Welcome to topmdi - ebook collection
Jilid 01 TIDAK seorangpun tahu, sejak
kapan kolam itu berada di dataran sempit di sebuah bukit. Dibawah
sebatang pohon yang besar dan rimbun, berdaun tiga bentuk.
Sebenarnya bukan karena pohon itu pohon ajaib yang berdaun tiga
bentuk dalam jenis yang berbeda. Tetapi pohon yang besar itu
memang terdir i dar i tiga batang pohon. Tiga batang pohon yang
tumbuh berimpitan. Ketika pohon itu menjadi semakin besar, maka
ketiga batangnya seolah-olah luluh menjadi satu. Sedang
cabang-cabangnya berhiaskan daunnya masing-masing yang berbeda.
Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun kolam itu tidak dijamah.
Meskipun airnya bening dan bersumber dari mata air yang deras
dibawah batang pohon raksasa yang berdaun tiga jenis itu. Namun
sendang itu adalah sendang yang berada dilingkungan hutan kecil di
bukit yang jarang disentuh kaki manusia. Airnya yang berlimpah
menyusup disela-sela batu- batu padas dan mengalir t idak terarah,
sehingga akhirnya terjun kedalamsebuah lereng terjal dan hilang
masuk kedalam luweng yang dalam, menyatu dengan aliran air dibawah
batu- batu padas yang keras. Dari musim kemusim, kolam itu tetap
melimpahkan airnya yang bening. Meskipun langit bersih dan udara
kering di musim kemarau, namun kolam itu seakan-akan tidak pernah
susut. Sekali-kali dari gerumbul-gerumbul yang lebat diseputar kolam
itu, beberapa ekor binatang turun dengan ragu-ragu. Jika terdengar
aum harimau, maka binatang-binatang yang lainpun segera berlari
tunggang langgang, hilang dibalik rimbunnya dedaunan. Binatang buas
itu pulalah yang menyebabkan daerah itu jarang dikunjungi manusia.
Meskipun dibawah bukit itu terdapat beberapa padukuhan, namun tidak
seorangpun diantara mereka yang pernah bermimpi untuk menyadap air
dari kolam itu bagi kepentingan padukuhan mereka. Karena itulah,
maka padukuhan-padukuham dibawah bukit itu menggantungkan air bagi
sawah dan ladang mereka dari hujan yang jatuh dari langit. Sehingga
dimusim kemarau, tidak ada diantara mereka yang dapat menanam jenis
padi yang manapun selain satu dua orang mencoba juga menanam padi
gaga dan palawija. Meskipun demikian, orang-orang dipadukuhan
dibawah bukit itu tidak berusaha merubah keadaan mereka. Mereka
hidup seperti nenek moyang mereka yang tinggal sejak lama didaerah
itu. Bahkan mereka merasa wajib menghormati dengan segala tata cara
dan kebiasaan yang mereka pertahankan. Seolah-olah apa yang ada dan
berlaku di padukuhan mereka haruslah mut lak berlangsung terus dari
tahun ketahun. Dan agaknya tidak seorangpun yang mengganggu mereka
hidup dalam dunia yang telah mereka hayati dengan tenang untuk waktu
yang lama. Namun dalam pada itu, dijalan setapak yang panjang, dua
orang sedang berjalan dalam terik panasnya matahari. Agaknya mereka
adalah dua orang perantau yang datang dari tempat yang jauh dan
telah menempuh jarak yang panjang. Wajah-wajah mereka yang merah
terbakar oleh panasnya matahari di siang hari, dan dinginnya embun
dimalam hari, membuat mereka nampak letih dan lelah. Tetapi keduanya
sama sekali tidak mengeluh. Mereka melangkah terus menuruti jalan
sempit itu menuju kebukit. “Ayah,“ desis yang seorang. Seorang gadis
yang meningkat dewasa, “ada beberapa padukuhan kecil yang tersebar
didaerah yang luas.” Yang seorang mengerutkan keningnya. Ia juga
melihat padukuhan yang berpencar dibawah bukit. Tetapi ia menjawab,
“Swasti, kita tidak akan menuju kepadukuhan itu. Di tanah berbatu
padas sebelah, aku mendengar arus air dibawah tanah. Agaknya arus
air itu berasal dari bukit yang nampak dibelakang daerah yang dihuni
oleh orang dibeberapa padukuhan. Sedangkan didaerah ini aku sama
sekali tidak melihat parit dan saluran air yang mengalir di musim
kering ini.” “Ayah,“ jawab gadis itu, “sumber air yang mengalir
dibawah tanah itu mungkin memang berasal dari bukit dibelakang
padukuhan yang tersebar itu. Tetapi mungkin pula tidak. Air itu
sudah berada dibawah tanah sejak dari seberang bukit.” Orang tua
yang berjalan disamping anak gadisnya itu tersenyum. Jawabnya,
“Marilah kita lihat Swasti. Nalur iku mengatakan bahwa sumber air
itu berada dibukit yang nampak itu. Tetapi j ika aku salah, maka aku
akan dapat menelusurinya sampai keseberang bukit. Pendengaranku
masih cukup kuat untuk menangkap suara arus dibawah tanah dan
mengikuti arahnya.” Gadis itu tidak menjawab. Tetapi ia percaya
bahwa ayahnya memang dapat menangkap desir air dibawah tanah dan
mengikuti arahnya, karena ayahnya memang seorang yang memiliki
kelebihan dari orang kebanyakan. Untuk beberapa saat keduanya
terdiam. Mereka masih berjalan terus menyusuri jalan setapak. Mereka
sengaja menghindari padukuhan yang berada dibawah bukit, untuk tidak
menarik perhatian penghuni-penghuninya. “Kau lelah?“ terdengar orang
tua itu bertanya kepada anak gadisnya. Gadis itu t idak menjawab.
Tetapi wajahnya yang kemerah- merahan menunduk dalam-dalam,
seolah-olah ia ingin melihat sejenak ujung kakinya yang kecil
melangkahi batu-batu disepanjang jalan sempit. Orang tua itu menarik
nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika kau diam itu berarti bahwa kau
memang lelah. Dan aku-pun mengerti bahwa kau memang sudah lelah.”
Swasti tidak menjawab. “Kau adalah seorang gadis yang luar biasa
Swasti,“ berkata orang tua itu. “Ayah selalu memuj i aku, agar aku
tetap berjalan terus mengikut i ayah,“ desis gadis itu. Orang tua
itu tersenyum. Jawabnya, “Kau menangkap maksudku Swasti. Tetapi
akupun berkata sebenarnya. Tidak ada gadis yang akan dapat bertahan
untuk berjalan-jalan berhari-hari seperti kau, sejak kita
meninggalkan padepokan kita yang dilumatkan oleh gempa dan tanah
longsor itu.” Swasti tidak menjawab. “Karena aku menyadari, bahwa
perjalanan kita adalah perjalanan yang berat, maka aku tidak membawa
para cantrik yang ada dipadepokan. Aku serahkan mereka kembali
kepada orang tua mereka, dengan harapan, bahwa apabila kita sudah
menemukan tempat untuk menetap, maka para cantrik yang lima orang
itu akan aku panggil.” Swasti masih tetap berdiam diri. “Tetapi
sudah tentu aku t idak dapat meninggalkan kau. Kau adalah anakku
satu-satunya. Sepeninggal ibumu, kau adalah tumpuan hidupku, karena
masa depanku ada padamu.” Swasti masih tetap melangkah sambil
menundukkan kepalanya. “Swasti, jika kau memang lelah sekali, kita
akan beristirahat dibawah pohon yang rimbun itu,“ berkata ayahnya
kemudian. Swasti mengangkat wajahnya. Dipinggir jalan sempit itu
dilihatnya sebatang pohon yang besar. Tetapi gadis itu bertanya,
“Ayah, beberapa ratus tonggak lagi kita akan sampai kebukit itu.
Nampaknya disekitar bukit itu masih terdapat hutan yang barangkali
tidak begitu luas dan lebat. Jika kita berjalan terus, maka kita
akan segera sampai. Dan kita akan dapat beristirahat dipinggir hutan
itu.” Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa anak gadisnya
telah sangat lelah. Tetapi Swasti ingin segera sampai ketujuan agar
ia dapat beristirahat cukup lama dan tidak terganggu. Orang tua itu
mengangguk-angguk. Kemudian katanya dalam nada yang dalam, “Baiklah
Swasti. Kita berdoa, mudah- mudahan mata air dari aliran dibawah
tanah itu berada di lereng bukit itu, meskipun aku juga
meragukannya, bahwa dipadukuhan ini tidak terdapat parit yang
mengalir. Agaknya air dipadukuhan ini sangat tergantung kepada air
hujan tanpa memanfaatkan arus air yang terdengar mengalir dibawah
tanah.” “Tetapi air dibawah tanah itu cukup dalam ayah. Ketika aku
menengok kedalam luweng yang terbuka itu, nampak arus itu berada
jauh dibawah batu-batu padas.” “Itulah sebabnya kita harus menemukan
sumbernya. Mudah-mudahan. Tetapi jika tidak, maka kita akan membuat
pertimbangan lain.” Swasti hanya mengangguk-angguk saja. Ia
mengikuti langkah ayahnya meskipun sekali-kali ia harus menyeka
keringatnya dikening. Demikianlah maka keduanya berjalan terus.
Ketika mereka sampai dibawah sebatang pohon yang rimbun, mereka
hanya berhenti sebentar karena Swasti mengajak ayahnya melanjutkan
perjalanan. Tetapi belum beberapa langkah, mereka tertegun.
Dikejauhan mereka melihat beberapa orang petani berjalan mengikut i
seseorang yang agak berbeda dalam sikap dan pakaian. “Kau lihat yang
seorang itu Swasti ?“ bertanya ayahnya. Swasti memandang kearah
beberapa orang yang berjalan disepanjang pematang, menyilang jalan
sempat yang dilalui oleh kedua orang itu. Sambil mengangguk Swasti
menjawab, “Ya ayah.” “Apakah kau juga melihat kelainan padanya ?”
“Ya. Pakaiannya dan barangkali juga sikapnya.” Ayahnya mengangguk.
Namun katanya kemudian, “Kita tidak mempunyai persoalan dengan
mereka. Kita akan berjalan terus tanpa menarik perhatian mereka.”
Swasti tidak menjawab. Tetapi keduanya dengan sengaja memper lambat
langkah mereka, agar para petani dan seorang yang agak asing itu
mendahului menyilang jalan setapak itu. Swasti dan ayahnya memang
tidak banyak menar ik perhatian. Orang itu hanya sekedar berpaling.
Namun merekapun segera berjalan terus tanpa menghiraukan kedua orang
ayah dan anak perempuannya itu. Namun dalam pada itu, ternyata
Swasti dan ayahnyalah yang banyak memperhatikan orang itu meskipun
dengan diam-diam. Nampaknya ia memang orang asing atau pendatang
dipadukuhan yang kering dimusim kemarau itu. “Agaknya ada juga
orang-orang kota yang tertarik pada daerah kering ini ayah,“ berkata
Swasti. Ayahnya mengangguk. Jawabnya, “Mungkin orang kota yang ingin
berbuat sesuatu bagi kemajuan padukuhan yang lamban itu. Atau
mungkin ia memang berasal dari salah satu padukuhan itu, kemudian
pindah kekota atau merantau, untuk mendapatkan penghidupan yang
lebih baik. Setelah ia berhasil, ia pulang kembali menengok
keluarganya dengan sikap dan pakaian yang lain.” Swasti hanya
mengangguk-angguk saja. Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan
mereka meskipun sekali-sekali Swasti masih saja berpaling, memandang
beberapa orang petani dan seorang yang asing itu berjalan semakin
jauh. “Bulak ini panjang Swasti,“ berkata ayahnya, “nampaknya
tanahnya kurang mendapat garapan.” Swasti mengerutkan keningnya.
Kemudian katanya, “Tetapi tanda itu ayah?” Ayahnya mengerutkan
keningnya. Merekapun kemudian berhenti sejenak pada sebuah batu di
pinggir jalan setapak itu. “Sebuah tanda perbatasan antara dua
padukuhan yang dipimpin oleh Buyut yang berbeda,“ berkata ayahnya.
Swasti memperhatikan batu yang disusun seperti sebentuk candi kecil
dengan beberapa huruf yang terpahat padanya. Sambil
mengangguk-angguk ia berkata, “Ya ayah. Dua kelompok padukuhan yang
berbeda meskipun mula-mula mereka berada dalam satu lingkungan.
Tetapi agaknya seorang Buyut yang mempunyai dua orang anak laki-laki
kembar terpaksa membagi wilayahnya menjadi dua kelompok padukuhan
dibawah pimpinan dua orang anak kembarnya.” Ayah Swasti
mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah- mudahan kedua orang Buyut itu
akan tetap rukun seperti dua orang saudara. Terlebih-lebih lagi
keduanya adalah saudara kembar yang lahir pada saat yang hampir
bersamaan dari seorang ibu yang sama.” Swasti masih memandang
sesusun batu yang merupakan sebuah candi kecil itu. Kemudian sambil
mengangguk-angguk ia berkata, “Pembagian itu sudah terjadi agak lama
ayah, sehingga kedua orang Buyut itu sudah setua ayah atau bahkan
lebih.” “Ah,“ ayah Swasti menyahut, “aku belum terlalu tua. Kedua
Buyut itu tentu jauh lebih tua daripadaku.” Swasti memandang ayahnya
sejenak. Kemudian jawabnya, “Memang ayah belum terlalu tua. Jika ada
uban yang tumbuh itu adalah karena musim kemarau yang terlalu
panjang.” Ayahnya tertawa. Sambil bergeser ia berkata, “Marilah.
Kita berjalan lagi. Bukankah kau ingin beristirahat setelah kita
sampai keujung hutan dilereng bukit itu.” Swasti mengangguk. Iapun
kemudian mengikuti ayahnya melanjutkan perjalanan menuju kekaki
bukit. Ketika matahari turun di sebelah Barat, maka sinarnya yang
terik mulai memudar. Awan yang putih terapung dilangit dihembus
angin ke Utara. Sekumpulan burung bangau yang putih seperti awan
yang dihanyutkan angin itu, terbang kearah yang berlawanan, dengan
leher dan kaki yang terjulur panjang. Swasti menarik nafas
dalam-dalam. Mereka sudah semakin dekat dengan ujung hutan dikaki
bukit. Meskipun agaknya hutan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup
padat oleh tetumbuhan liar. “Tentu masih dihuni oleh binatang buas,“
desis Swasti. Ayahnya mengangguk. Katanya, “Nampaknya demikian
Swasti. Tetapi mudah-mudahan binatang-binatang buas itu tidak
mengganggu. Meskipun demikian kita memang harus berhati-hati.
Bukankah kau pandai memanjat ?” Swasti mengangguk. Tetapi tatapan
matanya bagaikan tertambat pada batang-batang pohon di ujung hutan
dihadapan mereka. Keduanya masih berjalan terus meskipun Swasti
nampaknya menjadi semakin lelah. Tetapi hutan itu sudah dekat. Tanah
yang basah dan getaran yang dapat ditangkap oleh ketajaman indera
ayah gadis itu, memberikan harapan bahwa mata air itu akan dapat
mereka ketemukan dihutan dihadapan mereka. Swasti menarik nafas
dalam-dalam ketika bayangan pepohonan hutan itu mulai menyentuh
tubuhnya. Kemudian dilemparkannya seonggok bungkusan yang dibawanya.
Dengan serta merta dijatuhkannya tubuhnya yang ramping diatas tanah
dipinggir hutan itu tanpa menghiraukan kemungkinan binatang merayap
yang dapat menyengat tubuhnya. “Tanah ini memang basah ayah,“ desis
Swasti. Ayahnya mengangguk-angguk. Dipandanginya padang perdu yang
sempit dipinggir hutan itu, yang membatasi daerah persawahan.
Keheranan nampak membayang diwajahnya. “Apa yang ayah perhatikan ?”
bertanya Swasti. “Tanah ini basah Swasti. Tetapi sawah itu justru
nampak kering dimusim kemarau.“ sahut ayahnya. “Ada sesuatu yang
kurang pada penghuni padukuhan yang tersebar ini ayah. Mereka kurang
pengetahuan tentang bercocok tanam, atau mereka memang malas untuk
mencari yang belumpernah mereka miliki.” Ayahnya mengangguk-angguk.
Sejenak ia masih memandang daerah yang luas dihadapannya. Namun
iapun kemudian duduk disebelah anaknya yang masih saja berbaring.
Bahkan oleh angin yang semilir, Swasti mulai dijalari oleh perasaan
kantuk. “Jangan tidur,“ desis ayahnya. Swasti menarik nafas
dalam-dalam. Namun iapun dengan malasnya bangkit dan duduk pula
bersandar sebatang pohon. “Aku letih sekali ayah. Bagaimana kalau
aku tidur barang sekejap?” “Sebentar lagi senja akan menjadi gelap.
Jangan tidur disaat-saat seperti ini. Tunggulah sampai gelap. Kita
akan membuat perapian dan t idur bergantian.” Swasti menggeliat.
Katanya, “Tetapi aku memerlukan air sekarang ayah.” “Kau sudah minum
bukan ? Di padukuhan lewat ujung bulak ini kita sudah mendapatkan
belas kasihan dari seseorang yang sedang memetik kelapa. Kita
mendapat air kelapa secukupnya.“ ayahnya berhenti sejenak, lalu.
“tetapi jika kau sudah mulai haus lagi, marilah. Kita mencari batang
merambat. Aku aku memotong pangkal dan ujungnya. Dan kita akan
mendapatkan air untuk minum.” “Ayah hanya memer lukan air untuk
minum. Tetapi aku tidak.” Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Lalu,
“Baiklah. Kita akan segera mencar i air. Naluriku mengatakan, bahwa
kita sudah dekat dengan mata air.” Swasti akan menjawab. Tetapi ia
melihat ayahnya sedang memusatkan pendengarannya sambil menyentuh
tanah dengan telapak tangannya. Karena itu Swasti tidak mengucapkan
kata-katanya. Bahkan iapun kemudian berdiri dan melangkah untuk
melihat-lihat keadaan disekitarnya. Didalam hati Swasti masih juga
selalu mengagumi ayahnya. Dengan melekatkan telapak tangannya
ditanah, seolah-olah lewat jalur urat nadinya, getaran-getaran bumi
terdengar oleh telinga batinnya. Sehingga dengan demikian ayahnya
dapat mengetahui arah arus air dibawah batu-batu padas yang dalam.
Swasti berpaling ketika ayahnya memanggilnya. “Swasti,“ berkata
ayahnya, “rasa-rasanya kita sudah tidak jauh lagi dari sebuah mata
air. Tetapi apakah kau tidak ingin beristirahat barang sejenak? Atau
mungkin semalam ini ? Besok pagi-pagi kita akan mencari mata air
didaerah pebukitan ini.” “Kenapa tidak malam nanti ayah? Sekarang
aku memang akan beristirahat. Mungkin aku memerlukan tidur sejenak,
meskipun setelah malam menjadi gelap. Tengah malam kita melanjutkan
perjalanan.” “Hutan ini belum pernah kita kenal,“ sahut ayahnya,
“sebaiknya kita tidak memasukinya dimalamhari.” Swasti
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Besok
pagi2 kita melanjutkan perjalanan.” Perlahan-lahan gelap malam mulai
turun menyelubungi bukit. Dengan batu titikan dan segumpal emput
gelugut aren, ayah Swasti membuat api. Dengan dedaunan kering dan
ranting-ranting yang berserakan, ia membuat perapian. Kemudian
beberapa potong kayu diletakkannya pula diatas api. “Sekarang tidur
lah,“ berkata ayah Swasti. Swasti yang memang sudah berbaring
menguap. Kemudian jawabnya, “Ya ayah. Aku akan tidur.” Ayahnya
memandang anak gadisnya dengan tatapan kebapaan. Ia merasa iba
melihat gadisnya yang letih berbaring diatas rerumputan kering.
Meskipun Swasti sempat membersihkan tempat ia berbaring, namun
rasa-rasanya bergejolak juga jantung ayahnya melihat anak gadisnya
terbaring diatas tanah. Tetapi orang tua itu berkata didalam hati,
“Mudah- mudahan yang terjadi ini merupakan syarat keprihatinannya.
Mudah-mudahan kelak Yang Maha Agung member ikan hari- hari yang
lebih cerah kepadanya.” Swasti yang lelah itu dengan tenang tertidur
nyenyak. Gadis itu terlalu percaya kepada ayahnya, bahwa ayahnya
akan dapat melindunginya dari segala bahaya. Namun belum lagi tengah
malam, Swasti terkejut. Tiba-tiba saja ayahnya membangunkannya
dengan tangan menggigil. “Swasti, Swasti.” Swasti terkejut. Namun
rasa-rasanya tubuhnya tertekan oleh himpitan kekuatan yang
menahannya untuk meloncat bangkit. Bahkan kemudian rasa-rasanya
tubuhnya menjadi sangat lemah. Namun ia memaksa dir i untuk bangkit
dan duduk disebelah ayahnya yang ketakutan. “Ada apa ayah ?“
bertanya Swasti. “Seekor harimau Swasti. Seekor har imau yang garang
sekali.” Swasti menjadi heran. Namun iapun mulai mendengar dengus
binatang buas itu. “Tetapi …,“ suara Swasti terputus. Ia merasa
tekanan pada urat nadi dipergelangan tangannya, sehingga ia tidak
melanjutkan kata-katanya. Dengan tegang Swasti memandang ayahnya
yang ketakutan. Sementara dengus harimau yang garang, semakin lama
semakin lama semakin mendekat. “Ayah, apakah binatang buas tidak
takut melihat api ?“ bertanya Swasti yang lemah. “Aku tidak tahu
Swasti. Tetapi binatang itu tentu akan menerkam kita.” Ayah Swasti
memalingkan wajahnya ketika tiba-tiba saja seekor harimau yang besar
muncul dari balik gerumbul dan mulai merunduk mendekati kedua orang
ayah dan anaknya itu. Swasti menjadi heran melihat sikap ayahnya.
Tentu ada sebabnya kenapa ayahnya tidak berdiri tegak menghadapi
harimau yang sedang merunduk itu, dan justru merengek- rengek
seperti anak-anak. Sedang dirinya sendir i seolah-olah menjadi lemah
tidak bertenaga. Sementara itu harimau yang garang itupun menjadi
semakin dekat. Kemudian merendah di kaki depannya sehingga dadanya
menyentuh tanah. Ekornya dikibas- kibaskannya perlahan, sedang kedua
belah matanya bagaikan menyala. Harimau yang garang itu siap untuk
meloncat menerkam orang tua dan anak gadisnya yang nampaknya
ketakutan. Namun ketika har imau itu mengaum, tiba-tiba meloncatlah
seorang anak muda disebelah perapian. Wajahnya yang tegang menyala
dengan penuh kemarahan. “Jangan takut,“ geram anak muda itu, “aku
akan membunuh har imau yang buas itu.” “O,“ ayah Swasti menyahut
dengan suara gemetar, “tetapi harimau itu sangat besar.” Anak muda
itu tidak menjawab. Ia berdiri dengan kaki renggang dan sebilah
pisau belati ditangan, siap menghadapi harimau yang perhatiannya
telah berpaling kepada anak muda itu. Swasti termangu-mangu.
Ternyata anak muda itu adalah anak muda yang dilihatnya berjalan
berir ing dengan para petani dipematang dengan pakaian dan sikap
yang asing. Ketika kemudian terdengar harimau itu mengaum keras,
maka anak muda itupun merendah pada lututnya. Ia telah bersiap
sepenuhnya ketika harimau itu kemudian meloncat menerkamnya. Sejenak
kemudian telah terjadi pertarungan yang dahsyat antara seekor
harimau yang besar dan garang, melawan anak muda bersenjata pisau
belati itu. Ternyata anak muda itu lincah sekali. Ia mampu mengelak,
dan bahkan kemudian meloncat kepunggung harimau itu. Tangan kirinya
memeluk leher harimau itu seperti melekat. Betapapun harimau itu
berusaha, namun anak muda dipunggungnya tidak dapat dilemparkannya.
Terdengar auman yang bagaikan menyobek sepinya hutan dilereng bukit
itu, ketika anak muda itu mulai menghunjamkan pisau belatinya
ketubuh harimau yang melonjak-lonjak dan sekali-kali
berguling-guling. Tetapi harimau itu ternyata tidak berdaya. Semakin
lama luka-luka ditubuhnya menjadi semakin banyak. Darah mengalir
semakin deras. Tidak saja membasahi tubuhnya sendir i, tetapi anak
muda itupun mulai dilumuri oleh warna-warna merah. Bukan saja karena
darah harimau yang menjadi semakin tidak berdaya. Tetapi ternyata
tubuh anak muda itu sendiri telah terluka pula karenanya. Swasti
memandang perkelahian itu dengan tanpa berkedip. Ia menjadi kagum
melihat kesigapan anak muda itu. Ia yakin bahwa sebentar lagi
harimau yang garang itu tentu akan terbunuh. Ayahnya yang gemetarpun
nampaknya menjadi semakin tenang. Ia melihat anak muda itu
benar-benar telah menguasai lawannya. Akhirnya, dengan auman yang
dahsyat harimau itu berusaha melonjak dan melepaskan dir i dengan
sisa tenaganya. Tetapi tidak berhasil. Bahkan tusukan-tusukan
berikutnya membuat harimau itu tidak berdaya. Sesaat kemudian, maka
pertempuran itupun selesai. Anak muda yang perkasa itu melepaskan
tubuh harimau yang telah dibunuhnya. Sambil mengusap pisaunya yang
berlumuran darah ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya,
“Jangan takut lagi kakek tua, Harimau itu sudah mati.” “Terima kasih
ngger. Terima kasih.“ suara ayah Swasti masih bergetar. Anak muda
itupun kemudian berdiri tegak memandang orang tua itu berganti-ganti
dengan anak gadisnya. Setapak ia melangkah maju kedekat perapian
sambil berkata, “Jiwa kalian telah selamat.” “Tetapi, tetapi angger
sendiri nampaknya teriuka,“ berkata ayah Swasti. Anak muda itu
memandangi tubuhnya. Katanya sambil tersenyum, “Wajar sekali jika
aku terluka. Kuku harimau itu lebih tajam dari duri. Kekuatannya
melampaui kekuatan seekor kerbau gila.” “Tetapi angger dapat
mengalahkannya.” Anak muda itu tersenyum. “Lalu. bagaimana dengan
luka-luka itu?“ bertanya ayah Swasti. “Aku mempunyai obatnya. Aku
akan mandi, kemudian mengobati luka-lukaku.“ ia berhenti sejenak,
lalu, “tetapi siapakah kau berdua ini ? Dan kemanakah tujuan kalian
? Aku lihat kalian sebagai dua orang yang sedang bepergian jauh.
Siang tadi, ketika kita bertemu, aku t idak begitu menghiraukan
kalian. Tetapi ketika aku melihat perapian, aku jadi teringat. Aku
sudah menduga bahwa kalianlah yang berada dipinggir hutan ini.” “Ya
ngger. Akupun ingat, bahwa kita telah berjumpa. Sebenarnyalah bahwa
aku tidak mempunyai tujuan tertentu. Kami berdua dalam perjalanan
perantauan menuruti kehendak hati.” Anak muda itu memandang Swasti
sejenak. Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia tidak berniat untuk
bertanya lagi kepada ayahnya, karena ia sudah dapat menangkap,
apakah yang sebenarnya terjadi. Meskipun demikian, ia tetap
mengagumi anak muda yang perkasa itu. Dalam usianya ia sudah
memiliki ilmu kanuragan yang mantap, sehingga kekuatannya dapat
mengimbangi kekuatan seekor harimau. Ketangkasannyapun melampaui
ketangkasan orang kebanyakan. “Perjalanan kalian hampir merenggut j
iwa kalian,“ berkata anak muda itu, “sayang sekali. Siapakah gadis
itu?” “Anakku,“ jawab ayah Swasti. “Bawalah kepadukuhan. Tentu ada
tempat bagi kalian berdua.” “Ah,“ jawab ayah Swasti, “kami tidak
pantas tinggal bersama angger. Kami adalah perantau yang tidak ada
harganya. Beribu terima kasih. Tetapi biarlah kami melanjutkan
perjalanan kami.” “Jangan merajuk seperti anak-anak Kiai,“ berkata
anak muda itu, “sekali lagi kalian bertemu dengan seekor har imau,
maka kalian akan mati.” “Kami akan berhati-hati ngger. Adalah salah
kami, bahwa kami t idak memanjat sebatang pohon. Biasanya kami tidur
diatas pepohonan. Tetapi malam ini kami lengah, sehingga hampir saja
maut menjemput kami.” Anak muda itu mengerutkan keningnya, ia
menjadi heran mendengar jawaban orang tua itu. Hampir diluar
sadarnya ia bertanya, “Jadi anak gadismu itu juga pandai memanjat ?”
Orang tua itu termangu-mangu, sedangkan Swasti menundukkan
kepalanya. Wajahnya menjadi merah. “Begitulah ngger,“ jawab ayah
Swasti, “karena kebiasaan kami merantau, maka kadang-kadang anak
gadisku berbuat yang tidak biasa dilakukan oleh gadis-gadis yang
lain. Ia memang dapat memanjat meskipun harus ditolong. Kami membuat
anyaman tali pada dahan-dahan untuk menolong agar kami t idak
terjatuh.” “Kau tidak takut harimau kumbang yang juga pandai
memanjat ?” “Tidak banyak terdapat harimau kumbang ngger. Tetapi
seandainya kami bertemu juga dengan har imau kumbang, maka aku
mungkin akan dapat melawannya dengan pedangku. Harimau pada umumnya
lemah j ika mereka berada diatas pepohonan.” Anak muda itu
tersenyum. Jawabnya, “Nampaknya kau memang seorang perantau yang
berpengalaman menjelajahi hutan. Tetapi pada suatu saat kau
dihadapkan pada bayangan maut seperti yang baru saja kau alami.“
anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi kau adalah orang yang
aneh. Kau tidak jera karena peristiwa ini. Bahkan seolah-olah kau
cepat melupakannya.” Orang tua itu termangu-mangu. Jawabnya, “Bukan
begitu ngger. Tetapi aku berharap bahwa aku tidak akan bertemu lagi
dengan seekor harimau. Atau aku tidak membuat kelengahan lagi
seperti yang terjadi.” “Kau sangka bahwa harimau hanya dapat kau
temui di malamhari ? Bagaimana disiang hari ?” “Biasanya kami tidak
menyelusur i hutan seperti ini. Kami berjalan di bulak-bulak
panjang. Dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain. Tetapi kami
memang sering bermalam dipinggir-pinggir hutan agar kami tidak
mengganggu penghuni padukuhan dengan kecur igaan dan mungkin
tuduhan-tuduhan yang kurang baik.” Anak muda itu mengangguk-angguk.
Setiap kali diluar sadarnya tatapan matanya menyambar wajah Swasti
yang tertunduk. Dalam keremangan cahaya api perapian, wajahnya
nampak kemerah-merahan. Ada sesuatu yang menarik pada gadis yang
nampak kotor dan kumal itu. Tetapi anak muda itupun kemudian
berkata, “Terserahlah kepadamu kakek tua. Aku sudah mempersalahkan
kau pergi kepadukuhan. Aku akan menanggungmu. Orang-orang padukuhan
tidak akan berani berbuat sesuatu atas orang- orang yang ada
dalamperlindunganku.” “Terima kasih ngger. Terima kasih.” “Baiklah.
Aku akan pergi. Jika kau kemudian mengambil keputusan untuk datang
kepadukuhanku, datanglah. Aku tinggal dipadukuhan terbesar disebelah
batas. Disudut padukuhan itu nampak sebatang pohon randu alas yang
besar.” “Baik, baik ngger. Tetapi kami belum mendengar nama angger.
Mungkin pada suatu saat kami memang akan mencari angger.” Anak muda
itu tertawa. Katanya, “Namaku Daruwerdi.” Ayah Swasti
mengangguk-angguk. Desisnya, “Nama itu bagus sekali. Apakah angger
juga berasal dari padukuhan itu?” Anak muda yang bernama Daruwerdi
itu tertawa semakin keras. Tanpa menjawab pertanyaan itu ia
melangkah sambil berkata, “Aku akan pulang. Sekali lagi aku memberi
kesempatan. Bawalah gadismu kepadukuhan itu. Jika kau mau,
tinggallah disana. Barangkali itu lebih baik bagimu dan bagi masa
depan anakmu. Pada suatu saat anakmu memer lukan sesuatu yang tidak
dapat kau ketemukan diperantauanmu itu. Atau barangkali lebih baik
kau t itipkan gadismu kepada seseorang yang dapat kau percaya agar
ia dapat menikmati kehidupan sewajarnya seperti gadis-gadis yang
lain.” “Ia satu-satunya anakku ngger.” “Kau terlalu mementingkan
dirimu sendir i. Kau sama sekali tidak memikirkian nasib dan hari
depan anakmu. Apalagi seorang gadis.” Orang tua itu tidak menjawab.
Sementara anak muda itu melangkah menjauh. Tetapi ia masih berhenti
dan berpaling, “Siapa nama anakmu itu kakek?” Orang tua itu
memandang Daruwerdi sejenak. Kemudian jawabnya, “Swasti. Namanya
Swasti ngger.” “Nama itupun bagus sekali. Jangan kau sia-siakan
anakmu. Tatapan matanya mengandung kepahitan hidupnya. Dan kau masih
mementingkan dirimu sendiri.” Daruwerdi tidak menunggu jawaban orang
tua itu. Iapun kemudian melangkah semakin jauh dan hilang dalam
kegelapan, di sela-sela pepohonan. Ketika anak muda itu telah
hilang, Swasti beringsut mendekati ayahnya sambil bergumam, “Ayah
memij it pusat nadi tanganku.” Orang tua itu tersenyum Jawabnya,
“Anak muda yang luar biasa. Aku mendengar kedatangannya. Karena itu
aku biarkan ia melawan harimau yang garang itu. Ternyata ia
berhasil.” “Ayah membiarkan ia melakukan pekerjaan yang sangat
berbahaya itu,“ desis Swasti. “Jika ia tidak meyakini kemampuannya,
ia tidak akan melakukannya.” Swasti tidak menjawab. Tubuhnya terasa
telah pulih kembali. Ia mengerti, bahwa ayahnya memaksanya untuk
tidak berbuat sesuatu saat Daruwerdi berkelahi dengan seekor
harimaul yang garang itu. Namun dalam pada itu, wajah ayah Swastipun
menegang pula. Tiba-tiba saja ia berbisik ditelinga anaknya, “Ia
datang kembali. Aku mendengar desir lembut. Berbuatlah seperti yang
aku kehendaki.” Swasti mengangguk. Meskipun badannya telah pulih
kembali, tetapi ia tetap duduk dengan lemahnya seperti yang
dikehendaki oleh ayahnya. Beberapa saat mereka menunggu. Desir halus
itu terdengar semakin dekat. Tetapi ayah Swasti tidak memalingkan
wajahnya seolah-olah ia sama sekali tidak mendengarnya. Baru
kemudian ketika terdengar pepohonan yang dikuakkan, orang tua itu
terkejut, sehingga ia tergeser beberapa jengkal. Dengan serta merta
ia berpaling memandang kearah suara desir dedaunan yang tersibak.
Tetapi ternyata orang tua itu benar-benar terkejut. Wajahnya menjadi
tegang. Ternyata yang datang bukannya Daruwerdi. Tetapi orang lain.
Juga seorang anak muda. Tetapi anak muda itu nampaknya lebih
sederhana dalam pakaian seorang petani biasa. “O,“ desis ayah
Swasti, “siapakah kau anak muda?” Anak muda itu mengangguk hormat.
Dengan membungkuk-bungkuk ia melangkah mendekati sambil menjawab,
“Kiai, jika berkenan dihati, aku akan memperkenalkan diriku. Aku
adalah anak padukuhan disebelah hutan ini. Anak seorang janda miskin
yang barangkali tidak berarti sama sekali bagi Kiai.” Anak Swasti
mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya, “Aku tidak mengerti
maksud anak muda.” Anak muda itu menar ik nafas dalam-dalam.
Kemudian katanya, “Kedatangan Kiai kedaerah terpencil ini
menumbuhkan pertanyaan dihatiku. Ketika aku mendengar aum seekor
harimau, aku telah tertarik untuk melihatnya, karena sebenarnyalah
aku memang melihat menjelang senja dua orang yang memasuki hutan
ini. Agaknya Kiai dan perempuan yang barangkali sanak kadang Kiai.”
“Ia adalah anakku,“ jawab ayah Swasti, “memang seekor harimau telah
merunduk kami. Tetapi untunglah, seorang anak muda yang bernama
Daruwerdi telah menolong kami. Lihatlah ngger, harimau itu telah
dibunuhnya.” “Luar biasa,“ desisnya. Tetapi wajahnya sama sekali t
idak menunjukkan perubahan apapun. Apalagi keheranan. Katanya
selanjutnya, “Daruwerdi memang seorang anak muda yang perkasa, ia
tinggal dipadukuhan disebelah hutan ini pula. Tetapi berbeda dengan
padukuhan-padukuhan yang ada sebelah tanda batas itu. Ia berada
dibawah kekuasaan Buyut yang berbeda dengan kelompok padukuhanku.”
“O,“ ayah Swasti mengangguk-angguk. “Ia berhasil membunuh harimau
itu dengan hanya mempergunakan pisau belati?” Anak muda itu
tersenyum. Katanya, “Tentu setiap orang ingin menolong Kiai dan anak
gadis Kiai. Meskipun aku tidak berkemampuan kanuragan, akupun
berniat untuk menolong seandainya diperlukan. Tetapi, rasa-rasanya
yang dilakukan oleh Daruwerdi adalah sia-sia.” Swasti dan ayahnya
terkejut mendengar kata-kata anak muda itu, sehingga dengan serta
meria ayah Swasti bertanya, “Kenapa sia-sia ngger ?” Anak muda itu
tertawa. Katanya, “Apakah artinya yang telah dilakukan oleh
Daruwerdi itu bagi Kiai ? Daruwerdi menyangka Kiai tidak mampu
berbuat apa-apa dan benar- benar ketakutan melihat harimau itu
datang merunduk Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi sentuhan jari-jar i
Kiai pada nadi anak gadis Kiai, menumbuhkan pertanyaan dihatiku. Dan
kemudian akupun yakin, bahwa seandainya Daruwerdi tidak menolong
Kiai akupun tidak akan melakukannya, karena Kiai akan dapat membunuh
harimau itu dengan sekali hembus tanpa menitikkan keringat dan
apalagi darah Kiai sendiri.” Ayah Swasti menjadi tegang. Dengan
ragu-ragu ia bertanya, “Anak muda melihat semuanya yang telah
terjadi ?” “Aku melihat semuanya yang terjadi. Aku tidak dapat
menahan tertawa melihat tingkah laku Daruwerdi. Meskipun ia seorang
anak muda yang berani dan memiliki kemampuan yang tinggi, tetapi ia
tidak sempat melihat siapakah Kiai sebenarnya, sehingga ia dengan
serta merta telah berusaha menolong Kiai,“ jawab anak muda itu. Ayah
Swasti menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia bertanya
pula, “Apakah angger yakin bahwa tanpa pertolongan anak muda yang
berani itu aku dapat menyelamatkan diriku sendiri ?” Anak muda itu
tertawa. Namun kemudian sambil mengangguk hormat ia menjawab, “Kiai
adalah seorang yang memiliki ilmu tiada taranya. Karena itu, seperti
yang aku katakan, tingkah laku Daruwerdi adalah kesia-siaan
dihadapan Kiai.” Ayah Swasti memandang anak gadisnya yang
mengerutkan kening. Sekilas Swasti memandang anak muda dalam pakaian
dan sikap yang sederhana itu. Tetapi ketika tiba-tiba saja anak muda
itu juga memandangnya, maka dilemparkannya tatapan matanya
kepepohonan yang kehitam-hitaman didalam kelamnya malam. “Angger,“
berkata ayah Swasti kemudian, “dihari pertama kedatanganku didaerah
ini, aku sudah dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa yang semula
diluar dugaanku. Ternyata di dua kelompok padukuhan yang dipimpin
oleh dua orang buyut yang berbeda, meskipun mereka adalah saudara
kembar, masing-masing dihuni anak muda yang memiliki ilmu yang
tinggi. Meskipun kau tidak menunjukkan kemampuanmu seperti yang
dilakukan oleh Daruwerdi, tetapi pengamatanmu atas keadaan kami
telah menunjukkan bahwa angger adalah seorang anak muda yang luar
biasa, yang tidak kalah tinggi ilmunya dari Daruwerdi.” “Ah,“ desis
anak muda itu, “Kiai keliru. Aku hanya dapat melihat. Tetapi aku
tidak dapat berbuat apa-apa.” “Jangan ingkar anak muda. Seperti anak
muda dapat melihat keadaanku, maka akupun kini menyadari, siapakah
yang ada dihadapanku.” Anak muda itu tersenyum. Katanya kemudian,
“Daruwerdi memang seorang anak muda yang terlalu baik. Ia terdorong
oleh keinginannya yang tidak terkendali untuk menolong seseorang,
sehingga ia tidak melihat siapakah yang akan ditolongnya. Sementara
aku adalah, seorang gembala yang tidak berarti, yang selain
menggembalakan kambing, aku selalu tenggelam didalam lumpur.” Ayah
Swasti mengangguk-angguk. Sambil tersenyum iapun menyahut, “Sungguh
luar biasa. Daerah yang terpencil ini ternyata memiliki kemampuan
yang mengagumkan. Angger apakah banyak anak-anak muda yang memiliki
ilmu seperti angger Daruwerdi dan angger sendiri?” Anak muda itu
mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Hanya seorang Kiai,
Daruwerdi.” Orang tua itu masih saja tersenyum. Katanya, “Angger
memang senang bergurau. Baiklah. Angger tentu mengetahui apa yang
sudah aku ketahui tentang angger, seperti aku tahu apa yang angger
ketahui tentang aku.” Ternyata bahwa anak muda itu memang banyak
tertawa. Wajahnya nampak cerah, sedang jawabnyapun rancak. “Tepat
Kiai. Dan karena itu pula aku tidak perlu bertanya, kemana Kiai akan
pergi.” Orang tua itu bertambah heran. Dengan nada dalam dan
ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa angger tidak perlu bertanya, kemana
kami akan pergi ?” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Meskipun aku
tidak pasti, tetapi aku dapat menduga. Bukankah Kiai berjalan
menyusuri suara arus air dibawah tanah ?” “Ah,“ orang itu menegang
sejenak. Tetapi anak muda itu masih tetap tertawa dan meneruskan.
“Kiai tentu ingin menemukan mata air yang menurut dugaan Kiai
tersembunyi di dalam hutan dibayangan bukit ini.” Ayah Swasti
mengangguk-angguk. Akhirnya ia menjawab, “Kami tidak ingkar ngger.
Agaknya angger memiliki ketajaman penglihatan. Bukan saja
penglihatan wadag yang telah melihat aku dengan sengaja menyentuh
pusat madi anakku agar tidak menumbuhkan kecurigaain pada angger
Daruwerdi. tetapi juga penglihatan perhitungan.” “Kiai tidak usah
memuj i. Aku kira itu bukannya suatu kelebihan. Bukankah wajar jika
seorang perantau memer lukan tempat yang dapat dihuni ? Salah satu
syarat untuk sebuah padepokan adalah air.” “Ya ngger. Kami memang
sedang mencari sumber air yang aku ketahui mengalir dibawah tanah.”
“Baiklah Kiai. Aku dapat memberikan petunjuk serba sedikit karena
aku adalah anak daerah ini.” “Terima kasih ngger.” “Kiai,” berkata
anak muda itu, “pendengaran Kiai memang sangat tajam. Kiai telah
menempuh jalan yang benar, tetapi pada suatu saat dapat kecewa
karena arus air dibawah tanah itu sudah ada sejak dari seberang
bukit.” “O,“ Swasti berdesis. Diluar sadarnya ia berkata, “Jadi kami
harus mendaki dan menuruni bukit ini, atau mencari jalan
melingkarnya ?” Anak muda itu memandang Swasti sejenak. Namun
seperti yang selalu dilakukan, ia menjawab sambil tersenyum, “Tidak.
Kalian tidak perlu melakukannya meskipun kemungkinan itu dapat
terjadi jika ayahmu salah pilih.“ ia berhenti sejenak, lalu katanya
kepada ayah Swasti, “Kiai, dibawah tanah ini memang sudah mengalir
sebuah sungai yang deras. Sementara sumber yang terdapat dibayangan
bukit ini hanya merupakan sebagian saja dari arus sungai itu. Karena
itu, jika Kiai menyelusuri suara sungai dibawah tanah itu, mungkin
sekali Kiai akan mengikut i arus yang lebih besar dari seberang
bukit.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih ngger.
Terima kasih. Aku mengerti sekarang, bahwa ada tempuran dibawah
tanah. Untunglah aku bertemu dengan angger di sini. Jika tidak,
mungkin sekali aku salah memilih jalur air sehingga aku harus
berjalan lebih jauh lagi.” “Jika demikian Kiai, marilah. Aku akan
mengantar. Kiai sampai ke mata air itu. Sebenarnyalah bahwa tempat
itu adalah tempat yang sangat mapan untuk membuat sebuah padepokan.”
Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi ia benar-benar telah menjadi
heran. Dihari yang pertama didaerah itu, ia telah bertemu dengan
orang-orang yang tidak pernah diduganya. Namun keheranan ayah Swasti
bukan saja karena sikap anak muda itu, tetapi bahwa ia mengetahui
tentang manfaat air dari mata air di bukit itu. Meskipun demikian,
sawah-sawah tetap kering dimusim kemarau. “Anak muda,“ akhirnya ayah
Swasti tidak dapat menahan ingin tahunya, “menilik sikap dan
keteranganmu tentang mata air itu, agaknya kau tahu benar guna
manfaatnya.” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Aku sudah menyangka
bahwa Kiai akan bertanya demikian. Jika di bukit ini ada mata air,
dan aku mengetahuinya, kenapa aku tidak berbuat sesuatu bagi sawah
kami yang kering.” Ayah Swasti mengangguk kecil. “Kiai,“ berkata
anak muda itu, “ada banyak sebabnya. Penghuni dar i sekelompok
padukuhan kami dan kelompok padukuhan yang lain, masih dikuasai oleh
tata kehidupan yang sudah berpuluh tahun berlangsung. Mereka masih
pula dibayangi oleh kepercayaan yang menghambat kemajuan cara
berpikir mereka. Menurut pendapat mereka, daerah dilereng bukit ini
merupakan daerah yang gawat. Tidak seorangpun yang akan berhasil
memasuki hutan yang lebat dan apalagi menemukan mata air.” “Tetapi
angger pernah melakukannya,“ potong orang tua itu. “Mereka tidak
percaya. Mereka menyangka bahwa aku sekedar bermimpi.“ anak muda itu
berhenti sejenak, lalu, “bahkan seandainya mereka percaya bahwa aku
pernah menemukan sumber air itu, namun mereka tidak akan berani
berbuat sesuatu.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Tetapi iapun
kemudian bertanya, “Bagaimana dengan Daruwerdi?” “Ia seorang anak
muda yang cakap. Ia melontarkan perhatiannya ketempat yang jauh. Ia
mempunyai kawan dan hubungan dengan orang-orang yang tidak dikenal
dipadukuhan kami, sehingga ia tidak mempedulikan lagi perkembangan
padukuhan tempat ia t inggal.” Ayah Swasti mengangguk-angguk. Namun
kemudian sambil berpaling kepada Swasti ia berkata, “Kita ternyata
telah mendapat anugerah dari Yang Maha Agung. Angger ini bersedia
mengantarkan kita sampai kemata air yang kita perlukan.” Swasti
tidak segera menjawab. Sekilas ditatapnya mata anak muda yang jernih
itu. Namun iapun hanya dapat menunduk dalam-dalam. “Angger,“
tiba-tiba saja ayah Swasti bertanya, “apakah angger sudah menyebut
nama angger ?” Anak muda itu tertawa. Katanya, “Apakah itu perlu
sekali Kiai?” “Sebutlah, agar kami tidak canggung memanggil angger.”
