “Kenapa kalian tidak berani menyebut Sanggar Gading atau menunjukkan tempatnya” Kedua orang itu menjadi semakin tegang. Kemudian katanya “Maaf ngger. Aku masih mempunyai kerja di pategalan. Aku minta dir i” Jlitheng dengan serta merta berkata “Tunggu Ki Sanak. Aku masih akan berbicara. Baiklah, aku tidak akan bertanya tentang Sanggar Gading. Tetapi tentang Watu Tadah” Kedua orang itu tertegun, sementara Jlitheng berkata “Kenapa kalian lebih berani menyentuh nama Watu Tadah. Bukankah di Watu Tadah tinggal para perampok, penyamun, penjahat dan sejenisnya?“ “Orang-orang Watu Tadah lebih mement ingkan mencari korban diantara orang-orang yang memiliki harta benda yang dapat mereka ambil” jawab salah seorang dar i mereka, “O“ Jlitheng mengangguk “lalu apa saja yang pernah dilakukan oleh orang Sanggar Gading?“ Kedua orang itu saing berpandangan. Tiba-tiba saja mereka mulai menilai, pertanyaan itu memang sangat menarik. Apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading? Hampir diluar sadarnya salah seorang menjawab “Tidak ada yang pernah dilakukannya atas kami” “Kenapa kalian takut. Bahkan menyebut narnanyapun takut?“ Kedua orang itu termangu-mangu. Namun yang seorang diantara mereka berkata “Sudahlah. Nanti kita terlambat. Air yang mengalir t idak terlalu banyak buat pategalan” Kedua orang itupun kemudian minta diri dan meninggalkan Jlitheng yang termangu-mangu. “Aneh” gumamnya “orang-orang padesan tidak berani menyebut nama Sanggar Gading tanpa mengetahui sebabnya. Mereka takut tanpa dapat mengatakan alasannya” Sejenak Jlitheng masih termangu-mangu. Namun iapun kemudian meloncat ke punggung kudanya dan meneruskan perjalanannya. Sambil mengerutkan keningnya ia memandang kekejauhan. Ia melihat beberapa padukuhan kecil diujung bulak. Namun tentu Watu Tadah adalah sebuah padukuhan yang lebih besar. Bahkan mungkin banjar panjang yang mencakup beberapa padukuhan menjadi satu. Jlithengpun kemudian meneruskan perjalanannya. Ia sadar, bahwa ia akan memasuki daerah berbahaya sebelum ia, sampai keperguruan Sanggar Gading. “Kenapa Cempaka tidak mengatakannya” desis Jlitheng di dalam hatinya “atau bahkan Cempaka telah menjerumuskan aku ke dalam lingkungan yang dapat menjeratku” Namun Jlitheng tidak mau mundur. Ia meneruskan perjalanannya mengikuti jalan yang semakin sempit. Semakin lama semakin jelas, bahwa jalan yang dilaluinya adalah jalan sempit yang jarang diinjak kaki manusia. Tetapi Jlitheng masih melihat sawah yang digarap. Ia juga melihat parit yang mengalir dan sawah yang berair. Dengan dada yang berdebar-debar ia melihat padukuhan kecil yang semakin dekat. Ia melihat dari kejauhan padukuhan itu tidak ada bedanya dengan padukuhan lainnya. Sebuah regol dan dinding batu yang rendah. Demikian Jlitheng memasuki regol, maka ia mulai merasakan suasana yang memang agak lain. Meskipun ia tidak melihat perbedaan ujud padukuhan itu, namun pada ujung jalan padukuhan itu, ia sudah mendengar dua orang perempuan yang bertengkar. Suaranya meninggi berebut. Semaikan kasar. Bahkan kata-kata yang tidak pantas didengarpun telah mereka ucapkan. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berhenti. Apalagi ketika ia melihat salah seorang perempuan yang bertengkar itu melangkah pergi meskipun ia masih mengumpat-umpat. “Awas, jika kau berani melakukannya sekali lagi” katanya “Aku akan meremas mukamu sampai hancur” “Apalagi yang ditunggu” jawab yang lain ”Ayo, sekarang aku sudah siap“ “Sebentar lagi suamiku datang. Aku belum menanak, nasi Persetan dengan kau. Lebih penting menyediakan makan buat suamiku” “Bilang saja kau takut” “Apa yang aku takuti” teriak perempuan itu. Tetapi m masih tetap melangkah menjauh, Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia mendahului perempuan yang pergi itu ia bertanya dengan ramah “Apa yang dipertengkarkan bibi?“ Perempuan itu memandanginya sejenak Namun tiba-tiba diluar dugaan perempuan itu memakinya sambil berteriak “Laki-laki jahanam. He, kau mau apa? Kau bukan kadang. Mau ikut campur?“ Jlitheng terkejut oleh jawaban itu. Tetapi ia masih menahan diri. Dengan sareh ia berkata “Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu, kenapa, kalian bertengkar. Apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk memecahkan persoalan” “Diam, Jika kau masih berbicara, aku sobek mulutmu” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun ia semakin terkejut ketika perempuan yang lain ternyata mendekatinya sambil bertanya kepada perempuan lawannya bertengkar. “Mau apa setan itu?“ “la bertanya kenapa kita bertengkar” jawab yang lain. “Terkutuklah kau” bentak perempuan yang lain kepada Jlitheng. Lalu “Kau sangka kau Buyut kami disini? Atau barangkali pemimpin kami? Kau mau apa dengan pertengkaran kami?” Jlitheng tidak menyahut lagi. Tetapi iapun kemudian meninggalkan kedua perempuan yang kemudian memakinya dengan kata-kata kotor. “Inilah agaknya wajah padukuhan yang aneh itu“ gumamnya sambil melanjutkan perjalanan. Tetapi iapun sadar bahwa ia tentu akan menjumpai persoalan-persoalan lain yang tidak pernah dilihatnya di daerah yang pernah dikunjunginya. “Mungkin laki-laki disini dapat berbuat lebih garang lagi” katanya kepada diri sendiri. Karena itu, maka Jlithengpun menjadi lebih berhati-hati. Diuar sadarnya ia meraba pedang tipis yang diterimanya dari Sri Panular. Dengan pedang itu di lambung, ia memang tidak akan dapat ingkar bahwa ia adalah seorang laki-laki. Apapun yang akan dijumpainya, maka ia harus menghadapinya sebagai seorang laki-laki. Meskipun demikian ada juga penyesalan di dalam hatinya. Bukan karena ia menjadi ketakutan. Tetapi j ika persoalan yang dihadapinya berkisar dari persoalan yang dianggapnya besar, persoalan pusaka yang menjadi rebutan itu, maka ia akan menjadi sia-sia. Apalagi jika kemudian ia terjebak bencana di padukuhan itu tanpa sebab yang pantas untuk bertaruh nyawa. “Tetapi yang aku lakukan ini adalah dalam rangka usahaku menemukan pusaka itu juga” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Kecurigaannya kepada Cempaka menjadi semakin tajam. Mungkin dengan cara ini Cempaka berusaha untuk menghapuskan jejaknya. “Apakah ia mengetahui, atau setidak-tidaknya menjadi curiga kepadaku yang tiba-tiba saja menolongnya ditengah jalan“ pertanyaan itupun terasa mulai mengganggu. Beberapa saat lamanya Jlitheng tidak menjumpai sesuatu. Dalam keadaan yang demikian, padukuhan itu memang tidak berbeda dengan padukuhan lain. Ia melihat anak-anak bermain di halaman. Ia melihat seorang laki-laki tua lewat dengan cangkul di pundaknya. Tetapi yang tidak terbiasa adalah bagaimama laki-laki tua itu memandangnya. Seolah- olah laki-laki tua itu belum pernah melibat seorangpun dari luar padukuhan itu. Ketika Jlitheng sampai ke tengah-tengah padukuhan itu, ia melihat seorang laki- laki duduk berselimut kain panjang di dalam gardu. Agaknya ia telah berada di gardu itu sejak semalam tanpa berkisar. Jlitheng menjadi berdebar-debar. Namun ia tidak menghiraukannya lebih jauh. Kudanya berjalan tidak terlalu cepat di depan gardu itu. Namun Jlitheng terkejut ketika ia melalui gardu itu terdengar laki-laki itu bergumam “Bantaradi” Jlitheng tidak mengerti maksud kata-kata orang itu. Namun sekali lagi orang itu berkata “Bantaradi. He, bukankah kau Bantaradi?“ Mula-mula Jlitheng menjadi bingung. Namun kemudian iapun teringat bahwa ia pernah mempergunakan nama itu. Ketika ia melibatkan dir i dalam pertempuran antara Cempaka melawan jumlah yang tidak seimbang ia menyebut dirinya bernama Bantaradi. Karena itu, dengan serta merta iapun berhenti. Dipandanginya orang yang duduk di gardu itu. dengan saksama” Siapa kau?“ bertanya Jlitheng. Orang itu tersenyum. Jawabnya ”Lebih dari lima hari aku menungguimu disini. Tugasku t inggal sehari besok. Jika besok kau tidak datang, itu berarti bahwa kau tidak akan datang ke padukuhan ini” “Persetan, siapa kau?“ desis Jlitheng. Orang itu tertawa. Jawabnya “Aneh. Bahwa seorang perantau tidak mudah mengingat ujud yang pernah tidak mudah mengingat ujud yang pernah dikenalnya“ Jlitheng mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya. Ia menghubungkan ingatannya dengan nama Bantaradi yang diucapkannya dlihadapan Cempaka dam kawan-kawannya. Akhirnya Jlitheng mengangguk-angguk. Ingatannya bukan ingatan yang tumpul. Karena itu, dihadapan Cempaka sejenak da berkata “Aku kira aku dapat mengenalimu meskipun aku masih ragu-ragu. Aku melihat Cempaka dan kawan-kawannya di malamhari, sehingga karena itu, sekilas aku tidak mengenal wajahmu. Agaknya kau salah seorang kawan Cempaka pada waktu litu. Apalagi dalam pakaianmu itu” Orang itu tertawa. Katanya “Aku berada di gardu siang dan malam. Jika aku terpaksa pergi, maka aku suruh adikku menggantikan aku disini. Dengan member ikan kesan dan ciri- ciri yang mudah dikenal, aku minta adikku menunggu orang yang bernama Bantaradi. Tetapi akhirnya aku jugalah yang melihatmu lewat” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya “Inilah agaknya cara kalian menerima aku. He, apakah padukuhan ini pula Barang orang-orang Sanggar Gading? “Kau orang yang luar biasa. Dengan isyarat yang kabur, kau berhasil menelusuri jalan menuju ke Sanggar Gading. Tetapi kau belum sampai ke Sanggar Gading” Jlitheng mengerutkan ker ingnya. Katanya “Aku mengenal segala tempat di segala sudut bumi. He, kenapa kau disini?” “Rumahku di padukuhan ini” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil mengangguk ia berkata “Kau akan membawa aku ke Sanggar Gading” “Tidak sekarang Tetapi besok” “Aku akan terlambat “ Orang itu menggeleng. Katanya “Tidak. Kau tidak akan terlambat, karena keputusan terakhir, segalanya akan dilakukan dalam tiga hari lagi. Karena itu, kau dapat bermalam disini malam ini“ Jlitheng tidak segera menjawab. Ia masih ragu-ragu. Namun dalam pada itu, selagi ia termenung, ia dikejutkan oleh pekik seorang perempuan. Kemudian dari tikungan ia melihat seorang perempuan berlari melintas jalan. Namun tiba-tiba saja tangan yang kuat telah menggapainya dan menghentakkannya. Perempuan itu kehilangan keseimbangan, sehingga iapun kemudian terjatuh. Dengan kasar laki-laki yang mengejarnya itupun menar ik tangannya sambil membentak “Berdir i” Perempuan itu tertatih-tatih berdiri. Namun belum lagi kakinya tegak laki-laki itu sudah menamparnya, sehingga perempuan itu telah terjatuh lagi. “He, apa yang terjadi?“ bertanya Jlitheng dengan tegang. “Jangan dicampur i persoalannya. Mereka adalah suami isteri” desis orang di gardu itu. “Tetapi yang dilakukan itu sudah berlebihan” “Jangan mencari perkara disini. Setiap campur tangan akan dapat berarti darah. Kita sudah terbiasa hidup dalam solah tingkah yang kasar” berkata orang di dalamgardu itu, Jlitheng termangu-mangu. Ia kemudian menyaksikan laki- laki itu menyeret perempuan yang dengan susah payah mencoba untuk berdir i. Namun tiba-tiba saja perempuan itu telah menggigit tangan suaminya, sehingga suaminya berteriak kesakitan. Demikian cepatnya perempuan itu menghentakkan langgannya dan mencoba ber lari. “Kau diam saja melihat peristiwa semacam itu” bertanya Jlitheng yang menjadi semakin tegang. Tetapi laki- laki yang duduk di gardu itu tertawa saja. Katanya kemudian “Perempuan itu telah mengadakan hubungan dengan laki- laki lain. Ketika suaminya mengetahui, maka ia menjadi marah dan menyakiti isterinya” “Tetapi bukankah persoalannya dapat dibicarakan? sahut Jlitheng. “Siapa yang tidak marah mengetahui tingkah laku isteringa yang demikian” jawab laki- laki di gardu itu “biarlah semuanya terjadi seperti yang seharusnya terjadi. Sebaiknya perempuan itu mengakui kesalahannya dan minta maaf. Tetapi ia memilih jalan lain” “Persetan. Aku tidak dapat membiarkan hal itu terjadi” Laki- laki di gardu itu justru tertawa. Katanya ”Jika kau menolong perempuan itu, aku yakin, kau akan dapat melakukannya. Tetapi kau akan terkena akibatnya” Jlitheng termangu-mangu. Ia melihat laki- laki itu memburu isterinya. Semakin Hama semakin dekat. “Apa akibatnya?“ “Perempuan itu akan menjadi isterimu” “Gila“ J lithengpun hampir berteriak. “Karena itu, biarkan saja. Sudah ada orang lain yang berkewajiban menolong j ika ia mau” Jlitheng menjadi semakin tegang. Sementara laki- laki di gardu itu berkata “Perempuan itu berlari menuju kehalaman di sebelah. Kau lihat laki-laki dibelakang dinding batu itu? Itulah laki- laki yang telah membuat hubungan dengan perempuan itu. Jika perempuan itu berhasil melampaui dindiing batu itu, ia akan selamat. Laki-laki itu tidak berhak untuk berbuat apa- apa. Kecuali jika ia berniat untuk bertaruh nyawa melawan lak-laki yang telah mengganggu isterinya itu” “Uh, semua sudah gila. Kau juga sudah gia” Laki-laki itu tidak menyahut. Namun iapun kemudian beringsut dan memperhatikan perempuan itu. Ternyata perempuan itu mampu juga berlari cepat. Ia tidak menghiraukan kainnya yang sobek sampai ke pinggulnya. Namun laki- laki yang mengejarnya bagaikan menjadi gila karenanya. Ketika tangan laki-laki Itu hampir menggapainya, ternyata perempuan itu menjatuhklan diri tepat memasuki regol rumah laki- laki yang berdiri tegang di dalam halaman rumahnya. Demikian iperempuan itu terjatuh ke dalam regol, maka laki- laki itupun berlari- lari menolongnya. Sementara itu, laki-laki yang mengejarnya terpaksa berhenti diluar regol. Ia tidak memburu masuk kehalaman rumah dihadapannya. Laki- laki di dalam gardu iitu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Lihat, perempuan itu sudah selamat. Ia tidak dapat disentuh lagi oleh suaminya, karena ia sudah berada di rumah seorang laki- laki lain yang akan melindunginya” Jlitheng termangu-mangu. Tiba-tiba saja timlbullah ibanya kepada laki-laki yang berdiri tegak diuar regol. Bahkan kemudian dengan kepala tunduk laki- laki itu melangkah pergi. Jlitheng kemudian mendengar suara tertawa dari halaman rumah itu. Suara tertawa seorang laki-laki dan seorang perempuan, “Luka-lukamu akan segera sembuh” berkata laki-laki di dalam regol “tidak apa-apa. Kau tinggal disini bersamaku“ Laki- laki yang meninggalkan regol itu tertegun. Tetapi ketika ia berpaling, terdengar laki-laki di dalam regol itu membentak “He, kenapa kau berhenti tikus? Kau masih sayang pada isterimu? Jika demikian, rebut perempuan ini dari tanganku. Ia mencintai aku, terbukti ia lari darimu dan memasuki halaman rumahku” Laki- laki diluar regol itu menegang sejenak. Namun iapun kemudian melangkah pergi. Tetapi tiba-tiba saja terdengar orang di dalam regol itu berkata “Tunggu. Aku akan membunuhmu” Jlitheng mengerutkan keningnya. Sementara itu terdengar laki- laki di dalam gardu itu berdesis “Celaka. Laki-lakt itu tentu benar-benar akan mati” “Kenapa?”. “Bekas isterinya tentu minta laki-laki di dalam regol itu untuk membunuhnya” Segalanya berlangsung dengan cepat. Laki-laki diluar regol itu berusaha untuk meloncat berlari. Tetapi seperti dilontarkan, seorang laki-laki meloncat dari dalam regol dan menerkamnya. Sejenak laki-laki yang kehilangan isterinya itu berusaha untuk membebaskan dirinya. Tetapi ia tidak berhasil. Sebuah pukulan yang dahsyat telah menghantam dagunya, sehingga laki- laki itu terlempar dan jatuh terlantang. “Bunuh saja” teriak perempuan yang muncul dari regol. Perempuan yang telah dikejar oleh laki-laki yang terjatuh itu. Dengan kain yang sobek sampai ke pinggul ia berdir i bertolak pinggang. Suaranya melengking berteriak “Bunuh saja, dan lemparkan mayatnya kekali yang banjir itu. Laki- laki yang meloncat dari dalam regol itu benar-benai bagaikan gila. Ditariknya rambut laki-laki yang terlentang itu, Kemudian dengan kakinya ia menghantam wajah orang yang tidak berdaya itu. Sekali lagi orang itu terbanting jatuh di tanah. Jlitheng menjadi ngeri ketika ia mendengar perempuan itu tertawa. Suaranya seperti suara iblis betina yang harus melihat kematian” “Kau diamsaja “ sekali lagi Jlitheng menggeram. “Celakalah laki-laki itu. Ia akan mati. Laki-laki dari dalam regol itu adalah seorang gegedug berandal di padukuhan ini, meskipun masih ada juga satu dua orang yang disegani. Jlitheng menjadi semakin tegang. Ia melihat laki- laki itu bagaikan gila. Dengan tanpa mengenal belas kasihan ia telah menghajar suami perampuan iblis itu. Dengan sepenuh tenaga ia memukul, membanting dan melemparkannya menghantam dinding batu. Sementara perempuan itu tertawa semakin gembira, Jlitheng menjadi gemetar. Dengan suara bergetar ia berkata “Perbuatan terkutuk. He, siapakah orang yang disegani itu?“ “Aku” berkata orang di gardu itu. “Dan kau tidak berbuat apa-apa sama sekal?“ Orang itu berpikir sejenak. Namun kemudian ia menggeleng sambil tersenyum. Katanya “Tidak. Aku tidak akan melibatkan diri dalampersoalan ini” “Tetapi laki-laki itu akan dibunuh. Bukankah begitu? Dan orang-orang lain tidak ada yang mempersoalkannya?“ geram Jlitheng. “Laki-laki itu tentu akan mati. Gegedug berandal itu t idak pernah mengampuni orang-orang yang dianggapnya bersalah kepadanya” laki-laki itu berhenti sejenak, lalu “Aku tidak mau terlibat persoalan perempuan” Jlitheng menjadi semakin gemetar. Dengan suara yang terputus-putus ia bertanya “Bukankah yang sebenarnya bersalah adalah isterinya yang sudah melakukan hubungan dengan laki-laki lain? Kenapa justru suaminya yang harus mati?” “Jangan bertanya soal salah dan benar disini. Ada ketentuan yang tidak dapat dilawan. Siapa yang kuat, ialah yang benar disini, Juga berlaku atas suami isteri itu” “Jika demiiikan, kenapa orang-orang yang merasa lemah tidak meninggalkan tempat ini?“ Laki- laki itu tertawa. Namun ia menahan dir i agar suara tertawanya tidak terdengar olah laki-laki yang. sedang marah itu. Katanya “Jika ia sadar, bahwa aku ada disini, ia akan bersikap lain. Tetapi dengan demikian, aku telah terlibat dalam persoalan perempuan itu” “Persetan” berkata Jlitheng kemudian “kalau membunuh disini bukan persoalan yang harus dipertanggung jawabkan, aku akan membunuh jika perlu” “Dan kau akan menjadi sandaran per lindungan perempuan itu?“ “Apa peduliku. Aku akan membunuhnya juga seperti laki- laki Itu” geram Jlitheng. Laki- laki itu terkejut Dahinya berkerut. Diluar sadarnya ia berdesis “Kau akan melakukannya” “Jika kau ingin melindungi perempuan itu, lakukanlah. Aku tidak peduli” berkata orang itu pula. Dengan garangnya Jlithengpun menggeram. Kemudian iapun mengikat kudanya pada tiang gardu itu. Sekilas ia melihat, laki-laki yang lemah itu terbanting di tanah. Kemudian dengan liar lawannya telah menginjak dadanya. Ketika orang itu akan menginjak wajahnya, Jlitheng tidak tahan lagi. Karena itu, iapun berteriak “Hent ikan kegilaan ini” Suara Jlitheng ternyata telah mengejutkan orang yang menjadi liar dan buas itu. Sejenak ia tertegun. Kemudian dengan suara yang kasar ia membentak “He, binatang manakah yang telah mencampur i urusanku?“ Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ia telah melibatkan diri dalam persoalan yang khusus di padukuhan yang aneh. Namun ia sudah berniat berbuat demikian. Ketika ia berpaling, dilihatnya orang di dalam gardu itu telah bergeser dan berlindung pada dinding, sehingga orang yang sedang marah itu tidak melihatnya. Dalam pada itu Jlitheng yang melangkah setapak demi setapak maju, menjawab “Aku melhat tingkah lakumu sejak semula. “Aku juga melihat kau berhenti di depan gardu Tetapi apa urusanmu dengan aku.. Aku akan membunuhnya, karena ia sudah menghina perempuan ini” “Siapakah perempuan itu?“. bertanya Jlitheng. “Bekas isterinya. Tetapi ia sudah berada di bawah perlindunganku” “Baru saja. Aku melihat ia lari masuk ke dalam regol halamanmu. Sementara itu, laki-laki ini tidak memasuki regolmu. Kenapa kau cegah ia pergi. Bahkan kau akan membunuhnya?” Wajah laki- laki itu menjadi merah. Dengan lantang ia berkata “He, tikus gila. Kau belum kenal siapa aku ha?“ “Aku tidak perlu mengenali setiap orang yang melakukan kejahatan. Aku tidak akan peduli jika kau berselisih dengan laki- laki yang manapun juga. Kemudian bertempur dengan jantan. Tetapi yang aku lihat adalah lain. Kau sudah merampas isterinya dengan dalih apapun. Kemudaan ketika laki- laki ini sudah meninggalkan regol halamanmu, kaulah yang mengejarnya tanpa alasan” “Perempuan itu minta aku membunuhnya” teriak Laki-laki itu. “Permintaan gila itu akan kau penuhi juga? Ia sudah berbuat serong. Kemudian ia minta orang lain membunuh suaminya. He, apakah perempuan yang demikian pantas dihormati?” Wajah laki- laki itu menjadi merah. Demikian juga perempuan yang berdiri di depan regol itu, sementara laki-laki yang terbaring di tanah itu mengerang kesakitan. Dalam pada itu, ternyata perselisihan itu sudah menar ik perhatian beberapa orang padukuhan itu. Mereka tidak terbiasa melihat seseorang mencampuri persoalan orang lain. Namun ternyata seorang laki-laki yang sedang memetik buah kelapa melihat, Jlitheng telah mencampuri persoalan itu, Karena itu., maka iapun telah tertarik untuk melihatnya. Seorang yang lain bertanya kepadanya. Dan jawabnya telah menjalar kepada beberapa orang yang lain pula, sehingga dari kejauhan mereka melihat, apa yang akan terjadi dengan orang yang melibatkan diri tanpa sebab pada perselisihan yang telah terjadi itu. Pertanyaan Jlitheng itu merupakan pertanyaan yang aneh di telinga laki- laki yang marah itu. Namun karena itu, ia justru menjadi semakin marah. Sementara itu, perempuan yang sudah meninggalkan suaminya itupun menjadi marah pula. Dengan nada tinggi ia berteriak “Bunuh orang itu kakang. Bukankah kau gegedug disini?“ Orang yang disebutnya gegedug itu menggeram. Kemarahannya tidak tertahankan lagi. Sementara beberapa orang yang melihat per istiwa itu. dari kejauhan menjadi berdebar-debar. Mereka mengenal laki-laki yang disebut gegedug itu. Mereka mengenal bahwa laki-laki itu memiliki kemampuan yang tidak ada bandingnya di padukuhan itu, kecuali beberapa orang yang masih disegani. Meskipun dalam keadaan yang gawat, orang itu tidak akan mengenal takut kepada siapapun juga. Namun tiba-tiba seorang yang tidak dikenal telah mencampur i persoalannya. Bahkan seakan-akan orang itu telah menantangnya. Menurut tanggapan orang-orang padukuhan itu, orang yang tidak mereka kenal itu telah melibatkan diri karena perempuan yang menurut penilaian orang padukuhan itu memang cantik, muda dan panas. Tetapi sikap orang yang tidak mereka kenal itu mengejutkan, ketika ia justru berkata, bahwa perempuan itu tidak tahu adat. Bahkan ia sudah mengumpati perempuan itu karena sikapnya. “Apakah maksud laki- laki itu sebenarnya“ orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu saing bertanya, karena mereka tidak mempertimbangkan sama sekali bahwa yang dilakukan oleh laki-laki yang tidak mereka kenal itu adalah karena perasaan keadilannya telah tersinggung. Dalam pada itu, Jlitheng benar-benar sudah bertekad untuk melawan tingkah laku sewenang-wenang. Mungkin yang disaksikannya itu adalah peristiwa kecil dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Namun ia angin mengatakan kepada orang-orang padukuhan itu, bahwa ada sikap lain dalam hubungan antara manusia daripada tidak menghiraukan dan tidak mencampur i persoalan orang lain. Apabila persoalan itu menyangkut martabat bubungan manusia dan menyentuh rasa keadilan, maka hal itu akan dapat menarik orang lain untuk melibatkan dir i dalam persoalan itu. Dalam pada itu, sekali lagi terdengar perempuan itu berteriak “Bunuh saja kakang. Aku tidak mau melihatnya mencampur i persoalan kita” Laki- laki yang disebut gegedug itu menggeram. Katanya “ Salahmu sendiri jika aku membunuhmu” Jlitheng mundur setapak. Ia benar-benar melihat maut membayang disorot mata orang yang disebut gegedug itu. Pandangannya yang menyala membuat orang-orang yang menyaksikan perist iwa itu menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi yang akan dihadapinya adalah orang yang belum dikenalnya. Dan orang lijtu menyandang pedang di lambungnya. Agaknya orang itupun bukan orang kebanyakan. “Aku tidak pernah mengampuni orang yang berani bertindak deksura kepadaku” geramgegedug itu. Tetapi Jlitheng menjawab tidak kalah garangnya “Aku telah menyusuri jalan dari Blambangan sampai ke Banten, Aku telah bertemu dengan beribu watak manusia. Aku telah menolong, ditolong, tetapi juga pernah berselisih dan membunuh ratusan orang. Namun aku belum pernah melihat tingkah laku seseorang dalam kegilaan seperti ini. Seorang yang merasa dirinya gegedug, tetapi pengecut yang paling buas dengan tingkahmu yang sewenang-wenang. Berbuatlah demikian terhadapku. Jangan terhadap laki-laki yang lemah, yang sudah merasa dirinya tidak berdaya. Ternyata ia sama sekal tidak menyentuh regol rumahmu ketika isterinya masuk ke dalamnya” Orang yang disebut gegedug itu tidak tahan lagi mendengar kata-kata Jlitheng. Dengan lantang ia berteriak “Bersiaplah untuk mati” Namun ketika orang itu siap menyerang, terdengar suara mendeham dar i gardu. Suara yang hanya terdengar lamat- lamat. Ketika orang-orang yang sedang berselisih itu berpaling, mereka melihat seorang yang berkerudung kain panjang, turun dari gardu itu dan berjalan tanpa mengacuhkan apa yang telah terjadi, meskipun ia lewat melalui beberapa langkah saja dar i peristiwa itu. Meskipun demikian, nampak wajah orang yang disebut gegedug itu berubah. Ia memandang orang yang berjalan itu dengan tegang. Gegedug itu beringsut surut, ketika ia melihat orang berkerudung kain itu berhenti dengan t iba-tiba. Sambil berpaling kepada Jlitheng orang itu berkata “Bantaradi. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan sekarang. Tetapi aku menunggumu disimpang tiga itu, Jlika kau berhasil keluar hidup-hidup dari tempat ini, datanglah. Aku masih mempunyai beberapa persoalan denganmu” Sebelum Jlitheng menjawab, maka orang berkerudung kain itu telah melangkah meninggalkannya. Sejenak orang yang disebut gegedug itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Aku tidak peduli persoalanmu dengan orang itu. Tetapi kau harus mati” Jlitheng bergeser setapak lagi surut. Kesan yang sekilas itu memang menunjukkan, bahwa kawan Cempaka dari Sanggar Gading itu memang mempunyai pengaruh khusus di padukuhan itu. Namun dalam pada itu; Jlitheng tidak dapat berpikir lebih lama lagi. Ketika sekali lagi ia mendengar suara perempuan itu melengking, maka orang yang disebut gegedug itu telah meloncat menyerangnya. Tenaganya yang besar terasa pada desir angin yang menyambar kulit Jlitheng ketika ia berhasil mengelak dar i serangan lawannya. Jlitheng menyadari, bahwa ia harus berhati-hati. Orang itu adalah orang yang memiliki tenaga raksasa. Tetapi agaknya orang itu terlalu percaya kepada kekuatannya, sehingga ia menjadi kurang berhati-hati Karena itulah, maka untuk rnenjajagi lawannya, Jlitheng dengan cepat dan tangkas telah menyerangnya. Tidak dengan sepenuh tenaganya, meskipun ia cukup berhati-hati. Orang itu ternyata tidak mengelak. Tetapi dengan kekuatan raksasanya ia menangkis serangan Jlitheng. Jlitheng terkejut ketika benturan itu terjadi. Ternyata ia telah terdorong beberapa langkah surut. Beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Beberapa orang yang melihat dar i kejauhan menjadi semakin tertarik untuk mendekat. Mereka terkejut ketika seorang bertubuh pendek, gemuk dengan berewok di wajahnya, menyibak dianlrara beberapa orang sambil berdesis “Apa yang terjadi? Kenapa kalian ikut campur?” “Tidak” sahut seorang anak muda “Kami hanya menonton” Orang bertubuh pendek dengan berewok di wajahnya itu berjalan terus. Ketika ia berhenti disebelah orang tua yang berkumis put ih, ia bertanya “Apa yang seorang itu bukan orang padukuhan ini?” Orang berkumis putih itu berpaling. Kemudian menjawab “Orang itu bukan orang padukuhan ini. Entahlah, siapakah orang yang telah ikut campur itu” Orang bertubuh pendek itu mengangguk-angguk. Katanya “Ia akan mat i. Tetapi itu salahnya sendir i” Ketika orang bertubuh pendek itu kemudian melintas tanpa menghiraukan perkelahian itu, maka orang-orang yang menonton saling berbisik “Kalau gegedug yang seorang itu juga ikut campur, maka arena itu akan semakin ramai“ “Ia tidak akan ikut campur” jawab yang lain “seperti Iblis bertangan Petir itu. Ia berada di gardu ketika peristiwa itu mulai. Ternyata orang yang tidak dikenal itu adalah kawannya” Orang-orang itupun menjadi semakin berdebar-debar. Jika orang yang tidak mereka kenal, kawan orang yang mereka beri gelar Iblis bertangan Petir itu juga memiliki kemampuan yang sama, maka perkelahian itu tentu akan menjadi sangat seru. “Tetapi ketika terjadi benturan, orang itu terdorong surut desis seseorang” Kawannya tidak membantah. Mereka memang melihat Jlitheng terdorong surut beberapa langkah. Ternyata gegedug yang sedang bertempur itu merasa bahwa lawannya tidak terlalu kuat. Meskipun ia terdorong juga setapak, tetapi ia merasa bahwa ia memiliki kekuatan yang jauh melampaui lawannya. Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru, Jlitheng menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak lagi ingin membenturkan kekuatannya jika tidak karena terpaksa. Ia sudah tahu, bahwa lawannya memiliki kekuatan raksasa. Tetapi itu bukan berarti bahwa kekuatannya tidak dapat terlawan. Jlitheng lebih senang mempergunakan kecepatannya tergerak. Ia berloncatan seperti seekor anak kijang. Sekali ia menyerang dari kir i ke kanan. Tiba-tiba saja ia sudah berada di sebelah kir i. Jika lawannya berkisar, maka Jlitheng bergerak dengan cepatnya menyerang dari depan. Orang yang disebut gegedug itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Namun yang dilakukannya itu justru telah membakar jantung. Ternyata ia tidak segera dapat menguasai lawannya yang mampu bergerak dengan cepat. Dalam pada itu, orang yang telah terbaring dipinggir jalan itupun mulai bergerak. Perlahan-lahan ia mulai menyadari dirinya sendir i. Bahkan kemudian ia mulai dapat melihat keadaan disekelilingnya. Sejenak ia termangu-mangu. Ia melihat dua orang yang sedang bertempur dengan dahsyatnya. Yang seorang adalah laki- laki yang telah mengambil isterinya, dan yang telah siap untuk membunuhnya, Tetapi ternyata bahwa ia masih tetap hidup. Ketika orang itu kemudian berusaha untuk bangkit, maka diamatinya isterinya bertolak pinggang sambil memperhatikan perkelahian itu. Bahkan sekali-kali perempuan itu berteriak sekuat-kuatnya “Bunuh. Bunuh saja orang lancang itu” Tetapi ternyata gegedung itu tidak dengan segera dapat melakukannya. Bahkan karena ia telah mengerahkan segenap kekuatannya, maka kekuatannya itupun dengan cepatnya menjadi susut. Ternyata Jlitheng dengan sengaja tidak menyelesaikan pertempuran itu dengan serta rnerta. Ia. ingin mempelihatkan kepadai lawannya, bahwa ilmu yang dimiliki adalah ilmu yang kasar meskipun kuat. Namun dalam keadaan tertentu kekuatan raksasa itu t idak akan dapat menguasai keadaan. Dengan kekuatan yang menghentak-hentak, gegedug itu berusaha untuk menjatuhkan lawannya. Tetapi Jlitheng dengan tangkasnya selalu berhasil menghindar dan kemudian menyerang lawannya dengan kecepatan yang tidak dapat teratasi Jlitheng tidak berusaha untuk menyerang pada tempat- tempat yang gawat. Bahkan ia tidak mempergunakan segenap kekuatannya. Ia ingin melumpuhkan lawannya sambil meyakinkannya, bahwa ia bukan apa-apa bagi anak muda yang telah ikut campur dalampersoalannya itu. Sebenarnyalah orang itu merasa heran melihat lawannya yang masih muda. Lawannya mampu bergerak secepat tatit. Serangannya tidak pernah dapat menyentuh anak muda itu Namun anak muda itupun jarang sekali mengenainya, meskipun kesempatan terlalu banyak yang dapat dipergunakannya. Namun dengan demikian, harga diri gegedug yang disegani di padukuhannya itu merasa terhina. Apalagi ketika sekali-kali ia melihat Jlitheng masih sempat tersenyum. Karena itu, dengan lantang iapun kemudian berteriak “Ambil tombakku di langkan, Nyai” Perempuan yang berteriak-teriak Itupun segera menghambur berlari. Ia mendengar perintah gegedug itu. Karena itu, maka iapun segera mengambil tombak gegedug itu yang disimpannya di dalam rumahnya. Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin berdebar-debar. Gegedug itu telah mengambil pusakanya yang sangat ditakuti oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan gegedug yang bertubuh pendek yang lewat tanpa mengacuhkan pertempuran itu, menjadi heran ketika ia mendengar seseorang membertahukan kepadanya, selagi ia duduk dengan tenang di gardu yang telah kosong. Dengan wajah yang tegang, gegedug yang berada di gardu itu bertanya “Apakah kau t idak mengingau?“ “Tidak” jawab orang yang memberitahukan kepadanya “Ia benar-benar menyuruh perempuan itu mengambil tombak pusakanya” Orang bertubuh pendek itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Siapakah orang yang tidak dikenal itu? Aku tidak yakin, bahwa ia dapat melawan kakang Singkir yang memiHki tenaga raksasa itu. Tetapi jika benar kakang Singkir menyuruh mengambil tombaknya, itu berarti-bahwa ia tidak dapat membunuhnya dengan tangannya” Karena itu, maka ia tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk melihat apa yang terjadi. Meskipun agak segan, akhirnya ia turun dari gardu dan berjalan mendekati arena pertempuran. Tetapi ia tidak mau berdir i terlalu dekat, agar ia tidak terlibat dalam, perkelahian yang telah terjadi sengitnya itu” Selain gegedug yang bertubuh pendek itu, maka kawan Cempaka yang oleh tetangga-tetangganya diberi gelar Iblis bertangan Petir itupun mendengar dari seseorang yang member itahukan kepadanya, bahwa gegedug yang sedang bertempur itu telah menyuruh mengambil tombak pusakanya. Kawan Cempaka dari Sanggar Gading iku tersenyum. Ia pernah melihat Jlitheng yang dikenalnya bernama Bantaradi itu bertempur. Karena itu, maka ia dapat menilai apakah kira- kira yang akan terjadi Dengan demikian, maka ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih tetap duduk diatas batu di dekat simpang di padukuhannya” Dalam pada itu, perkelahian itupun semakin lama menjadi semakin menyakitkan hati gegedug yang marah itu. Ia telah mengerahkan segenap tenaganya. Namun Jlitheng hampir- hampir berker ingatpun tidak. Bahkan semakin lama anak muda itu justru menjadi semakin tangkas dan bergerak semakin cepat, sehingga gegedug itu telah hampir kehabisan nafas. Pada saat yang demikian, maka perempuan yang menjadi sumber persoalan itu berlari- lari sambil membawa tombak pendek. Ketika ia berdiri di regol maka iapun berteriak “Ini tombakmu kakang” Gegedug yang disebut bernama Singkir itupun segera melompat menghampiri perempuan yang berdiri di regol itu untuk menerima tombaknya. Sementara itu Jlitheng tidak berusaha mencegah. Dibiarkannya saja lawannya meloncat ke regol, meraih tombaknya, dan kemudian terdengar orang itu tertawa. “Nasibmu memang buruk anak muda” berkata gegedug yang disebut kakang Singkir itu. Lalu “Kau akan mati dengan luka arang kranjang. Aku akan menusuk tubuhmu tanpa jarak, dari ujung ubun-ubun sampai keujung kaki. Tubuhmu tidak akan berujud lagi sehingga bangkaimu tidak ubahnya dengan bangkai binatang yang melata tergilas roda pedati“ Sejenak Jlitheng termenung. Namun kemudaan katanya Memang mengerikan sekali. Karena itu, aku akan berusaha untuk menghindari kematian yang demikian” Lawannya termangu-mangu sejenak. Tetapi Jlitheng kemudian menjelaskan “Aku akan melawan dan akan mematahkan tombakmu sehingga kau tidak akan mampu melakukan seperti yang kau katakan” Kemarahan orang yang bernama Singkir itu tidak dapat ditahan lagi. Dengan serta merta iapun meloncat menyerang Jlitheng dengan ujung tombaknya. Tetapi Jlitheng sudah menduga bahwa orang itu akan segera menyerangnya. Karena itu, maka iapun segera meloncat menghindar. Dengan demikian maka tombak lawannya itu sama sekali t idak menyentuhnya. Dengan kemarahan yang membakar jantung, maka gegedug yang selama itu ditakuti oleh bukan saja penduduk di padukuhannya, tetapi juga oleh padukuhan disekitarnya itu, segera mengerahkan segenap kemampuan ilmunya untuk mengakhir i perkelahian itu. Tetapi lawannya terlalu kuat. Anak muda itu mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga. Kadang- kadang Singkir justru menjadi kehilangan arah serangannya, karena lawannya berada di tempat yang tidak diduganya. Meskipun demikian, ternyata Jlitheng kemudian merasa, bahwa serangan lawannya yang bagaikan gila itu telah menyusutkan tenaganya. Ia harus bergerak lebih cepat, karena ujung senjata lawannya yang menyambar-nyambar. Dalam pada itu, orang-orang yang memperhatikan pertempuran itu menjadi bertambah tegang. Gegedug yang bertubuh pendek itupun bagaikan membeku di tempatnya. Ia tidak menduga, bahwa anak muda yang bertempur dengan orang yang disebutnya Singkir itu memiliki kemampuan yang mendebarkan jantung. Bahkan beberapa orang yang berdiri agak jauh dari arena itupun rasa-rasanya menjadi gemetar. Ketegangan yang luar biasa telah mencengkam mereka pula. Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan, apakah yang bakal terjadi dengan kedua orang yang sedang bertempur itu. Mereka telah menyaksikan, betapa tombak gegedug yang disebut Singkir itu meluncur mematuk, kemudian menyambar dan berpujtar dengan melontarkan sambaran angin diseputarnya. Sejenak Jlitheng terdesak beberapa langkah. Putaran tombak itu memang berbahaya baginya. Agaknya orang yang bernama Singkir itu benar-benar mengenal dan memahami, bagaimana ia harus bermain-main dengan senjatanya itu. Karena itu, akhirnya Jlitheng mengambil keputuaan, bahwa ia tidak ingin terjerat oleh sikapnya. Ia harus berhati-hati dalam keadaan yang meskipun nampaknya tidak akan membahayakannya. Namun lambat laun, terasa bahwa ia harus berbuat lebih banyak lagi. Dengan demikian, ketika tombak lawannya terayun-ayun dan kemudian mematuk dengan dahsyatnya, Jlitheng meloncat surut. Dengan gerak yang tidak dapat diikuti dengan tatapan mata orang kebanyakan, tiba-tiba saja Jlitheng telah menggenggam pedang ditanganinya. “Marilah” berkata Jlitheng “permainan kita akan semakin mengasikkan” berkata Jlitheng kemudian. Pedang yang tipis itupun segera bergetar di tangan Jlitheng, sementara lawannya menjadi termangu-mangu sekejap. Gegedug itu menyadari betapa tinggi kemampuan lawannya. Disaat lawannya tidak memegang senjata ditangan, ia tidak segera dapat mengalahkannya. Apalagi jika kemudian ia membawa senjata. Meskipun demikian orang yang bernama Singkir itu tidak mau surut. Ia bahkan menjadi seakan-akan gila. Bahkan lambat laun ia mulai kehilangan pengamatan dir i dan perhitungan. Serangan-serangannya menjadi liar dan tidak terkendali. Tetapi perhitungan dan pertimbangannyapun menjadi semakin kabur. Pertempuran dengan senjata itu agaknya menjadi semakin menarik perhatian. Gegedug yang bertubuh pendek itu menjadi tegang. Singkir adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang lain di padukuhan itu. Namun ternyata ia tidak dapat berbuat banyak menghadapi orang yang tidak dikenal itu. Orang-orang yang melihat pertempuran itupun menjadi semakin banyak, meskipun mereka tidak berani mendekat Mereka tidak mau terlibat dalam perselisihan itu. Perselisihan antara gegedug itu dengan suami dari perempuan cantik yang berdiri dengan gelisah di depan regol. Dan merekapun tidak mau dianggap terlibat dalam pertempuran yang sengit itu. Keributan itu ternyata telah menarik perhatian orang yang di gelari Iblis bertangan Petir. Ia tidak tenang lagi duduk disimpang tiga. Ia mendengar beberapa orang mengatakan, bahwa telah terjadi perang dengan senjata. “Apakah Bantaradi itu tidak segera dapat menyelesaikan lawannya?“ Iblis bertangan Petir itu bertanya kepada diri sendiri. Namun karena itu, maka iapun segera berdiri dan dengan segan melangkah mendekati arena. Tetapi iapun tidak berdiri terlalu dekat. Ia berada diantara orang-orang lain yang memperhatikan pertempuran itu disela-sela pepohonan halaman dan kebun disekitar arena perkelahian itu. Namun ketika ia sudah memperhatikan perkelahian itu beberapa saat, ia menarik nafas dalam-dalam Kepada diri sendiri ia berkata “Bantaradi memang gila. Ia mempermainkan lawannya” Sebenarnyalah, ketika Jlitheng telah memegang pedang tipisnya, ternyata bahwa lawannya sama sekai tidak berdaya dengan tombaknya. Betapapun liar dan buasnya gegedug itu. namun ia benar-benar menjadi sasaran permainan J litheng. Serangan-serangannya sama sekali tidak mampu menembus kelincahan gerak pedang tipis anak muda itu. Meskipun ia mengerahkan tenaga raksasanya, namun dengan mudah Jlitheng dapat menghindar atau sekedar mengibaskan serangan itu kesamping. Namun sementara itu, ternyata Jlithengpun tidak melukainya. Ia tidak dengan sungguh-sungguh menyerang jantung dan tempat-tempat berbahaya yang lain. Bahkan ia sama sekali tidak ingin menggoreskan sebaris kikapun pada tubuh lawannya, Yang dikehendaki oleh Jlitheng adalah, bahwa lawannya akan jatuh karena kelelahan. Dengan demikian, Jlitheng ingin menunjukkan sikap yang lain dar i sikap yang dijumpai oleh orang-orang padukuhan itu sehari-hari. Bahwa seseorang dapat berbuat lain dari kekerasan dan dendam. Kekerasan dan kebuasan. Bahwa seseorang yang berhasil mengalahkan orang lain itidak harus berbuat sewenang-wenang dalam kemenangannya. Dan bahwa kemenangan bukannya kekuasaan yang sebenarnya. Orang yang disebut Iblis bertangan Petir memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Namun ia mempunyai tanggapan tersendiri. Ia menganggap bahwa Jlitheng telah menghina lawannya dan dengan sengaja mempermainkannya. Karena itu, maka nampak bibirnya sekali-kali tersenyum. “Memang menyenangkan” katanya di dalam hati “kesempatan untuk bermain-main seperti itu jarang sekali didapatkan. Seperti seekor kucing yang mempermainkan seekor tikus kecil yang tidak berdaya” Yang mempunyai tanggapan yang lain adalah gegedug yang bertubuh pendek. Ia melihat sikap itu benar-benar suatu penghinaan bukan saja bagi Singkir. Tetapi penghinaan bagi seluruh padukuhan yang ditakuti oleh orang-orang diisekitarnya, bahkan sampai ke padukuhan yang agak jauh letaknya. Karena itu, yang kemudian melonjak di dalam jantungnya adalah perasaan harga diri. Harga diri bagi sesama gegedug yang kondang. Tetapi untuk beberapa saat ia masih menahan diri untuk tidak mencampur i persoalan itu. Namun ketika gegedug yang bernama Singkir itu benar-benar tidak mampu berbuat apa- apa. lagi, selain meloncat, terhuyung-huyung dan bahkan hampir jatuh, gegedug bertubuh pendek itu tidak dapat menahan diri lagi. “Aku tidak akan mencampuri persoalannya” Ia menggeram “tetapi aku tidak mau melhait orang yang tidak dikenal itu menghinakan padukuhan ini” Karena itu. maka tiba-tiba saja gegedug yang bertabuh pendek itu segera meloncat maju sambil berkata “Kakang Singkir. Bertahanlah. Aku akan membantumu” Gegedug yang bernama Singkir itu tertegun sejenak. Keringatnya sudah bagakan terperas dari tubuhnya. Ia benar- benar sudah berputus asa dan tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Namun kehadiran gegedug bertubuh pendek itu telah menumbuhkan harapan. Wajahnya yang pucat tiba-tiba saja telah menjadi merah. Tetapi sekejap kemudian ia menjadi1 ragu-ragu. Bahkan sekali-kali ia berpaling kepada perempuan yang berdiri di depan regol itu. “Aku tidak peduli perempuan itu” geram gegedug bertubuh pendek “Aku hanya ingin membunuh orang yang telah menghinakan padukuhan inli. Marilah, kita bersama-sama tentu akan dapat melakukannya” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Iapun sempat memandangi langkah gegedug bertubuh pendek itu. Pada langkah itu ia mendapatkan kesan bahwa orang bertubuh pendek itu tentu dapat bergerak dengan cepat dan cekatan. Namun dalam pada itu, Jlilthengpun mendapatkan kesan yang lain pula pada orang yang kemudian menjadi semakin dekat itu. Ternyata bahwa di dalam padukuhan itu ada juga orang yang mencampuri persoalan yang terjadi pada orang lain. Dalam pada itu, dengan sengaja Jlithengpun kemudian bertanya “Jadi kau juga; akan mencampur i persoalan orang lain, seperti yang aku lakukan?“ “Aku tidak peduli. Tetapi justru karena kau mencampuri persoalan kakang Singkir itu, kau berarti telah menghina adat yang berlaku di padukuhan ini. Dengan demikian, maka kau sudah memaksa orang lain ikut terlibat pula ke dalamnya” “Bagus“ tiba-tiba Jlitheng berteriak “Jika demikian maka maksudku sudah tercapai Orang-orang padukuhan ini memang tidak boleh tinggal diam apapun yang terjadi. Jika kau merasa terhina dan kemudian mencampuri persoalan ini. maka itu adalah pertanda bahwa kau masih memiliki sifat yang utuh. Sifat manusia dalam hubungan antar manusia yang pada dasarnya tidak akan dapat saling melepaskan diri dan saling t idak menghiraukan yang satu dengan yang lain” “Persetan“ geram gegedug itu “apapun yang kau katakan, tetapi aku ingin membunuhmu, supaya kau tidak mengotori kebiasaan yang sudah berlaku di padukuhan ini, dan terlangsung dengan tenang tanpa diganggu oleh sdapapun juga” “Aku tidak mengerti, apakah kau mempunyai arti tersendiri atas kata-katamu. Bahwa padukuhan ini dengan tenang menganut kebiasaan yang sudah berlaku adalah pengertian yang membuat kepalaku menjadi pening” “Cukup” bentak gegedug itu sambil melangkah semakin dekat “Kau jangan banyak berbicara lagi. Bersiaplah untuk mati. Meskipun kau dapat mengalahkan kakang Singkir tetapi melawan kami berdua kau tidak akan mampu bertahan sepenginang” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk- angguk ia berkata; “Baiklah. Mar ilah kita bertempur. Ternyata bahwa penghuni padukuhan ini j iwanya belum benar-benar membeku” Gegedug yang bertubuh pendek itu melangkah semakin dekat. Bahkan iapun telah bersiaga untuk bertempur. Dengan tangan bergetar ia menarik golok dipinggangnya. Sementara itu Singkir menjadi termangu-mangu. Namun sesaat kemudian iapun telah bersiap menghadapi lawannya yang masih muda itu. Berdua iapun yakin akan dapat mengalahkan lawannya Dalam ketegangan itu, maka laki-laki yang hampir terbunuh oleh Singkir itupun melihat apa yang akan terjadi. Tetapi ia tidak mampu berbuat sesuatu. Jika terpandang olehnya wajah isterinya yang berdiri dimuka regol, maka hatinyapun menjadi berdebar-debar. Seakan-akan ia melihat seraut wajah dalam dua warna. Wajah isterinya yang cantik, namun juga wajah iblis betina yang mengerikan, yang siap menghisap darahnya sampai kering. Dalam pada itu, kedua gegedug itupun telah bersiap. Keduanya telah mengambil sikap dan arahya masiiing-masing. Namun keduanya masih belum meloncat menyerang. Jlitheng memandang keduanya berganti-ganti. Namun akhirnya ia tersenyum sambil berkata “Silahkan Ki Sanak. Aku sudah siap menghadapi kalian berdua” Tetapi sebelum kedua orang itu bergerak, beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itupun menyibak. Seorang yang bertubuh sedang, berwajah tampan melangkah maju. Dengan senyum di bibirnya ia berkata “Kenapa kalian hanya berdua?” Orang-orang yang berada diarena itu berpaling. Mereka melihat seorang berwajah tampan itu semakin mendekat. Dengan suara tertawa yang renyah ia berkata “Aku akan ikut campur. Sebenarnya ikut campur. Kemudian persoalan diantara kita akan kita selesaikan sendiri. Perempuan itu memang cantik” Gegedug yang bernama Singkir itu mengerutkan keningnya. Dengan geram ia berkata “Jangan gila dihadapanku” Orang berwajah tampan itu tertawa. Katanya “Kau ambil perempuan itu dar i suaminya, Tetapi perempuan itu memang memilih kau dar ipadanya. Tetapi bagaimana jika perempuan itu memilih aku, dan aku akan membunuh laki- laki yang sudah mengalahkanmu” “Kau jangan sombong. Aku tidak dapat membunuhnya. Apa kau dapat melakukannya?“ “Kita, melakukan bertiga. Jika orang itu sudah mati, kita akan berbicara. Kita dapat menempuh cara lain dari yang selama ini ber laku. Merebut seseorang dari sisihannya dengan mut lak. Tetapi apakah kita dapait melakukan cara yang berbeda?“ Gegedug yang bernama Singkir itu mengerutkan keringnya. Sejenak ia merenung. Sementara itu, darah Jlitheng justru menjadi panas mendengar pembicaraan itu. Jika semula ia berusaha untuk menyelesaikan perkelahian itu dengan darah dingin, namun pembicaraan antara orang-orang yang dianggapnya menyalahi hubungan antara manusia yang beradab telah membuat jantungnya bergejolak. Jlitheng hampir t idak dapat menahan kemarahannya ketika ia justru mendengar perempuan yang menjadi sumber persoalan itu berteriak dari regol “Apa salahnya jika yang tidak seperti kebiasaan yang berlaku itu kita anggap baik dan bermanfaat?” Ketika Jlitheng berpaling kearah perempuan itu, maka ia melihat iblis betina ku tertawa. “Nah kau dengar” berkata orang berwajah tampan “marilah. Aku akan membantumu membunuh anak muda yang malang, yang telah menjerumuskan dirinya sendir i ke dalam kesulitan” Jlitheng menggeretakkun giginya. Ia benar-benar menjadi marah. Bukan karena ia harus menghadapi tiga orang bersama-sama. Tetapi justru karena sikap mereka yang gila itu yang tidak lagi berpegangan pada martabat manusianya. Karena itu, maka Jlithengpun kemudian menggeram “Kalian memang bukan orang-orang yang mengerti akan peradaban. Karena itu, maka aku akan bersikap khusus di dalam? padukuhan ini. Aku tidak lagi dapat bermain-main sambil tersenyum dengan harapan, bahwa sikap itu akan melunakkan hati kalian yang membeku” Ketiga orang itu mengerutkan keningnya. Kata-kata Jlitheng itu memang mendebarkan. Apalagi orang yang bernama Singkir, yang telah mengalami tekanan yang tidak terlawan dari anak muda yang bernama Jlitheng itu. Yang kemudian menyadari, bahwa Jlitheng memang tidak ingin membunuhnya, bahkan melukaipun tidak meskipun ia sudah tidak berdaya melawannya. Tetapi bersama dua orang kawannya, maka ia mempunyai harapan lain meskipun ia menjadi ragu-ragu melihat sikap Jlitheng yang sama sekali t idak menjadi gentar. Sejenak kemudian ketika orang yang dianggap orang terbaik di padukuhan itupun telah bersiap diseputar Jlitheng. Singkir yang ragu-ragu akhirnya menemukan kemantapan kembali, meskipun tenaganya belumpulih seutuhnya. Orang berwajah tampan yang berdiri dua langkah disebelah Jlitheng itupun kemudian berkata sambi tersenyum “Anak muda, marilah. Kau masih sempat menyebut nama ayah bundamu sebelum ajal datang memdukmu. Jangan merajuk lagi. Aku mengerti, bahwa peradaban di padukuhan ini agak berbeda dengan padiukuhan-padukuhan yang lain, karena aku memang bukan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di padukuhan ini. Tetapi cara hidup orang-orang padukuhan ini sangat menarik, sehingga aku memutuskan untuk pindah ke padukuhan ini” “Ternyata bahwa penglihatan batinmu telah menjadi kabur” jawab Jlitheng “Karena itu, maka akupun akan mempergunakan cara yang barangkali paling baik aku lakukan bagi orang-orang padukuhan ini. Lihat, cara itulah yang kalian alami. Bahkan mungkin aku akan melakukannya terhadap kalian sampai ke batas maut” Orang-orang itupun berpaling sekilas memandang laki-laki yang masih terbaring di bawah bayangan batang perdu yang tumbuh melekat dinding halaman di pinggir jalan itu. Orang itu mencoba untuk bangkit tetapi yang dapat dilakukannya hanyalah beringsut dan bersandar dinding halaman. Gegedug berwajah, tampan itu tertawa. Katanya “Memang menarik sekali Nampaknya lebih senang menyumbat hidungnya dari pada mencekik lehernya” Jlitheng tidak lagi dapat bersabar. Karena itu, maka iapun beringsut setapak sambil menggeram “Kalian juga akan mengalami” Gegedug bertubuh agak pendek itupun tidak sabar lagi. Iapun bergeser selangkah maju sambil berkata “Aku tidak sabar lagi. Aku sudah menyaksikan bagaimana ia mempermainkan kakang Singkir. Marilah, kita berbuat sesuatu” Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak sempat menjawab, karena orang bertubuh agak pendek itu tiba-tiba saja sudah menyerang sambil berkata lantang “Aku akan bertempur sampai orang ini mati di bawah mata orang-orang padukuhan ini. Ia sudah berbuat sesuatu yang mencemarkan nama baik kita” Namun Jlithengpun telah siap menghadapi segala kemungkinan. Ia bergeser selangkah sambil berputar. Serangan orang bertubuh pendek itu memang dapat dihindar i, namun adalah diluar dugaan bahwa tiba-tiba saja orang berwajah tampan yang nampaknya masih belum bersikap itu telah meluncur dengan cepatnya. Kakinya terjulur Jurus langsung mengarah lambung. Jlitheng memang terkejut mendapat serangan itu. Serangan yang tiba-tiba dan demikian cepatnya. Karena itu. maka ia tidak sempat mengelak lagi. Ia hanya dapat bergeser setapak. Namun orang berwajah tampan itu ternyata memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Ia masih sempat menggeliat dan sekaligus merentangkan tangannya. Ketika kakinya kemudian berhasil menyentuh lawannya meskipun tidak seperti yang dikehendakinya, ia masih sempat menghantam kening Jlitheng. Serangan pertama yang langsung mengenai lawannya itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Jlitheng yang tidak mengira bahwa ia akan langsung dihantam pada serangan pertama itu telah terdorong surut. Belum lagi ia sempat memperbaiki kedudukannya, matka serangan yang berikutnya telah menyusul. Orang berwajah tampan itu kemudian meloncat sambil mengayunkan tangannya mengarah ke dahi Jlitheng. Dalam keadaan yang sulit karena Jlitheng harus menangkis tombak Singkir yang terjulur, Jlitheng memir ingkan kepalanya sehingga tangan itu tidak mengenai sasarannya. Tetapi tangan itu masih menghantam pundak Jlitheng dengan kerasnya. Jlitheng menyeringai menahan sakit. Ketika sebuah pukulan sekali lagi mengenai dadanya, maka ia benar-benar kehilangan keseimbangan dan terlempar jatuh. Ternyata orang berwajah tampan itu benar-benar memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Pada serangan yang beruntun itu, ia sudah berhasil mengenai tubuh Jlitheng beberapa kali, sehingga Jilthengpun telah terjatuh. Namun, dalam pada itu, Jlitheng tidak kehilangan akal. Ia mengerti apa yang telah terjadi. Karena itu, maka iapun justru berguling beberapa kali dengan cepatnya. Kemudian iapun melenting berdiri dengan cepatnya. Pada saat itu, serangan lawannya telah memburunya. Bukan saja dari orang berwajah tampan itu. Terapi ketiga orang lawannya telah berada selangkah dihadapannya. Apalagi orang berwajah tampan itu. Tetapi ketika orang itu menyerangnya Jlitheng benar-benar telah mapan. Ia menyadari keadaan sepenuhnya. Iapun dapat menjajagi kemampuan lawan. Kekuatan dan kecepatan mereka bergerak. Dengan demikian, ketika orang berwajah tampan itu menyerangnya sekali lagi dengan kecepatan tatit di langit, Jlitheng tidak ingin mengelakkan dir i. Ia sudah benar-benar di bakar oleh kemarahan yang memuncak. Karena itu, maka iapun telah didorong oleh keinginan seorang anak muda untuk berbuat sesuatu yang dapat memberikanya kebanggaan setelah beberapa saat lamanya da menjadi sasaran kebanggaan lawannya. Apalagi karena kesombongan lawannya tanpa senjata. Dalam pada itu, beberapa orang yang menyaksikan dari kejauhan menjadi berdebar-debar, la melihat bagaimana gegedug berwajah tampan itu mampu mempermainkan lawannya. Menyerangnya dan bahkan kemudian melemparkan anak muda itu sehingga jatuh berguling-guling. Kini mereka melihat orang itu menyerang sekali lagi dan merekapun melihat Jlitheng tidak dapat mengelakkan dir i. Karena itu, maka merekapun menduga, bahwa Jlitheng benar- benar akan mengalami kesulitan. Ia tentu akan terlempar sekali lagi, dan jatuh terbanting ke tanah. Mungkin ia akan mengalami luka-luka yang parah, bukan sekedar terguling seperti yang telah terjadi. Sementara itu, kawan Cempaka yang disebut Iblis bertangan Petir itupun mengerutkan keningnya. Ia melihat Jlitheng seakan-akan tidak dapat mengimbangi kecepatan bergerak lawannya, sementara dua orang yang lab masih belumbertempur dengan sungguh-sungguh. Ketika ia melihat orang berwajah taimpan itu menyerang Jlitheng dan nampaknya Jlitheng tidak mengelakkan dini. bahkan tidak memanfaatkan senjatanya sebaik-baiknya, ia menjadi tegang. Yang terjadi kemudian adalah benturan yang keras antara orang berwajah tampan itu dengan Jlitheng, justru karena Jlitheng dengan sengaja tidak mengelakkan dirinya, dan tidak mempergunakan senjatanya. Ternyata perhitungan Jlitheng tidak terlalu jauh dari kebenaran. Orang berwajah tampan yang mampu bergerak cepat itu, ternyata tidak memilki kekuatan seperti yang dapat dibanggakan. Agaknya ia lebih mementingkan pada kemampuan bergerak daripada memperhitungkan kekuatan serangannya. Dengaa demikian, ketika benturan itu terjadi maka orang berwajah tampan itupun telah terlempar beberapa langkah. Justru karena Jlitheng yang bertahan itu telah mendorongnya pula. Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu melihat, Jlitheng berdiri tegak dengan kaki renggang Lawannyalah yang terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah. Kedua orang gegedug yang bertempur bersamanya terkejut. Ia melihat orang berwajah tampan itu pada mulanya seakan-akan berhasil menguasai lawannya dengan kecepatannya bergerak. Namun kemudian mereka melihat orang itu justru terlempar, sedangkan Jlitheng masih tetap berdiri di tempatinya. Sejenak kemudian, orang yang terlempar iltu berusaha untuk melent ing berdir i. Namun ternyata bahwa lontaran tenaganya sendiri yang seakan-akan memental pada benturan kekuatan dengan lawannya itu, telah membuatnya kesakitan. Karena itu, ia tidak segera dapat berdiri tegak. Seberapa saat ia terhuyung-huyung mencari keseimbangan. Kawan Cempaka yang menyaksikan pertempuran itu dengan tegang, tiba-tiba saja tersenyum. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih ingin melihat Jlitheng menghadapi ketiga orang itu untuk selanjutnya. oooOooo- 

Jilid 07
SEMENTARA itu, Jlithengpun telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan selanjutnya. Ia sadar, bahwa untuk selanjutnya ia akan bertiadapan dengan ketiga orang gegedug itu bersama-sama. Ternyata pula, bahwa sejenak kemudian ketiga orang itu telah bersiap. Gegedug yang berwajah tampan, yang baru saja terbanting jatuh itu telah berusaha memperbaiki keadaannya. Namun dengan demikian dia sadar, bahwa yang dapat dilakukan itu bukannya satu kemenangan. Ternyata ia hanya dapat mengejutkan orang yang tidak dikenalnya itu. Tetapi selanjutnya, ia tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Tetapi bertiga, maka ia mempunyai pertimbangan lain. Bagaimanapun juga, mereka bertiga adalah orang-orang yang ditakuti bukan saja di padukuhannya. Tetapi sampai kepadukuhan sekitarnya. Tidak lebih dar i enam orang yang mempunyai nama dan kedudukan seperti mereka. Jika tiga diantaranya telah bersedia bekerja bersama, maka mereka tentu akan merupakan kekuatan yang luar biasa. “Orang ini memang luar biasa“ ketiga gegedug itu mengakui di dalam hati. Tetapi merekapun menganggap diri mereka luar biasa pula. Apalagi bertiga bersama-sama. Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu telah melangkah maju mendekati Jlitheng dari arah yang berbeda. Mereka telah bersiap untuk menyerang dan kemudlian menghancurkannya. Terhadap tetangga sendiri, mereka tidak memaafkan setiap yang dianggapnya salah. Apalagi terhadap orang lain. Maka mereka t idak akan mengenal belas kasihan. Orang berwajah tampan itu tidak lagi nampak tersenyum- senyum. Wajahnya yang tampan iitu bagaikan disaput oleh warna merah, sehingga wajah itu seolah-olah telah berubah menjadi wajah hantu yang kehausan melihat darah yang merah segar. Sementara isu ditanganinya telah tergenggam sebilah keris yang besar dan panjang, Jlitheng berdiri tegak seperti batu karang yang tidak terguncang oleh badai dan prahara. Ia berusaha untuk dapat melihat dan mengerti apa yang akan diakukan oleh ketiga lawannya. Sesaat kemudian, maka iapun mulai bergeser ketika lawannya telah bersiap untuk menyerang. Sementara ia masih mendengar orang berwajah tampan itu menggeram “Kau memang tidak tahu dir i. Kau merasa bahwa yang kau lakukan itu dapat menakuti aku? Justru yang kau lakukan itu telah mendesakmu ke dalam keadaan yang paling gawat” Jlitheng yang memang sudah marah tidak menunggu lebih lama lagi. Sebelum oraing itu selesai berbicara, maka ia pun telah meloncat menyerang dengan kecepatan yang tidak kasat mata. Serangan itu demikian tiba-tiba, sehingga orang berwajah tampan itu tidak menduga. Jiika semula ia berhasil mengejutkan Jlitheng, namun ternyata kemudian, bahwa iapun telah terkejut sekali mendapatkan serangan itu. Demikian cepat dan derasnya, sehingga orang berwajah tampan itu tidak mendapat kesempatan untuk mengelakkan diri. Karena itu, maka diapun telah berusaha menangkis serangan-serangan Jlitheng yang mengarah ke dadanya. Namun ternyata sekali lagi, bahwa kekuatan Jlitheng tidak dapat diimbanginya. Dengan derasnya Jlitheng telah menyerangnya pula. Tidak dengan senjatanya, tetapi dengan kakinya. Yang terjadi sekali lagi telah melemparkannya beberapa langkah surut dan bahkan kemudian orang berwajah tampan itu sekali lagi kehilangan keseimbangannya dan jatuh terlentang. Tetapi Jlitheng tidak sempat memburunya. Kedua orang lawannya yang lainpun telah menyerangnya pula hampir bersamaan. Dengan loncatan pendek Jlitheng dapat melepaskan diri dari garis serangan keduanya. Ia masih mampu mengambil jarak, dan dengan tangkasnya, ia telah membalas serangan itu dengan serangan mendatar mengarah ke lambung orang yang bertubuh agak pendek. Tetapi gegedug bertumbuh pendek itu sempat menggeliat, sehingga serangan Jlitheng tidak mengenai sasaran. Sementara Singkir yang sudah sempat beristirahat itu telah menyerangnya pula dengan sepenuh kemampuannya justru dengan senjatanya. Namun Jlithengpun masih sempat meloncat. Tetapi demikian kakinya menjejak tanah, maka iapun telah melenting menyerang. Tidak menyerang orang bertubuh agak pendek, dan tidak pula menyerang Singkir, tetapi serangannya diluar dugaan telah menghantam orang berwajah tampan yang baru saja berhasil berdiri tegak itu dengan kakinya tidak dengan tajamsenjatanya. Orang itu belum bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika serangan itu datang menghantam lambung, ia terpaksa sekal lagi t idak sempat untuk melindungi lambungnya. Tetapi kekuatan kaki Jlitheng sekali lagi telah mendorongnya. Justru semakin keras, sehingga orang itu terpental beberapa langkah dan langsung terbanting jatuh di tanah. Sambil menyeringai menahan sakit, orang itu mengumpat sejadi-jadinya, sementara kedua orang lawannya yang lain telah menyerang Jlitheng hampir bersamaan, meskipun anak muda itu masih sempat menghindar inya. Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Orang berwajah tampan drtin benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Serangan-serangan Jlitheng berikutnya seolah olah selalu memburunya. Namun demikian kedua orang kawannya yang lainpun telah menjadi sasarannya pula. Dalam pada itu orang yang menyaksikan pertempuran itupun menjadi berdebar-debar. Kawan Cempaka yang melibat Jlitheng marah itupun masih sempat memperhatikan, betapa Jlitheng masih berusaha menghindari pembunuhan. Pedang tipisnya seolah-olah tidak dipergunakan sepenuhnya, selain untuk menangkis dan melindungi dirinya dari senjata lawan- lawannya. Sementara itu ia lebih banyak mempergunakan kakinya untuk menghantam lawan-lawannya terutama yang berwajah tampan itu. Jlithengpun kemudian meloncat mundur. Ketiga orang lawannya memegang senjata yang berbeda-beda. Singkir yang bersenjata tombak berdiri dengan tegang memandang kawannya yang menggenggam ker is yang besar dan panjang, ia sudah sering melihat orang berwajah tampan itu membawa kerisnya kesana-kemari dengan penuh kebanggaan. Iapun pernah melihat senjata itu dipergunakan. Tetapi kini ia harus bertempur bersama orang berwajah tampan itu. Sementara gegedug yang bertubuh pendek itu menggenggam golok yang besar dan berat “Tidak ada ampun lagi bagimu orang yang tidak tahu diri” geramorang berwajah tampan itu. Jlitheng memandang keris itu sejenak. Kemudian katanya Aku masih dapat menahan dir i dengan tidak menyobek dadamu. Semula aku lelah cukup menyatakan bahwa aku bukan sekedar sebatang pohon pisang yang dapat kau perlakukan kehendakmu. Bahkan akupun dengan bangga dapat menunjukkan, bahwa tenagaku, tanpa senjata ini, dapat merobohkan mu. Tetapi kini kita akan terlibat dalam perang senjata seperti dengan kawan-kawanmu. Bedanya orang- orang ini belum menyakit iku seperti yang kau lakukan dengan tiba-tiba tanpa peringatan apapun lebih dahulu” Jlihteng berhenti sejenak, lalu “Kita sekarang sudah bersenjata semuanya. Pedangku tentu akan aku pergunakan sebaik- baiknya, tidak justru selalu menggangguku” Kata-kata Jlitheng itu benar-benar mendebarkan jantung. Meskipun demikian ketiga orang itu tidak mengurungkan niatnya. Mereka mendesak maju dan bersiaga sepenuhnya. Kawan Cempaka yang berdiri beberapa langkah dari arena itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu, karena ia sudah pernah melihat Jlitheng bertempur. Sebenarnya bertempur. Sejenak kemudian, orang bersenjata keris itu telah meloncat menyerang dengan garangnya. Kerisnya yang besar dan panjang itu menebas langsung mengarah ke kening. Jlitheng yang masih saja tersinggung karena serangan- serangan pertama orang itu yang berhasil menjatuhkannya, dengan sengaja tidak menghindar, la ingin membenturkan pedang tipisnya dengan keris yang agaknya juga sebilah keri pusaka yang mempunyai nilai tinggi. Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras antara pedang tipis Jlitheng dengan keris yang besar dan panjang itu. Demikian kerasnya sehingga bunga-bunga api berloncatan diudara, menebar seperti kunang-kunang kecil yang berterbangan. Namun dalam pada itu, sekali lagi orang berwajah tampan itu terkejut. Benturan itu benar-benar telah menggetarkan jantungnya. Tangannya yang menggenggam keris itu menjadi pedih. Hampir saja ker isnya telah terlepas dari tangannya. Dalam kesulitan itu, orang berwajah tampan itupun tidak dapat berbuat lain kecuali meloncat surut. Dalam pada itu ketika Jlitheng ingin memburunya, maka kedua orang lawannya yang lainpun telah meloncat menyerangnya hampir bersamaan. Jlitheng masih sempalt mengelak. Bahkan kemudian ia tidak ragu-ragu mempergunakan senjatanya, setelah ketiga orang lawannya menyerangnya dengan tiga pucuk senjata pala. Sejenak kemudian pertempuran senjatapun telah berlangsung dengan sengitnya. Ketiga orang gegedug itu menyerang Jlitheng berganti-ganti, berurutan seperti banjir yang mengalir menghantam tebing. Namun kadang-kadang mereka bertiga bersama-sama menyerang dari arah yang berbeda, seolah-olah Jlitheng tidak akan dapat lagi lolos dari ketiga ujung senjata lawannya. Namun ternyata Jlitheng benar-benar mampu bergerak seperti seekor burung sikatan. Ia masih selalu dapat menyusup diantara senjata lawannya. Bahkan sekali-kali ia dengan sengaja membenturkan senjatanya untuk mengguncang hati lawannya karena tangan mereka tentu akan terasa menjadi sakit Betapapun juga Jlitheng berusaha untuk menguasai kemarahannya yang membakar jantung, namun melawan tiga senjata Jlitheng tidak dapat terlalu banyak menahan geraknya. Meskipun dalam kemarahan yang memuncak Jlitheng masih sadar, bahwa membunuh bukanlah tujuannya, namun iapun tidak mau mati dihadapan para gegedug yang tidak tahu adat itu. Bahkan seandainya ia tidak mampu mengatasi lawannya maka orang yang dengan lemahnya bersandar dinding batu itupun akan dicekik sampai mati pula, oleh gegedug-gegedug itu. Karena itu, ketika ketiga orang lawannya bertempur semakin garang, maka Jlithengpun harus mengimbanginya, la tidak mau berkisar menghindar, menangkis dan menyerang dengan hati-hati. Karena dengan demikian, maka semakin lama ia justru merasa semakin terdesak Namun dalam pada itu, lawannya merasa benar-benar menguasai orang yang tidak mereka kenal itu. Keragu-raguan Jlitheng mempergunakan senjatanya, membuat lawannya semakin berbesar hati. “Masalahnya adalah masalah seorang perempuan” berkata Jlitheng di dalam hatinya “Jika kemudian timbul kematian, apakah hal itu, sudah seimbang. Apakah justru, dengan demikian, sebuah nyawa akan menjadi sangat tidak berharga” Jlitheng dapat menghargai kesetiaan cinta laki-laki terhadap seorang perempuan dan sebaliknya, yang bersedia mengorbankan nyawanya. Tetapi tidak untuk seorang perempuan yang berdir i bertolak pinggang dengan wajah iblis itu. Dengan demikian, maka kemarahan Jlitheng sebagian telah tertumpah kepada perempuan itu pula. Meskipun perempuan itu tidak ikut bertempur mengeroyoknya, tetapi ia justru merupakan sumber dari peristiwa yang keras, kasar dan liar itu. Sejenak Jlitheng masih sekedar bertahan sambil membuat pertimbangan-pertimbangan yang paling baik menurut sikap dan pendir iannya. Namun dalam pada itu, ketiga lawannya menyangka, bahwa Jlitheng benar-benar tidak mampu lagi berbuat sesuatu selain bertahan. Dengan demikian, maka orang berwajah tampan itupun berkata sambi tertawa “Nah, sekarang kau mulai menyesal bahwa kau sudah mencampuri persoalan yang tambul di padukuhan iri. Karena itu, maka pergunakan saat- saat terakhir ihi untuk memandang terangnya hari dan hijaunya dedaunan” Kata-kata itu hampir tidak dapat diselesaikan. Jliltheng tiba- tiba saja dengan garang menyerangnya. Demikian cepatnya, sehingga orang berwajah tampan itu tidak sempat menghindar. Tetapi ia sempat menangkis dengan senjatanya. Tetapi benturan yang terjadi dengan tiba-tiba itu telah membuat orang berwajah tampan itu terkejut. Sejenak ia kehilangan akal ketika terasa tangannya bergetar dan senjatanya tiba-tiba saja telah terlepas dari tangannya. Untunglah bahwa kedua kawannya sempat menolongnya. Keduanya telah menyerang Jlitheng dari dua arah, sehingga Jlitheng harus menghindar sambil menangkis kedua serangan itu. Orang berwajah tampan itu sempat mengambil senjatanya. Namun pada saat itu, Jlitheng telah menyarang kedua lawannya berturut-turut. Demikian cepatnya, sehingga keduanya berloncatan menghindar. Pada saat itulah, Jlitheng yang marah itu telah menentukan sikap. Kemarahannya yang sebagian tertuju kepada perempuan itu, telah mendorongnya berbuat sesuatu. Selagi ketiga lawannya berloncatan menghindari serangannya, maka tiba-tiba saja Jlithengpun meloncat pula. Tidak memburu keduanya, tetapi ia telah meloncat keatrah perempuan yang berdiri bertolak pinggang. Demikian cepatnya, sehingga tidak seorangpun mampu mencegahnya. Jlitheng yang menganggap perempuan itu sebagai sumber bencana dan yang hampir saja membunuh suaminya, tiba-tiba saja telah menangkap perempuan itu. Dengan sekali renggut rambut perempuan itu terurai. Tidak ada waktu untuk berbuat sesuatu. Yang terjadi kemudian telah mencengkam ketegangan setiap orang yang. menyaksikan. Sekejap kemudian perempuan itu telah memekik tinggi. Sejenak kemudian iapun telah terduduk dengan lemahnya. Sementara ditangan Jlitheng tergenggam segenggam rambut perempuan yang telah dipotongnya dengan pedang tipisnya, hampir dikulit kepalanya. Ketiga orang yang bertempur melawannya itu berdiri, termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa Jlitheng telah berbuat demikian. Karena itu, untuk sesaat mereka justru berdir i dalamkebingungan. “Lihat“ Jlitheng kemudian berkata lantang ”kalian telah dijerat oleh rambut yang panjang dan ikal dari seorang perempuan cantik. Tetapi perempuan ini berhatî iblis. Ia telah menjerumuskan seorang gegedug yang ditakuti untuk membunuh seorang yang tidak berdaya sama sekali. Karena perempuan ini maka ia telah kehilangan sifat kemanusiaannya. Ia juga bukan lagi seorang laki-laki jantan. Kali ini ia, akan membunuh seorang yang tidak berdaya. Tetapi pada kesempatan lain, kalian akan bertempur dengan dahsyatnya memperebutkannya. Kalian, diantara laki-laki, terpilih dari padukuhan ini” Sejenak ketiga laki- laki itu terdiam. Namun sejenak kemudian, Singkir yang merasa berhak atas perempuan itu menggeram dengan marahnya “Anak setan. Kau, telah menghina kami” “Bukan aku” sahut Jlitheng “kalian telah" menghina martabat kalian sendir i” “Bunuh orang itu” teriak yang agak pendek. Sementara yang berwajah tampan, yang telah menggenggam kerisnya kembali berkata diantara gemeretak giginya “Kau memang harus mati” “Bunuh orang gla itu” teriak perempuan yang, kehilangan rambutnya “Bunuh orang dan bantai sampai lumat. Singkirlah yang pertama-tama meloncat dengan penuh kemarahan. Tombaknya mematuk langsung ke arah jantung. Disusul dengan kedua orang kawannya dengan senjata masing-masing. Tetapi Jlithengpun telah bersiaga sepenuhnya. Ia sadar, bahwa yang dilakukan itu akan dapat membakar pertempuran itu menjadi semakin dahsyat. Namun ia. sudah sengaja melakukannya. Apapun yang akan terjadi akan dihadapinya. Karena itu, ketika serangan lawannya menj iadi semakin dahsyat, maka perlawanan Jlithengpun menjadi semakin garang pula. Ia tidak lagi menahan diri. Pedang tipisnya menyambar-nyambar diantara ayunan senjata lawannya. Semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian pedang tipisnya berhasil menyusup diantara senjata lawannya menyentuh kulit orang berwajah tampan itu. Terdengar orang itu berdesah tertahan. Beberapa langkah ia meloncat mundur. Namun dalam pada itu, orang bertubuh agak pendek itupun telah menyeringai pula. Meskipun tidak terkoyak cukup dalam, namun pundaknya telah menit ikkan darah pula. Sejenak ketiga orang lawannya termangu-mangu, Singkir yang seakan-akan telah kehabisan tenaga, berusaha untuk menghentakkan sisa kemampuannya. Dengan tombaknya ia meloncat menyerang, selagi Jliltheng berusaha memburu laki- laki bertubuh agak pendek. Namun malang bagi Singkir. Dengan sentuhan yang sederhana, tombaknya telah lepas dari sasaran. Bahkan dengan demikian dadanya telah terbuka. Sebelum ia sempat memperbaiki keadaannya, makai pedang Jlitheng telah tergores didadarnya. Seleret luka melintang. Meskipun juga tidak begitu dalam namun luka itu telah membuatnya menjadi gugup. Sesaat Jlitheng mempersiapkan serangan berikutnya, maka tiba-tiba saja ia tertegun. Ia mendengar kawan Cempaka yang oleh tetangga-tetangganya disebut Iblis bertangan Petir tertawa. Orang-orang yang terlibat ke dalam pertempuran itu serentak berpaling kearah suara tertawa itu. Mereka melhat orang yang tertawa itu melangkah mendekati dua orang yang berdiri termangu-mangu. “He, kalian mau apa?“ bertanya orang yang tertawa itu. Kedua orang itu menjadi tegang. Salah seorang dari kedua orang yang ternyata kakak beradik itu menjawab “Tingkah orang yang tidak kita kenal itu telah menyinggung perasaan kami” “kalian mau ikut campur seperti mereka yang telah terluka itu?“ desak kawan Cempaka. “Persoalannya sudah menyangkut kami” jawab yang seorang lagi. “Kenapa? Apakah kau mempunyai hubungan juga dengan perempuan itu?“ bertanya kawan Cempaka itu pula. “Tidak. Tetapi yang dilakukannya langsung atau tidak langsung akan mencemarkan wibawa kami. Jika kami tidak berhasil membunuh orang itu, maka nama kami akan direndahkan oleh orang-orang yang semula takut kepada kami” Kawan Cempaka itu tertawa pula. Katanya “Kalian akan menjadi lebih terhina lagi jika jumlah kalian menjadi semakin banyak, tetapi kalian tidak dapat mengalahkannya” Kedua orang itu termangu-mangu. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu berkata selanjurnya “Kau seharusnya melihat, bahwa orang itu tidak berusaha membunuh ketiga orang lawannya. Jika hal itu ingin dilakukan, maka ketiga orang itu sudah mati. Sementara kau berduapun akan mati pula” Kedua orang itu menjadi tegang, sementara Jlitheng masih berdiri tegak, meskipun ia selalu siap menghadapi segala kemungkinan. “Karena itu, jangan ikut campur” berkata kawan Cempaka itu kemudian. Kedua orang itu menjadi ragu-ragu. Sejenak mereka saling berpandangan. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu mengulangi “Jangan ikut campur. Jika kalian memaksa, akupun akan melibatkan dir i. Aku tahu, kalian berdua adalah dua orang kakak beradik yang ditakut i. Seperti juga ketiga orang yang tidak berdaya itu. Tetapi kalian masih terlalu muda itu mati atau menjadi cacat. Tetapi jika kalian memaksa, lebih baik akulah yang melawanmu. Mungkin aku masih dapat bersikap lebih baik dari orang yang menyebut dirinya Bantaradi itu” Kedua kakak beradik iltu menjadi bingung. Tetapi ternyata bahwa orang yang menjadi anggauta kelompok Sanggar Gading itu memang disegani. Ternyata kedua orang itu mengurungkan niatnya dan melangkah surut. Dalam pada itu, ketiga orang gegedug yang sudah terlanjur melawan Jlitheng dan yang telah dilukainya itupun menjadi ragu-ragu. Mereka kemudian melihat orang yang mereka sebut Iblis bertangan Petir itu melangkah mendekati arena. Sambil tertawa ia bertanya “ Bagaimana saudara-saudaraku, Apakah kalian masih ingin meyakinkan diri, apakah orang yang kalian hadapi itu akan mampli membunuh kalian? Jika demikian, agaknya akan terlambat. Karena dalam mati kalian tidak akan dapat melihat kemaiian kalian sendir i” Ketiga orang yang sudah terluka itu termangu-mangu. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu meiang kah semakin dekat. Iapun kemudian berdiri disisi JUtheing sambil berkata “Orang ini adalah orang yang luar biasa. Tetapi ia membawa kebiasaan dan adat yang dikenalnya diluar padukuhan ini. Karena itu, ia telah mencampuri persoalan yang terjadi pada suami isteri itu. Meskipun demikian, maka baginya kepuasan bukanlah derita yang paling pahit bagi lawannya. Karena jitu ia tidak dengan sungguh-sungguh berusaha membunuh kalian. Atau membuat kalian cacat atau mender ita lebih parah dari luka-luka yang tidak berarti” Orang-orang yang sudah terlukai itu berdiri diam. Namun di dalam jantungnya berdeburan gejolak dan kegelisahan. “Apakah kalian tidak percaya kepadaku?“ bertanya orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu. Lalu “Aku di padukuhan ini disebut Iblis bertangan Petir. Meskipun aku sendir ilah mulamula yang menyebut diriku sendiri demikian. Tetapi akhirnya kalian mengakui dan menyebutku demikian pula. Namun aku masih harus berpikir dua tiga kali untuk berani menghadapi Bantaradi” Ketiga orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Dalam pada itu Iblis bertangan Petir itu berkata pula “Pikirlah. Ada kesempatan bagi kalian untuk meninggalkan arena. Aku berdiri disini, sehingga orang yang tidak kalian kenal, tetapi aku kenal ini akan menyetujuinya” Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Namun kemudian per lahan-lahan ketiganya hampir berbareng melangkah surut. Meskipun masih terbayang dendam dimata mereka, namun mereka harus melihat kenyataan yang telah terjadi dihadapan mereka. Sementara itu, Singkirlah yang lebih dahului meninggalkan arena. Ia segera masuk ke dalam regol rumahnya dan sekaligus melintang sehingga pintu regol itu tidak dapat dibuka lagi dari luar. Dalam pada itu, perempuan yang rambutnya telah dirampas oleh Jlitheng itu tiba-tiba saja berdiri dan berlari ke regol. Tetapi regol sudah tertutup. Dengan sepenuh tenaganya ia mengguncang regol itu sambil berteriak memanggil. Tetapi Singkir seolah-olah tidak mendengarnya lagi. “Kakang, kakang” teriak perempuan itu “bukakan pintu. Bukakan pintunya” Betapapun ia mengetuk pintu itu dengan tinjunya, namun pintu itu seakan-akan tidak terdengar sama sekai. Yang terdengar kemudian adalah suara tangis yang memekik. Perempuan itu menjatuhkan dir i di muka pintu yang tertutup sambil menangis sejadi-jadinya. Beberapa orang yang menyaksikan perempuan itu menangis tertegun sejenak. Perempuan cantik yang rambutnya telah terpotong oleh pedang Jlitheng itu menghentak-hentak pintu sejadi-jadinya. Tetapi pintu regol itu memang sudah tertutup rapat baginya. Dalam pada itu, kedua orang lawan Jlitheng yang lainpun selangkah demi selangkah menjauhi arena. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu masih berdir i sambil memandangi keduanya berganti-ganti. Ternyata peristiwa itu telah merubah kebiasaan yang berlaku di padukuhan itu. Orang-orang yang acuh tidak acuh, dan mereka yang saling tidak mampedulikan, tidak saling mencampur i persoalan orang lain meskipun akan mengancam jiwa seseorang, tiba-tiba saja telah saling melibatkan dir i. Orang yang disebut Bantaradi itulah yang pertama-tama telah mencampur i persoalan orang lain. Tetapi iapun akan mampu mengatasi akibat yang kemudian timbul karenanya. Sementara, itu, perempuan yang rambutnya telati terpotong itu masih menangis sejadi-jadinya. Tetapi seolah- olah tidak seorangpun yang menghiraukannya. Kedua orang yang bertempur bersama Singkir itupun akhirnya telah meninggalkan arena dan hilang di balik tikungan. Sementara orang-orang lain yang melihat peristiwa itu dari kejauhanpun telah menyingkir pula. Mereka takut menghadapi kemungkinan para gegedug yang dikalahkan dan bahkan terluka itu akan menumbuhkan kemarahannya kepada mereka yang tidak tahu menahu persoalannya. Dalam pada itu, Iblis bertangan Petir itulah yang mendekati perempuan itu sambil berkata “Nah, tidak ada kesulitan apapun juga untuk membunuhmu sekarang. Tidak ada seorang laki-lakipun yang bersedia menjadi pelindungmu. Lihat, suamimu sudah mulai bangkit. Ia akan mengambil parang dan kemudian menyobek lehermu. Kau akan mati dan terkapar di tengah jalan, sampai datang anjing-anj ing liar untuk merobek kulit dan dagingmu” “Jangan, jangan” teriak perempuan itu “Jangan bunuh aku” “Setiap orang mengalami ketakutan di saat-saat bahaya maut mengancamnya. Suamipun mengalami perasaan takut dan ngeri ketika kau berteriak-teriak agar laki- laki itu membunuhnya” sahut Jlitheng. “Tetapi jangan bunuh aku“ perempuan itu masih menangis. “Kematian biasanya memang t idak dikehendaki. Tetapi j ika ia datang, sulit untuk dapat dihindar i “ Perempuan itu menangis semakin keras. Bahkan kemudian memekik-mekik. Beberapa orang yang sudah berada di balik pintu rumahnya, tidak dapat mencegah keinginan mereka untuk mengetahui apakah yang telah terjadi. Namun ternyata mereka tidak melihat seseorang berbuat sesuatu atas perempuan itu. Yang mereka lihat adalah orang yang disebut Iblis bertangan Petir dan orang yang bernama Bantaradi itu berdir i tanpa berbuat apa-apa. Tetapi mereka tidak mendengar kata-kata yang telah diucapkan oleh orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu. Namun, ternyata bahwa akhirnya hati Jlitheng menjadi cair juga melihat perempuan itu menjerit-jerit. Dengan nada yang merendah ila bertanya “Kenapa kau menangis?“ Perempuan itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Seolah- olah orang yang disebut Bantaradi itu t idak melihat apa yang telah terjadi. Namun dalam pada itu Jlitheng bertanya lebih lanjut “ Seharusnya kau menangisi keadaanmu. Bukan karena kau telah tidak dihiraukan lagi oleh orang di dalam regol itu, tetapi seharusnya kau menguasai sifat-sifatmu. Kau benar-benar seorang perempuan yang tidak berhati dan tidak berjantung. Kau sudah mempunyai seorang suami. Tetapi kau lari kepada laki- laki lain. Itupun masih dapat dimengerti, karena mungkin kau memerlukan sesuatu yang tidak ada pada suamimu. Tetapi yang paling gila adalah pikiranmu untuk membunuh suamimu yang sudah tidak berdaya” “Ia juga akan membunuhku“ tangis perempuan itu. “Itu karena kau akan meninggalkannya” ”Sebelumnya ia sudah berulang kali mengancam akan membunuhku. Ia terlalu kasar dan selalu menyakitiku setiap hari” “Tetapi ia tidak benar-benar membunuhmu. Sedangkan kau benar-benar mendorong laki-laki yang tidak tahu dir i itu untuk membunuh” Perempuan itu menunduk dalam-dalam. “Lihatlah masa lalumu. Yang cacat dan yang bernoda, ingat-ingatlah. Kau t idak akan mengulanginya lagi” Jlitheng berdesis sambil berpaling kepada laki- laki yang tersandar dinding, namun yang perlahan-lahan mulai mencoba untuk bangkit dan duduk dengan tegak. “Ia mulai menyadari dir inya” berkata Jlitheng “Yang baik, kenanglah agar kau dapat menemukan suasana itu kembali” Perempuan itu memandang laki- laki yang mulai duduk sambil mengusap titik darah di mulutnya. “Laki-laki itu adalah suamimu” berkata Jlitheng. Perempuan itu masih termangu-mangu. Sementara Iblis bertangan Petir itu berdesis “Tidak pernah terjadi peristiwa semacam ini sebelum kau menginjakkan kakimu disini Bantaradi” “Kalian sudah terlalu jauh tenggelam ke dalam adat dan kebiasaan yang buram” lalu katanya kepada perempuan itu “He, apakah kau tidak ingat bahwa laki- laki itu adalah suamimu?. Suamimu yang kesakitan dan terlepas dari bahaya maut? Betapa buruknya laki- laki itu, tetapi tentu pernah terjadi suatu masa yang memberimu kebanggaan” Perempuan itu masih termangu-mangu. Sementara Jlitheng berkata kepada laki- laki itu dengan lantang “Ter imalah perempuan itu kembali sebagai isterimu. Ia tetap cantik. Rambutnya akan segera tumbuh lagi. Tetapi sifat-sifat kaiianpun harus berganti seperti rambut perempuan itu. Yang buruk harus kalian potong sampai kepangkalnya. Carilah bentuk kehidupan yang baik” Laki- laki itu termangu-mangu. Namun perempuan yang menangis itu t iba-tiba saja bangkit sambil berkata “Apakah aku dapat kembali kepadanya?“ Jlitheng memandang perempuan itu sejenak. Kemudian iapun berpaling kepada laki-laki yang mulai dapat duduk dengan tegak itu. Katanya “He, bukankah kau mengerti maksudku?” Laki- laki itu memandang Jlitheng sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk. “Nah“ berkata Jlitheng “kalian adalah penganten baru. Kalian harus mulai dengan kehidupan yang lain dari yang pernah kalian lakukan” Perempuan itu menunduk. Namun iapun kemudian melangkah mendekati suaminya. Perlahan-lahan dan ragu- ragu ia berjongkok disampingnya. Namun kemudian iapun mencoba membantu laki- laki itu berdir i. Dengan susah payah laki-laki itu berdiri berpegangan tangan isiterinya. Kemudian merekapun melangkah selangkah demi selangkah kembali ke rumah mereka. Perlahan-iahan sekali, karena suami itu masih terlalu lemah. Orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu tertawa melihat kedua orang itu. Kemudian dengan nada datar ia berkata kepada Jlitheng “Kau memang orang luar biasa. Kau dapat mengalahkan tiga orang gegedug yang tidak ada bandingannya di daerah ini meskipun mereka bertempur bersama-sama“ Jlitheng tersenyum sambil bertanya “Bagaimana dengan aku? Aku termasuk salah seorang yang disegani. Tetapi tentu tidak untuk melawan tiga orang sekaligus. Mungkin aku masih bersedia mencoba untuk melawan dua orang. Tidak lebih” Jlitheng tertawa. Katanya “Kau selalu merendahkan dirimu” “Sifatmu itulah yang meragukan“ t iba-tiba, saja orang itu berkata dengan sungguh-sungguh. Jlitheng terkejut, sehingga iapun bertanya “Apa yang meragukan padaku?“ “Kau tidak sesuai bekerja bersama orang-orang Sanggar Gading. Kau terlalu baik hati. Itulah yang sejak semula menjadi persoalan bagi kami. Di perjalanan, ketika kau membantu Cempaka bertempur, sebenarnya kau dapat membunuh lawanmu. Tetapi itu tidak kau lakukan. Kau biarkan beberapa orang itu melarikan diri. Sekarang, dugaan itu semakin jelas. Seharusnya kau bunuh ketiga orang itu sekaligus dan kau ambil perempuan itu, meskipun kelak akan kau lemparkan kembali” Wajah Jlitheng menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya “Kau juga hidup dalamdunia yang hitam itu?” Orang itu tertawa semakin keras. Katanya “Sanggar Gading adalah tempat orang-orang yang bertindak dengan tegas tanpa ampun. Jika kami masih dihinggapi rasa ragu-ragu, maka tugas kami tidak akan selesai” “Tetapi sikapmu dalam persoalan perempuan ini meragukan. Kau tidak tegas-tegas mengatakan, bahwa mereka harus mati. Justru kata-katamu agak mir ing pula bagiku” desis Jlitheng. Orang itu tertawa. Katanya “Aku sudah terpengaruh oleh sikapmu Biasanya sikap yang baik itu tidak mudah menjalar. Tetapi sifat-sifat buruk dengan cepatnya merambat dari satu orang kepada orang lain” “Kau sadari keadaanmu sepenuhnya” Orang itu tertawa semakin keras. Katanya “Jangan mengira bahwa aku tidak mengerti buruk dan baik. Jangan menganggap aku orang yang tidak mengenal batas-batas kehidupan” “Jadi apa yang sudah kau lakukan selama ini?“ “Aku sudah memilih. Dan aku mengerti, bahwa yang aku lakukan itu tidak disukai oleh banyak orang, karena mereka menganggap bahwa yang aku lakukan bukanlah yang baik. Aku dan orang-orang Sanggar Gading adalah orang-orang yang tetap pada pendirian dan sikap. Tegas dalam perbuatan dan tidak pernah ragu-ragu. Apakah ia lakan membunuh atau akan melakukan perbuatan-perbuatan lain, apakah perbuatan itu haik atau buruk” Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia sudah melakukan kesalahan, justru karena ia berhasil menolong seseorang dan karena ia telah mengembalikan perempuan yang hilang itu kepada suaminya, “Ki Sanak“ berkata orang itu kemudian “Mudahmudahan orang-orang Sanggar Gading mempunyai penilaian lain terhadapmu dengan penilaian mereka terhadap orang-orang Sanggar Gading sendiri. Mudahmudahan kebaikan dan keragu- raguanmu tidak menumbuhkan persoalan tersendir i di kalangan kami, seperti kau sudah menumbuhkan persoalan baru bagi orang-orang padukuhan ini” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Betapa dadanya terasa bergejolak, namun ia masih berusaha menjaga perasaannya. “Ki Sanak“ berkata Jlitheng kemudian “perbuatan itu bukan ukuran. Yang aku lakukan adalah bukan persoalan yang dihadapi oleh orang-orang Sanggar Gading. Aku tidak tahu, apakah orang-orang Sanggar Gading menganggap aku seorang yang ragu-ragu atau orang yang tidak bersikap, tetapi ajakan Cempaka telah menarik perhatianku. Dalam keadaan yang gawat, akupun tidak akan sempat berpikir panjang dan ragu-ragu” Orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu tertawa. Katanya “Marilah. Singgahlah di rumahku barang sejenak. Kita akan bersama-sama pergi ke Sanggar Gading” Jlitheng menarik nafas panjang. Namun t iba-tiba saja ia bertanya “Siapakah namamu. Apakah aku juga harus memanggilmu Iblis bertangan Petir?“ Orang itu tertawa pula. Jawabnya “Namaku Rahu. Aku tidak tahu kenapa orang tuaku menamakan aku Rahu. Nama yang kurang aku senangi. Karena itu, aku memakai gelar atas keinginanku sendir i Iblis bertangan Petir” “Kau tahu gambaran orang tentang iblis?“ bertanya Jlitheng. “Tahu pasti. Dan itulah yang aku kehendaki” “Kau suka menakut-nakuti orang lain. Namamu memang menakutkan, seolah-olah kau adalah mahluk yang luar biasa. Yang mempunyai kekuasaan tanpa banding, sementara dari tanganku dapat menjulur lidah api” Rahu, yang disebut iblis bertangan Petir itu tertawa semakin lama justru menjadi semakin keras. “Kenapa kau tertawa?“ bertanya Jlitheng. “Menarik sekali. Mungkin kau benar. Aku ingin membuat kesan, seakan-akan diriku adalah orang yang paling berkuasa, menakutkan dan mampu melepaskan lidah api dari tanganku” ia berhenti sejenak, lalu “Kau memang lucu. Tetapi jangan terlalu keras. Meskipun orang-orang yang menonton pertunjukan ulangan dengan kedua suami isteri itu sebagai pusat perhatian telah pergi, tetapi jika masih ada yang mendengar kata-katamu itu, maka nilai dari gelar itu akan susut” “Apakah mulamula orang di padukuhan ini percaya, bahwa kau mendapat gelar itu karena sesuatu kelebihan yang adai padamu?“ “Ya. Dan sampai sekarang mereka menganggap aku orang yang memiliki kelebihan di padukuhan ini sesuai dengan namaku“ Jlithenglah yang kemudian tertawa. Katanya “Apakah aku perlu membuat nama yang lebih menger ikan dar i namamu?” Iblis bertangan Petir itu tertawa semakin keras. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan ketika suara tertawanya sudah mereda ia berkata “Marilah ke rumahku. Besok kita melanjutkan tugas kita yang lebih berarti dar ipada permainan gila ini” “Besok kita pergi ke Sanggar Gading?“ bertanya Jlitheng. “Ya. Besok kita akan berkumpul untuk menentukan saat- saat yang gawat. Semua harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Kewajiban yang akan kita lakukan adalah kewajiban yang lain dari yang pernah kira lakukan sebelumnya” “Apa sebenarnya yang akan1 kita lakukan besok?“ bertanya Jlitheng tiba-tiba. “Kau sudah membuat dua kesalahan. Kau sudah membuat orang-orang Sanggar Gading menjadi ragu-ragu” sahut Rahu. Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Terlalu dicari-cari. Aku tahu bahwa aku telah salah ucap. Tetapi itu adalah dorongan sifat ingin tahu seseorang. Karena itu, tiba- tiba saja aku bertanya tugas kita besok, yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Sedang kesalahanku yang lain sudah kau katakan, aku tidak membunuh orang-orang yang dapat aku bunuh. Agak berbeda dengan yang aku katakan pertama. Ketegasan memang tidak sama dengan pembunuhan” “Disinilah letaknya. Bukan pada perbuatan tidak membunuh itu sendir i. Tetapi pada sikap dan pendir ianmu yang goyah” Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya “Terserah kepadamu. Kau dapat mengatakan apa saja besok kepada pimpinan Sanggar Gading tentang aku. Kau tentu lebih dipercaya dari aku. Karena itu, kau dapat membuat aku menjadi hitam atau merah” Rahu yang disebut Iblis bertangan Petir tertawa pula. Katanya “Jangan merajuk. Sifat-sifatmu menarik perhatian. Disamping meragukan, kau terbuka dan berani. Karena itu maka agaknya kau masih mempunyai kesempatan” Jlithengpun kemudian tertawa. Katanya “Aku tidak tahu, apakah aku akan dapat mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya” “Marilah“ potong Rahu itu kemudian “Kau tentu ingin melihat rumahku. Kau perlu minum dan makan. Nanti malam kau akan tidur nyenyak. Kau tidak usah cur iga, bahwa nanti malamperutmu akan ditusuk dengan parang selagi kau tidur” Jlitheng tertawa berkepanjangan. Katanya “Kau memang suka menakut-nakuti orang. Bukan saja dengan pilihan namamu yang mengerikan itu, Tetapi dalam kelakarpun kau adalah seorang yang tepat dalam kedudukanmu” “Apa kedudukanku?“ Jlitheng terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun iapun kemudian menjawab “Bukankah kau orang Sanggar Gading. “Ya. Lalu apa artinya jika aku orang Sanggar Gading dengan kedudukan yang kau maksud?“ “Tidak apa-apa” jawab Jlitheng. Tetapi orang itu berkata “Aku tahu. Kau menganggap namaku sesuai dengan kedudukanku yang kau sangka tentu seorang penjahat, seorang perampok, penyamun dan sebangsanya seperti orang-orang Kendali Putih atau orang- orang Pusparuri” “Jika dugaanmu benar, maka akulah yang akan bertanya, apakah orang-kedali Putih dan orang-orang Pusparuri masih sempat juga melakukan hal seperti itu” “Betapa mereka mencuci tangan mereka, tetapi mereka sudah melakukan kejahatan seperti itu” “Dan orang-orang Sanggar Gading?“ potong Jlitheng. Rahu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya “Orang-orang Sanggar Gading tidak melakukannya. Kami adalah kelompok orang-orang bercita-cita” “Tetapi dari mana orang-orang Sanggar Gading memenuhi kebutuhan hidup mereka” “Kau semakin mencur igakan bagiku, Tetapi seperti yang aku katakan, kau masih mempunyai kesempatan. Tetapi jika kecurigaanku semakin bertambah, mungkin aku akan bersikap laini” ”Apa yang akan kau lakukan? Kau mengakui seperti yang kau katakan sendiri, bahwa kau tidak mempunyai kemampuan seperti yang aku miliki” “Kau bukan saja mencurigakan, tetapi juga sombong” Rahu berhenti sejenak, lalu “Marilah. Singgah di pondokku” Jlitheng tidak menjawab. lapun kemudian mengikuti Rahu yang bergelar Iblis bertangan Petir itu ke pondoknya. Sebuah pondok yang cukup besar terletak diujung padukuhan agak menjorok keluar, seakan-akan merupakan halaman yang menempel pada sebuah padukuhan induk. Ketika Jlitheng masuk ke dalam pondok itu, ia mendapat kesan yang aneh. Pondok itu, termasuk pondok yang bersih dan terawat. Meskipun tidak memiliki perabot yang baik dan bernilai tinggi, namun pondok itu member ikan kesan yang menyenangkan. Jlitheng yang sedang memandangi keadaan sekelilingnya dengan ragu-ragu terkejut ketika ia mendengar Rahu bertanya “Apa yang kau perhatikan di dalam rumah yang kosong ini?” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian Tidak apa-apa. Aku biasa berusaha mengenal sesuatu yang baru pertama kali aku lihat. Bukan saja rumah ini, tetapi juga padukuhan ini” “Barangkali kau sedang memperhitungkan kemungkinan, lewat pintu mana kau akan melarikan diri jika kau terjebak di dalam rumah ini” berkata Rahu pula, Jlitheng tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. “Duduklah. Yang ada hanyalah amben bambu” Iblis bertangan Petir itu mempersilahkan. Jlithengpun kemudian duduk diamben bambu yang besar. Sementara Rahu berkata “Aku akan menjamumu sebelum besok kita bersama-sama pergi keptadepokan Sanggar Gading. Jangan takut, kudamupun tidak akan kekurangan makan. Disini banyak rumput yang hijau segar. Orangku akan menyabit rumput buat kudamu melebihi kudaku sendir i. Jlitheng tidak menjawab. Ketika Rahu masuk ke ruang dalam, maka iapun sekali lagi memperhatikan ruangan itu dengan saksama. Ruangan itu nampak bersih. Tidak ada sarang laba-laba disudut-sudutnya. Dindingnyapun nampak terawat, sementara diatas amben bambu itu terbentang selembar tikar yang putih. Lantai tanah di bawah amben itu sudah mengeras. Agaknya tetiap hari lantai itu disiram dengan air, dan kemudian di sapunya hingga bersih. Disudut nampak sebuah geledeg kecil dengan sebuah ajug-ajug disampingnya. Cangkul, parang kapak dan beberapa jenis alat pertanian tersimpan dengan rapi di geledeg itu. Jlitheng semakin angin mengetahui lebih banyak dari pondok yang termasuk agak besar di padukuhan itu. Sejenak ia berdir i di pintu yang menyekat ruangan itu dengan sebuah pendapa kecil di bagian depan. Pendapa yang kosong itupun nampak bersih. Lantainya gilar-gilar seperti juga halamannya Ternyata Jlitheng mempunyai gambaran yang keliru tentang orang-orang Sanggar Gading. Agaknya orang-orang Sanggar Gading memang berbeda dengan orang-orang Kendali Futih dan Pusparuri. “Tetapi aku mungkin akan salah pula menilai orang-orang Kendali Putih, Pusparuri dan mungkin padepokan-padepokan yang lain lagi” berkata Jlitheng di dalam hati. Jlitheng berpaling ketika ia mendengar langkah dari ruang belakang lewat pintu samping. Dilihatnya Rahu datang membawa dua mangkuk minuman. “Kenapa kau berdir i disitu?” Ia bertanya. “Rumahmu memang menarik. Bersih meskipun sederhana. Halamanmu cukup luas meskipun pendapamu termasuk kecil” Rahu tertawa. Katanya “Adikku tidak mempunyai pekerjaan apapun juga kecuali mengurusi sawah. Di saat-saat senggang, ia sibuk dengan rumah ini. Halamannya, pendapa kecil itu, ruang ini dan seolah-olah ia mengisi kejemuannya dengan kerja-kerja kecil yang tidak berarti” Rahu berhenti sejenak, lalu sambil tersenyum ia berkata “hanya dihari-hari terakhir ia mempunyai kerja sambilan. Jika aku tidak berada di gardu itu, maka adikku itulah yang berada di gardu itu” “Apakah, adikmu juga disegani orang disini?“ bertanya Jlitheng. “Adikku seorang anak yang dungu. Tetapi kadang-kadang ia dapat juga berbuat kasar sehingga orang-orang lain harus berpikir untuk mengganggunya” Jlitheng mengangguk-angguk. Sementara Rahu duduk di amben sambil meletakkan mangkuknya “Minumlah. Air legen“ Jlitheng. termangu-mangu. Ketika lapan kemudian duduk pula. dipandanginya air legen di dalam mangkuk itu. "Air legen baru. Bukan air legen yang sudah menjadi tuak dan dapat membuatmu mabuk” berkata Rahu sambil tertawa. Katanya selanjutnya “kau mencurigai segala-galanya. Rumah ini, halaman, legen dan barangkali jika aku menjamumu makan, kau akan menunggu aku makan lebih dahulu” “Kau yang mencur igai aku, sehingga apapun yang aku lakukan kau sangka menyelidikinya” sahut J litheng. Rahu tertawa berkepanjangan. Katanya “Sudah aku katakan. Aku memang mencurigaimu. Sikapmu terlalu baik dan pernyataan-pernyataanmu terdengar aneh dan mengarah” “Kau kira aku tidak curiga terhadapmu? Kau kira kau dapat meyakinkan aku?“ sahut Jlitheng. “He“ Rahu terkejut “Kau tidak dapat mencurigai aku. Orang-orang Sanggar Gading percaya sepenuhnya kepadaku. Bagaimana mungkin kau mencur igai aku?“ Jlitheng termangu-mangu sejenak. Sambil memandang berkeliling ia kemudian berkata “Rumahmu terawat baik dan terlalu bersih buatmu “ “O“ Rahu tertawa semakin keras. Katanya “Aku mengerti. Kau masih saja menganggap aku seorang penjahat yang kotor, kasar dan liar. Seharusnya rumahku adalah rumah yang berserakkan, penuh dengan berjenis-jenis senjata pembunuh. Debu yang melekat drsetiap perabot dan sarang laba-laba yang bergayutan disetiap sudut” Jlitheng mengangguk sambil menjawab “Sebenarnya begitu. Aku tidak akan ingkar. Tetapi yang aku lihat justru berbeda sekali” “Kau harus yakin, bahwa Sanggar Gading bukan sarang penjahat. Kita adalah orang yang bercita-cita meskipun untuk mencapai cita-cita itu kita kadang kadang harus membunuh” desis Rahu bersungguh-sungguh. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Perbedaannya hanya pada tingkat dan landasan. Tetapi baiklah, aku tidak akan bertanya lebih banyak lagi, sehingga akan dapat menambah kecurigaanmu saja” “Sekarang minumlah“ Rahu mempersilahkan. Jlitheng memandang Rahu yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir itu sejenak. Namun kemudian diangkatnya mangkuk ber isi legen itu dan oleh perasaan haus, maka legen itupan diminumnya seteguk demi seteguk, sehingga hampir separo telah dihabiskannya. Rahu yang kemudian duduk pula dlsamping Jlitheng itupun berkata “Istirahatlah sebaik-baiknya disini. Besok kita akan memasuki Sanggar Gading. Mungkin kau belum mengenal sikap dan sifat orang-orang Sanggar Gading terhadap orang- orang yang baru dikenalnya. Mereka membenci orang-orang yang lemah dan berjiwa kerdil. Mereka membenci keragu- raguan. Dan merekapun mempunyai ukuran bagi pendatang- pendatang di padepokan kami” “Apa yang kau maksud?“ bertanya Jlitheng. “Beberapa orang kadang-kadang tidak yakin akan kemampuan orang-orang baru yang datang ke padepokannya. Ada semacam keinginan untuk menjajagi mereka yang baru dikenal itu” “Apakah itu akan berlaku juga terhadapku?“ bertanya Jlitheng. “Mungkin sekali” jawab Rahu. “Cempaka dan kau pernah melihat, bahwa aku mempunyai kemampuan yang cukup” berkata Jlitheng kemudian. “Aku dan Cempaka yang sudah melihatnya. Tetapi yang lain belum. Aku tidak tahu, apakah Cempaka pernah mengatakan kepada mereka, bahwa kau mempunyai beberapa kelebihan. Tetapi jika ia tidak mengatakan apa-apa, maka kau akan mengalami” Jlitheng tertawa Katanya “Apapun yang akan aku alami, aku tidak peduli Aku adalah seorang petualang yang menyenangi pengalaman, yang aneh-aneh di dalam hidup ini. Tetapi yang perlu kalian ketahui, aku tidak ingin bergabung dengan orang-orang Sanggar Gading. Jika aku datang maka aku adalah Bantaradi. Aku yang tetap berdiri atas kehendak dan kepribadianku sendir i” Rahu tertawa. Katanya “Kau benar-benar orang aneh. Sombong, tetapi ragu” Jlitheng tertawa pula. Jawabnya “Kau mempunyai penilaian yang salah terhadapku. He, apakah kau juga ingin menjajagi kemampuanku” “Sebenarnya begitu. Aku ingin melakukannya. Tetapi diluar rencanaku, aku sudah menyaksikan lebih jelas dan meyakinkan dari yang aku lihat di malam hari itu. Kau sudah melawan tiga orang gegedug di padukuhan ini, meskipun dengan penuh keragu-raguan” “Karena sumber persoalannya adalah seorang perempuan” jawab Jlitheng. Pembicaraan mereka terputus, ketika seorang laki-laki muda masuk lewat pintu butulan. Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap, berdada bidang dan berpandangan sangat tajam. “Ini adikku” berkata Rahu sambil menunjuk anak muda yang berhenti sebentar, mengangguk sambil tersenyum. Namun kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah bilik di ruang dalam itu. “Luar biasa” desis Jlitheng “adikmu mempunyai tubuh seorang raksasa. Wajahnya mempunyai kesan tersendiri, la tentu seorang yang cukup cerdas” “Kau memuji. Tetapi aku kira ia tidak lebih muda dari kau sendiri Bantaradi?“ Jlitheng menarik nafas sambil memandang pintu bilik yang masih terbuka. Tetapi ia tidak melihat anak muda bertubuh raksasa itu. “Apakah adikmu juga mempunyai sangkut paut dengan orang-orang Sanggar Gading?“ bertanya Jlitheng. “Sudah tentu. Tetapi tidak langsung. Orang-orang Sanggar Gading mempunyai ikatan yang sangat ketat, sehingga tidak seorangpun diantara kami yang dapat melepaskan diri dari ikatan, apabila kami sudah memasukinya, maka adikkupun telah terpercik pula pengamatan yang ketat, sehingga ia tidak akan dapat membocorkan rahasia yang diketahuinya, karena ia adalah adikku” “Siapakah yang dapat mengawasinya? Ia berada di tempat yang terpisah dari padepokan Sanggar Gading” “Aku adalah pengawasnya yang paling cermat” Jlitheng mengerutkan keningnya sejenak. Lalu “Keluarga ini memang aneh. He, apakah kau mempunyai anak isteri?“ “Tidak. Aku tidak mempunyai keluarga lain kecuali adikku” “Ia tidak pantas menjadi adikmu” Sebelum Jlitheng melanjutkan, Rahu telah memotongnya “Kau mulai curiga lagi. Kau dapat berbicara tentang apa saja. Tentang kebiasaanku, tentang rumahku dan tentang adikku. Tetapi jika hal itu kau katakan diantara orang-orang Sanggar Gading yang tidak pernah menghiraukan hal itu. mereka akan mulai berpikir. Mereka akan mulai mencari-car i sebab dan mereka akan mencur igaiku lebih dari kecur igaanmu” “Apakah ini satu permintaan?“ bertanya Jlitheng. “Tidak. Seperti kau juga tidak minta agar aku tidak mengatakan kecur igaan-kecur igaanku terhadapmu. Kau menyerahkan hal itu kepadaku. Akupun tidak akan mencegah apa yang akan kau katakan kepada orang-orang lain di Sanggar Gading itu” Jlitheng tertawa berkepanjangan. Bahkan iapun kemudian berdiri dan melangkah mondar mandar. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat adik Rahu itu keluar dari biliknya dan berdiri di muka pintu setelah sekali lagi ia mengangguk hormat. “Siapakah namamu?“ bertanya Jlitheng kepada adik Rahu itu. Anak muda itu memandang kakaknya sejenak. Ketika kakaknya mengangguk iapun menjawab “Namaku Rahsa Semi” “He “ Jlitheng mengerutkan keningnya “Rahsa Semi. Nama yang aneh” Sekali lagi Rahu memotong “Jauh berbeda dengan namaku. Dan kau mencur igainya lagi. Tetapi aku dapat menjelaskan, orang tuaku memang sesukanya saja mengambil nama tanpa pertimbangan-pertimbangan apapun juga. Dan nama itu memang aneh-aneh, seperti namaku juga. Sehingga aku lebih senang memakai nama yang lain” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian ter senyum. Katanya “Nama yang bagus sekali” Tetapi Rahu masih saja berkata “Apapun dapat kau cur igai disini. Nama, keadaan. dan isi rumah, sikap dan ketapa kau tidak. mempersoalkan, kenapa adikku bertubuh tinggi besar melampaui kebanyakan orang, sementara aku sendir i tidak?“ Jlitheng tertawa. Ia melihat adik Rahu yang bernama Rahsa Semi itu juga tersenyum. Namun iapun kemudian berkata “Maaf, aku harus pergi ke sawah” Ketika anak muda bertubuh raksasa itu telah keluar dari ruangan, maka Jlithengpun berkata “Bukan mencur igai, tetapi aku benar-benar heran melihat sikap adikmu. Ia adalah anak muda yang sopan. Jauh berbeda dengan isi padukuhan ini dalam keseluruhan, termasuk kau sendiri” Rahu akan menjawab. Tetapi ia sudah tertawa lebih dahulu. Disela-sela tertawanya ia berkata “Baiklah, apapun nampak aneh dalam pandangan matamu. Sekarang, lupakan semuanya. Kau adalah tamuku. Besok kita akan bersama- sama pergi ke padepokan Sanggar Gading. Tetapi sebelum kau terperosok ke dalamnya, biarlah aku memberi tahukan kepadamu, bahwa orang-orang yang sudah ada di dalam dinding padepokan, sukar untuk dapat keluar lagi” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun katanya “Aku seorang petualang. Aku sudah banyak dan masih selalu ingin mengalami peristiwa yang dapat mengisi hidup ini dengan pengalaman-pengalaman yang menarik” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Jika kau merasa letih, beristirahatlah. Marilah, aku tunjukkan bilik untukmu” Jlitheng tidak menjawab. Iapun kemudian mengikuti Rahu ke gandok sebelah kir i, yang disekat oleh sebuah longkangan kecil dengan rumah induk. “Beristirahatlah. Nanti, saatnya makan, kau akan aku berltahu. Sekarang biarlah aku menyediakannya untukmu. Adikku tentu sudah masak” berkata Rahu. “Ternyata adikmu orang luar biasa. Ia pandai juga masak, selain agaknya pandai juga dalamolah senjata” sahut Jlitheng. “Kami hanya berdua. Kami harus dapat melakukan apa saja. Sementara aku lebih banyak berada di padepokan Sanggar Gading daripada di rumah ini” jawab Rahu, lalu “Beristirahatlah. Akupun akan beristirahat setelah melakukan kerja yang sangat menjemukan. Menunggumu di gardu itu” Ketika Rahu kemudian meninggalkan Jlitheng seorang diri, maka J lithengpun mulai melihat-lihat isi bilik yang diperuntukkan baginya. Ia masih saja merasa heran, bahwa rumah itu nampak bersih dan teratur. Perabot-perabotnya nampak terawat dan mapan. Ia sama sekali telah membuat bayangan yang salah tentang orang yang bernama Rahu itu. Ketika orang itu mengajaknya singgah, maka yang terbayang adalah sebuah rumah yang kotor dam perabot yang kasar, serta berbagai macam senjata melekat didinding silang melintang. Tetapi yang dijumpainya adalah rumah yang lain sama sekali. “Rumah ini benar-benar mencurigakan” katanya di dalam hati adiknyapun mencurigakan. Kecuali nama maka kedua orang itu sama sekali tidak mempunyai persamaan ujud dan bentuk” Namun akhirnya Jlitheng tidak menghiraukannya lagi. Ia memang merasa lelah, setelah bertempur melawan tiga orang yang dianggap orang-orang terbaik dari padukuhan yang aneh itu. Karena itu, maka iapun kemudian melepas pedangnya dan meletakkan dipembar ingan ketika iapun kemudian berbaring juga. Tetapi Jlitheng sama sekal tidak ingin tidur. Ia merasa tempat itu sebagai tempat yang aneh. Tempat yang nyaman, tenang dan sejuk, tetapi justru karena itu, tempat itu merupakan tempat yang mencurigakan. Untuk beberapa saat Jlitheng berbaring diam. Namun angan-angannya sajalah yang mengembara ke tempat yang jauh. Kadang-kadang kembali ke Bukit Gundul yang selalu diawasi oleh Daruwerdi. Bukit berhutan yang dihuni oleh dua orang ayah dan anak perempuannya. Seorang gadis yang aneh juga menurut pandangan Jlitheng. Seorang gadis yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang dapat mengimbangi ilmunya sendiri. “Mungkin akulah yang masih jauh ketinggalan dar i antara orang-orang yang disebut berilmu” berkata Jlitheng di dalam hatinya “karena itu, agaknya bekalku masih kurang sekali untuk melakukan tugas yang berat ini” Kebanggaan-kebanggaan kecil dar i kemenangan- kemenangannya atas orang-orang yang tidak berarti, tidak dapat memberinya takaran tentang kemampuannya. Orang- orang Kendali Putih, orang-orang padukuhan itu, dan mungkin beberapa orang yang lain justru akan dapat memberikan takaran semu tentang dirinya sendiri. Diluar sadarnya, Jlitheng meraba ikat pinggangnya. Ia mempunyai sejenis senjata yang dapat dipergunakannya untuk melindungi dir inya jika ia terpaksa melawan beberapa orang sekaligus. Paser-paser kecil yang dibawanya itu mempunyai arti tersendiri baginya, disamping pedang tipisnya yang mempunyai kemampuan tidak kalah dengan segala jenis pedang. Bukan saja tajamnya yang mampu menebas putus kapas yang mengapung diudara dengan ayunan lamban, tetapi pedang itu juga merupakan pedang yang kuat sekali. “Aku akan memasuki daerah pengalaman yang mendebarkan” berkata Jlitheng kemudian “Tetapi aku tidak boleh melepaskan kesempatan ini. Mungkin jalan ini akan membawa aku kembali ke bukit gundul itu, dan menghadapi persoalan-persoalan baru yang mendebarkan, tetapi yang dapat memberikan jalan menuju kesasaran“ Jlitheng bangkit dan duduk dibibir ambennya ketika ia mendengar langkah mendekati pintu. Ketika kemudian pintu bergerit, dilihatnya Rahu berdir i sambil tersenyum. Katanya “Makanlah. Jangan takut bahwa aku akan meracunmu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia membenahi pakaiannya, ikat kepalanya dan dipungutnya pedangnya dan dikenakannya di lambungnya. “Kau seperti akan berangkat kemedan perang” berkata Rahu. “Inilah sikap seorang petualang sejati” jawab Jlitheng Rahu tertawa. Dipandanginya Jlitheng dari ujung kakinya sampai ke ujung ikat kepalanya. Katanya “Kau seorang petualang sejati. Seorang petualang yang sangat berhati-hati menghadapi keadaan yang tidak kau kenal dengan baik” “Apakah kau bermaksud mengatakan bahwa aku seorang pengecut?“ bertanya Jlitheng. Rahu tertawa semakin keras. Jawabnya “Kau mudah tersinggung. Seorang yang senang berkelakar tidak boleh mudah tersinggung. Ada bedanya antara seorang pengecut, seorang penakut dan seorang yang berhati-hati. Dan kau termasuk orang yang sangat berhati-hati Bukan seorang pengecut atau penakut” Jlitheng tidak menjawab. Tetapi iapun tersenyumpula. “Marilah. Adikkulah yang masak hari ini Aku hanya menyiapkan saja di amben dalam” Jlitheng yang dikenal oleh Rahu bernama Bantaradi itupun kemudian mengikutinya melintasi longkangan sempit menuju ke ruang dalam. Diatas sebuah amben yang lebar telah terhidang nasi dan lauk pauknya. Di dalam sebuah tenong yang tidak begitu berat terdapat berbagai macam lauk kering. Ikan air yang digoreng dengan tepung beras. Kacang dan kedele hitam. Sedang di dalam mangkuk terdapat sayur basah kacang panjang dan seonggok kulupan dedaunan. “Makanlah. Adikku yang tidak setiap hari dapat masak, telah menyediakan lauk yang dapat disimpan sampai sepekan” berkata Rahu sambil menunjuk tenangnya. Jlitheng mengangguk-angguk. Ia tidak mau mengecewakan Rahu. Karena itu, maka iapun makan seperti Rahu. Lahap sekali. Apalagi ketika Rahu kemudian berkata “Jika kau ragu- ragu, biarlah aku mengambil dahulu” Jlitheng hanya tersenyum saja. Sementara itu tangannya menyuapi mulutnya tiada henti-hentinya. Sebenarnyalah bahwa Jlitheng yang letih itu juga lapar. Karena itu, maka nasi hangat itu telah menumbuhkan seleranya. Malam itu, Jlitheng bermalam di rumah Rahu. Ketika ia kemudian kembali ke biliknya, ia masih mendengar suara Rahu yang bercakap-cakap dengan adiknya tentang air di sawah. Kemudian tentang rumput bagi kuda di kandang, termasuk kuda Jlitheng. Lamat-lamat Jlitheng masih mendengar Rahu berkata “Siapkan makan kami pagi-pagi benar. Kami. akan berangkat sebelum matahari terbit” “Ya kakang” jawab Semi. “Anak muda yang baik” berkata Jlitheng di dalam batinya. Namun kemudian “Tetapi aku tidak boleh terpedaya melihat sikapnya dan melihat keadaan rumah ini. Mungkin rumah ini bukan rumah Rahu yang sebenarnya. Mungkin di belakang keduanya ada orang lain yang menyiapkan segala sesuatu” Ternyata bahwa Jlitheng tidak dapat melepaskan diri dari kecurigaannya. Karena itu, maka ketika ia akan membar ingkan dirinya dipembaringan, iapun telah menyelarak pintu biliknya. Kemudian memperhatikan setiap sudut bilik itu. Namun menurut pengamatannya, tidak ada sesuatu yang mencur igakan di dalambilik itu. Karena itu maka Jlithengpan kcmudan membaringkan dirinya. Tetapi pedangnya tetap d sisinya, demikian pala ikat pinggangnya yang digantungi dengan paser-paser kecil. Ternyata malam itu dilaluinya tanpa terjadi sesuatu. Orang- orang padukuhan itu tidak mendendamnya dan tidak beramai- ramai mengepung rumah Rahu yang termasuk orang yang disegani pala. Rahu yang menyebut dir inya Iblis bertangan Petir dan adiknya itupun tidak berbuat apa-apa pula atasnya. - Menjelang dini hari, Jlitheng sudah bangun. Setelah memperhatikan keadaan dengan seksama, maka iapun kemudian keluar sambil menj inj ing pedangnya langsung menuju ke pakiwan. Ketika ia keluar dari pakiwan ia melihat Rahu berjongkok sambil berselimut kain panjang. “Kau sudah mandi?“ bertanya Rahu, “Bukankah kita berangkat pagi-pagi sebelum matahari terbit?“ sahut Jlitheng. “Aku bermaksud demikian” Rahu mengangguk-angguk ”tetapi ini masih sangat pagi” “Lebih baik bersiap lebih awal” sahut Jlitheng. Namun iapun kemudian merasa bahwa Rahu tersenyum- senyum sambil memandang pedangnya. Tetapi Jlitheng tidak peduli. Ia berjalan menuju gandok sambil menjinj ing pedangnya itu. Di gandok, iapun segera berpakaian selengkapnya. Pedang di lambung dan diper iksanya sekali lagi paser-paser kecilnya Ternyata tidak ada sebuahpun yang kurang. Sambil memperhatikan keadaan di sekeliling ia bergumam di dalam liati “Tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam bilik ini ketika aku di pakiwan” Setelah selesai berkemas maka Jlithengpun duduk di amben pembar ingannya sambil menunggu. Ia tahu bahwa Rahu akan memanggilnya, makan pagi dan kemudian baru berangkat, karena ia mendengar percakapan Rahu dengan adiknya semalam. Ternyata dugaannya benar. Sejenak kemudian, maka Rahupun memanggilnya. Dipersilahkannya ia makan bersama Rahu. Kemudian bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan padukuhan yang aneh itu. Di halaman dua ekor kuda sudah siap. Namun Jlitheng masih memeriksa kudanya dengan teliti. Dilihatnya telapak dikaki kudanya dan ditelitinya pelananya. Baru kemudian ia berkata kepada Rahu “Aku sudah siap“ “Kita akan segera berangkat” berkata Rahu. Lalu katanya kepada adiknya “Kau di rumah saja. Jaga rumah ini baik-baik. Jangan terlalu banyak berhubungan dengan orang-orang padukuhan Tetapi terserah kepadamu jika kau pada suatu saat dipaksa untuk menjaga harga diri atau bahkan keadaanmu dalam keseluruhan” Adiknya mengangguk. Anak muda bertubuh raksasa itu nampak kokoh kuat. Agaknya iapun seorang yang trampil dan trengginas, meskipun tubuhnya tinggi dan besar. Demikianlah, maka sejenak kemudian Jlitheng dan Rahu pun meninggalkan rumahnya menjelang matahari terbit di ujung Timur. Ketika Rahu dan Jlitheng yang dikenal bernama Bantaradi itu menyusuri jalan-jalan padepokan, beberapa orang sudah berada dihalaman meskipun masih remang-remang. Suara sapu lidi terdengar disebelah menyebelah jalan. Dalam keadaan yang demikian, padukuhan itu tidak ada bedanya dengan padukuhan-padukuhan lain yang pernah dikenal oleh Jlitheng. Desir sapu lidi, derik senggot timba dan sekali-kali tangis anak-anak mencari ibunya yang sedang ke pakiwan, member ikan kesan yang tenang. Namun jika matahari telah naik, maka padukuhan itu akan di sibukkan oleh perselisihan- perselisihan yang kadang-kadang berkepanjangan tanpa arti sama sekali. “Padukuhan ini adalah padukuhan yang paling gila yang pernah aku lihat” desis Jlitheng tiba-tiba “Tetapi ada juga orang yang kerasan tinggal disini. Bahkan, ada orang dari tempat lain justru memilih tinggal di tempat yang gila ini” Rahu tersenyum. Katanya “Kau akan dapat merasakan kesenangan tersendiri disini. Apalagi kau yang memiliki kemampuan melampaui kebanyakan orang. Bahkan tiga orang gegedug yang bertempur bersama-sama tidak mampu mengalahkanmu” “He, begitukah sikap dan pandangan kalian terhadap kehidupan? Siapa yang menang akan memiliki peluang yang banyak untuk berbuat apa saja, termasuk merebut istri orang?“ Rahu tertawa. Katanya “Tidak seluruhnya gambaranmu benar. Tetapi sebagian memang deinikian” “Jika demikian, kenapa kau tidak mencari perempuan yang paling cantik dan kau jadikan isterimu?“ bertanya Jlitheng. Rahu tertawa semakin keras. Katanya “Mungkin aku akan dapat berbuat demikian. Tetapi apakah artinya seorang perempuan yang berada di rumahku hanya wadagnya saja, tanpa hatinya? Selebihnya, aku tidak ingin dikisruhkan dengan tanggungan-tanggungan semacam itu. Aku lebih senang sendiri. Sementara adikku dapat menguras dir inya sendiri” Jlitheng mengerutkan keningnya. Sikap itupan aneh bagi Jlitheng. Seorang yang hidup dalam lingkungan yang aneh itu masih juga berpikir tentang hati seorang perempuan. Bukan wadagnya. Tanggapan Jlditheng terhadap Rahu menjadi semakin banyak memberikan teka-teki kepadanya. Ada beberapa hal yang sama sekali tidak sesuai bahkan bertentangan dengan dugaannya sebelumnya. Namun demikian ia tidak ingn menunjukkan kecur igaannya yang menjadi semakin besar. Demikianlah mereka meneruskan perjalanan mereka. Di ujung padukuhan seorang yang berpapasan dengan keduanya sama sekali tidak berpaling kearah mereka. “Inilah sikap yang sebenarnya dari orang-orang padukuhan ini. Mungkin sama sekali tidak acuh terhadap orang lain. Tetapi mungkin juga karena tatapan mata sudah cukup alasan untuk dianggap ikut campur dalam persoalan orang lain” desis Jlitheng. Rahu mengangguk. Katanya “Kau cepat mengenali sifat orang-orang padukuhan ini. Mereka mencoba menentang sifat manusiawi yang ingin saling berhubungan dan saling memer lukan” “Dan kau tertarik juga untuk melakukannya” sahut J litheng. Rahu mengangguk lagi. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan iapun kemudian berkata “Lupakan orang-orang padukuhan itu. Kau harus mulai memperhitungkan langkahmu dipadepokari Sanggar Gading” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis “Aku sudah siap, meskipun seandainya Sanggar Gading itu merupakan sarang serigala yang paling buas. Satu dari isi Sanggar Gading sudah aku kenal. Jika orang-orang Sanggar Gading itu pada umumnya seperti kau, maka aku akan memasuki padepokan yang nyaman, bersih dan damai, karena isinya akan selalu berbicara tentang hati. Bukan tentang wadag” “Ah, kau selalu mengada-ada” potong Rahu “Aku mencoba berbuat baik karena, aku adalah tuan rumah. Tetapi di padepokan, aku adalah orang yang lain dari yang Kau kenal di rumahku. Dan kaupun akan menjumpai tata kehidupan yang asing, seperti kau menjumpai tata kehidupan di padukuhanku, meskipun dalam bentuk yang berbeda” Jlitheng. mengerutkan keningnya. Ia harus memperhatikan peringatan itu dengan sungguh-sungguh. Ia harus mempersiapkan dir inya, memasuki sarang serigala liar yang setiap saat akan dapat menerkamnya dari segala penjuru. “Tetapi aku sudah bertekad untuk memasukinya” berkata Jlitheng di dalam hati. Namun seolah-olah Rahu itu mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, sehingga orang yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir itupun berkata “Sekali lagi aku memper ingatkan, orang-orang Sanggar Gading bukan orang yang ragu-ragu. Bukan orang yang penuh dengan belas kasihan dan kasih sayang. Tetapi kami bukan segerombolan perampok dan penyamun tataran sepanjang jalan sepi dan rumah-rumah saudagar. Kami adalah orang-orang yang bercita-cita” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Itulah agaknya maka orang-orang Sanggar Gading berkeras untuk mendapatkari pusaka yang diduga berada ditangan Daruwerdi yang menuntut nilai tukar yang tinggi. Yang agaknya akan dipenuhi oleh orang-orang Sanggar Gading, apapun akibatnya. Tetapi Jlitheng tidak menyahut. Ia mulai merenungi perjalanan yang sedang dilakukannya. Bahkan kemudaan ia bertanya “Apakah padepokan itu masih jauh?“ ”Jangan bertanya begitu. Kau tentu mengenal jalan ke padepokan Sanggar Gading” “Aku tidak tahu” “Kau tentu dapat mengenal cir i-cir i jalur jalan menuju kesebuah padepokan. Apalagi samar-samar kau pernah mendapat petunjuk, dan kau telah menemukan padukuhan pula” “Aku malas berpikir dan mengenali tanda-tanda yang samar karena adai kau. Aku lebih mudah bertanya kepadamu dari pada aku harus mengamati setiap batang pohon dan jejak dijalur jalan ini” Rahu tertawa berkepanjangan Katanya “Kau memang orang yang aneh. Seorang petualang sejati, tetapi juga seorang pemalas sejati” “Aku mengikut kau saja sampai dimanapun” desis J litheng. Rahu masih saja tertawa. Dengan nada datar ia berkata “Seandainya aku pergi kearah yang salah, yang dapat menyesatkanmu ke tempat berbahaya?” “Aku bunuh kau. Bukankah kau sendiri yang mengatakan, bahwa aku mempunyai kelebihan darimu. Aku dapat melawan tiga orang gegedug, sedang kau hanya mampu mengimbangi sebanyak-banyaknya dua orang saja” jawab Jlitheng. Rahu masih tertawa. Jawaban Jlitheng terdengar lucu di- telinganya. Demikianlah, maka keduanya berpacu menyusuri jalan- jalan di tengah-tengah bulak yang panjang. Namun tanah nampaknya tidak tergarap dengan baik. Parit-parit telah kering dan tanggul-tanggulnyapun telah banyak yang rusak. Sementara daerah yang kering nampak gersang dan kekuning kuningan. Hampir diluar sadarnya Jlitheng bertanya “Apakah daerah ini juga memiliki keanehan seperti padukuhanmu?“ “Ada tiga empat padukuhan yang memiliki persamaan sifat. Sebentar lagi kita akan keluar dari daerah yang kau anggapi aneh itu dan memasuki daerah yang hampir tidak berpenghuni. Daerah yang ker ing dan tandus” jawab Rahu. Jlitheng mengangguk-angguk. Ia memang melihat di depannya daerah yang menjadi semakin gersang. Rasa- rasanya gerumbul-gerumbul yang tumbuh disebelah menyebelah jalan menjadi kuning terbakar oleh panas matahari disiang yang terik, dan kedinginan oleh t itik-t itik embun di malam hari. Namun titik-t itik embun itu tidak dapat menyegarkan dedaunan yang semakin kuning dan akhirnya runtuh mengotori jalan yang semakin sempit pula, Beberapa dahan yang kering gun dul bagaikan menggapai-gapai kepanasan dan menggigil kedinginan di malamhar i. “Kita memasuki daerah terpencil” berkata Rahu “Bukankah kau sudah memperhitungkannya?“ Jlitheng memandang jauh kedepan. Padang perdu yang terbentang dihadapannya memberikan kesan yang tersendiri pula, sesudah ia keluar dar i padukuhan yang aneh itu. “Kenapa padepokan Sanggar Gading memilih tempat seperti ini?“ bertanya Jlitheng kemudian. “Kita belum sampai ke padepokan Sanggar Gading” jawab Rahu, namun kemudian katanya “Tetapi bukankah sudah wajar, bahwa kelompok-kelompok yang hidup dengan cara dan cita-citanya yang tersendiri, memilih tempat yang tersendiri pula. Kau tentu dapat membayangkan bahwa dengan demikian kita sudah jauh mengurangi kemungkinan pergeseran dan benturan yang dapat terjadi dengan susunan masyarakat yang sewajarnya. Bukankah kau juga dapat membayangkan, bahwa orang-orang Kendali Putih, orang- orang. Pusparuri dan padepokan di Gunung Kunir juga terpisah dari susunan masyarakat sewajarnya?” Jlitheng mengangguk. Jawabnya “Ya, ya. Aku mengerti. Bukan saja kalian tetapi banyak pula terdapat padepokan yang terasing, karena penghuninya tidak lagi ingin berhubungan terlalu banyak dengan unsur-unsur duniawi. Beberapa orang menganggap dir inya sudah waktunya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga mereka memilih suasana yang sepi dan tenang” Rahu mengerutkan keningnya. Katanya “Kau sengaja ingin mengatakan bahwa yang kami lakukan adalah sebaliknya?” “Jika tanggapanmu demikian, terserahlah” jawab Jlitheng tanpa berpaling. Rahu tidak menjawab. Namun nampak bibirnya tersenyum. Senyumyang tidak dapat dimengerti. Keduanyapun kemudian memasuki daerah gersang itu semakin dalam. Mereka melintasi padang yang ditumbuhi dengan gerumbul-gerumbul perdu yang ke kuning-kuningan. Sekali-kali mereka, melihat seekor dua ekor burung terbang. Namun nampak betapa lesunya. Demikianlah, semakin tinggi matahari naik dilangit, maka panasnyapun menjadi semakin terik. Perjalanan J litheng dan Rahu telah sampai ke daerah yang gersang sama sekali. Batu- batu padas berserakkan disebelah menyebelah jalan setapak. Bahkan yang, mereka jumpaii kemudian adalah ranting- ranting perdu yang tidak berdaun lagi. “Tetapi perdu itu tidak mati“ tiba-tiba saja Rahu berkata seolah-olah ia, mengetahui apa, yang terpikir oleh J litheng. Lalu “Jika hujan mulai jatuh, ranting-ranting itu akan bersemi dan dedaunan akan tumbuh hijau segar. Pada saatnya dedaunan itu akan menguning dan runtuh di musim ker ing” “Daerah yang benar-benar terasing” berkata Jlitheng “jalan ini tentu jarang sekali dilalui orang. Kecuali orang-orang yang tersesat, atau orang-orang Sanggar Gading” “Ya” jawab Rahu “Dan kau sudah memasuki daerah kuasa orang-orang Sanggar Gading. Kau harus mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Padepokan itu sendir i masih jauh. Mungkin menjelang senja kita baru akan sampai. Tetapi di perjalanam ini, kau mungkin sekali akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, justru karena kau orang yang belum dikenal disini. Meskipun Cempaka pernah mengatakan, bahwa ada satu kemungkinan, seseorang akan hadir, dan bahkan menyuruh aku menunggumu di padukuhanku, namun tidak semua orang Sanggar Gading senang akan kedatanganmu. Mereka mencurigaimu dan mungkin mereka tidak yakin, bahwa kau dapat dijadikan lawan yang seimbang, atau kecurigaan-kecurigaan yang lain” Jlitheng mengerutkan keningnya. Nampaknya Rahu tidak sedang berkelakar. Tetapi ia berkata dengan sungguh- sungguh. Karena itu, Jlitheng memang harus berhati-hati. Ia tidak melihat seseorang di padang perdu yang gersang itu. Tetapi peringatan itu agaknya berlaku untuk waktu yang tidak lama lagi. Jika kuda mereka memasuki daerah itu semakin dalam, maka kemungkmankemungkinan itu akan dapat terjadi. Terik matahari terasa semakin membakar tengkuk. Tetapi mereka masih melanjutkan perjalanan. Di bawah sebatang perdu yang masih berdaun cukup lebat, meskipun sudah menjadi kekuning-kuningan, keduanya berhenti untuk member i kesempatan kepada kuda-kuda mereka ber istirahat. “Bantaradi” tiba-tiba saja Rahu berdesis sambil duduk bersandar pohon itu “Aku tidak tahu, kenapa kau tertarik memasuki padepokan Sanggar Gading” Jlithengpun kemudian duduk pula. Pertanyaan itu terdengar aneh di telinganya. Karena itu, maka iapun bertanya pula “Kenapa kau bertanya demikian? Bukankah aku seorang petualang yang seperti aku katakan, ingin melihat segala ini dunia ini meskipun kadang-kadang harus menempuh bahaya? Yang atan dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading agaknya akan sangat menarik. Karena itu, aku ingin mengalaminya meskipun yang akan terjadi itu dapat berbahaya bagi keselamatanku” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berkata dengan sungguh-sungguh “Jika kau terjerat oleh padepokkan itu, maka kau harus menghentikan petualanganmu karena kau akan menjadi salah satu dari patung-patung hidup yang berada di padepokan itu. Kau tidak akan sempat lagi berpikir dan memikirkan rencana-rencanamu lebih jauh. Kau akan menjadi salah seorang dari mereka yang tinggal melaksanakan perintah tanpa mengetahui sebab dan akibatnya. Kecuali Jika kau langsung dapat berdiri pada sederet tataran dengan para pemimpinnya” Jlitheng mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Apakah kau juga tidak sempat berpikir dan berbuat tanpa sadar, sesuai dengan perintah yang kau terima?“ “Aku beruntung untuk mendapat sedikit kepercayaan dari pimpinan Sanggar Gading” jawab Rahu. Jlitheng tertawa. Katanya “Pengalaman yang menar ik sekali. Aku ingin menguj i ketahanan akal dan perasaanku. Jika pada suatu saat aku terperosok ke dalam lingkungan yang demikian apakah aku tidak kehilangan kepr ibadianku” “Jika ternyata kemudian kau t idak lagi mengerti tentang dirimu sendir i?“ bertanya Rahu. “Jika terjadi demikian, ternyata bahwa akal dan perasaanku tidak ada artinya lagi. Dan aku memang sepantasnya menjadi budak-budak yang tidak mengerti akan dirinya sendiri” jawab Jlitheng, Rahu mengangguk-angguk, Katanya “Kau memang keras kepala. Tetapi aku sudah banyak member ikan keterangan kepadamu, “Terima kasih. Tetapi aku tidak tahu, apakah kau sedang menilai kemantapanku, atau karena kau benar-benar ingin menunjukkan isi dari padepokanmu. Aku menganggap hal itu agak mustahil, apalagi jika kau termasuk salah seorang yang mendapat kepercayaan untuk memimpin di Sanggar Gading” berkata Jlitheng kemudian. Wajah Rahu menegang. Katanya “Sikapmu bukan sikap orang-orang Sanggar Gading. Tetapi pada suatu saat, aku adalah salah seorang pemimpin dari Sanggar Gading itu, sehingga akupun dapat bertindak tegas terhadapmu” Jlitheng mulai tertawa lagi sambil berkata “jika demikian, ada kemungkinan yang lain. Kau menjadi cemas, bahwa aku akan dapat menggeser kedudukanmu. Karena itu, kau member ikan kesan yang buruk terhadap Sanggar Gading agar aku mengurungkan niatku untuk datang dan menemui Cempaka” Rahu menegang sejenak. Namun kemudian iapun tertawa “ Tepat. Kau memang memiliki tanggapan sangat tajam. Tetapi yang penting bukan kecemasanku tentang kedudukanku. Aku yakin bahwa aku akan dapat mempertahankannya. Jika kau mengira bahwa aku benar-benar dapat kau kalahkan maka kau keliru. Aku kadang-kadang memang merasa perlu untuk merendahkan dir i” “Untuk apa?“ bertanya Jlitheng. “Sekedar untuk menyenangkan orang lain. Apalagi petualang yang masih memiliki jiwa kekanak-kanakan seperti kau, yang masih merasa senang dan bangga j ika disanjung” Tetapi Jlithengpun tertawa. Katanya “Kau mempunyai bakat untuk menakut-nakut i orang. Ternyata caramu memilih gelar dan sikapmu yang tertutup. Tetapi aku tidak dapat kau takut- takuti dengan cara itu” “Masih ada kesempatan untuk mengetahui, siapakah diantara kita yang memiliki kelebihan sebelum kita memasuki Sanggar Gading” gumam Rahu. “O, jadi kaulah orang yang pertama akan menjajagi kemampuanku. Baiklah. Aku kira, aku tidak berkeberatan” jawab Jlitheng. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Berhati-hatilah. Aku terpaksa memperingatkanmu sekali lagi. Aku melihat bayangan maut merundukmu. Bukan, sekedar mengancam dan menakut-nakuti. Sebenarnya aku tidak berkepentingan sama sekali seandainya mayatmu terkapar disini menjadi makanan burung-burung pemakan bangkai” “Aku tidak mengerti” gumam Jlitheng. Rahu tidak menyahut. Tetapi sekilas pandangan matanya menyambar seonggok batu padas beberapa puluh langkah dari tempatnya berhenti. Diluar sadarnya Jlithengpun ikut memandang kearah batu padas itu. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi tegang. Ia melihat sekilas ujung tombak mencuat dibalik batu padas itu. Namun kemudian ujung tombak itu segera lenyap. ”Apakah artinya?“ desis Jlitheng ”Kau sudah tahu” jawab Rahu. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Rahu benar-benar bermaksud baik terhadapnya. Namun karena itu, ia menjadi semakin heran, terhadap orang aneh itu. Tetapi ia tidak sempat memikirkannya lebih panjang. Sementara itu ia mendengar Rahu bergumam hampir berbisik “Orang dlibalik batu itu memberi isyarat agar aku menjauhimu. Berhati-hatilah” Jlitheng menjadü semakin tegang. Sementara itu ia melihat Rahu berdiri dan berjalan mendekati kudanya yang sedang beristirahat di bawah bayangan dedaunan meskipun sudah mulai menguning. “Dengarkan kata-kataku” desis Rahu kemudian tanpa memperhatikan Jlitheng yang menegang. Sementara itu, dari arah batu-batu padas yang berserakkan, dua orang merunduk mendekati. Jlitheng. Salah seorang dari keduanya tiba-tiba saja meloncat berdir i diarah belakang Jlitheng. Dengan serta merta ia telah melontarkan tombaknya mengarah ke punggung Jlitheng. “Awas, dari arah belakangmu” desis Rahu sambil mengusap leher kudanya. Seolah-olah ia sama sekali tidak menghiraukan apa yang bakal terjadi atas Jlitheng. Jlitheng mendengar peringatan Rahu. Dengan serta meria iapun segera berpaling. Hampir saja ia terlambat, karena tombak itu meluncur demikian cepatnya. Untunglah bahwa Jlitheng masih mempunyai waktu sekejap untuk menjatuhkan diri. Namun segera iapun melent ing berdiri menghadap kepada orang yang telah melemparkan tombaknya. “Pengecut“ geram Jlitheng, kemudian katanya lantang “Jika kalian mempunyai harga dir i, mar ilah. Jangan membunuh dari arah belakang” Tetapi orang yang melemparkan tembak itu tertawa. Katanya “Padang ini adalah padang perburuan. Siapapun boleh memburu lawannya. Lawan yang dikehendakinya meskipun tanpa sebab. Kemudian membunuhnya dan melemparkannya ke sela-sela batu padas di lereng terjal sebelah untuk menjadi makanan burung-burung pemakan bangkai atau anj ing-anjing liar yang berkeliaran“ “Aku tahu” jawab Jlitheng “padang ini adalah padang kematian. Tetapi jika kalian jantan, kita akan berhadapan” Seorang yang lain, yang masih berada dibalik batu padas, segera meloncat pula sambil berteriak “Jangan banyak cakap. Kematianmu akan segera tiba tanpa ada yang menyesalinya. Iblis bertangan Petir telah membawamu ke padang kematian ini. Dan itu berarti bahwa kau adalah orang yang tidak berharga untuk tetap hidup” Jlitheng memandang Rahu sejenak. Tetapi orang itu masih saja mengusap leher kudanya. Agaknva ia sama sekali tidak tertarik pada pertentangan yang sedang terjadi. “Gila“ desis Jlitheng. Tetapi dalam pada itu Jlithengpun mengetahui bahwa sebenarnya Rahu telah berusaha menyelamatkannya, meskipun ia bertanya di dalam hati “Apakah ada jalan lain. yang yang lebih baik dar ipada daerah yang disebut padang kematian ini? Atau ada rencana-rencana khusus dari orang yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir itu?“ Ketika Jlitheng sedang termangu-mangu, maka kedua orang yang semula bersembunyi dibalik batu-batu padas itu pun melangkah mendekat. Yang telah melemparkan tombaknya, telah menggenggam pedang di tangannya. “Ki Sanak” berkata Jlitheng kemudian “Aku tidak mengerti. Apakah kalian bersungguh-sungguh atau sekedar ingin menjajagi kemampuanku saja?“ Terdengar keduanya tertawa meledak. Salah seorang dari keduanya berkata “Kau memang gila. Tidak ada harapan bagimu untuk keluar dari daerah kematian ini. Kami tidak pernah untuk tidak bersungguh-sungguh. Kami akan membunuhmu” Jlitheng berpaling sejenak memandang Rahu yang masih sibuk dengan kudanya. Dengan suara bergetar ia bertanya kepadanya “Rahu. Apakah seharusnya aku membunuh di sini?“ “Itu urusanmu” berkata Rahu. Jlitheng menjadi- semakin gelisah. Tetapi ia sadar, bahwa ia akan dapat benar-benar mati menghadapi kedua orang itu. Ketika salah seorang dari keduanya melemparkan tombaknya, itu bukan sekedar menjajagi. Tetapi tombak itu benar-benar akan dapat mencabut nyawanya, jika Rahu tidak memberinya isyarat. Sekilas terdengar kembal kata-kata Rahu “Orang-orang Sanggar Gading tidak pernah ragu-ragu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Sanggar Gading memang tempat orang-orang gila, Kedua orang itu agaknya memang bersungguh-sungguh ingin membunuhnya. Jlitheng tidak sempat berangan-angan terlalu lama tentang orang-orang Sanggar Gading. Kedua orang yang menggenggam senjata itu semakin lama menjadi semakin dekat. Bahkan tombak yang belum dilemparkan itu sudah merunduk mengarah ke dadanya. “Jangan menyesal” geram salah seorang dari mereka “Kau akan mati. Benar-benar akan mati. Kami tidak ingin melihat orang-orang baru memasuki daerah kami. Yang selama ini apa yang kami dapatkan sudah berangsur susut. Jika padepokan kami masih bertambah-tambah dengan orang-orang baru yang tidak berarti, itu hanya akan menyusutkan bagian kami” “Bagian apa yang kau maksud?“ bertanya Jlitheng tiba-tiba. “Setiap orang dari padepokan kami akan menjadi seorang Adipati. Menurut perbitungani kami, daerah yang akan kami kuasai sudah terlalu sempit. Apalagi jika masih saja ada orang-orang baru yang datang ke padepokan kami Maka daerah kekuasaan kami tidak akan lebih dari satu padukuhan kecil“ Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya “He, apakah kalian sedang bermimpi atau sedang bermain seperti kanak- kanak di terang bulan. Adipati apakah yang kalian maksud?” “Kau memang dungu. Sebelum mati, ketahuilah bahwa Demak akan segera jatuh. Pemimpin kami akan merajai negeri ini. Kami semuanya akan menjadi Adipati dari bang Wetan sampai bang Kulon. Dari Pesisir Kidul sampai Pesisir Lor” Jlitheng tiba-tiba saja tertawa. Ia tidak dapat menahan geli di hatinya. Katanya disela-sela derai tertawanya “kalian benar- benar pemimpi yang menggelikan. Apakah kalian dapat membayangkan daerah seluas Demak sekarang ini?“ “Kenapa tidak” jawab salah seorang dari mereka “meskipun tidak seluas Majapahit, tetapi Demak masih mempunyai kekuasaan sampai keujung Timur Pulau ini. Mungkin daerah di seberang lautan masih harus dinilai kembal. Tetapi angkatan laut Demak harus bangkit sebesar kekuatan armada Majapahit. Kebulatan yang pecah disaat-saat akhir kekuasaan Majapahit tidak boleh terulang kembali” Jliltheng terrnangu-mangu sejenak. Katanya kemudian dengan nada dalam “Darimana kalian mendengar semuanya itu?“ “Jangan memperbodoh kami. Aku adalah putera Sanggapurana, salah seorang prajurit di masa kejayaan Majapahit. Aku tahu apa yang aku lakukan sekarang ini” Jlitheng terkejut mendengar jawaban itu. sehingga tanpa disadarinya ia berdesis “Kau putera seorang prajurit dari kerajaan Majapahit akhir? Jika demikian, kenapa kau tersesat sampai ke padepokan ini?“ “Siapa yang tersesat? Persetan. Jangan banyak bicara. Kau harus mati dan t idak mengotori padepokan kami” Jlitheng termangu-mangu Sekali lagi ia berpaling kepala Rahu. Namun orang itu sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Seolah-olah disekitar Rahu itu sama sekali tidak terjadi sesuatu yang dapat menegangkan urat syarafnya. Dengan demikian Jlitheng tidak lagi dapat mengharapkan pertimbangannya. Ia harus mengambil sikap menghadapi kedua orang itu. yang seorang diantaranya mengaku putera seorang prajurit yang bernama Sanggapurana. Namun dalam pada itu, yang diingat oleh Jlitheng adalah kata-kata Rahu, bahwa tidak seorangpun dari lingkungan Padepokan Sanggar Gading yang ragu-ragu. Ketika ia tidak membunuh gegedug yang merebut istri orang, Rahu mengatakan kepadanya, bahwa ia adalah seorang yang terlalu baik dan ragu-ragu bagi Sanggar Gading. Dan saat itu, Jlitheng telah berhadapan dengan dua orang yang agaknya benar-benar ingin membunuhnya. “Aku tidak boleh ragu-ragu” berkata Jlitheng di dalam hatinya “Dan aku tidak perlu berbaik hati kepada mereka” Karena itu, maka Jlithengpun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Pedang tipisnya digenggamnya. Wajahnya nampak tegang, sedangkan sorot matanya bagaikan menembus dada kedua orang lawannya berganti-ganti untuk melihat isi hati yang sebenarnya dari keduanya. “Apakah mereka sekedar ingin menjajagi, atau benar-benar akan membunuhku “sekali-kali keraguan itu masih saja tumbuh. Namun kemudian tetapi aku tidak boleh ragu-ragu. “Bersiaplah untuk mati karena kebodohanmu. Kau Sudah memasuki daerah yang tidak kau kenal, dan kini berada di padang perburuan yang juga disebut padang kematian” geram orang berpedang yang menyebut dirinya putera Sanggapurana. “Aku sudah bersiap” jawab Jlitheng. Namun ia masih ingin mencoba berbicara “Apakah kalian pernah mendengar apa yang dikatakan oleh Cempaka, tentang aku? Kedatanganku adalah karena undangannya” “Persetan“ geram orang itu “Cempaka t idak akan berbuat apa-apa terhadapku. Dan kau lihat, bahwa Rahu yang dekat dengan Cempaka dalam banyak hal, sama sekali tidak berbuat apa-apa ketika kau sudah berhadapan dengan maut” “Siapa yang berhadapan dengan maut?“ tiba-tiba saja Jlitheng menggeram. Katanya di dalam hati “Aku harus mengimbangi sikap mereka“ Kemudian dengan lantang ia berkata “Jika kalian memang t idak mau mendengarkan kesempatan belas kasihanku, marilah. Kita akan mulai. Padang kematian memang setiap kali harus disiram dengan darah. Bukan saja darah para pendatang yang kalian anggap akan mendesak kedudukan kalian, tetapi juga darah orang-orang lama yang sudah tidak berarti lagi untuk diganti dengan mereka yang lebih baik dan berilmu” Kedua orang itu tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja orang berpedang itu meloncat menyerangnya. Pedangnya terayun mendatar menebas lambung. Tetapi Jlthangpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia masih sempat meloncat surut. Namun demikian ia berjejak diatas tanah, maka ia harus meloncat sekali lagi, karena ujung tombak lawannya yang lain telah mengejarnya. Namun ketika, serangan berikutnya mematuk dadanya. Jlitheng telah siap untuk menangkis, bahkan dengan satu putaran ialah yang kemudian meloncat menjulurkan ujung pedang tipisnya. Tetapi lawannyapun cukup cepat. Ia sempat menghindar. Ketika Jlitheng siap memburunya, lawannya yang lain telah menyerangnya dari arah lambung. Setapak Jlitheng bergeser. Dengan tangkas ia memukul senjata lawannya, sehingga arahnyapun telah meleset jauh dari tubuhnya. Pada pertempuran yang terjadi, seperti juga yang pernah dilakukan, Jlitheng merasa sangat berterima kasih, bahwa ia telah mendapatkan sebilah pedang tipis. Pedang yang ringan, tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Sementara ketajamannya tidak kalah dengan pedang yang manapun juga. Dalam pada itu, maka pertempuran di padang kematian itupun semakin lama meningkat semakin sengit. Kedua orang yang berusaha untuk membunuh Jlitheng itupun ternyata memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Namun ternyata mereka menghadapi anak-anak muda yang benar- benar telah bersiap melakukan petualangan yang sudah diperhitungkan akan sangat berbahaya bagi dir inya. Dalam pada ita, ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, Rahu ternyata tertarik juga untuk menyaksikannya. Iapun kemudian duduk bersandar sebuah batu padas yang besar sambil menilai keadaan. Sejenak wajahnya menjadi tegang. Namun kadang-kadang dampak ia tersenyum cemas. Bahkan kadang-kadang ia menghentakkan jari-jarinya pada lututnya. Agaknya ia benar- benar telah dicengkamoleh peristiwa yang dihadapinya. Ternyata bahwa kedua orang Sanggar Gading itu benar- benar telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Seperti yang dikatakan olah Rahu, maka orang-orang Sanggar Gading benar-benar bukan orang yang banyak mempunyai pertimbangan. Mereka sama sekali tidak ragu. Senjata mereka menyerang silih berganti, seperti datangnya ombak di pesisir. Susul menyusul tidak henti-hentinya” Namun Jlithengpun memiliki kemampuan bergerak seperti burung sikatan. Kakinya semakin lama menjadi semakin ringan. Bahkan ketika ia sudah sampai ke puncak kemampuannya, maka kakinya itupun seolah-olah tidak lagi berjejak dialas tanah. Tubuhnya seakan-akan tidak lagi dibebani oleh berat yang menggantunginya. “Bukan main” desis Rahu di tempat duduknya “anak muda itu memiliki kelebihan dari orang-orang yang pernah akui kenal” Sebenarnyalah bahwa latihan-latihan, yang berat telah membuat Jlitheng menjadi anak muda yang berilmu tinggi. Ia pernah membunuh sengaja atau tidak sengaja, orang-orang yang dengan maksud jahat telah datang kesekitar Sepasang Bukit Mati. Dan kini ia berhadapan dengan dua orang dari Sanggar Gading. Rahu yang duduk menyaksikan pertempuran itu semakin lama menjadi semakin tegang. Ia tahu, bahwa kedua orang kawannya tidak akan dikekang oleh keragu-raguan. Bagi orang-orang Sanggar Gading, maka para pendatang yang tidak dapat menembus kedengkian hati beberapa orang diantara mereka, memang tidak pantas untuk memasuki padepokannya. Orang yang demikian memang lebih baik mati dan dibuang di lembah kerangka yang terletak di ujung padang kematian itu. Namun Rahupun menjadi berdebar-debar ketika ia melihat sikap Jlitheng dalam perkelahian itu. Agaknya anak muda mengerti bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang tidak pernah ragu-ragu menghunjamkan senjatanya. Ternyata bahwa Jlitheng yang dikenal bernama Bantaradi itupun nampaknya sama sekali tidak ragu-ragu lagi. Sebenarnyalah Jlitheng yang harus bertempur melawan dua orang itu tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha mengurangi tekanan lawan. Karena itu, maka iapun telah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk melumpuhkan lawannya, seorang demi seorang. Itulah sebabnya, maka Jlitheng telah memilih orang yang paling lemah dari keduanya, Jlitheng telah mempergunakan setiap kesempatan untuk mengarahkan senjatanya kepada orang yang lebih lemah. Orang yang masih menggenggam tombaknya. Kadang-kadang orang itu menjadi bingung menghadapi kecepatan bergerak Jlitheng. Jika kawannya terlambat menolongnya dengan serangan-serangan yang gawat maka nampak orang itu mengalami kesulitan untuk menangkis atau menghindari serangan Jlitheng yang datang bagaikan badai. Dalam pada itu, Rahu menjadi semakin berdebar-debar. Ia sudah pernah mengatakan kepada orang yang dikenalnya bernama Bantaradi itu, bahwa orang Sanggar Gading selalu bertindak tegas, tidak ragu-ragu dan tidak akan berbaik hati terhadap lawan-lawannya. “Anak muda itu memang anak yang luar biasa” desisnya. Dan iapun mulai membayangkan, bahwa kedua orang itu pada akhirnya tentu akan menjadi korban kedengkiannya sendiri. Yang dilakukan oleh kedua orang itu bukannya untuk yang pertama. Bahkan masih ada beberapa orang dengan alasan, agar Sanggar Gading tidak menjadi sarang betina, telah melakukan pencegatan bagi orang-orang yang akan memasuki Sanggar Gading. Karena hal itu tidak pernah di persoalkan, maka mereka menganggap hal itu adalah hal yang sangat wajar. Ketika perkelahian itu meningkat semakin seru, maka tiba- tiba saja Rahu mengerutkan keningnya. Ia melihat seekor kuda berpacu melalui jalan setapak di padang yang gersang itu. Debu yang kelabu terlempar di belakang kaki kuda itu membubung ke udara. Namun angin yang lemah telah meniupnya sehingga pecah berpencar bersama endeg pangamun-amun. Rahu mengerutkan keningnya. Ia melihat seorang lagi dari orang-orang Sanggar Gadang yang datang. Seorang yang memiliki kelebihan dari beberapa orang kawannya. “Jika ia langsung melibatkan diri, keadaannya tidak akan berimbang” berkata Rahu di dalam hatinya. Dan iapun tidak ingin terjadi pembantaian di padang kematian itui Jika setiap pendatang harus melawan orang yang tidak dibatasi jumlahnya, maka yang terjadi bukannya pendadaran. Tetapi benar-benar pembunuhan oleh dengki dan kecemasan bahwa kedudukan mereka di Sanggar Gading akan terdesak atau kecemasan bahwa kemungkinan bagi setiap orang yang semakin dipersempit. “Dan yang terjadi hampir seluruhnya tidak dapat dibenarkan” berkata Rahu di dalam hatinya. Meskipun Rahu sendiri tidak pernah melakukan pence- gatami dan pencegahan bagi orang-orang baru yang akan memasuki Sanggar Gading, namun ia sudah sering melihat kegagalan beberapa orang yang ingin menyatakan dir inya bergabung dengan orang-orang Sanggar Gading. “Tetapi kebanyakan dari mereka, pada lapis yang pertama dari kedengkian itu, mereka sudah runtuh” berkata Rahu. di dalam hatinya. Kemudian sambil melihat Jlitheng ia berkata “tetapi anak ini agak lain. Kedua orang itu akan menyesal atas sikapnya. Namun demikian orang yang datang berkuda itu sangat mencemaskannya. Rahu tidak dapat berdiam diri j ika tiba-tiba saja orang itu langsung melibatkan diri bersama kedua orang yang terdahulu. Jika demikian, maka Jlithengpun tentu akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Cempaka, Karena itu, maka Rahupun segera berusaha menarik perhatian orang berkuda itu. Iapun kemudian bangkit, berdiri sambil menggeliat dengan mengangkat kedua tangannya. Ternyata orang berkuda ini melihatnya. Karena itu, iapun tertarik untuk mendekatinya sebelum ia langsung menuju kearena. Derap kaki kuda itu berhenti beberapa langkah disebelah Rabu. Penunggangnya, seorang yang bertubuh kekar meskipun tidak terlalu tinggi, meloncat turun sambil berdesis “Siapa yang memasuki daerah maut itu?“ “Orang yang diundang oleh Cempaka” sahut Rahu. Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu “Tetapi ia telah mengalami pendadaran. Apakah kedua orang itu tidak tahu. bahwa orang itu diundang oleh Cempaka” “Mereka mengetahuinya. Tetapi seperti yang selalu mereka lakukan” jawab Rahu. “Jikai ia bukan tamu Cempaka, aku akan membunuhnya” Orang bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia memperhatikan perkelahian itu. Namun kemudian Katanya “Gila. Orang itu memiliki kelebihan dari kita semuanya. He, apakah kau melihatnya?“ “Bukan orang itu yang memiliki kelebihan, tetapi kedua kawan kita memang tidak lebih dar i kelinci-kelinci tidak berarti” jawab Rahu. Orang bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Lalu “Dan kau-sejak tadi berada disini?” “Aku datang bersama orang yang bernama Bantaradi itu” jawab Rahu “Aku diperintahkan oleh Cempaka untuk menunggunya di padukuhanku, diluar padang kematian ini” “Tentu maksudnya agar kau membawanya menyeberang dengan selamat sampai ke padepokan“ Rahu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya “Tidak ada orang yang dapat mencegah apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang dengki dan iri hati itu. Biarlah mereka mengalami seperti yang pernah dialami olah orang orang yang memasuki daerah ini” “Maksudmu?“ bertanya orang berkuda itu. “Bukan hanya orang-orang yang tidak berguna yang ingin memasuki daerah ini sajalah yang sebaiknya disingkirkan ke lembah kerangka, tetapi penghuni Sanggar Gading yang tidak berarti itupun per lu disingkirkan” “Rahu, apakah kau sudah mulai dihinggapi penyakit gila? Kau kira apa yang dilakukan oleh orang-orang itu sekedar kedengkian dan iri hati? Tidak. Akupun akan melakukannya. Bukan karena kedengkian dan iri hati. Tetapi aku memang tidak ingin melihat orang-orang tidak berarti memasuki padepokan kami. Mereka hanya akan memusuhi setiap setiap ruangan tanpa memberikan arti apa-apa” “Aku mengerti. Kau menolak anggapan itu karena kau juga selalu melakukannya. Tetapi baiklah, seandainya yang kalian lakukan itu benar-benar bukan karena kedengkian dan ir i hati. Tetapi benar-benar ingin mengurangi jumlah orang-orang yang tidak berarti. Kenapa kau tidak pernah memikirkan untuk melakukannya pula atas orang-orang yang sudah menjadi penghuni Sanggar Gading” “Kau benar-benar sudah menjadi gila. Bukankah mereka sudah ikut serta dalam suka dan duka selama bertahun-tahun. Seandainya mereka tidak berarti sama sekalipun, mereka harus kita anggap sebagai orang-orang yang berarti bagi kita” Rahu tertawa. Katanya “Itu pikiran kerdil. Sejak kapan kau menjadi seorang yang mengenal budi. Aku tidak menghiraukannya lagi. Yang masih perlu kita pergunakan, marilah kita pergunakan. Yang akan mati biar lah mati dalam ketiadaan arti. Seperti kedua orang yang telah mencegat Bantaradi itu. Merekapun akan mati. Dan aku tidak berkeberatan, karena keduanya memang tidak berarti” “Kau sudah kehilangan akal. Keduanya orang-orang yang pernah berbuat sesuatu bagi Sanggar Gading. Keduanya adalah orang yang berani dan mempunyai arti yang besar bagi kita” “Tetapi kaku mereka terbunuh oleh Bantaradi, itu berarti bahwa Bantaradi adalah orang yang lebih berarti bagi kita” Orang bertubuh kekar itu menggeram. Katanya “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Kau sudah bingung dan tidak mengenal lagi kawan-kawan kita sendiri” “Jangan hiraukan. Biar lah yang terjadi itu terjadi” Orang bertubuh kekar yang datang berkuda itu termangu-mangu. Sejenak ia memandang medan yang menjadi semakin baur oleh debu yang berhamburan. Ternyata perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. “Orang itu memang luar biasa. Ja mampu melawan kedua orang itu dengan sangat meyakinkan. Aku kira ia akan menang” “Biar lah ia menikmat i kemenangannya. Biarlah ia memasuki Sanggar Gading dan menemui Cempaka” Orang yang datang berkuda itu termangu-mangu. Wajahnya menjadi tegang, dan kadang-kadang ia menggeretakkan giginya melihat perkelahian yang semakin sengit Dalam pada itu, Jlitheng benar-benar telah berhasil mendesak kedua orang lawannya. Meskipun ia masih harus selalu berhati-hati, tetapi ia melihat kemungkinan telah terbuka baginya. Kedua orang lawannya telah kehilangan banyak tenaga, sehingga perlawanan mereka telah menyusut. Yang dapat mereka lakukan, sebagian terbesar hanyalah bergeser sambil meloncat menjauh Tetapi mereka tidak mampu lagi menyerang dengan garang. Meskipun kadang- kadang masih terdengar keduanya berteriak nyaring, tetapi teriakan-teriakan itu sama sekali sudah tidak berarti. Jlitheng bertempur semakin garang. Pedangnya yang ringan itu menyambar-nyambar diseputar kedua lawannya, seakan-akan mengejar mereka kemanapun mereka pergi, meskipun keduanya sudah berusaha berpencar. Sementara itu, orang yang datang berkuda itupun menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian seolah-olah diluar sadarnya ia bergumam “Orang itu memang harus dibunuh” “Kau sudah kehilangan nalar. Bukan aku. Jika niat mereka untuk mencegah orang-orang yang tidak berarti memasuki Sanggar Gading, maka orang itu bukannya orang yang dimaksud. Ia dapat bertahan dan menjaga dir inya. Karena itu ia berhak memasuki Sanggar Gading dan bertemu dengan Cempaka” Orang bertubuh kekar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau mendapat pesan dari Cempaka untuk menyelamatkannya?“ “Tidak, ia telah menyelamatkan dir inya sendiri. Dan karena itu ia berhak memasuki Sanggar Gading” jawab Rabu. Orang itu termangu-mangu. Wajahnya menjadi semakin tegang ketika ia melihat kedua orang Sanggar Gading itu hanya dapat meloncat-loncat. Bahkan seolah-olah mereka sudah mulai mengambil jarak untuk lari. Orang bertubuh kekar itu nampaknya menjadi gatal. Ia tidak dapat menahan dirinya untuk melibatkan dir i. Yang dilakukan oleh Jlitheng seolah-olah merupakan tantangan dan bahkan penghinaan baginya. “Kau diamsaja?“ bertanya orang itu kepada Rahu. “Aku yang membawanya kemar i” “Setan” geramnya, Sementara itu, Jlitheng benar-benar telah menguasai lawannya. Pedang tipisnya terayun tidak lagi terkendali. Ketika ia menggeram sambil meloncat maju. maka ujung pedang tipisnya telah menyentuh pundah salah seorang lawannya. Akibatnya mengejutkan. Tiba-tiba saja luka yang panjang telah menganga dipundak orang itu. karena pedang Jlitheng adalah pedang yang sangat tajam. “Gila“ geram orang bertubuh kekar itu ketika ia melihat darah mulai mengalir. Sementara itu, lawan Jlitheng yang tergores, pedangnya itupun meloncat surut Sambil menyeringai ia mengusap pundaknya dengan tangannya. Ketika ia melihat tangannya menjadi merah oleh darah, maka iapun menggeram “Anak setan. Kau memang benar-benar harus mati” Jlitheng yang melihat darah meleleh dipundak lawannya, menjadi termangu-mangu sejenak. Namun sekilas ia teringat kata-kata Rabu. Karena Itu maka katanya “Kenapa kau masih berkata demikian? Apakah sejak semula kau tidak akan membunuhku? Lakukanlah apa yang akan kau lakukan. Tidak ada tempat disini bagi mereka yang ragu-ragu dan terlalu baik hati” Kata-kata itu ternyata telah mendebarkan hati mereka yang mendengarnya. Rahupun menjadi berdebar-debar pula. Ia tahu, bahwa yang di katakan oleh orang yang dikenalnya bernama Bantaradi itu adalah kata-kata yang pernah diucapkannya sendir i kepada Bantaradi itu. Dalam pada itu, kedua orang yang bertempur melawan Jlitheng itupun telah mempersiapkan dirinya pula untuk mulai lagi dengan serangan-serangannya. Tetapi karena seorang dari mereka telah terluka, maka bagi Jlitheng, kekuatan merekapun tentu sudah berkurang. “Jika kalian tidak membunuhku, akulah yang akan membunuh kalian” teriak Jlitheng tiba-tiba. Kedua orang itu tidak menjawab. Namun mereka segera bersiap. Sejenak kemudian Jlitheng telah meloncat menyerang mereka dengan garangnya, seperti angin prahara. Pertempuran itupun segera meningkat lagi menjadi semakin sengit. Tetapi Jlitheng telah mulai tersenyum ketika ia melihat lawannya yang terluka itu menjadi semakin lemah. “Aku harus melukai yang lain pula” desis Jlitheng di dalam hatinya. Karena itu, maka serangan-serangannya kemudian sebagian besar tertuju kepada lawannya yang lain, yang masih belumtersentuh oleh senjatanya. Ternyata lawannya menjadi semakin lama semakin terdesak. Yang terluka menjadi semakin lemah, sedangkan kawannya bagaikan selalu dikejar oleh pedang tipis Jlitheng yang berputar. Rahu yang menyaksikan pertempuran itu menjadi semakin tegang. Ia melihat kemungkinan yang segera akan terjadi. Jika Jlitheng benar-benar ingin berbuat seperti yang dikatakannya, maka kedua orang itu tentu akan dibunuhnya dan dilemparkannya ke dalam lembah yang disebut lembah kerangka, karena mayat-mayat dari mereka yang terbunuh di padang perburuan itu selalu dilemparkannya ke dalam lembah dan menjadi makanan anjing-anjing liar dan burung-burung pemakan bangkai Dalam pada itu, orang bertubuh kekar itupum menggertakkan giginya. Katanya “Meskipun orang itu tamu Cempaka, tetapi sebaiknya kita mencegah pembunuhan yang akan dilakukannya” “Kau akan berdir i dipihak kedua orang itu?“ bertanya Rahu. Orang itu menjadi ragu-ragu. Ia mengerti, siapakah Cempaka itu di dalam tataran para penghuni padepokan Sanggar Gading. Namun rasa-rasanya pembunuhan yang akan dilakukan itu telah mencemarkan nama Sanggar Gading pula, seolah-olah Sanggar Gading itu adalah sarang orang-orang kerdil yang tidak berarti apa-apa. “Rahu” berkata orang itu “Aku tahu siapa orang itu. Aku mengerti, bahwa aku tidak perlu mengganggu kepentingan Cempaka dengan orang itu. Tetapi aku tidak mau memberi kesempatan kepadanya menghina orang-orang Sanggar Gading seperti itu” “Itu adalah salah kita sendir i. Kita yang merasa dir i kita tidak terkalahkan dengki dan ir i hati, sehingga setiap orang harus dibunuh agar penghuni Sanggar Gading tidak bertambah lagi. Akupun tidak berkeberatan jika penghuni Sanggar Gading justru menjadi susut” “Kau memang sudah gila” geram orang itu “biarlah aku akan menunjukkan kepada orang itu, bahwa isi Sanggar Gading bukannya kedua orang dungu itu. Aku akan menundukkannya dan memaksanya mengakui, bahwa ia bukan orang yang luar biasa. Bahkan ia harus berlutut dan mohon maaf akan penghinaannya atas orang-orang Sanggar Gading” “Kau seharusnya dapat mengurai persoalan dengan nalar. Kau benar-benar tidak dapat menghubungkan peristiwa dengan akibatnya” “Apa maksudmu?“ “Jika orang itu tidak berusaha mengalahkan lawannya, maka ia akan mati, sengaja atau tidak sengaja menghinakan Sanggar Gading. Jika ia ingin tetap hidup, ia harus berjuang dan membunuh lawannya yang menurut pengertianmu adalah suatu penghinaan bagi Sanggar Gading. Apakah menurut jalan pikiranmu, agar orang itu tidak kau anggap menghina Sanggar Gading, ia harus membiarkan dirinya dibunuh oleh kedua orang itu. Benar-benar dibunuh sampai mati dan dilemparkan ke lembah kerangka?“ Orang itu menggeretakkan giginya. Katanya “Aku tidak peduli. Aku akan memaksa orang itu mengakui kebesaran nama Sanggar Gading” Rabu menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menjawab, hatinya berdesir melihat Jlitheng berhasil melukai lawannya yang seorang lagi. Bahkan kemudian serangannya datang bagaikan banjir bandang menghantam kedua lawannya berturutan. Ketika kedua lawannya berloncatan surut, maka Jlitheng tidak mau melepaskannya. Dengan tangkasnya ia meloncat memburu. Pedangnya terjulur mengarah kelambung salah seorang lawannya yang membawa tombak. Dengan sisa-sisa tenaganya orang itu berusaha menangkis serangan Jlitheng. Tetapi dengan cepat Jlitheng menarik pedangnya, dan justru kemudian diputarnya memukul landean tombak lawannya. Demikian kerasnya, sehingga tangan orang yang sudah menjadi semakin lemah itu tidak lagi mampu bertahan. Tombak itu telah terlepas pada satu pegangan tangannya. Namun sentuhan berikutnya telah melepaskan tombak itu sama sekali. Ternyata kawannya yang melihat kesulitan itu. Karena itu, maka iapun dengan serta merta telah menyerang Jlitheng untuk menggeser perhatiannya. Bahkan senjatanya benar- benar mengarah kepunggung Jlitheng yang sedang berusaha melepaskan senjata lawanya. Namun Jlitheng benar-benar seorang anak muda yang tangkas. Ia sempat mengelak, justru setelah ia telah berhasil memukul senjata lawannya yang seorang sehingga terlepas. Rahu menahan nafasnya. Nampaknya orang yang dikawalnya bernama Bantaradi itu benar-benar tidak ragu- ragu Demikian senjata lawannya terlepas, maka iapun berusaha memburunya sambil memutar senjatanya. Dengan loncatan panjang, lawannya menjauhinya, sementara yang seorang lagi berusaha untuk menahan Jlitheng. Tetapi karena keduanya sudah terluka dan yang seorang sudah tidak bersenjata lagi, maka bagi Jlitheng sebenarnya sudah tidak ada kesulitan apapun untuk dengan segera mengalahkan mereka. Namun dalam pada itu, orang yang datang berkuda, yang kemudian berdiri dengan tegangnya disisi Rahu itupun menggeram “Aku tidak peduli. Tidak ada orang yang pernah menghukum salah seorang dari kita yang membunuh dipadamg kematian ini. Cempakapun tidak akan berbuat demikian, karena iapun ingin mengetahui tingkat ilmu tamu- tamunya. Sekarang, akulah yang akan membunuhnya. Jika tidak, biarlah aku yang dibunuhnya” “Jangan tergesa-gesa“ tahan Rahu. Tetapi orang itu sudah tidak menghiraukannya lagi. Sambil berteriak ia melangkah maju. Katanya “He, orang gila. Kau sangka bahwa yang kau lakukan itu menyenangkan hati kami. Aku tahu kau adalah tamu yang diundang oleh Cempaka. Tetapi jika kau tidak mempunyai tataran ilmu setinggi aku, maka tidak ada gunanya kau memasuki Sanggar Gading” Jlitheng mengerutkan keningnya. Kemudian katanya sambil menunjuk dengan pedangnya kearah dua orang itu ”Dua orang kawanmu telah aku lumpuhkan. Aku tinggal membunuhnya dan melemparkannya ke lembah yang disebutnya kerangka, meskipun aku belum tahu letaknya” “Setan. Kau menghina orang-orang Sanggar Gading” “Kau sendiri telah menghina kedua orang kawanmu. Biarlah ia menemui kematian seperti ia melihat orang lain mati di padang perburuan ini” “Persetan. Aku yang akan membunuhmu dan membawa kepalamu kepada Cempaka untuk mengatakan kepadanya, bahwa kau tidak pantas mengunjunginya” Wajah Jlitheng menjadi tegang. Ia tahu, bahwa orang ini tentu merasa dirinya lebih baik dar i kedua orang yang telah dikalahkannya itu. Sehingga dengan demikian, maka ia benar- benar akan bertempur dengan segenap kemampuan yang ada. Apalagi nampaknya orang itu adalah orang yang benar- benar berdiri Sanggar Gading. Tanpa ragu-ragu dan tidak mengenal kebaikan hati. Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Sekilas diibainya kedua orang yang sudah dilukainya. Agaknya karena darah yang terlalu banyak mengalir, maka keduanya menjadi semakin lemah, sehingga keduanya tidak akan banyak berpengaruh lagi seandainya keduanya akan ikut pula bertempur bersama orang baru itu. Sementara orang itu menjadi semakin dekat, maka mereka telah dikejutkan pula oleh derap kaki kuda. Sejenak kemudian dari arah orang yang berhadapan dengan Jlitheng itu datang, telah datang pula dua orang penunggang kuda. Sejenak orang-orang yang ada di padang itu termangu- mangu. Namun sejenak kemudian orang yang sudah siap untuk bertempur dengan Jlitheng itu berdesis “Setan. Cempaka telah datang. Aku kehilangan kesempatan untuk membunuhnya jika Cempaka curang” “Kenapa, ia curang?“ tiba-tiba sajai Jlitheng bertanya. “Seharusnya, ia membiarkan apa yang dapat aku lakukan atasmu dalam kesempatan yang sama” geram orang itu. Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu, apa yang kira-kira akan dilakukan oleh Cempaka j ika ia datang mendekat. Sejenak mereka menunggu. Rahu yang berdiri beberapa langkah dari arena perkelahian itupun kemudian beringsut menyongsong Cempaka yang justru langsung menuju kepadanya. “Apa yang terjadi?“ bertanya Cempaka kepada Rahu. “Kami ingin mengetahui, apakah orang ini pantas memasuki Sanggar Gading“ Orang yang siap bertempur melawan Jlitheng itulah yang mendahului menjawab. Cempaka mengerutkan keningnya. Katanya “Aku mengundangnya” “Tetapi ia harus meyakinkan kami” Cempaka termenung sejenak. Lalu katanya “Bagus. Jika kau tidak yakin siapakah orang bernama Bantaradi itu, lakukanlah” ia berhenti sejenak, lalu “Kenapa yang dua orang itu?“ Rabulah yang menjawab “Merekalah yang mula-mula ingin menahan Bantaradi. Tetapi keduanya telah terluka. Ketika Bantaradi siap membunuh mereka, maka ia harus mendapat lawan yang baru” Cempaka tertawa. Katanya “Sebenarnya yang kita lakukan selama ini bukanlah untuk mengetahui tingkat kemampuan orang-orang baru yang datang. Dengan cara demikian, apalagi tiga empat orang bersama-sama bertempur untuk menjajagi kemampuan orang lain, adalah sama artinya dengan pembantaian tanpa mengetahui takaran yang sebenarnya” “Kenapa baru sekarang hal itu kau katakan” geram orang yang sudah siap untuk bertempur. “Biasanya aku tidak berkepentingan. Sekarang aku berkepentingan dengan orang itu. Tetapi jika kau anggap perlu untuk menjajagi kemampuannya, lakukanlah. Seorang melawan seorang, meskipun tamuku telah berhasil mengalahkan dua orang bersama-sama” “Tetapi kedua orang itu adalah tikus-tikus yang besar kepala” “Dan kau adalah kelinci yang besar telinga” Orang itu menjadi merah. Tetapi ia menggeram “Kita akan melihat. Jika kepala orang itu terkapar di padaig ini, maka ia tidak berhak sama sekali menyentuh padepokan Sanggar Gading, siapapun yang mengundangnya” “Bagus “ Jlitheng menjawab “Tetapi j ika kepalamu yang terpenggal berarti bahwa Sanggar Gading sudah melepaskan orang yang tidak berhak tinggal lebih lama lagi. Aku akan menggantikanmu dalam kedudukan yang lebih kuat, karena aku berhasil membunuhmu dan sekaligus memotong lehermu” “Gila” Orang itu menggeram. Sementara Cempaka berkata “Marilah kita melihat Siapakah yang hanya besar mulutnya saja” Orang yang sudah siap melawan Jlitheng itu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak ingin melangkah mundur lagi. Apalagi Cempaka membiarkannya untuk berkelahi melawan orang yang dipanggilnya memasuki padepokan Sanggar Gading itu. Sementara itu Jlithengpun sudah siap pula. Ia sadar, jika tidak dilakukan saat itu, maka meskipun ia sudah berada di dalam lingkungan Sanggar Gading, namun tentu masih saja ada orang yang ingin menjajagi ilmunya. Karena itu, maka Jlitheng benar-benar tidak dipengaruhi lagi oleh keragu-raguan. Japun benar-benar telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia bukan saja harus mempertahankan dir inya karena lawannya agaknya benar- benar ingin membunuhnya, tetapi iapun harus mampu member ikan kesan bahwa ia memang seorang yang pantas berada diantara para pemimpin Sanggar Gading. Kemudian ikut bersama mereka menyelesaikan tugas yang berat dalam jalur usahanya untuk memecahkan teka-teki pusaka yang tersimpan di sekitar bukit gundul yang merupakan bagian dari Sepasang Bukit Mati. “Tanpa meyakinkan mereka bahwa aku mampu berbuat sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading, maka aku tidak akan dapat menyertai mereka. Aku harus tahu, orang yang dimaksud oleh Daruwerdi. Orang yang telah menjadi sasaran dendamnya” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Karena itulah, maka Jlitheng sudah bertekad untuk bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya dihadapan Cempaka. Sejenak kemudian kedua orang itu sudah berhadapan. Cempaka yang kemudian diikut i oleh orang yang datang bersama serta Rahu, melangkah maju mendekat. Agaknya mereka ingin menyaksikan pertempuran itu dari jarak yang cukup jelas. Kepada kedua orang yang telah terluka itu Cempaka berkata “Minggulah. Kalian sudah tidak berharga lagi” Kedua orang itu tarmangu-mangu. Namun ketika Cempaka memandang mereka dengan tajamnya, maka keduanyapun melangkah surut “Jika kalian masih ikut campur, maka akulah yang akan membunuh kalian” geram Cempaka. Kedua orang itu tidak menjawab. Yang terjadi saat itu memang agak berbeda dengan yang pernah dan bahkan beberapa kali terjadi. Biasanya orang-orang yang melintasi padang itu, sengaja atau tidak sengaja pergi ke Sanggar Gading atau sekedar lewat, telah menjadi sasaran kebencian orang-orang Sanggar Gading. Mereka membunuh orang-orang yang mereka jumpai. Jika seorang dari mereka tidak mampu melakukannya, maka yang lain datang membantu, seperti yang dilakukan oleh orang yang datang berkuda yang pertama. Tetapi agaknya Cempaka telah ikut campur, dan bahkan menunggui pertempuran yang bakal datang. “Cepat” teriak Cempaka yang tidak sabar lagi menunggu “Siapa yang mampu membunuh, cepatlah membunuh” Orang Sanggar Gading yang sudah berhadapan dengan Jlitheng itupun maju selangkah. Ia imulai menggerakkan senjatanya, sementara Jlitheng telah bersiap pula. Kakinya melenggang setengah langkah, sambil sedikit merendah pada lututnya, sementara senjatanyapun mulai bergetar. Sejenak kemudian, maka orang Sanggar Gading itu telah mulai meloncat menyerang. Demikian cepatnya, sehingga orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Tetapi Jlitheng yang telah bersiaga sepenuhnya itu sempat berkisar. Ujung senjata lawannya sama sekali1 tidak menggores kulitnya. Namun dengan demikian Jlitheng dapat menduga betapa lawannya mampu bergerak demikian cepatnya. Jika kakinya telah basah oleh keringat, maka ia tentu akan mampu bertempur lebih garang lagi. Dalam pada itu, Jlitheng yang ingin menunjukkan kelebihannya, karena ia mempunyai pamrih khusus untuk dapat ikut serta dalam tugas yang bakal dilakukan oleh orang- orang Sanggar Gading, telah membuat perhitungan tertentu. Ia harus dapat memberikan kesan, bahwa ia memang seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, melampaui orang yang sedang berusaha membunuhnya itu. Dengan demikian, maka pada langkah berikutnya, Jlitheng tidak mau menyia-nyiakan waktu. Tiba-tiba saja ia telah membalas setiap serangan dengan serangan. Segenap kemampuannya telah dikerahkannya pada tingkat pertama dari pertempuran itu, dengan kesadaran sepenuhnya, jika ia gagal mengalahkan lawannya dengan segera, maka ia akan mengalami kesulitan, karena tenaganya telah terperas dan nafasnya tentu akan ikut mengganggunya. Tetapi pada langkah-langkah berikutnya, Jlitheng mulai mempunyai harapan bahwa cara yang ditempuhnya tidak akan jauh meleset. Dengan segenap kemampuan dan ilmunya, Jlitheng bagaikan berloncatan memutari lawannya. Pedang tipisnya bergetar dan mematuk dari segenap arah. Seolah-olah lawannya sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyerangnya pula. “Gila“ geram lawannya Sementara Cempaka yang berdiri beberapa langkah dari arena, mengerutkan keningnya dengan hati yang tegang. “Luar biasa” desisnya. Rabu mendengar desis itu. Tetapi ia menahan senyumnya agar tidak menumbuhkan kesan yang khusus dihati Cempaka. Dalam pada itu, dalam waktu yang terhitung singkat, Jlitheng telah berhasil mendesak lawannya. Lawan yang merasa dirinya memiliki kelebihan dari dua orang kawannya yang dapat dikalahkan oleh Jlitheng. Tetapi orang itu sama sekali t idak menduga, bahwa anak muda itu memiliki kemampuan yang sangat mengejutkan. Tetapi orang itu tidak segera menjadi putus asa. Iapun memiliki pengalaman yang luas menghadapi berbagai macam keadaan. Karena itulah maka ia berusaha untuk mengenal kelemahan lawannya. Namun Jlitheng sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya. Setiap saat dipergunakannya sebaik-baiknya. Sehingga dengan demikian, beberapa kali lawannya hanya dapat berloncatan surut tanpa dapat memberikan perlawanan yang berarti. “Anak iblis“ Orang itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Seolah-olah semuanya demikian cepatnya terjadi. oooOooo- 

Jilid 08
JLITHENG mempergunakan setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya. Jika ia gagal pada ujung pertempuran itu, maka ia akan terjerumus ke dalam kesulitan yang mungkin telah dapat diatasinya. Ia akan menjadi sangat lelah dan kehabisan tenaga, sementara nafasnya tentu akan berdesakkan di lubang hidungnya. Karena itu, Jlitheng benar-benar bertekad untuk menyelesaikan pertempuran iltu. Ia benar-benar tidak mau member i kesempatan barang sedikitpun. Ia mendesak lawannya dengan garangnya dan memburunya kemana ia pergi untuk menghidar. Dalam pada itu, lawan Jlitheng iltu benar-benar merasa telah kehabisan ruang di padang yang luas. Ia tidak lagi mempunyai tempat untuk berpijak, karena Jlitheng selalu mendesaknya. Dalam keadaan yang paling sulit, maka orang itu telah kehilangan kesempatan untuk menghindar. Karena itu, maka ketika pedang tipis Jlitheng menyambar keningnya, maka iapun mengangkat senjatanya untuk menangkisnya. Yang terjadi kemudian adalah sebuah benturan yang dahsyat. Jlitheng benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya, sehingga segenap tenaganya telah terayun pada pedang tipisnya. Ia percaya bahwa pedangnya adalah pedang yang kuat, sehingga tidak akan patah karenanya. Ternyata bahwa kekuatan Jlitheng memang melampaui kekuatan lawannya. Benturan itu telah menggetarkan kekuatan orang yang bertubuh kekar itu, sehingga tangannya yang menggenggam, senjata rasa-rasanya bagaikan patah. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Jlitheng yang memang ingin menujukkan kelebihannya itu. Sekali ia menggeser senjatanya dan memutarnya. Sebelum lawannya sempat memperbaiki keadaannya, maka Jlitheng telah menjulurkan pedangnya. Orang yang bertubuh kekar itu terdorong surut. Terdengar ia mengaduh tertahan. Dengan sisa tenaga yang ada padanya maka iapun segera berloncatan menghindar. Dengan garangnya Jlitheng memburunya. Namun ketika ia melihat seleret warna merah didada lawannya, tiba-tiba saja ia tertegun. Pedangnya yang siap menyambar lawannya bagaikan tertahan sekejap. Namun yang sekejap itu telah member i kesempatan kepada lawannya untuk menjauhinya. Namun Jlitheng tidak segera memburunya Ia melihat luka yang menganga didada lawannya oleh goresan pedangnya. “Pedang ini memang luar biasa“ berkata Jlitheng di dalam hatinya “tanganku hampir tidak merasa bahwa ujung pedang ini telah menyobek dadanya” Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Ia melihat orang itu mengusap dadanya dengan jari-jarinya. Kemudian wajahnya menjadi membara. Sementara itu, sekali lagi Jlitheng disambar oleh keragu- raguan. Hampir saja ia menghentikan perkelahian. Namun ketika dengan tidak sengaja ia melihat wajah Rahu, maka tiba- tiba saja hatinya telah bergejolak semakin cepat. Ia tidak boleh ragu-ragu jika ia ingin menjadi penghuni padepokan Sanggar Gading. Apapun yang terjadi atas lawannya, ia tidak boleh menghiraukannya, sehingga mempengaruhinya. Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan diri untuk segera mengakhiri pertempuran dalam waktu yang singkat. Dengan pedang gemetar ia siap untuk meloncat menerkamnya. Meskipun lawannya telah terluka didada, namun ia masih mempersiapkan diiri untuk menghadapi segala kemungkinan. Karena itu ketika J litheng mulai bergerak, iapun telah bergerak pula setapak kesamping. Sejenak kemudian, maka Jlithengpun telah meloncat dengan pedang terjulur. Namun lawannya masih sempat bergeser meskipun tenaganya menjadi semakin lemah. Tetapi Jlitheng benar-benar tidak mau melepaskannya. Ia segera menarik pedangnya yang terjulur, kemudian memutarnya dan menebas kesamping. Demikian cepatnya sehingga lawannya harus berloncatan tanpa sempat membuat perhitungan, selain berusaha menjauhi lawannya pada jarak sepanjang dapat di jangkaunya. Namun Jlitheng masih meloncat memburu. Karena pedangnya yang menebas mendatar tidak menyentuh lawannya, maka iapun segera menarik serangannya. Dengan tangkasnya iapun meloncat memotong loncatan lawannya. Dengan gerak yang cepat sekali, iapun mengayunkan senjatanya langsung mengarah lambung. Lawannya masih berusaha menangkis serangannya. Tetapi ternyata bahwa usahanya tidak banyak berhasil. Ketika senjatanya bersentuhan sekali lagi, maka genggamannya yang sudah lemah tidak berhasil menahan senjata lawannya. Bahkan dengan satu hentakan berikutnya, maka senjata itu benar-benar telah terlepas dari tangannya yang tulang- tulangnya bagaikan berpatahan itu. Tidak ada kesempatan untuk berbuat lebih banyak. Tiba- tiba saja pedang Jilitheng bergetar. Tajamnya telah menyentuh lambung lawannya, sehingga terdengar ia mengaduh sambil berusaha meloncat kesamping. Tetapi luka telah menganga lagi ditabuhnya. Dan darahpun menjadi semakin banyak mengalir. Sepercik keragu-raguan telah menyentuh hati Jlitheng. Tetapi, ia menggeretakkan giginya sambil berkata “Aku tidak boleh ragu-ragu. Apaboleh buat bahwa ia harus menjadi korban Aku harus memasuki Sanggar Gading dan terlibat dalam usaha memperebutkan pusaka di bukit gundul itu” Karena itulah, maka Jlithengpun menggeram. Ia sudah mengangkat pedangnya. Jika ia mengayunkannya tepat menebas leher, maka leher itu tentu akan patah, karena orang itu sama sekali sudah tidak berdaya lagi. Jlitheng melihat orang itu terhuyung-huyung. Sekilas terbersit niatnya untuk berbuat sesuatu yaing lain karena dorongan hati nuraninya setelah ia melihat darah. Dan yang dilakukan oleh Jlitheng benar-benar cermat, sehingga tidak seorangpun yang mengetahui. Jlitheng yang sudah siap menebaskan pedangnya itu menunggu sejenak. Namun kemudian pedang iltupun terayun pula dengan derasnya. Tetapi pada saat yang bersamaan, orang itupun terhuyung-huyung jatuh terguling di tanah. Dengan demikian pedang Jlitheng ternyata tidak menyentuh lawannya. Pedang itu terayun setebal jari diatas tubuh yang terguling itu. Namun sebenarnyalah bahwa memang Jlitheng tidak ingin membunuh orang itu. Karena itulah, maka yang dilakukan kemudian adalah berdir i dengan kaki renggang. Sebelah tangannya bertolak pinggang, sedang tangannya yang lain berpegangan erat pada hulu pedangnya yang menunduk mengarah ke dada orang itu. “Aku dapat membunuhnya” teriak Jlitheng. Cempaka ternyata tidak mencegahnya. Sambil tersenyum ia berkata “Itu hakmu. Jika kau ingin membunuhnya, tidak ada seorangpun yang dapat menghalangimu. Bahkan kedua orang yang telah bertempur dan kau kalahkan itupun dapat kau bunuh j ika kau kehendaki” Jlitheng menggeram. Sekilas dipandanginya wajah Rahu. Ia mengumpat di dalam hatinya ketika ia melibat Rahu tersenyum. Seolah-olah ia ingin mengatakan, bahwa Jlthang benar-benar seorang yang terlalu baik buat Sanggar Gading. Ia tidak akan dapat membunuh orang yang telah terkapar di tanah itu. Jlitheng yang mengerti gerak hati Rahu itupun kemudian berteriak “Aku ingin membunuhnya. Tetapi apakah ada hukuman yang lebih berat daripada mati?“ “Tidak ada“ Cempakalah yang menyahut. Tetapi Jlitheng kemudian berkata “Mati adalah hukuman yang terlalu ringan bagi orang-orang ini. Mati adalah akhir bagi mereka tanpa berkesempatan untuk mengetahui kebodohan yang kekerdilan dir i. Karena itu aku tidak akan membunuhnya. Biarlah ia mengerti, bahwa aku adalah orang yang lebih perkasa dari padanya. Biarlah ia melihat, aku akan berada pada kedudukan yang lebih baik daripadanya. Ia harus disiksa oleh pengakuan, betapa lemahnya ilmunya. Beberapa saat saja aku sudah berhasil mengalahkannya. Dan pada sisa hidupnya ia harus selalu berlutut di bawah kakiku. Karena jika ia tidak berbuat demikian, aku akan menginjak kepalanya” Cempaka mengerutkan keningnya, Sejenak ia memandang Jlitheng dengan sorot mata keheranan. Namun kemudian katanya “Kau ternyata orang yang paling bengis yang pernah aku kenal. Kau tidak mau mengakhir i hidupnya justru karena kau mempunyai cara yang paling baik untuk membenturkan pengakuannya pada sisa-sisa hidupnya yang tidak berarti lagu” Jlitheng tertawa. Disarungkannya pedangnya sambil mengguncang tubuh yang terbaring itu dengan kakinya “Jika kau masih sempat bangun, bangunlah dan nikmatilah kekalahanmu. Jika kau mendendam, maka aku akan menunggumu sampai kau sembuh dan sekali lagi kita akan berkelahi. Aku akan memberimu pelajaran yang lebih menar ik lagi dari mati dan siksaan pengakuan atas kedunguanmu. Aku dapat membuatmu cacat sepanjang hidupmu. Dan kau akan menjadi beban orang lain tanpa memiliki kesempatan sama sekali untuk memperbaiki keadaan. Orang yang terbaring itu sama sekali tidak menjawab. Betapapun gejolak menghantam dinding jantungnya, namun ia sudah tidak berdaya. Ia hanya dapat menggerakkan kelopak matanya dan menggeletakkan giginya. Namun iapun tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia sudah tidak berdaya lagi Ia telah dikalahkan dalami waktu yang terhitung sangat singkat Jika mula-mula ia merasa dirinya niemliki kemampuan melampaui orang kebanyakan, maka ia telah dihadapkain pada seorang anak muda yang memiliki kemampuan iblis, melampaui orang yang menyebut dir inya Iblis bertangan Petir itu. Sejenak kemudian, Jlitheng ternyata benar-benar meninggalkannya dalam keadaan yang parah itu. Sekilas ia berpaling kepada dua orang yang telah dikalahkannya lebih dahulu. Katanya “Kalian berdualah yang menyebabkannya. Jika kalian tidak terlalu dungu, sehingga kalian berdua tidak berkelahi seperti cucurut, maka orang itu tentu tidak akan melibatkan dir inya. Karena itu terserahlah kepadamu kalian. Aku memerlukannya untuk tetap hidup dan menikmati kekalahannya, karena mati baginya adalah hal yang terlalu biasa sehingga t idak dapat memberikan kesan apapun juga. Tetapi kekalahan yang harus disandangnya akan membebaninya sepanjang sisa hidupnya yang tidak berarti lagi. Dan itulah yang aku butuhkah, sehingga apabila kalian tidak dapat merawatnya sampai ia dapat hidup terus, maka kalian akan mengalami perlakuan yang sangat menyedihkan, karena kalian berdua ada di bawah wewenangku sejak kalian aku kalahkan dan aku ampuni karena kemurahan hatiku” Kedua orang itu menahan gejolak perasaannya yang menggelegar dihatinya. Betapapun juga mereka merasa terhina oleh ancaman yang sangat menyakitkan hati itu. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun juga, karena sebenarnya mereka memang sudah dikalahkan. Cempaka melihat sikap Jlitheng itu dengan senyum di bibirnya. Sekal lagi ia berkata “Kau memang iblis yang paling licik. Kaulah yang pantas bernama Iblis berjantung Beku. Kau menghina orang-orang Sanggar Gading dengan semena- mena” “Bukankah itu hakku seperti yang kau katakan?“ bertanya Jlitheng “Ya. Tetapi aku tidak mengira, bahwa kau mampu mengguncang harga diri seluruh isi padepokan Sanggar Gading” Jlitheng tertawa. Katanya “Orang-orang Sanggar Gading memper lakukan orang lain dengan semena-mena. Apakah aku tidak dapat berbuat sebaliknya” “Baiklah. Memang terserah kepadamu. Tetapi jangan mencoba menghina aku” sahut Cempaka. “Kaulah yang mengundang aku kemar i. Dan aku datang memenuhinya. Mungkin aku akan dapat bertualang bersama orang-orang Sanggar Gading untuk satu saat. Dan itu tentu sangat menarik” jawab Jlitheng. Cempaka tertawa. Katanya “Marilah. Ikutilah kami. Kami akan membawamu memasuki Sanggar Gading. Kami. memang sudah siap untuk berbuat sesuatu. Mula-mula aku ragu-ragu, apakah kau dapat Ikut bersama kami. Tetapi kau sudah melumpuhkan satu orang yang termasuk dalam tugas ini. Karena itu, maka kau akan dapat menjadi penggantinya. Tetapi jika kau mencoba berkhianat, maka nasibmu menjadi lebih buruk dari padanya” Jlitheng yang dikenal bernama Bartaradi itupun memandang Cempaka sejenak. Namun iapun kemudian tertawa sambil berkata “Kau sudah mulai mengancam tetapi aku tidak berkeberatan. Agaknya memang menar ik sekali dapat berhubungan dengan orang-orang Sanggar Gading yang aneh. Di padukuharn tempat tinggal Rahu, aku sudah menjumpai banyak keanehan tingkah laku dan sikap penghuninya. Agaknya Sanggar Gading juga memiliki sesuatu yang menarik lagi” “Kau akan melihatnya. Tetapi jangan menyesal jika yang kau lihat itu tidak sesuai dengan seteramu” potong Cempaka. Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi ketika ia akan mengucapkan sesuatu Cempaka telah mendahuluinya “Ikutlah aku” Namun ternyata Cempaka tidak menunggu Jlitheng. Ia dengan tergesa-gesa menuju kekudanya dap langsung meloncat naik diikuti oleh seorang pengiringnya. “Biar lah ia mendahului kiita” desis Rabu. Jlitheng menjadi termangu-mangu. Namun ia, mengikuti petunjuk Rahu dan membiarkan Cempaka berpacu mendahului. “Kita akan menyusul” desis Rabu. “Ya. Marilah” sahut Jlitfaeng, “Jangan cemas. Aku mengenal daerah ini seperti Cempaka mengenalinya” jawab Rahu. Jlitheng mengangguk-angguk. Sekilas dipandanginya orang-orang yang terluka. Mereka berusaha untuk saling menolong. Beberapa saat lamanya Jlitheng memandangi mereka. Di luar sadarnya ia berdesis “Apakah mereka dapat menyelamatkan diri?“ “Siapa?“ bertanya Rabu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Aku memer lukan mereka hidup untuk menikmati kekalahan mereka. Rabu tertawa. Katanya “Jangan membohongi aku. Jika aku belum melihat apa yang kau lakukan di padukuhanku, mungkin aku percaya. Tetapi yang terjadi adalah penegasan dari dugaanku. Kau terlalu baik hati dan ragu-ragu untuk memasuki Sanggar Gading yang keras dan buas” Wajah Jlitheng menegang. Katanya “Kau mulai mengigau lagi. Sebaiknya jangan menjadi orang pertama yang akan aku bunuh di dalam lingkungan Sanggar Gading” “Bagus. Jika kau dapat melakukannya, maka itu akan dapat menolongmu dari kecurigaan” desis Rahu. “Persetan” Jlithengpun kemudian meloncat pula ke punggung kudanya samba menggeram “cepat. Kita susul Cempaka” Rahu masih saja tertawa. Kemudian kepada orang-orang yang terluka ia berteriak “Berjuanglah untuk hidup. Jika kalian menjadi putus asa, maka kailan akan benar-benar mati” Orang-orang yang terluka itu tidak menjawab. Tetapi sepercik pertanyaan memang telah mencengkam jantung mereka “Kenapa kami tidak dibunuhnya. Apapun alasannya, tetapi itu merupakan satu persoalan tersendiri. Mungkin ia benar-benar ingin menghina kami, tetapi mungkin karena alasan lain, karena kami bertiga telah dibebaskan seluruhnya dari kematian” Sementara itu kuda Jlitheng dan Rata telah berderap membelah padang yang disebut padang perburuan dan yang kadang-kadang juga disebut padang kematian oleh orang- orang Sanggar Gading Padang yang berdebu dan berwarna gersang. Dedaunan yang kuning nampaknya bertambah kering. Angin yang lemah telah melepas tangkai-tangkai daun dan berguguran di tanah berbatu padas dan berdebu. “Apakah padepokan yang aneh itu masih jauh?“ bertanya Jlitheng. “Tidak. Diseberang padang yang tidak terlalu luas itu, Kita akan menuruni jurang yang dangkal. Kemudian menyeberangi sebuah sungail kecil Barulah kita memasuki daerah padepokan Sanggar Gading yang dikelilingi oleh tanah garapan yang menghasilkan makan kami” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kalian mampu mencari tempat yang benar-benar terasing. He, bagaimana cerita tentang dir imu, sehingga kau berhasil memasuki Sanggar Gading?“ tiba-tiba saja ia melontarkan sebuah pertanyaan. Tanpa diduganya, maka tiba-tiba saja Rahu itu tertawa meledak. Diantara suara tertawanya ia berkata “Aku sudah mengira bahwa kau. akan bertanya demikian” “He” Jlitheng mengerutkan keningnya. Lalu “Jika kau sudah mengira sebelumnya, kenapa kau tertawa?“ “Tidak apa-apa. Pertanyaan Itu wajar sekali. Tetapi ketahuilah, bahwa aku berada di Sanggar Gading sejak padepokan itu dibuat. Aku ikut serta membangun padepokan itu, aku adalah salah seorang yang berpengaruh di antara penghuni padepokan itu, karena aku termasuk cikal bakal” “Bohong. Wajahmu tidak membenarkan kata-katamu dan sikapmu tidak mendukung pernyataan itu sama sekali“ “He, kau belajar kawruh kawan sehingga kau dapat menebak isi hati orang? Kau dapat menebak pernyataan wajah dan sikap?“ bertanya Rahu. “Tidak. Tetapi setiap orang dapat melibat kesan yang tersirat pada wajah seseorang jika ia berbohong” bantah Jlitheng. “Jika demikian tidak akan ada seorangpun yang dapat ditipu oleh orang lain. Jika setiap orang dapat mengetahui orang lain berbohong, maka kita semuanya akan hidup dalam dunia yang lebih baik” desis Rahu kemudian. Jlitheng memandang wajah Rahu sekilas. Ia menjadi semakin heran melihat sikap orang itu. Namun ia segera melepaskan kesannya dan berkata “Kau benar. Tetapi bagaimana gambaranmu tentang dunia yang lebih baik?“ “Pembicaraan kita sudah berkisar. Kau ingin menjaj lagi sikap dan pandangan hidupku?“ beritanya Rahu. “Kau memang Gila“ geram Jlitheng “Yang pantas bercuriga adalah aku. Bukan kau. Atau memang kita harus saling mencur igai” Rahu tertawa pula. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan disentuhnya perut kudanya dengan tumitnya, sehingga kudanya berlari semakin kencang. Disusul oleh Jlitheng yang terpaksa menyesuaikan dirinya, berpacu semakin cepat di padang yang berdebu. Untuk beberapa saat keduanya tidak berbicara. Jlitheng berkuda agak di belakang. Tetapi ia tidak membuat jarak dengan Rahu. Beberapa saat kemudian, Jlitheng melihat sebuah jurang yang tidak begitu curam dan tidak begitu dalam. Seperti yang dikatakan oleh Rahu, maka mereka akan segera menyeberangi sebuah sungai kecil. Baru kemudian memasuki daerah kekuasaan padepokan Sanggar Gading. Ketika keduanya sampai ke pinggir jurang yang tidak begitu dalam itu, Rahu memperlambat lari kudanya. Mereka kemudian melihat Cempaka yang sudah naik di tebing seberang sesudah menyeberangi sebuah sungai yang memang tidak begitu besar. “Kita akan sampai ke sungai yang menjadi urat nadi dan sumber makan bagi padepokan Sanggar Gading” berkata Rabu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Sungai itu memang t idak begitu lebar dan tidak begitu dalam. Tetapi airnya yang jernih mengalir cukup deras meskipun di musim ker ing. “Sungai ini t idak pernah kering di segala musim” berkata Rahu”di bebarapa tonggak sebelah atas sungai ini kami membuat bendungan yang mengaliri sawah dan pategalan kami” “Kalian memang bukan main” desis Jlitheng “kalian berhasil menemukan tempat yang sangat balik bagi persembunyian sebuah kelompok yang aneh dari orang-orang Sanggar Gadang” “Cempaka sudah mengatakan, bahwa kau mampu menyentuh harga diri kami. Karena itu. jangan terlalu sering menghina aku” geram Rahu. “Aku memuj i kalian” sahut Jlitheng dengan serta merta “tidak banyak orang yang mengira bahwa diseberang padang yang kering itu terdapat sebidang tanah yang subur, yang dialir i oleh sebuah sungai yang tidak pernah kering” “Kaulah yang bodoh“ jawab Rahu “Jika kau menempuh perjalanan lewat padang yang kering itu, maka kau memang akan menjadi heran, bahwa kau akan menemukan daerah yang subur ini. Tetapi jika perjalananmu menyusur sungai Situ, maka tidak akan terdapat keanehan apapun juga dari tanah orang-orang Sanggar Gading. Karena tanah di sepanjang sungai itu, dari sumbernya sampai mulutnya di pesisir adalah tanah yang subur” “Tetapi kenapa hanya belahan di seberang saja yang menjadi subur dan tidak sebelah menyebelah sungai?“ “Aku kira kau tidak sebodoh itu. Bukankah itu tergantung dari garapan manusia, kami sudah mengangkat air dari sungau itu. Tetapi kami mengalirkan air itu pada belahan diseberang sungai dan kami sama sekali tidak mengaliri padang ini. Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa. Katanya “Kau benar. Aku memang bodoh” Ketika mereka kemudian menyeberangi sungai itu, maka mereka berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kuda mereka untuk meneguk air. Betapa segarnya. Namun Jlitheng tidak turun dan mencelupkan kakinya, betapapun ia ingin. Sejenak kemudian mereka telah melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah padepokan. Jlitheng menebak-nebak di hatinya, apakah kira-kira yang akan dijumpainya disebuah padepokan yang sulit untuk dibayangkan. Ketika mereka memanjat tebing diseberang yang tidak terlalu tinggi maka merekapun mulai memasuki tanah persawahan yang subur. Beberapa tonggak dari tebing, Jlitheng telah melihat sawah yang terhampar. Batang-batang padi yang hijau dan segar. Beberapa puluh tonggak lagi, dilihatnya sebuah padukuhan yang hijau. “Padukuhan itukah yang kau maksud dengan padepokan Sanggar Gading?“ bertanya Jlitheng. “Ya. Padukuhan itulah padepokan yang terasing, tetapi memiliki cita-cita buat hari depan, melampaui cita-cita orang Demak” desis Rabu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Sejauh mata memandang, dilihatnya tebaran sawah dan ladang. Diujung pandangan matanya, ia melihat tegal jagung dan ketela pohon. Agaknya tanah itu tidak begitu banyak berkesempatan mendapat aliran air, sehingga ditanami, jagung dan ketela pohon. Sedang di sebelahnya, yang agaknya lebih jarang lagi disentuh air, terdapat pategalan. “Kami tidak akan kekurangan makan” berkata Rahu sambil memandang kesekelilingnya “sawah ini menghasilkan padi. Ladang itu akan member ikan jagung dan ketela pohon, sedangkan kami dapat memetik buah-buahan dari pategalan. Disebelah pategalan itu terdapat kebun kelapa yang luas dan sebuah ladang rami yang memberi serat kepada kami. Jlitheng mengangguk-angguk. Namun ia menyimpan keheranan di dalam hatinya. Agaknya di padepokan itu memang terdapat satu dua orang yang mampu berpikir tentang masa lampau mereka, masa kini dan masa depan. Sehingga ia dapat mempersiapkan rancangan yang mapan untuk satu perjuangan “Aku tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya mereka perjuangkan. Namun menilik usaha Cempaka, dengan sungguh-sungguh untuk menguasai pusaka yang tersimpan di daerah sekitar Sepasang Bukit Mati itu, maka agaknya ada cita-cita dari isi Sanggar Gading untuk menujui ke tahta, Demak” berkata Jlitheng di dalam hatinya “Tetapi apakah mereka mempunyai cukup bekal. Mempunyai cukup pengaruh meskipun mereka memiliki pusaka yang manapun juga” Karena itu, Jlitheng menjadi berdebar-debar. Sebuah pertanyaan telah timbul “Apakah ada justru orang-orang Demak sendir i yang menjadi penggerak dari Sanggar Gading ini” Tetapi Jlitheng tidak bertanya sesuatu. Sekilas dikenangnya peristiwa yang pernah terjadi. Dibayangkannya kembali orang- orang Kendali Putih dan orang Pusparuri. “Memang agak lain” berkata Jlitheng di dalam hatinya “agaknya kelompok ini mempunyai beberapa kelebihan dari kelompok lain. Mungkin bukan dari segi kekuatan dan jumlah pengikutnya, tetapi agaknya orang-orang Sanggar Gading lebih banyak berpikir dar i pada orang-orang Kendali Putih dan Pusparuri. Demikianlah mereka berdua itupun berkuda semakin dekat dengan padepokan Sanggar Gading yang terasing. Yang dibatasi oleh padang yang cukup luas dan buas. Tebing yang meskipun tidak begitu dalam, sebuah sungai dan baru kemudian sebuah bulak panjang. “Rahu” tiba-tiba Jlitheng bertanya “Apakah kau dapat mengatakan, apakah yang disebut lembah kematian, atau apapun mamanya tempat pembuangan mayat itu?“ Rahu mengerutkan keningnya. Sejenak ia termangu- mangu, Namun kemudian katanya “Kau sudah menyebutkan. Tempat itu adalah tempat orang-orang Sanggar Gading membuang mayat dari orang-orang yang telah dibunuh di padang perburuan atau yang juga disebut padang kematian itu. Mayat itu dibiarkan membusuk dan menjadi makanan anjing-anjing liar dan burung pemakian bangkai” “Apakah lembah itu kelanjutan dari lembah dangkal dari sungai yang baru saja kita seberangi?“ bertanya Jlitheng pula. “Bukan. Lembah itu lembah mati. Bukan kelanjutan dari lembah yang manapun juga. Lebih mirip dengan sebuah luweng terbuka yang besar dan dalam” Rabu. berhenti sejenak, lalu “Kau sudah menunjukkan sifatmu lebih jelas. Kau tentu menjadi cemas bahwa bangkai yang membusuk itu akan mengotori air yang mengalir dari sungai ini. Bukan saja mengotori, tetapi akan dapat menumbuhkan penyakit. Bukankah begitu?“ “Kau memang anak iblis. Kau pantas dibunuh disini. Dan mayatmupun harus dilempar ke lembah itu pula” Rahu tertawa. Namun kemudian katanya “Marilah. Cempaka sudah semakam jauh. Sebaiknya kita masuk regol padepokan bersamanya, agar kita, terutama kau. tidak banyak mengalami, kesulitan” “Persetan. Aku akan membunuh siapa saja yang menghalangi aku” geramJlitheng. Tetapi Rahu justru tertawa semakin keras. Katanya “Kau bukan seorang yang garang seperti yang kau katakan“ “Aku sudah membunuh orang-orang dari Kendali Put ih, mungkin juga orang-orang Pusparuri dan sekarang orang Sanggar Gading” Rahu tidak menjawab. Sambil tertawa ia berkata “Percepat sedikit lari kudamu” Keduanya berkuda semakin cepat Semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan padepokan Sanggar Gading, sementara jarak mereka dengan Cempakapun menjadi semakin dekat. Beberapa puluh Jangkah dari regol, Rahu dan Jlitheng sudah berada di belakang Cempaka bersama seorang pengiringnya. Karena itu. ketika mereka memasuki regol, mereka t idak mengalami kesulitan. Ketika penjaga regol itu membentak Jlitheng, maka Cempakalah yang menjawab “Buka matamu Ia datang bersama aku. Jika aku, tidak dengan sengaja membawanya masuk, ia sudah aku bunuh di padang perburuan” Penjaga itu termangu-mangu. “Minggir, atau aku pecah kepalamu“ Cempaka, membentak semakin keras, sementara Rahu tanpa berkata sesuatu, langsung menyentuh kepala orang itu dengan kakinya. Orang itu terhuyung-huyung. Matanya menyala sementara mulutnya bergerak-gerak. Jlitheng tahu, bahwa orang itu mengumpat, tetapi tidak terucapkan. Jlitheng tidak berbuat sesuatu. Namun ia berdesis di dalam hatinya “Inilah gambaran tata kehidupan yang keras, buas dan liar di padepokan Sanggar Gading” Namun dalam pada itu, Jlitheng mulai membayangkan, tata kehidupan di padepokan-padepokan lain yang tentunya akan terasa lebih kasar, lebih buas dan liar. Kendali Putih, Pusparuri dan kehidupan orang-orang dar i padepokan Gunung Kunir. Tetapi ia tidak dapat merenung lebih lama lagi. Ketika Cempaka memasuki regol bersama pengiringnya, maka Rahupun mengikutinya pula. Dipaling belakang adalah Jlitheng yang ragu-ragu. Namun dalam pada itu, dendam orang yang bertugas di regol itu ternyata jatuh kepada Jttheng. Ketika Jlitheng berada di regol, tilba-tiba saja orang itu mencabut pisau kecilnya dan langsung akan menggores kaki Jlitheng pada pahanya. Untunglah bahwa Jlitheng cukup tangkas melihat bukan saja geraknya, tetapi juga gelagat dan sorot matanya. Karena itu, ketika ia melihat tangan, orang itu bergerak, iapun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian, terjadi peristiwa yang mengejutkan. Cempaka, pengiringnya dan Rata telah tertegun dan berpaling. Mereka masih sempat melihat, pisau itu bergetar di tangan penjaga regol. Namun ia tidak berhasil mengenai paha Jlitheng. Bahkan Jlitheng sempat berkisar, mengangkat kakinya dan sebuah tendangan yang keras mengenai wajah orang itu sehingga terdengar ia mengaduh Namun sementara itu, Jlitheng tidak puas dengan tendangan kakinya yang mengenai wajah orang itu. Ia masih sempat meloncat turun. Kemudian dengan kedua tangannya ia memukul perut orang itu beberapa kali beruntun. Kemudian dengan garangnya Jlitheng meremas rambut orang itu dan dengan cepat ia membenturkan wajah orang itu pada lututnya. Ketika Jlitheng melepaskan orang itu, maka orang itupun terhuyung-huyung dan jatuh di tanah. Sementara Jlitheng masih berdir i tegak sambil memandang beberapa orang penjaga regol yang lain yang menjadi tegang. “Siapa yang ikut menjadi gila bersama orang itu?“ Tidak ada yang menyahut. Sementara Cempaka dan Rahu tersenyum memandanginya. “Ia pantas menjadi orang Sanggar Gading“ desis Cempaka. Rabu tidak menyahut. Tetapi ia tertawa di dalam hatinya, karena ia tahu, bahwa Jlitheng melakukan bal itu. justru karena ia ingin berbuat sebagai orang-orang Sanggar Gading. Ia ingin menutupi sifat dan wataknya yang sebenarnya. Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Namun kemudian iapun melangkah dan meloncat kembal ke punggung kudanya. Ketika Cempaka kemudian memasuki halaman lebih dalam lagi. Ternyata bahwa orang-orang padepokan Sanggar Gading itu tidak turun dar i kudanya ketika mereka melintasi halaman dan kebun disamping rumah induk padepokannya, langsung menuju ke kandang. “Dimana matamu he?“ tiba-tiba saja Cempaka berteriak ketika ia melihat seorang berdiri termangu-mangu “Kau lihat kami datang” Orang itupun segera berlari-lari. Ketika Cempaka meloncat turun, maka dengan tergesa-gesa orang itu menerima kendali kudanya. Demikian juga kendali kuda pengiring Cempaka. “Cepat“ Rahupun membentak pula. Orang itupun kemudian dengan tergesa-gesa menambatkan kendali kuda itu pada tiang kandang kuda. Sementara iapun berlari- lari menerima kuda Rahu. “Layani pula kuda tamuku” perintah Rahu. Orang itu memandang Jlitheng sejenak. Nampak ia menjadi ragu-ragu sehingga untuk sesaat ia tidak beranjak dari tempatnya. “Cepat, apakah kau ingin dibantai pula?. Ia sudah berhasil melewati padang pembantaian itu. Dan ia adalah salah seorang keluarga kita yang terhormat” teriak Rahu. Cempaka yang sudah meninggalkan kandang, tetapi masih belum terlalu jauh itu berpaling, la masih melihat orang yang dibentak oleh Rahu itu berlari- lari mendekati kuda Jlitheng. Setelah menyerahkan kudanya, maka Jlithengpun menyentuh kepala orang itu sambil berkata “Rahu sudah memperkenalkan aku. Hati-hatilah, karena mungkin aku akan menjadi orang yang paling buas disini” Orang itu memandang Jlitheng dengan wajah yang tegang. Tetapi karena Jlithengpun segera meninggalkannya, maka iapun menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam “Satu lagi orang paling gila di padepokan ini. Begitu ia datang, begitu da mengusap kepalaku. Besok ia mulai mendorong dahi, dan lusa ia akan meludahi mukaku” Tetapi Jlitheng dan Rahu t idak mendengarnya, karena merekapun telah meninggalkan kandang. Beberapa langkah Jlitheng berjalan di halaman padepokan Sanggar Gading, ia menjadi berdebar-debar. la. melihat dua orang berdiri di sebuah lesung kayu yang tertelungkup. Keduanya menyilangkan tangannya di dada, seolah-olah mereka berdir i acuh tidak acuh meskipun mereka memandang Jlitheng dan Rahu yang melintas beberapa langkah dihadapan mereka. “Keduanya kakak beradik” desis Rahu “ketika aku menyebut diriku Iblis bertangan Petir, maka keduanya telah membuat nama yang tidak kalah garangnya” “Kalian tidak lebih dar i orang-orang berjiwa kerdil sehingga untuk menutupi kekerdilan hati kalian sendir i, maka kalian telah membuat nama yang tidak lebih dari satu kegilaan geramJlitheng. Tetapi Rahu, tertawa. Katanya “Kau jangan mengelabui aku dengan sikap kasarmu. Jika aku membuat nama yang nggegirisi sekedar untuk menutupi kekerdilanku, maka kau berbuat seolah-olah kau seorang yang kasar dan buas untuk menutupi sifat-sifatmu yang tidak sesuai dengan sifat-sifat orang Sanggar Gading” “Kau memang, pantas dibunuh untuk membukukan bahwa tangankupun selalu haus darah” desis Jlitheng. Tetapi Rahu tertawa semakin keras. Cempaka yang berjalan beberapa langkah dihadapannya berpaling lagi. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu kepada Jlitheng. “Siapa nama mereka?“ tiba-tiba Jlitheng bertanya. Sambil tertawa Rahu bertanya “Kau ingin tahu juga?” “Persetan“ Sambil masih juga. tertawa, Rahu menjawab “Yang seorang bernama Elang bersayap Pedang. Sedang yang lain bernama Guntur Geni“ “Gila, aku tidak bertanya istilah-istilah cengeng ini. Aku bertanya siapakah nama mereka?“ bentak Jlitheng. “Kau memang pandai berpura-pura. Kau benar-benar seperti orang marah” Jlitheng menggeretakkan giginya. Namun akhirnya ia tertawa pula sambil berkata “Kau benar-benar gila. Tetapi aku berkata sungguh-sungguh Jika kau mengancam keselamatanku dengan kecurigaanmu itu, aku akan membela diri. Kau adalah sumber dar i kecur igaan orang-orang Sanggar Gading” “Jangan takut” berkata Rahu “Aku tidak akan mengatakan sesuatu. Jika orang-orang Sanggar Gading mencurigaimu, maka itu adalah karena mereka sendiri melihat sesuatu yang asing padamu” “Kau mulai mencemaskan keselamatanmu sendir i. Kau sudah melihat, bagaimana aku bermain dengan pedang tipisku” “Kau mulai berpura-pura lagi” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Aku benar-benar ingin tahu nama kedua orang itu” Keduanya melangkah terus. Akhirnya mereka mendekati pendapa rumah induk padepokan Sanggar Gading itu Rahu berkata “Namanya bagus. Yang tua, bernama Buntar Angin. Yang muda namanya Sampar Watang” “O, nama yang, bagus. Kenapa mereka memilih nama- nama gila seperti kau. Dengar dan perhatikan namamu sendiri, Iblis bertangan Petir. Bukankah terdengar cengeng sekali” “Aku tidak peduli. Tetapi aku dapat menakut-nakuti orang padukuhainku” ia berhenti sejenak, lalu “Sudahlah. Kita ikuti Cempaka naik kepandapa” Keduanyapun kemudian naik kepandapa. Ketika mereka sudah duduk diatas tikar pandan yang terhampar, maka Jlitheng masih sempat memandang kedua orang yang berdiri diatas lesung. Buntar Angin dan adiknya Sampar Watang” “Nampaknya keduanya bukan keturunan orang kebanyakan” gumam Jlitheng di dalam hatinya, namun ia tidak menanyakannya kepada Rahu. Meskipun demikian ia merasa bahwa tatapan mata kedua orang itu seolah-olah telah memper ingatkannya. bahwa ia berada di dalam lingkungan Sanggar Gading yang garang, buas dan kasar. Dalam pada itu, ternyata bahwa dihalaman rumah induk itu telah berdiri beberapa orang yang berpencar disudut-sudut. Lebih dari empat orang. Dan Jlitheng tidak tahu, apakah yang sedang mereka kerjakan. Namun ia merasa, bahwa ia. harus berhati-hati menghadapi segala kemungkinan, karena di tempat itu dapat terjadi beberapa hal yang tidak disangka- sangkanya. Beberapa saat lamanya keduanya duduk di pendapa. Tetapi tidak ada sesuatu yang mereka lakukan kecuali duduk sambil merenung. Akhirnya Jlitheng tidak tahan lagi. Maka iapun kemudian bertanya kepada Rahu “Apa yang akan kita lakukan disini?“ “Duduk sajalah” berkata Rahu “Kita akan menungu. Lihat, Cempakapun duduk menunggu“ “Cempaka berada di rumah sendir i” geram Jlitheng “Tetapi aku orang lain disini” “Jangan berbuat aneh-aneh. Tunggu sajalah. Kau akan mengetahui, apa, yang akan kita lakukan disini nanti” “Sampai kapan aku harus menunggu?“ bertanya Jlitheng Rahu tidak menjawab. Tetapi ia berpaling ketika ia mendengar pintu pr inggiitan itu berderit. Ketika pintu terbuka, maka nampak seorang yang cacat kaki dan tangan, keluar beberapa langkah. Kemudian dengan suara yang terbata-bata ia berkata “Bersiaplah. Yang Mulia sudah hampir siap. Yang sudah ada di padepokan supaya berkumpul di bangsal ini” Tidak ada-yang menjawab. Orang yang cacat kaki dan tangan itupun kemudian melangkah tertatih-tatih masuk ke ruang dalam. Sejenak kemudian pintu itupun telah tertutup lagi. “Siapa yang akan hadir di bangsal ini?“ bertanya Jlitheng. “Pemimpin tertinggi dar i padepokan kami” jawab Rahu. “Ya, siapa orang itu?“ desak Rahu. “Tidak seorangpun yang mengetahui siapakah orang itu sebenarnya. Yang aku ketahui, ia adalah pemimpin padepokan ini. Apakah masih perlu dijelaskan, siapakah ia sebenarnya?” sahut Rahu. Jlitheng tidak menyahut. Tetapi ia mengumpat di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, sebelum orang yang disebut Yang Mulia itu keluar dari pintu pringgitan, seorang yang bertubuh tinggi, kekar dan berkumis lebat naik ke pendapa. Sejenak ia memandang berkeling Namun kemudian ia berdesis “Kau sudah ada disitu Cempaka?“ Cempaka acuh tidak acuh saja. Ia masih duduk. Namun iapun menjawab pendek “Ya” Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian dipandanginya Jlitheng dengan tajamnya. Dengan nada datar ia bertanya “Siapa orang itu?“ “Bantaradi” jawab Cempaka. “O“ orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Jadi orang inilah yang kau katakan memiliki kemungkinan untuk bersama-sama dengan kita memasuki istana itu? Nampaknya seperti orang sakit-sakitan. Apakah benar ia akan mampu mengimbangi permainan kita?“ Jlitheng menjadi tegang. Ia mengenal serba sedikit tentang keadaan di padepokan itu, Karena iltu, maka ia harus menyesuaikan dir inya agar ia tidak menjadi orang yang sangat asing. Karena itu, maka dengan suara berat ia langsung menjawab “Kau ingin menjajagi kemampuanku? Di depan bangsal ini terdapat halaman yang luas dan beberapa orang saksi” Orang itu terkejut. Ia tidak menyangka bahwa orang itu tiba-tiba saja telah langsung menantangnya Namun justru karena itu, maka untuk sesaat ia terbungkam. Dalampada itu Jlitheng yang disebut bernama Bantaradi itu berkata ”jawaban yang paling baik yang dapat aku berikan kepadamu orang yang bertubuh tinggi, adalah kenyataan aku sebagai seorang laki-laki” Wajah orang itu menjadi merah padam. Belum lagi ia dapat mengatur perasaannya, Jlitheng tiba-tiba telah berdiri. Tetapi ia tertegun karena Rahu menggamitnya sambil bertanya “Kau mau apa?” “Orang itu menghinaku” jawab Jlitheng “Siapa orang ini?“ Cempaka tertawa sambil menyahut “Jangan menjadi liar disini. Sejak kau mencampuri persoalanku di bulak itu sebelum kau mengetahui persoalannya, telah menumbuhkan dugaan padaku, bahwa kau adalah seorang yang tidak mampu mengendalikan perasaan. Ternyata kini kau benar-benar seorang yang liar” “Tetapi ia menghinaku. Ia menyebut aku sebagai orang sakit-sakitan. Dan iapun meragukan, apakah aku mampu mengimbangi kemampuan orang yang sombong itu” jawab Jlitheng. “Duduklah” desis CempaKa “sebentar lagi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading akan hadir di pendapa ini. Sesudah itu, terserahlah, apa yang akan kau lakukan” “Jlitheng termangu-mangu. Ia masih melihat orang bertubuh tinggi kekar dan berkumis lebat itu berdir i. “Duduklah” desis Cempaka. “Orang itu masih berdiri” jawab J litheng. “Jangan hiraukan. Iapun akan duduk nanti. Apalagi jika Yang Mulia Panembahan Wukir Gading hadir di pendapa“ desak Cempaka “Ia t idak akan berbuat apa-apa” Jlitheng masih ragu-ragu sejenak. Namun iapun kemudian duduk disebelah Rahu sambil berdesis “Orang-orang sombong itu harus diberi sedikit contoh agar ia dapat sedikit menghormat i orang lain” Rahu tersenyum. Desisnya perlahan-lahan, sehingga hanya. Jlitheng sajalah yang mendengar “Bagus. Kau lakukan perananmu dengan baik. Kau pantas menjadi orang Sanggar Gading yang kasar, liar dan buas” “Persetan“ geram Jlitheng. Dalam pada itu, orang bertubuh tinggi, dan berkumis lebat itu masih berdiri termangu-mangu. Ternyata orang yang belum dikenalnya itu adalah seorang yang berhati bara. Karena itu maka iapun tidak lagi menegurnya, karena orang yang baru pertama kali memasuki Sanggar Gading itu sama sekali tidak menjadi cemas dan apalagi takut menghadapi sifat dan sikap orang orang padepokan itu. Sejenak kemudian orang bertubuh tinggi itupun duduk pula diantara mereka yang sudah ada di pendapa. Bahkan iapun masih dikejutkan oleh pertanyaan Jlitheng yang tiba-tiba “He, orang tinggi. Siapa namamu” “Gila” Orang itu mengumpat” bertanyalah dengan baik. “Aku adalah aku. Aku tidak dapat berpura-pura baik dan sopan menghadapi orang lain. Apalagi menghadapi kau” jawab Jlitheng. “Anak demit. Namaku Sawunglaga “Orang itu seolah-olah menjawab diluar sadarnya” “Kau sudah mengenal namaku. Tetapi kau belum mengenal aku sepenuhnya” geramJlitheng kemudian. Sawunglaga menggeram. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan wajah yang gelap iapun kemudian duduk disebelah Cempaka “Jangan pikirkan” desis Cempaka “ia orang baru, Aku memer lukannya” “Kau bawa orang gila itu kemar i” geram Sawunglaga “Jika bukan karena orang itu kau perlukan, aku bunuh ia disini sekarang juga. Justru aku ingin menunjukkannya kepada Yang Mulia Panembahan Wukir Gading” Cempaka tersenyum. Desisnya ”Atau justru kaulah yang dibunuhnya “ “Persetan” Orang itu menggeretakkan gigi “kau sudah kehilangan pengamatanmu yang selama ini dikagumi orang padepokan ini“ “Justru karena ketajaman pengamatanku itulah, aku dapat mengatakan hal itu kepadamu” sahut Jlitheng. “Kau juga sudah Gila” Orang itu menggeram sabil bergeser sejengkal menjauhi Cempaka yang justru tertawa karenanya. Sejenak mereka masih menunggu. Yang hadir kemudian adalah orang bertubuh gemuk agak pendek. Tetapi wajahnya bagaikan wajah ser igala kelaparan. Disusul oleh mereka yang semula berdiri di halaman. Sementara kedua kakak beradik yang berdiri dialas lesung itupun telah mendekati pendapa pula. “O“ seorang yang bertubuh kekurus-kurusan dengan kulit kuning dan mata yang bulat berdesis ketika ia naik ke pendapa. Dengan mengangguk dalam-dalam ia berkata kepada Jlitheng “Selamat datang di pondok kami yang buruk ini Ki Sanak. Menurut pendengaran kami, Ki Sanak adalah seorang pengembara yang bernama Bantaradi” Jlitheng agak bingung menghadapi orang yang satu itu. Nampaknya ia seorang yang ramah dan sopan. Wajahnya tampan dan cerah. Setiap kali ia melihat senyum membayang di bibirnya. “Benar Ki Sanak“ Jlitheng menjawab sambil mengangguk pula meskipun agak ragu dan kaku. Namun kerapu-raguannya itu ternyata telah menumbuhkan kesan yang sejalan dengan sifatnya yang telah dibuatnya menjadi liar dan kasar “Aku bernama Bantaradi” “Namaku Nrangsarimpat,” berkata orang itu sebelum Jlitheng bertanya kepadanya “Aku berasal dari Singasari. Trah Sri Maharaja Kerta Negara” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi wajahnya kemudian nampak acuh t idak acuh. Bahkan kemudian ia tidak memperhatikan orang itu lagi. Tetapi orang yang menyebut dirinya bernama Nrangsarimpat itu berkata sambil tertawa “Apakah kau belum pernah mendengar kejayaan Singasari. Kau belum pernah mendengar kebangkitan Singasari yang dipimpin oleh seorang anak padesan yang semula bennaima Ken Arok? Kemudian dari isterinya yang bernama Ken Dedes ia menurunkan raja- raja besar di negeri yang kaya raya ini” Jlitheng memandanginya sejenak. Lalu jawabnya “Aku tidak pernah mendengar dongeng-dongeng semacam itu. Aku lebih menghargai waktuku dengan bermain pedang daripada seperti kanak-kanak yang ingin tidur nyenyak mendengarkan dongeng-dongeng yang tidak berarti” Tetapi jawaban orang berwajah tampan itu mengejutkan Jlitheng “Maaf Ki Sanak. Aku tidak ingin mengganggu Ki Sanak. Jika yang aku katakan ini tidak menarik sama sekali, dan bahkan telah mengganggumu, maka sekal lagi aku minta maaf” Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia melihat satu wajah yang berbeda dari keseluruhan wajah padepokan Sanggar Gading. Orang yang berwajah tampan dan berkulit kuning dan bermata cerah itu adalah seorang yang mengenal unggah ungguh. Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Ia merasa bingung tentang dirinya sendiri. Ia sudah terlanjur bersikap keras, kasar dan bahkan liar untuk menutupi perasaan dan tanggapannya yang sebenarnya atas orang-orang yang berhubungan dengan orang-orang Sanggar Gading. Namun ternyata di dalam padepokan, itu sendiri terdapat juga orang yang bersikap lembut dan ramah mengenal unggah ungguh. Tetapi Jlitheng tidak sempat memikirkannya lebih lama. Bahkan sebelum ia menjawab, maka semua orang telah bersikap. Agaknya karena mereka medengar bunyi kelinting di dalami ruang dibalik pintu pr inggitan. “Yang Mula Panembahan Wukir Gading akan hadir” desis Rahu “O“ Jlitheng membenahi dir inya. Bahkan ia telah membenahi perasaannya. Memang mungkin sekal terjadi sesuatu yang tidak diduganya lebih dahulu. Sejenak kemudian maka pintu pringgitan itu telah terbuka. Orang yang muncul adalah orang yang cacat kaki dan tangannya. Kemudian ia bergeser kesamping pintu dua langkah. Di susul kemudian oleh seorang anak muda yang berwajah keras meskipun tidak nampak kasar. Anak muda yang mengenakan pakaian orang kebanyakan. Seperti juga orang-orang Sanggar Gading yang lain, yang memakai pakaian seperti orang kebanyakan. Meskipun ada satu dua orang yang nampak berpakaian aneh, dan ada juga yang nampak mempergunakan beberapa jenis perhiasan pada timang dan ukiran kerisnya. “Itulah Yang Mula?“ desis Jlitheng per lahan-lahan. Rahu menggeleng. Desisnya “Itu adalah puteranya. Putera satu-satunya. Ia tidak mempunyai anak yang lain kecuali anak muda itu” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun ia merasa menjadi semakin tegang. Yang muncul kemudian adalah seorang tua yang berjalan dengan tongkat ditangan. Ternyata bunyi kelinting itu adalah kelint ing yang terikat pada tongkat orang tua itu. Namun Jlitheng segera menyadari, bahwa orang tua itulah yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Tongkat itu terbuat dari gading sepenuhnya. Dibagian kepala tongkat itu terdapat ukiran emas intan dan berlian. Jlitheng menjadi semakin yakin ketika ia melihat sikap orang-orang yang berada di pendapa itu. Mereka menundukkan kepala dalam-dalam untuk menghormat kehadiran orang tua itu. Sejenak orang tua itu berdiri di depan pintu. Dilihatnya setiap orang yang berada di pendapa itu seorang demi seorang. Baru kemudian ia melangkah mendekati para pengikutnya yang duduk di pendapa. Pada saat itulah Jlitheng baru melihat bahwa orang tua itu ternyata adalah orang yang timpang Nampaknya ia terlalu payah untuk berjalan, sehingga tanpa tongkat, agaknya ia tidak mampu lagi untuk melangkah. Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika sekilas ia melihat mata orang tua itu tersangkut kepadanya. Ada sesuatu yang terkesan pada tatapan matanya, sehingga karena itu Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar karenanya. Pendapa rumah induk padepokan Sanggar Gading itu menjadi hening. Semuamya menunggu, apa yang akan dikatakan oleh pemimpin tertinggi dari padepokan itu. Namun Jlitheng terkejut ketika yang pertama diucapkan oleh orang tua bertongkat gading itu adalah “Cempaka, apakah anak muda itu yang telah melukai ketiga orang kita di padang perburuhan?“ Cempaka mengangkat wajahnya. Namun seolah-olah tidak ada kesan apapun di wajahnya dan pada getar suaranya ia menjawab “Ya guru. Anak muda yang aku sebut bernama Bantaradi inilah yang melakukannya” Jlitheng menjadi semakin heran. Ia belum lama sampai di padepokan itu. Namun pemimpin tertinggi padepokan Sanggar Gading itu sudah mendengar perist iwa yang terjadi di padang kematian itu. Pemimpin tertinggi yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itupun mengangguk-angguk Katanya “Jika demikian, maka ia sudah melalui hambatan terakhir dar i jalan yang menuju ke Sanggar Gading” “Demikianlah agaknya Yang Mulia” berkata Cempaka. ”Tetapi Yang Mulia” tiba-tiba saja salah seorang dari kedua kakak beradik itu memotong “hambatan itu barulah hambatan diperjalanan. Tetapi kesombongannya membuat hati kami menjadi berdebar-debar. Ia sudah melukai penjaga regol, kemudian menghinakan pemelihara kuda di kandang. Apakah dengan demikian kami akan dapat mener ima kedatangannya?“ Yang Mulia Panembahan itu kemudian mengangguk- angguk. Katanya “Itu terserah kepada kalian. Apakah kalian dapat menerimanya atau tidak. Tetapi aku sependapat, bahwa anak muda ini memang sombong. Ia tidak membunuh tiga orang yang sudah dikalahkannya di padang kematian itu?” “Gila“ geram Jlitheng “agaknya sudah menjadi adat disini, bahwa orang-orang Sanggar Gading tidak mudah dapat menerima orang-orang baru di padepokannya” “Aku merasa keberatan atas kehadirannya“ Sawunglaga tiba-tiba saja bergeser setapak “Ia sudah melukai perasaanku” “Itu persoalan kalian” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading “Tetapi siapakah yang akan menanggungnya jika ia bermaksud menghindari kesulitan di padepokan ini. “Aku Yang Mulia” berkata Cempaka “akulah yang membawanya kemar i. Aku mohon, agar ia dibebaskan dari segala macam permainan yang tidak akan banyak berarti apa- apa, karena semakin banyak, orang yang berusaha mendesak kehadirannya, maka korban akan semakin banyak berjatuhan. Aku sudah dapat menilai kemampuannya. Dan akupun cukup mengerti tingkat kemampuan orang-orang Sanggar Gading” Orang tua itu tertawa. Katanya “Jarang sekali kau mempergunakan akal dan pikiranmu. Ternyata yang kau katakan itu mendapat pertimbangan” Sebelum Cempaka menjawab lagi, maka orang yang menyebut dirinya bernama Nrangsarimpat itupun berkata “Aku terima kehadirannya. Menurut pengamatanku, memiliki ujud jasmaniahnya sorot matanya dan tingkah lakunya, aku yakin bahwa hati orang ini bersih. Bahwa orang ini tidak membunuh tiga orang yang sudah dilukainya, bukanlah satu hal yang dapat dipersoalkan karena itu bukan berarti kesombongan” “O“ pemimpin tertinggi itu mengangguk-angguk ” jadi kau berbeda pendapat dengan beberapa orang lain?“ “Ya, guru” jawab Nrangsarimpat “Aku mohon maaf Tetapi itu adalah pendapatku. Karena itu, aku sependapat dengan Cempaka, bahwa sebaiknya ia dibebaskan saja dari segala macam tingkah laku yang cengeng itu” “Gila” geram orang bertubuh pendek dan gemuk “semuanya omong kosong. Orang itu tidak pantas duduk diantara kita disini. Kami adalah mur id-murid Yang Mulya Panembahan Wukir Gading. Tetapi orang itu bukan sama sekali” “He” potong Nrangsarimpat “sejak kapan kau menjadi mur id Yang Mulia Panembahan, dan sejak kapan Sawunglaga menjadi mur id di padepokan ini. Sejak kapan pula aku datang dan hampir saja aku mengurungkan niatku setelah aku mencekik Ular Bertanduk Besi itu sampai mati karena ia berusaha mencegah aku hadir disini. Tetapi kita semuanya kini adalah murid Yang Mulia” “Aku akan membunuhnya. Nanti malam, atau besok pagi- pagi” desis orang bertubuh pendek itu. “Sebaiknya kau tutup saja mulutmu“ Rahulah yang kemudian berdesis “Cempakai membawanya kemari. Bukan tanpa sebab. Kalian sudah tahu, bahwa saat. Cempaka dan aku menjalankan tugas itu. Maka hadirlah orang yang bernama Bantaradi itu” “Cempaka tidak berhak melindunginya” berkata Sawunglaga “biarlah ia membuktikan, apakah ia pantas menjadi bagian dari kita disini, atau orang itu harus dilemparkan ke lembah bangkai” Orang tua bertongkat gading itu tertawa. Katanya “Aku senang pada anak yang sombong itu. Ia sama sekali tidak berkata sepatah katapun selagi orang-orang sibuk memperbincangkan. Itu pertanda bahwa ia mempunyai kepercayaan yang kuat pada dirinya sendiri. Ia dapat menerima segala akibat yang akan menimpanya. Ia tidak gentar jika ia harus benkelai. Tetapi iapun tidak menjadi gembira bila ia kita terima begitu saja” Orang-orang yang berada di pendapa ituipun terdiam. “Aku terima dia diantara kita” berkata Yang Mulia Panembahan, itu “Tetapi aku akan memberikan ukuran kemampuan kepadanya. Ia akan menjadi mur idku yang ke sembilan puluh enam” Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk menjadi mur id Panembahan Wukir Gading. Tetapi jika hal itu menjadi satu-satunya jalan, maka ia tidak akan menolaknya. Ia masih tetap pada tujuannya. Mengetahui orang yang telah disebut-sebut oleh Daruwerdi di Bukit Gundul itu. Karena itu maka ia masih tetap berdiam dir i. Ia ingin segera mengetahui keputusan Panembahan itu tentang usaha mereka menemukan pusaka yang sedang diperebutkan melalui segala macam cara. Tetapi Jlitheng menjadi kecewa ketika kemudian Panembahan itu berkata ”malam nanti aku akan menerima kalian di sanggar. Kita masih harus mematangkan rencana kita. Kita harus bertindak lebih cepat. Agaknya orang-orang Pusparurilah yang telah mempersiapkan segalanya, sementara orang-orang lain masih menunggu. Tetapi kita tidak lagi dalam tingkat persiapan dan apalagi menunggu. Kita sudah sampai pada tahap melaksanakan” “Malam nanti” desis Jlitheng “sementara masih mungkin terjadi sesuatu atasku” Namun Jlitheng tidak dapat berbuat lain kecuali menerima segalanya. Orang-orang Sanggar Gading yang lainpun nampaknya tidak mengusulkan sesuatu. Sementara itu, maka. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading iltu berkata “Pertemuan ini adalah khusus untuk menerima mur idku yang kesembilan puluh enam ini Ia akan ikut serta dalam pembicaraan malam nanti di sanggar, disamping Cempaka, Niangsarimpat, Sawunglaga, Rahu dan kakak beradik itu. Pembicaraan itu tidak perlu diikuti oleh banyak orang, sehingga kita akan segera mendapatkan kesimpulan. Yang lain akan mener ima perintah dan petunjuk pengarahan bagi tugas besar kalian selanjutnya” Orang bertubuh gemuk dan agak pendek itu terdengar mengumpat tetapi tidak jelas. Agaknya ia merasa kecewa bahwa ia tidak diperintahkan untuk ikut berbicara di sanggar. Sejenak kemudian maka Panembahan itupun bergumam seolah-olah kepada diri sendir i “Badanku merasa sangat letih. Aku akan ber istirahat” Tidak ada yang menyahut Semuanya duduk dengan tenang seperti saat Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu keluar dari ruang dalam. Sejenak kemudian, tertatih-tatih Yang Mulia Pamembahan itu berdiri. Diikut i oleh anak laki- lakinya. Kemudian tertatih- tatih pula ia berdiri, menuju ke pintu pringgitan. Sementara pengawalnya yang cacat itupun bergeser selangkah, dan kemudian mengikutinya pula masuk ke dalam. Ketika Yang Mulia itu sudah hilang dibalik pintu, maka masih terdengar suara kelinting yang terkat pada tongkatnya. Suaranya gemlinting dalam irama yang timpang. Namun telinga Jlitheng yang tajam kemudian tersentuh oleh perubahan irama suara kelinting itu. Meskipun tidak segera dapat membayangkan apa yang terjadi, namun rasa- rasanya ia melihat perubahan sikap dar i Panembahan yang cacat kaki itu. Tetapi Jlitheng tidak bertanya sesuatu. Ia sama sekali dikaburkan oleh sikap dan perbuatan para pengikutnya Panembahan itu. Dengan demikian, ia masih belum menemukan tentang tanggapan yang pasti tentang isi dari padepokan Sanggar Gading itu. “Kita dapat berist irahat” berkata Rahu kemudian. Jlitheng mengangguk-angguk Iapun melihat beberapa orang telah bergeser dan meninggalkan pendapa. Satu dua orang diantara mereka memandang J litheng dengan sorot mata kedengkian, bahwa orang baru itu telah diperkenankan untuk ikut dalampembicaraan di dalam sanggar. “Tetapi ia tidak akan dapat ikut berbicara” gumam orang bertubuh pendek dan agak gemuk itu kepada dir i sendir i Jlitheng melihat sambaran sorot matanya yang membina. Namun iapun sudah bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Apalagi orang tertinggi di padepokan itu sudah menyatakan, bahwa ia telah diterima di dalam lingkungan Sanggar Gading, meskipun kata-kata Yang Mulia itu masih mendebarkan jantung, bahwa ia akan memberikan ukuran bagi kemampuannya- “Apakah yang dimaksudkannya?“ pertanyaan itu masih saja melekat didinding jantungnya. Sementara itu, maka Rahupun mulai bergeser pula. Jlithengpun mengikut inya pula turun ke pendapa. Ia masih belum tahu kemana ia harus pergi. Karena itu maka iapun selalu mengikut i, saja kemana Rahu pergi. “Kita akan pergi kebarak” berkata Rahu. “Apakah ada tempait bagiku?“ bertanya Jlitheng. “Kau akan tinggal dalam satu bilik dengan aku. Cempaka sudah menyiapkannya. Meskipun ada kemungilan bahwa bilik itu tidak akan pernah bertambah dengan penghuni baru dan pembaringan yang sudah disediakan itu tidak akan pernah dipergunakan oleh siapapun” jawab Rahu. “Kau menganggap bahwa kemungkinan terbesar, aku akan mati sebelum memasuki bilik itu” desis Jlitheng. Rahu tertawa. Katanya “Memang mungkin sekali. Tetapi sekarang kita sedang menuju langsung kebilik di dalam barak itu” Jlitheng tidak menjawab. Tetapi ia harus berhati-hati. Ia merasa beberapa pasang mata sedang mengikutinya, meskipun ia t idak melihat seseorang dengan jelas. Tetapi akhirnya keduanya memasuki sebuah barak tanpa kesulitan. Seorang yang bertubuh raksasa yang berdiri di pintu barak itupun telah bergeser dan memberikan jalan kepada Jlitheng, meskipun nampaknya wajahnya menjadi garang. “Ia adalah seorang raksasa yang sangat baik” desis Rahu ketika mereka melangkah menuju ke pintu. Namun kemudian berhati-hatilah dengan kancil itu?” Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia melihat seorang bertubuh kecil pendek sedang berbaring disebuah amben yang besar. Tiba-tiba saja ia meloncat berdir i. Sambil tertawa ia berkata lantang “He kau Rahu. Kau membawa seekor keledai kemari?“ Jlitheng tidak menunggu lebih lama lagi Pertanyaan itu telah cukup membuatnya marah menurut takaran orang-orang Sanggar Gading yang kasar. Karena itu, iapun tiba-tiba saja telah meloncat menerkam orang bertubuh kecil dan pendek itu. Tetapi ternyata orang bertubuh kecil itu sangat tangkas. Sambil tertawa ia berhasil meloncat kesamping menghindari terkaman tangan Jlitheng. Namun Jlithengpun lelah mempersiapkannya. Rahu sudah memper ingatkan, bahwa ia harus berhati-hati terhadap kancil itu. Karena itu, demikian Jlitheng gagal menerkam orang itu, maka iapun segera berputar sambil mengayunkan kakinya mendatar. Demikian cepatnya, sehingga orang bertubuh kecil itu harus meloncat lagi menjauh. Namun Jlitheng tidak melepaskannya. Sebuah lontaran panjang menyusul. Demikian cepatnya, sehingga kancil itu benar-benar tidak sempat lagi menghindar. Demikian kakinya melekat lantai, Jlitheng telah menyusulnya dengan sebuah hantaman dengan tumit kakinya, tepat mengenai lambung. Ternyata bahwa kancil yang cekatan itu tidak memiliki daya tahan yang terlalu kuat. Demikian kaki Jlitheng mengenainya, maka iapun telah, terlempar dan membentur tiang. Demikian kerasnya, sehingga kancil itupun kemudian terjatuh dilantai dan langsung menjadi pingsan. Raksasa yang berdiri di pintu dan memberi jalan kepada Rahu dan Jlitheng memasuki barak itupun melangkah masuk. Dilihatnya kancil j itu terbaring pingsan. Dengan mata terbelalak ia memandang Jlitheng. Namun Rahu berkata sambil tersenyum “Salahnya sendiri” Orang bertubuh raksasa ia masih berdiri tegang. “Rawatlah kancil yang sombong itu. Ia telah diberi sedikit peringatan oleh Bantaradi, tamu Cempaka” Orang bertubuh raksasa itu menar ik nafas dalam-dalam. Katanya dengan suara rendah “Jadi orang inikah yang bernama Bantaradi?” “Ya” jawab Rahu. Orang bertubuh rasasa itu tidak bertanya lagi. Ia kemudian melangkah mendekati kancil yang pingsan itu. Dengan sekali renggut, maka tubuh kecil itu telah terlempar keatas pembaringannya. “Ia akan sadar dengan sendir inya” berkata orang bertubuh raksasa itu” Rahu dan Jlithengpun kemudian langsung menuju ke biliknya. Ternyata bahwa Jlitheng benar-benar telah mendapat kesempatan untuk tinggal di dalami barak orang-orang Sanggar Gading, “Kau tidur disini” berkata Rahu. “Dan malamnanti kau akan membunuhku” geram Flitheng Rahu tertawa. Katanya “Aku tidak dapat lagi membedakan, apakan kau bersungguh-sungguh atau sekedar berpura-pura dan bahkan mungkin kau sedang bergurau” “Anak iblis“ Jlitheng mengumpat. Namun ia tidak menghiraukan Rahu lagi. Dengan serta merta k menjatuhkan dirinya keatas pembaringan. “Malam nanti kita akan menentukan segala-galanya“ berkata Rahu “diantara kita akan hadir orang yang belum pernah kau kenal?“ “Siapa?” bertanya Jlitheng. “Penguasa medan dari Sanggar Gading” jawab Rahu. “Apa artinya penguasa medan?“ bertanya Jlitheng. “Ia adalah orang yang paling berkuasa di medan. Yang Mula Panembahan hanyalah orang yang menentukan dilingkungan Sanggar ini. Anak laki-lakinya hampir tidak mempunyai pengaruh sama sekail Sedangkan yang paling berkuasa dalam segala gerakan adalah orang yang belum kau kenal itu” “Siapa?“ bertanya Jlitheng dengan berdebar-debar. “Sanggit Raina” jawab Rahu. “Nama apa itu? Sanggit Raina“ ulang Jlitheng. ”Namanya yang sebenarnya. Dua orang kakak beradik itu agaknya mempunyai nama yang agak aneh“ Rahu menerangkan. “Kakak beradik siapa?“ bertanya Jlitheng “Orang itu adalah saudara tua Cempaka” jawab Rahu. Jlitheng mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata “Itulah sebabnya, Cempaka nampaknya mempunyai pengaruh pula di daerah yang sepanas perapian ini” “Ya. Pengaruh Sanggit Raina memang besar. Juga pengaruhnya terhadap Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. “Apakah ia murid yang pertama?“ bertanya Jlitheng. Rahu menggeleng. Jawabnya “Ia murid yang ke tujuh puluh t iga” “Ketujuh puluh tiga“ Jlitheng mengulang. “Ya. Dan Cempaka adalah murid yang ke tujuh puluh sembilan” Jlitheng mengangguk-angguk. Dengan demikian ia dapat membayangkan, bahwa di padepokan ini terdapat beberapa orang murid sesuai dengan urutan angkanya. Namun Jlithengpun juga sudah menduga, bahwa tentu ada diantara mereka yang telah meninggalkan padepokan ini “Berapa orang yang telah pergi?“ bertanya Jlitheng, “Aku tidak ingat lagi” jawab Rahu “sebagian telah dibunuh oleh yang datang kemudian Cempaka membunuh dua orang saat ia memasuki padepokan ini. Orang keempat dan kelima yang akan membunuhnya, telah mengurungkan niatnya ketika mereka mengetahui bahwa Cempaka adalah adik Sanggit Raina” “Apakah Sanggit Raina juga membunuh ketika ia datang.?” “Tidak. Ia tidak membunuh seorangpun“ Demikian saja ia melimtasi padang kematian?“ Jlitheng menjadi heran. “Ia datang seperti hantu. Itulah yang telah menggemparkan padepokan ini. Tidak scorangpun yang mengetahui, bahwa tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam bilik Yang Mulia. Sambil mengancam dengan keris ia mendesak, agar ia diperbolehkan t inggal di padepokan ini” “Yang Mulia takut kepadanya?“ bertanya Jlitheng. “Seharusnya tidak. Tetapi kedatangannya itu sangat menarik perhatiannya Yang Mulia senang sekali melihat kelakuan Sanggit Raina, sehingga ia diangkat menjadi pemimpin disini, disamping Yang Mulia itu sendiri” Jlitheng mengumpat meskipun orang lain t idak mendengarnya. Dengan suara datar ia bergumam “Tempat ini benar-benar neraka jahanam yang paling kasar dan liar” “Dan kau sudah mencoba menyesuaikan dirimu” berkata Rahu, Jlitheng menarik nafas. Kemudian tiba-tiba saja bertanya “He, kau murid menurut urutan angka berapa?“ “Delapan puluh satu. Aku datang kemudian dar i Cempaka” “Dan kau membunuh juga di padang kematian?“ “Kebetulan sekali, aku tidak berjumpa dengan siapapun di padang itu. Aku juga tidak membunuh seorangpun” “Bagaimana mungkin kau dapat memasuki padepokan ini?“ Rahu tertawa. Katanya “Aku mempunyai cara tersendiri. Aku tidak memasuki regol halaman. Tetapi aku memecahkan dinding dekat disebelah regol tanpa diketahui oleh para penjaga. Mereka menganggap perbuatan itu aneh. Dan akupun diterima disini. Tetapi selama tiga bulan aku berkelahi hampir setiap hari. Tetapi aku tidak pernah membunuh siapapun juga. “Gila. Kau sudah gila, Kau menakut-nakuti aku karena aku tidak membunuh. Kau sebut aku orang yang terlalu baik dan pantas dicurigai” geram Jlitheng. Rahu tertawa. Semakin lama semakin keras, sehingga Jlitheng memukul perutnya Sambil berkata “Berhentilah” Rahu mencoba menahan tertawanya, Laki katanya “Jangan merajuk begitu. Di padang perburuhan, hampir setiap orang membunuh korbannya. Tetapi setelah kita berada di padepokan ini, sudah tentu bahwa kita tidak akan membunuh orang-orang yang kita jumpai meskipun kita, berkelai. Kau juga tidak membunuh penjaga regol itu, demikian pula pekatik di kandang Kancil itu juga tidak kau bunuh?” “Persetan geram Jlitheng, lalu tiba-tiba “pada suatu saat apakah adikmu juga akan memasuki padepokan ini, seperti Cempaka menyusul kakaknya?“ “Terserah kepada anak itu. Tetapi aku tidak akan menyuruhnya masuk kemar i” jawab Rahu. Jlitheng tidak menjawab lagi. Ia telah berbaring lagi. Rahupun kemudian duduk disebuah amben bambu didalam bilik itu. Sejenak mereka saling berdiam dir i. Namun kemudian Rahupun berkata “Aku akan pergi ke sumur. Tinggal sajalah di dalam bilik ini. Sebaiknya kau tidak membuat persoalan dengan siapapun sampai malamnanti” “Apa pedulimu” jawab Jlitheng. Rahu tidak menjawab. Tetapi senyumnya sangat menjengkelkan Jlitheng sehingga ia berkata “Jika kau mengejek dengan senyuman semacam itu, aku sobek bibirmu” “Sudahlah, jika hanya ada aku, kau tidak usah berpura- pura kasar dan liar” jawab Rahu. “Anak iblis“ Jlitheng mengumpat. Namun ia kemudian memiringakan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Sementara itu, Rahupun telah keluar dari biliknya untuk pergi ke pakiwan. Ketika ia lewat pintu? baraknya, dilihatnya orang bertubuh raksasa itu duduk di sebelah pintu sambil memeluk lututnya. Ia berpaling sejenak ketika ia mendengar langkah kaki Rahu. Tetapi ia tidak menyapanya, dan bahkan sama sekali tidak mengacuhkannya lagi. Dihadapan ia melihat orang yang disebutnya kancil sedang dikerumui oleh tiga orang kawannya, Agaknya kancil itu sedang mencer itakan, apa yang telah dialaminya dengan orang baru itu. Tetapi Rahulah yang kemudian tidak mengacuhkannya, la berjalan saja lewat disetelahnya tanpa berpaling sama sekali. Namun ia berharap bahwa Jlitheng yang dikenalnya ternama Bantaradi itu tenar -tenar tidak keluar dari biliknya. Sebenarnyalah Jlitheng memang tidak ingin keluar dari bilik itu. Bagaimanapun juga, ia memperhatikan nasehat-nasehat Rahu, karena ternyata sejak ia bertemu dengan orang itu di padukuhan yang aneh, seaneh padepokan itu, nampaknya Rahu selalu berbuat baik terhadapnya. Ia telah memper ingatkannya beberapa kali tentang bahaya yang mungkin dapat menerkamnya Disaat terakhir ia telah memper ingatkannya tentang orang yang disebut kancil itu. Meskipun. Jlitheng berbaring, tetapi ia tidak akan dapat tidur nyenyak. Apalagi bukan saatnya orang tidur. Ketika Rahu telah keluar dari bilik itu, maka Jlitheng kembali tidur menelentang. Namun pedang tipisnya tidak terpisah dari padanya, karena setiap saat dapat terjadi sesuatu yang tidak diduganya. Tetapi tidak seorangpun yang mengusik Jlitheng d dalam bilik itu. Ketika Rahu memasuki bilik itu kembali, maka Jlithengpun masih tetap berbaring diam Rahu sama sekali tidak mengusiknya, lapun kemudian duduk kembali diamben bambu. Dari geledeg bambu diambilnya sebilah keris. Kemudian dengan angkup nangka ia menggosok wrangka ker isnya dengan hati-hati. Sementara itu, padepokan itupun rasa-rasanya menjadi gelisah. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat melihatnya bahwa kegelisahan semacam itu telah berulang kali terjadi, jika ada orang-orang baru memasuki padepokan yang penuh dengan kedengkian, ini dan ketamakan itu. Namun dalam pada itu, Jlitheng dapat mengetahui, bahwa agaknya sikap orang yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu cukup lunak, la member i banyak kebebasan kepada mur id-mur idnya. Bahkan kebebasan untuk membunuh atau bahkan terbunuh. Iapun tidak marah ketika beberapa orang murid langsung menyampaikan sikap dan pendiriannya di pendapa. Dan bahkan ia dengan senang hati menerima orang-orang yang aneh dan melanggar unggah-ungguh menurut ketentuan orang kebanyakan. Demikianlah, setelah dengan gelisah dan terasa sangat menjemukan, Jlitheng dan Rahupun sampai pada suatu saat untuk berkumpul di sanggar bersama orang-orang yang telah ditentukan. Bagaimanapun juga hati Jlitheng menjadi sangat berdebar-debar, la tidak tahu, apakah sebenarnya ia dapat diterima dan bersama-sama melakukan tugas yang akan dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading untuk memenuhi permintaan Daruwerdi. Menangkap seseorang yang disebutnya berkhianat karena telah membunuh ayahnya. “Apakah sebenarnya yang akan mereka bicarakan?“ bertanya Jlitheng kepada Rahu “Apakah kau mengerti, tugas yang akan dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading?“ Rahu menggeleng. Jawabnya “Aku tidak tahu. Aku hanya mengetahui bahwa sesuatu yang sangat penting akan kita lakukan. Tetapi yang sangat penting itu tidak aku ketahui dengan pasti” “Mungkin kau tidak mengetahui dengan pasti. Tetapi kau tentu dapat merabanya” desis Jlitheng. “Sepuluh kali aku mencoba meraba tugas yang akan dibebanlkan kepadaku sebelum ini Tetapi sepuluh ikal pula aku keliru. Karena itu, lebih baiik kita hadir, mendengarkan dan kemudian melakukian perintah itu dengan sebaik-baiknya. Jlitheng tiidak bertanya lagi. Ia percaya, bahwa Rahu memang belum tahu dengan pasti. Adalah kebetulan sekali ia mendengar pembicaraan Cempaka dengan Daruwerdi, sehingga ia dapat menduga, bahwa tugas alulah yang akan mereka lakukan. “Tetapi mungkin tugas yang lain pula” berkata Jlitheng di dalam hatinya “alangkah menjemukan dan memuakkan sekali, jika aku harus melakukan tugas-tugas lain. Merampok atau menyamun sekedar untuk merampas harta benda, betapapun banyaknya” Namun seandainya demikian, Jlitheng tidak akan melepaskan kesempatan, bahwa ia telah memasuki Sanggar Gading. Hanya jika sudah pasti bahwa maksudnya memasuki Sanggar itu tidak akan terpenuhi, barulah ia memikirkan cara untuk melepaskan diri. Dengan hati yang berdebar-debar Jlitheng memasuki Sanggar bersama Rahu. Ketika ia melangkahi, tJundak pintu, di dalam telah hadir beberapa orang yang mendahuluinya. Agak berbeda dengan saat mereka berada di pendapa. Rasa- rasanya di dalam sanggar itu suasananya menjadi lebih bersungguh-sungguh. Namun dalam pada itu, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading lemyata masih belum hadir. Tetapi diujung sanggar itu duduk seorang yang masih belum separo baya. Bahkan masih nampak gejolak kemudaannya pada sorot matanya. Sedangkan agak kesamping nampak Cempaka duduk bersandar dinding. “Siapa orang itu?“ bertanya Jlitheng sambil berbisik Rahu memandang Jlitheng sejenak. Kemudian desisnya “Orang itulah yang aku katakan” “Kakak kandung Cempaka. Ialah yang bernama Sanggit Raina. Dan ialah yang sebenarnya memimpin padepokan ini. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading hanya member inya beberapa petunjuk. Kemudian segalanya terserah kepada Sanggit Raina” berkata Rahu lebih lanjut. Jlitheng mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia mulai menilai dir inya. Apakah ia mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu di Sanggar Gading. Jika tumbuh persoalan antara dirinya dan pemimpin yang bernama Sanggit Raina itu, apakah ia akan dapat melindungi dirinya. Tetapi ternyata Sanggit Raina sama sekali tidak memperhatikannya, la duduk terpekur seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit. Setelah duduk beberapa saat, maka terdengarlah suara kelint ing seperti yang sudah didengar oleh J litheng saat ia berada di pendapa. Sejenak kemudian sebuah pintu sanggar itu terbuka. Yang paling dahulu nampak adalah seorang laki- laki yang cacat Kemudian anak muda, anak Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, dan baru dibelakangnya bersandar tongkat gadingnya. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading tertatih-tatih memasuki sanggar itu. Demikian Panembahan dan puteranya itu masuk, maka suasana sanggar itu menjadi semakin hening. Namun dalam pada itu, meskipun setiap orang yang berada di dalam sanggar itu duduk diatas tikar, namun orang yang cacat, yang selalu muncul lebih dahulu sebelum Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, ternyata tetap berdiri disebelah pintu. Sesaat setelah Yang Mulia Panembahan itu duduk dan memandang setiap orang yang hadir, maka mulailah ia berkata “Pembicaraan ini adalah pembicaraan yang sangat khusus” Orang-orang yang ada di dalam sanggar, yang namanya telah disebut di pendapa itupun menjadi semakin bersungguh- sungguh. Mereka mendengarkan dengan saksama, apa yang akan dikatakan oleh Panembahan Wukir Gading itu. “Kita akan membicarakan tugas yang harus kalian lakukan segera berkata Yang Mulia “Aku sudah memberikan keterangan terperinci kepada Sanggit Raina. Biar lah ia menjelaskan kepada kalian apa yang harus kalian lakukan” Semua orang mengangguk-angguk kecil. Mereka tidak terkejut lagi. Sudah terbiasa bahwa segalanya diserahkan kepada Sanggit Raina, meskipun ia bukannya murid yang tertua. “Katakan kepada mereka apa yang harus mereka lakukan” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading kepada Sanggit Raina. Sanggit Raina mengangguk hormat. Kemudian katanya “Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia” “Lakukanlah” sahut Yang Mula Panembahan Wukir Gading. Sanggit Raina bergeser setapak. Kemudian katanya “Kita akan melakukan tugas penting. Besok, sebelum matahari terbit, kalian harus sudah, siap dengan kuda kalian, dengan senjata kafan dan dengan segenap tekad dan keberanian. Tugas kita kali ini cukup berat. Kita akan berangkat tepat pada saat matahari terbit. Kita akan berpencar dan berkumpul di dekat sendang Gambir. Kita beristirahat sebentar, kemudian kita akan memasuki Kota Raja menjelang malam. Kita akan mengadakan suatu pertemuan dengan seseorang,. Besok adalah saat yang paling tepat” Tidak seorangpun yang bertanya. Suasananya memang berbeda dengan saat pertemuan di pendapa. Orang-orang yang hadir hanya menundukkan kepalanya mendengar perintah yang keluar dari mulut Sanggit Raina. Tidak ada yang bertanya, apalagi mengemukakan pendapatnya. Jlithengpun termangu-mangu. Tetapi iapun tidak ingin membuat persoalan tersendir i dengan orang yang bernama Sanggit Raina itu, sehingga karena itu, maka iiapun tidak bertanya pula. “Sekarang kalian boleh meninggalkan ruangan ini” berkata Sanggit Raina kemudian. Jlitheng terkejut. Diluar sadarnya ia memandang Rahu. Namun agaknya tidak ada kesan apapun di wajah Rahu. Demikian pula pada wajah orang-orang lain yang berada di sanggar itu. “Apakah artinya pembicaraan penting untuk melaksanakan tugas besar ini. Siapakah yang akan berangkat dan siapakah yang akan memimpin, kelompok demi kelompok atau jika tidak, maka orang-orang laini yang tidak hadir di sini akan menerima perintah dari siapa?“ pertanyaan itu bergejolak di hati Jlitheng. Namun ia. tidak mengucapkannya. Meskipun dengan demikian dadanya menjadi sesak karenanya. Seorang demi seorang, mereka yang berada di dalam bilik itupun kemudian bangkit dan melangkah keluar lewat pintu yang lain dari pintu yamg dipergunakan oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Sementara itu, orang yang cacat itu masih berdiri disisi pintu, dan bersama Sanggit Raina dan puteranya, maka Yang Mulia itu masih tinggal di sanggarnya. “Hanya itukah perintahnya?“ bertanya Jlitheng kepada Rahu. Setelah mereka berada diluar Sanggar. “Ya” jawab Rahu. ”Persoalannya penting yang manakah yang dapat dibicarakan dan dapat diurai bersama Untuk nienghadapi tugas itu? bertanya Jlitheng pula. “Apa yang perlu dibicarakan?“ “Perintah sudah jatuh Perintah itu mudah jelas” desis Rahu. “Hanya bersiap bersama kuda masing-masing menjelang matahari terbit” desak Jlitheng. “Bukankah itu sudah jelas?“ jawab Rahu. Jlitheng mengumpat dengan geramnya, Meskipun tidak terlalu keras tetapi terasa betapa hatinya bergejolak. Kalian benar-benar patung-patung yamg tidak dapat menyatakan sikap pribadi” geramJlitheng. “Apakah kau juga berbuat demikian?“ bertanya Rahu. Sekali lagi J litheng mengumpat. Katanya “Aku orang baru disini Aku masih perlu melihat suasana dan keadaan” ”Alasan yang paling bagus. Tetapi jangan kau pikirkan lagi. Bagiku lebih senang untuk tidak usah memikirkannya. Biarlah orang lain melakukannya, memperhitungkan dan mempertimbangkan. Kita tinggal melaksanakannya” jawab Rahu. Tetapi mungkin diontara kita ada yang dapat mengajukan pikiran yang lebih baik dari yang mereka rencanakan” bantah Jlitheng. “Itu tidak mungkin. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Sanggit Raina dan anak muda putera Yang Mulia itu tentu sudah mampu memikirkan dan merencanakan segala sesuatunya lebih baik dari kita. Mereka mempunyai lebih banyak bahan dari kita, mereka mempunyai lebih banyak pengalaman dan mereka mempunyai ilmu yang tebiih tinggi dari kita” “Sikapmu adalah sikap seorang budak. Ketika aku berada di pendapa aku merasa agak lapang dada, karena beberapa orang diantara para murid di padepokan ini dapat menyatakan pikirannya. Tetapi ternyata pada saat yang gawat, kalian hanya dapat menunduk dan mengangguk” geram Jlitheng. Rahu tertawa. Katanya “Sudahlah. Jangan terlalu bersungguh-sungguh. Kau akan cepat menjadi tua” “Kau gila” Rahu masih tertawa. Tetapi ia t idak berkata apapun juga. Keduanyapun kemudian kembali ke dalam bilik mereka. Ketika mereka, melihat orang yang disebut kancil itu, mereka sama sekali tidak memghiraukannya, sementara orang itupun justru berpaling kearah lain. Demikianlah, Jlitheng justru menjadi semakin gelisah di dalam biliknya. Pertanyaannya ternyata tidak terjawab. Pertemuan itu t idak memberikan apa-apa baginya, selain perintah yang sangat menjengkelkan. “Apakah mungkin aku akan terjebak ke dalam tugas-tugas yang tidak ada hubungannya dengan Daruwerdi dan pusaka itu?“ pertanyaan itu selalu bergelut di dalam hatinya. Tetapi Jlitheng tklak ingin melepaskan kesempatan yang sudah dicapainya dengan susah payah, memasuki sarang Serigala yang bernama Padepokan Sanggar Gading itu. Seandainya ia harus mengorbankan harga dirinya dengan melakukan t indakan yang barangkal bertentangan dengan nuraninya, namun masih dalam batas-batas yang dapat dilakukannya, maka ia akan melakukannya meskipun dengan tidak sepenuh hati. “Tetapi j ika aku harus mengorbankan kemanusiaan, tata hubungan antara sesama dalam pengertian yang mendalam, maka aku tentu akan berkeberatan, meskipun akan dapat berakibat gawat” berkata Jlitheng didatamhatinya. Dalam pada ku, Rahupun nampaknya sedang merenungi dirinya sendiri. Meskipun tidak begitu jelas, namun Jlithengpun dapat melihat, bahwa ada juga semacam kegelisahan diihatinya. Keduanya ternyata tidak banyak berbicara lagi. Meskipun ada juga semacam kecurigaan, namun akhirnya Jlitheng sempat juga memejamkan matanya, ”Jika ia berniat jahat, aku tentu sudah melihat tanda- tandanya” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Tetapi Jlitheng tidak dapat tidur terlalui lama. Ia terbangun sebelum ayam jantan berkokok di akhir malam, Ketika ia bangkit, maka dilihatnya Rahu masih tidur nyenyak. Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Tiba-tiba saja ia selalu dibayangi oleh pesan Rahu, agar ia tidak terlalu banyak berada diuar bilik. Karena itu, ia menjadi ragu-ragu untuk ke pakiwan. Dengan demikian, maka Jlitheng itupun menunggu dengan kesal sampai saatnya Rahu bangun. Tetapi akhirnya ia tidak sabar lagi. Dengan sengaja ia mendesak pembar ingannya dengan lututnya sehingga berderak membentur dinding meskipun tidak terlalu keras. Ternyata Rahu cukup tangkas dan berpendengaran tajam. Tiba-tiba saja ia sudah duduk di bibir pembaringannya suap menghadapi segala kemungkinan. “Kau mengejutkan aku” geram Rahu “Bukankah masih terlalu malam untuk bangun?“ “Tidak” jawab Jlitheng “sebentar lagi akan terdengar kokok ayam. Kita harus bersiap sebelum matahari terbit” “Matahari masih lama terbit” “Tidak“ bantah Jlitheng. Rahu bangkit sambil menggeliat. Dengan nada dalam ia bergumam “Ternyata kau adalah seorang penakut. Bukankah maksudmu agar aku mengantarmu ke pakiwan? Disitu tidak ada hantu. Pergilah sendir i” “Aku sobek bibirmu” geram Jliltiheng “Tetapi sebaiknya kita pergi ke pakiwan sekarang. Kita bersiap palng awal dan kita akan mendapat pujian dari Sanggit Raina” Rahu menarik nafas sambil berdesis “Marilah. Meskipun aku masih malas” Keduanya kemudian keluar dari biliknya. Mereka melhat orang bertubuh raksasa tidur disebeiah pintu hanya beralaskan sehelai tikar yang tidak cukup melambani panjang badannya. “Kenapa ia tidur disitu?“ bertanya Jlitheng. “Itu adalah kegemarannya. Tidak ada orang yang menyuruhnya berbuat demikian. Sementara kancil itu merasa lebih hangat tidur di dalam amben beralaskan tikar rangkap empat” Jlitheng berpaling sejenak. Disudut sebuah ruang yang luas ia melihat orang itu tidak sedang tidur. Ketika mereka turun ke halaman, maka Jlithengpum berkata “Kenapa aku tidak menghubungi Cempaka untuk mengetahui, apakah yang akan kita lakukan sekarang” Rahu tersenyum. Katanya “Memang mungkin iapun mengetahui. Tetapi ia tidak akan mengatakan apapun juga kepadamu” “Kenapa?“ tanya Jlitheng. “Kau seperti kanak-kanak. Kau terlalu, banyak bertanya” Jlitheng menggeram. Tetapi ia tidak bertanya. Ia memang menyadari bahwa orang-orang Sanggar Gading t idak akan senang mendengar pertanyaan yang terlalu banyak, yang menyangkut rencana yang mungkin masih dirahasiakan. Dalam pada itu, Rahu seolah-olah mengetahui perasaan Jlitheng sehingga tiba-tiba saja ia berkata “Rahasia yang mereka simpan tidak boleh diketahui oleh siapapun. Jika ada diantara kita yang berkhianat, maka segala rencana itu akan gagal. Bahkan mungkin akan dapat jatuh korban yang tidak terduga-duga. “Aku tahu” potong Jlitheng “Kau tidak usah mengajari aku” “O“ Rahu mengangguk-angguk “J ika demikian seharusnya kau diam saja” “Ya. Ya” geram Keduanya tidak berbicara lagi. Apalagi ketika mereka melihat beberapa orang telah bangun pula. Demikianlah, persiapan di Sanggar Gadang itu ber langsung tanpa kesan yang menarik perhatian. Ternyata Jlitheng melihat betapa orang Sanggar Gading telah terlalu biasa dengan tugas-tugasnya, sehingga segalanya terjalan dengan cepat dan wajar. “Kita makan pagi” desis Rahu ketika keduanya telah bersiap. “Jlitheng yang belum tahu apa yang harus dilakukan, hanya mengikut i saja, ketika Rahu pergi ke dapur. Ternyata bahwa di dapur itu telah berkumpul beberapa orang yang akan berangkat bersama mereka menuju ketugas yang masih belum jelas bagi Jlijtheng. Nrangsarimpat yang melihat kedatangan Jlitheng segera menyambutnya sambil tertawa. Katanya “Marilah. Makanlah sekenyang-kenyangnya. Mungkin kita tidak akan makan apapun juga sampai malam. Bahkan mungkin sampai saatnya, kita melakukan tugas kita yang sangat penting itu” “Tugas apa?“ tiba-tiba saja Jlitheng bertanya. Terasa Rahu menggamit lambungnya. Namuin kata-kata itu sudah diucapkannya Nrangsarimpat memandang Jlitheng dengan heran. Dengan nada datar ia berkata “Apakah aku tidak salah dengar. Kau masih bertanya tentang tugas itu“ “Tidak“ Jlitheng memotong “begitu saja kata-kata itu meloncat dari bibirku. Aku tidak bermaksud bertanya. Maksudku, kau tidak usah menyebutnya. Aku sudah tahu” Nrangsarimpat tertawa. Katanya “Bagus. Makanlah” Jlithengpun kemudian duduk disebelah amben besar bersama-sama dengan orang-orang yang sedang makan. Iapun makan seperti yang dilakukan olah orang Sanggar Gading. Sejenak kemudian, maka terdengar suara isyarat di halaman depan, Sebuah kentongan kecil dalam nada dara muluk. “Kita harus bersiap” desis Rahu. Orang-orang yang berada di dapur itupun kemudian satu demi satu melangkah keluar. Mereka mempersiapkan diri dengan senjata-senjata masing-masing. Sementara Jlitheng telah menyandang pedang tipisnya pula. meskipun dengan pertanyaan yang bergelut dihatinya “Untuk apa aku membawa pedang ini? Apakah aku akan sampai kesasaran yang sebenarnya?“ Ketika kemudian terdengar suara kentongan yang kedua dalam irama yang datar mendekati irama titir. maka orang- orang yang telah ditentukan itupun segera berkumpul di halaman. Masing-masing telah menuntun kudanya dan segala perbekalan yang diper lukan. Sanggit Raina dan Yang Mulia Panembahan Wukir Gadang telah berada di tangga pendapa padepokan itu. Ternyata bahwa Yang Mulia Panembahan tidak ikut dalam tugas yang beberapa kali mereka sebut sebagai tugas yang pentang itu. “Sanggit Raina akan memimpin kalian” berkata Yang Muilia “lakukanlah perintahnya seperti kalian melakukan per intahku. Kali ini kalian benar-benar akan memikul tugas yang agak lain dari tugas-tugas kalian sebelumnya, karena tugas kalian kali ini akan menyangkut tugas kalian bagi hari depan” Tidak banyak pesan-pesan yang diberikan. Sejenak kemudian Sanggit Rainalah yang memegang pimpinan. Katanya “Kita akan berangkat. Seperti yang aku katakan, kita akan berpencar. Kita akan berkumpul di dekat Sendang Gambir, sebelum kita memasuki Kota Raja. Siapa yang terlambat akan kita tinggalkan” Tidak ada perintah lain. Sejenak kemudian Sanggit Raina itupun minta diri kepada Yang Mulia Panembahan serta mohon restu bagi semua orang yang ikut dalamperjalanan itu. Demikian Sanggit Raina meloncat ke punggung kudanya setelah ia berada di depan regol, maka yang lainpun telah berloncatan pula. Tanpa aba-aba apapun juga, maka iring- iringan, itupun kemudian meninggalkan padepokan Sanggar Gading yang aneh itu. “Ternyata yang ikut dalam iring- iringan ini lebih banyak dari yang kemar in berada di Sanggar” desis Jlitheng. “Ya. Nrangsarimpat membawa seorang sahabat paling dekatnya. Sementara yang lain ada pula yang mengajak adiknya yang juga tinggal di padepokan ini. Tetapi kelompok ini dapat dipertanggung-jawabkan. Yang pergi bersama orang- orang yang tidak disebut namanya, atau yang kemarin berada di sanggar, tentu sudah mendapat ijin dari Sanggit Raina” jawab Rahu. Jlitheng rasa-rasanya menjadi semakin bingung dengan susunan dan urut-urutan kepemimpinan di padepokan Sanggar Gading ini. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. “Kita akan mulai berpencar dimana?“ bertanya Jlitheng. “Di seberang padang kematian. Kita akan memilih jalan kita masing-masing. Kita akan diber i kebebasan untuk melalui jalan yang manapun juga” berkata Rahu. “Kita dapat berpencar dalam kelompok-kelompok kecil atau seorang demi seorang” bertanya Jlitheng. “Kita dapat berdua, atau paling banyak bertiga” Rahu berhenti sebentar, lalu iapun bertanya “Kau akar pergi bersamaku atau bersama Cempaka?“ “Tidak ada bedanya. Hanya kawan dalam perjalanan. Kaupun tidak apa. asal kau tidak melakukan perbuatan tercela disepanjang jalan” jawab Jlitheng. Rahu tertawa. Tetapi iapun berkata “Kau tamu Cempaka disini. Seharusnya kau selalu dekat dengan orang itu” Jlitheng memandang Rahu dengan tajamnya. Kemudian katanya “Jangankan kira aku tidak tahu. Cempaka hampir tidak sempat menghiraukan aku. Dan ia sudah memerintahkan kepadamu untuk selalu mengawasi aku. Karena itu, kau tidak perlu berbicara lagi tentang Cempaka dalam hubunganmu dengan aku” Rahu masih tertawa Katanya “Penggraitamu benar-benar tajam. Kau menyadari bahwa aku adalah mata dan telinga Cempaka. He, jika demikian kecur igaanku kepadamu sangat berbahaya bagimu” “Sama sekali tidak. Aku dapat membunuhmu. Bahkan membunuh Cempaka” jawab Jlitiheng. Rahu tertawa semakin keras. Beberapa orang telah berpaling kepadanya. Juga. Sanggit Raina yang berkuasa dipaling depan. Bahkan justru Nrangsarimpat mendekati Rahu sambil bertanya “Apa yang lucu, atau apa yang salah?” Rahu masih tertawa. Jawabnya “Bantaradi ternyata seorang pengecut. Ia sangat takut kepada perempuan yang bakal jadi isterinya” Nramgsar impatpun tertawa. Tetapi ia masih juga mengumpat disela-sela tertawanya “Anak demit. Aku kira kalian berbicara tentang apa” Ketika Nrangsarimpat kembali kepada kawan-kawannya maka Jlithenglah yang mengumpat ”Kau kira aku sudah mempunyai pasangan?“ “Jadi aku harus menjawab apa? Mengatakan bahwa kau merasa dir imu tidak dihiraukan lagi oleh Cempaka meskipun orang itu yang mengundangmu kemari? Atau aku harus menjawab bahwa kau selalu dibayangi oleh kebingungan tentang tugas kita sekarang ini” Rahupun bertanya pula. “Kau memang gila” geram Jlitheng. Namun keduanya tidak berbicara lagi. Mereka sudah mendekati padang yang mereka sebut padang perburuan, tetapi kadang-kadang juga padang kematian. Padang yang seolah-olah merupakan tempat yang tidak dijamah oleh ketentuan dan batasan-batasan tentang hidup dan tata kehidupan manusia. Siapapun dapat berbuat apa saja menurut kehendak dan keinginan mereka sendir i meskipun hal itu akan dapat berarti kesulitan bahkan korban pada pihak lain. Jlitheng menjadi berdebar-debar. Sekilas teringat olehnya apa yang telah terjadi di padang itu pada saat ia datang bersama Rahu. Namun selanjutnya ia tidak melihat lagi orang- orang yang pernah dilukainya di padang itu. “Apakah mereka kemudian tidak lagi tertolong, atau mereka berada di tempat yang kebetulan tidak aku lihat di padepokan” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Namun demikian mendesaknya ingatan itu, sehingga ketika padang itu sudah terbentang dihadapannya, ia bertanya kepada Rahu “Apa kau tahu, dimaina ketiga orang yang aku lukai di padang ini?“ “Mereka sedang dalamtataran penyembuhan” jawab Rahu. “Jadi mereka tidak mati?“ Rahu tidak menjawab. Tetapi ditatapnya wajah Jlitheng sambil tersenyum, sehingga Jlitheng tiba-tiba menggeram ”Kau benar-benar anak setan. Kau telah mengumpulkan satu lagi angka kemenanganmu. Kau bertambah curiga lagi kepadaku karena pertanyaan itu” Rahu menutup mulutnya. Kemudian katanya tertahan- tahan “Jika aku tertawa lagi, Nrangsarimpat akan bertanya lagi kepadaku. Dan aku tidak akan mempunyai jawaban yang lebih baik dar i jawabanku yang pertama” Jlitheng tidak menyahut. Terdengar ia mengumpat meskipun tidak jelas. Iring-ir ingan dar i Sanggar Gading itupun kemudian memasuki padang yang gersang. Bukan saja dedaunan yang menjadi kekuning-kuningan, tetapi juga karena di padang itu seolah-olah beribu j iwa melayang-layang karena kematian mereka yang tidak wajar, sehingga mereka masih tetap berkeliaran untuk mencari kesempatan membalas dendam. Kemarahan dan gejolak jiwa mereka itu menambah padang itu semakin gersang dan bagaikan membara. Tetapi Sanggit Raina sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tidak mengenal lagi kuningnya dedaunan. Dan iapun tidak menghiraukan lagi berapa banyak jiwa yang telah melayang di padang itu. Bahkan orang-orang tersesat yang sama sekali tidak tahu menahu arti padepokan Sanggar Gadingpun telah terbunuh pula di padang yang tandus itu. Demikianlah, maka seperti ir ing-ir ingan untuk mengubur mayat, orang-orang berkuda itu melintasi padang kematian. Hampir t idak ada seorangpun yang berbicara diantara mereka. Sebenarnyalah bahwa betapapun dalamnya, namun terberat pula ingatan tentang peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami di padang itu. Beberapa saat lamanya mereka melintasi padang itu. Akhirnya merekapun sampai pada seberang yang lain. Satu dua orang diantara mereka memalingkan wajah mereka untuk memandang padang itu dari sisi yang berseberangan. Namun rnerekapun segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke tugas mereka yang masih belum dapat mereka ketahui dengan pasti. Beberapa puluh langkah dari padang, Sanggit Raina berkata lantang “Kita memilih jalan kita sendir i-sendir i. Aku ingin mengingatkan sekai lagi, bahwa kita akan berkumpul kembali untuk satu tugas yang penting, yang mungkin akan membunuh satu dua orang diantara kita, atau bahkan mungkin kita semuanya. Siapa yang terlambat akan kita tinggalkan, dan siapa yang ragu-ragu, aku harap untuk dengan sengaja datang terlambat. Tetapi umur mereka yang terlambat itupun akan terbatas sampai esok pagi” Sanggit Raina tidak berbicara terlalu banyak. Dan iapun sama sekali t idak ingin mendengar sebuaih pertanyaanpun. Karena itu, demikian ia selesai berbicara maka iapun segera menggerakkan tali kekang kudanya. Beberapa langkah kudanya bergerak perlahan-lahan. Namun ketika kaki Sanggit Raina kemudian menyentuh perut kudanya, maka kuda itupun segera meloncat ber lari. Beberapa orangpun kemudian memacu kudanya pula. Tetapi masih ada beberapa orang yang maju perlahan-lahan. Agaknya mereka sedang berbicara satu dengan yang lain, jalan manakah yang akan mereka tempuh, dan dengan siapakah mereka akan berpencar. Ternyata Cempaka masih juga menghampiri Jlitheng sambil berkata “Pergilah bersama Rahu. aku akan menempuh jalan lain sendiri. Aku akan menyusul kakang Sanggit Raina” Jlitheng termangu-mangu sejenak Kemudian katanya “Aku datang memenuhi undanganmu. Kau berharap bahwa aku akan dapat melibatkan dir i dalam tugas yang penting. Tetapi katakan Cempaka, tugas apa yang sekarang akan kita lakukan?“ “Yang aku ketahui tidak lebih banyak dari yang kau ketahui. Kau mendengar keterangan dari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, dan kemudian kaupun mendengar keterangan dari kakang Sanggit Raina sebanyak yang aku dengar” jawab Cempaka. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menahan hatinya agar tidak terloncat dari mulutnya, apa yang pernah didengarnya, pembicaraan antara Cempaka dengan Darawerdi. Jika yang diketahuinya itu, diluar sadarnya terucapkan, maka mungkin sekali ia akan diseret kembali ke padang kematian oleh beberapa orang yang masih belum berjarak terlalu jauh dan hidupnyapun akan diakhir i. Tetapi karena Jlitheng tidak bertanya lebih banyak lagi, maka Cempakapun kemudian berkata “Kita akan mengetahui dengan pasti, apa yang akan kita lakukan, j ika kita sudah berkumpul kembali. Marilah, agar kita tidak terlambat, sehingga kita akan mendapat hukuman dar i kakang Sanggit. Riana” Jlitheng mengangguk sambil menjawab “Baiklah. Aku akan menempuh perjalanan ini bersama Rahu, meskipun bagiku Rahu tidak lebih dari momongan” Cempaka mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Rahu yang nampak menegang. Tetapi Rahu tidak menjawab. Cempakapun tidak bertanya sesuatu. lapun kemudian meninggalkan Rahu dan Jlitheng berdua. Sejenak kemudian iapun sudah berpacu searah dengan jalan yang ditempuh oleh Sanggit Raina. “Kau memang bodoh sekali” desis Rahu “Kau kira Cempaka senang mendengar kelakarmu itu? Aku adalah orang yang mendapat kepercayaannya. Gurauanmu dapat menyinggung perasaannya” Tetapi Jlitheng menjawab “Aku talak peduli. Jika ia tersinggung dan marah, aku bunuh ia di padang kematian yang masih belum terlalu jauh kita t inggalkan” “Ingat” berkata Rahu kemudian “J ika kau selalu memaksa dirimu untuk bersikap kasar dan sombong, maka pada suatu saat kau akan benar-benar menjadi seorang yang kasar dan sombong. Seandainya pada suatu saat kau meninggalkan padepokan ini, meskipun hal itu akan suit sekali kau lakukan, maka kau akan menjadi orang yang sangat asing dipergaulan yang sewajarnya” Jlitheng memandang Rahu dengan kerut di dahinya. Katanya “Kau mau menggurui aku? Semuanya itu tidak perlu kau katakan. Aku sudah tahu bagimana mengatur dir iku sendiri“ “Tetapi aku bukan orang yang terlalu bodoh seperti yang kau sangka. Jika yang kau lakukan itu sekedar ingin menyesuaikan diri dengan sifat orang-orang Sanggar Gading, maka kau tidak per lu berbuat demikian jika kita hanya berdua saja” “Kenapa? bertanya Jlitheng. “Aku sudah mengetahui sifat-sifatmu yang sebenarnya sejak kau melibatkan diri dalam perkelahian yang terjadi di perjalanan itu. Kau telah dengan sengaja melepaskan lawanmu dan tidak berusaha mengejarnya. Kaupun tidak membunuh di padang kematian itu. seperti yang kau lakukan di padukuhan” “Cukup” bentak Jlitheng “Sebenarnya aku Ingin membunuhmu agar kau tidak mengigau saja seperti itu sehingga aku muak mendengarnya,. Berapa kait hal itu kau katakan. He, Rahu. Apakah kau bermaksud memerasku?“ “Apa yang dapat aku peras dari padamu? Sudahlah mar ilah kita menuju, ke tempat yang sudah ditentukan. Sebenarnya jarak itu tidak terlalu jauh, sehingga tidak akan memer lukan waktu yang terlalu panjang. Kita masih mempunyai sisa waktu yang cukup banyak” berkata Rahu kemudian Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah ia memang tidak dapat berpura-pura terlalu lama. Ia menjadi lelah dan selalu dicengkam oleh ketegangan jiwa. Namun untuk berbuat wajar, seperti yang selalu dikatakan oleh Rahu itu, iapun merasa cemas. Mungkin Rahu sengaja memancing agar ia melihat sifat-sifatnya yang sebenarnya sebelum Rahu mengambil sikap yang pasti. Karena itu, maka Jlitheng bertekad untuk tetap berbuat seperti yang dilakukannya. Ia sudah terlalu sering berpura- pura. Di padukuhannyapun ia berpura-pura menjadi seorang yang bodoh dan dungu, meskipun kadang-kadang ia menunjukkan juga sikap yang lebih baik, seperti saat-saat ia bersama orang tua di bukit itu, berusaha menyalurkan air ke sungai yang akan dapat mengairi sebagian dari tanah persawahan di padukuhannya. Keduanyapun kemudian berkuda lebih cepat lagi. Beberapa orang kawan mereka telah menjadi semakin jauh. Namun diantara mereka yang berkuda di depan, ada juga beberapa orang yang nampaknya tidak tergesa-gesa. “Aku akan singgah sebentar ke rumah“ berkata Rahu “karena tugas ini menurut Sanggit Raina adalah tugas yang berat yang mungkin akan dapat membunuh sebagian dari kita, bahkan mungkin kita semuanya, maka aku akan meninggalkan pesan kepada adikku” “Apakah kau sudah bermimpi buruk?“ bertanya Jlitheng. Rahu tertawa. Katanya “Aku sering bermimpi buruk. Aku kira semua orang-orang Sanggar Gading selalu bermimpi buruk, seperti juga orang-orang dari Kendali Putih, orang- orang Pusparuri dan orang-orang dari Gunung Kunir. Meskipun kadang-kadang mimpi kami, orang-orang Sanggar Gading masih juga diwarnai dengan cita-cita yang jauh lebih baik dan padepokan-padepokan yang lain” Jlitheng tidak menjawab lagi. Mereka kemudian berkuda semakin cepat menuju ke sebuah padukuhan yang memiliki ciri yang tidak jauh berbeda dengan Sanggar Gading. Meskipun ilmu orang-orang Sanggar Gading tentu jauh lebih baik dar i orang-orang padukuhan itu, namun kekasaran dan sifat-sifat kediriannya mempunyai banyak persamaan. Meskipun Jlitheng bcrusana uiniluk tidak terlalu banyak bertanya, namun ada juga satu dua pertanyaan yang dilontarkannya. Bukan saja tentang padukuham yang aneh itu, tetapi juga tentang sifat-sifat orang Sanggar Gading. Beberapa saat kemudian, kedua orang itupun menjadi semakin dekat dengan padukuhan tempat tinggal Rahu. Padukuhan yang memiliki ciri-ciri yang sulit dimengerti. Ketika mereka memasuki daerah persawahan padukuhan itu, maka mereka melihat orang-orang yang bekerja di sawah tanpa menghiraukan siapapun yang lewat di bulak. “Tidak hanya padukuhanku saja yang memiliki sifat aneh” berkata Rahu kemudian. “Aku sudah tahu. Tentu satu dua padukuhan yang lain yang berdekatan mempunyai beberapa persamaan meskipun juga beberapa perbedaan” sahut Jlitheng. “Ya. Agaknya kau mengerti juga” desis Rahu kemudian. Jlitheng tidak menyahut. Tetapi dahinya berkerut ketika ia melihat dua orang yang, sedang bertengkar tidak terlalu jauh dari jalan yang mereka lalui. “Apa lagi yang mereka lakukan?“ tiba-tiba saja Jlitheng menggeram. “Itu urusan mereka?” desis Rahu. Jlitheng manarik nafas dalam-dalam Tetapi ia tidak dapat tinggal diam ketika pertengkaran itu menjadi semakin memuncak. Bahkan tiba-tiba yang seorang telah memukul yang lain, sehingga orang yang dipukulnya itu jatuh terjerembab. “Gila“ geram Jlitheng “agaknya kau yang membuat padukuhan ini menjadi gila” “Kenapa aku?“ bertanya Rahu. “Kau orang Sanggar Gading. Kau ajari tetangga- tetanggamu hidup dalamsuasana gila ini” Rahu tertawa, Katanya “Kau jangan menganggap aku dapat berbuat demikian. Aku jarang sekali, berada dipadukuhan. Bagaimana mungkin aku dapat melakukannya” Jlitheng menggereitakkan giginya. Ia melihat sebuah perkelahian yang t idak seimbang. Tetapi orang yang lebih kuat itu justru berbuat sesuka hatinya, sementara orang-orang lain bekerja seperti tidak terjadi sesuatu di dekat mereka. Tetapi Jlitheng tidak tahan lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat dari punggung kudanya. Kemudian iapun berteriak “He orang- orang gila. Aku adalah orang yang pernah berbuat sesuatu yang kalian anggap aneh di padukuhan ini. Sekarang akupun akan melakukannya pula. Kalian tidak usah turut campur. Aku akan memukuli orang yang menang dalam perkelahian itu nanti. Kedua orang yang berkelahi itupun berhenti sejenak. Mereka memperhatikan Jlitheng yang berdiri bertolak pinggang. Demikian pula beberapa orang yang bekerja di sawah disekitar kedua orang itu berkelahi. Kedua orang yang berkelahi itu mengerti, bahwa orang itu adalah orang yang pernah mengalahkan gegedug padukuhannya. Karena itu, bagaimanapun juga merekapum merasa ngeri melihat orang yang berdiri bertolak pinggang di pinggir jalan, sementara seorang yang mereka kenal dan mereka takuti pula, duduk di pungung kudanya. Karena itu, maka perkelahian itupun telah terhenti. Orang yang menang dan berbuat sewenang-wenang itupun telah melepaskan korbannya dan mendorongnya ke dalam lumpur. Namun lawannya yang sudah menjadi sangat lemah itu masih sempat merangkak menjauh. “Jika perkelahian itu terulang lagi, kalian akan tahu akibatnya. Akupun dapat membunuh tanpa sebab” desis Jlitheng. Kedua orang yang berkelahi itupun tidak menjawab. Yang lainpun kembali ke pekerjaannya, sementara yang telah menjadi bengkak-bengkak wajahnya dengan susah payah meninggalkan arena itu. “Kegilaanmu itu memang harus dihentikan” berkata Rahu kepada Jlitheng setelah orang-orang yang berkelahi itu beranjak. “Apa maksudmui?“ bertanya Jlitheng. “Kau telah terlalu banyak membuat kesalahan disini Karena itu kesalahanmu harus diakhiri. Jika kau tetap keras kepala, maka kau akan dapat aku bunuh disini, tidak di padang kematian” geram Rahu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Nampaknya Rahu bersungguh-sungguh. Ia tidak melihat senyum di bibir orang itu. Bahkan yang nampak adalah kerut-merut di dahinya. Tetapi Jlitheng justru mcnjawab “Kenapa tidak kau lakukan sekarang? Aku sudah gatal untuk sekali-kali mencoba, apakah kau tidak hanya pandai berbicara” Rahu tidak menjawab. Tetapi iapun segera menyentuh perut kudanya dengan tumitnya. Jlitheng menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi iapun segera meloncat ke punggung kudanya mengikuti Rahu yang berada beberapa langkah di depannya. Sambil menyusul Jlitheng menggeram “Kau jangan banyak tingkah Rahu. Apa maumu sebenarnya. Aku memang sudah menduga, bahwa kau sedang menunggu saat yang tepat untuk berbuat sesuatu, yang tentu akan berarti suatu pengkhianatan. Tetapi jangan kau kira bahwa aku takut menghadapi pengkhianatanmu itu” Rahu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba kudanya berpacu semakin cepat, sehingga Jlithengpun diluar sadarnya telah mengikut inya pula mempercepat langkah kudanya. Tetapi keduanya tidak berbicara apapun lagi. Kuda mereka menjadi semakin cepat berlari menuju ke rumah Rahu di padukuhan yang aneh itu. Jlitheng yang menjadi berdebar-debar melihat sikap Rahu itupun berusaha untuk berkuda disamping Rahu sambil berkata “O, aku tahu. Kau tentu ingin segera sampai ke rumahmu. Kau ingin berkelahi berpasangan dengan adikmu. Baiklah Aku tidak takut melawan siapapun juga, dan meskipun kau mengerahkan semua gegedug di padukuhan ini” “Jangan banyak bicara” geram Rahu kemudian “Kau benar- benar memuakkan. Aku sudah berulang kali memberimu peringatan. Di hadapanku kau jangan selalu berpura-pura. Aku menjadi jemu dan muak. Karena itu aku telah mengambil keputusan lain tentang dir imu “ “Persetan“ Jlitheng hampir berteriak “berhentilah. Kita menentukan siapa yang lebih baik diantara kita” Rahu sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia berkuda terus memasuki padukuhannya. Sementara Jlitheng masih mengikut inya meskipun sambil mengumpat-umpat. “Rahu, apakah maksudmu sebenarnya? Jika kau menantang aku berkelahi melawan kau berdua dengan adikmu, katakanlah” geram Jlitheng. Tetapi Rahu tidak menjawab. Ia justru berpacu lebih cepat, sementara Jlitheng mengikutinya terus. Akhirnya keduanya memasuki halaman rumah Rahu di ujung padukuhan. Rumah yang terhitung bersih dan rapi. Halamannyapun nampak bersih ditanami dengan jenis-jenis tanaman yang sejuk. “Ikatkan kudamu” berkata Rahu “disini kita mendapat tempat untuk berbuat apa saja tanpa ada yang mengganggu” Wajah Jlitheng menjadi tegang. “Sudah waktunya bagiku untuk mengatakan kepadamu, bahwa kau sangat memuakkan bagiku. Kau memang perlu sedikit petunjuk, bagaimana kau harus bersikap diantara orang sanggar Gading. Bukan sekedar menunjukkan kekasaran dan keliaran yang gila” geramRahu. Jlitheng menjadi semakin tegang. Namun iapun kemudian meloncat turun pula dari kudanya seperti juga Rahu. Keduanya kemudian mengikat kuda masing-masing di tepi halaman itu. Tiba-tiba saja Rahu berteriak “Semi. Semi” Seorang laki-laki yang bertubuh raksasa keluar dari rumah itu lewat pintu samping. Kemudian berdir i dengan ragu-ragu memandang sikap kakaknya dan sikap Jlitheng yang dikenalnya bernama Bantaradi “Kau menjadi saksi“ kata Rahu kemudian “Aku akan mengajari anak ini untuk berlaku sedikit sopan kepadaku” “Gila“ geram Jlitheng “Aku akan membunuhmu” Meskipun orang-orang padukuhan ini tidak akan menghiraukan kita, tetapi aku tantang kau berkelahi di longkangan di belakang seketeng” “Persetan“ jawab Jlitheng dimanapun aku dapat membunuhmu” Rahupun kemudian berjalan mendahului Jlitheng memasuki longkangan lewat seketeng kiri, sambil berkata kepada adiknya “Kau, jangan mengganggu kami, apapun yang terjadi. Aku hanya mempunyai sedikit waktu sebelum aku harus berkumpul bersama kawan-kawan dari Sanggar Gading, agar aku tidak dianggap bersalah oleh Sanggit Raina” “Jangan banyak bicara“ Jlithenglah yang memotong. Rahu tidak menjawab. Tetapi Jlitheng menjadi termangu- mangu ketika ia melihat Rahu melepaskan pedangnya, dan melemparkannya kepada adiknya. Kemudian iapun melepaskan beberapa pisau kecilnya yang terselip di ikat pinggangnya, yang terakhir Rahu melepaskan, seuntai rantai yang membelit pinggangnya dengan bandul sebuah bola besi kecil yang bergerigi sebesar buah salak. “Senjata-senjata ini dapat berbahaya bagimu. Kadang- kadang aku tidak sengaja telah .mempergunakannya” berkata Rahu. “Kau takut aku membunuhmu jika kita bertemu dengan senjata? bertanya Jlitheng. “Jika kau akan mempergunakan pedang tipismu pergunakanlah. Atau barangkali kau mempunyai senjata lain?“ “Persetan“ sahut Jlitheng “Aku tidak akan mempergunakan senjataku. Aku dapat membunuhmu, tanpa senjata. Tetapi aku tidak akan terpancing menyerahkan senjataku kepada orang lain. Rahu menarik nafas panjang. Katanya “Bagus. Apapun yang akan kau lakukan, lakukanlah. Aku adalah Iblis bertangan Petir yang dapat memperlakukan apa saja terhadap seseorang dengan tanganku” Jlitheng termangut-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia meraba ikat pinggangnya. Iapun mempunyai pisau-pisau kecil atau lebih tepat dapat disebut semacam paser-paser kecil yang dapat dipergunakan untuk bertempur dengan jarak jang lebih panjang. Tetapi agaknya ia benar-benar tidak akan mempergunakan senjatanya. Meskipun demikian, Jlitheng menggantungkan senjatanya lebih tinggi, la sadar bahwa ia akan bertempur dengan tangannya, beradu kekuatan ketrampilan dan kecepatan bergerak. Karena itu, maka pedangnya tidak boleh mengganggunya. “Apakah kau sudah siap?“ t iba-tiba saja Rahu bertanya. “Aku sudah siap sejak aku memasuki padang kematian, di saat aku menuju ke Sanggar Gading“ sahut Jlitheng. “Baiklah. Pandanglah langit dan tataplah bumi. Mungkin kau tidak akan sempat memperhatikannya lagi. Jlitheng menggeram. Tetapi ia terpaksa menilai lawannya dengan hati-hati. la pernah melihat Rahu bertempur sebagai pengiring Cempaka di bulak panjang, saat ia melibatkan diri tanpa diminta, justru karena ia ingin berhubungan dengan Cempaka, Kemudian Rahupun telah melibat, bagaimana ia mengalahkan beberapa orang Sanggar Gading di padang perburuan itu. Dengan demikian, jika Rahu itu kemudian menantangnya, maka ia tentu mempunyai penilaian tersendiri atas kemampuannya. “Mungkin ia akan memanfaatkan kemampuan adiknya” berkata Jlitheng di dalam hati. Bahkan kemudian “Atau secara sandi ia menyuruh adiknya melakukannya dengan member ikan senjata-senjatanya kepada orang bertubuh raksasa itu” Tetapi Jlitheng sudah bersiap menghadapi apapun juga, Jika terjadi sesuatu, adalah akibat yang wajar dari perjuangannya memasuki Sanggar Gading yang memang berbahaya. Sejak semula ia sudah diperingatkan, bahwa memasuki Sanggar Gading sama artinya dengan memasuki sarang serigala yang buas dan licik. Sejenak Jlitheng memperhatikan lawannya. Ketika Rahu mulai bergeser setapak, maka iapun bergeser pula. Tetapi Rahu tidak menunggunya lagi. Tiba-tiba saja ia lelah meloncat menerkam. Geraknya cepat dan mantap. Sehingga jantung Jlithengpun berdesir karenanya. Namun Jlithengpun mampu bergerak cepat pula. Ia sempat menghindar selangkah kesamping. Bahkah dengan cepatnya pula, ia telah menyerang Rahu dengan kakinya. Tetapi Rahu cepat berkisar. Serangan Jlithengpun t idak menyentuhnya pula. Sejenak kemudian maka kedua orang itu telah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Keduanya memiliki kemampuan bertempur yang tinggi, sehingga benturan kekuatan yang terjadi apabila salah seorang dar i kedua orang itu tidak sempat mengelakkan serangan, seakan-akan telah menggetarkan udara diseputarnya. Bahkan dinding rumah Rahu itupun seolah-olah telah terguncang. Jlitheng yang sebenarnya tidak mempunyai niat yang mendalam untuk berkelahi melawan Rahu yang dianggapnya mempunyai sifat yang disebut oleh seribu macam pertanyaan itu, terpaksa mengerahkan segenap kemampuannya, karena Rahu semakin lama telah semakin mendesaknya. “Jangan takut bahwa aku akan melibatkan adikku” berkata Rahu sambil meloncat menyerang. “Persetan. Jika kau ingin berkelahi berpasangan, lakukanlah” geram Jlitheng. Tetapi dengan serta merta, Jlitheng harus meloncat surut Serangan Rahu bagaikan badai. Dalam beberapa saat, Jlitheng harus sudah mandi keringat la menyadari bahwa ia tidak boleh mengerahkan segenap kemampuannya tanpa memperhitungkan waktu. Meskipun Jlithengpun sadar, bahwa waktu mereka tidak terlalu banyak, karena mereka harus segera berkumpul sesuai dengan waktu yang diberikan oleh Sanggit Raina. Namun dalam pada itu, Jlitheng mulai dijalari oleh pertanyaan yang semakin rumit tentang orang yang menyebut dirinya bernama Rahu itu. Ketika ia sempat melihat kemampuan bertempur orang itu di bulak panjang, pada saat Rahu itu mengiringi Cempaka, maka ia tidak akan menduga, bahwa Rahu dalam beberapa saat sudah berhasil mendesaknya. “Orang ini benar-benar Gila“ desah Jlitheng di dalami hatinya. Sebenarnyalah bahwa Jlitheng memang sudah berpura-pura dalam hubungannya dengan orang-orang Sanggar Gading. Tetapi ia t idak mengira, bahwa Rahu telah benar-benar marah kepadanya, dan menantangnya berkelahi. Apalagi bahwa ternyata kemampuan orang itu jauh melampaui kemampuan seperti yang dilihatnya di bulak panjang. Beberapa saat kemudian, Jlitheng merasa semakin terdesak. Ia sudah mulai mengerahkan tenaga cadangan yang ada di dalami dirinya. Bahkan ia sudah mulai mendekati ilmu puncaknya. Namun Rahu benar-benar seorang yang pilih tanding, yang memiliki kemampuan mengherankan. “Apakah dengan demikian Cempaka memiliki ilmu yang tidak terkalahkan, apabila Rahu yang dianggap berada pada tataran dibawahnya memiliki ilmu yang luar biasa” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Tetapi sebenarnyalah bahwa. Jlitheng memang belum sampai pada puncak tertinggi dari ilmunya. Namun ketika Rahu menjadi semakin mendesaknya, maka hampir diluar sadarnya, maka ilmu Jlithengpun merangkak ke tingkat yang lebih t inggi, sehingga akhirnya, Jlitheng benar-benar telah berada pada puncak tertinggi dari ilmunya. Dengan demikian maka yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang dahsyat, melampaui kedahsyatan pertempuran di padang kematian. Jlitheng yang sudah berada pada puncak tertinggi dari ilmunya, benar-benar merupakan seorang anak muda yang luar biasa. Latihan-latihan yang pernah diakukan pancingan yang pernah didapatkannya tanpa disadarinya untuk mempercepat gerak kakinya diatas bebatuan sungai, petunjuk-petunjuk dari orang-orang tua yang pernah dikenalnya, telah membuatnya menjadi seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tidak ada taranya Namun ternyata berhadapan dengan Rahu, yang semula tidak terlalu menarik perhatian Jlitheng itu, ia mulai mengalami kesulitan. “Aku terlalu meremehkannya“ berkata Jlitheng di dalam hatinya “Mungkin ada kesengajaan padanya, untuk menunjukkan bahwa kemampuannya tidak begitu tinggi. Tetapi dengan demikian, maka sikap itu tentu bukannya tidak mempunyai maksud tertentu” Karena itu, maka Jltlheng harus menjadi semakin berhati- hati. Selama ia bergauil dengan Rahu, ia memang telah berpura-pura. Tetapi ia menganggap bahwa Rahu merasa dirinya berada di bawah tataran anak muda yang diketahuinya bernama Bantaradi itu. Karena anak muda itu adalah tamu dan tentu diangapnya memiliki ilmu setingkat dengan Cempaka. Tetapi yang dihadapinya adalah lain. Rahu semakin lama telah semakin mendesaknya. Hanya dalam waktu yang terhitung, singkat. Betapapun Jlitheng mengerahkan kemampuannya pada puncak ilmunya, namun ia tidak dapat mengatasi desakan kekuatan lawannya. Tiba-tiba saja Jlitheng menjadi gelisah. Mungkin Rahu mempunyai rencana tersendiri dengan sikapnya. Bahwa mungkin Rahu benar-benar ingin mencelakainya dengan tujuan yang tidak diketahuinya. Bahwa Rahu telah melepaskan senjatanya, Jlitheng memang menjadi berteka-teki. Tetapi agaknya Rahu benar-benar akan menunjukkan kepadanya, bahwa ia akan dapat membunuhnya tanpa senjata. Tetapi Jlitheng t idak menyerah pada keadaan. Iapun kemudaan menghentakkan kemampuannya, menyerang dengan cepat pada saat Rahu justru berusaha mendesaknya. Sikap itu agaknya tidak diperhitungkan oleh Rahu. Karena itu maka iapun agak terkejut karenanya. Dengan demikian, ia tidak sempat menghindari tangan Jlitheng yang terjulur lurus, dengan hentakkan selangkah maju langsung mengarah ke dadanya. Tetapi ternyata Rahu berusaha melindungi dadanya dengan tangannya. Ia menangkis serangan Itu dengani mengangkat tangan Jlitheng pada lengannya. Dengan demikian justru lambung Jlitheng telah terbuka, Dengan kuatnya Rahulah kemudian melangkah maju sambil menghantam lambung. Namun Jlitheng melihat serangan itu. Dengan serta merta ia menar ik tangannya dan bergeser selangkah kesamping pada setengah putaran. Dengan demikian, maka serangan Rahu itu tidak menyentuhnya sama sekali, Dengan cepatnya, Jlithenglah yang justru kemudian menyerangnya. Selagi Rahu masih menjulurkan tangannya. Jlitheng mengayunkan kakinya menghantam lambung. Sekali lagi Rahu tidak menghindar. Tetapi ia menggeser kakinya selangkah dan menekuk lututnya merendah. Dengan sikunya ia menangkis serangan kaki Jlitheng yang keras. Benturan yang terjadi ternyata mengejutkan Jlitheng. Ia telah terdorong surut. Bahkan hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Pada saat yang demikian, Rahu memburunya. Sebuah serangan pada dada Jlitheng, telah mendorong Jlitheng jatuh berguling. Namun dengan tangkasnya ia melent ing berdiri. Tetapi Rahupun meloncat dengan cepatnya. Demikian Jlitheng berdiri, Rahu telah menjulurkan tangannya menghantam perut anak muda itu. Demikian kerasnya, sehingga Jlitheng terbungkuk sambil berdesis. Rahu tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan sekuat tenaga ia menekan kepala, Jlitheng dan membenturkannya dengan lututnya. Tetapi Jlitheng tidak menyerah. Sebelum kepalanya membentur lutut Rahu ia justru mendorong perut Rahu dengan kepalanya, sehingga Rahu yang sudah siap mengangkat sebelah kakinya, terdorong jatuh. Tetapi karena Rahu tidak melepaskan tangannya yang memegangi kepala Jlitheng maka keduanyapun telah jatuh terguling di tanah. Hampir berbareng pula keduanya melenting berdiri Adalah kebetulan sekal, bahwa keduanyapun berbareng telah meloncat menyerang, sehingga kekuatan keduanya sekal lagi berbenturan. Kedua orang yang memiliki kemampuan yang tinggi itupun telah terdorong beberapa langkah surut. Jlithenglah yang terhuyung-huyung. Tetapi ia cepat dapat memperbaiki keadaannya, sehingga iapun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kedua orang itupun telah berdir i dengan kaki renggang, sedikit merendah pada lututnya. Tangan merekapun telah bersiap, menyerang atau menangkis serangan. Pada saat-saat yang demikian, Jlitheng harus mengakui bahwa Rahu bukannya orang yang dapat dianggap lemah, meskipun ia mur id yang tidak terlalu dekat dengan gurunya, Agak berbeda pula kedudukannya dengan Cempaka, apalagi Sanggit Raina. Bahkan nampaknya Rahu tidak lebih baik kedudukannya di Sanggar Gading dari Nrangsarimpat. Namun karena Rahu agaknya bersahabat baik dengan Cempaka, maka setiap kesempatan yang didapat oleh Cempaka. Rahupun akan dibawanya pula. Dalam pada itu. untuk beberapa saat kedua orang itu berdiri tegak dengan kesiagaan mereka menghadapi segala kemungkiinan. Jlitheng yang merasa terdesak, lebih baik menunggu apa yang akan dilakukan oleh lawannya, sekaligus mempergunakan kesempatan itu untuk mengatur pernafasannya yang mulai berdesakan. Adik Rahu yang bertubuh raksasa, yang berdiri di dekat arena perkelahian itupun menunggu dengan tegangnya. Iapun dapat menilai bahwa perkelahian itu ternyata seimbang, meskipun Rahu mempunyai kesempatan lebih baik. Tetapi jika pertempuran itu berlangsung terus, belum berarti bahwa Rahu akan dapat menang. Masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Namun sampai saat keduanya berhenti dan berdiri berhadapan dengan tegangnya Rahu telah berbasil mendesak lawannya. Untuk beberapa saat keduanya masih saling berdiam dir i. Keduanya tidak bergerak, tidak berbicara dan seolah-olah keduanya telah menjadi patung yang mati. Ketegangan itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara Rahu “Bantaradi. Kenapa kau tidak menarik pedangmu membela dirimu dengan senjata, karena tanpa senjata kau tidak akan mampu berbuat sesuatu atasku. Sudah dapat dipastikan, bahwa akhir dari perkelahian ini adalah kematianmu” “Jangan banyak bicara” jawab Jlitheng “lakukanlah apa yang ingin kau lakukan jika kau mampu. Bahkan jika kau ingin mempergunakan senjatamu, pergunakanlah” “Jangan berpura-pura pula dalam keadaan yang gawat ini. Kau harus menyadari, bahwa kau bukan orang yang memiliki keajaiban sehingga tidak akan dapat terkalahkan” berkata Rahu dengan garangnya. “Aku tidak merasa bahwa aku tidak dapat dikalahkan” jawab Jlitheng “Tetapi aku akan mempertahankan hidupku dengan cara apapun juga. Bahkan jika terpaksa, aku memang dapat membunuh” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau sudah mulai mempergunakan kalimatmu sendiri“ “Gila. Aku tidak tahu maksudmu“ Jlitheng hampir berteriak. Tiba-tiba Rahu tersenyum. Katanya “Kau memang hanya membunuh jika terpaksa. Jangan selalu mengatakan bahwa kau akan membunuh” “Aku memang akan membunuhmu” teriak Jlitheng. oooOooo-


Jilid 09
“Ya. Kita. akan meneruskan pertempuran ini. Kau atau aku yang akan dapat berkumpul bersama dengan orang-orang Sanggar Gading untuk melakukan tugas yang penting itu. Tugas yang akan menentukan hari depan Sanggar yang dipenuhi dengan dorongan cita-cita bagi masa depan. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Seolah-olah ia mendapat peringatan, bahwa yang ingin dilakukannya itu adalah mengetahui apakah yang akan dilakukan oleh Cempaka. Tetapi jika Rahu memaksa untuk bertempur terus, maka sudah barang tentu ia tidak akan dapat mengelak. “Bantaradi” berkata Rahu kemudian “Sebenarnyalah aku tidak mengira, bahwa kau masih dapat bertahan untuk waktu yang terhitung lama. Aku kira, jika kita bertempur terus, kita akan terlambat. Aku atau kau yang dapat bertahan hidup, akan mati juga kita terlambat berkumpul. Aku kira, persoalan kita dapat kita tunda setelah kita selesa dengan tugas kita. Kita akan sampai pada takaran tertinggi dar i kemampuan kita masing-masing” “Persetan“ geram Jlitheng “Aku tidak akut kepada orang- orang Sanggar Gading. Jfika aku terlambat, aku sama sekali tidak gentar. Jika aku mulai dengan ketakutan-ketakutan semacam itu, maka aku tidak akan dapat menyelesaikan tugasku” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kalimat-kalimat semacam itulah yang kurang menarik kau ucapkan. Kau dapat mengundang seribu pertanyaan buat orang-orang Sanggar Gading” Jlitheng menjadi semakin heran terhadap orang yang bernama Rahu itu. Sifatnya seolah-olah beiubah-rubah penuh dengan teka-teki. Bahkan penuh dengan rahasia. Karena itu, maka Jlitheng kemudian berkata lantang “Rahu, apakah sebenarnya yang kau kehendaki. Kaupun seharusnya berterus terang. Kita akan dapat berbuat sesuatu dengan landasan yang wajar dan meskipun kita akan membunuh salah seorang diantara kita, tetapi kita sudah yakin, apakah yang akan kita lakukan” Rahu justru tertawa. Katanya “Kita masing-masing memang penuh dengan teka-teki. Tetapi baiklah, kita akan memecahkan teka-teki itu. Namun kita masih harus melakukan kewajiban kita atas nama Sanggar Gading” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengarti bahwa perintah Sanggit Raina bukannya sekedar main-main. Karena itu. maka iapun tidak menentang niat Rahu untuk menunda persoalan mereka sendir i. “Marilah, kita akan makan dahulu sebelum kita melanjutkan perjalanan” berkata Rahu tiba-tiba. “Gila, kau benar-benar Gila“ geramJlitheng. “Meskipun kita sudah makan sebelum kita berangkat, tetapi setelah kita bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan kita masing-masing maka aku, merasa lapar lagi. jawab Rahu. Rahu menjadi semakin aneh bagi Jlitheng, seperti juga Jlitheng adalah orang yang diselubungi oleh seribu macam rahasia bagi Rahu. Namun Jlitheng tidak membantah lagi. Iapun mengikuti Rahu masuk ke dalam rumahnya, sementara adiknyapun membawa senjata-senjata Rahu masuk pula ke ruang belakang. “Kita akan makan” berkata Rahu sambil membuka tenong digeledeg bambu. Kemudian iapuni mengeluarkan beberapa makanan dan ceting nasi. Tetapi dalam pada itu, yang sangat menarik bagi Jlitheng bukannya beberapa makanan dan ceting nasi. Ketika Rahu membuka tenong bambu, sepintas Jlitheng melibat sebuah lukisan pada tutup tenong bambu itu. Karena itu, dengan serta merta Jlitheng meloncat menghentakkan tutup tenong itu dari tangan Rahu. Rahu sama sekali tidak mempertahankannya. Bahkan seolah-olah iapun telah memberikan tutup itu kepada Jlitheng sambil bertanya “Apa yang menarik perhatianmu Bantaradi?“ Jlitheng mengamat-amati lukisan itu dengan saksama Ia melihat kikisan dua lingkaran, matahari dan bulan yang berdampingan. Matahari yang berwarna putih dan bulan yang berwarna merah. Kemudian diantara matahari dan bulan itu ia melihat garis hitam tebal dengan sebuah bulatan pplda pangkalnya, dengan lima buah gerigi” Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Bahkan kemudian wajahnya menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia berkata “Surya Candra He, dari mana kau dapatkan gambar semacam ini?“ “Gambar apa?“ berkata Rahu dengan wajah kosong. “Dua lingkaran” Matahari dan Bulan, serta sebuah cakra” Rahu memandang Jlitheng dengan tajamnya. Kemudian ialah yang bertanya “Dimanakah ada gambar matahari, bulan dan sebuah cakra?“ “Ini” geram Jlitheng. Namun dalam pada itu, Jlithengpun merasa bahwa ia telah terlanjur mengucapkan bentuk gambar itu. Karena itu, maka iapun harus mempertanggung jawabkannya. Jika yang dikatakan itu ternyata menuntut sikap yang khusus, maka Jlithengpun akan berbuat apa saja sesuai dengan bekal yang dibawanya” Tetapi Jlithengpun kemudian ragu-ragu ketika Rahu bertanya “Ki Sanak, dari manakah kau mengetahui bahwa lingkaran putih itu dimaksud dengan matahari dan yang merah itu matahari dengan bulan. Kemudian garis hitam dan bulatan bergerigi itu adalah cakra?“ Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian malangkah mendekati Rahu sambil berkata “Apakah aku dapat melibat telapak kakimu?“ “Kenapa dengan telapak kakiku?“ bertanya Rahu, “Tidak apa-apa. Tetapi aku ingin melibat telapak kakimu” jawab Jlitheng. “Kau memang orang aneh Bantaradi. Setelah kau melihat gambar pada tutup lenong tempat makanan itu. kau ingin melihat tapak kakiku. Tapak kaki yang tentu saja seperti tapak kaki orang-orang kebanyakan” berkata Rahu dengan nada datar. Namun iapun kemudian duduk diomben sambil mengangkat kakinya, menunjukkan telapak kaki kir inya. “Kakiku kotor” katanya, Wajah Jlitheng menegang sejenak. Ia melihat pada telapak kaki yang kotor itu, lamat-lamat sebuah lingkaran hitam yang dibuat dengan melukai kaki itu. “Apakah kau dapat melihatnya dengan jelas, atau aku harus mencuci kakiku dahulu” berkata Rahu. “Aku melihatnya “ sabut Jlitheng. “Nah, sekarang kaupun harus memperlihatkan telapak kakimu. Kau sudah mengetahui tentang aku. Sekarang akupun ingin mengetahui tentang dirimu. Tanda atau ciri apakah yang ada padamu. Kau tabu, bahwa hal ini menuntut tanggung jawab yang berat. Jika ternyata kau mempunyai ciri yang tidak sejalan dengan cir i-ciri yang kau lihat, maka kau tidak akan pernah keluar dari rumah ini. Orang yang aku sebut adikku itu sama sekali bukan adikku, Ia mempunyai ebi seperti yang aku punya. Dan ia adalah orang yang memiliki kemampuan yang sulit untuk dilawan. Karena itu, kami berdua t idak akan mengalami kesulitan apapun juga, itu kami terpaksa harus membunuhmu Aku sekarang bersungguh-sungguh. Kaupun tidak perlu berpura-pura lagi. Dengan pengenalanmu sepintas pada gambar ditutup tenang itu, dan bahwa kau tahu di telapak kakiku ada ciri khusus, maka kau tentu mengetahui tentang hubungan kami sebenarnya. Kaupun tentu tahu bahwa cir i-cir i itu bukan ciri dari padepokan Sanggar Gading” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa ia berhadapan dengan pihak yang lain dari padepokan Sanggar Gading, namun yang telah berhasil pula memasuki Sanggar itu. Untuk beberapa saat Jlitheng tidak menjawab. Tetapi ia telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Iapun menjadi semakin ragu-ragu terhadap orang yang menyebut dir inya Rahu itu, “Ki Sanak” berkata Rahu “Siapapun namamu, apakah kau bernama Bantaradi, atau Hantu berlidah Api, atau Bertangan Guruh atau siapapun juga, namun aku ingin tahu, siapakah sebenarnya kau. Aku yakin bahwa kau memang tidak bcssungguh-sungguh untuk berada di dalam linggkungan orang-orang Sanggar Gading” Jlitheng menjadi semakin tegang. Tetapi ia masih sibuk mengurai keadaan yang sedang dihadapinya “Jawablah. Waktu kita tidak terlalu panjang. Sebelum gelap kita sudah akan meninggalkan sendang Gambir. Karena itu, maka persoalan ini harus cepat kita selesaikan” berkata Rahu kemudian. Namun tiba-tiba saja Jlitheng berkata “Kau takut terlambat? Kau takut mati dibunuh oleh Sanggit Raina?“ “Gila“ jawab Rahu “Kau tentu tahu jawabnya. Bukan karena aku takut dibunuh Sanggit Raina atau cempaka atau orang yang disebut Yang Mulia itu sekalipun. Tetapi aku kira seperti yang ingin kau lakukan pula, bahwa jika kita terlambat, kita kehilangan kesempatan untuk mengetahui, apakah yang akan dilakukannya malam nanti“ Jlitheng menarik nafas. Katanya “Kau benar. Ataupun ingin mengetahui apa yang akan dilakukan” “Tetapi sebut dahulu atau tunjukkan cir i-cir imu. Siapa kau” Jlitheng masih ragu-ragu. Tetapi gambar matahari bulan dan cakra itu telah meyakinkannya. Apalagi ketika ia melihat tanda ditelapak kaki orang yang menyebut dirinya bernama Rahu dan bergelar Iblis bertangan Petir itu. “Cepat“ Rahu hampir kehilangan kesabaran “Jika kita ternyata orang lain, maka kita akan segera saling membunuh” Jlitheng menjadi tegang. Namun iapun kemudian menyingsingkan kain panjangnya. Dari bawah kain panjangnya da mengurai sehelai tali anyaman seperti sehelai dadung. Pada ujungnya terikat sebuah benda yang berkilat- kilat” “Kau tahu, siapakah yang memiliki senjata seperti ini? bertanya Jlitheng. Tetapi Rahu menggeleng lemah Katanya ”Aku t idak mengerti” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudaan iapun mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggangnya yang besar. Kemudian diambilnya sebuah lencana berwarna dasar kuning. Katanya sambil melontarkan lencana tiitu keamben bambu di sebelah mereka berdir i ”Lihatlah. Jika kau mempunyai gambar pada ceting nasimu, maka akupun mempunyai ciri yang mungkin pernah kau kenal. Jika kau tidak mengenalnya pula, maka kita memang akan saling membunuh. Akupun tidak ingin dikenal oleh orang yang asing” Wajah Rahu menjadi tegang. Diambilnya lencana yang dilontarkan oleh Jlitheng itu. Diamatinya tiga buah warna lingkaran bersusun yang terdapat pada lencana itu. Yang bergerigi, kemudian berwarna lingkaran berwarna put ih, dan yang terbesar bergerigi, kemudian lingkaran berwarna putih, dan yang tengah adalah lingkaran berwarna merah. Wajah Rahu yang tegang menjadi semakin tegang. Dengan suara yang bergetar ia berkata “Ini adalah lambang yang terdapat pada kelebet pasukan paling tangguh dari masa Majapahit akhir” “Ya. Itu adalah lambang pada sebuah panji-panj i, tetapi juga sebuah tunggul. Dan yang kau lihat itu adalah sebuah lencana. Apakah kau mengenalnya?“ bertanya Jlitheng. “Kelebet dari pasukan yang dipimpin, oleh Pangeran Kuda Surya Anggana“ desis Rahu “He dar i mana kau dapatkan lencana itu? Mungkin kau menemukannya di pinggir jalan bekas kota Majapahit akhir. Mungkin kau telah menyaru un orang yang kebetulan membawa pertanda itu” ”Kau dapat mengenalinya?“ “Cakra, matahari dan bulan” desis Rahu. “Mir ip dengan gambarmu pada tenong itu” desis Jlitheng. “Ya. Tetapi siapakah kau sebenarnya? Apakah aku benar- benar harus membunuhmu atau tidak” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya “Pertanda itu adalah pertanda keluargaku. Mula-mula kelebet Surya Anggana tidak memakai bulatan ketiga. Tetapi ketika anaknya lahir, dan diberinya nama Candra Sangkaya, maka timbullah bulatan ketiga. Matahari dan bulan. Surya dan Candrà” “Ya. Tetapi siapakah kau?“ “Akulah Candra Sangkaya” “He“ wajah Rahu yang tegang itu menjadi semakin tegang. Lalu dengan ragu-ragu ia bertanya “Apakah benar aku berhadapan dengan Raden Candra Sangkaya” “Ya Akulah anak Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana. Aku memiliki tunggul dar i tiang panji- panji Surya Candra ku. Lengkapnya Tunggul dari Kelebet Cakra Surya Candra. Dan tunggul itu adalah yang kau amati itu” Rahu terniangu-mangu sejenak. Sekali-kali dipandanginya wajah Jlitheng yang berkeringat. Namun kemudian dipandanginya lencana yang ternyata adalah tunggul pada panji-panji Cakra Surya Candra, “Nampaknya aku memang harus percaya” desis Rahu. “Karena itu aku mengenal, bahwa pada telapak kakimu terdapat satu ciri yang dapat aku mengerti“ berkata Jlitheng. Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Aku adalah salah seorang prajurit pada pasukan di bawah Kelebet Cakra Surya Candra. Waktu itu aku memang masih muda, jauh lebih muda dari Pangeran Surya Sangkaya” Jlitheng mengangguk-angguk. Laki iapun bertanya “Sekarang? Di pihak manakah kau sebenarnya berdiri?” “Aku adalah pasukan sandi Demak. Aku memang menempatkan dir iku pada pasukan sandi. Aku mendapat tugas untuk mengumpulkan pusaka Majapahit yang masih tercecer. Selebihnya, aku juga harus mengamati kemungkinan- kemungkinan yang dapat menggoyahkan sendi ketenangan Demak sekarang” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia bertemu dengan orang yang tidak disangka-sangkanya sama sekali. Namun dalam pada itu, Rahulah yang kemudian bertanya kepadai Jlitheng “Ki Sanak, jika benar kau adalah putera Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Surya Anggana di peperangan, apakah yang sekarang sedang kau lakukan? Apa kah kau masih merindukan suatu masa seperti pada masa kebanggaan Pangeran Surya Sangkaya, atau kau sudah berdiri dialas satu sikap yang lain” “Pertanyaanmu kurang menyenangkan bagiku. Aku anak Candra Sangkaya. Aku ingin mewarisi sifat-sifat ayahku. Aku ingin. Aku tidak tahu, apakah keinginanku ini terpenuhi dengan sikapku sekarang ini. Tetapi aku adalah seorang kesatria yang mempunyai tugas darma. Ada atau tidak ada ikatanku dengan Demak. Ada atau tidak ada ikatanku dengan tugas-tugas sandi seperti yang kau lakukan. Namun aku adalah orang yang berdiri pada satu sikap darah seorang Senopati Agung Majapahit. Dan akupun tidak begitu bodoh untuk mer indukan masa lampau dalam keadaan dan suasana sekarang. Tetapi aku mer indukan yang akan datang dengan kebesarannya sendiri sesuai dengan beredarnya jaman. Namun demikian, aku tidak dapat ingkar, bahwa aku adalah anak yang dilahirkan oleh masa lampau untuk masa depan. Karena itu, masa depanku tentu ber landaskan dengan masa lampau itu sendir i” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku memang harus yakin, bahwa kata nuraniku tentang kau adalah benar. Sejak aku bertemu dengan kau di tengah bulak itu, aku sudah menduga, bahwa kau mempunyai tugas tensediri Kehadiranmu di Sanggar Gadingpun tentu membawa pesan khusus, meskipun dar i nuranimu sendiri” “Nah, sekarang terserah kepadamu” berkata Candra Sangkaya “Apakah aku kau anggap orang lain yang harus saling membunuh, atau kau dapat membiarkan aku dan sebaliknya aku dapat membiarkan Ikjau berada bersama-sama di dalam Sanggar Gading” Rahu tersenyum. Katanya “Pada suatu saat kau akan benar-benar menjadi seorang yang sombong, kasar dan tinggi hati justru karena kau ingin menyesuaikan diri dengan sifat orang-orang Sanggar Gading. Bagiku, kilta dapat bersikap wajar. Dan pertanyaanmu itu akan dapat kau jawab sendiri” “Persetan?” geram Jlitheng “Tetapi baiklah. Dalam batas- batas tertentu kilta akan dapat bekerja bersama” “Aku berharap demikian Biar lah kilta mencoba mengikuti tingkah laku orang-orang Sanggar Gading. Selama ini, ternyata aku telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari Cempaka. Aku mendapat tugas untuk mengawasimu” “Aku sudah tahu bahwa kau memang harus mengawasi aku. Persoalannya sekarang, apakah kau benar-benar orang yang kau katakan. Jika kau sekedar memancing kebenaran yang ada padaku, maka aku harus berhati-hati sekali” “Baiklah. Jika, kau masih saja ingin bersikap benar-benar seperti orang Sanggar Gading Sekarang, kita betul-betul makan Kita akan segera berpacu ke Sendang Gambir. Kita tidak boleh terlambat supaya kita tidak kehilangan jejak” Meskipun tidak begitu banyak, tetapi Jlitheng dan Rahupun makan bersama orang yang bertubuh raksasa, yang semula disebutnya adik Rahu, tetapi ternyata juga seorang petugas sandi dari Demak. Sejenak kemudian, maka Rahu dan Jlithengpun telah meninggalkan padukuhan yang aneh itu. Mereka berpacu menujui ke Sandang Gading. Tetapi agaknya Rahu telah mengenal jalan dengan baik, sehingga mereka menempuh jalan memintas. Namun dalam pada itu, disepanjang jalan itu Jlitheng sempat bertanya “Siapa namamu?“ “Rahu yang bergelar Iblis bertangan Petir” jawab Rahu sambil tersenyum. “Persetan. Siapa namamu“ Jlitheng hampir berteriak. Rahu tertawa. Anak muda yang bernama Candra Sangkaya itu memang menarik sekali baginya. Jawabnya kemudian “Namaku adalah Ranggah Wira Murti” Jlitheng mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Itu benar namamu?“ “Ya, kenapa?” Rahu tertawa “Mungkin kau tidak percaya. Seperti kau aku dapat membuat nama yang paling sederhana tetapi juga yang paling bagus kedengarannya. Tetapi Ranggah Wira Murti memang namaku. Seperti juga Candra Sangkaya adalah namamu, nama pember ian Pangeran Surya Sangkaya, Senapati Agung dari Majapahit yang berjuang sampai saat terakhirnya” Jlitheng tidak menyahut. Tetapi terdengar ia mengumpat Dalam pada itu, maka kuda merekapun berpacu semakin cepat. Ketika di tengah bulak panjang ia melibat seekor kuda berpacu menyilang jalan mereka, matra Jlitheng berdesis “Apalagi yang terjadi He, apakah penunggangnya itu juga orang Sanggar Gading?“ “Bagaimana menurut penglihatanmu?“ “Gila“ geram Jlitheng “Tetapi aku kira ia bukan orang Sanggar Gading” “Ya. Ia memang bukan orang Sanggar Gading” “Apakah penunggangnya sedang mengejar seseorang? “Jangan membuat persoalan baru lagi. Nanti kita terlambat” desis Rahu. Jlitheng tidak menyahut. Tetapi diamatinya kuda yang berpacu itu sempat hilang dibabk kepulan debu yang tebal. “Kau selalu tertarik kepada setiap peristiwa yang kau jumpai Tetapi kali ini kita benar-benar tidak ingin kehilangan waktu lagi. Matahari sudah condong. Kita tidak boleh terlambat, agar kita tidak kehilangan kesempatan. Mungkin kali ini kesempatan yang kita peroleh tidak memadai Namun demi kran disaat lain kita akan sampai juga pada persoalan yang lebih pent ing” gumam Rahu. Jlitheng tidak menjawab. Namun kuda yang berpacu itu memang sangat menar ik Jika ia tidak terikat dengan keinginannya untuk mengikuti orang-orang Sanggar Gading, maka ia tentu sudah mengikuti derap kuda yang berpacu itu. Demikianlah, maka Jlitheng dan Rahupun semakin lama menjadi semakin dekat dengan tempat yang sudah ditentukan oleh Sanggit Raina, Sanggar Gading. Ternyata karena mereka melalui jalan memintas, maka mereka tidak terlambat sampai ke tempat yang sudah ditentukan. Bahkan keduanya bukanlah orang terakhir yang datang. Ketika Rahu dan Jlitheng sudah duduk bersandar batu dengan mata sedikit terpejam, dua orang kawan mereka datang dengan nafas terengah-engah. Demikian mereka turun dari kuda. maka keduanya segera duduk diantara mereka yang datang terdahulu sambil berdesis “Aku sudah cemas, bahwa aku akan terlambat “ “Darimana saja kalian sehingga baru sekarang kalian datang?“ bertanya Rahu, Keduanya tertawa. Namun yang seorang berdesis “Anak itu singgah sebentar ditrumah isterinya” “Isterinya? He, apakah ia beristeri?“ desis Rahu. Keduanya menahan tertawanya Tetapi keduanya tidak menjawab, “Gila“ geram Rahu. Tiba-tiba saja yang muda itupun berkata “Isteriku memang seorang yang sangat baik. Aku telah dibekali dengan kancing gelung emas bermata intan” Rahu menggeram Katanya “Kau merampok lagi. Kau menodai nama Sanggar Gading” Tidak ada yang tahu, bahwa kami orang-orang Sanggar Gading “Ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi kenapa menodai? Bukankah bukan hanya aku saja yang melakukannya?“? “Mereka memang bertugas melakukan. Bukan kita yang akan mengemban tugas yang penting” jawab Rahu. Yang muda itu tertawa. Katanya “Apa salahnya” “Tetapi j ika kau tertangkap, dan kau tidak tahan mengalami tekanan, maka rencana ini akan bocor. Saingi kau diseret di belakang punggung kuda oleh para pengawal padu-kuhan, maka sekelompok prajur it Demak telah mengepung kita disini, karena ada diantara mereka yang melaporkannya” Ramu hampir membentaknya. Orang itu terdiam. Mereka tahu bahwa Rahu adalah orang terdekat dari Cempaka. Dan Cempaka adalah adik Sanggit Raina yang ditakuti oleh setiap orang di Sanggar Gading. Karena orang itu tidak menjawab, maka Rahupun terdiam pula. Ia telah menempatkan badannya sebaik-baiknya kembali seperti saat kedua orang itu belum datang, sambii memejamkan matanya. Jlitheng yang mendengarkan pembicaraan itu menahan perasaannya. Memang sulit untuk dihindari, bahwa orang- crang dalam kelompok yang demikian akan melakukan kejahatan terpisah menurut kehendak mereka masing-masing. Jlitheng tidak tahu, jika Sanggit Raina mengetahuinya, apakah ia akan marah, atau membiarkan saja hal seperti itu terjadi. “Persetan“ Jlitheng mengumpat di dalami hatinya. Namun ia tidak memikirkannya lagi. Iapun mencoba beristirahat sebaik-baiknya sebelum mereka akan melanjutkan tugas mereka, yang masih belum mereka ketahui dengan jelas. Ternyata Sanggit Raina yang telah berada diantara orang- orang itupun segera memberikan perintah. Iapun agaknya masih ingin ber istirahat. Sementara Cempaka yang telah ber ada di tempat itu pula berjalan hilir mudik dengan pandangan kosong. Langit yang menjadi kelarnpun semakin bertambah kelam. Bintang-bintang bertebaran dari sudut langit sampai kesudut yang lain Batang ilalang yang tumbuh dengan liar berayun- ayun disentuh angin yang sejuk, “Kita akan memasuki Kota Raja menjelang tengah malam” desis Sanggit Raina kepada Cempaka ketika adiknya itu lewat di depannya. “Apakah yang masih kita tunggu?“ bertanya Cempaka. “Biar lah Kota Raja itu benar-benar tertidur” jawab kakaknya. Cempaka tidak menyahut. Iapun melangkah lagi hilir mudik. Sekah-kali dipandanginya langit yang cerah Namun kemudian dilayangkannya tatapan matanya kekejauhan menembus gelap. Ketika lintang Gubug Penceng nampak tegak di ujung selatan, maka Sanggit Rednapun kemudian bangkit dan membenahi pakaiannya. Beberapa orang pengikutnya telah tertidur. Cempakapun tidak lagi berjailan hilir mudik, tetapi ia sudah duduk diatas sebuah batu yang besar. “Kita akan bersiap” berkata Sanggit Raina, “Apakah kita akan memberitahukan tugas kita sekarang?“ bertanya Cempaka. “Ya. Kita akan memberikan beberapa pesan. Kuta harus bekerja dengan cermat. Yang kita hadapi bukan saja kekuatan yang terdapat di istana itu yang agaknya tidak terlalu besar Tetapi jika rencana ini sudah tercium oleh orang-orang Puspa- ruri atau orang-orang Kendali Putih yang juga sudah siap, maka kita akan menghadapinya. Selebihnya, jika prajurit peronda Demak mengerti bahwa kita memasuki Kota Raja, maka kitapun akan mengalami kesulitan” jawab Sanggit Raina. “Jadi, apakah semuanya kita kumpulkan?“ Cempaka bertanya pula. “Ya. Aku akan member ikan penjelasan” Cempakapun kemudian membangunkan seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang tertidur disebelah batu tempat ia duduk. Lalu disuruhnya orang rtu membangunkan kawan- kawannya dan berkumpul untuk mendengarkan penjelasan terakhir. “Kita. akan melakukannya sekarang” berkata Sanggit Raina setelah semuanya berkumpul mengitarinya “kuda-kuda kita akan kita tinggalkan disini. Kita akan merayap mendekati kota. Kita tidak akan melalui pintu gerbang yang tentu diawasi oleh para prajurit meskipun barangkali tidak akan dijaga terlalu ketat“ Orang-orangnya mendengarkan perintah itu dengan saksama. Kemudian Sanggit Rainapun melanjutkan “Kita akan memasuki sebuah istana seorang Pangeran. Kalian tidak perlu mengetahui apa maksudnya. Tetapi yang perlu kalian ketahui, bahwa kita ingin membawa Pangeran itu ke padepokan kita Pangeran itu mempunyai nilai yang tiada taranya Karena itu, maka beberapa pihakpum akan melakukan seperti yang kita lakukan sekarang” Beberapa orang menjadi tegang. Namun Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tidak mendapat tugas yang bertentangan dengan niat kehadirannya, dfi Sanggar Gading. Namun ternyata bahwa Sanggit Raina masih belum selesai Ia masih berkata “Agar kuda-kuda kita tidak hilang, maka dua diantara kita yang paling tidak berarti akan tinggal disini Karena itu, aku tidak berkeberatan ketika ada diantara kalian yang membawa orang-orang yang sebenarnya tidak aku kehendaki“ Wajah-wajah menjadi tegang. Jlithengpun menjadi berdebar-debar. Jika ia ditunjuk untuk sekedar menunggui kuda-kuda itu, maka rencananya akan pecah “Dua orang yang aku tunjuk menunggui kuda harus bersyukur, karena kemungkinan mereka untuk mati, jauh lebih kecil dar i kita yang akan pergi memasuki Kota Raja” berkata Sanggit Raina. Jlithengpun kemudian menarik nafas dalam-dalam, ketika ternyata Sanggit Raum menyebutkan namanya Sejenak kemudian, maka orang-orang Sanggar Gading itupun telah bersiap sepenuhnya. Ketika Sanggit Raina member ikan aba-aba, maka merekapun segera berangkat menuju ke Kota Raja pada saat Demak sedang tertidur nyenyak. Kota Raja itu pada keadaan sehari-harinya adalah kota yang tenang. Tidak banyak masalah yang timbul. Meskipun di daerah yang jauh masih kadang-kadang terjadi pertempuran melawan mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan dan berusaha untuk memisahkan diri namun keadaan pada umumnya telah menjadi baik. Karena itu, maka para pengawal kota tidak terlalu ketat mengawasi jalur-jalur jalan masuk dan keluar kota. Banyak jalan-jalan kecil dan regol-regol padukuhan yang tidak mendapat pengawasan. Apalagi jalan-jalan budak yang langsung menusuk masuk ke dalam kota. Dengan demikian maka sulit untuk menyusup masuk ke dalam kota. Sanggit Raina yang berjalan dipating depan sempat memberikan petunjuk, kemana mereka harus pergi. “Tidak ada lain yang harus kalian kerjakan. Menangkap hidup-hidup Pangeran yang bergelar Sena Wasesa yang usianya sudah menjelang tiga perempat abad. Tetapi ia adalah seorang Pangeran yang sakti berkata Sanggit Raina. Tidak seorangpun yang berani bertanya, kenapa Pangeran rtu harus ditangkap hidup-hidup. “Apakah namanya memang Sena Wasesa?“ bisik J litheng. Rahu menggeleng sambil berdesis “Ia bergelar Sena Wasesa karena sesuatu yang pernah dilakukannya. Namanya sendiri bukan Sena Wasesa “Siapa??” bertanya JKitheng pula “Aku tidak tahu. Aku hanya menduga” Jlitheng tidak bertanya lagi. Namun ia merasa jantungnya berdebaran semakin keras. “Bantaradi“ bisik Rahu “Apakah menurut pertimbanganmu, kita akan benar-benar ikut menangkap Pangeran itu atau justru membebaskannya?“ “Tentu kita akan menangkapnya” desis Jlitheng “He, apakah kau sedang menjajagi aku” Jlitheng tidak menyahut. Tetapi terdengar ia mengumpat. Dalam pada itu, maka kuda merekapun berpacu semakin cepat. Ketika di tengah bulak panjang ia melibat seekor kuda berpacu menyilang jalan mereka, maka Jlitheng berdesis “Apalagi yang terjadi. He apakah penunggangnya itu juga orang Sanggar Gading?“ “Hentikan kegiatanmu. Dalam keadaan seperti ini, kau jangan berpura-pura lagi“ Rahu menggeram. Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun ia merasa, betapa Rahu sudah menahan hati. Maka, dalam keadaan yang gawat itu, Jlithengpun menyadari, bahwa ketegangan diliati masing- masing akan mudah membuat mereka merasa tersinggung Karena itu, maka katanya kemudian “Maaf. Tetapi qku bersungguh-sungguh. Aku ingin Pangeran itu benar-benar ditangkap” “Itu akan menggemparkan Demak. Aku akan menjadi salah seorang yang kelak harus mempertanggung jawabkan, jika Pangeran Sena Wasesa itu. mengalami sesuatu” berkata Rahu. Jlitheng tidak segera menyabut. Mereka berjalan diujung paling belakang Namun dengan demikian mereka dapat berbicara diantara mereka. “Rahu, jika kau ingin membebaskannya, bagaimana cara yang sebaik-baiknya kau lakukan?“ bertanya Jlitheng. “Tentu aku akan berpihak kepada Pangeran itu” berkata Rahu “selebihnya aku harus melontarkan isyarat ke udara” “Apa yang akan kau lontarkan? Apakah kau membawa panah sendaren atau membawa panah api?“ “Tidak, aku harus melontarkan sesuatu keairab tertentu. Kira-kira tigapuluh langkah kearah Barat” “Barat mana. Apakah kau sudah tahu, bahwa kita akan pergi ke istana Pangeran Sena Wasesa? “Semi mengikuti kita sekarang ini. Nah, apa katamu? Akulah yang sekarang bertanya kepadamu apakah kau sedang menjajagi aku” “Aku juga muak mendengar pertanyaan seperti itu” jawab Jlitheng “Tetapi aku tetap pada pendirianku, Pangeran itu harus ditangkap. Jika kau berusaha untuk membatalkannya dengan isyarat kepada orang yang kau sebut adikmu yang barangkali sekarang membawa dua atau tiga orang kawan, aku tidak sependapat” “Jadi kau benar-benar akan berbuat sesuai dengan perintah orang-orang Sanggar Gading?“ bertanya Rahu? “Ya Kita akan tahu, apakah yang mereka kehendak dari Pangeran tua itu” desis JiKtheng. “Kenapa kita tidak membebaskanya saja, kemudian kita hubungi langsung Pangeran itu?“ bertanya Rahu. “Tentu masalahnya bukan masalah yang sederhana. Jika kita gagal mempertahankan Pangeran itu, maka kita akan kehilangan segala kesempatan. Bahkan kita harus menyingkirkan dim dari tindakan orang-orang Sanggar Gading. Sementara niat mereka dengan menawan Pangeran itu dapat mereka lakukan dUuar pengawasan kita” gumam Jlitheng. Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Jika demikian, aku tidak akan memberikan isyarat apapun juga kepada adikku” “Tetapi apakah hal seperti itu sering kau lakukan?“ Membatalkan usaha yang dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading?“ bertanya Jlitheng. “Tidak terlalu sering. Tetapi karena sekarang masalahnya menyangkut seorang Pangeran, maka aku dapat mengambil satu sikap Biasanya kami hanya sekedar mencari dukungan dana untuk kepentingan Sanggar Gading tanpa menyentuh orang-orang penting apalagi seorang Pangeran?” Jlitheng mengerutkan keningnya. Dengan sungguh- sungguh ia berunya “Tetapi sekali-kali pernah juga kau lakukan? Meskipun tidak terlalu sering?“ “Ya” jawab Rahu “dalam keadaan yang memaksa aku telah berusaha menggagalkan rencana orang-orang Sanggar Gading dengan memberikan keterangan kepada Semi. Tetapi Semipun mengerti bahwa kegagalan itu jangan menumbuhkan kecurigaan kepada orang dalam“ Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi kali ini ia tidak ingin rencana orang-orang Sanggar Gading untuk mengambil orang yang dikehendaki oleh Daruwerdi itu gagal. Ia harus mengetahui siapakah orang itu. Baru kemudian ia akan menentukan sikap. Ternyata Rahu tidak berkeberatan meskipun mungkin ia harus mempertanggung jawabkan kepada pimpinannya, bahwa ia tidak dapat mengatasi rencana yang tumbuh di dalam lingkungannya, dan justru menyangkut kepada seorang Pangeran. Dalam beberapa hal Rahupun telah mendengar hubungan Cempaka dengan orang yang tinggal didaerali Sepasang Bukit Mati. lapun mendengar serba sedikit, bahwa orang yang ber ada di daerah Sepasang Bukit Mati itu mempunyai jalur hubungan dengan pusaka yang masih belum dikotemukan. Tetapi yang diketahuinya ternyata sangat sedikit. Namun yang sedikit itu ternyta telah mendorongnya untuk menyetujui pendapat Jlitheng, “Jika kemudian terjadi sesuatu dengan Pangeran itu, maka mungkin aku akan mendapat hukuman pula” berkata Rahu di dalam hatinya “Tetapi jalan ini agaknya akan membawa aku kepada sebuah pusaka yang mungkin penting sekaki bagi Demak” Meskipun keduanya kemudian tidak sempat lagi berbicara meskipun berbisik, namun keduanya seolah-olah telah menemukan jalan yang sesuai, meskipun mungkin pada saat- saat terakhir mereka akan menentukan jalan mereka masing- masing. Dalam gelapnya malam, maka sekelompok orang-orang Sanggar Gading itupun menyusup semakin dalam kejantung Kota Raja. Jalan yang mereka tempuh harus diingat sebaik- baiknya oleh setiap orang yang ikut serta di dalam kelompok itu. Dalam keadaan yang gawat, mungkin sekali mereka harus berpisah dan berpencar. Tetapi mereka harus dapat menemukan jalur jalan keluar dan berkumpul kembali di Sendang Gambir. Tetapi bagi mereka yang sudah mengenal dengan haik sudut-sudut di Kota Raja maka bagi mereka tidak terlalu banyak kesulitan jika mereka terpisah dari kawan- kawan mereka yang lain. Rahu adalah salah seorang yang mengenal jalan-jalan di Kota Raja dengan sebaik-baiknya Sedangkan J lithengpun mengenalnya pula, meskipun firjak sebaik Rahu. Karena Rahu memang membekali dirinya dengan pengenalan yang luas atas berbagai macam keadaan. Termasuk jalan-jalan yang menyusup diantara rumah-rumah dan istana-istana besar di seluruh Kota Raja. Bahkan Rahu hampir mengenal setiap pintu di seluruh Kota. Karena itu, maka ketika mereka memasuki jalan yang langsung menuju ke tempat yang mereka tuju, Rahu segera meyakini, istana siapakah yang akan mereka datangi. “Diujung jalan ini ada sebuah istana” berkata Sanggit Ratina kepada para pengikutnya dengan perlaban-lahan tetapi cukup jelas “Kita akan memasuki istana itu. Kita akan menghindari korban sejauh-jauh dapat kita lakukan. Karena itu, maka kita harus berbuat dengan hati-hati. Orang-orang kita sudah terlalu banyak menjadi korban. Mungkin karena pokal mereka sendr i di padang kematian, tetapi juga karena tugas-tugas yang berat” Para pengikutnya mendengarkan dengan saksama. Sementara itu Sanggit Raina berkata selanjutnya “Kita tidak akan memasuki regol. Kita akan memasuki istana ita dari segala penjuru. Kita menyergap para penjaga Mereka akan kita lucuti dengan cepat dan kita ikat pada pohon-pohon sawo yang terdapat di halaman astana itu. Baru kemudian kita memasuki istana dan mengambil Pangeran penghuni astana itu” Semua orang hanya mendengarkannya. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang member ikan pendapatnya. Perintah itu sudah cukup jelas, sementara orang-orang Sanggar Gading tidak perlu mengetahui, untuk apa mereka melakukannya. Dengan hati-hati sekelompok orang Sanggar Gading itu mendekati sebuah istana yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan beberapa istana yang lain. Dihalaman depan terdapat dua batang pohon sawo kecik yang besar dan rindang. Dengan isyarat Sanggit Raina memer intahkan orang- orangnya memencar mengelilingi istana itu. Ia sendir i dengan Cempaka dan dua orang lainnya, bersiap-siap untuk menyergap para penjaga di regol meskipun mereka tidak akan mengetuk pintu regol. Tetapi seperti yang lain, merekapun akan meloncat dan langsung menguasai para penjaga dan mengikat mereka seperti yang akan dilakukan oleh orang- orang Sanggar Gading yang lain, apabila mereka menjumpai para pengawal. Orang-orangnya itupun telah mendapat pesan isyarat apakah yang harus mereka perhatikan. Jika mereka mendengar suara burung hantu, berarti bahwa mereka harus memasuki halaman istana. Tetapi jika yang terdengar suara burung kedasih, mereka harus meninggalkan istana Itu. Sejenak Sanggit Raina menunggu. Iapun kemudian dengan sangat hati-hati mendekati regol istana yang diputari dengan dinding yang cukup tinggi. Tetapi yang masih akan dapat diloncati oleh orang-orang Sanggar Gading yang cukup terlatih. Telinga Sanggit Raina yang tajampun kemudian menangkap suara desah orang yang beringsut di balik regol. Nampaknya satu dua orang penjaganya masih terjaga sambil duduk bersandar pintu regol. Dengan isyarat Sanggit Raina memberikan tanda kepada Cempaka agar ia menunggu. Sementara Sanggit Raina sendiri telah bersiap untuk meloncat masuk disebelah regol, sehingga ia akan langsung dapat menguasai para penjaganya. Beberapa saat suasana menjadi tegang. Setiap orang menunggu isyarat yang akan diberikan oleh Sanggit Raina, sementara Sanggit Raina sendir i sudah siap untuk meloncat. Cempaka dan dua orang lainnya telah bersiap pula. Dengan hati yang berdebar-debar mereka menunggu isyarat pula. Ketika saatnya sudah tiba menurut perhitungan Sanggit Raina, maka di dalam kelamnya malam, terdengar suara burung hantu merobek sunyi. Hampir bersamaan dengan itu, Sanggit Raina sendiri telah meloncati dinding halaman disusul oleh Cempaka dan dua orang pengikutnya, sementara dibagian lain beberapa orang telah berloncatan masuk pula. Suara burung hantu itu memang telah menar ik perhatian. Sementara itu, dua orang penjaga yang berada di regol halaman itupun terkejut ketika tiba-tiba saja seseorang telah meloncat berduri beberapa langkah dari padanya. Dengan sigapnya para penjaga itupun bangkit berdir i. Dengan tangkasnya pula keduanya telah mengacukan senjata mereka. Namun dalam pada itu, mereka melihat tiga orang telah menyusul pula. Tidak ada kesempatan untuk membunyikan kentongan. Karena itu, maka t iba-tiba saja terdengar salah seorang dari keduanya berteriak nyaring “Para pengawal, bersiaplah” Suaranya terputus ketika Sanggit Raina telah meloncat menyerang. Namun penjaga itu sempat mengelak. Bahkan dengan satu putaran yang cepat, penjaga itu telah menyerangnya kembali Cempaka dan dua orang kawannyapum telah melangkah mendekat. Sementara itu, penjaga yang lainpun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Bahkan iapun telah menyambung teriakan kawannya justru lebih nyaring “Bersiaplah, kita akan bertempur” Tetapi pengawal itupun tidak dapat melanjutkan kata- katanya Cempakapun telah menyerangnya pula dengan cepatnya. Tetapi serangannya itupun tidak langsung dapat menikam jantung. “Menyerahlah” geram Sanggit Raina. Kami adalah pembunuh-pembunuh. Tetapi j ika kalian menyerah, kalian tidak akan kami bunuh. Kami hanya akan mengikat kalian pada pohon sawo itu” “Persetan“ geram para penjaga. Namun ternyata bahwa keempat orang yang memasuki regol itu memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga sejenak kemudian mereka seolah-olah telah tersudut tanpa dapat bergerak. Namun dalam pada itu, ternyata suara kedua penjaga itu telah didengar oleh kawan-kawannya. Beberapa orang telah berlari-lari menuju ke regol halaman itu. Tetapi pada saat yang bersamaan, maka halaman belakang istana itupun telah dirayapi oleh beberapa orang murid Sanggar Gading. Mereka dengan tergesa-gesa telah mendekati istana dari arah belakang. Sanggit Raina ternyata tidak segera dapat menguasai para penjaga. Ketika dua orang penjaga telah sampai ke regol, maka iapun berkata “Tahan mereka. Aku akan memasuki istana itu” Ketika Sanggit Raina meloncat meninggalkan regol, beberapa orang pengawal nampak dalam keremangan malam. Tetapi orang-orang Sanggar Gading yang sudah ber loncatan masuk itupun telah menyergapnya, sehingga sejenak kemudian telah terjadi pertempuran di beberapa tempat di dalam halaman istana itu. Cempaka yang melihat kakaknya telah berlari ke pintu butulan itupun segera menyusulnya dengan, meninggalkan mur id-mur id Sanggar Gading yang lain, yang segera berusaha menyesuaikan dir i. Sanggit Raina yang kemudian disusul oleh Cempaka tertegun ketika mereka melihat Rahupun telah ber lari-lar i ke pintu butulan itu pula disusul oleh Bantaradi yang menyebut dirinya sehari-hari di padukuhannya dengan Jlitheng. “Ikut aku“ Sanggit Raina tidak pikir panjang. Iapun memperhitungkan bahwa di dalam istana itu tentu ada pula beberapa pengawal dalamyang bertugas. Sementara itu, maka Sanggit Raina tidak sabar menunggu pintu itu dibuka. Ia tidak berhasil menguasai para penjaga dengan diam-diam. Karena itu, maka ia tidak mempunyai kesempatan lagi. Ia harus mempergunakan kekerasan untuk menguasai seluruh isi istana. Dengan kakinya. Sanggit Raina menghentakkan daun pintu yang masih tertutup. Terdengar suaranya berderak keras sekali. Namun Sanggit Raina tidak perlu mengulanginya lagi. Pintu itu sudah pecah berserakkan. Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Jika demikian, aku tidak akan member ikan isyarat apapun juga kepada adikku” Dengan loncatan pendek, Sanggit Raina memasuki pintu bututan. Seperti yang diperhitungkan, maka beberapa orang pengawal telah menyongsongnya. Namun dalam pada itu. Cempaka, Rahu dan Jlithengpun telah ada di dalam pula. Sesaat kemudian telah terjadi pertempuran. Para pengawal yang terpilih itupun telah melawan dengan gigihnya, Seperti yang sudah didengar oleh setiap orang Sanggar Gading, bahkan oleh kelompok-kelompok yang lain, maka para pengawal di istana itu sebenarnyalah pengawal-pengawal yang terpilih ilmu yang tinggi. Itulah sebabnya, maka tidak setiap orang Sanggar Gading boleh mengikuti tugas yang berat itu. Demikianlah, maka pertempuran telah terjadi d beberapa tempat di halaman istana itu. Bahkan kemudian di dalam istana itu pula. Beberapa orang pengawal harus bertempur melawan orang-orang Sanggar Gading yang garang. Namun karena merekapun cukup terlatih, maka merekapun telah melawan dengan sengitnya. Meskipun demikian, tetapi bahwa kekasaran orang-orang Sanggar Gading telah membuat para pengawal senjadi berdebar-debar. Hentakan senjata dan kadang-kadang gerak dan liar, membuat para pengawal harus berhati-hati. Pertempuran telah terpaksa membakar halaman itu. Darahpun tidak dapat lagi terbendung, menitik dar i luka-luka yang menganga. Satu dua orang pengawal dan orang-orang Sanggar Gading telah mulai tersentuh senjata. Dalam pada itu, maka Sanggit Raina bersama Cempaka. Rahu dan Jlitheng telah bertempur dengan dahsyatnya di ruang dalam istana yang tidak terlampau besar itu. Seperti yang sudah diperhitungkan, maka istana yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan istana-istana kepangeranan yang lain itu, telah dijaga oleh sekelompok pengawal yang kuat Orang-orang Sanggar Gading yang terbaik, harus berjuang dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk dapat menguasai para pengawal. Namun jumlah orang-orang Sanggar Gading yang lebih banyak dari para pengawal, telah berhasil mendesak mereka. Satu dua orang telah terluka dan t idak mampu lagi melawan. Tetapi dalam pada hu, di ruang dalam. Sanggit Raina. Cempaka, Rahu dan Jlitheng harus bertempur dengan gelisahnya. Para pengawal dli ruang dalam itu, ternyata adalah benar-benar orang pilihan. Dengan segenap kemampuan mereka bertahan. Mereka bertempur tanpa gentar, meskipun orang-orang Sanggar Gading adalah orang-orang yang kasar dan garang. Namun, sejenak kemudian beberapa orang Sanggar Gading yang lain telah masuk pula lewat pintu yang sudah menganga. Mereka yang sudah melumpulilkan lawan- lawannya telah berloncatan menyusui memasuki ruang dalam istana. Ms kipun mulamula, mereka terhenti karena kekaguman menka melihat perabot istana itu, namun kemudian merokopun telali berusaha melibatkan diri kedaiampertempuran itu. Sementara orang-orangnya memasuki ruang dalam, maka tiba-tiba saja Sanggit Raina telah menyelinap. Iapun kemudan memasuki ruang depan dan langsung menuju kesebuah bilik yang tertutup rapat “Pangeran” desis Sanggit Raina diluar pintu “pangeran tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Sebaiknya Pangeran menyerah dan keselamatan Pangeran akan aku pertanggung jawabkan” Tidak terdengar jawaban. Karena itu sekali lagi terdengar Sanggit Raina “Pangeran, sebelum para pengawalmu terbunuh, bukalah pintu. Akhir dari pertempuran ini sudah pasti. Jika Pangeran tidak melawan, maka para pengawal Pangeran akan selamat. Mungkin ada satu dua yang terluka. tetapi itu sudah wajar sekali bagi para pengawal yang menggenggam senjata telanjang di tangannya“ Sejenak Sanggit Raina menunggu. Kemudian terdengar jawaban dengan suara yang dalam “Siapa kau?” “Sanggit Raina. orang Sanggar Gading” “Aku tidak mengenalmu” sahut suara dari dalam. “Tentu. Pangeran tidak mengenal aku. Tetapi bukalah pintu sebelum istana ini menjadi karang abang” desak Sanggit Raina. Sejenak ruang itu menjadi hening. Namun kemudian terdengar pintu berderit. Perlahan-lahan pintu itupun terbuka. Sanggit Raina berdiri tegak dengan senjata di tangannya teracu kepada seseorang yang berdiri di muka pintu sambil memegang selarak pintu Seorang gadis. Sanggit Raina menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku mohon perkenan puteri untuk menghadap ayahanda” Gadis itu mengerutkan keningnya. Namun terdengar suara seorang yang sedang berbaring “Biar lah ia masuk” Sanggit Raina termangu-mangu sejenak. Namun dengan senjata yang teracu iapun melangkah memasuki bilik itu. Demikian kakinya melangkah, maka iapun melihat gadis yang membuka pintu itu berlar i memeluk seorang perempuan yang berdiri disudut ruang itu dengan ketakutan. Perempuan itu berusaha menalian tangis. Sambil mengucap rambut gadis itu. ia berkala “Sudahlah puteri. Selalu kebijaksanaan ada di tangan ayahanda” Perempuan yang gemetar itu memandang Sanggit Raina yang mendekati pembaringan. Kemudian dengan suara datar ia berkata “Pangeran. Aku mohon pengertian Pangeran, agar tugasku dapat selesai dengan cepat. Juga untuk kepentingan Pangeran dan para pengawal” Orang yang berbaring itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Kau datang pada saat aku tidak dapat member ikan perlawanan. Mungkin kau memang sudah memperhitungkannya” “Kami mohon maaf. Kami memang memperhitungkan keadaan ini Pangeran. Karena kami tahu, bahwa untuik dapat mengalahkan Pangeran dalam keadaan yang siap menghadapi lawan, diperlukan kekuatan yang tidak ada taranya” “Bawalah aku kepada para pengawalku. Tetapi dengan janji seorang laki-laiki, bahwa kalian tidak akan membunuh mereka” “Jika hal itu segera kita lakukan, maka kemungkinan untuk tidak mengurangi seorang pengawalpun masih ada. meskipun tentu beberapa orang pengawal Pangeran telah terluka. “Bawalah aku kepada mereka” desis Pangeran yang sedang sakit itu. Sanggit Rainapun kemudian menyarungkan pedangnya, la membuka selimut Pangeran itu selelah ia yakin bahwa Pangeran yang sakit itu tidak bersenjata. Kemudian menolongnya bangkit dan membantunya berjalan menuju ke ruang dalam. Ketika Sanggit Raina dan Pangeran yang sedang sakit itu muncul di ruang dalam, maka tiba-tiba saja pertemparan itupun terhenti. Meskipun masing-masing telah melangkah surut tetapi senjata mereka masih tetap dalam genggaman. “Hentikan perlawanan“ terdengar perintah Pangeran ang sedang sakit itu “Orang ini. yang agaknya pemimpin perampok yang memasuki rumah kita, berjanji sebagai seorang laki-laki", bahwa kalian tidak akan diusik” Para pengawal termangu-mangu. Namun mereka t idak melanggar perintah itu. “Nah. sekarang katakan” berkata Pangeran itu kepada Sanggit Raina, lalu “Apakah yang kau kehendaki?“ “Pangeran” jawab Sanggit Raina singkat. “Aku?“ bertanya Pangeran itu. “Ya Pangeran. Aku memer lukan Pangeran” Pangeran itu termenung sejenak, sementara gadis yang selalu mengikutinya tiba-tiba berjongkok dihadapannya sambil menangis “Ayahanda. Jangan pergi” Pangeran itu termenung. Dibelainya rambut anaknya yang berjongkok dihadapannya. Namun ketika sekilas dipandanginya ruangan itu, ia melihat orang-orang yang tidak dikenal berdir i bertebaran dengan senjata di tangan. Lebih banyak dari pengawal-pengawamya. Bahkan Pangeran yang sedang sakit iiupun dapat membayangkan, bahwa pengawal- pengawalnya di halaman tentu sudah tidak mampu lagi membendung orang-orang yang tidak dikenalnya itu, sehingga mereka memasuki ruangan dalam. “Ayahanda“ gadis itu menangis semakin keras. Namun dalam pada itu. Nrangsarimpat yang telah berada di dalam ruangan itu pula tertawa sambil melangkah maju Tiba- tiba saja ia berjongkok disamping gadis itu sambil berdesis “Jangan menangis puteri. Meskipun ayahanda pergi, banyak orang yang akan bersedia menemanimu disini” Puteri itu beringsut. Namun kemudian Nrangsarimpat sambil tertawa telah memegang lengan puteri itu. Tetapi tiba-tiba saja Nrangsarimpat terkejut la sadar, bahwa tiba-tiba saja ia telah terlempar karena hentakkan di dadanya. Ternyata kemarahan Pangeran yang sakit itu tidak tertahankan lagi, sehingga kakinya telah menghantam dada Nrangsarimpat. Terasa dada itu menjadi sesak. Tetapi orang itu ternyata tangkas pula. Dengan melenting ia bangkit berdir i sambil mengumpat. Suaranya melengking tinggi. Kesan senyum dan tawanya telah lenyap dari wajahnya Namun yang menggeram kemudian adalah Sanggit Raina “Kau gila Nrangsarimpat “Lalu katanya kepada Pangeran yang masih menggeretakkan giginya itu “Maaf Pangeran. Aku akan mempertanggung jawabkan keselamatan keluarga Pangeran dan para pengawal. Tetapi aku mohon Pangeran bersedia pergi bersama kami” Terdengar Nrangsarimpat menggeram. Tetapi ia t idak berani berbuat sesuatu dihadapan Sanggit Raina, La mengerti apa yang dikatakan oleh Sanggit Raina bukanlah pura-pura. Jika ia melindungi anak buahnya iapun bertindak tanpa ragu- ragu. Tetapi jika ia ingin menghukumnya, maka iapun melakukannya seperti yang dikehendakinya. Sejenak ruangan itu dicengkam oleh ketegangan. Pangeran yang sedang sakit itu tidak dapat membuat pertimbangan lain. Jika ia menolak, maka akibatnya akan sangat buruk bagi para pengawalnya. Bahkan juga bagi keluarganya, lebih-lebih anak gadisnya yang sedang meningkat dewasa Tetapi jika ia membiarkan dirinya dibawa, ia tidak tahu. kemana dan untuk apa. Ia tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas dirinya. “Pangeran tidak usah menyebut siapa aku, sesuai dengan pengakuanku, dihadapan para pengawal” berkata Sanggit Raina “karena itu pengenalan Pangeran atasku dan kawan- kawanku. biarlah Pangeran bawa bersama orang-orangku. Sekali lagi, aku akan mempertanggung jawabkan keselamatan Pangeran dan seisi istana yang akan Pangeran tinggalkan, kecuali yang sudah terlanjur terluka atau barangkali terbunuh dalam pertempuran yang baru saja terjadi, karena mungkin ada juga orang-orangmu yang akan terpaksa aku tinggalkan, karena ia sudah terbunuh pula” Pangeran itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya puterimya yang kemudian berpegangan lututnya, sementara embannya telah berjongkok pula disampingnya. “Sudahlah” desis Pangeran itu sambil mengusap kepala puterinya “apaboleh buat. Biarlah aku pergi bersama orang- orang ini. Mudah-mudahan aku akan dapat kembali lagi ke istana ini” “Ayahanda” desis puterinya. “Barangkali jalan ini adalah jalan yang lebih baik aku tempuh. Aku masih percaya, bahwa orang ini adalah seorang yang jantan, yang kata-katanya dapat dipercaya. Nampaknya ia bukan seorang perampok yang sekedar menghendaki harta dan benda, tetapi tentu ada kepentingan lain yang mungkin akan dapat aku selesaikan” “Tetapi, bagaimana j ika ayahanda meninggalkan aku sendiri?” tangis puterinya. Sejenak Pangeran itu tertegun. Gadis itu sudah tidak beribu lagi. Ia adalah ayah-bundanya yang menjadi tempatnya bergantung. Tatapi Pangeran itu melihat bayangan yang lebih buruk akan dapat terjadi atas anak gadisnya, jika ia mengadakan perlawanan. Meskipun nampaknya pemimpin dari orang-orang yang datang itu adalah seorang laki-laki yang dapat dipercaya dalam ujudnya tersendiri., namun orang- orangnya bukanlah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat serupa. Karena itu, maka katanya “Sudahlah anakku. Lepaskan aku pergi. Aku ingin juga melihat, apakah sebenarnya keinginan mereka” “Tetapi, aku takut ayahanda” tangis anak gadisnya. “Berdoalah. Mudah-mudahan aku akan segera kembali” jawab ayahandanya. Tetapi tangis puterinya tidak mereda. Karena itu, maka perlahan-lahan Pangeran itu melepaskan tangan anak gadisnya sambil berdesis “Cobalah menguasai dirimu sendiri anakku” Puteri itu meronta ketika embannya menahannya. Namun tiba-tiba saja ia tertegun ketika ia mendengar orang yang menolong ayahnya berjalan itu berkata “Puteri, waktuku hanya redikit. Jangan memaksa kami mengambil jalan lain yang akan capat menyakiti hati puteri” Pangeran yang sedang sakit itulah yang kemudian menggeram. Namun Sanggit Raina telah mendorongnya sambil berkata “Marilah Pangeran. Kuda bagi Pangeran telah tersedia. Aku sendiri akan menjaga agar Pangeran yang lemah tidak terjatuh jika kuda itu berpacu. Tetapi untuk beberapa puluh tonggak kita akan berjalan agar kita tidak mengejutkan dan membangunkan seisi kota“ kemudian kepada puteri yang masih menangis itu Sanggit Raina berkata “Ingat puteri, ayahanda puteri ada bersama kami. Jangan berbuat sesuatu yang akan dapat mengancam keselamatan ayahandamu sendiri” “Oh” suara puteri itu bagaikan terputus di kerongkongan. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat melihat ayahandanya berjalan dipapah oleh orang yang nampaknya pemimpin dari sekelompok orang yang telah memasuki istananya. Sejenak kemudian, maka ayahandanya itu telah menghilang di balik pintu butulan. Satu-satu orang-orang yang memasuki istananya itupun melangkah surut dan lenyap pula ke dalam gelapnya malam. Demikian orang terakhir dari sekelompok orang yang memasuki istana itu lenyap, maka puteri itupun menjatuhkan kepalanya ke dada perempuan yang selalu mendampinginya. Tangisnya tidak tertahan lagi melontar seperti tumpahnya air dari sebuah bendungan yang pecah. Beberapa orang pengawal istana itu berdiri termangu- mangu. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat berlari mengejar orang-orang yang membawa Pangeran yang sedang sakit itu. meskipun mereka rela mengorbankan jiwa mereka. Karena dengan demikian, bukan saja mereka yang terancamj iwanya, tetapi juga Pangeran itu. Seorang pengawal yang sudah berusia setengah umur kemudian mendekati emban yang masih memeluk momongannya, yang menangis itu sambil berkata “Bawalah puteri ke pembaringannya. Mungkin ia memerlukan ist irahat. Jika mungkin biarlah puteri tidur barang sejenak” Embannya memandang pengawal itu sekilas. Kemudian iapun mengangguk kecil. Namun ia berkata kepada diri sendiri di dalam hati “Maksudku juga begitu. Tetapi puteri ini sedang berduka, sehingga sulit untuk menenangkannya” Meskipun demikian, emban itu mencoba juga untuk membujuknya. Namun untuk beberapa saat puteri itu masih tetap menangis tanpa beranjak dari tempatnya. Dalam pada itu, para pengawalpun kemudian keluar pula dari ruangan itu, kecuali dua orang pengawal dalam yang kemudian berdir i di muka pintu butulan. Bagaimanapun juga, mereka masih harus tetap berhati-hati. Mungkin yang terjadi itu baru sebuah permulaan yang masih akan disusul oleh peristiwa-peristiwa lain yang lebih kasar dan liar. Ternyata, diluar para pengawal harus menolong tiga orang kawan mereka yang terluka. Seorang dari Tereka terluka parah. Sementara itu seorang dari kelompok yang memasuki istana itu. juga telah terluka parah. Bahkan tidak ada lagi kemungkinan untuk dapat diselamatkan. Orang itu sudah berada dalam keadaan pingsan sementara darahnya terlalu banyak mengalir. Dengan segera para pengawal yang terluka itupun mendapat perawatan seperlunya sementara seorang lawan yang sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk dapat hidup itu dibar ingkannya di serambi gandok. Nyawa orang itu, tidak akan dapat bertahan sampai ayam jantan berkokok menjelang fajar. Dalam pada itu, maka emban pemomong puteri yang menangis itu akhirnya berhasil membujuknya memasuki bilik tidurnya dan membawanya duduk di pembaringan. “Puteri, silahkan untuk berbaring. Tentu puteri mengalami kelelahan lahir batin“ embannya mempersalahkan. Tetapi momongannya itu tidak menghiraukannya Ia masih saja duduk menundukkan kepalanya sambil tersedu-sedu. “Puteri” berkata emban itu “ayahanda tentu tidak akan lama. Yang dilakukan adalah satu dari sifat-sifat kesatria yang dimiliki oleh ayahanda puteri. Dengan demikian, maka puteri jangan terlalu bersedih. Ternyata puteri memang tidak sendir i. Selan aku, maka para pengawal akan tetap setia melindungi puteri” Puteri itu masih menangis. Disela-sela isaknya terdengar ia berkata “Bibi, apa yang dapat mereka lakukan tanpa ayahanda. Selagi ayahanda masih ada disini, mereka tidak mampu lagi berbuat apa-apa” “Itu justru atas perintah ayahanda karena ayahanda mempunyai perhitungan tersedir i” jawab embannya “tetapi puteri, perhitungan ayahanda adalah perhitungan seorang yang mumpuni. Apalagi ayahanda puteri sedang dalam keadaan sakt, sehingga tidak mungkin dapat berbuat sesuatu. Yang dipilih tentu yang terbaik, bukannya bagi Pangeran tetapi tentu juga bagi puteri“ Puteri itu mengusap matanya Tetapi agaknya masih terasa luka yang sangat pedih di hatinya. Selagi emban di istana Itu sedang sibuk menenangkan hati puteri yang ditinggalkan ayahandanya itu, maka Pangeran yang sedang sakit itu telah dipapah oleh Sanggit Raina. Kadang-kadang ia harus mendesaknya agar Pangeran itu dapat berjalan lebih cepat “Waktu kami tidak banyak Pangeran” desis Sanggit Raina. “Tidak akan ada gunanya kalian membawa aku. Besok prajurit Demak tentu sudah menemukan padepokanmu” geramPangeran itu. “Tidak Pangeran, bukankah hanya Pangeran saja yang akan mungkin mengetahui bahwa aku adalah orang Sanggar Gading?“ jawab Sanggit Raina. “Tentu ada orang-orang yang dengan bangga mengatakannya pula. Atau satu dua orangmu yang terluka, yang akan dapat berbicara tentang kau dan orang-orangmu, berkata Pangeran itu pula. “Pangeran salah hitung. Semua yang terluka kembali bersama kami. Seorang yang tidak akan dapat hidup telah kami tinggalkan. Tetapi tentu tidak akan dapat keluar dari mulutnya pengakuan seperti yang Pangeran katakan“ “Ternyata kalian mempunyai perhitungan yang cermat Apa yang sebenarnya kalian kehendaki?“ bertanya Pangeran itu. Sanggit Raina menarik nafas panjang. Kemudian jawabnya “Sudahlah. Nanti Pangeran akan mengetahuinya. Kita akan segera keluar dari kota. Kuda-kuda kita sudah menunggu. Kita akan segera menempuh perjalanan. Meskipun tidak terlalu jauh, tetapi akan sangat melelahkan bagi Pangeran yang sedang sakit“ Pangeran itu menggeram. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat apapun juga. Namun ia mulai menyadari sepenuhnya, bahwa yang dihadapinya saat itu adalah sebuah kelompok orang-orang kasar, orang-orang berilmu, tetapi juga orang-orang yang mempunyai perhitungan atas tingkah-lakunya. Karena itu. maka hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Dipaling belakang dari ir ing-ir ingan yang menyusup diantara jalan-jalan kecil kota menuju ke tempat kuda mereka disembunyikan adalah Rahu dan Jlitheng. Dengan nada datar Jlitheng berbisik “Apakah tidak mungkin puteri yang di tinggalkan itu, atau pengawalnya melaporkan hal ini kepada para prajurit?“ “Kita membawa Pangeran yang sakit itu” jawab Rahu “Tentu mereka t idak ingin Pangeran ini mengalami sesuatu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam, lapun sependapat, bahwa orang-orang yang ditinggalkan di istana tidak akan berani melaporkan peristiwa yang terjadi itu dengan segera. Jika para prajurit kemudian berpencar mengejar orang-orang yang telah membawa Pangeran yang sakit itu. maka nasibnya justru akan sangat pahit. Mungkin ia akan dibunuh dan mayatnya ditinggalkan begitu saja sebelum sekelompok orang yang membawanya berusaha melar ikan diri. “Rahu“ bisik Jlitheng pula “seandainya kau bermaksud menggagalkannya, apakah kau mempunyai cara? Bukankah nasib Pangeran itu juga menjadi taruhannya” “Tidak sekarang” berkata Rahu di telinga J litheng “Tetapi sudah barang tentu saat kita mulai memasuki istana itu Justru sebelum mereka sempat mendekati Pangeran yang sedang sakit itu” “Lalu apakah yang akan kau kerjakan kemudian?“ bertanya Jlitheng? “Tugasku menjadi semakin berat. Aku harus berusaha melindunginya selama ia berada di padepokan Sanggar Gading” jawab Rahu “Tetapi sebentar lagi, Pangeran itu tentu tidak lagi berada di Sangar Gading” desis Jlitheng. “Apakah kau mengetahui?“ tiba-tiba saja Rahu bertanya. “Dugaanku. Buat apa ia berada di Sanggar Gading? Apakah yang diperlukan oleh Yang Mulia timpang itu dari Pangeran yang sedang sakit?“ desis Jlitheng. “Dugaanmu memang kuat. Kau mempunyai penggraita yang sangat tajam. Tetapi tentu sekedar dugaan dan perhitungan. Kau tentu sudah menjelajahi tempat-tempat yang berhubungan dengan daerah jelajah orang-orang Sanggar Gading disaal terakhir. Aku sudah memperhitungkan, bahwa kau tidak secara kebetulan menolong Cempaka diperjalanan saat itu. Dan akupun sudah menduga, bahwa kau lelah menjelajahi daerah Sepasang Bukit Mati” sahut Rahu berbisik. Jlitheng tersenyum. Katanya “Panggraitamulah yang tajam. Tetapi aku tidak perlu berbohong lagi. justru karena kau memiliki tanda bulan dan matahari itu. meskipun setelah kita menganut jalan kita sendir i-sendir i, kita dapat saling mencur igai. “Terserahlah. Tetapi yang jelas, tugasku menjadi sangat berat. Jika terjadi sesuatu atas Pangeran itu di Sanggar Gading, maka aku tidak akan dapat mencuci tangan. Apalagi jika Pangeran itu diserahkan kepada pihak lain karena kepentingan yang khusus, sehingga aku akan menjadi semakin sulit untuk dapat melindunginya” Rahu berhenti sejenak, lalu “Mudah mudahan Semi dapat mengambil sikap” “Dimana ia sekarang?“ bertanya Jlitheng. “Ia mengikuti kita. Ia tahu apa yang telah terjadi. Tetapi ia selalu menunggu isyaratku” jawab Rahu. lalu “Tetapi aku tidak tahu apakah ia akan dapat mengikuti perkembangan berikutnya dari Pangeran yang malang itu. Jika Pangeran itu meninggalkan Sanggar Gading tanpa diketahuinya, maka mungkin ia akan kehilangan jejnk. Sementara setiap kali aku selalu meragukan, apakah aku dapat selalu memberikan keterangan kepadanya, meskipun sampai saat ini, ia dapat mengikut i segala perkembangan dengan baik” Jlitheng tidak bertanya lagi. Kesempatan mereka menjadi semakin kecil untuk dapat berbicara tanpa didengar oleh orang lain, karena iring- iringan itu sudah mendekati lingkaran kota. Seperti saat mereka memasuki kota, maka merekapun t idak melewati gapura, meskipun pada saat-saat tenang gapura itu tidak selalu diawasi dengan ketat. Namun lebih baik bagi mereka untuk keluar lewat jalan-jalan setapak. Demikianlah maka merekapun segera meninggalkan kota menuju ke sendang Gambir, tempit mereka meninggalkan kuda kuda mereka, ditunggui oleh orang-orang yang dianggap tidak begitu berarti dibanding dengan kawan-kawannya yang lain. Dalam pada itu. Sanggit Rainapun kemudian mempersilahkan Pangeran yang sedang sakit itu untuk beristirahat. Katanya “Kita akan menuju tempat tujuan justru setelah fajar. Tetapi kami mohon maaf Pangeran, agar Pangeran tidak menimbulkan persoalan bagi kami, maka kami mohon Pangeran sudi menukar pakaian Pangeran seperti pakaian kami” Wajah Pangeran itu menegang. Dengan marah ia menggeram “Kau menghina martabatku. Aku tidak pernah merasa dir iku lebih tinggi dari martabat orang lain, karena setiap orang mempunyai martabat kemanusiaannya masing- masing Tetapi yang kau katakan itu benar-benar telah menyinggung perasaanku” “Aku mohon maaf. Tetapi tidak ada cara lain yang dapat kami tempuh Pangeran. Dan karena kami tidak ingin gagal akan tugas kami, maka kami terpaksa mohon dengan sangat, agar Pangeran sudi melakukannya” minta Sanggit Raina. Pangeran yang sedang sakit itu mempunyai pengalaman yang sangat luas menghadapi berbagai macam orang dengan sifat-sifatnya. Karena itu, maka iapun segera dapat mengenal pemimpin sekelompok orang yang telah mengambilnya itu. Meskipun ia nampaknya tetap ramah dan sopan, tetapi dibalik senyum dan anggukkan kepalanya penuh hormat itu. tersimpan api yang setiap saat dapat menyala dan membakar korbannya. Karena itu. Pangeran tua yang sedang sakit itu tidak dapat menolak lagi. Betapapun kemarahan membakar jantungnya namun iapun kemudian terpaksa mengganti bajunya dengan baju yang tenyata telah disediakan oleh Sanggit Raina. “Mungkin pakaian yang kami sediakan itu agak terlalu kecil atau agak terlalu longgar Pangeran, tetapi kami mohon Pangeran dapat memakainya” berkata Sanggit Raina Pangeran itu tidak menjawab. Ia tidak membantah lagi. Dipakainya saja baju yang disediakan oleh Sanggit Raina itu. betapapun batinya bergejolak “Pangeran akan mempergunakan kuda kawan kami yang kami tinggalkan di istana, karena ia tidak akan dapat hidup lagi. Aku akan menjaga Pangeran disepanjang jalan menuju ke Padepokan kami. Sementara itu, kawan-kawan kami akan berpencar. Bersama kita adalah adikku. Cempaka” berkata Sanggit Raina kemudian. Pangeran itu sama sekali tidak menjawab. Ia tidak dapat berbuat apapun juga, kecuali memenuhi segala permintaan orang-orang yang telah membawanya itu. Namun sekali-kali terdengar Pangeran itu menggeram. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka yang terjadi atasnya benar-benar satu penderitaan. Tetapi ia tidak dapat menentang keharusan yang terjadi atasnya. Dan Pangeran itupun tidak dapat menolak, bahwa kemampuan ilmunya yang tiada taranya, tidak berarti sama sekali dihadapan Yang Maha Pencipta. Kemampuannya yang seakan-akan tidak terlawan itu, hanya sebutir debu yang sangat kecil diluasnya langit dan bumi. Ketika Yang Maha Pencipta menghendakinya, maka ia benar-benar tidak dapat mempergunakan ilmunya. Sakit itu datang tanpa dapat dilawan dengan ilmunya yang bagi manapun juga. Bahkan berbagai macam obat sudah dicobanya. Tetapi tubuhnya masih saja terasa panas dan sangat lemahnya Seandainya ia memaksa diri untuk mengerahkan ilmunya pada keadaannya, maka justru tubuhnya sendiri akan dirusakkannya. “Aku harus menahan dir i” berkata Pangeran itu di dalam hatinya. Ia masih menunggu. Jika keadaannya berangsur baik. maka pada suatu saat ia mungkin masih akan mendapat kesempatan untuk mempergunakan ilmunya, melepaskan diri dari tangan orang-orang yang menyebut dirinya dari Sanggar Gading. Tetapi sekali-kali terkilas pula keadaan keluarganya yang ditinggalkannya di istananya. Orang-orang Sanggar Gading itu akan dapat berbuat sekehendak hati mereka atas keluarganya. Bahkan mungkin, mereka akan dapat memaksakan kehendak mereka dengan mengancam anak gadisnya atau isi istananya. Namun demikian. Pangeran itu tidak dapat menentang kehendak orang-orang yang membawanya. Dalam pakaian yang dikenakannya kemudian, Pangeran yang sedang sakit itu masih sempat beristirahat sejenak. Betapa tubuhnya terasa sakit dan lemah. Jantung dan isi dadanya, serasa terbakar. Namun kadang-kadang tubuhnya terasa membeku sehingga tubuhnya itu bagaikan digoncang- goncang karena menggigil kedinginan. Beberapa orang tabib telah mengobatinya. Tetapi perkembangan keadaannya terasa lambat setali meskipun ada juga Kemajuannya. Sehingga akhirnya datang sekelompok orang dari Sanggar Gading yang menangkapnya justru saat ia tidak dapat melawan. Ketika langit diujung Timur menjadi kemerah-merahan, maka orang-orang Sanggar Gading itupun kemudian mempersiapkan diri mereka umuk menempuh perjalanan kembali ke padepokan mereka. Seperti saat mereka datang, maka merekapun akan berpencar. Demikian segala persiapan telah selesai, maka Sanggit Rainapun memberikan pesan sekali lagi kepada orang- orangnya. Dengan nada berat ia berkata “Kita harus segera kembali. Tidak seorangpun boleh melakukan perbuatan apapun diperjalanan. Kita harus menyelamatkan tugas besar kita kali ini, tanpa menimbulkan persoalan-persoalan yang dapat mengganggu” Semua orang mendergarkan dengan saksama “Jika salah seorang dari kalian melanggar perintah ini, dan justru akan dapat menimbulkan gangguan, maka aku akan mengabil tindakan langsung terhadap kalian” Tidak terdengar seorangpun yang berbicara. Bahkan berbisikpun tidak. Namun dalam pada itu, Rahu melihat sikap yang mencur igakan pada Nrangsar impal yang tersenyum-senyuni sambil menggamit seorang kawannya. Ada semacam kesan yang kurang baik pada sikap itu. Karena itu, maka Rahu yang kemudian bergeser ke dekat Cempaka berbisik “Kau lihat sikap Nrangsarimpat” “Kenapa?“ bertanya Cempaka. “Ia tentu masih ingat kepada gadis yang tinggal di isianti itu” desis Rahu. “Gila” geram Cempaka. “Apakah aku boleh bertindak?“ bertanya Rahu. “Jika ia melakukannya. Tetapi awasi orang gila itu” desis Cempaka tanpa berpaling kcarah Nrangsarimpat, seolah-olah mereka sedang membicarakan masalah lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan dir inya. “Tetapi laporkan kepada Sanggit Raina, agar bukan akulah yang bersalah jika terjadi sesuatu” “Aku akan bertanggung jawb. Orang itu memang selalu membuat kisruh Rencana besar ini tidak boleh gagal” geram Cempaka. Rahu tidak menjawab. Tapun kemudian bersingsut pula di belakang Cempaka, sementara Sanggit Raina masih member ikan beberapa pesan, agar setia orang selalu berhati- hati di perjalanan. “Tidak seorangpun boleh tahu. siapakah kalian. Rahasia kalian akan kalian bawa mati seandainya kalian menjumpai sesuatu di perjalanan” pesan Sanggit Raina. Pangeran tua yang sedang sakit itu melihat, betapa kuatnya ikatan orang-orang Sanggar Gading itu. Karena itu, maka iapun beranggapan, bahwa ikatan sekelompok orang- orang yang menyebut dirinya warga Sanggar Gading itu tentu bukan sekedar orang-orang yang melakukan kejahatan untuk merampok harta benda saja. Ketika langit menjadi semakin cerah, maka sekelompok orang-orang Sanggar Gading itupun segera berpencar. Rahu yang berada diantara mereka bersama Jlitheng telah berbisik ke telinga anak muda itu. apa yang dilihat dan dikatakannya kepada Cempaka. “Sudah ada ijin dari Cempaka. Dan ia akan mempertanggung jawabkan j ika terjadi sesuatu. Kita tidak akan membiarkan perbuatan gilanya itu” desis Rahu. “Apa kau yakin?“ bertanya Jlitheng. “Kita akan melibat. Jika kita sudah saling berpisah, maka kita akan melingkar dan kembali memasuki kota. Mungkin Nrangsarimpat telah melakukan sesuatu yang akan menyakitkan hati keluarga Pangeran yang malang itu. Jlitheng mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya “Apakah kita tidak akan dikejar batas waktu seperti saat kita berangkat?“ “Sanggit Raina tidak memberikan batas itu” desis Rahu kemudian. Demikianlah, seperti yang dikatakan Rahu, maka kedua orang itupun tidak langsung berpacu kembali ke padepokan Sanggar Gading. Tetapi Jlitheng dan Rahu itupun kemudian melingkar kembali menuju ke Kota Raja. Mereka dibebani oleh kecurigaan atas tingkah laku Nrangsarimpat. Jarak antara Sendang Gambir dan Kota Raja memang tidak jauh. Karena itu, maka merekapun segera mendekati pintu untuk mengendap-endap dan merangkik-rangkak lagi lewat jalan-jalan setapak. Namun mereka terhenti ketika dari kejauhan mereka melihat seorang berkuda kearah yang berlawanan. Dengan nada datar Rahu berdesis “Semi“ Jlitheng mengerutkan keningnya. Iapun melihat orang yang disebut adik Rahu itu semakin lama menjadi semakin dekat Tetapi orang itupun nampaknya heran melihat Rahu dan Jlitheng kembali. Karena itu justru kudanya berlari semakin cepat mendekati kedua orang yang sudah berhenti dan menepi. “Kenapa kalian kembali” bertanya orang itu. Rahu memandang Jlitheng sejenak. Namun karena Jlitheng mengangguk kecil, maka Rahupun berkata “Aku curiga kepada Nrangsarimpat. Pangeran yang sakit itu meninggalkan seorang gadis di rumahnya. Agaknya Nrangsarimpat telah tertarik kepada gadis itu seperti ia tertarik hampir kepada setiap orang perempuan” “Jadi kau akan kembali ke istana itu?“ bertanya Semi “Ya. Jika Nrangsarimpat membawa gadis itu. maka nasib gadis itu agaknya akan menjadi sangat buruk. Jauh lebih buruk dar i nasib ayahandanya” jawab Rahu. “Marilah” berkata Semi “Aku ikut bersamamu. Bukankah tidak ada yang menar ik lagi diikuti pada orang-orang Sanggar Gading itu?“ “Tidak” jawab Rahu “Mereka telah berpencar dan kembali ke padepokan sambil membawa Pangeran itu” Semipun kemudian mengikuti Rahu dan Jlitheng kembali ke Kota Raja. Ada semacam perasaan gelisah dibati mereka karena sikap Nrangsarimpat. “Kita akan bersikap keras terhadapnya” desis Rahu kemudian “Aku sudah mendapat ijin Cempaka” “Apakah harus ada ijin dari orang itu?“ bertanya Jlitheng. “Setidak-tidaknya kita akan membatasi persoalannya, karena kita sudah terlanjur membiarkan Pangeran itu dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading ke padepokan” jawab Rahu. Demikianlah mereka mempercepat kuda mereka. Mereka tidak membuang waktu lagi sehingga karena itu, maka merekapun telah pergi langsung menuju ke istana Pangeran yang telah dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading itu. Namun demikian mereka mendekati istana, maka Rahupun berdesis Kita akan melibat, apakah mereka sudah datang atau belum” “Apakah kita akan memasuki istana itu?” bertanya Semi. “Tidak. Kita akan bertanya kepada penjaga regol itu, apakah ada orang yang datang ke istana itu mencari seorang” jawab Rahu. “Apakah mereka justru tidak akan mencurigai kita??” bertanya Jlitheng. “Kalian tidak per lu akut. Akulah yang akan bertanya” sahut Semi “Mungkin mereka masih mengenal kalian yang semalam datang ke istana itu” “Pergilah” jawab Rahu “Kau orang baru dalam hal ini” Semipun mendahului kedua orang kawannya. Ia segera menemui penjaga regol istana itu dan bertanya “Apakah aku diperkenankan menghadap Pangeran. Penjaga itu bingung sesaat. Namun yang tertua diantara mereka menjawab. “Pangeran sedang sakit Ia tidak menerima tamu hari ini “Itulah” jawab Semi “Aku datang karena Pangeran sedang sakit. Aku membawa obat untuk Pangeran yang dipesankan salah seorang abdi di istana ini. Ayahku adalah seorang tabib yang dikenal baik oleh Pangeran” Sejenak penjaga regol yang tua itupun ragu-ragu. Namun kemudian katanya “Apakah orang lain dapat menerimanya Semi termenung sejenak. Tetapi kemudian ia bertanya “Ki Sanak, apakah kakakku telah datang kemar i?”Siapa?“ “Kakakku. Ia juga harus datang hari ini untuk membawa obat yang akan menjadi campuran obat yang aku bawa sekarang” desis Semi. “Belum ada orang yang datang sepagi ini” Semi menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Jika demikian, baiklah aku akan menunggu saja. Aku akan menghadap bersama-sama dengan kakakku itu” “Terserahlah kepadamu. Tetapi Pangeran berpesan agar tidak seorangpun yang boleh datang menghadap untuk keperluan apapun juga” berkata penjaga regol itu. Semi menarik nafas dalam-dalam Namun iapun kemudian mohon dir i untuk menunggu saudara laki-lakinya di luar istana. Dalam pada itu, Semipum segera mendapatkan Rahu dan Jlitheng untuk mengatakan kepada mereka, bahwa belum ada orang yang datang ke istana itu. “Ternyata kita datang lebih dahulu” desis Rahu. “Tetapi mungkin Nrangsarimpat tidak akan kembali ke istana ini” desis Semi. “Memang mungkin. Tetapi kita akan menunggu beberapa saat. Kita akan mencari sebuah kedai di pinggir jalan, dekat dengan istana itu” berkata Rahu “Jika mereka datang dari arah yang berbeda?“ bertanya Jlitheng. “Kita akan selalu mengawasi” jawab Rahu. Dengan demikian, maka ketiga orang itupun berusaha untuk mendapatkan sebuah kedai yang mungkin t idak terlalu dekat, tetapi dapat mengawasi regol istana Pangeran yang malang itu. Selain mereka memang lapar, maka mereka akan dapat menjaga, agar seseorang tidak melakukan tindakan yang membuat Pangeran itu semakin menderita. Tetapi ketiga orang itu tidak dapat makan dengan tenang. Meskipun demikian, namun akhirnya mereka menjadi kenyang juga. Untuk beberapa saat mereka masih duduk di dalami kedai itu. Mereka sempat bertanya, kapan kedai itu mulai dibuka. “Dini har i” jawab pemilik kedai itu “orang-orang yang pergi ke pasar dari daerah yang jauh, kadang-kadang telah habis menjual dagangannya sebelum pagi. Sambil pulang, mereka sering singgah dikedai ini” “Siapa yang membeli dagangan mereka di dini hari?“ bertanya Rahu. “Para tengkulak. Mereka membeli hasil sawah dari para petani. Kemudian mereka menjualnya di pasar itu pula. Bahkan keuntungan mereka lebih banyak dari uang yang diterima oleh para petani yang menanam, memetik hasilnya dan membawanya ke pasar itu” jawab pemilik kedai itu. Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Memang tidak adil. Tetapi para petani itu telah puas jika dagangannya menjadi segera laku meskipun dibeli dengan harga yang terhitung murah” Semi akan menyahut Tetapi diurungkannya, karena tiba- tiba saja mereka melihat dua orang penunggang kuda mendekati regol rumah Pangeran yang telah diambil olehi Sanggit Raina. Bahkan sejenak kemudian dua orang berkuda kurnya telah mendekati pula, “Itukah mereka?“ bertanya Semi. Rahu bergeser selangkah. Kemudian sambil menggeram ia bangkit “Setan. Ternyata ia benar-benar kembali. Ia berhasil mempengaruhi beberapa orang kawannya untuk kepentingannya yang gila itu” “Apa?“ bertanya pemilik kedai itu. “Bukan apa-apa” jawab Jlitheng. Rahu kemudian membayar makanan dan minuman yang telah mereka makan dan mereka minum. Kemudian katanya kepada pemilik kedai itu “Aku titipkan kuda kimi disini” “Ada apa sebenarnya?“ bertanya pemilik kedai itu. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya menitipkan kuda itu” jawab Jlitheng “Tetapi jika terjadi sesuatu, aku tidak tahu menahu” pemilik kedai itu ketakutan. Rahu mempertimbangkannya sejenak. Namun kemudian katanya “Kita bawa saja kuda kita. Kita ikat pada batang- batang perdu diluar halaman istana” Sejenak kemudian, merekapun mendekati regol pula Ternyata keempat orang berkuda itu telah memasuki regol. Rahu dan kawan-kawannya tidak tahu, bagaimana cara mereka masuk. Apakah mereka menipu para penjaga regol, atau mereka mengancamdengan cara yang licik. Di luar regol, ketiga orang itu mengikat kuda mereka pada sebatang pohon perdu di pinggir jalan. Kemudian mereka dengan hati-hati mendekati regol itu pula. “Aku akan menghadap Pangeran” desis Semi kepada penjaga regol. Penjaga regol itu termangu-mangu. Wajahnya penuh dengan kegelisahan dan gejolak yang menghentak-hentak. “Baiklah” berkata Semi kemudian “Kami akan berterus terang. Siapakah empat orang berkuda yang memasuki regol ini?“ Penjaga regol itu menjadi semakin tegang. Namun Semi. Rahu dan Jlithengpun kemudian mendesak masuk sambil bertanya sekali lagi “Siapakah mereka? Kenapa mereka kalian ijinkan masuk? Bukankah sudah kalian katakan, bahwa Pangeran tidak dapat menerima siapapun juga” Orang bu tergagap. Sementara seorang kawannyapun berdiri saja mematung. “Coba katakan“ desak Rahu. “Mereka mempunyai kepentingan khusus” desis penjaga regol itu. “Katakan. Apakah mereka termasuk kelompok orang-orang yang semalam datang kemari mengambil Pangeran?“ desak Rahu. Penjaga regol itu menjadi semakin tegang. Dengan suara tertahan-tahan ia menjawab “Ya. Mereka adalah orang-orang yang datang semalam. Tapi dari siapa kalian mengetahuinya” “Itu bukan urusanmu. Tetapi katakan, apakah keperluan mereka” bertanya Semi. Penjaga regol itu ragu-ragu. “Apakah mereka mendapat pesan dari Pangeran agar mengambil anak gadisnya untuk menyusulnya?“ Rahu bertanya pula. “Ya, ya. Kalian tahu semuanya” suara penjaga itu bergetar. “Persetan. Kalian telah ditipunya. Pangeran tidak memer intahkan siapapun untuk mengambil anak gadisnya. Bukankah kalian harus melindunginya” geramRahu. “Tetapi jika demikian, maka bukankah nasib Pangeran ada di dalam bahaya“ penjaga regol itu menjadi semakin bingung. “Siapa yang mengatakannya?“ bertanya Jlitheng. “Orang-orang itu” sahut penjaga rcgol. “Bagus. Jadi orang itu mengambil gadis itu atas perintah Pangeran. Jika kalian tidak memberikan, maka Pangeran itu ada dalam bahaya. Apakah dengan demikian kau tidak tahu maknanya?“ bertanya Jlitheng “Aku tidak mengerti” jawab penjaga regol itu. “Dengar. Dengan demikian berarti, bahwa Pangeran ilu sebenarnya tidak menginginkan anak gadisnya menyusulnya. Jika ia memerintahkannya itu hanya karena ancaman baginya. Tetapi itupun tidak benar sama sekali. Sudahlah. Beri kami kesempatan untuk menyelesaikan persoalan ini. Ketahuilah kami juga termasuk orang-orang yang dalang semalam. Karena itu kami tahu segalanya. Orang ilu sama sekali tidak, datang atas perintah Pangeran, tetapi atas kehendaknya sendiri. He, apakah kau tidak melihat, bagaimana Pangeran marah melihat sikap orang itu semalam?“ Penjaga regol itu menjadi semakin tegang. Seorang yang untuk beberapa saat hanya mematung saja, tiba-tiba berdesis “Ya, Semalam memang ada seorang yang dengan sangat tidak tatanan telah mencoba menyentuh puteri” “Kami akan menemui mereka“ berkata Rahu tidak sabar lagi “kalian tidak usah turut campur. Kami mendapat tugas dari pimpinan kami untuk membersihkan nama kelompok kami dari sikap yang kotor itu” Para penjaga regol ilu saling berpandangan. Namun mereka seolah-olah telah dicengkam oleh perasaan yang selalu cemas dan kawatir tentang nasib Pangeran yang sedang sakit dan yang telah dibawa oleh sekelompok orang yang tidak dikenal itu. Karena para penjaga itu masih saja termangu-mangu, maka Rahupun berkata “Kami akan menyelesaikan persoalan kami. Kami akan berusaha agar puteri itu tidak beranjak dari istana ini, dan jatuh ke tangan setan alasan itu” Sebelum para penjaga regol menjawab, maka Rahupun telah melangkah manuju kepantu butulan yang terbuka, diikuti oleh Jlitheng dan Semi. Sejenak para penjaga regol itu termangu-mangu. Namun kemudian yang tertua diantara merekapun berkata “Biarlah mereka menyelesaikan persoalan diantara mereka. Akupun sebenarnya berkeberatan untuk melepaskan puteri ke tangan orang yang nampaknya sangat licik itu” Tidak ada yang menjawab Tetapi nampak pada setiap wajah, ketegangan yang semakin memuncak Dalam pada itu, Rahu yang tergesa-gesa, segera memasuki pintu butulan. Ia justru berlari ketika mendengar jerit kecil di dalam ruangan depan. Giginya gemeretak menahan gejolak di dalam hati. Tiba-tiba saja Rahu berteriak pada saat ia mendorong pintu yang menyekat ruang depan dan ruang dalam, sementara itu suara tertawa terdengar meninggi. “DiamIblis” Tetapi suara tertawa itupun segera terputus. Serentak mereka berpaling ke pintu yang berderak “Rahu” desis Nrangsarimpat yang sedang memegangi puteri yang berusaha meronta. Sementara embannya terbaring dilantai Pingsan. “Nrangsarimpat” geram Rahu yang melangkah maju setapak demi setapak “Apa yang kau kerjakan itu? “Itu urusanlku. Kenapa kau kembali?“ bertanya Nrangsarimpat. Senyumnya sama sekali tidak nampak lagi di bibirnya. “Aku mendapat perintah dari Sanggit Raina lewat Cempaka untuk melihat, apa yang kau lakukan. Ternyata kau benar- benar seorang iblis yang Gila“ geramRahu. “Bohong” teriak Nrangsarimpat “Cempaka tidak akan memer intahkan sesuatu kepadamu bersama orang yang bukan keluarga kita, meskipun aku tahu. bahwa ia adalah adikmu” “Ini suatu pendadaran buat adikku, apakah ia dapat diterima diantara kita atau tidak. Ia akan bertempur tidak usah di padang perburuhan itu. Tetapi jika kau tidak mau pergi, maka adikku akan bertempur disini bersama aku dan Bantaradi” jawab Rahu. Tetapi Nrangsarimpat tertawa. Ia masih belum melepaskan puteri yang ketakutan itu. Katanya “Baiklah. Aku akan pergi bersama puteri ini. Aku akan membawanya ke padepokan. Mungkin ia diper lukan. Bukan saja aku sendiri. tetapi kawan- kawanku. Dan bukankah disana ia akan tinggal bersama ayahandanya?“ “Tidak. Aku tidak mau” teriak puteri itu. Tetapi Nrangsarimpat tertawa sambil menjawab “Jangan menjer it terlalu keras puteri. Aku tidak bermaksud buruk Tetapi aku bermaksud baik. Disini kau terpisah dari ayahanda mu. Tetapi di padepokanku kau akan tinggal bersamanya, meskipun hanya pada saat-saat tertentu” “Cukup“ Rahulah yang membentak “Kau jangan menghina perintah Sanggit Raina. Nrangsarimpat, seandainya aku gagal menjalankan perintah itu maka kau tentu akan dibunuhnya juga jika kau bawa gadis itu. Kau seharusnya sudah dapat membawa sikapnya semalam. Tetapi ketajaman perhitungannya telah menjatuhkan perintah lewat Cempaka agar aku datang kembali ke istana ini” Tetapi Nrangsarimpat masih tertawa Katanya kepada kawan-kawannya “Jika demikian, gadis ini tidak akan kita bawa ke padepokan. Aku akan menyediakan sebuah rumah khusus buatnya. Ia akan menjadi isteriku” “Aku tidak mau. Aku tidak mau” teriak puteri itu. Semi yang berdiri dengan tegangnya itu, rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu pembicaraan yang tidak berkesudahan. Maka iapun kemudian melangkah maju sambal berkata “Aku akan mencoba untuk dapat memasuki padepokan itu. Mungkin aku harus membunuh untuk membuktikan bahwa aku memiliki kemampuan untuk berada bersama kakakku di padepokan” Nrangsarimpat masih saja tertawa. Kalanya kepada kawan kawannya “He, kenapa kau biarkan anak itu mengigau” Tiga orang kawan Nrangsarimpapun segera bersiap. Yang seorang menggeram “Kalian telah mengganggu kami. Kalianpun telah mengaku mendapat perintah dari Sanggit Raina. Maka untuk menghapus kesombongan kalian, maka IcalLan akan kumi. bunuh disini” “Jadi kalian tidak mau mendengarkan per ingatan kami” potong Rahu. Nrangsarimpatlah yang kemudian berkata kepada kawan- kawannya “kalian menunggu apa lagi? Lakukanlah. Bunuhlah mereka Puteri ini kelak tidak akan meronta-ronta lagi jika ia sudah melihat istana ayahku. Aku juga seorang bangsawan seperti gadis ini. Bahkan seandainya Rahu mengetahuinya, ia akan menyembah aku sepuluh kali setiap ia berbicara satu kalimat” Rahu tidak menjawab lagi. Tapun kemudian melangkah maju pula sambil mempersiapkan dir i. Sementara Jlithengpun telah memencar, la berdiri menyudut sambil memperhatikan keadaan yang menjadi semakin tegang. Ternyata Nrangsarimpat benar-benar seorang yang sombong. Ja sama sekali tidak melepaskan puteri itu. Agaknya ia percaya kepada tiga orang kawan-kawannya. karena lawan merekapun hanya tiga orang. “Bunuh mereka. Biarlah aku bersama gadis ini. Kelak kalian akan mendapat hadiah ganda daripadaku. Selain karena kalian membantu aku mendapatkan puteri ini, kalian juga telah membantu aku menyingkirkan kutu-kutu kecil itu. Perhiasan setelah dinding istanakupun telah berlebihan bagi upah kalian itu” berkata Nrangsar impat. Ketiga orang kawannya kupon, segera berpencar pula menghadapi tga orang yang mereka anggap telah mengganggu maksud mereka mengambil puteri itu. Rahu menggeram mendengar kata-kata dan melihat sikap Nrangsarimpat. Ternyata orang itu telah merendahkannya dan menganggapnya tidak pantas untuk dilayani, sehingga dengan demikian, Nrangsarimpat telah mempercayakannya kepada kawan-kawannya. Semi yang jantungnya bagaikan terbakar, melangkah mendekati orang yang berdir i disebelah Nrangsarimpat sambil bertolak pinggang. Ia tidak berkata sesuatu lagi. Namun iapun telah bersiap untuk menyerangnya. Orang yang bertolak pinggang itu bergeser. Namun ia masih sempat tersenyum sambil berkata “Adikmu memang sombong Rahu” Rahu tidak menjawab, karena ia melihat Semi telah meloncat menyerang orang yang masih saja tersenyum itu. Orang itu tertawa Ia sempat mengelak sambil berkata “Sebuah serangan yang manis. Tetapi kita akan berkelahi. Tidak sekedar menari di pendapa istana Pangeran ini“ Semi mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Sikap lawannya justru membuatnya berbesar hati. Pada serangan yang pertama, ia memang tidak bersungguh-sungguh. Tetapi nampaknya lawannya menilai lain, meskipun ia agak menghinanya Nrangsarimpat yang masih memegangi puteri yang ketakutan itu bergeser menepi. Ketika puteri itu meronta sekali lagi. Nrangsarimpat tertawa sambil berkata “Jangan membuat aku marah dalam keadaan ini puteri. Kau terlalu cantik untuk dicubit j ika kau nakal. Tetapi j ika kau masih saja meronta, aku akan mendukungmu seperti mendukung anak- anak yang sedang merengek” Rahu mengeram. Tetapi seseorang telah berdiri dihadapannya. Orang yang dikenalnya dengan baik dalam kehidupannya di Sanggar Gading. “Kau sudah dibius oleh kegilaan Nrangsarimpat” berkata Rahu. “Jangan merajuk Rahu. Aku memang berdiri di pihaknya. Ia memiliki uang untuk mengupah aku. Dan ia akan memilki permainan yang mengasyikkan, yang barangkali pada suatu saat aku akan diperbolehkan meminjamnya” “Kau gila. Ternyata kau tidak tunduk lagi kepada perintah Sanggit Raina. Ia memerintahkan agar kita semuanya tidak memancing persoalan yang manapun juga, yang dapat mengganggu kerja besar kita” geramRahu. “Jangan banyak bicara lagi. Karena kau sudah mencampuri persoalan ini, maka agar kami tidak mendapat hukuman dari Sanggit Raina dan Yang Mulya dari Sanggar Gadang, maka kalian bertiga akan mat i. Dengan demikian tidak akan ada saksi dan tidak akan ada orang yang akan menyampaikan masalah ini kepada mereka” Rahu tidak menjawab. Tetapi iapun segera bersiap. Namun agaknya lawannyapun bertindak cepat. Justru ia telah meloncat menyerang Rahu yang terpaksa menghindar selangkah surut. Jlithengpun kemudian t idak menunggu lagi. Sementara itu. seorang yang telah siap menghadapinya, segera bergeser mendekatinya sambal berkata “Kau ternyata hanya mempunyai kesempatan yang sangat pendek tinggal bersama kami di padepokan Sanggar Gading. Kau akan mati bersama Rahu orang yang menjadi sangat sombong hanya karena ia dapat mendekati dan mendapat sedikit kepercayaan dari Cempaka, adik Sanggit Raina. Tetapi Rahu itu akan mati bersama adiknya pula disini” Jlitheng tidak menjawab. Iapun kemudian bersiap ketika lawannya mulai menggerakkan tangannya dan bergeser semakin dekat. “Aku ingin melihat, apakah kau mampu juga bertempur meskipun kau sudah pernah menunjukkan kemampuanmu di padang perburuan. Tetapi yang kau hadapi adalah cecurut- cecurut kecil yang tidak berarti” berkata lawannya sambil tertawa. Jlitheng mengatupkan giginya. Namun tiba-tiba saja berkata “Aku sudah pernah membunuh celurut-celurut kecil. Tetapi apakah kau bukan sebangsa tikus piti?“ Orang itu tertawa. Katanya “Kau sempat bergurau menjelang matimu. Bagus. Kau akan mati sambil tersenyum mengenang gurauanmu sendiri, itu lebih baik dari pada mati sambil menagis” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun ia masih juga berkata “Apakah kau sedang berusaha menyelebungi kecemasanmu dengan berkicau t idak menentu” Tiba-tiba wajah orang itu menjadi tegang. Katanya “Gila. Kau ternyata tidak kalah sombongnya dengan Rahu” Jlitheng tidak menjawab. Dalam ruang yang tidak terlalu luas itu segera terjadi tiga lingkaran pertempuran. Sementara itu Nrangsarimpat yang masih saja memegangi gadis itu. bergeser semakin lama menepi. Dengan penuh perhatian ia mengingkar i pertempuran yang semakin lama menjadi semakin meningkat. Sementara itu beberapa orang pengawal istana itu menjadi kebingungan. Mereka tahu pasti bahwa pertempuran memang sedang terjadi diruang dalam. Namun mereka tidak mengetahui apa yang sebaiknya harus mereka lakukan. “Selagi mereka bertempur, apakah tidak sebaiknya kita melaporkan segala peristiwa yang terjadi kepada prajur it Demak?“ berkata salah seorang pengawal. “Apakah dengan demikian tidak akan membahayakan jiwa Pangeran? Jika orang-orangnya yang berada disini tidak kembali pada saat-saat yang ditentukan, maka tentu akan timbul kecurigaan. Sasaran mereka adalah Pangeran“ sahut yang lain. “Tetapi mereka saling bertempur” desis yang lain lagi. ”Menurut keterangan mereka, dan aku agaknya percaya, bahwa yang datang kemudian itulah yang membawa tugas dari pimpinan mereka untuk mencegah tingkah laku kawannya yang tidak menguntungkan bagi kelompok mereka. Semalam tanda-tanda itu sudah nampak” berkata seorang pengawal yang melihat tingkah laku Nrangsarimpat semalam. Namun para pengawal itu masih tetap ragu-ragu. Sehingga akhirnya yang tertua diantara mereka berkata “Kita hanya dapat menunggu. Jika kita salah langkah, taruhannya mahal sekali. Pangeran akan menjadi banten kebodohan kita. Tetapi jika kita tidak berbuat sesuatu, mungkin itupum kesalahan pula, karena kita tidak berusaha membebaskan Pangeran” Para pengawal itu termangu-mangu. Memang mereka merasa apa yang mereka lakukan selalu salah. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk berbuat dengan sangat berhati-hati. Dalam pada itu. di dalam istana itu pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Para pengawal yang kebingungan itu kemudian beringsut untuk berusaha dapat mengikut i perkelahian itu meskipun dori jarak yang agak jauh. Meskipun demikian mereka masih sempat mengatur agar dua orang diantara mereka tetap berada di regol. Untuk sementara mereka memang harus menunggu. Meskipun sebenarnya mereka telah siap mengorbankan apapun yang ada pada mereka, tetapi pertimbangan keselamatan Pangeran itulah yang menjadi perhatian utama bagi mereka. Sementara itu, Rahu, Jlitheng dan Semi masih bertempur dengan sengitnya. Ternyata orang-orang Sanggar Gading yang memang orang-orang yang terpilih. Hanya mereka yang memiliki kelebihan sajalah yang dapat memasuki dan diterima menjadi keluarga dari padepokan yang tertutup dan wingit itu, semuanya disebut mur id dari pimpinan tertinggi padepokan itu. sengaja atau tidak sengaja. Meskipun demikian, ternyata masih ada juga unda-usuk dari setiap mur id di Sanggar Gading. Meskipun mereka adalah orang-orang terpilih, tetapi kemampuan dan ilmu mereka mempunyai tataran yang tidak sama. Karena itulah, maka akhirnya Rahu, orang yang dipercaya oleh Cempaka itu dapat mengatasi lawannya Dengan kecepatannya bergerak, akhirnya ia dapat membuat lawannya kebingungan. Dalam pada itu, Jlitheng, anggauta termuda dari Sanggar Gading itupun ternyata memiliki kelebihan dari lawannya. Bekal yang dipersiapkan cukup cermat sebelum ia memasuki Sanggar hantu itu, segera nampak gunanya. Dengan pasti íapun akhirnya berhasil menekan lawannya sehingga pada suatu saat, lawannya benar benar berada dalam kesulitan. Dilingkaran pertempuran yang lain. Semi harus mengerahkan segenap kemampuannya. Lawannya benar- benar seorang yang kuat dan tangguh. Tenaganya bagaikan tenaga raksasa. Namun Semi adalah petugas sandi seperti juga Rahu. Itulah sebabnya, maka iapun mampu bertahan menghadapi serangan lawannya yang kuat dan tangkas. Nrangsarimpat memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Akhirnya ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat tetap berdiam diri menonton saja pertempuran itu. Karena itu, maka sambil menggeretakan giginya ia menggeram “Ternyata kalian benar-benar tidak pantas diampuni. Aku tidak akan menyesal j ika saudara-saudaraku dari Sanggar Gading harus dikorbankan karena tingkahnya sendir i” Rahu menggeretakkan giginya. Tetapi iapun tidak menutup perkembangan, bahwa j ika Nrangsarimpat segera terjun ke pertempuran, maka tugas mereka menjadi berat. Sekilas ia sempat memperhatikan Semi dan Jlitheng. Ia menganggap bahwa Semi tidak, perlu dicemaskan, karena ia mengetahui kemampuannya. Asal saja Nrangsarimpat tidak turun menghadapinya pula berpasangan dengan lawan yang sudah ada. Namun yang menjadi perhatiannya kemudian adalah anak muda yang dikenalnya bernama Bantaradi dan yang ternyata mengaku sebagai putera seorang Senapati Agung di Majapahit pada saat runtuhnya. Rahu yang memiliki pengamatan yang rajam itu tidak dapat mengingkar i penglihatannya, bahwa ia memang melibat beberapa unsur gerak Pangeran Surya Sangkaya ada pada tata gerak anak muda yang dikenal bernama Bantaradi dan yang menyebut dir inya bernama Candra Sangkaya itu. “Anak muda yang luar biasa“ berkata Rahu di dalam dirinya. Namun dalam pada itu, ia harus menggertakkan giginya ketika ia melihat Nrangsarimpat tidak mau menahan diri lagi. Ketika ia melihat kawan-kawannya mulai terdesak, maka iapun berkata “Puteri, aku tidak dapat menunggui tanpa berbuat sesuatu dan hanya bergandengan tangan saja denganmu” “Pergi, pergi lepaskan aku” teriak puteri itu. “Jangan meronta. Lebih baik kau tidur saja sejenak. Aku harus melibatkan dir i dalamperkelahian yang gila ini“ Puteri itu meronta, tetapi Nrangsarimpat segera memegang tengkuknya. Dengan keahlian yang ada padanya ia telah memijit urat pada tengkuk puteri itu, sehingga puteri itupun menjadi tidak sadarkan diri, seolah-olah tertidur sangat nyenyaknya. “Tidur sajalah sayang“ guman Nrangsarinrpat. Namun terdengar Semi menggeram “Kau sajalah yang mati“ Nrangsarimpat tertawa. Katanya “Jangan mengumpat. Puteri itu tertidur nyenyak, sehingga ia tidak akan menjadi ketakutan melihat tubuh-tubuh yang akan terbantai disini” Semi tidak menjawab. Tatapi ia mulai menghentakkan kekuatannya mendesak lawannya Nrangsarimpat maju selangkah. Ia melihat pertempuran itu dengan saksama. Kemudian katanya “Aku akan memilih lawanku. Aku akan bertempur berpasangan melawan Rahu, orang yang merasa dirinya memiliki kelebihan dari kawan- kawannya di padepokan Sanggar Gading. Kau harus mati lebih dahulu. Kemudian anak baru yang malang itu dan kemudian adikmu pula. Tidak seorangpun yang boleh tetap hidup agar tidak ada kesaksian yang sampai ke telinga Sanggit Raina. Rahu menggeram. Ia sadar, untuk melawan dua orang sekaligus akan mengalami kesulitan. Tetapi ia tidak boleh ingkar apapun yang akan terjadi. Namun iapun tidak akan berputus-asa karenanya. Ia akan menghentakkan segenap kemampuannya menghadapi keduanya dengan hati yang tatag. Selangkah demi selangkah Nrangsarimpat melangkah maju. Sementara itu. Rahu berusaha sekuat-kuatnya untuk memper lemah pertahanan lawannya justru sesaat sebelum Nrangsarimpat memasuki arena. Dalam ruang yang tidak begitu luas itu, suasananya menjadi semakin panas ketika Nrangsarimpat mulai menyingsingkan kain panjangnya dan menyangkutkan pada kerisnya. Sementara sambil menggeretakkan giginya ia mendekati Rahu yang sedang bertempur dengan sengitnya. “Kita tidak akan bermain-main lagi” berkata Nrangsar impat. Karena itulah, maka pertempuran yang dahsyat itupun segera ditandai dengan dentang senjata dan perakan bunga api di udara. Namun sebenarnyalah Nrangsarimpat adalah seorang yang trampil trengginas. Apalagi berdua berpasangan melawan Rahu. Betapapun juga namun ternyata Rahupun segera mulai terdesak. “Tempat ini tidak menguntungkan buatmu Rahu” berkata Nrangsarimpat “di tempat yang lebih luas, mungkin kau dapat berloncatan dengan langkah-langkah panjang untuk menghindari serangan-serangan kami berdua. Tetapi di tempat yang sempit ini, kesempatanmu terlalu kecil untuk dapat memperpanjang umur” Rahu tidak menjawab. Terdengar ia menggeram sambil menghentakkan kemampuannya. Yang terdengar kemudian adalah justru suara tertawa Nrangsarimpat. Sambil menyerang ia berkala “Jangan memaksa diri. Sebentar kemudian kau akan kehabisan tenaga. Lehih baik kau mati tertusuk pedang dalam pertempuran daripada kau terjatuh kehabisan nalas, kemudian dengan perlahan-lahan aku menikamkan pedang dipusat jantungmu” “Setan“ Rahu mengumpat. Tetapi yang dikatakan oleh Nrangsarimpat itu justru memberinya peringatan, agar ia memperhitungkan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi betapapun juga, Rahu benar-benar semakin tersudut ke dalam kesulitan. Jika ada perbedaan tingkat dan tataran ilmu bagi orang-orang terbaik di Sanggar Gading, maka akan sulit bagi seseorang melawan dua orang sekaligus. Apalagi yang seorang diantaranya adalah Ntangsarimpat. Dalam pada itu maka t iba-tiba saja terdengar Nrangsarimpat berteriak “Sekarang, jangan beri kesempatan terlalu lama. Gadis itu memer lukan pembebasan dari t idurnya yang nyenyak. Karena itu, terpaksa kita akan membunuh segera“ Keduanya bergerak semakin cepat. Dengan loncatan yang cepat, kedua lawan Rahu itu berhasil mengurungnya di sudut ruangan, sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Rahu untuk menembusnya. “Apakah kau mempunyai pesan?“ tiba-tiba Nrangsarimpat bertanya. Rahu tidak menjawab. Tetapi dengan cermat ia melawan serangan-serangan lawannya. Namun pada saat terakhir, Nrangsarimpat agaknya benar-benar tidak ingin member inya kesempatan lagi Dengan wajah yang garang ia mengacukan senjatanya sambil berdesis “Saatnya telah tiba. Betapapun tinggi ilmumu, kau akan mati disini” Rahu berdiri tegak dengan wajah yang tegang. Dengan ketajaman tatapan matanya ia berusaha untuk dapat mengamati kedua ujung senjata lawannya. Setiap kali senjata itu dapat bergerak mematuknya. Dan ia tidak akan membiarkan dir inya terluka arang keranjang dan mati di istana itu tanpa berusaha sampai kemungkinan terakhir. Yang sama sekali tidak diduga oleh lawan- lawannya pada saat yang demikian itu, justru Rahu telah menghentak dengan kecepatan yang sangat tinggi, meloncat menyerang. Bukan Nrasarimpat, tetapi kawannya yang memiliki tingkat ilmu yang selapis di bawahnya. Gerak Rahu benar-benar mengejutkannya. Karena itu, maka lawannya yang tidak menyangka sama sekali telah menjadi kehilangan kesempatan untuk mengelak. Namun ia masih berusaha untuk menangkis serangan Rahu yang sangat tiba-tiba itu. Meskipun demikian, ia tidak berhasil sepenuhnya melepaskan diri dari sentuhan ujung senjata Rahu. Karena itulah maka terdengar ia menyeringai ketika senjata Rahu menyentuh pundaknya dan meninggalkan luka yang menganga. “Gila kau Rahu “ Nrangsarimpatlah yang berteriak sambil meloncat menyerang. Tetapi Rahu memang sudah memperhitungkan. Karena itu dengan cepat ia meloncat surut sambil menangkis serangan lawannya. Dalam pada itu, orang yang terluka itu untuk sesaat berdiri termangu-mangu. Ketika tangan kirinya meraba lukanya, maka terasa darahnya yang hangat membasahi jar i-jarinya. Dengan nada berat ia menggeram “Kau memang harus dicincang Rahu” Namun Rahu sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan mendatang. Luka itu tentu mengurangi kecepatan bergerak tangannya. Dan Rahu berharap bahwa dengan demikian, ia akan dapat berusaha memperpanjang perlawanannya. Tetapi sekali lagi Rahu harus tersudut. Meskipun darah telah menitik dari luka, tetapi lawannya masih tetap garang dan bahkan menjadi liar. Pada saat-saat yang gawat itu. Rahu masih tetap menyadari keadaannya. Ia harus tetap pada sikap dan laku sebagai seorang laki-laki dengan senjata di tangan. Setapak demi setapak Nrangsarimpat bergeser. Demikian pula lawannya yang sudah terluka itu. Mereka tidak mau mengalami peristiwa itu sekali lagi, Rahu benar-benar mengalami kesulitan. Tetapi ia sudah bertekad untuk membunuh salah seorang dari keduanya, seandainya iapun harus mati. Terasa dentang jantung Rahu seolah-olah menjadi semakin keras. Tangannya bergelar siap untuk berbuat sesuatu. Seandainya kedua senjata lawannya terjulur bersama-sama, maka ia sudah siap untuk mengambil satu sikap untuk mati dengan membawa korban bersamanya, Namun pada saat yang demikian, tiba-tiba saja terdengar pekik tertahan. Hampir diluar sadarnya, orang-orang yang berada di dalami ruangan itu berpaling. Yang mereka lihat adalah, lawan Jlitheng yang terhuyung- huyung. Meskipun ia masih berusaha untuk berdir i tegak, namun akhirnya tubuhnyapun terbanting jatuh di lantai menelungkup. Jlitheng berdiri tegak dengan pedang tipisnya yang merah oleh darah. Ternyata ia telah menyelesaikan pertempuran itu. Untuk sesaat ia masih menyaksikan lawannya bergerak. Ternyata bahwa ia masih hidup, meskipun sudah tidak mampu berbuat apapun lagi karena luka-lukanya. “Kau adalah salah seorang mur id Sanggar Gading” tiba-tiba terdengar Rahu berdesis. Jlitheng menggeretakkan giginya. Sesaat kemudian iapun telah tegak dengan senjatanya menyilang di muka dadanya. Ternyata Rahu telah menghentakkannya dari gejolak perasaannya. Karena itu, maka iapun kemudian berkata “Aku akan mengambil seorang dari lawan Rahu. Kematian adalah akibat yang wajar pada perkelahian seperti ini. Kawanmu itu akan mati, dan kalian semuanya juga akan mati” Nrangsarimpat menggeram. Namun ia tidak sempat berbuat sesuatu terhadap Jlitheng. karena tiba-tiba saja Rahu telah meloncat menyerangnya. “Gila“ teriak Nrangsarimpat “dengan tingkah laku Bantaradi itu, jangan kau kira bahwa kau akan dapat membebaskan dirimu” Rahu tidak menyahut. Ia melihat Jlitheng telah bersiap pula menghadapi kawan Nrangsarimpat yang telah menitikkan darah dari lukanya. Kawan Nrangsarimpat itu menggeletakkan giginya. Ia menyadari apa yang bakal terjadi. Ia harus melawan orang yang dikenalnya bernama Bantaradi. yang sudah berhasil menjatuhkan seorang kawannya. Sejenak kemudaan, maka Jlitheng berhasil memancing lawannya itu mengambil jarak dari Rahu yang harus berhadapan dengan Nrangsarimpat seorang diri. Nrangsarimpat yang marah itu tidak menunggu lebih lama lagi Iapun segera meloncat menyerang, selagi Rahu belum beringsut terlalu jauh dari sudut ruangan. Ia masih akan berusaha untuk menyudutkan Rahu sehingga ia tidak mempunyai keleluasaan bergerak, meskipun Nrangsarimpat bertempur seorang diri. Rahu memang terdorong surut. Tetapi ia tidak lagi terlalu tegang menghadapi seorang lawannya. Ia masih sempat memperhatikan keadaan sekitarnya. Ternyata bahwa Jlitheng telah memaksa lawannya untuk bergeser semakin jauh dari Nrangsarimpat. Sementara itu, Semi bertempur dengan serunya pula. Ternyata lawannya memiliki kekuatan yang luar biasa. Tetapi Semi yang bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang itu juga memiliki tenaga raksasa. Dengan demikian, maka benturan- benturan kekuatan diantara mereka seolah-olah membuat seisi istana itu bergetar. Dentang senjata keduanya yang beradu seolah-olah telah mengguncang tiang dan dinding yang berdiri tegak dengan kokohnya. Untuk beberapa saat kekuatan mereka berdua nampak seimbang. Namun kemudian ternyata bahwa kekuatan Semi telah berhasil mendesak lawannya meskipun perlahan- lahan. Yang segera mengalami kesulitan adalah lawan Jlitheng, Pedang tapis Jlitheng ternyata mampu membuat lawannya berloncatan kebingungan. Setiap kali ia meloncat surut mengambil jarak, kemudian berputar dan beringsut sambil memperbaiki kedudukannya. Ternyata darah yang mengalir dari lukanya memang mulai mengganggunya. Karena itu, maka tenaganya tidak lagi mampu mengimbangi kecepatan getar pedang tipis Jlitheng. Sejenak kemudian, ketika Nrangsarimpat berteriak sambil meloncat menyerang, terdengar lawan Jlitheng itu mengeluh pendek. Sekail lagi tubuhnya tersayat oleh senjata. Kali ini adalah senjata Jlitheng yang dikenalnya bernama Bantaradi. “Anak iblis“ Orang itu mengumpat. Namun umpatannya tidak mampui memampatkan darahnya. Bahkan semakin lama semakin banyak. Titikan-titikan darah itu sudah mulai memerah dilantai yang mengkilap. Nrangsarimpat yang bertempur melawan Rahu seorang lawan seorang melihat kedua kawannya mulai terdesak. Karena itu, maka iapun menghentakkan kemampuannya untuk memaksa Rahu segera tidak berdaya. Tetapi ternyata bahwa dugaannya tentang orang yang bernama Rahu dan menyebut dir inya Iblis bertangan Petir itu keliru. Jika Rahu mendapat kepercayaan dari Cempaka, menurut dugaan Nrangsarimpat hanyalah karena Rahu bersedia merendahkan dir inya dan dapat melayani segala kehendak Cempaka. Namun ternyata bahwa Rahu benar- benar seorang iblis yang bertangan petir. Tangannya mampu bergerak dengan kecepatan yang sulit diperhitungkan. Kadang-kadang Nrangsarimpat justru menjadi kehilangan pengamatan sehingga ia terpaksa ber loncatan surut. Dalam pada itu, Rahu tidak lagi dicemaskan oleh kemungkinan, bahwa ia akan tersudut. Ia melihat, bahwa Jlitheng tentu akan dapat memenangkan pertempuran melawan orang yang telah terluka itu, sementara Semipun nampaknya benar-benar sudah mapan dan perlahan-lahan namun pasti mulai menguasai lawannya, meskipun kadang- kadang lawannya masih nampak sangat garang. Tetapi kekuatan Semi yang bertubuh raksasa itupun benar-benar dapat dibanggakan. Yang harus dikerjakan oleh Rahu kemudian adalah mengalahkan Nrangsarimpat yang sombong dan kasar, meskipun nampaknya ia adalah seorang yang lembut dan peramah. Tetapi sikapnya terhadap puteri yang dibuatnya bagaikan tertidur itu benar-benar mencemaskan Rahu, yang bukan saja orang Sanggar Gading, tetapi ia adalah petugas sandi yang memang wajib melindungi setiap orang dari tangan-tangan kejahatan. Tetapi terlebih- lebih dari itu, Rahu benar-benar telah menjadi muak terhadap Nrangsarimpat. Karena itu, maka ketika ia pasti, bahwa kedua orang kawannyapun akan berhasil mengalahkan lawannya, maka iapun telah memusatkan usahanya untuk dengan segera melumpuhkan orang yang bernama Nrangsarimpat itu. Seorang murid Sanggar Gading yang sangat memuakkannya karena sikapnya. Dibalik keramahan dan kelembutan sikapnya yang selapis itu. ternyata tersembunyi hati iblisnya yang berbulu ijuk. Rahu yang sudah mengenal Nrangsarimpat dengan baik itu telah memutuskan di dalam hatinya, bahwa tingkah laku Nrangsarimpat tidak akan dapat berubah sepanjang ia masih dapat menghirup udara. Karena itu, cara satu-satunya untuk menghentikan tingkah lakunya bagi keselamatan banyak orang hanyalah dengan membunuhnya. Karena itu, maka Rahupun kemudian telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia tidak akan memberi kesempatan lagi kepada Nrangsarimpat yang semula menganggap Rahu hanyalah sekedar seorang penjilat di kaki Cempaka, adik Sanggit Raina, sehingga ia mendapat kepercayaan dari padanya. Namun yang ternyata kemudian, bahwa kemampuan Rahu benar-benar telah mencemaskannya, sehingga ia kemudian telah terdesak karenanya. “Apakah orang ini sudah kerasukan Iblis dari alas neraka“ Nrangsarimpat menggeram di dalam hatinya. Namun sebenarnyalah bahwa ia telah menjadi semakin terdesak seperti juga kedua orang kawannya yang lain, sementara seorang kawannya telah terbaring dilantai tanpa bergerak lagi dalam genangan darah yang merah kehitam-hitaman. Demakianlah pertempuran yang sengit itu sudah mulai jelas, apakah bakal terjadi. Nrangsarimpat sama seka tidak tertawa lagi. Bahkan wajahnya yang tegang itu bagaikan membara oleh kemarahan yang membakar jantung. Tetapi ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu melawan badai kemarahan Rahu yang sudah memuncak pula. Senjata Rahu semakin lama semakin terasa terbang semakin dekat pada kulitnya. Setiap senjata itu berdesing, terasa sentuhan angin menyapu tubuhnya. Namun ketika Rahu semakin mendesaknya, yang menyentuh tubuh Nrangsarimpat bukan sekedar desir angin ayunan senjatanya, tetapi kemudian Nrangsarimpat itupun berdesis ketika segores luka menyobek kulitnya “Gila” geramnya. “Tidak ada jalan lain yang dapat kau tempuh, kecuali kematian. Aku sudah cukup memberimu kesempatan Tetapi kau sama sekali t idak menghiraukan. Karena itu, maka tidak ada pilihan bagiku kecuali melaksanakan perintah Sanggit Rama lewat Cempaka dengan sebaik-baiknya” “Persetan kau penjilat” teriak Nrangsarimpat. “Penjilat atau bukan penjilat, tetapi kau harus mati” Rahu juga menggeram. Nrangsarimpat memang menjadi semakin cemas betapapun kemarahannya menjadi semakin memuncak Ia tidak dapat mengingkar i kenyataan bahwa darah telah menit ik dari lukanya Dan bahkan kemudian Rahu telah mendesaknya semakin-dahsyat. Betapa Nrangsarimpat berusaha untuk menyelamatkan diriinya, namun akhirnya ia terdorong surut dengan nafas yang terengah-engah ketika sekali lagi senjata Rahu menyentuhnya. Tetapi Rahu tidak membiarkannya berusaha memperbaiki kedudukannya. Dengan tangkasnya ia memburu. Pedangnya terjulur lurus ke dada lawannya Tetapi Nrangsarimpat masih berusaha menangkis serangan itu. Ketika terjadi benturan senjata, ternyata tenaga Nrangsarimpat benar-benar telah jauh menjadi susut. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Rahu. Dengan pasti ia bergeser kedepan, memutar senjatanya, dan ketika ia sekali lagi menyerang, maka senjatanya benar-benar telah merobek lambung lawannya Nrangsarimpat terdorong sekali lagi. Wajahnya yang merah menjadi semakin merah. Tetapi sejenak kemudian wajah itu menjadi putih pucat. Kakinya tidak lagi dapat berdiri tegak, sementara senjatanya semakin lama menjadi semakin menunduk. Tetapi dalam pada itu ia masih berteriak dengan suara bergetar “Anak setan, penjilat kau Rahu. Aku cincang kau menjadi sayatan tulang dan daging” Rahu tidak menjawab. Dipandanginya saja Nrangsarimpat yang kemudian jatuh tersungkur. Masih terdengar umpatan kasar dari mulutnya meskipun semakin lambat. Rahu menarik nafas dalam-dalam ketika kemudian Nrangsarimpat itu terdiam. Tarikan nafasnya yang terakhir menandai akhir hidupnya dengan beberapa goresan luka di tubuhnya. Kematian Nrangsarimpat membuat kawan-kawannya menjadi berputus asa. Mereka merasa, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apapun untuk menyelamatkan hidupnya. Merekapun merasa bahwa mereka tidak akan sempat melarikan diri setelah dua orang diantara mereka terbunuh. Apalagi mengharapkan pengampunan Rahu yang sedang dibakar oleh kemarahan. Karena itu, maka kedua orang itupun kemudian telah mengamuk seperti orang yang kehilangan nalarnya. Mereka tidak lagi mempunyai pertimbangan lain, kecuali menuntaskan perlawanannya sampai merekapun akan terbunuh pula. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh J litheng dan Semi, Mereka tidak dapat berbuat lain kecuali menghentikan kegilaan lawan-lawan mereka. Karena itulah, maka berturut- turut. Semi dan Jlithengpun telah mengakhiri perlawanan orang-orang Sanggar Gading itu dengan menembus tubuh mereka dengan senjata. Sejenak ruangan itu menjadi hening. Yang terdengar hanyalah desah nafas yang memburu. Ternyata bahwa Rahu dan kawan-kawannya berhasil menyelesaikan pertempuran itu tanpa memberiku taruhan, selain goresan-goresan kecil pada tubuh mereka. Tetapi goresan-goresan itu sama sekali tidak berarti sementara titik darahpun segera menjadi pampat oleh taburan obat yang mereka bawa. “Apa yang akan kita lakukan kemudian” desis Semi. “Panggil salah seorang pengawal” berkata Rahu. Semipun kemudian turun lewat pintu butulan dengan senjatanya yang merah oleh darah. Para pengawal yang termangu-mangu terkejut melihat Semi turun dengan senjata telanjang. Dengan serta merta, para pengawal itupun kemudian mempersiapkan dir i. Tetapi Semi yang tertegunpun kemudian berkata “Satu atau dua orang diantara kalian, masuklah. Kami ingin berbicara Kami telah membunuh beberapa kawan kami yang melanggar perintah pimpinan kami“ Para pengawal itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian dua orang diantara mereka telah mengikuti Semi memasuki ruang dalam. Para pengawal itu tertegun. Mereka benar-benar melihat empat sosok mayat yang terkapar di lantai. Namun kedua pengawal itupun kemudian menggeram ketika mereka melihat puteri Pangeran itu telah menggenggam hulu pedangnya. “Tidak” jawab Rahu “Nrangsarimpat yang terbunuh itulah yang telah membuatnya tidur. Tetapi ia selamat” Selagi kedua pengawal itu termangu-mangu, Rahu telah melangkah mendekatinya Kemudian iapun berkata kepada kedua pengawal itu “Bawa puteri ke bilik yang lain. Aku akan membuatnya sadar. Tetapi jika puteri melihat mayat yang terbujur lintang itu, ia akan menjadi ketakutan dan mungkin kejutan yang sangat akan mempengaruhi kesadarannya” Kedua pengawal itu masih termangu-mangu. Namun akhirnya merekapun mengangkat puteri itu dan membawanya ke bilik disebelah, dan kemudian embannya pula. Para pengawal itupun menjadi tegang ketika mereka melihat Rahu mulai meraba tubuh puteri itu. Perlahan-lahan pada tengkuknya. Kemudian tepat pada simpul syaraf kesadarannya, Rahu menekannya perlahan- lahan untuk membuka sentuhan Nrangsarimpat yang telah membuat puteri itu tertidur. Ternyata usaha Rahu berhasil. Perlahan-lahan puteri itu membuka matanya, hampir bersamaan dengan embannya yang tersadar dari pingsannya pua. Yang nampak kemudian adalah bayangan-bayangan yang kabur. Namun kemudian bayangan itu menjadi semakin jelas. Hampir saja ia berteriak ketika ia melihat wajah yang garang yang tidak dikenalnya seolah-olah akan menerkamnya. “Jangan takut puteri“ terdengar seseorang berkata. Puteri itu mengusap matanya. Wajah-wajah itu menjadi semakin jelas. Ternyata yang dilihatnya kemudian adalah dua orang pengawal istana yang sudah dikenalnya baik-baik. Sementara itu, ia melihat pula orang-orang yang telah bertempur di ruang sebelah sebelum ia tidak ingat apa-apa lagi yang terjadi atas dirinya. Rahu memandang puteri itu sambil menarik nafas dalam dalam. Kemudian katanya kepada para pengawal “Jagalah baik baik. Aku telah mengorbankan beberapa kawanku yang akan melanggar perintah pimpinanku. Jika pada saat yang lain datang pula beberapa orang dengan alasan orang itu berbuat bagi kepentingan mereka sendiri, dan kau dapat membayangkan, apa yang terjadi atas puteri itu jika ia jatuh ke tangan kawan-kawanku” Kedua pengawal itu termangu-mangu, sementara emban yang telah sadar itupun merangkak mendekati puteri yang masih terbaring. “Puteri” desisnya. Puteri itupun memandanginya sejenak. Kemudian iapun bangkit sambil beritanya “Bagaimana dengan kau biyung?“ “Bagaimana dengan puteri?”embannya itu ganti bertanya, “Ia tidak mengalami sesuatu“ Rahulah yang menjawab lalu katanya, kepada para pengawal “Aku terpaksa segera meninggalkan tempat ini. Aku harus menyusul kawan- kawanku yang mungkin sudah terlalu jauh. Selenggarakan mayat-mayat itu. Sebaiknya tidak ada orang lain yang mengetahui. Pesankan kepada seisi istana ini agar keselamatan Pangeran t idak terganggu” “Jadi bagaimana kami harus mengubur kawan-kawanmu tanpa diketahui orang lain” bertanya salah seorang pengawal. “Kubur lah di kebun belakang. Pada saatnya mereka akan dipindahkan ke tempat yang lain. Atau barangkali kau mempunyai cara yang lain untuk membawa mayat-mayat itu ke kuburan tanpa diketahui oleh orang lain” berkata Rahu lebih lanjut. Para pengawal itu termangu-mangu. Namun Rahupun berkata “Aku percaya bahwa kalian akan dapat menyelesaikannya. Kami tidak mempunyai waktu cukup untuk melakukannya. Sekali lagi aku berpesan, jaga puteri itu baik- baik” Para pengawal itu termangu-mangu. Namun ada semacam sentuhan yang aneh dihati mereka. Di lingkungan orang-orang yang garang dan kasar, masih ada juga yang berusaha untuk berbuat atas dasar peradaban manusia. Sejenak kemudian, maka Rahu, Jlitheng dan Semipun segera berkemas. Mereka masih sempat minta dir i kepada puteri dan para pengawal. Sambil turun dari pintu butulan Rahu masih berpesan “Jangan biarkan puteri melihat mayat- mayat itu. Biar lah ia untuk sementara tetap di dalam biliknya” Demikianlah, maka Rahu, Jlitheng dan Semi segera meninggalkan istana itu setelah mereka berhasil menyelamatkan puteri. Rahu tidak perlu gelisah atas kelambatannya, karena yang dilakukannya sudah diketahui oleh Cempaka yang akan mempertanggung jawabkannya. Sementara itu, di istana yang mereka t inggalkan, para pengawal menjadi sibuk. Mereka berusaha agar puteri tetap berada di dalam biliknya sementara para pengawal berbincang apa yang sebaiknya mereka lakukan bagi mayat-mayat yang terkapar di lantai. “Kita akan membawanya ke kuburan. Tidak baik untuk dikubur di kebun belakang” desis salah seorang dari para pengawal. “Tetapi bukankah dengan demikian kerja kita akan diketahui orang sehingga kita tidak akan dapat merahasiakannya lagi?“ desis pengawal yang lain. “Kita bawa dengan kereta tertutup malam nanti. Kita jugalah yang menggali kubur dan menguburkannya tanpa minta bantuan orang lain jawab pengawal yang pertama, lalu “Bukankah kawan kita cukup untuk melakukannya? Kita beritahu paman pekatik, gamel dan juru taman. Justru kita pesan kepada mereka dan keluarga mereka, agar mereka tidak mengatakan apapun juga tentang peristiwa ini bagi keselamatan Pangeran” Sejenak para pengawal itu berpikir. Akhirnya, mereka tidak berkeberatan untuk melakukannya. Karena itulah maka mereka segera memanggil beberapa orang termasuk para pelayan yang melayani kereta. Dalam pada itu, selagi para pengawal bersiap-siap membawa mayat-mayat itu untuk menguburkannya maka Rahu, Jlitheng dan Semi telah berpacu semakin jauh. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Jlitheng berkata “Rahu. aku mempunyai pikiran lain dengan diriku sendiri” “Kenapa?“ bertanya Rahu. “Aku tidak akan kembali ke Sanggar Gading. Aku akan kembali ke daerah Sepasang Bukit Mati. Bukankah pada saatnya Pangeran itu akan dibawa ke daerah itu? Aku kira serba sedikit kaupun telah mengetahuinya” berkata Jlitheng kemudian. “Tetapi apa kataku, jika Cempaka bertanya tentang kau?“ Rahu menjadi termangu-mangu. “Jika benar kau sudah mendapat ijin Cempaka untuk menyelesaikan Nrangsarimpat, maka katakan saja, bahwa aku telah terbunuh pula dalam pertempuran ini, sehingga dengan demikian, maka kau tidak akan mempertanggung-jawabkan aku lagi, karena aku tahu, bahwa kau tentu mendapat tugas untuk mengawasi aku pula” Jawab Jlitheng. Rahu menjadi ragu-ragu. Dipandanginya Jlitheng dengan saksama, seolah-olah ia ingin meyakinkan, dengan siapa ia berhadapan. “Apakah kau masih meragukan aku?” bertanya Jlitheng. “Tidak. Aku tidak meragukan lagi, bahwa kau adalah Candra Songkaya. Tetapi dalam perkembangan keadaan mungkin kau dan aku mempunyai landasan berpijak yang berbeda, desis Rahu. “Dan kau curiga, bahwa aku akan membuka rahasiamu” berkata Jlitheng. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sebagaimana aku menganggap bahwa Senapati Agung yang bernama Surya Sangkaya adalah seorang yang memiliki kelebihan, bukan saja pada kanuragan, tetapi juga pada budinya maka akupun berharap bahwa kau juga memiliki kelebihan budi dari orang kebanyakan” “Maksudmu?“ bertanya Jlitheng “Kau akan berpijak pada jalan kebenaran. Juga tentang Pangeran yang malang itu” sahut Rahu “apapun hubungannya Pangeran yang malang itu dengan orang-orang Sanggar Gading dan daerah Sepasang Bukit Mati, namun aku mempunyai tugas untuk melindunginya. Jika kau lebih dahulu pergi ke Bukit Mati maka kau akan dapat menempatkan dirimu. Atau barangkali kau mempunyai kepentingan sendir i?“ oooOooo-


Jilid 10
“Aku akan berada di daerah Sepesang Bukit Mati itu” jawab Jlitheng “Aku akan melihat, apakah yang akan terjadi dengan Pangeran yang aku yakin akan dibawa ke daerah itu” “Kau tentu mengenal dan mempunyai kepentingan dengan Sepasamg Bukit Mati pula, seperti juga orang-orang Sanggar Gading. Tetapi kau tentu tidak seperfi orang-orang Sanggar Gading, bahwa kau akan dapat mengorbankan orang lain tanpa alasan yang tidak terelakkan” berkata Rahu “Dan agaknya aku percaya kepadamu” “Terima kasih. Jika demikian. Kita akan berpisah. Mudah- mudahan kau tetap mendapat kepercayaan Cempaka, sehingga kau akan datang pula ke daerah Bukit Mati, menyerahkan Pangeran itu. Mudah-mudahan kita akan dapat bekerja bersama lagi, bagamianapun bentuknya” berkat Jlitheng. Rahu menar ik nafas dalam-dalam. Ketika ia terpaling kepada Semi, nampak ketegangan pada wajah anak muda itu. Namun kemudian Rahu berkata “Kita dapat mempercayainya. Aku percaya bahwa Bantaradi adalah Candra Sungkaya, Dan aku percaya, bahwa ia tidak menyimpang dari jejer seorang kesatria keturunen Majapahit“ Semi mengangguk-angguk. Katanya “Kita akan bertemu di daerah Sepasang Bukit Mati. Marilah kita akan hadir dalam ujud yang berba-beda, tetapi kita akan melibat apa yang akan terjadi di daerah itu. Akupun sudah mendengar beberapa hal tentang keterlibatan beberapa orang di daerah itu. Dan akupun harus mempersiapkan dir i untuk mengamati tingkah laku orang-orang dari padepokan-padepokan lain. mungkin orang-orang Pusparuri, mungkin orang-orang Gunung Kunir atau pihak manapun juga. Jika pada suatu saat, Pangeran yang malang itu sampai jatuh ke tangan pihak lain, maka keadaan kita akan menjadi semakin, sulit. Tetapi menurut pengamatanku, agaknya Sanggar Gading adalah kelompok yang terkuat diantara kelompok-kelompok yang lain” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya “Apakah tidak ada petugas-petugas sandi di lingkungan mereka?“ “Kadang-kadang sulit untuk menempatkan seseorang diantara sekelompok orang yang mempunyai lingkungan tersendiri. Kita harus menunggu kesempatan. Pada suatu saat secara kebetulan kesempatan itu datang sendir i. Tanpa unsur kebetulan, kita harus bekerja keras dan mungkin memer lukan waktu yang sangat lama” jawab Rahu. Jlitheng mengangpuk-angguk. Tetapi ia masih bertanya “Jadi, apakah kalian berhasil menempatkan orang itu atau tidak?“ Rahu menarik nafas dalam-dalam. Namun Semilah yang menjawab “Kita masih berusaha. Tetapi kita belum berhasil. Kesalahan kita adalah, bahwa kita hanya menganggap Sanggar Gading sajalah lingkungan, yang berbahaya. Karena itu, maka pusat perhatian kita ada pada Sanggar Gading. Dan Sanggar Gadinglah lingkungan yang pertama-tama kami masuki” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia masih merasa ada jarak antara dirinya dan Rahu serta Semi. Tetapi ia dapat mengerti, karena bagaimanapun juga, tentu ada rahasia, yang tidak dapat mereka katakan” Sejenak kemudian, maka Jlithengpun minta dir i kepada keduanya. Ia ingin memisahkan diri, untuk mendahului kembali ke daerah berbukit gundul dan daerah berbukit kecil yang ditumbuhi oleh hutan yang lebat dan masih dihuni oleh binatang-binatang buas. “Berhati-hatilah“ pesan Rahu ”mungkin kedatanganmu akan menarik perhatian setelah kau pergi untuk waktu yang agak lama” “Belum terlalu lama. Mudah-mudahan aku dapat diterima seperti saat aku pergi tanpa prasangka dan curiga” jawalb Jlitheng. “Tugas kita masih banyak. Apa yang akan terjadi, dan apa yang telah dilakukan oleh Pangeran itu, merupakan beban yang harus kita uraikan” berkata Rahu kemudian “Selamat jalan. Mudah-mudahan kita semuanya selamat dan dapat menunaikan tugas kita masing-masing dengan sebaik-baiknya” Jlithengpun kemudian memisahkan diri. Ia sadar, bahwa kepentingannya itu akan merupakan beban tersendiri bagi Rahu. Mungkin Rahu akan dicurigai. Mungkin bahkan akan mendapat perlakukan yang tidak menyenangkan. Tetapi mungkin pula tidak, karena Cempaka tetap mempercayainya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk selalu mengawasi keadaan Pangeran yang malang itu. Namun tiba-tiba Jlitheng berkata di dalam hatinya “Tetapi apakah mungkin bahwa Pangeran itu benar-benar pernah melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan orang lain, atau hal serupa itu?“ Namun Jlitheng tidak dapat mencar i jawabnya. Ia masih harus banyak mengamati keadaan di daerah Bukit Gundul itu. Untuk beberapa saat Jlitheng berpacu seorang diri. Ia mengambil jalan yang tidak terlalu ramai, agar ia tidak bertemu dengan orang-orang yang mungkin mengenalnya sebagai Jlitheng, anak padepokan yang bodoh dani lemah. Sementara ia menyadari, bahwa tugasnya akan menjadi semakin berat, karena agaknya orang-orang Sanggar Gading akan segera menghubungi Daruwerdi untuk menyerahkan Pangeran yang akan ditukar dengan pusaka yang menjadi rebutan beberapa pihak itu. Karena itu maka Jlitheng tidak singgah ke rumah Sri Panular. Ia tidak ingin terlambat. Meskipun mungkin perjalanannya hanya tertunda satu hari, tetapi jika Sanggit Raina bertindak cepat, ia akan dapat terlambat. Apalagi Jlitheng tidak dapat datang ke padukuhannya langsung diatas seekor kuda. Jika ia berbuat demikian, persoalannya akan dapat merubah sikap Daruwerdi. Karena itu, Jlitheng masih akan melakukan seperti yang dilakukannya dengan baik. Yang sudah terlalu banyak membantunya. Ia akan singgah di rumah seorang saudagar yang dikenalnya dengan haik. Yang sudah terlalu banyak, membantunya dan member ikan pertolongan kepadanya. Kemudian ia masih harus singgah pula di tempat yang hanya dikenalnya tanpa pernah disentuh orang lain. Ia harus menyimpan pakaiannya dan senjata-senjatanya. Tetapi Jlitheng mulai bimbang dengan keadaan yang semakin panas di daerah Sepadang Bukit Mati itu. Jika ia terpisah dari senjata-senjatanya, maka untuk mengatasi peristiwa yang tiba-tiba, ia akan mengalami kesulitan. “Apakah aku harus berlar i-lari mengambil pedang dan paser-paser itu lebih dahulu, sementara peristiwa yang terjadi telah terjadi” berkata Jlitheng di dalam hatinya. “Aku akan membawa senjataku pulang dan menyembunyikannya sebaik-baiknya” berkata Jlitheng kciada diri sendiri. Seperti yang direncanakan, maka Jlithengpun telah singgah di rumah seorang saudagar yang mengenalnya dengan baik. Iapun kemudian menitipkan kudanya dan seperti biasanya, ia selalu mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang ditawarkan kepadanya. “Pada suatu saat, aku tentu memer lukan bantuan paman” berkata Jlitheng kepada saudagar itu, Jlitheng yang kemudian berjalan kala kembali ke padukuhannya, telah memilih waktu yang sebaik-baiknya. Ia memperhitungkan saat yang tepat, sehingga ia akan memasuki padukuhannya menjelang dini hari. la akan membawa senjatanya bersamanya dan menyembunyikan di rumahnya. Setiap saat senjata itu akan dipergunakannya. Karena itu, maka Jlitheng tidak perlu terlalu tergesa-gesa berjalan ke padukuhan Lumban. Namun ia merasa bahwa ia harus tetap berhati-hati. ia tidak ingin bertemu dengan seorang pun. Ia akan langsung pulang dan tidur di kandang sampai saatnya biyungnya bangun dan terkejut melihat ia telah datang, dalam keadaan seperti saat ia berangkat. Sementara itu, di Sanggar Gading, Rahu telah dipanggil oleh Sanggit Raina bersama Cempaka, la harus mempertanggung jawabkan bahwa orang yang berada di bawah pengawasannya tidak kembali lagi ke Sanggar Gading justru dalamsaat yang paling gawat. “Kita t idak boleh terlambat” berkata Sanggit Raina “Kita akan segera berangkat ke Sepasang Bukit Mati itu untuk bertemu dengan Daruwerdi. Berita hilangnya Pangeran itu tentu belum tersebar luas, sehingga orang-orang dari padepokan yang lain belum sempat memutuskan untuk mengambil satu sikap yang tepat. Tetapi pada saat semacam ini seorang diantara kita telah pergi” “Tidak hanya seorang” jawab Rahu “Tetapi lima orang” Sanggit Raina mengerutkan keningnya. Dipandanginya Cempaka sekilas. Dan sebelum Sanggit Raina bertanya sesuatu, Cempaka sudah mendahuluinya “Aku yakin bahwa Nrangsarimpat tidak akan berkhianat dalam arti yang khusus. Ia tidak lagi lari dari Sanggar Gading dan menjerumuskan Sanggar Gading ke dalam kesulitan. Tetapi aku belum yakin terhadap Bantaradi” “Aku sudah mengemukakan persoalannya” berkata Rahu. “Aku juga sudah mengatakannya kepada kakang Sanggit Raina. Tetapi kau harus langsung melaporkannya selengkapnya, juga sehubungan dengan Bantaradi yang tidak datang bersamamu” sahut Cempaka. Rahu menarik nafas panjang. Kemudian iapun mulai melaporkan segala sesuatu tentang terbunuhnya Nrangsarimpat. Ia sudah mendapat ijin dan akan dipertanggung jawabkan oleh Cempaka apabila terjadi sesuatu. Ternyata bahwa lima orang diantara mereka yang bertempur telah terbunuh. “Kau hanya berdua?“ bertanya Saardt Raina. “Ya bersama Bantaradi. Aku tidak mengira bahwa Nrangsarimpat ternyata membawa tiga orang kawannya. Aku kira ia akan datang sendiri dan membawa puteri itu” jawab Rahu. “Anak yang malang” desis Cempaka “Ternyata Bantaradi adalah mur id yang paling singkat tinggal di Sanggar Gading. Ia telah berhasil melampaui padang perburuaan. Tetapi ia terbunuh dalam tugas yang sebenarnya bukan tugas pokok kita” “Ia anak yang luar biasa. Ia mati bersama dua orang lawannya. Dan aku terpaksa membunuh dua orang yang lain” desis Rahu. Sanggit Raina mengangguk-angguk. Katanya “Kita terpaksa mengorbankan lima orang yang terbaik diantara kita. Tetapi jika tidak demikian, mungkin tingkah laku Nrangsarimpat akan dapat merusak seluruh rencana kita” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia tidak dihadapkan pada kesulitan yang gawat karena ia tidak datang bersama Bantaradi. Agaknya kematian Nrangsarimpat, yang termasuk seorang mur id terbaik itu tidak membuatnya ia terlalu kecewa. “Kita bersiap sekarang” berkata Sanggit Raina. “Sekarang?“ bertanya Cempaka. “Apalagi yang kita tunggu? Orang-orang Pusparuri atau kelompok-kelompok yang lain?“ bertanya Sanggit Raina pula. Cempaka tidak menjawab. Ia memang menyadari, bahwa segalanya harus berjalan cepat. Dan balikan Cempakapun menyadari, bahwa yang akan dilakukannya bersama Sanggit Raina adalah suatu langkah rahasia. Bukan saja bagi kelompok-kelompok lain, tetapi bagi kelompok Sanggar Gading sendiri. ”Siapakah yang akan turut pergi ke bukit gundul itu?“ bertanya Cempaka tiba-tiba. “Jangan terlalu banyak. Kita akan pergi bersama beberapa orang, untuk melindungi Pangeran itu di perjalanan. Tetapi hanya dua orang sajalah yang akan ikut mendekati bukit gundul itu” berkata Sanggit Raina. Cempaka mengangguk-angguk. Meskipun tidak dikatakan, tetapi ia tahu benar rencana kakak kandungnya itu. Berdua mereka harus dapat melakukan tugas besar, Tugas besar bagi Sanggar Gading, namun juga tugas besar bagi mereka sendir i. Karena itulah, maka Cempakapun segera mempersiapkan segala sesuatu. Mereka akan segera menempuh sebuah perjalanan lain untuk membawa Pangeran yang sedang sakit itu ke Bukit Gundul di padukuhan Lumban. Sementara itu Rahupun menjadi berdebar-debar. Meskipun ia mengerti sebagian rencana Cempaka atas Pangeran itu untuk membawanya ke Bukit Gundul, di Lumban, namun ia tidak mengetahui rencana Cempaka seluruhnya, di daerah Sepasang Bukit Mati. Namun sudah dapat diharapkan bahwa Pangeran yang sedang sakit itu tentu akan menjadi semacam korban bagi satu kepentingan. Tetapi bagaimana dan cara yang akan dipakai oleh Cempaka itulah yang harus diperhatikannya. Sementara Sanggar Gading sedang mempersiapkan diri menghadapi tugasnya, dan Sanggit Raina yang menghadap langsung pemimpin tertinggi Sanggar Gading, Rahupun mempersiapkan rencananya. Ia tahu pasti bahwa Semi dan seorang kawannya yang akan ditunjukkan, telah bersiap pula untuk mendahului perjalanan orang-orang Sanggar Gading, sementara anak muda yang dikenalnya sebagai putra Pangeran Surya Sangkayapun akan berada di tempat yang gawat itu. Namun Rahu itupun menjadi berdebar-debar ketikan tiba- tiba saja Cempaka menariknya dengan wajah yang tegang, katanya “Kita harus menghadap Yang Mulia Panembahan Wukir Gading sekarang” “Apakah ada sesuatu yang gawat atau perubahan dari segala rencana yang sudah tersusun?“ bertanya Rahu. “Tidak ada yang tahu. Sikapnya kali ini mengejutkan. Juga kakang Sanggit Raina t idak mengetahui” jawab Cempaka. Sikap Yang Mula itu benar-benar membuat Rahu menjadi cemas. Jika ada perubahan sikap Yang Mulia itu, maka ia akan menemui kesulitan. Bahkan mungkin akan membawa Pangeran yang malang itu ke dalam keadaan yang sangat pahit. “Semi tidak akan membawa pasukan” berkata Rahu di dalam hatinya “agar nasib Pangeran yang malang itu tidak menjadi sangat buruk. Tetapi j ika ada sikap yang lain dari Yarg Mulia Panembahan Wukor Gading, maka tidak akan ada kesempatan untuk member itahuku kepadanya” Dengan hati yang berdebar-debar, maka, Rahupun memasuki sanggar bersama beberapa orang yang telah dipanggil pula oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Sejenak mereka menunggu. Kehadiran Yang Mula membuat jantung Rahu seolah-olah berdetak lebih cepat. Agak berbeda dengan sikapnya yang nampak pada hari- hari yang lewat. Yang Mulia nampak bersungguh-sungguh dan tegang. Dengan suara yang lantang ia berkata “Aku sendiri akan mengantarkan Pangeran itu ke Sepasang Bukit Mati” Wajah Rahu menjadi semakin tegang. Adalah diluar dugaan, bahwa Yang Mulia itu akan pergi secara pribadi. Biasanya ia mempercayakan segala tugas-tugas yang penting dan berat di medan, kepada Sanggit Raina yang masih muda. Cempaka dan Sanggit Raina sendir i terkejut mendengar keputusan itu. Seperti Rahu merekapun tidak menduga bahwa Yang Mulia akan mengambil keputusan yang demikian. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya dapat mendengarkan keterangan Yang Mulia Penembahan Wukir Gading itu selanjutnya “Perjalanan ke Sepasang Bukit Mati adalah perjalanan yang tidak terlalu panjang, tetapi terlalu berat. Apalagi kita akan membawa seorang Pangeran yang sedang sakit. Jika aku kali ini akan pergi bersama kalian bukan karena aku tidak percaya lagi kepada kalian. Tetapi justru karena aku menyadari, bahwa tugas ini adalah tugas yang sangat berat Aku tidak dapat sekedar duduk merenung sambil makan dan minum di padepokan, sementara anak- anakku berjuang menempuh bahaya yang setiap saat dapat menyita nyawanya” Cempaka dan Sanggit Raina saling berpandangan sejenak. Sementara Yang Mulia itu meneruskan “Yang tidak kalah gawatnya adalah sikap kelompok-kelompok yang selama ini memusuhi kita, karena merekapun mempunyai kepentintingan yang sama. Jadi kalian bertemu dengan orang-orang Kendali Putih, orang-orang Pusparuri atau kelompok-kelompok yang lain yang ingin merampas Pangeran itu dar i tangan kalian, maka seharusnya aku berada di tenga-tengah kalian. Jika pemimpin tertinggi merekapun menyertai anak-anaknya, maka aku akan berdosa kepada kalian, jika aku tetap duduk termenung di padapokan ini, karena bagaimanapun juga maka ilmu kalian adalah ilmu yang permulaan sekali bagi para pemimpin kelompok yang telah mencapai tingkat yang hampir sempurna. Sanggit Raina memadang Yang Mulia Panembahan itu dengan wajah semakin tegang. Ia tidak pernah mendengar Yang Mulia itu mengatakan, betapa rendahnya tingkat ihnu kanuragan bagi orang-orang Sanggar Gading. Rahu yang duduk diam sepertil patung, sempat berkata di dalam batinya “Alasan yang dikemukakan oleh Yang Mulia, itu nampaknya wajar sekali. Bahkan telah menunjukkan sikap kebapaan dari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, yang tidak sampai hati melepaskan anak-anaknya menempuh perjalanan yang sangat berbahaya” Namun demikian kepergian Yang, Mulia itu tentu membawa akibat yang lain bagi setiap, rencana yang ada dikepaia mereka yang ikut serta dalam kelompok itu dengan tujuan dan kepentingan mereka masing-masing. Sementara setiap orangpun tidak akan terlepas dar i satu keyakinan bahwa orang yang menyebut dirinya Yang Mulia itu tentu memiliki ilmu yang dapat diandalkan. Ketika Yang Mulia itu kemudian memberikan beberapa penjelasan yang lain, maka rasa-rasanya dada Sanggit Raina dan Cempaka menjadi semakin sesak. Rencana mereka bagi diri mereka berdua menjadi kabur. Tetapi agaknya keduanya tidak akan menyerah kepada perubahan keadaan, Mereka masih tetap berpegang pada tujuan, meskipun jalan yang harus mereka tempuh akan menjadi semakin panjang, semakin sulit dan rumpil. Tetapi dihadapan sidang yang menentukan perjalanan menuju ke Bukt it Gundul itu Sanggat Raina dan Cempaka tidak member ikan tanggapan yang dapat menumbuhkan persoalan tersendiri. Mereka memaksa dir i untuk menerima segala perintah Yang Mulia yang akan memimpin langsung perjalanan ke Bukit Gundul, menyerahkan Pangeran yang malang itu kepada seseorang yang sanggup menukarnya dengan sebuah pusaka yang sangat berharga. “Aku harus membiasakannya dengan Cempaka sesudah sidang ini” berkata Sanggit Raina di dalamhatinya. Demikianlah, maka Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu telah menentukan, bahwa ia akan pergi bersama beberapa orang pengawal terpercaya. Sanggit Raina, Cempaka dan Rahu termasuk orang-orang yang akan dibawanya serta. “Masih ada kemungkinan pahit di perjalanan” berkata Yang Mulia “karena itu kalian harus bersiap menghadapi kemungkinan keadaan yang gawat di perjalanan. Bersiaplah dengan senjata yang paling baik. Mungking hanya separo dari kata akan sampai ke bukit mati, sedangkan yang separo akan mati di perjalanan. Kita mungkin, harus berhadapan Angan orang-orang Pusparuri, orang-orang Kendal Putih atau orang- orang dari kelompok yang lain. Berita hilangnya Pangeran itu tentu tidak akan dapat tertahan untuk waktu yang lama di dalam dlinding istana kepangeranan. Berita itu tentu akan menembus gerbang betapapun rapatnya sehingga akhirnya akan sampai juga kepada orang-orang dari kelompok yang lain, yang juga menginginkan pusaka itu. Sementara itu, agaknya orang yang sekarang menguasai pusaka itu akan menuntut imbalan yang sama seperti yang dimintanya kepada kita. Dengan demikian maka nilai Pangeran yang sakit-sakitan itu akan sama dengan nilai pusaka itu sendiri” Dada Sanggit Raina dan Cempaka menjadi semakin bergejolak. Tetapi mereka t idak dapat berbuat sesuatu di dalam bidang itu. Rasa-rasanya sidang itu berlangsung sedemikian lamanya, sehingga Sanggit Raina dan Cempaka menjadi lebih letih sekali. Kepala mereka justru menjadi pening. Mereka ingin pertemuan itu segera selesai, sehingga mereka berdua dapat membicarakan apa yang sebaiknya akan mereka lakukan. Tetapi akhirnya sidang itupun selesai juga. Demikian Yang.Mulia meninggalkan sidang, maka Sumpit Raina dan Cempakapun segera memisahkan dir i dari kawan-kawannya. Mereka ingin berbicara tentang rencana Yang Mulia untuk pergi sendir i ke daerah Sepasang Bukit Mati itu. “Kita akan mengalami kesulitan” berkata Sanggit Raina. “Pusaka itu akan diterima langsung oleh Yang Mulia sehingga kita tidak akan mendapatkan sesuatu dari padanya” berkata Sanggit Raina “lalu apakah artinya kita selama ini berada di sanggar ini, sebagai budak yang tidak berarti apa- apa” namun kemudian la berkata “Tetapi tentu masih ada cara. Lambat atau cepat, pusaka itu akan jatuh ke tanganku. Bukan hanya pusaka itu, tetapi dalam artinya yang lebih luas daripada tuahnya saja” Cempaka menganguk-angguk. Tetapi kemudian ia bertanya “Apa yang dapat kita lakukan kakang? Apakah kita akan dapat mengimbangi kemampuan Yang Mulia. Apalagi jika para pengawal yang lain akan berpihak kepadanya” “Jangan bodoh. Kita akan memperhitungkan setiap keadaan yang akan berkembang kemudian” jawab Sanggit Raina “Yang Mulia itupun manusia juga seperti kita yang terdiri dari tulang dan daging. Betapapun tinggi ilmunya, pada suatu saat, ia akan dapat kita cari kelemahannya” Cempaka mengangguk-angguk. Namun aapun kemudian berdesis “Mudah-mudahan kelemahan itu dapat kita temukan sehingga kita tidak akan sia-sia berada di Sanggar Gading untuk waiktu yang lama” “Tetapi berhati-hatilah. Jika benar perhitungan Yang Mula, bahwa diantara kita yang akan sampai ke daerah Sepasang Bukit Mati itu hanya separo saja, hendaknya dari yang separo itu terdapat kita berdua” ”Aku akan berhati-hati kakang” jawab Cempaka “ada beberapa orang yang kemampuannya tidak melampaui kemampuanku. Mereka tentu akan menjadi korban-korban yang pertama. Selebihnya, jumlah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi pada padepokan Pusparuri dan Kendali Putih memang tidak terlalu banyak. Tetapi kita masih belum mendapat keterangan yang pasti tentang orang-orang Gunung Kunir” “Bawalah, senjata yang dapat diandalkan. Mudah-mudahan Rahupun tetap dapat kita perjaya. Sayang, Bantaradi terbunuh ketika ia berkelahi melawan Nrangsarimpat dan kawan- kawannya. Nampaknya ia termasuk anak muda yang memiliki kemampuan yang cukup dan kurang pandai mempergunakan otaknya, sehingga orang-orang seperti Bantaradi itu akan dapat menjadi kawan yang sangat baik” desis Sanggit Raina. “Ya. Ia termasuk anak muda yang menuruti perasaannya saja tanpa pertimbangan akal yang mapan. Sejak ia melibatkan dir i dalam perkelahian yang tidak dimengertinya, maka aku sudah tertarik kepadanya. Tetapi akupun sudah menilai bahwa orang-orang yang demikian umurnya tidak akan cukup panjang. Ia akan melibatkan diri ke dalam kesulitan yang akan dapat membunuhnya meskipun sebenarnya ia dapat menghindarnya. Seandainya ia tidak tertarik kepada persoalan. Nrangsarimpat yang memang bukan tanggung jawabnya, ia tentu tidak akan terbunuh. Tetapi ia benar-benar tidak dapat mengekang diri untuk berkelahi melawan siapa saja” desis Cempaka. “Berhati-hatilah Cempaka“ berkata kakaknya “Ternyata kita masih harus mengatasi banyak kesulitan. Tetapi kita tidak akan berputus asa, karena taruhannyapun memadai Seandainya harus kita perebutkan dengan mengorbankan nyawa kita sekalipun, maka kita tidak akan menyesal sama sekali “Aku mengerti ikakang. Dan akupun akan berusaha tidak mati tanpa arti, seandainya kita bertemu dengan orang-orang Kendali Put ih, atau orang-orang manapun juga yang akan mengambil Pangeran itu, atau kemudian mengambil pusaka itu seandainya mereka memilih jalan itu” geram Cempaka. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa bagaimanapun juga orang-orang di istana Panganan yang malang itu berusaha untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, dengan harapan bahwa keselamatan Pangeran itu tidak terancam, namun heran tentang bilangnya Pangeran itupun telah menembus dinding halaman dan terdengar oleh orang-orang diluar istana kepangeranan itu. Bahkan berita itupun semakin lama menjadi semakin meluas, meskipun sebagian dari mereka yang mendengar masih ragu-ragu. Akhirnya berita itu didengar oleh seorang Senapati Prajurit Demak sehingga demikian seseorang berkata kepadanya bahwa ada berita tentang hilangnya seorang Pangeran, maka serta merta iapun meloncat ke punggung kuda dan berpacu ke istana Pangeran yang malang itu. Kedatangannya membuat para pengawal terkejut. Tetapi karena mereka mengenal Senapati itu, maka mereka tidak dapat menolak ketika senapati Itu memaksa untuk memasuki istananya. Di ruang dalam ia bertemu dengar puteri yang berduka itu. Dua orang pengawalnya duduk sambil menunduk di belakang puteri yang wajahnya selalu basah. “Katakan, apa yang telah terjadi sebenarnya puteri” desis Senapati itu. Puteri yang berduka itu ragu-ragu. “Jangan ragu-ragu. Mungkin puteri telah mendapat ancaman. Tetapi puteri tahu siapa aku. Aku mempunyai kewajiban menjaga keselamatan setiap rakyat Demak, karena itu memang kewajiban setiap prajur it. Apalagi berita yang mungkin kau maksud untuk menyimpannya saja di dalam lingkungan istana ini telah menembus keluar, sehingga justru karena pendengaran orang-orang Demak yang tidak bersumber dar i yang benar-benar mengetahui halitu, berita tentang hilangnya ayahanda puteri menjadi simpang siur. Bahkan mungkin ada yang dapat merugikan keselamatan Pangeran” Puteri itu masih ragu-ragu. Tetapi ia memang mengenal dengan baik. Senapati yang datang kepadanya untuk menawarkan perlindungan itu adalah Senapati yang dekat dengan ayahnya. “Paman” berkata puteri iu kemudian “Tetapi apakah dengan deimikian j iwa ayah tidak terancam” “Tetapi kita harus berbuat sesuatu puteri. Kita tidak dapat membiarkan ayahanda puteri hilang tanpa berbuat sesuatu” jawab Senapati itu. Lalu “Kita tidak mempunyai jalan lain. Jika kita diam saja, maka Pangeran itu akan hilang seperti asap dihembus agin. Tetapi jika kita berbuat sesuatu, kita masih mempunyai dua kemungkinan. Pangeran akan tetap hilang, atau kita akan dapat menemukannya sekaligus menghancurkan segerombolan orang yang ingin berbuat jahat, yang tentu tidak hanya kepada ayahanda puteri sendiri. Mungkin dikesempatan lain ia akan berbuat jahat pula kepada orang-orang lain” Puteri iltu masih nampak ragu-ragu. Namun akhirnya ia bertanya kepada pengawalnya “Apakah yang sebaiknya aku lakukan paman?“ Pengawalnya itupun menjawab “Puteri. Berita tentang hilangnya ayahanda puteri agaknya memang sudah didengar oleh satu dua orang di luar istana ini. Namun yang kemudian meluas dalam ujud dan bentuk yang berbada-beda. Agaknya memang ada baiknya jika berita yang sebenarnya didengar oleh seorang Senopati prajurit Demak, sehingga akan dapat dinilai dengan pasti, apa yang telah terjadi” Puteri itupun kemudian tidak menyembunyikan keadaan ayahandanya keadaannya. Kepada Senapati iltu ia mengatakan apa yang diketahui dan apa yang didengarnya. Bahkah iapun menceriterakan pula apa yang terjadi kemudian atas dirinya. Senapati itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata “Tentu bukan sekelompok penjahat kebanyakan, seperti sekelompok penyamun yang mencegat korbannya di bulak-bulak panjang. Bukan pula sekelompok perampok yang sekedar mencar i pendok dan timang emas” “Mereka sama sekali tidak mengambil apapun dari istana ini” berkata salah seorang pengawalnya. “Ya“ sabut Senapati itu “apakah setelah terjadi peristiwa berikutnya. Agaknya kelompok itu mempunyai ikatan paugeran yang kuat. Ternyata bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa orang dar i mereka berakibat maut” “Ya” sahut sahut seorang pengawal itu “hukuman itu dilakukan tanpa ragu-ragu” Senapati itupun kemudian berkata “Maaf puteri aku terpaksa membawa masalah ini ke dalam lingkungan yang lebih luas. Mungkin pimpinan keprajuritan Demak mengambul satu sikap” “Tetapi jangan membuat sesuatu yang dapat mengancam jiwa ayahanda” Puteri itu mulai menyeka air matanya yang sudah mulai mengembang di pelupuk matanya. “Kami akan mempertimbangkan segala kemungkinan. Dan kamipun akan melakukan yang paling baik yang dapat kami pilih diantara beberapa kemingkinan yang ada” jawab Senapati itu “Tetapi sudah barang tentu bahwa kami tidak akan dapat berdiamdiri” “Jika paman akan mencar i, kemana atau gerombolan manakah yang dapat paman duga membawa ayahanda?“ bertanya puteri itu. “Memang tidak begitu mudah untuk mengetahui puteri. Tetapi kami akan mulai melaksanakannya, itu akan jauh lebih baik dar ipada kami harus menunggu” jawab Senapati itu. Puteri itu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang buram menjadi buram. Tetapi puteri itu kemudian berdesis lambat “Semuanya terserah kepada paman. Tetapi aku mohon, hendaknya paman dapat menyelamatkan j iwa ayahanda” Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tentu, Kami prajur it Demak akan berusaha sejauh dapat kami lalukan. Percayalah kepada kami puteri” Setitik alir mata telah mengalir di pipi puteri yang berduka itu. Tetapi dia kemudian berkata “Aku percaya kepada paman” Senapati ltupun kemudian mohon dir i, ia mendapat beberapa petunjuk yang semakin jelas langsung dari mereka yang menyaksikan peristiwa itu. Namun demikian, bagian yang didapat oleh Senapati itu masih terlalu sedikit untuk langsung dapat mengetahui, dimanakah Pangeran yang hilang itu berada. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa prajur it Demak dapat mencuci tangan dan membiarkan hal itu berlalu tanpa berbuat sesuatu. Karena itulah, maka Demak telah menugaskan beberapa orang petugas sandi untuk mencar i jejak hilangnya Pangeran yang malang itu. Namun demikian, persoalan hilangnya Pangeran itupun masih diusahakanoleh para petugas yang menangani agar persoalannya masih tetap terbatas pada orang-orang tertentu saja. Dalam pada itu, para petugas sandi Demak, yang kemudian memencar ke beberapa tempat, dengan sungguh-sungguh telah berusaha mencari jejak Pangeran yang hilang itu. Namun nampaknya kerja mereka adalah kerja yang tidak akan dapat mereka selesaikan dalamwaktu yang dekat. Para pemimpin dari pertugas sandi di Demak, telah berusaha mencari nama-nama petugasnya yang telah mendapat perintah bekerja di luar lingkungan, untuk mendapat sumber keterangan tentang Pangeran yang hilang itu. Namun sampai demikian jauh, agaknya semuanya masih serba gelap bagi para prajurit Demak. Sementara, itu, Jlitheng telah berada kembali ke dalam lingkungannya. Ia telah berada kembali diantara anak-anak muda di padukuhan Lumban. Dengan gati-gati dia telah membuat cerita perjalanannya selama ia tidak berada di padukuhannya. Dalam pada itu, agaknya kawan-kawannya tidak mencur igainya. Mereka percaya kepada cerita yang telah dibuat oleh Jlitheng tentang dirinya. Karena anak-anak muda itu sama sekali tidak pernah membayangkan persoalan- persoalan yang rumit yang pernah dialami oleh Jlitheng dalam perjalanannya. Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika pada saat ia duduk sendiri. Daruwerdi telah datang mendekatinya. “Jlitheng“ desis Daruwerdi yang kemudian duduk di sebelahnya, di atas batu padas di pinggir padukuhan “Kau belum mencer iterakan, apakah perjalananmu berhasil?“ Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Namun ia berdesis “Persoalan ini adalah persoalan yang sangat pribadi, Daruwerdi“ Daruwerdi tertawa. Katanya “Dahulu kau juga berkata demikian. Tetapi aku sebagai seorang kawan yang dekat, tentu ingin mendengar, apakah kau merasa bahagia?“ “Mungkin demikian, Daruwerdi, tetapi mungkin tidak” jawab Jlitheng. “Bagaimana?“ desak Daruwerdi. Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan ia merasa ragu-ragu, apakah Daruwerdi bertanya sebenarnya, atau ia justru mulai mencurigainya. Namun demikian Jlitheng menjawab “Aku tidak dapat mengatakannya Daruwerdi. Setiap kali akan hanya dapat mengatakan bahwa persoalanya adalah persoalan keluarga. Persoalan yang terbatas sekali” Daruwerdi tertawa. Tetapi iapun kemudian berdir i sambil menepuk bahu Jlitheng sambil berkata “Cobalah melihat dirimu, keadaanmu dan masa depanmu sebelum kau terlanjur menginjakkan kakimu ke jenjang perkawinan” Jlitheng tidak menyahut. Tetapi demikian Daruwerdi meninggalkannya, maka iapun menarik nafas dalam-dalam. “Mudah-mudahan ia tidak mencur igai aku” desis Jlitheng yang memandang langkah Daruwerdi yang hilang di balik tikungan. Jlitheng kemudian segera bangkit. Tiba-tiba saja ia inggin pergi ke bukit untuk menemui seseorang yang telah lama tidak dijumpainya. Tetapi rasa-rasanya ia masih ragu-ragu. Ia belum menemukan satu kepastian, apakah yang sebaiknya dikatakan apabila ia bertemu dengan seorang tua yang tinggal di dalam gubugnya di bukit berhutan itu. Tetapi ada semacam kerinduan yang tidak dapat ditahankannya lagi. Meskipun orang tua itu bukan apa-apa baginya, tetapi ia sudah banyak memberikan petunjuk kepadanya. Sejenak Jlitheng memandang padukuhannya. Ia tidak melihat kawan-kawannya. Agaknya kawan-kawannya masih belum ingin menggangunya, karena mereka mangetahui bahwa ia baru saja pulang dari perjalanan yang menurut ceritera yang disampaikan kepada kawan-kawannya adalah perjalanan yang panjang sekali, dan hanya ditempuhnya dengan berjalan kaki. Ternyata Jlitheng tidak dapat menahan diri lagi. Meskipun ia akan menemui kesulitan untuk membuat ceritera yang harus berbeda dengan ceritera-ceritera yang disampaikan kepada kawan-kawannya. Sejenak kemudian maka Jlithengpun segera berjalan bergegas ke bukit yang nampak hijau segar oleh hutan yang tertutup diatasnya. Namun agaknya ia ingin juga. menyelusuri sungai yang telah digarapnya, sehingga airnya tidak lagi hanya setinggi mata kaki. Disepanjang perjalanannya ke bukit itu, Jlitheng sempat memperhatikan, bahwa parit telah menjadi semakin terawat. Airpun telah mengalir meskipun masih belum terlalu deras. “Lumban akan menjadi hijau” desisnya. Namun ketika ia mulai memasuki lereng bukit berhutan itu, langkahnya tertegun. Ia menjadi ragu-ragu lagi. Apakah yang akan dikatakannya kepada orang tua itu. Apakah ia akan berterus teranng. Atau ia harus mengarang cer itera yang lain. Jlitheng termangu-mangu Katanya di dalam hati ”Seandainya aku mengatakan yang tidak sebenarnya maka jika per istiwa berikutnya akan terjadi disini, apakah hal itu tidak akan menyinggung perasaannya? Apakah orang tua yang telah berbuat banyak kepadaku itu, tidak akan merasa bahwa ia sama sekali tidak mendapat kepercayaanku?“ Jlitheng yang menjadi bimbang itu kemudian duduk diatas sebuah batu. Ia tidak dapat bertanya kepada siapapun juga. apakah yang sebaiknya dilakukannya. Mengatakan seluruhnya, sebagian atau tidak sama sekali. Tetapi sebenarnyalah Jlitheng tidak dapat member ikan kepercayaan sepenuhnya kepada orang tua itu. Ia sudah melihat, betapa peliknya persoalan yang menyangkut pusaka yang diperebutkan itu. Iapun melhat, betapa seorang Pangeran telah dipaksa meninggalkan istananya dalam keadaan sakit karena pusaka itu pula. Ia mengetahui beberapa gerombolan yang saling berebutan. Yang satu mungkin sekali akan membentur yang lain. “Apakah orang tua itu benar-benar tidak mempunyai sangkut paut dengan pusaka yang hilang itu” desis Jlitheng dalam hatinya. Namun selagi Jlitheng menrenungi kemungkinan yang akan dilakukan apabila ia bertemu dengan Kiai Kanthi, maka tiba- tiba saja ia telah dikejutkan oleh desir lembut di belakangnya. Karena pengaruh perjalanannya. maka desir yang lembut itu telah mendorongnya untuk meloncat bangkit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi ia menar ik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar suara lembut“ “Kau sudah kembali, ngger?” Ternyata yang datang, itu adalah Kyai Kanthi. Dan karena itu maka Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia belum menemukan sikap yang paling baik menghadapi orang tua itu tiba-tiba saja ia sudah dihadapkan kepadanya. Kiai Kanthi kemudian duduk di sebuah batu padas dan bahkan mempersilahkan anak muda itu duduk pula “Silahkan ngger. Silahkan duduk” Jlitheng tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian duduk di sebelah Kiai Kanthi dengan hati yang berdebar-debar. “Kenapa kau duduk sendiri disini ngger?“ tiba-tiba saja Kiai Kanthi bertanya. Dan ternyata pertanyaan itu telah membingungkan Jlitheng. Karena beberapa saat Jlitheng tidak menjawab, maka Kiai Kanthi itupun bertanya pula “ Apakah kau sudah lupa jalan pulangmu?“ “Ah“ Jlitheng berdesah. Tetapi iapun kemudian tertawa. Namun wajah Jlitheng menjadi kemerah-merahan ketika ia mendengar Kiai Kanthi berkata “Agaknya kau sedang memikirkan, ceritera apakah yang akan kau sampaikan kepadaku tentang perjalananmu” Sesaat Jlitheng justru terbungkam. Namun kemudian Katanya “Mungkin memang demikian Kiai. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku katakan kepala Kiai” “Karena sebaigan dari ceritera itu masih belum sempat kau susun” potong Kiai Kanthi sambi tertawa. Namun orang tua itupun kemudian berkata “Angger, Aku tahu bahwa apa yang kau lakukan tidak perlu diketahui oleh banyak orang. Akupun tahu bahwa kau sedang melakukan satu tugas yang penting, meskipun mungkin tugas itu kau bebankan sendiri diatas pundak, karena tanggung jawabmu atas hubungan antara sesama. Karena itu, marilah datang ke gubugku. Aku tidak akan bertanya tentang perjalananmu, kecuali pada bagian- bagian yang akan kau ceriterakan sendir i, yang tidak akan mengganggu tugasmu untuk seterusnya” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Maaf Kiai. Aku memang sedang dir isaukan oleh persoalan yang tidak akan dapat aku katakan, kepada Kiai, tetapi aku menjadi cemas, bahwa Kiai akan kecewa, atau bahkan marah kepadaku, tidak mempercayai Kiai sama sekal” “Keterbukaanmu membuat orang lain menghargai sikapmu, ngger. Aku. tidak akan marah, karena aku tahu bahwa yang kau lakukan adalah hal yang sangat wajar dan memang seharusnya, kau lakukan. Siapapun yang berada dalam keadaan seperti keadaanmu sekarang, tentu akan berbuat seperti itu pula” berkata Kiai Kanthi Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Desisnya “Aku minta maaf Kiai” “Kenapa kau harus minta maaf? Kau sama sekal t idak bersalah. Dan akupun tidak memancing keterangan yang sebenarnya tidak ingin kau katakan dengan cara apapun” jawab Kiai Kanthi. Jlitheng mengangguk-angguk pula. Katanya “Terima kasih atas pengertian itu Kiai. Dengan demikian aku tidak dibebani lagi oleh kebingungan, apa yang akan aku katakan kepada Kiai Kanthi, jika aku bertemu. Itulah sebabnya maka baru sekarang aku datang” “Tentu kau juga baru datang. Jika sekarang kau mengunjungiku, maka itu berarti bahwa perhatianmu atasku cukup besar” jawab Kiai Kanthi, lalu “sekarang, marilah. Kita pergi ke gubug yang kita buat bersama-sama itu?” “Apakah selama ini belum ada kemajuan apapun juga di padukuhan Lumban dan pada padepokan Kiai” bertanya Jlitheng. “Bukankah parit-parit telah menjadi semakin baik. Dalam waktu beberapi hari apa yang dapat kita lakukan?“ Kiai Kanthi bertanya. “Ya” desis Jlitheng. Sebenarnyalah bahwa diapun tidak cukup lama pergi untuk suatu kesempatan yang cukup bagi perubahan di padukuhannya. Demikianlah, maka keduanyapun pergi ke gubug Kiai Kanthi yang masih belum mengalami perubahan, kecuali halamannya menjadi bertambah bersih dan beberapa perabot rumah agaknya telah dibuatnya sendiri. Di pintu gubug itu, Jlitheng melihat Swasti yang bangkit dan beringsut dari ruangan dalam. Tetapi langkahnya terhenti ketika ayahnya berkata “Swasti, angger Jlitheng telah datang. Swasti menundukkan kepalanya. Dari sela-sela bibirnya terdengar sapanya pendek “Selamat datang” “Terima kasih Swasti“ sabut Jlitheng“ bukankah kau juga selamat selama ini?“ Swasti tidak menjawab, tetapi kepalanya terangguk kecil. “Jika kau akan ke dapur, pergilah ke dapur“ berkara ayahnya kemudaan “rebuslah air, dan barangkali kau mempunyai setandan pisang raja yang telah masak, Rebus pulalah” “Jangan terlalu sibuk karena kedatanganku” potong Jlitheng “Tidak. Setiap hari ia juga melakukannya” jawab Kiai Kanthi. Sepeninggal Swasti maka, Jlithengpun duduk di amben bambu yang panjang. Kiai Kanthi yang duduk disampingnya berkata “Nampaknya air itu member ikan harapan yang besar bagi rakyat Lumban. Mereka merasa bahwa sawah mereka akan menjadi sawah yang subur, yang akan dapat member ikan hasil panen padi dua kali setahun. Terutama pada jalur utama parit yang telah diperbaiki itu” “Ya Kiai. Jika benar-benar dapat terjadi demikian, maka Lumban akan berubah hijau sepanjang tahun” jawab Jlitheng. “Tetapi ada masalah baru yang kemudian timbul, ngger” desis Kiai Kanthi. “Masalah baru? Apakah ada hubungannya dengan hijaunya Lumban?“ “Ya, Karena parit dan air. Maka agaknya timbul persoalan pada orang-orang Lumban Kulon dan Lamban Wetan” desis Kiai Kanthi. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Persoalan inilah yang sejak pertama kita cemaskan. Apakah Ki Buyut Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang nampaknya rukun dan baik itu akan sampai hati berselisih karena air” “Sumbernya bukan pada Ki Buyut Lumban Kulon dan Wetan” sahut Kiai Kanthi Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu iapun kemudian bertanya “Apakah Daruwerdi?“ Tetapi Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya “Bukan ngger. Bukan Daruwerdi. Ia nampaknya tidak mengacuhkan sama sekali air yang mengalir di parit-parit itu” “Siapa?“ bertanya Jlitheng. “Agaknya anak laki-laki kedua Buyut itu mempunyai sifat yang berbeda. Mereka ternyata tidak mewarisi kerukunan ayah mereka” desis Kiai Kanthi. Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sudah mengenal kedua anak muda itu. Dan agaknya mereka mempunyai sifat dan kebiasaan tersendiri sehingga mereka tidak dapat serukun ayah-ayah mereka. “Anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan berusaha untuk tetap memelihara kerukunan itu” berkata Jlitheng “Mereka tentu mengakui bahwa aku adalah salah seorang dari mereka yang telah mengarahkan air di bukit itu sehingga dapat dimanfaatkan oleh orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon” “Mudah-mudahan ngger. Tetapi j ika kau tidak bekerja cepat, maka perpecahan itu akan kian menjalar” tetapi tiba- tiba suara Kiai Kanthi menurun “namun agaknya kau mempunyai tugas yang penting yang harus kau lakukan disini, sehingga waktumu akan menjadi sangat sempit, jika kau masih harus mengurusi air itu” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia menjawab “Kedua-duanya tugas yang penting yang harus aku kerjakan Kiai. Aku t idak akan dapat berdiam dir i j ika orang- orang Lumban Kulon dan orang-orang Lumban Wetan saling bertengkar karena, air. Dan akupun t idak akan dapat menanggalkan tugas yang telah aku bebankan pada diriku sendiri” Mudah-mudahan kau dapat melakukannya ngger” berkata Kiai Kanthi “Aku akan membantu apa saya jika kau perlukan” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun kekecewaan yang sangat membayang di wajahnya. Usahanya yang diharapkannya dapat membuat Lumban Wetan dan Lumban Kulon menjadi hijau subur, ternyata justru menimbulkan soal baru yang rumit. Agaknya orang-orang Lumban Kulon dan orang-orang Lumban Wetan telah disentuh oleh perasaan tamak dan dengki. Mereka ingin air yang naik dari sungai kecil itu, hanya untuk mungairi sawah di daerah mereka masing- masing. “Air itu memang belum mencukupi” desisnya tiba-tiba. “Ya. Justru karena itu, maka orang-orang Lumban Kulon dan Lumban Wetan masing-masing ingin bahwa air yang naik itu untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Orang-orang Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang sawahnya masih belum dialir i air parit itu agaknya telah mendesak, agar cara membagi air dirubah, dan menguntungkan pihak masing- masing” sahut Kiai Kanthi. “Baiklah Kiai” berkata Jlitheng “Aku akan menghubungi anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Kepadaku mereka belum mengatakan sesuatu. Mungkin mereka mengerti bahwa aku baru datang dari sebuah perjalanan, sehingga aku tidak akan dapat menanggapinya dengan sebaik-baiknya, atau justru mereka merasa segan mengatakannya kepadaku” “Mungkin ngger. Tetapi mungkin merekapun merasa bahwu kau akan bersikap lain dari mereka, sehingga mereka justru sudah berperasangka terhadapmu” berkata Kiai Kanthi kemudian “karena itu, jika kau masih mempunyai waktu, cobalah menanggapi hal ini. Jika perlu, kau dapat menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon dan Ki Buyut di Lumban Wetan. Jlitheng mungagguk-angruk. Ternyata ia mendapat beban baru di padukuhan yang semula nampak tenang, meskipun selalu gersang. Justru karena tanah yang kering dan ke kuning-kuningan itu mulai disentuh oleh air, sehingga daun- daun yang semi menjadi hijau, persoalannya justru berkisar menjadi gawat karena ketamakan dan kedengkian. Tetapi disamping itu, persoalan yang lain tetap menunggunya. Semula ia menganggap persoalan pusaka itu adalah persoalan yang harus mendapat perhatiannya yang utama. Pusaka itu akan menyangkut keselamatan seseorang, keselamatan Pangeran yang malang itu. Bahkan mungkin j ika timbul benturan kekuatan antara kelompok-kelompok yang menghendakinya, akan dapat menimbulkan pertempuran yang luas. Namun, agaknya kini ia tidak dapat mengesampingkan persoalan orang-orang Lumban itu. Jika perselisihan mereka tentang air itu meluas, maka persoalannya akan dapat menjadi gawat pula. Anak laki- laki Ki Buyut Lumban Kulon itu agaknya seorang anak muda yang keras hati dan kurang memperhatikan persoalan yang tumbuh di sekitarnya. Jika ia justru berpendirian keras tentang air. maka perselisihan memang mungkin sekali akan menjadi semakin gawat. “Tetapi kau t idak perlu tergesa-gesa ngger” berkata Kiai Kanthi “Bukan berarti bahwa masalahnya tidak harus sepera ditangani, tetapi kau harus mengetahui masalahnya dengan baik. Baru kau akan dapat mengambil kesimpulan apakah yang dapat kau lakukan. Tentu saja jangan sampai mengganggu kewaj ibanmu yang menyangkut masalah yang jauh lebih luas dari masalah kedua padukuhan ini saja” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Kiai Tetapi bantuan Kiai akan sangat berarti bagiku. Bukan saja masalah air yang menjadi sumber persoalan di Lumban ini, tetapi persoalan-persoalan lain yang memang akan menyangkut masalah yang lebih luas seperti yang Kiai katakan itu” “Sejauh dapat aku lakukan, ngger” jawab Kiai Kanthi sambil mmengangguk-angguk. Demikianlah mereka masih berbicara tentang berbagai macam hal yang menyangkut masalah air, sehingga akhirnya Kiai Kanthi itu bergumam “Apakah pisang itu belum masak” Ketika Kiai Kanthi kemudian masuk ke dapur, dilihatnya Swasti sedang mengangkat pisang rebus yang sudah masak dan meletakkannya diatas sebuah irik bambu. “Dengan demikian maka keduanya kemudian masih sempat berbicara sambil mengunyah pisang rebus yang disediakan oleh Swasti, sementara Jlitheng mendapat gambaran- gambaran yang lebah jelas tentang perselisihan yang mulai membayang di Lumban, antara orang-orang Lumban Kulon dan orang-orang Lamban Wetan. Setelah beberapa saat ada digubug Kiai Kanthi maka Jlithengpun kemudian turun dengan hati yang gelisah, seperti gelisahnya dedaunan yang hijau dihembus angin yang kencang. Ada semacam penyesalan yang bergejolak dihati Jlitheng. Bahkan ia merasa bahwa orang-orang Lumban sama sekali tidak mengenal terima kasih. Setitik air bagi mereka akan jauh lebih berharga daripada kegersangan yang mencengkam padukuhan itu, lebih- lebih di musim kemarau. Tetapi ketika parit mulai mengalir, meskipun kurang mencukupi, justru menimbulkan persoalan baru pada padukuhan yang mulai nampak hijau itu. Kegelisahannya itu ternyata dapat dilihat oleh ibu Jlitheng ketika ia sampai di rumahnya. Bagaimanapun juga, Jlitheng adalah pusat perhatian perempuan tua yang menyebut dirinya ibunya yang menganggap Jlitheng seperti anaknya sendir i. “Apakah kau sakit?“ bertanya ibunya. “Tidak biyung. Aku tidak apa-apa. Mungkin aku masih lelah setelah aku mencoba melihat-lihat berapa luasnya dunia ini” jawab Jlitheng. Ibunya tidak bertanya lagi. Sambil meninggalkan anak laki- lakinya di dapur ia berkata “Makanlah dan beristirahatlah“ Tetapi ternyata Jlitheng tidak beristirahat. Ketika malam mulai turun, maka iapun minta diri kepada ibunya, untuk pergi ke gardu. “Seharusnya kau banyak beristirahat. Tidur sajalah. Bukankah di gardu sudah banyak ditunggui anak-anak muda?” “Mungkin aku dapat melupakan kelelahan yang masih tersisa” jawab Jlitheng kemudian “di gardu aku akan dapat bergurau bersama kawan-kawan” Ibunya tidak menghalanginya lagi. Bahkan iapun berpikir, bahwa anak itu akan mendapat kesegaran diantara kawan- kawannya. Ketika Jlitheng berada diantara Kawan-kawannya ia tidak segera melihat persoalan yang timbul diantara anak-anak mada Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Karena itu, untuk beberapa saat lamanya Jlitheng terlibat dalam pembicaraan yang gembira diantara kawan-kawannya Namun akhirnya Jlithenglah yang memancing pendapat kawan-kawannya. Dengan hati-hati ia mulai berbicara tentang sawah, bahkan kemudian air. “Pekerjaan kita tentu bertambah sekarang“ berkata Jlitheng seolah-olah tanpa maksud “Bukankah ada diantara kita yang harus pergi ke sawah untuk melihat air?“ Ternyata kegelisahan Jlitheng tentang air itu benar-benar membayang diantara sikap dan tingkah laku-laku kawan- kawannya. Ketika Jlitheng mulai menyinggung air, maka kawan-kawannya mulai nampak berubah sikap. Tetapi seorang yang bertubuh gemuk tiba-tiba saja berkata “Jlitheng. marilah kita berbicara tentang yang lain. He, bukankah kau datang dari perjalanan yang cukup jauh? Coba, apa yang sudah kau lihat“ Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi ia benar-benar ingin tahu sikap kawan-kawannya tentang air. Karena itu, maka iapun menjawab “Ternyata kita masih jauh ketinggalan dari padukuhan-padukuhan lain yang aku kunjungi. Pada umumnya padukuhan-padukuhan itu telah mempunyai penataan air yang baik dan teratur. Sementara kita disini baru mulai. Tetapi j ika kita bekerja dengan tekun dan bersungguh- sungguh, maka kita akan dapat segera mengejar kekurangan kita” Kawan-kawannya tiba-tiba saja menjadi gelisah. Tetap jlitheng justru mendesak terus “Marilah kita bekerja lebih baik untuk mengatur air yang meskipun sedikit tetapi mulai teratur. Sungai itu tidak akan kering di musm kemarau karena sumber air di bukit yang sudah dapat kita arahkan Kawan-kawannya nampak menjadi semakin gelisah. Namun akhirnya Jlitheng semakin mendesak “Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian sudah jemu berbicara tentang air? Kita baru mulai, sedangkan kita sudah tertinggal jauh dari padukuhan-padukuhan lain sepanjang perjalananku. Tetapi nampaknya kalian sudah mulai jemu membicarakannya” Kawan-kawannya saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata “Jlitheng. Sebenarnya kami tidak ingin membuat kau dan orang tua yang tinggal di bukit itu menjadi kecewa. Kau dan orang tua itu sudah bekerja keras untuk mengarahkan arus air belumbang yang meluap diatas bukit berhutan lebat itu” Dada Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Ternyata yang dikatakan oleh Kiai Kanthi agaknya bukan sekedar prasangka. “Jlitheng, sebenarnyalah bahwa ada persoalan yang kemudian- timbul di padukuhan ini” berkata kawannya. “Persoalan apa?“ Jlitheng masih bertanya “Apakah ada kesulitan dengan parit-parit itu?“ “Tidak. Tidak Jlitheng“ jawab kawannya itu “Yang menumbuhkan persoalan bukannya parit dan air itu sendir i” “Lalu apa?“ Jlitheng masih berpura-pura tidak mengetahui persoalannya. Anak muda itu menarik nafas. Namun kemudian katanya “Kami ternyata benar-benar telah mengecewakanmu dan mengecewakan orang tua di kaki bukit itu. Pada saat-saat terakhir telah tumbuh semacam perselisihan antara orang- orang Lumban Kulon dan Lumban Wetan tentang air sungai itu. Kami masing-masing merasa bahwa bagian kami terlalu sedikit. Orang-orang Lumban Kulon menganggap bahwa tanah persawahan di Lumban Kulon lebih t inggi dar i tanah persawahan di Lumban Wetan sehingga mereka menuntut cara pembagian yang lain dari yang kita lihat sekarang, karena menurut mereka, air yang naik dari sungai itu lebih banyak mengalir ke Lumban Wetan. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenungi kawan-kawannya yang tertunduk diam, seolah-olah mereka merasa telah bersalah, karena Jlitheng tentu akan menjadi sangat kecewa karenanya. Baru sejenak kemudian Jlitheng bertanya “Tetapi apakah menurut kalian, tanah persawahan di Lumban Wetan lebih rendah dari Lumban Kulon?“ “Tidak. Sebagaimana kita lihat. Bukankah dataran diantara sepasang bukit mati ini rata dan tidak mir ing? Bukankah dengan demikian sawah di Lumban Wetan sama sekali tidak lebih rendah dari Lumban Kulon?“ Jlitheng mengangguk-angguk. Menurut pendapatnya, sawah di Lumban Wetan memang lebih rendah dari sawah di Lumban Kulon. Namun demikian, Jlitheng tidak menentukan sikap apapun juga. Ia baru mendengar keterangan dari anak-anak Lumban Wetan. Ia masih belum mendengar apa yang dikatakan oleh anak-anak Lumban Kulon. Namun dalam pada itu kawannya berkata “Jlitheng. Anak- anak muda Lumban Kulon nampaknya bersikap terlalu keras. Mereka kini melarang kami, anak-anak muda Lumban Wetan ikut ber latih olah kanuragan pada Daruwerdi” Jlitheng menjadi cemas mendengar keterangan itu. Jika masalahnya menyangkut Daruwerdi, maka persoalannya akan berkembang semakin gawat. Karena itu, maka iapun bertanya “Apakah Daruwerdi sendiri tidak menunjukkan sikap apapun juga?“ “Daruwerdi seolah-olah menjadi acuh tidak acuh. Ketika kami bertanya kepadanya. Kenapa kami dilarang mengikuti latihan olah kanuragan, maka ia tidak memberikan jawaban yang memuaskan” sahut seorang anak muda. “Apa katanya?“ bertanya Jlitheng. “Katanya, ia tidak menentukan apa-apa. Ia mengajari siapa yang hadir di dekat bukit gundul itu. Sedangkan anak-anak Lumban Kulon menganggap bahwa bukit gundul itu termasuk daerah Lumban Kulon” sahut seorang kawannya. “Apakah memang demikian?“ bertanya Jlitheng. “Tidak ada yang pernah mengatakan demikian sebelumnya” jawab kawannya. Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya “Apakah kalian pernah berbicara tentang hal itu dengan Daruwerdi, bahwa sebenarnya kalian masih ingin berlatih kepadanya“ “Ya“ seorang kawannya menjawab “bahkan kami sudah minta agar Daruwerdi bersedia datang ke tempat lain yang khusus bagi anak-anak muda dari Lumban Wetan. Terapi ia tidak bersedia sama sekali. Katanya, dengan demikian sikapnya itu akan dapat menimbulkan salah paham dengari anak-anak Lumban Kulon. Bahkan mungkin akan memperbesar pemisahan yang sudah mulai tumbuh diantara mereka” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti sikap Daruwerdi. Jika ia berseda melakukannya, maka perselisihan antara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan semakin memuncak. Tetapi yang belum diyakini oleh Jlitheng, apakah Daruwerdi itu jujur. Jika jawaban itu sekedar cara untuk menolak agar anak-anak muda Lumban Wetan tidak dapat meningkat seimbang dengan anak-anak muda Lumban Kulon justru karena ia telah berpikir, maka akibatnya akan gawat pula. Karena itu, maka Jlithengpun bertekad untuk bertemu dengan anak-anak muda Lumban Kulon. Ia ingin bertanya, bagaimana sikap mereka yang sebenarnya terhadap air yang sudah berhasil diangkat naik dari sungai kecil itu. “Kau akan mendapat perlakuan yang buruk dar i mereka berkata seorang kawannya. “Apakah sampai demikian jauh sikap dan tanggapan mereka terhadap anak-anak muda Lumban Wetan?“ bertanya Jlitheng. “Kadang-kadang sikap mereka memang menjengkelkan sekali“ desis seorang kawannya. Tetapi Jlitheng tetap ingin bertemu dengan mereka. Karena itu, maka iapun kemudaan meninggalkan gardunya dan pergi ke Lumban Kulon, meskipun kawan-kawannya mencoba mencegahnya. Ketika Jlitheng menyeberangi jalan dan memintas pematang menuju ke padukuhan yang termasuk daerah Lumban Kulon, ia memang menjadi ragu-ragu. Namun ia melangkah terus. Dinginnya malam sama sekali t idak terasa. Bahkan keringat dingin terasa membasah di punggungnya. Semakin dekat dengan gardu di sudut padukuhan, Jlitheng merasa semakin gelisah, Namun ia bertekad untuk mencari cara yang sebaik-baiknya, agar perselisihan itu t idak justru berkembang. Anak-anak Lumban Kulon yang berada di gardu terkejut melihat sesosok bayangan mendekati gardunya. Namun merekapun segera mengenal, ketika cahaya di gardu itu mulai menyentuh wajah Jlitheng. Anak-anak muda Lumban Kulon itu merasa heran, bahwa Jlitheng telah datang seorang dir i. Mereka mengetahui bahwa Jlitheng baru saja kembal dari sebuah perjalanan, dan merekapun sudah mendengar ceritera yang direka-reka oleh Jlitheng dalam perjalanannya. “Kau Jlitheng” bertanya seseorang dari antara anak-anak muda Lumban Kulon itu. “Ya. Apakah aku boleh naik ke gardu” bertanya Jlitheng. ”Marilah Naiklah” jawab salah seorang dari mereka. Jlitheng kemudian duduk bersama anak-anak muda Lumban Kulon. Sejak kedatangannya, Jlitheng sudah merasa, bahwa sikap anak-anak muda Lumban Kulon memang agak lain. Satu dua orang mencoba bertanya tentang pengalamannya di perjalanannya. Seorang yang bertubuh kurus bertanya “Ceriteramu belum begitu jelas bagi kami Jlitheng. Barangkali kau masih ingin berceritera tentang pengalamanmu yang aneh-aneh di perjalanan?“ Jlitheng tersenyum. Seperti kepada kawan-kawannya di Lumban Wetan ia berceritera tentang daerah yang pernah dilihatnya. Dan seperti di Lumban Wetan iapun mulai memancing pembicaraan mengenai tanah, sawah dan air. Agaknya anak-anak Lumban Kulon telah mempunyai prasangka kepadanya Karena itu, maka merekapun segera mengerti maksud Jlitheng. Seorang yang berkumis tipis kemudian menyahut “Jlitheng. Agaknya kami dapat meraba, kemana arah pembicaraanmu. Mungkin kau telah mendengar dari kawan-kawanmu di Lumban Wetan, bahwa telah timbal persoalan yang hangat antara kami, anak-anak muda Lumban Kulon dan kawanmu dar i Lumban Wetan” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Persoalan itu berkembang demikian cepatnya. Baru beberapa hari yang lalu, kita merasa bersukur bahwa kita telah dapat mengangkat air dari sungai kecil yang menampung air dar i bukit berhutan itu. Sekarang kita merasa bahwa telah ada persoalan yang hangat antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan” “Kami sudah mencoba menahan diri” berkata anak muda yang berkumis tipis. Tetapi kawan-kawanmu dari Lumban Wetan bersikap terlalu mementingkan diri mereka sendir i” “Apa yang sebenarnya telah mereka lakukan?“ bertanya Jlitheng. “Mereka ingin mendapat air terlalu banyak dari kemampuan air yang dapat kita tampung“ sahut seorang anak muda. “Apa yang telah mereka lakukan?“ Jlitheng mengulangi pertanyaannya. “Mereka ingin membuka parit yang mengalir ke sawah mereka lebih lebar dari parit yang mengalir ke sawah kami” jawab anak muda berkumis tipis “Tentu saja kami tidak sependapat. Pintu air dari kedua parit yang mengalir ke persawahan di Lumban Wetan dan Lumban Kulon harus sama. Dengan demikian, maka kita akan mendapat pembagian yang adil” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia memang sudah menduga, bahwa keterangan anak-anak muda Lumban Wetan mungkin berbeda dengan keterangan anak-anak muda Lumban Kulon. Namun ia perlu mendengar semuanya, agar ia mendapat bahan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu yang mungkin ada baiknya dibicarakan dengan Kiai Kanthi. Karena itu, maka lapan kemudian bertanya “Apakah dasarnya bahwa anak-anak Lumban Wetan minta agar pintu air bagi mereka lebih lebar dari pintu air yang akan mengairi ke daerah persawahan di Lumban Kulon?“ “Mereka merasa bahwa mereka mempunyai jasa terlalu banyak. Mereka merasa bahwa parit itu telah mengalir karena kerja anak-anak Lumban Wetan. Terutama kau sendir i” jawab anak muda berkumis tipis. Namun tiba-tiba seorang anak muda berjambang tebal bertanya kepada Jlitheng “He, Jlitheng, apakah benar kau merasa bahwa karena jasamu maka parit-parit kita dapat mengalir?“ “Tentu tidak” jawab Jlitheng menghindar. Ia merasa bahwa, orang, berjambang itu hatinya lebih keras dani anak muda berkumis tipis “Bukan aku. Tetapi orang tua yang tinggal di lereng bukit itu” “Jadi apa maksudmu datang kemari?”Anak muda berjambang tebal itu bergeser maju “kau kira kau mempunyai wewenang untuk mengurus air itu?“ “Tidak. Bukan maksudku“ Jlitheng beringsut sedikit aku hanya ingin bertanya apakah yang sebenarnya terjadi Aku memang mendengar ceritera kawan-kawanku. Tetapi aku belum yakin akan kebenarannya. Justru karena itu aku ingin mendengar dari kalian” “Bohong“ Anak muda berjambang tebal itu membentak “aku kira kau ingin memaksakan kehendak anak-anak muda Lumban Wetan. Aku kira kau ingin berceritera tentang jasa- jasamu bahwa kau telah membuka air di belumbang di lereng bukit itu. Kaulah yang telah mengarahkan air itu sehingga masuk kedalam sungai kecil yang kemudian kita angkat bersama” “Benar. Aku tidak bermaksud demikian. Aku .ingin mencari penyelesaian sebaik-baiknya atas persoalan air itu. Sebenarnyalah Kiai Kanthi menjadi sedih, bahwa air yang diharapkan akan membuat Lumban dalam keseluruhan itni menjadi hijau, ternyata telah menimbulkan persoalan tersendiri yang akan dapat meretakkan hubungan kedua kebuyutan yang semula memang hanya satu“ berkata Jlitheng. “Jika benar kau t idak akan membuat kisruh dengan memaksakan pendapat orang-orang Lumban Wetan, maka kau harus bersedia mengatakan kepada anak-anak muda Lumban Wetan, bahwa mereka tidak mempunyai hak lebih dari kami” Orang berjambang itu menggeram. Namun anak muda yang berkumis- tapis, yang agaknya batanya lebih lembut itu berkata “Sudahlah J litheng, sebenarnya kami tidak ingin terlibat ke dalam perselisihan. Katakan kepada kawan-kawanmu” “Tetapi jika mereka mulai apaboleh buat“ Anak muda berjambang itu memotong “karena itu, katakan, bahwa jasamu t idak berarti apa-apa bagi kami” “Baiklah, aku akan mengatakan kepada mereka” desis Jlitheng “Tetapi aku minta, bahwa kita masing-masing akan dapat menahan diri sehingga dengan demikian persoalan ini tidak akan berkembang jadi semakin buruk” “He, kau kira kami disini tidak menahan diri?” Anak muda berjambang itu bergeser maju lagi, sehingga Jlithengpun telah beringsut pula “jika kami anak-anak muda Lumban Kulon tidak menahan diri, maka anak-anak muda Lumban Wetan telah kami lemparkan ke bendungan. Apalagi kini anak-anak muda Lumban Wetan menjadi malas dan tidak lagi mau berprihatin barang sedikit untuk mempelajari olah kanuragan” “O. Apakah begitu?“ desis Jlitheng “Jika demikian biarlah besok aku akan mengajak mereka” “Itu tidak perlu“ Anak muda berjambang itu hampir berteriak “Daruwerdi sudah kehabisan kesabaran. Beberapa kali mereka datang. Dan itu akan sangat mengganggu perkembangan kita semuanya. Karena itu, mereka yang telah ketinggalan t idak akan diperbolehkan ikut serta” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun anak muda berkumis tipis itu berkata “Mungkin mereka akan mendapat kesempatan berikutnya, Jlitheng. Setelah kelompok ini meningkat, maka akan disusul oleh kelompok ber ikutnya” Jlitheng menganguk-angguk. Katanya “Mudah-mudahan kesempatan itu masih terbuka” “Kau sendiri masalnya“ Anak muda berjambang itu masih saja berbicara dengan nada yang keras “Sudah berapa kali hari latihan kau t idak datang. Apakah kau sekarang tiba-tiba saja akan berlatih bersama kami? Tentu kau hanya akan mengganggu kami dan menghambat perkembangan kami“ Jlitheng masih mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Baiklah. Aku akan minta diri. Aku akan berkata kepada kawan-kawanku, agar mereka tidak minta yang berlebih- Iebihan, Jadi. kita akan bersepakat, bahwa pintu air yang mengalirkan air ke tanah persawahan di Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan dibuat sama” “Mungkin begitu” desis anak muda berkumis t ipis. Namun tiba-tiba seorang anak muda bertubuh kurus berkata “Tetapi apakah tanah persawahan itu tidak sama, maka pembagian air yang sama bagi kedua belah pihak justru akan menjadi tidak adil?” “Tanah Persawahan Lumban Kulon lebih luas dari. tanah persawahan Lumban Wetan“ beberapa anak muda berdesis. Anak muda berkumis tipis itu termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata kepada Jlitheng “Kemballah. Kami tidak bermaksud bermusuhan dengan kawan-kawan kami dari Lumban Wetan. Tetapi kami ingin pembagian air yang adil. Hanya itu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian? ”Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada kawan-kawanku, seperti yang kalian kehendaki. Untuk sementara barlah kita membuka pintu air yang sama seperti yang kalian kehendaki. Aku menjamin, bahwa anak-anak Lumban Wetan akan menerimanya” “Sama bagaimana?” Anak muda berjambang itu bertanya dengan keras. “Sama lebarnya“ Anak muda berkumis tipis itulah yang menjawab. JIitheng memandang anak muda berkumis tipis itu sekilas. Ia memang mengenal anak itu dengan watak yang berbeda dengan anak berjambang itu. Namun agaknya arak muda berkumis tipis itu mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kawan-kawannya, juga terhadap anak muda berjambang tebal itu, sehingga karena itu, maka anak muda berjambang tebal itu tidak bertanya lebih jauh lagi. “Sudahlah” berkata Jlitheng “Aku akan kembal kepada kawan-kawanku. Terima kasih atas segala keterangan dan kesediaan kalian” Anak muda berkumis r iips itu berkata “Mudah-mudahan kawan-kawanmu di Lumban Wetan dapat mengerti” Jlithengpun kemudian meninggalkan gardu itu. Namun demikian Jlitheng meninggalkan mereka, beberapa anak muda bertanya kepada yang berkumis tipis “Kau terlalu lunak menghadapi anak-anak muda Lumban Wetan” “Jlitheng memiliki kelainan dengan anak-anak muda Lumban Wetan yang lain” desis anak muda berkumis tipis itu. “Apa bedanya? Ia datang untuk menuntut. Mungkin anak- anak. Lumban Wetan angan mempergunakannya. Dikiranya kita, anak-anak muda Lumban Kulon menjadi silau melihatnya” berkata anak muda berjambang itu. “Tetapi apakah kita akan mengingkar i kenyataan?” Anak muda berkumis tipis itu menjawab “Siapa yang paling banyak berbuat terhadap penguasaan air itu? Katakan, bahwa pikiran ini tumbuh dari orang tua di lereng bukit itu. Tetapi Jlitheng dan anak-anak muda Lumban Wetan menanggapinya dengan cepat. Sedangkan kita? Katanya, apa yang pernah kita lakukan. Mungkin ada seorang atau katakanlah dua orang diantara kita yang ikut membantu orang tua itu mengartikan air, kemudian membuat gubug baginya. Tetapi apakah artinya dibandingkan dengan kerja anak-anak Lumban Wetan” Kawan-kawannya, termangu-mangu. Namun t idak seorangpun yang menyahut. Meskipun demikian, hati mereka tetap bergejolak. Mereka tidak ingin melihat Lumban Wetan tumbuh secepat Lumban Kulon. Karena itu, maka mereka tetap tidak akan membiarkan perkembangan Lumban Wetan dalam segala segi. Selain pada kesuburan tanahnya, juga pada kemampuan anak-anak mudanya. Dalam pada itu, ternyata hal itu telah diberitahukan pula kepada anak-anak laki- laki Ki Buyut di Lumban Kulon. “Anak itu memang dungu” berkata anak Ki Buyut itu kepada anak muda berjambang lebat “Ya Nugata. Ia menganggap bahwa Jlitheng memang mempunyai hak untuk menentukan air di sungai itu” berkata anak muda berjambang lebat “Jangan hiraukan. Aku tetap pada pendirianku. Air itu harus kita kuasai sepenuhnya. Kitalah yang akan memberikan sebagian menurut belas kasihan kita kepada Lumban Wetan, karena sebenarnyalah bendungan itu berada di daerah Lumban Kulon, dan bukit berhutan itupun berada di daerah Lumban Kulon pada saat Lumban dibagi menjadi dua” Kawan-kawannya termangu-mangu. Mereka belum pernah mendengar sebelumnya, bahwa sungai, bendungan, bukit- bukit itu termasuk daerah Lumban Kulon. Namun ia mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia menganggap bahwa anak Ki Buyut itu tentu lebih banyak mengetahui tentang keadaan Lumban Kulon maupun Lumban Wetan. Ternyata bahwa sikap Nugata, anak Buyut Lumban Kulon itu menjadi pola pikiran anak-anak muda di Lumban Kulon, Mereka menganggap bahwa sikap itu adalah sikap yang paling baik. Karena itu, maka merokapun ikut pula berbuat seperti yang dilakukan oleh anak muda yang menjadi pusat perhatian anak-anak muda di seluruh Lumban Kulon. Sementara itu, Nugatapun sebelumnya telah bertemu dengan Daruwerdi beberapa kali. Ialah yang minta kepada Daruwerdi agar anak-anak Lumban Wetan tidak diperkenankan untuk ikut serta dalam latihan-latihan olah kanuragan. “Itu adalah persoalan kalian” berkata Daruwerdi “Aku mengajari siapa saja yang hadir” “Kami akan melarang, mereka memaruti daerah lumban Kulon” berkata Nugata. “Terserah. Aku tidak ikut campur” berkata Daruwerdi setiap kali. Meskipun demikian Darawerdi tidak mengambil sikap yang dapat mencegah berkembangnya jarak antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Ia tidak mau menambah persoalan yang baginya sudah cukup rumit, hampir tidak sabar ia menunggu hadirnya seorang Pangeran yang dikehendakinya. Apakah Pangeran itu dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading, orang- orang Kendali Putih atau oleh orang-orang Pusparuri. Karena itu maka ia t idak menghiraukan lagi apakah yang akan terjadi antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan. “Biar saja kedua daerah ini berbenturan. Aku akan melihat suatu yang permainan yang mengasikkan. Anak-anak muda yang berkelahi tanpa aturan. Dengan liar saling memukul dan menghantam. Mungkin mereka bersenjata tanpa mengenal arti senjata masing-masing” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Namun Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ia menyadari. bahwa anak-anak Lumban Kulon memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak-anak muda Lumban Wetan, karena meskipun sedikit, tetapi anak-anak muda Lumban Kulon pernah mengikuti latihan-latihan oleh kanuragan. “Anak-anak muda Lumban Wetan akan terdesak” berkata Daruwerdi di dalamhatinya pula. Namun tiba-tiba saja timbul pikirannya “Jika daerah ini diganggu oleh ketegangan dan benturan antara Lamban Wetan dan Lumban Kulon, maka persoalanku akan berbaur tanpa banyak diketahui orang” Pikiran itulah yang membuat Daruwerdi semakin t idak mengacuhkan alas apa yang terjadi antara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Ia sama sekali tidak pernah menyatakan keberatannya atas sikap Nugata yang kadang-kadang nampak diwarnai oleh perasaan dengki dan iri hati. Namun demikian, Daruwerdi memang tidak lagi ingin membuat jarak dengan anak-anak muda Lumban Kulon. Ia tidak ingin anak-anak muda itu dapat mengganggu rencananya. Karena itu, seperti yang sudah dikatakan oleh anak-anak Lumban Wetan, Daruwerdi tidak bersedia untuk member ikan latihan- latihan khusus bagi anak-anak Lumban Wetan. Dengan demikian, anak-anak Lumban Kulon akan marah kepadanya. Meskipun mereka tidak berani berbuat sesuatu tetapi pada suatu saat ia dapat menganggunya. Dalam pada itu, Jlitheng yang dengan hati yang gelisah meninggalkan Lumban Kulon, telah kembali kepada kawan- kawannya. Ia mengatakan, sesuai dengan apa yang didengarnya dari anak-anak muda Lumban Kulon. Bahkan anak-anak muda Lumban Kulon sama sekali tidak mempersoalkan tinggi tanah persawahan daerah Lamban Kulon dan Lumban Wetan. Yang mereka minta hanyalah, pintu air yang mengalirkan air ke Lumban Kulon dan Lumban Wetan itu harus sama. “Omong kosong” jawab seorang kawannya “pintu air itu sudah sama sejak semula. He, bukankah kau juga mengetahuinya bahwa pintu air itu sudah sama” ”Ya, aku tahu. Mereka anak-anak Lumban Kulon mempertahankan kesamaan itu, yang mereka sangka, akan dirubah oleh anak-anak Lumban Wetan. Mereka mengatakan, bahwa pembagian itu harus adil. Karena itu, perubahan yang dikehendaki oleh anak-anak muda Lumban Wetan akan merusak keseimbangan itu” ”Dan kau percaya?“ tiba-tiba seorang kawannya yang lain bertanya. “Atau barangkali kau lebih percaya kepada anak-anak Lumban Kulon daripada anak-anak Lumban Wetan sendiri“ Yang lain menyambung. Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia tidak mau terjadi salah paham dengan kawan-kawannya. Karena itu, maka iapun segera menjawab “Bukan begitu. Maksudku aku ingin mendapatkan gambaran yang sebenarnya dari peristiwa yang sedang kita hadapi. Bukankah dengan demikian hanya terjadi salah pengertian diantara kita disini dan anak-anak muda Lumban Kulon. Jika demikian maka tidak perlu timbul pertentangan diantara kita. Jika masalahnya dapat kita pertemukan, maka perselisihan itu akan dapat teratasi“ “Tidak ada salah pengertian dan tidak ada salah paham. Mereka menuntut dengan yakin dan pasti” sahut seorang kawannya ”Ya“ Jlitheng mengangguk “Tetapi bukankah tidak ada salahnya jika ada usaha pendekatan tanpa pengorbanan salah satu pihak” “Ya Itu dapat saja kau lakukan” seorang yang kbih tua dari mereka t iba-tiba saja menyahut. Anak-anak muda itu berpaling kepadanya. Dilihatnya orang itu melangkah mendekat dan bahkan kemudian berdiri diantara mereka “Aku mendengar percakapan kalian. Usaha Jlitheng memang baik. Tetapi jika aku boleh berpendapat, maka masalahnya tidak terlalu mudah. Anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan sebenarnya telah mulai memikirkan masa depan kampung halaman mereka. Mereka telah berusaha untuk membuat padukuhan mereka menjadi sebuah padukuhan yang baik di masa depan. Namun, ternyata bahwa Lumban Kulon tidak mempertimbangkan kepentingan padukuhan tetangganya, bahkan pecahan dan belahan dari satu tubuh” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia tidak dapat mengambil kesimpulan tanpa mendapatkan bahan yang lebih banyak lagi. Tetapi agaknya kata-kata orang yang sudah tua dari anak- anak muda yang, berada di gardu Itu dapat dimengerti. Dalam pada itu. orang yang lebih tua itu berkata selanjutnya “Tetapi Jlitheng, aku kira, kau dapat saja melanjutkan usahamu. Kami dan mungkin juga anak-anak Lumban Kulon harus mengakui, bahwa kau sudah berbuat lebih banyak dar i setiap orang diantara kami dan anak-anak muda Lumban Kulon, sehingga air itu dapat kita kuasai“ “Aku akan berusaha“ sahut Jlitheng “Tetapi apa artinya aku seorang diri” “Kau seorang diri akan lebih baik dari tidak ada seorangpun yang berusaha, mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya. Tetapi jika kau gagal maka kau akan dapat mengambil satu sikap” berkata orang itu. “Baiklah” jawab Jlitheng “Aku akan berusaha terus. Tetapi aku minta kalian percaya kepadaku” “Sebenarnyalah perselisihan ini memang sudah meningkat menjadi pertentangan yang gawat” berkata orang itu “Mungkin kau akan dapat membayangkan j ika anak-anak Lumban Kulon setiap kali mampu meningkatkan pengetahuan mereka tentang, olah kanuragan, maka itu sudah dapat dibayangkan. Sementara kita masih tetap bodoh dan dungu Bukankah dengan demikian, pada suatu saat kita tidak akan dapat berbuat apa-apa, Jika anak-anak Lumban Kulon memaksakan kehendaknya atas kita?. Jika keta menentang kehendak mereka, maka mereka akan bertindak dengan kekerasan” Jlitheng mcngangguk-angguk. Katanya “Aku mengerti. Mudah-mudahan aku akan dapat mencari jalan untuk menyelesakan masalah yang gawat Ini” “Tetapi, hati-hatilah. Jika kau salah langkah, maka kau akan menjadi korban. Mungkin oleh anak-anak Lumban Kulon kau akan mengalami nasib kurang baik. tetapi mungkin justru oleh anak-anak muda Lumban Wetan sendiri” “Aku mengerti. Tetapi tanpa langkah-langkah yang dapat mendekatkan bubungan yang retak ini. seperti yang kau katakan, mungkin kita akan sampai pada satu sikap kekerasan. Dan ini akan sangat merugikan Lumban Wetan Karena kami tidak akan mampu berbuat banyak” Jlitheng masih mengangguk-angguk. Katanya “Kita semuanya harus menyadari bahwa persoalan ani akan berkembang menjadi semakin buruk bagi kita” Bukan saja Jlitheng, namun anak muda Lamban Wetan itupun menyadari sepenuhnya akan kesulitan yang dapat mereka alami. Tetapi merekapun tidak akan dapat mengorbankan hari depan padukuhan mereka dengan member ikan air seberapa banyak yang dikehendaki oleh anak- anak muda Lumban Kulon. Kesulitan yang menghantui mereka adalah, bahwa Daruwerdi tidak bersedia untuk member ikan laihan-latihan kepada anak-anak Lumban Wetan, sehingga keseimbangan diantara kedua padukuhan itu tidak dapat dipertahankan. “Aku akan menemui Daruwerdi” berkata Jltiheng di dalam hatinya “Mudah-mudahan ia mau membantu mempertahankan keseimbangan kekuatan. Dengan demikian, maka masing- masing pihak akan menjadi ragu-ragu untuk mulai dengan tindak kekerasan. Tetapi jika keseimbangan itu bergeser, maka salah satu pihak akan dengan mudah memaksakan kehendaknya atas pihak yang lain. Tetapi disamping memikirkan pertentangan yang berkembang antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Jlitheng masih harus juga memperhitungkan setiap kemungkinan orang-orang Sanggar Gading akan datang sambil membawa seorang Pangeran yang akan diserahkan kepada Daruwerdi, sebagan alat penukar sebutlah pusaka yang diinginkannya. Diluar sadarnya Jlitheng menggeram “Anak-anak dungu. Seharusnya aku tidak membantu Kiai Kanthi menguasa itu, atau sebaiknya, aku harus menghalanginya” Tetapi semuanya sudah terlanjur. Ada terbersit naatnya pula. untuk menghancurkan saja bendungan yang mengangkut air kesawah. Namun Jlitheng telah berusaha untuk menekan maksudnya itu. “Mudah-mudahan orang-orang Sanggar Gading itu t idak segera datang” berkata, Jlitheng di dalam hatinya “sementara itu aku mendapat kesemutan untuk menyelesaikan pertentangan yang terjadi disini. Atau justru sebaliknya, pertentangan itu akan semakin meletus dan menelan kerukunan yang sudah lama menyelubungi dua padukuhan yang semula memang hanya satu” Demikianlah, dipagi hari ber ikutnya, Jlitheng dengan ragu- ragu telah pergi menemui Daruwerdi. ia pura-pura tidak mengetahui persoalan anak-anak muda Lumban Kulon ketika ia memasuki padukuban ltu. Dengan ramah ia tetap rnenyapa Icawan-kawannya dari Lumban Kulon, yang betapapun juga, oleh sikapnya yang tidak berubah maka anak-anak muda Lumban Kulonpun menjawab pula. Jlitheng menjumpai Daruwerdi yang baru saja terbangun dari tidurnya. Sambil menggosok matanya ia mwmui Jlitheng diserambi gondok. “Apakah kau akan berbicara tentang hari-hari perkawinanmu?” Desisi Daruwerdi. “Ah, kau” sahut Jlitheng “aku akan bicara tentang padukuhan kita. Bukan tentang dir iku pribadi” “Tentang air? Tentang latihan-latihan yang hanya diikuti oleh anak-anak muda Lumban Kulon?“ bertanya Daruwerdi Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kalanya “Daruwerdi, kau dapat membantu anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan untuk meredakan pertentangan diantara mereka” “Aku sudah memikirkannva. Karena itu, aku berkeberatan untuk mengadakan latihan serupa yang khusus bagi anak- anak muda Lumban Wetan” jawab Darawerdi. “Lebih dar i itu akan dapat kau lakukan” berkata Jlitheng “Kau mempunyai pengaruh yang kuat atas anak-anak Lumban Kulon. Jika kau mau, maka kau akan dapat meredakan pertentangan. Anak-anak Lumban Kulon akan selalu mengikuti segala petunjukmu” Dengan mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Jadi menurut pendapatmu, kesalahan ada pada anak-anak muda Lumban Kulon?“ “Bukan begitu. Aku juga akan berusaha untuk mengendalikan kawan-kawanku. bagaimanapun juga mereka mengakui, bahwa akulah yang pertama-tama membicarakan masalah air itu dengan orang tua yang tinggal di lereng bukit. Karena itu, maka aku mengharap, bahwa anak-anak muda Lumban Wetan akan mendengarkan keteranganku” Tetapi Daruwerdi menggelengkan kepalanya sambil berkata “Jangan ganggu lagi aku dengan persoalan-persoalan semacam itu. Aku tidak sempat memikirkannya. Biar sajalah anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan saling berbenturan. Itu adalah salah mereka sendiri, karena mereka tidak mau berpikir dengan dewasa. Tetapi kesalahan yang terbesar justru ada padamu. Jika kau t idak berbuat apa-apa atas air itu, maka di padukuhan ini akan tetap dapat dipelihara kedamaian dan ketenangan. Sekarang keadaannya justru menjadi semakin buruk setelah kau menyalurkan air itu ke sungai dan yang kemudian diangkat ke sawah” Jlitheng menjadi sangat kecewa. Namun ia masih mencoba “Daruwerdi. Coba kau bayangkan. Jika benar-benar terjadi- benturan kekuatan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, apakah yang kira-kira Akan terjadi pada anak-anak Lumban Wetan. Kau telah membuat anak-anak Lumban KuIon kuat dan mampu berkelahi. Semenara anak-anak Lumban Wetan sama sekali t idak memiliki pengetahuan dalam olah kanuragan” “Ada cara terbaik untuk menghindar i benturan itu Jlitheng” berkata Daruwerdi. “Apa?“ bertanya Jlitheng. “Anak-anak Lumban Wetan jangan berkeras kepala. Turuti saja keinginan anak-anak muda Lumban Kulon” jawab Daruwerdi. “Itu tidak mungkin Daruwerdi. Jika tuntutan mereka terlalu berat sebelah” “Jika demikian, terserah kepadamu. Aku t idak tahu Jangan bicarakan lagi air dan segala macam persoalan yang lain” berkata Daruwerdi kemudian, lalu “Sudahlah, tidak berarti itu dengan aku. Aku mempunyai pekerjaan yang cukup banyak” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia harus kembali tanpa berhasil mendapat bantuan Daruwerdi untuk meredakan ketegangan yang terasa semakin memuncak. Namun dalam pada itu, kedatangan Jlitheng dan usaha- usahanya untuk meredakan ketegangan yang ada, justru berakibat sebaliknya. Anak-anak Lumban Kulon yang menganggap usaha Jlitheng itu akan menghambat keinginan mereka, telah bersepakat untuk bertindak lebih jauh. Nugata, anak Ki Buyut di Lumban Kulon telah mengambil sikap lebih keras. Ia tidak ingin Jlitheng berhasil mempengaruhi suasana, seandainya ia pada suatu saat datang kepada ayahnya. Karena itu. maka sebelum hal itu terjadi, Nugata telah menemui Daruwerdi untuk member itahukan, bahwa anak- anak Lumban Kulon akan segera membuka pintu air yang memasukkan air ke induk saluran air di daerah Lumban Kulon. “Kau tergesa-gesa” berkata Daruwerdi. “Aku tidak senang melihat usaha Jlitheng menemui beberapa pihak. Bukankah ia sudah menemui kau pula?“ berkata Nugjta. “Terserah kepadamu. Sudah aku kaktakan, aku tidak ikut campur“ desis Daruwerdi. Nugata termangu-mangu. Sebenarnya ia ingin membawa Daruwerdi. dengan demikian, maka tidak akan terlalu banyak yang harus dilakukan. Anak-anak muda Lumban Wetan tentu akan menjadi ketakutan dan memenuhi apa saja yang diminta oleh anak-anak muda Lumban Kulon. Karena itu, maka Nupatupun kemudian berkata “Daruwerdi. Aku sama sekali tidak berniat untuk memperalat kau. Aku tahu, bahwa kau sadar akan dirimu. Tetapi yang aku inginkan adalah, bahwa pertentangan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, tidak akan terlalu banyak menimbulkan keributan dan apalagi korban. Anak-anak Lumban Wetan nampaknya tidak mau mengakui keinginannya, Bahkan mereka menjadi keras kepala. Kehadiranmu bersama kami tentu akan meluluhkan hati mereka, sehingga dengan demikian akan memungut korban anak-anak muda Lumban Kulon dan tarlebih-lebih lagi anak-anak muda Lumban Wetan” “Apapun alasanmu” jawab Daruwerdi “itu berarti bahwa kau sudah memperalat aku” “Sudah aku katakan, maksudku t idak begitu” “Aku akan memikirkannya. Jangan memaksa aku menjawab seakrang” desis Daruwerdi. Nugata memang tidak dapat memaksanya, Karena itu, maka iapun berkata “Waktunya sangat sempit untuk menyelesaikan urusan ini. Aku harap kau segera mengambil keputusan, sawah masih basah. Dan kesempatan menanam padi masih panjang” Daruwerdi tidak menjawab. Dibiarkannya Nugata pergi meninggalkannya” “Aku lebih senang pertentangan ini terjadi berlarut-larut” berkata Daruwerdi di dalam hati “dengan demikian persoalanku kurang menarik perhatian orang” Karena itu, maka ketika ia bertemu dengan Nugata lagi, yang disanggupkannya adalah memperbanyak latihan olah kanuragan. Jika perlu setiap hari, pada saat-saat senggang. “Latihan-latihan itu tentu akan menggetarkan hati anak- anak muda Lumban Wetan” berkata Daruwerdi “akibatnya tidak akan banyak berbeda dengan keterlibatanku langsung dalam pertentangan itu” Nugata agak kecewa. Tetapi baginya itu lebih baik dilakukan dar ipada tidak sama sekali. Sehingga karena itulah, maka Nugatapun segera menghubungi kawan-kawannya untuk melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Daruwerdi. Sebenarinyalah latihan-Iatihan yang menjadi semakin sering dan semakin mantap itu telah menggetarkan hati anak- anak Lumban Wetan. Mereka menjadi semakin cemas, bahwa pada suatu hari, mereka akan mengalami kesulitan yang gawat. Apalagi ketika usahahanya untuk menghadap Ki Buyut Lumban Kulon telah dihalangi oleh Nugata dan kawan- kawannya. “Kembali sajalah Jlitheng“ ancam Nugata “Jika kau berkeras kepala, maka kau akan menjadi merah biru di seluruh tubuhmu. Wajahmu .akan menjadi bengkak-bengkak dan kawan-kawanmu di Lumban Wetan akan menjadi semakin ketakutan, karena kami tidak hanya berbicara saja tentang keinginan kami” Jlitheng tidak dapat memaksa. Ia masih meragukan, apakah dirinya akan mampu mengekang gejolak perasaannya, jika benar-benar anak-anak Lumban Kulon itu memukulinya. Jika demikian, maka ia akan segera diketahui, bahwa kehadirannya di Lumban bukannya tanpa maksud. Bahkon Daruwerdi mungkin akan mengambil sikap lain. Karena itu iapun mengurungkan niatnya untuk menemui Ki Buyut di Lumban Kulon. Namun denpm demikian suasana yang panas antara anak-anak muda Lumban Kulon dan anak- anak muda Lumban Wetan itu tidak dapat dikendalikan lagi. Diluar sadarnya, ketika matahari mulai bertengger diatas bukit diujung Barat, Jlitheng berjalan dengan lesu ke bukit kecil. Ia tidak tahan lagi menyimpan gejolak perasaannya, sehingga iapun ingin mendapat tempat untuk melupakan bebannya itu. Ia diterima oleh Kiai Kanthi itu dengan lembut, orang tua itu berkata “Aku mengerti kesulitanmu ngger” “Ya Kiai” sahut Jlitheng yang kemudian menceriterakan segala usaha yang nampaknya tidak akan berhasil. “Kau harus telaten. Bagaimana jika kau dengan diam-diam memasuki Kabuyutan Lumban Kulon langsung menghadap Ki Buyut” berkata Kiai Kanthi. “Mungkin aku berhasil. Tetapi jika setelah itu, anak-anak Lumban Kulon mendedamku dan separi yang dikatakan oleh Nugata, merekai beramai-ramai memukuli aku, apakah aku akan dapat berdiam dir i?“ Jlithenglah yang kemudian bertanya. Kiai Kanthipun termangu-mangu. Pertanyaan itu memang rumit bagi Jlitheng. Agak berbeda jika Jlitheng dengan terus terang menyatakan siapa dirinya dan langsung akan berhadapan dengan- Daruwerdi Karena menurut penilaian Kiai Kanthi, kemampuan Jlitheng tentu t idak berada di bawah kemampuan Daruwerdi. Dalam pada itu, selagi mereka sibuk berpikir, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda. Tidak banyak. Hanya dua ekor, yang menyusuri jalan setapek di hutan-hutan di lereng bukit itu. “Siapa Kiai“ bertanya Jlitheng. “Aku tidak tahu ngger” jawab Kiai Kanthi. Jlithengpun menjadi ragu-ragu. Namun diluar sadarnya, iapun segera membenahi pakaiannya. Sementara Swasti yang berada di dapurpun segera melangkah masuk. Bukan karena ia ketakutan. Tetapi ia harus mendapat petunjuk dari ayahnya, apa yang harus dikerjakannya, jika terjadi sesuatu diluar kehendak mereka. “Duduklah disini Swasti” desis ayahnya “kita tidak tahu, siapakah mereka dan apakah yang ingin mereka lakukan” Swastipun segera duduk di amben, meskipun tidak mengarah kepada Jlitheng. Kiai Kanthi yang melihatnya, menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menegurnya. Bahkan kemudian ia berkata “Marilah ngger. Kita melihat siapakah yang lewat“ Jlitheng mengikuti Kiai Kanthi yang berdiri di pintu. Tetapi Jlitheng sendiri, berada di bagian dalam pintu yang sedang terbuka itu. Dengan demikian, maka Jlitheng tidak dapat langsung melihat dan dilihat oleh kedua orang berkuda yang sudah berada beberapa langkah saja dari pintu gubug Kiai Kanthi, dan karena itu merekapun berhenti, karenanya. “Ada juga rumah di lereng bukit ini“ terdengar salah seorang dari kedua, penunggang kuda itu berkata. “Ya ngger” sahut Kiai Kanthi “nampaknya memang agak aneh bahwa aku telah tinggal bersama keluarga kecilku di lereng bukit yang sepi ini. Tetapi agaknya hanya tanah inilah yang dapat menerima aku” Kiai Kanthi berhenti, sejenak, lalu “Tetapi siapakah anggar ini dan apakah maksud angger naik ke lereng bukit ini?“ “Kami berdua adalah pemburu yang menjelajahi hutan demi hutan. Kami mengumpulkan kulit harimau, kulit kijang dan rusa. Bahkan kamipun mengumpulkan kulit buaya yang dapat kami tangkap di kedung-kedung dan rawa-rawa” “O” Kiai Kanthi mengangguk-angguk “Dan anggar berdua akan berburu di hutan ini“ “Ya. Bukankah di hutan ini masih banyak terdapat binatang buas?“ tanya salah seorang dari mereka. “Masih ada ngger. Tetapi sebenarnya tidak begitu banyak lagi. Binatang buas ada di dataran di puncak bukit ini. Tetapi kadang-kadang seekor harimau juga turun sampai ke lambung bukit itu” jawab Kiai Kanthi. “Dan kau tidak takut?“ bertanya salah sarang dan keduanya” “Binatang buas itu tidak pernah mengusik kami sekeluarga” desis Kiai Kanthi meskipun agak ragu. “Dengan siapa kau tinggal disini kek?“ salah seorang dari keduanya. “Dengan anak-anakku. Seorang laki- laki dan seorang perempuan” jawab Kiai Kanthi tanpa berprasangka. Kedua pemburu itu tentu akan segera berlalu Mungkin mereka akan berhenti sebentar memandang Jlitheng dan Swasti. Namun merekapun akan segera melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan mereka. Sebenarnyalah maka salah seorang dari mereka berdua yang masih berada diatas punggung kuda itupun berkata “Baiklah kakek tua, Kami akan melanjutkan perburuhan kami Tetapi karena ada gubug di lereng bukit ini, mungkin sekali kami akan singgah satu dua kali. Bahkan mungkin kami akan kerasan berada di lereng bukit ini sampai binatang buas terakhir dapat kami tangkap“ Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun iapun barkata “Terserah kepada angger berdua. Tetapi kami tidak mempunyai tempat untuk mempersilahkan angger berdua memasuki gubug kami” Kedua orang itu tertawa. Kemudian salah seorang dari mereka t iba-tiba saja bertanya “Dimana anak-anakmu” Kiai Kanthi berpaling. Ternyata Jlitheng masih berada dibagian dalam, sementara kedua orang berkuda itu tidak tepat berada, di depan pintu, sehingga keduanya tidak sempat melihat Jlitheng. “Marilah” berkata Kiai Kanthi kepada Jlitheng “kedua pemburu itu ingin melihat anakku laki- laki” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Kiai Kanthi telah menyebutnya sebagai anaknya laki-laki. Namun Jlitheng sama sekal tidak berkeberatan, sehingga karena itu, maka iapun kemudian melangkah maju dan berdiri di sebelah Kiai Kanthi. "Namun kehadirannya ternyata telah mengejutkan salah seorang dari kedua pemburu itu. Sementara Jlithengpun terkejut pula melhat kehadirannya. Hampir diluar sadar mereka berdua bersamaan berdesis ”Kau” Kiai Kanthi menjadi heaan. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Apakah kalam pernah bertemu?“ “Bantaradi” desis pemburu berkuda yang berada di depan. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Orang itu ternyata mengenalnya. Karena itu ia tidak dapat ingkar lagi. Dengan nada dalam ia berkata “Kau Semi. Ternyata kau datang begitu cepat“ “Semuanya akan berlangsung cepat. Tetapi agaknya kau berbuat lebih cepat lagi” Jlitheng tersenyum. Namun yang kemudian berkata adalah Kiai Kanthi “Siapakah sebenarnya angger ini?” Jlitheng memandang Kiai Kanthi sejenak. Namun kemudian katanya “Kiai, apakah aku dapat mempersilahkan keduanya untuk masuk dan duduk di dalam” “Jika kau sudah mengenalnya. silahkan. Tentu aku t idak akan berkeberatan” jawab Kiai Kanthi. “Bukankah kalian sudah mendengar, bahwa Kiai Kanthi tidak berkeberatan aku mempersilahkan kalian singgah. Marilah. Ini adalah gubug ayah angkatku, Di dalam ada adik perempuanku“ Tetapi Swasti sama sekali tidak berminat menemui tamu- tamu yang dipersilahkan singgah itu. Justru iapun kemudian bangkit dan melangkah ke dapur sebelum kedua orang yang menyebut dirinya pemburu itu turun dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sesaat kamudian, maka kedua orang yang menyebut dirinya itu pemburu, menambatkan kuda mereka dan memasuki gubug kecil diikuti oleh Kiai Kanthi. “Silahkan, silahkan” berkata Kiai Kanthi “perabot rumah memang, hanya sebuah amben itu ngger. Silahkan duduk” Kedua orang itupun segera duduk pula bersama Kiai Kanthi dan Jlitheng yang dikenal bernama Bantaradi itu. “Aku tidak menyangka, bahwa aku dapat menjumpaimu secepat ini” berkata Semi. Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya “Akupun tidak menyangka bahwa kau akan bertindak secepat ini. Bagaimana dengan kakakmu?“ “Aku belum mendapat petunjuk lebih lanjut” desis Semi. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Kanthi sambil berkata “Maaf Kiai. Ternyata aku telah bertemu dengan orang yang mempunyai kepentingan sama dengan kehadiranku di daerah ini. Mungkin masalahnya belum begitu jelas bagi Kiai tetapi pada saatnya Kiai akan mengetahui segala-galanya. Kiiai Kanthi tersenyum sambil berkata “Aku mengerti ngger. Tentu ada persoalan yang aku tidak perlu mengetahui sekarang. Baiklah. Mungkin pada saatnya angger memberi kesempatan aku mengetahuinya” Namun tiba-tiba saja dari balik dinding terdcngar suara Swasti “Buat apa ayah mengetahuinya? Jika memang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan kita dan kalau menurut pendapat orang lain kita tidak per lu mengetahuinya, biarlah kita tidak mengetahuinya”. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Swasti yang berada di balik dinding tidak mengetahui bahwa Kiai Kanthi tersenyum dan memberi isyarat kepada Jlitheng untuk tidak menanggapinya. “Siapa?“ Semilah yang bertanya. “Adikku” jawab Jlitheng. “Sikapmu tidak meyakinkan“ terdengar suara Swasti “sebagaimana kau menyebut ayah tidak sewajarnya sebagai seorang anak” Jlitheng tertawa. Kiai Kanthlipun tersenyum. Namun mereka berusaha agar Swasti tidak mengerti dan mendengar sikap mereka. Semi menjadi heran. Namun iapun kemudian menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Jlitheng adalah orang yang dapat mencala putra pancala putri sehingga ia akan dapat membuat dirinya dalam seribu macam ujud dan sikap. Dengan demikian iapun mengerti, bahwa Jlitheng tentu bukan anak Kiai Kanthi seperti yang dimaksudkannya. Karena itu, maka ia tidak tertanya lagi tentang gadis yang berada di balik dinding itu. “Baiklah Semi“ berkata Jlitheng kemudian “Kita akan dapat menentukan langkah-langkah yang dapat kita ambil. Tetapi sudah tentu tidak segera. Kita masih harus melihat perkembangan keadaan dan adalah satu kebetulan bahwa di daerah ini telah tumbuh satu persoalan tersendiri” Semi menggangguk-angguk. Lalu katanya “Kau yang sudah lebih mengenai daerah ini. Kau akan dapat menentukan langkah-langkah yang bagimu dan juga bagiku menguntungkan. Kau dapat melanjutkan perburuanmu. Kau dapat mohon kepada Kiai Kanthi untuk t inggal bersamanya selama kau berada di hutan ini j ika Kiai Kanthi tidak berkeberatan” berkata Jlitheng kemudaan. “Sudah aku katakan” berkata Kiai Kanthi “Aku tidak akan berkeberatan. Aku akan dapat memberikan apa yang aku punya. Tetapi sudah aku katakan pada bahwa gubug ini terlalu sempit dan perabot yang adapun seperti yang lihat sekarang” “Itu sudah memadai” berkata Semi “Aku adalah seorang pemburu yang terbiasa tidur di tempa terbuka berselimutkan embun” “Jika demikian, terserahlah. Aku bahkan senang sekali menerima angger berdua singgah di gubug kecil ini” berkata Kiai Kanthi pula. Swasti yang ada di balik dinding bergeremang meskipun hanya didengar sendiri. Katanya “Dan aku harus tidur di dapur, beralaskan ketepe sehelai “ Namun Swasti itupun tersenyum sendiri ketika teringat olehnya bagaimana mereka ia untuk pertama kali berada di tempat itu. Tidur pada rerumputan ker ing dan di tempat terbuka pula. Demikianlah, maka setelah beristirahat beberapa lama. Semipun minta dir i untuk mengenal hutan yang akan menjadi medan perburuannya. Bahkan sebenarnyalah bukan saja bukit berhutan itu, tetapi Lumban Wetan dan Lumban Kulonpun akan dijelajahinya menjelang kehadiran orang-orang Sanggar Gading yang akan membawa seorang Pangeran yang sedang sakit. Dalam pada itu, maka Jlithengpun telah pergi juga bersama kedua orang pemburu yang menitipkan kuda mereka di gubug Kiai Kanthi itu. Sementara hutan itupun menjadi semakin kelam. Langit masih nampak semburat merah, namun sebentar kemudian cahaya itupun hilang ditelan oleh kehitaman. Ketika ketiganya telah berada diantara pepohonan hutan, maka merekapun segera berhenti dan duduk diatas bebatuan. Karena sebenarnyalah bahwa Semi ingin mendengar beberapa keterangan tentang daerah itu dari Jlitheng. “Daerah ini sedang bergejolak” berkata Jlitheng. “Kenapa?“ bertanya Semi. “Mereka telah disibukkan oleh air” sahut Jlitheng yang kemudian menjelaskan persoalan yang kebetulan saja terjadi di Lumban justru pada saat persoalan pusaka yang tersembunyi itu hampir tersingkap. “Aku tidak dapat berbuat kasar terhadap Daruwerdi” berkata Jlitheng kemudian?” karena ia memang mengenal aku. sebagai seorang anak petani. Jika pada suatu saat ia mengenali aku sebagai searang yang lain dari yang dikenalnya sehari-hari, maka sudah tentu bahwa ia akan mengambil satu sikap khusus. Ia akan menghubungkan persoalan yang dihadapinya bersama-sama orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Pusparurii atau orang-orang dari kelompok- kelompok yang lain, dengan kehadiranku yang tersamar disini. Semi mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti kesulitan Jlitheng menghadapi persoalan air di Lumban. Ia tidak akan dapat dengan serta merta berdiri diantara anak-anak Lumban Wetan untuk menghadapi anak-anak muda Lumban Kulon, tanpa menarik perhatian Daruwerdi secara khusus. “Semi“ tiba-tiba saja Jlitheng berkata “kau orang baru sama sekali disini, kau adalah pemburu yang datang dari jauh untuk mencari binatang hutan yang mungkin kulitnya akan kau jual atau alasan-alasan lain. Karena itu kau tidak mempunyai hubungan apapun juga dengan persoalan Daruwerdi” “Ya. Jika Daruwerdi merasa, bahwa ada hubungan antara kedatanganku dengan persoalan yang sedang digarapnya, maka itu merupakan pertanda kegagalanku” jawab Semi, yang kemudian bertanya “Jlitheng, apakah kau yakin bahwa Daruwerdi atau memang sebenarnya hanya seorang diri. Seorang yang berbuat seorang diri bagi dir inya sendiri” “Sampai saat ini aku berpendapat demikian” berkata Jlitheng “Tetapi memang tidak mustahil bahwa ada kekuatan lain di belakangnya yang barangkali justru akan dapat mengejutkan” “Lalu, apa maksudmu dengan kehadiranku sebagai orang baru sama sekali disini?“ bertanya Semi. “Disamping persoalan yang akan menyangkut orang-orang Sanggar Gading, kau dapat berbuat sesuatu yang akan sangat bermanfaat bagi Lumban. Khususnya Lumban Wetan, desis Jlitheng. Semi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau akan membenturkan aku dengan. Daruwerdi sebelum persoalan yang sebenarnya harus aku lakukan?“ Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Tetapi persoalannya akan terpisah. Dengan demikian Daruwerdipun akan menghadapi masalah yang tidak dikehendakinya sebelum persoalan yang sebenarnya ditunggunya di sini. Semi termangu- imangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada kawannya, maka kawannya berkata “Tugas kita bukan tugas yang dapat dikerjakan sambil lalu. Karena itu, sebaiknya kita tidak berbuat sesuatu sebelum kita dapat menyelesaikan tugas yang penting itu” Semi menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menyahut, Jlitheng berkata “Semi. Jika kau mau, mungkin kau tidak harus berbuat seperti yang kau cemaskan. Mungkin Daruwerdi akan merubah sikapnya sampai persoalan yang sesungguhnya itu harus kita lakukan” “Memang ada seribu kemungkinan yang dapat terjadi atas sesuatu masalah Jlitheng” berkata Semi “Tetapi jika kemungkinan yang terjadi itu justru kemungkinan yang tidak kita kehendaki, maka kita akan mengalami kesulitan” “Dengarlah” berkata Jlitheng “Aku hanya mengharap kau hadir di Lumban sebagai seorang pemburu. Yang akan kami minta kepadamu adalah sekedar memberikan latihan kanuragan kepada anak-anak Lumban Wetan seperti yang dilakukan oleh Daruwerdi di Lumban Kulon. Kau dapat menunjukkan beberapa kelebihanmu, sehingga Daruwerdi yakin, setidak-tidaknya membuat satu pertimbangan bahwa melawanmu akan menumbuhkan persoalan tersendiri baginya sebelum ia berbasil berbuat sesuatu dengan orang-orang Sanggar Gading” Semi masih tetap ragu-ragu. Sementara kawannya berkata “Apakah keuntungan kita berbuat demikian. Kita adalah petugas yang khusus dalam masalah ini. Jika kita sudah mendapat kesulitan, apalagi justru karena itu tugas kita. akan terhambat, maka kita akan mendapat kesulitan untuk mempertanggung-jawabkannya” “Kita akan mempunyai beberapa keuntungan” jawab Jlitheng “terutama bahwa dengan demikian kemungkinan yang dapat timbul antara anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan dapat dihindari atau diperkecil. Seandainya anak-anak Lumban Kulon tetap berniat untuk memaksakan kehendaknya atas Lumban Wetan, namun Daruwerdi sendiri akan membuat perhitungan yang lebih cermat. Seperti kalian, ia justru tidak ingin tugas pokoknya disini terganggu. Apakah tugas itu dibebankan oleh orang lain atau oleh dir inya sendiri” Semi masih bimbang. Sementara Jlitheng berkala “Jika pertentangan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan itu berlangsung juga, maka kitapun akan mengalami kesulitan dalam tugas yang harus kita lakukan. Karena dengan demikian pertentangan itu akan menarik perhatian orang-orang Sanggar Gading, sehingga mungkin mereka akan mengambil satu sikap khusus atas peristiwa itu. Jika mereka salah langkah, kita akan dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas anak-anak, muda Lumban Kulon atau Lumban Wetan, Lebih dari itu, bukankah kira. juga. memperhitungkan orang-orang Pusparuri. Kendali Pulih dan mungkin orang-orang Gunung Kunir, atau dari pihak manapun juga. Bahkan mungkin prajur it Damak dalam gelar keprajuritan akan langsung bertindak karena mereka tentu akan mendapat keterangan bahwa seorang Pangran telah hilang. Tidak mustahil bahwa petugas sandi yang lain yang tidak mempunyai hubungan khusus dengan kau dan Rahu telah mencium jejak Pangeran yang hilang itu” Semi menjadi bertambah bimbang. Keterangan Jlitheng dapat memberikan gambaran sedikit tentang medan yang lain yang harus diperhatikan. “Aku memang harus memperhitungkan” berkata Semi kepada kawan-kawannya “Jika kita akan menghadapi persoalan Sanggar Gading di daerah yang sedang bergejolak ini maka kita harus mempertimbangkan semua persoalan yang tentu akan saling terkait“ “Tetapi bagaimana jika hal itu justru dapat mengangagu tugas kita. Seandainya, kita sudah terlalu banyak mengerahkan tenaga sebelumnya, sementara peristiwa dengan orang-orang Sanggar Gading itu terjadi, kita tidak akan dapat berberbuat banyak” Sahut kawan Semi. “Yang kita hadapi bukannya satu hal yang terlepas sama sekali dengan keadaan daerah Sepasang Bukit Mati ini” berkata Semi kemudian “karena itu, anggaplah apa yang dimaksud Bantaradi ini sebagai satu usaha untuk membersihkan medan. Karena aku dapat mengerti, seandainya Bantaradi sendiri, yang selama ini dapat kita perhitungkan berdiri di pihak kita, maka. mungkin sekali keadaan medan akan berubah” Kawannya mengangguk-angguk. Meskipun nampaknya ia masih belum puas dengan keterangan Semi, namun agaknya ia mulai mencoba untuk menerima pikiran Jlitheng. “Kita akan berbuat dengan hati-hati” berkata Semi kemudian. ”Mungkir i dapat dicoba. Tetapi jika kita menemui satu peristiwa yang memaksa kita harus bersikap lain aku berharap bahwa kita t idak terikat dengan pekerjaan ini” berkata kawannya. “Ya. Aku sependapat” sahut Semi. “Terima kasih” berkata Jlitheng “Aku harap, kita akan segara mulai. Kehadiranmu di Lumban Wetan aku tunggu. Ingat, namaku Jlitheng. Jangan menyebut nama lain yang dapat mengejutkan anak-anak Lumban” “Baiklah. Besok pagi-pagi kami akan memasuki Lumban dengan seekor binatang buruan. Mungkin seekor harimau. jika tidak aku dapatkan seekor harimau, aku akan membawa buruan apa saja yang dapat aku pergunakan sebagai pancatan untuk menunjukkan satu kelebihan” “Terima kasih” desis Jlitheng. “Kaulah yang mengajar i aku untuk bersikap sombong. Nampaknya kau memang orang berbakat untuk berpura-pura sehingga kau telah membuat aku melakukannya juga” desis Semi. “Kau aneh. Kau sudah berpura-pura. Bukankah kehadiranmu yang rahasia disini juga satu kepura-puraan. Kenapa kau tidak menyebut dirimu petugas sandi dari Demak” desis Jlitheng. Semi tersenyum. Jawabnya “Baiklah. Sepanjang kita masih tetap berbuat sesuatu bagi kepentingan Demak dan rakyatnya. Aku akan mencobanya. Besok pagi aku akan datang sebagai seorang pemburu yang harus dikagumi dan akhirnya menarik perhatian Daruwerdi, agar ia membuat penilaian terhadap sikapnya atas anak-anak muda Lumban” “Kau sudah memahami maksudku, terima kasih. Sekarang aku akan kembali ke Lumban Wetan. Besok aku akan mengagumi seorang pemburu yang berimu tinggi, cerdik dan murah hati meskipun agak sombong“ Semi tersenyum. Namun ia masih berkata Tetapi kita harus memperhitungkan akibat yang mungkin timbul dari tingkah laku ini. Jika ternyata akan mempunyai akibat yang kurang baik terhadap tugasku, maka aku akan menghent ikannya. “Terserahlah. Tetapi aku juga mempunyai kepentingan sehingga akupun akan memperhatikannya” sahut Jlithcng. “Selama ini aku akan tinggal pada orang tua di lereng bukit dtu. Nampaknya ia orang yang dapat dipercaya” desis Semi. “Ya. Dan kau harus mempelajari banyak hal tentang orang tua itu jawab Jlitheng “Tetapi menurut pendapatku ia memang dapat dipercaya” Demikianlah, maka Jlithengpun kemudian meninggalkan Semi dan kawannya langsung turun ke padukuhannya. Tetapi ketika ia kemudian berada di gardu perondan bersama baberapa orang kawannya, ia sama sekali tidak mengatakan sesuatu tentang seorang anak muda yang besok akan datang bersama seorang kawannya dengan membawa binatang buruan. Sebenarnyalah, keadaan anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon menjadi semakin tegang. Jlitheng tidak dapat ingkar lagi terhadap satu kenyataan, bahwa anak-anak muda Lumban Kulon memang ingin memaksakan kehendaknya atas anak-anak Lumban Wetan. Mereka ternyata merasa jauh lebih kuat, sehingga menurut perhitungan mereka, jika anak-anak Lumban Wetan tidak mau memenuhi tuntutan mereka, maka anak-anak Lumban Kulon akan memaksa dengan kekerasan. “Tanah persawahan kami lebih luas dan tempatnya lebih tinggi” berkata anak-anak Lumban Kulon “karena itu, maka pintu air yang menuangkan air ke daerah Lumban Kulon harus lebih lebar. Apalagi bukit berhutan dan bendungan di sungai itu terletak di daerah Lumban Kulon” Anak-anak Lumban Wetan sama sekali tidak yakin akan kebenarannya pendapat anak-anak Lumban Kulon itu. Tetapi mereka selalu dibayangi oleh kecemasan bahwa anak-anak Lumban Kulon akan mempergunakan kekerasan dan apalagi apabila Daruwerdi ikut campur pula. “Aku tidak berhasil menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon” berkata Jlitheng kepada kawan-kawannya yang duduk di gardu. “Bagaimana dengan Ki Buyut di Lumban Wetan“ seseorang berdesis. “Ki Buyut akan bersedih hati” berkata Jlitheng “apalagi mengingat masa lampau dari Lumban yang sebenarnya hanya satu” “Kita sudah menyatakan persoalan ini” berkata anak muda yang bertubuh tinggi “Tetapi agaknya Ki Buyut yang ingin menemui saudara kembarnya itu masih belum berhasil. Bukankah dua orang diantara kita, pernah datang ke Lumban Kulon sebelum Jlitheng melakukannya, untuk minta waktu bagi Ki Buyut yang ingin bertemu dengan saudara kembarnya, tetapi kita tidak berhasil menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon?“ “Akupun yakin, Ki Buyut di Lumban Kulon tidak mengetahui persoalan yang sedang berkecamuk antara kedua padukuhan ini“ berkata Jlitheng. Tetapi kawan-kawannya hanya dapat menggeleng kepala “Tidak ada jalan yang dapat kita, lakukan untuk mencegah tingkah laku anak-anak Lumban Kulon. Hadirnya Daruwerdi di Lumban Kulon menambah kesombongan mereka. Seandainya Daruwerdi tidak terlibat langsung dalam persoalan ini, ia sudah melakukan diluar sadarnya, karena ia tetap memberikan latihan olah kanuragan, meskipun .ia mengetahui, bahwa hanya anak-anak Lumban Kulon sajalah yang mengikutinya” Jlitheng tidak menjawab lagi. Kepalanya terangguk-angguk lemah, sementara jantungnya, terasa berdebaran. Sejak semula ia sudah membayangkan kemungkinan buruk itu. Tetapi tidak begitu cepat dan tidak begitu tajam seperti yang telah terjadi. “Mudahmudahan kehadiran Semi dan kawannya akan membuat, anak-anak muda Lumban Kulon harus berpikir ulang” katanya di dalam hati. Menjelang dini hari, JIitheng dan dua orang kawannya turun dari gardu dan berjalan menyusuri jalan padukuhan. Rasa-rasanya malam menjadi semakin sepi dan dingin. Ketika Jlitheng memandang bentangan sawah yang disaput oleh warna kelamnya malam, terasa jantungnya kerdebaran. Padi yang tumbuh subur kehijauan karena tanah menjadi basah, akan menjadi kuning kemerah-merahan, jika anak-anak Lumban Kulon benar-benar memaksakan kehendaknya, membuka pintu air yang lebih lebar dari pintu air yang menuangkan air ke sawah-sawah di Lumban Wetan, karena jarak capai aliran air di parit-parit akan menjadi semakin pendek. Bagian yang telah menjadi hijau, akan kembali dibayangi oleh warna-warna gersang dan tandus. Hanya sebagian kecil sajalah sawah di Lumban Wetan yang dapat dipertahankan menjadi hijau segar. “Meskipun yang sedikit itu sudah lebih baik dari tidak sama sekali, tatapi rasa keadilan ini banar-benar telah tersentuh” berkata Jlitheng kepada diri sendir i. Tidak terasa, Jlitheng dan dua orang kawannya itu telah memutari padukuhan. mereka. Bahkan merekapun kemudian menyusuri bulak pendek menuju kepadukuban sebelah, yang masih termasuk daerah Kabuyutan Lumban Wetan. Gemer icik air di parit yang membujur di tepi jalan itu terdengar sangat memelas. Seolah-olah terasa betapa aliran yang kecil itu sedang menjadi persoalan yang gawat. Bahkan mungkin parit itu akan menjadi salah satu jalur yang akan menjadi kering. “Fajar” desis salah seorang kawan Jlitheng. “Ya, sebentar lagi, pagi akan datang” sahut yang lain “Tetapi marilah kita kembali ke gardu. Aku hanya sempat tidur sekejap lewat tengah malam” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya “Marilah. Kita tidak mencapai padukuhan sebelah” “Kita akan kesiangan. Mungkin anak-anak di gardu diujung padukuhan itupun sudah pulang pula” sahut kawannya. Mereka bertigapun kemudian melangkah kembali ke padukuban. Sementara langit menjadi semakin terang oleh cahaya pagi. Namun langkah mereka terhenti, ketika lamat-lamat mereka mendengar derap kaki kuda. Dalam keheningan pagi derap kaki kuda itu terdengar bagai memutari lembah dan lereng bukit. Jauh namun tiba-tiba terdengar dekat di sekitar mereka. Jlitheng dan kedua kawannya menjadi gelisah. Derap kaki kuda itu seolah-olah telah menyayat keheningan pagi di daerah yang sedang dipanasi olah ketegangan antara anak- anak mudanya. “Siapa?“ bertanya kawan Jlitheng. Tetapi Jlitheng justru, mengulangi “Siapa?“ Yang lainpun semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya suara derap kaki kuda itu semakin lama semakin keras menghentak- hentak dadanya. “Marilah, kita lari kembali ke padukuhan“ ajak kawan Jlitheng. Jlitheng tidak menjawab. Tetapi iapun sudah siap untuk meloncat berlari. Tetapi ternyata mereka tidak sempat melakukannya. Sejenak kemudian dar i keremangan dini har i mereka melihat dua ekor kuda muncul berlari menuju kearah mereka. “Tidak ada kesempatan” desis Jlitheng. Kawannyapun mengurungkan niatnya. Namun dengan suara gemetar ia, berdesis “Siapa he? Daruwerdi?“ Yang lain berdesis “Mudah-mudahan“ “Tetapi sepagi ini“ Jlitheng ragu. Tetapi mereka tidak sempat terlalu lama berbincang. Sejenak kemudian dua ekor kuda itu telah mendekat. Dalam pada itu, ketiga anak muda dari Lumban Wetan itu segera menepi. Rasa-rasanya kaki mereka bergetar oleh kegelisahan dan kecemasan. Apa lagi ketika kedua ekor kuda itu mengurangi kecepatan dan tiba-tiba saja berhenti dihadap an mereka. “He, siapa kalian?“ bertanya salah seorang penunggang kuda itu, Namun keduanya mengerutkan keningnya ketika mereka melihat Jlitheng ada diantara mereka. “Kami anak-anak dari Lumban Wetan“ Jlithenglah yang menjawab. “Dari mana atau kemana kalian berada disini di dini hari?“ bertanya orang berkuda itu. “Kami sedang mengelilingi padukuhan yang termasuk dalam daerah Kabuyutan Lumban” jawab Jlitheg. “Jadi kalian anak-anak dar i padukuhan di sekitar tempat ini?“ bertanya orang berkuda itu. “Ya Ki Sanak“ suara Jlitheng, bergetar “Tetapi siapakah kalian berdua” “Aku pemburu yang mencar i buruan di hutan-hutan Malam tadi aku tertarik berburu di hutan yang menyelubungi bukit itu” jawab salah seorang dari keduanya. “O“ Jlitheng mengangguk-angguk. Dipandanginya seekor binatang yang tersangkut dibelakang penunggang yang seorang lagi. Hampir diluar sadarnya Jlitheng bertanya ”Seekor harimau loreng?“ “Ya” jawab penungang kuda itu “Kami memerlukan kulitnya. He, apakah orang-orang padukuhanmu dapat membantu kami?“ “Untuk apa?“ bertanya Jlitheng. “Menguliti har imau itu. Lebih baik aku lakukan disini Kemudian aku tinggal membawa kulitnya saja. Aku kira, itu lebih baik daripada aku membawa seekor harimau kembali dan menguliti di rumahku” Kedua kawan Jlitheng itupun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kedua orang berkuda itu bukan orang-orang jahat yang akan mencelakai mereka. Justru mereka ingin mendapat bantuan orang-orang Lumban. Karena itu, salah seorang dari kedua, kawan Jlitheng itu berkata ”Kami akan melakukannya dengan senang hati. Marilah silahkan datang ke padukuhan kami” “Terima kasih. Kemana aku harus datang? Ke rumah Ki Buyut, atau kepada siapa?“ bertanya orang berkuda itu. “Datanglah ke banjar. Kami akan membantu” jawab kawan Jlitheng yang lain, yang sudah berhasil mengatur perasaannya yang gelisah. “Marilah, kita pergi bersama-sama” berkata orang itu “aku belumtahu dimana letak banjar padukuhanmu” “Tetapi kami hanya berjalan-kaki” berkata Jlitheng. “Biar lah, kami akan menuntun kuda-kuda kami” jawab salah seorang dari kedua penunggang kuda itu ”nampaknya menyenangkan sekali berjalan di dalam kabut yang keputih- putihan didini har i” Kedua kawan J litheng mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata “Naik sajalah di punggung kuda“ “Itu tiidak sopan” jawab orang berkuda itu sambal meloncat turun “Kami akan berjalan bersama kalian” Kawannyapun meloncat turun pula meskipun agak malas. Tetapi mcrekapun kemudian berjalan menyusuri jalan bulak yang pendek, langsung menuju ke banjar padukuhan sebelah. Berita kehadiran kedua orang pemburu dengan seekor harimau itu memang menair ik hati beberapa orang anak muda yang telah pulang dari gardu. Mereka yang sedang menyapu halaman, dan melihat harimau itupun bertanya, apa yang telah terjadi. Dengan lagak yang mantap, seolah-olah ia lebih mengetahui dari kedua pemburu itu sendiri. Jlitheng menerangkan segala sesuatu tentang harimau yang mat i itu. Beberapa orang anak mudapun segera berkumpul di banjar. Langit yang buram menjadi semakin merah, dan kabut pagipun muliai terkuak. Anak-anak muda Lumbon Wetanpun segera memerkenalkan diri kepada kedua anak-anak muda yang menyebut diri mereka pemburu itu. Mereka mengerumuni tubuh harimau yang terkapar di halaman banjar. “Tidak ada luka-lukanya. Dengan apa kau membunuhnya?” bertanya Jlitheng. “Dengan tangan” jawab salah seorang dari keduanya seorang anak muda bertubuh kekar dan meyakinkan. “Bagaimana mungkin“ seorang anak muda Lurnba Wetan bertanya dengan heran “Daruwerdi juga pernah melakukan“ desis Jlitheng. “Tetapi ia selalu membawa pisau belati. Dengan belati itu ia membunuh harimau. Tetapi dengan demikian kulit harimau itu berlubang pula karena bekas ujung pisaunya, bahkan di beberapa tempat” desis seorang anak muda. Pemburu yang masih cukup muda itu tersenyum. Katanya “Bukan persoalan yang sulit. Aku memang lebih senang mendapat kulit yang utuh. Harganya tentu lebih mahal dari kulit yang sudah berlubang” Anak-anak muda Lamban itupun mengangguk-angguk. Merekapun tahu, bahwa kulit harimau yang utuh harganya memang lebih mahal, karena kulit itu tidak cacat jika dipergunakan sebagai hiasan rumah orang-orang kaya di kota. Pagi itu anak-anak muda Lumban membantu kedua orang pemburu itu menguliti seekor har imau loreng yang besar. Tetapi sebenarnya mereka lebih banyak menonton dan justru mengganggu. Namun agaknya kedua pemburu itu sama sekali tidak merasa terganggu. Justru ia dengan gembira berkelakar dengan anak-anak muda Lumban Wetan. “He, apakah kalau berdua masih akan berburu malam nanti, atau besok atau sampai kapanpun dibukit itu?“ tiba-tiba saja Jlitheng bertanya. ”Tidak” jawab pemburu itu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Dengan nada yang aneh ia bertanya “Kenapa, tidak?“ “Aku sudah mendapat seekor harimau. Aku akan pulang nanti” jawab pemburu itu. Jlitheng memandangi wajah pemburu itu dengan tegangnya. Namun dengan ragu-ragu ia bertanya “Kenapa kau tidak membawa sekaligus dua atau tiga lembar kulit har imau?“ Pemburu itu tertawa. Katanya “Apakah kau lebih senang aku tinggal disini untuk satu dua hari?“ Jlitheng mengumpat di dalam hati. Apalagi ketika ia melihat pemburu itu tertawa berkepanjangan. “Kau Gila“ desis Jlitheng yang hanya didengar oleh pemburu itu. “Jika kalian bersedia memberi tempat penginapan selama aku disini, aku tidak berkeberatan tinggal disini satu dua hari atau lebih. Karena aku tidak mempunyaa bekal cakup untuk hidup disini lebih dari dua har i. Jika aku tinggal di gubug orang tua di lereng bukit itu, tentu aku akan menjadi beban yang berat bagi mereka” “Kami akan mangusahakan” jawab Jlitheng “kalian akan tinggal di banjar. Kami akan menyediakan makan bagi kalian meskipun hanya sekedarnya, sesuai dengan kebiasaan, kami disini. Nasi, kadang-kadang jagung dengan dedaunan. Jika kalian memerlukan daging, kalian dapat mengambil sendir i di hutan itu” Jlitheng berhenti sejenak, sementara kawan- kawannya tersenyum. Namun Jlitheng masih meneruskan “Tetapi ada jasa timbal balik. Kau dapat tinggal disini sambil berburu, sementara kami menyediakan makan dan minum bagi kalian. Tetapi kalaupun harus memberikan sesuatu kepada kami” “Apa?. Harimau, kijang atau kelinci?“ bertanya pemburu itu. Jlitheng terrnangu-mangu sejenak. Namun kemudian kaitanya meskipun agak ragu-ragu “Olah kanuragan. Kalian adalah orang yang mampu membunuh seekor harimau. Tentu kalian memiliki ilmu. Karena itu, kalian waj ib mengajari kami selama kalian berada disini” Tiba-tiba saja, diluar dugaan, anak-anak muda Lumban Wetan yang mendengarkan pembicaraan itupun bersorak sambi berteriak “Setuju. Kami setuju sekali“ Pemburu itu tersenyum. Dipandanginya anak-anak muda yang dengan serta marta berteriak dergan penuh gairah itu. Namun akhirnya pemburu itu berkata disela-sela senyumnya “Aku tidak mau. Kalian akan menjadi sainganku berburu di hutan itu. Jika demikian aku tidak akan mendapat apapun lagi diatas bukit itu kecuali kelinci-kelinci kecil” “Kami tidak akan menjadi pemburu“ salah seorang anak muda tiba-tiba saja berteriak “Jika kami ingin berburu, kami sudah mempunyai cara sendir i. Kami dapat membuat perangkap dengan memberikan, umpan seekor kambing. Kamipun akan mendapatkan seekor harimau. Bahkan jika perlu harimau itu akan dapat kami tangkap tanpa bekas luka sama sekali. Kami biarkan harimau itu kelaparan di dalam perangkap” “Jadi untuk apa?“ bertanya pemburu itu. Tidak seorangpun yang segera menjawab. Beberapa orang anak muda saling berpandangan. Namun akhirnya Jlithenglah yang menjawab "Ki Sanak. Sebentar lagi Lumban Wetan dan Lamban Kulon akan menjadi daerah yang subur. Kesejahteraan akan menyelimuti daerah yang sekarang tandus, dan miskin ini. Karena itu, sebelum harapan itu pada suatu saat akan menjadi kenyataan, maka biarlah kami mempersiapkan dir i untuk menjadi pengawal yang baik bagi padukuhan ini” Kedua pemburu itu tertawa. Yang seorang berkata “Kalian adalah anak-anak muda yang baik. Tetapi bukankah seorang anak muda yang bernama Daruwerdi sudah berada di Lamban Kulon dan member ikan latihan kanuragan” “Kau kenal dengan Daruweri?“ bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu. “Aku hanya mendengar namanya” jawab pemburu itu. “Tetapi ia hanya bersedia member ikan latihan kepada anak- anak Lumban Kulon saja. Tidak kepada anak-anak Lumban Wetan” sahut anak muda Lumban itu. “Kenapa?“ bertanya pemburu itu. “Kami tidak tahu” sahut J litheng. “Kami tahu” tiba-tiba saja yang lain memotong “Ia berpihak kepada anak-anak muda Lumban Kulon” “Kenapa berpihak?“ bertanya pemburu itu. “Tidak apa-apa Jlithenglah yang menyahut “Mungkin karena ia tinggal disana sehingga banya orang-orang yang dekat sajalah yang diajarinya dalam olah kanuragan. Mungkin ia agak segan untuk melintas ke Lumban Wetan” “Kami bersedia datang. Tetapi ia tetap tidak mau“ seorang anak muda yang bertubuh gemuk berteriak. Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Sementara itu pemburu itu berkata “Apakah kalian sedang bermusuhan? Jika demikian, aku tidak mau terlibat ke dalam permusuhan itu” Anak-anak muda itupun terdiam. Sekali lagi mereka saling berpandangan. Mereka tidak tahu, bagaimana mereka harus menjawab. Sekah lagi Jlithenglah yang menjawab. Katanya “Kami tidak sedang bermusuhan. Tetap kami tidak menyangkal bahwa ada persaingan diantara kami. Tetapi persaingan ini akan member ikan akibat yang baik. Kami akan bersama-sama maju. Jika terjadi sesuatu di padukuhan ini, kami akan dapat berbuat sesuatu” Pemburu itu tersenyum. Katanya “Bagus sekali. Jika kalian bersikap demikian, maka kalian benar-benar akan mendapatkan kemajuan yang pesat. Padukuhan kalian akan menjadi subur. Kehidupan rakyatnya akan menjadi sejahtera, sementara anak-anak mudanya akan dapat menjaga dan melindungi apa yang terkandung di dalam Kabuyutan ini“ “Jadi kalian bersedia?“ bertanya seorang anak muda. “Aku akan mencoba” jawab pemburu itu. Kesanggupan itu telah member ikan kegembiraan pada anak-anak muda di Lumban Wetan. Mereka tidak akan terlalu banyak ketinggalan dari anak-anak muda Lumban Kulon. Meskipun anak-anak muda Lumban Kulon sudah mulai untuk beberapa lama, tetapi anak-anak Lumban Wetan bertekad untuk menyusul kanampuan mereka. Sejak malam itu, kedua pemburu itu telah berada di Lumban Wetan. Jlitheng telah memberitahukan hal itu kepada kiai Kanthi di lereng bukit. “Sukur lah” berkata Kiai Kanthi“ tetapi apakah hal itu tidak akan berakibat sebaliknya? Justru karena kedua belah pihak merasa kuat, maka benturan tidak akan dapat dielakkan lagi?“ “Mamang demikian. Tetapi mungkin juga keduanya menjadi ragu-ragu dan-tidak akan bertindak sesuatu“ “Mudah-mudahan, ngper. Mudah-mudahan akibat baiklah yang terjadi” desis Kiai Kanthi kemudian. Di har i berikutnya kedua pemburu itu mulai dengan kesanggupannya untuk member ikan latihan olah kanuragan. Tetapi pemburu itu tidak melakukannya secara umum. Kepada anak-anak Lumban Wetan ia berkata “Sambil menger ingkan kulit harimau itu, aku akan member ikan sedikit latihan olah kanuragan. Tetapi aku akan melakukannya dengan caraku. Pada hari-hari pertama, aku akan memilih sepuluh orang saja diantara kalian. Sepuluh orang itu akan mendapat latihan yang lebih berat dari kawan-kawan kalian” “Jadi bagaimana dengan yang lain?“ bertanya seorang anak muda. “Yang lain juga akan mendapat latihan-latihan kanuragan. Tetapi dilakukan secara terpisah. Kawanku itulah yang akan melatih kalian” jawab pemburu itu. Bagi anak-anak muda Lumban Wetan, hal itu tidak menjadi persoalan. Namun salah seorang dari mereka masih beritanya “Bagaimana kalian akan memilih sepuluh orang diantara kami“ “Lihat sajalah, bagaimana aku akan memilih kalian” jawab pemburu itu. Anak-anak muda Lumban Wetan sudah mulai merasakan kebanggaan sebagai seorang anak muda yang akan dapat mengimbangi anak-anak muda Lumban Kulon. Namun agaknya seperti yang dikatakan oleh Kiai Kanthi, anak-anak muda Lumban Wetan justru merasa lebih kuat untuk mempertahankan agar pintu air sungai itu tetap dipertahankan. Dihari pertama pemburu itu masih belum melakukan pilihan. Tetapi ia mulai memilih anak-anak muda Lumban Wetan seorang demi seorang. Pada hari pertama anak-anak mudla itu harus melakukan gerak yang sederhana tetapi untuk waktu yang lama. Dari pengamatan itu, pemburu itu dapat melihat, siapakah yang memiliki ketahanan pernafasan dan ketahanan tubuh yang paling baik. Dari mereka, pemburu itu memilih dua puluh lima orang. Mereka harus melakukan latihan- latihan khusus dihari berikutnya. Mereka harus melakukan beberapa macam gerakan untuk melihat selain ketahanan tubuh dan pernafasan, juga ketrampilan dan kemungkinan untuk dapat melakukan gerak yang cepat dan keras. Akhirnya seperti yang dikatakan, pemburu itu telah memilih sepuluh orang terbaik dari Lumban Wetan. Kesepuluh orang itulah yang kemudian akan, mendapat tempaan khusus. Tetapi dari kesepuluh orang itu ternyata tidak terpilih anak muda yang benama Jlitheng. “Aku menyesal sekali” berkata Jlitheng. “Ya. Kau termasuk orang penting diantara anak-anak muda Lumban Wetan” berkata kawannya. Tetapi pemburu itu menjawab “Pernafasannya cukup baik. Tetapi perasaannya kurang peka terhadap perkembangan keadaan, la terlalu lambat mengambil sikap, sehingga dalam perkelahian yang cepat, ia akan banyak kehilangan waktu” Jlitheng mengumpat di dalam hati, apalagi ketika ia melihat pemburu itu tersenyum. Namun Jlitheng tidak membantah, karena ia mengerti maksud dari pemburu yang sudah dikenalnya sebelumnya. Demikianlah, pada hari berikutnya, anak-anak muda Lumban Wetan mulai dengan latihan-latihan yang sesungguhnya Sepuluh orang diantara mereka telah mencari tempat yang khusus untuk berlatih. Mereka memer lukan waktu yang lebih lama dan tenaga yang jauh lebih banyak. Sementara yang lain telah mempergunakan halaman banjar untuk melakukan latihan- latiahan. oooOooo-