Anak muda itu memandang orang tua itu sesaat. Namun kemudian
senyumnya yang cerah menghiasi bibirnya yang bergerak menyebut
namanya, “Namaku jelek Kiai. Tidak sebaik Daruwerdi.“ ia nampak
ragu-ragu. namun kemudian diucapkannya juga, “namaku Jlitheng.”
“Bohong,“ diluar sadarnya Swasti tiba-tiba saja menjawab. Namun
ketika terasa anak muda itu memandanginya, terasa wajahnya menjadi
panas, sehingga iapun menunduk semakin dalam. Ayah Swastipun
tertawa. Katanya, “Menurut pengamatanku, angger bukan seorang anak
muda yang termasuk berkulit hitam.” Anak muda itu tertawa. Katanya,
“Menurut ibuku, saat aku lahir, kulitku hitam seperti arang.
Kakekkulah yang memberi nama kepadaku Jlitheng.” “Itu bukan nama
ngger. Tetapi panggilan. Atau nama panggilan. Tetapi angger tentu
mempunyai nama lain.” Anak muda itu tertawa semakin keras. Katanya,
“Panggil saja aku Jlitheng. Aku senang mendapat panggilanku.” Ayah
Swasti termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Baiklah angger
Jlitheng. Untuk sementara aku akan mempergunakan nama panggilan
itu.” “Panggil saja namaku Kiai. Kiai tidak perlu memakai sebutan
apapun. Bagiku terasa lebih akrab dan akupun jauh lebih muda dari
Kiai. Mungkin sebaya atau lebih tua sedikit dengan anak Kiai.” Ayah
Swastipun tertawa semakin keras. Tetapi Swasti menunduk semakin
dalam. Rasa-rasanya pipinya menjadi tebal dan lehernya tidak dapat
diangkatnya. Sehingga untuk beberapa lamanya ia duduk bagaikan
membeku. “Tetapi Kiai, akupun ingin mendengar Kiai menyebut sebuah
nama. Aku tidak peduli apakah itu benar-benar nama Kiai, atau
sekedar nama panggilan atau bahkan gelar Kiai.” Orang tua itu
tertawa. Jawabnya, “Aku ingin memberi gelar kepadaku sendiri.
Mungkin aku dapat menyebut beberapa gelar kebesaran. Mungkin Gajah
Limpad atau Garuda Yaksa atau gelar yang lebih dahsyat lagi. Tetapi
aku tidak dapat mengingkar i namaku sendir i yang sederhana. Anak
muda, panggillah aku dengan namaku yang sebenarnya, Kiai Kanthi. Ya,
namaku memang Kiai Kanthi.” Anak muda itu mangerutkan keningnya.
Sejenak ia seolah- olah sedang merenungi nama itu. Namun kemudian
kepalanya terangguk-angguk kecil. Dengan nada datar ia bertanya,
“Aku memang tidak bertanya, kemana Kiai akan pergi, tetapi aku
sekarang bertanya, dari manakah Kiai datang.” Orang tua yang
menyebut namanya Kiai Kanthi itupun menarik nafas dalam-dalam.
Jawabnya kemudian, “Aku berasal dari padepokan yang jauh ngger.
Padepokan yang hancur dilanda gempa dan tanah longsor yang dahsyat.
Unturglah bahwa kami sempat mengungsi. Ada beberapa orang penghuni
padepokanku selain kami berdua. Merekapun sempat meninggalkan
padepokan ketika hujan lebat dan angin prahara mulai melanda
padepokan kami. Air yang mengalir dari lereng bukit bagaikan dituang
dari langit. Ketika kemudian tanah bagaikan diguncang, maka
runtuhlah tebing bukit diatas Padepokanku. Sementara banjir yang
kemudian datang bagaikan menghanyutkan tanah garapan kami.” “Kiai,”
tiba-tiba anak muda itu memotong, “apakah Kiai datang dari daerah
Pucang Sewu disebelah Kali Buntung.” Orang tua itu termangu-mangu.
“Sungai kecl itu memang seperti setan. Dimusim kering airnya tidak
lebih dari titik-titik embun. Tetapi jika hujan turun dengan
lebatnya, maka airnya dapat meluap sampai beratus- ratus tonggak,“
desis anak muda itu. Orang tua yang menyebut dirinya bernama Kiai
Kanthi itu masih termangu-mangu. Ditatapnya wajah anak muda itu
dengan tajamnya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia
berkata, “Tentu berita tentang bencana alam itu sudah sampai
kepadukuhan ini.” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Memang
terdengar berita tentang bencana alam itu. Aku menghubungkan dengan
ceritera Kiai. Jadi apakah Kiai benar datang dari daerah Pucang Sewu
yang seakan-akan telah musnah itu ?” Kiai Kanthi mengangguk.
Jawabnya, “Benar ngger. Aku adalah salah seorang penghuni Pucang
Sewu. Pucang Sewu di bagian Barat sampai saat ini masih tetap utuh.
Tetapi agaknya daerah persawahannya tidak akan mencukupi lagi.
Sedangkan padepokanku bagaikan hanyut oleh tanah yang longsor
dilereng bukit, sedang sawah dan ladangku telah dihanyutkan oleh
banjir Kali Buntung.” “Dan sekarang Kiai mencari tempat untuk
membuka padepokan baru,“ sahut Jlitheng, “agaknya Kiai memang senang
tempat dilereng bukit. Kali ini Kiai telah menuju kelereng bukit
pula.” Kiai Kanthi mengerutkan keninignya. Kemudian sambil
tersersyum ia menjawab, “Aku tidak pernah memikirkannya. Aku tidak
pernah menganggap bahwa tinggal di lereng bukit adalah lebh baik dar
ipada tinggal ditempat lain. Adalah kebetulan bahwa kali ini aku
mengikuti arus air dibawah tanah sampai kelereng bukit pula.” Anak
muda yang lebih senang dipanggil Jlitheng itu tettawa. Katanya,
“Marilah Kai. Aku antarkan Kiai memasuki hutan ini. Sebelumpagi kita
sudah akan sampai ditujuan.” Kiai Kanthi memandang anak gadisnya
sejenak, seoah-olah ia ingin bertanya, apakah ia sudah tidak terlau
lelah untuk melanjutkan perjalanan, meskipun sejak semula Swasti
minta kepada ayahnya untuk melanjutkan perjalanan di malamhari.
Tetapi dalam pada itu, sebelum ayahnya bertanya, Swasti sudah
mendahului, “Terserahlah kepada ayah. Aku sudah beriitirahat
meskipun sebentar. Tetapi ayah sama sekali belum.” “Akupun sudah,“
jawab ayahnya, “ketika kau tertidur, aku sudah cukup beristirahat.”
Swasti tidak menjawab lagi. Dipandanginya saja anak muda yang
wajahnya nampak cerah dan selalu tersenyum itu sejenak. Namun
semakin lama wajah itu menjadi semakin kabur karena api diperapian
semakin susut. “Baiklah,“ berkata ayah Swasti, “mar ilah kita
pergi.” Swastipun kemudian bangkit sambil membenahi dirinya dan
sebungkus kecil pakaiannya. sementara ayahnya memadamkan perapian
agar apinya tidak menimbulkan bahaya kebakaran pada hutan dilereng
bukit itu. Sejenak kemudian, ketiga orang itupun telah melanjutkan
perjalanann. Jlitheng berada dipaling depan. Dibelakangnya berjalan
Kiai Kanthi. Sedang dipaling belakang adalah Swasti. Bagaimanapun
juga Kiai Kanthi masih juga harus berhati- hati. Ia sadar bahwa anak
muda itu tentu anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi, sedangkan
ia masih belum mengenalnya dengan baik, sehingga kemungkinan yang
tidak diharapkannya masih saja dapat terjadi. Tetapi agaknya anak
muda itu benar-benar ingin menunjukkan mata air yang tersembunyi
didalam hutan di bukit itu. Langkahnya tetap, seolah-olah tanpa
berpaling. Sekali-kali mereka harus menyusur i celah-celah padas
yang menanjak setinggi pepohonan. Namun sekali-kali mereka harus
berloncatan dari batu-batu raksasa kebatu berikutnya. “Apakah tidak
ada jalan lain yang lebih baik ngger ?” bertanya Kiai Kanthi.
Jlitheng menyahut tanpa berherti, “Ada Kiai. Tetapi jalan itu
panjang sekali. Kita dapat menyusuri sela-sela pepohonan. Jalannya
memang lebih baik dir i jalan yang kita tempuh sekarang. Tetapi kita
akan terlalu lama mencapai mata air itu.” Kiai Kanthi tersenyum.
Seakan-akan kepada diri sendiri ia berkata, “Kau cerdik anak muda.
Bukankah kau ingin mengetahui, apakah anak gadisku mampu melakukan
seperti yang kau lakukan sekarang.” “He?“ tiba-tiba saja Jlitheng
tertegun. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia berpaling
sambil tertawa. “Kiai mempunyai tangkapan yang tajam sekali. Dan
sekarang ternyata bahwa Swasti adalah seorang gadis yang luar biasa.
Ia tidak saja mempunyai ketahanan tubuh yang melampaui kebanyakan
orang, bahkan laki-laki sekalipun, yang ternyata dengan
perjalanannya yang berat. Tetap iapun, mampu melewati jalan ini. Ia
mamnu berloncatan dari batu ke batu. Menanjak tebing dalam gelapnya
malam. Mendaki batu- batu padas yang licin oleh lumut hijau dan
keseimbangan yang mantap.” “Ah,“ Swasti berdesis, “jika aku tahu,
aku tidak mau.” Jlitheng tertawa semakin panjang. Katanya, “Tetapi
semuanya sudah terjadi. Akulah yang akan dapat memanfaatkan
pertemuan ini sebaik-baiknya. Jika Kiai bersedia, aku akan mencoba
mempelajari ilmu yang tentu tersimpan tanpa batas di dalam dir i
Kiai.” “Ah,“ potong Kiai Kanthi, “jangan mengada-ada ngger. Aku sama
sekali bukan orang yang kau maksud. Sekarang, marilah. Kita
melanjutkan perjalanan.” Jlitheng menar ik nafas panjang, iapun
kemudian mengangguk-angguk kecil. Tetapi tidak sepatah kata lagi
keluar dari mulutnya. Ketiga orang itupun kemudian melanjutkan
perjalanan mereka. Kadang-kadang mereka mencuat dari hutan-hutan
kecil lewat batu-batu padas. Namun kemudaan mereka kembali memasuki
hutan, berjalan diantara pepohonan, dan kadang kadang menyusup
diantara sulur-sulur yang bergayutan. Dalam gelap malam perjalanan
mereka terasa tersendat- sendat. Langkah mereka menjadi lamban dan
sempit. Meskipun mereka tetap maju menyusup semakin dalam. Betapa
tajamnya telinga Kiai Kanthi ketika ia berdiri diatas batu padas
yang basah, maka iapun berkata, “Jika kau menyebut tempuran itu
ngger, agaknya kita sudah berada diatasnya.” “Ya Kiai,“ jawab
Jlitheng, “karena itu kita sudah hampir sampai. Disebelah kita akan
menemukan air itu mengalir diatas batu-batu padas dan tumpah kedalam
parit-parit di sela-sela batu yang membawa air itu masuk kebawah
tanah dan mengalir menyatu dengan sungai yang memang sudah terdapat
sejak seberang bukit.” Kiai Kanthi menarik nafas panjang. Diluar
sadarnya ia berpaling kepada anak gadisnya yang diketahuinya, tentu
telah menjadi sangat letih. Hanya karena tempaan yang pernah
diterimanya dari ayahnya sajalah, maka Swasti masih jalan
dibelakangnya betapapun berat perjalanan itu. Yang dikatakan oleh
Jlitheng hampir sampai itupun ternyata masih memerlukan waktu yang
panjang. Mereka menyusup semakin dalamdiantara pepohonan. Semakin
jauh mereka berjalan, maka semakin terasa pada kaki Kiai Kanthi,
bahwa tanah memang menjadi semakin basah. Oleh ketajaman
perasaannya, maka Kiai Kanthi pun mengetahui, bahwa perjalanan
mereka memang sudah dekat. Swasti menarik nafas dalam-dalam ketika
ia mulai mendengar gemerisik air. Bahkan rasa-rasanya ia ingin
meloncat berlari langsung menceburkan dir i kedalamnya. Namun ia
masih menahan dir i. Apalagi ia menyadari bahwa ia belum pernah
menginjak daerah itu. Daerah yang mungkin mempunyai rahasia yang
dapat mencelakakannya. Ternyata seperti yang diduganya, maka
Jlithengpun berkata, “Berhati-hatilah Kiai. Disini kita mendapatkan
beberapa jalur parit yang curam dan dalam, yang menampung air yang
meluap dari sebuah kolam.” “O, semacam luweng maksudmu ngger ?” “Ya.
Luweng yang terbuka dan terbujur memanjang.” Kiai Kanthi tidak
menjawab. Tetapi pendengarannya yang semakin jelas, seolah-olah
telah memberikan gambaran, betapa berbahayanya daerah yang belum
pernah dikenalnya itu. Namun akhirnya merekapun sampai kesebuah
dataran yang agak luas. Hutan yang tumbuh pepat menunjukkan bahwa
tanah dibawah kaki mereka adalah tanah yang basah dan subur. “Kita
sudah sampai Kiai,“ desis Jlitheng, meskipun yang nampak disekitar
mereka hanyalah kelebatan hutan semata- mata. Tetapi Kiai Kanthipun
menangkap maksud anak muda itu. Iapun merasa bahwa ia telah sampai
ketujuan. Hanya kelebatan hutan dan kelamnya malan sajalah yang
masih member ikan jarak antara mereka dengan kolam yang sudah tidak
jauh lagi dari mereka. “Kiai,“ berkata Jlitheng. “tugasku sudah
selesai. Aku kira tidak ada lagi yang perlu aku kerjakan buat Kiai,
seandainya ada seekor bahkan dua ekor har imau datang bersama-sama
sekalipun, aku tidak per lu mencemaskan nasib Kiai dan anak gadis
Kiai yang luar biasa itu.” “Kau memang aneh anak muda,“ jawab Kiai
Kanthi, “namun demikian, aku kira kita masih akan berhubungan terus,
seperti aku pun ingin selalu berhubungan kelak dengan angger
Daruwerdi. Bukankah angger kenal baik dan bahkan mungkin bersahabat
dengan angger Daruwerdi ?” “Tentu Kiai. Meskipun kelompok padukuhan
kami dan kelompok padukuhan Daruwerdi diperintah oleh orang yang
berbeda, tetapi kami tetap rukun seperti keluarga, karena pada
dasarnya kami memang sekeluarga.” “Tetapi aku melihat kelainan pada
sikap angger Daruwerdi,“ bertanya Kiai Kanthi. Anak muda yang
menyebut dir inya Jlitheng itu mengerutkan keningnya. Dengan
ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang berbeda Kiai ?” “Menilik dari
ujud lahir iahnya saja, ia berpakaian lain dari kawan-kawannya. Dan
maaf, agak berbeda pula dengan pakaianmu ngger.” “Ah. Kiai aneh
sekali. Sudah barang tentu pakaian kami berbeda-beda menurut selera
kami masing-masing. Apakah Kai dapat melihat perbedaan selera
memilih pakaian sebagai sesuatu yang perlu mendapat perhatian? Jika
Kiai memperhatikan, mungkin terdapat kelainan pula pada pakaianku
dengan pakaian kawan-kawanku dan sebaliknya.” Kai Kanthipun
mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin angger benar. Ya, agaknya aku
memang sudah pikun.” Jlitheng tertawa. Jawabnya, “Sudahlah Kiai. Aku
mohon diri. Besok aku akan datang lagi ketempat ini. Mungkin sendiri
mungkin bersama Daruwerdi. Ia tentu ingin juga bertemu dengan Kiai
setelah ia menolong Kiai dan anak gadis Kiai. Tetapi aku kira Kiai
belum mengatakan bahwa Kiai akan datang kemar i kepada Daruwerdi.”
“Apakah angger akan memberitahukan kepadanya ?” bertanya Kiai
Kanthi, “dan apakah itu per lu ?” Jlitheng mengerutkan dahinya.
Dengan suara datar ia bertanya, “Jadi bagaimana pesan Kiai ?”
“Sebaiknya jangan tergesa-gesa memberitahukan kerada siapapun ngger.
Aku kira aku lebih senang melihat daerah ini untuk dua t iga hari,
untuk dapat mengambil keputusan. apakah aku akan menetap atau
kemungkinan itu terpaksa aku lepaskan karena daerah ini kurang
memadai.” “Baiklah Kiai. Tetapi aku berharap Kiai akan kerasan
tinggal dihutan ini. Disini ada air. Dataran yang cukup luas dan
pohon buah-buahan yang dapat untuk sementara membantu Kiai. meskipun
pepohonan yang memberikan buah-buahan yang dapat dimakan itu telah
mengundang beberapa jenis binatang. Disini banyak kera Kiai. Tetapi
kera itu bagaikan lenyap ditelan bukit, jika satu dua ekor harimau
sampai ketempat ini.” “Terima kasih atas segala keterangan itu
ngger. Aku akan melihat, apakah aku dapat berbuat sesuatu atas
daerah ini.” Anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itupun sekali
lagi minta dir i dan meninggalkan Kiai Kanthi serta anak gadisnya di
daerah yang asing bagi keduanya itu. Sejenak Kiai Kanthi masih
termangu-mangu. Ditebarkannya pandangan matanya kesekelilingnya.
Tetapi gelap sisa malam masih sangat membatasi jarak jangkau tatapan
matanya. Namun tatapan mata batin orang tua itu sudah melihat. bahwa
didekat mereka terdapat sebuah kolam yang airnya melimpah menglir
bertebaran, menuju keparit-parit dicelah- celah batu-batu padas yang
seakan-akan telah disediakan oleh alam, yang membawanya kedalam arus
sungai dibawah tanah. “Kita berist irahat Swasti,“ berkata ayahnya,
“tidak lama lagi, kita akan sampai keujung malam. Kita akan segera
menemukan air dan mempertimbangkan apakah kita dapat mempergunakan
tempat ini. Setelah terang, baru kita akan mengetahui keadaan
disekitar kita.” Swasti mengangguk. Dikuakkannya rumput-rumput liar
dibawah kakinya. Namun desisnya kemudian, “Tidak ada tempat untuk
tidur ayah. Tanah ini terlalu basah.” “Ya, tanahnya terlalu basah.
Tetapi kau dapat beristirahat diatas dahan itu.” Swasti mengangkat
wajahnya. Dilihatnya beberapa batang pohon besar. Dahannya yang
bersilang melintang, member ikan kemungkinan untuk beristirahat
kepadanya. “Tetapi apakah disini tidak ada laba-laba hijau yang
beracun, atau sebangsa cicak berleher merah ?” “Mungkin memang ada
Swasti, kita belum mengenal daerah ini baik-baik. Karena itu
berhati-hatilah.” Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian
mengumpulkan seonggok rerumputan liar dibawah sebatang pohon.
Kemudian dijatuhkannya dirinya, duduk sambil bersandar.
Perlahan-lahan angin yang silir terasa bagaikan membelai jantung,
sehingga akhirnya, sambil duduk iapun memejamkan matanya. Ayahnyapun
telah duduk didekatnya. Sejenak ia mengamati anak gadisnya. Dalam
tidur nampak remang-remang di dalam kegelapan wajah gadis itu
membayangkan beban yang berat menggantung dipundaknya. “Kasihan,“
desis ayahnya. Bagamampun juga sebagai seorang ayah ia dapat
merasakan betapa berat perasaan anak gadisnya mengikut i cara hidup
yang dipilihnya. Kadang- kadang terngiang kata-kata Daruwerdi
tentang masa depan anaknya itu. “Kakek mementingkan dir i sendir i,”
kata-kata itu bagaikan terdengar bergema direlung hatinya
berulang-ulang. Kemudian, “Anak gadismu memer lukan masa depan
sebagai seorang gadis sewajarnya.” “Ah,“ desah orang tua itu. Namun
katanya kemudian didalam hati, seolah-olah ia telah mengucapkan
janji. “Disini aku akan membuka sebuah padepokan. Aku akan berusaha
member i kesempatan agar Swasti dapat hidup sebagai seorang gadis
sewajarnya, berkawan dengan gadis-gadis yang lain dar i kedua
kelompok padukuhan itu.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam.
Sekilas ia melihat wajah anaknya yang muram. Kemudian keningnya
menegang, ketika ia mendengar Swasti didalam tidurnya berdesah
panjang. Ternyata bahwa malam segera sampai keujungnya. Langit
menjadi merah. Sementara burung-burung liar berkicau
bersahut-sahutan. Swasti membuka matanya. Dilihatnya ayahnya masih
duduk memeluk lutut. “Ayah tidak beristirahat?“ bertanya Swasti.
Tetapi Swasti sendiri mengerti bahwa ayahnya tidak akan dapat tidur
j ika ia sendiri sedang tidur nyenyak. Ayahnya justru bangkit sambil
menggeliat. Katanya, “Aku sudah cukup beristirahat. Alangkah
nyamannya pagi yang bakal datang. Kita akan melihat, apakah yang ada
disekitar tempat ini.” Swastipun kemudan bangkit pula. Setelah
membenahi rambutnya maka iapun berkata, “Kita akan mencari mata air
itu ayah.” Keduanyapun kemudian berjalan menyibak lebatnya
gerumbul-gerumbul diantara batang-batang pohon besar yang tumbuh
dihutan yang pepat itu. Namun seolah-olah Kiai Kanthi memiliki
penglihatan jauh melampaui wadagnya, sehingga ia pun dengan tepat
telah memilih arah yang benar menuju kesebuah kolam yang airnya
melimpah-limpah disegala musim. Sejenak kedua orang itu
termangu-mangu. Cahaya pagi sudah mulai menembus rimbunnya dedaunan
hutan dan jatuh segumpal-segumpal diatas tanah yang lembab. Dengan
tegang keduanya memandang air yang jernih meskipun kotor oleh
daun-daun kering yang berjatuhan, tertimbun didasar. Warna lumut
yang hijau dan batang-batang kayu yang berpatahan silang melintang.
Namun dengan mata wadag, keduanya dapat melihat betapa
kelompok-kelompok ikan berenang dekat didasar kolam, menyusup
diantara setimbun sampah dan dahan-dahan yang rontok kedalam kolam
itu. Di luar sadarnya Swasti berkata, “Tempat yang memungkinkan
ayah. Kolam itu menyimpan ikan tidak terbilang banyaknya dari
bermacam-macam jenis. Agaknya seperti yang dikatakan oleh Jlitheng.
dihutan ini terdapat beberapa jenis pohon buah-buahan yang dapat
dimakan.” Ayahnya mengangguk. Katanya, “Nampaknya kita menemukan
tempat yang kita cari. Meskipun demikian, kita akan melihat barang
satu dua hari. Apakah kita akan dapat membuka sebuah padepokan
disini. Kita akan melihat, apakah hujan yang lebat tidak akan
meruntuhkan tebing bukit itu dan menghancurkan lereng dibawahnya.”
“Tetapi nampaknya kolam ini sudah berumur tua ayah. Jika tanah
ditebing itu dapat diruntuhkan oleh air, maka kolam ini tentu sudah
tertimbun, meskipun sedikit demi sedikit, tetapi itu terjadi setiap
tahun dimusim basah.” Ayahnya mengangguk-angguk. Namun kemudan
Swasti berkata, “Tetapi pohon besar itu ayah. Aku melihat kelainan
dari pohon-pohon yang lain. Aku melihat didahannya terdapat jenis
daun yang ber lainan.” Ayahnya memperhatikan pohon besar itu. Iapun
melihat jenis daun yang berbeda. Namun iapun melihat serat-serat
kayu yang berbeda pada batangnya yang besar, yang bagaikan anyaman
sulur-sulur yang besar dan membelit tubuh batangnya. “Memang pohon
itu mempunyai kelainan,“ berkata ayah Swasti. Namun kemudian, “kita
akan mengetahui jika kita sudah berada disini.” Swastipun kemudian
meletakkan sebungkus kecil pakaiannya. Katanya, “Aku akan
membersihkan diri ayah. Aku memer lukan air itu.” Ayahnya
mengangguk. Namun pesannya. Berhati-hatilah. Mungkin ditempat ini
terdapat banyak ular atau binatang berbisa.” Swasti mengangguk
sambil melangkah meninggalkan ayahnya memasuki gerumbul dan hilang
di rimbunnya dedaunan. Ia mencar i arus air yang melimpah dari
telaga yang jernih tetapi kotor itu. Rasa-rasanya Swasti sudah tidak
tahan lagi. Dua har i ia tidak mandi. Ia hanya sempat mencuci
wajahnya dipar it yang kebetulan dijumpainya diperjalanan. Tetapi
Swasti terkejut ketika ia mendengar daun berdesir. Ketika ia
menengadahkan wajahnya, ia bersungut-sungut karena dua ekor kera
nampaknya sedang memperhatikannya. “Pergi,” bentak Swasti. Tetapi
kera itu tetap ditempatnya. Baru ketika Swasti melemparnya dengan
batu kerikil kera itupun melompat dari dahan kedahan yang lain.
Sementara Swasti sedang mandi di belakang gerumbul, dengan air yang
melimpah dari kolam yang bagaikan disaring oleh bebatuan sehingga
daun-daun kering dan lumut yang terdapat ditelaga tidak mengotor i
arus air itu. Kiai Kanthi dengan saksama memperhatikan tempat
disekitarnya. Ketika ia menengadahkan kepalanya, dilihat disebelah
lain dari kolam itu terdapat sebatang pohon gayamyang berbuah lebat.
“Ada juga pohon gayam di sini,“ gumamnya. Namun bagi Kiai Kanthi hal
itu merupakan isyarat yang baik. Untuk sementara pohon gayam itu
akan dapat menjadi sandaran makan mereka sehari-hari disamping ikan
yang berkeliaran di kolam dan binatang buruan dihutan. Bahkan dengan
demikian ia yakin, bahwa ditempat itu tentu masih terdapat beberapa
batang pohon gayam lainnya dan mungkin juga pohon yang lain yang
dapat memberikan bahan makan baginya sebelum ia berhasil membuka
sesobek ladang untuk menanampadi. Ketika kemudian Swasti kembali
ketempat itu, maka hampir diluar sadarnya Kiai Kanthi berkata, “Aku
sudah mendapat kepastian Swasti, bahwa kita akan t inggal disini.”
Swasti menar ik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku senang ayah, bahwa
aku tidak harus berjalan lagi menempuh jarak yang tidak pasti.” Kiai
Kanthi memandang anaknya sejenak. Terasa dihatinya, betapa letihnya
anak gadis itu meskipun ia tidak pernah membantah untuk mengikutinya
kemana ia pergi. “Ya Swasti,“ suara orang tua itu menjadi dalam,
“aku mengerti bahwa kau sudah t idak ingin lagi menempuh perjalanan
yang melelahkan. Tetapi kita akan mendapat pekerjaan baru. Kita akan
membuka hutan ini.” Swasti termangu-mangu. Dipandanginya beberapa
jenis pohon yang besar yang tumbuh disekitar kolam itu. Suatu
pekerjaan yang mustahil dilakukan. Bagaimana mungkin ia berdua
dengan ayahnya akan dapat menebang pohon-pohon raksasa dan
gerumbul-gerumbul perdu yang lebat dan bahkan diantaranya berduri.
Kiai Kanthi agaknya melihat keragu-raguan anak gadisnya. Karena itu
maka katanya, “Swasti. Sudah barang tentu kita tidak akan menebang
pohon-pohon raksasa ini. Kita akan menebas pohon-pohon perdu dan
membiarkan satu dua pohon besar yang tumbuh disana.“ “Jadi, kita
tidak akan membangun padepokan ditepi telaga ini ayah ? Jika
demikian, kenapa kita bersusah payah mengikut i arus air dibawah
tanah itu ?” “Swasti. Kita sudah menemukan tempat ini. Tempat ini
akan menjadi sumber dar i kehidupan dipadepokan yang akan kita
bangun. Kita akan mengalirkan air yang tidak terkendali ini ketempat
yang paling baik bagi sebuah padepokan. Tentu tidak jauh dari tempat
ini.” Swasti mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud ayahnya.
Dengan demikian yang harus mereka kerjakan adalah menebang perdu dan
mungkin ilalang di sekitar tempat itu. yang kemudian harus
menyiapkan sebuah parit untuk mengalir i daerah itu, agar dapat
menjadi sawah yang subur, yang akan dapat menampung tebaran benih
padi. “Kita akan berist irahat hari ini Swasti,“ berkata ayahnya,
“alam telah menyediakan makanan bagi kita. Ikan di telaga itu,
binatang buruan dihutan dan lihat, beberapa batang pohon gayam.”
Swasti mengangguk-angguk. Namun wajahnya membayang harapan yang
cerah. Apalagi kelika ayahnya berkata seterusnya, “Selanjutnya
Swasti. kita akan bertetangga dengan dua kelompok padukuhan yang
diperintah oleh dua orang buyut yang bersaudara kembar. Kita akan
hidup dalam lingkungan yang lebih luas dan bersahabat dengan banyak
orang.” Swasti menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu menyekat
kerongkongannya. Setelah menempuh perjalanan yang panjang.
meninggalkan padepokan yang hanyut oleh banjir dan tanah longsor,
maka ditemuinya tempat tinggal yang akan dapat menjadi daerah
harapan bagi masa depannya. Seperti yang dikatakan oleh ayahnya,
maka pada hari itu keduanya benar2 ingin berstirahat. Swasti
memungut beberapa buah gayamterjatuh dan mengamat-amatinya. Namun
dengan suara parau ia berkata, “Kita belum mempunyai belanga untuk
merebusnya ayah.” Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan
menghubungi orang-orang padukuhan kelak. Dihari ini kita akan
mencari binatang buruan dan memanggangnya diatas api.” “Ada sebatang
pohon jambu keluthuk ayah.” “Tentu tidak hanya sebatang. Bijinya
akan terhambur dan tumbuh pohon-pohon yang lain disekitarnya.” “Ya.
Ya. Ada beberapa batang. Tetapi beberapa ekor kera tentu telah
mendahului memetik buahnya yang masak.” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Teringat olehnya kata- kata anak muda yang
menyebut drinya bernama Jlitheng. Anak muda itu akan kembali lagi
untuk menengoknya, sehingga Kiai Kanthi itupun berkata, “Swasti.
jika benar anak muda itu akan datang lagi, aku akan minta tolong
kepadanya untuk meminjamkan belanga kepada kita.” Swasti memandang
ayahnya sejenak. Tetapi ia tidak menyahut. Yang dilakukan oleh
Swasti kemudian adalah duduk bersandar sebatang pohon sambil
merenungi keadaannya. Merenungi dirinya dan masa depannya, sementara
ayahnya berusaha untuk menangkap beberapa ekor ikan di telaga itu
dengan kail. Dicarinya sepotong ranting kayu untuk mengikat serat
pengikat kailnya yang sudah diberinya umpan. Ternyata Kai Kanthi
tidak usah menunggu terlalu lama. Kailnya segera bergetar, dan
seekor ikan telah menggelepar terkait oleh ujung kailnya. Dalampada
itu. Jlitheng yang sudah tiba dirumahnya, sama sekali tidak
mengatakan ke pada … bahwa ia telah bertemu dengan dua orang …
sedang mengembara dan memasuki … kan iapun seperti yang dikatakan. …
mengajaknya bersama- sama meng … gir telaga itu. Pertemuannya deng …
kan pertanyaan didalam dirinya. … milih bukit itu untuk membangun …
ditempatnya yang lama benar-benar sudah tidak memungkinkan bagi
mereka untuk dapat hidup ? Atau kedatangannya ketempat ini didorong
oleh maksud-maksud tertentu ? Sambil membelah kayu di kebun Jlitheng
selalu berangan- angan tentang dua orang ayah dan anak itu.
Bagaimanapun juga, ia harus menerima kehadiran orang-orang baru
dengan curiga. Apalagi Jlitheng mengetahui dengan pasti, bahwa orang
yang menyebut dirinya Kiai Kanthi dan anak perempuannya yang bernama
Swasti itu memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Jlitheng
berpaling ketika ia mendengar seorang perempuan yang sudah
separobaya memanggilnya. Dilihatnya ibunya berdiri di pintu sambil
berkata, “Aku akan memetik daun ketela pohon sebentar Jlitheng. Kau
tinggal dirumah saja. Jangan pergi.” “Baiklah biyung. Aku akan
menyelesaikan kayu bakar ini,“ jawab Jlitheng. Namun tiba-tiba ia
teringat kepada kedua ayah dan anak itu sehingga katanya kemudan,
“tetapi nanti aku akan pergi sebentar biyung. Aku akan melihat
apakah tanaman kita di pategalan dapat bersemi.” “Tunggu sampai aku
pulang.” Jlitheng hanya mengangguk saja. Ketika ibunya
meninggalkannya sendiri, maka Jlitheng malah berangan-angan kembali.
Jlitheng terkejut ketika seorang anak muda sebayanya datang
berlari-lari sambil memanggil namanya sejak di halaman depan
rumahnya. Dengan serta merta iapun bangkit dan menyahut, “Aku
disini.” Anak muda itupun segera melingkari rumahnya dan
menemukannya dikebun belakang. “Jlitheng,“ katanya dengan nafas
masih terengah-engah, “aku melihat Daruwerdi melintasi jalan kecil
kebukit batu yang gundul itu lagi. Bahkan ia telah berjalan tidak
dengan kawan- kawannya dari padukuhan sebelah. Aku melihat dua orang
yang sama sekali belum aku kenal.” Jlitheng mengerutkan keningnya.
Diluar sadarnya ia berdesis, “Apakah ada hubungannya dengan orang
tua itu.” “Orang tua yang mana ?“ bertanya kawannya. Tetapi Jlitheng
menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Maksudku, apakah hubungannya dengan
bukit batu yang gundul itu. Kita sudah melihat ia, dua tiga kali
pergi ke bukit batu gundul itu.” Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi
kemudian ia bertanya, “Sebenarnya apakah kepentinganmu dengan
Daruwerdi sehingga kau menyuruh aku dan Jatra untuk member ikan
kepadamu jika kami melihat Danuwerdi pergi ke bukit gundul itu?”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian duduk lagi sambil
memungut parang kecilnya. Sambil membelah kayu ia menjawab, “Tidak
ada kepentingan apa- apa. Tetapi kau lihat, bahwa bukit batu yang
gundul itu benar- benar bukit batu padas yang keras dan tidak
memberi kemungkinan apapun juga. Tetapi Daruwerdi sering pergi ke
bukit itu. Aku sudah pernah melihat dua kali. Kau juga pernah
melihat dua kali, tiga kali dengan sekarang ini dan Jatra pernah
melihatnya sekali. Nah, bukankah hal itu sangat menarik perhatian ?”
“Kenapa kau tidak bertanya saja kepadanya, apa yang dicarinya.”
Jlitheng mengerutkan dahinya. Sambil tersenyum iapun kemudian
berkata, “Duduklah disini.” Kawannyapun kemudian duduk disebelahnya.
semenara Jlithengpun berkata, “Tentu saja aku tidak dapat berbuat
demikian. Bahkan aku berharap bahwa Daruwerdi tidak mengetahui bahwa
kita sedang mengawasinya, ia menganggap bahwa kita semuanya sama
sekali tidak menaruh perhatian atas tingkah lakunya. Atau katakan,
kami anak-anak pedukuhan yang bodoh ini tidak sempat memikirkan
apakah yang dilakukan olehnya di pegunungan batu yang gundul itu.
Apalagi kadang-kadang ia datang dengan orang yang tidak kita kenal
sama sekali.” Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi nampaknya ia tidak
puas dengan jawaban Jlitheng. Sehingga Jlitheng perlu menjelaskan.
“Dengarlah. Bukankah aku tidak minta kepada setiap orang untuk
memperhatikan Daruwerdi ? Aku hanya percaya kepada kau dan Jatra.
Itupun aku selalu berpesan, bahwa yang kita lakukan ini jangan
diketahui oleh siapapum juga. Kawan-kawan kita yang lainpun jangan
mengetahuinya. Baru kelak j ika kita sudah pasti mengetahui apa yang
dilakukannya, maka kita akan memberitahukan kepada kawan- kawan dan
kepada Ki Buyut.” “Kenapa dengan Ki Buyut?” “Maksudku, jika yang
dilakukan oleh Daruwerdi itu akan merugikan kita semuanya disini.”
“Apakah ruginya seandainya Daruwerdi akan menelan bukit batu yang
gundul itu ?” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukit
batu yang gundul itu memang tidak berarti. Meskipun letaknya di
perbatasan antara dua kelompok padukuhan, namun baik Ki Buyut yang
muda maupun Ki Buyut yang tua sama sekali tidak memperhatikannya.
Tetapi kini Daruwerdilah yang menaruh perhatian besar terhadap bukit
gundul itu.” Anak muda yang duduk disebelah Jlitheng itu mengangguk-
angguk. Sementara Jlithengpun berkata terus, “Kita anak padukuhan
ini. Kita wajib mengetahui apa saja yang terdapat dipadukuhan kita.”
“Sebelum kau datang Jlitheng,“ sahut temannya, “gunung batu yang
gundul itu sama sekali tidak mendapat perhatian kami disini.”
“Agaknya memang demikian. Akupun tidak akan memperhatikan, jika
Daruwerdi tidak memperhatikan gunung itu berlebihan.” “Coba
sebutkan, siapakah yang datang lebih dahulu. Kau atau Daruwerdi.”
Jlitheng tertawa. Katanya, “Mungkin aku, tetapi mungkin Daruwerdi.
Aku tidak tahu pasti kapan ia datang. Yang aku ingat, aku tinggal di
rumah biyung setelah pengembaraanku gagal. Aku tidak mendapat
apa-apa dipengembaraan. Maksudku, agar hidupku dapat bertambah
baik.” Anak muda disebelah Jlitheng itupun berpikir sejenak. Namun
Jlitheng berkata, “Jangan bersusah payah mengingat saat kedatanganku
dan kedatangan Daruwerdi. Tidak ada gunanya lagi.” Kawannya
mengangguk-angguk. “Nah, aku masih tetap minta tolong kepadamu untuk
member itahukan kepadaku jika kau melihat Daruwerdi datang kebukit
batu yang gundul itu. Hanya jika kebetulan kau melihat. Kau tidak
perlu dengan bersusah payah mengawasinya.” Kawan Jlitheng itupun
termangu-mangu. Namun iapun kemudian mengangguk sambil berkata,
“Karena kau sering menolong aku mengerjakan pekerjaanku disawah,
maka aku tidak dapat menolak permintaanmu itu Jlitheng.” Jlitheng
tertawa. Katanya, “Anggaplah ini sekedar suatu permintaan.” “Tetapi
permainan ini berbahaya bagiku. Setiap orang mengetahui bahwa
Daruwerdi bukannya anak muda seperti kita. Ia mempunyai banyak
kelebihan dan pengetahuannyapun sangat luas.” Jlitheng mengangguk.
Jawabnya, “Ya. Karena itu, lakukanlah dengan tidak menimbulkan kesan
apapun padanya. Apalagi aku hanya ingin kau mengatakan kepadaku pada
saat kau melihatnya tanpa membuang waktu khusus untuk mengawasinya.
Adalah kebetulan bahwa sawahmu terletak dijalan menuju kebukit padas
yang gundul itu.” “Bukan kebetulan. Tentu kau memilih aku dan Jatra
karena sawah kami terletak didekat bukit itu.” Jlitheng tertawa.
Jawabnya, “Tepat. Dan agaknya kau memang memiliki kecerdasan.” Kawan
Jlitheng itupun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan kembali
kesawah. tetapi coba katakan, apakah hasilnya aku dengan
terengah-engah memberitahukan kepadamu bahwa sekarang Daruwerdi
pergi kebukit padas itu. Kau, hanya mendengar berita sambil
tersenyum, tertawa kemudian mengangguk-angguk. Sementara nafasku
hampir putus dan jantungku berdebaran semakin keras.” Jlitheng
tersenyum. Katanya, “Untuk sementara aku hanya ingin meyakinkan,
bahwa ia memang sering sekali pergi kebukit gundul itu. Selebihnya
masih per lu diselidiki. Dan kau tidak perlu berlari- lari begitu.”
Anak muda itu mengangguk-angguk. Iapun kemudian minta dir i untuk
kembali kesawahnya. Sepeninggal kawannya, Jlitheng kembali duduk
sambil membelah kayu. Beberapa potong ranting dan dahan-dahan kecil
yang sudah terbelah dan terkelupas kulitnya, di jemurnya dibawah
sinar matahari yang belum terlalu panas. Namun dalam pada itu, ia
mulai teringat lagi kepada dua orang ayah dan anak gadisnya yang
berada di bukit yang diselubungi oleh hutan yang meskipun tidak
terlalu luas, tetapi cukup lebat. Tiba-tiba saja Jlitheng merasa
bahwa ibunya telah terlalu lama pergi. Ia ingin segera melihat,
apakah yang sudah dilakukan oleh Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang
bernama Swasti itu. “Ibu tentu singgah di rumah tetangga,“ katanya
kepada diri sendiri, “masih sepagi ini biyung sudah sempat
membicarakan buruk baik tetangga-tetangga yang lain.” Tetapi ia
tersenyum ketika melihat seorang perempuan berjalan-jalan
perlahan-lahan sambil menj injing seikat dedaunan. “Sudah kau isi
tempayan didapur itu?“ bertanya perempuan itu. “Sudah biyung.
Pakiwanpun telah penuh dan kayu sudah kering sebagian. Tetapi tentu
sudah ber lebihan untuk hari ini.” Perempuan itu mengangguk-angguk.
Ketika melangkahi pintu masuk kedalam rumah ia sempat berkata,
“Apakah kau akan pergi sekarang ?” “Ya biyung. Aku akan pergi ke
pategalan.” “Aku sudah pergi kepategalan. Aku memetik lembayung,
bukan daun ketela pohon.. Tetapi kalau kau akan pergi, pergilah.
Tetapi jangan terlalu lama.” Jlitheng mengangguk sambil menjawab,
“Aku hanya sebentar.” Ketika perempuan itu masuk, Jlithengpun
menyelipkan parangnya didinding. Sejenak ia membenahi pakaiannya,
sebelum ia dengan tergesa-gesa meninggalkan rumahnya. Namun
demikian, Jlitheng masih sempat singgah di sawah sejenak.
Dipandanginya bukit padas yang gundul diujung bulak sebelum jalan
menjadi semakin sempit dan menuju kepadang perdu dipinggir hutan
yang menyelubungi bukit agak jauh dari padukuhan. Bukit gundul itu
memang menarik perhatiannya, karena Daruwerdi sering mengunjunginya.
Tetapi ia tidak dapat langsung menyelidiki bukit padas itu, karena
ia menduga, bahwa Daruwerdi mempunyai orang-orang yang dipercayainya
mengawasi bukit gundul itu. Namun sejenak kemudian Jlithengpun
meneruskan perjalanannya. Ia tidak mau menar ik perhatian orang
lain, sehingga karena itu, maka iapun telah mencari jalan yang
paling sepi. Ia singgah sebentar dipategalan, agar orang lain tidak
memperhatikannya. Namun Jlitheng berharap, seandainya ada orang yang
melihatnya pergi kehutan, mereka akan menganggapnya sedang mencari
kayu bakar seperti yang sering dilakukannya untuk dit imbun di
belakang rumah, sehingga apabila kayu itu sudah tertimbun banyak
sekali, ia tidak perlu bersusah payah lagi untuk tiga empat pekan.
Kedatangannya ditelaga dilorong bukit itu telah mengganggu Kiai
Kanthi dan Swasti yang sedang beristirahat. Swasti tertidur sambil
bersandar sebatang pohon besar, sementara Kiai Kanthi berbaring
diatas sebuah batu meskipun ia tidak memejamkan matanya. “Silahkan
Kiai,“ berkata Jlitheng ketika ia melihat Kiai Kanthi bangkit dan
mempersilahkannya. “Aku sudah cukup lama beristirahat. Badanku
terasa segar sekali. Swastipun sempat tidur setelah kita mencicipi
ikan ditelaga itu.” Jlitheng mengangguk-angguk. Iapun melihat
perapian yang tampaknya baru saja dipadamkan. Swasti yang terbangun
pula, telah bergeser melingkari pohon tempat ia bersandar,
seolah-olah ia dengan sengaja ingin menyembunyikan dir i. Agaknya,
kelelahan dan keletihan yang sangat, membuat ia menjadi malas dan
masih ingin melanjutkan tidurnya barang sejenak. “Aku sudah melihat
beberapa puluh langkah disekitar tempat ini ngger,“ berkata Kiai
Kanthi. Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika Kiai
sependapat, sebenarnya aku sejak lama sudah mempunyai rencana.
Tetapi bukan maksudku untuk mengatakan kepada Kiai, bahwa aku
mempunyai kesempatan pertama. Kiai tetap orang pertama yang akan
membuka kemungkinan baru bagi daerah ini dengan menguasai air.”
“Apakah rencanamu ngger?” Jlitheng termangu-mangu. Namun kemudian
katanya, “Sebaiknya aku tidak mengatakannya.” “Kenapa?“ bertanya
Kiai Kanthi. “Seolah-olah aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang
memiliki kemampuan untuk melihat kemasa depan yang panjang. Dan
seolah-olah aku tidak mau menerima kenyataan bahwa Kiailah orang
yang pertama-tama melihat manfaat air di telaga ini.” Kiat Kanthi
tersenyum. Katanya, “Aku bukan anak-anak ngger. Bukan pula orang
yang ingin berada diatas nama orang lain. Apakah aku harus menutup
penglihatanku tentang angger yang tentu sudah sejak lama
memperhatikan air yang melimpah ini? Bukankah angger pernah berkata,
bahwa hambatan yang paling besar datang dari sanak kadang dan
tetangga angger sendiri yang menganggap bahwa setiap perubahan akan
berarti pengingkaran terhadap peradaban yang telah ada ?” Jlitheng
mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Terserahlah kepada Kiai.
Tetapi j ika Kiai mau mendengar, biarlah aku katakan serba sedikit
tentang sebuah impian.” “Katakan ngger?” “Kiai, dibawah bukit ini
telah memerintah dua orang Buyut yang sebenarnya adalah saudara
kembar.” “Aku sudah melihat tugu kecil bertulis yang merupakan batas
dari dua kelompok padukuhan yang dipimpin oleh dua orang saudara
kembar itu ngger.” “Ya Kiai. Tugu itu dibuat dekat sebelum Ki Buyut
yang lama, yang menjadi tetua daerah ini wafat.“ Jlitheng berhenti
sejenak, lalu, “Ternyata bahwa kedua anak kembarnya telah memenuhi
harapannya. Mereka memimpin kedua kelompok padukuhan itu dengan
rukun sampai saat ini. Nah, rencanaku itu adalah meyakinkan kedua
orang Buyut itu bahwa air akan sangat berguna bagi sawah mereka yang
kering dimusim kemarau.” “Kau sudah mencoba?” Jlitheng menggelengkan
kepalanya. Katanya, “Belum Kiai.” “Kenapa ? Apakah Ki Buyut menurut
pertimbanganmu juga tidak ingin melihat kemungkinan yang baik bagi
masa depan itu ?” “Bukan Kiai. Aku memang belumsempat.” “Belum
sempat? Apakah kerjamu selama ini?” Jlitheng tersenyum. Katanya,
“Aku juga belum lama kembali kekampung halaman setelah aku pergi
merantau, menjelajahi daerah yang luas.” Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah menduga. Angger tentu bukan sekedar
anak padukuhan ini, tidak lebih dan tidak kurang, kedipan angger
itulah yang membuat angger berbeda dengan kawan-kawan angger
disini.” “Aku pergi sejak aku masih kecil. Itulah sebabnya ketika
aku kembali kepada ibuku, seorang yang telah menjadi janda, banyak
orang yang tidak dapat mengenali aku lagi. Bahkan orang-orang tua di
padukulun inipun telah banyak yang melupakan, bahwa dari biyungku
itu pernah lahir seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi besar
diperantauan.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Namun dengan demikian
ia mendapat sedikit gambaran tentang anak muda yang menyebut dirinya
Jlitheng itu. Jlitheng tentu bertemu dengan seseorang
diperantauannya yang kemudian membimbingnya dalam olah kanuragan.
Setelah ia mempunyai bekal yang cukup, maka ia melanjutkan
perantauannya dan kemudian kembali ke kampung halamannya. Tetapi
disamping Jlitheng masih ada seorang anak muda yang lain, yang
bernama Daruwerdi. Mungkin anak muda itu mempunyai ceritera yang
lain tentang dir inya. Terbersit keinginannya untuk bertanya sesuatu
tentang Daruwerdi. Tetapi seperti yang pernah dilakukan, agaknya
Jlitheng tidak dapat atau tidak mau mengatakan tentang anak muda
yang agak lain dari kawan-kawannya dipadukuhan- padukuhan itu. Kiai
Kanthi menarik nafas ketika Jlitheng bertanya, “Apakah yang Kiai
renungkan ? Tentang perantauanku itu ? Atau tentang hal lain yang
bersangkut paut dengan air itu ?” “Ya, ya ngger,“ Kiai Kanthi
terbata-bata, “tentu tentang air yang melimpah itu. Tentang
rencanamu untuk menguasai air dan memanfaatkannya bagi dua kelompok
padukuhan itu. He, kau belum menyebut nama kedua padukuhan itu?”
“Ditugu itu telah tertulis,“ jawab Jlitheng. “Yang ditulis hanyalah
satu nama. Ki Buyut telah memer intah daerah yang bernama Lumban,
yang terdiri dari beberapa padukuhan besar dan kecil dan tunduk
kepada Yang Dimuliakan Maharaja Majapahit yang atas kehendaknya dan
disetujui oleh para bebahu, telah membagi daerahnya menjadi dua
bagian yang akan dipimpin masing-masing oleh seorang dari kedua anak
kembarnya.” “Nah, itulah namanya. Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Ki
Buyut yang tua memerintah Lumban Kulon, sedang Ki Buyut yang muda
memimpin kelompok-kelompok padukuhan di Lumban Wetan. Pembagian itu
telah terjadi pada masa kedua anak kembar itu masih muda. Sejak
daerah ini masih langsung tunduk dibawah kekuasaan Majapahit serta
para Adipati dibawah kuasanya. Sekarang, setelah kekuasaan berpindah
ke Demak, dengan sendirinya kami berada dibawah kekuasaan Sultan
Demak. Dan kedua orang Buyut itu sudah menjadi kakek-kakek.
Sebenarnya kini anak-anak merekalah yang mengambil alih pimpinan
atas daerah Lumban Kulon dan Lumban Wetan.” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Gambarannya mengenal daerah yang dihadapinya
menjadi semakin jelas. “Nah Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian,
“Kiailah orang yang pertama-tama akan melakukan pekerjaan yang tentu
akan sangat bermanfaat bagi daerah Lumban seluruhnya. Aku akan
mencoba menjadi penghubung kelak dengan kedua Buyut yang sudah tua
itu, namun yang masih dengan tekun berusaha memimpin daerah
masing-masing sebaik-baiknya.” “Terima kasih ngger. Tetapi yang
dapat aku lakukan dengan anak gadisku tentang merupakan pekerjaan
yang sangat lamban dan mungkin t idak banyak manfaatnya.” Jlitheng
tertawa. Katanya, “Kiai, bukan maksudku untuk mengurangi kemungkinan
yang dapat Kiai lakukan. Tetapi adalah benar-benar karena aku ingin
melihat manfaat dari air seperti yang Kiai kehendaki.“ anak muda itu
berhenti sejenak, lalu, “apakah Kiai tidak berkeberatan jika aku
membantu Kiai. Mungkin Kiai memerlukan tenaga seorang laki-laki
untuk membantu Kiai bukan saja membuat parit untuk mengarahkan arus
air itu, tetapi juga untuk membuat sebuah gubug kecil sebelum Kiai
sempat membuat sebuah rumah yang pantas.” Tiba-tiba saja sebelum
Kiai Kanthi menjawab, terdengar suara Swasti dari balik pohon, “Itu
tidak perlu ayah. Kita yang sudah menetapkan rencana sejak kita
belum bertemu dengan siapapun, harus berani melaksanakan sampai
selesai tanpa orang lain.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun
Kiai Kanthilah, yang menjawab, “Swasti. Hatimu memang keras. Tetapi
kita jangan menyia-nyiakam setiap uluran tangan. Memang kita yang
sudah terbiasa hidup terpisah karena kita tenggelam dalam kesibukan
padepokan, kadang-kadang merasa bahwa kita akan dapat menyelesaikan
semua persoalan kita tanpa orang lain. Di Pucang Sewu kita kurang
rapat berhubungan dengan orang-orang padukuhan, sehingga kita
terlalu yakin akan dir i kita sendir i. Swasti, sebaiknya kita
merubah cara hidup yang demikian. Setidak-tidaknya kita mulai
mencoba menyesuaikan dir i dengan daerah yang baru ini.” Sejenak
Kiai Kanthi menunggu. Tetapi ia tidak mendengar lagi jawaban
anaknya. Orang tua itu sadar, bahwa kata- katanya tentu tidak
memberikan kepuasan sepenuhnya pada anaknya. Tetapi ia akan mencoba
untuk melakukannya. Mencoba untuk memperbaharui tata cara hidupnya
diantara orang banyak. “Angger,“ berkata Kiai Kanthi kemudian,
“sebelumnya kami mengucapkan terima kasih. Mungkin kami masih harus
belajar menyesuaikan dir i dengan kehidupan kami yang baru di daerah
Lumban ini.” Jlitheng tersenyum. Katanya, “Baiklah Kiai. Tentu
akupun akan mencoba menyesuaikan dir i dengan cara hidup Kiai dan
anak gadis Kiai. Tetapi Kiai jangan terlalu cemas. Aku telah
melaksanakan pesan Kiai untuk sementara tidak berceritera tentang
kedatangan Kiai dan rencana Kiai menetap disini. Tetapi jika Kiai
mulai berbuat sesuatu disini, maka tanpa mengatakan kepada siapapun
juga, orang-orang Lumban tentu akan mengetahuinya juga.” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Jawabnya, “Tentu ngger. Tetapi nampaknya
orang-orang Lumban adalah orang yang ramah seperti angger.” Jlitheng
tertawa. Kemudian katanya, “Aku akan pulang dahulu Kiai. Besok aku
akan datang sambil membawa alat-alat yang Kiai perlukan. Aku akan
datang sebelum matahari terbit agar tidak menarik perhatian orang
lain j ika mereka melihat aku membawa kapak, cangkul dan alat-alat
lain.” “Terima kasih ngger. Aku juga sudah membawa satu dua macam
alat seperti itu. Tetapi memang kurang mencukupi. Karena itu, kami
berterima kasih jika angger bersedia membawa untuk kami,“ Kiai
Kanthi menjadi ragu-ragu sejenak. Baru kemudian ia melanjutkan,
“tetapi selain alat-alat itu. sebenarnyalah kami memer lukan belanga
dan tempayan.” Jlitheng mengerutkan keningnya, namun iapun kemudian
tertawa pendek. Katanya, “Baiklah Kiai. Aku akan membawa belanga,
kelenting dan tempayan.” Sesaat kemudian Jlitheng itupun telah
meninggalkan Kiai Kanthi dan anak gadisnya yang bersungut-sungut.
Dengan nada datar Swasti berkata, “Ayah sudah menyeret orang lain
dalam kerja ini.” Ayahnya tersenyum. Jawabnya, “Jangan marah Swasti.
Pertolongan itu harus kita terima. Nampaknya Jlitheng bukan seorang
yang mempunyai pamrih terlalu banyak. Apalagi ia memang sudah
mempunyai rencana sebelumnya.” “Tidak. Rencana itu baru timbul di
kepalanya setelah ia bertemu dengan ayah.” “Kau salah Swasti.
Jlitheng tentu sudah memperhatikan air ini sejak lama. Jika tidak,
ia tidak akan mengenal daerah ini demikian baiknya seperti mengenal
halaman rumahnya sendiri.” Swasti tidak menjawab. Agaknya yang
dikatakan ayahnya itu memang benar. Dalam pada itu, Jlitheng telah
turun dengan tergesa-gesa agar ibunya tidak menunggunya terlalu
lama. Ia masih harus mencari beberapa potong kayu untuk
menghilangkan jejak pertemuannya dengan orang tua yang masih belum
bersedia untuk dikenal oleh orang lain itu. Tetapi Jlitheng tidak
mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa potong kayu. Bahkan
dalam waktu yang singkat ia sudah memanggul seonggok kayu yang sudah
agak kering. Namun langkahnya terhenti ketika ia sampai dipinggiran
hutan itu. Ia mendengar suara orang bebantah. Cukup keras, sehingga
suaranya menembus pepohonan yang sudah mulai menipis. Karena itu,
maka Jlithengpun kemudian sangat berhati-hati. Ia jarang mendengar
orang-orang Lumban berbantah. Bahkan seandainya mereka orang
Lumbanpun. apakah yang mereka cari dipinggir hutan itu ? Debar
jantung Jlitheng menjadi semakin keras ketika suara itu menjadi
semakin dikenal. Diluar sadarnya ia berdesis, “Daruwerdi.”
Sebenarnyalah ketika ia dengan sangat berhati-hati berhasil
mengintip dari balik gerumbul-gerumbul yang lebat di pinggiran hutan
itu, ia melihat Daruwerdi sedang berbantah dengan dua orang yang
berwajah kasar. “Aku tidak akan berkata apa-apa tentang pusaka itu,“
berkata Daruwerdi. “Kau jangan membuat kami marah,“ sahut salah
seorang dari kedua orang berwajah kasar itu, “Kiai Pusparuri sudah
member ikan wewenang kepadaku untuk mendapat keterangan tentang
pusaka itu dari seorang anak muda dari Lumban yang bernama
Daruwerdi. Apakah kau masih akan ingkar.” “Sudah seribu kali aku
katakan. Aku tidak ingkar. Aku adalah Daruwerdi yang mengerti serba
sedikit tentang pusaka- pusaka itu. Tetapi aku hanya akan berbicara
dengan Kiai Pusparuri sendir i atau kepada seekor ular sanca
bertanduk genap.” “Persetan, aku tidak mengerti kata-katamu. Jangan
mengingau seperti orang gila. Katakan sesuatu tentang pusaka itu,
atau berikan saja kepada kami jika memang sudah berhasil kau
dapatkan.” Daruwerdi menjadi semakin tegang. Dari balik gerumbul
Jlitheng melihat, bagaimana anak muda itu berusaha mengendalikan dir
i. “Ki Sanak,“ berkata Daruwerdi, “jangan memaksa. Kecuali jika aku
berhadapan dengan seekor ular sanca bertanduk genap.” “Anak iblis.
Kenapa kau mengigau tentang ular sanca. Kiai Pusparuri sudah member
ikan wewenang kepada kami untuk melakukan apa saja. Aku harus
kembali kepadepokan Pusparuri dengan keterangan yang jelas atau
membawa pusaka itu langsung untuk kami serahkan kepada guru.”
Daruwerdi menggeleng. Jawabnya, “Ki Sanak. Jelas bahwa kalian
bukannya utusan Kiai Pusparuri. Kalian sama sekali tidak membawa
tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri.” “Aku adalah
muridnya terpercaya. Aku memakai sabuk kulit ular. He, apakah sabuk
semacam ini yang kau maksud dengan ular sanca, bertanduk genap ?”
Daruwerdi tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Ikat pinggang semacam
itu dapat dibuat oleh siapa saja. Setiap orang dapat menangkap
seekor ular sanca, kemudian mengambil kulitnya.” “Jadi apa yang kau
maksud dengan tanda-tanda atau ciri dari padepokan Pusparuri. Dan
apakah yang kau maksud dengan ular sanca bertanduk genap?” “Itulah
yang menunjukkan kepadaku, bahwa kalian sama sekali bukan utusan
dari padepokan Pusparuri. Jika kau memang murid Kiai Pusparuri,
kalian akan dapat mengatakan, ciri-ciri khusus dari padepokan itu
atau kalian tahu pasti siapakah ular sanca bertanduk genap itu.”
Wajah kedua orang itu menjadi merah padam. Yang bertubuh tinggi
besar menggeram, “Persetan. Menurut Kiai Pusparuri, hari ini aku
harus menjumpaimu disini. Kau kira dari siapa kami mengetahui, bahwa
aku harus datang menemuimu disini ?” Daruwerdi termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya, “Mungkin kau dapat menyadap rahasia
pertemuan itu. Tetapi aku tetap yakin, bahwa kalian bukan mur id
Kiai Pusparuri.” “Jadi, kau tetap tidak mengakui kehadiran kami ?
Tempat ini hanya kami ketahui dari Kiai Pusparuri. Nama Daruwerdipun
kami dengar dari Kiai Pusparuri. Pesan untuk mengenakan ikat
pinggang kulit ular sanca inipun diucapkan oleh Kiat Pusparuri pula.
Jika mungkin Kiai Pusparuri lupa member ikan pesan yang lain, itu
bukan salah kami.” Daruwerdi memandang kedua orang itu
berganti-ganti. Namun akhirnya dengan ketetapan hati ia menggeleng
dan menjawab tegas, “Tidak. Aku tidak percaya kepada kalian.” Kedua
orang itu benar-benar sudah kehilangan kesabaran Seperti Daruwerdi
sendiri. Karena itu, maka ketika kedua orang itu bergeser
merenggang, Daruwerdi justru meloncat surut sambil mempersiapkan dir
i menghadapi segala kemungkinan.” “Kau memang terlalu sombong anak
Lumban. Setinggi2 tinggi ilmu yang pernah kau capai, kau adalah anak
padukuhan kecil dan miskin. Apalagi kau berhadapan dengan dua orang
sekaligus. Jika kau masih mempunyai otak, pikirlah sepuluh kali
lagi, sebelum kau menyesal.” Daruwerdi menggeram. Dengan suara datar
ia menjawab, “Jangan mengigau lagi. Sebut siapa sebenarnya kalian
berdua sebelum kalian mati.” “Gila. Kau, anak Lumban, akan membunuh
kami berdua?” “Kita akan melihat, siapakah yang akan terbunuh.”
Sejenak kedua orang berwajah kasar itu termangu-mangu. Namun salah
seorang berkata, “Aku akan menyampaikan kepada Kiai Pusparur i,
bahwa kami terpaksa membunuh anak Lumban yang bernama Daruwerdi,
karena ia sudah menghina utusan yang mendapat wewenang sepenuhnya
dari padepokan Pusparuri.” Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi ia sudah
bersiap sepenuhnya untuk bertempur melawan kedua orang itu. Namun
dalam pada itu, ketiga orang yang sudah bersiap untuk berkelahi itu
telah dikejutkan oleh suara derap seekor kuda. Ketika ketiganya
berpaling, maka mereka melihat seekor kuda yang berpacu mendekat.
Dipunggung kuda itu nampak seorang penunggang yang nampaknya sudah
terlalu lemah, sehingga seolah-olah tertelungkup memeluk leher
kudanya. Daruwerdi terkejut, Iapun segera meloncat menyongsong
penunggang kuda itu. Dengan serta merta ia berusaha meraih kendali
dan menahan kuda itu sehingga berhenti, sementara orang yang duduk
dipunggungnya benar-benar telah menjadi terlalu lemah untuk menarik
kendali. “Gila,“ tiba-tiba saja orang yang bertubuh tinggi dan besar
itu menggeram, “aku binasakan monyet yang ternyata belum mati itu.”
Tetapi kawannya menahannya. Katanya, “Tidak ada gunanya. Biarlah ia
berceritera apa yang terjadi. Anak Lumban itu memang keras kepala.
Jika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ia akan menyadari,
dengan siapa ia berhadapan.” Orang yang bertubuh tinggi besar itu
tertegun. Ia hanya flSSfiaSSfi saja ketika Daruwerdi menolong
penunggang kuda yang ternyata telah terluka parah itu. Dilambungnya
tergantung sepasang sarung pedang, tetapi sudah kosong. “Sapa kau ?“
Daruwerdi meyakinkan. “ular sanca bertanduk genap?” “Ya,“ suaranya
lemah, “bermata berian dan bertaring baja.” “Tepat. Tetapi kenapa
kau ?” “Tandukku telah patah dan taringku telah lepas,“ suaranya
semakin lemah, “aku sudah menduga bahwa keduanya akan datang kemar
i. Mereka berhasil menyadap rahasia pertemuan ini. Mereka mencegat
aku diperjalanan. Mereka mencoba membunuh dan melepas ikat
pinggangku. Tetapi aku yakin, kau tidak akan mengatakan sesuatu
kepada mereka.” “Aku tahu bahwa mereka bukan utusan Kiai Pusparur i.
Tetapi bagaimana dengan kau ?” Orang itu menjadi semakin lemah.
Namun dalam pada itu terdengar kedua orang kasar itu hampir
berbareng tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Ia akan mati.
Aku tidak peduli apakah ia akan mengatakan siapa sebenarnya kami
berdua, karena anak Lumban itupun akan segera mati pula. Biarlah
kita tidak mendapatkan rahasia tentang pusaka itu. Tetapi jika anak
itu mati, maka Pusparur i tentu tidak akan mendapatkannya pula. Kita
akan mulai bersama-sama dari permulaan, karena kita sama-sama tidak
mempunyai bahan apapun juga. Dalam berlomba dengan orang-orang
Pusparuri, kita masih mempunyai harapan.” Kawannya tidak menyahut.
Tetapi ia hanya mengangguk- angguk kecil. Sementara itu, Daruwerdi
masih menekuni orang yang terluka parah. Terdengar ia mengucapkan
sepalah dua patah kata yang tidak jelas. Namun tiba-tiba setelah
meletakkan kepala orang itu diatas rerumputan. Danuwerdi berdiri
tegak. Dengan suara bergetar ia berkata, “Jadi kalian adalah
sepasang demit yang paling gila di pesisir Utara. Menurut utusan
Kiai Pusparur i, kalian berdua adalah mur id-mur id dari perguruan
Kendali Put ih.” Keduanya tertawa berbareng Orang yang bertubuh
tinggi besar menyahut, “Ya. Kami datang dari perguruan Kendali Putih
dipesisir Lor. Kami berdua telah mencegat tikus kecil yang ternyata
kau sebut sebagai ular sanca bertanduk genap. Tetapi ia bukan seekor
ular. Ja tidak lebih dar i seekor tikus.” “Gila. Kalianlah yang
tidak malu. Kalian berdua telah berkelahi seperti perempuan. Kalian
tidak berani berperang tanding menghadapi Ular Sanca bersenjata
rangkap ini. Dan sekarang, kalianpun tentu akan berbuat serupa.”
Keduanya tertawa. Yang seorang menjawab, “Nasibmulah yang buruk. Kau
akan mengalami luka parah dan akan mati. Aku kira tikus itupun sudah
mati ketika dengan tergesa-gesa aku datang ketempat ini menggantikan
kedudukannya. Tetapi, aku masih mempunyai pertimbangan. Jika kau mau
mengatakan sedikit saja mengenai rahasia pusaka itu, maka kau akan
tetap hidup.” “Persetan. Tidak ada orang yang akan tetap tinggal
hidup jika ia tidak berusaha melindungi hidupnya sendiri
dihadapanmu. Setiap orang mengenal perguruan Kendali Putih yang sama
sekali t idak memiliki warna putih seperti namanya walau
sepeletikpun.” “Jika demikian, kaupun akan mati seperti murid
Pusparuri itu.” Daruwerdi menggeram. Ia sudah bersiap menghadapi
segala kemungkinan. Namun ia masih sempat berkata kepada orang yang
lerluka parah itu, “Kuatkan. Aku akan membunuh keduanya, dan aku
akan berusaha mengobati luka-lukamu. Di Lumban ada seorang dukun
yang pandai.” Yang terdengar adalah kedua orang murid dar i Kendali
Putih itu tertawa. Yang seorang berkata, “Puaskan dir imu dengan
angan-angan gila itu. Baru kemudian kau akan mati.” Daruwerdi tidak
menjawab. Ia bergeser setapak. Kemudian berdiri dengan kaki renggang
dan merendah diatas lututnya. Orang yang bertubuh tinggi besar
itulah yang tidak sabar lagi. Dengan garangnya ia segera menyerang
lawannya. Ia tidak mau membuang banyak waktu, sehingga dengan serta
merta ia sudah mempergunakan senjatanya yang mengerikan. Sebatang
besi sepanjang pedang yang kasar dan dibeberapa tempat nampak
seolah-olah bergerigi tajam. Sementara kawannyapun telah mencabut
senjatanya pula. Benar2 sebuah pedang yang besar. “Sebutlah nama
ayah bundamu untuk yang terakhir kali,“ geramorang bertubuh tinggi
dan besar itu.” Daruwerdi meloncat mengelakkan serangan lawannya
sambil berdesis, “Kita akan melihat, siapakah yang akan mati. Aku
atau kalian berdua.” Kedua lawan Daruwerdi t idak menjawab. Mereka
serentak menyerang dengan garangnya. Senjata mereka terayun-ayun
menger ikan, sementara orang yang bertubuh tinggi besar itu
menggeram seperti seekor harimau yang merunduk mangsanya. Daruwerdi
tidak mau menjadi korban senjata-senjata lawan yang mengerikan itu.
Iapun kemudian mencabut pedangnya pula. Dengan lincahnya ia
berloncatan melawan kedua lawannya yang ternyata sangat garang dan
kekar. Beberapa langkah dari arena itu, murid dar i perguruan
Pusparuri yang sudah menjadi semakin lemah, mencoba untuk melihat
pertempuran yang sengit itu. Meskipun pandangan matanya mengabur,
namun ia melihat, betapa kasarnya orang-orang dari perguruan Kendali
Put ih itu. Seperti yang telah terjadi, maka ia tidak dapat
mengelakkan dir i dari bencana melawan keduanya. Meskipun
keseimbangan perasaannya tidak secerah saat- saat ia belum terlukai,
namun ia masih dapat melihat, bahwa kedua orang Kendali Pulih itu
memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, disamping sifat
mereka yang kasar dan liar. Tetapi Daruwerdi dengan segala
kemampuannya, berusaha untuk dapat mengimbangi lawannya, ia tidak
mau jatuh menjadi korban seperti mur id Kiai Pusparuri yang. diberi
nama di Ular Sanca bertanduk genap itu. Selain mur id dari perguruan
Pusparuri itu. dibelakang gerumbul masih ada orang lain yang
memerhatikan perkelahian itu dengan saksama. Sekali-kali nampak
keningnya berkerut. Namun kemudian anak muda dibelakang gerumbul itu
menark nafas lega. Jlithengpun mengikut i perkelahian itu dengan
dada yang berdebar-debar. Ia melihat kegarangan dua orang dari
perguruan Kendali Putih. Mereka bertempur bukan saja dengan ilmu
yang mapan, tetapi mereka kadang-kadang juga berteriak2 dan
membentak2 seperti orang-orang yang kerasukan setan. Sejenak
Jlitheng termangu-mangu. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.
Kadang-kadang ia menjadi bingung, apakah ia akan tetap bersembunyi
ditempatnya. Apakah ia akan tetap membiarkan tingkah laku yang tidak
jujur dari orang-orang Kendali Putih. Setelah usahanya untuk menipu
Daruwerdi tidak berhasil, maka ia mempergunakan kekerasan untuk
membinasakannya sama sekali. Tetapi Jlithengpun merasa bimbang,
karena dengan demikian, maka ia akan terlibat dalam persoalan yang
tidak diketahuinya, dan yang bahkan justru ingin diketahuinya.
Mungkin peristiwa itu ada hubungannya dengan tingkah laku Danuwerdi
yang kadang-kadang menar ik perhatiannya. Terutama karena Daruwerdi
mempunyai perhatian yang khusus terhadap bukit padas yang gundul
itu. Selagi Jlitheng termangu-mangu, maka perkelahian itupun menjadi
semakin sengit. Ternyata bahwa Daruwerdi benar- benar seorang yang
memiliki kemampuan yang sangat mengagumkan. Karena itulah maka kedua
orang dari Perguruan Kendali Putih itu menjadi heran. Mereka mengira
bahwa anak muda dari Lumban itu tidak akan terlalu sulit
diselesaikan. Menurut dugaan mereka, mur id Pusparuri itu sama
sekali tidak berdaya melawan mereka berdua. Apalagi anak padukuhan
terpencil. Tetapi ternyata bahwa Daruwerdi mampu mengimbangi
kemampuan mereka berdua. Dencan tangkas Daruwerdi berloncatan
menghindar i serangan senjata lawan. Tetapi dengan tangkas pula ia
berloncatan menyerang. Pedangnya berputar seperti baling-baling.
Tetapi tiba-tiba saja terayun mendatar menyambar perut. Namun
kadang-kadang terjulur mematuk seperti seekor ular bandotan. Kedua
lawannya menjadi bingung. Pedang ditangan Daruwerdi seolah-olah
beterbangan disekitar tengkuk dan lambung mereka. Dengan demikian
maka kedua orang dari Perguruan Kendali Put ih itu bertempur semakin
kasar. Mereka mencoba untuk menyerang Daruwerdi dar i dua arah yang
berbeda. Dengan demikian mereka mencoba untuk memecah perhatian anak
muda dar i Lumban itu. Tetapi ternyata mereka tidak berhasil.
Daruwerdi mampu menempatkan dirinya. Iapun mengimbangi langkah-
langkah lawannya yang panjang. Dengan tepat ia meloncat menempatkan
diri pada sisi yang lepas dari gar is serangan lawannya. Bahkan
tiba-tiba saja ialah yang meloncat dan mengejutkan lawannya dengan
serangan yang tidak terduga. “Darimana anak Lumban ini mendapatkan
ilmu iblis itu,“ geramsalah seorang dari kedua orang Kendali Putih
itu. Daruwerdi yang juga mendengarnya menjawab, “Aku t idak pernah
mempelajari ilmu apapun. Tetapi karena kalian menempuh garis hidup
yang salah, maka ada sajalah yang membantu aku untuk membunuh kalian
berdua.” “Persetan dengan tahayul itu,“ geram orang yang tinggi
besar, “kekuatan dan ilmu kanuragan akan menyelesaikan semua
masalah. Kaupun akan segera mati dengan perut terbelah.” Daruwerdi
tidak menjawab. Ia memusatkan perhatiannya kepada serangan lawannya.
Ketiga orang itupun kemudian berputaran Senjata mereka telah terayun
menghantam dahan-dahan pepohonan. Gerumbul-gerumbul perdu dipinggir
hutan itu bagaikan terbabat bersih, sementara batang besi orang
bertubuh tinggi itu telah mematahkan pepohonan diarena perkelahian
itu. Jlitheng menjadi cemas. Jika arena itu menjadi semakin luas dan
sempat ketempatnya bersembunyi. maka ia tidak akan ingkar lagi. Ia
harus terlibat kedalam persoalan yang belumdimengertinya itu.
Untunglah, bahwa berkisarnya arena pertempuran itu t idak menuju
kearah tempat Jlitheng bersembunyi. Karena itu, ia tetap berada
ditempatnya untuk melihat akhir dari pertempuran yang mendebarkan
jantung itu. Yang semakin lama menjadi semakin seru. Langkah-
langkah mereka menjadi semakin cepat, sedang ayunan senjata
merekapun menjadi semakin mengerikan. Angin yang terbersit dari
ayunan senjata mereka yang bertempur itu telah dapat mengguncang
dahan- dahan kayu dan menggugurkan dedaunan yang mulai menjadi
kuning. Namun semakin lama menjadi semakin nyata, bahwa Danuwerdi t
idak dapat dikuasai oleh kedua orang Kendali Putih itu seperti mur
id perguruan Pusparuri yang berhasil mereka lukai. Bahkan semakin
lama Daruwerdi menjadi semakin cepat bergerak. Senjatanya semakin
garang menyambar-nyambar. Dengan sebuah loncatan panjang Daruwerdi
menyerang orang yang bertubuh tinggi besar itu dengan ayunan senjata
mendatar. Namun t iba-tiba ia menggeliat dan kakinya yang menyentuh
tanah telah melontarkannya tinggi-tinggi. Serangannya segera
berubah. Pedangnya terayun menyambar kepala, seolah-olah Daruwerdi
ingin membelah kepala itu pecah menjadi dua. Dengan serta merta
orang bertubuh tinggi besar itu menyilangkan senjatanya untuk
menangkis serangan yang mengejutkan itu. Sambil bergeser setapak ia
memir ingkan kepalanya. Ketika sebuah benturan terjadi, maka bunga
apipun telah berloncatan diudara. Kedua senjata ditangan dua orang
yang berilmu tinggi itu bergetar. Namun ternyata bahwa tangan mur id
dar i Kendali Putih itu terasa bagaikan tersayat. Senjatanya hampir
saja terlepas dar i tangannya yang bagaikan terkelupas. Dengan
loncatan panjang orang itu menjauhi lawannya untuk memperbaiki
keadaannya. Tetapi agaknya Daruwerdi menyadari, bahwa keadaan
lawannya itu menjadi semakin lemah. Karena itu, ia tidak mau
melepaskan kesempatan itu. Dengan cepat, iapun meloncat menyusul.
Tetapi Daruwerdi terpaksa berputar ketika ia sadar, lawannya yang
seorang lagi telah menyerangnya pula dengan pedang terjulur.
Ternyata bahwa lawannya itupun mampu bergerak cepat dan langsung
memotong serangannya. Daruwerdi berputar. Selangkah ia bergeser,
sehingga pedang lawannya terjulur sejengkal dar i lambung. Dengan
cepat Daruwerdi memperhitungkan keadaan. Ia sengaja melepaskan
lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Kini ia melihat pedang yang
terjulur lurus. Karena itulah, maka dengan serta merta ia memukul
pedang itu dengan, sekuat- kuat tenaganya. Getaran dari benturan
pedang itu terasa menggigit telapak tangan lawannya. Betapapun ia
berusaha, namun pedang itu telah meloncat dari genggaman. Yang
dihadapi oleh Daruwerdi adalah seorang yang tidak bersenjata. Karena
itu, maka jika ia berhasil memutar pe- dangnya mendatar, maka ia
akan dapat menyobek dada lawan menyilang. Tetapi pada saat yang
bersamaan, orang bertubuh tinggi kekar itu telah mencoba
menyelamatkan kawannya. Iapun menyerang dengan serta merta. Dengan
senjata ia memukul punggung Daruwerdi sekuat-kuat tenaganya.
Daruwerdi menggeram. Ia terpaksa meloncat menghindari serangan itu.
Namun demikian kerasnya ayunan senjatanya, maka orang itu justru
terhuyung-huyung selangkah terseret oleh ayunan senjatanya sendiri.
Kawannya melihat suatu kemungkinan untuk memungut senjatanya yang
terjatuh. Dengan satu loncatan ia berusaha meraih pedangnya. Namun
yang satu loncatan itu ternyata telah menyeretnya kedalam pelukan
maut, karena ujung pedang Daruwerdi seolah-olah telah menunggunya
dan langsung menghunjam kedalam jantungnya. Terdengar sebuah keluhan
tertahan. Namun ketika Daruwerdi menarik pedangnya, maka orang itu
langsung jatuh ditanah. Mati. Saat-saat yang demikian itu telah
mengguncangkan hati lawan Daruwerdi yang lain. Ia mencoba
mempergunakan saat- saat Daruwerdi menarik pedangnya yang terhunjam
ketubuh lawannya. Sebuah ayunan yang keras menghantam tengkuknya.
Namun Daruwerdi masih sempat mengelak. Demikian pedangnya terlepas
dari himpitan tubuh lawannya, iapun segera meloncat mundur. Namun
lawannya yang bagaikan menjadi gila menyerangnya dengan serta merta.
Sebuah sambaran mendatar telah mengarah kelambung. Daruwerdi
terpaksa menghindarinya pula. karena ia belum siap untuk menangkis
serangan itu. Namun ia terlambat sedikit sehingga ujung tongkat
besinya masih juga menyambar lengannya. Daruwerdi berdesis.
Lengannya telah tersobek oleh gerigi yang terdapat pada tongkat besi
yang menger ikan itu. Namun dengan demikian hatinya serasa menjadi
terbakar. Kemarahan anak muda itu telah memuncak, sehingga wajahnya
menjadi merah padam semerah darahnya yang telah mangalir dari
lukanya. Tetapi Jlitheng yang melihat pertempuran itu dari permulaan
segera dapat menilai, bahwa yang seorang itu tidak akan dapat
bertahan terlalu lama. Luka dilengan Daruwerdi tidak akan banyak
mempengaruhinya. Bahkan kemarahannya benar-benar telah memuncak,
sehingga tandangnyapun menjadi semakin garang. Setelah murid Kendali
Putih yang seorang terbunuh, maka orang bertubuh tinggi besar itu
tidak akan banyak dapat member ikan perlawanan. Segera ia terdesak.
Betapapun ia mencoba melindungi dir inya dari sambaran pedang
Daruwerdi yang marah itu, namun ia tidak banyak berhasil. Rasa-
rasanya, kejaran maut telah menjadi semakin dekat ketika ujung
pedang Daruwerdi berkali-kali telah berdesing ditelinganya. Dan
waktupun rasa-rasanya menjadi semakin pendek bagi orang bertubuh
tinggi besar itu. Ia tidak dapat berteriak lagi karena nafasnya
menjadi semakin pendek. Hidungnya justru seolah-olah telah tertutup
oleh dengusnya sendiri, sementara dadanya menjadi sesak. Daruwerdi
tidak banyak memberinya kesempatan. Ia memburu dengan garangnya,
ketika lawannya mencoba menghindarinya dengan loncatan-loncatan
surut. Jlitheng memalingkan wajahnya ketika tiba-tiba saja ia
melihat pedang Daruwerdi menyambar perut lawannya. Justru singgungan
pada ujung pedang yang tajam itu, perut lawannya bagaikan tersayat
melintang. Orang bertubuh tinggi besar itu masih sempat menggeram.
Namun sekali lagi Daruwerdi yang marah itu meloncat dengan pedang
terjulur. Lawannya yang bertubuh tinggi besar itu tidak dapat
mengeluh lagi. Senjatanya yang mengerikan itupun terlepas dari
tangannya ketika ia mulai terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur
ditanah. Daruwerdi berdiri termangu-mangu. Sejenak kemudian iapun
melangkah mendekati tubuh yang terbujur ditanah. Sekilas iapun
menatap mayat yang terbujur di sebelah lain dari arena itu pula. Dua
orang lawannya telah dibunuhnya. Jlitheng memandang wajah Daruwerdi
yang kelam itu dengan hati yang berdebar-debar. Justru setelah kedua
lawannya dibunuh, Jlitheng harus menjaga dir inya, agar tidak
menimbulkan suara yang betapapun halusnya, karena ia yakin,
pendengaran anak muda itupun sangat tajamnya. Namun dalam pada itu,
tiba-tiba saja Daruwerdi teringat kepada utusan dari Pusparuri yang
telah terluka parah. Dengan tergesa-gesa iapun segera melompat
mendekati tubuh yang terbaring diamitu. “Ki Sanak,“ desis Daruwerdi
sambil berjongkok di samping tubuh itu, “he. ular sanca bertanduk
genap.” Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Diguncang-guncangnya tubuh
yang terbaring diamitu. “He, Ki Sanak. Ki Sanak.” Dengan serta merta
Daruwerdi menempelkan telinganya didada orang itu. Namun kemudian
dengan suara gemetar ia bergumam, “Mati, iapun telah mati.” Tubuh
itu masih hangat. Tetapi nafasnya lelah terputus sama sekali.
Daruwerdi kemudian berdiri termangu mangu. Ia tersadar ketika terasa
tangannya menjadi pedih oleh luka dilengannya. “Gila,” ia menggeram.
Diambilnya sebuah bungkusan kecil dikat pinggangnya. Kemudian
ditaburkannya sebangsa serbuk pada lukanya. Beberapa saat Jlitheng
masih melihat Daruwerdi termangu- mangu. Sekali-kali ia masih
mengamat-amati mayat yang terbaring direrumputan dengan darah yang
bagaikan tergenang. “AKU harus mencari orang untuk menguburkan
mereka,“ gumam Daruwerdi sambil melangkah pergi. Ketika Daruwerdi
telah hilang dibalik gerumbul-gerumbul perdu untuk pergi
kepadukuhan, maka Jlithengpun telah keluar dari persembunyiannya.
Didekatinya mayat-mayat itu satu demi satu. Pada murid padepokan
Pusparuri ia melihat dipergelangannya membelit sebatang akar
berwarna hitam dihiasi dengan kepala seekor ular yang terbuat dari
perak. “Ikat pinggang orang ini telah diambil oleh murid dari
perguruan Kendali Put ih itu,“ desis Jlitheng. Selebihnya anak muda
itu tidak menemukan apapun juga. Namun bagi Daruwerdi agaknya yang
penting adalah sebutan sandi dari ular sanca bertanduk genap itu,
yang dijawabnya dengan mata berlian dan bertaring baja. “Apakah ia
orang pertama setelah Kiai Pusparuri sendiri ?“ bertanya Jlitheng
didalam hatinya. “Tetapi siapa-pun ular sanca itu, namun ternyata
Daruwerdi mengetahui sesuatu rahasia tentang sebuah pusaka.” Diluar
sadarnya Jlitheng melayangkan pandangan matanya kearah bukit padas
yang gundul tidak terlalu jauh dari hutan itu. Bukit padas yang
telah menar ik perhatiannya. Anak muda itupun sadar, bahwa persoalan
yang ingin diketahuinya itu agaknya telah menyangkut beberapa pihak
diluar padukuhan-padukuhan kecil yang bertebaran didaerah yang tidak
terlalu luas, di sebelah bukit. Bukit yang berhutan lebat dan bukit
batu padas yang gundul. Ketika ia memungut senjata orang dari
perguruan Kendali Putih yang bertubuh tinggi besar itu, ia menar ik
nafas dalam- dalam. Orang itu tentu mempunyai kekuatan yang sangat
besar. Senjatanya, sepotong besi yang diberikan semacam
gerigi-gerigi kecil itu adalah termasuk sebatang tongkat yang berat.
Sedangkan orang yang terbunuh itu mampu mengayunkannya seperti
mengayunkan lidi. Tetapi iapun menjadi kagum akan kekuatan
Daruwerdi. Anak muda itu mampu melawan dua kekuatan raksasa di
perguruan Kendali Put ih yang telah berhasil membunuh ular sanca
dari perguruan Pusparuri itu. Namun Jlitheng itupun segera menyadari
keadaannya. Iapun segera dengan tergesa-gesa mengambil seonggok kayu
yang akan dibawanya pulang. Ia tidak mau terlibat kedalam persoalan
itu. Jika Daruwerdi melihatnya sedang mengamat- amati mayat-mayat
itu, maka mungkin sekali anak muda itu akan mencurigainya pula.
Disepanjang jalan kembali sambil membawa seonggok kayu diatas
kepalanya, Jlitheng selaki memikirkan peristiwa yang baru di
lihatnya. Namun dengan demikian, ia menganggap bahwa Kiai Kanthi
agaknya tidak mempunyai hubungan langsung dengan Daruwerdi. Meskipun
demikian, ia mulai digelitik oleh kecur igaan, bahwa kedatangan Kiai
Kanthi dan anaknya itu bukannya karena padepokannya yang lama
tertimbun tanah longsor dan dihancurkan oleh badai dan banjir.
Tetapi apakah tidak mungkin bahwa kedatangan Kiai Kanthi itu juga
tertarik oleh berita yang sampai ketelinganya, bahwa anak muda yang
bernama Daruwerdi dari padukuhan Lumban telah menyimpan satu rahasia
tentang sebuah pusaka. Ketika Jlitheng sampai dirumah, ibunya sedang
sibuk berada di dapur. Sambil bersungut-sungut ibunya menyapanya,
“Kau tentu bermain-main dikali.” “Tidak biyung. Aku langsung pergi
kehutan mencari kayu.” “Tetapi lama sekali. Dan bukankah kau masih
mempunyai persediaan kayu yang cukup?” “Langit sudah mulai kelabu.
Jika sebentar lagi musim hujan tiba, maka kita akan selalu diganggu
oleh kayu bakar yang basah, yang berasap dan yang menyakitkan mata.”
Ibunya memberengut. Katanya, “Kayumu itupun masih basah. Mataku
sampai merah meniupnya.” Jlitheng tidak menjawab. Dilontarkannya
onggokon kayu yang dibawanya itu di sebelah longkangan. “Nanti
sajalah aku masukkan kebelakang lumbung.” “Jika kau mau makan,
makanlah. Nasi sudah masak. Jlitheng membersihkan dir inya di
pakiwan. Kemudian iapun masuk kedapur. Nasi dan lauknya telah
tersedia di glodok bambu. Meskipun anak muda itu sibuk menyuapi
mulutnya, namun lia masih saja memikirkan per istiwa yang baru saja
dilihatnya. Ketika matahari telah menyusup kebalik cakrawala di
ujung Barat, Jlitheng yang seperti biasanya duduk di mulut lorong
padukuhannya bersama beberapa orang kawannya, telah mendengar cer
itera tentang peristiwa yang terjadi. Salah seorang kawannya berkata
dengan sangat bernafsu, “Mereka akan merampok Daruwerdi. Tetapi
ternyata Daruwerdi memang seorang yang luar biasa. Ia mempunyai
kekuatan dan ilmu yang tidak dipunyai oleh orang lain. Ilmu yang
mungkin langsung diterimanya dari langit.” “Dari mana kau ketahui
hal itu ?“ bertanya Jlitheng. “Setiap orang mengatakannya. Beberapa
orang dari Lumban Kulon ikut membantunya menguburkan orang-orang
itu. Mereka membawa senjata yang mengerikan,“ jawab anak muda yang
berceritera itu. “Apakah Daruwerdi juga bersenjata ?“ bertanya
Jlitheng. “Agaknya Daruwerdi dapat melihat apa yang bakal terjadi.
Sebelum ia dirampok orang, ia selalu mempersiapkan senjata pula.
Nampaknya ia memang selalu membawa sebilah pedang.” “Tetapi ia
mempunyai j imat,“ desis anak muda yang lain, “Daruwerdi kebal dari
segala macamsenjata.” “Tetapi ia terluka,“ tiba-tiba saja diluar
sadarnya Jlitheng menyahut. Semua orang berpaling kearahnya. Seorang
anak muda yang duduk didekatnya bertanya, “Siapa yang mengatakan
bahwa ia terluka?” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Lalu katanya,
“Aku justru ingin bertanya, siapakah yang sore tadi mengatakan,
bahwa Daruwerdi terluka.” Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka
yang ingin dianggap paling tahu menjawab, “Ya. Daruwerdi memang
terluka. Tetapi luka itu sama sekali tidak berarti. Justru lukanya
itulah yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang anak muda yang
kebal. Jika kau melihat senjata lawannya, maka setidak-tidaknya
tangan Daruwerdi seharusnya sudah patah. Tetapi tangan itu hanya
lecet saja sedikit.” Anak-anak muda yang mendengarkan ceritera itu
mengangguk-angguk. Mereka masih duduk lebih lama lagi untuk
mendengarkan ceritera-ceritera yang semakin lama menjadi semakin
jauh dari kenyataan yang telah dilihat oleh Jlitheng. Anak-anak
Lumban Kulon dan Lumban Wetan agaknya terlalu mengagumi Daruwerdi.
Tetapi Jlitheng tidak membantahnya. Ia membiarkan anak- anak muda
Lumban itu membuat khayalan-khayalan tersendiri tentang Daruwerdi
yang mereka kagumi. Ketika kemudian malam menjadi gelap, dan
anak-anak muda Lumban itu telah mulai merasa terganggu oleh nyamuk
yang menggigit tengkuk dan lengan, maka merekapun meninggalkan mulut
lorong. Hanya mereka yang bertugas ronda sajalah yang kemudian pergi
ke gardu disudut padukuhan. “Sayang, Daruwerdi tinggal di Lumban
Kulon,“ desis salah seorang dari mereka yang meronda, “beruntunglah
anak-anak muda Lumban Kulon yang mendapat perlindungan dari anak
muda seperti Daruwerdi.” Jlitheng yang juga pergi ke gardu
mengangguk-angguk, Katanya, “Jika saja ia bersedia mengajari kita
semua.” Kawan-kawannya yang masih tinggal mengerutkan keningnya.
Yang seorang menyahut, “Tentui anak-anak Lumban Kulon dahulu yang
mendapat kesempatan jika ia bersedia.Tetapi sampai saat ini,
anak-anak Lumban Kulonpun belumada yang diajarinya dalam olah
kanuragan.” “Apakah mereka pernah minta kepadanya ?“ bertanya
Jlitheng. “Entahlah,” jawab kawannya, “tetapi ketika aku singgah di
Lumban Kulon tadi siang, nampaknya merekapun ingin mendapat
kesempatan itu. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa ada juga
perampok yang sampai di padukuhan ini. Meskipun ,tidak banyak harta
benda yang tersimpan di Lumban Kulon dan Wetan, namun sebaiknya kita
harus berjaga-jaga. Jika kebetulan Darawerdi ada, maka persoalannya
akan tidak terlalu berat. Tetapi jika kebetulan ia pergi.” Jlitheng
tidak menyahut. Ia hanya mengangguk-angguk saja seperti beberapa
kawannya yang lain. Ketika malam menjadi semakin dalam, maka
tiba-tiba saja Jlitheng berkata kepada kawan-kawannya, “Aku akan
pergi kesungai sebentar. Tetapi mungkin aku akan terus menengok
sawah. Aku lupa, apakah aku sudah mengalir i air sore tadi.” “Ah,
kau. Kau terlalu ceroboh dengan sawahmu. Itulah sebabnya,
kadang-kadang ibumu marah kepadamu. Air hanya setitik, dan kau tidak
memanfaatkannya.” Jlitheng tidak menyahut. Iapun kemudian berlari
menghambur kedalamgelapnya malam. Tetapi Jlitheng tidak pergi ke
sungai dan kesawah. Ia pasti, bahwa sawahnya telah
diselenggarakannya sebaik-baiknya. Dalam gelapnya malam Jlitheng
berjalan tergesa-gesa menuju kebukit. Bahkan kadang-kadang ia
berlari- lari kecil disepanjang pematang. Namun bagaimanapun juga ia
sadar, bahwa ia harus berhati-hati. Padukuhan Lumban tenyata tidak
saja dijamah oleh Daruwerdi dan kawan-kawannya yang masih merupakan
rahasia baginya, tetapi juga oleh orang- orang dari pihak lain yang
saling bermusuhan. Jlitheng tahu pasti, bahwa perguruan Pusparuri
dan perguruan Kendali Putih tidak akan menghentikan usahanya sampai
batas kematian satu dua orang-orangnya. Yang masih akan mereka
lakukan tentu masih terlalu banyak. Bahkan mungkin
perguruan-perguruan lainpun akan segera tersangkut pula. “Bahkan
mungkin orang tua dan anak gadisnya itu,“ desis Jlitheng, “dan
apakah dapat diyakini kebenarannya, bahwa gadis itu adalah
benar-benar anaknya?” Bagaimanapun juga, Jlitheng memang harus
berhati-hati menghadapi keadaan yang masih samar-samar baginya.
Sejenak kemudian anak muda itu sudah memasuki hutan di kaki bukit.
Tetapi daerah pebukitan itu telah dikenalnya dengan baik. Karena
itulah maka iapun t idak mengalami kesulitan untuk menemukan sumber
air yang dicari oleh Kiai Kanthi dan Swasti, betapapun gelapnya
malam di hutan yang cukup pepat. Langkah Jlitheng tertegun ketika ia
teringat, bahwa ia belum membawa pesanan Kiai Kanthi untuk membawa
belanga dan tempayan. “Biar lah, besok saja aku bawa,“ desisnya.