Jilid 11
TETAPI pemburu yang seorang itupun tidak mau melatih semua anak-anak muda pada waktu yang sama, karena basinya tentu kurang baik. Pemburu yang seorang itu membagi. anak-anak Lumban Wetan menjadi tiga kelompok yang masing-masing mendapat kesempatan yang berbeda. Sekelompok diantara mereka mendapat latihan pagi-pagi sekali. Sekelompok disore hari dan yang sekelompok lagi menjelang malam. “Kami akan berlatih setiap hari” berkata anak-anak muda itu. “Bagus” jawab pemburu yang memberikan latihan kepada mereka “Tetapi itu berarti aku harus melakukannya tiga kali sehari“ Tetapi tubuhmu sudah terlatih. Kau tidak akan menjadi letih karenanya” jawab anak-anak muda Lumban Wetan. “Jadi kapan kesempatan berburu?“ bertanya pemburu itu. “ Malamhari” jawab seorang anak muda. Tetapi menjelang dini hari aku akan tergesa-gesa kembali karena aku harus melatih kalian yang termasuk kelompok pertama” jawab pemburu itu. “Tidak apa-apa” desis seorang anak muda yang lain “ biarlah kau tidak mendapat binatang buruan. Tetapi kau sudah berbuat baik dan memberikan jasa kepadaku” Pemburu itu tertawa. Tetapi Japun kemudian berkata “Baiklah. Aku akan melatih kalian setiap har i. Tetapi setiap pekan, aku akan beristirahat satu hari. Hari itu akan dapat aku pergunakan untuk berburu, atau melakukan apa saja. “Baiklah. Yang sehari itu akan kami pergunakan untuk berlatih diantara sesama kami” jawab anak-anak muda itu. Pemburu itu tersenyum. Katanya “Terserahlah. Tetapi kenapa kalian jadi demikian tergesa-gesa” “Anak-anak Lumban Kulon sudah mulai lebih dahulu” jawab anak-anak Lumban-Wetan itu” “Kenapa kalian harus berpacu?“ pemburu itu bertanya pula. “Sikap mereka kurang baik menurut pendapat kami” jawab anak-anak Lumban Wetan. “Menurut penilaian, kalian. Tetapi menurut penilaian anak- anak muda Lumban Kulon, kelakuan kalianlah yang kurang balik” jawab pemburu itu. ”Tetapi kami tidak akan membiarkan diri kami merah hitam dipukuli oleh anak-anak Lumban Kulon” jawab anak-anak Lumban Wetan itu. Pemburu itu tersenyum Katanya “Baiklah. Baiklah. Tetapi aku mohon kalian bersungguh-sungguh. Dengan demikian selisih kalian dengan sepuluh kawan kalian itu tidak akan terlalu jauh. Namun yang sepuluh orang itu kelak akan menjadi pemimpin kelompok bagi para pengawal Kabuyutan Lumban Wetan. Bukankah kesepuluh orang itu berasal dari beberapa padukuhan” “Ya” sahut anak-anak muda Lumban Wetan “Kami benar- benar akan bersungguh-sungguh” Demikianlah seperti yang dikatakan, maka anak-anak Lumban Wetan itupun telah berlatih dengan sungguh- sungguh. Seakan-akan mereka sama sekal tidak mengenal lelah. Yang ber latih dipagi hari, rasa-rasanya tidak ingin berhenti, meskipun panas matahari telah terasa menyengat tubuh mereka yang berker ingat. Sementara yang sore hari masih juga segan meninggalkan tempat mereka berlatih, sementara mereka yang berlatih dalam kelompok ketiga sudah menunggu. Sehingga dengan demikian maka latihan bagi kelompok ketiga itu justru berlarut-larut sampai menjelang tengah malam. Dalam pada itu, kesepuluh orang yang langsung di bawah asuhan Semi, berlatih dalam waktu yang justru lebih panjang dan lebih terperinci. Mereka langsung dapat ditilik oleh Semi seorang demi seorang. Semi dapat memperhatikan dan mengamati setiap gerak tangan dan kaki. Dalam pada itu, anak-anak muda Lumban Kulonpun akhirnya mengetahui juga bahwa anak-anak Lumban Wetan ternyata telah mendapat seseorang yang bersedia member ikan latihan-latihan kanuragan, seperti yang dilakukan oleh anak-anak Lumban Kulon di bawah asuhan Daruwerdi. Merekapun mendengar bahwa yang memberikan latihan kanuragan bagi anak-anak Lumban Wetan itu adalah dua orang pemburu, “Apa artinya seorang pemburu dalam olah kanugaran” berkata Daruwerdi ketika seorang anak muda melaporkan kepadanya, apa yang telah mereka ketahui tentang anak-anak muda Lumban Wetan. “Tetapi nampaknya mereka bersungguh-sungguh” berkata anak-anak Lumban Kulon itu kepada Daruwerdi. “Jadi apakah maksud kalian. Apakah aku harus menghentikan latihan-latihan itu? Sudah tentu aku tidak berhak melakukannya. Itu adalah .urusan artak-anak Lumban Wetan dan pemburu itu” berkata Daruwerdi. “Jika demikian, kami akan bertindak sekarang. Kami akan memaksa untuk membuka pintu air yang menuangkan air ke tanah persawahan di Lumban. Kulon lebih besar dori pintu air yang mengalirkan air ke Lumban Wetan” berkata Nugata. Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Ia. mempunyai pertimbangan lain. Ia masih menunggu, bahwa pada suatu saat akan datang sekelompok orang-orang tertentu yang akan membawa seorang Pangeran yang ia kehendaki, sementara ia sudah menyediakan sebuah pusaka meskipun bukan yang sebenarnya. Daruwerdi sendir i berharap, bahwa kekisruhan nilai akan terjadi pada saat-sata ia menerima Pangeran itu. sehingga dengan demikian, maka yang dilakukan itu akan dapat disamarkan dengan peristiwa yang terjadi di Lumban itu sendiri. Tetapi nampaknya anak-anak Lumban Kulon itu sudah tidak sabar lagi menunggu. “Daruwerdi” berkata Nugata “ambillah keputusan” “Nugata” berkata Daruwerdi “Kau tidak usah cemas. Sudah aku katakan, apa yang dapat dilakukan oleh dua orang pemburu. Mungkin mereka mampu berburu har imau dengan anak panah atau tombaknya. Tetapi berburu seekor binatang adalah jauh lebih mudah dari berburu seseorang karena seseorang mempunyai pikiran dan kemampuan untuk meningkat-katkan ilmunya. Sedangkan seekor binatang sama sekali tidak. Jiak seorang pemburu sudah dengan tekun mempelajari dan mengamati tabiat seekor binatang maka ia akan dengan mudah untuk mengalahkannya. Sementara seekor binatang yang diamatinya itu, mempunyai tabiat yang menyeluruh bagi binatang sejenis. Dan tidak demikian halnya bagi seseorang” Nugata mengerutkan keningnya. Namun katanya “Aku mengerti. Tetapi aku masih menganggap bahwa kita sebaiknya berbuat lebih cepat. Meskipun kedua pemburu itu tidak memiliki ilmu kanuragan seperti kau, namun mereka akan mampu meningkatkan serba sedikit kemampuan anak- anak Lumban Wetan” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya. Aku akan menemui kedua pemburu itu. Baru kemudian aku akan mendapat gambaran, apa yang sebaiknya aku lakukan. Jika kedua pemburu itu tidak memiliki ilmu yang pantas dipertimbangkan, maka aku sama sekali t idak akan menghiraukannya. Kehadirannya dapat kita anggap tidak pernah terjadi. Dan anak-anak Lumban Wetan justru akan mendapat ilmu yang sesat, karena ilmu mereka hanyalah pantas diterapkan untuk memburu seekor kelinci, dan sama sekali untuk memburu kalian anak-anak muda Lunnban Kulon” “Tetapi kau harus segera melakukannya” desis Nugata. “Jangan memerintah begitu” sahut Daruwerdi “Aku tahu, apa yang sebaiknya aku lakukan” Nugata mengerutkan keringnya. Ia menyadari, bahwa ia memang tidak dapat memer intah Daruwerdi. Karena itu, maka katanya “Bukan maksudku memerintah. Tetapi kecemasanku rasa-rasanya tidak tertahankan lagi. Anak-anak Lumlban Wetan seakan-akan dengan sengaja menantang kami“ Daruwerdi tidak menjawab. Ketika kemudian Nugata pergi, ia tidak beranjak dar i tempatnya. Tetapi sebenarnyalah seperti anak-anak Lumban Kulon Daruwerdipun sebenarnya ingin mengetahui, apa yang telah dilakukan oleh kedua orang pemburu itu. Menurut pendengarannya, pemburu itu memang memiliki kelebihan. Ketika mereka datang, mereka membawa seekor harimau yang dibu-nuhhnya tanpa bekas luka. Kemudian, beberapa hari berselang mereka telah melakukannya dengan cara serupa. Demikianlah, ketika senja menjelang kelamnya malam, Daruwerdi pergi ke Lumban Wetan. Ia sudah tahu pasti, dimana anak-anak Lumban Wetan berlatih. Iapun mengetahui, bahwa sepuluh orang diantara mereka telah disisihkan untuk mendapat latihan-latihan khusus. Kesepuluh orang itulah yang lebih menarik bagi Daruwerdi sehingga iapun pergi kepada mereka, disaat mereka sedang berlatih dipategalan. Kehadiran Daruwerdi nampaknya telah membuat Semi segan melanjutkan latihan. Karena itu, maka iapun kemudian berhenti dan mempersilahkannya. Meskipun agak ragu ia bertanya “Apakah kau yang bernama Daruwerdi?“ “Ya, aku Daruwerdi dar i Lumban Kulon” jawab Daruwerdi. “Marilah. Namamu sudah aku kenal. Dari kejauhan aku memang pernah melihatmu” berkata Semi. Anak-anak Lumban Wetan yang sedang berlatih itupun menjadi tegang. Kehadiran Daruwerdi memang sudah diperhitungkan oleh Semi. Bahkan pemburu itu pernah berkata kepada anak-anak Lumban Wetan bahwa pada suatu ketika, mungkin Daruwerdi akan datang untuk berbicara dengan pemburu itu. Daruwerdi melaingkah mendekat. Dipandanginya anak- anak Lamban Wetan yang sudah berlatih. Namun pada gerak- gerak terakhir yang sempat dilihatnya. telah membuat hatinya menjadi berdebar-debar. “Ki Sanak“ berkata Daruwerdi “agaknya kau mempunyai gairah yang sangat besar untuk mengajari anak-anak Lumban Wetan dengan olah kanuragan. “Bukan aku” jawab Semi “Tetapi anak-anak Lumban Wetan sendirilah yang mempunyai gairah yang sangat besar. Adalah satu kebetulan bahwa aku terperosok masuk ke Kabuyutan ini selagi aku memer lukan pertolongan mereka menguliti seekor harimau yang dapat aku tangkap dilereng bukit sebelah” “Mengagumkan” berkata Daruwerdi “jarang sekali orang yang dapat menangkap seekor harimau tanpa bekas luka” “Itu sudah kebiasaanku” jawab Semi “karena itu kulit harimau hasil buruanku harganya tentu lebih mahal dari hasil buruan pemburu-pemburu yang lain, yang hanya membunuh seekor harimau dengan anak panah atau tombak” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Agaknya pemburu ini memang agak sombong. “Apakah keuntunganmu dengan bersusah payah member ikan latihan-latihan kepada anak-anak muda Lumban Wetan?“ bertanya Daruwerdi kemudian. Semi memandang Daruwerdi dengan heran. Dan tiba-tiba iapun beritanya pula “Apa pula keuntungan memberikan latihan-latihan kepada anak-anak Lumban Kulon?“ Daruwerdi yang sudah menduga bahwa pemburu itu akan bertanya demikian segera menjawab “Ki Sanak, Aku telah melakukannya lebih dahulu atas permintaan anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Tetapi anak-anak Lumban Wetan kemudian tidak bersedia lagi untuk datang. Sekarang mereka minta agar kau member ikan latihan-latihan itu justru pada saat anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon dalam ketegangan” Semi tiba-tiba saja tertawa sambil mengangkat wajahnya,. Katanya “Jangan mengatakan yang tidak sebenarnya. Apa kau kira anak-anak Lumban Wetan ini tidak dapat berbicara tentang hubungan mereka dengan anak-anak Lumban Kulon. “Apapun yang mereka katakan, bukankah kesediaanmu member ikan latihan- latihan itu memungkinkan meningkatnya permusuhan?“ bertanya Daruwerdi. “Itu tidak adil” jawab Semi “Jika kau menghentikan latihan- latihan itu sama sekali, maka kaupum telah membantu meredakan permusuhan itu. Tetapi kau tidak melakukannya” “Ki Sanak” berkata Daruwerdi kemudian “kedatanganku kemari sekedar untuk berbicara dengan baik mengingat persoalan anak-anak Lumban Kufon dan anak-anak Lumban Wetan. Aku minta kau menghentikan latihan- latihan ini. Aku akan berusaha mencegah anak-anak Lumihan Kulon untuk memaksakan kehendaknya atas anak-anak Lumban Wetan?” “Caranya bukan begitu. Kita bersama-sama berhenti” jawab Semi. “Apakah kau keras kepala juga seperti anak-anak Lumban Wetan?“ bertanya Daruwerdi “Ya” jawab pemburu “Aku memang keras kepala. Tetapi akupun menyadari, bahwa aku harus bertanggung jawab atas sikapku itu” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Pemburu ini memang seorang yang sombong dan tinggi hati. Namun Daruwerdi tidak akan membiarkannya Karena itu, maka katanya” Ki Sanak. Aku beri kesempatan kau selama tiga hari untuk terpikir. Jika dalam waktu tiga hari kau tidak menghentikan latihan-latihan ini, maka jangan menyesal, bahjwa aku akan rnemoksamu. Dengan demikian maka nafsu anak-anak Lumban Kulon, untuk segera bertindak dapat aku kekang” “Caramu berpikir memang aneh Ki Sanak” jawab Semi “Mungkin kau sudah terlalu lama tinggal di Kabuyutan kecil ini sehingga kau tidak mampu lagi membuat perhitungan- perhitungan yang wajar dan t idak berat sebelah” “Apapun yang kau katakan, aku memberimu waktu jtiga hari” berkata Daruwerdi “setelah itu, aku akan menentukan tindakan apakah yang akan aku lakukan atas kalian dan anak- anak muda Lumban Wetan. Aku tahu bahwa kawanmu itu telah memberikan Iatihan-latihan pula kepada lingkungan yang lebih luas, meskipun tidak mendalam seperti yang kau lakukan” “Aku tidak menghiraukan sama sekati” berkata pemburu itu “tiga atau ampat berapa haripun yang akan kau sebut” Wajah Daruwerdi menjadi merah. Ia sadar, bahwa pemburu itu benar-benar tidak akan dapat diancamnya. Agaknya pemburu itu benar-benar bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya. Hampir saja Daruwerdi kehilangan pengamatan diri. Di Lumban ia jarang sekali mendengar, seseorang telah menentang kehendaknya. Tiba-tiba seorang pemburu kini seakan-akan dengan sengaja telah menantangnya. Namun ternyata bahwa Daruwerdi masih dapat mengendalikan dirinya. Dengan suara bergetar ia berkata “Aku akan menunggu sampai tiga hati. Sebaiknya kau pertimbangkan dengan bati yang bening. Kau memang belum mengenal aku dengan baik, sehingga kau berani menentang aku tanpa ragu” “Siapapun kau” jawab Semi “Aku sudah terlalu biasa menghadapi siapapun juga. Bahkan seekor har imau yang paling besar sekalipun. Apa lagi kau” “Itulah kesalahanmu” jawab Daruwerdi “Kau anggap aku tidak lebih dari seekor harimau. Kau lupa, bahwa seekor harimau tidak akan mampu mempelajari oleh kanuragan. Ia hanya mampu mempergunakan kekuatan wadagnya sebagaimana ia mendapatkannya dari alam. Tetapi aku mampu mengembangkan kemampuan yang aku terima dari alam, dan lebih dar i itu, aku mempunyai otak seperti juga kau dan setiap orang. Tetapi agaknya kau tidak sempat mempergunakan otakmu. Nampaknya kaupun sekedar bertumpu kepada pandangan yang bodoh itu tanpa mempertimbangkan kemungkinan yang berkembang pada dirimu sendir i” Darah Semi mulai menjadi panas. Tetapi ia sadar, bahwa ia memang sedang memancing agar Daruwerdi menjadi marah. Ia sadar, bahwa Daruwerdi tentu ingin menjajagi, apakah orang yang member ikan latihan kanuragan kepada anak-anak Lamban Wetan itu benar-benar memiliki ilmu yang memadai. “Mudah-mudahan peristiwa ini tidak mengganggu tugas- tugasku selanjutnya yang juga akan menyangkut Daruwerdi” berkata Semi di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, ia menjawab “Daruwerdi. Sebaiknya kau kembali ke daerah Kabuyutanmu. Kau boleh melakukan apa saja sesuai dengan keinginan dan kemauanmu. Akupun boleh melakukan apa saja yang aku kehendaki disini tanpa mengganggu kau dan anak-anak muda Lumban Kulon” Daruwerdi menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih berusaha menahan diri Namun agar ia tidak kehilangan keseimbangan, maka iapun menggeram “Kau benar-benar gila. Aku akan pergi. Dan aku akan kembali lagi dalam tiga hari“ Daruwerdi t idak menunggu jawaban. Iapun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan pategalan itu. Sementara itu langit sudah menjadi semakin kelam. Demikian Daruwerdi hilang dibalik keremangan ujung malam, kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan itupun segera mengerumuni Semi. “Agaknya ia benar-benar marah” desis salah seorang dari anak-anak muda Lumban Wetan itu. “Ya” jawab Semi “tetapi biar sajalah. Aku memang harus mempertanggung jawabkan, apa yang aku lakukan ini kepada siapapun” Seorang anak muda yang bertubuh kecil, tetapi memiliki kecepatan gerak yang cukup, telah berkata “Bukan maksud kami disini membuat kesulitan bagimu” “Aku sudah memperhitungkan bahwa hal ini akan terjadi” berkata Semi ”Tetapi kau masih mempunyai waktu untuk mempertimbangkan” desis anak muda bertubuh kecil itu. “Maksudmu, agar aku. menarik dir i dari kesanggupan ini?“ bertanya Semi. Anak-anak muda Lumban itu tidak menjawab. “Terima kasih kawan-kawan” desis Semi kemudian “aku mengerti bahwa kalian bermaksud baik. Kalian tidak mau membuat aku mengalami kesulitan karena sikap Daruwerdi yang benar-benar telah berpihak itu. Jika kemudian terjadi sesuatu, baik akan dir iku, kawanku berburu itu, atau apapun, bukan kalian yang bersalah. Aku telah cukup dewasa untuk menentukan sikapku sendiri” Anak-anak Lumban Wetan itu tidak menyahut lagi. Merekapun mengerti, bahwa pemburu ini akan dapat tersinggung jika mereka seakan-akan mencemaskan nasibnya, jika ia harus berhadapan dengan Daruwerdi. “Kita lanjutkan latihan ini” berkata Semi tiba-tiba “Apakah kalian telah lelah? Apa kalian yang sebenarnya cemas menghadapi Daruwerdi yang marah itu? Akupun dapat marah seperti Daruwerdi“ Anak-anak Lumban Wetan itu menjadi ragu-ragu. Rasa- rasanya ada sesuatu yang menghambat mereka setelah kedatangan Daruwerdi. Tetapi ketika mereka sudah mulai dengan gerak-gerak yang keras dan berat, maka lambat laun, perhatian merekapun sepenuhnya telah terampas oleh pemusatan pikiran pada latihan itu, sehingga merekapun telah melupakan, bahwa Daruwerdi baru saja datang ke tempat latihan itu. Ternyata kedatangan Daruwerdi telah mendorong pemburu iltu untuk bekerja lebih keras. Jika sebelumnya, ia selalu berusaha untuk menahan agar anak-anak Lumban Wetan itu tidak terlalu letih dalam latihan kanuragan, sehingga dapat mengganggu kerja mereka di sawah dan ladang masing- masing, maka yang dilakukan kemudian adalah justru sebaliknya. Pemburu itu telah menempa anak-anak muda Lumban Wetan itu sehingga mereka merasa menjadi sangat letih. Kaki-kaki mereka menjadi berat dan ker ingat bagaikan telah terperas habis. Baru ketika anak-anak Lumban Wetan itu mengeluh, pemburu itu berkata ”Kita akan beristirahat. Besok kita akan berlatih lebih baik lagi. Aku akan menunggu sampai tiga hari itu. Dan akui akan menunjukkan kepada kalian, bahwa kalian tidak akan kehilangan kesempatan untuk selanjutnya. Aku akan tetap berada disini” Anak-anak muda Lamban Wetan tidak berani lagi mengatakan sesuatu kepada pemburu itu. Meskipun demikian, mereka benar-benar merasa cemas. Mereka bukan saja berpikir tentang hubungan mereka yang buruk dengan anak- anak muda Lumban Kulon, tetapi ia telah melibatkan seseorang yang sebenarnya tidak tahu menahu tentang persoalan itu. “Jika terjadi sesuatu dengan kedua pemburu itu, justru karena Daruwerdi, bukankah itu kesalahan kita?“ bertanya mereka satu sama lain. Meskipun demikian, anak-anak Lumban Wetan itu t idak dapat menyampaikan kecemasannya itu. Mereka hanya dapat memperbincangkan diantara mereka. Lebih-lebih anak-anak muda yang termasuk sepuluh anak muda terbaik yang mendapat tempaan khusus itu. Jlitheng yang akhirnya mendengar juga peristiwa itu, tidak dapat mengatakan apapun juga. Ia hanya mengangguk- angguk dan sekali-kali menggeleng diantara kawan-kawannya. Apalagi ia tidak melihat sendiri apa yang terjadi, karena ia berada diantara anak-anak muda Lumban Wetan yang berlatih bersama-sama, pada giliran ketiga. Namun diuar pengetahuan kawan-kawannya. Jlitheng telah datang kepada Semi dan kawannya di banjar. Seolah-olah ia bertemu dengan kedua pemburu itu kebetulan saja tanpa maksud apapun juga. Namun dalam pada itu. Semi lelah berbincang panjang dengan Jlitheng mengenai Daruwerdi. “Apakah perkelahian yang mungkin sekali tidak akan mengganggu” bertanya Semi. “Dalam kedudukanmu sebagai pemburu, aku kIra t idak akan ada persoalan yang bersangkut paut dengan penculikan Pangeran itu” sahut Jlitheng. “Aku tidak tabu, kenapa sampai saat ini orang-orang Sanggar Gading masih belum sampai di daerah Sepapsang Bukit Mati ini” gumami Semi “Dapat dimengerti” jawab Jlitheng “Mereka memerlukan persiapan yang khusus. Mereka tidak saja berhadapan dengan Daruwerdi disini, tetapi mereka harus dapat bertahan jika orang-orang Pusparuri atau pihak manapun juga akan mengganggu mereka“ “Tetapi Jlitheng” berkata Semi “bagaimana jika kami, maksudku aku dan Daruwerdi tidak lagi dapat mengekang diri dalam perkelahian itu sehingga perkelahian itu akan meningkat sampai batas yang paling pahit. Bukan aku cemas menghadapinya, tetapi apakah hal itu tidak akan merusak semua usaha yang telah dilakukan sampai saat terakhir olehmu sendiri dan oleh kakang Rahu” “Kawanmu itu akan dapat menjadi saksi yang berdir i diluar arena dan tidak terlibat dalam luapan perasaan. Ia harus dapat bertindak tepat pada waktunya dan ia tentu akan dapat menentukan keseimbangan dari pertempuran itu” berkata Jlitheng. Kawannya mengangguk-angguk. Meskipun ia merasa, tugas itu adalah tugas yang cukup berat baginya, karena iapun akan dapat dijebak oleh panasnya darah yang mendidih di dalami jantungnya menghadapi anak muda yang bernama Daruwerdi itu. “Kita akan mendapat keuntungan dengan peristiwa itu” berkata Jlitheng “Kita akan dapat menjajagi kemampuan Daruwerdi” Semi menarik nafas dalam-dalam. Desisnya ”Kau jugalah yang akan mendapatkan keuntungan itu, He, kenapa tidak kau tantang saja anak itu berkelahi” Jlitheng tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Sikap itulah yang kemudian menentukan sikap Semi selanjutnya Ia tidak akan pergi dari Lumban, dan ia tidak akan menghentikan latihan-latihan yang diselenggarakannya Seperti yang pernah dikatakan Semi kepada Daruwerdi dihadapan kesepuluh anak-anak Lumban, maka ia benar- benar bertekad untuk bertahan. Ia telah melakukan seperti yang dikatakannya. Bahkan ia telah meningkatkan laitihanHlatihan yang diberikan menjelang hari ketiga seperti yang diikalkan oleh Daruwerdi, Ternyata usaha Semi tidak sia-sia. Sepuluh orang yang dipilihnya itu meningkat dengan cepat. Melampaui kawan- kawannya yang lain. Bahkan karena latihan yang khusus, maka kesepuluh orang itu telah berhasil menyusul dan bahkan melampaui kemampuan anak-anak muda Lumban Kulon yang tidak pernah terhenti, tetapi yang berlatih pada saat yang lebih jarang dari anak-anak muda Lumban Wetan. Pada hari yang ketiga, seperti yang diduga oleh Semi, maka Daruwerdi benar-benar telah datang kepadanya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh J litheng, agar disamping kedua orang itu masih ada orang lain yang agak terpisah dari persoalannya, sehingga masih mempunyai kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan. Karena itu pada hari ketiga, kawan Semi tidak berada diantara anak-anak Lumban Wetan yang lain, tetapi ia Bersama-sama dengan Semi berada dipategalan. “Kau benar-benar keras kepala” geram Daruwerdi ketika ia sudah berada di pategalan itu. “Sudah aku katakan” desis Semi “Aku tidak akan meninggalkan Kabuyutan ini jika itu bukan karena kehendakku sendiri” “Kau bawa kawanmu kemari?“ bertanya Daruwerdi, Lalu “Kau sangka dengan demikian aku akan menarik ancamanku” “Aku bawa ia untuk menjadi saksi. Aku sama sekali t idak berniat untuk berbuat licik. Kita sama-sama laki- laki yang mempunyai harga diri” jawab Semi. Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa sikap pemburu itu justru sedemikian kerasnya. Tetapi ia sama sekali tidak ingin menarik apa yang telah dikatakannya. Bahkan seandainya kedua pemburu itu berbuat curang, iapun tidak akan ingkar. Ia akan menyelesaikan keduanya dan mengusir mereka dari tempat itu. Selain keduanya lelah meningkatkan ketegangan, keduanya juga akan dapat mcnggunggu usahanya untuk memecahkan masalah pusaka yang tersimpan di daerah Sepasang Bukit Mati itu. Karena itu, maka tekad Daruwerdipun menjadi bulat. Dengan lantang ia berkata “Kau benar-benar sudah menantang aku” “Kaulah yang menantang aku, karena kau telah mencampur i urusanku dengan anak-anak muda Lumban Wetan. Mereka membantu aku j ika aku mendapatkan binatang buruan. Apa salahnya jika aku memberikan imbalan yang berarti bagi mereka, tetapi tidak mengurangi milikku sama sekali” “Persetan“ bentak Daruwerdi “Jangan membual. Tetapi jangan menyesal jika langkahku akan terlalu panjang” Semipun kemudian mempersiapkan dir i. Kepada anak-anak Lumban Wetan ia berkata “Kalianpun dapat menjadi saksi, apakah ada kelebihan anak muda ini dari seorang pemburu yang telah berhasil menangkap seekor harimau hanya dengan tangannya” Wajah Daruwerdi yang membara, rasa-rasanya bagaikan menyala. Ia tidak dapat menahan diri lagi. Pemburu itu terlalu sombong, seolah-olah ia adalah orang yang paling berarti di muka bumi Karena itu, maka Daruwerdipun berkata ”Kita akan berhadapan dengan jantan. Marilah. Jika kemudian ternyata kau menyesal bertempur dengan jantan, kau dapat mengajak kawanmu dan anak-anak Lumban Wetan untuk mengeroyokku” Tetapi yang terdengar adalah jawaban yang sangat menyakitkan bati. Pemburu itu justru tertawa sambil berkata “Apakah kau sering melakukannya?“ Jawaban itu membuat Daruwerdi tidak dapat menahan bati lagi. Dengan gigi gemeretak ia bergeser mendekat. Sementara itu, Semi yang melihat bahwa Daruwerdi benar-benar akan mulai, telah bergeser pula. Kawan Semi berdir i termangu-mangu beberapa langkah. Dengan tegang ia mengikut i perkembangan keadaan, sementara sepuluh orang anak-anak muda Lumban Wetan menjadi sangat gelisah. Tetapi mereka tidak meninggalkan tempat itu, karena ada sesuatu yang mengikat mereka Betapapun juga ada ke inginan mereka untuk melihat, siapakah yang lebih kuat dian-tara kedua orang yang masih sama-sam muda itu. Sementara itu, ternyata bahwa diluar pengamatan orang- orang yang sedang memusatkan perhatiannya kepada orang- orang yang sedang bertengkar itu, dua orang dengan mengendap-endap telah mendekati arena pertempuran. Mereka berusaha untuk dapat melihat pertempuran itu dari sela-sela anak-anak Lumban Wetan yang berdiri mematung melihat kedua anak-anak muda yang sudah siap untuk mulai dengan pertempuran yang garang. Dengan hati-hati keduanya bergeser semakin dekat. Ketika Daruwerdi meloncat menyerang, maka kedua orang itupun tertegun ditempatnya. Seorang diantaranya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun, karena suaranya akan dapat menarik perhatian salah seorang dari mereka yang sedang dicengkam ketegangan itu. Sebenarnyalah bahwa Jlitheng telah menyampaikan persoalan itu kepada Kiai Kanthi. Yang didengarnya dari Semi, telah dikatakannya kepada orang itu. Dan merekapun sependapat, bahwa Daruwerdi tentu tidak hanya sekedar menakut-nakuti saja. Ia akan datang tepat pada hari yang disebutnya. Karena itu, maka ketika Jlitheng dan Kiai Kantbi datang ke tempat itu maka mereka benar-benar menyaksikan kedua anak muda itu berhadapan dalam perang tanding. Dengan tegang, maka Jlithengpun mengikut i perkelahian yang kemudian telah menggetarkan pategalan itu. Serangan Daruwerdi datang seperti badai, mengguncang pepohonan dan menghentak bukit-bukit batu. Namun sebenarnya Semi telah melawannya bagaikan angin prahara yang bergulung-gulung mengguncang lautan dan mendorong ombak berderu menghantam batu karang. Benturan ilmu yang dahsyat dilambari dengan tenaga yang kuat dari anak-anak muda yang sedang marah, telah membuat pertempuran itu menjadi semakin sengit. Jlitheng memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdegup semakin keras. Sementara Kiai Kanthi benar- benar telah terpukau oleh kemampuan kedua anak muda itu. Ternyata Daruwerdi adalah anak muda yang memiliki ketangkasan dan ketrampilan mempergunakan seluruh anggauta badannya. Kaki, tangan jari-jari, siku dan lututnya. Ia menyerang dengan tiba-tiba dan melontar menghindar dengan cepat. Namun dalam pada itu, Semi yang bertubuh kekar dan kuat itu bagaikan tonggak yang tidak tergoyahkan. Dengan gerak dan geseran kaki, ia bertahan menghadapi kecepatan serangan Daruwerdi. Meskipun geraknya satu-satu, tetapi ia berdiri menghadap kemana saja arah serangan lawannya datang. Dengan denukian, ia mampu bertahan dengan kelebihan yang ada padanya. Kadang-kadang Semi sama sekali tidak ingin menghindari serangan yang meluncur kearahnya. Tetapi ia dengan membenturkan kekuatan raksasanya, sehingga dengan demikian, ia langsung dapat mengetahui, tataran kekuatan lawannya pada saat-saat tertentu. Betapapun kuat daya tahan tubuhnya, namun karena serangan Daruwerdi yang datang beruntun, semakin terasa, bahwa sentuhan-sentuhan serangan itu telah mulai hinggap di tubuhnya. Bahkan semakin lama terasa sentuhan-sentuhan itu membuat kulit dagingnya menjadi sakit. Tetapi dalam pada itu, Daruwerdi yang telah mengerahkan segenap kemampuannya itupun mengumpat di dalam hati. Seakan-akan Semi yang bertenaga raksasa itu, mampu menahan rasa sakit yang betapapun juga menyengat badannya. Bahkan Daruwerdi mulai, bertanya kepada diri sendiri “Apakah anak ini mempunyai aji Lembu Sekilan?“ Namun ketika pada suatu saat ia sempat mendengar pemburu itu berdesis, maka Daruwerdipun yakin, bahwa lawannya tidak mempunyai aji Lembu Sekilan, atau Tameng Waja atau ilmu kebal. Lambat laun Daruwerdi mengerti, bahwa lawannya itupun telah didera oleh perasaan sakit yang semakin tajam. Meskipun demikian, perlawanan Semi sama sekali t idak mengendor. Bahkan tenaganya seakan-akan menjadi semakin kuat, meskipun sekali-kali ia harus berdesis menahan sakit. Dalam pada itu, Daruwerdi yang telah mengerahkan segenap kemampuannya itu merasa bahwa ia mulai berhasil membuat lawannya sakit. Tetapi iapun tidak dapat ingkar, bahwa tenaganya yang terperas itu, semakin, lama menjadi semakin susut. Karena itu, ia harus mempeihitungkan, bahwa ia harus dapat melumpuhkan lawannya lebih dahulu sebelum tenaganya sendiri terperas habis. Namun dalam pada itu, Semipun telah membuat perhitungan yang mapan pula. Ia tidak mau dihancurkan, bahkan ia harus memancing Daruwerdi agar kehabisan tenaga dan tidak mampu bergerak lagi. Karena itulah, maka Semipun kemudian bertempur lebih berhati-hati. Ia masih tetap berusaha membenturkan kekuatannya. Tetapi dengan lebih mapan dengan menghindarkan bagian tubuhnya yang akan dapat disakiti oleh lawannya Dalam pada itu, Kiai Kanthi dan Jlithengpun memperhatikan perkelahian yang menjadi semakin sengit itu dengan nafas yang tertahan-tahan. Bahkan iapun beringsut setapak diluar sadarnya. Untunglah bahwa Kiai Kanthi sempat menggamitnya, sehingga Jlitheng tidak terdorong mendekati arena. Sebenarnyalah pertempuran itu menjadi semakin dahsyat. Meskipun Daruwerdi nampak mulai dipengaruhi oleh nafasnya yang terengah-engah, sementara Semipun kadang-kadang telah menyeringai menahan sakit, namun keduanya masih bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya Semi yang mulai dijalar i perasaan pedih itupun mulai memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain. lai merasa perlu untuk menyerang lebih banyak, agar iapun mempunyai kesempatan untuk menyakit i lawannya, meskipun dengan demikian iapun akan memeras tenaganya. Dengan demikian, maka Kiai Kanthi dan Jlithengpun kemudian melihat perubahan sikap Semi, meskipun tidak dengan tiba-tiba. Sedikit demi sedikit Semi merubah cara bagaimana ia harus menghadapi Daruwerdi yang sudah mulai lelah itu. Sedikit demi sedikit, Semi mulai melangkah dan meloncat menyerang dengan sengitnya. Ia tidak lagi berkisar dan bergeser dengan sebelah kaki. Tetapi ia mulai menyerang dengan langkah- langkah panjang dengan menghentak. Daruwerdi melihat perubahan sikap itu. Tetapi ia tidak mau menjadi sasaran serangan lawannya. Meskipun nafasnya mulai mengalir semakin cepat, tetapi ia masih tetap mampu bergerak cepat. Karena itu, maka ia masih mampu memotong loncatan-loncatan panjang lawannya. Tetapi Semi tidak menghentikan serangannya. Jika ia gagal, maka iapun mulai dengan serangan-serangan baru. Hanya kadang-kadang ia memang harus melangkah surut, jika Daruwerdi mendahuluinya menyerang. Namun kadang-kadang Daruwerdi tidak member inya kesempatan. Ketika serangan semi. dapat dihindarinya, maka Semi telah bersiap untuk menyerangnya dengan hentakkan kaki. Tetapi demikian Semi mempersiapkan dirinya, Daruwerdilah yang justru meloncat menyerangnya. Semi yang terkejut itu sempat menghindar. Dengan satu loncatan panjang ia berusaha mengambil jarak. Sehingga ia sempat mempersiapkan diri menghadapi saat-saat berikutnya Sebenarnyalah, Daruwerdi telah meluncur dengan kakinya menyerang lambung. Namun Semi tidak lagi sempat menghindar. Tetapi iapun sadar, bahwa serangan itu akan dapat menyakitinya Jika kaki Daruwerdi mengenai lambungnya, maka perutnya tentu akan menjadi mual. Bahkan mungkin matanyapun akan menjadi berkunang-kunang, sehingga lawannya akan sempat menyerangnya lebih sengit lagi. Karena itu, sekali lagi Semi harus menunjukkan kemampuan tenaganya. Meskipun t idak menghindar, tetapi ia memiringkan tubuhnya. Dengan sedikit merendah ia menahan serangan lawannya dengan sikunya. Sekali lagi terjadi benturan. Daruwerdi merasa, betapa serangannya membentur kekuatan yang luar biasa, sehingga ia justru terdorong selangkah surut Dalam pada itu, Semi tidak mau kehilangan kesempatan. Meskipun siku dan lengannya merasa betapa sakitnya hentakkan kekuatan Daruwerdi, namun sambil menahan perasaan sakit itu, Semilah yang kemudian meloncat menyerang Daruwerdi. Tidak terlalu keras, karena serangan itu datang dengan tergesa-gesa, tetapi cukup mengejutkan, sehingga Daruwerdilah yang kemudian dengan tergesa-gesa meloncat ke samping. Kesempatan itu kemudian dipergunakan oleh Semi sebaik- baiknya. Ia sempat mengerahkan kekuatannya, sehingga ayunan serangan berikutnya merupakan serangan yang cepat dan kuat, dilambar i dengan kekuatan cadangannya. Daruwerdi sekali lagi terkejut melihat serangan itu. Semi yang sejak semula tidak banyak menyerang, tiba-tiba menjadi garang. Karena itu, maka Daruwerdilah yang kemudian barusaha bertahan. Dengan kaki yang bagaikan menghunjam ke dalam bumi Daruwerdi menunggu benturan yang dahsyat, dengan sedikit merendah. Seperti juga lawannya maka iapun telah mengerahkan segenap tenaga cadangan. Sebenarnyalah yang terjadi kemudian adalah benturan yang sangat kuat antara dua kekuatan yang dilambari ilmu yang tinggi. Benturan yang bukan saja mendebarkan jantung kedua orang yang sedang bertempur itu. Namun Kiai Kanthi. Jlitheng, kawan Semi dan anak-anak Lumban Wetanpun menahan nafasnya. Ternyata keduanya telah terlempar beberapa langkahi Semi yang bagaikan membentur dinding baja itu terlempar surut beberapa langkah. Bahkan iapun telah kehilangan keseimbangan, dan terbanting jatuh. Kekuatan yang bagaikan membalik menghantam dirinya sendir i itu telah membuat dadanya menjadi sesak dan nafasnya bagaikan tersumbat. Sementara itu. Daruwerdi yang bertahan dengan segenap kemampuannya, ternyata telah terlempar pula. Rasa-rasanya ia telah terayun tanpa pegangan dan jatuh berguling ditanak Kepalanya menjadi pening, dan langit menjadi bagaikan berputar. Bintang-bintang yang bermunculan dilangit mengabur dan seakan-akan hilang satu demi satu. Hari yang semakin malam itupun rasa-rasanya telah menjadi hitam pekat. Sejenak semua orang diam mematung. Namun sejenak kemudian, kawan pemburu yang berdiri menjadi saksi dari benturan kekuatan itu telah melangkah maju. Kemudian dengan hati-hati ia berjongkok disamping Semi dan kemudian mendekati Daruwerdi. “Keduanya pingsan” desisnya. Anak-anak Lumban itupun kemudian berloncatan mendekat. Tetapi mereka lebih berani mendekati tubuh Semi yang terbujur diam. “Apakah ada air didekat tempat ini?“ bertanya pemburu yang seorang itu. “Ada” jawab salah seorang dari anak-anak Lumban Wetan itu “di pinggir pategalan ini ada sumur” “Ambillah air. Biarlah keduanya menjadi sadar” desis pemburu itu. Dua orang dari anak-anak Lumban Wetan itupun kemudian berlari-lari. Mereka mengambil air dengan timba upih dan membawanya kembali ke tempat dua orang pingsan itu Dengan hati-hati pemburu itu menit ikkan beberapa titik air di bibir Semi dan Daruwerdi. Untuk beberapa saat, ia menunggu. Namun kemudian silirnya angin dan segarnya titik air, membuat keduanya perlahan-lahan menyadari dari masing-masing. Ketika keduanya kemudian bangkit dan mengenang seluruhnya apa yang telah terjadi, maka rasanya kekuatan di dalam tubuh mereka masing-masing telah tumbuh kembali. Dengan serta merta keduanya berusaha untuk tegak berdiri betapapun letih dan lemahnya. Namun rasa-rasanya, kekuatan mereka itupun dengan cepatnya telah larut kembali. Tulang-tulang mereka bagaikan terlepas dari sendi-sendinya. Sehingga hampir saja keduanya terjatuh lagi. Hanya dengan mengerahkan sisa tenaga mereka sajalah, maka akhirnya mereka dapat bertahan untuk tetap berdiri, betapapun letihnya. Seolah-olah jika angin yang agak kencang menyentuhnya, merekatidak akan dapat lagi bertahan untuk tetap berdiri. Dalam pada itu, pemburu yang seorang, yang tidak terlibat dalam perkelahian itupun kemudian melangkah maju sambil berkata “Inilah akhir dari perkelahian kalian. Aku menjadi saksi bahwa kalian-berdua tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi“ “Persetan“ geram. Daruwerdi “Aku akan membunuhnya” “Lakukan jika kau mampu” sahut Semi sambil menggertakkan giginya. Tetapi pemburu yang seorang itupun berkata “Kalian adalah laki-laki jantan. Apakah kalian tidak dapat melihat kenyataan ini?“ Daruwerdi masih tetap berdiri tegak. Tetapi nampaknya ia mulai memikirkan keadaannya. Ia mulai melihat keadaan lawannya. Sebenarnyalah bahwa keduanya tentu tidak akan mampu lagi berbuat banyak. Keduanya hanya akan dapat melangkah satu-satu. Jika keduanya memaksa untuk menyerang, maka mereka tentu akan jatuh, tersungkur tanpa berhasil menyentuh lawannya, meskipun lawannya tidak dapat lagi untuk mengelak. Karena itu, maka keduanya masih tetap berdiri tanpa berbuat sesuatu. “Kenapa kalian diam saja? Perkelahian ini harus diakhiri sampai sekian. Kita semuanya harus mengakui apa yang telah terjadi disini sebagai satu kenyataan” berkata pemburu yang searang itu pula. Daruwerdi yang kemudian bergeser sambil menggeram “Jangan menganggap bahwa persoalan kita sudah selesai” “Tidak. Selama kau menganggap bahwa persoalan kita belum selesai, maka selama itu pula aku juga menganggap bahwa persoalan diantara kita belum selesai” jawab Semi. Daruwerdi tidak berbicara lebih panjang lagi. Bagaimanapun juga ia menghargai sikap kedua pemburu itu. Ternyata keduanya tidak merendahkan diri dan bertempur berpasangan, meskipun ia sudah menantangnya. Karena itu, maka Daruwerdi menghargai sikap itu sebagai sikap seorang laki- laki Dengan demikian, maka iapun merasa, bahwa jika ia meninggalkan arena itu, maka iapun telah bersikap sebagaimana sikap lawannya yang dapat melihat kenyataan. Tertatih-tatih Daruwerdipun kemudian meninggalkan pategalan itu. Sekilas ia masih sempat berpaling- Ia mclihal lawannya masih tetap berdiri di tempatnya, sementara anak- anak muda Lumban Wetanpun seolah-olah masih membeku di tempatnya. Baru ketika Daruwerdi telah hilang di dalam gelapnya malam yang menjadi semakin dalam, maka anak-anak muda Lumban Wetan itupun mulai bergeser mendekati Semi yang masih berdir i dengan letih, “Bagaimana?“ seorang anak muda Lumban Wetan bertanya, “Anak itu memang luar biasa” desis Semi. Namun kemudian “Tetapi seperti kalian lihat, akupun masih tetap tegak” Anak-anak muda Lumban Wetan itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa Daruwerdi memang seorang anak muda yang pilih tanding. Namun ternyata ia tidak dapat mengalahkan salah seorang dari kedua pemburu itu. “Kita kembali sekarang” berkata Semi “Tetapi sejak besok, ktman-ktihan akan meningkat. Siapa tahu, bahwa Daruwerdi telah dibakar oleh dendam yang tidak terkendali-kan, sehingga ia dengan segera dan tergesa-gesa akan menggerakkan anak- anak muda Lumban Kulon, Tentu ada saja persoalan yang dapat dipergunakan sebagai alasan untuk memulai dengan permusuhan. Bahkan kekerasan” Anak-anak muda Lumban Wetan itu menjadi berdebar- debar. Merekapun sependapat bahwa kemarahan Daruwerdi mungkin akan mempercepat pecahnya kekerasan antara anak anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Namun demikian, anak-anak Lumban Wetan yang berada dipategalan itupun bertekad untuk mempertahankan kepentingan padukuan mereka. Mereka tidak akan menerima perlakukan yang tidak adil dar i anak-anak Lumban Kulon atas air yang mengalir di sungai kecil itu. Apalagi satu kenyataan yang tidak dapat diungkir i, bahwa anak-anak Lumban Wetanlah yang lebih banyak berbuat atas air itu terutama Jlitheng. Karena itu, maka dengan sungguh-sungguh anak-anak Lumban Wetan menyatakan kesediaan mereka untuk berlatih lebih tekun. Apalagi kesepuluh orang itu merasa, bahwa mereka adalah orang-orang terpilih yang akan berada dipaling depan dari kawan-kawannya. Demikianlah, sebenarnyalah bahwa Daruwerdi yang marah itu tidak dapat mengambil sikap lain kecuali memaksa anak- anak Lumban Wetan untuk memenuhi keinginan anak-anak Lumban Kulon. Bahwa ia tidak dapat mengalahkan pemburu itu dihadapan kesaksian anak-anak Lumban Wetan, telah mendorongnya untuk mencari imbangan peristiwa yang dapat menekan kebanggaan anak-anak Lumban Wetan. “Anak-anak Lumban Kulon telah lama berlatih” berkata Daruwerdi. Meskipun Daruwerdi t idak dapat ingkar, bahwa sepuluh orang yang mengadakan latihan khusus itu memiliki kelebihan dar i anak-anak muda Lumban Wetan yang lain. bahkan mungkin juga atas anak-anak muda Lumban Kulon. Namun jumlah mereka terlalu sedikit untuk dapat menentukan kesejmbangan antara kekuatan anak-anak Lumban Kulon dan anak-anak Lumban Wetan. Namun dalam pada itu, Daruwerdi seakan-akan tidak memperhitungkan sama sekali anak-anak Lumban Wetan yang lain, yang serba sedikit pernah juga berlatih bersama anak- anak muda Lumban Kulon, yang kemudian setelah terhenti beberapa saat karena tingkah anak-anak Lumban Kulon, mereka telah mulai lagi di bawah ajaran pemburu yang ternyata juga memiliki kemampuan yang cukup, yang ternyata salah seorang dari mereka telah dapat mengimbangi kemampuan Daruwerdi, Demikianlah, maka dipagi hari berikutnya, Daruwerdi telah mulai dengan rencananya. Ia telah menemui Nugata yang memang telah dijangkiti oleh satu keinginan untuk memaksa anak-anak Lumban Wetan menuruti keinginan anak-anak muda Lumban Kulon, agar pintu air yang mengalir ke Lumban Kulon dibuat lebih lebar dari pintu air yang mengaliri parid- parit di Lumban Wetan. “Saatnya sudah tiba” berkata Daruwerdi tanpa mengatakan bahwa pemburu yang berada di Lumban Wetan dapat mengimbangi kemampuannya. “Kami sudah siap“ sahut Nugata “kapan kita lakukan hal itu?“ “Terserah kepada kalian. Semakin cepat, semakin baik” jawab Daruwerdi. “Kau yang akan memimpinnya?“ bertanya Nugata pula. Tetapi Daruwerdi menggeleng. Jawabnya “Tentu bukan aku” “Lalu siapa?“ bertanya Nugata dengan heran. “kalianlah yang melakukan. Bukan aku. Aku hanya akan mengawasi saja. Dengan demikian, kedua pemburu di Lumban Wetan itupun tidak akan melibatkan dir i” berkata Daruwerdi. “Jika mereka melibatkan diri juga?“ “Itu kewajibanku” jawab Daruwerdi. Namun ada juga semacam keragu-raguan, bahwa jika kedua pemburu itu bersama turun kearena, maka sudah pasti, bahwa ia tidak akan dapat melawannya. Ia sudah menjajagi kemampuan salah seorang dari keduanya. Dan yang seorang itupun mampu mengimbanginya. Tetapi Daruwerdi percaya, bahwa kedua pemburu itu bukan orang-orang yang licik. Bukan pengecut dan tidak akan berbuat curang. Karena itu, ia berharap, bahwa jika ia tidak melibatkan diri secara langsung, kedua pemburu itupun tentu tidak akan berbuat apa-apa, selain menyaksikan dan barangkali mengumpat-umpat. Nugata yang memang sudah lama menunggu, tiba-tiba saja bagaikan anak-anak mendapat tawaran untuk bermain kejar- kejaran. Dengan segera ia menemui kawan-kawannya yang di anggapnya orang terbaik di Lumban Kulon untuk membantunya memimpin anak-anak Lumban Kulon membuka pintu air. “Kita tidak peduli lagi, apa yang akan dilakukan oleh anak- anak Lumban Wetan. Kita akan melakukan sesuai dengan keinginan kita. Jika anak-anak Lumban Wetan, menentang, maka kita akan memaksanya dengan kekerasan” berkata Nugata kepada kawan-kawannya. Kawan-kawannyapun menjadi gembira pula. Merekapun menganggap bahwa anak-anak Lumban Wetan belum terlalu lama berlatih. Mereka tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh sepuluh orang anak-anak muda Lumban Wetan yang berlatih tanpa mengenal lelah. Sementara yang lainpun telah berlatih hampir setiap hari, sehingga kemampuan mereka telah meningkat lebih cepat dari anak-anak Lumban Kulon, meskipun waktunya lebih pendek. Dalam pada itu, selagi anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon mempersiapkan diri untuk mempertahankan keinginan masing-masing, maka telah hadir pula dengan diam- diam di daerah Lumban dua orang berkuda. Mereka langsung pergi ke bukit gundul pada saat matahari telah tenggelam di bawah cakrawala. “Kau panggil anak itu” berkata yang seorang. Yang seorang termangu-mangu. Namun kemudian. Katanya “Cempaka, apakah kita tidak melihat perkembangan keadaan di daerah ini lebih dahulu?“ Cempaka menggeleng Katanya “Daerah ini adalah daerah mati. Tidak akan ada perkembangan apapun juga. Orang- orang Lumban hidup seperti kakek dan neneknya hidup Mereka berbuat seperti apa yang telah diperbuat oleh orang- orang tua sebelumnya. Jika kita pernah datang beberapa saat lampau, maka pada saat ini, Lumban masih seperti saat ini, Lumban masih seperti saat-saat lampau itu. Karena itu, pergilah Rahu” “Apakah anak itu tidak merupakan sumber gerak dari kehidupan di Lumban?“ bertanya Rahu. Cempaka menggeleng lemah. Jawabnya “Aku kira ia tidak sempat berbuat apa-apa disini. Mungkin karena malas, tetapi mungkin karena acuh tidak acuh. Ia mempunyai kepentingan tersendiri” Rahu tidak menjawab. Namun kemudian setelah menambatkan kudanya ia melangkah meninggalkan Cempaka seorang diri di daerah yang kering tandus itu. Namun Cempakapun mengetahui, bahwa parit-parit dibeberapa bagian telah mulai basah oleh air yang naik dari sungai kecil yang menampung air dari bukit berhutan itu. Dalam pada itu, Rahupun berusaha untuk mencapai rumah Daruwerdi tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam gelapnya malam, ia tidak menemui kesulitan apapun untuk menyusup tanpa diketahui oleh anak-anak Lumban Kulon yang berada di gardu-gardu. Yang sedang sibuk mematangkan rencana mereka untuk membuka pintu air tanpa persetujuan anak- anak Lumban Wetan. Bahkan mereka telah berkepu-tusan untuk mempergunakan kekerasan apabila anak-anak Lumban Wetan berusaha mencegah mereka. Kedatangan Rahu memang mengejutkan Daruwerdi. Namun Rahupun segera memberitahukan, bahwa Cempaka telah berada di bukit gundul. “Aku akan segera datang” berkata Daruwerdi kemudian. Seperti yang dikatakannya, begitu Rahu kembali ke bukit Gundul, dan member itahukan kesediaan Daruwerdi untuk datang, maka anak muda itu sudah nampak dalam keremangan malam, beberapa langkah saja dari keduanya. “Aku kira kau sudah menyerah” berkata Daruwerdi, demikian ia berdir i dihadapan Cempaka. “Jangan Gila“ potong Cempaka “kau kira kami termasuk golongan anjing yang hanya dapat menggonggong? Apa yang sudah dapat dilakukan oleh orang-orang Pusparuri dan orang- orang Kendali Putih?“ “Katakan sajalah, bahwa kau sudah berhasil menangkap Pangeran itu” desis Cempaka “Aku tidak perlu dengan bualanmu” “Kau hanya wajib mendengarkan. Apapun yang akan aku katakan, biarlah aku katakan” geram Cempaka “Dan sekarang, aku mengemban tugas dari pimpinan tertinggi kami” “Menyerahkan orang itu?“ bertanya Daruwerdi dengan serta-merta. “Kau benar-benar iblis. Dengar dahulu. Kami akan membawa Pangeran itu dan melindunginya disepanjang perjalanan. Sudah barang tentu kami tidak ingin kehilangan apabila orang- orang Pusparuri atau orang-orang Kendali Putih, atau orang- orang Gunung Kunir, bahkan mungkin para prajurit Demak yang ingin mengambil Pangeran itu dari tangan kami” Daruwerdi tersenyum. Sekilas ditatapnya wajah Cempaka yang tegang. Namun kemudian katanya “Baiklah. Aku akan menunggu. Tetapi jika kalian masih menunggu tanpa ada batasnya, maka justru kalian akan menyesal, karena orang- orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih dan barangkali dari kelompok-kelompok yang lain akan sempat merebutnya dari tangan kalian” “Itu urusan kami” jawab Cempaka “Tetapi ketahuilah, bahwa kami akan datang dalam waktu dekat, mungkin ini. Bersiaplah untuk mener imanya dan siapkan pusaka itu sebelum kami datang. Ingat, jika kau ingkar, maka kau tidak akan dapat mengelak lagi j ika kami berbuat sesuatu yang akan menyakit i tubuhmu, sebelum nyawamu lepas dari wadagmu” Daruwerdi tertawa. Katanya “Kau hanya dapat mengancam. Sudahlah, bawa Pangeran itu kemari. Aku memerlukannya segera” “Sudah aku katakan, aku akan datang lagi mungkm dalam pekan ini” jawab Cempaka. Daruwerdi mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Aku akan menunggu. Segalanya sudah siap” Cempaka tidak berbicara terlalu panjang. Ketika semua masalah yang penting sudah dikatakannya, maka iapun berkata “Aku akan kembali untuk melaporkan pertemuan ini” “Demikian tergesa-gesa” bertanya Daruwerdi. “Apakah kau ingin menahan kami berdua?“ bertanya Cempaka pula. Daruwerdi mengerutkan keningnya. Katanya “Tidak. Kembalilah dan segera bawa Pangeran itu kemari” Cempaka memandang Daruwerdi dengan tegang. Namun kemudian katanya kepada Rahu “Kita akan kembali sekarang juga” Rahu tidak menjawab. Iapun kemudian berdiri dan melangkah kekudanya yang tertambat, disusul oleh Cempaka sambil berkata “Aku akan datang lagi untuk menyelesaikan masalah kita sampai tuntas” Daruwerdi tertawa. Tetapi ia tidak beranjak dari. tempatnya ketika ia melihat Cempaka dan Rahu meninggalkan bukit gundul itu. Di dalam gelapnya malam yang semakin kelam, Rahu berkuda di belakang Cempaka menyusuri bulak panjang. Namun kuda mereka t idak berpacu dengan kencang. “Cempaka” berkata Rahu kemudian “Apakah kau percaya kepada anak itu?“ Cempaka mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “Aku memang ragu-ragu” “Aku ingin mengawasinya” berkata Rahu “Maksudmu?“ “Aku akan tinggal disini. Aku akan melihat-lihat apakah ia bertindak dengan jujur. Mungkin ia mempersiapkan penyambutan yang sama sekali tidak kita duga-duga. Mungkin ia akan mener ima Pangeran itu, namun ia berkeberatan menyerahkan pusakanya. Untuk itu ia tentu tidak akan bertindak seorang diri” Cempaka mengangguk-angguk, la dapat mengerti jalan pikiran Rahu. Namun ia masih bertanya “Jika Daruwerdi mengetahui bahwa kau berada disini, mungkin ia akan berusaha untuk merubah rencananya” Rahu merenung sejenak. Namun kemudian Katanya “Sulit untuk tidak diketahui oleh Daruwerdi. Karena itu, tidak ada salahnya jika aku dengan terang-terangan berada disini” “Itu akan dapat membahayakan jiwamu. Daruwerdi akan dapat mempergunakan kekuatan lain untuk menangkap dan mungkin membunuhmu sebelum kau sempat melaporkan, apa yang kau lihat disini” “Aku akan berusaha untuk melindungi dir iku sendir i” jawab Rahu. Namun kemudian Katanya “Cempaka, marilah kita membuat janj i Aku akan berada di tempat yang akan kita tentukan pada akhir pekan, untuk memberikan laporan. Jika aku tidak ada di tempat itu, maka berhati-hatilah. Mungkin aku benar-benar telah ditangkap atau dibunuh oleh peng-ikut- ikut Daruwerdi” “Jadi, apapun yang terjadi disini, kau akan menunggu kami di tempat yang akan kita tentukan?“ bertanya Cempaka “Dan apabila kau tidak berada di tempat itu, berarti bahwa keadaan tentu gawat bagi kita” “Ya. Aku akan ada di tempat itu. Kecuali j ika aku mat i” jawab Rahu. Cempaka mengangguk-angguk. Iapun kemudian menentukan tempat yang paling baik bagi Rahu untuk menunggu kedatangan orang-orang Sanggar Gading yang akan dipimpin langsung oleh Pemimpin Tertingginya. Namun yang di dalam ir ing- iringan itu ternyata telah terdapat benih- benih perselisihan yang gawat diantara mereka. Dengan demikian, maka Rahupun tidak meneruskan perjalanannya. Di padanginya Cempaka yang kemudian memacu kudanya sampai hilang ditelan kelamnya malam. Sejenak Rahu termangu-mangu. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya udara di daerah Sepasang Bukit Mati itu akan dihirupnya sampai habis. Ketika ia kemudian berpaling, dilihatnya dalam keremang- an malam bayangan Sepasang Bukit Mati yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu dekat. Bukit yang sebelah adalah bukit gundul berbatu-batu, sedang yang lain adalah bukit berhutan lebat “Di daerah ini ada Semi dan Bantaradi” berkata Rahu di dalam hatinya “Aku harus menemukan keduanya” Sejenak Rahu masih berada di tempatnya. Namun kemudian iapun menarik kendali kudanya. Ketika kuda itu sudah berputar, maka Rahupun menyentuh leher kudanya, sehingga kudanya itupun mulai berjalan perlahan-lahan menuju kembali ke bukit gundul. “Aku tidak perlu bersembunyi” Katanya “dengan demikian, aku akan lebih mudah untuk bertemu dengan Semi atau Bantaradi, karena mereka akan segera mengetahui bahwa aku berada disini” Perlahan-lahan Rahu maju semakin dekat dengan Bukit Gundul. Namun iapun kemudian membelokkan kudanya, menuju kebagian Timur dari dua Kabuyutan yang semula hanya satu. “Bantaradi berada di Lumban Wetan” katanya kepada diri sendiri. Perlahan-lahan kuda Rahu menyusuri jalan bulak ke Lumban Wetan. Tetapi malam menjadi semakin kelam, sehingga Lumbanpun rasa-rasanya telah tertidur dengan nyenyaknya. “Mungkin di gardu-gardu ada juga anak-anak muda yang berjaga-jaga” berkata Rahu di dalamhatinya. Karena itu, ketika dari kejauhan ia melihat nyala obor disudut sebuah padukuhan, maka iapun mendekatinya. Lampu itu tentu lampu minyak disebuah gardu. Ketika Rahu kemudian mendekatinya, maka anak-anak di dalam gardu itupun terkejut. Mereka segera berloncatan turun. Lima orang yang berjaga-jaga di gardu itupun kemudian memencar. Rahu mengerutkan keningnya. Sikap anak-anak Lumban Wetan ternyata cukup cermat menghadapi orang yang belum dikenalnya. Seorang yang tertua diantara anak-anak yang berada di gardu itupun kemudian melangkah maju sambil bertanya “Siapakah Ki Sanak?“ Rahu meloncat turun dari kudanya Jawabnya “Aku seorang petualang yang tidak mempunyai tempat tinggal. Aku tidak mempunyai tujuan dan niat apapun dengan perjalananku. Namaku Rahu” Anak-anak di gardu itu termangu-mangu. Memang mereka agak curiga melihat seorang berkuda di malam yang gelap. Apalagi ketika orang itu menyatakan dirinya seorang petualang. “Ki Sanak“- berkata penjaga di gardu itu “Jika demikian, kemana Ki Sanak akan pergi malam ini” “Aku lewat dipadukuharrmu. Seperti yang aku katakan, tanpa maksud” jawab Rahu. “Aneh” desis anak Lumban Wetan itu. Namun kemudian katanya “Tetapi jika kau ingin lewat, lewatlah. Tetapi jangan mengganggu padukuhan kami” Rahu mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Namun kemudian katanya “Aku memang akan lewat. Tetapi aku ingin bermalam dibanjar padukuhan ini semalam. Aku sudah terlalu lelah” Anak-anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu. Namun mereka memang melihat orang berkuda itu nampak lelah. Tetapi untuk member inya tempat di banjar, ia masih juga ragu-ragu. Terbayang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di padukuhan itu. Orang-orang berkuda telah sering membuat padukuhan mereka menjadi gemetar. Karena anak-anak muda itu tidak segera menjawab, maka Rahupun kemudian berkata “Tunjukkan kepadaku, dimanakah letak banjar padukuhan Lumban Wetan” “Ada beberapa banjar” jawab anak-anak itu ”Hampir disetiap padukuhan ada banjar. Jika yang kalian maksud banjar di padukuhan induk Kabuyutan Lumban Wetan, pergilah ke padukuhan disebelah bulak yang tidak terlalu panjang ini” Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandangnya jalan yang diselubungi oleh kegelapan. Namun akhirnya ia berkata “Baiklah. Aku akan pergi ke padukuhan induk Kabuyutan Lumban Wetan” Rahu tidak menunggu lagi. Iapun segera meninggalkan anak-anak muda di gardu itu menuju ke padukuhan induk. “Kenapa kau tunjukkan banjar itu?“ bertanya seorang anak muda kepada kawannya yang tertua, yang telah menunjukkan banjar itu kepada Rahu. “Biar lah ia kesana” jawabnya “dibanjar ada kedua pemburu itu. Jika orang itu ternyata ingin berbuat jahat, maka pemburu-pemburu itu tentu akan mencegahnya” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantaranya bergumam “Cepat juga kau berpikir” Sambil menengadahkan dadanya ia menjawab “Aku termasuk orang terbaik di padukuhan ini. Satu-satunya orang yang termasuk sepuluh terpilih” “Ah, sombongnya kau” desis yang lain “meskipun kami tidak termasuk yang sepuluh, kami tidak kalah pesatnya maju dibanding dengan kalian” Kawannya itu tertawa. Katanya “Sudahlah. Biarlah orang itu bertemu dengan kedua pemburu itu. Aku masih lelah. Latihan yang baru saja selesai ini rasa-rasanya telah memeras segenap tenagaku” “Dan kau langsung datang kemari?“ bertanya kawannya. “Tentu tidak. Pulang dahulu, mandi dan makan sekenyang- kenyangnya” jawab anak muda itu. Dalam pada itu, Rahupun menuju keinduk Kebuyutan Lumban Wetan, la berharap dapat bertemu dengan Jlitheng. Mungkin di gardu-gardu. Mungkin disepanjang jalan, apabila anak muda itu berada di sawah. Seandainya tidak malam itu. besok anak-anak Lumban tentu sudah akan mempercakapkan kehadirannya. Seorang petualang yang bernama Rahu. “Bantaradi mengenal namaku dengan baik” desisnya. Dalam pada itu, ketika Rahu memasuki padukuhan induk, maka digerbang ia terpaksa berhenti karena beberapa orang anak-anak muda yang berada di gardu itupun berloncatan turun pula. Seperti di gardu pertama, maka anak-anak muda itupun bertanya kepadanya, siapakah namanya dan keperluannya. Ternyata Rahu menjawab dengan jawaban yang agak berbeda. Katanya “Namaku Rahu. Aku seorang perantau yang kemalaman dijalan. Apakah aku diperkenankan bermalam disini?“ Anak-anak muda itupun termangu-mangu. Merekapun telah dibayangi oleh kegelisahan yang timbul karena kehadiran orang-orang berkuda sebelumnya. Namun, seperti anak muda di gardu pertama, dibanjar telah t inggal untuk sementara dua orang pemburu yang memiliki kamampuah yang tinggi. Yang seorang diantara mereka telah terbukti mampu mengimbangi kemampuan Daruwerdi. Karena itu, maka mereka tidak begitu cemas lagi dengan kehadiran orang berkuda itu. Salah seorang dari anak-anak muda yang berjaga-jaga digerdu itu berkata “Baiklah. Pergilah ke banjar. Kau akan mendapat tempat untuk beristirahat malamini” “Apakah dibanjar ada orang yang dapat menerima kehadiranku dan memberikan tempat kepadaku?“ bertanya Rahu. Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Biasanya dibanjar ada beberapa orang anak muda yang duduk-duduk sambil berbincang-bincang dengan kedua pemburu itu. Namun kadang-kadang pada satu saat banjar itu menjadi sepi. Anak- anak itu masih belum datang, atau mereka berada di gardu- gardu yang lain. Karena itu, maka seseorang yang paling disegani diantara anak-anak muda itupun berkata kepada seorang kawannya “ Antarkan orang itu” Tetapi kawannya tidak segera beringsut. Masih membayang kecemasan di wajahnya. Karena itulah maka anak muda yang paling berpengaruh itupun berkata pula “Pergilah berdua” Dalam pada itu, sambil tersenyum Rahu berkata “Kalian mencur igai aku?“ Tidak seorangpun yang menjawab. Namun Rahu meneruskan “Aku mengerti, kenapa kalian mencur igai seseorang yang memang belum kalian kenal” Anak-anak muda Lumban Wetan itu hanya saling berpandangan, semenetara Rahu berkata lebih lanjut” Marilah. Siapakah yang akan mengantar aku ke banjar. Akhirnya dua orang anak muda bergeser maju. Seorang dari mereka berkata “Marilah. Ikutlah aku. Ana-anak muda itupun kemudian berjalan mendahului petualang yang mengaku bernama Rahu itu menuju ke banjar Baru kemudian, setelah Rahu mengikutinya beberapa langkah di belakangnya, anak muda yang seorang lagi melangkah pula menyusul. Rahu tersenyum melihat kesiagaan anak-anak Lumbar, Wetan itu. Tetapi iapun mengerti, bahwa Lumban Kulon dan Lumban Wetan memang pernah disentuh oleh orang-orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih. Namun ingatan tentang orang-orang Pusparuri dan Kendali Putih itu telah menggetarkan hatinya pula. Tidak mustahil bahwa perjalanan orang-orang Sanggar Gading telah dicegat oleh orang-orang Pusparuri atau orang-orang Sanggar Gading telah dicegat oleh orang-orang Pusparuri atau orang-orang Kendali Putih atau padepokan yang manapun. Bahkan mungkin, satu dua padepokan telah bergabung menjadi satu, meskipun akhirnya mereka akan saling bergabung pula. Ternyata jalan ke banjar itu tidak terlalu panjang. Beberapa saat kemudian, merekapun telah sampai ke pintu regol banjar yang ternyata masih terbuka. Dalam pada itu, ketika Rahu memasuki regol itu, iapun tertegun. Dilihatnya dua ekor kuda tertambat disamping pendapat, seolah-olah tengah dipersiapkan untuk satu perjalanan. “Kuda siapa?“ bertanya Rahu tiba-tiba. Anak muda yang mengantarnya, yang kemudian berdiri disebelahnya berkata “Ada dua orang pemburu bermalam di banjar ini pula. Malam ini mereka akan pergi berburu. Agaknya kuda-kuda itu adalah kuda mereka yang siap berangkat” Rahu menjadi berdebar-debar. Ia harus memperhitungkan kedua orang pemburu itu pula. Mungkin ia benar-benar dua orang pemburu yang tidak berarti apa-apa karena mereka hanya mampu memburu binatang. Tetapi dalam kemelut di- daerah Sepasang Bukit Mati itu, ada orang-orang lain yang ikut pula mengambil keuntungan. Karena itu, Rahu yang kemudian menambatkan kudanya pula di depan banjar itupun menjadi sangat berhati-hati menghadapi keadaan. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, sementara anak-anak muda yang mengantarnya telah naik ke pendapa sambil mempersilahkan “Mar ilah. Duduklah. Biarlah aku menyiapkan segala sesuatunya. Ada bilik di belakang banjar yang dapat kau pergunakan. Jika semuanya sudah siap. aku akan mempersilahkanmu” Rahu naik ke pendapa. Kemudian iapun duduk dialas sehelai tikar yang memang sudah terbentang. Di tengah- tengah pendapa itu terdapat lampu minyak yang tidak terlalu besar. Dalam pada itu, maka kedua anak-anak muda itupun telah memasuki ruang dalam banjar dan kemudian langsung menuju kebelakang. Keduanya tertegun ketika mereka mendengar suara orang-orang yang sedang bercakap-cakap. Seperti yang diduganya, ketika ia memasuki bilik yang diperuntukkan bagi kedua pemburu itu, mereka melihat bahwa kedua orang pemburu itu sudah siap berangkat. “Kalian akan berburu?“ bertanya anak-anak muda itu. “Ya” jawab kedua orang pemburu “Aku sudah mengatakannya kepada orang tua yang menunggui banjar ini. Bahkan orang tua itu telah menyiapkan bekal bagi kami” “Ada tamu di pendapa” desis salah seorang dari kedua anak-anak muda itu. “Siapa?“ bertanya salah seorang dari kedua pemburu itu. “Aku kurang tahu. Bertanyalah sendiri kepadanya, la mengaku seorang petualang” jawab anak muda itu. Semi dan kawannya termangu-mangu. Namun keduanyapun kemudian melangkah keluar dari bilik mereka menuju ke pendapa. Demikian mereka berdir i di pintu pringgitan, hatinya menjadi berdebar. Ia langsung dapat mengenal orang itu. Rahu. Tetapi sejenak kemudian ia berusaha menguasai dirinya. Ia tidak segera mengetahui, manakah yang lebih baik. Apakah ia langsung bersikap sebagai seseorang yang telah mengenalnya, atau sebaliknya. Sementara itu Rahu yang duduk ditikar yang terbentang itupun telah melihat, siapa yang berdir i di pintu. Tetapi diwajahnya sama sekali t idak membayang kesan, bahwa ia telah mengenalnya. Karena itu, maka Semipun bersikap serupa pula. Perlahan-lahan ia mendekati tamunya diikuti oleh kawannya yang ragu-ragu pula. “Selamat datang Ki Sanak” berkata Semi. Rahu mengangguk hormat sambil menjawab “Terima kasih. Apakah kalian pemimpin anak-anak muda Lumban Wetan?“ Semi tersenyum. Jawabnya “Bukan. Aku adalah seorang pemburu yang menumpang dibanjar ini bersama kawanku ini” “O, begitu” desis Rahu “kebetulan sekali Kita akan sama- sama menumpang di banjar ini” Semi tersenyum. Bersama kawannya iapun segera duduk menemani tamu yang baru datang itu. Sejenak kemudian, maka anak-anak muda yang mengantarkan Rahu ke banjar itupun minta diri untuk kembali ke gardu. “Terima kasih atas kebaikan kalian” berkata Rahu kepada anak-anak muda itu “Ternyata disini aku mendapat kawan” “Silahkan” jawab salah seorang anak muda itu “Jika kedua pemburu itu akan pergi juga berburu, kau dapat pergi ke bilikmu yang sudah kami siapkan. Disebelah banjar ini t inggal seorang tua yang menunggui banjar ini. Aku sudah member itahukan kepadanya, bahwa selain kedua pemburu itu, ada seorang lagi yang harus dilayaninya” “Terima kasih, terima kasih. Kalian terlalu baik” desis Rahu. Anak-anak muda itu hanya tersenyum saja, Merekapun kemudian meninggalkan banjar itu, kembali kegardu. “Bagaimana sikap petualang itu?“ bertanya kawan- kawannya. “Nampaknya ia orang baik, meskipun agak kasar. Ia sekarang duduk bersama kedua pemburu. Untunglah bahwa keduanya masih belum berangkat, meskipun sudah siap. Jika kami lambat beberapa langkah, tentu ia sudah meninggalkan banjar” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka tidak perlu mencemaskan kehadiran orang yang menyebut dir inya petualang bernama Rahu itu, justru karena di banjar ada kedua pemburu yang mereka anggap memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga keduanya tentu akan dapat mencegah j ika petualang itu berbuat sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sementara itu, ketika anak-anak muda itu telah kembali kegardunya, maka mulailah Rahu dan kedua pemburu itu berbicara wajar. Dengan singkat Rahu menceritakan, bahwa Cempaka sudah mempersiapkan saat-saat penyerahan Pangeran yang akan ditukarkan dengan sebuah pusaka yang sangat di hormati banyak orang itu. “Kau sengaja tinggal disini?“ bertanya Semi. “Ya. Aku sudah mendapat ijin Cempaka. Aku harus mengamati keadaan, agar Daruwerdi tidak melakukan pokal yang dapat mengganggu saat-saat penyerahan itu” jawab Rahu. “Kau lakukan dengan diam-diam, atau sengaja kau lakukan dengan terbuka?“ bertanya Semi. “Aku lakukan dengan terbuka. Biarlah Daruwerdi mengetahui kehadiranku disini” jawab Rahu, lalu “Cempaka mencemaskan keadaanku karena ia tidak mengetahui bahwa disini hadir kalian berdua dan Bantaradi” Rahu berhenti sejenak, kemudian tiba-tiba saja “He, apakah kau sudah berhubungan dengan anak itu?“ “Ya. Aku sudah berhubungan dengan anak yang dipanggil Jlitheng itu meskipun diluar hubungan wajar, karena disini ia adalah seorang yang tidak terhitung anak-anak muda terbaik” jawab Semi. “Bagaimana menurut penilaianmu atas anak itu? Meskipun ia dapat membuktikan, bahwa ia adalah putera Pangeran Surya Sangkaya, namun kita tidak mengetahui perkembangan pribadinya” “Nampaknya ia dapat dipercaya, la telah berbuat banyak bagi Lumban. Namun diluar kemampuannya, ia tidak dapat mencegah pertentangan antara anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang sedang berebut air” “Air?“ bertanya Rahu. “Satu persoalan tersendiri bagi Lumban” jawab Semi yang kemudian menceriterakan pertentangan yang semakin panas antara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan. “Aku justru telah terlibat” berkata Semi, yang menyelesaikan ceriteranya dengan keterlibatannya. Rahu justru tersenyum. Katanya “Kau sudah menjajagi kemampuan Daruwerdi. Namun justru karena itu, kita harus memikirkan apa yang akan dilkukan kemudian. Seandainya ia seorang diri mener ima Pangeran yang sakit itu, yang pada satu saat akan sembuh atau sakitnya menjadi semakin berkurang. Apakah ia dapat berbuat sesuatu, mungkin memaksakan kehendaknya, apalagi membalas dendam seperti yang dikatakannya. Aku menduga, bahwa Pangeran itu mempunyai kemampuan ilmu yang tinggi Jika saja ia tidak sedang sakit, maka mungkin sekali kedatangan kami di istananya itupun akan kehilangan arti sama sekali. Mungkin kitapun akan mengalami nasib yang tidak baik. Agaknya itu adalah salah satu kecermatan kerja Sanggit Raina” Semi mengangguk-angguk. Katanya “Memang menar ik sekali. Bahkan cukup menumbuhkan kecur igaan bahwa Daruwerdi akan menjebak orang-orang Sanggar Gading” “Alasan itulah yang aku sebutkan sehingga aku dapat tinggal disini” desis Rahu. “Tetapi orang-orang Sanggar Gading telah mengenal aku. Apakah kehadiranmu bersamaku disini tidak menarik perhatian mereka?“ bertanya Semi t iba-tiba. “Yang ada disini baru aku. Cempaka telah kembali. Aku kira orang-orang Sanggar Gading itu tidak akan mengir imkan orang lain lagi” jawab Rahu. Namun kemudian “Tetapi seandainya demikian, aku dapat mengatakan, bahwa kau sengaja aku panggil untuk membantuku disini, tentu saja atas tanggung jawabku jika terjadi kebocoran” Semi mengangguk-angguk. “Tetapi bagi Daruwerdi kita adalah orang lain” berkata Rahu kemudian. Ternyata malam itu Semi mengurungkan niatnya untuk berburu. Ia harus membicarakan banyak hal dengan Rahu. Tetapi pembicaraan mereka sama sekali tidak menumbuhkan kecurigaan anak-anak muda Lumban yang ketika nganglang dari gardu parondan masih melihat mereka duduk berbincang di pendapa. “Mereka justru dapat menyesuaikan diri masing-masing“ berkata anak-anak muda itu “nampaknya mereka sedang mencer iterakan pengalaman masing-masing, sehingga pemburu itu mengurungkan rencananya malam ini” Dalam pada itu, Rahu dan Semi sudah menemukan beberapa kesepakatan atas kehadiran mereka di Lumban Wetan. Semilah yang wajib memberikan keterangan tentang kehadirannya kepada Jlitheng pada kesempatan yang dapat dicarinya sendir i. “Besok aku akan menemui Daruwerdi” berkata Rahu “supaya ternyata bahwa kehadiranku bukanlah kehadiran yang diam-diam dan bersembunyi Dengan demikian, maka ialah yang harus melakukan rencananya dengan diam-diam, jika ia memang mempunyai niat untuk menjebak kami” “Apakah itu bukan satu kekeliruan” desis Semi “sebaiknya biarlah Daruwerdi melakukannya dengan terbuka. Dengan demikian kau akan segera mengetahuinya” “Kita akan dapat memanfaatkan Jlitheng untuk membantu kita. Jika ia melakukannya dengan diam-diam, maka berharap bahwa Jlitheng akan dapat mengetahuinya” sahut Rahu. Semi mengangguk-angguk. Desisnya “Aku percaya kepada anak muda yang aneh itu. Meskipun aku tidak tahu, apakah sifat-sifat kesatria dan keluhuran budi Pangeran Surya Sangkaya ada pada dirinya” “Agaknya memang demikian” jawab Rahu. Semi masih mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berkata “Rahu, jika kau lelah, silahkan beristirahat. Mungkin besok kita akan berbicara lagi setelah tumbuh perkembangan baru. Aku masih harus melihat, apakah anak-anak Lumban Kulon benar akan bertindak kasar terhadap anak-anak Lumban Wetan. Jika demikian, maka aku masih akan diganggu oleh persoalan itu” “Selesaikan persoalanmu sebaik-baiknya” berkata Rahu “Tetapi jika peristiwa itu bersamaan dengan kedatangan orang-orang Sanggar Gading, maka mungkin akan dapat timbul salah paham. Mungkin orang-orang Sanggar Gading mempunyai dugaan yang salah, sehingga mereka mengambil sikap yang salah pula terhadap anak-anak Lumban Kulon -dan Lumban Wetan. Jika demikian maka akan jatuh korban yang tidak berarti sama sekali. Mereka yang tidak bersangkut paut sama sekali dengan persoalan Daruwerdi dan orang-orang Sanggar Gading justru akan mengalami nasib yang buruk” “Kau dapat mengatakannya kepada orang-orang Sanggar Gading j ika saatnya mereka datang” jawab Semi. “Akan aku coba” desis Rahu. Demikianlah maka Rahupun kemudian masuk ke dalam bilik yang sudah disediakan baginya, sementara Semi dan kawannyapun kembali pula ke dalam biliknya. Tetapi ia sempat mengetuk pintu orang tua penunggu banjar itu dan berkata dari luar pintu “Aku tidak jadi pergi. Tetapi makanan yang kau berikan telah habis aku makan” Ternyata orang tua itu hanya menggeliat sambil berguman “Terserahlah” Semi tersenyum. Dihari berikutnya, Rahu sengaja ingin menemui Daruwerdi. Ia ingin menyatakan bahwa ia tetap tinggal di padukuhan itu dan ia ingin pula mengetahui perkembangan terakhir seperti yang dikatakan oleh Semi tentang hubungan yang memburuk antara anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Kedatangan Rahu memang mengejutkan Daruwerdi. Ia lebih terkejut dari saat ia melihat kehadirannya semalam. “Kau masih disini?“ bertanya Daruwerdi. “Ya” jawab Rahu “Aku ingin meyakinkan, apakah kau t idak berlaku curang” Daruwerdi tertawa. Katanya “Kau memang gila. Orang- orang Sanggar Gading memang gila. Kalian selalu dibayangi oleh prasangka buruk, karena kelakuan kahan sendir i. Seolah- olah setiap orang berkelakuan buruk seperti orang Sanggar Gading. Lebih dari itu setiap orang kau sangka berbuat licik seperti yang kalian lakukan” Rahu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menjawab “Apakah kau beranggapan demikian?” “Sejak semula. Bukan saja terhadap orang-orang Sanggar . Gading. Tetapi juga orang-orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih dan orang-orang lain yang tamak” jawab Daruwerdi. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Terserah anggapanmu. Tetapi kami wajib berhati-hati terhadap orang seperti kau. Apakah kira-kira Pangeran yang akan diserahkan kepadamu itu tidak akan menganggap bahwa kau juga seorang yang sangat licik? Bahkan mungkin orang yang paling licik diseluruh dunia?“ Daruwerdi tertawa. Katanya kemudian “Baiklah apa yang ingin kau lakukan” Rahu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya “Daruwerdi, menurut pendengaranku, ada persoalan yang timbul antara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan?“ “Ah, itu permainan anak-anak ingusan.-Apa kepentinganmu?“ bertanya Daruwerdi “Aku mengingat peristiwa yang besar dalam, keselurhan“ jawab Rahu. ”Peristiwa apa?“ bertanya Daruwerdi. “Jika per istiwa itu terjadi tepat pada kedatangan orang- orang Sanggar Gading, apakah tidak akan dapat menimbulkan salah paham? Jika orang-orang Sanggar Gading tidak sempat menelaah persoalan itu sebaik-baiknya, maka kami akan menyangka, bahwa kau akan menjebaknya” jawab Rahu sehingga dengan demikian mungkin akan menimbulkan persoalan yang lain sama sekali dengan persoalan yang sudah kita. bicarakan disini“ Tetapi Daruwerdi justru tertawa semakin panjang. Katanya “Jangan memikirkan yang bukan-bukan. Sudahlah. Lupakan saja semuanya” Daruwerdi berhenti sejenak, lalu “He, dimana kau tinggal selama kau mengawasi aku?“ “Di banjar padukuhan induk Kabuyutan Lumban Wetan“ jawab Rahu. “Kau tinggal bersama dua orang pemburu?“ bertanya Daruwerdi dengan kerut merut dikeningnya. Rahu tersenyum. Jawabnya “Dua ekor monyet yang menjemukan. Mereka terlalu banyak bicara. Aku sekali-kali ingin membungkam mulut mereka” “Jangan main-main dengan kedua orang itu “Daruwerdi memper ingatkan “seperti yang kau cemaskan dengan anak- anak muda Lumban, maka dengan kedua orang itu mungkin sekali akan dapat menumbuhkan persoalan lain. Bahkan mungkin kau akan dibunuhnya seperti seekor kijang” Tetapi Rahu tertawa. Dengan suara lantang ia menjawab “Kau masih sempat bergurau dalam keadaan seperti ini Daruwerdi Kau memang, orang yang luar biasa. Seolah-olah kau anggap segala peristiwa yang akan sama-sama kita hadapi itu sebagai lelucon saja” “Aku tidak berbicara tentang persoalan kita. Tetapi tentang kedua pemburu itu” jawab Daruwerdi. “Ya. Itulah yang aku maksud. Kedua pemburu itu dalam hubungannya dengan aku” berkata Rahu pula “Kau masih juga sempat memper ingatkan aku, bahwa orang itu mungkin akan membunuhku. Bukankah itu satu lelucon yang sangat menarik” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun kemudian dengan sungguh-sungguh ia berkata “Jangan berkata begitu. Aku yakin, bahwa kedua orang pemburu itu bersama-sama akan dapat membunuhmu j ika kau hanya seorang diri” Rahu tertawa semakin keras. Katanya “Aku, orang Sanggar Gading kepercayaan Cempaka yang bertugas untuk mengawasimu dalam keadaan yang gawat dan sungguh- sungguh, akan dapat dibunuh oleh dua orang pemburu kancil?“ Daruwerdipun ikut tersenyum. Tetapi hatinya terasa pahit, bahwa ia yang pernah mengalaminya, tidak dapat mengalahkan salah seorang dari keduanya. Tetapi ia sama sekali tidak ingin mengatakannya kepada Rahu, orang Sanggar Gading itu. Yang dikatakannya adalah kemampuan pemburu itu menangkap seekor harimau yang besar tanpa melukai harimau itu. “Bukankah itu hal yang sangat wajar?“ sahut Rahu “seorang petani yang tidak pernah berkelahipun akan dapat melakukannya” “Mustahil” sahut Daruwerdi “ bagaimana mungkin” “Mudah sekali. Diber inya umpan sepotong daging yang sudah diberi racun. Mungkin racun warangan, mungkin getah salah satu pepohonan yang diketahui beracun, mungkin cara- cara lain semacam itu. Bukankah orang itu akan dapat menangkap harimau itu tanpa melukainya?“ Daruwerdi berpikir sejenak. Namun kemudian mengangguk-angguk sambil tersenyum “Mungkin. Mungkin sekali” Namun demikian Daruwerdi t idak dapat melepaskan kenyataan bahwa ia tidak dapat mengalahkan salaH seorang dari keduanya. Dalam pada itu, maka Rahupun berkata kepada Daruwerdi “Di akhir pekan, orang-orang Sanggar Gading akan datang. Jangan berbuat gila. Aku akan dapat melaporkannya sebelum mereka memasuki jebakanmu” Daruwerdi tertawa. Tetapi disela-sela tertawanya ia bertanya “Bagaimana jika kau mati sebelum mereka datang? Apakah kau akan dapat melaporkannya?“ “Tentu, meskipun dengan cara lain. Jika aku tidak datang di tempat yang telah ditentukan, itu berarti bahwa aku mati” jawab Rahu. “Dibunuh oleh pemburu-pemburu itu. meskipun mungkin dengan cara yang dipakainya membunuh harimau?” desak Daruwerdi. “Nasibmulah yang buruk” karena kau akan mati pula” jawab Rahu. “Kenapa aku?“ bertanya Daruwerdi. “Orang-orang Sanggar Gading tentu akan menyangka bahwa kaulah yang telah membunuh aku dengan cara yang paling curang, karena mereka percaya bahwa kau tidak akan berhasil mengalahkan aku dalamperkelahian yang jujur” “Persetan. Kau sangka bahwa kau akan dapat mengalahkan aku dalam perang tanding?“ bertanya Daruwerdi dengan wajah tegang. Rahu tertawa. Katanya “Tentu. Aku yakin, dan orang-orang Sanggar Gadingpun yakin” “Jika saja kha tidak sedang terlibat dalam persoalan yang penting seperti sekarang ini, aku ingin membunuhmu” geram Daruwerdi. Rahu tertawa. Katanya “Tetapi waktu masih panjang. Jika kau benar-benar ingin melakukannya sesudah persoalan kita selesai, maka kita masih mempunyai cukup waktu. Kecuali jika kau akan mati dibunuh oleh Pangeran yang ingin kau tukar dengan pusaka itu” “Jangan mengigau” bentak Daruwerdi “ingat Rahu. Sekali- kali aku ingin membukt ikan katamu” “Kapanpun kau kehendaki Daruwerdi. Aku bukan orang yang sekedar berbicara. Karena itu, akupun tidak cemas menghadapi dua orang pemburu yang berada di banjar itu. Daruwerdi menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih menyadari, bahwa masih ada tugas yang penting yang harus dilakukannya di tempat itu. Karena itu, maka ia berusaha menahan diri, apapun yang dikatakan oleh orang yang bernama Rahu itu. Sementara itu, setelah Rahu kembali ke banjar, maka ia telah mengatur waktu untuk dapat bertemu dengan Semi dan Jlitheng sekaligus untuk membicarakan rencana mereka menghadapi keadaan dalam keseluruhan. Namun dalam pada itu, ternyata anak-anak Lumban Kulon telah mengambil sikap sendiri. Mereka telah bersiap siap untuk merubah pintu air yang terdapat di bendungan. “Kita tidak dapat menunggu lagi. Daruwerdipun sudah setuju. Tetapi seandainya Daruwerdi merubah pikirannya, kita tidak peduli lagi. Ia tidak akan berbuat apa-apa. karena ia memer lukan kita sekarang, setelah akan dapat mengalahkan pemburu itu” berkata Nugata “Apakah benar ia tidak dapat mengalahkannya?“ bertanya salah seorang kawannya. “Ya. Aku percaya akan beritu itu” jawab Nugata “dengan demikian, maka ia memerlukan sandaran. Agaknya itu pulalah sebab-sebanya maka ia jutru menganjurkan agar kita melakukan dalam pekan-pekan ini”" “Jadi?“ bertanya kawannya yang lain. “Besok kita pergi kebendungan. Kita akan membuka pintu air yang menuju kesawah kita, lebih besar. Kita akan menunggu, apa yang akan dilakukan oleh anak-anak Lumban Wetan. Jika mereka akan merubah pintu air yang kita buka. maka kita akan mencegahnya. Jika perlu dengan kekerasan. Karena itu, bersiaplah sebaik-baiknya. Dengan demikian, maka anak-anak Lumban Kulon itupun segera mempersiapkan dir i. Rasa-rasanya mereka mendapat limpahan kepercayaan untuk melakukan satu tugas yang sangat penting bagi padukuhan mereka. Karena itu, maka menjelang, malam, mereka-telah berlatih sebaik-baiknya. Jika besok pagi-pagi mereka harus bertempur melawan anak-anak Lumban Wetan, maka mereka sudah bersiap sepenuhnya Namun dalam pada itu, selagi anak-anak muda Lumban Kulon bersiap menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi dengan anak-anak Lumban Wetan apabila mereka membuka pintu air yang menghadap ke daerah persawahan di Lumban Kulon, dua orang yang tidak dikenal telah mendekati padukuhan itu. Dengan hati-hati mereka memperhatikan, bagaimana anak-anak Lumban Kulon itu berlatih. “Mereka telah mendapat kemajuan yang pesat” berkata salah seorang dari keduanya. “Hasil tangan anak gila itu” desis yang lain. “Apakah yang akan kita lakukan terhadap mereka?“ bertanya kawannya. “Tidak apa-apa. Kita hanya melihat saja” “Biasanya mereka bersama Daruwerdi. Tetapi kali ini Daruwerdi tidak ada” “Sebentar lagi ia akan datang” “Dan kita tetap berada disini?“ “Ya. Kenapa? Kau takut?“ “Apa kau pernah melihat aku ketakutan?“ Kawannya tertawa tertahan. Namun mereka masih tetap memperhatikan anak-anak Lumban Kulon yang sedang berlatih. Ketika anak-anak muda itu sedang beristirahat, dan Nugata member ikan penjelasan kepada mereka, maka kedua orang itupun mengetahui, apa yang akan terjadi besok pagi. Tetapi keduanya tertarik mendengar ceritera diantara anak- anak muda itu tentang dua orang pemburu di Lumban Wetan. “Siapakah kedua pemburu itu?“ bertanya yang seorang. Aku datang bersamamu. Kenapa kau tanya kepadaku?“ jawab yang lain. Kawannya tersenyum. Katanya “Kau gelisah” Yang lain tidak menjawab. Tetapi terdengar ia mengumpat Sementara itu anak-anak Lumban Kulon masih tetap berlatih. Setelah beristirahat sejenak, maka merekapun segera mulai lagi. Terdengar seorang diantara mereka berkata “Daruwerdi belum datang” “Mungkin ia mengira bahwa kita berada di dekat bukit gundul seperti biasanya” sahut yang lain. “Tidak” berkata Nugata “Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa hari ini kita berlatih disini. Kita akan dapat mempersiapkan apa yang kurang menurut pendapat Daruwerdi. Aku kira ia akan datang” Beberapa saat anak-anak muda itu meneruskan latihan. Bahkan ada diantara, mereka yang berlatih mempergunakan senjata. Ketika kedua orangyaog memperhatikan latihan itu hampir menjadi jemu, maka mereka melihat seseorang memasuki tempat itu. Daruwerdi. Yang seorang penggamit kawannya sambil berdesis “Daruwerdi telah datang” Kawannya mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab, karena terdengar Daruwerdi berkata, lantang “Aku tidak ingin kalian mempergunakan senjata” “Kenapa?“ bertanya Nugata. “Senjata akan dapat membunuh. Apakah kalian memang bertekad untuk saling membunuh?“ bertanya Daruwerdi. Anak-anak Lumban Kulon itu saling berpandangan. Ada niat mereka untuk mengalahkan lawannya mutlak. Jika perlu ada satu dua orang korban diantara mereka, agar dengan demikian mereka akan menjadi jera. Daruwerdi nampaknya mengerti apa yang bergejolak di dalam hati mereka. Karena itu maka Katanya “Mungkin dengan demikian, kalian dapat berbuat sesuatu untuk memuaskan hati kalian. Mungkin dengan jatuhnya korban satu atau dua orang diantara mereka maka mereka akan menjadi jera. Tetapi bagaimana jika korban itu tidak saja terdapat diantara anak-anak Lumban Wetan. Bagaimana jika yang menjadi korban itu anak-anak Lumban Kulon. Mungkin kau, kau, kau atau kau?“ Terasa bulu tengkuk anak-anak muda Lumban Kulon itu meremang. Bahkan mereka yang telah ditunjuk oleh Daruwerdi, merasa seolah-olah nafasnya telah terhenti. Namun dalam pada itu, Nugata berkata “Bagaimana j ika anak-anak Lumban Wetan justru bersenjata” “Jika kalian tidak bersenjata, aku kira anak-anak Lumban Wetanpun tidak bersenjata. Tetapi jika mereka melihat kalian bersenjata, maka mereka akan membawa senjata pula” jawab Daruwerdi. Anak-anak itu itermangu-mangu. Namun akhirnya Nuga-ta berkata “Baik. Kita tidak akan membawa senjata. Kita tidak akan membawa pedang, tombak atau keris. Tetapi kita akan membawa cangkul, parang dan mungkin linggis. Betapapun juga alat-alat itu perlu untuk membuka pintu air yang menghadap ketanah persawahan kita” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mencegahnya lagi. Demikianlah, maka anak-anak Lumban Kulon itu meneruskan latihan mereka. Tetapi t idak terlalu lama, karena Daruwerdi berkata “Kalian akan menjadi kelelahan dan besok kalian sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk membuka bendungan itu. Menurut perhitunganku, besok anak-anak Lumban Wetan belum akan berbuat sesuatu. Baru setelah mereka menyadari, bahwa kalian telah mulai membuka dan melebarkan pintu air itu, mereka akan berbuat sesuatu. Nampaknya anak-anak Lumban Wetan juga bukan penakut yang tidak berani menghadapi akibat yang pahit” Dalam pada itu, salah seorang dari kedua orang yang mengamati latihan itupun menggamit kawannya dan memberi isyarat untuk pergi. Sambil beringsut dar i tempatnya salah seorang dari keduanya berbisik “Mereka akan segera meninggalkan tempat itu. Kita harus menyingkir” “Masih agak lama” jawab yang lain “Daruwerdi tentu masih akan memberikan beberapa petunjuk” “Lebih baik kita pergi. Kita harus mendapat keterangan tentang dua orang pemburu yang disebut-sebut itu” berkata yang lain. Keduanyapun segera meninggalkan tempat itu. Yang seorang bergumam hampir kepada diri sendiri “Ternyata yang kita dengar adalah benar. Anak-anak Lumban Kulon sudah mampu menggenggam senjata” “Tetapi hanya sekedar berkelahi dengan anak-anak Lumban Wetan” sahut yang lain “bagi kita, apa yang mereka lakukan tidak berharga sama sekali” Kawannya tertawa. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi tentang anak-anak Lumban Kulon itu. Bahkan ia berkata “Bagaimana kita dapat mengetahui tentang kedua pemburu itu?“ “Kita harus mencari jalan” jawab kawannya “menurut pendengaran kami, hubungan antara Daruwerdi dan orang- orang Sanggar Gading nampaknya akan mencapai kesepakatan. Pangeran itu telah hilang dar i istananya” “Apakah menurut dugaanmu, antara kedua pemburu dan hilangnya Pangeran itu ada hubungannya?“ bertanya yang lain. “Mungkin kedua pemburu itu juga orang-orang Sanggar Gading yang sedang mencari hubungan dengan Daruwerdi untuk satu penyerahan timbal balik” jawab kawannya “segalanya memang harus dipersiapkan sebaik-baiknya jika orang-orang Sanggar Gading tidak ingin gagal. Daruwerdi bukan seorang yang bodoh” “Tetapi orang-orang Sanggar Gading juga bukan anak-anak lagi” Kawannya mengangguk-angguk. Untuk beberapa saat mereka t idak berbicara lagi. Langkah mereka telah membawa keduanya kebulak panjang yang sepi dan gelap. “Kita akan tinggal untuk beberapa hari di daerah ini” berkata yang seorang kemudian. “Ada hutan, ada bukit gundul ada tempat-tempat lain untuk bersembunyi disiang har i. Tetapi mungkin kita harus langsung bertemu dengan kedua pemburu itu” sahut kawannya. “Kita akan melihat suasana” jawab yang lain. “Tetapi kita akan dapat melihat tontonan yang akan dipertunjukkan oleh anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Mungkin akan dapat menjadi pengendor ketegangan dalam tugas yang rumit ini” “Asal dengan demikian, kita tidak terjerat. Mungkin oleh Daruwerdi, mungkin oleh pemburu yang tidak kita kenal itu, atau mungkin oleh siapapun juga” “Kita cukup mempunyai perhitungan. Kita bukan anak- anak” gumam yang lain. Demikianlah, maka kedua orang itupun berusaha menemukan tempat yang paling baik untuk bersembunyi. Mereka mengambil kuda mereka yang disembunyikan, dan kemudian menelusur i tempat-tempat yang mereka anggap akan dapat memberikan perlindungan disiang hari. Dalam pada itu, Rahu telah berhasil bertemu dengan Jli- theng bersama Semi dan kawannya tanpa menarik perhatian. Mereka telah membicarakan perkembangan terakhir dari persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Persiapan orang- orang Sanggar Gading untuk menyerahkan Pangeran itu diakhir pekan. Sementara anak-anak Lumban Kulon yang nampaknya benar-benar ingin memaksakan kehendaknya atas anak-anak Lumban Wetan. “Kita harus berhati-hati” berkata Jlitheng “Kita jangan salah langkah menanggapi persoalan anak-anak Lumban” “Semuanya masih harus diperhitungkan dan dipertimbangkan” desis Rahu. Lalu “Aku akan melihat, apa yang dikerjakan anak-anak Lumban Kulon sekarang ini” Meskipun agak lambat, tetapi Rahu masih sempat mendengar percakapan beberapa orang anak-anak muda di Lumban Kulon yang berada di gardu-gardu, setelah mereka menyelesaikan latihan-latihan mereka atas petunjuk Daruwerdi, agar tenaga mereka tidak terhisap habis” Dari mereka Rahu yang mengendap-endap mendengar bahwa anak-anak Lumban Kulon akan membuka bendungan dihari ber ikutnya. “Biar saja mereka lakukan” berkata Rahu kepada Semi ketika ia sudah berada di banjar. “Anak-anak Lumban Wetan tidak akan membiarkannya” berkata Semi. Kita akan melihat, apa yang mereka lakukan besok. Kau nampaknya dekat sekali dengan anak-anak Lumban Wetan, apalagi yang langsung kau latih dalam olah kanuragan. Beri tahu mereka, agar mereka tidak bergerak besok. Kita melihat apa yang akan dikerjakan oleh anak-anak Lumban Kulon. Apakah Daruwerdi langsung melibatkan dir i atau tidak” pesan Rahu. Semi mengangguk. Ia mengerti, untuk menilai sikap Daruwerdi, maka sebaiknya anak-anak Lumban Wetan tidak langsung berbuat apa-apa. Demikianlah, menjelang pagi, anak-anak Lumban Kulon sudah siap. Mereka membawa alat-alat yang diperlukan untuk membuka pintu air dan membuatnya lebih lebar. Meskipun demikian, nampaknya alat-alat yang mereka bawa agak berlebih-lebihan. Hampir setiap orang membawa parang linggis atau kampak yang akan dapat mereka pergunakan sebagai senjata jika per lu. "Semipun telah bangun pagi-pagi. Dengan tergesa-gesa ia menemui beberapa anak-anak muda yang berpengaruh. Terutama sepuluh orang yang mendapat latihan khusus daripadanya. “Jangan berbuat sesuatu hari ini “ pesan Semi. “Darimana kau tahu, bahwa mereka akan bergerak hari ini” bertanya salah seorang dari anak-anak itu. “Aku mendengar ber ita itu pagi ini. Beberapa orang yang pergi kepasar melihat kesiagaan mereka. Tetapi jangan member ikan perlawanan. Biarlah mereka melakukannya” berkata Semi. “Dan sawah-sawah kita akan kering? Aku akan minta pertimbangan Jlitheng. Ia adalah orang yang paling banyak berbuat bagi air itu” sahut salah seorang dari anak-anak Lumban Wetan itu. “Bukan tidak berbuat apa-apa. Tetapi kita menunggu dan menilai apakah yang akan mereka perbuat” desis Semi. Anak-anak itu menjadi tegang. Namung demikian, mereka tetap akan berbicara dengan Jlitheng. Meskipun Jlitheng tidak termasuk sepuluh anak muda terbaik di Lumban Wetan, namun ia adalah orang yang bekerja bersama orang tua di lereng bukit, untuk menj inakkan air yang melimpah di lereng bukit itu. Semi tidak mencegahnya. Dibiarkannya anak-anak itu menemui Jlitheng untuk minta per lindungannya, bagaimanakah sebaiknya menghadapi anak-anak Lumban Kulon. Bahkan ia telah mengikuti anak-anak itu mencari Jlitheng. Jlitheng terkejut ketika ia melihat sekelompok anak-anak muda bersama Semi datang kepadanya. Nampaknya ada sesuatu hal yang sangat penting akan mereka sampaikan. Sebenarnyalah, dengan singkat anak-anak muda itu mengatakan apa yang mereka dengar dari Semi. Dan merekapun ingin mendapat tanggapan Jlitheng apakah yang sebaiknya mereka lakukan. “Kaulah yang bekerja dengan susah payah bersama orang tua di lereng bukit itu,” berkata-seorang kawannya “Tentu kami akan mendengar tanggapannmu. Apakah yang sebaiknya harus kami lakukan. Apakah kami harus mencegahnya, atau kami akan melihat lebih dahulu apa yang akan mereka lakukan seperti pendapat pemburu ini” Jlitheng memandang Semi sekilas. Namun kemudian iapun berkata “Tentu ia lebih tahu menghadapi keadaan seperti ini. Biarlah kita mendengar pendapatnya” “Sudah aku katakan” sahut Semi. Anak-anak muda itupun mengangguk-angguk. Dan sekali lagi Semi menjelaskan “Kita jangan tergesa-gesa. Mungkin kita terlampau berprasangka, sehingga kita dapat mengambil sikap yang salah” “Ya” sahut Jlitheng “Kita akan melihat apa yang akan terjadi pada bendungan itu. Akupun akan memberitahukan kepada orang tua di lereng bukit itu. Ialah yang pertama-tama berkenalan dengan air yang melimpah dan liar itu” Demikianlah, anak-anak muda itupun kemudian mengurungkan niatnya untuk mencegah anak-anak Lumban Kulon. Namun dari mulut kemulut, berita tentang tingkah laku anak-anak Lumban Kulon itu sudah tersebar diantara anak- anak muda Lumban Wetan. “Kita bersiap. Jika perlu, kita tidak segan bertindak. Kita tidak silau lagi dengan olahi kanuragan yang mereka pelajari dari Daruwerdi. Meskipun kita terlambat mulai, tetapi kita melakukannya setiap har i. Sedangkan mereka t idak” berkata salah seorang dari anak-anak muda itu. “Bersiaplah” berkata Semi “tetapi jangan bertindak sendiri- sendiri j ika kalian masih mengakui aku sebagai pelatih kalian” Anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan Jlitheng yang bersiap-siap untuk pergi ke bukit. Namun bagaimanapun juga anak-anak muda itupun telah merasa tersinggung sekali, bahwa anak-anak muda Lumban Kulon benar-benar akan memaksakan kehendaknya. Anak-anak muda Lumban Wetan itupun kemudian telah berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Di sawah, disudut desa, di padang tempat mereka menggembala dan saat-saat mereka membelah kayu di kebun-kebun. “Kita menunggu” desis seseorang. “Apakah kita tidak ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh anak-anak Lumban Kulon” tiba-tiba seseorang bertanya. “Sebaiknya kita melihat apa yang mereka lakukan, meskipun kita tidak akan berbuat apa-apa” sahut yang lain. Beberapa orang akhirnya sepakat untuk melihat meskipun hanya dari kejauhan, apakah yang akan dilakukan oleh anak- anak Lumban Kulon atas pintu air yang telah mereka buat bersama-sama Tetapi agar yang mereka lakukan itu tidak menumbuhkan kekecewaan dihati Semi, maka anak-anak itupun memer lukan menemuinya dan mengatakan maksudnya” “Jangan terlalu banyak” berkata Semi “Aku kira sepuluh orang sudah cukup. Tentu saja sepuluh orang terbaik diantara kalian” Anak-anak muda Lumban Wetan itu tidak membantah. Mereka telah menugaskan sepuluh orang terbaik untuk menyaksikan tingkah laku anak-anak Lumban Kulon yang akan membuka pintu air dibendungan. Sebenarnyalah, bahwa anak-anak Lumban Kulon telah melakukan rencananya. Beriringan disepanjang jalan mereka menuju ke bendungan dengan alat-alat masing-masing. Langkah mereka menunjukkan kegairahan kerja yang akan mereka lakukan. Mereka merasa bahwa mereka telah melakukan yang terbaik bagi anak-anak muda yang tahu benar akan tugas dan kewajiban mereka. Seperti yang sudah mereka rencanakan, maka demikian mereka sampai dipinta air, maka Nugata telah memberikan beberapa petunjuk pelaksanaannya. Mereka akan membuka pintu air sehingga menjadi hampir dua kali lipat. Dengan demikian maka air yang naik dibendungan itu akan mengalir lebih banyak ke daerah persawahan di Lumban Kulon. “Marilah” berkata Nugata kemudian “Kita melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Kita akan memberikan masa depan lebih baik buat kampung halaman kita” Anak-anak Lumban Kulon itupun bersorak. Mereka menyambut perintah itu dengan gembira. Sejenak kemudian maka merekapun segera mulai dengan kerja mereka itu. Dengan cangkul, linggis, kapak dan alat-alat yang lain, mereka mulai membuka pintu air dan mulai menyesuaikan mulut parit induk yang akan menampung air itu, setelah mereka menutup untuk sementara air yang mengalir lewat pintu air yang sedang mereka kerjakan itu. “He, ternyata anak-anak Lumban Wetan tidak lebih dari tikus-tikus yang justru bersembunyi dalam saat seperti ini” tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak. Suara tertawa telah meledak. Seorang lain menjawab dengan tidak segan-segannya “Mulut mereka sajalah yang terlalu besar. Tetapi mereka tidak berani berbuat apa-apa sama sekali” Sekali lagi suara tertawa meledak, justru lebih keras. Seolah-olah gurau itu merupakan ir ingan yang menyenangkan bagi kerja yang sedang mereka lakukan. Dengan penuh gairah anak-anak muda Lumban Kulon itu melakukan pekerjaan mereka Mereka mengayunkan alat-alat mereka dengan sepenuh tenaga. Parit yang akan menampung arus yang akan menjadi lebih besar itu harus mereka perlebar. Namun parit induk yang kemudian menyalurkan air itu kepa- rit-parit yang lebih kecil dijarak yang agak jauh dari pintu air, sudah cukup dalam untuk menampung air yang akan menjadi lebih deras mengalir. Yang terdengar kemudian adalah suara gelak tertawa dalam sendau gurau yang gembira. Pada permulaan kerja itu. mereka merasa, bahwa tidak akan ada hambatan apapun yang akan ditimbulkan oleh anak-anak Lumban Wetan. “Pemburu-pemburu itupun tentu harus membuat perhitungan sepuluh duapuluh kali lipat j ika mereka akan membantu anak-anak Lumban Wetan” berkata salah seorang dari mereka “karena pemburu-pemburu itu tahu, disini ada Daruwerdi” Kawan-kawannya tertawa. Dan hampir diluar sadar, mereka telah memandang kekejauhan, ke bukit gundul tempat mereka berlatih bersama Daruwerdi. Tetapi mereka tidak melihat, bahwa dari kejauhan Daru- werdipun mengamati kerja itu dengan saksama. Wajahnya nampak muram. Namun ia t idak berbuat sesuatu yang meyakinkan. Ia sendiri dibayangi oleh keragu-raguan, karena selain kedua pemburu itu, ternyata di daerah Lumban itu telah hadir pula seorang dari Sanggar Gading, Rahu. Karena itu, ia harus mempertimbangkan sebaik-baiknya apa yang akan dilakukannya. Juga pada saat-saat orang-orang Sanggar Gading datang dengan membawa Pangeran yang dimintanya, seperti yang dikatakan oleh Cempaka. Namun sebenarnyalah, bahwa yang sedang memperhatikan anak-anak Lumban Kulon itu memperoleh pintu air bukannya Daruwerdi seorang diri. Dari arah lain, dua orang yang berwajah kasar berusaha untuk mengamatinya pula, meskipun dari jarak yang cukup jauh. Kedua orang itupun mengerti, bahwa Daruwerdi tentu berada disekitar tempat itu, sehingga keduanya harus sangat berhati-hati agar mereka tidak bertemu dengan Daruwerdi. Tetapi selain mereka, dari arah Lumban Wetan, Rahu, Semi dan kawannyapun memperhatikan peristiwa itu juga. Meskipun mereka juga harus mengawasi kesepuluh orang anak-anak Lumban Wetan yang akan menyaksikan pula bagaimana anak-anak Lumban Kulon membuka bendungan. Namun berbeda dengan yang lain, kesepuluh anak-anak Lumban Wetan itu tidak berusaha untuk bersembunyi. Mereka justru berusaha untuk dapat menyaksikannya dari jarak yang cukup dekat. Karena itu, maka tanpa menghiraukan tanggapan anak-anak Lumban Kulon merekapun berjalan menyusuri pematang, mendekati bendungan. Beberapa puluh langkah dari bendungan mereka berhenti dan berdiri berjajar diatas pematang dengan tatapan mata yang tegang. Kedatangan kesepuluh orang anak-anak muda itu memang mengejutkan. Justru hanya sepuluh. Mereka tahu, bahwa jumlah anak-anak muda Lumban Wetan hampir sama dengan jumlah anak-anak Lumban Kulon. Tetapi ternyata hanya sepuluh orang saja yang dengan beraninya melihat apa yang terjadi di bendungan itu. “Anak-anak Gila“ geram Nugata “Apakah mereka ingin wajah-wajah mereka menjadi berubah“ “Tentu sepuluh anak muda terbaik di Lumban. Wetan” desis yang lain. “Apa maksudmu dengan sepuluh terbaik?“ bertanya Nugata. “Sepuluh orang yang menyelenggarakan latihan terpisah” jawab kawannya. Nugata tersenyum. Katanya ”Apa bedanya. Aku tahu bahwa seorang dari kedua pemburu itu mengadakan latihan khusus buat sepuluh orang, yang barangkali kau sebut dengan sepuluh orang terbaik itu. Tetapi aku tidak yakin, bahwa hasilnya cukup memadai” “Nampaknya mereka terlalu yakin akan dir i mereka sendir i” desis yang lain lagi. “Jangan hiraukan” berkata Nugata “Jika mereka akan berbuat sesuatu, biarlah mereka mencobanya. Tetapi jika mereka hanya datang untuk melihat, biarlah mereka berdiri disana. Aku kira mereka tidak akan tahan sampai matahari naik. kepuncak. Kawan-kawannya tidak menyahut lagi. Mereka kembali terbenam ke dalam kerja mereka. Dengan penuh kesungguhan mereka mengayunkan cangkul, linggis dan alat- alat yang lain untuk menambah arus air yang mengalir ke Lumban Kulon. Sementara pintu air yang sedang mereka perlebar itu ditutup, maka justru air yang mengalir ke Lumban Wetanlah yang menjadi semakin besar meskipun tidak terlalu banyak. Untuk beberapa saat anak-anak Lumban Kulon itu dapat melepaskan perhatian mereka kepada kesepuluh orang anak- anak Lumban Wetan itu. Namun karena anak-anak Lumban Wetan itu berdiri saja di tempatnya, bahkan satu dua orang justru melangkah semakin dekat, maka kehadiran mereka semakin terasa mengganggu perasaan. “Suruh mereka pergi” geram salah seorang anak muda Lumban Kulon yang bertubuh raksasa, yang pernah mengancam untuk memukul Jlitheng pada saat-saat Jlitheng ingin menengahi sengketa mengenai air. “Biar sajalah” desis yang lain “Mereka akan pergi dengan sendirinya, jika panas matahari terasa membakar tubuh maka mereka tidak akan betah berdiri disita. Berbeda dengan kita. Meskipun punggung kita kepanasan, tetapi justru karena kita bekerja, maka kita t idak merasakan sengatan matahari itu. ”Tetapi aku muak melihat mereka” geram orang yang bertubuh raksasa itu. “Jangan hiraukan“ Nugata membentak. Orang itu terdiam. Tetapi ternyata bahwa perasaan itu tidak hanya tumbuh dihati anak muda bertubuh raksasa itu saja. Beberapa orang anak muda yang lainpun merasa, seolah-olah sepuluh pasang mata anak-anak Lumban Wetan itu selalu memandanginya. Sorot matanya menggelitik hatinya, sehingga merekapun menjadi gelisah. Nugata yang membentak kawannya yang merasa terganggu oleh anak-anak Lumban Wetan itupun semakin lama merasa pula, bahwa kehadiran kesepuluh orang anak- anak Lumban Wetan itu telah mempengaruhi kerja kawan- kawannya. Karena itu, beberapa saat kemudian, perhatiannya justru tertuju kepada mereka. “Anak-anak Gila“ tiba-tiba saja Nugata mendengar seseorang mengumpat di belakangnya. Ketika ia berpaling dilihatnya orang bertubuh tinggi besar itu bergumam lagi. Nugata menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Katanya “Mereka memang sangat mengganggu. Suruh mereka pergi” Orang bertubuh raksasa itu memandang Nugata sejenak, seolah-olah ia ingin meyakinkan, apakah yang dikatakan Nutaga itu sebenarnya atau sekedar rasa jengkelnya karena ia selalu bergeremang. Tetapi Nugata itu sekali lagi berkata “Suruh mereka pergi“ Perintah itu tidak per lu diulanginya. Anak muda bertubuh raksasa itupun segera meletakkan cangkulnya dan meloncat turun menyeberangi sungai di bawah bendungan. “Kenapa anak itu?“ bertanya seorang kawannya. Kawan-kawannya yang lainpun termangu-mangu. Sementara anak muda bertubuh raksasa itu meloncat dengan tangkasnya dari batu ke batu. Nugata yang juga mendengar pertanyaan salah seorang anak Lumban Kulon itupun menjawab “Aku suruh anak itu mengusir anak-anak Lumban Wetan yang gila itu” “Bagus” tiba-tiba beberapa orang berdesis hampir bersamaan. Merekapun telah dihinggapi perasaan yang serupa bahwa kehadiran kesepuluh orang itu benar-benar sangat mengganggu. “Tetapi kenapa ia hanya pergi sendir i?“ bertanya yang lain. “Bukankah kita berada disini? Kita akan melihat, apakah anak-anak Lumban Wetan akan berbuat gila. Jika sepuluh orang anak-anak Lumban Wetan itu berani berbuat gila atas kawan kita, maka kita tidak akan tinggal diam. Kita tidak takut, seandalnya anak-anak Lumban Wetan seluruhnya sudah siap keluar dar i balik gerombol di padukuhan terdekat itu dan berlari-lari membantu mereka” geram Nugata. “Kita sudah siap. Sahut yang lain dengan lantang meskipun kita tidak bersenjata, tetapi kita sudah siap untuk bertempur. Nugata tidak menjawab lagi. Ia mulai memperhatikan kawannya yang bertubuh raksasa itu memanjat tebing. Langkahnya ringan meskipun tubuhnya tinggi besar. “Anak itu memang dapat dibanggakan” berkata Nugata. “Ya, jika la harus berkelahi dengan jujur seorang lawan seorang tidak akan ada anak Lumban Wetan yang dapat mengalahkannya. Bahkan aku berani bertaruh uang sekeping bahwa ia akan menang melawan t iga orang sekaligus dari kesepuluh anak-anak Lumban Wetan itu” sahut yang lain. Nugata tidak menjawab. Tetapi iapun menganggap demikian pula. Anak muda bertubuh raksasa itu akan dapat mengalahkan tiga orang sekaligus dari anak-anak yang disebut anak-anak terbaik dari Lumban Wetan itu. Sejenak anak-anak Lumban Kulon itu memperhatikan kawannya yang telah meloncat sampai keatas tanggul. Kemudian dengan langkah tetap dan pasti ia mendekati anak- anak Lumban Wetan yang berdiri dipematang. Kedatangan anak bertubuh raksasa itu membuat anak-anak Lumban Wetan menjadi tegang. Tetapi merekapun segera bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Rasa-rasanya mereka sudah bersiap apapun yang akan terjadi atas mereka. Beberapa langkah dar i kesepuluh anak-anak Lumban Wetan, maka anak muda bertubuh raksasa itu berhenti. Dengan wajah tegang dan bersungguh-sungguh ia berkata “Nugata memerintahkan kalian meninggalkan tempat ini” Salah seorang dari kesepuluh orang itu melangkah maju. Seorang anak muda yang bertubuh sedang, bahkan agak ke kurus-kurusan. Tetapi ia adalah anak muda yang tertua umurnya diantara kesepuluh kawan-kawannya. “Kenapa kami Harus meninggalkan tempat ini?“ bertanya anak bertubuh sedang itu. “Kehadiran kalian sangat mengganggu perasaan kami “- jawab anak muda bertubuh raksasa itu. “Apakah kau merasa terganggu?“ bertanya anak Lumban Wetan itu. “Kami semua merasa terganggu. Karena itu pergilah?” Tetapi anak muda Lumban Wetan itu menarik nafas sambil menjawab “Kau memang aneh. Kami hanya berdiri diam disini tanpa berbuat apa-apa. Tetapi kalianlah yang dengan langsung telah mengganggu kami. Perbuatan kalian adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab” “Aku tidak akan berbantah tentang bendungan, air, pintu air dan parit-parit. Itu adalah hak kami untuk menentukan karena bendungan ini terletak di daerah Lumban Kulon. Bukit yang bermata air itupun terletak di daerah Lumban Kulon” sahut anak muda dar i Lumban Kulon itu. “Tidak seorangpun yang pernah mengatakan demikian. Sungai ini adalah sungai kita bersama. Bukit-bukit itu adalah bukit kita bersama. Dan orang-orang tua kitapun pernah hidup bersama tanpa batas” berkata anak-anak Lumban Wetan itu “kitapun telah mencoba untuk hidup bersama. Meskipun dalam batas yang telah disepakati, namun kita masih mencoba untuk meneguk air dari jambangan yang sama dan memetik padi dari hamparan sawah yang mempunyai harapan yang sama. Tetapi kalian telah berusaha untuk merusak usaha itu. Kalian merasa memiliki hak dan wewenang lebih banyak atas, sungai, bukit dan air diatas tanah Lumban ini. “Jangan merajuk. Kita memang lebih banyak mempunyai hak atas air itu” berkata anak Lumban Kulon. “kalian lebih mement ingkan ketamakan daripada persaudaraan. Persaudaraan antara kita orang-orang Lumban“ geramanak Lumban.Wetan itu. Anak muda Lumban Kulon itu menggeretakkah giginya. Dengan sorot mata yang garang ia menggeram “Jangan banyak bicara lagi. Pergilah. Kawan-kawanku telah berusaha untuk tetap bersabar. Karena itu maka aku pergi seorang diri” Ketika ia kemudian berpaling, dilihatnya dalam keremangan malam bayangan Sepasang Bukit Mati yaag jaraknya sebenarnya tidak terlalu dekat Bukit yang sebelah adalah bukit gundul berbatu-batu, sedang yang lain adalah bukit berhutan lebat, untuk memberitahukan kepada kalian, agar kalian meninggalkan tempat ini. Kalian telah mengganggu kerja kami. Tidak ada alasan yang dapat kalian katakan kepada kami” Tetapi jawab anak muda Lumban Wetan itu mengejutkan ”Kami berdir i di tempat kami. Di daerah Kabuyutan kami. Apa pedulimu. Kami tidak akan pergi dari tempat ini. Kami ingin melihat, sampai seberapa jauh kalian memanjakan ketamakan hati kalian” Kemarahan anak muda bertubuh raksasa itu tidak tertahankan lagi. Karena itu, maka ia berkata “Kami dapat memaksa kalian pergi dengan kekerasan. Kami sudah berniat untuk membuka pintu air yang menuangkan air ketanah persawahan di Lumban Kulon lebih lebar. Bahkan dua kali lipat dari pintu air yang melepaskan air ketanah persawahanmu” “Aku sudah melihat, bahwa kalian sedang melakukannya” jawab anak muda Lumban Wetan itu “Dan kami sedang menilai bobot kemanusiaan kalian, anak-anak muda Lumban Kulon” Anak muda Lumban Kulon itu masih menahan dir i sehingga tubuhnya menjadi gemetar. Katanya “Aku berkata sekali lagi, pergilah. Jika kalian tidak mau pergi, maka aku t idak akan dapat menahan diri lagi. Aku akan memaksa kalian untuk pergi” “Kau sendir i? Atau kau akan memanggil kawan-kawanmu” bertanya anak muda yang tertua dari Lumban Wetan itu. “Aku sendir i sanggup mengusir kalian semuanya, bersepuluh” jawab anak muda bertubuh raksasa itu. Sejenak, anak muda Lumban Wetan termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Kau terlalu sombong. Baiklah akupun mengimbangi kesombonganmu. Kami tidak akan pergi. Jika kau seorang diri ingin memaksa kami pergi, mungkin dengan kekerasan, maka aku seorang dirilah yang akan melawanmu dengan kekerasan pula, karena sebenarnyalah bahwa kami t idak mau pergi dari tempat ini” Anak muda Lumban Kulon itu menggeram. Katanya “Kau memang dungu. Kau kira, karena kalian bersepuluh ini termasuk anak-anak muda terbaik dari Lumban Wetan, dengan serta merta berani melawan aku, he?“ “Kenapa tidak? Jika kau berlatih pada Daruwerdi, aku berlatih pada pemburu itu. Ternyata bahwa Daruwerdi tidak dapat mengalahkan pemburu itu dalam perkelahian seorang melawan seorang” jawab anak muda Lumban Wetan itu. “Kau memang bodoh. Seandainya benar Daruwerdi tidak dapat mengalahkan pemburu itu. tentu ia memang tidak ingin melakukannya untuk menjaga perasaan pemburu itu. Tetapi kami berlatih jauh lebih lama dar i yang kalian lakukan. Dan bagaimanapun juga, maka kau akan menyesal jika kau tidak merubah keputusanmu” berkata anak muda bertubuh raksasa itu dengan lantang. “Aku tetap pada pendirianku” jawab anak tertua dari sepuluh anak muda dar i Lumban Wetan itu. Anak muda dari Lumban Kulon yang bertubuh tinggi besar itu menjadi semakin tegang. Namun tiba-tiba iapun kemudian tertawa berkepanjangan sambil berkata “Kau memang aneh. Kau kira yang kau lakukan itu akan memberikan kebanggaan bagimu? Sebenarnyalah yang kau lakukan itu tidak lebih dari satu lelucon yang pahit. Kita, kau, aku dan siapapun yang akan menyaksikannya, tidak akan tertawa karenanya. Tetapi kita semuanya akan menangisimu yang menjadi pingsan dipematang ini. Karena itu, pertimbangkan sikapmu itu baik- baik” Anak Lumban Wetan itupun bertambah tegang pula. Sejenak ia memandang anak muda bertubuh raksasa itu. Kemudian dilayangkan pandangan matanya keseberang sungai. Dilihatnya anak-anak Lumban Kulon yang sedang membuka pintu air itupun telah dicengkam oleh ketegangan pula. Mereka berdir i diam mematung sambil menunggu, apa yang akan terjadi. “Bagus” berkata anak muda bertubuh raksasa dari Lumban Kulon itu “ nampaknya kau sudah mulai melihat kenyataan. Pikirkanlah sebaik-baiknya. Ambillah sikap yang benar untuk kepentinganmu dan kepentingan kawan-kawanmu” Tetapi jawab anak Lumban Wetan itu tidak diduganya Katanya “Terima kasih. Kau masih berpikir panjang. Kau masih berusaha untuk menghindar i kekerasan. Tetapi sayang, bahwa usahamu untuk menghindar i kekerasan ternyata masih juga dengan memaksakan kehendakmu untuk mengusir kami. Sebaiknya, kau tetap berdiri pada sikapmu, menghindari kekerasan. Tetapi tidak dengan mengusir kami. Kau sajalah yang" kembali kepada kawan-kawanmu dan biarlah kami tetap disini. Akan lebih baik lagi, dan kamipufl akan berterima kasih, apabila kau bawa kawan-kawanmu kembali dan memulihkan pintu air itu seperti sediakala” “Anak Gila“- geram anak muda bertubuh raksasa itu “Ternyata tidak ada pilihan bagiku. Baiklah. Marilah kita lihat, bahwa aku akan berhasil mengusirkalian” Anak muda dari Lumban Wetan itu bergeser setapak. Katanya “Kami tetap pada pendirian kami” “Jangan kau hadapi aku sendir i. Ajaklah dua tiga orang kawanmu untuk melawan aku, atau barangkali kalian bersepuluh akan maju bersama-sama” geram anak muda Lumban} Kulon itu. Tetapi anak muda Lumban Wetan itu menjawab “Aku akan menjajagi kemampuanmu seorang diri. Kau berlatih pada Daruwerdi untuk waktu yang lebih lama, sementara aku berlatih pada pemburu itu untuk waktu yang meskipun lebih pendek, tetapi dengan cara yang lebih baik” Anak muda bertubuh raksasa itu tidak menjawab lagi. tapun segera bersiap. Dipandanginya sembilan orang yang lain, yang nampaknya memang tidak akan melibatkan diri ke dalam perkelahian yang akan segera terjadi itu. “Mereka anak-anak yang sombong sekali” katanya di dalam hati. Dalam pada itu, beberapa orang anak muda dari Lumban Kulon telah meninggalkan kerjanya, melangkah mendekat ke bibir tebing. Bahkan ada satu dua orang yang meloncat turun untuk menyeberang. Sejenak kemudian. Nugatapun telah berada disebelah Timur sungai. Ia berdiri dengan tatapan mata membara. Ternyata anak Lumban Wetan itu benar-benar ingin melawan seorang lawan seorang. “Tidak tahu diri” geram Nugata. Kemudian katanya kepada anak muda bertubuh raksasa itu “Selesaikan anak itu. Tetapi juga, agar ia tidak akan mati. Bagaimanapun juga Kabuyutan kita masih mempunyai hubungan dengan Kabuyutan Lumban Wetan” Anak muda bertubuh raksasa itu mengangguk Sementara anak-anak Lumban Wetan yang lainpun bergeser semakin dekat pula. Karena anak-anak muda dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan seolah-olah telah berkerumun melingkari kedua anak muda yang akan berkelahi itu, maka anak-anak muda Lumban Kulon yang berada diseberang tidak dapat melihat dengan jelas, Karena itu, maka merekapun telah menyeberang pula ke Timur. “Bersiaplah” berkata anak muda bertubuh raksasa itu. Anak muda Lumban Wetan itupun telah bersiap. Ia bergeser setapak ketika lawannya mendekat maju sambil menjulurkan tangannya. Karena anak muda Lumban Wetan tidak mau menyerang lebih dulu, maka anak muda Lumban Kulon itulah yang melangkah maju sambil menggerakkan tangannya memancing serangan. Ketika lawannya hanya bergeser kesamping, maka anak muda bertubuh raksasa itu kehilangan kesabaran. Dengan keras ia melangkah sambil memukul kening. Tetapi lawannya mengelak sambil meloncat. Dengan satu putaran ia menyerang dengan tumitnya. Namun lawannya telah menangkisnya dengan tangannya, sekaligus berusaha menghantamdengan kakinya pula mengarah lambung. Anak muda Lumban Wetan itu masih sempat menggeliat Kaki lawannya tidak menjangkau lambungnya. Demikian anak muda bertubuh raksasa itu berdiri tegak, maka Lumban Wetan itupun meloncat menggapai leher lawannya dengan ujung- ujung jarinya. Anak muda Lumban Kulon itu sempat menangkis dengan kedua tangannya yang memukul kesamping, sekaligus menghantam lawannya dengan sikunya sambil melangkah maju. Tetapi sekali lagi serangannya itu dapat dielakkan. Bahkan lawannya telah mendapat kesempatan menyerangnya pula dengan kakinya. Semakin lama perkelahian itu menjadi semakin cepat. Anak-anak muda Lumban Kulon menjadi semakin banyak melingkari pertempuran Itu, sementara kesembilan anak-anak muda Lumban Wetan bagaikan tenggelamdiantara mereka. Dari kejauhan, Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak sempat lagi melihat apa yang terjadi. Ia hanya melihat kerumunan anak-anak muda Lumban Kulon yang kemudian justru berteriak-teriak seperti sedang menyabung ayam. Meskipun demikian, ia tidak meninggalkan tempatnya. Jika mungkin terjadi sesuatu, ia tidak boleh membiarkannya. Dari gerak dan sikap anak-anak Lumban Kulon ia akan dapat menduga apakah yang sedang mereka lakukan. “Mereka tidak boleh beramai-ramai mengeroyok kesepuluh anak-anak Lumban Wetan” berkata Daruwerdi dida-lam hatinya. Ia sadar, bahwa kedua pemburu di Lumban Wetan itu tentu tidak akan tinggal diam. Mereka dapat menggerakkan anak-anak Lumban Wetan yang lain bersama mereka berdua. Apalagi di Lumban Wetan ada Rahu, meskipun orang itu sama sekali tidak terlibat langsung, namun jika ia mendapat keterangan yang dapat mempengaruhinya, mungkin ia dapat berbuat sesuatu. Karena itu, maka Daruwerdi telah memperhatikan perkelahian itu lewat sikap dan tingkah laku anak-anak Lumban Kulon. Ia akan segera mengetahui jika anak-anak Lumban Kulon itu bertindak bersama-sama atas anak-anak Lumban Wetan. Dalam pada itu, Semi dan kawannya menjadi berdebar- debar pula. Mereka juga tidak dapat melihat apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi seperti Daruwerdi, mereka akan segera mengetahui j ika anak-anak Lumban Kulon seluruhnya terlibat dalam perkelahian. Rahupun termangu-mangu pula. Ia masih tetap menunggu, karena ia tidak mempunyai pilihan apapun juga dalam persoalan yang tiba-tiba saja dihadapinya di daerah Sepasang Bukit Mati itu Namun dalam pada itu, anak Lumban Wetanpun telah melihat pula dari kejauhan apa yang telah terjadi. Tetapi mereka masih tetap menahan diri, karena mereka mengerti, bahwa hanya sepuluh orang kawannya sajalah yang boleh mendekat. Tetapi sorak sorai anak-anak Lumban Kulon yang terdengar lamat-lamat dari ujung padukuhan, ternyata telah menggelitik hati mereka. “Cegah anak-anak itu mendekat” berkata Semi kepada kawannya yang melihat anak-anak Lumban Wetan berkerumun diujung lorong. Kawan Semi itupun mendatangi mereka dan menasehatkan agar mereka tetap menahan hati. “Bagaimana jika anak-anak Lumban Kulon itu mengeroyok kesepuluh kawan-kawan kami” bertanya salah seorang dari mereka. “Tidak. Mereka tidak akan melakukannya. Namun jika demikian, kita akan mengambil sikap” berkata pemburu itu. Anak-anak muda Lumban Wetan itu menjadi gelisah Jlitheng yang kemudian berada pula diantara mereka, ikut menjadi tegang pula. Dalam pada itu, perkelahian antara kedua anak Lumban itu menjadi semakin seru. Ternyata anak muda bertubuh raksasa dari Lumban Kulon itu mulai merasa, bahwa lawannya tidak selemah seperti yang dibayangkan. Meskipun anak muda Lumban Kulon itu yakin, bahwa kekuatan tenaganya melampaui kekuatan lawannya, namun lawannya telah mempergunakan kelebihan yang tidak dapat diatasinya. Lawannya yang lebih kecil itu mampu bergerak lebih cepat. Bahkan kadang-kadang ia merasa mulai kehilangan sasaran. Anak-anak muda Lumban Kulon menjadi semakin tegang. Suara sorak yang gemuruh mulai menurun. Mereka lebih banyak memperhatikan dengan jantung yang berdebar-debar. Beberapa kali serangan-serangan mereka telah saling mengenai sasaran. Hentakkan yang keras, telah melemparkan anak muda Lumban Wetan itu beberapa kali. Tetapi dengan tangkas ia masih sempat meloncat berdiri menghadapi segala kemungkinan. Ketegangan yang mencengkam jantung anak-anak Lumban Kulon yang menyaksikan perkelahian itu mulai terasa pula oleh Daruwerdi. Anak-anak muda itu tidak lagi berteriak-teriak dan bersorak-sorak. Semakin tegang mereka dicengkam oleh perkelahian itu, maka teriakan-teriakan merekapun menjadi semakin menurun. Dalam pada itu, sembilan anak-anak muda Lumban Wetan yang ada diantara anak-anak Lumban Kulon yang semakin banyak itupun menjadi tegang pula. Setiap kali kawannya dikenai serangan lawannya dan terlempar beberapa langkah, jantung mereka serasa berhenti berdenyut. Namun merekapun segera melihat, kawannya itu melenting berdiri dengan tangkasnya Sentuhan-sentuhan serangan lawannya itu memang mulai terasa sakit ditabuhnya. Karena itu, maka anak muda Lumban Wetan itupun menjadi semakin berhati-hati. Setelah berkelahi beberapa saat, maka iapun sempat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Karena latihan-latihan yang lebih mengkhusus dari anak- anak Lumban Kulon, maka anak muda Lumban Wetan itu mendapat petunjuk yang lebih terperinci dari pemburu yang melatihnya. Ia tidak saja mempergunakan kekuatan tenaga dan kecepatan geraknya, tetapi iapun harus mempergunakan otaknya. Karena itulah, maka anak muda Lumban Wetan itu mulai memancing lawannya dengan gerak yang cepat dan langkah- langkah yang panjang. Setiap kali ia meloncat menjauh. Namun tiba-tiba saja ia telah menyerang dari arah yang tidak terduga-duga sama sekali. Meskipun anak muda Lumban Wetan itu t idak memiliki kekuatan tenaga seperti lawannya, namun dengan perhitungan yang lebih cermat ia berhasil membuat lawannya kadang-kadang menjadi bingung. Sentuhan-sentuhan serangan anak Lumban Wetan memang tidak sekuat serangan lawannya, namun semakin lama terasa juga semakin mengganggu. Sekali-sekali terdengar anak muda Lumban Kulon yang bertubuh raksasa itu menggeram. Kadang-kadang ia mengumpat keras-keras jika hentakkan tenaganya untuk menyerang lawannya, sama sekali tidak menyentuh sasaran. Bahkan kadang-kadang tubuhnya sendiri telah terseret oleh kekuatan yang dilontarkannya. Anak muda Lumban Wetan yang cerdik itu, telah memanfaatkan tenaga dorong lawannya itu untuk menghantamnya. Dengan satu loncatan kecil, ia menghindari serangan kaki yang meluncur dengan kekuatan penuh. Namun demikian tubuh lawannya itu bagaikan terbang sejengkal dihadapannya, maka anak muda Lumban Wetan itu justru telah menyerangnya dengan tangannya kearah lambung searah dengan serangan lawannya itu sendiri. Oleh dorongan serangan itu, maka anak muda Lumbap Kulon itu justru terlempar beberapa langkah sebelum dengan susah payah ia mempertahankan keseimbangannya. Tetapi begitu ia berhasil berdiri tegak, dengan kecepatan yang tinggi, anak muda Lumban Wetan itulah yang kemudian menyerangnya dengan cara yang hampir sama. Dengan kaki mendatai ia meluncur langsung menghantam tubuh anak muda Lumban Kulon itu dengan sepenuh kekuatannya Serangan itu benar-benar telah mengejutkan. Bukan saja anak muda bertubuh raksasa itu. Tetapi anak-anak muda yang berkerumun disekitar arena perkelahian itupun terkejut Bahkan beberapa orang diantara mereka telah terpekik kecil. oooOooo- 


Jilid 12
YANG terjadi kemudian, memang seperti yang diduga. Sekali lagi anak muda bertubuh raksasa itu terlempar. Ia tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangan. Karena itu, ia tidak saja terhuyung-huyung, tetapi ia benar-benar telah terbanting jatuh di tanah. Hampir saja kepalanya membentur padas yang teronggok disebelah pematang. Beberapa orang yang hampir tertimpa oleh anak muda bertubuh raksasa itu menyibak. Hampir diluar sadar, beberapa orang kawannya yang berdiri beberapa langkah saja dari tempat anak itu terbanting telah dengan serta merta berloncatan untuk menolongnya. Tetapi anak muda bertubuh raksasa itu meronta sambil berteriak “Lepaskan. Aku dapat bangkit sendir i. Aku sama sekali t idak apa-apa Aku hanya lengah sedikit” Kawan-kawannya kemudian bergeser surut. Sementara itu, anak muda bertubuh raksasa itu benar-benar berusaha untuk melenting berdir i. Tetapi hampir saja ia terjatuh kembali karena keseimbangannya yang belum mapan. Apalagi terasa tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak. Anak muda Lumban Wetan tidak memburunya. Ia justru berdiri menunggu ditengah-tengah arena, seolah-olah sengaja member i kesempatan kepada lawannya untuk membenahi dir i Tetapi mata anak muda Lumban Kulon itupun bagaikan membara ketika ia melibat lawannya berdiri tegak dengan kaki renggang di tengah-tengah lingkaran anak-anak muda Lumban Kulon dan sembilan anak-anak muda dari Lumban Wetan. Dengan suara bergetar ia berkata “Anak tidak tahu diri. Aku mencoba untuk membuatmu jera tanpa menyakitimu dengan serangan-serangan yang berarti. Tetapi kesombonganmu telah menutupi penglihatanmu atas kemampuanku. Disaat aku lengah sedikit, ternyata kau benar- benar ingin membunuhku” Anak muda Lumban Wetan itu menjawab “Aku tidak ingin membunuh siapapun. Aku hanya diajari membunuh binatang buruan di hutan-hutan oleh pemburu-pemburu itu” “Persetan“ geram anak muda bertubuh raksasa itu “Jika kau tidak berusaha membunuhku, akulah yang akan membunuhmu apapun yang akan terjadi. Setiap orang diseputar arena ini menjadi saksi bahwa aku berkelahi dengan jujur. Kematianmu sama sekali bukan salahku” “Jangan berbicara tentang kematian” jawab anak muda Lumban Wetan itu “Yang aku lakukan hanyalah berdiri disini bersama sembilan orang kawanku. Apakah hal itu sudah cukup alasan bagimu untuk membunuh?“ Namun tiba-tiba diantara anak-anak muda Lumban Kulon terdengar seseorang berteriak “Bungkamsaja mulutnya“ “Bunuh saja” teriak yang lain. Tetapi seorang dari kesembilan anak muda Lumban Wetan menyahut “kematian dalam peristiwa seperti ini sama sekali tidak akan memberikan arti apa-apa” Anak muda bertubuh raksasa dari Lumban Kulon itu menggeram. Dengan garang ia berkata “Kalian pengecut Kalian takut mendengar kemungkinan dari satu perkelahian” “Bukan takut” jawab anak muda Lumban Wetan “Tetapi untuk apa kita harus bertaruh nyawa“ “Pengecut. Pengecut. Jika kalian takut mati, pergilah. Kalian semuanya” teriak anak muda bertubuh raksasa itu. Tetapi anak muda Lumban Wetan yang melawannya berkata “Aku tetap pada pendir ianku. Aku dan sembilan kawan-kawanku akan tetap berada disini“ Anak muda Lumban Kulon itupun tiba-tiba telah meloncat menyerang Tangannya terjulur lurus kedepan mengarah kening. Namun serangan itu dapat dielakkan. Bahkan anak muda Lumban Wetan itu berhasil memukul pergelangan tangan lawannya dengan sisi telapak tangannya. Rasa-rasanya pergelangan tangannya akan terlepas. Tetapi anak muda Lumban Kulon itu berusaha untuk tidak member ikan kesakitan pada pergelangan tangannya itu. Sejenak kemudian perkelahian itupun telah membakar arena kecil itu kembali. Serangan demi serangan. Desak mendesak. Masing-masing berusaha untuk mengalahkan lawannya. Anak muda Lumban Kulon itu telah ber latih lebih lama dari anak muda Lumban Wetan yang untuk beberapa saat terhenti karena anak-anak Lumban Kulon tidak mengijinkan mereka memasuki bagian dari Lumban yang kemudian disebut Kabuyutan Lumban Kulon. Tetapi ternyata anak muda Lumban Wetan itu telah dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Pemburu itu telah memberikan perhatian khusus kepada sepuluh orang Lumban Wetan yang ditempa setiap hari dengan cara yang jauh lebih baik dari cara yang dipergunakan oleh Daruwerdi. Bukan karena ketidak mampuan Daruwerdi, tetapi karena Daruwerdi tidak bersungguh-sungguh seperti yang dilakukan oleh Semi. Karena itu, maka perkelahian itu menjadi semakin seru. Tangan-tangan mereka semakin sering mengenai tubuh lawannya. Masing-masing menjadi semakin kehilangan usaha pengamatan diri setelah seluruh tubuh mereka basah oleh keringat Namun latihan yang bersungguh-sungguh dar i anak muda Lumban Wetan ternyata mempunyai akibat yang lebih baik pada pernafasannya dan daya tahan tubuhnya. Karena itu, maka nampaknya, tenaga anak muda bertubuh raksasa itulah yang lebih dahulu susut Meskipun demikian, ia masih tetap garang. Ketika anak muda Lumban Wetan terdesak selangkah surut, maka anak muda Lumban Kulon itu telah memburunya. Dengan tenaganya yang kuat, tangannya masih sempat menjangkau memukul dagu anak muda Lumban Wetan itu. Demikian kerasnya sehingga kepala anak muda itu terangkat. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Dengan cepat tangannya yang lain telah menyambar perut. Terdengar keluhan tertahan. Anak muda Lumban Wetan itu terbungkuk oleh perasaan sakit pada perutnya. Pada saat itu anak muda bertubuh raksasa itupun mengangkat tangannya siap menghantam tengkuk anak muda Lumban Wetan yang sedang kesakitan itu. Namun ternyata anak muda Lumban Wetan itu masih tetap menyadari keadaannya. Iapun sadar, bahwa kemungkinan itu akan dapat dilakukan oleh lawannya, pada saat ia terbungkuk diluar kehendaknya oleh gerak naluriah karena perasaan sakit. Karena itu, ia harus bergerak cepat Sebelum tengkuknya dihantam oleh lawannya. Dengan demikian, maka tiba-tiba saja ia telah menghentak satu langkah kecil maju. Sikunyalah yang kemudian menghantam perut lawannya, justru pada saat lawannya sedang mengangkat tangannya. Yang terdengar mengaduh kemudian adalah anak muda bertubuh raksasa itu. Ialah yang kemudian terbungkuk oleh perasaan sakit diperutnya. Anak muda Lumban Wetan itu tidak mau terlambat lagi. Ia tidak mengangkat tangannya dan menghantam tengkuk. Tetapi ia justru bergeser setapak. Kemudian dengan serta merta mengangkat lututnya menghantam wajah lawannya yang sedang terbungkuk itu. Demikian kerasnya, sehingga anak muda bertubuh raksasa itu seakan-akan telah terangkat dan jatuh terbanting ditanah. Anak muda Lumban Wetan itu meloncat memburu. Tetapi tiba-tiba saja seakan-akan ada sesuatu yang menahannya. Apalagi ketika terlihat olehnya, darah yang meleleh dari hidung lawannya. Sekali lawannya berguling di tanah. Selain perasaan sakit yang menghentak wajahnya, ia masih berusaha menjauhi lawannya. Dengan sisa tenaganya iapun berusaha untuk segera bangkit berdir i. Tetapi sekejap ia masih terhuyung-huyung. Perutnya serasa mual dan wajahnya disengat oleh perasaan sakit dan pedih. Bahkan rasa-rasanya matanya menjadi kabur dan berkunang- kunang. Namun ia berusaha untuk tetap bertahan, la masih melihat lawannya berdiri tegak meskipun bibirnya nampak juga menyeringai menahan sakit pada dagu dan perutnya. Sesaat keduanya berdiri mematung. Tetapi setiap orang yang berdiri diseputar arena itu mengetahui dengan pasta, bahwa keadaan anak muda Lumban Wetan itu jauh lebih baik dari keadaan anak muda Lumban Kulon yang bertubuh raksasa. Namun yang dari hidungnya telah meleleh darah seolah-olah tidak henti-hentinya. “Gila, kau Gila” Anak muda Lumban Kulon itu menggeram “Aku bunuh kau semuanya” Keadaan menjadi tegang. Ketika anak muda bertubuh raksasa itu berusaha maju selangkah, maka nampaklah langkahnya yang gontai. Namun ia masih berteriak “ Majulah bersama-sama. Aku akan membunuh kalian” Lawannya masih berdiri tegak. Bahkan perasaan sakit pada dagu dan perutnya menjadi berkurang. Dan bahkan hampir tidak dirasanya lagi. Meskipun demikian ia masih tetap berdir i tegak. Disekitarnya berdiri anak-anak muda Lumban Kulon yang tegang pula. Untuk sesaat arena itu justru telah dicengkam oleh kesepian yang tegang. Setiap dada rasa-rasanya bagaikan bergejolak oleh perist iwa yang mendebarkan jantung. Dua orang anak muda berdiri berhadapan dengan sorot yang menyala. Tetapi orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu, sebenarnya akan dapat mengambil kesimpulan, bahwa anak muda Lumban Kulon yang bertubuh raksasa itu sudah Hilralahkan oleh anak muda Lumban Wetan. Sesaat kemudian, Nugatalah yang melangkah memasuki arena sambil berkata “Luar biasa. Anak Lumban Wetan berhasil mengalahkan anak Lumban Kulon. Tetapi ketahuilah, agaknya Lumban Wetan telah melepaskan anak muda terbaiknya. Sementara Lumban Kulon belum. Karena itu, marilah kita melihat apakah puncak kemampuan Lumban Kulon benar-benar kalah dengan puncak kemampuan Lumban Wetan. Aku menantang siapa yang merasa dir inya paling kuat di Lumban Wetan” Namun anak muda bertubuh raksasa itu berkata “Aku belum kalah” “Pergi kau” bentak Nugata. Anak muda bertubuh raksasa itu menggeram. Tetapi ia tidak berani membantah anak Ki Buyut Lumban Kulon yang juga sudah mulai dibakar oleh kemarahan itu. Anak-anak muda Lumban Wetan itupun menjadi termangu- mangu. Yang kemudian berdiri dihadapan mereka ternyata adalah anak Ki Buyut Lumban Kulon. “Cepat” geram Nugata “Siapa yang akan maju? Aku t idak mau melihat kesombongan kalian yang rasa-rasanya membakar jantung. Betapa sombongnya kalian karena salah seorang dari kalian telah berhasil mengangkat dada karena kemenangan yang tidak berarti apa-apa. Bahkan kalian telah berpura-pura berbelas kasihan kepada lawan yang tidak berdaya lagi” Anak muda Lumban Wetan yang baru saja berkelahi itu mengerutkan keningnya Kemudian iapun menyahut “Aku sama sekali tidak berniat menyombongkan diri. Aku hanya mencoba membatasi, agar perkelahian, ini tidak menimbulkan akibat yang lebih parah bagi hubungan kedua Kabuyutan ini” “Siapa yang mengajarimu berkata demikian” jawab Nugata “Aku adalah anak Buyut Lumban Kulon. Aku sudah muak menyaksikan kesombongan anak-anak muda Lumban Wetan. He, apakah maksud kalian datang kemari hanya bersepuluh? Bukankah itu sikap sombong yang luar biasa, seakan-akan kalian ingin mengatakan, bahwa dengan sepuluh orang kalian akan dapat menggagalkan usaha kami membagi air itu dengan adil?“ “Sama sekali tidak. Kami tidak bermaksud menghalangimu hanya dengan sepuluh orang. Kami adalah wakil dari kawan- kawan kami yang mendapat kepercayaan untuk sekedar menyaksikan apa yang akan kalian lakukan. Dan apakah yang kalian sebut adil itu juga adil menurut pendapat kami” jawab anak Lumban Wetan itu. “Kamilah yang menentukan pembagian air itu” geram Nugata pula “Sudah kami katakan, kami yang memiliki bendungan dan sumber air itu, karena keduanya terletak di Lumban Kulon. Karena itu, apa yang kami lakukan atas bendungan dan pintu air ini semata-mata atas pertimbangan belas-kasihan kami kepada Kabuyutan Lumban Wetan yang kering dan ternyata sangat miskin, sehingga sama sekali tidak mempunyai sumber-sumber yang akan dapat dijadikan tumpuan harapan masa datang“ “Sikap itulah yang menjadi dasar pertentangan yang mungkin akan dapat meluas” sahut anak muda Lumban Wetan?, karena itu, pikirkanlah masak-masak. Kedua kabuyutan ini mempunyai batang tubuh tunggal pada mulanya. Jika kemudian batang yang tunggal itu bercabang dua, bukankah sebaiknya kedua cabang itu akan mengalami nasib yang sama. Jika keduanya menjadi hijau, biarlah sama- sama segar. Jika harus kering biarlah kedua-duanya mengalaminya” “Itu adalah sikap yang patut disesalkan. Kalian, anak-anak Lumban Wetan yang putus asa karena kegersangan daerah kalian, tiba-tiba saja sudah menuntut berlebih-lebihan dari tetangga yang semula merupakan satu tubuh. Dengan demikian, jika kalian mulai dengan sikap yang bodoh, menyakit i hati kami, itu akan sama arti bahwa kalian telah menyakit i sumber Kebuyutan kami yang tunggal itu” jawab Nugata “karena itu, mungkin sekali bahwa pada batang tubuh yang tunggal akan tumbuh cabang yang subur dan besar sementara cabang yang lain kecil dan kerdil. Bahkan mungkin akan menjadi kering dan patah jatuh di tanah” “Dan apakah kalian juga bersikap demikian? Membiarkan tetangga yang merupakan pecahan dari itu kering dan patah?“ bertanya anak muda Lumban Wetan. “Jika memang tidak ada kemungkinan lain, apaboleh buat” jawab Nugata. “Dengan demikian, sikapmu sudah pasti” desis anak muda Lumban Wetan “Dan dengan demikian pula, maka sebenarnyalah bahwa kami harus berusaha untuk mempertahankan hidup kami tanpa pengertian siapapun juga. Karena itu, maka kami akan menjawab dengan tegas bahwa sungai ini sampai kesumbernya, sama sekali bukan milik kalian. Bukan milik Lumban Kulon dan bukan milik Lumban Wetan. Tetapi kedua bukit yang disebut Sepasang Bukit mati itu dan jalur sungai ini dengan segala macam isinya, adalah milik kita bersama. Jika satu pihak menyebut, Sepasang Bukit Mati dan jalur sungai ini adalah miliknya, maka ia sudah merampas hak orang lain” “Jangan banyak bicara” bentak Nugata kemudian “Aku bertanya, siapa yang akan tampil. Panggil orang terbaik dari Lumban Wetan. Aku akan menunjukkan kepada kalian, tanpa melanggar sifat kejantanan, karena aku akan berkelahi seorang melawan seorang bahwa Lumban Kulon memiliki kekuatan yang jauh melampaui kekuatan yang dapat dikerahkan oleh anak-anak muda Lumban Wetan. Seandainya jumlah diantara kita berimbang, maka setiap orang Lumban Kulon memiliki kemampuan lebih baik dari setiap orang di Lumban Wetan, kecuali raksasa dungu ini” Anak muda Lumban Wetan itu tidak segera menjawab. Tetapi kata-kata itu bagi anak-anak Lumban Kulon sendiri sangat meragukan, karena bagi mereka, anak muda bertubuh raksasa itu termasuk salah seorang diantara mereka yang terkuat. Sejenak suasana dicengkam oleh kediaman yang tegang. Kesepuluh anak-anak Lumban Wetan yang berada diantara kerumunan anak-anak Lumban Kulon itu menjadi berdebar- debar. Apakah mereka akan menerima tantangan anak-anak muda Lumban Kulon itu atau tidak. “Cepat” teriak Nugata “Siapa yang akan maju“ Namun tiba-tiba terdengar jawaban dari antara anak-anak muda Lumban Wetan “Kami datang tidak untuk berkelahi. Kami hanya ingin melihat apakah yang sudah kalian lakukan” “Aku tidak peduli” geram Nugata. “Kami memang tidak ingin berkelahi” desis yang lain. “Jika kalian takut, pergilah. Jangan ganggu kami” berkata Nugata lantang “atau, kalian ingin berkelahi berpasangan? Dua, atau tiga orang sekaligus?“ Anak-anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu. Rasa-rasanya darah mereka menjadi semakin panas. Anak muda yang baru saja mengalahkan anak muda bertubuh raksasa dari Lumban Kulon itupun berkata “jangan membakar jantung kami. Aku kira apa yang aku lakukan sudah cukup. Sekarang, biarlah kami berdiri dlsini” “Tidak” jawab Nugata keras-keras “kalian harus memilih. Pergi, atau berkelahi” Darah anak-anak muda Lumban Wetan itu benar-benar sudah mendidih. Hampir saja mereka kehilangan pengekangan diri. Namun selagi salah seorang dar i mereka hampir saja meloncat maju karena gejolak hati yang tidak tertahankan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang “Sudah cukup. Kau t idak perlu kehilangan akal Nugata” Nugata berpaling. Semua orang yang berada di tempat Itupun berpaling. Mereka melihat Daruwerdi berdir i tegak ketika beberapa orang di depannya menyibak “Sudah cukup” katanya “Kita sudah melihat satu contoh perkelahian antara anak muda Lumban Kulon dan anak muda Lumban Wetan” “Belum cukup” jawab Nugata ”Perkelahian ini member ikan kesan yang salah antara imbangan kekuatan yang ada di Lumban Kulon dan Lumban Wetan” “Tidak” jawab Daruwerdi “ingat, yang berkelahi dari antara anak-anak Lumban Wetan adalah salah satu dari kesepuluh anak pilihan. Sementara anak Lumban Kulon bukanlah anak terbaik. Karena itu, perkelahian ini bukan takaran” “Karena itu, aku ingin memberikan takaran yang benar. Aku kira aku akan dapat menantang anak terbaik dari Lumban Wetan” geram Nugata. Tetapi Daruwerdi tertawa, katanya. “Lakukanlah apa yang akan kau lakukan atas pintu air itu. Kalian ternyata telah terpancing untuk melakukan kerja yang tidak berarti sama sekali, sehingga kerja kalian yang penting itu telah terbengkelai” Nugata mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Kau benar. Tetapi kesombongan anak-anak Lumban Wetan tidak seharusnya dibiarkan saja” Tetapi Daruwerdi masih tertawa. Katanya “Waktumu cukup banyak. Jika pintu air itu sudah selesai, kau dapat melihat, apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak Lumban Wetan. Bukankah kau tidak berkeberatan, jika mereka hanya melihat- lihat bahwa air sudah melimpah ke tanah persawahan di Lumban Kulon? Kau tentu tidak akan kehilangan apapun juga. Air itu akan tetap mengalir dan sawah di Kebuyutan Lumban Kulon akan tetap menjadi hijau” Nugata termangu-mangu sejenak. Namun ia masih berdesis “Mereka telah menyinggung harga dir i kami” Daruwerdi melangkah mendekatinya sambil berkata “Jangan hiraukan. Mereka tidak akan berani berbuat apa-apa” Nugata menggeram. Namun kemudian Daruwerdi berkata “Marilah. Lanjutkan kerjamu” Nugata tidak menjawab lagi. Iapun kemudian berkata kepada kawan-kawannya “Jangan hiraukan mereka. Marilah, kita lanjutkan kerja kita” Nugatapun kemudian melangkah meninggalkan tempatnya. Beberapa orang anak-anak muda Lumban Kulon segera mengikut inya, sementara yang lain masih berdiri termangu- mangu sambil memandangi kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan yang nampaknya sama sekali tidak menjadi gentar. “Marilah desis Daruwerdi kemudian kepada anak-anak muda yang masih tertinggal. Merekapun kemudian dengan langkah-langkah panjang kembali menyeberangi sungai yang tidak begitu besar di bawah bendungan. Kemudian merekapun telah mengambil alat-alat mereka masing-masing “Kita akan melanjutkan kerja kita seperti yang kita rencanakan” berkata Nugata “dalam waktu singkat, pintu air itu harus sudah selesai, sementara saluran induk itupun harus disesuaikan. Air yang melimpah itu harus tertampung dan mengalir sampai ke ujung parit yang terkecil” Demikianlah, anak-anak muda Lumban Kulon itu telah kembali tenggelam ke dalam kerja. Nampaknya mereka justru bekerja lebih keras. Kemarahan mereka terhadap anak-anak muda Lumban Wetan mereka tumpahkan kepada kerja mereka, untuk membuka pintu air yang mengalirkan air ke Lumban Kulon lebih lebar lagi. Kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan masih berada di tempatnya. Mereka telah berdiri berkelompok. Dengan nada rendah anak muda yang telah berkelahi melawan anak muda Lumban Kulon itu berkata “Kita tidak perlu berkecil hati. Ternyata kita memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan mereka” “Apa yang akan kita lakukan?“ bertanya seorang kawannya. “Kita tidak akan dapat berbicara tentang kekerasan dengan anak Ki Buyut Lumban Wetan yang memiliki sikap yang jauh berbeda. Karena itu, kita akan berbicara dengan kedua pemburu itu, dan barangkah ada baiknya juga kita berbicara dengan Jlitheng yang telah bekerja paling keras untuk mengarahkan arus air yang liar diatas bukit itu” “Kita jangan terlalu mengalah” desis seorang anak muda yang lain. “Kita memang harus mempertimbangkannya” jawab kawannya yang baru saja berkelahi itu. Tetapi anak-anak muda Lumban Wetan itu tidak mau- meninggalkan bendungan itu. Mereka tetap berada di tempatnya. menunggui anak-anak Lumban Kulon yang sedang meru-bah pintu air. Betapapun kemarahan menghentak-hentak dihati anak- anak muda Lumban Kulon, namun mereka tidak berani melanggar pesan Daruwerdi. Jika Daruwerdi menjadi kecewa dan meninggalkan anak-anak muda Lumban Kulon, maka mereka akan menjadi semakin kecil, justru karena di Lumban Wetan ada dua orang pemburu yang bersedia memberikan latihan-latihan olah kanuragan dan bahkan pernah terjadi benturan kekuatan dengan Daruwerdi. “Apakah Daruwerdi takut menghadapi kedua pemburu itu?“ pertanyaan itu timbul di dalam hati anak-anak muda Lumban Kulon. Namun sebenarnyalah Daruwerdi dengan sengaja memperpanjang waktu bagi persoalan yang sedang timbul antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Jika persoalan itu cepat selesai, apapun yang terjadi, maka kedatangan orang- orang Sanggar Gading akan sangat menarik perhatian. “Hanya sampai akhir pekan ini” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Tetapi hari-hari yang tidak genap sampai satu pekan itu terasa lama sekali. Seakan-akan Daruwerdi tidak lagi bersabar menunggu. Dalam pada itu, ketika matahari kemudian turun, anak- anak Lumban Kulonpun menghentikan kerjanya. Mereka menunda kerja mereka sampai esok. Sekilas mereka memandang anak-anak Lumban Wetan yang masih berada di tempatnya, meskipun mereka kemudian telah duduk diatas batu-batu padas. “Jangan hiraukan mereka” geram anak muda bertubuh raksasa “ biarlah mereka mendekam disitu sampai tujuh hari tujuh malam” Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi setiap orang diantara mereka, rasa-rasanya sedang menahan kemarahan yang menhentak-hentak dada. Setelah anak-anak Lumban Kulon itu hilang dibalik ge- rumbul, maka anak-anak itupun kemudian bangkit berdir i. Seorang diantara mereka berkata “Marilah kita lihat, apa yang telah mereka kerjakan” Kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan itupun kemudian melintasi sungai di bawah bendungan dan naik kebagian Barat sungai yang menjadi sumber sengketa itu. ”Gila“ geram anak-anak muda Lumban Wetan itu. Mereka melihat, bagaimana anak-anak muda Lumban Kulon mulai dengan kerja mereka. Pintu air yang melimpahkan air ke Lumban Kulon telah diper lebar. Parit induk yang akan menampung air itupun sudah mulai dikerjakan. Dengan demikian, anak-anak Lumban Wetan itu sudah dapat memperhitungkan, seberapa bagian air yang akan melimpah ke tanah persawahan di Lumban Kulon dan seberapa bagian yang akan mengalir ke Lumban Wetan. “Sawah-sawah kita akan kembali menjadi ker ing” desis salah seorang dari anak-anak Lumban Wetan itu. “Kita memang harus bertindak. Semakin cepat semakin baik Kita sudah menjajagi kemampuan mereka. Satu dian- antara mereka sudah kita ketahui kekuatannya. Meskipun menurut Nugata ia bukan anak terbaik di Lumban Kulon, tetapi ia tentu anak muda yang diperhitungkan. Ternyata ia adalah orang yang pertama mengambil sikap” Anak-anak muda Lumban Wetan itupun akhirnya bersepakat untuk melakukannya. Meskipun demikian mereka tidak akan meninggalkan Jlitheng dan kedua pemburu yang telah mengajari mereka dalamolah kanuragan. Ketika langit menjadi gelap, kesepuluh anak-anak Lumban Wetan itupun segera bersiap untuk meninggalkan bendungan, setelah hampir sehari mereka menunggui anak-anak Lumban Kulon membangun pintu air menurut kehendak mereka sendiri. Meskipun mereka tidak makan sepanjang hari, tetapi karena niat mereka yang teguh mereka sama sekali tidak merasa lapar. Memang mereka merasa haus, tetapi mereka telah mengambil air disebuah belik kecil di pinggir sungai itu. “Marilah kita pulang” berkata anak muda yang tertua diantara mereka kita sudah mempunyai bahan cukup banyak untuk menentukan sikap” Kesepuluh anak-anak muda itupun segera bersiap untuk kembali ke padukuhan mereka. Tetapi langkah mereka terhenti ketika tiba-tiba dua orang telah datang mendekati mereka. Dua orang yang sama sekali tidak mereka kenal. “Luar biasa” desis salah seorang dar i kedua orang itu. Kesepuluh anak-anak itu termangu-mangu sejenak. Namun salah seorang dari merekapun segera bertanya “Siapakah kalian berdua he?“ “kalian tidak perlu mengenal kami. Kami adalah dua orang perantau yang sekedar mengikut i langkah kaki tanpa tujuan dan tanpa kehendak apapun juga dengan perantauan kami selain ingin melihat tempat-tempat yang belum pernah kami lihat” Jawab salah seorang dari keduanya. “Lalu, apa maksud kalian datang kepada kami?“ bertanya anak muda Lumban Wetan itu. “Tidak apa-apa. Kami hanya mengagumi kalian. Apa yang telah kalian lakukan benar-benar membuat kami heran. Kami melihat kalian datang menunggui anak-anak yang membuka pintu air itu. Kami melihat kalian berkelahi, dan kami melihat anak-anak itu kembali bekerja” jawab salah seorang dari kedua orang itu “Tetapi setelah itu kami meninggalkan tempat kami menyaksikan sikap kalian yang luar biasa itu. Menjelang senja kami kembali. Ternyata kalian masih tetap berada disini. Kalian sama sekali tidak meninggalkan tempat ini meskipun anak-anak membuka pintu air itu mengancam kalian” “Terima kasih” jawab anak muda yang tertua diantara anak-anak muda Lumban Wetan itu “kalian memuji kami “ “Tidak. Sama sekali tidak. Kami sama sekali t idak bermaksud memuji. Tetapi sikap kalian benar-benar terpuji” berkata salah seorang dari keduanya “ karena itulah maka justru kami ingin menyatakan kesediaan kami untuk membantu kalian apabila kalian perlukan” Anak-anak muda Lumban Wetan itu terkejut. Mereka t idak mengenal kedua orang itu. Namun tiba-tiba keduanya telah menawarkan dir i untuk membantu mereka j ika diperlukan. “Apakah keuntungan kalian membantu kami?“ tiba-tiba salah seorang dari anak-anak Lumban Wetan itu bertanya. “Tidak ada” jawab salah seorang dari keduanya “Kami hanya tertarik melihat sikap kalian, karena nampaknya kalian berada dipihak yang benar dalam sengketa air ini“ Anak-anak Lumban Wetan itu menjadi semakin heran. Kedua orang itu mengaku tidak berkepentingan dan tidak mempunyai keuntungan apapun juga. Tetapi sikap mereka, ternyata telah sangat menarik perhatian anak-anak muda Lumban Wetan. “Kedua pemburu itu datang dengan tiba-tiba” berkata anak-anak muda Lamban Wetan di dalam hati “Mereka membantu kami dan bahkan bersedia mengajar kami dalam olah kanuragan. Sekarang, dua orang lagi datang kepada kami dengan kesediaan untuk membantu pula” Namun anak-anak muda Lumban Wetan melihat, meskipun dalam keremangan ujung malam, bahwa wajah dan sikap kedua orang itu agak berbeda dengan sikap dan wajah dari kedua orang pemburu yang telah berada di Kabuyutan mereka untuk beberapa lamanya. “Ki Sanak“ tiba-tiba orang tertua dari kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan itu bertanya “Jika kami ingin menyatakan permohonan kami, misalnya, dalam keadaan yang tidak teratasi karena Daruwerdi langsung melibatkan dir i, dimana kami dapat menjumpai kalian?“ Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun] salah seorang dari mereka berkata “Jangan mencari kami. Mungkin kami berada di lereng bukit itu, tetapi mungkin berada di bukit gundul atau dimanapun yang menarik hati kami. Kamilah yang akan membayangi persoalan yang timbul diantara kalian” “Tetapi, bagaimana cara kami, jika kami memerlukan kalian” bertanya anak muda Lumban Wetan itu. ”Dalam benturan yang tidak terelakkan, aku akan berada disekitar tempat itu. Kalian dapat member ikan isyarat kepadaku jika kalian memer lukan. Pakailah sebuah kentongan kecil. Dan aku akan tanggap j ika kentongan itu kalian bunyikan” berkata salah seorang dari keduanya. Anak-anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu. Yang tertua diantara merekapun minta diri untuk segera kembali ke padukuhan mereka. Dibanjar, peristiwa yang terjadi di bendungan itu telah menjadi bahan pembicaraan. Banjar di induk padukuhan dari Kabuyutan Lumban Wetan itu "penuh dengan anak-anak muda. Bukan saja anak-anak muda dari induk padukuhan di Kabuyutan Lumban Wetan. Tetapi juga dari padukuhan- padukuhan yang lain. Rasa-rasanya banjar itu akan meledak oleh kemarahan yang bergetar di hati anak-anak muda Lumban Wetan. Mereka merasa bahwa mereka sudah cukup sabar dan menahan diri. Tetapi anak-anak muda Lumban Kulon justru telah memanfaatkan kesabaran anak-anak muda Lumban Wetan itu untuk memaksakan kehendak mereka dengan, merombak pintu air yang telah ada sehingga pintu air yang melimpahkan air ke Lumban Kulon menjadi jauh lebih lebar. Dalam pada itu, yang menarik perhatian Semi dan kawannya adalah justru hadirnya dua orang yang tidak dikenal itu. Dua orang yang telah menawarkan keinginan mereka untuk membantu. Bahkan Rahu yang berada di banjar itu pula, telah mendengarkan ceritera anak-anak Lumban Wetan itu dengan hati yang berdebar-debar. “Siapa mereka?“ desis Semi ke telinga kawannya. “Kita harus berusaha untuk mengetahuinya” sahut kawannya “Tetapi keduanya tentu bukan kawan-kawan Rahu. Semi menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang dapat member ikan kesan khusus kepada anak-anak muda Lumban Wetan itu. Meskipun merekapun mengerti, bahwa Semi agaknya telah tertarik kepada ceritera tentang kedua orang itu. Ketika Semi kemudian sempat berbicara dengan kawannya dan Rahu, maka iapun berkata “Kedua orang itu harus mendapat perhatian tersendiri. Mungkin keduanya adalah orang-orang dari padepokan lain. Mungkin Kendali Putih atau orang-orang Gunung Kunir. MeTeka tidak boleh mengacaukan hubungan Daruwerdi dengan orang-orang Sanggar Gading meskipun bagi Daruwerdi, siapapun yang dapat memenuhi tuntutannya tidak akan mendapat pelayanan yang berbeda” “Kita harus dapat menyerahkan Pangeran itu, dan kemudian menerima pusaka yang telah dijanj ikan. Baru kemudian kita akan mengambil sikap” berkata Rahu. Dengan demikian, kehadiran kedua orang itu rasa-rasanya telah menambah beban orang-orang yang telah mendahului berada di daerah Sepasang Bukit Mati itu. “Tetapi jika keduanya dikir im oleh salah satu pihak dengan pengertian yang lengkap tentang saat-saat peiiyerahai Pangeran itu kepada Daruwerdi, maka kemungkinan yang gawat akan dapat terjadi” berkata Semi. “Sebaiknya kita benar-benar mempersiapkan tempat ini” berkata Rahu “Kita harus berbicara dengan Jlitheng” Diluar pengetahuan anak-anak muda Lumban Wetan, maka Jlithengpun telah bertemu dengan Rahu. Tetapi Jlitheng justru telah tertarik pula kepada berita tentang dua orang yang telah hadir di daerah Lumban “Aku belum mengetahuinya” desis Jlitheng “Tetapi kehadiran orang-orang yang demikian itu bukannya yang pertama di daerah ini. Sejak orang Kendali Putih bertemu dan saling membunuh dengan orang Pusparuri di daerah ini, maka orang-orang yang tidak dikenal memang sering datang ke daerah ini dengan maksud-maksud tertentu, yang tentu saja ada hubungannya dengan kehadiran Daruwerdi disini” “Mungkin kau akan mendapat kesempatan pertama untuk mengetahui tentang kedua orang itu” desis Rahu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun katanya “Aku akan berusaha. Tetapi kalianpun harus berbuat sesuatu” “Ya. Sudah tentu” desis Rahu. . “Selebihnya, kau jangan menganggap untuk seterusnya Daruwerdi hanya akan hadir disini seorang diri” gumam Jlitheng kemudian. “Sudah kami perhitungkan” jawab Rahu. Lalu “Tetapi kaupun harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh segala pihak. Termasuk kakek dUereng bukit itu” Jlitheng tersenyum. Katanya “Apa yang kau ketahui tentang kakek di lereng bukit itu? Ia terlalu sibuk dengan mata air yang ditungguinya” Tetapi Rahu menyahut “Terserah atas penilaianmu, Mata air, bukit, atau gadis itu” Dalam pada itu, selagi Lumban diributkan oles sikap anak- anak Lumban Kulon tentang air yang justru telan berhasil dikendalikan di atas bukit berhutan lebat, maka di Padepokan Sanggar Gading, terjadi pula kesibukan tersendiri. Cempaka yang telah kembali dari daerah Sepasang Bukit Mati telah melaporkan pertemuannya dengan Daruwerdi kepada kakaknya. “Kita harus menemukan sikap tersendiri” berkata Sanggit Raina “karena diluar perhitungan kita. Yang Mulia akan turun sendiri langsung menyerahkan Pangeran Sena Wa-sesa kepada Daruwerdi” Cempaka menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Semuanya harus kita pertimbangkan sebaik-baiknya. Jika kita ingin merampas pusaka itu dengan kekerasan, apakah kita akan mampu berhadapan dengan Yang Mulia” “Itulah yang harus kita perhitungkan” desis Sanggit Raina “Tetapi kita harus merampas pusaka itu. Pusaka itu akan dapat memberikan sejuta kemungkinan bagi kita. Sebenarnya pusaka itu tidak akan banyak berarti lagi bagi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Ia sudah tidak mempunyai hari depan lagi, karena umumya sudah lanjut. Jika ia mendapat pusaka itu, maka ia hanya akan menikmatinya untuk waktu yang terlalu pendek, dan sama sekali tidak seimbang dengan kebesaran pusaka itu sendiri” “Mungkin keturunan atau siapapun yang akan menjadi pewarisnyalah yang akan menikmatinya” desis Cempaka. “Tidak ada orang lain” jawab Sanggit Raina “Tetapi baiklah kita berhati-hati. Mungkin ada sesuatu yang tidak kita ketahui” “Tetapi terlalu sulit untuk mengambil pusaka itu dari tangannya” desis Cempaka kemudian dengan nada rendah Seolah-olah ia sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat memiliki pusaka yang sedang diperebutkan itu. “Jangan cemas. Kita dapat menempuh segala cara. Kasar atau halus. Beradu dada atau dari punggung. Nilai pusaka itu cukup besar dibandingkan dengan cara apapun juga. Juga dengan tidak mengingat harga diri dan nilai-nilai kejantanan” sahut Sanggit Raina. “Kita akan berbuat curang?“ bertanya Cempaka. “Niat kita memang sudah dilambari dengan kecurangan. Bukankah kita berbuat dengan landasan yang tidak jujur? Jika kita jujur, kita tidak akan berniat untuk memiliki pusaka itu” berkata Sanggit Raina “Tetapi kita tidak berbuat demikian. Kita sudah berniat berbuat curang dengan memiliki pusaka itu. Apa salahnya jika kita juga mempergunakan cara yang curang pula” Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Apapun yang akan kau lakukan, aku akan melakukannya pula” “Siapkan racun yang paling baik. Kita akan mempergunakannya lewat cara apapun juga. Ujung senjata, ujung duri, atau makanan” berkata Sanggit Rain “Jika kita berhasil, akulah yang akan mengusai seluruh pengikutnya. Aku merasa, pengaruhku cukup besar atas mereka” Cempaka mengangguk-angguk Katanya “Baiklah. Aku akan mempersiapkannya. Sementara Rahu aku tinggalkan di daerah Sepasang Bukit Mati untuk meyakinkan, bahwa kedatangan kami tidak akan diganggu oleh orang-orang dari kelompok yang lain, yang tentu sudah mendengar bahwa Pangeran Sena Wasesa itu hilang dari istananya” “Baiklah” berkata Sanggit Raina “Tetapi kemungkinan itu tidak hanya dapat terjadi di daerah Sepasang Bukit Mati. Tetapi orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih atau orang- orang dari kelompok yang lain akan dapat menghambat perjalanan kita jauh-jauh sebelum kita memasuki daerah Sepasang Bukit Mati itu” Cempaka mengangguk-angguk. Kita sudah siap. Apapun yang akan kita hadapi” “Jangan terlalu berbangga dengan kekuatan kita” sahut Sanggit Raina “Jika orang Pusparuri, Kendali Putih atau orang- orang Gunung Kunir sudah berani menghentikan kita diperjalanan ke daerah Sepasang Bukit Mati, itu berarti mereka sudah siap menghadapi kekuatan kita, karena kita tidak dapat menutup mata, bahwa mereka tentu sudah mendapat keterangan serba sedikit tentang kekuatan kita” “Jadi?“ bertanya Cempaka. “Kita akan mengambil jalan yang sama sekali tidak diduga oleh siapapun” jawab Sanggit Raina. Cempaka mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa cara itu adalah cara yang paling baik. Ketika Sanggit Raina menghadap Yang Mulia Panembahan Wukir Gading bersama Cempaka untuk menyampaikan laporan tentang daerah Sepasang Bukit Mati, maka Yang Mulia itu berkata “Kita akan berangkat esok pagi. Aku setuju dengan pendapatmu. Kita akan menempuh jalan yang tidak terduga sama sekali, meskipun jaraknya menjadi lebih jauh. Bukan karena kita ketakutan menghadapi siapapun juga, tetapi bagi kita lebih baik sampai kepada anak itu bersama Pangeran Sena Wasesa yang selamat daripada kita akan membawanya dalam keadaan yang lebih buruk, jika kita bertemu dengan kelompok lain yang mungkin menjadi kasar, buas dan liar karena putus asa” Dengan demikian, maka persiapan terakhir telah dilakukan. Menjelang malam. Sanggit Raina telah menghadap Pangeran Sena Wasesa di biliknya yang dijaga kuat. Pangeran yang masih dalam keadaan sakit itu berbaring di dalam bilik yang tidak terlalu tuas, diatas amben pring wulung yang berwarna kelam. “Pangeran” berkata Sanggit Raina “Kita akan menempuh sebuah perjalanan yang panjang” Pangeran itu memandang Sanggit Raina dengan pandangan yang sayup. “Maaf Pangeran” berkata Sanggit Raina “ semuanya ini terjadi atas Pangeran, karena satu permintaan. Bukan karena niat kami. Tetapi sebenarnyalah Pangeran tidak usah mencemaskan nasib keluarga kecil Pangeran yang Pangeran tinggalkan di istana “Apa maksudmu?“ bertanya Pangeran itu dengan suara parau. “Seperti yang sudah Pangeran ketahui, bahwa kami sudah membunuh kawan kami sendiri yang mencoba menodai kejujuran sikap kami” Pangeran yang sedang sakit itu menarik nafas dalam-dalam Ia memang sudah mendengar serba sedikit, apa yang telah terjadi di istananya, sepeninggalnya. Namun itu sama sekali bukan satu kepastian, bahwa setelah itu tidak akan pernah terjadi apapun juga dengan puteri yang ditinggalkannya di istananya. Tetapi Pangeran itu tidak mengatakannya. Betapapun jantungnya bergejolak, tetapi wajahnya nampaknya tetap tenang dalam kekerasannya. Sanggit Raina mengamatinya sejenak. Kemudian katanya selanjutnya “ Menurut Yang Mulia, besok kita akan pergi ke daerah yang disebut Sepasang Bukit Mati. Kita akan bertemu dengan seseorang anak muda yang memer lukan Pangeran. Pangeran Sana Wasesa mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Siapakah nama anak muda itu, dan apakah kepentingannya?“ “Namanya Daruwerdi” jawab Sanggit Raina “sedangkan kepentingannya tidak kami ketahui dengan pasti. Tetapi bahwa yang kami lakukan ini ada hubungannya dengan sebuah pusaka yang disimpan oleh anak muda yang bernama Daruwedi itu” Wajah Pangeran Sena Wasesa telah menegang. Bahkan per lahan-lahan iapun kemudian bangkit dan duduk di bibir ambennya “Aku tidak kenal nama itu. Tetapi pusaka apa yang kalian maksud?“ “Pusaka yang sangat berharga bagi kami” jawab Sanggit Raina “Tetapi biarlah kita tidak berbicara tentang pusaka itu. Ketahuilah Pangeran, justru karena besok pagi kita akan berangkat. Anak muda yang bernama Daruwerdi itu minta agar kami membawa Pangeran kepadanya jika kami ingin memiliki pusaka yang sangat berharga itu” “Ya, pusaka apa?“ bentak Pangeran Sena Wasesa. “Jangan membentak. Aku t idak dapat mengatakannya kepada Pangeran. Tetapi demikian kami menyerahkan Pangeran, pusaka itu akan jatuh ke tangan kami” jawab Sanggit Raina, lalu “Baiklah Pangeran merenungi malam ini, apakah benar yang dikatakan oleh anak muda itu, bahwa Pangeran pernah membunuh ayahnya. Jika Pangeran tidak mengenal nama Daruwerdi itu, maka tentu Pangeran dapat mengingat orang -orang penting yang pernah Pangeran bunuh” Pangeran yang sedang sakit itu mengerutkan keninggnya. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil ber- guman “Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi atasku. Dan aku tidak dapat mengingat, bahwa aku kira aku t idak akan dapat mengingatkan lagi seorang demi seorang. “Maaf Pangeran, aku tidak dapat membantu ingatan Pangeran karena aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Yang kami lakukan adalah sekedar memenuhi permintaan Daruwerdi. Aku memer lukan sekali pusaka itu, sementara Daruwerdi memer lukan sekali Pangeran dengan sikap apapun juga yang tidak kami pertimbangkan“ Pangeran yang sedang sakit itu telah berbaring lagi. Di- renunginya atap rumah yang tidak terlalu bersih itu. Seolah- olah ia sedang menelusur inya merayap kemasa lampau. Dalam pada itu, terdengar Sanggit Raina berkata “Silahkan beristirahat sebaik-baiknya Pangeran. Nampaknya keadaan Pangeran sudah berangsur baik. Besok kita akan menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati. Kita akan menempuh perjalanan yang tidak terbiasa dilalui orang yang menuju ke daerah sekitar Sepasang Bukit Mati. Kita akan menyusup di antara rimbunnya pepohonan hutan, agar perjalanan kita tidak menarik perhatian orang lain. Karena itu, mungkin perjalanan itu akan terasa sangat berat“ Pangeran Sena Wasesa sama sekali t idak menyahut. “Perlu juga aku sampaikan, Pangeran. Mungkin diperjalanan kita akan menjumpai bukan saja rintangan alam disepanjang jalan, tetapi mungkin ada kelompok lain yang ingin menguasai Pangeran, Juga atas permintaan Daruwerdi, karena Pangeran yang masih dalam keadaan sakit itu berbaring di dalam bilik yang tidak terlalu luas, diatas amben pring wulung yang berwarna kelam. “Pangeran”berkata Sanggit Raina ”kita akan menempuh sebuah perjalanan yang panjang” Pangeran itu memandang Sanggit Raina dengan pandangan yang sayup. “Ia akan menukar Pangeran dengan pusaka yang diperebutkan itu, siapapun yang menyerahkan Pangeran” berkata Sanggit Raina lebih lanjut “nampaknya kepergian Pangeran dari istana sudah bukan rahasia lagi, meskipun mungkin tidak di ketahui siapakah yang telah membawa Pangeran” Pangeran Sena Wasesa .masih tetap mematung, seolah- olah ia tidak menghiraukan sama sekali kata-kata Sanggit Raina. Namun demikian hatinya yang bergelora bagaikan telah memukul-mukul dadanya. Ketika kemudian Sanggit Raina meninggalkannya, maka iapun menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan Pangeran yang sedang sakit itupun bangkit dari pembaringannya. Berdiri tegak sambil mengembangkan tangannya. Selangkah ia maju ke pintu biliknya. Ketika telinganya yang tajam tidak lagi mendengar sesuatu, maka iapun menar ik nafas dalam-dalam. Sejenak Pangeran yang dianggap masih dalam keadaan sakit itu berdiri diam sambil memperhatikan keadaan disekitarnya. Ketika ia yakin bahwa t idak ada seorangpun didekat dinding biliknya, kecuali para penjaga yang berada beberapa langkah mengitari bilik itu, maka iapun mulai menggerak-gerakkan tubuhnya. Perlahan-lahan. Namun dengan demikian ia berharap bahwa otot dan syarafnya tidak terlanjur menjadi beku karenanya. “Aku harus meyakini, bahwa tenagaku akan segera pulih kembali” berkata Pangeran itu di dalamhatinya. Sekilas terbersit satu keinginan untuk menghindarkan diri dari penyerahan yang sangat menyakitkan hati itu. Meskipun Pangeran itu sadar, bahwa yang disebut Yang Mulia Panembahan Wuku Gading itu tentu memiliki kelebihan dari pengikut-pengikutnya, namun jika ia menginginkan, ia tentu akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Ia yakin tidak akan ada seorangpun yang akan dapat mengejarnya, kecuali mungkin sekali Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu. Namun j ika keadaan. memaksa, maka iapun akan berani mempertaruhkan nyawanya melawan Yang Mulia itu. diluar padepokan, sehingga tidak ada orang lain yang akan ikut campur. Namun kadang-kadang timbul pula keinginannya untuk mengetahui, siapakah sebenarnya orang yang mengingininya itu. Orang yang menuduhnya, pernah membunuh ayahnya itu. Beberapa saat lamanya, Pangeran yang dianggap masih sakit itu berada di dalam keragu-raguan. Namun akhirnya ia berketetapan untuk tidak meninggalkan padepokan Sanggar Gading dan ikut bersama mereka untuk diserahkan kepada seseorang yang menghendakinya, dan bahkan akan menukarnya dengan pusaka yang sangat berharga. Dengan demikian, maka Pangeran itupun berusaha untuk memulihkan kekuatannya. Maka apapun yang diserahkan kepadanya, dimakannya sebanyak-banyaknya. Mungkin orang- orang Sanggar Gadingpun mengetahui bahwa keadaannya sudah berangsur baik. Namun ia masih dapat berpura-pura bahwa tenaganya masih terlampau lemah. “Aku berusaha untuk meningkatkan kemampuan tenagaku yang hampir habis sama sekali” berkata Pangeran itu kepada seorang yang bertugas menyerahkan makan malamnya “karena itu, aku memang ingin makan sebanyak-banyaknya meskipun mulutku terasa sangat pahit Aku berharap bahwa perjalanan yang akan aku lakukan besok, tidak akan membuatku pingsan dan bahkan mati diperjalanan” “Apakah Pangeran masih ingin makan lebih banyak lagi?“ bertanya orang itu. “Berikan aku pisang dan makanan apapun yang ada untuk malamnanti” berkata Pangeran itu. “Baiklah. Aku akan mengambil lagi” Meskipun demikian, Pangeran iuipun kembali lagi berbaring di pembaringannya. Baru ketika orang itu sudah melangkah menjauh maka Pangeran itupun bangkit dan menutup pintunya rapat-rapat, agar ia dapat bebas bergerak di dalam biliknya. Disaat orang itu kembali membawa makanan dan pisang, maka Pangeran yang memiliki pendengaran yang sangat tajam itupun telah mendengarnya, sehingga ketika pintu berderit, maka Pangeran itu sudah berbaring lagi diamben bambunya. Namun malam itu, pangeran Sena Wasesa seolah-olah tidak sempat tidur. Ia hanya dapat tertidur sejenak, menjelang pagi Meskipun demikian, yang sejenak itu telah dapat menyegarkan tubuhnya Pagi-pagi benar, orang-orang Sanggar Gading sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan yang panjang. Sanggit Rainalah yang memasuki bilik Pangeran Sena Wasesa yang sudah terbangun, namun masih berbaring dipembaringannya “Pangeran” berkata Sanggit Raina “Kita akan melakukan perjalanan itu hari ini. Marilah, barangkali Pangeran akan mandi atau akan membersihkan diri sebelum kita berangkat” Pangeran itu menggeleng. Katanya “Aku tidak perlu mandi atau membersihkan diri. Jika aku akan kalian bawa. kemanapun juga, terserah kepada kalian” Sanggit Raina menarik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang olehnya pisang dan makanan, iapun berkata “Untuk apa pisang dan makanan itu Pangeran?“ “Biar lah tubuhku menjadi terasa sedikit kuat. Aku akan membawanya untuk bekal diperjalanan” jawab Pangeran itu “Sebenarnya itu tidak perlu. Kami sudah membawanya Tetapi jika Pangeran akan membawanya terserah kepada Pangeran” Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Namun dengan demikian ia sudah berhasil memberikan kesan, betapa ia ingin memulihkan kekuatannya yang masih sangat lemah serta kegelisahannya menghadapi satu masa yang tidak menentu Tetapi sebenarnyalah bahwa Pangeran itu sudah menyiapkan diri. menghadapi segala peristiwa dengan hati yang mapan. Iapun sudah yakin bahwa kemampuannya sebagian besar tentu sudah pulih kembali. Hatinya yang terguncang oleh peristiwa yang sangat menyakitkan perasaannya itulah yang justru membuatnya semakin cepat sembuh. Apalagi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading memang memberinya juga obat sesuai dengan pengetahuannya, agar Pangeran itu tidak mati sebelum sempat diserahkan kepada Daruwerdi. Namun ternyata bahwa Pangeran itu justru telah menjadi sembuh sama sekali. Bahkan tenaganyapun sudah dapat dikatakan pulih. Dengan bekal itulah, maka Pangeran Sena Wasesa telah bertekad untuk bertemu dengan orang yang memer luivannya untuk ditukar dengan pusaka yang dianggap oleh orang-orang Sanggar Gading memiliki kekuatan yang .ajaib. Karena Pangeran yang dianggap sedang sakit itu tdak bangkit dar i pembaringannya, mata Sanggit Raina sudah memer intahkan seseorang untuk memberikan makan paginya. Dengan demikian, maka orang-orang Sanggar Gading itupun akan segera berangkat menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati. “Maaf Pangeran“ berkata Sanggit Raina “bagaimanapun keadaan Pangeran, kami harus berangkat pagi ini“ Pangeran itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi iapun tidak melawan ketika Sanggit Raina memapahnya keluar biliknya. Seekor kuda telah menunggunya. Dengan hati-hati Sanggit Raina dibantu oleh Cempaka telah membawa Pangeran itu mendekat kuda yang dipersiapkan baginya. “Kau akan dibantu oleh seseorang Pangeran” berkata Sanggit Raina” mungkin Pangeran masih sangat lemah. “Tidak” bentak Pangeran itu “ dapat bencuda en-diri meskipun kita akan pergi keujung bumi. Aku adalah seorang Pangeran dan seorang Senapati perang. Kau kira aku tidak dapat naik seokor kuda kerdil seperti ini” “Bukan maksudku Pangeran. Tetapi justru karena keadaan tubuh Pangeran yang masih angat lemah itulah” sahut Sanggit Raina. “Aku tidak peduli Aku akan berkuda sendir i” geram Pangeran itu. “Berkudalah sendiri“ Cempaka yang menjadi tidak sabar “apakah kau akan mencoba melar ikan diri?” Pangeran itulah menggeretakan giginya memandang Cempaka. Katanya “Kau anak muda yang tidak tahu adat” Cempaka masih akan menjawab. Tetapi Sanggit Raina mencegahnya. Katanya kemudian “Marilah, silahkan naik” Bagaimanapun juga. Sanggit Raina dan Cempaka masih harus membantu Pangeran yang dianggap masih terlalu lemah itu. Bahkan dua kali Pangeran Sena Wasesa gagal melontarkan kakinya keatas punggung kuda itu, sehingga Sanggit Raina dan Cempaka terpaksa mendorongnya. Pangeran Sena Wasesa itu berpaling ketika ia mendengar suara tertawa. Ternyata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang sudah duduk diatas punggung kudanya, memandanginya sambil tertawa. Katanya “Hati-hatilah Pangeran” Terdengar Pangeran yang dianggap sedang sakit itu meng geretakkan giginya sambil menggeram “Ingat Panembahan. Pada suatu saat, aku akan datang kembali menghancurkan Pada suatu saat, aku akan datang kembali menghancurkan padepokanmu ini” Tetapi Panembahan itu tertawa semakin keras. Katanya “Sudahlah. Jangan mengada-ada. Aku tidak tahu. nasib apakah yang akan Pangeran alami setelah Pangeran aku serahkan kepada anak gila di daerah Sepasang Bukit Mati itu. Mung kin Pangeran akan mengalami nasib yang baik. Tetapi mungkin pula sebaliknya” Pangeran itu memotong dengan keras “Aku akan membunuh anak itu” “Terserahlah” berkata Panembahan itu “Tetapi Pangeran harus ingat keadaan Pangeran itu. Jika aku memberikan obat selama ini, maksudku sekedar mempertahankan hidup Pangeran, sehingga aku akan dapat menyerahkan Pangeran hidup-hidup seperti yang diminta oleh anak di Sepasang Bukit Mati itu” Pangeran Sena Wasesa menggeram. Tetapi ia t idak berbuat apa-apa. Disebelah menyebelahnya dan disekitar Panembahan itu terdapat beberapa orang yang akan dapat berbuat sesuatu jika ia menyerangnya. Dalam pada itu, maka Panembahan Wukir Gading itupun kemudian berkata “Kita akan berangkat. Kita akan memilih jalan seperti yang sudah kita sepakati. Aku akan berada di belakang Pangeran yang akan didampingi oleh Sanggit Ralna. agar aku dapat mengawasinya” Pangeran itu menggeram, tetapi ia tidak menjawab. Semen tara itu Yang Mulia itu berkata selanjutnya “Kita tidak akan menempuh perjalanan ini dalam satu kelompok yang besar. Tetapi kita akan berir ingan dengan jarak yang cukup, meskipun dari setiap kelompok kecil akan dapat didengar isyarat jika diperlukan” ia berhenti sejenak, lalu “ingat. Ada beberapa pihak yang menginginkan pusaka itu, sehingga ada beberapa pihak pula yang menginginkan Ppngeran ini” “Aku akan membunuh mereka” potong Pangeran itu lantang. Namun kemudian iapun terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya. “Sudahlah Pangeran. Betapapun tinggi ilmu yang Pangeran miliki, tetapi Pangeran tidak akan dapat melawan penyakit yang menyerang Pangeran dari diri Pangeran sendir i” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading sambil tertawa pula. Lalu katanya “Marilah. Kita akan berangkat” Demikianlah, orang-orang dari Sanggar Gading itupun kemudian mulai meninggalkan padepokannya. Sekelompok kecil demi sekelompok kecil yang terdiri dari tiga atau ampat orang. Namun jarak diantara kelompok itu masih dapat dicapai oleh suara isyarat. Ditengah-tengah kelompok-kelompok kecil itu, Yang Mulia mempersilahkan Pangeran Sena Wasesa. mengikut i tujuan yang sudah ditentukannya. Seperti yang dikatakan oleh Panembahan Wukir Gading, maka Sanggar Raini berkuda disebelah Pangeran Sena Wasesa. sedang di belakangnya Panembahan Wukir Gading berkuda bersama Cempaka. Maka dengan kekuatan penuh orang-orang Sanggar Gading itu membawa Pangeran Sena Wasesa ke daerah Sepasang Bukit Mati. Dengan sadar mereka memperhitungkan kekuatan pihak-pihak yang mungkin akan mengganggu perjalanan itu. Hanya beberapa orang yang kurang berarti sajalah yang tinggal di padepokan mereka untuk mengawasi dan menunggu isi padepokan itu. Namun demikian satu dua orang yang tinggal itu tetap masih harus mengawasi padang perburuan yang menjadi tempat pendadaran yang bengis bagi orang-orang yang akan memasuki, sengaja atau tidak sengaja daerah yang dikuasai oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Guding. Lepas dari padepokan, dan setelah mereka melintasi padang kematan yang berwarna gersang, maka ir ing- iringan itu langsung memasuki jalan yang sudah mereka rencanakan. Orang-orang Sanggar Gading yang memiliki nalur i kekerasan yang kejam sejak mereka memasuki padepokan itu. sama sekali tidak gentar menghadapi siapapun juga dar i kelompok yang manapun juga. Tetapi mereka berusaha untuk menghindari benturan kekuatan sebelum mereka sampai ke daerah Sepasang Bukit Mati, agar Pangeran yang mereka bawa itu tidak mengalami sesuatu yang Dan dapat dipakai alasan oleh Daruwerdi untuk merubah perjanjian yang telah disepakati. Sementara orang-orang Sanggar Gading berangkat dari padepokannya menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati. maka anak-anak muda Lumban Kulon telah sibuk melanjutkan kerja mereka membuka pintu air dan menyesuaikan parit induk yang akan menampung air. “Anak-anak Lumban Wetan yang gila itu tidak datang lagi hari ini” berkata salah seorang dari anak-anak muda Lumban Kulon. “Mereka harus berhati-hati. Mungkin mereka menjadi ngeri mcngngat kehadran mereka kemarin. Agaknya mereka kemarin datang tanpa pertimbangan nalar sama sekali. Jika saat itu. anak-anak muda Lumban Kulon kehilangan kesabaran, maka mereka akan menjadi pupuk disini. Untunglah kita maih dapat menahan dri. sehingga yang terjadi betapapun menyakitkan liati kami, masih dapat kami tahankan” sahut yang lain. Dengan tanpa kehadiran anak-anak muda Lumban Wetan, maka rasa-rasanya anak-anak muda Lumban Kulon itu dapat bekerja lebih baik dan lebih cepat. Mereka tidak perlu setiap kali menengok kesebelah sungai, memandangi anak-anak Lumban Wetan yang seolah-olah mengawasi kerja mereka dengan sorot mata yang memancarkan panasnya hati mereka. Namun sebenarnyalah anak-anak Lamban Kulon tidak mengetahui, bahwa anak-anak Lumban Wetan telah menyiapkan rencana mereka sendiri. Merekapun telah kehilangan kesabaran. Apalagi setelah salah seorang dari anak-anak muda Lumban Wetan itu berhasil menjajagi kemampuan anak-anak muda Lumban Kulon. “Meskipun yang telah berkelahi itu satu dari sepuluh anak muda terbaik di Lumban Wetan, namun sebenarnyalah anak- anak muda Lumban Wetan yang lainpun kemampuannya tidak terpaut banyak dari yang sepuluh itu. Apalagi mereka yang dengan sungguh-sungguh mempergunakan setiap waktu luangnya” berkata anak muda tertua dari kesepuluh anak muda itu Sementara itu J litheng menjadi gelisah. Ia sudah t idak berhasil lagi menahan kemarahan anak-anak Lumban Wetan. Bahkan, Jlitheng merasa jika ia memaksakan kehendaknya terhadap anak-anak Lumban Wetan agar mereka menahan diri lebih lama lagi, maka mereka tentu akan mempunyai prasangka buruk terhadap Jlitheng. Dalam kegelisahannya itu, diluar sadarnya, Jlitheng telah mendaki lereng bukit dan menemui Kiai Kanthi untuk menyampaikan persoalan yang sedang berkembang di Kabuyutan Lumban yang telah terbagi menjadi Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu. “Aku tidak mengira, bahwa perkembangan dari pengendalian air itu menjadi demikian buruknya” berkata Kiai Kanthi. “Anak-anak Lumban Wetan sudah tidak dapat ditahan lagi” berkata Jlitheng. “Apableh buat” berkata Kiai Kanthi “Jika persoalannya telah berkembang semakin buruk, maka orang-orang yang kini berada di Lumban Wetan harus berani bertindak. Tidak ragu- ragu lagi. Anak-anak Lumban Kulon berbuat demikian karena mereka memiliki satu kepercayaan, bahwa mereka memiliki kelebihan dari anak-anak Lumban Wetan. Jika orang-orang yang berada di Lumban Wetan itu membiarkan anak-anak muda kedua Kabuyutan itu menyelesaikan masalah mereka dengan cara mereka sendiri, mungkin akan jatuh korban yang tidak terduga sebelumnya. Anak-anak muda itu akan dibakar oleh kemarahan yang tidak terkendali. Dengan kemampuan olah kanuragan yang mereka miliki dan hampir seimbang itu, maka mereka akan saling menikam dan tanpa pertimbangan, mereka akan saling membunuh” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Semuanya itu tiba-tiba saja terbayang dirongga matanya. Dengan nada rendah ia bertanya “Jadi, apakah yang sebaiknya kami lakukan” “Kalian dapat bertindak langsung kepada sumber kebanggaan anak-anak Lumban Kulon” berkata Kiai Kanthi. “Daruwerdi?“ bertanya Jlitheng. “Ya. Kalian harus dapat memaksa Daruwerdi menghent ikan permusuhan ini” jawab Kiai Kanthi. Wajah Jlitheng justru menegang sejenak. Kemudian dengan ragu-ragu ia berkata “Tetapi j ika demikian, satu masalah yang besar akan tersangkut pula” Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Terdengar ia berdesis lambat “Semuanya saling berkatan Tetapi nampaknya Daruwerdi dengan sengaja telah menumbuhkan persoalan antara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan, agar jika timbul persoalan yang menyangkut dir inya dan kepentingan pribadinya, maka hal itu tidak akan terlalu banyak menarik perhatian” “Kiai” berkata Jlitheng “masalah yang akan terjadi menyangkut kepentingan Daruwerdi itu memang sudah hampir terjadi. Menurut keterangan yang aku terima, orang- orang yang akan menyerahkan seorang Pangeran sesuai dengan permintaan Daruwerdi itu akan dilakukan pada akhir pekan. Dan kitapun hampir sampai kebatas waktu itu. Hari terakhir dari pekan ini. Kemudian orang-orang Sanggar Gading akan datang membawa seorang Pangeran. Sementara dua orang yang tidak dikenal sudah berada di daerah ini pula” “Berbuatlah lebih cepat” berkata Kiai Kanthi “Jangan ragu- ragu lagi. Lakukanlah atas sumber kebanggaan anak-anak Lumban Kulon, sebelum hari terakhir itu tiba. Dengan demikian, kalian akan dapat mengikut i peristiwa dihari terakhir itu dengan lebih saksama” “Kami akan mencoba Kiai. Tetapi apakah kami akan dapat melakukannya? Kita masih harus memperhitungkan segala kemungkinan. Yang terjadi diantara kami sendiri, dan yang terjadi diseputar Daruwerdi” jawab Jlitheng. “Aku akan mengikuti perkembangan keadaan dengan saksama. Meskipun aku tidak akan dapat banyak berbuat, tetapi mungkin aku dapat membantumu dalam saat-saat yang kau perlukan” berkata Kiai Kanthi kemudian. “Terima kasih Kiai” sahut Jlitheng “Aku minta diri. Setiap saat aku akan datang” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia masih member ikan sedikit pesan tentang kemungkinan yang paling pahit j ika Daruwerdi berkeras hati. “Jangan kau patahkan kemungkinannya untuk menerima Pangeran itu. Jika terjadi sesuatu atasnya, sehingga ia tidak dapat menerima Pangeran itu, mungkin akan terjadi Perubahan perkembangan keadaan dari yang sudah kalian perhitungkan, sehingga keadaan yang tidak menentu itu akan dapat menyulitkan kalian sendir i” “Terima kasih Kiai” jawab Jlitheng sambil melangkah meninggalkan gubug Kiai Kantthi. Namun dalam pada itu, sepeninggal Jlitheng terdengar suara seorang gadis dari balik dinding bambu “Ayah tidak adil” “Kau mendengarkannya Swasti?“ bertanya ayahnya. “Ya. Dan ayah telah menyalahkan anak-anak muda Lumban Kulon dan bahkan memberikan petunjuk agar anak Lumban Wetan itu langsung menghadapi Daruwerdi. Apa ayah yakin bahwa Daruwerdi bersalah dan perlu mendapat perlakuan yang demikian?“ bertanya Swasti. “Aku mengikuti perkembangan keadaan di dua Kabuyutan yang semula hanya tunggal itu Swasti. Disamping anak Ki Buyut Lumban Kulon yang keras kepala, maka di Lumban Kulon telah timbul satu kebanggaan dari yang berlebih-lebihan karena mereka menganggap bahwa kemampuan yang mereka miliki melampaui kemampuan anak-anak muda Lumban Wetan. Merasa lebih itulah yang telah mendorong mereka untuk melakukan satu pekerjaan yang tidak terpuji. Mereka berusaha memaksakan kehendaknya atas Lumban Wetan. Padahal yang mereka lakukan itu menyangkut nasib bukan saja anak-anak muda Lumban Wetan sekarang, tetapi nasib anak cucu mereka” “Tetapi Daruwerdi tidak bersalah. Ia hanya memenuhi permintaan anak-anak Lumban Kulon, dan bahkan dahulu anak-anak Lumban Wetanpun ikut pala berlatih bersama mereka” berkata Swasti. Tetapi perkembangan hubungan antara kedua Kabuyutan itu kemudian telah berusaha. Ketamakan mulai menjalar i hati anak-anak Lumban Kulon yang dialasi dengan satu kebanggaan, bahwa mereka akan dapat memaksakan kehendak mereka atas anak-anak muda Lumban Wetan” Swasti yang kemudian duduk diamben bambu bersama ayahnya itupun masih juga menjawab “Ayah terlalu terpengaruh olah anak muda yang mengaku putera seorang bangsawan tinggi itu. Dengan demikian di dalam pandangan ayah, maka apa yang dikatakan oleh anak itu selalu benar, sementara ayah sejak semula telah dihinggapi perasaan tidak senang terhadap Daruwerdi. karena ayah menganggapnya seorang anak muda yang sombong” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia menjadi cemas bahwa anaknya telah dipengaruhi oleh kedewasaan seorang gadis menghadapi anak-anak muda. Tetapi anak-anak muda itu tidak terlalu dikenalnya. Yang dilihat oleh Swasti hanyalah ujud-ujud lahiriahnya saja. Ia tidak mengetahui tabiat dan watak anak-anak muda yang dikenalnya sepintas itu. “Mungkin ia masih dipengaruhi oleh sifat-sifat Jlitheng yang terlalu banyak ingin tahu tentang keadaan keluarga kecil ini, dan bahkan Swasti pernah menjajagi kemampuan anak muda yang bernama Jlitheng itu” berkata Kiai Kanthi di dalam hatinya. Tetapi Kiai Kanthi t idak mengungkapkan dugaannya itu dihadapan anak gadisnya. Jika terjadi salah paham, gadis yang nakal itu akan dapat berbuat sesuatu yang akan menambah kecemasannya. “Mudah-mudahan dugaanku salah” berkata Kiai Kanthi di dalam hatinya. Namun demikian, ia tidak dapat begitu saja mengabaikan sikap anak gadisnya. Bahkan untuk menenangkan hatinya ia berkata kepada diri sendiri “Tentu tidak ada perasaan apa-apa antara anak gadisku dengan Daruwerdi. Jika timbul sepercik perasaan yang tumbuh dari kedewasaannya, maka ia justru akan menjadi malu dan merasa sangat berat untuk sekedar menyebut namanya saja” Dalam pada itu, maka kedua ayah beranak itu untuk sejenak justru hanya saling berdiam diri saja. Nampaknya mereka sedang bermain bersama angan-angan masing- masing. Sementara itu Jlithengpun telah berada kembali dipadukuhannya. Diluar pengamatan kawan-kawannya ia telah membicarakan masalah yang sedang mereka hadapi itu dengan Rahu, Semi dan seorang kawannya. “Aku sependapat” berkata Semi “Kita akan datang kepadanya untuk memaksa agar ia tidak berbuat sesuatu jika anak-anak Lumban Wetan mengambil sikap terliadap anak- anak Lumban Kulon” “Bagaimana j ika ia berkeberatan?“ bertanya kawan Semi. “Kita akan mengancamnya untuk bertindak kasar seperti yang dilakukannya tanpa ampun. Ia tentu akan mempertimbangkan, justru saat akhir pekan sudah dekat. Daruwerdi tentu akan mementingkan masalah yang lebih besar itu daripada masalah anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan” jawab Semi. “Jadi, apakah akan kita biarkan saja anak muda Lumban Kulon itu berkelahi melawan anak-anak muda Lumban Wetan?“ desis Rahu “bukankah dengan demikian akan terjadi pembunuhan dan pembantaian yang tidak terkendali antara dua kelompok anak muda yang sedang marah?“ “Kita akan ikut campur” sahut Jlitheng “maksudku, tentu bukan aku. Tetapi Semi. Tanpa Daruwerdi, maka anak Lumban Kulon akan mudah dikendalikan” “Jadi, apa yang baik menurut pertimbanganmu?“ bertanya Rahu. “Seorang melawan Seorang, seperti yang ditawarkan oleh Nugata desis Jlitheng. “Bagus. Anak muda Lumban Wetan mempunyai seorang yang meyakinkan untuk mewakili mereka” sahut Rahu “Maksudmu Jlitheng?“ bertanya Semi. “Jangan aku“ Jlithenglah yang menyahut “Tetapi Semi akan menujuk seorang yang paling baik dari sepuluh orang terbaik dari anak-anak Lumban Wetan” Semi mengerutkan keningnya. Katanya “Aku belum mengetahui kemampuan yang sebenarnya dari anak Ki Buyut Lumban Kulon itu” Tidak akan terpaut banyak dari anak muda bertubuh raksasa itu” berkata Jlitheng “karena itu, jika belum kau menganggap bahwa anak muda yang berkelahi di bendungan itu bukan yang terbaik dar i sepuluh orang kawan- kawannya, maka kau akan dapat menunjuk seorang yang paling baik dari mereka. Akhirnya mereka bersepakat. Dan merekapun telah menentukan satu sikap, bahwa mereka harus memaksa Daruwerdi untuk tidak mendorong anak-anak Lumban Kulon untuk membusungkan dada mereka dan berusaha memaksakan kehendak mereka atas anak-anak Lumban Wetan. Dengan demikian, maka anak-anak muda Lumban Wetanpun segera ditemui oleh Semi, terutama sepuluh orang terbaik. Dengan seksama Semi memilih seorang diantara mereka, untuk pada satu saat berhadapan dengan Nugata. anak laki-laki Ki Buyut di Lumban Kulon. “Apa yang harus kita lakukan?“ bertanya anak-anak muda Lumban Wetan. “Biarkan anak-anak muda Lumban Kulon hari ini meneruskan kerja mereka” berkata Semi. “Dan kita membiarkan masa depan dari Kabuyutan kita tenggelam?“ sahut salah seorang dari anak-anak muda Lumban Wetan itu “Bukankah dengan demikian anak cucu kita kelak akan mengutuk kita, bahwa kita dalam satu tataran keturunan darah Lumban Wetan, sama sekali tidak berbuat sesuatu melihat orang lain, yang meskipun semula mereka adalah cabang dari keturunan yang sama, telah memperkosa hak kita Bahkan secara adil harus diingat, bahwa Jlitheng dan orang tua di lereng bukit itulah yang telah mengendalikan air, sehingga kita akan dapat memanfaatkannya disini. Dan Jlitheng adalah anak muda dari Lumban Wetan” Sementara itu yang lain menyahut “Dan setiap orang yang dengan jujur melihat, siapakah yang telah bekerja untuk mengendalikan air itu. Memecah batu-batu karang, menimbuni lereng-lereng yang terjal dan mengarahkan arus air itu. Tenaga kitalah yang melakukannya. Anak-anak Lumban Wetan. Meskipun ada juga satu dan sebanyak-banyaknya dua orang dari Lumban Kulon, tetapi perbandingan itu ama sekali tidak berarti apa-apa” Semi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Baiklah. Kita tidak akan tinggal diam. Kita memang akan berbuat sesuatu” “Apa yang akan kita lakukan? Dan kapan?“ bertanya beberapa orang hampir bersamaan. Semi memandang J litheng sejenak. Tetapi ia sadar, bahwa dihadapan kawan-kawannya Jlitheng tidak akan menentukan apapun juga Karena itu, maka Semipun berkata “Bersiap- siaplah. Kita akan melakukannya dalam waktu yang singkat” “Berapa panjangnya waktu yang singkat itu” geram salah seorang anak muda Lumban Wetan itu. Semi menar ik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya “Kali ini aku memakai takaran waktu seperti kalian. Kita benar-benar akan berbuat sesuatu dalam waktu singkat” Anak-anak muda Lumban Wetan itu masih tetap memancarkan keragu-raguan pada sorot mata mereka. Namun Semipun berkata” Bersiaplah. Setiap saat, kita akan berbuat sesuatu” “Tetapi sekarang anak-anak Lumban Kulon berada dibendungan. Mereka membuka pintu air semakin lebar dan mereka menyesuaikan parit induk mereka” seorang anak. muda hampir berteriak. “Kita akan berbuat seperti yang mereka lakukan. Malam nanti” jawab Semi. “Malam nanti?“ hampir berbareng anak-anak muda Lumban Wetan itu bertanya. “Ya. Malam nanti. Karena itu bersiaplah” jawab Semi Sesuatu bergejolak dihati anak-anak muda Lumban Wetan. Rasa-rasanya mereka tidak sabar menunggu malam nanti. Karena itu, salah seorang dari mereka berkata “Kenapa tidak sekarang?“ Semi mengerutkan keningnya Pertanyaan itu sudah diduganya. Karena itu maka iapun menjawab “Masih ada yang perlu diperhitungkan. Jika aku menentukan malam nanti, berarti aku sudah memperhitungkan waktu yang sekejap sekalipun” Anak-anak muda Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi terasa darah mereka mulai bergetar. “Sekarang pulanglah dan beristirahatlah sebaik-baiknya. Mudahmudahan kalian tidak usah berbuat terlalu banyak malamnanti” berkata Semi. Anak-anak muda itupun segera meninggalkan Semi dan kawan-kawannya. Namun mereka tidak segera pulang dan beristirahat di rumah masing-masing. Tetapi mereka telah bergerombol di sudut-sudut desa, di simpang tiga dan di gardhu-gardhu dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka masih memperbincangkan, apa kira-kira yang akan terjadi dengan mereka dan anak-anak Lumban Kulon” “Kami tidak perlu gentar” desis salah seorang dari mereka “meskipun anak-anak Lumban Kulon berlatih lebih lama. tetapi mereka t idak mempergunakan seluruh hari didaIamsepekan” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Bahkan salah seorang dari mereka berkata “Aku akan berlatih sekarang” Tetapi seorang anak muda yang lebih tua berkata “Tidak banyak gunanya. Bahkan kau akan kehabisan tenaga jika malam nanti terpaksa terjadi sesuatu yang haru kita hadapi dengan tenaga dan kemampuan” Demikianlah, anak-anak Lumban Wetan dengan gelisah menunggu langit menjadi merah dan kemudian menjadi keiam. Tetapi rasa-rasanya waktu berjalan terlalu lamban, sementara anak-anak Lumban Kulon telah berhasil membuka pintu air dan menyesuaikan parit induk semakin lebar. Sehari itu, anak-anak muda Lumban "Kulon dapat bekerja tanpa diganggu oleh tatapan mata kemarahan anak-anak Lumban Wetan. Karena itu, maka merekapun sempat bergurau sambil menikmati kemenangan mereka, bahwa pintu air yang melimpahkan air ketanah persawahan di Lumban Kulon akan menjadi jauh lebih lebar dari pintu air yang menghadap ke Lumban Wetan. “Mereka sudah jera” berkata salah seorang dari anak-anak muda Lumban Kulon. “Mereka mulai menyadari, bahwa kami bersungguh- sungguh” desis yang lain. Kawan-kawannya tertawa mendengar percakapan itu. Merekapun berbangga bahwa pada tataran mereka, Lumban Kulon telah berhasil berbuat sesuatu yang akan sangat berarti bagi padukuhan mereka. Air. Ketika senja turun, maka anak-anak muda itupun mulai berkemas. Beberapa orang telah mengumpulkan alat-alat yang mereka pergunakan untuk membawa bekal dan makan mereka selama bekerja. Sementara yang lain telah membersihkan diri dibendungan sambil mencuci alat-alat yang mereka pergunakan. Dengan hati yang puas, mereka meninggalkan bendungan itu. Nugata yang ada diantara mereka berkata “Kita tidak akan menemui hambatan apapun lagi. Besok kita akan melanjutkan kerja kita dengan kegembiraan, sehingga dengan demikian maka kerja kita tidak akan terasa berat. Kerja kta yang besar ini akan dapat kita selesaikan dengan baik. karena yang kita kerjakan ini sebenarnya jauh lebih besar dari apa yang pernah dilakukan orang dengan mengarahkan arus air di bukit itu, karena kerja itu dapat dilakukan oleh anak-anak yang baru pandai merangkak sekalipun” Anak-anak Lumban Kulon menyambutnya dengan teriakan panjang. Mereka bersorak atas keberhasilan mereka. Namun satu dua orang anak muda diantara mereka bertanya di dalam hati “Apakah benar yang dikatakan oleh Nugata itu?“ Dan diantara mereka justru anak muda yang pernah ikut membantu Jlitheng, bekerja di lereng bukit kecil itu. berusaha dengan tekun dan hati-hati, untuk menguasai air yang sebelumnya tertumpah tanpa arti ke dalam luweng- luweng yang sangat dalam, kemudian mengalir dengan derasnya di bawah tanah berpadas. Tetapi dalam gejolak yang demikian, jarang seseorang berani menentang, arus yang deras diseputarnya. Anak muda yang semula ikut membantu Jlitheng dan mengetahui persoalan yang sebenarnya itupun tidak berbuat demikian. Ia menghanyutkan dir i ke dalam arus yang kencang, betapapun ia dibayangi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri. Sehingga dengan demikian, maka anak muda itu telah terdorong untuk berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran kata nuraninya sendir i. Namun dengan sadar ia menempatkan diri ke dalam satu kedudukan yang dapat member ikan keselamatan kepadanya, meskipun ia harus memungkiri perasaannya sendiri. Sementara anak-anak Lumban Kulon pulang ke Kabuyutan mereka dengan membawa kemenangan, maka anak-anak Lumban Wetan mulai bersiap-siap untuk mengambil satu sikap. Semi yang berada diantara anak-anak muda Lumban Wetan itupun member ikan beberapa petunjuk apa yang harus mereka lakukan. Betapapun perasaan mereka berbicara, namun mereka harus tetap dapat menahan diri. “Anak-anak muda Lumban Kulon bukan musuh bagi kalian” berkata Semi. “Tetapi mereka telah melanggar hak kami“ hampir berbareng beberapa orang anak muda Lumban Wetan menyahut. “Seperti kebiasaan dalam satu keluarga, kadang-kadang kakak beradik sering bertengkar” Jawab Semi “Tetapi perselisihan diantara saudara sedarah, tidak akan menuntut korban yang berlebihan” “Tetapi mereka tidak bersikap sebagai seorang saudara. Apalagi saudara kandung. Mereka bersikap seperti musuh bebuyutan yang serakah dan tamak” geram salah seorang dari anak-anak muda Lumban Wetan. “Mungkin” jawab Semi “Tetapi itu satu kekhilafan, pada suatu saat akan mereka sadari. Bahwa nilai persaudaraan diantara sesama akan jauh lebih tinggi dari nilai apapun yang berujud lahir iah. Juga lebih tinggi dari arus air yang sudah dapat diarahkan itu” “Itu adalah pikiran orang-orang sehat” jawab yang lain “Tetapi anak-anak Lumban Kulon berpikir lain” “Tetapi anak-anak Lumban Wetan tetap mempunyai nalar yang sehat” potong Semi dengan serta merta. Anak-anak Lumban Wetan itupun terdiam. Bagaimanapun juga mereka masih ingin disebut bernalar sehat. Karena itu. maka mereka tidak membantah lagi. “Biar lah orang lain kehilangan akal sehatnya” berkata Semi selanjutnya “Tetapi tidak pada kita. Dan kita akan tetap berpegang pada martabat kemanusiaan kita” Tetapi seorang anak muda yang tidak sabar lagi berkata “Baiklah. Tetapi apa yang akan kita kerjakan sekarang?“ Semi menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Kita pergi kebendungan. Kita berbuat seperti yang dilakukan oleh anak- anak Lumban Kulon. Kita akan membuka pintu air itu selebar pintu air yang menghadap ke tanah persawahan di Lumban Kulon” Dengan serta merta anak-anak muda Lumban Wetan itu bersorak. Rasa-rasanya mereka telah tersentuh oleh satu isyarat untuk berbuat sesuatu sebagai seorang laki- laki di Kabuyutannya yang tercinta. Demikianlah, maka anak-anak muda Lumban Wetan itu bersiap. Sebagian dari mereka justru menjadi kurang senang mendengar pesan Semi yang bagi mereka terasa terlalu banyak. Namun merekapun menyadari bahwa mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu tanpa Semi, justru karena di Lumban Kulon ada Daruwerdi. Ketika semuanya telah siap, alat-alat dan bekal, maka merekapun segera berangkat. Seperti yang diminta oleh Semi, maka anak-anak muda Lumban Wetan itu sebagian telah membawa obor untuk menerangi bendungan dan tebing sungai. Ternyata bahwa Semipun telah berpesan seperti yang dipesan oleh Daruwerdi. Anak-anak muda Lumban Wetan tidak dibenarkan membawa senjata. Meskipun beberapa orang diantara anak-anak muda itu menjadi kecewa, namun mereka tidak dapat pula menolak pesan itu. Sejenak kemudian, maka sebuah ir ing- iringan telah meninggalkan padukuhan diujung Kabuyutan Lumban Wetan. Di malam hari. iring- iringan anak muda yang sebagian diantara mereka membawa obor itu. nampaknya seperti sederet ke-mamang yang berterbangan mencari mangsa. Tetapi iring- iringan itu tdak banyak menarik perhatian. Sebagian besar dari orang- i ing Lumban Wetan maupun Lumban Kulon sudah berada di dalam rumahnya. Bahkan sebagian dari mereka telah tertidur nyenyak. Demikian anak-anak muda Lumban Wetan itu sampai ke bendungan, maka merekapun segera menancapkan tangkai obor mereka yang panjang. Dengan kemauan yang bergejolak di dalam jantung, maka merekapun segera melakukan seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda Lumban Kulon. Bahkan anak-anak Lumban Wetan itu telah menutup pintu air yang melimpahkan air ke tanah persawahan di Lumban Kulon seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda Lumban Kulon selama mereka mengerjakan pintu air dan saluran induk. Dalam pada itu. selagi anak muda Lumban Wetan sibuk dengan pintu air. Daruwerdi keluar dari sebuah padukuhan yang terpisah dari padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon, meskipun tidak begitu jauh. Namun tiba-tiba saja Daruwerdi telah menghentakkan tali kekang kudanya, sehingga kudanya itupun berpacu lebih cepat, kembali ke padukuhan Lumban. Ketika Daruwerdi memasuki Kabuyutan Lumban Kulon ia terkejut. Rasa-rasanya Kabuyutan itu terlampau sepi. Gardu- gardu yang dalam saat-saat terakhir banyak berisi anak-anak muda, nampaknya kosong saja. “Kemana anak-anak ini “ gumanya, Bahkan semakin dalam ia memasuki Kabuyutan Lumban Kulon, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Anak-anak muda Lumban Kulon seakan-akan habis dihisap bumi. “Apakah mereka sudah menjadi malas dan tidak seorangpun yang keluar dari rumah mereka” gumam Daruwerdi. Namun dalam pada itu, ia terkejut ketika ia melihat dua orang berdiri disimpang tiga, disamping sebuah gardu yang kosong. Apalagi ketika Daruwerdi menyadari, bahwa yang berdiri di simpang t iga itu adalah pemburu yang berada di Lumban Wetan dan Rahu, kawan Cempaka dari Sanggar Gading. Dengan jantung yang berdebar-debar Daruwerdipun turun dari kudanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Kenapa kalian berada disini?“ “Aku memang sedang menunggumu Daruwerdi” berkata Semi. “Apakah kalian sudah saling mengenal?“ bertanya Daruwerdi kemudian. “Kami saling berkenalan kami bersama-sama berada di banjar. Maksudku Banjar Kabuyutan Lumban Wetan di padukuhan induk. Dan kamipun sepakat, bahwa kami akan menemuimu untuk memberi peringatan kepadamu” “Peringatan apa?“ bertanya Daruwerdi. “Kami mempunyai kepentingan yang sama “Rahulah yang menjawab “Pemburu ini tidak mau terjadi kekacauan antara anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon, sehingga dapat menimbulkan keadaan yang memburuk. Jika terjadi benturan kekerasan diantara mereka, maka akibatnya akan sangat parah bagi kedua Kabuyutan ini. Sementara akupun tidak mau terjadi keributan disini. Justru pada saat-saat akhir pekan” “Aku tidak tahu, apa urusannya dengan akhir pekan“ sambung Semi “Tetapi benturan kekerasan dalam jumlah yang banyak, akan dapat menimbulkan akibat yang sangat memelas bagi kedua Kabuyutan yang semula bersumber dari aliran darah yang sama” Daruwerdi menjadi tegang. Dengan nada datar ia bertanya “Lalu apa yang kau kehendaki dari aku?“ “Kau dapat mencegah hai itu terjadi. Secepatnya. Jika kau terlambat, maka tidak akan ada gunanya lagi” berkata Semi. “Apa yang harus aku lakukan?“ bertanya Daruwerdi pula. “Ke bendungan. Cegah anak-anak Lumban Kulon memulai dengan kekerasan” jawab Semi. “Ke bendungan? Jadi anak-anak muda Lumban Kulon sekarang berada dibendungan?“ Semi memandang Rahu sekilas. Kemudian jawabnya “Ya. Belum terlalu lama” “Apa yang telah terjadi dibendungan?“ bertanya Daruweri seterusnya. “Kita harus segera berangkat. Jangan terlambat” desis Rahu. “Bagaimana j ika aku t idak bersedia. Biar lah anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan menyelesaikan masalah mereka sendir i” berkata Daruwerdi. “Aku akan menunda perjanj ian yang telah buat” berkata Rahu tiba-tiba “Aku melaporkan, bahwa keadaan di Kabuyutan di daerah Sepasang Bukit Mati ini tidak memungkinkan” “Apa yang akan kalian tunda?“ bertanya Semi. “Bukan urusanmu” jawab Rahu “Kita batasi kepentingan bersama kita. Namun yang menyangkut anak-anak muda yang saling bertengkar itu” “Gila“ geram Daruwerdi “Apa yang kalian harapkan dari padaku. Bagaimana j ika anak-anak muda itu tidak menghiraukan nasehatku” “Kita akan mencobanya. Aku ingin melihat kau melakukannya dengan bersungguh-sungguh, atau malam ini aku harus melaporkan apa yang terjadi disini” sahut Rahu. “Jangan mencoba menakut-nakut i aku. Aku tidak peduli, apapun yang akan kau lakukan” jawab Daruwerdi “Betapapun keras hatimu“ Semilah yang berkata kemudian “Apakah kau akan membiarkan anak-anak muda itu saling membantai? Jika demikian, maka akupun akan melakukannya. Aku sudah pernah menjajagi kemampuanmu. Dan aku mempunyai seorang kawan yang memiliki ilmu yang seimbang, dengan ilmuku. Apa boleh buat. Kami berdua, tanpa berbicara tentang harga diri, akan dapat membantaimu” “Aku memer lukan orang ini” potong Rahu “Aku tidak peduli” sahut Semi. Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Ia harus mempertimbangkan semuanya. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia tidak dapat mengalahkan pemburu itu. Jika ia benar-benar akan datang bersama kawannya, maka ia tentu tidak akan dapat melawannya. Sementara itu, ia sudah hampir sampai pada babak terakhir dar i sebuah permainan yang paling gawat yang pernah dilakukannya, dengan menerima penyerahan seorang Pangeran yang akan ditukarnya dengan sebilah pusaka. “Daruwerdi” berkata Semi “Kita harus membatasi kemungkinan yang parah yang dapat terjadi antara anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon” “Apakah kau sudah menemukan satu cara?“ bertanya Daruwerdi. “Jika anak-anak Lumban Kulon ingin memaksakan perkelahian, maka perkelahian itu dapat diwakili. Satu lawan satu. Dan kaupun akan dapat memaksa mereka untuk menerima keadaan itu” berkata Semi. “Jika mereka memaksa untuk turun seluruhnya kearah perkelahian itu?“ bertanya Daruwerdi. “Terserah, bagaimana caramu untuk mencegahnya. Kau tahu, kami dapat berbuat sesuatu atasmu, ada atau tidak ada hubungannya dengan persoalanmu dan orang ini, yang kalian sebut-sebut dengan persoalan yang akan terjadi diakhir pekan” Daruwerdi menahan nafasnya sebagaimana ia menahan kemarahan yang terasa mulai menjalari urat darahnya. Tetapi ia masih harus tetap menyadari dirinya. Di akhir pekan, yang akan dapat berarti esok pagi, ia akan menerima apa yang dimintanya. Selambat-lambatnya esok malam. Jika ia terlibat ke dalam yang tidak ada sangkut pautnya dengan usaha besarnya itu, justru hanya karena tingkah laku anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan, maka apa yang dilakukannya itu justru akan sia-sia. Tetapi sikap pemburu itu benar-benar menyakitkan hatinya. Seolah-olah ia dapat mengancamnya dan memaksakan kehendaknya. Namun ia harus tetap menahan diri. Yang dikatakan di dalam hatinya dalam gejolak kemarahannya itu adalah “Jika aku sudah selesai dengan persoalan besarku, aku ingin membuat perhitungan yang tuntas dengan pemburu gila ini” “Jangan dengan sengaja memperpanjang waktu” geram Semi kemudian “Jika kita terlambat, dan anak-anak itu sudah berkelai dibendungan, maka semuanya akan hancur. Lumban Wetan, Lumban Kulon, Bendungan disungai itu, dan barangkali juga kau dan aku” Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah gemeretak giginya. “Pergilah lebih dahulu dengan kudamu” berkata Semi “kehadiranmu tentu lebih menentukan dari kehadiranku, karena anak-anak Lumban Kulonlah yang selalu memaksakan kehendaknya atas anak-anak Lumban Wetan. Aku akan segera menyusul” Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian meloncat ke punggung kudanya. Namun ketika kudanya mulai melangkah ia berkala “Jangan kau sangka bahwa aku akan selalu memenuhi permintaanmu. Jika aku tidak mengingat anak-anak Lumban yang saling bertentangan ini. maka aku justru ingin menyobek mulutmu” Semilah yang kemudian tidak menjawab. Ia sadar, kemarahan yang hampir meledak telah membakar jantung Daruwerdi. Namun karena keadaannya dalam hubungannya dengan orang-orang Sanggar Gading, maka ia terpaksa memenuhi permintaan Semi. Sejenak kemudian terdengar kaki kuda Daruwerdi itu berderap kembali dijalan padukuhan. Semakin lama semakin eepat menuju kebendungan. Sementara Itu Rahu dan Semipun telah menuju kebendungan pula, melalui pematang dan jalan-jalan memintas. Sebenarnyalah, bahwa obor anak-anak Lumban Wetan telah terlihat oleh satu dua orang anak-anak muda Lumban Kulon, itu, maka merekapun segera berkumpul dan menyiapkan kawan-kawannya untuk pergi kebendungan. Semula mereka memang mencar i Daruwerdi untuk diminta pertimbangannya. Tetapi ternyata Daruwerdi tidak ada dipondokannya. Setelah beberapa saat mereka mencari dan tidak menemukannya, maka Nugatalah yang mengambil keputusan untuk datang kebendungan Kemarahan anak-anak Lumban Kulon itupun segera memuncak ketika mereka melihat anak-anak Lumban Wetan telah membuka pintu air mereka pula seperti yang dilakukan oleh anak-anak Lumban Kulon. Karena itu, maka dengan suara lantang Nugata itupun segera berteriak “He, anak-anak Lumban Wetan. Apakah kalian sudah menjadi gila, sehingga kalian tidak tahu lagi apa yang kalian lakukan?“ Tetapi Nugata terkejut ketika yang menjawab adalah justru salah seorang dari kedua pemburu yang ada di Lumban Wetan “Nugata. aku sudah mencoba untuk mencegahnya. Tetapi kesabaran anak-anak muda Lumban Wetan sudah sampai kebatasnya. Yang kalian lakukan sudah terlalu jauh menusuk perasaan saudara-saudaramu dari Lumban Wetan, sehingga akhirnya mereka tidak dapat menahan diri lagi” “Jangan memutar balikkan keadaan“ bantah Nugata “Tentu bukan karena kemauan anak-anak Lumban Wetan. Mereka menyadari kelemahannya. Jika mereka melakukannya, tentu karena desakanmu atau kawanmu, pemburu yang seorang lagi itu. Meskipun ia tidak nampak hadir disini, tetapi ia tentu terlibat dalampersoalan ini” “Kau salah mengerti” jawab kawan Semi itu ”bertanyalah kepada anak-anak Lumban Wetan. Mereka ada disini semuanya” “Ya” tiba-tiba saja salah seorang anak muda Lumban. Wetan menyahut “Kami memang tidak dapat ditahan lagi oleh siapapun juga. Kesabaran kami sudah sampai kepuncak ubun- ubun” “Persetan“ Nugatapun berteriak “Apakah kalian menyadari, apa yang dapat terjadi atas kalian dengan tingkah laku kalian itu?“ “Kami sadar, seperti kalianpun menyadari apa yang kalian lakukan jawab anak muda Lumban Wetan itu. “Sudahlah” berkata pemburu kawan Semi itu “Jangan terlalu dirisaukan. Kau sudah melakukannya. Sekarang giliran anak anak muda Lumban Wetan melakukannya. Bukankah itu sudah wajar?“ “Itu satu pelanggaran” jawab Nugata hampir berteriak “kalian tidak berhak berbuat apa-apa atas bendungan ini. Bendungan ini berada di Lumban Kulon, seperti sumber air di bukit itu. Kamilah yang berhak menentukan. Bukan kalian, orang-orang Lumban Wetan. Jika kami sudah berbelas kasihan untuk memberikan air sekadarnya, itu harus kalian terima dengan ucapan terima kasih” “Jangan begitu” jawab pemburu itu “anggap sajalah bahwa Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih tetap satu. Biarlah Lumban Wetan menjadi hijau seperti Lumban Kulon. Biarlah anak-anak Lumban Wetan termasuk anak-anak Lumban Kulon kelak berusaha agar air itu menjadi semakin besar dan melimpah kesawah-sawah yang semakin luas. Aku kira Jlitheng akan dapat melakukannya” “Aku tidak peduli. Kau sangka hanya Jlitheng saja yang dapat melakukannya?“ Nugata menjadi semakin marah. “Tetapi bukankah kita semuanya tidak akan dapat mengingkar i kenyataan yang sama-sama kita ketahui? Siapakah yang telah berbuat atas air di bukit itu? Siapa pula yang telah bekerja keras untuk menyelesaikan bendungan ini?“ “Apa pedulimu” bentak Nugata semakin keras “sekarang, biarlah kami menyelesaikan persoalan kami dengan anak-anak Lumban Wetan. Aku akan menuntut agar mereka mengembalikan pintu air seperti semula, sebelum mereka merusaknya” Namun yang terdengar adalah jawaban dari seorang anak muda Lumban Wetan “Kami akan memulihkannya, sebagaimana kalian lakukan” Darah Nugata bagaikan memercik lewat sorot matanya. Selangkah ia maju. Hampir saja ia berteriak kepada kawan- kawannya agar mereka menyerang anak-anak Lumban Wetan. Namun kawan Semi yang mengetahui perasaan Nugata itu mendahului “Jangan kehilangan akal Nugata. Jangan dengan tergesa-gesa memer intahkan kawan-kawanmu untuk menyerang. Perkelahian memang dapat terjadi. seluruh anak- anak Lumban Kulon melawan seluruh anak-anak Lumban Wetan. Tetapi apa kau sangka perkelahian itu akan dapat menjadi penyelesaian yang baik? Semua anak-anak muda Lumban akan cedera sampai orang yang terakhir. Mungkin justru akan ada korban yang jatuh. Atau lebih tegasnya lagi, akan ada diantara kalian yang terbunuh. Mati. Sedangkan kalian masih terlalu muda untuk mati” Wajah Nugata semakin menegang. Sementara pemburu itu berkata lebih lanjut “Sementara dendam itu masih akan tetap menyala di hati kalian. Jika diantara kalian yang cidera itu kemudian sembuh, maka pertentangan dan perkelahian akan dapat timbul lagi setiap saat. Sementara pekerjaan yang kalian lakukan atas bendungan ini akan terbengkelai” Sejenak Nugata memperhatikan kata-kata itu dan mencoba untuk mencernakannya. Namun kemudian tiba-tiba saja ia berteriak pula “Jangan coba untuk menahan kami, anak-anak muda Lumban Kulon. Kami akan mempertahankan hak kami atas sungai, bendungan, bukit dan air. Apapun yang akan terjadi, kami akan melakukannya” “Tunggu” desis pemburu itu. Ia berhenti sejenak. Kemudian sambil maju setapak mendekati Nugata ia berkata perlahan- lahan “Jangan memaksa aku untuk bertindak lebih jauh Nugata. Aku akan dengan senang hati melibatkan dir i” “Aku tidak peduli“ ternyata Nugata tidak menahan suaranya yang lantang ”Aku akan memberitahukannya kepada Daruwerdi. Jika ada orang lain yang ikut campur, maka Daruwerdipun tentu akan ikut campur pula” Tetapi pemburu itu tertawa. Katanya “Apa artinya Daruwerdi seorang diri. Ia tidak akan menang atas kawanku. Sementara aku akan dapat berbuat apa saja atas kalian. Aku akan berada diantara anak-anak muda Lumban Wetan. Satu- satu aku akan dapat membuat anak-anak Lumban Kulon pingsan” Hati Nugata tergetar pula. Tetapi ketika ia berpaling, dan dilihat jumlah kawan-kawanya yang cukup banyak, maka hatinya telah melonjak lagi. Sekilas dilayangkan pandangannya kearah anak-anak muda Lumban Wetan yang berhenti bekerja, meskipun mereka masih tetap berdiri di tempat masing-masing. Sebagian besar diseberang. Beberapa orang diatas bendungan dan ada satu dua berada diujung bendungan hampir disebelah Barat sungai termasuk pemburu kawan Semi itu. “Sudahlah Nugata” berkata pemburu itu “biarlah anak-anak Lumban Kulon tidak mengganggu apa yang dilakukan oleh anak-anak Lumban Wetan, seperti juga sebaliknya. Bukankah anak-anak muda Lumban Wetan sama sekali tidak mengganggumu hari ini. Jika kemarin ada beberapa orang anak yang menuggui kerja kalian dan itu kalian anggap mengganggu, maka hari ini mereka tidak lagi berbuat demikian” Terdengar gigi Nugata gemeretak menahan kemarahan yang menghentak dadanya. Namun ia masih dicengkam oleh keragu-raguan. Iapun mengerti, bahwa Daruwerdi tidak dapat mengalahkan pemburu yang seorang lagi. Tetapi sudah barang tentu bahwa Nugata tidak akan dapat menerima penghinaan itu. Sekali lagi ia mencoba menimbang- nimbang. Namun iapun kemudian menggeram “Jika kami terpaksa mempergunakan kekerasan, maka yang bertanggung jawab adalah anak-anak muda Lumban Wetan. Jika mereka tidak melakukan perbuatan yang bodoh itu, maka tidak akan terjadi sesuatu yang dapat menimbulkan penyesalan diantara kita. Sementara kau, pendatang yang telah menghasut anak- anak muda Lumban Wetan jangan kau anggap bahwa kami tidak dapat berbuat apa-apa atasmu. Meskipun kau memiliki ilmu yang tinggi, namun kau tidak akan mampu melawan lima anak muda Lumban Kulon yang terbaik. Jangan menyesal bahwa kalian anak muda itu tidak dapat mengekang dir inya dan memperlakukan kau tidak seperti yang kau inginkan” Pemburu itu termangu-mangu. Nampaknya Nugata benar- benar telah tidak dapat menahan diri lagi. Pemburu itu sama sekali tidak menjadi cemas bahwa ia harus berkelahi melawan lima atau sepuluh orang sekaligus. Tetapi iapun masih berharap bahwa kekerasan dapat dihindarkan. Karena itu, setiap kali ia masih berusaha memperpanjang waktu sambil menunggu Semi dan Rahu yang sedang mencari Daruwerdi untuk membantu meredakan keadaan. “Cepat ambil sikap” bentak Nugata “sebelum aku meneriakkan aba-aba” “Kenapa kau tidak berteriak sekarang” tiba-tiba seorang anak muda Lumban Wetan menyahut. Nampaknya anak-anak muda Lumban Wetanpun sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. “Tunggu“ pemburu itulah yang mencegah. Ia benar-benar menjadi cemas bahwa ia tidak akan dapat menahan kedua belah pihak sambil menunggu Daruwerdi seperti yang dipesankan oleh Semi dan Rahu. Sementara Jlitheng yang berada diantara anak-anak muda Lumban Wetanpun tidak dapat berbuat apa-apa. “Kenapa harus menunggu?“ bertanya anak muda justru dari Lumban Wetan. Dalam pada itu, tiba-tiba mereka yang berada dibendungan itu telah dikejutkan oleh derap seekor kuda. Karena itu, maka merekapun menjadi berdebar-debar. Namun kemudian, anak- anak Lumban Kulon tiba-tiba saja telah bersorak ketika mereka melihat Daruwerdilah yang datang dengan tergesa- gesa. Dengan jantung yang berdebar-debar Daruwerdi melihat anak-anak muda Lumban Wetan dan anak-anak muda Lumban Kulon sudah siap untuk berkelahi. Anak-anak muda Lumban Wetan telah bergeser mendekati bendungan. Mereka sudah siap berloncatan melintasi sungai, lewat bendungan atau melalui jalan setapak menuruni tebing yang tidak begitu tinggi di bawah bendungan. Yang semakin mendebarkan jantung Daruwerdi adalah bahwa anak-anak Lumban Kulon ternyata telah membawa senjata, sementara anak-anak Lumban Wetanpun telah siap menghadapi. Meskipun agaknya mereka t idak bersenjata khusus untuk berkelahi, namun mereka telah menggenggam alat-alat mereka yang mirip dengan senjata. Parang, linggis, tangkai obor yang panjang dan masih menyala, serta beberapa macamperalatan yang lain. Jika perkelahian itu terjadi, maka tentu seperti yang dikatakan oleh Semi dan Rahu, bahwa korban akan berjatuhan tanpa arti sama sekali. “Kami telah siap” berkata Nugata lantang sambil mendekati Daruwerdi “ ber ilah kami perintah. Kami akan menghancurkan bendungan itu sama sekali dan anak-anak Lumban Wetan apabila mereka ingin mencegah kami” “Kami sudah siap“ yang lainpun telah berteriak pula. Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Ia melihat pemburu kawan Semi itu telah menunggunya. “Aku berusaha untuk mencegahnya” berkata pemburu itu kepada Daruwerdi. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak Lumban Kulon itu ternyata telah menumpukan harapannya kepadanya. Namun, ia tidak akan dapat membiarkan perkelahian itu terjadi. Pembantaian diantara anak-anak muda yang sedang dibakar oleh kemarahan, sementara mereka adalah anak muda dari keturunan darah yang satu pada mulanya. “Agak berbeda dengan pertempuran antara Sanggar Gading dan orang Pusparur i” berkata Daruwerdi di dalam hatinya “Jika mereka yang akan bertempur sampai orang terakhir, aku tidak peduli. Itu memang sudah menjadi tekad mereka. Tetapi anak-anak muda ini?“ Karena itu, maka Daruwerdi yang sudah turun dari kudanya itu tiba-tiba berkata lantang, sehingga terutama anak-anak muda Lumban Kulon menjadi terkejut karenanya “Tidak ada gunanya kalian berkelahi” Nugata justru mematung sejenak. Namun kemudian iapun bertanya “Apa maksudmu?“ “Kalian tidak perlu berkelahi“ ulang Daruwerdi. “Jadi? Apakah kami harus membiarkan anak-anak Lumban Wetan telah melanggar hak kami? Mereka dengan sangat tidak tahu diri telah merubah pintu air yang telah kami berikan kepada mereka” jawab Nugata. “Nugata” berkata Daruwerdi kemudian “perkelahian yang demikian tidak akan ada artinya. Kalian dan kawan-kawan kalian akan mengalami peristiwa yang sangat mengerikan. Bendungan ini akan menjadi merah oleh darah anak-anak muda yang masih memiliki masa depan yang jauh lebih baik dari keadaan kalian sekarang” “Aku tidak mengerti” berkata Nugata “Jadi, apakah kami harus membiarkan saja anak-anak Lumban Wetan berbuat sesuka hatinya?“ “Apakah kau tetap tidak rela?“ bertanya Daruwerdi. “Tentu” jawab Nugata. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Nugata dalam keremangan cahaya obor yang dibawa oleh anak-anak Lumban Wetan itu. Dalam pada itu, setiap hati telah dicengkam oleh ketegangan. Anak-anak muda dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan itu terdiam mematung betapapun jantung mereka bergejolak. Selagi mereka diam dalam ketegangan, dan orang yang berjalan tergesa-gesa telah mendekati bendungan itu. Kedatangan mereka telah membuat anak-anak muda Lumban Kulon semakin berdebar-debar. Ternyata keduanya adalah pemburu yang seorang lagi bersama Rahu, seorang yang telah berada dibanjar Kabuyutan Lumban Wetan pula. Nugata yang sudah dibakar oleh kemarahan yang memuncak itu menjadi semakin marah. Tetapi iapun tidak dapat mengabaikan kehadiran keduanya, terutama pemburu yang seorang itu. Daruwerdi sama sekali tidak terkejut melihat kehadirannya. Ia sudah tahu, seperti yang sudah dikatakan oleh Semi, bahwa kedua orang itu akan segera menyusul kebendungan. Dalam pada itu, maka Daruwerdipun berkata kepada Nugata dan anak-anak muda Lumban Kulon “Dengarlah. Aku tidak berkeberatan kalian menentukan sikap kalian masing- masing. Jika kalian ingin berkelahi, berkelahilah. Aku percaya, bahwa didorong oleh kemudaan kalian, dan keinginan kalian untuk menunjukkan kejantanan kalian, maka kalian telah bertekad untuk berkelahi. Jika kalian menang, maka kalian akan pulang dengan penuh kebanggaan sebagaimana seorang prajurit yang menang perang. Sementara yang kalah akan menjadi berprihatin dan dipanggang oleh api dendam, kalian akan berusaha dengan cara apapun juga untuk menebus kekalahan itu. Demikian berturut-turut, sehingga akan sampai orang yang terakhir. Di Kabuyutan kalian akan terdapat kuburan seluas padukuhan-padukuhan kalian itu, dimana terkubur pahlawan-pahlawan Kabuyutan yang telah berjuang untuk kesejahteraan, mempertahankan hak dan harapan bagi hari depan. Namun sementara itu, bendungan ini akan terbengkelai. Sawah-sawah akan tetap kering, dan ayah serta ibu yang kalian tinggalkan akan menjadi kelaparan” Waiah anak-anak muda itu menjadi semakin tegang. Mereka tidak begitu mengerti arah pembicaraan Daruwerdi, Namun mereka tersentuh oleh ucapan-ucapannya tentang kuburan seluas Kabuyutan itu sendiri Dalam kediaman itu terdengar Daruwerdi berkata “Karena itu, marilah kita mengambil satu cara yang tidak akan mengarah kepada peristiwa yang mengerikan itu. Kita akan melihat, siapakah orang terbaik di Lumban Kulon, dan siapakah orang terbaik di Lumban Wetan. Merekalah yang akan mewakili kawan-kawannya, berkelahi di bendungan ini” Kedua kelompok anak-anak muda itupun terdiam. Wajah wajah mereka masih tetap menegang. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Nugata bertanya “Apakah artinya perkelahian itu bagi bendungan ini. Bagaimana jika anak Lumban Kulon yang menang, dan bagaimana jika anak muda Lumban Wetan” “Bukankah kalian sedang mempertahankan satu sikap?“ bertanya Daruwerdi “Jika anak Lumban Kulon yang menang, maka sikap dan pendir iannyalah yang berlaku. Tetapi j ika anak-anak muda Lumban Wetan yang menang, maka sikap dan pendirian mereka yang akan berlaku. Sementara itu kita semuanya sudah mengetahui sikap apakah yang kalian ambil sehingga sikap itulah yang akan dipertaruhkan. Bukan sikap lain yang akan dapat berkembang tanpa batas” Nugata termangu-mangu. Dipandanginya Daruwerdi, pemburu-pemburu itu berganti-ganti, dan seorang lagi yang berada di Lumban Wetan. Ternyata bukan saja Nugata yang termangu-mangu. Juga anak-anak Lumban Wetan menjadi bimbang. Taruhannya terlalu besar. Jika mereka kalah, maka pintu air itu akan tetap tidak berimbang. Pintu air yang membawa air ke Lumban Kulon akan tetap menjadi jauh lebih lebar dari pintu air yang mengalirkan air ketanah persawahan di Lumban Wetan. Bukan saja anak-anak Lumban Wetan yang menjadi bimbang. Tetapi ternyata Rahu, Semi dan kawannyapun ragu- ragu, apakah anak Lumban Wetan ada yang dapat mengalahkan Nugata, karena merekapun yakin, bahwa Nugatalah yang akan memasuki arena sayembara tanding itu. Karena itu, maka tiba-tiba Semipun berkata untuk mendapat satu keyakinan dan kepastian bahwa keadilan akan berlaku “Yang akan terjadi adalah sayembara tanding berantai” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti maksud Semi. Namun kemudian Semi menjelaskan “Jika seseorang, apakah ia dar i Lumban Wetan atau dari Lumban Kulon telah kalah, maka selelah beristirahat sejenak, maka seorang yang lain, yang. merasa memiliki kemampuan dapat tampil kearena melawan yang menang. Tetapi jika sudah tidak ada seorangpun yang merasa memiliki kemampuan itu. maka yang menang terakhir lah yang dianggap dapat menentukan. Untuk menghindari kecurangan, kemenangan yang tidak wajar karena kelelahan, maka seorang dari Lumban Wetan atau Lumban Kulon yang menang tiga kali berturut-turut, maka ia dianggap telah memenangkan sayembara tanding ini” Daruwerdi menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak mengerti dengan pasti maksud pemburu itu. Namun karena persoalannya telah berkisar baginya, bahwa ia telah terpaksa melakukan itu karena tekanan Semi dan Rahu, yang menghubungkan masalahnya dengan akhir pekan seperti yang dijanjikan oleh orang-orang Sanggar Gading, maka ia tidak terlalu banyak mempersoalkannya. Karena itu, maka iapun sama sekali tidak mengajukan keberatan apa-apa. Rahupun segera mengetahui maksud Semi. Rahu tahu. bahwa di Lumban Wetan ada Jlitheng. Dalam keadaan terpaksa, jika keadilan menuntut untuk ditegakkan, maka mau tidak mau Jlitheng harus tampil dan memenangkan perkelahian melawan anak Lumban Kulon yang manapun juga. Jlitheng yang mengikut i pembicaraan itu diantara anak- anak muda Lumban Wetanpun menarik nafas dalam-dalam. Iapun mengerti maksud Semi. Dan iapun tidak akan ingkar, jika keadilan memang menuntut kepadanya untuk berbuat sesuatu. Sebenarnyalah bahwa iapun mencemaskan sayembara tanding itu, jika benar-benar Nugata tidak terkalahkan oleh kawan-kawannya dari Lumban Wetan, karena Jlitheng yang telah berbuat terlalu banyak itu akan melepaskan air kearah yang tidak sewajarnya. Namun demikian, Jlitheng itu berkata di dalam hatinya “Mudah-mudahan hal itu tidak perlu. Aku akan kehilangan sebagian dari ruang gerakku. Mungkin Daruwerdi menjadi curiga, meskipun ia t idak akan banyak mendapat kesempatan bergerak, karena ia sudah akan segera sampai kepada akhir pekan yang baginya sangat penting itu” Tetapi ternyata tanggapan Nugata diluar dugaan Ia sama sekali tidak berkeberatan Menurut perhitungannya, di Lumban Wetan hanya ada sepuluh orang anak muda yang memiliki ilmu kenuragan yang sudah pantas untuk dipasang dalam arena sayembara tanding. Dan nampaknya iapun merasa, bahwa ia akan dapat mengalahkan sepuluh orang anak muda itu berturut-turut. Apalagi jika hanya tiga orang. Karena itu. maka dengan keyakinan yang besar, dan bahkan dengan satu keinginan untuk menjajagi sebagian dari kawan-kawannya di Lumban Kulon dan Lumban Wetan, ia setuju dengan permainan yang akan sangat menar ik itu. Karena itu. maka katanya kemudian “Aku terima syarat itu. Kita akan membuat arena. Kita akan mulai dengan anak-anak muda yang bagi Lumban Kulon bukan orang-orang terbaik. Pada saatnya akulah yang akan tampil j ika keadaan memang menjadi gawat. Tetapi j ika kawan-kawanku telah berhasil, maka aku akan menjadi penonton saja malam ini” Demikianlah, maka anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan itu segera mempersiapkan sayembara tanding. Mereka membuat lingkaran. Separo lingkaran terdiri dari anak-anak muda Lumban Kulon dan yang separo adalah anak-anak muda Lumban Wetan. Sementara itu, yang akan menjadi penengah adalah Daruwerdi, yang ditunjuk oleh anak-anak muda Lumban Kulon dan Semi yang ditunjuk oleh anak-anak muda Lumban Wetan. Ketika semua persiapan sudah selesai, dan obor telah ditancapkan diseputar arena, maka sayembara tanding untuk memperebutkan keputusan atas bendungan itupun segera dimulai. . Ternyata Lumban Kulon dan Lumban Wetan tidak melepaskan orang-orangnya yang terbaik. Mereka mulai dengan anak-anak muda yang meskipun tergolong kuat, namun belum pada tataran tertinggi. Lumban Wetanlah yang harus dengan serta merta menentukan sikap. Mereka telah terlanjur memilih satu saja orang terbaik. Tetapi mereka harus melepaskan orangnya yang lain. Yang pertama tampil ke arena, justru orang yang ditunjuk oleh pemburu kawan Semi itu. Bukan yang terbaik dari yang sepuluh, tetapi yang termasuk tataran terbaik dari antara anak-anak muda yang ber latih padanya, tidak kepada Semi. Sejenak kemudian, maka dua orang anak muda telah berhadap-hadapan. Ketika sorak anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon bagaikan memecahkan langit, maka perkelahian itupun segera dimulai. Anak muda Lumban Kulon yang sedang berkelahi itu telah mendapat dasar-dasar kemampuan membela dirinya dari Daruwerdi, sementara anak Lumban Wetan itu belajar pada kawan Semi. Agaknya keduanya ternyata memiliki kemampuan yang seimbang. Keduanya telah memahami dasar-dasar dari ilmu masing-masing. Sebenarnyalah bahwa anak-anak muda Lumban Kulon tidak menyangka, bahwa anak-anak muda Lumban Wetan itu mampu mengimbangi kemampuan merek . Anak-anak muda Lumban Kulon merasa, bahwa mereka mendapat kesempatan berlatih untuk waktu yang lebih lama. Namun mereka tidak menyadari bahwa anak-anak muda Lumban Wetan telah mempergunakan seluruh waktu terluang mereka selama itu setiap hari. Dengan demikian maka mereka telah berhasil menyusul t ingkat kemampuan anak-anak muda Lumban Kulon. Demikianlah perkelahian yang terjadi itu semakin lama menjadi semakin seru. Anak-anak muda Lumban Wetan dan anak-anak muda Lumban Kulon yang ada diseputar arena itupun bersorak-sorak dengan r iuhnya. Sementara Danrwerdi dan Semi mengawasi perkelahian itu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Beberapa saat kemudian keduanya telah basah oleh keringat. Butir-butir pasir tepian sungai melekat pada tubuh mereka yang basah. Setiap kali salah seorang dari mereka, atau keduanya berguling di tanah, maka tubuh dan pakaian merekapun bagaikan dilumuri oleh pasir dan tanah yang besah. Dalam pada itu, Jlithengpun telah memperhatikan perkelahian itu dengan saksama. Ada semacam kegelisahan di dalam hatinya. Jika dua kali berturut-turut anak muda Lumban Wetan tidak dapat mengalahkan seseorang, maka orang ketiga itu tentulah dir inya, untuk menjaga agar t idak terjadi kesewenang-wenangan sikap anak-anak muda Lumban Kulon, karena apabila mereka memenangkan perkelahian, berarti bahwa apa yang mereka kehendaki akan terjadi. Dengan demikian maka Lumban Wetan tidak akan berani melepaskan orang lain dengan akibat yang paling pahit itu. Apalagi bagi Jlitheng sendiri yang telah bekerja keras bersama kakek d atas bukit itu untuk menghijaukan sawah yang terhampar disela- sela padu-kuhan-padukuhan di Lumban yang gersang dan kemerah-merahan. Tetapi Jlithengpun sadar, bahwa apabila ia melakukannya, maka akan timbul banyak sekali tanggapan dan bahkan kecurigaan kepadanya. Ia tidak" termasuk yang sepuluh orang yang dianggap anak-anak muda terbaik di Lumban Wetan. Jika ia memaksa diri untuk memasuki arena sayembara tanding itu, maka ia telah melanggar tataran yang dianggap ada diantara anak-anak muda Lumban Wetan sendir i. Namun ia tidak akan rela melihat ketidak adilan itu akan berlaku. “Meskipun j ika hal itu harus terjadi, tanggapan anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan berbeda dan berubah, tetapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menegakkan keadilan itu” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Sementara itu perkelahian mash berlangsung terus. Anak- anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan masih berteriak-teriak dengan riuhnya. Mereka dengan gairahnya telah berusaha memberikan dorongan kepada kawan masing- masing untuk memenangkan perkelahian itu. Namun sejenak kemudian, setelah keduanya mengerahkan segenap kemampuan masing-masing, maka mulailah nampak, bahwa anak muda Lumban Wetan itu memiliki pernafasan yang lebih baik. Meskipun sebenarnya ia tidak mempunyai ilmu yang dapat dianggap lebih tinggi dari lawannya, namun ternyata bahwa kelelahanlah yang telah membuat lawannya itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Pada saat-saat terakhir, dimana tenaga keduanya sudah susut, anak muda Lumban Wetan itu masih sempat menyerang lawannya yang telah kelelahan sehingga lawannya itupun terhuyung-huyung dan jatuh berguling diatas pasir. Ketika lawannya itu berusaha untuk bangkit, maka dengan sisa tenaga yang masih ada, anak muda Lumban Wetan itu menyerang langsung menghantam dadanya dengan kakinya. Ternyata serangan ku telah mengakhiri perkelahian. Anak muda Lumban Kulon itu jatuh sekali lagi terlentang. Namun ia tidak lagi mempunyai sisa tenaga untuk bangkit. “Cukup “ Semilah yang menghentikan perkelahian itu. Anak muda Lumban Wetan itupun berdiri dengan nafas terengah-engah. Dipandanginya lawannya yang terbaring diam meskipun ia tidak pingsan. Tetapi nafasnya rasa-rasanya telah terputus dikerongkongan, sementara tubuhnya rasa- rasanya menjadi remuk, “Ya cukup” sahut Daruwerdi “Kita semuanya menyaksikan, bahwa anak muda Lumban Kulon ini telah kalah” Nugata menggeram. Katanya “Akan maju lagi seorang dari antara kami. Ia akan meremukkan tulang-tulang anak Lumban Wetan yang sombong itu” Daruwerdi mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga hatinyapun tersentuh oleh kekalahan itu. Meskipun dengan tidak langsung, setiap orang akan segera menghubungkan kekalahan itu dengan dirinya dan dengan pemburu yang berada di Lumban Wetan itu, karena kemampuan anak-anak muda Lumban Kulon bersumber dari Daruwerdi sementara anak-anak muda Lumban Wetan bersumber dari pemburu yang seolah-olah telah menetap di Lumban Wetan itu. Nugata yang marahpun segera menunjuk orang kedua. Katanya “Kau hancurkan kesombongan anak muda itu” Seorang anak muda yang berkulit agak kehitam-hitaman mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Katanya “Senang sekali sempat bermain-main dengan anak-anak muda Lumban Wetan. Tetapi yang terjadi itu tidak masuk akal. Bahwa anak muda Lumban Kulon telah dikalahkan oleh anak muda Lumban Wetan, jika tidak karena kawan kami dari Lumban Kulon ini tidak sedang pada tataran kemampuannya yang sebenarnya Mungkin ia terlalu banyak kerja siang tadi, sehingga tenaganya sudah jauh susut” “Ya” potong Nugata “Dan tugasmu sekarang, mematahkan kesombongan itu. Bukan sekedar berbicara tanpa ujung pangkal” Anak muda yang berkulit agak kehitam-hitaman itupun segera membenahi dirinya, sementara kawan-kawannya yang lain telah mengangkat anak muda Lumban Kulon yang tidak dapat bangkit lagi di arena itu. “Kita ber istirahat sebentar” berkata Semi kemudian “ biarlah yang baru memenangkan perkelahian ini sempat beristirahat. “Kelemahan dapat saja dipakai alasan jika ia kalah nant i” geram Nugata “Tetapi jangan pedulikan“ pesannya kepada kawannya yang akan memasuki arena “kalahkan anak itu meskipun ia akan mengelak dengan seribu alasan” Semi tidak menanggapinya. Kepada anak-anak muda Lumban Wetan ia berkata “Carikan air bening. Biarlah ia minum sebelum anak itu harus menghadapi lawannya yang kedua” Beberapa orang anak muda Lumban Wetan segera berlari- larian. Mereka mencari sesobek daun pisang diantara rumpun- rumpun pisang yang tumbuh liar di lereng-lereng tebing. Kemudian dengan daun itu mereka membawa air dari belik ditebing pula. Tetapi, anak Lumban Wetan itu benar-benar telah kelelahan seakan-akan nafasnya sudah hampir terputus pula. Meskipun seteguk air itu dapat menyegarkan tubuhnya, tetapi untuk berkelahi lagi rasa-rasanya sudah tidak dapat lagi dilakukan. Namun ia terikat pada ketentuan, bahwa ia harus menerima awan kedua. Dalam pada itu, pemburu yang seorang lagi dengan diam- diam mendekatnya sambil berbisik “Jangan memaksa dir i. Jika kau memang kalah, menyerah sajalah meskipun t idak dengan semata-mata. Kau dapat menjatuhkan dirimu dan tidak bangun lagi sampai kau digotong keluar arena. Orang berikutnya yang akan mengalahkan lawanmu itu” Anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu. Namun iapun akhirnya mengangguk-angguk mengerti. Sejenak kemudian maka Nugatalah yang berteriak “Cepat. Kita akan melihat perkelahian berikutnya” Anak muda dari Lumban Kulon yang berkulit agak kehitam- hitaman itupun segera melangkah maju. Langkahnya tetap dan tegap. Sementara itu, anak muda Lumban Wetan yang sudah kelelahan itu berusaha untuk tetap berdiri tegak pula. Air yang beberapa teguk itu memang telah membuatnya agak segar, sementara tubuhnyapun telah diusapnya dengan beberapa titik air yang sejuk. Ternyata serangan itu telah mengakhiri perkelahian. Anak muda Lumban Kolon itu jatuh sekali lagi terlentang. Sementara itu, bintang-bintang telah bergeser semakin ke Barat. Angin malam mengayun nyala obor yang dibawa oleh anak-anak muda Lumban Wetan yang telah ditancapkan diseputar arena. Dua orang anak muda sudah berdiri tegak ditengah-tengah arena. Namun demikian, baik Semi maupun Daruwerdi sudah melihat, bahwa perkelahian itu sama sekali tidak akan seimbang. Meskipun demikian mereka tidak akan dapat merubah peraturan yang sudah dibuat. Sejenak kemudian maka Daruwerdi dan Semipun member ikan isyarat bahwa sebentar lagi perkelahian akan dapat dimulai. Keduanya diminta untuk segera bersiap-siap. Dengan menghitung sampai tiga kali, maka Daruwerdi membuka perkelahian itu. Ternyata anak muda Lumban Kulon itu terlalu garang bagi lawannya yang kelelahan. Demikian isyarat hitungan diucapkan pada hitungan ke tiga. maka anak muda berkulit kehitam-hitaman itu telah meloncat menyerang dengan dahsyatnya. Tanpa memberi kesempatan sama sekali kepada lawannya, maka serangannya yang beruntun benar- benar telah melemparkan anak muda Lumban Wetan itu. Terasa kemarahan yang luar biasa telah megnhentak jantungnya. Namun serangan yang beruntun itu benar-benar telah merampas segenap kekuatannya untuk dapat bangkit lagi. Anak Lumban Wetan itu menyeringai menahan sakit ditubuhnya. Namun agaknya anak muda Lumban Kulon itu benar-benar anak muda yang keras hati. Dengan tangkasnya ia meloncat. Tangannya tiba-tiba saja telah meraih rambut lawannya dan menariknya. Meskipun lawannya sudah terlampau payah, tetapi anak muda Lumban Kulon itu telah memukul wajah anak muda itu dengan kerasnya. Anak muda Lumban Wetan yang sudah tidak dapat melawan lagi itu mengaduh tertahan. Kepalanya terodrong dengan kerasnya. Untunglah bahwa kepalanya itu membentur tanah berpasir sehingga dengan demikian kepalanya tidak ter- luka karenanya. Ketika anak muda Lumban Kulon itu sekali lagi mengulurkan tangannya, hampir berbareng Semi dan Daruwerdi melancarkan sambil berteriak “Cukup” Anak muda Lumban Kulon itu mengurungkan niatnya. Namun ia masih menjawab “Aku belum meremukkan kepalanya” “Itu tidak perlu“ Daruwerdi hampir membentak “perkelahian ini hanya sampai pada satu keadaan, dimana kita dapat menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang” “Apakah anak itu sudah kalah?“ bertanya anak muda Lumban Kulon itu. Daruwerdi mengerutkan keningya Namun nampak bahwa hatinya tidak senang melihat sikap anak muda Lumban Kulon yang licik itu. Anak-anak muda Lumban Wetan benar-benar merasa tersinggung karenanya. Hampir serentak mereka berteriak mengumpat. Tetapi Semilah yang kemudian menenangkan mereka. Katanya “Bawalah ia menepi. Ambil air dan rawatlah sebaik-baiknya. Usap wajahnya dengan air. Tetapi hati-hatilah. Beberapa orang anak muda melangkah memasuki arena. Betapa kemarahan nampak di wajah mereka. Namun anak Lumban Kulon benar-benar tidak merasa melakukan satu kesalahan. Mereka justru bersorak-sorak melihat kemenangan kawannya. Dalam pada itu. kemarahan benar-benar telah menghentak anak-anak muda Lumban Wetan. Anak muda yang berkumis tipis menggeram “Biarlah aku yang menyelesaikannya” “Jangan tergesa-gesa“ Jlitheng yang selama itu hanya dapat menggeretakkan giginya itupun berkata “Bukankah permainan ini baru dimulai. “Tetapi mereka telah berbuat curang” jawab kawannya. “Percayakan kepada pemburu itu” sahut Jlitheng. Anak-anak Lumban Wetan yang marah itupun akhirnya mulai membuat pertimbangan-pertimbangan lagi. Mereka mulai dapat menilai, apa yang sedang mereka hadapi. Baru dua orang anak muda Lumban Kulon yang tampil. Mungkin dalam perkelahian ini beberapa anak muda yang lain harus tampil seorang demi seorang. Jika mereka tidak menghiraukan kemungkinan-kemungkinan dalam jenjang kemampuan mereka, maka mungkin sekali mereka akan kehabisan orang yang akan dapat tampil disaat-saat terakhir. Karena itulah, maka Lumban Wetanpun menampilkan seorang anak muda yang lain. Tetapi mereka sudah mulai memasuki seorang dar i sepuluh orang terbaik dari Lumban Wetan. Karena menurut perhitungan mereka perkelahian selanjutnya tidak akan lebih dari sepuluh orang lagi. Atas persetujuan pemburu kawan Semi itu. maka seorang anak muda bertubuh sedang, berkulit kuning telah melangkah memasuki arena. Anak itu memang termasuk satu dari sepuluh orang terbaik di Lumban Wetan. Tetapi menurut penilaian kawan Semi, anak muda berkumis tipis itu memiliki kelebihan meskipun hanya selapis. Yang kemudian berdir i diarena adalah anak muda Lumban Kulon yang berkulit kehitam-hitaman berhadapan dengan anak muda Lumban Wetan yang berkulit kuning. Sejenak mereka saling memandang. Keduanya adalah kawan yang sebelumnya termasuk kawan yang baik. Namun demikian air dari bukit itu mengaliri sawah mereka, hubungan mereka justru menjadi semakin renggang. Semi yang melihat salah seorang dari sepuluh anak muda terbaik yang mengikuti latihan- latihannya, menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak muda Lumban Wetan benar-benar tidak dapat menahan dir i lagi. Sekilas dipandanginya pemburu kawannya yang berdiri di pinggir arena. Kemudian dilihatnya Jlitheng diantara kawan-kawannya. Sementara itu Raru duduk terkantuk-kantuk seakan-akan tidak menghiraukan apa yang terjadi disekitarnya. “Kita akan segera dapat mulai dengan putaran ketiga ini” berkata Daruwerdi kemudian. Semi mengangguk-angguk. Sentuhan yang tajam terasa di jantungnya. Yang dilakukan itu benar-benar berbahaya. Yang memasuki arena itu bukan sekedar seekor ayam jantan. Tatapi mereka adalah anak-anak muda. Namun Semi tidak dapat berbuat lain. Yang terjadi itu adalah kemungkinan yang paling baik yang dapat diusahakan. Jika hal itu tidak dikehendaki oleh anak-anak muda Lumban maka yang terjadi adalah perkelahian antara mereka semuanya, yang tentu akan sangat sukar dikendalikan. Dalam pada itu. Daruwerdilah yang kemudian member ikan aba-aba. Demikian ia menghitung sampai tiga. maka kedua anak muda itupun segera bersiap. Namun anak muda Lumban Kulon nampaknya ingin mengulangi caranya. Dengan serta merta, iapun telah meloncat langsung menyerang dengan dahsyatnya. Anak muda Lumban Wetan itu terkejut. Tetapi ia masih sempat bergeser menghindar. Namun lawannya tidak member inya kesempatan. Ketika serangannya yang pertama gagal, maka tiba-tiba saja iapun berputar pada tumit. Kakinya terangkat dan berputar mendatar. Serangan beruntun itu benar-benar tidak terduga akan terjadi pada langkah pertama. Karena itu. maka anak muda Lumban Wetan itu tidak sempat lagi mengelak. Namun demikian ia masih berusaha untuk menangkis serangan itu. Tetapi serangan itu demikian keras dan cepat. Karena itulah, maka ketika kedua tangan anak muda Lumban Wetan itu membentur kaki lawannya, maka ia telah terdorong beberapa langkah surut. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh anak muda Lumban Kulon yang berkulit kehitam-hitaman itu. Selagi anak muda Lumban Wetan itu belum dapat memperbaiki keadaannya, maka anak muda Lumban Kulon itu telah menyerangnya sekali lagi. Dengan loncatan panjang, tangannya telah terjulur menghantam dada. Anak muda Lumban Wetan itupun masih sempat menangkis. Tetapi ternyata bahwa kekuatan serangan lawannya yang menghentak itu benar-benar telah melemparkannya sehingga iapun kemudian jatuh terguling diatas tanah berpasir. Sorak anak-anak Lumban Kulon bagikan meledak. Mereka melihat bagaimana anak muda Lumban Wetan itu terguling. Sementara itu anak muda Lumban Kulon itupun sama sekali tidak membuang waktu lagi. Dengan sepenuh hati iapun memburu lawannya yang berguling. Tetapi anak muda Lumban Wetan itu menyadari keadaannya. Ia sejak benturan pertama dari perkelahian itu telah dikejutkan oleh serangan yang tiba-tiba dan serta merta, sehingga ia sama sekali belum sempat membalasnya. Karena itu, maka sambil berguling ia berusaha untuk membuat perhitungan-perhitungan. Ia sempat melihat lawannya memburunya. Namun dengan sengaja ia tidak segera meloncat berdir i, karena iapun sadar, bahwa jika ia berbuat demikian, maka demikian ia tegak, serangan berikutnya akan melemparkannya sekali lagi. Karena itu. ia justru menunggu. Ia bersiap menghadapi segala kemungkinan sambil berbaring di tanah berpasir. Lawannya yang menunggu anak muda Lumban Wetan itu meloncat bangkit menjadi agak kecewa. Tetapi nafsunya untuk segera ia mengalahkan lawannya telah membakar jantungnya. Karena itu, ia tidak sempat berpikir terlalu panjang. Karena lawannya masih saja terbaring di tanah, maka tiba- tiba saja iapun meloncat sambil menjulurkan kakinya untuk menginjak dada anak muda Lumban Wetan itu. Serangan itulah yang ditunggu. Anak muda Lumban Wetan itu sudah bersiap untuk beringsut. Demikian kaki itu terjulur, maka iapun segera beringsut dan dengan cepat menangkap pergelangan kaki lawannya. Sebuah putaran yang keras telah memutar tubuh anak muda Lumban Kulon itu pula. Demikian cepatnya, sehingga anak muda Lumban Kulon itupun telah terbanting jatuh pula diatas tanah berpasir. Namun dengan serta merta, iapun segera berguling sambil merenggut kakinya dengan satu hentakan. Kaki itu memang terlepas. Namun dengan demikian, anak muda Lumban Wetan itupun telah mendapat waktu untuk melenting berdiri bersama-sama dengan anak muda Lumban Kulon, sehingga iapun telah bersiap sepenuhnya ketika lawannya berdiri tegak sambil menggeletakkan kakinya. Keduanya kemudian berhadapan. Namun keduanya sama- sama bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan, sehingga anak muda Lumban Wetan itu tidak akan lengah lagi dan kehilangan kesempatan untuk menghindari serangan- serangan itu akan datang membadai seperti yang telah terjadi. Semi yang telah menahan nafas untuk beberapa saat, sempat menarik nafas panjang. Seolah-olah ia sendirilah yang telah mendapat kesempatan yang sama dengan lawannya yang garang itu. Sejenak keduanya berdiri tegak saling berpandangan. Mata mereka bagaikan membara, dan tangan mereka rasa-rasanya menjadi gatal. Namun di wajah anak muda Lumban Kulon itu nampak betapa ia menjadi kecewa bahwa lawannya sempat memperbaiki keadaannya, sehingga ia tidak dapat mengalahkannya dengan segera. Jika ia berhasil mengalahkannya dalam waktu dekat, berarti bahwa ia sudah memenangkan dua perkelahian. Jika ia masih harus berhadapan dengan orang ketiga, maka tenaganya masih cukup segar, sehingga mungkin ia akan dapat memenangkannya sekali lagi. Jika demikian, maka perkelahian itupun sudah berakhir. Lumban Kulon sudah dapat dinyatakan menang dan dapat menentukan kehendak mereka atas bendungan dan air dari bukit sebelah. Tetapi ia telah salah langkah karena ketergesa-gesaannya sehingga lawannya itu seolah-olah telah berhasil lepas dari tangannya yang sudah membelit leher. Dan kini anak muda Lumban Wetan itu berdir i tegak menghadapinya. Tetapi mereka berdua tidak terlalu lama berdiri berhadap- hadapan. Sejenak kemudian, keduanya sudah siap untuk menentukan akhir dari perkelahian itu. Anak muda Lumban Kulon dan anak muda Lumban Wetan itu bergeser setapak setapak. Mereka beringsut sambil menunggu kesempatan. Dan sekejap kemudian, anak muda Lumban Kulon itu telah bertindak lebih dahulu dari lawannya. Tetapi keadaan memang sudah berubah. Anak muda Lumban Wetan yang hampir saja dikalahkannya itu benar- benar telah bersiap. Karena itu maka iapun sempat bergeser menghindar. Demikian kaki lawannya mematuk dadanya, ia memiringkan tubuhnya sambil bergeser. Dengan sekuat tenaganya ia sempat memukul kaki lawannya yang terjulur itu. Namun lawannya telah memperhitungkannya. Karena itu,. maka secepatnya kaki itu ditariknya. Meskipun demikian, tangan anak muda Lumban Wetan itu masih juga menyinggung kaki lawannya. Kaki itu memang terdorong, sehingga anak muda Lumban Kulon itu terputar sedikit. Tetapi sama sekali tidak mempengaruhinya. Dengan demikian ketika anak muda Lumban Wetan itu menyerangnya dengan satu langkah kedepan dan tangan kanan terjulur menghantam kening, anak muda Lumban Kulon itu masih sempat meloncat kesamping, sehingga tangan lawannya sama sekali tidak menyentuhnya. Demikian perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Namun akhirnya, anak muda Lumban Wetan yang termasuk salah seorang dari sepuluh orang terbaik itu nampak semakin berhasil menguasai lawannya. Perlahan-lahan tetapi pasti, ia akan dapat mengalahkan lawannya. Betapapun lawannya mengerahkan segenap kemampuannya, namun anak muda Lumban Wetan itu memiliki ketrampilan dan ketahanan tubuh yang lebih tinggi dari anak muda Lumban Kulon itu. Tetapi anak muda Lumban Kulon itupun telah bertahan dengan sejauh-jauh sisa kemampuannya. Meskipun pada saat terakhir ia menjadi kehilangan keseimbangan, tetapi anak muda Lumban Wetan itupun telah memeras segenap kemampuannya pula, sehingga seperti yang pernah terjadi atas kawannya. Ia berhasil mengalahkan lawannya, namun tenaganya benar-benar telah terperas habis. Yang telah terjadi itupun terulang kembali. Semi dan Daruwerdi melihat peristiwa seperti yang pertama terulang. Ketika muncul anak muda berikutnya dari Lumban Kulon, maka anak muda Lumban Wetan itu sama sekali tidak mampu melawannya lagi. Ia harus menyerah, dan membiarkan dir inya dibanting diatas tanah berpasir tanpa sempat melawan. Jika Semi dan Daruwerdi tidak cepat mencegahnya, maka iapun akan mengalami nasib buruk karena tingkah laku anak muda Lumban Kulon. Dengan demikian, maka anak muda Lumban Wetan harus menurunkan anak muda berikutnya. Dan yang terjadi itupun telah terulang kembali seperti yang terdahulu. Ketika hal itu terulang sampai lima kali, maka Nugata menjadi tidak telaten lagi, Sementara langitpun menjadi semakin merah. Jika perkelahian yang demikian itu berlangsung terus menerus, maka akibatnya masalahnya tidak akan terpecahkan. Tetapi pada perkelahian yang keenam, ternyata telah terjadi sedikit perbedaan. Anak muda Lumban Wetan, orang kelima dari sepuluh orang terbaik, telah berhasil memenangkan perkelahian dengan tenaga yang masih cukup segar. Lawannya, anak muda Lumban Kulon yang bertubuh lebih besar daripadanya dapat dikalahkan dengan mudah tanpa menghabiskan tenaga seperti kawan-kawannya yang terdahulu. Karena itu, maka ia siap menghadapi lawan berikutnya dengan kemampuan yang masih utuh. Nugata menjadi berdebar-debar. Jika anak muda Lumban Wetan itu menang, berarti ia telah memenangkan dua kali perkelahian. Maka perkelahian berikutnya akan sangat menentukan. Karena itu, maka anak muda Lumban Kulon yang turun kearena adalah anak muda yang dianggap memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak muda yang telah dikalahkan itu. Karena itulah, maka dengan wajah tengadah ia maju kearena. Sebelum ia meloncat menyerang, ia masih sempat berkata “Ingatlah, bahwa aku dapat berbuat apa saja atasmu. Menglahkanmu selagi kekuatanmu masih segar, atau dengan kemampuanku, aku mengalahkanmu dengan akibat yang paling parah” Anak muda Lumban Wetan tidak menjawab. Tetapi ia bersiap sebaik-baiknya. -0oo0dw0oo0