Kedatangan Jlitheng agak mengejutkan Swasti yang sedang duduk
merenung dalam kegelapan. Gadis itu sedang menggantikan ayahnya
berjaga-jaga. Ketika ia mendengar langkah mendekat, maka disentuhnya
kaki ayahnya, sehingga orang tua itupun telah terbangun. Kiai
Kanthipun segera mendengar desir lembut mendekat. Namun untuk
beberapa saat ia masih berdiam diri sambil menunggu. Swasti menarik
nafas dalam-dalam ketika ia mendengar seseorang berkata masih dalam
kegelapan, “Aku Kiai. Jlitheng.” Kiai Kanthipun segera bangkit.
Sambil menggeliat ia bergumam, “Kau mengejutkan aku ngger.” Jlitheng
yang kemudian menjadi semakin dekat menyahut, “Maaf Kiai. Aku datang
terlalu malam.” Swastipun segera beringsut menjauh, seolah-olah
sengaja duduk dibelakang sebatang pohon besar untuk memisahkan diri.
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun ia tidak memanggil anaknya.
Dibiarkannya Swasti yang seakan2 berlindung dibalik sebatang pohon.
Jlithengpun kemudian duduk bersama Kiai Kanthi. Betapa pun gelapnya
malam namun seolah2 mereka saling dapat memandang wajah masing2.
“Kiai,” berkata Jlitheng kemudian, “aku lupa pesanan Kiai.” Kiai
Kanthi tertawa. Jawabnya, “Tidak apa ngger. Tentu banyak yang angger
yang sedang dilakukan, sehingga meskipun masih muda, tetapi sudah
menjadi seorang pelupa.” “Tidak banyak yang aku lakukan Kiai. Tetapi
ada sesuatu yang sangat menarik perhatianku.” Kiai Kanthi
termangu-mangu sejenak, sementara Jlitheng- pun kemudian
menceriterakan apa yang dilihatnya dipinggir hutan itu. Swasti yang
mendengar juga peristiwa yang diceriterakan oleh Jlitheng itu
ternyata tertarik juga, sehingga iapun telah beringsut setapak. Kiai
Kanthi mendengarkannya dengan penuh minat. Sekali- kali ia
mengerutkan keningnya, sekali-kali menarik nafas dalam-dalam.
Jlithengpun memperhatikan orang tua itu dengan saksama. Ia ingin
melihat akibat dari ceriteranya untuk menjajagi apakah Kiai Kanthi
mempunyai hubungan dengan peristiwa yang baru saja terjadi itu.
Namun agaknya Kiai Kanthi yang tua itu dapat mengetahui, apa yang
tersirat pada tatapan mata Jlitheng, sehingga sambil menarik nafas
dalam-dalam ia berkata, “Apakah ada yang angger ingin ketahui
tentang aku dalam hubungannya dengan peristiwa itu?”
--ooo0ooo—
Jilid 02 “HE,“ Jlithenglah yang justru terkejut, “maksud
Kiai?” “Mungkin ada kecur igaan padamu ngger, bahwa aku mempunyai
hubungan dengan peristiwa itu. Aku sadar, bahwa setiap orang baru
yang datang ketempat yang kebetulan mempunyai persoalannya
tersendiri, akan sangat menar ik perhatian. Meskipun sekali lagi,
hanya kebetulan saja.” Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Katanya,
“Ternyata aku tidak dapat bersembunyi lagi dihadapan Kiai. Banyak
hal yang Kiai ketahui dari keinginan yang sebenarnya masih tersimpan
dihati. Kali inipun Kiai ternyata dapat membaca perasaanku.“
Jlitheng berhenti sejenak, lalu, “Baiklah Kiai. Terus terang aku
memang agak curiga terhadap kedatangan Kiai padi saat-saat ini. Aku
ragu-ragu apakah benar-benar Kiai datang dari padepokan yang hancur
karena tanah yang longsor, gempa, banjir dan angin pusaran. Apakah
kedatangan Kiai kemari bukannya karena Kiai mempunyai hubungan
dengan salah satu dari kedua perguruan itu. Pusparuri atau Kendali
Putih. Atau Kiai adalah salah seorang yang mempunyai kepentingan
yang sama dengan perguruan-perguruan itu, tetapi Kiai mempunyai
pihak tersendir i.” Jlitheng terkejut ketika ternyata Swastilah yang
menjawab lantang, “Kamipun sudah mengetahui bahwa kau mencur igai
kami. Kesediaanmu menolong kami hanyalah karena kau ingin menjajagi
kemampuan kami. Sekarang kau tahu, bahwa aku mampu melakukan apa
yang dapat kau lakukan.” “Swasti,“ potong ayahnya. “Kamipan tahu,“
Swasti meneruskan tanpa menghiraukan kata-kata ayahnya, “kau
menunjukkan tempat ini semata- mata karena kau ingin mengikat kami
di tempat yang kau ketahui dengan pasti. Setiap saat kau ingin
mengamati kami, maka kau tidak usah mencari kami diseluruh hutan
ini.” “Ah,“ desah Kiai Kanthi, “jangan berprasangka terlalu jauh
Swasti.” .Swasti memandang bayangan ayahnya dan Jlitheng didalam
kegelapan. Namun iapun kemudian terdiam. Jlitheng mengangguk-angguk
sambil bergumam, “Aku mohon maaf Kiai, bahwa sikapku agaknya telah
menyakiti hati anak gadis Kiai.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Ia tidak mengira bahwa Jlitheng sama sekali t idak tersinggung oleh
kata-kata Swasti, bahkan ia masih sempat minta maaf kepadanya.
“Sebenarnyalah bahwa dalam keadaan seperti ini didaerah terpencil
seperti padukuhan Lumban ini. banyak mengundang prasangka buruk.“
Jlitheng meneruskan. “Itu bukan salahmu ngger,“ berkata Kiai Kanthi,
“tentu diantara kita masing-masing ada perasaan curiga karena kita
masing-masing belum mengenal lahir dan batin. Tetapi itu bukan
berarti bahwa kita masing-masing sudah melakukan kesalahan.”
“Baiklah Kiai. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Kita masih
akan saling membuktikan tentang dir i kita masing- masing. Tetapi
jika benar Kiai tidak bersentuhan dengan perguruan Pusparuri dan
Kendali Putih? maka yang aku ceriterakan itu hendaknya menjadi bahan
perhitungan Kiai menghadapi masa mendatang di padukuhan Lumban ini.”
“Terima kasih ngger. Sebenarnyalah bahwa aku sudah mendengar serba
sedikit tentang perguruan itu. Tetapi isinya aku sama sekali t idak
mengerti. Apalagi hubungannya dengan angger Daruwerdi.” “Baiklah
Kiai. Aku akan minta diri. Kita sudah saling mengerti bahwa kita
masih selalu dibelit oleh pertanyaan tentang orang-orang yang sedang
kita hadapi.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng
melanjutkan, “Kiai. Sebagaimana Kiai yang berselubung kepapaan
seorang perantau, maka terhadap siapa pun aku mohon Kiai untuk tidak
mengatakan sesuatu tentang kemungkinan-kemungkinan yang Kiai anggap
ada padaku. Terutama apabila pada suatu saat Kiai bertemu dengan
Daruwerdi.” Kiai Kanthi tertawa kecil. Jawabnya, “Aku sudah menduga
ngger. Sejak semula aku sudah tidak dapat mengerti, bahwa angger ini
bernama Jlitheng anak seorang janda miskin dari padukuhan Lumban
Wetan. Tetapi akupun tidak akan bertanya siapakah angger sebenarnya,
karena angger tentu akan berusaha menyembunyikan diri.” Jlithengpun
tersenyum. Katanya, “Untuk sementara kita dapat mengetahui menurut
batas-batas yang kita buat sendiri diantara kita. Tetapi aku masih
tetap akan membantu Kiai mendirikan sebuah gubug dipinggar hutan
ini.” “Terima kasih ngger. Tetapi jangan lupa, besok aku memer lukan
belanga dan tempayan.” Jlitheng tertawa. Iapun kemudian minta dir i
kepada Swasti. “Silahkan,“ jawab Swasti pendek. Jlitheng tersenyum.
Katanya kepada Kiai Kanthi, “Aku kira Swasti tidak menganggap aneh
sikap kita masing-masing, karena iapun telah terlibat kedalamnya.
Jika ia bersikap tegang, mungkin karena aku benar-benar telah
menyinggung perasaannya. Sekali lagi aku mohon maaf Kiai.” “Tidak
ngger. Anak gadisku tidak apa-apa. Itu memang sudah menjadi
sifatnya. Swasti memang jarang bergaul sejak dipadepokan kami yang
lama, yang agaknya kurang angger percaya itu.” Jlitheng tertawa
semakin keras. Namun iapun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi dengan
anaknya didalam gelapnya malam. “Anak itu terlalu kasar,“ gumam
Swasti. Kiai Kanthi menggeleng lemah. Katanya, “Tidak Swasti. Ia
tidak terlalu kasar. Tetapi ia dihputi oleh kecur igaan. Mungkin
iapun mengemban suatu tugas yang memaksanya bersikap demikian.”
Swasti tidak menyahut. Tetapi terdengar ia berdesah. “Kita memang
tidak dapat menghindarkan dir i dari sikap- sikap demikian. Apalagi
dalam keadaan seperti sekarang di padukuhan Lumban.” “Kenapa kita
memilih tempat ini ayah,“ berkata Swasti kemudian, “mumpung kita
belum terlanjur mulai dengan membuat sebuah padepokan, sebaiknya
kita tinggalkan saja tempat ini. Kita mencari tempat yang jauh dari
persoalan- persoalan yang menegangkan seperti ini.” Kiai Kanthi
menggeleng lemah. Jawabnya, “Tidak Swasti. Dimanapun juga hidup
mempunyai tantangannya masing- masing. Mungkin berbeda dalam ujud,
tetapi semuanya memer lukan kesediaan untuk mengatasinya. Kita sudah
bergulat dengan tanah longsor, banjir dan angin pusaran serta gempa.
Disini ternyata kita menghadapi tantangan yang berbeda.” Swasti
masih tetap berdiam diri. “Apalagi setelah aku mendengar nama
perguruan- perguruan itu disebut Swasti. Perguruan Pusparuri, aku
belum banyak mengerti. Tetapi perguruan Kendali Putih, aku sudah
mendengarnya. Mungkin sekali-kali aku pernah menyinggungnya.” Swasti
tidak segera menjawab. Ia mencoba mengingat- ingat apa yang pernah
diceriterakan oleh ayahnya tentang perguruan Kendali Put ih. “Apakah
kau masih ingat Swasti, aku pernah mengatakan kepadamu, bahwa
perguruan Kendali Putih adalah sarang dari orang-orang yang hanya
mementingkan dir inya sendiri. Diperguruan itu berkumpul orang-orang
yang memiliki kemampuan dan ilmu yang tinggi. Tetapi hidup mereka
justru mereka habiskan untuk meneguk kepuasan duniawi. Mereka tidak
segan membunuh untuk sekedar mendapatkan sekeping emas atau sebutir
berlian,“ berkata ayahnya sambil memandang wajah anak gadisnya yang
menegang. Swasti mengangguk kecil. Jawabnya, “Aku ingat ayah.”
“Ternyata sekarang orang-orang Kendali Putih itu telah menjamah
padukuhan yang terpencil ini justru karena disiini ada angger
Daruwerdi.“ sambung Kiai Kanthi. “Namun dengan demikian, kita harus
mencari keterangan, siapakah sebenarnya Daruwerdi itu ayah. Seperti
Jlitheng. ia tentu mempunyai latar belakang kehidupan yang jauh
berbeda dengan orang-orang Lumban itu sendiri. Bahkan menurut
dugaanku, maka Lumban justru telah menjadi korban hadirnya
Daruwerdi.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku belum
dapat mengambil kesimpulan apapun juga Swasti. Untuk sementara kita
masih tidak akan terlibat. Kita akan melakukan seperti yang kita
rencanakan. Membuat sebuah tempat tinggal yang kecil, namun dapat
memberikan pegangan hidup. Bukan saja buat aku yang sudah semakin
tua ini, tetapi juga buatmu dimasa yang masih panjang.” Swasti tidak
menyahut. Iapun sadar, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi
keadaan yang masih samar-samar. “Nah,“ berkata ayahnya kemudian,
“sekarang giliranmu untuk tidur. Aku akan berjaga-jaga.
Mudah-mudahan tidak ada binatang buas yang tersesat sampai ketempat
ini.” Swasti tidak menjawab. Iapun kemudian bersandar pada sebatang
pohon sambil memejamkan matanya, sementara ayahnya duduk sambil
berselimut kain panjangnya. Dalam pada itu, padukuhan Lumbanpun
sedang ditelan oleh kesenyapan malam. Beberapa orang anak muda yang
sedang ronda digardu dengan gelisah menunggu Jlitheng yang terlalu
lama pergi. “Anak malas itu tentu sibuk dengan pematangnya yang
pecah,“ desis yang seorang. Sedang yang lain menyahut, “Ia terlalu
bodoh untuk mengerti.” Kawan-kawannya tertawa. Namun suara tertawa
itu terputus ketika salah seorang melihat Jlitheng melangkah
mendekat sambil memegang perutnya. Dalam cahaya obor didepan gardu
itu, kawan-kawannya melihat wajah Jlitheng yang tegang. “Kenapa
perutmu ?“ bertanya seorang kawannya. “Sakit,“ sahut Jlitheng yang
langsung membaringkan dirinya di gardu yang sempit itu.
Kawan-kawannya membiarkannya meskipun salah seorang dari mereka
bergumam, “Kau sita tempat yang hanya sempit itu untuk dir imu
sendir i.” Jlitheng tidak menyahut. Bahkan iapun melingkar sambil
menyelubungi seluruh tubuhnya dengan kain panjangnya. Namun dalam
pada itu, seisi gardu itupun terkejut ketika mereka mendengar derap
kaki kuda memecah sepinya malam. Sejenak anak-anak muda itu
tercengkam. Namun kemudaan mereka mulai berdesak-desakan sambil
gemetar. “Kau dengar suara kaki kuda itu ?“ desis seseorang.
Kawannya yang sudah gemetar menggeram, “Hanya orang tuli sajalah
yang tidak mendengar suara derap kaki itu.” Yang lainpun terdiam.
Namun salah seorang dari mereka tiba-tiba mengguncang kaki Jlitheng
sambil berdesis, “Jlitheng, bangun. Ada seekor kuda datang.”
Jlitheng tidak bergerak. Nampaknya ia sudah tertidur nyenyak.
“Jlitheng, Jlitheng,“ yang lain ikut mengguncang. “O,“ Jlitheng
tiba-tiba mengeluh, “perutku sakit.” “Bangun. Kau dengar derap kaki
kuda yang semakin dekat itu?” “Peduli dengan seekor kuda.” “Gila,“
kawannya yang bertubuh tinggi menjadi jengkel, “jika kau dicekiknya,
terserah. Kamipun tidak peduli.” Tiba-tiba Jlitheng bangkit. Dengan
suara bergetar ia bertanya, “Apa yang terjadi ? Apa ?” “Diamlah,
Kuda itu sudah dekat.” Jlitheng tidak sempat menjawab. Ketika ia
turun dari gardu, ternyata yang dilihatnya mendekat bukannya seekor
kuda. tetapi dua ekor kuda. Penunggaang2 kuda itu telah menarik
kendali kuda masing- masing ketika mereka melihat beberapa orang
anak muda berdiri dimuka gardu, sehingga kedua ekor kuda itu
berhenti beberapa langkah saja dihadapan anak-anak muda itu.
Anak-anak muda itu menjadi gemetar ketika mereka melihat dalam
cahaya obor dua wajah yang garang memandang mereka dengan tegang.
Dada mereka bagaikan retak ketika salah seorang dari keduanya
tiba-tiba saja membentak, “He. kalian anak-anak Lumban ?” Tidak ada
yang dapat segera menjawab. Mulut-mulut menjadi bagaikan membeku.
“He, apakah semuanya tuli,“ yang lain hampir berteriak. Jantung
anak-anak muda itu bagaikan rontok. Apalagi ketika salah seorang dar
i kedua orang berkuda itu meloncat turun. “He, kalian bisu atau tuli
? Jawab, bukankah ini padukuhan Lumban ?” Anak muda yang bertubuh
tinggi, yang kebetulan berdiri dipaling depan terpaksa berusaha
untuk menjawab, “Ya Ki Sanak.” Orang itu tiba-tiba tertawa. Sambil
mengangguk-angguk ia berkata, “Kau anak berani. Kemarilah.” Anak
muda bertubuh t inggi itu menjadi semakin gemetar. Sedangkan orang
itu masih saja tertawa sambil berkata, “Kemarilah anak muda. Kau
nampaknya anak muda yang paling berani diantara semua
kawan-kawanmu.” Anak muda bertubuh tinggi itu menjadi semakin
gemetar. “Kenapa kau diam saja ?“ orang berwajah garang itu
bertanya. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya.” Anak muda
itu bagaikan menjadi lumpuh. Karena itu ia sama sekali tidak
bergeser. “Baiklah. Jika kau tidak mau mendekat, akulah yang akan
mendekat. Tetapi setidak-tidaknya kau tidak bisu dan tidak tuli.”
Ketika orang berwajah garang itu maju selangkah, diluar sadarnya
anak-anak muda Lumban Wetan itu bergeser mundur. Karena itulah maka
orang itupun tertawa semakin keras. Katanya, “Lumban memang aneh.
Ternyata anak-anak mudanya tidak lebih dari seekor cacing.”
Anak-anak muda itu menjadi semakin gemetar. Nyawa mereka
rasa-rasanya telah terloncat dari ubun-ubun ketika tiba-tiba saja
orang itu membentak, “He, siapa diantara kalian yang melihat dua
orang kawanku yang datang ke padukuhan ini he ?” Pertanyaan itu
benar-benar mengejutkan. “Kalian menjadi bisu lagi. He, kau yang
paling berani yang tidak bisu dan t idak tuli. Jawab pertanyaanku.”
Tetapi anak muda yang bertubuh t inggi itu benar-benar telah
terbungkam. Keringatnya mengalir diseluruh tubuhnya, namun badannya
terasa menjadi sangat dingin seperti air wayu sewindu. Orang
bertubuh kekar dan berwajah garang itu maju lagi selangkah. Sekali
lagi ia berteriak, “Siapa yang melihat dua orang kawanku datang
kepadukuham ini ? Ia tidak kembali pada waktu yang sudah di
tentukan. Dan aku pasti bahwa keduanya telah sampai kepadukuhan ini.
Tetapi aku tidak dapat menjumpainya ditempat yang sudah di
tentukan.“ Anak-anak muda itu benar-benar menggigil. Mereka segera
mengetahui bahwa yang dimaksud tentu dua orang yang telah dibunuh
oleh Daruwerdi disebelah bukit, yang kemudian dikuburkan bersama
seorang yang lain yang menurut keterangan justru kawan Daruwerdi
sendiri yang mati dibunuh oleh dua orang yang kemudian terbunuh pula
itu. Tetapi tidak ada mulut yang dapat mengatakannya. Bahkan untuk
menyebut bahwa kedua orang itu berurusan dengan orang-orang Lumban
Kulonpun tidak ada yang dapat mengucapkannya. “He, cepat. Apakah kau
merahasiakannya ? Apakah terjadi sesuatu dengan kawan-kawanku itu ?
Katakan. Jika kalian mengetahui sesuatu tentang mereka.” Kediaman
anak-anak muda Lumban Weton itu justru telah menumbuhkan kecur igaan
pada kedua orang berwajah garang itu. Yang masih duduk dipunggumg
kuda t iba-tiba saja berteriak, “Cepat, sebut apa yang terjadi.
Kalian tentu mengetahui sesuatu yang kalian tidak dapat
mengatakannya. Tetapi jika kalian tidak mau mengatakan, maka kami
akan mengambil sikap. Kami akan memaksa kalian untuk mengatakannya.”
Darah disetiap tubuh rasa-rasanya telah berhenti mengalir.
Wajah-wajah garang itu bagaikan menyala. Orang yang sudah turun dari
kudanya itupun menggeram, “Kalian tentu mengetahui. Setiap peristiwa
akan segera diketahui oleh setiap orang dipadukuhan ini.” Anak-anak
muda dimuka gardu itu seolah-olah telah menjadi patung yang beku.
Nafaspun rasa-rasanya tidak lagi dapat mengalir sewajarnya, sehingga
dada mereka merasa sesak, dan kepala mereka menjadi pening. “Cepat,“
tiba-tiba saja orang itu berteriak, “dipadukuhan seperti ini tidak
ada yang dapat dirahasiakan. Juga tentang kedua orang kawanku itu.
Aku berjanji untuk tidak berbuat sesuatu atas kalian jika kalian
mengatakannya, dan jika kalian tidak terlibat dalampersoalan dengan
mereka.” Tetapi mulut-mulut bagaikan tersumbat. “Aku tidak telaten,“
berkata orang yang sudah turun dari kudanya, “aku akan mengambil
seorang dari mereka dan memaksanya untuk berbicara. Jika mulutnya
tidak mau terbuka, maka aku akan memeras darahnya sampai kering.”
Seorang anak muda yang kurus berwajah pucat tiba-tiba saja telah
terjatuh dan menjadi pingsan. Namun tidak seorangpun yang berani
bergerak untuk menolongnya. Ketika orang yang berwajah, garang itu
melangkah maju sambil memandangi setiap wajah untuk menemukan
seseorang yang akan diperasnya, maka tiba-tiba saja terdengar
seseorang merintih. Orang berwajah garang itu tertegun. Dengan
tegang ia memperhatikan suara itu. “He, kenapa kau,“ t iba-tiba
orang itu berteriak. “Perutku sakit,“ yang menjawab adalah Jlitheng
sambil memegangi perutnya yang sakit. “Apakah aku boleh pergi
kesungai ?” Pertanyaan itu benar-benar telah mengejutkan. Bukan saja
kedua orang berwajah garang itu, tetapi kawan-kawan Jlithengpun
terkejut. Pertanyaan itu akan dapat mencelakakannya. Ternyata dugaan
kawan-kawannya itu benar. Orang berwajah garang yang sudah tidak
lagi berada dipumggung kudanya itu benar-benar merasa tersinggung
oleh pertanyaan Jlitheng. Karena itu, maka t iba-tiba saja ia
melambaikan tangannya sambil tersenyum. Tetapi senyumnya itu
nampaknya seperti senyum iblis yang melihat sesosok mayat yang baru
diletakkan dilubang kuburnya. “Kemarilah cah bagus,“ desis orang
berwajah garang itu. Tetapi panggilan itu rasa-rasanya bagaikan
sembilu yang menggores setiap jantung. “Alangkah bodohnya Jlitheng,
kawan-kawannya menyesalinya. Tetapi tidak seorangpun yang berani
menolongnya. Tetapi Jlitheng memang seorang anak yang dungu
dihadapan kawan-kawannya. Ia melangkah maju sambil
terbungkuk-bungkuk. “Perutku sakit sekali,“ ia masih berdesis.
“Baiklah. Marillah. Aku antar kau kesungai. Apakah kau dapat naik
seekor kuda?” Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak dapat
naik kuda.” “Kalau begitu mar ilah. Aku jaga agar kau tidak
terjatuh.” “Tetapi sungai itu tidak begitu jauh,“ jawab Jlitheng.
Orang itu tersenyum. Dibelainya kepala Jlitheng sambil berkata,
“Meskipun tidak jauh, biarlah kami berdua mengantarmu cah bagus.”
Ketika Jlitheng mendekati orang itu, kawan-kawannya menjadi semakin
berdebar-debar. “Alangkah bodohnya,“ kawan-kawannya berteriak
didalam hati. Rasa-rasanya mereka ingin menggapai Jlitheng dan
menariknya, agar ia tidak mendekati orang berwajah garang itu.
Tetapi merekapun telah membeku oleh ketakutan dan kecemasan. Tetapi
Jlitheng melangkah terus sambil memegangi perutnya. “Terima kasih,“
desis Jlitheng. Orang berwajah garang itupun kemudian meloncat
kepunggung kudanya. Dicahaya obor yang kemerah-merahan masih nampak
ia tersenyum sambil berkata, “Kemarilah. Aku tolong kau naik kuda
bersamaku.” Anak-anak muda itu menggigil ketika mereka melihat
Jlitheng mendekati orang berkuda itu. Namun yang terdengar kemudian
adalah keluhan yang panjang. Tiba-tiba saja orang itu menyambar
tangan Jlitheng dan menariknya dengan semena-mena. “Cepat anak gila.
Kau harus menunjukkan kepadaku, dimana kedua orang kawanku itu.“
bentak orang itu dengan kasar. “Aku akan pergi kesungai,“ Jlitheng
mulai berteriak. “Tutup mulutmu. Aku bunuh kau,“ senyum diwajah
orang itu sudah lenyap. Yang nampak kemudian adalah kegarangan wajah
yang mengerikan. Kawan-kawannya hanya dapat memandang dengan tegang
saat kuda-kuda itu mulai bergerak. Mereka melihat Jlitheng meronta.
Tetapi tangan orang berwajah kasar itu bagaikan tanggembaja. Sejenak
kemudian kuda itu telah berderap masuk kedalam kegelapan. Namun hati
anak-anak muda itu bagaikan teriris ketika mereka mendengar suara
teriakan Jlitheng yang tertinggal, disela-sela derap kaki-kaki kuda
itu. Ketika kemudian Jlitheng hilang didalam kelam, maka anak- anak
muda itu mulai saling berpandangan. Satu dua diantara mereka menar
ik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk
berdesis, “Kasihan J litheng yang dungu itu.” Kawan-kawannya masih
menggigil. Namun salah seorang dari mereka mulai melangkah mendekati
kawannya yang pingsan. “Bawa ia naik kegardu,“ desisnya.
Beramai-ramai anak muda itu diangkat untuk dibaringkannya didalam
gardu. Satu dua diantara mereka mulai memijat-mijat keningnya,
sedang yang lain masih saja berdiri kebingungan. “Marilah kita
pulang,“ tiba-tiba seorang diantara mereka berdesis, “bagaimana jika
mereka kembali lagi kemari ?” “Ya. Kita pulang saja.” Beberapa orang
menjadi ragu-ragu. Seorang yang paling tua berkata, “Mereka tidak
akan kembali lagi. Kita menunggu sejenak, apa yang terjadi dengan
Jlitheng.” Anak-anak muda itu menjadi semakin ragu-ragu. Tetapi
tidak seorangpun diantara mereka yang meninggalkan gardu. Hati
mereka benar-benar menjadi kecut, sehingga mereka kebingungan,
apakah yang sebaiknya dilakukan. Sementara itu, beberapa orang yang
tinggal disebelah- menyebelah gardu itu terkejut mendengar keributan
yang terjadi. Mereka mendengar beberapa orang berteriak. Membentak,
tetapi juga mengaduh. Satu dua orang laki- laki telah keluar dari
rumahnya. Dengan hati-hati mereka mulai mengint ip. Ketika mereka
masih melihat obor digardu menyala, dan mereka masih melihat
anak-anak muda dimuka gardu itu, maka merekapun segera mendekat.
Mereka hanya dapat mendengar apa yang telah terjadi dengan Jlitheng.
“Kasihan janda itu,“ desis seseorang, “anak itu hilang sejak
kanak-kanak. Belum lama ia kembali. Kini ia mengalami bencana.”
“Ya,“ sahut yang lain, “begitu lama anak itu pergi, sehingga kita
yang tua ini tidak lagi dapat mengingat bahwa janda itu mempunyai
anak laki-laki. Agaknya kini ia harus kehilangan untuk yang kedua
kalinya.” “Apakah kita akan memberitahukan kepadanya?“ bertanya
seorang anak muda. Seorang laki- laki tua maju selangkah. Dengan
sareh ia berkata, “Jangan tergesa-gesa. Kita akan menunggu
perkembangan dari per istiwa ini. Jika sekarang kita datang
kerumahnya dan memberitahiulkannya kepada ibunya, maka perempuan itu
akan pingsan. Bahkan mungkin mati.” Yang lain mengangguk-angguk
Seorang anak muda berkata, “Baiklah. Kita menunggu perkembangannya.
Besok pagi-pagi kita akan menelusuri jalan-jalan di Lumban Wetan dan
kalau per lu di Lumban Kulon. Mungkin kita dapat menemukannya.” Anak
muda itu tidak meneruskannya. Tetapi yang lain menyahut,
“Menemukannya hidup atau mati.” Seorang tua menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Kita akan mengatakannya kepada Daruwerdi.
Apakah yang sebaiknya kita lakukan.” “Ya. Besok kita menemui
Daruwerdi di Lumban Kulon,“ hampir berbareng beberapa orang
menjawab. Sejenak kemudian, maka orang-orang tua itupun minta diri,
kembali kerumah masing-masing, sedang beberapa orang anak muda masih
tetap berada digardu. Namun tidak seorang pun yang berani membar
ingkan dirinya. Jika mereka mendengar derap kaki kuda, maka mereka
sudah siap menghambur melarikan dir i. Sementara itu, kedua ekor
kuda dengan penunggangnya telah berderap keluar padukuhan dengan
membawa Jlitheng yang meronta-ronta. Namun himpitan tangan orang
berwajah garang itu semakin lama menjadi semakin kuat mencengkam
lengan Jlitheng. “Aku akan pergi kesungai,“ teriak Jlitheng. “Tutup
miulutmu, atau aku bunuh kau.“ bentak orang berwajah garang itu,
“sekarang tunjukkan, dimana kau melihat kedua orang kawanku. Dengan
siapa mereka berhubungan, dan apakah yang sudah terjadi.” “Aku tidak
tahu, aku t idak tahu,“ Jlitheng masih berteriak. “Jika kau tidak
mau diam, aku cekik kau sampai mati,“ geramorang berwajah garang
itu. Sejenak Jlitheng terdiam. Yang terdengar dikesunyian malam
hanyalah derap kaki kuda yang berlari kencang dibulak panjang itu.
Namun ketika mereka sudah sampai ditengah-tengah bulak, maka kuda
itupun berjalan semakin lambat. Bahkan akhirnya berhenti sama
sekali. Jlitheng masih tetap berada dipunggung kuda. Orang berwajah
garang yang memeganginya berdesis, “Kita berada ditengah-tengah
bulak anak manis.” Jlitheng tidak menjawab. “Nah, sekarang katakan
kepadaku, apa yang kau ketahui tentang kedua orang kawanku yang
sudah mendahului aku datang kepadulkuhan Lumban,“ bertanya orang
berwajah garang itu, “akan dapat berbaik hati kepadamu. Tetapi aku
juga dapat berbuat sesuatu yang barangkali belum pernah kau
bayangkan.” Jlitheng masih tetap diam. “Misalnya,“ orang itu
melanjutkan kata-katanya, “mengikatmu dan menarik dibelakang kaki
kuda. Atau mengikatmu erat-erat dan menelungkupkan tubuhmu dipar it
yang airnya hanya mengalir sedalam mata kaki, dengan sebuah batu
besar dipunggung. Atau cara lain yang lain yang barangkali lebih
menarik.” Jlitheng sama sekali t idak menjawab. “He,“ orang itu
mulai kehilangan kesabaran,“ jawab pertanyaanku.” Adalah dihiar
dugaan, bahwa tiba-tiba saja Jlitheng justru tertawa. Bahkan
kemudian dengan tangkasnya ia turun ajari punggung kudanya sebelum
orang yang berwajah garang itu sempalt menyadari keadaannya.
Pegangan tangannya yang agak mengendor telah dipergunakan
sebaik-baiknya oleh Jlitheng, sehingga dengan mudah ia melepaskan
dir i bahkan orang itu hampir jatuh karenanya. Sejenak kemudian
Jlitheng telah berdiri beberapa langkah dari orang berwajah garang
yang membawanya sambil bertolak pinggang. Sikap Jlitheng itu
benar-benar telah mengejutkan orang- orang dari perguruan Kendali
Putih itu. Sesaat mereka bagaikan terpukau sehingga keduanya justru
membeku dipunggung kudanya. “Nah Ki Sanak,“ berkata Jlitheng dengan
suara yang jauh berbeda dengan lengkingan-lengkingan ketakutan
disaat ia meninggalkan gardu, “mar ilah kita berbicara dengan baik.
Kau dapat bertanya dengan sopan, dan aku akan menjawab dengan
wajar.” Yang terdengar kemudian adalah geram yang melontarkan
kemarahan. Orang yang membawa Jlitheng bersamanya disatu punggung
kuda itupun bertanya dengan suara bergetar, “Apakah kau sudah
menjadi gila karena ketakutan ?” “Tidak Ki Sanak,“ jawab Jlitheng
sareh, “aku memang ingin berbicara ditempat yang sepi seperti
sekarang ini agar tidak menakut-nakuti kawan-kawanku yang berada
digardu. Apalagi ketika aku menyadari, bahwa aku berhadapan dengan
orang- orang dari perguruan Kendali Putih.” “Persetan,“ geram orang
dari Kendali Putih yang seorang lagi, “jawablah. Dimana kedua
kawan-kawanku yang telah datang lebih dahulu dipadukuhan ini.”
“Mereka telah mat i,“ jawab Jlitheng pendek. Jawaban Jlitheng itu
terdengar bagaikan ledakan petir ditelinga mereka. Hampir berbareng
keduanya telah meloncat turun dari kuda mereka. Sejenak keduanya
memandang Jlitheng dengan tanpa berkedip. Mereka telah menyadari,
bahwa yang berdiri di hadapannya itu tentu bukannya anak Lumban yang
pingsan karena ketakutan seperti yang terjadi, di gardu. Namun
bagaimanapun juga bagi kedua orang Kendali Putih itu, Lumban adalah
padukuhan yang tidak berarti apa-apa bagi mereka. Karena itu, salah
seorang dari keduanya membentak dengan kasarnya, “Anak setan.
Katakan, apakah yang telah terjadi.” Jlitheng memandang kedua orang
itu berganti-ganti. Kemudian katanya, “Aku melihat semua dua orang
Kendali Putih yang datang kepadukuhan Lumban Kulon. Keduanya telah
melukai seorang dari perguruan Puspapur i dan berusaha untuk menipu
Daruwerdi. Tetapi rahasia kawan-kawanmu itu dapat diketahui, karena
mereka tidak mampu menjawab istilah sandi yang sebelumnya sudah
disiapkan oleh Daruwerdi dengan perguruan Pusparuri. Dan itu adalah
kebodohan yang menentukan bagi kedua kawan-kawanmu itu.” “Gila,“
geram kedua orang Kendali Putih itu, “siapakah kau sebenarnya?
Apakah kau yang bernama Daruwerdi ?” “Bukan aku. Aku hanya melihat
bagaimana Daruwerdi membunuh kedua orang kawanmu.” “Bohong. Tentu
dua puluh atau tiga puluh orang Lumban telah beramai-ramai mengepung
dan mengeroyoknya. Mungkin diantaranya terdapat Daruwerdi dan kau
sendir i.” “Aku berkata sebenarnya,“ jawab Jlitheng, “bukankah aku
sudah berjanji untuk menjawab dengan wajar?” “Tidak ada orang yang
dapat mengalahkan murid-mur id dari perguruan Kendali Putih,“ teriak
salah seorang dari mereka. “Ada. Daruwerdi. Kau dengar. Namanya
Daruwerdi. Rumahnya Lumban Kulon. Ia seorang diri telah membunuh
kedua orang kawan-kawanmu. Kau dengar.” Kata-kata Jlitheng itu
membuat kedua orang Kendali Putih itu menjadi semakin marah. Dengan
garangnya salah seorang dari keduanya membentak, “Jangan mengigau.
Aku dapat membunuhmu.” Jlitheng termangu-nmngu. Ia bergeser setapak
ketika ia melihat salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu
mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu. Bahkan yang seorangpun
telah berbuat serupa pula. Jlitheng sadar, bahwa keadaan menjadi
semakin gawat. Tetapi ia sudah melakukannya dengan sengaja dan telah
memperhitungkan akibatnya pula. “He anak gila,“ salah seorang dari
kedua orang Kendali Putih itu menggeram, “kau belum mengenal kami
berdua. Kau belum mengenal perguruan Kendali Putih. Karena itu,
nampaknya kau menganggap kami berdua seperti anak-anak yang merengek
minta makanan. Cobalah kau menyadari keadaanmu. Agaknya kau belum
terlambat minta ampun kepada kami dan mengatakan sebenarnya seperti
yang kami inginkan.” “Ki Sanak,“ jawab Jlitheng, “aku sudah
mengatakan yang sebenarnya. Kedua orang Kendali Putih yang datang
untuk mencari keterangan tentang pusaka yang tidak aku ketahui
namanya, telah terbuka rahasianya sehingga kemudian telah dibunuh
oleh Daruwerdi, anak muda dari Lumban Kulon, setelah kedua orang
Kendali Putih itu berhasil membunuh seorang dari perguruan Pusparuri
yang seharusnya mendapat keterangan dari Daruwerdi,“ Jlitheng
berhenti sejenak, lalu, “Ki Sanak. Jika kau bertanya sekali lagi,
maka jawabku akan sama pula dengan jawabku itu dan jawaban-jawabanku
sebelumnya. Karena itu, jangan bertanya lagi tentang kedua orang
kawanmu. Mungkin kau lebih baik bertanya siapakah Daruwerdi dan
dimanakah rumahnya.” Kedua orang itu tidak lagi dapat mengendalikan
kemarahannya. Karena itu tiba-tiba saja salah seorang dari mereka
telah mengayunkan tangannya menampar kening Jlitheng. Tetapi orang
itu terkejut. Ternyata tangannya tidak menyetuh anak muda itu,
meskipun Jlitheng tidak bergeser dari tempatnya. Ia hanya menarik
kepalanya sambil memiringkan wajahnya. Kemudian seolah-olah seperti
tidak terjadi sesuatu ia berkata, “Jangan cepat marah. Jika kau
ingin bertemu dengan Daruwerdi, marilah. Mungkin kalian berdua juga
akan dibunuhnya seperti kedua kawanmu yang telah mati itu.” Keduanya
tidak dapat menahan diri lagi. Salah seorang dari mereka berkata
kasar, “Setan alas. Aku akan membunuhmu dengan caraku. Baru kemudian
aku akan mencari Daruwerdi yang kau katakan itu. Tetapi aku tidak
percaya bualanmu, seolah-olah anak muda dari Lumban mampu membunuh
orang-orang Kendali Put ih, apalagi seorang Daruwerdi melawan dua
orang kawan-kawanku.” “Kenapa kau tidak percaya bahwa anak muda
Lumban mampu mempertahankan dir inya meskipun ia berhadapan dengan
orang-orang Kendali Putih?” Pertanyaan itu benar-benar tantangan dan
penghinaan bagi kedua orang Kendali Putih itu. Karena itu, maka yang
seorang dari keduanya segera meloncat menerkam kepala Jlitheng
sambil berteriak, “Aku bunuh kau perlahan-lahan didalam parit itu.”
Tetapi tangannya juga tidak menyentuh sehelai rambut- pun. Jlitheng
mampu menghindar secepat terkaman orang Kendali Putih itu. “Gila,“
geram orang itu, “kau akan menyesal dengan sikapmu.” Orang itu tidak
dapat menyelesaikan kata-katanya. Tiba- tiba saja terasa lambungnya
bagaikan meledak. Kaki Jlitheng telah terjulur menghantam lambung
tanpa diduga-duga. Orang itu terdorong selangkah. Terdengar ia
menyeringai menahan sakit. Namun sekali lagi terjadi yang tidak
terduga- duga pula. Bagaikan terbang Jlitheng meloncat menyerangnya.
Orang itu tidak sempat menghindar. Karena itu, ia telah menyilangkan
tangannya menahan serangan kaki Jlitheng yang terjulur lurus. Tetapi
karena ia belum mapan pada keseimbangan seutuhnya, maka dorongan
kaki lawannya telah melemparkannya, sehingga ia jatuh terguling
ditanah. Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga mur id Kendali
Putih yang seorang lagi itu sejenak justru bagaikan tercengkam oleh
keheranannya. Namun ketika ia melihat kawannya jatuh berguling, maka
dengan serta merta iapun meloncat menerkamJ litheng pada tengkuknya.
Tetapi Jlitheng sempat menghindar. Seolah-olah ditengkuknya itu
terdapat sepasang mata yang melihat tangan lawannya itu terjulur
kearahnya. Bahkan dengan serta merta ia sempat memutar tubuhnya dan
dengan tangannya menghantamdada. Lawannya ternyata cukup tangkas. Ia
meloncat mundur selangkah, sehingga tangan Jlitheng tidak
menyentuhnya. Pada saat Jlitheng siap untuk meloncat memburu,
langkahnya terhenti. Lawannya yang seorang ternyata telah melenting
berdiri dan siap untuk menyerangnya pula. Jlitheng mempersiapkan
diri menghadapi kedua lawannya. Ia sadar, bahwa ia harus
berhati-hati menghadapi orang- orang Kendali Putih. Di pinggir hutan
ia melihat, bagaimana orang-orang Kendali Put ih itu bertempur. Dan
iapun melihat, seorang dari perguruan Pusparuri telah terluka arang
kranjang. Ternyata kemarahan kedua orang Kendali Putih itu tidak
tertahankan lagi. Apalagi ketika keduanya sadar, bahwa anak muda
yang dihadapinya itu benar-benar memiliki bekal untuk melawan
mereka. “Gila. Ternyata anak-anak muda Lumban memang harus
dimusnakan,“ geram salah seorang dari kedua orang Kendali Putih itu.
“Aku bukan anak muda dari Lumban,“ jawab Jlitheng, “Daruwerdi juga
bukan anak Lumban. Jika orang-orang Kendali Putih mendendam
anak-anak Lumban, maka itu adalah suatu kebodohan. Anak-anak muda
Lumban adalah anak-anak muda yang hanya mengenal cangkul untuk
bekerja disawah. Itulah sebabnya, aku merasa wajib untuk melndungi
mereka.” Kedua orang lawannya menggeram. Salah seorang dari kedua
lawannya bertanya dengan nada melengking, “Siapakah kau sebenarnya
anak iblis ? Apakah kau juga yang membunuh kedua orang kawanku.”
“Jangan terlampau dungu. Aku sudah menyebut beberapa kali. Yang
membunuh kawanmu adalah Daruwerdi. Dan aku bukan Daruwerdi. Aku
Jlitheng. Meskipun aku tinggal di Lumban, tetapi jangan salahkan
anak-anak muda Lumban. Kalian, perguruan Kendali Putih hanya
berurusan dengan Daruwerdi dan aku, Jlitheng.” “Persetan,“
orang-orang Kendali Putih itu menggeram. Yang seorang berteriak,
“akan aku musnakan seluruh isi padukuhan Lumban.” “Ki Sanak,“
berkata Jlitheng, “aku tahu, bahwa kau berdua tentu akan mencari
kesempatan untuk melepaskan dendammu atas kematian kawan-kawanmu.
Karena itu, kalian merupakan bahaya yang sungguh-sungguh bagi
Lumban. Agar anak-anak harimau tidak dibiarkan menjadi besar dan
menerkam, maka anak-anak harimau itu harus dimusnakan.” Kemarahan
telah memuncak karena sikap Jlitheng. Karena itu maka sejenak
kemudian perkelahian itupun telah menyala kembali dengan dahsyatnya.
Kedua orang Kendali Putih itu tidak lagi telaten bertempur dengan
tangan. Apalagi ketika terasa bahwa Jlitheng justru telah berhasil
membuat keduanya berkeringat. Sejenak kemudian, kedua orang Kendali
Putih itu telah mencabut senjata mereka. Yang seorang telah
menggenggam sebuah golok yang besar, sedangkan yang lain telah
menarik pedang panjangnya. “Kau akan kami cincang menjadi
sayatan-sayatan daging dan potongan tulang,“ geramsalah seorang dari
keduanya. Jlitheng meloncat surut. Sekilas diperhatikannya senjata-
senjata yang garang itu. Apalagi senjata2 itu berada ditangan
orang-orang Kendali Putih. “Aku tidak boleh lengah,“ berkata
Jlitheng kepada diri sendiri, “dan aku t idak per lu berpura-pura.
Aku harus melawan mereka dengan senjata pula.” Karena itulah, maka
Jlithengpun kemudian menggeram, “Ki Sanak. Senjata kalian adalah
ciri kekerasan dar i perguruan Kendali Putih. Kalian benar-benar
ingin menyelesaikan setiap persoalan dengan kematian. Sikap kalian
telah mendorong aku untuk berbuat serupa.” Kedua orang itu tidak
menghiraukannya. Hampir berbareng mereka meloncat menyerang dengan
senjata terjulur. Jlitheng sekali lagi meloncat agak jauh surut. Ia
berusaha mendapat kesempatan untuk mengurai senjatanya. Senjata yang
agak asing bagi lawann-lawannya. Dari bawah kain panjangnya yang
kusut, Jlitheng mengurai sehelai ikat pinggang yang dibuatnya dari
anyaman serat sehingga menyerupai sehelai tampar yang lemas. Tetapi
karena didalam anyaman itu terdapat beberapa helai serat lulup kayu
dadap cendana abang, serta tiga helai janget yang tipis, maka tampar
yang lemas itu merupakan tampar yang kuat sekali. Sejenak kemudian,
sehelai dadung ditangan Jlitheng itu telah berputar. Suaranya
berdesing seperti ssndaren yang terbang diudara. Kedua orang Kendali
Puitih itu terkejut melihat senjata lawannya. Apalagi setelah mereka
mendengar suara berdesing bagaikan suara sendaren. Sejenak keduanya
termangu-mangu. Dalam gelapnya malam mereka melihat sesuatu yang
diujung dadung ditangan Jlitheng itu. Ujung tampar yang
berkilat-kilat itu bagaikan seekor lalat yang berterbangan diseputar
kedua lawannya. Jika sekali benda itu hinggap ditubuh, maka tubuh
mereka tentu akan tersobek melintang. Karena itu, maka kedua orang
Kendali Putih itu menjadi semakin hati-hati. Mereka berloncatan
menghindar dan sekali- kali menyerang dengan garangnya. Mereka
mencoba memecah perhatian Jlitheng pada dua sisi yang ber lawanan.
Namun Jlitheng benar-benar seorang yang sangat tangkas. Kakinya
bagaikan kaki kijang, sementara tangannya dengan senjatanya bagaikan
sayap seekor burung raksasa yang mengembang menyebarkan maut.
Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Jlithengpun
harus bekerja bersungguh-sungguh. Seperti kedua orang itupun semakin
lama menjadi semakin kasar. Jlitheng harus bekerja keras menghindari
benturan- benturan kekerasan yang tidak per lu. Apalagi karena ia
harus bertempur melawan dua orang. Namun sejenak kemudian, Jlitheng
berhasil menguasai lawannya. Bukan saja karena ia telah menemukan
kelemahan- kelemahan lawannya, namun justru karena lawannya telah
terlalu banyak memeras tenaga mereka. Dengan garangnya Jlitheng
memutar senjatanya. Sekali-kal ia masih harus meloncat menghindar i
ujung senjata kedua orang Kendali Put ih itu. Namun kemudian, kedua
orang itu telah berada dalam libatan tampar Jlitheng yang berdesing
seperti sendaren. Benda yang tersangkut diujung dadung itu semakin
lama rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan tubuh lawannya.
Sejenak kemudian, terdengar sebuah keluhan tertahan. Ternyata bahwa
Jlitheng telah berhasil menyentuh punggung lawannya dengan ujung
senjatanya. “Gila,“ geram orang itu. Lukanya telah mengalirkan
darah, sementara perasaan pedih rasa-rasanya menggigit sampai
ketulang. Ternyata luka itu telah membuatnya seperti orang gila.