Jilid 13
“Aku dapat membunuhmu” desis anak muda Lumban Kulon itu, lalu “Tidak seorangpun dapat menyalahkan aku, karena yang akan terjadi itu seolah-olah tidak aku sengaja” Anak muda Lumban Wetan itu masih tetap berdiamdiri. Sejenak kemudian, maka isyaratpun telah diberikan oleh Semi dan Daruwerdi, bahwa perkelahian sudah dapat dimulai. Namun anak muda Lumban Kulon itu masih bicara “Untuk kepentinganmu, sebaiknya kau menyerah saja dan biarlah orang kedua melawanku” Anak muda Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi ialah yang justru bertindak lebih dahulu. Serangannya yang pertama cukup mengejutkan. Meskipun anak muda Lumban Kulon itu sempat mengelak, namun tangan anak-anak Lumban Wetan itu masih menyentuh ujung bajunya. “Gila“ geram anak muda Lumban Kulon “Kau benar-benar ingin mati” Anak muda Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi dengan tiba-tiba pula ia merubah serangannya dengan ayunan tangan mendatar mengarah keperut lawannya. Sekali lagi lawannya terkejut. Tetapi iapun sempat merendahkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya. Ia menangkis serangan itu dengan kedua sikunya. Tetapi lawannya justru telah menarik serangan tangannya. Dengan tiba-tiba saja ia telah memir ingkan tubuhnya dan melontarkan serangan kaki yang keras. Anak muda Lumban Kulon yang mendapat serangan beruntun itu mengumpat. Namun serangan kaki itu demikian kerasnya. Meskipun anak muda Lumban Kulon itu sempat melipat tangannya disisi tubuhnya untuk melindungi lambung dengan sikunya, namun demikian kerasnya serangan itu, sehingga iapun terdorong beberapa langkah dan terbanting jatuh. Tetapi anak muda Lumban Kulon itu cukup tangkas. Ketika anak muda Lumban Wetan mengejarnya, maka iapun telah sempat melent ing berdiri. Demikianlah maka keduanya telah berhadap-hadapan. Anak muda Lumban Kulon itu tidak mau untuk seterusnya hanya sekedar menjadi sasaran serangan. Namun ia sudah bertekad untuk menyerang kembali. Tetapi ternyata anak muda Lumban Wetan itu memang lebih tangkas dan lebih cepat. Sebelum ia mulai, maka anak muda Lumban Wetan itu pulalah yang telah mulai dengan serangan-serangannya yang beruntun seperti mengalirnya banjir bandang. Beberapa saat kemudian, anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetanpun segera melihat, bahwa untuk kedua kalinya, anak muda Lumban Kulon itu mulai terdesak. Betapapun ia berteriak dan mengumpat, dan betapapun kawannya mencoba untuk mendorongnya dengan teriakan-teriakan yang bagaikan meretakkan langit. Anak muda Lumban Wetan yang tidak banyak bicara itu terus saja mendesaknya. Iapun sadar, bahwa ia harus berkelahi untuk yang ketiga kalinya jika ia memenangkan perkelahian itu. Karena itulah maka ia ingin menyelesaikan perkelahian itu sebelum nafasnya habis diujung hidungnya, sehingga seperti kawan-kawannya yang lain, maka perkelahian ber ikutnya, tidak akan dapat memberikan perlawanan sama sekali. Semi menyaksikan perkelahian itu dengan tegangnya. Anak ini memang mempunyai beberapa kelebihan dari kawannya yang sepuluh. Anak ini mampu bergerak cepat dan ketahanan tubuh yang menyakinkan. Sementara itu, Daruwerdipun menjadi berdebar-debar seperti juga Nugata. Namun dada Nugata terasa lebih panas, seolah-olah jantungnya akan meledak dan darahnya menjadi mendidih. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus melihat kenyataan, bahwa kawannya yang kedua itupun ternyata tidak dapat mengimbangi kemampuan anak Lumban Wetan yang termasuk dalam satu diantara sepuluh orang terbaik, sementara anak itu memang memiliki kelebihan dari yang sepuluh itu. Karena itulah, maka tiba-tiba Nugata itupun berteriak nyaring “Cukup. Kau memenangkan perkelahian yang kedua. Perkelahian ber ikutnya akan menentukan” Semua orang berpaling kearahnya. Namun anak muda Lumban Kulon yang meskipun sudah sangat terdesak tetapi masih belum benar-benar dikalahkan itu menyahut “Aku belum kalah” “Tetapi kau akan kalah. Pasti. Kau tidak usah ingkar. Biarlah aku yang menyelesaikannya. Permainan ini sudah terlalu lama. Dan aku sudah menjadi jemu karenanya” geram Nugata. Semi, pemburu yang lain, Rahu dan anak-anak muda Lumban Wetan memang menjadi tegang. Jlithengpun menjadi tegang pula. Ia belum mengerti sampai berapa jauh kemampuan Nugata yang sombong itu. Nampaknya ia memang memiliki ilmu, bukan saja yang dipelajarinya dari Daruwerdi. Sementara itu Daruwerdi sendiri menjadi termangu-mangu. Setelah melihat perkelahian dari anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan itu, ia benar-benar menjadi bimbang. Seharusnya ia merasa, bahwa orang-orang yang pernah berlatih padanya itu telah dikalahkan. Seharusnya ia menjadi marah dan tersinggung. Namun menilik perkembangan keadaan, maka ia tidak dapat marah dan tersinggung. Bahkan iapun tanpa disadarinya, berharap bahwa anak-anak Lumban Wetanlah yang menang. Karena jika demikian, anak-anak Lumban Wetan itu tentu akan menegakkan keadilan. Pintu air itu akan dikembalikan seperti semula. Air yang dituangkan ke Lumban Kulon akan sama banyaknya dengan air yang menang, maka mereka tentu akan tetap pada sikap mereka yang sekedar menuruti keinginan mereka sendiri. “Persoalan itu tentu akan berkepanjangan” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Tetapi keraguan yang lain telah tumbuh pula. Katanya di dalam hati “Tetapi j ika anak muda Lumban Wetan yang menang, apakah anak-anak muda Lumban Kulon akan bersedia memenuhi janj inya, memberikan kesempatan kepada anak Lumban Wetan untuk menentukan sikap mereka terhadap bendungan itu?“ Atau bahkan persoalan itu akan tidak dapat diselesaikan, karena anak muda Lumban Kulon masih akan jejap menuntut pada masa-masa mendatang?“ Dalam keragu-raguan itu, Daruwerdi melihat Nugata memasuki arena sambil beikata “Aku lawanmu yang ketiga“ Anak muda Lumban Wetan yang masih berada diarena itupun menjadi ragu-ragu pula. Tetapi ia tidak dapat ingkar, la harus berkelahi dengan orang ketiga untuk menentukan, apakah Lumban Wetan akan dapat memenangkan perkelahian itu. “Jika aku menang sekali lagi, maka perkelahian ini akan selesai” berkata anak muda Lumban Wetan itu di dalam hatinya. Tetapi iapun menyadari, yang kemudian memasuki arena adalah Nugata. Msskipun anak-anak Lumban Wetan itu belum mengetahui, apa yang dapat dilakukan oleh Nugata, tetapi bahwa Nugata terlalu percaya akan kemampuannya tentu bukannya tidak beralasan. Karena itu, maka anak muda Lumban Wetan itu menjadi berdebar-debar. Bahkan mulai timbul keragu-raguan di dalam hatinya, apakah ia akan dapat mengalahkan Nugata. Tetapi anak muda Lumban Wetan itu tidak mengalah. Iapun segera mempersiapkan diri menghadapi Nugata yang sedang dibakar oleh kemarahan yang memuncak. Kehadiran Nugata diarena itu tentu membuat anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban kulon menjadi berdebar- debar. Anak-anak Lumban Kulon telah mulai bersorak-sorak. Mereka mengetahui bahwa Nugaita memiliki kelebihan dari mereka. Karena disamping Daruwerdi, sebelumnya Nugata memang sudah memiliki bekal olah kanuragan. Untuk beberapa saat lamanya, ia pernah berguru kepada saudara muda ibunya, yang tinggal diluar Lumban. Ketika ia mengenal Daruwerdi, maka ia telah mendapat beberapa latihan khusus ia menentukan dir inya menjadi orang terbaik diantara anak- anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Dan kini Nugata itu berdir i diarena berhadapan dengan seorang muda Lumban Wetan yang sudah mulai lelah. Namun dalam pada itu Nugata berkala lantang “Jika kau ragu-ragu, atau karena merasa sudah terlalu letih karena perkelahian sebelumnya, minggir lah. Biar lah orang lain memasuki arena tanpa diperhitungkan, atas kekalahanmu. Aku akan melawan orang baru sebagai orang pertama, dan aku akan melawan dua orang lainnya yang akan memasuki arena ini berturut-turut” Anak muda Lumban Wetan yang semula ragu-ragu itu. justru menjadi tersinggung karenanya. Dengan lantang ia berkata “Aku akan mengakhir i perkelahian yang menjemukan ini. Kau akan aku kalahkan, dan karena itu maka Lumban Kulon harus menerima keputusan kami atas bendungan itu. “Jangan terlalu sombong” geram Nugata “Tetapi jika kau ingin membuktikan, aku juga tidak berkeberatan. Agaknya kau sudah salah menilai dir imu sendir i. Bahkan kau sudah memenangkan dua kali pertarungan, kau anggap bahwa kau pasti akan menang pada perkelahian berikutnya” “Aku memang menduga demikian” jawab anak muda Lumban Wetan itu. “Jangan menyesal. Tubuhmu akan menjadi merah biru. Tulang-tulangmu akan retak dan untuk sebulan kau akan berbaring dipembaringan” ancam Nugata. Anak Lumban Wetan itu tidak menjawab. Meskipun hatinya menjadi berdebar-debar juga, tetapi ia tidak ber ingsut dari tempatnya. Yang juga menjadi berdebar-debar adalah Daruwerdi dan Semi. Nampaknya Nugata benar-benar meyakinkan. Tetapi karena ketentuan itu harus berlaku, maka merekapun kemudian memutuskan untuk mempersilahkan keduanya mulai dengan perkelahian mereka. Namun Semi masih juga berpesan “kalian hanya berkelahi untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Tidak lebih dari itu” Nugata menggeretakkan giginya. Ia sadar, bahwa Semi berusaha memperingatkannya, agar ia tidak menyakiti lawannya jika ia sudah menyatakan kalah. “Aku akan meremukkan tulang-tulangnya pada sentuhan pertama” katanya di dalam hati. Sejenak kemudian, keduanya telah bersiap. Rahu yang terkantuk-kantuk tiba-tiba saja. telah berdiri tegak di lingkaran yang pepat itu. Sementara kawan Semipun menjadi tegang pula. Bahkan kemudian iapun telah memanggil Jlitheng sambil berbisik “Tidak ada orang lain” “Jangan Gila“ bisik Jlitheng “Aku bersembunyi untuk waktu yang lama. Kau kira tiba-tiba saja aku harus menelanjangi diriku?“ “Bukan begitu. Aku akan dapat mengatakan, bahwa kau adalah mur idku secara khusus dan diam-diam. Karena itu, kaupun hanya melayani sekedarnya, asal kau dapat mengalahkan Nugata sebagai orang ketiga. Nampaknya tidak akan ada yang dapat mengibanginya” berkata kawan Semi itu perlahan-lahan di telinga Jlitheng. Jlitheng memang melihat sikap dan langkah Nugata. Sejak lama ia memang sudah menduga, bahwa Nugata. memiliki kelebihan dari kawan-kawannya dibalik sikapnya yang sombong dan tinggi hati. Sejenak kemudian, maka perkelahian itupun segera dimulai. Anak muda Lumban Wetan itu menjadi sangat berhati-hati. Ia sadar, dengan siapa ia berhadapan. Namun Nugatalah yang dengan serta merta telah menyerang dengan garangnya. Sambil meloncat kedepan ia telah menjulurkan tangannya. Tidak dengan jari-jari tergenggam, tetapi justru dengan jari- jari terkembang. Semi dan Daruweidi menjadi semakin berdebar-debar. Mereka bergeser mendekat untuk menjaga, agar anak muda Lumban Wetan itu tidak mengalami keadaan yang sangat buruk. Tetapi anak muda Lumban Wetan itu sempat mengelak. Justru sambil merendahkan diri, ia sempat menyerang lambung Nugata dengan kakinya. Namun Nugata cukup tangkas. Ia bergeser dan terhindar dari sentuhan serangan lawannya. Bahkan tiba-tiba saja ia telah meloncat pula dan menyerang langsung dengan kakinya kearah pundak anak Lumban Wetan itu. Serangan itupun masih dapat dihindarinya, sehingga Nugata menjadi semakin marah karenanya. Ternyata satu dari sepuluh anak terbaik dari Lumban Wetan itu tidak terlalu lemah, dihadapan Nugata, Ia bukannya sama sekali tidak dapat melawan. Namun sebenarnyalah, bahwa tangannya yang telah susut sejak ia mulai dengan perkelahian itu, benar-benar tidak menguntungkannya. Ia sudah melawan dua orang dan, Nugata adalah orang ketiga. Justru orang yang memiliki kelebihan dari setiap anak nluda Lumban Wetan dan anak muda Lumban Kulon sendir i Karena itu, anak muda Lumban Wetan itu tidak dapat bertalian lebih lama lagi. Sejenak kemudian ia sudah mulai berdesak, meskipun ia masih tetap mampu melindungi dir inya Namun anak muda Lumban Wetan itupun merasa, bahwa yang dapat dilakukannya itu tidak akan dapat bertahan lebih tema lagi. Sebenarnyalah bahwa Nugatapun mengerti, bahwa lawannya sudah kehabisan tenaga. Karena itu, maka iapun segera mendesaknya. Ia harus segera menyelesaikan tanpa membuang tenaga terlalu banyak. Karena ia bertekad untuk mengakhir i perkelahian itu. Ia akan mengalahkan tiga orang anak muda Lumban Wetan berturut-turut. Karena itulah, maka ketika anak muda Lumban Wetan itu kemudian terdesak dan terdorong jatuh, Nugata tidak mengejarnya. Ia tidak membuang tenaganya untuk menyakiti lawannya. Dibiarkannya lawannya berusaha untuk bangkit dengan susah payah, namun ketika ia sudah berdiri, maka dampaklah bahwa keseimbangannya masih belum dapat dipulihkannya. “Apakah kau masih akan melawan?“ bertanya Nugata. Anak Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Meskipun ia harus kalah, tetapi untuk kepentingan kawan berikutnya, ia harus mengurangi tenaga Nugata sebanyak-banyaknya. Tetapi dalam pada itu, Daruwerdilah yang berkata “Kau sudah kalah. Nugata tidak perlu membukt ikannya lebih jelas lagi, agar kau tidak benar-benar harus berbaring sebulan di pembaringan” Semi tidak mencegah ketika kemudian Daruwerdi memimpin anak itu keluar dari arena. Dalam pada itu, maka kawan Semilah yang telah menunjuk seorang anak muda lagi dari Lumban Wetan untuk memasuki arena. Salah satu dari orang-orang terbaik diantara sepuluh orang terpilih dari Lumban Wetan. “Hati-hatilah“ pesan kawan Semi itu “jaga tenagamu sebaik-baiknya. Jika kau terpaksa kalah, kau harus berusaha menguras tenaga lawanmu sejauh-jauh dapat kau lakukan, Tetapi kaupun jangan memaksa dir i. Aku yakin, bahwa masih ada orang yang akan dapat mengalahkan Nugata itu” “Kau sendiri?“ bertanya anak muda Lumban Wetan itu. “Tidak. Tentu aku tidak boleh turun kearena” jawab pemburu itu “Tetapi percayalah kepadaku” Anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Apakah kau yakin bahwa aku tidak akan dapat mengalahkannya?“ “Bukan, bukan begitu” jawab pemburu itu “Aku hanya berkata wajar dan melihat segala kemungkinan yang dapat terjadi. Kau dapat menang, tetapi kau akan dapat juga kalah. Jangan ingkari kemungkinan-kemungkinan itu. Tetapi jangan menjadi lemah dan t idak berpengharapan” Anak muda Lumban Wetan itu menar ik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian melangkah dengan langkah tetap memasuki arena, berhadapan dengan Nugata. “Kau” desis Nugata. Anak muda Lumban Wetan itu menar ik nafas dalam-dalam. Sebelumnya ia tidak pernah membayangkan, bahwa pada suatu saat ia harus berkelahi melawan Nugata. Meskipun ia sudah mengenal sebelumnya, namun karena sifat-sifat Nugata, maka ia tidak pernah bergaul rapat dengan anak muda itu. Tidak seperti dengan anak-anak muda Lumban Kulon yang lain. Meskipun demikian, namun akhirnya orang yang dikenalnya baik-baik itupun harus berhadapan sebagai lawan dalam sayembara tanding untuk kepentingan Kabuyutan masing- masing. Untuk sesaat keduanya saling berhadapan dengan tegang, sampai saatnya Daruwerdi dan Semi memberikan isyarat bahwa perkelahian dapat dimulai. Anak-anak Lumban Wetan dan apak-anak muda Lumban Kulon sudah menjadi semakin tegang. Mereka sudah melihat beberapa perkelahian. Tetapi belum dapat menentukan akhir dari sayembara itu. Sehingga dengan demikian maka mereka hampir-hampir kehilangan kesabaran. Rasa-rasanya mereka ingin meloncat memasuki arena dan berkelahi bersama-sama, agar segera dapat ditentukan, siapakah yang menang dan siapakah yang kalah. Tetapi mereka masih berusaha untuk menahan dir i. Terlebih- lebih anak-anak muda Lumban Kulon. Mereka percaya bahwa Nugata akan dapat menyelesaikan perkelahian itu dengan mengalahkan t iga orang berturut-turut. Sejenak kemudian, maka perkelahian itupun telah dimulai. Nugata yang masih ingin berhadapan dengan seorang anak muda lagi dari Lumban Wetan dan mengalahkannya, ternyata cukup berhati-hati. Ia tidak kehilangan perhitungan untuk menghemat tenaganya. Karena itulah maka ia berkelahi dengan memperhitungkan segenap kemungkinan. Sebenarnya bahwa Nugata memang memiliki kelebihan dari lawannya. Meskipun perkelahian itu rasa-rasanya menjadi lamban, karena kedua-duanya berusaha memperhitungkan daya tahan masing-masing, namun Nugata semakin lama menjadi semakin yakin, bahwa iapun akan dapat memenangkan perkelahian itu. Dengan demikian, maka anak-anak muda Lumban Wetan menjadi sangat gelisah. Anak muda yang berkelahi melawan Nugata sebagai orang kedua itu termasuk orang terbaik dian- tara sepuluh orang terpilih dari anak-anak muda Lumban We tan. Jika iapun dapat dikalahkan, maka kemungkinan yang sangat pahit akan dapat terjadi pada akhir perkelahian itu. Jika seorang lagi anak muda Lumban Wetan dikalahkan, maka sayembara itu akan merupakan permulaan dari masa-masa yang sulit bagi Tanah Lumban Wetan untuk masa-masa mendatang. Untuk berpuluh tahun dan bahkan mungkin untuk beratus tahun. Lumban Kulon akan menjadi hijau subur, sementara Lumban Wetan akan tetap menjadi gersang dan kering. Kehidupan di Lumban Kulon akan segera mekar dengan kesejahteraan yang akan meliputi seluruh Kabuyutan, sementara kemelaratan akan tetap menyelubungi Kabuyutan Lumban Wetan. “Alangkah bodohnya kita yang hidup pada saat-saat yang menentukan ini” desis salah seorang dari anak muda Lumban Wetan. Namun anak-anak muda Lumban Wetan tidak akan dapat mengingkar i satu kenyataan yang terjadi. Nugata berhasil mendesak lawannya. Meskipun ia tetap bersikap hati-hati dengan menghemat tenaganya. Meskipun demikian, anak muda Lumban Wetan itu t idak segera menyerah. Iapun berusaha untuk bertahan sejauh mungkin dapat dilakukan. Iapun telah membuat perhitungan- perhitungan tertentu, agar Nugata kehilangan sebagian dengan tenaganya, sehingga jika ia harus melawan orang ketiga, ia tidak lagi mempunyai sisa tenaga. Tetapi ternyata Nugatapun mempunyai perhitungan yang mapan. Ia sadar bahwa ia masih harus berkelahi sekali lagi dan mengalahkan lawannya agar perkelahian itu segera berakhir dan kemenangan ada dipihaknya. Dengan demikian maka ia akan dapat menentukan sesuai dengan kehendaknya atas bendungan dan pintu air yang membawa air ketanah persawahan di Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Karena itu, maka iapun cukup berhati-hati. Ia tidak terpancing untuk mengerahkan tenaganya melumpuhkan lawannya meskipun hatinya bagaikan terbakar melihat sikap anak Lumban Wetan yang tidak segera mengakui kekalahannya. Namun akhirnya anak muda Lumban Wetan itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Betapapun ia mencoba untuk memancing agar lawannyapun mengerahkan tenaganya, ternyata sama sekali tidak berhasil. Bahkan akhirnya, ketika ia berusaha menyerang, sementara Nugata hanya sekedar menghindarinya, maka anak muda Lumban Wetan itu telah terjatuh menelungkup. Sesaat ia masih mencoba untuk bangkit. Tetapi ternyata tenaganya telah terkuras habis, sehingga Daruwerdilah yang kemudian berkata “Perkelahian ini sudah selesai” Semilah yang kemudian mengangkat dan membimbing anak muda Lumban Wetan itu untuk menepi. Namun dalam pada itu, ia sempat berbisik kepada kawannya yang berada di- antara anak-anak Lumban Wetan “ Bagaimana dengan Jlitheng?“ “Aku akan berusaha” desis kawannya. “Jangan orang lain. Jika tidak, anak-anak Lumban Wetan akan menyesal. Keadilan akan diinjak-injak disini” sahut Semi. Kawannya mengangguk-angguk. Katanya “Aku akan mencoba meyakinkannya” Semi yang kemudian kembali ketengah-tengah arena berkata kepada Nugata “Kau mendapat kesempatan untuk beristirahat barang sesaat. Adalah tidak adil jika kau harus langsung berkelahi untuk ketiga kalinya. “Aku sudah siap” geramNugata “Jika perlu, dua orang anak muda Lumban Wetan sekaligus memasuki arena” Ternyata kawan Semipun mendengar kata-kata itu. Karena itu, maka iapun segera menemui Jlitheng sambil berkata “Kau dengar apa yang dikatakannya. Ia tidak sekedar menyombongkan diri” “Ya. Aku sudah melihat sendiri” desis Jlitheng, “Jadi bagaimana? Apakah kau relakan bendungan itu jatuh ke tangannya dan membiarkan Lumban Wetan akan mengalami, malapetaka sepanjang umurnya” bertanya kawan Semi. Dalam pada itu, terdengar Nugata berteriak “Aku t idak memer lukan istirahat” Anak-anak Lumban Wetan menjadi gelisah. Sisa dari sepuluh orang terbaik segera mengerumuni kawan Semi. Namun mereka terkejut ketika lawan Semi itu berkata “Aku minta Jlitheng untuk tampil” “Jangan bergurau” desis salah seorang dari sisa yang sepuluh itu “Kita dalam keadaan gawat. Ternyata Nugata memang memiliki kelebihan tanpa kita ketahui lebih dahulu” “Aku tidak bergurau” berkata kawan Semi “tergantung kepada Jlitheng” Jlitheng menjadi tegang. Sementara kawan Semi itu berkata “Aku telah melakukan sesuatu yang selama ini aku sembunyikan. Aku yang melihat Jlitheng mempunyai kemungkinan yang sangat baik, atas persetujuan kawanku, telah aku latih dengan diam-diam tanpa sepengetahuan kalian. Menurut perhitunganku, ia memiliki kelebihan dari kalian semuanya, sehingga aku telah memilihnya untuk menghadapi Nugata. Terserah, apakah ia mempunyai jiwa besar untuk melakukannya. Apakah ia mempunyai tanggung jawab atas hari depan Lumban Wetan dan atas air yang telah dikendalikannya sendiri. Anak-anak muda Lumban Wetanpun menjadi tegang. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa Jlitheng memiliki kelebihan dari mereka, setidak-tidaknya menurut pemburu itu. Dalam pada itu, Jlithengpun menjadi tegang. Ia merasa berada dalam keadaan yang paling sulit. Ia sudah bersembunyi sekian lama di padukuhan itu. Tiba-tiba saja ia harus menunjukkan dir inya sendiri meskipun belum seluruhnya. Tetapi jika ia ingkar, maka Lumban Wetan benar- benar akan mengalami bencana. Tidak hanya untuk satu dua hari. Tetapi untuk puluhan, bahkan mungkin untuk ratusan tahun mendatang. Karena itu, betapapun beratnya, akhirnya ia berkata “Baiklah. Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan aku dapat memenuhi harapan kalian. Tetapi jika tidak, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Taruhannya memang terlalu mahal” “Menurut perhitunganku, kau memiliki kesempatan terbaik dari setiap orang yang ada sekarang” sahut kawan Semi. Dalam pada itu, Nugata yang masih berada diarena berteriak “He, siapakah yang akan memasuki arena. Aku tidak perlu beristirahat. Aku ingin segera menyelesaikan permainan yang menjemukan ini. Jika mata hari nanti terbit, kami akan segera melanjutkan kerja kami, menyelesaikan pintu air dan parit induk untuk menampung air yang akan segera melimpah” Sebenarnyalah jantung Jlitheng telah tersentuh pula. Bukan karena sesumbar itu saja, tetapi yang terpenting adalah karena air yang telah dikendalikannya itu ternyata akan disalah gunakan oleh anak-anak muda dar i Lumban Kulon. Sementara itu, Daruwerdipun menjadi gelisah. Hari yang akan datang adalah akhir pekan seperti yang disanggupkan oleh Cempaka. Jika orang-orang Sanggar Gading itu menjadi salah paham menanggapi per istiwa yang terjadi di bendungan, mungkin mereka akan mengambil satu sikap tertentu. Karena itu, maka iapun menjadi gelisah dan tergesa-gesa, sehingga iapun ikut berteriak “He, siapakah dari Lumban Wetan yang akan memasuki arena” Sebenarnyalah anak-anak Lumban Wetan, Lumban Kulon dan Daruwerdi telah dikejutkan oleh hadirnya seseorang yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya, Jlitheng. Justru karena itu, Nugata tertegun sejenak. Dipandanginya Jlitheng dan Semi berganti-ganti. Dengan nada rendah ia bertanya “Apakah yang kalian lakukan tidak keliru?“ “Terserah anak-anak Lumban Wetan” jawab Semi. Daruwerdipun terheran-heran melihat Jlitheng yang berdiri diarena. Sikapnya yang enggan memang t idak meyakinkan. Bahkan nampak kegelisahan yang menggelitiknya, sehingga iapun tidak berdir i mapan. Beberapa orang anak muda Lumban Wetan sendir i saling berbisik diantara mereka. Bahkan seorang yang bertubuh tinggi kekar berkata “Apakah ini bukan satu permainan yang kotor. Mungkin justru Jlitheng adalah pengikut Nugata yang sengaja dipasang dalam saat yang menentukan” “Ah, aku yakini bukan” jawab yang lain “Kita melihat bagaimana ia bekerja keras untuk mengarahkan air itu” “Tetapi kenapa ia telah melakukannya sekarang” desis yang tinggi “seharusnya ia sadar, apa yang sedang dihadapinya” “Tetapi pemburu itu setuju. Meskipun aku tidak tahu, apa yang mereka lakukan diantara sepuluh kawan kita yang terbaik, namun pemburu itulah yang menentukan, siapakah di antara kita yang akan tampil. Agaknya ia mempunyai penilaian tersendiri terhadap Jlitheng” Kawannya tidak menjawab. Namun jantungnyapun menjadi berdebar-debar. Sebenarnyalah sikap Jlitheng yang gelisah memang tidak meyakinkan. Dalam pada itu, Jlitheng memang gelisah. Tetapi iapun sadar, bahwa jika anak-anak Lumban Wetan gagal, maka air itu akan melimpah sebagian besar ke Lumban Kulon. Sementara itu, ia tidak akan dapat berbuat apapun lagi atas sumber air diatas bukit, karena anak-anak Lumban Kulonpun menganggap bahwa bukit itu adalah hak mereka. Sekilas terbayang seorang kakek yang tinggal di bukit itu bersama seorang anak gadisnya. Jika kakek itu dapat diminta untuk bekerja sama dengan anak-anak Lumban Wetan, mungkin anak-anak Lumban Kulon akan mengalami satu sikap tersendiri. Tetapi jika tidak, maka kesulitan bagi Lumban Wetan akan bertambah-tambah. “Ia orang baik” desisnya. Namun bagaimanapun juga Jlitheng tidak akan dapat mengetahui, apa yang tersirat dihati orang tua itu. Dalam pada itu. Nugata yang tnelihat Jlitheng termangu- mangu berkata “Jlitheng. Mumpung masih belum terlanjur terjadi sesuatu atasmu. Kau masih sempat mempertimbangkan, apakah kau akan meneruskan sikap sombongmu yang tidak kau pertimbangkan dengan nalar, atau kau akhirnya akan menyadari keadaan dirimu setelah kau berdiri diarena. Aku masih memberimu waktu untuk menyingkir dan memberi kesempatan kepada orang lain” Jlitheng memandang Nugata sejenak. Sementara itu, anak- anak Lumban Wetanpun menjadi semakin tegang. Bahkan seseorang hampir saja meloncat maju untuk menggantikan Jlitheng yang nampak sangat gelisah. Tetapi dalam pada itu, jawaban Jlithengpun mengejutkan “Nugata. Aku menyadari sepenuhnya, siapa aku dan siapa kau. Tetapi akupun menyadari, bahwa aku adalah orang yang paling banyak berbuat atas air itu. Karena itu, maka aku telah menganggap air itu merupakan bagian dari hidupku. Dengan demikian, maka akupun telah bertekad untuk berbuat apa saja bagi kepentingan Lumban Wetan yang menyangkut hubungannya dengan air, Karena pada saat aku mengarahkan air itu dengan bekerja keras, bukannya aku tidak mempunyai maksud tertentu basi kesejahteraan Lumban Wetan. Karena itu, jika kesejahteraan itu akan direnggut sebelum muliai mekar, r maka aku tidak akan dapat merelakannya” “O“ tiba-tiba saja Nugata tertawa “Kau sesorah seperti seorang guru kajiwan disebuah padepokan. He, apakah kau tidak melihat kenyataan yang kau hadapi sekarang. Akui tidak ingin mendengar dongeng tentang air itu. Tetapi aku ingin manfaat dari air itu. Karena itu, kita sudah turun ke-arena dengan ketentuan yang sama-sama kita sepakati. Nah, kau dapat memilih. Maju, atau kau tunjuk saja kawanmu yang lebih meyakinkan menghadapi persoalan sekarang. Bukan kemarin, pekan lalu, bulan yang lalu, atau, pada mulanya siapakah yang mengarahkan air itu” “Baiklah“ berkata Jlitheng “Aku akan tetap pada pendirianku. Aku yang sudah mulai dengan mengarahkan air itu, akan berjuang terus sehingga aku berhasil membuat Lumban Wetan menjadi hijau” Nugata tertawa semakin keras. Katanya “Apa boleh buat. Kau nampaknya memang seorang pemimpi. Tetapi mimpimu akan sangat mengecewakanmu jika kau kemudian terbangun dan berdiri diatas kenyataanmu” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya Daruwerdi dan Semi berdir i tegang. Justru karena itu, mereka tidak segera member ikan tanda bahwa perkelahian itu dapat dimulai. Karena keduanya masih mematung, maka Nugatalah yang bertanya “Apakah kami dapat mulai?“ Daruwerdi menarik nafas panjang. Lalu katanya “Baiklah. Kalian dapat mulai. Akupun mempunyai tugas-tugas laki yang harus aku selesaikan. Semalam suntuk aku disini. Mudah- mudahan aku masih mempunyai waktu untuk beristirahat” “Tetapi jika aku menang” sahut Jlitheng “perkelahian belum berakhir” “Gila“ geram Nugata. Lalu katanya kepada Daruwerdi dan Semi “Cepat Beri isyarat” Semilah yang kemudian berkata “Salahkan. Mulailah. Tetapi ingat bahwa kalian adalah anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang masih mempunyai hubungan kadang Karena itu, apa yang kalian lakukan adalah sekedar untuk mengambil satu keputusan. Bukan menjadi tujuan” “Persetan“ geram Nugata “perkelahian ini adalah Aku mempunyai banyak waktu untuk menentukan saatnya, anak Lumban Wetan yang gila ini disebut kalah” Anak-anak muda Lumban Wetan menjadi berdebar-debar. Mereka, bahkan, sepuluh orang terbaik di Lumban Wetan, tidak tahu alasan yang sebenarnya, kenapa pemburu itu telah memilih Jlitheng. Namun karena biasanya pemburu itu selalu berbuat baik dan tidak menyesatkan, maka merekapun telah melepaskan pula Jlitheng untuk melawan Nugata. Demikianlah, dua orang anak muda sudah berhadap- hadapan di arena. Yang seorang telah membuktikan kelebihannya dan sudah mengalahkan dua orang anak muda dari Lumban Wetan. Jika anak muda dari Lumban Wetan yang ketiga ini juga dapat dikalahkannya, maka patahlah harapan anak-anak Lumban Wetan untuk menghijaukan sawah dan ladang mereka yang kering. Beberapa saat terakhir, sawah dan ladang itu sudah dapat disentuh barang sedikit air yang telah naik dibendungan. Meskipun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan, tetapi sebagian dari sawah dan ladang di Lumban Wetan telah dapat dibasahi sehingga tanamannya menjadi hijau segar. Tetapi sebentar lagi, tanaman itu akan kembali menjadi kuning gersang karena air yang naik kebendungan sebagian besar akan mengalir ke Lumban Kulon. Dalam pada itu, kini yang berdiri diarena untuk mempertaruhkan kemungkinan merebut air itu adalah Jlitheng, seorang anak muda yang telah bekerja keras untuk mengendalikan air yang melimpah tanpa arti diatas bukit berhutan itu. Namun bagi anak-anak muda Lumban Wetan, kemampuan Jlitheng masih diragukan, sementara anak-anak muda Lumban Kulon dan apalagi Nugata, menganggapnya sama sekali tidak berarti Sebenarnyalah Jlitheng sendiri sama sekali tidak ingin menunjukkan kelebihan ilmunya. Jika ia turun kearena, adalah karena ia menganggap, tindakan anak-anak muda Lumban Kulon itu sama sekali tidak adil. Nugata yang telah berada diarena itupun mulai bergerak. Ia bergeser mendekat, sementara Jlitheng justru melangkah surut. “Jika kau takut, pergilah” geram Nugata. Jlitheng tidak menjawab. Tetapi yang menjawab adalah pemburu, yang telah memilih Jlitheng untuk maju. Katanya “Ia akan mengalahkanmu Nugata. Jlitheng adalah mur idku yang terpercaya. Aku memberikan ilmu kepadanya dengan diam- diam. Ternyata hal itu sangat berarti sekarang ini “ “Persetan“ teriak Nugata. Dan tiba-tiba saja ia sudah meloncat menyerang. Jlitheng sudah menduganya. Dari langkah- langkah lawannya itu mengerti, bahwa Nugata akan meloncat menyerang. Karena itu, maka iapun segera menghindar. Sebenarnyalah bahwa Nugata memang bukan lawan Jlitheng. Jlitheng yang telah menempatkan dir inya berhadapan dengan persoalan pusaka yang sedang diperebutkan di daerah Sepasang Bukit Mati itu, masih harus berkelahi melawan anak- anak muda pedukuhan Lumban. Namun karena persoalannya adalah persoalan yang dianggapnya cukup besar dan menentukan bagi masa depan, maka iapun telah meluangkan waktunya dan bahkan ia telah mengungkapkan sebagian dari dirinya. Demikianlah, karena Jlitheng mengelak, maka Nugata telah memburunya dengan serangan-serangan berikutnya, sehingga Jlitheng harus berloncatan menghindarinya puh,. Bahkan kemudian Jlitheng hampir ber lari- lari kecil untuk mengambil jarak dari lawannya. “Gila“ geram Nugata “Kau berkelahi dengan cara pengecut” “Aku hanya belum mapan” sahut Jlitheng. Nugata yang segera ingin mengalahkan lawannya itupun kemudian berteriak “Kemar i, kita berkelahi ditengah arena, Jangan bersembunyi dan lar i” Jlitheng dengan ragu-ragu melangkah maju. Langkahnya lambat dan sangat berhati-hati. Namun dengan demikian, Jlitheng memang nampak t idak meyakinkan sama sekali. Nugata yang tidak sabarpun segera menyerangnya. Ia ingin segera menjatuhkan Jlitheng dan member ikan hukuman atas kelancangannya. Ia sudah tidak perlu menghemat tenaganya lagi, karena anak itu adalah anak yang terakhir. Tetapi ternyata Nugata tidak segena dapat mengalahkannya. Jlitheng masih selalu mampu menghindari serangan-serangannya. Bahkan rasa-rasanya serangannya belum sempat menyentuh anak itu, meskipun Jlithengpun nampaknya sama sekali tidak mampu membalasnya. Namun yang demikian itu agaknya telah memancing kemarahan Nugata. Karena itulah, maka iapun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera dapat mengalahkan anak muda yang bernama Jlitheng itu. Jlitheng yang melihat kemarahan mulai membakar tata gerak Nugata, segera bersiap-siap untuk memancing dan menguras tenaga itu sampai kering. Ia ingin mengalahkan Nugata tidak dengan serangan-serangan yang dapat melumpuhkannya. Tetapi ia ingin mengalahkan Nugata dengan cara yang lain. “Jika tenaganya telah habis, maka ia akan dapat disebut kalah” berkata Jlitheng di dalamhatinya. Perkelahian selanjutnya nampaknya memang tidak seimbang. Jlitheng sama sekali tidak sempat menyerang. Ia hanya dapat mengelak dan kemudian memancing serangan. Jika Nugata mulai berpikir, bagaimana sebaiknya menghadapi Jlitheng, maka Jlithengpun segera berbuat sesuatu yang dapat mengungkap serangan-serangan Nugata sehingga dengan demikian maka lawannya itu sama sekali tidak sempat berpikir dan melihat kenyataan dari anak muda Lumban Wetan yang bernama Jlitheng itu. Karena itulah, maka yang terjadi diarena itu benar-benar telah membakar jantung Nugata. Rasa-rasanya ia berhadapan dengan anak muda yang paling dungu, licik dan pengecut. Tetapi rasa-rasanya ia tidak mempunyai kesempatan untuk segera membanting dan mencekik lehernya, meskipun anak itu akan mat i. “Gila“ setiap kali Nugata menggeram. Namun betapapun ia mengerahkan segenap kemampuannya, Jlitheng masih selalu sempat mengelak dan kemudian berusaha menjatuhkan dirinya. Demikianlah kemarahan yang membakar dada Nugata itu telah melepaskannya dari pengamatan dir i. Ia telah mengerahkan segenap kemampuan tenaganya tanpa diperhitungkan lagi. Karena itu, maka sebelum ia berhasil mengalahkan lawannya, nafasnya terasa bagaikan saling memburu dilubang hidungnya. Sambil terengah-engah maka sekali lagi berteriak “Kau licik, pengecut. Mari kita berkelahi secara jantan” “Kau tidak memberi kesempatan” jawab Jlitheng “Tetapi menghindari serangan adalah bagian dari berkelahi secara jantan pula” Nugata menggeram. Jantungnya bagaikan terbakar oleh kemarahan yang tidak terkendalikan. Apalagi karena serangan serangannya yang telah dilepaskan dengan segenap kemampuannya itu sama sekali tidak berhasil menjatuhkan lawannya. Bahkan rasa-rasanya menyentuhpun tidak. Dalam pada itu, Jlithengpun telah memperhitungkan setiap kemungkinan sebaik-baiknya. Yang memperhatikan perkelahian bukan saja anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon, tetapi Daruwerdipun memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. karena itulah, ia harus mempunyai cara tersendiri untuk mengelabuhinya. Semilah yang agaknya menolongnya mengurangi perhatian Daruwerdi. Setiap kali Semi berlari- lari mendekati kedua anak muda yang berkelahi itu, sebagaimana Jlitheng yang lebih banyak menghindar dengan loncatan-loncatan yang panjang. Bahkan kadangHkadang Semi dengan sengaja telah menar ik perhatian Daruwerdi dengan gumam-gumam pendek yang member ikan kesan tertentu. Pada saat-saat terakhir itulah, maka Jlithengpun mulai membalas serangan-serangan Nugata. Namun ia harus memperhitungkan tenaganya dengan cermat, sehingga sentuhan-sentuhan serangannya tidak menimbulkan kesan tersendiri. Disaat-saat tenaga Nugata sudah menjadi semakin susut maka Jlitheng mulai mengenainya dengan serangan-serangan tangannya. Tetapi serangan-serangan itu seolah-olah tidak terasa sama sekali oleh Nugata. Ketika tangannya menyentuh pundak, maka Nugata telah mengumpatinya. Bukan karena perasaan sakit, tetapi justru diluar dugaannya, bahwa Jlitheng berhasil menyerangnya dengan tiba-tiba, menyusup diantara pertahanannya. “Aku kurang berhati-hati” berkata Nugata di dalam hatinya “untunglah bahwa tenaganya sama sekali tidak berarti bagiku. Jika saja aku berhasil mengenainya satu kali saja, ia tentu akan mati” Namun bagaimanapun Juga, kemampuan Jlitheng menghindari serangan-serangan Nugata itu memang sudah menarik perhatian. Betapapun juga Jlitheng berusaha member ikan kesan, seolah-olah ia memang kurang tanggon dan agak licik. Tetapi betapapun menjengkelkan lawannya. Pada saat-saat terakhir, ternyata Jlitheng tidak lagi terlalu banyak berlari-lari. Ia berusaha menghindar dengan jarak pendek. Dan bahkan ia menjadi semakin sering menyerang, meskipun jarang sekali serangan mengenai sasaran. Namun dengan demikian ia telah memaksa Nugata untuk bekerja lebih keras justru pada saat terakhir. Ternyata usaha Jlitheng itupun berhasil. Nugata telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya. Selain karena ia sudah berkelahi lebih dahulu melawan dua orang anak muda Lumban Wetan yang memiliki kemampuan yang cukup, karena mereka termasuk sepuluh anak muda terbaik di Lumban Wetan, Jlithengpun telah berhasil memeras tenaga lawannya sampai tuntas. Karena itulah, maka pada langkah- langkah terakhir, Nugata hampir tidak berdaya lagi, ketika Jlitheng justru mempercepat serangan-serangannya. “Gila“ Nugata berteriak. Ia mengayunkan tangannya. Namun sama sekali tidak menyentuh tubuh Jlitheng yang melangkah setapak surut. Justru karena itu, maka iapun telah terseret oleh ayunan kekuatannya sendiri selangkah maju. Jlitheng telah memanfaatkan keadaan itu. Ia bergeser kesamping, kemudian dengan serta merta mendorong tubuh lawannya dengan jari-jarinya yang terkembang. Dorongan itu t idak terlalu keras. Tetapi karena Nugata memang sudahi kehilangan keseimbangan, maka dorongan itu telah melemparkannya, sehingga iapun jatuh tertelungkup. Perasaan anak-anak Lumban Wetan bagaikan meledak. Demikian mereka melihat Nugata terjatuh, maka dengan serta merta, mereka telah bersorak bagaikan meruntuhkan langit. Bahkan beberapa orang diantara mereka telah meloncat- loncat sambil berteriak-teriak tidak menentu. Sementara itu, anak-anak Lumban Kulon telah terpukau oleh keadaan yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya, Mereka sama sekali t idak menyangka, bahwa Jlitheng akan mampu mengalahkan Nugata meskipun Nugata telah berkelahi melawan dua orang berturut-turut sebelumnya. Namun ternyata bahwa karena kelelahan, Nugata telah dapat didorong jatuh oleh Jlitheng Nugata sendiri sama sekali tidak mau mengakui kenyataan itu. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk bangkit. Disaat- saat ia sedang mengerahkan sisa tenaganya, Jlitheng melangkah mendekatinya. Namun Semi telah melangkah pula memotong sambil berkata “Tunggulah sampai ia berdir i” Jlitheng tertegun. Dipandanginya Semi sekilas. Namun iapun kemudian melangkah surut. Dalam pada itu, Daruwerdilah yang justru mendekati Nugata sambil berdesis “Apakah kau sudah tidak mampu lagi melawannya” “Aku akan membunuhnya” teriak Nugata. Daruwerdi yang gelisah karena langit yang menjadi kemerah-merahan berkata “Kau harus mengakui kekalahanmu” “Aku belum kalah“ Nugata berteriak sekali lagi sambil menghentakkan dirinya dan berdiri dengan terhuyung-huyung. Daruwerdi menengadahkan kepalanya. Kemudian dipandanginya Rahu yang berdiri di pinggir arena. Niamun Rahu itupun agaknya melihat kegelisahan Daruwerdi. Maka katanya “Kau harus menyelesaikan tugasmu dismi lebih dahulu” “Bagimana dengan mereka?“ bertanya Daruwerdi. “Mereka tidak akan datang pagi-pagi buta seperti ini. Mungkin siang har i atau bahkan sore hair i” jawab Rahu. Tidak seorangpun yang tahu, apa yang sedang mereka bicarakan. Karena itu, anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka lebih tertarik untuk memperhatikan keadaan Nugata yang terenggah-engah. “Bagaimana?“ Semi bertanya. “Minggir kalian“ geram Nugata “Aku akan melumatkannya” Semi melangkah surut sambil berkata kepada Daruwerdi “Biar lah ia meyakini kekalahannya” Daruwerdi tidak menjawab. Bahkan iapun memberi isyarat, bahwa perkelahian dapat dilanjutkan. Jlitheng melihat kebencian yang menyala dimata Nugata. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain, kecuali mengalahkannya. Karena bagi Lumban Wetan, apa yang dilakukan itu akan menentukan buat masa yang sangat panjang. Nugata yang telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya itu masih berusaha menyerang Jlitheng. Sementara Jlitheng sudah bertekad untuk segera mengakhir i perkelahian itu. Apa lagi dengan kemenangannya atas Nugata, maka Jlitheng akan berkelahi lagi melawan dua orang anak muda Lumban Kulon. Sementara itu, ia masih harus berusaha untuk tidak menyatakan dir inya sepenuhnya. Karena itu, ketika Nugata menyerangnya, ia tidak menghindarinya. Ia menangkis serangan itu sambil berdesis lir ih “Nugata, kau jangan kehilangan akal. Kau harus mengakui kenyataan ini, agar aku tidak bertindak lebih kasar lagi. Bukankah kita masih tetap berkawan untuk waktu yang akan datang? Yang kita lakukan ini adalah sayembara yang jujur” Tetapi Jlitheng terkejut ketika ia mendengar Nugata berteriak “Kubunuh kau anak gila” Jlitheng mengatupkan giginya. Ia masih harus menekan diri. Benturan yang terjadi, adalah benturan yang tidak berarti. Tenaga Nugata sudah semakin lemah, sementara Jlitheng berusaha menangkis dengan lunak. Namun karena Nugata masih tetap keras kepala, maka Jlitheng berniat untuk bertindak lebih keras pada saat-saat terakhir. Jika ia menyerang dan menjatuhkan Nugata sekali lagi, maka yang dilakukan itu tidak akan sangat menarik perhatian. Dalam pada itu, yang mengejutkan justru sikap Daruwerdi. Ketika Daruwerdi berdiri dekat disisi Jlitheng, iapun berdesis “Kau dapat mengalahkannya segera, sehingga kau tidak akan kehabisan tenaga untuk perkelahian berikutnya” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. la mengerti, bahwa Daruwerdi agaknya digelisahkain oleh har i-hari terakhir pekan yang dijanjikan oleh orang-orang Sanggar Gading. Sebenarnyalah bahwa Jlitheng tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, ketika Nugata terhuyung-huyung menyerangnya, sekali lagi Jlitheng menangkis serangan itu. Lebih keras dari yang sudah dilakukannya. Dalam benturan itu, Nugata benar-benar tidak lagi dapat bertahan. Ia terdorong selangkah surut. Dalam keadaan yang demikian, Jlitheng telah memburunya. Ketika ia menyerang sekali lagi kearah pundak Nugata, maka anak muda Lumban Kulon itu terputar sekali kemudian sekali lagi ia terbanting jatuh. Sekali lagi anak muda Lumban Wetan bersorak bagaikan meruntuhkan langit. Namun sementara itu, anak-anak muda Lumban Kulon menjadi sangat cemas. Jika Nugata sudah dikalahkan, maka tidak akan ada orang lain yang akan dapat berbuat lebih baik daripadanya. “Ia sudah sangat letih setelah da berkelahi melawan dua orang berturut-turut” desis seorang anak Lumban Kulon ketelinga kawannya. “Tetapi ia masih nampak segar ketika ia mulai dengan perkelahiannya yang terakhir” sahut kawannya yang lain. Anak-anak muda Lumban Kulon itupun kemudian hanya termangu-mangu saja melihat apa yang terjadi diarena. Jlitheng berdir i tegak selangkah disampiing Nugata yang terbujur ditanak Dengan susah payah Nugata masih berusaha untuk bangkit. Namun setiap kali ia berusaha, maka setiap kali ia terkulai kehabisan tenaga. “Tidak ada gunanya” desis Daruwerdi yang kemudian berdiri disebelahnya pula. “Aku tidak kalah. Aku masih mampu membunuhnya” geram Nugata. “Jangan menjadi Gila“ Daruwerdipun menggeram. Lalu tiba-tiba saja ia berkata “Aku sudah jemu melihat tingkah laku kalian. Aku masih mempunyai seribu macam pekerjaan yang lebih penting dar i menunggui kalian berkelahi disini” Nugata tercenung sejenak. Ia melihat perubahan sikap Daruwerdi. Seakan-akan Daruwerdi tidak lagi berdiri dipihaknya. Dipihak anak-anak muda Lumban Wetan. “Nugata” berkata Daruwerdi kemudian “bagaimanapun juga seorang laki- laki jantan tidak akan ingkar dari kenyataan. Kau sudah kalah. Jika kau memaksa diri, maka kau sendiri yang akan mengalami nasib yang buruk. Jlitheng yang meskipun tidak memiliki ilmu setingkat dengan kau, tetapi ia memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa, sehingga ia tidak dapat kau kalahkan. meskipun ia harus berlari- lari menghindar. Tetapi ia tidak melakukan kesalahan. Dan ia telah memenangkan perkelahian ini” Nugata menggeretakkan giginya Ketika ia berhasil berdiri meskipun dengan terhuyung-huyung, maka dipandanginya, wajah Jlitheng dengan penuh dendam dan kebencian. “Kau tidak akan dapat mengalahkan aku” geram Nugata. “Aku sekarang menang” jawab Jlitheng “sementara itu perjanjian yang dibuat tetap berlaku. Pemburu-pemburu itu, Daruwerdi dan anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan menjadi saksi” ”Kau baru memenangkan sekali perkelahian” geram Nugata “itupun karena kau berbuat licik, dan aku sudah berkelahi dua kali berturut-turut lebih dahulu” “Aku akan memenuhi segala ketentuan. Aku siap untuk berkelahi lebih lanjut melawan dua orang berturut-turut” jawab Jlitheng. Nugata memang tidak mungkin berkelahi lagi, betapapun ia bernafsu dan dibakar oleh dendam. Tulang-tulangnya bagaikan saling terlepas dari sendi-sendinya. Nafasnya seolah- olah hampir terputus dikerongkongan. . “Tetapi kau harus dikalahkan” geram Nugata. Lalu katanya “pilihlah seorang yang akan dapat memutar lehernya. Jika yang seorang belum berhasil, maka orang berikutnya akan mencekiknya, karena anak gila itu tentu sudah kehabisan nafas” Daruwerdi menjadi semakin gelisah. Ia tidak dapat mengukur kekuatan Jlitheng sebenarnya, meskipun ia mulai curiga. Bahkan ia kurang yakin, bahwa betapapun pemburu itu menempanya siang dan malam, namun ilmunya tidak akan melonjak dengan tiba-tiba. Dalam pada itu, seorang anak muda Lumban Kulon telah bangkit. Seorang anak muda yang bertubuh tegap kekar. Ia tidak membiarkan Jlitheng mendapat kesempatan untuk beristirahat. Ia harus berkelahi dan memeras tenaga-Jlitheng, sehingga apabila ia tidak dapat mengalahkannya, maka orang berikutnya akan dengan mudahnya membanting Jlitheng diatas tanah berpasir dan kemudian membenamkan wajahnya kedalampasir itu. Sejenak kemudian keduanya telah berhadapan. Nugata yang sudah kehabisan tenaga., menghempaskan dir inya duduk diantara beberapa orang kawannya di pinggir arena. Namun dengan suara lantang ia masih berteriak “ Peras tenaganya sampai habis. Biarlah orang yang kemudian melumatkan tulang-tulangnya” Orang bertubuh kekar itu ternyata tidak menunggu Daruwerdi atau Semi member ikan isyarat. Tiba-tiba saja, tanpa diduga-duga sebelumnya oleh Jlitheng, bahkan oleh anak-anak Lumban Wetan dan anak-anak Lumban Kulon sendiri, orang bertubuh tegap kekar itu langsung menyerang. Jlitheng yang tidak menduga, bafiwa hal itu akan dilakukan oleh anak muda yang bertubuh tegap kekar ku terkejut. Namun ternyata bahwa ia masih cukup sigap untuk berbuat sesuatu. Demikian erangan itu datang, maka Jlitheng masih sempat mdindungi dadanya dengan kedua tangannya. Tetapi justru karena Jlitheng agak tergesa-gesa, maka ia kurang memperhitungkan lontaran tenaganya. Sehingga karena itulah, maka tangan lawannya itu seakan-akan telah menghantam dinding baja. Dan dorongan yang kecil dari tenaga Jlitheng ternyata telah melontarkan anak itu beberapa langkah surut dan bahkan kemudian telah jatuh terguling. Jlitheng sendiri terkejut melihat hentakan tenaganya. Untunglah bahwa ia cepat berpikir. Demikian ia melihat lawannya terdorong surut, maka iapun kemudian melangkah terhuyung-huyung. Demikian lawannya jatuh terguling, maka Jlithengpun dengan lemahnya telah terjatuh pula diatas tanah berpasir. Arena itu tiba-tiba saja telah menjadi hening. Setiap orang telah dicengkam oleh ketegangan. Mereka menyaksikan kedua orang yang berada diarena itu terbaring diam untuk sesaat. Namun Jlithengpun akhirnya mulai bergerak. Demikian pula lawannya. Perlahan-lahan keduanya berusaha untuk bangkit berdiri. Akhirnya keduanya telah tegak kembali. Daruwerdi yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. Ia melihat kedua anak muda itu menjadi letih sekali. “Jika Jlitheng tidak dapat mengalahkan kedua lawan berikutnya, maka aku tidak akan mengurusinya lagi” berkata Daruwerdi di dalam hatinya “biarkan pemburu-pemburu itu menjadi saksi penyelesaian yang mungkin akan makan waktu tiga hari tiga malam. Orang terbaik dari Lumban Kulon telah lewat. Namun ia tidak mengakhir i perkelahian yang menjemukan ini. Sementara kewajibanku sendiri telah menunggu. Kewajiban yang yang lebih berharga daripada sekedar melihat tikus-tikus berkelahi berebut sepotong makanan” Sejenak kemudian kedua orang yang berada diarena itu telah bersiap. Betapapun mereka nampak letih, tetapi mereka masih akan melanjutkan perkelahian itu. Sementara Nugata di pinggir arena berteriak dengan marah “ Peras tenaganya Biarlah ia mati dengan anak yang akan melawannya kemudian. Anak muda Lumban Kulon itupun bergeser selangkah. Dipandanginya wajah Jlitheng dengan tegang. Dengan nada berat ia berkata “Kau akan menyesali perbuatanmu” Jlitheng sama sekali tidak teringsut. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan iapun telah memutuskan bahwa perkelahian itupun harus segera berakhir, karena warna merah dilangit menjadi semakin tegas. Karena itu, demikian lawannya menyerang, Jlitheng beringsut menghindar. Kemudian dengan kekuatan yang cukup besar, Jlitheng telah mendorong lawannya. Akibatnya sangat mengejutkan. Anak muda Lumbaa Kulon itu terdorong demikian kerasnya dan terlempar diantara kawan-kawannya sendiri. Demikian kerasnya sehingga oleh dorongan itu beberapa orang anak muda Lumban Kulon telah terjatuh berdesakan dan saling menindih. “Gila“ geram anak-anak muda itu. Seorang diantaranya berteriak “Ia Telah menyakiti aku. Biar lah aku melumatkannya” Dalam pada itu, Jlitheng yang telah mendorong lawannya cukup keras itupun berdir i terhuyung-huyung diarena. Tetapi ia tidak terjatuh. Ia masih tetap berdiri dengan nafas terengah-engah. Lawannya ternyata mengalami kesulitan untuk dapat bangkit dengan cepat. Ketika ditolong oleh kawan-kawannya ia berdiri tertatih-tatih, maka dengan tergesa-gesa Daruwerdi- lah yang mengambil kcputusan “Kau sudah kalah” “Belum” teriak anak muda itu. Disusul oleh Nugata “belum. Ia masih dapat berkelahi. Jlitheng sudah hampir kehabisan nafas pula” Ketika Daruwerdi tetap pada pendiriannya, anak-anak muda Lumban Kulon telah berteriak-teriak dengan keras “Belum. Ia belum kalah” Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Betapa ia tergesa- gesa, tetapi ia menganggap bahwa tidak bijaksana untuk memaksakan keputusannya. Jika anak-anak Lumban Kulon itu tidak mengakui kcputusan itu, maka akan timbul persoalan lain yang gawat. Karena itu, maka iapun berkata kepada Semi “Apakah masih perlu diyakinkan?“ “Masih ada waktu“ Rahulah tiba-tiba saja menyahut “biarlah mereka yakin bahwa keputusanmu benar” Karena itu, Daruwerdi tidak menyegah lagi. Katanya “Terserah. Jika kau merasa dirimu belum kalah. Lakukanlah perkelahian ber ikutnya” Lawan Jlitheng itupun melangkah tertatih-tatih maju. Sekali lagi ia meloncat menyerang. Dan sekali lagi Jlitheng telah menghindar dan mendorongnya. Namun karena ia sudah jemu, maka ia tidak sekedar mendorong orang itu. Tetapi ia telah memilih tempat tertentu yang ditekannya dengan ujung- ujung jarinya pada saat ia mendorong lawannya Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu t idak melihat, apa yang telah terjadi sebenarnya. Yang mereka lihat, anak muda Lumban Kulon itu terdorong lagi dengan kerasnya dan jatuh keatas tanah berpasir. Namun untuk beberapa saat lamanya, ia tetap terbujur diam. Ternyata anak itu telah pingsan. “Anak itu dibunuhnya” teriak Nugata dengan marah sekali. Seandainya tulang-tulangnya tidak terasa terlepas satu sama lain, ia akan meloncat bangkit dan menyerang Jlitheng. Tetapi ia tidak mampu lagi untuk berbuat sesuatu kecuali berteriak- teriak saja. Daruwerdilah yang kemudian melangkah maju. Ialah yang menolong anak muda itu bersama Semi. Katanya kepada anak-anak muda Lumban Kulon “Ia pingsan. Ia benar-benar telah kehabisan tenaga. Ia memaksa dir i karena ia ingin memenuhi permintaan Nugata untuk memeras habis tenaga lawannya. Tetapi akibatnya, ia menjadi pingsan. Yang bertanggung jawab atas peristiwa ini bukannya Jlitheng. Tetapi justru Nugata” “Gila“ teriak Nugata, baginya Daruwerdi telah benar-benar berubah. Namun dalam pada itu. Semi berkata “Bawalah menepi. Rawatlah. Titikkan air dimulutnya. Sedikit saja” Beberapa orang anak muda Lumban Kulon telah mengambil kawannya yang pingsan itu. Kemudian membawanya menjauh, sementara seorang diantara mereka telah berlari-lari mengambil air dibendungan. Dalam pada itu, Sebelum anak-anak muda Lumban itu terpukau melihat peristiwa itu, Nugata dengan tergesa-gesa berkata “Cepat. Selesaikan anak gila dari Lumban Wetai itu, sebelum ia sempat bernafas” “Siapa yang kau tunjuk Nugata” bertanya seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan. Nugata termenung sejenak. Namun kemudian katanya “Kau. Kau pantas untuk mendapat satu kehormatan, mengalahkan anak gila itu” “Terima kasih” jawab anak muda itu sambil meoncat memasuki arena. Dengan tangkasnya ia bersiap sambil berkata “Kau akan menyesal Jlitheng. “Akulah yang menguasai air itu untuk pertama kali. Aku pulalah yang akan menentukan, apa yang akan terjadi dengan air itu” geramJlitheng. “Jangan sombong” teriak anak yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu. Tetapi Jlitheng telah benar-benar menjadi jemu. Bahkan ia berkata kepada diri sendri “Aku tidak peduli tanggapan Daruwerdi atasku. Tidak ada kesempatan lagi. Har i mi adalah hari yang menentukan bagi Daruwerdi itu, dan barangkali juga bagiku” Anak yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu mempunyai perhitungan seperti Nugata. Ia tidak ingin memberi kesempatan kepada Jlitheng untuk ber istirahat. Selagi nafasnya masih tersendat-sendat, ia ingn menjatuhkannya dan bahkan melepaskan sakit hati atas kekalahan dua orang kawannya yang terdahulu. Karena itu, maka iapun dengan serta merta telah menyerang Jlitheng dengan garangnya. Tetapi perhitungannya itu ternyata keliru. Jlitheng tidak sedeng terengah-engah. Jlitheng tidak sedang kelelahan dia kehilangan kemampuan untuk melawannya. Demikian serangan itu datang, Jlitheng dengan sigapnya telah menghindarinya. Lawannya yang tinggi kekurus-kurusan itupan telah tergeser. Berbagai macam pertimbangan bergelepar dikepalanya. Namun dalam pada itu ia masih tetap menganggap bahwa Jlitheng telah kehabisan tenaga. “Ia dapat memaksa dirinya untuk bergerak pada langkah- langkah pertama. Tetapi ia akan segera kehabisan tenaga dan jatuh terkulai tidak berdaya. Aku akan dapat mencekiknya dan meyakinkan setiap orang, bahwa J litheng bukan orang yang perlu disegani. Namun bersamaan dengan itu, kejemuan J litheng telah sampai dipuncaknya. Karena itu, iapun telah menunggu lawannya itu akan menyerangnya lagi. Seperti yang diperhitungkannya, maka sejenak kemudian anak muda yang tinggi kekurus-kurusan itupan telah meloncat pula menyerangnya dengan garangnya. Jlitheng memang sudah ingin mengakhiri perkelahian. Langit sudah menjadi semakin merah. Bahkan diujung Timur, digaris cakrawala, nampak cahaya pagi yang semakin terang. Karena itu, demikian orang itu meloncat menyerang, maka Jlitheng telah berusaha menghindar inya. Namun demikian ia meloncat, maka iapun telah mengayunkan tangannya. Memang tidak banyak orang yang mengerti, bahwa yang dilakukan itu memang sudah diperhitungkan. Diperhitungkan bukan saja akan dapat mengakhir i pertempuran, tetapi yang terjadi itu seolah-olah telah dilakukan tanpa disengaja. Seolah- olah Jlitheng demikian saja melakukan gerakan yang da pat menghantam tubuh lawannya yang sedang meloncat menerkamnya, dan tanpa dikehendakinya. sendiri, tangan itu telah menghantam tempat yang gawat. Karena itu, lawannya yang menerkamnya tanpa berhast menyentuhnya itu telah terdorong dengan derasnya. Ia telah kehilangan keseimbangannya dan jatuh terbanting di tanah berpasir. Demikian cepatnya hal itu terjadi. Dengan serta merta, anak-anak- Lumban Wetanpun telah bersorak bagaikan menggugurkan langit Seakan-akan bukan satu kebetulan, bahwa sorak yang meledak itu telah mendorong cahaya pagi yang memancar dari balik cakrawala Sejenak kemudian, maka langitpun menjadi cerah. Matahari mulai menjenguk pedahan-lahan. Nugata yang letih itu terkejut. Orang itu adalah orang ketiga. Jika ia kalah, maka akan jatuh keputusan. Karena itu, demikian kuatnya hentakkan di dalam hatinya, sehingga tiba- tiba saja ia bangkit berdiri. Namun ketika ia terhuyung- huyung, kawan-kawannya telah membantunya untuk tetap berdiri. “Gila, Apa yang terjadi?”Ia menggeram. Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Meskipun Lumban Kulon kalah menurut perjanjian, namun ia tidak peduli lagi. Hari itu adalah hari yang ditentukan oleh orang-orang Sanggar Gading. Dan j ika psrsoalan pusaka itu selesai maka selesai pulalah hubungannya dengan orang-orang Lumban Kulon ataupun Wetan. Ia tidak peduli, apa yang telah dilakukan oleh Jlitheng, meskipun sebenarnya ia menaruh perhatian. Bahkan ia agak cur iga, bahwa dengan pimpinan pemburu tu. Jlitheng memiliki kelebihan yang jauh dari anak-anak muda Lumban Kulon, bahkan dari Nugata sendir i. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah berkata ”Semuanya telah berakhir. Kita akan bersikap sebagai seorang laki-laki yang memegang janji. Anak-anak Lumban Wetan telah memenangkan perkelahian ini, sehingga segala keputusan mengenai bendungan dan air ini akan kami serahkan kepada anak-anak muda Lumban Wetan” “Tidak” teriak Nugata “Anak itu belum kalah. Ia masih bangkit dan siap untuk berkelahi lagi“ Tetapi setiap orang melihat, bahwa orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu sudah terlalu lemah. Ia memang berusaha untuk bangkit. Namun ia tidak akan mampu lagi untuk berkelahi. Apalagi Jlitheng nampaknya masih cukup segar dan siap untuk melakukan perkelahian lagi. Ternyata sentuhan tangan Jlitheng benar-benar menentukan. Anak muda yang bertubuh tinggi kekurus- kurusan itu benar-benar tidak dapat berbuat ana-apa lagi. Ketika ia mencoba untuk melangkah, maka ia hampir saja kehilangan keseimbangannya. Namun meskipun ia dapat bertahan untuk tetip berdiri, tetapi ia tidak berani lagi menggerakkan kakinya untuk melangkah maju. Jika sekali ia melangkah, maka ia ter. akan terjatuh dan sulit untuk dapat berdiri tegak lagi. “Cepat, lakukan” teriak Nugata “mumpung lawanmu masih kelelahan” Tetapi anak muda yang bertubuh tinggi kekurus-kurusa itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ketika sekali lagi Nugat berteriak, terdengar anak muda itu mengeluh tertahan. “Semuanya sudah berakhir“ Daruwerdilah yang kemudian berteriak “Jangan mengelabui dir i sendiri. Apa yang kalian lihat sudah jelas. Jangan membuat anak muda itu pingsan, atau bahkan mati karena ketamakanmu Nugata” Nugata memandang Daruwerdi dengan tajamnya. Ia melihat anak muda itu sudah benar-benar berubah. Tetapi Nugata tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika ia melihat kedua pemburu itu berganti-ganti, Jlitheng dan seorang lagi yang tidak jelas baginya, maka Nugata mengerti, bahwa saat itu, semua kesempatan telah tertutup. Dalam pada itu, anak-anak Lumban Wetan yang merasa mendapat kemenangan itupun telah bersorak berkepanjangan. Mereka merasakan satu kesempatan ikut serta menentukan untuk waktu yang panjang bagi padukuhan mereka. Air adalah lambang kesuburan bagi tanah yang kering dan tandus yang sudah berpuluh tahun lamanya bagaikan ladang gersang yang mati. Dalam pada itu, selagi anak-anak muda Lumban Wetan bersorak dengan gembira, maka anak-anak muda Lumban Kulon mengumpat sejadi-jadinya. Mereka merasakan satu kekalahan yang paling menusuk perasaan. Namun merekapun menyadari, bahwa mereka harus menerima kekalahan itu karena mereka tidak akan dapat lagi memaksakan kehendak mereka Dalam keriuhan kegembiraan anak-anak Lumban Wetan, maka Semipun kemudian berkata lantang “ Dengarlah. Beri kesempatan aku berbicara” Anak-anak muda Lamban Wetanpun kemudian berusaha untuk menguasai perasaan mereka. Kegembiraan merekapun kemudian mereda, sehingga akhirnya mereka diam sama sekali. “Permainan kita sudah selesai” berkata Semi “Kita adalah anak-anak muda yang teguh memegang janji dan menghormat i keputusan yang sudah dibuat bersama. Karena itu, masalah bendungan dan pintu air dapat kita anggap selesai. Pintu air akan dikembalikan seperti semula. Air yang akan mengalir ke Lumban Wetan akan sama banyaknya dengan air yang akan mengalir ke Lumban Kulon” Beberapa orang anak muda Lumban Wetan bergeser setapak maju. Rasa-rasanya itu tidak adil. Jika anak-anak muda Lumban Kulon menang, mereka berhak membuka pintu air lebih besar. Tetapi jika anak-anak muda Lumban Wetan yang menang, maka pintu air itu akan dikembalikan saja seperti semula. Anak-anak Lumban Wetan tidak mempunyai wewenang untuk membuka pintu air itu lebih lebar seperti yang akan dilakukan oleh anak-anak Lumban Kulon dalam keadaan yang sama. Tetapi dalam pada itu, Semi berkata selanjutnya “Nampaknya itu adalah satu ujud kebesaran jiwa anak-anak muda Lumban Wetan. Mereka memang tidak menuntut sesuatu yang berlebih-lebihan. Yang mereka perjuangkan diarena sayembara ini adalah keadilan. Bukan kesempatan untuk berbuat sewenang-wenang. Anak-anak muda vang merasa diperlukan tidak adil itupun tertegun karenanya Jlitheng yang telah bekerja keras mengarahkan air, dan kini berdir i diarena dan berhasil menentukan akhir dari sayembara itupun t idak menolak keterangan Semi. Karena itu, merekapun kemudian tidak berbuat apa-apa ketika Semi melanjutkan “Matahari sebentar lagi akan naik. Sebaiknya, kita kembali ke rumah masing- masing dengan pengakuan di dalam hati, bahwa yang paling baik akan berlaku di Kabuyutan Lumban. Air akan dibagi dengan adil. Dan kedua bagian dari Lumban akan bersama- sama berkembang. Jika terjadi perpacuan dihari-hari kemudian, maka yang terjadi itu adalah wajar dan adil pula. Kelebihan yang satu akan ditentukan bukan karena kelebihan kesempatan, tetapi tentu karena hasil kerja anak-anak mudanya” Ternyata bahwa sebagian dari anak-anak muda Lumban Kulonpun sempat mendengar kata-kata Semi itu. Namun Nugata yang marah sama sekali tidak menghiraukannya. Dengan sisa tenaganya maka iapun kemudian sambil mengumpat melangkah meninggalkan bendungan. Bahkan ia masih sempat berteriak “Aku tidak peduli lagi. Aku akan pulang” Anak-anak Lumban Kulon termangu-mangu sejenak. Namun sebagian dari merekapun kemudian mengikutinya meninggalkan kawan-kawannya yang masih berkerumun di bendungan Dalam pada itu, Semipun kemudian berkata “Kita memang sudah selesai. Yang ingin pulang, segeralah pulang. Aku kira anak-anak Lumban Wetanpun tidak akan tergesa-gesa memperbaiki pintu air. Karena itu, pulang sajalah. Sebaiknya hari ini kalian berada di rumah. Beristirahat dan menenangkan hati. Besok, aku akan membantu kalian memperbaiki pintu air yang sudah terlanjur dirombak ini” Jlitheng yang masih berdiri diarena mengerti maksud Semi. Hari itu adalah hari yang mempunyai arti tersendiri bagi Daruwerdi dan orang-orang Sanggar Gading. Meskipun nampaknya Semi tidak mempunyai hubungan langsung dengan persoalan itu, namun ia dapat menangkap maksudnya. Memang sebaiknya anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon berada di rumah mereka pada saat-saat orang-orang Sanggar Gading berada di daerah Sepasang Bukit Mati. Dalam pada itu, Daruwerdi yang memer lukan persiapan khusus itupun kemudian berkata “Akupun akan pulang. Aku perlu beristirahat. Semalam suntuk aku melakukan pekerjaan tidak berarti disini” “Bukan tidak berarti Daruwerdi” sahut Semi “Kau sudah ikut menegakkan keadilan disini. Kau kira nilai keadilan ini kecil dari nilai-nilai lain yang sedang kau harapkan?“ Wajah Daruwerdi menegang sejenak. Namun La t idak menanggapinya. Bahkan Katanya “Apapun yang kau katakan, aku merasa sangat letih. Aku akan pulang” “Silahkan“ Rahulah yang menjawab sambil melangkah mendekatinya “Aku akan memberitahukan kepadamu, apa yang akan terjadi hari ini” Daruwerdi memandang Rahu sekilas. Namun kemudian katanya “Aku menunggu. Dan aku memang sudah siap” Rahu mengangguk-angguk, sementara Daruwerdipun melangkah sambil berkata “Lakukanlah apa yang baik menurut kalian atas bendungan ini. Aku tidak mempunyai banyak kepentingan lagi” Semi tidak menjawab. Ia memandangi saja Daruwerdi yang meninggalkan anak-anak muda Lumban Wetan dan sebagian anak-anak Lumban Kulon yang masih tinggal. Dalam pada itu, Semi, kawannya yang telah mengatur anak-anak muda Lumban Wetan, Rahu dan Jlithengpun kemudian bersepakat untuk mempersilahkan anak-anak itu segera pulang dan beristirahat di rumah seperti yang dikatakan oleh Semi. “Besok kita mulai lagi dengan kerja” berkata Jlitheng kepada kawan-kawannya. Kawan-kawannya, dan bahkan anak-anak muda Lumban Kulon menjadi semakin segan kepada Jlitheng. Tanpa usaha Jlitheng dan orang tua di kaki bukit, maka air itu tentu masih belum dapat dikuasai. Sementara itu, Jlitheng pulalah yang lelah menggagalkan usaha anak-anak muda Lumban Kulon untuk membagi air dengan tidak adil. Demikianlah, maka anak-anak Lumban Kulon yang tersisa, dan anak-anak Lumban Wetan itupun segera bersiap-siap untuk meninggalkan bendungan. Merekapun bersepakat untuk mengerjakan bendungan dan pintu air dihar i berikutnya. Ketika anak-anak Lumban itu kembali ke padukuhan masing-masing, maka beberapa orang anak muda dari Lumban Kulon mulai menilai semua per istiwa yang telah terjadi. Mereka mulai melihat, bahwa anak-anak Lumban Wetan sama sekali tidak bermaksud untuk berbuat sewenang- wenang dengan kemenangannya. Bahkan dengan demikian mereka mulai melihat, bahwa sebenarnya anak-anak Lumban" Kulonlah yang ingin merusak kerukunan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan. “Nugataiah yang bersikap demikian” desis salah seorang dari anak-anak Lumban Kulon itu. Yang lain mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia muiai mendapat kesempatan untuk menilai, apa yang telah mereka lakukan dalam saat-saat terakhir. “Membuka pintu air lebih lebar bagi Lumban Kulon memang tidak adil” desis yang lain pula. Sementara itu merekapun mulai menelusur i, bagaiamna air dapat tertumpah disungai yang sebelumnya hampir kering sama sekali itu. Sehingga dengan demikian, maka mereka menjadi semakin menghormati sikap Jlitheng. Selain karena usahanya sehingga air itu dapat dimanfaatkan bagi sawah dan ladang di padukuhan Lumban, iapun sama sekali tidak ingin memanfaatkan kemenangannya untuk kepentingan yang tidak adil seperi yang dikehendaki oleh anak-anak Lumban Kulon. “Anak itu memang luar biasa” desis salah seorang anak muda Lumban Kulon yang sedang dalam perjalanan pulang itu “Ia orang kuat, cerdas, tetapi tidak sewenang-wenang” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mulai melihat pertentangan watak antara Jlitheng dan Nugata. Namun dalam pada itu, anak-anak Lumban Kulon itupun berkata kepada diri sendiri “Anak laki-laki Ki Buyut di Lumban Wetan tidak banyak berperan” Sementara itu, ketika anak-anak Lumban Wcan telah memasuki pedukuhan masing-masing di daerah Kabuyutan Lumban Wetan, maka Jlitheng berada bersama di daerah kabuyutan Lumban Wetan, maka Jlitheng berada bersama kedua pemburu dan Rahu di banjar. Mereka masih harus bersiap-siap untuk menghadapi satu saat yang penting dan mungkin bahkan akan sangat menentukan. Tetapi tiba-tiba saja Jlitheng berkata “Aku akan pergi kekaki bukit, “Apa kau akan menemui orang tua itu?“ bertanya Semi. “Ya. Aku akan memberitahukan apa yang baru saja terjadi dengan air yang telah kami arahkan bersama-sama” jawab Jlitheng. “Kau juga akan berbicara tentang orang-orang Sanggar Gading?“ bertanya Semi. . “Apakah aku tidak boleh mengatakannya kepada ©raag tua itu?“ Jlitheng ganti bertanya. “Itu tidak perlu” desis Rahu “mungkin orang itu dapat dipercaya. Tetapi mungkin pula ia mempunyai sikap lain yang dapat mengganggu rencana orang-orang Sanggar Gading dan selanjutnya mengganggu tugas kita sendir i” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia mengerti perasaan kawan kawannya itu. Ia sendiripun t idak tahu pasti apakah sebenainya orang tua itu benar-benar seorang yang terusir oleh bencana alam seperti yang dikatakan, dan yang kemudian mencari tempat pemukiman baru di lereng bukit itu, atau bencana alam yang mungkin memang terjadi itu hanyalah alasan yang men- dorongnya untuk melakukan tugas-tugas yang besar di daerah Sepasang Bukit Mati ini “Kenapa ia tidak mencari tempat lain yang mungkin lebih baik dan lebih banyak memberikan kemungkinan untuk diperkembangkan dari pada di daerah Sepasang Bukit Mati ini?“ pertanyaan itupun tumbuh pula dihati Jlitheng. Namun rasa-rasanya ia tidak dapat mengekang dir inya untuk berlar i ke bukit dan berbicara tentang apa saja dengan orang tua itu. “Pergilah” berkata Rahu kemudian “Tetapi berhati-hatilah. Kau mempunyai kewajiban yang kau angkat sendiri kepundakmu. Jangan kau kembangkan untuk sesuatu yang kurang pasti” Jlitheng mengangguk-angguk. Dipandanginya Rahu sejenak. Lalu katanya “Kau tahu apa yang pantas bagiku. Dan akupun tahu apa yang baik bagiku” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu adalah anak muda yang keras hati, meskipun dalam persoalan- persoalan tertentu hatinya menjadi lunak dan lembut. Tetapi jika telah tumbuh tekad di dalam hatinya, maka ia akan melakukannya dengan mempertaruhkan apa saja. Meskipun Rahu tidak banyak mengenal anak muda itu sendiri, tetapi apa yang tercermin pada anak muda itu adalah sifat-sifat ayahandanya. “Lakukanlah tegas kalian berkata Jlitheng kemudian “hari ini adalah har i terakhir dalam pekan ini. Mungkin hari ini mereka akan datang. Masih belum dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan Pangeran itu dan apapula yang akan dilakukan oleh Daruwerdi. Mungkin ia akan mengalami persoalan yang rumit setelah pusaka yang dijanjikan itu diserahkan. Tetapi mungkin oleh dendam yang membara dihatinya, nasib Pangeran itulah yang harus kalian perhatikan. Aku akan dapat ikut campur dengan langsung, tetapi mungkin aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain bagi keselamatan pusaka itu. Rahu memandanginya dengan tajamnya. Namun kemudian iapun mengangguk sambil berkata “Kita masing-masingpun masih belum tahu, apakah pada suatu saat kepentingan kita tidak saling bertentangan” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyumsambil berkata “Aku akan pergi kelereng bukit “ Dengan langkah panjang Jlitheng meninggalkan banjar itu, dan langsung pergi ke lereng bukit. Rasa-rasanya setiap peristiwa penting, harus dilaporkannya kepada orang tua itu. Ia tidak tahu pasti, pengarah apakah yang sudah mencengkamnya Namun sampai saat terakhir, ia belum pernah merasa dirugikan oleh orang tua di lereng bukit itu. Ketika ia Mendekati gubug kecil di lereng bukit, ia melihat gadis penghuni gubug itu justru baru saja melangkah memasuki gubugnya. Tiba-tiba saja ia tertegun dan jantungnya menjadi berdebar-debar. Namun akhirnya Iapun melangkah mendekati pintu gubug yang terbuka itu. Langkahnya terhenti di muka pintu. Lewat lobang pintu yang terbuka ia melihat Kiai Kanthi duduk dialas amben bambu. Dihadapannya terdapat semangkuk air panas yang masih mengepul. Beberapa gumpal gula kelapa dan beberapa potong ketela pohon rebus. “Alangkah muktinya” desis Jlitheng yang berdiri di muka pintu. Orang tua itu tersenyum. Kemudian iapun turun dar i amben sambil, mempersikhkan anak muda itu “Marilah ngger. Silahkan” Jlithengpun melangkah masuk. Dipandanginya sekeliling ruangan itu. Namun ia tidak melihat Swasti. Nampaknya gadis itu langsung pergi kebelakang. “Nampaknya ada sesuatu yang telah terjadi ngger?“ bertanya Kiai Kanthi. “Kenapa Kiai menebak demikian?“ bertanya Jlitheng “Aku melihat sorot mata angger yang nglayup. Angger tidak tidur semalamsuntuk” jawab Kiai Kanthi. “Aku sudah biasa melakukannya. Aku kira tidak ada pertanda khusus padaku, apakah aku telah tidak tertidur semalam suntuk atau tidak” jawab Jlitheng sambil duduk “Jika Kiai melihat sesuatu padaku, tentu tidak pada mataku” Kiai Kanthi tertawa. Lalu iapun bertanya “Dimana aku harus melihat hal itu pada angger” “Entahlah. Tetapi tidak pada sorot mataku” jawab Jlitheng. Namun kemudian “Atau barangkali Kiai memang melihat sesuatu. Tidak pada sorot mataku, tetapi dibendungan?“ Kiai Kanthi tertawa semakin panjang. Katanya “Salahkan duduk dahulu. Angger tentu akan berceritera tentang bendungan. Tetapi akupun akan berceritera pula tentang hal yang lain” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Kiai Kanthipun telah pergi kebelakang menemui Swasti. Katanya “Kita mempunyai tamu. Apakah kau masih mempunyai air sere yang hangat dan gula kelapa?“ Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun telah mempersiapkan semangkuk air hangat dan kemudian mengikuti ayahnya untuk menghidangkan air hangat itu. Gadis itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Jlithengpun hanya memandang sekilas. Kemudian anak muda itu menundukkan kepalanya. Dalam pada itu, Kiai Kanthipun kemudian mempersilahkan Jlitheng untuk minum air hangat itu sambil makan ketela rebus yang juga masih hangat. “Segarnya” desis Jlitheng “semalam suntuk aku memang tidak tidur. Air hangat, ketela pohon yang masih mengepul. Rasa-rasanya memang nikmat sekali” “Silahkan” sahut Kiai Kanthi “Kita akan minum, makan sambil bercer itera. Kau mempunyai ceritera menarik tentang anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang bertengkar” “Nampaknya Kiai sudah tahu” desis Jlitheng. “Aku memang melihat peristiwa itu. Tetapi dari kejauhan ngger. Aku tidak melihat dengan pasti, apa yang telah terjadi. Hanya diakhir permainan itu, aku mendapat kesan bahwa anak-anak Lumban Wetan telah memenangkan perkelahian sampai orang yang terakhir. Dan akupun melihat angger dalam saat-saat terakhir” berkata Kiai Kanthi “Apakah dengan demikian berarti bahwa anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan mengenal Jlitheng sebagai mana adanya?“ “Tidak Kiai” jawab Jlitheng dengan serta rnerta “Apa yang nampak hanyalah sekedar untuk menyelamatkan Lumban Wetan dari ketidak adilan. Yang aku lakukan tidak lebih dari apa yang dimiliki oleh anak-anak Lumban Wetan dan anak- anak Lumban Kulon” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya “Jadi angger masih tetap terselubung bagi anak-anak Lumban” “Ya. Tetapi nampaknya tidak akan lama lagi” jawab Jlitheng. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara itu, Jlitheng seolah-olah tidak menyadari lagi apa yang dilakukannya. Dihadapan orang tua itu, seolah-olah Jlitheng merasa mempunyai kewaj iban untuk melaporkan apa saja yang diketahuinya. Meskipun semula ia sama sekali tidak bermaksud mengatakan sesuatu tentang orang-orang Sanggar Gading, namun terloncat juga kata-katanya “Hari ini adalah hari yang menentukan Kiai“ “Apa?“ bertanya orang tua itu “Apakah yang angger maksud menentukan itu?“ Jlitheng termangu-mangu sejenak. Tetapi serasa memang diluar kuasanya untuk menahan dir i. Maka katanya “Orang- orang Sanggar Gading akan datang memenuhi permintaan Daruwerdi yang sudah menunggu. Pusaka yang disembunyikannya akan ditukarkannya dengan seorang yang menurut anggapannya, telah membunuh ayahnya” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Peristiwa yang gawat sekali. Angger, mungkin ada sesuatu yang dapat aku ceriterakan kepadamu. Aku sudah menduga, bahwa masalahnya akan menjadi bersusun seperti ini” “Apa yang Kakek maksudkan?“ bertanya Jlitheng. “Aku memang melihat apa yang terjadi di bendungan” berkata Kiai Kanthi “Tetapi sebenarnya yang menarik perhatianku bukan peristiwa dibendungan itu sendir i. Karena itulah, maka aku tidaK dapat melihat dengan pasti, apa yang telah terjadi” “Lalu, apakah yang menar ik perhatian kakek pada saat itu?“ bertanya Jlitheng. “Aku melihat dua orang yang berada disekitar arena perkelahian itu” berkata Kiai Kanthi ”Aku tidak tahu pasti, siapakah mereka itu. Namun nampaknya kedua orang itu adalah orang-orang yang datang seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Di daerah Sepasang Bukit Mati ini telah pernah datang orang-orang dari, padepokan Kendali Put ih, orang- orang Pusparuri yang telah berhubungan langsung dengan Daruwerdi, dan sekarang akan datang orang-orang Sanggar Gading. Agaknya kedua orang yang aku lihat itu juga mendengar tentang kedatangan orang-orang Sanggar Gading itu” Jlitheng menegang sejenak. Dipandanginya wajah Kiai Kanthi dengan tatapan mata yang tajam Kemudian terdengar ia berdesis “Kiai melihat kedua orang itu?“ “Ya. Aku melihat mereka. Tetapi nampaknya mereka tidak terlalu dekat dengan arena. Karena itu pulalah aku tidak tahu pasti apa yang telah terjadi diarena itu pula meskipun aku dapat menduga-duga” berkata Kiai Kanthi. “Apakah Kiai melihat, kemana kedua orang itu pergi?“ bertanya Jlitheng. Kiai Kanthi menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak dapat mengikuti mereka ngger. Selain hari menjadi semakin cerah, akupun menduga, bahwa keduanya memiliki ketajaman perasaan. Jika keduanya mengetahui bahwa aku mengikut inya, maka persoalannyapun akan segera bergeser pula” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Dua orang itu tentu orang-orang yang telah menemui anak-anak Lumban Wetan dan mengatakan kepada mereka, bahwa keduanya akan siap membantu anak-anak Lumban Wetan dalam perselisihan mereka dengan anak-anak muda Lumban Kulon” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Nampaknya kedua orang itu memang sengaja berada di daerah Sepasang Bukit Mati ini justru pada saat-saat yang penting bagi orang-orang Sanggar Gading dan angger Daruwerdi” “Mungkin sekali” jawab Jlitheng “Tidak mustahil bahwa diantara mereka yang berada di dalam lingkungami satu gerombolan sebenarnya adalah orang dari gerombolan yapg lain, sehingga dengan demikian orang itu akan dapat member ikan keterangan tentang rahasia gerombolan yang satu kepada yang lain” “Jika demikian, maka akan terjadi satu peristiwa yang sangat, menarik di daerah Sepasang Bukit Mati ini” gumam Kiai Kanthi “Sudah barang tentu kedua orang itu tidak hanya sekedar akan melihat-lihat apa yang akan terjadi. Mungkin ia menunggu satu peristiwa yang penting, yaitu saat penyerahan pusaka itu kepada orang-orang Sanggar Gading. Kemudian mereka akan merampas pusaka itu langsung dari orang-orang Sanggar Gading itu setelah mereka memperhitungkan dengan cermat kekuatan di masing-masing pihak. Namun mungkin pula mereka akan langsung menyerang dan merebut Pangeran yang akan dijadikan bahan penukar dari pusaka itu, yang kemudian akan dibawa kepada Daruwerdi dan dengan demikian, merekalah yang akan mendapat pusaka yang dijanjikan. Karena Daruwerdi tidak membuat hubungan khusus dengan orang-orang Sanggar Gading, tetapi juga dengan orang-orang Pusparuri dan bahkan siapapun juga yang akan berhasil membawa Pangeran itu kepadanya” “Keadaan mungkin akan berkembang tanpa dapat dikendalikan Kiai” berkata Jlitheng tetapi bagaimana menurut pendapat Kiai, Apakah sebaiknya kita mencari kedua orang itu dan kemudian menahan mereka agar mereka tidak sempat member ikan laporan kepada pihak manapun juga?” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Angger. Aku adalah orang yang sama sekali tidak terlibat ke dalam persoalan pusaka itu. Karena itu, maka aku kira aku tidak akan dapat memberikan pendapat yang pasti akan menguntungkan salah satu pihak” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengerti Kiai. Tetapi apakah menurut penilaian Kiai, aku juga termasuk salah satu pihak yang akan memperebutkan pusaka itu?“ Kiai Kanthi mengangguk sambil tersenyum. Katanya “Ya ngger. Apapun alasannya, angger termasuk salah satu pihak yang ingin menguasai pusaka itu. Bahkan angger adalah orang yang bekerja paling cermat dan mempergunakan waktu yang paling lama untuk menekuninya, sehingga anak-anak muda Lumban menganggap bahwa angger adalah benar-benar anak Lumban” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian hampir diluar sadarnya ia berdesis “Apakah Kiai tidak termasuk diantara mereka? Apakah benar bahwa Kiai datang kemari hanya karena telah terjadi bencana alam di tempat tinggal Kiai yang lama, atau justru bencana alam itu merupakan satu kebetulan yang dapat mendorong Kiai datang ke tempat ini tanpa dicurigai oleh segala pihak?” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tempat ini memang sangat menarik bagiku. Disini aku mendapatkan kemungkinan yang luas untuk mengembangkan satu padepokan. Seperti yang angger lihat, aku sudah mulai memperkembangkan daerah ini. Airpun terdapat melimpah, asal kita mampu mengendalikannya. Dengan demikian, maka kemungkinan bagi masa depan dapat aku tumbuhkan di tempat ini” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Kiai, Benar atau tidak benar aku tidak akan dapat membuktikannya, kecuali jika pada suatu saat Kiai telah mengambil bagian langsung dan apalagi berhasil menguasai pusaka itu” Kiai Kanthi tertawa. Katanya “Kau bergurau ngger. Tetapi baiklah. Kita akan melihat apa yang akan terjadi di daerah Sepasang Bukit Mati ini. Bagiku mata air di bukit ini telah member ikan kebahagiaan melampaui apa saja. Namun manusia kadang-kadang didorong oleh sesuatu yang tidak dimengertinya sendiri hal yang terakhir linilah yang tidak dapat aku katakan sebelumnya ngger” Wajah Jlitheng menjadi tegang. Namun kemudian terdengar suara seorang gadis dari balik dinding “Ayah terlalu berhati-hati dan terlalu bijaksana. Bahkan berlebih-lebihan. Pertanyaan-pertanyaan serupa pernah aku dengar meskipun dengan kata-kata yang lain. Dan ayah masih saja. melayaninya” “Ah“ desah Kiai Kanthi “Jangan hiraukan ngger” Jlitheng temangu-mangu sejenak. Namun kemudian diluar sadarnya hatinya bagaikan luluh. Katanya “Maaflah aku kakek. Mungkin aku terlalu mendesak kakek dalam pembicaraan ini” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Panggilan itu lebih semanak ngger. Aku lebih senang mendengarnya” “Tetapi, sekali lagi aku ingin bertanya tentang kedua orang itu. Apakah kita akan membiarkannya?“ bertanya Jlitheng “Kakek memang tidak akan terlibat. Tetapi apakah tidak dapat member ikan petunjuk dengan satu angan-angan, seandainya kakek terlibat langsung dalam masalah ani” “Keterbukaanmu membuat aku tidak dapat mengelak ngger” jawab Kiai Kanthi “namun sebaiknya kau pecahkan sendiri persoalannya. Seandainya ada pihak lain yang ingin memperebutkan, apakah pusaka itu atau Pangeran itu sendiri, apakah keberatan angger?“ Pertanyaan itu mengejutkan Jlitheng. Sejenak ia termangu- mangu memandang wajah Kiai Kanthi. Namun nampaknya wajah itupun bersungguh-sungguh, sehingga Jlitheng mengerti, bahwa Kiai Kanthipun tidak sedang bergurau dalam hal ini. Namun karena Jlitheng tidak segera mengetahui maksud Kiai Kanthi, maka iapun bertanya “Apakah yang kakek maksudkan? Apakah kakek menganggap bahwa lebih baik aku minggir saja dari persoalan ini, dan kemudian acuh tidak acuh apa yang akan terjadi dengan pusaka itu atau Pangeran yang telah berhasil diambil oleh orang-orang Sanggar Gading itu, justru pada waktu Pangeran itu baru sakit?“ Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya “Bukan ngger. Bukan maksudku. Kau sudah menempatkan dirimu pada satu arah tertentu diantara mereka yang berkepentingan dengan pusaka itu dengan alasan yang berbeda-beda. Memang bukan waktunya lagi sekarang untuk menar ik diri. Justru pada saat ini, angger akan dapat menunjukkan siapakah angger yang sebenarnya dengan satu sikap dan tindakan yapg tepat” “Lalu, bagaimana dengan pertanyaan kakek itu?“ “Orang-orang Sanggar Gading akan membawa Pangeran itu ke daerah sepasang Bukit Mati ini” berkata Kiai Kanthi, sementara Jlitheng memotongnya “Ya. Selambat-lambatnya hari ini menurut keterangan Rahu yang tahu benar akan rencana itu” “Nah, mungkin sekali rencana itu telah didengar pula oleh orang-orang dari gerombolan yang lain. Mungkin oleh orang- orang Pusparuri, atau orang-orang Kendali Putih, atau orang- orang Gunung Kunir atau pihak yang lain, sehingga mereka merencanakan untuk mengambilnya dari tangan orang-orang Sanggar Gading. Apakah Pangeran yang akan dapat mereka tukar dengan pusaka itu, atau pusaka itu sendiri, setelah orang-orang Sanggar Gading menyerahkan Pangeran yang dituntut oleh angger Daruwerdi itu” Kiai Kanthi melanjutkan. “Ya. Itulah yang kira-kira akan terjadi” desis Jlitheng “Dan Kiai masih bertanya, apakah keberatanku?“ “Angger belum memikirkan pertanyaanku, apakah keberatannya?“ ulang Kiai Kanthi. “Kakek memang aneh. Aku berkeberatan jika pusaka itu jatuh ke tangan siapapun yang tidak berhak. Jika para lietugas dari Demak datang mengambil pusaka itu dari tangan mereka, aku memang tidak berkeberatan. Tetapi kitapun tidak luku. apakah para pemimpin di Demak sendiri tidak ada secara pribadi niat untuk memiliki pusaka itu” “Angger benar” jawab Kiai Kanthi “Tetapi aku tidak mengatakan bahwa angger dapat melepaskan pusaka itu kepada siapapun juga. Aku hanya mengatakan, apakah keberatan angger jika kelompok-kelompok itu atau gerombolan-gerombolan itu saling memperebutkan pusaka itu. Sekali lagi, saling memperebutkan. Mungkin akan terjadi pertempuran-pertempuran yang sengit dan mendebarkan. Mungkin mengerikan karena akan jatuh korban yang tidak terduga sebelumnya” Kiai Kanthi berhenti sejenak, namun kemudian “Kematian memang harus dihindari sejauh-jauhnya ngger, dalam penyelesaian masalah apapun juga Tetapi angger seorang diri tentu tidak akan dapat berbuat banyak menghadapi orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Pusparuri dan kelompok-kelompok yang lain. Karena itu, kenapa angger tidak membiarkan saja mereka saling-saling berebut pusaka itu, atau justru memperebutkan Pangeran yang sedang sakit itu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk- angguk ia berkata “Aku mengerti kakek. Agaknya kakek ingin melihat kelompok-kelompok atau gerombolan-gerombolan itu saling berbenturan. Saling bertempur memperebutkan pusaka atau Pangeran itu. Dengan demikian mereka akan menjadi ringkih karena mereka akan saling berbunuhan” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya “Angger akan memperhitungkan keadaan. Kemudian mengambil satu sikap. Tentu saja hal ini diperlukan ketrampilan berpikir. Namun bahwa angger telah menempatkan dir i di daerah Sepasang Bukit Mati ini, agaknya angger memang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia menyadari bahwa dipundaknya tertompang tugas yang berat. Bukan karena perintah dan bukan pula karena ia sudah tersudut pada suatu keadaan yang tidak dapat dihindarinya, bukan pula karena pamr ih dan ketamakan, tetapi rasa-rasanya ia telah terpanggil jiwanya untuk menyerahkan dir i ke dalam tugas itu. “Aku mengerti kakek” desis Jlitheng. “Nah, jika demikian, biar sajalah kedua orang itu berada disekitar daerah Sepasang Bukit Mati ini. Kita akan menunggu, apa yang akan terjadi hari ini. Mungkin siang nanti, mungkin sore, mungkin malam. Tetapi nampaknya daerah ini akan menjadi ajang pertumpahan darah yang sengit” desis Kiai Kanthi. Lalu “Namun agaknya orang yang pernah menyimpan pusaka itu di daerah ini sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu saat, daerah ini akan menjadi ajang pertentangan dan pertumpahan darah” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun kemudian seolah- olah diluar sadarnya la bertanya “Lalu dalam gejolak ini apakah yang akan Kiai lakukan? Berdiam diri? Atau berbuat sesuatu yang belum Kiai pertimbangkan sekarang?“ “Ah“ desah Kiai Kanthi “pertanyaan angger memang sulit untuk dijawab. Tetapi sekarang aku telah berada disini. Sengaja atau tidak sengaja. Sadar atau tidak sadar” Wajah Jlitheng menegang sejenak. Lalu “Aku mengerti. Jika banjir melanda kita, maka kita akan basah. Mau tidak mau. Tetapi aku tetap tidak mengerti, apakah kakek akan berenang kehulu atau keudik” Kiai Kanthi tersenyum. Katanya “Jangan hiraukan aku. Lakukanlah apa yang akan kau lakukan. Tumpuan segala harapan adalah pada Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan kau berhasil ngger” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia mendengar desis dibalik dinding. Ia mengerti bahwa Swasti sedang gelisah karena pembicaraan itu. Gadis itu bukan gadis kebanyakan dalam pakaian yang kusut dan tangan yang kotor karena kerja yang keras. “Baiklah kakek” berkata Jlitheng kemudian “Aku akan kembali ke Lumban. Disana ada orang Sanggar Gading, ada orang yang bernama Semi dan kawannya. Mungkin segalanya harus aku perhitungkan pada saat aku mengambil sikap. Tetapi bahwa pertempuran dan perebutan itu terjadi, aku tidak akan berkeberatan” Kiai Kanthi mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dipandanginya Jlitheng dengan saksama, seolah-olah ia ingin melihat, apakah tekadnya memang sudah bulat. Namun agaknya Jlitheng memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun ia hanya sendiri tetapi ia merasa bahwa ia akan dapat menempatkan dir i di dalam gejolak yang sedang terjadi itu. Karena itu, maka Jlithengpun segera minta diri. Ia harus berkemas sebaik-baiknya. Mungkin siang nanti, mungkin sore nanti atau malam nanti ia harus turun ke dalam satu kancah benturan kanuragan. Karena itu, maka Jlithengpun segera minta diri meninggalkan gubuk Kiai Kanthi. Ia harus siap dengan pedang tipis yang akan sangat berguna baginya. Pedang tipis, salah satu dari beberapa jenis senjata yang dapat dipergunakannya dalam keadaan yang paling gawat. “Aku mempunyai beberapa orang kawan disekitar daerah ini” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Namun setiap kali ia berniat untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi dengan terbuka, terasa ia menjadi ragu-ragu. Meskipun orang-orang itu mengenalnya dengan baik, bersikap baik dan bahkan sudah banyak memberikan bantuan kepadanya, namun dalam persoalan yang sangat penting, mereka masih tetap diragukan. Sepeninggal Jlitheng, Kiai Kanthipun kemudian memanggil anak gadisnya. Dengan segan Swasti mendekatinya dan duduk disebelahnya sambil berdesis “Ayah terlalu memanjakan anak Luraban itu” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya lunak “Swasti kadang-kadang seseorang memang harus melakukan sesuatu yang tidak diingininya” “Maksud ayah, bahwa ayah akan melibatkan diri ke dalam persoalan senjata atau pusaka yang sedang diperebutkan itu?“ bertanya Swasti. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya “Kita sudah berada di tempat ini Swasti. Dan kita mengetahui, sengaja atau tidak sengaja. Bahwa pusaka terpenting yang saat itu diserahkan kepada seorang Senapati besar di Majapahit untuk mempertahankan Kota Raja telah lenyap bagaikan tertelan bumi, Jejak pusaka itu hilang bersama meninggalnya orang yang membawanya. Namun akhirnya tercium pula berita, bahwa pusaka itu berada disekitar Sepasang Bukit Mati. Bahkan ada seorang anak muda yang mengaku memiliki atau mengetahui segalanya tentang pusaka itu” potong Swasti. “Daruwerdi, maksud ayah?“ “Ya. Memang agak aneh, bahwa Daruwerdi dapat menemukan pusaka itu. Ia masih terlalu muda untuk mengetahui tanpa ada orang lain yang memberikan keterangan yang pasti kepadanya. Tentu orang-orang yang sudah jauh lebih tua dari padanya. Mungkin sebaya dengan para Senapati yang pada saat itu mempertahankan Kota Raja dan terdesak keluar” berkata Kiai Kanthi. “Tetapi bukankah pusaka itu jejaknya hilang bersama kematian orang yang menyimpannya?“ bertanya Swasti. “Ya. Tetapi mungkin sebelumnya ia pernah berbicara dengan orang-orang tertentu tentang pusaka itu. Orang-orang itu akan dapat untuk seterusnya menutup mulutnya dan membiarkan pusaka itu tidak akan dapat diketemukan lagi. namun mungkin seseorang yang pernah mendengar rahasia pusaka itu dari orang yang menyimpannya, tidak lagi dapat bertahan untuk tetap diam. Mungkin oleh satu dorongan batin yang tidak dapat ditahankannya lagi, rahasia itu terloncat, sadar atau tidak sadar” “Seandainya demikian ayah, lalu apakah keuntungan ayah untuk melibatkan diri ke dalam persoalan pusaka itu? Ayah bukan prajurit, bukan pengawal dan bukan orang yang bernafsu untuk memiliki jabatan atau kedudukan tertentu karena tuah pusaka itu, dan apalagi karena pusaka itu, ayah akan dapat memegang pimpinan pemerintahan di neger i ini” gumam Swasti. Ayahnya tertawa kecil. Katanya “Swasti. Bukankah pernah aku katakan kepadamu, bahwa berbuat sesuatu itu kadang- kadang dilakukan tanpa pamrih. Memang jarang sekali terjadi bahwa yeng dilakukan itu tanpa pamr ih sama sekali. Misalnya aku berbuat sesuatu atas pusaka itu, secara langsung aku memang t idak akan mempunyai pamrih apa-apa. Tetapi bukankah kita mengetahui, bahwa jika pusaka itu jatuh keta- ngan orang atau sekelompok orang yang tidak berhak, maka akibatnya akan dapat merugikan banyak orang? Nah, itulah pamr ih kita Swasti. Agar pusaka itu tidak jatuh ketaaigan orang yang tidak berhak, sehingga akan menumbuhkan persoalan yang gawat dikemudian har i” “Jika yang gawat itu tidak akan menyentuh kita, bukankah kita dapat melepaskan dir i dari hubungan persoalannya? bertanya Swasti “Kau masih tetap seperti masa kecilmu. Mungkin akulah yang bersalah, karena dalam umurmu sampai har i ini, kau lebih banyak hidup agak terpisah dari orang banyak. Meskipun sekali-sekali kau juga bergaul di tempat kita yang lama, tetapi pergaulan itu sama sekali tidak memadai, sehingga kau lebih banyak memandang kepada dirimu dan dir i kita berdua saja. Sehingga semua putaran kepentingan selalu berpusar pada diri sendiri” berkata Kiai Kanthi. “Bukankah sebaiknya memang demikian? Jika semua orang hanya mengurus diri sendiri, tetapi juga tidak merugikan orang lain, maka aku kira tidak akan ada persoalan diantara manusia” berkata Swasti. “Kau salah Swasti” berkata Kiai Kanthi “Kau tentu mengerti, kenapa seseorang mengulurkan tangannya untuk memberikan sebungkus nasi kepada orang yang sedang kelaparan?“ “Keadaannya lain sekali ayah“ bantah Swasti “Orang kelaparan memang memer lukan pertolongan orang lain” “Dari segi orang yang menolong? Jika ia tidak berbuat apa- apa dan mengurusi dirinya sendiri, apakah akan lahir satu sikap untuk menolong?“ bertanya ayahnya. “Dan ayah akan menolong orang-orang yang sedang memperebutkan pusaka itu? Apakah itu bukan satu sikap sombong. Kita dapat memberikan sebungkus makanan kepada orang yang kelaparan karena kita mempunyai lebih. Tetapi apakah sekarang kita memiliki kelebihan dari mereka yang sedang memperebutkan pusaka itu?“ bertanya Swasti pula. “Swasti” berkata ayahnya “dalam perebutan pusaka itu mungkin kekuatan mereka seimbang. Sentuhan kecil saja tentu akan dapat menabah keseimbangan itu” Swasti mengerutkan dahinya. Namun ia tidak menjawab lagi. Ia tidak akan dapat membantah keinginan ayahnya, meskipun rasa-rasanya ia masih belum sependapat sepenuhnya. Kiai Kanthipun terdiam pula. lapun mengenal sifat anak gadisnya. Jika Swasti sudah diam, iapun lebih baik menjadi diam pula, karena jika ia berkata berkepanjangan, maka gadis itu tentu akan membantah lagi meskipun ia sudah tidak memikirkan alasannya, apakah sesuai atau tidak. Dalam pada itu. Jlitheng yang sudah ada dikaki bukit, telah dikejutkan oleh hadirnya beberapa orang di padang perdu. Untunglah, bahwa orang-orang itu belum melihatnya, sehingga ia sempat berlindung dibalik r imbunnya rerungkutan hutan dikaki bukit itu. Sejenak Jlitheng menunggu. Namun kemudian disadarinya, bahwa yang datang itu sama sekali bukan orang Sanggar Gading. Meskipun ia tidak lama berada dilingkungan orang- orang Sanggar Gading, namun ia tentu akan dapat mengenal satu dua orang diantara mereka. Sementara ia sendiri adalah orang yang sudah dianggap mati oleh orang-orang Sanggar Gading. Dalam pada itu, Jlithengpun melihat, bahwa orang-orang itu telah membuat tempat khusus untuk beristirahat. Mungkin mereka akan berada di tempat itu, untuk waktu yang agak panjang, menjelang kedatangan orang-orang Sanggar Gading. Bagaimanapun juga, Jlitheng sama sekali tidak berani mendekati mereka. Jlitheng yakin, bahwa diantara mereka tentu terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi, seperti juga pimpinan tertinggi dari padepokan Sanggar Gading. Namun dalam pada itu, setelah orang-orang itu mengikat kudanya pada batang perdu, kemudian satu dua orang diantara mereka menjatuhkan diri dan berbaring direrumputan kering, maka J lithengpun mulai ber ingsut justru menjauh. Setelah ia yakin bahwa orang-orang itu tidak akan melihatnya, dan tidak pula mendengar langkah kakinya, maka Jlithengpun segera mempercepat langkahnya kembali ke gubug Kiai Kanthi. Kedatangan Jlitheng yang tergesa-gesa membuat Kiai Kanthi terkejut. Sebelum ia sempat bertanya ternyata Jlitheng telah mendahului “Kakek, mereka telah datang” “Siapa?“ bertanya Kiai Kanthi heran. “Justru bukan orang-orang Sanggar Gading“ jawab Jlitheng “Mereka sedang beristirahat di padang perdu di bawah bukit ini” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku akan melihatnya” “Marilah, aku tunjukkan“ ajak Jlitheng. Sementara itu, Kiai Kanthipun kemudian masuk ke ruang belakang. Nampaknya ia ingin berpesan sesuatu kepada anak gadisnya. Namun Jlitheng telah mendengar gadis itu bertanya “Ayah akan pergi?“ “Ya Swasti. Aku harap kau dapat mengerti, bahwa mau tidak mau kita akan terlibat juga” sahut ayahnya “karena itu, kita lebih baik menempatkan diri sebelum kita tersudut pada suatu keadaan yang tanpa pilihan” Swasti tidak menyahut. Namun tiba-tiba saja ia berdesis “Aku akan ikut, ayah” Tetapi ayahnya menjawab “Jangan sekarang. Aku baru akan melihat siapakah orang yang datang itu. Aku akan segera kembali dan menentukan sikap. Namun nampaknya dalam beberapa hal, kita masih harus tetap menyembunyikan diri dari kenyataan kita” Meskipun kecewa, tetapi Swasti harus menurut nasehat ayahnya. Ia harus tinggal digubugnya sampai ayahnya menentukan satu sikap lebih lanjut. Demikianlah, Jlitheng dan Kiai Kanthi meninggalkan gubug itu. Mereka menelusuri jalan seperti yang ditempuh oleh Jlitheng ketika ia turun. Dengan demikian, maka merekapun segera sampai ke tempat yang dikatakan oleh Jlitheng. “Itulah mereka” desis Jlitheng. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya hampir berbisik “Sekelompok kekuatan yang nampaknya cukup besar. Aku krra mereka sudah siap menghadapi orang-orang Sanggar Gading. Mungkin mereka akan merebut Pangeran yang dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading itu. Kemudian orang itu akan menghubungi Daruwerdi” “Lalu, apakah yang sebaiknya kita kerjakan?“ bertanya Jlitheng. “Bukankah di Lumban ada seorang dari orang-orang Sanggar Gading yang memang ditinggalkan oleh kawan- kawannya untuk melihat suasana seperti yang pernah kau katakan?“ bertanya Kiai Kanthi “Ya” jawab Jlitheng “Rahu. Ia adalah orang Sanggar Gading. Namun seperti yang pernah aku katakan, ia sebenarnya adalah orang lain bagi Sanggar Gading” “Ya” sahut Kiai Kanthi “Tetapi cobalah katakan kepadanya, apa yang kau lihat disini. Nampaknya ia akan dapat membantumu mengambil sikap” “Baiklah Kiai” desis Jlitheng “Aku akan menemuinya. Lalu, bagaimana dengan Kiai?“ “Aku akan mengawasi mereka. Jika kau mendapatkan beberapa bahan tentang sikap yang sebaiknya kau lakukan, dan kau akan menemui aku, agaknya aku akan tetap berada di tempat ini. Tetapi j ika aku merasa bahwa aku tidak perlu tahu lebih banyak lagi, maka aku akan kembali ke gubugku” jawab Kiai Kanthi. Jlitheng mengangguk- iangguk. Lalu desisnya “Aku minta diri kakek. Aku akan bicara dengan Rahu” Demikianlah, maka Jlithengpun segera beringsut meninggalkan tempat itu. Agaknya segala sesuatunya memang sudah mulai. Dua orang yang dilihat oleh Kiai Kanthi, dan mungkin juga kedua orang itu pula yang telah menawarkan bantuannya kepada anak-anak muda Lumban Wetan, agaknya adalah dua orang dari kelompok itu pula. Dengan hati-hati Jlitheng menempuh jalan lain, turun dari lereng bukit. Ketika ia sudah berada didataran, maka seolah- olah ia telah berlari-lar i menuju ke Lumban Wetan, langsung ke banjar. Dan untunglah bahwa Rahu memang sedang berada di banjar bersama dua orang pemburu yang sudah lebih dahulu berada di banjar itu. Rahu dan kedua orang yang disebut pemburu itu terkejut melihat kedatangan Jlitheng, justru pada saat yang menegangkan. Karena itu maka Rahupun segera bertanya “Kau melihat orang-orang Sanggar Gading itu sudah datang?” Jlitheng menggeleng. Katanya “Bukan. Bukan orang Sanggar Gading” Rahu mengerutkan keningnya, sementara Jlithengpun duduk pula diantara mereka. “Menurut perhitunganku, orang-orang Sanggar Gading memang tidak akan datang pagi-pagi. Tetapi akupun sudah siap untuk menyongsong kedatangan mereka, meskipun aku masih harus menunggu di tempat yang sudah aku sebutkan kepada Cempaka waktu itu” berkata Rahu kemudian. Lalu iapun bertanya “Jadi siapakah yang datang itu?“ Jlitheng menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu siapakah yang datang. Sekelompok orang-orang berkuda. Namun agaknya merekapun memperhitungkan bahwa orang- orang Sanggar Gading tidak akan datang terlalu pagi” “Bagaimana kau tahu” bertanya Rahu. “Mereka kini sedang beristirahat. Nampaknya mereka memang tidak tergesa-gesa” jawab Jlitheng. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya “Menarik sekali. Berita orang-orang Sanggar Gading nampaknya memang sudah bocor. Tetapi hal itu wajar sekali. Tentu ada orang-orang Sanggar Gading sendiri yang telah membocorkannya. Seharusnya Cempaka dan kakaknya itupua telah memperhitungkannya” “Kau dapat member itahukan hal Itu kepada mereka” berkata Jlitheng. Rahu mengangguk-angguk. Sementara Semipun berkata “Daerah Sepasang Bukit Mati har i ini akan menjadi ajang pertempuran. Kematian akan benar-benar mewarnai daerah ini. Tanah akan menjadi merah, dan burung-burung gagak akan berbujana andra wina bersama anjing-anjing liar dari hutan” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Namun iapun berdesis “Permainan apakah sebenarnya yang dilakukan oleh Daruwerdi hari ini. Apakah ia sengaja melaksanankannya. atau kemungkinan semacam itu t idak disadarinya sebelumnya” “Jangan kau anggap anak itu bodoh” desis Rahu “Ia melakukan segalanya dengan penuh kesadaran, Perhitungannya cukup cermat, sehingga apa yang akan terjadi tentu sudah Diperhitungkannya pula” “Untunglah bahwa anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan hari ini tidak akan turun. Mereka bersepakat untuk bekerja dibendungan besok pagi. Hari ini mereka akan beristirahat. Mudahmudahan mereka tidur sehari penuh, sehingga mereka tidak akan terlibat ke dalam pergolakan yang jauh lebih berbahaya dari pergolakan dibendungan itu” gumam Semi. “Aku kira anak-anak Lumban Wetan benar-benar akan tidur sehari penuh” jawab Jlitheng “Tetapi aku kurang tahu apa yang akan dikerjakan Nugata hari ini. Mudah-mudahan ia masih merenungi kekalahannya dan t idak berbuat apa-apa” “Menurut pengamatanku, ia adalah anak muda yang terlalu serakah. Tetapi ada juga sifat-sifat licik pada anak itu. Karena itu, mungkin sekali ia dapat berbuat diluar dugaan, atau justru mengurung diri di rumahnya” desis Semi. Rahu mengangguk-angguk. Namun t iba-tiba ia berkata “Aku akan pergi. Aku mempunyai kewajiban bagi Sanggar Gading. Dan sampai saat terakhir aku akan melaksanakannya dengan baik” “Tetapi kau harus berhati-hati” berkata Jlitheng jika kau bertemu dengan orang-orang berkuda itu maka kau akan mengalami nasib yang sangat buruk. Mungkin dua orang yang pernah menawarkan dir i untuk membantu anak-anak Lumban Wetan adalah kawan-kawan mereka pula” Rahu mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Aku dapat mencari jalan yang lain jika kau menunjukkan arah orang- orang itu berist irahat seperti yang kau katakan” “Tetapi mereka tidak akan berkumpul tanpa berbuat apa- apa. Mungkin dua orang diantara mereka akan melihat-lihat daerah ini” berkata Jlitheng. “Aku memang harus berhati-hati. Tetapi bukan berarti bahwa aku tidak akan melakukan kewajibanku sebagai orang Sanggar Gading” jawab Rahu. “Kau dapat menyelubungi dirimu dengan penyamaran. Kau dapat berpakaian seperti para petani di Lumban sehingga kau akan dapat berada di pategalan sebagaimana orang-orang Lumban. Jika kau bertemu dengan dua atau tiga orang diantara mereka, kau tidak akan menarik perhatian. Sementara orang-orang Sanggar Gading sendir i, tentu tidak akan keliru karena mereka mengenalmu dengan baik. Apalagi Cempaka” berkata Jlitheng. Rahu merenungi pendapat Jlitheng itu sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Katanya “Mungkin itu lebih baik. Tetapi bagaimana dengan senjataku. Aku terbiasa membawa pedang, bukan parang pembelah kayu” “Kau samarkan sarung pedangmu dengan kulit kayu. Kau bawa pedangmu dengan cara yang tidak laj im. Jika. kau berada dipategalan, kau dapat meletakkan pedang itu ditempat yang mudah kau capai, sementara kau dapat melindungi dirimu dengan pisau-pisau. He, bukankah kau juga. terbiasa mempergunakan pisau-pisau kecil? Sebelum kau dapat menggapai pedangmu, pisau-pisau itu akan menolongmu” jawab Jlitheng. Rahu tersenyum. Jawabnya “Terima kasih. Pendapatmu baik. Aku akan melakukannya” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum pula sambil menjawab “Aku mengenal daerah ini lebih baik daripadamu. Maaf, bahwa aku sudah mengajarimu” Semi dan kawannyapun tertawa pendek. “Maksudmu baik” berkata Semi “Rahu tentu akan mendengarkannya” Sebenarnyalah bahwa Rahupun kemudian membenahi pakaiannya sebagaimana seorang petani. Diselipkannya pedangnya di bawah ikat pinggangnya seperti seseorang membawa parang, meskipun agak panjang. Sementara sebilah pisau belati terselip pula dipinggangnya meskipun tersembunyi. Dalam pada itu, ketika Rahu siap untuk berangkat, maka Jlithengpun berkata “Aku akan pergi bersamamu sampai ke ujung padukuhan. Aku akan membawa cangkul agar tidak seorangpun yang menjadi heran karena itu sudah pekerjaanku. Tetapi nanti, kaulah yang akan membawanya sampai kepategalan. Rahu tertawa pendek. Katanya “Kau teliti sekali. Kau memperhitungkan segala kemungkinan sampai yang sekecil- kecilnya. Tetapi kau memang seorang yang memiliki kemampuan penyamaran yang luar biasa. Kau dapat sekasar orang-orang Sanggar Gading yang lain ketika kau berada di padepokan itu. Dan kaupun dapat menjadi seorang petani dungu disini. Namun pada suatu saat. kau bangkit menyelamatkan Kabuyut-an Lumban Wetan dari ketidak adilan dengan secuwil ilmumu” “Ah, sudahlah” potong Jlitheng “Jika kau akan berangkat, berangkatlah” Jlitheng berhenti sejenak, lalu katanya kepada Semi dan kawannya “Apakah kalian akan diam saja disini?“ Semi menarik nafas dalam-dalam. Kalanya “Aku sedang memikirkan, apakah yang sebaiknya aku lakukan sekarang ini Duduk disini sambil menunggu hiruk pikuk terjadi di bukit gundul, atau berkeliaran di jalan-jalan untuk melihat sepasukan yang kuat memasuki Daerah Sepasang Bukit Mali, atau berburu ke hutan di lereng Gunung dan singgah di rumah orang tua itu sambil melihat-lihat orang-orang yang sedang beristirahat seperti yang kau katakan. “Kaupun harus melihat suasana” berkata Jlitheng “hadirlah dijalur jalan yang akan dilalui oleh orang-orang Sanggar Gading” “Orang-orang Sanggar Gading mengenal aku dengan baik sebagai adik Rahu. Bukankah aku memperkenalkan dir iku sebagai adiknya juga pada saal kau pertama kali datang ke rumah kami?“ bertanya Semi. “Ya. Tetapi sekarang bagaimana?“ bertanya Jlitheng. “Rencanakan apa yang ingin kau lakukan. Akukan merencanakan sendir i, apa yang sebaiknya aku lakukan dalam keadaan seperti ini” jawab Semi. Rahu tertawa pula. Katanya “Jlitheng merasa dir inya tuan rumah disini. Tetapi sekali lagi, maksudnya baik. Dan darah kepemimpinan ayahnya memang mengalir di dalam tubuhnya. Seharusnya kau mengucapkan terima kasih” “Ah“ desah Jlitheng “Jangan mengejek begitu. Yang menjadi Senapati Agung adalah ayahanda. Bukan aku. Maaf jika aku member ikan beberapa usul. Tetapi maksudku baik seperti yang dikatakan Rahu” Semipun tertawa. Jawabnya “Sudahlah. Berangkatlah jika kau mau berangkat, agar kau tidak terlambat menanggapi perkembangan keadaan. Rahupun kemudian berangkat diikuti oleh Jlitheng sebagaimana dikatakannya. Memang t idak ada scorangpun yang merasa aneh melihat Jlitheng berjalan bersama orang yang tidak begitu mereka kenal sambil membawa cangkul. Meskipun orang-orang itu kadang-kadang, memandang Rahu sampai berpaling. Tetapi orang itu memang tidak begitu mereka kenal sehingga merekapun tidak banyak menghiraukannya. Dalam pada itu, ketika Rahu dan Jlitheng telah berada di regol padukuhan yang menghadap kepategalan yang ker ing, maka Jlithengpun menyerahkara cangkulnya sambil berkata “Pergilah. Jika kau bertemu dengan orang lain. maka mereka ykan mengira bahwa kau akan pergi kepategalan. Meskipun pategalan itu kering, kau dapat juga menyebut alasan apapun juga dengan cangkulmu itu” Rahu tidak membantah. Iapun menerima cangkul itu, iapun kemudian pergi kepategalan sebagaimana orang-orang penduduk Lumban. Namun ternyata orang-orang padukuhan Lumban Wetan sediri tidak scorangpun yang pergi kepategalan disaat terakhir. Mereka sedang sibuk memanfaatkan air yang sedikit di sawah-sawah mereka. Demikian Rahu lepas dari pandangan Jlitheng, maka Jlithengpun segera kembali ke banjar. Ia tidak banyak bertemu dengan anak-anak muda, karena sebagian dari mereka benar-benar sedang beristirahat. Sebagian besar dari mereka telah t idur nyenyak di rumah masing-masing. Hanya mereka yang mempunyai keperluan yang sangat penting sajalah yang terpaksa keluar rumah dengan malasnya Di banjar Semipun telah siap untuk berangkat. Namun nampaknya Semi dan kawannya cenderung untuk tetap mengenakan kelengkapan berburu. Dengan kuda mereka yang tegar, keduanya akan menuju ke bukit kecil, tempat tinggal Kiai Kanthi. “Aku akan berusaha menghindari orang-orang itu” berkata Semi “sementara jika disepanjang jalan aku bertemu dengan orang-orang mereka yang sedang mengawasi keadaan, aku kira merekapun tidak akan lebih dari dua orang” “Tetapi perkelahian yang mungkin terjadi akan memancing orang-orang itu untuk bergerak” berkata Jlitheng. “Aku tidak akan melepaskan musuh-musuhku kembali kepada induk pasukannya, atau akulah yang tidak akan mengganggu mereka lagi untuk seterusnya” jawab Semi. “Kau sudah ditulari watak orang-orang Sanggar Gading” desis Jlitheng. “Aku adalah adik salah seorang kepercayaan seorang pemimpin muda dari padepokan Sanggar Gading” jawab Semi sambil tersenyum. Jlithengpun tersenyum pula. Namun ia tidak menjawab lagi. Dalam pada itu, dilepaskannya kedua orang pemburu itu dalam kelengkapan berburunya. Busur anak panah seendong penuh. Tombak pendek dan pedang. Pada ikat pinggang kedua pemburu itu terdapat dua bilah pisau belati kecil. Namun ternyata dipelana kudanya, pisau-pisau semacam itu terdapat cukup banyak. Sejenak kemudian, kedua ekor kuda itupun berderap meninggalkan banjar. Demikian mereka bergerak, Semi masih bertanya “Bagaimana dengan kau? Jlitheng tidak sempat menjawab. Semi dan kawannya telah berderap meninggalkannya. Sepeninggal Semi dan kawannya, Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ternyata yang menggelisahkan itu akan segera terjadi. Orang-orang Sanggar Gading akan segera datang membawa Pangeran yang malang itu untuk diserahkan kepada Daruwerdi. Sementara Daruwerdi akan menyerahkan sebilah pusaka kepada orang-orang Sanggar Gading. Namun kemudian, apakah yang akan dilakukan oleh Daruwerdi atas Pangeran itu. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun ia memang tidak akan dapat tinggal diam menghadapi persoalan yang su dah mulai berasap itu. Dalam pada itu maka Jlithengpun melangkah dengan kepala tunduk pulang ke rumahnya. Sekali-sekali ia bertemu dengan orang-orang yang menyapanya. Bahkan anak-anak muda yang merasa sangat berterima kasih kepadanya, menyapanya dengan cara yang berbeda dengan kebiasaan mereka dan bahkan ada yang agak berlebih-lebihan, karena bagi mereka Jlitheng adalah lambang dari kesuburan Kebuyutan Lumban Wetan. Ia adalah orang yang berhasil menguasai dan mengarahkan air di bukit bersama orang tua yang tinggal di-bukit itu, yang bercita-cita untuk membuat sebuah padepokan kecil. Kemudian ia pulalah yang telah menyelamatkan air yang sudah berhasil dikuasai itu dari ketamakan orang-orang Lumban Kulon. Tanpa diduga-duga sama sekali, ternyata Jlitheng memiliki kemampuan yang melampaui kemampuan kawan-kawannya. Termasuk sepuluh orang terbaik dari Lumban Wetan. “Biar lah mereka beristirahat hari ini” berkata Jlitheng di dalam hatinya ketika ia melihat seorang anak muda yang terkantuk-kantuk berdiri di depan regol rumahnya. Namun anak muda itu bertanya kepadanya “Kau tidak beristirahat sama sekali Jlitheng?“ Jlitheng tersenyum. Katanya “Aku akan pulang dan tidur sehari penuh, He, apakah kau juga t idak t idur” “Aku baru saja terbangun. Kemudian makan dan melihat- lihat orang lewat. Sebentar lagi, akupun akan tidur lagi” jawab anak muda itu sambil menguap. Diluar sadarnya, Jlithengpun telah menguap pula. Sambil tersenyum ia berkata “Kantukmu menjangkiti aku pula. Sudahlah. Aku akan tidur sampai besok pagi. Sehari semalam” Anak di regol itu tidak menjawab. Tetapi ketika Jlitheng menjadi semakin jauh, ia benar-benar kembali masuk ke biliknya dan berkerudung kain panjang sambil membar ingkan dirinya untuk tidur lagi. Ketika Jlitheng sampai di rumah dilihatnya ibunya sibuk mengambil air. Dengan tergesa-gesa Jlitheng mendekatinya sambil berkata “Sudahlah biyung. Biar aku mengisi jembangan di dapur” “Kemana saja kau semalam Jlitheng” bertanya ibunya “air di jambangan ker ing dan air dipakiwanpun habis pula. Kemar in kau tidak mengisinya” “Ah. aku terlupa ibu. Kawan-kawan sibuk dengan bendungan. Dan akupun berada dibendungan pula” jawab Jlitheng. “Bagaimana dengan bendungan? Aku dengar bendungan dan pintu air itu akan diperbaiki” bertanya ibunya. “Ya. Mungkin besok, mungkin lusa” jawab Jlitheng sambil menarik senggot t imba. “Kayu bakarpun hampir habis” berkata ibunya “sesudah mengisi jambangan dan pakiwan, kau masih harus membelah kayu bakar” “Baik biyung. Tetapi biyung tentu sudah merebus jagung” sahut Jlitheng. “Pagi ini aku tidak merebus jagung. Aku merebus ketela pohon” jawab ibunya. “Menyenangkan sekali. Tentu dengan gula kelapa” desis Jlitheng. “Tidak” jawab ibunya. “O. Jadi?“ bertanya Jlitheng agak kecewa. “Dengan kelapa dan garam” “Enak sekali” sahut Jlitheng kemudian “Sudah lama biyung tidak merebus ketela pohon dengan kelapa dan garam. Sesudah aku selesai mengisi jambangan, aku akan makan dahulu sebelum aku membelah kayu” Ibunya tidak menjawab. Ditinggalkannya Jlitheng disumur dengan timba upih untuk mengisi jambangan di dapur dan dipakiwan. Dalam pada itu, setelah pekerjaan Jlitheng selesai, dan sesudah ia makan beberapa kerat ketela pohon rebus, maka mulailah ia membelah kayu di belakang kandang. Namun dalam pada itu, sambil menyiapkan parangnya, Jlitheng telah melihat senjata-senjatanya yang disebunyikannya, karena ia sadar, bahwa ia akan memerlukannya. Namun dalam pada itu, Jlitheng masih juga berusaha melalukan pekerjaannya sebaik-baiknya tanpa memberikan kesan apapun juga kepada ibunya. Ia masih tetap berbuat seperti yang dilakukannya sehari-hari. Demikian ia selesai membelah kayu, maka iapun memasuki kandang seperti biasanya. Namun dalam pada itu, ia mulai menimang senjata-senjatanya yapg disiapkannya. Pedang tipisnya dan ikat pinggangnya yang khusus, tempat ia menyimpan paser-paser kecilnya. Tetapi Jlitheng merasa gelisah untuk tetap berada di- rumahnya. Ia mulai membayangkan, bahwa di daerah Sepasang Bukit Mati telah berkeliaran orang-orang yang saling bermu-suhhan. Orang-orang yang sudah siap saling membunuh untuk memperebutkan sesuatu yang masih belum begitu jelas, karena semuanya baru didasarkan pada keterangan-keterangan yang ternyata masih harus dibuktikan kebenarannya. Namun mereka percaya bahwa di daerah Sepasang Bukit Mati memang terdapat sebilah pusaka bertuah yang akan dapat member ikan kemampuan kepada seseorang yang memilikinya untuk memangku kedudukan yang paling tinggi sekalipun. Namun sebagian diantara mereka percaya bahwa pusaka atau tempat penyimpanannya akan dapat member ikan petunjuk tentang harta kekayaan yang tidak ternilai harganya. Dengan tuah pusaka itu dan dengan dukungan harta kekayaan yang tidak ternilai harganya, maka ada kepercayaan bahwa seseorang memang akan dapat mencapai cita-cita yang paling tinggi sekalipun. Karena itulah, maka Jlithengpun mulai mempertimbangkan, apakah yang sebaiknya dilakukannya. Rahu telah berada dipategalan untuk menunggu hadirnya orang-orang Sanggar Gading. Semi dan kawannya telah berada di bukit sebelah, di dalam hutan dengan kelengkapan berburunya, namun yang sebenarnya adalah kelengkapan bertempur. Sementara di lereng bukit itu pula terdapat sekelompok orang-orang berkuda yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Mungkin ia akan bertindak sebelum orang-orang Sanggar Gading menyerahkan Pangeran itu, namun mungkin pula ia akan bergerak setelah orang-orang Sanggar Gading menerima pusaka seperti yang di janjikan oleh Daruwerdi. “Daruwerdi memang Gila“ desis Jlitheng “Ia telah melakukan satu permainan yang paling gila. Ia mengundang pertumpahan darah dan kematian untuk memdapatkan sekedar kepuasan pribadi seandainya benar, bahwa alasannya satu-satunya mengambil Pangeran itu adalah karena Pangeran itu telah membunuh ayahnya. Karena itulah, maka Jlithengpun kemudian merasa perlu untuk mempersiapkan dir inya. Ia tidak dapat menunggu dan bertindak setelah serah terima itu selesai. Ia harus mengambil satu kesempatan. Jika ia tidak menemukan kesempatan, itu, maka ia harus bekerja lebih keras lagi jika pusaka itu sudah berada di tangan orang-orang Sanggar Gading. “Apaboleh buat” berkata Jlitheng di dalam hatinya “Aku tidak boleh terlambat. Meskipun mungkin aku akan menarik perhatian orang-orang yang melihat aku berjalan dijalan padukuhan sambil membawa senjata” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya di dalam hatinya pula “Untunglah aku membawa senjataku dan menyimpannya disini. Jika senjata itu masih aku tinggalkan di tempat persembunyiannya itu. aku akan kehilangan waktu untuk mengambilnya” Dalam pada itu, Jlithengpun kemudian memutuskan untuk pergi ke bukit gundul. Ia akan mengawasi bukit itu dari tempat yang tersembunyi. Ia akan memilih tempat yang paling baik. mumpung tempat itu masih belum dibayangi oleh kekuatan-kekuatan yang akan saling berbenturan. Namun bagaimanapun juga, Jlitheng masih akan berusaha untuk tidak terlalu menarik perhatian. Ia masih akan berusaha untuk menyamarkan senjata yang akan dibawanya, meskipun ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, maka iapun segera mengemasi dir inya. Dengan jantung yang berdebar-debar, bahkan hampir diluar sabarnya, ia telah pergi menemui ibunya di dapur. “Biyung“ suara Jlitheng menjadi datar “Aku mohon dir i. Aku akan pergi kesawah” Ibunya terkejut. Tidak terbiasa baginya, Jlitheng minta diri dengan cara yang demikian. Biasanya Jlitheng menjenguk saja dipintu sambil berkata “Aku pergi biyung” Jlitheng melihat sesuatu terbersit dihati ibunya. Namun rasa-rasanya ia memang harus minta diri dan balikan minta doa restu. Karena itu, maka Katanya “Di sawah telah menunggu tugas penting yang harus aku lakukan biyung” “Tugas apa Jlitheng?“ bertanya ibunya. “Kami sedang mempersiapkan bendungan yang lebih baik biyung, agar sawah kita mendapat air lebih banyak lagi. Tanaman akan menjadi hijau dan tingkat kehidupan kita dipadukuhan ini akan bertambah baik” jawab Jlitheng. Biyung yang tua itupun kemudian bangkit berdiri. Dengan tatapan mata yang dalam ia melangkah mendekati Jlitheng sambil berkata dengan nada berat “Sikapmu agak lain Jlitheng. Wajahmu nampak bersungguh-sungguh. Betapa bodohnya orang tua ini, namun sebenarnyalah bahwa aku sudah menduga bahwa kau mengemban satu tugas yang tidak aku mengerti. Setiap kali kau pergi dugaanku itu menjadi semakin kuat. Dan akupun sudah menduga pula, bahwa pada su-atu saat kau akan datang kepadaku, minta diri untuk satu tugas yang gawat. Sekarang, ternyata kau sudah melakukannya” Jlitheng menundukkan kepalanya. Iapun mengerti, bahwa perempuan yang sudah merasa dirinya sebagai orang tuanya itu, tentu telah dijalari pula oleh sentuhan-sentuhan jiwani karena getar jiwanya sendiri. “Jlitheng” berkata perempuan tua itu “Aku t idak wenang untuk mencegahmu. Pergilah, meskipun aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan. Aku akan berdoa bagimu, mudahmudahan kau dapat melakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya, selamat dan berarti bagi sesama. Aku tahu bahwa dalam tugasmu kali ini kau tentu tidak sekedar berbuat sesuatu bagi Lumban Wetan atau bahkan Lumban seluruhnya. Kau tentu bekerja untuk sesuatu yang lebih besar dan lebih berarti” perempuan itu berhenti sejenak, lalu “Aku berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Mudahmudahan yang kau lakukan selalu dalam bimbingannya dan menjelujur dijalan kebenaran” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ibunya yang tua dan sederhana itu mempunyai penggraita yang tajam, sehingga dapat menangkap apa yang tidak pernah dikatakannya, namun yang tergetar dihatinya. Ketika ibunya yang tua itu kemudian memegang kedua pundaknya, terasa seluruh kulit ditubuh Jlitheng meremang. Apalagi ketika orang tua itu kemudian mengusap rambutnya, sambil berkata “Jika Yang Maha Kuasa mengkurniakan keselamatan kepadamu, jangan lupakan aku ngger” Jlitheng menahan nafasnya. Ketika ia mengangkat wajahnya memandang sepasang mata ibunya, hatinya semakin tergetar. Perempuan itu menitikkan air mata. “Apa yang diketahuinya tentang tugasku” bertanya Jlitheng di dalam hatinya. Namun iapun kemudian kembali dalam kesadarannya, bahwa perempuan itu tidak ubahnya lagi sebagai ibu kandungnya, sehingga terdapat ikatan yang paling halus dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. “Jangan menangis biyung” berkata Jlitheng “Aku akan melakukan tugasku sebaik-baiknya. Dan aku akan kembali ke rumah ini, karena aku memang tidak mempunyai lagi tempat tinggal, orang tua dan apapun juga kecuali biyung disini” Perempuan itu mengangguk kecil. Ia mencoba tersenyum betapa pahitnya. Kehadiran seorang anak laki-laki muda itu membuat rumahnya bagaikan bertenaga. Namun anak muda itu kini minta dir i untuk meninggalkannya, sebagaimana memang sudah diduganya dengan gelisah sejak beberapa lama. “Pergilah” desisnya kemudian. Jlithengpun kemudian mencium tangan perempuan yang sudah mulai berkeriput karena garis-garis umurnya yang semakin tua. Ketika ia beringsut surut, Jlitheng masih melihat perempuan itu mengusap matanya, yang basah meskipun ia masih juga tersenyum. Dengan hati yang berat, Jlithengpun kemudian meninggalkan rumahnya yang telah dihuninya beberapa lama bersama seorang perempuan tua yang mengakunya sebagai anak laki- lakinya yang telah pergi untuk waktu yang sangat lama dan kembali kepelukan biyungnya. Bukan sekedar mengaku dalam hubungan kewadagan, namun perempuan itu benar-benar menganggap Jlitheng sebagai anaknya lahir dan batin. Seperti yang dilakukan oleh Rahu, maka Jlitheng berusaha menyembunyikan pedang tipisnya di bawah kain panjangnya. Kemudian menutupi ikat panggangnya dengan paser-paser kecilnya. Anak muda itu berjalan dengan tergesa-gesa lewat jalan-jalan pintas untuk menghindar i sejauh mungkin berjumpaan dengan orang-orang Lumban. Pada saat itu, dipodoknya Daruwerdi sudah siap menunggu. Ia sudah meletakkan segalanya di Bukit Gundul. Seperti yang pernah dikatakannya kepada orang-orang Sanggar Gading, maka serah terima akan dilakukan di Bukit Gundul itu pula. Demikian orang-orang Sanggar Gading datang dan menyerahkan Pangeran itu, maka ia akan menyerahkan pusaka seperti yang dijanj ikan kepada orang- orang Sanggar Gading. “Aku akan minta Pangeran itu terikat dan tidak berdaya“ berkata Daruwerdi kepada diri sendiri, karena iapun sudah memperhitungkan bahwa Pangeran itu tentu memiliki kemampuan yang tinggi. “Aku tidak mau gagal karena kelengahan semata-mata, setelah sekian lamanya aku menunggu” berkata Daruwerdi. Namun dalam pada itu, selagi ia menunggu, maka ia telah dikejutkan oleh kehadiran seorang perempuan tua dengan dua orang pengiringnya langsung ke rumah Daruwerdi. “Ibu“ Daruwerdi menyongsongnya dengan tergesa-gesa “Kenapa ibu datang kemar i? Semuanya sudah aku siapkan. Jika ada salah langkah yang betapapun kecilnya, maka semuanya akan dapat gagal sama sekali” “Aku tidak sampai hati kau membiarkan berbuat segalanya seorang diri” berkata Ibunya “Sudah aku katakan kepadamu, kau dapat mengambil siapa saja yang kau kehendaki. “Sudah aku jawab, bahwa tidak memerlukan siapapun juga untuk sementara” jawab Daruwerdi “J ika aku memerlukan, aku akan segera memberitahukan” “Tetapi kau sedang bermain api Daruwerdi” berkata perempuan yang dipanggilnya ibu. “Tanpa bermain api, segalanya tidak akan selesai” jawab Daruwerdi “Bukankah ibu menghendaki juga agar segalanya cepat berakhir sampai tuntas?“ “Tetapi akhir yang aku kehendaki, apakah sama dengan akhir yang kau artikan?“ bertanya ibunya. “Apapun nanti yang akan terjadi, biarlah aku menerima Pangeran itu. Jika ia sudah berada di tanganku, segalanya akan dapat diselesaikan” jawab DaruwerdL “Terserah kepadamu ngger, tetapi aku sengaja mengajak kedua orang pamanmu untuk mendampingimu. Aku percayai kepada keduanya, bahwa keduanya tidak akan berbuat apa- apa, selain apa yang aku katakan” berkata ibunya kemudian. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku berterima kasih bahwa paman berdua bersedia hadir di tempat ini. Tetapi untuk sementara biarlah paman keduanya mengawani ibu disini. Karena ibu sudah terlanjur berada di tempat ini, maka aku mohon, ibu jangan meninggalkan rumah ini apapun yang mungkin terjadi. Seperti yang sudah aku katakan, jika satu saja langkah yang salah dari seribu langkah yang sudah aku persiapkan, maka semuanya akan dapat menjadi gagal” Ibunya menundukkan kepalanya. Tetapi masih terdengar perempuan itu berdesis “Sekali lagi aku minta, jangan sakiti badannya dan yang sakiti pula hatinya” Daruwerdi mengatupkan giginya rapat-rapat Tetapi yang kemudian terloncat dari bibirnya adalah jawabannya “Sudah aku katakan. Aku t idak akan berbuat apa-apa” Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ya. Kau tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi aku menjadi gelisah sekali” “Ibu. tidak usah memikirkannya lagi” geram Daruwerdi ”apakah keuntungannya? Semua itu adalah persoalanku. Tugas yang dibebankan diatas pundakku. Betapapun seseorang mampu menahan sakit hatinya, namun ada hal-hal yang wajar, bahwa aku akan berbuat sesuatu” namun segera dilanjutkannya “tanpa menyakit i badannya dan yang meragukan, apakah aku t idak akan menyakit i hatinya” “Kau harus mengusahakannya” desis ibunya. “Ya. Ya. Aku akan berusaha sedapat-dapat aku lakukan untuk tidak menyakit i hatinya. Tetapi itu bukan persoalan ibu” jawab Daruwerdi. “Dalam kegelisahan inilah, maka aku telah memanggil kedua pamanmu. Sama sekali tidak untuk menunggui aku disini, karena ia akan dapat membantumu” berkata ibunya “Bukan maksudku menolak uluran tangan paman berdua. Tetapi sementara ini, biarlah paman berada disini bersama ibu. Semata-mata untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan. Aku tidak mau gagal karena persoalan yang tidak menguntungkan sama sekali dan mungkin tidak ada gunanya. Jika orang-orang Sanggar Gading melihat aku tetap seorang diri, maka mereka, tidak akan melakukan tekanan kekerasan, karena mereka merasa aman. Dan segalanya akan dapat berjalan tanpa kecurigaan” berkata Daruwerdi. -oo0dw0oo-

Jilid 14
“Tetapi bagaimana jika orang-orang Sanggar Gading itu menyalahi janji?” gumam ibunya. “Mereka tidak akan berbuat demikian. Mereka memerlukan pusaka itu. Dan mereka tidiak akan mencelakai aku karenanya” jawab Daruwerdi. “Sesudah pusaka itu kau berikan?” berkata ibunya pula. “Apa gunanya mereka berkhianat? Setelah pusaka itu aku berikan, bukankah lebih baik bagi mereka untuk segera meninggalkan tempat ini, karena ada kemungkinan- kemungkinan lain yang mungkin akan mengganggu? Mereka tentu mempertimbangkan kehadiran orang-orang Kendali Putih, orang-orang Pusparuri atau orang-orang dari perguruan yang lain yang semuanya menginginkan pusaka itu. Sementara mereka mengetahui bahwa Pangeran itu telah diambil oleh segolongan dari mereka yang menginginkan pusaka itu, maka mereka tentu akan bertindak lebih jauh” jawab Daruwerdi. Lalu “Nah, itulah maka aku tidak ingin ada orang lain yang dapat memancing kecur igaan orang-orang Sanggar Gading, Jika aku sendiri, mereka tidak akan menghiraukan aku lagi. Mereka tidak akan mempertimbangkan kemungkinan, bahwa aku akan merampas kembali pusakaku” Perempuan Itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia t idak membantah lagi. Agaknya Daruwerdi sudah mempertimbangkan segala-galanya dengan masak, sehingga la tidak akan dapat merubah keputusannya. Karena perempuan itu tidak menjawab, maka Daruwerdi berkata lagi “Karena itu ibu, aku persilahkan ibu berada di tempat Ini dengan tenang. Serahkan segalanya kepadaku. Demikian pula, dengan ucapan terima kasih aku persilahkan paman menunggui ibu, Hanya dalam keadaan yang memaksa, aku akan mohon bantuan paman berdua” Kedua orang laki-laki yang bertubuh tegap dan kekar itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk- angguk Merekapun telah mengenal watak dan tabiat Daruwerdi dengan baik. Dalam pada itu Daruwerdipun berkata pula “Sudahlah ibu berada diruang dalam. Aku sedang menunggu orang-orang Sanggar Gading. Salah seorang dari mereka akan datang dan member itahukan kepadaku, apabila kawan-kawan mereka datang. Hari ini adalah hari terakhir. Jika hari ini mereka tidak datang, maka segala pembicaraan dengan orang-orang Sanggar Gading dianggap tidak pernah ada, dan agaknya apa yang mereka katakan tentang Pangeran itu hanya sekedar ceritera bohong belaka” Perempuan, itu menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian bangkit dan berjalan keruiang dalam diikuti oleh kedua orang yang datang bersamanya. Namun dalam pada itu, perempuan itu berkata “Daruwerdi, bagaimana jika terjadi kecurangan yang lain” “Maksud ibu?“ bertanya Daruwerdi. “Mereka tidak membawa Pangeran itu” jawab ibunya “Jika mereka mengatakan, maka mereka sekedar memancingmu. Kemudian mereka menangkapmu dan memaksamu menunjukkan dimana pusaka itu” “Tidak akan mereka lakukan” berkata Daruwerdi “Aku adalah satu-satunya orang yang mengetahui tentang pusaka itu menurut dugaan mereka. Mereka tidak akan berbuat apa- apa terhadapku” “Justru karena itu. Mereka dapat menyiksamu sampai kau mengatakannya” berkata ibunya lebih lanjut. Tetapi Daruwerdi tertawa. Katanya “Aku mempunyai gelembung-gelembung racun. Gelembung-gelembung racun itu ada dimulutku, saat aku menemui orang-orang Sanggar Gading. Jika mereka berkhianat, maka gelembung getah beracun itu akan dapat aku telan, sehingga tidak seorangpun akan dapat menyelamatkan aku. Dan ceritetia tentang pusaka itu akan lenyap bersama nyawaku” “Jangan” desis perempuan itu. “Ibu. Ingat. Aku sekarang adalah Daruwerdi yang mempunyai sikap dan perhitungan tersendir i. Ibu harus menyadari kedudukanku dan siapa aku sekarang ini” berkata Daruwerdi. Ibunya menundukkan kepalanya. Tetapi setitik air telah mengalir dipipinya. Namun demikian ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Iapun kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke ruang dalam diir ingi oleh kedua orang yang disebutnya sebagai paman Daruwerdi itu. Ketika ketiga orang itu telah hilang dibalik pintu, maka Daruwerdi kembali duduk merenungi rencananya. Sementara segalanya akan berjalan dengan penuh kemungkinan. Dalam pada itu, ternyata di daerah sekitar Sepasang Bukit Mati itu telah berpencaran orang-orang menunggu peristiwa yang akan terjadi itu dengan hati yang berdebar-debar. Rahu yang berada dipategalan menunggu orang-orang Sanggar Gading di jalur jalan seperti yang sudah direncanakan. Semi dan kawannya telah berada di lereng bukit. Atas petunjuk Jlitheng ia berhasil mengamati orang-orang berkuda setelah menyimpan kudanya tidak terlalu jauh dari gubug orang tua di lereng bukit itu tanpa setahu penghuninya. Sementara Jlitheng telah menemukan tempat yang paling baik didekat bukit gundul. Namun selain mereka, ternyata dua orang yang sudah sejak hari sebelumnya berada di Lumban, bahkan telah melihat meskipun dar i kejauhan, bagaiman orang-orang Lumban saling memperebutkan air. Bahkan sambil berkelakar dengan kawannya orang itu sempat berkata “Alangkah dungunya anak-anak muda Lumban. Dalam keadaan seperti sekarang, mereka masih sempat memperebutkan air. Pada saat orang-orang yang memiliki penglihatan akan jauh kedepan sudah memperebutkan pusaka dan kemungkinan untuk mendapatkan derajad dan pangkat yang setinggi- tingginya, maka orang-orang Lumban masih saja bergulat dengan lumpur” Dan kawannya menjawab sambil tertawa tertahan-tahan “Itulah isi dari bumi. Tanpa orang-orang yang tidak bercita- cita seperti mereka, maka tidak akan ada orang yang bersedia berkumur lumpur. Kita dapat berbuat seperti sekarang, karena kita mempunyai kemampuan. Karena kita bersenjata dan dapat mempergunakan senjata. Tetapi dengan demikian kitapun telah bertaruh nyawa dalam setiap langkah kita. Berbeda dengan orang-orang bodoh itu” Kawannya tidak menyahut. Namun merekapun kemudian memperhatikan keadaan dengan saksama. Kawan-kawan kedua orang itulah yang kemudian datang dan beristirahat di bawah bukit berhutan itu. Karena itu, ketika kawan-kawannya telah datang, maka kedua orang itupun segera menemui mereka dan melaporkan apa yang telah mereka lihat di daerah Sepasang Bukit Mati itu. “Apakah kalian tidak melihat persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Daruwerdi?“ bertanya pemimpinnya. “Semalam ia masih menunggui anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon bertengkar memperebutkan air. Nampaknya Daruwerdii benar-benar itidak mempersiapkan sekelompok kecil sekalipun orang-orang yang akan membantunya dalam pelaksanaan penyerahan Pangeran itu” jawab salah seorang dari kedua orang yang telah datang lebih dahulu. “Kau yakin?“ bertanya pemimpinnya. “Ya. Aku menduga, bahwa Daruwerdi benar-benar akan menghadapi orang-orang Sanggar Gading itu seorang dir i. la akan menyerahkan pusaka yang dijanjikan dan menerima Pangeran yang lelah diambil oleh orang-orang Sanggar Gading itu” jawab orang yang telah mendahului itu. Pemimpinnya mengangguk-angguk. Tetapi katanya “Kita jangan terpancing oleh suasana itu. Mungkin disamping Daruwerdi sudah ada orang lain yang mendapat tugas untuk melakukan sesuatu, justru setelah serah terima itu dilaksanakan. Mungkin seorang kepercayaannya sudah siap dengan pasukan segelar sepapan. Mereka akan menyerap dan merampas kembali pusaka yang dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading” Memang mungkin. Tetapi aku sudah mengelilingi daerah di sekitar Sepasang Bukit Mati ini. Aku tidak melihat sesuatu kecuali anak-anak Lumban yang saling bertengkar karena air. Sementara Daruwerdi sendiri terlibat langsung dalam pertentangan dtu. Sehingga menurut pengamatanku, Daruwerdi tidak memper iapkan apapun juga menghadapi persoalan yang akan berlangsung itu” “Itu mustahil” jawab pemimpinnya “Ia tentu telah mengadakan persiapan apapun bentuknya. Kita jangan dikelabui dengan pengamatan yang salah” Orang-orang yang telah berada di Lumban lebih dahulu itu menjawab “Aku kira, aku sudah melakukan pengamatan sebaik-baiknya. Namun demikian kita masih mempunyai waktu” “Waktu kita sudah terlalu sempit. Menurut keterangan yang kita dengar, hari ini orang-orang Sanggar Gading akan datang” berkata pemimpinnya. “Lalu, apakah yapg akan kita kerjakan? Apakah kita akan mengambil Pangeran itu dari tangan orang-orang Sanggar Gading, atau kita akan mengambil pusakanya kemudian, setelah orang-orang Sanggar Gading itu menukarkan Pangeran itu dengan pusaka yang dijanjikan oleh Daruwerdi” bertanya pengikutnya. “Kita tidak terlalu bodoh untuk bertindak tergesa-gesa. Jika kita mencegat orang-orang Sanggar Gading sebelumnya, maka ada kemungkinan yang sangat buruk terjadi pada Pangeran itu” jawab pemimpinnya “Jika saatnya orang-orang Sanggar Gading harus mengakui kekalahannya, maka ia tidak akan dengan rela melepaskan Pangeran itu. Mereka tentu menganggap bahwa lebih baik semuanya tidak mendapatkan pusaka itu daripada gagal jatuh ditangannya. Orang-orang Sanggat Gading dapat membunuh Pangeran itu pada saatnya mereka melihat kenyataan, bahwa mereka tidak akan dapat mempertahankannya” “Tidak ada bedanya” jawab pengikutnya “Merekapun dapat menghancurkan pusaka yang telah berada di tangan mereka” “Mereka tidak akan berani melakukan terhadap pusaka yang dihormati oleh semua orang di wilayah Demak” jawab pemimpinnya “karena dengan demikian mereka akan dapat terkena kutuk dari pusaka ku. Bukannya disaat mereka hidup didunia ini, tetapi pada saat mereka mati, mereka masih akan tetap dijerat oleh kutukan pusaka itu” jawab pemimpinnya pula. Orang-orang yang bertugas untuk mengamati keadaan itu mengangguk-angguk. Merekapun percaya, seperti apa yang dikatakan oleh pemimpinnya itu, sehingga yang mereka lakukan kemudian adalah sekedar menunggu orang-orang Sanggar Gading datang ke daerah Sepasang Bukit Mati, menyerahkan Pangeran itu dan menerima pusaka yang dijanjikan oleh Daruwerdi. Baru setelah itu, maka mereka akan bertindak langsung untuk merampas pusaka yang diperebutkan itu. Meskipun demikian, pemimpin kelompok itupun sadar, bahwa ada beberapa pihak yang menginginkan pusaka itu, sehingga mungkin yang akan bertarung di daerah Sepasang Bukit Mati itu terdiri dari beberapa kelompok dari padepokan-padepokan yang memang sudah sejak lama mempersiapkan diri untuk mendapatkan pusaka itu. “Mudah-mudahan, tidak ada pihak lain yang mengetahui rencana orang-orang Sanggar Gading, bahwa mereka akan datang hari ini” berkata pemimpin kelompok itu. “Aku tidak melihat, kehadiran pihak lain di daerah Sepasang Bukit Mati ini” berkata pengikutnya pula. “Baiklah. Akan ada orang lain yang bertugas mengawasi keadaan” berkata pemimpinnya “Kau dapat beristirahat diantara kami “ Kedua orang itupun kemudian berkumpul kembali diinduk pasukannya, sementara orang lain mendapat tugas untuk mengamati keadaan disekitar daerah itu. Dalam pada itu, matahari beredar terus pada porosnya. Semakin lama semakin t inggi. Ketika puncak langit telah dilampauinya, maka matahari itupun mulai menurun ke arah Barat. Jlitheng benar-benar sudah basah oleh keringat. Tetapi ia tidak melihat seorangpun mendekati bukit gundul. Karena itu. maka iapun merasa jemu karenanya. Mungkin ia masih dapat berbuat sesuatu sebelum saat yang menegangkan itu terjadi. Namun dalam pada itu., orang-orang Sanggar Gadingpun telah menjadi semakin dekat. Mereka memasuki daerah Sepasang Bukit Mati dengan sangat hati-hati. Dua orang yang mendahului perjalanan iring- iringan sekelompok orang- padepokan Sanggar Gading mengamati keadaan dengan saksama. Tetapi nampaknya tidak ada hambatan yang berarti bagi perjalanan mereka. Ketika terik matahari bagaikan membakar pategalan yang kering, maka Rahupun seperti Jlitheng pula, hampir kehilangan kesabaran. Apalagi gersangnya pategalan sama sekali tidak memberikan kesejukan sama sekali. Beberapa batang pohon yang berdaun kekuning-kuningan telah melepaskan daun-daunnya selembar demi selembar jika angin mulai bertiup. Namun demikian, ada juga tempat yang dapat melindunginya dari jilatan panas matahari. Pada saat yang demikian, jalan-jalan diantara pategalan itupun menjadi lengang sunyi, seperti ditengah malam yang gelap pekat. Tidak ada seorangpun yang lewat, apalagi menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati. Ketika angin bertiup semakin kencang, terasa sejemput kesejukan mengusap wajah Rahu yang berdebu. Namjun dengan demikian, diluar sadarnya iapun telah menguap. “Gila“ geramnya “kantuk mulai menggangguku. Jika aku tidak mampu lagi bertahan, sementara dua orang yang tidak dikenal itu. menemukan aku disini dan sempat melihat senjataku, maka aku t idak akan dapat bangun lagi untuk selama lamanya” Karena itu, betapapun kantuk mencengkamnya, juga karena kelelahan dan kurang tidur, namun Rahu tetap bertahan untuk duduk bersandar sebatang pohon keluwih yang tumbuh di pategalan itu. Dalam pada itu, dalam kelengahan jalan menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati itu, tiba-tiba saja oleh pendengarannya yang tajam, terdengar derap kaki kuda mendekat. Untuk meyakinkan pendengarannya maka Rahupun telah menempelkan telinganya di tanah sambil mengerahkan kemampuan indera pendengarannya. Kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam “Dua atau tiga ekor kuda” Rahu berkisar. Ia duduk di belakang pohon keluwih, sehingga Ia tidak segera dapat dilihat oleh mereka yang lewat dijalan yang membelah pategalan itu. Semakin lama derap kaki kuda itupun terdengar semakin dekat. Rahu bergeser agar ia dapat terlindung. Namun dari tempatnya ia akan dapat mengint ip kuda yang bakal lewat di jalan beberapa langkah dihadapannya. Ketika dua ekor kuda menjadi semakin dekat, maka Rahupun berdesis pula “Hanya dua” sementara iapun mulai memperhatikan siapakah yang berada dipunggung kuda itu. Sejenak Rahu termangu-mangu. Yang datang dipunggung kuda itu bukannya Cempaka yang telah bersepakat sebelumnya untuk menemuinya di tempat yang sudah dijanjikannya, justru diantara tikungan dengan sebatang pohon yang sudah tidak berdaun lagi, diujung tegalan. “Tetapi nampaknya mereka mendapat pesan dari Cempaka” berkata Rahu kepada dir i sendiri. Meskipun Rahu mengenal keduanya dengan baik, tetapi seperti juga orang-orang Sanggar Gading yang lain, kadang- kadang mereka dibayangi oleh kecur igaan dan prasangka. Untuk meyakinkan dugaannya, Rahu tidak segera menyapanya. Dibiarkannya kedua orang penunggang kuda ku menelusuri jalan pategalan itu. Bahkan, Rahupun justru berusaha untuk mengamati dan mengikuti kedua orang itu dari dalam pategalan. Dengan hati-hati ia meloncat dari sebatang kayu ke sebatang kayu berikutnya, dan dari balak perdu yang kekuning-kuningan, kesegerumbul perdu yang lain. “Mereka asyik memperhatikan jalan yang dilaluinya” berkata Rahu di dalamhati. Sebenarnyalah, ketika mereka melewati ujung pategalan, salah seorang dari keduanya menunjuk sebatang pohon yang dimaksud oleh Cempaka. “Nampaknya mereka benar-benar atas nama orang-orang Sanggar Gading” desis Rahu “agaknya Cempaka member itahukan ciri itu kepada mereka” Karena itulah, maka Rahupun kemudian mendekati kedua orang yang masih beradar dipunggung kuda itu. Ketika tiba- tiba saja ia mendeham, maka kedua orang berkuda itu terkejut karenanya. Dengan serta merta keduanya berpaling sambil meraba hulu senjata masing-masing. “Rahu” tiba-tiba salah seorang dar i keduanya berdesis. “Ya” sahut Rahu “dimana Cempaka” “Ia berada dibelakang, bersama dengan seluruh kelompok” jawab orang yang masih berada dipunggung kuda itu. “Siapa yang memimpin kelompok itu?“ bertanya Rahu. “Yang Mulia sendir i” jawab penunggang kuda itu. Rahu mengerutkan keningnya Nampaknya pimpinan tertinggi dari padepokan Sanggar Gading itupun tidak mempercayai orang-orang yang selama itu menjadi kepercayaannya. Dalam tugas yang paling gawat, maka ia sendiri yang hadir untuk menyelesaikannya. “Apakah Cempaka berpesan sesuatu kepada kalian?“ bertanya Rahu kemudan. “Ya. Pohon yang tidak berdaun ditikungan” jawab salah seorang dari penunggang kuda itu “Tetapi nampaknya kau menunggu kami disini” “Terlalu panas ditikungan itu. Tidak ada selembar daunpun yang dapat melindungi aku dari terik matahari” jawab Rahu “Nah, sekarang apa rencana kalian?“ “Mendengar keteranganmu. Kemudian memberitahukan kepada Yang Mulia apakah diperjalanan ada hambatan atau tidak sama sekali“ jawab salah seorang dari penuugaug kuda itu. “Apakah Yang Mulia masih jauh?“ bertanya Rahu. Kedua orang berkuda itu menggeleng. Salah seorang dari keduanya menjawab “la berada diujung hutan perdu pada jalan simpang yang jarang dilalui orang, diseberang sungai” “Aku akan menemuinya” berkata Rahu ”Aku akan dapat melaporkan segala-galanya. “Apa ada sesuatu yang penting?” bertanya orang berkuda itu. “Ya. Jika kau tidak berkeberatan, kau berdua menunggu disini. Aku pinjamsalah seekor kuda kalian” sahut Rahu. “Dimana kudamu?“ bertanya orang berkuda itu. “Aku tinggal di padukuhan” jawab Rahu. Kedua orang itu saling berpandangan. Namun akhirnya salah seorang dari keduanya berkata “Baiklah. Tetapi cepat kembali. Kami berdua belum mengenal daerah ini” “Terima kasih. Sebaiknya kalian berlindung di pategalan itu saja, seperti yang aku lakukan. Berhati-hatilah menghadapi setiap kemungkinan. Di lereng bukit berhutan yang nampak itu, sekelompok orang-orang berkuda telah menunggu kedatangan orang-orang Sanggar Gading” “Kau tahu pasti?“ desis salah seorang dari kedua penunggang kuda itu. “Aku tahu pasti. Karena itu berhati-hatilah. Jika diantara mereka ada yang memasuki pategalan ini, berusahalah mempertahankankan dir i“ pesan Rahu. “Apakah mereka berkeliaran?“ bertanya kawannya yang baru datang itu. ”Aku tidak tahu. Tetapi menurut perhitunganku, terata ada diantara mereka yang mengamati daerah Sepasang Bukit Mati ini. Jika satu atau dua orang memasuki pategalan ini, terserahlah kepadamu. Tetapi lebih baik, jika mereka tidak pernah keluar lagi dari pategalan ini” jawab Rahu. “Ya. Mereka atau kami yang t idak akan pernah keluar dari pategalan ini” jawab salah seorang dari keduanya. “Baiklah. Berhati-hatilah. Aku pinjam seekor dari kedua ekor kuda itu” minta Rahu kemudian. Demikianlah, maka Rahupun memacu kudanya menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh kedua orang kawannya itu. Ia merasa tidak puas j ika ia tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Cempaka, atau lebih baik Sanggit Raina atau Yang Mulia sendir i. Tidak sulit bagi Rahu untuk menemukan dikelompok orang- orang Sanggar Gading yang berhenti di antara hutan, perdu seujung jalan setapak yang jarang dilalui orang. Ketika dua orang pengawas melihat seekor kuda berpacu, maka timbullah kecemasan dihati mereka. Mereka menyangka bahwa dua orang yang mendahului perjalanan mereka mengalami kesulitan, sehingga hanya seorang sajalah yang sempat kembali dengan selamat. Namun keduanya terkejut ketika mereka melihat, justru Rahulah yang sedang berpacu diatas punggung kuda itu. “Rahu” desis salah seorang dari mereka “kemana kedua orang yang telah mendahului iring-ir ingan ini?“ Kawannya tidak menjawab, sementara Rahupun menjadi semakin dekat. Kedua orang pengawas itupun kemudian dengan tergesa- gesa telah menyongsong Rahu, sementara Rahupun telah menarik kendali kudanya. Sebelum Rahu meloncat turun, salah seorang yang menyongsongnya itu telah bertanya “Apakah kau tidak bertemu dengan dua orang kawan kita yang mendahului perjalanan kami ke daerah Sepasang Bukit Mati?“ “Ya” jawab Rahu. “Bagaimana dengan mereka?“ bertanya seorang yang lain. “Tidak apa-apa. Aku memakai kudanya, sementara mereka menunggu” jawab Rahu. Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang berkata “Sukur lah. Lalu kenapa kau yang datang kemar i?“ Rahu tidak menjawab. Tetapi justru ia bertanya “Di mana Cempaka” “Ia berada diantara gerambul-gerumbul perdu itu” jawab salah seorang dari kedua pengawas itu. Rahupun kemudian meloncat turun dan menuntun kudanya berjalan diantara gerambul-gerumbul perdu. Beberapa orang yang ternyata berserakan diantara gerambul-gerumbul perdu dtupun berpaling. Mereka segera melihat Rahu yang berjalan diantara mereka. “He, kau Rahu” desis orang yang bertubuh gemuk. “Ya” sahut Rahu. Dan iapun bertanya “Dimana Cempaka?“ Sebelum orang bertubuh gemuk itu menjawab, maka terdengar jawaban dari arah lain “Aku disini, Rahu” Rahu berpaling. Dilihatnya Cempaka berbaring diatas rerumputan kering. Katanya “Kemar ilah” Rahupun mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. Lalu iapun duduk disamping Cempaka yang berbaring seorang diri, karena kawan-kawannya berserakkan beberapa langkah daripadanya. “Bagaimana?“ bertanya Cempaka. Rahupun kemudian menceriterakan bahwa ia bertemu dengan kedua orang yang mendahului perjalanan orang-orang Sanggar Gading dan kemudian dengan meminjam salah seekor kudanya ia sengaja menemui Cempaka. “Ada sesuatu yang penting?“ bertanya Cempaka. Rahupun kemudian menceriterakan pula keadaan daerah Sepasang Bukit Mati. Juga tentang kehadiran sekelompok orang-orang berkuda. “Dari padepokan manakah orang-orang itu?“ bertanya Cempaka. “Aku tidak tahu. Tetapi mereka berada di lereng bukit berbatu itu” jawab Rahu. Cempaka mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Marilah Kita berbicara dengan Sanggit Raina” Rahupun kemudian dibawa oleh Cempaka menemui Sanggit Raina untuk menceritakan kembali apa yang dilihatnya di daerah Sepasang Bukit Mati. “Orang-orang itu berbahanya bagi kita” gumam Sanggit Raina. “Ya. Apakah mereka harus dihancurkan lebih dahulu, atau kita akan bertemu dengan Daruwerdi dan menyerahkan Pangeran itu lebih dahulu” desis Cempaka. “Menurut pendapatku, kita harus menyerahkan Pangeran itu dahulu. Jika terjadi sesuatu dengan Pangeran itu, maka Daruwerdi akan dapat mengelak untuk menyerahkan pusaka yang dijanjikannya” jawab Sanggit Raina ”Namun demikian, aku akan berbicara dengan Yang Mulia. Kalian menunggu aku disini” Sanggit Rainapun kemudian pergi menemui Yang Mulia. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Sanggit Raina, seperti juga sikap Yang Mulia sejak berangkat, mereka menukarkan Pangeran itu lebih dahulu. Baru mereka akan menghadapi apa saja yang mungkin terjadi. Namun dalam pada itu, Yang Mulia telah mengambil keputusan untuk segera melanjutkan perjalanan, justru karena da pihak lain yang berada di daerah Sepasang Buka Mati, Sehingga dengan demikian, segalanya akan semakin cepat terjadi, apapun yang aikarj terjadi itu. Sejenak kemudian, orang-orang Sanggar Gading itu telah bersiap untuk berangkat. Mereka telah memegang kendali kuda masing-masing Ketika terdengar isyarat, maka merekapun segera berloncatan naik. Yang terada dipaling depan adalah Sanggit Raina, Cempaka Rahu yang menjadi petunjuk jalan, meskipun Cempaka juga sudah mengenal daerah itu sebaik-baiknya. Beberapa saat kemudian, mereka telah berpacu menuju ke pategalan, tempat kedua orang Sanggar Gading yang mendahului perjalanan itu menunggu. Namun dalam pada itu, telah terjadi sesuatu dengan kedua orang yang menunggu dipategalan. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Rahu, bahwa orang-orang yang berada di lereng bukit berhutan, telah mengir imkan dua orang untuk melihat-lihat daerah Sepasang Bukit Mati. Namun mereka telah mengelilingi daerah itu terlalu jauh. Mereka tidak memperhitungkan kemungkinan hadirnya orang-orang Sanggar Gading, meskipun mereka justru menunggu orang- orang Sanggar Gading. Karena itulah, maka ketika mereka melintas didekat pategalan, mereka telah terkejut mendengar suara seekor kuda mer ingkik. Sebenarnyalah, kedua orang Sanggar Gading yang berada di pategalan itu sudah berusaha untuk tidak menampakkan diri. Tetapi diluar perhitungan mereka, ternyata kudanya telah mer ingkik. “Aku mendengar suara seekor kuda” berkata salah seorang dari kedua orang yang mengamati daerah Sepasang Bukit Mati itu. “Tentu ada orang berkuda yang bersembunyi di dalam pategalan itu“ desis yang lain. “Persetan. Kita harus menemukannya” geram yang pertama. “Tidak ada gunanya” sahut kawannya “Kita akan melaporkan kepada pemimpin kita” “Kita harus membunuhnya. Mereka tentu mengamati kita. Mungkin mereka telalah orang-orang Sanggar Gading itu sendiri, yang Lari ini akan datang untuk menyerahkan Pangeran itu” berkata yang pertama. “Apakah keuntungannya” bertanya kawannya. “Orang itu tentu melihat kehadiran kita. Mereka akan dapat melaporkan kepada kawan-kawannya” sahut yang lain “Tidak ada salahnya. Kita sudah siap menghadapi orang- orang Sanggar Gading” “Tetapi kita harus membunuhnya, agar ia tidak dapat mencer iterakan apa yang dilihatnya tentang diri kita. Bukankah kita baru akan bertindak setelah tukar menukar itu terjadi” berkata orang yang pertama. Kawannya termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berkata “Terserahlah. Tetapi kematiannya bukaa berarti bahwa kita akan dapat berist irahat sambil tidur nyenyak. Bahwa seseorang atau dua orang Sanggar Gading tidak kembali keinduk pasukannya, akan merupakan perhatian tersendiri” “Mereka tidak akan membuang waktu untuk mengurusinya. Mereka tentu akan melaksanakan tukar menukar yang aneh itu” jawab yang lain “baru mereka akan mengurusi orang- orangnya yang hilang” “Tetapi kita tidak tahu, ada berapa orang dipategalan itu” desis yang lain “dua, tiga atau bahkan semua orang Sanggar Gading sudah ada di dalam pategalan itu” “Penakut” sahut kawannya “Aku akan melibatnya” kedua orang itupura kemudian turun dari kudanya dan menambatkannya pada sebatang pohon di pinggir jalan. “Aku akan melihat” “Kita bersama-sama” desis yang lain. Keduanyapun kemudian merayap memasuki pategalan menuju kearah ringkik kuda. Namun merekapun sadar, bahwa mungkin sekali orang-orang yang berada dipategalan itu sudah beringsut. Karena itu, maka mereka cukup waspada, bahwa tiba-tiba saja mereka ielah berada di dalamjebakan. Sebenarnyalah, kedua orang Sanggar Gading yang sadar, bahwa kudanya telah melakukan kesalahan, segera menentukan sikap. Mereka tidak menunggu saja didekat kuda yang meringkik itu. Tetapi mereka justru telah merangkak maju.Jika orang-orang berkuda yang lewat itu berusaha mencari mereka, maka keduanya akan menjebak mereka. Tetapi kedua orang Sanggar Gading itupun tidak berhasil Demikian mereka siap untuk menyergap, maka kedua orang berkuda tu sudah melihat dedaunan yang bergetar, sehingga merekapun mengerti, bahwa orang yang dicarinya telah menunggu. Karena itu, maka kedua orang iitupua justru berhenti. Melihat getar dedaunan itu, maka mereka dapat menduga, bahwa yang berada dibalik gerumbul itu tentu tidak terlalu banyak jumlahnya. Dengan demikian, demikian yakin mereka kepada diri sendiri, sehingga orang-orang itu tidak khawatir sama sekali, bahwa mereka akan mengalami kesulitan. Sejenak kemudian, maka kedua orang yang baru datang itu, terutama orang yang bernafsu untuk membunuh itu, telah berdiri tegak dan melangkah maju sambil berkata “Kalian tidak usah bersembunyi disitu. Karian tidak akan berhasil menjebak kami. Kemar ilah, berapapun jumlah kalian” Orang-orang Sanggar Gading yang kasar itu benar-benar tersinggung. Karena iu, maka merekapun segera berloncatan keluar. Salah seorang diantara mereka berkata lantang “Persetan dengan kalian, He, siapakah kalian dan dari kelompok yang mana?“ Kedua orang yang baru datang itu mengerutkan keningnya. Orang yang merasa dirinya terlalu yakin itupun memandang berkeliling sambil berkata “Mana kawan-kawanmu. Suruhlah mereka hadir disini” “Untuk apa?“ bertanya salah seorang dari orang-orang Sanggar Gading itu. Orang-orang yang baru datang itu justru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka menjawab “Kami siap menghadapi kalian. Menurut pengamatan kami, kalian tentu orang-orang Sanggar Gading” Kedua orang Sanggar Gading itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja salah seorang dari mereka berkata “Kau salah Ki Sanak. Aku justru sedang menunggu orang-Sanggar Gading” Kedua orang yang baru datang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang yang pertama bertanya “Jika kalian bukan orang Sanggar Gading yang menurut pendengaran kami akan datang har i ini, dari golongan yang manakah kalian berdua” Kedua orang Sanggar Gading itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja yang seorang menjawab “Kami adalah orang Kendali Putih” Jawaban itu mengejutkan kedua orang yang baru datang itu. Namun sejenak kemudian keduanya tertawa berkepanjangan. Salah seorang dari keduanya berkata “Bagus. Jika kau orang-orang Kendali Putih, kau tentu tahu, apakah yang sekarang dikerjakan oleh orang-orang Kendali Putih” Ketua orang Sanggar Gading itu terdiam. Dipandanginya kedua orang yang tertawa itu sejenak. Seolah-olah mereka memang membiarkan keduanya tertawa sepuas-puasnya. “Kalian memang bodoh sekali” berkata kedua, orang itu “dengan pengakuan kalian, aku justru semakin yakin bahwa kau adalah orang-orang Sanggar Gading” “Kami orang-orang Kendali Putih“ sekali lagi orang Sanggar Gading itu menjawab. “Jangan dungu. Jika kalian orang-orang Kendali Put ih, kalian tentu dapat menceriterakan serba sedikit tentang padepokan Kendali Putih” jawab kedua orang yang datang kemudian. “Apa artinya aku berceritera tentang padepokanku, tentang pemimpin-pemimpinku dan tentang rencana kami. Seandainya menyebutkannya, kalian tidak akan mengetahuinya pula” jawab salah seorang dari kedua orang Sanggar Gading itu. “O” Orang yang datang kemudian itu tertawa semakin panjang “betapa bodohnya kalian. Baiklah, Jangan sebut apapun tentang Kendali Putih, Memang tidak akan ada gunanya. Tetapi yang kalian lakukan adalah satu pengakuan, bahwa kalian memang orang-orang Sanggar Gading. Hari Ini orang-orang Sanggar Gading akan datang di daerah Sepasang Bukit Mati untuk membawa Pangeran itu” Orang itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi, baiklah. Jika kau memang bukan orang- orang Sanggar Gading, dan kalian mengaku orang-orang Kendali Putih, akulah orang-orang Sanggar Gading itu” Kedua orang Sanggar Gading itu termenung sejenak. Namun tiba-tiba saja salah seorang dari keduanya tertawa meledak, sementara yang lain tersenyum sambil berkata “Memang lucu sekali. Kau terlalu cepat menganggap kami orang-orang yang sangat bodoh. Bahkan dungu. Baiklah, jika demikian. Kau akan segera memastikan bahwa kami adalah orang-orang Sanggar Gading, karena tingkah laku kami merupakan pengakuan Tetapi sebenarnya bahwa yang kau lakukan itupun suata pengakuan, bahwa kau adalah orang- orang Kendali Putih Bukankah begitu? Jika kau menganggap kami terlalu bodoh maka kamipun menganggap kalian demikian juga” Kedua orang yang sebenarnya memang orang-orang Kendali Put ih itu termangu-mangu. Namun kemudian merekapun tertawa. Salah seorang dari mereka berkata “Katakanlah kau benar, bahwa aku orang Kendali Putih, atau orang manapun juga. Namun bagi kau berdua, tidak akan ada bedanya” “Mungkin demikian” berkata orang-orang Sanggar Gading “senjata kami memang tidak pernah memilih korban” Kedua orang Kendali Putih itu menggeraikan keningnya. Ternyata orang-orang Sanggar Gading itulah yang justru telah mengancam lebih dahulu. Karena itulah agar mereka tidak terpengaruh oleh kegarangan lawannya, salah seorang Kendali Putih itupun berkata ”Kami datang dengan kepentingan yang khusus. Kami mendengar kudamu meringkik. Tidak seorangpun yang boleh mengetahui bahwa kami berada didaerah Sepasang Bukit Mati ini. Karena itu, nasibmu memang buruk sekali. Kudamu tidak berhasil membantumu, justru telah menjerumuskan kalian berdua ke dalam kematian” Tetapi orang-orang Sanggar Gading adalah orang-orang kasar. Mereka adalah orang-orang yang bercanda dengan maut sejak mereka melampaui padang kematian menjelang padepokan Sanggar Gading. Karena itu, maka merekalah yang tidak telaten berbincang dengan orang-orang Kendali Putih. Maka katanya “Kita tidak usah banyak bicara. Kau tentu ingin membunuh kami karena kami mengetahui kehadiran kalian. Tetapi kamipun ingin membunuh kalian berdua karena kalian berada disini” Kedua orang Kendali Putih itupun ternyata tidak kalah kasarnya. Keduanya bahkan segera bersiap dengan senjata mereka. Sambil bergeser mereka mengacungkan senjatanya itu “Rundukkan kepalamu Aku akan memenggalnya” Orang-orang Sanggar Gadipg tidak menjawab. Tetapi senjata mereka telah teracu. Bahkan sejenak kemudian mereka mulai menggerakkan senjata mereka. Salah seorang dari kedua orang Sanggar Gading itu berkata “Jangan banyak bicara lagi. Kalian akan mat i terkapar dipategalan ini” Orang-orang Kendali Putih tidak menjawab. Namun merekapun segera bergeser maju. Sentuhan senjata mereka telah disusul dengan loncatan-loncatan yang cepat. Serangan demi serangan telah melibat mereka ke dalam satu pertempuran yang sengit. Ternyata orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih itu memiliki kemampuan yang seimbang. Mereka saling menyerang dan menghindar. Desak mendesak silih berganti. Masing-masing ternyata telah berusaha untuk bertempur seorang melawan seorang, sehingga sejenak kemudian dipategalan itu telah terjadi dua lingkaran pertempuran yang seru dan kasar. Semakin lama pertempuran itu menjadi semakin sengit. Orang-orang Kendali Putih yang garang, harus mengakui betapa kasar dan tangguhnya orang-orang Sanggar Gading. Meskipun demikian, namun orang-orang Sanggar Gading itupun tidak mampu mendesak lawannya, karena orang-orang Kendali Putih itupun dapat bergerak dengan tangkas dan cepat. Namun demikian, ternyata bahwa kemampuan kedua orang Sanggar Gading dan kedua orang Kendali Putih itu tidak sama. Karena itulah, maka yang terjadipun tidak sejalan pula. Orang Kendali Putih yang bernafsu membunuh orang-orang yang berada dipategalan itu telah berhasil mendesak lawannya. Tetapi sebaliknya, kawannya telah mengalami tekanan yang terasa semakin lama menjadi semakin berat. “Gila“ geram orang Kendali Putih itu “Jangan kehilangan kebesaran nama Kendali Put ih. Bunuh saja lawanmu” Tetapi orang Sanggar Gading itu berkata “Akhir dari pertempuran ini tidak ditentukan oleh kemampuan kita berteriak-teriak Tetapi senjata kitalah yang akan lebih banyak menentukan” Orang Kendali Putih itu menggeram. Yang seorang dari keduannya telah mendesak lawannya semakin berat. Namun dalam pada itu, yang seorang lagi telah mengalami kesulitan untuk menghindarkan dir i dar i ujung senjata lawannya. Tetapi orang Sanggar Gading yang mendapat lawan yang berat itu tidak cepat menjadi putus asa. Meskipun lawannya memiliki kekuatan raksasa, namun ia beruraha untuk mengimbangi kekuatan lawannya itu dengan kecepatan bergerak. Karena itulah, maka lapun berusaha untuk bertempur dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Bahkan kadang-kadang ia harus meloncat menjauh. Berputar dan kemudian menyerang dengan cepatnya. Nampaknya usahanya itu dapat berhasil. Tekanan orang- orang Kendali Put ih itu terasa tidak lagi terlalu berat. Meskipun demikian, ia harus memeras tenaganya habis-habisan untuk dapat bergerak cepat. Karena jika ia menjadi lamban dan lawannya itu mampu mengimbangi kecepatan geraknya, maka ia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi, karena ternyata lawannya mempunyai kekuatan yang lebih besar. Tetapi ternyata ketahanan hati dan kekasaran orang Sanggar Gading itu berhasil membuatnya mampu bertahan beberapa saat. Dan hal itu ikut menentukan pula akhir dari pertempuran itu, karena keseimbangan pada lingkaran pertempuran yang lain semakin berguncang pula. Orang Sanggar Gading yang lain, telah berhasil menguasai lawannya. Kemampuannya menggerakkan senjata ternyata telah membuat orang Kendali Put ih itu menjadi bingung- Kadang-kadang bahkan ia telah kehilangan arah, sehingga serangan-serangan berikutnya adalah serangan-serangan yang sangat berbahaya baginya. Kawannya yang melihat, berusaha untuk segera menyelesaikan pertempuran agar ia dapat membantunya. Tetapi orang Sanggar Gading yang bertempur melawannya, ternyata mampu untuk bertahan lebih lama. Dengan loncatan- loncatan panjang dan serangan yang tiba-tiba. Meskipun orang Kendali Putih itu memiliki kekuatan yang lebih besar, tetapi ia sulit untuk bergerak secepat lawannya. Orang Kendali Putih itu terkejut ketika tiba-tiba saja ia nendengar kawannya berdesah panjang. Ketika ia sempat menengoknya, ia melihat darah mulai menitik dari tubuhnya. “Gila“ geram orang Kendali Putih itu. Meskipun kawannya yang terluka itu masih berusaha untuk bertempur terus, betapapun ia cepat menjadi lemah, namun dar i pertempuran itu sudah pasti. Dengan demikian, maka kemarahan telah memuncak di hati orang Kendali Putih yang seorang. Dengan garang ia menggeram “Kaulah yang dungu. Kenapa kau sampai terluka. Jangan lengah. Kau adalah orang-orang yang termasuk dalam sejumlah kecil orang-orang yang dapat dibanggakan, karena kau dapat diterima diantara mereka yang sedikit di padepokan Kendali Putih” Orang itu terdiam karena lawannya, orang Sanggar Gading, telah menyerangnya dengan cepat mengarah kemulutnya. “Orang Gila“ geram orang Kendali Putih itu. Sebenarnyalah orang yang sudah terluka itu masih berusaha untuk mengerahkan sisa kemampuannya. Betapun berat tekanan lawannya, namun ia tidak menyerah dan berputus asa. Sementara itu, orang Kendali Putih yang seorang lagi, berusaha untuk mendesak lawannya. Ternyata ia memiliki tenaga dan ketahanan tubuh yang luar biasa. Karena itu, maka ia berhasil memaksa lawannya yang mampu bergerak lebih cepat itu untuk memeras tenaga. Dalam pada itu, maka orang Kendali Putih itu seolah-olah tidak lagi berusaha untuk menghindari setiap serangan. Tetapi ia selalu membenturkan kekuatannya. Menangkis semua serangan sehingga dalam benturan kekuatan, ia berusaha untuk dengan cepat membuat tenaga lawannya susut. Ternyata usahanya itupun berhasil. Meskipun orang Sanggar Gading itu mampu bergerak cepat, tetapi benturan- benturan yang terjadi telah membuat tangannya menjadi sakit dan tenaganyapun menjadi susut Meskipun demikian, ia masih sempat berloncatan. Sekali sekali ia sempat menyerang dari arah yang sama sekali tidak diduga oleh lawannya. Ketika lawannya membenturkan senjatanya, maka orang Sanggar Gading itu telah dengan cepatnya berhasil mengelabuinya. Benturan itu tidak terjadi, tetapi sen jata orang Sanggar Gading itu berputar dengan cepat. Satu loncatan kecil telah menggeser arah serangan orang Sanggar Gading itu, sehingga orang Kendali Putih itupun tidak sempat mengelak lagi. Dengan demikian, sebuah goresan telah menyobek pundaknya. Meskipun tidak begitu dalam, tetapi terasa luka itu menjadi pedih oleh ker ingat yang membasah. Orang Kendali Putih itu menggeram. Kawannya telah terluka, dan ia sendiri terluka pula. Namun dalam pada itu, orang Kendali Putih itupun kemudian menjadi semakin garang. Meskipun lawannya mampu bergerak cepat, tetapi melawan tenaga yang besar dan kemarahan yang membara, maka orang Sanggar Gading itu harus sangat berhati-hati karenanya. Tetapi suatu ketika, orang Sanggar Gading itu telah membuat satu kesalahan. Ketika serangannya dapat ditangkis, ia segera menarik senjatanya meloncat kesamping. Namun ternyata lawannya sudah memperhitungkannya. Karena itu, maka lawannya telah memotong geraknya dengan sebuah ayunan senjata yang sangat kuat. Orang Sanggar Gading itu terkejut. Dengan serta merta ia menangkis serangan itu, karena ia sudah tidak mendapat kesempatan untuk meloncat menghindar. Namun ternyata benturan yang terjadi telah berakibat gawat baginya. Kekuatan orang Kendali Putih itu ternyata tidak terlawan lagi oleh orang Sanggar Gading itu, sehingga ia tidak berhasil mempertahankan senjatanya. Karena itulah, maka senjatanyapun telah terlepas dari tangannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh lawannya. Sekali lagi ia menggerakkan senjatanya, tidak terlalu keras dalam ayunan mendatar. Yang terdengar adalah desahan panjang. Ternyata bahwa senjata itu telah menggores lambung. Kawannya, orang Sanggar Gading yang telah melukai lawannya, melihat kawannya terluka. Dengan suara bergetar karena marah ia berteriak “He, kenapa kau serahkan nyawamu pada orang gila itu. Bukankah kau telah berhasil melampaui padang kematian dan menjadi anggauta dari para cantrik dipadepokan Sanggar Gading?“ Orang yang terluka itu tidak sempat menjawab. Tetapi ia bergeser surut sambil memegang lambungnya yang terluka. Sementara itu lawannya tertawa berkepanjangan. Nampak oleh orang Kendali Putih itu, bahwa lawannya tidak akan dapat bertahan lagi. Ia akan segera mati dan kemudian ia akan dapat bertempur bersama kawannya yang terluka melawan orang Sanggar Gading yang seorang lagi. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja suara tertawanya telah terputus. Ia mendengar kawannya berteriak. Kemudian ia sempat melihat kawannya itu menggeliat dan jatuh di tanah. “Gila“ geramnya. Pada saat ia terpukau melihat kawannya terjatuh dan nampaknya tidak akan dapat bangkit kembali meskipun barangkali ia masih belum mat i. Karena itu, maka ia harus membuat perhitungan dengan cermat. Orang yang tergores lambungnya itu masih sanggup berdiri meskipun darah mengalir dari lukanya. Sementara kawannya dari Sanggar Gading itu telah terbebas dari lawannya yang terbaring di tanah. Karena itu, maka orang Kendali Putih itupun segera mengambil sikap. Ia tidak ingin tertangkap atau terbunuh. Sementara dua orang Sanggar Gading itu tentu akan menjadi lawan yang sangat berat baginya. “Jika aku mati, maka tidak akan ada orang yang member itahukan perist iwa ini kepada pimpinan kami yang menunggu di lereng bukit itu” berkata orang itu di dalam hatinya. Dengan demikian maka iapun harus mengambil keputusan dengan cepat, sebelum orang Sanggar Gading itu sempat mendekatinya. Disaat orang yang terluka lambungnya itu termangu- mangu, menunggu kemungkinan yang bakal terjadi atasnya, maka terjadilah sesuatu yang mengejutkannya. Orang Kendali Putih itu tidak memburunya dan mempergunakan kesempatan yang pendek sebelum kawannya dari Sanggar Gading membantunya. Namun bahkan orang Kendali Putih itu telah meloncat berlari meninggalkan arena. Orang yang terluka lambungnya itu tidak sempat meloncat mengejarnya karena perasaan pedih di lambungnya. Sementara itu, kawannya yang telah berhasil menjatuhkan lawannya itulah yang telah bersiap untuk mengejarnya. Tetapi orang Sanggar Gading itu terlambat beberapa saat. Orang Kendali Putih itupun dengan cepatnya hilang dibalik pepohonan di pategalan. Meskipun demikian orang Sanggar Gading itu tidak melepaskannya begitu saja. Iapin masih tetap beiusaha mengejar orang Kendali Putih itu. Sekilas ia masih melihat dedaunan yang bergoyang. Karena itu iapun mengerahkan tenaganya untuk memburu. Ketika ia melihat orang Kendali Putih itu meloncat kearah kudanya dan kemudian berusaha melepaskan talinya, maka ia mulai berpengharapan. Namun ternyata bahwa orang Kendali Putih itu sempat naik ke punggung kudanya. Orang Sanggar Gading tidak mau melepaskannya begitu saja. Dengan geramnya ia menyerang orang Kendali Putih itu. Namun orang Kendali Putih itu sempat menggerakkan kudanya dan justru dengan tangkasnya ia menangkis serangan lawannya dan sekaligus memutar senjatanya. Orang Sanggar Gading itu terdorong surut. Ketika ia melangkah lagi, kuda orang Kendali Putih itu rasa-rasanya justru akan menerjangnya sehingga ia harus meloncat kesamping. Kemudian, tidak ada harapan lagi baginya untuk dapat menangkap orang Kendali Putih itu. Dengan geram ia memandang kuda yang berderap meninggalkan pategalan itu. “Gila“ geram orang Sanggar Gading itu. Yang kemudian didapatkannya adalah seekor kuda milik orang Kendali Putih yang terluka itu. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terasa pedih dilengannya. Ketika ia meraba lengannya, maka jari- jarinya itupun menjadi merah oleh darah. “Anak iblis “Orang itu mengumpat “justru orang itulah yang telah melukai aku” Untunglah luka itu tidak begitu dalam. Justru pada saat orang Kendali Putih itu mekr ikan dir i, ia masih sempat menggoreskan luka di lengannya. Orang Sanggar Gading itu kembali kepada kawannya yang terluka. Dilihatnya kawannya duduk dengan wajah yang pucat dan tubuh yang gemetar menahan sakit. “Cobalah” berkata kawannya “obati lukamu” Tetapi orang itu sudah terlalu lemah. Karena itu, maka kawannyalah yang kemudian mencoba untuk menaburkan obat yang memang tersedia pada setiap orang Sangar Gading. Meskipun obat itu terasa pedih dilukanya, tetapi obat itu akan membantu mengurangi arus darah yang mengalir dan bahkan jika tidak terlalu parah, akan dapat memampatkannya. Dalam pada itu, setelah menaburkan obat pada luka kawannya, orang Sanggar Gading itupun kemudian menengok orang Kendali Putih yang terbaring diam. Betapapun juga orang Sanggar Gading adalah orang yang kasar dan garang. Meskipun ia melihat orang itu masih bernafas, tetapi tidak ada sedikitpun niatnya untuk menolongnya. “Persetan dengan kau” geram orang Sanggar Gading. Baginya keadaan seperti itu sudah terlalu sering dijumpainya di padang kematian menjelang padepokan Sanggar Gading yang merupakan daerah pendadaran orang-orang yang melalui jalur jalan menuju ke padepokan, sengaja atau tidak sengaja. Namun dalam pada itu orang Sanggar Gading itupun menjadi bimbang. Apakah ia akan membawa kawannya yang lerluka itu kembali kepada kawan-kawannya atau ia akan menunggu saja dipategalan itu. Tetapi menilik keadaan kawannya, agaknya ia tidak akan dapat berkuda sendiri. “Aku akan menyembunyikan saja disini. Aku akan pergi menyusul Rahu. Agaknya orang-orang inilah yang akan dikatakannya kepada Cempaka atau Sanggit Raina” berkata orang itu kepada dir i sendir i. Demikianlah, maka orang Sanggar Gading itu telah membawa kawannya ke tempat yang lebih dalam lagi dan membar ingkannya diantara pepohonan di pategalan. “Tahankan. Kau adalah orang Sanggar Gading. Kau telah berhasil melalui padang perburuan. Jangan mati disini. berkata orang Sanggar Gading itu kepada kawannya yang terluka, di tempat kita bertempur melawan orang-orang Kendali Putih, terdapat salah seorang dari mereka yang hampir mati. Sebentar lagi ia akan mati, dan sementara itu, aku tidak berhasil menangkap kawannya. Bahkan ketika sudah berada dipunggung kudanya, ujung senjatanya sempat menggores tubuhku. Tetapi lukaku tidak berarti apa-apa. Aku akan menyusul kawan-kawan kita” “Bagaimana j ika pemilik pategalan ini datang kemari?“ bertanya orang Sanggar Gading yang terluka. “Kau dapat mengancamnya, dan kau dapat menahan orang itu agar tidak meninggalkanmu dan memberitahukan kehadiranmu kepada siapapun juga. Ia akan ketakutan jika kau mengancamnya. Katakan, bahwa kawan-kawan kita akan datang membunuhnya jika ia tidak menurut per intahmu” “Kalau orang Kendali Putih yang datang dan menemukan aku disini?“ bertanya orang itu. “Sementara itu, orang-orang kita tentu sudah datang” jawab kawannya. Orang yang terluka itu tidak menjawab. Kawannya sengaja menambatkan seekor kuda milik orang Kendali Putih itu didekat tempat orang Kendali Putih itu terbaring. Dalam pada itu. maka iapun segera mempergunakan kudanya sendiri berpacu keinduk pasukannya. Segalanya harus berjalan cepat. Jika orang-orang Kendali Putih bergerak lebih cepat, mungkin akibatnya akan berberda. Kecuali j ika Yang Mulia sengaja mengambil sikap yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya itu. Sejenak kemudian kuda orang Sanggar Gading itupun berlari bagaikan terbang. Seperti juga orang Kendali Putih yang memacu kudanya ke tempat kawan-kawannya sedang beristirahat. Tetapi orang Sangpar Gading itu tidak perlu berpacu terlalu lama. Ketika ia sampai disebuah tikungan, maka iapun dengan tergesa-gesa menarik kendali kudanya. Sejenak ia termangu-mangu. Namun akhirnya ia yakin, bahwa yang datang itu adalah kawan-kawannya. Sementara ia melihat Sanggit Raina berada di paling depan. Karena itu. maka iapun segera melanjutkan meskipun tidak terlalu kencang. Rahu menjadi cemas melihat orang yang nampaknya tergesa-gesa itu. Karena itu maka iapun segera mendahului Sanggit Raina menyongsong orang yang datang itu. “Kenapa?“ bertanya Rahu tidak sabar. “Orang Kendali Putih itu benar datang ke pategalan” jawab orang itu. “Kendali Put ih?“ bertanya Rahu. “Ya. Aku akan melaporkannya” jawab orang itu pula. Rahu tidak menahannya lagi. Kemudian diikutinya orang itu menghadap Sanggit Raina. “Apa yang terjadi?“ bertanya Sanggit Raina, yang memberi pertanda agar iring-ir ingnya berhenti Orang itupun kemudian menceritakan apa yang telah terjadi. Tentang dua orang Kendali Putih yang datang ke pategalan tempat ia menunggu, sehingga kawannya telah terluka cukup parah. Sanggit Raina mengangguk-angguk. Katanya akan pergi kepategalan itu. Tetapi aku akan melaporkan, apakah Yang Mulia akan mengambil satu tindakan khusus” Demikianlah, maka Sanggit Raina telah menyampaikan masalahnya kepada Yang Mulia, yang memimpin ir ing- iringan itu. Namun ternyata Yang Mulia tetap pada pendir iannya. Katanya “Kita harus menyelesaikan masalah besar kita dengan anak yang menyebut dir inya Daruwerdi itu. Baru kemudian kita akan berurusan dtngan pihak-pihak lain” “Tetapi bagaimana jika merekalah yang mengambil sikap lebih dahulu” bertanya Sanggit Raina. “Bersiaplah. Kemungkinan itu memang dapat terjadi” jawab Yang Mulia. Sebenarnyalah, saat itu orang-orang Kendali Putih telah mengambil keputusan “Mereka sudah mengetahui kehadiran kita. Karena itu, kita akan datang kepada mereka, merebut Pangeran yang sedang sakit itu. Apapun yang akan terjadi. Jika dengan demikian mereka akan membunuh Pangeran itu, apa-boleh buat. Kita akan bersama-sama tidak memiliki, daripada pusaka itu berada di tangan orang-orang Sanggar Gading” Keputusan yang tergesa-gesa itupun telah menimbulkan sikap yang tergesa-gesa pula. Terbakar oleh laporan orang Kendali Putih yang telah kehilangan seorang kawannya, maka pemimpinnya menganggap bahwa tidak ada lagi alasan untuk menunda, karena justru orang Sanggar Gading itu telah mengetahui dengan pasti kehadirannya dan bahkan mungkin justru orang-orang Sanggar Gading itulah yang akan bertindak lebih dahulu. “Kita tidak boleh membiarkan dir i kita dihina sedemikian rupa” berkata seorang yang berkumis lebat ”Selebihnya, bertindak sekarang dan kemudian tidak akan banyak bedanya. Aku kira orang-orang Sanggar Gading tidak akan membunuh Pangeran itu, karena mereka tentu memperhitungkan bahwa pada satu kesempatan yang lain, mereka akan berusaha merebut kembali apa yang terlepas dari tangan mereka hari ini” Orang-orang Kendali Putih itu mengangguk-angguk. Kemudian pemimpinnya berkata “Kita akan bertindak sekarang. Kita tahu, diantara mereka terdapat orang yang disebut Panembahan Wukir Gading. Tidak ada orang yang dapat mengalahkannya, kecuali Eyang Rangga” “Bukankah Eyang Rangga sudah berada di tengah-tengah kita sekarang?“ desis orang berkumis lebat itu. “Ya. Aku akan menghadap dan mengatakan kepadanya. Mudah-mudahan penyakit dungunya tidak kambuh di saat yang gawat ini” berkata pemimpin orang-orang Kendali Putih itu. Orang berkumis lebat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Baiklah. Kita memang harus minta persetujuannya karena diantara orang-orang Sanggar Gading terdapat Panembahan itu sendiri” Pemimpin dari orang-orang Kendali Put ih itupun kemudian dengan ragu-ragu datang kepada seorang tua yang duduk bersandar sebongkah batu padas sambil menghitung ruas jari- jari tangannya. Tidak ada hentinya-henlinya. Ruas-ruas jari tangannya itu dihitung sejak dari ruas kelingking tangan kir i, sampai keruas ibu jari tangan kanan. Kemudian diulanginya kembali menghitung ruas kelingking tangan kirinya dan seterusnya. Tidak seorangpun yang tahu, sampai hitungan angka keberapa yang lelah diucapkannya, atau setiap kali ia mengulang angka-angka dar i bilangan permulaan. Orang tua itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat pemimpin dari kelompok orang-orang Kendali Putih itu datang mendekatinya. “Kami akan berbicara sedikit Eyang” berkata pemimpin orang- orang Kendali Putih itu. “Marilah” jawab orang tua itu “Duduklah” Pemimpin orang Kendali Putih itupun kemudian duduk dihadapannya. Sementara untuk sesaat, Eyang Rangga itu masih menghitung ruas jari-jari tangannya. “Ada yang penting dan mendesak Eyang” berkata pemimpin kelompok orang-orang Kendali Putih itu. “Ya. ya. Tunggu sebentar . Aku akan membulatkan hitungan ini” jawab Eyang Rangga. Pemimpin orang-orang Kendali Putih itu tidak mendesak. Jika demikian, mungkin yang terjadi justru berlainan dari yang diharapkan. Jika orang tua itu mulai mengumpat, maka ia harus menunggu lebih lama lagi. Karena itu, maka betapapun juga, ia memaksa diri untuk bersabar. Dalam pada itu, orang berkumis lebat itupun telah duduk beberapa langkah di belakang pemimpin kelompok Kendali Putih itu bersama seorang kawannya. Namun justru kawannya itu berbisik perlahan ditelingannya ”Mereka harus bertempur sekarang” “Aku berusaha. Aku sudah membakar kemarahan pemimpin kita” berkata orang berkumis lebat. “Jika berhasil, maka orang Pusparuri akan menjadi lebih ringan menghadapi keadaan. Keduanya tentu sudah cukup parah. Dan kau akan mendapat hadiah seperti yang kau harapkan itu” desis kawannya. Orang berkumis lebat itu menyentuh tangannya dengan sikunya. Sementara itu, orang yang disebut Enyang Rangga itu masih menghitung ruas jari-jarinya sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas sambil berdesis “Aku sudah mencapai hitungan bulat. He, kalian mau apa?“ Pemimpin dari orang-orang padepokan Kendali Putih itupun kemudian berkata “Eyang. Ada sesuatu yang penting yang perlu Eyang ketahui” “Tentang pusaka itu? Atau tentang orang-orang Sanggar Gading?“ bertanya Eyang Rangga. “Tentang orang-orang Sanggar Gading” jawab pemimpin orang-orang Kendali Putih itu. “Katakan?“ sahut Eyang Rangga. Pemimpin kelompok Kendali Putih itupun kemudian mencer iterakan apa yang telah terjadi. Dan seorang Kendali Putih telah menjadi korban. Pemimpin orang-orang padepokan Kendali Putih itu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat Eyang Rangga itu tertawa. Katanya “Baru seorang diantara kita mati, kau sudah menjadi gelisah. Kau harus sadar, bahwa yang kemudian akan mati jumlahnya akan meningkat menjadi separo diantara kita. Mungkin kau, aku dan he, siapa yang duduk disana?“ Pemimpin Kendali Putih itu berpaling. Dilihatnya orang berkumis lebat dan seorang kawannya duduk beberapa langkah dibelakangnya. “Orang-orang kita” jawab pemimpin Kendali Putih itu “ialah yang memberikan pertimbangan dan sesuai dengan perhitunganku pula, bahwa sebaiknya kita mendahului orang- orang Sanggar Gading. Soalnya bukan satu kegelisahan karena kematian, tetapi justru karena harga diri dan perhitungan-perhitungan lain. Bagiku, kita lebih baik mendahului orang-orang Sanggar Gading daripada kita harus bertahan disini” Eyang Rangga mengangguk-angguk. Katanya “Jadi kita akan menyerang orang-orang Sanggar Gading? Menurut perhitunganmu, mereka tentu berada di pategalan, di tempat seorang kawannya terluka. Bukankah begitu?“ “Ya. Jika mereka masih belum ada di patcgalan, kita akan menunggu sampai saatnya mereka lewat. Lebih baik kita beristirahat di pategalan itu sekaligus mencegat orang-orang Sanggar Gading daripada kita menunggu disini” jawab pemimpin orang-orang Sanggar Gading itu. Orang yang disebut Eyang Rangga itu mengangguk- angguk. Lalu katanya “Terserah menurut pertimbanganmu. Aku sudah siap kapanpun dan dimanapun” “Terima kasih Eyang” jawab pemimpin kelompok orang- orang Kendali Putih itu. “Apa yang terima kasih” tiba-tiba saja Eyang Rangga itu bertanya. “Kesediaan Eyang” jawab pemimpin orang-orang Kendali Putih. “Gila“ tiba-tiba Eyang Rangga itu membentak “Apa maumu sebenarnya he?“ Pemimpin orang-orang Kendali Putih itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak menjawab lagi. “Aku sudah sampai disini. Kau masih mengucapkan terima kasih atas kesediaanku. He, apakah kau sudah kesurupan hantu bukit mati itu?“ Eyang Rangga itu membentak semakin keras. Pemimpin orang-orang Kendali Put ih itu sama sekali t idak menjawab. Ia sudah mengenal tabiat orang yang disebut Eyang Rangga, sehingga dengan demikian maka pemimpin orang-orang Kendali Putih itu diam saja ketika Eyang Rangga itu mengumpat-umpat berkepanjangan. Sepatah kata saja ia menjawab, Eyang Rangga akan dapat mengambil sikap yang tidak menguntungkan. Namun dalam pada itu, meskipun sambil mengumpat- umpat, orang yang disebut Eyang Rangga itupun mengemasi dirinya. Tiba-tiba saja iapun berteriak “Antarkan aku kepada orang yang menyebut dirinya Panembahan Wukir Gading. Aku yakin bahwa ia adalah orang yang sakti. Tetapi justru karena itu, aku memerlukannya” Pemimpin gerombolan dar i padepokan Kendali Putih itupun kemudian meninggalkan Eyang Rangga yang sedang membenahi diri. Diper intahkannya para pengikutnya untuk bersiap-siap. Mereka akan berangkat menyongsong orang- orang Sanggar Gading. “Kita tidak akan menunggu sampai esok” berkata pemimpin orang-orang Kendali Putih itu “Kita akan membinasakan mereka dan mengambil Pangeran itu dari tangan mereka. Apapun yang akan terjadi, kita tidak akan menunggu orang- orang itu datang menyerang kita dari punggung” Orang-orang Kendali Put ih itupun segera mempersiapkan diri. Orang-orang yang berkumis lebat dan kawannyapun menjadi sibuk. Namun dalam pada itu kawannya berkata “Kita akan melihat, apa yang akan terjadi. Mungkin orang-orang Sanggar Gading itu akan binasa, tetapi sebagian dari orang- orang Kendali Putih inipun akan terbunuh. Atau yang terjadi sebaliknya. Orang-orang Kendali Putih akan binasa, dan orang-orang Sanggar Gading akan mengalami penyusutan yang gawat” “Kau memang iblis. Kau kira dengan demikian orang-orang Pusparuri akan dengan mudah mengambil alih persoalan- persoalan pusaka itu dari tangan Daruwerdi?“ bertanya orang berkumis lebat. Kawannya tertawa. Katanya “Hubungan Daruwerdi dengan orang-orang Pusparuri sangat baik. Ketika orang-orang Kendali Putih membunuh orang-orang Pusparuri, Daruwerdi mengambil sikap yang tegas terhadap orang-orang Kendali Putih” “Tetapi masalahnya bukan karena Daruwerdi berpihak” jawab orang berkumis itu “Ia berharap bahwa orang-orang Pusparuri akan dapat memenuhi tuntutannya. Tetapi ternyata orang-orang Pusparuri hanya pandai membual saja” Kawannya tertawa. Katanya “Tetapi kau sudah berusaha berkhianat terhadap kawan-kawanmu. Karena itu, berusahalah jangan mati dibunuh oleh orang-orang Sanggar Gading, agar kau sempat mener ima hadiah dan ikut dalam kelompok yang lebih baik dan lebih tinggi tingkatnya, Pusparuri” Orang berkumis tebal itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya “Aku tidak peduli. Aku memer lukan sesuatu yang dapat aku pergunakan bagi hidupku dan keluargaku dengan baik” Kawannya tertawa. Katanya “Baiklah. Terserah kepadamu. Tetapi pertempuran yang akan terjadi tentu akan sangat menarik. Orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading adalah orang-orang panas yang haus darah” Orang berkumis lebat itu masih mengumpat. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Ia memang tidak dapat membantah, bahwa ia sudah berkhianat terhadap orang-orang Kendali Putih sekedar untuk kepentingan diri sendiri. Tetapi bahwa ia telah berada dilingkungan orang-orang Kendali Putih dengan mempertaruhkan badan dan nyawanya, sebenarnyalah semuanya itu untuk kepentingan keluarganya juga. Untuk menghidupi dan sedikit menyenangkan mereka dengan penghasilan yang sedikit lebih baik dari para petani tetangga- tetangganya. Bulu-bulunya bagaikan meremang, jika pada suatu saat ia kembali mengunjungi anak isterinya, satu dua orang tetangganya menemuinya dan bertanya, apakah kerjanya di rantau. Orang berkumis lebat itu selalu membual dengan ceritera yang sama sekali tidak masuk akal. Tetapi karena tetangga- tetangganya adalah orang-orang yang berpikir sederhana, maka mereka tidak pernah berprasangka. Mereka mengira, bahwa orang berkumis lebat itu benar-benar seorang pedagang yang mengelilingi satu tempat ke tempat lain dengan dagangannya. Jika pulang ia selalu membawa uang yang cukup membuat tetangga-tetangganya menjadi ir i, sehingga kehidupan anak isterinya di kampung halamannya, menjadi cukup terpandang. Tetapi akhirnya ia merasa bahwa hidup diantara orang- orang Kendali Putih adalah hidup di dalam bayangan maut. Setiap saat nyawanya dapat direnggut oleh ujung pedang atau tombak. Karena itulah, maka semakin banyak umurnya, semakin gelisahlah perasaannya. Sehingga pada suatu saat ia memer lukan hidup yang tentram diantara anak dan isterinya. Namun setiap kali timbul pertanyaan di dalam dir inya “Apakah aku masih mempunyai kesempatan hidup tenteram dengan tangan yang bernoda darah karena kematian demi kematian?“ Tetapi orang berkumis tebal itu selalu berusaha mengusir pertanyaan itu, meskipun setiap kali pertanyaan itu datang kembali. Terakhir ia telah mengambil satu keputusan yang berbahaya. Bahkan ia telah mendorong satu peristiwa yang dahsyat. Jika ia berhasil membakar hati pemimpin orang- orang Kendali Putih itu atas permintaan orang Pusparuri yang kebetulan dikenalnya, maka akan terjadi kematian yang menggetarkan jantung. Benturan antara orang-orang Kendali Putih dan orang-Sanggar Gading akan merupakan benturan kekuatan yang mengerikan. “Yang aku punya semuanya sudah bernoda darah. Apa boleh buat. Aku akan melengkapinya dengan darah pula. Bara kemudian aku akan membersihkannya” berkata orang berkumis lebat itu di dalam hatinya. Demikianlah, maka ir ing-ir ingan orang Kendali Putih itupun mulai bergerak. Mereka tidak merasa perlu untuk bersembunyi lagi. Mereka akan menempuh jalan terbuka menuju ke pategalan. Jika orang-orang Sanggar Gading belum lewat, maka mereka akan menunggu. Tetapi jika orang-orang Sanggar Gading telah melampaui pategalan itu, maka mereka akan menyusul. “Tetapi dalam pada itu, salah seorang dari orang-orang Kendali Putih itu bertanya “Bagaimana j ika orang-orang Sanggar Gading itu ternyata mengambil jalan lain?“ “Kita akan menyusulnya. Tetapi tidak ada jalan lain menuju ke bukit gundul itu. Jika mereka melingkari bukit berhutan ini, maka mereka memerlukan waktu yang sangat lama, karena jalannya akan berlipat panjangnya. Meskipun demikian hal itupun dapat juga terjadi. Apalagi jika orang-orang Sanggar Gading telah mengetahui persembunyian kita di lereng bukit itu. Mungkin mereka justru akan melingkar dan menyerang kita dengan tiba-tiba, sementara kita sudah berada di pategalan” Memang masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi Tetapi kemungkinan yang paling besar menurut perhitungan pemimpin orang-orang Kendali Putih itu adalah, bahwa orang- orang Sanggar Gading akan memasuki daerah Sepasang Bukit mati ini lewat pategalan. Apalagi dua orang diantara orang- orang Sanggar Gading justru sudah berada dipategalan itu. Dalam pada itu, ketika orang-orang Kendali Putih itu meninggalkan lereng bukit berhutan, maka Kiai Kanthipun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia melihat segalanya yang telah dilakukan oleh orang-orang Kendali Put ih. Iapun melihat orang-orang Kendali Putih itu meninggalkan lereng bukit berhutan itu. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Ketajaman penglihatannya, telah menunjukkan kepadanya, bahwa diantara orang-orang Kendali Putih itu terdapat orang yang dikenalnya. Orang yang selalu menghitung ruas tanggannya sejak masa mudanya. “Iblis itu ada disana pula” desis Kiai Kanthi kepada diri sendiri. Namun dalam pada itu, iapun menjadi ragu-ragu. bahwa iblis yang selalu menghitung ruas jari-jarinya itu benar- benar bekerja untuk kepentingan orang-orang Kendali Putih. “Keadaan akan benar-benar menjadi gawat” berkata Kiai Kanthi “iblis itu akan bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Penembahan Wukir Gading. Dengan kehadiran mereka, apakah artinya Daruwerdi, Jlitheng dan pemburu-pemburu itu? Dan apakah Pangeran yang diperebutkan itu tidak akan berbuat sesuatu, dan membiarkan dirinya menjadi barang yang akan dipertukarkan begitu saja?“ Berbagai pertanyaan telah berkembang di dalam hatinya. Sementara itu, iapun mengamati arah perjalanan orang-orang Kendali Putih yang semakin jauh meninggalkan bukit berhutan itu. Sementara itu, dari arah lain, dua orang sedang mengamati iring- iringan itu pula. Mereka tidak mengerti apa yang telah terjadi di pategalan. Namun mereka menduga, bahwa orang- orang Kendali Putih itu akan langsung menyerang Sanggar Gading tanpa menunggu setelah orang-orang Sanggar Gading menyerahkan Pangeran yang mereka bawa kepada Daruwerdi. “Kita akan mengikuti“ berkata Semi. “Berbahaya sekali. Di tempat yang terbuka, kita akan sulit untuk mencari perlindungan“ jawab kawannya. Semi merenungi kata-kata kawannya itu sejenak. Namun kemudian katanya “Kita tidak akan mengikutinya secara langsung. Kita menunggu mereka melintasi bulak. Sementara kita dapat mengikuti jejaknya” Kawannya mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Kita dapat berbuat demikian. Dan kitapun harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Rahu tentu akan terlibat dalam pertempuran jika benar orang-orang itu akan langsung menyerang ir ing- iringan dari Padepokan Sanggar Gading” “Bagaimana cara kita untuk menghubunginya” desis Semi. “Kita memang harus menunggu dan melihat segala peristiwa yang terjadi” desis kawannya “baru kita akan dapat mengambil sikap berdasarkan atas pengamatan itu” Semi mengangguk-angguk. Katanya “Kita harus dapat mengambil satu sikap dengan cepat dan mapan. Marilah. Kita akan mengikuti jejak orang-orang berkuda itu” Dengan demikian, maka Semi dan kawannyapun telah mengikut i jejak orang-orang Kendali Put ih menuju kepategalan. Namun mereka harus berhati-hati. Mereka tidak boleh terlalu dekat, karena dengan demikian, mereka akan dapat terjerumus ke dalam keadaan yang sangat gawat. Jika mereka memasuki sebuah bulak panjang, maka merekapun harus menunggu beberapa saat, sehinggi mereka yakin, bahwa orang-orang Kendali Putih itu telah melampaui padesan disebelah bulak itu. “Nampaknya orang-orang berkuda itu sudah mempunyai bahan-bahan yang pasti tentang kekuatan orang-orang Sanggar Gading” berkata Semi kemudian “Jika tidak mereka tidak akan dengan pasti pula menyongsongnya” “Nampaknya memang demikian” sahut kawannya “justru karena itu, keadaan orang-orang Sanggar Gading akan menjadi gawat. Mereka akan mendapat lawan yang seimbang, karena orang-orang berkuda itu tentu sudah memperhitungkan dengan cermat” “Dalam benturan yang akan terjadi, maka kedua belah pihak akan banyak kehilangan. Keduanya akan menjadi sangat lemah. Pada saat yang demikian pihak ketiga akan dengan mudah menghancurkan mereka” berkata Semi selanjutnya. “Mungkin pihak ketiga itu adalah kekuatan Saruwerdi sendiri” desis kawannya. “Mungkin. Memang mungkin. Tetapi juga mungkin pihak lain” sahut Semi. Namun tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh suara batuk di belakang mereka pada saat mereka menunggu sejenak dimulut padukuhan dihadapan bulak panjang. Karena itu, maka dengan serta merta keduanya berpaling. Tetapi keduanya menarik nafas panjang ketika mereka melihat Kiai Kanthi berdiri di pinggir jalan beberapa langkah di belakang mereka. “Angger akan mengikuti orang-orang berkuda itu?“ bertanya Kiai Kanthi. “Ya Kiai” jawab Semi “Tidak ada lain untuk mengetahui perkembangan persoalan yang tumbuh di daerah ini” “Angger harus berhati-hati” berkata Kiai Kanthi “nampaknya orang-orang berkuda itu terdiri dari orang-orang Kasar dan orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. “Nampaknya memang demikian. Karena itu, kami tidak mengikut i mereka langsung. Kami terpaksa mengikuti jejaknya. “Bagus. Angger sudah melakukan tugas angger dengan baik” berkata Kiai Kanthi “apalagi diantara mereka terdapat seorang iblis yang berilmu tinggi” “Siapa?“ bertanya Semi. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Berhati-hati sajalah. Ketajaman pengamatan dan kecepatan berpikir untuk menentukan satu sikap akan menentukan segala-galanya” Semi dan kawannya mengangguk-angguk. Sambil memandang kedepan Semi bergumam “Baiklah Kiai. Nampaknya orang-orang berkuda itu sudah melampaui padukuhan di depan. Aku akan menyusul mereka” Kiai Kanthipun memandang kebulak panjang dihadapannya Katanya kemudian “Silahkan ngger” “Bagaimana dengan Kiai?“ bertanya Semi. Kiai Kanthi tertawa. Namun Semi berkata “Aku mengerti serba sedikit tentang Kiai Kanthi” Kiai Kanthi tidak menjawab. Bahkan ia berkata “Silahkan ngger. Nampaknya jalan sampai ke padukuhan di depan sudah aman. Berhati-hatilah disetiap langkah seperti yang angger lakukan kali ini. Mungkin orang-orang itu berhenti di padukuhan di depan” Semi dan kawannyapun kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka memperhitungkan bahwa orang-orang Kendali Putih itu tentu sudah melewati padukuhan di depan, sehingga merekapun akan dapat melintasi padukuhan itu pula. “Agaknya Kiai Kanthi tahu dengan pasti, siapakah yang beriringan di depan” gumam Semi. “Mungkin. Ia dapat menyebut salah seorang diantaranya. Bahwa ia menyebut iblis berilmu t inggi tentu bukan sekedar mengigau” desis kawannya. Namun keduanya tidak pasti, apakah Kiai Kanthi mengetahui gerombolan apakah yang berada di depan mereka. Sementara itu, orang-orang Kendali Putih itu berjalan tanpa berhenti. Mereka sudah memutuskan untuk memotong gerakan orang-orang dari padepokan Sanggar Gading untuk merebut Pangeran yang akan ditukar dengan sebilah pusaka yang tiada taranya. Meskipun demikian, mereka tidak kehilangan kewaspadaan Mereka selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bukan mustahil bahwa tiba-tiba saja ditikungan mereka langsung membentur iringan- iringan orang-orang Sanggar Gading. Karena itulah, maka orang-orang yang berada di depan sudah siap menarik senjata mereka setiap saat. Dalam pada itu, orang-orang Sanggar Gadingpun menjadi semakin maju pula mendekati pategalan. Karena itu, merekapun menjadi semakin berhati-hati pula. Sanggit Raina kemudian berada dipaling depan. Disampingnya Cempaka memandang jauh kedepan. Di belakang kedua Rahu dan orang yang telah bertempur melawan orang Kendali Putih itu. Sejenak kemudian orang yang telah bertempo melawan orang-orang Kendali Putih itupun berdesis di belakang Sanggit Raina “Itulah Pategalan yang aku katakan. Seorang kawan kita berada ditempat itu” “Mungkin anak itu sudah mati” desis Sanggit Raina. “Aku harap ia masih mampu bertahan” desis orang yang telah bertempur di pategalan itu. Sanggit Raina telah mempercepat derap kudanya. Ia ingin segera sampai di pategalan itu dan melihat, apakah salah seorang diantara mereka yang terluka itu masih hidup. Ketika mereka sampai diujung pategalan itu, maka Rahulah yang kemudian mendahului Sanggit Raina bersama orang yang telah bertempur melawan orang-orang Kendali Putih. Mereka tidak lagi mempertimbangkan tanaman yang terinjak kaki kuda. Mereka menembus batas dengan pagar lanjaran bambu yang dijalari oleh batang-batang kacang panjang. Bahkan merekapun telah menerobos pohon ketela yang nampak tidak terlalu subur. Sanggit Raina dan Cempakapun kemudian mengikuti mereka setelah mereka memberi isyarat agar yang lain menunggu mereka diluar pategalan. “Ada apa?“ bertanya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. “Kita sudah sampai kepategalan yang dimaksud” jawab salah seorang pengawalnya. “Sanggit Raina sedang melihat mereka?“ bertanya Yang Mulia. “Anak yang terluka itu. Hanya seorang” sahut pengawalnya. “Jangan lengah. Awasi keadaan. Mungkin orang-orang gila itu akan datang. Mungkin mencari kawannya yang terluka, tetapi mungkin dengan sengaja ingin menyerang kita” “Kita sudah siap. Pangeran itu sudah berada di bawah pengawalan khusus. Mudah-mudahan sakitnya tidak semakin gawat, sehingga akan menjadi persoalan tersendiri. Jika Pangeran itu mati karena penyakitnya, maka segalanya akan gagal” desis pengawalnya. “Ia sudah berada di bawah perawatan orang yang tepat” berkata Yang Mulia. Pengawalnya mengangguk-angguk, sementara Yang Mulia itu berkata “Taruhlah dua orang pengawas diujung yang lain dari pategalan ini, selama kita menunggu Sanggit Raina” Pengawal itu mengangguk. Kemudian diperintahkannya dua orang kawannya mendahului sampai diujung pategalan untuk mengawasi keadaan. Dalam pada itu, Sanggit Raina dan Cempakapun telah menemukan orang yang. terluka. Rahu dan seorang kawannya yang telah bertempur melawan orang-orang Kendali Putih, yang bahkan sudah tergores ujung senjata itupun telah berjongkok disamping kawannya yang terluka itu., “Bagaimana?“ bertanya Sanggit Raina. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Parah sekali. Tetapi masih mungkin untuk dicoba mengobatinya” “Panggil dukun itu” desis Sanggit Raina kepada Cempaka. Sepeninggal Cempaka, maka Rahupun berkata “Ia pingsan. Mungkin setitik air akan dapat memberikan kesadaran kepadanya. “Dimana kita mendapat air?“ bertanya Sanggit Raina. Rahupun termangu-mangu. Namun kemudian ia melihat pohon nyiur dibatas pategalan itu. Karena itu, maka sambil menunjuk batang nyiur yang kurus itu ia berkata “Lihat. Ada juga beberapa buah kelapa tersangkut pada janjangnya” “Kau dapat memanjat setinggi itu?“ bertanya Sanggit Raina. “Aku dapat” sahut orang yang telah bertempur melawan orang-orang Kendali Putih itu. “Cepat. Mudah-mudahan dapat menolongnya” Orang itupun kemudian dengan tergesa-gesa telah memanjat sebatang pohon nyiur yang kekurus-kurusan, namun yang masih juga member ikan beberapa buah kelapa dipangkal daun-daunnya. Ternyata orang itu memang pandai memanjat. Ia hanya memer lukan waktu yang pendek untuk sampai kepuncak. Kemudian dengan tergesa-gesa telah memetik beberapa buah kelapa yang ada. Yang muda tetapi juga yang tua. “Mungkin akan berguna“ gumannya “setidak-tidaknya dapat melepaskan haus” Ketika ia sudah siap untuk meluncur turun, tanpa disengaja, orang itu telah menebarkan pandangan matanya kesekeliling pategalan. Tiba-tiba saja darahnya tersirap. Hampir saja ia meloncat turun. Untunglah bahwa ia masih menyadari keadaannya, sehingga iapun berkisar berlindung dibalik batang nyiur itu sambil meluncur turun. Demikian ia menjejakkan kakinya di tanah, maka iapun segera berlari-lari mendapatkan Sanggit Raina dan Rahu yang sedang sibuk mengupas kelapa dengan pedangnya. “Mereka datang“ Orang itu hampir berteriak. “Siapa?“ bertanya Sanggit Raina. “Orang-orang Kendali Putih. Aku melihatnya dari batang nyiur itu” jawab orang itu. “Apakah kau tidak mengigau?“ Rahu menegaskan. “Aku yakin bahwa penglihatanku masih bening” jawab orang itu. Sanggit Raina melepaskan kelapa di tangannya. Kemudian sambil bangkit ia berkata “Aku akan member itahukan kepada Yang Mulia. Cobalah menolong orang itu agar tidak terlanjur mati disini” Sanggit Rainapun kemudian meloncat ke punggung kudanya. Dan dengan tergesa-gesa menemui Yang Mulia. Ketika ia berpapasan dengan Cempaka bersama seorang dukun yang dipanggilnya, maka Katanya “Cepat, antarkan orang itu. Lalu kau temui aku” Cempakapun kemudian mengantarkan dukun itu, namun kemudian dengan tergesa-gesa iapun kembali menyusul Sanggit Raina. Ternyata titik air nyiur yang muda itu member ikan kesegaran kepada orang yang terluka parah, sementara dukun yang kemudian berjongkok disampingnya itupun mulai mengobatinya. “Tolonglah orang ini” berkata Rahu “Aku akan menemui Sanggit Raina dan Cempaka” Ketika Rahu sampai ke induk pasukannya. Sanggit Raina telah berbicara dengan Yang Mulia mengenai orang-orang Kendali Putih yang menuju ke Pategalan itu pula. “Kita tidak akan lar i” berkata Yang Mulia. Sanggit Raina mengangguk-angguk. Iapun berpendapat, bahwa tidak ada kemungkinan lain yang dapat dilakukan menghadapi sekelompok orang yang menyerang mereka. Karena itu, maka Katanya “Aku akan menyiapkan orang-orang kita. Kita akan membinasakan orang-orang Kendali Putih. Jika mereka berani menyerang kita, maka mereka tentu telah salah menilai” Yang Mulia tertawa. Katanya “Bagus. Kita akan bertempur” “Ya. Kita akan bertempur dipategalan ini dan sekitarnya” jawab Sanggit Raina. Namun kemudian “Tetapi bagaimana dengan Pangeran itu” “Ia adalah sasaran utama orang-orang Kendali Putih” jawab Yang Mulia “karena itu lindungi Pangeran yang sedang sakit itu” “Baiklah. Aku akan menyiapkan sekelompok orang terpilih untuk melindunginya” jawab Sanggit Raina. Namun dalam pada itu, Yang Mulia itupun berkata “Kali ini kita akan bertempur diatas punggung kuda. Medan kita cukup luas. Orang-orang kita memiliki kemampuan berkuda sambil mempermainkan senjatanya. He, bagaimana pendapatmu?“ Sanggit Raina menebarkan tatapan matanya keseputarnya. Ia memang melihat satu medan yang luas. Pategalan yang yang berpohon-pohon. Bahkan ada beberapa jenis pohon buah-buahan dan pohon kelapa. Kemudian disebelah pategalan itu adalah padang ilalang yang kekuning-kuningan, sementara di sebelah lain adalah sawah yang mulai dijamah oleh air yang naik dari sungai kecil yang menjadi persoalan bagi anak-anak muda di Lumban. “Aku sependapat” tiba-tiba saja Sanggit Raina menjawab “medan ini sangat menyenangkan bagi pertempuran berkuda. Kita sudah siap menghadapi orang-orang Kendali Putih yang bodoh itu” “Perintahkan orang-orang kita menyebar” berkata Yang Mulia “Aku sendir i akan memimpin pertempuran ini. Jangan kau lupakan Pangeran itu. Ia memerlukan perlindungan. Tetapi itu lebih baik. Jika ia tidak sedang sakit, maka ia akan mengambil kesempatan yang tidak kita duga sebelumnya” Sanggit Rainapun kemudian meninggalkan Yang Mulia yang segera menyiapkan dirinya pula. Ia memilih bertempur diatas punggung kudanya. Sementara Sanggit Rainapun segera menemui Cempaka dan kemudian memanggil Rahu pula. “Kita akan bertempur diatas punggung kuda“ desis Sanggit Raina. “Menarik sekali“ Cempaka tersenyum. Ia adalah seorang yang memiliki kemampuan berkuda. Kudanyapun kuda tegar yang dapat dipercaya, yang seolah-olah mengerti, apa yang harus dilakukan” “Aturlah orang-orang kita” berkata Sanggit Raina kepada adiknya, lalu katanya berbisik “Kau dan Rahu, segera menemui aku setelah persiapan ini selesai” Rahu tidak mencari arti yang lain kecuali benar-benar kegelisahan menghadapi serangan orang-orang Kendali Putih, meskipun ia hampir belum pernah melihat hal itu pada Sanggit Raina yang kemudian bergeser mendekati Yang Mulia. Ia adalah orang yang tabah dan seakan-akan segala tantangan pasti dihadapinya dengan dada tengadah. Cempaka dan Rahupun kemudian segera terpisah member ikan perintah kepada orang-orang Sanggar Gading untuk bersiap-siap, karena sebentar lagi, orang-orang Kendali Putih akan datang menyerang. “Kita mengelakkan lawan. Tetapi jika mereka datang, kita tidak akan lar i terbirit-birit” berkata Cempaka. Lalu katanya lebih lanjut ketika kalian memasuki Sanggar Gading, kalian lelah melalui daerah pendadaran yang paling garang dari segala padepokan yang manapun juga. Kalian telah melewati padang perburuan yang juga merupakan padang kematian. Dan kalian yang masih hidup sampai ke padepokan Sanggar Gading tentu orang-orang terpilih yang berhasil menyusup jari-jari maut di padang kematian itu. Sekarang kalian menghadapi orang-orang dari padepokan kecil yang menyebut padepokannya itu Kendali Putih, Padepokan yang sama sekali tidak berarti. Karena itu, kita menghancurkan mereka sampai orang yang terakhir” Cempaka berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia bertanya ”Jawab. Siapa yang tidak sanggup melakukannya?” Tidak seorangpun yang menyahut. Bahkan mata orang- orang Sangar Gading itu mulai menyala. Karena itu, ketika Cempaka bertanya untuk kedua kalinya dengan pertanyaan yang berbeda, maka sorak merekapun telah meledak. “Marilah” berkata Cempaka lantang “Kita binasakan orang- orang Kendali Putih. Bukankah kalian sanggup melakukan” “Sanggup, sanggup” jawaban itu meledak. Yang Mulia tersenyum melihat orang-orangnya bersorak dengan panah api kebencian. Perlahan-lahan ia berdesis kepada Sanggit Raina yang telah berada didekatnya “Adikmu memang anak gila. Tetapi ia berhasil membakar jantung orang-orang kita. Aku senang melihatnya, karena dengan jiwa yang dibakar oleh dendam dan kebencian, tenaga kita akan menjadi berlipat. Kemampuan kitapun seakan-akan meningkat ganda” Sanggit Rainapun mengangguk-argguk. Dandan jantung yang berdegup semakin cepat. Sanggit Raina melihat, orang- orang Sanggar Gading itu mulai berpencar. Sementara Cempaka berteriak “Kita akan bertempur di atas punggung kuda, Jika orang-orang Kendali Putih berloncatan, turun, maka mereka akan kita gilas dengan kaki-kaki kuda kita disamping ujung-ujung senjata” Sekali lagi orang-orang Sanggar Gading yang mulai berpencar itu telah bersorak bagaikan membelah langit. Sementara itu, orang-orang Kendali Putih sudah menjadi semakin dekat Karena itu, maka merekapun telah mendengar sorak orang-orang Sanggar Gading yang bagaikan mengguncangkan pategalan dihadapan mereka. “Mereka tentu sudah melihat kita” berkata pemimpin orang- orang Kendali Putih itu ”nampaknya mereka sudah siap menunggu” “Apa salahnya” jawab Eyang Rangga “Aku lebih senang bertempur beradu dada dari pada kita harus menyelinap menunggu lawan lengah” “Ya, ya” jawab pemimpin orang-orang Kendali Putih “Aku juga sependapat. Karena itu, kita akan menghadapi mereka dengan jantan karena kita tidak merunduk dari belakang. “Katakanlah yang lain. Kau hanya mengulagi kata-kataku meskipun kau pergunakan susunan kalimat yang lain” tiba-tiba saja Eyang Rangga membentak. Pemimpin kelompok orang Sanggar Gading itu tidak menjawab. Perhatiannya sudah tertuju kepategalan yang nampak dikejauhan. Bahkan ketajaman penglihatannya sudah mulai menangkap gerak yang samar-samar. Orang-orang berkuda. Karena itu, maka pemimpin orang-orang Kendali Putih itupun segera memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk berhati-hati. Dengan lantang ia berkata “Nampaknya mereka ingin menghadapi kita diatas punggung kuda. Memang menyenangkan sekali. Pategalan itu cukup luas untuk bermain-main. Berhati-hatilah. Pergunakan senjata panjang” “Ya” desis Eyang Rangga “iblis tua itu menang seorang penunggang kuda yang ulung. Tetapi nampaknya ia tidak tahu aku ada disini dan iapun tidak tahu, bahwa masa mudaku, aku adalah pelaku sodoran yang sulit dicari tandingnya. Demikianlah, maka orang-orang Kendali Put ih itupun telah bersiap-siap pula. Mereka melihat semakin jelas, bahwa orang-orang Sanggar Gading berpencar diatas punggung kudanya. Karena itu, maka hampir pasti bahwa mereka akari bertempur diatas punggung kuda. “Mereka mengira bahwa kalian tidak mampu memegang kendali kuda sambil menggenggam senjata” berkata pemimpin orang-orang Kendali Putih itu “tunjukkan kepada orang-orang Sanggar Gading, bahwa kalian mampu mengimbangi, bahkan kemudian kalian harus membuktikan, bahwa kalian dapat melampaui kemampuan setiap orang dari orang-orang Sanggar Gading itu” Orang-orang Kendali Putih itu menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka terbiasa hidup dengan noda-noda darah, namun morekapun mendengar bahwa orang-orang Sanggar Gading adalah orang-orang yang seliar orang-orang Kendali Putih. Merekapun pernah mendengar padang yang terbentang dihadapan Padepokan Sanggar Gading. Sebuah padang pendadaran yang sering disebut padang Kematian. Jarak dari kedua kelompok orang-orang yang paling garang itupun menjadi semakin dekat. Karena itu, maka senjata- senjata merekapun mulai teracu. Dalam pada itu, seperti pesan Sanggit Raina, ketika persiapan sudah selesai, maka Cempaka dan Rahupun menghampirinya. Sejenak mereka termangu-mangu mendengar pesan Sanggit Raina. Balikan wajah-wajah mereka menjadi tegang. “Tidak ada pilihan lain” berkata Sanggit Raina “Kita harus berani menghadapi akibat yang betapapun gawatnya. Batas terakhir dari kegagalan kita adalah mati dalam keadaan apapun juga. Jika kita sudah meletakkan dasar yang demikian, maka t idak ada yang akan kita takutlah lagi untuk bertindak apapun juga” Cempaka mengangguk-angguk, sementara Rahu memandang ke sekelilingnnya. “Marilah“ berkata Sanggit Raina “Aku akan memer intahkan orang-orang kita menyongsong mereka. Benturan itu akan menentukan kebesaran hati kita dalam pertempuran selanjutnya” Cempaka dan Rahupun kemudian meninggalkan Sanggit Raina, untuk memimpin sekelompok kecil orang-orang Sanggar Gading yang tetap akan bersembunyi dibalik rimbunnya pategalan. Dibelakang mereka, ampat orang mengawal Pangeran yang sedang sakit, yang nampaknya tidak berdaya sama sekali. Sementara Sanggit Raina akan berada di tempat terbuka bersama para pengikutnya yang lain. Yang berada di tempat terbuka itulah yang akan menyongsong orang-orang Kendali Putih. Kemudian Cempaka dan Rami akan membawa orang-orangnya yang berjumlah kecil itu menyusur lewat bagian dalam pategalan dan akan menyerang orang- orang Kendali Putih dari lambung. Demikianlah, sejenak kemudian, Sanggit Raina menganggap bahwa waktunya telah datang. Karena itu, maka iapun mendekati Yang Mulia Panembahan Wukir Gading untuk minta perintahnya “Lakukan” desis Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Sanggit Rainapun kemudian menyiapkan kudanya yang tegar dipaling depan dari orang-orang Sanggar Gading. Diangkatnya pedangnya tinggi-tinggi, dan terdengarlah ia berteriak memberi aba kepada para pengikutnya. Perintah itu bagaikan mengumandang di daerah Sepasang Bukit Mati. Suara Sanggit Raina yang keras itu telah membentur bukit berhutan dan bukit gundul, sehingga suaranya memantul kembali melingkar-lingkar. Seakan-akan terdengar suara gemuruhnya guntur yang meledak dilangit. Perintah itu telah menggerakkan orang-orang Sanggar Gading. Dengan senjata digenggaman merekapun segera memacu kudanya menyongsong orang-orang Kendali Putih yang menjadi semakin dekat. Sementara itu, orang-orang Kendali Putihpun telah menghentakkan kuda mereka pula. Mereka berteriak tidak kalah garangnya. Bahkan orang yang disebutnya Eyang Rangga itulah yang kemudian berada dipaling depan, disisi pemimpin orang-orang Kendali Putih itu. Dalam pada itu, ketajaman penglihatan Yang Mulia menangkap wajah seseorang yang bagaikan menyalakan dendam yang tiada taranya. Karena itu, maka iapun kemudian menempatkan dir i disebelah Sanggit Raina sambil berkata “Jangan kau dekati orang tua itu. Ia adalah orang yang sangat berbahaya. Biarlah aku menempatkan dir i melawannya” Sanggit Raina tidak sempat bertanya lebih lanjut. Sekejap kemudian kedua pasukan itu telah berbenturan. Mereka menebar ke padang perdu dan ilalang yang luas diujung pategalan. Beberapa ekor kuda justru melingkar sebelum penunggangnya menemukan lawannya dengan mapan. Sejenak kemudian kedua pasukan itu telah bertempur dengan sengitnya. Sementara itu, Yang Mulia telah berhadapan dengan Eyang Rangga diatas punggung kuda masing-masing. “Kau ternyata telah melibatkan dir i diantara orang-orang Kendali Putih, Sampir” bertanya Yang Mulia kepada orang yang menyebut dir inya Eyang Rangga. “Namaku Rangga” jawab orang itu. “Sebutlah seribu nama. Aku lebih senang memanggilmu Sampir” jawab Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. “Baiklah. Aku tidak akan dapat ingkar. Tetapi kaupun t idak dapat ingkar, siapakah sebenarnya kau” desis Eyang Rangga yang berhadapan dengan Yang Mulia itu. “Sebut namaku. Bagaimanapun juga, aku adalah seorang bangsawan” sahut Yang Mulia. Tetapi Eyang Rangga yang bernama Sampir itu tertawa. Katanya “Nilai seseorang tidak diukur apakah ia bangsawan atau bukan. Bagiku kau adalah seorang yang licik dan pengecut” Tetapi yang Mulialah yang kemudian tertawa. Katanya “Jangan iri. Aku adalah orang yang paling terhormat. Tidak ada seorangpun diantara para bangsawan dalam tataranku yang disebut Yang Mulia. Aku adalah orang yang mempergunakan sebutan itu diantara orang-orangku. Diantara orang-orang Sanggar Gading” “Kau pemimpi yang buruk. Apa artinya panggilan itu bagimu? Apakah panggilan itu akan member ikan kanugrahan bagimu?“ bertanya Eyang Rangga. Yang Mulia masih tertawa. Namun suara tertawanya itu terputus ketika Eyang Ranja. berkata “Nah, kita sekarang sudah berhadapan. Kita akan memperebutkan barang yang paling berharga di dalam hidup kita. Sudah tersurat di dalam kitab-kitab yang tersimpan di istana dan diperhendaharaan orang-orang pandai, bahwa siapa yang memiliki pusaka yang tersembunyi di daerah Sepasang Bukit Mati, yang akan diterima dari rebung bambu petang yang patah, maka ia akan dapat mengusai lingkungannya dengan caranya. Nah, menurut perhitunganku dan tentu juga perhitunganmu, rebung bambu petang yang patah itu adalah anak yang menyebut dir inya Daruwerdi itu. Karena itu, maka kita bersama-sama telah didorong untuk mendapatkan pusaka itu, karena kita masing- masing ingin berkuasa atas satu lingkungan. Memang gila jika kau menganggap bahwa berkuasa atas satu lingkungan itu adalah tahta Demak, meskipun kau seorang -ngv.wan. Lingkunganmu adalah lingkungan tangan-tangan yang bernoda darah. Karena itu, jika kau atau aku yang berhasil menguasai pusaka itu, moka salah seorang dari kita akan berkuasa atas linkungan orang-orang yang tangannya bernoda darah, meskipun dengan demikian kita akan dapat menyusun kekuatan untuk menghadapi Demak” “Nah, bukankah arah perhitunganmu juga kearah mimpi, yang nikmat itu?“ desis Yang Mulia “Jangan ingkar. Tetapi aku mempunyai kelebihan dar i padamu Sampir. Aku adalah keturunan raja-raja yang berkuasa di pulau ini. Hanya karena satu sebab aku tersisih. Pada suatu saat aku akan kembali. Bukan saja sebagai seorang bangsawan yang terhormat, tetapi aku sudah melengkapi dir iku dengan segala yang diperlukan untuk menerima wahyu keraton” “Kau sudah mulai mengigau” sahut Yang Mulia “Marilah. Kita sudah lama tidak bertemu. Apakah kau masih memiliki ilmumu yang dahsyat itu” “Ilmuku mempunyai kemampuan ganda saat ini. Jika ilmumu masih saja setingkat saat itu, maka kau tidak akan dapat bertahan sepenginang” geramEyang Rangga, Yang Mulia tidak menjawab lagi. lapun segera bersiap Sekilas ia memperhatikan pertempuran yang membakar daerah diseputar pategalan itu. Di padang ilalang di hutan perdu dan diujung pategalan itu sendiri. Sejenak kemudian, maka Sampirpun tidak sabar lagi. Dengan garang ia mulai menyerang. Kudanya melonjak tinggi, kemudian seolah-olah meloncat menerkamlawannya. Tetapi Yang Muliapun tangkas menghadapinya. Ditariknya kendali kudanya kesamping, sehingga kudanya bagaikan mengelak dengan loncatan kecil. Namun selanjutnya, keduanya segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Kuda mereka berlari melingkar- lingkar, kadang-kadng keduanya sambar menyambar dengan dahsyatnya, sementara penunggangnya telah mempermainkan senjata mereka. Dalam pada itu, arena pertempuran itu menjadi terlalu ribut. Kedua belah pihak yang masih tetap berada di punggung kuda telah bertempur dengan serunya. Ternyata kedua belah pihak mempunyai kemampuan yang tinggi mengendalikan kuda dengan senjata di tangan. Sanggit Raina telah berhadapan langsung dengan pemimpin orang-orang Kendali Putih, sementara para pengikutnya bertempur memenuhi padang ilalang. Pohon-pohon perdupun berpatahan dan batang-batang ilalang roboh terinjak- injak kaki kuda. Sekali-sekali terdengar kuda meringkik. Kemudian derap kakinya yang berputaran. Beberapa saat pertempuran itu berlangsung. Namun kemudian orang-orang Kendali Putih mulai bersorak-sorak. Orang-orang Sanggar Gading menjadi agak terdesak. Meskipun perlahan- lahan, tetapi agaknya orang-orang Kendali Putih yang garang itu, dengan jantung yang membara telah bertempur tanpa menghiraukan apapun juga. Sementara orang-orang Sanggar Gading terdesak, terdengar pemimpin orang-orang Kendali Put ih itu berteriak “Serahkan saja Pangeran itu. He, dimana orang itu kalian sembunyikan? Jika kalian menyerahkannya, kalian akan kami beri kesempatan untuk tetap hidup” Sanggit Raina menggeram. Dengan garangnya ia menyerang sambil berkata lantang “Kami adalah orang-orang Sanggar Gading. Batas perlawanan kami adalah kematian, sebagaimana kami bertekad memasuki padepokan kami” “Bagus” jawab pemimpin orang-orang Kendali Putih?” kalian memang akan mati. Kalian semuanya akan kami binasakan” Tetapi gairah orang-orang Sanggar Gading tidak mengendur meskipun mereka mulai terdesak. Beberapa orang Sanggar Gading mulai melingkar agak jauh dari arena. Namun mereka menyerbu kembali ke dalam arena dengan senjata teracu. Betapapun juga garangnya orang-orang Sanggar Gading, namun mereka tidak banyak berbuat di arena yang baur itu. Seolah-olah disegala sudut orang-orang Kendali Put ih sedang menghadang dengan senjata terayun. Bahkan orang-orang Sanggar Gading itu seakan-akan tidak lagi mendapat tempat, sehingga mereka terdesak keluar arena. Namun demikian mereka berbalik, lawan telah menunggu dan bahkan menyambar dengan garangnya. “Kalian memang ingin membunuh diri” berkata Eyang Rangga. Tetapi Yang Mulia Panembahan tidak menjawab. Iapun bertempur dengan dahsyatnya pula tanpa menghiraukan keadaan orang-orang Sanggar Gading yang mengalami kesulitan. Semakin lama, semakin jelas, betapa orang-orang Kendali Putih menguasai seluruh arena. Mereka mulai berusaha mengepung orang-orang Sngagar Gading. Beberapa orang Kendali Putih telah melingkar diseputar arena. Mereka berusaha mengurung orang-orang Sanggar Gading dalam lingkaran yang semakin lama semakin dipersempit. Tetapi orang-orang Sanggar Gading adalah orang-orang yang cukup garang. Meskipun mereka sudah hampir terkepung rapat, namun masih ada diantara mereka yang berhasil memecahkan lingkaran yang mulai merapat itu. Kemudian dengan garangnya pula mereka menyerang dinding lingkaran itu dari luar. Namun demikian usaha mereka tidak banyak membawa hasil. Dalam pertempuran yang seru, orang-orang Kendali Putih mampu memancing mereka dengan membuka lingkaran yang belum sempurna itu, dan mendorong orang-orang Sanggar Gading itu kembali masuk ke dalam lingkaran. Dalam pada itu, orang-orang Kendali Putih itu semakin lama menjadi semakin garang. Senjata mereka teracu-acu. Ternyata bahwa satu dua orang diantara mereka yang bertempur itu telah tersentuh senjata, sehingga darahpun mulai meleleh dari luka. Dalam pertempuran yang seru itu, Sanggit Raina selalu memperhitungkan segala kemungkinan. Pada saat pasukannya sudah benar-benar dalam kesulitan, serta ketika ia melihat seorang pengikut dari padepokan Sanggar Gading terlempar dari kudanya, karena tusukan tombak pendek mengoyak lambungnya, maka iapun mulai mengerahkan segenap kekuatan pasukannya. Sesaat kemudian terdengar suitan nyaring dari mulut Sanggit Raina. Dalam pada itu, sebelum orang-orang Kendali Putih menyadari, maka mereka telah mendengar sorak gemuruh dari balik gerumbul-gerumbul liar dan pategalan yang rimbun. Ternyata orang-orang Sanggar Gading yang tersisa telah merayap dengan sangat berhati-hati sambil menuntun kudanya diantara pepohonan di dalam pategalan mendekati arena. Seperti yang sudah dipesan oleh pimpinan mereka, maka mereka harus mengejutkan lawan dengan sorak yang sekeras-kerasnya. Cempaka yang memimpin mereka, segera meloncat ke punggung kudanya dan meneriakkan aba-aba. Sesaat kemudian, beberapa ekor kuda berlari-larian menerjang kedinding lingkaran yang sudah hampir merapat. Dengan senjata teracu mereka dengan garangnya menyerang orang-orang Kendali Putih yang masih termangu-mangu. Serangan yang tiba-tiba itu ternyata telah memberikan hasil yang dikehendaki. Selagi orang-orang Kendali Put ih itu terkejut, maka orang-orang Sanggar Gading telah memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya, sehingga dalam waktu yang pendek, beberapa orang Kendali Putih telah terhika oleh senjata orang-orang Sanggar Gading. “Orangmu memang licik” geram Eyang Rangga “Tetapi jangan kau sangka bahwa dengan demikian kalian akan mer iang. Semakin banyak orang-orang kalian memasuki arena perkelahian ini, semakin banyak korban yang akan kau berikan bagi pusaka yang t idak tentu akan bermanfaat bagi kalian itu” “Jangan merajuk” jawab Yang Mulia “nikmat ilah pertempuran yang bagi kalian adalah kesempatan terakhir, karena dalam pertempuran ini, kalian akan kami binasakan. Jangan menyesal. Itu adalah tabiat orang-orang Sanggar Gading menghadapi lawan-lawannya” Eyang Rangga yang juga bernama Sampir itu menggeram. Dengan segenap kemampuannya ia menyerang orang yang disebut Yang Mulia itu. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, sehingga dengan demikian, maka keduanya telah bertempur dengan dahsyatnya. Kuda-kuda merekapun seolah-olah dapat mengimbangi kemampuan penunggang-penunggangnya. Dalam keadaan yang paling gawat, kuda-kuda itupun mampu menyesuaikan dirinya. Benturan senjata keduanya memercikan bunga api diudara. Kekuatan mereka yang seolah-olah tidak terbatas itu, bagaikan mengaduk udara di sekitar pategalan. Ayunan senjata mereka telah menumbuhkan desing yang mendebarkan. Para pengikut dari Sanggar Gading dan Kendali Putih tanpa sadar telah bertempur menjauhi orang-orang tua itu. “Dimanakah tongkat gadingmu Yang Mulia” geramSampir. Yang Mulia tertawa pendek Sambil menyerang ia berdesis “Tongkat itu bukan untuk bertempur. Terlalu mahal untuk menyentuh senjata lawan. Tetapi pangkal itu ada pada senjataku ini. Karena itu, tuah gajah mati ngurag itu ada juga pada senjataku ini” “O” desis Sampir “Aku sama sekali tidak merasakan kekuatan apapun pada senjatamu. Mungkin karena kemampuanku memang melampaui kekuatan dan tuah gading gajah mati ngurag. “Omong kosong” desis Yang Mulia “terasa ditanganku, kekuatanmu sudah jauh menjadi susut” Eyang Rangga tertawa. Katanya “Kita akan bertempur sampai tuntas. Mungkin orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih akan bertempur sampai orang terakhir. Dan kita akan bertempur terus. Sejak semula aku sudah ketahui bahwa kau memang ingin bertempur tanpa, menunjukkan cacat kakimu. Karena itu, orang-orangmupun kau perintahkan untuk bertempur diatas punggung kuda. Tetapi Yang Mulia menjawab “Kau sangka, bahwa dengan kakiku yang cacat aku tidak mampu bertempur diatas tanah?” Eyang Rangga tertawa. Terdengar kudanya meringkik, seolah-olah ikut pula mentertawakan jawaban Yang Mulia Wukir Gading. Namun kuda itupun harus segera bergeser, karena Yang Mulia tidak menyerang dengan garangnya. Sementara itu pertempuran menjadi semakin sengit. Ternyata kehadiran orang baru itu sangat mempengaruhi pertempuran. Satu-satu orang-orang Kendali Putih terlempar dari kudanya. Namun orang-orang Sanggar Gadingpun menjadi semakin berkurang pula jumlahnya. Pertempuran berkuda itu ternyata merupakan pertempuran yang paling dahsyat yang pernah dialami oleh kedua kelompok orang- orang yang garang itu. Sanggit Raina telah memperhitungkan segalanya dengan saksama. Ia mulai melihat keseimbangan yang berubah. Meskipun demikian pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang dahsyat. Dalam dahsyatnya pertempuran itu, Sanggit Raina berusaha untuk mendekati Cempaka. Dengan hati-hati ia berbisik “Sudah saatnya. Pertempuran itu berlangsung sangat seru. Karena itu, kita tidak boleh menunda lagi. Beritahukan kepada Rahu, agar ia ikut bersama kita. Jangan menimbulkan kecurigaan terhadap siapapun. Semuanya harus berlangsung tanpa menarik perhatian orang lain” Cempaka tidak menjawab. Tetapi iapun segera berkisar. Sambil bertempur ia berusaha untuk mendekati Rahu yang sedang sibuk pula dengan lawannya. Namun Cempaka sempat memberi isyarat kepada Rahu, sehingga akhirnya Rahupun berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan pertempuran. Ternyata Sanggit Raina telah mempunyai rencana sendir i. Ditinggalkannya pertempuran yang seru itu. Namun Sanggit Raina telah memperhitungkan, bahwa pertempuran itu akan berakhir sampai orang yang penghabisan dari kedua belah pihak. Mungkin Yang Mulia dan lawannya sajalah yang akan bertempur sampai waktu yang tidak terbatas. Sementara orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih akan habis punah. Sejenak kemudian, tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain, Sanggit Raina, Cempaka dan Rahu berusaha untuk bertempur dibatas pategalan. Kemudian tanpa diketahui oleh siapapun ketiganya telah hilang dibalik rimbunnya dedaunan. Untuk beberapa saat mereka justru telah turun dari kuda mereka dan menuntun kuda masing-masing untuk menghindari pengamatan kawan-kawannya. Sementara itu, pertempuran itupun masih berlangsung dengan sengitnya. Jika semula orang-orang Sanggar Gading nampak agak mempunyai kelebihan namun kepergian Sanggit Raina, Cempaka dan Rahu meskipun tidak terlalu terasa ada juga pengaruhnya, sehingga rasa-rasanya kedua kekuatan itu menjadi seimbang. Dalam pada itu, Sanggit Raina, Cempaka dan Rahu itupun kemudian telah menyusup ke tempat Pangeran yang sedang sakit itu di sembunyikan. Dengan tergesa-gesa iapun berkata kepada orang-orang yang mengawal Pangeran itu “Keadaan memaksa kita untuk meninggalkan tempat ini. Orang-orang Kendah Putih jumlahnya tidak terhitung. Kekuatannya melampaui kekuatan orang-orang Sanggar Gading” “Jadi, apakah yang akan kita lakukan?“ bertanya salah seorang pengawal Pangeran yang sedang sakit itu. “Kita meninggalkan tempat ini. Pangeran kita selamatkan dari tangan orang-orang Kendali Putih” jawab Sanggit Raina. “Dimanakah Yang Mulia sekarang?“ bertanya pengawal itu. “Yang Mulia masih bertempur melawan orang terkuat dari Kendali Putih” jawab Sanggit Raina “Yang Mulialah yang memer intahkan kami untuk meninggalkan arena dan menyelamatkan Pangeran itu” Orang Sanggar Gading yang mengawal Pangeran itu sama sekali tidak berprasangka. Menurut pengamatannya, Sanggit Raina adalah orang yang paling dipercaya oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Karena itu maka iapun segera bersiap-siap. Kawan-kawannya yang mengawal Pangeran itupun telah bersiap-siap pula. “Marilah. Ikut kami ke bukit gundul” berkata Sanggit Raina. Dengan demikian, maka merekapun segera meninggalkan pategalan itu menuju ke bukit gundul. Atas perintah Sanggit Raina, mereka tidak muncul dari pategalan dan turun kejalan, tetapi mereka berusaha untuk berada dilingkungan pategalan itu, sehingga karena itu, maka mereka tidak lagi menelusuri jalan sebagaimana seharusnya, tetapi mereka turun kesawah dan melintasi pematang tanpa menghiraukan tanaman. Dalam terik matahari dan air yang tidak mencukupi, tidak ada seorangpun yang turun kesawah. Apalagi anak-anak Lamban Wetan dan Lamban Kulon sedang beristiiahat setelah semalam suntuk mereka berada di bendungan. Disebelah pategalan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Satu-satu mereka telah terbunuh. Namun ada juga yang sekedar terlempar dari kudanya dalam keadaan terluka parah. Sanggit Raina sama sekali tidak menghiraukan lagi. Dengan tergesa-gesa ia membawa Pangeran yang masih dianggapnya sakit itu ke bukit gundul. “Rahu” berkata Sanggit Raina “Pergilah mendahului kami. Panggillah Daruwerdi agar ia mempersiapkan pusaka yang dijanjikan. Aku telah membawa Pangeran yang dikehendakinya” Rahu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menyahut “Baiklah. Aku akan memberitahukan Daruwerdi. agar ia bersiap-siap di bukit gundul. Sanggit Raina tidak mengulangi pesannya. Rahupun kemudian memacu kudanya mendahului ir ing-ir ingan itu menuju ke Lumban Kulon untuk menemui Daruwerdi seperti yang telah disanggupkannya. “Apakah dengan sikap kita, tidak akan terjadi sesuatu di kemudian nanti” bertanya Cempaka sambil berbisik disisi Sanggit Raina. “Aku tidak peduli” jawab Sanggit Raina “Tetapi aku kita mereka akan hancur bersama-sama. Tidak akan ada yang tersisa. Mungkin satu dua orang dkntara mereka. Itu adalah kewajiban kita untuk membunuhnya” Cempaka mengangguk-angguk. Namun kemudian “Bagaimana dengan orang-orang yang mengawal Pangeran itu?“ “Apakah kita tidak sanggup membunuhnya pula?“ desis Sanggit Raina. Sekali lagi Cempaka mengangguk-angguk. Tetapi nampaknya Sanggit Raina masih belum akan berbuat sesuatu atas para pengawal. Ia masih mempertimbangkan, seandainya orang-orang Sanggar Gading punah, sementara masih ada orang-orang Kendali Putih yang tersisa, adalah menjadi kewajiban taereka untuk membinasakan, sebelum orang- orang Sanggar Gading yang tersisa itu sendiri akan dibinasakan. “Kita sudah berada diatas genangan darah. Kita tidak perlu mencuci tangan kita. Biarlah kita berbuat sampai ke batas. Baru kemudian kita mencari sumber air yang paling bening untuk mencuci segala macam noda yang melekat ditabuh kita. Tetapi pusaka dan petunjuk mengenai harta yang tidak terbatas jumlahnya itu harus berada di tangan kita” geram Sanggit Raina. Cempaka mengangguk-angguk. Memang t idak ada pilihan lain. Segalanya itu memang harus terjadi. Jika sekali tangannya telah bernoda darah, maka sulit baginya untuk ingkar, bahwa noda-noda berikutnya masih akan melekat. Meskipun seperti Sanggit Raina, Cempakapun mengetahui, bahwa masih ada satu jalan yang dapat ditempuh. Bertaubat mut lak. Tetapi juga seperti Sanggit Raina Cempaka berkata didalam hatinya “Nanti sajalah jika semua kerja sudah selesai” Sekaligus aku akan bertaubat dan mencuci segala dosa. Belum waktunya sekarang, karena aku tentu masih akan membuat dosa-dosa baru. Jika kemudian aku sudah puas dengan dosa-dosa dan aku sudah menjadi kaya raya karena harta yang akan dapat diketemukan atas petunjuk sesuatu yang berada bersama pusaka itu, serta apalagi jika pusaka itu benar-benar bertuah dan menjadikan Sanggit Raina orang terpenting di tanah ini, maka akupun akan menjadi orang yang berderajad dan sekaligus kaya raya” Dengan sikap itu Cempakapun telah bertekad untuk berbuat apa saja dan mengorbankan siapa saja. Ketika Bukit gundul menjadi semakin dekat. Sanggit Raina dan Cempaka menjadi berdebar-debar. Demikian gemuruhnya gejolak di dalam dada Cempaka sehingga diluar sadarnya ia berdesis “Mudah-mudahan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih itu hancur punah” Ternyatai Sanggit Raina yang berkuda di sebelahnya mendengarnya. Katanya “Jangan gelisah. Percayalah” Cempaka mengangguk kecil. Ia berusaha untuk meyakini, bahwa orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih memang akan hancur. Sementara itu, Pangeran yang sedang sakit itu sama sekali tidak berbuat sesuatu. Ia masih nampak sangat lemah. Diantara para pengawal yang mengikutinya, terdapat seorang yang mempunyai kemampuan pengobatan. Orang itu pula yang telah memberikan obat kepada salah seorang Sanggar Gading yang terluka dipategalan. Tetapi orang itu ditinggalkannya dengan harapan, bahwa kawan-kawannya akan mengambilnya, setelah pertempuran itu selesai Dalam pada itu, Pangeran yang sakit itupun nampaknya masih sangat lemah. Meskipun ia sudah mula nampak berangsur baik, bahkan sudah mulai mau makan barang sedikit, tetapi ia masih harus dilayani dan dijaga agar tidak jatuh dari kudanya. “Aku akan dibawa kemana?“ bertanya Pangeran itu kepada pengawalnya. “Ke bukit gundul itu Pangeran” jawab salah seorang dari mereka. “Apakah sebenarnya yang mereka kehendaki dari aku?“ desis Pangeran itu pula “nampaknya ada salah mengerti” “Kami tidak berhak memberikan jawaban. Mungkin Pangeran sudah mnedengar serba sedikit, sengaja atau tidak sengaja” jawab pengawalnya itu pula. “Ya. Aku sudah mendengarnya. Seperti yang kau katakan, sengaja atau tidak sengaja. Tetapi aku tidak yakin bahwa alasan itulah yang sebenarnya kenapa aku harus dibawa kemari” desis Pangeran itu. Pengawalnya tidak menyahut. Sanggit Raina yang berkuda di depan berpaling. Agaknya ia mendengar percakapan itu meskipun tidak jelas apa yang mereka maksudkan. Meskipun demikian, percakapan itupun terhenti pula. Karena Pangeran itu nampaknya masih sangat lemah, maka Sanggit Raina tidak mencemaskannya bahwa ia akan berbuat sesuatu. Bahkan untuk berdiri tegak tanpa bantuan orang lain, Pangeran itu rasa-rasanya tidak mampu lagi. “Tetapi ia tidak boleh mati” berkata Sanggit Raina di dalam hatinya “Daruwerdi tidak akan mau mengerti apapun alasannya” Beberapa saat kemudian, ir ing-ir ingan kecil itu sudah tinggal beberapa puluh langkah saja dari bukit gundul. Karena itu, maka merekapun berhenti di bawah sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Sebatang pohon munggur yang besar, meskipun daunnya tidak terlalu lebat. Namun demikian, mereka dapat berteduh sedikit sambil menunggu kehadiran Rahu dan Daruwerdi. Dalam pada itu, Rahu telah berada dihalaman rumah tempat tinggal Daruwerdi. Semula ia merasa ragu. Agaknya ada semacam kecemasan dihati Rahu. Jika pusaka itu benar- benar jatuh ke tangan orang-orang Sanggar Gading yang telah berkhianat itu, apakah ia akan dapat berbuat sesuatu. Dan iapun menjadi cemas akan nasib Pangeran itu. Jika dendam Daruwerdi itu tidak terkendali, maka Pangeran yang dianggapnya telah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadap Daruwerdi itu akan mengalami nasib yang buruk justru disaat ia sedang sakit. Jika demikian, maka telah terjadi sesuatu yang seharusnya dicegahnya demi nama Demak yang sedang bangkit. “Lalu, yang manakah yang harus aku kerjakan terutama“ pertanyaan itu bergejolak diliatinya “Apakah aku harus mendapatkan pusaka itu, atau menyelamatkan Pangeran yang sedang sakit?“ Sekilas diingatnya Semi dan seorang kawannya yang akan dapat membantunya. Tetapi ia masih belum dapat berhubungan karena keadaan yang memang belum memungkinkan. Bahkan masih ada seorang lagi yang akan melibatkan diri dalam hal yang pelik itu. Jlitheng. Meskipun Rahu tahu pasti, siapakah Jlitheng dan kebesaran nama ayahandanya, tetapi dalam perkembangan berikutnya ia tidak tahu apakah yang sebenarnya ingin dilakukan oleh enak muda itu. Tetapi Rahu tidak sempat berpikir terlalu panjang. Ia sudah berada di halaman rumah Daruwerdi. Sejenak kemudian, Daruwerdi itupun muncul dari balik pintu. Sambil tersenyum ia berkata “Marilah. Duduklah” Tetapi Rahu menggeleng. Jawabnya “Tidak perlu. Aku member itahukan kepadamu, segalanya sudah siap” “Jadi orang-orang Sanggar Gading itu t idak sekedar membual saja?“ bertanya Daruwerdi. “Semuanya judah berada di bukit gundul. Kau datang sajalah ke bukit itu” berkata Rahu. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Baiklah. Aku akan pergi ke bukit gundul. Segalanya akan aku selesaikan di bukit itu” “Terserah kepadamu” desis Rahu. Namun kemudian iapun bertanya “Tetapi apakah sebenarnya yang akar kau lakukan atas Pangeran itu” Daruwerdi memandang Rahu sejenak. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkala “Persoalan dengan Pangeran itu adalah persoalanku. Apapun yang akan aku lakukan kemudian, terserah kepadaku. Kalian akan menerima pusaka yang kalian kehendaki” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat memaksa Daruwerdi untuk mengatakan apapun juga. Bahkan mungkin akan dapat menimbulkan kecur igaan pada anak itu. Karena itu, maka iapun kemudian berkata “Marilah, Cepatlah. Kita akan menyelesaikan persoalan kita secepatnya sebelum suasana berubah” “Kenapa?“ bertanya Daruwerdi. “Jangan pura-pura tidak tahu kehadiran orang-orang Kendali Putih di daerah Sepasang Bukit Mati ini” jawab Rahu. Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya “Aku tidak peduli kehadiran orang manapun juga. Jika kau serahkan yang aku kehendaki, maka pusaka yang tidak akan berarti apa-apa bagiku itu akan aku serahkan pula. Tetapi kalian tentu akan kecewa, karena sebenarnya pusaka itu sama sekali tidak mempunyai pengaruh terhadap siapapun. Adalah satu mimpi bahwa pusaka itu akan dapat memberikan tuah sehingga siapa yang memilikinya akan dapat memegang kendali kekuasaan di Demak” “Jangan mengigau. Cepatlah berkemas dan ambil kudamu” potong Rahu. Daruwerdi tersenyum. Jawabnya “Baiklah, Nampaknya kau sangat tergesa-gesa. Duduklah. Aku akan mengambil kudaku” “Aku menunggu di sini” sahut Rahu, Ketika Daruwerdi kemudian masuk ke ruang dalam, dilihatnya ibunya mengusap setitik air dipelupuknya. Dengan suara lembut ia berdesis “ngger, kau sedang bermain api” ”Sudahlah ibu” sahut Daruwerdi “Silahkan ibu duduk saja dan menunggu apa yang akan terjadi. Paman berdua akan menemani ibu disini. Aku akan pergi ke bukit gundul untuk mengambil orang yang aku kehendaki itu” “Bagaimana dengan kau dan Pangeran itu j ika orang-orang yang membawanya telah berkhianat?“ ibunya menjadi cemas. Tetapi Daruwerdi tersenyum saja. Ketika ia berpaling kepada kedua orang pamannya, iapun berdesis “Jangan cemas paman. Sebaiknya paman menunggui ibu disini. Nampaknya ibukan hanya orang-orang Sanggar Gading sajalah yang datang ke daerah Sepasang Bukit Mati ini. Tetapi juga orang-orang Kendali Putih dan mungkin orang-orang Pusparuri pula. “Aku adalah seorang petualang yang sudah kenyang makan pahit manisnya petualangan” berkata salah seorang pamannya. Lalu “Tetapi aku kira, aku tidak akan berani melakukan seperti yang akan kau lakukan” “Bukan apa-apa paman. Mudah sekali” jawab Daruwerdi. Namun pamannya yang lain berkata “Nampaknya kau tidak tahu bahaya yang sedang kau hadapi. Seperti kanak-kanak yang tidak tahu panasnya api, sehingga ia berani memegangnya. Dan sebenarnya itu bukan satu keberanian. Tetapi semata-mata karena ketidak tahuan” “Agak berbeda dengan paman” jawab Daruwerdi tersenyum “Anak-anak melakukannya tanpa kesadaran. Aku melakukan rencanaku dengan sadar dan perhitungan yang masak” “Perhitungan kanak-kanak” desis ibunya “agaknya kedua pamanmu mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain” “Jangan rusakkan rencanaku” desis Daruwerdi “Sudahlah. Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya. Sebentar lagi aku akan datang dengan membawa Pangeran. Kemudian kita akan meninggalkan tempat ini secepat-cepatnya kearah yang tidak akan diketemukan oleh siapapun” Daruwerdi tidak dapat dicegah lagi. Karena itu kedua pamannya hanya dapat mengangkat bahunya. Hampir berbareng keduanya berdesah oleh kegelisahan. Sementara ibunya dengan lemahnya duduk diamben bambu, samoil mengusap air matanya yang menitik semakin deras. Tetap Daruwerdi tidak dapat menunda lagi. Rahu sudah menunggunya. Dan ia memang akan pergi ke bukit gundul itu. Dengan tergesa-gesa Daruwerdipun kemudian pergi ke kandang. Diambilnya kudanya dan dituntunnya kehalaman. Rahu sudah menjadi gelisah. Ketika ia melihat Daruwerdi, maka Katanya “Cepatlah. Apakah kau sengaja memperpanjang waktu untuk satu kepentingan tertentu?“ “Kau terlalu berprasangka buruk” sahut Daruwerdi “Sudah aku katakan. Aku memerlukan Pangeran itu, karena bagiku nilainya jauh lebih penting dari nilai apapun juga., Siapapun yang membawanya” Rahu tidak menjawab. Iapun kemudian dengan tergesa- gesa pula mengajak Daruwerdi untuk segera pergi ke bukit gundul. Karena Daruwerdi tidak membawa apapun juga, maka Rahupun bertanya kepadanya ketika keduanya mulai berpacu “Dimana, pusaka itu? Nampaknya kau tidak membawa apapun juga?“ “Semuanya sudah ada di bukit gundul itu” bertanya Daruwerdi. “Kau yang meletakkan disana?“ bertanya Rahu. “Bukan aka Tempatnya memang agak tersembunyi. Maksudku, bahwa aku telah mengetahui letaknya dengan pasti. Justru agak tertutup, sehingga aku memerlukan dua atau tiga orang untuk membantu mengambitaya. Aku sendiri tidak dapat melakukannya” berkata Daruwerdi. Rahu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Memang sebuah teka-teki yang rumit sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Sementara iapun masih belum tahu pasti, apakah Semi sudah berada di sekitar bukit gundul. “Jika ia melihat orang-orang Kendali Putih meninggalkan bukit berhutan itu, ia akan mengikutinya” berkata Rahu di dalam hati “Tetapi apakah ia melihat Sanggit Raina membawa Pangeran itu meninggalkan arena yang dahsyat, yang seperti perhitungan Sanggit Raina, kedua belah pihak akan punah atau setidak-tidaknya mengalami luka yang sangat parah” lalu, tiba-tiba saja ia berdesis di dalam hati “Jlithenglah yang tentu sudah melihat kehadiran Sanggit Raina. Tetapi ia tidak melihat peristiwa yang terjadi di pategalan itu” Sebenarnyalah, dari kejauhan Jlitheng telah melihat kehadiran Sanggit Riaina bersama iring- iringan kecilnya. Iapun melihat Rahu yang mendahuluinya. Dan Jlithengpun mengetahui bahwa Rahu tentu akan memanggil Daruwerdi untuk melakukan tukar menukar. Tetapi seperti yang diduga oleh Rahu, Jlitheng tidak tahu apakah sebabnya, yang datang ke bukit gundul itu hanya beberapa orang saja yang dipimpin oleh Sanggit Raina dan Cempaka. “Aneh” desis Jlitheng di dalam hati “Apakah artinya semuanya itu. Apakah ada satu maksud tertentu atau usaha yang sudah mulai dirintis oleh Cempaka dan kakaknya untuk menguasai pusaka itu diluar pengetahuan pimpinan tertinggi padepokan Sanggar Gading” Namun Jlithengpun sudah menduga, bahwa Sanggit Raina dan Cempaka telah melakukan rencananya untuk mendapatkan satu keuntungan bagi mereka sendiri. Jlitheng yang bersembunyi dibalik sebuah gerumbul perdu yang agak jauh dari bukit gundul itu terkejut ketika ia mendengar desir lembut di belakangnya. Dengan serta merta ia memutar tubuhnya dan bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Namun iapun menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat seseorang yang tersembul dar i sebuah gerumbul yang ber- serakkan di sekitarnya. “Kiai mengejutkan aku” desis Jlitheng. Kiai Kanthi tersenyum. Katanya “Aku telah menerima ngger. Aku mengelilingi bukit gundul ini” “Mereka sudah datang Kiat” desis Jlitheng “Tetapi hanya beberapa orang saja. Agaknya pimpinan tertinggi padepokan Sanggar Gading tidak turun sendiri kemedan” “Tidak ngger. Pemimpin tertinggi padepokan Sanggar Gading inilah yang telah memimpin pasukannya segelar sepapan” Jlitheng mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia berkata “Tetapi hanya mereka sajalah yang sampai ke bukit gundul ini”“ Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya “Yang lain sedang bertempur di pategalan. Ternyata orang-orang yapg berada di lereng bukit berhutan itu, tidak menunggu sampai Pangeran itu diserahkan. Mereka telah menyerang orang- orang Sanggar Gading dan agaknya mereka ingin merampas Pangeran itu” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya “Satu pergulatan yang sengit. Nampaknya orang-orang yang menunggu itu sudah tidak sadar lagi. Tetapi mereka sudah melakukan sesuatu yang berbahaya. Berbahaya bagi mereka sendiri dan berbahaya bagi Pangeran itu” “Ya ngger. Tetapi mungkin sekali mereka mempunyai perhitungan tersendiri. Mungkin mereka menganggap bahwa cara itu akan lebih baik ditempuh daripada mereka menunggu orang-orang Sanggar Gading itu memperoleh pusaka yang mereka percaya mempunyai tuah. Dengan pusaka itu ditanam, maka orang-orang Sanggar Gading tidak akan dapat dikalahkannya” desis Kiai Kanthi. “Mungkin Kiai, meskipun mungkin ada perhitungan- perhitungan yang lain. Tetapi satu kenyataan telah terjadi, bahwa pertempuran itu sudah berlangsung” jawab Ilitheng. “Ya. Menurut pengamatanku pertempuran itu akan berlangsung sangat seru. Nampaknya kedua belah pihak mempunyai kekuatan yang seimbang” berkata Kiai Kanthi. “Lalu kenapa Sanggit Raina telah membawa Pangeran itu mendahului pasukannya yang sedang bertempur?“ bertanya Jlitheng. “Aku hanya dapat menyaksikan dar i kejauhan ngger, sehingga aku t idak dapat mengerti, apakah sesungguh yang terjadi. Tetapi menurut dugaanku, Sanggit Raina menyelamatkan Pangeran itu, sehingga dengan demikian maka pusaka itu akan tetap berada di tangan orang-orang Sanggar Gading meskipun itu akan berakhir dengan sangat menger ikan. Jika kekuatan mereka benar-benar seimbang, akan keduanya tentu akan punah sampai orang yang terakhir” jawab Kiai Kanthi. “Kenapa dengan demikian Yang Mulia Panembahan Wukir Gading tidak justru Memanfaatkan tenaga Sanggit Raina Cempaka dan Rahu selain beberapa orang yang mengawal Pangeran itu untuk menghancurkan lawan mereka sama sekali. Dengan orang-orang terpenting dari Sanggar Gading itu, maka mereka tentu akan dapat mengalahkan lawan mereka” sahut Jlitheng. Tetapi Kiai Kanthi menggeleng. Katanya “Aku tidak tahu, apakah alasan yang sebenarnya, bahwa Sanggit Raina telah membawa Pangeran itu. Yang aku katakan hanyalah satu dugaan” Jlitheng hanya dapat mengangguk-angguk saja. Mereka memang hanya dapat menduga-duga, apakah yang telah terjadi sebenarnya. Namun dalam pada itu, pertempuran di pategalan itu memang telah berlangsung dengan sangat menger ikan. Kedua pihak ternyata terdiri dari orang-orang yang, kasar. Ketika tubuh mereka telah basah oleh bukan saja keringat, tetapi darah, maka mereka menjadi buas dan liar. Mereka tidak lagi dapat menguasai diri. Mereka bertempur bagaikan seekor harimau yang kelaparan atau sebagai kawanan serigala yang berebut bangkai. Bahkan mereka yang telah terluka dan terjatuh dari kuda masing-masingpun masih juga bertempur dengan sisa- sisa tenaga mereka. Seorang yang telah terluka dengan sisa tegananya berusaha untuk menghunjamkan pedang mereka pada lawannya yang sudah terbaring diam sambil mengerang. Namun ternyata bahwa orang itu tidak mampu lagi melakukannya dan bahkan kemudian jatuh terbaring dislisi lawannya sambil mengerang pula. Namun mereka yang masih mampu melangkah dengan tertatih-tatih telah melepaskan dendam dan kemarahannya kepada lawan-lawannya yang sudah t idak berdaya. Tetapi ketika seorang yang terhuyung-huyung dengan pedang di tangan siap untuk menusuk leher, tiba-tiba saja ia telah terlempar jatuh karena hentakkan bindi yang berat dipunggungnya dari seorang lawannya yang masih berada dipunggung kuda. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading masih bertempur dengan sengitnya melawan Eyang Rangga. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang lain yang tidak berani mendekat sama sekali. Dengan tangkasnya keduanya memutar senjata masing- masing. Kuda mereka ber lari sambar-menyambar. Mereka sama sekali t idak menghiraukan lagi keadaan disekitar mereka. Satu-satu pengikut mereka dikedua belah pihak telah terbunuh. Seperti yang diramalkan oleh Sanggit Raina, bahwa kedua belah pihak pada akhirnya akan mengalami keadaan yang sangat parah. Meskipun demikian, diluar sadar, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dapat melihat, ada yang kurang pada paku- kannya. Dalam pertempuran yang garang dengan arena yang luas, Panembahan Wukir Gading merasakan, bahwa, pasukannya tidak bertempur dengan sepenuh kekuatan. “Ada yang kurang“ Ia berdesis “Tetapi ia tidak segera mengetahui, apakah yang kurang itu sebenarnya” Sementara itu. Sanggit Raina, Cempaka dan beberapa orang pengikut dari padepokan Sanggar Gading masih berada di bawah sebatang pohon yang meskipun tidak terlalu rimbun, namun dapat menjadi tempat sekedar untuk berteduh sambil menunggu kedatangan Rahu yang sedang memanggil Daruwerdi ke bukit gundul. Kegelisahan yang mencengkam membuat Sanggit Raina tidak dapat berdiri tenang. Kudanya yang ditambatkannya pada pohon itupun nampaknya menjadi gelisah pula, Rasa-rasanya Rahu telah pergi sehari penuh. Cempakapun menjadi gelisah pula. lapun telah menambatkan kudanya dan berjalan hilir mudik. Sekali-kali ia berhenti memandang kekejauhan. Tetapi ia tidak melihat Rahu muncul dar i balik tikungan. Sementara itu bukit gundul itupun nampaknya bagaikan tempurung raksasa yang menelungkup. Diam dan beku. Sementara itu. Pangeran yang dianggap masih dalam keadaan sakit itupun menjadi gelisah pula. Ketika ia sadar, bahwa hanya ada beberapa orang-orang muda yang menungguinya, tambul niatnya untuk melepaskan dir i. Ia merasa, bahwa ia akan mampu melakukannya. Meskipun ia tidak dapat bertempur langsung melawan mereka dalam jumlah yang terlalu banyak, namun dengan hentakkan pertama ia dapat membunuh orang yang bernama Sanggit Raina itu dengan ilmunya, justru pada saat orang itu lengah. Kemudian adiknya yang bernama Cempaka dan para pengikutnya yang lain tidak akan terlalu sulit untuk melawan sambil menghindar. Tetapi keinginannya untuk mengetahui, apakah latar belakang dari semuanya itu telah mencegahnya. Ia masih saja berpura-pura sakit. Dengan demikian ia akan dihadapkan pada satu saat yang ingin dimengertinya. Pangeran itu benar-benar ingin mengetahui, siapakah orang yang telah menuntut agar dirinya diserahkan. Keragu-raguan yang tajam telah menghentak-hentak didadanya. Namun akhirnya ia memilih untuk tetap tinggal dalam keadaannya, seolah-olah ia masih seorang yang sakit. Bahkan ia telah berhasil mengelabui orang yang merawat dan mengobatinya. Ketika Sanggit Raina dan Cempaka masih saja dicengkam oleh kegelisahan, maka Pangeran yang dibayangi oleh keragu- raguan itupun telah berbaring diatas rerumputan. Sebenarnyalah bahwa iapun menjadi sangat gelisah. Tetapi ia tidak dapat menyingkirkan keinginannya untuk bertemu dengan orang yang memerlukannya. oooOooo- 

Jilid 15
SANGGIT RAINA yang melihat Pangeran itu berbaring dengan lemahnya berkata “Tahankan Pangeran. Perjalanan Pangeran sudah hampir selesai” “Kau hanya mengira-ira” sahut Pangeran itu. “Aku pasti. Pangeran akan sampai ketujuan” berkata Cempaka yang mendengar percakapan itu. “Tidak anak-anak muda. Bahkan mungkin di bukit gundul itu, perjalanan yang lebih rumit baru akan aku mulai. Kalian tidak tahu, apa yang akan terjadi kemudian” desis Pangeran itu sambil memandang dedaunan dialasnya. Sangit Raina menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Pangeran benar. Tetapi aku mengatakan, perjalanan Pangeran diantara orang-orang Sanggar Gading telah hampir selesai. Dihadapan kita itu adalah bukit gundul. Disana nanti Pangeran akan bertemu dengan orang yang memer lukan Pangeran” “Ya. Dan mulailah yang masih belum kita ketahui itu” sahut Pangeran itu tanpa memalingkan wajahnya. Ketika angin semilir, maka daun-daun itupun bergerak-gerak perlahan- lahan. Sanggit Raina tidak menjawab lagi. lapun sadar, bahwa Pangeran yang disangkanya masih sakit dan lemah itu menjadi sangat gelisah, karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi atas dirinya setelah ia diserahkan kepada orang yang tidak dikenalnya pula. Menunggu memang merupakan pekerjaan yang sangat- tidak menyenangkan. Sekali-kali terdengar Cempaka mengumpat seolah-olah Rahu tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya, Namun sejenak kemudian, Cempaka itupun- meloncat ke tengah jalan ketika ia melihat debu yang mengepul. Kemudian muncul seekor kuda dengan penunggangnya. “Orang itu datang” desis Cempaka. Sanggit Rainapun kemudian siap pula menyongsongnya. Namun dengan jantung yang berdebaran ia berkata “Sendir i” “Mudah-mudahan orang itu tidak menjadi gila dan membunuh Daruwerdi geram Cempaka. “Tentu tidak” sahut Sanggit Raina. “Jika terjadi perselisihan?“ desis Cempaka pula. “Tidak. Ia cukup mengerti arti dari persoalan ini dalam keseluruhan” gumam Sanggit Raina. Kuda Rahu yang berlari itu rasa-rasanya sangat lamban. Namun akhirnya Rahu itupun telah meloncat turun dari kudanya ketika ia sudah berada dihadapan Sanggit Raina dan Cempaka. Pangeran yang berbaring itu masih saja berbaring. Seolah- olah ia sama sekali tidak menghiraukan kedatangan Rahu. Tanpa bergeser dan berpaling sedikitpun, ia menarik nafas sambil berdesis “Segalanya terasa semakin gelap bagiku” Namun sementara itu Sanggit Raina berkata “Katakan, apa yang sudah kau lakukan” Rahu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Pangeran yang masih saja berbaring direrumputan. Seolah-olah ia sudah pasrah, apa yang akan terjadi atasnya, selain karena menurut dugaan Rahu, sakitnya masih belum berkurang. “Cepat, katakan“ desak Cempaka. Rahu menar ik nafas panjang. Kemudian diceriterakannya apa yang sudah dikatakan oleh Daruwerdi kepadanya. “Jadi kita harus pergi ke bukit gundul itu” bertanya Sanggit Raina, “Ya” jawab Rahu. “Anak setan. Ia tidak mau datang hanya beberapa langkah saja dari bukit gundul?“ bertanya Cempaka. “Pusaka yang dikatakannya berada di bukit gundul. Justru berada di tempat yang sulit untuk diambil. Ia memer lukan bantuan beberapa orang diantara kita” jawab Rahu. Sanggit Raina tidak mau menunggu lebih lama lagi. Iapun segera memer intahkan orang-orangnya untuk bersiap. Katanya “Kita harus melakukan semuanya dengan cepat. Jika pada pertempuran itu masih ada orang-orang Kendali Putih yang tersisa, maka kita harus berhati-hati” Mungkin mereka akan menyusul kita dan kita masih harus bertempur” “Apakah menurut pendapatmu, orang-orang kita termasuk Yang Mulia tidak dapat mengalahkan orang-orang Kendali Putih?“ tiba-tiba saja seorang pengikutnya bertanya. “Tentu orang-orang Sanggar Gading akan menang” jawab Sanggit Raina “Tetapi segalanya dapat terjadi, dan Yang Mulia telah memerintahkan aku untuk mendahului perjalanannya. Bukankah itu merupakan satu pertimbangan atau satu kemungkinan?“ Pengikutnya tidak bertanya lagi. Namun iapun kemudian berkata kepada Pangeran yang masih berbaring “Cepat Pangeran. Bangkitlah dan kita akan berangkat lagi” Dengan segan Pangeran itupun kemudian bangkit. Nafasnya masih nampak sesak dan sekali-kali ia masih memegangi punggungnya sambil berdesah. Dibantu oleh seorang pengikut Sanggit Raina, Pangeran itu naik ke punggung kudanya. Ketika terdengar ia berdesis, orang yang membantunya membentaknya “Jangan terlalu manja” Cempaka yang mendengar kata-kata pengikutnya itupun membentak pula “Gila. Pangeran sedang sakit. Apakah kau ingin merasakannya? Aku dapat membuat kau sakit, dan melihat, apakah kau dapat naik ke punggung kuda” Orang itu terdiam. Tetapi dengan tajamnya ia memandangi Pangeran yang sudah duduk dipunggung kuda. Betapa kebencian orang itu nampak pada sorot matanya. Tetapi Pangeran itu tidak menghiraukannya. Sejenak kemudian, iring- iringan itu sudah bergerak ke bukit gundul yang sudah berada di depan hidung mereka. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi, mereka harus datang ke bukit gundul dan membantu mengambil pusaka itu. Mereka hanya memerlukan waktu beberapa saat. Ketika iring- iringan itu sudah berada di kaki bukit itu, maka Rahu telah meloncat turun. Dengan nada tinggi ia memanggil “Daruwerdi. Kami sudah disini” “Kemarilah“ terdengar jawaban dar i kejauhan. Lalu “Aku memer lukan tiga orang untuk membantuku agar segalanya cepat selesai” Rahu berpaling kearah Sanggit Raina untuk minta pertimbangannya. Namun kemudian Sanggit Rainapun berkata kepada Cempaka “Pergilah bersama Rahu dan seorang lagi. Jika terjadi kecurangan, beri aku isyarat“ Rahu dan seorang pengikut padepokan Sanggar Gadingpun kemudian mengikuti Cempaka naik ke bukit gundul itu menuju kearah suara Daruwerdi dibalik sebuah bongkahan batu padas yang besar. Sementara Sanggit Raina dan beberapa orang lainnya, menunggui Pangeran yang sudah turun pula dari kudanya dan duduk dengan lemahnya bersandar batu padas. “Pangeran merasa letih sekali?“ bertanya Sanggit Raina. “Aku akan mati” berkata Pangeran itu “nafasku menjadi sesak dan darahku serasa berhenti” “Tahankan Pangeran. Sebentar lagi Pangeran akan bertemu dengan orang yang memerlukan Pangeran” desis Sanggit Raina, “Dimana orang itu?“ bertanya Pangeran yang masih nampak seperti orang sakit. “Pangeran dengar suaranya. Dibalik sebongkah batu padas itu. Ia sedang mengambil pusaka yang dikatakannya” jawab Sanggit Raina. Pangeran itu tidak menjawab. Tetapi kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantungnya. Bukan karena ia akan berada di tangan orang yang tidak dikenalnya Tetapi bahwa seseorang telah ingin menukarnya dengan pusaka itu, agaknya telah menumbuhkan satu gejolak yang dahsyat di dalam hatinya. Ia menjadi semakin cur iga atas segala persoalan yang dihadapi. “Ada satu permainan yang rumit” berkata Pangeran itu di dalam hatinya “Tetapi aku kira, aku mulai dapat merabanya. Meskipun mungkin salah, tetapi ada kemungkinan bahwa memang demikianlah nalarnya” Tetapi Pangeran itu masih tetap dalam sikapnya. Ia adalah seorang yang sakit, yang tidak mampu berbuat apa-apa. Meskipun ia seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ia tidak dapat melawan kehendak Yang Paling Berkuasa Ilmunya yang bertimbun di dalam dirinya, tidak satupun yang dapat dipergunakan untuk melawan sakit yang datang kepadanya. Bahkan seandainya seseorang berilmu kebal sekalipun, ia tidak akan kebal terhadap penyakit yang memang dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa. Pangeran itu hampir tidak dapat menahan hatinya untuk ikut naik dan bertemu orang yang berada di balik sebongkah batu padas, yang mengatakan bahwa pusaka itu ada di tempat itu, dan memerlukan tiga orang untuk membantu mengambilnya. “Semuanya sudah gila. Permainan inipun permainan gila pula nampaknya” desis Pangeran itu. Namun setiap kali ia akan melakukan sesuatu, maka iapun selalu kembali kepada keadaannya. Ia harus benar-benar seperti, orang yang masih belum mampu berbuat apa-apa, karena penyakitnya. Dalam pada itu Cempaka dan kedua orang yang menyertainya telah hilang dibalik batu padas. Mereka termangu-mangu sejenak, karena mereka tidak segera melihat Daruwerdi. Bahkan Cempakapun kemudian berdesis “Daruwerdi, dimana kau bersembunyi?“ “Aku disini” jawab Daruwerdi “kemar ilah” Cempakapun kemudian beringsut maju. Dihadapannya terdapat sebuah lekuk dan sebongkah batu padas yang lain berdiri tegak bagaikan pintu gerbang. Dengan hati-hati Cempaka maju beberapa langkah diikuti oleh Rahu dan seorang kawannya. Bagaimanapun juga mereka tidak dapat mempercayai Daruwerdi sepenuhnya. Mungkin anak itu akan berbuat kecurangan atau tingkah laku yang dapat merugikan orang-orang Sanggar Gading. Bahkan seorang pengikutnya telah memegang hulu pedangnya ketika mereka melingkari batu padas itu. Namun ternyata mereka justru menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat Daruwerdi duduk diatas sebongkah batu padas. “Kalian ternyata memang pengecut” berkata Daruwerdi ketika Cempaka bergeser mendekatinya. “Kenapa?“ bertanya Cempaka. “Kau kira aku akan berbuat curang? Kau merangkak seperti seorang pencuri memasuki rumah yang dijaga oleh sepasukan prajurit “ Cempaka menggeretakkan giginya. Katanya “Jangan banyak bicara. Aku dapat membunuhmu sekarang, karena pusaka itu akan dapat aku ketemukan tanpa kau sekarang ini” Daruwerdi tertawa. Katanya “Jangan mimpi. Pusaka itu masih belumdapat kalian cari sendiri tanpa aku” “Tentu dapat Pusaka itu tentu berada di dalam lekuk itu. Memang sulit untuk mengambilnya, tetapi aku akan dapat melakukannya” jawab Cempaka. Daruwerdi tertawa. Disela-sela suara tertawanya ia berkata “Kau tergesa-gesa. Pusaka itu tidak ada disitu. Aku memang menunggumu disini. Tetapi pusaka itu tidak berada disini“ “Gila“ geram Cempaka “Cepat. Ambil pusaka itu. Kami tidak mempunyai waktu lagi” “Kau sudah membawa orang yang aku minta?“ bertanya Daruwerdi. “Lihatlah. Pangeran itu adalah di lereng bukit ini” geram Cempaka. “Baiklah, aku percaya. Akupun percaya bahwa kalian tidak akan curang. Setelah aku menyerahkan pusaka itu, maka kalian harus menyerahkan Pangeran itu. Jika tidak, kalian tentu akan menyesal. Aku sudah berusaha untuk tidak mempergunakan kekerasan. Tetapi jika kalian dengan kecurangan itu, maka orang-orang Sanggar Gading akan tumpas disini” ancam Daruwerdi. “Omong kosong” potong Cempaka “Kau memang banyak bicara. Sekarang, manakah pusaka itu” “Sebenarnya aku akan minta Pangeran itu dibawa naik kepuncak bukit ini” berkata Daruwerdi kemudian. “Pangeran itu sedang sakit. Kau tentu sudah tahu. Ia tidak akan dapat merangkak sekalipun iampai ke tempat ini. Kecuali jika kau mau turun sebentar dan mendukungnya” jawab Cempaka geram. Daruwerdi tersenyum. Katanya “Jangan cepat marah. Marilah Aku akan mengambil pusaka itu. Kalian harus membantuku Kemudian aku sendiri akan membawanya turun dan menyerahkannya kepada seseorang yang berhak menerima, tetapi Pangeran itu harus kalian serahkan kepadaku dengan tangan terikat” “Ia sedang sakit. Berdiripun ia tidak mampu. Mengapa harus diikat?“ bertanya Rahu. Daruwerdi termangu-mangu. Namun kemudian Katanya “Meskipun sedang sakit, tetapi ia mempunyai setumpuk ilmu di dalam dir inya” “Ia tidak mampu mengetrapkan ilmunya dalam keadaannya” jawab Rahu “ketika kami mengambilnya, maka ia tidak dapat bangkit dari pembaringannya. Jika ia mampu ia tentu akan ikut bertempur bersama pengawal-pengawalnya. Jika demikian, kami pasti tidak akan dapat membawanya kemari“ Daruwerdi mengangguk-angguk. Agaknya yang dikatakan Rahu itu benar. Jika la tidak dalam keadaan yang sangat lemah, maka ia tentu dapat berbuat sesuatu. Orang-orang Sanggar Gading tidak akan dapat dengan mudah menawannya dan membawanya ke bukit gundul itu. “Baiklah” berkata Daruwerdi “nanti aku akan melihatnya. Jika perlu, aku minta Pangeran itu terikat. Jika ia tidak berbahaya, biarlah ia bebas” “Tetapi jangan terlalu banyak berbicara. Kita akan mengambil pusaka itu” potong Cempaka. “Baiklah Kita akan mengambilnya sekarang” jawab Daruwerdi. Cempaka menjadi berdebar-debar. Tetapi karena Daruwerdi hanya seorang diri dan tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan, maka Cempakapun tidak bersikap terlalu tegang Ketika Daruwerdi kemudian bangkit dan meloncat di- antara batu-batu padas, maka Cempaka Rahu dan seorang pengikutnya telah mengikut inya pula. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi, pusaka itu tidak berada di dalam lekuk dibalik batu padas itu. Tetapi mereka masih menyusuri lekuk itu beberapa puluh langkah. “Tetapi jangan mencoba berkhianat” geram Daruwerdi “tanda tempat pusaka itu sudah nampak” “Persetan“ geram Cempaka. “Diseputar gunung kecil yang gundul ini, terdapat orang- orangku yang siap membantai kalian” berkata Daruwerdi. Cempaka tidak menjawab. Namun ia mulai tertarik kepada sebongkah batu padas. Batu padas yang mempunyai bentuk yang khusus, yang jika diperhatikan dengan sungguh- sungguh, akan nampak bekas tangan manusia yang membentuknya” Setapak demi setapak Cempaka melangkah mendekati batu padas itu. Sambil tersenyum Daruwerdi mengamatinya. Namun ketika Cempaka mengguncang-guncang batu itu, sambil tertawa Daruwerdi berkata “Tidak disitu, batu itu hanya satu tanda. Tetapi barang yang kau cari berada di tempat lain” “Aku tahu. Cepat, tunjukkan” jawab Cempaka. Daruwerdipun kemudian melangkah maju. Dengan nada datar ia berkata “Kemar ilah. Aku akan mulai” Cempaka mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya “Apa yang akan kau mulai?“ “Mengambil pusaka itu” jawab Daruwerdi “Mulai apa?“ bertanya Cempaka pula. “Kau kira aku akan dapat mengambil pusaka itu begitu saja? Kau harus menyadari, bahwa pusaka itu bukan sembarang pusaka. Aku sendir i tidak tahu, pusaka apa yang ada di dalamnya. Tetapi aku menguasai syarat untuk mengambilnya. Aku mengerti, siapakah yang harus aku sebut agar pintu penyimpanan pusaka itu terbuka” berkata Daruwerdi “Jadi apa gunanya kami bertiga kau suruh membantu mengambil pusaka itu?“ bertanya Cempaka pula. “Kau memang dungu. Selama ini kau hanya mengenal batu, padang perdu dan hutan behendotan” desis Daruwerdi “dengar. Pusaka itu adalah pusaka yang bertuah. Meskipun kita akan mengerahkan seribu orang untuk mengambilnya, kita tidak akan berhasil j ika pintu gaib itu tidak terbuka. Nah, sekarang, kaulah yang memperpanjang waktu dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang bodoh itu” Cempaka mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Baiklah. Lakukan secepat dapat kau selesaikan. Waktuku tidak banyak. Tetapi ingat, jangan mempermainkan kami. Meskipun seandainya benar disekitar tempat ini ada orang-orangmu tersembunyi, tetapi aku tentu sudah sempat membunuhmu lebih dahulu. Betapa cepatnya isyarat yang kau lontarkan, dan betapa cepatnya orang-orangmu bergerak, namun mereka akan tertahan oleh orang-orang Sanggar Gading barang satu dua kejap. Waktu itu sudah cukup untuk membunuhmu” Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian melangkah mendekati batu yang nampak bekas tangan manusia yang membentuknya meskipun hanya sederhana. Kemudian anak muda itu duduk menghadap batu itu dengan sikap yang sungguh-sungguh, “Bantu aku” berkata Daruwerdi “terserah caramu. Tetapi kita akan memohon agar pintu dibuka, sehingga kita akan dapat mengambil pusaka itu” Tiba-tiba saja Cempaka telah dicengkam oleh suasana yang aneh. Diluar sadarnya, iapun kemudian berjongkok pula, diikuti oleh Rahu dan seorang kawannya. Dengan jantung yang berdebar-debar, Cempaka mengikuti apa yang sedaag dilakukan oleh Daruwerdi. Ia melihat anak muda itu tepekur sambil bergeramang tanpa diketahui artinya. Sementara itu, di bawah bukit gundul. Sanggit Raina menunggu dengan gelisah. Waktunya tidak terlalu banyak. Masih banyak kemungkinan dapat terjadi. Jika pertempuran itu berakhir dan masih terdapat sisa-sisa pasukan dari kedua belah pihak, maka mereka tentu akan mencarinya di bukit gundul ini. Terutama orang-orang Sanggar Gading sendir i. Bagi Sanggit Raina, Cempaka rasa-rasanya telah pergi untuk waktu yang lama sekali. Tetapi disaat-saat ia hampir kehabisan kesabaran, Cempaka ternyata masih belum tampak turun dari bukit gundul itu. Dalam pada itu, nampaknya keadaan Pangeran itupun menjadi semakin gawat. Ia nampaknya menjadi semakin lemah. Sambil duduk bersandar batu padas, terdengar sekali- sekali ia menegerang. Bahkan kemudian, terdengar ia berdesis “Apakah aku boleh bernaung di bawah bayangan bebatuan itu” Sanggit Raina yang gelisah, "hampir t idak menghiraukannya. Karena itu, dengan acuh tidak acuh ia bergumam “ Silahkan. Tetapi jangan berusaha menjauhi aku untuk tujuan tertentu” “Aku hampir mat i. Badanku rasanya menjadi sangat panas, sementara angin yang bertiup semakin kencang, membuat jantungku bagaikan berhenti berdetak” berkata Pangeran itu. “Bawa Pangeran itu beringsut“ Sanggit Rainapun kemudian memer intahkan pengikutnya untuk membantu Pangeran itu. Dibantu oleh orang-orang yang mengawasinya Pangeran itu beringsut. Ia justru mencari tempat yang dapat dipergunakannya untuk berbaring. Agaknya tubuhnya benar- benar terasa berat dan kepalanya menjadi pening. Namun dalam pada itu, gejolak di dalam dadanyapun rasa- rasanya semakin bergelora. Seperti Sanggit Raina, ia hampir tidak sabar menunggu orang-orangnya yang naik ke bukit gundul untuk mengambil pusaka yang akan dipertukarkan dengan dir inya itu. Sementara orang-orang di bukit gundul itu dicengkam oleH kegelisahan, di pategalan pertempuran benar-benar menjadi semakin dahsyat. Meskipun kemampuan setiap orang telah menjadi susut oleh kelelahan, serta jumlah merekapun telah jauh berkurang dikedua belah pihak, namun dendam dan kebencian justru menyala semakin besar disetiap dada, Orang-orang Sanggar Gading dan orang Kendali Putih sama sekali tidak lagi mengenal sesama mereka sebagaimana mereka bersama telah dit itahkan ke wajah ibumu untuk bersama-sama hidup dalam kasih Maha Penciptanya. Tetapi mereka benar-benar menjadi liar dan buas oleh noda-noda darah ditubuh mereka. Jika diantara orang-orang Sanggar Gading ada yang meninggalkan arena sambil membawa Pangeran yang sakit itu, maka diluar pengamatan kawan-kawannya, maka seseorang telah meninggalkan arena dari lingkungan orang- orang Kendali Putih. Sambil tersenyum ia bergumam “Akhirnya orang-orang Pusparurilah yang akan menguasai segalanya. Sejak semula Daruwerdi telah berhubungan dengan orang- orang Pusparuri. Akhirnya ia harus kembali kepada orang- orang Pusparuri pula” Tetapi ternyata orang itu menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar derap kaki kuda menyusulnya. Karena itu, maka iapun segera bersiaga. Jika ada orang Sanggar Gading yang melihatnya dan kemudian mengerjakannya, maka ia harus bertempur, karena ia tidak mau mati. Namun orang itu menarik nafas dalam-dalam. Yang menyusulnya ternyata adalah orang yang berkumis lebat. Orang Kendali Putih yang dapat dibujuknya untuk memanaskan suasana sehingga pimpinan Kendali Putih telah mengambil sikap yang menentukan. Hancurnya kedua belah pihak yang sedang bertempur itu. “Jangan lari” berkata orang berkumis lebat itu, “Aku tidak akan lari” jawab orang itu “Tetapi bukankah wajar jika aku meninggalkan arena yang bagaikan neraka itu? Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Keduanya akan hancur dan orang-orang Pusparuri akan segera datang mengambil pusaka itu” “Bagaimana kau akan dapat mengambil pusaka itu tanpa menyerahkan orang yang dikehendaki oleh Daruwerdi?“- bertanya orang berkumis lebat itu. “Jangan terlalu bodoh. Dalam pertempuran yang menger ikan itu tentu akan ada penyelesaian. Apakah orang Sanggar Gading atau orang Kendali Putih akan memenangkan pertempuran itu dan akan mendapatkan pusaka yang diperebutkan, meskipun mungkin hanya tinggal satu atau dua orang saja diantara mereka. Baik orang Sanggar Gading maupun orang Kendali Putih yang masih tinggal hidup akan membawa Pangeran yang sakit itu dan menukarkannya dengan pusaka ku. Nah pada saat berikutnya orang-orang Pusparuri dengan kekuatan yang utuh akan datang untuk mengambil pusaka itu” berkata orang Pusparuri yang berhasil berada dilingkungan orang Kendali Putih itu. “Dari mana kau tahu, apakah pusaka itu ada diantara orang-orang Sanggar Gading atau orang-orang Kendali Putih” bertanya orang berkumis lebat itu. “Mudah sekali. Kami dapat bertanya kepada orang yang masih hidup dari kedua belah pihak, atau kepada Daruwerdi sendiri” Jawab orang Pusparuri itu. Lalu “Dan apakah kau tidak dapat membayangkan bahwa masih ada kawan kita yang tinggal diantara orang-orang Kendali Putih itu?“ “Bagaimana jika ia terbunuh?“ bertanya orang berkumis lebat. Orang Pusparuri itu tertawa. Katanya “Ia tidak terlalu dungu seperti kau. Ia akan tetap hidup. Dan ia akan melaporkan hasil terakhir dari pertempuran itu sementara aku menyiapkan pasukan Pusparuri yang utuh dan kuat untuk mengambil tindakan terakhir” Orang berkumis lebat itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata “Apapun yang akan terjadi, aku tidak peduli. Aku akan mengambil hakku. Aku telah berhasil membakar pertempuran itu sehingga kau akan dapat mengambil keuntungan dari padanya” Orang Pusparuri itu mengerutkan keningnya. Namun iapun segera mengusir kesan itu dari wajahnya. Sambil tersenyum ia berkata “Baiklah. Kau akan mendapat hakmu setelah kau berada diantara orang-orang Pusparuri” “Kenapa harus menunggu?“ bertanya orang berkumis lebat itu. Orang Pusparuri itu mengumpat. Katanya “Kau kira aku sudah menyiapkan upah yang akan kau terima? Ketika aku berangkat memasuki padepokan Kendali Put ih, aku belum yakin bahwa aku akan berhasil Karena itu, aku belum membawa apapun yang dapat aku berikan kepadamu” Orang berkumis lebat itu mengerutkan keningnya. Tetapi aa tidak menjawab lagi. Ia mengerti, bahwa orang Pusparuri itu tentu tidak berbuat demikian, seperti yang dikatakannya. Jika ia membawa apapun yang mempunyai nilai seperti yang dijanjikan maka hal itu akan dapat menimbulkan bencana baginya. Dalam pada itu, untuk beberapa saat lamanya keduanya berkuda bersama-sama. Orang berkumis lebat itu mulai membayangkan apa yang akan diterima dari orang Pusparuri itu Iapun mulai mereka-reka, apa yang akan dapat dilakukan setelah itu, “Aku akan meninggalkan daerah ini dan pergi jauh ke daerah Timur” berkata orang itu di dalamhatinya. Namun dalam pada itu, ia menjadi berdebar-debar jika ia membayangkan apa yang sedang terjadi dipategalan. Pembunuhan yang tidak terkekang, seolah-olah yang sedang bertarung antara hidup dan mati itu bukannya sekelompok manusia. Titah tertinggi dari Pencipta sekalian Alam. “Persetan“ geram orang berkumis lebat itu di dalam hatinya “Mereka bukan sanak bukan kadang. Mereka tidak akan menolong aku jika aku hidup dalam kesulitan. Mereka tidak mau tahu apakah anakku hari ini makan atau tidak. Karena itu, biarlah mereka saling membunuh seperti sekelompok serigala kelaparan berebut bangkai. Atau mereka sendir i akan menjadi bangkai” Demikianlah mereka semakin lama menjadi semakin jauh dari pategalan. Bukit Gundul dan Bukit berhutan itupun menjadi semakin lama semakin baur diantara padukuhan yang berserakkan. Tiba-tiba saja orang Pusparuri itu berkata “Kita sudah cukup jauh. Aku merasa lelah sekali. Aku ingin berhenti sebentar jika kita melalui sebuah parit” “Jarang sekali ada parit di daerah yang kering ini. Di Lumban anak-anak muda berusaha untuk mengendalikan air dari bukit berhutan itu. Tetapi disini tidak” jawab orang berkumis lebat itu. “Jika demikian, aku akan berhenti di bawah sebatang pohon yang dapat memberikan sedikit keteduhan kepada kudaku yang letih setelah berjuang dalam pertempuran yang gila itu. Nampaknya meskipun hanya segores kecil, terdapat luka di kaki kudaku. Mungkin ujung pedang, mungkin ujung tombak” berkata orang Pusparuri. Orang berkumis lebat itu tidak berkeberatan. lapun merasa lelah setelah bertempur untuk beberapa saat, meskipun seolah-olah ia t idak bersungguh-sungguh dan selalu berusaha menghindari agar tidak mati dipeperangan itu. Dengan demikian, ketika mereka melihat sebatang pohon mahoni yang besar d "pinggir jalan, maka keduanyapun segera berhenti. Mereka menambatkan kuda mereka pada pepohonan perdu di bawah pohon mahoni itu, sementara keduanyapun beristirahat pula. Namun tiba-tiba saja telah terjadi sesuatu yang menggelit ik orang berkumis lebat itu. Diluar kehendaknya, terlihat olehnya ketika kain panjang orang Pusparuri itu tersingkap, ternyata ia memakai ikat pinggang bertimang emas bertretes berlian. Justru karena caranya memakai itu tidak iaj im seperti biasanya orang memakai ikat pinggang, maka orang berkumis lebat itu semakin tertarik untuk memperhatikannya. “Ikat pinggang itu sengaja disembunyikan” berkata orang berkumis lebat itu di dalam hatinya “agaknya orang Pusparuri ini t idak jujur terhadapku. Jika ia mengajak aku memasuki sarangnya, apakah dapat mempercayainya bahwa ia tidak akan ingkar janji, justru aku akan dibantainya diantara kawan- kawannya” Sejenak orang berkumis lebat itu tidak berbuat sesuatu. Tetapi telah terjadi bertarungan- yang sengit di dalam dirinya. Ikat pinggang itu sendiri tidak cukup bernilai untuk dimilikinya. Tetapi timang emas bertretes berlian itu harganya cukup tinggi. Karena timang itulah, maka orang Kendali Putih itu berusaha untuk melihat barang-barang lainnya yang berharga pada orang itu. Dua buah cincin di jari-jarinya tidak menarik perhatiannya karena cincin itu berwarna putih. Mungkin terbuat dari perak. Tetapi ia tidak menghiraukannya. “Tetapi apakah yang terdapat di dalam kantong ikat pinggangnya itu?“ bertanya orang berkumis lebat itu di dalam hatinya. Akhirnya ia tidak dapat menahan diri lagi. Nampaknya acuh tidak acuh saja ia bertanya “Kau mempunyai timang yang begitu bagus. Darimana kau dapatkan, he?“ Orang Pusparuri itu terkejut. Sambil membenahi kain panjangnya ia berkata “Ah, ini bukan apa-apa” “Jangan bohong. Kau mempunyai timang emas tretes berlian yang harganya tentu mahal sekali. Selebihnya, apa isi kantong ikat pinggang yang kau sembunyikan di bawah kain panjangmu itu?“ bertanya orang berkumis lebat. Orang itu akhirnya justru tertawa pendek. Katanya “Kau ini seperti tidak tahu saja. Bukankah kita sama-sama menelusuri malam-malam yang pekat dengan senjata ditangan” “Tetapi aku tidak pernah memilikinya” berkata orang berkumis lebat itu. Orang Pusparuri itu tertawa semakin keras. Katanya “Kau memang bodoh. Terakhir kita merampok sebelum kita pergi ke lereng bukit berhutan itu. aku menemukan benda-benda ini. Karena aku memang bukan orang Kendali Putih yang sebenarnya, maka barang-barang ini tidak pernah aku tunjukkan kepada para pemimpin Kendali Putih. Aku hanya menyerahkan sebuah keris iberpendak perak. Sementara yang lain, aku miliki sendir i” “Jadi apa yang berada di kantong ikat pinggangnya itu?“ desak orang berkumis lebat itu. “Ah, bukan apa-apa” jawab orang Pusparuri itu. Sejenak orang berkumis lebat itu terdiam. Namun gejolak di dalam dadanya terasa semakin menggelora. Ketika ia tidak dapat menahan diri lagi, maka tiba-tiba saja iapun berdiri sambil menggeram “Aku tidak perlu menunggu. Berikan apa yang kau punya. Kau akan mendapat gantinya jika kau sudah berada di dalam lingkunganmu. Upah yang akan kalian ber ikan kepadaku, karena aku sudah berhasil membakar hati para pemimpin padepokan Kendali Putih akan menjadi milikmu” Orang Pusparuri itu menegang. Namun iapun kemudian berdiri sambil berkata “Jangan begitu. Kita belum tahu, seberapa banyak pemimpinku akan memberikan hadiah kepadaku. Mungkin jauh lebih banyak dari harga timang dan isi kantong ikat pinggangku ini” “Itu adalah keuntunganmu” jawab orang berkumis lebat “apapun yang akan kau terima, aku tidak akan menuntut lebih dari yang aku terima sekarang” “Jika kurang dari itu?“ sahut orang Pusparuri itu “Akulah yang rugi. Aku kehilangan barang-barang berharga yang akan dapat menjadi milikku” “Kau sudah menyalahi ketentuan yang berlaku di dalam lingkungan Kendali Putih. Meskipun kau bukan orang Kendali Putih yang sebenarnya, tetapi pada saat perampokan itu terjadi, kau bertindak atas nama orang Kendali Putih. Karena itu, barang-barang itupun bukan hakmu” berkata orang berkumis lebat itu “selebihnya, barang-barang itu bukan milikmu, sehingga j ika barang-barang itu kau berikan kepadaku, kau tidak kehilangan apa-apa Bahkan kau masih akan menerima upah yang seharusnya aku terima” “Jangan begitu” jawab orang Pusparur i itu “Kita tidak membicarakannya sekarang. Kau akan aku bawa menghadap pemimpinku. Percayalah, pemimpinku adalah seorang yang baik, jujur dan menghargai kerja orang lain. Memang ada sedikit perbedaannya dengan orang-orang Kendali Putih. Orang-orang Pusparuri tidak segarang orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading” Tetapi orang berkumis lebat itu berkata lantang “Sudahlah. Jangan banyak alasan lagi. Aku sudah jemu hidup dalam lingkungan serigala yang selalu kelaparan. Aku akan pulang dengan barang-barang berharga. Aku akan menyingkir dan hidup dengan cara yang lain” “Terserahlah kepadamu. Tetapi jangan memaksa aku untuk mengorbankan apa yang aku punya” jawab orang Pusparuri itu. Lalu “Dan apakah kau masih mempunyai kesempatan untuk hidup tenang dengan melupakan darah yang telah mengotori tanganmu? He, kau tentu akan selalu terbayang pertempuran yang mengerikan yang terjadi di pategalan itu. Dan sekarang kau akan menambah noda itu dengan merampok milikku yang justru adalah hasil rampokan pula?” “Persetan“ geram orang berkumis lebat itu “Orang-orang Kendali Putih pada dasarnya memang lebih garang dari orang- orang Pusparuri. Karena itu, jangan membantah. Serahkan barang-barangmu itu kepadaku. Kita akan berpisah sampai disini, atau kau akan memaksa aku untuk mengambil sikap yang lain. Agar kau tidak dapat menunjukkan pejak perbuatanku, maka kau sebaiknya memang harus dibunuh saja” Orang Pusparuri itu menjadi tegang Dipandanginya orang berkumis lebat itu dengan tajamnya. Namun kemudian katanya “Kau membuat aku marah” “Aku tidak peduli” jawab orang berkumis lebat itu “Kau sudah menunjukkan sikap yang tidak jujur. Kau ingin lari tanpa setahuku. Kau juga sudah menyalahi ketentuan yang berlaku bagi orang-orang Kendali Putih disaat kau berada di dalam lingkungan kami” “Apakah yang kau lakukan itu juga merupakan satu ketentuan dalam lingkungan Kendali Putih? Apakah memang sudah digariskan, bahwa orang-orang Kendali Putih harus mengkhianati kawan-kawannya?“ “Persetan. Jangan banyak cakap. Berikan barang-barang itu, atau kau akan aku bunuh disini” bentak orang berkumis lebat. Tetapi orang Pusparuri itu justru mempersiapkan dir i. Katanya “Aku menghindar i pertempuran di pategalan itu karena aku tidak mau mati. Kau kira disini aku akan membiarkan leherku kau penggal? Sebenarnya kita dapat saling menahan dir i. Tetapi kau terlalu tamak dan bernafsu untuk memiliki sesuatu yang bukan hakmu, meskipun menurut peda-patmu juga bukan hakku. Tetapi barang-barang itu sudah ada padaku sekarang” Orang berkumis lebat itu tidak menjawab lagi. Namun tiba- tiba saja ia sudah menarik pedangnya. Geramnya “Aku bunuh kau disini” Tetapi orang Pusparuri itu tertawa. Katanya “Jika kau mati, bukan salahku. Kaulah yang mendahuluinya” Orang berkumis lebat itu menggerakkan pedangnya. Namun orang Pusparuri itupun telah bersiaga pula menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian, orang Kendali Putih itu sudah meloncat menyerangnya dengan senjata berputar. Tetapi orang Pusparuri itu sudah siap menghadapinya. Ia sempat mengelak. Bahkan iapun telah menyerang pula dengan senjatanya dengan tebasan mendatar. Namun senjatanya tidak menyentuh lawannya yang meloncat surut. Ketika pertempuran diantara kedua orang itu menjadi semakin sengit maka di pategalan pertempuranpun menjadi semakin menggetarkan jantung. Yang masih sanggup bertempur diatas punggung kuda, masih juga bekejaran dan saling menyambar. Tetapi jumlah mereka tidak lagi melampaui hitungan jari tangan. Sementara itu, Yang Mulia dan Eyang Ranggapun masih juga bertempur dengan gigihnya. Keduanya adalah orang- orang yang memiliki kemampuan yang t inggi, yang sukar dicari bandingnya. Karena itulah, maka pertempuran diantara keduanya diatas punggung kudanya, seolah-olah telah menimbulkan angin pusaran. Debu berhamburan dan mengepul tinggi keudara. Pepohonan perdu menjadi berpatahan. Tanah pategalan itu seolah-olah bagaikan telah dibajak oleh kaki-kaki kuda yang besar dan tegar. Pada saat yang bersamaan, di Bukit Gundul, Daruwerdi sedang mempersiapkan usahanya untuk mengambil pusaka yang dijanjikan, untuk, ditukar dengan seseorang yang menurut keterangannya telah membunuh ayahnya, sementara Sanggit Raina menunggunya dengan berdebar-debar bersama beberapa orang pengikitnya dan Pangeran yang dianggapnya sakit itu, Dalam pada itu, orang berkumis. lebat yang bertempur melawan orang Pusparuri itupun menjadi semakin garang. Sebagaimana kebiasaan orang-orang Kendali Putih, maka iapun segera bertempur dengan kasar. Tetapi orang-orang Pusparuri bukannya orang yang lemah dan mudah menjadi kecut menghadapi keadaan. Bahkan orang Pusparuri yang bertempur melawan orang berkumis itu masih sempat tertawa sambil memutar senjatanya “Kau memang bernasib buruk, Kau korbankan kawan-kawanmu saling membunuh melawan orang-orang Sanggar Gading. Dan kini kau sendir i sudah menyurukkan dir imu ke dalam maut ” “Persetan“ geram orang berkumis itu “masih ada kesempatan bagimu untuk menyelamatkan dir i dengan menyerahkan barang-barangmu. Timang emas tretes berlian dan tentu permata berharga yang kau simpan di dalam kantong ikat pinggangmu” Orang Pusparuri itu tertawa semakin keras, Katanya “Sebaiknya aku selesaikan persoalan kita ini sebelum ada orang lain yang ikut campur. Jika orang-orang padukuhan melihat apa yang terjadi, mereka akan berdatangan dan tanpa mengetahui duduk perkaranya, mereka akan melibatkan dir i. Aku akan berkata kepada mereka, bahwa aku telah dicegat oleh seorang perampok yang ingin memiliki barang-barangku” “ Bodoh. Akupun dapat berkata seperti itu” geram orang berkumis lebat. “Tetapi kau tidak membawa barang-barang berharga yang pantas di rampok” jawab orang Pusparuri itu sambil tertawa. Orang berkumis itupun menggeram. Ia menyerang lawannya semakin sengit. Namun lawannyapun meningkatkan perlawanannya sambil berkata “Aku orang pilihan dilingkungan orang-orang Pusparuri. Justru karena itulah, maka aku mendapat tugas yang amat penting untuk berusaha membenturkan orang-orang Pusparuri dengan orang-orang Sanggar Gading. Lewat seorang pengkhianat seperti kau, aku telah berhasil dan tugasku di lingkungan orang-orang Kendali Putih telah selesai” Demikian mulutnya diam, maka iapun segera menyerang seperti angin prahara. Senjatanya berputar seperti baling- baling. Kakinya berloncatan bagaikan tidak menyentuh tanah. Orang Kendali Putih itu terkejut. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa lawannya yang selama berada di lingkungan orang Kendali Putih tidak menunjukkan kelebihan apapun, dan . bahkan seolah-olah berada di lapisan di bawahnya, karena ia termasuk orang yang mendapat kepercayaan dari pimpinannya, tiba-tiba telah berubah menjadi seorang yang garang. Dengan demikian, maka orang Kendali Putih itu harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk mempertahankan diri. Demikianlah keseimbangan pertempuran itupun segera berubah. Agaknya orang Pusparuri itu dengan sengaja tidak pernah menunjukkan kemampuan yang sebenarnya ketika ia berada di lingkungan orang-orang Kendali Putih, sehingga orang berkumis itu mengira, bahwa ia akan dengan mudah dapat merampas barang-barangnya. Namun ternyata bahwa orang Pusparuri itu memiliki ilmu yang lebih tinggi. Ketika sekali lagi orang Pusparuri itu menghentakkan kemampuannya, maka orang Kendali Putih itupun menjadi semakin terdesak, Tetapi kekasaran orang Kendali Putih itu sempat memperpanjang perlawanannya. Ia tidak menghiraukan lagi, apakah ada orang lain yang mendengar atau tidak. Dengan kasarnya ia berteriak mengumpat-umpat. “Jangan menjadi Gila“ geram orang Pusparur i itu. Orang berkumis itu sama sekali t idak menghiraukannya. Ia mengimbangi kemampuan lawannya dengan sikap dan gerak yang buas dan liar. Tetapi lambat laun, tenaganyapun menjadi semakin susut. Bahkan tenaga lawannya terasa justru menjadi semakin kuat. Orang Pusparuri itupun kemudian semakin menekannya sambil tersenyum. Katanya “Kau memang harus mati. Dosamu bertimbun di dalam dirimu. Orang seperti kau sama sekali tidak akan mengenal pertaubatan. Seandainya kau berhasil merampas barang-barangku dan hidup menyendir i di-daerah Timur, namun pada saat-saat yang lain, jika bekalmu telah habis, kau akan menjadi orang yang sangat berbahaya bagi tetangga-tetanggamu sendir i” “Persetan“ teriak orang itu sambil meloncat menyerang. Orang Pusparuri itu mengelak dengan langkah kecil kesamping. Dengan cepat ia berputar, dan kemudian mengayunkan senjatanya mendatar. Disaat orang Kendali Putih itu kehilangan, dan dengan membabi buta menangkis serangan orang Pusparuri itu, maka orang Pusparuri itu menar ik serangannya. Saat yang ditunggu itu akhirnya datang juga bagi orang Pusparuri. Dengan satu pancingan, orang Kendali Putih itu menyilangkan pedangnya di muka dada. Namun pada saat itulah, orang Pusparuri itu meloncat dengan tikaman lurus kearah lambung. Dengan serta merta orang Kendali Put ih sudah kebingungan itu berusaha memukul pedang lawannya yang mematuk lambungnya, namun sekali lagi orang Pusparuri itu menarik serangannya dan dengan cepatnya menikam lawannya kearah jantung. Tidak ada kesempatan bagi orang berkumis itu. Ketika pedang lawannya menghunjam didadanya, terdengar ia mengumpat keras. Namun demikian lawannya menarik pedang yang merah oleh darah, maka orang Kendali Putih itupun terhuyung jatuh di tanah. Orang Pusparuri itu tertawa. Sambil berdiri disisi tubuh yang tergolek diam itu, ia bergumam “Kau memang tamak. Dengan sengaja aku memancing perhatianmu atas barang-barangku ini. Dengan demikian, bukan aku yang memulai dengan pertengkaran. Tetapi kau. Dan karena itu, maka aku telah terbebas dari segala macam tuntutanmu atas jasa-jasamu membenturkan orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading. Sambil tertawa orang itu menyarungkan pedang. Katanya “Maaf, aku tidak sempat mengurusi mayatmu. Jika ada seorang petani menemukan kau disini, maka biar lah ia memanggil kawan-kawannya dan nmeyelenggarakan mayatmu” Sejenak kemudian, orang Pusparuri itupun telah meloncat ke punggung kudanya. Ia telah menyembunyikan timang emas tretes berlian yang telah dengan sengaja diper lihatkan kepada orang Kendali Putih itu sehingga ia berhasil memancing per tengkaran. Pada saat kaki kudanya berderap mengepulkan debu yang kelabu, maka kaki-kaki kdua di pategalan itupun masih juga melontarkan debu keudara. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading masih bertempur dengan sefigitnya melawan orang yang disebut Eyang Rangga. Namun kegarangan di arena di pategalan itu semakin lama menjadi semakin susut. Beberapa ekor kuda masih berlari- larian, tetapi tanpa penunggangnya lagi. Justru yang lain dengan tenangnya makan dedaunan yang kekuning-kuningan di pategalan. Sementara itu tubuh yang terluka terbaring membujur lintang di pategalan, dijalan-jalan dan di padang perdu yang kering, diantara mayat-mayat yang mulai membeku. “Gila“ akhirnya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading mengumpat “He, Sampir. Apakah kau masih juga bernafsu untuk bertempur sampai tujuh hari tujuh malam” “Jika perlu, aku akan bertempur sampai ampat puluh hari ampat puluh malam” jawab Eyang Rangga, “Ikat pinggang itu sengaja disembunyikan” berkata orang berkumis lebat itu di dalam hatinya “ agaknya orang Fusparuri ini t idak jujur terhadapku. Jika ia mengajak aku memasuki sarangnya, apakah dapat mempercayainya bahwa ia tidak akan ingkar janji, justru aku akan dibantainya diantara kawan- kawannya” “Tetapi kau lihat, orang-orang Sanggar Gading dan orang- orang Kendali Putih akan punah sama sekali” berkata Eyang Rangga. “Kedudukanmu berbeda dengan kedudukanku” jawab Eyang Rangga “Jika orang-orang Sanggar Gading punah, maka kau benar-benar kehilangan. Tetapi aku orang lain bagi orang-orang Kendali Put ih, meskipun kali ini aku bekerja bersama mereka. Aku tidak merasa kehilangan apa-apa jika orang-orang Kendali Putih itu habis terbantai disini” “Gila“ geram Panembahan Wukir Gading “Tetapi setidak- tidaknya kita dapat membuat perhitungan lain. Kenapa kita harus membunuh sampai orang terakhir” “Apa pendapatmu?“ bertanya Eyang Rangga, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading telah mengendorkan serangannya. Dengan demikian pertempuran diantara keduanya mulai mereda. “Tidak ada gunanya kita saling membunuh sampai orang terakhir” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading “waktu kita akan habis tersita disini, sementara persoalan yang menjadi tujuan utama kita belum kita selesaikan” Katakan, apa yang akan kau lakukan sekarang? Lari dari arena dan menemui orang yang menyembunyikan pusaka itu?“ “Bukan aku yang ingin lari dari pertempuran ini. Tetapi kita dapat menghentikannya” jawab Yang Mulia “Bukankah kita tahu, apa yang sebenarnya ada di daerah Sepasang Bukit Mati ini. Bukan hanya sekedar pusaka” Eyang Rangga mengerutkan keningnya. Katanya “Jadi kau juga mengetahui bahwa disamping pusaka itu masih ada hal lain yang berharga” “Ya. Meskipun aku berusaha untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. tetapi agaknya banyak pihak yang sebenarnya juga sudah mengetahuinya” jawab Yang Mulia” Karena itu, apakah kita dapat mengakhir i saja pertempuran ini dan membagi saja apa yang ada, yang tentu saja dengan perbandingan yang berimbang, karena akulah yang berhasil membawa Pangeran itu” Eyang Rangga merenung sejenak. Sementara Yang Muliapun tidak lagi menyerang dengan garang Kemudian Eyang Rangga itupun berkata “Apa yang kau maksud perbandingan yang berimbang?“ “Jika kita bertempur terus, kau tentu tidak akan mendapat apa-apa sama sekali. Setiap orang yang berada di pategalan ini akan mati. Kau juga akan mati. Tetapi untuk itu aku memer lukan waktu yang panjang. Sementara itu, mungkin telah terjadi sesuatu dengan Pangeran itu. Apalagi jika orang- orang Pusparuri atau Gunung Kunir mendengar, bahwa kita sudah punah” Eyang Rangga itu masih bertanya “Yang aku tanyakan adalah perbandingan yang ber imbang” “Kau akan mendapat sebagian dari harta karun yang ditinggalkan bersasma pusaka itu. Sebagian yang lain dan pusaka itu menjadi milikku” jawab Yang Mulia “He, apakah kau tahu berapa besarnya nilai harta karun yang ditinggalkan bersama pusaka itu. Jika aku memberimu sepertiga, maka kau akan menjadi seorang yang memiliki kekayaan tiada taranya. Tidak ada orang atau lingkungan yang mempunyai kekayaan sebesar itu, kecuali kau dan selebihnya aku” Eyang Rangga berpikir sejenak. Kemudian dilayangkan pandangannya keseluruh medan. Memang tinggal beberapa orang yang telah letih. Karena para pemimpin mereka berhenti bertempur, orang-orang itupun telah berhenti bertempur pula. “Nah, apa katamu?“ bertanya Yang Mulia. Eyang Rangga masih berpikir. Katanya kemudian “Kenapa perbandingan itu tidak seimbang sama sekali. Kenapa aku hanya mendapat sepertiga, sedangkan pusaka itu akan jatuh ke tanganmu” “Kami orang-orang Sanggar Gadinglah yang berhasil memenuhi permintaan Daruwerdi. Kenapa orang Kendali Putih tidak melakukannya sebelumnya? Untuk menangkap Pangeran itu, telah diperlukan pengorbanan tersendiri” sahut Yang Mulia. Eyang Rangga masih sempat menimbang-nimbang. Namun akhirnya ia sadar, bahwa ia memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika perempuan itu berlangsung terus, maka orang- orang yang tersisa di pihak masing-masing, akan punah pula. Ia sendiri tentu akan berhadapan dengan Yang Mulia dan beberapa orang yang tentu sedang mengawal Pangeran yang masih tersembunyi. Sambil memikirkan kemungkinan selanjutnya, maka tawaran itu dapat diterima untuk sementara. Sehingga karena itu. maka katanya “Baiklah. Aku akan mener ima sepertiga dari harta yang tersimpan, yang disediakan bagi satu perjuangan untuk menegakkan kembali Majapahit. Harta itu mungkin berupa emas dan permata, tetapi mungkin juga berupa pusaka-pusaka yang banyak jumlahnya, disamping satu pusaka yang paling berharga” ”Jika demikian, apakah kita dapat menghentikan pertempuran ini” bertanya Yang Mulia. “Ya. Kita akan menghentikan pertempuran ini” jawab Eyang Rangga. Demikianlah kedua orang itu segera memberikan isyarat bahwa pertempuran telah dihent ikan. Namun dalam pada itu. di kedua belah pihak sama sekali sudah tidak lagi tersimpan kekuatan yang akan dapat diperhitungkan, kecuali Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan Eyang Rangga. Sementara itu, Sanggit Raina yang gelisah masih harus menunggu kehadiran Cempaka dan Rahu yang akan datang bersama Daruwerdi membawa pusaka yang dijanjikan. Rasa-rasanya mereka telah sehari penuh naik ke puncak bukit gundul itu. Namun mereka masih belum nampak turun. Dalam pada itu, Pangeran yang sakit itu tidak lagi bersandar pada batu padas. Berlindung pada bebatuan, maka Pangeran itu telah berbaring dengan lemahnya. Bahkan Sanggit Rainapun telah menjadi bertambah cemas, jika Pangeran itu benar-benar akan mati seperti yang dikatakannya. Namun Sanggit Raina itupun menjadi terkejut sekali ketika ia mendengar derap kaki kuda. Dengan serta merta, iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Para pengikutnya dan tabib yang selalu merawat Pangeran itupun telah bersiap pula. Tangan mereka telah melekat di hulu pedang masing-masing. Jantung Sanggit Raina terasa bagaikan berhenti berdetak ketika ia melihat Yang Mulia Panembahan Wukir Gading berkuda bersama lawannya di medan pertempuran. Bahkan selain beberapa orang Sanggar Gading yang tersisa terdapat beberapa orang yang tidak dikenalnya. “Gila, permainan apa lagi yang sedang dilakukan oleh Yang Mulia Panembahan timpang itu” geram Sanggit Raina, sementara Cempaka dan Rahu masih juga belum muncul. Sejenak kemudian maka iring- iringan itupun menjadi semakin dekat. Sanggit Raina masih berdiri dengan tangan dihulu pedangnya. Ia tidak tahu, apa yang bakal terjadi. Jika sekiranya Yang Mulia itu mengetahui niatnya untuk memiliki pusaka dan harta benda yang tersedia bagi satu perjuangan yang besar untuk menegakkan kembali Majapahit itu, maka tentu akan terjadi satu peristiwa yang gawat. Sementara itu adiknya Cempaka telah terlalu lama berada di bukit gundul itu. sehingga Sanggit Rainapun menjadi cemas. “Apakah diatas bukit gundul itu ada juga tangan-tangan Yang Mulia dalam permainannya yang tidak aku ketahui” bertanya Sanggit Raina di dalamhatinya. Namun dalam pada itu, ternyata tidak ada tanda-tanda bahwa Yang Mulia akan mengambil satu tindak kekerasan. Bahkan ketika ia menjadi semakin dekat, nampak senyum dibibirnya. “Ketika aku tidak menemukan Pangeran dilemparnya, aku segera menduga, bahwa kau telah mengambil langkah- langkah penyelamatan” berkata Yang Mulia. Sanggit Raina menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Ya Yang Mulia. Bagaimanapun juga, aku menjadi cemas, bahwa lawan kita akan berbuat curang, sehingga aku berusaha untuk menyelamatkannya. Aku yakin bahwa yang mulia dan orang- orang Sanggar Gading akan dapat menyelamatkan diri dengan menghancurkan semua orang Kendali Putih” Yang Mulia tertawa. Katanya “Ternyata aku mengambil sikap lain. Akhir dari pertempuran itu bukan punahnya orang- orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih” Wajah Sanggit Raina menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya “Apakah maksud Yang Mulia? Apakah mereka sudah menyerah?“ Yang Mulia menggeleng sambil menjawab “Mereka t idak menyerah dan kitapun t idak menyerah” “Lalu?“ Sanggit Raina menjadi semakin heran. “Kita sudah menemukan jalan keluar. Kita akan membagi hasil yang kita peroleh dari bukit gundul ini” berkata Yang Mulia. “Apakah yang dapat dibagi dari hasil yang akan kita ambil dari bukit gundul ini. Jika kita menemukan sebilah pusaka yang menjadi sipat kandel Senapati Agung yang berusaha mempertahankan Kota Raja itu, apakah pusaka itu akan kita patahkan dan wesi aji itu akan kita serahkan kepada orang- orang Kendali Putih dan yang sepotong lagi bagi orang-orang Sanggar Gading? Yang Mulia itu tersenyum. Katanya “Tidak. Tentu t idak Pusaka itu akan menjadi milikku seutuhnya. Tetapi disamping pusaka itu kita masih akan mendapatkan harta benda yang tidak terhitung jumlahnya” “Persetan“ geram Sanggit Raina di dalam hati “karena orang timpang ini mengigau dihadapan orang-orang Kendali Putih. Sementara itu, Yang Mulia itu berkata “Sanggit Raina. Kita memang t idak akan dapat berjuang sendir i. Dan kitapun tidak akan dapat memanfaatkan tuah itu sendiri. Jika karena tuah pusaka itu kita akan dapat menjadi orang pinunjul, maka meskipun harus mempunyai alas dan pendukung” “Mereka akan datang dengan sendirinya yang Mulia” jawab Sanggit Raina “Kita tidak memer lukan apapun juga dari orang lain. Kita hanya memer lukan pusaka itu. Selain pusaka itupun menjadi hak kita sepenuhnya, karena kitalah yang dapat memenuhi permintaan “Jangan hiraukan sebagian kecil dari harta yang akan kita dapatkan. Biarlah orang tua ini ikut memilikinya, sementara kita masih harus memperhitungkan orang-orang Pusparuri dan mungkin dari padepokan-padepokan lain yang mendengar pula tentang pusaka itu” “Yang Mulia” tiba-tiba Sanggit Raina berteriak “Kita masih mempunyai kesempatan. Kita binasakan saja semua orang Kendali Putih yang ada. Masih ada beberapa tenaga segar disini. termasuk aku sendir i” Namun yang terdengar adalah suara Eyang Rangga diantara tertawanya “Sudah aku katakan. Aku tidak akan peduli, apakah orang-orang Kendali Putih akan kalian musnakan atau tidak. Aku tidak berkeberatan dengan mereka. Tetapi aku percaya, bahwa orang yang memiliki nama besar seperti Yang Mulia Panembahan Wukir Gading ini t idak akan menj ilat ludahnya kembali” “Aku tidak akan merubah sikap” berkata Yang Mulia “Aku akan memberikan sebagian kepadamu” “Tidak ada artinya janji bagi orang-orang licik seperti orang-orang Kendali Putih, Kita akan menghancurkan semuanya. Kita akan membunuh sampai orang terakhir” geramSanggit Raina. Tetapi Yang Mulia menggeleng. Katanya “Tidak ada gunanya. Orang-Kendali Putih akan ikut mempertahankan apa yang akan kita dapatkan dari bukit gundul ini, karena mereka akan mendapat sebagian daripadanya” Sanggit Raina menggeratakkan giginya. Namun iapun kamudian mulai berpikir, jika dalam keadaan yang demikian orang-orang Pusparuri itu datang, maka mereka memang akan dimusnakan. Karena itu, maka Sanggit Raina telah menahan hatinya. Ia masih harus mendapatkan suatu cara untuk memiliki semuanya tanpa Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan tanpa orang-orang Kendali Putih. Namun sebentar lagi Daruwerdi akan turun dari bukit gundul bersama Cempaka dan Rahu. Nampaknya kesempatan yang ada menjadi semakin sempit untuk mendapatkan hatta yang tidak ternilai harganya itu, justru hadirnya orang-orang Kendali Putih. Sanggit Rainapun mengetahui bahwa orang yang datang disisi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu adalah orang yang memiliki kemampuan setingkat dengan Yang Mulia itu sendiri. Dalam pada itu, maka telah terjadi kebingungan pula diantara orang-orang yang mengawasi keadaan ilu. Semi yang melihat dari awal sampai akhir dari pertempuran di pategalan itupun tidak lagi dapat mengerti apa yang telah terjadi. “Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh Yang Mulia itu?“ bertanya Semi. Kawannyapun menjadi bingung. Kedua pihak yang bertempur mati-matian, bahkan setelah jatuh korban yang terbujur silang, mereka seolah-olah telah menemukan satu kesepakatan. “Kita pergi ke bukit gundul” desis Semi. Dengan hati-hati merekapun mengikuti iring- iringan yang menurut perhitungan mereka akan pergi ke bukit gundul. Namun merekapun tidak mengetahui, apa yang akan mereka lakukan pada keadaan yang terakhir. “Jika keduanya menemukan kesepakatan, maka Yang Mulia dan lawannya itu akan menjadi pasangan yang sangat berbahaya. Bahkan mungkin tidak terkalahkan. Apalagi j ika keduanya mengambil satu keputusan tersendiri bagi keuntungan mereka berdua” gumam Semi. Kawannya mengangguk-angguk. Jawabnya “Kita tidak akan berdaya. Kita berdua, Jlitheng dan Rahu seandainya dapat kita himpun, tidak akan dapat mengalahkan mereka berdua. Apalagi jika satu dua orang pengikutnya setia kepada mereka” “Kita akan melihat, apa yang terjadi” desis Semi. Sementara itu, di puncak bukit gundul itu, Daruwerdi, Rahu dan Cempaka dibantu oleh seorang pengikut padepokan Sanggar Gading sedang sibuk berusaha untuk mengambil sebuah peti yang terjepit di dalam retak-retak batu padas. Peti yang semula t idak nampak itu, akhirnya dapat mereka lihat, setelah mereka menyibakkan beberapa bongkah batu padas. “Bagaimana kau tahu, bahwa benda itu ada disana?“ bertanya Cempaka. “Aku menemukan sebuah petunjuk” jawab Daruwerdi Jawaban itu telah mendebarkan jantung Cempaka. Dalam pada itu, Daruwerdi masih berkata selanjutnya “Pada gambar itu aku mendapatkan keterangan yang jelas, bahwa pusaka itu terdapat di tempat ini” “Kau Gila“ geram Cempaka “bagaimana j ika gambar yang kau dapatkan itu tidak terbukti. Bagaimana jika setelah kita bekerja keras, apalagi setelah kami membawa Pangeran itu kepadamu, ternyata bahwa gambar yang kau dapatkan itu palsu atau sekedar perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab?“ “Aku yakin” jawab Daruwerdi “pertanyaanmu memang pertanyaan yang bodoh. Kau kira aku hanya bersandar pada gambar itu saja? Aku sudah mencari keterangan sehingga aku dapat memastikannya. Baru kemudian aku berani menyatakan, siapa yang dapat membawa Pangeran itu kepadaku, maka ia akan mendapatkan pusaka itu. Tetapi agar pusaka itu tidak dapat dicur i orang, aku membiarkan pusaka itu tetap di tempatnya seperti yang kau lihat sekarang” “Dari siapa kau mendapat keterangan itu?“ bertanya Rahu. “Kau lebih bodoh lagi Rahu” jawab Daruwerdi “seharusnya kau mengerti, bahwa karena tidak ada lagi seorangpun yang dapat member ikan keterangan, maka tentu keterangan itu aku dapatkan dengan cara gaib. Tiga hari tiga malam aku tidur di tempat ini sesuai dengan petunjuk gambar itu. Ternyata aku mendapat keterangan dengan cara yang gaib, bahwa pusaka itu benar-benar ada. Bukan sekedar dongeng atau seperti yang kau katakan, bahwa gambar itu perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab. Di tempat ini aku telah melihat cahaya yang hijau kebiru-biruan. Dengan demikian, akupun menjadi yakin. Aku baru menyatakan niatku untuk menukar pusaka itu, dengan taruhan leherku. Jika ternyata di dalam peti itu tidak terdapat apa-apa, maka kalian akan marah, dan kalian akan membantai aku disini” Cempaka tidak menjawab. Namun akhirnya mereka mulai dapat menggapai peti itu. Cempaka menjadi berdebar-debar ketika peti itu kemudian berhasil diambilnya. Dengan tangan gemetar ia membawa peti itu ke tempat yang datar dan meletakkan diatas sebongkah batu padas. “Sunggingan peti itu telah hampir hilang” desis Cempaka “bahkan pada beberapa bagiannya sudah mulai lapuk” “Peti itu tentu kehujanan, jika hari hujan” desis Rahu. “Apakah kita akan membukanya?“ desis Cempaka. “Terserah kepada kalian” berkata Daruwcrdi “Apakah akan kau buka sekarang, atau dihadapan pimpinan padepokanmu” Tiba-tiba saja Cempaka tertawa. Katanya “Kau tidak akan dapat mengatur kami lagi Daruwcrdi. Pusaka ini sudah berada di tanganku, sehingga segalanya terserah kepadamu” “Ya terserah kepadamu” jawab Daruwcrdi “Aku memang tidak memerlukan lagi. Tetapi serah terima belum dilaksanakan. Aku belum menerima dengan resmi Pangeran yang aku perlukan itu” “Bagaimana sikapmu seandainya Pangeran itu tidak ada pada kami” bertanya Cempaka ”Atau bagaimana sikapmu j ika sekarang tiba-tiba saja timbul nafsuku untuk membunuhmu” Tetapi Daruwcrdi justru tertawa. Katanya “Kau benar-benar dungu Cempaka. Melampaui setiap orang yang pernah aku kenal” “Kau sudah menyiapkan pasukan diseputar gunung gundul ini?“ bertanya Cempaka “itu bukan alasan sama sekali untuk mengurungkan niatku, j ika aku memang ingin membunuhmu. Karena akupun membawa pasukan yang kuat yang akan dapat melawan mereka” “Tidak. Terus terang, aku tidak mempunyai kawan seorangpun. Aku telah bekerja sendiri” jawab Daruwerdi. Namun kemudian “Tetapi itu menurut pengertian wadag” “Maksudmu?“ bertanya Cempaka. “Jika aku sudah mendapat isyarat untuk memiliki dan memanfaatkan peti itu menurut kepentinganku, maka akupun akan mendapat perlindungan tuah pusaka itu, melampaui ke kuatan pasukan segelar sepapan” jawab Daruwerdi. Cempakalah yang kemudian tertawa. Tetapi terasa, betapa suara tertawanya itu hambar. Betapapun kecilnya, terbersit pula kecemasannya, bahwa apa yang dikatakan Daruwerdi itu benar akan terjadi. Namun demikian, ia masih berusaha untuk menutupi kecemasannya. Sambil tertawa ia berkata “Kau kira aku percaya? Tetapi baiklah. Aku tidak akan membunuhmu. Bukan karena aku takut kepada tuah pusaka seperti yang kau katakan itu. Tetapi justru karena kami telah membawa Pangeran yang sakit itu kemari. Kami tidak ingin mengurusinya lebih lama lagi. Jika ia akan mati, biarlah ia mati di tanganmu” “Apakah ia sudah akan mat i?“ wajah Daruwerdi menjadi tegang. “Mungkin ia akan segera mati” jawab Cempaka. “Aku harus mendapat kesempatan untuk membalas dendam. Jika ia mati, biarlah ia mati di tanganku. Jangan mati sebelum aku membunuhnya dengan tanganku sendiri, karena ia sudah membunuh ayahku” berkata Daruwerdi. ”Aku tidak peduli. Pusaka ini sudah di tanganku. Aku akan membawanya dan menyerahkannya kepada kakang Sanggit Raina atas nama Yang Mulia Panembahan Wukir Gading” desis Cempaka. “Serahkan kepada iblis yang manapun aku tidak peduli. Tetapi Pangeran itu jangan mati lebih dahulu. Aku memer lukannya, agar dendam ini tidak dengan perlahan-lahan justru membunuh dir iku sendir i” geram Daruwerdi. “Aku akan turun. Ikut lah aku jika kau ingin bertemu dengan Pangeran yang sedang sakit itu” berkata Cempaka kemudian “Kau akan menerimanya sebagaimana sudah kita sepakati” Cempakapun kemudian mengambil peti itu. dan membawanya turun. Tetapi Daruwerdi yang selalu berjalan dekat disampingnya berdesis “Peti itu masih hakku. Aku belum menyerahkan kepadamu karena aku belum menerima Pangeran itu” “Persetan“ geram Cempaka. Tetapi Daruwerdi t idak memintanya, meskipun ia selalu berhati-hati mengamati pusaka yang berada di dalam peti itu. Sementara Rahu dan seorang lainnya mengikuti di belakangnya. Dalam pada itu, Sanggit Raina hampir tidak sabar lagi menunggu. Kegelisahannya membuatnya bagaikan berdiri di atas bara. Sejenak dipandanginya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang masih duduk diatas punggung kudanya. Ia mengumpat tidak habis-habisnya bahwa Yang Mulia itu telah mengambil satu keputusan lain tentang orang-orang Kendali Putih. “Apakah Yang Mulia sudah mulai mencium niatku untuk memiliki pusaka dan harta yang tersimpan itu” berkata Sanggit Raina di dalamhatinya. Rasa-rasanya ia ingin langsung menyerang dan menikam perut Yang Mulia itu dengan pedangnya. Namun Sanggit Rainapun sadar, bahwa ia tidak akan dapat melakukannya, karena Yang Mulia adalah orang yang berilmu t inggi. Jantung Sanggit Raina bagaikan meledak ketika ia melihat Cempaka turun dari bukit gundul bersama Daruwerdi, Rahu dan seorang penggikutnya. Apalagi ketika ia melihat Cempaka membawa sebuah peti yang agak besar meskipun nampaknya tidak terlalu berat. “Gila“ geram Sanggit Raina di dalam hatinya. Dalam pada itu, Cempakapun terkejut melihat di bawah bukit gundul itu beberapa orang berkuda telah siap menunggu Apalagi kemudian jelas dilihatnya, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan orang-orang Kendali Putih. Karena itu, maka Cempakapun telah tertegun. Sementara itu Rahu dan pengikut Sanggar Gading yang seorang itupun terkejut juga. Bahkan Daruwerdipun mengerutkan keningnya pula. “Siapakah mereka?“ bertanya Daruwerdi “Apakah mereka bukan orang yang berbahaya bagi pusaka itu? Cempaka menjadi termangu-mangu sejenak. Lalu desisnya “Aku kurang mengerti perkembangan keadaan ini. Yang berkuda di ujung itu adalah Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, Pimpinan tertinggi dari padepokan Sanggar Gading. Tetapi yang lain itu adalah orang-orang Kendali Put ih” “Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?“ bertanya Daruwerdi. “Kakang Sanggit Raina ada diantara mereka. Ia sama sekali tidak member ikan isyarat apapun juga” jawab Cempaka. Namun perasaan yang cemas nampak pada wajah Cempaka, sementara Rahu mempunyai pertimbangan- pertimbangan tersendiri Ia menjadi gelisah tentang Pangeran yang masih dianggapnya sakit itu. Apakah artinya langkah yang diambil oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu. Meskipun kegelisahan itu bagaikan memukul dinding jantung Cempaka tetap melangkah menuruni bukit gundul. Dipandanginya Sanggit Raina yang berdiri termangu-mangu, namun yang sama sekali tidak memberikan isyarat apapun juga. Dalam pada itu, Rahulah yang kemudian berdesis “Apakah kau tidak mempertimbangkan satu tindakan khusus menghadapi keadaan ini?” “Apakah yang dapat kita lalukan” jawab Cempaka “sementara kakang Sanggit Raina ada diantara mereka” “Bagaimana jika kita akan menghadapi satu keadaan yang tidak kita inginkan? Sementara ini Sanggit Raina tidak sempat berbuat apa-apa?“ bertanya Rahu. “Memang mungkin sekali” jawab Cempaka “Tetapi sebelum kita tahu pasti, apa yang sedang terjadi, aku tidak dapat mengambil sikap apapun juga” “Jika demikian” berkata Daruwerdi “serahkan peti itu kepadaku. Kita masih akan melihat, apa yang sedang berkembang. Di bawah ada orang-orang Sanggar Gading, tetapi ada juga orang-orang Kendali Putih yang nampaknya tidak saling bermusuhan” “Aku sependapat dengan Daruwerdi“ tiba-tiba saja Rahu menyambung “segala sesuatunya masih ada di tangan pertama. Kau tidak akan dibebani tanggung jawab apapun juga, justru karena kau memegang peti itu” Cempaka termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam ia menggeram “Kau akan melarikan diri?“ “Aku belum Gila“ jawab Daruwerdi “untuk waktu yang tidak terbatas aku menunggu Pangeran itu. Apakah begitu saja aku akan meninggalkannya?“ Cempaka semakin bimbang. Justru karena itu, maka lagkahnyapun terhenti. “Kenapa mereka berhenti?“ bertanya Yang Mulia. “Seperti aku, Cempakapun tentu ragu-ragu melihat orang- orang Kendali Putih ada disini” jawab Sanggit Raina. “Aku akan menjelaskan” jawab Yang Mulia. “Setenarnya kita dapat mengambil jalan lain” desis Sanggit Raina “Kita binasakan orang-orang Kendali Putih. Kemudian kita segera menyingkir dengan peti itu? Apa sulitnya? Biarlah orang Pusparuri datang dengan sepasukan yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka tidak akan terlalu mudah untuk menemukan kita” “Jangan sebut-sebut lagi” potong Yang Mulia “Aku sudah memutuskan. Apakah keputusanku ini bukan satu ke-putusan yang bijaksana seperti yang kau lakukan? Bahwa pada saat orang-orang Sanggar Gading bertempur mati-matian melawan orang Kendali Putih, kau berusaha menyingkirkan Pangeran untuk menyelamatkannya?“ Alangkah tajamnya sindir ian itu menusuk jantung Sanggit Raina. Kini ia mengerti, bahwa Yang Mulia telah mencur igainya, sehingga karena itu, maka ia mengambil satu sikap yang sama sekali diluar dugaannya. Namun dalam pada itu, agaknya Yang Mulia masih juga ragu-ragu. Mungkin Sanggit Raina berbuat demikian dengan maksud yang benar-benar baik. Tetapi dapat juga satu sikap yang licik. Sementara itu, Cempaka akhirnya sependapat dengan Rahu. Diserahkannya peti itu sambil berkata “Apa yang terjadi atas peti itu, biarlah terjadi. Kau adalah tangan pertama yang akan mempertanggung jawabkannya” Daruwerdi mener ima peti itu. Namun pada saat yang demikian, tiba-tiba saja kulitnya meremang. Untuk pertama kali ia merasa khawatir bahwa ia akan dikhianati. Ternyata orang-orang itu adalah orang-orang yang sangat licik dan tidak tahu diri Untuk beberapa saat Daruwerdi masih berdiri mematung. Ketika Cempaka siap untuk melangkah, Daruwerdi bertanya sekali lagi “Cempaka. Apakah pemimpinmu itu dapat dipercaya?“ “Kenapa kau bertanya demikian? Ia adalah pemimpin tertinggi dari orang-orang Sanggar Gading. Setiap orang Sanggar Gading tunduk terhadap keputusannya. Dan bukankah ia sudah membawa orang yang kau kehendaki? Dipercaya atau tidak, tetapi syarat yang kau tentukan sudah dipenuhinya? Buat apa kau meragukannya? Seandainya ia ingin berbuat curang apakah kami akan membawa Pangeran yang sakit itu kembali ke Sanggar Gading bersama pusaka ini. sekedar untuk menunjukkan satu sikap curang?“ Daruwerdi menganggug-angguk. Balikan diluar sadarnyapun Rahu mengangguk-angguk pula. Pangeran itu sudah ada disini. Mau apa lagi? Karena itu, maka Daruwerdipun segera melangkah turun sambil membawa peti yarg memang t idak terlalu berat itu. Namun beban perasaannyalah yang kemudian terasa sangat memberat di dalam dadanya. Kegelisahan, kecemasan, bahkan juga ketakutan yang sebelumnya belum pernah menyentuh perasaannya. Yang Mulia Wukir Gading tersenyum melihat orang-orang itu melanjutkan langkah mereka meskipun ia mengerutkan keningnya pula melihat Cempaka justru menyerahkan peti itu kembali kepada Daruwerdi. “Apa maksudnya?” Ia bertanya kepada diri sendir i. Tetapi ia tidak memperdulikannya. Peti itu harus diserahkan kepadanya. Semakin dekat Daruwerdi dengan sekelompok orang-orang berwajah kasar, bahkan ada dia mara mereka nampaknya liar dan buas, sementara wajari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang nampak tersenyum tetapi bagaikan menyimpan seribu rahasia itu, jantung Daruwerdi berdetak semakin keras. Rasa-rasanya terngiang suara ibunya disela tangisnya yang tertahan “Bagaimana jika mereka justru mengkhianatimu” “Ya bagaimana?“ pertanyaan itu diulanginya di dalam hatinya. Tetapi sekali lagi ia menegaskan kepada diri sendiri “Pangeran itu ada disini. Segalanya akan berjalan dengan cepat, lancar dan selesai. Aku akan segera meninggalkan Daerah Sepasang Bukit Mati ini membawa Pangeran itu sebagai tawanan. Aku akan dapat menyelesaikan semua masalah pada kesempatan lain, jika orang-orang Kendali Putih yang datang bersama orang-orang Sanggar Gading itu telah pergi” Karena itu, betapa kegelisahan mencengkam jantungnya, namun Daruwerdi berusaha untuk tetap berjalan dengan wajah tengadah sambil membawa peti yang berisi pusaka seperti yang dikatakannya. “Bagus anak muda” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading kepada Daruwerdi sebelum anak itu mendekat “Cepatlah sedikit Jangan berjalan seperti perempuan, Berjalan seperti perempuan. Berjalanlah seperti seorang laki-laki” Suara Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu telah menggetarkan isi dadanya. Namun ia masih tetap bertahan untuk berjalan dengan wajah tengadah. “Tukar menukar akan segera terjadi” desisnya di dalam hati. Namun ia tidak melihat Pangeran yang dimintanya. Karena itu, maka iapun bertanya kepada Cempaka “Dimana Pangeran itu?“ “Ada. Ia sedang sakit. Mungkin ia duduk di balik batu-batu padas atau bahkan berbaring diantara bebantuan itu“ jawab Cempaka. Daruwerdi tidak bertanya lebih banyak lagi. Tetapi ia mulai melihat beberapa kesalahan langkah. Mungkin sejak semula ia sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan- kemungkinan kecurangan dan kelicikan yang dapat dilakukan orang-orang Sanggar Gading. “Tetapi kebesaran nama Sanggar Gading tentu tidak didapatkannya karena kelicikan melulu. Juga sikap jantan dan keberanian” berkata Daruwerdi di dalam hatinya Ternyata ketika ia telah berdiri beberapa langkah dihadapan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang masih tetap duduk dipunggung kudanya, jantungnya benar-benar tergetar. Wajah itu bagaikan bayangan rahasia jang tidak terjajagi. Senyumnya mengandung r ibuan kemungkinan. “Kemarilah anak muda” berkata Yang Mulia “serahkan peti itu kepadaku” Daruwerdi termangu-mangu. Seolah-olah ia tidak mampu lagi melawan perintah itu. Namun ia berusaha untuk tetap menguasai diri dan pribadinya sehingga ia berusaha untuk menjawab “Aku hanya bersedia menyerahkannya, jika Pangeran itu sudah diserahkan kepadaku” “O“ Yang Mulia mengangguk-angguk “Jadi Pangeran itu belum kau serahkan Sanggit Raina” “Belum Yang Mulia” jawab Sanggit Raina. “Bawa Pangeran itu kepadanya” tiba-tiba saja ia membentak “Kenapa belum juga kau lakukan he?“ Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ternyata bahwa orang yang disebut pimpinan tertinggi Sanggar Gading itu benar- benar ingin melakukan tukar-menukar seperti yang dimaksudkannya. Sanggit Rainapun kemudian mendekati Pangeran yang berbaring di antara bongkah-bongkah batu padas. Katanya Silahkan Pangeran, Pangeran akan diserahkan kepada seseorang yang memerlukan Pangeran” “Siapa?“ bertanya Pangeran itu. “Anak muda itu. Namanya Daruwerdi” jawab Sanggit Raina. “Aku tidak dapat bangkit lagi. Aku akan mati disini. Biarlah aku melihat orang yang memer lukan aku itu” berkata Pangeran itu. “Marilah. Kami akan membantu Pangeran berdiri“ desak Sanggit Raina. Pangeran itu tidak dapat mengelak lagi. Meskipun tubuhnya nampak semakin lemah, tetapi iapun kemudian dipapah oleh Sanggit Raina. Namun tanpa diminta Rahupun telah mendekatinya pula dan membantu memapahnya. Dalam keadaan yang gawat disaat-saat terakhir ia tidak boleh terlambat. Apapun yang akan terjadi padanya, ia tidak boleh membiarkan Pangeran itu menjadi korban, meskipun keadaannya itu sendiri sangat memprihatinkan. Daruwerdi yang kemudian melihat seorang dipapah mendekatinya, mencoba memperhatikannya. Ia sebenarnya belum mengenal orang itu. Tetapi Daruwerdi tahu pasti, ciri-ciri yang terdapat pada Pangeran yang dikehendakinya itu. Dalam pada itu, maka Panembahan Wukir Gading itupun kemudian berkata “Nah, terimalah Pangeran yang sedang sakit itu. Ia tidak berbahaya. Bahkan nampaknya sakitnya menjadi semakin payah. Sebenarnya pada saat-saat terakhir di padepokan kami, keadaannya sudah berangsur baik. Namun perjalanan yang melelahkan ini membuatnya kehilangan sebagian besar dari kesehatannya yang tersisa” Daruwerdi memandang Pangeran itu sejenak, sementara Pangeran itu memandanginya pula. Tetapi Pangeran itu sama sekali tidak dapat mengenal, siapakah anak muda yang menyebut dir inya bernama Daruwerdi itu. Melihat keadaan Pangeran itu, maka Daruwerdipun t idak lagi minta agar Pangeran itu diserahkan kepadanya dalam keadaan terikat. Nampaknya Pangeran itu sudah dalam keadaan yang lemah sekali, sehingga ia tidak akan dapat berbuat banyak. “Aku akan meyakinkan, apakah memang orang inilah yang akan aku kehendaki” berkata Daruwerdi. “Jangan Gila“ geram Yang Mulia Panembahan Wukir Gading “Kaulah yang menyebutnya. Kaulah yang memberikan pertanda lentang dirinya. Jika keliru, kaulah yang keliru” Bukan kami. Dan kau tidak akan dapat memaksa kami untuk mendapatkan Pangeran yang lain dengan taruhan nyawa pula” Perlahan-lahan Daruwerdi mendekati Pangeran itu. Kemudian setelah mengangguk hormat ia berkata” Maaf Pangeran. Aku mohon Pangeran sudi menunjukkan jari-jari Pangeran pada tangan sebelah kiri” Pangeran itu menggeram. Dengan nada berat ia bertanya “Siapa kau sebenarnya, dan apakah kepentinganmu dengan aku, sehingga kau telah mempertaruhkan segalanya untuk membawa aku kemari” “Nanti Pangeran akan mengetahuinya, tetapi aku mohon Pangeran menunjukkan jari-jari tangan kir i Pangeran” potong Daruwerdi. “Kalau yang kau maksud adalah cacat pada kelingkingku, kau menemukan orang yang benar” jawab Pangeran itu sambil berusaha menunjukkan jari-jari tangan kirinya dibantu oleh Rahu. “Tepat Pangeran” berkata Daruwerdi “Aku memang memer lukan Pangeran” “Kenapa kau memerlukan aku?“ bertanya Pangeran itu. Tetapi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading telah memotong “Bicarakan kemudian. Kita masih akan bersama sama untuk beberapa hari” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia berbicara, Yang Mulia itupun berkata “Serahkan peti itu kepadaku anak muda. Aku ingin melihat, apakah isi peti itu memadai untuk di pertaruhkan dengan sejumlah nyawa orang-orang terbaik dari Sanggar Gading dan Kendali Putih” “Nampaknya kamipun telah tergesa-gesa mengambil sikap” berkata Eyang Rangga “Tetapi baiklah kau lihat isi peti itu” “Bagaimana kau mendapatkannya anak muda?“ bertanya Yang Mulia itu kemudian. “Pertanda gaib” jawab Daruwerdi “peti itu sama sekali tidak kelihatan. Tetapi aku yakin akan pertanda gaib yang aku dapatkan, sehingga aku berani bertaruh dengan leherku. Aku tidak mau mengambil sebelumnya justru untuk menghindari agar peti itu tidak jatuh ke tangan orang lain yang akan dapat mengambilnya dengan kekerasan. Ternyata peti itu ada di tempat seperti pertanda gaib yang aku terima meskipun kami harus membongkar bongkah-bongkah batu padas” Yang Mulia mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Marilah, serahkan peti itu kepadaku” Daruwerdipun kemudian maju mendekati Yang Mulia yang masih duduk dipunggung kudanya. Sanggit Raina mengikuti langkahnya dengan tegang. Sementara orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih yang tersisapun memperhatikannya dengan tanpa bergeser dari tempat mereka. Yang justru gemetar kemudian adalah tangan Daruwerdi. Ketika ia menyerahkan peti itu, ia sempat memandang wajah Yang Mulia sekilas. Ternyata bahwa wajah yang menyimpan seribu macamrahasia itu sama sekali tidak nampak berubah. Demikian peti itu diterimanya, maka Yang Muliapun kemudia mengibaskan sisa-sisa tanah yang masih melekat. Perlahan-lahan iapun kemudian membuka tutup peti itu. Wajah-wajah menjadi tegang. Wajah Pangeran yang sakit itupun menjadi tegang. Namun justru wajah Yang Mulia itulah yang sama sekali t idak berubah. Senyumnya masih saja seolah-oleh melekat di bibirnya. Bahkan ketika peti itu telah terbuka maka ia masih tetap tersenyum. “Sebilah pusaka yang tidak dikenal” berkata Yang Mulia. Lalu “He anak muda, apakah kau tahu arti goresan-goresan benda tajampada dinding peti ini?“ Daruwerdi menggeleng lemah. Katanya “Tidak. Aku tidak tahu apa-apa tentang pusaka dan petinya. Aku hanya mengetahui tempatnya. Itu saja” Yang Mulia memperhatikan goresan-goresan pada dinding peti itu dengan saksama. Ia melihat tanda-tanda dan garis- garis yang mungkin mempunyai arti. Yang Mulia itupun menghubungkan goresan-goresan itu lengan kemungkinan-kemungkinan yang disimpan oleh daerah Sepasang Bukit Mati. Tentang harta karun yang tidak ternilai harganya dan tentang landasan perjuangan untuk menegakkan kembali satu kekuasaan diatas reruntuhan Majapahit. “Mungkin inilah petunjuk itu” berkata Yang Mulia di dalam hatinya. Namun demikian, iapun kemudian berkata “Daruwerdi. Bukan berarti aku tidak percaya kepadamu. Apalagi seperti yang kau katakan, bahwa kau mengaku tidak mengetahui apa- apa, selain petunjuk gaib tentang peti dan pusaka inti. Bahkan tempatnyapun baru kau yakini kebenarannya setelah Cempaka dan Rahu ikut membantumu mengambilnya” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi sebagaimana biasanya, maka untuk meyakinkan kebenaran adanya sejenis pusaka, maka pusaka itu perlu ditayuh. Dan aku akan melakukannya. Pusaka ini akan aku tayuh tiga hari tiga malam diatas bukit berhutan itu untuk menghindar i kemungkinan-kemungkinan buruk. Kita akan bersembunyi bersama-sama di puncak bukit berhutan itu selama aku meyakinkan kebenaran pusaka ini” Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Dipandanginya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu dengan tajamnya. Sementara Panembahan itu masih saja tersenyum sambil berkata “Ya. Mungkin kau kurang mengerti. Tetapi demikianlah kebiasaan seseorang. Untuk mengetahui nilai dari sejenis wesi aj i, maka orang harus menayuhnya” “Tetapi aku tidak tahu apakah akibat dari cara yang demikian. Aku sudah memenuhi janj iku. Karena itu, maka aku berhak menerima nilai tukarnya seperti yang sudah disepakati. Kemudian terserah apa yang bakal terjadi dengan kita masing- masing” jawab Daruwerdi. Namun Yang Mulia masih tetap tersenyum. Katanya?” Dengar anak muda Kita semua akan naik keaitas bukit berhutan itu. Kita akan bersembunyi. Aku kira pihak lain tidak akan mengira bahwa kita berada diatas bukit itu. Seandainya ada pibak lain yang mengetahui dan menyusul kita, maka kita bersama-sama akan bertahan. Aku yakin, bahwa kita akan menang. Aku dan orang tua berhati iblis ini tentu akan dapat mempertahankan peti itu menghadapi siapapun juga” Wajah Daruwerdi menjadi semakin tegang. Sebuah pertanyaan yang bergejolak dihatinya seakan-akan terdengar semakin keras “Apakah benar orang itu akan dapat mengetahui nilai dari sebuah pusaka? Dan dapat mengetahui pula keasliannya” Dalam kebimbangan itu terdengar Yang Mulia berkata “Sudahlah. Jangan berpikir terlalu panjang. Kita akan berangkat bersama-sama ke bukit itu” “Silahkan” berkata Daruwerdi “Aku akan pergi bersama Pangeran itu” Tetapi Yang Mulia yang selalu tersenyum itu justru tertawa. Katanya “Jangan menganggap kami orang-orang dungu anak muda. Sekali lagi aku katakan, bukan maksudku untuk tidak mempercayaimu. Tetapi aku hanya ingin menyaksikan. Hanya tiga hari t iga malam” “Aku tidak mempunyai waktu” berkata Daruwerdi. Tetapi Yang Mulia segera menjawab “Kau tidak mempunyai pilihan. Kita melakukan tukar menukar dengan jujur. Karena itu kaupun harus bersedia mempertanggung jawabkannya. Terasa jantung anak muda itu bagaikan berhenti berdenyut. Namun ternyata ia tidak mempunyai kesempatan lain. Apalagi sesaat kemudian Yang Mulia itu telah mengambil kepututan “Kita akan pergi sekarang. Semuanya. Kita akan berada di atas bukit berhutan itu hanya selama tiga hari tiga malam. Jika aku telah mendapatkan satu keyakinan tentang pusaka ini. maka aku akan mempersilahkan anak muda itu meninggalkan kita semuanya. Tetapi sebelum aku mendapatkan keyakinan itu. maka aku tidak akan membiarkan pergi. Karena kami bukan kelinci-kelinci yang terlalu bodoh untuk ditipu begitu saja” Tubuh Daruwerdi terasa semakin gemetar. Ia tidak menyangka bahwa ia akan berhadapan dengan seseorang yang terlalu cerdik dan cermat. Bahkan ada seperti penyesalan yang melonjak di dalam hatinya. Ternyata rencananya tidak berjalan selancar seperti yang diduganya. Dalam keadaan yang terjepit itu, Daruwerdi mulai membayangkan wajah ibunya yang melepaskannya dengan air mata. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu, karena demikian Yang Mulia menjatuhkan perintah untuk berangkat ke bukit berhutan itu. maka Sanggit Rainapun telah melangkah mendekati Daruwerdi sambil berkata Marilah anak muda. Tidak ada apa-apa yang akan terjadi. Kita hanya ingin membukt ikan, bahwa kita masing- masing telah berbuat dengan jujur” Daruwerdi menelan ludahnya. Sekilas dipandanginya peti yang sudah berada di tangan Yang Mulia itu. Sekali lagi ia bertanya kepada diri sendiri “Apakah benar ia dapat mengetahui j ika- pusaka itu dipalsukan? Bkankah tidak seorangpun yang mengetahui, pusaka apakah yang pernah disembunyikan itu. Atau ia sudah mendengar bahwa ada nilai lain yang terdapat disamping pusaka itu, sehingga ia bertanya tentang goresan-goresan pada dinding peti itu” Ada semacam kebanggaan atas diri sendiri, bahwa ia sudah melakukannya dengan cermat. Tetapi bahwa Yang Mulia masih akan mempergunakan cara lain untuk mengetahui keaslian dari pusaka itu, sebelumnya tidak pernah dipikirkannya. Terbersit pula satu niat untuk berbicara tentang petunjuk gaib dan karena itu, ia akan mendapat perlindungan gaib apabila Yang Mulia itu akan berbuat curang. Namun niat itu di urungkan, karena ia yakin bahwa Yang Mulia tidak akan menghiraukannya. Bahkan mungkin ia yakin bahwa Yang Mulia tidak akan menghiraukannya. Bahkan mungkin Yang Mulia itu ptin akan menjawab, bahwa iapun dapat melakukan yang gaib itu. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain bagi Daruwerdi selain mengikut i ir ing- iringan yang kemudian menuju ke bukit berhutan. Jarak yang tidak terlalu jauh. Tetapi karena sebagian dari mereka telah teriuka, kehilangan kekuatannya dan keletihan, maka perjalanan itu telah ditempuh hampir seperti mereka berjalan kaki saja. Meskipun dalam pada itu, bagi Daruwerdi telah disediakan seekor kuda pula. Dalam perjalanan itu, Pangeran yang sakit itu nampaknya menjadi semakin payah. Tabib yang selalu menjaganya itupun telah memberinya obat secukupnya, sesaat ketika mereka akan meninggalkan bukit gundul itu. Nampaknya obat yang ditelannya itu member inya sedikit kekuatan. Dengan seteguk air yang diminumnya dari impes yang dibawanya, maka tubuh Pangeran itu nampak menjadi sedikit segar. Tetapi sejenak kemudian ia sudah nampak menjadi payah lagi selama perjalanan. “Jarak ini hanya pendek saja” berkata Cempaka. “Tetapi kita akan naik keatas bukit itu” berkata tabib yung merawatnya. “Ya” jawab Cempaka. “Pangeran ini akan menjadi sangat letihi” desis tabib itu pula. “Biar lah beberapa orang membantunya. Atau biar saja ia berada di punggung kuda yang akan dituntun sepanjang jalan menannjak di lereng” “Bagaimana j ika ia justru jatuh dari punggung kuda?“ bertanya tabib itu. “Sudahlah. Nanti kita akan mencari jalan bagi Pangeran itu” jawab Cempaka. Pangeran yang nampaknya sangat letih itu mendengarkan pembicaraan itu dengan berdebar-debar. Tetapi ia menjadi semakin berdebar-debar j ika ia memikirkan t ingkah laku anak muda yang menyebut dirinya bernama Daruwerdi itu. “Agaknya anak ini sangat kurang pengalaman menghadapi orang-orang seperti pemimpin padepokan Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih itu” berkata Pangeran itu di dalam hatinya. Namun sementara itu, Rahu selalu dekat dengan Pangeran itu. Ia merasa bertanggung jawab, apabila terjadi sesuatu atas Pangeran yang sedang sakit itu. Demikianlah iring- iringan itu menuju ke bukit berhutan tidak terlalu jauh dar i bukit gundul itu. Sementara itu, kebingungan tidak saja terjadi diantara orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Bukan saja Sanggit Raina yang menjadi sangat gelisah karena perkembangan yang tidak terduga-duga itu. Bukan pula hanya Rahu yang cemas melihat keadaan Pangeran yang letih itu. Tetapi beberapa orang diluar lingkungan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putihpun menjadi bingung. “Apa yang mereka lakukan Kiai?“ bertanya Jlitheng kepada Kiai Kanthi. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak mengerti. Aku t idak mendengar apa yang mereka katakan. Tetapi aku kira angger Daruwerdi terpaksa harus ikut bersama mereka” “Pangeran yang sangat letih itu juga” desis Jlitheng. “Kita akan mengikutinya” desis Kiai Kanthi “betapapun sulitnya. Tetapi kita harus mengetahui kemana mereka pergi” Dengan demikian, maka Jlitheng dan Kiai berusaha untuk mengamati iring- iringan itu. Mereka tidak berani mengambil jarak terlalu dekat, karena merekapun menyadari, diantara mereka terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Namun dalam pada itu, selagi mereka dengan hati-hati berusaha mengikut i ir ing- iringan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih yang tersisa, maka keduanya telah dikejutkan oleh kehadiran dua orang yang juga sedang mengikut i iring-ir ingan itu. Namun Jlitheng menarik nafas dalam-dalam ketika ternyata keduanya adalah Semi dan kawannya. “Apa yang kau ketahui tentang mereka?“ bertanya Jlitheng. Semi menggeleng. Ia dapat rnenceriterakan pertempuran yang terjadi di pategalan. Iapun dapat mengatakan, bahwa diluar dugaan orang-orang terpenting dari padepokan Sanggar Gading dapat menyatukan rencana mereka dengan orang- orang Kendali Putih yang tersisa. “Semuanya serba membingungkan. Ternyata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading benar-benar seorang yang memiliki sikap yang sulit untuk dimengerti sebelumnya. Ia selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan” berkata Semi. “Ia orang yang memiliki pengalaman yang sangat luas menilik sikap dan keputusan yang diambilnya” berkata Kiai Kanthi. Semi mengangguk-angguk. Dengan kening yang berkerut ia bergumam “ Tugas, ini benar-benar menjadi berat dan tidak menentu” “Itu sudah kita duga” sahut Jlitheng “Kita memang tidak mempunyai perhitungan yang mapan sebelumnya. Kita memang harus bertindak sesuai dengan perkembangan keadaan. Tugas yang demikian memang terasa sangat berat dan tidak menentu” Semi mengangguk-angguk. Tetapi yang dihadapinya itu justru terasa semakin berat, karena sikap yang sulit dimengerti dari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Kadang-kadang ia berbuat sesuatu yang tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu. Demikian ir ingan-ir ingan itu menjadi semakin dekat dengan bukit berhutan. Bahkan kemudian mereka yang mengikuti itupun mengerti, bahwa iring- iringan itu akan naik ke bukit berhutan itu. “Swasti” t iba-tiba saja Kiai Kanthi berdesis. “Mereka tidak naik lewat sisi yang akan melewati gubug kecil itu Kiai” berkata Jlitheng. “Tetapi sebagian dari mereka tentu akan menebar untuk mengawasi keadaan. Kita belum tahu, apakah kepentingan mereka naik ke bukit berhutan itu. Tentu ada sesuatu yang mereka anggap penting untuk dilakukan di bukit itu” jawab Kiai Kanthi. “Jadi, bagaimana menurut pertimbangan Kiai?“ bertanya Jlitheng. “Aku ingin menyelamatkan gadisku itu” desis Kiai Kanthi. “Kita akan melingkari bukit itu, dan naik lewat jalan yang terbiasa kita lewati. Kita akan membawa keluar dari rumah itu” desis Jlitheng. “Aku akan pergi bersama kalian“ sahut Semi “Aku kira, kita akan dapat membuat pertimbangan-pertimbangan menghadapi kendaraan yang kurang menentu” Kiai Kanthi ternyata tidak berkeberatan. Karena itu, maka merekapun berusaha untuk melingkar i bukit kecil itu berjalan kaki dan kemudian memanjat naik menuju ke gubug Kiai Kanthi. Mereka harus membawa Swasti keluar dan bersiap menghadapi segala kemungkinan Namun dalam pada itu, agar mereka tidak kehilangan arah, maka Jlitheng telah memisahkan dir i untuk tetap mengikuti iring- iringan ku memanjat naik ke hutan di lereng bukit itu,. “Jika kau sudah yakin, dimana mereka berhenti, segera hubungi kami“ pesan Kiai Kanthi. “Baik Kiai. Aku akan segera datang. Tetapi jika keadaan memaksa, Kiai tidak usah menunggu aku” jawab Jlitheng. “Terima kasih. Tetapi aku kira aku perlu menunggu” desis Kiai Kanthi kemudian. Demikianlah, maka J litheng dengan sangat berhati-hati tetap mengikuti ir ing- iringan itu. Meskipun hanya sekilas- sekilas saja, namun ia melihat, betapa sulitnya Pangeran yang sedang sakit itu untuk dapat memanjat naik. Rahu bahkan seolah-olah telah mendukungnya dan menjaga Pangeran itu dengan sangat berhati-hati bersama tabib yang merawatnya. Sementara itu, beberapa orang yang lain memanjat sambil menuntun kuda, karena mereka tidak dapat memanjat lereng berhutan itu diatas punggung kuda. Dalam pada itu, Yang Mulia Panembahan Wukir Gadingpun harus turun dari kudanya pula. Namun ternyata cacat kakinya tidak mengganggunya. Jika di padepokan nampaknya ia seorang timpang yang harus berjalan dengan tongkat gadingnya, namun di hutan bukit kecil itu, cacat kakinya seolah-olah diabaikannya. Namun dalam pada itu, selain memikirkan Pangeran yang sakit itu, Rahupun menjadi gelisah mengingat mereka yang mengawasi keadaan. Rahu sadar, bahwa tidak mudah bagi Semi, kawannya dan Jlitheng untuk mengetahui apa yang telah terjadi Mereka dapat menjadi bingung dan mengambil sikap yang keliru. Karena itu, ketika iring-ir ingan itu telah mencapai bagian atas dari bukit kecil berhutan, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti, Rahupun melepaskan Pangeran itu dan membiarkannya dipapan oleh tabib yang merawatnya, “Akulah yang kelelahan” berkata Rahu “Tetapi jangan hiraukan aku. Aku akan mencari air sebentar” “Masih ada air di dalam impes itu” berkata Pangeran yang sakit. “Terima kasih Pangeran. Pangeran tentu masih membutuhkannya” desis Rahu. Sementara itu Rahu berpesan kepada tabib itu “Kau tidak usah mengatakannya kepada siapapun, bahwa aku akan mencari air sebentar. Aku akan segera menyusul. Aku sudah tahu, dimana kita semua akan berhenti” Tabib yang merawat Pangeran itu mengangguk. Katanya “Baiklah. Tetapi cepat. Sebelum Cempaka bertanya kepadaku, dimana kau” “Jika ia bertanya, jawab sajalah seperti yang aku kata kan” desis Rahu yang kemudian memisahkan dir i. Sejenak Rahu termangu-mangu. Ia pasti bahwa tentu ada satu dua orang yang mengikut inya. Jika bukan Semi dan kawannya, tentu Jlitheng. Ia berharap, bahwa orang yang mengikut i itu dapat mengerti maksudnya. Sejenak kemudian, ketika ir ing-ir ingan itu memanjat semakin jauh Rahu telah bergeser, justru turun. Ia menunggu sejenak, mungkin seseorang akan menghampir inya. Meskipun demikian, ketika ia mendengar gemerisik dedaunan, ia telah bersiaga. Namun kemudian ia menar ik nafas dalam-dalam ketika ternyatai yang mendekatinya adalah Jlitheng. “Sokur lah kau datang” desis Rahu, “Aku mengerti maksudmu memisahkan dir i dari kawan- kawanmu” berkata Jlitheng “Kami semua kebingungan. Aku sudah berhubungan dengan Semi dan kawannya. Juga dengan Kiai Kanthi, Kami tidak tahu, apa yang sedang terjadi” Rahupun segera menceriterakan dengan singkat, apa yang telah terjadi. Akhirnya Rahupun menceriterakan, bahwa Yang Mulia Panembahan Wukir Gading ternyata sangat cermat, sehingga ia menganggap per lu untuk meyakinkan keaslian pusaka yang diserahkan oleh Daruwerdi kepadanya. Karena itulah maka Yang Mulia telah membawa semua orang yang tersangkut dalam persoalan pusaka itu keatas bukit berhutan ini. Selama tiga hari tiga malam Yang Mulia akan berada di atas bukit. Pusaka itu akan ditayuhnya. sehingga ia akan mengetahui nilai yang sebenarnya dari pusaka itu. “Tiga hari tiga malam” desis Jlitheng “Apakah hal itu tidak akan mengundang kemungkinan lain j ika ada pihak-pihak yang mengetahui apa yang telah terjadi?“ “Hal itu sudah diperhitungkannya” berkata Rahu “Orang- orang yang tersisa dari Sanggar Gading dan Kendali Putih akan dapat menghadapi golongan manapun juga, apabila di bukit ini terdapat Yang Mulia dan orang Kendali Putih yang nampaknya memiliki kemampuan setingkat dengan Yang Mulia. “Benar-benar membingungkan” gumam Jlitheng “Yang baik, apa yang harus kami lakukan” “Mintalah pertimbangan Kiai Kanthi” desis Rahu “Tetapi sebaiknya kalian menunggu tiga hari tiga malam. Hasil dari usaha Yang Mulia itu akan menentukan, apa yang akan terjadi Usahakan pada hari keempat mendekati puncak bukit ini. Aku akan berusaha untuk memberikan isyarat kepada kalian” Jlitheng mengangguk-angguk. Lalu Katanya “Selama tiga hari tiga malam, kita akan berbicara dan mencari jalan keluar” “Hati-hatilah. Yang ada dipuncak bukit itu adalah sisa-sisa orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih, diantaranya termasuk Sanggit Raina dan Cempaka di-samping Yang Mulia dan orang terkuat dari Kendali Putih. Kau harus memperhitungkan jumlah dan kemampuan orang-orang yang berada diatas bukit itu. Mungkin kau merasa perlu untuk bertindak. Jika jumlah kita jauh di bawah jumlah orang-orang yang berada dipuncak bukit itu, maka apa yang akan dapat Jlitheng mengangguk-angguk Katanya “Baiklah. Kami akan memperhitungkannya” “Sampaikan hal itu kepada Kiai Kanthi dan kepada Semi“ desis Rahu kemudian “Aku menyusul Yang Mulia keatas bukit, agar aku tidak dicurigai” Rahupun kemudian meninggalkan Jlitheng tanpa menyentuh air setitikpun. Namun Rahu sempat member itahukan persoalan yang membingungkan orang- orang yang mengawasi keadakan. Dalam pada itu, Jlitheng yang sudah mendapat gambaran yang jelas tentang rencana Yang Mulia itupun, tidak lagi berusaha untuk mengintai sampai kepuncak bukit. Tetapi iapun segera memotong jalan, menyusup hutan di lereng bukit itu, untuk mencapai gubug Kiai Kanthi, Yang didengar dari Rahu itu harus segera diketahui pula oleh Semi dan Kiai Kanthi agar mereka dapat menyesuaikan diri. Bahkan yang harus menyesuaikan diri bukannya mereka yang ada digubug Kiai Kanthi saja. tetapi anak-anak muda Lumbanpun harus menyesuaikan diri agar mereka tidak salah langkah menghadapi persoalan yang gawat itu. Dalam pada itu Kiai Kanthi dan kedua orang yang menyebut diri mereka sebagai pemburu itupun telah berada di gubugnya. Swasti yang hampir tidak sabar lagi menunggu berdesis “Hampir saja aku mencari ayah” “Jika kau mencari aku, kau akan pergi kemana?“ bertanya Kiai Kanthi. “Kemana saja” jawab Swasti. “Sudahlah. Marilah kita berbicara tentang keadaan yang gawat sekarang ini. He, apakah sudah merebus ketela pohon?“ bertanya Kiai Kanthi. “Sudah dingin Aku merebus ketela pohon dan pisang kapok” jawab Swasti. “O, menyenangkan sekali. Bawa kemari. Biarlah tamu kita jamu dengan ketela pohon dan pisang kapok rebus” berkata Kiai Kanthi. Namun, demikian Swasti menghidangkan ketela pohon dan pisang kapok, maka ayahnya berkata “Jika kau sudah selesai, ikutlah duduk disini“ “Ah, aku di dapur saja. Bukankah ayah ingin minuman panas” “Yang dingin ini sudah cukup. Atau kau dapat menempatkan air diatas perapian, kemudian kau duduk disini” berkata ayahnya. Swasti memandang ayahnya dengan heran. Jarang sekali ayahnya memintanya untuk duduk bersama orang lain. Namun agaknya ayahnya dapat menangkap pertanyaan yang tumbuh dihati anak gadisnya. Maka Katanya “Keadaan berkembang menjadi gawat. Kau harus mengetahuinya Swasti” Swasti menarik nafas dalam-dalam. Sejak ia mulai tinggal di lereng bukit itu, ia sudah merasa, bahwa tempat itu bukanlah tempat seperti yang dikatakan oleh ayahnya. Tempat yang akan dapat dipakainya untuk menenteramkan dir i. Persoalannya bukan saja menyangkut anak-anak muda Lu m ban yang berebut air, tetapi juga menyangkut persoalan yang tebih luas lagi. Tetapi Swasti tidak dapat menyalahkan ayahnya. Karena itu, maka jawabnya “Baiklah ayah. Aku akan menjerang air. Kemudian aku akan mendengarkan berita tentang keadaan yang gawat itu” Demikianlah setelah meletakkan belanga berisi air diatas perapian, maka Swastipun duduk di belakang ayahnya yang sedang menemui kedua orang pemburu itu. Meskipun agak canggung, namun Swasti berusaha untuk duduk dengan tenang. Dalam pada itu, Kiai Kanthipun memberitahukan kepada anaknya, keadaan yang dilihatnya. Karena itu, maka setiap saat, segalanya dapat terjadi. “Bukankah kita tidak terlibat ayah?“ bertanya Swasti. “Kita semuanya dapat saja terlibat daiam persoalan baik dan buruk, salah dan benar” berkata ayahnya. “Tetapi apakah ayah yakin, yang manakah yang bersalah dan yang manakah yang tidak?“bertanya Swasti. “Dengan mempelajari keadaan, kita dapat membuat perhitungan. Meskipun tidak mustahil bahwa perhitungan kita itu salah” berkata Kiai Kanthi. Swasti tidak membantah lagi. Ia sadar, bahwa kedua pemburu itupun tentu termasuk dalam golongan mereka yang, terlibat dalampersoalan yang diceritakan oleh ayahnya itu. “Kita menunggu J litheng” berkata Kiai Kanthi “Kita akan mendengar lebih banyak lagi tentang orang-orang yang memanjat bukit ini. Jika ia berhasil, maka ia akan dapat mengetahui, dimana orang-orang Sanggar Gading dan orang- orang yang lain itu berhenti. Apalagi jika mungkin ia dapat mengatakah, apa yang akan mereka perbuat” Namun tiba-tiba seperti orang terbangun dari mimpi Semi berdesis “Tetapi Kiai, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa jika saat ini terjadi sesuatu diatas bukit itu” Tetapi Kiai Kanthi menggeleng. Katanya “Aku kira tidak segera ngger. Jika Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu ingin segera menyelesaikan persoalan dengan kekerasan, segalanya sudah dilakukannya di bukit gundul itu. Menurut pendapatku, jika mereka naik ke bukit ini, tentu ada persoalan lain yang akan mereka lakukan. Dan tentu tidak segera mereka sampai” “Jadi, apakah kita akan menunggu Jlitheng disini?“ bertanya Semi. “Ya. Kita akan menunggu beberapa saat lamanya. Namun kita tidak boleh lengah. Kita harus menghindari jika satu dua orang diantara mereka akan turun lewat arah ini” sahut Kiai Kanthi. “Baiklah” berkata Semi “Aku akan mengawasi keadaan diluar gubug ini” Sementara Semi dan kawannya meninggalkan gubug itu untuk mengawasi keadaan, maka Kiai Kanthi berkata kepada Swasti “Sebaiknya kau bersiap menghadapi keadaan yang semakin gawat. Mungkin akan terjadi benturan kekerasan” “Aku akan menunggu perkembangan saja ayah” jawab Swasti. “Tetapi sebaiknya kau bersiap dengan pakaianmu yang khusus. Jika tiba-tiba saja kau dihadapkan kepada benturan kekerasan itu, dengan pakaianmu itu kau akan mengalami kesulitan. Sedangkan kita tidak tahu, persoalan apakah yang akan tumbuh kemudian. Cepat atau lambat” berkata ayahnya kemudian. Swasti tidak membantah lagi. Iapun mengerti, jika ia tergesa-gesa maka ia tidak akan sempat berganti pakaian. Dalam keadaan yang demikian, maka ia akan mengalami kesulitan untuk melawan siapapun yang akan dihadapinya, justru karena ia seorang gadis. Namun dalam pada itu, Swasti masih tetap ragu-ragu, apakah mereka akan terlibat langsung dengan persoalan yang tidak mereka mengerti sepenuhnya itu. Sementara itu, Jlitheng yang berjalan memintas itupun tertegun ketika ia tiba-tiba saja telah berhadapan dengan dua orang yang tidak dikenalnya. Demikian tergesa-gesa, sehingga ia tidak sempat untuk menghindarkan diri dari pertemuan itu. Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Sementara Jlithengpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kedua orang itu mungkin orang Sanggar Gading yang belum dikenalnya ketika ia berada di sarang itu, atau justru orang Kendali Putih. Sejenak kedua belah pihak itupun justru bagaikan membeku. Namun kemudian salah seorang dari kedua orang itupun bertanya “Siapa kau he?“ Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Aku adalah anak Lumban, Siapakah kalian?“ “Apa kerjamu disini“ Orang itu masih bertanya. “Aku mendapat tugas dari kawan-kawanku untuk mengamati orang-orang yang tidak dikenal, yang telah membuat anak-anak muda Lumban menjadi sangat gelisah” “Luar biasa” desis orang yang lain “Anak Lumban memiliki keberanian untuk mengikuti ir ing- iringan itu” “Ya. Kenapa? Aku hanya mendapat tugas untuk mengamati mereka. Setelah aku yakin bahwa mereka naik kepuncak bukit, aku akan kembal kepada anak-anak muda Lumban untuk melaporkan apa yang telah terjadi” jawab Jlitheng. “Meragukan” desis yang seorang “Kenapa anak-anak muda Lumban telah menunjukmu?“ “Bukan maksudku menyombongkan dir i. Tetapi ketika anak-anak muda Lumban berkelahi di bendungan, aku adalah orang yang telah memenangkan perkelahian itu. Karena itu, anak-anak muda Lumban seolah-olah mewaj ibkan aku melakukan pekerjaan yang paling tidak menyenangkan ini. Tetapi aku sudah berhasil. Aku sudah melihat orang-orang yang tidak dikenal oleh anak-anak Lumban itu pergi kepuncak bukit ini” jawab Jlitheng. “Jika kau anak muda Lumban, dari Lumban yang mana? Lumban Kulon atau Lumban Wetan” bertanya salah seorang dari kedua orang itu. “Lumban Wetan” jawab Jlitheng. “Apakah kau kenal dengan Daruwerdi?“ bertanya yang lain. “Tentu. Aku mengenal Daruwerdi meskipun ia bukan anak Lumban, dan sebagian waktunya dipergunakan bagi anak- anak muda Lumban Kulon. Anak muda Lumban Wetan tidak begitu menarik perhatiannya. Tetapi pada saat terakhir, ia bersikap adil terhadap anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan ketika terjadi perselisihan di bendungan tentang pembagian air” jawab Jlitheng yang mulai menduga-duga kedua orang asing itu. “Apakah keduanya para pengikut Daruwerdi” bertanya Jlitheng di dalam hatinya “atau dari kelompok lain yang justru ingin tahu tentang Daruwerdi. Ternyata kedua orang itu mengangguk-angguk. Agaknya ia mulai mempercayai Jlitheng yang tahu benar tentang keadaan Lumban. Bahkan ketika Jlitheng bertanya tentang keduanya, salah seorang dari mereka menjawab “Aku ingin melihat apa yang terjadi atas Daruwerdi. Menurut pengamatan kami, ia telah dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading ke puncak bukit ini” “Apakah hubunganmu dengan Daruwerdi?” bertanya Jlitheng. Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang menjawab “Aku hanya ingin tahu saja. Apakah orang-orang Sanggar Gading itu akan mengkhianatinya” Jlitheng mengerutkan keningnya, la mencoba memahami sikap kedua orang itu. Nampaknya keduanya mencemaskan nasib Daruwerdi yang telah pergi bersama orang-orang Sanggar Gading itu. “Tidak mustahil bahwa keduanya adalah para pengikut Daruwerdi yang pada saat terakhir mengawasinya” berkata Jlitheng dalam hatinya ”Memang tidak masuk akal bahwa Daruwerdi benar-benar telah bekerja sendiri dalam keadaan yang sangat gawat itu” Namun dalam pada itu, Jlithengpun kemudian berkata “Silahkan. Aku sudah cukup. Aku akan segera melaporkan hal ini kepada anak Ki Buyut Lumban Kulon yang nampaknya lebih banyak bersikap dari anak Ki Buyut di Lumban Wetan. Mungkin anak-anak muda Lomban perlu juga mengambil sikap menghadapi keadaan” “Apa yang akan dapat dilakukan oleh anak-anak muda Lumban?“ bertanya salah seorang dari kedua orang itu. “Mungkin t idak akan berpengaruh. Tetapi setidak-tidaknya anak muda Lumban yang banyak jumlahnya itu akan dapat menjaga Kabuyutan mereka sendiri dari keterlibatan yang tidak kami harapkan” jawab Jlitheng. Keduanya mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Pergilah. Aku masih ingin bergeser naik” Jlithengpun kemudian meninggalkan kedua orang itu. Tetapi menilik sikap, kata-kata dan ujud dari kedua orang itu. maka keduanya lebih dekat hubungannya dengan Daruwerdi daripada dengan salah satu kelompok dari orang-orang yang kasar dan garang dari padepokan-padepokani yang saling memperebutkan pusaka itu. “Atau bahkan petugas sandi dar i Demak?“ pertanyaan itu timbul pula dihatinya. Dalam pada itu, Jlithengpun kemudian langsung pergi ke gubug Kiai Kanthi. Ternyata yang ditemuinya hanyalah Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang dengan serta meria telah meninggalkan ruangan depan emnuju ke dapur dibalik dinding. Kiai Kanthi tersenyum melihat sikap anak gadisnya meninggalkan ruangan depan menuju ke dapur dibalik dinding. “Dimana Semi dan kawannya?“ bertanya Jlitheng “Tentu ia tidak sedang berburu?“ “Ia sedang naik untuk mengamati keadaan” berkata Kiai Kanthi. “Aku ingin berbicara dengan mereka, disamping Kiai Kanthi” desis Jlitheng. “Apakah aku sebaiknya memanggulnya” bertanya Kiai Kanthi. “Biar lah aku mencari mereka” jawab Jlitheng. “Marilah, kita bersama-sama. Aku tahu, ke jurusan mana mereka pergi” berkata Kiai Kanthi. Setelah minta diri kepada anak gadisnya, maka Kiai Kanthipun segera memanjat untuk memanggil Semi dan kawannya. Ternyata mereka tidak terlalu sulit untuk menemui keduanya, karena keduanya tidak memanjat sampai kepuncak. Mereka sekedar mengamati keadaan. Karena itu, maka merekapun segera kembali ke gubug Kiai Kanthi. Nampaknya Kiai Kanthi memang tidak mau meninggalkan anak gadisnya dari pembicaraan-pembicaraan yang sudah semakin mengarah dalam keadaan yang gawat itu. Betapapun segannya, maka Swastipun ikut pula berbicara dengan ayah dan tamu-tamunya. Meskipun Semi dan kawannya masih juga heran melihat Swasti dalam pakaiannya, namun mereka t idak bertanya apapun juga. Sementara itu, Jlithengpun segera menceritakan segalanya yang diketahuinya tentang ir ing-ir ingan yang sudah berada di puncakbukit itu. Jlithengpun tidak merahasiakan lagi pertemuannya dengan Rahu yang sempat menyisih dar i iring- iringan itu. Kemudian iapun berbicara pula tentang orang yang nampaknya ada hubungannya dengan Daruwerdi. Yang mendengarkan ceritera Jlitheng itu telah berusaha merenungi apa yang sebenarnya mereka hadapi. Sementara itu Kiai Kanthipun berkata “Ternyata tidak sederhana seperti yang agaknya diduga oleh angger Daruwerdi. Orang terpenting di Sanggar Gading itu masih sempat juga meyakinkan, apakah ia tidak dit ipu oleh seorang anak muda yang mengaku bernama Daruwerdi itu” “Ya. Karena itu pusaka itu masih harus ditayuh” desis Jlitheng. “Tetapi apa yang dapat terjadi dalam tiga hari tiga malam itu” desis Semi “Apakah mereka membawa bekal makan yang cukup, atau mereka akan turun ke padukuhan dan mengambil apa saja yang dapat mereka pergunakan untuk memberi makan orang-orang yang berada di puncak bukit itu?” “Agaknya demikian” desis Kiai Kanthi “Mereka akan turun ke Lumban dan merampas apa saja yang dapat mereka rampas” “Itulah yang berbahaya bagi anak-anak muda Lumban yang merasa dir inya sudah berlatih olah kanuragan” desis Jlitheng “agaknya mereka tidak akan membiarkan barang-barang mereka dirampas. Baik anak muda Lumban Kulon maupun anak muda Lumban Wetan, apalagi mereka yang termasuk sepuluh orang yang ber latih secara khusus itu” “Ya” desis Semi “hal itu akan dapat membahayakan mereka” “Apalagi jika karena tingkah anak-anak muda Lumban itu, pemimpin yang paling disegani dari orang-orang Kendali Putih, sebagaimana dikatakan oleh Rahu memiliki kemampuan setingkat dengan Yang Mulia itu turun selama Yang Mulia meyakinkan keaslian pusaka yang diserahkan oleh Daruwerdi” desis Kiai Kanthi. “Jadi bagaimana menurut pendapat Kiai?“ bertanya Jlitheng. “Kita akar i turun. Kita akan berada diantara anak-anak muda Lumban sampai hari ketiga” jawab Kiai Kanthi. “Untuk melawan mereka yang datang ke Lumban?“ bertanya Jlitheng. “Tidak. Kita minta anak-anak muda Lumban tidak berbuat sesuatu. Biar sajalah apa yang dikehendaki oleh orang-orang Itu. Dengan demikian peristiwa selanjutnya akan tetap berlangsung dialas bukit. Jika anak-anak muda Lumban melawan, mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki oteh anak-anak muda Lumban sendir i, sementara peristiwa yang akan berlangsung di puncak bukit itu akan dapat berubah dari rencana. Mungkin kita akan kehilangan jejak sehingga persoalan-persoalan berikutnya akan semakin sulit diikuti” Jlitheng merenung sejenak. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk sambil berdesis “Baik Kiai. Tetapi apakah anak anak Lumban akan dapat mengerti” “Kita akan berusaha menenangkan mereka” berkata Kiai Kantin. “Sisa bahan makanan mereka terlalu sedikit. Air yang mengalir i sawah itu masih belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara baik” desis Jlitheng “Tetapi mudah- mudahan nereka dapat mengerti. Melawan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih bagi anak- anak muda Lumban akan dapat menimbulkan bencana j ika tidak diperhitungkar. dengan matang” Akhirnya mereka yang berada digubug Kiai Kanthi itupun telah bersepakat untuk turun dan diantara orang-orang Lumban Mereka akan berkumpul dan menjadi satu dengan mereka. “Mudah-mudahan anak-anak muda Lumban dapat melupakan persoalan diantara mereka sendiri” desis Semi. Setelah mereka bersepakat dan memperhitungkan segala kemungkinan, maka Kiai Kanthipun berkata “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Mungkin sekali orang-orang yang berada di puncak bukit itu segera menugaskan orang- orangnya turun kelambung bukit untuk mengawasi keadaan” Yang lainpun menyetujuinya. Namun Swasti yang berada di belakang ayahnya berdesis “Bagaimana dengan pakaianku?” “Kau rangkap saja” desis ayahnya pula. Siapa tahu kita bertemu dengan bahaya diperjalanan“ “Senjata kita?” berkata Swasti pula. “Kita bawa. Kita tidak dapat menyembunyikannya. Tetapi kita berharap, bahwa kita tidak akan bertemu dengan mereka” Jawab ayahnya. Swasti masih akan bertanya, bagaimana tanggapan anak- anak muda Lumbon terhadap senjatanya atau persoalan- persoalan lain yang menyangkut senjata itu. Namun niatnya diurungkannya. Ketika orang-orang yang berada digubug itu sudah meninggalkan ruangan, maka Swastipun dengan cepat merangkap pakaiannya dengan pakaiannya sehari-hari. Kemudian setelah membenahi barang-barang digubug itu, iapun menyusul ayahnya yang telah melangkah menuruni tebing Sebagai seorang gadis, Swasti tidak dapat meninggalkan barang-barangnya, alat alat dapur betapapun sederhananya, berserakkan begitu saja di ruang belakang” Demikianlah, maka kedatangan mereka di Lumban telah mengejutkan anak-anak muda Lumban Wetan, karena mereka langsung menuju ke banjar Kabuyutan di Lumban Wetan. Dengan singkat Jlitheng berpesan kepada kawan-kawannya agar mereka berkumpul di Banjar, terutama sepuluh orang terbaik yang menjadi pemimpin-pemimpin kelompok anak- anak muda di Kabuyutan Lumban Wetan. Ternyata bahwa anak-anak muda itu bergerak cepat. Apa lagi ternyata bahwa mereka telah mendengar peristiwa yang terjadi di pategalan dan di bukit gundul. Adalah kebetulan bahwa seseorang pergi ke pategalan untuk mei tik dedaunan Orang itu hampir pingsan melihat bekas pertempuran yang menger ikan itu. Jlitheng berusaha untuk memberikan penjelasan tentang peristiwa yang terjadi di pategalan itu meskipun tidak seutuhnya. Katanya “Mereka adalah dua gerombolan yang saling bermusuhan. Menurut pendengaranku, keduanya adalah kelompok Sanggar Gading melawan kelompok Kendali Putih, Kita, anak-anak muda Lumban tidak tersangkut sama sekali t ilam persoalan mereka” “Kemudian apa yang terjadi di bukit gundul?“ bertanya salah seorang dari sepuluh orang terbaik. “Aku juga mendengar peristiwa itu” jawab Jlitheng “para pemburu ini lebih cepat menangkap berita tentang persoalan tersebut. Namun seperti yang terjadi di pategalan, maka persoalannya tidak menyangkut kita disini” Tetapi hal itu terjadi di Kabuyutan Lumban. Lumban Wetan atau Lumban Kulon” sahut yang lain. “Benar. Namun demikian, ikita tidak harus mencampuri persoalan yang gawat itu. Kau tentu sudah mendengar dan orang yang langsung melihat, mayat berterbaran di sebelah pategalan itu. Dengan demikian kita akan dapat membayangkah, apa yang telah terjadi” berkata Jlitheng “Apakah dengan demikian kita akan mencampurinya?“ Anak-anak muda itu mengangguk-angguk kecil. Sementara Jlithengpun berkata “Meskipun demikian, kita tidak akan dapat lepas tangan sama sekali. Kita berkepentingan dengan ketenangan dan suasana di Kabuyutan Lumban. Karena itu, setelah mayat-mayat yang berserakkan itu ditinggalkan begitu saja, sudah tentu menjadi kewajiban kita untuk menyingkirnya. “Kenapa kita” bertanya seorang anak muda Lumban Wetan ”bukankah kita tidak bersangkut paut?“ “Tetapi apakah kita akan membiarkan mayat itu membusuk? Baunya tentu akan memenuhi daerah Sepasang Bukit Mati ini. Kemudian jika hal itu dapat menyebabkan berbagai penyakit, maka kita jugalah yang akan mender ita karenanya” jawab Jlitheng. Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mau t idak mau, maka mereka harus melakukannya. Mengubur mayat-mayat itu untuk menghindari akibat yang lebih buruk lagi yang dapat terjadi di Kabuyutan Lumban itu. “Bagaimana dengan anak-anak Lumban Kulon?“ bertanya salah seorang anak muda itu. “Aku akan pergi ke Lumban Kulon” jawab Jlitheng “Kita akan bersama-sama mengubur mereka. Jika anak-anak Lumban Kulon berkeberatan, kita akan melaksanakan sendir i. Anak-anak muda Lumban Wetan tidak dapat mengingkari tugas itu bagi kepentingan Kabuyutan mereka. Namun mereka masih juga menunggu Jlitheng yang akan pergi ke Lumban Kulon. Namun dalam pada itu, ia masih sempat member i tahukan bahwa orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendal- Putih yang tersisa, yang ternyata telah menyingkirkan meskipun hanya untuk sementara, permusuhan yang menger ikan itu, akan berada di puncak bukit berhutan untuk tiga hari t iga malam. “Maksudmu?“ bertanya salah seorang kawannya. “Mereka akan membutuhkan makan dan minum” jawab Jlitheng “Mungkin mereka akan turun ke padukuhan ini, karena padukuhan-padukuhan di Lumban inilah yang terdekat. Mungkin mereka akan memer lukan makanan, sehingga mereka akan mengganggu penghuni Kabuyutan ini” “Kita akan mempertahankan” jawab anak-anak muda itu. “Untuk kali ini, aku mohon, jangan membuka permusuhan” desis Jlitheng. “Maksudmu, kami harus menyerahkan begitu saja semua milik kami yang akan mereka rampas?“ bertanya kawannya itu. “Hanya untuk tiga hari” berkata Jlitheng “Tetapi j ika terjadi bentrokan antara kalian dengan orang-orang yang garang itu, maka yang akan terjadi adalah seperti di pategalan itu. Namun yang terbanyak dari korban yang akan jatuh adalah kita semuanya” “Jadi kita biarkan barang-barang kita mereka peras habis dan kita akan mati kelaparan? Kengerian yang akan timbul di saat-saat kita kelaparan, akan melampaui kematian saat kita mempertahankan milik kita” “Mereka adalah orang-orang buas yang tidak mengenal arti perikemanusiaan lagi. Kau harus memikirkan nasib perempuan dan anak-anak di Kabuyutan ini” desis Jlitheng “Jika kita kekurangan bahan makanan, kita akan dapat berusaha. Mungkin dedaunan, mungkin akar-akaran atau mungkin kita harus berburu binatang dan mencari ikan disungai atau di sendang diatas bukit” Anak-anak muda itu menggeram. Namun mayat yang terbujur lintang tentu akan sangat mengerikan juga. Karena nampaknya anak-anak muda itu masih ragu-ragu, maka Jlithengpun berkata “Mar ilah. Nanti kita lihat, api yang terjadi di pategalan. Kita akan pergi kesana bersama kedua pemburu ini. Demikian juga Kiai Kanthi dan anak gadisnya” Anak-anak itu tidak menjawab lagi. Mereka sependapat untuk melihat sendiri, apa yang terjadi di pategalan. Bukan hanya sekedar laporan yang barangkali dapat dilebihkan dari kenyataannya. Dalam pada itu. Jlithengpun telah pergi ke Lumban Kulon bersama Semi. Sementara kawannya, Kiai Kanthi dan Swasti telah ditinggalkannya di banjar Kabuyutan Lumban Wetan. Jlitheng akan segera kembali untuk memberikan, kapan anak- anak Lumban Kulon akan pergi ke pategalan. Di Lumban Kulon Jlitheng langsung menemui Nugata yang nampaknya masih mendendamnya. Namun dalam pada itu. Jlitheng berkata “Kita sisihkan persoalan kita sendiri. Kita menghadapi masalah yang gawat. Masalah yang datang dari luar lingkungan kita sendiri” “Aku sudah mendengar” sahut Nugata. Jlithengpun kemudian menjelaskan seperti yang dikatakannya kepada anak-anak muda Lumban Wetan. “Persetan“ geram Nugata “dikubur atau tidak dikubur itu bukan urusanku” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak begitu saja menerima jawaban Nugata. Ia masih berusaha untuk menjelaskan, jika mayat-mayat itu dibiarkan saja, maka yang akan terjadi adalah bencana bagi Lumban dalam keseluruhan. “Pategalan itu akan menjadi pategalan mati” desis Jlitheng “ tanah yang kering ini akan menjadi kian sempit tanpa pategalan itu. Sementara tidak akan ada orang yang berani lagi menyentuh pategalan yang akan menjadi penuh dengan kerangka-kerangka” Nugata mengerutkan keningnya. Namun nampaknya ia mulai berpikir. Justru karena itu, maka Jlithengpun semakin menekan kesulitan yang dapat timbul j ika mayat-mayat itu di biarkan saja. “Binatang-binatang buas dari bukit itu akan turun” berkata Semi lebih lanjut “Apalagi jika dipuncak bukit itu oirang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih berburu binatang. Binatang-binatang yang merasa terganggu, sementara bau bangkai yang sampai kehidung mereka, akan mengundang bahaya tersendiri. Binatang-binatang buas itu akan tinggal di pategalan-pategalan. Bukan saja harimau yang buas, tetapi yang tidak kalah bahayanya adalah serigala dan anjing hutan. Jika mayat itu sudah habis, akan datang giliran binatang buas itu akan melihat kearah padukuhan-padukuhan di Kabuyutan Lumban” Akhirnya Nugata menarik nafas dalam-dalam sambil berkata “Baiklah. Kita akan bersama-sama mengubur mayat itu. Berapa puluh anak Lumban Wetan yang dapat turun ke pategalan” “Aku tidak dapat menyebut dengan pasti” jawab Jlitheng. “Jadi, bagaimana kami harus mengerahkan anak-anak muda jika jumlahnya belum diketahui. Anak-anak muda Lumban Kulon sama jumlahnya dengan anak-anak Lumban Wetan. Dan itupun harus aku pimpin sendiri” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau terlalu membatasi diri antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Nugata. Kau belum dapat meluluhkan dir imu dalam satu kelu- aiga besar meskipun dalam batas-batas yang tertentu. Kenapa kita harus mengbitung berapa anak Lumban Wetan dan berapa Lumban Kulon. Sebaiknya, berapa orangpun yang dapat melakukan tugas itu” Nugata termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Baiklah. Aku akan menyuruh beberapa orang anak muda untuk pergi ke pategalan itu” Setelah mereka bersepakat tentang waktu, maka Jlithengpun mulai menjelaskan persoalan-persoalan lain "yang diketahuinya. Seperti anak-anak muda Lumban Wetan, Nugatapun semula tidak rela untuk menyerahkan apa saja yang diminta oleh orang yang tidak dikenalnya Bahkan orang- orang yang telah membuat Kabuyutan itu menjadi ajang pembantaian yang t idak semena-mena. Tetapi akhirnya Jlitheng berhasil meyakinkan Nugata, bahwa bahayanya akan sangat besar jika anak-anak Lumban berani menentang kehendak orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. “Tetapi hanya untuk tiga har i saja” geram Nugata. “Ya. Hanya untuk tiga hari. Aku kira mereka tidak akan mengambil melampaui kebutuhan mereka tentang pangan. Sebab selebihnya pangan disini t idak ada apa-apa. Demikianlah maka pada waktu yang telah ditentukan anak- anak muda Lumban Wetan dan anak-anak muda Lumban Kulon telah pergi ke pategalan. Anak-anak muda Lumban Wetan disertai oleh Jlitheng, Semi, kawan Semi dan agar tidak menimbulkan pertanyaan khusus, maka Kiai Kanthi memilih untuk pergi sendiri bersama anak gadisnya Ja akan hadir diluar pengetahuan anak-anak Lumban. Bagi mereka kehadiran Swasti tentu akan dapat menimbulkan berbagai pertanyaan yang mungkin akan sulit untuk dijawab. Yang mereka lihat di pategalan benar-benar mengerikan. Bahkan ada satu dua orang anak muda yang menjadi pingsan, ada pula yang muntah-muntah. Tetapi Jlitheng, Semi dan kawannya telah mendahului mereka berada diantara mayat- mayat yang terbujur lintang. Anak-anak Lumban Kulon yang ternyata disertai oleh Nugata sendiri itupun menjadi ngeri melihat kenyataan itu. Tetapi mereka, anak-anak muda. Lumban Kulon dan anak- anak muda Lumban Wetan itu menyadari, bahwa justru karena itu, mereka harus menguburkan mayat-mayat itu. Namun kerja itu ternyata dapat diambil manfaatnya bagi kehidupan anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Jika semula diantara mereka masih terasa ada batas, namun ketika mereka sudah mulai menggali tanah di padang ilalang, maka mereka mulai membaurkan dir i. Perlahan-lahan mereka melupakan pertentangan diantara mereka, bahwa seolah olah mereka merasa kembali kepada masa-masa dimana mereka masih belum dipisahkan oleh pertentangan yang timbul karena air yang mengalir disungai kecil yang membatasi Lumban Wetan dengan Lumban Kulon. Dengan susah payah, anak-anak muda itu memaksa diri untuk mengubur mayat-mayat yang berserakkan. Mereka menggali sebuah lubang yang besar dan kemudian memasukkan mayat-mayat itu ke dalamnya. Begitu kerja itu selesai, maka anak-anak muda itu langsung pergi kebendungan. Mereka langsung menceburkan diri untuk mandi, karena rasa-rasanya tubuh mereka dilekati nodt-noda darah yang sudah mengering dan bau bacin yang hampir tidak tertahankan. Sebagian besar dari mereka ternyata telah muntah-muntah. Bahkan yang pingsanpun telah bertambah lagi. Namun dengan demikian mereka telah melihat sendir i, apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang berada di atas bukit itu. Karena mereka bertemu dalam imbangan kekuatan yang hampir sama, maka mereka telah meninggalkan korban yang hampir sama pula banyaknya. “Bagaimana kira-kira yang akan terjadi, jika anak-anak muda Lumban yang harus bertempur melawan mereka” bertanya salah seorang anak muda Lumban Wetan. Pertanyaan itu telah mengganggu perasaan Jlitheng yang kebetulan mendengarnya. Tetapi ia masih belum ingin menjawab, karena justru ialah yang menghendaki agar anak- anak Lumban itu tidak melawan. Tetapi bukan maksud Jlitheng untuk memperlakukan anak anak Lumban itu untuk seterusnya. Meskipun demikian, Jlitheng masih harus memperhitungkan waktu setepat- tepatnya. Setelah selesai mandi, maka anak-anak muda rtupun kembali ke padukuhan masing-masing. Namun kemudian, semalam suntuk mereka tidak dapat memejamkan mata barang sekejappun. Bahkan dalam pada itu, anak-anak muda yang pingsan di pategalan, meskipun mereka kemudian sadar kembali, dan karena keadaannya tidak dapat membantu kawan-kawannya menggali kuburan yang besar itu, telah menjadi sakit. Tubuhnya menjadi panas, dan kadang-kadang mengigil ketakutan. Peristiwa yang terjadi di pategalan itu telah menjadi buah pembicaraan semua orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Bukan saja anak-anak muda, tetapi juga orang-orang tua. Bahkan akhirnya Ki Buyutpun membicarakannya pula. Ketakutan telah membayangi Kabuyutan itu. Namun dalam pada itu, Jlithenglah yang menghubungi Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon bersama Semi untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan. Bahwa tidak sepantasnya mereka melawan jika orang-orang yang sedang berada di bukit Itu turun untuk mencar i bahan makanan. “Mereka tentu hanya akan mengambil bahan makanan secukupnya untuk t iga hari “setiap kali Jlitheng menjelaskan “Tidak akan lebih. Karena mereka tahu, di padukuhan- padukuhan tlatah Lumban tidak akan mereka jumpai apapun juga” “Tetapi bahan makan bagi mereka selama t iga hari, cukup berarti bagi kami, orang-orang Lumban yang miskin” jawab Ki Buyut Lumban Wetan. “Tentu lebih baik dari kitalah yang dibantai seperti yang terjadi di pategalan” berkata Jlitheng. Ki Buyut hanya dapat menarik nafas panjang. Ia merasa sangat berprihatin tentang tanah kelahirannya. Setelah tanah di bagi menjadi Lumban Kulon dan Lumban Wetan, maka nampaknya tidak membawa perbaikan-perbaikan. Air yang member ikan harapan itu ternyata telah menumbuhkan pertentangan antara saudara yang terpisah dalam usia dewasa. Dani kini tanah yang gersang itu menghadapi satu peristiwa yang mendebarkan jantung. Namun dalam pada itu, setiap kali Jlitheng harus menemui Kiai Kanthi, untuk mohon petunjuk-petunjuk kepadanya, apa yang harus dilakukannya pada saat-saat yang gawat itu. Bahkan dengan gelisah, Jlitheng telah menemui Kiai Kanthi sambil berkata “Kiai, menurut beberapa orang anak muda di Lumban Kulon, di tempat tinggal Daruwerdi terdapat seorang perempuan yang agaknya mempunyai hubungan dengan Daruwerdi” “Seorang perempuan? Muda atau tua?“ bertanya Kiai Kanthi. “Pantas untuk menjadi ibunya” jawab Jlitheng. “Mungkin ibunya” jawab Kiai Kanthi “Aku kira t idak ada buruknya kau datang kepadanya untuk memberi tahukan keadaan Daruwerdi. Tetapi sebelumnya kau harus melihat keadaan, apakah menurut pendapatmu kau pantas mengatakan atau tidak” Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian bersama Semi ia telah pergi ke tempat tinggal Daruwerdi untuk menjumpai perempuan seperti yang dikatakan oleh anak-anak muda Lumban Kulon. Kedatangan Jlitheng dan Semi mengejutkan perempuan itu. Namun Jlithenglah yang kemudian terkejut ketika ia melihat dua orang laki- laki. -oo00oo- 

Jilid 16
SEJENAK mereka saling berpandangan, namun kemudian Jlithenglah yang berbicara “Ki Sanak, bukankah K i Sanak berdua yang aku jumpai di lambung bukit berhutan itu” “Ya” sahut salah seorang dari keduanya. “Aku sudah mengira bahwa kalian mempunyai hubungan dengan Daruwerdi” jawab Jlitheng “ kedatanganku kemari sebenarnya juga ingin memberi tahukan bahwa Daruwerdi berada di bukii. Namun kamipun ingin tahu, apakah hubungan kalian dengan Daruwerdi” Kedua orang laki-laki itu termangu-niangu. Namun seperti yang dikatakan Jlitheng dalam pengakuannya, bahwa ia adalah anak Lu m ban. Karena itu, maka memlrut pertimbangan kedua laki-laki itu meskipun mereka tidak saling berbincang, namun agaknya tidak ada keberatannya untuk menyebut bahwa perempuan itu adalah ibu Daruwerdi, justru karena keadaan Daruwerdi yang gawat. Nampaknya mereka masih saja ragu-ragu. Tetapi akhirnya salah seorang dari mereka berkata “- Baiklah Ki Sanak. Nampaknya kau berkata sebenarnya tentang dirimu, bahwa kau adalah anak Lumban. Karena itu, aku kira kamipun akan berkata sebenarnya tentang diri kami. Bahwa kami adalah keluarga Daruwerdi. Perempuan ini adalah ibu Daruwerdi dan kami adalah paman-pamannya. Kami mencemaskan nasib anak itu. la adalah seorang anak yang berani, tangkas berpikir, tetapi kurang pengalaman. Ia kini berada di atas bukit itu, dalam tangan sekelompok orang yang tidak aku ketahui” “Itulah yang ingin aku beritahukan” sahut Jlitheng “Aku memang sudah menduga, bahwa disini hadir ibunya. Tetapi karena kalian berdua ternyata adalah paman-pamannya, maka aku tidak perlu member i tahukan keadaan Daruwerdi sekarang ini” “Kami sudah mengetahuinya” berkata salah seorang dari kedua laki-laki itu. “Baiklah” berkata Jlitheng kemudian” Menghadapi orang- orang dia tas bukit itu, kami sudah menemukan satu sikap. Kami, seluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Dari Ki Buyut sampai kepada anak-anak mudanya. Aku mohon kalian dapat menyesuaikan diri dengan sikap kami “Sikap yang bagimana?“ bertanya salah seorang dari keduanya. Jlithengpun kemudian member itahukan sikap yang sudah disetujui oleh setiap orang di Lumban. Mereka tidak akan berbuat apa-apa selama tiga hari tiga malam. Sambil menunggu hasil pengamatan Yang Mulia atas pusaka itu dengan caranya. Kedua orang itu mengangguk-angguk. Katanya “Jika itu sudah menjadi keputusan kalian, kami tidak akan berbuat lain. Tetapi bagimana nasib Daruwerdi kemudian?“ “Kita bersama-sama akan melihat dalam waktu tiga hari lagi” jawab Jlitheng. “Apakah tidak akan terjadi sesuatu” desis-yang lain. “Kita akan bersama-sama mengamati keadaan” sahut Semi “Tetapi kita harus sepakat dalamsikap dan tindakan” Kedua orang itu nampak ragu-ragu. Salah seorang dari keduanya itupun bertanya “Apakah maksud kalian? Apakah yang kalian sebut dengan kesepakatan sikap dan perbuatan? Aku tida akan keberatan untuk berbuat apa saja tetapi dengan satu maksud tertentu, keselamatan Daruwerdi” Jlitheng memandang Semi sekilas. Kemudian katanya “Kita memikirkan keselamatan bukan saja Daruwerdi. Tetapi juga Lumban dalam keseluruhan” “Itu bukan urusanku” sahut salah seorang dari kedua orang itu” Kami hanya berkepentingan dengan Daruwerdi” “Jangan berkata begitu” potong Jlitheng “kalian berada di Lumban sekarang Kita bersama-sama menghadapi keadaan yang gawat. Aku berharap bahwa kalian dapat bekerja bersama dengan kami” Sebelum salah seorang dari kedua orang itu menjawab, perempuan yang nampak selalu murung itu mendahului “Terima kasih atas perhatian kalian anak muda. Aku sependapat bahwa kita bersama-sama menghadapi peristiwa yang gawat. Tentu kita akan bekerja bersama dengan seluruh isi Kabuyutan Lumban” Jlitheng memandang perempuan itu sejenak. Kemudian katanya “Mudahmuduhan kita dapat berbuat banyak menghadapi masalah ini. Mungkin setelah tiga hari kita akan terpaksa melakukan tugas-tugas yang lebih berat lagi dari yang kita lakukan sebelum ini” Kedua orang itu mengangguk-angguk. Kemudian salah seorang dari mereka berkata “Baiklah. Mungkin sikap ini bukan sikap yang mutlak, karena pada suatu saat, mungkin kita akan dihadapkan pada kepentingan yang berbeda” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti sikap kedua orang itu. Namun iapun berharap bahwa segala perbedaan sikap dan kepentingan itu dapat dibicarakan kemudian. Karena itu, maka iapun mengangguk-angguk sambil menjawab “Baiklah. Tetapi menghadapi orang-orang yang membawa Daruwerdi itu, kita akan bersikap sama” “Kami menunggu, apa yang harus kami lakukan bersama kalian disini” berkata salah seorang diantara mereka. Jlithengpun kemudian minta diri. Namun dengan demikian, ia sudah dapat mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul diluar perhitungannya. Karena itulah maka segala pikiran dan perhatian akan dapat dicurahkan kepada orang- orang yang berada di atas bukit berhutan itu. Dalam pada itu, sebenarnyalah Yang Mulia Panembahan Wukir Gading telah berusaha meyakinkan keaslian dari pusaka itu. Seperti yang selalu dilakukan untuk mengetahui kebenaran sebuah pusaka, maka pusaka itu harus ditayuh. Diatas bukit itu telah dibuat sebuah gubug kecil sederhana dari batang-batang kayu dan dedaunan. Di bawahi gubug kecil itulah Yang Mulia duduk bersemadi. Diletakkannya pusaka yang ditayuhnya dihadapannya, dialasi dengan kain cinde yang memang sudah disediakan untuk itu. Beberapa orang kepercayaannya mengawasinya dengan penuh kewaspadaan. Apalagi diantara mereka terdapat orang-orang Kendali Putih. Bagaimanapun juga, orang-orang Sanggar Gading tidak dapat mempercayai mereka sepenuhnya. Sanggit Raina dan Cempaka, yang meskipun tidak dengan terang-terangan menunggui pusaka, itu, namun mereka mengawasinya pula. Mereka merasa berkepentingan langsung dengan pusaka itu. Karena itu, maka mereka tidak akan membiarkan seandainya orang-orang Kendali Put ih berbuat curang dengan mencur i pusaka itu. Bahkan seandainya yang melakukannya adalah Eyang Rangga itu sendir i, keduanya merasa berkepentingan untuk mencegahnya. Di bagian lain, di bawah sebatang pohon yang besar, Pangeran yang sedang sakit itu duduk dengan lemahnya ditunggui oleh tabib yang merawatnya. Beberapa langkah dari tempat itu, Rahu duduk bersandar sebatang pohon yang lain. Rasa-rasanya pada saat terakhir ia tidak dapat meninggalkan Pangeran yang sedang sakit, nampaknya menjadi semakin parah sejak ia dipaksa untuk memanjat tebing bukit itu. Beberapa langkah dari mereka, orang-orang Kendali Putih duduk berkelompok. Diantara mereka terdapat Eyang Rangga. Sementara pemimpin padepokan Kendali Putih sendiri, hampir tidak dapat berbuat sesuatu, karena ternyata ia telah terluka cukup parah. Namun ia telah berusaha untuk mengobatinya. Pada waktu-waktu berikutnya, sebenarnyalah seperti yang sudah diperhitungkan, bahwa orang-orang itu ternyata memer lukan makan dan minum untuk kepentingan mereka. Karena di bukit itu kemudian diketemukan sumber air yang jernih, maka untuk minum mereka tidak lagi mempersoalkannya. “Kita harus mencari bahan makanan ke padukuhan di bawah bukit” berkata salah seorang diantara mereka yang merasa lapar. “Tetapi jangan menimbulkan banyak persoalan dengan orang-orang padukuiban itu “ pesan Sanggit Raina “kalian memang dapat memaksa mengambil bahan makanan, tetapi kalian harus dapat menjaga, agar mereka tidak menjadi kelaparan. Karena seseorang yang kelaparan akan dapat berbuat apa saja diluar perhitungan. Meskipun mereka merasa diri mereka lemah, tetapi jika mereka harus memilih mati kelaparan atau mati dalam usaha mempertahankan dir i, mereka akan memilih untuk mempertahankan hak mereka” “Jika ada kekurangan“ sambung Cempaka “Kita dapat berburu binatang. Di hutan ini banyak terdapat binatang. Kalian tidak akan dapat menghabiskannya dalam waktu tiga hari tiga malamselama kalian berada disini” Sementara itu, yang duduk sambil menundukkan kepalanya adalah Daruwerdi yang diawasi dengan cermat oleh orang- orang Sanggar Gading. Ia menjadi berdebar-debar dan gelisah. Setiap saat ia merasa, bahwa nasibnya akan ditentukan setelah pusaka itu selesai di tayuh. Namun demikian kekerasan hatinya selalu mengelak apabila terbersit penyesalan diliatinya Bahkan di dalam hati ia menggeram “Setiap usaha memang mengandung kemungkinan, berhasil atau gagal. Jika aku gagal apaboleh buat” Tetapi bagaimanapun juga, Daruwerdi tidak dapat mengelakkan kenyataan bahwa yang terjadi itu tidak selancar sebagaimana direncanakan. Ia mengharap bahwa Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dari Sanggar Gading tanpa meyakinkan kebenarannya begitu saja menerima pusaka itu dan menyerahkan Pangeran yang dimintanya itu kepadanya. Pangeran itu memang sudah dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading, tetapi mereka tidak begitu saja percaya kepadanya bahwa pusaka itu adalah pusaka yang sebenarnya. “Pangeran itu tentu mentertawakan aku” berkata Daruwerdi di dalam batinya. Karena justru menurut keyakinannya, Pangeran itu mengetahui pusaka yang sebenarnya. Karena itu, jika ia melihat peti pusaka yang ditayuh oleh Yang Mulia itu, maka Pangeran itu tentu akan heran, bahwa ada orang lain yang menyebut dirinya mengetahui letak pusaka itu Apalagi jika Pangeran itu melihat peti tempat penyimpanan pusaka itu. Tetapi lebih dari itu, jika Yang Mulia telah selesai meyakinkan kebenaran pusaka itu dan ternyata ia dapat melihat kepalsuannya, maka nasibnya akan ditentukan oleh orang-orang Sanggar Gading yang garang itu. Dalam pada itu, sebenarnyalah orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih telah turun ke padukuhan-padukuhan di tlatah Lumban untuk mencari bahan makanan. Tetapi mereka tidak melanggar pesan Sanggit Raina agar mereka tidak terlalu menyakiti hati orang-orang Lumban, karena dengan demikian, orang-orang yang cemas bahwa mereka akan kelaparan itu akan dapat mengganggu mereka yang berada di bukit itu. Dalam pada itu, orang-orang Lumbanpun telah melakukan sebagaimana telah mereka sepakati. Anak-anak muda telah member itahukan kepada setiap orang agar mereka tidak melawan orang-orang yang sedang berada di atas bukit. Jika mereka menjadi marah, maka. yang akan terjadi adalah bencana yang tidak terduga-duga. Karena itu, maka tidak ada lain yang dapat mereka lakukan kecuali memberikan apa yang diminta. Selagi orang-orang di atas bukit itu menunggu dengan sabar waktu yang ditentukan oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, maka Jlitheng dan Semi tidak jemunya mengawasi kedudukan mereka dengan sangat hati-hati. Disamping mereka berdua, ternyata Kiai Kanthipun telah melakukannya pula. Ada hal-hal yang sangat berbahaya jika dilakukan oleh Jlitheng, Semi maupun kawannya. Karena itu. maka ia telah menyanggupi untuk melakukanya. “Hanya Kiai sajalah yang akan dapat mendekati mereka” berkata Jlitheng. “Aku akan mencoba. Tetapi nampaknya sangat berbahaya” desis Kiai Kanthi. Lalu Katanya “Namun yang penting bagi kita, apa yang akan terjadi pada saat terakhir sebagaimana ditentukan oleh Panembahan Wukir Gading. Dirna-la m ketiga, kita semuanya harus sudah siap, sehingga jika terjadi sesuatu kita tidak akan terlambat” “Masih ada dua malam lagi” berkata Jlitheng “Aku harus mempersiapkan segalanya. Sepuluh anak-anak terbaik itu harus mengetahui dengan pasti, apa yang harus mereka lakukan. Selebihnya, akan diber itahukan kemudian” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Lalu katanya “Kita tidak boleh meninggalkan sikap hati-hati. Kita berhadapan dengan kekuatan yang mungkin akan sangat mengejutkan kita. Perlu di ingat, bahwa masih mungkin ada kekuatan lain yang akan datang” Jlitheng mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk- angguk ia berkata “Ya, ya. Mungkin sekali. Dan hal itu harus diperhitungkan” “Jika Yang Mulia tinggal di atas bukit itu untuk tiga hari tiga malam, bukannya tidak berperhitungan” berkata Kiai Kanthi. Jlitheng mengangguk-angguk. Sekali lagi ia berdesis “Ya. Ya. Segalanya memang memperlukan pengamatan tersendiri” Demikianlah, maka Jlithengpun kemudian merasa perlu untuk menghubungi sepuluh anak muda terbaik dar i Lumban, Bahkan Jlithengpun telah mencoba menghubungi anak-anak terbaik dari Lumban Kulon, termasuk anak Ki Buyut yang agak sombong itu. Kita harus mempersiapkan segala sesuatu menjelang hari ketiga itu” berkata Jlitheng kemudian. “Bukankah seperti yang kau katakan, semuanya itu akan berakibat kehancuran semata-mata” berkata Nugata. “Jika kita tidak siap maka akibatnya memang akan demikian. Karena itu kita harus mempersiapkan dir i sebaik- baiknya. Masih ada dua malam. Anak-anak terbaik ini masih berkesempatan untuk mengingat kembali bagaimana caranya menggenggam pedang” berkata Jlitheng. Jlithengpun kemudian memberikan sedikit gambaran tentang kemungkinan yang dapat mereka lakukan. Daruwerd memer lukan pertolongan apabila pada saatnya ia tercepit oleh kekuatan di atas bukit itu, karena persoalan yang tidak diketahui. Tetapi adalah satu kenyataan bahwa la telah dibawa olehi orang-orang yang garang itu keatss bukit. “Kita tidak dapat membiarkannya tanpa berbuat sesuatu” berkata Jlitheng “ sebab iapun telah berbuat sesuatu atas kita” “Untuk membunuh dir i?“ bertanya Nugata pula. “Tentu tidak. Kita, tidak bekerja sendir i. Daruwerdi mempunyai dua orang paman yang nampaknya memiliki ilmu yang cukup tinggi. Kemudian Semi dan kawannya telah menyatakan diri bergabung bersama kita. Selebihnya Daruwerdi sendiri tentu akan dapat menanggapi keadaan jika kita berbuat sesuatu. Sehingga dengan demikian kita akan mempunyai kekuatan yang cukup untuk melawan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih” berkata Jlitheng. “Tetapi apakah sebenarnya kepentingan kita demikian besar, sehingga mungkin kita akan mengorbankan orang- orang terbaik dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon “ Nugata masih ragu-ragu. “Ada sesuatu yang masih belum kita ketahui dengan pasti dari persoalan ini. Tetapi bahwa daerah Sepasang Bukit Mati ini menjadi perhatian sekian banyak- orang, tentu ada sebabnya. Juga kehadiran Daruwerdi di daerah inipun perlu dipertanyakan kemudian” berkata Jlitheng “ karena itu, yang perlu kita lakukan dahulu, adalah mengusir orang-orang itu selagi kita masih dapat memanfaatkan segala kekuatan yang ada” Nugata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tidak berkeberatan. Memang ada banyak hal yang tidak mereka ketahui dengan pasti. Namun ia sependapat, bahwa orang-orang itu harus disingkirkan. Sementara itu, mumpung ada kekuatan yang akan dapat membantu mereka. Tanpa kekuatan itu, nalar Nugatapun dapat mengerti, anak-anak Lumban tidak akan dapat berbuat apa-apa. Sementara jika mereka tidak diusir maka mereka akan menguras habis segala persediaan makanan yang ada di daerah tandus itu. Akhirnya Nugata menyetujui untuk mempersiapkan dir i. Namun ia masih berkata “Kita baru akan bersiap-siap. Tetapi kita masih harus menilai keadaan terakhir besok. Jika keadaan tidak memungkinkan kita tidak akan memaksa dir i” “Baiklah. Kita akan berhimpun sore nanti. Segalanya akan diatur oleh Semi dan kawannya. Dua orang pemburu itu memiliki kemampuan diatas kemampuan kita, sehingga mereka akan dapat menuntun kita seperti yang pernah dilakukan” berkata Jlitheng. “Aku belum pernah mendapat tuntunannya” potong Nugata. “Maksudku anak-anak Lumban Wetan. Tetapi ia memiliki kemampuan seimbang dengan Daruwerdi meskipun dasar- dasar ilmunya berbeda. Tetapi pada dasarnya, kita akan dapat mencari alas kemampuan yang bersifat umum bagi yang berkemampuan setingkat dengan kita-kita ini” jawab J litheng. Nugata tidak membantah lagi. Sementara itu merekapun telah mendapat kesepakatan waktu kapan mereka mulai berkumpul. Tidak terlalu banyak. Dari Lumban Wetan, kecuali Jlitheng hanya ada sepuluh orang terbaik. Sementara dari Lumban Kulon Nugata akan memilih sepuluh orang terbaik pula. Demikianlah, diluar pengetahuan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih, Lumban telah mempersiapkan dir i. Jlilbeng dengan sengaja telah menemui dua orang paman Daruwerdi untuk melihat persiapan anak-anak muda Lumban. Kedua orang itu ternyata bersiap pula untuk membantu. Bersama Semi dan seorang kawannya, kedua orang paman Daruwerdi yang memiliki kemampuan yang cukup itu pula, telah ikut membantu menempa anak-anak muda Lumban. Hanya untuk dua hari, namun yang dua hari itu sekedar untuk memanasi darah mereka j ika mereka benar-benar harus berbuat sesuatu. Dalam pada itu, ketika anak-anak muda Lumban sedang berlatih dengan tekun di bawah pengawasan Semi dan kawannya serta kedua orang paman Daruwerdi itu, Jlitheng dan Kiai Kanthi telah pergi ke atas bukit ketika malam mulai turun. Mereka ingin mengamati, apa yang terjadi diatas bukit itu pada malam kedua. Selebihnya Kiai Kanthi ingin, melihat gu-bug yang dit inggalkannya. Ketika mereka singgah digubug itu, ternyata mereka mendapat kesan bahwa gubug itu telah didatangi oleh orang- orang yang berada dialas bukit. Ternyata barang-barang yang telah dibenahi oleh Swasti itu menjadi berserakkan. “Jangan kau katakan kepada Swasti “ pesan Kiai Kan-thi, karena ia yamg membenahinya, maka KiaiKantin yang meninggalkan Swasti di banjar itu, mencemaskan bahwa gadis yang keras hati itu akan memanjat naik untuk melihat barang- barangnya yang tidak seberapa itu. Dalam pada itu, rasa-rasanya ada hubungan perhitungan antara Kiai Kanthi, Jlitheng dan Rahu. Rahu merasa bahwa disekitar tempat itu tentu ada orang-orang Lumban yang mengawasinya. Rahupun tahu, bahwa Kiai Kanthi sudah tidak berada digubugnya, karena ia ikut memasuki gubug itu, ketika sekelompok orang-orang Sanggar Gading menemukannya. Karena itu, pada satu kesempatan, Rahu telah meninggalkan kawan-kawannya ketika malam turun. Apalagi ketika Pangeran yang rasa-rasanya menjadi bebannya itu sedang tidur nyenyak pula. Sebenarnyalah, Rahu telah memilih arah yang benar. Ia turun beberapa tataran kearah gubug Kiai Kanthi. Seperti yang diharapkan, maka ternyata dua orang telah mengamatinya. Bahkan ketika kedua orang itu yakin, bahwa yang menuruni lereng bukit itu adalah orang yang dikenalnya, maka merekapun telah menghentikannya. Jlitheng dan Kiai Kanthi ternyata berhasil menemui Rahu dan mendapat beberapa penjelasan. “Jika menurut penilaian Yang Mulia pusaka itu palsu, maka tidak ada harapan lagi bagi Daruwerdi” berkata Rahu. Lalu “Tetapi j ika pusaka itu asli, maka aku kira Yang Mulia tidak akan mengusiknya” “Lalu, apa yang baik kami lakukan?“ bertanya Jlitheng yang kemudian menceriterakan rencana dan persiapan yang telah dilakukan. “kalian harus menunggu hasil semedi Yang Mulia untuk melihat jiwa dar i pusaka yang ditayuhnya itu” berkata Rahu. Lalu “Ada dua Kemungkinan, Jika pusaka itu palsu. Daruwerdi akan mengalami nasib yang sangat buruk. Jika kalian ingin menyelamatkan, sekaligus mengusir orang itu, aku akan membantu kalian, karena tugasku akan mencapai puncaknya pula dengan kehadiran Pangeran itu. Tetapi jika Yang Mulia menganggap bahwa pusaka itu asli dan menyerahkan Pangeran itu kepada Daruwerdi, maka Semilah yang akan bertugas untuk mengurus Pangeran itu dan aku akan mengikut i pusaka yang akan dibawa oleh Yang Mulia” “Pekerjaan itu akan terlalu berat ngger” berkata Kiai Kanthi “pusaka itupun akan dapat diselesaikan disini” Rahu memandang Kiai Kanthi sejenak. Namun nampaknya Kiai Kanthi menangkap perasaan Rahu. Maka katanya “Bukan maksudku, bahwa dengan demikian, aku akan mendapat kesempatan pula untuk ikut serta beramai-ramai memperebutkannya” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia mengangguk. Katanya “Baiklah. Kita akan menyelesaikan segalanya setelah hari ketiga, agar kitapun tahu, apakah pusaka itu asli atau bukan” Jlitheng mengangguk. Tetapi seperti Kiai Kanthi, iapun melihat kecurigaan pada tatapan mata Rahu. Namun demikian Jlitheng tidak mengatakannya. Yang mereka bicarakan selanjurnya adalah rencana yang lebih terperinci. Pada pagi hari setelah malam ketiga. Rahu harus tahu pasti, dimana Jlitheng menunggu. Iapun harus tahu. dimana kedua paman Daruwerdi bersiaga Sementara itu. Semi dan kawannya yang harus membantunya menyelamatkan Pangeran itupun harus berada di tempat yang mapan. “Jika saatnya kita bergerak, aku akan member ikan isyarat” berkata Rahu kemudian. “Kami menunggu isyaratmu” sahut Jlitheng. Jlithengpun kemudian meninggalkan tempat itu, setelah dengan terperinci ia menyebut tempat-tempat yang dimaksud oleh Rahu. Bersama Kiai Kanthi mereka menuruni tebing dan kembali ke Lumban Wetan. Sementara itu, sepuluh anak-anak muda Lumban Wetan ternyata masih belum kembali. Karena itu, maka Jlithengpun telah menyusul mereka ke halaman Banjar Lumban Kulon. Dihalaman itulah anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon berusaha menyempurnakan bekal ilmunya yang belum begitu mantap. Namun sepuluh orang terbaik dan Lumban Wetan dan sepuluh orang terbaik dari Lumban Kulon itu ternyata akan sanggup dihadapkan kepada para pengikut Yang Mulia dar i Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. “Mereka adalah orang-orang yang kasar dan tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali membunuh“ pesan Jlitheng “karena itu, jangan hadapi mereka seorang melawan seorang. Kalian harus bertempur berpasangan Jumlah orang- orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih itu tidak lagi terlalu banyak untuk menghadapi kita semuanya. Namun seperti aku katakan, mereka adalah orang-orang yang buas dan liar” “Dari mana kau tahu Jlitheng?“ bertanya Nugata, “Akibat yang kita lihat di pategalan itu telah cukup memberi tahukan kepada kita” jawab Jlitheng. Bahkan katanya kemudian “untuk menghadapi mereka, kita tidak perlu bertahan pada harga diri, karena merekapun sama sekali tidak akan mempertahankan harga diri pula. Hutan dan bebatuan akan dapat kalian pergunakan sebagai perisai. Ingat, kalian harus bertempur berpasangan sambil memanfaatkan pepohonan dan batu-batu padas itu” Namun Jlitheng masih belum berterus terang, bahwa ia sendiri pernah mengalami, memasuki padepokan Sanggar Gading dengan melewati padang kematian yang mengerikan itu. Meskipun usaha untuk memantapkan kemampuan anak- anak muda Lumban itu sebagai satu usaha yang sangat kecil dalam olah kanuragan, namun ternyata memberikan bekal tekad yang cukup besar. Mereka merasa bahwa mereka telah dipanggil oleh satu kewajiban yang tidak kalah besarnya dari mengatur air dan membuat bendungan, karena yang akan mereka lakukan itu menyangkut penyelamatan Kabuyutan mereka. Apa yang dilihat oleh anak-anak muda Lumban di pategalan itu memang mempengaruhi perasaan mereka. Tetapi dengan latihan yang pendek pada malam-malam, terakhir, Jlitheng sempat member ikan kekuatan batin terhadap mereka yang merasa terpanggil untuk kepentingan padukufaan mereka itu. Disiang har i, anak-anak muda Lumban itu seolah-olah telah menghilang. Mereka berada di sawah atau pategalan. agar mereka tidak bertemu dengan orang-orang d ia tas bukit yang turun mencari bahan makanan. Namun seperti yang sudah dilakukan pada hari pertama, mereka memang berusaha untuk menahan diri. Mereka mengambil sesuai dengan kebutuhan mereka saja. Di hari-hari yang demikian. Jlithengpun berada di sawah pula. Bahkan ia telah memncar beberapa orang kawannya pada sawah masing-masing yang terletak di arah yang berbeda, Jlitheng telah berpesan agar perhatian mereka tidak tersangkut hanya kepada orang-orang yang sedang berada di atas bukit, karena mungkin masih ada pihak lain yang saling bermusuhan akan datang pula ke Daerah Sepasang Bukit Mati itu. “Selain orang-orang Kendali Putih, bukankah Daruwerdi pernah berhubungan dengan orang-orang Pusparuri” berkata Jlitheng kepada kawan-kawannya. “Darimana kau tahu?“ bertanya kawan-kawannya. “Mereka pernah datang kemari. Pernah terjadi kematiam- kematian sebelum kelompok-kelompok itu bertempur dan saling membunuh dipategalan” jawab Jlitheng. Anak-anak Lumban Wetan kadang-kadang merasa heran melihat sikap Jlitheng. Ia seakan-akan tahu segala-galanya. Ia bukan saja mengejutkan anak-anak Lumban dengan mengalahkan Nugata, karena Jlitheng tidak ikut dalam latihan- latihan khusus. Ia bukan termasuk sepuluh anak muda terbaik. Namun menurut keterangannya, ia justru latihan dengan cara yang lebih khusus lagi. Namun dalam keadaan yang gawat itu, Jlitheng nampak semakin mengherankan bagi kawan- kawannya, anak-anak Lumban Wetan, maupun anak-anak Lumban Kulon. Ia dapat mengatur keadaan dengan tangkas dan pikiran-pikirannya ternyata memherikan jalan keluar atas masalah-masalah yang dihadapi oleh Lumban. Demikianlah, maka pada malam terakhir dari tiga malam yang diperlukan oleh Yang Mulia untuk meyakinkan keaslian pusaka yang dibawa oleh Daruwerdi, Jlitheng menjadi semakin sibuk. Ia ikut serta dalam latihan-latihan yang diikut i oleh dua puluh anak terbaik dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon Namun ia telah menghentikan latihan itu menjelang tengah malam. “Kalian perlu beristirahat” berkata Jlitheng Nugata yang tidak ikut dalam latihan- latihan itu menyahut “Mereka memerlukan kesiapan yang utuh. Biarlah mereka berlatih terus” “Mereka akan kelelahan, sehingga esok j ika diperlukan, tenaga mereka tidak akan mampu mengatasi kelelahan itu” jawab Jlitheng. “Kenapa kau selalu mengatur kami” potong Nugata “Kau sangka kau Panglima disini?“ Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Semi berkata “Memang sebaiknya kita beristirahat. Kaupun memer lukan istirahat meskipun hanya sebentar” “Aku tidak per lu istirahat. Aku dapat bertempur, bukan hanya berlatih, tiga hari tiga malam” geram Nugata. Namun ternyata kedua paman Daruwerdi itupun menengahi ”Memang ada baiknya untuk berist irahat” Nugata memandang kedua orang itu sejenak. Sementara itu salah seorang dari kedua paman Daruwerdi itu berkata “Kemampuan dan daya tahan seseorang memang tidak sama. Mungkin seseorang dapat bertahan untuk waktu yang lama, bahkan tiga hari tiga malam bertempur tanpa beristirahat. Tetapi ada yang memerlukan waktu untuk beristirahat dan bersiap siap seperlunya” Nugata tidak menjawab lagi. Sambil menar ik nafas ia berkisar dari tempatnya. Sementara itu Jlithengpun berkata kepada anak-anak muda itu “Kalian sempat beristirahat. Namun kalian harus mempersiapkan senjata kalian sebaik-baiknya agar pada saatnya kalian tidak menyesal justru karena senjata kalian. Kalian dapat memilih senjata yang paling sesuai. Senjata panjang atau senjata pendek, atau mungkin senjata lempar. Macam dan jenis senjata tentu akan berpengaruh atas kemantapan sikap kalian apabila kalian benar-benar akan bertempur besok” Kawan-kawannya itupun mengangguk-angguk. Sementara itu Jlitheng masih memberikan beberapa pesan yang lain. Anak-anak muda itu tidak perlu lagi pulang ke rumah masing- masing, kecuali jika perlu sekali. Namun mereka harus segera kembali ke banjar. “Besok menjelang dini hari, kita akan berangkat dari banjar berkata Jlitheng selanjutnya “selebihnya aku akan mempersilahkan kawan-kawan kita yang lain untuk bersiap di padukuhan masing-masing. Mungkin mereka kita perlukan. Tetapi mungkin mereka memang harus mempertahankan padukuhan-padukuhan itu” “Apakah mereka mampu melakukannya” bertanya salah seorang anak muda dar i Lumban Wetan. “Orang yang berada di atas bukit itu tidak banyak. Jika ada yang memencar, maka mereka tidak akan lebih dari satu atau dua orang. Betapapun tinggi ilmunya, tetapi anak-anak muda sepadukuhan akan dapat mengalahkannya, meskipun seandainya orang itu harus dilempari dengan senjata dari jarak jauh oleh sekelompok anak-anak muda yang berjumlah cukup” jawab Jlitheng. Anak-anak muda yang sudah siap itu tidak menjawab lagi. Mereka mengerti, seandainya diperlukan, anak-anak muda itu akan dapat di panggil dengan isyarat untuk membantu mengepung bukit berhutan itu. Bagaimanapun juga jumlah akan ikut menentukan disamping ada orang-orang tertentu yang akan dapat mempengaruhi pertempuran itu. Dalam pada itu, maka anak-anak muda itupun segera beristirahat setelah mereka membenahi senjata masing- masing Ada diantara mereka yang menggosok pedangnya. Ada yang menimang tombak pendeknya. Seorang anak muda yang bertubuh raksasa telah menyiapkan tombak bermata tiga. Yang lain telah menyandarkan canggah di sisi pembaringannya. Dalam pada itu, Jlithengpun telah berkeliling ke padukuh- an-padukuhan. Untuk mempercepat tugasnya ia telah mempergunakan seekor kuda. “Kau dapat menunggang kuda?“ bertanya seorang kawannya. “Dalam keadaan yang paling gawat, seseorang akan dapat berbuat apa saja” jawab Jlitheng. Sejenak kemudian terdengar suara derap kaki kuda itu menderu di gelapnya malam. Beberapa orang mengerutkan keningnya. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi cemas, bahwa Jlitheng justru akan terlempar dar i punggung kuda itu. Ternyata Jlitheng melakukan seperti yang direncanakannya. Ia menemui anak-anak muda yang berada di gardu-gardu. Ia member ikan pesan-pesan sehingga anak-anak muda itu meyakini benar, apa yang harus mereka lakukan. Demikianlah, maka Lumban Wetan dan Lumban Kulonpun telah diguncang oleh kesiagaan yang penuh. Anak-anak mudapun telah bersiap-siap di gardu-gardu. Mereka ternyata tidak menunggu dini hari. Sejak Jlitheng datang menemui mereka, maka merekapun langsung memanggil setiap anak muda dengan senjata masing-masing. “Apakah kami harus melawan orang-orang yang telah bertempur di pategalan?“ bertanya salah seorang anak muda yang tidak sempat bertemu langsung dengan Jlitheng. “Yang akan langsung menghadapi mereka bukan kita” jawab anak-anak muda yang lain “Tetapi j ika ada satu dua orang yang melarikan diri dan tersesat ke padukuhan ini, atau dengan sengaja ingin melakukan, kejahatan di padukuhan ini, itu adalah kewajiban kita” Anak-anak muda itupun segera bersiap-siap. Bahkan ada diantara mereka yang mempersiapkan anak panah dan busurnya, sementara yang lain menyiapkan lembing. “Jika perlu kita akan bertempur dengan jarak” desis anak muda yang langsung mendengar pesan Jlitheng. Dalam pada itu, maka setelah semua padukuhan mendengar pesannya Jlithengpun segera kembali ke Banjar. Ternyata bahwa anak-anak muda Lumban telah mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Mereka telah tertidur di Banjar dan bahkan ada yang tidur di amben bambu di serambi. Yang lain melintang di pintu pringgitan, sementara ada pula yang tertidur di sudut Banjar sambir bersandar dinding dan memeluk pedangnya. Semi datu kawannyapun ternyata telah tertidur pula. Sementara kedua paman Daruwerdipun ternyata telah tidur diluar Banjar. Yang berjaga-jaga adalah justru anak-anak muda yang tidak akan ikut ke bukit esok pagi-pagi benar. Mereka berjaga- jaga dengan hati-hati dan dengan kesadaran sepenuhnya tentang apa yang dapat terjadi. Jlitherig sendiripun kemudian berbaring pula di sebuah dingklik bambu di bawah sebatang pohon sawo di halaman samping. Sejuknya udara malam telah mengusapnya, sehingga akhirnya iapun tertidur meskipun hanya sebentar setelah ia berpesan kepada pada penjaga, bahwa mereka harus dibangunkan sebelum dini hari. Meskipun anak-anak muda yang berjaga-jaga itu tidak akan pergi ke Bukit, namun merekapun menjadi gelisah pula. Mereka justru telah mereka-reka apa yang akan terjadi kemudian. Demikianlah, seperti yang dipesankan oleh Jlitheng, maka menjelang dini hari, anak-anak muda itupun telah dibangunkannya. Dengan cepat mereka mempersiapkan diri sambil mergunnyah beberapa potong ketela pohon yang sudah disediakan. Mereka harus menjaga agar mereka tidakkelaparan, jika mereka benar-benar akan menghadapi satu perjuangan yang berat di hari mendatang. Sejenak kemudian, anak-anak muda itupun telah siap. Jlitheng masih berbicara sejenak dengan Semi dan kawannya serta kedua paman Daruwerdi. Meskipun Nugata ikut pula di antara mereka, tetapi dalam keadaan yang mendesak Jlitheng tidak sempat lagi untuk selalu bertanya kepadanya Ketika segalanya telah jelas, sebagaimana di kehendaki dan dibicarakan antara Jlitheng dan Rahu tentang tempat-tempat disek tar puncak bukit itu, maka merekapun segera berangkat. Mereka berjalan dengan cepat melintasi sawah dan ladang di dalam gelapnya sisa malam. Sementara langit sudah mulai membayang kemerah-merahan. Dalam pada itu, Kiai Kanthipun telah pergi ke bukit itu pula bersama anak gadisnya sebagaimana telah dibicarakan pula dengan Jlitheng Kiai Kant in akan mengambil tempat yang paling dekat dengan tempat samadi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading Rahu yang akan berusaha melindungi Pangeran yang sakit itu, akan tetap berada di sampingnya, sementara Jlitheng akan mengamati tingkah laku Sanggit Raina dan Cempaka. Kedua paman Daruwerdi akan dipersilahkan untuk berbuat sesuatu, jika Daruwerdi mengalami per lakuan yang tidak sewajarnya Dua puluh orang terbaik dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan bertempur pada saatnya. Tetapi setiap kali Jlitheng masih saja berpesan, bahwa anak-anak muda itu harus bertempur berpasangan. Sedangkan Semi dan kawannya harus dapat mengambil sikap pada saat-saat yang gawat. Ketika fajar mulai membayang dilangit, maka anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu telah memanjat sampai kelambung bukit. Sejenak kemudian, mereka telah mengambil tempat sebagaimana dipesankan oleh Jlitheng. Demikian pula orang-orang yang menempatkan diri bersama anak-anak muda dar i Lumban itu. Dalam pada itu, Yang Mulia Wukir Gadingpun telah sampai pada puncak samadinya. Pusaka yang ditayuhnya itu masih terletak dihadapannya. Sementara itu, beberapa orang Sanggar Gading dan Kendali Putih telah mengerumuninya, demikian pula orang yang disebut Eyang Rangga, justru duduk di paling depan diantara orang-orang Kendali Putih. Ketika langit menjadi semakin merah, maka suasanapun menjadi semakin tegang. Orang-orang Sanggar Gading dan crang-orang Kendali Putih rasa-rasanya telah menahan nafas mereka. Sementara lagi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading akan selesai dengan usahanya untuk mengetahui, apakah pusaka itu benar-benar pusaka yang memiliki tuah. Yang penting baginya, bukan saja pusaka itu sendiri, tetapi rangkaian dari pusaka itu. Harta benda yang tidak ternilai harganya, yang telah dipersiapkan untuk menegakkan kembali Majapahit yang telah runtuh. Pada saat-saat terakhir itu, puncak bukit itupun menjadi semakin tegang. Daruwerdi yang menahan gejolak di dalam hatinya, justru menjadi gemetar. Sementara Pangeran yang sedang sakit itu agaknya mempunyai sikap tersendiri. Ia masih tetap bersandar sebatang pohon. Bahkan rasa-rasanya ia menjadi semakin lemah. Rahu yang berada disebelahnya melihat Pangeran itu dengan iba. Betapa sorot matanya memancarkan keputus- asaan. Bahkan mata itu bagaikan telah menjadi redup dan tidak bercahaya sama sekali. Jika Pangeran yang sakit itu memejamkan matanya, maka menurut pandangan mata Rahu. tidak ubahnya Pangeran itu tidak akan dapat bangun lagi. Ternyata Rahu yang nampak cukup kasar diantara orang- orang Sanggar Gading itu tidak dapat menahan rasa ibanya. Ketika tabib yang merawat Pangeran itu beringsut untuk beberapa lamanya, maka Rahupun berbisik “Jangan cemas Pangeran” “Apa maksudmu?“ bertanya Pangeran itu. “Aku bertugas untuk melindungi Pangeran, meskipun tugas itu bukan tugas utamaku. Tetapi panggilan kewaj ibanku menuntut aku berbuat demikian” jawab Rahu. “Siapakah kau sebenarnya?“ bertanya Pangeran itu. “Pangeran tidak perlu mengetahuinya” jawab Rahu. Pangeran itu ragu-ragu. Namun ia tidak menjawab lagi. Ia masih saja bersandar dengan lemahnya. Dalam pada itu. langitpun menjadi semakin merah. Yang Mulia masih duduk dengan kepala tunduk. Pusaka yang dita- yuhnya masih juga tetap di tempatnya. Semakin merah langit menjelang pagi, maka nampak tangan Yang Mulia itu menjadi gemetar. Bahkan kemudian ia mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya diatas peti itu. Suasana menjadi semakin tegang. Daruwerdi yang duduk sambil menundukkan kepalanya, tiba-tiba saja beringsut setapak Ketika setiap orang memperhatikan pusaka itu, maka Daruwerdi justru telah mmepersiapkan dir i. Ia mengetahui dengan pasti bahwa pusaka itu sama sekali bukan pusaka yang sebenarnya. Karena itu, maka iapun sadar, bahwa akan terjadi sesuatu yang sangat gawat baginya. Bahkan mungkin ia tidak akan dapat lepas lagi dari tangan orang-orang Sanggar Gading. “Tetapi aku tidak mau mati seperti kelinci” berkata Daruwerdi di dalam hatinya “Aku akan mati sebagaimana seekor binatang buas di hutan lebat” Karena itu, slapapun yang harus dilawapnya, ia sudah siap untrk bertempur. Ia sadar, bahwa ia akan mati. Tetapi ia akan mati jantan. Dalam pada itu, ketika fajar menyingsing dan sinar matahari mulai membayang dilangit, tiba-tiba saja terdengar Yang Mulia itu berteriak nyaring. Suaranya bagaikan membelah bukit kecil itu. Kedua tangannya yang gemetar dengan serta merta telah mengangkat peti dihadapannya itu dan membantingnya dengan serta merta sehingga peti itu pecah berserakkan. “Anak iblis“ Yang Mulia itupun kemudian bangkit “Kau kira aku sedungu kau he?“ Semua orang yang melihat hal itu terkejut. Rahupun terkejut pula. Apalagi Daruwerdi. Ia sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak akan dapat berbohong lagi. Dengan demikian, maka ia akan menghadapi persoalan yang dilontarkannya itu dengan sungguh-sungguh dan mungkin akan merampas nyawanya. Setiap penyesalan telah diusirnya dari hatinya. Namun ia tidak dapat mengingkari perasaannya, bahwa seharusnya ia tidak melakukan permainan yang berbahaya itu. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Ia sudah berhadapan dengan Yang Mulia. Di pategalan telah terbunuh orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih justru karena permainan Daruwerdi “Kau akan menipu aku he?“ wajah Yang Mulia itu menjadi merah membara. Sementara semua orang telah memandangi Daruwerdi yang kemudian bangkit berdir i. “Yang Mulia” berkata Daruwerdi justru dengan suara mantap karena ia merasa akan dapat mengelak lagi “Kau tidak melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Pusaka itu harus ditayuh dengan sebaik-baiknya. Kau tidak melakukan sebagaimana seharusnya. Disiang hari kau masih juga makan dan minum, meskipun di malamhar i kau bersemadi” “Anak bodoh” geram Yang Mulia “Aku sudah melakukannya beberapa kali. Setiap kali aku tentu berhasil melihat dengan tepat. Dan akupun telah melihat apa yang kau sebut sebagai pusaka itu. Sampai saat terakhir aku masih berusaha untuk meyakinkan. Namun sampai saat terakhir isyarat yang aku terima tidak berubah. Pusaka itu palsu. Pusaka itu memang sebilah keris yang mempunyai arti. Tetapi sekedar bagi seseorang yang Ingin mendapat isteri dan dicintai oleh seribu perempuan cantik. Bukan sebuah pusaka yang dapat membangkitkan kemampuan dan wibawa bagi tegaknya satu pimpinan pemerintahan. Selain kepalsuan pusaka itu, maka berarti bahwa segala rangkaiannyapun tidak akan terdapat pada bagian-bagian lain yang menyertai pusaka itu” Daruwerdi yang berdiri tegak itu memandang Pangeran yang sedang sakit, yang masih duduk bersandar sebatang pohon. Sementara Rahupun masih selalu berada didekatnya. Bahkan ia telah berdiri tegak dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sanggit Raina dan Cempakapun menjadi tegang. Kemarahan mulai merayapi jantungnya. Meskipun tidak langsung, maka keduanyapun merasa tertipu pula. Apalagi Cempaka yang langsung berhubungan dengan Daruwerdi sebelum saat-saat penyerahan itu terjadi. Karena itu, jantungnya yang bagaikan tersentuh api itu, telah mendorongya untuk meloncat maju sambil berteriak “Yang Mulia. Beri kesempatan aku membunuhnya. Aku adalah Orang yang paling tersinggung atas kepalsuan ini, karena aku adalah orang yang pertama sekali berbicara tentang penyerahan ini” Daruwerdi memandang Cempaka, itu dengan tajamnya pula. Bahkan kemudian ia berkata “Aku tantang kau berperang tanding“ “Bodoh” potong Yang Mulia “Kau akan memperbodoh kami sekali lagi? Kau akan menuntut perang tandang dengan taruhan kebebasanmu?“ Wajah Daruwerdi menegang. Namun Cempaka menyahut “Aku akan membunuhnya. Ia tidak akan dapat keluar dari tempat ini”. “Tidak la telah memperbodoh aku. Ia telah menyebabkan kawan-kawan kita berbunuhan di pategalan. Ia telah menyebabkan segalanya menjadi hancur” Eyang Rangga yang sejak semula memandangi Daruwerdi dengan tegang, telah berkata “Kaulah yang telah memancing permusuhan antara orang-orang Sanggar Gading dan orang orang Kendali Putih. Orang-orang yang telah mati itu tidak akan hidup kembali” “Salah kalian sendiri” jawab Daruwerdi. Ia nampaknya telah kehilangan perasaannya sama sekali, karena ia merasa tidak akan dapat membebaskan dir i lagi dari tangan orang-orang yang kasar dan yang pada suatu saat dapat menjadi buas dan liar itu “Jika kalian tidak dicengkam oleh ketamakan dan nafsu yang berlebihan, kalian tidak akan saling membunuh sekedar untuk memperebutkan pusaka maupun harta benda” “Tutup mulutmu anak iblis“ Yang Mulia tiba-tiba saja telah melangkah setapak maju dengan wajah yang tegang “Kami harus mendapat imbalan dar i segala jer ih payah kami. Kami telah membawa Pangeran yang meskipun sedang sakit, sebagaimana kau minta. Sekarang ternyata yang ada hanyalah kau. Karena itu, kami ingin menebus kekesalan hati kami dengan kepuasan tersendiri. Kami ingin melihat kau mati dengan cara yang paling menyenangkan buat kami, sekedar untuk melupakan kehancuran kami di Daerah Sepasang Bukit Mati ini” Wajah Daruwerdi mulai menjadi merah. Hatinya yang mengeras seperti batu dalam keputus-asaan, tiba-tiba mulai disentuh oleh perasaan kecut melihat wajah Yang Mulia itu. Selangkah Yang Mulia maju. Lalu Katanya “Kepung anak ini. Kita akan membuat permainan apa saja yang dapat member ikan kepuasan kepada kita. Sejenak kemudian orang-orang Sanggar Gading dan orang- orang Kendali Putih telah mengepung Daruwerdi. Sementara itu, mereka telah melupakan Pangeran yang sedang sakit itu, kecuali Rahu. Namun Rahupun tidak dapat melepaskan perhatiannya kepada Daruwerdi. Iapun mreasa wajib untuk berusaha membantu menyelamatkan anak muda yang dungu itu, yang telah mencoba bermain-main dengan taruhan yang paling mahal. Dalam pada itu, tiba-tiba Pangeran yang dilupakan itu berdesis “He, siapakah kau sebenarnya?“ Rahu memandanginya sambil menjawab “Sudah aku katakan, Pangeran tidak perlu mengetahui siapa aku sebenarnya. Tetapi aku mempunyai tugas membantu Pangeran dalamkesulitan ini” “Dan kau biarkan anak itu mengalami nasib yang buruk?“ bertanya Pangeran itu. “Ia anak bengal. Tetapi aku harus mencari kemungkinan” jawab Rahu “Aku tidak tahu apa kepentingannya dengan aku, sehingga ia telah menipu orang-orang liar itu untuk menangkapku dan membawanya kemari. Tetapi aku merasa kasihan jika anak itu mati” Rahu mengerutkan keningnya. Namun hampir dihiar sadarnya ia berkata “Apakah Pangeran pernah membunuhi ayahnya?“ “Anak itu kehilangan ayahnya dan mengira aku membunuhnya. Tetapi aku tidak akan ingat lagi, apakah aku pernah membunuhnya atau tidak. Mungkin di peperangan atau dalam hubungan yang tidak dapat dihindari lagi bahwa aku harus mempergunakan kekerasan. Tetapi pembunuhan seperti yang terjadi dalam hubungan dendam, aku kira aku tidak pernah melakukannya” Rahu menar ik nafas dalam-dalam. Sementara itu Pangeran itupun berkata “Justru karena perasaan dendamnya itu aku ingin ia selamat, agar ia dapat menjelaskan kepadaku, apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi naluriku mengatakan bahwa ia mempunyai kepentingan yang lain dengan aku. Alasan itu bukannya alasan yang sebenarnya yang mendorongnya untuk membawa aku kemari” Rahu memandang Pangeran itu sejenak. Kemudian katanya “Kita akan melihat apa yang terjadi. Tetapi aku mohon Pangeran dapat menyesuaikan dir i. Aku tidak sendir i disini” “Siapa kawan-kawanmu?“ bertanya Pangeran itu. “Ada disekitar tempat ini. Diantaranya adalah orang-orang dari lingkungan yang belum banyak aku kenal sebelumnya. Tetapi aku percaya bahwa mereka tidak akan berkhianat dalam keadaan seperti ini” Pangeran itu termangu-mangu. Mereka memandang orang- orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih yang mengepung Daruwerdi menjadi semakin menyempit. Yang Mulia dan Eyang Rangga yang berada dihadapan Daruwerdi kemudian berdiri dengan wajah tegang memancarkan kemarahan yang melonjak- lonjak “Nah, sekarang apa yang kalian kehendaki atas orang ini. Orang yang telah menipu kita semuanya, sehingga telah terjadi benturan kekuatan antara Sanggar Gading dan Kendali Putih. Bahkan sebentar lagi orang-orang Pusparuri atau orang- orang Gunung Kunirpun akan berdatangan. Beruntunglah mereka, bahwa mereka masih belum terlanjur terlibat ke- dalam pembunuhan yang mengerikan” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. “Cincang saja” geram Cempaka. “Terlalu cepat. Anak itu harus dihukum picis. Ikat anak itu pada sebatang pohon. Kita masing-masing akan melukainya dan kemudian menaburkan garam pada luka itu” desis Sanggit Raina yang tidak dapat menahan dir i. “Bagus, bagus sekali“ hampir berbareng beberapa orang berteriak. Namun tiba-tiba suara mereka terputus ketika tabib yang mengobati Pangeran yang sakit itu mendekat sambil berkata “Aku adalah orang yang lebih senang melihat orang lain tidak memer lukan bantuanku. Kenapa kalian akan berlaku demikian liar atas anak muda itu. Jika kalian akan membunuhnya, bunuh saja sebagaimana kalian sering melakukannya” Tetapi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itupun tertawa. Katanya “Terima kasih atas peringatan itu. Tetapi kali ini aku menghadapi keadaan yang berbeda. Bahkan aku tidak memer lukan pertolonganmu sama sekali. Kami akan membiarkan anak itu dalam keadaannya tanpa mengobatinya. Ia akan kami tinggalkan disini, sehingga ia akan bertahan untuk tetap hidup dua atau tiga hari sebelum ia akan mau. Tetapi jika seekor harimau datang merobek-robeknya, maka ia akan lebih cepat mati dalam keadaan yang paling sakit, karena harimau itu akan marah justru karena anak itu terikat” Tabib itu memandang Yang Mulia dengan kerut-merut di kening. Tetapi ia kemudian berkata “Segalanya terserah kepadamu. Tetapi itu bertentangan dengan kewajibanku” “Jangan seperti anak-anak yang baru pandai merajuk. Kau sudah cukup lama berada di dalam barak padepokan Sanggar Gading meskipun kedatanganmu agak berbeda dengan orang- orang lain yang menghuni padepokan itu. “Bukan niatku tinggal di padepokan itu. Kalian telah mengambil dan memaksa aku untuk tinggal” jawab tabib itu. Yang Mulia tertawa. Katanya “Sudahlah. Minggir lah. Kita akan segera bermain-main mumpung matahari belum terlalu tinggi” Ketika perhatian mereka tertuju kembali kepada Daruwerdi, maka liba-tiba saja Pangeran yang sakit itu terbatuk-batuk. Sejenak perhatian orang-orang Sanggar Gading tertuju kepadanya. Namun Yang Mulia itu berkata “Nah, urusi saja Pangeran yang sakit itu. Jangan anak ini” Tabib itupun kemudian beringsut mendekati Pangeran yang sakit itu. Ketika ia berjongkok di sisinya, maka Pangeran itu berkata perlahan-lahan “Kau mempunyai sikap lain dari orang- orang Sanggar Gading” “Aku bukan dari golongan mereka, meskipun aku terpaksa berada diantara mereka” jawab tabib itu. “Apa yang akan kau kerjakan?“ bertanya Pangeran itu pula. “Aku tidak mempunyai kesempatan apapun juga” jawab tabib itu. Sejenak Pangeran itu termangu-mangu. Namun tabib itupun kemudian berkata “Aku tahu pasti keadaan Pangeran. Tetapi aku tidak mengatakannya kepada orang-orang Sanggar Gading“ Sejenak tabib itu berhenti. Dipandanginya Rahu yang termangu-mangu. Namun agaknya masih ada batas diantara mereka, sehingga tabib itu tidak mengatakan sesuatu. Tetapi yang dikatakan itu dapat ditangkap maksudnya oleh Pangeran yang dianggap sedang sakit itu. Karena itu. maka iapun menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti tabib itu, iapun lelum percaya sepenuhnya kepada Rahu. Sejenak kemudian ketegangan di puncak bukit itupun memuncak. Nampaknya Yang Mulia sudah t idak sabar lagi. Sementara itu, Daruwerdi yang keras hati itu, tiba-tiba telah di jalar perasaan ngeri dan cemas. Ketika terpandang olehnya wajah-wajah yang garang bahkan buas dan liar, maka hatinya menjadi kecut. Karena itu, untuk sesaat Daruwerdi itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia berdiri gemetar. Tetapi ia sudah tidak akan dapat melarikan dir i dar i lingkungan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Put ih yang sedang marah. Ternyata Rahu tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Sejenak terbersit keragu-raguannya, apakah Jlitheng menepati janjinya untuk bersiap-siap di sekitar puncak bukit itu. Sebenarnyalah Jlitheng memang sudah siap. Semua orang yang datang bersamanya telah menempatkan diri sesuai dengan rencana. Mereka tinggal menunggu isyarat saja. Namun ternyata bahwa Semi terpaksa membungkam seorang pengawas yang secara kebetulan menjumpainya di persembunyiannya. Tetapi orang itu tidak sempat berbuat apa-apa ketika ujung pedang Semi telah menikamjantungnya. Dalam pada itu, di saat Yang Mulia Wukir Gading melangkah lagi setapak maju, Rahupun telah siap. Sejenak kemudian terdengar Yang Mulia ia berkata “Nah, sebelum kita berbuat sesuatu atas anak ini, agaknya lebih baik j ika anak ini diikat saja pada sebatang pohon” “Bagus” teriak Cempaka yang kemarahannya tidak tertahankan lagi. Namun sebelum Cempaka meraba tubuh Daruwerdi yang gemetar, maka terdengar Rahu berkata “Jangan sentuh anak itu. Permainan kalian telah sampai kepuncak. Padepokan Sanggar Gading dan Kendali Putih sudah waktunya mengakhiri kegiatannya yang terkutuk itu” Wajah Yang Mulia menjadi merah Semua orang berpaling kepada Rahu yang berdiri tegak disebelab Pangeran yang terbaring dalamsakitnya itu. “Rahu” desis Cempaka “Apa yang kau katakan?“ “Aku minta, jangan sentuh anak itu. Sebaiknya orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Put ih melepaskan senjatanya dan menyerah kepadaku, kepada kekuasaan Demak” berkata Rahu kemudian “kalian sudah terlalu lama menimbulkan kesulitan. Sebenarnya aku masih ingin menunggu sampai pusaka itu ketemu. Tetapi ternyata usaha ini gagal sejalan dengan kegagalan kalian” “Rahu“ Cempaka telah menyibakkan kawan-kawannya yang sedang mengepung Daruwerdi. Lalu Katanya “Coba katakan sekali lagi. Aku tidak yakin akan pendengaranku, atau barangkali kau sudah kerasukan hantu hutan ini” “Dengarlah baik-baik” jawab Rahu “Jangan sentuh anak itu. Aku tidak mempunyai kepentingan apapun dengan anak itu. Tetapi yang penting bagiku adalah justru menghentikan kegiatan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih. Pada saatnya juga harus ditumpas orang-orang Pusparuri, Gunung Kunir dan lain-lain. Sementara anak itu aku perlukan untuk mendapat keterangan lebih jauh tentang pusaka yang kalian cari itu” “Kau sudah Gila“ geram Cempaka “Jadi kau termasuk salah seorang yang berhasil menyusup diantara orang-orang Sanggar Gading” “Aku sudah berhasil melalui padang kematian” jawab Rahu “sekarang, lepaskan anak itu” Cempaka menggertakkan giginya. Lalu katanya “Jangan hiraukan orang ini. Aku akan menyelesaikannya. Ikat Daruwerdi itu pada sebatang pohon. Tetapi jangan biarkan ia mati sebelum aku ikut mengulitinya” Rahu bergeser selangkah. Katanya “Sekali lagi aku peringatkan. Jangan sentuh anak itu” “Aku tidak peduli” teriak Sanggit Raina yang marah. Lalu katanya kepada Cempaka “Jangan menunggu lagi. Bunuh orang itu” Dalam pada itu, Daruwerdi sendiri menjadi bingung. Ada sepercik harapan. Namun harapan itupun segera lenyap. Apalagi ketika Yang Mulia berkata “Kau jangan menjadi gila Rahu. Di ini masih ada aku dan iblis tua ini. Siapapun tidak akan dapat mencegah apa yang akan aku lakukan” Rahu menganggap bahwa saatnya memang sudah tiba. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia meletakkan jari- jarinya dimulutnya. Kemudian terdengar suitan nyaring menggetarkan dedaunan hutan di atas bukit itu. Isyarat itu benar-benar mengejutkan. Semua orang tahu. bahwa isyarat itu bukannya tidak berarti apa-apa. Karena itu. demikian terdengar bunyi isyarat itu, maka merekapun telah mempersiapkan dir i menghadapi segala kemungkinan. Bahkan merekapun t iba-tiba telah memencar sambil meraba hulu senjata masing-masing. Isyarat itupun telah menyusup gerumbul-gerumbul perdu menyentuh telinga orang-orang yang telah menunggu. Tidak terlalu keras, tetapi Jlitheng yang berada dekat hampir di puncak bukit mendengarnya dengan jelas. Seperti isyarat yang terdengar, Jlithengpun telah menyambung isyarat itu. Sambung bersambung, seperti yang memang lelah disepakati. Dengan demikian maka isyarat itu bagaikan merayap diseputar puncak bukit itu dari segala arah. “Permainan Gila“ geram Sanggit Raina “Rahu, apakah hal ini karena pokalmu?“ “Sayang Sanggit Raina” jawab Rahu “semuanya terjadi karena diantara kami mempunyai singgungan-singgungan persoalan sehingga kami telah bersiap menghadapi kalian” Namun dalam pada itu, terdengar yang Mulia tertawa. Katanya “Biarlah Sanggit Raina. Jika mereka ingin melakukan apa saja. biarlah mereka melakukannya. Nampaknya mereka belum mengenal dengan baik, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan orang yang disebut oleh orang-orang Kendali Putih dengan Eyang Rangga ini. Jika mereka datang, maka aku kira kami berdua terpaksa membunuh lebih banyak lagi daripada yang telah terjadi di Pategalan itu” Rahu masih berdir i di tempatnya. Suara isyaratnya yang bersambut itu membuatnya sedikit tenang, sehingga karena itu. maka Katanya “Apapun yang akan terjadi, kita akan mengakhir i kegiatan dari kelompok-kelompok orang-orang gila yang selama ini membuat Demak yang baru saja tegak itu menjadi r ingkih” “Persetan dengan Demak, dengan Majapahit atau dengan manapun juga. Aku tidak peduli dengan semuanya itu. Tetapi akupun tidak mau orang lain menggangguku” jawab Yang Mulia. Tetapi Rahu masih menjawab “Kau memang aneh Yang Mulia. Jika kau tidak mau diganggu, maka seharusnya kau juga tidak mengganggu orang lain. Tetapi apakah yang selama ini sudah kau lakukan?“ “Persetan. Aku tidak mau diganggu. Tetapi orang lain t idak dapat mencegah aku berbuat apa saja. Sekarang aku akan menghukum anak ini dengan cara yang paling menarik karena ia mencoba membohongi aku” teriak Yang Mulia. Namun dalam pada itu. dari balik-balik gerumbul telah muncul beberapa orang Diantara mereka terdapat Semi dan kawannya. “Hem“ Sanggit Raina menggeram ”Orang ini adalah orang yang kau katakan sebagai adikmu itu he?“ “Ia memang adikku” jawab Rahu. Sanggit Raina masih akan menjawab. Tetapi ia terkejut ketika ia melihat Jlitheng. Hampir diluar sadarnya ia berdesis Bantaradi. Apakah benar aku melihatnya?“ “Ya. Ia adalah Bantaradi” sahut Rahu. “Tetapi bukankah ia sudah mati?“ bertanya Cempaka pula. “Segalanya sudah dipersiapkan. Nrangsarimpat memang sudah mati karena ia ingin mengganggu puteri Pangeran yang telah kita ambil. Untunglah kami berhasil mencegahnya meskipun kami harus membunuhnya” “O“ Pangeran yang berbaring itu berdesis “Tetapi iapun menarik nafas dalam-dalam. Agaknya puterinya memang sudah diselamatkan oleh orang yang menyebut dirinya akan membantu menyelamatkannya itu pula. Namun dalam pada itu Sanggit Rainapun berteriak “Baik. Baik. Kalian adalah pengkhianat-pengkhianat yang memang harus dibinasakan. Marilah, apa yang kalian kehendaki sekarang? Membunuh diri atau apa?“ Jlitheng melangkah maju. Katanya “Kita sudahi saja permainan yang paling gila ini. Menyerahlah” Yang Mulia tertawa. Katanya “Rahu juga berkata seperti itu. Malah ia menyebut-nyebut Demak sebagai satu kekuasaan yang baru lahir setelah Majapahit. Menggelikan sekali. Sebaiknya kalian tidak pisah terlalu banyak bicara Marilah, apa yang akan kau lakukan” Dalam pada itu, Jlitheng. Semi dan kawannya, Rahu dan bahkan tiba-tiba saja tabib yang merawat Pangeran yang sakit itupun telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka berdiri pada tempat mereka masing-masing pada jarak "yang terpencar. “Apakah masih ada yang lain” bertanya Yang Mulia. Namun dalam pada itu, Eyang Rangga yang tidak terlalu banyak bicara itupun berteriak “Gila. Aku akan membunuh sekarang. Jika semuanya hanya berbicara saja, maka aku akan benar-benar melakukannya. Yang Mulia itupun masih tertawa. Katanya “Mari. Kita akan membunuh sebanyak-banyaknya” Eyang Rangga itupun kemudian melangkah mendekati Rahu tanpa menghiraukan orang-orang lain, sementara Yang Mulia itupun berkata kepada Jlitheng “Bantaradi, marilah. Kau adalah bekas anakku yang pernah memberikan kebanggaan kepada pada saat kau datang. Ternyata kau memang seorang anak muda yang luar biasa. Kau berhasil mengelabui kami orang-orang Sanggar Gading dengan bekerja bersama Rahu. Tetapi terpaksa aku sekarang harus membunuhmu. Mungkin dengan cara yang sama dengan cara yang akan aku pergunakan bagi Daruwerdi” Jlitheng berdiri tegak di tempatnya. Namun yang mengejutkan adalah perintah Yang Mulia “Aku akan menyelesaikan aank-anak ini, sebagaimana Eyang Rangga aku berbuat. Agar kita tidak kehilangan waktu dan kegembiraan, selain mereka yang akan menghabisi adik Rahu itu, cepat, ikat saja Daruwerdi agar ia tidak mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan dir i” Jlitheng menjadi tegang. Sanggit Raina dan Cempaka justru melangkah mendekati Semi dan kawannya. Dengan geram Sanggit Raina berkata “Aku sudah curiga sejak semula, bahwa adik Rahu tinggal di padukuhan yang menghadapi ke padang perburuan. Tetapi aku sekarang mendapat kesempatan untuk membunuhmu” Semi dan kawannya segera bersiap. Namun dalampada itu, beberapa orang telah bergerak untuk menangkap Daruwerdi. Tetapi kedatangan orang-orang itu di atas bukit, telah membuat Daruwerdi menjadi berpengharapan kembali. Tiba- tiba saja ia telah meloncat dan merebut senjata seorang yang berdiri paling dekat disebelahnya. Demikianlah ketika orang-orang diseputarnya mulai bergerak, maka dua orang yang lain telah berloncatan langsung menyerang orang-orang disekitar Daruwerdi itu. “Paman” desis Daruwerdi. “Cobalah menyelamatkan dirimu sendiri” sahut seorang pamannya “Jlitheng telah membawa kami kemari dalam kerja sama yang mapan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak aku kenal” Terasa jantung Daruwerdi tergetar. Namun ia tidak sempal berpikir. Ketika orang-orang disekitarnya bergeser karena serangan kedua orang pamannya, maka Daruwerdipun mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang dan menyibakkan beberapa orang, sehingga ia sempat keluar dari kepungan. Perkelahian yang justru terjadi adalah kedua orang paman Daruwerdi dan Daruwerdi sendir i melawan orang-orang yang mengepungnya. Namun sementara itu, Yang Muliapun berkata “Baiklah. Ternyata pekerjaan ini cukup banyak. Bantaradi, bersiaplah untuk mati” Tetapi demikian Yang Mulia itu melangkah mendekati Jlitheng seorang tua telah muncul pula dari balik gerumbul bersama seorang gadis yang telah siap dalam pakaian tempurnya” “Siapa lagi kau he?” Yang Mulia itu tertegun. “Apakah kita memang belum pernah saling bertemu?” Kiai Kanthi melangkah maju. Yang Mulia itu mengerutkan keningnya. Lalu Katanya “Berhadapan muka kita belum pernah. Tetapi sebut, siapakah kau agar aku mengerti dengan siapa aku berhadapan” “Kiai Kanthi” jawab Kiai Kanthi “tentu nama yang belum pernah kau dengar” Sebenarnyalah Yang Mulia itu belum pernah mendengar nama Kiai Kanthi. Karena itu, maka Katanya “Sebaiknya kau tidak usah mencampuri persoalan ini. Agaknya kaupun belum mengenal siapakah Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang memimpin padepokan Sanggar Gading” “Aku sudah banyak mendengar tentang kau Yang Mulia” jawab Kiai Kanthi “Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku terpaksa memberanikan diri untuk mencegahmu melakukan perbuatan sewenang-wenang” “Bukan salahku. Anak itu lelah menipuku” sahut Yang Mulia. “Kalau kau tidak terlalu tamak akan kekuasaan yang kau kira akan kau dapatkan karena pengaruh pusaka itu, dan tidak kalah tamaknya karena kau juga ingin menguasai harta benda yang kau kira dapat kau baca pada pusaka yang akan kau ketemukan, sehingga kau telah mengorbankan Pangeran yang sedang sakit itu, maka kau tidak akan dapat ditipu oleh anak- anak” sahut Kiai Kanthi. “Persetan“ geram Yang Mulia “Baiklah. Ternyata aku harus membunuhmu lebih dahulu. Baru kemudian Bantaradi dan kawan-kawannya” Kiai Kanthipun kemudian mempersiapkan dir i Sambil bergeser selangkah ia berkata kepada anak gadisnya “Cobalah menyesuaikan dir i” Swasti melangkah menjauhi ayahnya. Sementara itu beberapa orang menjadi heran melihat kehadirannya. Daruwerdi yang sedang bertempurpun menjadi heran, la merasa aneh bahwa Kiai Kanthi telah menempatkan diri melawan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Rasa- rasanya masih jelas terbayang di angan-angan Daruwerdi, bagaimana ia menolong kedua orang ayah dan anak gadis itu dari terkaman seekor harimau disaat keduanya datang ke lereng bukit ini. “Jika ia dengan sadar menempatkan dir i sebagai lawan Yang Mulia maka aku sudah melakukan satu perbuatan sia- sia” berkata Daruwerdi di dalam hatinya “namun agaknya karena itu pula mereka sama sekali tidak takut tinggal di hutan yang dihuni pula oleh binatang buas“ Tetapi Daruwerdi tidak sempat terpikir lebih jauh, karena orang-orang yang berada disekitarnyapun telah menyerangnya pula. Namun dalam pada itu, Jlitheng ternyata telah berdiri bebas pula. Karena itu, maka katanya kepada Swasti “Kita bantu anak itu” Swasti memandang Jlitheng sejenak. Namun iapun kemudian melangkah mengikut i Jlitheng mendekati arena. Sementara itu, kedua paman Daruwerdi dan Daruwerdi sendiri segera mengalami kesulitan karena lawan mereka yang jumlahnya jauh lebih banyak. Tetapi orang-orang diatas bukit itupun lelah terkejut pula. ketika tiba-tiba duapuluh orang anak-anak muda telah meloncat dari balik gerumbul diseputar puncak bukit itu. “Hati-hatilah“ sekali lagi Jlitheng memper ingatkan. Sementara anak-anak muda itu selalu mengingat pesannya, mereka harus bertempur berpasangan” Pertempuran yang seru segera terjadi diatas bukit itu. Masing-masing telah berhadapan dengan lawannya. Yang masih berdir i tegang adalah Eyang Rangga yang datang bersama orang-orang Kendali Putih. Namun ketika pertempuran telah menyala diseluruh puncak bukit, maka iapun berkata “Kau adalah orang yang malang Rahu. Bukankah namamu Rahu? Aku akan membunuhmu dalam sekejap. Kemudian aku akan membunuh orang-orang lain yang datang keatas bukit ini seorang demi seorang bersama- sama dengan Panembahan timpang itu” Rahu tidak menjawab, lapun jegera mempersiapkan lir i. Namun tabib yang merawat Pangeran yang sakit itupun Ulah bersiap pula sambil berkata “Aku sudah jemu berada di padepokan yang buas dan liar itu” “O. Kau juga akan ikut serta?“ bertanya Eyang Rangga. “Aku sudah muak” jawab tabib itu. “Baiklah“ Eyang Rangga mengangguk-angguk. Lalu “Bersiaplah. Aku akan mulai” Rahupun telah bersiap sepenuhnya bersama tabib itu. Keduanya telah menggenggam senjata masing-masing menghadapi Eyang Rangga. Namun sejenak kemudian Eyang Rangga itupun tertawa sambil meloncat selangkah ”Bersiaplah. Aku akan mulai” Rahu tidak sempat menjawab. Orang yang disebut Eyang Rangga itupun segera berloncatan. Cepat dan seolaii-olah tidak menyentuh tanah. Rahu dan Tabib itupun rasa-rasanya menjadi bingung. Meskipun keduanya bersenjata, tetapi keduanya seolah-olah tidak sempat melawan sama sekali. Rahu dan tabib itu terkejut ketika terasa tengkuk mereka tersentuh. Tidak terlalu keras. Namun kemudian terdengar Eyang Rangga berkata “Nah, kau yakin dalam sekejap aku dapat membunuhmu. Aku baru menyentuh kulitmu, untuk menyatakan bahwa aku mampu melakukannya. Kemudian aku akan menyentuh kalian sekali lagi. Meskipun kalian bersenjata rangkap sembilan, tetapi aku akan menghunjamkan pisau- pisau kecil ini ke dalam tubuhmu. Aku mempunyai pisau sejenis ini tidak terhitung jumlahnya. Aku akan menusuk kalian setiap orang dua puluh buah pisau. Nah. kalian dapat membayangkan, betapi kalian akan menikmati saat terakhir menjelang kematian” Rahu dan tabib itu tidak menjawab. Mereka percaya bahwa Eyang Rangga itu akan dapat melakukan atas mereka. Tetapi mereka berdua tidak akan surut selangkah. Sesaat kemudian, Rahu dan tabib itu telah melihat sebilah pisau kecil itu di tangan Eyang Rangga. Sambil tersenyum ia berkata “Melawan orang-orang sakti aku dapat melemparkan pisau-pisau ini j ika perlu. Tetapi ada orang yang tidak akan mungkin aku kenai, sehingga aku lebih baik tidak mempergunakannya saja” Rahu dan tabib itu menjadi tegang. Sejenak kemudian merekapun harus bergeser karena Eyang Rangga itu mulai bergerak. Sejenak kemudian senjata Rahu dan tabib itu telah berputaran. Mereka berusaha untuk mencegah serangan- serangan Eyang Rangga yang akan dapat berbahaya bagi mereka. Dengan berpasangan keduanya telah bertahan sekuat-kuat dapat mereka lakukan” Namun dalam pada itu, Eyang Ranggapun telah memutuskan untuk segera menyelesaikan pertempuran itu karena ternyata bahwa yang harus dihadapi oleh orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Put ih cukup banyak dan berbahaya. Karena itu, maka ia tidak menunggu lebih lama lagi. Sebagaimana yang dapat dilakukan, maka ia sudah berniat untuk menancapkan pisau-pisau kecilnya. Tidak sebenarnya sebanyak dua puluh buah, tetapi satu dua buah pisau yang tepat pada tempat-tempat yang menentukan, akan menyelesaikan segala-galanya. Namun dalam keadaan yang mendesak itu. Eyang Rangga menjadi heran. Ada sesuatu yang terasa menghambat rencananya. Meskipun senjata Rahu dan tabib yang merawat Pangeran yang sakit itu sama sekali t idak berdaya, namun setiap kali, Eyang Rangga itu merasa bahwa ada kekuatan yang telah mengganggunya. Pada kesempatan yang menentukan, tiba-tiba saja ayunan tangannya tertegun ketika terasa sesuatu meng-. gigit kulitnya. Akhirnya Eyang Rangga itu yakin, bahwa yang dihadapinya bukan saja Rahu dan tabib itu, tetapi tentu ada kekuatan lain. Karena itu, maka Eyang Rangga itupun kemudian meloncat surut sambil berkata “Telah terjadi kecurangan disini. Kenapa kita tidak berhadapan saja sebagai laki- laki. Mar ilah, siapakah yang telah melakukannya. Menurut penilaianku tidak ada orang lain yang dapat melakukan, kecuali orang yang memiliki ilmu yang mapan” Rahu tertegun, sementara tabib itupun berpaling. Dalam pada itu, maka Rahupun menjadi heran ketika ia melihat Pangeran yang sedang sakit itu tiba-tiba telah bangkit berdiri. Dikibaskannya pakaiannya seperti orang yang sedang bangun dari tidur. Namun kemudian ia berkata “Sudahlah Ki Sanak. Jangan bertindak terlalu jauh. Kau tidak pantas melawan orang-orang yang memang bukan tataranmu. Marilah, jika kau memang ingin bermain-main, aku akan mencoba melayanimu” “Pangeran” desis Eyang Rangga “betapapun tinggi ilmumu, dalam keadaanmu itu. kau t idak akan mampu melawan aku” Tetapi Pangeran itu tersenyum. Katanya “Apapun yang akan terjadi, marilah. Kita akan mencoba mengukur tingkat ilmu kita masing-masing” Eyang Rangga memandang Pangeran itu dengan tajamnya. Kemudian katanya “Aku tidak mengerti sikapmu Pangeran. Kau datang di tempat ini dalam keadaan yang payah. Bukan saja ragamu, tetapi juga martabatmu, karena kau adalah seorang tawanan disini. Jika kau seorang yang berilmu tinggi, penggraitamulah yang rendah, karena kau telah berpihak kepada orang yang akan mengambilmu dan mungkin akan merampas nyawamu” “Memang suatu ceritera yang menar ik” jawab Pangeran itu “Tetapi anak itu sama sekali tidak berbahaya bagiku. Apa saja yang akan dilakukan atasku sangat menarik perhatian. Karena itu aku akan ikut mempertahankan hidupnya agar aku tahu, apakah yang sebenarnya dikehendaki dari aku” Dalam pada itu, Rahu masih saja keheranan. Pangeran yang dalam keadaan saki itu tiba-tiba telah bersiap untuk melawan orang yang diagungkan oleh orang-orang Kendali Putih. Namun tabib yang merawat pangeran itupun berbisik ditelinganya “Aku sebenarnya sudah tahu, bahwa Pangeran itu sudah sembuh. Ia tidak sakit lagi. Selama ini ia hanya berpura-pura. Karena itu, jangan cegah ia mengliadapi orang Kendali Puih itu” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa Pangeran itu tentu menganggapnya seorang yang dungu, yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dalam pada itu. Pangeran iupun kemudian berkata “Tinggalkan kami berdua. Biarlah orang-orang tua bermain- main dengan leluasa. Kecuali jika kalian hanya ingin menonton saja” Tetapi Rahu tidak beranjak. Ia masih ragu-ragu untuk meninggalkan Pangeran itu, karena ia tahu, bahwa Eyang Rangga adalah orang yang memiliki kemampuan-setingkat dengan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Meskipun Rahu juga tahu, bahwa Pangeran itu memiliki ilmu yang tinggi, sehingga Sanggit Raina harus memperhitungkan waktu yang tepat, justru pada saat Pangeran itu sedang sakit, namun berhadapan dengan Eyang Rangga, maka Rahu masih harus membuktikan apa yang akan terjadi. Namun agaknya Pangeran itu mengetahui perasaan Rahu. Karena itu, maka iapun berkata “Rahu. mungkin kau masih ragu-ragu, apakah yang akan terjadi. Baiklah, terserah kepadamu. Namun sebaiknya kau bantu orang-orang yang harus bertempur melawan orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading. Jika kau kemudian menemukan aku ternyata mati disini, maka kau sudah berbuat sesuatu” Rahu tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah kata- kata Eyang Rangga “Persetan. Aku tidak mempunyai waktu. Bersiaplah Pangeran, jika kau memang ingin mati karena tanganku. Kau sekarang sama sekali sudab tidak berarti lagi. Jika semula kau masih tetap dipertahankan agar kau tetap hidup untuk memancing pusaka yang diperebutkan itu, ternyata kini kau tidak lagi mempunyai harga sama sekali” “Apapun yang kau katakan aku sama sekali tidak peduli” jawab Pangeran itu “Tetapi aku akan tetap berdiri pada kewajibanku sebagai seorang prajurit. Aku akan mencegah perbuatan kalian yang bertentangan dengan paugeran” Eyang Rangga tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia sudah meloncat menyerang. Dengan garang ia mengayunkan kakinya hampir mendatar dengan tubuhnya yang meluncur deras seperti lembing. Namun ternyata Pangeran itu mampu menghindar inya Dengan menarik sebelah kakinya ia bergeser dan memir ingkan tubuhnya, sehingga dengan demikian maka serangan Eyang Rangga itu tidak menyentuhnya. Namun dalam pada itu, demikian kaki Eyang Rangga itu menjejak tanah, maka iapun berpitar sambil merendah tertumpu pada tumit. Tangannya bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak dilihat oleh mati wadag. Namun ternyata sebilah pisau telah meluncur menyambar Pangeran yang berdiri tegak memandanginya. Hampir saja pisau itu menyambar keningnya. Namun ternyata Pangeran ituput mampu mengimbangi kecepatan gerak Eyang, Rangga sehingga sekali lagi serangan itu sama sekali t idak mengenai sasararnya. Baru sejenak kemudan, keduanya telah tegak berdiri berhadapan dengan kesiagaan sepenuhnya. Namun dalari pada itu, dengan singkat Rahu telah dapat melihat, betapa Pangeran yang disangkanya masih saja sakit itu mampu mengimbingi orang yang disebut dengan Eyang Rangga. Karena itu, maka Rahupun percaya, bahwa Pangeran itu akan dapat melindungi dir inya sendir i. Karena itu, maka Rahupun kemudian berkata kepada Tabib yang masih saja termangu-mangu “Kau yang sudah tahu bahwa Pangeran itu sudah sembuh, tidak usah mencemaskannya lagi. Ia akan dapat menyelamatkan dir inya sendiri meskipun ia berhadapan dengan orang yang disebut Eyang Rangga“ “Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?“ bertanya tabib itu. “Kita membantu anak-anak Lumban. Mereka belum berpengalaman bertempur melawan orang-orang gila seperti orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih” Tabib itu tidak menjawab lagi. Ditinggalkannya Pangeran yang sebenarnya sudah sembuh itu berhadapan dengan orang yang disebut Eyang Rangga itu. Sementara Rahu dan tabib itupun telah mendekati arena pertempuran yang semakin dahsyat. “Rahu” geram salah seorang pengikut Sanggar Gading “Kau telah berkhianat. “Aku tidak pernah dengan bersungguh-sungguh menjadi orang Sanggar Gading. Sekarang datang waktunya untuk dengan pasti menghancurkan kalian sekaligus orang-orang Kendali Putih” jawab Rahu. “Gila. Kaulah yang akan binasa bersama anak-anak ingusan itu” teriak orang Sanggar Gading itu. Rahu tidak menjawab. Iapun kemudian mendekati arena. Dilihatnya Jlitheng telah bertempur disamping seorang gadis yang berpakaian seorang laki- laki Swasti. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Di bagian lain Daru- werdi telah menghentakkan segenap kemampuannya. Ia merasa bahwa nyawanya yang telah berada diujung ubun- ubun itu, rasa-rasanya masih akan dapat bersambung lagi. Demikianlah pertempuran di puncak bukit itupun semakin lama menjadi semakin seru. Orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih telah berpencar. Dengan garangnya mereka bertempur melawan anak-anak muda Lumban yang tidak pernah melupakan pesan Jlitheng. Mereka bertempur berpasangan. Meskipun begitu, ternyata berdua mereka mengalami kesulitan bertempur melawan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Karena itu, maka mereka telah bergabung dalam kelompok yang terdir i dar i tiga orang. Rami dan tabib yang selama itu merawat Pangeran yang sebenarnya telah sembuh, sedangkan Sanggit Raina dan Cempaka telah dihadapi oleh Semi dan kawannya. Di bagian lain, Daruwerdi dan kedua pamannyapun telah memaksa orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Put ih yang menghadapinya bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Dalam pada itu. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang bertempur melawan Kiai Kanthi merasa heran, bahwa di padukuhan terpencil itu ada orang yang mampu mengimbangi kemampuannya. Karena itu, maka iapun kemudian bertanya “Ki Sanak. Adalah aneh sekali j ika Ki Sanak memang orang padukuhan ini. Apakah Ki Sanak telah bekerja sama dengan Rahu untuk menjebak kami? Sehingga Ki Sanak telah memanfaatkan Daruwerdi untuk memancing kami datang ke tempat ini?“ “Tidak Yang Mulia. Aku bukan orang yang mempunyai ikatan apapun dengan mereka” jawab Kiai Kanthi. “Jika demikian, apa keuntunganmu "untuk melibatkan diri dalam persoalan ini?“ bertanya Yang Mulia. “Ada beberapa pertimbangan” jawab Kiai Kanthi “Aku berpihak kepada anak-anak Lumban, karena anak-anak Lumban telah banyak memberikan pertolongan kepadaku” “Omong Kosong” desis Yang Mulia “agaknya justru kaulah yang telah membuat mereka menjadi wayang yang kau gerakkan sesuka hatimu” “Kau salah Yang Mulia” jawab Kiai Kanthi “Ternyata pusaran angin yang melingkar di berbagai hutan dan dataran telah bertemu di puncak bukit ini. Tetapi baiklah aku tidak mengatakan apapun juga. Sebaiknya kau sajalah yang menghentikan perlawanan, sehingga dengan demikian kematian tidak akan lagi semakin menger ikan setelah nyawa terhambur tanpa arti di pategalan” “Jangan begitu Kiai” jawab Yang Mulia “kematian dalam warna dari padepokan kami, sebagaimana kehidupan itu sendiri. Tetapi bahwa kau telah mehndungi Daruwerdi membuat aku t idak begitu senang terhadapmu. Anak itu sudah menipu kami dan ternyata sekarang Pangeran itupun telah menipu pula. Ternyata la sudah sembuh dan siap untuk bertempur dengan orang yang oleh orang-orang Kendali Putih disebut Eyang Rangga Itu” “Kita akan melihat akhir dar i persoalan yang tidak banyak kita mengerti artinya. Kau tidak, akupun tidak. Mudah- mudahan setelah kau, aku tidak akan terjebak pula disini” berkata Kiai Kanthi. Yang Mulia menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat bertempur dengan marah dan menghentak-hentak, karena ternyata Kiai Kanthi itu mampu mengimbangi ilmunya. Satu hal yang sama sekali t idak disangkanya sama sekali. Dalam pada itu, Sanggit Rainapun telah mengerahkan kemampuannya menghadapi Semi, sementara Cempaka berhadapan dengan kawan Semi. Dengan segenap kemampuannya Sanggit Rainapun telah memaksa Semi untuk setiap kali bergeser surut. Ternyata Sanggit Raina adalah seorang yang memiliki kemampuan yang dapat dipercaya, sehinggi Ssmipun tidak dapat ingkar lagi, bahwa kemampuan Sanggit Raina telah mendebarkan jantungnya. Dalam pada itu, ternyata Rahu dapat melihatnya. Karena itu, maka iapun telah melepaskan lawannya dan mendekati Semi yang sedang berloncatan surut “ Serahkan orang itu kepadaku” Semi tidak membantah. Ia tidak sedang berperang tanding. Karena itu, maka iapun telah melepaskan Sanggit Raina dan membiarkannya berhadapan dengan Rahu. “Kau gila Rahu” geram Sanggit Raina. “Aku sudah muak melihat permainan yang gila ini“ berkata Rahu “Kau dan Cempaka yang telah melakukan kejahatan ganda“ “Kenapa ganda?“ bertanya Sanggit Raina. Rahu memandang Sanggit Raina dengan wajah yang tegang. Dengan nada dalam ia berkata “Kalian telah dengan tamak berusaha mendapatkan pusaka dan hartakarun itu dengan cara yang paling licik. Kau manfaatkan orang-orang Sanggar Gading. Kemudian kau akan berkhianat pula terhadap Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Kau dan adikmu itu tentu ingin memiliki pusaka dan segala macam rangkaiannya bagi kepentingan diri kalian sendir i” “Persetan” geram Sanggit Raina “Kau mengigau di saat kau mendekati mati” “Kita sudah sampai kepuncak permainan. Kita tidak perlu lagi saling membohongi diri” potong Rahu. Sanggit Rainapun tiba-tiba telah menyerang dengan garangnya. Namun Rahu masih sempat mengelak sambil berkata “Akupun tidak akan berbohong dan berpura-pura lagi. Aku mengemban tugas untuk menghanourkan kalian dari dalam dan menyelamatkan pusaka yang diperebutkan” Sanggit Raina sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia menyerang Rahu semakin garang, sehingga keduanyapun bertempur dengan dahsyatnya. Yang menarik perhatian adalah Swasti. Tiba-tiba saja gadis itu hadir dan ikut pula bertempur Bukan saja ia ikut bertempur, namun ternyata ia memiliki kemampuan yang mengagumkan. Orang-orang yang mengenalnya sebagai seorang keheran-heranan. Bahkan Daruwerdi sempat pula berkata gadis yang tinggal dipondok terpencil itu ternyata telah menjadi kepada dir i sendiri “Aku telah terperdaya. Ketika mereka datang, aku kira mereka akan segera menjadi mangsa seekor harimau sehingga aku telah berusaha menolongnya” Dalam pada itu, Daruwerdi menjadi semakin berdebar- debar ketika tiba-tiba saja Swasti telah bertempur hanya beberapa langkah di dekatnya. Bahkan dengan nada datar gadis itu berkata diluar dugaan Daruwerdi “Aku hanya ingin membalas baikmu. Kau telah menyelamatkan aku dan ayah ketika kami tiba di tempat ini” “Ah“ Daruwerdi hanya berdesah saia. Namun ia melihat, bahwa kemampuan gadis itu tidak lebih rendah dari kemampuannya sendiri. Namun ternyata kemudian Swasti tidak bergeser menjauhi Ia bertempur dengan garangnya beberapa langkah dari Daruwerdi, seolah-olah ia dibayangi oleh satu kecemasan bahwa anak muda itu memang harus dilindungi. Jlitheng yang bertempur pula dengan garangnya, sekali-kali sempat juga melihat, betapa Swasti tiba-tiba saja telah bertempur dekat di daerah pertempuran Daruwcrdi dan dua orang pamannya. Tetapi Jlitheng tidak menghiraukannya. Pertempuran itu menjadi semakin liar. Orang-orang Sanggar Gading dan orang- orang Kendali Putih yang tersisa, telah di bayangi pula oleh kemarahan sekaligus keputusasaan. Di pategalan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih sudah saling membunuh. Karena itu, setelah beristirahat tiga hari tiga malam, maka tenaga merekapun telah siap kembali untuk bertempur dengan liar dan membunuh sejauh dapat dilakukan dalam suasana yang kurang menentu. Mereka tidak lagi tahu apa yang harus mereka perjuangkan selain luapan kemarahan, dendam, kebencian dan ketidak pastian. Namun pertempuran itu sendir i mempunyai arti yang sangat mendalam bagi Daruwerdi. Ternyata bahwa yang dilihatnya sebelumnya adalah dunia petualangan yang sempit. Kini di puncak bukit itu ia melihat, orang-orang yang bertempur dalam tataran setingkat dengan dirinya sendiri. Jika semula ia menyangka ia telah memiliki bekal yang cukup bagi petualangannya yang hampirsaja merenggut nyawanya itu, maka iapun mulai melihat kenyataan dunia eleh kanuragan yang sebenarnya. Ada puluhan orang-orang yang memiliki kemampuan setingkat dengan dirinya Bahkan sambil bertempur ia berhasil melihat satu kenyataan, bahwa Jlitheng bukan sekedar anak Lumban Wetan yang takut diancamnya sebagimana disangkanya. Dalam pertempuran yang garang itu, ia melihat bahwa Jlitheng tidak kalah dar i dirinya sendui. “Pantas ia dapat mengambil sikap di saat-saat anak-anak Lumban berebut air” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Segalanya itu telah membuka hatinya, bahwa sebenarnya lah pengalamannya masih terlalu sempit. Dalam pada itu, ternyata bahwa Eyang Rangga yang tidak menduga sama sekali akan bertempur dengan orang yang selama perjalanan hampir dilupakan oleh orang-orang Sanggar Gading karena dianggap sedang sakit dan tidak mampu berbuat sesuatu benar-benar harus mengerahkan tenaganya. Pangeran yang yang melihat satu teka-teki yang besar itu telah berusaha untuk secepatnya mengalahkan lawannya. Ia masih harus memecahkan banyak persoalan di daerah Sepasang Bukit Mati itu. Ia masih harus mengetahui, apakah yang sebenarnya dikehendaki oleh anak muda yang bernama Daruwerdi, yang menuduhnya telah membunuh ayahnya. Dan iapun ingin mengetahui, buat apa sebenarnya Daruwerdi bermain-main dengan pusaka yang palsu itu. Sebenarnyalah, seandainya Yang Mulia t idak berhasil melihat kepalsuan pusaka itu. Pangeran itulah yang tahu dengan pasti, bahwa pusaka yang diberikan oleh Daruwerdi itu adalah sebuah permainan yang berbahaya. Ternyata keduanya adalah orang-orang tua yang memiliki ilmu yang tinggi. Kecepatan mereka bergerak, kekuatan dan ketrampilan mereka telah menggetarkan puncak bukit itu. Semakin lama pertempuran diantara mereka menjadi semakin dahsyat, sehingga akhirnya mereka sampai pada satu sikap untuk merambah ke dalam kekuatan tenaga cadangan mereka masing-masing, sehingga yang nampak kemudian adalah benturan-benturan kekuatan melampaui kekuatan wadag sewajarnya. Dalam pertempuran yang memenuhi puncak bukit itu, ternyata kedua orang itu, seolah-olah" "dengan sengaja telah menyisih, agar mereka mendapat kesempatan untuk memperbandingkan ilmu mereka tanpa terganggu. Sambaran- sambaran tangan dan kaki mereka telah mematahkan pepohonan dan dahan-dahan kekayuan disekitar mereka. Langkah-langkah kaki merekapun telah memecahkan batu- batu padas di bawah kaki mereka dan melontarkannya berhamburan. Baik orang-orang Sanggar Gading, maupun orang-orang Kendali Putih menjadi sgeri melihat pertempuran yang tidak sekedar berlandaskan kemampuan wadag mereka. Terlebih- lebih lagi anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Mereka tidak mengerti, apa yang sedang mereka saksikan itu. Seandainya mereka terdorong ke dalam putaran pertempuran itu, maka mereka akan tergilas tanpa dapat berbuat apapun juga. Dalam pada itu, maka Daruwerdipun merasa ngeri pula melihat pertempuran itu. Baginya seakan-akan tidak ada lagi jalan keluar yang keluar yang dapat ditempuhnya. Ketika ia terlepas dari tangan Yang Mulia ia mulai berpengharapan Namun kemudian ia melihat bahwa sebenarnyalah Pangeran yang disangkanya sedang sakit itupun memiliki kemampuan yang tiada taranya. “Pangeran itupun tentu mendendam aku pula” berkata Daruwerdi di dalam hatinya “Akulah yang telah menyeretnya sampai ke tempat ini. Orang-orang Sanggar Gading tentu mengatakan, apa yang pernah aku katakan kepada mereka tentang Pangeran itu” Namun dalam pada itu, Daruwerdi masih juga bertempur diantara medan yang riuh. Sementara itu, ternyata disisi lain, puncak bukit itu bagaikan telah diguncang oleh amuk prahara yang dahsyat. Pertempuran antara Yang Mulia Panembahan Wukir Gading melawan Kiai Kanthi ternyata tidak kalah dahsyatnya dari pertempuran antara Eyang Rangga dan Pangeran yang dianggapnya masih sakit itu Meskipun Yang Mulia itu timpang kakinya, tetapi kemampuannya sama sekali tidak terganggu karenanya. Ia mampu meloncat-loncat seakan-akan tidak berjejak diatas tanah, sementara tangannya bergetar terayun-ayun. Lawannya, Kiai Kanthi memiliki cara lain untuk melawan Yang Mulia yang mampu bergerak secepat angin. Kiai Kan-" thi justru tidak banyak bergerak Ia berdiri dengan kaki renggang dan sedikit merendah pada lututnya. Ia hanya bergeser saja kearah lawannya yang berloncatan, sehingga seakan-akan Kiai Kanthi itu hanya bergeser berputar-putar. Namun pada saat tertentu, orang tua itu telah melenting seperti seekor bilalang, menyerang lawannya dengan dahsyatnya. Namun kemudian kembali ia berdiri tegak, sementara angin pusaran telah berputar mengelilinginya, memutarnya dan bahkan berusaha untuk merobohkannya. Namun kakinya bagaikan menghujani dalam-dalam kepusat bumi, sehingga orang tua yang menurut kebiasaannya sehari- hari adalah orang yang lemah lembut, ternyata mampu berdiri tegak bagaikan karang yang tidak goyah oleh amukan badai. Dengan demikian maka bukit itupun benar-benar telah diguncang ”Beberapa orang Sanggar Gading dan Kendali Putih yang bertempur melawan anak-anak muda Lumbanpun telah bergeser beberapa langkah turun pada lereng bukit. Sanggit Raina yang bertempur melawan Rahu berloncatan dengan garangnya. Senjata mereka telah saling beradu sehingga bunga apipun bertebaran diantara dedaunan hutan. Mereka saling menyerang dan saling menangkis. Desak mendesak dan sekali-sekali mereka harus memanfaatkan pepohonan hutan untuk ber lindung dari tajam ujung senjata lawannya. Sanggit Raina yang dalam kehidupan sehari-hari di padepokan Sanggar Gading menganggap bahwa Rahu adalah pengikut Cempaka yang setia, ternyata anggapan itu telah menjerumuskannya ke dalam kesulitan. Apalagi dalam satu kenyataan bahwa Rahu mampu mengimbangi kemampuannya dengan kecepatannya menggerakkan senjata. Sementara itu, orang-orang Sanggar Gading dan orang- orang Kendali Putih yang lain telah mulai terdesak. Daruwerdi. yang betapapun juga digelit ik oleh keadaan Pangeran yang di anggapnya masih sakit itu tetapi ternyata mampu menggepur lawannya bagaikan badai dari lautan, masih juga sempat memaksa lawannya berloncatan surut. Iapun menjadi heran melihat Svvasti yang dengan lincahnya mendesak lawannya. Bahkan sekali-sekali terdengar lawannya itu mengumpat putus-asa. Sementara kedua paman Daruwerdipun telah mengamuk seperti harimau lapar. Jlitheng yang bertempur dengan dahsyatnya, telah menguasai lawannya sehingga lawannya benar-benar tidak berdaya. Bahkan ketika Jlitheng meloncat sambil menusuk lambungnya, ia hanya dapat mencoba untuk menangkis. Namun ternyata bahwa ujung pedang Jlitheng yang tipis dan hampir tidak mempunyai berat itu berhasil menyentuh kulit lawannya, sehingga darahpun mulai mengalir Betapapun orang itu menjadi liar, namun Jlitheng masih dapat menguasainya. Sentuhan demi sentuhan telah mengoyak tubuh orang itu, sehingga akhirnya ia telah kehilangan kemampuan untuk mengamati sikap dan tingkah lakunya sendir i. Jlitheng telah mempergunakan kesempatan terakhir untuk menusuk ke dadanya. Tetapi orang itu masih berusaha menangkisnya. Ketika kedua pedang itu beradu, maka Jlitheng telah memutar pedangnya, sehingga senjata lawannya itupun seolah-olah telah terhisap dan kemudian terlempar keudara. Orang itu berdiri termangu-mangu. Sementara darahpun mengalir semakin banyak dari tubuhnya. Sejenak kemudian, ketika orang itu terhuyung-huyung jatuh, Jlitheng justru bergeser surut. Ia tidak sampai hati untuk menghunjamkan senjatanya pada orang yang sudah tidak berdaya. Jlitheng berpaling ketika ia melihat Swasti telah berhasil melukai lawannya. Namun, demikian Swasti terpaku melihat darah yang memancar dari dada. ia tidak menyadari, bahwa seorang dari Sanggar Gading telah meloncat sambil mengayunkan pedangnya. Jlitheng terkejut. Jaraknya dengan Swasti cukup jauh. sehingga tidak memungkinkan untuk meloncat menghalanginya. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah melemparkan pedangnya. Namun sebelum Jlitheng melakukannya, ia mengerutkan keningnya dengan pandangan tegang. Daruwerdilah yang telah meloncat dengan pedangnya terjulur meninggalkan lawannya. Demikian cepatnya, sehingga orang yang berusaha menikam Swasti itu tidak sempat menyelamatkan dir i dari patukan pedang Daruwerdi. Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Swasti yang terkejut berpaling. Yang dilihatnya adalah seseorang yang terhuyung-huyung dan jatuh di tanah. Namun dalam sekejap itu iapun mengerti apa yang telah terjadi. Daruwerdi telah menyelamatkan nyawanya. Tetapi pada saat yang berikutnya, lawan yang ditinggalkan oleh Daruwerdi telah memburunya, justru pada saat Daruwerdi sedang menarik pedangnya dari tubuh lawannya yang terbaring. Namun Swastilah yang kemudian meloncat menahan serangan itu, sehingga sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Tetapi seperti lawannya yang terdahulu, maka. lawan Swasti itupun tidak dapat bertahan terlalu lama. Apalagi ia hampir tidak menduga, bahwa gadis itulah yang akan melawannya justru pada saat Daruwerdi tidak menyadari apa yang akan terjadi. Daruwerdi masih berdiri termangu-mangu. Ketika Swasti menyelesaikan pertempuran itu, maka kedua anak muda itu saling berpandangan. Berbareng mereka terenyum. Namun Swatipun kemudian menundukkan wajahnya. Bahkan sejenak kemudian iapun telah bergeser dengan pedang bergetar ditangannya. Jlitheng memperhatikan semuanya yang terjadi itu dengan hati yang berdebar-debar. Ia tidak tahu, apakah yang telah bergejolak didadanya. Namun bahwa kedua anak muda itu telah saling menyelamatkan jiwa masing-masing, jantungnya justru berdegup semakin keras. Tetapi Jlitheng tidak dapat merenung terlalu lama. Disekitarnya pertempuran masih berlangsung. Namun sudah tidak lagi menggetarkan dada anak muda itu. Seolah-olah ia sudah membayangkan akhir dari segalanya. Orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih telah terdesak. Betapapun mereka menjadi semakin liar dan buas, namun mereka tidak mampu lagi melawan setelah orang-orang terpenting di-antara mereka terikat pada pertempuran yang sengit. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading sama sekali tidak dapat beringsut dari tempatnya. Apalagi tekanan Kiai Kanthi semakin lama justru menjadi semakin berat. Sehingga Panembahan Wukir Gading itu sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk memperhatikan pertempuran itu secara keseluruhan. Apalagi kraena pertempuran itu telah merambat tidak saja dipuncak bukit, tetapi sudah merayap turun hampir sampai kelambung. Dalam pada itu anak-anak muda Lumbanpun telah bertempur dengan garangnya. Seperti yang dipesankan Jlitheng, mereka bertempur berpasangan. Bahkan ada diantara mereka yang berpasangan tiga orang karena lawan mereka ternyata terlalu buas, kasar dan liar. Seperti pesan Jlitheng pula mereka telah memanfaatkan pepohonan. Dalam keadaan yang gawat mereka berusaha untuk berlindung di balik pepohonan sementara kawan yang lain berusaha untuk memancing perhatian lawannya. Karena itu, maka Jlithengpun kemudian berusaha untuk melupakan apa yang telah dilihatnya dengan membaurkan diri dalam pertempuran diantara anak-anak muda Lumban Wetan. Ia telah melepaskan getar jantungnya yang seolah-olah mengetuk dadanya dengan mengayunkan pedangnya menghadapi orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Semakin Jlitheng bertempur semakin cepat, seolah-olah ia tengah berusaha untuk lari dari satu kenyataan yang dihadapinya. Dengan demikian maka Jlitheng itupun seolah-olah telah menjadi hantu yang menakutkan bagi orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Namun dalam pada itu, diluar kehendaknya, setiap kali ia masih berusaha untuk melihat, apa yang sedang dilakukan oleh Daruwerdi dan apa pula yang sedang dilakukan oleh Swasti. Meskipun keduanya telah kembali sibuk dengan pertempuran yang masih saja terjadi, namun rasa-rasanya keduanya tidak lagi terpisah terlalu jauh. Sementara itu, Eyang Rangga yang bertempur menghadapi Pangeran yang semula masih saja dianggap sakit-sakitan itu, semakin lama menjadi semakin gelisah. Ia sadar, bahwa Pangeran itu ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Bahkan daya tahan tubuhnyapun rasa-rasanya tidak ada bandingnya. Karena itu, maka Eyang Rangga itupun harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan Pangeran yang kemudian menekannya dengan ilmu yang sulit di imbanginya. Oleh kenyataan itu, maka orang yang disebut Eyang Rangga itupun tidak mau menanggung akibat yang paling parah atas dirinya. Jika ia datang ke tempat itu, maka iapun sebenarnya telah bersiap dengan segenap perhitungan dan pertimbangan, karena menurut perhitungannya ia akan bertempur sampai nafasnya yang terakhir melawan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading atau ia akan dapat membunuhnya. Karena itu, maka iapun telah menyiapkan bukan saja dirinya dalam landasan ilmunya, tetapi juga senjata yang sulit dicar i bandingannya. Dalampada itu, ketika tekanan Pangeran itu terasa menjadi semakin berat, maka tidak ada pilihan lain bagi Eyang Rangga itu untuk melepaskan ilmu pamungkasnya pada alas kemampuannya bermain dengan senjatanya. Karena itu, maka sejenak kemudian, dalam keadaan yang paling gawat, Eyang Rangga itu telah mengurai seutas rantai yang melilit di bawah bajunya. Rantai yang pada kedua ujungnya terdapat semacam ujung tombak yang tajam runcing berwarna kekuning-kuningan, dengan ukuran yant tidak terlalu besar. Pangeran yang dianggap masih sedang sakit itu tertegun melihat senjata itu. Dengan nada datar ia bertanya “Dari mana kau dapatkan senjata itu?“ Eyang Rangga tersenyum. Ia melihat ketegangan pada wajah Pangeran itu. Katanya “Apakah Pangeran sudah mengenal senjata ini?“ Pangeran itu berdiri tegak dengan kaki renggang. Dengan suara yang bergetar ia berkata “Senjata itu pernah dipergunakan oleh prajur it khusus dari Majapahit yang tidaK banyak jumlahnya. Apakah kau termasuk salah seorang dari prajurit khusus itu?“ Eyang Rangga tertawa. Katanya “Jangan picik Pangeran. Prajurit khusus itu telah mempelajar i penggunaan senjata jenis ini dari seorang Ajar di padepokan terpencil. Ajar itu telah menyediakan waktu dan ilmunya untuk mengabdi kepada Majapahit” Pangeran itupun termangu-mangu. Ia melihat sejenis senjata yang pada masanya sangat dikagumi. Tetapi tidak banyak orang yang dapat mempergunakannya dengan baik, justru karena senjata itu tidak lajim bagi para prajurit. Namun demikian Pangeran itupun masih meragukan, apakah orang yang disebut Eyang Rangga itu benar-benar dapat mempergunakan sebagaimana seharusnya. Meskipun demikian, Pangeran itupun tidak mau lengah menghadapinya. Jika ia gagal, maka yang akan terjadi tidak akan dapat dibayangkannya. Juga atas anak muda yang bernama Daruwerdi itu. Mungkin orang yang dengan kehendaknya sendiri menempatkan diri sebagai lawan Yang Mulia itu mampu bertahan. Tetapi jika ia dikalahkan oleh Eyang Rangga, maka Eyang Rangga bersama-sama dengan Yang Mulia Panembahan itu akan dengan mudah membinasakan lawan Yang Mulia itu. Atau Eyang Rangga akan dapat berbuat sekehendaknya atas orang-orang yang diluar dugaannya telah melibatkan diri melawan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Karena itu, maka Pangeran itupun kemudian mengambil dua keping baja putih dari kantong ikat pinggangnya. Dua keping baja yang sama sekali tidak mir ip dengan senjata jenis apapun. “Ki Sanak” berkata Pangeran itu “karena kau sudah bersenjata, maka biarlah aku juga mengeluarkan senjataku. Aku minta waktu untuk memasangnya. Mungkin kau tidak sabar, tetapi aku harap kau tidak mulai sebelumaku selesai” Ternyata dua keping baja itu telah dipasang di telapak tangannya. Beberapa buah janget melingkar di jari-jari dan pergelangan tangannya. “Kau terlalu sombong Pangeran” berkata Eyang Rangga “Kau sangka aku sedang bermain-main dengan senjataku? Jika tajam senjataku ini menyentuh dadamu, maka ujungnya akan langsung menghunjamsampai kejantung” “Aku percaya” jawab Pangeran itu “Tetapi tidak mudah untuk mematuk dada apalagi langsung kejantung” Eyang Rangga tidak menjawab lagi. Ia mulai memutar senjatanya. Seutas rantai yang pada kedua ujungnya tersangkut ujung-ujung senjata yang tajam. Pangeran itupun telah mempersiapkan diri pula. Eyang Rangga yang ingin melihat apa yang dapat dilakukan dengan kedua keping baja di kedua telapak tangan Pangeran itu, maka iapun mulai menyerang dengan ujung senjatanya yang berwarna kekuning-kuningan. Bukan sekedar untuk memancing gerakan lawan, namun Eyang Rangga telah menyerangnya dengan sungguh-sungguh. Ujung senjata yang berputar pada rantai yang cukup panjang itu, tiba-tiba bagaikan meluncur dan mematuk mengarah ke dada. Namun seperti Pangeran yang berdebar- debar melihat senjata lawannya, maka Eyang Ranggapun terkejut melihat, bagaimana Pangeran itu mempergunakan kedua keping baja pulih di kedua telapak tangannya. Ternyata bahwa Pangeran itu mempergunakan kedua keping baja dan tangannya sebagai perisai. Ujung senjata yang tajam pada ujung rantai yang mematuk itu telah ditangkis dengan telapak tangan yang dilambari oleh keping baja, sehingga ujung senjata itu sama sekali tidak dapat melukainya. Eyang Rangga itupun menarik nafas dalam-dalam. Namun sejenak kemudian senjatanya telah memutar kedua ujungnya yang tajam itu. Bahkan sejenak kemudian, kedua tajam pada ujung senjata itu telah menyambar Pangeran itu berganti- ganti. Namun sebenarnyalah Eyang Ranggapun terkejut bukan buatan. Setiap sambaran senjata telah ditahan oleh telapak tangan yang beralaskan keping baja itu. Tetapi dengan demikian bukan berarti bahwa Pangeran itu tidak pernah menyerangnya. Dengan kedua telapak tangannya yang terbuka dan siap menangkis serangan lawannya, maka Pangeran itupun maju terus semakin mendekat. Dalam saat- saat tertentu, sambil menangkis ujung senjata lswannya. Pangeran itupun telah menyerang dengan kakinya. Dengan cepat dan di lambari dengan segenap tenaganya, maka kaki Pangeran itupun meluncur dengan derasnya. Eyang Rangga sebenarnyalah menjadi gelisah melihat kemampuan ilmu dan senjata Pangeran itu yang lebih banyak borguna sebagai perisai. Namun yang kemudian dibarengi dengan kecepatan gerak kakinya, maka sebenarnyalah Pangeran itu menjadi sangat berbabaya. Meskipun demikian, Pangeran itupun menjadi berdebar- debar mehhat kemampuan Eyang Rangga bermain dengan senjatanya yang aneh itu. Dengan tangkas dan cermat. Serangan serangannya menjadi semakin cepat dan berbahaya. Merkipur rantai itu berputar pada kedua ujungnya, tetapi rantai itu sami sekali t idak menjadi kusut can saling membelit. Namun bagaimanapun juga Pangeran itu memiliki kelebihan dari padanya. Dengan nada berat Pangeran itu berkata “Ki Sanak. Akhirnya aku memang harus mempertanyakan, dari mana kau belajar mempergunakan senjata Itu. Kau memang belum setangkas orang-orang pilihan dari sekelompok prajur it khusus dari Majapahit itu. “Persetan“ garam Eyang Rangga “sebentar lagi mayatmu akan terkapar. Kau akan mati di atas bukit ini, karena sebenarnyalah kau memang sudah tidak diperlukan lagi ketika kami mengerti, bahwj pusaka itu adalah pusaka yang palsu” Pangeran itu tidak menjawab. Ia mendesak semakin jauh. Dalam putaran yang hampir tidak dapat diikuti dengan tatapan mata wadag, maka Pangeran itu berhasil memasuki putaran senjata Eyang Rangga, sehingga iapun sempat menyerang dengan tumit kakinya mengenai lambung. Eyang Rangga terdorong selangkah surut. Namun putaran senjatanya menjadi kalut. Pada kesempatan yang demikian. Pangeran itu berhasil meloncat semakin dekat Sambil menangkis senjata lawannya dan mengibaskannya kesamping. Pangeran itu berhasil memukul kening lawannya dengan telapak tangannya yang selalu terbuka, justru karena pada telapak tangannya menempel sekeping besi baja. Eyang Rangga adalah orang yang memiliki ilmu dan daya tahan melampaui orang kebanyakan. Jika pukulan itu, meskipun dengan sekeping baja, dilakukan oleh orang-orang kebanyakan, maka pukulan itu tidak akan melukainya. Tetapi yang memukul keningnya itu adalah seorang Pangeran yang juga memiliki ilmu yang tinggi, yang memiliki kekuatan dan kemampuan melampaui orang kebanyakan. Karena itu, maka terasa betapa kening Eyang Rangga itu bagaikan retak. Matanya menjadi berkunang-kunang dan kepalanya menjadi pening. Namun pada saat-saat matanya mengkabur, ia masih sempat memutar senjatanya. Ketika sebelah ujungnya mematuk Pangeran yang berdiri dekat dihadapannya, Pangeran itu sempat menangkis dengan kepingan besi baja ditelapak tangannya. Namun pada kesempatan iiu, Eyang Rangga telah mengerahkan kekuatannya yang terakhir. Ternyata bahwa tangannya masih tetap trampil sehingga ujung senjatanya yang lain telah meluncur mematuk dada. Eyang Rangga, tidak menyangka, apalagi jarak mereka terlalu dekat, sementara perhatiannya masih tertuju kepada ujung senjata yang menyerang terdahulu. Meskipun demikian ia berusaha untuk bergeser. Tetapi ia terlambat. Sehingga ujung senjata itu telah mengenai pundaknya. Pangeran itu terdorong selangkah surut. Namun ia menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Kemarahan yang dahsyat telah menghentak dadanya. Karena itu, maka iapun segera meloncat mendekat. Sekali lagi tangannya yang terbuka itu terayun menghantam pelipis lawannya. Sekali lagi terdengar desis tertahan. Eyang Rangga itu terdorong kesamping. Matanya yang mengkaburpun kemudian benar-benar menjadi gelap. Ketika Eyang Rangga itu terjatuh di tanah, maka Pangeran itupun merasa pundaknya disengat oleh perasaan nyeri dan pedih, sehingga Pangeran itupun melangkah surut beberapa langkah. Tetapi senjata Eyang Rangga itu masih tetap tersangkut di pundaknya. Sejenak Pangeran itupun termangu-mangu. Tangannya yang dilambari oleh sekeping baja itupun tidak mudah untuk mencabut ujung senjata Eyang Rangga yang menghunjam di pundaknya. Namun dalam pada itu, sebagi Pangeran itu termangu- mangu, dilihatnya seseorang mendekatinya. Meskipun orang itu bersenjata, tetapi senjatanya tertunduk ketanah. “O” desis Pangeran yang melihat tabib yang selama dalam perjalanan telah merawatnya. “Pangeran terluka?“ desis tabib itu. “Tidak seberapa” sahut Pangeran yang berdiri tegak memandangi orang yang oleh orang-orang Kendali Putih disebut Eyang Rangga itu. Tabib itupun berpaling. Dilihatnya Eyang Rangga itu terbujur di tanah. Ternyata kemampuan tangan Pangeran itu benar-benar luar biasa. Keping baja ditelapak tangannya itu teiah membuat Eyang Rangga terbaring diam. Tabib itu menarik nafas dalam-dalam. Meskipun nampaknya Eyang Rangga itu tidak terluka, namun tabib yang mengenal keadaannya sesungguhnya itupun mengetahui, bahwa sentuhan tangan Pangeran itu benar-benar telah meretakkan tulang di kepala Eyang Rangga. “Pangeran“ berdesis tabib itu “perkenankan aku mencabut senjata yang tertancap di pundak itu. Agaknya Pangeran memer lukan obat untuk menahan darah yang mengalir” “Terserah kepadamu” jawab Pangeran itu. Namun katanya “Tetapi apakah kau tidak akan mengobati orang yang terbujur itu?” “Nampaknya tidak ada harapan lagi Pangeran” berkata tabib itu “meskipun demikian, biaruh nanti aku melihatnya” Pangeran itupun kemudian membirkan tabib itu menar ik senjata yang tertancam dipundaknya. Sambil menyeringai menahan sakit, terdengar desis perlahan. Demikian ujung senjaa itu tercabut, maka darahpun mengalir semakin banyak. Tetapi tabib itu telah bersiap dengan obat yang dapat menolong mengurangi arus darah dari pundak Pangeran itu. “Duduklah Pangeran” berkata tabib itu. Demikian Pangeran itu duduk di tanah bersandar sebatang pohon, maka tabib itupun berjongkok disebelah orang yang disebut Eyang Rangga itu. Namun tabib itu menggeleng lemah. Katanya “Nafasnya sudah tidak wajar lagi” Pangeran itu tidak menjawab. Sementara itu, iapun telati berusaha untuk memperbaiki keadaannya sendiri. Luka dipundaknya cukup dalam. Jika ia tidak menahan dir i, maka- darah yang dipampatkan oleh obat dari tabib itupun akan dapat mengalir lagi. Tabib itu masih berjongkok disisi Eyang Rangga. Kulit orang tua itu memang sangat liat, sehingga kepingan baja ditangan Pangeran itu tidak melukainya. Namun kekuatan Pangeran itupun luar biasa pula Karena itulah, maka agaknya bagian kepala Eyang Ranggalah yang telah menyebabkannya tidak sadarkan diri. Namun bukan itu saja, karena pada saatnya, maka nafasnyapun benar-benar telah terputus dan jantungnya telah berhenti berdetak. “Orang ini telah meninggal Pangeran” desis tabib itu. Pangeran itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sebenarnya aku ingin berbicara dengan orang itu. Apakah yang diketahuinya dengan pusaka yang diperebutkan” “Yang Mulia itu akan dapat berbicara jika ia tidak terbunuh oleh lawannya” desis tabib itu. “Siapakah lawannya itu” bertanya Pangeran itu. Tabib itu menggeleng Namun kemudian iapun berdesir “Ia memiliki kemampuan yang sangat tinggi Pangeran, Sehingga iapun mampu mengimbangi orang yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu” “Sungguh pahit” desis Pangeran itu “Orang-orang itu telah memburu pusaka dan harta karun yang tidak mereka ketahui. Ternyata bahwa ketamakan telah menyeret mereka ke dalam satu keadaan yang paling parah bagi dir i mereka dan bagi orang lain. Pusaka yang menjadi perlambang pangkat dan derajad, serta harta benda telah membuat mereka menjadi buta” Tabib itu tidak menjawab. Namun iapun kemudian memperhatikan pertempuran yang semakin lama menjadi semakin susut. Dipuncak bukit itu tidak lagi terjadi kekisruhan yang membingungkan. Beberapa diantara mereka yang bertempur telah turun sampai mendekati lambung bukit. Yang nampak masih bertempur di puncak bukit, selain Yang Mulia melawan Kiai Kanthi, Rahu melawan Sanggit Rai- na, Cempaka meiawan pemburu kawan Semi, juga Daruwerdi, kedua pamannya dan Swasti. Sementara itu, Jlitheng yang bertempur bersama anak- anak muda Lumban kadang-kadang menjadi termangu- mangu. Ketika lawan menjadi semakin susut, maka ia lebih banyak memperhatikan Swasti yang bertempur t idak jauh dari Daruwerdi. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sementara ia dicengkam oleh perasaan yang tidak dimengertinya, maka tiba-tiba saja ia terkejut ketika ia melihat daun gerumbul disampingnya berguncang. Dengan serta merta ia meloncat dengan pedang tipisnya terjulur lurus menanti siapa yang akan menyerangnya dari balik gerumbul itu. Namun yang datang adalah Semi. Karena itu, maka Jlithengpun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis “Kau mengejutkan aku” “Sudah lama aku memperhatikanmu” berkata Semi “sejak pertempuran ini mereda maka perhatianmu tertuju kepada gadis itu saja” “Ah“ desah Jlitheng “Kau mengigau. Dimana lawanmu?“ “Aku melukainya. Tetapi agak parah, sehingga ia terbaring di lereng sebelah” jawab Semi “namun demikian, justru kawannya yang ingin menyelamatkan lawanku itu agaknya harus menebus dengan nyawanya” “Kau bunuh orang itu, atau ia telah, membunuh diri?“ bertanya Jlitheng. “Tidak. Tetapi dalam perkelahian yang terjadi ia telah terguling di jurang batu padas. Aku kira ia mati atau terluka parah” jawab Semi. Lalu “nasibnya terlalu buruk” “Aku belum mengetahui dengan pasti, bagaimana dengan anak-anak Lumban” desis Jlitheng. “Kau lebih memperhatikan gadis itu” sahut Semi. “Tidak. Aku mencar i mereka” jawab Jlitheng. “Kedua paman Daruwerdi ada diantara mereka” jawab Semi “tetap mereka telah tersebar. Namun nampaknya keadaan tidak berbahaya lagi. Aku baru saja bertempur bersama mereka sebelum aku sempat melihat kau merenungi gadis itu. Sebenarnya kau tidak perlu mencemaskannya, karena ternyata ia mampu menjaga dir inya sendiri” “Ia telah menyalamatkan nyawa Daruwerdi” desis Jlitheng. “O“ Semi mengangguk-angguk “Bukan main” Semi berhenti sejenak. Namun kemudian “Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?“ “Pangeran itu telah menyelesaikan tugasnya. Ternyata ia adalah orang luar biasa” geram Jlitheng “Aku ingin mendekatinya. Nampaknya ia terluka” “Pergilah. Aku akan mendekati Yang Mulia yang masih bertempur melawan Kiai Kanthi” desis Semi. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berlari mendekati Pangeran yang sedang terluka itu. Tetapi langkahnya tertegun ketika melewati arena pertempuran antara Swasti dengan lawannya yang nampaknya adalah lawannya yang terakhir, karena orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih sudah semakin sedikit jumlahnya, sementara beberapa kawan mereka telah tidak nampak lagi di puncak bukit. Sebagian dari mereka bertempur di lereng- lereng bukit, namun ada juga diantara mereka yang sudah berputus asa telah meninggalkan medan untuk menyelamatkan diri, karena mereka merasa bahwa mereka tidak harus mat i dipertempuran itu. Swastipun kemudian telah mendesak lawannya yang terakhir itu, sementara Daruwerdipun telah hampir menyelesaikan pertempuran itu pula. Tetapi tiba-tiba Jlitheng itupun telah menggeretakkan giginya dan meloncat meninggalkan gadis itu. “Aku tidak peduli” geramJlitheng. Sejenak kemudian, Jlitheng itupun telah berjongkok di sebelah Pangeran yang terluka itu. “Pangeran terluka” desis Jlitheng. Pangeran itu memandang Jlitheng sejenak. Kemudian iapun berkata “Kau termasuk orang yang membingungkan aku. Siapakah kau sebenarnya, dan dipihak mana kau berdiri. Kau adalah salah seorang yang telah mengambil aku bersama orang bernama Rahu itu. Dan menurut pendengaranku, kau telah mati terbunuh ketika kau berusaha untuk menyelamatkan anakku dari gangguan orang-orang Sanggar Gading yang lain. “Lupakan semuanya Pangeran. Sekarang kita sedang berusaha untuk berbuat sesuatu bagi keselamatan banyak orang dalam lingkungan kekuasaan Demak yang baru dibangun” jawab Jlitheng. “Baiklah. Aku percaya Kepadamu. Agaknya kau adalah kawan Rahu dan mempunyai kedudukan seperti orang itu atau mirip dengan orang itu” berkata Pangeran itu kemudian. Lalu tiba-tiba Pangeran itu bertanya “Siapakah anak muda yang menyebut dir inya Daruwcrdi dan yang telah dengan bodoh berusaha menipu Yang Mulia dengan mempertaruhkan nyawaku yang menurut katanya, telah membunuh ayahnya?“ “Masih belum jelas Pangeran” jawab Jlitheng. “Baiklah. Jika demikian, apabila kau benar-benar ingin berbuat sesuatu bagi Demak, jagalah anak itu agar tidak melarikan dir i setelah pertempuran "ini selesai. Aku ingin berbicara dengan anak itu. Meskipun aku sendir i dapat mencegahnya, tetapi aku memerlukan bantuanmu” desis Pangeran itu. “Karena Pangeran terluka?“ bertanya Jlitheng. “Tidak. Aku akan segera dapat mengatasinya. Aku hanya memer lukan waktu sejenak untuk beristirahat. Setelah itu, aku akan dapat berbuat apa saja” jawab Pangeran itu “Tetapi aku memer lukan pihak yang dapat membantuku. Karena di tempat ini hadir pula orang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang kini menyelesaikan pertempurannya melawan Yang Mulia itu, yang nampaknya akan segera berhasil pula” Jlitheng mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya ia berpaling. Dilihatnya Kiai Kanthi masih bertempur melawan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Pertempuran antara dua orang yang memiliki lambaran ilmu raksasa yang sulit untuk dicari bandingnya. Jlitheng memang sudah menduga, bahwa Kiai Kanthi tentu memiliki ilmu yang luar biasa. Tetapi ketika ia menyaksikan sendiri, bagaimana ia bertempur melawan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, maka ia menjadi semakin kagum kepada orang tua itu. Namun demikian, ia sadar, bahwa Pangeran yang terluka itupun tidak percaya begitu saja kepada orang tua itu. Sebagaimana setiap orang yang ada di bukit itu menjadi saling mencur igai Pangeran itu telah minta kepadanya untuk menahan kemungkinan Daruwerdi melarikan diri selagi kekalutan masih berlangsung. Sementara Pangeran itu sendiri sedang berusaha untuk memperbaiki keadaan dirinya. Obat yang telah memampatkan darahnya itu, harus diikuti dengan usaha penyembuhan dar i dalam. Dengan demikian, jika perlu maka pada suatu saat ia akan berhadapan dengan orang tua yang telah bertempur dengan Yang Mulia, atau dengan Yang Mulia itu sendir i, jika Yang Mulia memenangkan pertempuran itu. Karena itu, maka Pangeran itu untuk beberapa saat tetap duduk di tempatnya sambil mengatur pernafasannya dan seolah-olah memusatkan daya tahan tubuhnya pada lukanya untuk memampatkannya sama sekali. Sementara itu pertempuran antara Yang Mulia Panembahan Wukir Gading melawan Kiai Kanthi menjadi semakin dahsyat. Ternyata bahwa Kiai Kanthi yang tua, yang menyepi di atas bukit dan seolah-olah tidak lagi mempunyai kepentingan apapun dengan keduniawian ini, mampu bertempur dengan lambaran ilmu yang dahsyat. Jlitheng yang terpesona itupun tersadar, ketika Pangeran yang terluka itu berkata “Usahakanlah. Anak muda yang bernama Daruwerdi itu jangan lepas. Aku hanya ingin berbicara tentang diriku” Jlitheng kemudian bangkit. Sambil melangkah ia berkata “Aku akan berusaha Pangeran” Sejenak Jlitheng memandangi arena. Pertempuran benar- benar- hampir selesai. Orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih telah hampir habis. Selain yang terbunuh dan terluka, sebagian diantara mereka berusaha menyelamatkan dirinya. Dengan ragu-ragu Jlitheng kemudian melintasi arena, mendekati Daruwerdi yang sedang bertempur. Nampaknya lapun telah sampai pada tahap terakhir dari serangan- serangannya yang mematikan. Akhirnya, Daruwerdi itu menarik nafas dalam-dalam. Lawannya yang tidak mampu lagi bertahan iebih lama lagi, akhirnya harus terbaring diam dengan dada terkoyak. Sementara beberapa langkah daripadanya Swasti berdiri tegak dengan senjata di tangan. Ternyata lawannya yang terakhirpun telah dilumpuhkannya. Jlitheng tiba-tiba saja menjadi gelisah. Ia menjadi tegang ketika ia melihat kedua orang paman Daruwerdi datang mendekati anak muda itu sambil berkata “Kau sudah bermain api. Sekarang, kau mendapat kesempatan untuk memberikan penjelasan atas sikapmu kepada Pangeran Sena Wasesa” Daruwerdi menjadi tegang. Ia memandang Pangeran yang duduk diam untuk memulihkan kemampuan dan kekuatannya, serta untuk menyembuhkan luka-lukanya agar darahnya benar-benar menjadi pampat. Sejenak kemudian ia berpaling kearah Yang Mulia yang bertempur melawan Kiai Kanthi. Betapa dahsyatnya pertempuran itu, namun kemudian mulai nampak, bahwa Yang Mulia yang timpang itu telah terdesak. Jika semula, keadaan kakinya yang cacat itu hampir tidak nampak pengaruhnya, namun ketika ia mendapat lawan yang seimbang, bahkan kemudian mulai terdesak, kesulitan pada kakinya itu mulai nampak. “Paman” tiba-tiba Daruwerdi berdesis “Aku menganggap bahwa persoalanku sudah selesai. Pangeran itu ternyata tidak sedang sakit, sehingga ia akan dapat berbuat sesuatu atasku justru karena akulah yang telah menyebabkan ia diseret ke tempat ini” “Apa maksudmu?“ bertanya pamannya. “Aku akan meninggalkan tempat ini. Meninggalkan Pangeran itu sebelum ia sempat berbuat sesuatu atasku. Selagi ia masih sibuk dengan pengaturan diri untuk melawan kesulitan dalam dirinya. Jika ia nanti berhamil, maka akan ada kemungkinan ialah yang justru akan menangkapku” berkata Daruwerdi. “Semuanya akan kita selesaikan dengan sebaik-baiknya” berkata salah seorang pamannya. Tetapi Daruwerdi menggeleng”Aku akan kembali. Kita harus membawa ibunda meninggalkan tempat ini secepatnya” Kedua pamannya nampaknya tidak setuju dengan sikap anak muda itu. Tetapi mereka lebih banyak menuruti niatnya. Karena itu, salah seorang berkata “Terserah saja kepadamu. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia berpaling kearah Swasti. Sejenak ia memandangi gadis yang berdiri termangu-mangu itu. “Swasti” tiba-tiba saja Daruwerdi berkata dalam nada rendah “Aku terpaksa meninggalkan tempat ini. Tetapi pada suatu saat, aku akan kembali untuk mengucapkan terima kasih kepadamu, dan kepada ayahmu yang sebentar lagi tentu akan berhasil mengalahkan lawannya“ Swasti tidak menjawab. Tetapi ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun justru dalam kediamaannya itu, seolah- olah sebuah getar yang halus telah menyentuh dada Daruwerdi. “Aku terpaksa melakukannya” berkata Daruwerdi kemudian. Lalu katanya kepada kedua pamannya “Kita terpaksa meninggalkan tempat ini paman” Kedua pamannya menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka t idak menjawab. Tetapi ketika Daruwerdi maju selangkah, maka tiba-tiba baja Jlitheng maju mendekatinya sambil berkata “Tunggu Daruwerdi. Persoalan yang kita hadapi masih belum selesai” “Persoalan apa?“ bertanya Daruwerdi yang menjadi tegang. “Kaulah yang melahirkan peristiwa yang paling menger ikan yang pernah aku lihat sampai saat ini. Pategalan itu sudah basah oleh darah. Dan sekarang puncak bukit kecil ini” Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Dipandanginya Jlitheng yang berdiri tegak dihadapannya. Dengan nada berat Daruwerdi itupun kemudian berkata “Jlitheng, kau jangan ikut campur dalam persoalanku. Urusi saja kawan-kawanmu, anak anak muda Lumban Wetan dan Kulon. Apakah kau kira persoalan air itu dapat kau anggap selesai? Nampaknya kau memang lebih pantas mengurusi air itu dari pada ikut campur dalam persoalan ini” “Aku sudah melibatkan dir i dalam persoalan ini” jawab Jlitheng “Aku membawa kawan-kawan kita dari Lumban karena kami merasa cemas melihat nasibmu yang mungkin akan menjadi sangat buruk. Tetapi itu telah lampau. Kau sudah bebas dari kemungkinan itu. Kau sudah lepas dari tangan Yang Mulia yang nampaknya akan dapat dikalahkan oleh Kiai Kanthi” “Nah, jika demikian aku mengucapkan terima kasih. Tugas kalian telah selesai. Aku sudah bebas, dan karena itu aku akan meninggalkan tempat ini” jawab Daruwerdi. “Masih ada satu persoalan yang harus kau selesaikan” berkata Jlitheng “seperti yang dikatakan oleh pamanmu. Kau harus bertemu dengan Pangeran Sena Wasesa. Kau harus menjelaskan, kenapa kau minta agar Pangeran yang semula sedang sakit itu harus dibawa kemar i” “Aku tidak mempunyai persoalan lagi dengan Pangeran itu” jawab Daruwerdi. Lalu “Sudahlah. Jangan halangi aku agar tidak akan terjadi salah paham diantara kita” “Aku memang ingin menghalangimu” jawab Jlitheng “Kau tidak akan dapat begitu saja melepaskan tanggung jawabmu terhadap Pangeran Sena Wasesa. Setelah kau paksa orang- orang Sanggar Gading membawanya kemari dengan akal licikmu, kini kau akan neninggalkannya begitu saja” “Jlitheng” geram Daruwerdi “Aku berterima kasih bahwa anak-anak muda Lumban Wetan dan Kulon telah membantu menyelamatkan aku dari tangan Yang Mulia. Tetapi jika kau menghalangi kepergianku sekarang, aku akan menyingkirkanmu, mumpung Pangeran itu masih pada usahanya memulihkan dirinya” “Daruwerdi” jawab Jlitheng “Aku sudah bertekad demikian. Karena itu, jangan memaksa aku bertindak lebih keras” “Gila“ geram Daruwerdi “minggir, atau kau akan menyesal” “Aku tetap mencegahmu. Berbeda dengan pamanmu yang masih memikirkan banyak segi dalam hubungan kekeluargaan. Tetapi pikirannya yang sehat akan berbicara seperti yang aku katakan kepadamu” sahut Jlitheng. Daruwerdi menjadi marah. Tiba-tiba saja ia telah mengacukan pedangnya sambil berkata “Minggir kau Jlitheng” Jlitheng tidak beranjak dari tempatnya. Namun dalam pada itu Swasti yang memperhatikan persoalan itu dengan tegang, tiba-tiba saja telah melangkah maju sambil berkata “Kau selalu mencampur i urusan orang lain Jlitheng. Pergi, atau akupun akan ikut campur. Aku tahu bahwa kau tidak akan dapat mengalahkan aku meskipun aku juga tidak yakin akan dapat mengalahkanmu” Jlitheng mengerutkan keningnya. Jantungnya menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak dapat mengerti, kenapa Swasti merasa perlu untuk mencampur i persoalannya dengan Daruwerdi. Namun sekilas terbayang di kepalanya, bagaimana kedua anak muda itu saling berpandangan setelah mereka merasa saling menolong dalam pertempuran yang baru saja terjadi. Dengan demikian, justru jantung Jlitheng merasa semakin panas. Kemudaannya mulai ikut berbicara. Sudah lama ia berhubungan dengan Kiai Kanthi, dan sudah lama pula ia mengenal gadis yang keras hati itu. Namun ternyata bahwa gadis itu lebih memperhatikan Daruwerdi dar ipada dir inya. “Persetan“ geram Jlitheng di dalam hatinya “Aku akan menjalankan tugasku sebaik-baiknya seperti yang dikehendaki oleh Pangeran Sena Wasesa” Karena itu, maka Jlithengpun kemudian menjawab dengan geram “Swasti. Sebenarnya aku tidak ingin berselisih dengan kau. Aku menganggap Kiai Kanthi sebagai orang tuaku sendiri. Tetapi aku tidak mengerti kenapa kau t iba-tiba telah berpihak” Pertanyaan itu membuat Swasti menjadi bingung. Iapun telah dihinggapi oleh pertanyaan yang serupa. Kenapa tiba- tiba saja ia sudah berpihak. Justru kepada Daruwerdi yang jarang berkunjung ke gubugnya dan bahkan hampir tidak mengenal siapakah sebenarnya mereka. Namun untuk menjawab pertanyaan Jlitheng, Swasti berkata sebagaimana terlontar saja dari bibirnya “Daruwerdi telah menolong kami disaat kami datang ke tempat ini dari terkaman seekor harimau yang garang. Sehingga dengan demikian ia telah menyelamatkan nyawa kami” Jlitheng justru tertaya. Katanya “Cengkerikpun akan tertawa mendengar jawabanmu. Kau kira aku tidak mengerti apa yang terjadi? Aku melihat permainan yang lucu itu. Tetapi pada saat itu aku telah melihat kemampuan kalian berdua. Aku melihat bagaimana kanan berdua pura-pura ketakutan. Namun kalian tidak dapat menipu aku” “Omong kolong” teriak Swasti yang menjadi semakin bingung “Tetapi aku tidak peduli. Aku melihat kau bertindak licik dan curang disini. Aku merasa berkewajiban untuk mencegah kecurangan itu” “Swasti“ suara Jlitheng menjadi bergetar “Aku pernah menjajagi kemampuanmu. Tetapi aku tidak gentar seandainya aku harus bertempur melawan kau berdua. Di tanganku tergenggam pedang tipis ini yang akan dapat memberikan kekuatan kepadaku. Marilah, aku tidak akan menghindar dari akibat apapun juga. Meskipun hal ini bukan berarti bahwa aku tidak tahu dir i. Aku hormat dan berterima kasih kepada Kiai Kanthi. Tetapi sama sekali tidak kepadamu” Swasti yang keras hati itu bergeser maju selangkah. Ia kkii berdiri disebelah Daruwerdi. Sementara itu Jlitheng berdiri seorang diri menghadapi keduanya. “Itu tidak adil“ terdengar suara disebelah mereka. Yang berdiri tegak adalah Rahu dengan senjatanya yang merah oleh darah. Jlitheng memandang Rahu dengan tegangnya. Kemudian dengan suara bergelar ia bertanya “Kau sudah bebas?” “Aku terpaksa melakukannya?“ desis Rahu. “Apa yang kau lakukan?“ bertanya Jlitheng. Rahu termenung sejenak. Masih terbayang, bagaimana ia menguhunjamkan pedangnya ketubuh orang terpenting di padepokan Sanggar Gading. Sanggit Raina. Masih terngiang ditelinganya, bagaimana Sanggit Raina mengumpatinya. Dengan.penuh dendam dan seolah-olah tidak percaya, bahwa Rahu telah dapat mengalahkannya. “Aku telah membunuh Sanggit Raina” desis Rahu. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, betapa jantung Rahu tergetar oleh sikapnya itu. Untuk beberapa lama ia berada di padepokan Sanggar Gading justru sebagai kepercayaan Cempaka dan Sanggit Raina Namun yang pada suatu saat, la harus berhadapan dan membunuhnya. “Tetapi Cempaka tidak mati” desis Rahu “Anak itu dapat dilumpuhkan. Kini ia sedang diikat pada sebatang pohon” Jlitheng mengangguk-angguk. Sementara Rahupun berkata “Kita harus berusaha untuk menangkap orang-orang seperti Cempaka itu hidup-hidup. Tetapi aku tidak berhasil melakukannya atas Sanggit Raina. karena aku sendirilah yang hampir mati dibunuhnya” Rahu berhenti sejenak, lalu “demikian pula orang seperti Daruwerdi. Ia harus ditangkap hidup-hidup. Ia sudah membuat permainan yang sangat memuakkan, sehingga Pangeran Sena Wasesa yang sedang sakit itu harus dibawa kemari” “Apa pedulimu” geram Daruwerdi. “Kau sama sekali tidak berperikemanusiaan” geram Rahu “masalahnya bukan saja Pangeran Sena Wasesa. Untunglah bahwa aku dan Jlitheng masih sempat menyelamatkan anak perempuan Pangeran itu. Ia masih gadis seperti Swasti. Tetapi hampir saja ia jatuh ke tangan orang-orang Sanggar Gading yang gila. Kau, lebih-lebih Swasti, akan dapat membayangkan, apa yang akan terjadi. Malapetaka yang tidak ada taranya bagi seorang gadis yang jatuh ke tangan orang-orang liar seperti orang-orang Sanggar Gading” Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Ia memang t idak membayangkan sama sekali aakibat-akibat lain yang dapat terjadi. Ia hanya ingin Pangeran itu jatuh ke tangannya. “Nah, kau dapat membayangkan sekarang” berkata Rahu “gadis itu siang dan malam meratapi nasibnya. Ia sudah tidak beribu, sementara ayahnya telah dibawa oleh sekelompok orang-orang yang paling liar yang pernah di lihatnya. Belum lagi air matanya susut, telah datang orang-orang liar itu untuk merampas dir inya sendiri. Dan untuk waktu yang lama ia tidak mendengar kabar berita tentang ayahnya, yang dibawa oleh para perampok dalam keadaan sakit” Wajah Daruwerdi menjadi semakin tegang. Namun dengan demikian ia menjadi semakin cemas, bahwa ia akan mengalami nasib yang buruk pula. Karena itu maka Katanya “Semuanya sudah lewat. Sekarang aku akan pergi. Jangan halangi aku. Aku tidak berbuat apa-apa atas Pangeran itu. Aku tidak menyakit inya. Aku tidak melukainya. Dan sekarang, aku tidak memerlukan lagi” “Jadi kau tidak berani mempertanggung jawabkan tingkah lakumu yang gila itu sehingga akibatnya dapat kau lihat di puncak bukit ini dan di pategalan itu?“ bertanya Rahu. Namun Daruwerdi menganggap bahwa kesempatannya akan lebih baik untuk menentukan langkah sebelum Pangeran itu bangkit dan datang kepadanya untuk menangkapnya. Karena itu, maka katanya kemudian “ Sekali lagi aku peringatkan, minggir atau aku akan bersikap lain” “Kau memang harus bersikap lain” sahut Rahu “Kau harus tetap berada di bukit ini. Kau memang harus diadili” “Persetan“ Daruwerdi menggeram. Jlitheng yang memang sudah siap untuk menghadapinya itupun telah bersiap pula. Namun dalam pada itu, Swastipuni telah mengangkat senjatanya sambil berdesis “Aku tetap pada pendirianku” Rahu memandang gadis itu sambil berkata “Kau sudah terbius oleh sesuatu yang tidak kau mengerti” “Aku tetap sadar“ geramSwasti. “Baiklah. Jika kau berkeras untuk menolong Daruwerdi yang telah melakukan satu kesalahan yang besar, maka kaupun akan tersangkut pula. Kau termasuk orang yang telah melakukan kesalahan seperti yang dilakukannya” jawab Rahu. Namun kemudian sambil memandang Kiai Kanthi yang nampaknya semakin mendesak lawannya ia berkata “Aku hormati Kiai Kanthi yang telah mengambil sikap yang sangat menguntungkan bagi kami. Tetapi seperti apa yang dikatakan Jlitheng, kau tidak pantas untuk dihormati meskipun kau seorang gadis” Swasti menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja ia telah menyerang Rahu dengan garangnya. Namun Rahu sudah menduga. Karena itu. maka iapun segera mengelak. Katanya “Senjataku sudah bernoda darah” “Aku juga telah membunuh lawan-lawanku” geram Swasti. “Bagus” sahut Rahu “Aku akan mempertanggung jawabkan sikapku ini dihadapan Kiai Kanthi” Seasli tidak menjawab lagi. Iapun telah menyerang Rahu semakin garang, sementara Jlitheng yang berdiri berhadapan dengan Daruwerdipun telah melangkah maju sambil berkata “Aku harap paman-pamanmu tidak menghalangiku, karena sebenarnyalah merekapun menganggap sikapmu salah” “Tetapi kami mempunyai pertimbangan lain” berkata salah seorang paman Daruwerdi “Kami harus membawa anak itu kepada ibunya. Setelah ia menghadap ibunya, terserah apa yang akan terjadi” “Jangan begitu” jawab Jlitheng “kalian sudah mengetahui apa yang terjadi disini. Sebaiknya kalian membantu kami, member i petunjuk kepada anak ini” oooOooo- 

Jilid 17
“MAAF Ki Sanak” jawab salah seorang dari kedua orang paman Daruwerdi “Aku mempunyai ikatan lain yang lebih akrab dengan anak ini. Karena itu, aku terpaksa mohon untuknya, agar kalian melepaskannya” “Persetan“ geram Jlitheng “Aku akan menangkapnya” Kedua paman Daruwerdipun Kemudian mendekat. Namun betapa mereka dicengkam oleh keragu-raguan. Sementara itu, ketegangan itu lelah dipecahkan oleh teriakan Yang Mulia yang mengumpat dengan kasar. Sehingga serangan Swastipun telah tertahan. Ternyata Kiai Kanthi benar-benar telah mendesaknya dan bahkan orang-orang yang ada di alas bukit itupun terkejut ketika mereka melihat Yang Mulia itu terbatuk kecil. Namun dari bibirnya telah terpercik darah menandai luka di dalamdadanya. “Kau akan mati dengan penuh penyesalan” teriak Yang Mulia. Kiai Kanthi justru mundur selangkah. Yang Mulia yang meloncat menyerangnya telah kehilangan sasaran. Sejenak ia terhuyung-huyung. Namun kemudian keseimbangannya seolah-olah telah hilang. Saat itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Kiai Kanthi. Bagaikan angin prahara ia menyerang lawannya. Demikian dahsyatnya, sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Yang Mulia untuk melawan, mengelak dan menangkisnya. Ketika terdengar desah dari mulutnya yang sekali lagi memercikkan darah, maka Yang Mulia itu telah terlempar dan terbanting jatuh di tanah. Kiai Kanthi berdir i termangu-mangu. Ternyata Yang Mulia telah menjadi sangat lemah. Ketika ia berusaha untuk bangkit, maka iapun telah terjatuh lagi. Bahkan kemudian orang yang memiliki ilmu yang tiada taranya itu telah kehilangan kesadarannya. Pingsan. Dalam pada itu, Kiai Kanthi yang sedang memperhatikan keadaan Yang Mulia itu berpaling ketika lengannya digamit oleh seseorang. Pangeran Sena Wasesa. “Kau sudah berhasil menyelesaikan tugasmu yang amat berat” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Pangeran juga” desis Kiai Kanthi. “Tetapi masih ada persoalan dengan anak muda itu. Apakah kau menaruh perhatian juga kepada masalah ini?“ bertanya Pangeran. “Anak perempuanku telah terlibat terlalu jauh” berkata Kiai Kanthi “Sebenarnya aku sendiri tidak mempunyai sangkut paut” “Kita tidak dapat melepaskan segala tanggung jawab“ desis Pangeran itu “ sebaiknya kita yang tua-tua inilah yang harus berbuat sesuatu, agar yang mudamuda itu tidak saling bertengkar” “Aku tidak mempunyai kepentingan apapun Pangeran, kecuali mengambil anak gadisku” jawab Kiai Kanthi. Pangeran Sena Wasesa tersenyum. Katanya “Aku mengenal landasan ilmumu. Dan akupun yakin kau mengenali juga landasan ilmuku, betapapun kita masing-masing mengembangkan diri” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam Tetapi ia tidak membantah. Sementara itu Daruwerdi telah benar-benar menjadi gelisah. Pangeran itu telah berhasil mengatasi kesulitan di dalam dirinya. Jika ia mendendamnya, maka keadaannya akan menjadi sangat sulit. Namun setelah Kiai Kanthi menyelesaikan pertempuran itu, timbullah harapan di dalam hatinya. Gadis yang tangkas, anak Kiai Kanthi itu berdiri dipihaknya. Jika Kiai Kanthi itu juga berdiri dipihaknya, maka Pangeran Sena Wasesa harus membuat perhitungan tertentu untuk mendedamnya. Sementara itu, Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi mulai memperhatikan anak-anak muda yang sudah saling berhadapan. Ketika mereka mulai melangkah, maka Pangeran itupun berkata kepada tabib yang merawatnya selama itu “Yang Mulia itu masih belum mati. Lihatlah, mungkin kau sempat menyelamatkan nyawanya” Tabib itu mengangguk. Sementara ia berjongkok disebelah Yang Mulia itu, maka kedua orang tua itupun telah berjalan mendekati Daruwerdi dan sudah berhadapan dengan Jlitheng, sementara Swasti sudah melawan Rahu. Sedangkan kedua paman Daruwerdipun telah berdir i tegak betapapun mereka masih ragu. “Anak itu telah menghalangi aku, Kiai Kanthi” berkata Daruwerdi. “Ia sumber dari segala peristiwa yang mengerikan ini” sahut Jlitheng “Ia adalah orang yang telah memaksa dengan caranya yang licik, agar orang-orang Sanggar Gading menangkap Pangeran Sena Wasesa dan membawanya ke Daerah Sepasang Bukit Mati ini” Salah orang-orang Sanggar Gading yang tamak, teriak Daruwerdi. “Sudahlah” potong Pangeran Sena Wasesa dengan sareh. Di wajahnya sama sekali tidak membayang perasaan dendam dan kebencian kepada Daruwerdi, meskipun anak itu telah sampai hati mengambilnya lewat tangan orang-orang Sanggar Gading tanpa belas kasihan ”Kita akan berbicara dengan baik” “Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa lagi” sahut Daruwerdi. “Kau memang t idak mempunyai kepentingan lagi” jawab Pangeran itu “Tetapi biarlah persoalan ini tidak kita biarkan menjadi gelap. Tentu ada persoalan yang menyangkut hubungan kita meskipun aku t idak dapat mengenalmu” “Tidak ada persoalan apa-apa” jawab Daruwerdi, sekarang aku akan pergi” “Jangan memaksa” geram Jlitheng. “Jangan ikut campur“ Swasti yang masih berdiri berhadapan dengan Rahu itulah yang membentak. Namun ternyata yang dilakukan oleh Kiai Kanthi sama sekali bukan yang diharapkan oleh Daruwerdi. Orang tua itu telah mendekati anak gadisnya sambil berkata “Swasti. Sebaiknya kaulah yang tidak ikut campur” “Apakah yang ayah maksud? Apakah ayah mengajari aku untuk tidak mengenal terima kasih kepada anak muda ini? Bukankah anak muda ini telah berusaha menolong kita dari garangnya seekor harimau yang besar pada saat kita datang?” Swasti hampir berteriak. “Sebuah lelucon yang t idak nalar” potong Jlitheng. “Tetapi, seandainya kita benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa, bukankah niatnya untuk menolong kita itu harus dihargai? Sementara orang lain yang katanya juga melihat hal itu, dan memiliki kemampuan, tidak berbuat sesuatu?“ bantah Swasti. Kiai Kanthi memandang anaknya sejenak. Namun kemudian iapun menjawab “Swasti. Kita berterima kasih, bahwa angger Daruwerdi sudah berniat untuk menolong kita. Kitapun sudah berniat untuk membebaskannya dari tangan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu. Dan nampaknya kita berhasil. Jika kita tidak berbuat sesuatu, maka angger Daruwerdi tentu sudah menjadi mayat disini. Namun persoalan selanjutnya, bukannya persoalan kita. Angger Daruwerdi mempunyai hubungan yang khusus dengan Pangeran yang dimintanya dari siapapun juga yang dapat menyerahkannya, dengan imbalan pusaka yang dinyatakan palsu oleh Yang Mulia itu” “Tetapi orang-orang lain yang tidak berkepentingan itupun ikut campur juga” bentak Swasti. “Kita t idak usah memikirkan orang lain. Marilah kita pikirkan diri kita sendiri. Kita sudah mendapatkan sebuah gubug yang sebentar lagi akan kita perbaiki. Sementara kita sudah mendapat tanah garapan yang akan dapat menghasilkan pangan. Air sudah kita kuasai dan berguna bagi tanah bukan saja tanah kita sendiri, tetapi juga bagi Lumban. Nah, apakah yang kurang? Anak-anak muda Lumban berbuat itu semua bagi kita. Apakah nilainya masih belum memadai dengan pertolongan yang diberikan oleh angger Daruwerdi? Aku tidak mengecilkan arti pertolongannya, dan bukan berarti aku tidak berterima kasih. Tetapi kita harus berterima kasih kepada segala pihak yang telah menolong kita” Wajah Swasti menjadi semakin tegang. Sementara itu ayahnya berkata “Biarlah dengan demikian angger Daruwerdi menyelesaikan persoalannya dengan Pangeran Sena Wasesa. Dan biarlah orang-orang yang berkepentingan karena tugas mereka ikut terlibat dalampersoalan ini” “Aku tidak mempunyai persoalan apapun juga“ Daruwerdi itu berteriak. “Angger harus bertanggung jawab” berkata Kiai Kanthi kemudian kepada Daruwerdi “Angger tidak dapat begitu saja melepaskan tanggung jawab angger justru setelah Pangeran Sena Wasesa itu berada disini” “Daruwerdi” berkata Pangeran Sena Wasesa “anggaplah aku telah dapat mengganti kedudukan orang-orang Sanggar Gading. Aku telah datang menyerahkan diriku sendiri. Nah, apakah yang akan kau perlakukan terhadapku. Aku tidak berkeberatan untuk mendengar niatmu yang sebenarnya dengan membawa aku kemar i” Daruwerdi tidak segera dapat menjawab. Namun sementara itu, salah seorang paman Daruwerdi itu berkata “Pangeran. Sebenarnya aku juga tidak tahu pasti, apa yang dikehendaki oleh Daruwerdi. Tetapi persoalan ini tidak akan dapat dipecahkan begitu saja. Aku tidak tahu, apakah Daruwerdi sependapat atau tidak, biar lah aku member itahukan kepada Pangeran, bahwa ibunya ada di Lumban pula” “Paman“ potong Daruwerdi “Kau jangan menyangkut orang lain lagi” “Berhadapan dengan Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi kita tidak akan dapat berbuat banyak, selain mengatakan apa yang sebenarnya. Daruwerdi. Marilah, kita menghadap ibumu. Setelah itu, kau dapat menyelesaikan segala persoalan ini. Dengan demikian maka ibumupun akan mengetahui, apa yang telah terjadi sebenarnya” ”Tetapi ibu tidak turut campur tentang persoalan ini. Bahkan ibupun tidak mengetahui apa yang telah aku lakukan“ berkata Daruwerdi. Ternyata Pangeran Sena Wasesalah yang telah menyahut “Aku sependapat Ki Sanak. Aku bersedia menemui ibu Daruwerdi jika ia memang ada disini. Apalagi aku mendengar, bahwa Daruwerdi telah mendendamku, karena aku telah membunuh ayahnya” “Aku tidak mempunyai persoalan apapun dengan Pangeran” jawab Daruwerdi. “Daruwerdi. Kau sebelumnya belum mengenal aku. Atau katakanlah jika kau sudah mengenal aku, tentu sudah selang waktu yang panjang, sehingga akupun telah melupakan, bahwa aku pernah bertemu dengan kau sebelumnya. Kau mengenal aku karena ciri-ciri yang kau kenali pada diriku. Hal itu menunjukkan kepadaku, bahwa tentu ada orang lain yang ikut terlibat ke dalam persoalan ini. Setidak-tidaknya orang yang telah memberikan petunjuk tentang ciri-ciri yang terdapat pada tubuhku” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian. Lalu “Aku tidak berprasangka bahwa petunjuk itu kau dapat dari ibumu. Tetapi bahwa alasan yang kau pakai adalah karena aku pernah membunuh ayahmu, maka hal ini akan sangat menarik bagiku” “Itu tidak benar. Aku hanya mengatakan saja hal itu tanpa maksud apa-apa” bantah Daruwerdi. “Tentu kau mempunyai maksud tertentu. Jika tidak, kau tidak akan berada di daerah Sepasang Bukit Mati ini untuk waktu yang lama, sambil menunggu pada suatu saat akan ada seseorang, atau sekelompok orang yang akan membawa Pangeran Sena Wasesa datang ke tempat ini. Sementara kau sudah siap menyediakan sebuah peti yang kau sebut berisi pusaka yang sedang dicari orang selama ini, namun yang menurut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading adalah palsu” jawab Pangeran Sana Wasesa. “Sudahlah Daruwerdi” berkata pamannya kemudian, apapun yang harus kau hadapi dalam penyelesaian ini, sebaiknya kau lakukan. Semuanya akan berjalan dengan baik sesuai dengan martabat kemanusiaan kita. Tentu akan berbeda dengan cara yang ditempuh oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, atau oleh Eyang Rangga dari Kendali Putih itu, atau bahkan oleh pihak lain” “Ya” desis Rahu “Aku yakin bahwa dalam waktu dekat, orang-orang Pusparuri juga akan datang. Mereka tentu akan segera mendengar apa yang terjadi disini” “Marilah“ ajak salah seorang pamannya “Jangan membuang waktu lagi. Semuanya akan kau lakukan seperti itu. Tidak ada jalan lain. Kau sudah memulainya Daruwerdi” Daruwerdi memandang berkeliling. Anak-anak Lumban yang telah selesai dengan tugas masing-masing telah berkumpul pula di puncak bukit itu. Sementara beberapa orang diantara mereka telah terluka pula. Sementara itu, kawan Semi yang telah mendahului berada di Lumban itupun telah menolong anak-anak muda Lumban yang terluka. Ternyata bahwa iapun membawa obat yang dapat untuk mengatasi luka- luka karena senjata. Daruwerdi menjadi semakin tegang. Paman-pamannya ternyata telah menganjurkan kepadanya, agar ia mempertanggung jawabkan perbuatannya. Justru karena ibunya ada di Lumban, maka pamannya telah berusaha agar ia datang kepada ibunya bersama orang yang selama ini dimintanya untuk ditukar dengan pusaka yang ternyata menurut Yang Mulia adalah palsu. Akhirnya Daruwerdi tidak dapat ingkar lagi. Betapapun jantungnya bergejolak. Bahkan ia menyesal kenapa ibunya dan pamannya telah datang pula ke Lumban. Namun dalam pada itu, iapun tidak dapat mengingkari kenyataan, tanpa arang-orang yang sekarang seakan-akan mengepungnya itu, dan sekaligus menuntut pertanggungan jawab, maka ia tentu sudah menjadi sasaran kemarahan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Meskipun demikian, jika terpandang olehnya Pangeran Sena Wasesa, maka jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Bagaimanapun juga Pangeran itu tentu merasa bahwa ia telah menjadi permainan Daruwerdi. Daruwerdipun sadar, bahwa kehadiran orang-orang Kendali Puluh di Daerah Sepasang Bukit Mati itupun telah ikut menentukan akhir dari persoalannya dengan Yang Mulia. Jika orang-orang Kendali Putih tidak datang pada saat itu dan tidak terjadi peristiwa yang mengerikan di pategalan, maka apakah mungkin orang-orang Sanggar Gading itu dapat dikalahkan hanya oleh anak-anak Lumban meskipun diantara mereka terdapat orang-orang berilmu. Namun karena jumlah orang- orang Sanggar Gading dan Kendali Putih sudah susut terlalu banyak, maka akhirnya mereka tidak lagi cukup kuat untuk mempertahankan diri. Tetapi Daruwerdipun tidak dapat memejamkan matanya terhadap kenyataan. Kehadiran Kiai Kanthi dan Pangeran yang menjadi tuntutannya itupun menentukan pula, karena keduanya telah berdiri berhadapan dengan dua orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi dari Sanggar Gading dan dari Kendali Putih. Dengan demikian, maka akhirnya Daruwerdipun berkata “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi jika kedua pamanku tidak mendesakku untuk menghadap ibuku sambil mempertanggung jawabkan rencanaku, maka aku akan tetap bertahan disini, meskipun aku akan mengalami akibat yang bagaimanapun juga. Yang harus mempertanggung jawabkan perbuatanku adalah aku sendiri. Bukan ibuku. Dan bukan pula orang lain” “Kau benar Daruwerdi” sahut Pangeran Sena Wasesa “Tetapi tentu dapat ditelusur pula hubungannya dengan ibumu. Jika aku benar pernah membunuh ayahmu, maka, sudah sewajarnya akulah yang harus mempertanggung jawabkannya terhadap ibumu. Mungkin aku harus minta maaf, atau barangkali justru dengan tebusan yang lain, atau bahlkan satu tuntutan atasku, sebagaimana kau lakukan deingan caramu sendiri?” Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Namun ia tidak dapat mengelak lagi. Ia memang pernah mengatakan, bahwa Pangeran Sena Wasesa harus diserahkan kepadanya,, karena Pangeran itu telah pernah membunuh ayahnya. Dan kini Pangeran Sena Wasesa mendesaknya untuk bertemu dengan ibunya. Debar jantungnya serasa menjadi semakin cepat. Ibunya agaknya sudah mengenal Pangeran Sena Wasesa. Karena itu, maka terasa betapa kakinya menjadi sangat berat. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain. Dalam pada itu, Pangeran Sana Wasesa, Kiai Kanthi, Jlitheng, Rahu dan Semi telah bersiap untuk pergi mengikuti Daruwerdi bersama kedua orang pamannya. Namun dalam pada itu, Kiai Kanthi masih harus membujuk anak gadisnya yang masih berdir i tegak di tempatnya. ”Marilah Swasti “ ajak Kiai Kanthi “Kita pergi ke Lumban Kulon” “Buat apa?“ bertanya gadis itu. “Kita sebaiknya mengetahui perkembangan keadaan ini” jawab ayahnya. “Tetapi bukankah itu sama sekali bukan kewajiban kita?“ bertanya Swasti. Ayahnya tersenyum. Katanya “Kita memang tidak berkewajiban mengusut persoalan ini. Tetapi kitapun boleh mengetahui perkembangan dari keadaan ini, justru karena kita tinggal di bukit ini” Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian mengikuti ayahnya meskipun ia tidak berminat sama sekali. Bahkan rasa- rasanya ia tidak rela melihat perlakukan orang-orang itu terhadap Daruwerdi, termasuk kedua orang pamannya sendir i. Tetapi iapun tidak dapat mencegahnya. Ayahnya justru telah berbuat sebagaimana dilakukan oleh orang-orang lain itu. Dalam, pada itu, Rahu telah menyerahkan perawatan orang-orang yang terluka kepada kawan Semi dan anak-anak Lumban sendir i. Bahkan mereka juga berkewajiban untuk menyelenggarakan mayat yang tersebar di puncak bukit itu. Selain kawan Semi itu, tabib yang semula berada diantara orang-orang Sanggar Gading itupun masih juga menunggui Yang Mulia yang pingsan, sementara Cempaka masih juga terikat pada sebatang pohon di bukit itu. “Aku dan Jlitheng akan kembali” berkata Rahu kepada kawan Semi. Kawan Semi itupun mengangguk Ia tahu bahwa Rahu sangat berkepentingan dengan Pangeran Sena Wasesa. Sepeninggal Daruwerdi dan orang-orang yang mengikut inya, maka kawan Semi itupun mendekati tabib yang menunggui Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Ternyata bahwa orang itu masih hidup. Namun tabib itu berkata “Jika ia sembuh, maka ia t idak akan mungkin mendapatkan ilmunya utuh seperti semula” “Kenapa?“ bertanya kawan Semi itu. “Bagaimanapun juga, manusia dibatasi oleh kelemahannya. Ada bagian tubuhnya di dalam yang cacat” berkata tabib itu. Kawan Semi itupun mengangguk-angguk. Ternyata bahwa hukuman dari Yang Maha Adil telah datang lebih dahulu daripada hukuman yang mungkin akan dijatuhkan oleh Demak. Sambil bangkit ia berkata “Agaknya itu akan lebih baik. Ia tidak akan melakukan kejahatan lagi seperti yang pernah dilakukannya. Jika ia masih memiliki kemampuan dan ilmunya, meskipun seandainya di Demak ada prajurit linuwih yang dapat mengawasinya, maka jika sampai saatnya ia bebas, maka ia tetap merupakan seorang yang berbahaya. Kecuali jika ia dihukum mati” “Hukuman mati tidak per lu lagi baginya. Ia akan menjadi seorang yang jinak dan tidak berbahaya” desis tabib itu. Kawan Semi itupun mengangguk-angguk pula. Namun kemudian iapun pergi bersama, anak-anak muda Lumban yang tidak terluka untuk, mengurus mayat yang berserakan. Dengan tekun mereka mencar i diantara semak-semak dan batu-batu padas. Sementara anak-anak muda Lumban yang terluka lelah berkumpul pula untuk mendapat perawatan dari tabib yang semula berada di lingkungan orang-orang Sanggar Gading itu. Bahkan ada satu dua diantara mereka yang terpaksa di papah oleh kawan-kawannya karena luka yang cukup parah. Namun yang terjadi itu satu pengalaman yang dapat disadap sebagai pelajaran yang baik bagi anak-anak Lumban. Mereka yang dalam banyak hal masih dipengaruhi oleh persoalan air itupun telah merasa diri mereka satu. Dengan demikian, maka anak-anak Lumban itu merasa, semakin dekat satu dengan yang lain. Dalam pada itu, diantara anak-anak Lumban Kulon. Nugata duduk merenungi peristiwa yang baru saja terjadi. Ia melihat bagaimana Jlitheng bertempur diantara lawan-lawannya. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa Jlitheng memiliki kemampuan tidak kalah dengan Daruwerdi. Sehingga dengan demikian, maka iapun menjadi curiga karenanya, bahwa apa yang dikenalnya sebagai Jlitheng selama itu bukannya pengenalnya yang sewajarnya. Meskipun demikian, agak berbeda dengan kawan- kawannya, Nugata masih saja diganggu oleh satu keinginan untuk menyatakan dirinya, lingkungannya dan Kabuyutannya lebih baik dari Lumban Wetan. Namun ia tidak mengatakan kepada siapapun juga. Apalagi ketika ia mengetahui keadaan Jlitheng yang sebenarnya. Sementara itu Daruwerdi sudah tidak, dapat diharapkannya untuk dapat membantunya lagi. Dengan demikian, maka perasaan kecewa, gejolak dan angan-anganya tentang hubungannya dengan Jlitheng selanjutnya, hubungan antara anak-anak Lumban Kulon dengan Daruwerdi, dan masih ada beberapa masalah lagi, telah menggelitik hatinya. Namun justru karena itu, maka iapun telah merenunginya, sehingga seolah-olah ia tidak menghiraukan lagi apa yang telah terjadi disekitarnya. Selagi anak-anak muda Lumban mengumpulkan beberapa sosok mayat yang berserakkan, maka beberapa orang Sanggar Gading dan Kendali Putih yang meninggalkan arena, tengah berlari-lari tidak tentu arah. Namun sebagian dari mereka telah ber lari asal saja menjauhi bukit mereka yang dikenal sebagai salah satu dari Sepasang Bukit Mati itu. Mereka tidak lagi mempunyai tujuan karena mereka menyadari, bahwa pemimpin-pemimpin mereka telah binasa, sementara itu. merekapun merasa, bahwa jika mereka bertemu dengan orang-orang Pusparuri atau orang-orang Gunung Kunir, maka mereka tidak lagi mempunyai kelompok yang kuat untuk saling melindungi. Karena itu, dalam kebingungan, mereka justru, menjadi berpencaran mencari jalan hidup mereka masing-masing. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi sangat cemas sehingga mereka telah melemparkan senjata mereka, agar tidak ada orang yang mencurigainya. Terutama dari padepokan yang telah mengalami persaingan untuk waktu yang lama. Sebagai pengembara yang mencari belas kasihan orang lain, maka tentu tidak akan ada orang yang akan memper lakukannya dengan kasar, karena mereka tidak akan dengan mudah dikenal sebagai orang yang pernah berada dalam lingkungan yang paling garang. Sanggar Gading dan Kendali Putih. Dalam pada itu, sebuah iring- iringan telah menuruni bukit berhutan. Daruwerdi dan kedua pamannya berjalan dipalilng depan, sementara Sena Wasesa berjalan di belakangnya bersama Kiai Kanthi. Dekat di belakang Kiai Kanthi, Swasti berjalan sambil menunduk, sementara beberapa langkah di belakang mereka, barulah orang-orang lain berjalan sambil berbicara diantara mereka. Daruwerdi dan kedua pamannya, sama sekali tidak berbicara tentang apapun juga. Nampaknya Daruwerdi merasa lebih baik berdiam dir i dalam keadaan yang demikian itu. Ia masih dicengkam oleh perasaan kecewa, bahwa pamannya justru ikut memaksanya menghadap kepada ibunya. “Apa yang harus aku katakan kepada ibu” berkata Daruwendi kepada diri sendiri. Kemudian “Jika Pangeran itu sempat bertemu dengan ibu, maka mereka tentu akan mempersoalkan masalah-masalah yang terlalu khusus, yang aku sendir i tidak banyak mengetahui” Namun dalam pada itu, terbilas wajah seorang tua yang dianggapnya sebagai kakeknya dan sekaligus gurunya, meskipun ia tahu, bahwa orang itu adalah orang lain baginya. Tetapi hubungan yang akrab dan bertahun-tahun, telah membuatnya menganggap orang tua itu sebagai kakeknya sendiri ”Jika saja kakek mengetahuinya” berkata Daruwerdi di dalam dir inya sendir i. Sebab ada satu keyakinan di dalam diri Daruwerdi, bahwa kakeknya dan sekaligus gurunya itu tidak lebih rendah tingkat ilmunya dari orang-orang yang mengejutkan karena kehadirannya di atas bukit itu. Tetapi kakek yang juga gurunya itu tidak melihatnya apa yang telah terjadi di Lumban dan apalagi di atas bukit berhutan itu. Daruwerdi itu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya jalan di hadapannya. Mereka masih menuruni lereng yang kadang-kadang sulit, sehingga mereka harus meluncur turun berurutan. Namun kadang-kadang mereka dapat berjalan bersama-sama dalam tebaran yang tidak begitu panjang. Demikianlah, akhirnya mereka telah berada di kaki bukit kecil itu. Jantung Daruwerdi menjadi semakin berdebar-debar. Namun ia tidak dapat berbuat lain. Bersama dengan orang- orang itu ia telah menuju ke Lumban Kulon, ke tempat pemondokannya. Iring-ir ingan itu telah menar ik perhatian anak-anak Lumban Kulon yang bersiap di padukuhan masing-masing. Ketika mereka memasuki padukuhan kecil di Kabuyutan Lumban Kulon, maka anak-anak muda Lumban Kulonpun bertanya- tanya di dalamhati, apakah yang telah terjadi Namun mereka telah melihat Daruwerdi berada diantara iring- iringan itu. Namun nampaknya Daruwerdi tidak sempat memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Bahkan ia berjalan dengan kepala tunduk dan dengan langkah- langkah lesu. Baru ketika mereka melihat Jlitheng yang berada di bagian belakang dari ir ing- iringan kecil itu, anak-anak muda itu bertanya “Apa yang telah terjadi?“ “Tidak apa-apa” jawab Jlitheng “kawan-kawan kita telah menyelesaikan tugas sebaik-baiknya. He bawalah beberapa orang kawan ke puncak bukit. Kawan-kawan kita disana sedang sibuk menyelenggarakan beberapa sosok mayat. Kalian dapat membantu mereka. Tetapi hati-batilah. Sebaiknya kalian bersenjata dan membawa alat Isyarat. Jika terjadi sesuatu di sepanjang jalan menuju ke bukit itu, bunyikan isyarat” Kawan-kawan Jlitheng dari Lumban Kulon itupun mengangguk. Ternyata mereka tidak lagi ingat akan pertentangan mereka selama berebut air. Nampaknya mereka sempat melupakan persoalan mereka itu. Ketika Jlitheng kemudian meninggalkan mereka mengikuti iring- iringan yang menuju ke rumah Daruwerdi, anak-anak muda itupun telah menghimpun beberapa orang kawan dan bersama-sama menuju ke bukit berhutan. Namun mereka tidak pergi seluruhnya. Sebagian kecil dari anak-anak muda itu masih tetap berada di padukuhan untuk mengawasi keadaan. Dalam pada itu, Daruwerdipun kemudian telah memasuki padukuhannya. Seperti anak-anak muda di padukuhan sebelumnya, maka anak-anak muda di padukuhan itupun bertanya kepada Jlitheng, apa yang telah terijadi. “Tidak apa-apa” sahut Jlitheng “Kami mengantar Daruwerdi pulang Ia terlalu letih” Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka melihat sesuatu yang lain pada Daruwerdi. Anak yang terbiasa terjalan dengan wajah tengadah itu, ternyata nampak sangat letih sambil menunduk. Bahkan tanpa berpaling sama sekali ketika kawan-kawannya dari Lumban Kulon menyambut kedatangannya. Sejenak kemudian, iring-ir ingan itu telali memasuki sebuah halaman yang tidak begitu luas. Sebuah rumah, yang sedang dan nampak terpelihara. Iring-ir ingan itupun kemudian berhenti di halaman. Daruwerdi yang gelkah itupun kemudian berkata “Biarlah aku menghadap ibu. Aku akan mengatakan kedatangan kalian, terutama Pangeran Sana Wasesa, agar ibu tidak terkejut” “Baiklah. Katakan kepada ibumu, aku hanya ingin mencari penjelasan” berkata Pangeran Sana Wasesa. Daruwerdipum kemudian naik ke pendapa dan memasuki pringgitan diir ingi oleh kedua pamannya. Ketika mereka memasuki ruang dalam, mereka sama sekali tidak menemukan seseorang. Ibunya yang biasanya duduk merenung di ruang itu sama sekali tidak nampak. Namun Daruwerdi sama sekali tidak curiga. Mungkin ibunya sedang berada di belakang, atau di pakiwan. Namun dalam pada itu, seorang laki-laki tua, penghuni rumah itu telah memasuki ruang dalam dari pintu butulan. Dengan wajah cemas ia berkata “Angger Daruwerdi. Kemana saja angger pergi selama ini” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Orang tua itu agaknya tidak tahu, dan tidak mendengar apapun juga tentang dirinya selama ia berada di atas bukit. Tetapi rasa- rasanya Daruwerdi tidak sempat menjawab pertanyaan itu. Bahkan ia telah bertanya pula “Dimana ibu?“ Orang tua itu menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Itulah yang aku persoalkan. Kemana saja kau selama ini ngger?“ Wajah Daruwerdi menegang. Sambil melangkah mendekat ia mendesak “Dimana ibu?“ “Kau pergi terlalu lama” jawab orang tua itu “selama kau pergi itulah, seorang laki-laki tua telah datang dan membawa ibumu bersamanya” “Siapa?” wajah Daruwerdi menjadi tegang. “Seorang laki- laki tua, bertubuh tinggi kekar. Berkumis lebat dan berjanggut panjang keputih-putihan. Suaranya serak dan agak kurang jelas. Tetapi kata-katanya cukup dimengerti“ jawab laki-laki tua itu. “Guru?” desis Daruwerdi. Namun katanya kemudian “Itu kakekku. Jadi ibu pergi bersama kakek?“ “Ya. Tetapi rasa-rasanya orang tua itu agak memaksa ketika ibumu berniat untuk menunggumu disini” jawab laki-laki tua itu. Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya kedua pamannya termangun-mangu. “Tetapi bukankah itu sama sekali bukan kewajiban kita?“ bertanya Swasti. Ayahnya tersenyum. Katanya “Kita memang tidak berkewajiban mengusut persoalan ini. Tetapi kitapun boleh mengetahui perkembangan dari keadaan ini, justru karena kita tinggal di bukit ini” “Ibu dibawa oleh Kakek, paman” desis Daruwerdi. Kedua pamannyapun saling, berpandangan. Yang seorang kemudian berkata “Aku tidak tahu, apa maksudnya. Tetapi jika memang demikian, kau harus memberitahukan kepada Pangeran Sena Wasesa” Daruwerdi menjadi ragu-ragu. Namun kemudian katanya di dalam hati “Ada juga keuntungannya. Ibu tidak langsung bertemu dengan Pangeran Sena Wasesa” Namun kemudian “Tetapi kenapa kakek justru membawa ibu pergi, tidak berusaha menolong aku yang sedang dalam keadaan yang sulit” Tetapi Daruwerdi t idak sempat memecahkan teka-teki itu. Diluar menunggu beberapa orang. Jika ia tidak lama berada di dalam tanpa member itahukan sesuatu kepada orang-orang yang berada di halaman, maka akan dapat timbul salah pahamyang dapat berakibat gawat bagi Daruwerdi. Karena itu, maka katanya kepada kedua pamannya “Aku akan mengatakan kepada mereka. Tetapi apakah kira-kira tanggapan mereka paman” “Aku tidak tahu apakah yang akan mereka katakan. Tetapi itu menjadi kewajibanmu. Apakah hal itu akan mendapat tanggapan baik atau sebaliknya” jawab salah seorang pamannya, Daruwerdi memang tidak dapat berbuat lain. Ia harus turun kehalaman menemui orang-orang yang menyertainya untuk bertemu dengan ibunya. Dengan jantung yang berdebar-debar disertai oleh kedua pamannya ia melangkah kepintu pringgitan. Sekali ia berpaling, seolah-olah ia ingin menilai kekuatan yang ada padanya, seandainya ia harus mempertahankan dir i. Namun mereka bertiga t idak akan dapat berbuat banyak. Bahkan seandainya Swasti berdiri dipihaknya pula. “Tidak ada yang dapat aku lakukan” katanya di dalamhati. Demikianlah, maka, dengan tangan bergetar Daruwerdi itu membuka pintu. Derit daun pintu itu telah menarik perhatian orang-orang yang berada di halaman sehingga merekapun segera berpaling. Namun yang mereka lihat hanyalah Daruwerdi dan kedua orang pamannya saja. Pangeran Sena Wasesa yang tidak sabar lagi menyosong sambil bertanya “Dimana ibumu?“ Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Ketika ia turun tangga pendapa, ia menjawab dengan suara bergetar seperti tangannya “Ibu tidak ada di rumah“ “Kemana?“ Rahulah yang meloncat mendekat. Daruwerdi bergeser surut. Dengan ragu-ragu ia menjawab “Aku tidak tahu. Menurut penunggu rumah ini. ibu pergi bersama seseorang yang tidak dikenal?“ “Kau jangan bohong” geramRahu. “Ya” jawab salah seorang pamannya “ibunya pergi tanpa diketahui dengan pasti. Seseorang telah datang dan membawanya” “Siapa?“ desak Rahu. Paman Daruwerdi itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menggeleng sambil menyahut “Penunggu rumah ini tidak tahu, siapakah orang itu” Rahu ternyata tidak sabar lagi. Iapun segera meloncat dan melintasi pendapa masuk ke pr inggitan. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Dengan sareh ia bertanya “Apakah maksudmu sebenarnya Daruwerdi? Apakah kau masih ingin mengelak dan berusaha agar ibumu tidak dapat bertemu dengan aku?“ “Tidak Pangeran” jawab Daruwerdi “ibu memang tidak ada di rumah ini” “Aku bersaksi Pangeran” berkata salah seorang pamannya. Pangeran itu mengangguk-angguk. Ia mempercayai kedua paman Daruwerdi yang nampaknya berkata dengan jujur, sesuai dengan sikap mereka yang lebih terbuka dari Daruwerdi sendiri. Meskipun demikian Pangeran itu berkata “Apakah aku di perkenankan masuk?“ “Silahkan Pangeran” jawab salah seorang pamannya. Pangeran Sana Wasesapun kemudian memasuki rumah itu diikuti oleh Kiai Kanthi dan anak gadisnya, Semi dan Jlitheng yang termangu-mangu di belakang, Rahu yang lebih dahulu berada di dalam rumah itu, sebenarnyalah tidak melihat seorang perempuan yang dicarinya. Setiap bilik telah dimasukinya. Namun akhirnya ia bertemu dengan orang tua penunggu rumah itu. Ketika ia bertanya kepadanya, maka orang tua itu menjawab sebagaimana dikatakannya kepada Daruwerdi. “Kau tidak bohong?“ bertanya Rahu. “Tidak Ki Sanak . Apakah keuntunganku dengan berbohong?“ jawab orang itu. Rahu tertegun sejenak. Dipandanginya keadaan disekelilingnya. Sepi. Dan agaknya jika benar ibu Daruwerdi ada di rumah itu, ia tidak akan sempat pergi terlalu jauh Sementara itu, menilik sikap dan kata-katanya, orang tua itu telah mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi serta orang- orang yang lain mendekatinya, dan mendengar orang tua itu mengatakan sekali lagi apa yang telah terjadi, maka merekapun mengambil kesimpulan, bahwa sebenarnyalah ibu Daruwerdi tidak ada di rumah itu. Dengan agak memaksa seseorang telah membawanya. “Apakah kau benar-benar tidak mengenal orang dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan orang itu, anggar Daruwerdi?“ bertanya Kiai Kanthi. Daruwerdi menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak mengenalnya” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara itu iapun kemudian menelit i seluruh isi ruangan. Dilihatnya benda- benda yang ada di dalam ruangan itu. Dari benda yang tersangkut didlinding sampai kepada benda yang terletak di ajug-ajug, di gledeg kayu dan di amben bambu. Namun tiba-tiba jantungnya berdesir ketika ia memandang pintu ruang dalam rumah itu. Ia melihat sesuatu yangtidak begitu jelas pada mulanya. Namun ketika ia mendekatinya dan dengan saksama ia melihat sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. “Pangeran” desis Kiai Kanthi “Apakah. Pangeran mengenal tanda seperti ini?“ Pangeran Sena Wasesa mendekatinya. Nampak kerut di dahinya, Kemudian perlahan- lahan ia berdesis “Jadi ia pernah menjamah rumah ini” “Tentu orang itulah yang telah membawa ibu Daruwerdi. Ciri-cir i yang dikatakan oleh penunggu rumah ini mempunyai beberapa persamaan. Janggut dan jambang rambutnya memang dapat saja sekali waktu dipelihara, tetapi pada kesempatan lain di babatnya sampai habis” sahut Kiai Kanthi. Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Sejenak ia mengamati tanda yang nampak di pintu kayu itu, Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Apakah ada tanda serupa di ruang ini?“ “Kita akan mencarinya” desis Kiai Kanthi. Dalam pada itu, Rahu, Semi dan Jlithengpun telah melihat tanda itu pula. Namun mereka tidak mengenal tanda yang nampak tidak terlalu jelas di daun pintu yang terbuat dari kayu itu. “Apakah Kiai mengenal tanda ini?“ bertanya Jlitheng kepada Kiai Kanthi. Kiai Kanthi tidak menjawab. Tetapi ia berpaling kepada Daruwerdi dan kedua pamannya yang berdiri termangu- mangu. Daruwerdi menjadi tegang. Tetapi kedua pamannya tidak tahu, apa yang telah menarik perhatian orang-orang itu. “Ternyata guru dengan sengaja meninggalkan tanda itu” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Ada beberapa arti yang dapat di urai dari tanda yang sengaja ditinggalkan itu. Apakah dengan demikian gurunya bermaksud memberi per ingatan kepada orang-orang yang telah membawa Daruwerdi itu, atau justru gurunya telah menantang agar orang-orang yang terlibat dalam persoalannya itu datang ke padepokannya. Apalagi karena justru gurunya telah membawa ibunya dengan agak memaksa. Dalam pada itu, Kiai Kanthipun kemudian berkata kepada Jlitheng dan orang-orang yang mengamati tanda itu dengan heran “Tanda ini sudah pernah aku kenal beberapa tahun yang lalu. Orang itu telah menggoreskan sebilah pisau kecil pada dinding kayu atau kepada benda-benda lain yang dikehendaki. Sebuah lingkaran dengan sebuah garis yang membelah lingkaran itu, adalah tanda yang terbiasa ditinggalkan oleh seorang yang disebut “Ajar Cinde Kuning” “Ajar Cinde Kuning“ Rahu mengulang “nama iltu pernah aku dengar. Tetapi nama itu tidak banyak disebut orang pada saat-saat terakhir” “Benar” berkata Pangeran Sena Wasesa “Yang terdengar kemudian adalah sebutannya “Macan Kuning” “O“ Rahu mengangguk-angguk. Namun nampak dahinya berkerut menit. Dengan sungguh-sungguh iapun kemudian berkata “Jadi ibu Daruwerdi kini berada di tangan Macan Kuning? Tetapi apakah hubungan Macan Kuning dengan Daruwerdi?“ Semua orang berpaling kepadanya. Daruwerdi menjadi agak gugup. Namun kemudian katanya “Aku t idak tahu, apakah hubungan antara ibuku dengan orang yang kau sebut- sebut itu. Akupun tidak tahu siapakah orang itu dan tanda lingkaran yang terbelah itu” Pangeran Sena Wasesa melangkah mendekatinya. Katanya “Daruwerdi. Ibumu ada di tangan orang yang memiliki nama, ciri dan pertanda kehidupan tersendiri. Jika kau belum mengenal orang itu, baiklah aku memberikan peringatan kepadamu, cobalah membayangkan, seorang yang pada hari- hari terakhir hidup terasing dengan murid-muridnya yang khusus. Yang hampir tidak pernah berada di dalami lingkungan pergaulan sewajarnya, meskipun aku yakin, ia adalah seorang yang memiliki pengalaman. Bahkan orang itu adalah seorang yang pernah mempunyai lingkungan yang luas” Daruwerdi t idak dapat segera menjawab. Sekilas dipandanginya kedua pamannya berganti-ganti. Tetapi karena kedua pamannya tidak mengetahui ciri-cir i iltu, maka mereka tidak mengatakan apa-apa. Yang mereka ketahui bahwa laki- laki tua yang disebut kakek oleh Daruwerdi dan sekaligus gurunya itu memang hubungan dengan ibu anak muda itu, sebagaimana di katakannya, bahwa ibu Daruwerdi telah diakunya sebagai anak perempuannya sendiri. Namun bahwa orang tua itu telah dikenal dengan tandanya yang khusus itu, keduanya justru tidak mengetahuinya. Dalam kebimbangan itu, maka Pangeran Sena Wasesa berkata “Daruwerdi. Aku ingin memberimu peringatan, orang itu tidak dapat di ketahui watak dan tabiatnya. Ia kadang- kadang disebut sebagai seorang yang berbudi manis. Penolong dan pengasih. Tetapi kadang-kadang dikenal sebagai orang yang paling kejam di seluruh Demak dan bahkan seluruh wilayah kekuasaan pada jamannya. Karena itu, jika orang itu telah membawa ibumu dengan paksa, maka hal itu perlu kau pertimbangkan. Meskipun demikian, seandainya kami mengetahui dengan pasti, hubunganmu dengan orang itu atau dengan ibumu, kamipun masih harus membuat perhitungan-perhitungan tertentu. Orang yang disebut Macan Kuning dalam sifat dan tabiatnya yang kasar, ia adalah orang yang ditakuti karena ilmunya yang luar biasa. Agaknya secara pribadi kami semuanya disini harus mengakui, tidak ada seorangpun diantara kami yang akan mampu mengimbangi ilmunya. Adalah untung sekali apabila ibumu dibawa oleh orang itu dalam wataknya sebagai Ajar Cinde Kuning yang tidak segarang tabiatnya namanya Macan Kuning” Daruwerdi menjadi bimbang. Menilik penjelasan Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi, maka nampaknya mereka mengenal dengan baik orang yang disebut Ajar Cinde Kuning dan yang bernama lain Macan Kuning itu. Namun Daruwerdi sendiri mengenalnya dengan nama Pamotan Galih. Tetapi ciri yang ada dipintal itu memang pernah dikenalnya dan dilihatnya terdapat pada gurunya yang disebutnya juga sebagai kakeknya. Daruwerdi mulai dicengkam oleh kebimbangan. Ia mulai membayangkan, bahwa kegagalannya membuat gurunya marah dan dengan demikian maka kemarahannya ditumpahkannya kepada ibunya. Tetapi menurut pengamatannya, kakeknya itu bersikap baik kepada ibunya selama ibunya diakunya sebagai anaknya. Dalam kebimbangan itu Kiai Kanthipun berkata “Angger Daruwerdi. Pengenalan kami terhadap orang yang meninggalkan tanda itu, mencemaskan kami. Sebenarnyalah kami dapat tidak menghiraukan hal ini sama sekali, karena kami sadar, seperti yang dlikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa, bahwa orang yang berciri lingkaran yang dibelah oleh garis melintang itu adalah seorang yang memiliki kemampuan yang tidak ada bandingnya. Baik ia bernama Ajar Cinde Kuning maupun dalam sifat dan tabiatnya Sebagai Macan Kuning. Jika kami sekedar memikirkan kepentingan kami, maka kaulah yang harus bertanggung jawab atas kehadiran Pangerani Sena Wasesa, atas peristiwa yang terjadi di pategalan itu sehingga beberapa orang menjadi korban kekejaman sesamanya. Juga peristiwa di puncak bukit. Namun perasaan kami tidak mapan jika kami membiarkan ibumu dibawa oleh orang yang tidak kami ketahui dengan pasti itu. Meskipun kami harus memikirkannya berulang kali, bagaimana tindakan yang dapat kami ambil selanjutnya” Keragu-raguan di hati Daruwerdi menjadi semakin memuncak. Sementara itu, seorang dari kedua pamannya yang cemas akan keadaan ibu Daruwerdi itu berkata “Pertimbangkan baik-baik Daruwerdi. Kau dapat memilih mana yang terbaik bagimu dan bagi ibumu sekarang ini” Daruwerdi masih tetap termangu-onangu. Ketika ia memandang Pangeran Sena Wasesa, maka Pangeran itu berkata “Ada yang kau sembunyikan. Tetapi kau perlu mengingat keselamatan ibumu” “ Pertimbangkan baik-baik” desis pamannya yang seorang lagi. Daruwerdi menjadi semakin bimbang. Tanpa sesadarnya dipandanginya orang-orang yang berada disekitarnya. Kedua pamannya, Kiai Kanthi, Pangeran Sena Wasesa, Rahu, Jlitheng. Semi dan Swasti. Seolah-olah terngiang kata-kata mereka melingkar ditelinga. Semakin lama semakin keras, semakin keras, sehingga akhirnya Daruwerdi itu memegangi telinganya sambil berteriak “Aku akan mengatakan. Aku akan mengatakan” Kedua pamannya telah meloncat memeluknya. Dengan sareh salah seorang dari keduanya berketa “Tenanglah Daruwerdi. Tidak seharusnya kau kehilangan akal Kau adalah anak muda yang telah dengan berani melangkah. Karena itu, kau harus menghadapi segalanya dengan tabah dan hati terbuka” Daruwerdi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Nafasnya menjadi terengah-engah, la tidak merasakan kegelisahan seperti itu pada saat ia menerima keputus- an Yang Mulia Panembahan Wukir Gading untuk menerima kematiannya dengan cara yang paling mengemikan sekalipun. Namun ketika masalahnya menyangkut ibu dan kakeknya, maka ia benar-benar menjadi bingung. “Daruwerdi” berkata pamannya yang lain “Jika kau bersedia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, maka beban dihatimu itu akan menjadi berkurang. Seakan-akan kau telah meletakkan sebagian dari beban itu kepundak orang lain atau melepaskannya sama sekali” Daruwerdi yang dicengkam oleh kebimbangan itu masih saja sangat gelisah. Namun sikap pamannya perlahan-lahan dapat memberikan keterangan kepadanya. “Katakan” desis salah seorang pamannya. Daruwerdipun kemudian memandang Kiai Kanthi dan Pangeran Sena Wasesa. Pangeran itupun nampaknya tidak membayangkan dendam sama sekali. Bahkan terpancar perasaan ibu yang mendalam melihat keadaan Daruwerdi itu. Sejenak Daruwerdi terdiam. Namun kemudian terloncat dari mulutnya “Aku mengenal orang yang membawa ibuku” Kata-kata itu mengejutkan beberapa orang. Tetapi Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi nampaknya tidak terkejut karenanya. Bahkan Pangeran Sena Wasesa berkata “Aku sudah menduga. Karena itu, katakan. Mungkin kita dapat berbuat sesuatu. Aku berkepentingan dengan ibumu, justru karena usahamu untuk menangkap aku dengan alasan bahwa aku telah membunuh ayahmu” ”Katakan“ sekali lagi pamannya berdesis ditelinga Daruwerdi. Daruwerdi masih nampak tegang. Meskipun demikian, nalarnya sudah mulai dapat dikuasainya kembali. Perlahan- lahan ia berkata “Orang yang meninggalkan tanda di pintu itu adalah kakekku” “Kakekmu?“ kedua orang tua itu hampir berbareng mengulanginya. Keduanya benar-benar terkejut mendengar pengakuan itu ”Apakah ia benar-benar kakekmu?“ desak Kiai Kanthi. “Ia kakek angkatku” Jawab Daruwerdi. Lalu “sekaligus guruku” Kiai Kanthi dan Pangeran Sena Wasesa itu saling berpandangan. Diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesa berkata “Jika ilmu anak itu disadapnya dari orang tua itu, maka yang dapat dilihat adalah wataknya yang berbeda dengan watak ilmu Ajar Cinde Kuning“ “Aku tidak mengenal Ajar Cinde Kuning. Guruku bernama Pamotan Galih” potong Daruwerdi. Pangeran Sena Wasesa mengangguk sambil menjawab “Ya. Gurumu memang bernama Pamotan Galih. Tetapi apakah menurut pendapatmu, seseorang tidak akan dapat menyebut dirinya dengan dua atau tiga nama? Dan apakah namamu sendiri memang Daruwerdi, sebagaimana orang-orang yang sekarang ada disini? Apakah kau yakin bahwa yang berdiri disebelahku ini namanya memang Kiai Kanthi, yang lain Rahu dan Jlitheng?” Wajah Daruwerdi menegang. Tetapi iapun kemudian menundukkan kepalanya. “Daruwerdi” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian “nampaknya memang ada persoalan yang masih harus diselesaikan. Aku mempunyai beberapa dugaan tentang usahamu selama ini di Daerah Sepasang Bukit Mati. Agaknya kau tidak berdir i sendiri. Mungkin kau mendapat tugas dari orang yang kau sebut bernama Pamotan Galih itu. Atau mungkin dalam hubungan yang berbeda. Tetapi sebaiknya kau melihat, apakah kakek angkatmu itu tidak berbuat apa-apa terhadap ibumu” “Kakek baik terhadap ibuku” geram Daruwerdi. Sokurlah. Tetapi segalanya dapat berubah seperti juga nama seseorang dapat berubah” sahut Pangeran Sena Wasesa “Sehingga menurut pendapatku, sebaiknya kita melihat, apakah benar-benar ibumu berada dalam keadaan baik. Mungkin kau mengetahui dimanakah padepokan kakekmu itu, atau sebenarnyalah bahwa sebelum kau datang ke Daerah Sepasang Bukit Mati, kau berada di padepokan kakekmu itu” Daruwerdi menjadi ragu-ragu. tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa tentu ada sesuatu yang telah menyangkutkan ibunya dengan Pangeran Sena Wasesa. Ketika ia tampil dalam tugasnya itu, ibunya berusaha mencegahnya. Sehingga ia memang melihat sikap yang agak berbeda antara ibunya dan kakeknya. “Daruwerdi” berkata Pangeran Sena Wasesa “Apakah kau bersedia membawa kami kepada kakek dan sekaligus gurumu itu? Di padepokan itu aku akan dapat bertemu kakekmu sekaligus ibumu. Mungkin ada hal-hal yang dapat mereka jelaskan, sehingga persoalan ini tidak hanya sekedar menjadi sebuah teka-teki. Aku sadar, bahwa bukan kau yang seharusnya mempertanggung jawabkan persoalan ini, karena kau hanya sekedar melaksanakan satu tugas yang dibebankan kepadamu” Daruwerdi termangu-mangu. Tetapi sekali lagi pamannya berkata “Kau harus memikirkan ibumu” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia mengangguk kecil sambil berkata “Aku akan menunjukkan kalian dimana kakek tinggal. Tetapi peristiwa apa yang berkembang kemudian, aku tidak dapat mengatakannya” Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Rasa- rasanya ia dapat meraba pikiran anak itu. Agaknya tidak mustahil bahwa gurunyalah yang telah memberikan segala rencana yang harus dilakukan oleh Daruwerdi di daerah Sepasang Bukit Mati ini. Namun demikian, iapun tidak dapat ingkar, bahwa orang yang mempunyai tanda seperti yang tertera di pintu itu, adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Sejenak Pangeran itu termenung. Kiai Kanthipun nampaknya sedang berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan. Iapun mengenal seseorang dengan tanda seperti yang tertera di pintu itu. Dengan demikian, jika benar mereka akan menemukannya, maka mereka akan memasuki satu tugas yang sangat berat dan berbahaya. Namun sejenak kemudian Pangeran Sena Wasesa itupun berkata “Aku akan menemui kakek dan sekaligus gurumu. Apapun yang akan dilakukan. Aku memerlukan penjelasan dari peristiwa yang telah terjadi. Aku mempunyai dugaan, bahwa kau hanyalah pelaksana dati rencana yang telah disusun gurumu” “Tidak” t iba-tiba saja Daruwerdi berteriak “Aku bertanggung jawab atas perbuatanku” Tetapi Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam sambil menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku sudah dapat menduga ngger, apa yang telah terjadi. Kau tidak tahu apa- apa tentang aku, tentang pusaka dan barangkali tentang harta karun yang disangka orang tersembunyi di daerah Sepasang Bukit Mati ini” Wajah Daruwerdi menjadi merah. Tetapi ia tidak dapat ingkar terhadap pengenalannya atas dirinya sendiri. Namun yang tidak diketahuinya adalah, bahwa gurunya tiba-tiba telah berada di daerah Sepasang Bukit Mati pula. “Nampaknya guru memang tidak percaya sepenuhnya kepadaku” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Sementara itu Pangeran Sena Wasesapun berkata “Daruwerdi. Baiklah aku akan mengikutimu ke padepokan gurumu, dengan sepenuh kesadaran menghadapi peristiwa apapun yang akan berkembang kemudian. Tetapi aku tahu bahwa gurumu adalah orang yang luar biasa. Aku kira diantara kita disini tidak seorangpun yang akan dapat mengimbangi ilmunya. Namun penjelasan itu sangat penting bagiku, dan barangkali iapun memerlukan penjelasanku” “Tetapi padepokan guru tidak terlalu dekat” berkata Daruwerdi. “Dimanapun. Kita akan pergi” jawab Pangeran Sena Wasesa. Daruwerdi memandang kedua pamannya sejenak. Ketika kedua pamannya mengangguk, maka katanya “Baiklah. Aku akan mengantar Pangeran ke padepokan itu” “Terima kasih” jawab Pangeran Sena Wasesa “Besok pagi- pagi kita akan berangkat. Biarlah kita beristirahat malam ini, sementara kita sempat mengurus orang-orang yang tertangkap dan barangkali Yang Mulia Panembahan Wukir Gading” Kiai Kanthipun mengangguk-angguk. Kalanya “Menarik sekali untuk menemui arang yang disebut bernama Pamotan Galih itu” ”Kiai juga akan pergi?“ bertanya Pangeran. “Aku kira aku juga ingin ikut bersama Pangeran” jawab Kiai Kanthi. Pangeran Sena Wasesa sama sekali tidak berkeberatan. Namun mereka telah sepakat untuk berangkat dikeesokan harinya. Sementara itu, Rahu, Semi dan Jlitheng teiah kembali ke puncak bukit. Setelah segalanya diselesaikan, maka mereka telah membawa beberapa orang yang terlawan dan terluka turun ke Padukuhan Lumban. Mereka telah menempatkan Yang Mulia, yang ternyata mengalami cidera di bagian dalam tubuhnya, sehingga ia telah kehilangan sebagian besar dari kemampuannya karena cacat yang akan diderita, di Banjar Padukuhan Lumban Kulon. Cempakapun telah di tempatkan di banjar pula dengan pengawalan yang kuat, sementara tangan dan kakinya masih harus terikat. Malam itu, Rahu, Jlitheng. Semi dan kawannya sempat berbincang. Rahu dan Jlitheng berniat untuk ikut bersama Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi, sementara Semi dan kawannya akan tinggal bersama anak-anak muda Lumban. Mungkin ada sesuatu yang dapat mengganggu padukuhan itu. Beberapa kelompok lain, tentu akan segera mendengar apa yang telah terjadi di puncak bukit. Orang-orang yang sempat melarikan diri, apakah ia orang Sanggar Gading atau orang Kendali Putih, akan dapat menjadi sumber tersebarnya berita tentang peristiwa di Lumban itu dalam keseluruhan. Pada malam itu juga Rahu dan Jlitheng telah menyampaikan maksudnya untuk ikut bersama kedua orang tua itu ke padepokan orang yang disebut oleh Daruwerdi bernama Pa-motan Galih. Pangeran Sena Wasesa tidak dapat menolak. Ia sadar, bahwa Rahu mengemban tugas khusus, sementara Jlithengpun tentu bukan anak Lumban Wetan yang ternama Jlitheng sejak lahirnya. Malam itu, Daruwerdi hampir tidak dapat tidur barang sekejappun. Hatinya menjadi sangat gelisah. Menjelang pagi, ia tidak dapat menahan dir i lagi. Dengan hati-hati ia membangunkan kedua pamannya yang sedang tidur. “Paman” desisnya “Aku t idak dapat tidur barang sekejappun” “Kau harus menghadapi kenyataan ini dengan ikhlas. Dengan demikian kau tidak akan menjadi sangat gelisah. Cobalah beristirahat sebelum kita menempuh perjalanan yang panjang” desis pamannya. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya ”Paman, aku kira aku tidak dapat mengatasi kegelisahan ini. Aku tahu, betapa guru adalah orang yang keras hati” “Ya” desis pamannya. Ia hanya ingin penjelasan. Tetapi apakah yang akan terjadi jika Pangeran itu benar-benar bertemu dengan guru?“ desis Daruwerdi. Lalu “Guru dapat mengambil sikap yang keras dan kasar tanpa menghiraukan mendapat sikap yang keras dan kasar tanpa menghiraukan mendapat orang lain. Langsung atau tidak langsung, Pangeran itu dan juga ternyata orang tua di lereng bukit itu, bersama anak-anak Lumban telah menyelamatkan aku dari kemarahan Yang Mulia. Kegagalan ini bukan salahku semata-mata. Ternyata apa yang diperhitungkan guru, masih juga kurang cermat” “Aku tidak mengerti apa yang telah kau lakukan sebelumnya, dan persetujuanmu dengan gurumu Daruwerdi” sahut pamannya “Tetapi niat Pangeran Sena Wasesa dapat dimengerti sepenuhnya” “Aku mengerti paman” jawab Daruwerdi “Aku justru gelisah karena Pangeran itu akan menemui guru. Bukankah yang dikehendaki guru adalah Pangeran itu. meskipun semula ia tidak ingin menampakkan dirinya” Kedua pamannya menar ik nafas dalam-dalam, la mengerti, bahwa persoalan di dalami hati Daruwerdi itu telah berkembang. Nampaknya ia mulai menilai keadaan dengan hati yang semakin terang. Kegelisahannya kemudian adalah justru karena nasib Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi aku tidak akan dapat mencegahnya” berkata Daruwerdi “Jika aku berusaha untuk mencegahnya, maka akan timbul salah paham. Pangeran Sena Wasesa akan menganggap bahwa aku tidak mau memenuhi keinginannya bertemu dengan guru yang justru telah meninggalkan tanda di pintu itu” Kedua pamannya masih mengangguk-angguk Kemudian salah seorang diantaranya berkata “Katakan terus terang, apa yang sebenarnya telah terjadi. Pembicaranmu dengan gurumu dan sikap yang dapat diambil oleh orang tua itu” Daruwerdi mengangguk-angguk kecil. ”Sudahlah” berkata pamannya yang lain “pergunakan sisa malam ini untuk beristirahat. Sebentar lagi ayam jantan akan berkokok untuk yang terakhir kalinya. Jika kau sama sekali tidak tertidur barang sekejappun dalam keadaan seperti ini, maka keadaan wadagmu mungkin sekali akan terganggu. Kecuali j ika kau memang menghendakinya untuk tidak tidur barang sekejappun sebagaimana dalam latihan- latihanmu dalam olah kanuragan. Besok kau harus lebih terbuka menghadapi Pangeran Sena Wasesa” Daruwerdi mengangguk pula. Perlahan-lahan ia meletakkan tubuhnya dipambaringannya. Ia berusaha melepaskan semua kegelisahannya. Ia sudah bertekad untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Biarlah Pangeran Sena Wasesa dan gurunya mencari penyelesaian. “Bukan tanggung jawabku lagi” berkata Daruwerdi di dalam hatinya “Aku ternyata tidak mampu mengatasi persoalan ini. Biarlah seandainya guru akan menyebutku terlalu bodoh dan dungu” Dengan demikian, maka hati Daruwerdi menjadi sedikit tenang. Sehingga iapun sempat untuk memejamkan matanya barang sekejap. Diluar pengetahuannya, ternyata di luar Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi mendengar pembicaraan itu meskipun lamat-lamat. Keduanya memang tidak membiarkan Daruwerdi lepas dari pengawasan. Karena itu maka keduanya telah duduk duduk berjaga-jaga di luar bilik. Semula mereka bergantian iidur. Namun menjelang pagi keduanya telah tidak berniat lagi untuk tidur. Justru pada saat mereka duduk memeluk lutut, terdengar pembicaraan Daruwerdi dengan kedua pamannya. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun keduanya hanya sekedar saling berpandangan, karena keduanya tidak dapat berbincang pada saat itu. Baru setelah fajar menjadi semakin terang, keduanya turun kehalaman. Mereka melihat kejujuran mulai tumbuh dihati Daruwerdi yang tidak lagi dapat berbuat lain menghadapi keadaan. “Agaknya orang yang disebut Pamotan Galih adalah Ajar itu dalam ujudnya sebagai Macan Kuning” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Atau sebuah ujud ketiga dari orang yang bernama Pamotan Galih dengan sifat diantara kedua ujudnya yang lain, atau justru kita akan menemukan seseorang yang mempunyai sifat lebih garang lagi dari Macan Kuning” sahut Kiai Kanthi. Kedua orang itupun kemudian hanya dapat merennunginya. Ketika langit menjadi semakin terang, maka kedua orang tua itu telah selesai dengan mandi dan membenahi pakaiannya. Sebentar kemudian kedua paman Daruwerdipun telah bersiap. Yang terakhir adalah Daruwerdi sendir i. Sementara Rahu dan Jlithengpun telah hadir pula untuk bersama-sama pergi ke tempat yang mendebarkan. “Jarak antara padukuhan ini dengan padepokan kakek Pamotan Galih cukup jauh” berkata Daruwerdi. “Kita akan menempuh perjalanan yang bagaimanapun jauhnya” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi apa yang terjadi kemudian bukanlah tanggung jawabku” berkata Daruwerdi kemudian “guru adalah orang yang keras hati dan sedikit kasar, la orang baik bagi aku dan ibuku. Tetapi aku t idak tahu, apakah ia dapat berlaku baik kepada orang lain” “karena itu biarlah aku pergi ke padepokan gurumu t idak seorang diri, agar aku dapat membawa saksi. Persoalannya tentu tidak akan terlalu gawat, karena yang aku perlukan hanya penjelasan dan mungkin akupun perlu memberi penjelasan. Aku tahu bahwa yang kau lakukan di daerah Sepasang Bukit Mati ini bukan karena kehendakmu sendiri sebagaimana aku sebut sejak semula. Kau tentu tidak mengenal aku dengan wajar, kaupun tidak tahu bahwa ada pusaka tersimpan di daerah ini, apalagi bahwa ayahmu telah terbunuh oleh seorang Pangeran yang harus kau tangkap dan kau bawa kepada gurumu yang bernama Pamotan Galih itu” Daruwerdi menundukkan kepalanya. Namun kemudian terucapkan disela-sela bibirnya “Ya. Aku tidak tahu apa-apa” Dalam pada itu, ketika segalanya diperlukan, Swastipun tidak mau dit inggalkan di Lumban. Ia lebih senang mengikuti ayahnya kemana saja ia pergi dan apapun yang akan terjadi. “Baiklah Swasti” berkata ayahnya “Tetapi kau sudah mengetahui bahwa perjalanan ini adalah perjalanan yang berat. Bukan saja jarak yang panjang, yang harus kita tempuh berkuda, tetapi apa yang akan kita jumpai itupun masih merupakan teka-teki. Tetapi Swasti berkeras untuk mengikuti ayahnya, sehingga karena itu maka ayahnyapun tidak menolaknya. Swasti tidak menjawab. Ia mengerti. Namun latihan siapkan pula kuda masing-masing. Meskipun Swasti pada saat terakhir tidak pernah lagi duduk diatas punggung kuda, tetapi pada dasarnya ia sudah pernah melakukannya sebelumnya iapun akan dapat pergi bersama dengan ayahnya dipunggung kuda. “Perjalanan yang akan sangat melelahkan” desis ayahnya. Swasti tidak menjawab. Ia mengerti. Namun latihan kanuragan yang dilakukannya sebaik-baiknya telah membantu membentuk tubuhnya menjadi kuat dengan daya tahan yang tinggi. Demikianlah, maka iring- iringan kecil itupun kemudian telah meninggalkan Lumban. Mereka ke sebuah padepokan yang jauh dan menegangkan. Kepada kawannya Jlitheng sempat berpesan, agar disampaikan kepada ibunya, bahwa ia sedang pergi ke tempat yang jauh. “Aku mohon maaf, bahwa aku tidak sempat mohon dir i“ pesan Jlitheng kepada kawannya itu. Kemudian “Tetapi katakan, bahwa aku hanya sekedar mengantarkan seseorang. Tidak akan terjadi apa-apa” Kawannya mengangguk. Namun kawannya itupun mulai menyadari, bahwa Jlitheng yang dikenalnya selama itu, adalah bukan satu pribadi yang sebenarnya. Dan iapun tahu bahwa hubungan antara Jlitheng dan ibunya itupun adalah hubungan yang di jalin kemudian. “Tetapi mungkin seperti yang selalu dikatakan oleh ibunya, bahwa Jlitheng adalah anaknya yang hilang puluhan tahun yang lalu, yang kemudian datang kembali dengan segala macam kelebihannya itu” berkata kawannya di dalam hatinya. Tetapi ia cenderung menganggap bahwa Jlitheng benar-benar orang lain bagi Lumban. Demikianlah, iring- iringan itu semakin lama menjadi semakin jauh dari Lumban. Mereka berkuda tidak terlalu cepat Tetapi juga tidak terlalu lambat. “Kami akan bermalamdi perjalanan” berkata Daruwerdi. Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian “Apakah kau dapat menyebut nama padepokannya?“ “Padepokan Watu Gingsir” jawab Daruwerdi. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Nama itu belum dikenalnya. Ketika ia berpaling kearah Kiai Kanthipun menggeleng pula. “Nama itu asing” gumam Kiai Kanthi “Yang aku ketahui Macan Kuning itu bersarang di sekitar tempuran antara Kali Elo dan Kali Praga” “Memang jauh sekali” desis Pangeran Sena Wasesa “nampaknya daerah jelajah Kiai jauh lebih luas dari daerah yang pernah aku kenal. Tetapi mungkin yang dimaksud Padepokan Watu Gingsir itu juga tertelak di sekitai tempuran antara Kali Elo dan Kali Praga itu” “Apakah yang kau maksud Padepokan Walu Gingsir itu juga padepokan yang terletak disekitar tempuran itu Daruwerdi?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada kedua pamannya, maka salah seorang dari mereka berkata “Sebenarnyalah guru Daruwerdi itu adalah seorang yang diliputi oleh kabut rahasia. Tidak dapat menyebut dengan jelas, siapakah sebenarnya orang itu, dan dimanakah ia tinggal. Apalagi aku yang tidak terlalu dekat dan akrab dengan orang yang mengaku orang tua saudara perempuanku itu” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mengulangi pertanyaan Pangeran Sena Wasesa “Katakan, dimana letak padepokan itu menurut pengertianmu” “Padepokan itu terletak disisi Selatan dari Tanah ini” jawab Daruwerdi. “Jika demikian, mungkin sekali padepokan itu memang terletak di tempuran. Tetapi segalanya masih belum pasti” berkata Kiai Kanthi “namun demikian, tanda itu memang sangat mendebarkan” Rahu dan Jlitheng yang berkuda dipaling belakang, tidak banyak mengetahui tentang orang yang disebut Ajar Cinde Kuning maupun Macan Kuning. Meskipun nama itu pernah didengarnya, tetapi mereka belum pernah berhubungan dalam hal apapun juga. Sejenak kemudian, maka orang-orang di dalam ir ing- iringan itu hanya terdiam. Mereka tenggelam dalam angan-angan masing-masing. Namun semuanya yang ada diperjalanan itu tengah merenungkan orang yang telah meninggalkan tanda dipinta tempat tinggal Daruwerdi. Perjalanan itu memang merupakan perjalanan yang berat. Sekali-sekali Daruwerdi harus mengingat-ingat, jalan manakah yang harus dilalui. Mereka masih harus menembus hutan yang gelap oleh pepohonan yang berdaun lebat. Beberapa batang raksasa tumbuh menjulang seolah-olah menggapai langit Bagi Swasti perjalanan itu benar-benar menjemukan dan melelahkan. Untunglah ia mempelajari kanuragan dengan sebaik-baiknya. Meskipun demikian sekali-sekali iapun berdesis tertahan. Namun ia tidak ingin keluhannya itu didengar oleh orang lain. Namun pada suatu saat, Daruwerdi tertegun. Ketika ia berdiri di bawah sebatang pohon randu alas ia menjadi termangu-mangu. Dihadapannya jalan bercabang. Justru setelah mereka keluar dari sebuah hutan yang lebat. “Paman, jalan yang manakah yang harus aku pilih?“ bertanya Daruwerdi. Kedua pamannyapun menjadi bingung. Yang seorang menjawab “Aku belum pernah pergi ke padepokan kakekmu itu. Aku mengenal kakekmu di rumahmu, di rumah ibumu” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu pamannya yang lain berkata “Apakah mungkin gurumu justru membawa ibumu t idak ke padepokannya?“ “Tentu ke padepokannya” berkata Daruwerdi. “Tetapi bagaimana kau mengetahui daerah Sepasang Bukit Mati itu?“ bertanya Kiai Kanthi tiba-tiba. “Guru mengantar aku sampai kesatu tempat yang tidak lagi membingungkan” jawab Daruwerdi. Iring-ir ingan itu terpaksa berhenti sejenak. Namun Jlitheng yang muda itu nampaknya kurang sabar menghadapi kebingungan Daruwerdi. Dengan nada tinggi ia bertanya “Daruwerdi, apakah kau benar-benar bingung atau sekedar mencari dalih” Wajah Daruwerdi menjadi merah. Dengan geram ia menjawab “Kau jangan mencar i perkara Jlitheng” “Sudahlah“ Pangeran Sena Wasesa berusaha menengahi “Kita akan menunggu sejenak. Mungkin Daruwerdi akan menunggu sejenak. Mungkin Daruwerdi akan dapat mengingat jalan yang pernah ditempuhnya setelah merenungi sejenak” Tetapi nampaknya Jlitheng masih belum puas. Namun ketika ia bergeser maju, Rahu menggamitnya “Aku percaya bahwa ia benar-benar bingung. Aku melihat, bahwa anak itu tidak berusaha untuk berbohong lagi. Ia sudah tersudut pada setu keadaan yang memaksanya untuk membawa kita kepada gurunya, justru karena gurunya sendiri menghendakinya” Jlitheng menahan nafas sejenak. Namun iapun berusaha untuk meredakan gejolak diliatinya. Untuk melepaskan kesal iapun lelah duduk bersandar sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan, setelah mengikat kudanya pada batang itu pula. Namun dalam pada itu, Kiai Kanthipun kemudian berdesis “Pangeran Lihatlah” Pangeran Sena Wasesa segera mendekat. Ia melihat tanda seperti yang dilihatnya tertera pada pintu di rumah yang dipergunakan oleh Daruwerdi di Lumban. “Tanda itu lagi” desis Pangeran Sena Wasesa. “Aku kira orang itu telah dengan sengaja mengundang kita” berkata Kiai Kanthi “agaknya tanda itu dibuatnya karena ia sudah menduga bahwa jalan simpang ini dapat membingungkan Daruwerdi” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Kita akan menuju kearah ini” “Ya. Kita sudah pasti” jawab Kiai Kanthi “tetapi apakah Pangeran tidak mempunyai pengertian lain dengan sikap Macan Kuning itu” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengerti Kiai. Setelah ia gagal mempergunakan muridnya, maka ia telah dengan sengaja memasukkan aku ke dalam wuwunya” “Bagaimana pertimbangan Pangeran?“ bertanya Kiai Kanthi. “Tetapi aku tidak dapat menghindarkan diri dari satu keinginan untuk bertemu dengan orang itu” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Seharusnya Pangeran sudah tahu, apakah yang dikehendakinya dari Pangeran” jawab Kiai Kanthi dengan tiba- tiba. Wajah Pangeran Sana Wasesa menegang sejenak. Namun kemudian ia berusaha menghapus kesan itu dari wajahnya. Katanya “Sulit untuk mengerti, meskipun aku akan menduga- duga” “Dan Pangeranpun tentu sudah memperhitungkan, bahwa di padepokan itu telah menunggu bukan saja Ajar Macan Kuning atau yang disebut bernama Pamotan Galih itu, tetapi tentu sekelompok orang yang telah lama merasa berkepentingan dengan Pangeran” berkata Kiai Kanthi. Pangeran Sena Wasesa memandang Kiai Kanthi sejenak. Kemudian ia berpaling kepada Daruwerdi. Tetapi anak muda itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Aku kira orang itu sendiri Kiai” jawab Pangeran Sena Wasesa “Jika ia tidak sendiri, maka ia tidak akan meminjam tangan orang lain untuk mengambil aku dari rumahku. Tetapi karena ia sendiri, meskipun ia merasa memiliki ilmu yang lebih tinggi dari aku, atau katakanlah ilmu yang tidak kalah dari ilmuku, ia tidak mau mengambil aku langsung dari rumahku, karena ia tahu, bahwa aku mempunyai beberapa orang pengawal yang harus diperhitungkan. Bagaimanapun juga ia tidak akan dapat mengabaikan para pengawalku, dan bahkan mungkin satu kesempatan untuk memukul tanda atau isyarat yang dapat memanggil peronda prajurit Demak untuk datang” Kiai Kanthi mengangguk-angguk “Perhitungan Pangeran cermat. Tetapi setelah kegagalan itu” “Ia tidak akan melibat orang terlalu banyak ke dalamnya” berkata Pangeran Sena Wasesa. Diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesa telah menghitung orang yang datang bersamanya. Namun dengan satu kesadaran bahwa Daruwerdi tidak akan dapat di perhitungkan dengan pasti- Demikian juga kedua pamannya, meskipun agaknya kedua pamannya itu dapat berpikir dewasa menghadapi persoalan kemanakannya itu. Sejenak orang-orang yang berdiri di jalan simpang itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba Jlitheng bangkit dan melangkah mendekati Daruwerdi. Dengan geram ia bertanya “Daruwerdi, apakah gurumu masih berada disekitar tempat ini? Lihat, apakah orang yang berpura-pura menjadi seorang petani di pematang itu gurumu yang juga kau anggap kakekmu itu” Semua orang memandang ke sawah yang agak jauh. Seorang petani berjalan di pematang dengan cangkul di pundaknya. Sekali-sekali petani itu berhenti memandang ke arah orang-orang yang berada di simpang jalan itu. Namun petani itu berjalan terus. Daruwerdi mengerutkan keningnya. Jawabnya “Siapa yang dapat mengenali orang pada jarak yang sejauh itu. Tetapi aku kira guru tidak akan berada disini. Ia pergi bersama ibuku” “Tetapi beberapa hari yang lalu” sahut Jlitheng “Ia dapat membawa ibumu pulang ke padepokan. Kemudian ia datang lagi untuk mengamati kita semuanya disini” “Tidak ada orang dapat mengenal orang pada jarak sejauh ini” desis Daruwerdi. Jlitheng menjadi jengkel. Tetapi Pangeran Sena Wasesa mendahului “Sudahlah. Kita sudah dapat mengetahui arah kemana kita harus pergi. Yang per lu kita pertimbangkan adalah, apakah kita akan menemui gurumu atau tidak. Namun aku sendiri sangat berkepentingan. Mungkin ia akan bersikap lain j ika aku sudah menjelaskan masalahnya” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Kalanya “Baiklah Pangeran. Jika Pangeran berkeras untuk bertemu, aku akan mengikut Pangeran” “Aku sadar sepenuhnya Kiai” berkata Pangeran Sena Wasesa “Kiai bukan sekedar seorang penonton daiam permainan ini” “Aku seorang penonton” desis Kiai Kanthi “Tetapi aku berusaha untuk menjadi seorang penonton yang baik?” Pangeran Sena Wasesa termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata “Aku akan terus. Tetapi aku tidak tahu, apa yang akan terjadi. Aku seolah-olah akan meloncat kedaiam gelap. Mungkin aku akan jatuh keatas seonggok ular-ular berbisa. Tetapi mungkin aku akan jatuh diatas setumpuk jerami yang lunak “ “Aku akan melengkapi petualanganku di hari tua” berkata Kiai Kanthi. Namun iapun kemudian memandang kepada Swasti. Tetapi sebelum ia berbicara, Swasti telah mendahului “Dan ayah masih akan menganggap aku anak-anak yang masih pantas dibelai dengan kata-kata manis menjelang tidur?“ Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun Katanya “Swasti, segalanya terserah kepadamu” “Aku akan melihat apa yang terjadi” jawab Swasti. Kiai Kanthi hanya menarik nafas panjang. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk meskipun ia tidak mengatakan apapun juga. Sebagai orang tua, maka Kiai Kanthi melihat naluri anak gadisnya yang meningkat dewasa itu mulai menyentuh perasaannya. Justru karena Daruwerdi mempunyai kelainan dari anak-anak Lumban kebanyakan. Diluar sadarnya Kiai Kanthi memandang kepada Jlitheng. Ia yakin bahwa Jlitheng itupun bukan anak muda kebanyakan dari Lumban. Tetapi ia telah berusaha menyatukan diri sepenuhnya dengan anak-anak Lumban. Caranya berpakaian, tingkah lakunya dan bahkan ujudnyapun tidak banyak berbeda dengan anak-anak muda Lumban. Sementara itu, maka Pangeran Sena Wasesapun berkata “Baiklah Kiai. Kita akan meneruskan perjalanan. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, kita akan meloncat kedaiam kegelapan. Setiap orang diantara kita harus bersedia menerima akibat apapun juga. Meskipun mungkin sekali kepentingan kita masing-masing memang agak berbeda” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak akan dapat dihindari bahwa disetiap hati tersimpan prasangka dan kecurigaan. Tetapi Kiai Kanthi tidak banyak menghiraukannya, karena sebenarnyalah ia tidak mempunyai pamrih khusus terhadap pusaka yang sedang diperebutkan itu. Demikianlah, maka iring- iringan kecil itupun segera melanjutkan perjalanan. Setelah melewati simpangan yang membingungkan itu, maka Daruwerdi mulai mengenali lagi jalan menuju ke padepokannya yang masih jauh. Tidak banyak hambatan diperjalanan. Seolah-olah jalan memang sudah disiapkan oleh Ajar Cinde Kuning, atau dalam sikapnya sebagai Ajar Macan Kuning atau yang disebut oleh Daruwerdi bernama Pamotan Galih. Dibeberapa tempat yang agak membingungkan selalu nampak tanda-tanda yang dibuat oleh orang yang mendebarkan itu. Orang yang sebagaimana tertera dalam tanda-tanda yang dibuatnya. Bahkan ia adalah satu kebulatan, satu bentuk lingkaran, tetapi dengan garis yang membelah lingkaran itu seolah-olah orang itu mersa bahwa dirinya memang mempunyai wajah rangkap. Tetapi perjalanan yang berat itu memang tidak dapat di tempuh dalam satu hari. Mereka harus bermalam diperjalanan yang panjang. Apalagi jika mereka melintasi hutan yang lebat, maka mereka hanya dapat merayap seperti siput. Bahkan kadang-kadang mereka harus berjalan dengan susah payah sambil menarik kendali kuda mereka. “Apakah tidak ada jalan yang lebih baik” geram Jlitheng. Rahulah yang menjawab “Mungkin ada Jlitheng, meskipun agak jauh sedikit. Tetapi jalan inilah yang dikenal oleh Daruwerdi satu-satunya. Karena itu, ia tidak dapat membawa kita melalui jalan yang lain” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam Ada beberapa persoalan yang bergejolak diliatinya- Rasa-rasanya Daruwerdi menjadi semakin menjemukan baginya. Apalagi setiap kali ia melihat diluar sadarnya, Swasti selalu memperhatikan anak muda itu dengan tatapan mata yang iba. Ketika senja turun, maka mereka mulai mencari tempat yang paling baik untuk bermalam. Tidak dibulak-bulak persawahan atau di pategalan yang akan dapat mengundang persoalan dengan para pemiliknya. Tetapi mereka telah mencari tempat di hutan perdu yang agak jauh dari padesan. Untunglah bahwa mereka akhirnya menemukan tempat seperti yang mereka kehendaki. Apalagi tidak jauh dari tempat itu, di bawah sebatang pohon preh yang besar, terdapat sumber air yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi cukup memenuhi kebutuhan mereka. Ketika dingin malam mulai terasa menyentuh kulit, maka Rahu dan Jlithengpun telah mencari ranting-ranting kering untuk membuat perapian. Bagaimanapun juga perapian itu akan dapat membantu menghangatkan tubuh mereka. Hampir semalam-malaman Rahu dan Jlitheng duduk dipinggir perapian itu. Ada beberapa masalah yang mereka perbincangkan. Namun merekapun tidak pernah dapat mengambil satu kesimpulan dar i pembicaraan mereka tentang perjalanan mereka yang panjang itu. Di sebelah lain, beberapa langkah dari perapian. Pangeran Sena Wasesa duduk sebelah menyebelah dengan Kiai Kanthi, Sementara Swasti memeluk lututnya di belakang ayahnya sambil berselimut kain panjang. Daruwerdi dan kedua pamannya berbaring diatas tanah kering. Namun nampaknya merekapun tidak dapat memejamkan mata barang sekejappun. Sementara itu, ternyata diluar pengetahuan mereka, seseorang tengah mengawasi perapian itu dengan saksama. Wajahnya yang keras sekali-sekali nampak berkerut. Namun kemudian orang itu mengangguk-angguk kecil. “Mereka harus memasuki daerah kuasaku” desis orang itu di dalam hatinya “Ternyata orang gila dari Sanggar Gading itu tidak terlalu mudah untuk ditipu, sehingga aku terpaksa menunjukkan tanda-tanda pribadiku untuk memancing orang itu datang ke padepokan. Seandainya anak itu tidak gagal dengan usahanya mengelabui orang-orang Sanggar Gading, maka aku akan dapat menangkap Pangeranitu tanpa mengenali aku lebih dahulu. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan sekarang, aku akan berdiri berhadapan dengan orang itu apapun yang akan dikatakannya” Untuk beberapa saat orang itu masih saja mengawasi orang-orang yang berada disekitar perapian itu, seolah-olah ia sedang menghitung kekuatan yang ada diiantara mereka. “Jika Pangeran itu terkeras kepala, maka apaboleh buat” berkata orang yang terada di balik gerumbul itu kepada diri sendiri “Mudah-mudahan kawan-kawannya tidak akan ikut membunuh diri bersama Pangeran itu. Tetapi mereka memang perlu diperhitungkan. Bahkan kedua paman anak itupun agaknya masih harus diperhatikan sebaik-baiknya” Sejenak orang itu masih menunggu. Namun kemudian katanya “Aku harus mengadakan persiapan penyambutan. Mungkin pertemuan ini akan menjadi sangat meriah” Orang itupun kemudian beringsut semakin jauh. Sejenak kemudian maka iapun telah menyusup ke dalam gelap, mendahului perjalanan Pangeran Sena Wasesa dan kawan- kawannya. Sebenarlah bahwa orang itu harus mengadakan persiapan yang berbeda dengan rencananya semula. Jika ia dapat menerima Pangeran yang dikehendakinya dalam keadaan tidak berdaya, makatidak akan ada masalah lagi baginya. Ia sendiri tidak per lu tampil. Segalanya akan diseksaikan oleh anak muda yang disebutnya sebagai, cucu dan muridnya. Ia sendiri t inggal memetik hasil dari jerih payah muridnya itu. Tetapi ternyata yang terjadi lain dari yang diharapkannya. Yang berhasil membawa Pangeran itu kepada Daruwerdi adalah orang-orang Sanggar Gading. Dan agaknya padepokan Sanggar Gading itu memiliki pengamatan yang tajam terhadap rencananya untuk, mengelabuinya, sehingga hampir saja rencananya itu merenggut nyawa cucunya yang sekaligus mur idnya itu. Namun ternyata orang itu sama sekali mempertimbangkan upaya beberapa orang yang telah menyelamatkan nyawa cucu angkatnya itu. Termasuk Pangeran Sena Wasesa itu sendir i. Agaknya orang itu masih saja terpancang pada suatu keinginan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya meskipun ia harus menempuh cara yang berbeda. Setelah agaik jauh dari tempat pemberhentian orang-orang yang menuju ke padepokannya, maka orang itupun mengambil kudanya yang di tambatkannya pada sebatang pohon di belik gerumbul. Sejenak kemudian maka iapun berpacu menerobos gelapnya malam. Ia harus secepatnya sampai di padepokannya, karena setelah ia mengamati orang- orang yang akan datang ke padepokannya, maka ia merasa perlu untuk bersiap-siap lebih baik. Ketika ia sampai di padepokannya, maka iapun segera menemui perempuan yang telah dibawanya dengan paksa. Ibu Daruwerdi. Dengan suara lembut ia berkata kepada perempuan yang menjadi anak angkatnya itu “Kau jangan cemaskan anakmu ngger. Seperti sudah aku katakan, ia mempunyai bekal yang cukup untuk menyelamatkan dir inya sendiri. Apalagi diluar kehendakku, kedua pamannya telah menyusul. Bukankah kau yang telah membawa mereka. Tetapi baiklah, agaknya keduanya akan dapat membantu anakmu untuk melindungi dirinya sendir i” “Tetapi aku selalu cemas ayah. Kenapa ayah tidak menyelamatkannya, justru membawa aku kemari?“ bertanya perempuan itu. Orang tua itu tersenyum. Katanya “Lebih dari duapuluh lima kali aku berkata, bahwa anakmu itu akan dapat melindungi dir inya sendiri. Tetapi kehadiranmu di Lumban justru akan dapat mengganggunya. Mungkin Pangeran itu akan menjadi gila melihatmu, sehingga ia segera menuduh, seolah-olah kaulah yang telah bersalah, sehingga Pangeran itu telah diambil dari istananya” “Aku akan dapat berbicara dengan Pangeran” jawab perempuan itu. “Sudahlah, aku kira semuanya itu tidak perlu. Besok mereka akan sampai di padepokan ini. Malam ini mereka berhenti dalam perjalanannya, karena nampaknya anakmu tidak mudah untuk mengingat sesuatu yang pernah dilihatnya, sehingga aku merasa perlu memberikan tanda-tanda agar mereka t idak tersesat” “Tetapi apa yang ayah persiapkan disini sangat mendebarkan hati, seolah-olah akan terjadi kekerasan” desis perempuan itu. “Tidak ngger” jawab orang tua itu “Bukankah kau mengenal aku bukan hari ini saja” “Tetapi justru hari-har i terakhir ayah nampaknya telah berubah. Rasa-rasanya yang aku lihat sekarang, bukan ayahku beberapa saat yang, lampau. Seorangpun ayah yang lembut dan baik hati. Meskipun ayah kadang-kadang bertindak keras terhadap anakku, namun, aku sadar, bahwa hal itu demi kebaikannya. Bahkan anakku masih termasuk anak yang manja dan kadang-kadang kemauannya tidak lagi dapat di elakkan. Seperti apa yang telah terjadi di Lumban sekarang ini. Sebenarnya aku berharap ayah justru mencegahnya. Bukan mendorongnya. Yang aku tetap tidak mengerti, kenapa ayah tidak berusaha menolongnya ketika anak itu berada dalam kesulitan. Justru ayah memaksa aku meninggalkannya” “Sudah aku jawab ngger. Sebaiknya kau sekarang beristirahat. Tetapi, aku minta kau mengikuti petunjukku. Aku harap kau tidak berada di padepokan ini. Tetapi seorang cantrik akan membawamu kepadakuhan sebelah, agar kau tidak menjadi bingung j ika besok aku dan para tamu itu akan membicarakan beberapa masalah penting” berkata orang tua itu. “Sikap ayah sangat meragukan” jawab ibu Daruwerdi “ayah telah memanggil saudara seperguruan ayah. Tidak hanya satu orang. Bukankah sikap ayah itu tidak dapat aku mengerti?“ “Semuanya sekedar satu sikap hati-hati” jawab ayah angkatnya “Tetapi percayalah. Tidak ada maksud buruk sama sekali di dalam hati ini ”Orang tua itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi apakah kau pernah mendengar sesuatu tentang Pangeran itu dari anakmu?“ “Anakku menyimpan rahasia seperti juga ayah. Aku sadar, bahwa aku adalah seorang perempuan, yang barangkali menurut penilaian ayah dan anakku, sebaiknya aku tidak tahu apa-apa. Tetapi ayah lupa bahwa tidak selamanya demikian. Kadang-kadang seorang perempuan akan mampu berbuat sesuatu yang penting dalam keadaan tertentu” sahut ibu Daruwerdi. Tetapi orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sudahlah. Kali ini aku terpaksa memaksamu sekali lagi. Aku minta maaf, bukan karena aku menganggapmu orang lain. Kau memang anak angkatku. Tetapi bukankah kau merasakan bahwa aku telah menganggapmu sebagai anakku sendir i?“ Wajah perempuan itu menjadi semakin muram. Sekali lagi ia berkata “Aku merasakan satu perubahan pada diri ayah. Sebenarnyalah ayah telah berbuat sesuatu yang sangat membingungkan aku” “Bukan maksudku ngger. Tetapi aku terpaksa. Terpaksa sekali, karena sebenarnyalah apa yang aku lakukan ini semata-mata untuk kebahagiaan anakmu, kebahagiaan cucu dan sekaligus muridku itu” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu “Aku persilahkan kau meninggalkan padepokan ini sebelum pagi. Aku masih harus mempersiapkan sebuah penyambutan. Jangan membantah jika kau mengasihi anakmu sebagimana aku mengasihinya. Ibu Daruwerdi itu memang tidak akan dapat menolak apapun alasannya sehingga ia tidak dapat menolak untuk masinggalkan Lumban karena ayah angkatnya itu memaksa. Karena itulah, maka diantar oleh seorang cantrik, ibu Daruwerdi itu meninggalkan padepokan malam itu juga, menuju ke sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh, yang nampaknya memang sudah dipersiapkan. Sebuah rumah yang kecil telah menerimanya. Bahkan rumah itu seolah-olah adalah rumah yang kosong meskipun nampak tidak kotor dan perabotnya tersusun rapi. “Silahkan Nyai menunggu disini” berkata cantrik itu. “Aku akan dit inggalkan disini seorang diri?“ bertanya perempuan itu. “Tidak Nyai Aku akan berada disini. Tetapi karena perkembangan keadaan yang mungkin akan menjadi gawat, maka aku akan mengawasi keadaan diluar tumah. Aku akan berada diserambi” jawab cantrik itu, Ibu Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya ia tidak akan betah tinggal di rumah itu, sementara anaknya berada dalam keadaan yang tidak menentu. Selebihnya, kegelisahannyapun meningkat jika ia sadar, bahwa Pangeran Sena Wasesa dihari berikutnya akan datang ke padepokan ayah angkatnya itu. Apalagi seolah-olah tabiat dan sifat ayah angkatnya itu tiba-tiba saja telah berubah pada saat-saat terakhir. Ketika cantrik itu meninggalkannya, dan kemudian terdengar derit amben bambu diserambi, maka perempuan itupun mengetahui, bahwa cantr ik itu memang berada diserambi. Sejenak perempuan itu duduk disebuah amben yang besar di ruang dalam. Dipandanginya tiga pintu sentong yang menganga. Tidak ada perabot apapun di dalam ketiga sentong itu. Hanya disentong tengah terdapat sebuah lampu yang menyala. “Tentu rumah ini bukan rumah yang benar-benar kosong” berkata perempuan itu. Dengan hati-hati iapun kemudian bangkit dan melangkah ke sentong tengah. Tetapi ia memang tidak menjumpai sesuatu. Kemudian, iapun berjalan ke pintu butulan. Dilihatnya sebuah longkangan diluar pintu. Disebelah longkangan adalah kelanjutan dar i gandok yang tidak begitu besar, tetapi dinding yang menghubungkan rumah itu dengan gandok tidak terdapat sebuah seketheng. Perlahan-lahan perempuan itu turun ke longkangan. Namun pintu gandok itu ternyata tidak dapat dibukanya. Sementara itu pintu longkangan yang menghubungkannya dengan longkangan belakang dan rumah dibagiari belakang dan dapurpun tertutup rapat. Meskipun ia tidak melihat selarak yang menyilang, tetapi ternyata bahwa ia tidak dapat membuka pintu itu. Sekali lagi perempuan itu merenungi rumah kecil itu. Iapun kemudian yakin, bahwa rumah itu benar-benar telah di persiapkan sebagai suatu tempat yang akan menyimpannya, sehingga ia tidak akan mungkin dapat keluar. “Tetapi masih, ada jalan “ desisnya “memanjat dinding penyekat longkangan ini” Tetapi perempuan itu t idak akan mungkin dapat memanjat dinding yang terbuat dari potongan bambu utuh yang berjajar rapat dan apalagi ujungnya diruncingkan. Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia harus menerima kenyataan itu. Rumah itu adalah sebuah penjara yang diperuntukkan baginya, menjelang kehadiran anaknya dan Pangeran Sana Wasesa yang tidak di ketahui dengan pasti keadaannya. Karena itu, maka ibu Daruwerdi itupun kemudian kembali ke ruang tengah dan duduk diamben yang besar merenungi keadaannya. Lampu minyak didinding berkeredipan disentuh oleh angin yang menembus celah-celah dinding bambu rumah kecil itu. Dalampada itu, di padepokan seorang yang oleh Daruwerdi disebut Pamotan Galih tengah berbincang dengan dua orang saudara seperguruannya. Nampaknya mereka tengah berbicara dengan sungguh-sungguh tentang rencana orang yang disebut Pamotan Galih itu. “Kakang” berkata salah seorang dari kedua adik seperguruannya “ kakang masih saja membingungkan kami. Aku tidak tahu, apakah yang kakang kehendaki sebenarnya. Kadang-kadang aku melihat kakang seolah-olah telah benar- benar menghindar dar i segala nafsu duniawi. Namun kadang- kadang picu melihat kakang memiliki keinginan yang tidak terbatas. Dan sekarang aku tidak tahu, apakah yang sebenarnya kakang kehendaki” “Kau tielak usah membuat kepalamu menjadi pening tentang sifat dan watakku” jawab Pamotan Galih “Yang penting sekarang, bantulah aku. Aku akan berusaha untuk menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Tetapi jika perlu maka kau berdua dan murid-muridmu yang kebetulan kau bawa, harus bersedia melakukan sebagaimana aku maksudkan“ “Maksud kakang, mungkin akan terjadi kekerasan disini?“ bertanya adiknya yang lain. “Hal itu nungkin sekali terjadi” jawab Pamotan Galih “Sudah barang tentu kita tidak akan menyerahkan diri kita kedalam kesulitan” “Kakang” berkata salah seorang adik sepergurunya?” apakah yang sebenarnya kakang kehendaki sehingga kakang seakan-akan telah mengorbankan pribadi dan harga diri kakang selama ini?“ “Adik-adikku” berkata Pamotan Galih. Bukankah kau tahu siapakah aku sebenarnya. Seharusnya kalian tidak menjadi bingung menanggapi persoalan ini. “Kakang” jawab salah seorang adiknya “Aku memang tahu, bahwa pada suatu saat kakang adalah orang yang paling ganas. Kemudian kakang telah menemukan satu dunia yang berbeda dari dunia kakang yang terdahulu karena kakang mengalami berbagai keadaan yang seakan-akan dapat meru- bah sifat dan watak kakang. Hal itu sudah berlangsung berpuluh tahun. Namun tiba-tiba aku melihat perubahan itu lagi” Tiba-tiba saja Pamotan Galih itu tertawa. Katanya “Baiklah. Aku memang t iba-tiba berubah. Tetapi ada istilah yang lebih baik dar i itu. Tiba-tiba aku telah pulih kembali seperti sediakala” Kedua adik seperguruannya saling berpandangan sejenak. Namun sebelum mereka mengatakan sesuatu. Pamotan Galih telah berkata “Jangan berlagak seperti seorang suci. Bukankah kalian menghendaki aku seperti itu? Selama ini kita kadang- kadang tidak sependapat, dan bahkan kadang-kadang kita sering bertengkar karena aku berusaha mencegah kalian melakukan tindakan-tindakan yang kurang sesuai dengan sikap hidupku. Tetapi mudah-mudahan untuk seterusnya kita selalu berjalan beriring. Aku tidak akan lagi mencela sikap dan jalan hidupmu. Apalagi setelah persoalanku dengan Pangeran itu selesai. Maka aku berjanji, bahwa aku tidak akan mengganggu kalian” “Kau membingungkan kami kakang” berkata salah seorang dari kedua adiknya “ketika kami berdua berusaha menelusuri kebenaran jalan kehidupan, yang selama ini kau ajarkan kepada kami, maka kau sendir i menjadi berubah seperti itu” “Kalian memang bodoh” jawab Pamotan Galih “Tetapi sebaiknya kalian tidak usah berpikir lagi. Persoalanku dengan Pangeran Sena Wasesa menyangkut banyak segi. Kalian tidak usah mengetahui sampai mendasar. Aku memer lukan bantuanmu apabila keadaan memaksa. Aku tidak akan melupakan jasamu” “Tetapi kakang belum pernah mengatakan kepadaku, persoalan apakah yang kau hadapi dengan Pangeran yang kau sebut-sebut itu?“ bertanya salah seorang adik seperguruannya. Pamotan Galih tertawa. Katanya “Persoalan itu sendiri bukan persoalan yang besar. Tetapi nanti kau akan mengetahuinya Yang paling menyakiti hati, sudah tentu sikap Pangeran itu sendiri. Dan nanti, apabila hari menjadi siang, Pangeran itu akan datang dengan beberapa orang kawannya. Aku kurang tahu, apakah mereka ingin mempersoalkan masalah diantara kami dengan kasar, atau mereka dapat menyelesaikan dengan baik. Dan akupun t idak tahu, kekuatan apa sajakah yang dibawanya kemari. Tetapi aku masih yakin, seandainya aku harus berhadapan sendiri dengan Pangeran itu, aku akan dengan mudah menguasainya” “Pangeran itu tentu tidak dengan bodoh memasuki kandang harimau j ika ia tahu kakang mempunyai kekuatan untuk melawannya jika perlu” jawab adik seperguruannya yang lain “karena itu kehadirannya tentu sudah diperhitungkan” “Aku kira ia tidak sempat menghitung-hitung dengan cermat. Ada persoalan yang telah terjadi atasnya sebelum aku melihatnya berada di daerah Sepasang Bukit Mati” jawab Pamotan Galih “karena kehadirannya agaknya memang tidak terlalu mendebarkan. Namun bagaimanapun juga, kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan” Kedua adik seperguruannya menarik nafas dalam-dalam. Mereka menjadi bingung menghadapi kakak seperguruannya yang pada masa-masa terakhir telah nampak berubah dan bahkan ia lebih senang menyebut dirinya dengan nama Pamotan Galih dari nama yang mereka kenal sebelumnya, Ajar Macan Kuning. Bahkan nama yang lebih dahulu dipakainyapun sudah hampir tidak pernah diucapkannya. Ajar Cinde Kuning Namun dengan perubahan yang terjadi itu, apakah ia akan kembali menyebut dir inya Macan Kuning atau justru dengan nama lain lagi. Namun kedua adik seperguruan Pamotan Galih itu t idak dapat ingkar. Bagaimanapun juga ada keterikatan antara mereka, karena mereka telah menyadap ilmu dari perguruan yang sama. Meskipun kadang-kadang mereka berbeda pendirian dan sikap hidup, tetapi Pamotan Galih telah dengan terus terang minta bantuan mereka, sedangkan kedua adik seperguruannya itu tahu, bahwa Pamotan Galih adalah orang yang memiliki ilmu yang jarang ada bandingnya. Jika bukan karena keadaan yang memaksa, maka ia t idak akan memer lukan bantuan adik-adik seperguruannya. Karena itu, maka salah seorang adik seperguruannya itupun kemudian berkata “Baiklah kakang. Aku akan membantu kakang meskipun aku belum jelas persoalannya. Tetapi jika kakang menyebut daerah Sepasang Bukit Mati, maka aku teringat kepada masalah yang berkembang sekarang ini. Ada beberapa pihak yang menganggap bahwa di Sepasang Bukit Mati terdapat pusaka peninggalan seorang Senapati Majapahit yang tergeser dalam perjalanannya menyingkir karena ia t idak berhasil mempertahankan Kota Raja itu” Pamotan Galih mengerutkan keningnya. Namun justru karena adik seperguruannya telah menyinggung, maka katanya ”Mungkin Pangeran itu berada di daerah Sepasang Bukit Mati juga dalam hubungan dengan pusaka itu. Tetapi ia mempunyai satu persoalan khusus dengan aku. Agaknya ia memang akan menghubungan persoalan ini dengan pusaka yang kau sebutkan itu” Kedua adik seperguruannya mengangguk-angguk. Sementara itu, langit menjadi semakin terang. Karena itu, maka Pamotan Galih itupun kemudian berkata “Beristirahatlah. Masih ada waktu. Aku kira menjelang tengah hari mereka baru akan tiba. Mereka masih akan menempuh perjalanan yang meskipun tidak terlalu jauh, tetapi kadang-kadang membingungkan, sehingga mereka akan selalu memperhatikan setiap jalan simpang” “Apakah mereka pernah datang kemari?” bertanya salah seorang adik seperguruan itu. “Mereka membawa cucuku sebagai penunjuk jalan. Itulah yang mendebarkan. Tetapi aku harus menyelamatkan anak itu. Namun agaknya cucuku itu kurang dapat mengingat jalan yang harus dilaluinya, sehingga perjalanan mereka akan menjadi sangat lamban” Kedua saudara seperguruannya itupun mengangguk- angguk pula. “Sudahlah“ berkata Pamotan Galih “kalian memang perlu beristirahat” Kedua orang itupun kemudian meninggalkan kakak seperguruannya. Mereka kembali ke pondok mereka di dalam lingkungan padepokan itu. Namun agaknya mereka tidak langsung dapat beristirahat. Dua orang mur id yang terbaik dari salah seorang dianiara keduanya menemui mereka di serambi. Namun adik seperguruannya Pamotan Galih itu berkata “Sudahlah. Jangan terlalu banyak memikirkan peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi. Nanti aku akan member itahukan kepada kalian. Sekarang kita mendapat kesempatan ist irahat sampai matahari sepenggalah. Beberapa orang yang akan terlibat dalam persoalan ini baru akan datang nanti tengah hari” Kedua orang itupun mengangguk-angguk. Namun sebelum mereka kembali ke bilik masing-masing, salah seorang adik seperguruan Pamotan Galih itupun berpesan “Katakan kepada kawan-kawanmu. Kita menunggu” Kedua orang itupun kemudian meninggalkan tempat itu. Namun mereka masih tetap membawa teka-teki yang menggelisahkan. Dan teka-teki itupun kemudian tersebar diantara kawan-kawan mereka. Namun demikian mereka memang masih sempat beristirahat. Meskipun langit kemudian menjadi terang, tetapi mereka masih sempat berbaring dipembaringan dan bahkan tidur beberapa saat. Ketika matahari sepenggalah, barulah mereka terbangun dan dengan tergesa-gesa membenahi dir i. “Ki Wanda Manyar tidak dapat mengatakan apa yang akan terjadi sebentar lagi” berkata salah seorang murid adik seperguruan Pamotan Galih itu. “Nampaknya Ki Pamotan Galih juga masih belum tahu dengan pasti” jawab yang lain “Ki Lurah Ragapasa juga selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Menurut Ki Lurah Ragapasa, ada yang disembunyikan oleh kakak seperguruannya itu” Keduanya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak berbicara lebih jauh, karena mereka menihat kedua adik seperguruan Pamotan Galih itu lewat. Ketika Ki Wanda Manyar dan Ki Ragapasa sampai di depan sanggar, maka merekapun mendengar kakak seperguruannya memanggil mereka. Ketiganyapun kemudian berbincang beberapa saat di dalam Sanggar. Namun agaknya Pamotan Galih telah benar-benar bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu, maka Pangeran Sena Wasesa dan kelompok kecilnya telah melanjutkan perjalanan. Mereka masih melihat beberapa tanda yang mendebarkan. Semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin banyak, sehingga dengan demikian mereka mengira bahwa mereka menjadi sudah semakin dekat, meskipun Daruwerdi tidak mengatakannya. Sebenarnyalah Daruwerdi menjadi semakin gelisap. Ia sadar apa yang bakal dikehendaki oleh kakeknya itu atas Pangeran Sena Wasesa. Dan ia menyesal, bahwa orang-orang Sanggar Gading tidak terlalu mudah dikelabui. Jika ia berhasil maka Pangeran itu tidak perlu berhadapan langsung dengan gurunya. Jika Pangeran itu dihadapkan kepadanya dengan tidak berdaya, maka Daruwerdi akan dapat mengekang diri. Apalagi ibunya selalu berpesan “Jangan sakit i orang itu” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat ingkar, bahwa ibunyapun menyembunyikan sesuatu tentang orang yang bernama Pangeran Sena Wasesa itu. Demikianlah mereka menelusuri daerah yang semakin lama menjadi semakin datar dan lapang. Mereka t idak lagi berada di tengah-tengah daerah yang liar. Tetapi mereka sudah berada di bulak-bulak panjang. Daruwerdi mengenali daerah itu lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak lagi bingung oleh tikungan-tikungan sempit atau kepopatan pepohonan hutan. Namun demikian, rasa-rasanya mereka berada di daerah yang terpisah. Mereka melihat bukit-bukit kecil bagaikan dinding yang melingkar. Meskipun mereka melihat sawah yang hijau, namun seolah-olah mereka berada dilempat yang terasing. “Kita sekarang berada di mana Daruwerdi?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa “apakah perjalanan kita masih panjang?“ Daruwerdi masih saja ragu-ragu. Tetapi bukan lagi karena ia ingin mengingkari tanggung jawab, tetapi justru karena ia memikirkan, apa yang akan terjadi atas Pangeran itu jika mereka benar-benar pergi ke padepokannya dan bertemu dengan gurunya yang juga kakek angkatnya itu. Tetapi tidak ada jalan untuk menghindar. Mereka sudah berada di jalan lurus menuju ke mulut gerbang padepokannya. Karena itu, maka kemudian Katanya “Pangeran. Sebenarnyalah kita sudah berada di hadapan padepokan kami. Padepokan kami memang memilih tempat diantara pebukitan, dan sawah yang terhampar ini adalah sawah yang dikerjakan oleh para cantrik. Karena itu. maka daerah ini serasa lain dengan daerah padukuhan-padukuhan lainnya” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Sementara itu Daruwerdipun berkata selanjutnya “Jika aku menjadi ragu- ragu dan gelisah, bukanlah karena aku ingin ingkar dari tanggung jawab. Tetapi jika Pangeran masih mempunyai sedikit kepercayaan kepadaku, sebenarnyalah aku gelisah membayangkan sikap guru terhadap Pangeran” “Apakah kira-kira yang akan dilakukan?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Aku kira Pangeran sudah mengetahui. Tidak ada dua atau tiga orang yang tahu pasti tentang keadaan di daerah Sepasang Bukit Mati itu selain Pangeran Sena Wasesa” berkata Daruwerdi. “Menurut dugaan gurumu” potong Pangeran Sena Wasesa. Kemudian “Tetapi baiklah. Karena itu aku akan menemuinya. Mengatakan apa yang sebenarnya ada di daerah Sepasang Bukit Mati itu” Wajah Daruwerdi nampak tegang. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Mudah-mudahan Pangeran dapat meyakinkannya seperti yang ingin Pangeran katakan. Tetapi aku kira Pangeran sudah menduga apa yang akan Pangeran hadapi” Pangeran itu mengangguk-angguk, la memang melihat kecemasan yang semakin mencengkam janluug Daruwerdi. Dan Pangeran ilupun percaya bahwa hal ini bukan satu hal yang dibuat-buat oleh anak muda itu. Tetapi Pangeran Sena Wasesa sudah bertekad bulat. Karena itu maka katanya “Kita akan melanjutkan perjalanan” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Nampaknya Pangeran memang sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Karena itu, sebaiknya kita memang meneruskan perjalanan. Kita sudah berada sehari semalam lebih di perjalanan. Kita sudah cukup masak mempertimbangkan segala sesuatu yang dapat terjadi atas kita” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Di padanginya Daruwerdi sambil berkata “Kita akan menghadap gurumu, Daruwerdi. Meskipun aku itahu gurumu adalah orang yang luar biasa, melampaui setiap orang diantara kita” Daruwerdi tidak menjawab. Baginya, terbayang sesuatu yang akan sangat mendebarkan. Tetapi ia tidak akan mampu mencegahnya. Demikianlah, maka ir ing- iringan kecil itu menjadi semakin dekat dengan padepokan Pamotan Galih. Tidak ada lagi yang membingungkan,Daruwerdi. Jalan sudah menjelujur lurus di hadapannya. Ketika Daruwerdi memandang regol padepokannya, jantungnya serasa semakin cepat mengalir. Ia tahu, gurunya adalah orang yang baik. Tetapi menurut gurunya, menghadapi Pangeran Sena Wasesa ia harus tegas. Ada keragu-raguan Daruwerdi atas pengenalannya terhadap Pangeran itu. Apakah mungkin orang yang memiliki watak dan sifat seperti Pangeran Sena Wasesa itu telah dengan semena-mena membunuh seseorang. Bagaimana jika pembunuhan itu terjadi di peperangan. Sejenak kemudian, maka iring- iringan itu sudah berhenti di depan regol. Daruwerdi berdiri tegak dengan jantung yang berdebaran. Namun akhirnya iapun perlahan-lahan mendorong pintu regol yang hanya sedikit saya terbuka. Tetapi Daruwerdi terkejut ketika pintu itu terbuka. Ternyata ia melihat beberapa orang berdiri di pinggir halaman depan padepokannya. Beberapa orang yang belumdikenalnya. Sejenak Daruwerdi termangu-mangu. Tetapi ia menjadi semakin pasti, apa yang akan terjadi. Daruwerdi yang sudah turun dari kudanya itupun kemudian menuntun kudanya memasuki padepokannya diiringi oleh orang-orang yang lain dalam ir ingan-ir ingannya. Pangeran Sena Wasesa yang berada di belakang Daruwerdi memandang keadaan sekeliling. Dan iapun sadar, bahwa segala kemungkinan akan dapat terjadi. Ketika mereka menambatkan kuda-kuda mereka pada patok-patok yang tersedia, matka seorang cantrik yang sudah dikenal oleh Daruwerdi berkata “Ki Ajar Pamotan Galih sudah menunggu” Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun bertanya Dimana kakek sekarang?“ “Ki Ajar ada di bangsal tengah. Silahkan duduk dipen-dapa bersama para tamu. Aku aikan menyampaikannya” berkata cantrik itu. Daruwerdi mengangguk. Sementara cantrik itu pergi, maka Daruwerdipun mempersilahkan kawan-kawan seperjalanan bersamanya dalam iring- iringan kecil itupun naik ke pendapa. Swasti menahan desis yang sudah hampir terlontar di bibirnya. Namun ketika ia berjalan ke pendapa, ayahnya mendekatinya sambil bertanya “Sakit?“ Tetapi Swasti menjawab singkat “Tidak apa-apa” Ayahnya tersenyum. Anaknya mpmang keras hati. Namun ia melihat bahwa anaknya menjadi sangat letih selelah perjalanan berkuda yang cukup panjang. Sejenak kemudian mereka sudah duduk di pendapa. Swasti yang gelisah, setiap kali bergeser sejengkal. Agaknya pelana kuda itu benar-benar telah, menyakitinya, betapapun ia mempunyai daya lahan tubuh yang kuat. “Silahkan duduk” berkata Daruwerdi “Aku akan menghadap guru di bangsal tengah” Pangeran Sena Wasesa mengangguk. Katanya “Silahkan. Tetapi aku minta, kalian tidak membiarkan kami terlalu lama menunggu disini” Daruwerdi mengangguk” jawabnya “Baik Pangeran. Aku akan segera minta kakek menemui Pangeran dan kita semuanya” Sejenak kemudian Daruwerdipun pergi ke bangsal tengah. Ia mengerutkan keningnya ketika dilihatnya dua orang bersama kakeknya berada di bangsal itu. “Keduanya adalah kakekmu juga” berkata Pamotan Galih kepada Daruwerdi yang memasuki bangsal itu “Marilah. Masuklah” Daruwerdipun kemudian duduk bersama kakek dan dua orang saudara seperguruan kakeknya itu. “Aku memang mengharap kau segera datang bersama Pangeran itu” berkata kakeknya. “Dimana ibu, kakek?“ bertanya Daruwerdi. Pamotan Galih menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Ibumu memang bersamaku. Bukankah orang yang menunggu pondok yang kau pergunakan di Lumban itu mengatakannya?“ “Ya. Justru karena itu” sahut Daruwerdi “kakek membawa ibu dengan agak memaksa. Agaknya ibu masih ingin berada di Lumban” Pamotan Galih tersenyum. Katanya “Ibumu kurang tanggap terhadap keadaan yang sedang kau hadapi” ”Tetapi kakek tidak berbuat sesuatu atasku. Bahkan kakek telah membawa ibu pergi” sahut Daruwerdi. Ki Ajar Pamotan Galih tertawa pendek. Katanya “Jangan salah mengerti Daruwerdi. Aku melihat apa yang terjadi di atas bukit” “Kakek melihat beberapa orang yang mungkin akan melibatkan dir i. Tetapi apakah kakek pasti, bahwa mereka memang akan menolong aku?“ bertanya Daruwerdi. “Perhitunganku tidak pernah salah. Dan kali inipun perhitunganku t idak salah. Mereka membawamu datang ke padepokan ini” jawab Ki Ajar Pamotan Galih “coba bayangkan, jika ibumu masih berada di Lumban, maka kau akan mengalami kesulitan, karena kau masih harus memikirkan ibumu. Bagaimana, membawanya menyingkir dari Lumban yang tentu masih akan tetap panas karena orang-orang dari kelompok lain yang menganggap bahwa orang-orang Sanggar Gading akan mampu membawa pusaka yang diperebutkan itu” “Tetapi aku gagal mempergunakan peti yang kakek ber ikan itu” desis Daruwerdi. “Aku mengerti. Ketika orang gila dari Sanggar Gading itu mengatakan akan melakukan tayuh terhadap pusaka itu, maka aku sudah yakin bahwa ia akan melihat yang sebenarnya tentang pusaka itu” berkata Pamotan Galih. Wajah Daruwerdi menegang. Namun kemudian iapun bertanya sekali lagi “ Dimana ibuku?“ “Ia berada di tempat yang paling aman. Aku tidak ingin melihat ibumu menjadi gelisah, ketakutan dan cemas. Karena itu aku bawa ibumu ke tempat yang tidak akan dapat diganggu oleh persoalan yang tidak banyak dimengertinya ini” jawab Ajar Pamotan Galih. Daruwerdi termangu-mangu sejenak, la tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh gurunya yang sekaligus mengambilnya sebagai cucunya itu. Sementara itu, kakeknya itupun berkata selanjutnya “ Disini kita akan membuat penyelesaian dengan tuntas. Jika aku semula tidak berhubungan dengan orang-orang Sanggar Gading, tetapi dengan orang-orang Pusparuri yang sudah mengenalmu sebelumnya, mungkin persoalannya akan berbeda. Apalagi dengan orang-orang Gunung Kunir. Diantara mereka tidak terdapat scorangpun yang mempunyai kemampuan pengamatan yang tajam seperti orang yang gila disebut Yang Mulia itu” “Tetapi bukankah yang penting siapapun yang dapat menyerahkan Pangeran itu”Jawab Daruwerdi. “Itulah kesalahanku yang utama. Aku mengira semula bahwa kau akan tetap berhubungan dengan orang-orang Pusparuri, orang-orang yang paling kau kenal diantara orang- orang tamak itu. Ternyata kau berhubungan dengan orang- orang Sanggar Gading yang justru berhasil lebih dahulu” “Ternyata perhitungan kakek sekali-sekali salah” desis Daruwerdi “Bukankah dalamhal ini kakek keliru?“ “Kekeliruannya tidak terletak padaku. Tetapi pada keadaanmu, karena aku tidak ingin menyebut kebodohanmu” jawab kakeknya “Tetapi sudahlah. Bagaimanapun juga kau telah berhasil membawa Pangeran itu kepadaku” “Bukan aku membawanya kepada kakek” jawab Daruwerdi “Pangeran itulah yang membawaku kepada kakek sekarang ini” Ajar Pamotan Galih tertawa. Katanya “Apapun yang terjadi, tetapi Pangeran itu sudah memasuki padepokan ini. Nah, baiklah. Bukankah kau akan minta kepadaku untuk menemuinya?“ “Tentu kakek. Tetapi dimana ibuku. Jika ibu kakek tempatkan ditempa yang tidak akan dapat diganggu oleh persoalan apapun juga, apakah aku dapat menemuinya?“ bertanya Daruwerdi. Wajali Pamotan Galih berkerut. Dengan heran ia justru bertanya “Kenapa tidak? Pertanyaanmu aneh Daruwerdi. Bukankah wajar sekali jika kau ingin menemui ibumu? Kenapa kau bertanya begitu?“ Daruwerdi tergagap. Namun ia menjawab juga “Kakek tidak mengatakannya dimana ibuku berada. Nampaknya kali ani kakek t idak terbuka lagi bagiku” “O“ Pamotan Galih tersenyum “Jangan salah mengerti cucuku. Orang-orang tua selalu berhati-hati. Agaknya karena sikap hati-hatiku itulah yang kau artikan, bahwa aku tidak terbuka lagi bagimu. Aku tidak berubah Daruwerdi. Aku adalah kakekku, gurumu dan seorang yang ingin menemukan jalan bagi masa depanmu yang paling gemilang” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Apapun yang dikatakan oleh kakeknya, namun juslru telah memberikan kesan bahwa kakeknya mempunyai sikap yang agak lain. Sejak kakeknya membawanya ke daerah Sepasang Bukit Mati, terasa bahwa sesuatu akan terjadi pada dir i kakeknya itu. Namun dalam pada itu, Ajar Pamotan Galih itupun kemudian berkata “Sudahlah. Kau harus membantuku kali ini. Aku harap kedua pamanmu itupun akan berbuat seperti yang kau lakukan. Persoalannya akan menyangkut masa depanmu yang sangat panjang. Aku sudah tua. Betapapun tinggi ilmu yang dapat aku sadap, namun aku tidak akan dapat melawan batas waktuku jika maut datang menjemput. Karena itu, segalanya akan tertuju kepada hari depanmu” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu “Cucuku. Aku tidak mempunyai keturunan dalam arti yang sebenarnya. Karena itu, aku berharap, bahwa kau akan dapat menganggap aku sebagai kakekmu sendiri sebagaimana aku menganggap bahwa kau adalah cucuku sendir i” Daruwerdi tidak menjawab. Dipandanginya orang tua yang semakin lama tidak menjadi semakin dikenalnya, tetapi justru semakin asing baginya. “Sekarang, aku akan menemui tamu-tamu kita dipendapa” berkata Pamotan Galih. Lalu katanya kepada dua orang saudara seperguruannya “Ikut aku. Aku akan menemui tamu- tamuku yang barangkali tidak akan selalu sependapat dengan keinginanku” “Kakek” potong Daruwerdi “Ternyata yang aku hadapi, berbeda dengan yang pernah aku bayangkan sebelumnya tentang Pangeran itu. Nampaknya ia orang baik” ”Tetapi ia memang seorang pembunuh” berkata Ajar Pamotan Galih “itu harus diperhitungkan” Daruwerdi menggeleng. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu meskipun ia mengerti serba sedikit apa yang dihadapinya. Pangeran itu dan segalanya yang tersembunyi dalam persoalan yang sebenarnya. Segalanya telah meragukan Daruwerdi. Apa yang didengar, dinalar dan yang pernah dikatakan oleh gurunya sebelumnya tentang Pangeran itu. Kepura-puraan, alasan yang dibuat- buat, pusaka dan harta benda, dan pembunuhan itu sendir i. Jalur-jalur di batu karang pada bukit gundul itu, yang tidak mampu dipecahkannya untuk menemukan yarjg dicarinya, atau jalur-jalur itu memang tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan pusaka yang sedang dicari itu. Daruwerdi sendir i telah pernah dicengkam oleh nafsu itu sehingga nalarnya menjadi kabur. Tetapi kemudian peristiwa yang terakhir telah mengembangkan rasa dan nalarnya menghadapi persoalan itu Ketika ia siap untuk melakukan segala macam rencananya di bukit gundul, ia mendapat beberapa petunjuk dari gurunya. “Apakah guru mengatakan yang sebenarnya atau sekedar menunjuk alasan saja bagiku untuk membawa Pangeran itu kepadaku?“ bertanya Daruwerdi di dalam hatinya ”Atau sengaja membuat atau bingung?“ Dalam gejolak jiwa Itu, ia tidak lagi dapat melihat dan mengingat apa yang pernah terjadi, pernah dibisikkan oleh gurunya dan yang mana yang telah dibuat-buatnya sendiri. Daruwerdi terhenyak di atas sebuah amben bambu yang besar. Ketika kemudian gurunya hilang dibalik pintu, maka ia hanya dapat berdesah, “Apakah ada hubungan antara kematian ayahku dengan pusaka dan harta benda itu?“ bertanya Daruwerdi di dalam hatinya. Namun kemudian “Tetapi jika benar ada hubungannya, maka kematian ayahku tentu belum terlalu lama. Tetapi apakah ayahku seorang t idak meninggal?“ Tetapi Daruwerdi t idak dapat meraba-raba terus di dalam kekelaman. Pada suatu saat ia harus mengetahui dengan pasti. Sementara itu, Ki Ajar Pamotan Galih telah keluar dari bangsal tengah. Demikian ia sampai di pendapa, maka suasanapun menjadi tegang sekali. Pangeran Sena Wasesa, Kiai Kanthi dan orang-orang yang duduk di pendapa itu. memandang orang yang bernama Pamotan Galih itu dengan jantung yang berdebar-debar. Orang yang pernah dikenalnya bernama Ajar Cinde Kuning, tetapi juga bernama Ajar Macan Kuning. Dua nama yang membawa cir i watak yang sangat berlainan. Dan kini orang itu bernama Ajar Pamotan Galih. “Selamat datang di padepokan ini” berkata Ki Ajar Pamotan Galih sambil duduk bersama dengan dua orang saudara seperguruannya. Lalu katanya “Aku tidak menyangka, bahwa kalian sudi datang berkunjung ke padepokan yang jauh, sepi dan buruk ini” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, maka Kiai Kanthilah yang menjawab “Sebenarnyalah bahwa kami mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga, bahwa kami telah mendapat kesempatan mengunjungi Ki Ajar. Yang menurut cucu Ki Ajar, maka Ki Ajar bernama Ajar Pamotan Galih. Kami, orang-orang yang jauh dari kebijaksanaan, sama sekali tidak menyangka bahwa kami akan mendapat tuntunan dari Ki Ajar dengan cir i-cir i Ki Ajar, untuk datang menghadap ke padepokan ini” Ki Ajar Pamotan Galih mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang tua itu sejenak. Kemudian orang tua itupun tersenyum “Kiai terlalu merendahkan diri. Barangkali dalam mimpipun aku belumpernah mengenal Kiai” “Namaku Kanthi. Kiai Kanthi. Aku tinggal di sebuah bukit didekat padukuhan Lumban. Bukit berhutan yang menjadi pasangan dari bukit gundul di daerah Sepasang Bukit Mati” Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya “Jadi. Kiai juga berada di daerah Sepasang Bukit Mati?“ “Ya. Tetapi kami sama sekali t idak menghiraukan arti dari daerah itu. Kami datang ke daerah itu karena daerah kami yang lama telah dilanda oleh banjir dan tanah longsor. Sehingga aku harus mengungsi. Adalah diluar sadar kami, bahwa kami telah sampai di daerah yang bernama Lumban dan kami telah menemukan sebuah bukit kecil berhutan lebat, dan bermata air yang besar” jawab Kiai Kanthi. Tetapi Ajat Pamotan Galih itu tertawa. Katanya “Bagi orang-orang seperti Kiai ini banjir dan tanah longsor bukan sesuatu yang nggegirisi. Kemampuan Kiai tentu akan dapat membuat banjir dan tanah longsor, sehingga daerah pemukiman Kiai hanyut karenanya. Tetapi sebenarnyalah bahwa segalanya itu telah Kiai rencanakan dalam hubungannya dengan daerah Sepasang Bukit Mati” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia menjawab maka Pamotan Galih telah berkata pula “Baiklah. Seharusnya aku mempercayai Kiai. Namun akupun wajib mengucapkan selamat datang kepada seorang Pangeran yang telah sudi datang ke padepokan ini” “Terima kasih Ki Ajar” sahut Pangeran Sena Wasesa tetapi marilah kita berterus terang. Kita berbicara dengan hati terbuka. Kita adalah orang-orang tua yang t idak per lu lagi berbasa basi dengan sikap yang pura-pura. Ki Ajar telah menuntun kami dengan pertanda dan ciri-ciri khusus Ki Ajar sehingga kami sampai ke padepokan ini Aku yakin, bahwa hal itu bukannya tanpa maksud” Ki Ajar Pamotan Galih mengerutkan keningnya. Katanya “Pangeran adalah orang yang aneh “ “Tidak. Karena disini Ki Ajarlah yang mengambil sikap mula-mula Ki Ajar mengenal aku, tetapi aku tidak mengenal Ki Ajar sebagaimana Ki Ajar mengenal aku. Aku hanya mengenal Ki Ajar dari cir i-cir i yang pernah menggetarkan jantung kota raja, meskipun dengan nama yang berbeda” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Ya. Aku memang sudah mengenal Pangeran. Adalah lebih mudah untuk mengenali seorang bangsawan daripada orang kebanyakan seperti aku” sahut Pamolan Galih “Sebenarnyalah Pangeran agak berbeda dengan para bangsawan lain yang lebih senang kepada sikap basa-basi dan kata-kata manis meskipun hanya warna selapis pada kulitnya” “Mungkin aku memang agak berbeda. Tetapi marilah, kita berbicara dengan terbuka, Ki Ajar tidak perlu meragukan orang-orang yang datang bersama aku, karena mereka adalah orang-orang yang mempunyai kepentingan seperti aku pula” berkata Pangeran itu. “Tentu agak berbeda. Orang-orang itu bukan orang-orang yang bersama Pangeran sejak semula. Karena itu, mereka mempunyai kepentingan yang berbeda” jawab Pamotan Galih “Tetapi baiklah. Aku akan berterus terang. Aku akan berbicara dengan terbuka. Tetapi dengan demikian, akan mempunyai akibat yang khusus. Bahkan juga terhadap kedua paman cucuku itu” “Apa maksud Ki Ajar?“ bertanya salah seorang paman Daruwerdi. “Aku mempunyai kepentingan terhadap sesuatu. Karena itu aku memerlukan Pangeran Sena Wasesa. Aku tidak mau diganggu oleh siapapun juga sebelum aku yakin akan kebenaran dari kepentinganku itu” berkata Pamotan Galih. Orang-orang yang mendengar keterangan itu menjadi berdebar-debar. Nampaknya Pamotan Galih memang tidak sedang bermain-main. Selagi orang-orang itu masih termangu-mangu, maka Pamotan Galih berkata seterusnya “Tetapi jika Pangeran Sena Wasesa berkata dengan jujur, waktu yang aku per lukan tidak terlalu panjang” “Apa yang kau maksud Ki Ajar?“ bertanya Kiai Kanthi. “Maaf Ki Sanak” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “Aku tidak berkeberatan untuk berterus terang sebagaimana dikehendaki oleh Pangeran Sena Wasesa. Namun aku terpaksa mohon dengan sangat agar semua orang yang kemudian mendengarkan, tinggal di padepokan ini sampai segalanya dapat aku selesaikan dengan sebaik-baiknya” “Tidak” t iba-tiba saja Jlitheng membantah “Tidak seorangpun mempunyai wewenang yang demikian atasku” Pamotan Galih mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum “Sikapmu menar ik anak muda” berkata Pamotan Galih “sesuai dengan umurmu. Tentu umurmu tidak terpaut banyak dari cucuku itu. He, dimana cucuku? Panggil anak itu. Biarlah ia mendengar pembicaraan kita dengan tamu-tamu kita, karena iapun akan ikut bertanggung jawab” Salah seorang adik seperguruan Pamotan Galih itupun kemudian memanggil Daruwerdi yang duduk dengan gelisah diruang dalam. Namun ia tidak dapat menolak. Karena itu, maka iapun dengan langkah yang berat telah pergi kepandapa dan duduk bersama dengan orang-orang yang membuatnya menjadi bingung. Dalam pada itu, Pamotan Galih sambil tertawa pendek berkata “Nah, kita akan berbicara dengan terbuka cucuku. Kau sudah cukup banyak mengetahui, tetapi kaupun harus mendengarkan pembicaraan ini” “Aku akan mendengarkan. Tetapi akupun bebas menentukan sikapku sendiri” berkata Jlitheng pula. Ki Ajar tertawa pula. Jawabnya “Kau sudah memasuki padepokanku, Kau t idak dapat ingkar terhadap keputusanku” Jlitheng masih akan menyahut. Tetapi Rahu telah menggamitnya, sehingga kata-kata yang sudah sampai ditenggorokan itupun telah ditelannya kembali. “Pangeran” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “semuanya memang sudah jelas. Jelas bagiku dan jelas bagi Pangeran. Sebenarnya tidak ada yang harus aku katakan lagi. Pangeranlah yang harus mengatakannya kepadaku. Dimanakah pusaka itu, dan apakah yang harus aku pelajari kemudian. Jalur-jalur yang akan aku lihat pada peti tempat pusaka itu, atau pada rontal yang tersendiri, atau guratan air diatas bukit gundul itu. Pangeran Sena Wasesa mengangguk kecil. Katanya “Kau benar Ki Ajar. Sebenarnyalah bahwa aku sudah memperhitungkannya, bahwa aku akan berhadapan dengan seseorang yang akan bertanya tentang pusaka itu. Sehingga akupun sudah menduga, bahwa alasan yang sampai kepadaku pada saat aku ditangkap bahwa aku telah membunuh ayah cucumu itu hanyalah sekedar dongeng belaka” “Pangeran” berkata Ajar Pamotan Galih “Jangan berkata demikian. Pcsoalan pribadi itupun bukan ceritera yang aku sadap dari angan-angan. Tetapi biar lah kita kesam-pingkan dahulu masalah pribadi itu. Aku ingin segera mendengar jawaban Pangeran tentang pusaka yang mempunyai kekuatan gaib itu?“ “Hanya pusaka itu saja?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Jangan seperti anak-anak Pangeran. Persoalannya adalah sungguh-sungguh. Aku mohon Pangeran menjawabnya dengan sungguh-sungguh pula” berkata Pamotan Galih. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Ajar Pamotan Galih dengan saksama. Seolah- olah ia ingin melihat, apakah benar seperti yang didengarnya, bahwa orang ini tidak akan dapat dilawan dalam olah kanuragan. Orang yang pernah disebut Ajar Cinde Kuning tetapi juga pernah menamakan diri Ajar Macan Kuning itu adalah orang yang mumpuni, sepala macam ilmu lahir dan batin. “Aku tidak sabar lagi Pangeran” berkata Ajar Pamotan Galih “karena itu, aku mohon Pangeran segera mengatakannya, sebelum aku akan menjamu Pangeran dan kawan-kawan Pangeran dengan hidangan dalam bujana yang besar hari ini” Pangeran itu masih berdiam diri. Karena itu, maka Ajar Pamotan Galih itupun berkata pula “Tetapi jika Pangeran ternyata mempunyai sikap lain, maka bujana yang sudah aku persiapkan akan segera berubah. Bukan saja bujana yang sudah aku persiapkan akan segera berubah. Bukan saja ujudnya, tetapi juga maknanya” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Ki Ajar. Aku sudah mendengar sebagaimana kau katakan. Aku sudah menduga, bahwa kau tentu menganggap bahwa aku adalah satu-satunya orang yang mengetahui tentang pusaka itu. Karena itu kau coba mengambil langkah yang paling mudah. Kau umpankan sebuah pusaka palsu. Siapa yang dapat membawa aku kepada cucumu, maka ialah yang akan mendapat pusaka yang kau palsukan itu” “Kenapa hal itu masih juga Pangeran ulang” sahut Ajar Pamotan Galih “Kita semuanya sudah mengetahuinya. Yang aku harapkan dari Pangeran sekarang ini adalah pengakuan Pangeran bahwa Pangeran mengetahui dengan pasti tentang pusaka itu. Kemudian kita akan bersama-sama pergi ke daerah Sepasang Bukit Mati. Biar lah orang-orang lain t inggal disini. Mau atau tidak mau, karena aku mempunyai kekuatan untuk memaksa mereka tinggal, atau melenyapkan mereka sama sekali” “Jangan terlalu kasar Ki Ajar” jawab Pangeran itu “Aku tahu bahwa kau akan dapat melakukannya. Tetapi apakah yang kau lakukan itu sudah sewajarnya harus demikian?“ “Untuk mendapatkan sesuatu yang besar, maka korban tidak akan pernah aku perhitungkan. Apalagi korban itu bukan dari lingkunganku sendir i” berkata Pamotan Galih. “Ki Ajar” berkata Pangeran Sena Wasesa “dengan siapa sebenarnya aku berhadapan? Menilik sikap Ki Ajar sekarang, ternyata aku berhadapan dengan Ki Ajar Pamotan Galih yang juga Ki Ajar Macan Kuning, bukan Ki Ajar Cinde Kuning” Terdengar Ki Ajar Pamotan Galih tertawa. Katanya “Pangeran memang aneh. Sebaiknya Pangeran tidak menghiraukan nama yang aku pakai. Nama apapun juga, tidak akan ada bedanya bagi Pangeran” “Baiklah Ki Ajar. Tetapi ciri yang Ki Ajar tinggalkan itu memang sudah memberi tahukan kepadaku, bahwa Ki Ajar memang berwajah rangkap” sahut Pangeran Sena Wasesa. “Sudahlah” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “sekarang, katakan. Apakah aku harus pergi ke daerah Sepasang Bukit Mati, atau ke tempat lain. Sementara itu, biarlah kawan-kawan Pangeran itu tinggal disini sampai aku menyelesaikan persoalanku dengan Pangeran” Pangeran Sena Wasesa menggelengkan kepalanya. Katanya “Ki Ajar. Sebenarnyalah bahwa kini tidak ada lagi yang dapat aku katakan kepadamu. Segalanya memang sudah lampau” “Jangan bergurau Pangeran” desis Ajar Pamotan Galih. “Karena itulah, maka aku berkeras untuk menemuimu Ki Ajar. Aku ingin mengatakan hal ini, agar untuk seterusnya Ki Ajar tidak selalu diganggu oleh keinginan itu” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Ah, sekian lama aku menunggu kedatangan Pangeran. Kini Pangeran masih juga sempat bergurau” berkata Ajar Pamotan Galih “dengan menujukkan ciri-ciri itu, serta bahwa aku telah membawa anak angkatku, serta tuduhan bahwa Pangeran telah membunuh ayah cucuku, aku yakin bahwa Pangeran akan datang kemari. Sebaiknya Pangeran berterus terang. Meskipun Pangeran datang dengan beberapa orang kawan yang pilih tanding, yang barangkali ada juga niat Pangeran justru untuk menangkap aku, namun sebaiknya hal itu Pangeran lupakan saja. Disini terhimpun kekuatan yang tidak akan dapat Pangeran atasi” “Ki Ajar” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku memang tidak akan berahasia lagi. Segalanya sudah lampau. Karena itu, tidak ada gunanya bagiku untuk ingkar. Aku telah menyerahkan segalanya kepada Sultan di Demak. Dua orang petugas khususnya telah datang untuk menyelesaikan segala masalah. Dan akupun telah meyakinkan langsung, bahwa Sultan memang sudah menerimanya” “Jangan berceritera seperti kepada anak-anak” sahut Ajar Pamotan Galih “Pangeran harus berkata terus terang. Bawa aku kemana yang seharusnya. Dengan demikian Pangeran tidak akan mengalami perlakuan kasar disini” “Aku sudah berterus-terang” desis Pangeran Sena Wasesa “ justru aku memang ingin mengatakan hal itu. Jika kau tidak percaya, aku dapat mengantarkanmu menghadap Sultan untuk meyakinkan apa yang telah aku katakan itu?” “Jangan menganggap aku gila Pangeran” jawab Pamotan Galih “Jika aku memasuki istana Demak, berarti aku menyerahkan nyawaku tanpa arti sama sekali. Sebaliknya jika Pangeran tetap berkeras, maka yang akan terjadi adalah sebaliknya. Pangeranlah yang akan mati tanpa arti sama sekali di padapokan ini” “Kau juga menganggap aku anak-anak Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa “Kau sangka bahwa aku takut mati? Aku memang percaya bahwa kau dapat membunuhku. Tetapi aku tidak takut mati” Wajah Ki Ajar Pamotan Galih menjadi tegang. Sementara itu Daruwerdipun menjadi berdebar-debar. Wajah kakeknya itu sangat membuatnya cemas. Namun dalam pada itu, bukan saja Pamotan Galih yang terkejut dan bahkan kemudian t idak percaya bahwa yang dikehendakinya itu sudah berada di tangan Suitan Demak. Tetapi Jlitheng dan Rahupun telah terkejut pula. Rahu merasa belum pernah mendengar bahwa Sultan di Demak telah mener ima sebuah pusaka dengan segala kelengkapannya dari seseorang, siapapun orang itu. Apalagi dalam hubungannya dengan pusaka dan kkal yang telah disimpan untuk menumbuhkan kembali satu kekuasaan kelanjutan dari Majapahit yang runtuh itu. Namun Rahupun menduga, bahwa Pangeran Sena Wasesa memang tidak akan dengan mudah mengatakannya jika memang ia mengetahui. Namun menilik pembicaraan itu, maka agaknya Pangeran Sena Wasesa memang mengetahui dengan pasti akan pusaka itu. Sementara Ki Ajar Pamotan Galihpun yakin, bahwa Pangeran Sena Wasesa mengetahuinya. Bahkan bagi Ki Ajar, Pangeran itu adalah satu-satunya orang yang mengetahuinya, sehingga sebenarnyalah bahwa usaha Daruwerdi menangkap Pangeran itu adalah dalam hubungannya dengan pusaka yang diperebutkan lepas dari persoalan pr ibadi, kematian ayah Daruwerdi, namun yang menurut Ki Ajar, persoalan pribadi itupun ada pula diantara mereka. Jlithengpun menjadi semakin jelas menghadapi persoalan antara Pangeran Sena Wasesa dan Ajar Pamotan Galih itu. Ia merasa beruntung dapat mengikuti persoalan itu lebih jauh, karena ia mengikuti perjalanan Pangeran Sena Wasesa dan Daruwerdi, meskipun hal itu akan dapat menjeratnya ke dalam satu bahaya. “Ajar ini tentu memiliki pengamatan yang luas tentang pusaka itu” berkata Jlitheng di dalam hatinya “Ternyata ia mengetahui bahwa Pangeran Sena Wasesa adalah satu- satunya atau mungkin juga salah satu dari orang-orang yang mengetahui dengan pasti masalah pusaka itu. Namun j ika Pangeran itu tetap ingkar, maka akan terjadi kekerasan disini. Bahkan seandainya Pangeran itu bersedia membawa Ajar itu menelusuri jejak pusaka itu, disinipun tentu akan terjadi kekerasan, karena aku dan mungkin juga orang-orang lain, tidak akan mau dipaksakan menunggu di tempat ini” Namun demikian untuk beberapa saat Jlitheng masih tetap menunggu. Sekilasan ia berusaha menatap wajah Rahu, kedua paman Daruwerdi dan juga Swasti. Tetapi ia t idak menemukan kesan apapun juga di wajah-wajah yang tegang itu, kecuali kegelisahan. Hanya Kiai Kanthi sajalah yang tampak tenang. Meskipun dengan demikian Jlitheng sama sekali tidak tahu, apa yang tersimpan di dalam hatinya. Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galibpun berkata “Pangeran, aku mohon Pangeran jangan berkeras hati. Pangeran tidak memupunyai pilihan sama sekali. Mungkin Pangeran tidak takut mati, tetapi anak-anak muda itu sebaiknya masih mengharap har i depan yang lebih baik dari hari-harinya sekarang. Apalagi mati” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan tenang “Ki Ajar Pamotan Galih. Bahwa aku sudah dengan susah payah menelusur i jalan menuju ke Padepokan ini adalah karena aku memang ingin mengatakan kepadamu, agar usaha untuk memburu pusaka itu dihentikan. Aku akan mengatakan kepada siapapun juga di seluruh daerah kekuasaan Demak, bahwa memburu pusaka itu tidak akan ada gunanya karena pusaka itu sudah kembali keper-bendaharaan pusaka istana Demak. Semua teka-teki disekitar pusaka itu telah dipecahkan oleh para ahli, termasuk aku sendiri, karena aku tidak ingkar bahwa akulah yang paling banyak mengetahui. Karena itu, aku harap kau percaya Ki Ajar. Seandainya sampai saat ini, pusaka itu masih belum kembali ke Demak, maka mungkin aku sudah berubah pikiran. Mungkin aku tidak akan dengan suka-rela menyerahkannya karena kesetiaanku dan rasa pengabdianku kepada Demak” “Jangan omong kosong Pangeran” t iba-tiba Ki Ajar memotong ”Aku menunggu Pangeran untuk waktu yang lama. Balikan aku sudah memasang jerat untuk mengambil Pangeran tanpa memasuki istana Pangeran yang tentu dijaga kuat oleh para pengawal khusus justru karena Pangeran adalah orang yang mengetahui tentang pusaka dan harta benda yang tidak terhitung jumlahnya itu. Sekarang disini Pangeran ingin membual dan seolah-olah Pangeran sama sekali t idak mengerti sesuatu tentang pusaka itu” oooOooo- 