Orang yang bersenjata golok yang besar itu bertempur semakin garang
dan kasar. Namun dalam pada itu, semakin jelas bagi Jlitheng, bahwa
tenaganya telah menjadi semakin susut karenanya. Saat-saat
selanjutnya sudah tidak terlampau berat lagi bagi Jlitheng. Luka
dipunggung salah seorang lawannya itu, seolah- olah telah menyusut
separo dari segenap kemampuannya. Kecuali perasaan sakit yang
menyengat, tubuhnya semakin lama menjadi semakin lemah dan
seolah-olah telah kehabisan tenaga. Jlitheng tidak mau melepaskan
setiap kesempatan. Ia tidak mlau membiarkan kesulitan akan
berlarut-larut mencengkam padukuhan Lumban, setidak-tidaknya Lumban
Wetan. Ia berharap bahwa Daruwerdi akan bertanggung jawab bagi
keselamatan anak-anak muda di Lumban Kulon, karena ia memang t
inggal di padukuhan itu. Apalagi bahwa sumber persoalan ini
sebenarnya terletak padanya. Jika ia tidak mempunyai hubungan dengan
orang-orang dari berbagai perguruan. maka Lumban akan tetap menjadi
padukuhan yang damai. Yang perlu dilakukan bagi padukuhan itu adalah
sekedar meningkatkan tata kehidupan mereka tanpa mengaduknya dengan
kegelisahan dan kecemasan. “Sebenarnya yang mereka perlukan adalah
sebuah parit induk,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “bukan
titik-t itik darah seperti yang telah terjadi dipinggir hutan, dan
sekarang terpaksa disini.” Tetapi Jlitheng tidak dapat ingkar. Ia
harus menyelesaikan tugas yang dipetiknya seridiri. Kedua orang itu
harus dapat dihapuskannya tanpa bekas, sehingga persoalannya tidak
akan berkepanjangan. “Untuk itu aku terpaksa membunuh mereka,“ geram
Jlitheng didalamhatinya. Dengan demikian maka Jliithengpun bertempur
semakin cepat dan garang. Ia harus segera menyelesaikan pertempuran
itu sebelum berkembang menjadi semakin buruk, karena ada pihak-pihak
lain yang terlibat. Apalagi Jlitheng sendiri masih merasa perlu
untuk menyelubungi dir inya dengan sikap yang lain dari kenyataan
yang sebenarnya. Karena itulah, maka benda yang berkilat-kilat
diujung dadung yang dipergunakan oleh Jlitheng sebagai senjatanya
itu, berputar semakin cepat. Benda itu mulai menyengat- nyengat
ditubuh lawannya. Dipundak, kemudian dibahu dan bahkan kening. Kedua
lawannya yang menjadi semakin lemah karena tenaganya yang terperas
habis, darahnyapun mengalir semakin banyak. Perlahan-lahan mereka
mulai kehilangan kemampuan perlawanannya, sehingga luka ditubuh
merekapun menjadi semakin banyak. Dalam keadaan yang tidak lagi
dapat diatasi, salah seorang dari kedua orang itu menggeram, “Anak
gila. Sebutkan, siapakah kau sebenarnya. Senjatamu dan sikapmu
mengingatkan aku kepada sebuah perguruan yang hampir dilupa.”
Jlitheng meloncat surut. Namun tiba-tiba sebuah serangan yang
dahsyat telah melibat kedua lawannya. Betapapun kedua orang itu
berusaha, namun senjata anak muda itu telah menghantam punggung dan
dada, sehingga nafas mereka bagaikan terputus karenanya. Keduanya
telah terhuyung-huyung hampir bersamaan. Senjata mereka per
lahan-lahan terlepas pula, karena tangan mereka t idak lagi dapat
menggenggam. Pada saat terakhir itulah maka Jlitheng yang berdiri
tegak dengan senjatanya ditangan berkata dengan nada berat, “Ki
Sanak. Aku tidak mempunyai pilihan lain bagi orang-orang Kendali Put
ih. Aku kenal perguruan Kendali Putih dan telah ditegaskan pula oleh
sikap kedua kawanmu yang dibunuh oleh Daruwerdi. Dan yang terakhir
adalah sikap kalian berdua. Karena itu, bagi keselamatan orang-orang
Lumban, aku telah mengambil keputusan untuk membunuh kalian.”
“Persetan,“ geram salah seorang dari orang-orang Kendali Putih,
“kami tahu, kami akan mati.” “Yang penting bagiku, bukan kematianmu.
Tetapi kecemasanku melihat nasib anak-anak muda Lumban.” “Siapa kau
?“ suara orang Kendali Putih itu semakin lambat. “Namaku Arya
Baskara, murid dari perguruan yang memang sudah dilupakan
sepeninggal Guruku, Kiai Baskara.” “Namamu nunggak semi nama gurumu.
Jadi kau mur id Baskara dari perguruan Rasa Jati yang sudah punah
itu ?” “Ya. Aku satu-satunya murid dar i perguruan Rasa Jati yang
masih tinggal.” “O,“ orang Kendali Putih itu mengeluh, “kau memang
gila. Gurumu menurut pendengaranku juga orang gila. Siapa namamu ?”
Jlitheng memandang kedua orang yang semakin lemah itu. Selangkah ia
mendekat. Kemudian katanya, “Namaku sendiri adalah Arya Candra
Sangkaya.” “He,“ wajah kedua orang yang sudah tidak berdaya itu
bagaikan menyala, “kau jangan mengigau. Apakah kau senang menyebut
nama-nama orang yang disegani waktu itu ? Candra Sangkaya adalah
nama seorang Pangeran keturunan Perabu Majapahit terakhir.” “Bukan
Candra Sangkaya. Namanya Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Raden
Kuda Surya Anggama. Salah seorang Senapati yang gagal mempertahankan
Kota Raja Majapahit dan gugur dimedan. Usianya masih muda, meskipun
waktu itu ia sudah mempunyai seorang anak laki-laki. Akulah Candra
Sangkaya yang jika aku mau, aku dapat mempergunakan gelarku meskipun
aku buat sendir i, Jlitheng.” Kedua orang itu masih menggeram.
Tetapi keduanya sudah menjadi semakin lemah. Namun salah seorang
dari keduanya masih berkata, “Aku akan mati dengan senang hati,
karena yang membunuhku adalah mur id yang tersisa dari perguruan
Rasa Jati. Mungkin aku akan tersiksa disaat terakhir, jika kau
mengatakan bahwa kau adalah benar-benar anak Lumban. Tetapi kau
adalah orang yang memang pantas membunuhku.“ ia berhenti sejenak,
nafasnya sudah menjadi semakin sendat, “tetapi siapakah Daruwerdi?
Apakah ia orang dari perguruan Pusparuri ?” “Pasti bukan orang
Pusparuri. Tetapi aku tidak tahu. Mungkin nama Daruwerdi itupun
bukan namanya.” “Orang-orang gila. Kalian lebih senang bersembunyi
dibalik nama yang aneh-aneh itu,“ nafasnya menjadi semakin lambat.
Bahkan ketika Jlitheng melangkah semakin dekat, ia melihat yang
seorang dari kedua lawannya itu benar-benar sudah tidak bernafas
lagi. “Kawanmu sudah mat i,” desis J litheng. Orang Kendali Putih
yang masih hidup itu berdesah. Katanya, “Kau cerdik. Kau berusaha
menghilangkan jejakmu dengan membunuh kami berdua. Tetapi Kendali
Putih tentu akan melacak perjalananku, karena mereka tahu. bahwa dua
orang yang kau katakan dibunuh oleh Daruwerdi itu. dan kami berdua,
telah pergi kepadukuhan ini.” “Apapun yang akan terjadi. Inilah
yang. paling baik aku lakukan saat ini untuk kepentingan orang-orang
Lumban.” Orang Kendali Putih itu termangu-mangu didalam saat-saat
yang paling gawat. Dilihatnya Jlitheng mendekatinya. Namun matanya
semakin lama menjadi semakin kabur. Meskipun demikian, disaat
terakhir itu, masih terucapkan betapapun lir ihnya, “Jadi kau anak
Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana itu ?” “Ya. Mungkin
aku bukan berparas bangsawan, karena ibuku benar-benar seorang pidak
pedarakan. Tetapi ibuku bukan seorang selir. Ibuku adalah isteri
Pangeran Kuda Surya Anggana. Aku bangga atas ayahku yang berani
menentang arus, kawin dengan seorang perempuan kecil, meskipun ia
harus mengorbankan perasaan untuk waktu yang lama. Tetapi
disaat-saat Majapahit memerlukan kepemimpinannya sebagai seorang
Senapati, maka kedudukan ayahku telah pulih kembali.” Jlitheng masih
akan berbicara tentang ayahnya, meskipun sebenarnya hal itu lebih
banyak ditujukan kepada dirinya sendiri. Tetapi ditelannya
kata-katanya itu kembali. Bahkan japun segera berjongkok disampiing
orang Kendali Putih itu. Namun ia sudah mati. “Aku memer lukan kau
-,“ desis Jlitheng, “sekali-kali aku ingin juga menumpahkan beban
yang tersumbat dihati. Hanya kepada orang-orang mati sajalah aku
dapat mengatakannya, setidak-tidaknya untuk sementara.” Tetapi
Jlitheng tidak dapat berceritera terus tentang dirinya sendiri. Ia
harus menghapus jejak. Karena itu, maka iapun segera mengangkat
kedua orang yang terbunuh itu kepunggung kuda mereka masing-masing
dan menuntun kuda itu kekuburan. Jlitheng yang sebenarnya bernama
Arya Candra Sangkaya itu harus bekerja keras untuk menggali sebuah
lubang yang besar dan mengubur kedua orang itu kedalamnya.
“Bagaimana dengan kedua ekor kuda ini?“ ia bergumam. Akhirnya
Jlitheng telah melepas pelana dan rerakit pakaian kuda itu
seluruhnya dan menguburnya pula disudut kuburan itu. Kemudian
dituntunnya kedua ekor kuda itu dan menghadapkannya kearah yang
tidak banyak dilalui orang, bahkan menuju ke hutan. “Hiduplah bebas
kuda-kuda manis,“ gumamnya, “meskipun mungkin pada suatu saat kau
akan menemukan jalan pulang kekandangmu.” Kemudian dilecutnya kedua
ekor kuda itu, sehingga keduanya berlari seperti dikejar hantu
menuju kedaerah yang tidak dikenalinya. Jlitheng yang berdiri di
depan sebuah kuburan yang dipergunakan oleh orang-orang Lumban itu
memandang kekejauhan. Didalam keremangan malam, ia mencoba untuk
melihat bukit padas yang gundul. Namun yang nampak hanyalah bayangan
kehitam-hitaman yang tidak jelas. Baru sejenak kemudian ia menyadari
keadaannya. Tubuhnya tentu kotor dan bahkan bernoda darah. Karena
itu, maka iapun segera berlari-lari kecil pergi kesungai. Meskipun
dimalam yang dingin, ia memaksa diri untuk mandi dam mencuci
pakaiannya. Tetapi ia tidak dapat menunggu pakaiannya kering. Dengan
pakaian yang basah ia berjalan kembali kepadukuhannya. Jlitheng
menjadi berdebar-debar ketika menengadahkan wajahnya. Langit telah
menjadi merah. Sebentar lagi fajar akan segera menyingsing. “Aku
bekerja lamban sekali,“ ia bergumam, “hari sudah pagi. Mungkin
anak-anak muda itu telah member itakukan kepada ibuku bahwa aku
telah hilang dibawa oleh orang-orang Kendali Putih itu.” Jlitheng
tidak singgah lagi digardu. Ia langsung pulang kerumahnya. Ketika ia
sampai dipinta dapur, matahari sudah mulai menjenguk di ujung Timur.
Langkahnya terhenti ketika ia melihat ibunya sedang sibuk menghembus
bara di perapian untuk menyalakan api. “Biar lah aku saja yang
menyalakan biyung,“ berkata Jlitheng dari pintu. Ibunya terkejut.
Ketika ia berpaling dilihatnya Jlitheng yang basah kuyup, “He,
darimana kau ? Apakah kau kehujanan?” “Tidak biyung, aku telah
tergelincir disungai ketika aku sedang mencuci muka.” “Anak bengal.
Berhati-hatilah. Cepat, ganti pakaianmu agar kau tidak menjadi
sakit.” Jlithengpun segera pergi kebiliknya. Ternyata ibunya belum
mengetahui peristiwa yang terjadi di gardu perondan itu. “Tetapi
sebentar lagi tentu ada seseorang yang datang untuk member itahukan
hal itu,“ berkata Jlitheng didalam hatinya. Ternyata bahwa dugaan
Jlitheng tidak keliru. Baru saja ia selesai berganti pakaian, maka
ia sudah mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Jlitheng tidak
mau terlambat. Jika ibunya membuka pintu, maka ia akan segera
mendengar peristiwa yang telah terjadi. Sehingga karena itu, maka
iapun tergesa-gesa pergi keruang depan untuk membuka pintu rumahnya
yang masih tertutup. Seperti yang diduganya, yang datang adalah
seorang kawannya diantar oleh seseorang yang telah berusia separo
baya. Alangkah terkejutnya kedua orang itu ketika mereka melihat
Jlithenglah yang telah membuka pintu untuk mereka, sehingga untuk
beberapa saat mereka berdiri termangu- mangu. “Marilah, silahkan
masuk,“ Jlitheng mempersilahkan. Orang yang telah berusia separo
baya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah aku melihat
Jlitheng yang sebenarnya ?” “Ya paman. Aku memang Jlitheng. Aku
tahu, bahwa paman tentu terkejut melihat bahwa aku sudah berada
dirumah. Karena itu silahkan duduk, aku akan berceritera sedikit
tentang peristiwa yang baru saja terjadi atasku. Tetapi aku mohon,
paman jangan berceritera kepada biyung yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu.” “Yang terjadi seperti sekedar mimpi,“ gumam
kawan Jlitheng. “Duduklah.” “Terima kasih. Lebih baik kita duduk
diserambi saja,“ berkata orang yang sudah berusia separo baya.
Ketiganyapun kemudian duduk di sebuah dingklik bambu diserambi.
Hampir tidak sabar lagi kawannya bertanya, “Jlitheng, apakah yang
sudah terjadi. Kami semuanya menjadi gelisah. Bahkan kami sudah
mencoba mencarimu di bulak- bulak dan kesungai. Kami sudah berpikir
buruk sekali.” “Aku mengerti,“ jawab Jlitheng, “akupun sudah
menduga, bahwa aku akan dicekiknya dan mayatku akan dilemparkannya
kesungai.” “Tetapi kau masih segar,“ berkata orang yang separo baya.
“Ya paman. Ternyata aku masih segar.” “Mulailah berceritera,“
kawannya mendesak. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia harus
berhati-hati agar ceriteranya tidak menumbuhkan persoalan yang dapat
mempersulit anak-anak muda Lumban. Ia sadar, bahwa ceritanya tentu
akan segera tersebar. Bukan saja di Lumban Wetan, tetapi tentu akan
didengar oleh anak-anak muda Lumban Kulon, dan barangkali juga
Daruwerdi. Dengan demikian maka tidak mustahil bahwa orang-orang
Kendali Putihpun akan dapat menyadap keterangan yang akan
dikatakannya itu. “He, kenapa kau diam saja ?“ kawannya benar-benar
tidak sabar lagi. “Baiklah,“ berkata Jlitheng, “aku sudah hampir
pingsan saat aku dibawa oleh kedua orang yang menyebut dirinya
murid- mur id dar i perguruan Kendali Putih.” “Ya, kami sudah
melihat,“ kawannya tidak sabar. Jlitheng tersenyum. Kemudian iapun
melanjutkannya, “Ditengah bulak aku dipaksa untuk berceritera. Dan
akupun tidak dapat ingkar, bahwa telah terjadi peristiwa seperti
yang sudah kita ketahui di pinggir hutan itu.” “Kau mencer
iterakannya ?“ bertanya kawannya, “apakah itu bukan berarti bahaya
bagi Daruwerdi?” “Aku tidak dapat berbuat lain.” Kawannya dan orang
yang separo baya itu mengangguk- angguk. Mereka menyadari, bahwa
apabila Jlitheng t idak mau mengatakannya, ia sendiri akan dapat
dibunuh oleh kedua orang itu. “Lalu?” kawannya mendesak lagi.
“Orang-orang itu memang gila,“ berkata Jlitheng kemudian, “sebelum
aku dilepaskannya, maka aku telah dicekiknya. seolah-olah mereka
benar-benar ingin membunuhku. Kemudian akupun dibenamkannya didalam
parit yang airnya hanya setinggi mata kaki. Tetapi ternyata mereka
tidak membunuhku. Mereka meninggalkan aku yang gemetar kedinginan
dan ketakutan didalam parit. Tetapi aku tidak berceritera kepada
biyung. Aku mengatakan kepadanya, bahwa aku tergelincir disungai
sehingga pakaianku basah kuyup.” Kedua orang yang datang kepadanya
itu mengangguk- angguk. Yang separo baya kemudian bergumam,
“Bersukurlah bahwa kau masih tetap hidup.” “Ya, aku masih beruntung
bahwa aku dapat kembali kepada ibuku.” “Tetapi kami seisi gardu
menjadi gelisah. Ketika fajar mulai membayang, kami mencoba
mencarimu dibulak. Tetapi kami tidak menemukan tanda-tanda apapun,
sehingga akhirnya aku berdua telah diserahi tugas oleh kawan-kawan
untuk member itahukan kepada ibumu, bahwa kau telah hilang dibawa
oleh dua orang yang t idak dikenal.” “Aku tidak dapat kembali
kegardu dengan pakaian yang kotor dan basah. Aku ingin berganti
pakaian. Baru kemudian menemui kalian.” Kedua kawannya itupun
kemudian memberikan beberapa pesan, agar Jlitheng tidak keluar saja
dahulu dari padukuhan. Mungkin yang terjadi itu masih akan mempunyai
akibat yang berkepanjangan. “Jika mereka kemudian mencari Daruwerdi,
apakah kira- kira nasib mereka akan seperti kedua orang kawannya
yang datang terdahulu?“ tiba-tiba saja kawannya bertanya. Jlitheng
menggeleng lemah. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan
apa yang aku ketahui tanpa memperhitungkan apapun juga.” Akhirnya
kedua orang kawannya itupun menianggalkan Jlitheng yang nampak
ketakutan. Tetapi yang dapat dilakukan oleh kedua orang itu hanyalah
beberapa pesan yang tidak berarti. Sepeninggal kedua kawannya
Jlithengpun segera pergi ke dapur. Kepada ibunya yang bertanya
tentang tamunya, Jlitheng hanya mengatakan, bahwa keduanya
menanyakan tentang air diparit yang rusak diujung bulak, karena
anak-anak kecil yang kurang berhati-hati saat-saat mereka
menggembalakan kerbau dan menggiringnya kesungai untuk dimandikan.
Sementara itu, seperti yang diduga oleh Jlitheng, maka ceritera yang
dibuatnya itu segera tersebar diseluruh padukuhan. Bahkan ceritera
itupun telah didengar pula oleh anak anak muda Lumban Kulon.
“Daruwerdi akan mendengarnya juga,“ berkata Jlitheng didalam
hatinya, “ia akan datang kepadaku dan bertanya, apakah yang
sebenarnya telah terjadi.” Dugaan Jlitheng itupun tepat. Demikian
berita tentang Jlitheng itu sampai ketelinga Daruwerdi, maka iapun
dengan tergesa-gesa telah pergi ke Lumban Wetan untuk bertemu dengan
Jlitheng. “Cariterakan,“ berkata Daruwerdi. Jlitheng menceritakan
peristiwa itu seperti yang diceriterakan kepada dua orang Lumban
Wetan yang datang kepadanya. “Jadi kau dilepaskan begitu saja ?”
bertanya Daruwerdi. “Tidak. Aku telah dibenamkan didalampar it.”
“Maksudku, kau t idak dibunuhnya.” “Tentu tidak. Seperti yang kau
lihat, aku masih hidup. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia
menahan kejengkelannya atas kebodohan Jlitheng. Namun kemudian ia
bertanya, “Apakah kau sadar, bahwa dengan demikian kau sudah
menghadapkan aku kepada kedua orang itu ?” “Aku tidak mempunyai
pilihan lain. Jika aku t idak mengatakannya aku dicekiknya sampai
mati.” Daruwerdi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Jlitheng. Itu
memang bukan salahmu. Seandainya bukan kau namun tentu akan ada pula
orang lain yang menceritakan apa yang telah terjadi dipinggir hutan
itu. Dan akupun harus bersiap menghadapi segala kemungkinan.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya,
“Daruwerdi. Apakah yang kira-kira akan kau lakukan jika pada suatu
saat orang-orang yang mengatakan dir inya mur id dar i Kendali Putih
itu datang dalam jumlah yang jauh lebih banyak ?” Daruwerdi
memandang wajah Jlitheng yang cemas. Namun kemudian anak muda itu
justru tertawa. Katanya, “Bersembunyi. Bukankah itu cara yang paling
baik untuk melawan mereka yang berjumlah melampaui kekuatan dan
kemampuan ?” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya
lagi, “Mungkin kau berhasil bersembunyi. Namun agaknya orang-orang
Kendali Putih itu adalah orang-orang yang kasar dan jahat.
Bagaimanakah j ika seandainya ia melepaskan dendamnya kepada kami.
anak-anak Lumban yang tidak dapat membela dir i ?” Jawab Daruwerdi
benar-benar diluar dugaan. Suara tertawanya masih terdengar.
Katanya, “Itu adalah nasib. Nasib mereka yang menjadi sasaran itulah
yang agaknya terlampau malang.” Sejenak Jlitheng terdiam. Wajahnya
menegang. Namun katanya kemudian, “Daruwerdi. Kami, setidak-tidaknya
aku sendiri, merasa sangat cemas. Aku merasa tidak tenteram lagi
karena peristiwa yang berurutan telah terjadi itu. Jika benar
katamu, maka ada kemungkinan besok atau lusa, Lumban akan menjadi
sasaran kemarahan orang-orang Kendali Putih.” Daruwerdi mengerutkan
keningnya. Kemudian katanya, “Aku akan memikirkannya. Aku akan
berusaha agar orang- orang Kendali Putih hanya mendendam kepadaku.”
“Kau dapat menjamin ?” Jawabnyapun sangat mendebarkan. “Aku hanya
dapat berusaha. Sebaiknya kalian jangan tergantung sekali dengan
usahaku itu.” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Dipandanginya
Daruwerdi yang berdiri tegak dengan wajah yang sedikit terangkat,
diwajahnya sama sekali tidak membayang kecemasan dan kekhawatiran
tentang kemungkinan- kemungkinan buruk yang menimpa dir inya.
“Tetapi,“ Jlithengpun kemudian berkata, “kami hanya dapat
menyandarkan keselamatan kami kepadamu. Ternyata kau adalah
satu-satunya orang yang dapat melawan penjahat- penjahat seperti
yang telah kau bunuh itu.” “Jritheng,“ jawab Daruwerdi, “seharusnya
akulah yang menuntut perlindungan anak-anak muda Lumban. Bukankah
kau yang telah membuka rahasia pembunuhan itu ? Meskipun sudah aku
katakan itu bukan salahmu, dan sudah aku katakan, bahwa siapapun
akan dapat menyebutnya demikian. Namun karena itu, jangan kau
menyalahkan aku pula bahwa aku sudah terlibat kedalam suatu keadaan
yang sebenarnya tidak aku kehendaki pula. Juga apabila hal ini akasi
menyentuh anak-anak muda Lumban.” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi
ia masih bertanya, “Jika demikian, apakah kau mempunyai cara yang
akan dapat membantu kami menghindarkan dir i dari bencana ini ?”
“Jlitheng,“ jawab Daruwerdi, “nampaknya memang aneh, dan barangkali
tidak pernah terpikir oleh kalian. Bagaimana jika kalian bersikap
seperti seorang laki- laki. Bukankah kalian mempunyai tenaga dan
pikiran ? Kenapa kalian tidak berusaha melindungi dir i kalian
sendir i?” “Kami tidak terbiasa berkelahi. Kami tidak mempunyai
bekal apapun untuk melawan langsung kepada orang-orang yang garang
itu.” “Aku akan mengajari kalian untuk sekedar dapat membela diri.
Mungkin seorang-seorang kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa,
karena untuk mencapai tingkatan orang-orang Kendali Putih kalian
memer lukan waktu satu atau dua tahun, bahkan lebih. Tetapi jumlah
kalian yang banyak itupun mempunyai pengaruh pula. Dua atau tiga
orang Kendali Putih tentu tidak akan mampu melawan kalian seluruh
padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.” Jlitheng memandang
Daruwerdi sejenak. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Kau
mau mengajar kami untuk membela dir i ?” Sekali lagi Daruwerdi
menegaskan, “Ya. Ajaklah kawan- kawanmu. Kita akan segera mulai.
Selain hal itu akan dapat melindungi kalian dan padukuhan Lumban,
maka akupun akan mempunyai kawan untuk memnertahankan dir i, jika
pada suatu saat orang-orang Kendali Putih datang lagi kepadukuhan
ini.” Kesanggupan Daruwerdi itupun kemudian telah diceriterakan oleh
Jlitheng kepada kawan-kawannya. Bahkan Jlitheng telah menambahnya
dengan beberapa harapan dan kemungkinan yang dikarangnya sendir i.
“Kita akan menjadi pengawal padukuhan kita seperti seorang prajurit
mengawal Kota Raja,“ katanya. “Kau pernah melihat seorang prajurit
mengawal Kota Raja ?“ bertanya kawannya. Jlitheng ragu-ragu sejenak.
Namun kemudian ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu.
Jlithenglah yang kemudian menjadi penghubung antara anak-anak muda
yang ingin mempelajari olah kanuragan dengan Daruwerdi. Pada hari
itu juga, Jlitheng telah member itahukan beberapa nama kepada
Daruwerdi. “Kami siap, kapanpun akan dimulai,“ berkata Jlitheng.
Daruwerdi tersenyum. Katanya kepada Jlitheng, “Aku bangga atas
kalian. Tetapi sayang. Agaknya kesediaan kalian untuk cepat-cepat
memiliki kemampuan kanuragan itu karena didesak oleh perasaan
takut.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum sambil
menjawab, “Mungkin kau benar Daruwerdi. Kami menjadi sangat
ketakutan. Siang malam kami merasa tidak tenteram.” “Peristiwa itu
baru semalam terjadi. Tetapi kau sudah merasa sangat tersiksa.”
“Karena itu, kami cepat-cepat ingin memiliki bekal betapapun
kecilnya.” “Baik. Aku akan menyediakan sekedar waktu. Setiap sore
kalian harus datang ke padang ilalang disebelah bukit padas yang
gundul itu.” “Bukit padas?” diluar sadarnya Jlitheng bertanya. “Ya.
Aku kira tempat itu adalah tempat yang paling baik. Cukup luas dan
tidak akan terganggu. Jauh dari padukuhan, sehingga anak-anak kecil
tidak akan berkerumun seperti nonton wayang beber.” “Terima kasih,“
Jlitheng mengangguk-angguk. Dengan tergesa-gesa iapun segera menemui
kawan- kawannya. Baik dari Lumban Wetan maupun dari Lumban Kulon.
Setiap sore mereka harus berkumpul di padang ilalang disebelah bukit
padas. Mereka akan mendapat latihan membela diri j ika benar-benar
terjadi kerusuhan di padukuhan itu. Kesediaan Daruwerdi itupun
segera menjadi pusat pembicaraan. Setiap orang merasa wajib
mengikutinya. Seperti dikatakan oleh Daruwerdi, dorongan yang paling
kuat dari dir i mereka sebenarnya adalah perasaan takut. Namun dalam
pada itu, Jlitheng tidak melupakan Kiai Kanthi yang berada dibukit
sebelah. Rasa-rasanya ia sudah terikat pada suatu kewajiban untuk
datang dan melaporkan apa yang telah terjadi. Seolah-olah orang tua
di bukit itu mempunyai pengaruh yang kuat atas darinya tanpa dapat
dihindar i. Karena itulah, maka ketika malam menjadi gelap, Jlitheng
dengan diam-diam telah pergi kebukit sambil membawa sebuah belanga
dan sebuah kelenting seperti yang dipesankan oleh Kiai Kanthi. Namun
dalam pida itu, Jlitheng merasa heran kepada dirinya sendir i.
Setelah pertanyaan tiba-tiba saja timbul, “Apakah yang aku lakukan
ini sekedar didorong oleh belas kasihan, atau perikemanusiaan. atau
karena orang tua itu melakukan sesuatu yang sesuai dengan
keinginanku untuk membuat saluran air yang dapat bermanfaat bagi
sawah dan ladang di padukuhan Lumban, atau sebab-sebab lain ?”
Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia menggeram,
“Sebenarnya aku belum tahu pasti, apakah sudah sewajarnya aku
menempatkan diriku dibawah pengaruh wibawanya. Aku harus tahu pasti,
bahwa ia benar-benar seorang tua yang pantas dihormati. Bukan
sekedar seorang perantau yang mencari tempat sandaran bagi hidupnya.
Atau bahkan meyakinkan bahwa ia bukan orang-orang Kendali Putih.”
Jlitheng tiba-tiba saja mempercepat langkahnya. Sekilas terbayang,
betapa orang tua itu berusaha menahan anak gadisnya, saat mereka
bertemu dengan seekor harimau. Mereka menyatakan diri mereka sebagai
perantau yang perlu dikasihani. Saat itu Kiai Kanthi tentu
mengetahui bahwa Daruwerdi ada disekitar mereka dan berusaha untuk
tidak member ikan kesan bahwa mereka memiliki ilmu. Kiai Kanthi
sempat menekan pusat syaraf anaknya, sehingga anaknya tidak dapat
berbuat apa-apa. “Tetapi apakah benar mereka memiliki kemampuan yang
berlebih-lebihan. Apa salahnya jika aku mengetahui lebih jauh. Bukan
sekedar mengenal ketahanan jasmaniah orang itu dan anaknya itu saat
mereka mendaki bukit melalui tebing tebing padas yang sulit.“
Jlitheng telah benar-benar meng ambil keputusan. Demikianlah, maka
sejenak kemudian Jlitheng telah berada di dekat sumber air dibukit
itu. iapun mulai mempersiapkan rencananya. Kedatangan Jlitheng
seperti biasa disambut oleh Kiai Kanthi dengan gembira. Sebagaimana
seseorang yang terpisah dari lingkungannya, maka setiap kunjungan
merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, karena memang pada
kodratnya, seharusnya manusia hidup didalam suatu lingkungan bersama
diantara mereka. “Aku membawa belanga dan kelenting Kiai,“ berkata
Jlitheng. “O, terima kasih ngger. Terima kasih,“ berkata Kiaa Kanthi
sambil menerima benda-benda itu, “dengan benda-benda ini kami akan
dapat menyiapkan makanan kami lebih baik lagi, jauh lebih baik.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Sekilas dilihatnya Swasti duduk
bersandar sebatang pohon, menghadap kearah lain, seolah-olah sedang
menikmati kelamnya hutan dilereng bukit itu. “Ia sama sekali tidak
mengacuhkan kedatanganku,“ gumam Jlitheng didalam hatinya,
“seandainya ia tidak menghiraukan aku, apakah ia tidak merasa
senang, bahwa aku telah membawa belanga dan kelenting baginya ?”
Jlitheng sendir i tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia merasa
tersinggung. Sikap itu adalah sikap Swasti sejak ia bertemu pertama
kali. Gadis itu memang tidak pernah mengacuhkan kehadirannya. Bahkan
kadang-kadang justru berlindung dibalik batang-batang pohon.
Perasaan itu, telah membuat sikap Jlitheng agak berbeda. Peristiwa
yang terjadi di Lumbanpun agaknya telah berpengaruh pula atasnya.
Kiai Kanthi ternyata memiliki ketajaman penglihatan. Bukan saja atas
sikap Jlitheng yang nampak, namun orang itu seolah-olah dapat
membaca kerut dikening anak muda itu. Tetapi Kiai Kanthi bersikap
hati-hati. Tentu ada sesuatu yang telah terjadi sehingga
mempengaruhi sikap anak muda itu. Meskipun demikian Kiai Kanthi t
idak menanyakannya. Dipersilahkannya anak muda itu duduk diatas
sehelai ketepe yang dianyamnya dari daun ilalang. “Terima kasih
Kiai,“ Jlitheng mengangguk-angguk. Namun sambil duduk ia berkata,
“aku ingin berceritera tentang sesuatu yang telah terjadi di Lumban,
Kiai.” “Apakah ada peristiwa lain yang telah terjadi ngger ?“
bertanya Kiai Kanthi. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian iapun mulai berceritera tentang dua orang Kendali Putih
yang mencari keterangan tentang kedua kawannya yang hilang. “Tidak
ada pilihan lain kecuali membunuh mereka,“ berkata Jlitheng. Kiai
Kanthi mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Jlitheng telah
dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit, sehingga tidak banyak
kesempatan baginya untuk memikirkan tindakan yang lebih tepat dari
membunuh mereka. Tetapi Kiai Kanthi terkejut ketika Jlitheng
kemudian bertanya, “Kiai, apakah benar Kiai tidak mengerti apa yang
telah terjadi di Lumban itu.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak tahu maksudmu ngger.
Bagaimana aku dapat mengetahui peristiwa itu, karena setiap saat
siang dan malam aku menunggui anakku disini. Sekali-kali aku
mengejar seekor binatang buruan atau mengail ditelaga itu.” Kiai
Kanthi berhenti sejenak, lalu, “tetapi memang sudah terpikir olehku,
bahwa aku tidak akan dapat berada ditempat ini seperti orang yang
sedang bersembunyi untuk waktu yang terlalu lama. Persediaan garam
yang aku bawa pun telah tinggal sedikit, sehingga pada suatu saat,
aku tentu akan datang ke Lumban.” Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Dipandanginya wajah orang tua itu sejenak. Dalam cahaya perapian
yang kemerah- merahan Jlitheng memang melihat, kerut-kerut keheranan
di wajah orang tua itu Tetapi Jlitheng sudah bertekat untuk
meyakinkan, apatah orang tua itu pantas dicurigai atau tidak.
Selebihnya, apakah benar seperti yang diduganya sejak ia melihat
orang tua itu untuk pertama kali, bahwa ia memang memiliki ilmu yang
dapat dibanggakan sehingga sudah sepantasnya ia menghormat inya
seperti seharusnya diberikan kepada orang- orang tua dan orang-orang
berilmu. Jlithengpun sadar, bahwa keinginannya untuk mengetahui ilmu
orang tua itu, juga didorong oleh suatu kerinduan kepada gurunya.
Sejak ia terpisah dari gunung, maka rasa-rasanya ia memang
memerlukan seseorang yang dapat dianggapnya sebagai gurunya dan
lebih- lebih lagi sebagai ayahnya yang juga sudah tidak ada lagi.
“Tetapi tidak semua orang dapat aku anggap sebagai guru dan orang
tuaku,“ anak muda itu menggeram didalamhatinya. Karena itu, maka
tiba-tiba saja sikap Jlitheng telah benar berubah. Dengan suara yang
lantang dan kata-kata yang agak keras ia berkata, “Kiai, lelucon
yang Kiai buat disini seharusnya sudah berakhir. Sejak kedatangan
Kiai dan anak gadis yang Kiai katakan anak Kiai itu, Lumban bagaikan
diguncang oleh gempa. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang terjadi.
Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Lumban telah dijamah orang-orang
Kendali Putih dan orang Pusparuri. Sementara itu, Kiai yang
berpura-pura sebagai seorang perantau telah berada pula di tempat
ini.” “Angger,“ Kiai Kanthi memotong dengan waj lah yang tegang,
“kenapa tiba-tiba saja angger menuduh aku seperti itu ?” Jlitheng
seolah-olah tidak mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan ia
menambahkannya, “Semula aku percaya dan bahkan mengagumi rencana
Kiai untuk membuka sebuah padepokan, justru didekat mata air di
bukit itu. Tetapi ternyata kedatangan Kiai telah diikut i oleh
pjeristiwa-peristiwa yang menumbuhkan korban jiwa.“ Kiai Kanthi
termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Wajah anak muda itu,
seolah-olah ia ingin melihat, apakah yang tersirat pada kata-katanya
itu. “Angger,“ berkata Kiai Kanthi sareh, “sebagai orang tua, aku
mencoba untuk mengerti apakah yang angger maksud sebenarnya dibalik
kata-kata dan terlebih-lebih lagi sikap angger. Mungkin angger
benar-benar mencur igai kami. Tetapi mungkin angger mempunyai
maksud-maksud lain tertentu dengan sikap itu.” “Apapun tanggapan
Kiai, tetapi aku akan tetap pada sikapku. Aku ingin membawa Kiai dan
perempuan yang Kiai sebut sebagai anak gadis Kiai itu ke Lumban.
Kalian berdua harus dihadapkan kepada kedua Buyut Lumban Wetan dan
Lumban Kulon.” “Jangan begitu anakmas,“ berkata Kiai Kanthi, “kau
belum darat membuktikan bahwa kami berdua berbuat salah. Adalah
tidak adil bahwa angger akan menangkap kami dan membawa kami
menghadap Ki Buyut. Memang kami sudah berniat untuk menghadap Ki
Buyut dan menyatakan niat kami membuka sebuah padepokan. Tetapi
bukan sebagai dua orang tawanan. Kami akan menghadap sebagai manusia
yang bebas dan dapat menentukan sikap menurut keinginan kami.”
“Jangan membantah Kiai. Aku dapat memaksa Kiai. Jika perlu aku akan
minta bantuan kepada Daruwerdi. Aku sendiri dapat membunuh dua orang
mur id perguruan terkenal Kendali Putih, dan Daruwerdipun dapat
melakukannya pula. Karena itu, tidak ada kesempatan bagi Kiai untuk
melawan kehendakku.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Kau memang aneh ngger. Malam ini kau membawa belanga dan kelenting
kepada kami. Tetapi tiba-tiba saja kau bermaksud menangkap kami.
Jika demikian maka belanga dan kelenting ini tidak akan ada
artinya.” Pertanyaan itu benar-benar tidak diduga-duga oleh
Jlitheng. Karena itu maka untuk sesaat ia justru terdiam.
Dipandanginya belanga dan kelenting yang dibawanya dengan diam-diam
dari padukuhan. Namun ternyata bahwa perasaannya telah digelut oleh
berbagai macam tanggapan atas orang tua itu, sehingga ia telah
mengambil sikap untuk meyakinkan siapakah sebenarnya yang telah
dihadapinya itu. Apakah ia hanya sekedar seorang perantau, seorang
yang benar-benar mencari daerah baru, atau seseorang yang memang
mempunyai niat yang kurang baik seperti orang- orang Kendali Putih
dan mungkin juga seperti orang-orang Pusparuri, meskipun dengan gaya
yang berbeda-beda. Namun dalam pada itu, selagi Jlitheng merenungi
pertanyaan Kiai Kanthi. tiba-tiba telah terdengar suara dari
kegelapan, “Ayah, kenapa ayah masih juga belum berbuat apa-apa.”
Jlitheng berpaling. Dilihatnya Swasti tidak lagi duduk bersandar
sebatang pohon diarah yang berseberangan, namun ia telah berdiri
tegak dengan sorot mata yang membara. “Ayah,“ berkata Swasti, “aku
tahu. Kita berdua dianggapnya seperti orang-orang Kendali Putih.
Atau setidak- tidaknya kita mempunyai hubungan dengan mereka. Jika
memang anak muda itu berniat menangkap kami, maka ia harus
membuktikan, bahwa ia memang mampu melakukannya.” Kiai Kanthi
menegang sejenak. Namun kemudian ia melangkah mendekati anak
gadisnya sambil berkata, “Sabarlah Swasti. Kita harus mengerti,
bahwa kecurigaan yang demikian, dapat saja timbul dihati siapapun
juga. Angger Jlitheng telah didorong oleh keadaan, sehingga ia telah
berubah sikap. Semula ia mener ima kedatangan kami dengan baik. Itu
adalah nuraninya yang sebenarnya. Perubahan yang timbul itu tentu
ada sebabnya.” “Apapun sebabnya, tetapi aku tidak akan bersedia
datang kepada siapapun sebagai seorang tangkapan,“ geramSwasti. “Aku
sedang mencoba menjelaskan kepadanya.” Namun yang menjawab adalah
Jlitheng, “Bersedia atau tidak bersedia. Aku mempunyai alasan untuk
memaksa kalian. Pertama, karena aku adalah anak muda Lumban yang
bertanggung jawab atas keamanan dan ketenangan padukuhanku. Kedua,
karena aku memang memiliki kemampuan untuk menangkap kalian berdua.”
“Anakmas,“ berkata Kiai Kanthi, “sikap anakmas memang sangat
meragukan. Tentu anakmas tidak akan dapat berkata kepada Ki Buyut
Lumban Wetan apalagi Lumban Kulon, bahwa kaulah yang telah menangkap
kami karena Jlitheng adalah sekedar anak seorang janda miskin di
Lumban Wetan. Seorang anak muda yang dungu dan sedikit malas.
Seorang pemimpi yang berangan-angan tentang air yang mengalir
diparit meskipun dimusim kemarau. Tidak ngger. Tidak akan ada
seorangpun yang mempercayaimu.” Wajah Jlitheng benar-benar menjadi
tegang. Namun wajah itu bertambah tegang ketika Swasti meloncat maju
sambil berkata lantang, “Ayah jangan bersikap terlalu lunak. Memang
kita adalah orang-orang yang aneh. Kadang-kadang kita merasa perlu
untuk hidup dan lingkungan sesama. Tetapi kita adalah orang-orang
yang telah diracuni oleh kecurigaan dan permusuhan. Karena itu,
biarlah ia memuaskan dirinya dengan sikapnya. Aku akan membuktikan,
bahwa ia tidak mempunyai kesempatan apapun untuk menangkap kita.
Apalagi ayah, sementara aku akan membela dir iku dengan kekerasan j
ika ia akan memaksa dengan kekerasan pula.” “Swasti,“ potong Kiai
Kanthi. Tetapi Swasti sudah melangkah maju mendekati Jlitheng.
Sikapnyapun telah berubah, seperti sikap Jlitheng yang berubah pula.
Gadis itu tidak lagi berlindung dibalik sebatang pohon, seakan-akan
untuk menyembunyikan dir i dari tatapan mata anak muda yang belum
banyak dikenalnya itu. Tetapi kini ia melangkah maju dan berhenti
tidak lebih dari dua langkah dihadapannya. Dengan tajamnya ia
menatap mata Jlitheng yang hitam pekat tanpa ragu-ragu. Ternyata
dada Jlitheng menjadi berdebar-debar melihat sikap gadis yang mantap
itu. Ia baru mengetahui, bahwa gadis itu mampu mengikutinya meloncat
batu-batu padas di tebing pegunungan saat mereka mendaki mencari
belumbang yang berair melimpah itu. Terasa kulitnya meremang ketika
Jlitheng mendengar gadis itu berkata kepadanya, “Ki Sanak. Sekarang
apa yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Jika kau memang mampu
mengalahkan kami, separti kau mengalahkan orang-orang Kendali Putih,
terserahlah apa yang akan kau lakukan. Mungkin kau merasa perlu
membunuh kami seperti kau membunuh orang-orang Kendali Putih,
mengubur mayat kami didekat belumbang itu atau membiarkan mayat kami
menjadi makanan binatang buas. Kemudian, kau akan mengendalikan air
belumbang itu sebagai seorang pahlawan bagi Lumban Wetan dan Lumban
Kulon, untuk merebut perhatian rakyatnya yang kini tertuju kepada
Daruwerdi.” Dada Jlitheng tergetar. Ia tidak menduga bahwa Swasti
akan menghadapinya dengan tabah tanpa gentar sama sekali, meskipun
ia sudah mencer iterakan tentang dua orang Kendali Putih yang telah
dibunuhnya. Sehingga dengan demikian, maka Jlitheng mulai menjajagi
kemampuan gadis itu menurut sikap dan tanggapannya. Karena itu,
Jlithengpun menjadi semakin berhati-hati. Namun demikian ia harus
selalu menyadari, apakah yang sebenarnya ingin dilakukan atas kedua
orang itu. Ia tidak boleh terdorong sehingga yang terjadi kemudian
akan menumbuhkan penyesalan dihatinya. Yang ingin dilakukan adalah
sekedar meyakinkan dir i, siapakah yang sebenarnya sedang
dihadapinya, sehingga ia akan dapat menempatkan diri dengan tepat
sebaik-baiknya. Kecuali jika kemudian ternyata bahwa keduanya adalah
orang- orang yang bersangkut paut dengan perguruan Kendali Putih
atau perguruan lain yang mempunyai kepentingan dengan Daruwerdi dan
bersikap seperti orang-orang Kendali Putih itu. Namun kini agaknya
Swastilah yang berdiri dihadapannya. Bukan Kiai Kanthi. Apalagi
ketika ternyata bahwa Kiai Kanthi agaknya membiarkan anak gadisnya
itu menghadapinya. Bagaimanapun juga ternyata bahwa Jlitheng agak
tersinggung. Dengan demikian Kiai Kanthi menempatkannya dalam
tataran anak gadisnya, sehingga orang tua itu menganggap bahwa
Swasti akan dapat menyelesaikan persoalannya. “Aku telah membunuh
dua orang murid dari Kendali Put ih. Apakah orang tua itu tidak
dapat mengerti, tataran kemampuan seseorang yang telah berhasil
membunuh dua orang murid dari perguruan Kendali Putih?” Tetapi
Jlitheng tidak dapat berpikir lebih lama lagi. Swasti benar-benar
telah bersikap untuk melawannya. Bahkan kemudian gadis itu berkata,
“Ki Sanak. Jangan menunggu lagi. Sebelum matahari terbit, kita harus
sudah dapat menentukan, apakah yang akan kita lakukan masing-masing.
Kau sudah mengambil jalan yang paling dekat untuk mengetahui
siapakah kami. Aku dan ayah. Dan akupun akan memilih jalan serupa
untuk menyatakan dir i kami.” Jlitheng tidak dapat menarik diri dar
i persoalan yang sudah dimulainya. Karena itu, maka katanya kepada
Kiai Kanthi, “Kiai. Apakah Kiai sudah mempertimbangkan, bahwa
Swastilah yang harus berdiri didepan, karena tersinggung mendengar
kata-kataku?” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak
beranjak dari tempatnya. Dengan nada yang datar ia menjawab, “Jangan
bertanya begitu ngger. Aku menjadi bingung untuk menjawabnya.
Bukankah angger dapat menjajagi maksudku seperti aku dapat menjajagi
maksud angger ?” Karena itu, yang akan terjadi biarlah terjadi
seperti yang kau hadapi tanpa keterangan apapun.” Debar jantung
didalam dada Jlitheng terasa semakin cepat berdetak. Tetapi ia
benar-benar tidak dapat mengurungkan niatnya. Karena itu, maka
katanya, “Baiklah Kiai. Jika hal ini harus terjadi tanpa keterangan
apapun juga.” Swasti yang tidak sabar lagi berkata, “Apapun yang kau
sebutkan dengan peristiwa ini, bagiku jelas.” Jlithengpun segera
mempersiapkan dir i. Dadanya menjadi semakin terguncang ketika ia
melihat Swasti mulai bersikap. Ternyata bahwa gadis itu mengenakan
pakaian rangkap sehingga ia telah siap menghadapi segala
kemungkinan. Namun Jlitheng masih saja ragu-ragu menghadapi gadis
itu. Meskipun menilik sikapnya, Swasti tentu memiliki bekal yang
cukup. Apalagi gadis itu sudah mendengar, bahwa Jlitheng baru saja
membunuh dua orang dari perguruan Kendali Putih. Karena Jlitheng
masih ragu-ragu, Swasti yang tidak sabar lagi telah memancing
perkelahian. Dengan tangannya ia menyerang kening meskipun tidak
bersungguh-sungguh, karena iapun sadar, bahwa Jlitheng telah bersiap
sepenuhnya. Meskipun demikian Jlitheng harus mengelak. Ia bergeser
setapak sambil memir ingkan tubuhnya. Namun tidak diduganya, bahwa
tiba-tiba saja Swasti telah menyerang dengan kakinya langsung
kelambung anak muda itu. Serangan itu telah mengejutkan Jlitheng.
Namun iapun mampu bergerak cepat, sehingga iapun telah meloncat
surut. Tetapi Swasti tidak membiarkannya. Dengan cepat ia memburu.
Serangan berikutnya datang beruntun. Kakinya berputar mendatar.
Sekali lagi Jlitheng terpaksa bergeser. Namun yang terjadi telah
menggetarkan dadanya. Ternyata Swasti benar-banar memiliki kelncahan
bergerak dan tenaga yang besar. Jlitheng sadar, bahwa pada
bagian-bagian pertama dari perkelahian itu, Swasti tentu masih belum
mempergunakan segenap kekuatan dan kemampuannya. Namun telah terasa
desir angin yang menyentuh tubuhnya, saat-saat serangan Swasti
menyambarnya. Jlitheng tidak dapat merenungi saja serangan-serangan
Swasti. ia merasa perlu untuk memperkecil kemungkinan yang dapat
menjadi gawat baginya. Karena itu maka Jlithengpun bukan saja harus
menghindar terus-menerus. Tetapi ketika ia mendapat kesempatan, maka
iapun mulai menyerang pula. Sejenak kemudian, perkelahian itupun
meningkat semakin cepat dan keras. Masing-masing telah dibumbui oleh
kehangatan darah mudanya yang mulai menggelegak. Meskipun sejak
semula Jlitheng telah menyangka bahwa Swasti memiliki kemampuan yang
cukup, namun ketika keduanya mulai membenturkan ilmunya, barulah
Jlitheng menyadari, bahwa yang dihadapinya bukannya sekedar murid-
mur id dari Kendali Putih. Meskipun ia harus melawan dua orang murid
perguruan Kendali Putih yang sudah banyak dikenal itu, namun ia
merasa, bahwa seorang gadis yang bernama Swasti itu memiliki
kemampuan yang lebih besar. Meskipun gadis itu berasal dari daerah
yang dimusnakan oleh tanah longsor, gempa dan banjir menurut
pengakuannya, namun ia menyimpan ilmu yang luar biasa dari perguruan
yang belumdimengertinya. Dalam pada itu, perkelahian diantara kedua
anak-anak muda itu semakin lama menjadi semakin sengit. Jlitheng
terdorong oleh kecepatan gerak lawannya telah mengerahkan
kemampuannya ipula untuk mengimbanginya. Bahkan ternyata. bahwa,
kekuatan gadis itupun telah memeras kekuatannya pula. Ketika
mula-mula ia menjajagi kekuatan serangan Swasti dengan menangkis
serangannya, terasa bahwa tangannya telah tergetar. Meskipun saat
itu Jlitheng belum mempergunakan segenap kekuatannya namun iapun
menyadari, bahwa Swasti-pun masih lebih banyak menjajaginya pula.
Tetapi semakin lama, kedua anak-anak muda itu tidak lagi sempat
membuat pertimbangan-pertimbangan. Tenaga mereka perlahan- lahan
telah tersalur semakin besar, sehingga akhirnya, keduanya tidak lagi
mampu menahan diri dengan memperhitungkan hentakan-hentakan tenaga
masing-masing. Kiai Kanthi memperhatikan perkelahian itu dengan dada
yang berdebar. Sejak Swasti meningkat semakin besar menjelang
remaja, ia sudah membuat gadis itu menyimpang dari kebanyakan
kawan-kawannya. Mula-mula Swasti merasakan tekanan ayahnya yang
memaksanya untuk memisahkan waktu bermainnya dengan t ingkah laku
yang tidak disukainya. Bersembunyi ditempat yang tidak disentuh kaki
manusia di balik rimbunnya hutan dilereng pegunungan sebelum gempa
dan tanah longsor yang dahsyat menghancurkan hutan kecil itu, dengan
latihan-latihan yang mula-mula terasa menjemukan. Namun
perlahan-lahan Swasti ternyata tertarik juga pada olah kanuragan
yang diajarkan oleh ayahnya. Ketika ia menginjak usia remajanya,
maka Swasti telah memiliki dasar-dasar ilmu yang sudah jarang
dikenal orang, meskipun ada juga beberapa perguruan lain yang
memiliki persamaan. Tetapi ada cir i-cir i yang member ikan warna
tersendiri bagi ilmu Kiai Kanthi yang diturunkannya kepada anak
gadisnya. Kiai Kanthi mengerutkan keningnya ketika ia melihat
gadisnya terpaksa menghindar, dua langkah surut. Namun dengan serta
merta Swasti meloncat sambill menjulurkan kakinya lurus menyamping.
Tetapi ternyata bahwa ia tidak benar-benar ingin menyerang dengan
kakinya. Sebuah putaran telah mendorongnya kesampimg. Dengan
lincahnya ia melenting dengan tangan terjulur lurus. Jlitheng sempat
mengelak meskipun desir angin yang lembut telah menyentuh wajahnya.
Hampir saja keningnya disambar tangan Swasti. Betapapun gelapnya
malam, dan betapapun kecil api perapian yang menerangi arena
perkelahian itu, namun Jlitheng mulai melihat ciri-ciri yang khusus
pada lawannya. Ia melihat Swasti dalam sikap yang menumpukan
kekuatan pada hentakkan-hentakkan yang cepat. Semula Jlitheng
mengira bahwa sikap itu sesuai dengan unsur keperempuanan Swasti
yang lebih sesuai dengan penempaan dir i dalam kecepatan bergerak
daripada penyusunan kekuatan wadag. Namun ternyata dugaannya salah.
Meskipun Swasti seorang gadis, tetapi kekuatan tubuhnya benar-benar
mengagumkan. Pengenalan Jlitheng pada unsur gerak Swasti yang lain
adalah, bahwa Swasti selalu membuka jari-jar i tangannya. Dalam
keadaan yang tiba-tiba, serangannya lebih banyak tertuju kepada
bagian yang lemah dengan mempergunakan ibu jarinya. Bukan jari- jari
yang lain. Ketika Jlitheng agak terlambat mengelak, maka lehernya
telah tersentuh ibu jari Swasti tepat mengenai sasarannya, maka
perlawanannya tentu akan terhenti. Mungkin ia akan menjadi lemas dan
pernafasannya bagaikan tersekat dikerongkongan. Selain
serangan-serangan tangannya yang cepat dan berbahaya, kaki Swastipun
merupakan bahaya yang setiap saat dapat melumpuhkannya. Nampaknya
Swasti terlalu percaya kepada tumitnya. Sementara itu, Swastipun
telah menilai unsur-unsur gerak lawannya pula. Seperti Jlitheng,
iapun melihat beberapa kekuatan pada tata gerak Jlitheng. Jlitheng
bergerak lebih mantap. Menurut pengamatan Swasti. Jlitheng banyak
mempergunakan sikunya, bukan saja untuk menangkis, tetapi juga untuk
menyerang. Tetapi lebih dari ujud dan gerak masing-masing, maka
Jlitheng maupun Swasti telah menilai lawannya lewat sifat dan watak
gerak masing-masing. Betapapun cepatnya dan berbahayanya ibu jari
Swasti, namun menurut Jlitheng, watak ilmu gadis itu bukannya ilmu
yang garang dan kasar. Ada beberapa dasar tata gerak yang langsung
melumpuhkan lawan, tetapi bukannya serangan yang ganas dan langsung
mematikan. Kecepatan bergerak Swasti adalah ujud dari percikan watak
ilmunya yang lebih banyak menghindari benturan-benturan. Namun
ternyata bahwa jika benturan itu harus terjadi, Swasti telah
mempersiapkan dir i dengan kekuatan yang dapat diandalkan. Swastipun
melihat, bahwa Jlitheng bukan saja bertempur dengan kekuatannya.
Tetapi ia bertempur dengan lebih banyak mempergunakan otaknya.
Geraknya kadang-kadang tidak dapat diduganya terlebih dahulu. Namun
terasa, bahwa perhitungannya yang tepat, membuat lawannya kadang-
kadang bingung dan dihadapkan kepada keadaan yang tidak terduga.
Jika kedua, orang yang bertempur itu berusaha menilai kekuatan dan
kelemahan masing-masing, maka Kiai Kanthi mendapat kesempatan yang
cukup untuk melihat cir i-cir i gerak dan watak kedua ilmu yang
saling berbenturan itu. Sekali-kali ia menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk lemah. Tetapi Kiai Kanthi
t idak menjadi cemas. Nampaknya keduanya masih saling menjajagi.
Dari unsur gerak yang paling sederhana, sampai kepada ketepatan
gerak dan arah yang rumit. Sentuhan-sentuhan kecil sampai benturan-
benturan yang dahsyat dengan mengerahkan segenap kekuatan wadag.
Namun demikian, perlahan- lahan pertempuran itupun meningkat semakin
seru. Bukan saja benturan-benturan wadag dengan sepenuh kekuatan,
namun ketika tubuh mereka telah basah oleh keringat, dan jantung
mereka berdentang semakin cepat, maka sadar atau tidak sadar, mulai
mengalirlah kekuatan cadangan pada loncatan-loncatan yang cepat dan
benturan-benturan yang keras. Kiai Kanthi yang berdiri diluar
lingkaran pertempuran mengerutkan keningnya. Ia harus semakin
berhati-hati menyaksikan pertempuran yang semakin meningkat itu.
Bukan saja benturan kekuatan wajar, tetapi penyaluran kekuatan
cadangan yang mulai bersentuhan, memberikan pertanda, bahwa keduanya
semakin dalam dicengkam oleh perasaan daripada nalar. Apalagi
keduanya masih dialiri darah kemudaan mereka yang panas dan cepat
mendidih didalam jantung masing-masing. Meskipun demikian. Kiai
Kanthi masih membiarkan keduanya bertempur. Dalam kegelapan ia
menyaksikan pertempuran itu dengan saksama. Tetapi ia tidak
meninggalkan kewaspadaan. Apabila sesuatu terjadi pada salah seorang
dari keduanya, maka ia akan dibebani oleh tanggung jawab, yang akan
dapat membuatnya menyesal disepanjang hidupnya. Tetapi, sifat ingin
tahunyapun telah mengekangnya pula untuk memisahkan keduanya, ia
ingin lalui lebih jauh, betapa tinggi ilmu yang telah dikuasai oleh
anak muda yang mengaku bernama Jlitheng itu. Karena itu, maka orang
tua itu masih berdir i diam. Ia melihat Jlitheng menjadi semakin
mantap dan Swastipun bergerak semakin cepat. Namun benturan-benturan
yang kemudian terjadi telah mendebarkan jantungnya. Kedua anak muda
itu telah tidak lagi sekedar mempercayakan dir inya pada kekuatan
wajarnya. Dengan tegang Kiai Kanthi melihat Jlitheng yang terdesak
surut, telah menghentakkan kakinya diatas tanah yang lembab. Kiai
Kanthi sadar, bahwa Jlitheng telah menghentakkan kekuatan
cadangannya pula lewat serangannya yang kemudian menyusul dengan
cepat dan keras. Sambil menggeram anak muda itu menyerang dengan
menjulurkan tangannya. Jari-jarinya nampak berkembang, seolah-olah
ingin menerkam wajah lawannya. Tetapi Swasti yang menyadari
keadaannyapun telah menyalurkan kekuatan cadangannya pula. Kakinya
menjadi semakin cepat, sehingga gadis itu seolah-olah tidak berjejak
diatas tanah. Tangannya yang kadang-kadang mengembang, membuatnya
bagaikan terbang berputaran. Dengan tangkasnya ia menghindar i
serangan Jlitheng. Sambil merendahkan dirinya ia sempat menyentuh
tangan lawannya kesamping. Hampir diluar pengamatan mata wadag,
kakinya telah terjulur menyerang lambung lawannya yang terbuka.
Jlitheng tidak sempat mengelak. Tetapi ia tidak membiarkan
lambungnya dihantam tumit Swasti. Meskipun kaki Swasti meluncur
dengan cepat, namun Jlitheng masih sempat melindungi lambungnya
dengan sikunya. Yang terjadi kemudian adalah suatu benturan
kekuatan. Ketika keduanya tergetar dan terdorong selangkah surut,
keduanya menyadari bahwa keduanya telah mulai mempergunakan kekuatan
melampaui kekuatan wadag mereka yang sewajarnya. “Pantas anak ini
dapat membunuh dua orang mur id Kendali Putih,” desis Kiai Kanthi
yang hanya didengarnya sendiri. Ia yakin bahwa Jlitheng masih akan
meningkatkan perlawanannya. Demikian pula Swasti, sehingga pada
suatu saat mereka akan sampai pada tingkat yang membahayakan. Karena
itu, maka iapun kemudian melangkah maju. Dengan nada tinggi ia
berkata, “Swasti, sudahlah. Bukan caranya demikian untuk
menyelesaikan masalah. Angger Jlitheng, sudahlah. Kita akan
berbicara dengan baik. Kita sudah dapat mengetahui, siapakah
sebenarnya kita masing-masing.” Tetapi jantung Kiai Kanthi
berdentangan semakin cepat ketika ia mendengar Swasti menjawab,
“Bukan salahku ayah. Aku hanya melayaninya. Aku hanya membela dir i
dengan cara yang sama seperti yang dipilihnya.” “Angger Jlitheng …“
berkata Kiai Kanthi yang terputus oleh jawaban anak muda itu, “ …
aku ingin membuktikan kata- kataku. Bahwa aku akan berhasil
menangkap kalian berdua.” “Tidak ngger. Aku tahu, bukan itulah
maksudmu yang sebenarnya.” Jlitheng tidak menjawab. Justru Swasti
menyerang semakin cepat. Karena itu, maka Jlithengpun bergerak
semakin cepat pula. “Ngger. Kau tentu hanya akan meyakinkan,
siapakah yang kau hadapi sekarang ini. Yang kau lakukan sudah cukup.
Bahkan sudah berlebihan.” Jlitheng tidak menjawab. Persoalan yang
bergejolak dihatinya telah bergeser. Bukan saja keinginannya untuk
menjajagi dan meyakinkan siapakah yang sedang dihadapi, namun harga
dir inya sebagai seorang anak muda sudah tersinggung. Swasti adalah
seorang gadis. Umurnya tidak akan lebih tua daripadanya. Sebagai
seorang laki- laki yang pernah membunuh dua orang mur id perguruan
Kendali Putih, apakah ia akan membiarkan dir inya diletakkan dalam
tataran yang setingkat dengan seorang gadis perantau yang umurnya
lebih muda daripadanya ? Tiba-tiba saja Jlitheng menggeram. Dengan
tegang ia memandang ke dir inya sendiri sambil berkata didalam hati,
“He, apakah kau akan menyerah terhadap seorang gadis kecil yang
dungu dan binal itu ?” Karena itulah, maka Jlitheng justru semakin
mengerahkan tenaganya. Tenaga cadangannya yang mempunyai kekuatan
berlipat dari tenaga wajarnya. Bukan lagi seperti niatnya semula,
tetapi semata-mata karena ia seorang laki-laki, sedang Swasti adalah
seorang gadis yang lebih muda daripadanya. Tetapi ternyata bahwa
Swastipun mampu pula berbuat serupa. Gadis itu tidak lagi sekedar
bertumpu kepada kekuaatan wajarnya, ia tidak lebih dari seorang
gadis yang menurut kodratnya tidak akan melebihi kekuatan seorang
laki- laki. Tetapi Swasti ternyata memiliki kelebihan dari
gadis-gadis kebanyakan. Ia mampu mengungkap kekuatan yang
tersembunyi didalam dir inya, yang hanya dapat nampak dengan sikap
dan laku yang khusus, yang memerlukan waktu dan kemampuan untuk
mempelajarinya. Karena itu, betapapun Jlitheng mengerahkan kekuatan
dan ilmunya, yang wajar maupun yang tersembunyi, ternyata bahwa
Swasti mampu mengimbanginya. Kecepatan bergerak dari kaki gadis itu
kadang-kadang membuat Jlitheng kehilangan sasaran. Meskipun iapun
mampu melakukannya pula apabila Swasti menyerangnya. Kedua anak muda
itu bertempur semakin dahsyat. Mereka tidak lagi dua orang yang
bergerak dan berbenturan dalam keadaan wajar, sehingga karena itu,
maka pertempuran itupun telah membuat suasana yang lain dihutan itu.
Pepohonan berguncang bagaikan diputar oleh angin pusaran.
Ge-rumbul-gerumbul berserakan dan dahan-dahan berpatahan. Batu-batu
padas pecah dan terlempar berhamburan. Kiai Kanthi semakin lama
menjadi semakin cemas. Ia melihat perkelahian itu berkembang semakin
dahsyat. Bahkan kemudian nampaknya kedua anak muda itu benar-benar
telah kehilangan kendali. Dengan hati-hati Kiai Kanthi mendekat.
Sekali lagi ia mencoba berteriak menghentikan pertempuran yang
semakin dahsyat titu. Tetapi suaranya bagaikan hilang ditelan oleh
gemuruhnya angin yang timbul karena ayunan kekuatan yang terungkap
dari kekuatan cadangan yang justru jauh lebih dahsyat dari kekuatan
wajar kedua anak muda yang sedang bertempur itu. “Angger Jlitheng,“
teriak Kiai Kanthi, “hent ikan, hentikan.” “Aku bukan laki-laki
cengeng yang menyerah kepada perempuan,“ geramJ litheng. Kiai Kanthi
menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar bahwa yang kemudian
bergejolak, didada Jlitheng adalah harga dirinya sebagai laki-laki.
Karena itu, maka iapun mencoba menghentikan Swasti. Teriaknya,
“Berhentilah Swasti. Mar ilah kita bicara.” Tetapi Swastipun
berteriak tidak kalah lantangnya, “Aku bukan perampok yang
mengulurkan kedua tangan dan kaki untuk dikat dan diseret kehadapan
siapapun.” “Kita dapat berbicara dengan baik,“ Kiai Kanthipun
berteriak pula. “Bukan aku yang mulai,“ jawab Swasti. “Siapapun yang
mulai, hentikanlah.” “Bukan aku yang harus menghentikan lebih
dahulu.” Kiai Kanthi menjadi bingung. Persoalannya sudah jauh
bergeser, sehingga justru akan sangat sulit baginya untuk
menghentikannya, karena yang berbicara dihati kedua anak- anak muda
itu adalah perasaannya, bukan lagi nalarnya. Dalam pada itu,
ternyata keduanya telah memeras segala kemampuan dan kekuatan.
Swasti menyambar-nyambar seperti seekor burung lawet diudara,
sementara Jlitheng mengimbangi kecepatan itu dengan sikap yang kuat
dan tangguh seperti seekor burung elang. Tetapi sentuhan ujung
jarinya akan mampu mematahkan tulang dan menyobek kulit daging.
Semakin lama libatan serangan masing-masing tidak semuanya dapat
dielakkan dan ditangkis. Satu-satu tubuh merelka telah tersentuh
oleh kekuatan tenaga lawan yang dahsyat. Namun daya tahan tubuh
mereka masing-masingpun melampaui daya tahan orang kebanyakan.
Tetapi perasaan sakit dan nyeri telah merambati tubuh mereka.
Benturan dan sentuhan semakin ser ing terjadi. Sekali- kali
terdengar salah seorang diantara mereka berdesis tertahan. Namun
kadang-kadang terdengar juga hentakkan yang keras. Kiai Kanthi
menjadi semakin bingung. Nampaknya keduanya telah kehilangan
kesadaran dan pertimbangan. “Aku harus menghentikannya,“ gumam orang
tua itu. Karena itu maka Kiai Kanthipun justru menjauhi beberapa
langkah. Sekilas ia masih sempat melihat dedaunan yang bergetar.
Yang tidak mampu lagi berpegang pada ranting- rantingnya, telah
runtuh berjatuhan diantara semak-semak yang hancur berserakkan.
“Sekali lagi aku memperingatkan,“ teriak Kiai Kanthi. Tetapi kedua
anak-anak muda itu tidak menghiraukannya. Kiai Kanthi yang cemas itu
tidak dapat menunda lagi. Ia mulai melihat sentuhan-sentuhan yang
berbahaya dari keduanya. Salah seorang dari kedua anak muda itu
kadang- kadang terlempar jatuh. Meskipun ia segera melenting bangun,
tetapi benturan-benturan berikutnya segera menyusul dengan
dahsyatnya. Sejenak Kiai Kanthi termenung. Nampak ia masih tetap
ragu-ragu. Namun kemudian ia menyilangkan tangannya didadanya.
Dengan tajamnya dipandanginya kedua anak muda yang sedang bergulat
dengan ilmunya masing-masing untuk mempertahankan harga dir inya.
Kiai Kanthi tidak berteriak lagi. Perlahan-lahan bibirnya bergerak,
“Cukup, berhentilah. Berhentilah.” Suaranya tidak terlalu keras.
Tetapi berbareng dengan lontaran kata-kata itu, seolah-olah angin
prahara telah bertiup. Ditelinga kedua anak muda yang sedang
bertempur itu, suara Kiai Kanthi bagaikan ledakan seribu guruh
dilangit. Sesaat kedua anak muda itu masih bertahan. Mereka masih
terlempar oleh ilmu masing-masing dalam benturan yang dahsyat. Namun
ketika Kiai Kanthi mengulangi kata-katanya maka merekapun bagaikan
lumpuh. Suara itu menggelegar didalam dada mereka, seolah-olah
meruntuhkan hati dan jantungnya. Ketika sekali lagi Kiai Kanthi
bergumam, maka keduanya tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
Keduanyapun diluar sadar, telah menutup telinga masing-masing sambil
menyeringai menahan nyeri dijantungnya. “Berhentilah,“ Kiai Kanthi
masih bergumam. “Cukup ayah. Cukup,“ teriak Swasti. “Ampun Kiai, aku
akan berhenti,“ sambung Jlitheng. Kiai Kanthi masih berdir i
ditempatnya. Dipandanginya kedua anak muda yang memegangi telinga
mereka, seolah- olah kata-kata yang dilontarkan oleh Kiai Kanthi itu
menyusup kedalamdada mereka lewat getaran selaput telinga. Tetapi
bagaimanapun juga mereka menyumbat telinga mereka, namun suara itu
tetap menghentak-hentak jantung, seolah-olah hendak merontokkannya.
Namun perlahan- lahan hentakkan suara yang bergulung- gulung didalam
dada bagaikan amuk prahara itu, semakin mereda. Semakin lama menjadi
semakin lunak dan seolah- olah lenyap ditelan kesepian. Kembali
hutan dilereng gunung itu menjadi senyap. Yang terdengar kemudian
adalah gemerisik air dari beiumbang yang berair melimpah, disisipi
oleh desir angin lembut didedaunan. “Angger Jlitheng,“ terdengar
suara Kiai Kanthi dengan nada dalam, suara wajarnya, “aku tidak
mempunyai cara lain untuk menghentikan kalian yang seolah-olah
menjadi wuru karena terlalu banyak minum tuak. Kalian seolah-olah
tidak mendengar suaraku lagi, atau kalian benar-benar telah
kehilangan nalar. Angger Jlitheng tersinggung karena kau seorang
laki-laki, sedang lawanmu adalah seorang perempuan. Sedangkan Swasti
tersinggung karena kau akan ditangkap dan dibawa menghadap Ki Buyut
Lumban Wetan atau Lumban Kulon.” Kedua anak muda itu kemudian duduk
tepekur. Ternyata perkelahian yang baru saja terakhir itu telah
menghisap sebagian besar tenaga mereka. Tenaga wajar dan tenaga yang
tersimpan didalam dir i .sebagai tenaga cadangan, sehingga keduanya
menjadi sangat letih. Nafas mereka bekejaran bagaikan berebut dahulu
lewat dilubang hidung. Dengan susah payah mereka mencoba
mengendalikan pernafasan mereka dan menguasai keletihan yang terjadi
pada tubuh masing-masing. “ Yang ingin aku tanyakan, apakah yang kau
dapatkan dengan perkelahian itu ? Harga dir i ?” Kedua anak muda itu
masih duduk tepekur. Tetapi perlahan-lahan pernafasan mereka menjadi
semakin teratur. “Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku mohon maaf.
Semula aku sama sekali tidak ingin berkelahi karena harga diri. Aku
sebenarnya ingin menjajagi, siapakah sebenarnya Kiai Kanthi. Tetapi
yang berhadapan dengan aku kemudian ternyata adalah Swasti.“ Kiai
Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tidak mengatakan demikian,
sehingga Swastilah yang mula-mula tampil. Tetapi jika memang
benar-benar kau kehendaki ingin menjajagi dan mengetahui siapakah
sebenarnya aku dengan caramu ngger, mar ilah. Kau t idak akan lagi
dibayangi oleh harga diri karena kau seorang laki- laki. Mungkin
yang akan membayangi kemudian adalah karena kau masih muda sehingga
sepantasnyalah bahwa kau harus dapat mengalahkan orang tua. Apakah
begitu ?” “Tidak Kiai. Aku tidak akan berani lagi melakukannya. Aku
sudah dapat mengetahui dengan bekal ilmuku yang sedikit. Jika aku
tidak dapat melampaui kemampuan Swasti, serta jika isi dadaku
bagaikan rontok mendengar suara Kiai, apakah aku masih akan mencoba
menjajagi kemampuan Kiai?” “Mungkin saja ngger. Mungkin kau
menganggap bahwa dengan demikian kau akan mengetahui, perguruan
manakah yang sedang kau hadapi, seperti aku kini mengetahui, bahwa
aku sedang berhadapan dengan, perguruan Risang Alit.” “Kiai,“
Jlitheng terkejut sehingga ia tergeser selangkah, “darimana Kiai
mengetahui?” Kiai Kanthi tersenyum. Iapun kemudian duduk pula
bersama kedua anak muda yang kelelahan itu. Dihadapannya bara
perapian telah padamdan berserakkan. Tangan Kiai Kanthi yang sudah
mulai dilukisi dengan kerut- kerut tahun itupun kemudian
mengumpulkan beberapa potong dahan dan sisa-sisa bara yang masih
hangat. “Perapian ini padam karena tanah dan padas yang berserakkan
oleh kaki kalian yang sedang berkelahi tanpa pengendalian diri.”
Jlitheng dan Swasti tidak menyahut. Sejenak Kiai Kanthi sibuk dengan
dahan-dahan yang tinggal sepotong-potong sisa api. Dikumpulkannya
sisa api itu diatas bekas perapian yang hangat. “Apakah Kiai akan
menyalakan perapian itu ? Sebentar lagi fajar akan menyingsing,“
bertanya Jlitheng. “Dinginnya bukan main. Angger yang baru saja
berkelahi mungkin tidak merasa dinginnya udara.” “Apakah Kiai
membawa titikan ?“ bertanya Jlitheng pula, “biarlah aku saja yang
menyalakan.” Kiai Kanthi tidak menjawab. Namun Jlitheng dan Swasti
melihat orang tua itu menggeserkan dahan-dahan kering itu dengan
tangannya. Sejenak kemudian Jlitheng sekali lagi tersentak, ia
melihat bara mulai memerah dihadapannya, diantara dahan-dahan kayu
sisa perapian itu. “Siapakah sebenarnya orang tua ini ?” pertanyaan
itu bergetar dihatinya. Sejak semula ia memang ingin memastikan,
apakah sudah sepantasnya ia berada dibawah pengaruh wibawanya. Namun
kini J litheng jadi yakin, bahwa ia memang sudah seharusnya
menghormati orang tua itu seperti gurunya sendiri. Apalagi karena
orang tua itu telah mengetahui bahwa ia berasal dari ilmu keturunan
yang diwariskan oleh perguruan Risang Alit. “Kiai,“ Jlithengpun
kemudian bertanya dengan nada yang dalam, “pertanyaanku semula belum
Kiai jawab. Darimana Kiai mengetahui bahwa aku adalah pewaris ilmu
dari perguruan Risang Alit?” “Ah, kau masih pura-pura tidak tahu
ngger. Bukankah kau sudah melepaskan hampir semua unsur gerak dari
perguruanmu? Aku tidak tahu pasti, siapakah yang langsung menjadi
gurumu, sehingga kau memiliki ilmu dari perguruan Risang Alit itu.
Perguruan yang sudah tidak banyak disebut orang lagi. Tetapi itu
bukan berarti bahwa kelebihan ilmu dari perguruan Risang Alit itu
berkurang.” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun dihadapan orang
tua itu ia tidak merasa perlu untuk berahasia lagi. Karena itu
katanya, “Aku adalah murid Kiai Baskara yang lebih senang menyebut
padepokannya dengan nama Rasa Jati.” Kiai Kanthi mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Jadi kau
menerima war isan ilmu Risang Alit lewat Kiai Baskara ? Jika
demikian, wajarlah j ika kau mampu membunuh dua orang mur id Kendali
Putih.” Jlitheng memandang Kiai Kanthi sejenak. Namun diluar
sadarnya ia berpaling kearah Swasti sambil berkata didalam hatinya,
“Tetapi ilmuku tidak lebih dari ilmu gadis itu. jika Swasti bertemu
dengan kedua orang Kendali Putih itu, iapun tentu akan dapat
mengalahkan mereka.” “Angger Jlitheng,“ berkata Kiat Kanthi
kemudian, “jika kau ternyata murid Kiai Baskara. maka apakah
salahnya jika kau mengatakan, siapakah sebenarnya kau ini. Kau tentu
bukan anak seorang janda miskin yang merantau kemudian kembali
pulang setelah kau sedikit menerima ilmu dari seseorang.” Jlitheng
ragu-ragu sejenak, sekali lagi ia memandang Swasti yang nampaknya
masih acuh tidak acuh saja. Dalam keremangan malam ia melihat Swasti
memandang justru kearah kegelapan yang pekat. “Kiai,“ berkata
Jlitheng jika aku tidak melihat betapa tingginya ilmu Kiai, maka aku
tentu t idak akan mau mengatakannya. Meskipun aku pernah juga
menyebut namaku, tetapi dihadapan orang-orang Kendali Putih yang aku
yakin akan dapat aku selesaikan itu.” “Jika kau tidak berkeberatan,
sebutlah namamu, keturunanmu dan barangkali sesuatu yang harus
angger lakukannya dan asalnya seperti yang pernah dikatakan.”
Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengatakan serba
sedikit tentang dirinya. Namanya, orang tuanya kepada murid-murid
Kendali Putih yang telah dibunuhnya. Namun demikian, Jlitheng tidak
mengatakan apakah tugas yang harus dilakukannya di Lumban itu. Kiai
Kanthi mengangguk-angguk. Ketika Jlitheng menyebut namanya, orang
tua itu melihat anak gadisnya tergeser setapak. Agaknya nama itu
telah menarik perhatiannya. Tetapi sejenak kemudian, pandangannya
telah terlempar kembali kegelapnya dihutan itu. Kiai Kanthi menarik
nafas dalam-dalam. Katanya didalam hatinya, “Swasti adalah gadis
yang sangat angkuh. Tetapi agaknya sikapnya yang berlebihan itu
disebabkan oleh perasaan rendah diri menghadapi seseorang yang
meskipun seorang yang sederhana pula seperti Jlitheng.” Namun Kiat
Kanthi tidak dapat menyalahkan anak gadisnya. Ia memang melihat
pakaian yang melekat pada anak gadisnya yang meningkat dewasa,
sehingga ia tidak akan dapat berbangga dengan perkembangan wadagnya
sebagai seorang gadis remaja. Itulah agaknya yang telah membuatnya
menjadi seorang gadis yang mudah tersinggung. Menuruti perasaan
rendah dirinya dengan sikap yang keras dan harga diri yang berlebih-
lebihan. “Kasihan anakku itu,“ tiba-tiba saja perasaan ibanya lelah
melonjak didalam hatinya, “aku akan berusaha, agar ia dapat hidup
seperti gadis-gadis sebayanya. Bergaul dengan kawan- kawannya dan
bekerja bersama-sama disawah atau ladang. Ikut serta dalam kesibukan
peralatan bersama kawan kawan gadis yang lain dan ikut
berdesak-desakan menonton wayang beber atau pertunjukkan tari.
berlari-larian bersama gadis- gadis sebayanya dipematang disaat padi
sedang berbunga serta mencuci pakaian di sungai sambil berdendang.
Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Swasti tidak pernah terlibat
dalam nafas kehidupan sewajarnya. Sekali-kali ia bergaul juga dengan
gadis-gadis padukuhan yang lenyap dilanda banj ir bandang dan gempa
bumi serta tertimbun tanah longsor itu. Tetapi hanya-sesaat-saat,
karena hidupnya sebagian besar telah dirampas oleh sebuah sanggar
untuk menekuni olah kanuragan. “Swasti berhasil menjadi seorang
gadis yang luar biasa. Ia dapat mengimbangi seorang anak muda dari
perguruan yang pernah menggemparkan seluruh Majapahit. Perguruan
yang dipimpin oleh Risang Alit. yang mempunyai cir i yang khusus,
lewat seorang yang mengagumkan pula, Kiai Baskara. Apalagi anak muda
itu adalah putera Pangeran yang dipercaya untuk menjadi salah
seorang Senapati pada saat Majapahit mengalami kesulitan. Namun ia
telah gugur dimedan perang,“ berkata Kiai Kanthi didalam hatinya.
Namun kemudian, “Tetapi Swasti menjadi besar dengan sifat-sifatnya
yang khusus pula. Ia merasa rendah diri dihadapan kawan-kawannya dan
apalagi dihadapan anak-anak muda. Untuk mengisi perasaan itu, ia
menjadi cepat tersinggung dan keras hati. Sementara itu Jlitheng
sendiri menjadi termangu-mangu. Ia menunggu apa yang akan dilakukan
oleh Kiai Kanthi setelah orang tua itu mendengar ceritera tentang
dirinya. “Angger,“ berkata Kiai Kanthi, “aku percaya sepenuhnya apa
yang angger ceriterakan itu. Aku melihat kejujuran memancar disorot
mata angger. Selebihnya, meskipun angger tidak mengatakannya, aku
dapat meraba, apakah yang harus angger lakukan disini.” “Tidak ada
yang harus aku lakukan Kiai. Aku memang seorang perantau yang senang
menjelajahi desa, gunung dan ngarai.” Tetapi Kiai Kanthi justru
tersenyum. Sambil mengangguk angguk ia kemudian berkata, “Baiklah
ngger. Tetapi masih selalu menjadi pertanyaan dihatiku, apakah
hubunganmu yang sebenarnya dengan Daruwerdi. Apakah kalian telah
bekerja bersama untuk suatu tugas tertentu, atau kalian ternyata
justru saling mencur igai dan saling mengawasi, atau karena hubungan
yang lain ?” Jlitheng. mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun
tersenyum sambil menjawab, “Tidak ada hubungan apapun Kiai.” Kiai
Kanthipun tertawa. Katanya, “Baiklah ngger. Adalah suatu kebodohan j
ika aku mendesak terus, agar angger mengatakan apa yang tidak ingin
angger katakan. Tetapi bagiku, yang angger sebutkan sudah cukup
banyak, sehingga aku dapat mengenal angger yang sebenarnya.”
“Sudahlah Kiai. Yang penting kemudian adalah bagaimana kita akan
menguasai air yang melimpah ini. Aku akan membantu apa saja yang
Kiai perintahkan. Dengan tulus aku menempatkan dir i sebagai seorang
yang akan tunduk kepada segala perintah apapun juga.” Kiai Kanthi
menar ik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa ia tidak akan dapat
melihat lebih dalam lagi, apakah yang sedang dilakukan oleh Jlitheng
di padukuhan Lumban, sedang kan di padukuhan itu juga hadir
Daruwerdi. “Baiklah ngger,“ berkata Kiai Kanthi kemudian, “aku
sependapat, bahwa sebaiknya kita membicarakan bagaimana kita
menguasai air yang tentu akan sangat bermanfaat itu. Sedangkan
masalah-masalah lainnya, mungkin akan dapat aku dengar dari angger
Daruwerdi sendiri.” Wajah Jlitheng menegang sejenak. Tetapi kemudian
ia pun tersenyum sambil berkata, “Mungkin itu lebih baik Kiai.
Tetapi aku mohon, agar Kiai sama sekali tidak menyebut tentang Kiai
Baskara dan tentang sumber ilmu yang mengalir dari perguruan Risang
Alit. Aku kira itu tidak perlu bagi Daruwerdi.” Kiai Kanthi tertawa
pendek. Katanya, “Aku orang tua ngger. Aku tidak akan mengatakan
apapun juga. Tetapi pesan angger itu bagiku merupakan keterangan,
bahwa angger dan Daruwerdi tidak sedang bekerja bersama untuk suatu
tugas, namun angger justru sedang mengawasi angger Daruwerdi karena
sesuatu yang tidak dapat angger katakan kepada sia- papun juga.”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian mengangguk
kecil sambil menyahut, “Mungkin Kiai benar.” Kiai Kanthi tidak
menjawab lagi. Diangkatnya kedua tangannya di atas perapian yang
hangat. “Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “baiklah aku mohon dir i.
Aku sudah terlalu lama pergi. Jika biyung mengetahui aku tidak ada
dirumah, ia akan menjadi gelisah.” Kiai Kanthi memandang Jlitheng
sejenak. Nampak wajah anak muda itu bersungguh-sungguh. Karena itu,
maka katanya, “Silahkan ngger. Tetapi jika angger ingin lekas
mengendalikain air belumbang yang melimpah itu, sebaiknya kita
segera membicarakan, apakah yang sebaiknya kita lakukan.” “Baiklah
Kiai. Tentu Kiai tidak akan betah tinggal di sini tanpa berbuat
sesuatu.” “Itu sudah aku kehendaki ngger. Aku akan melakukan apa
saja. Tetapi adalah lebih baik jika yang aku lakukan itu berguna
bukan hanya bagi aku dan anakku sendiri.” “Ya, ya Kiai. Aku
mengerti,“ sahut Jlitheng cepat. Lalu, “Sekarang aku mohon dir i
Kiai. Aku akan berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak dan keinginan
Kiai.” “Datanglah secepatnya ngger.” “Tentu Kiai,“ Jlithengpun
kemudian berdir i. Dipandanginya Swasti yang duduk sambil
menundukkan wajahnya dalam- dalam. Namun dengan ragu2 Jlitheng
berkata, “Aku minta diri Swasti. Aku minta maaf jika aku telah
melakukan sesuatu yang tidak kau kehendaki.” Swasti sama sekali
tidak bergerak. “Swasti,“ desis ayahnya, “kau harus menjawab. Dan
seterusnya kita akan mulai dengan suatu pergaulan baru di padukuhan
Lumban. Kita harus bergaul sebagaimana orang- orang Lumban bergaul
diantara mereka.” Tetapi diluar dugaan Swasti menjawab, “Anak muda
itu bukan anak Lumban.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya, “Tetapi ia sudah menempatkan diri seperti anak muda dari
Lumban.” Swasti terdiam. Tetapi terdengar nafasnya mengalir semakin
cepat, seperti pada saat-saat ia memusatkan ilmunya
didalampertempuran yang dahsyat. Sebenarnyalah terjadi ketegangan
didalam jiwa gadis itu. Ia mencoba untuk mengerti keterangan ayahnya
bahwa ia harus mulai dengan tata pergaulan baru. Tetapi, ia tidak
cukup berani untuk menghadapi tantangan hubungan baru dengan
Jlitheng setelah mereka bertempur dengan segenap kemampuan. Tetapi
terlebih- lebih lagi, Swasti memang tidak terbiasa bergaul dengan
anak muda sejak ia berada dipadukuhannya yang lama. “Swasti,“
ayahnya mendesak, “kau jangan terkeras hati.” Swasti mengangkat
wajahnya. Dipandanginya ayahnya sejenak. Kemudian hampir diuar
sadarnya, ia terpaling kearah anak muda yang termangu-mangu. Terasa
dada Swasti bergetar. Cepat-cepat ia melemparkan pandangan matanya
kekegelapan. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir, melampaui
saat-saat ia berada, dipuncak ketegangan pertempuran. “Swasti,“
ayahnya berdesis sekali lagi. Swasti tidak dapat mengelak lebih
lama. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akan mendesaknya terus sampai ia
mengucapkan sepatah dua patah kata. Karena itu, maka katanya, “Biar
lah ia meninggalkan kita dan melupakan apa yang telah terjadi ayah.”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Bukan kepadaku.
Kepada angger Jlitheng.” Swasti ingin menjerit. Tetapi dipaksanya
mulutnya berkata, “Aku juga minta maaf.” Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Baiklah Kiai. Aku sudah merasa ringan, bahwa
aku sudah dimaafkan meskipun dengan istilah apapun juga. Aku mohon
diri sebelum pagi.” “Ya. ya ngger. Kembalilah kepada biyungmu.
Tetapi kita sudah bersepakat untuk segera mulai dengan kerja kita.
Membuat sebuah padepokan, menguasai air dan memberikan suasana yang
lebih baik bagi padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.”
Jlithengpun kemudian melangkah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak
gadisnya. Ketika diluar sadarnya ia berpaling, maka dilihatnya
Swasti cepat-cepat memalingkan wajahnya. Agaknya iapun sedang
menatap langkah Jlitheng yang masuk kedalam kelamnya
gerumbul-gerumbul liar didalam hutan disisa malamyang sepi. Sejenak
kemudian Jlithengpun bagaikan ditelan oleh kegelapan. Yang tinggal
kemudian adalah Swasti dan Kiai Kanthi. Sejenak mereka saling
berdiam diri. Namun kemudian Kiai Kanthi berkata, “Beristirahatlah
Swasti. Kau tentu letih.” Swasti tidak menjawab. Tetapi iapun
kemudian bangkit sambil mengibaskan pakaiannya yang lungset. “Aku
akan mandi. Aku tidak akan dapat tidur. Pakaianku basah oleh ker
ingat dan kotor oleh debu yang melekat.” “Jika kau masih basah oleh
keringat, jangan mandi dahulu,“ cegah ayahnya. “Keringatku sudah
kering. Tetapi pakaianku sangat kotor.” Kiai Kanthi tidak mencegah
lagi. Dibiarkannya Swasti pergi keparit disebelah belumbang. Parit
yang mengalirkan air yang melimpah itu tanpa terarah, sehingga air
yang mengalir itu menyusup kecelah-celah batu padas dan hilang
ditelan tanah. Ketika Swasti tidak nampak lagi, Kiai Kanthi mengelus
dadanya sambil menghela nafas dalam sekali. Anak gadisnya hanya
mempunyai selembar ganti pakaian. Jika ia mandi, ia sekaligus
mencuci pakaiannya yang kotor, untuk nanti dipakai jika ia mandi dan
mencuci pakaiannya yang selembar lagi. Namun disamping pakaiannya
sebagai seorang gadis, Swasti mempunyai sepengadeg pakaian yang
khusus, yang tidak dipunyai oleh gadis-gadis lain. Pakaian yang
dipakainya dalam olah kanuragan, yang mirip dengan pakaian seorang
laki- laki. Ketika Swasti kembali dari balik gerumbul-gerumbul yang
rimbun, dilihatnya ayahnya duduk dipinggir belumbang sambil
memegangi walesan kail. Ketika seekor ikan terkait pada mata
kailnya, ia berkata, “Swasti, kita sekarang sudah mempunyai belanga
dan kelenting. Kita akan dapat memasak lebih baik dari saat-saat
sebelumnya. Kita dapat merebus gayam dan dedaunan.” Swasti
memandangi belanga dan kelenting yang dibawa oleh Jlitheng sebelum
ia berkelahi. Sejenak ia merenung, mencari makna dari peristiwa yang
baru saja terjadi. “Anak muda itu tentu tidak bersungguh-sungguh
ingin menangkap kami,“ katanya didalam hati setelah tubuhnya menjadi
segar dan hatinya agak tenang, “jika demikian, ia tidak akan
bersusah payah membawa belanga dan kelenting.” Tetapi semuanya sudah
terlanjur terjadi, sehingga ia sudah terlibat dalam perkelahian yang
sengit, bukan saja mempergunakan tenaga wajarnya, tetapi sudah jauh
daripada itu. Ketika kemudian matahari terbit, Swasti duduk dimuka
perapian sebagai seorang gadis yang sedang menunggui masakannya.
Beberapa ekor ikan yang didapat oleh ayahnya dengan kail
dipainggangnya diatas api, sedang dengan belanganya ia merebus
beberapa buah gayam yang sudah tua. Diluar sadarnya, Swasti
menengadahkan wajahnya. Selembar awan hanyut dihembus oleh angin
yang lembut mengalir ke Utara. Namun Swasti mulai berpikir, “Jika
awan itu menjadi semakin banyak dan berwarna kelabu, maka itu adalah
pertanda hujan akan turun. Dalam keadaan seperti ini, jika hujan
turun, maka aku akan kedinginan sepanjang har i dan mungkin
sepanjang malam, karena pakaianku akan menjadi basah semuanya.”
Tetapi Swasti tidak mengatakannya kepada ayahnya, ia tahu, bahwa
ayahnyapun sudah memikirkannya. Dalam pada itu, Jlitheng yang sampai
kerumahnya menjelang pagi, langsung menuju kesumur untuk menimba
air. Untunglah bahwa ibunya masih belum bangun, sehingga ia tidak
digelisahkan oleh kepergiannya semalam suntuk. Sambil menarik
sengget, Jlitheng masih saja berpikir tentang Kiai Kanthi dan anak
gadisnya yang aneh. Tetapi ia tidak ragu-ragu lagi, bahwa keduanya
adalah orang-orang yang luar biasa. Gadis yang sedang meningkat
dewasa, yang tentu masih lebih muda daripadanya itu, ternyata
memiliki kemampuan yang sama sekali tidak diduganya. Jika saat
keduanya datang, dan dibawanya naik kelereng bukit lewat batu batu
padas yang bergumpal-gumpal, ia sudah menjadi heran, bahwa Swasti
dapat juga berloncatan mengikutinya. Apalagi ketika ia sudah
mengalami perkelahian yang hampir saja lepas dari kekangan nalarnya.
Sementara itu, Jlitheng mulai mendengarkan ibunya bekerja didapur.
Seperti biasanya merebus air dan ketela pohon. Jlitheng tidak
langsung masuk kedapur. Setelah pakiwannya penuh, maka iapun segera
pergi kehalaman depan sambil membawa sapu lidinya. Sehari itu,
Jlitheng tidak banyak berkumpul dengan kawan- kawannya. Disiang hari
ia berbaring dibelakang lumbung yang kosong. Apalagi jika paceklik
panjang mencengkam padukuhun Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Maka
hampir setiap lumbung dipadukuhan itu menjadi kosong. Hanya
orang-orang yang terhitung kecukupan sajalah yang masih menyimpan
beberapa ikat padi, sisa panen dimusim basah. Dimusim kering
orang-orang Lumban hanya dapat menanam palawija yang tidak begitu
banyak menghasilkan meskipun dapat juga dipakai untuk menyambung
hidup mereka sampai musim basah mendatang. “Aku harus segera berbuat
sesuatu,“ berkata Jlitheng. Tetapi ia masih ragu-ragu. Apakah
sebaiknya ia mengatakannya lebih dahulu kepada Ki Buyut di Lumban
Wetan dan atau Lumban Kulon atau ia lebih dahulu membantu Kiai
Kanthi membuat gubug kecil sebelum dapat dibangun sebuah padepokan
yang memadai buat orang yang luar biasa itu bersama anak gadisnya.
Akhirnya Jlitheng mengambil keputusan untuk menyampaikannya saja
lebih dahulu kepada Ki Buyut. Jika ia membuat sebuah gubug kecil
dipinggir hutan itu, maka akan dapat menumbuhkan salah paham dan
kecur igaan. Karena itu sebaiknya hal itu diberitahukannya lebih
dahulu kepada Ki Buyut Lumban Wetan dan Luban Kulon. “Tetapi aku
tidak akan member itahukannya kepada biyung,“ desis Jlitheng yang
kemudian menggeliat bangkit. Kepada ibunya Jlitheng minta diri untuk
pergi kegardu menemui kawan-kawannya, ia sama sekali tidak menyebut
rencananya untuk menghadap Ki Buyut, agar ibunya tidak digelisahkan
oleh persoalan-persoalan yang tidak diketahuinya. Yang mula-mula
akan didatangi adalah Ki Buyut Lumban Wetan, karena ia berada
didaerah Lumban Wetan itu pula. Sebagai seorang anak janda miskin
yang tidak banyak dikenal, Jlitheng memang tidak terbiasa menghadap
Ki Buyut atau bebahu padukuhan yang lain. Namun Jlitheng termasuk
seorang anak-muda yang disukai oleh kawan-kawannya, karena ia suka
membantu kawan-kawannya yang sedang mengalami kesulitan atau sedang
melakukan pekerjaan yang agak berat. Ia sering membantu
kawan-kawannya yang sedang memperbaiki dinding halaman, atau
memperbaiki lumbung yang miring, atau kerja-kerja lainnya. Bahkan ia
rela membantu kawan-kawannya dengan meminjamkan miliknya yang
sedikit apabila diperlukan. Karena itu, ketika kawan-kawannya
melihat ia menyusuri jalan padukuhan untuk pergi kerumah Ki Buyut,
maka beberapa orang kawannya menyertainya dan bertanya disepanjang
jalan, apakah keperluannya. “Aku menemukan dua orang perantau
dihutan itu,“ berkata Jlitheng. “Bagaimana kau menemukannya ?“
bertanya kawannya. “ Ketika aku sedang mencar i kayu.”