Jilid 18
“Aku tidak ingkar. Aku mengakui bahwa aku tahu” sahut Pangeran itu “Tetapi semuanya sudah berlalu. Nah selanjutnya terserah kepadamu Ajar Pamotan Galih yang juga disebut Ajar Macan Kuning. Apapun yang ingin kau lakukan lakukanlah. Aku sudah mengaku bahwa aku tidak akan dapat menandingi ilmumu. Adalah sia-sia jika aku melawanmu” “Setan alas“ Ajar Pamotan Galih menjadi sangat marah “Aku akan memaksa berbicara. Di halaman terdapat banyak orang yang memiliki ilmu tinggi. Kedua adik seperguruanku ini memiliki ilmu hampir seperti aku sendiri. Nah, apa katamu? Kau akan memamerkan ilmu orang-orang yang tidak berarti yang kau bawa kemar i itu?“ “Sudah aku katakan. Aku tidak akan melawan. Jika kau ingin membunuh aku, kau tentu dapat melakukannya. Tetapi jangan orang-orang lain yang tidak tahu artinya sama sekali” berkata Pangeran Sena Wasesa itu. Lalu “Namun aku sudah merasa bahwa tugasku selesai atas pusaka dan harta benda itu, karena semuanya telah kembali ke istana, dan dipergunakan sesuai dengan pesan yang aku terima, bahwa pusaka dan harta itu harus dipergunakan bagi perkembangan negeri ini sebagaimana kejayaan Majapahit pada masa lalu itu. Meskipun Demak belum setingkat dengan Majapahit, tetapi usaha untuk itu selalu dilakukan” Ki Ajar Pamotan Galih, nampaknya sudah kehilangan kesabarannya. Wajahnya menjadi merah padam, sementara orang-orang yang berada di pendapa itu menjadi berdebar- debar. Tiba-tiba saja mereka mendengar seolah-olah Ki Ajar itu menggeram sebagaimana seekor harimau yang sedang marah. “Aku pasti sekarang” berkata Pangeran itu di dalam Hatinya “Aku berhadapan dengan Ajar Macan Kuning” Tetapi Ajar itu menggeram dan membentak dengan garangnya “Persetan dengan nama-nama yang kau sebut. Kau membuat aku marah Pangeran. Seperti yang aku katakan, aku sudah menyiapkan sebuah bujana yang besar. Tetapi karena sikap Pangeran, maka bujana itu akan berubah bentuknya dan maknanya. Aku akan memaksa Pangeran berbicara dengan caraku. Mungkin Pangeran akan dapat bertahan terhadap segala macam siksaan yang aku lakukan disini. Tetapi aku mempunyai cara sendiri. Aku akan membunuh setiap orang yang datang bersama Pangeran sampai pada suatu saat Pangeran mengatakan di mana pusaka itu disembunyikan” “Gila“ geram Pangeran itu “Kau benar-benar tidak mempunyai jantung dan hati manusia” “Aku tidak peduli” jawab Ajar Pamotan Galih “Aku akan menangkap kalian seorang demi seorang. Yang kemudian akan aku bunuh dihadapanmu” “Biadab” geram Jlitheng “Kau sangka bahwa kami akan menyerahkan hidup kami tanpa berbuat sesuatu” Kemarahan Ajar Macan Kuning memantul dimatanya. Katanya “Kau adalah orang yang pertama akan mati” “Aku tidak peduli “ bentuk Jlitheng hampir berteriak. Sementara itu Rahupun berkata “Pangeran, Apabila telah pasti, bahwa kita akan bertempur, apalagi yang harus ditunggu. Adalah akibat yang wajar dari tugas kita, bahwa pada suatu saat kita akan membentur satu keadaan yang tidak teratasi, sehingga mungkin kita akan terjerat oleh satu peristiwa yang mengerikan yang menimpa diri kita. Tetapi jangan ingkar, bahwa kita adalah laki- laki” “Kau yang kedua” teriak Ajar Pamotan Galih. “Ki Ajar” berkata Pangeran itu kemudian “Aku tahu, disini ada orang-orang yang memiliki kemampuan melampaui kemampuanku. Tetapi sebagaimana kau lihat, bahwa kami tidak akan menyerahkan kematian kami dengan sia-sia” “Pangeran harus mengambil sikap” berkata Rahu “nampaknya Pangeran sudah berubah. Diatas bukit di daerah Sepasang Bukit Mati, Pangeran mengejutkan kami, karena Pangeran yang kami sangka sedang sakit sebagaimana saat Pangeran diambil, ternyata Pangeran dapat menyelesaikan salah seorang yang paling garang dari lawan- lawan kita. Sekarang, disini seolah-olah Pangeran tidak menentukan sikap apapun juga selain menirukan apa yang kami katakan” Pangeran itu justru tersenyum. Katanya “Aku sudah tahu dengan pasti kemampuan Ajar Macan Kuning ini. Tetapi baiklah. Aku Sependapat, bahwa kita akan mati sebagaimana kita adalah laki-laki. Bukankah begitu Kiai Kanthi??” “Aku sudah bersiap sejak semula Pangeran. Bahkan di sepanjang jalan aku sudah memikirkan kemungkinan ini” jawab Kiai Kanthi “karena itu, jika Ajar Pamotan Galih yang juga bergelar Macan Kuning, dan yang sudah benar-benar kehilangan sifat dan wataknya sebagai Ajar Cinde Kuning, ingin memaksakan kehendaknya, apaboleh buat. Semula aku masih mengharap bahwa ia dapat mengerti apa yang Pangeran katakan. Tetapi nampaknya tidak sama sekali” Namun dalam pada itu, ternyata Ajar Pamotan Galih itupun tertawa pula. Katanya “Rencanaku memang sudah berubah. Semula aku memang hanya, ingin bertemu dengan Pangeran seorang diri. Dengan cara yang ditempuh oleh Daruwerdi, maka kesempatanku akan lebih banyak untuk mengorek pengakuannya. Tetapi iblis dar i Sanggar Gading itu telahl merusak rencanaku. Ia menahan cucuku pada saat ia melakukan tayuh, sehingga anak itu tidak sempat membawa Pangeran itu pergi Dan sekarang, Pangeran datang dengan beberapa orang yang barangkali dianggap pilih tanding. Karena itu Pangeran menganggap bahwa ia sudah mempunyai kekuatan cukup untuk mengelakkan dir i dari pengetahuannya tentang pusaka dan kelengkapannya” Ajar Pamotan Galih itu berhenti sejenak. Namun kemudian katanya “Tetapi Pangeran tidak akan berhasil Aku akan tetap, berhadapan dengan Pangeran seorang dengan seorang. Aku tetap ingin mendengar pengakuan Pangeran tentang pusaka itu. Sementara itu, biarlah adik-adikku menyisihkan orang-orang yang datang bersama Pangeran itu, sehingga Pangeran akan tetap sendiri. Aku tidak peduli, apakah yang lain akan dapat bertahan untuk tetap hidup, atau karena kemarahan yang tidak terkendali adik-adikku akan membunuh mereka” Pangeran Sena Wasesa menjadi ragu-ragu. Jika benar demikian, maka orang-orang yang tidak langsung terlibat ke dalam persoalan pusaka itu akan ikut menjadi korban, karena Pangeran Sena Wasesa percaya, menilik pengamatannya yang tajam, bahwa orang-orang yang ada di padepokan itu akan dapat menarik batas antara dirinya dengan orang-orang yang datang bersamanya. Meskipun ia yakin bahwa Kiai Kanthi dan orang-orang lain itu tidak akan memperhitungkan keselamatan diri, tetapi sebaiknya mereka tidak menjadi korban dari masalah yang menyangkut dir i Pangeran itu. Karena itu, maka tiba-tiba Pangeran itu berkata “Ki Ajar. Baiklah. Persoalannya memang menyangkut persoalan antara Ki Ajar dan Aku, Bukankah sejak semula Ki Ajar ingin berhadapan dengan aku sendiri? Karena itu baiklah, kita menganggap bahwa orang-orang lain itu t idak ada. Yang ada disini adalah aku dan Ki Ajar. Nah, apa yang Ki Ajar kehendaki? Perang tanding, atau Ki Ajar akan membunuhku? Atau apa?“ “Persetan“ geram Ki Ajar “Aku perlu keterangan itu” “Sudah aku katakan. Tidak ada yang dapat aku katakan selain yang sudah aku katakan. Apapun yang akan kau lakukan” jawab Pangeran itu tegas. Ki Ajarpun kemudian tidak sabar lagi. Karena itu, maka katanya “Aku memang memer lukan Pangeran seorang diri. Aku memang akan menantangmu berperang tanding“ “Aku terima tantanganmu Ki Ajar” jawab Pangeran itu. Tetapi dengan taruhan” berkata Ki Ajar “Jika kau kalah, kau harus mengatakan yang sesungguhnya tentang pusaka itu” Pangeran itu merenung sejenak. Namun kemudian katanya “Baiklah. Aku akan mengatakan yang sesungguhnya” “Kekalahan akan ditandai dengan ketidak mampuan lagi untuk melawan” berkata Ki Ajar. Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Katanya “Aku menerima ketentuan itu. Tetapi dengan syarat, bahwa orang lain yang bersamaku tidak akan terlibat dalam persoalan ini” Namun dalam pada itu, Rahupun berkata “Pangeran benar- benar aneh. Aku tidak dapat mengikuti jalan pikiran Pangeran. Jika Pangeran sudah tahu, bahwa orang itu memiliki ilmu yang tidak terlawan, kenapa Pangeran memilih perang tanding? Aku tahu, Pangeran ingin menyelamatkan kami. Tetapi bahwa kami telah datang ke tempat ini, sebenarnyalah bahwa kami sudah siap menghadapi segala kemungkinan” “Aku sudah terlanjur mener ima tantangannya” jawab Pangeran itu “Marilah Ki Ajar. Kita akan berperang tanding” Lalu katanya kepada orang-orang yang datang bersamanya “Aku harap kalian tidak menggangguku” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Iapun menjadi bingung menghadapi sikap Pangeran Sena Wasesa. Namun ia mencoba untuk menyesuaikan dir i. Ia ingin melihat perang tanding itu. Mungkin Pangeran Sena Wasesa mempunyai satu pegangan terakhir untuk dapat melawan orang yang menyebut dir inya Ajar Pamotan Galih, meskipun bagi Kiai Kanthi hal itu tidak akan banyak gunanya. Jika orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih itu kalah, maka ia tidak akan menghormati persetujuan yang sudah dibuatnya. Namun Kiai Kanthi ingin mengikuti perkembangan keadaan yang tidak banyak dimengertinya itu. Bahkan kemudian Ki Ajar itu berkata kepada adik seperguruannya “Siapkan arena. Amati orang-orang yang datang bersama Pangeran ini. Aku tidak mau diganggu oleh siapapun juga” Demikianlah, maka orang-orang yang ada di pendapa itupun kemudian turun ke halaman. Daruwerdi mengikuti perkembangan itu dengan hati yang berdebar-debar. Pangeran ttu telah menunjukkan kemampuannya yang tinggi di atas bukit berhutan. Meskipun ternyata ia telah terluka. Tetapi menurut Pangeran itu sendiri ia telah berhasil mengatasi luka-lukanya dan tidak membekas sama sekali. Namun demikian Daruwerdipun tidak dapat ingkar, bahwa ia tahu, kakek angkatnya dan sekaligus gurunya itu adalah orang yang luar biasa. Dalam pada itu, maka orang-orang yang sejak semula telah berada di halaman itupun telah menebar. Mereka mengerti, bahwa mereka harus mengamati orang-orang yang datang bersama Pangeran Sena Wasesa, agar tidak seorangpun meninggalkan tempat itu. Sementara itu kedua adik seperguruan Ki Ajar itupun telah mengawasi Kiai Kanthi yang menurut perhitungan mereka, adalah orang yang memiliki kelebihan tertinggi disamping Pangeran itu sendiri. Sejenak kemudian, Ki Ajar telah bersiap menghadapi Pangeran Sena Wasesa. Keduanya sama sekali tidak memer lukan senjata apapun dalam perang tanding itu. Selain karena mereka percaya akan kemampuan masing-masing, sebenarnyalah Ki Ajar memang tidak ingin membunuh Pangeran yang masih akan diperas keterangannya itu, “Pangeran berjanji, jika aku menang, maka kau akan mengatakan yang sebenarnya tentang pusaka itu” geram Ajar Pamotan Galih. Pangeran Sena Wasesa memandang Ki Ajar Pamotan Galih dengan jantung yang berdebar-debar. Ada sesuatu yang asing di dalam hatinya. Ia memang belum mengenal Ki Ajar Pamotan Galih yang pernah disebut Ki Ajar Cinde Kuning atau Ki Ajar Macan Kuning. Namun seolah-olah ia telah meragukan sesuatu yang dilakukan oleh Ki Ajar itu, sehingga karena itu, maka sikapnyapun seolah-olah tidak pasti. Tetapi ketika keduanya sudah turun di arena, maka Pangeran Sena Wasesa tidak lagi dapat berbuat tanpa kepastian. Ketika ia sudah berhadapan dengan Ki Ajar dalam perang tanding, maka yang dilakukan itu harus dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Pangeran Sena Wasesa mengetahui bahwa Ki Ajar Macan Kuning adalah orang yang luar biasa. Yang menurut pendengarannya mempunyai ilmu yang tidak terlawan. Orang- orang yang memiliki nama yang menggetarkan, ternyata tidak dapat mengimbangi kemampuan Ki Ajar Cinde Kuning, maupun setelah disebut Ki Ajar Macan Kuning. Meskipun demikian, Pangeran Sena Wasesa bukan orang yang tidak berilmu. Kecuali itu, iapun adalah seorang laki-laki yang jantan yang tidak mudah menyerah kepada keadaan sebelum ia berusaha dengan sepenuh kemampuannya. Demikian pula menghadapi Ajar Pamotan Galih. Meskipun Pangeran Sena Wasesa mengetahui bahwa kemampuan orang itu melampaui kemampuannya, namun ia sudah bersiap untuk bertempur dengan segenap ilmu yang ada padanya. Kiai Kanthi dan orang-orang yang datang bersamanya di padepokan itu sudah mendapat kesan dari sikap dan pembicaraan Pangeran Sena Wasesa, bahwa Pangeran Sena Wasesa mengakui kelebihan Ajar Pamotan Galih. Namun demikian merekapun mengerti, bahwa Pangeran Sena Wasesa memiliki ilmu yang tinggi pula. Sejenak kemudian kedua orang diarena perang tanding itu sudah bersiap. Sementara itu, orang-orang padepokan itupun tidak kehilangan kewaspadaan. Kedua adik seperguruan Pamotan Galih itupun selalu memperhatikan orang-orang yang dengan tegang menyaksikan pertempuran yang segera terjadi di halaman padepokan itu. Ki Ajar Pamotan Galihlah yang mulai dengan serangan pertamanya. Tetapi sebagaimana sering terjadi, serangan yang pertama tidak banyak menentukan. Namun serangan-itupun segera disusul dengan serangan- serangan berikutnya beruntun dengan sengitnya. Tetapi Pangeran Sena Wasesa sudahi siap menghadapinya. Dengan tangkasnya ia selalu berhasil menghindari serangan- serangan itu. Bahkan kemudian iapun mendapat kesempatan untuk membalas serangan-serangan itu dengan serangan pula. Demikianlah maka di halaman itupun segera terjadi pertempuran yang semakin dahsyat, Dua orang yang meniliki ilmu yang tinggi, melampaui ilmu kebanyakan. Kiai Kanthi yang mempunyai penglihatan yang tajam, memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Wajahnya nampak menjadi tegang, sementara jantungnya menjadi berdebaran. Untuk beberapa saat, menurut penilaian Kiai Kanthi, Pangeran Sena Wasesa masih mampu mengimbangi ilmu Ki Ajar Pamotan Galih. Kadang-kadang Ki Ajar Pamotan Galihpun terkejut mendapat serangan Pangeran Sena Wasesa yang tiba-tiba dan tidak diperhitungkannya lebih dahulu. Jlitheng, Rahu, Swasti, Daruwerdi dan kedua pamannya serta orang-orang yang berada di halaman itupun mengikuti perang tanding itu dengan seksama. Tetapi mereka tidak segera dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka lihat, keduanya telah terlihat dalam satu putaran kecepatan yang sulit untuk dimengerti. Meskipun merekapun berbekal ilmu kanuragan, tetapi agaknya kedua orang itu seakan-akan tanpa ancang-ancang telah sampai pada puncak ilmu mereka yang tinggi. Sekali-sekali Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia melihat justru Pangeran Sena Wasesa berhasil mendesak lawannya. Namun kemudian Ki Ajar itulah yang telah mendorong lawannya beberapa langkah surut Nampaknya Pangeran Sena Wasesa masih berusaha untuk menghindari benturan-benturan yang langsung. Meskipun kadang-kadang Pangeran Sena Wasesa harus menangkis serangan lawannya, tetapi ia selalu berusaha untuk membentur tenaga lawannya menyamping. “Apakah Ki Ajar memang sedang mempermainkan Pangeran Sena Wasesa” bertanya Kiai Kanthi kepada diri sendiri. Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Desak mendesak dan dorong mendorong Pangeran Sena Wasesa ternyata telah berjuang sekuat tenaganya, agar ia tidak segera jatuh tanpa dapat berbuat sesuatu lagi menghadapi lawannya. Ternyata bahwa arena pertempuran di halaman itupun semakin lama semakin mengembang. Tidak ada gawar yang membatasi arena perang tanding itu, sehingga keduanya dapat mengambil tempat seberapa mereka perlukan. Kadang- kadang salah seorang dari mereka yang sedang terdesak telah meloncat jauh-jauh. Kemudian dengan serta tnerta ia telah meloncat menyerang dengan cepatnya. Dalam pada itu, bukannya Kiai Kanthi sajalah yang termangu-mangu memandangi pertempuran itu. Dalam pada itu, sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa juga dihinggapi oleh satu perasaan aneh. “Apakah Ki Ajar Pamotan Galih hanya bermain-main” berkata Pangeran, Sena Wasesa kepada diri sendir i. Karena itu maka akhirnya Pangeran Sena Wasesa sengaja mengerahkan segenap kemampuan ilmunya. Ia ingin segera mengetahui bayangan dari akhir pertempuran itu. Agaknya Ki Ajar belum melepaskan segenap ilmunya. Apalagi ilmu pamungkasnya. Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin cepat. Serangan dibalas dengan serangan. Bahwa benturan-benturanpun menjadi semakin sering, meskipun Pangeran Sena Wasesa masih tetap menghindar i dari benturan yang langsung. Semakin cepat pertempuran itu, maka keduanya menjadi semakin garang. Kelengahan-kelengahan mulai terjadi, sehingga serangan-seranganpun mulai menyentuh tubuh lawan. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa menjadi semakin heran. Ia masih saja mampu mengimbangi ilmu Ki Ajar Pamotan Galilh yang disangkanya memiliki ilmu yang tidak ada bandingnya. Justru karena itu, ia menjadi semakin berusaha untuk melindungi dir inya sendiri. Meskipun kadang-kadang tersirat dihatinya “Ki Ajar ini hanya ingin memeras tenaganya, sehingga akhirnya aku akan jatuh dengan sendirinya dan tidak dapat melawannya lagi” Tetapi saat-saat yang demikian itu ternyata tidak segera terjadi. Bahkan kadang-kadang Pangeran itu melihat, Ki Ajar benar-benar terdesak Namun ketika tenaga Pangeran Sena Wasesa menjadi semakin surut maka mulailah nampak, bahwa daya tahan Ki Ajar Pamotan Galih ternyata lebih baik dari Pangeran Sena Wasesa. Justru dalam keadaan, yang demikian, maka serangan-serangan Ajar Pamotan Galih itu menjadi semakin garang. Dengan mengerahkan tenaganya, Pangeran Sena Wasesa masih tetap berjuang melawan Ki Ajar Pamotan Galih. Bahkan ia masih tetap mampu menghindari serangan beruntun yang datang bagaikan amuk badai. Ketika tangan Ajar Pamotan Galih t idak menyentuh sasaran, maka dengan satu putaran Ajar Pamotan Galih mengayunkan kakinya mendatar. Tetapi Pangeran Sena Wasesa dengan tangkas masih sempat menghindar. Namun hampir diluar pengamatannya, Ki Ajar Pamotan Galih itu telah meloncat menerkam dengan garangnya langsung kearah dada. Pangeran Sena Wasesa melihat serangan itu. Tidak ada kesempatan lagi untuk meloncat. Karena itu, maka iapun memiringkan tubuhnya sambil menangkis serangan itu menyamping. Namun demikian, serangan Ajar Pamotan Galih itu masih menyentuh pundaknya, sehingga Pangeran Sena Wasesa itu terdorong surut Terasa betapa pundaknya menjadi pedih. Serangan itu sebenarnya tidak terlalu keras, karena Pangeran Sena Wasesa sempat mengambil jarak. Tetapi yang tidak terlalu keras itu, terasa betapa sakitnya. Namun sementara itu, ternyata Ajar Pamotan Galihpun terkejut ketika ia melihat dari pundak itu mengalir darah. Serangannya itu bukan seratngan yang dapat melukai kulit lawannya, meskipun mungkin memecahkan tulangnya. Pangeran Sena Wasesa mundur, setapak. Dengan tangannya ia meraba pundaknya. Darah. “Kulitmu terlalu cengang Pangeran” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “Bukan maksudku melukaimu. Tetapi kau tidak mempunyai daya tahan yang cukup. Apakah jadinya, jika aku pada suatu saat melepaskan ilmu Pamungkasku” berkata Ki Ajar Pamotan Galih itu. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Luka ini sudah dapat aku atasi sebelumnya. Atas bantuan tabib di puncak bukit kecil itu. Tetapi seranganmu tepat mengenai luka itu lagi, sehingga kembali mengalirkan darah” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Iapun mengerti, di puncak bukit itu Pangeran Sena Wasesa telah dilukai oleh Eyang Rangga. Ternyata luka yang sudah sembuh itu masih tetap membekas. Jaringan kulit di bekas luka itu masih terlalu muda sehingga serangan Ki Ajar Pamotan Galih itu telah mengoyahnya lagi. Dalam pada itu, maka Ki Ajar, Pamotan Galih itupun tertawa sambil berkata “Nah Pangeran. Apapun yang terjadi, apakah luka itu telah ada dipundak Pangeran sejak semula, atau karena sentuhan tanganku, namun adalah satu kenyataan bahwa Pangeran telah menit ikkan darah. Aku yakin, bahwa darah itu akan semakin banyak mengalir. Akhirnya Pangeran akan jatuh terkapar dan tidak berdaya” “Aku akan bertempur terus Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa “Ternyata kemampuan Ki Ajar tidak segarang yang aku duga. Aku kira dalam dua tiga, benturan, aku sudah tidak berhasil melawan. Tetapi ternyata aku masih tetap dapat mengimbangi kemampuan Ki Ajar” “Aku belum sampai kepuncak ilmuku Pangeran. Aku masih sanggup melepaskan ilmuku pada tingkat tertinggi. Dengan demikian, aku khawatir bahwa Pangeran justru akan terbunuh karenanya” jawab Ki Ajar. “Aku juga masih mampu melepaskan ilmu pemungkasku” jawab Pangeran “sebaiknya kita akan mencobanya. Mungkin aku memang akan mati. Tetapi itu tidak berarti apa-apa bagiku. Sudah aku katakan, aku tidak takut mati” “Aku tidak mau rahasia tentang pusaka dan rerangkennya itu akan kau bawa mati” berkata Ajar Pamotan Galih “karena itu, aku akan berperang pada janji. Apalagi Pangeran adalah seorang kesatria yang teguh memegang janji. Jika Pangeran kalah, maka Pangeran harus mengatakan apa yang sebenarnya” “Itu tidak adil” tiba-tiba saja Jlitheng berteriak “Pangeran sudah terluka. Sebaiknya perang tanding itu dilakukan dalam keadaan yang wajar pada kedua belah pihak” “Kau gila anak muda” desis Ki Ajar Pamotan Galih “J ika kau terlalu banyak berbicara, maka kau akan dibungkam untuk selama- lamanya” “Aku tidak peduli” sahut Jlitheng. “Ia menentukan kesediaannya dalam keadaannya. Karena itu, kau tidak dapat mengganggu gugat lagi” geram Ki Ajar Pamotan Galih. Lalu t iba-tiba ia menjadi garang dan berkata “Mari Pangeran. Aku akan membuatmu lumpuh dan memaksamu untuk berbicara. Aku mempunyai seribu macam cara untuk memaksa seseorang berbicara betapapun keras hatinya” Pangeran Sena Wasesapun ternyata telah bersiap. Ia tidak menghiraukan lagi darah yang mengalir dipundaknya. Dengan lantang ia menjawab “Aku sudah siap” Keduanya telah berhadapan lagi dengan tegangnya. Ki Ajar Pamotan Galih nampak menjadi lebih garang. Namun Pangeran Sena Wasesa yang teriuka itupun menjadi semakin bersungguh-sungguh. Ia sama sekali tidak menghiraukan darah yang mengalir dan keadaan disekitarnya. Tiba-tiba saja ia telah didorong oleh satu keinginan untuk melawan Ajar, Pamotan Galih. “Agaknya aku sudah terpengaruh oleh anggapanku bahwa Ajar ini mempunyai kemampuan yang tidak terkalahkan” berkata Pangeran itu di dalam hatinya. Justru karena itu, Pangeran Sena Wasesa ingin memperbaiki kesannya tentang Ki Ajar Pamotan Galih. Ternyata Ki Ajar Pamotan Galih bukan orang yang memiliki kemampuan raksasa seperti yang diduganya. “Jika sejak semula aku t idak terpengaruh oleh anggapanku bahwa aku tidak akan mampu berbuat apa-apa sama sekali dihadapannya, maka agaknya aku akan dapat berbuat lebih banyak” berkata Pangeran itu pula di dalam hatinya, sementara ia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan. Namun dalam pada itu, darah yang mengalir dari lukanya, bagaikan di peras ketika ia bertempur semakin sengit. Sementara itu, Ajar Pamotan Galih telah dengan sengaja mengarahkan serangan-serangannya kepada puncak yang terluka itu. Bagimanapun juga, ternyata luka itu telah mempengaruhinya. Karena itu, maka semakin lama perlawanan Pangeran Sena Wasesapun menjadi semakin lemah. Apalagi ternyata daya tahan Ajar Pamotan Galih memang mengagumkan. Setelah mereka bertempur dalam waktu yang cukup lama, maka seakan-akan kemampuan Ajar Pamotan Galih itu sama sekali tidak menjadi susut. Kiai Kantihi memperhatikan perkelahian itu dengan jantung yang berdebaran. Ia sudah melihat, bahwa Pangeran Sena Wasesa tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. “Bahkan seandainya Pangeran tidak terluka, agaknya Pangeran memang tidak akan dapat mengalahkannya” berkata Kiai Kanthi di dalam hatinya. Orang tua itu melihat, meskipun Ajar Pamotan Galih tidak mempunyai kelebihan yang mengejutkan sebagaimana diduganya, karena seolah-olah Pangeran Sena Wasesa sendiri sudah mengetahuinya, namun daya tahan orang itu memang luar biasa. Meskipun ia harus mengerahkan segenap tenaganya dan melepaskan tenaga caj- dangannya sampai tuntas untuk memaksa Pangeran Sena Wasesa menyerah, namun ia masih tetap bertempur sesegar saat ia baru mulai. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa telah benar-benar menjadi semakin terdesak. Serangan Ki Ajar yang beruntun mengarah kepundaknya dapat dihindarinya. Namun ketika ia bergeser sambil berputar, tiba-tiba saja Ajar Pamotan Galih telah melingkar sambil menyerang dengan tumitnya menyamping mengarah lambung. Pangeran Sena Wasesa dengan tergesa-gesa melangkah surut. Tetapi ia sadar, serangan berikutnya akan menyusul. Karena itu, ia segera bersiap untuk menghindar. Tetapi serangan Ki Ajar justru diarahkan kepada kakinya. Sambil merendah dan bretopang pada satu tangannya di tanah, Ajar Pamotan Galih berusaha menghantam lutut Pangeran Sena Wasesa. Namun Pangeran itu masih mampu bergerak cepat. Ia melangkah kesamping. Bahkan kemudian dengan serta merta, la telah membalas serangan ku, dengan serangan ganda. Kakinya sempat menghantam betis lawannya dengan kerasnya, kemudian ketika kaki lawannya itu terdorong kesamping, Pangeran Sena Wasesa langsung menyerang dada. Tetapi serangannya ternyata gagal, karena Ki Ajar sempat berguling Dengan cepat ia melinting dan demikian kakinya tegak diatas tanah, maka kedua tangannya telah menyerang beruntun. Langsung mengarah ke pundak yang berdarah itu. Pangeran Sena Wasesa sempat menghindari serangan yang pertama dengan bergeser surut setapak. Tetapi kecepatan serangan kedua tidak dapat diimbanginya. Karena itu, sekali lagi tangan Ki Ajar Pamotan Galih yang dilambari dengan tenaga cadangannya itu telah menghantam pundak yang memang sudah berdarah Itu. Serangan Ajar Pamotan Galih itu cukup keras. Sementara itu perasaan sakit memang telah mencengkam pundak itu. maka serangan itu benar-benar telah mendorongnya sehingga hampir saja Pangeran Sena Wasesa itu kehilangan keseimbangannya. Tetapi ia masih tangkas untuk memperbaiki keseimbangannya. Namun demikian ia berhasil berdir i tegak maka Ki Ajar Pamotan Galih itu telah menyerangnya dengan kecepatan yang luar biasa. Seolah-olah Ajar tua itu telah terbang menukik dengan kakinya yang, terjulur mendatar mengarah dada. Demikian cepat dan kerasnya, sehingga Pangeran Sena Wasesa tidak sempat lagi untuk mengelak. Karena itu, maka ia telah memir ingkan tubuhnya dan berusaha melawan serangan itu dengan lengannya. Sebuah benturan yang keras telah terjadi. Pangeran Sena Wasesa telah terdorong beberapa langkah surut. Namun, meskipun ia berhasil untuk bertahan dan tidak terlempar jatuh, tetapi justru lengan yang dengan tergesa-gesa telah dipergunakannya untuk menyelamatkan dadanya itu adalah lengannya pada pundaknya yang terluka. Sehingga karena itulah, maka darah yang telah mengalir dari luka itu, benar- benar bagaikan dihentakkan mengalir dengan derasnya. Pangeran Sena Wasesa melangkah surut. Dengan cemas ia meyaksikan arus darahnya yang semakin membanj ir. Dalam pada itu, Ajar Pamotan Galih itupun tertawa berkepanjangan. Dengan Jantang iapun kemudian berkata “Nah, Pangaeran. Apakah Pangeran masih ingin melawan? Agaknya kemampuan Pangeran telah terhisap oleh darah yang mengalir dari luka itu. Sebenarnyalah aku mengagumi kemampuan Pangeran yang hampir dapat mengimbangi kemampuanku. Tetapi ternyata bahwa Pangeran tidak akan bertahan lebih lama lagi. Karena itu, sebaiknya Pangeran mengakui saja kekailahan ini. Dengan demikian maka segalanya akan berjalan lancar. Ajak aku kemana saja yang menurut Pangeran akan dapat menyelesaikan persoalan kita” Wajah Pangeran Sana Wasesa menjadi tegang. Namun ternyata sikap Ajar Pamotan Galih itu membuatnya tersinggung, sehingga harga dir inya sebagai seorang kesatriapun telah terungkat. Dengan suara bergetar menahan gejolak perasaannya, maka Pangeran itu berkata “Aku sudah basah olehi darah Ki Ajar. Tetapi aku belum sampai pada batas perjanjian kita. Sebagai seorang kesatria aku akan menghormat i setiap perjanjian. Tetapi sebagai seorang kesatria, maka akupun pantang menyerah. Aku akan bertempur sampai ternyata aku tidak mampu lagi melawan. Atau bahkan mati” “Sudah aku katakan aku tidak akan membunuhmu“ berkata Ajar Pamotan Galih. “Jika demikian, akulah yang akan membunuhmu” geram Pangeran Sena Wasesa. Tetapi Ajar Pamotan Galih yang melihat kemungkinan untuk menang menjadi semakin besar itupun tertawa. Darah yang mengalir dipundak Pangeran Sena Wasesa telah membasahi seluruh tubuhnya. Katanya di sela-sela suara tertawanya yang sengaja di perdengarkan “Pangeran. Apakah kau bukan seorang laki- laki jantan yang sanggup dan berani menatap kenyataan? Kau tidak akan menang. Itu satu kenyataan. Bukankah kau melihat kenyataan itu” “Aku melihat Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa “Tetapi aku adalah laki- laki yang pantang menyerah. Sudah aku katakan, dan kau sudah mendengarnya” “Jangan keras kepala Pangemn” sahut Ki Ajar. Pangeran Sana Wasesa tidak menjawab. Tetapi ia telah mengerahkan sisa tenaganya untuk bertempur semakin seru. Keadaan Pangeran itu memang sangat mencemaskan. Kiai Kanthi menjadi sangat gelisah. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Jika ia berbuat sesuatu, maka mungkin Pangeran Sena Wasesapun telah tersinggung pula. Karena itu, maka rasa-rasanya kaki Kiai Kanthi itupun menjadi bergetar oleh kegelisahan yang tertahan di dalami dadanya tanpa menemukan pemecahan. Dalam pada itu, kegelisahan itu bukan saja telah mencengkam Kiai Kanthi. Anak-anak muda yang menyaksikan pertempuran itupun menjadi cemas. Jlitheng dan Daruwerdi menjadi tegang. Swasti diluar sadarnya telah mendesak ayahnya selangkah maju tanpa berpaling dari pertempuran itu. Rahu tegak sambil menggeram. Sementara itu kedua paman Daruwerdipun bagaikan berdiri diatas bara. Namun dalam pada itu, ternyata kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itupun menjadi cemas melihat keadaan Pangeran itu. Sebenarnyalah keduanya masih sangat ragu- ragu menghadapi sikap saudara seperguruannya. Mereka tidak tahu pasti, apakah yang telah dilakukan oleh saudara seperguruannya itu, yang bertentangan dengan sikap yang pernah dilihatnya sebelumnya. Sebagai orang yang sudah lama merambah jalur jalan orang-orang yang berilmu maka darah bukan lagi menjadi persoalan perasaan mereka. Apalagi pada suatu masa mereka adalah orang-orang yang hidup dalam dunia yang hitam. Namun ketika pada suatu saat mereka mulai di hayati oleh pertimbangan-pertimbangan tentang sikap hidup mereka, maka yang disaksikannya itu membuat mereka menjadi berdebar debar. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih justru telah mengerahkan segenap kemampuan dan kecepatannya bergerak untuk memancing agar Pangeran Sena Wasesa mengerahkan segenap kekuatannya pula, sehingga dengan demikian, maka ia akan segera kehabisan tenaga karena darahnya yang mengalir semakin banyak. Sebenarnyalah, betapapun Pangeran Sena Wasesa berjuang untuk mengatasi susutnya tenaga, namun ia memang tidak mampu melawan kenyataan yang terjadi pada dirinya. Tenaganya benar-benar semakin terkuras habis sejalan dengan darahnya yang tidak henti-hentinya mengalir, dari lukanya. Dalam pada itu, selagi keadaan Pangeran Sena Wasesa menjadi semakin gawat, nampaknya Jlitheng tidak dapat menahan hati lagi. Dengan sertai meria ia berkata kepada Rahu “He, apa kerjamu selama ini? Kau biarkan hal ini terjadi? Rahu menahan gejolak parasaannya. Katanya “Yang membuat aku bimbang, adalah kesediaan Pangeran untuk berperang tanding” Jlitheng menggertakkan giginya. Namun dalam pada itu, ketika ia melihat Pangeran Sena Wasesa yang menjadi semakin lemah terdorong jatuh, maka iapun segera meloncat ke arena. “Tidak adil” teriaknya “Pangeran sudah terluka. Perang tanding hanya adil jika keduanya adalah keadaan yang wajar” Wajah Ki Ajar Pamotan Galih menjadi merah padam. Setelah ia mengalami perlawanan yang sangat berat, bahkan telah memaksanya untuk mengerahkan segenap kemampuannya, maka kehadiran anak muda itu membuatnya sangat marah. Dalam pada itu terdengar suara Pangeran Sena Wasesa “Jlitheng. Tinggalkan arena. Aku tidak dapat mengingkari segala perjanjian yang sudah aku buat. Tetapi, tidak dapat melawan lagi menurut pengertianku adalah kematian” “Sejenak perang tanding ini dimulai, sudah dapat dinilai tidak sah. Pangeran berada dalam keadaan luka” jawab Jlitheng. “Ia tidak menyatakan keberatannya” potong Ajar Pamotan Galih yang marah. Bahkan katanya kemudian “atau kau akan ikut campur dan bersama-sama melawan aku?” “Aku akan menggantikannya” jawab Jlitheng. “Kau jangan gila Jlitheng” teriak Pangeran Sena Wasesa yang berusaha untuk bangkit betapapun lemahnya” Kau harus tahu diri dengan siapa kau berhadapan. Jangan cemaskan keadaan orang lain, tetapi kau kemudian justru membunuh dir i. Sebuah kematian sudah cukup. Biarlah aku mati karena tugas hidupku memang sudah selesai” “Aku tidak mengerti” jawab Jlitheng “Apakah mungkin seseorang menganggap tugas hidupnya sudah selesai. Menurut pengertianku, apalagi bagi seorang kesatria, tugas hidup itu tidak akan selesai selama masih ada kelaliman di muka bumi ini” “Cukup” bentak Ki Ajar Pamotan Galih “majulah bersama- sama. Aku akan membunuh kalian berdua, dan apa bila Pangeran benar-benar tidak mau berbicara tentang pusaka itu, maka semua orang akan aku bunuh seorang demi seorang. “Licik” geram Pangeran Sena Wasesa “Kita teruskan perang tanding ini” “Tidak perlu” potong Jlitheng “perang tanding ini t idak dapat dianggap sah” Wajar Ajar Pamotan Galih menjadi bagaikan menyala. Sementara itu Jlitheng tidak mau beringsut dari tempatnya. Sedangkan orang-orang yang berada diseputar arena itu menjadi ragu-ragu. Namun akhirnya Rahupun melangkah maju. Katanya “Pangeran. Aku masih tetap dalam tugasku. Apapun yang akan terjadi atas dir iku”. “Jangan bodoh” teriak Pangeran itu “kalian akan melakukan satu kesalahan yang tidak akan berarti apa-apa” Tetapi Rahu dan Jlitheng nampaknya memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan, apapun yang akan terjadi atas diri mereka. Dalam pada itu. Ajar Pamotan Galih menjadi semakin marah melihat kedua orang yang dengan berani menentangnya. Bahkan menurut pertimbangan Ajar Pamotan Galih, diantara mereka masih terdapat seorang tua yang tentu memiliki ilmu yang mapan pula. Karena itu maka Ajar Pamotan Galih itupun kemudian berkata kepada kedua adik seperguruannya “Singkirkan mereka. Jika mereka melawan kalian dapat memaksanya” Kedua orang adik seperguruan Ajar Pamotan Galih ku termangu-mangu. Mereka memang melihat beberapa persoalan yang menjadi teka-teki. Menurut penilaian mereka, kakak seperguruannya adalah seorang yang memiliki ilmu yang sukar ada bandingnya. Namun dalam pertempuran itu, meskipun lawannya juga seorang pilih tanding, namun agaknya Ajar Pamotan Galih itu sendiri harus mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi Pangeran yang luka itu. “Tetapi menilik unsur dan cir i-cir i tata geraknya, orang itu benar-benar bersumber dari perguruan kami” berkata saudara seperguruannya ku kepada dir i sendir i” Meskipun telah terjadi perkembangan yang agak jauh” Dalam keragu-raguan itu, terdengar sekali lagi Ajar Pamotan Galih itu berteriak “Singkirkan mereka. Kalian dengar? Jika mereka melawan, bunuh saja orang-orang gila itu. Aku tidak memerlukannya” Beberapa orang di seputar arena itu mulai bergerak. Namun justru kedua saudara seperguruannya ku masih tetap dicengkam oleh keragu-raguan. Tetapi akhirnya merekapun telah bergerak pula. Selangkah demi selangkah dengan sorot mata penuh kebimbangan. “Kenapa kalian ragu-ragu he?“ bentak Ki Ajar Pamotan Galih. Dalam pada itu, tiba-tiba saja Daruwerdi telah meloncat pula sambil berkata “Kakek. Tindakan kakek memang tidak adil” “Daruwerdi” desis Ki Ajar Pamotan Galih “Kenapa kau tiba- tiba menjadi orang bingung. Semuanya ini untuk kepentinganmu. Kau adalah cucuku seperti cucuku sendir i. Segalanya aku lakukan bagi hari depanmu. Menepilah. Aku akan menyelesaikan tugas ini“ “Tidak kakek. Aku menolak cara yang kakek pergunakan” berkata Daruwerdi ”apakah kakek tidak mempunyai cara lain selain kekerasan seperti itu? Seandainya kakek memberi kesempatan aku memilih, maka aku akan memilih agar kakek mengurungkan niat kakek daripada mendapat sebilah pusaka, harta benda dan apapun yang tidak aku ketahui manfaatnya dengan pasti. Apakah ada pengaruh gaib dari pusaka itu yang akan membuat aku menjadi seorang pemimpin kelak, atau sebenarnya karena harta benda yang tidak ternilai harganya itu akan dapat membuat aku berbahagia” “Daruwerdi, bukankah kita sudah sepakat sebelumnya Bukankah kita sudah mengatur segaa sesuatunya. Bahkan jika orang Sanggar Gading itu tidak memiliki pengamatan tayub yang tajam, kau sendiri akan anggap menyelesaikan. Nah, jika waktu itu Pangeran ini sudah ada di tanganmu tanpa aku. apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Ajar Pamotan Galih. Jika saat itu, Yang Mulia dari Sanggar Gading itu tidak merubah segala macam acara yang telah ditentukan, agaknya Daruwerdi memang akan menentukan sikap yang sudah di putuskannya. Katanya “Aku akan mengikatnya dengan jerat rangkap ganda dan cinde berserat baja sehingga tidak dapat diputuskannya dengan ilmu apapun juga. Kemudian memukulinya sehingga ia mengatakan di mana pusaka itu disimpan. Aku tidak akan mempunyai belas kasihan terhadap seseorang yang telah membunuh ayahku” “Nah, kenapa kau tidak melakukannya sekarang? Bahkan kau mencegah aku melakukan kekerasan” bertanya Ki Ajar Pamotan Galih. “Aku memang sudah berubah sikap kakek. Sejak aku meragukan sifat dan watak Pangeran itu. Ia sama sekali tidak mendendamku. Bahkan ia telah membantu membebaskan aku dari kemarahan Yang Mulia pemimpin tertinggi Sanggar Gading” “Persetan“ geram Ki Ajar Pamotan Galih “kalian sudah menjadi cengeng. Cepat, lakukan yang aku perintahkan. Kalian telah membuat aku kehilangan kesabaran. Bunuh semua orang yang menentang perintahku dan menghalangi niatku” Halaman padepokan itu menjadi semakin tegang. Sejenak mereka seakan-akan telah membeku. Perintah itu merupakan keputusan yang pasti tidak akan dapat berubah lagi. Namun dalam pada itu, tidak ada pilihan lain dar i Kiai Kanthi untuk mempersiapkan diri. Swastipun telah meraba hulu senjatanya, sementara kedua paman Daruwerdi yang kebingungan itupun itelah dipaksa untuk bersiap. Sikap Daruwerdi membuat mereka semakin kehilangan arah dan pegangan. Namun akhirnya, mereka tidak mau berpikir lagi. Mereka harus melindungi Daruwerdi, kemanakannya itu, dimanapun ia berdir i. Dalam suasana yang tidak menentu itu, tiba-tiba saja halaman padepokan itu telah digetarkan oleh suara tertawa nyaring. Tidak terlalu keras, tetapi rasa-rasanya menusuk sampai kepusat jantung. Sejenak orang-orang dihalaman itu menjadi bingung Namun orang-orang tuapun segera mengetahui arah suara itu. Ternyata merekapun kemudian melihat di atas sebatang dahan pada pohon pacar yang tua duduk seorang dalam pakaian yang kumal dan kotor. Wajahnya tidak lagi nampak wajar oleh cacad di kening dan ujung bibir. “Anak setan” geram Ki Ajar Pamotan Galih “Siapakah orang gila yang duduk disitu?“ Orang itu masilh tetap tertawa, sementara orang-orang lain menjadi bingung dan bimbang. Tidak seorangpun yang tahu, kapan orang itu datang, sehingga tiba-tiba saja ia sudah berada di atas sebatang dahan di pohon pacar tua yang besar dan rimbun itu. “Tentu orang berilmu sangat tinggi” berkata setiap orang di dalam hatinya. Sementara itu, maka orang itupun berkata “Yang pertama harus dilakukan adalah memampatkan darah dari luka Pangeran. Semakin lama darah itu akan semakin banyak mengalir, sehingga pada suatu saat Pangeran akan kehilangan sebagian besar dari darah Pangeran. Pangeran tentu tahu, akibat apa yang dapat terjadi” Pangeran Sena Wasesa memang sudah menjadi semakin lemah. Selain karena ia sudah mengerahkan segenap kekuatannya, iapun itelah kehilangan banyak darah dari tubuhnya. Meskipun demikian, Pangeran Sena Wasesa itu sama sekali tidak berniat untuk menyerah, sebelum ia bertempur sampai tuntas. Karena itu, maka katanya kemudian “Kewaj ibanku belum selesai” “Jangan berpikir seperti itu Pangeran” jawab orang yang duduk diatas sebatang dahan pohon pacar yang tua itu “Pangeran dapat berbuat demikian jika luka itu terjadi pada saat perang tanding ini berlangsung. Tetapi bukankah Pangeran sudah terluka sejak perang tanding ini belum dimulai” “Tetapi ia sudah mener ima tantangan perang tanding itu dalam keadaannya” geram Ajar Pamotan Galih, yang kemudian berkata “Tetapi siapakah kau he? Apakah kau memang dengan sengaja ingin ikut campur dalam persoalan ini?“ Orang itu tertawa. Tubuhnya nampak ringan sekali ketika ia meluncur turun dari dahan pohon pacar itu. Namun ketika ia melangkah mendekat, maka ternyata bahwa punggungnya agak bongkok meskipun hanya sedikit. “Ki Ajar Pamotan Galih“ berkata orang itu “Sebenarnya perang tanding ini tidak akan ada artinya sama sekadi” ”Kami. sudah membuat perjanjian” berkata Ajar Pamotan Galih. “Jika kau menang Pangeran akan mengatakan yang sebenarnya tentang pusaka dan harta karun yang kau inginkan itu? Yang kau katakan seolah-olah semuanya itu kau siapkan bagi hari depan cucumu itu?“ bertanya orang yang berwajah cacat dan punggungnya agak bongkok itu. “Ya. Pusaka itu mempunyai pengaruh gaib sehingga cucuku itu kelak akan dapat menjadi seorang pemimpin” jawab Ajar Pamotan Galih. “Dan harta benda yang menyertai pusaka itu akan dapat dipergunakan untuk menyusun hari depannya yang bahagia“ sambung orang yang cacat itu. “Ya” jawab Ki Ajar Pamotan Galih. Namun kemudian katanya “Tetapi apa kepentinganmu dengan persoalan kami pengembara yang kotor. Apakah kau ingin mendapat sesuap, nasi karena tingkah lakumu itu?“ “Tidak adil” teriaknya ”Pangeran sudah terluka. Perang tanding hanya adil jika keduanya adalah keadaan yang wajar” Wajah Ki Ajar Pamotan Galih menjadi merah padam. Setelah ia mengalami perlawanan yang sangat berat, bahkan telah memaksanya untuk mengerahkan segenap kemampuannya, maka kehadiran anak muda itu membuatnya sangat marah. “Tidak, tidak Ki Ajar. Aku dapat makan apa saja yang aku ketemukan. Selama ini aku makan akar pepohonan dan madu tawon. Ternyata aku tetap sehat seperti yang kau lihat” berkata orang itu. Lalu “Tetapi itu tidak penting. Sebaiknya kau hentikan tingkah lakumu yang memuakkan itu” “Persetan“ geram Ki Ajar Pamotan Galih. Lalu katanya kepada kedua adik seperguruannya “usir orang itu” “Tunggu” berkata orang cacat itu “Aku ingin member ikan obat ini kepada Pangeran Sena Wasesa. Mungkin Pangeran sendiri juga sudah mempunyai obat yang baik. Tetapi aku kira, obatku ini akan lebih cepat memampatkan darah” Orang itu kemudian sama sekali tidak menghiraukan Ki Ajar Pamotan Galih yang justru menjadi termangu-mangu. Sambil member ikan sebumbung kecil obat ia berkata kepada Rahu dan Jlitheng “Tolong, bantu Pangeran itu. Biarlah orang ini aku selesaikannya” Seperti kena pesona yang tidak dapat mereka hindari, maka kedua orang itupun kemudian mendekati Pangeran Serta Wasesa yang menerima bumbung berisi obat itu hampir diluar sadarnya. “Cepat” berkata Ki Ajar Pamotan Galib kemudian “usir orang itu atau bunuh sama sekali. Ia sudah mengigau tentang pusaka, tentang harta benda, seolah-olah ia mengetahui apa yang dikatakannya” Kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu termangu-mangu. Namun kemudian orang yang berpakaian kumal seperti seorang pengembara itu berkata “Baiklah Raga- pasa dan Wanda Manyar. Jika kalian memang mendapat tugas untuk itu, cobalah, lakukanlah atasku” Kedua orang itu terkejut. Hampir diluar kehendaknya, Ki Wanda Manyar bertanya “Kau mengenal kami berdua?“ “Kenapa tidak? Aku mengenal kau berdua dengan baik. Dan barangkali kalian bertanya, darimana aku mengenal kalian?“ sahut orang itu. Kedua orang itu temangu-mangu. Namun Ki Ajar Pamotan Galih telah membentaknya “Cepat. Selesaikan saja orang itu” “Baiklah” berkata pengembara itu “biarlah kedua orang ini melawan aku. Tetapi aku minta ¡kau memperhatikan apa yang akan terjadi” “Kau memberi kesempatan Pangeran itu mengobati luka- lukanya?“ bertanya Ki Ajar Pamotan Galih. “Apa kau berkeberatan?“ bertanya pengembara itu. “Baik “ Ajar Pamotan Galih hampir berteriak “biarlah Pangeran itu mengobati luka-lukanya. Aku akan memberi kesempatan kepadanya. Sekarang aku ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh pengembara ini” Lalu katanya kepada kedua orang adik seperguruannya “usir, atau bunuh sama sekali” Kedua adik seperguruan itu masih tetap ragu-ragu. Namun pengembara itupun kemudian berkata “Marilah Raga-pasa dan Wanda Manyar. Aku memang ingin menunjukkan kepadamu, apa yang dapat aku lakukan” Kedua orang itu seolah-olah tidak lagi mengerti apa yang dilakukannya. Tetapi keduanya telah maju kearena. Kiai Kanthi memperhatikan orang yang baru datang itu dengan saksama. Ia memang belum pernah melihat orang yang cacat seperti itu. Namun adalah sangat menarik bahwa orang itu telah menantang kedua orang adik seperguruan Ajar Pamotan Galuh. “Orang itu akan menghadapi kedua-duanya” berkata Kiai Kanthi di dalamhatinya. Karena kedua adik seperguruan Ki Ajar itu masih tetap ragu-ragu, maka orang itu berkata “Jangan ragu-ragu. Aku akan memulai. Melawan atau tidak melawan” Pengembara yang membuat teka-teki di padepokan itu menjadi semakin rumit itupun tiba-tiba telah meloncat menyerang. Ia benar-benar telah memukul pundak Ki Ragapasa yang ragu-ragu. Namun pukulan itu telah mendorongnya selangkah surut Ki Ragapasa menyeringai menahan sakit. Sementara itu, orang itu telah menyerang Ki Wanda Manyar pula. Namun nampaknya Ki Wanda Manyar telah bersiaga, sehingga iapun sempat mengelak. “Orang ini sangat aneh” desis kedua orang itu didalam hatinya. Namun keduanya tidak dapat tinggal diam. Orang itu sudah menyerang dan sentuhan di pundak Ki Ragapasa telah membuat pundak itu menjadi sakit. ”Tetapi orang itu agaknya tidak ingin berbuat lebih banyak dari sakit itu” berkata Ki Ragapasa kepada diri sendiri “Jika ia mau, maka aku kira ia dapat lebih banyak berbuat daripada membuat pundak ini sakit” Namun dalam pada itu, kedua orang adik seperguruan Ajar Pamotan Galih itu tidak sempat berpikir lebih banyak lagi. Orang yang cacat itu telah menyerangnya dengan cepatnya. Meskipun ia agak bongkok tetapi ia dapat bergerak dengan cekatan, seolah-olah ia tidak dalam keadaan cacat. Tetapi dalam pada itu, terdengar Ajar Pamotan Galih tertawa sambil berkata “Orang itu hanya dapat meloncat- loncat seperti kera kepanasan. Tetapi karena tingkah lakunya, maka cepat selesaikan saja agar orang itu tidak mengganggu” Dalam pada itu, kedua orang yang sedang bertempur melawan pengembara itupun melihat, seolah-olah orang itu hanya bergerak tanpa kemampuan menguasai tata gerak sama sekali Namun ternyata ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ketika Ragapasa menyerangnya, demikian tangannya menyentuh tubuh orang itu, ia mendengar orang itu berdesis “Kau benar-benar tidak mengenal aku?“ Ki Ragapasa mengerutkan keningnya. Tetapi ketika ia bergeser surut, pengembara itu memburunya dan dengan sisi telapak tangannya ia menghantam lambung. Ki Ragapasa terkejut. Lambungnya memang merasa sakit. Sementara itu Ki Wanda Manyarpun telah berusaha menyerang orang itu pula dari samping. Dalam pada itu, orang itupun berdesis pula “ Cobalah mengingat siapakah aku” Ki Wanda Manyar yang sudah siap untuk memukul tengkuk orang itupun telah tertahan. Tetapi tangannya masih juga menyentuh tengkuk itu meskipun tidak menimbulkan akibat apapun juga. Orang-orang yang melihat perkelahian itu merasa bahwa ada sesuatu yang tidak wajar. Kiai Kanthi yang memiliki pengamatan yang tajam justru menjadi heran. Pertempuran itu sama sekali tidak mencermikan pertempuran antara orang- orang yang berilmu tinggi. Apalagi Ki Ajar Pamotan Galih sendiri. Dengan lantang iapun kemudian berkata “Jangan terpengaruh oleh perasaan belas kasihan. Bunuh saja orang itu Kau kira bahwa orang itu pada suatu saat tidak akan berbahaya bagi kalian. Ia telah memancing kalian dengan tingkah lakunya yang kegila-gilaan itu. Namun pada suatu saat, perut kalianlah yang akan berlubang karenanya” Kedua adik seperguruannya itupun kemudian bergeser surut. Tetapi kata-kata orang bertubuh bongkok dan berwajah cacat itu berkesan dihati mereka, sehingga untuk beberapa saat keduanya telah berusaha untuk mengingat, dengan siapa ia berhadapan. Namun mereka t idak segera dapat mengenali orang itu. Sementara orang itu telah menyerang mereka pula. Sehingga dengan demikian, maka merekapun harus berusaha untuk menghindar. Meskipun kemudian terjadi sentuhan-sentuhan, tetapi sama sekali t idak berakibat apapun juga bagi kedua saudara seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu. “Hentikan permainan gila itu” tiba-tiba Ki Ajar itu berteriak “Jika kalian terpengaruh oleh sikap orang itu, maka biarlah aku saja membunuhnya. Pengembara itu meloncat mundur. Lalu Katanya “Itu lebih baik Ki Ajar. Cobalah, kau sajalah yang membunuh aku. Kedua saudara seperguruanmu ini agaknya terlalu berbelas kasihan kepadaku. Mereka tidak bertempur dengan sungguh-sungguh Mereka hanya menyentuh tubuhku yang cacat ini seperti menyentuh dan membelai untuk kanak-kanak” “Tutup mulutmu” bentak Ki Ajar Pamotan Galih yang tidak sabar “Iblis seperti kau ini memang harus dimusnakan” “Ah. Kau nampak garang sekali Ki Ajar” berkata orang itu “hampir aku tidak dapat mengenalmu lagi. Dahulu kau tidak segarang sekarang ini. Memang aku tahu, sebelumnya kau adalah iblis yang paling garang di daerah Selatan negeri ini. Tetapi rasa-rasanya kau sudah berubah” “Setan alas“ bentak Ki Ajar “Jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak káü ketahui” “Aku tahu“ jawab orang ku “Aku mengenal Ki Ajar dengan baik. Aku mengenal Ki Ajar Cinde Kuning. Aku mengenal Ki Ajar Macan Kuning, yang mulai berubah menjadi lain dari Ajar Cinde Kuning, dan kemudian nama itu berubah lagi menjadi Ki Ajar Pamotan Galih yang menginginkan pusaka yang kau sangka tersembunyi di daerah Sepasang Bukit Mati. Kau ajari cucumu itu untuk menculik Pangeran Sena Wasesa yang ternyata adalah satu-satunya orang yang mengetahui tentang pusaka ku dan lebih-lebih lagi adalah harta benda yang tidak ternilai harganya” “Cukup “Ki Ajar Pamotan Galih kupun melangkah maju. Ia tidak memikirkan lagi siapakah yang berdiri dihadapannya. Namun ia masih berkata kepada kedua saudara seperguruannya “Jaga orang-orang yang ada di halaman ini, terutama Pangeran Sena Wasesa. Jangan biarkan mereka pergi” “Apa yang akan kakang lakukan?“ bertanya Raga-pasa. “Aku akan membunuh orang ini” jawab Ajar Pamotan Galih. Pangeran Sena Wasesa termangu-mangu. Ada niatnya untuk mengatakan bahwa ia masih dalam satu keadaan berperang tanding. Belum ada yang dinyatakan kalah atau menang. Namun keadaan yang dihadapinya itu telah mempesonanya, sehingga ia tidak berbuat sesuatu ketika kedua orang itu berhadapan. Ki Ajar Pamotan Galih dengan orang yang cacat dan punggungnya agak bongkok itu. “Sebelum kau mat i, apakah ada yang ingin kau katakan?“ geramAjar Pamotan Galih. Orang yang cacat itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya “Tidak ada yang ingin aku katakan lagi Sekarang, jika kau ingin berbuat sesuatu, lakukanlah. Aku sudah siap. Biarlah orang-orang yang berada disini menjadi saksi” Ki Ajar Pamotan Galih tidak sabar lagi. Dengan geramnya ia berdesis “Aku ingin cepat membunuhmu. Kemudian menyelesaikan persoalanku dengan Pangeran Sena Wasesa” “Aku tidak ingin mati” tiba-tiba saja pengembara itu menjawab “Aku ingin tahu, apa yang dapat kau selesaikan dengan Pangeran Sena Wasesa itu” Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang sambil berteriak nyaring. Suara teriakannya itu bagaikan mengguncang setiap isi dada. Kiai Kanthi bergeser selangkah kesamping diikuti oleh anak gadisnya. Pertempuran yang kemudian terjadi memang sangat menarik perhatiannya. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas, maka sentuhan pada jantungnya telah menarik perhatiannya untuk memperhatikan pertempuran itu dengan saksama sampai kepada unsur-unsurnya. Pangeran Sena Wasesa mengikuti perkembangan keadaan itu dengan jantung yang berdebaran. Namun bagaikan orang terbangun dari mimpi ia berpaling ketika Rahu berkata “Apapun yang terjadi Pangeran. Sebaiknya Pangeran mengobati luka Pangeran” Pangeran itu ragu-ragu. Ia belum mengenal pengembara Uu, Karena itu, Pangeran itupun tidak yakin bahwa obat itu akan menolongnya. Tetapi Pangeran itu terkejut ketika pengembara itu sambil menghindari serangan Ki Ajar Pamotan Galih berkata “Jangan bimbang Pangeran. Darah itu sudah terlalu banyak mengalir dari tubuh Pangeran” Pangeran Sena Wasesa sendiri tidak mengerti, kenapa kepercayaannya kepada pengembara itu telah tumbuh. Karena itu. maka untuk sesaat ia menepi dan dibantu oleh Rahu dan Jlitheng, Pangeran Sena Wasesa telah mengobati luka- lukanya. Adalah diluar dugaannya, bahwa tiba-tiba saja Daruwerdi telah berjongkok disampingnya sambil berdesis “Aku mohon maaf Pangeran” Pangeran Sena Wasesa memandangi anak muda itu. Kemudian dengan kerut di dahi ia bertanya “Kenapa?” “Akulah yang menyebabkan Pangeran terperosok dalam keadaan yang berlarut-larut ini. Apalagi setelah aku menyadari, bahwa Pangeran tidak sendiri. Maksudku, keluarga Pangeran” Pangeran Sena Wasesa tersenyum. Katanya “Sudahlah. Sekarang kita sudah terjerat ke dalam keadaan seperti ini. Aku ingin melihat apa yang terjadi” Daruwerdi beringsut surut. Ketika Rahu dan Jlitheng memandangi wajahnya, maka nampak penyesalan yang dalam pada sorot matanya. Namun segalanya memang sudah terjadi. Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa. Mereka sudah terjerat dalamsatu keadaan. Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih telah menyerang dengan garangnya. Ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Ia tidak lagi menghiraukan apapun juga dan sama sekali tidak lagi mengendalikan diri. Ia benar-benar ingin membunuh orang itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga ia tidak akan merasa terganggu lagi, jika ia ingin berbicara lebih jauh dengan Pangeran Sena Wasesa. Namun ternyata bahwa Ajar Pamotan Galih tidak dapat melakukannya sebagaimana yang dikehendakinya. Meskipun ia sudah menghentakkan kemampuannya, ternyata bahwa pengembara yang sedikit bongkok itu mampu mengimbangi kekuatannya dan bahkan kecepatannya bergerak. Dalam pada itu, Kiai Kanthi memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pertempuran itu. Meskipun keduanya bertempur dengan caranya masing-masing, tetapi Kiai Kanthi melihat kadang- kadang keduanya memiliki unsur yang bersamaan. Sikap jari tangan mereka hampir daiam keseluruhan gerak mir ip sekali Langkah kaki, terutama dalam keadaan yang tergesa-gesa dan perlindungan terhadap dada yang rapat sekali. Bukan saja Kiai Kanthi yang menjadi sangat tertarik. Pangeran Sena Wasesa yang memperhatikan pertempuran itu dengan saksamapun telah melihat pula beberapa kesamaan unsur gerak pada keduanya. Namun dalam pada itu, yang paling banyak memperhatikan persamaan itu adalah kedua adik seperguruan Ajar Pamotan Galih. Bahkan demikian tajamnya mereka memperhatikan persamaan-persamaan itu, sehingga keduanya seakan-akan telah melupakan segala-galanya. Mereka tidak menghiraukan lagi Kiai Kanthi, Pangeran Sena Wasesa, Rahu, Jlitheng dan anak gadis Kiai Kanthi. Apalagi Daruwerdi dan kedua pamannya. Dalam pada itu pertempuran itu semakin lama menjadi semakin meningkat. Ki Ajar Pamotan Galih yang tidak segera dapat menyelesaikan lawannya itupun menggeram. Kemarahannya telah melonjak sampai ke ubun-ubunnya. Pangeran Sena Wasesa, seorang Senapati perang itu dapat dikalahkannya Sementara itu seorang dalam pakaian kusut, bertubuh cacat, telah mampu mengimbangi ilmunya. Justru karena gejolak perasaannya, maka Ki Ajar Pamotan Galih tidak sempat menghiraukan sikap dan tandang lawannya. Meskipun demikian terasa oleh Ajar Pamotan Galih, bahwa orang cacat itu seolah-olah mampu membaca tatage- raknya, sehingga setiap kali orang itu dapat mendahului dan memotongnya. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih yang semakin marah itu semakin kehilangan pengamatan diri. Demikian mendesak keinginannya untuk segera menyelesaikan pertempuran itu, dan justru karena orang cacat itu mampu mengimbanginya, maka tata gerak Ajar Pamotan Galih itupun semakin lama menjadi semakin keras. Bahkan dalam dorongan kemarahannya, maka tata geraknya menjadi semakin kasar. Diluar sadarnya, muncullah unsur-unsur gerak yang kadang-kadang mendekati kekasaran gerak orang-orang yang berilmu hitam. Jari-jari tangannya yang mengembang rapat mulai berubah. Jari-jarinya kadang-kadang telah mengembang seperti jari-jar i seekor har imau. Bahkan dalam ketiadaan sadar, sekali-sekali terdengar Ki Ajar itu menggeram mirip geramseekor harimau yang lapar. Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Orang bertubuh dan berwajah cacat itu ternyata mampu mengimbangi kemampuan Ki Ajar Pamotan Galih. Bahkan ketika Ki Ajar itu benar-benar tidak lagi mampu mengamati ilmunya dan bertempur semakin kasar, maka lawannya sama sekali t idak nampak kebingungan. Agak berbeda dengan Pangeran Sena Wasesa yang telah terluka. Selain karena kekasaran lawannya, darahnya telah mengalir pula dari lukanya, sehingga perlawanannya menjadi tidak seimbang. Tetapi orang cacat itu justru telah meningkatkan ilmunya setiap ikali Ki Ajar Pamotan Galih menjadi semakin garang. “Marilah Ki Ajar” berkata orang itu “tuntaskan segala macam ilmumu. Menurut pendengaranku, orang yang disebut Ki Ajar Cinde Kuning adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun nama itu menjadi mulai pudar ketika namamu beralih menjadi Ajar Macan Kuning. Mungkin nama Cinde Kuning kurang memadai bagimu sehingga kau telah memilih nama lain lagi. Ki Ajar Pamotan Galih” “Diam” geram Ki Ajar Pamotan Galih “Aku akan menyobek mulutmu yang terlalu banyak berbicara itu” “Lakukanlah jika kau mampu” jawab orang itu. Kemarahan Ki Ajar Pamotan Galih menjadi semakin meledak-ledak. Ilmunya menjadi semakin kasar dan semakin bergeser dari sikap dan gerak yang semula banyak mempunyai persamaan dengan lawannya Bahkan akhirnya tata geraknya telah berubah sama sekali. Kekasaran yang belum nampak selagi orang itu bertempur melawan Pangeran Sena Wasesa” “Begitulah caranya mengerahkan segenap kemampuannya?” Kiai Kanthi di dalam hatinya. Sementara itu Pangeran Sena Wasesa berdesis “Betapupun tinggi ilmunya, tetapi ternyata aku tidak dapat menghormat inya. Semula aku mengira bahwa ilmunya adalah ilmu yang matang. Ternyata ilmunya yang dikagumi itu adalah ilmu hitam” Sedangkan sebuah pertanyaan telah bergejolak di dalam hatinya “Ternyata yang mengagumkan itu adalah ilmunya sebagai Ki Ajar Cinde Kuning. Jika aku mengerti sejak semula aku sama sekali tidak akan menaruh hormat kepadanya” Dalam pada itu pertempuran diantara kedua orang itupun semakin sengit pula Betapa keras dan liarnya Ajar Pamotan Galih yang berusaha memenangkan pertempuran itu. Namun ternyata ihnu lawannyapun meningkat terus, seolah-olah tidak terbatas. Kemampuannya benar-benar kemampuan yang tinggi dalam ilmu yang bersih. Orang bertubuh cacat itu sama sekali t idak terpenjaruh oleh sikap lawannya yang memiliki ilmu hitam. Bahkan kemudian katanya “Ki Ajar. Aku juga mampu bertempur seperti yang Ki Ajar lakukan. Tetaoi itu sudah lama lampau bagiku. Namun agaT kau dapat sedikit mengenali aku, maka aku ingin memperlihatkannya. Tetapi tidak untuk menyelesaikan pertempuran ini” Kata-kata itu sangat menyakitkan hati. Namun sebenarnyalah. Tiba-tiba orang cacat itu telah berubah. Dalam sekejap, ia telah meninggalkan ilmunya yang bersih. Sambil menggeram keras sekali maka iapan bertempur dengan buasnya, sebuas Ajar Pamotan Galih. Pertempuran itu menjadi berubah sama sekali. Keduanya menjadi garang dan buas. Masing-masing menggeram dan berteriak dengan kasarnya. “Permainan yang Gila“ desis Kiai Kanthi. Jantungnya menjadi semakin berdebaran. Seolah-olah ia sudah dihadapkan pada satu pertunjukkan yang sangat mengerikan. Rasa-rasanya ia sedang melihat dua ekor binatang buas sedang berlaga memperebutkan mangsanya dihutan yang lebat pepat. Namun seperti yang dikatakannya, orang bertubuh cacat itu tidak menyelesaikan pertempuran itu dengan cara yang kasar itu. Ternyata agak berbeda dengan Ki Ajar Pamotan Galih yang benar-benar telah kehilangan pengamatan dir i, maka lawannya masih menyadari keadaannya sepenuhnya. Beberapa saat kemudian, maka iapun telah meruhah caranya, kembali kepada cara yang semula. Bertempur dengan kemampuan ilmu yang wajar dan bersih. Tetapi dengan demikian, maka nampaklah, betapa ia yakin akan kemampuannya. Dengan suara lantang maka orang cacat itupun berakta “Nah, Ki Ajar. Bukankah aku juga dapat bertempur dengan caramu? Dengan demikian kau akan dapat lebih mudah mengenaliku jika kau masih menipu nyai ingatan yang jernih” “Persetan, siapapun kau, maka kau akan aku binasakan” geram Ki Ajar yang menyerang dengan garangnya. Jari-jarinya mengembang siap menerkam lawannya, sebagaimana seekor harimau yang buas. Sementara itu, kedua orang adik seperguruan Pamotan Galih itupun termangu-mangu. Tetapi keduanya dapat mengenali ilmu lawan Ajar Pamotan Galih itu. Namun keduanya justru menjadi bingung. Salah seorang diantara mereka berbisik “Apa masih ada orang lain dalam jajaran perguruan ini?“ “Aku belumpernah mendengar” jawab yang lain “Tetapi hal itupun mungkin sekali. Kita datang di satu perguruan bukan pada saat kita masih anak-anak. Tetapi kita datang setelah kita dewasa. Mungkin sekali sebelum kita datang, ada orang lain yang pernah meninggalkan perguruan itu” “Kita memang dihadapkan pada satu teka-teki yang sulit untuk dimengerti” berkata saudara seperguruannya. Dengan demikian keduanya menjadi bertambah, bingung untuk mengambil sikap. Yang dihadapinya benar-benar satu peristiwa yang sulit untuk dapat diurai dan diarahkan kepada satu kesimpulan. Sementara itu pertempuran itupun masih ber langsung terus. Tetapi semakin lama semakin jelas, bahwa orang bertubuh dan berwajah cacat itu semakin menguasai keadaan. Meskipun ia tidak lagi bertempur dengan kasar dan buas, tetapi justru nampak semakin bersih, tetapi penuh dengan kekuatan-kekuatan yang terlontar dari ilmu yang benar-benar telah mapan. “Aku kira, aku tidak salah lagi” desis adik seperguruan Ajar Pamotan Galih “Orang ini memiliki dasar ilmu seperti kita. Seperti Ki Ajar Pamotan Galih. Tetapi jauh lebih mapan dan mumpuni. Namun yang membuat kepala kita pening, justru dalam keadaan yang paling gawat. Ajar itu bersikap aneh dan mengecewakan dengan ilmunya yang kasar dan buas. Sebenarnyalah bahwa halaman padepokan itu telah dicengkam oleh ketegangan yang semakin menyesakkan dada. Setiap orang memperhatikan pertempuran itu dengan pertanyaan yang bergejolak di dalam hati Orang-orang tua di sekitar arena pertempuran itu telah mengetahui, bahwa keduanya memiliki dasar ilmu yang sama. Namun kemudian Kl Ajar Pamotan Galih nampaknya telah mempergunakan ilmu hitam yang dianggapnya mempunyai kemampuan lebih baik dari dasar ilmunya yang sama dengan lawannya. Sementara lawannyapun telah menunjukkan untuk memancing ingatan Ki Ajar tentang dirinya, ilmu yang juga bersifat kasar dan keras, namun seperti yang dikatakannya, ilmu itu tidak akan dipergunakannya untuk menyelesaikan pertempuran. Tetapi Ajar Pamotan Galih tidak sempat memperhatikan apapun juga karena gelora di dalam jantungnya. Ia ingin membunuh lawannya secepatnya. Itu sajalah yang membara di dalam dadanya, sehingga karena itu, maka usaha lawannya untuk memancing ingatannya itupun sama sekali tidak mempengaruhinya Namun yang justru menjadi semakin jelas melibat bahwa orang cacat itu mempunyai sumber ilmu dengan mereka adalah kedua saudara seperguruan Ajar Pamotan Galih itu. Karena itu, maka mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan arena. Sementara itu Ajar Pamotan Galih yang merasa semakin terdesak, tidak lagi dapat menahan gejolak kemarahannya. Tetapi dihadapan orang-orang yang ada di halaman padepokannya, ia tidak dapat menunjukkan kelicikannya. Ia tidak dapat menunjukkan kelicikannya. Ia tidak dapat dengan serta merta meminta kedua orang saudara seperguruannya untuk bertempur bersamanya. Karena itu, untuk memecah perhatian mereka, maka tiba- tiba saja Ki Ajar Pamotan Galih itu berteriak “Sekarang sudah sampai saatnya. Bunuh semua orang yang ada di halaman ini. Ternyata orang cacat ini adalah salah seorang dari mereka. Yang harus kalian sisakan untuk tetap hidup adalah Pangeran Sena Wasesa” Suara Ki Ajar menggelepar di halaman itu. Sebenarnyalah bahwa suara itu kemudian telah menggerakkan beberapa orang yang berada disekilar arena. Para cantrik, Putut dan bahkan orang-orang yang datang bersama kedua adik seperguruan Ajar Pamotan Galipun diluar sadarnya telah bergeser pula. Tetapi murid-murid kedua adik seperguruan Ki Ajar itu menjadi ragu-ragu. Kedua orang adik seperguruan Ki Ajar itu sendiri masih berdiri tegak di tempatnya. Karena kedua adik seperguruannya masih belum berbuat sesuatu, maka Ajar Pamotan Galih itu berteriak semakin keras “Cepat. Selesaikan mereka. Ragapasa dan Wanda Manyar. He, apa kerjamu. Jangan menunggu lebih lama lagi. Suruh anak- anakmu menyelesaikan setiap orang asing yang ada di padepokan kita ini. Kecuali Pangeran itu” Ragapasa dan Wanda Manyar masih tetap ragu-ragu. Sementara itu, Rahu, Jlitheng dan bahkan Swasti telah bersiap siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan yang paling pahit sekalipun. Namun Kiai Kanthi nampaknya masih tetap tenang. Agaknya ia melihat keragu-raguan di wajah kedua adik seperguruan Ajar Pamotan Galih dan sekaligus menangkap teka-teki yang belum terpecahkan. Karena itu Kiai Kanthi sempat memperhitungkan, bahwa kedua orang itu tentu belum akan segera bertindak. Pan tanpa kedua orang itu, maka orang-orang yang lain tidak akan banyak berarti. Pangeran Sena Wasesa yang lemah itupun mempunyai pertimbangan yang serupa dengan Kiai Kanthi. Karena itu, maka perhatiannyapun masih tetap pada pertempuran antara Ki Ajar Pamotan Galih dengan lawannya yang cacat itu. Ternyata bahwa betapapun ki Ajar Pamotan Galih mengerahkan ilmunya yang keras dan kasar, namun ia justru menjadi semakin terdesak. Ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan lagi. Beberapa kali ia telah terdorong surut. Sentuhan tangan orang cacat itu bagaikan sentuhan bara api di kulitnya. Sementara itu, serangan-serangannya yang garang bagaikan seekor harimau lapar, sama sekali tidak berarti. Kuku-kukunya yang mengembang tidak berhasil menyentuh dan apalagi melukai kulit lawannya. Ketika sekali lagi ia berteriak, maka teriakan itu justru telah dikejutkan oleh jawaban Ragapasa “Kakang lihatlah, Siapa yang sedang kau hadapi. Hampir aku menganggapnya ia sebagai guru kita sendir i” “Gila“ geram Ki Ajar Pamotan Galih “Kau terlalu bodoh untuk memperhitungkan umur seseorang. Berapa umurmu dan berapa umurku sekarang he?“ Ragapasa menarik napas panjang. Tentu orang itu bukan gurunya. Tetapi yang dilihatnya itu benar-benar mirip. Sikapnya, ciri-cir i ilmunya dan lontaran-lontaran tenaga dari dalam dir inya. “Wajahku memang bukan wajah guru. Umurnyapun tentu bukan umur guru yang tentu sudah sangat tua seandainya ia masih hidup” desis Ragapasa. “Guru memang sudah tidak ada lagi” sahut Wanda Manyar diluar sadarnya. Dalam pada itu, terdengar orang cacat itu berkata “Jangan terkecoh oleh penglihatanmu. Aku bukan gurumu. Tetapi kau tentu mengenal orang lain yang memahami ilmu seperti ini, seperti ilmumu sendiri. Orang itu adalah orang yang pernah mempelajari ilmu yang kasar dan keras seperti Ajar Pamotan Galih dan seperti kalian juga. Tetapi yang kemudian menyadari arti dari hidup ini. He, dari siapa kalian mendengar kabar kegembiraan dalam hubungan dengan Yang Maha Pencipta?“ “O“ Ragapasa meraba keningnya. Sementara Wanda Manyar berdesis “Teka-teki ini semakin rumit” Namun akhirnya Rugapasa menjawab “Dari guru” “Benarkah begitu? Guru memang seorang yang sangat baik. Tetapi ia tidak sempat berbuat terlalu banyak dalam persoalan jiwani karena perhatiannya tertumpah pada penuangan jasmani. Tetapi bukan berarti guru tidak memperhatikannya. Guru telah mempercayakannya kepada seseorang” jawab orang cacat itu “seseorang yang juga pernah mengalami hidup dalamdunia yang kelam” Kedua orang saudara seperguruan itu saling memandang. Diluar sadarnya Ki Wanda Manyar menyahut “Ki Ajar Pamotan Galih” Orang cacat itu sempat tertawa. Nampaknya Ki Ajar Pamotan Galih benar-benar tidak berdaya menghadapinya. Orang cacat itu sambil bertempur masih sempat juga berbicara panjang “Jika kalian menganggap bahwa yang telah member ikan tuntunan j iwani kepada kalian adalah Ki Ajar Pamotan Galih, maka bertanyalah kepadanya, apa benar ia pernah melakukannya” “Gila“ potong Ki Ajar Pamotan Galih “Jangan mengigau seperti orang kesurupan. Bersiaplah untuk mati” “Sejak semula kau selalu mengancam. Tetapi kau tidak dapat berbuat apa-apa” jawab orang cacat itu “Akupun yakin, bahwa Ki Ragapasa dan Ki Wanda Manyar tidak akan menjalankan perintahmu. Orang-orang yang datang ke padepokan ini dengan maksud baik, nampaknya telah kau jebak dengan rencanamu yang sangat keji” “Tutup mulutmu” teriak Ki Ajar sambil menyerang dengan kasarnya. Tetapi serangannya sama sekali tidak mengenai lawannya. Bahkan ketika kukunya yang mengembang terayun setapak disisi orang cacat itu, maka orang cacat itu sempat merendah sambil mengayunkan kakinya. Ki Ajar Pamotan Galih tidak sempat mengelak. Ketika kaki itu menyentuh lambungnya, ia tergetar surut. Namun dengan garangnya pula ia meloncat menyerang lawannya. Kedua tangannya terbuka dengan jari- jari yang mengembang menerkamdengan buasnya. Sekali lagi Ki Ajar Pamotan Galih terlempar surut. Justru serangan lawannyalah yang mengenai dadanya, Meskipun demikian, Ki Ajar Pamotan Galih seolah-olah tidak merasakan betapa serangan-serangan lawannya itu dapat meremukkan tulang-tulangnya. Sambil menyeringai menahan sakit, Ki Ajar Pamotan Galih meloncat maju dengan terkaman seekor harimau lapar. Berulang kali, Ki Ajar Pamotan Galih telah dikenai oleh serangan lawannya. Tetapi sentuhan tangan lawannya yang cacat itu sama sekali tidak menghentikan perlawanannya. Bahkan seolah-olah ia telah menemukan satu kekuatan baru, sehingga serangan-serangan lawannya dapat diabaikannya. Namun dalam pada itu, Kiai Kanthi, Pangeran Sena Wasesa dan kedua saudara seperguruan Ajar Pamotan Galih itu melihat, sebenarnyalah bahwa orang cacat itu memang tidak ingin langsung mengenai tempat-tempat yang berbahaya. Meskipun serangan-serangannya hampir seluruhnya berhasil, tetapi ia tidak dengan sengaja menumbangkan lawannya dalam keadaan parah. Hal itu telah menimbulkan teka-teki pula. Teka-teki yang semakin lama menjadi semakin rumit. Namun akhirnya orang-orang yang berdiri di arena itu mengerti, bahwa orang cacat itu memang menunggu Ki Ajar Pamotan Galih kehabisan tenaganya. Dibiarkannya ia menyerang, dan dikenainya tubuhnya dengan serangan- serangan yang tidak berbahaya. Sebenarnyalah, bahwa beberapa saat kemudian, tenaga Ki Ajar Pamotan Galihpun menjadi semakin susut. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri meskipun tidak menumbuhkan keadaan yang parah. Tidak sehelaipun rambutnya yang rontok dan tidak sepotongpun tulangnya yang retak. Namun Ki Ajar Pamotan Galih itu rasa-rasanya sudah kehilangan segenap tenaganya. Karena itu, dalam keliarannya yang kasar, serangan serangannya tidak lagi mengarah kesasaran. Bahkan kadang- kadang ia telah terseret oleh lontaran sisa tenaganya sendiri dan terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan. “Aneh, aneh“ Ki Ragapasa tidak percaya kepada penglihatannya “bagaimana mungkin kakang Ajar Pamotan Galib, mengalami hal seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki ilmu yang mumpuni telah kehilangan pengamatan dir i” “Mungkin kitalah yang memang sudah menjadi Gila“ desis Ki Wanda Manyar “Mungkin kita bersama-sama sedang bermimpi terlalu buruk” Namun dalam pada itu, mereka melihat Ki Ajar Pamotan Galih terhuyung-huyung beberapa langkah kedepan justru karena serangannya yang tidak mengenai lawannya. Dalam itu, nampaknya orang cacat itu sudah jemu dengan permainannya. Karena itu, maka iapun maju selangkah. Tangan kanannya menggapai pundak Ki Ajar Pamotan Galih yang lemah dan tidak mampu lagi untuk melawan kehendak lawannya yang cacat itu. Sentuhan pada pundak Ki Ajar Pamotan Galih itu benar- benar telah menghentikan per lawanannya. Sebenarnya Ki Ajar Pamotan Galih akan mampu mengurai tekanan lawannya yang seolah-olah telah melumpuhkan sebagian dari tubuhnya. Namun kelelahan dan kemarahan yang menghentak di jantungnya, telah membuatnya kehilangan kemampuan untuk bertahan, sehingga akhirnya Ki Ajar Pamotan Galih itu telah jatuh pingsan. Beberapa orang murid padepokan itu termangu-mangu. Tetapi mereka masih melihat Ki Ragapasa dan Ki Wanda Manyar tidak berbuat apa-apa. Karena itu, maka merekapun menjadi ragu-ragu. Dalam pada itu, demikian Ki Ajar Pamotan Galih menjadi pingsan, kedua adik seperguruannya itupun mendekatinya. Namun dalam pada itu, orang yang cacat itu birkata “Ragapasa dan Wanda Manyar. Apakab kau mengenal, ciri jasmani apakah yang terdapat pada saudara tua seperguruanmu itu?“ Kedua orang adik seperguruan Ki Ajar itu termangu-mangu. Namun akhirnya Ki Wanda Manyar bertanya “ Ciri yang bagaimana yang kau maksud Ki sanak?“ “Ciri untuk mengenalinya” “Pertanyaanmu aneh. Aku mengenainya sebagaimana aku mengenal diriku sendiri. Kami berdua adalah adik seperguruannya. Kami mengenal wajahnya dengan pasti” jawab Ki Wanda Manyar. “Kau mengenal wajahnya dengan pasti. Tetapi apakab kau mengenal sifat dan wataknya dengan pasti?“ bertanya orang cacat itu. Kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu termangu-mangu. Sejenak keduanya memandangi Ki Ajar yang terbaring diam. “Kau tentu mengetahui, bahwa pada Ki Ajar Cinde Kuning terdapat bekas luka yang panjang melintang di bagian bawah punggungnya” berkata orang cacat itu pula. Kedua adik seperguruannya itupun menjadi termangu- mangu. Dengan ragu-ragu Ragapasa berkata “Memang ada cacat di bawah punggung Ki Ajar Cinde Kuning. Kami mengetahuinya karena kakang Cinde Kuning pernah memper lihatkannya kepada kami” “Apakah bedanya Cinde Kuning dan Pamotan Galih” desis Ki Wanda Manyar. “Jika cacat itu ada pada Ki Ajar Pamotan Galih, maka memang t idak ada persoalan lagi dengan Ajar itu, meskipun sifat-sifatnya agak berbeda dengan sifat-sifat Ki Ajar Cinde Kuning” berkata orang cacat itu kemudian. “Tetapi perkembangan itu sudah nampak sejak ia menyebut dir inya Ki Ajar Macan Kuning” sahut Ki Ragapasa “Seandainya terjadi perkembangan jiwani sehingga Ki Ajar Cinde Kuning itu kembali kepada cara hidupnya yang pernah ditinggalkan, namun aku kira cacat itu tidak akan hilang dari bagian bawah punggungnya” berkata orang-cacat itu. “Ya. Tentu demikian” jawab Ki Wanda Manyar. “Tolong Ki Wanda Manyar” berkata orang cacat itu “lihatlah. Apakah pada bagian bawah punggung Ki Ajar Pamotan Galih itu terdapat cacat yang dimaksud” Ki Wanda Manyar termangu-mangu. Ia menjadi bingung. Sekilas di pandanginya Ki Ragapasa yang juga menjadi keheranan. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa, Kiai Kanthi, Rahu, Jlitheng dan Swastipun menjadi bingung melihat keadaan itu. Bahkan Daruwerdi telah bergeser maju sambil berkata ”Aku tidak mengerti. Orang ini adalah kakek dan guruku, Apakah maksud Ki Sanak yang sebenarnya?” “Ya ngger. Orang itu adalah kakek dan gurumu. Tetapi pada kakek dan sekaligus gurumu itu terdapat sebuah cacat. Nah, aku ingin melihat, apakah cacat itu ada” jawab orang cacat itu. Daruwerdi benar-benar menjadi bingung. Tetapi ia tidak ingin terlalu lama mengalami kebingungan. Karena itu, maka iapun segera mendekati Ki Ajar Pamotan Galih yang pingsan. Perlahan-lahan Daruwerdi menelungkupkan tubuh Ki Ajar Pamotan Galih dibantu oleh Ki Wanda Manyar dan Ki Ragapasa. Setelah ikat pinggangnya dikendorkan, maka merekapun mencoba melihat bagian bawah punggung Ki Ajar Pamotan Galih. Ki Wanda Manyar dan Ki Ragapasa ¡tupan terkejut Ia tidak melihat cacat bekas luka itu. Sementara itu Daruwerdipun bertanya “Apakah kau tahu pasti Ki Sanak?“ “Anak muda. Bukankah kau juga mengetahui bahwa dipunggung kakekmu itu terdapat sebuah cacat luka yang melintang. Bukankah kakekmu pernah bercer itera tentang sebab dari luka itu. Dalam satu pertempuran yang sengit, lawannya telah menusuk lambungnya. Ia sempat bergeser, tetapi senjata lawannya telah tergores di punggungnya bagian bawah. Namun pada saat itu, kakekmu berhasil menghabisi perlawanannya, sehingga ia masih sempat mengobati lukanya dengan susah payah, meskipun senjata lawannya beracun. Tetapi pengobatan itu t idak sempurna, sehingga bekas luka itu menjadi cacat yang memanjang dan tumbuh sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya cacat itu bagaikan seekor ulat yang panjang melekat pada bagian bawah punggung kakekmu. Kau ingat?“ bertanya orang cacat itu. Daruwerdi memandang orang cacat itu sekilas. Ia melihat cacat di kening dan pada bagian mulutnya, sehingga wajahnya nampak tidak wajar lagi. “Kenapa kau mengetahui segala-galanya?“ bertanya Daruwerdi. Orang itu tersenyum. Tetapi senyumnya justru nampak wajahnya menjadi semakin buruk oleh cacatnya. Tetapi katanya “Nah, sekarang kau melihat, bahwa tidak ada cacat di bagian bawah punggung kakekmu itu” Daruwerdi termangun-mangu. Memang t idak mungkin cacat itu dapat hilang dengan sendirinya tanpa bekas. Karena itu, maka untuk sejenak ia hanya dapat memandang kedua seperguruan Ki Ajar itu sambil termangu-mangu. “Kami juga tidak mengerti” berkata Ki Wanda Manyar “teka-teki itu menjadi semakin rumit. Semua orang di halaman ini tentu ikut merasakan, betapa kita dihadapkan pada ketidak pastian, kebingungan dan perasaan yang sangat risau” Orang cacat itupun kemudian berkata “Aku akan membantu kalian untuk memecahkan teka-teki ini. Tetapi baiklah, bawalah tubuh Ki Ajar Pamotan Galih itu ke dalam biliknya. Ia baru akan sadar beberapa saat kemudian” Demikianlah, maka beberapa orang cantrikpun telah membawa tubuh Ki Ajar yang pingsan itu ke dalam biliknya. Empat orang cantrik yang mengusung tubulh itu merasa heran, bahwa Ki Ajar Pamotan Galih yang mereka anggap tidak mungkin dapat dikalahkan oleh siapapun itu telah terbujur pingsan hanya oleh seorang yang cacat di wajahnya dan justru agak bongkok. Dalam pada itu, ketika padepokan itu diselubungi oleh malam yang gelap. Di pendapa beberapa orang duduk mengitari orang yang cacat itu. Semua pihak nampaknya tidak lagi sempat saling bermusuhan. Mereka sedang sibuk menghadapi teka-teki yang ingin segera dipecahkan. Ternyata dari seorang cantrik, orang cacat itu mendengar bahwa ibu Daruwerdi telah disisihkan. Akhirnya setelah cantrik itu mendapat tekanan dari Daruwerdi, maka iapun telah mengambil ibu Daruwerdi itu bersama kedua orang paman Daruwerdi. Sejenak kemudian, maka ibu Daruwerdi itupun telah berada di pendapa itu pula. Ia tidak dapat menahan titik air matanya ketika, ia melihat anaknya yang telah kembali dengan selamat. Namun ia tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali ketika ia mengetahui bahwa Pangeran Sena Wasesa ada diantara orang-orang yang duduk di pendapa itu. Namun demikian perasaan gelisah mencengkam jantungnya, sehingga ia tidak sempat mengetahui arahnya, dimana Pangeran Sena Wasesa itu duduk. “Tetapi aku sudah menjadi semakin tua” berkata ibu Daruwerdi itu di dalam hatinya “Tidak seorangpun yang tidak mengalami perubahan pada dirinya menjelang umur setua aku ini” Beberapa orang yang berada di pendapa itupun melihat hadirnya, seorang perempuan yang berwajah pucat. Rambutnya mulai ditumbuhi oleh warna putih. Meskipun itu masih belum terlalu tua, tetaipi ada kesan kepahitan yang nampak di wajah itu, sehingga memberikan kesan yang muram. Dalam pada itu, arang-orang yang berada di pendapa itu rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu. Teka-teki itu harus segera dipecahkan. “Wanda Manyar” berkata orang cacat itu kemudian kau adalah saksi yang utama bersama Ragapasa. Baihwa orang yang menyebut dir inya Ajar Pamotan Galih itu tidak mempunyai cir i-cir i yang terdapat pada Ki Ajar Cinde Kuning” “Tetapi hal itu sangat membingungkan kami” jawab Wanda Manyar ”Aku tidak dapat salah lagi. Orang itu ada lah kakang Cinde Kuning. Meskipun kami bertemu setelah kami sama- sama dewasa, tatapi kami telah tinggal di satu perguruan untuk waktu yang lama. Apalagi kami nampaknya mempunyai sejarah kehidupan yang serupa. Kami sama-sama pernah hidup di dalam lingkungan orang-orang hitam. Sebagaimana nampak dalam tata gerak kakang Ajar Pamotan Galih. “Tetapi menurut pendapatmu, yang manakah yang akan nampak lebih jelas di dalam kehidupannya setelah ia berada satu perguruan dengan kalian. Yang didapatkannya di perguruannya itu atau bekas-bekas ilmu hitamnya?“ bertanya orang cacat itu. “Itulah yang aneh” desis Ragapasa “seharusnya ilmu dari perguruan kami itulah yang lebih baik dan lebih tinggi baginya. Meskipun demikian perubahan-perubahan yang terjadi sejak ia menyebut dirinya Ajar Macan Kuning memang sudah agak menggelisahkan kami. meskipan pada saat itu kami sudah berpisah, karena kami berada di padepokan kami masing-masing kami bangun setelah kami merasa dewasa dewasa dalam perguruan itu, sementara umur kami sudah menjadi semakin tua pula” ”Jadi bagaimana menurut pendapatmu tentang ciri-ciri yang hilang itu?“ bertanya orang cacat itu pula Kedua adik seperguruan Ki Ajar itu menar ik nafas dalam- dalam. Diluar sadarnya mereka berpaling kepada Daruwerdi. “Aneh“ hanya itulah yang terdengar diucapkan oleh anak muda yang tidak kalah bingungnya itu. Dalam pada itu, orang cacat itupun kemudian berkata “Pangeran. Aku mohon maaf, bahwa telah terjadi sesuatu yang tentu tidak menyenangkan bagi Pangeran. Sokurlah bahwa sebelumnya Pangeran memang belum mengenal orang yang bernama Cinde Kuning” “Ki Sanak” sahut Pangeran Sena Wasesa “meskipun aku belum mengenal orang yang bernama Ki Ajar Cinde Kuning, tetapi aku sudah pernah mendengar namanya. Namun yang ternyata kemudian adalah jauh berbeda dengan citra Ki Ajar Cinde Kuning menurut pendengaranku setelah aku berhadapan sendiri dengan orangnya” “Apakah Pangeran benar-benar sudah berhadapan dengan orang yang bernama Ajar Cinde Kuning? Bukankah Pangeran melihat keraguan kedua saudara seperguruannya itu?“ bertanya orang cacat itu. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang itupun berkata kepada Kiai Kanthi “Bagaimana menurut pendapat Kiai?“ Kiai Kanthi menggelengkan kepalanya. Katanya “Semuanya terlalu gelap bagiku. Yang pernah aku dengar adalah hanya namanya. Tetapi yang terjadi di padepokan ini benar-benar satu teka-teki yang membuat semuanya semakin gelap” Orang cacat itupun kemudian mengangguk-angguk. Dipandanginya ibu Daruwerdi yang duduk sambil menunduk dalam-dalam. Dengan nada yang lembut orang cacat itu berkata kepadanya “Dengarlah ngger. Bukankah kau anak angkat orang yang menyebut dir inya Pamotan Galih? Kau adalah anak angkat yang telah menjadi anak sebagaimana anak kandung sendir i. Apakah kau masih tetap mengenal Ki Ajar itu sebagai ayah angkatmu? Saudara-saudara seperguruannya telah menjadi saksi, bahwa cir i yang terdapat pada Ki Ajar Cinde Kuning tidak terdapat pada Ajar Pamotan Galih” Ibu Daruwerdi itu, mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang cacat itu sejenak. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada pendengarannya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya “Siapakah kau Kiai?“ “Siapakah menurut dugaanmu ngger?” Orang itu justru bertanya. Ternyata bahwa kelembutan hati seorang perempuan telah mengungkap satu perasaan yang terselubang. Ibu Daruwerdi itu pada saat-saat terakhir seolah-olah t idak mengenal lagi ayah angkatnya Kemudian orang itu mengetahui, bahwa ciri- ciri yang terdapat pada Ajar Cinde Kuning tidak terdapat pada orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih. Namun dalam pada itu, suara orang cacat itu benar-benar telah menyentuh perasaannya. Ia merasa pernah mendengar suara itu. Bahkan ia selalu mendengar nada yang lembut itu. Yang kemudian seolah-olah berubah pada saat-saat terakhir. Diluar kehendaknya, maka itu Daruwerdi itu telah memandang orang cacat Itu dari wajahnya sampai ke ujung kakinya yang terlipat. Kemudian tiba-tiba saja ia berkata “Kiai, adik-adik seperguruan Ki Ajar Ciinde Kuning. Tolonglah, apakah kalian bersedia melihat, apakah ciri-ciri yang tidak terdapat pada Ki Ajar Pamotan Galih itu justru terdapat pada orang itu” Kata-kata yang diucapkan dengan serta merta itu justru telah mengejutkan orang-orang yang berada di pendapa padepokan itu. Bahkan Daruwerdipun telah beringsut mendekati ibunya sambil bertanya “Apakah yang ibu maksudkan?“ “O“ ibunya memandanginya sejenak. Namun kemudian katanya Lihatlah. Apakah ada cacat di bawahi punggung orang itu” Daruwerdi menjadi heran. Dipandanginya ibunya dan orang cacat itu berganti-ganti. Namun kemudian orang cacat itupun berkata “Lakukanlah ngger. Kau boleh melihat, apakah ada cacat itu di bawah punggungku” Suasana di pendapa itu menjadi tegang. Daruwerdi justru menjadi termangu-mangu bahkan kebingungan. Namun ketika ia melihat wajah orang cacat yang seakan akan memaksanya itu, maka iapun segera bergeser mendekatinya. Bahkan kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itupun telah mendekat pula. Dalam pada itu, orang cacat itu telah mengendorkan ikat pinggangnya. Kemudian membiarkan ketiga orang itu melihat kearah punggungnya. Wajah mereka menjadi tegang. Mereka melihat cacat itu melintang di bagian bawah punggung orang cacat itu. Karena itu, maka seperti orang yang kehilangan akal Daruwerdi berkata “Tidak mungkin. Tidak mungkin” Ki Wanda Manyar menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata “Memang teka-teki yang sangat rumit. Baiklah. Hanya kau sajalah Ki Sanak yang dapKjt memecahkan teka-teki ini. Katakanlah Jangan menunggu kita semua menjadi gila” Orang cacat itu membetulkan ikat pinggangnya. Kemudian Katanya “Duduklah yang baik. Jika kalian percaya, aku akan berceritera” Suasana di pendapa itupun kemudian menjadi hening. Mereka menunggu orang cacat itu memecahkan teka.-teki yang membingungkan itu, “Hanya seorang saja yang penggraitanya cukup tajam disini” berkata orang cacat itu “justru seorang perempuan” Tidak seorangpun yang menyahut. Mereka seolah-olah tidak sabar lagi menunggu. “Pangeran serta Ki Sanak yang lain” berkata orang cacat itu ”ceriteraku barangkali tidak menyangkut kalian secara langsung. Namun akibatnya terasa juga oleh Ki Sanak semuanya yang terpaksa datang ke padepokan ini. Bahkan hampir saja terjadi kesulitan pada kalian” Tidak ada juga yang menyahut Mereka tidak ingin memperpanjang waktu lagi. “Ki Sanak. Sebenarnyalah telah terjadi sesuatu yang memalukan di dalam lingkungan keluargaku. Keluarga Ki Ajar Cinde Kuning” berkata orang cacat itu “teka-teki ini di mulai sejak Ki Ajar Cinde Kuning yang sebenarnya tiba-tiba saja telah berganti orang” “Apa yang Ki Sanak maksudkan?“ bertanya Raga-pasa. “Sebagaimana kau lihat, orang yang mengaku Ajar Pamotan Galih, yang sebelumnya pernah memakai nama Ajar Macan Kuning itu, sama sekali bukan orang yang sebenarnya dari Ajar Cinde Kuning, Kalian telah melihat, bahwa cacat itu tidak terdapat di tubuhnya” Orang itu, berhenti sejenak. Sementara itu Ki Wanda Manyarpun bertanya “Tetapi bagaimana mungkin cacat itu terdapat di tubuhmu, sementara wajah Ki Ajar Cinde Kuning telah dimiliki oleh orang yang menyebut Ki Ajar Pamotan Galih itu?“ “Wajah pada orang itu adalah wajahnya sendiri. Bagaimana mungkin wajah sesarang dapat berpindah. Ia memang memiliki wajah yang mir ip sekali dengan wajah Ki Ajar Cinde Kuning“ Orang itu berhenti sejenak, lalu “Ia adalah saudara kembarnya” “Saudara kembar“ hampir setiap orang yang mendengarnya telah mengulangnya” Orang bertubuh cacat itu mengangguk kecil. Katanya “Ya. Ia adalah saudara kembar Ki Ajar Cinde Kuning” “Jika demikian, dimanakah Ajar Cinde Kuning yang sebenarnya” bertanya Ki Ragapasa “Apakah maksud Ki Sanak menunjukkan luka dibawah punggung itu berarti bahwa Ki Sanaklah yang sebenarnya Ki Ajar Cinde Kuning” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada dalam“Maksudku memang demikian” “Tetapi bagaimana mungkin kami dapat mempercayaimu” desis Ki Wanda Manyar. Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Apakah kalian tidak dapat mengenali ilmuku?“ Kedua adik seperguruan Ki Ajar itupun saling berpandangan. Mereka memang mengenal ilmu orang cacat itu. Bahkan mereka memandangnya sikap dan laku orang itu sebagaimana mereka melihat guru mereka. Karena itu, maka terasa jantung merekapun bagai bergolak. Dalam pada itu, ibu Daruwerdi dengan nada rendah berkata “Aku dapat mengenalinya dari sikap dan suaranya. Orang itu sebenarnyalah adalah bapak Ajar Cinde Kuning” “Tetapi itu tidak mungkin” sahut Ki Wanda Manyar. “Ada sebuah ceritera yang panjang” berkata orang cacat itu. Lalu “Sekali lagi aku mohon maaf kepada mereka yang datang ke padepokan ini bersama Pangeran Sena Wasesa. Ceritera ini terutama, tertuju kepada isi padepokan ini” “Silahkan Ki Sanak” sahut Pangeran Sena Wasesa “nampaknya ceritera itu akan sangat menarik” “Baiklah” berkata orang cacat itu “Orang yang kemudian menyebut Ajar Macan Kuning adalah saudara kembarku” “Aku belum pernah mendengar ceritera tentang saudara kembar itu sejak aku menjadi saudara seperguruan Ki Ajar Cinde Kuning” berkata Ki Ragapasa, “Ia meninggalkan perguruan ketika ilmunya mulai mapan” berkata orang cacat itu ”Seterusnya aku tidak tahu lagi kabar beritanya. Ketika Wanda Manyar dan Ragapasa datang ke padepokan itu, justru setelah kalian gagal merampok orang yang kemudian kau sebut kakak seperguruanmu itu, saudara kembarku telah tidak ada di padepokan. Sebagaimana aku mengaku, bahwa aku berdua pernah juga terlibat dalam dunia gelap. Tetapi kami berdua telah bertobat dan berguru kepada seseorang, yang kemudian menjadi guru kalian pula. Tetapi agaknya penyakit adik kembarku itu kambuh, sehingga ia telah meninggalkan aku, karena aku menentang kehendaknya” “Tetapi yang aku jumpai di padepokan itu adalah Ki Ajar Pamotan Galih itu. Bukan Ki Sanak dalam ujud, maaf, dalam ujud yang cacat itu” berkata Ki Wanda Manyar. “Ceriteraku belum selesai” potong orang yang cacat itu. “Silahkan ayah“ minta ibu Daruwerdi. “Sepeninggal saudara kembarku, maka aku berada di perguruan itu sendir i. Baru kemudian kalian datang” berkata orang cacat itu kepada kedua orang itu. Kedua saudara seperguruan Ki Ajar itu termangu-mangu. Sementara orang cacat itu berceritera terus “Kita berkumpul untuk beberapa lama di padepokan itu. Kita berusaha untuk menyingkir dari dunia kelam yang sudah sama-sama kita lewati. Nampaknya dengan pasti kita berhasil meninggalkannya. Aku yang melangkah lebih dahulu mendapat kepercayaan dari guru untuk membawa kalian kejala yang lebih baik. Dan kalianpun menanggapinya dengan ikhlas” Orang itu berhenti sejenak, lalu “Sampai saatnya kita berpisah. Kita yang telah mendapat bekal yang cukup itupun berusaha mengembangkan bekal itu sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Sementara itu, kita telah membuka padepokan buat hari-hari mendatang dalam kehidupan yang tenang” Orang-orang yang mendengarkan menjadi tegang. Yang diceriterakan masih belum menyentuh hubungan antara kedua saudara kembar itu. Namun tidak seorangpun yang memotongnya. Mereka membiarkan orang cacat itu berceritera terus. “Nah, pada saat yang demikian itulah saudara kembarku itu agaknya hadir disekitar kehidupanku dengan diam-diam. Ia berusaha mengetahui seluk beluk kehidupanku. Mungkin ada satu dua orangnya yang berhasil memasuki padepokanku sebagai seorang cantrik atau seorang yang membantu kerja kami sehingga saudara seperguruanku itu mengetahui banyak hal tentang kehidupanku. Bahkan ia mengetahui saudara-saudara seperguruanku. Mengetahui bahwa kalian berdua mempunyai ikatan dengan aku dalam hubungan kita sebagai saudara seperguruan. Ia mengetahui bahwa aku telah mengangkat seorang anak perempuan dan seorang cucu yang tumbuh semakin besar. Akhirnya hari-hari yang direncanakan itu datang. Dengan diam-diam pula ia menyingkirkan aku dengan cara yang licik. Dengan cara yang tidak aku duga-duga sebelumnya. Ketika ia datang menemui aku dengan tangisnya, aku merasa iba, ia adalah adikku. Namun diluar dugaan ia telah menyerangku. Dan akupun lelah dilemparkannya ke dalam jurang yang sangat dalam, sebelum aku menyadari apa yang terjadi, tanpa diketahui oleh siapapun” Orang cacat itu terhenti sejenak. Sambil menahan ludahnya ia berkata “Nah, kalian dapat melanjutkan ceritera itu sendiri. Aku menjadi cacat. Tetapi Yang Maha Kuasa ternyata masih memberi kesempatan kepadaku untuk hidup. Bahkan dalam dunia yang sepi aku sempat memperdalam ilmuku ketika aku kemudian sembuh. Adalah kebetulan bahwa aku membawa sedikit obat pada saat itu. Kemudian dengan pengetahuan yang sedikit, aku berhasil mengobati diriku sendir i. Semula aku biarkan ia kemudian hadir sebagai aku didalam padepokanku. Dengan cermat ia dapat menempatkan dir inya sebagaimana aku sebelumnya. Ketika aku kemudian berhasil mengamatinya, ternyata ia lebih banyak berusaha untuk bersembunyi di dalam sanggar sambil menyesuaikan diri lebih jauh dengan bekal pengenalannya terutang diriku. Namun bagaimanapun juga, perubahan- perubahan yang terjadi tidak dapat disembunyikannya lagi. Tetapi dengan licik ia menyebut dirinya dengan nama baru. Ajar Macan Kuning, ia t inggalkan sebutan Ajar Cinde Kuning” “Jadi sejak itu, kakek sudah berganti orang?“ bertanya Daruwerdi. Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Ya. Kakekmu sudah berganti orang. Dan agaknya sifat-sifat yang berbeda itulah yang membuat orang melihat perbedaan antara Macan Kuning dan Cinde Kuning. Tetapi orang tidak menduga bahwa orangnyalah yang berganti, tetapi sifat-sifat Cinde Kuning telah berganti. Sementara itu, diri yang kami pergunakan sejak kami masih berkumpul masih tetap aku pakai dan kemudian dipakai oleh saudara kembarku, meskipun sifat-sifatnya telah berubah. Lingkaran dengan garis yang memotong ditengah-tengah” “Alangkah bodohnya kami” desis Daruwerdi kemudian. “Semula aku tidak berkeberatan bahwa saudara kembarku itu akan menggantikan kedudukanku. Tetapi semakin lama aku melihat, bahwa ia tidak lagi dapat di biarkan. Ia telah membawa cucuku berkelana dan diperkenalkan dengan cara yang khusus dengan orang-orang yang hidup dalam lingkungan yang buram. Segalanya disesuaikan dengan rencana yang perlahan-lahan tetapi dengan masak direncanakan. Bukit Gundul di daerah Sepasang Bukit Mati, Ia berhasil mendengar rahasia sebuah pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya tersembunyi di sekitar daerah Sepasang Bukit Mati. Dan ia mendengar rahasia bahwa orang yang paling mengetahui rahasia itu adalah Pangeran Sena Wasesa. Setelah ia gagal mencari sendiri di bukit gundul, maka ia telah membentuk cucuku menjadi seorang yang mapan untuk tugas yang khusus di sepasang bukit mati itu. Aku dapat melihat sebagian besar dari segala peristiwa yang terjadi di bukit gundul itu. Dan selebihnya kalian sudah mengetahuinya” Orang-orang yang mendengarkan ceritera itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu terdengar ibu Daruwerdi terisak dan tidak dapat menahan air matanya, yang mulai menitik Dengan suara sendat ia berkata “Itulah sebabnya, aku hampir tidak dapat mengenali siaft-sifat ayah pada orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pamotan Galih itu. Meskipun ia berbuat baik terhadap aku dan anakku, tetapi kadang-kadang aku melihat kekasaran yang tertahan-tahan” “Sudahlah ngger“ berkata orang cacat itu “semuanya sudah berlalu. Jika kalian percaya, aku adalah Cinde Kuning” Wanda Manyar dan Ragapasa mengangguk-angguk kecil. Namun mereka mulai mempercayai, siapa yang duduk dihadapannya itu. Perlahan-lahan mereka menjadi semakin jelas. Kata-katanya. Suaranya dan sikapnya” “Yang aku ceriterakan adalah ceritera tentang diriku sendiri” berkata orang cacat yang ternyata adalah Ki Ajar Cinde Kuning. Lalu “Disamping ceritera itu, aku masih mempunyai sebuah ceritera lain yang berhubungan dengan cucuku. Baiklah sementara aku sebut saja ia dengan Daruwerdi. Nama yang diberikan oleh Pamotan Galih kepadanya dalam tugas-tugasnya di Bukit Gundul. Tetapi ia masih mempunyai beberapa nama yang lain” “Tidak. Tidak ayah” potong ibu Daruwerdi “Tidak ada ceritera yang lain” Orang cacat itu menggeleng. Katanya “Apa salahnya ngger. Meskipun bukan aku yang berniat membawanya kemar i” Tetapi perempuan itu menjawab “Ceritera itu sudah tamat. Tidak ada gunanya lagi diungkat Lebih baik ayah menjelaskan tentang diri ayah dan apa yang sebaiknya ayah lakukan” Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, sebelum ia berbuat sesuatu, seorang murid Ki Ragapasa yang mengawasi orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih yang masih sangat lemah di sebuah bilik tertutup telah berlari-lari naik ke pendapa. “Ada apa?“ bertanya Ki Ragapasa. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya gagap “Ki Ajar Pamotan Galih telah melar ikan diri” “He“ Orang cacat itu terkejut “Ia berhasil mengatasi keadaannya. Memang luar biasa. Tetapi apakah tidak seorangpun yang dapat mencegahnya?“ “Kami berdua mencoba mencegahnya. Tetapi tidak berhasil. Kawanku yang seorang kini pingsan” berkata murid Ki Ragapasa itu. Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Memang luar biasa. Ia mempunyai ketahanan tubuh yang sangat tinggi. Menurut perhitunganku, ia baru dapat mengatasi keadaannya menjelang pagi. Tetapi ternyata aku salah hitung. Dan ia telah melarikan diri” Pangeran Sena Wasesa menjadi tegang. Sambil megerutkan keningnya ia bertanya “Apakah yang sebaiknya kita lakukan Ki Ajar? Tentu Ajar Pamotan Galih tidak akan berdiam dir i untuk seterusnya” “Ya. Ia mempunyai hubungan yang luas dengan orang- orang berilmu hitam” berkata orang cacat itu “agaknya kita memang harus mengambil sikap” “Orang itu menganggap bahwa yang dicarinya masih berada di daerah sekitar Sepasang Bukit Mati” berkata Kiai Kanthi “Aku kira orang itu akan pergi ke daerah itu” “Tetapi ia tidak akan menemukan apapun juga. Aku berkata sebenarnya bahwa semuanya telah berada di Demak” desis Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi Ki Ajar Pamotan Galih tidak percaya. Dan ia akan berbuat sesuatu” berkata Kiai Kanthi. “Masih ada kawan kita di Lumban” t iba-tiba Jlitheng memotong. “Tetapi tidak cukup untuk menghadapinya” desis Rahu yang mengerti kemampuan Ki Ajar Galih. Namun Jlitheng yang telah membentuk Lumban Wetan menjadi cukup kuat berkata “Setidak-tidaknya ada sepuluh orang anak muda Lumban Wetan yang dapat membantu” “Tetapi Ajar Pamotan Galih ternyata sangat licik” berkata orang cacat itu “Tidak ada pilihan lain. Kita juga harus pergi ke Sepasang Bukit Mati” “Seandainya kita biarkan saja ia membongkar bukit gundul itu, ia tidak akan menemukan apa-apa” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Apakah dengan kegagalannya itu ia t idak akan menjadi orang yang sangat berbahaya? Jika ia menjadi mata gelap, maka orang-orang yang tidak bersalah akan menjadi korban” Sejenak orang-orang yang berada di pendapa itu menjadi hening. Namun kemudian Pangeran Sena Wasesa itupun berkata “Ada juga, baiknya kita pergi ke Bukit Gundul itu” Demikianlah, maka orang-orang yang berada di pendapa itu sependapat untuk pergi ke bukit gundul. Bukan saja karena mereka ingin menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah. Tetapi merekapun ingin melihat pertemuan sekali lagi antara orang cacat yang mengaku Ki Ajar Cinde Kuning itu dengar Ki Ajar Pamotan Galih. Dengan demikian mereka akan mendapat kepastian, apakah benar-benar mereka adalah saudara kembar. Karena yang mereka dengar sebelumnya adalah pengakuan kedua belah pihak pada kesempatan yang berbeda. Tetapi mereka tidak akan berangkat malam itu. Besok pagi, jika fajar menyingsing, mereka akan menyusul Ki Ajar Pamotan Galih ke daerah Sepasang Bukit Mati. Tetapi malam itu ibu Daruwerdi berkata “Ayah, jika, ayah berkenan, apakah aku diperbolehkan ikut serta ke daerah Sepasang Bukit Mati” “Sebaiknya kau tinggal di padepokan ini saja ngger” jawab orang cacat itu “perjalanan ke daerah Sepasang Bukit Mati adalah perjalanan yang sangat berat” “Aku pernah pergi ke daerah itu untuk mencari anakku yang diumpankan oleh Ki Ajar Pamotan Galih” berkata perempuan itu “kedua, adikku itulah yang mengantarkan aku” “Ki Ajar Pamotan Galih tidak melarangmu waktu itu?“ bertanya orang cacat itu. “Tidak. Dibiarkannya aku pergi. Sendiri” jawab perempuan itu. “Bukankah kau diantar oleh kedua adikmu itu?“ bertanya, orang cacat itu. “Aku berangkat sendiri dari padepokan ini. Baru kemudian aku singgah ke padukuhan adik-adikku” jawab perempuan itu. Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Tentu Ajar Pamotan Galih memperhitungkan bahwa perempuan, itu tidak akan pernah sampai ke padukuhan disebelah daerah Sepasang Bukit Mati itu. Bahkan mungkin Ki Ajar Pamotan Galih justru membiarkan perempuan itu tidak akan pernah berhasil keluar dari lingkungan hutan yang buas di perjalanan. Dalam pada itu, orang cacat itupun mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi pada perempuan itu j ika ia ditinggalkan di padepokan. Jika Ki Ajar Pamotan Galih ternyata tidak pergi ke daerah Sepasang Bukit Mati sementara perempuan itu ditinggalkannya sendiri, maka akan mungkin sekali terjadi, bahwa perempuan itu akan diambil oleh Ki Ajar Pamotan Galih untuk menjadi alat memaksakan kehendaknya. Karena itu, maka orang cacat itupun kemudian berkata “Baiklah ngger j ika kau memang ingin pergi bersama kami” “Terima kasih ayah. Tetapi tanpa ceritera yang pernah ayah singgung itu” berkata perempuan itu. Orang cacat itu tidak menjawab. Dipandanginya perempuan Uu sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam- dalam sambil berkata “Apa salahnya ceritera itu dimengerti oleh Pangeran Sena Wasesa” “Tidak” sahut perempuan itu. “Jangan mement ingkan dir imu sendiri” jawab orang cacat itu “ingatlah kepada anakmu” Perempuan itu menunduk dalam-dalam. Namun bahwa, orang cacat itu mengerti tentang ceritera yang nampaknya tidak akan disimpannya lebih lama lagi itu, membuat perempuan itu semakin yakin, bahwa orang itu benar-benar Ki Ajar Cinde Kuning. Meskipun demikian ia berkata “Ayah. Aku tetap memohon, agar ceritera itu biarlah tersimpan dilubuk hatiku saja untuk seturusnya” Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku akan mempertimbangkannya. Tetapi aku akan mengambil keputusan yang berbeda dengan pilihanmu itu” Perempuan itu tidak menjawab lagi. Segalanya memang terserah kepada orang cacat itu. Dan ia sendiri tidak akan dapat menentukan pilihan apapun juga. Dalam pada itu, ketika cahaya matahari membayang di langit di dini hari, maka orang-orang di padepokan itupun sudah siap. Jlitheng yang siap paling cepat bersama Rahu, duduk sambil berbincang diserambi. “Kenapa orang cacat itu tidak mengejarnya ketika ia mendengar laporan bahwa Ki Ajar Pamotan Galih melarikan diri?“ bertanya Jlitheng. “Ki Ajar Pamotan Galih adalah orang yang luar biasa, sementara orang yang cacat itu mengaku Ajar Cinde Kuning itupun orang yang memiliki panggraita yang sangat tajam, sehingga ia mengerti, bahwa tidak ada gunanya untuk mengejarnya. Pamotan Galih tentu sudah jauh dan arahnyapun tidak dimengerti” jawab Rahu, Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Akan ada pertemuan yang meriah di bukit gundul. Aku kira dari padepokan-padepokan lainpun tentu akan-mengambil sikap. Hilangnya Pangeran Sena Wasesa akan merupakan aba-aba bagi padepokan-padepokan yang bernafsu untuk berebut pusaka dan harta benda itu” Rahu mengangguk kecil Tetapi iapun mulai membayangkan betapa sengitnya pertemuan antara orang-orang tamak di bukit gundul itu. Yang pernah terjadi adalah bertemunya kekuatan dari padepokan Sanggar Gading dengan kekuatan dari Kendali Putih yang membuat keduanya hampir lumpuh, sehingga gabungan dari kedua kekuatan itu tidak mampu lagi bertahan melawan orang-orang yang semula tidak diperhitungkan oleh keduanya. Sejenak kemudian ternyata orang-orang lainpun sudah siap pula. Ibu Daruwerdi benar-benar telah bersiap pula untuk ikut serta bersama kedua adiknya. Setelah makan pagi, maka orang-orang yang sudah bersiap menuju ke daerah kecil. Kuda-kuda mereka masih dapat berderap agak cepat di jalan-jalan datar. Namun akhirnya mereka sampai juga kejalan yang sulit untuk dilalui. Mereka harus menembus hutan yang lebat dan pepat. Mereka yang baru untuk kedua kalinya menempuh jalan itu merasa masih agak bingung juga. Sementara orang cacat itu mengenal jalan yang ditempuhnya seperti mengenal halaman rumah sendir i. Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih itupun seperti yang diduganya, telah menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati. Ketika ia menyadari keadaan dirinya di sebuah bilik dipadepokannya, maka iapun mengerti, bahwa orang yang dihadapinya adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang mustahil dapat dikalahkannya. Iapun memperhitungkan bahwa orang-orang yang semula akan dibunuhnya, tentu akan berdiri di pihak orang cacat itu. Karena itu, sebelum ia dapat mengetahui dengan pasti, siapakah orang cacat itu, ia telah memilih jalan untuk melarikan diri daripada ia harus mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Tetapi ketamakannya telah mendorongnya untuk pergi ke daerah Sepasang Bukit Mati. Meskipun ia juga mempunyai perhitungan bahwa orang-orang di padepokan itu akan menyusul juga ke daerah sepasang Bukit Mati. Dengan kuda yang dapat dirampasnya dari penduduk terdekat dari padepokannya, maka iapun telah menyelusuri jalan menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati yang dikiranya menyimpan sebilah pusaka yang mempunyai psngaruh gaib terhadap pemiliknya, namun yang terpenting adalah harta yang tidak ternilai jumlahnya, yang disertakan pada pusaka itu. Ternyata bahwa Ki Ajar juga menguasai jalan menuju kesasaran dengan sebaik-baiknya. Bahkan di malam hari ia tidak berhenti sama sekali. Hanya pada saat-saat tertentu apabila kudanya, sudah terlalu letih dan haus, maka iapun berhenti di dekat sebuah parit atau mata air untuk memberi kesempatan kudanya beristirahat, minum dan makan rerumputan. Ketika Ki Ajar Pamotan Galih itu kemudian sampai di daerah Sepasang Bukit Mati dihari ber ikutnya, maka iapun langsung pergi ke bukit gundul. Dengan berdebar-debar ia memanjat naik setelah mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. Matahari bersinar terang diatas kepalanya, sementara langit jernih kebiru-biruan. Dengan tegang Ki Ajar Pamotan Galih memandangi dataran diatas bukit gundul itu. Dataran yang tidak terlalu luas. Dilihatnya garis-garis padas yang silang menyilang Sesaat ia memperhatikan garis-garis itu. Dicarinya kunci pemecahan, karena ia menduga bahwa garis-garis itu mempunyai arti tertentu. Kemudian ia sama sekali t idak dapat menemukan. Garis yang memanjang menyilang dataran itu, telah diikutinya. Tetapi kedua ujungnya hilang pada retak batu pada disisi bukit tanpa memberikan petunjuk apapun juga. Ki Ajar mengumpat ketika ia melihat sebuah lekuk tempat Daruwerdi menyembunyikan peti dan pusaka palsunya. Namun sebenarnya ia tidak dapat menemukan apa-apa di atas bukit itu. Kemarahan dan kekecewaan telah menghentak-hentak di jantungnya. Setiap kali terdengar ia mengumpat Orang yang cacat yang tiba-tiba hadir di padepokan. “Iblis itu berhasil mengganggu aku” geramnya. Sesaat Ki Ajar itu mencoba mengingat, apakah ia dapat mengenal iblis berwajah cacat itu. “Ilmunya memang mir ip dengan ilmuku” berkata Ki Ajar Pamotan Galih itu. Iapun telah mencoba mengenang gurunya. Namun Katanya “Guru tentu tidak akan seumur orang itu” Untuk beberapa saat ia masih tetap berdiri di atas bukit gundul itu. Namun akhirnya ia hams melihat satu kenyataan, bahwa ia tidak akan berhasil mendapatkan sesuatu di bukit itu. “Tetapi aku yakin, bahwa pusaka ku tersimpan disini. Mungkin harta benda yang tidak ternilai harganya itu berada di tempat lain, tetapi pada pusaka itu, atau pada petinya atau pada rental yang ada bersama pusaka itu, atau pada apapun juga tentu terdapat petunjuk tentang harta benda yang tersimpan itu” geramKi Ajar Pamotan Galih. Dalam pada itu, oleh perasaan kesal dan kecewa. Ki Ajar itupun kemudian membanting diri, duduk dialas seonggok padas diatas bukit gundul itu. Sementara itu, ternyata sekelompok orang telah merayap mendekati padukuhan Lumban. Sebuah iring-ir ingan orang berkuda dengan wajah-wajah yang garang mendekati daerah Sepasang Bukit Mati. Segala sesuatu yang terjadi diatas bukit gundul itu telah didengar oleh orang-orang Pusparuri. Ketika mereka sudah siap untuk bertindak, maka orang-orang Kendali Putih dan Sanggar Gading yang tersisa dan berhasil melarikan diri pada saat terakhir terjadi pertempuran di atas bukit Gundul setelah Yang Mulia melakukan tayuh, telah terjerat oleh orang-orang Pusparuri yang mengawasi perkembangan keadaan. Dari mereka orang-orang Pusparuri mengetahui bahwa pusaka yang sebenarnya masih belumdiketemukan. Merekapun menyadari, bahwa di sekitar Sepasang Bukit Mati itu terdapat dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Pangeran Sena Wasesa sendiri yang ternyata tidak sakit, dan seorang lagi yang berhasil mengalahkan Yang Mulia itu sendiri. Dengan demikian maka orang-orang Pusparuri harap menyiapkan dir i sebaik-baiknya menghadapi orang-orang itu. “Tetapi jumlah mereka tidak cukup banyak” berkata orang- orang Pusparuri itu. Bagi mereka anak-anak Lumban memang tidak terlalu merisaukan. Lalu berkata mereka “Orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih sudah meremukkan diri mereka sendiri sebelum mereka berhadapan dengan orang-orang yang berada di Lumban. Bahkan merekapun telah dikelabui oleh Pangeran yang berpura-pura sakit itu. Meskipun sisa mereka kemudian bergabung, tetapi kekuatan mereka sudah tidak ada seperlima dari kekuatan mereka masing-masing. Karena itu, j ika kami datang ke Lumban, maka persoalannya akan berbeda” “Apakah kita tidak terlambat?“ bertanya salah seorang diantara mereka. Kawannya menggeleng sambil menjawab “Tentu tidak. Pengamat kita belum melihat seorangpun yang memasuki daerah Sepasang Bukit Mati, apalagi memanjat bukit gundul itu” “Tetapi mungkin Pangeran itu sudahi pergi” berkata orang yang pertama. “Mungkin. Tetapi mungkin ia sedang menyiapkan sekelompok orang-orangnya untuk mengambil pusaka itu, atau untuk menyingkirkannya” jawab kawannya “Jika demikian pengamat kami tentu melihat ia memanjat bukit gundul itu dan mengamatinya kemana ia pergi. Tetapi sampai saat ini sama sekali tidak terdapat laporan apapun juga” Kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Namun dalam pada itu, iring-ir ingan itupun kemudian tertahan oleh seseorang yang memacu kudanya. Dengan tergesa-gesa orang itu menemui pimpinan orang-orang Pusparuri itu sambil berkata gagap “Seseorang telah memanjat naik ke bukit gundul itu” “Siapa?“ bertanya pemimpin padepokan Pusparuri itu. “Aku tidak tahu. Dua orang kawan kami masih mengawasi bukit itu. Orang yang memanjat itu, sepeninggalku masih berada diatas bukit” berkata orang itu. Pemimpin dari padepokan Pusparuri itu mengangguk- angguk. Katanya kemudian “Nampaknya hanya orang yang sedang menyelidiki bukit itu. Tentu bukan Pangeran Sena Wasesa yang akan memindahkan pusaka itu” “Agaknya memang bukan seorang Pangeran” jawab orang yang member ikan laporan. “Tetapi kita harus segera sampai ke bukit itu” berkata pemimpin orang-orang Pusparuri itu. Dengan demikian, maka ir ing-ir ingan itupun telah mempercepat gerak mereka, sementara orang yang melapor itu berkata Kami telah menunggu terlalu lama. Aku kira fajar hari ini kita semuanya sudah berada di bukit itu” “Kami memang agak terlambat” jawab pemimpinnya “Tetapi kami telah menempatkan kalian di bukit itu justru untuk menjaga kemungkinan seperti ini “ Orang itu tidak menyahut lagi. Sementara iring-ir ingan itu bergerak semakin cepat menuju ke bukit gundul. Jarak mereka dengan bukit gundul itu semakin lama menjadi semakin dekat. Sementara, itu, Ki Ajar Pamotan Galih masih tetap duduk diatas batu padas sambil merenungi keadaan di sekitarnya. Bahkan kemudian iapun mulai merenungi dirinya sendiri, “Sudah sekian lama aku mengatur rencana ini” berkata orang itu kepada diri sendiri “namun hasilnya sama sekali tidak memadai. Dan sekarang aku harus mulai dari permulaan, sementara Pangeran yang gila itu akan menjadi semakin berhati-hati” Sekali-sekali Ki Ajar itu menghentakkan tangannya. Namun yang sudah terjadi itupun tidak akan mungkin dapat diulanginya kembali. Kegagalan itu sudah terjadi. Bukan sekedar sebuah mimpi. Dengan lesu Ki Ajar memandang dataran disekitar bukit itu. Sebagian sudah nampak hijau, tetapi sebagian masih kekuning-kuningan dan gersang. Dalam pada itu, iring-iringan orang-orang Pusparuri menjadi semakin dekat. Mereka berpacu semakin kencang. Apalagi ketika bukit gundul itu mulai nampak. Maka rasa- rasanya perjalanan mereka menjadi terlalu lamban. Dipaling depan dari iring- iringan itu adalah Kiai Pusparuri sendiri. Kemudian dua orang kepercayaannya yang terdekat. Untuk beberapa saat mereka hanya saling berdiam dir i. Namun kemudian Kiai Pusparuri itupun berdesis “Bagaimana menurut pertimbanganmu” Salah seorang dari kepercayaannya itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Kita memang terlalu lambat” “Tidak” sahut Kiai Pusparuri “ketika kita mendengar bahwa orang-orang Sanggar Gading telah menangkap Pangeran Sena Wasesa dan membawanya kepada Daruwerdi kita sudah memer intahkan agar orang-orang kita bergerak. Terutama yang berada di lingkungan orang-orang Kendali Putih. Ternyata benturan itu telah terjadi. Orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading itu telah hancur. Tetapi yang tidak kita duga bahwa mereka akhirnya dapat bersatu sehingga kita harus membuat pertimbangan-pertimbangan baru. Kita harus mengamati perkembangan keadaan dan tidak tergesa-gesa bertindak. Mungkin dengan demikian, kita memang membuat kesan terlalu lamban” “Mudah-mudahan kita dapat berbuat sesuatu” berkata kepercayaannya itu. Kiai Pusparuri tidak menyahut. Keduanya berpacu semakin cepat Sementara kedua orang kepercayaannya yang berkuda di belakangnya itupun saling berpandangan. Tetapi mereka tidak mengatakan sesuatu. Yang terdengar kemudian adalah Kiai Pusparuri menggeram “Daruwerdi memang gila. Aku sudah curiga sejak lama. Tetapi kalian selalu mengatakan bahwa anak itu akan memegang teguh janjinya” Kedua orang kepercayaannya sama sekali tidak menjawab. Mereka mengikuti saja Kiai Pusparur i yang berusaha berpacu semakin cepat. Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih yang berada di atas bukit gundul itu mengangkat wajahnya ketika pendengarannya yang tajam menangkap derap kaki kuda. Dengan serta tmerta iapun berdiri. Ketika ia melayangkan pandangan matanya, maka iapun segera melihat, sebuah iring- iringan mendekati bukit itu. Ki Ajar Pamotan Galih menjadi berdebar-debar. Namun iapun kemudian duduk kembali. “Persetan. Siapapun yang datang” geramnya. Memang terasa kekecewaan yang mencengkam jantungnya membuatnya kadang-kadang kehilangan gairah perjuangannya untuk mendapatkan pusaka dan terlebih- lebih harta benda yang tidak ternilai harganya itu. Meskipun pada saat-saat tertentu kedatangannya masih saja mengguncang jantungnya. Karena itu, maka ia sama sekali tidak ingin berbuat sesuatu. Ia akan menghadapi apa saja yang bakal terjadi j ika orang-orang di dalam ir ingan-ir ingan itu akan naik keatas bukit dan barangkali akan berbuat sesuatu atasnya. “Biar lah alam memilih. Aku harus membunuh atau dibunuh” geramnya. Dalam pada itu ir ing-ir ingan itupun telah sampai ke kaki bukit gundul, yang merupakan salah satu dari Sepasang Bukit Mati itu. Dengan tergesa-gesa orang-orang Pusparuri itu menambatkan kuda-kuda mereka. Seorang diantara para pengamat yang berada di sekitar bukit itupun kemudian mendekati- Kiai Pusparur i sambil berkata “Orang itu masih berada diatas bukit “ “Kau tidak tahu siapa orangnya?“ bertanya Kiai Pusparur i, Pengawas itu menggeleng. Katanya “Aku tidak tahu” Kiai Pusparuripun segera memanjat naik diikuti oleh beberapa pengikutnya bersama dua orang kepercayaannya yang terdekat Sementara beberapa orang yang lain telah menunggu di bawah bukit gundul itu. Beberapa saat lamanya Kiai Pusparuri memanjat Ketika ia mendekati puncak bukit itu, dilihatnya seseorang duduk di batu padas. Orang yang tepekur dan seolah-olah sama sekali tidak menghiraukan kehadirannya. Kiai Pusparur i tertegun. Ia yakin orang itu mendengar kehadirannya. Tetapi orang itu sama sekali tidak berpaling. “Ki Sanak“ sapa Kiai Pusparuri. Barulah Ki Ajar Pamotan Galih itu mengangkat wajahnya dan berpaling kearah suara itu. “Ajar Macan Kuning” desis salah seorang kepercayaan Kiai Pusparuri. “Hem, kau Laksita” desis Ki Ajar Pamotan Galih. “Siapa?“ bertanya Kiai Pusparuri. “Orang inilah yang pernah membawa Daruwerdi kepadaku” jawab kepercayaannya itu “Macan Kuning” desis Kiai Pusparuri. Ki Ajar Pamotan Galih masih tetap duduk di tempatnya. Namun iapun kemudian berdesis “Aku tentu berhadapan dengan Kiai Pusparur i sendiri sekarang ini” “Ya. Kau benar Ki Ajar Macan Kuning. Aku pernah mendengar namamu yang menggetarkan setelah Ki Ajar Cinde Kuning lenyap. Semua orang bertanya-tanya di dalam hati, kenapa tiba-tiba saja Cinde Kuning telah merubah dir inya menjadi Macan Kuning” sahut Kiai Pusparuri. Ajar Pamotan Galih hanya berpaling. Tetapi ia tidik menjawab. “Sekarang, apa kerjamu disini?“ bertanya. Kiai Pusparuri kemudian. “Merenungi bukit gundul ini” berkata Ajar Pamotan Galih. “Merenungi kematian orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih?“ bertanya Kiai Pusparuri pula “atau merenungi rencanamu sendir i” Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Dipandangnya lembah di bawahi bukit gunduli itu. Hanya sebagian saja yang telah menjadi hijau. Tetapi yang lain tetap gersang. “He” tiba-tiba Kiai Pusparuri bertanya kepada Laksita “Jadi orang ini yang membawa Daruwerdi kepadamu?“ “Ya” jawab Laksita. Kiai Pusparuri memandang kepercayaannya itu dengan tajamnya. Dengan nada tinggi ia bertanya “Jadi kau belum mengenal anak itu dengan sungguh-sungguh?“ “Sudah” jawab Laksita “Aku sudah lama mengenalnya. Dan aku sudah mengenalnya dengan sungguh-sungguh” “Kenapa kau tiba-tiba saja menjadi bingung?“ bertanya Ajar Pamotan Galih kepada Kiai Pusparuri. “Aku sudah mengira bahwa anak yang disebut bernama Daruwerdi itu tentu tidak jujur. Ia sudah berhubungan de agan banyak pihak, sehingga persoalannya menjadi kacau seperti sekarang ini” berkata Kiai Pusparur i. “Tidak ada gunanya kau sesali” berkata Ajar Pamotan Galih “Jangankan kepadamu, kepada orang yang tidak memberinya apapun juga. Sedangkan kepadaku, kepada kakeknya. Daruwerdi telah berkhianat “ “He?” Kiai Pusparuri mengerutkan keningnya. Lalu “Apa maksudmu?“ “Yang terjadi adalah karena kelalaiannya” berkata KI Ajar Pamotan Galih “bahkan kemudian ia telah menghadapkan aku kepada orang-orang yang gila itu” “Dan kau tidak berani menghadapinya?“ bertanya Kiai Pusparuri. Namun kemudian “Dengan pihak mana kau berhadapan? Sanggar Gading dan Kendali Putih, atau orang- orang Lumban bersama Pangeran Sena Wasesa sendiri?“ “Banyak pihak telah datang ke padepokanku” berkata Ajar Pamotan Galih “Aku tidak mempunyai kesempatan untuk melawan mereka. Mereka terlalu banyak, sebagaimana aku tidak mau berhadapan dengan Pangeran Sena Wasesa itu dengan langsung. Karena itu, aku memer lukannya lewat siapapun yang akan dapat menangkapnya dan menukarnya dengan pusaka yang kalian perebutkan. “Jangan mengigau seperti itu” berkata Kiai Pusparuri “sebodoh-bodoh kami, orang-orang Pusparur i, tentu tahu apa artinya peristiwa yang terjadi di bukit gundul itu. Ternyata pusaka yang diberikan oleh Daruwerdi adalah pusaka palsu. Apakah dengan demikian bukan berarti bahwa justru Pangeran Sena Wasesa itulah yang akan menjadi sumber keterangan tentang pusaka itu?“ Ki Ajar Pamotan Galih mengerutkan keningnya Sementara itu Kiai Pusparur i berkata lebih lanjut “Sejak kami berangkat menuju ke bukit ini, kami sudah mempunyai perhitungan yang demikian. Kami memang ingin menemukan Pangeran Sena Wasesa. Tetapi tidak untuk kami serahkan kepada siapapun juga. Karena kami hampir meyakininya, bahwa Pangeran itu justru sangat berarti bagi pusaka itu sendiri” Ki Ajar Pamotan Galih t idak segera menjawab. Sementara itu Laksitapun berkata “Ki Ajar. Aku tidak mengira sama sekali, bahwa permainanmu itu adalah permainan yang terlalu dangkal. Aku kira kau dengan mempergunakan Daruwerdi, bermain dengan jujur apapun niat kita. Kita mempunyai kepentingan yang aku kira membuat kita dapat bekerja bersama. Tetapi dengan bodoh kau palsukan pusaka itu. Kau kira kau dapat mengelabui orang lain begitu mudah? Seandainya bukan orang Sanggar Gading itu, kamipun akan dapat mengetahuinya dengan tayuh tiga hari tiga malam” Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Bahkan seolah-olah ia tidak mendengarkan kata-kata itu. Dengan wajah yang kosong dipandanginya alam yang keras disekitar bukit gundul itu. Dalam pada itu, Kiai Pusparuripun berkata “Sekarang apa maumu Ki Ajar? Apakah kau akan berusaha mencar i pusaka itu sendir i tanpa Pangeran Sena Wasesa?“ Ki Ajar tidak menjawab. Bahkan berpalingpun tidak. Namun tiba-tiba saja Ki Ajar Pamotan Galih itu berkata “Mereka tentu akan segera datang” “Siapa?“ bertanya Laksita. “Pangeran yang gila itu. Cucuku yang berkhianat dan orang-orang Lumban yang dungu” berkata Ki Ajar Pamotan Galih. “Kau mencoba menakut-nakut i aku, agar aku segera pergi? Dengan demikian usahamu untuk memecahkan teka-teki tentang pusaka itu dengan memperhatikan segala bentuk dan garis di atas bukit gundul ini tidak akan terganggu?“ berkata Kiai Pusparuri. “Buat apa aku menakutimu” jawab Ki Ajar Pamotan Galih “kalau kalian ingin mati, atau ingin pergi, atau ingin apapun juga, aku tidak berkepentingan sama sekali. “Jadi apa maksudmu dengan mengatakan bahwa mereka akan datang?“ bertanya Kiai Pusparur i. “Tidak apa-apa. Hanya sekedar kabar yang pantas kau ketahui. Kalau kau ingin menangkap Pangeran itu, lakukanlah jika kau mampu. Jika kau mau lari, larilah mumpung mereka belumdatang” berkata Ajar itu. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Kiai Pusparuri. “Mencari pusaka itu” jawab Ki Ajar Pamotan Galih. Kiai Pusparuri ragu-ragu sejenak. Agaknya Ki Ajar itu mempunyai bekal serba sedikit keterangan tentang pusaka itu. Karena itu, maka katanya- kemudian “Baiklah. Jika orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih dapat bekerja bersama setelah mereka menghancurkan diri mereka sendiri, apakah kita juga dapat bekerja bersama?“ “Maksudmu?“ bertanya Ki Ajar. “Kita akan menangkap Pangeran Sena Wasesa. Aku yakin, bahwa kau tahu pasti, Pangeran itulah yang mengetahui tentang pusaka yang sedang diperebutkan itu. Jangan ingkar” jawab Kiai Pusparur i. Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Tidak ada gunanya. Kita tidak akan mampu berbuat apa-apa jika mereka nanti datang” “Kau sudah berputus asa?“ bertanya Kiai Pusparur i. Sementara itu Laksitapun berkata “Apakah aku benar-benar berhadapan dengan Ki Ajar Macan Kuning? Aku tidak pernah membayangkan, bahwa pada suatu saat Ajar Macan Kuning akan berputus-asa. Sementara disampingnya terdapat sepasukan orang-orang yang dapat di percaya kemampuannya? Seandainya Pangeran Sena Wasesa mampu menggugurkan bukit gundul ini sekalipun, maka ia tidak akan dapat menghadapi seluruh pasukan Pusparuri sekarang ini” Ajar Pamotan Galih t idak menjawab. Kembali ia merenungi dataran yang merentang disekitar bukit gundul itu. Namun dalam pada itu ia memang tidak dapat ingkar, betapa kacau perasaannya. Namun dalam pada itu, orang-orang Pusparuri itu telah menawarkan satu kerja sama untuk menangkap kembali Pangeran Sena Wasesa. Ia sadar, bahwa orang-orang Pusparuri tidak akan terlalu bodoh untuk memberikan kesempatan kepadanya Ki Ajar itupun sadar, jika usaha itu berhasil, maka ia tidak akan mendapat apapun juga. Bahkan mungkin orang-orang Pusparuri itu akan beramai-ramai mencincangnya, Tetapi dalam pada itu, terpercik dendamnya kepada orang cacat yang sudah mengalahkannya. Orang itu agaknya akan datang bersama Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang laini yang datang ke padepokannya. “Apakah kau sedang merenungi keputusanmu Ki Ajar?“ bertanya Laksita. Ki Ajar menggeram. Katanya “Kau jangan terlalu sombong hanya karena disini ada Kiai Pusparuri. Kau tahu, bahwa Kiai Pusparuri itu t idak akan banyak berarti bagiku. Seandainya aku mau maka kau akan dapat membunuh separo dari orang- orang Pusparuri yang berada disini bersama pimpinan tertingginya” Tetapi Kiai Pusparuri tertawa. Katanya “Aku percaya bahwa kau agiknya memang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi kau tidak akan dapat banyak berbuat apa-apa. Lebih lebih dihadapan Pangeran Sena Wasesa. Karena itu, selagi aku menawarkan kerja sama. Hasilnya kita bagi bersama” “Aku tahu bahwa itu omong kosong” jawab Ki Ajar “Kau akan memanfaatkan aku untuk melawan orang-orang itu. Kemudian kau akan manfaatkan aku untuk melawan orang-orang itu. Kemudian kau akan menyisihkan aku pula karena jumlah kalian yang banyak. Tetapi baiklah. Aku bersedia bekerja bersama orang-orang Pusparuri untuk bertempur melawan orang-orang itu. Jika kita berhasil, maka dendamku sudah dapat aku lepaskan. Terserah kepadamu kau juga ingin membunuh aku, maka Kiai Pusparuri dan separo orang-orangnya akan membunuh aku, maka Kiai Pusparuri dan separo orang-orangnya akan mati bersama aku” -oo0dw0oo- 

Jilid 19
KIAI PUSPARURI mengangguk-angguk. Katanya “Aku tidak berkeberatan dengan kecurigaanmu. Tetapi yang penting bagiku adalah menangkap Pangeran Sena Wasesa. Tidak untuk diserahkan kepadamu atau kepada siapapun Aku memer lukannya untuk mendengar keterangannya tentang pusaka itu. Tetapi seandainya kau berkeberatan, akupun tidak akan memaksamu, karena aku yakin akan kekuatan pasukanku” Ki Ajar Pamotan Galih merenung sejenak. Namun kemudian katanya “Aku kira kau akan menyesali kesombonganmu. Tetapi baiklah. Aku akan bergabung dengan pasukanmu, apapun yang akan kau lakukan setelah itu” Kiai Pusparuri tertawa. Tetapi katanya “Baiklah. Aku terima kau di dalam lingkungan kami. Aku tahu, kau orang yang luar biasa” “Kita tinggal menunggu beberapa saat saja Mereka akan segera datang” berkata Ki Ajar Pamotan Galih. Dalam pada itu, Kiai Pusparuripun segera mengatur orang- orangnya. Mereka harus mengadakan pengawasan disekitar bukit gundul itu. Bukan saja terhadap kelompok-kelompok lain yang mungkin akan mencar i pusaka itu, tetapi juga mengamati kedatangan Pangeran Sena Wasesa dengan orang- orang yang menyertainya pergi ke padepokan Ki Ajar Pamotan Gahh sehingga memaksa Ki Ajar itu untuk pergi. Namun dalam pada itu, ternyata anak-anak muda Lumban telah melihat kehadiran mereka. Orang-orang Pusparuri itu mengabaikan orang-orang yang berada di sawah mereka. Meskipun mereka tahu bahwa diantara mereka yang melawan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih terdapat anak- anak muda Lumban, namun anak-anak muda Lumban itu masih belumper lu dicemaskan. Tetapi sementara itu, anak-anak muda Lumban itupun telah mempersiapkan diri. Mereka membagi dir i menjadi beberapa kelompok. Kecuali mereka yang harus mengawasi para tawanan, maka di bawah pimpinan orang-orang yang mereka, kenal sebagai pemburu itu, mereka mengawasi bukit gundul itu dari beberapa jurusan. Dengan bersiap-siap di padukuhan yang berada disebelah menyatelah bukit gundul, anak-anak muda Lumban itu berhasil mengamati tingkah laku orang- orang Pusparuri” Namun agaknya orang-orang Pusparuri itu tidak akan meninggalkan bukit gundul. Mereka tetap berada di seputar kaki bukit itu. Sebagian dari mereka berlindung dari panasnya matahari di bawah pepohonan di pategalan. Sementara yang lain ber lindung pada bayangan batu-batu padas. Ketika kemudian matahari condong jauh ke Barat, maka sebagian besar dari mereka berada di bayangan bukit gundul itu. Tetapi anak-anak muda Lumban ternyata tidak mengetahui, bahwa diantara mereka terdapat seseorang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pamotan Galih. Menurut perhitungan Ki Ajar Pamotan Galih, jika orang- orang yang ditinggalkannya itu dengan segera menyusulnya, maka mereka akan sampai di Lumban pada hari itu. Tetapi agaknya orang-orang itu akan berangkat dari padepokannya setelah pagi hari, sehingga paling cepat esok pagi mereka baru akan datang. Kiai Pusparuri sama sekali tidak berkeberatan untuk menunggu. Apalagi hanya satu malam. Seandainya ia harus menunggu sepekanpun, ia akan melakukannya dengan sabar. Meskipun demikian, semalam suntuk orang-orang Pusparuri berjaga-jaga berganti-ganti. Sekelompok dar i mereka, dipimpin langsung oleh dua orang kepercayaan Kiai Pusparuri, islah mengawasi Ki Ajar Pamotan Galih yang masih tetap berada dipuncak. Ia sama sekali tidak bersedia beranjak dari tempatnya. Namun ketika orang-orang Pusparuri memberikan sekedar makan dan minum, ia tidak menolaknya. Tetapi malam itu terasa panjangnya. Rasa-rasanya mereka telah menunggu lebih dari dua tiga malam. Bintang-bintang yang bergayutan di langit berkeredip dengan malasnya. Sementara udara malam yang dingin rasa-rasanya bagaikan menusuk sampai ketulang. Malam itu, Pangeran Serta Wasesa, Kiai Kanthi orang cacat dan sekelompok kecil orang-orang lain, berhenti tidak terlalu jauh lagi dari Lumban. Tetapi mereka merasa cukup lama menempuh perjalanan, sehingga mereka harus berhenti dan bermalam di perjalanan. Esok pagi mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke padukuhan Lumban. Matahari sepeng- galah mereka sudah akan sampai di padukuhan itu. Demikianlah ketika fajar mulai memerah di langit, maka sekelompok orang yang sedang menuju ke Lumban itu sudah mempersiapkan dir i. Meskipun diantara mereka terdapat seorang gadlis, itu bukanlah gadis kebanyakan. Tetapi selain gadis itu terdapat juga ibu Daruwerdi. Adalah diluar kehendaknya, jika Jlitheng tertegun ketika ia melihat Daruwerdi sedang berbicara bersungguh-sungguh dengan Swasti. Meskipun hanya beberapa kalimat, namun terasa jantung Jlitheng tergetar. Tetapi Jlitheng t idak menghiraukannya lebih lama lagi. Ia melihat Swastipun segera meninggalkan Daruwerdi. Sementara Daruwerdi berdir i termangu-mangu. Ada niatnya untuk mengikuti gadis itu. Tetapi niatnya diurungkannya. Sementara Jlithengpun telah bergeser menjauhinya. “Apa saja yang dibicarakannya” bertanya Jlitheng kepada diri sendiri. Sebenarnyalah Jlitheng tidak tahu, bahwa ketika kedua anak muda itu dengan tidak sengaja bertemu pandang, Daruwerdi diluar sadarnya bertanya, apakah Swasti tidak merasa terlalu letih. Hanya itu. Dalam pada itu, ketika langit menjadi terang, iring-ir ingan kecil itupun segera melanjutkan perjalanan. Sebenarnyalah bahwa ibu Daruwerdi itupun telah merasa sangat letih. Tetapi karena dorongan keinginannya yang sangat besar, maka iapun berusaha untuk tidak mengeluh. Kedua adiknya selalu mendampinginya. Bahkan pada saat-saat tertentu, orang cacat yang mengaku dirinya Ajar Cinde Kuning itu sendir i telah membantunya. Perjalanan berikutnya tidak lagi banyak mengalami hambatan karena buasnya medan yang mereka lalui. Kuda- kuda mereka berjalan di tanah datar dan terbuka. Hutan perdu telah mereka lalui, dan ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka merekapun telah mendekati padukuhan yang mereka tuju. Lumban. Jlithenglah yang minta kepada Ki Ajar Cinde Kuning, agar iring- iringan itu tidak langsung mendekati bukit gundul. Ia ingin mendengar keterangan yang barangkali ada manfaatnya dari anak-anak muda Lumban. “Pergilah mendahului” berkata Ki Ajar Cinde Kuning. Bersama Rahu, maka Jlithengpun telah mendahului ir ing- iringan kecil itu. Ia sengaja menjauhi bukit gundul, karena menurut dugaan mereka, Ki Ajar Pamotan Galih ada disekitar tempat itu. “Mudah-mudahan ia belum berbuat sesuatu terhadap orang-orang Lumban” desis Jlitheng. “Ada beberapa orang yang dapat memimpin anak-anak muda itu” berkata Rahu. Jlitheng menggeleng. Jawabnya “Tidak ada gunanya menghadapi Ajar Pamotan Galih, jika Ajar itu benar-benar menjadi gila” Langkah kuda Jlitheng tertegun ketika ia melihat beberapa orang anak muda di sudut padukuhan kecil di ujung Kabuyutan Lumban Wetan. Apalagi ketika anak-anak muda itu melihat, bahwa yang datang itu adalah Jlitheng dan Rahu. “Berhentilah sebentar. Turunlah“ minta anak-anak muda itu. Rahu dan Jlitheng telah menghentikan kuda mereka. Keduanya segera meloncat turun. Mereka melihat anak-anak muda Lumban itu nampak gelisah. “Ada apa?“ bertanya Jlitheng. Salah seorang dari anak-anak muda itupun kemudian minta agar Rahu dan Jlitheng duduk di gardu sebentar. “Sekelompok orang-orang yang garang telah datang ka bukit gundul itu” berkata anak muda itu. “Dari mana?“ bertanya Jlitheng. Anak-anak muda itu menggeleng. Salah seorang menjawab “Kami tidak tahu pasti. Tetapi mereka adalah orang-orang yang nampaknya tidak kalah garangnya dari orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Put ih. Jlitheng mengangguk-angguk. Ternyata yang akan mereka hadapi bukan sekedar Ajar Pamotan Galih. Tetapi sekelompok orang yang tentu dari salah satu perguruan. Mungkin dari perguruan yang lain. “Bahkan mungkin mereka telah bekerja bersama dengan Ki Ajar Pamotan Galih” berkata Jlitheng. “Itu tidak mustahil” sahut Rahu. Lalu katanya “Baiklah. Tetapi dimana mereka sekarang?“ “Mereka tetap berada di bukit gundul. Mereka t idak beranjak dari tempat itu, seolah-olah mereka memang sedang menunggu” berkata anak muda itu. Jlitheng mengangguk-angguk. Ia adalah anak muda yang memiliki pengamatan dan panggraita yang tajam. Karena itu. katanya “Tidak mustahil bahwa Ajar Pamotan Galih ada diantara mereka dan mengatakan bahwa sekelompok orang akan menyusulnya. Diantara mereka terdapat Pangeran Sena Wasesa. Rahu mengangguk-angguk pula. Katanya “Memang t idak lagi dapat diungkiri. Tentu ada beberapa pihak yang berhasil melihat satu kemungkinan dari per istiwa yang telah terjadi. Seperti kita yang semula tidak mengerti, akhirnya kita melihat pula, bahwa Ajar Pamotan Galih memang cerdik. Dengan mengumpankan Daruwerdi ia ingin menguasai Pangeran Sena Wasesa dan memeras keterangan daripadanya. Sebenarnyalah yang mengetahui segala sesuatu tentang pusaka itu adalah Pangeran Sena Wasesa. Agaknya orang-orang di bukit gundul itupun mengetahui, bahwa sumber keterangan itu ada pada Pangeran Sena Wasesa. Apalagi jika Ajar Pamoian Galih ada diantara mereka dan mengatakannya demikian” “Agaknya Pangeran Sena Wasesapun sedang diburu orang, sebagaimana mereka memburu pusaka itu, dan ternyata merekapun mengetahui bahwa disamping pusaka itu masih terdapat harta benda yang sangat menarik” desis Rahu “dengan jumlah yang besar, mereka mengharap akan dapat menguasai Pangeran Sena Wasesa” “Kita harus segera member itahukan kepada ir ing-ir ingan itu” berkata Jlitheng. Lalu iapun bertanya kepada anak muda itu “Apakah orang di bukit itu sering memasuki padukuhan?“ Anak muda itu menggeleng sambil menjawab “Tidak. Mereka baru sehari berada di bukit itu. Agaknya bekal mereka masih mencukupi. Tetapi aku tidak tahu apakah yang akan mereka lakukan j ika mereka berada di bukit itu untuk waktu yang lama” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Baiklah. Aku sebenarnya tidak hanya berdua. Ada beberapa orang di belakangku. Aku akan memberitahukan kepada mereka, agar mereka berhati-hati” Jlitheng berhenti sejenak, lalu “Apakah Nugata sudah mengetahui persoalan ini?“ “Ia sudah tahu bahwa ada sekelompok orang berada di bukit gundul Iapun telah membuat persiapan-persiapan seperlunya” jawab anak muda itu. “Bagaimana dengan pemburu itu?“ bertanya Jlitheng pula. “Mereka sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi mereka masih harus mengawasi orang- orang Sanggar Gading dan Kendali Putih yang sempat tertawan bersama anak-anak muda terpilih” jawab anak muda itu. Lalu “Meskipun demikian, kami disini sudah mengatur diri sebaik-baiknya. Meskipun kami menyadari, bahwa kemampuan kami masih sangat terbatas. Apalagi menghadapi segerombolan orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi“ “Berhati-hatilah. Aku akan segera datang bersama beberapa orang yang akan dapat bekerja bersama kalian menghadapi orang-orang di bukit gundul itu” berkata Jlitheng kemudian. Jlitheng dan Rahupun segera minta diri. Ia harus melaporkan keadaan daerah Sepasang Bukit Mati itu kepada orang-orang yang datang bersamanya. Bersama Rahu ia kembali ke iring- iringan kecil yang semakin dekat dengan Lumban. Kepada mereka Jlitheng dan Rahu melaporkan apa yang mereka dengar dari anak-anak Lumban tentang gerombolan yang berada di bukit gundul itu. “Sebaiknya kita langsung menuju ke banjar Lumban Wetan” berkata Jlitheng “Kita akan dapat membuat persiapan- persiapan lebih terperinci” “Terserahlah mana yang baik menurut pertimbanganmu” berkata orang cacat yang mengaku dir inya Ki Ajar Cinde Kuning itu. Demikianlah, maka ir ing-ir ingan itupun t idak langsung mendekati bukit gundul yang ditunggui oleh orang-orang Pusparuri. Tetapi mereka telah memasuki padukuhan induk Lumban Wetan dan langsung menuju ke banjar. Kedatangan mereka memang menarik perhatian orang- orang Lumban yang sudah dicemaskan oleh segerombolan orang yang berada di bukit gundul. Namun ketika mereka melihat Jlitheng bersama mereka, maka hati merekapun menjadi agak tenang. Apalagi ketika Jlitheng berkata kepada salah seorang laki-laki separo baya “Mereka akan menolong kita menghadapi orang-orang di bukit gundul itu” “O, sokurlah Jlitheng. Tetapi siapakah mereka?“ bertanya orang itu. “Mereka orang-orang baik” jawab J litheng Laki- laki itu mengangguk-angguk. Ketika ia memandangi orang-orang dalam ir ing- iringan itu, maka iapun mengangguk- angguk kecil. Ia melihat bahwa di dalam iring- iringan itu terdapat pula perempuan. Demikian mereka sampai di banjar, maka anak-anak mudapun menyambut mereka, Jlitheng dan Rahu sudah dikenal oleh anak-anak muda itu. Demikian pula Daruwerdi, meskipun anak-anak Lamban Wetan masih merasa ada jarak di antara mereka. Namun dalam pada itu, mereka tidak dapat menunggu keadaan menjadi semakin gawat. Karena itu, maka Jlitheng dan Rahupun segera menghubungi segala pihak. Sejenak kemudian, maka Nugata dan para pemburu yang berada di Lumban itupun telah berkumpul di banjar itu, setelah mereka menyerahkan para tawanan kepada sekelompok anak-anak muda terbaik di Kabuyutan Lumban. “Sebenarnya kita dapat membiarkannya menunggu di bukit itu” berkata Pangeran Sena Wasesa “Mereka akan menjadi jemu dan mengambil sikap yang mungkin menguntungkan kita semuanya” Jlitheng mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya “Apakah maksud Pangeran?“ “Kita menunggu perkembangan keadaan” jawab Pangeran Sena Wasesa “Jika mereka menyadari bahwa mereka akan sia-sia dan kemudian meninggalkan tempat itu, bukankah kita tidak perlu mengusirnya dengan kekerasan?“ Namun dalam pada itu. Kiai Kanthi menyahut “Ada dua kemungkinan Pangeran. Mereka akan pergi, atau mereka akan berbuat sesuatu yang dapat semakin menggetarkan jantung rakyat Lumban” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Kemungkinan itu memang ada. Mereka ingin melepaskan kejemuan mereka kepada rakyat Lumban” “Selebihnya” potong Ki Ajar Cinde Kuning “Aku menduga bahwa Pamotan Galih ada di bukit itu pula. Mungkin suatu kebetulan mereka bertemu untuk tujuan yang sama, tetapi mungkin pula mereka memang sudah berhubungan sebelumnya “ Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk Lalu Katanya “Terserahlah. Yang manakah yang baik kita lakukan. Tetapi melibatkan anak-anak muda Lumban masih harus diperhitungkan sebaik-baiknya. Yang berada di bukit itu adalah segerombolan orang-orang besar dan buas yang sama sekali t idak memperhitungkan nyawa sesama“ “Kita memang harus mempersiapkannya sebaik-baiknya” berkata Jlitheng “salah satu cara adalah mempergunakan tenaga sebanyak-banyaknya sehingga anak-anak muda Lumban dapat menghadapi lawannya berpasangan. Bagaimanapun juga, anak-anak Lumban pernah belajar menggenggam pedang. Dengan demikian maka jika mereka sempat berpasangan, maka kemungkinan yang paling buruk akan dapat dikurangi” “Salah satu cara” sahut Kiai Kanthi “disamping itu, maka kita yang merasa diri kita memiliki bekal serba sedikit harus memencar dir i diantara anak-anak muda Itu” “Baiklah” berkata Nugata “Aku akan mengatur anak anak muda kita” Dengan cepat Nugata dan Jlitheng telah berusaha untuk mengatur anak-anak muda di Lumban. Keduanya telah pergi ke Lumban Kulon pula untuk mengumpulkan anak-anak muda yang telah pernah berlatih kanuragan. Meskipun mereka belum benar-benar memiliki kemampuan yang cukup, tetapi seperti yang dikatakan Jlitheng, mereka akan bertempur berpasangan. “Kalian harus bersiap di padukuhan kalian masing-masing” berkata Jlitheng “pada saatnya, kita akan berkumpul dan pergi ke bukit gundul. Kami tidak memaksa semua orang harus ikut serta, tetapi hanya mereka yang merasa dir inya cukup berani menghadapi sikap orang-orang kasar. Mereka yang telah menyertai kami melawan orang-orang Kendali Putih dan Sanggar Gading akan dapat mengatakan, betapa buas dan liarnya mereka itu. Orang-orang yang berada di bukit gundul itu aku kira tidak akan berselisih banyak dengan mereka” Tetapi anak-anak muda Lumban Kulon ternyata telah menyatakan dir i seluruhnya untuk ikut serta pergi ke bukit gundul. “Bagus” berkata Nugata “Jika demikian, kalian tinggal menunggu isyarat. Kami akan berkumpul di pategalan kering di sebelah patok batas Kabuyutan. Kemudian bersama-sama kita akan pergi ke bukit gundul sebagaimana prajurit pergi ke medan perang” Terasa dada anak-anak muda itu berdebaran, Sementara Jlitheng dan Nugata itupun kemudian meninggalkan mereka untuk pergi ke padukuhan-padukuhan yang lain. Seperti yang dilakukan di Lumban Kulon maka demikian pula yang mereka lakukan di Lumban Wetan. Sepuluh orang terbaik di Lumban Wetan akan memimpin kelompok-kelompok anak-anak muda Lumban Wetan. Mereka akan mengatur kawan-kawannya agar anak-anak Lumban Wetan itu tidak menjadi umpan kebuasan orang-orang yang berada di bukit gundul itu. Namun dalam pada itu, Jlitheng bersama Semi dan kawannya telah mengatur dan mempersiapkan pula orang- orang yang akan mengawasi para tawanan, karena diantara mereka terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Namun mereka telah terikat dengan tali yang tidak akan dapat mereka putuskan, karena diantara serat-serat tali itu terdapat beberapa helai janget. Dalam pada itu, setelah selesai dengan mengelilingi padukuhan-padukuhan di Kabuyutan Lumban Kulon dan Lumban Wetan, maka Jlitheng dan Nugata telah berada diantara orang-orang tua yang berada di banjar. Mereka mulai dengan bersungguh-sungguh membicarakan rencana untuk menghadapi orang-orang yang berada di bukit gundul itu. Namun dalam pada itu. orang-orang di bukit gundul itupun mulai menjadi gelisah. Mereka menunggu kehadiran orang- orang yang disebut oleh Ki Ajar Pamotan Galih akan segera datang ke bukit itu. Tetapi ternyata mereka masih belum datang. Sementara itu. orang-orang yang berada di bukit gundul itu masih juga berusaha untuk memecahkan teka-teki yang tersimpan di bukit itu Ki Ajar Pamotan Galih yang berada di puncak bukit itu masih selalu memperhatikan segala lekuk dan garis batu-batu padas yang terdapat di bukit gundul itu. Namun setiap kali ia hanya dapat menggelengkan kepalanya saja. Sementara itu Kiai Pusparuri yang berjalan mengitari bukit itupun memperhatikan setiap keadaan yang menarik perhatian. Diperiksanya setiap lekuk, batu-batu yang menjorok dan keadaan-keadaan yang khusus di sekitar bukit itu. Tetapi seperti Ki Ajar Pamotan Galih, ia tidak menemukan petunjuk apapun juga. “Apakah Pangeran itu sudah berada kembali di Demak” berkata Pusparuri di dalam hatinya “namun jika demikian, maka yang tersimpan di bukit gundul ini tidak akan terungkapkan. Usaha Pamotan Galih untuk mempergunakan Daruwerdi telah gagal” Kiai Pusparuri itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya pula di dalam hatinya “Tentu Pangeran itu tidak akan member itahukan kepada siapapun juga. Tentu ia sendir i ingin memilikinya. Adalah gila jika ia mengatakan, telah menyerahkan rahasia itu kepada siapapun juga, meskipun kepada Kangjeng Sultan di Demak sekalipun. Karena nampaknya Pangeran itu juga seorang yang julig” Tetapi bagaimanapun juga, Kiai Pusparur i yang datang dengan pengikutnya yang kuat itu tidak tergesa-gesa. Ia merasa menghadapi siapapun juga. Dan iapun menduga, bahwa Pangeran Sena Wasesa tidak akan melaporkannya ke Demak dan membawa prajur it segelar sepapan sementara menghadapi padepokan-padepokan atau gerombolan- gerombolan yang lain. Kiai Pusparuri merasa terlalu yakin akan dirinya. Meskipun demikian, Kiai Pusparuri itupun memanjat bukit gundul itu untuk menemui Ki Ajar Pamotan Galih dan bertanya “Apakah perhitunganmu benar ki Ajar?“ “Aku menganggap demikian” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, mereka tentu akan sekali lagi melihat bukit gundul itu, jika kau memang ingin menantangnya, letakkan orang-orang di padang terbuka disekitar bukit ini untuk mengundang mereka mendekati bukit. Karena mungkin sekali mereka langsung memasuki padukuhan Lumban dan beristirahat di Kabuyutan itu” “Orang-orang Lumban akan mengatakan kepada mereka, bahwa aku ada disini” berkata Kiai Pusparuri “Aku datang tidak dengan sembunyi-sembunyi” “Jika demikian tunggulah. Aku mempunyai keyakinan, mereka akan datang” berkata Ki Ajar. Kiai Pusparur i mengangguk-angguk. Sambil memperhatikan keadaan disekelilingnya, garis-garis retak batu-batu padas dan apapun yang terasa menarik perhatiannya, iapun melangkah menuruni bukit gundul itu. Sementara itu, ternyata anak-anak muda Lumban sudah siap. Mereka telah berkumpul di banjar padukuhan masing- masing, lengkap dengan senjata mereka. Dengan petunjuk pemimpin-pemimpin kelompok masing-masing, mereka mengatur dengan siapa akan berpasangan. Apa yang harus mereka lakukan dalam keadaan yang gawat dan isyarat- isyarat apa yang wajib mereka mengerti. Di Banjar, orang-orang yang datang dari padepokan Ajar Pamotan Galih itupun telah menyusun diri. Jika Ki Ajar Pamotan Galih ada di bukit itu, maka Ajar Cinde Kuning akan langsung menemuinya untuk memberikan penjelasan. Sementara Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kattthi akan mengamati seluruh pertempuran itu, khususnya menghadapi orang-orang terpenting dari mereka yang sudah bersiap di bukit itu. Selain mereka, maka Rahu, Jlitheng, Semi dan kawannya, Daruwerdi dan kedua pamannya akan ikut bersama mereka. Namun dalam pada itu, orang cacat yang menyebut dirinya Ki Ajar Cinde Kuning itu berkata kepada Kiai Kanthi “Kiai, apalagi tidak berkeberatan, apakah Kiai sependapat, apabila anak gadis Kiai itu dapat menemani anak perempuanku, ibu Daruwerdi” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah anak gadisnya. Ia mengerti bahwa anak itu tentu lebih senang berada di pertempuran. Namun demikian ia masih ingin berusaha untuk memintanya memenuhi keinginan Ajar Cinde Kuning itu. “Swasti” berkata Kiai Kanthi “Aku kira ada baiknya. Bukan karena kau tidak akan dapat menyesuaikan diri di peperangan. Tetapi kemungkinan-kemungkinan lain dapat terjadi di banjar ini, sehingga ibu angger Daruwerdi itu memerlukan seorang kawan yang dapat membantunya mengatasi kesulitan j ika sewaktu-waktu kesulitan itu datang” Swasti mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab, ibu Daruwerdi itu berkata “Aku mohon ngger” Swasti memandang perempuan itu dengan kerut di keningnya. Namun ia melihat permintaan yang sungguh- sungguh itu memancar di sorot mata ibu Daruwerdi. Karena itu, seolah-olah diluar sadarnya, gadis itu mengangguk lemah. “Bagus” desis Kiai Kanthi “Kau tinggal di banjar bersama beberapa pengawal. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu disini. Tetapi apabila kesulitan itu datang, maka kau mempunyai lebih banyak pengalaman dari para pengawal dari Lumban itu” Sekali lagi Swasti mengangguk. Demikianlah, ketika segala sesuatunya sudah dipersiapkan, maka Kiai Kanthi dan Pangeran Sena Wasesapun sepakat untuk segera pergi ke bukit gundul. “Baiklah” berkata orang cacat yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning “semakin cepat memang semakin baik” “Aku akan member i penjelasan kepada orang-orang yang ada di bukit itu, bahwa tidak ada gunanya lagi bagi mereka untuk mencar i pusaka dan apalagi harta benda di bukit itu. Aku sudah menyerahkannya kepada yang berhak. Demak. Karena sebenarnyalah yang mereka cari di bukit gundul itu sejak semula tidak berada di bukit itu” berkata Pangeran Sena Wasesa. Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Jika demikian, bagaimana mungkin setiap orang menganggap bahwa yang mereka car i berada di bukit gundul yang jauh itu, di daerah Sepasang Bukit Mati. Tetapi Kiai Kanthi tidak menanyakannya. Pada saatnya ia tentu akan mengerti pula. Dalami pada itu, maka orang-orang yang berada di banjar itupun segera mempersiapkan diri. Ketika mereka kemudian meninggalkan banjar, beberapa orang anak muda yang siap dengan senjata masing-masing telah mengikutinya? Di mulut lorong, beberapa orang anak muda telah berkumpul pula, sehingga dengan demikian, maka iring- iringan itu menjadi semakin panjang. “Aku berjanji untuk member ikan isyarat” berkata Jlitheng “Anak-anak muda akan keluar dari padukuhan masing-masing dan berkumpul disebelah patok batas Kabuyutan. Kita akan bersama-sama pergi ke bukit gundul” “Isyarat apa?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Alat yang kami miliki adalah kentongan” jawab Jlitheng. Pangeran Sena Wasesa memandang orang cacat itu sekilas. Sementara orang itu berkata “Baiklah. Ber ikan isyarat itu. Mudah-mudahan isyarat itu mempengaruhi kegarangan orang orang yang berada di bukit gundul itu. Suara kentongan yang akan berbunyi disetiap padukuhan tentu akan merupakan sentuhan-sentuhan di dalam jantung mereka. Bagaimanapun juga suara kentongan yang bergema di daerah sekitar Sepasang Bukit Mati ini t idak akan mereka abaikan” Karena itu, maka atas persetujuan bersama, Jlithengpun pergi ke gardu di ujung lorong. Sejenak kemudian, telah terdengar suara kentongan yang bergema di seluruh padukuhan-padukuhan di Kabuyutan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kedua orang Buyut yang sudah tua itu tidak berbuat sesuatu sebagaimana dipesankan oleh anak-anak muda ”Biar lah Ki Buyut tetap berada di rumah. Kami, anak-anak mudalah yang akan ikut serta menyelesaikan persoalan yang sebenarnya bukan masalah orang-orang Lumban” Suara kentongan yang memenuhi Kabuyutan Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu telah melontarkan perintah kepada anak-anak muda untuk keluar dari padukuhan masing- masing. Seperti yang di setujui bersama, mereka berkumpul di pategalan kering, disebelah patok batas Kabuyutan. Namun dalam perjalanan ke bukit gundul Pangeran Sena Wasesa masih berkata “Aku masih tetap ingin menjelaskan, sehingga jika mungkin pertempuran yang tidak perlu sama sekali akan dapat dihindarkan” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya “Mudah- mudahan Pangeran, sehingga anak-anak muda itu tidak harus menyerahkan korban diantara mereka. Karena sebenarnyalah yang mereka perlukan adalah hijaunya tanaman d isa wah dan pategalan. Mereka sama sekali t idak berkepentingan dengan apa yang sedang diperebutkan ini” Pangeran itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara orang cacat yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning itupun berkata “Aku sependapat Pangeran. Jika Pangeran berhasil, akupun ingin menyelesaikan persoalanku dengan Pamotan Galih sebagai dua orang bersaudara. Apalagi bersaudara kembar” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga, di dalam setiap hati tersimpan keragu- raguan. Apakah orang-orang yang berada di bukit gundul itu akan dapat mengerti keterangan yang akan diberikan oleh Pangeran Sena Wasesa. Dalam pada itu, ternyata suara kentongan yang terlontar dari padukuhan-padukuhan itu terdengar jelas dari bukit gundul. Mereka yang berada di bukit gundul itu seolah-olah telah mendengar sorak yang gemuruh dari setiap padukuhan di Kabuyutan Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Ajar Pamotan Galih yang berada di atas bukit itu mengangkat wajahnya. Sambil memandang kesekelilingnya ia bergumam kepada dir i sendiri “Orang-orang Lumban yang tidak tahu diri. Mereka akan salah menilai jika orang-orang Pusparuri ini dianggapnya berkekuatan tidak lebih dari orang- orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih yang sudah saling menumpas di pategalan. Jika mereka kali ini datang ke bukit ini, maka mereka akan segera dibantai oleh orang-orang Purparuri yang tidak kalah garangnya dari orang- orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih” Namun dalam pada itu, Ajar Pamotan Galih masih belum memperhitungkan bahwa anak-anak Lumban akan keluar hampir seluruhnya, dan akan bertempur berpasangan. Dalam jumlah yang berlipat ganda, maka anak-anak muda Lumban itu tentu akan dapat mempertahankan dir inya. Di bawah bukit gundul itu, Kiai Pusparuri yang sudah menunggu terlalu lama menjadi berdebar-debar. Kepada kepercayaannya ia bertanya “Yang akan datang itu, apakah orang-orang yang memang kami harapkan, atau cucurut- cucurut dari Lumban itu saja” “Entahlah” sahut salah seorang kepercayaannya “Tetapi kentongan itu agaknya telah menggemparkan Lumban. Jika Lumban menganggap bahwa mereka akan dapat menyelesaikan persoalan ini, maka aku kira mereka akan menjadi sangat kecewa” “Hanya akan membuang-buang waktu saja” berkata Kiai Pusparuri “kadang-kadang timbul juga belas kasihan kepada orang-orang yang dungu dan sombong. Mereka salah mengartikan nilai dir i sendiri. Tetapi kadang-kadang timbul juga kejengkelan yang tidak terkendali melihat sikap orang- orang yang demikian, sehingga memaksa diri untuk membuat mereka segera menjadi jera” “Kiai” bertanya kepercayaannya “Apakah yang akan kita lakukan j ika orang-orang Lumban itu benar-benar datang kemari” “Usir mereka” berkata Kiai Pusparur i “Tetapi ingat. Mungkin mereka akan datang bersama dengan orang-orang yang disebut oleh Pamotan Galih, termasuk Pangeran Sena Wasesa” “Jika demikian, kita akan bersiaga sepenuhnya” berkata kepercayaannya “Jika kita lengah, dan ternyata yang datang itu adalah orang-orang yang disebut oleh Ajar Pamotan Galih bersama orang-orang Lumban, maka kitalah yang akan menyesal” “Bagus” berkata Kiai Pusparur i “Aku akan menghubungi Ajar Pamotan Galih “ Kedua orang kepercayaan Kiai Pusparuri itupun segera menyiapkan orang-orangnya. Dengan segan seorang pengikutnya berkata “Hanya anak-anak yang bermain-main kentongan. Jika mereka datang, kita akan segera menghalaunya” “Jangan lengah” berkata kepercayaan Kiai Pusparuri itu “Yang datang bukan saja anak-anak Lumban” Pengikut Kiai Pusparuri itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Dari mana kau tahu bahwa yang akan datang selain anak-anak Lumban adalah orang- orang yang dimaksud oleh Ajar Pamotan Galih” “Kemungkinan itu memang ada” jawab kepercayaan Kiai Pusparuri itu “karena itu, kita harus bersiaga sepenuhnya” Orang-orang Pusparuri itu mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah mereka menganggap bahwa orang-orang Lumban tidak akan berarti apa-apa. Merekapun pernah mendepgar bahwa orang-orang Lumban ikut bertempur pada saat terakhir melawan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Tetapi setelah orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih saling menghancurkan diri mereka masipg-masing. Meskipun demikian, kepercayaan Kiai Pusparuri itu berkeras untuk memerintahkan kepada para pengikut Kiai Pusparuri untuk bersiaga sepenuhnya. Mereka telah diatur di tempat- tempat yang paling baik untuk menghadapi lawan yang bakal datang. Sementara itu, Kiai Pusparuri yang menemui Ajar Pamotan Galih bertanya “Apakah kau akan menunggu mereka di puncak bukit gundul ini?“ “Aku akan menunggu disini” gumam Ki Ajar Pamotan Galih. “Itu tidak mungkin” berkata Kiai Pusparur i “Orang-orangku akan bertempur di bawah. Tidak menguntungkan bagi kita semuanya jika kita menunggu mereka memanjat sampai kepuncak. Kita akan membiarkan orang-orang itu mulai memanjat pada kaki bukit ini. Namun pada saat itu pula mereka akan kita usir. Tetapi jika diantara mereka terdapat orang-orang yang kau maksud, maka mereka akan kita binasakan, kecuali Pangeran Sena Wasesa. Aku memer lukannya, sebagaimana kau memer lukan orang itu” Ajar Pamotan Galih menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya menyapu dataran disekitarnya. Namun ia masih belum melihat apapun juga mendekati bukit gundul itu. Tetapi iapun yakin, bahwa suara kentongan itu bukan sekedar suara kentongan untuk mengusir tupai di pohon-pohon kelapa. “Aku akan berada bersama kalian” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “Aku ingin bertemu dengan Pangeran Sena Wasesa. Tetapi jika orang cacat itu datang pula bersamanya, maka kita harus mempunyai perhitungan lain” “Aku hanya berkepentingan dengan Pangeran Sena Wasesa” berkata Kiai Pusparuri. Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab lagi. Rasa-rasanya iapun memang sudah kehilangan segala harapannya. Tetapi ia masih akan tetap berusaha sampai batas kemungkinan yang terakhir, apapun yang akan terjadi atas dirinya. Berhasil atau tidak berhasil rasa-rasanya tidak lagi banyak dipersoal-,kan di dalam hatinya, yang semakin lama menjadi semakin membeku dalam kekerasannya. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih itupun berkata “Aku akan turun. Jika yang datang bukan orang yang kita harapkan, aku tidak akan ikut campur” Kiai Pusparuri tidak menghiraukannya, Iapun kemudian melangkah dialas batu-batu padas. Sekali-sekali ia masih memperhatikan retak-retak yang membujur lintang, seolah- olah merupakan tanda-tanda yang dibuat oleh seseorang. Dalam pada itu, para pengikut Kiai Pusparuri sudah menyiapkan dir i dengan segan. Pada umumnya mereka mengang- gap bahwa orang-orang Lumban yang sombong akan berusaha untuk mengusir mereka dar i bukit gundul itu. “Mereka menganggap bahwa mereka akan dapat mengulangi sebagaimana mereka lakukan atas orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Put ih yang sudah saling membinasakan itu. Apalagi diantara orang-orang Lumban terdapat orang-orang berilmu tinggi yang menurut Ajar Pamotan Galih telah pergi ke padepokannya” gumam salah seorang dari mereka. “Tetapi yang pergi itulah yang dikatakannya akan kembali” sahut kawannya, “Kita tumpas saja mereka” sahut yang lain “memuakkan. Kenapa mereka mengganggu kita yang sedang menikmati segarnya udara di daerah Sepasang Bukit Mati ini” “Kau gila” berkata seorang yang lain “justru kita mengharap mereka datang. Jika tidak, kita harus mencar i Pangeran Sena Wasesa. Jika ia berlindung diantara para prajurit Demak, maka persoalannya akan bertambah rumit” Kawannya tertawa. Katanya “Seolah-olah kau tahu pasti apa yang sedang bergejolak di daerah Sepasang Bukit Mati ini” “Kita semuanya tidak tahu apa-apa” sahut orang yang setengah tidur bersandar pada sebongkah batu padas. Kita hanya tahu membunuh orang-orang yang harus kita bunuh, siapapun mereka” Beberapa orang yang lainpun telah tertawa pula. Seorang berwajah garang berdesis “Daruwerdipun harus kita bunuh” Yang lain t idak menyahut lagi. Seolah-olah mereka tidak menghiraukan apa yang akan terjadi, meskipun suara kentongan itu telah menyentuh perasaan mereka pula. Dalam pada itu, anak-anak muda Lumban semakin lama menjadi semakin dekat dengan bukit gundul itu. Yang berada di paling depan adalah orang Cacat yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning, Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi. Kemudian diikuti oleh Daruwerdi dan kedua pamannya. Dibelakangnya Rahu, Jlitheng, Semi dan seorang kawannya. Sementara Nugata berada diantara anak-anak muda Lumban Kulon. Diantara anak-anak muda Lumban Wetan terdapat sepuluh orang yang mendapat latihan-latihan khusus dalam olah kanuragan. Ternyata bahwa iring-iringan itu menjadi cukup panjang. Sebagaimana telah di anjurkan, maka setiap anak muda telah berjalan bersama dengan kawan yang akan bertempur bersama. Akhirnya, orang-orang Pusparuri telah melihat kehadiran anak-anak muda Lumban itu. Dua orang pengawas telah member ikan isyarat kepada kawan-kawannya, bahwa lawan mereka telah datang. Beberapa orang telah meloncat naik keatas batu-batu padas yang berbongkah-bongkah sekedar untuk melihat iring- iringan yang mendekat Seorang diantara mereka berkata “Seperti itik yang digembalakan. Mereka berjalan beriringan dalam satu barisan yang panjang” “Tetapi lihat, mereka yang berada di depan adalah orang- orang yang berilmu” sahut kawannya. Yang lain tertawa. Katanya “Disini ada orang-orang yang akan dapat melawan mereka. Kiai Pusparuri, Ki Lurah yang dua orang itu, Ki Benda yang pemalas itu. Dan mungkin orang yang berada di atas bukit yang disebut Ajar Pamotan Galih itu” Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Sementara itu Kiai Pusparuri dan Ki Ajar telah turun pula. Ketika Kiai Pusparuri melihat seseorang yang masih saja duduk bersandar sebongkah batu dengan mata terpejam, tetapi mulutnya masih saja mengunyah makanan, maka dengan kakinya Kiai Pusparuri menyepak kaki orang Itu. “Pemalas” geramnya “Kau mau tidur saja dasitu?” Orang itu menggeliat. Katanya “Aku tahu segala-galanya. Bukankah mereka masih dalam perjalanan. Aku masih sempat tidur sekejap” “Bagaimana jika kepalamu dibelah dengan pedang anak Lumban itu” desis Kiai Pusparuri. Orang itu tertawa berkepanjangan. Sambil bangkit ia berkata “Kau membuat aku kehilangan kantukku. He, dimana dua orang kepercayaanmu itu? Kenapa kau t idak berbicara saja dengan mereka tanpa mengganggu aku” “Mereka sedang menyiapkan orang-orang kita” sahut Kiai Pusparuri “lalu bagaimana dengan kau?“ Orang itu tidak menjawab. Iapun kemudian memandang kekejauhan. Lamat-lamat ia melihat sebuah iring- iringan mendekat. “Persetan“ katanya “Aku akan duduk. Mereka masih memer lukan waktu untuk mendekati bukit ini. Kemudian kalian masih akan berbicara berkepanjangan. Saling menantang, saling menyombongkan diri dan saling menakuti-nakuti Nah, bukankah aku masih sempat tidur barang sekejap?“ Orang itu tidak menunggu jawaban. Iapun kemudian duduk lagi bersandar sebongkah batu padas. Namun t iba-tiba ia berteriak “He, dimana ketela rebusku. Siapa yang mencuri he?“ “Sudah kau kunyah semua” jawab seorang pengikut yang lain. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata kepada Kiai Pusparuri “Temui orang-orang itu. Ajak bicara sedikit panjang” “Anak iblis” geram Kiai Pusparuri sambil meninggalkan orang itu. Dalam pada Itu, bersama Ki Ajar Pamotan Galih, maka Kiai Pusparuri berada d antara para pengikutnya menunggu kehadiran orang-orang Lumban yang memang masih agak jauh. Sementara itu, kedua kepercayaan Kiai Pusparuri itupun telah mengatur segala-galanya. Orang-orang Pusparuri itu menebar di kaki bukit gundul itu. Sebagian dari mereka masih tetap menganggap bahwa orang- orang Lumban itu terlalu bodoh dan sombong. Seandainya ada orang-orang berilmu diantara mereka seperti yang dikatakan oleh Ajar Pamotan Galih, namun orang-orang Lumban sendiri tidak akan berarti apa-apa selain menyerahkan diri untuk dibantai di bukit gundul itu. Dalam pada itu, Jlitheng dan Rahu yang sudah mendengar tentang orang-orang yang berada di bukit gundul itu dari mereka yang melihat sendir i dar i pategalan dapat memperhitungkan keadaan dengan cermat. Namun sebenarnyalah mereka cukup cemas akan nasib anak-anak muda Lumban. Karena itu, maka keduanyapun kemudian telah berbicara agak panjang dengan Nugata diperjalanan. Dengan jumlah yang banyak dan kerja sama yang baik, mudah- mudahan kegarangan orang-orang di-bukit gundul itu dapat diatasi “Aku, Rahu, Semi dan kawannya akan berada diseluruh arena itu” berkata Jlitheng “Aku akan berusaha untuk tidak terikat dalam satu perkelahian yang tidak memungkinkan aku menilik pertempuran itu secara keseluruhan” “Bagaimana dengan Daruwerdi?“ bertanya Nugata. “Ia telah dibebani satu persoalan di dalam perasaannya sehingga biar lah ia memilih menurut caranya” jawab Jlitheng. “Kenapa sebenarnya dengan anak muda itu? Ternyata bahwa ia telah melakukan sesuatu yang bersifat rahasia sekali di bukit gundul itu” berkata Nugata. “Kau akan mengetahui dengan gamblang kemudian” jawab Jlitheng “namun aku berharap bahwa kedua pamannya yang juga memiliki ilmu yang cukup itu akan bersedia berbuat seperti yang akan kami lakukan. Memang mungkin salah seorang dari kami harus bertempur sampai selesai. Tetapi kami akan mengambil satu kemungkinan yang paling baik bagi anak-anak Lumban” Nugata mengangguk-angguk Sementara kepada sepuluh orang terbaik di Lumban Wetan Jlithengpun telah memberikan pesan-pesannya. Katanya “Kalian harus dapat mengawasi kelompok kalian. Jangan biarkan seorangpun diantara kalian kehilangan pegangan di dalam pertempuran ini. Sekali lagi aku peringatikan, lawan kita adalah iblis- iblis yang tidak berjantung” Namun ternyata anak-anak Lumban telah mempersiapkan diri mereka lahir dan batin. Jlitheng bagi mereka adalah bagaikan saudara sendiri. Air yang mengalir i sebagian dari sawah-sawah di Lumban, adalah hasil jerih payah Jlitheng dan orang tua yang membuat gubug di bukit berhutan itu. Meskipun baru sebagian, tetapi air itu sudah berhasil meningkatkan tataran hidup orang-orang Lumban. Semakin dekat ir ing-ir ingan orang Lumban itu dengan bukit gundul, maka merekapun menjadi semakin berdebar-debar. Mereka telah melihat orang-orang yang berada di bukit gundul itu menebar. Berdiri diatas batu-batu padas. Yang lain bersandar dinding bukit seolah-olah tidak menghiraukan sama sekali kepada orang-orang yang datang beriringan. Bahkan ada diantara mereka yang masih tetap duduk bersandar sebongkah batu padas. Kesiagaan mereka itu telah membuat darah anak-anak muda Lumban menjadi semakin cepat mengalir. “Jangan, cemas” berkata Jlitheng kepada anak-anak Lumban yang ada disekitarnya “Mereka dengan sengaja berbuat demikian untuk mempengaruhi sikap lawan. Mereka seolah-olah tidak menghiraukan kehadiran kalian. Namun sebenarnyalah mereka berdebar-debar juga seperti kita semuannya” Anak-anak muda Lumban itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa ada perbedaan pokok diantara mereka dengan orang-orang yang berada di bukit gundul itu. Orang- orang di bukit gundul itu adalah orang-orang yang menyerahkan hidupnya dalam libatan kekerasan, sementara anak-anak Lumban adalah petani-petani yang pada dasarnya lebih senang hidup tenang dan damai. Tetapi ternyata bahwa pada suatu saat hati merekapun telah tersentuh untuk mengangkat senjata menghadapi orang- orang yang kasar itu. Demikianlah, maka iring- iringan itu sudah menjadi semakin dekat. Orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Cinde Kuning itupun kemudian menghent ikan iring-ir ingan itu. Dipanggilnya Jlitheng mendekat. Kemudian katanya “Kita sudah dekat dengan orang-orang yang mungkin akan dapat bertindak sangat kasar itu. Aturlah anak-anak muda Lumban. Mereka harus mulai menebar. Diantara kita yang memiliki sedikit pengalaman menghadapi orang-orang yang mungkin akan dapat berbuat kasar itu harus terbagi. Tetapi aku akan berada di ujung pasukan anak-anak Lumban ini. Mungkin Ajar Pamotan Galih berada di antara mereka. Mudah-mudahan ia tidak melarikan diri. Sementara Kiai Kanthi dan Pangeran Sena Wasesa akan menyesuaikan diri. Namun sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa akan menjadi sasaran penting dari mereka, karena agaknya merekapun akan mendengar juga bahwa sumber keterangan tentang pusaka itu adalah Pangeran Sena Wasesa” “Baiklah Ki Ajar” berkata Jlitheng “Kita akan membagi dir i. Namun diantara kita akan berusaha untuk tidak terikat dalam satu pertempuran disatu tempat” “Mungkin ada juga manfaatnya” desis Ki Ajar sambil mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Silahkan. Kita sudah berada dihidung lawan” Jlithengpun kemudian mengatur anak-anak muda Lumban bersama Rahu. Semi dan kawannyapun kemudian ikut pula bersama mereka. Bahkan ternyata Daruwerdi tidak t inggal diam. Iapun kemudian menempatkan dirinya diantraa anak- anak muda itu pula. “Aku seharusnya memang berada diantara kalian” berkata Daruwerdi. Demikianlah, anak-anak muda Lumban itu sudah menebar. Disamping sepuluh anak muda terbaik dar i Lumban Wetan dan Nugata dari Lumban Kulon, maka Jlitheng, Rahu, Semi dan kawannya. Daruwerdi dan kedua pamannya telah menebar diantara mereka. Dalam keadaan yang gawat mereka harus dapat mengambil sikap sehingga anak-anak muda Lumban tidak akan menjadi korban. Sementara itu, diujung pasukan, Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan Pangeran Sena Wasesa mendahului anak-anak Lumban mendekati bukit gundul itu. Mereka melihat bahwa orang-orang yang berada di bukit gundul itupun telah menunggu. Namun sebenarnyalah melihat anak-anak Lumban yang menebar dengan sigap, orang-orang yang berada di bukit gundul itu mulai berpikir. Nampaknya memang ada orang- orang yang pantas diperhitungkan diantara anak-anak Lumban selain tiga orang yang berada diujung pasukan. Ketika anak-anak Lumban menjadi semakin dekat, maka Daruwerdi telah mendekati Pangeran Sena Wasesa sambil berdesis “Kita berhadapan dengan orang-orang Pusparuri” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam, sementara orang yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning itupun berkata “Ternyata Pamotan Galih telah berada diantara mereka” Sebenarnyalah Ajar Pamotan Galih yang berdiri di sebelah Kiai Pusparuri seolah-olah telah kehilangan segala gairah cita- citanya yang gagal. Nampaknya ia sudah malas untuk memulainya lagi dari permulaan. Karena itu, maka ia justru tidak lagi mempunyai tujuan bagi sikapnya yang kemudian. Dalam pada itu, kedua kepercayaan Kiai Pusparuri yang melihat Daruwerdi diantara anak-anak muda Lumban itupun mengumpat di dalam hati. Namun merekapun mengerti, Daruwerdi tidak mejanj ikan apapun kepada salah satu pihak. Ia berhubungan dengan segala pihak yang mampu menyerahkan Pangeran Sena Wasesa. Tetapi kini Pangeran Sena Wasesa telali datang dengan sekelompok kekuatan yang akan menghadapi orang-orang Pusparuri termasuk Daruwerdi itu sendiri. Ternyata bahwa Kiai Pusparuri yang berdiri disamping Ki Ajar Pamotan Galih itupun maju beberapa langkah menyongsong Pangeran Sena Wasesa. Sambil tertawa Kiai Pusparuri itupun berkata “Selamat datang Pangeran. Mungkin Pangeran belum mengenal aku. Tetapi kami, orang-orang Pusparuri telah mengenal Pangeran dengan sebaik-baiknya. Kami telah mempelajari sikap dan cara hidup Pangeran sehari- hari. Namun ternyata kedatangan kami ke istana Pangeran telah didahului oleh orang-orang Sanggar Gading yang tahu pasti bahwa Pangeran sedang sakit waktu itu. Meskipun akhirnya orang-orang Sanggar Gading itu berhasil Pangeran kelabui“ “Sekarang kita sudah bertemu Kiai” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Ya. Sekarang kita sudah bertemu. Tetapi dalam keadaan yang kurang menguntungkan bagiku” jawab Kiai Pusparuri. Namun kemudian “Tetapi segalanya adalah karena kelicikan Daruwerdi yang ternyata tidak secerdik yang aku duga. Segala rencana yang disusun oleh Ajar Pamotan Galih itu telah gagal. Dan kini, ingkar atau tidak ingkar, sebenarnyalah bahwa Pangeranlah yang tahu segala-galanya. Permainan pusaka palsu Daruwerdi itu hampir menjerat nyawanya” Jawab Pangeran Sena Wasesa mengejutkan Kiai Pusparur i. Katanya “Kiai. Sebenarnyalah bahwa aku tahu serba sedikit tentang pusaka dan harta karun yang sedang diburu oleh banyak pihak itu. Tetapi karena keterangan mengenai pusaka dan harta karun itu tidak, jelas, maka yang terjadi adalah peristiwa-peristiwa pahit yang tidak berarti. Apa yang terjadi antara orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih adalah satu contoh orang-orang yang dimusnahkan oleh ketamakan mereka sendir i” “Jangan sesorah Pangeran. Aku ingin tahu tentang pusaka dan harta karun itu” berkata Kiai Pusparuri “terus terang, kami ingin menangkap Pangeran hidup-hidup. Kemudian memeras Pangeran untuk mengatakan dimana pusaka dan rta karun yang tidak ternilai itu. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia berpaling. Dipandanginya anak-anak muda Lumban yang sudah siap. Namun ketika terlintas dalam tatapan matanya orang-orang Pusparuri yang garang, maka Pangeran Sena Wasesa itu. mulai dibayangi oleh kecemasan tentang nasib anak-anak muda Lumban. Pangeran Sena Wasesa sudah melihat sebagian dari anak-anak Lumban itu dapat membantu mengalahkan sisa-sisa orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih. Namun melihat orang-orang Pusparuri yang segar dan garang itu, ia harus berpikir beberapa kali lagi. Tetapi jika terpandang olehnya beberapa orang yang memang memiliki bekal ilmu yang cukup, maka iapun menjadi agak tenang. “Mudah-mudahan mereka dapat membantu anak anak Lumban” berkata Pangeran Sena Wasesa didatam hatinya, karena sebenarnyalah ia merasa ragu-ragu bahwa orang- orang Pusparuri dapat dilunakkan hatinya dengan keterangan- keterangannya saja. “Pangeran” berkata Kiai Pusparuri kemudian “sebaiknya Pangeran tidak terlalu berpikir tentang kepentingan diri sendiri. Karena Pangeran ingin menyelamatkan dir i, maka Pangeran telah membawa sekian banyak orang-orang yang tidak berarti untuk melindungi Pangeran. Tetapi seharusnya Pangeran dapat mengerti, bahwa usaha itu tidak akan berarti apa-apa. Jika Pangeran memaksa, maka berarti Pangeran akan membunuh sekian banyak anak-anak muda yang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak berkepentingan dengan pusaka dan harta karun itu” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menjawab. Kiai Kanthilah yang lelah menjawab “Ki Sanak“ Memang kami. orang-orang Lumban tidak berkepentingan dengan pusaka dan harta karun yang kalian buru dengan cara apapun juga itu. Tetapi kami tidak akan dapat tinggal diam melihat ketamakan yang membakar bukit yang kebetulan berada di daerah Lumban ini” “Siapakah kau?” bertanya Kiai Pusparuri. “Aku salah seorang dari penghuni Kabuyutan Lumban” jawab Kiai Kanthi. “Persetan“ geram Kiai Pusparuri “Kau sudah berdiri diambang liang kuburmu. Jangan ikut campur. Sikarang pertimbangkan baik-baik Pangeran. Kau menyerah tanpa korban seorangpun diantara orang-orang Lumban, atau kau akan membunuh sekian banyak orang dengan meminjam tangan kami sebelumakhirnya kau sendir i dapat aku tangkap” “Kiai” berkata Pangeran Sena Wasesa “dengarlah. Meskipun aku sudah ragu-ragu untuk melakukannya, tetapi sebaiknya kau mendengarkan barang sejenak Persoalan yang akan aku katakan, sudah didengar oleh Ki Ajar Pamotan Galih, karena iapun sedang memburu pusaka dan harta karun seperti yang kau maksud. Aku memang mengetahui dengan pasti pusaka dan harta karun itu. Kau t idak usah memaksa aku apalagi membunuh orang-orang Lumban, aku sudah akan member ikan keterangan kepadamu” Kiai Pusparur i berpaling kearah Ki Ajar Pamotan Galih Tetapi Ki Ajar itu tidak menghiraukannya. Ia masih saja berdiri tegak memandang anak-anak Lumban yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa itupun melanjutkan kata-katanya “Kiai. Aku tidak tahu, darimana Kiai mendengar tentang pusaka dan harta karun yang disimpan bagi kepentingan kebangkitan satu pemerintahan yang akan menggantikan kedudukan Majapahit. Akupun tidak tahu justru pada saat ini kalian mulai melakukan perburuan di bukit gundul ini” “Sudahlah Pangeran” potong Kiai Pusparuri “Kita tidak mempunyai waktu banyak untuk mendengarkan sebuah dongeng yang dapat menidurkan anak-anak seperti itu. Yang penting bagiku, menyerah sajalah. Atau. katakan dimana letak pusaka dan harta karun itu. Pusaka itu akan dapat member ikan satu kesempatan karena tuahnya untuk menjadi seorang pemimpin yang disegani, sementara harta kekayaan yang menyertainya akan menjadi pendukung satu usaha untuk mendapat kekuasaan” “Aku sudah menduga, bahwa setiap orang yang memburu pusaka dan harta itu adalah mereka yang menginginkan jabatan dan kekuasaan. Memang menarik sekali bagi setiap orang. Kedudukan dan kekuasaan” jawab Pangeran Sena Wasesa. Kemudian “Tetapi seperti yang sudah aku katakan kepada Ki Ajar Pamotan Galih, bahwa, kedudukan dan kekuasaan itu telah berada di tangan orang yang berhak. Aku sudah menyerahkan semuanya kepada Sultan di Demak. Akulah yang menunjukkan tempat penyimpanan pusaka dan harta benda itu, sementara Sultan telah mengutus beberapa orang petugas khusus untuk mengambilnya dengan rahasia” Tetapi Kiai Pusparur i tertawa berkepanjangan. Katanya kepada Ki Ajar Pamotan Galih “Kau percaya kepada dongeng itu?“ Tetapi wajah Ki Ajar itu seolah-olah telah menjadi kosong. Ia berpaling juga memandang Kiai Pusparur i. Ia menggeleng dan menjawab pertanyaan Kiai Pusparuri itu. Tetapi seolah- olah tidak ada lagi maksud dar i sikapnya. . “Nah” berkata Kiai Pusparur i yang tidak menghiraukan sikap Ki Ajar Pamotan Galih “Orang itu menggeleng. Ia juga menganggap yang Pangeran katakan sebagai satu dongeng. “Aku tidak berbohong Kiai” berkata Pangeran itu “Tetapi memang sulit untuk meyakinkan, apakah yang aku katakan ini benar. Tetapi baiklah. Jika kalian bersedia, aku akan membawa kalian, maksudku salah seorang yang akan mewakili seluruh padepokan Pusparuri untuk menghadap dan mendengar penjelasan dari Sultan sendiri. Atau jika kalian berkeberatan, aku akan membawa kalian ke tempat pusaka dan harta karun itu disimpan” “Semuanya disimpan di bukit gundul di daerah Sepasang Bukit Mati” potong Kiai Pusparuri “Sudah. Jangan berbelit-belit Pangeran. Jangan membuat aku kehabisan kesabaran” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam Rasa- rasanya memang sulit untuk menjelaskan, bahwa sudah terlambat untuk memburu pusaka dan harta yang menyertai pusaka itu. “Kiai” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku tidak mempunyai cara lain untuk mengatakannya. Tetapi itu adalah kenyataannya. Tidak ada saksi yang lebih pantas dipercaya selain Kangjeng Sultan” “Kau memang cerdik? Tetapi kau t idak semudah itu mengelabui aku Pangeran” berkata Kiai Pusparuri. Pangeran Sena Wasesa memandang wajah Kiai Pusparuri dengan tajamnya, sementara Kiai Pusparuri melanjutkan “Kangjeng Sultan tentu mempunyai penggraita yang tajam. Demikian aku menghadap, maka aku akan ditangkapnya. Seandainya tidak, maka Sultan tentu akan ingkar, karena yang dilakukan sebagaimana kau katakan, apabila itu benar, adalah sangat dirahasiakan. Apakah yang dirahasiakan itu akan dengan mudah dikatakan kepadaku, kepada orang yang tidak dikenalnya?“ “Aku dapat meyakinkannya, bahwa dengan mengatakan yang sebenarnya, akan terhindar pertumpahan darah yang tidak berarti” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Sudahlah” berkata Kiai Pusparuri “jika Pangeran ipgin membunuh anak-anak Lumban itu, baiklah. Kami akan dengan senang hati menolong Pangeran. Kemudian menurut perhitungan Pangeran, kamipun akan kehilangan sebagian dari. Kekuatan kami, sehingga Pangeran akan dengan mudah mem binasakan kami, sebelum Pangeran akan mengambil harta yang tidak ternilai harganya yang menyertai pusaka itu di bukit, gundul ini Pangeran kemudian akan memanfaatkan tuah pusaka itu untuk merebut kedudukan Sultan di Demak, dengan harta yang tidak ternilai itu. Pangeran juga menginginkan kedudukan dan kekuasaan” Pangeran Sena Wasesa menggeleng lemah. Tetapi ia sudah, kehilangan harapan untuk mengatasi benturan yang bakal terjadi. Hampir diluar sadarnya ia berpaling kepada Kiai Kanthi dan orang cacat yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning itu. “Nampaknya, orang-orang Pusparuri tidak melihat jalan lain” berkata orang cacat itu. “Ya. Kami tidak melihat jalan lain” jawab Kiai Pusparuri. “Baiklah. Tetapi aku masih ingin bertanya kepada Ki Ajar Pamotan Galih, apakah ia masih berminat untuk ikut serta memperebutkan pusaka dan harta benda itu” berkata orang cacat itu. Ki Ajar Pamotan Galih memandang orang cacat itu dengan tatapan mata yang redup. Katanya “Aku tidak mempunyai satu keinginann apapun lagi, kecuali membunuhmu” “Baiklah” berkata orang cacat itu “seharusnya kau sudah dapat mengukur dir imu sendiri. Kau tidak akan dapat melakukannya. Meskipun demikian, sebenarnya aku memang mempunyai satu kepentingan khusus denganmu. Meskipun kita tidak akan dapat melepaskan diri dar i suasana dalam keseluruhan per istiwa di bukit gundul ini “ Ajar Parnotan Galih menjadi tegang. Namun dalam pada itu, suasana itu telah dikoyah oleh suara tertawa. Orang yang duduk bersandar batu padas itupun tertawa sambil berkata “Sebenarnya aku senang mendengar kalian berbicara berkepanjangan. Aku masih sempat duduk sambil mengantuk. Tetapi semakin lama aku menjadi semakin jemu mendengar pembica-an yang tidak berujung pangkal. Bahkan mendengar kepentingan-kepentingan yang lain. Karena itu, jika kita ingin berkelahi mar ilah kita berkelahi. Aku sudah tidak kantuk lagi “ Orang itupun tiba-tiba telah bangkit. Sambil melangkah mendekat ia berkata “Jika kalian telah menghadapi lawan kalian masing-masing, biarlah aku melawan orang tua yang sakit-sakitan itu. Bersiaplah, aku akan mulai. Orang yang malas itu memang mempunyai sikap yang aneh. Sebelum seorangpun sempat menjawab, ia langsung mendekati Kiai Kanthi. Sambil bersikap ia berkata “Aku tidak peduli, apakah kau akan melawan atau tidak. Tetapi aku akan membunuhmu. Memang nasibmu terlalu buruk, bahwa kau adalah korban yang pertama. Mungkin tidak berniai berkelahi atau sekedar ikut-ikutan” Orang itu ternyata tidak menunggu jawaban. Seperti yang dikatakannya, maka t iba-tiba lapun telah menyerang Kiai Kanthi dengan dahsyatnya. “Orang itu benar-benar Gila“ geram Kiai Kanthi di dalam hatinya. Tetapi ia cukup berhati-hati. Karena itu, maka iapun sempat menghindari serangan yang pertama itu. Ternyata Kiai Pusparuri mempunyai sikap tersendiri. Ia justru tertawa melihat pemalas itu mulai menyerang lawannya Namun kemudian katanya “Aku setuju dengan pemalas itu. Kita sudah berdiri menghadapi lawan kita masing-masing. Aku memang memilih berhadapan dengan Pangeran agar aku dapat menangkap Pangeran hidup-hidup. Meskipun barangkali pada satu kesempatan nanti, orang-orangku akan beramai- ramai membantuku mengepung arena agar Pangeran tidak sempal melarikan diri, setelah anak-anak Lumban dibantai atas keinginan Pangeran” Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Ketika ia menebarkan tatapan matanya, maka dilihatnya orang-orang Pusparuri yang semula nampak tidak mengacuhkan kehadiran anak-anak Lumban itu, telah mulai bergerak. “Jadi kau tidak percaya kepada keteranganku?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Hanya orang-orang yang tidak sehat lagi akalnya akan mempercayainya” jawab Kiai Pusparur i. “Baiklah, Kiai” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku adalah seorang prajurit. Meskipun aku berhadapan dengan orang yang memiliki nama menggelarkan di tlatah Demak, tetapi aku tidak akan menyingkir dar i kewajiban ini” “Aku memang sudah menduga Pangeran” berkata Kiai Pusparuri “Pangeran akan bersikap sebagai seorang prajurit. Tetapi Pangeran saat ini bukan seorang Senopati perang yang memiliki pasukan segelar sepapan. Yang datang bersama Pangeran adalah anak-anak Lumban yang akan mati tanpa arti karena Pangeran ternyata seorang yang mementingkan diri sendiri” Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Ia melihat Kiai Kanthi yang benar-benar telah bertempur, sementara anak- anak Lumbanpun telah mulai bergeser pula, ketika Jlitheng dan kawan-kawannya yang dianggap oleh anak-anak muda Lumban memiliki ilmu melampaui kemampuan mereka telah bregerak pula. Bahkan merekalah yang telah memberikan tuntunan olah kanuragan kepada anak-anak muda itu. Jarak antara kedua belah pihakpun menjadi semakin dekat. Dalam pada itu, maka suasanapun menjadi semakin tegang pula. Dalam pada itu, orang-orang Pusparuri mulai menunjukkan sifat-sifat mereka. Beberapa orang yang berloncatan turun dari batu-batu padas berteriak sambil mengumpat kasar. Bahkan seorang yang berwajah panjang dengan jambang yang tebal berteriak “He, siapakah yang ingin aku bantai lebih dahulu? Sebenarnya aku kasihan melihat tikus-tikus kecil yang tidak bersalah. Tetapi kesombongan kalian membuat aku mual” Sebenarnyalah bahwa anak-anak Lumban itu menjadi berdebar-debar. Bahkan Nugatapun menjadi berdebar-debar juga sebagaimana sepuluh orang yang dianggap terbaik dari Lumban Wetan. Namun mereka sudah bertekad untuk membantu menyingkirkan, dan mungkin mereka memang harus bertindak lebih jauh lagi terhadap orang-orang Pusparuri itu. Beberapa orang anak Lumban mengikut i Jlitheng dan Rahu yang bergeser kesebelah sisi, sementara Semi dan kawannya ke sisi yang lain. Daruwerdi dan kedua pamannya berada di tengah, di belakang orang-orang tua yang mendapat lawannya masing-masing. Sementara Nugata dan anak-anak Lumban Kulon berada di belakangnya pula. Sejenak kemudian benturan kedua pasukan itu tidak lagi dapat dihindari. Orang-orang Pusparuri yang garang mulai menyerang anak-anak muda Lumban yang masih belum berpengalaman. Namun mereka sudah bersiap menghadapi kemungkinan itu. Sebagaimana yang dipesankan, maka mereka menghadapi tawannya dengan berpasangan. Jumlah mereka cukup banyak untuk melawan orang-orang Pusparuri. Orang yang berwajah panjang dan berjambang tebal tiba-tiba saja telah berhadapan dengan dua orang anak muda yang siap mengacungkari pedangnya. Orang berwajah panjang itu berhenti. Kemudian terdengar orang itu tertawa. Katanya “Lucu sekali. Kau berdua ingin melawan aku, he?“ Kedua anak muda Lumban itu tidak menjawab. Seorang diantara mereka telah menjulurkan senjatanya, sementara yang lain bergeser menyamping. Namun kedua anak muda itu terkejut, ketika tiba-tiba saja orang berwajah panjang itu menghentak sambil memutar senjatanya. Sebatang tongkat baja. Hampir berbareng kedua anak-anak muda itu meloncat menjauh beberapa langkah dengan tergesa-gesa. Sekali lagi terdengar suara tertawa orang itu meledak. Tetapi orang itu tidak memburu salah seorang dari kedua orang anak Lumban yang meloncat berpencar itu. Seperti menakuti anak-anak orang itu kemudian bergeser sambil berdesis “Ayo, siapa mati lebih dahulu” Kedua anak-anak Lumban itu menjadi ragu-ragu Sementara pertempuranpun telah berkobar semakin merata di kaki bukit gundul itu. Namun tiba-tiba saja kedua anak Lumban itu terkejut, ketika Jlitheng hadir diantara mereka. Katanya “Orang ini agak lain dan kawan-kawannya. Carilah lawan yang lain Aku akan melawan orang ini” Orang berwajah panjang itu mengerutkan keningnya, la memang melihat anak muda yang baru ini mempunyai kelainan dari kedua kawannya yang terdahulu. Karena itu, maka orang berwajah panjang itu menjadi semakin berhati-hati. “Kau terlalu sombong untuk menempatkan diri sebagai lawanku anak muda“ berkata orang berwajah panjang itu. “Tetapi itu lebih baik daripada kau melawan anak-anak Lumban. Mungkin aku memiliki pengalaman lebih baik dari mereka sehingga aku akan dapat melayanimu bermain dengan senjata” Orang berwajah panjang itu mengangguk-angguk. Katanya “Bagus. Tetapi berhati-hatilah. Aku tidak mempunyai pilihan lain daripada membunuh semua orang yang menempatkan dirinya sebagai Iawanku” “Kita berpendirian sama. Akupun akan membunuh semua orang yang tidak menghindar dari hadapanku. Karena kau tidak menghindar atau memanggil orang lain untuk membantumu, maka salahmu sendir i jika kau mati sebelum pertempuran ini merata” jawab Jlitheng. Ternyata kemarahan orang itu tidak dapat tertahankan lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang. Bukan sekedar mengejutkan sebagaimana dilakukan atas anak-anak Lumban. Tetapi orang itu benar-benar menyapu mendatar dengan senjatanya. Tongkat baja itu berdesing diatas kepala Jlitheng yang merendah. Namun Jlitheng segera meloncat surut. Pedang tipisnya telah beracu lurus siap melawan tongkat baja itu. Pertempuranpun menjadi kian cepat. Orang bertongkat baja itu menyerang dengan garang, sementara Jlitheng dengan cepat mengimbanginya. Pedang tipis itu di tangan Jlitheng merupakan senjata yang menger ikan. Pada saat-saat lampau, Jlitheng pernah mempergunakan senjata lentur. Pernah mempergunakan golok yang besar dan berat. Bahkan senjata bertangkai panjang. Namun akhirnya, setelah ia menerima pedang tipis itu. seakan-akan kemampuannyapun menjadi semakin meningkat. Ia mampu bergerak dengan cepat. Namun meskipun pedangnya itu tipis dan ringan, namun dalam benturan yang kuat sekalipun, pedangnya tidak akan patah, meskipun melawan tongkat baja yang di dalam genggaman lawannya itu. Orang berwajah panjang itu mengumpat. Ternyata anak muda yang disangkanya juga anak Lumban itu memiliki iimu yan tinggi, yang justru mamu mengimbanginya. Dalam pada itu, dibagian laimun pertempuran sudah menyala, Rahu ternyata sempat membebaskan diri dari seorang lawan yang dapat mengikatnya. Ia sempat bergeser dari satu lingkaran pertempuran ke lingkaran pertempuran yang lain Jika ia melihat anak-anak Lumban yang terdesak, meskipun sudah bertempur berpasangan, maka ia berusaha untuk menolongnya. Dalam pada itu, ketika Rahu bertempur beberapa langkah disebelahnya, Jlitheng sempat berkata “Aku akan menyelesaikan serigala ini. Baru akan aku melihat, apakah benar orang-orang Pusparuri itu memiliki kelebihan seperti yang didengar oleh banyak orang” Orang berwajah panjang itu menggeram. Dihentakkannya ilmunya untuk mengakhir i perkelahian itu dengan, cepat. Namun ternyata lawannya memiliki bekal yang cukup untuk melawannya. Sebenarnyalah orang-orang Pusparuri adalah orang-orang yang garang. Meskipun Jlitheng sudah berpesan agar anak- anak muda Lumban bertempur berpasangan, namun ternyata menghadapi orang-orang Pusparur i, anak-anak Lumban itu merasa terlalu berat. Pada benturan pertama anak-anak Lumban sudah terdesak. Sehingga betapapun juga jantung mereka menjadi berdebaran. Untunglah bahwa jumlah anak-anak Lumban cukup banyak, sehingga dalam keadaan terdesak, maka mereka dapat bergabung dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang atau lebih. Meskipun demikian, namun orang-orang Pusparuri itu merasa bahwa mereka telah mendapatkan permainan yang mengasikkan. “Pembantaian yang menyenangkan” berkata seorang yang berjambang panjang “kematian demi kematian akan susul menyusul. Adalah satu kesombongan yang tidak dapat dimaafkan dari anak-anak Lumban bahwa kalian telah ikut campur” Ternyata bahwa satu dua orang anak muda merasa ngeri menghadapi kenyataan itu. Jika semula hatinya membengkak karena jiwa pengabdian mereka, namun akhirnya hati itu telah menguncup oleh kecemasan dan bahkan ketakutan. Sekali-sekali terdengar orang-orang Pusparuri itu tertawa. Mengumpat dan bahkan seolah-olah sedang bermain-main. Namun dalam pada itu, ternyata bahwa di dalam lingkungan anak-anak Lumban terdapat juga orang-orang yang mengejutkan lawan mereka. Pada ayunan pedangnya yang pertama, Daruwerdi telah mendesak lawannya. Lawannya, saleh seorang kepercayaan Kiai Purparuri yang mendendamnya, telah berusaha untuk dapat berhadapan langsung dengan anak muda itu. “Kau ternyata pembual yang paling gila, Daruwerdi” berkata Laksita. “Persetan“ geram Daruwerdi “Aku sudah mengatakan, bahwa aku tidak pernah terikat oleh kelompok yang manapun juga” “Kau masih juga membual” bentak Laksita “Kau kira kami tidak tahu, apa yang telah terjadi dengan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih? Setelah mereka saling menghancurkan, maka kau suguhi mereka dengan kepalsuan itu” “Mereka adalah orang-orang tamak dan bodoh” berkata Daruwerdi. “Tetapi kau tidak dapat berbuat demikian dengan kami” berkata Laksita “Kami akan menangkap Pangeran itu hidup- hidup. Tetapi hanya Pangeran itu saja. Bukan kau dan bukan yang lain. Semuanya akan kami bantai di bukit gundul ini, melengkapi kematian orang-orang Sanggar Gading dan orang- orang Kendali Putih” Tetapi Daruwerdi menjawab “Kau salah Laksita. Kami bukan orang yang tidak mempunyai perhitungan” “O“ Laksita tertawa “Kau bawa anak-anak itu kemari dengan perhitungan yang masak? Alangkah cermatnya perhitunganmu, atau mungkin perhitungan Pangeran Sena Wasesa. Jangan menyebut kami tidak berper i-kemanusiaan jika mereka akan menjadi bangkai di kaki bukit ini sebagaimana tebangan batang ilalang” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya ia mengedarkan pandangan matanya keseluruh medan yang sudah menjadi semakin riuh. Pedang beradu pedang, tombak dan perisai saling berbenturan. Sebenarnyalah anak-anak Lumban yang berhadapan dengan orang-orang Pusparuri dalam jumlah yang cukup, memang agak mendebarkan jantung. Namun demikian, dalam pasangan-pasangan ternyata bahwa anak-anak Lumban untuk sementara akan dapat bertahan. “Jika kami dapat menyelesaikan orang-orang Pusparur i ini lebih dahulu dari daya tahan anak-anak Lumban, maka kami akan berhasil” berkata Daruwerdi di dalamhatinya Sebenarnyalah, bahwa Daruwerdi memang pernah membunuh dua orang Kendali Putih dalam satu perkelahian. Sementara kedua orang itu telah mengalahkan dan bahkan membunuh salah seorang kepercayaan Kiai Pusparuri. Berdasarkan atas perhitungan itu, maka Daruwerdi yakin, bahwa ia akan dapat segera menyelesaikan orang Pusparuri itu. Yang bertempur dibagian lain adalah kedua orang paman Daruwerdi. Ternyata mereka memiliki kemampuan untuk bertempur seorang melawan seorang. Sehingga dengan demikian, maka keduanya telah terikat dalam pertempuran yang semakin sengit. Semi dan kawannya berusaha untuk tidak terikat dalam satu perkelahian yang tidak memungkinkan lagi mereka bergerak. Kedua orang itu berloncatan dari satu lingkaran pertempuran ke lingkaran pertempuran yang lain sebagaimana dilakukan oleh Rahu. Ternyata bahwa dengan demikian, keduanya selalu berhasil menggagalkan setiap usaha orang- orang Pusparuri untuk mengakhir i perlawanan anak-anak Lumban. Namun pada suatu saat Semi tidak lagi dapat meninggalkan lawannya yang berhasil melibatnya dalam pertempuran yang sengit Ternyata orang itu adalah kepercayaan Kiai Pusparuri yang seorang lagi. Sentika. “Apakah kau juga anak Lumban?“ bertanya kepercayaan Kiai Pusparuri. “Ya” jawab Semi. Tetapi kepercayaan Kiai Pusparuri itu tertawa. Katanya “Jangan menganggap aku terlalu bodoh” “Tidak. Aku sudah tahu, bahwa pertanyaanmu itu tidak bermakna, karena kau sudah menyimpan jawaban di dalam hatimu” desis Semi. “Anak iblis “Orang itu mengumpat. Lalu “Siapa kau sebenarnya“ Pertanyaan itupun tidak berarti. Aku kira kau benar-benar tidak terlalu bodoh seperti yang kau katakan. Tetapi dengan pertanyaan itu, ternyata kau benar-benar seorang yang bodoh” Kemarahan telah menghentak didada kepercayaan Kiai Pusparuri itu, sehingga iapun kemudian menyerang semakin garang. Tetapi Semi sudah siap menghadapinya, Ia memiliki kemampuan seimbang dengan Daruwerdi. Karena itu, maka iapun telah siap untuk melawan kepercayaan Kiai Pusparuri. meskipun dengan demikian ia akan terikat pada satu lawan. Namun kawan Semi masih tetap bertempur dengan caranya. Kiai Pusparuri masih sempat memperhatikan pertempuran itu. Sambil tersenyum ia berkata “Kau benar-benar seorang yang kejam Pangeran. Kau libatkan anak-anak Lumban yang tidak tahu arti dari persoalan ini” “Kau dapat berkata apa saja. Tetapi apakah kau berkata seperti itu juga kepada dir imu sendiri? Apakah kau dapat berkata kepada dirimu, bahwa akulah yang telah membunuh anak-anak Lumban itu?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Kenapa tidak” jawab Kiai Pusparuri “justru kaulah yang harus menilai sikapmu itu. Kau jangan berusaha membohongi dirimu sendir i” Pangeran Sena Wasesa tidak menyahut lagi. Kedua orang itu sudah yakin bahwa mereka harus berjuang untuk mempertahankan sikap masing-masing. Namun agaknya Kiai Pusparur i terlalu yakin untuk dapat menguasai Pangeran Sena Wasesa. Ia sadar, bahwa Pangeran Sena Wasesa adalah seorang Senopati perang. Tetapi menurut penilaian Kiai Pusparur i, Pangeran itu adalah seorang ahli dalam perang gelar, dalam perang menurut tata keprajuritan. Tetapi kemampuan secara pribadi, serta ilmu kanuragan dan kesaktian, ia merasa memiliki bekal lebih banyak. Tetapi kedua orang yang memiliki ilmu yang mapan itu tidak dengan serta merta mengungkap segala kemampuan dan kekuatan mereka. Bagaimanapun juga, mereka merasa perlu untuk saling menjajagi. Langkah- langkah pertama kedua orang itu hanyalah sekedar saling melihat, apa yang akan dilakukan oleh masing-masing pihak. Yang mempunyai sikap yang lain lagi adalah orang tua cacat yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning. Ia berdiri menghadapi Ki Ajar Pamotan Galih yang seolah-olah telah kehilangan segala macam minat dan kehendak untuk berbuat sesuatu. “Kenapa kau masih diam saja?“ bertanya Ajar Cinde Kuning. Ki Ajar Pamotan Galih memandang Ki Ajar Cinde Kuning dengan pandangan kosong. Kemudian katanya “Kau merasa bahwa kau memiliki kelebihan dari aku. Aku sadar, bahwa kau tentu akan memburu aku kemari. Tetapi kau sudah melibatkan orang-orang yang tidak tahu menahu dalam persoalan ini” “Bukan maksudku” jawab orang cacat itu “Tetapi mereka merasa bertanggung jawab atas peradaban yang berlaku di daerah mereka. Mereka tidak mau melihat ketamakan, kedengkian dan apalagi tindakan sewenang-wenang” “Siapa yang berbuat sewenang-wenang disini? Aku t idak melihat orang-orang Pusparuri itu berbuat sesuatu atas orang- orang Lumban. Apakah kediaman mereka itu dapat kau sebut dengan sewenang-wenang?“ bertanya Ki Ajar Pamotan Galih “Jangan berpura-pura tidak tahu. Bukankah mereka memburu pusaka dan harta karun itu, sehingga mereka akan mengorbankan Pangeran Sena Wasesa yang mereka sangka mengetahui serba sedikit tentang pusaka dan harta karun itu? Bukankah itu suatu sikap sewenang-wenang dan tidak berperikemanusiaan? Tetapi lebih dari itu, orang-orang Lumban merasa wajib menghancurkan orang-orang Pusparuri sebagaimana mereka menghancurkan orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading, karena kelompok- kelompok itu adalah kelompok-kelompok yang dapat menghancurkan kemanusiaan dan peradaban yang sudah dibangin di daerah Lumban ini. Ki Ajar Pamotan Galih mengerutkan keningnya. Dipandanginya tanah yang terhampar disekitar bukit gundul itu. Sambil menar ik nafas dalam-dalam ia bertanya “Kenapa kau datang kemari. Apakah kau hanya sekedar ingin memburuku, atau karena kau juga mempunyai kepentingan - dengan bukit gundul ini” “Aku tidak mempunyai kepentingan dengan bukit gundul ini” jawab orang cacat itu “Jika yang kau maksud adalah pusaka dan harta benda, maka Pangeran Sena Wasesa sudah member itahukan, bahwa sebenarnya pusaka dan harta benda itu sudah diserahkannya ke Demak. Dan aku percaya kepada kata-katanya itu. Karena itulah, maka kedatanganku semata- mata karena aku ingin bertemu dengan kau. Karena aku yakin bahwa kau berada di tempat ini” “Kenapa kau yakin akan berada disini?“ bertanya Ajar Pamotan Galih, “Hatimu sudah dirampas oleh bukit gundul ini” jawab orang cacat itu “karena itu, dalam gairah nafsumu yang menyala, kau terikat kepada bukit ini. Tetapi dalam keadaan berputus- asapun kau terikat kepada bukit ini pula. Mukt i atau mati, jiwamu kau serahkan kepada bukit gundul yang ternyata tidak seperti yang kau duga sebelumnya” Ki Ajar Pamotan Galih menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau benar Ki Sanak. Mukti atau mati, aku akan berada di bukit ini. Meskipun aku tahu, bukit ini milik anak-anak Lumban” “Nah, bukankah kau mengakui, bahwa kehadiran anak- anak Lumban bukan karena mereka sekedar diperalat oleh orang lain. Tetapi mereka memang mempunyai tanggung jawab?“ desak Ki Ajar Cinde Kuning. Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Sementara itu, orang cacat itupun kemudian berkata lebih jauh “Ki Ajar Pamotan Galih. Marilah kita serahkan segala persoalan antara orang-orang Lumban yang dibantu oleh beberapa orang yang patut dipercaya itu menyelesaikan masalah ysng mereka hadapi. Atau, mungkin kau ingin menyebut sebaliknya. Pangeran Sena Wasesa yang dibantu oleh orang-orang Lumban menghadapi orang-orang Pusparuri. Sementara itu kita menyelesaikan persoalan yang kita hadapi berdua. “Persoalan apa?“ bertanya Ki Ajar Pamotan Galih “Kau tersinggung karena aku melarikan diri, atau karena persoalan lain? Aku yakin, bahwa kaupun mempunyai sangkut paut dengan Pangeran Sena Wasesa, karena kau telah berusaha membebaskannya, justru pada saat ia sudah jatuh ke tanganku” “Aku mempunyai kepentingan denganmu” jawab orang cacat itu. “Kau masih mendendam dan ingin membunuhku?“ bertanya Ajar Pamotan Galih. “Jangan terlalu jauh berangan-angan” jawab orang cacat itu “Tetapi barangkali akan mempunyai sebuah ceritera yang menarik untuk kau dengar” Wajah kosong Ki Ajar terlempar ke arena disekitarnya. Kemudian katanya “Kau gila. Dalam keadaan seperti ini kau masih sempat membual?“ “Satu ceritera yang sangat penting bagimu” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Lalu “Suatu ceritera yang akan dapat member ikan pemecahan dan barangkali satu menyelesaian yang baik bagi teka-teka yang selama ini kau buat diantara orang-orang yang bertualang didunia kanuragan” Ki Ajar Pamotan Galih memandang orang cacat itu dengan wajah yang menegang. Dengan nada datar ia kemudian bertanya “Kau merasa dirimu dapat menguasai dunia petualangan?“ “Setidak-tidaknya bagi dirimu sendiri. Petualanganmu yang mendekati saat-saat keputus-asaan ini” jawab orang cacat itu. Nampaknya Ki Ajar Pamotan Galih mulai tertarik juga kepada keterangan orang cacat itu. Pada saat-saat ia kehilangan semua yang pernah diimpikannya, orang yang tidak dikenalnya itu datang dengan membawa satu masalah baru baginya. Namun sementara itu, Ki Ajar Pamotan Galih masih sempat menebarkan pandangan matanya. Ia melihat pertempuran menebar disekitar bukit gundul itu. Anak-anak muda Lumban bertempur dalam pasangan-pasangan dan bergerombol dalam beberapa lingkaran arena pertempuran. Sementara itu, beberapa orang telah bertempur dengan sengitnya, seorang melawan seorang. Jlitheng masih bertempur dengan orang berwajah panjang. Ternyata dengan ilmu yang kasar dan keras, orang berwajah panjang itu memang memiliki kelebihan dalam olah kanuragan. Tetapi untunglah, bahwa Jlitheng dengan cepat menempatkan diri sebagai lawannya, sehingga orang itu tidak sempat melakukan pembantaian atas anak-anak muda Lumban. Namun dalam pada itu, Jlitheng yang bertempur dengan mapan, ternyata masih mempunyai harapan untuk mengatasi lawannya. Selama ia berada di bukit gundul sambil menempa diri dan bahkan pemberian pedang tipis itu, telah membuatnya menjadi seorang anak muda yang kuat lahir dan batin. Karena itulah, maka ketika ia bertemu dengan seorang dari lingkungan orang-orang Pusparuri yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya, ia masih sempat menahan kekerasan dan kekasarannya. Di tempat lain, Daruwerdi harus bertempur dengan seorang dari dua orang kepercayaan Kiai Pusparuri. Orang yang sebenarnya dengan licik melibatkan diri dengan satu keinginan bagi kepentingan diri sendiri. “Kau harus menebus bualanmu dengan nyawamu” berkata Laksita. Tetapi Daruwerdi justru menyerangnya dengan semakin garang. Namun Daruwerdi sempat juga berkata “Kalianlah yang akan ditelan oleh ketamakan kalian. Kalian telah tertipu oleh angan-angan yang gila tentang pusaka dan harta benda” Laksita tertawa. Katanya “Kau tidak perlu berkata seperti itu sekarang. Kami sudah tahu semuanya dengan gamblang. Karena itu, kami ingin menangkap Pangeran Sena Wasesa itu hidup-hidup“ Daruwerdi tidak menjawab. Serangannya tiba-tiba menjadi semakin deras. Datang beruntun seperti banjir bandang. Ternyata kepercayaan Kiai Pusparuri itu bukan orang yang lebih baik dari orang berwajah panjang dalam olah kanuragan. Agaknya Laksita memiliki kelebihan untuk mendekatkan diri kepada Kiai Pusparuri. Tetapi dalam olah kanuragan, ia segera merasa betapa beratnya tekanan ilmu Daruwerdi. Yang bertempur di tempat lain adalah Semi melawan kepercayaan Kiai Pusparuri yang lain, Sentika. Seperti Laksita, ia mula-mula merasa memiliki kelebihan untuk melawan orang-orang yang datang ke bukit gundul itu. Tetapi ternyata orang yang menyebut dirinya Semi itu memiliki kemampuan yang tidak teratasi. Namun dalam pada itu, kekasaran orang-orang Pusparuri memang membuat anak-anak muda Lumban menjadi ngeri. Nugata yang bertempur diantara kawan-kawannyapun merasakan betapa kawan-kawannya dicengkam oleh perasaan cemas menghadapi lawan-lawan mereka meskipun mereka bertempur berpasangan. Sementara sepuluh orang anak muda terbaik di Lumban Wetanpun menjadi semakin lama semakin berdebar-debar menghadapi kenyataan yang kurang dimengerti sebelumnya. Apalagi kawan-kawannya yang lain. Satu dua orang, bahkan rasa-rasanya telah menjadi berputus asa dan kehilangan keberanian untuk berbuat sesuatu. Namun dalam keadaan yang demikian terdengar suara Rahu diantara anak-anak muda itu “Jangan menyerah kepada cara yang licik dan kasar, bahkan buas dan liar. Jika kalian tidak ingin dibantai dan dicincang di bukit gundul ini. kalian harus berusaha melindungi dir i kalian masing-masing, hanya mereka yang ingin membunuh dir i sajalah yang kehilangan keberanian untuk melindungi dir i masing-masing” Suara Rahu ternyata bagaikan mengumandang memantul pada dinding-dinding bukit. Anak-anak muda Lumban yang mulai dirayapi oleh kengerian tiba-tiba menjadi sadar, bahwa kelemahan jiwani akan justru semakin mempercepat kehancuran mereka sendiri. Sementara itu, di ujung lain terdengar suara kawan Semi yang bertempur dengan garangnya “Anak-anak Lumban. Yakinlah akan dir i kalian masing-masing, bahwa kalian mempunyai kelebihan. Setidak-tidaknya jumlah kalian jauh lebih banyak. Yang kalian hadapi adalah orang-orang yang hanya mampu berbuat kasar. Tetapi tidak mampu bertempur dalam arti yang sebenarnya. Rasa-rasanya anak-anak Lumban yang hampir menjadi kehilangan akal melihat sikap lawannya, telah dijangkiti lagi dengan tekad yang sejak semula mendorong mereka datang ke bukit gundul itu. Karena itu, maka perlawanan merekapun kemudian menjadi semakin mantap. Orang-orang Pusparuri mengumpat dengan kasarnya. Beberapa orang justru telah berteriak-teriak mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak pantas. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa satu dua anak-anak muda Lumban mulai dibasahi dengan darah. Orang-orang Pusparuri itu dengan sengaja telah menunjukkan betapa mereka dapat berbuat apa saja tanpa batas perasaan sama sekali. Rahu menjadi cemas. Tetapi ia harus berbuat sesuatu. Ia melihat darah mulai menitik dari tubuh anak-anak Lumban Karena itu, ia harus membangkitkan keberanian anak-anak itu dengan cara yang sama. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah melihat seorang pengikut Kiai Pusparur i seperti angin pusaran. Dengan segenap kemampuan yang ada padanya ia menyerang tanpa member i kesempatan kepada lawannya untuk mempertahankan diri. Orang Pusparuri itu sama sekali tidak menduga, bahwa ternyata lawannya memiliki kemampuan yang tidak terlawan. Namun tidak ada jalan untuk menyelamatkan dir i. Senjata Rahu seakan-akan telah memburunya kemana ia pergi. Akhirnya, anak-anak muda Lumban mendengar orang itu mengaduh tertahan. Senjata Rahu benar-benar telah melukainya. Menyilang didada. Orang itu terlempar beberapa langkah surut. Kemudian terjatuh menelentang. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit, tetapi luka itu terasa terlalu pedih sementara darah mengalir bagaikan terperas dari jantungnya. Orang Pusparuri itu terjatuh lagi. Yang dapat dilakukannya kemudian adalah merangkak menepi. Mengambil obat dari kantong ikat pinggangnya dan mencoba mengurangi arus darahnya yang mengalir dari lukanya. Rahu tidak memburunya. Ia tidak ingin membunuh orang yang sudah tidak berdaya, karena ia harus melawan orang lain yang tiba-tiba saja telah menyerangnya. Tetapi Rahu sudah siap. Ia ingin menunjukkan kepada dapi lawan-lawannya. Orang-orang Pusparuri bukan hantu anak- anak muda Lumban yang mulai merasa nger i menghadang tidak terkalahkan. Sekali lagi Rahu menghentakkan segenap kemampuannya yang ada padanya. Sekali lagi lawannya terlempar dengan luka menganga di lambungnya. Anak-anak muda Lumban yang sempat melihat kemenangan-kemenangan itupun menjadi berbesar hati. Meskipun ada diantara mereka yang telah menitikkan darah, tetapi ternyata bahwa orang-orang Pusparuri itupun dapat dilukai oleh salah seorang dari lingkungannya. Dibagian lain kawan Semipun berbuat serupa. Anak-anak muda Lumban yang menjadi cemas, bahwa Semi tidak segera dapat mengatasi lawannya, sementara mereka menganggap bahwa Semi adalah orang yang memiliki kelebihan jauh diatas kemampuan mereka. Namun mereka tidak mengetahui, bahwa lawan Semi adalah salah seorang kepercayaan Kiai Pusparuri. Sehingga dengan demikian, maka lawan Semi itupun memiliki kelebihan dari kawan-kawan mereka. Untuk mengatasi kegelisahan itulah, maka kawan Semipun telah bertempur dengan segenap kemampuannya. Ketika ia berhasil melukai seorang lawannya, maka anak-anak muda Lumbanpun mulai melihat, bahwa mereka masih mempunyai kesempatan. Karena itu, maka anak-anak muda Lumban yang hampir saja kehilangan keberanian mereka untuk bertempur terus, telah bangkit kembali setelah mereka melihat, bukan saja anak-anak Lumban yang telah terluka. Tetapi orang-orang Pusparuripun telah meneteskan darah pula. Apalagi ketika salah seorang anak muda Lumban yang bertempur bersama dua orang kawannya, tiba-tiba saja telah berhasil menggoreskan senjatanya ketubuh lawan sehingga lawannya itupun telah terluka dan tidak banyak dapat memberikan perlawanan. Hanya karena seorang kawannya berhasil membantu dan menolongnya, maka orang Pusparur i itu sempat melepaskan dir i dar i maut Yang bertempur diluar kemampuan pengamatan anak-anak muda Lumban adalah Kiai Kanthi. Kawannya ternyata juga seorang yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Orang malas itu, dalam pertempuran yang seru ternyata telah mampu mengejutkan Kiai Kanthi dengan kekuatannya yang sangat besar. Ayunan senjatanya yang aneh, yang tiba-tiba saja telah berada di dalam genggaman telah mengejutkan Kiai Kanthi. Tongkat-tongkat baja yang tidak begitu panjang dikedua tangannya. Semula Kiai Kanthi menduga, bahwa kedua tongkat itu dihubungkan dengan seutas rantai Tetapi ternyata kedua tongkat itu terlepas satu sama lain. Kiai Kanthi yang menyadari, betapa dahsyatnya kemampuan lawannya, tidak dapat melawan dengan tangannya. Kekuatan orang itu akan dapat menghancurkan lengannya, jika senjatanya itu mengenainya. Karena itu, maka Kiai Kanthipun segera menarik senjatanya pula. Senjata yang juga tidak cukup panjang dan yang selalu terselip di bawah kain panjangnya. Dengan sebilah luwuk yang tidak terlalu panjang Kiai Kanthi melawan sepasang tongkat baja di kedua tangan lawannya. Namun ternyata bahwa luwuk itu di tangan Kiai Kanthi benar- benar merupakan senjata yang sangat berbahaya. Luwuk itu seolah-olah telah berterbangan disekitar tubuh pemalas yang memiliki ilmu yang tinggi itu. Namun dalam pada itu, dalam pertempuran yang semakin sengit, ternyata bahwa pemalas itu masih belum mampu mengimbangi ilmu Kiai Kanthi ketika Kiai Kanthi sampai kepuncak kemampuannya. Ternyata orang tua dari lereng bukit berhutan itu benar-benar memiliki ilmu yang mengagumkan. Dalam keadaan terdesak, pemalas itu telah menghentakkan kemampuannya. Dengan teriakan nyaring ia berusaha untuk menyerang. Sambil memutar kedua batang tongkatnya, maka dengan kekuatan getar suaranya ia berusaha untuk mempengaruhi per lawanan Kiai Kanthi. Tetapi Kiai Kanthi cukup memahami cara yang ditempuh Sawannya. Bahkan tiba-tiba saja Kiai Kanthi itu telah tertawa. Suaranya tidak begitu keras. Tetapi suaranya itu telah menenggelamkan teriakan-teriakan lawannya yang menggelegar seperti guntur. Anak-anak Lumban yang mendengar teriakan lawan Kiai Kanthi itu telah tergetar seluruh isi dada mereka. Seolah-olah bukit gundul itupun telah terguncang. Namun dengan benturan suara yang terjadi, maka teriakan-teriakan itu tidak lagi mampu mengguncang jantung anak-anak muda Lumban. Suara tertawa Kiai Kanthi yang tidak begitu keras, telah menjadi perisai dari getaran-getaran yang terlontar dari teriakan-teriakan kasar pemalas yang bertempur melawan Kiai Kanthi itu. Bahkan sejenak kemudian, Kiai Kanthipun mulai dengan sungguh-sungguh menekan lawannya, ketika ia melihat bahwa anak-anak Lumban benar-benar dalam keadaan bahaya. Dengan sungguh-sungguh Kiai Kanthi mulai membatasi gerak lawannya. Sebelum anak-anak Lumban benar-benar mengalami bencana, maka ia harus sudah dapat membebaskan dir i dar i lawannya yang kasar itu. Untunglah bahwa Rahu dan kawan Semi mampu membangkitkan gejolak perjuangan yang semakin mantap diantara anak-anak muda Lumban. Namun kegarangan orang- orang Pusparuripun menjadi semakin menggila. Mereka dengan sengaja berusaha menakut-nakuti anak- anak muda Lumban. Bagaimanapun juga, anak-anak muda itu akan ikut menentukan akhir dari pertempuran itu. Namun dalam pada itu, Kiai Kanthi benar-benar telah berhasil menguasai Kiai Benda, pemalas yang berada di dalam lingkungan orang-orang Pusparuri. Sebenarnya ia memiliki ilmu yang melampaui orang-orang kepercayaan Kiai Pusparuri, tetapi karena sifatnya yang malas dan menurut i kehendak sendiri, maka ia tidak banyak mendapat kesempatan. Meskipun demikian orang itu tetap berada di lingkungan orang-orang Pusparuri, karena Kiai Pusparuri tidak banyak menegurnya dan membiarkannya berbuat sesuka hati. Sebenarnyalah Kiai Pusparuri berharap, aga pemalas itu segera dapat menyelesaikan lawannya, karena Kiai Pusparuri tahu, bahwa orang itu memiliki ilmu yang tinggi. Namun berhadapan dengan Kiai Kanthi, maka justru pemalas itulah yang telah terdesak dan bahkan seolah-olah telah kehilangan kesempatan untuk mempertahankan dir i. Kiai Pusparuri sendiri yang bertempur melawan Pangeran Sena Wasesa melihat, betapa pemalas itu selalu terdesak. Karena itu, maka dalam keadaan yang gawat itu, ia tidak dapat membiarkan dan memanjakannya. Dengan geram Kiai Pusparuri berteriak “He, pemalas dungu. Apa yang kau kerjakan he? Tidur? Lawanmu, orang tua sakit-sakitan itu sudah waktunya untuk diselesaikan” Tetapi jawab pemalas itu membuatnya berdebar-debar “Aku tidak dapat melakukannya. Orang itu memiliki ilmu yang tinggi. Justru akulah yang sudah terdesak sekarang ini” “Pemalas Gila“ geram Kiai Pusparur i “Jika demikian, sebentar lagi kau akan dibantai oleh orang tua sakit-sakitan itu” “Aku akan melawan. Tetapi jika aku tidak mampu, apaboleh buat” jawab Kiai Benda. Kiai Pusparuri mengumpat kasar. Tetapi sebenanrnyalah ia melihat pemalas itu selalu terdesak. Semakin lama nampak semakin sulit, karena sebenarnyalah Kiai Kanthi adalah seorang yang memiliki ilmu yang sulit dicari bandingnya. Tetapi Kiai Benda ternyata tidak semalas yang diduga dalam menghadapi kesulitan yang paling gawat. Ia tidak segera menyerah kepada keadaan dan membiarkan dir inya digilas oleh lawannya. Namun ia telah berjuang dengan segenap kemampuan yang ada padanya pada tingkat ilmunya yang tertinggi. Namun bagaimanapun juga, ia tidak dapat berbuat banyak. Luwuk di tangan Kiai Kanthi itu telah meraba kulitnya. Betapapun ia melawan dengan tongkat bajanya, namun luwuk itu seolah-olah memiliki ketajaman penglihatan untuk menyusup disela-sela per lahannya. “Setan alas” geram pemalas itu. Namun ia tidak kuasa membendung ujung senjata Kiai Kanthi. Ketika sekali lagi ujung luwuk itu menggores kulitnya, pemalas itu berteriak kasar sambil meloncat mundur. Tetapi Kiai Kanthi ternyata benar-benar tidak mau melepaskannya. Dengan cepat. Kiai Kanthipun meloncat memburu sambil menyerang. Ia tidak mau terlambat membantu anak-anak Lumban yang mengalami kesulitan. Tidak ada jalan untuk melepaskan diri dari libatan ilmu Kiai Kanthi. Getaran ilmu yang dilontarkan lewat suaranya ternyata tidak dapat menahan Kiai Kanthi. Bahkan ujung luwuk Kiai Kanthi telah menyayat kulitnya dan darahpun mengalir dari lukanya. Hentakan-hentakan terakhir dari pemalas itu, justru bagaikan memeras darahnya lewat luka-luka di kulitnya. Semakin banyak darah yang mengalir, maka tubuhnyapun menjadi semakin lemah. Sehingga karena itu, maka serangan- serangan Kiai Kanthi berikutnya semakin banyak yang mengenainya. Kiai Kanthipun menyadari, bahwa lawannya sudah tidak terlalu berbahaya lagi. Namun demikian, ia tidak ingin menyesal dengan meninggalkannya, karena iblis pemalas itu akan dapat berbuat sesuatu diluar dugaan. Karena itulah, maka Kiai Kanthi masih meloncat menjulurkan senjatanya ketika pemalas itu berusaha menghindar dari pertempuran. Ternyata senjata Kiai Kanthi itu menyusup diantara tulang- tulang iganya. Memang tidak terlalu dalam dan tidak menggapai jantung di dalam dadanya. Tetapi luka itu membuatnya kehilangan keseimbangan. Meskipun ia masih berusaha, tetapi akhirnya perlahan-lahan ia benar-benar telah kehilangan keseimbangannya itu. Kiai Kanthi tertegun sejenak. Dilihatnya orang itu terhuyung-huyung. Kemudian jatuh terkulai dengan lemahnya. Sesasat Kiai Kanthi masih melihat tangannya menggapai sesuatu pada ikat pinggangnya. Dengan gemetar orang itu mengambil serbuk obat dari sebuah bumbung kecil. Dengan sisa tenaganya ia berusaha menghamburkan obat itu pada lukanya disela-sela tulang iga itu. Luka yang paling parah pada tubuhnya. Kiai Kanthi membiarkannya saja. Ia tahu pasti, meskipun darahnya kemudian menjadi pampat, tetapi orang itu tidak akan berdaya lagi. Karena itulah, maka iapun kemudian memalingkan wajahnya. Dipandanginya seluruh arena pertempuran. Di perhatikannya Pangeran Sena Wasesa yang bertempur melawan Kiai Pusparuri. Keduanya memiliki kelebihan yang menggetarkan. Namun dalam pada itu, perhatian Kiai Kanthi lebih banyak tertarik kepada anak-anag muda Lumban yang sedang bertempur. Karena itu, maka seolah-olah diluar sadarnya. Kiai Kanthi telah melangkah meninggalkan pemalas yang parah itu, menuju ke arena pertempuran anak-anak muda Lumban melawan orang-orang Pusparuri yang garang, liar dan bahkan buas. “Hampir saja aku terlambat” berkata Kiai Kanthi. Sementara itu, seorang anak muda telah terlempar dari arena. Meskipun ia bertempur berpasangan, namun ternyata keduanya tidak mampu bertahan atas kekasaran lawannya. Sebuah golok yang besar telah melemparkan pedang anak muda Lumban. Kemudian sebuah tusukan yang cepat telah merobek lambungnya. Sementara kawannya berusaha untuk membantunya, golok itu telah mengarah mendatar, sehingga ujung golok itu seolah-olah telah menyusup disela-sela gerak senjata lawannya, mengenai perut, meskipun tidak begitu dalam. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia t idak dapat hanya menonton saja. atau membiarkan mereka bertempur sebagaimana orang-orang Pusparuri bertempur. Karena itu. Kiai Kanthipun tidak merasa bersalah, apabila ia melibatkan dir i diantara orang-orang Pusparuri yang mengamuk dengan liarnya. Kehadiran Kiai Kanthi yang dengan serta merta itu, mula- mula tidak banyak mendapat perhatian. Namun ketika satu dua orang Pusparuri seolah-olah begitu saja terlempar dari aiena, barulah mereka memperhatikannya. Wajah-wajah mereka menjadi tegang. Baru mereka menyadari, bahwa orang tua itu adalah orang yang semula menempatkan diri menjadi lawan Ki Benda, pemalas yang berilmu mumpuni itu. Dalam pada itu. ternyata Rahupun masih bertempur dengan garangnya. Jlitheng yang menghadapi orang berwajah panjang dan bertongkat baja itupun ternyata telah berhasil menguasainya. Serangan-serangannya tidak lagi mengarah ke sasaran. Jlitheng berhasil memancing orang itu untuk mengerahkan tenaganya, sehingga pada saat-saat terakhir, nafas orang itu hampir terputus karenanya. Meskipun demikian, dengan hentakkan-hentakkan yang cepat, orang itu masih saja menyerang Jlitheng dengan garangnya. Ternyata tongkat baja orang itu tidak banyak berpengaruh atas senjata Jlitheng yang tipis. Namun Jlitheng benar-benar menguasai ilmu pedang dengan baik, sehingga dengan kemampuannya itu, ia justru telah mengusai permainan senjata lawannya. Ayunan yang garang, keras dan kuat, yang langsung mengarah ke tqngkuk Jlitheng, telah terayun dan kehilangan arah hanya oleh sentuhan pendek dari pedang Jlitheng yang tipis. Bahkan tangan lawannya yang terseret oleh arus pukulannya yang keras itu. telah membuatnya kehilangan pengamatan atas gerak senjata lawannya. Yang terdengar kemudian adalah keluhan tertahan. Pedang tipis Jlitheng ternyata telah menyentuh lengannya. Sentuhan yang lemah itu ternyata telah mengoyak daging lawannya sehingga sebuah luka yang dalam telah menganga. Darah mengalir dengan derasnya dan kecemasanpun mencengkam jantungnya. Tidak banyak kesempatan orang berwajah panjang itu. Jlitheng yang juga melihat kesulitan anak-anak Lumban, telah mengerahkan kecepatan dan kemampuan ilmu pedangnya untuk mengakhir i pertempuran itu. Selagi lawannya belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi, sekali lagi pedang Jlitheng mengenai tubuh lawannya. Dada orang itu lelah tergores menyilang. Kesakitan yang sangat telah menyengat dadanya. Dorongan sentuhan pedang itu dan usahanya untuk menghindar namun tidak berhasil, justru telah melemparkannya jatuh terlentang. Namun karena lukanya yang parah, maka orang itu tidak sempat bangkii kembali. Ternyata ia hanya sempat mer intih pendek. Kemudian iapun jatuh pingsan. Jlitheng yang terlepas dari lawannya berwajah panjang itupun segera menempatkan dir i disamping Rahu. Namun ketika ia melihat dibagian lain anak-anak Lumban itu mengalami kesulitan, maka iapun telah meninggalkan Rahu yang bertempur dengan garangnya pula. Disekitar Daruwerdi yang bertempur melawan Laksita, kedua pamannya tengah bertempur pula. Sementara Semi masih terlibat dalam pertempuran melawan Sentika. Namun kawan Semi itu sempat berada diantara anak-anak muda Lumban yang mengalami kesulitan. Kehadiran Jlitheng telah membantu anak-anak muda Lumban. Dengan pedang tipisnya anak-anak muda itu melon- cat dari seorang lawan ke lawan yang lain untuk mengurangi tekanan mereka terhadap anak-anak muda Lumban. Namun dibagian lain, orang-orang Pusparuri itu seolah-olah telah susut dengan cepatnya. Anak-anak muda Lumban yang hampir kehilangan kesempatan mulai bangkit dan bertempur dengan berani “Kiai Kanthi” desis Jlitheng. Agaknya orang tua itu benar-benar ingin membantu dan melindungi anak-anak muda Lumban. Meskipun sebenarnyalah jika pada permulaan pertempuran itu anak-anak muda Lumban tidak ikut serta, maka orang-orang berilmu itupun tidak mampu bertahan terhadap orang-orang Pusparuri yang jumlahnya jauh lebih banyak, namun yang ternyata kemudian harus turun melawan anak-anak muda Lumban yang jumlahnya masih lebih banyak lagi dari jumlah mereka. Dengan demikian, maka keseimbangan pertempuran itupun dengan cepat telah berubah. Orang-orang Pusparuri mulai menjadi cemas. Meskipun mereka berhasil melukai banyak anak-anak Lumban, tetapi pada saat-saat terakhir, orang- orang Pusparurilah yang telah terlempar dar i arena dan jatuh terbanting di tanah dengan darah yang mencucur dari luka. Kiai Kanthi, Jlitheng, Rahu dan kawan Semi benar-benar telah merubah keadaan. Kiai Pusparuri melihat keadaan yang sulit itu. Dengan hentakk n entakkan ilmunya ia berusaha untuk mempercepat tugasnya, menguasai Pangeran Sena Wasesa. Namun sebagaimana dikehendaki, bahwa Kiai Pusparuri ingin menangkap Pangeran itu hidup-hidup. Ternyata bahwa Kiai Pusparur i memang seorang yang pilih tanding. Ia memiliki kelebihan ilmu dari Pangeran Sena Wasesa. Namun justru kegelisahannya yang membuatnya kadang-kadang kehilangan kesempatan. Justru karena itulah, maka seolah-olah Pangeran Sena Wasesalah yang berhasil mendesaknya. Pangeran itu sama sekali tidak perlu berusaha untuk tidak melukai, apalagi tidak membunuh lawannya. Pangeran Sena Wasesa yang mempergunakan senjata khususnya ditelapak tangan kirinya, ternyata mempunyai pengaruh yang besar pada usaha Kiai Pusparuri untuk dapat menangkapnya hidup-hidup. Sementara itu, orang-orang Pusparuri benar-benar mengalami kesulitan yang mendesak. Nampaknya Semi telah menjadi mapan dan berhasil mengimbangi ilmu lawannya. Daru-werdipun mampu bertahan dalam tataran ilmu yang setingkat. Sementara Jlitheng, Rahu dan Kiai Kanthi dengan pasti telah mengurangi jumlah lawan seorang demi seorang sehingga akhirnya orang-orang Pusparuri itupun tidak lagi melihat kemungkinan untuk dapat berhasil. Kiai Pusparur i menggeram dengan marah. Sementara Pangeran Sena Wasesa sempal berkata “Perhatikan orang- orangmu Kiai. Apakah kau masih berkeras dengan niatmu” Kiai Pusparuri tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar merasa salah hitung alas lawannya. Apalagi ketika ia melihat, bahwa orang-orangnya benar-benar mengalami kesulitan. Ternyata diantara anak-anak muda Lumban memang terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang melampaui rata-rata kemampuan orang-orangnya. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang itu telah mampu membuat lubang-lubang pada perlawanan orang-orang Pusparur i. Namun dalam pada itu. Kiai Pusparur i itu masih melihat Ki Ajar Pamotan Galih masih belum mulai bertempur. Karena itu. maka iapun berteriak kasar “He, Ajar Pamotan Galih. Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan disini” Ajar Pamotan Galih sama sekali tidak menjawab. Bahkan suara itu seolah-olah tidak didengarnya sama sekali. Yang terdengar pada telinga hatinya, adalah jerit yang memekik dari dasar hatinya. Dalam pada itu, Jlitheng yang tidak melihat bahaya yang rawat mengancam anak-anak Lumban setelah beberapa orang Fusparuri dilumpuhkan, apalagi sejak Kiai Kanthi berada diantara anak-anak muda itu pula, telah sempat melihat apa yang terjadi dengan Ki Ajar Pamotan Galih dan Orang cacat yang menyiapkan dir i menjadi lawannya. Namun yang dilihatnya adalah sesuatu yang sama sekari diluar dugaannya. Kedua orang itu tidak mengulangi pertempuran yang pernah terjadi. Tetapi hampir tidak percaya kepada penglihatannya, Jlitheng menyaksikan Ki Ajar Pamotan Galih mengusap matanya. Jlitheng yang melangkah mendekat dengan ragu-ragu melihat, Ki Ajar Pamotan Galih itupun kemudian duduk diatas sebuah batu padas memandang kekejauhan, sementara orang cacat yang menyebut dirinya sebagai Ki Ajar Cinde Kuning itu berdiri di sisinya “Apa yang terjadi Kiai?“ bertanya Jlitheng. Ki Ajar Pamotan Galih berpaling. Dipandanginya Jlitheng sesaat Tetapi ia tdiak menjawab. Sementara itu Ki Ajar Cinde Kuning berkata “Kau sudah mengetahui hubungan kami. Aku sudah mengatakannya” “Apakah Ki Ajar Pamotan Galih mengakuinya?“ bertanya Jlitheng. Sekali lagi Ki Ajar itu berpaling Dan Jlitheng menjadi semakin jelas melihat mata orang tua itu menjadi basah. Sesuatu yang aneh bagi Jlitheng Ki Ajar Pamotan Galih i tialah orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Ia memiliki kelebihan atas Pangeran Sena Wasesa. Bahkan ia adalah orang yang pernah hidup dalam lingkungan orang- orang kasar dan liar. Namun orang yang demikian itu masih dapat juga membasahi pelupuknya dengan air mata. “Pamotan Galih” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Kini segalanya telah berakhir. Permainan yang tidak menarik sama sekali ini sudah dapat diakhir i. Kau sudah melihat wajahmu sendiri pada dataran air yang bening dan diam. Kau lihat cacat dan celanya. Kau lihat noda dan belangnya” Ki Ajar Pamotan Galih menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata “Aku sudah mengaku segalanya. Aku memang harus bertanggung jawab atas segala peristiwa yang terjadi di bukit gundul ini. Pembantaian yang terjadi antara orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali? Putih. Kemudian apa yang kita saksikan sekarang adalah akibat kesalahanku. Aku tidak ingkar, dan aku akan menanggung segala hukumannya” “Hukuman apa yang pantas diberikan kepada yang berbuat kesalahan seperti yang kau lakukan?“nya Ki Ajar Cinde Kuning. “Aku tidak tahu” jawab Ki Ajar Pamotan Ga eku akan menyerah hukuman apa saja yang akan diberikan kepadaku. Aku tidak akan ingkar seandainya aku akan di hukum picis sekalipun” “Pamotan Galih” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Sebenarnya tidak ada hukuman yang berarti jika hukuman itu tidak dapat menumbuhkan satu kesadaran untuk mengakui kesalahan dan berjanji di dalam dir i sendiri untuk tidak melakukannya lagi” Ki Ajar Pamotan Galih menar ik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang pertempuran itu. maka ia melihat orang orang Pusparuri menjadi semakin susut. Beberapa orang yang masih bertahan harus menghadapi lawan yang jumlahnya semakin banyak Sementara itu Kiai Pusparur i ternyata tidak semudah yang diduganya untuk menguasai Pangeran Sena VVasesa. Apalagi ketika ia melihat Ajar Pamotan Galih justru duduk diatas batu padas, maka darahnya bagaikan mendidih di jantungnya. Tetapi dari lingkaran pertempurannya, Kiai Pusparuri tidak melihat bahwa mata Ki Ajar Pamotan Galih lelah basah. Ternyata Ki Ajar Cinde Kuning sempat member ikan bayangan pada angan-angan Ajar Pamotan Galih, hasil dari segala perbuatannya, termasuk dir i Ajar Cinde Kuning itu sendiri. “Kau adalah saudara bukan saja sekandung, tetapi kau adalah saudara kembar” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Tetapi mata hatimu telah tersumbat oleh keinginan duniawi sehingga kau telah melupakan yang justru lebih penting dar i segalanya, hidupmu dialam langgeng” Ki Ajar Pamotan Galih masih memandang keadaan disekitarnya. Namun lambat laun, kepalanya telah tertunduk. Sekali lagi ia mengusap matanya yang menjadi basah. Pada tanah padas di bawah kakinya, seolah-olah ia telah melihat tingkah lakunya pada masa yang lalu. Puncak dari kebengisannya adalah usaha pembunuhan atas saudara kembarnya sendiri. Tetapi ternyata orang yang disangkanya mati itu masih sempat menolong dir inya sendiri meskipun ia kemudian menjadi cacat dan wajahnya seakan-akan telah berubah dari ujudnya yang semula. Tidak seorangpun akan dapat mengenainya lagi sebagai Ajar Cinde Kuning selain diri orang itu sendir i. Dan orang itu telah datang kepadanya, member ikan gambaran yang seolah-olah justru peristiwa itu sendiri telah terulang kembali. Bahkan, Ki Ajar Cinde Kuning bukan saja membangunkan ingatannya, bagaimana ia dengan curang membunuh saudara kembarnya, tetapi yang lebih pedih dihatinya, adalah justru Ki Ajar Cinde Kuning mampu membangunkan kembali ingatannya pada masa kanak-kanak mereka. Pada masa mereka berdua bermain bersama. Bergurau dengan riang bersama ayah dan bundanya. Kemudian tumbuh menjadi remaja yang nampak memiliki kelebihan dari kawan-kawannya justru karena kesempatan bagi mereka berdua untuk membangun diri mereka. Ki Ajar Pamotan Galihpun seolah-olah melihat kembali, bagaimana mula-mula mereka menempuh jalan yang keluar dari garis kebenaran. Bagaimana mereka kemudian digelut oleh jalan kehidupan yang hitam. Tetapi ternyata Ajar Cinde Kuning berhasil melepaskan dirinya dari gelapnya jalan kehidupan. Berbeda dengan dirinya sendiri yang justru terbenam semakin dalam, sehingga sulit baginya untuk melepaskan diri sebagaimana ditempuh oleh saudara kembarnya. Dan akhirnya ia sampai pada puncak kejahatan seorang yang paling jahat. Ia sampai hati membinasakan saudara sendiri. Ki Ajar Pamotan Galih terkejut ketika ia mendengar Kiai Pusparuri berteriak keras sekali “Pamotan Galih Kenapa kau tidak membunuh dir imu saja agar tidak menyakiti mataku. Pemalas yang bodoh itu bertempur sampai batas kesetiaannya kepada cita-citanya. Apa yang kau lakukan disini he?“ Ki Ajar Pamotan Galih t idak mendengarkannya. Sekali lagi ia menundukkan kepalanya. “Kau mulai melihat cahaya di dalam hatimu“ berkala Ki Ajar Cinde Kuning “Tidak terlambat bagimu untuk membersihkan noda-moda yang melekat pada dirimu” Tetapi Ki Ajar Pamotan Galih menggeleng lemah. Katanya “Tanganku telah aku kotori dengan darah saudara kandungku, bahkan saudara kembarku. Tidak ada air yang dapat membersihkannya lagi” “Tentu ada” jawab Ki Ajar Cinde Kuning “air dar i pelupuk matamu akan membersihkannya Bukan saja noda tanganmu yang kau kotori dengan darah saudaramu, tetapi noda dihatimupun akan terhapus karenanya. Titik air di pelupuk matamu adalah pertanda penyesalanmu yang paling dalam, karena aku tahu, bahwa kau tidak akan menit ikkan air mata jika kau tidak merasa betapa pedihnya luka dihati. Kau adalah seorang laki-laki. Karena itu, titik air pelupuk matamu adalah nilai-nilai dar i penyesalanmu” “Apakah itu sudah cukup?“ bertanya Pamotan Galih. “Tidak ada yang lebih berharga selain penyesalan yang mendalam sampai ke pusat jantung bagi seorang yang paling kotor di muka bumi” jawab Ki Ajar Cinde Kuning “karena itu, maka penyesalanmu itu akan mencuci segala kekotoran di dalam dirimu lahir dan batin, asal penyesalanmu itu benar- benar kau persembahkan kepada Yang Maha Kuasa. Yang menciptakan segala yang ada. Yang mengurniakan akal dan budi serta memberikan kebebasan memilih jalan hidup masing-masing bagi ciptaanya yang paling disayanginya, yang disebut manusia. Namun yang justru paling menentang kehendaknya dan menyakit i hatiNya” Ki Ajar Pamotan Galih sama sekali tidak menjawab. Kepalanya menjadi semakin tunduk. Dan seolah-olah ia menjadi semakin mengenal diri sendir i, semakin melihat cacat dan nodanya. Tetapi Ki Ajar Pamotan Galih sudah bertekad untuk t idak melarikan diri dari kenyataan yang dihadapinya. Ia akan mempertanggung jawabkannya. Dan pertanggungan jawab yang paling berat, sebagaimana ditunjukkan oleh saudara kembarnya itupun akan dilakukannya. Menyesal sampai ke dasar hati. Mengakui segala kesalahan dan mohon pengampunan kepada Yang Maha Penyayang. Dalam pada itu, Jlitheng yang menyaksikan pembicaraan antara kedua orang saudara kembar, namun yang wajahnya sama sekali sudah tidak serupa lagi itu, merasa betapa dadanya menjadi berdentangan. Seolah-olah ia ikut merasakan penyesalan yang paling dalam dihati Ajar Pamotan Galih itu. Namun demikian ia sempat mendengar Kiai Pusparuri mengumpat-umpat sambil bertempur mengerahkan segenap kekuatannya. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa orang-orang Pusparuri sudah tidak lagi mempunyai kemungkinan apapun juga untuk memenangkan pertempuran itu. Betapa liarnya orang-orang Pusparuri, namun menghadapi jumlah yang banyak serta beberapa orang yang memiliki kelebihan dari mereka, ternyata bahwa akhirnya orang-orang Pusparuri itu benar-benar dapat dilumpuhkan. Sementara itu, Kiai Pusparur i sendiri masih bertempur dengan dahsyatnya. Ia mampu mengerahkan ilmu puncaknya yang melampaui kemampuan daya tahan Pangeran Sena Wasesa. Apalagi luka Pangeran Sena Wasesa yang nampaknya sudah sembuh, dalam pertempuran yang dahsyat itu, terasa menjadi sakit Meskipun demikian, Pangeran itu tetap bertahan dengan sekuat tenaganya. Sekali-sekali ia masih juga mampu mendesak lawannya, namun pada kesempatan lain, Pangeran Sena Wasesa harus meloncat surut sejauh-jauhnya. Tetapi dalam pada itu. Kiai Pusparuri menjadi sangat gelisah, ketika dilihatnya Kiai Kanthi berdiri beberapa langkah dari arena pertempurannya melawan Pangeran Sena Wasesa. Bahkan kemudian Rahu. Semi dan kawannya telah mendekatinya pula. Ternyata mereka telah menyelesaikan kewajiban mereka. Lawan-lawan mereka telah mereka lumpuhkan sehingga mereka tidak lagi terikat dalam pertempuran. “Orang-orang Pusparuri telah diselesaikan” desis Kiai Kanthi “Yang tersisa sudah menyerah kepada anak-anak muda Lumban“ Kiai Pusparur i menggeram. Namun ia memang melihat kenyataan itu. Namun dalam pada itu, berbeda dengan Semi yang berhasil melumpuhkan lawannya, ternyata bahwa Daruwerdi tidak sempat berbuat seperti Semi. Kepercayaan Kiai Pusparuri yang bertempur melawannya itu, ternyata telah berhasil melarikan diri. Ia menyusup diantara anak-anak Lumban yang sibuk mengurusi orang-orang Pusparuri yang menyerah. Kemudian dengan cepatnya Laksita itu berlari ke balik bebatuan dan gerumbul-gerumbul perdu di bawah kaki bukit gundul. Meskipun Daruwerdi berusaha untuk mengejarnya, tetapi ternyata bahwa Laksita mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri dari tangan Daruwerdi. Akhirnya Daruwerdi memutuskan untuk t idak mengejar lawannya. Daruwerdi merasa bahwa ia tidak akan dapat menangkapnya, karena lawannya mendapat kesempatan lebih baik dari padanya. Apalagi bebatuan dan gumpalan-gumpalan padas di bawah bukit gundul itu kadang-kadang menghalangi penglihatannya dan menjadi tempat lawannya menghilangkan jejak. “Biar lah ia hidup” berkata Daruwerdi “Tetapi pada satu kesempatan, ia akan mengalami nasib yang sama seperti kawan-kawannya. Apalagi orang itu tidak akan dapat berbuat apa-apa tanpa Kiai Pusparur i” Karena itulah, maka Daruwerdipun segera melangkah kembali. Ia melihat beberapa orang anak muda Lumban mengikut inya. Mereka bermaksud membantu Daruwerdi mengejar orang yang melarikan diri itu. Tetapi dalam pada itu Daruwerdi berkata “Kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa. Orang itu memiliki ilmu yang tinggi, sehingga berpengaruh atas kemampuannya.melar ikan dir i” Anak-anak muda Lumban itupun hanya dapat mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa- apa. Dalam sekejap, orang yang dikejar Daruwerdi itu seolah- olah memang sudah hilang. Karena itu, maka merekapun segera kembali ke arena. Namun rasa-rasanya medan itu telah menjadi sepi. Yang nampak sibuk kemudian adalah anak-anak muda Lumban membantu tabib yang semula berada di antara orang-orang Sanggar Gading, namun yang kemudian menyadari, bahwa tempat itu bukanlah tempatnya yang sebenarnya Namun akhirnya Daruwerdipun melihat sebuah lingkaran pertempuran yang dikerumuni oleh beberapa orang. Ternyata Pangeran Sena Wasesa masih bertempur melawan Kiai Purparuri. Pertempuran yang sebenarnya mencemaskan, karena ternyata bahwa kemampuan Kiai Pusparuri memang selapis lebih t inggi dari Pangeran Sena Wasesa. Hanya dalam keadaan yang khusus sajalah Pangeran Sena Wasesa, yang sudah dapat disebut seseorang yang memiliki ilmu yang mumpuni itu, dapat menang atas lawannya. Kiai Kanthi yang berdir i dekat dengan arena itu menjadi sangat gelisah. Sementara itu, yang lainpun berdiri termangu- mangu dengan hati yang berdebar-debar. Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuning yang sudah meyakini bahwa saudara kembarnya itu sempat merenungi dirinya dan keadaannya, kemudian berkata “Baiklah Pamotan Galih. Cobalah kau renungi dir imu sendir i. Memang tidak ada batas keterlambatan untuk mengakui segala kesalahan dan pertaubatan selagi nafas kita masih mengalir. Karena itu, lakukanlah. Sementara ini aku akan bertemu dengan Kiai Pusparuri yang masih bertempur dengan Pangeran Sena Wasesa. Nampaknya ada sesuatu yang harus dipertimbangkan. Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Kepalanya masih saja tunduk dalam-dalam. Namun terasa ia memang sedang merenungi dir inya sendiri. Ia sedang memandang jauh kedalamdasar jantungnya dan menghunjam ke hatinya. Sementara itu, Ki Ajar Cinde Kuningpun kemudian melangkah meninggalkan saudara kembarnya mendekati arena pertempuran itu. Jlitheng masih berdiri termangu-mangu. Memang ada kecurigaan bahwa Ki Ajar Pamotan Galih itu akan berbuat sesuatu. Namun dalam keragu-raguan itu ia justru berdir i saja seperti orang yang sedang kebingungan. “Anak muda” tiba-tiba terdengar suara Ki Ajar Pamotan Galih. Jlitheng memandang Ajar Pamotan Galih yang masih tertunduk diam, namun bibirnyalah yang bergerak. “Kemarilah” desis Ki Ajar itu kemudian. Jlitheng masih bertempur dengan orang berwajah panjang. Ternyata dengan ilmu yang kasar dan keras, orang berwajah panjang itu memang memiliki kelebihan dalam olah kanuragan. Tetapi untunglah, bahwa Jlitheng dengan cepat menempatkan diri sebagai lawannya, sehingga orang itu tidak sempat melakukan pembantaian atas anak-anak muda Lumban. Jlitheng ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia melangkah maju mendekat meskipun ia harus berhati-hati. “Anak muda. Orang itu adalah saudara kembarku. Karena itu, ia bersikap baik terhadapku. Ia berusaha untuk menenangkan hatiku yang serasa terbakar oleh gejolak penyesalan yang tidak kunjung ada habisnya” Ki Ajar Pamotan Galih berhenti sejenak, lalu “Tetapi kau adalah orang lain bagiku. Mungkin kau membeciku. Tetapi mungkin kau menaruh belas kasihan. Tetapi coba katakan dengan jujur, seperti sikapmu yang jujur pada saat kau berada di padepokanku. Tanpa mengenal takut kau katakan apa yang ingin kau katakan” “Apa maksudmu Ki Ajar?“ bertanya Jlitheng. “Katakan dengan jujur. Apakah orang seperti aku ini masih pantas untuk hidup? Apakah orang seperti aku ini masih pantas untuk mohon pengampunan kepada Yang Maha Kuasa?“ bertanya orang tua itu. Jlitheng menjadi bingung sesaat Tetapi hampir diluar sadarnya ia menjawab menirukan jawaban Ki Ajar Cinde Kuning sebelumnya “Tentu Ki Ajar. Tidak ada batas keterlambatan, selama nafas masih mengalir dari dalam dada kita” Ki Ajar itu menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Terima kasih. Aku percaya kepadamu” Jlitheng masih termangu-mangu. Namun kemudian Ki Ajar itu berkata “Tinggalkan aku. Aku sudah puas mendengar jawabanmu. Aku akan berusaha melakukannya seperti yang dinasehatkan oleh saudara kembarku itu” Jlitheng mengangguk-angguk. Ketika Ki Ajar itu mengangkat wajahnya, seperti sudah dilihatnya, matanya menjadi basah. Jlithengpun kemudian beringsut menjauhinya. Ketika ia berpaling, dilihatnya lingkaran pertempuran yang masih belum terselesaikan. Karena itu, maka iapun kemudian melangkah meninggalkan Ki Ajar Pamotan Galih menuju ke arena pertempuran yang dahsyat itu. Pangeran Sena Wasesa memang menjadi semakin terdesak. Sementara itu Kiai Kanthi berdiri dekat di batas arena. Bahkan kemudian orang cacat yang bernama Ki Ajar Cinde Kuning itupun telah berada di lingkaran pertempuran itu pula. Ki Ajar itu mengangguk-angguk, lapun melihat, bahwa sulit sekali bagi Pangeran Sena Wasesa untuk memenangkan perang tanding melawan Kiai Pusparuri itu. Dalam pada itu Rahupun berkata lantang “Kiai Pusparuri. Kau sudah tidak mempunyai kesempatan apapun juga. Menyerahlah” “Persetan“ geramnya “Aku akan membunuh Pangeran ini. Aku menganggap bahwa ia sudah tidak berguna lagi. Akupun tidak lagi menginginkan pusaka dan harta benda itu. Aku hanya ingin membunuhnya” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Pada wajah Kiai Pusparuri memang sudah tidak nampak lagi nafsunya untuk mendapatkan pangkat, derajad dan semat. Yang memancar pada sorot matanya adalah dendam semata-mata. Kegagalannya mendapatkan pusaka dan kegagalannya dalam usahanya yang terakhir itu telah membuatnya menjadi kehilangan keseimbangan berpikir. Dengan demikian maka yang dilakukannya kemudian t idak lebih dari satu tindakan dalam keputus-asaan. Namun demikian, tidak dapat diingkari, bahwa Kiai Pusparuri memang mempunyai kelebihan dari Pangeran Sena Wasesa. Karena itu, maka dalam puncak ilmunya dilambari dengan pertimbangan yang tidak mapan lagi, maka Kiai Pusparuri memang sangat berbahaya bagi Pangeran Sena Wasesa. Sementara itu, selagi orang-orang di bukit gundul itu memperhatikan dengan tegang, pertempuran antara Kiai Pusparuri dengan Pangeran Sena Wasesa, maka salah seorang kepercayaan Kiai Pusparur i yang terlepas dari tangan Daruwerdi tengah berhenti sejenak di sebuah pategalan. Nafasnya terasa memburu dikerongkongan setelah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk melepaskan dir i dari tangan Daruwerdi. Ia termasuk satu diantara kawan- kawannya yang sedikit sekali mendapat kesempatan untuk melepaskan dir i dari tangan lawannya. Jika ada satu dua orang yang lain, yang dapat melarikan diri dari anak-anak muda Lumban, namun mereka telah ber lari bercerai berai mencari jalan hidup masing-masing. Laksita yang terengah-engah itu berdiri bersandar sebatang pohon di pategalan yang sepi. Pandangan matanya menyapu dedaunan yang kekuning-kuningan disekitarnya. Tanah yang gersang dan pepohonan yang seolah-olah kehausan. Betapa sakit hati kepercayaan Kiai Pusparur i yang ternyata tidak mampu mengimbangi kemampuan Daruwerdi, sehingga melarikan dir i dari arena. Namun tiba-tiba terbersit satu pikiran yang mula-mula asing bagi kepercayaan Kiai Pusparur i itu. Tetapi semakin lama pikiran itu nampaknya menjadi semakin jelas. Tiba-tiba orang itu menggertakkan giginya. Katanya di dalam hati “Persetan dengan bukit gundul. Aku kira pusaka itu tentu sudah disembunyikan oleh Daruwerdi di pondokannya. Ia sengaja menipu Kiai Pusparuri. Ia ingin memanfaatkan siapapun juga untuk menangkap Pangeran itu. Kepada orang yang berhasil menangkap itu telah disediakannya barang palsu seperti yang dijanjikannya. Dengan demikian, ia akan dapat melepaskan dendamnya yang agaknya telah disimpannya untuk waktu yang lama kepada Pangeran itu. Memang mungkin, Pangeran itulah sebenarnya sumber keterangan tentang pusaka yang sedang diperebutkan. Tetapi mungkin karena dendam yang menyala dihati Daruwerdi. Sementara itu pusaka itu sendiri telah disimpannya baik-baik di dalam rumahnya. Atau kalau tidak, rumah itu harus dijadikan debu” Karena itulah, maka Laksita itupun telah berniat untuk singgah di rumah Daruwerdi, karena ia menyangka pusaka itu sudah berada di sana. Sejenak orang itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeram “Aku akan melihat, apakah iblis kecil itu dapat menyembunyikan kelicikannya terhadap Laksita” Dengan demikian maka akhirnya Laksita itupun telah meninggalkan pategalan itu dengan tergesa-gesa menuju ke padukuhan Lumban. Ia ternyata masih meragukan kesimpulan Kiai Pusparuri dan keterangan dari Pangeran Sena Wasesa sendiri, bahwa ia adalah satu-satu orang yang mengetahui tentang pusaka itu dan mengakui telah menyerahkan segalanya kepada Sultan Demak. Dipengaruhi oleh kekalutan hatinya atas kekalahan orang- orang Pusparuri, serta dendam yang menghentak-hentak dadanya karena beberapa orang kawannya telah menjadi korban terbunuh, luka-luka parah atau tertangkap, maka Laksita itupun dengan wajah yang menyala memasuki padukuhan Lamban. Ketika di mulut lorong, ia bertemu dengan beberapa orang anak muda Lumban, yang justru adalah Lumban Wetan, maka dengan garangnya ia membentak “Tunjukkan rumah Daruwerdi” Anak-anak muda yang jumlahnya sedikit yang mendapat tugas untuk menjaga padukuhan itu berusaha untuk menghentikannya di gardu, karena menilik sikap dan tingkah lakunya, Laksita pantas dicurigai Tetapi ternyata sikap anak-anak Lumban itu membuatnya semakin marah. Ketika anak-anak itu memaksanya untuk masuk ke dalam gardu, maka tidak ada lagi yang dapat mengekangnya. Dalam waktu yang sekejap, beberapa dari anak-anak muda Lumban itu telah terlempar jatuh. Bahkan satuf dua orang menjadi pingsan karenanya. “Anak-anak Gila“ Laksita yang menjadi liar itu berteriak “kawan-kawanmu telah dibantai di bukit gundul“ Tidak seorangpun yang masih berani berbuat sesuatu. Karena itu, merekapun tidak dapat berbuat apa-apa ketika Laksita itupun kemudian berlari menyusuri jalan pedukuhan, setelah ia menghentakkan kentongan yang ada di gardu itu dan memecahnya dengan menghantamkan kentongan dari bambu petung itu ke sebatang pohon kelapa. “Kita lapor ke banjar” desis salah seorang anak muda itu. “Ia menuju ke arah banjar” desis yang lain. “Marilah. Seandainya ia tidak memasuki banjar, kita akan melapor. Sementara kawan yang lain biarlah merawat kawan- kawan kita yang pingsan atau terluka. Bagaimanapun juga, kita harus berusaha mengatasinya. Ia hanya seorang diri” berkata salah seorang dari anak muda itu. Dua diantara anak-anak muda itupun kemudian berlari- lari ke banjar. Mereka mengambil jalan memintas, meloncati pagar-pagar halaman dan melintasi kebun-kebun. Namun ternyata bahwa orang yang mengerikan itu mampu berlari cepat. Ketika anak-anak muda itu muncul disebe-lah banjar, orang yang mereka ikuti itu telah berdir i termangu- mangu di muka regol banjar, sehingga menar ik perhatian beberapa anak muda yang bertugas di banjar. Karena itulah, maka dua orang anak muda yang bertugas di banjar itupun kemudian mendekatinya. Dengan curiga salah seorang dari mereka bertanya “Siapakah yang kau cari Ki Sanak?“ Laksita memandang kedua orang anak muda itu sorot mata yang mendebarkan. Apalagi kemudian ia menggeram “Tunjukkan kepadaku, dimana rumah Daruwerdi” Kedua orang anak muda itu menjadi semakin curiga. Salah seorang kemudian bertanya “Apa keperluanmu dengan Daruwerdi?“ “Persetan. Dimana rumah Daruwerdi?“ bentak orang itu. Kedua orang anak muda itu menjadi semakin cur iga. Justru karena itu, maka salah seorang diantaranya menjawab “Katakan, apa keperluanmu” “Jawab, atau aku remukkan kepalamu” bentak orang itu. Kedua anak muda itupun segera melihat, bahwa orang itu tentu orang yang berbahaya. Merekapun kemudian menduga, bahwa orang itu tentu salah seorang dari mereka yang berada di bukit gundul. Namun dalam pada itu, dua orang yang semula berada di gardu tidak sampai hati membiarkan kedua orang kawannya itu mengalami cidera. Karena itu, maka katanya tiba-tiba sambil meloncat dari balik dinding “hati-hatilah. Ia sangat berbahaya” Orang itu berpaling. Dilihatnya dua orang anak muda yang semula berada di gardu. Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu. Bahkan ia masih bertanya “Tunjukkan rumah Daruwerdi. Atau kalian ingin mati disini?“ “Hati-hati“ sekali lagi anak muda yang datang dari gardu itu berkata. Beberapa orang yang berada di halaman agaknya tertarik mendengar keributan itu. Beberapa orang telah keluar dari halaman. Namun sekali lagi anak-anak muda yang datang dari gardu itu memperingatkan “Orang itu sangat berbahaya” “Nah, kau dengar“ Orang itu justru menyahut “Aku sangat berbahaya. Karena itu, tujukkan saja, dimana rumah Daruwerdi” Beberapa orang anak mudapun segera memencar dan berusaha untuk mengepungnya. Namun dengan demikian mereka telah membuat Laksita yang hampir gila itu menjadi semakin marah. “Aku bertanya, dimana rumah Daruwerdi. Apakah yang akan kalian lakukan? Bunuh dir i?“ bentak Laksita. Anak-anak muda itu t idak menjawab. Namun mereka telah menjadi semakin ketat menggepung orang itu. Laksita yang marah itu tidak berpikir lebih panjang lagi. Tiba-tiba saja ia telah menyerang anak-anak muda itu. Yang terjadi memang tidak terduga. Anak-anak itu tidak sempat berbuat banyak. Mereka segera terlempar dari lingkaran yang mengitari orang yang bernama Laksita itu. Dengan kemarahan yang meluap, Laksita justru memasuki regol banjar itu. Beberapa anak muda yang sempat bangkit menjadi berdebar-debar. Bagaimanapun juga, mereka tidak dapat membiarkan orang itu berbuat sesuka hatinya. Dua orang yang datang dari gerdu itupun kemudian bergabung dengan kawan-kawannya. Namun sebenarnyalah mereka tidak banyak dapat berbuat. Kawan-kawan mereka yang memiliki kemampuan lebih baik telah pergi ke bukit gundul. Meskipun demikian, anak-anak muda itupun kemudian mengikut i Laksita yang memasuki regol. Bahkan nampaknya ia menjadi semakin liar. Dengan mata yang menyala, disapunya segenap halaman itu dengan pandangannya. Ketika tiba-tiba ia melihat pendapa banjar, iapun telah berlari-lar i mendekati tangga. Dalam pada itu, anak-anak muda Lumban itupun mengikut inya meskipun dengan jantung yang berdegup semakin keras. Tetapi tiba-tiba saja orang itu berhenti. Sekali lagi dengan cepat ia menyerang anak-anak muda itu. Beberapa orang lagi terlempar jatuh, sementara yang lain bergeser mundur. “Anak-anak gila. Jika kalian tidak menyadari keadaan diri kalian, maka aku akan segera membunuh. Tetapi dimana rumah Daruwerdi” teriak orang itu. Sebenarnyalah di pendapa banjar itu duduk dua orang perempuan. Ketika mereka melihat kehadiran orang itu, maka merekapun menjadi tegang. Apalagi ketika mereka mendengar orang itu bertanya tentang Daruwerdi. Namun nampaknya anak-anak muda itu tidak mau menjawab. Karena itu kemarahan Laksita nampaknya sudah tidak terbendung lagi. Dengan kasarnya tiba-tiba saja ia menangkap seorang diantara anak-anak muda itu. Mencekiknya sambil bertanya ”Jawab, dimana rumah Daruwerdi, atau aku akan mencekik lehermu sampai patah” Mulut orang yang dicekiknya itu terbuka. Tetapi suaranya tidak terdengar sama sekali. Dalam pada itu, kawan-kawannya tidak sampai hati membiarkan hal itu terjadi. Karena itu, maka beberapa orang diantara mereka telah memberanikan dir i menyerang bersama-sama Tetapi seperti yang pernah terjadi. Mereka telah terlempar jatuh. Bahkan lebih keras lagi. Satu dua diantara mereka telah terlempar sampai lima enam langkah. Punggung mereka serasa akan patah, sehingga mereka tidak segera dapat bangkit lagi. Sekali lagi orang itu menangkap orang yang lain setelah melepaskan orang yang pertama, yang justru menjadi pingsan. Tetapi Laksita tidak mencekiknya. Dipeganginya rambut anak itu sambil berteriak “Dimana rumah Daruwerdi” Anak itu tidak menjawab. Tetapi ternyata Laksita yang marah itu tidak mempunyai belas kasihan lagi. Kepala anak muda itu telah dibenturkan di tanah sambil membentak “Sebut, atau kepalamu akan remuk” Kesakitan yang sangat telah membuat orang itu kehilangan akal. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Itu ibunya. Di pendapa” Laksita melepaskan rambut orang itu. Kemudian iapun berdiri tegak sambil memandang perempuan yang berada di pendapa dengan tubuh bergetar. “Jadi kau ibu Daruwerdi he?“ geramnya. Ibu Daruwerdi itu benar-benar menjadi gemetar. Ia tidak tahu, apa yang harus dikatakannya. Sementara itu anak-anak muda yang berada di halaman banjar itupun menjadi berdebar-debar. Mereka melihat bahaya yang gawat bagi perempuan yang berada di banjar. Beberapa arang diantara mereka memandangi anak muda yang telah terlanjur mengatakan bahwa perempuan itu adalah ibu Daruwerdi. Anak muda yang telah menyebut bahwa perempuan itu adalah ibu Daruwerdi merasa menyesal sekali. Baru kemudian ia sadar akibat yang dapat terjadi pada perempuan itu Tetapi ia sudah terlanjur mengatakannya oooOooo- 