Kawan-kawannya tertarik akan ceritera itu. Mereka tahu bahwa
Jlitheng memang sering mencari kayu kehutan dilereng bukit. “Aku
merasa kasihan kepada mereka,“ berkata Jlitheng setelah ia
menceriterakan serba sedikit tentang Kiai Kanthi dan anak gadisnya.
“Kasihan. Lalu apakah yang mereka makan di hutan itu ?“ bertanya
yang lain. “Kiai Kanthi menangkap binatang-binatang kecil dan
memetik buah gayam yang banyak terdapat dihutan itu.” Demikian
pandainya Jlitheng menyusun ceriteranya sehingga kawan-kawannya
benar-benar menjadi iba mendengarnya. “Lalu, apakah yang ingin kau
dapatkan dari Ki Buyut ?“ bertanya salah seorang kawannya. “Aku
hanya akan minta ijin untuk membuat sebuah gubug kecil dipinggir
hutan itu.” “Kenapa dipinggir hutan?” yang lain memotong, “biarlah
ia tinggal di padukuhan ini. Apa salahnya?” “Aku sudah
mengatakannya. Tetapi agaknya perantau itu mempunyai harga diri
juga. Ia tidak mau mengganggu orang lain. Dipinggir hutan itu ia
akan mencoba menghidupi diri mereka sendiri dengan hasil yang dapat
mereka petik dari hutan yang luas itu. Mungkin buah-buahan, mungkin
dedaunan atau binatang-binatang buruan yang kecil-kecil saja.” “Jika
seekor harimau datang merunduk mereka, apalagi anaknya yang kau
katakan seorang gadis.” “Mereka berkeras hati. Nampaknya harimau
yang tidak begitu banyak terdapat dihutan itu, tidak ingin
mengganggu mereka.” “Omong kosong. Darimana kau tahu ? Aku kira
masalahnya hanyalah waktu. Pada suatu saat akan datang seekor
harimau yang akan menerkamsalah seorang dari keduanya.” Jlitheng
mengerutkan keningnya. Ia menjadi sulit untuk mengatakan bahwa
keduanya sama sekali tidak takut terhadap harimau yang paling garang
sekalipun. Akhirnya ia menjawab, “Masih banyak binatang buruan bagi
harimau di hutan itu, sehingga mereka tidak akan menerkam seseorang.
Harimau yang berani menerkam seseorang, akan tersisih dari
pergaulannya, karena hal itu tidak disukai oleh lingkungan mereka.“
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun pernah mendengar
ceritera tentang seekor harimau yang akhirnya membunuh dir i karena
terpisah dari masarakatnya. Satu kesalahan telah dilakukannya, yaitu
menerkam seorang petani yang sedang bekerja disawah. “Hanya harimau
yang tua dan lemah sajalah yang karena terpaksa menghindari
kelaparan telah berani menerkam seseorang,“ desis salah seorang dari
mereka. Dalam pada itu, Jlitheng bersama beberapa orang kawannya
menjadi semakin dekat dengan rumah Ki Buyut di Lumban Wetan. Satu
dua orang yang ingin tahu telah mengikut inya dan bertanya-tanya
diantara mereka. Dimuka regol halaman rumah Ki Buyut Jlitheng
berhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Karena itu sejenak ia berdiri saja
termangu-mangu. “Apakah Ki Buyut ada dirumah?“ t iba-tiba ia
bergumam. “Marilah kita coba untuk menanyakannya,“ berkata seorang
kawannya. Namun ternyata kedatangan mereka telah dilihat oleh
seorang anak muda yang bertubuh sedang, berkulit kekuning- kuningan,
yang berdir i di tangga pendapa. “Itu, kau lihat anak K i Buyut?“
desis seorang kawannya. “Ya. Marilah kita temui saja Kumbara agar ia
menyampaikan kepada ayahnya bahwa kita akan menghadap,“ gumam
Jlitheng. Kawan-kawannya mengangguk. Hampir berbareng merekapun
melangkah memasuki regol halaman rumah Ki Buyut. Anak muda yang
berdiri ditangga pendapa itu termangu- mangu. Ia melihat beberapa
orang anak muda mendatanginya, sehingga dahinya telah berkerut.
Bahkan dadanyapun menjadi berdebar-debar, karena agaknya anak- anak
muda itu mempunyai keperluan yang cukup penting. “Ada apa ?” Kumbara
tidak sabar menunggu. Jlithenglah yang menyahut, “Maaf Kumbara.
Mungkin kedatangan kami telah mengejutkan kau dan barangkali Ki
Buyut. Tetapi kami tidak mempunyai kepentingan yang dapat
menggelisahkan. Kami hanya datang untuk menyampaikan sebuah
ceritera. Barangkali Ki Buyut sempat mendengarkannya.” Kumbara
termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. “Aku
akan menyampaikannya kepada ayah. Duduklah.” Ketika Kumbara kemudian
masuk kentang dalam, maka anak-anak muda itupun duduk diatas tikar
yang sudah terbentang dipendapa. Sejenak mereka menunggu. Sementara
Kumbara menyampaikan maksud anak-anak muda itu kepada Ki Buyut.
Ternyata Ki Buyutpun tidak berkeberatan. Ia mengenal Jlitheng dan
anak-anak muda padukuhannya sebagai anak- anak muda yang baik, yang
tidak pernah menimbulkan kesulitan bagi padukuhan dan
tetangga-tetangga mereka. -oooOooo—
Jilid 03 KARENA itu, maka Ki Buyutpun kemudaan keluar dari
ruang dalam bersama Kumbara menemui anak-anak muda yang sudah
menunggunya dipendapa. Meskipun demikian Ki Buyut itupun berkata,
“Aku menjadi berdebar-debar karena kunjungan kalian. Kalian jarang
sekali datang kemari. Tiba-tiba saja kalian datang bersama-sama
beberapa orang.” Anak-anak muda itu saling berpandangan. Namun
kemudian mereka seperti berjanj i memandang Jlitheng yang
termangu-mangu.” “Ayo, siapakah yang akan menjadi pembicara dari
kalian,“ Ki Buyut mendesak sambil tersenyum. Jlithenglah yang
kemudian beringsut setapak. Dipandanginya Ki Buyut yang tua itu
sejenak. Kemudian katanya, “Ki Buyut. Mungkin kami telah mengejutkan
Ki Buyut. Biasanya kami tidak pernah datang bersama-sama, atau
bahkan jarang sekali datang menghadap Ki Buyut.” “Ya, ya. Kataikan,
apa keperluanmu. Aku tahu, bahwa kalian tentu mempunyai kepentingan
sehingga kalian memer lukan datang kepadaku.” “Ya Ki Buyut,“
Jlitheng beringsut lagi, “sebenarnyalah bahwa aku telah menemukan
dua orang perantau di lereng bukit itu.” “Menemukan?“ bertanya Ki
Buyut. “Ya Ki Buyut. Maksudku, saat aku mencari kayu, aku telah
bertemu dengan dua orang perantau yang barangkali dalam keadaan
sulit dilereng bukit yang berhutan itu.” Ki Buyut mengerutkan
keningnya. Kemudian katanya, “Katakan tentang mereka berdua.”
Jlithengpun kemudian menceriterakan serba sedikit tentang Kiai
Kanthi dan Swasti seperti yang dikatakannya kepada anak-anak muda
yang mengikutinya. Seperti kepada anak- anak muda itu iapun telah
berhasil menumbuhkan perasaan iba pada Ki Buyut Lumban Wetan. Sambil
mengangguk-angguk Ki Buyut berkata, “Sudah sewajarnya kita menaruh
belas kasihan kepada sesama. He. kenapa mereka tidak mau menuju
kepadukuhan ? Kenapa mereka berdua justru memilih untuk berada
dihutan dilereng bukit itu?” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian dengan ragu-ragu ia menjawab, “Itulah anehnya Ki Buyut.
Ketika aku tanyakan kepada mereka, orang tua itu mengatakan bahwa
mereka t idak mau menyusahkan kita disini. Dan menilik kata-katanya,
merekapun sebenarnya takut dicurigai.” Ki Buyut mengangguk-angguk.
Katanya kemudian, “Baiklah Jlitheng. Jika mereka memang berkeras
ingin tinggal dilereng bukit itu, sudah barang tentu, aku tidak
berkeberatan. Jika kau ingin membantu, itu adalah perbuatan yang
baik. Mungkin kau dapat meminjami alat-alat untuk keperluannya, atau
bahkan kau dan beberapa kawan-kawanmu dapat membantu membuat sebuah
gubug kecil. Tetapi sebaiknya kau memper ingatkan, bahwa di hutan
itu terdapat beberapa ekor harimau yang mungkin dapat membahayakan
mereka.” “Aku sudah mencoba memper ingatkan mereka Ki Buyut. Tetapi
nampaknya keduanya pandai memanjat, sehingga mereka menganggap bahwa
harimau itu akan dapat dihindar inya. Selebihnya mereka menganggap
bahwa harimau tidak akan menerkamseseorang j ika t idak terpaksa
sekali.” Ki Buyut mengangguk-angguk ketika ia mendengar Jlitheng
mengulangi ceriteranya tentang seekor harimau yang terasing dari
lingkungannya seperti yang dikatakannya kepada kawan- kawannya. Ki
Buyutpun mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Adalah menjadi
kuwajibanmu Jlitheng, untuk membantunya sebagaimana seharusnya
dilakukan bagi sesama.” “Kami sudah siap Ki Buyut,“ berkata
Jlitheng, “jika Ki Buyut sudah mengij inkan, maka kami tidak akan
ragu-ragu lagi.” “Aku ikut bersamamu Jlitheng,“ tiba-tiba saja
Kumbara memotong pembicaraan itu. Jlitheng mengerutkan keningnya,
seolah-olah ia tidak percaya pada pendengarannya. Namun Kumbara
mengulangi, “Aku akan ikut serta membantu orang tua itu. Mungkin ia
memer lukan alat-alat, mungkin keperluan yang lain. Tetapi mungkin
juga pangan.” Selagi Jlitheng termangu-mangu, terdengar Ki Buyut
berkata, “Biarlah ia ikut serta Jlitheng. Apa anehnya ? Nampaknya
kau menjadi heran. Bukankah kau kenal Kumbara sehari-hari seperti
kau mengenal kawan-kawanmu yang lain?” “Ya, ya. Ki Buyut. Tetapi
kedua orang itu hanyalah dua orang perantau. Biar kami sajalah yang
membantunya. Kumbara tidak perlu ikut serta bersama kami. Ia
mempunyai pekerjaan yang barangkali jauh lebih penting dari dua
orang perantau itu.” “Apakah yang harus aku kerjakan ? Bukankah
pekerjaanku tidak banyak berbeda dengan pekerjaanmu ? Menggarap
sawah, memelihara ternak dan sekali-kali duduk digardu perondan ?“
sahut Kumbara. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya, “Jika demikian, baiklah. Tentu kedua orang itu akan sangat
berterima kasih. Apalagi bahwa putera Ki Buyut sendiri telah
bersedia membantunya mempersiapkan sebuah gubug kecil.” Ki Buyutpun
mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi Jlitheng. Aku
masih menyarankan, agar kau menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon.
Kakang Buyut di Lumban Kulonpun perlu mengerti. Bukankah kau tahu,
bahwa bukit itu terletak diujung padukuhan kami, sehingga bukit itu
tidak terletak didaerah Lumban Wetan, tetapi juga tidak di daerah
Lumban Kulon seluruhnya. Kami t idak pernah membicarakan, siapakah
yang berhak mengurusi bukit berhutan yang tidak menghasilkan apa-apa
itu, seperti kami juga tidak pernah berbicara tentang bukit gundul
yang gersang tanpa dapat member ikan apa-apa kepada padukuhan kami.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya Ki Buyut. Akupun sudah
memikirkan kemungkinan itu. Aku akan menghadap Ki Buyut di Lumban
Kulon untuk mengatakan maksud kami membantu orang tua dan anak
gadisnya itu.” “Aku kira kakang Buyut di Lumban Kulon juga tidak
akan berkeberatan. Orang tua dan anak gadisnya itu sama sekali tidak
akan mengganggu padukuhan Lumban Wetan maupun Lumban Kulon seperti
yang diharapkannya sendiri.” “Ya Ki Buyut. Orang tua itu memang
tidak ingin mempersulit keadaan kita yang tidak terlalu baik ini,“
jawab Jlitheng. “Bagiku, itu sudah, merupakan pertanda, bahwa orang
tua itu tidak bermaksud buruk,“ berkata Ki Buyut, “ia bukam sejenis
orang yang mementingkan diri sendiri. Tetapi ia dalam keadaan yang
pahit, masih juga memikirkan orang lain.” “Baiklah Ki Buyut. Kami
mohon diri. Kami akan menghadap Ki Buyut Lumban Kulon. Mungkin besok
kami akan muliai dengan kerja kami, membantu orang tua itu.” “Dimana
ia t idur malam ini ?” “Mereka telah memilih tempat didalam hutan
itu. Mereka makan dar i buah-buahan yang mereka dapatkan, buruan
kecil dan dedaunan.” “Berbuatlah sesuatu segera bagi mereka
Jlitheng. Kau yang sudah mulai dengan niat yang baik, teruskanlah.”
Jlitheng kemudian minta dir i. Ia masih akan menghadap Ki Buyut di
Lumban Kulon untuk minta ijin seperti yang dilakukannya pada Ki
Buyut di Lumban Wetan. Ketika Jlitheng dan kawan-kawannya memasuki
batas Lumban Kulon, maka beberapa orang anak-anak mudapun telah
mengerumuninya dan bertanya, apakah keperluannya. Seperti yang sudah
dilakukannya, maka iapun mengulangi lagi ceriteranya tentang kedua
orang yang ditemuinya di lereng bukit. “Kasihan,“ desis salah
seorang dari mereka, “nampaknya Ki buyut baru saja pulang dari
sawahnya. Aku kira ia ada dirumahnya.” “Terima kasih,“ sahut
Jlitheng. “Ia sedang sibuk memikirkan anak laki-lakinya,“ desis yang
lain. “Kenapa dengan Nugata ?“ bertanya Jlitheng. “Ia sedang
merajuk. Nugata ingin seekor kuda yang bagus, tegar dan besar. Tidak
seperti kuda yang dimilikinya sekarang, yang menurut pendapatnya,
kecil, kurus dan sakit-sakitan.” Jlitheng mengerutkan keningnya.
Katanya, “Seekor kuda yang tegar, besar dan baik, harganya tidak
sedikit.” “Itulah sebabnya Ki Buyut agak prihatin juga. Tetapi
nampaknya ia berusaha untuk memenuhinya.” Jlitheng
mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Jika demikian, apakah
kedatangan kami mungkin akan dapat mengganggu perasaannya yang
memang sedang buram itu?” Tetapi anak-anak muda Lumban Kulon itu
menjawab hampir bersamaan, “Aku kira tidak.“ Jlitheng
mengangguk-angguk, sementara seorang anak muda Lumban Kulon berkata
selanjutnya, “Cobalah. Jika kau memang menganggap penting tentang
dua orang perantau yang memer lukan bantuan itu, datanglah. Jika Ki
Buyut sedang sibuk atau sedang bingung, ia akan dapat minta kalian
untuk datang lain kali.” Meskipun agak ragu-ragu namun Jlithengpun
melanjutkan langkahnya menuju kerumah Ki Buyut di Lumban Kulon
saudara kembar Ki Buyut di Lumban Wetan, tetapi yang dianggap
saudara tua justru karena ia lahir kemudian. Menurut kepercayaan
orang-orang Lumban saudara kembar yang tua akan lahir mengiringi
saudaranya yang muda. Satu dua orang anak muda Lumban Kulon yang
tertarik pada masalah itupun mengikut inya pula, sehingga
iring-iringan anak-anak muda itu menjadi semakin panjang. Tetapi ada
pula diantara mereka yang tidak mengacuhkannya. Bahkan seorang anak
muda yang berkulit kuning bergumam diantara kawan-kawannya,
“Jlitheng anak baik. Tetapi ia memang senang mencari pekerjaan.” “Ia
ingin menolong kedua orang yang dikatakannya perantau itu,“ desis
yang lain. Tetapi seorang anak muda yang gemuk pendek berkata, “He,
kau tahu, kenapa Jlitheng bersusah payah tentang kedua orang itu ?”
“Ah kau. Kau tentu berprasangka aneh. Justru kau sendirilah yang
selalu mengejar gadis-gadis,“ sahut kawannya yang berkulit kuning,
“bukankah kau akan mengatakan bahwa salah seorang dari kedua
perantau itu seorang gadis ?” Anak muda yang gemuk itu tertawa.
Namun seorang kawannya lagi berkata, “Meskipun ia seorang gadis,
tetapi dapat dibayangkan. Seorang gadis kurus, sakit-sakitan, kumal
dan barangkali suka merengek-rengek.” “Jangan menghina,“ potong
kawannya. Namun anak-anak muda yang lain sempat pula tersenyum.
Dalampada itu, selagi anak-anak muda itu masih berkelompok dimulut
lorong, mereka mendengar derap seekor kuda. Dengan tergesa-gesa
mereka menepi meskipun mereka belum melihat kuda itu mendekat.
“Siapa ?” seseorang berteka-teki. “Daruwerdi atau Nugata.” Yang lain
tidak sempat menjawab, karena dar i tikungan nampak seorang anak
muda duduk dipunggung kudanya. Kuda itu mengurangi kecepatannya.
Bahkan kemudian berhenti dimulut lorong. “Apakah yang kalian tunggu
disini ?“ bertanya anak muda dipunggung kuda itu. “Kami akan pergi
kesawah.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun kemudian, “Tetapi
kalian masih saja berkumpul disini.” “Ya. Baru saja kami bertemu
dengan Jlitheng,“ sahut yang lain. “Jlitheng anak Lumban Wetan ?”
“Ya.” “Apa keperluannya ?” Salah seorang anak muda itupun kemudian
menceriterakan tentang dua orang perantau sepertil yang dikatakan
Jlitheng. Anak muda dipunggung kuda itu mengerutkan keningnya. Namun
kemudian katanya, “Seperti kita masing-masing tidak mempunyai
pekerjaan. Biarlah perantau itu mengurus dir inya sendiri.”
Anak-anak muda dimulut lorong itu tidak menyahut. Mereka memandangi
saja ketika kuda itu berderap dan hilang kedalampadukuhan. Anak-anak
muda yang tinggal dimulut lorong itu memandang debu yang masih
mengepul. Salah seorang berdesis, “Kuda itulah yang dikatakan kecil,
kurus, sakit- sakitan.” “Seperti gadis perantau itu.” Yang lain
tidak dapat menahan tertawa mereka. Namun suara tertawa itupun
bagaikan hanyut oleh angin ketika anak muda berkulit kuning itu
berkata, “Apa urusan kita. dengan kuda Nugata. Marilah, kita pergi
kesawah. Sore nanti kita pergi ke bukit gundul. Daruwerdi tentu
sudah menunggu, Kita akan berlatih olah kanuragan.” Anak-anak muda
itupun kemudian bersama-sama menyusuri pematang dan berpisah menuju
kesawah masing- masing. Tetapi sawah di Lumban Kulon dan Lumban
Wetan memang t idak begitu baik. Tanahnya mulai kering dimusim
kemarau. Palawijapun tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahkan dimusim
kering yang panjang sawah mereka benar- benar menjadi padang yang
gersang sejauh mata memandang. Dalam pada itu Jlitheng telah berada
dirumah Ki Buyut di Lumban Kulon. Ki Buyut yang tua, tetapi yang
lahir kemudian dari sepasang anak kembar itu, nampaknya memang lebih
tua. Apalagi ia nampak selalu bersungguh-sungguh, meskipun
sebenarnya hatinya cukup lapang. Kedatangan Jlithengpun mengejutkan
pula. Namun Ki Buyut di Lumban Kulon itu menarik nafas dalam-dalam
ketika ia sudah mendengar maksud Jlitheng untuk menghadap. “Kalian
membuat aku berdebar-debar,“ berkata Ki Buyut di Lumban Kulon.
“Belum lama aku mendengar peristiwa yang terjadi di lereng bukit
itu. Aku kira berita yang kau bawa adalah berita yang berhubungan
dengan kematian dua orang yang dibunuh oleh Daruwerdi. Apalagi aku
mendengar bahwa kaupun pernah dibawa oleh dua orang yang tidak
dikenal.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Teringat sekilas, dua
orang yang terpaksa dibunuhnya pula, dan yang dengan diam- diam
telah dikuburnya sama sekali. Tidak seorangpun yang mengetahuinya,
sehingga yang tersebar hanyalah peristiwa yang terjadi atas
Daruwerdi. “Ki Buyut,“ berkata Jlitheng kemudian, “peristiwa itu
memang telah membuatku hampir pingsan. Tetapi agaknya jika terjadi
peristiwa berikutnya yang berhubungan dengan peristiwa itu, tentu
akan lebih banyak menyangkut Daruwerdi.” Ki Buyut mengangguk-angguk.
Gumamnya seolah-olah kepada diri sendiri, “Karena itu, latihan2 yang
akan diadakan oleh anak-anak itu mungkin akan dapat berakibat
buruk.” Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya, “Kenapa berakibat
buruk Ki Buyut ?” “Orang-orang yang memusuhi Daruwerdi itu
menganggap bahwa kita semuanya telah melibatkan dir i,“ jawab Ki
Buyut. Jalan pikiran orang tua itu memang dapat dimengerti. Namun
Jlitheng mencoba untuk menjelaskan, “Tetapi Ki Buyut. Jika jumlah
kami cukup banyak, maka aku kira, orang- orang jahat itu tentu akan
segan pula untuk berbuat sesuatu. Meskipun kami belum mumpuni, namun
dengan jumlah yang berlipat ganda, mereka tentu akan memperhitungkan
pula.” Ki Buyut menarik nafas panjang. Masih saja ia bergumam
seolah-olah kepada dir i sendir i, “Selama ini tidak pernah terjadi
malapetaka di padukuhan ini. Tetapi kedatangan orang-orang baru itu
membuat aku menjadi cemas.” Jlitheng mengangguk-angguk. Nampaknya Ki
Buyut di Lumban Kulon merasa bahwa keadaan terakhir di padukuhannya
telah memburuk. Kehadiran orang-orang yang dianggapnya asing memang
telah membawa persoalan tersendiri. Termasuk kedatangan Daruwerdi.
“Apakah Ki Buyut juga mencur igai kehadiran Kiai Kanthi dan Swasti?”
pertanyaan itu mulai merayapi hatinya. Namun ternyata Ki Buyut
kemudian berkata, “Jlitheng. Aku tidak berkeberatan dengan maksudmu
dan kawan-kawanmu untuk membantu kedua orang yang kau sebut perantau
itu, jika Buyut Lumban Wetan juga tidak berkeberatan. Tetapi aku
berharap bahwa kehadirannya didaerah iini tidak akan menambah
persoalan-persoalan baru yang dapat menyulitkan keadaan kita
disini.” Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ki Buyut. Kami akan
melihat dengan saksama, apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh
kedua orang itu. Yang seorang sudah terhitung orang tua, sedang yang
satu adalah anaknya, seorang gadis. Aku kira mereka tidak akan
menimbulkan persoalan apapun juga didaerah Lumban ini.” “Sokur lah.
Mudah-mudahan untuk seterusnya kita akan dapat hidup tenang dan
damai. Hidup seperti yang pernah kita alami dari tahun ketahun, dari
masa ke masa. Disaat pergolakan terjadi dipusat pemerintahan,
padukuhan ini tetap tenang. Kami berdua yang kebetulan dilahirkan
kembar dan menjadi tetua di Lumban Kulon dan Lumban Wetan berusaha
sekeras-kerasnya untuk mempertahankan tata cara dan kehidupan yang
ber laku didaerah kecil ini. Setiap perubahan akan dapat menimbulkan
goncangan-goncangan dan bahkan mungkin kekisruhan.” Jlitheng menjadi
berdebar-debar. Yang dikatakan itu adalah sikap Ki Buyut di Lumban
Kulon. Namun Jlitheng tidak berputus asa bahwa untuk selanjutnya
tidak akan dapat ditembus dengan kenyataan dan harapan-harapan bagi
masa datang. Namun sayang sekali, bahwa permulaan itu bersamaan
saatnya dengan goncangan ketenangan oleh orang-orang Kendali Putih
yang telah berusaha menipu Daruwerdi. Namun demikian, ijin yang
diberikan oleh Ki Buyut itu telah membuat Jlitheng berbesar hati. Ia
memang harus berhati- hati untuk mengayunkan langkah berikutnya.
Perubahan- perubahan yang terjadi memang harus dijaga
sebaik-baiknya, agar tidak menimbulkan kekisruhan yang mengganggu,
apalagi menimbulkan pertentangan-pertentangan didalam padukuhan yang
tenang itu. Dalam pada itu, ketika Jlitheng mohon diri kepada Ki
Buyut, maka terdengar derap kuda memasuki halaman. Nugata yang masih
berada di punggung kudanya, mengerutkan keningnya melihat Jlitheng
bersama beberapa orang anak muda duduk dipendapa bersama ayahnya.
Tetapi ternyata bahwa ia tidak tertarik sama sekali dengan persoalan
yang dibawa oleh Jlitheng seperti yang sudah didengarnya diujung
lorong. Sehingga karena itu, maka setelah kudanya diserahkan kepada
seorang pembantunya, ia langsung masuk lewat longkangan tanpa
berpaling lagi. Jlitheng dan kawan-kawannya yang berada dipendapa
itu hanya memandanginya saja. Mereka menyangka bahwa Nugata memang
belum mengetahui persoalannya. Namun mereka-pun mengerti, bahwa
Nugata lebih suka mempersoalkan masalahnya sendiri daripada masalah
orang lain. Karena itu Jlithengpun kemudian meninggalkan rumah Ki
Buyut di Lumban Kulon itu. Ia ingin segera berbuat sesuatu, sehingga
waktunya tidak banyak terbuang. Mulai terbayang di angan-angannya,
sebuah gubug kecil dengan secuwil tanah buat halaman dan kebunnya.
Kemudian orang tua itu tentu memer lukan sebidang tanah yang lebih
luas bagi sawah dan ladangnya. Namun yang penting bagi Jlitheng
adalah bahwa orang tua dan anak gadisnya itu kemudian akan berjuang
menguasai air yang melimpah dilereng bukit itu untuk mengarahkannya
kesawah dan ladangnya yang akan dibuka. Air itu tentu akan dapat
dimanfaatkan pula bagi padukuhan Lumban Kulon dan Lumban Wetan.
Parit yang hanya menampung dan mengalir dimusim hujan itui tentu
akan menjadi basah pula dimusim kering. Sementara itu beberapa orang
anak muda mengikut Jlitheng sampai kesebuah gardu parondan yang
berada didekat padukuhan kecil yang terletak dibatas daerah Lumban
Kulon dan Lumban Wetan. Namun padukuhan itu sendiri masih termasuk
daerah Lumban Wetan. Satu dua anak muda Lumban Kulon masih tetap
bersama mereka. Bahkan salah seorang dari mereka bertanya, “Jlitheng
kapan kau akan mulai dengan kerjamu itu ?” anak muda itu berhenti
sejenak, namun kemudian ia mulai berkelakar, “bukankah anak perantau
itu seorang gadis yang manis?” “He, darimana kau tahu ?“ Jlitheng
pura-pura bertanya. Kawan-kawannya tertawa. Tetapi tidak seorangpun
diantara mereka yang dapat membayangkan wajah gadis itu dengan
tepat. Seperti anak-anak muda Lumban Kulon yang tidak ikut bersama
mereka, maka bayangan tentang gadis perantau itu adalah sangat
buram. Dalam pada itu Jlithengpun kemudian berkata, “Besok aku akan
mulai. Tetapi tentu hanya sekedar di waktu-waktu senggang dan jika
badan tidak terasa penat. Namun demikian, aku tidak sampai hati
melihat kedua orang itu terlalu lama berada di hutan itu. Jika udara
dingin malam hari mulai menyelimuti pepohonan, maka merekapun
menjadi basah oleh embun.” “Apakah laki-laki itu sudah teramat tua?“
bertanya seseorang. “Belum tua sekali. Tetapi tenaganya tentu sudah
jauh susut,“ jawab Jlitheng. Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Salah
seorang dari mereka berkata, “Biarlah aku ikut membantumu
disaat-saat senggang pula.” Jlitheng tersenyum kecut. Ia masih
sempat pula berkelakar. “Tetapi jangan karena gadis yang manis itu.”
Suara tertawa terdengar diantara mereka. Tetapi salah seorang dari
mereka segera berkata, “Aku akan kesawah. Pagi ini kerjaku hanya
berjalan hilir mudik saja. Bukankah hari ini kita belum akan mulai
dengan gubug itu?” Jlitheng menggeleng. Jawabnya, “Tentu belum.”
“Nah, jika kau akan mulai kapan saja, dan jika kau memer lukan aku,
panggillah aku. Aku sudah mengatakan bahwa aku bersedia membantu.”
“Terima kasih,“ jawab Jlitheng. “Sekarang, bukankah kita
masing-masing mempunyai pekerjaan ?“ desis anak muda itu.
“Silahkan,“ sahut Jlitheng, “akupun akan pergi kesawah juga.”
Anak-anak muda itupun kemudian meninggalkan Jlitheng kepekerjaan
masing-masing. Namun mereka telah menyatakan dir i, bersedia
membantu rencana Jlitheng, pada saat Jlitheng akan mulai dan
diwaktu-waktu mereka yang terluang. Yang tinggal digardu itu
kemudian tinggal Jlitheng sendir i. Anak-anak Lumban Kulonpun telah
pergi pula kesawah mereka masing-masing. Pada saat Jlitheng sudah
mulai melangkah untuk pergi kesawahnya pula, tiba-tiba saja ia
mendengar seseorang memanggilnya. Dengan serta merta iapun
berpaling. Dilihatnya Daruwerdi berjalan tergesa-gesa mendekatinya.
Jlitheng bergeser kembali dan duduk dibibir gardu. Sambil tersenyum
ia bertanya, “Kau nampak tergesa-gesa ? Apakah ada sesuatu ?” “Aku
memang mencarimu,“ jawab Daruwerdi. “Mencari aku ?“ Jlitheng
mengerutkan keningnya, “apakah kau mempunyai kepentingan?”
Daruwerdipun kemudian duduk pula disamping Jlitheng. Sejenak ia
termangu-mangu. Namun kemudian ia mulai bertanya, “Apakah benar kau
bertemu dengan dua orang perantau di lereng bukit itu ?” “Ya, kenapa
?“ Jlitheng mengerutkan keningnya. “Seorang laki- laki tua dan
seorang gadis ?” “Ya.” Daruwerdi mengangguk-angguk. Seperti kepada
diri sendiri ia berdesis, “Jadi keduanya masih dibukit itu.” “Kau
pernah melihat mereka ?“ Jlitheng pura-pura bertanya. “Ya. Aku
pernah menolong mereka ketika mereka hampir diterkam oleh seekor
harimau. Tetapi aneh sekali bahwa keduanya justru berada dihutan
yang hampir menelan mereka itu,“ desis Daruwerdi. “Apa yang telah
terjadi ?“ Jlitheng masih berpura-pura. Daruwerdipun kemudian
berceritera tentang seekor harimau yang garang. Untunglah ia
melihatnya dan sempat menolongnya. “Aku kira keduanya telah pergi,“
gumam Daruwerdi. “Aku bertemu dengan mereka ketika aku sedang
mencari kayu.” “Kau juga gila. Kenapa kau mencari kayu dihutan yang
dapat membahayakan dirimu ? Dihutan itu ada beberapa ekor harimau.
Dan kedua orang perantau itu nampaknya juga gila seperti kau.”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Aku sudah
sering sekali mencari kayu dihutan itu. Bukankah kau tahu juga
kebiasaanku itu ? Baru sekali aku bertemu dengan seekor harimau yang
nampaknya akan berbuat jahat. Tetapi aku dapat memanjat. Dan
ternyata harimau itu tidak menunggui aku terlalu lama.” “Apakah
nilai kayu bakar yang kau dapat dihutan itu lebih besar dari nyawamu
?“ bertanya Daruwerdi. Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun
kemudian ia justru bertanya, “Apakah aku akan menukarkan nyawaku
dengan kayu bakar?” Daruwerdi meloncat turun dari bibir gardu sambil
bergumam, “Kau memang anak yang dungu. Sudah tentu bukan begitu
maksudku. Tetapi aku hanya memberimu peringatan, bahwa kau dapat
saja diterkam harimau.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Mudah- mudahan tidak Daruwerdi. Kau membuat aku menjadi cemas.
Selama ini aku tidak pernah memikirkan hal itu. Tetapi tiba- tiba
saja aku menjadi cemas.” “Nah, katakan pula kepada kedua orang
perantau itu. Suruhlah mereka pergi saja dari lereng bukit. Tetapi
kalau mereka memaksa untuk tinggal, suruhlah ia mendekati padukuhan
ini agar mereka tidak akan menyesal.” Jlitheng mengangguk-angguk.
Jawabnya, “Aku akan mencoba memperingatkan mereka, agar mereka
tinggal dibawah bukit saja.“ Daruwerdipun kemudian melangkah pergi
sambil berkata, “Terserah kepadamu.“ lalu, “Sore nanti aku akan
datang kebukit gundul itu. Bukankah anak-anak minta aku member ikan
sedikit petunjuk tentang olah kanuragan ?” “Ya. Aku juga akan
datang. Tetapi apakah aku mungkin akan dapat berkelahi seperti kau?”
Daruwerdi yang sudah melangkah menjauh berhenti sejenak. Sambil
berpaling ia berkata, “Kau memang anak yang paling dungu diseluruh
Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Sampai matipun kau tidak akan dapat
menyadap ilmu sejauh itu. Bahkan seandainya kau mempunyai seorang
guru yang mumpuni sekalipun.” Jlitheng tidak menjawab. Dipandanginya
saja Daruwerdi yang berjalan menjauh. Namun tiba-tiba saja Jlitheng
berlari- lari menyusulnya sambil berkata, “He, Daruwerdi. Apakah
benar Nugata minta kepada ayahnya untuk dibelikan seekor kuda yang
besar dan tegar?” Daruwerdi berhenti. Sambil mengerutkan keningnya
ia bertanya, “Siapa yang mengatakannya ?” “Anak-anak Lumban Kulon.”
“Itu adalah pertanda bahwa mereka tidak mempunyai pekerjaan lain
daripada membicarakan kawan-kawan mereka sendiri. Itu bukan
urusanku. Dan aku tidak akan mengurusnya pula meskipun ia akan
membeli sepuluh atau duapuluh ekor lagi.” Jlitheng berdiri
termangu-mangu. Sementara itu Daruwerdipun melangkah pula menjauh
dan hilang ditikungan. Sepeninggal Daruwerdi J litheng menggeliat
seperti orang yang baru bangun dari tidur yang nyenyak semalam
suntuk. Bibirnya nampak tersenyum, namun tidak sepatah katapun yang
diucapkannya meskipun bagi dirinya sendiri. Sejenak kemudian iapun
dengan tergesa-gesa pula meninggalkan tempat itu. Disepanjang jalan
seolah-olah membayang sekilas di kepalanya beberapa orang anak muda
yang menarik perhatiannya di padukuhan Lumban Wetan dan Lumban
Kulon. Anak-anak muda yang dengan serta merta bersedia membantunya.
Kemudian wajah yang cerah dan terbuka dari anak Ki Buyut di Lumban
Wetan yang bernama Kumbara. Disusul kemudian wajah yang acuh tak
acuh dari putera Ki Buyut di Lumban Kulon. Yang terakhir adalah
wajah Daruwerdi yang tampan dan bersungguh-sungguh. Jlitheng
melangkah semakin cepat. Sambil tersenyum ia berkata kepada diri
sendir i, “Lalu bagaimana dengan wajahku sendiri?” Seperti
kawan-kawanya Jlithengpun kemudian menengok sawahnya. Tetapi tidak
banyak yang dapat dikerjakan. Sawahnya adalah sawah yang kurang baik
seperti pada umumnya sawah di Lumban Wetan dan Lumban Kulon, yang
menggantungkan air pada hujan yang jatuh dimusim basah. Disiang
hari, ketika kawan-kawannya pulang kerumah masing-masing, maka
Jlithengpun justru pergi ke sungai. Kepada seorang kawannya ia
berpesan agar disampaikannya kepada biyungnya, bahwa ia akan mencuci
pakaiannya.” Tetapi setelah sawah menjadi sepi dipanasnya terik
matahari, Jlithengpun telah pergi menyusuri sungai yang hampir tidak
mengalir lagi dan apalagi dibatasi oleh tebing yang tinggi,
mendekati bukit yang berhutan dan menyimpan mata air yang deras.
Tidak ada harapan untuk dapat memanfaatkan sungai kecil yang
dibatasi oleh tebing itu dimusim kemarau. Namun tiba- tiba Jlitheng
berhenti sejenak. Dipandanginya tebing sungai itu serta batu-batu
yang berserakan. Katanya didalam hati, “Untuk sementara air yang
melimpah itu dapat disalurkan lewat sungai kecil ini. Yang perlu
dilakukan kemudian adalah menyekat sungai ini dengan beberapa
bendungan untuk menaikkan airnya kesawah.” Tetapi Jlitheng tidak
yakin bahwa itu adalah cara yang terbaik. Mungkin Kiai Kanthi
mempunyai cara tersendiri. Dengan berlari- lari kecil, Jlitheng
memanjat tebing diantara pepohonan hutan. Setelah meloncati
batu-batu padas yang terjal dan memanjat lereng yang bagaikan
dinding, akhirnya ia sampai kedataran ditepi kolamyang berair
melimpah. “O, marilah ngger,“ Kiai Kanthi mempersilahkan. Jlitheng
mengangguk hormat. Sekilas ia memandang kesekelilingnya. Dilihatnya
Swasti sedang duduk membersihkan buah gayam yang sudah tua dengan
belanga yang dibawanya. Jlitheng mengerutkan keningnya. Meskipun
Swasti t idak mengacuhkannya seperti biasa, tetapi seolah-olah ia
baru dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas saat itu. Tetapi ia
tidak berani terlalu lama memandanginya, karena iapun kemudian
dipersilahkan oleh Kiai Kanthi duduk diatas sebuah batu yang
nampaknya telah disediakan. “Silahkan. Aku memang telah menyediakan
beberapa tempat duduk yang khusus,“ berkata Kiai Kanthi sambil
tersenyum. “Kiai,“ berkata Jlitheng setelah mereka duduk berhadapan,
“aku telah menghadap Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon.
Keduanya menyatakan tidak berkeberatan untuk mengijinkan Kiai
membuat sebuah gubuk kecil dilereng bukit. Namun persoalannya,
setiap orang mencemaskan nasib Kiai berdua, jika seekor harimau
datang menerkam Kiai atau Swasti.” “Aku memang menunggu seekor
harimau yang akan menerkam aku,“ t iba-tiba saja Swasti menggeram.
Jlitheng memandang Swasti sejenak. Tetapi Swasti tetap duduk sambil
membersihkan buah gayam yang akan direbusnya, tanpa mengangkat
wajahnya. Kiai Kanthi tersenyum melihat sikap anak gadisnya. Namun
kemudian katanya, “Kau salah mengerti Swasti. Tentu saja maksud
angger yang memilih mempergunakan gelar Jlitheng ini bukan
benar-benar mencemaskan nasib kita berdua jika ada seekor harimau
yang tersesat kemari. Tetapi bukankah kita tidak akan menepuk dada
dihadapan orang-orang Lumban sambil mengatakan bahwa kami tidak
takut menghadapi harimau, bahkan sepasang sekalipun? Jika ada kesan
demikian, maka orang-orang Lumban tentu akan mencur igai kita,
sehingga maksud kita untuk menemukan tempat baru yang tenang dan
wajar, seperti kehidupan orang banyak dalam hubungan bertetangga
tentu akan menjadi baur lagi. Orang-orang Lumban akan menganggap
kita orang lain, atau orang yang tidak sewajarnya berada dalam
pergaulan diantara mereka.” Swasti masih tetap pada sikapnya. Ia
sama sekali tidak mengangkat kepalanya dan apalagi berpaling.
“Karena itu ngger,“ berkata Kiai Kanthi, “peringatan itu tentu
seharusnya kita perhatikan. Kita harus melakukan sesuatu yang dapat
mereka mengerti tanpa menimbulkan masalah baru.” “Kiai,“ berkata
Jlitheng, “Daruwerdi menyarankan, agar Kiai tinggal dekat dengan
padukuhan, sehingga tidak akan mendapat gangguan binatang buas
dihutan ini. Tetapi aku berpikir, j ika demikian, maka usaha Kiai
tentu akan sedikit terganggu oleh jarak.” “Kau benar ngger. Usahaku
mengalirkan sekaligus menguasai air itu akan menjadi semakin berat,
karena aku tidak dapat menungguinya setiap saat.” “Karena itu Kiai.
Untuk memenuhi keduanya, aku berpendapat, bahwa sebaiknya Kiai
membuat sebuah padepokan kecil dibawah bukit ini. Jarak antara gubug
yang akan dibangun dengan belumbang ini tidak terlalu jauh,
sementara kecurigaan dan kecemasan orang-orang Lumban sudah
berkurang.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dipandanginya Swasti
sejenak. Tetapi ia nampaknya tidak mendengarkan percakapan itu.
“Anak bengal,“ desis Kiai Kanthi lirih. “Selebihnya Kiai,“ berkata
Jlitheng kemudian, “sebelum Kiai berhasil menyusun jalur parit yang
sesuai dengan keinginan Kiai, maka apakah Kiai sependapat, jika kita
memanfaatkan sungai kecil yang hampir ker ing itu untuk menampung
air yang melimpah itu.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Sementara
Jlitheng meneruskan, “Kita akan dapat menyekat sungai itu dibeberapa
tempat dengan bendungan-bendungan kecil dan mengangkat airnya
kesawah dan ladang.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Namun
dalam pada itu terdengar Swasti berkata dengan nada dalam, “Tentu
untuk kepentingan orang Lumban.” Jlitheng mengerutkan keningnya.
Sekilas dilihatnya wajah Kiai Kanthi yang buram. Namun kemudian
orang tua itu tertawa kecil sambil berkata, “Angger. Setiap orang
dilandasi oleh kepentingan diri yang dapat sama, tetapi dapat
berbeda dengan orang lain. Yang berbeda itu kadang-kadang dapat
menimbulkan persoalan jika yang satu memaksakan kepentingannya
sendiri terhadap yang lain. Tetapi yang mempunyai kepentingan yang
samapun dapat juga berbenturan karena mereka berebut kepentingan.”
Jlitheng termangu-mangu mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Tetapi ia
masih tetap menunggu penjelasannya. “Angger. Dengan jujur aku ingin
mengatakan, bahwa penguasaan air yang melimpah itu pertama-tama
tentu karena kepentingan pribadiku. Aku berjalan menyusuri arus
dibawah tanah dengan suatu keinginan untuk menemukan air, sokur
sumbernya, untuk mengaliri suatu padepokan yang akan aku bangun
kemudian. Dan atas petunjuk angger, aku dapat sampai ketempat ini,“
Kiai Kanthi berhenti sejenak, lalu, “Karena itulah maka sampai saat
ini aku masih memimpikan sebuah padepokan yang dikelilingi oleh
tanah persawahan dan ladang secukupnya, yang dialiri oleh air tanpa
henti disegala musim. Bahkan j ika mungkin sebuah belumbang untuk
memelihara jenis-jenis ikan yang dapat menghiasi halaman dan kebun,
tetapi juga dapat menghasilkan bagi hidup kami sehari-hari.”
Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti maksud Kiai Kanthi
sehingga karena itulah maka ia tidak memotong kata-kata orang tua.
“Meskipun demikian ngger,“ berkata Kiai Kanthi selanjutnya, “aku
sudah barang tentu tidak akan dapat ingkar pada suatu kewajiban
untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan lingkungannya. Dalam hal ini,
sudah tentu adalah lingkunganku yang baru. Karena itu, maka aku
tidak berkeberatan untuk menyalurkan air kedalam sungai kecil itu,
setelah melalui padepokan yang masih ada didalam angan- anganku
itu.” Jlitheng masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mohon
maaf Kiai jika ada sesuatu yang kurang sesuai dengan jalan pikiran
Kiai. Tetapi menurut pendapatku, apa yang Kiai katakan itupun
merupakan pemecahan yang baik. Air itu akan mengalir kesawah ladang
disekitar padepokan Kiai, akan dialirkan atau katakan dengan istilah
lain, akan dibuang kesungai kecil itu.” Kiai Kanthi mengerutkan
keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Ya.
Begitulah kira-kira.” “Jadi menurut Kiai, yang manakah yang akan
kita kerjakan lebih dahulu. Menguasai dan mengarahkan arus air itu,
atau membuat suatu padepokan dengan membuka hutan dilereng bukit ini
lebih dahulu.” Kiai Kanthi termenung sejenak. Kemudian katanya masih
sambil tersenyum, “Kau memang cerdik ngger. Aku menjadi bingung
untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi nampaknya aku harus menjawab,
bahwa aku akan berusaha menguasai air lebih dahulu meskipun aku
belum mempergunakannya, karena sawah dan ladang itu memang belum
ada. Tetapi aku ingin mendapat gambaran tentang sawah dan ladang itu
kelak sehingga arus air itu sudah dapat ditentukan, tanpa menunggu
sawah dan ladang itu sendiri.” Jlithengpun tersenyum pula. Jawabnya,
“Kira-kira memang demikian Kiai. Kita akan segera menanam patok.”
Dalam pada itu wajah Swastipun menjadi gelap. Dengan demikian, maka
orang-orang Lumban mungkin akan mempergunakan air itu lebih dahulu
sebelum Kiai Kanthi mempergunakannya. Tetapi Swasti tidak mengatakan
sesuatu. Bagaimanapun juga ia harus mempertimbangkan kesediaan
Jlitheng untuk membantu membuat sebuah gubug yang dapat
dipergunakannya untuk sementara, sebelum mereka dapat membangun
sebuah padepokan yang tentu akan memer lukan waktu yang panjang.
Dalam pada itu, Jlithengpun kemudian minta dir i setelah ia berjanji
untuk datang dihari berikutnya bersama satu dua orang kawannya.
“Besok kita akan mulai Kiai,“ berkata Jlitheng sambil melangkah.
“Terima kasih ngger. Aku senang sekali.” Jlitheng tersenyum. Ketika
ia berpaling memandang Swasti gadis itu sama sekali tidak beringsut.
“Aku minta dir i Swasti.” Tanpa mengangkat wajahnya gadis itu
menjawab, “Terima kasih.” “Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia tidak berkata apapun juga tentang anak gadisnya itu.
Seperti yang dikatakan Jlitheng, maka iapun telah bersetuju dengan
empat orang kawannya yang sudah sempat membantunya untuk datang di
lereng bukit itu menjelang matahari terbit. Namun disore hari,
ketika anak-anak muda berkumpul di dekat bukit padas yang gundul,
Jlitheng tidak mengatakannya kepada orang lain. Kepada keempat
kawannya itu ia berkata, “Jangan terlalu banyak lebih dahulu. Kita
akan menjajagi, apakah yang akan kita kerjakan.” Seperti yang dijanj
ikan, Daruwerdi telah datang pula ketempat itu. Ia bersedia untuk
mengajari anak-anak muda dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan untuk
ber latih dalam olah kanuragan. “Bagaimana ia dapat mengajari
anak-anak muda ini,“ berkata Jlitheng didalam hatinya ketika ia
melihat anak-anak muda yang jumlahnya terlalu banyak. Namun ternyata
bahwa Daruwerdi mempunyai kebijaksanaan tersendiri. Ketika anak-anak
sudah berkumpul ditempat itu, maka iapun berdir i diatas sebuah batu
padas dan mengucapkan sesorah singkat. Ia bersiap memberikan
tuntunan olah kanuragan, tetapi anak-anak muda Lumban harus
bersungguh-sungguh. Anak-anak muda Lumban menjawab saur-manuk.