Jilid 20
DALAM pada itu, maka Laksita itupun kemudian dengan wajah yang buas menggeram “He, perempuan celaka. Kenapa kau berada disini? Nasibmu memang kurang baik. Tetapi jika kau menunjukkan dimana tempat tinggal Daruwerdi selama ia berada di Lumban, maka aku akan membuat beberapa pertimbangan” Ibu Daruwerdi yang gemetar itu tidak segera menjawab. Sementara Laksita itupun kemudian membentak “Cepat katakan. Atau tunjukkan. Ia tentu tidak t inggal di banjar ini” Ibu Daruwerdi itu bagaikan terbungkam. Apalagi ketika ia melihat Laksita melangkah naik tangga pendapa. Dengan garangnya ia menggeram “Kau harus mengenal aku. Aku tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain kecuali memaksa seseorang untuk melakukan perintahku. Tunjukkan, dimana tempat tinggal Daruwerdi” Perempuan itu benar-benar telah menggigil. Sementara itu, anak-anak muda yang berada di halaman banjar itu tidak sampai hati membiarkan ibu Daruwerdi itu mengalami bencana. Karena itu, betapapun juga mereka merasa betapa kecilnya diri mereka dihadapan orang itu, namun anak muda yang tertua diantara mereka telah memberanikan diri berkata “Ki Sanak. Jangan kau sentuh perempuan itu. Jika kau ingin mengetahui tempat tinggal Daruwerdi, marilah. Aku akan mengantarkanmu” Laksita memandang anak muda itu sejenak. Namun kemudian iapun tertawa. Suaranya bagaikan suara iblis yang menguak gelapnya tanah pekuburan. “Terlambat anak muda. Aku sudah menemukan orang yang tepat untuk menunjukkan tempat itu. Aku tahu, karena kekalutan ini ia mengungsi di banjar ini. Tetapi ia tentu tahu dimana Daruwerdi menyembunyikan pusaka yang sebenarnya, Bukan yang palsu seperti yang diberikannya kepada orang- orang Sanggar Gading. Ibu Daruwerdi menjadi semakin menggigil. Namun sementara itu, dua orang anak muda bergeser mendekat. Seorang diantara mereka berkata “Kami akan mencegah meskipun kami tahu akibat yang dapat terjadi atas kami” “Anak gila. Apa yang akan kau lakukan?“ bentak orang itu. Namun justru dua orang lagi telah mendekat. Bahkan kemudian diikuti oleh tiga orang yang lain. “O, anak-anak yang tidak tahu diri. Aku peringatkan sekali lagi. Sampai saat ini aku masih belum membunuh. Tetapi j ika kalian berlaku bodoh dan gila, aku benar-benar akan membunuh” Orang itu hampir berteriak. Tetapi anak muda yang tertua itu menjawab “Ki Sanak. Tidak seorangpum yang ingin mati. Akupun tidak. Tetapi aku tidak dapat melihat kau berbuat semena-mena. Perempuan yang memang ibu Daruwerdi itu tidak akan mengerti apa yang dilakukan oleh anaknya. Ia tidak tinggal di Lumban. Ia datang pada hari-hari terakhir dari peristiwa yang telah mengguncang Kabuyutan ini. Meskipun kabuyutan kami kering, tandus dan miskin, tetapi kami merasa damai sebelumnya. Dan sekarang kedamaian itu sudah rusak karena orang-orang yang tamak seperti orang-orang Sanggar Gading, Kendali Putih dan orang- orang lain yang senafas dengan mereka” “Diam “Orang itu berteriak “Aku t idak peduli. Tetapi selangkah lagi kau mendekat, kematianmu menjadi semakin cepat. Apakah kau kira jika aku sudah membunuh semua anak-anak muda ini, aku tidak akan dapat memaksa perempuan itu untuk menunjukkan rumah anak laki-lakinya” “Lakukan setelah kami tidak melihat apa yang terjadi” jawab anak muda itu. ”Gila. Kau memang gila teriak Laksita. Lalu “J ika memang demikian, apaboleh buat” Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja perhatian mereka tertarik oleh suara seorang perempuan. Perempuan yang berada disebelah ibu Daruwerdi “Lepaskan orang itu. Ia akan benar-benar membunuh” Anak-anak muda terkejut Laksitapun terkejut. Sementara itu, seorang gadis yang semula duduk di sebelah ibu Daruwerdi itupun membenahi dirinya. Sambil melangkah maju ia berkata “Biarkan saja apa yang akan dilakukan” Anak-anak muda itupun termangu-mangu. Tetapi mereka sudah mendengar bahwa gadis yang bernama Swasti itu telah ikut pula bertempur melawan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih. Apalagi merekapun melihat, ketika Swasti kemudian berdiri, di lambungnya ternyata tergantung sehelai pedang. “He, siapa kau?“ bertanya Laksita. “Siapapun aku, tetapi aku harus mencegah tingkah lakumu. Anak-anak muda itu mungkin dapat kau abaikan dan bahkan mungkin kau benar-benar dapat membunuh mereka semuanya” jawab Swasti “Tetapi disini ada aku. Karena itu, maka aku adalah orang pertama yang akan melawanmu” “Persetan. Kau berani berhadapan dengan orang Pusparuri?“ geram Laksita. Swasti merenung sejenak. Tiba-tiba saja ia teringat, bahwa ia pernah berhadapan dengan dua orang yang mengaku orang-orang Pusparuri. Kini ia berhadapan lagi dengan orang Pusparuri. Namun agaknya orang ini nampak lebih meyakinkan. Meskipun demikian Swasti sama sekali tidak gentar. Karena itu maka katanya “Kita akan melihat, apakah aku berhasil mengalahkan orang-orang Pusparuri atau tidak. Tetapi seandainya aku tidak mampu melawanmu seorang diri, disini ada beberapa orang anak muda yang akan dapat membantuku. Laksita menggeram. Ia benar-benar merasa terhina, bahwa seorang gadis telah bertekad untuk melawannya meskipun gadis itu bersenjata. Karena itu dengan garang ia berkata “Anak gila, kau lihat, tidak seorangpun diantara anak-anak muda ini yang berani bertingkah seperti yang kau lakukan” “Aku memang lain dari mereka” berkata Swasti “Sebenarnya aku tidak akan berbuat apa-apa jika kau tidak berniat untuk mengganggu ibu Daruwerdi. Sebenarnyalah bahwa ia memang tidak mengerti apa-apa tentang anaknya dan apa yang dilakukannya. Jika kau mengurungkan niatmu untuk mengganggunya, maka akupun tidak akan-berbuat apa- apa” “Kau menjadi semakin sombong anak manis. Aku akan berbuat seperti yang dikehendaki. Jangan halangi aku” Orang itu hampir berteriak. Tetapi Swasti tidak bergeser sama sekali. Bahkan ia kemudian berkata “Sebaiknya aku memaksamu untuk pergi atau menangkapmu sama sekali” Wajah orang itu menjadi merah padam. Sementara anak- anak muda di banjar itupun menjadi semakin berdebar-debar. Betapapun juga dimata mereka, Swassiti adalah seorang gadis meskipun mereka pernah mendengar apa yang dilakukan gadis itu berhadapan dengan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Put ih. Dalam pada itu Laksitapun agaknya tidak mau terlibat dalam pembicaraan yang berkepanjangan. Karena itu, maka katanya “Aku memperingatkanmu untuk yang terakhir kalinya. Pergi atau aku akan membunuhmu” “Sudah aku katakan, aku akan mencegah tingkah lakumu yang sewenang-wenang” jawab Swasti. Laksita tidak dapat menahan diri lagi. Namun sebelum ia bertindak Swasti telah mendahuluinya berkata “Jangan bertempur disini. Kita akan mendapat tempat yang lebih lapang di halaman banjar ini. Biarlah anak-anak muda Lumban menyaksikan, apakah yang dapat kau lakukan. Seperti yang aku katakan, jika aku tidak mampu melawanmu, biarlah anak- anak muda itu membantuku. Kau tidak akan dapat melawan musuh yang jauh lebih banyak jumlahnya, meskipun kemampuannya dapat kau abaikan” Laksita menggeram. Namun, Swasti tiba-tiba saja medangkah maju, sehingga Laksitapun kemudian meloncat turun kehalaman sambil mengumpat “Anak iblis. Kau sangka permainanmu itu berhasil menggetarkan jantungku” Swasti memandang wajah Laksita sesaat Wajah itu nampak garang, meskipun tidak sekotor wajah orang-orang yang parah di hadapinya. . Tetapi Swasti tidak sempat menilai lebih lama lagi. Laksita yang ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya itu tiba-tiba telah menggenggam senjata di tangannya. Katanya “Aku akan membunuhmu, meskipun kau seorang gadis. Kemudian aku akan membunuh semua orang yang mencoba menghalangi aku” Swastipun segera mempersiapkan dir i. Ia tidak mau kehilangan kesempatan pertama. Karena itu, ketika ia melihat lawannya bersenjata, maka iapun telah menggenggam pedangnya. Dalam pada itu, ibu Daruwerdi benar-benar menggigil ketakutan. Ada niatnya untuk mencegah Swasti, Tetapi tubuhnya rasa-rasanya telah membeku. Tetapi ketika ia melihat dari tempatnya, Swasti dan orang yang datang itu sudah saling menggerakkan senjatanya, tiba- tiba saja seolah-olah tumbuh kekuatan yang tidak dimengertinya di dalam dir inya. Tiba-tiba saja ia telah bangkit dan berlari kearah gadis yang sudah siap untuk bertempur itu. “Swasti, Ngger, Swasti“ panggilnya “Cukup. Jangan kau lakukan. Biarlah aku menurut apa yang dikehendakinya” “Jangan mendekat“ teriak Swasti. Untunglah anak-anak muda Lumban berhasil mencegahnya. “Jangan mendekat bibi” berkata Swasti kemudian “Orang itu terlalu licik, Ia akan dapat mempergunakan bibi sebagai perisai untuk memaksakan kehendaknya. Biarlah aku mencoba menyelesaikan masalah ini. Sementara aku parsilahkan bibi menunggu” “Kau akan melihat kepala gadis ini terpenggal” geram Laksita. “Jangan“ minta ibu Daruwerdi “Aku tidak peduli” jawab Laksita. Sebelum ibu Daruwerdi itu berkata, Swasti telati mendahului “Kita akan melihat, apa yang akan terjadi” Anak-anak muda Lumban itupun kemudian membimbing perempuan itu menepi. Dipersilahkan ibu Daruwerdi itu duduk di tangga pendapa banjar Kabuyutan Lumban. Sejenak kemudian Laksita yang telah kehabisan kesabaran itu, mulai menggerakkan senjatanya, sementara Swasti bergeser selangkah surut Namun iapun kemudian mengacukan senjatanya pula. Sambil berdesis ia mulai menggerakkan ujung pedangnya. Laksita yang garang itu mulai menyerang dengan ayunan mendatar. Namun Swasti masih belum berbuat banyak. Ia hanya bergeser selangkah surut Tetapi Laksita. agaknya telah meloncat memburunya. Tiba- tiba saja senjatanya terayun keras sekali menyambar pundak Swasti. Namun Swasti yang sudah bersiaga itu sempat memiringkan tubuhnya, sehingga serangan lawannya tidak menyentuhnya. Dalam pada itu, Swasti tidak membiarkan dir inya hanya menjadi sasaran serangan lawannya. Sejenak kemudian maka iapun mulai memutar pedangnya. Meskipun ia masih berusaha menjajagi kemampuan lawannya namun ia telah mulai menjulurkan pedangnya untuk menyerang. Sejenak kemudian bertempuran itupun menjadi semakin seru. Laksita yang marah tidak lagi mengekang diri. Serangan- serangannya datang beruntun. Namun Swasti selalu berhasil mengelakkannya.. Meskipun demikian, ternyata bahwa kemudian Swasti t idak selalu sempat mengelak. Karena itu, maka pada suatu saat, ia harus menangkis serangan lawannya yang datang membadai. Tetapi Swasti masih selalu berhati-hati. Ia tidak ingin langsung membenturkan senjatanya menangkis serangan lawannya yang belumdiketahui dengan pasti kekuatannya. Dalam pada itu, anak-anak muda Lumban yang menyaksikan pertempuran itu menjadi semakin berdebar- debar. Mereka melihat bahwa Laksita semakin lama menjadi semakin keras dan kasar. Namun merekapun melihat Swasti semakin lama menjadi semakin cepat bergerak. Kakinya seolah-olah menjadi semakin ringan, sementara pedangnya berputaran seperti baling-baling. Meskipun demikian anak-anak muda Lumban itu menjadi cemas. Bagaimanapun juga mereka belum mendapat gambaran yang pasti tentang kemampuan Swasti. Mungkin gadis itu memang memiliki dasar-dasar ilmu kanuragan. Tetapi berhadapan dengan orang yang kasar itu, apakah ia akan mungkin dapat mengimbanginya. Karena itu, maka anak-anak muda itupun selalu bersiaga diseputar arena. Meskipun mereka menyadari, bahwa diri mereka masing-masing sama sekali tidak berarti dibanding dengan orang- yang garang itu, tetapi mereka tidak akan dapat membiarkan bencana akan terjadi pada gadis itu tanpa pembelaan sama sekali. Apalagi kesulitan dan kegagalan gadis itu akan berarti kesulitan yang gawat pula bagi ibu Daruwerdi. Namun ternyata bahwa Swasti memiliki kemampuan yang mengagumkan. Di mata anak-anak muda Lumban yang sulit untuk mengikut i pertempuran itu, Swasti masih tetap mampu bertahan. Bahwa kadang-kadang ia berhasil mendesak lawannya, sehingga laki-laki yang kasar itu harus berloncatan surut beberapa langkah. Sebenarnyalah Swasti masih mampu mengimbangi lawannya yang bertempur semakin kasar. Ketika Laksita menyadari, bahwa gadis itu memang seorang gadis yang memiliki ilmu yang mampu melawannya, maka oleh dorongan kemarahannya yang memuncak. Laksita telah mengerahkan segenap, kemampuannya. Pertempuran itu kemudian semakin menjadi sengit. Keduanya ternyata memiliki bekal yang cukup, sehingga keduanya harus bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya dan berhati-hati. Namun ternyata Laksita yang marah serta kegagalan orang-orang Pusparuri di kaki bukit gundul, membuatnya kehilangan pertimbangan yang mapan. Gejolak perasaannya lebih menguasai dirinya daripada nalarnya. Karena itulah, maka yang nampak pada tata geraknya adalah kekasaran dan keliarannya yang menjadi semakin jelas. Tetapi justru karena itu, maka ia menjadi kurang berhati-hati. Laksita tidak sempat mengamati tata geraknya sendiri. Swasti yang kadang-kadang cepat juga terpengaruh oleh perasaannya itu, ternyata masih mampu mengurai keadaan. Ia masih sempat melihat, apa yang dilakukan oleh lawannya dan apa yang dialami pada getaran perasaannya. Justru karena itu, maka iapun kemudian mempergunakan keadaan lawannya untuk mengatasinya. Dengan tangkasnya Swasti memancing kekasaran lawannya. Dengan demikian Swasti mengharap, bahwa lawannya akan menjadi kehabisan tenaga lebih dahulu. Sehingga dengan demikian, maka ia akan lebih mudah mengakhir i pertempuran itu, Namun ternyata bahwa Laksita adalah seorang yang memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa. Dengan demikian, meskipun Swasti berhasil memancing lawannya untuk mengerahkan segenap kemampuannya dan memaksanya untuk berloncatan dengan langkah-langkah panjang, namun ternyata bahwa Laksita seolah-olah tidak menjadi semakin letih. Ia masih saja mampu bergerak sebagimana saat mereka mulai dengan pertempuran itu. Karena itu, maka Swastipun harus mengambil cara lain. Jika ia memaksakan cara itu, maka ia akan menjadi letih lebih dahulu dar i lawannya. Dengan hati-hati Swasti menilai lawannya lebih tajam lagi. Sehingga akhirnya ia telah mengambil satu keputusan untuk bertempur dengan keras sesuai dengan sifat lawannya. Namun sebagaimana selalu dipesankan oleh ayahnya, bahwa dalam pertempuran yang gawat, ia tidak boleh kehilangan akal Ia harus mampu menguasai diri, menilai lawannya dan mengambil keputusan atas pertimbangan nalar. Bukan perasaan semata-mata. “Lawanku telah terpancing untuk menuruti perasaan marahnya” berkata Swasti di dalam hatinya “Aku harus dapat memanfaatkannya. Dengan pertimbangan yang mapan, maka kemudian Swastipun telah bertempur semakin cepat. Ia mulai mencoba melawan orang yang garang itu dengan keras. Ia mulai membenturkan senjatanya beradu kekuatan. Namun ternyata bahwa Swasti mampu mengimbangi kekuatan lawannya. Karena itulah, maka Swasti menjadi semakin garang. Senjatanya bergerak lebih cepat, namun benturan-benturan senjata tidak dihiraukannya lagi. Anak-anak muda Lumban melihat pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Namun mereka melihat, Swasti menjadi semakin mapan. Kecuali karena ia mampu bergerak lebih cepat, ternyata bahwa benturan-benturan yang terjadi tidak dapat mendesaknya. Sebenarnyalah bahwa Swasti memiliki kelebihan dari lawannya. Kakinya seolah-olah lebih ringan, sehingga dengan demikian maka ia dapat bergerak lebih cepat. Namun lawannya mampu mengimbangi dengan ketahanan tubuh yang melampaui orang kebanyakan. Seolah-olah Laksita itu sama sekali tidak menjadi letih meskipun ia harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan kecepatan gerak Swasti. Bersamaan dengan itu, di bukit gundul masih juga terjadi pertempuran yang sengit antara Pangeran Sena Wasesa dengan Kiai Pusparuri. Namun sebagimana telah nampak pada mereka yang menyaksikan pertempuran itu, Kiai Pusparuri mempunyai kelebihan dari Pangeran Sena Wasesa. Sementara itu orang-orang yang berdiri disekitarnya sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu. Jika salah seorang dari mereka akan me masuki arena, maka hal itu akan mencemarkan kejantanan Pangeran Sena Wasesa, meskipun kadang-kadang Rahu hampir tidak dapat menahan dir i. Sebagai seorang yang mendapat tugas khusus, maka ia kurang memperhitungkan harga diri Pangeran Sena Wasesa. Ia merasa wajib untuk membantunya. Karena ternyata Pangeran Sena Wasesa mendapat kesulitan, maka rasa-rasanya ia telah siap untuk meloncat kemedan, mespun ia sadar, diantara kedua orang raksasa itu, ia hampir tidak berarti sama sekali. Tetapi setiap kali ia mendekat, maka Pangeran Sena Wasesa seolah-olah telah member i isyarat agar ia menyingkir dari arena. Rahu menjadi ragu-ragu. Namun debar jantungnya rasa- rasanya tidak lagi tertahankan. Pertempuran yang berlangsung terlalu lama itu, membuatnya tidak sabar lagi. Tetapi ia belum menemukan jalan untuk membantu mengakhirinya. Sementara itu ia mengerti, jika pertempuran itu dibiarkannya berlangsung sebagai perang tanding, maka kemungkinan Pangeran Sena Wasesa untuk memenangkan pertempuran itu sangat kecil. Hanya karena satu kesalahan dari Kiai Pusparuri sajalah akan dapat membantu Pangeran Sena Wasesa keluar hidup-hidup dar i pertempuran itu. Dalam pada itu, Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuningpun sedang mencar i akal untuk membantu menyelesaikan pertempuran itu. Namun agaknya merekapun tidak ingin menyinggung harga diri Pangeran Sena Wasesa. Namun dalam pada itu, ternyata Kiai Kanthi berhasil memancing perhatian Kiai Pusparuri tanpa memasuk arena. Sikap, wajah dan pasemonnya rasa-rasanya sempat menyentuh perasaan Kiai Pusparuri Sekali-sekali Kiai Kanthi tersenyum melihat tata gerak Kiai Pusparuri. Kemudian mengerutkan keningnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Pada kesempatan lain ia mencibir penuh kebencian. Tangannya kadang-kadang menghentak sambil mengepal. Namun kadang-kadang ia tertawa kecil tertahan- tahan. Sikap itu ternyata sangat menjengkelkan Kiai Pusparur i. Betapa ia berusaha untuk tidak menghiraukan sikap itu, namun Kiai Kanthi seakan-akan dengan sengaja bergeser ke tempat-tempat yang berhadapan dengan arah sikap Kiai Pusparuri sehingga Pangeran Sena Wasesa sendiri tidak melihat apa yang dilakukan oleh orang itu. Karena itulah, maka kemarahan Kiai Pusparuri yang hampir tidak terkendali itu ternyata telah terpancing oleh sikap Kiai Kanthi. Karena itu, pada kesempatan yang terbuka, disaat Pangeran Sena Wasesa terdesak beberapa langkah surut, tiba- tiba saja Kiai Pusparur i telah meloncat kearah Kiai Kanthi sambil berteriak “Orang gila. Kau sangka sikapmu tidak menyeretmu ke dalam kesulitan” Kiai Kanthi memang sudah menduga. Karena itu, maka dengan cepat ia meloncat menghindari serangan itu. Namun dengan demikian, Kiai Pusparurilah yang telah menyerangnya sehingga ia akan mempunyai alasan untuk membalasnya. Tetapi pada saat yang demikian, Pangeran Sena Wasesalah yang berteriak “Serahkan orang itu kepadaku Kiai” Kiai Kanthi meloncat surut. Ia tidak ingin membuat persoalan baru sehingga ia t idak berbuat lebih banyak. Dengan demikian maka pertempuran itu telah ber langsung seperti semula. Pangeran Sena Wasesa melawan Kiai Pusparuri. Meskipun sikap Kiai Kanthi itu telah membantu Pangeran Sena Wasesa untuk mempersiapkan dir i. Tetapi sejenak kemudian, imbangan pertempuran itu terulang lagi. Pangeran Sena Wasesa seolah-olah hanya mempunyai kesempatan untuk bertahan saja. Tetapi setiap orang diseputar arena itu melihat, bahwa kemampuan bertahan Pangeran Sena Wasesa itupun telah menjadi semakin susut. Tekanan yang keras telah memaksa Pangeran itu bekerja terlalu berat. Yang kemudian termenung adalah Ki Ajar Cinde Kuning. Ia melihat apa yang terjadi atas Kiai Kanthi. Hal itu ternyata telah sangat menarik perhatiannya. Bahkan, kemudian ia telah bergeser semakin dekat disebelah Kiai Kanthi. Sesaat kemudian, ternyata Ki Ajar Cinde Kuning yang cacat itu berbisik-bisik ditelinga Kiai Kanthi. Bahkan kemudian keduanya telah tersenyumsambil memandang Kiai Pusparuri, Ternyata Ki Ajar Cinde Kuning telah menirukan sikap Kiai Kanthi. Bahkan keduanya bersama-sama telah memancing perhatian Kiai Pusparuri. Justru karena mereka berdua, maka sikap mereka menjadi semakin memanaskan hati Kiai Pusparuri yang memang sedang menyala itu. Untuk beberapa saat Kiai Pusparur i sama sekali t idak menghiraukannya. Namun semakin lama jantungnya menjadi semakin bergejolak. Sehingga akhirnya ia tidak dapat bertahan lagi. Karena itu, maka dengan mengerahkan kemampuannya, Kiai Pusparuri telah berusaha mendesak Pangeran Sena Wasesa. Dan sebenarnyalah yang diharapkan Ki Ajar Cinde Kuning telah terjadi. Kiai Pusparuri mengulangi sikapnya terhadap Kiai Kanthi. Tetapi yang kemudian ternyata ditujukan kepada Ki Ajar Cinde Kuning. Kiai Pusparur i tidak ingin mengulangi serangannya sampai dua kali. Karena itu, ia telah mengerahkan segenap ilmu dan kekuatan yang ada padanya. Dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata, dengan tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang Ki Ajar Cinde. Serangan itu benar-benar mengejutkan. Meskipun Kiai Kanthi yang tahu maksud Ki Ajar, iapun masih juga terkejut. Kiai Pusparuri benar-benar telah berniat untuk menghancur lumatkan Ki Ajar Cinde Kuning dengan satu serangan yang mematikan. Namun hal itulah yang memang diharapkan oleh Ki Ajar Cinde Kuning. Serangan yang terlampau cepat itu sama sekali tidak dielakkannya. Bahkan dengan segenap kemampuan yang ada padanya, Ki Ajar Cinde Kuning telah membentur kekuatan Kiai Pusparur i. Meskipun yang nampak oleh mata orang-orang yang ada disekitar tempat itu, Ki Ajar Cinde Kuning seolah- olah tidak sempat menghindari serangan yang t iba-tiba itu. Sesaat kemudian telah terjadi benturan yang dahsyat sekali. Kekuatan Kiai Pusparuri telah membentur kekuatan Ki Ajar Cinde Kuning. Dua kekuatan raksasa yang seakan-akan telah meledakkan langit. Ki Ajar Cinde Kuning ternyata telah terlempar beberapa langkah. Sesaat ia berusaha untuk bertahan pada keseimbangannya. Namun iapun kemudian telah terjatuh pada lututnya. Meskipun demikian, sejenak kemudian Ki Ajar Cinde Kuning itu telah bangkit berdiri meskipun ia masih harus berjuang mempertahankan keseimbangannya, . Namun dalam pada itu, Kiai Pusparuri telah mengalami keadaan yang tidak disangkanya. Benturan itu telah melemparkannya. Dengan kerasnya Kiai Pusparuri telah terbanting diatas batu padas. Terdengar keluhan tertahan. Kiai Pusparuri masih menggeliat. Bahkan iapun kemudian berusaha untuk bangkit Tetapi demikian ia berdiri tegak, maka iapun telah terjatuh kembali. Sebenarnyalah bahwa ilmu raksasa Kiai Pusparuri itu masih berada beberapa lapis dibawah kemampuan orang cacat yang menyebut dir inya Ki Ajar Cinde Kuning itu. Dengan demikian, maka benturan ilmu itu telah berakibat parah bagi Kiai Pusparuri. Hentakan ilmu Ki Ajar Cinde Kuning seolah-olah telah melontarkan kembali ilmu Kiai Pusparuri itu sendiri dan menghantam bagian dalam tubuhnya, didorong pula oleh kekuatan ilimu Ki Ajar yang memiliki kekuatan tiada taranya. Itulah sebabnya, maka isi dada Kiai Pusparur i rasa- rasanya telah rontok luluh menjadi debu. Tidak ada obat yang dapat menyelamatkannya. Ketika tabib yang semula berada diantara orang-orang Sanggar Gading itu mendekatinya dan meraba tangannya, kemudian menempelkan telinganya didadanya, maka iapun kemudian menggeleng lemah sambil berdesis “Kiai Pusparuri sudah tidak mungkin lagi dapat diselamatkan. Nafasnya sudah tertahan tahan” Pangeran Sena Wasesa memandang Ki Ajra Cinde Kuning sesaat Kemudian ia berdesis “Terima kasih atas belas kasihan Ki Ajar” “Aku mohon maaf Pangeran” sahut Ki Ajar Cinde Kuning “Aku tidak ingin mencampur i persoalan Pangeran dengan Kiai Pusparuri Tetapi Kiai Pusparuri telah menyerangku, sehingga aku terpaksa melindungi diriku dengan ilmu yang ada padaku” “Aku bukan kanak-kanak, Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa “Aku tahu apa yang kalian lakukan. Tetapi dalam kesulitan menghadapi tekanan Kiai Pusparuri aku tidak sempat mencegah kalian” Ki Ajar Cinde Kuning tidak menjawab lagi. Sejenak ia termangu-mangu memandang tubuh Kiai Pusparuri yang terbujur diam. Bahkan kemudian tabib itu berkata “Ia sudah tidak ada lagi“ Ki Ajar Cinde Kuning menar ik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berkata “Aku juga harus mengobati dir iku sendiri Benturan ini telah menyesakkan dadaku. Ternyata Kiai Pusparuri mempunyai kemampuan yang mengagumkan” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kenyataan itu sudah terjadi. Kiai Pusparuri sudah terbaring diamtidak bernafas lagi. Namun dalam pada itu, orang-orang yang ada dikaki bukit gundul itu terkejut ketika tiba-tiba saja Jlitheng berkata lantang “Ki Ajar. Lihat, apa yang terjadi dengan Ki Ajar Pamotan Galih” Ki Ajar Cinde Kuning menjadi tegang. Namun kemudian iapun segera berlari-lari ke tempat saudara kembarnya, diikuti oleh orang-orang yang semula mengerumuni perang tanding yang mendebarkan itu. Ki Ajar Ciinde Kuning menemukan saudara kembarnya duduk bersandar sebongkah batu padas. Wajahnya menjadi sangat pucat, sementara nafasnya terengah-engah. “Pamotan Galih, apa yang terjadi?“ bertanya Cinde Kuning. Ki Ajar Pamotan Galih membuka matanya. Dengan sendat ia berusaha untuk berkata “Aku minta. dir i. Nampaknya kau sudah berhasil mengatasi semua persoalan” Wajah orang-orang yang mengerumuninya menjadi tegang. Ki Ajar Cinde Kuning yang kemudian berjongkok disampingnya bertanya “Apa yang sudah kau lakukan?“ “Jangan sesali kepergianku” jawab Ki Ajar Pamotan Galih “agaknya memang tidak ada tempat lagi bagiku diantara orang-orang yang beradab. Karena itu, maka biarlah aku kembali ke asalku” “Tetapi jangan dengan cara itu“ Ki Ajar Cinde Kuning hampir berteriak. Sementara itu tabib yang sudah berjongkok pula disebela. Ki Ajar Pamotan Galih yang menjadi semakin pucat itupun menjadi tegang. Apalagi ketika ia mulai melihat noda-noda biru di tubuh Ki Ajar Pamotan Galih. “Racun yang kuat” desisnya. Ki Ajar Cinde Kuning menar ik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia melihat disebelah Ki Ajar Pamotan Galih tergolak sebilah ker is kecil yang sudah tidak berada di dalam wrangkanya. Sementara itu. ternyata di pergelangan tangan Ki Ajar Pamotan Galihpun terdapat sebuah goresan kecil yang tidak menitikkan darah. Ternyata Ki Ajar Pamotan Galih telah membunuh dirinya sendir i dengan pusakanya yang mempunyai warangan yang sangat tajam. Tabib itupun tidak dapat menolongnya. Namun pada saat terakhir Ki Ajar Pamotan Galih itu sempat tersenyum dan berkata patah-patah “Di mana Daruwerdi?“ Daruwerdi yang kemudian menyibak maju telah berjongkok pula disisinya “Aku disini” Ki Ajar Pamotan Galih yang menjadi semakin parah itu masih bertahan. Katanya kemudian “Aku minta maaf kepadamu, ngger. Juga kepada ibumu. Tetapi segalanya itu sudah lampau. Kakekmu, Ki Ajar Cinde Kuning akan menjelaskan, siapakah sebenarnya kau, ibumu dan sumber keterangan tentang pusaka itu” Daruwerdi menjadi tegang. Bagaimanapun juga, ia sudah menganggap orang itu sebagai gurunya, kakeknya dan saudaranya pada saat-saat terakhir, meskipun orang itu membingungkannya. “Kau bersedia?“ bertanya Ki Ajar Pamotan Galih semakin sendat. “Ya kakek” sahut Daruwerdi. Sekali lagi nampak senyum di bibir Ki Ajar Pamotan Galih. Namun kemudian terdengar keluhan tertahan. Sejenak kemudian. Ki Ajar itu memejamkan matanya dan melepaskan tarikan nafasnya yang terakhir. Tabib yang berjongkok disisinya itu menar ik nafas dalam- dalam. Ternyata Ki Ajar Pamotan Galih telah pergi masih dalam keadaannya. Duduk bersandar sebongkah batu padas. Dengan hati-hati tubuh itupun kemudian dibar ingkannya. Tangannya masih tetap bersilang didadanya. Silangkan senyumnya masih nampak menghias bibirnya. Wajah Daruwerdilah yang kemudian menjadi gelap. Peristiwa yang terjadi itu merupakan pengalaman yang sangat berat baginya. Yang tidak diduga sama sekali telah terjadi. Alangkah pahitnya penyelesaian yang dihadapi oleh Ki Ajar Pamotan Galih, meskipun itu yang telah dipilihnya sendir i. Dalam pada itu, selagi orang-orang di bukit gundul itu merenungi tubuh Ki Ajar Pamotan Galih yang tergolek diam dengan senyum di bibirnya, di halaman Banjar Kabuyutan Lumban, Swasti masih bertempur melawan Laksita. Namun agaknya Swasti sudah sampai pada keputusan untuk mengakhir i pertempuran itu. Dengan kecepatan geraknya, maka Swasti mempunyai kemungkinan lebih baik dari lawannya. Meskipun lawannya seolah-olah tidak mengenal letih meskipun ia harus mengarahkan segenap tenaganya untuk mengimbangi kecepatan gerak Swasti, namun Swasti telah memilih jalan yang paling baik. Dalam pertempuran berikutnya, Swasti telah mengimbangi kegarangan lawannya. Bahkan dengan memanfaatkan kecepatannya, maka senjata Swasti mulai menyusup diantara pertahanan Laksita. Ketika segores kecil luka mengoyak kulit Laksita, maka orang itu mengumpat-umpat dengan kasarnya. Namun justru karena itu, maka Swasti telah mendapat kesempatan untuk melukainya sekali lagi. Laksita meloncat surut beberapa langkah. Dengan tangan kirinya ia meraba lukanya. Wajahnya menjadi merah semerah darahnya ketika ia merasa bahwa telapak tangannya menjadi hangat oleh darahnya yang mengalir dari luka itu. “Kau tidak mempunyai pilihan” berkata. Swasti “menyerahlah. Kau akan mendapat perlakuan yang-baik” Tetapi jawaban Laksita adalah serangan yang membadai. Senjatanya terayun-ayun mengerikan. Diantara desis serangannya terdengar umpatan-umpatan kasarnya. Swasti mengerutkan keningnya. Ia sudah berhasil melukai lawannya. Darah telah mengalir dar i luka itu. Tetapi luka itu sama sekali tidak berpengaruh atas lawannya yang garang itu. Karena itu, maka Swastipun bergerak semakin cepat. Ketika Laksita meloncat menyerangnya, dengan ayunan senjatanya yang seolah-olah telah melontarkan hembusan angin yang kencang. Swasti sempat mengelak. Namun demikian ia bergeser, maka tiba-tiba saja ia meloncat dengan pedang terjulur. Sekali lagi terdengar Laksita berteriak liar. Lambungnya ternyata tersentuh oleh ujung senjata Swasti. “Anak iblis” teriak Laksita “Kau berani melukai aku he?“ Swasti tidak menyahut. Namun ketika ia memandang wajah lawannya diluar sadarnya, tiba-tiba saja terasa kengerian menyentuh perasaannya. Wajah itu bagaikan wajah hantui yang sedang marah. Sorot matanya bagaikan berpijar kemerah-merahan. Swasti bergeser surut. Tetapi Laksita bagaikan orang yang kehilangan nalarnya. Ialah yang meloncat memburu lawannya sambil memutar senjatanya. Luka ditubuhnya seolah-olah tidak terasa sama sekali. Anak-anak muda yang memutari arena itupun menjadi berdebar-debar. Mereka seolah-olah melihat sesosok hantu yang sedang mengamuk. Pakaiannya yang merah dan luka- luka yang tergores di kulitnya, membuat orang itu menjadi semakin mengerikan. Swasti yang bertempur melawan orang itupun nampaknya mulai terpengaruh oleh sikap dan tingkah laku lawannya. Kerut merut di wajah Swasti menunjukkan, bahwa ketegangan menjadi semakin memuncak didadanya menghadapi lawannya yang bagaikan menjadi gila. Justru ketika ia sudah berhasil melukai lawannya, maka ia mulai merasa semakin terdesak. Gadis itu mencoba untuk menguasai perasaannya. Ia mencoba untuk mempergunakan nalarnya. “Aku akan memenangkan pertempuran ini jika aku tetap menyadari apa yang terjadi sebenarnya. Mudah-mudahan Yang Maha Kuasa melindungi aku“ Swasti yang ragu-ragu berusaha untuk mendapatkan sandaran perasaan. Namun lawannya benar-benar bagaikan sesosok hantu yang gila. Ia sama sekali tidak menghiraukan, bahwa darah seolah-olah telah memerah diseluruh tubuhnya. Luka-lukanya di pundak, di lengan, di lambung dan di bagian tubuh lainnya, dan yang telah mengalirkan darah seolah-olah sama sekali tidak berarti. Swasti yang melihat darah yang mengalir semakin banyak itu masih sempat berkata kepada diri sendir i “Jika aku biarkan ia bergerak lebih banyak lagi, maka darahnya akan semakin deras terperas dari dalam tubuhnya. Ia akan segera menjadi lemah dan kehilangan kemampuan untuk melawan” Karena itu, Swasti mencoba memancing lawannya bergerak semakin cepat, agar darahnya menjadi semakin terperas. Namun semakin lama justru kengerian di hati Swasti menjadi semakin menekan. Laksita yang sudah menjadi merah oleh darahnya sendiri itu, masih mampu bertempur dengan garangnya. Tidak ada tanda-tanda sama sekali bawha tenaganya telah menjadi susut “Gila. Benar-benar Gila“ desis Swasti sambil berloncatan surut. Laksitalah yang kemudian justru mendesak Swasti. Dengan garang ia menyerang. Tetapi dengan jantung yang bergejolak, Swasti masih sempat melihat celah-celah putaran senjata lawannya. Dengan kulit yang meremang, Swasti merendah sambil menjulurkan ujung pedangnya, ketika lawannya mengayunkan senjatanya ke arah kepalanya. Swasti memejamkan matanya ketika ia merasa ujung pedangnya menghunjam ke dada lawannya yang basah oleh keringat dan darah. Ia mendengar keluhan di mulut lawannya. Swasti yang masih memejamkan matanya sekejap itu meloncat surut untuk menghindari kemungkinan yang buruk yang dapat terjadi atas dirinya justru karena ia tidak mau memandang apa yang telah terjadi. Namun ketika Swasti membuka matanya, ia masih melihat lawannya tetap berdiri tegak. Matanya masih berpijar dan senjatanya masih terayun-ayun. “Gila, apakah aku berhadapan dengan sesosok hantu“ geramSwasti di dalam dir inya. Namun kengerian yang sangat telah membuatnya menjadi gelisah. Tangannya mulai gemetar dan sikapnya justru kurang mapan. “Menyerahlah” teriak Swasti untuk mengatasi kengeriannya. Tetapi Laksita seolah-olah sudah tidak dapat mendengar suara lawannya. Matanya yang berpijar merah rasa-rasanya menjadi semakin menyala. Ketika orang itu melangkah maju sambil mengayun-ayunkan senjatanya, Swastipun melangkah surut. Sebenarnyalah orang-orang yang menyaksikan pertempuran itupun telah dicengkam oleh kengerian yang sangat. Laksita yang sudah menjadi merah oleh darahnya sendiri itu, masih juga berdir i tegak dan bahkan masih melangkah maju mendesak Swasti yang menjadi semakin ngeri. Menilik bahwa ujung senjatanya mampu melukai tubuh lawannya, Swasti mengerti bahwa lawannya itu tidak memiliki ilmu kebal. Tetapi bahwa oleh luka- lukanya yang parah, ia seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh, agaknya telah membuat Swasti kehilangan akal. Swasti yang didesak surut itu telah menyibak orang-orang yang melingkar i arena. Bahkan satu dua orang telah berlari- lari kecil menepi. Sementara orang yang terluka parah itu masih saja melangkah maju. Tetapi melihat sorot matanya dan ketegangan wajahnya, yang dilakukan oleh orang itu nampaknya sudah diluar sadarnya. Orang-orang yang melingkari pertempuran itu menjadi sangat cemas ketika mereka melihat, tiba-tiba saja Swasti tidak dapat lagi bergerak mundur. Ketika punggungnya telah melekat pada dinding halaman, maka jantungnya benar-benar terasa berdentang semakin cepat “Berhenti disitu” teriak Swasti ketika ia melihat lawannya masih melangkah maju. Tetapi seperti suaranya yang terdahulu, seolah-olah sudah tidak dapat didengar lagi oleh lawannya yang sudah kehilangan kediriannya. Karena itu, maka Laksita sama sekali tidak menghent ikan langkahnya. Ia masih maju sambil mengayunkan senjatanya. Bahkan ternyata ia masih menggeram “Aku tidak dapat dikalahkan oleh perempuan” Swasti menjadi semakin berdebar-debar. Ternyata Laksita itu seakan-akan telah menjadi gila. Ia melepaskan dir i dari tangan Daruwerdi di bukit gundul. Namun t iba-tiba saja ia telah berhadapan dengan seorang perempuan yang tidak dapat dikalahkannya. Dengan demikian maka rasa-rasanya perasaannya tidak lagi dapat dikendalikannya dengan nalarnya. Dalam pada itu, Swasti berteriak sekali lagi “Jangan maju lagi. Lepaskan senjatamu dan menyerahlah. Kau akan mengalami perlakuan yang wajar. Tetapi suara itu lenyap di ketegangan suasana. Orang itu masih maju lagi. Swastipun kemudian seakan-akan juga telah kehilangan akal oleh kengerian yang memuncak. Karena itu, maka iapun sulit untuk mengendalikan perasaannya. Dalam keadaan yang demikian itu, Laksita masih melangkah maju. Senjatanya terayun mengerikan meskipun orang itu sudah t idak dapat lagi mengatur arah dan apalagi mempergunakan ilmu pedangnya. Kengerian yang memuncak telah meledakkan perasaan Swasti yang sudah melekat didinding halaman dan tidak mungkin lagi untuk melangkah mundur. Karena itulah, maka Swastipun telah mengambil sikap oleh dorongan perasaannya semata-mata. Ketika senjata Laksita terayun kearahnya, maka Swasti itupun telah meloncat kesamping sambi memekik kecil. Namun kemudian sekali lagi Swasti memejamkan matanya sambil menjulurkan pedangnya menyusup ayunan senjatanya. Terasa pedangnya sekali lagi menghunjam ketubuh orang itu. Namun oleh goncangan perasaannya, hampir diluar sadarnya, Swasti masih mendorong pedangnya dan menghunjamkannya lebih dalam lagi. Tetapi ternyata bahwa pedang yang menghunjam terlalu dalam itu, tidak terlalu mudah untuk dicabut Sementara kengerian yang luar biasa telah mencengkam perasaannya, sehingga karena itu, maka Swastipun kemudian justru melepaskan pedangnya. Ia bergeser kesamping sepanjang dinding halaman. Namun sayang, oleh ketergesa-gesaan dan kengerian yang sangat, Swasti tidak dapat meloncat dengan sempurna. Hanya oleh rumput ker ing dan akar perdu, terasa seolah-olah kaki Swasti telah membentur seonggok batu hitam. Karena itu, Swasti telah terjatuh di tanah. Justru pada saat lawannya melangkah setapak maju meskipun pedang Swasti masih terhujamdidadanya. Sesaat orang itu berdiri dengan kaki renggang disebelah tubuh Swasti yang masih terbujur di tanah. Dengan mata yang berpijar kemerahan dipandanginya tubuh Swasti yang seolah- olah sudah tidak beradaya itu. Terjadilah sesuatu yang menggetarkan seluruh halaman. Orang itu tertawa berkepanjangan. Semakin lama semakin keras. Seolah-olah ingin meruntuhkan dinding yang memutari halaman banjar itu. “Aku bunuh kau perempuan cengeng” teriak orang itu di sela-sela tertawanya. Swasti justu bagaikan membeku. Ia hanya dapat melihat orang itu mengangkat senjatanya. Kemudian, seolah-olah terasa sebuah bukit runtuh menimpa dir inya. Swasti masih berteriak, ketika ia menyadari bahwa tubuh Laksitalah yang jatuh menimpanya. Namun kemudian segalanya menjadi gelap. Swasti Itupun menjadi pingsan. Anak-anak muda yang menyaksikan pertempuran itupun seakan-akan telah membeku pula. Sejenak mereka diam mematung. Namun sejenak kemudian merekapun telah datang berlari-lari mendekati kedua tubuh yang diam itu. Dengan tergesa-gesa mereka telah mengangkat dan menyingkirkan tubuh Laksita yang arang kranjang lukanya. Kemudian membar ingkannya di pinggir halaman. Sementara dua orang diantara mereka, dengan wajah yang berpaling telah berusaha menarik pedang yang terhunjam didada orang itu. Anak-anak muda yang lainpun kemudian telah membawa Swasti yang pingsan ke pendapa. Ibu Daruwerdi yang melihat keadaan gadis itupun bagaikan orang yang tersadar dari sebuah mimpi yang menger ikan. Meskipun tubuhnya masih terasa gemetar, tetapi iapun kemudian berlari mendekati Swasti yang terbaring diam diatas sehelai tikar yang di bentangkan di pendapa. “Swasti. Swasti” ibu Daruwerdi itu memanggilnya. Tetapi Swasti masih tetap diam. Seorang anak muda yang berlari-lari ke sumur telah kembali sambil membawa air di dalam mangkuk. Dengan hati- hati ibu Daruwerdi menitikkan air itu ke mulut Swasti. Setitik demi setitik. Sesaat kemudian, Swastipun mulai bergerak. Ketika ia mulai menyadari dirinya, tiba-tiba saja ia berusaha untuk bangkit. Namun kemudian yang dilihatnya duduk di hadapannya adalah seorang perempuan. Pandangan matanya yang kabur menjadi semakin jelas. Yang dilihatnya itu benar-benar seorang perempuan. Ibu Daruwerdi. Tiba-tiba saja kengerian yang sangat telah bergejolak di hatinya. Hati seorang gadis yang betapapun garangnya. Karena itu, maka diluar sadarnya Swasti telah memeluk ibu Daruwerdi itu. Sambil melekatkan kepalanya didada perempuan itu terdengar gadis itu terisak. Ibu Daruwerdipun kemudian membelai rambut gadis itu. Rambut yang kusut. Sementara pakaian Swastipun telah bernoda darah lawannya yang telah dibunuhnya. “Kau telah menyelamatkan jiwaku ngger” desis ibu Daruwerdi ”jika kau tidak ada disini, mungkin aku telah dibantai oleh iblis itu” Swasti tidak menjawab. Ia masih saja terisak. Namun dalam pada itu, bukan saja kengerian yang telah melanda jantung gadis itu. Tetapi pelukan seorang perempuan terasa membuat hatinya sejuk dan tenang. Tiba-tiba saja keriduannya kepada seorang perempuan telah mencengkamnya. Kerinduannya kepada ibunya seolah- olah telah terangkat, ketika ia merasakan pelukan seorang perempuan. Karena itulah, maka Swastipun kemudian tidak dapat menahan tangisnya yang semakin menyesakkan dadanya. Sambil memeluk perempuan itu erat-erat Swasti menangis tertahan-tahan. Namun betapapun ia berusaha menahan diri, namun tangisnya bagaikan tertumpah didada perempuan itu. Ibu Daruwerdipun menjadi bingung. Ia telah melupakan kengerian dihatinya sendiri. Tetapi ia tidak tahu, bagaimana menenangkan gadis itu. Namun akhirnya ia berkata “Swasti, Sudahlah. Kau sudah menyelesaikan pertempuran itu” Kata-kata itu telah mengingatkan Swasti kepada orang yang mengerikan itu. Tetapi rasa-rasanya ia masih ingin melepaskan ker induannya kepada ibunya. Teringat oleh gadis yang garang itu, bagaimana ia di masa kecilnya dipeluk dan ditimang oleh ibunya. Tetapi yang kemudian segalanya itu harus dilemparkannya ke dalam alam kenangan karena ia harus hidup dalam lingkungan yang keras dan tenggelam dalam latihan- latihan oleh kanuragan. “Swasti” berkata ibu Daruwerdi itu pula “ tenanglah. Tidak ada lagi yang menggelisahkan di halaman ini. Kau telah memenangkan pertempuran itu” Swasti berusaha untuk menguasai perasaannya. Perlahan- lahan ia melepaskan pelukannya. Kemudian tangisnyapun mulai mereda. Tetapi justru ia menjadi terisak dan nafasnya terasa sesak. Dalam keadaan yang demikian, Swasti tidak dapat berbuat sebagaimana ia mengalami kesulitan setelah bertempur dengan mengerahkan segenap tenaganya, sehingga nafasnya menjadi terengah-engah. Dalam keadaan yang demikian, seharusnya ia dapat memusatkan kemampuannya untuk memperbaiki pernafasannya. Tetapi selagi nafasnya itu sesak karena tangis, maka ia tidak dapat memusatkan ilmunya yang manapun juga untuk mengatur pernafasannya itu, justru karena gejolak perasaannya yang kurang dapat terkekang. Namun akhirnya, Swasti itupun duduk sambil menundukkan kepalanya. Sekali-sekali isaknya masih terasa menyesak didadanya. Anak-anak muda yang berada di banjar itu, menyaksikan tingkah laku Swasti dengan hati yang bergejolak. Mereka tidak tahu, perasaan apakah yang tergetar diliati gadis itu. Mereka menyangka bahwa peristiwa yang mengerikan itu sajalah yang telah mengguncangkan perasaan Swasti. Mereka tidak melihat, betapa sejuknya pelukan seorang ibu telah membuat Swasti semakin tenggelam ke dalam tangisnya. Meskipun demikian, agaknya Swasti tidak mau lagi melihat tubuh orang yang telah dibunuhnya. Ia sama sekali tidak mau memandang ke halaman. Apalagi karena ia tahu, bahwa tubuh lawannya itu masih belum disingkirkan dati tempatnya Dengan kepala tunduk Swasti itu kemudian berkata dengan nada yang masih gemetar “Aku akan kebelakang, bibi” “Marilah ngger” jawab ibu Daruwerdi “Aku akan mengantarkanmu” Kemudian Swasti itupun berkata kepada seorang anak muda yang berada di pendapa “Singkirkan tubuh itu. Aku tidak mau melihatnya lagi” “Baiklah” jawab anak muda itu “akan kami bawa tubuh itu keserambi samping” Sementara Swasti masuk ke ruang dalam, dan memerlukan pakaian untuk menggantikan pakaiannya yang bernoda darah, maka anak muda itupun kemudian mengajak kawan- kawannya untuk memindahkan tubuh yang terbaring diam itu. Rasa-rasanya merekapun menjadi sangat ngeri. Namun tubuh itu benar-benar sudah tidak dapat mengamuk lagi. Orang itu tidak dapat lagi membunuh siapapun juga yang berada di halaman banjar itu. “Gadis itu memang luar biasa” desis seseorang diantara anak-anak muda itu “ bagaimanapun juga, ia dapat mengalahkan lawan yang garang ini, meskipun ia kemudian tidak dapat melepaskan perasaannya sebagai seorang gadis” Dalam pada itu, di bukit gundul Ki Ajar Cinde Kuning masih merenungi saudara kembarnya yang telah mengakhiri hidupnya dengan caranya. Penyesalan dan putus-asa nampaknya telah terlalu dalam menghunjam di dalam jantungnya, sehingga ia merasa tidak pada tempatnya lagi untuk tinggal bersama-sama kehidupan yang beradab. Beberapa orang yang lain telah mulai dengan mengumpulkan. mereka yang terluka. Satu dua orang anak muda Lumban. ternyata menjadi parah oleh luka-lukanya. Bahkan ada juga diantara mereka yang tidak sadarkan diri lagi dan tidak tahu apa yang terjadi. Tabib yang sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi atasi Ki Ajar Pamotan Galih itupun segera bekerja keras di bantu oleh beberapa orang untuk menolong jiwa mereka yang seakan- akan sudah berada di ujung rambut. Namun, betapa segala usaha dilakukan, tetapi akhirnya segalanya terserah kepada keadilan Yang Maha Kuasa. Mereka yang memang sudah waktunya harus menghadap, ternyata tidak akan dapat ditunda lagi. Dalam pada itu, Daruwerdipun masih duduk di sisi Ki Ajar Cinde Kuning merenungi tubuh Ki Ajar Pamotan Galih. Rasa- rasanya semuanya itu bagaikan sebuah mimpi. Daruwerdi sama sekali tidak mengerti bahwa kakeknya dan sekaligus gurunya telah berganti orang, meskipun kemudian ia merasakan beberapa perbedaan. Tetapi ia menganggap bahwa hal itu disebabkan karena kakeknya sengaja telah mempersiapkan dirinya dalam tugasnya yang baru. Selagi anak-anak muda di bukit gundul itu membenahi dir i, tiba-tiba mereka telah dikejutkan oleh hadirnya seorang kawan mereka yang berlari- lari dengan nafas terengah-engah. Karena itu, maka anak-anak muda Lumban itupun telah menyosongnya sambil bertanya “Ada apa?“ Anak muda itu mencoba mengatur pernafasannya. Katanya kemudian terbata-bata “Mana Daruwerdi” “Ya kenapa?“ bertanya kawannya. Kawan-kawannya yang melihat keadaan yang nampaknya gawat itu telah membawa anak itu kepada Daruwerdi. “Ibumu dalam bahaya” berkata anak itu “seorang yang garang telah bertempur dengan gadis yang menemani ibumu itu” Daruwerdi tiba-tiba saja telah meloncat berdiri Anak muda Lumban itu ternyata telah meninggalkan banjar ketika Swasti mulai bertempur dengan Laksita taripa melihat akhir dari pertempuran itu. Kecemasan yang bergejolak dihatinya telah mendorongnya untuk pergi ke bukit gundul. “Katakan sekali lagi“ minta Daruwerdi. “Seseorang telah bertempur dengan gadis yang berada di banjar itu. Orang itu mencarimu, tetapi yang ada hanya ibumu. Gadis itu berusaha untuk melindungi ibumu” jawab anak muda Lumban itu. Daruwerdi tidak bertanya sekali lagi. lapun kemudian berlari-lari meninggalkan bukit itu tanpa mengatakan sesuatu kepada siapapun juga. Jlitheng dan beberapa orang yang mendengar keterangan itupun tidak dapat tinggal diam. Mereka tidak tahu, siapa orang yang datang itu dan apakah ia memiliki ilmu yang tidak terlawan. Ki Ajar Cinde Kuningpun menjadi cemas. Tetapi sebelum ia beranjak dari tempatnya, Kiai Kanthi berkata “Aku ikan melihat apa yang terjadi dengan anakku” Ki Ajar Cinde Kuning menarik nafas dalam-dalam. Pangeran Sena Wasesa tertarik juga kepada kabar itu. Tetapi etclah beberapa orang meninggalkan bukit gundul itu, maka mpun membatalkan niatnya untuk pergi ke banjar bersama-sama dengan Kiai Kanthi. Dalam pada itu, Jlithengpun berpesan kepada Semi “Kau disini. Biarlah anak-anak itu menyelesaikan tugasnya disini. Jika perlu sekali, aku akan memberikan isyarat” Semi tidak menjawab. Namun iapun kemudian bersama anak-anak muda Lumban telah berusaha untuk membersihkan tempat itu. Kawan maupun lawan yang masih memer lukan pertolongan, telah disiapkan untuk segera mendapat pertolongan. Sejenak kemudian, Ki Ajar Cinde Kuning merasa tidak perlu terlalu lama merenungi saudara kembarnya yang telah memilih jalannya sendiri. Meskipun terasa pedih di hatinya masih menyengat, namun iapun akhirnya meninggalkan saudara kembarnya, yang diharapkannya dapat memilih jalan yang lebih baik. Tetapi yang justru memilih jalan yang paling singkat. Ki Ajar Cinde Kuning kemudian melihat Pangeran Sena Wasesa merenung. Namun ia t idak ingin menegurnya. Pangeran Sena Wasesa masih terpengaruh oleh sikapnya, bahwa ia telah mencampuri perang tanding Pangeran itu melawan Kiai Pusparur i. Namun tanpa campur tangan orang lain, Pangeran Sena Wasesa tidak akan dapat bertahan melawan Kiai Pusparuri yang garang itu. Dalam pada itu, maka Ki Ajar Cinde Kuningpun telah memilih untuk membantu tabib yang sedang sibuk itu. Iapun memiliki pengetahuan tentang obat-obat dan iapun membawa serba sedikit, sehingga dengan demikian, maka iapun akan dapat membantu mer ingankan pender itaan mereka yang terluka Namun akhirnya, Ki Ajar Cinde Kuning itu telah berbicara dengan anak-anak muda Lumban. Mereka bersepakat untuk membawa kawan-kawan mereka yang terluka ke banjar, agar mereka dapat merawat lebih baik. Demikian pula orang-orang Pusparuri yang parah, sementara beberapa orang kawan yang lain akan tinggal untuk menyelenggarakan dan mengubur lawan-lawan mereka yang terbunuh di peperangan. “Pangeran“ berkata Ki Ajar Cinde Kuning kemudian “Bukankah tidak ada gunanya lagi kita berada di bukit ini?“ Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. ”Anak-anak muda akan menyelesaikan segalanya. Marilah kita pergi ke Banjar. Kita akan melihat apa yang terjadi, dengan anak gadis Kiai Kanthi itu. Selebihnya kita akan berbicara tentang diri kita masing-masing. Nampaknya persoalan yang membakar daerah Sepasang bukit mati ini telah padam Mudah-mudahan t idak ada lagi orang-orang tamak yang akan mencari pusaka dan harta benda yang sebenarnya tidak pernah tersimpan di bukit gundul ini. Karena menurut Pangeran semuanya telah kembali ke tempatnya, gedung perbendaharaan Demak” Katanya lebih lanjut. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian kitanya “Baiklah. Kita akan pergi ke banjar. Tetapi tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan. Seperti yang sudah aku katakan, pusaka dan harta benda itu memang sudah berada di gedung perbendaharaan Demak. Dengan demikian sebenarnya sia-sialah korban yang jatuh selama ini dalam perburuan yang tidak punya arti sama sekali” “Ketamakan kadang-kadang memang membaurkan nalar kita Pangeran” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Lalu “Namun disamping pusaka dan harta benda itu, masih ada yang dapat di bicarakan diantara kita. Bukan tidak diperhitungkan, bahwa Daruwerdilah yang harus mengambil Pangeran sebagaimana di kehendaki oleh Pamotan Galih” Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Namun Ki Ajar itupun berkata “Marilah. Mudah-mudahan kita akan menemukan jawabnya nanti. Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Namun Ki Ajar itupun berkata “Marilah. Mudah-mudahan kita akan menemukan jawabnya nanti” Pangeran Sena Wasesa tidak membantah lagi meskipun ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ki Ajar Pamotan Galih. Dalam pada itu, Ki Ajar itupun masih sempat berpesan kepada anak-anak muda di bukit gundul itu, agar mayat saudara kembarnya itupun di bawa ke banjar. Bagaimanapun juga orang itu adalah saudaranya, bahkan saudara kembarnya. Demikianlah maka Pangeran Sena Wasesa dan Ki Ajar Cinde Kuning itupun bergegas pergi ke banjar Kabuyutan. Merekapun merasa bertanggung jawab atas Kabuyutan itu, apalagi atas ibu Daruwerdi. Perempuan itu seolah-olah telah menjadi anak kandung Ki Ajar Cinde Kuning meskipun ia harus melepaskannya beberapa saat, justru pada saat saudara kembarnya menggant ikan kedudukannya. Sementara itu, kedua orang pamari Daruwerdi yang telah berada di bukit gundul dan ikut bertempur melawan orang- orang itupun menjadi bingung, sehingga mereka tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan, Namun merekapun ingin tahu, apa yang terjadi dengan ibu Daruwerdi, sehingga merekapun telah menyusul Kiai Kanthi pergi ke banjar. Sebenarnyalah anak-anak muda Kabuyutan Lumban itupun telah bekerja dengan baik dan cepat. Karena itu, maka dengan tenaga yang cukup banyak, tugas merekapun segera dapat mereka selesaikan. Bahkan beberapa orang anak muda Lumban telah mengambil beberapa buah pedati yang ada di Lumban untuk membawa kawan-kawan mereka maupun orang-orang Pusparuri yang tidak dapat berjalan sendiri menuju ke banjar. Dengan demikian maka Lumban telah benar-benar menjadi sangat sibuk. Orang-orang Lumban yang semula tidak begitu jelas dengan apa yang terjadi di bukit gundul, akhirnya merekapun mengerti pula. Sehingga dengan demikian justru mereka menjadi sangat ngeri mendengar peristiwa di bukit gundul itu. Meskipun peristiwa itu sendiri telah selesai, tetapi perempuan dan anak-anak masih ragu-ragu untuk turun ke jalan. Namun beberapa orang diantara mereka telah memberanikan diri untuk bertanya-tanya, apakah anak mereka selamat pulang ke Kabuyutan Lumban. Dalam pada itu, Daruwerdi telah berada di banjar Kabuyutan Lumban. Ketika ibunya melihat kedatangannya, maka iapun segera menyongsongnya, memeluknya seperti memeluk kanak-kanak. “Apa yang telah terjadi ibu?“ bertanya Daruwerdi. Ibunya menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Gadis itu telah menyelamatkan nyawaku” Daruwerdi memandang wajah Swasti sejenak. Kemudian iapun berdesis “Ter ima kasih Swasti” “Kaupun telah menyelamatkan nyawaku ketika aku dan ayah datang ke padukuhan ini” sahut Swasti tersendat-sendat oleh keragu-raguan “kau telah membunuh har imau itu” “Hal itu aku lakukan karena kebodohanku” jawab Daruwerdi ”Sudah pernah aku katakan bahwa aku tidak tahu sama sekali, dengan siapa aku berhadapan. Ternyata kau telah mampu membunuh orang yang tidak dapat aku bunuh di bukit gundul. Ia sempat melarikan diri. Ternyata ia telah datang ke banjar ini. Untunglah kau ada disini. Jika anak-anak muda Lumban saja yang menghadapinya, maka korban akan bertebaran di halaman” “Ah“ desah Swasti sambil menundukkan kepalanya. “Kita berhutang kepadanya” berkata ibu Daruwerdi. “Ya” Sahut Daruwerdi “akupun telah diselamatkannya di bukit gundul saat kami bertemu dengan sisa-sisa orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih” ”Bukan begitu” jawab Swasti ragu-ragu. Tetapi ternyata ia tidak dapat meneruskan kata-katanya. ”Nampaknya kami sudah berhasil menenangkan dir i” berkata, ibu Daruwerdi “tinggalkan kami disini. Mungkin kau dapat membantu anak-anak muda di halaman banjar ini” Daruwerdi mengangguk kecil. Sekilas dipandanginya Swasti yang semula menunduk. Namun pada saat yang bersamaan Swastipun telah mengangkat wajahnya dan memandanginya. Cepat keduanya memalingkan wajahnya. Namun yang sekilas itu rasa-rasanya telah membuat jantung mereka berdebaran. Namun kemudian Daruwerdi tidak mengucapkan sepatah katapun lagi. Iapun segera meninggalkan tempat itu dan turun kehalaman. Dilihatnya Kiai Kanthi telah memasuki halaman itu pula. Namun karena keadaan sudah nampak lebih tenang, maka iapun tidak tergesa-gesa. ”Dimana anakku ngger?“ bertanya Kiai Kanthi kepada Daruwerdi. “Ada di dalam Kiai” jawab Daruwerdi. "Kiai Kanthipun kemudian memasuki banjar itu. Dilihatnya dua orang perempuan duduk disebuah amben bambu. “Ayah desis Swasti. Adalah diluar sadarnya bahwa terasa matanya menjadi panas. Setitik air telah mengembang di pelupuknya. “Kau selamat Swasti. bersukurlah” desis Kiai Kasihi “Ternyata kau masih selalu mendapat perlindungan” Swasti menunduk. Diusapnya matanya yang basah dengan jari-jarinya. Sementara itu ibu Daruwerdi berkata “Gadis yang luar biasa Kiai. Tanpa gadis itu, aku tidak tahu apa yang terjadi atas diriku” “O” Kiai Kanthi mengangguk-angguk “Tetapi sudah tentu karena pertolongan anak-anak muda Lumban” “Anak-anak muda Lumban sama sekali t idak berdaya menghadapi orang itu, meskipun bukan berarti bahwa mereka tidak berbuat apa-apa. Tetapi anak perempuan Kiai benar- benar seorang yang luar biasa” “Terima kasih” sahut Kiai Kanthi “Sudah aku katakan, sebenarnya Kuasa Yang Maha Kuasa sajalah yang telah menyelamatkan kita semuanya” Perempuan itu mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Sebenarnyalah memang demikian Kiai” Beberapa saat Kiai Kanthi masih berada di ruang itu. Namun kemudian iapun telah pergi ke pendapa. Ternyata orang-orang tua yang lainpun telah hadir pula di pendapa itu. Agaknya keadaan yang paling gawat telah lewat bagi Lumban. Yang di lakukan anak-anak muda kemudian adalah menolong yang terluka dan menyelenggarakan yang terbunuh di peperangan sebagaimana seharusnya. Dengan demikian maka kesibukan di banjar itupun, menjadi semakin meningkat. Ternyata bahwa semuanya yang terjadi itupun kemudian telah dilaporkan kepada Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Apalagi Nugata sendiri ikut menanganinya. Sehingga karena itu, maka kedua Buyut yang kebetulan bersaudara kembar itupun telah mengunjungi banjar Kabuyutan Lumban Wetan. Dengan kerja keras, maka akhirnya semuanya dapat diselesaikan. Mereka yang terluka tidak terlalu parah, lelah diantar kepada keluarga masing-masing. Sementara yang mengalami luka yang gawat, masih tetap tinggal di banjar, agai dapat diawasi dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Demikianlah, pada har i berikutnya, Pangeran Sena Wasesa telah dengan sengaja berbicara dengan beberapa orang bebahu Kabuyutan Lumban Wetan dan Lumban Kulon termasuk Ki Buyut dari kedua Kabuyutan yang bertetangga itu. Pangeran Sena Wasesa telah memberikan penjelasan tentang pusaka dan harta benda yang telah menjadi sumber bencana bagi Lumban. Sesuai dengan pendapat Ki Ajar Cinde Kuning, memang ada kesengajaan dari Ajar Pamotan Galih untuk memancing perhatian beberapa pihak. Apalagi beberapa pihak itu telah pernah mendengar serba sedikit tentang perjalanan seorang Senapati yang meninggalkan Majapahit pada masa-masa terakhir. “Ki Ajar Pamotan Galih lelah dengan sengaja menyebarkan kabar-kabar yang dapat memancing kekeruhan” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Tentu saja sebagian atas namaku, atas nama Ajar Macan Kuning dan kemedian Ajar Pamotan Galih” “Ki Ajar Pamotan Galih mengetahui bahwa aku tahu benar tentang pusaka itu” berkata Pangeran Sena Wasesa “karena itu, maka ia telah memasang nilai tukar. Jika Ajar Pamotan Galih dapat menangkap aku, maka ia akan dapat memeras aku untuk menjelaskan dimana pusaka itu disimpan. Sementara ia telah menyiapkan barang-barang palsu untuk mengelabui orang-orang yang dianggapnya terlalu bodoh” Namun akhirnya Pangeran Sena Wasesa itupun berkata “Tetapi semuanya sudah lampau. Kita harus berterus terang kepada semua orang, bahwa Pusaka dan harta benda yang mereka cari telah berada di Demak, Pusaka itu telah berada di gedung perbendaharaan, khusus gedung pusaka” Orang-orang yang mendengar penjelasan itupun mengangguk-angguk. Mereka mengerti maksud Pangeran Sena Wasesa Agar perburuan pusaka itu tidak terjadi lagi, maka ber ita bahwa pusaka itu telah berada di gedung pusaka di Demak harus tersebar luas, “Tetapi pusaka apakah yang sebenarnya di perebutkan itu?“ t iba-tiba Kiai Kanthi bertanya. Pangeran Sena Wasesa memandang Kiai Kanthi sejenak. Lalu katanya “Apakah Kiai benar-benar bertanya atau sekedar ingin memberitahukan jenis pusaka itu kepada orang-orang yang ada di tempat ini“ Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Jawabnya “Tentu aku ingin tahu karena sebenarnyalah aku tidak mengetahui” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Katanya “Kiai, sebelumnya aku memang belum mengenal Kiai. Tetapi seperti yang pernah aku katakan, aku mengenal ciri-cir i pada tata gerak Kiai, dan yang barangkali Kiaipun dapat mengatakan demikian terhadap ilmuku” Kiai Kanthi berdesah. Katanya “Mungkin hanya kebetulan Pangeran. Tetapi sebenarnyalah aku tidak tahu sama sekali tentang pusaka yang sedang diperebutkan itu” “Baiklah Kiai” jawab Pangeran Sena Wasesa “pusaka yang telah diserahkan bagi seorang Senepati yang mendapat tugas untuk menahan arus lawan itu adalah pusaka yang sangat tinggi nilainya bagi Majapahit. Meskipun Senepati itu tidak berhasil mempertahankan Kota Raja, namun ia telah berhasil menghambat kemajuan lawan dan memberi kesempatan Majapahit menyelamatkan sebagian besar dari isi istana. Bukan saja harta bendanya, tetapi juga manusianya. Dan pusaka itu berupa sebilah sabet. Sebilah pedang yang bernama Kiai Lawang” “Kiai Lawang“ Kiai Kanthi mengulang “sebuah pedang yang luar biasa” “Ya Kiai, sabet yang jarang ada duanya” sahut Pangeran Sena Wasesa “namun yang lebih menarik perhatian mereka yang berburu pusaka, adalah bahwa menurut kepercayaan mereka, dan yang sudah tentu telah disebar luaskan mula- mula oleh lingkungan para pemburu harta benda, bahwa pusaka sabet Kiai Lawang itu di sertai dengan harta benda yang tidak ternilai harganya, sebagai lantaran untuk dapat memulihkan kuasa Majapahit” “Tetapi usaha itu tidak berhasil?“ berkata Kiai Kanthi kemudian. “Bukan tidak-berhasil“ berkata Pangeran Sena Wasesa karena yang kemudian berdir i adalah Demak, maka usaha itu telah disalurkan lewat trah Majapahit yang sudah berhasil menghimpun tegaknya satu negara baru, meskipun tidak berada di bekas kota raja yang lama, Majapahit. Dengan demikian, maka pusaka dan harta benda itu telah diserahkan kepada Demak” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Namun sementara itu Daruwerdi berkata “Agaknya Ki Ajar Pamotan Galih tidak tahu pasti, pusaka apakah yang sebenarnya diburu oleh orang- orang tertentu, dan orang-orang Sanggar Gading. Kendali Putih. Pusparuri dan mungkin orang-orang lain yang ingin juga berburu pusaka itu, sama sekali juga tidak tahu ujud pusaka yang mereka car i” “Agaknya memang demikian ngger” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Ya. Ternyata Ki Ajar Pamotan Galih telah menyediakan sebuah peti yang diisi dengan sebilah keris. Bukan sebilah sabet” jawab Daruwerdi. “Tetapi Ki Ajar Pamotan Galih mengetahui, bahwa satu- satunya orang yang tahu pasti dimana pusaka itu adalah Pangeran Sena Wasesa” sahut Ki Ajar Cinde Kuning. “Nampaknya memang demikian” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian. Lalu “Dengan demikian maka aku telah menjadi semacamsayembara” “Tetapi Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “ justru karena itu maka aku akan sampai pada suatu ceritera yang barangkali akan menar ik bagi Pangeran” Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Katanya “Ceritera apa Ki Ajar?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Aku akan mengatakannya pada satu kesempatan yang khusus” berkata Ki Ajar Cinde Kuning. Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Namun kemudian dipandanginya orang-orang yang ada disekitarnya. Dilihatnya wajah-wajah yang bersungguh-sungguh dan bahkan nampak ketegangan yang bergejolak di dalam hati orang-orang yang ada disekitarnya. Mereka mendengarkan keterangannya dengan penuh kesungguhan, karena meskipun mereka berada didekai bukit gundul itu, namun mereka sama sekali tidak mengerti dan tidak pernah mendengar ceritera tentang pusaka dan apalagi harta benda yang tidak ternilai harganya. Seandainya pusaka dan harta benda itu pernah ada di bukit gundul, meskipun sebelumnya mereka t idak lahu sama sekali, tetapi mereka akan pernah melihat pusaka dari harta benda itu diambil orang dan dibawa ke Demak. Apalagi orang-orang tua di Lumban Wetan maupun di Lumban Kulon. Dalam pada itu, maka t iba-tiba Jlitheng telah berkata “Pangeran. Tetapi apakah benar, bahwa pusaka dan harta benda itu berada di daerah Sepasang Bukit Mati ini” Pangeran Sena Wasesa tersenyum. Katanya “Sama sekali tidak. Daerah ini memang pernah dilewati oleh Senapati Besar dari Majapahit itu. Tetapi Senepati itu tidak pernah meninggalkan apapun juga di sekitar Daerah Sepasang Bukit Mati ini. Karena itu, orang-orang Lumban t idak pernah melihat, bagaimana aku mengambil pusaka dan harta benda itu dan membawanya ke Demak” Jlitheng mengangguk-angguk. Lalu katanya “Nah, jika demikian, apakah artinya ceritera tentang Sepasang Bukit Mati itu?“ “Aku kurang tahu” jawab Pangeran Sena Wasesa “Mungkin ceritera itu memang dibuat oleh seseorang. Mungkin oleh Ki Ajar Pamotan Galih dengan nama Ajar Macan Kuning atau Ajar Cinde Kuning. Daruwerdi menundukkan kepalanya. Ia sedikit banyak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Ki Ajar Pamotan Galih yang disangkanya adalah gurunya sendiri. Beberapa tahun ia berada di tangan orang yang salah. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka. Bahkan ia sama sekali tidak menyadari, bahwa ia menjadi salah satu biji permainan Ki Ajar Pamotan Galih. Namun dalam pada itu, maka Jlithengpun kemudian berkata “Nah Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Nampaknya peristiwa yang terjadi disekitar Lumban bagi kita disini, bagaikan sebuah mimpi. Mimpi yang sangat nggegirisi. Dan kini mimpi itu telah lewat. Kita tidak per lu lagi menangisi mimpi yang telah lewat itu, meskipun bagi kita mimpi itu telah meninggalkan bekas-bekasnya. Beberapa anak-anak muda Lumban terluka. Bahkan ada yang menjadi parah. Tetapi semuanya telah lampau. Yang kemudian kita hadapi adalah kenyataan tentang diri kita sendiri” Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Anak muda yang satu ini memang sangat menarik perhatiannya disamping Daruwerdi. Namun sebelum ia bertanya sesuatu, terdengar Rahu berkata “Jlitheng, nampaknya untuk menghadapi kenyataan tentang Lumban, kau akan mengambil peranan yang penting. Tetapi bukankah disini ada Kiai Kanthi yang sudah mempunyai sebuah gubug kecil di hutan diatas bukit kecil itu? Kau akan dapat bekerja bersamanya dalam banyak hal” Jlitheng mengerutkan keningnya. Sekilas di pandanginya Kiai Kanthi. Namun agaknya Kiai Kanthi t idak akan berbicara apapun juga. Karena itu, maka Jlithenglah yang berkata “Tentu Rahu. Aku tidak akan ingkar. Aku dan Kiai Kanthi telah mulai bermain dengan air. Sementara ini baru sebagian saja dari daerah persawahan di Lumban yang tersentuh air itu. Kami akan mendapat waktu dan kesempatan di hari berikutnya yang masih cukup panjang, agar kami dapat mengatur air dengan lebih baik” Dalam pada itu, tiba-tiba saja Kiai Kanthipun berkata "Kau benar ngger. Kita sudah mulai bersama-sama. Juga bersama- sama dengan anak-anak muda Lumban. Kita akan meneruskan kerja ini. Kita akan melihat kemungkinan lebih jauh, apakah kita masih dapat menyadap air lebih banyak dari yang sudah kita peroleh sekarang” Rahulah yang telah menyahut lebih dahulu “ Segalanya akan dapat di bereskan. Sementara Pangeran Sena Wasesa akan dapat segera kembali ke Demak. Sebenarnyalah aku akan mengantar Pangeran. Secara pribadi maupun dalam tugas-tugasku bersama Semi dan seorang kawan kami” “Ternyata aku berada disekitar kawan-kawan yang sangat baik” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Bukan hanya sekedar kawan-kawan yang baik Pangeran” potong Ki Ajar Cinde Kuning. “Apakah yang Ki Ajar maksudkan?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Sudah aku katakan, aku mempunyai ceritera tentang Pangeran. Pada saatnya aku akan menyampaikan cerita itu, meskipun sifatnya sangat pribadi bagi Pangeran” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa aneh, bahwa orang cacat yang mengaku bernama Ajar Cinde Kuning itu akan dapat menyampaikan satu ceritera yang menarik dan bersifat sangat pribadi. Namun dengan demikian maka Pangeran itupun justru menjadi semakin ingin mengetahui. Tetapi Pangeran Sena Wasesa masih tetap menguasai perasaannya. Ia tidak ingin memaksa orang cacat itu untuk segera berceritera. Biarlah ia sendiri yang menghendakinya. Dalam pada itu, maka Ki Ajar Cinde Kuning itupun akhirnya mendapatkan kesempatan itu juga. Selagi orang-orang Lumban sedang beristirahat serta kedua orang Buyut dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang kembali ke Ka- buyutan masing-imesing untuk berbincang dengan para pembantunya, maka K i Ajar Cinde Kuningpun telah berusaha menemui Pangeran Sena Wasesa seorang diri. Namun dalam pada itu, ibu Daruwerdi yang mengetahui niat Ki Ajar itupun berkata “Ayah. Aku berharap, agar ayah tidak membicarakannya lagi dengan Pangeran” Ki Ajar Cinde Kuning menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Rasa-rasanya ada kewajibanku untuk mengatakannya. Mungkin kau merasa tidak mempunyai kepentingan apapun lagi. Tetapi hal itu? tentu akan berguna bagi anakmu. Kau tidak akan dapat membiarkan anakmu hidup dalam keadaannya seperti sekarang ini. Apalagi setelah ia diracuni oleh cita-cita saudara kembarku, yang lebih tepat disebut ketamakannya. Anakmu memer lukan satu suasana yang berbeda. Apa yang terjadi pada saat-saat terakhir tentu sangat mempengaruhi caranya berpikir. Ia telah diajari oleh saudara kembarku yang disangkanya adalah aku sendiri untuk melakukan satu perbuatan yang sebenarnya kurang terpuji dan jika kau ingin mengetahuinya sekarang, karena semuanya telah lampau, bahwa apa yang dilakukannya itu adalah sangat berbahaya bagi jiwanya. Untunglah bahwa ia telah bertemu dengan orang-orang yang dapat berbuat sesuatu untuk menyelamatkannya” Ibu Daruwerdi itupun menunduk dalam-dalam. Sekitar air telah melekat dipelupuknya. “Jika kau tidak sependapat ngger, anggaplah hal itu suatu pengorbanan bagi kepentingan anakmu, agar ia mendapatkan hari depan yang lebih baik” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Mudah-mudahan suasana yang berbeda akan melenyapkan kenangannya atas racun yang telah ditaburkan oleh Pamotan Galih” Perempuan itu menjadi semakin tunduk. Namun kemudian katanya “Jika semuanya ini akan bermanfaat bagi anak itu, apaboleh buat bapa” Ki Ajar Cinde Kuning itupun menepuk pundak anak angkatnya. Katanya lembut “Mudah-mudahan anak itu akan menemukan har i-hari yang baik dikemudian” Ibu Daruwerdi tidak menjawab lagi. Dibiarkannya kemudian Ki Ajar Cinde Kuning menemui Pangeran Sena Wasesa seorang diri. Kiai Kanthi yang mengetahui, bahwa agaknya ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan berdua saja, maka iapun telah berusaha untuk tidak mengganggunya. Ia telah membuat satu kesibukan tersendiri diantara anak-anak muda Lumban. Pangeran Sena Wasesapun menjadi berdebar-debar. Ia sama sekali tidak tahu, persoalan apakah yang akan dikatakan oleh Ki Ajar Pamotan Galih yang dianggap olehnya sebagai sesuatu yang sangat pribadi. “Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning ketika ia sudah duduk berdua saja dengan Pangeran Sena Wasesa. Lalu “Aku sebenarnya hanya ingin berceritera” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk mengatur perasaannya. Mungkin csritera itu akan sangat mengejutkannya Sementara itu, Daruwerdipun telah menemui ibunya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Kenapa ibu nampak gelisah?“ Ibunya tcrmangu-mrngu sejenak. Katanya kemudian ”Ibu tidak apa-apa ngger” “Agaknya ibu telah berbicara dengan kakek. Kemudian ibu menjadi sangat gelisah. Apakah sebenarnya yangi telah terjadi? Peristiwa yang baru saja terjadi telah mengguncangkan hatiku. Aku hampir tidak percaya bahwa orang yang selama ini aku anggap guru dan kakek itu ternyata adalah orang lain. Sekarang nampaknya ada persoalan báru yang tumbuh, yang mungkin akan dapat mempengaruhi perasaanku lagi” “Tidak ngger. Tidak ada apa-apa yang terjadi” jawab ibunya “Jika kau melihat ibumu murung, sebenarnya ibu telah disiksa oleh kenangan yang sangat mengerikan. Dengan demikian, maka terima kasihku kepada gadis anak Kiai Kanthi itu terasa semakin mendalam” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Anak itu adalah anak yang baik” “Ya ngger. Gadis itu adalah gadis yang baik” sahut ibunya “Mungkin ada kekurangannya dalam hal unggah-ungguh dan suba-sita. Itu dapat di mengerti. Juga sifatnya yang agak kasar dan keras. Hal itu dipengaruhi oleh cara hidupnya yang dibentuk oleh ayahnya yang menekuni olah kanuragan di padepokan yang terpisah. Tetapi sebenarnya ia seorang gadis yang berhati lembut” Daruwerdi mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia mulai membayangkan gadis yang aneh itu. Gadis yang berwajah cantik, agak kekurus-kurusan. Dalam pakaian yang tidak terlalu pantas dan sederhana. Namun ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Daruwerdi terkejut ketika diluar kehendaknya sendiri ia telah mengambil kesimpulan, bahwa gadis itu adalah gadis yaag sangat menarik. Ibunya tidak bertanya lebih banyak lagi. Tetapi sebagai seorang ibu, ia dapat menangkap getar dihati anak laki- lakinya. Agaknya Daruwerdi memang menaruh perhatian kepada gadis yang bernama Swasti itu. Gadis yang telah membantu anak muda itu dalam kesulitan di medan, dan yang telah menyelamatkan ibunya dari keganasan orang Pusparuri. “Gadis itu memang baik” berkata ibunya di dalam hatinya “Dan aku telah berhutang budi kepadanya” Tetapi ibu Daruwerdi tidak mengatakannya. Ia tidak mau mendahului sikap anaknya. Biarlah Daruwerdi mengambil sikap sendiri terhadap gadis yang bernama Swasti itu. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Daruwerdi bertanya “Apakah yang dibicarakan kakek dengan Pangeran Sena Wasesa?“ Ibu Daruwerdi memandang anaknya sejenak. Namun kemudian katanya “Aku tidak tahu. Tetapi jika persoalannya menyangkut kau, maka kau tentu akan diberitahu” Daruwerdi tidak memaksa ibunya untuk mengatakan sesuatu meskipun ia tahu, bahwa pembicaraan itu telah menggelisahkan ibunya. Karena itu, maka Daruwerdi itupun kemudian berkata “Baiklah ibu. Aku akan berada di halaman” “Jangan pergi” berkata ibunya “Mungkin kau diperlukan setiap saat” Kecurigaan Daruwerdipun menjadi semakin tajam. Tetapi ia tetap tidak mau bertanya lagi. Namun jawabnya “Aku hanya akan berada di halaman. Setiap saat ibu dapat memanggil aku” Ibunya tidak mencegahnya lagi ketika Daruwerdi meninggalkannya. Dalam pada itu, di tempat yang khusus. Pangeran Sena Wasesa masih berbincang dengan orang cacat yang menyebut dirinya Ki Ajar Cinde Kuning. Bahkan semakin lama pembicaraan mereka menjadi semakin bersungguh-sungguh. “Ki Ajar” berkata Pangeran itu dengan kerut yang dalam dikeningnya “Apakah Ki Ajar yakin?“ “Aku adalah orang tua Pangeran. Lebih tua dari Pangeran sendiri. Karena itu, aku sebenarnya tidak lagi mempunyai keinginan apapun bagi dir iku sendiri” berkata Ki Ajar itu “Tetapi aku akan senang sekali melihat anak-anak muda itu menemukan hari depannya yang baik. Baik bagi dirinya sendiri dan baik bagi lingkungannya. Daruwerdi bukan seorang yang pantas disebut bengal, Tetapi pada saat terakhir saudara kembarku telah menjerumuskannya ke dalam satu keadaan yang parah dan gawat. Untunglah Yang Maha Kuasa masih melindunginya meskipun terdapat kesan yang kurang baik pada anak itu. Tetapi itu bukan salahnya” “Aku tidak menyalahkannya Ki Ajar” sahut Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi apakah Ki Ajar yakin, bahwa Ki Ajar tidak akan salah lagi?“ berkata Pangeran Sena Wasesa. “Aku yakin. Jika Pangeran masih sempat mengingat segala peristiwa yang terjadi, maka Pangeran akan menemukan satu keyakinan seperti aku” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Nah, apakah Pangeran tidak berkeberatan jika aku memanggilnya?“ Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Peristiwa itu sudah lama sekali terjadi. Tetapi apakah Ki Ajar menganggap bahwa aku telah bersalah hal ini?“ Ki Ajar tersenyum. Jawabnya “Aku tidak mengatakan bahwa Pangeran bersalah. Namun pada waktu itu sebenarnya Pangeran dapat menempuh jalan lain. Jalan yang barangkali tidak begitu menyenangkan bagi seorang Pangeran jika ia harus menanggalkan gelarnya karena seorang perempuan yang bukan termasuk seorang bangsawan” Pangeran Sena Wasesa memandang wajah Ki Ajar sekilas. Namun tatapan matanyapun kemudian menembus pintu yang tidak tertutup rapat hinggap dikejauhan. Rasa-rasanya segalanya yang pernah terjadi itu mulai membayang satu demi satu. Semakin lama semakin jelas. Sebuah kenangan pada masa mudanya” Namun tiba-tiba hampir diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesa berdesis “Bukan maksudku. Bukan kehendakku, sendiri. Aku terikat pada satu keharusan untuk melakukannya pada waktu itu. Hati dan jiwaku tidak cukup kuat untuk mempertahankan sikapku itu. Ki Ajar menarik nafas panjang. Katanya “Pangeran benar. Akupun beranggapan seperti itu. Dan bukankah sudah aku katakan, bahwa jarang ada seorang Pangeran yang berani menyingkir dar i kamukten karena seorang perempuan padepokan” “Ya Ki Ajar. Aku termasuk salah seorang diantara mereka. Aku termasuk seorang yang lemah hati dan jiwaku” desis Pangeran Sena Wasesa. “Sudahlah Pangeran” berkata Ki Ajar “Jangan disesali. Kita sudah sampai pada suatu saat seperti sekarang. Semuanya tidak akan dapat diulangi lagi. Namun demikian kita masih mungkin untuk menemukan masa depan yang paling baik. Jika kita yang tua ini tidak memerlukannya lagi, biar lah anak-anak muda itulah yang akan menempuh masa depan itu. Terkutuklah kita yang tidak mampu mempersiapkan masa depan yang baik bagi keturunan kita hanya karena kita sendiri sajalah yang menjadi pusat perhatian kita. Seolah-olah kita masih akan hidup beribu tahun lagi, sehingga kita telah dicengkam oleh ketamakan yang berlebih- lebihan seperti orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri. Mungkin masih ada lagi orang-orang yang akan berbuat serupa, termasuk saudara kembarku sendiri. Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Katanya “Tetapi bagaimana pendapat Ki Ajar, jika kita yang tua-tua ini telah memburu sesuatu dengan satu angan-angan bagi kepentingan keturunan kita” “Seharusnya kita berbuat demikian Pangeran” berkata Ki Ajar “tetapi dalam pengertian yang luas. Keturunan kita bukanlah sekedar anak cucu kita. Tetapi satu tataran yang akan menggantikan kita” “Jika kita melakukannya bagi anak cucu kita masing- masing, maka bukankah itu berarti bahwa satu tataran sudah dipersiapkan untuk mendapat tempat yang baik” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Bagus” jawab Ki Ajar “asal kita tidak terlalu terikat kepada kepentingan diri sendir i. Kita mempersiapkan hari depan anak- anak kita, tetapi mengorbankan hari depan anak-anak lain yang juga akan menggantikan kita pada satu saat tertentu” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Dengan nada yang dalam akhirnya iapun berkata “Ki Ajar, Jika yang dikatakan Ki Ajar tentang perempuan itu benar, biarlah aku menemuinya” Ki Ajar, Cinde Kuning menar ik nafas dalam-dalam. Katanya “Terima kasih Pangeran. Mudah-mudahan semuanya dapat berakhir dengan baik. Sokur lah bahwa hubungan Pangeran dengan keluarga Pangeran itu belum dirusakkan dan dipecahkan sampai hancur berkeping-keping oleh saudara kembarku” Pangeran Sena Wasjsa termangu-mangu sejenak. Dicobanya untuk mengurai persoalan yang dihadapinya dalam hubungannya dengan permintaan Pamotan Galih atas dir inya. Dalam pada itu, maka Ki Ajar Cinde Kuningpun telah memanggil seorang perempuan yang dikenal sebagai ibu Daruwerdi, yang sebenarnya lebih senang untuk tidak berbicara dengan Pangeran Sena Wasesa. Tetapi ia t idak dapat menolak keinginan ayah angkatnya, yang lebih banyak berpikir tentang Daruwerdi daripada tentang perempuan itu sendir i. Karena itu, dengan jantung yang berdegup semakin cepat, maka iapun mengikut i Ki Ajar Cinde Kuning menghadap Pangeran Sena Wasesa yang duduk sendiri menanti Ki Ajar sebagaimana di pesankan kepadanya. Ketika perempuan itu memasuki ruangan, maka seperti perempuan itu, Pangeran Sena Wasesapun menjadi berdebar- debar. Ia sudah melihat perempuan itu sejak ia berada di Lumban. Tetapi ia sama sekali tidak berpikir bahwa ia pernah melihatnya sebelumnya. Bahkan lebih dari pada itu. Sementara waktu itu telah berlaku lebih dar i dua puluh tahun yang lalu. Demikian perempuan itu duduk dihadapannya, maka wa- jahnyapun segera menunduk dalam-dalam. Bahkan terasa pelupuk matanya menjadi panas. Tiba-tiba saja ia berdesis “Tidak. Tidak ayah. Aku tidak memer lukan apapun juga” Tetapi ketika perempuan itu bangkit dan hampir saja berlari keluar, Ki Ajar Cinde Kuning telah menghalanginya sambil berkata lembut “Tenanglah ngger. Cobalah berpikir sebaik- baiknya. Seperti sudah aku katakan. Jangan berpikir tentang dirimu sendir i. Tetapi kau harus lebih banyak berpikir tentang anakmu. Berilah ia kesempatan untuk menemukan sesuatu meskipun hal itu sama. sekali tidak terpikirkan sebelumnya” Perempuan itu tidak dapat menahan gejolak perasaannya lagi. Ketika ia duduk lagi, maka setitik air telah meleleh di matanya. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesapun mencoba untuk mengenali perempuan itu. Jarak waktu yang memisahkan cukup lama, sehingga semuanya sudah berubah. Wajah perempuan itupun telah berubah seperti wajahnya sendiri yang telah berubah pula. Masa itu ia masih seorang Pangeran muda yang menginjak masa dewasanya. Karena waktu itu ia dicengkam oleh suatu keinginan untuk menguasai ilmu kanuragan, maka ia telah melupakan usia dewasanya, sehingga ia termasuk agak terlambat mengenal lembutnya hati perempuan. Dan perempuan yang pertama menyentuh hatinya adalah perempuan padepokan. Dan perempuan itu kini berada di hadapannya, “Srini” tiba-tiba saja Pangeran Sena Wasesa berdesis. Ibu Daruwerdi itu tidak dapat menjawab. Tetapi titik air matanya menjadi semakin deras mengalir di pipinya. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Setelah diperhatikannya dengan seksama, maka ia tidak akan salah lagi. Meskipun wajah perempuan itu sudah berubah, tetapi ia masih tetap mengenalinya bahwa perempuan itu benar Srini seperti yang dikatakan oleh Ki Ajar Cinde Kuning. Endang Srini yang ditemuinya disebuah padepokan kecil yang sepi, pada saat ia sedang berburu. Dalam pada itu, maka Ki Ajar Cinde Kuning itupun kemudian berkata “Bukankah dengan demikian. Pangeran dapat mengenang dengan jelas apakah yang pernah terjadi” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Dengan wajah yang suram Pangeran itu berkata “Ki Ajar. Segalanya seolah-olah menjadi sangat jelas seperti baru kemarin saja terjadi” “Apakah Pangeran dengan demikian mengerti, siapakah Daruwerdi itu?“ bertanya Ki Ajar Cinde Wangi, “Aku tahu maksud Ki Ajar. Ki Ajar ingin mengatakan bahwa anak itu adalah anakku sendir i” sahut Pangeran Sena Wasesa. “O“ tiba-tiba saja perempuan yang disebut bernama Endang Srini itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sementara itu ia telah berusaha untuk menahan tangisnya yang akan meledak. Pangeran Sena Wasesa termangu-mangu sejenak. Namun seperti yang dikatakannya, semuanya menjadi jelas. Dalam kenangannya Pangeran Sena Wasesa melihat, betapa artinya terguncang ketika ia melihat seorang gadis padepokan selagi ia singgah bersama seorang pengiringnya ketika ia pergi berburu. Perempuan yang kemudian diper istrikannya. Namun ia telah di hadapkan pada satu masalah yang gawat bagi kedudukannya sebagai seorang Pangeran. Beberapa pihak tidak setuju bahwa ia telah kawin dengan seorang gadis padepokan. Ia dapat mengambil perempuan itu sebagai selirnya. Tetapi ia harus kawin dengan seorang perempuan yang telah ditentukan oleh lingkungan keluarganya yang ketat memegang paugeran. Tetapi Pangeran Sena Wasesa tidak sampai hati menganggap perempuan yang dicintainya itu sebagai isteri paminggir. Karena itu ia telah mengambil keputusan betapapun berat bagi dirinya sendiri. Dari pada menganggap Endang dari padepokan kecil itu sebagai isteri paminggirnya, maka ia lebih baik berpisah sama sekali dengan mengembalikan Endang itu kepada orang tuanya. Betapa sakit dan pedihnya perasaan perempuan itu. Tetapi ayahnya, seorang pertapa yang bijaksana dapat mengerti, bahwa hal itu bukan karena kesewenang-wenangan Pangeran Sena Wasesa. Meskipun pertapa itupuu tahu, bahwa Pangeran Sena Wasesa ternyata masih di selubungi oleh gelar keduniawian. Ia tidak dapat memberikan pengorbanan bagi cintanya. Ia masih ingin tetap disebut seorang Pangeran dengan menerima seorang perempuan bangsawan sebagai isterinya. Namun akhirnya Pangeran itupun menjalani kehidupan cintanya dengan ikhlas. Ia berusaha untuk menempatkan isterinya yang bangsawan itu di dalam hatinya. Sehingga akhirnya kehidupan keluarganyapun menjadi seimbang. Namun ia dihadapkan pada suatu kenyataan. Endang Srini yang dikembalikan itu memang sedang mengandung. Dengan berat hati ia terpaksa tidak dapat meminang anaknya. Sekali- sekali ia memang mengunjungi anaknya disaat masih bayi. Tetapi kesempatan itu akhirnya telah hilang sama sekali. Ia hanya dapat meninggalkan beberapa bekal bagi anaknya. Namun ia sendiri akhirnya terpisah sama sekali dar i anak laki- lakinya yang hidup dan dibesarkan di sebuah padepokan. Sejak saat itu, Pangeran Sena Wasesa tidak pernah bertemu lagi dengan anak laki-lakinya yang dilahirkan oleh seorang perempuan padepokan. Sejenak, ruangan itu dicengkam oleh keheningan. Tidak seorangpun yang berbicara diantara mereka. Masing-masing seolah-olah sedang hanyut dalam arus angan-angan. Sementara itu, ketika Daruwerdi keluar dari ruang dalam dan turun lewat longkangan, tiba-tiba saja langkahnya tertegun. Dilihatnya seorang gadis duduk disebelah amben bambu diserambi seorang diri. “Swasti” desis Daruwerdi. Swasti terkejut. Ketika ia berpaling, ditatapnya mata Daruwerdi yang sedang memandanginya. Karena itu, maka iapun segera menundukkan wajahnya. Seandainya ia berhadapan dengan lawan yang menggenggam pedang sekalipun ia tidak akan berbuat demikian. Namun dihadapan Daruwerdi, rasa-rasanya jantungnya menjadi bergetar semakin cepat. Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Seakan-akan diluar sadarnya ia mendekati gadis itu dan justru duduk diamben itu pula, disebelah gadis yang semakin menunduk itu. Keringat telah membasahi di punggung Swasti. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia menjadi sangat gelisah. Tetapi Daruwerdipun tidak segera mengatakan sesuatu Untuk beberapa saat ia duduk sambil berdiam dir i. Namun ternyata seperti jantung Swasti, maka jantungnyapun telah bergejolak. Dalam pada itu, adalah kebetulan sekali bahwa Jlitheng telah melintas agak jauh dari tempat mereka duduk. Sejenak langkah Jlitheng terhenti. Namun iapun kemudian melanjutkan langkahnya menikung disudut tanpa dilihat oleh kedua orang itu. Sesaat Jlitheng terhenti. Rasa-rasanya ia ingin menenangkan jantungnya yang menggelepar. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja anak muda itu telah tersenyum. Seakan-akan ia sedang mengejek dir inya sendiri yang gelisah oleh sesuatu yang tidak pasti. Tiba-tiba saja Jlitheng mencoba untuk memberanikan diri bertanya kepada diri sendiri “Apa yang sebenarnya terjadi di relung hati ini?“ Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Japun kemudian melangkah ke kebun belakang tanpa tujuan. Di bawah sebatang pohon manggis iapun berhenti. Namun kemudian iapun telah melangkah lagi ke sisi yang lain dan lewat halaman samping menuju ke pendapa. Yang gelisah dalam kediamannya adalah ibu Daruwerdi dan Pangeran Sena Wasesa. Namun kemudian terdengar suara Pangeran Sena Wasesa lemah “Sekarang aku tahu Ki Ajar. Kenapa Daruwerdi merasa, bahwa aku telah membunuh ayahnya. Ternyata pengertian dari ungkapan itu dapat aku tangkap. Seakan-akan aku telah merampas ayah anak itu dan memisahkannya. Membunuhnya dalam pengertian yang lain” “Tidak“ Ibu Daruwerdi memotong diantara isaknya “Aku tidak pernah mengajarkannya itu. Iapun tidak mengerti bahwa Pangeran adalah ayahnya. Apalagi yang telah terjadi atas dirinya” Pangeran Sena Wasesa memandanginya dengan tajamnya. Namun dalam pada itu, Ki Ajarlah yang berkata “Sr ini benar Pangeran. Anak itu tidak pernah mengetahui sampai saat ini, siapa dir inya yang sebenarnya. Ibunyapun tidak pernah mengajarinya mendendam kepada siapapun. Tetapi kesan yang buruk itu telah di bangunkan oleh Pamotan Galih. Meskipun ia tidak mengatakan dengan jelas, tetapi anak itu telah menangkap satu pengertian yang salah. Tetapi pengertian kematian bagi anak itu adalah sebenarnya kematian, sehingga orang yang membunuh ayahnya itu menurut pengertiannya akhirnya dianggapnya benar-benar telah membunuhnya secara wadag, meskipun semula hanya sekedar untuk membangkitkan kebenciannya saja. “Hampir tidak ada bedanya“ javab Pangeran Sena Wasesa “tetapi aku tidak akan dapat menyalahkannya j ika kesan itu memang ada pada anak itu” “Segalanya dapat dijelaskan Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning. Pangeran Sena Wasesa memandang Ki Ajar dengan wajah yang menegang. Agaknya ada sesuatu yang ternyata bergejolak di dalam hatinya. Meskipun Ki Ajar itu menduga, bahwa ketegangan perasaan Pangeran itu disebabkan oleh kehadiran seorang perempuan yang tentu tidak diduga sebelumnya, namun sebenarnyalah ada sesuatu yang telah menggetarkan hati Pangeran Sena Wasesa. Dalam pada itu. maka dengan nada yang dalam, Pangeran itupun berkata “Ki Ajar. Baiklah Ki Ajar memanggil anak itu. Biarlah aku sendir i mengatakan kepadanya, siapakah ayahnya, yang sebenarnya. Kemudian biarlah orang-orang lain, yang ada disini, orang-orang Lumban dan bahkan kemudian keluargaku seluruhnya mengetahui, bahwa anak itu adalah anakku. Anakku yang lahir dari sebuah perkawinan yang dilambari dengan cinta antara anak-anak muda. Namun keadaan telah memisahkan kami” “Memang bukan kehendak Pangeran sendir i” desis Ki Ajar. “Hatiku memang lemah sekali. Bukan saja waktu itu, tetapi sampai saat inipun aku adalah seorang Pangeran yang lemah hati. Aku termasuk seorang Pangeran yang mendapat kepercayaan sebagai seorang Senopati. Tetapi kekuatan lahiriah itu ternyata sama sekali tidak mencerminkan kekuatan batinku” desis Pangeran Sena Wasesa. “Sudahlah Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning. “Hal ini berlaku sampai saat ini Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Tentu tidak” sahut Ki Ajar. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada dalam ia berkata “Biarlah aku berbicara dengan anakku. Aku akan menjelaskan segala-galanya. Bukan saja tentang kedudukannya, tetapi tentang keadaan yang kita hadapi sekarang ini” Ki Ajar mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragunya ia bertanya “Keadaan yang manakah yang Pangeran maksudkan? Pertemuan Pangeran dengan Endang Srini dalam keadaan seperti sekarang ini?“ “Tidak. Bukan tentang hal itu. Tetapi tentang hal yang lebih besar lagi bagi kita semuanya. Bukan sekedar soal pribadi. Tetapi persoalan kita. Persoalan Demak” jawab Pangeran itu. Ki Ajar Cinde Kuninglah yang kemudian menjadi heran. Ia sudah mengungkapkan satu persoalan pribadi Pangeran Sena Wasesa. Namun ternyata Pangeran Sena Wasesa masih menyimpan satu masalah yang lebih besar dari persoalan pribadinya itu. Namun dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesapun berkata “Ki Ajar. Biarlah aku mendapat kesempatan untuk berpikir. Biarlah aku menentukan apakah yang akan aku lakukan, justru karena persoalan yang besar itu. Aku mohon Ki Ajar memberi kesempatan kepadaku untuk berbicara dengan Endang Srini tanpa orang lain. Aku akan berbicara tentang masa depan anakku yang sudah terlalu lama terpisah dar i aku” Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya “Silahkan Pangeran. Tentu aku tidak akan berkeberatan. Adalah hak Pangeran untuk berbicara tentang putera Pangeran itu” “Terima kasih Ki Ajar. Selebihnya aku akan member itahukan kepada Ki Ajar, apakah yang sebaiknya kita lakukan pada saat seperti ini” berkata Pangeran itu kemudian. Ki Ajarpun kemudian minta dir i untuk meninggalkan ruangan itu, sementara Endang Srini dan Pangeran Sena Wasesa masih tetap berada diruangan itu tanpa orang lain. Sejenak keduanya saling berdiam dir i. Mereka, ternyata sempat mengenang kembali apa yang pernah terjadi diantara mereka. Namun hal itu telah lama berlalu. Baru sejenak kemudian Pangeran Sena Wasesa berkata “Srini. Beruntunglah, bahwa aku masih sempat berbicara denganmu mengenai anak kita. Yang Maha Kuasa telah mempertemukan kita dalam keadaan yang sama sekali tidak aku duga sebelumnya. Namun dalam pembicaraan yang singkat dan kenyataan yang aku hadapi sekarang ini, maka telah terjadi satu pergolakan di dalam diriku. Karena itu, aku ingin mendapat bantuanmu untuk mengambil satu keputusan, apakah yang sebaiknya aku lakukan untuk kepentingan anak kita dan barang kali perlu kau ketahui, aku mempunyai seorang anak perempuan yang aku tinggalkan di istanaku” “Aku sudah mengetahuinya Pangeran” jawab Srini. “O“ Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk ”Sokur lah. Aku harap kau dapat mengerti” “Aku mengerti Pangeran. Aku mengerti sejak aku harus kembali kepada ayah dan ibuku di padepokan” jawab Endang Srini. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian terdengar ia berdesis “Dimana ayah dan ibumu sekarang? Apa hubunganmu dengan ayah angkatmu itu sebelumnya?“ “Ayah Ajar Cinde Kuning adalah orang yang dikenal baik oleh ayahku. Ketika ayah dan kemudian ibuku meninggal, maka aku telah menjadi anak angkat Ki Ajar Cinde Kuning. Namun tanpa aku ketahui bahwa ayah Ajar Cinde Kuning mempunyai saudara kembar yang telah hampir saja merusak hidupku dan anakku” jawab Endang Sr ini. Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk kecil. Namun kesungguhan yang memancar di wajahnya menyatakan, betapa ia sedang berpikir dengan sungguh-sungguh pula. Untuk beberapa saat, Pangeran Sena Wasesa merenungi dirinya sendiri. Ki Ajar Pamotan Galih, saudara kembar Ki Ajar Cinde Kuning yang telah menyatakan dirinya sebagai Ki Ajar Cinde Kuning itu sendir i, setelah berusaha membunuh saudaranya itu, hampir saja telah merusak hidup Daruwerdi. Namun tiba-tiba saja ia berkata kepada dirinya sendiri “Apakah ketamakan yang demikian akan merusak hidupnya, justru dari aku sendir i. Dari ayahnya?“ Dalam gejolak perasaannya, maka Pangeran Sena Wasesa yang telah bertemu dengan isterinya itu, seolah-olah mendapat tempat untuk mencari pertimbangan. Sebagaimana dikatakannya, maka Pangeran Sena Wasesa benar-benar ingin mendapat bantuan Endang Srini untuk memecahkan satu persoalan yang gawat bukan saja bagi dirinya sendir i. Sementara Pangeran Sena Wasesa kemudian berbincang dengan sungguh-sungguh untuk menentukan satu sikap, maka Ki Ajar Cinde Kuning yang berdiri di pintu butulan masih melihat Daruwerdi duduk berdua dengan Swasti. Nampaknya keduanya sedang berbicara dengan sungguh-sungguh pula sebagaimana dilakukan oleh ayah dan ibunya. Sesaat Ki Ajar memandang keduanya. Namun iapun kemudian melangkah meninggalkan serambi itu dan lewat pintu yang lain turun ke halaman samping. Namun ketika ia melihat Jlitheng duduk di pendapa bersama Kiai Kanthi, maka iapun telah pergi ke pendapa pula. Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya “Apakah pembicaraan Ki Ajar dengan Pangeran Sena Wasesa telah selesai?“ Ki Ajar menggeleng. Katanya “Belum. Masih ada persoalan yang akan dikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa, persoalan yang lebih besar dar i persoalan tentang dirinya sendir i” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Ajar meneruskan. Jika semula aku yang berteka-teki, namun kemudian Pangeran Sena Wasesalah yang memberikan teka- teki itu. Tetapi aku tidak dapat dengan tergesa-gesa ingin mendengarnya. Aku harus menunggu, kapan saja Pangeran itu ingin mengatakan tebakannya” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara itu katanya? ”Ternyata segalanya berjalan menurut jalurnya masing- masing. Kita memang hanya dapat merancang. Namun yang kemudian terjadi kadang-kadang diluar keinginan kita” Jlitheng mengerutkan keningnya. Dipandanginya Kiai Kanthi sekilas. Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya. Ki Ajar Gnde Kuning tidak menyahut. Tetapi perhatiannya tidak terlepas dari suasana wajah anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu. Rasa-rasanya ada sesuatu yang tersembunyi di balik kegelisahan yang memancar di wajahnya. Tetapi Ki Ajar tidak menanyakannya. Jlitheng sendir i tidak mengatakah apapun juga. Namun ternyata bahwa Kiai Kanthi mampu menangkp gejolak perasaan anak muda itu. Sudah cukup lama ia mengamati sikapnya terhadap anak gadisnya. Namun diluar kehendak Kiai Kanthi. agaknya perasaan Swasti menjadi lebih dekat dengan Daruwerdi yang menurut ujud lahir iahnya, memang mempunyai kelebihan dari Jlitheng yang sengaja membaurkan dirinya dengan anak-anak Lumban, meskipun Swasti mengenal siapa sebenarnya” Hari itu dilalui dengan ketegangan-ketegangan dihati beberapa orang yang masihwsaja berada di banjar Kabuyutan Lumban Wetan. Diluar pengetahuan anak-anak muda Lumban yang merasa telah terbebas dari benturan kekuatan yang terjadi di lingkungan hidup mereka tanpa mereka ketahui ujung dan pangkalnya, maka orang-orang yang berada di banjar itu tengah mempersoalkan masalah mereka masing- masing. Ketika malam turun, maka Pangeran Sena Wasesa telah minta sekali lagi orang-orang yang berada di banjar itu untuk berkumpul, terutama Kiai Kanthi, Daruwerdi, ibunya, Jlitheng dan Ki Ajar Cinde Kuning disamping satu dua orang lain yang dianggap tidak akan mengganggu pertemuan itu, termasuk kedua adik Endang Srini dan Swasti. Sikap dan pancaran wajah Pangeran Sena Wasesa nampak agak berbeda. Wajah itu tidak lagi buram dan dibebani oleh persoalan di dalam dirinya. Tetapi sorot mata Pangeran itu rasa-rasanya menjadi bening dan di bibirnya nampak senyumnya yang cerah, Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi melihat perubahan itu. Tetapi mereka tidak dapat meraba sampai ke dasar. Perubahan warna jiwani yang manakah yang telah terjadi pada Pangeran Sena Wasesa itu. “Mungkin ia telah menemukan satu keyakinan, bahwa perempuan itu benar-benar isterinya, dan anak muda yang menyebut dir inya Daruwerdl itu adalah anak lakl- lakinya“ berkata Ki Ajar Cinde Kuning di dalam hatinya. Dalam pada Itu, setelah mereka duduk melingkar tanpa kehadiran anak-anak muda Lumban atas permintaan Pangeran Sena Wasesa, maka Pangeran itupun berkata “Kl Ajar, Kiai Kanthi dan Ki Sanak semuanya yang ada di ruangan ini Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan kepada kalian. Persoalan yang sebenarnya terlalu pribadi. Tetapi juga persoalan yang lebih besar dari persoalan pribadi itu” Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Sekilas di pandanginya wajah Kiai Kanthi yang menunduk. “Ki Ajar” berkata Pangeran Sena Wasesa lebih lanjut “Mungkin satu dua diantara kalian telah mengetahui sebagaimana Ki Ajar katakan kepadaku tentang persoalan pribadi itu. “Tidak Pangeran” jawab Ki Ajar “Aku tidak mengatakannya apapun juga tentang Pangeran” “Baiklah” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian “Jika demikian biarlah aku yang mengatakannya” Ki Ajar memandang wajah Pangeran itu sejenak. Tetapi seperti ketika ia memasuki ruangan itu, dilihatnya wajah itu nampak cerah. “Silahkan Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning kemudian. Sebenarnyalah ia ingin segera mendengar teka-teki yang sulit untuk ditebaknya itu. Jika ia semula menyampaikan persoalan pribadi itu kepada Pangeran Sena Wasesa. maka kini ialah yang di gelisahkan oleh persoalan yang disebut oleh Pangeran Sena Wasesa sebagai persoalan yang jauh lebih besar dari persoalan pribadinya itu. Namun demikian ia masih harus menunggu. Agaknya yang akan dikatakan, justru yang didengar Pangeran itu dari padanya. Sebenarnyalah, Pangeran Sena Wasesa tidak lagi merasa segan untuk menceritakan tentang dirinya sendiri. Dengan lancar ia berkata “Kiai Kanthi dan Ki Sanak semuanya, ternyata bahwa Ki Ajar Cinde Kuning telah mempertemukan aku dengan orang yang sangat penting di dalam hidupku. Bukan satu kebetulan, tetapi agaknya Ki Ajar Pamotan Galih telah memperhitungkannya, Itulah sebabnya maka anak muda yang menyebut dirinya Daruwerdi itu mencari seseorang yang dianggapnya telah membunuh ayahnya. Membunuh dalam pengertian yang lain. Bukan membunuh dalam arti kewadagan. Yang itu adalah orang yang mengetahui serba sedikit tentang pusaka dan harta benda yang pernah ditinggalkan oleh salah seorang Senepati dari Majapahit, yang pada saat terakhir berusaha untuk bertahan. Namun ia asal mempertahankan kota raja sehingga ia telah berusaha menyelamatkan pusaka yang diserahkan kepadanya dan sejumlah harta benda yang tidak ternilai harganya. Maksudnya, ia akan mulai dengan satu perjuangan yang panjang melalui segala upaya” Pangeran Sena Wasesa berhenti sejenak. Hal itu sudah pernah didengar oleh orang-orang yang berada diruang itu. Bahkan Pangeran Sena Wasesa pernah mengatakan, bahwa semuanya itu telah diserahkannya kepada yang berhak, Pemerintahan di Demak. Namun dalam pada itu Pangeran Sena Wasesa berkata “Dalam pergolakan yang demikian, yang ternyata ekornya terasa bergetar sampai saat ini di daerah Sepasang Bukit Mati ini, telah menjadi satu lantaran bagiku, untuk menemukan apa yang pernah aku anggap hilang” Ki Ajar menar ik nafas dalam-dalam. Sementara Kiai masih menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Pangeran Itu. “Ki Sanak” berkata Pangeran itu selanjutnya “Aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga bagiku” “Ya, apa?“ hampir saja Jlitheng bertanya. Dalam pada itu, mulailah Pangeran Sena Wasesa berceritera tentang dirinya sendiri pada masa mudanya. Tidak terlalu menarik bagi yang mendengarkannya. Namun ia mengatakan bahwa anak laki-laki yang lahir dari seorang ibu yang harus dilepaskannya itu kemudian diketemukan sekaligus bersama ibunya, maka semua orang menjadi berdebar-debar. Namun dengan pasti Pangeran Sena Wasesa berkata “Anak itu sekarang ada diruang ini. Perempuan tua ini adalah Isteriku, dan anaknya adalah anakku” “Ibu” tiba-tiba saja Daruwerdi bergeser mendekati ibunya” Apakah benar pendengaranku” Jika pada pembicaraannya dengan Pangeran Sena Wasesa, Srini masih dapat membatasi tangisnya, maka tiba-tiba saja ia telah memeluk anak laki- laikinya dan menangis sejadi-jadinya. Diantara isak tangisnya terdengar ia berkata “Ya ngger. Pangeran Sena Wasesa adalah ayahmu” “Tetapi, tetapi....” kata-kata Daruwerdi terpotong oleh perasaannya yang menjadi bingung. Sementara ibunya masih saja menangis sambil memeluknya. Ruangan itu menjadi diam. Yang terdengar adalah tangis Endang Srini yang tertahan-tahan. Disela-sela tangisnya itu terdengar ia berbisik “Anakku, semua yang pernah aku katakan terdahulu, semata-mata untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Yang kau dengar sekarang inilah yang sebenarnya telah terjadi. Jika kau ingin kepastian, bertanyalah kepada kakekmu” Daruwerdi memandang Ki Ajar Cinde Kuning sekilas. Dilihatnya orang tua itu tersenyum sambil mengangguk. Katanya “Ibumu benar Daruwerdi” Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Itulah agaknya maka ibunya berpesan dengan sungguh-sungguh agar ia tidak menyakit i Pangeran Sena Wasesa pada saat Pangeran Sena Wasesa dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading kepadanya. Tetapi kesan yang didapatkannya pada waktu itu sangat berbeda dengan kebenaran yang dikatakan oleh ibunya itu. Sehingga dengan demikian, maka Daruwerdipun merasa, bahwa apa yang diketahuinya adalah satu keadaan yang sama sekali baur dan tidak menentu. “Aku minta maaf kepadamu ngger“ bisik ibunya kemudian “Aku tidak dapat berterus terang sebelumnya” Daruwerdi mencium tangan ibunya. Kemudian katanya “Bukan ibu yang bersalah” “Bukan orang lain pula” sahut ibunya, Daruwerdi terdiam. Ada sebersit kekecewaan dihatinya terhadap orang yang disebut ayahnya itu. Ayah yang tidak pernah mengetahui perkembangan jiwa dan kewadagan anaknya. Namun dalam pada itu, Ki Ajar yang melihat sorot mata Daruwerdi itupun berkata “Kau harus berterima kasih. Yang harus kau cari bukan kesalahan orang lain. Tetapi bahwa Yang Maha Kuasa sudah berkenan mempertemukan kau dengan orang tuamu” Akhirnya kepala Daruwerdi itupun menunduk. Sementara itu, orang-orang lainpun telah dicengkam pula oleh gejolak perasaan masing-masing. Namun beberapa orang memang sudah menduga, bahwa Daruwerdi pada suatu saat akan menunjukkan dir inya yang sebenarnya. Meskipun yang terjadi justru orang lain yang telah membuka tabir tentang dirinya yang justru tidak diduga oleh Daruwerdi sendiri. Yang jantungnya menjadi berdentangan adalah Swasti. Anak muda yang bernama Daruwerdi itu telah sangat menarik perhatiannya. Diluar kuasanya untuk menolak, hatinya telah tertambat oleh anak muda itu. Sejak ia melihat untuk pertama kalinya, seolah-olah sebuah bisikan telah didengar ditelinga hatinya, bahwa anak muda itu akan dapat menjadi tumpuan perasaan kegadisannya. Tetapi ternyata anak muda itu adalah putera seorang Pangeran. Sedang dirinya sendiri adalah seorang gadis kabur kanginan yang t idak menentu papan dan dunungnya. Tiba-tiba saja Swasti merasai dirinya terlalu kecil. Ia merasa sangat tidak berharga. Seorang gadis yang hidup di dalam gubug kecil di lereng bukit. Itupun karena pertolongan anak- anak muda Lumban. Ketika sekilas Swasti memandang ibu Daruwerdi yang sedang mengusap matanya, maka seolah-olah nampak sebuah contoh bagi hidupnya. Seorang perempuan padepokan yang kawin dengan seorang bangsawan, sehingga tataran hidup yang tidak seimbang itu telah melemparkan mereka kedaiam satu kehidupan yang pahit. Diluar sadarnya Swasti memandang seorang anak muda yang lain meskipun hanya sekilas. Anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng, namun yang sebagaimana dikatakannya adalah juga seorang putera Pangeran yang telah tidak ada lagi. Namun justru karena sikap hidupnya Jlitheng menjadi terasa lebih dekat dengan anak-anak Lumban daripada Daruwerdi. Tetapi Jlitheng sama sekali tidak menyentuh perasaannya. Bahkan kadang-kadang ia merasa terganggu oleh kehadirannya. Apalagi sejak ayahnya seakan-akan lebih banyak memperhatikan Jlitheng dar ipada memperhatikan dirinya. “Ia juga seorang bangsawan” berkata Swasti di dalam hatinya “Yang akan dapat menimbulkan akibat yang serupa” Jlitheng sendiri pada saat itu duduk termenung sambil menunduk. Diluar sadarnya, ia justru sedang melihat kepada dirinya sendiri. Ada sepercik keinginan untuk menyatakan dirinya bahwa ia mempunyai kedudukan yang tidak kalah dari Daruwerdi itu. Namun ternyata bahwa ia masih mampu menahan dir i. Apalagi ketika ia berpaling kearah Rahu yang kebetulan sedang memandanginya dengan tatapan mata yang muram. Sementara itu, keheningan itupun kemudian dipecahkan oleh suara Pangeran Sena Wasesa “Suatu kenangan yang barangkali kurang menarik untuk dikenang” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Diluar pengetahuan anak gadisnya, ia memandanginya. Sebagai orang tua, maka ia dapat menangkap perasaan Swasti yang sedang bergejolak menilik sikapnya yang gelisah. Tetapi Kiai Kanthi tidak mengatakan sesuatu. Dalam pada itu, maka Pangeran Sena Wasesapun berkata selanjutnya “Terserahlah tanggapan Ki Sanak sekalian atas peristiwa itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku menyesali kelemahan hatiku pada waktu itu. Dan sekarang, akupun akan berbuat serupa. Aku telah menyesali pula atas kelemahan hatiku. Kelemahan yang apabila tidak segera diluruskan akan berakibat sangat buruk bagiku, dan bagi keturunanku” “Apalagi yang telah terjadi Pangeran?“ bertanya Ki Ajar Cinde Kuning. “Aku mengucapkan terima kasih atas segala pertolongan yang telah Ki Ajar berikan kepada anak dan isteriku” berkata Pangeran Sena Wasesa “Dan agaknya pada saat-saat terakhir aku telah mendapat terang dihatiku, bahwa aku harus memperbaiki satu sikap yang akan mencelakakan diriku sen diri dan keturunanku” Kata-kata dan sikap Pangeran Sena Wasesa itu telah membingungkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka melihat sikap yang seolah-olah tidak wajar pada Pangeran Sena Wasesa. Ia menyesali sesuatu yang dikatakannya dapat merusak dirinya dan keturunannya. Tetapi dalam pada itu, pada wajahnya yang cerah terpancar satu perasaan yang lain. Seolah-olah Pangeran itu justru telah menemukan sesuatu yang berharga bagi hidupnya dan keturunannya kelak. Sementara itu Pangeran Sena Wasesapun kemudian berkata “Ki Sanak. Aku akan mengulangi keteranganku tentang pusaka dan harta benda yang terdapat bersama pusaka itu” Rahu mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya Pangeran Sena Wasesa yang justru menatap wajah Rahu yang menegang. “Tetapi agaknya tidak akan banyak gunanya” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian. Orang-orang yang berada disekitarnya menjadi heran. Mereka menjadi semakin tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Pangeran Sena Wasesa itu. Dalam pada itu Pangeran Sena Wasesapun meneruskan “Aku yakin bahwa diantara kita terdapat orang-orang yang dikirim langsung atau tidak langsung oleh Demak. Aku sadar, bahwa pada saat aku berada dalam kesulitan, meskipun aku sempat mengelabui Yang Mulia dengan berpura-pura tetap sakit, namun seorang diantara pengikut Yang Mulia itu berbisik di telingaku “Aku akan membantu Pangeran” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa yang dimaksud oleh Pangeran Sena Wasesa adalah dirinya. Dalam pada itu Pangeran itu berkata “Karena itu Ki Ajar dan Ki Sanak semuanya yang ada diruang ini, tidak ada gunanya aku berbohong. Satu atau dua orang diantara kalian tentu akan menghadap para pemimpin di Demak dan bertanya tentang kebenaran kata-kataku” Rahu bergeser sejengkal. Seakan-akan Pangeran Sena Wasesa itu dapat melihat tembus kcdalam jantungnya. Meskipun tidak dikatakannya kepada siapapun juga. namun sudah pasti, bahwa ia akan berbuat demikian. Ia tentu akan bertanya kepada para penanggung jawab gedung perbendaharaan, apakah sebuah pusaka yang dilepaskan oleh Sang Maha Prabu di Majapahit kepada seorang Pangeran yang menjadi Senopati Agung pada waktu itu telah kembali ke gedung perbendaharaan yang telah dipindahkan ke Demak. Dalam ketegangan itu, terdengar Pangeran Sena Wasesa berkata “Karena itu Ki Sanak. Setelah aku menimbang- nimbang, justru setelah aku bertemu dengan anak dan isteriku yang telah membuka cacat jiwani yang telah aku sandang sejak mudaku, maka aku telah mencoba untuk memberanikan diri mengambil sikap yang berbeda” Jlitheng memang agak kurang sabar. Tetapi ia harus menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa. Sementara Daruwerdi sendir i menjadi tegang. Anak muda itu sadar, bahwa ibunya tentu sudah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh ayahnya, menilik wajah ibunya yang tidak banyak terpengaruh oleh kata-kata Pangeran Sena Wasesa itu. Dalam pada itu, maka akhirnya Pangeran Sena Wasesapun sampai kepada pokok persoalan yang akan di katakannya. Ternyata bahwa betapapun ia telah mengambil sikap yang bulat, namun di saat-saat ia mengucapkan kata-katanya, wajahnya yang cerah itu telah berpengaruh juga, sehingga pada dahi Pangeran itu nampak kerut-kerut kebimbangan betapapun tipisnya. “Ki Sanak” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku tidak boleh ingkar lagi. Mungkin untuk satu saat yang pendek aku dapat mengelabui Ki Sanak semuanya. Aku memang mengatakan bahwa pusaka dan harta benda itu telah kembali ke tangan yang berhak di Demak. Dan agaknya keterangan itu akan memperoleh kepercayaan” Pangeran itu berhenti sejenak” Lalu Tetapi tentu hanya untuk sementara” “Apa yang sebenarnya terjadi Pangeran” potong Jlitheng yang tidak sabar. Namun dalam pada Itu, agaknya Ki Ajar Cinde Kuning telah dapat menebak, apa yang akan dikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa. Karena itu sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Silahkan menjelaskan Pangeran” Pangeran Sena Wasesa memandang orang tua itu sekilas. Ketika kemudian ia memandang Kiai Kanthi, maka Kiai Kanthi itupun berkata “Pangeran telah menempuh satu sikap yang paling bijaksana” Pangeran Sana Wasesa mengangguk. Kedua orang tua itu tentu sudah dapat mengetahui dengan tepat isi hatinya. Dan agaknya keduanya telah menanggapi sikapnya dengan baik. Karena itu, maka katanya “Ki Sanak. Terutama mereka yang mendapat tugas dari Demsk, langsung atau tidak langsung. Aku akan mencabut keteranganku yang terdahulu. Aku belum menyerahkan pusaka dan harta benda itu ke Demak” “Pangeran” potong Daruwerdi. Namun Ki Ajar Cinde Kuning menyahut dengan cepat “Lupakan segala pesan Ki Ajar Pamotan Galih yang kau anggap, sebagai diriku sendir i. Kau telah diracuni dengan sikap ketamakannya. Kau tidak perlu lagi berharap apapun juga tentang pusaka dan harta benda itu. Pusaka dan harta benda yang membuat hampir semua orang menjadi kehilangan kesadaran” “Termasuk aku sendir i” sahut Pangeran Sena Wasesa. Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Untuk waktu yang lama ia mengamati bukit gundul itu. Bahkan ia telah mencoba dan berusaha menemukan jawaban dari teka-teki tentang pusaka itu dengan mengamati retak-retak di bukit gundul itu. Bahkan setiap lekuk dan cuatan. Garis lurus, lengkung dan garis-garis-patah pada retak batu-batu padas. Sementara sambil menunggu siapapun yang dapat menyerahkan orang yang disebut Pangeran Sena Wasesa itu. Tetapi ternyata bahwa akhir dari segala macam peristiwa itu jauh berbeda dari yang di angan-angankan semula. Apalagi karena sumber dari segalanya justru adalah bukan orang yang sebenarnya. Bahwa Ki Ajar Pamotan Galih yang pernah menyebut dir inya Ajar Macan Kuning bukanlah Ki Ajar Cinde Kuning. Namun tiba-tiba ia telah dihadapkan pada suatu kenyataan yang lain. Harta benda di samping pusaka itu kini berada pada seorang yang menyebut dirinya ayahnya. Orang yang semula diburunya dan telah pernah dikatakannya sendiri, pembunuh ayahnya. “Pusaka itu t idak per lu lagi dicari-cari. Tidak per lu lagi memburu seseorang yang mengetahuinya” berkata Daru-werdi di dalam hatinya “Orang itu justru menyebut dirinya sebagai ayahku” Namun dalam pada itu, terasa pandangan beberapa orang tertuju kepadanya. Seolah-olah mereka ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukannya. Sebenarnyalah bahwa bisikan yang mengandung racun telah menusuk jantungnya. Ki Ajar Pamotan Galih yang hampir setiap hari membisikkan upaya untuk memiliki pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu ternyata tidak dapat dihapuskan begitu saja dari dada Daruwerdi. Sementara itu, Rahu dan Jlitheng t idak kalah bingungnya mendengar pengakuan Pangeran Sena Wasesa. Justru karena Itu untuk sesaat keduanya tidak mengucapkan kata-kata apapun juga. Rasa-rasanya mereka dihadapkan pada suatu mimpi yang aneh. “Tetapi ini adalah satu kenyataan” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Pangeran Sena Wasesa melihat gejolak perasaan pada beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu. Dengan senyum di bibirnya ia berkata “Ki Sanak semuanya. Aku saat ini toerasa berbahagia ganda. Aku telah dapat bertemu dengail anak dan isteriku yang telah terpisah untuk waktu yang lama. Kemudian aku telah berhasil mengatasi kekerdilan jiwaku, Ketamakan dan nafsu yang tidak kalah jahatnya dengan orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih dan orang orang Pusparuri. Aku sebenarnya juga ingin memiliki semuanya itu bagi diriku sendiri. Tetapi aku telah dapat melepaskan diri dari padanya, sehingga dengan demikian aku merasa telah terbebas dari benda-benda yang telah mencekam aku sebagaimana telah terjadi pada orang- orang Sanggar Gading, orang-orang Pusparuri” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata “Jadi apakah yang terakhir inilah yang merupakan kebenaran Pangeran?“ “Ya Ki Sanak” jawab Pangeran Sena Wasesa “Dan aku akan secepatnya menghadap Sultan di Demak. Aku akan mengatakan segalanya dan mengaku bersalah. Aku tidak akan ingkar menerima segala hukuman yang akan di bebankan dipundakku. Namun dengan demikian, aku telah merasa terlepas dari belenggu ketamakan dan nafsu” “Mudah-mudahan segalanya dapat terjadi dalam waktu secepatnya” berkata Rahu kemudian. Lalu “Aku akan dengan senang hati membantu Pangeran dalam penyelesaian ini. Akupun akan merasa berbahagia melibat kebahagiaan Pangeran” “Baiklah” berkata Pangeran Sena Wasesa “segalanya akan dapat diatur secepatnya” Lalu katanya kepada Ki Ajar Cinde Kuning “bagaimana pendapat Ki Ajar?“ Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk. Katanya “Pangeran sudah menemukan jalan yang benar menurut pendapatku” “Terima kasih Ki Ajar. Namun sebaiknya aku juga mendengar pendapat Kiai Kanthi” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian “meskipun aku sudah dapat meraba sebelumnya” “Apakah artinya aku bagi Pangeran” jawab Kiai Kanthi “segalanya terserah kepada Pangeran. Jika Pangeran mengambil satu keputusan, aku rasa keputusan itu adalah yang paling bijaksana” “Ah“ desah Pangeran Sena Wasesa “meskipun Kiai mengaku orang kabur kanginan, yang tinggal di lereng bukit berhutan itu setelah Kiai terusir dari tempat tinggal Kiai yang lamai namun sudah pernah aku katakan, aku mengenal sumber ilmu yang Kiai miliki” “Sumber itu telah meluap dan mengalir jauh dari lajernya Pangeran. Meskipun Pangeran mengenal sumber ilmu itu, namun aku adalah salah sebuah dari helai-helai daun yang berada diranting yang paling ujung” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata “Apapun yang Kiai katakan, tetapi Kiai adalah orang yang sangat berarti bagiku. Nah, apakah pendapat Kiai dalam hai ini?“ “Pangeran. Jika Pangeran berkenan mendengarkan pendapatku, baiklah. Sudah aku katakan meskipun tidak langsung, bahwa sikap Pangeran ini adalah kebijaksanaan yang paling tinggi yang dapat Pangeran lakukan dalam keadaan ini” “Terima kasih” sahut Pangeran Sena Wasesa. Dengan lantang iapun kemudian berkata “Aku sudah mengambil satu keputusan. Dengan demikian aku sudah terbebas dari himpitan ketamakan yang selam ini menyiksa diriku. Aku harus berusaha bersembunyi dari pengamatan para petugas di Demak. Namun agaknya Yang Maha Kuasa telah memberi aku peringatan. Meskipun Demak masih tetap berdiam dir i, tetapi justru orang-orang yang memburu pusaka dan harta benda itulah yang telah menentukan jalan hidupku yang tersisa, karena sebenarnyalah bahwa aku sudah terlalu tua untuk bercita-cita, kecuali cita-cita bagi anak-anakku” “Aku menghormati keputusan Pangeran” berkata Rahu “Dan aku yakin bahwa seluruh Demak akan menghormati sikap Pangeran” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada ibu Daruwerdi “Kau telah menolong aku menentukan sikap kali ini. Aku berterima kasih kepadamu. Tanpa kekuatan yang kau berikan pada saat yang gawat ini. aku tidak akan berani mengambil keputusan itu” Endang Srini tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Sementara itu, rasa-rasanya segalanya telah terbuka. Rahasia yang meliputi bukit gundul itu telah terbuka pula. Jlitheng yang untuk waktu yang lama mengamati bukit itu, menganggap bahwa penyelesaian yang ditemuinya adalah yang terbaik menurut perhitungannya. Namun dalam pada itu, masih ada yang terasa mengganggu perasaannya. Ternyata hubungan Daruwerdi dengan gadis bukit berhutan itu membuatnya berdebar-debar. Namun sudah barang tentu Jlitheng tidak dapat banyak berbuat. Segala sesuatunya juga tergantung kepada sikap Swasti sendiri. Dan Jlitheng merasa bahwa gadis itu agaknya tidak begitu senang kepadanya. “Jika sejak semula aku tidak bersikap sebagai anak Lumban yang kusut dan kotor. Meskipun aku sudah mengatakan siapakah aku sebenarnya kepada Kiai Kanthi namun menilik ujud kewadagan, maka aku adalah tidak lebih dari anak-anak muda Lumban yang lain, sementara Daruwerdi memang menempatkan dirinya sebagai orang lain yang mempunyai kelebihan dari anak-anak muda Lumban dalam hal ujud lahiriah” berkata Jlitheng dalam hatinya. Sementara itu, maka orang-orang yang berada di Lumban itu telah mengambil satu keputusan untuk menyelesaikan persoalan pusaka dan harta benda itu melalui jalur yang seharusnya. Rahu telah mengambil beberapa macam kesimpulan dan kemudian membicarakan rencana penyerahan pusaka itu langsung ke Demak. Meskipun mulamula mereka akan menghadap tanpa membawa pusaka dan harta benda itu lebih dahulu. Baru kemudian bersama-sama orang-orang yang akan ditugaskan oleh Sultan Demak, mereka akan mengambil pusaka dan harta benda itu dari tempat penyimpanan dengan pengawalan yang cukup “Aku baru akan mengatakan kemudian, langsung kepada Sultan, dimana pusaka dan harta benda itu tersimpan” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Silahkan” jawab Rahu “Aku mengerti bahwa Pangeran ingin bersikap hati-hati. Dan aku tidak merasa tersinggung karenanya, meskipun aku adalah satu diantara para petugas yang telah dilepas oleh Demak” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya “Sebaiknya segalanya kita lakukan secepatnya. Kita akan segera terlepas dari masalah yang telah mengundang benturan diantara sesama. Aku menyadari, betapa pahitnya benturan-benturan yang terjadi karena ketamakan dan nafsu, setelah aku menyaksikan sendir i apa yang terjadi. Benturan antara orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Kemudian orang-orang Pusparuri yang memasuki arena. Bahkan Ki Ajar Cinde Kuning sendiri telah mengalami nasib yang sangat buruk. Bukan saja karena keadaan dirinya sendiri, tetapi malapetaka yang telah menimpa saudara kembarnya. Jika aku tidak melakukan kesalahan, dan mengembalikan pusaka dan harta benda itu jauh sebelum segala per istiwa itu terjadi, maka mungkin sekali segalanya akan terhindar” “Suatu pengalaman bagi Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Tetapi juga bagi putera Pangeran dan anak-anak muda yang lain. Meskipun pengalaman itu harus ditebus dengan sangat mahal” Ki Ajar itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi baiklah. Segalanya harus diselesaikan dengan cepat. Sebab kemungkinan-kemungkinan yang lain masih akan dapat terjadi. Tetapi jika sudah di umumkan oleh Demak, bahwa pusaka dan harta benda itu telah kembali ke gedung perbendaharaan. Maka segalanya akan dapat dibatasi” Pangeran Sena Wasesa mengangguk. Oleh ingatannya tentang korban yang telah jatuh dalam memperebutkan pusaka dan harta benda itu, maka wajahnya telah menjadi buram. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Semua itu adalah karena kesalahanku Aku memang pantas untuk mendapat hukuman dar i Sultan di Demak. Untunglah bahwa pada suatu saat aku menemukan satu keputusan yang akan dapat menghentikan keadaan ini” Demikianlah, maka orang-orang yang sedang berkumpul itu telah membicarakan kemungkinan untuk menyelesaikan persoalan yang untuk waktu yang lama telah menimbulkan benturan-benturan yang menelan korban. Namun merekapun bersepakat, bahwa kepergian Pangeran Sena Wasesa ke Demak harus mendapat kawan-kawan seperjalanan yang kuat, yang akan dapat membantunya menyelamatkan diri apabila di perjalanan ia harus bertahan dari orang-orang yang ingin menangkapnya dan memeras keterangannya. Meskipun orang-orang Sanggar Gading, Kendali Putih dan Pusparuri seakan-akan telah hancur sama sekali, namun kemungkinan yang lain masih mungkin terjadi. Sisa-sisa diantara mereka akan dapat menghubungi orang-orang dari kelompok yang lain untuk mengambil satu tindakan yang berbahaya. “Ada cara lain yang barangkali dapat ditempuh Pangeran” berkata Rahu. ”Bagaimana?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Biartah seorang atau dua orang diantara kita pergi ke Demak. Melaporkan apa yang telah terjadi. Sepasukan dari Demak akan datang dan kita tidak perlu cemas lagi terhadap kelompok yang manapun juga” jawab Rahu. “Apakah hal itu tidak akan terlalu lama?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Pasukan Demak itu akan datang tiga atau ampat hari mendatang” jawab Rahu “Sudah barang tentu dengan seorang Senapati yang dapat dipercaya” Nampak wajah Pangeran Sena Wasesa membayangkan keraguan. Karena itu maka Rahupun berkata “Baiklah. Jika Pangeran tetap ragu-ragu, kita mengambil jalan pertama. Memang mungkin sekali yang datang sebagai prajurit Demak itu bukan prajurit Demak yang sebenarnya, karena Pangeran juga belum dapat meyakini, siapakah aku yang sebenarnya. Karena itu, kita akan melakukan sebagaimana kita rencanakan semula” Merekapun teah memutuskan, esok harinya mereka akan berkemas. Sehari kemudian mereka akan pergi ke Demak. Semua orang yang dianggap akan dapat membantu kesulitan di perjalanan akan ikut serta. Keputusan itulah yang akan mereka lakukan bersama. Sementara itu mereka masih mendapat kesempatan untuk berbicara dengan orang-orang Lumban. Mereka masih sempat mengucapkan terima kasih dan barangkali pesan-pesan yang perlu bagi mereka. Demikianlah di hari berikutnya, orang-orang yang berada di Lumban itupun telah mempersiapkan dir i. Ternyata bahwa Pangeran Sena Wasesa dan Ki Ajar Cinde Kuning telah mina pula agar Kiai Kanthi ikut pula pergi ke Demak bersama dengan mereka. Kiai Kanthi tidak dapat menolak. Namun karena satu- satunya keluarganya adalah anak gadisnya, maka lapun minta agar anak gadisnya dapat dibawa pula. “Apa salahnya” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku juga akan membawa Endang Srini. Aku ingin memperkenalkannya dengan anak gadisku. Mudah-mudahan anakku dapat menerimanya sebagai ibunya” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya “Baiklah Pangeran. Nampaknya isteri Pangeran itu rapat pula hubungannya dengan anakku. Mudah-mudahan mereka dapat menjadi kawan yang baik diperjalanan” Sementara itu. selagi orang-orang yang berada di Lumban itu bersiap, maka diam-diam Jlitheng telah meninggalkan padukuhan untuk mengambil simpanannya. Pakaiannya dan kelengkapannya yang lain, sehingga ia akan dapat mengenakannya. “Dalam pandangan Swasti, aku tidak akan nampak lebih kotor, lebih kusut dan lebih buruk dari Daruwerdi” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Namun demikian, Jlitheng tidak melupakan biyungnya. Karena itu sekali lagi ia minta dir i untuk pergi ke Demak satu tugas yang harus dilakukannya sebagai akibat dari tugas yang diletakkannya sendir i di atas pundaknya. “Pergilah ngger” berkata ibunya yang sudah tua “seperti pernah aku katakan. Aku tahu, bahwa pada suatu saat kau memang harus meninggalkan gubug ini” “Tetapi pada suatu saat yang lain, aku akan kembali lagi biyung. Aku tetap anak Lumban. Dan aku memang benar- benar ingin tinggal di Lumban” jawab Jlitheng. Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat mata perempuan tua itu menjadi basah. Namun Jlitheng yang kemudian mencium tangan perempuan tua itu berkata “Tidak ada tempat yang lebih baik bagiku dari pada tempa ini. Ibunya mencoba untuk tersenyum. Sambil menepuk pundak anak muda itu ia berkata “Bagiku, jika kau masih teringat padaku, itu sudah cukup anak muda” “Aku masih tetap Jlitheng. Anakmu” sahut Jlitheng. Perempuan itu masih tersenyum. Dan Jlitheng tiba-tiba saja telah membayangkan, bahwa hidup baginya tidak lagi terlalu menarik. Ternyata bahwa ia telah merasa kehilangan sebelum ia merasa memilikinya. Karena itu, ia memang t idak tertarik untuk tinggal di Demak seandainya harta benda yang bersama dengan pusaka yang disimpan itu telah berada di Demak. Demak akan terasa sepi. Gadis yang bernama Swasti itu tentu akan berada di Demak, bersama seorang anak muda yang memiliki kelebihan dalam ujud lahiriah dari padanya. Yang selama berada di Lumban menyebut dir inya bernama Daruwerdi. “Kenapa aku telah memilih ujud yang terlalu buruk ini?“ desis Jlitheng di dalamhatinya. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Bahkan seandainya ia tidak memilih ujud sebagaimana kebanyakan anak Lumban. mungkin ia tidak akan melihat akhir dari persoalan pusaka itu. Karena itu, maka akhirnya Jlitheng harus menerima keadaan yang dihadapinya itu sebagai satu kenyataan. Swasti ternyata lebih tertarik kepada Daruwerdi daripada kepada dirinya. Apalagi gadis itu seolah-olah telah menemukan seorang ibu yang sangat mengasihinya. Endang Srini yang kebetulan adalah ibu Daruwerdi. oooOooo- 

Jilid 21
SEBENARNYALAH, Endang Srini yang melihat hubungan anak laki-lakinya dengan gadis itu, tertarik juga hatinya untuk mendorong agar anaknya benar-benar mendekatkan hatinya kepada gadis yang bagi Endang Srini adalah luar biasa itu. Gadis yang memiliki ilmu yang mapan dan hati yang tabah. Gadis yang sudah menyelamatkan hidupnya dari seseorang yang menjadi gila dan hampir saja mencelakainya. Sehari itu, selain menghadap ibunya, maka Jlitheng telah ikut serta pergi menemui Ki Buyut di Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Mereka telah minta dir i untuk meninggalkan Lumban kembali ke Demak. Namun yang menurut Pangeran Sena Wasesa, pada suatu saat mereka tentu masih akan berada di sekitar Daerah Sepasang Bukit Mati itu. Kepada anak-anak muda di Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Daruwerdi dan Jlithengpun telah minta diri pula. Demikian pula dengan mereka yang datang dan memperkenalkan diri mereka sebagai sepasang pemburu yang untuk beberapa saat telah berada di Daerah Sepasang Bukit Mati itu pula. “Kita semuanya akan pergi ke Demak” berkata Kiai Kanthi “Tetapi aku tentu akan kembali. Rumahku adalah gubug yang kita buat bersama-sama itu. Aku akan tinggal di gubug itu sambil mempersiapkan sebuah padepokan di bawah bukit. Tanah persawahan yang akan dialiri air yang melimpah dan pategalan yang ditumbuhi dengan pohon buah-buahan yang akan berbuah lebat” Anak-anak muda Lumban, sebagaimana Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon tidak dapat mencegahnya. Mereka harus melepaskan orang-orang itu pergi, meskipun ada diantara mereka yang pada suatu saat akan kembali. Jlitheng yang sudah mengambil pakaiannya, ternyata tidak sampai hati menganakannya sebelum ia meninggalkan Lumban. Ia tidak mau merusak citra anak-anak Lumban tentang dirinya, yang dengan demikian akan dapat merusak keakraban hubungan apabila pada suatu saat ia benar-benar kembali, karena ia memang merasa harus menghindarkan diri dari kehidupan yang tentu akan disusun oleh anak muda yang menamakan dir inya Daruwerdi itu dengan anak gadis Kiai Kanthi yang bernama Swasti. “Aku memang harus menyingkir dari jalan hidup mereka” berkata Jlitheng kepada diri sendir i, betapapun pahitnya. Sebenarnyalah bahwa ia memang tidak mempunyai pilihan lain dar ipada berbuat demikian. Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan, orang yang berada di Lumban itupun telah mempersiapkan diri untuk pergi ke Demak. Mereka berniat untuk menyelesaikan persoalan pusaka dan harta benda itu secepatnya. Namun justru karena itu, maka mereka tidak sempat untuk melihat orang-orang disekitar mereka. Meskipun masing- masing menyadari bahwa orang-orang yang berada di Lumban itu sebagian tentu mempergunakan ujud yang lain dari pr ibadi mereka sendir i, tetapi seakan-akan mereka bersepakat untuk tidak menyinggungnya. Mereka tidak pernah saling bertanya, siapakah sebenarnya nama mereka masing-masing. Dan untuk apakah sebenarnya mereka berada di Lumban. Pada saat terakhir, orang-orang yang masih saling tersamar itu telah bersepakat untuk dalam keadaan mereka, pargi ke Demak. Karena sebenarnyalah bahwa kedudukan masing- masing telah mulai dapat di raba. Bahkan ada diantara mereka yang telah dengan pasti menyatakan dir inya sendir i. “Kami menitipkan orang-orang yang telah kami tawan selama ini” berkata Rahu kepada anak-anak muda Lumban. Selanjutnya “kalian tidak perlu cemas. Yang Mulia telah kehilangan sebagian besar dari kemampuannya. Yang lain masih berada dalam keadaan lemah, lahir dan batin. Sementara itu, jika kalian, anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon bersatu, maka kekuatan kalian ternyata akan dapat dibanggakan seandainya ada pihak-pihak yang ingin mengganggu kalian” Anak-anak muda Lumban itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa tidak akan ada gunanya lagi berselisih diantara mereka. Meskipun didasar hatinya yang paling dalam. Nugata masih merasa kurang adil bahwa air yang mengalir disungai itu dibagi sama untuk Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Tetapi ia sudah berusaha untuk dapat menerima keadaan itu. Ketika sebuah iring-ir ingan meninggalkan Lumban. maka kedua Buyut yang tua itupun telah melepas mereka. Namun dalam pada itu Jlitheng telah berkata kepada kedua Buyut “Ki Buyut di Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Jika hari ini kami minta dir i, maka beberapa hari mendatang, aku akan kembali lagi. Mungkin aku akan datang sendiri, karena aku memang anak Lumban meskipun agak lama aku pernah meninggalkan Lumban menjelang masa dewasaku” Kedua Buyut yang tua itu mengangguk-angguk. Dalam pada itu Ki Buyut di Lumban Wetanpun berkata “Kami selalu menunggu kehadiranmu kembali Jlitheng. Meskipun kau telah membuat kami tercengang dan heran, bahkan kadang-kadang timbul pula pertanyaan tentang kau yang sebenarnya, namun kau sudah aku anggap sebagai anak Kabuyutan Lumban. Jika kau tersedia untuk kembali, maka kami akan merasa sangat berbahagia” “Aku akan kembali Ki Buyut “Aku merasa, bahwa hidupku hanya akan berarti jika aku berada di Lumban” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia mengerti, gejolak perasaan anak muda itu. Ia melihat kekecewaan yang mendalam. Namun orang tua itu tidak banyak dapat membantunya. Ia menyadari sifat dan tabiat anak gadisnya pula. Karena itu, untuk sementara maka yang paling baik bagi Kiai Kanthi adalah berdiam dir i menanggapi persoalan anak gadisnya. Selama persoalannya tidak menjadi gawat, maka ia tidak akan banyak ikut mencampur inya. Namun menilik sikapnya, maka Jlitheng akan lebih banyak melihat kepahitan itu ke dalam dirinya sendiri. Meskipun ia seekor banteng di arena pertempuran, namun agaknya ia seorang yang dapat mengerti tentang perasaan seseorang, meskipun itu akan berakibat pedih bagi dirinya sendiri. Dalam pada itu, maka semakin lama ir ing- iringan itupun menjadi semakin jauh dari Lumban. Mereka sudah melampaui bukit gundul dan memandang bukit berhutan dari jarak yang tidak terlalu dekat. Kiai Kanthi yang berkuda disebeLah Jlitheng itupun berkata “Akupun akan kembali ke bukit itu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Kanthi sejenak. Namun kemudian iapun berpaling kearah bukit itu sambil berkata “Kami masih dapat berbuat sesuatu dengan air di atas bukit itu” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya kita tidak boleh merampas air itu seluruhnya sehingga orang-orang yang juga tergantung dari air itu di tempat yang jauh, setelah air itu muncul dari dalam tanah, akan menjadi kekeringan seperti orang-orang Lumban sebelumnya” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu ir ing- iringan orang berkuda itupun menjadi semakin jauh pula. Dengan kuda-kuda yang baik mereka dapat dengan cepat menempuh perjalanan. Kuda-kuda yang sebagian dapat mereka peroleh dari orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih atau orang-orang Pusparuri yang dapat mereka tangkap. Dan sebagian mereka dapat dan Lumban atau kuda-kuda mereka sendir i yang memang sudah baik. Namun dalam pada itu, adalah diluar dugaan mereka, bahwa sekelompok orang-orang yang termasuk di antara mereka yang menginginkan pusaka dan harta benda itu telah menunggu. Sekelompok orang-orang yang seperti orang-oran Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih dan Pusparun, merasa memiliki kekuatan yang cukup untuk merebut pusaka dan harta benda itu. “Mereka akan melalui pinggir hutan itu” berkata salah seorang dari mereka. “Perhitungan kita tepat. Mereka benar-benar meninggalkan Lumban. Tentu Pangeran itu ada diantara mereka. Kita sudah yakin dan pasti, sebagaimana yang kita dengar pada saat-saat terakhir, bahwa sebenarnya Pangeran itulah yang mengethu dimana pusaka itu disimpan. Dan kita tentu saja tidak akan percaya seandainya Pangeran itu dengan mudahnya melemparkan tanggung jawabnya, dengan mengatakan bahwa pusaka dan harta benda itu telah dikembalikan ke Demak“ “Belum ada keterangan tentang hal itu yang telah di nyatakan oleh Demak” berkata yang seorang. “Kita harus bersiap-siap. Mereka akan kita hancurkan, kecuali Pangeran Sena Wasesa itu” berkata kawannya “laporkan kepada Ki Lurah, bahwa mereka telah datang” Seorang diantara merekapun kemudian menuju ke tempat kawan-kawannya yang lain menunggu. Mereka berada di dalam gerumbul-gerumbul perdu liar di sebelah hutan yang tidak terlalu besar, sehingga dengan demikian mereka cukup tersembunyi dibalik rimbunnya dedaunan yang cukup tinggi. “Mereka benar-benar datang” berkata orang itu kepada seorang yang bertubuh tinggi tegap berkumis tipis berambut jarang. Orang itu tersenyum. Sambil berdir i ia beikata “Bersiaplah. Kita akan menghadapi tugas yang berat. Setelah kita jemu menunggu, bahkan hampir saja persediaan bekal kita habis, mereka baru datang. Jika tertunda semalam saja lagi, aku kira aku tidak sabar lagi menunggu, dan mencari mereka ke padukuhan Lumban, meskipun dengan demikian kita harus memperhitungkan anak-anak muda Kabuyutan itu” “Iring- iringan mereka cukup besar, Ki Lurah“ sambung orang yang melaporkan, “Berapa orang?“ bertanya orang yang disebut Ki Lurah itu. “Belum pasti. Tetapi kira-kira sepuluh orang atau lebih sedikit” jawab orang itu Orang yang disebut Ki Lurah itu tersenyum. Katanya “Perhitungan kita selalu tepat. Aku mempersiapkan dua puluh lima orang untuk menghadapi mereka. Dua puluh lima orang pilihan. Orang-orang kita memang tidak sebanyak orang-orang Sanggar Gading. Kendali Putih dan Pusparuri yang hancur itu. Tetapi orang-orang kita memiliki bekal yang lebih baik dari mereka. Kehancuran mereka yang sudah kita perhitungkan itu telah membuka jalan bagi kita untuk menguasai segala- galanya” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara itu mereka telah mempersiapkan diri untuk menghadapi orang- orang yang akan lewat. Sementara itu, iring- iringan orang berkuda itu menjadi semakin mendekati hutan. Mereka tidak dapat berpacu sepenuhnya, karena diantara mereka terdapat Endang Srini yang belum trampil berkuda. Bahkan kadang-kadang iring- iringan itu harus menunggunya dalam keadaan tertentu. “Sekarang” berkata orang yang disebut Ki Lurah itu “Kita akan menghent ikan mereka, begitu mereka berada di tepi hutan” Ki Lurah itupun kemudian dengan para pengikutnya telah keluar dari gerumbul-gerumbul liar. Dengan cepat mereka melintasi jarak yang pendek, menuju ke ujung hutan. Mereka sengaja tidak membawa kuda-kuda mereka yang tersembunyi di r imbunnya batang-batang perdu, karena jika mereka harus bertempur di dalam hutan, kuda-kuda itu hanya akan mengganggu saja. Kehadiran mereka telah mengejutkan setiap orang di dalam iring- iringan itu. Apalagi ternyata bahwa orang-orang yang keluar dari gerumbul perdu di sebelah hutan itu adalah prajurit-prajurit Demak. Pangeran Sana Wasesa menjadi tegang. Namun iapun member i isyarat agar iring-ir ingan itu berhenti. “Prajurit-prajurit Demak” desis Pangeran Sena Wasesa. “Nampaknya memang demikian” sahut Ki Ajar Cinde Kuning. Orang yang bertubuh tinggi tegap berkumis tipis itu berjalan di paling depan. Sambil tersenyum ia mendekati iring- iringan itu. “Selamat bertemu Pangeran“ sapa orang itu. Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Dipandangi orang itu tajam-tajam. Ingatannya mulai meraba ujud orang itu. karena ia merasa pernah mengenalnya. “Apakah Pangeran lupa kepadaku? Berapa lama Pangeran meninggalkan Demak?“ bertanya orang itu. “Apakah aku berhadapan dengan Rangga Sutatama?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa kemudian. “Tepat Pangeran” jawab orang itu “Ternyata Pangeran masih ingat kepadaku” Pangeran Sena Wasesapun kemudian memberi isyarat kepada orang-orang di dalam ir ing-ir ingannya untuk turun dari kuda mereka. Daruwerdi ternyata kurang cepat menolong ibunya, karena Swasti yang cekatan telah mendahuluinya membantu Endang Sr ini turun dari kudanya. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesapun mendekati orang bertubuh tinggi tegap berkumis t ipis, yang oleh kawan- kawannya disebut Ki Lurah, namun yang oleh Pangeran Sena Wasesa dikenal bernama Rangga Sutatama itu. “Apakah yang kalian lakukan disini?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Pangeran” jawab Rangga Sutatama “Aku mendapat perintah dari Panglima Wira Tamtama Demak untuk melacak pangeran. Pimpinan keprajur itan Demak sudah mendapat keterangan bahwa Pangeran berada di Lumban. Bahkan Pangeran berada dalam kesulitan. Kami mendapat perintah untuk menemukan Pangeran dan membawa kembali ke Demak” “Terima kasih” jawab Pangeran Sena Wasesa “Aku memang akan kembali ke Demak. Aku sudah terbebas dari segala macam kesulitan. Orang-orang yang sekarang bersamaku, adalah orang-orang yang telah menolong aku, membebaskan aku dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab” Rangga Sutatama mengangguk-angguk. Dipandanginya orang cacat yang berada disebelah Pangeran Sena Wasesa dan seorang tua lainnya yang berdiri termangu-mangu. “Mereka adalah orang-orang yang banyak berjasa” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Sekedar member ikan beberapa keterangan” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. “Terima kasih Ki Sanak” berkata Rangga Sutatama. Lalu “Jika demikian, maka kewajiban kalian akan berakhir disini. Biarlah kami yang ditugaskan oleh Panglima Wira Tamtama Demak menjemput Pangeran Sena Wasesa menerimanya disini. Kami akan membawa Pangeran Sena Wasesa ke Demak dan langsung menghadap Sultan, karena seisi istana telah mencemaskan hilangnya Pangeran Sena Wasesa” “Biar lah mereka ikut bersama kami” jawab Pangeran Sena Wasesa “Aku ingin menyampaikan kepada Sultan, apa yang telah mereka perbuat selama aku dalam kesulitan” Rangga Sutatama itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun berkata “Itu tidak perlu Pangeran. Aku adalah petugas yang ditunjuk oleh Sultan, sehingga apa yang aku lakukan adalah atas nama Sultan sendir i. Jika aku menerima orang-orang ini, maka berarti bahwa mereka telah diterima pula oleh Sultan. Meskipun demikian aku berjanji bahwa pada suatu saat, semuanya tentu akan dipanggil menghadap Sultan untuk diterima dan barangkali ada sesuatu yang dapat disampaikan oleh Sultan kepada mereka sebagai hadiah” “Kau salah Ki Rangga” jawab Pangeran “Mereka sama sekali tidak memerlukan hadiah itu. Tetapi mereka memang seharusnya dibawa menghadap. Sekedar untuk memperkenalkan dir i, dan sebagai laporan yang dapat aku berikan kepada Sultan tentang pusaka dan tentang apa yang telah mereka lakukan. Tetapi Rangga Sutatama itu tertawa. Katanya “Sudahlah Pangeran. Sebaiknya kita memikirkan persoalan yang jauh lebih besar bagi Demak. Hah-hal kecil seperti itu akan dapat kita pikirkan kemudian. Apalagi mereka tidak memer lukan hadiah bagi pertolongan yang telah mereka berikan kepada Pangeran” “Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa “Apa salahnya, dan apakah sebenarnya keberatanmu, jika mereka, aku bawa menghadap, karena mereka benar-benar telah berbuat sesuatu bagiku dan bagi keselamatan pusaka itu sendiri. “Memang tidak ada keberatan apapun juga Pangeran, kecuali bahwa kedatangan sekian banyak orang di istana memer lukan satu syarat penerimaan tersendiri. Karena itu, maka sebaiknya untuk sementara Pangeran sendiri sajalah yang menghadap. Mereka akan diundang pada kesempatan lain dengan persiapan tersendiri. Karena kedatangan mereka kali ini t idak akan banyak manfaatnya. Bahkan mungkin mereka tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Sultan sendiri” Tetapi ternyata Pangeran Sena Wasesa menjawab “Kami akan tetap pada pendirian kami. Kami akan menghadap bersama-sama” Wajah Rangga Sutatama menjadi tegang. Namun ia masih mencoba tersenyum sambil berkata “Pangeran. Bagaimana juka aku katakan, bahwa karena aku mengemban perintah Sultan, maka aku dapat menyebut diriku mempunyai kekuasaan sebagai limpahan kekuasaan Sultan” Pangeran Sena Wasesalah yang kemudian menjadi tegang. Kemudian dengan nada dalam ia berkata “Kau memang aneh Ki Rangga. Apakah sebenarnya yang kau kehendaki dengan kekuasaanmu yang kau anggap telah dilimpahkan oleh Sultan kepadamu?“ “Bukan apa-apa Pangeran. Tetapi aku memang mendapat tugas untuk membawa Pangeran menghadap. Hanya Pangeran. Tidak dengan siapapun juga, karena Pangeran tentu tahu, bahwa masalah yang ada pada Pangeran adalah masalah yang cukup gawat” jawab Rangga Sutatama “karena itu, sudahlah. Pangeran jangan berkeras. Bukankah Pangeran sudah mengetahui rumah orang-orang itu? Atau mungkin padepokannya atau padukuhan tempat mereka tinggal?” Pangeran Sena Wasesa benar-benar menjadi tegang. Namun dalam ketegangan itu, Rahu telah melangkah mendekati Rangga Sutatama. Namun ia tidak cepat dapat dikenal karena ujud pakaiannya. Nampaknya Rahu benar-benar seseorang dari lingkungan padepokan yang disebut oleh Pangeran Sena Wasesa banyak berjasa. “Ki Sanak” berkata Rahu kemudian “Kau menimbulkan keragu-raguan pada diri Pangeran Sena Wasesa dan kami semuanya. Kami memang tidak ingin menghadap Sultan untuk menerima hadiah karena sikap kami. Tetapi kami hanya ingin meyakinkan diri, bahwa segalanya memang telah selesai dengan tuntas” “Kau jangan ikut campur Ki Sanak. Aku menghormati kau, karena kau menurut Pangeran Sena Wasesa adalah satu dari orang-orang yang telah berjasa. Tetapi jika kau mengambil sikap tersendiri, maka akupun dapat mengambil sikap tersendiri pula” jawab Rangga Sutatama. Rahu memandang Ki Rangga itu sejenak. Namun kemudian iapun berpaling kepada Pangeran Sena Wasesa. Aku mengerti, bahwa Pangeran menjadi bimbang, bahkan cur iga. Aku pernah menyarankan untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di Lumban itu ke Demak. Kemudian akan datang sekelompok prajurit yang akan dapat mengamankan segalanya. Kini Pangeran benar-benar bertemu dengan yang nampaknya seperti prajurit Demak. Tetapi percayalah Pangeran, bahwa bukan inilah yang aku maksudkan” Pangeran Sena Wasesa memandang Rahu sejenak, kemudian Rangga Sutatama dan para prajurt Demak yang berdiri berjajar di belakang Rangga Sutatama. “Apa maksudmu Ki Sanak” bertanya Pangeran Sena Wasesa “Aku memang mengingat sekilas kata-katamu tentang prajurit Demak itu. Dan kehadiran prajur it Demak kali ini memang dapat aku hubungkan dengan apa yang kau katakan itu, tentu saja dengan kecurigaan yang tajam” Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Untunglah bahwa rencana itu sudah kita batalkan. Namun diluar dugaan, bahwa kita benar-benar bertemu dengan prajurit-prajurit Demak dalam tugas yang mencur igakan” Rangga Sutatama tiba-tiba memotong “Siapa kau Ki Sanak? Dan apa sebenarnya yang kau katakan itu?“ “Ki Rangga Sutatama” jawab Rahu kemudian “Ternyata kau masih mampu mengelabui Pangeran Sena Wasesa. Memang mungkin sekali Pangeran Sena Wasesa tidak tahu apa yang terjadi atas dirimu pada saat-saat terakhir. Tetapi aku tahu sepenuhnya, meskipun aku berada di luar lingkungan istana untuk- waktu yang lama. Tetapi orang yang aku sebut Semi, merupakan penghubung yang sangat baik” “Apa yang kau katakan itu?“ bertanya Ki Rangga Sutatama. “Baiklah. Pertama aku ingin bertanya, jika benar kau mendapat perintah, dan bahkan dengan limpahan kekuasaan dari Sultan, apakah kau dengan pertanda perintah itu? Aku tidak melihat tunggul atau pertanda lain yang dapat meyakinkan, bahwa kau memang mendapat limpahan kuasa dari Sultan” berkata Rahu kemudian “Yang kedua, coba katakan, apakah kau masih seorang Senepati penuh dari pasukan Demak sebagaimana nampak kau bawa saat ini? Ketiga, jika kau benar-benar bertugas kau sudah berbuat banyak kesalahan, karena sebenarnya kau tidak berbuat apa- apa bagi kepentingan Pangeran Sena Wasesa?“ Wajah Ki Rangga Sutatama menjadi merah membara. Dipandanginya orang yang berdiri dihadapannya. Sejenak ia bagaikan membeku. Namun kemudian ia berkata “Kau?“ “Ya. Kau tentu mengenal aku. Dan akupun mengenal kau dengan baik. Juga mengenal kedudukanmu yang sebenarnya. Pangeran Sena Wasesa memang mengenalmu, tetapi tidak mengenal keadaanmu yang sebenarnya. Apalagi untuk beberapa saat lamanya Pangeran Sena Wasesa tidak berada di Demak, dan sebelumnya Pangeran memang sedang sakit. Dengan demikian maka Pangeran Sena Wasesa dalam keadaan sakit pada waktu itu, tidak menghiraukan apa yang terjadi dengan kau” berkata Rahu kemudian. Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Namun kemu dian iapun menggeretakkan giginya sambil brekata “ Tikus buruk. Kenapa kau berada disini?“ “Apakah kau perlu mengerti? Jika aku mengatakan bahwa aku bertugas atas nama Demak, kau juga akan bertanya apakah aku membawa pertanda perintah itu?“ bertanya Rahu “Kau gila. Kau sudah mencairkan seluruh rencanaku“ garam orang yang bernama Rangga Sutatama itu. “Katakan kepada Pangeran tentang dirimu” berkata Rahu kemudian. “Persetan. Aku tidak peduli. Aku membawa pasukan“ jawab Ki Rangga Sutatama. Pangeran Sena Wasesa mendengarkan pembicaraan itu. Dengan ragu-ragu iapun bertanya “Apa sebenarnya yang terjadi?“ “Pangeran” berkata Rahu “meskipun Pangeran mengenalnya, tetapi aku kira Pangeran tidak sempat memperhatikan keadaannya, sebagaimana Pangeran tidak memperhatikan prajur it-prajurit yang lain di Demak” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk kecil. “Ketahuilah Pangeran” berkata Rahu kemudian “Ki Rangga Sutatama telah mendapat hukuman dari Panglimanya. Aku sudah mendapat pemberitahuan justru karena Ki Rangga berusaha untuk memecahkan persoalan pusaka yang hilang itu diluar tugas yang sebenarnya harus dilakukannya. Seorang penghubung yang aku percaya telah memberikan beberapa nama yang diragukan kesetiaannya. Aku mendapat pemberitahuan itu, justru karena aku mengemban tugas sandi” Tetapi tiba-tiba saja Ki Rangga Sutatama tertawa. Katanya “Aku tidak berkeberatan semuanya itu kau katakan. Akpun tidak akan ingkar. Bahkan aku akan mempertanggung jawabkan semua tindakanku sekarang ini” “Ki Rangga” berkata Rahu “Kau sudah menyalah gunakan kedudukanmu” Tetapi Ki Rangga tertawa semakin keras. Katanya “Tetapi Ki Sanak. Jika kau menuduh aku menyalah gunakan kedudukanku, maka kenapa kau tidak menuduh bahwa Pangeran Sena Wasesa melakukannya pula?“ “Kenapa kau dapat berkata begitu?“ desak Rahu. “Jangan berpura-pura bodoh. Kau adalah seorang petugas sandi. Tetapi mungkin memang ada beberapa hal yang tidak kau ketahui. Khususnya tentang Pangeran Sena Wasesa itu sendiri” jawab Rangga Sutatama. Wajah Rahu menjadi tegang. Namun kemudian ia mengerti maksud Ki Rangga Sutatama, karena seperti yang dikatakan sendiri oleh Pangeran Sena Wasesa, bahwa sebenarnya terbersit pula satu keinginan untuk memiliki sendir i pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu. Tetapi sebelum Rahu menjawab, Ki Rangga Sutatama telah berkata “Apakah kau kira bahwa Pangeran Sena Wasesa dalam hal ini bertindak jujur?“ “Ya” t iba-tiba jawab Rahu tegas. Tetapi Ki Rangga tertawa semakin keras. Katanya “Aku kira kehadiranmu disini bukan karena tugas sandimu. Tetapi agaknya kau juga telah menyalah gunakan wewenang dan kedudukanmu. Apakah kau sedang melindungi Pangeran Sena Wasesa dan kau akan mendapat sebagian dari harta benda itu?“ “Kau salah Ki Rangga” jawab Rahu“ Pangeran Sena Wasesa telah bertindak jujur. Ia telah siap menyerahkan semuanya itu kepada Sultan. Tetapi tentu tidak kepadamu” “Omong kosong” berkata Ki Rangga. “Jangan berlaku kasar Ki Rangga” sahut Pangeran Sena Wasesa “Tetapi baiklah aku berterus terang. Memang ada keinginanku untuk memiliki pusaka dan lebih-lebih harta benda itu semula. Tetapi pada saat terakhir, ternyata bahwa hatiku telah mendapat cahaya terang. Aku melihat satu kepentingan yang jauh lebih besar dari kepentinganku pribadi. Kepentingan negara yang sedang tumbuh ini harus mendapat tempat jauh lebih baik di setiap hati penghuninya, termasuk aku. Kesadaran inilah yang telah mendorongku untuk berkata berterus terang. Tetapi tidak kepada siapapun juga. kceuali kepada Sultan sendiri. Terus-terang aku tidak dapat mempercayai siapapun juga pada saat seperti sekarang ini dimana pegangan hidup sedang berguncang. Termasuk aku sendiri” Pangeran Sana Wasesa itu berhenti sejenak, lalu “Nah, bukankah dalam rangka itu Ki Rangga mengaku menerima tugas untuk melindungi aku? Jika aku berada di tangan Ki Rangga seorang diri. maka Ki Rangga akan dapat memeras keteranganku. Begitu?“ Ternyata jawab Ki Rangga Sutatama itu mengejutkan. Katanya “Ya. Dugaan Pangeran tepat. Aku memang menghendaki Pangeran hidup-hidup. Aku ingin memeras keterangan Pangeran tentang pusaka itu. Aku sudah mendengar apa yang terjadi dengan orang-orang Sanggar Gading, Kendali Putih dan yang terakhir orang-orang Pusparuri. Tetapi aku tidak akan berbuat sebodoh mereka. Bagaimanapun juga anak-anak muda Lumban harus diperhitungkan. Tetapi disini, kita tidak akan diganggu oleh anak-anak muda Lumban” “Tetapi darimana kau mendapatkan pakaian keprajuritan sekian banyaknya?“ bertanya Rahu. “Jangan sebodoh itu. Setiap kali kau menunjukkan kedunguanmu. Sebagian dari mereka memang prajurit yang dianggap bersalah seperti aku. Tetapi sebagian dari mereka adalah orang-orang diluar keprajuritan. Untuk mendapat pakaian bagi mereka tidak terlalu sulit. Aku dapat merampok atau mencur i di gedung penyimpanan pakaian” Wajah Rahu jadi merah membara. Dipandanginya Ki Rangga Sutatama dengan kemarahan yang menyala di dalam dadanya. Namun sebelum Rahu berbuat sesuatu, Jlitheng bergeser mendekatinya sambil berkata “Rahu, jika kau mempunyai wewenang untuk bertindak, apalagi yang masih akan kau tunggu. Kita tidak mempunyai pilihan lain menghadapi orang ini“ “Siapa lagi orang ini?“ bertanya Ki Rangga. “Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan tatanan keprajuritan di Demak. Tetapi aku muak melihat tampang dan sikapmu” geramJlitheng. Ki Rangga mengerutkan keningnya. Kata-kata Jlitheng ternyata menusuk perasaannya. Dengan nada geram ia berkata “Kau jangan menjadi gila seperti itu anak muda. Jika kau belum mengenal aku, bertanyalah kepada Pangeran Sena Wasesa. Ia akan menceriterakan serba sedikit, siapakah Rangga Sutatama itu” “Aku sudah tahu tentang kau serba sedikit. Kau adalah seorang Senapati Demak yang sudah kehilangan hak sebagai seorang Senapati. Nah, apa lagi?“ sahut Jlitheng. Kemarahan Kl Rangga hampir t idak tertahankan lagi. Namun ia masih memikirkan kepentingannya dalam keseluruhan. Karena itu, maka katanya “Aku tidak peduli tentang kau. Tetapi aku minta kepastian Pangeran Sena Wasesa, bahwa ia akan menyerah kepadaku” “Tidak” potong Rahu. Sementara itu Pangeran Sena Wasesapun menyahut “Jangan menganggap aku terlalu rendah seperti itu. Kau tahu, bahwa akupun seorang prajurit. Dan akupun seorang Senapati perang” “Bagus” geram Ki Rangga Sutatama “Jadi kami harus mempergunakan kekeraran untuk memaksa Pangeran mengikut i kami. Selebihnya kami akan memaksa Pangeran untuk berbicara dengan cara kami” “Aku masih mempunyai beberapa pilihan” jawab Pangeran Sena Wasesa. Membunuhmu atau melepaskan dir i dari pertempuran yang dapat saja terjadi atau mati dibunuh. Pilihan untuk menyerah sama sekali t idak terpikirkan olehku” “Jika Pangeran sudah kehilangan kesempatan untuk melawan dan tidak mungkin untuk melarikan diri, maka Pangeran tentu akan tidak mempunyai pilihan lagi” jawab Ki Rangga Sutatama. “Aku tetap pada pendirianku” jawab Pangeran Sena Wasesa. Ki Rangga Sutatamapun kemudian memandang berkeliling. Diamatinya orang-orang yang dikatakan telah menolong Pangeran Sena Wasesa itu. Dua diantara mereka adalah perempuan. “Jika Pangeran ingin melawan, maka itu adalah pekerjaan yang sia-sia saja. Pangeran telah berkhianat kepada orang- orang yang telah menolong Pangeran. Karena dengan “Ki Sanak”berkata Rahu kemudian”kau menimbulkan keragu-raguan pada diri Pangeran Sena Wasesa dan kami semuanya. Kami memang tidak ingin menghadap Sultan untuk menerima hadiah karena sikap kami. Tetapi kami hanya ingin meyakinkan diri. bahwa segalanya memang telah selesai dengan tuntas” sikap yang demikian itu berarti orang-orang yang telah menolong Pangeran inipun akan mati pula. Padahal Pangeran dapat bersikap lain, sehingga orang-orang itu akan selamat” “Satu pikiran Gila“ potong Jltlheng “Kau sangka permainan kata-katamu itu dapat mempengaruhi tekad kami?“ Ki Rangga Sutatama memandang Jlitheng dengan kemarahan yang tidak tertahankan. Dengan keras ia berkata “Mulutmulah yang pertama-tama akan dibungkam” “Persetan“ jawab Jlitheng Ternyata bahwa gejolak perasaan Jlitheng tanpa disadari telah tersalur pada sikapnya menghadapi Ki Rangga Sutatama. Kekecewaannya menghadapi kenyataan, bahwa gadis lereng bukit itu lebih dekat dengan Daruwerdi telah membuat hatinya bagaikan grabah yang mudah sekali pecah. Namun dalam pada itu. selagi Jlithenglah yang sudah siap untuk meloncat menyerang Kiai Kanthi telah berkata “Apakah kita harus menyelesaikan persoalan ini dengan kekerasan” “Kiai melihat sendiri sikap yang gila itu” jawab J litheng. “Jika memang harus demikian, sebaiknya kita bersikap lebih hati-hati. Kita masih harus berusaha menempatkan diri pada keadaan yang belum banyak kita ketahui” berkata Kiai Kanthi kemudian. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti, bahwa Kiai Kanthi berusaha memperingatkannya, agar ia tidak menurut i gejolak perasaannya. Sementara itu Pangeran Sena Wasesa berkata “Baiklah Ki Rangga Sutatama. Jika kau berkeras untuk memaksa aku, maka aku akan melawan. Orang-orang yang datang bersamaku telah menunjukkan kepadaku, bahwa mereka berbuat apa saja untuk menolongku. Jika kali ini aku masih memerlukannya, maka merekapun tentu tidak akan berkeberatan” “Baik. Bersiaplah. Kita akan segera mulai dengan permainan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Tetapi jika kami sudah mulai, maka kematian tentu tidak akan dapat dihindarkan lagi” Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Tetapi ia justru berbicara kepada orang-orang yang bersamanya “Ki Sanak. Sekali lagi kita dihadapkan pada keadaan yang tidak kita kehendaki? Tetapi aku sudah bertekad untuk menghadapi langsung Sultan di Demak. Karena itu, maka akupun bertekad untuk menentang segala hambatan. Aku mohon bahwa Ki Sanak sekalian masih tetap pada sikap kalian sebelumnya” Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk sambil berkata “Pangeran. Yang terpenting adalah menyelamatkan pusaka itu sehingga kembali kepada yang berhak. Karena itu, maka kita akan menghadapi segala hambatan dengan penuh tanggung jawab” “Terima kasih Ki Ajar. Akupun yakin akan sikap Ki Sanak semuanya. Karena itu, akupun sudah siap menghadapi segala kemungkinan” berkata Pangeran Sena Wasesa. Dalam pada itu, Kiai Kanthipun telah berbisik kepada anak gadisnya “Lindungi perempuan itu” Swastipun mengangguk. Namun ketika ia menempatkan diri, diluar keinginannya, Daruwerdipun telah bersiap melindungi ibanya pula, karena iapun melihat kemungkinan yang bakal terjadi. Diluar sadarnya, Jlitheng memandangi keduanya. Terasa jantungnya berdentang. Namun iapun kemudian menggeram sambil menghadap kearah orang-orang yang mengenakan pakaian keprajur itan itu. Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatamapun segera memberi isyarat kepada orang-orangnya yang jumlahnya jauh lebih banyak. Dengan tangannya ia memerintahkan orang-orangnya untuk berusaha mengepung Pangeran Sena Wasesa bersama kawan-kawannya yang menurut keterangannya telah menolongnya. Ibu Daruwerdipun menjadi cemas melihat perkembangan keadaan. Tetapi ketika ia melihat anaknya dan anak gadis yang luar biasa itu berdiri disebelah-menyebelahnya, maka hatinya menjadi agak tenang. “Pangeran” berkata Ki Rangga Sutatama “Jangan menyesal bahwa semua orang akan binasa untuk menghuangkan jejak, kecuali Pangeran sendiri. Sementara itu, aku sendiri telah menempatkan dir i sebagai lawan Pangeran Sena Wasesa, agar Pangeran dapat dikalahkan tanpa terluka segores kecilpun” “Kau memang sombong sekali Ki Rangga” desis Pangeran Sena Wasesa. “Aku berkata sebenarnya. Tentu Pangeran tahu. siapakah Rangga Sutatama. Pangeran tentu pernah mendengar namaku diantara sederet nama Senapati di Demak, termasuk para Pangeran seperti Pangeran Sena Wasesa sendiri” sahut Ki Rangga Sutatama. “Namamu tidak begitu besar seperti yang kau sangka sendiri Ki Rangga” desis Rahu “Aku bukan orang yang terkenal seperti kau. Bahkan Pangeran Sena Wasesa belum mengenal aku sebelumnya. Tetapi itu memang sesuai dengan tugasku. Namun demikian, seandainya aku harus melawanmu sekarang ini, aku tidak akan gentar” Ki Rangga Sutatama tertawa. Katanya “Sudahlah. Jangan merajuk seperti kanak-kanak. Aku sudah memilih lawan. Orang-orangku yang jumlahnya jauh lebih banyak itu akan menghancurkanmu” Rahu tidak sempat menjawab. Ki Rangga sudah memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk segera bergerak. Sejenak kemudian kepungan itupun menjadi semakin sempit. Ki Rangga yang masih saja nampak tersenyum, berdiri di hadapan Pangeran Sena Wasesa sambil berkata “Aku akan bertempur tanpa senjata. Agar dengan demikian aku tidak akan melukai Pangeran” “Bagaimana jika akulah yang bersenjata?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Silahkan Pangeran. Itu adalah hak Pangeran di dalam pertempuran. Tetapi meskipun Pangeran bersenjata, arti senjata Pangeran itu tidak akan banyak” jawab Ki Rangga Sutatama. Namun ternyata bahwa Pangeran Sena Wasesa masih juga mempunyai harga diri menghadapi Ki Rangga yang tidak bersenjata. Karena itu, maka iapun segera bersiap tanpa senjata pula. Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan orang-orang yang bersama mereka itupun telah bersiap pula. Mereka menghadapi orang-orang yang berlipat jumlahnya. Namun demikian, mereka masih tetap mempunyai harapan untuk dapat keluar dari pertempuran itu, karena lawan mereka bukan orang-orang yang mempunyai pengaruh besar di dalam dunia kanuragan, kecuali Ki Rangga Sutatama itu sendir i. Namun ternyata bahwa Ki Rangga telah memilih lawan, seorang yang juga memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sejenak kemudian maka gelang yang menyempit itupun telah mulai bersentuhan dengan orang-orang yang berada di dalam lingkaran. Jlitheng yang mempunyai persoalan sendiri di dalam dirinya itu tidak sabar lagi menghadapi orang-orang yang berpakaian prajurit itu. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang dengan garangnya. Ternyata bahwa orang-orang itu memang mempunyai kemampuan seorang prajurit, karena memang ada diantara mereka yang seperti dikatakan Ki Rangga, adalah bekas-bekas prajurit yang melakukan kesalahan dan harus menanggalkan gelar keprajuritannya. Namun dalam pada itu, mereka sempat menghimpun diri, dalam lingkungan yang hitam itu. Sejenak kemudian, pertempuranpun telah mulai berkobar. Ternyata bahwa orang-orang yang mengawasi Pangeran Sena Wasesa itupun telah membuat satu lingkaran yang menghadap keluar. Mereka berusaha menempatkan ibu Daruwerdi di dalam lingkaran yang akan dapat melindunginya. Daruwerdi dan Swasti berada di depan perempuan itu, sementara yang lainpun Eegera menempatkan diri mereka masing-masing sebelah-me-nyebelah, kecuali Jlitheng yang berusaha bertempur sejauh-jauhnya dari Swasti dan Daruwerdi. Demikian pertempuran dalam jumlah yang tidak seimbang itupun telah terjadi. Namun ternyata bahwa jumlah yang tidak seimbang itu tidak segera dapat menentukan akhir dari pertempuran itu. Setelah Ki Rangga Sutatama terlibat dalam pertempuran tanpa senjata melawan Pangeran Sena Wasesa, serta telah terjadi benturan kekerasan yang melingkar diseluruh arena itu, maka ternyata bahwa orang-orang yang berpakaian prajurit itu tidak dapat menentukan pertempuran itu menurut kehendak mereka. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka tiba-tiba saja mereka terkejut ketika seorang diantara mereka yang berada dalam kepungan itu berhasil meloncat keluar. Ketika beberapa orang mengejarnya, maka iapun berusaha bergeser menjauhi putaran arena itu, sehingga telah terjadi lingkaran pertempuran tersendiri. Tiga orang telah menyerangnya bersama-sama. Tetapi orang yang telah berhasil keluar dari kepungan itu berkata “Jangan berbuat sesuatu yang dapat menghancurkan dir imu sendiri. Letakkan saja senjata kalian. Kalian tentu akan dimaafkan oleh Pangeran Sena Wasesa” “Gila. Apakah kau kira cacatmu itu dapat menjadi pertanda bahwa kau adalah orang yang tidak terkalahkan?“ geramsalah seorang lawannya. Tetapi orang yang harus bertempur melawan tiga orang lawan itu berkata “Tentu tidak. Cacatku itu justru pertanda bahwa aku pernah mengalami nasib paling buruk di dalam lingkaran dunia kanuragan. Tetapi juga pelajaran yang sangat baik bagiku untuk menghadapi kalian bertiga” “Persetan“ geram seorang diantara mereka. Dengan serta merta maka ketiga orang lawannya itupun telah mengerahkan tenaga mereka untuk segera mengakhiri pertempuran, sehingga mereka segera dapat membinasakan orang yang lain lagi. Tetapi orang cacat itu ternyata sangat liat. Bahkan rasa- rasanya orang cacat itu sama sekali tidak mengalami kesulitan. Sementara itu Kiai Kanthi masih tetap berada di dalam lingkaran. Sebenarnya jika ia menghendaki, ia akan dapat menyusul Ki Ajar Cinde Kuning keluar dar i kepungan. Tetapi Kiai Kanthi tetap berada di tempatnya. Bahkan Kiai Kanthi ternyata telah mempergunakan senjatanya. Namun dengan demikian, maka Kiai Kanthi telah membuat beberapa orang yang berdiri dihadapannya menjadi bingung. Senjata Kiai Kanthi itu berputaran dengan cepat. Kadang- kadang yang nampaknya hanyalah gumpalan-gumpalan putih diseputarnya. Namun kadang-kadang senjata itu nampak seolah-olah telah berkembang menjadi beberapa pucuk senjata di beberapa pasang tangan yang bergerak bersama- sama. Di bagian lain dari pertempuran itu, Jlitheng telah mengerahkan segenap kemampuannya. Meskipun ia tidak memiliki kemampuan setinggi ilmu Kiai Kanthi, tetapi dengan pedang tipisnya, Jlitheng adalah orang yang sangat berbahaya. Ki Rangga Sutatama menjadi heran menghadapi kenyataan itu. Ia sendiri terikat pada pertempuran melawan Pangeran Sena Wasesa. Yang ternyata juga memiliki ilmu yang tinggi. Tanpa senjata Pangeran Sena Wasesa mampu mengimbangi ilmu Ki Rangga Sutatama, yang ternyata salah duga menghadapi kemampuan Pangeran itu. Meskipun Ki Rangga Sutatama juga mengetahui, bahwa Pangeran Sena Wasesa juga seorang Senapati, tetapi ia terlalu percaya kepada diri sendiri. Keangkuhan dan kadang-kadang sifatnya yang adigang adiguna itulah yang membuatnya terlalu bernafsu untuk memiliki banyak dari yang dapat dicapainya dengan wajar. Sehingga karena itulah, maka kepercayaan Panglima prajurit di Demak kepadanya menjadi cepat susut. Kenyataan yang demikian itulah yang membuatnya menjadi gelisah. Orang-orang yang datang bersama Pangeran Sena Wasesa, dan sama sekali tidak meyakinkannya, ternyata mampu melawan orang-orangnya. Bahkan orang cacat yang buruk itu telah meloncat keluar kepungan, sementara seorang tua yang lain dapat membuat orang-orang menjadi bingung. Sedangkan anak-anak muda bahkan seorang diantara kedua orang perempuan itu mampu juga bertempur dengan garangnya. “Siapakah iblis-iblis ini sebenarnya?“ bertanya Ki Rangga Sutatama dengan jantung yang berdebar-debar. Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Sambil meloncat menghindar i serangan lawannya, ia berdesis “Kau kira siapa mereka itu” “Darimana Pangeran mendapat kawan-kawan yang berilmu iblis itu? Apakah mereka sekelompok penyamun atau sejenis itu? Atau orang-orang Sanggar Gading atau Kendali Putih atau Pusparuri yang pura-pura telah menyelamatkan Pangeran, namun dengan demikian mereka mengharapkan hadiah yang besar dari Sultan di Demak?“ “Mereka tidak mengharapkan apa-apa” jawab Pangeran Sena Wasesa “Dan bukankah kau sudah mengetahui salah seorang dari mereka adalah justru seorang petugas sandi dari Demak?“ “Kau kira bahwa seorang petugas sandi tidak dapat melakukan kerja rangkap? Bukankah banyak dijumpai seorang petugas sandi justru bekerja untuk kepentingan sekelompok penjahat yang paling buas?“ jawab Ki Rangga Sutatama. Pangeran Sena Wasesa justru tertawa. Katanya “Kau sudah mulai dibayangi oleh kegelisahan yang sangat. Ki Rangga. Mumpung belum terjadi sesuatu yang gawat. Jika kau membatalkan niatmu, maka aku berjanj i untuk tidak melaporkan kelakuanmu ini kepada pimpinan prajurit di Demak. “Kau juga sudah gila Pangeran” berkata Ki Rangga “Apakah dalam keadaan seperti sekarang ini, kau akan mungkin meloloskan diri? Bagaimanapun juga jumlah orang di dalam satu medan akan mempunyai pengaruh yang menentukan. Betapapun juga tinggi ilmu iblis dari orang-orangmu, mereka tidak akan dapat melawan jumlah yang jauh lebih banyak” Tetapi belum lagi Ki Rangga Sutatama diam. maka mereka mendengar keluhan tertahan dekat disebelah mereka. Ternyata bahwa Rahu telah berhasil melukai seorang lawannya dan dengan demikian mendesak lawannya yang seorang itu keluar dari lingkaran. ”Apa yang terjadi Ki Rangga?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Hanya karena sikap yang kurang berhati-hati. Tetapi lihat, ia masih akan sanggup memasuki arena setelah ia mengobati lukanya yang tidak berarti itu” jawab Rangga Sutatama. Pangeran Sena Wasesa menngerutkan keningnya. Ia melihat orang itu mengusapkan obat berupa bubuk berwarna kuning pada luka itu. Kemudian orang itu telah menyiapkan diri untuk turun lagi ke arena. Tetapi yang mereka lakunya itu telah memaksa lawannya berbuat yang sama. Jitheiigpun kemudian menjadi semakin garang. Pedang tipisnya menggeletar dengan cepat, berputar kemudian mematuk arah jantung lawannya. Pada saat Daruwerdi terluka, ternyata Jlitheng telah sempat membenamkan pedangnya didada lawannya. Namun dalam pada itu, ternyata bahwa orang-orang yang mengikut i Pangeran Sena Wasesa untuk menghadap ke Demak itu mulai jemu dengan pertempuran itu. Apalagi nampaknya di beberapa bagian dinding lingkaran, mereka menjadi berbahaya karena kemarahan yang meluap-luap. Karena perhitungan yang demikian itulah, maka Kiai Kanthipun berniat untuk menyelesaikan pertempuran itu lebih cepat lagi. Bukan saja sekedar bertahan, tetapi sudah waktunya untuk mulai melumpuhkan lawan- lawannya. Karena itu, maka sejenak kemudian Kiai Kanthipun justru menjadi semakin cepat bergerak, la tidak saja membingungkan lawan- lawannya, tetapi senjatanya benar- benar telah mulai menyentuh tubuh lawannya. Ketika seorang diantara mereka terluka, maka dibagian lainpun terdengar pula seseorang mengeluh. Ternyata bahwa Ki Ajar Cinde Kuningpun telah mulai melukai lawan- lawannya, “Masih ada kesempatan untuk pergi” berkata Ki Ajar Cinde Kuning Tetapi Ki Rangga Sutatama yang melihat orang-orangnya telah mulai terluka itupun berteriak nyaring “Kita ternyata terlalu baik hati. Bunuh saja lawan-lawan kalian tanpa membuat terlalu banyak pertimbangan” Tetapi suara Ki Rangga itu sendiri tertahan-tahan karena serangan Pangeran Sena Wasesa yang datang membadai. Di bagian lain dari pertempuran itupun orang-orang Ki Rangga Sutatama menjadi semakin sulit menghadapi lawan- lawannya. Swasti dan Daruwerdi yang memiliki dasar ilmu yang berbeda, ternyata mampu menempatkan diri sebagai pasangan yang mantap. Keduanya bertempur dengan sepenuh kemampuan. Sementara itu, ibu Daruwerdi yang ada d dalam lingkaran, dan berdiri termangu-mangu di belakang anaknya, menyaksikannya dengan jantung yang berdebar-debar. Dalam pada itu, kemarahan para pengikut Ki Rangga Sutatama itu telah mencapai puncaknya. Apalagi karena beberapa orang diantara mereka telah menitikkan darah Sehingga karena itu, maka merekapun menjadi bagaikan orang wurL yang tidak terkendali. Sebenarnyalah mereka memiliki kemampuan melampaui orang-orang Pusparuri. Namun dihadapan mereka adalah orang-orang pilihan juga. Bahkan diantara mereka terdapat Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi yang memiliki kemampuan jauh diatas kemampuan setiap orang diantara mereka yang mengepungnya. Sementara itu. Pangeran Sena Wasesa sendiri masih bertempur dengan sengitnya melawan Ki Rangga Sutatama yang bernafsu untuk menangkapnya hidup-hidup. Namun bagaimanapun juga jumlah yang jauh lebih banyak itupun memang mempunyai pengaruh pula. Satu dua orang diantara orang-orang Ki Rangga itu telah tergores senjata. Namun ternyata mereka masih sempat menekan orang-orang yang berada di dalam lingkaran. Tetapi justru karena itu, maka Kiai Kanthi telah meningkatkan kemampuannya pula untuk mengurangi tekanan pada dinding lingkaran yang lain. Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuningpun tekanan yang terasa berat pada lingkaran pertempuran itu. Sehingga iapun telah berusaha untuk membantunya dengan caranya. Sejenak kemudian, maka Ki Ajar itupun telah menghentakkan ilmunya. Orang-orang yang bertempur melawannya itupun terkejut. Seorang diantara mereka terlempar keluar lingkaran. Bukan saja sebuah goresan pada kulitnya. Namun ternyata dagingnyapun telah terkoyak pula. Belum lagi orang itu sempat merangkak menepi untuk mengobati lukanya, maka seorang lagi diantara mereka telah terluka pula. Dalam keadaan yang gawat, maka dua orang telah meninggalkan kepungan dan bergabung dengan kawannya yang masih bertahan melawan Ki Ajar Cinde Kuning. Namun demikian kedua orang itu menempatkan diri melawan orang cacat itu, telah terjadi pula peristiwa yang serupa. Ki Ajar telah benar-benar melukai lawannya sehingga tangan kanan lawannya seolah-olah telah menjadi lumpuh. Dalam pada itu, dibagian lain dari lingkaran pertempuran itu, para pengikut Ki Rangga Sutatama masih berpengharapan untuk dapat berbuat lebih banyak lagi. Ketika dua orang bersama-sama menyerang Daruwerdi, Swasti sudah siap untuk membantunya. Tetapi ternyata bahwa ia sendiri telah mendapat serangan yang tiba-tiba, sehingga ia harus menghindari serangan itu. Dengan demikian, maka ia berhasil lolos dari sentuhan senjata lawan. Namun yang terjadi pada Daruwerdi agak berbeda. Ketika ia sedang sibuk menangkis serangan dua orang lawannya, seorang yang lain telah menyerangnya. Swasti terlambat meloncat membantunya. Namun ia masih sempat berteriak “Daruwerdi, hati-hati” Daruwerdi sempat bergeser. Tetapi serangan lawannya itu ternyata telah menyentuh lengannya, sehingga sedores luka telah memancarkan darah dar i lengan kirinya. Sementara itu, Swasti telah meloncat disebelahnya sehingga serangan yang lain telah dapat di tangkisnya. Namun ternyata bahwa serangan-serangan yang cepat bukan saja di alami oleh Daruwerdi dan Swasti. Tetapi yang lainpun telah mengalaminya pula, justru karena para pengikut Ki Rangga Sutatama itu melihat beberapa orang kawannya telah terluka. Tetapi yang mereka lakukan itu telah memaksa lawannya berbuat yang sama. Jlithengpun kemudian menjadi semakin garang. Pedang tipisnya menggeletar dengan cepat, berputar kemudian mematuk kearah jantung lawannya. Pada saat Daruwerdi terluka, ternyata Jlitheng telah sempat membenamkan pedangnya didada lawannya. Rahu sempat melihat, bagaimana Jlitheng bertempur dengan segenap kemampuannya. Seolah-olah Rahu belum pernah melihat Jlitheng bersikap demikian sebelumnya. Namun dalam pada itu. Kiai Kanthi yang sekilas sempat juga melihat, segera dapat memakluminya. Ada perasaan lain yang membuat Jlitheng menjadi terlalu garang. Kekecewaan dan kehilangan. Namun Kiai Kanthi tidak dapat membantunya. Ia tidak akan dapat berbuat banyak terhadap anak gadisnya dalam hubungannya dengan Jlitheng dan Daruwerdi, karena Kiai Kanthipun mengerti watak anak gadisnya itu. Untuk melepaskan gejolak perasaannya, Jlitheng telah mengambil sasaran pada lawan- lawannya. Demikian ia berhasil melukai lawannya, maka pedangnya telah berputar pula mengerikan. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa yang bertempur melawan Ki Rangga Sutatama itupun berkata “Ki Rangga Apakah kau masih belum melihat kenyataan ini? Berapa orangmu telah terluka?“ “Persetan“ geram Ki Rangga “Tetapi orang-orangmu juga sudah terluka Pangeran” Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Ia tidak bertempur disebelah Daruwerdi, sehingga ia tidak melihat bahwa anak muda itu telah terluka. Demikian pula seorang paman Daruwerdi telah tergores ujung senjata Tetapi luka- luka itu hampir tidak berpengaruh sama sekali. Namun sikap dan tingkah laku para pengikut Ki Rangga Sutatama itu memang membuat lawan-lawannya menjadi marah pula. Mereka bertempur dengan kasar dan bahkan kadang-kadang liar. Mereka berteriak dan mengumpat dengan kata-kata yang tidak pantas. “Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa “adakah prajurit-prajuritmu telah kau ajari bertempur dengan liar seperti itu? Kau dengar apa yang mereka katakan dan apa yang mereka teriakkan?“ “Aku tidak peduli” jawab Ki Rangga “Mereka adalah prajurit-prajurit yang kecewa karena sikap para panglimanya yang tidak tahu diri. Seperti akupun telah dikecewakan pula, meskipun pengabdianku telah bertimbun melampaui pengabdianmu sendiri Pangeran” “Jangan membuat ceritera lelucon seperti itu” jawab Pangeran Sena Wasesa “sekarang menyerahlah. Masih ada kesempatan Aku akan memohonkan ampun atas segala tingkah lakumu ini” Tetapi Ki Rangga itu justru mengumpat. Dengan tangkasnya ia meloncat menyerang sambil berteriak nyaring “Cepat, bunuh lawan-lawanmu. “Omong kosong“ Jlithengpun berteriak. Rasa-rasanya semuanya membuatnya marah. Apapun yang didengar dan dilihatnya. Tetapi kemarahannya yang kadang-kadang kurang terkendali itu membuatnya kurang berhati-hati. Ketika ia menyerang lawannya dengan perhitungan yang kurang mapan, maka terdengar Jlitheng berdesis. Namun kemudian iapun telah menggeretakkan giginya. Ternyata segores luka telah menyilang di pundaknya. Tidak terlalu dalam. Tetapi terasa luka itu menjadi pedih. Namun justru karena luka itu, Jlitheng menjadi semakin garang. Meskipun luka itu telah memper ingatkan, bahwa ia harus lebih berhati-hati menghadapi lawan- lawannya. Karena mereka memiliki ilmu yang cukup. Sehingga untuk menghadapi dua orang diantara mereka yang mengepungnya, memer lukan perhitungan yang lebih baik dari sekedar sikap marah. Tetapi di bagian lain, Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi tidak mempunyai pilihan, lain. Ia harus berusaha mengurangi jumlah lawannya. Semakin cepat semakin baik. agar mereka cepat dapat meninggalkan tempat itu dan menghadap Kangjeng Sultan, atau orang yang mendapat kuasa untuk mengurus gedung perbendaharaan, sebelum mereka dapat menghadap Sultan sendiri. Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin cepat. Para pengikut Ki Rangga Sutatamapun tidak membiarkan diri mereka dilumpuhkan. Karena itu, merekapun telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri mereka masing-masing. Tetapi kemampuan diantara mereka yang bertempur itu memang berbeda. Meskipun beberapa orang telah terluka tetapi akhirnya nampak bahwa para pengikut Ki Rangga Sutatama tidak akan dapat mengatasi keadaan. “Gila“ geram Ki Rangga Sutatama di dalam hatinya “iblis dari mana sajalah yang telah mengikuti Pangeran Sena Wasesa itu, sehingga mereka mampu bertahan menghadapi orang-orangku yang jumlahnya lebih banyak?“ Tetapi itu adalah satu kenyataan. Jika semula Ki Rangga Sutatama menganggap kehancuran orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih itu adalah karena mereka saling membenturkan diri mereka sendir i, kemudian kehadiran orang-orang Pusparuri yang malang karena mereka harus menghadapi anak-anak muda Lumban yang jumlahnya tidak terhitung, sehingga mereka sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu betapapun tinggi ibnu mereka, ternyata kini ia menghadapi kenyataan lain. Orang- orang yang disebut telah menolong Pangeran Sena Wasesa itu ternyata memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Dan segalanya sudah terlanjur terjadi. Ki Rangga tidak akan dapat menghindarkan dir i dari tanggung jawab atas tingkah lakunya. Dengan kenyataan itu, maka Ki Rangga justru bersikap semakin garang Pusar dari berlawanan orang-orang yang disebut menolong Pangeran Sena Wasesa itu adalah pada Pangeran itu sendir i. Jika ia berhasil menguasai Pangeran itu, maka ia tentu dapat mematahkan perlawanan mereka. Dengan mengancam Pangeran Sena Wasesa, maka ia akan dapat memaksa orang-orang itu menuruti perintahnya. Tetapi sejalan dengan usaha Ki Rangga Sutatama, maka Pangeran Sena Wasesapun telah mengerahkan ilmunya pula. Untuk melawan Senapati yang mumpuni itu, ternyata Pangeran Sena Wasesa memang harus mengerahkan segenap kemampuannya. Namun Pangeran Sena Wasesapun seorang Senapati besar pula, sehingga dengan demikian ia dapat mengimbangi peningkatan ilmu Ki Rangga Sutatama. Akhirnya Ki Rangga Sutatama itupun kehilangan kesabaran. Ia tidak dapat berpegang pada niatnya untuk menangkap Pangeran Sena Wasesa hidup-hidup dan tanpa segores lukamu. Karena jika ia tetap berpegangan pada sikap itu, maka ialah yang mungkin akan ditangkap hidup-hidup oleh orang-orang yang telah menolong Pangeran Sena Wasesa itu. Dengan demikian, akhirnya Ki Rangga Sutatama telah mengambil keputusan lain. Tiba-tiba saja ia meloncat surut sambil menggeram “Pangeran. Segalanya terjadi tidak seperti yang aku harapkan. Sebenarnya aku ingin berbuat sebaik- baiknya bagi Pangeran. Tetapi agaknya Pangeran terlalu sombong dan merasa dirimu terlalu besar. Karena itu aku harus mengambil sikap lain” Pangeran Sena Wasesa tertegun. Ia mengerti, bahwa lawannya tentu akan mempergunakan senjatanya. Sebenarnyalah Ki Rangga Sutatama itupun telah menar ik sebilah wedung dari wrangkanya yang terselip di lambung kir i. Wedung yang tidak terlalu biasa dipergunakan sebagai senjata karena kecuali terlalu kecil dibanding dengan sebilah pedang, bentuknya memang tidak begitu menguntungkan. Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga Sutatama telah mempergunakan sebilah wedung. “Pangeran” berkata Ki Rangga “Jangan mengecilkan arti senjataku ini. Pusaka ini adalah peninggalan Senapati besar dari Majapahit. Selama wedung ini berada di tanganku, aku telah membunuh lebih dari sepuluh orang dengan senjata ini Sementara diantara mereka melawanku dengan jenis senjata yang lebih baik. Pedang, tombak dan bindi. Nah, apakah Pangeran juga akan melawan” “Aku sudah melawan Ki Rangga” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Jika aku tidak berhasil menangkap Pangeran hidup-hidup, maka biarlah aku membunuh Pangeran saja, agar rahasia tentang pusaka dan harta benda itu akan tetap menjadi rahasia sepanjang jaman” “Baiklah” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku akan bertahan dan jika kemudian kaulah yang mati disini, hal itu aku lakukan karena terpaksa sekali?” Pangeran Sena Wasesa tidak mempunyai waktu banyak. Ternyata Ki Rangga Sutatama itupun segera bersiap menyerangnya. Tetapi Pangeran Sena Wasesa masih sempat mengenakan lempeng baja di telapak tangannya. Dengan lempeng baja itu ia siap melawan senjata apapun juga. Bukan saja karena ketrampilan tangannya itu, tetapi juga kekuatan ilmunya seolah-olah telah terpusat pada telapak tangannya yang dialasi dengan sekeping baja pilihan itu. “Senjata Pangeran aneh” desis Ki Rangga. “Aku tidak sempat membawa senjata panjang saat aku dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading, kecuali lempeng baja yang memang tidak terpisah dari tubuhku dalam keadaan apapun juga. Ki Rangga Sutatama memperhatikan keping-keping baja di tangan Pangeran Sena Wasesa. Keping-keping baja yang diberinya bercincin yang dapat diselusupi jar i-jari. “Pangeran sekedar membuat pengeram-eram” berkata Ki Rangga. Sutatama “Tetapi senjata seperti itu tidak akan banyak manfaatnya. Apalagi untuk melawan wedung pusakaku ini” “Mungkin keping-keping baja seperti ini tidak bermanfaat bagi siapapun juga. Tetapi bagiku, senjata ini akan dapat aku pergunakan untuk menghadapi senjata apapun. Termasuk senjatamu itu” jawab Pangeran Sena Wasesa. Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatamapun kemudian telah meningkatkan serangan-serangannya, sehingga dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin cepat dan seru. Ternyata Ki Rangga Sutatama benar-benar menguasai senjatanya meskipun tidak begitu besar. Tetapi yang tidak terduga sama sekali oleh Ki Rangga, keping-keping baja di tangan Pangeran Sena Wasesa itupun merupakan senjata aneh yang menggetarkan. Namun dalam pada itu, ternyata para pengikut Ki Rangga Sutatama telah jauh susut. Selain yang terluka parah, maka yang lainpun rasa-rasanya telah menjadi kehilangan harapan. Hanya karena Ki Rangga masih saja bertempur, pengikutnya tidak berani mengambil sikap meskipun mereka menyadari, kemungkinan yang paling buruk akan dapat terjadi atas mereka. Sementara kedua belah pihak bertempur pada saat-saat terakhir, mereka telah dikejutkan oleh derap kaki-kaki kuda. Bukan hanya seekor atau dua ekor kuda. Tetapi jauh lebih banyak. Dalam kesempatan terakhir dari pertempuran itu. Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang yang bertempur dipihaknya telah dikejutkan oleh munculnya sepasukan prajurit berkuda. Prajurit Demak sebagaimana yang sedang bertempur melawan mereka. “Gila“ geram J litheng yang melihat pula kehadiran mereka. Kemarahan yang telah membakar jantungnya itu rasa-rasanya akan meledak melihat orang-orang berkuda itu. Jumlah mereka justru lebih banyak dari jumlah para pengikut Ki Rangga Sutatama yang hampir mereka selesaikan. Dalam pada itu. pertempuran itu telah menarik perhatian para prajurit berkuda yang datang kemudian itu. Dengan serta merta iring- iringan kupan langsung menuju ke arena yang sudah menjadi berat sebelah. “Siapa mereka?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa kepada Ki Rangga Sutatama. Ki Rangga mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tertawa “Jangan menyesal Pangeran. Kawan-kawanku telah datang untuk mengakhiri pertempuran ini. Dengan kehadiran mereka, maka niatku untuk membunuh Pangeran sudah barang tentu akan aku batalkan. Aku akan berusaha lagi menangkap Pangeran hidup-hidup. Pangeran Sena Wasesa menggeretakkan giginya. Dengan dahsyatnya iapun kemudian meloncat menyerang. Ia bukan lagi menunggu dan menghindar. Tetapi ialah yang ingin menentukan akhir dari pertempuran itu. Ki Ajar Cinde Kuningpun menjadi berdebar-debar. Namun ia berkata di dalam hatinya “Apakah aku masih harus membunuh dan membunuh lagi? Justru pada saat-saat hari-hariku menjadi semakin pendek oleh umurku” Tetapi bagaimanapun juga, ada sesuatu yang membebaninya pada saat itu. Ia sadar, betapa tinggi nilai benda-benda dan harta yang sedang diperebutkan itu. Karena itu, maka katanya pula kepada diri sendiri “Pusaka dan harta benda itu perlu diselamatkan meskipun harus jatuh korban yang lebih banyak lagi. Mayat orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading, kemudian orang-orang Pusparuri dan prajur it-prajurit yang gila ini merupakan tebusan yang terlalu mahal. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuningpun telah bersiap-siap. Menghadapi para pengikut Ki Rangga Sutatama ia masih berusaha untuk melumpuhkan mereka tanpa membunuhnya. Tetapi jika lawan menjadi semakin banyak, maka iapun akan terpaksa membunuh dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Kiai Kanthipun menjadi berdebar-debar pula. Bukan oleh kecemasan tentang dir inya. Ia masih mempunyai banyak harapan untuk dapat keluar dari pertempuran itu. Tetapi bagaimana dengan anak-anak muda yang sedang tumbuh itu. Bagaimana dengan anak gadisnya, Daruwerdi dan Jlitheng. Tetapi tidak banyak kesempatan untuk merenung. Anak- anak muda di antara merekapun telah menghentakkan kemampuan mereka menjelang kehadiran para prajur it berkuda itu. Sebenarnyalah sekelompok orang berkuda itu dengan kecepatan semakin t inggi telah mendekati arena. Dalam pakaian keprajur itan, mereka nampak berwibawa. Seorang Senapati yang memimpin mereka, telah menggenggam pedang di tangannya. Ketika iring- iringan itu mendekati arena, maka Senepati itu telah mener iakkan aba- aba sambil mengangkat pedangnya. Sejenak kemudian beberapa ekor kuda itu telah memencar. Mereka langsung mengepung arena itu tanpa turun dari kuda mereka, sementara di setiap tangan telah tergenggam pedang. Seorang yang berkuda di sebelah Senapati yang memegang pimpinan itu membawa sebuah tunggul berbentuk seekor kuda yang berdiri pada kedua kaki belakangnya, dengan keadaan terpaksa akan dapat dipergunakan sebagai tombak yang berbahaya. “Aku perintahkan kepada semua pihak untuk menghent ikan pertepuran“ terdengar Senapati itu memekikan aba-aba. “Tidak ada gunanya” jawab Ki Rangga Sutatama “Aku adalah Rangga Sutatama. Cepat, libatkan dirimu dalam pertempuran ini. Mereka adalah orang-orang Sanggar Gading yang berusaha menguasai harta benda kerajaan yang tidak ternilai harganya” Seperti yang memimpin pasukan itu mengerutkan keningnya. Ia berusaha mengamati orang yang menyebut dirinya Rangga Sutatama itu. Sebenarnyalah bahwa orang itu mempergunakan pakaian seorang Rangga dalam tugas keprajuritan. Dan sebenarnyalah orang itu adalah Rangga Sutatama. “Ki Rangga” desis Senapati itu. Ki Rangga Sutatama tegak sambil menengadahkan dadanya. Sekilas ia sempat memandang Pangeran Sena Wasesa yang termangu-mangu. Sementara itu, pertempuran itupun seolah-olah telah berhenti dengan sendir inya. Kedua belah pihak menjadi ragu- ragu melihat sikap para prajurit berkuda yang mengepung mereka. “Nah, bukankah kau mengenal aku Ki Rangga Dirgapati. Aku telah berada dalam kesulitan kali ini. Aku menghadapi sekelompok orang-orang Sanggar Gading yang kuat Orang- orangku sama sekali tidak menduga bahwa diantara orang- orang Sanggar Gading terdapat orang-orang yang memiliki ilmu iblis” berkata Ki Rangga Sutatama. Orang yang disebut Ki Rangga Dirgapati itu termangu- mangu diatas punggung kudanya. Namun kemudian terdengar Pangeran Sena Wasesa berkata “Adalah kebetulan bahwa yang datang kali inipun orang yang sudah aku kenal. Ki Rangga Dirgapati, apakah kau tidak mengenal aku lagi?“ Ki Rangga Dirgapati mengerutkan keningnya. Ia melihat seorang dalam pakaian orang kebanyakan. Namun akhirnya lapun berdesis “Pangeran Sena Wasesa” “Ya“ sebelum Pangeran itu menjawab Ki Rangga Sutatama telah mendahuluinya “sebuah permainan yang mengasyikkan dari Pangeran Sena Wasesa. Ceritera tentang usaha mengambilnya dari istananya oleh sekelompok orang yang tidak dikenal adalah ceritera ngayawara. Ternyata Pangeran Sena Wasesa telah berusaha menghilangkan jejaknya pada saat Pangeran itu meninggalkan Demak karena satu kepentingan pribadi dengan menyuruh para pengikutnya berpura-pura menculiknya. Adalah tidak mungkin bahwa sekelompok kecil pada waktu itu dapat menembus pertahanan para pengawalnya dan Pangeran Sena Wasesa sendiri, jika hal itu memang t idak dikehendaki oleh Pangeran itu sendiri” Ternyata Ki Rangga Dirgapati menjadi termenung sejenak. Namun kemudian Pangeran Sena Wasesa menjawab “Kau percaya ceritera itu Ki Rangga Dirgapati. Kau adalah seorang Senapati. Jika kau sempat melihat pertempuran ini barang sejenak, maka kau akan melihat, bahwa orang-orang yang berpakaian seperti prajurit Demak di bawah pimpinan Ki Rangga Sutatama ini, sama sekali bukan prajur it“ Ki Rangga Sutatama tertawa. Katanya “Pangeran ingin meneruskan pertempuran ini? Dan Pangeran ingin menunjukkan kepada Ki Rangga Dirgapati bahwa orang-orang Sanggar Gading mempunyai kelebihan sehingga Pangeran akan dapat memaksa Ki Rangga Dirgapati untuk meninggalkan tempat ini karena ketakutan?“ “Pikiranmu terlalu dangkal Ki Rangga Sutatama. Jika kau ingin mengelabui seseorang, pakailah cara yang agak lebih baik, sehingga tidak justru menumbuhkan kecur igaan seperti itu” berkata Pangeran Sena Wasesa. Tetapi sekali lagi Ki Rangga Sutatama tertawa. Katanya “Ceritamu tamat sampai disini Pangeran. Pasukan Demak akan menyelesaikan tugas mereka sebaik-baiknya. Betapapun tinggi tingkat ilmu orang-orang Sanggar Gading yang ternyata telah kau pimpin sendir i, tidak akan dapat mengalahkan pasukan Demak yang banyak ini. Meskipun Ki Rangga Dirgapati tidak segarang dan sekasar aku sendiri” Pangeran Sena Wasesa menggeretakkan giginya. Ternyata Ki Rangga Sutatama adalah orang yang sangat licik. Orang yang sampai hati mempergunakan segala cara untuk mencapai maksudnya. Bahkan cara yang paling kasar dan kotor sekalipun. Namun dalam pada itu, Rahu telah melangkah maju mendekati Ki Rangga Dirgapati. Tetapi langkahnya terhenti ketika Ki Rangga itu menundukkan pedangnya sambil berkata “Berhenti di tempatmu” Rahu berhenti beberapa langkah dihadapan Ki Rangga Dirgapati. Sementara Ki Rangga Sutatama berkata “Orang itu sangat berbahaya” Ki Rangga Dirgapati mengerutkan keningnya. Namun tiba- tiba saja sebuah pisau belati yang kecil telah meluncur dari tangan Ki Rangga Sutatama. Pisau yang dilontarkan oleh seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Tetapi Pangeran Sena Wasesa sempat melihat gerak yang cepat itu, sehingga dengan kecepatan yang seimbang, Pangeran Sena Wasesa meloncat sambil menyerang Ki Rangga Sutatama. Bagaimanapun juga, serangan Pangeran Sena Wasesa itu berpengaruh sehingga sasaran pisau itu tidak tepat seperti yang dibidiknya, justru karena Ki Rangga harus menghindari serangan Pangeran Sena Wasesa. Meskipun demikian, pisau itu masih sempat juga mengarah ke tubuh Rahu yang sama sekali tidak menduga bahwa Ki Rangga Sutatama akan melakukan satu tindakan yang paling tercela, justru pada saat ia tidak memperhatikannya. Justru pada saat ia memandang ujung pedang Ki Rangga Dirgapati yang menunduk itu. Pisau itu ternyata sempat juga menancap di lengannya. Sehingga terdengar Rahu mengeluh tertahan. Dengan serta merta Kiai Kanthi telah meloncat mendekatinya diikuti oleh Jlitheng dan Ki Ajar Cinde Kuning yang cacat itu. “Gila“ geram Rahu. Namun sementara itu Ki Ajar telah menenangkannya, sementara Jlitheng telah mencabut pisau itu atas persetujuan Rahu. Rahu menyeringai menahan sakit. Sementara Ki Rangga Sutatama menggeram “Anak iblis. Kau harus mati sebelum kau dengan licik membunuh Ki Rangga Dirgapati” Namun dalam pada itu, tanpa menghiraukan darah yang mengalir di lengannya, Rahu telah melangkah lagi mendekati Ki Rangga Dirgapati sambil berkata lantang “Aku memang bukan orang terkenal seperti Ki Rangga Sutatama. Mungkin kau tidak akan mengenal aku Ki Rangga Dirgapati. Namun adalah kebetulan sekali bahwa Ki Rangga Sutatama mengenal aku. Tetapi aku bersukur bahwa tidak banyak orang yang mengenalku justru karena tugas sandiku. Tetapi dalam keadaan terpaksa seperti ini aku akan mengatakan kepada Ki Rangga, bahwa aku memiliki pertanda akan tugasku” Ki Rangga Dirgapati mengerutkan keningnya. Ketika Rahu membuka tangannya, nampaklah sebentuk cincin yang khusus, yang menjadi cir i tugas sandinya, yang hanya dikenal oleh beberapa orang Senapati terpenting di Demak. “Apakah Ki Rangga Dirgapati termasuk salah seorang Senapati yang mengenal pertanda ini?“ bertanya Rahu kemudian. Ki Rangga Dirgapati memandang cincin di jari Rahu. Agaknya dalam sikapnya sehari-hari, Rahu telah meletakkan pertanda pada cincinnya itu justru di bagian dalam, sehingga yang nampak pada bagian luarnya, seolah-olah ia memakai cincin sigar penjalin. Pangeran Sena Wasesapun tertarik pada cincin di jari Rahu itu. Setelah beberapa lama Rahu bersamanya, namun Rahu tidak pernah menampakkan ciri tugas sandinya. Apalagi kepada orang-orang lain. Jlitheng tidak terlalu tertarik dan heran melihat pertanda itu. Meskipun ia belum pernah melihat pertanda yang melekat pada cincin itu dan justru diletakkan di bagian dalam tangannya, namun Jlitheng sudah tahu pasti, siapakah Rahu itu. Namun dalam pada itu, terdengar Ki Rangga Sutatama itu berkata “Nah. bukankah orang itu benar-benar telah bersiap untuk mengelabui setiap petugas yang berhasil mencium rencana buruknya? Ki Rangga Dirgapati. Ia juga telah menunjukkan cincin itu kepadaku. Tetapi aku tidak mempercayainya. Bahkan mungkin sekali kematian petugas sandi yang berasal dari lingkungan pasukanku itu, adalah karena pokalnya, dan cincin itu telah dirampasnya dan dipakainya. Jika tidak demikian maka membuat cincin serupa itu bukan terlalu sulit bagi seorang ahli perhiasan” “Kau memang licik” geram Rahu “Tetapi masih ada satu hal yang dapat memperkuat pernyataanku ini. Kau tidak membawa pertanda apapun. Lihat, pasukan Ki Rangga Dirgapati ditandai dengan sebuah tunggul dari pasukan berkuda. Nah, tunggul apa yang kau bawa sekarang ini j ika kau benar-benar sedang dalam tugas kerajaan dengan membawa pasukan sebanyak itu?“ Wajah Ki Rangga Sutatama menjadi merah. Namun sebelum ia menjawab terdengar Ki Rangga Dirgapati berkata “Ternyata aku tidak mengenal kau. Tetapi cincin di tanganmu telah membuat aku yakin akan tugasmu. Adalah tidak mustahil bahwa seorang petugas sandi tidak dikenal oleh orang lain yang tidak berhubungan langsung dengan tugasnya. Tetapi pertanda yang kau bawa itu menyatakan tentang dirimu. Sebenarnya kita tidak perlu terlalu banyak berbincang tentang Ki Rangga Sutatama. Yang aku ketahui tentang Ki Rangga adalah keterbatasan tugas-tugas yang dapat dilaksanakan. Karena itu. akupun semula merasa heran, bahwa ia berada disini mengemban tugas yang berat itu. Namun sebenarnyalah bahwa aku mendapat perintah untuk melacak peristiwa yang terjadi di Lumban Untuk membukt ikan berita tentang peristiwa yang menggemparkan yang terjadi antara kelompok-kelompok yang sedang bersaing dalam ketamakannya. Diantaranya adalah Sanggar Gading. Kendali Putih dan Pusparuri, disamping pihak orang-orang Lumban sendir i” “Aku pernah berada dilingkungan orang-orang Sanggar Gading” berkata Rahu “Anak muda yang bernama Jlitheng inipun pernah berada di lingkungan Sanggar Gading pula. Tetapi kami memasuki padepokan itu atas dasar tugas-tugas kami” “Omong kosong” teriak Ki Rangga Sutatama “semuanya omong kosong Kalian tidak, tahu apa-apa tentang tugas- tugasku” Namun Ki Rangga Dirgapati menjawab dengan jelas dan pasti “Ki Rangga Sutatama. Aku percaya bahwa Ki Rangga masih seorang prajurit. Tetapi aku tidak percaya bahwa Ki Rangga mendapat tugas untuk menangani masalah orang- orang Sanggar Gading atau persoalan yang timbul di daerah Lumban” Wajah Ki Rangga Sutatama menjadi semakin merah. Tubuhnya menjadi bergetar menahan kemarahan yang bergejolak di dalam dadanya. Namun ia tidak dapat mengabaikan kenyataan, bahwa ia sudah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melawan. Jangankan pasukan Demak yang kemudian datang, sedangkan untuk melawan Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang yang menyatakan diri mereka telah membantu Pangeran Sena Wasesa itupun ia telah mengalami kesulitan. Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga Sutatama bukan orang yang mudah mengalah. Karena itu, dengan jantung yang bergelora ia berkata lantang “Baiklah. Ternyata aku menghadapi orang-orang licik dan pengkhianat. Ki Rangga Dirgapati, apakah kau juga termasuk orang-orang yang memburu harta benda itu dengan kedok tugas-tugas keprajuritanmu? Jika demikian, biarlah aku mempertahankan hak kerajaan yang seharusnya kembali kepada Demak. Karena itu, maka mar ilah kita buktikan, siapa diantara kita yang benar-benar mendapat tugas dari Panglima pasukan Demak untuk mengusut peristiwa yang terjadi di Lumban. Marilah kita buktikan, siapakah diantara kita berdua prajurit linuwih yang pantas menjunjung per intah Sultan” “Apa maksudmu Ki Rangga Sutatama?“ berkata Kl Rangga Dirgapati. “Kita buktikan dengan perang tanding” jawab Ki Rangga Sutatama. “Sikap yang paling bodoh bagi seorang yang sedang mengemban tugas jika aku menerima tantangan itu. Kita tidak mempunyai persoalan pr ibadi. Jika persoalannya adalah persoalan Dirgapati dan Sutatama, apaboleh buat. Tetapi sekarang aku mengemban tugas untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di Lumban. Namun karena aku sekarang langsung menghadapi persoalan yang tidak dapat aku abaikan, maka persoalan inipun akan aku tangani pula” jawab Ki Rangga Dirgapati “Licik, Pengecut“ teriak Ki Rangga Sutatama “Kau tidak berhak berbuat seperti itu” “Ki Rangga Sutatama” berkata Ki Rangga Dirgapati “Aku terpaksa menangkap Ki Rangga dan para pengikut Ki Rangga, apakah mereka benar-benar prajurit Demak atau bukan. Persoalan berikutnya adalah bukan persoalanku. Ada orang- orang yang akan memeriksa Ki Rangga dan memberikan penyelesaian” “Tidak” geram Ki Rangga “Aku lebih baik mati terkapar disini dari pada menjadi tangkapan sekelompok penjahat yang licik seperti kalian. Baru sekarang aku percaya bahwa kelompok orang-orang Sanggar Gading benar-benar telah menyusup diantara para Senapati Demak” “Kau masih mengatakan sesuatu yang tidak berarti apa-apa Ki Rangga” potong Ki Rangga Dirgapati “Jangan mengigau seperti itu. Kau tahu bahwa hal itu tidak ada gunanya. Karena itu menyerahlah” “Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku menjadi saksi. Jika kau menyerah, maka kau tentu masih akan mendapat kesempatan” “Tidak” teriak Ki Rangga Sutatama lantang. Suasana menjadi semakin tegang. Ki Rangga Sutatama benar-benar tidak mau menyerah. Ia menyadari, apa yang akan dihadapinya jika ia menyerah, karena satu dua orang pengikutnya yang tentu akan menyerah juga, akan dapat mengatakan apa yang sedang mereka kerjakan itu. Karena itu, maka dengan tekad yang bulat, Ki Rangga Sutatama akan bertempur sampai kemungkinan yang terakhir. “Jangan keras kepala Ki Rangga Sutatama” berkata Ki Dirgapati kemudian “Kau seorang prajur it seperti aku. Karena itu kau tahu, apa yang akan aku lakukan menghadapi orang seperti kau” “Persetan“ jawab Ki Rangga Sutatama “J ika aku menyerah, maka akupun akan di gantung di alun-alun. Lebih baik aku mati disini dari pada mati menjadi pengeram-eram. Ki Rangga Dirgapati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata “Baiklah. Aku akan memerintahkan para prajurit untuk menangkap Ki Rangga. Hidup atau mati” “Ayo. Jatuhkan perintah itu. Senapati yang licik? Aku menantang kau perang tanding, tetapi kau memilih cara yang paling buruk yang dapat dilakukan oleh seorang Senapati” berkata Ki Rangga Sutatama lantang. “Ki Rangga Dirgapati” berkata Rahu “Sudah waktunya untuk menjatuhkan perintah” Ki Rangga Sutatama menggeretakkan giginya. Dengan garang ia bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk yang akan dapat terjadi atas dirinya. “Aku akan bertanggung jawab” geram Ki Rangga Sutatama “sampai batas kematian” Tetapi sebelum Ki Rangga Dirgapati menjatuhkan perintah, Pangeran Sena Wasesa berkata “Persoalan yang timbul disini adalah persoalan antara aku dan Ki Rangga Sutatama. Aiku akan menerima j ika ia menantang aku berperang tanding sehingga kita masing-masing akan dapat menyatakan bahwa kita telah menyelesaikan persoalan diantara kita dengan jantan” “Itu adalah sekedar gejolak perasaan Pangeran” potong Rahu “perang tanding semacam itu sama sekali tidak perlu. Kita semua menghadapi sekelompok perampok yang dengan tamak ingn menguasai pusaka dan harta benda kerjaan bagi kepentingan diri mereka sendir i. Itu sudah cukup alasan untuk melakukan tindakan yang tegas bagi mereka” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun sementara itu, Ki Rangga Dirgapati telah mengangkat senjatanya sebagai isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk bertindak. Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatamapun kemudian berteriak nyaring “Bunuh mereka semua. Jangan beri ampun kepada seorangpun diantara mereka” Dengan garangnya Ki Rangga Sutatama telah siap meloncat menghadapi Ki Rangga Dirgapati yang masih berada di punggung kudanya. Sementara para prajuritnya telah bergerak semakin maju beberapa langkah. Namun dalam pada itu, tidak seorangpun pengikut Ki Rangga Sutatama yang bergerak melakukan perintahnya. Semua pengikutnya masih tetap berdiri termangu-mangu dengan senjata yang tunduk di tangan. Ki Rangga Sutatama tertegun melihat sikap para pengikutnya. Sekali lagi ia berteriak dengan kemarahan yang memuncak. Tetapi ternyata bahwa para pengikutnya yang melihat kenyataan yang akan mereka hadapi lebih baik memilih meletakkan senjata mereka daripada melakukan per intah Ki Rangga Sutatama. “Cepat” teriak Ki Rangga Sutatama “kalian tidak perlu lagi berbelas kasihan” Tetapi para pengikutnya masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Kemarahan Ki Rangga Sutatama tidak lagi dapat dikendalikan. Gelora didadanya rasa-rasanya akan memecahkan jantungnya. Oleh kemarahan dan putus-asa, maka Ki Rangga Sutatama telah mengambil satu sikap yang mengejutkan. Yang. tidak terduga sama sekali. Dengan loncatan panjang, tiba-tiba saja Ki Rangga Sutatama telah menyerang Pangeran Sena Wasesa yang berdiri termangu-mangu. Pangeran Sena Wasesa terkejut. Untunglah bahwa ia masih sempat mengelak. Namun ternyata bahwa Ki Rangga yang putus asa itu telah memburunya sambil berteriak lantang kepada para pengikutnya “Jangan menjadi pengecut. Cepat, bergeraklah” Teriakan itu ada juga pengaruhnya. Namun ternyata bahwa orang-orang yang menyebut diri mereka penolong Pangeran Sena Wasesa itupun telah bergerak pula. Sementara para prajurit Demakpun mengepung semakin rapat, Karena itu, maka merekapun telah mengurungkan segala niat untuk meneruskan peperangan. Mereka sudah benar- benar kehilangan kemauan untuk bertempur, karena dengan demikian mereka t idak akan mempunyai harapan apapun lagi. Karena itu, maka tidak seorangpun yang menolak perintah yang kemudian diteriakkan oleh Ki Rangga Dirgapati “Semua meletakkan senjatanya” Para pengikut Ki Rangga sutatama itupun telah melepaskan senjata mereka. Beberapa orang prajurit Demak itupun telah meloncat turun dari kuda mereka. Ki Rangga Dirgapati sendir i juga turun dari kudanya. Namun ia tidak segera dapat bertindak. Pertempuran antara Ki Rangga Sutatama dan Pangeran Sena Wasesapun menjadi semakin seru. Kemarahan dan dendam Ki Rangga telah ter salur dalam gerak dan teriakan-teriakan yang kasar. Keduanya telah bertempur dengan segenap kemampuan. Ki Rangga meloncat-loncat dengan garangnya. Senjata pendek di tanganinya menyambar-nyambar dengan cepat. Namun sekali- sekali mematuk mendebarkan. Tetapi ujung senjata itu setiap kali membentur telapak tangan Pangeran Sena Wasesa yang di alasi dengan sekeping baja. Bahkan ketika Pangeran Sena Wasesa telah sampai kepuncak ilmunya, maka keping baja itu tidak saja menahan serangan senjata Ki Rangga Sutatama, namun sekali-sekali telah menyentuh pergelangan tangan Ki Rangga yang menggenggam senjatanya itu. Ki Rangga Dirgapati tidak segera bertindak. Para prajuritnya telah mengumpulkan orang-orang yang menyerah. Namun ternyata tidak seorangpun yang mengganggu pertempuran yang sedang ber langsung itu. Dengan demikian, seolah-olah memang telah terjadi perang tanding. Ki Rangga Sutatama benar-benar ingin membunuh Pangeran Sena Wasesa. Pangeran itu sudah tidak ada artinya lagi baginya. Ia tidak akan dapat menangkapkan hidup-hidup dan apalagi memeras keterangan dari padanya tentang pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu, karena Ki Rangga Dirgapati dan prajurit-prajur itnya sudah menunggu. Karena itu, maka satu-satunya kepuasan yang dapat dicapainya sebelum ia digantung di alun-alun adalah membunuh Pangeran itu. Tetapi Pangeran Sena Wasesa benar-benar sudah siap menghadapi lawannya yang kehilangan segala harapan. Jika semula Pangeran Sena Wasesa masih berharap untuk dapat menundukkan lawannya tanpa membunuhnya, maka ketika pertempuran menjadi semakin seru dan keras. Pangeran itu tidak mendapat banyak kesempatan untuk terlalu banyak mengekang diri. Karena itu, maka akhirnya Pangeran Sena Wasesa telah benar-benar sampai ke puncak kemampuannya. Ketika senjata Ki Rangga mematuk leher Pangeran Sena Wasesa, maka dengan tangkasnya Pangeran itu memukul tajam senjata lawannya kesamping, sekaligus meloncat dan menyerang dengan kakinya. Tetapi Ki Ranggapun cepat menghindar. Ia berputar d atas sebelah kakinya, sementara kakinya yang lain terayun menyambar Pangeran Sena Wasesa yang tidak berhasil mengenai lawannya. Namun tangan Pangeran Sena Wasesa dengan cepat melindungi lambungnya. Ki Rangga menyadari, jika kakinya tersentuh keping baja di telapak tangan lawannya, maka kulit daging kakinya tentu akan terkelupas. Karena itu, maka iapun segera menarik kakinya. Namun dengan satu putaran senjatanyalah yang terayun mengarah ke dada. Pangeran Sena Wasesa surut selangkah. Tetapi Ki Rangga tidak sempat memburunya, karena Pangeran itupun segera meloncat maju. Ki Rangga Dirgapati menahan nafasnya. Yang dilihatnya adalah pertempuran yang cepat dan mendebankan. Semakin lama semakin seru. Apalagi ketika keduanya telah menghentakkan segala kemampuan atas kekuatan segenap tenaga cadangan yang ada. Kekuatan mereka sudah bukan lagi kekuatan orang kebanyakan. Dorongan tangan mereka bagaikan dorongan air bah menghantam bendugan Sementara kekuatan ayunan serangan mereka, bagaikan guguran batu di lereng pegunungan. “Luar biasa” berkata Ki Rangga Dirgapati di dalam hati “Sebenarnyalah Ki Rangga Sutatama memiliki kemampuan diatas dugaanku. Seandainya aku membiarkan gejolak perasaanku, maka aku tentu akan melayani tantangannya untuk berperang tanding. Dengan jujur aku harus mengakui, bahwa kemampunya melampaui kemampuanku secara pribadi. Namun agaknya ia telah terbentur pada kemampuan yang tidak dapat dilampauinya. Bahkan setiap kali Ki Rangga mengumpat jika terasa tangannya tersentuh keping baja di telapak tangan Pangeran Sena Wasesa. Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan orang-orang yang bersamanya termangu-mangu menyaksikan pertempuran yang seru itu. Namun dalam pada itu, ketajaman penglihatan mereka telah membuat mereka agak tenang. Jika Pangeran Sena Wasesa tidak melakukan kesalahan, maka ia tentu akan dapat menyelesaikan pertempur itu. Meskipun keduanya tidak terikat dalam perang tanding, sehingga tidak ada hambatan apapun seandainya satu atau dua orang melibatkan diri dalam pertempuran itu. Namun agaknya Pangeran Sena Wasesa yang merasa dirinya seorang prajurit sebagaimana Ki Rangga Sutatama akan merasa tersinggung karenanya. Dengan demikian, maka orang-orang yang sejak semula telah membantunya itu hanya dapat menyaksikan pertempuran itu dengan berdebar-debar. Tetapi Ki Rangga Dirgapati agaknya bersikap lain. Ia ingin persoalan itu cepat selesai. Karena itu, maka iapun telah melangkah mendekati arena dengan pedang teracu. “Jangan ganggu kami” geramPangeran Sena Wasesa. “Aku tidak mempunyai banyak waktu Pangeran” jawab Ki Rangga Dirgapati “Aku akan melakukan tugasku sebaik- baiknya dengan waktu yang paling singkat yang dapat aku lakukan” “Aku akan menyelesaikannya” sahut Pangeran Sena Wasesa. “Tidak ada waktu untuk membiarkan perasaan Pangeran meronta dalam kenyataan waktu yang terlalu sempit ini” jawab Ki Rangga Dirgapati. “Marilah Pengecut“ teriak Ki Rangga Sutatama “siapa yang ingin bertempur bersama Pangeran Sena Wasesa, cepat memasuki arena. Aku akan membunuh kalian seorang demi seorang” Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Tetapi ia memang ingin menyelesaikan pertempuran itu sendiri Karena itu, maka sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa telah memutuskan segala daya nalar dan budinya, perasaan dan pikir, serta segenap ilmu yang ada pada dirinya. Karena itu, maka hentakkan kemampuannya menjadi semakin dahsyat. Pada saat-saat terakhir, serangannya bagaikan amuk gemuruhnya badai yang paling dahsyat. Ki Rangga Dirgapati terkejut. Justru ia bergeser surut ketika keduanya terlibat dalampertempuran yang semakin dahsyat. Namun dalam pada itu, sebelum Ki Rangga Dirgapati dan prajurit-prajuritnya sempat berbuat sesuatu, maka Pangeran Sena Wasesa tidak lagi hanya sekedar menyentuh tubuh lawannya, tetapi ia benar-benar mulai menghantam lawannya dengan keping-keping baja di telapak tangannya. Demikianlah keduanya terlibat dalam benturan berjarak pendek. Bagaimanapun juga, Ki Rangga tidak akan menyerahkan dirinya menjadi sasaran hentakkan ilmu Pangeran Sena Wasesa. Karena itu dalam saat-saat terakhir, senjatanyapun bergerak dengan cepatnya. Tetapi, ternyata bahwa Ki Rangga tidak lagi mampu mengatasi kecepatan gerak Pangeran Sena Wasesa. Dalam keadaan yang paling sulit, Pangeran Sena Wasesa menyerangnya sambil mengayunkan telapak tangannya mengarah ke kening. Ki Rangga masih sempat mengelak. Namun semangan berikutnya telah memburunya tanpa dapat dihindar inya. Sebuah ayunan tangan Pangeran Sena Wasesa yang dilambari dengan kepingan baja pilihan itu telah menyambar kepala Ki Rangga Sutatama. Demikian kerasnya sehingga Ki Rangga tidak mampu menahan keseimbangannya. Dengan kerasnya Ki Rangga itu terpelanting dan jatuh terbanting di tanah. Ki Rangga berguling beberapa kali. Ia masih mencoba melenting berdir i. Namun ketika ia berusaha untuk bangkit, matanya mulai berkunang-kunang. Pandangan matanya menjadi kabur, sehingga kemudian ternyata ia tidak mampu lagi untuk tegak. Sekali lagi ia terbanting jatuh dan kehilangan kesadarannya. Pingsan. Pangeran Sena Wasesa berdiri tegak. Dipandanginya tubuh Ki Rangga yang terbaring diam. Kemudian dipandanginya pula Ki Rangga Dirgapati yang termangu-mangu “Agaknya aku sudah selesa Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku kira aku tidak perlu membunuhnya” “Terima kasih Pangeran” berkata Ki Rangga Dirgapati “Ternyata Pangeran sudah menyelesaikan persoalan antara Pangeran dengan Ki Rangga Sutatama” “Semuanya terserah kepada Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa itu kemudian. “Tetapi aku mohon maaf Pangeran, bahwa aku harus menjalankan tugasku sebaik-baiknya Karena itu, maka aku mohon Pangeran bersedia bersama dengan kami untuk menghadap ke Demak sesudah aku melihat perkembangan keadaan di Lumban” berkata Ki Rangga Dirgapati. “Tidak ada lagi masalah di Lumban” berkata Pangeran Sena Wasesa “Yang ada disana adalah beberapa orang tawanan. Seorang diantaranya yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang selama ini telah memimpin Sanggar Gading. Jika kau sependapat, maka kau akan dapat memer intahkan sebagian orang-orangmu untuk menjemput orang-orang yang tertawan itu. Sebagian lain bersama-sama dengan kami menghadap Sultan di Demak. Dengan atau tanpa Ki Rangga, aku memang ingin menghadap. Diantaranya juga akan memberikan laporan tentang peristiwa yang terjadi di Lumban yang barangkali sudah didengar pula oleh kalangan istana” Ki Rangga Dirgapati termangu-mangu sejenak. Ada semacam keragu-raguan memancar di sorot matanya. Pangeran Sena Wasesa seolah-olah telah melihat keragu- raguan itu. Karena itu, maka katanya “Jika kau tidak percaya sepenuhnya kepadaku Ki Rangga, maka marilah kita lebih dahulu menghadap Kangjeng Sultan. Baru kemudian kau pergi ke Lumban. Jika kau ingin pergi ke Lumban lebih dahulu, maaf aku tidak dapat mengikutimu. Aku akan pergi ke Demak tanpa Ki Rangga. Aku akan pergi bersama-sama orang-orang yang telah menolongku dan terlibat ke dalam peristiwa yang rumit ini” Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya “Tetapi aku mendapat perintah untuk melihat keadaan di Lumban. Itu adalah tugasku yang pertama. Namun demikian aku tidak dapat menyingkir dar i keterlibat persoalan yang aku hadapi disini, karena aku yakin, bahwa persoalan inipun tidak terlepas sama sekali dari peristwa-peristiwa yang telah terjadi di Lumban. Pangeran Sena Wasesa memandang Ki Rangga dengan tajamnya. Namun kemudian Katanya “Terserah kepadamu. Jika kau akan melakukan tugasmu yang pertama, lakukanlah, itu memang tugasmu yang utama. Tetapi jangan melibatkan aku. Pergilah dengan prajur it-prajuritmu. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Aku harus segera menghadap Sultan, sebelum Sultan mendapat keterangan yang salah dan memutuskan bahwa akupun bersalah” Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Nampaknya ia sedang membuat pertimbangan di dalam dirinya sebelum mengambil satu keputusan. Jlitheng menjadi tegang membeku, sementara Rahu menjadi bimbang. Ia mengerti sikap Ki Rangga Dirgapati sebagai seorang Senapati. Tetapi iapun mengerti sikap Pangeran Sena Wasesa. Pangeran Sena Wasesa tidak mau terlambat. Jika Sultan mendapat keterangan, entah dari siapapun datangnya, yang menyebut pengakuan Pangeran Sena Wasesa, bahwa ia sudah mengembalikan pusaka dan harta benda yang telah diselamatkan dari Majapahit itu ke kraton, maka Sultan tentu akan mengambil sikap khusus terhadapnya. Karena sebenarnyalah bahwa semuanya itu masih belumdiserahkannya. Jika semula, Pangeran itu benar-benar hendak memilikinya sendiri, yang sudah tentu dengan rencana-rencananya yang akan dapat dihadapkan kepada segala kemungkinan, termasuk kemarahan Sultan, namun akhirnya ia telah menemukan satu sikap yang benar-benar berlandaskan sikap seorang kesatria, yang mementingkan kepentingan yang lebih besar dari kepentingan pr ibadinya. Namun akhirnya Rahu itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Ki Rangga Dirgapati berkata “Baiklah Pangeran. Aku akan kembali ke Demak bersama Pangeran, sebelum aku akan pergi ke Lumban” “Baiklah. Kita akan pergi bersaam-sama ke Demak. Tetapi aku bukan tawananmu” sahut Pangeran Sena Wasesa. Ki Rangga mengangguk kecil sambil menjawab “Aku t idak pernah menganggap bahwa Pangeran adalah tawananku” “Orang-orang itulah yang menjadi tawananmu” berkata Pangeran itu selanjutnya. Demikianlah, Ki Rangga Dirgapatipun segera memer intahkan para prajuritnya untuk mengurus para tawanan. Mereka yang terluka dan tidak lagi dapat meneruskan perjalanan ke Demak, harus mendapat perawatan tersendiri. Dengan kuda-kuda mereka yang semula terlindung, maka orang-orang yang berpakaian prajurit Demak itu akan mengikut Ki Rangga Dirgapati sebagai tawanan sambil membawa kawan-kawan mereka. Sedangkan yang terbunuh di medan itu telah mereka kuburkan. Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatama menyadari dir inya ketika tangannya telah terikat dengan janget ganda tiga. Seandainya ia dapat memutuskan tali itu, namun ia tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan Ki Rangga Dirgapati dengan para prajuritnya. Apalagi bersama mereka adalah Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang yang dikatakan pernah menolongnya. Sejenak kemudian, setelah segalanya siap, maka sebuah iring- iringan telah berangkat menuju ke Kota Raja Demak. Dalam ir ing-ir ingan yang membawa pertanda tunggul kesatuan pasukan berkuda Demak, maka ir ing-ir ingan itu tidak menemui hambatan apapun juga memasuki kota raja. Meskipun Pangeran Sena Wasesa harus menunggu sehari, namun akhirnya iapun telah diterima oleh Kangjeng Sultan bersama dengan orang-orang yang disebutnya telah menolongnya dalam keadaan yang paling sulit. Tidak seorangpun yang diharuskan tinggal sehingga semuanya akan berkesempatan untuk menjadi saksi. Termasuk Ki Rangga Dirgapati sendiri. Dengan kepala tunduk, Pangeran Sena Wasesa menyampaikan seluruh persoalannya dari permulaan sampai ia berkesempatan menghadap Kangjeng Sultan di Demak. Kangjeng Sultan mendengarkannya dengan tegang. Sekali- sekali ia mengangguk-angguk. Namun kadang-kadang keningnya berkerut merut. “Hamba memang merasa berdosa” berkata Pangeran Sena Wasesa “Jika sejak pertama hal ini hamba sampaikan kepada Adimas Sultan, maka persoalannya tidak akan berke panjangan” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian. “Jadi kakangmas Pangeran telah melihat kesalahan itu?“ bertanya Kangjeng Sultan. “Ya. Hamba telah melihatnya” jawab Pangeran Sena Wasesa. Kangjeng Sultan mengangguk-angguk kecil. Dipandanginya orang-orang yang mengikut Pangeran Sena Wasesa menghadap. Seorang demi seorang Pangeran itu menyebut, siapakah mereka itu. “Perempuan itu adalah isteri hamba” berkata Pangeran Sena Wasesa. Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Dipandanginya ibu Daruwerdi dengan perasaan iba, karena menilik ujud lahiriahnya, perempuan itu tentu mengalami satu pengalaman yang pahit di dalam hidupnya. Kemudian ditatapnya wajah Swasti yang tunduk. Gadis itu memang gadis yang aneh. Nampaknya gadis itu gadis yang luruh. Tetapi menilik ceritera Pangeran Sena Wasesa, gadis itu adalah gadis yang garang dan bahkan telah menyelamatkan hidup isteri Pangeran Sena Wasasa itu. Sejerak kemudian Kangjeng Sultan ilupun bertanya “Kakangmas Pangeran telah memperkenalkan orang-orang yang menolong kakangmas ini seorang demi seorang. Tetapi dengan sekedar menyebut nama, aku tidak mengenal mereka lebih dalam” Pangeran Sena Wasesa mengangguk hormat. Katanya “Baiklah adimas Sultan. Aku akan mencoba memberikan beberapa keterangan tentang mereka” Dan Pangeran Sena Wasesapun mulai dar i Ki Ajar Cinde Kuning. Bahkan Pangeranpun sempat memperkenalkan saudara kembar Ki Ajar Cinde Kuning yang lelah menempuh jalan yang sesat, serta mengakhiri hidupnya dengan cara yang paling pahit. Membunuh diri. Pangeran Sena Wasesa itupun akhirnya menyebut juga seorang petugas sandi yang ada di dalam lingkungan orang- orang yang telah menolongnya itu, yang sempat menyusup ke dalam lingkungan orang-orang Sanggar Gading. Kangjeng Sultan di Demak itu mengangguk-angguk. Katanya “Aku memang memerintahkan para prajurit mencari kakangmas Pangeran sejak kakangmas Pangeran dinyatakan hilang. Tetapi sulit bagi kami untuk melacaknya dan karena itu, para petugas agak terlambat menemukan kakangmas. Sokurlah. bahwa kakangmas telah kembali dengan selamat. Bahkan dalam tekanan pengalaman pahit itu kakangmas telah menemukan jalan yang paling baik yang harus kakangmas tempuh” “Hamba Adimas” jawab Pangeran Sena Wasesa “namun sebenarnyalah petugas sandi itu telah berada di Sanggar Gading lebih dahulu dari rencana mereka mengambil hamba” Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Tetapi dalam rangka tugas yang manakah, maka orang itu berada di Sanggar Gading?“ “Adimas dapat bertanya kepada orang itu” jawab Pangeran Sena Wasesa. Ketika Sultan memandangi Rahu yang tunduk Pangeran Sena Wasesapun berkata “Rahu, kau dapat melaporkan tugas yang kau jalankan” “Hamba tuanku” desis Rahu sambil menyembah “hamba mendapat tugas dari Pangeran Jalayuda selaku Panglima pasukan khusus untuk melakukan tugas sandi, karena Pangeran Jalayuda mendengar tentang pusaka dan harta benda yang belum kembali ke istana Kawan hamba yang seorang tidak berhasil memasuki padepokan Kendali Putih dan bahkan telah mengalami cidera yang hampir saja merenggut jiwanya. Untunglah bahwa kawan hamba itu dapat tertolong dan kembali kepada kesatuannya. Sementara kawan hamba yang lain telah bersama hamba membayangi Padepokan Sanggar Gading. Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Aku memerlukan laporan yang lebih terperinci lewat Adimas Jalayuda. Nanti kau akan dapat menghadap dan kembali kepadanya dengan laporan yang lebih jelas” “Hamba tuanku. Hamba akan menjalankan segala perintah” jawab Rahu. Namun dalam pada itu, ketegangan telah mencengkam ketika Kangjeng Sultan berkata “Kakangmas Pangeran. Banyak persoalan yang ingin aku katakan. Tetapi aku hanya ingin mengatakannya kepada kakangmas Pangeran, sehingga setelah pertemuan ini, aku akan berbicara khusus dengan kakangmas Pangeran. Aku tidak ingin memperkecil arti sanak kadang yang ada disini. Tetapi karena persoalannya menyangkut hubungan antara aku dan Pangeran Sena Wasesa yang telah melakukan satu kesalahan, maka aku terpaksa berbicara tanpa ada orang lain” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak akan luput dari hukuman atas kesalahannya. Dan itu sudah diketahuinya. Namun bagaimanapun juga ia telah merasakan satu kemenangan yang dapat memberinya satu kebanggaan. Ia telah memenangkan perjuangan melawan ketamakan yang hampir saja mencengkam nalar dan budinya. Namun dalam pada itu, ternyata Rahu masih juga mempunyai satu masalah yang ingin disampaikan kepada Kangjeng Sultan. Karena itu dengan suara bernada ragu, ia berkata “Ampun tuanku. Dalam kesempatan ini hamba masih akan menyatakan satu hal kehadapan tuanku” Kangjeng Sultan di Demak itu memandang Rahu dengan tajamnya. Kemudian dengan ragu-ragu Kangjeng Sultan itu bertanya “Apa yang masih ingin kau sampaikan?“ “Tentang diri kami masing-masing Kangjeng Sultan” jawab Rahu. “Katakan “ perintah Kangjeng Sultan. Rahu memandang Jlitheng sekilas. Kemudian Katanya “Tentang anak muda ini tuanku” “Bagaimana dengan anak muda itu?“ bertanya Sultan pula. Rahu menarik nafas dalah-dalam, sementara Jlitheng menjadi gelisah. Sebenarnya ia tidak ingin disebut apapun juga di hadapan Kangjeng Sultan. Ia lebih suka dikenal sebagai Jlitheng, anak Kabuyutan Lumban. Namun dalam pada itu, Rahu telah berkata “Tuanku. Anak muda ini mempunyai pertanda Cakra Surya Candra” “He“ Kangjeng Sultan terkejut. Dipandanginya Jlitheng dengan tajamnya. Kemudian dengan nada dalam ia bertanya “Benarkah demikian anak muda?“ Jlitheng tunduk dalam-dalam. Namun sambil menyembah iapun kemudian menjawab “Ampun tuanku. Sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh Wira Murti” “Siapakah Wira Murti?“ bertanya Sultan pula. “Petugas sandi itu bernama Wira Murti” jawab Jlitheng “iapun mempunyai pertanda yang serupa” Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Tetapi siapakah sebenarnya anak muda ini? Ia tentu bukan seorang prajurit Majapahit pada waktu itu, karena umurnya masih terlalu muda. Sehingga dengan demikian apa hubungannya dengan pasukan terpilih yang mempunyai ciri Cakra Surya Candra?“ “Anak muda itu adalah Candra itu sendiri tuanku. Ia adalah putera Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana di peperangan. Anak muda itu adalah Raden Candra Sangkaya” jawab Rahu. Kangjeng Sultan di Demak itu mengangguk-angguk. Sementara itu beberapa orang yang berada diruang itu telah memandangi Jlitheng yang menundukkan wajahnya dengan tajamnya. Ki Ajar Cinde Kuningpun mengangguk-angguk. Sementara Daruwerdi menjadi tegang. “Aku sudah mengira” katanya di dalam hati “Anak itu tentu mempunyai kekuatan tertentu di dalam dir inya. Namun dalam pada itu. Kiai Kanthi dan Swasti sama sekali sudah tidak terkejut lagi. Mereka sudah mengetahuinya bahwa anak muda itu adalah seorang yang memiliki darah keturunan Majapahit dalam tataran yang tinggi. Hampir diluar sadarnya Daruwerdi memandang kearah Swasti. Ada semacam sentuhan dihatinya. Nama itu akan menarik perhatian Swasti. Justru karena Jlitheng juga seorang keturunan bangsawan dari Majapahit. Tetapi Daruwerdi menjadi heran. Swasti seolah-olah t idak peduli sama sekali terhadap nama dan gelar itu. Tidak ada kesan apapun yang tergores di wajahnya. Dalam pada itu, maka Kangjcng Sultanpun kemudian berkata “Banyak hal-hal yang tidak terduga yang telah kalian bawa menghadap” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Memang mengejutkan, bahwa anak muda itu adalah seorang putera dari Pangeran Surya Sangkaya. Dengan demikian, maka Pangeran Sena Wasesa merasa jantungnya bagaikan berkerut Seolah-olah Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggara, yang lelah menyerahkan nyawanya untuk mempertahankan Majapahit, telah melihat apa yang dilakukannya dengan wajah yang sedih. “Untunglah bahwa aku masih mendapat kesempatan untuk menemukan jalan kembali dar i kesesatan itu” berkata Pangeran Sena Wasesa di dalam hatinya. Lalu “Jika tidak, maka aku benar-benar seorang yang paling hina. Mereka yang berkorban tanpa pamrih, sementara aku yang tidak berbuat banyak, telah dikuasai oleh pamr ih yang ber lebihan” Dalam pada itu, maka sejenak kemudian Kangjeng Sultanpun berkata Aku minta kalian tetap tinggal di istana ini untuk beberapa lama. Bagaimanapun juga sepantasnya aku mengucapkan terima kasih kepada kalian dengan cara yang berguna. Bukan sekedar ucapan terima kasih di bibir tanpa mempunyai arti bagi kalian masing-masing. “Hamba telah menyaksikan satu per istiwa yang akan sangat bermanfaat bagi hamba. Hamba merasa mendapat bekal pada saat-saat terakhir hamba” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Karena itu. sebenarnyalah hamba sudah merasa mendapat limpahan kemurahan hati Tuanku. Sehingga dengan demikian, sebenarnya hamba ingin mohon dir i. Apabila setiap saat tuanku memer lukan hamba, maka hamba akan menghadap” Tetapi Kangjeng Sultan menggeleng. Katanya “Jangan sekarang. Sudah aku katakan, aku akan mengatur segala sesuatunya sebagai ucapan teruna kasihku atas nama Kerajaan Demak. Jika kau mempunyai sebuah padepokan, maka padepokanmu per lu dikembangkan. Karena itu, aku menahanmu barang satu dua hari. Aku akan berbicara dengan Pangeran Sena Wasesa, dengan Pangeran Jalayuda dan dengan putera Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana. Aku juga minta Kiai Kanthi dan Ki Sanak yang lain untuk t inggal barang satu dua har i” Ki Ajar Cinde Kuning tidak dapat memaksa. Karena itu, maka iapun hanya dapat mengangguk hormat sambil menyembah. Kacanya “Hamba akan menjalankan segala perintah tuanku” Demikianlah, maka ternyata orang-orang yang menyertai Pangeran Sena Wasesa itu masih harus tinggal. Tetapi ada diantara mereka yang sekaligus menghadapi pimpinan langsung mereka. Rahu yang bernama Wira Murti itu harus menghadap Pangeran Jalayuda bersama Semi dan seorang kawannya. Sementara Jlitheng ternyata masih harus meyakinkan dir inya kepada orang-orang yang mendapat tugas untuk menelitinya. “Salah Rahu” berkata Jlitheng di dalam hatinya “Aku tidak memer lukan apa-apa dengan gelar itu. Sekarang aku harus dalam keadaan khusus untuk membuktikan diriku sendir i. Sebenarnya aku lebih senang disebut Jlitheng, anak Lumban” Tetapi Jlitheng tidak dapat ingkar. Ia harus menjalani pemeriksaan tersendiri. Namun selama itu Pangeran Sena Wasesapun telah menjalani pemeriksaan khusus pula tentang pengakuannya atas pusaka dan harta benda yang diperebutkan dan telah menimbulkan banyak korban itu. Dalam pada itu, selagi Pangeran Sena Wasesa harus menjalani pemeriksaan di tempat yang tidak dapat di kunjungi oleh siapapun, yang langsung di lakukan oleh Sultan sendiri bersama beberapa orang kepercayaannya, sementara Jlithengpun dalam waktu yang lain harus membuktikan pengakuannya, maka orang-orang lain yang datang bersama mereka telah di tempatkan di sebuah bangsal di lingkungan istana Demak. Ibu Daruwerdi yang ada diantara mereka selalu merasa cemas tentang keadaan Pangeran Sena Wasesa. Mungkin Sultan telah mengambil satu keputusan yang akan sangat berat bagi Pangeran itu. Namun ternyata Pangeran Sena Wasesa sendiri measa, bahwa dengan demikian beban perasaannya justru menjadi ringan, la sudah mempertanggung jawabkan kesalahannya terhadap negerinya. Hampir saja ia telah melakukan satu kesalahan yang tidak lain dari sebuah pengkhianatan. “Hamba menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan adimas Sultan” berkata Pangeran Sena Wasesa “hamba telah merasa sangat bersalah” Namun Sultan tidak mengambil keputusan sendiri. Ia telah berbicara dengan beberapap orang terpenting di Demak. Dalam pada itu, dengan bukt i-bukti yang ada, maka Sultan di Demak pada kesempatan lain telah menerima dan meyakini bahwa Jlitheng memang putera Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana. Sehingga dengan demikian, maka anak muda itu tidak dapat dituduh telah memalsukan dirinya untuk kepentingan tertentu. “Kau mendapat kesempatan untuk mengajukan permintaan bagi dirimu sendiri” berkata Kangjeng Sultan “kau telah membantu dengan kemauanmu sendir i, tanpa pamrih menemukan pusaka dan harta benda yang t idak ternilai harganya. Kau berhak untuk diangkat menjadi Pangeran atas dasar gelar kehormatan dan Demak akan menyediakan sebuah istana bagimu” Jlitheng menundukkan kepalanya. Satu kehormatan yang tidak ada taranya. Dengan menyembah ia menjawab “Hamba hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih tuanku” Namun dalam pada itu, ketika ia berada diantara orang- orang yang datang bersamanya, maka betapa hatinya menjadi kecewa. Dalam kegelisahan, maka Daruwerdi berusaha untuk menenangkan hati ibunya. Bukan saja Daruwerdi, tetapi Swasti telah ikut pula membantunya. Bahkan hiburan yang paling memberikan ketenangan kepada ibu Daruwerdi itu adalah justru hubungan anaknya dengan Swasti, gadis yang luar biasa yang telah menyelamatkannya dari kematian. “Mudah-mudahan ikatan yang ada diantara mereka akan dapat dikukuhkan” berkata ibu Daruwerdi di dalamhatinya. Sebenarnyalah menurut pengamatan Jlitheng yang diam diam selalu mengikut i hubungan antara keduanya, rasa- rasanya memang tidak akan ada kesempatan lagi baginya. Karena itu, maka dengan hati yang pahit ia telah menentukan sikapnya sendiri terhadap kesempatan yang telah diberikan oleh Kangjeng Sultan, tentang gelar kehormatan dan istana yang akaa di berikan kepadanya sebagaimana bagi seorang Pangeran. “Semuanya itu tidak akan ada gunanya lagi bagiku” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Dalam pada itu, ternyata Kangjeng Sultan dan beberapa orang pemimpin tertinggi Kerajaan, telah mengambil satu keputusan bagi Pangeran Sena Wasesa. Kangjeng Sultan telah mengampuni segala kesalahannya. Penderitaan lahir dan batin selama ia berada di tangan orang-orang Sanggar Gading telah diperhitungkan sebagai satu kuhuman yang pantas bagi Pangeran itu. Kegelisahannya tentang anak perempuannya yang ditinggalkannya merupakan beban yang paling berat. Karena itu, maka akhirnya Pangeran Sena Wasesapun telah mendapatkan kebebasannya. Pada saat yang demikian, Jlitheng mendapat satu kepastian. Pangeran Sena Wasesa akan berbicara dengan Kiai Kanthi tentang anak gadis pengembara itu. Bagaimanapun juga Pangeran Sena Wasesa tidak akan dapat menolak Ikatan perasaan diantara anak laki-Iakinya dengan gadis Kiai Kanthi. “Aku akan mempersilahkan kalian singgah di rumahku” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi bagaimana dengan puteri Pangeran?“ bertanya ibu Daruwerdi “Apakah puteri akan dapat menerima kami?“ “Aku akan berbicara kepadanya” jawab Pangeran Sena Wasesa “apalagi ia sudah tidak beribu lagi. Mudah-mudahan ia dapat menerima satu kenyataan yang barangkali tidak pernah dipikirkannya sebelumnya. Karena itu Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan kalian yang lain bersedia singgah, maka kalian akan dapat membantuku membuka pikiran anak gadisku. Ia tentu sudah terlalu lama menungguku” Ternyata orang-orang itu tidak pernah menolak permintaan Pangeran Sena Wasesa. Bahkan Kangjeng Sultanpun telah menganjurkan kepada mereka untuk memenuhi undangan itu. Namun dalam pada itu, maka Kangjeng Sultan di Demakpun tidak lupa untuk memberikan pertanda terima kasihnya kepada orang-orang yang telah dengan tidak langsung ikut mengembalikan harta benda dan pusaka yang tidak ternilai harganya itu ke Demak, karena pusaka dan harta benda itu akan sangat gunanya untuk membina perkembangan Demak selanjutnya sebagai kelanjutan kekuasaan Majapahit yang t idak dapat dipertahankan lagi. Kepada Ki Ajar Cinde Kuning Kangjeng Sultan di Demak itu berkata “Ki Ajar. Tidak ada yang dapat aku berikan yang lebih bermanfaat bagi Ki Ajar, selain membangun padepokan yang telah Ki Ajar miliki” Ki Ajar itu menar ik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil menyembah ia menjawab “Ampun tuanku. Memang tidak ada yang lebih baik bagi hamba selain sebuah padepokan. Tetapi menurut perasaan hamba, padepokan hamba telah menjadi cacat seperti tubuh hamba. Hamba sama sekali tidak mendendam kepada adik hamba, apalagi setelah adik hamba tidak ada lagi. Tetapi padepokan itu akan selalu member ikan kenangan pahit bagi hamba dan bagi para penghuninya” Kangjeng Sultan yang telah mendengar cer itera tentang Ki Ajar Cinde Kuning itu memaklumi perasaannya, sementara Ki Ajar meneruskan “Hamba tidak akan dapat memasuki lagi padepokan yang telah pernah disebut padepokan Macan Kuning tuanku” “Aku mengerti Ki Ajar“ sahut Kangjeng Sultan “Jika demikian maka aku dapat menduga, bahwa Ki Ajar lebih baik membuka sebuah padepokan baru daripada mempergunakan padepokan yang telah ternoda itu” Ki Ajar Cinde Kuning termenung sejenak. Namun kemudian katanya “Ampun tuanku. Hamba masih akan merenungi hidup ini untuk beberapa lama. Pada saatnya mungkin hamba akan membangun sebuah padepokan yang akan dapat memberikan tempat kepada hamba umtuk menyalurkan ilmu sederhana yang ada pada diri hamba” “Ki Ajar” berkata Kangjeng Sultan “Kau tidak usah menunggu lebih lama. Bukan maksudku untuk membeli jasamu. Aku mengerti bahwa kau melakukan pengabdianmu tanpa pamrih sama sekali. Tetapi akupun mengerti bahwa kau memer lukan sebuah padepokan itu” Ki Ajar mengangguk-angguk kecil. Kemudian jawabnya “Hamba hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih tuanku. Sudah barang tentu hamba tidak akan menolak hadiah yang akan tuanku berikan. Hamba memang masih mempunyai beberapa orang adik seperguruan. Mereka tentu akan dapat membantu hamba untuk beberapa lama, meskipun mereka sudah mempunyai padepokan mereka masing-masing” “Aku akan membangun padepokan mereka pula” berkata Kangjeng Sultan “Aku berharap bahwa padepokan-padepokan itu akan dapat membantu membangun manusia lahir dan batinnya. Aku berharap bahwa padepokan-padepokan itu akan dapat menjadi pelita yang menerangi daerah di sekitarnya, sehingga bukan saja memberikan tuntunan kepada para cantrik, menguyu, jejangga dan para pathut yang ada di padepokan itu sendiri” Ki Ajar Cinde Kuning menar ik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menyembah “Tuanku, pesan itu adalah pesan yang sangat berarti bagi hamba meskipun akan sangat berat untuk melakukannya. Tetapi hamba mengerti, bahwa hidup hamba di padepokan memang bukan satu kehidupan yang terpisah dari kehidupan masarakat disekitar hamba. Karena itu. apabila memang ada kelebihan pada hamba dan seisi padepokan, maka kelebihan itu memang sewajarnya dilimpahkan kepada masarakat disekitarnya” “Terima kasih Ki Ajar” jawab Kangjeng Sultan “Siapa lagi yang akan dapat berbuat demikian. Masarakat memang memer lukan sesuluh. Apalagi bagi mereka yang tinggal terpencil” Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk. Meskipun ia sama sekali tidak mengharapkan hadiah apapun juga atas pengabdiannya, namun jika hal itu akan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak, bukan saja dirinya sendiri dari para muridnya, maka ia harus menerimanya dengan tangan terbuka. Namun yang mengejutkan kemudian adalah sikap Jlitheng. Agaknya Kangjeng Sultan sangat menghargai pula perjuangan anak muda ini. Ia dengan sengaja telah menempatkan dir inya dalam tugas yang sangat berat itu. Meskipun bagi Jlitheng apa yang terjadi di sepasang Bukit Mati itu semula tidak terlalu jelas, tetapi tangkapan naluriahnya telah memberikan beberapa gambaran tentang daerah itu. Karena itu, maka terhadap anak muda ini Kangjeng Sultan telah mengalangi pertanyaannya “Candra Sangkaya, aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku berikan kepadamu. Karena itu, katakanlah, barangkali kau memer lukan sesuatu selain gelar Pangeran dan sebuah istana yang memadai” Nampaknya Jlitheng memang tidak terlalu berminat lagi untuk berbuat apapun juga bagi hari depannya. Perasaannya sedang dikaburkan oleh gejolak jiwanya sebagai seorang anak muda yang kecewa. Bagaimanapun juga Jlitheng adalah manusia biasa sebagaimana manusia yang lain, dalam hubungannya dengan sentuhan yang paling halus pada perasaannya. Jlitheng sebenarnyalah telah merasa kehilangan. Namun dalam pada itu, ternyata ia mempunyai sikap tersendiri menanggapi masa depannya yang buram itu dengan penalaran yang mapan. Katanya “Tuanku. Alangkah besarnya kemurahan tuanku atas hamba dan almarhum ayahanda hamba. Namun bukan karena hamba menolak gelar kehormatan dan istana seorang Pangeran, tetapi barangkali ada yang lebih penting bagi hamba daripada gelar kehormatan dan istana itu, namun apabila tuanku memperkenankan hamba mengajukan pilihan” “Kau berhak untuk mengajukan permohonan” jawab Kangjeng Sultan “apabila permohonanmu itu tidak bertentangan dengan kepentingan kerajaan, maka aku tentu akan mengabulkannya” “Tuanku” jawab Jlitheng “Jika tuanku berkenan, hamba memang ingin mengajukan satu permohonan yang akan sangat berharga bagi hamba” Sejenak suasana menjadi- hening. Seolah-olah semua mata tertuju kepada Jlitheng yang masih akan mengajukan satu permohonan. Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar Ia mengerti perasaan Jlitheng terhadap anak gadisnya, sementara iapun mengerti bahwa hubungan Swasti dengan Daruwerdi menjadi semakin mendalam menusuk sampai kepusat jantung. Bahkan Swasti sendir i, merasa sesuatu yang aneh tergetar di hatinya. Sebagai seorang gadis dewasa, ia merasakan sikap Jlitheng terhadap dirinya. Sikap seorang laki- laki muda. Tetapi Swasti tidak pernah merasa tertarik kepada anak muda yang bergelar Candra Sangkaya itu. Dalam pada itu, hati didada beberapa orangpun menjadi semakin tegang ketika Sultan kemudian berkata “Katakanlah. Jangan ragu-ragu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia bergeser setapak maju. Kemudian dengan gelisah ia berkata “Ampun tuanku semoga permohonan hamba ini dapat dianggap wajar” Beberapa orang telah menahan nafas. Kiai Kanthi mendengarkan setiap kata yang diucapkan Jlitheng dengan jantung yang berdebaran. Tanpa disadari Kiai Kanthi memandang Pangeran Sena Wasesa yang tunduk itu sekilas. “Apakah permohonan anak muda itu ada hubungannya dengan Swasti?“ bertanya Kiai Kanthi di dalam hatinya. Dalam suasana yang hening tegang itu Jlitheng meneruskan kata-Katanya “Tuanku. Sebenarnyalah bahwa hamba memang mempunyai satu keinginan. Sudah sekian lama hamba berada diantara anak-anak muda Lumban yang tinggal di daerah yang disebut Daerah Sepasang Bukit Mati Daerah yang ditandai dengan sepesang bukit, meskipun dalam keadaan yang justru berlawanan. Satu dari kedua bukit itu gundul dan tandus berbatu padas. Yang lain subur, hijau dan mengandung air diperutnya, yang kini telah mulai dihuni, meskipun sebelumnya disebut daerah yang paling gawat. Jalma mara jalma mat i, sato mara sato mati” Jlitheng berhenti sejenak. Sementara Kiai Kanthi menar ik nafas yang tertahan. Seolah-olah dadanya menjadi sesak tanpa sebab. “Adapun permohonan hamba tuanku” berkata Jlitheng lebih lanjut sementara orang-orang yang mendengarkan menjadi semakin tegang “berhubungan langsung dengan kehidupan hamba di Lumban. Selama ini Lumban adalah daerah yang kering, miskin dan t idak mampu mengembangkan dirinya. Karena itu, perkenankanlah hamba memohon agar daerah Lumban itu akan dapat menjadi daerah yang subur. Di samping kemungkinan untuk membangun sebuah padepokan kecil yang pantas bagi Kiai Kanthi. Sebenarnyalah bahwa pada dasarnya, kemungkinan itu ada. Tetapi kami orang-orang Lumban terlalu miskin untuk berbuat sesuatu. Air di atas bukit itu baru sebagian kecil mampu kami kuasai. Sedangkan kami ingin pula member ikan penghormatan dan terima kasih kepada orang yang menemukannya. Kiai Kanthi” Sesaat wajah Kiai Kanthi menegang. Namun kemudian kepalanya telah tertunduk dalam-dalam. Beberapa orang menarik nafas dalam-dalam. Justru terasa sesuatu yang menyentuh perasaan mereka. Jlitheng tidak minta yang mereka cemaskan. Tetapi ia tidak melupakan kampung halamannya, meskipun sebenarnyalah ia seorang pendatang. Swasti seolah-olah justru terpukau oleh kata-kata Jlitheng itu. Memang ada terasa tersinggung perasaannya. Sebagai seorang gadis ia merasa, Jlitheng tidak memperhatikannya. Anak muda itu ternyata lebih memperhatikan Lumban dari dirinya. Kenapa Jlitheng t idak memohon kepada Kangjeng Sultan agar dir inya meninggalkan Daruwerdi dan menerima Jlitheng itu dalam hidupnya. Meskipun kemudian ia akan menolak, tetapi dengan demikian ternyata bahwa Jlitheng benar-benar telah menaruh hati kepadanya. Namun sesaat kemudian, Swasti berhasil menyingkirkan ketamakan di dalam hatinya itu. Ia justru merasa sangat hormat kepada anak muda yang bernama Jlitheng itu. Ia menghargai sikapnya, meskipun ia tahu, bahwa hati anak muda itu tentu terasa pahit. Swasti menundukkan kepalanya. Terasa matanya menjadi panas. Dalam waktu yang singkat itu, ia sempat melihat Jlitheng dalam keseluruhan, sejak ia bertemu dan sejak ia mengenal anak muda itu. Jlitheng memang terlalu kasar dalam ujud lahiriahnya. Tetapi ia mempunyai cita-cita, jauh lebih besar dari cita-cita Daruwerdi. “Aku sangat menghargainya” berkata Swasti di dalam hatinya. Tetapi ia benar-benar tidak tertarik kepada anak muda yang bernama Jlitheng itu pada saat-saat ia masih berada di atas bukit berhutan Katanya kepada diri sendiri “Pada waktu itu, aku sama sekali tidak melihat sesuatu apapun yang baik pada dir inya. Sombong, kasar dan yang menyakitkan hati, ia sudah mencur igai kami” Dalam keheningan itu, Sultan memandang J litheng sambil tersenyum. Dengan suara yang sareh bernada dalam Sultan berkata “Kau benar-benar seorang anak muda yang mengerti akan tanggung jawab sebagai anak muda. Permohonanmu pantas mendapat perhatian. Bahkan juga sebuah padepokan kecil bagi Kiai Kanthi. Pada kesempatan ini aku menyatakan kesediaanku untuk membantu membangun Kabuyutan Lum- ban, menguasai air di atas bukit dan membantu membuat sebuah padepokan kecil” Jlitheng menundukkan kepalanya sambil menyembah. Dengan suara sendat ia berkata “Ampun tuanku. Kurnia tuanku tidak ada taranya. Bukan saja bagi hamba, tetapi juga bagi Lumban. Adapun tentang hamba, maka hamba mohon maaf bahwa hamba akan tetap tinggal di Lumban. Hamba sudah terlanjur merasa satu dengan rakyat Lumban. Bukan maksud hamba memperbandingkan kemurahan tuanku dengan keinginan hamba” “Tidak. Aku akan dapat memberikan keduanya. Sebuah istana Kapangeranan atas dasar gelar kehormatan yang akan aku berikan kepadamu, bukan saja karena jasamu, tetapi juga satu kehormatan bagi Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Pangeran Kuda Surya Anggana. Sekaligus yang kau inginkan, perbaikan tata kehidupan di Lumban” jawab Kangjeng Sultan. “Ampun tuanku. Hamba mengucap ber ibu terima kasih. Tetapi hamba mempunyai seorang biyung yang sudah tua. Biyung tentu tidak akan mau meninggalkan Lumban. Karena itu, biarlah hamba menungguinya di hari-har i tuanya” sembah Jlitheng “Kau masih mempunyai seorang ibu?“ bertanya Sultan. ”Bukan ibu kandung hamba. Tetapi tiada bedanya bagi hamba, karena kasihnyapun tidak bedanya dengan kasih seorang ibu kandung” jawab Jlitheng. Kanjeng Sultan di Demak memandangi Jlitheng sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Aku kabulkan permohonanmu. Meskipun aku akan tetap menyediakan apa yang sudah aku janj ikan di Kota Raja” Jlitheng yang tunduk itupun menyembah Katanya “Demikian besar kurnia itu, sehingga hamba tidak tahu. bagaimana hamba harus mengucapkan terima kasih” Sultan hanya tersenyum saja. Ia senang melihat sikap Jlitheng. Apalagi permohonannya bagi kemajuan tata kehidupan di Lumban. Jarang sekali terjadi, bahwa seorang anak muda seusia Jlitheng itu yang ternyata lebih mementingkan perkembangan sebuah lingkungan yang miskin daripada kepentingan dir inya sendiri. Jlitheng menjadi semakin tunduk ketika ia mendengar Sultan itu memuj inya, karena Jlitheng sendir i menyadari, bahwa sikapnya itu bukannya satu sikap yang murni. “Aku telah melakukan satu sikap kepahlawanan yang semu” berkata Jlitheng kepada diri sendiri “Aku tidak tahu, apakah aku akan dapat berbuat seperti sekarang ini. jika Swasti tidak lebih dekat dengan Daruwerdi daripadaku. Tetapi agaknya hal inilah yang terbaik dapat aku lakukan sekarang ini. Aku wajib mengucap sokur kepada Tuhan, bahwa aku telah mendapat jalan yang baik untuk meredakan gejolak di dalamdadaku” Dalam pada itu, ternyata kemurahan Kangjeng Sultan di Demak itu telah melimpahkan kepada mereka semua yang telah ikut serta membantu kembalinya pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu kepada yang berhak. Demak, yang memikul beban untuk meneruskan kejayaan Majapahit. Apalagi apabila penghargaan yang diber ikan itu bukan saja berarti kepada seseorang. Tetapi berarti bagi satu lingkungan dan akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masa mendatang. “Perhargaan atau bukan penghargaan, hal itu merupakan kewajiban bagi Demak Karena itu. mudah-mudahan semuanya akan mempunyai nilai yang berarti bagi kehidupan rakyat di Demak” berkata Kangjeng Sultan “dengan demikian maka aku akan segera memerintahkan untuk melaksanakannya. Padepokan, pengendalian air dan perbaikan serta pemeliharaan lingkungan” Kemurahan Kangjeng Sultan itu merupakan harapan- harapan bagi masa depan, terutama bagi Jlitheng. Dengan demikian, maka Lumban akan benar-benar dapat menjadi hijau. Dan dengan demikian pula. tidak akan mudah timbul perasaan iri dan dengki karena mereka akan melihat seluruh Lumban menjadi subur. Lumban Kulon dan Lumban Wetan tanpa kecuali. Harapan itu agaknya dapat sekedar mengurangi perasaan kecewanya, sehingga ia akan dapat menemukan gairah untuk tetap berjuang bagi masa depannya yang masih panjang. Demikianlah, maka setelah Kangjeng Sultan di Demak menjaj ikan untuk memberikan penghargaan yang bermanfaat bagi mereka yang telah membantu mengembalikan pusaka dan harta benda itu. maka merekapun kemudian telah bersiap-siap memenuhi undangan Pangeran Sena Wasesa untuk berkunjung ke rumahnya. Bukan saja sebagi pernyataan terima kasih, tetapi kehadiran tamu yang banyak itu akan member ikan pengaruh kepada puterinya untuk bersikap lebih lunak menghadapi kehadiran Endang Srini. Sudah menjadi pendapat umum, bahwa ibu tiri merupakan gambaran dari satu kehidupan yang suram. Ibu adalah perlambang dari der ita dan kepahitan. Namun Pangeran Sena Wasesa yakin, bahwa puterinya tidak akan mengalami perlakuan yang kurang baik dari ibu tirinya, karena Pangeran Sena Wasesa mengerti sepenuhnya watak dan sifat Endang Srini. “Tidak semua ibu tir i harus ditakuti” berkata Pangeran Sena Wasesa di dalam hatinya. Justru karena kegelisahannya menghadapi keadaan itu. Sesuatu yang tentu tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh puterinya yang remaja itu. Dalam pada itu, selagi para tamu Pangeran Sena Wasesa bersiap untuk pergi ke istana Kepangeranan, maka di sebuah istana Kapangeranan yang lain. seorang Pangeran sedang berbincang dengan seorang yang sudah menjelang hari tuanya. Namun pada ujud tubuhnya, sikap dan tingkah lakunya, masih membayangkan keteguhan badan dan batinnya. Disebelah mereka telah duduk pula seorang anak muda yang bertubuh kekar, berdada bidang dan berwajah keras. Seorang anak muda yang memiliki ketajaman penglihatan bukan saja secara lahiriah tetapi juga ketajaman penggraitanya. “Pangeran Gajahnata” berkata orang yang sudah menjelang usia tuanya “Kita harus berusaha sebaik-baiknya. Angger Bramadaru merupakan harapan yang paling baik bagi pemenuhan keinginan Pangeran. Bukankah segala sesuatunya tentu akan Pangeran arahkan bagi kebahagiaan angger Bramadaru pula di kemudian har i?“ Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Katanya “Ki Ajar Wrahasniti. Aku mengerti rencana itu. Tetapi apakah Ki Ajar yakin bahwa yang dicari itu masih ada pada adimas Sena Wasesa. Dan apakah adimas Sena Wasesa tidak akan menyerahkannya kepada adimas Sultan?“ Ki Ajar Wrahasniti tersenyum. Katanya “Agaknya Pangeran Sena Wasesa tidak akan menyerahkannya kepada siapapun juga” ”Tetapi apakah tidak akan sampai ke telinga adimas Sultan, bahwa Pangeran Sena Wasesa adalah seseorang yang me ngetahui tentang pusaka dan harta benda yang sedang diperebutkan itu” jawab Pangeran Gajahnata “apalagi setelah adimas Sena Wasesa diculik orang. Ketika ia diketemukan dan dibebaskan oleh para prajurit Demak, maka tentu akan timbul satu perkembangan sikap pada adimas Sena Wasesa seandainya sebelumnya ia sengaja menyembunyikan pusaka dan harta benda itu” “Ki Ajar masih tersenyum “Aku mempunyai perhitungan, bahwa ia tidak akan melepaskan harta benda dan pasi ka yang tidak ternilai harganya itu. Ia tentu dapat ingkar dan mempunyai seribu macam alasan jika Kangjeng Sultan menanyakan tentang pusaka dan harta benda yang didengarnya ada pada Pangeran Sena Wasesa itu” “Tetapi adimas Sultan dapat mengambil seribu macam sikap” berkata Pangeran Gajalinata. “Memang Pangeran. Lambat laun, Pangeran Sena Wasesa memang akan dapat dipaksa untuk mengaku jika Kangjeng Sultan mendapatkan bukti atau saksi. Jika tidak, maka apakah alasan Sultan untuk memaksanya mengaku? Jika sebenarnya Pangeran Sena Wasesa tidak mengetahui sama sekali tentang pusaka dan harta benda itu, apakah perbuatan Kangjeng Sultan bukan satu perbuatan yang sewenang-wenang?“ sahut Ki Ajar Wrahasnit i. Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Untuk menuduh Pangeran Sena Wasesa tentu diperlukan saksi atau bukti. Kangjeng Sultan tidak akan dapat begitu saja memaksa seseorang untuk mengaku tentang apapun juga hanya berdasarkan desas-desus. Namun dalam pada itu Pangeran Gajahnata itupun bertanya “Ki Ajar, apakah kau benar-benar yakin, bahwa adimas Pangeran Sena Wasesa mengetahui tentang pusaka dan harta benda itu?“ “Aku yakin Pangeran. Tetapi sekali lagi, tidak ada bukti dan saksi. Tetapi setiap aku mencoba melihat lewat cara yang bermacam-macam, maka aku memang melihat pusaka dan harta benda itu ada pada Pangeran Sena Wasesa” “Baiklah Ki Ajar” berkata Pangeran Gajahnata “Katakan, bahwa pusaka itu ada pada adimas Sena Wasesa, dan adimas Sena Wasesa tidak akan menyerahkan pusaka dan harta benda itu. kepada Kangjeng Sultan. Lalu?“ “Kita serahkan segalanya kepada anakmas Bramadaru“ jawab Ki Ajar sambil tertawa. Ketika ia berpaling kepada anak muda yang duduk disebelabnya, anak muda itu menundukkan kepalanya. “Angger” berkata Ki Ajar Wrahasnlti “Bukankah angger berhubungan semakin rapat dengan puteri Pangeran Sena Wasesa itu?“ Bramadaru beringsut setapak. Tetapi ia tidak segera menjawab. Bahkan Ki Ajar Wrahasnit ilah yang berkat selanjutnya “Pangeran, anakmas Bramadaru sering mengunjungi puteri yang kesepian itu” “Aku mengerti maksud Ki Ajar. Ki Ajar berharap Bramadaru dapat menjadi semakin dekat dengan gadis itu” sahut Pangeran Gajahnata “Ya Pangeran. Dan nampaknya kedatangan angger Bramadaru dalam saat-saat yang menguntungkan itu telah berhasil mengikat hati puteri itu” berkata Ki Ajar Wrahasniti. “Guru“ Anak muda itu memotong “Aku belum dapat mengatakan demikian. Aku memang sering berkunjung ke rumah itu sejak guru menyarankannya. Akupun telah berhubungan dengan gadis itu. Ia terlalu ramah dan baik. Tetapi aku belum dapat membedakan, apakah ia menganggap aku sebagai seorang anak muda dalam hubungannya dengan seorang gadis, atau sekedar merasa bahwa aku adalah saudara tua yang wajib dihormatinya” “Ya Ki Ajar, anakku adalah saudara sepupunya. Mungkin gadis itu menerimanya sebagai saudaranya. Karena itu ia bersikap ramah dan baik“ sambung Pangeran Gajahnata. “Ah“ Ki Ajar itu tersenyum “gadis itu adalah gadis yang semula adalah gadis pingitan. Ia tidak terlalu banyak berhubungan dengan laki-laki yang manapun juga, kecuali para pengawal. Karena itu, maka kehadirannya akan mendapat perhatian yang sangat besar. Apalagi pada saat- saat gadis itu kesepian. Pada saat Pangeran Sena Wasesa tidak ada di istananya” “Tetapi sekarang adimas Sena Wasesa telah berada di istana Demak. Bahkan mungkin saat-saat ini adims Pangeran telah kembali ke istananya” berkata Pangeran Gajahnata” “Itu bukan persoalan lagi” jawab Ki Ajar “hubungan batin itu sudah terjalin. Angger Bramadaru harus masih selalu datang berkunjung. Mungkin sikap gadis itu agak lain, justru karena ayahandanya sudah ada. Tetapi aku percaya bahwa pada saatnya gadis itu akan dapat diikat hatinya oleh angger Bramadaru Jika hal itu terjadi, maka angger Bramadaru kelak benar-benar dapat menjadi satu-satunya pewaris dari pusaka dan harta benda itu. Bahkan mungkin angger Bramadaru akan dapat mengetahui dengan segera dimana pusaka dan harta benda itu tersimpan. Jika demikian maka terserah kepada Pangeran dan angger Bramadaru, apakah angger benar-benar ingin memperistri gadis itu atau tidak” Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya rencana Ki Ajar Wrahasniti, guru dari anak laki- lakinya yang sangat diharapkan akan dapat menjadi seorang laki- laki yang mumpuni. Apalagi Bramadaru adalah satu- satunya anak laki-laki Pangeran Gajahnata. Saudara- saudaranya yang lain adalah perempuan semuanya. Sebenarnyalah yang diharapkan oleh Pangeran Gajahnata dan Bramadaru bukannya puteri Pangeran Sana Wasesa itu sendiri. Tetapi kemungkinan yang paling dekat untuk mendapatkan harta benda dan pusaka itu adalah dengan cara yang demikian, cara yang disusun oleh Ki Ajar Wrahasniti oooOooo- 

Jilid 22
BRAMADARU sendiri semula memang tidak menaruh perhatian terhadap saudara sepupunya itu. Tetapi karena ia selalu datang atas nasehat gurunya, maka lambat laun, anak muda itu menganggap bahwa saudara sepupunya itu memang seorang gadis yang cantik. Tetapi lebih dari pada itu, maka gadis itu merupakan satu-satunya anak Pangeran Sena Wasesa yang akan mewarisi semua kekayaan ayahnya, termasuk yang masih tersembunyi. “Angger Bramadaru akan mendapatkan kedua-duanya. Seorang puteri dan pusaka serta harta benda itu” berkata Ki Ajar Wrahasniti kemudian “Jika kelak angger Bramadaru ingin mempunyai isteri yang lain lagi, maka itu bukan satu soal yang sulit apabila segalanya memang sudah dikuasai. Bukankah tidak aneh j ika seseorang memiliki lebih dari seorang isteri?“ Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Ia mengerti jalan pikiran dan keinginan Ki Ajar Wrahasniti. Dan agaknya Pangeran Gajahnata itupun sama sekali tidak berkeberatan jika anaknya berbuat demikian. Bahkan Pangeran Gajahmatapun telah memikirkan akibat yang dapat terjadi kemudian. “Pangeran” berkata Ki Ajar “dalam hubungan ini, seandainya kelak terjadi perselisihan antara Pangeran dengan Pangeran Sena Wasesa karena soal warisan itu dan penggunaannya, maka Pangeran tidak usah cemas, Angger Bramadaru telah memiliki segala macam ilmu yang akan dapat melindungi dir inya. Perselisihan yang demikian tentu akan dianggap sebagai perselisihan keluarga, sehingga tidak akan banyak pihak yang mencampur inya. Bahkan seandainya ada juga orang yang terlibat, maka Pangeran sendiri dan sudah barang tentu, aku, gurunya akan terlibat pula ke dalamnya” ”Tetapi tidak mustahil bahwa warisan itu baru akan diberikan setelah Pangeran Sena Wasesa mendekati hari akhirnya” berkata Pangeran Gajahnata. “Memang mungkin Pangeran, tetapi rahasianya tentu sudah diungkapkan sebelumnya” jawab Ki Ajar Wrahasniti “Jika tidak demikian maka akan dapat terjadi, bahwa Pangeran Sena Wasesa tidak akan mempunyai kesempatan untuk mewariskan pusaka dan harta benda itu jika maut memanggilnya tiba-tiba” Pangeran Gajahnata menganggauk-angguk. Sementara itu Ki Ajar Wrahasnit i berkata selanjutnya “Dalam pada itu, jika rahasia itu sudah terungkap dan Pangeran Sena Wasesa masih saja berumur panjang, maka dapat diusahakan memperpendek umur Pangeran itu dengan banyak cara” Pangeran Gajahnata tidak menjawab. Tatapi di dalam angan-angannya tengah bermain rencana yang disebut oleh Ki Ajar Wrahasniti. Nampaknya usaha itu memang akan dapat berhasil j ika Bramadaru berhasil. Karena itu, maka Pangeran Gajahnatapun bertanya kepada anaknya “Bramadaru, sebagian besar dari rencana ini tergantung kepadamu. Kau memiliki modal yang dapat kau pergunakan untuk memikat hati gadis itu. He, apakah kau tahu nama gadis itu?“ “Tentu ayahanda” jawab Bramadaru “Tetapi yang aku kenal hanyalah nama panggilannya. Raden Ajeng Ceplik. “Ceplik?“ ulang Pangeran Gajahnata. “Nama panggilan. Aku tidak pernah bertanya namanya yang sesungguhnya. Sejak kanak-kanak aku memanggilnya Diajeng Ceplik. Kemudian untuk beberapa tahun kami jarang sekali bertemu. Ketika kesempatan untuk berkunjung ke rumahnya terbuka, pada saat pamanda Pangeran Sena Wasesa tidak ada, aku masih saja memanggilnya Diajeng Ceplik. Dan gadis itupun t idak menolaknya” jawab Bramadaru. “Justru satu panggilan yang akrab” potong Ki Ajar Wrahasniti. Bramadaru t idak menjawab. Tetapi kepalanya justru telah menunduk. Memang ada semacam benturan yang terjadi dihati Bramadaru. Ia memang menganggap bahwa puteri Pangeran Sena Wasesa itu adalah seorang puteri yang cantik. Tetapi ia masih belum dapat menilai perasaannya yang paling dalam terhadap gadis itu. Meskipun demikian, maka ia harus mulai berusaha mengikat hati gadis itu untuk satu kepentingan yang lain. Pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya, yang menurut gurunya, tidak akan pernah diserahkan kepada Kangjeng Sultan di Demak. “Hanya orang gila sajalah yang akan melepaskan pusaka dan harta benda yang sekian banyaknya” berkata gurunya ketika ia mulai menyusun rencananya dengan penuh kepercayaan bahwa Pangeran Sena Wasesa pasti akan dapat dibebaskan dari tangan penculik-penculiknya oleh prajurit Demak “sementara itu Sultan Demak tidak akan mendapat bukti atau saksi yang dapat menjadi alasan untuk memaksa Pangeran Sena Wasesa mengatakan sesuatu tentang pusaka dan harta benda itu. Jika Pangeran itu puguh sikapnya dan menyatakan bahwa ia tidak tahu menahu tentang pusaka dan harta benda itu, maka ia tentu akan luput dari segala tuntutan” Atas dasar pikiran itulah, maka segala rencana telah disusun. Bahkan Ki Ajar itupun berkata pula “Jika kemudian ada yang mengatakan bahwa pusaka dan harta benda itu sudah kembali ke Demak, maka berita itu tentu satu ceritera yang disebar luaskan oleh Pangeran Sena Wasesa sendiri untuk menghindari usaha-usaha untuk merebutnya” Demikianlah, maka Pangeran Gajahnata meletakkan harapannya kepada Bramadaru. Karena menurut Pangeran Gajahnata, segalanya itu sebenarnya untuk kepentingan Bramadaru sendir i di kemudian hari. “Segalanya terserah kepada usahamu Bramadaru. Aku percaya bahwa kau akan dapat melakukannya dengan baik bagi hari depanmu sendir i. Jika kau mengalami kesulitan- kesulitan, maka biarlah gurumu memberikan petunjuk- petunjuk bagimu. Bahkan j ika terpaksa kau menghadapi hambatan yang harus dipecahkan dengan kekerasan, maka kau akan da pat mengatakannya kepada gurumu dan kepadaku“ pesan Pangeran Gajahnata kemudian. Bramadaru tidak dapat ingkar. Pusaka dan harta benda itu memang sangat menar ik. Apalagi apabila ia berhasil mengarahkan perasaannya sendiri untuk tertarik kepada gadis yang dikenal nama panggilannya Raden Ajeng Ceplik itu. Dalam pada itu, Pangeran Sana Wasesa dan tamu-tamunya telah berada di istana Kapangeranan. Puteri Pangeran Sena Wasesa yang melihat ayahandanya benar-benar datang sebagaimana sudah didengarnya bahwa ayahandanya berada di istana Demak, tidak dapat menahan tangisnya. Sambil memeluk ayahandanya, maka air matanya mengalir tanpa dapat ditahan-kannya lagi betapapun ia berusaha, karena bersama ayahandanya telah datang pula beberapa orang menyertainya. “Sudahlah ngger“ suara ayahandanya bernada dalam marilah. Hari ini kita mendapatkan beberapa orang tamu. Mereka adalah kawan-kawan ayahanda yang telah ikut serta menyelamatkan ayahanda” Puteri itu mengusap matanya. Tetapi isak tangisnya masih saja tertahan-tahan dikerongkongan. “Kita akan menerima tamu-tamu kita dengan baik. Kau harus menyediakan tempat untuk ber istirahat di gandok serta menyediakan jamuan bagi mereka. Ayahanda telah minta agar tamu-tamu kita itu bermalam barang dua tiga hari di rumah ini” Puteri itu mengangguk-angguk. Dilepaskannya ayahandanya. Dengan tidak sengaja puteri itu menebarkan pandangan matanya, menatap tamu ayahandanya seorang demi seorang. Ketika terpandang olehnya Rahu dan Jlitheng, maka hati puteri itu menjadi berdebar-debar. Ia merasa pernah melihat wajah-wajah itu. Juga wajah Semi yang ikut pula bersama ayahandanya. Tetapi ayahandanya telah mengetahui peristiwa yang terjadi di rumahnya sepeninggalnya. Ia pernah mendengar hal itu diceriterakan kepadanya. Karena itu, ketika ia melihat sikap dan pandangan mata puterinya, maka katanya “Kau tentu pernah mengenal mereka. Mereka adalah orang-orang yang pernah datang ke rumah kita” Wajah puteri itu menjadi tegang. Namun ayahandanya melanjutkan. Mereka adalah orang-orang yang telah ikut mengambilku dari rumah ini. Tetapi mereka pula yang ikut menolong aku. Bahkan bukankah ada diantara mereka yang telah menyelamatkanmu dari tangan-tangan orang yang gila itu” Puteri itu menarik nafas dalam-dalam. Ia teringat semuanya. Namun dengan demikian, terasa seluruh kulitnya meremang. Jika saat itu benar-benar jatuh ke tangan orang- orang Sanggar Gading yang gila itu, maka nasibnya akan lebih buruk dar i ayahandanya. Demikianlah, maka Raden Ajeng Ceplik itupun kemudian telah mengatur segala sesuatunya untuk menerima tamu- tamu ayahandanya. Para pelayanpun ikut menjadi sibuk pula. Ada yang membersihkan gandok istana itu dan ada pula yang sibuk di dapur untuk menyiapkan jamauan. Ternyata bahwa kehadiran Pangeran Sena Wasesa rasa- rasanya telah membuat istana itu terbangun kembali. Meskipun para abdi dengan setia menunggui istana itu serta puteri Pangeran Sena Wasesa yang tidak mau meninggalkan istana untuk tinggal di tempat keluarga dan saudara-saudara ayahandanya, serta para pengawal yang patuh menjalankan kewajiban mereka meskipun Pangeran Sena Wasesa tidak ada. di istana, rasa-rasanya istana itu bagaikan tertidur. Untunglah bahwa saudara-saudara Pangeran Sena Wasesa memperhatikan keadaan istana itu, sehingga satu dua diantara mereka sering datang berkunjung ke rumah itu untuk menengok Raden Ajeng Ceplik. Namun pada hari itu, kepangeranan itu menjadi ramai. Suasana yang gembira telah meliputi seisi istana. Puteri Pangeran Sena Wasesa itupun nampak gembira sekali. Kerinduannya kepada ayahnya hampar tidak tertanggungkan. Dan kini, tiba-tiba ayahandanya telah kembali dengan selamat. Tetapi diantara para tamu, Endang Srini merasa jantungnya berdenyut semakin cepat. Ia merasa kecil untuk berada diantara keluarga istana itu. Apalagi setelah ia melihat wajah puteri Pangeran Sena Wasesa yang cantik tetapi murung. Gadis itu sudah tidak beribu lagi. Kemudian untuk beberapa lamanya, ayahandanya telah direnggut oleh tangan-tangan yang kasar. “Ia telah menemukan ayahandanya kembali” berkata Endang Srini di dalam hatinya “Apakah aku akan merampasnya sekali lagi? Apakah kehadiranku disini tidak akan merusakkan hati gadis yang cantik dan murung itu?“ Pertanyaan itu tidak dapat dijawabnya sendiri. Tetapi Endang Srini tidak dapat menanyakan hal itu kepada Daruwerdi. Jika ia berbuat demikian, Daruwerdilah yang akan dapat tersinggung pula karenanya. Untuk beberapa saat, ibu Daruwerdi itupun masih saja menahan hatinya. Ia sama sekali tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Sementara itu, kegembiraan benar-benar telah menyelimuti istana itu. Bukan saja puteri Pangeran Sena Wasesa, tetapi Pangeran Sena Wasesa itu sendiri merasa dirinya terlalu bergembira. Ia telah berada dilingkungan keluarganya. Bukan saja Raden Ajeng Ceplik yang akan memanggilnya ayahanda, tetapi seorang anak laki- laki telah menyertainya pula. Meskipun ada semacam keragu-raguan untuk menyampaikan hal itu kepada puterinya. Selain kegembiraaan itu, maka Pangeran Sena Wasesapun merasa dir inya akan menemukan hidup yang tenang dalam lingkungan keluarganya, justru karena ia sudah berterus terang tentang harta benda dan pusaka yang telah menjadi sasaran perburuan yang tidak henti-hentinya kepada Kangjeng Sultan. Apalagi setelah ia menerima pernyataan dari Kangjeng Sultan, bahwa kesalahan itu telah dimaafkan. Namun dalam pada itu, ketika kemudian malam turun dan suasana Kapangeranan itu menjadi hening, maka mulailah Pangeran Sena Wasesa merenungi dirinya sendir i. Ia masih saja diliputi oleh keragu-raguan untuk mengatakan kepada anak gadisnya, bahwa diantara para tamunya itu terdapat dua orang yang mempunyai kedudukan yang berbeda dari tamu- tamunya yang lain. Keduanya adalah Endang Sr ini dan anak laki-Iakinya. Dalam kebimbangan itu, hampir dlluar sadarnya, Pangeran Sena Wasesa telah berada di pendapa justru pada saat orang- orang lain tertidur nyenyak. Bukan saja karena kelelahan, tetapi karena mereka merasa tidak lagi dibelit oleh persoalan yang dapat membuat mereka menjadi gelisah. Tetapi sementara itu, terdengar desir kaki seseorang di halaman. Bukan penjaga yang ada di regol. Tetapi dekat di bawahi tangga pendapa itu. Ketika Pangeran Sena Wasesa berpaling, dilihatinya seorang perempuan berdiri termangu-mangu. Endang Srini. “O” desis Pangeran Sena Wasesa “kemarilah. Duduklah disini” Tetapi Endang Srini menggeleng. Jawabnya “Apakah aku pantas duduk bersama Pangeran di pendapa yang besar ini?“ Pangeran Sena Wasesalah yang, kemudian bangkit dan turun mendekati Endang Srini. Dengan lembut ia berkata “Siapapun kau, tetapi kau adalah isteriku” “Dahulu Pangeran” jawab Endang Srini “Aku dahulu memang isteri Pangeran. Tetapi aku adalah perempuan padukuhan. Karena itu barangkali aku memang tidak pantas berada di pendapa itu. Biarlah putera Pangeran itu saja yang akan ikut mendapatkan kamukten di istana ini. Biarlah aku kembali ke padepokan bersama ayah angkatku, Ajar Cinde Kuning” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita dapat berbicara panjang. Mar ilah. Duduklah” “Terima kasih Pangeran” jawab Endapg Srini “sebaiknya Pangeran melupakan semua peristiwa yang pernah terjadi, Dahulu pada waktu yang berjarak panjang, atau kemarin. Jika ada kemurahan hati Pangeran biarlah anakku mengabdikan diri di istana ini. Sementara itu, kepergianku akan mengurangi beban perasaan pada putri yang baru saja merasa menemukan ayahandanya kembali” “Aku akan berbicara dengan putriku” berkata Pangeran Sena Wasesa, tetapi tidak sekarang. Memang mungkin terjadi saat gejolak kecil di dalam hatinya. Namun demikian aku berharap bahwa akhirnya ia akan dapat mengerti” “Pangeran” jawab Endang Srini kemudian “Mungkin Pangeran dapat menempuh satu cara yang lebih baik. Meskipun hati puteri itu akan terluka pula, tetapi tidak separah jika puteri itu terpaksa menerima kehadiranku disini. Pangeran dapat mengatakan, bahwa anak itu lahir bersama dengan ke- matian ibunya, sebelum Pangeran kemudian kawin dengan ibu puteri Pangeran sekarang ini” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku tidak dapat melakukannya. Ibu anakku itu sudah tidak ada. Aku berharap bahwa ia dapat menerimamu sebagai ibunya” “Aku seorang yang lahir dari darah pidak pedarakan. Dari darah jelata yang barangkah memang tidak pantas untuk berada di istana ini sebagai seorang hamba sekalipun” “Jangan berkata begitu Srini. Aku baru saja menerima anugerah yang tidak ada taranya. Aku telah dibebaskan dari segala tuntutan oleh Kangjeng Sultan karena kecuranganku, dan aku telah merasa berkumpul kembali dengan keluargaku. Marilah kita mulai dengan satu lembaran kehidupan baru yang terbuka, tanpa sesuatu yang tersembunyi. Aku ingin hidup dengan tenang tanpa dibayangi oleh satu rahasia yang selalu memburu dalam kecemasan. Setiap saat kita dicengkam oleh ketakutan bahwa rahasia itu pada satu waktu akan terbuka Karena itu, marilah kita membuka rahasia itu segera. Jika satu masalah akan timbul, biarlah segera kita ketahui. Dengan demikian kita akan segera dapat menanganinya” “Pangeran” jawab Endang Srini “Pangeran tidak akan diburu oleh ketakutan bahwa pada satu saat rahasia itu akan terbuka karena perempuan yang pernah melahirkan seorang anak laki-laki itu dapat Pangeran anggap telah mati” “Endang Srini” berkata Pangeran Sena Wasesa “Apakah dengan demikian berarti bahwa aku harus melupakan kau untuk selamanya?“ “Sebagaimana sesesorang yang telah mati, maka ia hanya dapat dikenang, atau bahkan dilupakan” jawab Endang Srini. “Tidak. Aku tidak ingin berbuat seperti itu. Aku baru sap terlepas dari belenggu kegelisahan karena aku merahasiakan harta benda itu. Sekarang aku tidak mau jatuh lagi dalam belenggu yang sama karena aku merahasiakan seseorang dalam sentuhan kehidupanku. Karena itu aku akan mengatakan segalanya. Besok, jika persoalan harta benda itu benar-benar telah aku selesaikan. Kalau sudah ada kepastian, langkah apakah yang akan diambil oleh Kangjeng Sultan, meskipun, belum dilaksanakan” berkata Pangeran Sena Wasesa. Endang Srini menundukkan kepalanya. Tetapi rasa-rasanya ia sedang menghadapi satu masalah yang tidak terpecahkan. Satu beban perasaan yang tidak terangkat. “Seandainya aku benar-benar telah mati” berkata Endang Srini di dalam hatinya. Namun perasaan itu tidak terucapkannya. Sementara itu, Pangeran Sena Wasesa telah berkata pula “Marilah Sr ini. Kita dapat berbicara dengan tenang di pendapa” “Terima kasih Pangeran. Aku mohon dir i. Mungkin aku perlu menenangkan hati” jawab Endang Sr ini. Pangeran Sena Wasesa tidak menahannya. Dibiarkannya Endang Srini kemudian meninggalkan pendapa menuju ke gandok. Untuk sementara Endang Srini di tempatkan di gandok bersama Swasti sebelum Pangeran Sena Wasesa menyatakan kepada puterinya dan kepada seluruh isi istana itu tentang dir inya yang sebenarnya. Ketika ia memasuki biliknya, ternyata Swasti telah duduk di bibir pembaringannya. Ternyata gadis yang berpendengaran tajam itu, tidak dapat ditinggalkannya dalami keadaan tidur lelap. Swasti mendengar sejak ibu Daruwerdi itu keluar dari biliknya. Bahkan gadis itu sempat melihat apa yang dilakukan oleh Endang Sr ini. Namun ketika ia melihat Endang Sr ini itu berbincang dengan Pangeran Sena Wasesa dari balik pintu yang renggang setebal lidi, maka iapun mengurungkan maksudnya untuk menyusul keluar. “Kau belumt idur ngger?“ bertanya Endang Sr ini. “Aku mendengar pintu bergerit” jawab Swasti, Endang Srini tidak bertanya lebih lanjut. Iapun mengerti, gadis yang memiliki kemampuan olah kanuragan yang tinggi itu tentu memiliki pula pendengaran yang tajam, sehingga karena itu, maka tidak mustahil bahwa gadis itu mendengar langkahnya keluar dari bilik itu. Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah berbaring pula dipembaringan. Tidak ada yang mereka percakapkan. Mereka telah hanyut dalam arus angan-angan mereka masing-masing. Bahkan kegelisahan rasa-rasanya semakin dalam menusuk di jantung Endang Srini. Ia dibayangi oleh keragu-raguan, apakah ia akan dapat memasuki keluarga Pangeran Sena Wasesa. Ia adalah seorang gadis padukuhan dan yang sudah terlalu lama hidup di padepokan. Seandainya, puteri Pangeran Sena Wasesa itu dapat menerimanya, betapapun hatinya terasa sakit, namun apakah ia akan dapat menyesuaikan diri dalam pergaulan hidup Pangeran Sena Wasesa yang harus berhubungan dengan para bangsawan yang lain. Apakah ia akan dapat menatap wajah putri-putri dari lingkungan bangsawan apabila dalam satu kesempatan ia harus menemui mereka sebagai isteri para Pangeran. Berbagai persoalan telah bergejolak di dunia angan-angan Endang Srini. Bahkan seakan-akan ia melihat putri Pangeran Sena Wasesa itu meratapi dir inya sendir i. Dengan wajah yang basah oleh air mata, seolah-olah Raden Ajeng Ceplik itu ber lutut di depan makam ibundanya. Menangis mengadukan kepahitan hatinya. Ayahandanya yang hilang itu ternyata telah pulang bersama seorang perempuan yang dikatakannya isterinya. Diluar sadarnya, Endang Srinilah yang telah mengusap air matanya yang membasah dipelupuk matanya. Namun Endang Sr ini telah bertahan sekuat-kuatnya untuk tidak menangis, agar Swasti tidak menjadi bingung menanggapi keadaannya. Sementara itu, di dalami biliknya, Pangeran Sena Wasesapun menjadi gelisah. Setelah ia merasa letih duduk sepi sendiri di pendapa, maka ia berusaha untuk tidur barang sejenak. Tetapi ternyata dipembaringannya matanya sama sekali t idak dapat dipejamkannya. “Aku harus berusaha melunakkan hati Endang Srini dan anakku” berkata Pangeran Sena Wasesa di dalam hatinya “keduanya harus dapat menerima satu kenyataan tentang diri mereka. Itu jauh lebih baik daripada kita masih harus saling membohongi dir i kita sendir i” Namun Pangeran Sena Wasesa masih memikirkan cara yang paling baik yang akan ditempuh. Akhirnya sambil berdesah Pangeran Sena Wasesa itupun bangkit. Katanya kepada dir i sendiri “Aku tidak boleh menunggu. Keputusan Kangjeng Sultan mungkin masih akan diambil satu dua hari. Jika aku menunggu kejelasan sikap Kangjeng Sultan, baru aku akan menyelesaikan persoalan keluargaku, mungkin akan terlambat. Lebih baik aku segera member itahukan persoalan ini kepada anakku daripada ia justru akan mendengar dar i orang lain yang mungkin akan dapat membuatnya semakin sakit“ Dengan demikian, maka Pangeran Sena Wasesapun segera memutuskan bahwa esok ia akan bertemu dengan anak gadisnya dan berbicara tentang Endang Srini dan Daruwerdi. Dalam pada itu Daruwerdi sendiri masih belum memikirkan persoalannya terlalu dalam. Ia masih dapat menunggu kapanpun ayahnya yang dikiranya sudah mati itu akan menyampaikan persoalannya kepada adiknya, yang lahir dari ibu yang berbeda. Bahkan iapun mencoba untuk mengerti, bahwa Pangeran Sena Wasesa tentu memer lukan waktu untuk mengatur perasaannya sendiri sebelum ia menyampaikan persoalan itu kepada puterinya. Malam yang terasa sangat panjang itupun akhirnya berlalu juga. Pangeran Sena Wasesa sama sekali tidak berhasil tidur barang sejenakpun sebagaimana Endang Srini. Di tempat yang terpisah keduanya dicengkami oleh kegelisahan tentang hubungan mereka sebagai suami istri yang diantarai oleh jarak. Jarak waktu yang lama sebelum mereka bertemu kembali, jarak pangkat dan derajad dan jarak yang dibatasi oleh satu sekat yang sulit untuk ditembus. Anak gadis Pangeran Sena Wasesa itu sendir i. Tetapi Pangeran Sena Wasesa telah memutuskan untuk menyampaikan persoalan tentang dirinya itu kepada puterinya pada hari itu juga. Ia ingin puterinya mendengar persoalan itu dari mulutnya sendiri. Tidak dar i mulut orang lain yang bersumber pada bisik-bisik yang mungkin akan dapat ditangkap dalam makna yang berbeda. Karena itu, maka sesudah puterinya menjamu tamu- tamunya dengan makan pagi, maka Pangeran Sena Wasesa telah bersiap-siap untuk memanggilnya di ruang dalam. Namun Pangeran itu telah mencari kesempatan untuk berbicara singkat dengan Endang Srini. “Aku tidak akan menunggu persoalan pusaka itu selesai“ berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku akan mengatakannya sekarang” Endang Srini tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. “Beritahukan Daruwerdi. Mungkin aku memer lukannya“ berkata Pangeran Sena Wasesa. Endang Srini masih tetap berdiam diri. Tetapi kepalanya terangguk kecil. Demikianlah, Pangeran Sena Wasesapun menyempatkan diri pula untuk berbicara dengan Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning. Orang-orang tua yang lebih banyak menekuni masalah kajiwan daripada dirinya sendiri. “Aku kira sebaiknya memang demikian Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “diantara kita, masing-masing telah mengetahui siapakah sebenarnya perempuan yang bernama Endang Srini itu dan siapakah angger Daruwerdi. Karena itu mungkin sekali telah terjadi salah ucap diantara kita yang dapat didengar oleh para pembantu dan para pengawal di istana Pangeran ini, sehingga hal yang demikian itu aku kira akan dengan cepat sekali menjalar dari mulut ke mulut. Jika kemudian sampai terdengar oleh puteri Pangeran, maka memang mungkin sekali akan dapat menumbuhkan persoalan yang gawat jika terjadi salah mengerti. Karena itu, rencana Pangeran untuk menyampaikannya hari ini adalah sangat bijaksana” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk, sementara Kiai Kanthi berkata “Pangeran, misalnya Pangeran menyimpan buah yang masak, jangan ditunggu sampai menjadi rusak. Selagi kita masih ada disini. Mungkin kami akan dapat membantu Pangeran” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk Namun katanya kemudian “Kiai Kanthi, aku berharap bahwa anak gadismu akan mempunyai pengaruh yang besar bagi kehidupan dan cara hidup anak perempuanku itu. Kekerasan jiwanya dan sikapnya yang tangguh jauh berbeda dengan kehidupan anakku yang selamanya tinggal di dalam satu lingkungan yang tidak pernah mengalami kepr ihatinan. Dengan demikian, mungkin sekali goncangan-goncangan kecil akan dapat menyeretnya sedalam satu keadaan yang sangat gawat” “Puteri Pangeran itu baru saja mengalami goncangan yang sangat berat Ketika Pangeran hilang dari istana ini, maka puteri itu tentu merasa sangat berprihatin” jawab Kiai Kanthi. “Kiai benar. Tetapi yang aku maksudkan adalah tempaan jiwa dalam kehidupannya sehari-hari. Bukankah dalam waktu yang singkat, selama aku tidak ada di istana telah membuatnya menjadi kurus dan ker ing. Jika aku tidak segera terlepas dari keadaan ini, mungkin anak gadisku itupun tidak akan dapat mengatasi persoalannya sendiri” berkata Pangeran Sena Wasesa. Kemudian “Namun demikian, nampaknya anak gadisku t idak menjadi akrab dengan anak gadis Kiai” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya “Cara dan tata kehidupan yang berbeda yang ada pada anak gadisku dan anak gadis Pangeran itulah yang telah membatasi mereka. Anakku adalah seorang perempuan yang hidupnya mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, atau jika menetap, maka ia akan menetap di lereng-lereng pegunungan atau di padukuhan-padukuhan yang jauh. Itulah agaknya yang membuatnya canggung disini. Sementara puteri Pangeranpun merasa canggung puli melihat sikap anak gadis itu yang jarang bergaul” “Apakah sifat keduanya tidak dapat dipertemukan dalam satu hubungan yang saling mengisi?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Aku kira masih mungkin Pangeran” jawab Kiai Kanthi. “Aku mohon Kiai dapat memberikan beberapa petunjuk kepada anak gadis Kiai. Aku mencemaskan gejolak yang akan timbul dihati anakku jika ia mengetahui kehadiran seorang perempuan yang lain di istana ini. Seorang isteri dar i ayahnya tetapi bukan ibunya. Dalam keadaan yang demikian, ia memer lukan seorang yang akrab” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Aku akan mencoba Pangeran. Mungkin Swasti akan dapat meirngajaknya bermain-main dengan jenis permainan yang belum pernah dikenal langsung oleh puteri Pangeran” berkata Kiai Kanthi. Lalu “Tetapi sudah tentu bukah gatheng atau jirak miri. Swasti tidak akan telaten untuk melakukannya” “Lalu apa yang akan dilakukan oleh Swasti?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Mungkin berburu di pinggir Kota Raja. Berburu burung dengan supit atau berburu kijang dengan busur dan anak panah” jawab Kiai Kanthi. Pangeran Sana Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk “Apapun yang dapat dilakukan, asal hal itu akan dapat menghiburnya kelak” Dengan demikian, maka Pangeran Sena Wasesa telah mematangkan keadaan untuk sampai pada satu pembicaraan yang bersungguh-sungguh dengan puterinya. Karena itu, maka setelah pembicaraannya dengan orang-orang tua itu, iapun telah memanggil puterinya untuk menghadap. Tetapi Pangeran Sena Wasesa terkejut, ketika puterinya kemudian datang menghadap bersama seorang anak muda. Namun Pangeran Sena Wasesa segera mengenalnya, karena anak muda itu adalah kemanakannya. “O, bukankah kau putera kakangmas Pangeran Gajahnata?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Benar pamanda” jawab Bramadaru sambil menundukkan kepalanya. “Oh, maaf. Bukannya aku menganggap kau orang lain, tetapi aku lupa, siapakah namamu?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Bramadaru pamanda” jawab anak muda. “O, ya. Bramadaru. Benar. aku ingat sekarang Kau jarang sekali berkunjung kemar i” “Untuk beberapa tahun aku pergi berguru pamanda. Agaknya karena itu aku jarang sekali sempat menghadap pamanda” jawab Bramadaru. “Sekarang kau sudah selesai?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa pula. “Belum ayahanda. Tetapi yang aku lakukan kemudian tinggallah memperdalam ilmu yang sudah aku terima. Dan itu dapat aku lakukan dimana saja. Juga di rumah. Sementara itu, kesempatankupun menjadi lebih luas untuk dapat mengunjungi sanak kadang” jawab Pangeran Sena Wasesa pula. Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Namun dengan demikian, ia tidak dapat mengatakan persoalannya kepada anak gadisnya. Ia harus menunggu sampai Bramadaru meninggalkan istana itu, karena Pangeran Sena Wasesa tidak akan dapat mengusirnya. Namun dalam pada itu, puteri Pangeran Sena Wasesa itulah yang kemudian bertanya “Apakah ayahanda memanggil aku?“ “O, tidak” jawab Pangeran Sena Wasesa “Aku hanya menanyakan, karena kau tidak kelihatan” “Aku menemui kakangmas Bramadaru di serambi” jawab puteri itu. “Baiklah. Silahkan Bramadaru. Kunjunganmu akan member ikan kegembiraan pada adikmu” berkata Pangeran Sena Wasesa, Dalam pada itu, maka puteri itupun kemudian meninggalkan ruang dalam dan kembali ke serambi bersama Bramadaru. Untuk beberapa saat keduanya masih berbincang dengan gembira. Banyak persoalan tentang keadaan istana itu yang mereka percakapkan. Bagaimana perasaan Raden Ajeng Ceplik itu pada saat ayahandanya kembali. “Seperti menemukan hidupku kembali” jawab Raden Ajeng Ceplik. “Menyenangkan sekali” berkata Bramadaru “kehadiran pamanda. Pangeran Sena Wasesa tidak saja memberikan kegembiraan diseluruh isi istana ini. Tetapi juga kepadaku dan keluargaku” “Tentu” jawab Raden Ajeng Ceplik “bahkan seisi Demak. Kangjeng Sultanpun tentu merasa gembira atas kehadiran ayahanda kembali” “Ya” jawab Bramadaru “Tetapi lebih-lebih lagi ayahanda Pangeran Gajahnata” “O, kenapa pamanda Gajahnata menjadi lebih gembira dari yang lain?“ Raden Ajeng itu bertanya hampir diluar sadarnya Bramadaru menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia terdiam. Sedangkan pandangan matanya menyapu pohon- pohon bunga di halaman samping istana itu. Raden Ajeng Ceplik mengerutkan keningnya. Ketika ia melihat wajah Bramadaru yang menjadi bersungguh-sungguh, maka iapun menjadi berdebar-debar. “Kakangmas Bramadaru” desisnya “Apakah pertanyaanku menyinggung perasaanmu” “O, tidak, tidak diajeng” jawab Bramadaru dengan serta merta. “Tetapi nampaknya ada sesuatu yang tiba-tiba saja kau pikirkan“ sambung Raden Ajeng Ceplik. Bramadaru menjadi ragu-ragu. Tetapi selalu diingatnya pesan gurunya, bahwa ia harus segera menyampaikan kepada Raden Ajeng Ceplik mengenai minatnya untuk meminang puteri itu. Hal itu tentu akan berpengaruh atas perasaannya, sehingga ia t idak lagi berpaling kepada orang lain. Apalagi Bramadaru adalah masih sanak kadang sendiri. Dengan pernyataan itu, maka hati puteri itu tentu akan merasa terikat. Tetapi Bramadaru tidak segera dapat mengatakannya. Meskipun hubungannya dengan Radan Ajeng Ceplik menjadi akrab, apalagi agaknya Pangeran Seria Wasesa juga tidak mempunyai apapun juga, namun ada semacam keragu- raguan. Justru karena sikap Raden Ajeng Ceplik yang terlalu akrab. “Agaknya memang tidak ada perasaan apapun di dalam hatinya” berkata Bramadaru kepada diri sendiri “J ika ada sesuatu yang menyentuh hatinya dalam, pergaulan ini, ia tentu akan bersikap lain. Gadis itu justru akan menjadi kaku dan mengambil satu jarak tertentu” Selagi Bramadaru dicengkam oleh keragu-raguan, Raden Ajeng Ceplik benar-benar menjadi cemas. Tetapi ia tidak berani bertanya lagi terutang perasaan saudara sepupunya itu. Dalam pada itu, maka Bramadarupun berkata kepada diri sendiri “Mungkin t idak ada perasaan apa-apa dihati diajeng Ceplik. Namun j ika aku mengatakannya, ia akan memikirkannya. Baru kemudian akan tumbuh perasaan itu perlahan-lahan. Aku memang tidak boleh terlalu tergesa-gesa seperti yang dikehendaki oleh guru” Sementara itu dalam keheningan, akhirnya Bramadaru berusaha untuk menyatakan perasaan itu dengan caranya “Diajeng, aku mohon maaf, bahwa tiba-tiba saja ada sesuatu yang memaksa aku untuk bersikap lain. Aku memang ingin berbicara tentang persoalan yang harus direnungi dengan sungguh-sungguh” “Kau membuat hatiku menjadi berdebar-debar kakangmas” sahut Raden Ajeng Ceplik. “Bukan satu hal yang sangat penting” berkata Bramadaru kemudian “namun sekedar persoalan yang mungkin dapat kau pikirkan” “Kau membuat aku semakin gelisah” desis Raden Ajeng Ceplik, “Diajeng” berkata Bramadaru dengan sungguh-sungguh “Aku mengenalmu sudah sejak lama. Sejak kita masih kanak- kanak. Tetapi untuk beberapa tahun aku terpisah dari pergaulan para bangsawan karena aku pergi berguru. Baru beberapa, saat kemudian aku kembali ke istana. Pada saat yang demikian, kita sudah menginjak dewasa” Wajah Raden Ajeng CepIiik menjadi tegang. Sementara itu Bramadaru berkata selanjutnya “Aku menjadi dewasa seperti ini, dan diajeng Ceplikpun tejah tumbuh menjadi seorang gadis. Diajeng, aku minta maaf, bahwa pertemuan kita yang kemudian itu telah menumbuhkan sesuatu di dalam hatiku. Aku tidak tahu, apakah perasaan yang demikian itu tumbuh juga di dalam hatimu. Namun untuk waktu yang cukup lama bagiku, aku harus menahannya, karena kau sedang dicengkam oleh keprihatinan karena pamanda Pangeran Sena Wasesa hilang” Wajah Raden Ajeng Ceplik menjadi merah. Jantungnya serasa berdetak semakin cepat. Namun justru mulutnya rasa- rasanya bagaikan tersumbat. Untuk beberapa saat keduanya telah terdiam. Raden Ajeng Ceplik yang sudah menginjak masa dewasanya itu tahu pasti apa yang dimaksud oleh Bramadaru, Bramadaru menyadari, bahwa adik sepupunya itu tentu tidak akan segera menjawab pertanyaannya. Mungkin Raden Ajeng Ceplik masih akan memikirkannya. Meskipun seandainya Raden Ajeng Ceplik itu memang sudah mempunyai sentuhan perasaan sejak sebelumnya, ia tentu tidak segera menjawab. Karena itu, maka Bramadaru kemudian berkata “Maaf diajeng. Aku sama sekali tidak ingin membuatmu menjadi gelisah. Aku juga tidak ingin memaksamu menjawabnya sekarang. Tetapi seperti yang aku katakan, kedatangan kembali pamanda Pangeran Sena Wasesa memberikan harapan yang lebih cerah bagiku. Pada saatnya, ayahanda Pangeran Gajahnata tentu akan datang menemui pamanda Sena Wasesa untuk membicarakan persoalan kita sebagaimana seharusnya” Raden Ajeng Ceplik sama sekali tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi semakin tunduk. Dengan demikian, maka pembicaraan diantara keduanyapun seakan-akan telah terputus. Sikap Raden Ajeng Ceplik menjadi berubah sama sekali. Justru karena ia telah mendengar sikap saudara sepupunya. Karena itu, maka sejenak kemudian Bramadarupun berkata “Diajeng baiklah aku minta diri. Sekali lagi aku minta maaf. Tetapi aku minta kau memikirkannya. Pada saat yang berbahagia bagimu karena kedatangan kembali pamanda Sena Wasesa, aku telah menyampaikan harapanku” Raden Ajeng Ceplik masih belum menjawab. Tetapi ia mengikut i langkah Bramadaru yang meninggalkan istana itu sampai ke regol. “Aku minta dir i diajeng. Tolong sampaikan kepada pamanda Sena Wasesa, bahwa aku mohon diri. Kegelisahanku membuat aku lupa menghadap untuk mohon diri” berkata Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk kecil. Demikianlah, ketika Bramadaru hilang dit ikungan. Maka Raden Ajeng Ceplik itupun dengan tergesa-gesa telah pergi ke biliknya. Terasa jantungnya masih berdebar terlalu cepat Ia memang tidak terlalu banyak bergaul dengan anak-anak muda karena keadaannya. Karena itu, pernyataan Bramadaru yang tiba-tiba itu terasa menggoncangkan isi dadanya. Untuk beberapa saat Raden Ajeng Ceplik itu masih merenung di dalam biliknya. Rasa-rasanya gadis itu sedang menilai dir inya sendiri. Apakah yang telah menarik perhatian Bramadaru, bahwa tiba-tiba saja anak muda itu telah menyatakan perasaannya. Di luar dinding istana itu, masih banyak gadis-gadis sebayanya. Puteri-puteri bangsawan seperti dirinya. Tetapi kenapa Bramadaru itu telah memilihnya. “Apakah aku lebih cantik dar i gadis-gadis yang lain?“ tiba-tiba saja telah tumbuh pertanyaan dihati gadis yang menginjak usia dewasa itu. Namun dalam pada itu, dicobanya pula untuk menilai anak muda yang bernama Bramadaru itu. Anak laki- laki dari seorang Pangeran yang bernama Gajahnata, yang seperti juga ayahnya adalah seorang Senopati prajurit. Dicobanya untuk menilai ujud lahiriahnya dan juga menilai sifat-sifatnya. Tetapi Raden Ajeng Ceplik tidak terlalu banyak mengenal anak muda itu. Yang dikenalnya adalah, bahwa anak muda itu adalah saudara sepupunya. Tidak lebih” Dalam kesibukan perasaan itu, Raden Ajeng Ceplik terkejut ketika pintu biliknya berderit. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya embannya yang setia melangkah masuk. Kemudian sambil berjongkok embannya itu mendekatinya. “Puteri” tiba-tiba saja embannya berdesis “Apakah yang dikatakan oleh ayahanda? Bukankah puteri telah dipanggil menghadap?“ Raden Ajeng Ceplik mengerutkan keningnya. Namun kemudian Katanya “Ayahanda tidak ingin mengatakan sesuatu. Ayahanda hanya menanyakan aku yang untuk beberapa saat tidak nampak karena aku berada di serambi” “O“ emban itu mengangguk-angguk. Tetapi keningnya menjadi berkerut. Katanya “Aneh. Ayahanda puteri telah dengan sungguh-sungguh memer intahkan puteri untuk menghadap. Bukan sekedar mencari puteri karena untuk beberapa saat ayahanda puteri tidak melihat puteri” “Tetapi aku telah menghadap ayahanda. Bahkan bersama dengan, kakangmas Bramadaru. Karena ketika ayahanda memanggil, aku memang sedang berada diserambi bersama kakangmas Bramadaru” jawab puteri. “O, Raden Bramadaru, putera Pangeran Gajahnata itu?“ bertanya embannya. “Ya” jawab Raden Ajeng Ceplik yang tiba-tiba saja telah menunduk. Seolah-olah embannya telah mengetahui, apa yang telah dikatakan oleh Bramadaru kepadanya diserambi. “Raden Bramadaru terlalu sering mengunjungi puteri. Memang agak lain dengan saudara-saudara pulen yang lain” gumam embannya. “Kenapa? Bukankah saudara-saudaraku yang lain juga sering datang mengunjungi aku? Apalagi pada saat ayahanda tidak ada di istana” berkata puteri itu. “Tetapi tidak terlalu sering seperti Raden Bramadaru” berkata emban itu. “Ah“ desah Raden Ajeng Ceplik “Ia adalah kakak sepupuku. Aku mengenalnya lebih baik dari saudara-saudaraku yang lain. Sejak kami tumbuh remaja. Kemudian kakangmas itu pergi berguru. Baru setelah kami menjelang dewasa, kami telah bertemu kembali, dalam keadaan yang tidak menguntungkan, karena ayahanda tidak ada di istana. Tetapi aku berterima kasih kepadanya, bahwa ia sering mengunjungi aku dalam kesepian itu” Emban itu mengangguk-angguk. Sambil duduk dilantai disebelah pembaringan momongannya ia mengamati gadis yang duduk di bibir pembaringannya itu. Namun hampir diluar sadarnya emban itu beritanya “Puteri, apakah Raden Bramadaru tidak mempunyai kepentingan lain kecuali sekedar menengok adik sepupunya?“ Wajah puteri itu menegang. Kemudian dengan nada tinggi ia bertanya “Apa maksudmu emban?“ Emban itu terkejut sendir i. Dengan serta merta iapun kemudian menyahut “Tidak puteri. Tidak apa-apa” “Ah, kau sudah menanyakan sesuatu tentang hubunganku dengan kakangmas Bramadaru” gumam puteri itu. “Puteri” berkata emban dengan ragu-ragu “Bukan maksudku untuk mengetahui terlalu banyak tentang puteri. Tetapi kehadirannya yang terlalu sering itu agaknya memang terkandung sesuatu maksud tertentu” “Tetapi aku mener imanya sebagai kakak sepupuku jawab Raden Ajeng Ceplik. Emban itu mengangguk-angguk. Meskipun demikian, sebenarnyalah emban pemomong yang setia itu melihat apa yang selama itu tersirat pada hubungan antara keduanya. Terdorong oleh kesetiaannya kepada momongannya, maka perkembangan hubungan antara kedua anak muda yang meningkat dewasa itu telah membuat emban itu menjadi cemas. Apalagi ketika ia mengamati dari kejauhan, apa yang baru saja terjadi antara keduanya. Meskipun emban itu tidak mendengar pembicaraan antara keduanya, tetapi menilik sikap dan wajah Raden Ajeng Ceplik, serta tingkah laku Bramadaru maka emban yang sudah cukup makan asinnya garam kehidupain itu dapat menebak, apa yang telah dikatakan oleh Bramadaru. Namun dalam pada itu, agaknya Raden Ajeng Ceplik sendiri merasakan bahwa pertanyaan embannya itu mengarah kepada persoalan yang justru sedang dipikirkannya tentang Bramadaru Karena itu, maka puteri itupun kemudian mendesak “Emban. Apakah sebenarnya yang kau ketahui tentang hubunganku dengan kakangmas Bramadaru? Apakah kau sedang menduga-duga atau mendengar pembicaraan kami?“ Emban itu bergeser setapak maju. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia mengusap keringat di keningnya. “Puteri” berkata emban itu kemudian “sebagaimana puteri mengetahui, aku adalah emban yang mengasuh puteri sejak puteri masih kanak-kanak. Apalagi karena aku tidak mempunyai anak sendiri, sehingga karena aku tidak mempunyai anak sendiri, sehingga karena itu, seluruh waktu dan bahkan seluruh hidupku tertumpah bagi kepentingan puteri. Karena itulah, maka aku menganggap bahwa puteri bukan saja momonganku, gustiku, dan bendaraku, tetapi puteri juga bagaikan anakku sendir i. Mungkin aku terlalu deksura bahwa aku berani menganggap puteri sebagai anakku sendiri. Tetapi maksudku bahwa sebagaimana seorang biyung yang siap mengorbankan apa saja bagi anaknya. Bahkan nyawanya pada saat anak itu lahir” Raden Ajeng Ceplik menar ik nafas dalam-dalam. Ia semakin merasa bahwa tentu ada sesuatu yang penting yang ingin dikatakannya. Karena itu, maka katanya “Bibi, agaknya kau tidak hanya sekedar ingin bertanya, apakah yang dikatakan ayah kepadaku. Tetapi agaknya kau memang mempunyai sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku” Emban itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian Katanya “Puteri. Jika aku mengatakan sesuatu, berkenan atau tidak berkenan di hati puteri, namun sebenarnyalah hal itu aku landasi dengan kesetiaanku kepada puteri. Sebagai seorang buyung yang ingin melihat anaknya berbahagia, maka akupun ingin melihat puteri tidak pernah mengalami sesuatu yang dapat membuat hidup puteri kelak tidak berbahagia. Meskipun belumtentu bahwa kecemasanku itu dapat terjadi” Raden Ajeng Ceplik menjadi semakin berdebar-debar. Dengan tidak sabar ia mendesak “Jangan berteka-teki terlalu lama emban. Coba katakan, apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan tentang aku” “Puteri, apakah aku boleh bertanya?“ desis emban itu “Tentang apa bibi?“ puteri itulah yang justru bertanya. “Apakah yang telah dikatakan oleh Raden Bramadaru kepada puteri di serambi?“ bertanya emban itu pula. “Ah“ desah puteri itu “Apakah kau mendengarkannya?“ “Tidak puteri. Aku tidak mendengar. Tetapi aku melihat sikap dan tingkah laku puteri dan Raden Bramadaru” jawab emban itu. Lalu “Baiklah, tentu puteri akan segan mengatakannya. Biar aku sajalah yang menebak. Puteri, apakah Raden Bramadaru menyatakan bahwa ia mencintai puteri?“ Wajah Raden Ajeng Ceplik menjadi merah. Tetapi emban itu dengan serta merta mengatakan “Sekali lagi puteri. Aku adalah pemomong puteri. Puteri bagiku adalah gusti, bendara dan sekaligus anak kekasih j ika puteri berkenan” Raden Ajeng Ceplik itu menundukkan wajahnya dalam- dalam. Dengan sendat puteri itupun kemudian menjawab tanpa mengangkat wajahnya “Ya bibi” Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya “Itu adalah satu hal yang wajar sekali puteri. Seorang anak muda pada satu saat merasa mencintai seorang gadis. Demikian sebaliknya. Jika Raden Bramadaru mencintai Puteri dan sebaliknya itu adalah hal yang sangat wajar. Tetapi masih ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada puteri” Raden Ajeng Ceplik sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Seakan-akan tatapan matanya lekat pada lantai biliknya yang mengkilat. “Puteri” berkata embannya pula “dalam kewajaran itu puteri harus tetap berhati-hati. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan, bahwa puteri harus melihat dengan saksama, kenapa tiba-tiba saja Raden Bramadaru sering berkunjung ke rumah ini pada saat ayahanda puteri tidak ada. Sementara itu, sebelumnya, sejak Raden Bramadaru kembali dari perguruannya, ia sudah terlalu banyak bergaul dengan puteri- puteri bangsawan yang lain. Bahkan Raden Bramadaru termasuk seorang anak muda yang mempunyai daerah pergaulan yang luas” Wajah Raden Ajeng Ceplik menjadi tegang. Dengan nada tinggi Raden Ajeng itu bertanya “Bibi, bukankah dengan demikian berarti bahwa kau mencurigai kakangmas Bramadaru? Kau menganggap bahwa tentu ada sesuatu yang tidak wajar, bahwa tiba-tiba saja ia menyatakan mencintai aku, semenara itu, ia mempunyai kawan-kawan perempuan yang banyak” “Ampun puteri” jawab emban itu “sekali lagi, bahwa hal ini aku sampaikan kepada puteri, justru karena aku tidak ingin melihat sesuatu yang akan dapat mengecewakan puteri. Namun seandainya tanggapanku ini salah, maka masih ada waktu untuk memperbaikinya” “Aku tidak mengerti emban” potong puteri itu. Emban itu menjadi termangu-mangu. Tetapi ia telah didorong oleh satu perasaan wajib, bahwa ia harus mengatakannya. Karena itu, tanpa menghiraukan akibat yang dapat terjadi atas dirinya sendiri, ia memang sudah bertekad untuk mengatakannya, demi kebaikan Raden Ajeng Ceplik itu sendir i. “Puteri” berkata emban itu kemudian dengan agak tersendat “Aku adalah emban di istana Pangeran Sena Wasesa. Aku mempunyai beberapa orang kawan emban di istana-istana yang lain. Kadang-kadang kami bertemu dan berbincang. Mungkin di pasar, mungkin pada saat-saat yang lain j ika diantara kami bertemu di jalan. Dalam pembicaraan itu, beberapa orang kawan telah membicarakan Raden Bramadaru yang sering datang ke istana ini” “Ah, apakah kepentingan mereka dengan kakangmas Bramadaru?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik. “Puteri, kawan-kawan emban itu mengetahui apa yang telah terjadi di istana ini. Pada saat Pangeran Sena Wasesa hilang, maka semua orang menjadi sangat kasihan melihat puteri yang sendiri di istana ini. Dengan demikian maka diantara mereka banyak yang memperhatikan keadaan pateri. Mungkin ada beberapa orang paman dan bibi puteri yang mempercakapkan tentang puteri dengan emban-emban masing-masing” emban itu berhenti sejenak “Dan pada saat yang demikian itulah datang Raden Bramadaru, Pada saat perhatian beberapa orang bangsawan tertuju kepada istana ini” “Jadi apa salahnya jika kakangmas Bramadaru mengawasi aku dalam saat-saat yang sepi dan gelisah itu?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik. “Jika bukan Raden Bramadaru, atau katakanlah, jika sifat- sifat Raden Bramadaru lain dari sifat-sifatnya, maka tidak akan ada seorangpun yang berkeberatan” jawab emban itu memaksa dir i. Wajah Raden Ayu Ceplik tiba-tiba saja telah berubah. Kerut-merut di dahinya menjadi semakin nyata. Dengan ragu puteri itu bertanya “Bagaimana sifat kakangmas Bramadaru?“ tiba-tiba saja di hatinya telah bergejolak keinginan vntuk mengetahui lebih banyak lagi tantang Bramadaru. Emban itu termangu-mangu. Namum akhirnya ia berkata “Puteri, aku mohon maaf j ika aku mengatakan apa yang dikatakan oleh kawan-kawanku tentang Raden Bramadaru. Raden Bramadaru adalah seorang anak muda yang menyenangi gadis-gadis. Sejak Raden Bramadaru kembali dari berguru, sudah ada beberapa orang gadis yang mula-mula menjadi sangat rapat. Bahkan ada diantara gadis-gadis yang diambilnya dari lingkungan para abdi. Dan disaat lain gadis- gadis itu harus segera kawin dengan laki-laki yang sama sekali tidak dikenalinya, yang harus mengawininya dengan upah, karena Raden Bramadaru tidak ingin mengawininya” “O“ puteri itupun tiba-tiba menutup telinganya. Katanya “Cukup emban. Ceriteramu sangat mengerikan” “Ampun puteri” sahut emban itu “Aku mohon puteri mendengar kata-kataku sebagi kata seorang biyung. Puteri, baru kemudian, tiba-tiba semua gadis, termasuk puteri-puteri bangsawan ditinggalkannya ketika ia mulai, berkenalan dengan puteri” “Aku sudah mengenalnya sejak masih kanak-kanak” suara puteri itu meninggi. “Ya. Sejak masih kanak-kanak” jawab emban itu “maksudku, ia mulai mendekati puteri lagi sejak ia pulang dari berguru” Raden Ajeng Ceplik menutup, wajahnya dengan kedua tangannya. Keterangan yang didengarnya dari embannya itu membuat kulit diseluruh tubuhnya meremang. Yang dikatakan oleh embannya itu memang mungkin saja terjadi. Tetapi menilik sikap dan tutur kata Bramadaru selama dikenalnya sebagai anak muda yang dewasa, sama sekali tidak mencerminkan sifat-sifat seperti yang dikatakan oleh emban itu. Bramadaru adalah seorang anak muda yang riang, ramah tetapi sangat sopan. Untuk sejenak keduanya saling berdiam dir i. Dari kedua mata Raden Ajeng Ceplik telah mengalir air mata. Meskipun ia sendiri sama sekali belum mengambil satu keputusan, tetapi keterangan embannya itu membuat hatinya terluka. Bagaimanapun juga Bramadaru adalah saudara sepupunya. Ada semacam ketidak-relaan di dalam hati mendengar tuduhan yang dikatakan oleh emban itu. Namun sekali lagi emban itu berkata “Ampuni puteri. Yang aku katakan adalah apa yang aku dengar dari kawan- kawanku. Tidak hanya satu dua orang. Bahkan abdi di istana Pangeran Gajahnatapun telah mengatakan demikian pula. Karena itu, aku merasa sangat cemas dengan puteri. Bukan maksudku puteri memutuskan hubungan puteri dengan Raden Bramadaru, tetapi aku mohon puteri menjadi lebih berhati- hati. Tetapi mungkin apa yang aku dengar itu salah. Seandainya demikian, sokurlah. Dan aku telah berusaha untuk berbuat baik bagi puteri yang sudah aku anggap sebagai anakku sendiri” Raden Ajeng Ceplik masih tetap berdiam dir i. Betapapun juga hatinya tersinggung, tetapi ia mengenal embannya itu sejak ia masih kanak-kanak. Iapun yakin bahwa emban itu sangat setia kepadanya. Karena itu, maka iapun mengerti bahwa maksud emban itu baik. Persoalannya adalah, apakah yang dikatakan oleh kawan-kawan emban itu benar. Namun demikian, rasa-rasanya hatinya menjadi buram. Baru saja ia mendengar pengakuan Bramadaru, bahwa hatinya mulai tertambat kepadanya, tiba-tiba saja emban itu telah menceriterakan sifat-sifat Bramadaru yang mengerikan. Ruang itu menjadi hening sejenak. Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk mengusap pipinya yang basah. Tetapi air mata itu masih saja mengembun dan mengalir perlahan-lahan. Tetapi Raden Ajeng Ceplik tidak menjadi terisak karenanya. Baru sejenak kemudian, embannya itupun berkata “Puteri. Jika aku tergesa-gesa menyampaikan hal ini kepada puteri, justru setelah aku melihat sikap dan tingkah laku puteri dan Raden Bramadaru. Aku tidak ingin terlambat, meskipun seandainya ceriteraku itu menyinggung hati puteri. Namun aku mohon, agar puteri yang sekarang sudah dewasa itu dapat menerima dan mencerna keteranganku secara dewasa pula” Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk mengangguk. Meskipun demikian ia masih mengusap matanya yang basah. Dalam pada itu, keduanya telah dikejutkan oleh der it pintu yang terbuka Dengan berdebar-debar keduanya melihat Pangeran Sena Wasesa berdiri di muka pintu. Namun dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesapun telah terkejut pula. Ia melihat puterinya sedang mengusap air matanya. Karena itu, tiba-tiba saja jantungnyapun bergejolak. Yang pertama-tama terbesit di dalam hati Pangeran Sena Wasesa adalah dugaan bahwa puterinya telah mendengar kehadiran seorang perempuan yang ternyata adalah isterinya, yang juga merupakan ibu t iri dari Raden Ajeng Ceplik itu. Meskipun demikian, Pangeran Sena Wasesa berusaha untuk mengendalikan perasaannya. Dengan sareh Pangeran itu bertanya “Apakah kau menangis?“ Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk menghilangkan kesan itu dari wajahnya. Tetapi agaknya ayahandanya sudah melihat wajahnya yang basah oleh air mata. “Apakah yang sedang kalian bicarakan?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa itu kepada embannya “Mungkin sesuatu yang menyedihkan, menggelisahkan atau kesulitan yang tidak teratasi” Emban itu menjadi bingung. Untuk sesaat ia masih tetap berdiam diri, sementara Raden Ajeng Ceplikpun menunduk dalam-dalam. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sadar, bahwa sulit baginya untuk memaksa puterinya berbicara. Karena itu, maka tiba-tiba saja Pangeran itu berkata “Emban. Aku ingin berbicara denganmu” Dada emban itu bagaikan bergejolak. Jantungnya seakan- akan melonjak-lonjak di dalamdadanya itu. Namun sebelum ia sempat berkata sepatah katapun, Pangeran Seria Wasesa telah hilang di balik pintu. “Oh “ Raden Ajeng Ceplik mengeluh “Apa yang akan kau katakan kepada ayahanda bibi” Emban itu termangu-mangu sebentar. Namun kemudian Katanya “Puteri. Agaknya tidak baik jika puteri berusaha untuk merahasiakan sesuatu terhadap ayahanda” Raden Ajeng Ceplik menjadi bimbang. Kegelisahannyapun menjadi semakin mencengkam. Sementara itu embannya berkata lebih lanjut “Ayahanda puteri adalah satu-satunya orang tua puteri sekarang ini. Ayahanda puteri adalah juga ibunda. Karena itu, biarlah aku berterus terang. Dengan demikian, maka ayahanda puteri akan dapat melihat persoalan yang terjadi atas diri puteri dengan benar. Jika pada suatu naat ayahanda puteri harus mengambil satu keputusan, maka Keputusan itu diambil berdasarkan pada keterangan- keterangan yang sebenarnya. Dengan demikian jika terjadi kesalahan dalam keputusan itu, bukan puteri sendirilah yang harus memikul tanggung jawab” Raden Ajeng Ceplik termangu-mangu. Ia masih tetap ragu- ragu. Namun yang dikatakan oleh embannya itu masuk juga di dalam nalarnya. Ia lebih baik berterus-terang kepada ayahandanya. Apapun yang akan terjadi, ayahandanya sudah dapat mengetahuinya. Bahkan seandainya tiba-tiba saja Pangeran Gajahnata menghubungi ayahnya, sebagaimana dikatakan oleh Bramadaru, maka ayahnya tidak akan terkejut. Karena itu, maka katanya kemudian “Terserah kepadamu bibi. Mana yang kau anggap lebih baik, maka kau dapat melakukannya” “Tetapi bukankah sebaiknya aku mendapat ijin puteri“ berkata embannya pula. Raden Ajeng Ceplik itpuun mengangguk kecil. Jawabnya “Baiklah bibi. Kau dapat berterus terang kepada ayahanda. Tetapi kau tahu, bagaimana sebaiknya kau mengatakannya” Demikianlah, maka emban itupun kemudian meninggalkan bilik momongannya. Emban itu tahu, bahwa Pangeran Sena Wasesa akan menunggunya diruang dalam. Karena itu, maka emban itupun menyusul Pangeran Sena Wasesa ke ruang dalam. Sambil berjongkok maka emban itu telah mendekati Pangeran Sena Wasesa yang duduk menyamping pintu yang terbuka. “Emban, mendekatlah” desis Pangeran Sena Wasesa. Emban itupun bergeser semakin dekat. Ketika dengan tidak sengaja emban itu memandang wajah Pangeran Sena Wasesa, hati emban itupun menjadi berdebar-debar. Wajah itu kelihatan suram dan kerut di dahi Pangeran Sena Wasesa itu nampaknya menjadi semakin dalam. Karena itu, maka emban itupun kemudian duduk bersimpuh sambil menunduk dalam-dalam. “Emban” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian “Aku melihat momonganmu menangis. Apakah kau mengetahui sebabnya, atau kau memang sedang memperbincangkan sesuatu yang membuatnya menangis?“ Emban itu menunduk semakin dalam. Dengan suara yang bagaikan tersangkut ddkerongkongan emban itu menyahut “Hamba Pangeran. Hamba memang sedang berbincang dengan puteri Ambarsari” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia hampir pasti bahwa puterinya telah lebih dahulu mendengar kehadiran seorang ibu tir i baginya dari orang lain. Bukan dari ayahandanya sendiri. Meskipun demikian Pangeran Sena Wasesa masih mencoba untuk dengan tenang bertanya “Persoalan apakah yang kau bicarakan dengan Ceplik?“ Emban itu menjadi ragu-ragu. Namun sudah menjadi tekadnya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan momongannya. Karena itu, maka katanya kemudian “Pangeran, perkenankanlah hamba menyampaikan persoalan puteri yang sebenarnya. Hamba telah mengatakan kepada puteri, bahwa hamba telah menyampaikan isi hati hamba justru karena hamba setia kepada puteri dan keluarga di istana ini” “Apa yang kau katakan?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa tidak sabar. “Gusti“ emban itu bergeser setapak. Namun bagaimanapun juga emban itu menjadi gelisah juga “beberapa saat yang lalu, Raden Bramadaru telah datang menemui puteri” “Ya, aku tahu. Bahkan keduanya telah datang menghadap ketika aku sebenarnya hanya memanggil Ceplik saja” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Itulah Gust i“ emban itu melanjutkan “hamba menjadi gelisah karena hubungan puteri Ambarsari dengan Raden Bramadaru” “Kenapa? Bukankah Bramadaru itu putera kakangmas Pangeran Gajahnata?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Hamba Gusti” jawab emban itu “Tetapi masalahnya bukan karena Raden Bramadaru adalah putera Pangeran Gajahnata, Tetapi karena sifat dan tingkah laku Raden Bramadaru itu sendiri” “Kenapa dengan Bramadaru?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa pula. Emban itupun akhirnya mengatakan juga, betapapun ia menjadi ragu. Seperti yang dikatakannya kepada Raden Ajeng Ceplik, maka semuanya itu dikatakannya pula kepada Pangeran Sena Wasesa. “Gusti. Hamba tidak rela melepaskan momongan hamba ke tangan yang telah ternoda. Hamba sangat mencintai Raden Ajeng Ambarsari melampaui diri hamba sendiri” Suara emban itu tersendat-sendat. Bahkan titik-titik air telah merayap turun dari sudut mata emban yang setia itu. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ada dua hal yang membuat hatinya justru mengendor. Ternyata masalah yang menyebabkan puterinya menangis bukanlah puterinya itu mendengar tentang kehadiran seorang ibu tiri dari orang lain. Yang kedua, dengan demikian ia akan dapat lebih berhati-hati menghadapi Bramadaru. meskipun ia tidak boleh percaya begitu saja kepada laporan embannya yang hanya didasarkan kepada ceritera kawan-kawannya saja. Namun iapun tidak boleh mengabaikan sama sekali keterangan embannya, yang seperti Raden Ajeng Ceplik, maka Pangeran Sema Wasesapun percaya bahwa embannya itu memang berniat baik. Karena itu. setelah Pangeran Sena Wasesa mengetahui bahwa yang dihadapi puterinya adalah persoalannya dengan Bramadaru, maka katanya kemudian “Terima kasih emban. Aku akan memperhatikan keteranganmu. Sudah barang tentu, aku sebagai ayahnya tidak akan membiarkan anak gadisku satu-satunya itu terjerumus dalam kepahitan hidup dan kehilangan masa depannya” “Segalanya terserah kepada kebijaksanaan Pangeran” berkata emban itu. Pangeran Sena Wasesapun kemudian mengij inkan emban itu meninggalkannya. Namun demikian, maka rencananya untuk memanggil anaknya itupun telah diurungkan. “Ceplik baru mengalami goncangan perasaan yang telah membuatnya bimbang dan bahkan kebingungan” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian, sehingga iapun berniat untuk menundanya sampai hari berikutnya. Karena itu, maka Pangeran Sena Wasesapun telah member itahukannya kepada Endang Srini dan orang-orang tua yang menjadi tamunya dan berada di gandok. Dalam pada itu, ketika matahari menjadi semakin rendah di ujung Barat, Rahu yang dipanggil oleh Pangeran Sena Wa- sesa untuk membicarakan tentang pusaka dan harta benda yang telah diserahkan kepada Kangjeng Sultan di Demak, namun masih belum mendapatkan penyelesaian sampai tuntas itu telah mengusulkan agar persoalannya dipercepat. “Jika harta benda dan pusaka itu masih belum diambil dan di masukkan ke dalam perbendaharaan istana, maka agaknya masih akan dapat menumbuhkan persoalan baru Pangeran” berkata Rahu yang untuk sementara masih juga mengawani para tamu Pangeran Sena Wasesa tinggal di istana itu, disamping petugas sandi itu akan dapat diajak berbincang tentang pusaka dan harta benda itu. “Jadi, bagaimana sebaiknya menurut pendapatmu?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Pangeran menghadap Kangjeng Sultan dan mohon agar pusaka dan harta benda itu segera disimpan di dalam perbendaharaan istana. Jika belum, maka seakan-akan pusaka dan harta benda itu masih menjadi tanggungan Pangeran” jawab Rahu. “Aku sependapat. Besok aku akan menghadap” berkata Kangjeng Sultan kemudian. Adalah merupakan satu keputusan, bahwa benda-benda berharga itu harus segera dipindahkan keperbendaharaan istana, agar tidak akan dapat menumbuhkan persoalan- persoalan baru yang tidak dikehendaki. Dalam pada itu, ketika Rahu kemudian meninggalkan ruang dalam, diserambi ia melihat Raden Ajeng Cepilik duduk seorang diri merenungi halaman samping yang sejuk. Bunga- bunga yang kembang, bergoyang dihembus angin senja. Namun diserambi itu lampu masih belum dinyalakan. Di seberang halaman, di serambi gandok seorang anak muda sedang melintas, kemudian masuk ke dalam gandok. Seorang anak muda yang sederhana, namun memiliki tekad untuk memanggul beban yang luhur dipundaknya. “Apakah puteri sedang merenung“ sapa Rahu perlahan- lahan. Raden Ajeng Ceplik terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya salah seorang tamu ayahnya berdiri ditangga serambi itu. ”O“ Raden Ajeng Ceplik mengangguk hormat “maaf Ki Sanak. Aku tidak melihat Ki Sanak” “Aku baru saja menghadap ayahanda puteri” jawab Rahu “Tetapi apakah yang sedang puteri perhatikan? Kawan-kawan kami di gandok itu?“ “O, tidak Ki Sanak. Aku sedang merenungi pohon-pohon bunga itu” jawab Raden Ajeng Ceplik. “Tetapi puteri nampaknya murung hari ini” berkata Rahu ”Biasanya aku melihat puteri gembira setelah ayahanda kembali” “Ah, bukankah saat ini aku juga gembira” sahut Raden Ajeng Ceplik. Rahu mengangguk-angguk. Pada saat itu, anak muda yang memasuki gandok itupun melangkah keluar pula. Di serambi gandok ia berhenti sejenak. Kemudian diluar sadarnya bahwa diserambi samping istana Rahu sedang bercakap-cakap dengan Raden Ajeng Ceplik, anak muda itu duduk diserambi gandok. “Puteri” berkata Rahu “Apakah puteri mengenal anak muda itu. Yang duduk diserambi gandok?“ Wajah puteri itu berkerut. Namun kemudian ia berkata “Aku belum mengenal tamu ayahanda seorang demi seorang. Meskipun aku sering menghidangkan jamuan untuk mereka” Rahu menar ik nafas dalam-dalam. Satu dua orang lain nampak pula lewat diserambi. Bahkan Kiai Kanthipun kemudian duduk pula disamping anak muda itu. Ketika keduanya bercakap-cakap, maka Rahu berkata “Anak muda itu pernah datang ke istana ini bersamaku dan sekelompok orang-orang Sanggar gading untuk mengambil ayahanda puteri” “O“ Raden Ajeng Ceplik mengangguk-angguk. Katanya “Ayahanda pernah juga berceritera. Tetapi ternyata bahwa kalian pulalah yang telah menolong ayahanda, karena sebenarnyalah kalian adalah petugas-petugas dari Demak. Kalian adalah petugas sandi” Rahu tersenyum. Lalu katanya pula “Apakah puteri ingat, bahwa ternyata beberapa orang telah kembali setelah ayahanda dibawa pergi oleh orang-orang Sanggar Gading itu?“ “Ya, aku ingat” jawab puteri itu. Namun terasa kulitnya menjadi meremang karenanya “Mereka akan mengambil aku” “Puteri ingat, siapakah yang menolong puteri waktu itu?“ bertanya Rahu. “Tidak jelas. Tetapi menurut ayahanda adalah kalian pula. Para petugas sandi” jawab puteri itu sambil menunduk. “Diantara kami yang menyelamatkan puteri, adalah anak muda yang duduk diserambi itu” jawab Rahu. “Aku mengucapkan terima kasih” desis puteri. “O. Sudah beberapa kali puteri maupun ayahanda menyatakannya. Sebenarnya itu tidak perlu, karena itu adalah tugasku. Tetapi ada satu hal yang barangkali belum puteri ketahui tentang anak muda itu” berkata Rahu. Tetapi Rahu ternyata keliru. Raden Ajeng Ceplik menjawab “Ayahanda pernah mengatakan, bahwa anak muda itu adalah putera Pangeran Surya Sangkaya dan bergelar Candra Sangkaya. Tetapi anak muda itu telah memilih hidup di sebuah padukuhan kecil disebelah daerah Sepasang Bukit Mati” “O“ Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Ternyata ayahanda puteri telah banyak berceritera tentang kami” “Tidak Ayahanda tidak banyak berceritera tentang tamu- tamunya. Tetapi yang paling banyak ayahanda ceriterakan adalah seorang gadis bernama Swasti dan seorang anak muda yang menyebut dirinya bernama Jlitheng. Anak muda yang sebenarnya adalah Raden Candra Sangkaya, yang sekarang telah menerima kemurahan hati Kangjeng Sultan untuk diperkenankan mempergunakan gelar Pangeran” “O“ Rahu mengangguk-angguk. Katanya di dalam hati “Puteri telah banyak mengetahui tentang Jlitheng” Dalam pada itu, maka Rahupun kemudian minta diri untuk menemui kawan-kawannya digandok itu. Sepeninggal Rahu. Raden Ajeng Ceplik masih duduk di tempatnya. Diluar sadarnya dipandanginya anak muda yang berada di serambi gandok. Anak muda sederhana. Tidak mengenakan pakaian seperti para bangsawan. Tidak mengenakan pakaian seperti Bramadaru dan anak-anak muda bangsawan yang lain. Namun dalam kesederhanaannya anak muda itu memiliki sesuatu yang tidak dilihatnya pada Bramadaru. “Tetapi dalam kesederhanaannya itu, ia menyandang gelar seorang Pangeran” berkata Raden Ajeng Ceplik di dalam hatinya. Adalah diluar kehendaknya jika kemudian puteri itu telah memperhatikan anak muda yang bernama Jlitheng dan yang sebenarnya bergelar Pangeran Candra Sangkaya itu, meskipun belum mendapat kekancingan. Tetapi dihadapan banyak saksi Kangjeng Sultan telah menyatakan, bahwa Jlitheng mendapat gelar kehormatan seorang Pangeran. Tetapi ketika dengan t idak sadar pula Jlitheng memandang kearah puteri itu. maka tiba-tiba puteri itupun telah melemparkan pandangannya kekejauhan. Namun tiba-tiba- saja terpandang olehnya dua orang lagi diantara para tamu ayahnya. Seorang gadis yang berjalan seiring dengan seorang perempuan. Raden Ajeng Ceplik mengenal nama keduanya, Swasti dan Endang Srini. Namun ia tidak banyak mengetahui tentang keduanya. Meskipun ayahandanya pernah mendorongnya untuk mencoba bergaul dengan gadis yang bernama Swasti itu. Gadis yang memiliki kemampuan olah kanuragan seperti seorang laki- laki. Tetapi ada keseganan dihati Raden Ajeng Ceplik. Ia merasa terlalu bodoh dibandingkan dengan gadis itu. la hanyalah seorang gadis yang kerjanya sehari-hari merenung dan sedikit bekerja di dapur dan membersihkan bilik-bilik di dalam, istana itu. Itupun dibantu oleh beberapa orang pelayan. Ketika ia memperhatikan, bagaimana Swasti berjalan dan. bersikap maka hatinya menjadi semakin kecil. Gadis itu benar- benar menunjukkan keperkasaannya. Sementara perempuan yang lebih tua itupun tidak banyak dikenalnya pula. Ayahandanya tidak mengatakan sesuatu tentang perempuan itu kecuali namanya. Namun Raden Ajeng Ceplik tidak menduga sama sekali, bahwa ayahandanya akan secara khusus memberitahukan kepadanya tentang perempuan yang bernama Endang Sr ini itu. Raden Ajeng Ceplik menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian bangkit dan meninggalkan serambi itu ketika lampu kemudian dinyalakan. Ketika Raden Ajeng Ceplik itu kemudian menyediakan makan malam ayahandanya, serta para tamunya maka ia masih saja membayangkan keperkasaan gadis yang bernama Swasti itu. Tetapi tiba-tiba lewat juga diangan-angannya seorang anak muda yang lain, Daruwerdi. Anak muda yang juga jarang disebut-sebut oleh ayahandanya, kecuali namanya. Anak muda ini mempunyai ujud dan sikap yang berlainan dengan anak muda yang bernama Jlitheng, yang lebih sederhana, namun yang ternyata telah mendapat anugerah derajat Kapangeranan. Bahkan ketika malam turun dan Raden Ajeng Ceplik telah berada di pembaringannya, ia masih saja memikirkan tamu- tamu ayahandanya, Jika sebelumnya ia tidak pernah berpikir tentang anak muda yang bernama Jlitheng itu, maka setelah Rahu bertanya kepadanya, apakah ia mengenal anak muda itu, ternyata ia justru mulai memperhatikannya. Namun sekali-sekali muncul pula di dalam angan-angannya, saudara sepupunya, Bramadaru. Seorang anak muda periang, ramah dan sopan. Memang jauh berbeda dalam ujud lahiriahnya. Pakaian Bramadaru sudah menunjukkan bahwa ia adalah seorang bangsawan. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa juga merenungi dirinya sendir i dan keadaan anak-anaknya. Ia sudah mengambil satu keputusan, bahwa ia akan mengatakan besok kepada anak gadisnya, bahwa ia mempunyai seorang ibu tiri dan seorang saudara laki-laki. Demikianlah, maka dihari ber ikutnya,. Pangeran Sena Wasesa telah bersiap-siap untuk memanggil puterinya. Sekali lagi dalam kegelisahan ia menyatakan maksudnya itu kepada Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning. lapun telah mencari kesempatan untuk bertemu dengan Endang Srini. “Aku memerlukan dukungan j iwani” berkata Pangeran Sena Wasesa. Pangeran Sena Wasesa tidak mau terganggu lagi oleh kehadiran Bramadaru, meskipun ia tidak akan melarang anak muda itu tetap datang berkunjung setelah ia mendengar beberapa keterangan tentang dirinya, karena hal itu masih harus dibuktikan kebenarannya. Ketika Raden Ajeng Ceplik sudah selesai dengan tugasnya, mengatur makan pagi bagi tamu-tamunya, maka dengan hati yang berdebar-debar, Pangeran Sena Wasesa telah memanggil puterinya ke ruang dalam. Raden Ajeng Ceplik menjadi berdebar-debar pula. Yang terpikir olehnya, ayahnya tentu akan bertanya tentang Bramadaru, karena kemarin embannya tentu telah mengatakannya tentang hubungannya dengan anak muda itu. Tetapi seperti embannya mengatakan, maka puteri itupun akan berkata terus terang tentang yang sebenarnya terjadi. Untuk memulai dengan satu pembicaraan yang bersungguh-sungguh Pangeran Sena Wasesa ternyata memang bertanya tentang hubungan Raden Ajeng Ceplik dengan Bramadaru. Apakah Bramadaru memang sudah pernah menyatakan sesuatu kepadanya. Raden Ajeng Ceplik sudah bertekad untuk berkata berterus terang. Karena itu, maka yang dikatakannya sama sekali tidak berbeda dengan yang dikatakan oleh embannya. “Ceplik” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian “Kau memang perlu berhati-hati. Kau t idak boleh percaya begitu saja dengan kata-kata embanmu. Meskipun embanmu berniat baik, tetapi mungkin emban itulah yang mendapatkan keterangan yang salah. Tetapi kaupun tidak boleh mengabaikan keterangan itu tanpa menghiraukannya, sama sekali” Raden Ajeng Ceplik hanya menundukkan kepalanya saja. “Kau sudah cukup dewasa” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian. Lalu “Kau sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun karena kau mempunyai orang tua, maka segala sesuatunya harus dibicarakan dengan orang tua” Raden Ajeng Ceplik masih tetap menunduk. Namun ia mendapat kesan bahwa sebenarnya ayahandanya tidak menolak seandainya ia sendiri menerima Bramadaru itu hadir di dalam perjalanan hidupnya. Meskipun demikian Raden Ajeng Ceplik tiba-tiba saja berkata dalam nada yang dalam “Ayahanda, sebenarnya aku masih harus berpikir beberapa kali. Kehadiran kakangmas Bramadaru selama ini aku terima tidak lebih sebagai saudaraku sendiri. Ketika tiba-tiba ia menyatakan isi hatinya, maka aku sama sekali belumsulit untuk menjawabnya” “Bagus Ceplik“ jawab Pangeran Sana Wasesa “Kau memang harus membuat pertimbangan sebaik-baiknya. Sementara itu akupun tidak akan tinggal diam. Aku ingin mendengar dari beberapa pihak tentang kehidupan Bramadaru yang sebenarnya” Kembali Raden Ajeng Ceplik menundukkan kepalanya. Namun dalam pada itu, rasa-rasanya hubungan yang sungguh-sungguh antara Pangeran Sena Wasesa dan puterinya sudah terjalin. Karena itu, maka Pangeran Sena Wasesapun kemudian ingin mulai dengan persoalan yang sebenarnya. Meskipun hatinya menjadi berdebar-debar, namun akhirnya iapun berkata “Ceplik Sebenarnya ada masalah yang sangat penting yang ingin aku bicarakan. Sama pentingnya dengan usahamu untuk menilai kakangmasmu Bramadaru” Raden Ajeng Ceplik menjadi berdebar-debar. Apalagi yang akan dikatakan oleh ayahandanya. Semula hatinya sudah menjadi mapan ketika ia sudah bertekad untuk berkata berterus terang seperti yang dilakukan oleh embannya. Tetapi tiba-tiba saja masih ada persoalan lain yang tidak kalah pentingnya dengan persoalannya yang membuatnya gelisah itu. Dalam pada itu, maka dengan hati-hati Pangeran Sena Wasesa mulai berbicara tentang dirinya sendiri. Tentang keluarganya dan kemudian tentang Raden Ajeng Ceplik itu sendiri. Raden Ajeng Ceplik menjadi gelisah. Ia tidak mengerti kenapa ayahnya telah menceriterakan tentang beberapa hal yang sudah diketahuinya. Namun, justru dengan demikian Raden Ajeng Ceplik itu menjadi semakin gelisah. “Ceplik” berkata Pangeran Sena Wasesa selanjutnya seperti yang aku katakan tadi, bahwa kau agaknya memang sudah dewasa. Kau sudah dapat menimbang satu persoalan dari beberapa segi. Mungkin kau harus merenunginya untuk satu dua hari. Namun kadang-kadang seseorang harus menerima satu kenyataan yang sudah tidak dapat dirubah lagi” Raden Ajeng Ceplik menjadi bertambah gelisah. Sementara itu ayahanda berkata selanjutnya “Ceplik ada hal yang dapat kita bicarakan, ada yang dapat kita rencanakan, ada yang dapat kita tolak. Tetapi kadang-kadang kita dihadapkan pada satu hal yang hanya dapat kita terima sebagai satu kenyataan” Denyut jantung Raden Ajeng Ceplik serasa menjadi semakin cepat. Dalam pada itu Pangeran Sena Wasesapun kemudian berkata “Ceplik. Aku ingin, berkata berterus terang kepadamu. Yang kau ketahui tentang ayahandamu seperti yang aku katakan tadi, adalah kurang lengkap. Sekarang, sesudah kau dewasa, maka kau per lu mengetahui serba sedikit tentang ayahandamu sebelum kau dilahirkan” Wajah Raden Ajeng Ceplik menjadi tegang Sementara itu, maka Pangeran Sena Wasesapun kemudian telah mencer iterakan apa yang pernah dialami dan dilakukannya sebelum Pangeran Sena Wasesa kawin dengan ibunda Raden Ajeng Ceplik. Dengan suara sendat, akhirnya Pangeran itu berkata “Jelasnya anakku, kau bukanlah anak tunggal. Kau memang satu-satunya anak yang dilahirkan oleh ibumu. Tetapi seperti yang aku katakan, aku tidak dapat menentang perist iwa yang memang sudah terjadi. Aku berharap bahwa kaupun akan dapat menerima persoalan ini dengan sikap dewasa” Wajah Raden Ajeng Ceplik menjadi merah padam. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sebelum ayahandanya kawin dengan ibundanya, ayahandanya itu sudah mempunyai seorang isteri, dan bahkan menurut pengakuan ayahanda itu, dalam perkawinan itu telah lahir seorang anak laki- laki. Betapa dada Raden Ajeng Ceplik bagaikan retak. Ia tidak menyangka bahwa kehidupan yang manis antara ayahandanya dan ibundanya disaat masih hidup, sebenarnya adalah kehidupan semu, karena cinta kasih ayahandanya kepada ibundanya telah ternoda. Telah ada perempuan lain yang pernah tinggal di hati ayahandanya itu, justru sebelum ayahandanya kawin dengan ibundanya. Sejenak Raden Ajeng Ceplik itu terdiam. Namun ternyata puteri itu t idak lagi dapat menahan hatinya. Tiba-tiba saja tangisnya telah meledak. “Ceplik“ ayahandanya menjadi berdebar-debar. Didekatinya anak gadisnya yang menangis itu. Kemudian sambil membelai rambutnya ia berkata “Itu sudah terjadi sejak lama Ceplik. Kau dapat menanggapinya dengan sikap dewasamu. Kau tidak dapat berbuat apa-apa tentang kenyataan ini kecuali menerimanya sebagai satu hal yang telah terjadi. Yang perlu kau ketahui Ceplik, ibundamu telah mengetahui hal ini. Ibundamu dapat menerimanya dengan hati yang lapang karena segala sesuatunya kami bicarakan dengan sebaik- baiknya pada saat itu” Raden Ajeng Ceplik masih saja menangis. Ia belum pernah mendengar hal itu dari ibundanya. Dengan nalar dewasanya Raden Ajeng Ceplik menyadari, bahwa ibundanya tentu tidak akan pernah mengatakannya hal itu. Bahkan seandainya sekarang ibundanya itu masih ada. “Baiklah aku minta maaf kepadamu” berkata Pangeran Sena Wasesa, tetapi kenyataan ini tidak akan dapat dihapuskan. Hal ini sudah terjadi. Kita memang dapat menyesali langkah-langkah yang pernah kita buat dalam kehidupan ini. Tetapi penyesalan itupun harus kita imbangi dengan penalaran. Pada suatu saat, maka kita harus terhenti pada satu sikap yang paling wajar menghadapi kenyataan itu sendiri” Raden Ajeng Ceplik masih tetap berdiam diri. Tangisnya masih menekan di dadanya. Isaknya bagaikan membuat nafasnya tersendat-sendat. Tetapi setiap kali ia mendengar ayahandanya berkata “Semuanya itu sudah terjadi Ceplik” Raden Ajeng Ceplik menarik nafas dalam-dalam ketika nafasnya terasa bagaikan tersumbat. Ketika isak puteri itu mulai mereda, maka Pangeran Sena Wasesapun telah mengatakan pula, bahwa perempuan yang dikatakan itu, kini telah berada di istana itu pula. “Ia tidak akan menggantikan kedudukan ibundamu. Tetapi ia akan dapat membantumu apabila kau perlukan. Perempuan itu dengan rendah hati merasa, bahwa ia adalah seorang perempuan padukuhan yang tidak sepatutnya untuk berada di lingkungan para bangsawan. Namun apabila kau dapat menerimanya, maka ia akan sangat berterima kasih” berkata Pangeran Sena Wasesa “namun dalam pada itu, betapapun juga rendah martabatnya, ia telah memperanakkan seorang anak laki- laki. Anak itu adalah anakku. Dengan demikian maka ia adalah saudaramu. Saudaramu yang lahir lebih dahulu dari padamu, sehingga dengan demikian ia adalah saudara tuamu” Raden Ajeng Ceplik masih terisak. Kenyataan itu terlalu berat membebani perasaannya. Nalarnya memang dapat mengatakan sebagaimana dikatakan oleh ayahandanya. Kenyataan itu sudah terjadi sehingga ia tidak akan mampu menolaknya. Tetapi ia tidak dapat memaksa perasaannya untuk segera menerima hal itu dengan ikhlas. Karena itu, maka terasa betapa didadanya telah terjadi gejolak yang menyesakkan. Pangeran Sena Wasesapun menjadi gelisah melihat sikap puterinya. Karena itu, untuk memberikan gambaran tentang perempuan yang dikatakannya, tentang sifat dan wataknya, maka Pangeran Sena Wasesa telah berceritera banyak. Bahkan kemudian Pangeran Sena Wasesapun telah mencer iterakan pula tentang seluruh persoalan yang dihadapinya termasuk pusaka dan harta benda yang telah diserahkannya kepada Kangjeng Sultan. “Ceplik, tanpa perempuan itu, aku sekarang masih dibebani oleh ketamakan itu. Aku masih dicengkam oleh kenistaan karena aku telah menyembunyikan barang-barang yang bukan milikku. Sekarang, semuanya itu telah terlepas dari tanggung jawabku. Semuanya sudah kembali kepada Kangjeng Sultan telah membebaskan aku dar i segala tuntutan” suara Pangeran Sena Wasesa menjadi sendat. Tetapi yang terjadi adalah sebalikmya. Justru karena pengakuan itu, perasaan Raden Ajeng Ceplik menjadi semakin terluka. Selama itu ia menyangka bahwa ayahandanya adalah orang yang terbaik yang dikenalnya. Orang yang bersih dan tidak bercacat. Namun tiba-tiba puteri itu langsung dihadapkan kepada dua cacat sekaligus. Bahwa ayahandanya telah menodai cintanya kepada ibundanya, sedangkan yang lain, ternyata pernah menyembunyikan harta benda yang bukan miliknya. Karena itu, maka tiba-tiba tangis puteri itupun justru semakin menyesakkan dadanya. Pangeran Sena Wasesa menjadi bingung menghadapi puterinya. Karena itu maka untuk beberapa saat iapun hanya duduk merenungi puterinya yang sedang terisak. Namun akhirnya Pangeran Sena Wasesa itu telah memanggil emban pemomong Raden Ajeng Ceplik. Ketika emban itu memasuki ruangan itu, tiba-tiba saja Raden Ajeng Ceplik telah memeluknya, sementara tangisnya telah melonjak. “Puteri” desis embannya itu “Sudahlah. Jangan menangis seperti itu” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya “Emban, mendekatlah. Kau adalah pemomong Ambarsari sejak ia masih kanak-kanak. Karena itu, maka kau sudah aku anggap keluarga sendir i Cobalah, kau bantu aku menjernihkan hati puteriku” Emban itupun mengangguk hormat sambil menyembah. Dengan cemas ia bertanya “Ampun Pangeran, apakah hamba diperkenankan untuk mengetahui apakah sebabnya, maka puteri Ambarsari telah mengalami kepedihan hati seperti ini. Apakah persoalan seperti yang hamba sampaikan kepada Pangeran kemarin atau persoalan yang lain?“ Pangeran Sena Wasesapun kemudian dengan terus terang mencer iterakan tentang hadirnya seorang perempuan dan anak laki-laki yang sebenarnya adalah isteri dan anaknya. “Emban” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku kira kau tentu sudah mengetahuinya atau setidak-tidaknya mendengarnya. Kau sudah mengabdi di istana ini berpuluh tahun yang lalu. Meskipun barangkali kau belum psrnato bertemu dengan perempuan itu, tetapi pada saat aku kawin dengan ibunda Ambarsari, kau tentu mendengar apa yang sebenarnya pernah terjadi dengan diriku waktu itu” Emban itu menar ik nafas dalam-dalam. Persoalannya ternyata bukan persoalan yang menyangkut Raden Bramadaru. Tetapi menyangkut persoalan yang sudah lama sekali terjadi pada Pangeran Sena Wasesa itu sendiri. Demikianlah, maka emban itupun kemudian telah membimbing puteri Ambarsari itu meninggalkan ruang dalam. Dengan lembut emban itu berusaha untuk menenangkan hati momongannya. Namun hati puteri itu telah terluka. Puteri yang sehari- harinya dipanggil Raden Ajeng Ceplik itu merasa betapa sakitnya setelah ia membentur pada satu kenyataan tentang ayahandanya. Ternyata ayahandanya bukan seorang yang bersih seperti kapas sebagaimana di sangkanya. Ternyata hati ayahandanya sudah ternoda. Cintanya ternoda dan ketulusannya mengabdi kepada Demak juga telah ternoda. “Noda itu tidak akan dapat dibersihkan dengan cara apapun juga” berkata Puteri itu di dalamhatinya. Dalam pada itu, embannya telah menungguinya sambil berusaha untuk menghiburnya. Namun Raden Ajeng Ceplik itu justru berkata “Kau ternyata tidak pernah bersikap jujur kepadaku emban. Kenapa kau tidak pernah mengatakan serba sedikit tentang ayahanda yang sebenarnya. Kau tidak pernah menyebut nama seorang perempuan yang pernah menjadi isteri ayahanda itu sebehim ayahanda kawin dengan ibunda” “Puteri” jawab embannya “Bukan maksud hamba untuk tidak jujur terhadap puteri. Tetapi menurut hamba hal itu sama sekali t idak per lu puteri ketahui untuk seterusnya, persoalan itu tidak akan terungkapkan. Namun ternyata dugaan itu salah. Pada suatu saat hal itu telah puteri ketahui” “Ayahanda sendiri yang telah member itahukannya” jawab Raden Ajeng Ceplik disela-sela tangisnya. “Puteri, jika ayahanda mengatakannya, maka aku kira maksud ayahanda adalah justru untuk bersikap sejujur- jujurnya terhadap puteri. Ayahanda tidak akan menyembunyikan sesuatu lagi. Mungkin hal itu juga disebabkan karena ibunda puteri telah tidak ada lagi” jawab emban litu. Namun tangis Raden Ajeng Ceplik itu tidak mereda. Sakit di hatinya justru terasa semakin pedih. Dengan telaten emban itu berusaha untuk selalu menghiburnya dengan berbagai macam cara. Bagaimanapun juga emban itu merasa wajib untuk berusaha menenangkannya. Dalam pada itu, maka Pangeran Sena Wasesa telah menemui Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning. Dengan wajah yang muram ia menceriterakan keadaan puterinya. Bahkan ternyata kemudian sehari penuh puteri itu tidak keluar dari dalam biliknya. Menangis. “Apakah Kiai dapat membantu?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi tidak dapat berbuat lain kecuali mencobanya. Ketika senja turun. maka keduanya telah menghadap puteri Ambarsari di dalam biliknya diantar oleh Pangeran Sena Wasesa sendir i. “Ceplik” berkata Pangeran Sena Wasesa “cobalah kau tahan perasaanmu sedikit. Lihat, dua orang tamu kita datang untuk menengokmu” Bagaimanapun juga kehadiran orang lain itu berpengaruh juga kepada tangis Raden Ajeng Ceplik. Dengan susah payah Raden Ajeng Ceplik berusaha menahan tangisnya. Namun dengan demikian, nafasnya justru terasa menjadi seset Dengan hati-hati kedua orang tua itu mencoba member ikan nasehat-nasehatnya, Mereka kadang-kadang mengambil kias dan perlambang. Kadang-kadang mereka member ikan secara wantah contoh-contoh tentang kehidupan dan kenyataan. Kedua orang tua itu member ikan arah tentang keseimbangan antara penalaran dan perasaan. Namun dalam pada itu, keduanyapun mengerti, betapa pedihnya perasaan Raden Ajeng Ceplik itu mener ima satu kenyataan yang sangat pahit. Umurnya yang sedang menginjak dewasa bagi seorang gadis merupakan umur yang paling sulit. Gejolak jiwani yang terjadi pada umur-umur seperti Raden Ajeng Ceplik merupakan masa-masa yang paling mudah tersentuh. Meskipun demikian, nampaknya nasehat kedua orang itu meredakan gejolak perasaan Raden Ajeng Ceplik. Tangisnyapun mereda dan isaknya tidak lagi menyesakkan pernafasannya. “Beristirahatlah puteri” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “puteri perlu ketenangan berpikir. Mudah-mudahan dalam ketenangan itu puteri mampu menerawang gejala dari kehidupan ini” Raden Ajeng Ceplik itu mengangguk. Sementara itu Kiai Kanthipiun, berkata “Puteri. Kadang-kadang kita memang sulit untuk menerima satu kenyataan. Bahkan kadang-kadang kita tidak mengerti, kenapa hal itu harus terjadi, justru atas diri kita. Dalam keadaan yang paling sulit dan gelap maka puteri dapat lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Tahu. Dengan demikian maka semoga puteri mendapat terang daripadanya” Raden Ajeng Ceplik tidak menjawab. Tetapi kepalanya menjadi semakin tertunduk Sekali-sekali tangannya masih mengusap matanya yang basah. Sementara itu embannya yang setia duduk bersimpuh di sudut ruangan. Sebagaimana sehari Raden Ajeng Ceplik tidak keluar dari ruangan itu, maka embannyapun tidak beranjak pula dari bilik itu. Ketika keadaan Raden Ajeng Ceplik nampaknya sudah menjadi agak tenang, maka Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthipun telah mohon dir i kembali ke gandok. “Mungkin aku masih akan minta tolong lagi” berkata Pangeran Sena Wasesa ketika mereka berada diserambi. “Yang dapat kami lakukan adalah sekedar member ikan petunjuk dan pitutur” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Demikianlah, malam itu Raden Ajeng Ceplik t idak menangis. Tetapi puteri itu sama sekali tidak mau makan. Setelah embannya mengantarkannya ke pakiwan, maka puteri itupun segera membaringkan dir inya di pembaringan. Meskipun nampaknya puteri itu mejamkan matanya, tetapi sebenarnyalah ia tidak tidur. Angan-angannya sedang menjelajahi segi-segi kehidupan yang sedang dijalaninya. Ia memang mencoba mempergunakan nalarnya sebagaimana di katakan oleh kedua orang tua itu. Namun ternyata bahwa yang dilakukan oleh Raden Ajeng Ceplik bukannya yang dimaksud oleh kedua orang tua itu. Raden Ajeng Ceplik memang berniat melihat hadirnya seorang perempuan yang ternyata adalah isteri ayahandanya dan seorang anak laki- lakinya yang juga saudara tuanya sebagai Satu kenyataan. Puteri itupun kemudian sadar, bahwa ia memang tidak dapat menolaknya. Perempuan dengan saudara laki- lakinya yang sebelumnya belum dikenalnya itu biarlah tinggal di istana itu bersama dengan ayahnya. Namun langkah yang dipilih oleh Raden Ajeng Ceplik itulah yang lain dengan yang dikehendaki oleh ayahnya maupun orang-orang tua yang telah menasehatinya. Ternyata Raden. Ajeng Ceplik itu telah mempertimbangkan, lebih baik dir inya sendiri sajalah yang meninggalkan istana itu. Tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah “ Kemana?“ Raden Ajeng Ceplik tidak mempunyai sanak kadang yang dikenalnya tinggal di Kota Raja. Mereka adalah para bangsawan termasuk Raden Bramadaru. Hampir semalam Raden Ajeng Ceplik menimbang-nimbang apa yang sebaiknya dilakukan. Namun ketika menjelang dini hari. tubuh Raden Ajeng Ceplik menjadi sangat letih. Tanpa disadarinya, maka Raden Ajeng Ceplik itupun kemudian telah tertidur. Di lantai, pada sehelai tikar, embannyapun telah tertidur pula. Agaknya emban itupun merasa terlalu letih badan dan jiwanya. Pagi-pagi Raden Ajeng Ceplik sudah terbangun. Emban itu mengantarkannya ke pakiwan. Kemudian menungguinya lagi di dalam bilik. Raden Ajeng Ceplik pagi itu tidak menjamu tamu-tamunya seperti biasanya. Ta masih tetap berada di dalam biliknya. Bahkan makan paginyapun telah dibawa ke dalam bilik itu pula. Namun Raden Ajeng Ceplik hanya makan terlalu sedikit. Pangeran Sena Wasesa dan embannya menjadi cemas melihat keadaan gadis itu. Tetapi Pangeran Sena Wasesa tidak mengatakannya kepada Endang Srini. Ia hanya mengatakan bahwa Raden Ajeng Ceplik nampak terkejut. Karena itu, maka ia memerlukan ketenangan di dalambiliknya. “Pangeran” berkata Endang Srini “Jika puteri tidak bersedia menerima aku, aku sama sekali tidak akan merasa sakit hati. Aku dapat berada dimana saja. Aku tidak akan memohon apa- apa yang tidak masuk akal. Semua yang terjadi telah aku terima dengan ikhlas” “Tidak Srini” jawab Pangeran Sena Wasesa “pada saatnya anakku itu akan menjadi tenang. Kemarin Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning telah menasehatinya. Agaknya anakku dapat mengerti sehingga mudah-mudahan untuk selanjutnya tidak ada persoalan lagi” Endang Srini tidak menjawab. Tetapi kegelisahan hati Raden Ajeng Ceplik rasa.-rasanya dapat dirasakannya pula. Apalagi karena Raden Ajeng Ceplik selalu berada di dalam biliknya saja. Dalam pada itu, ketika matahari naik kelangit, menjelang tengah hari, maka Raden Bramadaru telah mengunjungi istana Pangeran Sena Wasesa. Ia terkejut ketika seorang abdi mengatakan bahwa Raden Ajeng Ceplik nampaknya sedang sakit, karena ia selalu berada di dalambiliknya. “Katakan, bahwa aku ingin bertemu” berkata Raden Bramadaru. Abdi itupun kemudian memberanikan dir i menemui emban pemomong Raden Ajeng Srini dan mengatakan bahwa Raden Bramadaru ingin bertemu dengan Raden Ajeng Sr ini. Emban itu termangu-mangu sejenak. Ia sendiri tidak begitu senang terhadap Raden Bramadaru karena ia sudah mendengar serba sedikit tentang anak muda itu. Namun, akhirnya emban itu mempertimbangkan keadaan Raden Ajeng Ceplik yang sedang dibayangi oleh kegelisahan. Mungkin kehadiran Raden Bramadaru dapat membuat puteri itu agak tenang dan dapat menilai keadaan dengan lebih wajar. “Tentang hubungannya dengan Raden Bramadaru, pada saat lain aku masih mempunyai kesempatan untuk member ikan beberapa pendapat” berkata emban itu di dalam hatinya. Karena itu, maka emban itupun tidak memberitahukan kepada Raden Ajeng Ceplik bahwa Raden Bramadaru ingin menemuinya seperti yang sudah sering dilakukannya. Namun sikap Raden Ajeng Ceplik mengejutkan. Dengan serta merta puteri itupun membenahi pakaiannya. Kemudian mengusap matanya yang basah dan dengan tergesa-gesa keluar ke serambi. “Diajeng“ Raden Bramadaru terkejut “Apakah kau sakit?“ Raden Ajeng Ceplik mencoba untuk tersenyum. Namun senyumnya terasa sangat hambar. “Aku tidak apa-apa kakangmas” jawab Raden Ajeng Ceplik. Raden Bramadaru menjadi berdebar-debar. Seperti Raden Ajeng Ceplik sendir i ketika ia dipanggil ayahandanya, maka persoalan yang pertama-tama terbersit dihati Bramadaru adalah persoalan hubungannya dengan puteri itu. Karena itu maka dengan ragu-ragu Raden Bramadaru bertanya “Apakah yang sebenarnya terjadi diajeng. Seorang abdi istana ini mengatakan bahwa kau sedang sakit. Tetapi aku kira kau tidak sedang sakit. Tetapi ada sesuatu yang membuatmu gelisah dan cemas. Apakah parnanda Pangeran Sena Wasesa mempersoalkan hubungan kita?“ “Tidak kakangmas, tidak” jawab Raden Ajeng Ceplik dengan serta merta “ayahanda sama sekali tidak berkeberatan terhadap kunjungan kakangmas Bramadaru, Ayahandapun tidak mempersoalkannya” “Tetapi apakah sebenarnya yang telah terjadi atas dirimu?“ bertanya Raden Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik tidak segera menjawab. Tetapi iapun kemudian bangkit sambil berkata “Aku ambilkan minuman hangat untuk kakangmas” Raden Bramadaru tidak mencegahnya. Namun ketika Raden Ajeng Ceplik meninggalkannya, ia mulai merenungi keadaan gadis itu. Tentu ada satu masalah yang pelik telah mengganggu perasaan gadis itu. Sejenak kemudian Raden Ajeng Ceplik telah kembali sambil membawa semangkuk minuman panas. Ketika Raden Ajeng Ceplik duduk kembali diserambi itu, maka Bramadarupun telah bertanya sekali lagi, kenapa Raden Ajeng Ceplik nampak seperti orang sakit. “Agaknya kau telah menangis semalam-malaman” bertanya Bramadaru “wajahmu nampak letih dan kuyu” Raden Ajeng Ceplik menar ik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku memang menangis. Tetapi kemarin. Semalam aku tidak sempat tidur oleh kegelisahan” “Kenapa diajeng? Apakah pamanda Pangeran marah? Atau oleh sebab lain?“ bertanya Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik menundukkan kepalanya. Teringat juga keterangan yang diberikan oleh embannya tentang Bramadaru. Namun kesan itu sama sekali tidak dilihatnya. Bramadaru adalah seorang anak muda yang ramah, gembira dan sopan. Apalagi ia adalah saudara sepupunya, sehingga menurut pendapat Raden Ajeng Ceplik, Bramadaru bukan seorang laki- laki yang perlu dijauhi. Apalagi karena kejengkelan Raden Ajeng Ceplik kepada embannya, yang sama sekali tidak pernah mengatakan sesuatu tentang ayahandanya yang telah pernah kawin sebelum mengawini ibundanya. Dan perempuan itu kuai ternyata telah berada di istana itu. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa yang melihat puterinya telah keluar dari biliknya dan berada diserambi menemui Bramadaru, hatinya agak menjadi tenang. Meskipun anak gadisnya harus berhati-hati menghadapi Bramadaru, namun jika Bramadaru dapat menjernihkan hati puterinya, maka kehadirannya di istana itu akan diterimanya dengan pernyataan terima kasih. Sementara itu, Raden Ajeng Ceplik sendir i masih saja dicengkam keragu-raguan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya. Ia sadar, bahwa persoalan itu adalah persoalan keluarganya. Persoalan yang tidak perlu di katakan kepada orang lain diluar lingkungan keluarganya sendiri. Namun Bramadaru yang sudah terlalu sering datang kepadanya, juga pada saat-saat ayahandanya hilang dan dirinya merasa sendiri, rasa-rasanya anak muda itu sudah menjadi keluarganya pula. Bahkan Bramadaru akan dapat menjadi tempat ia mengadukan nasibnya serta minta pertimbangannya untuk memecahkan persoalan yang telah menimbulkan goncangan perasaannya itu. Untuk beberapa saat Raden Ajeng Ceplik masih tetap berdiam diri Namun di dalam dadanya telah terjadi gejolak- gejolak yang membuat nafasnya menjadi sesak. Bahkan semakin lama persoalan itu mulai menusuk kembali seperti tajamnya sembilu di ulu hatinya. “Apakah persoalanmu harus kau rahasiakan diajeng?” tiba- tiba saja Bramadaru bertanya. Pertanyaan itu mengejutkan Raden Ajeng Ceplik. Bahkan seolah-olah telah memancing kepahitan yang disembunyikannya untuk beberapa saat. Sehingga karena itu, maka diluar sadarnya, maka matanya telah menjadi basah. Namun akhirnya, Raden Ajeng Ceplik yang sudah sangat biasa bergaul dengan Bramadaru tidak lagi dapat mempertahankan desakan di dalam dadanya untuk mendapatkan tempat yang dapat menampung beban yangterasa terlampau berat untuk dipikulnya sendir i. Dengan demikian, maka sambil menitikkan air mata, Raden Ajeng Ceplik itupun mulai berbicara tentang keadaan dirinya. Perlahan-lahan agar embannya yang selalu mengawasinya itu tidak mendengarkannya. Bramadaru mendengarkan keluhan Raden Ajeng Ceplik itu dengan sungguh-sungguh. Dar i kata-kata yang pertama mengalir beruntun disela-sela isaknya yang mulai menyesakkan dadanya. Bramadaru menjadi-berdebar mendengarkan keluhan Raden Ajeng Ceplik. Semula ia menjadi kasihan juga kepada gadis itu. Gadis yang dikenalnya dengan baik, dan bahkan adik sepupunya. Tertebih-lebih lagi, ia pernah menyatakan bahwa ia ingin mempertautkan hidupnya dengan gadis itu, meskipun bagi Bramadaru hal itu sekedar merupakan salah satu tugas yang dibebankan oleh gurunya. Tetapi lambat laun, perasaan Bramadaru itu telah berubah. Ia tidak saja merasa kasihan kepada Raden Ajeng Ceplik tetapi ia sendiri menjadi gelisah. Ternyata Raden Ajeng Ceplik bukan anak satu-satunya Pangeran Sena Wasesa. Bahkan Raden Ajeng Ceplik mempunyai seorang saudara laki- laki yang justru lahir lebih dahulu dari Raden Ajeng Ceplik itu sendiri. Dengan cepat Bramadaru menghubungkan persoalan itu dengan persoalannya sendiri. Jika ia memilih Raden Ajeng Ceplik dari antara segala gadis yang dikenalnya, persoalannya adalah terletak kepada kemungkinan untuk mendapatkan seluruh warisan Pangeran Sena Wasesa. Termasuk harta benda dan pusaka yang sedang diperebutkan oleh banyak pihak. Bahkan telah merampas korban jiwa yang tidak terhitung jumlahnya, karena gurunya telah menceriterakan, bagaimana kelompok-kelompok yang ingin memiliki harta benda yang tidak ternilai harganya itu saling berbenturan dan saling menghancurkan. Karena itu, maka di dalam, dada Bramadaru sendir i telah terjadi pergolakan, sehingga perhatiannya terhadap persoalan Raden Ajeng Ceplikpun telah berkurang. Meskipun demikian, ternyata bahwa Bramadaru adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan dir i. Bagaimanapun juga kegelisahan itu terjadi pada dir inya sendiri, namun ia berhasil memaksa dirinya untuk tetap seolah-olah memperhatikan semua yang dikatakan oleh Raden Ajeng Ceplik meskipun sudak tidak menarik lagi baginya. Bramadaru menar ik nafas dalam-dalam ketika Raden Ajeng Ceplik mengakhir i ceriteranya. Bahkan sambil terisak Raden Ajeng itu berkata “Kenyataan itu terlalu pahit bagiku kakangmas”, Bramadaru mengangguk-angguk. Sesaat kemudian iapun berdesis “Ya diajeng. Aku dapat merasakan, betapa pahitnya kenyataan yang harus diajeng hadapi. Tetapi yang aku kurang mengerti, kenapa hal itu masih dilakukan oleh pamanda Sena Wasesa. Sebenarnya pamanda dapat melupakannya karena persoalan itu sebenarnya telah dapat dianggap selesai beberapa belas tahun yang lalu. Raden Ajeng Ceplik mengangguk. Katanya “Agaknya memang demikian. Seandainya ayahanda tidak bertemu lagi dengan perempuan itu, maka agaknya ayahanda tidak akan terkenang lagi peristiwa yang telah terjadi itu” “Dimana pamanda bertemu lagi dengan perempuan itu?“ bertanya Bramadaru. “Di perjalanan, pada saat ayahanda diambil orang” jawab Raden Ajeng Ceplik. Bramadaru mengangguk-angguk. Namun hatinya bergejolak. Meskipun anak laki- laki pamannya itu lahir dari seorang ibu yang derajadnya tidak sama dengan derajad ibu Raden Ajeng Ceplik, namun anak itu tentu berhak pula untuk menerima warisan. “Anak itu akan dapat menjadi penghalang” berkata Bramadaru di dalam batinya. Sesaat Bramadaru itu termenung. Menurut dugaan Raden Ajeng Ceplik, Bramadaru telah ikut merasakan kepahitan kenyataan yang harus diterimanya itu. Namun, sebenarnyalah Bramadaru sedang memikirkan kehadiran orang lain yang ternyata juga berhak atas warisan Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi anak itu akan dapat dibunuh saja” berkata Bramadaru di dalam hatinya. Dalam pada itu, Raden Bramadaru terkejut ketika Raden Ajeng Ceplik bertanya “Bagaimana menurut pendapatmu kakangmas?“ Bramadaru menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi karena persoalan itu harus dihadapinya dengan sungguh-sungguh maka Katanya “Diajeng, persoalanmu memang terlalu rumit” “Bagaimana pendapat kakangmas j ika aku meninggalkan istana ini saja?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik. Sekali lagi Bramadaru terkejut. Jiika Raden Ajeng Ceplik itu pergi, maka ada beberapa kemungkinan. Tetapi salah satu kemungkinan adalah, bahwa Pangeran Sena Wasesa justru tidak mencarinya, sehingga dengan demikian, .maka warisan itu seluruhnya akan jatuh ke tangan anak laki-laki Pangeran Sena Wasesa. Karena itu, maka sekali lagi terdengar Bramadaru berdesis “Kesalahan terbesar terletak pada pamanda Pangeran Sena Wasesa. Kenapa pamanda tidak menghindari saja pertemuan dengan perempuan itu. Seandainya pamanda harus bertemu, maka pamanda dapat saja menyatakan, bahwa tidak ada hubungan apapun dengan perempuan itu. Sehingga dengan demikian pamanda tidak usah membawanya kemari dan yang ternyata menumbuhkan persoalan baru bagi keluarga ini” Dalam pada itu, Raden Ajeng Ceplikpun menyahut “Karena perempuan itu sudah terlanjur dibawa kemari, akulah yang akan pergi” “Jangan. Jangan pergi diajeng. Itu bukan penyelesaian yang paling baik” dengan serta meria Bramadaru mencegahnya “Kau harus tetap disini. Jika harus ada yang pergi, maka biarlah perempuan dan anak laki- lakinya itu saja yang pergi” Tetapi Raden Ajeng Ceplik menggeleng. Katanya “Ayahanda tidak akan membiarkannya pergi. Jika mereka yang pergi ayahanda akan mencarinya ke ujung bumi sekalipun. Tetapi jika aku yang harus meninggalkan istana ini, maka tidak akan ada keberatan apapun bagi slapapun” “Kenapa diajeng menganggap bahwa orang itu lebih penting dari diajeng sendiri?“ Raden Ajeng Ceplik merenung sejenak. Namun akhirnya iapun berceritera tentang perempuan itu dan anak laki-lakinya dalam hubungannya dengan harta benda dan pusaka yang pernah disimpan oleh ayahandanya. “Kedua orang ibu dan anak itu telah membantu menyelamatkan ayahanda yang menurut istilah ayadanda, lahir dan batin. Ujud lahiriahnya anak laki- laki perempuan itu ikut membebaskannya dari tangan orang-orang yang telah menculiknya. Sedangkan secara batiniah perempuan itu telah membuat ayahanda menyadari segala kekurangannya. Perempuan itu telah dengan lembut memberikan satu kesadaran kepada ayahanda, bahwa ia harus mengembalikan pusaka dan harta benda itu kepada Kangjeng Sultan” Jantung Bramadaru berdentang semakin keras. Bahkan rasa-rasanya seisi dadanya telah terguncang mendengar keterangan Raden Ajeng Ceplik tentang pusaka dan harta benda itu. Hampir diluar sadarnya Bramadaru bertanya “Jadi pamanda telah menyerahkan kembali pusaka dan harta benda itu?“ “Ya kakangmas. Pusaka dan harta benda itu telah diterima kembali oleh Kangjeng Sultan. Dengan demikian maka pusaka dan harta benda itu tidak lagi menjadi beban ayahanda” jawab Raden Ajeng Ceplik. Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh Bramadaru. Ternyata usahanya untuk mendekati Raden Ajeng Ceplik dan kemudian mengawininya sudah tidak ada gunanya lagi. Raden Ajeng Ceplik bukan anak tunggal. Karena itu, maka warisan Pangeran Sena Wasésa, tidak akan jatuh ke tangannya seluruhnya. Apalagi ketika kemudian ia mendengar bahwa Pangeran Sena Wasesa telah menyerahkan kembali pusaka dan harta benda itu. Untuk beberapa saat Bramadaru tidak dapat menjawab. Ia duduk sambil menudukkan kepalanya. Mimpinya seakan-akan bagaikan embun yang terkena panas matahari. Menguap tanpa bekas. “Aku harus dengan cepat menyampaikan hal ini kepada ayahanda Pangeran Gajahnata dan guru Ki Ajar Wrahasniti” berkata Bramadaru di dalam hatinya “Aku harus mendapat perintah-perintah terakhir. Apakah aku harus meninggalkan perempuan cengeng ini, atau ada perintah yang lain yang harus aku lakukan?“ Sementara itu Raden Ajeng Ceplrkpun berdiam dir i untuk beberapa saat. Ia merasa bahwa dengan sungguh-sungguh Bramadaru telah ikut memikirkan keadaannya. Karena itu, maka rasa-rasanya pada saat terakhir, hanya Bramadaru sajalah orang yang paling mengerti tentang kesulitannya. Karena itu, maka Raden Ajeng Ceplik itu telah melupakan semua pesan embannya tentang Bramadaru. Bahkan rasa- rasanya ia telah menumpukan semua harapannya kepada anak muda itu. Anak muda yang pernah menyatakan untuk mengikat hubungan batin yang lebih mendalam dengan dirinya. Namun sementara itu, Bramadaru menjadi kehilangan penalaran. Apa yang sebaiknya dikatakan dan dilakukan. Ternyata semua yang diharapkan pada gadis itu telah tidak ada lagi. “Aku harus mendapat petunjuk dari ayahanda dan guru” berkata Bramadaru di dalam hatinya. Karena itu, maka iapun kemudian memutuskan untuk minta diri. Namun sudah barang tentu ia tidak dapat dengan serta merta meninggalkan gadis itu begitu saja. Bramadaru menjadi berdebar-debar ketika tibat-tiba saja Raden Ajeng itu berkata “Kakangmas Bramadaru. Bagiku, jalan satu-satunya adalah meninggalkan istana ini. Aku tidak akan dapat menolak atau memohon kepada ayahanda tentang apapun juga atas perempuan dan anak laki-lakinya itu. Ayahanda sudah mengatakan kepadaku, bahwa aku hanya dapat menerima kenyataan ini. Sementara ketika dua orang tamu ayahanda memberikan beberapa petunjuk, akupun menjadi semakin yakin, bahwa kenyataan ini tidak dapat dirubah lagi dengan cara apapun juga. Karena itu, yang paling mungkin aku lakukan adalah berbuat sesuatu atas diriku sendiri. Maka sebaiknya aku meninggalkan istana ini saja. Biariah aku ikut kemana kakangmas pergi” Jantung Bramadaru berdentang semakin cepat. Namun anak muda itu harus memecahkan persoalan yang dihadapinya saat itu. Bagaimana caranya untuk minta diri agar ia dapat segera berbicara dengan ayahandanya dan gurunya. Namun akhirnya Bramadaru itupun menemukan akal juga. Dengan cerdik ia berkata “Diajeng. Baiklah aku ikut memikirkannya, apa yang sebaiknya diajeng lakukan. Justru untuk itu, agar semuanya dapat aku lakukan dengan yakin, maka biarlah aku bertemu dengan ayahanda Gajahnata. Mungkin aku akan dapat memohon segalanya dipercepat. Dengan demikian diajeng tidak semata-mata meninggalkan istana ini. Jika ayahanda Gajahnata setuju segalanya dipercepat, diantara kita tidak akan t imbul persoalan. Maksudku diantara keluargamu dan keluargaku. Berbeda dengan jika aku membawa diajeng begitu saja. Meskipun demikian segalanya akan aku pikirkan kemudian setelah aku berbicara dengan ayahanda. Jika ayahanda Gajahnata berkeberatan, mungkin aku sependapat dengan diajeng untuk meninggalkan istana ini dengan diam-diam” Raden Ajeng Ceplik mengangguk-angguk. Katanya “Segalanya terserah kepada kakangmas Bramadaru” “Karena itu, sebaiknya aku mohon diri. Biarlah segalanya dapat segera kita selesaikan dengan cepat” berkata Bramadaru kemudian. Dengan demikian maka Bramadaru itupun segera bangkit. Raden Ajeng Ceplik mengantarkannya sampai ke tangga. Namun dalam pada itu, diluar sadarnya, Bramadaru telah berpaling. Dilihatnya Raden Ajeng Ceplik, itu sekilas. Sudah berpuluh kali Bramadaru memandang wajah dan tubuh Raden Ajeng Ceplik. Namun rasa-rasanya saat itu ia telah melihatnya dengan jelas, segala lekuk tubuh gadis itu. Kulitnya yang kuning dan tubuhnya yang semampai. Wajahnya meskipun muram, namun gadis itu memang sangat cantik. “Gila“ geram Bramadaru ”gadis itu memang sangat menarik. Tetapi tidak ada gunanya lagi aku mempersulit diri untuk mengawininya, meskipun rasa-rasanya ingin juga membawanya” Sejenak kemudian, Bramadaru yang kecewa itu telah meninggalkan istana Pangeran Sena Wasesa. Namun dengan demikian justru telah tumbuh perasaan dendam kepada keluarga itu. Keluarga yang telah melenyapkan segala macam impian dan harapannya. Sementara itu sifat-sifatnya yang selama pergaulannya dengan Raden Ajeng Ceplik telah ditekannya untuk tidak muncul sehingga yang nampak oleh gadis itu adalah sifat-sifat yang baik semata-mata, tiba-tiba telah melonjak sampai ke kepala. Dengan tergesa-gesa Bramadaru kembali ke istana ayahandanya. Dengan tergesa-gesa pula ia melaporkan apa yang telah terjadi dan apa yang telah didengarnya di istana Pangeran Sena Wasesa. Pangeran Gajahnata menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Ki Ajar Wrahasniti “Aku juga sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Bramadaru tentang pusaka. Meskipun hanya baru satu dua orang di istana Demak, namun seakan-akan Kangjeng Sultan justru telah mengakui bahwa pusaka dan harta benda itu telah kembali ke perbendaharaan” “Aneh” berkata Ki Ajar Wrahasniti “Apakah Pangeran Sena Wasesa sudah gila. Seandainya pusaka dan harta-benda itu benar-benar telah kembali, apakah Pangeran Gajahnata, tidak melihat atau mendengar, harta benda yang tidak ternilai itu dibawa masuk ke dalamruang perbendaharaan?“ “Aku tidak tahu pasti, apakah harta, benda dan pusaka itu benar-benar telah dibawa masuk atau sekedar untuk mengamankannya saja” jawab Pangeran Gajahnata “Tetapi yang hampir pasti adalah bahwa Kangjeng Sultan sudah mengetahuinya langsung dar i adimas Pangeran Sena Wasesa. “Aku masih belum yakin” berkata Ki Ajar Wrahasniti “aku harus menemukan satu cara yang baik untuk memastikannya” “Tetapi pamanda Pangeran Sena Wasesa telah mengatakan hal itu kepada diajeng Ceplik. Bahkan hal itu dilakukan sehubungan dengan kehadiran perempuan yang dikatakan sebagai isterinya dan seorang anak laki-lakinya itu” Ki Ajar Wrahasniti menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Jika demikian gadis itu. tidak ada artinya lagi bagimu ngger. Kita harus mencari cara lain untuk mendapatkan harta benda dan pusaka itu jika masih belum masuk ke dalam bilik perbendaharaan” “Apakah kita akan dapat menemukannya?“ bertanya Pangeran Gajahnata. Ki Ajar Wrahasniti mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya “Kita akan berusaha. Kita akan selalu berusaha” Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Tetapi baginya jalan sudah menjadi terlalu gelap. Meskipun demikian ia tidak ingin mengecewakan Ki Ajar Wrahasniti, sehingga karena Itu, maka, iapun tidak membantahnya. Namun sementara itu Bramadarupun bertanya “Lalu, bagaimana dengan diajeng Ceplik? Apakah kita tidak akan memer lukannya lagi untuk kepentingan ini?“ “Tidak” jawab gurunya “Anak itu tidak berarti apa-apa lagi. Apalagi jika pusaka dan harta benda itu benar-benar sudah kembali ke perbendaharaan istana” “Jika belum, apakah diajeng Ceplik masih akan ada artinya?“ bertanya Bramadaru. Ki Ajar Wrahasniti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis “Mungkin masih ada antinya” “Untuk apa?“ bertanya Pangeran Gajahnata. “Puteri itu dapat kita ambil. Kita akan mengembalikan puteri itu, tetapi untuk ditukar dengan keterangan tentang pusaka dan harta benda. Jika Pangeran Sena Wasesa bersedia menunjukkannya, maka kita akan dapat mendahului Kangjeng Sultan Demak untuk mengambilnya” berkata Ki Ajar Wrahasniti. “Tidak ada gunanya” jawab Pangeran Gajahnata “adimas Pangeran Sena Wasesa akan dapat melaporkan apa yang terjadi itu kepada Kangjeng Sultan kelak j ika kita sudah mengembalikan Ceplik, sementara Ceplikpun akan dapat mengatakan siapakah yang telah mengambilnya” Tetapi Wrahasniti tertawa. Katanya “Puteri itu mengenal angger Bramadaru. Puteri itu akan mengenal pula Pangeran Gajahnata. Tetapi ia tidak, akan mengenal orang lain. Dan aku akan memer intahkan orang lain itu untuk mengambilnya. Orang yang asing sama sekali bagi para bangsawan di Demak. Kemudian, setelah Pangeran mendapat keterangan dari Pangeran Sena Wasesa tentang tempat harta benda itu disembunyikan dan sudah dibuktikan kebenarannya, maka Pangeran Sena Wasesa itu akan dapat dihapuskan saja dari sederetan bangsawan di Demak. Dengan demikian, maka semua jejak akan terhapus” Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berdesis “Tetapi apakah aku akan sampai hati melakukannya. Adimas Sena Wasesa adalah saudaraku. Dan gadis itu adalah kemanakanku” “Pusaka dan harta benda itu nilanya jauh lebih besar dari Pangeran Sena Wasesa dan Raden Ajeng Ceplik. Karena itu, maka beberapa kelompok dari berbagai padepokan telah mengorbankan begitu banyak orang untuk menemukannya. Namun ternyata mereka gagal. Jika kita kemudian hanya mengorbankan dua orang saja, apakah artinya yang dua orang itu” berkata Ki Ajar Wrahasniti. Dalam pada itu Bramadarupun berkata “Aku sependapat dengan guru, ayahanda. Jika ayahanda memberi ijin kepadaku, maka aku akan melakukannya. Aku akan mengambil diajeng keluar dari istana pamanda Sena Wasesa. Kemudian datang orang asing itu dan berpura-pura merampas diajeng. Dengan demikian, maka ia t idak akan menuduhku seandainya pada satu saat ia akan tetap hidup” Pangeran Gajahnata hanya mengangguk-angguk saja. Jika itu sudah menjadi kebulatan niat antara anaknya dan gurunya, maka ia t idak akan mencegahnya. Demikianlah, akhirnya segala sesuatunya telah dibicarakan antara Ki Ajar Wrahasniti dengan Bramadaru. Sehingga akhirnya keduanya telah menemukan kesepakatan. “Adalah kebetulan sekali, bahwa diajeng Ceplik minta kepadaku untuk membawanya pergi” berkata Bramadaru. Keduanyapun kemudian menetapkan dimana hal itu akan dilakukan dan kapan sebaiknya. Bramadarupun kemudian minta diri sambil berkata “Aku akan menemui diajeng Ceplik. Aku akan minta kepadanya untuk keluar dari halaman istana. Aku menunggunya di pintu butulan yang tidak terjaga. Semuanya akan dapat berjalan dengan lancar. Dan sebaiknya aku lakukan menjelang tengah malam” Gurunya sependapat, sehingga Bramadarupun kemudian minta dir i untuk menemui Raden Ajeng Ceplik Di istana Pangeran Sena Wasesa, Bramadaru disambut dengan penuh harapan oleh Raden Ajeng Ceplik. Sementara itu, emban pemomongnya menjadi cemas melihat kehadiran Bramadaru yang seakan-akan hilir mudik dihari itu. Tetapi emban itu tidak dapat berbuat apapun juga, selain mencari kesempatan untuk memperingatkan Raden Ajeng Ceplik kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas dirinya. Seperti yang sudah dibicarakannya dengan gurunya, maka Bramadarupun kemudian menyatakan kesediaannya untuk pergi bersama Raden Ajeng Ceplik. “Ayahanda Gajahnata tidak dapat mempercepat persoalan diantara kita. Tetapi ayahanda bersedia melindungi j ika kita memang ingin melarikan diri. Tetapi cara yang kita tempuh harus sedemikian cermatnya, sehingga tidak seorangpun yang mengetahui, bahwa kita telah pergi bersama-sama kecuali ayahanda Gajahnata” berkata Bramadaru perlahan-lahan sekali sehingga hanya dapat didengar oleh Raden Ajeng Ceplik saja. “Aku serahkan segalanya kepadamu kakangmas Bramadaru” desis Raden Ajeng Ceplik. Dengan teliti Bramadaru memberikan pesan kepada adik sepupunya agar mereka tidak akan mengalami kesulitan. Katanya “Jika kepergian kita diketahui oleh pamanda Sena Wasesa, maka mungkin sekali pamanda akan menghukumku” “Ayahanda tidak akan memperdulikanku lagi” berkata Raden Ajeng Ceplik “kemanapun aku pergi agaknya ayahanda tidak lagi mempersoalkan. Kembali atau tidak kembali, karena ayahanda telah mendapat ganti yang lebih lengkap. Seorang isteri dengan seorang anak laki-laki yang mampu menolongnya. Jadi, apakah artinya aku seorang perempuan yang tidak mampu berbuat apa-apa ketika segerombolan orang datang menculik ayahanda dari istana ini, selain jatuh pingsan” “Mungkin memang demikian diajeng. Tetapi mungkin juga, pamanda merasa tersinggung karenanya meskipun tidak menghiraukan diajeng lagi. Karena itu, kita memang harus berhati-hati” berkata Bramadaru. Iapun kemudian memberikan petunjuk, bahwa lewat tengah malam Raden Ajeng Ceplik harus keluar dari pintu butulan yang tidak dijaga. “Bukankah diajeng dapat melakukannya?“ bertanya Bramadaru. “Ya kakangmas. Disebelah gandok ada sebuah pintu butulan yang dalam keadaan biasa tidak dijaga. Tetapi pintu gandok itu di selarak dengan kuat dari dalam” jawab Raden Ajeng Ceplik. “Diajeng dapat membukanya?“ bertanya Bramadaru pula. “Tentu. Aku dapat membukanya dan aku dapat keluar dari pintu itu” jawab Raden Ajeng Ceplik. “Baiklah. Jadi aku akan menunggu di luar pintu butulan di sebelah gandok kir i. Bukankah begitu?“ bertanya Bramadaru. “Ya kakangmas. Mudah-mudahan para tamu ayahanda itu sudah tertidur nyenyak” jawab Raden Ajeng Ceplik. “Mereka tidak berkepentingan. Mereka tidak akan menghiraukan kita. Mereka tidak akan berbuat apa-apa” berkata Bramadaru. Demikianlah ketika semua pembicaraan telah masak, Bramadaru itupun minta diri meninggalkan istana itu. Sekali lagi ia memberikan beberapa pesan, agar Raden Ajeng Ceplik tidak salah langkah. Sepeninggal Bramadaru, Raden Ajeng Ceplik menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia telah mendapatkan jalan keluar dari kesulitannya. Jika ia keluar dari istana itu, maka ia tidak akan merasa lagi tersiksa. Justru karena itu, maka rasa-rasanya hari menjadi sangat lamban. Matahari seakan-akan tidak bergerak di tempatnya. Namun akhirnya malampun turun juga. Perlahan-lahan matahari terbenamdibalik gunung. Emban pemomong Raden Ajeng Ceplik itu menjadi heran karena di sore itu Raden Ajeng Ceplik tidak nampak terlalu sedih seperti sebelumnya. Bahkan Raden Ajeng Ceplik itu telah mulai memperhatikan dir inya lagi. Berbenah diri dan sedikit berhias. “Mudah-mudahan puteri dapat segera wajar kembali” berkata emban itu di dalami hatinya. Tetapi bagaimanapun juga ia menjadi kecewa jika yang dapat memulihkan kegembiraan Raden Ajeng Ceplik itu adalah Raden Bramadaru. “Ia akan menuntut terlalu banyak” berkata emban itu di dalam hatinya pula” bahkan puteri akan melupakan semua pesan-pesanku sehingga ia akan jatuh ke dalam satu keadaan yang tidak akan kalah pahitnya dari kenyataan yang dihadapinya sekarang. Bahkan jauh lebih pahit” Tetapi emban itu masih belum berbuat apa-apa. Jika dengan demikian keadaan puteri menjadi suram kembali, ia akan menanggung akibatnya pula. Dalam pada itu, setelah makan malam, puteri itupun duduk sesaat diserambi. Meskipun udara malam mulai dingin, tetapi puteri itu t idak menghiraukannya. Bahkan dengan telit i diamatinya gandok yang disediakan bagi para tamu ayahandanya. Dipaling depan adalah sebuah ruang yang tidak terlalu luas. Kemudian bilik yang dipergunakan oleh para tamunya laki- laki. Sebuah longkangan kecil di belakang membatasinya dengan bilik yang dipegunakan oleh dua orang perempuan. Yang tua diantara mereka tentu yang dimaksud oleh ayahandanya. Endang Srini yang sebenarnya adalah ibu tirinya. “Ia begitu angkuh. Sama sekali tidak mau berkenalan dengan aku seperti juga perempuan yang muda, yang katanya memiliki kemampuan seorang laki-laki. Apa lagi jika nanti perempuan itu sudah dinyatakan dengan resmi oleh ayahanda, bahwa perempuan itu adalah isteri Pangeran Sena Wasesa. Maka ia tentu akan lebih menghina aku lagi. Bahkan mungkin ia tidak akan member i aku kesempatan apapun juga. sehingga aku akan tersisih. Karena itu, lebih baik aku pergi. Aku tidak mau melihat perempuan itu menyakiti hatiku. Apalagi anaknya, laki-laki. Ia merasa lebih tua dari aku, dan seorang laki-laki pula yang telah mampu menolong ayahanda dari kesulitan” berkata Raden Ajeng Ceplik di dalamhatinya. Ternyata gandok itu segera menjadi sepi. Pintu-pintupun telah tertutup. Tidak seorangpun lagi yang berada diserambi setelah mereka makan malam. “Mudah-mudahan mereka tidak mengganggu aku malam nanti” berkata Raden Ajeng Ceplik itu di dalamhatinya. Dalam pada itu, ketika malam menjadi semakin malam, maka emban pemomong Raden Ajeng Ceplik itupun dengan hati-hati telah mempersilahkan puteri itu masuk ke dalam. “Malam terlalu dingin puteri” berkata embannya itu. Puteri itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku memang memer lukan kesejukan bibi. Malam terasa segar dan aku sama sekali t idak merasa dingin” “Tetapi sebaiknya puteri masuk ke dalam. Angin malam dapat membuat puteri sakit ” sahut embannya. Raden Ajeng Ceplik tidak mau membuat embannya menjadi curiga. Karena itu, maka iapun kemudian bangkit dan masuk ke bilik tidurnya. Setelah minum beberapa teguk, maka Raden Ajeng Ceplik itupun kemudian membar ingkan dirinya sambil berkata “Bibi, jangan hiraukan aku lagi. Aku sudah tidak apa-apa. Aku mengerti apa yang dikatakan oleh ayahanda dan apa yang dikatakan oleh tamu-tamu ayahanda. Jika kau ingin tidur di bilikmu sendiri, tidur lah disana. Tetapi besok pagi-pagi jangan lupa membangunkan aku seperti kebiasaanmu. Aku harus menyediakan minuman bagi tamu-tamu ayahanda” Emban itu.menarik nafas dalam-dalam. Agaknya hati Raden Ajeng Ceplik benar-benar sudah menjadi tenang. Namun kembali emban itu merasa kecewa j ika ketenangan itu diperolehnya dari Raden Bramadaru, karena emban itu percaya, bahwa Raden Bramadaru sering melakukan tindak yang dapat menodai nama baik seorang gadis, bermodalkan ketampanan wajahnya dan, kemampuannya berpura-pura menghadapi gadis-gadis itu. Sepeninggal embannya, Raden Ajeng Ceplikpun segera berbenah diri. Ia tidak akan membawa pakaian kecuali yang dipakainya dan selembar kain panjang. Tetapi Raden Ajeng Ceplik telah menyiapkan semua perhiasannya yang diletakkannya di dalam. sebuah peti kecil. Hanya peti kecil itu sajalah yang akan dibawa oleh Raden Ajeng Ceplik. Perhiasan itu akan dapat dijualnya jika ia memerlukan uang selama ia berada di dalam tempat persembunyiannya, sampai saatnya ia benar-benar dapat diterima oleh keluarga Pangeran Gajahnata dengan cara apapun juga. Atau meskipun ia harus pergi jauh- jauh dari Kota Raja bersama Raden Bramadaru. Demikianlah, malampun menjadi semakin malam. Ketika ayam jantan terdengar berkokok, maka Raden Ajeng Ceplikpun telah mempersiapkan diri. “Sebentar lagi. aku harus meninggalkan istana ini. Istana yang sudah aku huni lebih dar i tujuhbelas tahun” berkata Raden Ajeng Ceplik itu di dalamhatinya. Demikianlah, ketika Raden Ajeng itu merasa bahwa malam telah melampaui pertengahannya, maka iapun dengan sangat berhati-hati telah keluar dari biliknya. Dengan sangat berhati- hati pula Raden Ajeng Ceplik telah membuka pintu samping dan keluar ke serambi. Malam terasa sangat sepi. Di regol depan beberapa orang masih terkantuk-kantuk dan bertahan untuk t idak tertidur. Mereka tidak akan membiarkan peristiwa hilangnya Pangeran Sena Wasesa itu terulang lagi, Namun dalam keadaan sehat, maka Pangeran Sena Wasesa adalah orang yang sulit untuk dikuasai oleh siapapun juga. Bahkan, justru karena di gandok ada beberapa orang tamu yang memiliki ilmu yang tinggi, maka para penjaga itu seakan-akan telah memastikan bahwa malamitu tidak akan terjadi sesuatu di istana itu. Namun dalam pada itu, Raden Ajeng Ceplik telah turun dari tangga serambi istananya, menyelusuri dinding rumah ke arah belakang. Kemudian dengan sangat hati-hati Raden Ajeng Ceplik itupun melintasi longkangan dan berhenti di bawah sebatang pohon kanthil di halaman samping. Dalam keadaan yang biasa, Raden Ajeng Cepilk tidak akan berani turun ke halaman. Bahkan untuk pergi ke pakiwanpun Raden Ajeng Ceplik sering membangunkan embannya yang tidur dibilik belakang. Dalam pada itu, ketika Raden Ajeng Ceplik yakin, bahwa tidak ada orang yang melihatnya, maka iapun telah berlari- lari kecil menuju ke pintu butulan yang diselarak. Dengan sangat hati-hati pula, maka Raden Ajeng Ceplik itupun telah mengangkat selarak yang berat itu. Sejenak kemudian, maka pintu butulan itupun telah terbuka. Demikian Raden Ajeng Ceplik melangkah keluar, maka terdengar suara lambat di sebelah “Diajeng Ceplik?“ Raden Ajeng Ceplik tertegun, Iapun menarik nafas dalam- dalam ketika ia melihat Bramadaru muncul di dalami kegelapan, sambil berdesis “Ini aku diajeng” “O, sokurlah kakangmas. Aku sudah cemas, bahwa kakangmas tidak akan datang” jawab Raden Ajeng Ceplik dengan berbisik. “Kenapa tidak? Bukankah aku bukan pembual? Aku melakukan apa yang aku katakan. Aku memegang setiap janji yang aku ucapkan” jawab Bramadaru. “Terima kasih kakangmas” desis Raden Ajeng Ceplik. “Nah. Jangan terlalu lama. Mari, kita tidak mempunyai banyak waktu. Jika para peronda itu nanti mengelilingi halaman istana dan mereka menemukan pintu butulan itu terbuka, maka kita akan mengalami kesulitan” berkata Bramadaru kemudian. Demikianlah, maka Bramadarupun kemudian membawa Raden Ajeng Ceplik berjalan menyusuri dinding istana. Namun kemudian merekapun memasuki sebuah jalan sempit dan mulai menjauhi istana itu. Raden Ajeng Ceplik masih berpaling. Ada satu perasaan yang tergetar dihatinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pada satu saat ia harus meninggalkan istana itu dengan cara yang aneh. Dengan cara yang tidak sewajarnya. Tetapi Raden Ajeng Ceplik telah memilih cara itu. Namun dalam pada, itu, demikian Raden Ajeng Ceplik dan bramadaru meninggalkan pintu butulan itu, dua orang penjaga regol telah bersiap-siap untuk meronda berkeliling. “Mari” berkata yang seorang “Kau hanya menguap saja. Bagaimanapun juga, kita tidak boleh lengah” Kawannya bangkit berdiri. Tetapi ia masih menggeliat dan menguap sekali lagi. “Saat-saat begini, justru sadt yang paling baik untuk mengantuk” jawab kawannya yang menggeliat itu. “Mengantuk atau tidur?“ bertanya yang lain. “Mengantuk. Bukan tidur. Jika kita tidur, maka kita tidak akan dapat merasakan lagi. Tetapi jika kita duduk terkantuk- kantuk sambil bersandar disudut dinding, alangkah nikmatnya. Sesaat kita terlena, sesaat kita tersandar” jawab kawannya. “Ah, kau memang pemalas” geram yang lain “Mari kita akan meronda” Demikianlah kedua orang itupun kemudian memandi tombak-tombak mereka. Perlahan-lahan mereka melangkah berkeliling. Mereka menyusuri dinding halaman. Dengan cermat mereka memperhatikan setiap sudut. Bahkan gandok yang berisi para tamu itupun tidak terlepas dari pengamatan mereka. Beberapa langkah kemudian, maka merekapun mulai memasuki bayangan sebatang pohon kanthil. Mereka tertegun ketika mereka melihat pintu butulan. Bahkan keduanyapun kemudian telah melangkah mendekati. Namun ternyata pintu butulan itu masih tertutup rapat. Selaraknya masih terpasang dengan kuat. Tidak ada bekas apapun juga yang pantas mereka cur igai. “Tidak ada apa-apa” desis yang seorang? ”pintu itu masih tertutup rapat” “Siapa yang akan membuka pintu itu dumalam hari?“ bertanya kawannya. Yang lain tidak menyahut. Namun kemudian keduanyapun melangkah menjauh meneruskan tugas mereka mengelilingi seluruh halaman. Maka dengan demikian, tidak seorangpun dari para pengawal yang mengetahui bahwa Raden Ajeng Cepik telah meninggalkan istana bersama Bramadaru. Dan tidak seorangpun dari mereka yang pernah mengetahui bahwa regol butulan itu pernah terbuka. Sementara itu, Raden Ajeng Ceplik dan Bramadaru telah melintasi beberapa halaman rumah disebelah istana Pangeran Sena Wasesa. Semakin lama mereka berjalan semakin jauh. Bahkan merekapun berjalan semakin cepat, agar mereka tidak dapat dilacak lagi oleh para petugas di istana Pangeran Sena Wasesa seandainya ada diantara mereka yang mengetahuinya. Disepanjang jalan, keduanya tidak terlalu banyak berbicara. Raden Bramadaru telah membimbing Raden Ajeng Ceplik dan kadang-kadang menariknya untuk berjalan lebih cepat. “Marilah diajeng. Jika para pengawal menemukan pintu butulan itu terbuka, maka mereka akan menyadari, bahwa kau tidak ada di dalam bilikmu” berkata Raden Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik tidak menjawab. Ia berusaha untuk berjalan secepat-cepat dapat dilakukannya. Bahkan karena ia tidak ingin mengalami kesulitan jika para pengawal sempat menyusulnya, maka dengan tidak segan-segan Raden Ajeng Ceplik itu telah menyingsingkan kain panjangnya sampai ke lutut. Demikianlah keduanya menjadi semakin jauh dari istana Pangeran Sena Wasesa, Mereka kemudian memasuki daerah yang sepi dan tidak banyak dihuni orang. Bahkan semakin lama mereka menjadi semakin jauh masuk ke daerah yang ditumbuhi oleh batang-batang perdu disela-sela pategalan. “Kita kemana kakangmas?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik. “Semakin jauh semakin baik diajeng” jawab Bramadaru. “Apakah kakangmas sudah menentukan tujuan?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik. “Kita akan pergi kesebuah padukuhan diseberang hutan perdu. Aku mempunyai seorang pekatik yang tinggal di padukuhan itu. Sedikit diluar Kota Raja. Ayahanda sudah memer intahkan pekatik itu untuk menyiapkan tempat bagimu” Jawab Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik tidak bertanya lagi. Ia menurut saja ketika Bramadaru membimbingnya memasuki hutan perdu. Dalam, pada itu, perjalanan itupun menjadi semakin sulit Sehingga Raden Ajeng Ceplik harus menyingsingkan kain panjangnya lebih tinggi lagi, agar tidak tersangkut-sangkut pepohonan perdu. Tanpa berprasangka apapun juga, ia mengikut saja kemana Bramadaru membawanya. Sebenarnyalah Bramadaru membawa Raden Ajeng Ceplik ke tempat yang memang sudah ditentukan. Tetapi tidak di rumah seorang pekatik seperti yang dikatakan oleh Bramadaru. Mereka berdua menuju ke tempat yang sudah ditentukan bersama dengan gurunya. Sebagaimana telah disepakati, di tempat itu sudah menunggu seorang yang ditugaskan oleh Ki Ajar Wrahasniti untuk merampas Raden Ajeng Ceplik dan membawanya ke tempat yang tersembunyi. Dengan demikian, maka mereka akan dapat memaksa Pangeran Sena Wasesa untuk menunjukkan dimana ia menyimpan pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu. oooOooo- 

Jilid 23 
BRAMADARU menjadi berdebar-debar ketika mereka menjadi semakin dekat dengan tempat yang sudah ditentukan. Rasa-rasanya sebuah tugas yang berat harus dilakukan. Namun diluar kehendaknya ketika Raden Ajeng Ceplik kakinya tersangkut pada sebatang akar kayu dan hampir saja jatuh terjerembab, maka dengan serta merta Bramadarupun telah menangkapnya, sehingga Raden Ajeng Ceplik itu jatuh ketangannya. Diluar kehendaknya pula t iba-tiba saja Bramadaru merasa gadis cantik itu berpegangan pinggangnya. “O“ desis Raden Ajeng Ceplik “kakiku tersandung “ Bramadaru masih memegangi tubuh Raden Ajeng Ceplik Rasa-rasanya tubuh itu begitu hangatnya. Tubuh seorang gadis cantik yang berjalan di hutan perdu sehingga harus menyingsingkan kain panjangnya. Tiba-tiba saja darah Bramadaru mulai bergejolak Sifat dan kebiasaannya menghadapi gadis-gadis cantik telah menembus lapisan kesadarannya sehingga sulit untuk dikuasainya lagi. “Gadis ini sudah tidak ada gunanya lagi“ berkata anak muda itu didalam hatinya “karena itu, kau akan dapat memper lakukan apa saja menurut kehendakku. Aku tidak peduli, apakah yang akan dilakukan oleh Pangeran Seria Wa- sesa terhadap anak perempuannya ini. Bahkan anak ini akan dapat aku bungkam untuk selamanya, atau disembunyikan di- tempat tertentu justru karena kecantikannya dan aku memer lukannya. Dengan demikian maka pamanda Sana Wasesa tidak akan mengetahui apa yang pernah terjadi atasnya.“ Karena itu, maka tiba-tiba saja Bramadaru justru memeluknya semakin erat, sehingga Raden Ajeng Ceplik itu menjadi sulit untuk bernafas. “Kakangmas“ desis Raden Ajeng Ceplik “apa yang kau lakukan?“ Perlahan-lahan Bramadaru melepaskan gadis itu. Kemudian dipandanginya sebatang pohon nyamplung yang nampak beberapa puluh langkah di hadapannya. Di bawah pohon itu telah siap seseorang yang akan merebut gadis cantik itu. “Supaya orang itu tidak menggangguku, aku akan menemuinya saja“ berkata Bramadaru didalamhatinya. Dengan demikian, maka Bramadaru itupun telah membimbing Raden Ajeng Ceplik untuk maju lagi beberapa puluh langkah mendekati sebatang pohon nyamplung yang besar itu. Namun terasa oleh Raden Ajeng Ceplik ada perubahan sikap kakak sepupunya itu. la memegang tangannya semakin erat. Setiap kali Bramadaru itu memandanginya seperti belum pernah melihatnya. Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah mendekati pohon nyamplung yang besar itu. Pohon yang nampak kehitaman didalamgelapnya malam. Ternyata Raden Ajeng Ceplik menjadi agak ketakutan untuk melewati bayangan pohon nyamplung yang besar itu, sehingga karena itu, maka langkahnyaipun tertegun. Bramadaru menariknya perlahan-lahan. Namun gadis itu berdesis “Aku takut kakangmas.“ Bramadaru mengerutkan keningnya. Desisnya “Kenapa takut?“ Raden Ajeng Ceplik tidak segera menjawab. Dipandanginya pohon nyamplung yang besar berdaun r imbun. Didalam keremangan malam nampaknya seperti sesosok raksasa yang berambut gimbal siap untuk menerkamnya. “Marilah“ Bramadaru menarik tangan Raden Ajeng Ceplik “jangan menunggu sampai orang-orang yang mengejar kita menemukan kita disini.“ “Tetapi pohon itu“ desis Raden Ajeng Ceplik. “Kenapa dengan pohon itu ? Marilah. Pohon itu tidak api- opa. Pohon nyamplung itu tidak akan menelan kita.“ Bramadaru hampir kehilangan kesabaran. Karena Radon Ajeng Ceplik masih ragu-ragu, maka Bramadarupun menariknya sambil berkata “Jangan membuat kesulitan. Kita akan bcnalan cepat melintasi pohon itu. Selanjutnya kita akan segera sampat ketempat yang kita tuju dengan aman.“ Raden Ajeng Ceplik tidak dapat membantah. Apalagi ketika tiba-tiba saja Bramadaru berkata “Atau kau memilih aku tinggalkan sendiri disini ? Mungkin seekor har imau akan datang menyergapmu atau mungkin sesosok hantu yang turun dari pohon nyamplung itu.“ “O. Jangan“ Raden Ajeng Ceplik menjadi sangat ketakutan. “Karena itu. marilah. Kita harus cepat-cepat menyingkir untuk menghindarkan dir i dari kemungkinan yang lebih buruk jika pamanda mengetahui apa yang terjadi.“ berkata Bramadaru sambil menar ik Raden Ajeng Ceplik Raden Ajeng Ceplik tidak membantah. Iapun kemudian mengikut saja kemana Bramadaru membawanya. Bahkan semakin dekat dengan pohon nyamplung yang besar itu, Raden Ajeng Ceplik justru semakin melekat kepada kakak sepupunya. Kegelapan yang kelam dibawah pohon nyamplung itu membuat Raden Ajeng Ceplik menjadi gemetar. Namun tiba-tiba saja Bramadaru berhenti justru dibawah pohon nyamplung yang menakutkan itu. Sejenak Raden Ajeng Ceplik bagaikan membeku. Namun ketakutan yang sangat membuatnya menjadi gemetar. Bahkan diluar sadarnya. Raden Ajeng itu telah memeluk kakak sepupunya. Darah Bramadaru bagaikan menggelegak. Gadis itu sangat cantik dan hangat. Seperti gadis-gadis cantik yang lain, maka Raden Ajeng Ceplik itu membuat jantung Bramadaru berdetak semakin cepat. Meskipun gadis itu adalah adik sepupunya, namun kegelapan benar-benar telah mencengkamnya, sehingga nalarnya telah menjadi gelap pula, seperti gelapnya malamdi-bawah pohon nyamplung itu. Meskipun demikian Bramadaru masih menunggu orang yang mendapat tugas untuk mencegatnya. Jika tiba-tiba saja orang itu datang, maka orang itu hanya akan mengganggunya. Karena itu, ia akan menunggu dan berterus terang kepadanya, apa yang akan dilakukannya atas gadis itu. Gadis cantik yang sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya. Ia akan dapat memperlakukan gadis itu sekehendak hatinya, sementara itu orang lain akan dapat memeras Pangeran Sana Wasesa. “Tidak ada keharusan untuk menyerahkan gadis ini kembali kepada pamanda Pangeran Sena Wasesa“ berkata Bramadaru didalam hatinya “jika pamanda telah menunjukkan harta benda dan pusaka itu, maka segala-galanya telah selesai. Persoalan gadis inipun selesai pula. Dan pamanda tidak akan tahu untuk selamanya, siapakah yang pernah membawanya pergi dari istananya.“ Dalam pada itu. Raden Ajeng Caplikpun menjadi semakin gemetar. Dengan suara sendat ia berkata “Marilah kakangmas, kita bergeser keluar dar i bayangan pohon ini.“ “Jangan takut“ jawab Bramadaru “tidak ada yang akan mengganggu kita disini.“ “Bukankah kakangmas akan membawa aku ketempat yang sudah ditentukan ? Dirumah pekatik di padukuhan sebelah ?“ ajak Raden Ajeng Ceplik yang ketakutan “dan bukankah kita harus dengan cepat berlalu agar tidak ada orang yang dapat menyusul kita.“ “Tidak ada orang yang akan mencari kita dibawah pohon nyamplung ini“ jawab Bramadaru. “Baru saja kakangmas mengatakan, mungkin ada orang yang akan menyusul kita“ desis Raden Ajeng Ceplik. “Mungkin dapat terjadi ditempat terbuka itu. Tetapi tidak disini “ jawab Bramadaru pula. Raden Ajeng Ceplik tidak membantah lagi. Tetapi ia masih tetap gemetar. Apalagi ketika diluar sadarnya ia menengadahkan wajahnya memandang batang nyamplung yang panjang bagaikan menusuk sampai jantung langit Namun dalam pada itu, dalam keheningan malam yang kelam, tiba-tiba terdengar suara tertawa dari balik batang nyamplung yang besar itu. Suara tertawa perlahan-lahan. Namun kemudian menjadi semakin keras. Darah Raden Ajeng Ceplik bagaikan berhenti mengalir. Tiba-tiba saja sesosok tubuh meloncat dari balik batang nyamplung yang besar itu. Namun tidak begitu jelas bagi Raden Ajeng Ceplik yang ketakutan. Sambil memejamkan matanya Raden Ajeng Ceplik memeluk kakak sepupunya semakin erat. Nafasnya menjadi terengah- engah oleh ketakutan yang tidak tertahankan. Bramadaru sama sekali tidak terkejut. Ia memang menunggu orang yang akan mencegatnya dibawah pohon nyamplung itu. Orang yang menurut rencana akan merampas Raden Ajeng Ceplik dan membawanya pergi. Sementara itu, pemerasan akan dapat segera dilakukan, sebelum Pangeran Sena Wasesa menyerahkan pusaka dan harta bendanya itu kembali ke Gedung Perbendaharaan istana meskipun ia sudah melaporkannya kepada Kangjeng Sultan. “Ada juga orang yang tersesat dibawah pohon nyamplung ini“ geram bayangan yang meloncat dari balik pohon nyamplung itu. Namun orang itulah yang kemudian terkejut oleh jawaban Bramadaru “Aku telah merubah rencana semula. Kau tidak perlu merampasnya dari tanganku.“ Bayangan itu termangu-mangu sejenak. Tetapi hampir diluar sadarnya ia bertanya “Jadi apa yang harus aku lakukan?“ “Kau tidak usah mengambilnya dari tanganku. Aku akan mengurusnya sendiri.“ jawab Bramadaru. “Tetapi apa yang harus aku katakan kepada Ki Ajar Wrahasniti“ bertanya bayangan itu. “Katakan kepadanya, bahwa aku telah memilih jalan lain. Aku akan mengurus anak ini. Kemudian terserah kepada guru. apa yang akan dilakukannya dengan pamanda Pangeran Sena Wasesa. Tetapi guru akan tetap dapat mempergunakan anak ini untuk mengancampamanda Pangeran “ jawab Bramadaru. Bayangan itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian “Ya. Aku mengerti maksud Raden. Ki Ajar Wrahasniti atau orang yang ditugaskan akan tetap melakukan sebagaimana direncanakan. Tetapi bukankah Raden bermaksud mengingkari setelah semuanya berada ditangan Ki Ajar Wrahasniti?“ “Mengingkari apa?“ bertanya Bramadaru. “Gadis itu t idak akan kembali kepada ayahandanya“ gumam bayangan itu. “Ya. Ia tidak akan dapat mengatakan tentang keadaannya untuk selamanya.“ jawab Bramadaru. Dalam pada itu, Raden Ajeng Ceplik menjadi bingung mendengarkan pembicaraan itu. Namun tiba-tiba puteri itu teringat kepada pesan embannya tentang Raden Bramadaru. Karena itu, maka jantungnya menjadi bergelora. Ia tidak lagi dicengkam oleh ketakutan tentang pohon nyamplung yang besar itu. Tetapi pembicaraan antara Bramadaru dengan bayangan yang tidak jelas itu membuatnya benar-benar menggigil Perlahan-lahan Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk melepaskan Raden Bramadaru. Kemudian berusaha untuk mempergunakan nalarnya yang semula telah menjadi kabur. Dan ia mendengar Bramadaru itu berkata “Nah, sekarang tinggalkan kami berdua. Aku akan menyelesaikan persoalanku sendiri “ “Kakangmas“ tiba-tiba saja Raden Ajeng Ceplik berdesis “apa artinya pembicaraan kakangmas dengan orang itu?“ “Sudahlah diajeng“ jawab Raden Bramadaru “jangan hiraukan orang itu. Kita dapat menyusun rencana kita sendir i.“ “Apa maksudmu kakangmas ?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik. “Bukankah kau akan ikut bersamaku ? Mar ilah. Jangan hiraukan orang lain“ berkata Radon Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik termangu-mangu. Namun iapun terkejut ketika Raden Bramadaru itupun kemudian berkata kepada orang yang tidak nampak jelas oleh Raden Ajeng Ceplik itu “Sudahlah. Tinggalkan. Aku memerlukan gadis itu sekarang.“ “O“ orang itu terkejut. Lalu katanya “Jadi aku harus mengatakan segalanya sebagaimana adanya ?“ “Aku tidak berkeberatan“ jawab Bramadaru “katakan seperti yang aku maksudkan.“ “Baiklah“ desis orang itu “tetapi semua tanggung jawab ada di tangan Raden.“ “Aku bertanggung jawab.“ jawab Raden Bramadaru. Sejenak keadaan menjadi sepi. Namun didalam dada Raden Ajeng Cepik telah terjadi gelora yang maha dahsyat Ia mulai menilai Raden Bramadaru dengan tajam. “Kakangmas“ desis Raden Ajeng Ceplik kemudian sambil melangkah surut “apakah yang akan kakangmas lakukan ?“ Tetapi Bramadaru justru tertawa. Katanya “Kau akan pergi kemana ?. Di padang perdu ini masih berkeliaran beberapa ekor harimau. Tetapi yang lebih buruk lagi adalah j ika kau bertemu dengan sejenis hantu yang merindukan perempuan cantik. Genderuwo.“ “O“ terasa bulu diseluruh tubuh Raden Ajeng Ceplik meremang. Ketakutannya terhadap pohon nyamplung itu bagaikan tumbuh kembali. Tetapi rasa-rasanya ia sudah berhadapan dongan hantu yang turun dari pohon yang besar itu dan kemudian berdir i di hadapannya. Raden Ajeng Ceplik tidak dapat melihat wajah Bramadaru dengan jelas. Tetapi rasa-rasanya wajah itu membayangkan wajah hantu yang sangat menakutkan pula. Apalagi ketika tiba-tiba saja Bramadaru itu tertawa. Suaranya benar-benar bagaikan suara hantu yang haus darah Raden Ajeng Ceplik bergeser beberapa langkah surut. Wajahnya menjadi pucat dan nafasnya tereneah-engah. Sementara itu Bramadaru masih saja tertawa sambil melangkah maju. Katanya “Sudahlah diajeng. Jangan membuang waktu. Kau tidak akan mendapat kesempatan untuk memilih apa yang harus kau lakukan sekarang. Kau hanya dapat menerima keadaan ini tanpa mengeluh . Semuanya akan terjadi sesuai dengan keinginanku.“ “Tetapi, tetapi bukankah kakangmas adalah kakak sepupuku ?. Lebih dari itu, bukankah kakangmas mencintaiku ?“ kata-kata itu meluncur tanpa dikehendakinya sendiri. Bramadaru masih saja tertawa. Disela-sela suara tertawanya itu terdengar ia berkata “Aku bukan mencintaimu. Tetapi aku menginginkanmu. Kau memang cantik. Tetapi kau tidak lagi cukup berharga untuk dijadikan seorang isteri.” “Kakangmas“ Raden Ajeng, Ceplik hampir saja menjerit. “Menjeritlah diajeng“ berkata Raden Bramadaru “tidak akan ada orang yang mendengarnya. Tempat ini adalah tempat yang tidak pernah didatangi oleh seseorang. Apalagi di malam hari seperti ini.“ “Tetapi, bukankah kau pernah mengatakannya ?“ suara Raden Ajeng Ceplik mulai diwarnai oleh keputusasaan. “Ya, waktu itu ketika aku menganggap kau adalah gadis yang cantik dan berharga. Ketika aku menganggap bahwa kau adalah seorang gadis anak tunggal pamanda Pangeran Sena Wasesa. Karena sebenarnya yang aku inginkan sama sekali bukan kau untuk menjadi seorang isteri. Tetapi karena pamanda Pangeran Sena Wasesa memiliki pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya. Tetapi pusaka dan harta benda ini sudah dilaporkan Kangjeng Sultan dan kaupun bukan anak tunggal yang akan menjadi satu-satunya pewaris semua kekayaan pamanda itu. Karena itu, aku tidak memer lukan kau lagi untuk menjadi seorang isteri.” Wajah Raden Ajeng Ceplik yang pucat itu menjadi semakin pucat. Dengan nada tinggi ia berkata “Jika demikian Kenapa kakangmas masih juga membawa aku keluar malam ini dan bahkan sampai ketempat ini ?.“ “Jangan bodoh diajeng. Kau sudah dewasa untuk mengerti. Apa yang aku inginkan darimu. Tidak untuk menjadi seorang isteri, karena aku memang masih belum ingin kawin. Tetapi kecantikanmu tidak dapat aku lewatkan begitu saja. Karena itu. aku telah membawamu kemari. Kemudian kau akan aku sembunyikan ditempat yang tidak akan dapat diketahui oleh pamanda Pangeran Sena Wasesa. Tempat yang dapat aku datangi setiap saat sampai saatnya aku menjadi jemu.“ suara tertawa Bramadarupun meninggi. “Sementara itu. kepergianmu akan dapat menjadi alat untuk memeras pamanda Pangeran.“ Tidak ada harapan sama sekali dari Raden Ajeng Ceplik untuk dapat keluar dari tangan hantu yang sangat mengerikan itu. Lebih mengerikan dari hantu yang mungkin ada di batang pohon nyamplung yang besar itu. Namun dalam pada itu, Raden Bramadaru tiba-tiba saja sekali lagi membentak kepada bayangan yang masih saja berada dibawah lindungan kegelapan rimbunnya pohon nyamplung itu “He, kenapa kau masih ada disitu. Cepat, pergi dan sampaikan kepada guru bahwa tugasmu sudah selesai. Biarlah guru atau orang yang ditugaskan menghubungi pamanda Pangeran Sena Wasesa. minta agar gadis ini ditebus dengan pusaka dan harta benda yang masih belum terlanjur dikembalikan ke Gedung Perbendaharaan Istana Demak itu.“ “O“ orang itu tergagap. Tetapi ia masih dapat menjawab “aku terpukau oleh peristiwa ini. Aku kira, aku akan dapat membantu Raden disini.“ “Gila. Aku sobek mulutmu“ geram Raden Bramadaru. Tetapi, bayangan itu justru tertawa. Katanya “Baiklah. Aku akan meninggalkan tempat ini.“ “Cepat, sebelum aku kehilangan kesabaran.“ geram Raden Bramadaru. Orang itu memang bergeser surut. Tetapi ia berhenti lagi disebelah batang nyamplung yang besar. Sementara itu Raden Bramadaru melangkah mendekati Raden Ajeng Ceplik yang gemetar. “Tidak ada pilihan lain“ berkata Raden Bramadaru “lebih baik kau tidak mengingkari kenyataan ini agar penderitaanmu tidak menjadi semakin sakit. Sakit pada tubuhmu dan sakit pada hatimu.“ Raden Ajeng Ceplik hanya mampu bergeser mundur beberapa langkah. Namun tiba-tiba saja tubuhnya telah berada didepan sebuah semak-semak yang berdur i sehingga ia tidak dapat bergeser surut lagi. “Tidak ada gunanya. Hanya menunda waktu satu dua kejap yang dapat membuat aku semakin liar.“ geram Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik menjadi putus asa. Namun ia masih juga berteriak “Kakangmas, ayahanda akan mengambil tindakan atas perbuatan kakangmas ini. Mungkin kakangmas akan dibunuhnya kelak.“ “Pamanda Pangeran Sena Wasesa tidak mengetahui siapakah yang membawamu pergi. Besok pagi aku akan menghadap paman dan bertanya tentang kau, diajeng. Aku akan berpura-pura terkejut ketika pamanda mengatakan bahwa kau tidak ada diistana.“ Suara tertawa Raden Bramadaru itu bagaikan meledak. Semakin lama semakin keras. Sementara itu, tubuh Raden Ajeng Ceplik menjadi semakin menggigil. Gadis itu benar-benar menjadi berputus-asa. Semua pesan embannya terngiang kembali ditelinganya. Dan iapun menjadi sangat menyesal bahwa ia tidak menghiraukan pesan embannya itu. sehingga akhirnya ia terperosok dalam keadaan yang jauh lebih buruk daripada menerima ibu tiri dan saudara laki- laki didalam istananya. “Seandainya hatiku tidak bergejolak sehingga nalarku t idak terkendali“ sesal Raden Ajeng Ceplik. Tetapi sesal itu tidak berguna lagi menghadapi sikap iblis yang mengerikan itu. Dalam pada itu, Raden Bramadarupun berdesis “Kemar ilah anak manis. Kemarilah. Jangan memaksa aku datang kepadamu.“ “Tidak“ teriak Raden Ajeng Ceplik. Tetapi suara tertawa itu masih terdengar, disamping kata- katanya “cepatlah sedikit.“ Raden Ajeng Ceplik menjadi semakin menggigil. Akhirnya ketakutan ku tidak tertahankan lagi, sehingga gadis itu jatuh terduduk tanpa menghiraukan duri semak-semak yang tergores ditubuhnya. Bramadarulah yang kemudian melangkah mendekati sambil menggeremang “Kau memaksa aku berbuat lebih kasar diajeng. Aku dapat menyeretmu kebawah pohon nyamplung itu.“ Tetapi ketika Bramadaru hampir menggapai tubuh Raden Ajeng Ceplik, tiba-tiba saja terdengar suara gemerisik. Ketika Bramadaru berpaling dalam kegelapan ia masih melihat ujud orang yang telah diusirnya. “Gila. Kau masih disitu“ bentaknya. Tetapi suara gemerisik itu ternyata terdengar diarah lain. Bahkan tiba-tiba saja Bramadaru mendengar suara orang mendeham hanya beberapa langkah saja daripadanya. “Raden“ terdengar suara “jika kau menganggap bahwa tempat ini tidak pernah didatangi orang ternyata kau salah. Aku berada ditempat ini dan melihat apa yang kau lakukan.“ “Gila“ teriak Bramadaru. Kemudian terdengar umpatannya kasar. Lalu iapun bertanya “Siapa kau ?“ Sesosok bayangan muncul dari balik semak-semak “Siapa kau he?“ Bramadaru mengulangi pertanyaannya. “Aku berkewajiban untuk menyelamatkan gadis itu“ jawab orang yang baru datang itu. “Siapa kau ?“ Bramadaru berteriak semakin keras. “Aku adalah saudara laki- laki gadis itu. Aku juga putera Pangeran Sena Wasesa meskipun dari ibu yang berbeda. Tetapi aku merasa wajib menolong adikku.“ jawab orang itu. “Gila Siapa kau he? Siapa?“ Bramadru menjerit-jerit oleh kemarahan yang menghentak-hentak didadanya. “Orang memanggilku Daruwerdi.“ jawab orang itu. Tiba-tiba saja secercah harapan telah terbit kembali dihati Raden Ajeng Ceplik. Orang itu mengaku saudara laki- lakinya. Kakaknya sendiri. Kemarahan Raden Bramadaru tidak tertahankan lagi. Gadis cantik yang sudah ada ditangannya itu tidak boleh terlepas lagi. Namun tiba-tiba saja ada orang yang datang untuk merebutnya. Sementara itu. Raden Ajeng Ceplikpun menjadi termangu- mangu. Rasa-rasanya ia berdiri di ujung jalan simpang. Ia telah menolak kehadiran anak muda yang menurut keterangan ayahnya adalah saudaranya sendiri meskipun tidak seibu. Tetapi tiba-tiba anak muda itu kini datang untuk melepaskannya dari tangan iblis yang dikiranya adalah seorang yang akan dapat melepaskannya dari himpitan perasaannya justru karena kehadiran anak muda yang disebutnya sebagai kakaknya itu bersama ibu tir inya. Namun dalam keadaan yang paling gawat itu. maka ia t idak mempunyai pilihan lain. Ia harus menyerahkan dir inya kepada perlindungan anak muda yang menyatakan dirinya sebagai kakaknya itu. Dalam pada itu, Raden Bramadaru yang marah tiba-tiba saja membentak “He, anak yang tidak tahu diri. Apakah kau dengan sengaja ingin membunuh dir imu ?“ “Tidak. Gadis itu adalah adikku. Bukankah sudah sewajarnya jika aku berusaha untuk menyelamatkannya ? Memang aku tahu bahwa kaupun adalah kakak sepupunya. Tetapi hati iblismu itu telah membuat matamu menjadi buta. Kau tidak melihat lagi, siapakah gadis yang akan kau jadikan korbanmu itu.“ Daruwerdi yang bukan seorang yang dapat bertingkah laku lembut itupun telah membentak pula. “Persetan“ tiba-tiba Bramadaru berpaling kepada orang yang berdiri di dekat pohon nyamplung itu “untunglah bahwa kau belum beranjak dari tempatmu, meskipun barangkali kaupun mempunyai maksud buruk. Tetapi ternyata sekarang ada tugas untukmu. Singkirkan anak bengal ini. Jangan beri kesempatan ia meninggalkan tempat ini, karena ia akan menjadi sangat berbahaya, karena ia akan dapat melaporkan peristiwa ini kepada pamanda Pangeran Sena Wasesa.“ “Jadi maksud Raden, anak itu harus dibunuh ?“ bertanya orang yang berada di dekat batang nyamplung yang besar itu. “Ya. Jika kau memang kepercayaan guru. maka kau tentu akan dapat melakukannya“ geramRaden Bramadaru Orang itu tertawa. Katanya “Jangankan membunuh anak itu. Orang yang disebut gegedugpun akan aku lumatkan kepalanya.“ “Lakukan. Aku akan mengurus gadis yang keras kepala ini. Jika aku menjadi kasar adalah karena salahnya sendiri.“ berkata Raden Bramadaru sambil menghentakkan tangannya. Orang yang berada disebelah batang pohon nyamplung yang besar itupun kemudian bergeser mendekati Daruwerdi. Namun Daruwerdipun segera mempersiapkan dir i menghadapi segala kemungkinan yang akan dapat terjadi atas dir inya. Dalam pada itu. Raden Ajeng Ceplik yang mulai dirayapi oleh harapan tentang keselamatannya, kembali menjadi putus asa. Namun ketika Bramadaru melangkah mendekatinya, gadis itu hampir menjerit “Tolong aku kakangmas.“ Darah Daruwerdi tersirap. Tetapi demikian ia meloncat mendekati Raden Ajeng Ceplik, orang yang semula berdiri di- dekat batang pohon nyamplung itupun telah berlari kearahnya sambil langsung menyerang. Daruwerdi terpaksa meloncat menghindarinya. Tetapi orang itu tidak melepaskannya. Sekali lagi ia menyerang sehingga Daruwerdi sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menolong Raden Ajeng Ceplik. “Gila“ geram Daruwerdi “tetapi bagaimanapun juga tingkah laku kalian harus dihentikan.“ “Tutup mulutmu“ bentak lawan Daruwerdi “kau harus dibungkam untuk selamanya. Kau harus mati disini. Jika tidak, maka kau akan menebarkan racun di istana Demak.“ “Kau akan mati lebih dahulu. Kemudian bangsawan yang tidak tahu diri itupun akan aku bunuh disini“ geramDaruwerdi. Tetapi Daruwerdi tidak banyak mendapat kesempatan untuk menolong adik perempuannya. Ia harus mengerahkan kemampuannya untuk bertempur melawan orang yang telah menyerangnya, yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Dalam keadaan yang putus asa Raden Ajeng Cepiik menjadi lemas. Anak muda yang sebenarnya adalah kakak sepupunya itu melangkah semakin dekat. “Kau membuat aku menjadi buas. Anak yang menyebut kakakmu itu justru telah membuat semakin menderita di dalam tanganku. Aku tidak peduli apa yang terjadi. Aku hanya menginginkanmu.“ geram Raden Bramadaru. Lalu katanya “Kakakmu itu akan segera diselesaikan oleh kepercayaan guru itu. Dan semuanya akan berlangsung dengan cara yang lebih buruk lagi bagimu.“ Raden Ajeng Caplik tidak dapat berbuat apapun lagi. Tubuhnya yang menggigil menjadi semakin gemetar. Ketika tangan Bramadaru menggapainya, gadis itu menjer it. Tetapi ia tidak dapat melawan ketika dengan kasar Bramadaru menyeretnya kebawah pohon nyamplung. “Semuanya akan terjadi dibawah hidung kakakmu yang merasa dir inya menjadi pahlawan“ geram Bramadaru. “Tidak Tidak“ Raden Ajeng Cepiik menjerit-jer it. Tetapi ia tidak dapat melepaskan dir i dari tangan Bramadaru yang kasar. Darah Daruwerdi bagaikan mendidih. Tetapi libatan ilmu lawannya benar-benar membutuhkan segenap perhatiannya, jika ia lengah dan kemudian ia tidak berhasil mengalahkan orang itu, maka nasib adik perempuannya akan menjadi semakin buruk. Karena itu, maka yang dilakukannya adalah justru bertempur dengan segenap kemampuannya, dan dengan sangat hati-hati Ia harus mengalahkan lawannya secepat- cepatnya sebelum terlambat. Karena agaknya Bramadaru benar-benar lelah menjadi gila Namun Daruwerdi agaknya memang tidak sendir ian. Tetapi lawan Daruwerdi memiliki kemampuan yang tinggi pula Ia tidak membiarkan dirinya digilas oleh kemampuan Daruwerdi. Karena itu. maka iapun telah bertempur dengan segenap ilmu yang ada padanya. Sementara keduanya bertempur dengan sengitnya. Bramadaru telah melemparkan Raden Ajeng Ceplik sehingga jatuh berguling dibawah pohon nyampluneg yang besar itu. Dengan kasar ia berkata “Kau tidak akan dapat berbuat apa- apa gadis liar. Kau harus tunduk kepadaku. Lakukan semua perintahku.” Raden Ajeng Ceplik menjerit sekuat-kuatnya. Tetapi Bra- madaru berkata “Menjeritlah sampai lehermu putus. Tidak ada orang yang akan mendengarnya kecuali kakakmu yang sebentar lagi akan mat i.“ Raden Ajeng Ceplik masih menjerit dengan kerasnya. Namun suaranya bagaikan lenyap ditelan desah daun nyamplung yang bergeser ditiup angin malam. Namun dalam pada itu. sekali lagi Bramadaru terkejut. Tiba-tiba saja seseorang telah meloncat dari balik pohon ryamplung seperti yang dilakukan oleh kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti. Tetapi orang itu t idak dapat segera dikenalinya. Tetapi orang itu kemudian telah membuat darah Bramadaru semakin mendidih ketika orang itu kemudian berkata “Raden, akulah yang mendengarnya kecuali Daruwerdi.“ “Anak iblis. Siapa lagi kau he ?“ teriak Bramadaru. “Sudah kau sebut. Aku adalah anak iblis yang tinggal di pohon nyamplung ini“ jawab orang itu. “Gila. Sebut namamu. Jangan berusaha untuk mempengaruhi aku“ Bramadaru itu masih berteriak oleh kemarahan yang menghentak-hentak jantungnya. “Baiklah“ jawab orang itu “namaku Jlitheng. Aku salah seorang kawan Daruwerdi.“ “Setan alas“ Bramadaru mengumpat semakin kasar. Tetapi dalam pada itu, Jlithengpun berkata “Jangan berbuat aneh-aneh Raden. Kau harus mengetahui bahwa apa yang kau lakukan ini sudah bukan lagi rahasia. Kami yang berada diistana Kapangeranan sudah mengetahui. Maksudku Istana Pangeran Sena Wasesa. “ “Bohong. Kau ingin menakut-nakuti aku he ?” geram Bramadaru. “Tidak. Tetapi sebenarnya kami sudah mengetahui Ternyata kami berhasil mengikutimu. Jika kami tidak mengetahui, mana mungkin kami ada disini sekarang ini“ jawab Jlitheng. Keringat dingin mengalir diseluruh tubuh Raden Bramadaru. Tetapi ia masih menjawab “Persetan. Tetapi kalian berdua harus mati. Mungkin kebetulan kalian melihat aku membawa diajeng Ceplik, lalu kalian mengikutinya sebelum kalian sempat melaporkan hal ini kepada pamanda.“ “Memang secara kebetulan kami melihatnya. Tetapi seorang diantara kami telah melaporkannya“ jawab J litheng. Lalu “Karena itu, menyerah sajalah Raden. Mungkin ada cara yang lebih baik untuk menyelasaikan persoalan ini. karena semuanya masih belum terlanjur terjadi“ Tetapi Bramadaru tidak mau mendengarnya. Bahkan tiba- tiba saja ia sudah mencabut senjatanya. Katanya “Kau harus mati anak gila.“ Jlitheng melangkah surut. Ia tidak dapat bertempur terlalu dekat dengan Raden Ajeng Ceplik yang masih saja terbaring dengan lemahnya. Jika Bramadaru benar-benar menjadi liar. maka nasib Raden Ajeng Ceplik tentu ada dalam bahaya. Ketika Bramadaru melihat Jlitheng melangkah menjauh, maka tiba-tiba saja iapun menyerang sambil berteriak “Jangan lari. Kau tidak akan dapat pergi dari tempat ini. Kau akan mati terkapar dibawah pohon nyamplung ini.“ Jlitheng tidak menjawab. Dengan tangkasnya ia menghindari serangan senjata Raden Bramadaru itu. Namun ia masih mengambil jarak dari Raden Ajeng Ceplik. Baru beberapa langkah kemudian, maka Jlithengpun telah mencabut pedang tipisnya pula. Ia tidak ingin mengalami satu keadaan yang pahit karena kelengahan. Bahkan jika demikian, maka nasib Raden Ajeng CeplLkpun menjadi semakin buruk. Dengan demikian, maka kedua anak muda itupun telah bertempur dengan pedang masing-masing. Bramadaru adalah murid Ki Ajar Wrahasniti. Karena itu, maka iapun memiliki kemampuan yang tinggi. Sebagaimana gurunya yang memiliki nama yang besar, maka Bramadarupun memiliki bekal yang cukup untuk memaksakan kehendaknya atas orang lain. Tetapi yang dilawannya adalah Jlitheng. Seorang anak muda yang memiliki bukan saja bekal ilmu, tetapi juga pengalaman yang jauh lebih banyak dari Bramadaru. Betapapun banyaknya pengetahuan dan betapapun tingginya ilmu Bramadaru, namun menghadapi Jlitheng segera terasa bahwa ia berhadapan dengan lawan yang berat. Demikianlah kedua anak muda itu telah bertempur dengan sengitnya. Keduanya memiliki kemampuan bermain pedang yang luar biasa. Dalam bayangan kegelapan dibawah pohon nyamplung itu, keduanya merasa bahwa mereka harus sangat berhati-hati. Tetapi justru karena kemarahan didalam dada Raden Bramadaru bagaikan meledak, maka anak muda itu telah melibat lawannya langsung kepuncak kemampuan. Bramadaru telah menekan Jlitheng dengan sekuat tenaganya, karena ia ingin pertempuran itu cepat selesai. Ia masih mempunyai persoalannya sendiri dengan Raden Ajeng Ceplik yang telah terganggu oleh hadirnya anak-anak muda dari lingkungan istana Pangeran Sena Wasesa itu. Dalam pada itu, kepercayaan Ki Ajar Wrahasnitipun telah bertempur dengan garangnya pula menyerang Daruwerdi. Tetapi seperti Jlitheng, Daruwerdi mempunyai ilmu yang nggegi-risi dan mempunyai pengalaman yang luar biasa pula. Sehingga dengan demikian, maka kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itupun seakan-akan telah membentur kekuatan yang sulit diatasinya. Raden Ajeng Ceplik yang melihat kehadiran seorang lagi dan kemudian bertempur melawan Bramadaru, merasa hadirnya harapan lagi didalam dir inya. Ia merasa sangat berterima kasih kepada anak muda yang ternyata adalah kakaknya sendir i. Kemudian hadirnya seorang lagi yang menyebut dirinya bernama Jlitheng. Seorang anak muda yang dikenalnya sebagai salah seorang tamu ayahandanya. Bahkan anak muda yang telah menyelamatkannya pada saat sebagian orang-orang yang pernah mengambil ayahnya datang kembali untuk mengambilnya pula. Dan kini anak muda itu datang lagi untuk menyelamatkannya. Perlahan-lahan Raden Ajeng Ceplik itupun bangkit. Dalam kegelapan ia melihat dua lingkaran pertempuran. Dan meskipun Raden Ajeng Ceplik itu tidak dapat melihat dengan jelas di dalam keremangan malam hari, namun Raden Ajeng Ceplik itu mengetahui bahwa yang bertempur melawan Bramadaru itu adalah orang yang menyebut dirinya Jlitheng, namun yang sudah diketahuinya bahwa sebenarnya ia adalah Raden Candra Sangkaya yang mendapat gelar kehormatan Kapangeranan dari Kangjeng Sultan karena jasa anak muda ku dan jasa orang tuanya, sedangkan yang berada dilingkaran pertempuran yang lain adalah Daruwerdi, yang sebenarnya adalah kakaknya seayah, melawan kawan Raden Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik tidak tahu, apakah kedua orang yang berusaha menyelamatkannya itu akan dapat memenangkan pertempuran. Sehingga karena itu ada niatnya untuk melarikan dir i. Tetapi ketika terpandang olehnya hutan perdu yang gelap dan luas, maka niatnya itupun telah diurungkan. Karena itu, maka akhirnya Raden Ajeng Ceplik itupun menjadi pasrah. Yang dilakukannya kemudian adalah berdoa, semoga Yang Maha Kasih akan melindunginya. Sementara itu pertempuran diantara anak-anak muda itupun menjadi semakin sengit. Bramadaru dan Jlitheng telah terlibat dalam pertempuran bersenjata. Demikian pula Daruwerdi dan kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu. Dalam kegelapan malam kengerian telah mencengkam jantung Raden Ajeng Ceplik j ika ia melihat bunga api yang berloncatan jika terjadi benturan senjata antara mereka yang sedang bertempur itu. Sedangkan gadis itu sama sekali tidak dapat membayangkan, siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu. Karena itulah maka ketegangan telah mencengkam perasaannya. Dalam doanya ia mengharap agar anak muda yang sebenarnya adalah kakaknya, serta anak muda yang menyebut dir inya Jlitheng itu dapat memenangkan pertempuran itu. Dalam pada itu, Bramadaru yang marah itu telah melibat Jlitheng dalam pertempuran yang semakin sengit. Senjatanya berputaran didalam kegelapan. Sebagai murid Ki Ajar Wra- hasniti, maka Bramadaru memiliki ilmu pedang yang nggegirisi. Tetapi Jlithengpun mampu bermain pedang dengan sangat baik. Apalagi dengan pedang tipisnya. Pedang yang ringan tetapi memiliki kemampuan dan kekuatan melampaui pedang kebanyakan. Karena itu, Jlitheng sama sekali tidak gentar untuk membenturkan pedangnya. Tetapi pedang yang ringan itu akan cepat menggeliat dan mematuk lawannya. Dalam pada itu Daruwerdipun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Dengan pengalaman yang luas, maka Daruwordi segera dapat mengimbangi ilmu lawannya yang keras dan cepat. Sambil berloncatan diantara gerumbul-gerumbul perdu yang kadang berduri Daruwerdi dan lawannya telah saling menyerang. Desgan pedang terjulur kepercayaan Ki Ajar Wra- hasniti itu meloncat sambil berteriak nyaring. Suaranya menggetarkan udara malam dipadang perdu yang luas itu serta seakan-akan telah menggetarkan daun-daun dibatang pohon nyamplung yang besar itu. Namun ternyata Daruwerdi tidak kalah tangkasnya. Dengan bergeser menyamping ia menghindari serangan lawannya. Bahkan dengan segenap kekuatannya ia telah memukul pedang lawannya. Hampir saja pedang itu terlepas dari tangan kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu. Namun orang itu masih beruntung. Ia masih mampu menahan senjatanya itu sehingga tidak terloncat jatuh. Dalam pada itu, Daruwerdi mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak lawannya. Ketika lawannya sedang memperbaiki keadaannya, maka Daruwerdilah yang kemudian menyerang. Tetapi lawannya masih sempat meloncat beberapa langkah surut. Daruwerdi tidak melepaskan lawannya. Iapun segera memburunya dengan serangan beruntun. Tetapi kepercayaan Ki Ajar Wrahasnit i itu masih sempat melepaskan dir i dan bahkan kemudian berhasil memperbaiki keadaan dan siap untuk bertempur dengan kemampuannya sepenuhnya. Dalam pada itu, Jlitheng yang bersenjata pedang tipis itupun bertempur dengan serunya. Namun baik Jlitheng maupun lawannya benar-benar dicengkam oleh ketegangan. Malam rasa-rasanya bertambah kelam di bawah bayangan pohon nyamplung raksasa itu. Dengan demikian keduanya benar-benar harus mempergunakan pengamatan inderanya dengan sungguh-sungguh. Tetapi karena Jlitheng sengaja memancing lawannya untuk bertempur sambil menjauhi Raden Ajeng Ceplik, maka akhirnja keduanyapun telah keluar dari bayangan rimbunnya daun pohon nyamplung yang besar itu. Betapapun kemarahan Bramadaru, namun berhadapan dengan Jlitheng anak muda itu t idak banyak dapat berbuat. Jlitheng memiliki beberapa kelebihan. Selain pada dasarnya pedang tipisnya memang ringan namun kuat, kecepatan gerak-nyapun melampaui kecepatan gerak lawannya. Karena itu, maka Jlitheng dalam beberapa saat kemudian berhasil mendesak lawannya. Ia tidak lagi berusaha menarik Bramadaru keluar dari bayangan pohon nyamplung itu. Tetapi Jlitheng kemudian bergeser membelakangi pohon nyamplung itu dan mendesak lawannya menjadi semakin jauh. Pertempuran di kedua lingkaran itu memang menjadi semakin seru. Tetapi beberapa saat kemudian ternyata bahwa Bramadaru benar-benar telah terdesak. Dengan pedang tipisnya Jlitheng mampu membuat lawannya kadang-kadang menjadi bingung. Apalagi kemarahan yang menghentak- hentak di dalam dada Bramadaru membuatnya kurang berhati-hati karena dorongan perasaannya yng menggelegak. Perlahan-lahan Jlitheng akhirnya benar-benar mampu menguasai lawannya. Kemampuan bermain pedang Raden, Bramadaru seakan-akan telah terkurung oleh putaran pedang tipis Jlitheng yang mendebarkan. Serangan Jlithengpun seakan-akan telah datang dari segala arah, seakan-akan Jlitheng itu lelah berubah menjadi ampat orang yang berdiri diempat kiblat dengan pedang yang berputaran. “Ilmu iblis manakah yang diserap oleh anak gila ini“ geram Bramadaru didalamhatinya. Meskipun demikian Bramadaru yang marah itu tidak segera melihat dan mengakui kenyataan yang dihadapinya. Ia masih saja bertempur dengan kemarahan yang menghentak-hentak didalamdadanya. Ternyata bukan hanya Bramadaru yang mengalami kesulitan. Kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti yang terlalu percaya akan kemampuannya ilupun akhirnya telah terdesak. Daru- wordipun telah bertempur dengan keras. Meskipun ia tidak berteriak-teriak seperti lawannya, tetapi hentakan-hentakan serangannya kadang-kadang sangat mengejutkan lawannya. Sekali-sekali Daruwerdi memang harus meloncat surut Tetapi seakan-akan ia sekedar membuat ancang-ancang. Karena sekejap kemudian dengan tiba-tiba saja ilmunya telah di hentakannya melibat lawannya yang kebingungan. Tiba-tiba saja kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu telah berdesah tertahan. Namun yang terdengar kemudian adalah umpatan yang paling kasar. Dengan loncatan panjang orang itu mejauhi Daruwerdi. Terasa ujung pedang Daruwerdi itu tergores di pundaknya. “Gila“ teriaknya “kau melukai aku ?“ Daruwerdi memang merasakan pada tangannya, bahwa ujung pedangnya telah berhasil menyentuh lawannya. Karena itu maka teriakan lawannya itu telah meyakinkannya, bahwa ia benar-benar telah berhasil melukainya. Karena itu, maka dengan nada datar ia berkata “Menyerahlah. Kita akan mengadakan penyelesaian sebaik- baiknya. Mungkin Pangeran Sena Wasesa dan Pangeran Gajahnata akan menemukan jalan yang dapat ditempuh dalam persoalan yang gawat ini.“ “Tutup mulutmu“ geram orang itu “kau sangka aku ini siapa ? Aku tidak akan mengenal menyerah selama aku masih mampu menggerakkan pedangku.“ “Kau sudah terluka. Jika darah itu semakin banyak mengalir, maka kau benar-benar akan tidak mampu lagi mengelakkan senjatamu itu“ sahut Daruwerdi. Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Dengan kasar dan bahkan liar orang itu menyerang. Namun Daruwerdipun menjadi keras. Meskipun ia masih tetap memperhatikan paugeran dalam olah kanuragan, namun serangan-serangannya menjadi semakin garang sehingga lawan-nyapun menjadi semakin terdesak. Sekali lagi ketika Daruwerdi menjulurkan pedangnya mendatar, disela-sela ayunan senjata lawannya, maka orang itu mengumpat sambil mengadub Ujung pedang Daruwerdi kemudian telah mengenai lambungnya. Meskipun tidak begitu dalam, tetapi luka itupun telah memuntahkan darah segarnya. Bramadaru yang bertempur diarah lain mendengar kepercayaan gurunya itu mengumpat-umpat sambil mengeluh. Dengan demikian maka iapun mengerti, bahwa orang itu telah terluka. Kemarahanpun semakin menghentak didadanya. Karena itu maka iapun bertempur semakin garang. Pedangnya berputar semakin cepat. Terayun mendatar, menusuk dan kemudian menyambar kearah kening. Tetapi tidak segorespun yang berhasil mengenai kulit lawannya. Bahkan dalam pada itu ujung pedang Jlithenglah yang bagaikan sengat seribu kumbang mengitari tubuh Bramadaru. Ketika terasa sambarang angin pada kulitnya karena ayunan pedang tipis lawannya, rasa-rasanya kulit Bramadaru itu meremang. Namun bagaimanapun juga Bramadaru tidak dapat mengingkar i kenyataan. Jlitheng itu memiliki ketangkasan yang tidak dapat diimbanginya. Ujung pedang tipis itu bergerak terlalu cepat sehingga pedang Bramadaru tidak sempat menangkis ketika ujung pedang tipis itu mulai meraba kulitnya. Orang itu masih sempat meloncat surut. Tetapi Daruwerdi dengan cepat memburunya dengan pedang terjulur. Orang itu berteriak nyaring. Tetapi suaranya cepat terputus. Ketika pedang itu ditarik, maka tubuh lawannya itu-pun segera jatuh ter "erembab.Diani. Mata Air 23 31 Tetapi ujung pedang itu belum benar-benar melukainya. Jika darahnya mulai mengembun karena luka-lukanya, maka luka-luka itu sama sekali tidak berarti. Bramadaru masih mampu bertempur dengan cepat dan ayunan-ayunan pedang yang menggetarkan jantung. Tetapi bagi lawannya yang mampu bergerak cepat itu, serangan- serangannya tidak banyak memberikan arti. Bahkan semakin lama sentuhan-sentuhan senjata lawannya semakin sering mengenai kulitnya. Hanya goresan-goresan kecil yang kemudian terdapat pada tubuhnya. Tetapi semakin lama semakin banyak. Dalam pada itu, maka Jlithengpun kemudian berkata “Raden, apakah Raden tidak mempertimbangkan satu penyelesaian lain dari meneruskan pertempuran ini ?.“ “Tutup mulutmu“ geram Bramadaru “kau sangka bahwa kau, sudah berhasil dengan permainanmu itu ? Sebentar lagi kau akan mat i oleh pedangku dan mayatmu akan menjadi mangsa burung pemakan bangkai yang bersarang di pohon nyamplung ini. Tidak seorangpun yang mengetahui tentang perbuatanku dan tentang mayatmu.“ “Sudah aku katakan, seisi istana tentu sudah tahu apa yang kau lakukan Pangeran.“ jawab Jlitheng “bahkan mungkin sekarang ini sekelompok pengawal istana Pangeran Sena Wasesa telah menyusul kami. Karena itu pertimbangkan baik- baik.“ “Kau gila“ geram Raden Bramadaru “aku akan membunuh orang yang berusaha menghalangi rencanaku. Menghalangi kesenanganku siapapun orang itu.“ “Aku tidak sedang minta kau ampuni. Raden“ jawab Jlitheng “karena itu kau tidak usah berteriak-teriak begitu. Langsung saja kau bunuh lawanmu. Tetapi kenyataan telah berkata lain dar i keinginanmu yang gila itu Raden. Kenyataan nya mengatakan tentang kelemahanmu dalam pertarungan antara ilmu yang t inggi. Masih jauh dar i ketinggian yang seharusnya bagi orang-orang yang menjelajahi daerah olah kanuragan.“ Kata-kata Jlithcng itu sangat menyakitkan hati Raden Bramadaru. Sekali lagi ia berusaha untuk mengeluarkan ilmunya. Namun sekali lagi ia mener ima satu kenyataan bahwa lawannya memang memiliki kemampuan melampaui kemampuannya. Jlilheng yang sengaja membangkitkan kemarahan Bramadaru itupun telah bersiap sepenuhnya untuk melawan kemarahan anak muda itu. Karena itu, ketika serangan Bramadaru datang membadai. Jlitheng sama sekali tidak mengalami kesulitan apapun juga. Bahkan semakin Bramadaru marah, maka serangan- serangannyapun menjadi semakin tidak terarah. Yang tidak kalah sengitnya adalah pertempuran antara Daruwerdi dan kepercayaan Ki Ajar Wrahasnit i. Agak berbeda dengan Jlitheng yang masih selalu dapat mengekang diri sehingga ujung senjatanya tidak langsung menghunjam ke jantungnya, maka Daruwerdi berusaha dengan sungguh- sungguh untuk menghancurkan lawannya setelah tawurannya untuk menyerah ditolak. Kecemasannya tentang Raden Ajeng Ceplik yang diketahuinya sebagai adiknya itu membuatnya kehilangan semua pertimbangannya. Dalam serangan-serangan berikutnya, Daruwerdi benar- benar telah membatasi kemungkinan gerak lawannya yang kemudian hanya dapat berloncatan menghindar. Ketika sebuah goresan lagi melukai lawannya muka Daruwerdi masih mencoba sekali lagi berkala “Menyerahlah. Kesempatan ini adalah kesempatan terakhir.“ Tetapi yang kemudian terjadi telah membuat Daruwerdi semakin marah. Orang itu tidak memenuhi tawaran itu, justru dengan serta merta telah menyerang Daruwerdi dengan garangnya. Hampir saja ujung senjatanya mengenai mata sebelah kir i Daruwerdi, sehingga karena itu maka Daruwerdipun telah dengan tergesa-gesa mengelak. Bahkan hampir saja Daruwerdi jatuh terperosok kedalam semak- semak berduri yang banyak bertebaran di padang perdu itu. Daruwerdi menjadi semakin marah karenanya. Karena itu. maka serangan berikutnya, telah datang bagaikan badai. Pedang Daruwerdi berputar semakin cepat. Sekali-sekali menyerang dengan ayunan mendatar, sekali-sekali mematuk dan sekali-sekali menebas leher. Lawannya benar-benar telah terdesak. Sekali lagi sebuah goresan telah mengoyak tubuhnya. Tepat didada. Orang itu mengeluh kesakitan. Namun Daruwerdi tidak menghentikan serangannya. Justru dalam kesempatan itu ia memburu lawannya. Dalam keadaan yang sulit, maka Daruwerdi yang marah itu mengayunkan pedangnya mendatar. Orang itu masih sempat meloncat surut. Tetapi Daruwerdi dengan cepat memburunya dengan pedang terjulur. Orang itu berteriak nyaring. Tetapi suaranya cepat terputus. Pedang Daruwerdi telah menusuk langsung kepusat jantung. Ketika pedang itu ditarik, maka tubuh lawannya itupun segera jatuh terjerembab. Diam. Bramadaru mendengar teriakan orang itu. Sementara itu, Jlithengpun mengetahui pula akhir dari pertempuran yang terjadi antara Daruwerdi dan lawannya, sehingga hampir diluar sadarnya ia berkata “Nah. kawanmu sudah diselesaikan Raden. Benar- benar satu akhir yang pahit.“ Bramadaru menggeram. Tetapi ia sadar sepenuhnya, apa yang akan dapat terjadi atasnya. Jika orang yang menyebut dirinya Daruwerdi itu kehilangan lawan, maka keadaannya akan menjadi semakin sulit. Daruwerdi tentu akan bertempur berpasangan dengan Jlitheng sehingga mungkin sekali ia akan dapat ditangkap oleh keduanya. Karena itu, maka Bramadaru harus cepat mengambil satu keputusan. Ia tidak boleh terlambat. Dengan demikian, maka t iba-tiba saja dengan sisa tenaganya, Bramadaru telah menyerang lawannya. Segenap kemampuannya telah ditumpahkannya. Serangannya datang cepat dan berbahaya, sehingga Jlitheng terpaksa bergeser surut. Namun pada kesempatan itu Bramadaru tidak memburunya. Ketika Jlitheng sudah siap menghadapi segala kemungkinan, maka tibattba saja Bramadaru justru meloncat dan sekejap kemudian berlar i menyusup diantara gerumbul- gerumbul liar sebelah batang pohon nyamplung yang besar itu, “Tunggu“ panggil Jlitheng. Tetapi suaranya lenyap menyusup diantara dedaunan. Sementara itu Bramadaru dengan cepat menyelinap dan hilang didalamkegelapan. Jlitheng berusaha untuk menyusulnya. Tetapi beberapa puluh langkah kemudian ia sudah kehilangan jejak. Bramadaru itu bagaikan lenyap ditelan padang perdu yang luas itu. Untuk beberapa saat Jlitheng berusaha menemukan jejaknya. Namun dalam kegelapan malam, tidak banyak yang dapat dilakukannya. Sementara itu, Daruwerdi yang sudah kehilangan lawannya, mendekati Raden Ajeng Ceplik yang menggigil ketakutan. Namun ketika Bramadaru melar ikan dir i, maka seakan-akan ia telah terlepas dari satu keadaan yang paling pahit yang dapat terjadi atas dirinya. Karena itu, ketika Daruwerdi melangkah mendekatinya, maka t iba-tiba saja Raden Ajeng Ceplik yang merasa dir inya telah diselamatkan oleh kedua orang anak muda itu, telah berjongkok dihadapan Daruwerdi sambil menangis. “Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kakangmas“ desis Raden Ajeng Ceplik. Yang pertama-tama terbayang di angan-angannya adalah bahwa ia tidak dapat menerima anak muda itu bersama ibunya didalam istananya, sehingga ia memilih untuk pergi bersama Bramadaru. “Kenapa kau minta maaf diajeng“ sahut Daruwerdi sambil menarik lengan gadis itu “berdir ilah. Kau telah bebas dari cengkeraman serigala liar itu.“ Raden Ajeng Ceplikpun kemudian bangkit. Tetapi tangannya masih sibuk mengusap air matanya yang mengalir tidak henti-hentinya. Kengerian masih saja merayapi dadanya, jika ia mengingat perlakuan Bramadaru yang diharapkannya untuk dapat memberinya ketenangan justru karena jiwanya yang bergolak menentang kehadiran Daruwerdi dan ibunya. Tetapi ternyata ia telah jatuh ketangan seorang anak muda yang buas sebuah serigala sebagaimana dikatakan oleh embannya. Sementara itu. Jlithcng yang gagal menemukan Bramadaru pun telah mendekati keduanya. Dengan nada rendah ia berkata “Marilah. Kila segera kembali ke istana Raden Ajeng “ “Marilah“ jawab Daruwerdi “kita akan segera member ikan laporan tentang peristiwa ini.“ “Kita harus cepat bertindak“ berkata Jlitheng kemudian. Ketiganyapun kemudian meninggalkan tempat itu. Raden Ajeng Cepliik yang letih badan dan jiwanya, dibimbing oleh Daruwerdi meninggalkan tempat yang mengerikan baginya. Hampir saja mengalami nasib yang paling buruk yang dapat terjadi atasnya. Ketiganya memerlukan waktu yang cukup panjang. Namun akhirnya merekapun sampai ke istana Pangeran Sena Wasesa. “Jangan mengejutkan para penjaga“ berkata Jlitheng “kita memasuki halaman lewat pintu butulan.“ Raden Ajeng menjadi berdebar-debar. Pintu itu adalah pintu yang dipergunakannya untuk keluar dari istana ayahandanya. “Apakah sebenarnya mereka melihat saat aku keluar?“ pertanyaan itu telah berjangkit dihati Raden Ajeng Ceplik Namun ia tidak mengucapkannya. Ternyata bahwa pintu butulan itu tidak diselarak. Karena itu. maka dengan mudah mereka membuka dan menutup kembali. Dengan hati-hati mereka memperhatikan para peronda. Setelah mereka yakin bahwa tidak ada seorang perondapun yang mengetahuinya, maka merekapun segera melintasi halaman dan menuju ke serambi. “Sampai saat ini tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa diajeng pernah meninggalkan istana ini“ berkata Daruwerdi “sekarang kembalilah ke bilikmu. Tetapi kita harus segera berbuat sesuatu. Aku akan memberikan laporan kepada ayahanda sekarang juga “ Raden Ajeng Ceplik termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Terserah kepada kakangmas.“ “Masuklah“ berkata Daruwerdi “aku akan mengetuk pintu bilik ayahanda. Mudah-mudahan ayahanda tidak terkejut.” Raden Ajeng Ccplikpun segera kembali kedalam biliknya. Sementara itu Daruwerdi dan Jlithengpun telah ikut masuk pula keruang dalam, mereka akan memberanikan diri mengetuk pintu Pangeran Sena Wisesa untuk memberikan laporan tentang peristiwa yang menyangkut banyak segi, bukan saja hubungan antara Raden Ajeng Ceplik dan Bramadaru, tetapi juga hubungan antara Pangeran Gajahnata dan Pangeran Sena Wasesa. Bahkan mau tidak mau hal ini akan menyangkut nama Kangjeng Sultan pula karena kedua orang yang tentu akan terlibat dalam perselisihan itu adalah Pangeran. Namun dalam pada itu. selagi keduanya berusaha mendekati bilik Pangeran Sena Wasesa dengan ragu-ragu, maka seseorang berdiri didekat regol butulan sambil menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kedua anak muda yang telah menyusul Raden Ajeng Ceplik itu telah kembali dengan selamat tanpa memerlukan bantuan orang lain. Sementara iiu. maka orang itupun telah melakukan satu permainan yang memungkinkan hal itu terjadi tanpa menimbulkan keributan di istana Pangeran Sena Wasesa. “Jika para peronda menemukan pintu butulan ini t idak diselarak sebagaimana ditinggalkan oleh Raden Ajeng Ceplik, maka istana ini tentu sudah menjadi gempar. Para pengawal tentu akan mencari sebab dan jika mereka menemukan Raden Ajeng tidak ada dibiliknya, maka semua orang akan menjadi ribut, sementara Raden Ajeng Ceplik sendiri harus diselamatkan.” “Mereka akan langsung member ikan laporan malam ini“ desis seseorang dari kegelapan. “tetapi agaknya itu memang lebih baik.“ “Ya Kiai“ jawab orang yang berdiri didekat pintu butulan “segalanya memang harus cepat diselesaikan.“ “Aku akan menunggu didalam bilikku“ berkata suara dari kegelapan itu. Sejenak kemudian menjadi hening. Tidak ada suara lagi Orang yang berdiri didekat regol itupun lelah hilang pula. Dalam pada itu. Daruwerdi dan Jlitheng telah memberanikan dir i mengetuk pintu bilik Pangeran Sena Wasesa. Perlahan sekali tanpa mengejutkan. Namun dalam pada itu. dibilik Raden Ajeng Ceplik telah terdengar isak tangisnya yang tertahan-tahan. “Anak itu menyesali dir i“ berkata Daruwerdi dan Jlitheng didalam hatinya. Dalam pada itu. ternyata Pangeran Sena Wasesa terbangun pula oleh ketukan perlahan-lahan dipintu biliknya. Kemudian dengan hati yang berdebaran Pangeran itu bangkit. Adalah mendebarkan bahwa dilarut malam, bahkan menjelang dini hari, seseorang telah mengetuk pintu biliknya. “Siapa ?“ terdengar Pangeran Sena Wasesa itu bertanya. “Aku ayahanda“ jawab Daruwerdi. “Daruwerdi ?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Ya. Bersama Jlitheng Ada satu hal yang sangat penting yang wajib aku laporkan kepada ayahanda“ jawab Daruwerdi. Pangeran Sena Wasesa menjadi ragu-ragu. Suaranya memang suara Daruwerdi. Tetapi kemungkinan-kemungkinan lain memang dapat terjadi. Karena itu, maka sebelum membuka pintu. Pangeran Sena Wasesa telah mengenakan lempeng baja di telapak tangannya Mungkin benda itu diperlukan j ika keadaan tiba-tiba saja telah menyusutkannya. Ketika pintu terbuka, maka dua orang anak muda berdiri didepan pintu. Keduanya mengangguk hormat, sementara Pangeran Sena Wasesa berdiri termangu-mangu. “Malam-malam begini, kalian telah membangunkan aku ?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. Kedua anak muda itu belum menjawab, ketika Pangeran itu mendengar puterinya menangis terisak-isak. “Kenapa dengan Ceplik ?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Itulah yang ingin kami laporkan“ jawab Daruwerdi “tentang diajeng Ceplik.“ “Apa yang telah terjadi ?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa dengan tegangnya. “Agaknya lebih baik jika ayahanda menanyakan kepadanya, apakah yang telah terjadi dengan dir inya“ jawab Daruwerdi. Pangeran Sena Wasesa merenung sejenak. Lalu katanya “Baiklah. Biar lah seseorang memanggilnya.“ “Aku akan memanggilnya“ berkata Daruwerdi. Daruwerdi itupun kemudian pergi ke bilik Raden Ajeng Ceplik. Dengan nada dalam ia berkata “Diajeng. Ayahanda memanggilmu. Katakan akan apa yang terjadi sebenarnya, agar ayahanda mengetahui dengan pasti dan dapat mengambil langkah yang paling baik dalam persoalan ini “ Jantung Raden Ajeng Ceplik menjadi berdebar-debar. Ia sendiri menjadi bingung untuk berterus terang. Ia dapat saja mengatakan segala sesuatu tentang Bramadaru. Tetapi apakah ia akan dapat mengatakan alasan kepergiannya meninggalkan istana itu bersama Bramadaru karena ia menolak kehadiran ibu tirinya dan Daruwerdi itu sendiri. Daruwerdi yang melihat Raden Ajeng Ceplik ragu-ragu berkata “Diajeng. Jika diajeng tidak mengatakan yang sebenarnya dan menutup sebagian persoalan ini. maka ayahda mungkin akan mendapat gambaran yang keliru sehingga ayahanda akan dapat mengambil satu tindakan yang seharusnya tidak dilakukannya.“ Raden Ajeng Ceplik mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Kakangmas, Biarlah aku menghadap seorang diri. Ada persoalan yang sangat pelik yang ingin aku katakan kepada ayahanda “ Daruwerdi mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Marilah.“ Raden Ajeng Ceplik kemudian masuk kedalam bilik ayahanda sementara Jlitheng telah diminta untuk meninggalkan ruangan itu. Sehingga didalam bilik itu hanya terdapat Raden Ajeng Ceplik dan ayahandanya Pangeran Sena Wasesa. “ Sementara keduanya lagi berbincang didalam. maka Rahu telah memasuki ruangan itu pula dengan diam-diam, “Di ajeng Ceplik sedang menghadap“ berkata Daruwerdi kepada Rahu. “Baiklah. Mungkin aku akan dapat melengkapi penjelasan, seandainya Pangeran Sena Wasesa memerlukannya. Setelah Raden Ajeng Ceplik selesai, kita akan menghadap lagi.” berkata Rahu. “Raden Ajeng ingin menghadap bendiri“ berkata Jlitheng. “Mungkin Raden Ajeng merasa malu kau dengar beberapa hal tentang hubungannya dengan Braniadaru. Tetapi itu tidak apa-apa. Kita berharap bahwa ia berkata dengan jujur.“ desis Rahu. Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun mereka masih harus menunggu beberapa saat diluar bilik Pangeran Sena Wasesa. . Dalam pada itu dalam bilik Pangeran Sena Wasesa telah mendengarkan semua pengakuan Raden. Ajeng Ceplik. Seperti yang diharapkan oleh Daruwerdi, maka Raden Ajeng Ceplik memang mengatakan semua persoalan djJalam dir inya. lapun mengatakan, bahwa ia telah menolak kehadiran ibu tir inya di dalam hatinya. Karena itu ia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. “Aku menganggap mereka akan menghantui hidupku“ berkata Raden Ajeng Ceplik “mereka telah menodai ayahanda kepada ibunda. Tetapi ternyata bahwa anak muda yang bernama Daruwerdi itu bersama dengan J litheng telah menolong aku. Membebaskan aku dari kegelapan masa depanku.” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun gejolak didalam dadanya rasa-rasanya akan meledakkan jantungnya. Persoalan Raden Ajeng Ceplik dengan ibu t iri dan kakaknya nampaknya tidak banyak membakar isi dadanya. Apalagi dengan pengakuan Raden Ajeng Ceplik tentang Daruwerdi. Rasa-rasanya Raden Ajeng Ceplik telah menerima kenyataan itu. Tetapi tingkah laku Bramadaru benar-benar membuat darahnya bagaikan mendidih. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata “Aku akan menyelesaikan persoalan ini dengan kakangmas Pangeran Gajahnata sekarang.“ “Sekarang ayahanda ?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik “Ya, sekarang. Ini adalah persoalan orang tua. Bukan saja persoalan nilai-nilai peradaban, tetapi juga penghinaan atas martabat kesatriaaku. Bagiku, penghinaan yang begini harus dibayar dengan jiwa. Aku atau kakangmas Gajahnata yang akan mati.“ ”Ayahanda“ tangis Raden Ajeng Ceplik. Tetapi Pangeran Sena Wasesa tidak menghiraukannya. Dengan serta meria ia melangkah kepintu. Dengan serta merta Pangeran Sena Wasesa itu mendorong pintu biliknya meskipun Ceplik kemudian telah memeluk kakinya. “Jangan tahan aku Ceplik. Aku punya harga diri seorang kesatria. Ia sudah menjamah kesucian isi rumah ini. Karena itu maka tebusannya adalah sifat kejantanan itu sendiri sampai tuntas.“ geramPangeran Sena Wasesa. Namun dalam pada itu, tiga orang telah menunggu diluar bilik itu. Rahulah yang kemudian bergeser maju sambil berkata “Pangeran. Apakah Pangeran berkenan aku mengatakan sesuatu ?“ “Apa ? Kau sudah mengetahui penghinaan ini juga ?“ bertanya. Pangeran Sena Wasesa. “Hamba mengetahui sebagian besar dari peristiwa ini. Akulah yang ikut bersama dengan Daruwerdi dan Jlitheng menyusul Raden Ajeng Ceplik.“ jawab Rahu. “Kalau begitu, baiklah aku member itahukan kepadamu. Aku akan pergi ke istana kakangmas Gajahnata sekarang juga. Tingkah laku anak-nya telah menyentuh harga diriku yang paling dalam. Karena itu, aku atau kakangmas Gajahnata yang harus mati malam ini. Kecuali j ika ia mau menyerahkan anaknya, Bramadaru.“ geramPangeran Sena Wasesa. “Pangeran“ berkata Rahu “aku mohon maaf. Tetapi perkenankanlah aku sedikit memberikan peringatan kepada Pangeran, justru dalam keadaan marah, Pangeran akan dapat melupakannya“ Rahu berhenti sejenak, lalu “bukankah di Demak ini ada Kangjeng Sultan. Bukankah persoalan ini dapat Pangeran ajukan kepada Kangjeng Sultan. Dengan demikian maka Pangeran tidak akan dituduh melakukan satu tindakan diluar paugeran hukum dengan mengambil tindakan sendir i. Pangeran dapat mohon agar persoalan ini segera diselesaikan. Apalagi persoalannya menyangkut masalah harta benda yang sudah pernah Pangeran serahkan kepada Kangjeng Sultan dan yang ternyata masih belum kembali masuk ke Gedung Perbendaharaan istana.“ Pangeran Sena Wasesa menggeram. Dadanya memang serasa akan meledak oleh kemarahan. Tangis anak gadisnya tidak dapat meredakan gejolak di dadanya. Namun peringatan yang diberikan Rahu agaknya dapat membuka hatinya Ia baru saja mendapat pengampunan dari Kangjeng Sultan. Jika ia dengan tergesa-gesa dan tanpa pertimbangan telah mengambil satu sikap langsung atas sesama seorang Pangeran, maka kemarahan Kangjeng Sultan akan dapat terungkap lagi. Karena itu, maka Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia ingin mengendapkan gejolak yang menyala didadanya. “Aku mohon, Pangeran“ desis Rahu kemudian. Pangeran Sena Wasesa akhirnya berhasil menguasai kemarahannya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Raden Ajeng Ceplik masih duduk bersimpuh berpegangan kedua kakinya. “Baiklah Ceplik“ berkata Pangeran Sena Wasesa “aku t idak akan pergi sekarang. Rahu berhasil meyakinkan aku, bahwa tindakan yang tergesa-gesa tidak akan membawa hasil yang baik. Tetapi besok pagi-pagi benar aku akan menghadap Sultan. Sementara itu, aku akan memperingatkan para peronda untuk berhati-hati. Siapa tahu, Bramadaru telah member ikan laporan yang lain kepada kakangmas Gajahnata, sehingga agar tidak kedahuluan, maka kakangmas Gajahnatalah yang akan datang ke rumah ini.“ “Biar lah aku saja yang menyampaikan pesan Pangeran kepada para penjaga“ berkata Rahu. “Mereka tidak akan memperhatikan perintahmu. Kau bukan pemimpin mereka disini“ sahut Pangeran Sena Wasesa. Rahu mengangguk-angguk. Ia baru sadar, bahwa ia memang bukan jalur yang mungkin dapat meneruskan perintah Pangeran Sena Wasesa kepada para pengawal. Karena itu, maka ketiga orang itupun kemudian minta dir i. Sementara itu, Rahu masih sempat berkata “Tidak seorangpun diantara para pengawal yang mengetahui apa yang telah terjadi.“ Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Ia memang merasa heran bahwa para pengawal nampaknya tidak tahu sama sekali bahwa Raden Ajeng Ceplik telah meninggalkan halaman. “Aku telah menyelarak pintu butulan itu kembali setelah Raden Ajeng keluar dar i halaman ini“ berkata Rahu “aku memang bermaksud mengetahui, apakah yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Raden Bramadaru, karena aku sudah mendapat beberapa keterangan tentang anak muda itu dari emban Raden Ajeng Ceplik.“ berkata Rahu dengan nada datar. Pangeran Sena Wasesa masih belum pasti, apa saja yang telah dilakukan oleh Rahu. Tetapi ia mengerti, bahwa hidung Rahu sebagai petugas sandi telah dimanfaatkan pula untuk mencium tingkah laku Raden Bramadaru dan anak gadisnya. Karena itu, hampir diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesa berdesis “Terima kasih Rahu. Kau dan kedua anak muda ini telah menyelamatkan anak gadisku dari kenistaan yang paling laknat.“ “Mudah-mudahan segalanya dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Terutama segera kembalinya harta benda itu Icdalam Gedung Perbendaharaan istana.“ Rahu berhenti sejenak, lalu “silahkan Pangeran turun ke gardu.“ Pangeran Sena Wasesa kemudian menyuruh anak gadisnya untuk kembali kedalam biliknya. Katanya “Tidur lah. Kau telah terlepas dari mimpi yang mengerikan itu.“ Raden Ajeng Ceplikpun kemudian bangkit berdir i dan melangkah kedalam biliknya. Sementara itu Rahupun mengikut i Pangeran Sena Wasesa yang turun kehalaman sambil berkata kepada Daruwerdi dan Jlitheng “Silahkan kembali ke gandok. Aku akan segera menyusul.“ Keduanya termangu-mangu sejenak. Namun merekupun kemudian menuju ke gandok. Nampaknya Rahu masih akan menyertai Pangeran Sena Wasesa yang akan memerintahkan agar para pengawalnya berhati-hati. “Tetapi ayahanda agaknya tidak akan memberitahukan persoalan diajeng Ceplik kepada para pengawal“ berkata Daruwerdi. “Ya. Pangeran hanya akan member ikan perintah kepada mereka untuk bersiaga sebaik-baiknya.“ jawab Jlitheng Namun sementara itu, Rahu yang mengikuti Pangeran Sena Wasesa telah memberikan beberapa keterangan tentang hubungan antara Bramadaru dan Raden Ajeng Ceplik. Kedukaan hati gadis itu karena ia merasa cinta ayahandanya kepada ibundanya dinodai. Dengan sedikit mengurai persoalan-persoalan yang berhasil diamatinya dari kejauhan maka ketajaman nalar Rahu mencium langkah- langkah yang mungkin akan berakibat kurang baik bagi Raden Ajeng Ceplik. “Kenapa kau t idak mencegah saja hal itu agar t idak terjadi ?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Pangeran“ jawab Rahu “aku mohon maaf, bahwa dengan pertimbangan Kiai Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi, maka hal ini telah aku lakukan. Aku sengaja member ikan kesempatan kepada Daruwerdi untuk menolong Raden Ajeng Ceplik. Bukankah dengan demikian gadis itu merasa, bahwa anak muda yang disebut kakaknya itu benar-benar telah mampu menjadi pelindungnya ? “ Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia hampir lupa kepada persoalan keluarganya itu. Ia hampir lupa sikap anak gadisnya menghadapi kenyataan yang sangat pahit. Namun kini ayah dari dua orang anak yang berbeda ibu itu melihat, bahwa kedua anak itu. telah dapat mempertautkan hati mereka sebagai saudara. “Bukankah dengan demikian Raden Ajeng Ccplik juga akan menerima ibu Raden Daruwerdi itu sebagai ibundanya ?“ bertanya Rahu. Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Katanya dengan nada sangat dalam “Terima kasih Rahu. Kau bukan saja seorang yang telah menolong aku dari keterjerumusanku kemungkinan yang paling buruk atas dir iku di saat-saat aku berada ditangan orang-orang Sanggar Gading, tetapi kau juga telah menyelamatkan keluargaku dari keretakkan dan bahkan kehinaan atas anak gadisku itu.“ “Yang aku lakukan adalah sekedar kewajiban, Pangeran. Kewajibanku sebagai seorang petugas sandi di sarang orang- orang Sanggar Gading dan tugas diantara sesama di istana ini.“ jawab Rahu. Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak sempat bertanya lebih banyak lagi. Ketika Pangeran itu berada didepan regol. maka pengawal yang sedang bertugas malamitupun segera menyongsongnya. “Ada perintah Pangeran ?“ bertanya pemimpin pengawal. Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab lunak “Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa terlalu panas didalam.“ “O“ Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Meskipun demikian Pangeran Sena Wasesa berkata “Tetapi berhati- hatilah disisa malam ini. Mungkin udara yang tidak nyaman ini membuat aku gelisah. Amati setiap sudut dengan baik, meskipun sebentar lagi hari menjadi pagi.“ “Siap Pangeran.“ jawab pengawal itu. “Pada saat-saat seperti ini, kita kadang-kadang menjadi lengah“ berkata Rahu. Pengawal itu mengangguk-angguk kecil. Sejenak kemudian maka Pangeran Sena Wasesapun kembali kedalam biliknya, sementara Rahupun menuju ke gandok. Didalam biliknya Pangeran Sena Wasesa sempat menganyam angan-angannya. Ia dapat melihat peristiwa itu dalam keseluruhan. Ia sudah mendengar kisah anak gadisnya dan iapun telah mendengar keterangan Rahu menurut penilaiannya atas peristiwa yang terjadi di istana itu. Ternyata bahwa Raden Ajeng Ceplik sangat berat untuk menerima kehadiran ibu tirinya yang ternyata telah menyadap cinta ayahandanya sebelum ayahandanya kawin dengan ibundanya. Dengan demikian maka seakan-akan ayahandanya kawin dengan ibundanya itu sama sekali tidak dilandasi oleh perasaan cinta. Tetapi Ceplik telah melihat kenyataan lain, bahwa Daruwerdi telah menyelamatkannya dari kehinaan yang paling dahsyat. Tanpa pertolongan Daruwerdi dan anak muda yang lebih senang dipanggil Jlitheng dari pada namanya sendiri itu, maka mungkin ia akan berada disatu neraka yang sangat menger ikan, tanpa diketahui oleh ayahandanya, sementara Bramadaru akan dapat berpura-pura kehilangan pula. Sedangkan dalam masa-masa tertentu Bramadaru akan datang kepadanya dengan kebuasan yang menyala didalam dadanya. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia juga berterima kasih kepada Rahu yang telah mengekangnya sehingga ia tidak mengambil t indakan sendiri malam itu. “Sultan akan dapat terungkat kemarahannya jika aku bertindak sendir i, apalagi harta benda itu masih belum masuk ke Perbendaharaan. Jika aku membunuh kakangmas Gajahnata, maka aku akan mendapat hukuman kjrena kesalahan kakangmas belum dibukt ikan. Tetapi jika aku mati, pusaka dan harta benda itu akan tidak dikenal tempatnya. Meskipun serba sedikit aku sudah menyampaikan kepada Kanjeng Sultan, tetapi tanpa aku, semuanya akan mengalami kesulitan. “ berkata Pangeran Sena Wasesa kepada diri sendiri. Demikianlah, maka malam itu Pangeran Sena Wasesa telah mempersiapkan dir inya lahir dan batin untuk menghadapi persoalannya dengan Pangeran Gajahnata. Karena itu, maka pagi-pagi benar Pangeran Sena Wasesa. sudah siap untuk berangkat ke ana Namun ia sadar, bahwa ia tidak akan segera dapat menghadap Sultan, karena hari masih terlalu pagi. Namun gejolak perasaannya tidak lagi dapat dikekangnya untuk segera berangkat. “Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan untuk menghadap mendahului waktu yang sudah ditentukan“ berkata Pangeran Sena Wasesa didalam hatinya “Aku memer lukan berbicara sebelum ada orang lain.“ Namun agaknya Pangeran Sena Wasesa memerlukan seseorang yang akan dapat membantunya menjelaskan persoalan yang dihadapinya. Menurut pendapat Pangeran Sena Wasesa, yang paling tepat untuk diajaknya menghadap adalah Rahu. Rahu sama sekali tidak berkeberatan. Justru ia berterima kasih atas kepercayaan Pangeran Sena Wasesa yang akan mengajaknya serta. Seperti yang diduganya. Pangeran Sena Wasesa datang terlalu pagi diistana. Para pengawal masih berada ditempat tugas mereka dimalam hari. Sehingga karena itu, maka kedatangan Pangeran Sena Wasesa itu menimbulkan beberapa pertanyaan pada para pengawal. “Memang ada sesuatu yang penting yang harus segera aku sampaikan kepada Kangjeng Sultan“ berkata Pangeran Sena Wasesa kepada para pengawal. “Cobalah berhubungan dengan pengawal dalam“ seorang pengawal mempersilahkan “j ika Kangjeng Sultan sudah berada di ruang dalam, maka Pangeran akan dapat di terimanya jika persoalan yang Pangeran bawa memang pent ing sekali.“ Pangeran Sena Wasesapun kemudian menghubungi pimpinan pengawal dalam untuk menyampaikan permohonannya menghadap mendahului waktunya. Permohonan Pangeran Sena Wasesa itu ternyata sangat menarik perhatian Kangjeng Sultan, justru karena Pangeran Sena Wasesa mempunyai persoalan khusus tentang pusaka dan harta benda yang disembunyikannya. Karena itu, maka Kangjeng Sultan tidak berkeberatan untuk menerima Pangeran Sena Wasesa menghadap. “Agaknya ada masalah yang sangat penting“ desis Kangjeng Sultan ketika Pangeran Sena Wasesa dan Rahu yang bergelar Wira Murti itu menghadap. “Hamba Kangjeng Sultan“ jawab Pangeran Sena Wasesa “hamba yang menghadap bersama Wira Murti membawa satu persoalan yang sangat penting. Sebenarnya bukan masalah pusaka dan harta benda itu secara langsung, namun memang ada singgungannya dengan pusaka dan harta benda itu, meskipun atas persoalannya adalah persoalan pribadi.“ Kangjeng Sultan memperhatikan keterangan itu dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, maka Pangeran Sena Wase- sapun segera melaporkan segala persoalan yang terjadi di istananya. Dengan jujur dan sebagaimana sesungguhnya terjadi. Pangeran Sena Wasesa menceriterakan perasaan anak gadisnya. Kemudian sikap putera Pangeran Gajahnata terhadap puterinya. Serta keinginan Pangeran Gajahnata untuk dapat mempergunakan hubungan antara Bramadaru dan anak gadisnya untuk memiliki pusaka dan harta benda itu. “Darimana kakangmas Pangeran mengetahuinya ?“ bertanya Kangjeng Sultan. “Bramadaru mengatakannya kepada anak gadis hamba, sementara Wira Murti ini mengintip dari balik semak-semak.“ jawab Pangeran Sena Wasesa, yang kemudian juga menjelaskan usaha Rahu yang bergelar Wira Murti itu untuk mempertautkan hati anak laki-lakinya dengan anak gadisnya. Kangjeng Sultanpun kemudian mendapatkan semua penjelasan dari Pangeran Sena Wasesa dan dari Rahu. Sampai saatnya Raden Ajeng Ceplik itu kembali kedalam istana kapangarenan. “Hampir saja hamba kehilangan pengamatan dir i“ berkata Pangeran Sena Wasesa pula “untunglah Rahu telah mencegah hamba untuk tidak pergi ke istana kakangmas Gajahnata malamitu juga.“ Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Namun kemudian Kangjeng Sultan itupun berkata “Baiklah kakangmas Pangeran. Aku telah mendengar laporanmu. Tetapi aku masih harus mendengar laporan dari pihak yang lain, agar keputusan yang akan aku ambil tidak menjadi berat sebelah. Mungkin aku masih memerlukan beberapa orang saksi. Namun yang aku harap bahwa aku akan mendapatkan keterangan sehingga aku dapat mengabarkan per istiwa yang sebenarnya.“ “Hamba Kangjeng Sultan. Hamba akan menunggu.“ jawab Pangeran Sena Wasesa. Demikianlah, maka Kangjeng Sultanpun telah memer intahkan dua orang pengawal untuk menghadap Pangeran Gajahnata. “Kakangmas Gajahnata aku perlukan menghadap sekarang“ pesan Kangjeng Sultan kepada pengawal itu. Sambil menunggu, maka Kangjeng Sultan masih menanyakan beberapa hal tentang peristiwa di bawah pohon nyamplung itu, terutama kepada Rahu yang bergelar Wira Murti. Bahkan Kangjeng Sultanpun bertanya “Wira Murti. apakah yang kau lakukan itu tidak justru akan dapat berakibat sebaliknya. Seandainya Daruwerdi dan Jlitheng yang bergelar Pangeran Candra Sangkaya itu tidak dapat memenangkan pertempuran itu. Apakah yang kira-kira akan terjadi ? Atau bahkan mungkin guru Bramadaru atau orang yang membantunya itu ada disitu pula ?“ ”Ampun Kangjeng Sultan. Sebenarnyalah mereka tidak hanya berdua. Hamba ada pula ditempat itu bersama Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning. Jika sesuatu yang gawat terjadi atas keduanya, maka kami sudah siap untuk membantu mereka.“ jawab Rahu. Kangjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Jadi kalian sudah memperhitungkan dengan cermat ?“ Rahu mengangguk hormat sambil menyahut “Hamba berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya.“ Ketika Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Pangeran Sena Wasesapun mengangguk-angguk pula. Pertanyaannya tidak sampai sejauh pertanyaan Kangjeng Sultan itu. sehingga dengan demikian ia menjadi semakin meyakini, bahwa orang- orang yang sedang menjadi tamunya itu benar-benar ingin berbuat baik terhadapnya dan terhadap keluarganya. Dalam pada itu, beberapa saat kemudian, ternyata pengawal yang mendapat tugas untuk menghadap Pangeran Gajahnata telah kembali. Dengan nafas terengah-engah pengawal itu menghadap Kangjeng Sultan d ruang dalam. Pangeran Sena Wasesa dan Rahu menjali berdebar-debar melihat kegelisahan yang membayang diwajah orang itu. Agaknya Sultanpun demikian pula, sehingga karena itu. maka Kangjeng Sultan itupun segera bertanya “Bagaimana dengan Pangeran Gajahnata ?“ “Istana itu sudah kosong tuanku“ jawab pengawal itu. “He“ wajah Kangjeng Sultan menjadi tegang “maksudmu bahwa Pangeran Gajahnata sudah tidak ada diistana-nya lagi ?“ “Hamba tuanku. Ada sekelompok pengawal yang kebingungan di halaman istana. Namun mereka mengatakan, bahwa Pangeran Gajahnata telah meninggalkan istana tanpa membawa seorang pengawalpun. Agaknya yang mengawal Pangeran itu bersama puteranya adalah Ki Ajar Wrahasniti, guru Raden Bramadaru dengan beberapa orang kepercayaannya.“ jawab pengawal itu. Kangjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Pangeran Sena Wasesa “Semuanya sudah jelas sekarang“ Pangeran Sena Wasesa menunduk dalam-dalam. Ada sepercik kekecewaan, bahwa ia tidak sempat membuat perhitungan dengan Pangeran Gajahnata karena anak laki- lakinya telah menghinakan anak gadisnya, meskipun masih belumterlanjur terjadi sesuatu yang merupakan bencana. Dalam pada itu, maka Kangjeng Sultanpun kemudian berkata kepada pengawal yang menghadap “Baiklah. Persoalannya akan aku pelajari untuk mengambil satu langkah yang paling baik atas peristiwa ini.“ Pengawal itupun kemudian mengangguk hormat sambil menyembah. Baru ketika pengawal itu telah hilang dibalik dinding ruangan, maka Kangjeng Sultan itupun berkala “Kita dapat meyakini bahwa peristiwa yang aku dengar ,tu bukan sekedar ceritera yang berat sebelah. Justru karena Pangeran Gajahnata meninggalkan istananya, maka aku menjadi semakin pasti, bahwa mereka telah merasa bersalah sehingga lebih baik menghindarkan dir i daripada harus mengalami pemeriksaan dan kemudian hukuman.“ Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Sementara itu Kangjeng Sultan berkata seianjutnya “Tetapi kakangmas Pangeran, aku yakin pula bahwa persoalannya tidak akan berhenti sampai disini. Kakangmas Gajahnata tentu masih akan mengambil langkah-langkah yang akan dapat merupakan ancaman bagi kakangmas Sena Wasesa. “ Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Ia menyadari sepenuhnya sebagaimana dikatakan oleh Kangjeng Sultan di Demak itu. Namun dalam pada itu. maka Kangjeng Sultanpun kemudian berkata “Tetapi kakangmas akan dapat memperkuat pengawalan di istana Kanangmas. Jika diperlukan, maka kekuatan pengawal itu akan dapat ditambah dengan pengawalan dari kesatuan keprajuritan di Demak “ “Terima kasih“ jawab Pangeran Sena Wasesa “sementara ini biarlah hamba berusaha menjaga diri sendiri. Hamba mempunyai beberapa orang pengawal yang dapat hamba percaya. Bahkan pada saat-saat hamba diambil oleh orang- orang Sanggar Gading, mereka tetap menunjukkan kesetiaan mereka Apalagi pada saat ini. Tamu-tamu hamba adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang meyakinkan, sementara mereka telah berbuat sejauh dapat mereka lakukan bagi kebaikan hamba dan keluarga hamba. Namun apabila pada satu saat hamba memerlukannya, maka hamba akan mengatakan nya.“ Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya bahwa tamu-tamu Pangeran Sena Wasesa memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, sehingga karena itu, untuk saat itu. Pangeran Sena Wasesa memang tidak, memer lukan bantuan bagi pengamanannya. Namun dalam kesempatan itu, Kangjeng Sultan telah mengambil satu keputusan pula untuk dengan segera mengambil pusaka dan harta benda yang pernah diperebutkan sehingga menelan banyak sekali korban. Apalagi justru Pangeran Gajahata telah berusaha untuk menguasai pusaka dan harta benda itu pula caranya sendiri. Untuk sementra usaha itu memang dapat dianggap gagal. Tetapi mungkin masih ada cara lain yang dapat dipergunakan. Akhirnya Kangjeng Sultan memutuskan untuk memindahkan pusaka dan harta benda itu dengan secara rahasia. Tidak banyak orang dilingkungan istana sendiri yang mengetahuinya. Namun dalam pada itu, Kangjeng Sultan telah mempercayakan pemindahan itu kepada Pangeran Jalayuda. Pangeran Sena Wasesa sendiri dan beberapa petugas sandi yang dipimpin oleh Rahu yang bergelar Wira Murti. “Sabet Kiai Lawang“ desis Pangeran Jalayuda, “Ya“ desis Pangeran Sena Wasesa “sipat kandel yang memiliki perbawa yang sangat besar sehingga orang percaya bahwa siapa yang memilikinya akan mampu memegang kekuasaan tertinggi di Demak. Didukung oleh harta benda yang tiada terhitung jumlahnya, maka seseorang benar-benar akan dapat berbuat apa saja yang tidak pernah dapat dibayangkan. “ Pangeran Jalayuda mengangguk-angguK. Namun justru karena itu maka ia telah melakukan tugasnya dengan sangat berhati-hati. Dalam pada itu, sebagaimana diduga orang, sebenarnyalah bahwa pusaka dan harta benda itu memang berada di daerah sepasang Bukit Mati. Tetapi sama sekali tidak berada dibukit gundul. Justru didekat bukit berhutan, berseberangan dengan arah air yang dikuasai oleh orang-orang Lumban. Dalam tugas rahasia itu, telah dikerahkan orang-orang berilmu tinggi untuk mengawalnya, tetapi yang jumlahnya tidak terlalu banyak sehingga tidak banyak menar ik perhatian. Untuk mengangkut harta benda itu telah dipergunakan beberapa pedati yang dikendalikan oleh orang-irang berilmu itirT Bahkan atas permintaan Pangeran Sena Wasesa, dalam tugas itu Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning telah ikut pula bersama dengan kelompok orang-orang ber ilmu dalam mengemban tugas yang sangat rahasia itu. Sementara itu, untuk mengamankan Raden Ajeng Ceplik di istana Pangeran Sena Wasesa, telah ditugaskan beberapa orang prajurit terpercaya untuk meronda dan yang selalu ber- hubungan dengan para pengawal diluar pengetahuan Raden Ajeng Ceplik sendir i. Disamping para pengawal dan para prajurit. Raden Ajeng Ceplik merasa tenang berada dibawah pengawasan kakaknya Daruwerdi dan seorang anak muda yang bernama Jlitheng. Bahkan perlahan-lahan, Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk merubah sikapnya dan menunjukkan kepada kakaknya, bahwa ia tidak akan mengingkari sama sekali kehadiran ibu Daruwerdi meskipun ia berasal dari padepokan. Meskipun tidak dengan serta merta. karena keseganan yang masih membayangi kedua belah pihak, tetapi hubungan antara Raden Ajeng Ceplik menjadi semakin akrab pula dengan Endang Sr ini dan Swasti. Dalam pada itu, menuggu tugas Pangeran Sena Wasesa serta penyelesaian didalam Gedung Perbendaharaan, maka para tamunya masih tetap berada di lingkungan istana kapangeranan. Meskipun waktunya tidak terlalu lama, namun telah member i kesempatan segala pihak untuk dapat saling menyesuaikan dir i. Ternyata bahwa tugas yang berat dari Pangeran Jalayuda dan Pangeran Sena Wasesa itu dapat diselesaikan dengan selamat. Meskipun pusaka dan harta benda itu berada di Lumban, namun demikian cermatnya tugas yang dilakukan, sehingga tidak seorangpun diantara orang-orang Lumban yang mengetahui, apa yang sudah terjadi di Kabuyutan mereka. Tetapi agaknya justru penyelesaian di Gedung Perbendaharaan itulah yang memerlukan waktu yang lebih lama, Dengan cermat dan hati-hati setiap benda berharga dihitung dan dicatat diatas rontal disaksikan oleh Pangeran Jalayuda dan Pangeran Sena Wasesa. Demikianlah, baru ketika tugas itu sudah selesai, maka dengan sengaja telah di hembuskan berita, bahwa pusaka dan harta benda yang diperebutkan itu memang sudah berada di istana, sehingga dengan demikian, maka pergolakan berikutnya memperebutkan harta benda dan pusaka itu tidak akan terjadi lagi. Dengan demikian, maka persoalan yang untuk beberapa lamanya menyelubungi Pangeran Sena Wasesa, seakan-akan telah terurai seluruhnya, Rasa-rasanya Pangeran Sena Wasesa tidak lagi mempunyai hutang kepada siapapun juga. Dengan demikian, maka rasa-rasanya hidupnyapun menjadi lebih jernih. Apalagi ketika iapun kemudian menyadari, bahwa puterinya yang semula menyesali kehadiran ibu tir inya, semakin lama menjadi semakin dekat pula. Bahkan kemudian, batas antara keduanyapun seakan-akan telah lenyap. Ternyata bahwa tingkah laku Bramadaru dapat member ikan arti yang bermanfaat bagi kedua anaknya. Seandainya Bramadaru tidak melakukannya, maka masih sulit untuk mencari jalan agar kedua anaknya dapat berbuat sebagaimana dua orang saudara. Apalagi dengan ibu tirinya. Tetapi segalanya kini sudah teratasi. Namun dalam pada itu, masih ada yang hsrus diselesaikan oleh Pangeran Sena Wasesa sebagai orang tua. Ia tidak dapat tinggal diam melihat hubungan antara Daruwerdi dan Swasti. Bahkan seakan-akan Swasti sudah tidak dapat dipisahkan lagi dari Endang Sr ini yang merasa pernah diselamatkan j iwanya oleh gadis yang garang itu. “Tidak ada keberatan apapun“ berkata Endang Srini kepada Pangeran Sena Wasesa ketika Pangeran itu bertanya kepadanya tentang hubungan antara anaknya dengan Swasti. ”anak Kiai Kanthi yang terbiasa hidup dalam kekerasan alam. Aku berharap bahwa pengalaman orang tuanya akan menjadi cermin bagi Daruwerdi, bahwa ia akan dapat menjadi seorang yang benar-benar menerima isterinya sebagaimana adanya, serta tidak dapat dipaksa oleh siapapun untuk meninggalkannya kecuali karena keduanya dipisahkan oleh maut. “ “Ya, ya. Aku mengerti“ sahut Pangeran Sena Wasesa sambil mengangguk-anguk. Lalu “Adalah menjadi kewajiban kita untuk memberikan kesadaran yang demikian kepadanya, selagi semuanya belum terlanjur “ Endang Srini hanya mengangguk-angguk. Tetapi ia berjanji didalam dir inya, bahwa ia akan menjelaskan hal itu kepada anaknya. Swasti adalah anak Kiai Kanthi, seorang penghuni padepokan yang olehkebanyakan orang disebut tidak berderajat Tetapi itu bukan berarti bahwa anak gadis itu rJean dapat diperlakukan sekehendak oleh orang lain yang kemudian menjadi suaminya, meskipun ia adalah seorang bangsawan. Demikianlah, maka seakan-akan segalanya memang sudah selesai. Dengan demikian, maka datang saatnya tamu-tamu Pangeran Sena Wasesa itu minta dir i. Mereka sudah terlalu lama membuat istana Pangeran Sena Wasesa menjadi terlalu sibuk. Namun dalam pada itu, sebelum mereka meninggalkan istana Pangeran Sana Wasesa, maka mereka masih dibawa sekali lagi mohon diri kepada Kangjeng Suhan. Sebagaimana mereka datang menghadap, maka merekapun menghadap pula pada saat mereka akan pergi. “Segalanya sudah disiapkan“ berkata Kangjeng Sultan “ akuakan tetap memegang janjiku. Lambat atau cepat, maka segala-galanya akan kami selesaikan. Sebuah padepokan yang memadai buat Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi. Air yang cukup bagi Lumban sesuai dengan keinginan Jlitheng. Dan diminta atau tidak diminta aku akan menyiapkan sebuah istana kapangeranan dan akan aku serahkan bersama kekan- cingan pengangkatannya sebagai Pangeran. “ Jlitheng hanya menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak menginginkan apa-apa lagi. la hanya menginginkan agar Lumban menjadi daerah yang hijau. Air dapat dikendalikan lebih baik tanpa menghisapnya sampai kering sehingga arus dibawah tanah itu tidak dapat memberikan apa-apa lagi bagi daerah jauh di arah bawah. Tetapi Jlitheng tidak dapat membantah segala titah Kangjeng Sukan. Demikianlah, maka sampailah pada saatnya para tamu itu meninggalkan istana. Namun dalam pada itu, setelah di adakan pembicaraan yang mendalam, maka Endang Sr ini telah minta kepada Kiai Kanthi agar Swasti tetap berada di istana Pangeran Sena Wasesa. Sementara itu agaknya Raden Ajeng Ceplik juga tidak berkeberatan setelah ia mengetahui, hubungan yang terjalin antara kakaknya dengan gadis itu. Dalam pada itu, Rahu yang kembali ke kesatuannya bersama Semi yang diakunya sebagai adiknya itu, ikut pula melepaskan mereka yang meninggalkan istana itu. Pada satu pagi yang cerah, beberapa ekor kuda telah siap dihalaman. Ternyata bahwa tujuan mereka pertama-tama memang Luruhan. Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi seakan-akan hanya menurut saja kemana Jlitheng akan pergi. Ketika mereka sudah berada di regol. maka Pangeran Sena Wasesapun berkata kepada Jlitheng “Segala yang dijanjikan Kangjeng Sultan tentu akan segera dipenuhi.“ “Kami tidak tergesa-gesa Pangeran“ jawab Jlitheng. Namun kata-katanya tertegun ketika diluar sadarnya tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata yang bulat bening. Jlitheng segera melemparkan pandangan matanya kepada Rahu. Sementara itu. Raden Ajeng Ceplik yang ikut pula mengantar mereka sampai keregol telah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dalam pada itu, hampir diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesapun kemudian berkata kepada Jlitheng “Nah, kau harus juga minta diri kepada Ambarsari. Kau sudah menyelamatkannya dua kali. Begitu orang-orang Sanggar Gading membawa aku, ternyata ada diantara mereka yang telah kembali dan berusaha mengambil anak gadisku. Kau ternyata lelah menyelamatkannya dengan membunuh orang- orang Sanggar Gading itu. Kemudian untuk kedua kalinya kau telah menolongnya ketika ia melarikan dir i bersana Bramadaru. “ “Ah“ desah Raden Ajeng Ceplik. Jlitheng menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya keringatnya mulai membasahi tubuhnya. Apalagi ketika tiba-tiba saja ia melihat Daruwerdi yang berdir i disamping ibunya, dan di- sebelahnya adalah Swasti yang ikut mengantar ayahnya sampai keregol pula. Namun akhirnya Jlitheng berhasil menguasai dirinya. Ia tidak lagi membiarkan dir inya terombang-ambing oleh perasaannya. Karena itu, sebelum ia meloncat kepunggung kuda, maka ia masih sempat sekali lagi mohon diri kepada orang-orang yang mengantarnya sampai ke gerbang. Bahkan kemudian kepada Raden Ajeng Ceplik ia berdesis lambat “Aku mohon dir i puteri.“ Raden Ajeng Ambarsari itupun menjawab lambat pula “Selamat jalan Pangeran.“ Wajah Jlitheng menjadi merah. Dengan sendat ia berkata “Jangan panggil aku demikian Raden Ajeng.“ Raden Ajeng Ceplik tidak menjawab. Tetapi ketika Jlitheng memandanginya puteri itu tersenyum. Jlitheng tidak berkata apa-apa lagi. Bahkan ia bagaikan menjadi bingung ketika Rahupun mendekatinya sambil tersenyum dan berbisik “Kau memang seorang Pangeran. Bukankah sebentar lagi akan kau terima kekancingannya dan akan dilakukan wisuda ?“ Jlitheng tidak dapat menjawab. Namun jantungnya terasa berdebaran. Demikianlah semuanya kemudian telah minta dir i. Sejenak kemudian beberapa ekor kuda telah berderap meninggalkan istana Pangeran Sena Wasesa. Beberapa orang yang berdiri di gerbang melambaikan tangannya. Diantara mereka adalah puteri Ambarsari yang sehari-hari dipanggil Raden Ajeng Ceplik. Belum lagi mereka meninggalkan gerbang itu beberapa puluh langkah. Kiai Kanthi telah mulai bergurau “Puteri itu cantik sekali. Ia lebih berharga dari gadis manapun juga. Hatinya lembut seperti beledru.“ Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk. Sambil tersenyum pula ia menjawab “Itulah agaknya yang membuat saudara sepupunya menjadi gila.“ Jlitheng sama sekali tidak menyambung. Tetapi ada sesuatu yang terasa aneh didalam dirinya. Justru pada saat- saat ia sudah menerima satu kenyataan tentang dirinya. Daruwerd dan Swasti. Tetapi Jlitheng tidak mau hanyut dalam arus perasaannya lagi. Dengan palarnya ia berusaha memotong gejolak didalam hatinya. Ia tidak mau mengalami kesulitan perasaan lagi. Jika ia merasa satu ikatan baru telah membelit hatinya, maka itu akan berarti, hatinya akan terluka lagi. Demikianlah maka merekapun segera memacu kuda mereka ketika mereka sudah berada di pinggir kota Merekapun ingin segera sampai ke tujuan mereka. Seperti saat mereka mohon dir i, maka mereka pertama-tama akan pergi ke Lumban. Bahkan Ki Ajar Cinde Kuning untuk beberapa saat akan berada di Lumban pula. “Aku kehilangan seorang cucu“ berkata Ki Ajar Cinde Kuning “karena itu, kau akan aku paksa untuk menjadi gantinya.“ Jlitheng tersenyum. Katanya “Bagaimana jika aku tidak mau?“ “Bukit berhutan di daerah Sepasang Bukit Mati itu akan aku hancurkan. Airnya akan aku keringkan dan Lumban akan menjadi padang yang gersang.“ jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Kiai Kanthi tertawa. Katanya “Kenapa Ki Ajar mengambil seorang mur id dari Lumban? Apakah lebihnya anak Lumban ?“ “Bukan apa-apa. Anak Lumban sudah terbiasa hidup dalam kemiskinan sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk berprihatin“ jawab Ki Ajar sambil tersenyum. “Itu tidak adil“ Jlitheng menyahut “seharusnya Ki Ajar bukan memanfaatkan kemiskinan orang-orang Lumban. Tetapi berusaha untuk menolongnya, merubah cara hidupnya.“ Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthipun tertawa. Tetapi mereka t idak menjawab lagi. Namun yang dikatakan Jlitheng dalam guraunya itu bukannya hanya dapat dikatakannya. Di hari-hari berikutnya, ia telah benar-benar bekerja untuk Lumban. Ketika ia datang lagi ke Lumban ia telah disambut oleh anak-anak Lumban bukan saja dari Lumban Wetan, tetapi juga dari Lumban Kulon. Pengalaman yang terjadi atas anak- anak muda Lumban. benar-benar telah memberikan satu nafas kehidupan baru. Anak-anak Lumban yang terbagi itu tidak lagi saling bermusuhan. Tetapi mereka benar-benar berusaha untuk dapat meningkatkan hidup seluruh Kabuyutan Lumban tidak pandang Lumban Wetan atau Lumban Kulon. Dalam pada itu, apa yang dijanjikan Kangjeng Sultanpun segera menyusut Jlitheng sebagaimana dikehendaki. Kangjeng Sultan telah mengirimkan beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk mengatur air. Bukan saja beberapa, tetapi Kangjeng Sultan juga mengir imkan beberapa jenis alat dan beaya untuk membuat saluran-saluran air yang lebih baik. Sekaligus membual sebuah padepokan kecil buat Kiai Kunthi. Sementara itu, Ki Ajar Cinde Kuningpun agaknya lebih senang tinggal di Lumban “Padepokanku telah dikotori dengan kedengkian dan ketamakan. Apalagi anak dan cucuku sudah tidak bersamaku lagi. Karena itu, agaknya aku lebih senang tinggal bersama Kiai Kanlhi. Disini aku mendapatkan seorang saudara laki-laki untuk menggantikan saudara kembarku dan seorang cucu“ katanya. “Bagus sekali“ sahut Kiai Kanthi “j ika demikian, kita akan bersama-sama membangun daerah ini.“ “Biar lah sisa hidup kita ini ada gunanya“ berkata Ki Ajar kemudian. “Ya“ iawab Kiai Kanthi “jika kita memilih menyepi, mungkin akan sangat berarti bagi sisa hidup kita sendir i. Tetapi tidak member ikan manfaat kepada sesama. Disini kita masih mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu bersama-tama dengan orang Lumban.“ Karena itulah, maka padepokan kecil Kiai Kanthi telah cilereng bukit berhutan. Tetapi dibawah lereng bukit sebagai- cilereng bukit berhutan. Tetapi dibawah lereng bukit sebagaimana pernah di rancangnya Dengan demikian, maka dibawah lereng bukit itu kemudian terhampur sebuah padepokan. Ketika orang-orang yang dikirim oleh Kangjeng Sultan telah kembali ke Demak, maka anak-anak muda Lumbanlah yang membantu menyempurnakan padepokannya. Diseputar padepokan kecil itu terdapat ladang dan pategalan yang tidak terlalu luas yang dikerjakan dan akan menjadi landasan makan Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning serta Jlitheng bahkan kemudian kedua adik seperguruan Ki Ajar Cinde Kuningpun sering berada di padepokan itu pula. Meskipun demikian Jlitheng masih saja mondar-mand'ir antara padepokan itu dan rumah biyungnya yang tua, yang menyambut kedatangannya kembali dengan air mata. Demikianlah dari hari kehari, kehidupan di Lumban itu menjadi semakin mapan. Sawah menjadi bertambah hijau dan dataran-dataran yang kering telah menjadi sawah. Saluran- saluran air yang dibuat oleh anak-anak muda Lumban dibawah petunjuk beberapa orang yang memang memiliki pengetahuan tentang itu, telah membuat tanah di seluruh Lumban menjadi subur. Penguasaan air dari bukit ian pembagian air didataran menjadi lebih teratur dan mengarah. Dengan demikian, maka dari hari kehari, perkembangan menjadi semakin nyata ditilik dari kesejahteraan hidup orang- orang Lumban. Mereka tidak lagi kekurangan makan sementara kelebihan dari hasil panen dapat mereka tukarkan dengan keperluan hidup sehari-hari Bahkan disudut-sudut pasar telah berdiri pande-pande besi yang dapat membuat alat-alat pertanian mereka dan memenuhi kebutuhan sendir i. Lumban tidak perlu lagi membeli dari luar Kabuyutan mereka, cangkul, parang, sabit dan peralatan-peralatan lain. Dalam suasana yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Lumban telah dikejutkan oleh kehadiran beberapa orang berkuda. Sebuah iring-iringan kecil yang langsung menuju ke padepokan di bawah lereng bukit. Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kantin yang sedang bekerja disawah terkejut melihat kehadiran mereka. Dengan tergesa- gesa mereka menyongsong ir ing- iringan kecil itu yang terdiri dari Pangeran Sena Wasesa, Raden Ajeng Ambarsari diikuti oleh Rahu yang bergelar Wira Murti dan tiga orang pengawal. “Pangeran mengejutkan kami“ berkata Ki Ajar Cinde Kuning. “Setelah sekian lamanya tidak melihat Lumban. terasa aku menjadi rindu Rindu alas sepanjang bukit mati ini, dan rindu kepada Kabuyutan yang menurut perhitunganku tentu sudah berubah. Sebenarnyalah Kabuyutan ini memang sudah berubah.“ berkata Pangeran Sena Wasesa. Sementara itu Rahu menyambung “Lumban memang membuat kita yang pernah tinggal disini menjadi rindu untuk sekali-sekali melihatnya kembali. Tetapi dimana Jlitheng ?” “Ia ada di Kabuyutan. Tetapi silahkan naik ke pendapa Aku akan memanggilnya“ jawab Kiai Kanthi. “Kiai akan pergi ke Lumban ?“ bertanya Rahu. “Tidak, Aku akan memanggilnya dari sini“ jawab Kiai Kanthi. Rahu mengerutkan keningnya. Bahkan ia sempat bergurau “Dengan Aji pameling ?“ Kiai Kanthi tersenyum. Jawabnya “Ya. Jlitheng telah mempelajari Aji yang paling baik.“ Namun Rahu itupun mengerutkan keningnya ketika ia melihat Kiai Kanthi mendekati sebuah kentongan Kemudian dengan nada tertentu, Kiai Kanthi membunyikan kentongan itu. Sambil menar ik nafas Rahu berkata “Itukah Aji pameling yang dipelajari oleh Jlitheng.?“ “Ya. Ki Ajar Cinde Kuninglah yang kemudian menganggap Jlitheng sebagai cucunya dan muridnya. Banyak ilmu yang telah dituangkan kepadanya. D antaranya adalah Aji pameling itu.“ Semua orang yang mendengarnya ternyata. Bahwa Raden Ajeng Ceplikpun tertawa pula. Ternyata nada itu telah dikenal baik oleh anak-anak muda Lumban. Karena itu, maka anak-anak muda yang tinggal di padukuhan terdekat dengan padepokan itu. yang mendengar suara kentongan telah menyambungnya pula. Demikian padukuhan berikutnya, sehingga akhirnya suara dalam nada itu telah didengar pula oleh Jlitheng. Panggilan itu memang agak menggelisahkan Jlitheng. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia telah pergi ke padepokan. Namun yang dijumpainya adalah Pangeran Sena Wasesa dan beberapa orang yang menyertainya Bahkan diantara mereka terdapat Raden Ajeng Ceplik dan orang yangg pernah melakukan banyak tugas bersama Rahu Pertemuan itu adalah pertemuan yang cerah. Pangeran Sena Wasesa yang merasa sangat berterima kasih kepada Kiai Ajar Cinde Kuning. Kiai Kanthi, Jlitheng dan beberapa orang yang bersamanya waktu itu. termasuk kedua saudara Endang Srini, benar-benar ingin menikmati suasana yang segar di padepokan itu. “Aku merasa sangat letih akhir-akhir ini“ berkata Pangeran Sena Wasesa “karena itu. aku ingin beristirahat. Aku tinggalkan Daruwerdi dan ibunya untuik menunggui rumah bersama Swasti. Jika Kiai Kantihi mengijinkan, maka aku akan tinggal disini beberapa hari.“ “Beberapa hari“ ulang Kiai Kanthi didalam hatinya. Ada seberkas kegembiraan karena Pangeran Sena Wasesa sudi tinggal di padepokan itu untuk beberapa hari. Tetapi apakah ia dapat menanggapinya dengan pantas. Agaknya Pangeran Sena Wasesa melihat kegelisahan perasaan hati Kiai Kanthi. Karena itu maka katanya “Jangan memikirkan yang bukan-bukan Kiai. Anakku juga dapat memasak seperti Swasti. Biarlah ia membantu Kiai di dapur untuk menjamu kami semuanya. Sementara itu, akupun sebenarnya ingin pula berburu setelah sekian lamanya hidupku dicengkam oleh ketegangan. Bukankah di hutan itu masih banyak terdapat binatang buruan ?“ “Ya. Pangeran“ jawab Kiai Kanthi untuk menghilangkan kesan kegelisahannya “kami masih mensisakan binatang buruan itu bagi Pangeran.“ Pangeran Sena Wasesa tertawa. Katanya “Baiklah. Besek aku akan berburu.“ Demikianlah, maka Pangeran Sena Wasesa yang akan bermalam di padepokan itu telah membuat Kiai Kanthi dan Jlitheng sibuk. Mereka menyiapkan bilik-bilik yang ada dan membenahi sebaik-baiknya. Namun daiam pada itu. sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa memang mempunyai satu kepentingan khusus dengan Kiai Kanthi sehubungan dengan persoalan anaknya, Daruwerdi dan Swasti. Yang kemudian secara khusus telah dibicarakannya. Seketika padepokan itu mulai diliputi oleh kegelapan Karena itu maka Daruwerdi tidak diajaknya serta. Dalam pada itu, sementara ayahandanya berbincang dengan Kiai Kanthi dan ditunggui pula oleh Ki Ajar Cinde Kuning, maka Raden Ajeng Ambarsari telah berbincang sendiri dengan Rahu dan Jlitheng Banyak hal tentang padepokan itu yang ditanyakan. Juga tentang Kabuyutan Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Namun dalam pada itu, ketenangan padepokan kecil itu justru sedang dalam pengamatan beberapa orang yang darahnya sedang dibakar oleh dendam. Pada saat-saat Pangeran Sena Wasesa mulai melupakan persoalannya dengan Pangeran Gajahnata. maka dendam yang pernah disebut oleh Kang-jeng Sultan itu telah membakar kedamaian di daerah Lumban dan padepokan kecil dibawah bukit. Dua orang berkuda dengan tergesa-gesa telah melaporkan kepada seorang yang duduk diatas sebuah batu di pinggir sebuah patcgalan yang sepi “Nampaknya sama sekali tidak ada sesiagaan di padepokan itu. “ Orang yang duduk di atas batu itupun mengangguk- angguk. Katanya “Bagus. Aku akan segera memberitahukan kepada ayahanda, bahwa kita akan dapat bergerak sekarang. Bukankah begitu. ? “ “Ya Raden. Agaknya kita akan dengan cepat berhasil. Kita akan mengejutkan mereka kemudian menggilas mereka dengan serta merta.“ jawab orang yang berkuda itu. Orang yang duduk diatas batu itupun meloncat turun. Kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju kedalamseriak di pategalan. ”Bagaimana Bramadaru ?“ bertanya seseorang dari dalam gerumbul itu. “Kita dapat melakukannya sekarang ayahanda“ jawab orang yang datang. Orang yang berada didalam semak itupun kemudian bertanya kepada seorang yang lain “Bagaimana pendapat Ki Ajar Wrahasniti ?“ “Bagiku, kapan saja sergapan itu dapat dilakukan.“ jawab Ki Ajar Wrahasniti “menurut laporan dari pengamatan kepercayaanku. Pangeran Sena Wasesa hanya diiringi oleh tiga atau ampat pengawal saja. Mungkin dipadepokan itu ada beberapa orang, termasuk anak muda yang bernama Jlitheng itu. Tetapi kita cukup kuat untuk menundukkan mereka. Pangeran tahu. bahwa tidak ada orang yang akan dapat mengimbangi kemampuan Pangeran kecuali Pangeran Sena Wasesa sendiri. Bahkan mungkin Pangeran Sena Wasesapun akan tidak mampu bertahan terlalu lama menghadapi Pangeran Gajahnata Sementara itu. adik seperguruanku itu akan menyapu orang-orang padepokan kecil itu. Sementara siapapun yang tidak dapat dikalahkan oleh Pangeran Gajahnata dan adik seperguruanku, maka aku akan menghancurkannya menjadi debu.“ “Mereka membawa beberapa orang pengawal“ gumam Bramadaru. “Apa artinya para pengawal itu. Kitapun membawa beberapa orang pengawal. Kita sudah mempersiapkan diri untuk melepaskan dendam ini sejak lama. Tiba-tiba datang laporan, bahwa kesempatan itu datang. Jangan disia-siakan kesempatan ini. Rasa-rasanya aku ingin segera melihat padepokan itu menjadi karang abang.“ berkata Ki Ajar Wrahasniti. “Bagus“ geram Bramadaru “sakit hatiku akan dapat aku lepaskan. Di padepokan itu ada pula anak muda yang bernama Jlitheng. yang telah menyakiti hatiku pada saat-saat aku sangat memerlukan diajeng Ceplik. “ “Agaknva anak muda yang bernama Daruwerdi, yang ternyata adalah putera Pangeran Sena Wasesa sendiri tidak bersama dengan mereka“ berkata Ki Ajar Wrahasniti “tetapi itu bukan apa-apa. Kita akan dapat datang ke istana itu dilain kesempatan setelah tugas kita disini selesai. Istana Pangeran Sena Wasesa itupun akan menjadi karang abang. Demikian pula istana yang sedang dipersiapkan bagi seorang Pangeran yang akan diangkat karena jasa-jasanya. Pangeran Candra Sangkaya yang saat ini lebih senang menyebut dirinya Jlitheng itu.“ Sejenak kemudian, maka Ki Ajar Wrahasnitipun segera mempersiapkan orang-orangnya. Nampaknya ia tidak mau gagal, sehingga karena itu, maka ia membawa beberapa orang yang dianggapnya akan dapat membantunya menghancurkan Pangeran Sena Wasesa berserta para pengiringnya. “Sekarang, diajeng Ceplik Itu tidak boleh lepas lagi. Nasibnya akan menjadi bertambah buruk, justru karena kesalahan kakaknya itu“ geramBramadaru. “Kau terlalu terikat kepada gadis itu“ potong ayahandanya “kita akan menyelesaikan persoalan yang penting lebih dahulu. Bukankah semua kegagalan Ini juga disebabkan karena perhatianmu yang berlebihan terhadap Ceplik. sehingga kau telah merubah rencana yang seharusnya kita lakukan dibawah pohon nyamplung itu ?“ “Tidak ayahanda, seandainya diajeng aku serahkan pada saat itu kepada orang yang bertugas mencegatku, maka akibatnya akan sama saja, karena rupa-rupanya Daruwerdi dan Jlitheng sudah mengikuti aku sejak dari istana.“ jawab Bramadaru. Gajahnata tidak menjawab lagi. la tidak mau bertengkar. Kesulitan perasaannya sudah cukup parah. Bahkan sejak ia meninggalkan istananya rasa-rasanya ia sama sekali tidak pernah merasa dapat duduk tenang dan dapat tidur nyenyak barang sekejappun. Sejenak kemudian. Ki Ajar Wrahasniti telah siap dengan orang-orangnya. Dengan suara bernada berat ia memberikan beberapa pesan. Orang-orangnya itu harus tahu, bahwa yang dihadapi adalah orang-orang yang cukup ber ilmu. “Serahkan Pangeran Sena Wasesa kepada Pangeran Gajahnata“ berkata Ki Ajar Wrahasniti “kemudian orang yang paling baik diantara mereka akan aku hadapi langsung. Sementara itu, yang lain akan dapat kalian musnahkan.“ “Serahkan anak muda yang bernama Jlitheng itu kepadaku.“ berkata Bramadaru. “Kau sudah dikalahkannya“ desis Pangeran Gajahnata. “Tidak ayahanda“ sahut Bramadaru “saat itu aku menghindar, karena Daruwerdipun tentu akan ikut melawanku. Tetapi sebenarnya aku sendiri belum dikalahkannya. Goresan-goresan kecil ditubuhku itu sama sekali t idak berarti bagiku.“ Bramadaru berhenti sejenak. Namun kemudian ia melanjutkan “Tetapi ada juga baiknya, berikan seorang kawan kepadaku.“ K! Ajar Wiahasniti menarik nafas dalam-dalam. Desisnya “Sebenarnya aku percaya bahwa Raden akan dapat mengalahkannya tanpa bantuan orang lain. Tetapi ketegangan dihati Raden memang akan dapat berpengaruh. Karena itu. aku tidak berkeberatan jika seseorang akan membayangi Raden dalam pertempuran nanti.“ Bramadaru mengangguk-angguk. Namun ia tidak dapat mengingkar i kenyataan bahwa ia memang sudah dikalahkan oleh anak muda yang bernama Jlitheng seandainya ia tidak melarikan diri meskipun Daruwerdi tidak datang membantunya. Demikian, maka sejenak kemudian, orang-orang Ki Ajar Wrahasniti itupun sudah mulai bergerak. Mereka kemudian merayap dalam gelapnya malam mendekati padepokan Kiai Kanthi yang dalam keadaan sehari-hari terasa tenang dan diliputi udara yang sejuk oleh pepohonan yang memang sudah ada sebelumpadepokan itu di bangun. “Kita akan mengepung padepokan itu“ berkata Ki Ajar Wrahasniti “tidak boleh seorangpun diantara mereka yang lolos.“ “Kita memasuki padepokan itu“ berkata Pangeran Cajahnata “aku akan langsung menemui adimas Pangeran Sena Wasesa. Aku ingin membuat perhitungan dengan orang itu.“ ”Baik Pangeran. Kita akan melalui gerbang didepan, sementara yang lain akan meloncati dinding dan memasuki padepokan lewat segala arah.“ sahut Ki Ajar. Lalu katanya “Aku akan memberikan pertanda jika saatnya sudah tiba. Aku akan membunyikan isyarat burung kedasih. Dua orang di arah lain akan menyambung isyarat itu sehingga semuanya akan dapat mendengarnya.“ Para pengikut Ki Ajar itu mendengarkan dengan saksama. Sambil mengangguk-angguk merekapun kemudian menerima perintah untuk mulai menebar. Ki Ajar Wrahasniti dan Pangeran Gajahnata sudah berada didepan pintu gerbang halaman padepokan yang tidak tertutup rapat. Sebuah lampu minyak menyala di bagian dalam, namun tidak dapat menerangi seluruh halaman depan padepokan yang cukup luas. Sementara Bramadaru sudah bersiap pula untuk meloncat dari samping apabila isyarat itu sudah diberikan. Ki Ajar masih menunggu sejenak sambil memperhatikan suasana. Nampaknya padepokan itu sepi-sepi saja. Ketika Ki Ajar membuka pintu yang tidak diselarak itu. maka dilihatnya beberapa orang masih duduk dipendapa. Agaknya setelah Pangeran Sena Wasesa selesai berbicara tentang Daruwerdi dan Swasti. yang kedua-keduanya tidak diajak bersama mereka ke padepokan itu. maka yang lainpun telah dipersilahkan untuk duduk-duduk dipendapa pula. “Sekarang Pangeran ?“ bertanya Ki Ajar. “Ya. Agaknya adimas Sena Wasesa duduk dipendapa itu dengan beberapa orang yang kurang aku kenal“ sahut Pangeran Gajahnata. “Jangan hiraukan mereka“ sahut Ki Ajar Wrahasniti “orang- orangku akan menghancurkan mereka. Mungkin mereka juga termasuk orang-orang berilmu yang menurut pendengaran kita telah membantu Pangeran Sena Wasesa. tetapi aku tidak yakin bahwa mereka memiliki kemampuan seperti Pangeran Sena Wasesa sendiri.“ Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Ajar itupun justru telah bergeser sedikit menjauh. Sambil meletakkan kedua tangannya disebelah mulutnya, maka mulailah terdengar suara burung kedasih Malam memang sudah menjadi semakin dalam. Suara burung kedasih itu terdengar ngelangut diantara desir angin yang lemah. Semua orang-orang yang berada dipendapa sama sekali tidak memperhatikan suara burung kedasih itu. Namun ketika diarah lain juga terdengar suara burung yang sama, maka Ki Ajar Cinde Kuning mulai tertarik kepada suara itu. “Kiai“ desis Ki Ajar Cinde Kuning “apakah Kiai mendengar suara burung kedasih itu ?“ Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Namun agaknya ia sudah mulai tertarik pula kepada suara burung itu, sebagaimana Pangeran Sena Wasesa. “Aku mendengarnya Ki Ajar. Justru sangat menarik“ desis Kiai Kanthi. Belum lagi Kiai Kanthi melanjutkan kata-katanya, maka Pangeran Sena Wasesa itupun berdesis “Dimana Ceplik ?“ “la berada didalam bilik yang sudah disediakan Pangeran.“ jawab Rahu. “Panggil anak itu kemari. Cepat“ desis Pangeran yang menjadi gelisah itu. Rahupun dapat menanggapi persoalannya. Karena itu, maka iapun dengan cepat telah pergi ke ruang dalam. Pintu bilik yang diperuntukkan bagi Raden Ajeng Ambarsari sudah tertutup. Namun Rahupun telah mengetuknya “Puteri. Ayahanda memanggil. Apakah puteri sudah tidur?“ Raden Ajeng Ceplik terkejut. Dengan serta merta iapun bangkit sambil bertanya “Dimana ayahanda sekarang?“ “Dipendapa. Ada sesuatu yang penting.“ jawab Rahu. Raden Ajeng Ceplik itu masih berbenah dir i sejenak, sedangkan Rahu menjadi gelisah. Sementara itu, maka Jlithengpun telah diperintahkan untuk member itahukan kepada para pengawal yang berada di- gandok untuk bersiap. “Suara burung kedasih itu sangat menarik perhatian Pangeran“ berkata Jlitheng Ketiga pengawal itupun kemudian mempersiapkan dirinya. Senjata merekapun telah melekat dilambung untuk menanggapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Sementara itu, Jlithengpun telah berbenah diri pula. Pedang tipisnya telah digantungkannya pada ikat pinggangnya. Ketika ia kembali ke pendapa, maka dilihatnya Rahu bersama Raden Ajeng Ceplik telah hadir pula. “Ayahanda memanggil aku ?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik. “Ya Ceplik“ jawab Pangeran Sena Wasesa “aku menjadi curiga mendengar suara burung kedasih itu.“ “Kenapa ? Apakah ayahanda percaya bahwa suara burung itu merupakan isyarat kematian ?“ bertanya Ambarsari. “Jika suara itu benar-benar suara burung, aku tidak percaya Ceplik. Tetapi yang kami dengar agaknya bukan suara burung yang sebenarnya.“ jawab ayahandanya. Wajah Raden Ajeng Ceplik menjadi tegang. Dengan suara sendat ia bertanya “Jadi suara apakah itu ayahanda?“ “Karena itu maka kau telah aku panggil. Kau jangan berada ditempat yang terpisah dari kami.“ berkata ayahandanya. Raden Ajeng Ceplik tidak menjawab. Tetapi jantungnya serasa berdetak semakin cepat. Dalam pada itu, suara burung kedasih itu sudah didengar oleh semua pengikut Ki Ajar Wrahasniti. Karena itu, maka merekapun segera mulai bergerak. Beberapa orang telah meloncat dinding halaman dari bagian belakang. Yang lain dari samping termasuk Bramadaru. Namun demikian ia memasuki padepokan, maka iapun segera melihat, seorang gadis berada di pendapa, diantara orang-orang yang masih saja berkumpul. Sementara itu, Pangeran Gajahnata dan Ki Ajar Wrahasnitipun telah memasuki halaman lewat regol. Dengan langkah yang pasti keduanya telah menuju ke pendapa. Orang-orang yang berada di pendapa itupun telah berdiri tegak. Raden Ajeng Ceplik memang menjadi cemas. Sementara itu, ayahandanya berkata “Pergilah kesudut. Kami akan menahan mereka.“ Raden Ajeng Ceplikpun bergeser kesudut. Sementara itu ayahanda telah bergeser pula mengikutinya. Ketika beberapa orang yang memasuki padepokan itu lewat belakang tidak menemukan orang lain dipadepokan itu, maka merekapun telah mencari diruang dalam. Tetapi untunglah bahwa Raden Ajeng Cepflik telah berada bersama ayahandanya dipendapa, sehingga ruang dalam itu memang sudah kosong. Yang membentur kekuatan dihalaman padepokan itu adalah beberapa orang yang melewati gandok. Tiba-tiba saja mereka telah bertemu dengan tiga orang pengawal yang siap menghadapi mereka dengan senjata terhunus. Orang-orang Ki Ajar Wrahasniti justru surut selangkah. Mereka masih belum bertindak langsung terhadap ketiga orang bersenjata itu, karena mereka masih belum mendapat perintah berikutnya. Dalam pada itu, Pangeran Gajahnata yang mendekati tangga pendapa telah berkata dengan lantang “He, agaknya aku berhasil menemukan adimas disini.“ Pangeran Sena Wasesa telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Beberapa orang yang ada di pendapa telah memencar pula disebelah menyebelah Pangeran Sena Wasesa untuk melindungi Raden Ajeng Ceplik. “Selamat datang di padepokan ini kakangmas“ desis Pangeran Sena Wasesa. “Aku tidak memerlukan basa basi itu adimas. Persoalan diantara kita sudah jelas. Kau telah merusak hari depan anakl ku sehingga ia kehilangan pegangan untuk melangkah menyongsong cita-citanya.“ “Aku tidak tahu maksud kakangmas. Seharusnya akulah yang menuntut agar kakangmas menyerahkan Bramadaru yang telah menghinakan martabat kewanitaan anak gadisku. Hampir saja Bramadaru berhasil menghancurkan hidup Ambarsari. “ “Satu fitnah yang paling keji. Aku tahu bahwa anakku akan diperlakukan seperti itu. Aku tahu bahwa apa yang sampai kepada Kangjeng Sultan tentu berlawanan dengan kenyataan yang dialami oleh anakku. Dan aku tahu bahwa Kangjeng Sultan akan percaya begitu saja fitnah yang tidak beralasan itu“ geram Pangeran Gajahnata. “Aku tahu sekarang“ desis Pangeran Sena Wasesa “kakangmas tidak mau didahului. Karena itu, maka kakangmas telah menyerang kami sekeluarga lebih dahulu, seolah-olah kami telah memfitnah. Tetapi apa saja yang kakangmas katakan, ada beberapa orang saksi yang akan dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Termasuk anak perempuanku itu.“ “Ia bukan saksi yang sah. Ia akan dapat mengatakan apa yang kau pesankan adimas.“ bantah Pangeran Gajahnata “tetapi baiklah kita tidak usah berbantah. Aku menuntut atas kehinaan yang kami alami sehingga kami harus meninggalkan istana kami.“ “Seharusnya Pangeran tidak usah pergi“ Rahu telah memotong pembicaraan itu “jika Pangeran tidak merasa bersalah. Pangeran tentu akan tetap berada didalam istana bersama Raden Bramadaru.“ “Tutup mulutmu“ geram Pangeran Gajatnata “kau tidak usah mencampuri persoalan ini. Aku akan menuntut harga diriku dengan taruhan nyawa. Kita akan bertempur sampai kita akan melihat, siapa saja yang berhasil keluar dari padepokan ini dalamkeadaan hidup.“ Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab lagi. Ia sadar bahwa ia harus menghadapi dengan kekerasan. Karena itu, maka iapun telah member ikan isyarat kepada seisi padepokan itu untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu, Ki Ajar Wrahasnitilah yang kemudian melangkah maju sambil berkata “Ki Sanak, menghuni padepokan ini. Jika kalian tidak melibatkan dir i, kami akan member i kesempatan Ki Sanak untuk meninggalkan tempat ini.” Yang menjawab adalah Kiai Kanthi “Pangeran Sena Wasesa adalah tamu kami, isi padepokan ini. Karena itu, keselamatannya adalah juga keselamatan kami.“ “Bagus“ Ki Ajar Wrahasnitipun kemudian berteriak lantang “kita hancurkan seisi padepokan ini.“ Dengan demikian maka orang-orangnya telah bergerak dengan serentak. Namun dalam pada itu, tiga orang pengawal Pangeran Sena Wasesapun telah bergerak pula. Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit. Sebagaimana dikehendaki, maka Pangeran Gajahnata telah bertempur melawan Pangeran Sena Wasesa. Dalam kesibukan pertempuran itu, tiba-tiba saja Bramadaru telah menyusup disela-sela dentang senjata langsung meloncat kearah Raden Ajeng Ceplik Ia ingin mempergunakan gadis itu untuk memaksa ayahandanya menyerah. Namun ketika ia berhasil menangkap tangan Raden Ajeng Ceplik yang menjerit-jerit, tiba-tiba saja terasa kening Raden Bramadaru bagaikan tertimpa segumpal batu. Sejenak matanya berkunang-kunang. Namun iapun segera menyadari keadaannya. Ternyata seorang anak muda tengah menarik Raden Ajeng Ceplik dan menempatkannya di sebelah pintu pringgitan. “Jlitheng“ geram Raden Bramadaru. Jlitheng tidak menjawab. Sementara Raden Ajeng Ceplik berdiri dengan gemetar. “Aku memang ingin bertemu dengan kau lagi“ berkata Bramadaru dengan wajah yang tegang. Jlitheng masih tetap berdiam diri. Namun ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian keduanya sudah bertempur dengan sengitnya. Namun yang pernah terjadi, telah terulang lagi. Bramadaru memang t idak dapat mengimbangi kemampuan Jlitheng. Dalam pada itu, adik seperguruan Ki Ajar Wrahasniti yang merasa memiliki kelebihan dari kebanyakan orang telah menyerang Kiai Kanthi yang dianggapnya sebagai pemilik padepokan itu. Dengan ilmunya yang tinggi ia berusaha memaksa Kiai Kanthi untuk tunduk kepadanya. Namun orang itu terkejut. Ternyata bahwa Kiai Kanthi memang bukan orang kebanyakan pula. Sementara itu. yang masih belum bertempur adalah Ki Ajar Wrahasniti sendiri. Ia menyaksikan orang-orang yang bertempur dengan sengitnya. Dihadapan tiga orang pengawal Pangeran Sena Wasesapun telah memutar pedang mereka seperti baling-baling. Sementara itu. beberapa orang telah menjadi keheranan melihat seorang tua yang cacat telah mengacaukan perhatian mereka. Empat orang pengikut Ki Ajar Wrahasniti benar-benar menjadi bingung menghadapi Ki Ajar Cinde Kuning, yang dianggapnya sebagai seorang tua cacat yang lemah. Namun ternyata orang itu dapat berbuat sesuatu yang bagi mereka tidak masuk akal. Hampir pada saat yang bersamaan keempat orang yang bertempur berpasangan itu telah terlempar dan jatuh terlentang. Namun orang tua itu membiarkan saja mereka berusaha untuk bangkit dan kemudian mengepungnya kembali. “Orang aneh“ berkata Ki Ajar Wrahasniti yang segera menyadari bahwa orang itu sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka iapun segera mempersiapkan diri untuk menghadapinya. “Ki Sanak“ berkata Ki Ajar Wrahasniti “agaknya anak-anak itu memang bukan lawanmu.“ “Jadi bagaimana ?“ bertanya Ki Ajar Cinde Kuning. “Agaknya akulah yang harus melawanmu“ berkata Ki Ajar Wrahasniti. “Lalu, bagaimana dengan keempat orang ini ?“ bertanya Ki Ajar Cinde Kuning. “Biar lah ia membantu menghancurkan kawan-kawanmu. Anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu memang harus mati. Pangeran Sena Wasesa harus mati dan pemimpin padepokan inipun harus mati.“ jawab Ki Ajar Wrahasniti. “Jangan curang“ berkata Ki Cinde Kuning “mereka telah mempunyai lawan mereka masing-masing.“ “Persetan“ geram Ki Ajar Wrahasniti “kalian semuanya akan mati dengan cara apapun juga.“ Ki Ajar Cinde Kuning mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Mereka tidak boleh mengganggu pertempuran ini.” Ki Ajar Wrahasniti sama sekali tidak menghiraukannya, iapun kemudian melocat mendekat sambil berteriak “lepaskan lawanmu. Biar aku yang membunuhnya.“ Tetapi yang terjadi adalah satu hal yang sangat mengejutkan. Keempat orang yang sudah bersiap meninggalkan orang cacat itu tiba-tiba telah terdorong dengan kekuatan yang luar biasa. Serentak mereka jatuh terlentang. Kepala membentur lantai sehingga tiga diantara mereka menjadi pingsan, sedangkan seorang lagi punggungnya bagaikan menjadi patah “Gila“ geram Ki Ajar Wrahasniti yang menyerang Ki Ajar Cinde Kuning dengan dahsyatnya. Tetapi dalam benturan- benturan pertama sudah terasa, bahwa orang cacat itu memang bukan tandingnya. Sementara ¡tu. adik, seperguruan Ajar Wrahasniti yang bertempur melawan Kiai Kanthipun tidak banyak dapat berbuat, sehingga dengan demikian ia terus-menerus telah terdesak. Dalam pada itu hanya Pangeran Gajahnata sajalah yang mampu mengimbangi ihnu Pangeran Sena Wasesa. Keduanya adalah Senapati besar yang memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Namun, suasananya agak berbeda bagi mereka yang bertempur di halaman. Tiga orang pengawal itu harus bertempur melawan lima orang, sehingga dengan demikian, maka mereka-pun mulai mengalami kesulitan. Karena itu, tanpa memperhatikan keadaan di pendapa yang hampir seluruhnya dikuasai, apalagi ketika Rahu yang melawan tiga orang dapat mendesak lawannya sehingga turun kehalaman, telah teringat cara yang dipergunakan oleh Kiai Kanthi memanggil Jlitheng. Justru sadar akan kemungkinan yang dapat mempengaruhi seluruh pertempuran itu, maka tiba-tiba salah seorang diantara ketiga orang itu berdesis “Bertahanlah untuk sejenak.“ Orang itu tidak menunggu jawaban. Tiba-tiba saja ia telah meloncat kearah kentongan. Sejenak kemudian telah bergema nada titir yang memecah kesenyapan malam. Titir itu benar-benar mengejutkan seisi Kabuyutan Lumban Ketika padukuhan yang pertama dan kedua menyambung suara titir itu, maka anak-anak muda yang meronda yang langsung mengenali suara kentongan itu, segera berlari-lari ke padepokan kecil. Jika tidak ada sesuatu yang gawat, maka tidak akan mungkin padepokan yang dihuni oleh orang-orang berilmu itu akan membunyikan isyarat dengan nada titir. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka padepokan itu benar-benar sudah dikepung Sejenak kemudian, kepungan itupun merapat dan berpuluh-puluh anak muda segera memasuki halaman. Suasana menjadi semakin gaduh. Obor telah menyala dimana-mana, sehingga padepokan itu menjadi terang. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Rahulah yang pertama-tama berteriak kepada lawan- lawannya “Tidak ada kesempatan apapun bagi kalian.“ Pangeran Gajahnata menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan kenyataan itu. Pangeran Gajahnata melihat bahwa Bramadaru telah terdesak. Bahkan kemudian darah telah mulai menitik dari tubuhnya. Sementara itu Ki Ajar Wrahasnitipun telah menemukan seorang lawan yang tidak mungkin dapat diimbanginya. Betapa penyesalan telah bergejolak didalam diri Pangeran Gajahnata. Namun ia menghadapi satu keadaan yang tidak dapat diingkarinya lagi. Jantungnya bagikan terlepas ketika ia mendengar Bramadaru menjer it tertahan. Luka yang panjang telah tergores di-dadanya meskipun t idak terlalu dalam. Akhirnya tidak ada pilihan lain bagi Pangeran Gajahnata sebelum anaknya terbunuh oleh anak muda yang bernama Jlitheng dan bergelar Pangeran Candra Sangkaya yang bersenjata pedang yang tipis itu. kecuali menghentikan pertempuran. Sambil meloncat mundur Pangeran Gajahnatapun berdesis “Baiklah Kami menyerah.“ “Tidak“ teriak Bramadaru. Tetapi suaranya terputus. Sebuah goresan telah melukai lambungnya. Sementara itu anak-anak muda Lumban dengan segala macam senjata telah merayap semakin mendekat pendapa. Bahkan beberapa diantara mereka telah berdiri di pinggir arena pertempuran antara para pengawal di halaman. Ki Ajar Wrahasniti sendiri tidak mencegah penyerahan itu, karena iapun tidak akan mampu berbuat apa-apa. Apalagi mereka tidak akan dapat mengabaikan puluhan anak-anak muda yang berada dihalaman. Maka pertempuran itupun kemudian berakhir sebelum jatuh seorang korbanpun yang terbunuh, meskipun ada diantara mereka yang luka-luka. Dengan demikian, maka merekapun telah diperlakukan sebagai tawanan, meskipun Pangeran Gajahnata mendapat perlakuan yang khusus. Tangannya tidak diikat dengan tampar atau janget, tetapi sehelai kain sekedar di sangkutkan saja di pundaknya sebagai pertanda bahwa ia adalah seorang tawanan meskipun ia seorang bangsawan. “Maaf Pangeran“ desis Rahu “kami tidak mempunyai cinde sehelaipun disini.“ Pangeran Gajahnata hanya dapat menggeram. Satu pengalaman baru telah terjadi didalam hidup Jlitheng setelah pertempuran itu. Dihari ber ikutnya, ketika Pangeran Sena Wasesa bersiap untuk kembali ke Demak dan menitipkan para tawanan di padepokan itu sampai saatnya prajurit Demak mengambil mereka, maka terdengar Raden Ajeng Ceplik berbisik “Datanglah ke Demak. Kau lebih baik tinggal disana. Istanamu sudah hampir siap.“ Diluar sadarnya Jlitheng menjawab “Aku tidak akan dapat tinggal seorang diri dalam istana yang besar itu “ Namun sambil tersenyum Raden Ajeng Ambarsari itu berkata “Aku akan mengawanimu.“ Wajah Jlitheng menjadi merah. Namun jantungnya terasa bagaikan mengembang. Tetapi Raden Ajeng Ceplik itu benar-benar telah menghidupkan kembali gairah didalam hati Jlitheng menentang masa depannya. Ketika ir ing- iringan Pangeran Sena Wasesa meninggalkan padepokan, karena Pangeran itu telah memperpendek kunjungannya dan membatalkan niatnya untuk berburu berhubung dengan peristiwa yang tidak diduga sebelumnya itu. Raden Ajeng Ceplik masih selalu berpaling dan melambaikan tangannya. Jlitheng terkejut ketika ia mendengar suara berbisik di- ampj ignya “Kau adalah cucuku. Aku akan menjadi ganti orang tuamu jika kau memerlukan aku datang menghadap Pangeran Sena Wasesa.“ “Ah“ Jlitheng hanya berdesah. Ki Ajar Cinde Kuning tersenyum. Bahkan Kiai Kanthi-pun tersenyum pula. Kiai Kanthi ternyata merasakan satu kebahagiaan setelah ia mengetahui bahwa ada sesuatu terselip dihati Jlitheng terhadap Raden Ajeng Ambarsari dan demikian pula sebaliknya. Ia merasa bersalah ketika Swasti ternyata lebih dekat dengan Daruwerdi daripada dengan anak muda yang bergelar Candra Sangkaya itu. Tetapi untuk beberapa saat Jlitheng masih tetap berada di Lumban. Meskipun istananya telah hampir siap, namun ia masih tetap menghayati kehidupan di Kabuyutan itu. Setiap pagi ia sudah bergulat dengan lumpur dan tanaman disawah Bahkan kadang-kadang untuk waktu yang lama ia berada di- atas bukit berhutan untuk merenungi mata air yang mengalir dengan derasnya. Mata air yang kemudian sudah dapat dikendalikan dan bermanfaat bagi kehidupan di Kahuyutan Lumban. Namun dalam pada itu, Jlitheng bukan saja menjadi orang yang sangat berarti bagi Lumban. tetapi ia juga merupakan seorang mur id yang dibanggakan oleh gurunya. Ki Ajar Cinde Kuning. Meskipun demikian, waktunya tidak dihabiskannya didalam Sanggar, karena agaknya lumpur dan air tetap merupakan bagian dari hidupnya sehari-hari. Demikianlah air dari atas bukit itu kemudian menjadi semakin teratur mengalir menuruni tebing dan memencar menusuk kekedalaman tanah persawahan di Lumban yang menjadi semakin subur. “Jika aku harus meninggalkan Kabuyutan ini, maka aku telah melihat tanah ini menjadi hijau“ berkata Jlitheng didalam hatinya. Sebenarnyalah bahwa ia tidak dapat mengingkari gejolak perasaan didalam dir inya, bahwa ia tidak akan pernah melupakan Raden Ajeng Ceplik untuk seterusnya. Dan ternyata bahwa Jlitheng telah menyongsong har i-hari yang berbahagia.
TAMAT.

 (c) topmdi.net 2011. All Rights Reserved.