“Tetapi tidak mungkin untuk ber latih bersama dalamjumlah ini,“
berkata Daruwerdi, “aku akan membagi menjadi tiga kelompok besar.
Kelak, jika kalian akan mempelajari ilmu yang lebih dalam lagi,
kelompok-kelompok itu akan terbagi menjadi semakin kecil.”
Daruwerdipun kemudian membagi anak-anak muda Lumban itu menjadi
kelompok besar yang setiap kali akan diajarinya berurutan kelompok
demi kelompok. Yang kemudian menjadi persoalan bagi Jlitheng,
bagaimana ia dapat berbuat diantara anak-anak muda itu, sehingga
Daruwerdi tidak dapat mengenali tata geraknya. Betapapun ia
memperbodoh diri dalam sikap pura-pura namun ia masih juga cemas,
bahwa Daruwerdi akan dapat melihat, bahwa sebenarnya ia sudah
mempunyai bekal ilmu olah kanuragan. “Mudah-mudahan aku berhasil
mengelabuinya,“ berkata Jlitheng didalamhatinya. Karena itulah, maka
dihar i itu, Jlitheng yang mendapat giliran dihari ketiga, justru
memperhatikan dengan saksama, bagaimana anak-anak muda Lumban yang
belum memiliki bekal sama sekali itu mengikuti tuntunan Daruwerdi.
Kadang-kadang Jlitheng harus menahan senyum melihat gerak-gerak yang
menurut pendapatnya aneh dan lucu. Tetapi ia sadar, bahwa sikap yang
demikian itulah yang harus dilakukannya pula. Ternyata bahwa dihari
itu anak-anak Lumban telah berlatih dengan sebaik-baiknya.
Rasa-rasanya matahari terlalu cepat turun dan hilang dibalik
pegunungan, sehingga waktu rasa- raisanya berjalan terlampau laju.
Jlitheng memperhatikan perkembangan keadaan di Lumban itu dengan
pertimbangan yang dalam. Ia tidak dapat mengkesampingkan pendapat Ki
Buyut di Lumban Kulon, bahwa latihan-latihan itu akan dapat dianggap
oleh orang- orang yang memusuhi Daruwerdi, seolah-olah setiap anak
muda di Lumban telah melibatkan dir i. “Tetapi ini adalah suatu
permulaan dari perubahan- perubahan yang akan terjadi di Lumban,“
berkata Jlitheng kepada dirinya sendiri, “dengan perubahan-perubahan
yang sedikit demi sedikit, maka akhirnya Lumban t idak akan
tenggelam didalam suasana masa lampau tanpa menghiraukan masa
depannya.” Selebihnya Jlitheng memang mengharap, bahwa perhatian
anak-anak muda kebanyakan akan tertuju pada olah kanuragan. Hanya
anak-anak muda dalam jumlah yang terbatas sajalah yang akan
memperhatikan dua orang perantau yang akan membuka sebuah padepokan
dilereng bukit. “Tetapi pada saatnya, semuanya akan diperlukan,“
berkata Jlitheng didalam hatinya, “untuk menguasai air itu diper
lukan semua orang dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.” Didini
hari ber ikutnya, Lumban bersama empat orang kawannya, dengan
diam-diam telah pergi kebukit dengan membawa beberapa macam alat
yang akan dipergunakan untuk membangun sebuah gubug kecil. Tidak
seperti yang biasa dilakukan oleh Jlitheng j ika ia memanjat seorang
diri, melalui tebing tebing curam dan meloncati batu-batu padas,
tetapi ia memilih jalan setapak yang lebih baik agar kawan- kawannya
tidak mengalami kesulitan meskipun dengan demikian perjalanan mereka
akan bertambah panjang. Keempat kawan Jlitheng itu menjadi heran
ketika mereka melihat dan kemudian diperkenalkan kepada Swasti.
Mereka menyangka Swasti adalah seorang gadis perantau yang kusut,
kurus dan sakit-sakitan. Tetapi ternyata Swasti adalah gadis yang
nampak sehat dan segar, meskipun pemalu. “Seperti yang aku janj ikan
kemarin Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “kami akan dapat mulai
dengan kerja ini.” “Terima kasih ngger. Terima kasih. Tetapi apakah
yapg dapat aku pergunakan untuk menyediakan minum j ika kalian haus,
dan apa pula yang ada padaku, jika angger menjadi letih dan lapar.”
Jlitheng tertawa mendengar pertanyaan Kiai Kanthi. Jawabnya, “Tentu
kami mengerti Kiai, bahwa Kiai tidak akan dapat menyediakannya buat
kami. Tetapi sudah barang tentu kami tidak akan mengharapkan sesuatu
yang akan dapat menyulitkan Kiai. Jika Swasti mendapatkan banyak
gayam dan merebusnya, itupun sudah memadai buat kami semuanya,
karena kamipun senang sekali makan gayamrebus.” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Terima kasih
ngger. Ter ima kasih.” Dalam pada itu, maka Jlithengpun segera
mengajak kawan- kawannya untuk mulai bekerja. Yang pertama-tama
mereka lakukan adalah memotong dahan-dahan kecil dan diruncingkannya
ujungnya untuk membuat patok-patok yang akan menandai daerah yang
akan dibangun untuk sebuah padepokan kecil. Dengan patok-patok itu,
maka sudah akan didapat gambaran, apakah yang akan terjadi kelak di
lereng bukit itu. Sehingga dengan demikian, maka arus air yang akan
mengalir lewat padepokan itupun akan dapat pula ditentukan arahnya.
Kiai Kanthipun ikut serta pula membuat patok-patok kayu dan
menyiapkan sebuah rancangan yang mereka perbincangkan bersama sambil
memotong dan meruncingkan patok-patok kayu itu. “Aku kira sudah
cukup untuk kali ini,“ berkata Jlitheng kemudian, “mar ilah kita
turun dan menanam patok-patok ini setelah kita memperhitungkan
segala segi dan kemungkinannya.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Diluar sadarnya ia berpaling kepada Swasti yang duduk dimuka
perapian. Meskipun Swasti tidak berpaling, karena sikapnya yang
seolah- olah acuh t idak acuh, tetapi orang tua itu melihat bahwa
ada sesuatu yang terasa tergetar dihati gadisnya. Karena itu, maka
iapun kemudian mendekatinya sambil berbisik, “Bagaimana pikiranmu
tentang rencana ini ?” “Ayah lebih senang berbicara dengan anak itu
daripada dengan aku.“ sungut gadis itu. “Ah, jangan begitu Swasti.
Bukankah kita berterima kasih atas uluran tangan yang diberikan oleh
angger Jlitheng. Dan kau sudah mendengar pula pengakuannya serba
sedikit, kitapun harus memperhitungkannya pula. Ia bukan anak Lumban
seperti yang lain-lain. Tentu iapun mempunyai perhitungan yang
mapan, bukan sekedar ikut-ikutan seperti anak-anak muda Lumban yang
lain.” “justru karena itu ayah. Mungkin kita akan terjebak pada
rencananya.” “Jangan terlampau berprasangka Swasti. Tetapi bahwa ia
telah mencoba menjajagi kemampuanmu itu ada pula baiknya. Ia tidak
akan menganggap kita sekedar penurut yang tidak mempunyai sikap.”
“Tetapi sampai sekarang ayah benar-benar seorang penurut,“ desis
Swasti. “Itupun telah aku perhitungkan Swasti. Ia lebih banyak
kesempatan bergaul dengan orang-orang Lumban, dengan Ki Buyut dan
anak-anak mudanya. Tentu sikap dan pandangannya mempunyai hubungan
dengan lingkungan yang sedang dihayatinya sekarang.” Swasti tidak
menjawab lagi. Pandangan matanya seolah- olah telah terlekat pada
perapian yang menyala ditungku yang dibuatnya dari batu.
“Hati-hatilah tinggal disini Swasti. Aku akan turun bersama
anak-anak muda itu. Tentu tidak terlalu jauh, karena aku tidak ingin
membuat padepokan didekat salah satu dari padukuhan kecil yang
termasuk Lumban Wetan atau Lumban Kulon.” Swasti mengangguk kecil.
Meskipun ia tidak mengatakannya, tetapi Kiai Kanthi dapat merasakan,
bahwa gadis itu masih belum puas dengan jawaban-jawaban yang telah
diberikannya. Namun Kiai Kanthipun tidak akan memperbincangkan
terlalu panjang. Jlitheng dan kawan-kawannya telah menunggu sambil
mengikat patok-patok kayu yang telah mereka siapkan. Ketika Kiai
Kanthi mendekati anak-anak muda Lumban, maka anak-anak muda itu
sudah selesai mengikat patok-kayu yang akan mereka bawa turun untuk
menelusur i tempat seperti yang sudah mereka perbincangkan. Tempat
yang barangkali paling baik untuk membuat sebuah padepokan. Masih
dilereng bukit, tetapi ditempat yang datar dan agak luas. Dibawah
dataran itu akan dapat dibuka selembar tanah persawahan dan ladang
yang cukup. “Bagaimana dengan Swasti, “Jlithenglah yang kemudian
bertanya. “Biar lah ia merebus Gayam dan barangkali merebus air yang
akan dapat kita minum, meskipun benar-benar hanya air putih,“ jawab
Kiai Kanthi. “Tetapi, apakah itu tidak berbahaya baginya ?“ bertanya
anak muda yang lain. “Ia pandai memanjat,“ jawab Kiai Kanthi, “jika
ada binatang buas mendekat, maka ia akan memanjat dan tidur diatas
dahan sampai binatang itu pergi. Dan aku kira jarang sekali ada
seekor binatang buas yang mendekati manusia jika tidak terpaksa
sekali.” “Seperti yang pernah aku ceriterakan,“ potong Jlitheng.
Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk kecil. Sekilas dipandanginya
Swasti yang sama sekali tidak acuh terhadap mereka yang sibuk dengan
kerja itu, namun ada semacam kekhawatiran untuk meninggalkan gadis
itu seorang dir i. Tetapi ketika anak-anak muda itu melihat ayah
Swasti tidak mencemaskannya, maka merekapun mencoba untuk tidak
mencemaskannya pula. Sejenak kemudian, maka Kiai Kanthi, Jlitheng
dan beberapa orang kawannya telah meninggalkan tempat itu, sementara
Swasti masih tetap duduk ditcmpatnya tanpa berpaling. Beberapa saat
lamanya, Jlitheng dan kawan-kawannya menuruni tebing. Seperti saat
mereka memanjat naik, maka Jlitheng telah memilih jalan yang paling
mudah untuk dilalui, karena kawan-kawannya bukannya orang terlatih
untuk mendaki bukit, menuruni lereng terjal dan ketrampilan
kanuragan yang lain. Tetapi mereka tidak perlu mencari-cari lagi.
Mereka telah membicarakan, bagian yang manakah yang akan mereka
tandai, sebagai tempat yang akan dibangun sebuah padepokan, dan
kelak dibawahnya untuk membuka tanah persawahan dan ladang. Dalam
pada itu, Swasti masih tetap duduk dimuka perapiannya. Ia mencoba
memikirkan masa depan yang belum terbentuk baginya. Namun sebagai
seorang gadis, maka iapun mulai berangan-angan. Sekali-kali
tangannya menyentuh ranting-ranting kecil yang sedang menyala.
Dengan jari- jarinya yang panjang gadis itu kemudian bermain dengan
bara-bara kecil yang pecah menjadi abu yang panas. Tetapi tangan
Swasti agak terbiasa dengan panas, dipadepokannya yang lama. ia
berlatih dengan pasir. Mula- mula pasir ditepian sungai. Jika tidak
seorangpun yang ada ditepian, maka mulailah ia menusuk-nusuk pasir
dengan jari- jarinya. Namun kemudian ayahnya memberikan
latihan-latihan yang lebih berat. Pasir itu dipanasinya dan
latihan-latihan berikutnya dilakukan ditempat tersembunyi. Karena
itulah, maka jari-jari Swasti bukannya jari-jari seorang gadis yang
halus dan lentik. Namun setiap orang tentu mengira, bahwa gadis itu
terlalu banyak bekerja berat, sehingga jari-jar inya menjadi kasar.
“Namun dalam pada itu, Swasti terkejut ketika ia mendengar desir
mendekat. Telinganya yang terlatih segera mengetahui, bahwa
seseorang sedang berjalan kearahnya. Bukan seseorang yang dengan
bersembunyi merunduknya, tetapi seseorang yang berjalan agak cepat.
Swasti selalu ingat pesan ayahnya, agar ia tidak memper lihatkan
kemampuannya kepada orang-orang lain. Bahkan ayahnyapun selalu
berusaha untuk merendahkan diri dalam olah kanuragan. Karena itulah,
maka untuk mempersiapkan diri, ia berpura- pura melakukan sesuatu.
Perlahan-lahan ia berdir i dan melangkah mengambil seonggok kayu
kering untuk dibawa kedekat perapian. Tetapi Swasti kemudian berdiri
tegak sambil menggeliat setelah ia melemparkan seonggok kayu itu.
Bagaimanapun juga gadis itu harus mempersiapkan dir i, karena yang
ada ditempat itu hanyalah ia sendiri. Tanpa ayahnya dan tanpa orang
lain. Swasti tahu pasti dari arah mana suara itu datang. Dan iapun
ternyata telah berdiri menghadap kearah itu. Tetapi Swasti menjadi
berdebar-debar ketika ia melihat seseorang yang menyibakkan
dedaunan. Seseorang yang pernah dilihatnya disaat ia datang lewat
bulak persawahan di Lumban. Kemudian orang itu datang lagi untuk
menolongnya dari kegarangan seekor harimau hampir bersamaan waktunya
dengan kedatangan Jlitheng. Tetapi karena Jlitheng kemudian berhasil
melihat permainan ayahnya yang menekan pusat nadinya, sehingga ia
tidak dapat berbuat banyak, maka Jlitheng sama sekali t idak
menampakkan dir inya pada saat itu “Daruwerdi,“ ia berdesis
didalamhatinya. Sementara itu Daruwerdi telah berdiri
termangu-mangu. Dilihatnya Swasti menundukkan kepalanya dalam-dalam
tanpa menyapanya. “He, bukankah kau gadis perantau itu ?”
Daruwerdilah yang kemudian bertanya. “Ya,“ jawab Swasti pendek.
“Dimana kakek tua itu?” “Pergi.” Daruwerdi mengerutkan keningnya.
Jawab gadis itu terlalu pendek bagi pertanyaan-pertanyaannya. Namun
Daruwerdi mencoba untuk mengerti, bahwa gadis itu tentu jarang
bergaul dan merasa rendah diri. “Kemana kakek tua itu ? Maksudku,
pergi kemana ?” desak Daruwerdi. Swasti termangu-mangu sejenak.
Namun iapun mengerti, bahwa kehadirannya tentu bukannya rahasia lagi
bagi orang- orang Lumban. Ternyata Jlitheng telah membawa kawan-
kawannya dan bahkan ia sudah minta ij in kepada Ki Buyut di Lumban
Wetan dari Lumban Kulon. Karena itu, maka jawabnya kemudian, “Ayah
pergi bersama Jlitheng.” “Dengan Jlitheng,“ Daruwerdi mengerutkan
keningnya, “hanya berdua?” “Tidak,“ jawab Swasti masih terlalu
pendek, sehingga Daruwerdi mendesaknya, “Dengan siapa lagi?”
“Anak-anak muda dari Lumban. Tiga atau empat orang.” Daruwerdi
menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mendengar rencana
Jlitheng untuk membantu orang tua itu membuat sebuah gubug kecil.
“Dan kau sekarang sendiri?“ bertanya Daruwerdi tiba-tiba. Swasti
menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian sambil mengangguk ia menjawab,
“Ya, aku seorang diri.” “Gila. Kau sudah gila. Dan kakek itupun
sudah gila. Bukankah kau hampir mati dikunyah harimau saat kau
datang beberapa hari yang lalu ? Dan sekarang kau ditinggalkan
seorang diri disini?” Swasti kebingungan sejenak. Tetapi jawabnya
kemudian seperti yang sering diucapkan ayahnya, “Aku dapat memanjat.
Jika ada seekor harimau yang datang, aku akan memanjat pohon itu
sampai har imau itu pergi.” “Kalian memang orang-orang yang tidak
mengerti bahaya yang selalu merundukmu. Kedunguanmu itu dapat
membunuhmu.” Swasti tidak menjawab. Tetapi kepalanya tunduk semakin
dalam. Sekali-kali ia memandang ujung kaki Daruwerdi. Meskipun kaki
itu kotor oleh lumpur, namun ia melihat kulit anak muda itu agak
berbeda dengan kebanyakan anak-anak muda Lumban. Kulit Daruwerdi
nampak lebih kuning dan cerah. Tetapi Swasti tidak berani mengangkat
wajahnya dan memandang tubuh Daruwerdi lebih tinggi lagi, selain
mata kakinya. “Sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini,“ berkata
Daruwerdi tiba-tiba, “daripada kalian membuat gubug kecil diantara
daerah perburuan beberapa ekor harimau, kenapa kalian t idak tinggal
saja dekat padukuhan? Apakah Jlitheng tidak pernah mengatakannya
demikian?” Swasti mengangguk kecil. Jawabnya, “Ya.” “Ya ? Ya, apa
yang kau maksud ?” “Jlitheng pernah berkata demikian.” Daruwerdi
menar ik nafas dalam-dalam. Gadis ini agaknya terlalu sulit untuk
diajak berbicara. Karena itu, maka katanya, “Kearah mana kakek itu
pergi?” Swasti termangu-mangu sejenak. Namun tatapan matanya
mengarah ke semak-semak yang tersibak. “Kesana maksudmu?” desak
Daruwerdi. Swasti mengangguk kecil. Daruwerdi tidak menunggu lebih
lama lagi. Tanpa, minta diri, iapun segera meloncat menyusup kedalam
gerumbul-ge- rumbul perdu diantara pepohonan hutan, dan kemudian
menghilang. Sejenak Swasti termangu-mangu. Daruwerdi mempunyai
kelainan dengan anak-anak muda di Lumban. Sikapnya, kata- katanya
dan pakaiannya. “Jlitheng juga bukan anak Lumban,“ tiba-tiba saja
Swasti memperbandingkan keduanya diluar sadarnya, “tetapi Jlitheng
telah luluh dan menyatu dengan anak-anak muda Lumban, sedangkan
Daruwerdi nampaknya masih tetap memelihara jarak itu.“ Swasti
mengerutkan keningnya sejenak. Kemudian ia bertanya kepada diri
sendir i, “Tetapi apakah Daruwerdi mengenal siapakah Jlitheng
sebenarnya ?” Namun dalam pada itu, ketika Swasti menyadari apakah
yang sedang diangan-angankan, wajahnya terasa menjadi panas.
Meskipun tidak ada seorangpun, tetapi rasa-rasanya setiap lembar
daun memandanginya sambil tersenyum. Seekor burung yang berkicau
diatas dahan yang rendah rasa-rasanya telah menyindirnya dengan lagu
yang nyaring. “Pergi, pergi kau,“ bentak Swasti sambil melempar
burung itu dengan kerikil. Burung itu meloncat kedahan yang lebih
tinggi. Tetapi Swasti tidak menghiraukannya lagi ketika burung itu
kemudian berkicau lebih keras. Sementara itu Daruwerdi telah
menuruni tebing bukit itu dengan tergesa-gesa. Dengan mudah ia dapat
mengikuti arah Jlitheng bersama Kiai Kanthi dan beberapa orang anak
muda Lumban. Sehingga karena itu, maka sejenak kemudian Daruwerdi
telah menemukannya. Ketika Daruwerdi muncul dar i balik gerumbul,
maka Jlithengpun menyapanya, “He, marilah Daruwerdi. Kami sudah
mulai.” Daruwerdi tidak segera menjawab. Tetapi diperhatikannya
tempat disekitarnya. Ia melihat beberapa batang patok telah
ditancapkan diantara pepohonan hutan. “Jadi, kalian akan tetap
membuat gubug itu disini ?“ bertanya Daruwerdi. “Ya. Tempat ini
sudah cukup rendah. Jika Kiai Kanthi ingin pergi kepadukuhan, maka
ia tinggal menuruni beberapa lapis padas.” “Tetapi tempat ini tetap
merupakan tempat yang berbahaya. Setiap kali seekor harimau akan
lewat.“ Daruwerdi berhenti sejenak. Tetapi ketika Kiai Kanthi akan
menjawab. Daruwerdi mendahului, “Kau tentu akan mengatakan bahwa kau
dan gadis itu dapat memanjat. Dan barangkali kau akan mencer
iterakan sebuah dongeng tentang seekor harimau yang terasing karena
menerkamseseorang.” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun iapun
tersenyum sambil berkata, “Ya, ya ngger. Aku memang akan berkata
begitu.” “Tetapi saat kau datang, hampir saja kau diterkam seekor
harimau j ika aku tidak datang menolongmu.” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Katanya tesendat-sendat, “Benar ngger. Dan aku
tidak akan pernah melupakan apa yang telah pernah terjadi itu.”
“Tetapi kau tidak memperbaiki kesalahan yang pernah kau lakukan.
Apakah untungmu membuat gubug disini ? Apakah tidak lebih baik jika
kau tinggal dipadukuhan. Kau dapat memilih ,apakah kau ingin tinggal
di Lumban Wetan atau di Lumban Kulon.” Kiai Kanthi termangu-mangu.
Namun katanya kemudian, “Angger Daruwerdi. Aku tidak mempunyai
secabik tanahpun didaerah Lumban. Disini aku akan berusaha untuk
membuka hutan tanpa merugikan siapapun juga, selain belas kasihan
angger Jlitheng dan kawan-kawannya, yang bersedia membantu kami.”
“Kau orang aneh kakek. Kau perantau yang bernasib kurang baik.
Tetapi kau menganggap dirimu seorang kesatria yang sungkan menerima
belas kasihan orang lain. Bukankah belas tenaga dan sebidang tanah t
idak banyak bedanya?” Kiai Kanthi menundukkan kepalanya. “Pikirkan
Kakek. Ketika aku bertemu dengan kau untuk pertama kali, aku sudah
mengatakan, bahwa kau terlalu mementingkan dirimu sendir i. Harga
dir i atau mungkin kepuasan untuk mengalami suatu pederitaan seperti
yang sering dilakukan oleh para petapa dengan gegayuhan tertentu.
Tetapi apakah kau pernah memikirkan anak gadismu yang malang itu ?”
Kiai Kanthi tidak segera menjawab. Namun kepalanya terangguk-angguk
kecil. “Tetapi terserah kepadamu. Pendidikan seseorang kadang-
kadang sulit dimengerti oleh orang lain, termasuk pendirianmu.
Jlitheng dan kawan-kawannya telah menaruh belas kasihan kepadamu,
tetapi tanpa mempergunakan otaknya. Mereka sudah berbangga, bahwa
mereka dapat menolongmu. Tetapi mereka tidak memikirkan kelanjutan
hidupmu dan hidup anak gadismu itu.” Kiai Kanthi masih menunduk.
Jlitheng dan kanwan- kawannya hanya berdiam dir i sambil
mengangguk-angguk kecil. Tetapi Daruwerdi tidak tinggal lebih lama
lagi. Sekali lagi ia berkata, “Pikirkan. Jangan terlalu bodoh dengan
memercayai ceritera tentang seeekor harimau yang terasing. Jangan
membiarkan dirimu merasa bahagia oleh pender itaan hidup dan
kesulitan rohaniah yang dialami anak gadismu. Orang- orang masih
akan member i kesempatan.” Daruwerdi tidak menunggu Kiai Kanthi
menjawab. Iapun kemudian meninggalkan Kiai Kanthi yang berdiri
termangu- mangu. Salah seorang kawan Jlithenglah yang memecahkan
kesenyapan. “Aku kira, apa yang dikatakan oleh Daruwerdi itu benar.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mungkin benar. Tetapi kita
sudah mulai dengan kerja ini. Sebaiknya kerja ini kita lanjutkan.
Kelak jika ada pertimbangan lain dari Kiai Kanthi terserah sajalah.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia menyahut, “Aku
kira demikian ngger. Aku ingin meneruskan kerja ini sampai pada
suatu saat hatiku menjadi teguh atau sama sekali aku ingin merubah
sikapku ini.” Kawan-kawan Jlithengpun tidak menyahut. Bagi mereka,
persoalan itu segera mereka lupakan. Yang mereka lakukan kemudian
adalah menanam patok-patok sesuai dengan tempat-tempat yang ditunjuk
oleh Jlitheng setelah dibicarakan dengan Kiai Kanthi “Nah,“ berkata
Jlitheng kemudian, “dengan patok-patok itu kita akan mendapat
gambaran, bagaimanakah ujud padepokan kecil yang akan Kiai bangun di
dataran yang tidak terlalu luas dilereng bukit ini.” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku tidak dapat memimpikan bahwa
seumurku padepokan itu sudah akan siap.” “Kenapa tidak Kiai. Disini
Kiai tidak begitu sulit mencari batu untuk dinding halaman padepokan
Kiai, meskipun harus mengumpulkan dari daerah yang agak luas
disekitar tempat ini. Rumah dan kelengkapannya akan dibangun dengan
kayu yang melimpah dihutan ini meskipun bukan kayu yang terbaik,“
sahut Jlitheng. Kiai Kanthi tidak menyahut. Ia hanya
mengangguk-angguk kecil. Namun ia merasa betapa unsur kemanusiaan
masih nampak jelas di padukuhan Lumban. Bahkan Jlitheng, yang bukan
orang Lumbanpun adalah seorang yang sangat baik bagi sesama.
Meskipun demikian Kiai Kanthi tidak menutup pengamatannya yang
kadang-kadang tersembul dipermukaan pertimbangannya. Bukan mustahil
bahwa orang-orang Lumban yang berbuat baik kepadanya, termasuk
Jlitheng itu tidak mempunyai pamrih apapun juga. “Itu sudah wajar,“
berkata Kiai Kanthi, “tetapi jika pamr ih itu akan saling
menguntungkan, maka sudah barang tentu, tidak akan ada keberatan
apapun juga bagiku.” Dalam pada itu, maka yang dikerjakan oleh
Jlitheng dan kawan-kawannya pada hari itu adalah baru menanam
beberapa buah patok. Mereka masih akan menunggu Jiltheng dan Kiai
Kanthi yang akan memperhitungkan pengendalian air, sehingga yang
akan mereka kerjakan dikeesokan harinya, barulah membuat patok-patok
juga. Setelah Kiai Kanthi dan Jlitheng mendapat kepastian arah air
yang melimpah dari belumbang di lereng bukit itu, maka mereka baru
akan menanam patok-patok berikutnya. Sebelum Jlitheng dan
kawan-kawannya kembali ke padukuhan, maka mereka masih sempat
singgah sejenak dipinggir belumbang untuk mendapat beberapa buah
gayam yang direbus oleh Swasti. Sementara itu, ketika kawan-kawannya
sedang sibuk makan jamuan yang terasa nikmat sekali itu, Jlitheng
mendekati Kiai Kanthi sambil berbisik, “Daruwerdi nampaknya tidak
setuju Kiai tinggal disini.” “Karena belas kasihan ngger. Angger
Daruwerdi tidak sampai hati melihat salah seorang dari kami diterkam
dan dikoyak oleh seekor harimau atau oleh anj ing hutan sekalipun.”
“Kiai percaya bahwa itu alasannya?“ bertanya Jlitheng. “Jika bukan
karena belas kasihan, apakah angger Jlitheng melihat alasan lain?“
bertanya Kiai Kanthi. “Aku melihat Kiai. Bukankah dibawah tempat ini
beberapa saat yang lalu, Daruwerdi telah membunuh dua orang Kendali
Putih.” “Bukankah itu bukan maksud angger Daruwerdi. Justru
orang-orang Kendali Putihlah yang telah berusaha menipu angger
Daruwerdi. Bukankah begitu menurut ceriteramu?” “Benar Kiai.
Daruwerdi telah membunuh kedua orang Kendali Putih yang telah
berusaha menipunya. Tetapi bahwa pertemuan antara Daruwerdi dan
orang-orang Pusparur i itu memang direncanakan ditempat itu. Tetapi
yang datang adalah orang-orang Kendali Putih yang mengaku sebagai
orang dari perguruan Pusparuri.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Dipandanginya sekilas anak-anak muda Lumban yang sibuk mengunyah
gayam dan meneguk air putih dari bumbung-bumbung bambu. Namun
nampaknya air putih itu demikian segarnya, melampaui air sere hangat
dengan legen atau gula kelapa. “Angger,“ berkata Kiai Kanthi
kemudian, “apakah dengan demikian justru ada kesengajaan pula angger
memilihkan tempat bagi kami dilereng itu, agar kami langsung atau
tidak langsung telah menjadi pengawas yang akan dapat membantu
tugas-tugas angger yang belumaku ketahui.” “Ah,“ tiba-tiba saja
Jlitheng tersenyum, “bukan maksudku Kiai. Tetapi jika terjadi
demikian, sudah tentu aku wajib mengucapkan terima kasih.” “Tentu
aku t idak berani berbuat demikian ngger. Jika pada suatu saat
angger Daruwerdi mengetahui, maka nasibku akan menjadi sangat
buruk.” Tiba-tiba saja meledak suara tertawa Jlitheng tanpa dapat
ditahankannya lagi, sehingga kawan-kawannya berpaling kepadanya
dengan heran. “Apa yang kau tertawakan ?“ bertanya salah seorang
kawannya. Jlitheng memaksa diri untuk berhenti tertawa. Jawabnya
kemudian, “Kiai Kanthi telah menceriterakan pengalamannya yang lucu
dikala mudanya.” “Apa ?“ bertanya kawan-kawannya sekaligus. Bahkan
Swasti yang duduk agak jauhpun telah memandangi ayahnya dengan kerut
dikeningnya. “Apa yang sudah diceriterakan ayah,“ bertanya Swasti
didalam hatinya. Tetapi Jlitheng menggeleng. Katanya, “Tidak. Kiai
Kanthi tidak bersedia mengulangi ceriteranya.” “Kau cer iterakan,“
minta kawan-kawannya. Tetapi Jlitheng justru menjadi bingung. Ia
tidak tahu, ceritera apa yang dapat dikatakannya kepada kawannya.
Namun Jlitheng t idak kehilangan akal. Katanya, “Nanti sajalah jika
kita pulang.” Kiai Kanthi sendiri masih tersenyum. Agaknya Jlitheng
telah menertawakannya ketika ia mengatakan, bahwa Kiai Kanthi tidak
berani berbuat sesuatu karena takut kepada Daruwerdi. Meskipun
demikian, meskipun pembicaraan antara Kiai Kanthi dan Jlitheng itu
diucapkan sambil bergurau, namun ternyata hal itu telah menjadi
perhatian keduanya dengan bersungguh-sungguh. Dibawah dataran
dilereng bukit itulah, telah terjadi perjanjian antara Daruwerdi
dengan orang-orang Pusparuri yang membicarakan masalah sebuah pusaka
yang tidak diketahui dengan pasti. Ketika kemudian Jlitheng dan
kawan-kawannya meninggalkan tempat itu, dengan bersungut-sungut
Swasti bertanya kepada ayahnya, “Apa yang ayah katakan kepada anak
muda itu?” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak
mengatakan apa-apa.” “Tentu tidak. Anak muda itu tertawa dengan
serta-meria.“ desak Swasti. Kiai Kanthi terpaksa menceriterakan apa
yang telah dipercakapkan dengan Jlitheng. Akhirnya katanya, “Yang
penting Swasti, agaknya Jlitheng mempunyai pertimbangan tersendiri
atas letak padepokan itu justru karena sikap Daruwerdi.” Swasti
menarik nafas dalam-dalam. Sambil duduk bersandar sebatang pohon ia
memandang kekejauhan. Seakan-akan ada sesuatu yang dicarinya.
“Bagaimana pertimbanganmu Swasti ?“ bertanya ayahnya sambil duduk
didekatnya. “Anak muda yang bernama Daruwerdi tadi datang kemari,“
tiba-tiba saja Swasti berdesis. “O,“ sahut ayahnya, “dan kau
menunjukkan arah kerja kami ? Ia juga datang menemui aku.” “Ya,“
sahut Swasti. “Apa saja yang dikatakannya kepadamu?” “Ia menaruh
belas kasihan. Nampaknya ia seorang yang sangat memperhatikan
kesulitan orang lain,“ Swasti seolah- olah bergumam kepada diri
sendiri. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Ia memang
menganjurkan agar kami pindah kepadukuhan Lumban. Tetapi seperti
yang aku katakan, Jlitheng mempunyai perhitungan lain atas sikap
Daruwerdi itu. Bukan karena belas kasihan tetapi berdasarkan atas
kepentingannya.” “Kenapa ia berprasangka buruk?“ tiba-tiba saja
Swasti bertanya. Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Tetapi iapun
kemudian menjawab, “Bukan sekedar prasangka, Swasti. Jlitheng
mempunyai perhitungan tersendir i. Aku tidak mengatakan bahwa
perhitungannya itu tentu benar.” “Nampaknya ayah sudah berada
dibawah pengaruh anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu.”
“Bukan begitu Swasti. Tetapi ia telah bersedia menolong kita. Ia
sudah berbuat banyak.” “Tetapi apakah kira-kira yang akan dilakukan
seandainya aku tidak dapat mengimbangi ilmunya. Bahkan seandainya
ayah berada dibawah kemampuannya ?” “Sudah aku katakan Swasti. Dalam
keadaan yang seakan- akan berkabut ini, kita memang saling
mencurigai. Yang dilakukan adalah sekedar penjajagan. Bukan
benar-benar bermusuhan.” Swasti tidak menyahut. Tetapi wajahnya
nampak menjadi buram. Sekilas terbayang kedua anak muda yang
sebenarnya merupakan orang lain bagi padukuhan Lumban itu. Seolah-
olah semakin lama menjadi semakin jelas sifat dan tingkah laku
keduanya. Dalam pada itu, Daruwerdi yang telah berada dirumahnya,
duduk termenung sambil memandangi cahaya matahari yang seolah-olah
masih bermain dihalaman meskipun sudah menjadi semakin condong.
Sebentar lagi ia harus pergi ke bukit gundul untuk member ikan
sekedar tuntunan kepada anak-anak muda Lumban dalam olah kanuragan.
“Pekerjaan gila yang sia-sia,“ gumamnya. Tetapi Daruwerdi tidak
dapat menolak. Bahkan iapun mengharap, bahwa dengan demikian,
perhatian beberapa pihak diluar padukuhan Lumban terhadapnya, akan
menjadi baur oleh sikap anak-anak muda Lumban. “Tetapi yang aku
lakukan itu tentu merupakan sekedar lelucon bagi orang-orang Kendali
Putih,“ desis Daruwerdi. Sejenak Daruwerdi masih merenung. Namun
sejenak kemudian, iapun bangkit sambil bergumam, “Aku harus pergi ke
bukit gundul. Tetapi malam nanti aku harus dapat bertemu dengan anak
itu. Ia harus memberitahukan kepada orang- orang Pusparuri, hutan
itu sudah dihuni orang.” Sambil berjalan per lahan-lahan Daruwerdi
masih berangan- angan. Tidak ada niatnya untuk menyingkirkan kedua
orang perantau itu dengan kekerasan. Meskipun mereka berada di hutan
itu, tetapi nampaknya mereka tidak berbahaya. “Meskipun demikian,
aku harus berhati-hati. Aku harus menemukan tempat lain yang lebih
baik untuk berbicara dengan orang-orang Pusparuri atau orang-orang
dari pihak manapun.” Namun Daruwerdi mengerutkan keningnya ketika
tiba-tiba saja tumbuh pertanyaan, “Bagaimana j ika orang-orang
Pusparuri menemukan perantau itu dan bertindak langsung sebelum aku
menemuinya?” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, “Aku
tidak peduli. Aku sudah memperingatkan kedua orang gila itu agar
mereka menyingkir. Tetapi hutan itu cukup luas. Jika orang-orang
Pusparuri atau pihak manapun juga tidak gila seperti kedua perantau
itu, maka akan dapat diatur tempat lain yang lebih baik.” Sementara
itu, Jlithengpun telah turun pula bersama kawan-kawannya. Mereka
masih sempat pulang sejenak, sebelum merekapun pergi ke dekat bukit
padas yang gundul untuk berlatih olah kanuragan. Namun dalam pada
itu, sebenarnyalah bahwa Lumban t idak terlepas dari pengawasan
orang asing. Justru karena kehadiran orang yang kemudian menetap di
Lumban, maka ketenangan padukuhan itu benar-benar telah terganggu.
Dalam pada itu, selagi Daruwerdi sibuk dengan anak-anak muda di
dekat bukit padas, dua orang yang asing telah mendekati padukuhan
Lumban. Dari kejauhan mereka melihat dataran di bawah bukit yang
dihampari oleh tanah persawahan yang nampaknya tidak begitu subur.
“Mereka semuanya tidak pernah kembali,“ desis salah seorang dari
keduanya. “Daerah ini nampaknya seperti neraka. Tanah gersang, bukit
padas yang gundul. Namun dibelakang nampak bukit yang hijau karena
hutan yang barangkali cukup lebat.” Kedua orang itu termangu-mangu
sejenak. Dipandanginya dataran yang luas terbentang diantara bukit
padas yang gundul dan bukit yang berwarna hijau. Tetapi dataran itu
sendiri nampaknya seperti wajah orang yang sakit-sakitan. Pucat dan
gersang. “Kita akan melihat-lihat keadadaannya,“ berkata salah
seorang dari mereka. “Nampaknya padukuhan itu memang menyimpan
kekuatan yang berbahaya. Tentu kita tidak dapat mengabaikannya. Kau
dengar bahwa orang-orang Kendali Putih yang pernah menginjakkan
kakinya kedaerah ini juga tidak pernah kembali ?” “Tetapi mereka
memang tidak berjanj i untuk datang kemari. Berbeda dengan kawan
kita yang memang sudah bersepakat untuk mengadakan sebuah
pembicaraan penting, percaya, bahwa orang-orang Kendali Putih dengan
sengaja telah melakukan kejahatan terhadap orang Pusparuri.”
Semuanya tidak jelas, Kita harus menyelidikinya. Tetapi kita harus
berhati-hati. Mungkin kita akan dapat mendengar serba sedikit
apabila kita sudah berada ditempat ini untuk beberapa hari.” “Sulit
untuk menghubungi orang-orang didaerah kecil. Setiap orang baru akan
segera dikenal dan karena peristiwa- peristiwa sebelumnya, akan
dengan mudah dicur igainya pula.” “Ada dua cara. Kita menanggalkan
pakaian kita dan menjadikan dir i kita sebagai pengemis, atau kita
dengan diam- diam mengambil satu atau dua orang dan membawanya
kehutan dilereng bukit itu. Kita memaksanya untuk berbicara,
kemudian mereka kita bunuh tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya.“
“Aku condong untuk memilih yang kedua. Itu lebih cepat. Aku kira j
ika terjadi sesuatu didaerah ini, maka setiap orang akan segera
mengetahuinya.” Keduanya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika
demikian, marilah kita bersembunyi dihutan dilereng bukit itu. Kita
menunggu seseorang yang mungkin akan berguna bagi kita.” “Tetapi,
apakah kita akan melalui padukuhan-padukuhan yang tersebar itu
menuju kehutan dilereng bukit itu?” Kawannya termangu-mangu. Namun
kemudian katanya, “Sebentar lagi matahari akan turun. Kita akan
melanjutkan perjalanan setelah gelap.” Keduanyapun kemudian berhenti
dan duduk dibawah sebatang pohon yang berdaun lebat menunggu
matahari tenggelam. Dalam pada itu, ketika matahari terbenam di
ujung Barat anak-anak Lumban telah kembali dari bukit padas yang
gundul. Satu dua orang diantara mereka sempat singgah kesungai kecil
yang hanya sekedar mengalir membasahi pasir dan bebatuan. Namun
dipinggir sungai itu terdapat sebuah belik kecil yang berair jernih.
Sementara anak-anak Lumban itu membersihkan dir i, maka dua orang
yang menunggu gelap itupun telah mempersiapkan diri. Ketika bintang
dilangit mulai nampak mereka-pun mulai melanjutkan perjalanan
menyusuri jalan menuju kebukit yang menjadi kehitam-hitaman di
malamhar i. Adalah suatu kebetulan, bahwa malam itu Jlitheng t idak
berniat untuk naik kebukit berhutan yang mempunyai mata air yang
melimpah itu. Ia berjanji kepada Kiai Kanthi dan Swasti untuk datang
dikeesokan harinya bersama beberapa orang kawan. Sehingga malam itu,
Jlitheng berada diruruahnya sampai menjelang tengah malam. Kemudian
iapun minta diri kepada biyungnya untuk pergi kegardu. Digardu
beberapa orang kawannya telah mendahuluinya. Tetapi ketika ia
sampai, ia masih sempat ikut makan ketela pohon rebus yang dibawa
oleh salah seorang kawannya. “Aku mencabut tiga batang dihalaman
belakang,“ desis kawannya yang membawa ketela pohon itu. Jlitheng
mengangguk-angguk sambil mengunyah. Namun tiba-tiba ia berkata, “Aku
tidak melihat Kuncung,“ desis Jlitheng. “Ya. Biasanya ia sudah
berada digardu sejak sore,“ sahut kawannya. “Mungkin ia sakit,“ yang
lain menyahut, “jika t idak ia tentu datang, ia suka sekali bicara
dan sedikit sombong. Tetapi menyenangkan. Tanpa Kuncung rasa-rasanya
memang sepi.” “Kita tunggu beberapa saat,“ desis Jlitheng. “Jika ia
tidak datang?“ bertanya kawannya. Jlitheng termangu-mangu. Gumamnya,
“Apa kita akan menengok kerumahnya? Itu akan mengejutkannya dan
mengganggu seluruh keluarganya.” “Jadi ?” “Tentu kita akan menunggu
sampai besok. Besok pagi-pagi, salah seorang dari kita yang akan
pulang kerumah, singgah sejenak untuk menanyakannya, kenapa ia tidak
datang.” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dan perhatian merekapun
kembali kepada ketela pohon ddtengah-tengah gardu itu. Dalam pada
itu, dirumah anak muda yang bernama Kuncung itu telah timbul
kegelisahan. Sejak sore ia telah pergi. Sampai tengah malam ia belum
kembali. Biasanya, jika ia akan pergi ke gardu, anak itu tentu makan
lebih dahulu. “Tanyakan ke gardu diujung desa,“ berkata ayahnya
kepada adik Kuncung. “Aku takut,“ desis anak itu. “Marilah, aku
antar ke gardu. Tetapi kaulah yang bertanya kepada kawan-kawan
Kuncung.” Diantar oleh ayahnya adik Kuncung telah pergi ke gardu.
Ternyata bahwa pertanyaan adik Kuncung itu telah mengejutkan
kawan-kawannya. Salah seorang dari mereka menjawab, “Ia tidak datang
kemari. Justru kami menunggunya.” “Ia belum pulang. Ia pergi kebukit
padas yang gundul itu. Tetapi sampai sekarang ia t idak kembali.”
Kawan-kawannya termangu-mangu. Sejenak mereka saling berpandangan.
“Tolonglah,“ berkata adik Jlitheng, “bantulah mencari kakang
Kuncung. Ibuku menjadi sangat cemas.” Jlitheng mendekati anak itu
sambil menepuk pundaknya. Katanya, “Kami akan mencobanya.
Mudah-mudahan kami menemukannya.” “Apakah anak itu dibawa wewe yang
kehilangan anak?“ desis salah seorang dar i anak-anak itu.
Pertanyaan itu telah membuat beberapa orang kawannya menjadi semakin
berdebar-debar. Seorang yang memang penakut telah mendesak dan
berdiri diantara kawan-kawannya dengan kaki gemetar. Dalam pada itu
J litheng berkata kepada adik anak yang seakan-akan menghilang itu,
“Pulanglah. Kami akan minta tolong kepada orang-orang padukuhan
untuk mencari kakakmu.” Dengan cemas anak itupun memandang wajah
Jlitheng. Sementara ayahnya termangu-mangu dikegelapan. Namun
akhirnya ayahnyapun mendekat. Dengan gagap ia berkata, “Tolong
ngger.” Hanya itulah yang terlontar dari mulutnya. Namun nampak
kegelisahan yang sangat telah mencengkam wajahnya. Jlitheng
memandang orang tua itu. Orang itu pendiam yang dalam keadaan
sehari-hari memang sulit untuk berbicara diantara banyak orang.
Namun tiba-tiba ia sudah dihadapkan pada suatu keadaan yang membuat
hatinya sangat gelisah. Sepeninggal orang tua itu Jlitheng menjadi
bingung. Apalagi ketika ia melihat kawan-kawannya yang bahkan telah
kehilangan akal. “Apa yang dapat kita lakukan ?“ bertanya salah
seorang dari mereka. “Kita akan mencarinya. Kita membawa obor,
tampah, kentongan dan pisau. Kita cari Kuncung kemana saja. Mungkin
ia memang dibawa oleh kuntilanak.” Kawan-kawannya termangu-mangu.
Namun ternyata mereka t idak mempunyai jalan lain untuk mencarinya.
Namun dalam pada itu, Jlitheng mempunyai pertimbangan lain. Jika
dalam keadaan demikian Daruwerdi tidak berusaha menolong anak yang
hilang itu, maka ia akan berbuat sendir i, karena menurut
perhitungan Jlitheng, Kuncung telah mengalami nasib seperti yang
pernah dialami. Tetapi agaknya Kuncung tidak akan dapat membebaskan
dirinya sendir i j ika benar ia jatuh ketangan orang-orang yang
ganas seperti orang-orang Kendali Putih. Sejenak kemudian padukuhan
Lumban Wetan telah menjadi ramai. Beberapa orang dalam
kelompok-kelompok kecil berputar-putar dipadukuhan. Mereka berjalan
ber iring mendekati tempat-tempat yang dianggapnya wingit. Kuburan-
kuburan pohon-pohon besar dan gerumbul-gerumbul yang lebat Dalam
hiruk pikuk itulah Jlitheng hilang dari antara kawan- kawannya.
Tetapi tidak seorangpun yang menghiraukannya, karena setiap kelompok
mengira bahwa Jlitheng berada dikelompok yang lain. Hiruk pikuk itu
akhirnya terdengar pula dari padukuhan- padukuhan yang lain, bahkan
sampai ke Lumban Kulon, sedangkan Daruwerdi yang tidur nyenyakpun
telah terbangun. “Ada apa ?” anak muda itu bertanya kepada
orang-orang yang sudah turun ke jalan. “Seorang anak Lumban Wetan
telah hilang. Mungkir dibawa wewe yang kehilangan anaknya. Mereka
sedang mencari berkeliling padukuhan. Bahkan ada yang pergi keluar
padukuhan,“ jawab salah seorang dari mereka yang berada dijalan.
Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Sekilas terbersit pula dugaannya,
seperti yang diperhitungkan oleh Jlitheng. Kuncung tentu sudah
hilang, karena ia bertemu dengan orang-orang yang asing bagi
padukuhan yang tenang itu. “Jarang sekali seseorang diterkam harimau
didaerah ini,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya, “kecuali jika
mereka sengaja mengumpankan diri kehutan seperti kedua orang
perantau itu atau seperti Jlitheng yang sering mencari kayu dihutan
itu meskipun mereka terlalu percaya kepada dongeng tentang harimau
yang terasing itu.” Ketika Daruwerdi masuk kedalam biliknya, maka ia
memutuskan untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. “Seandainya
benar Kuncung ditangkap oleh orang-orang yang asing bagi padukuhan
ini, maka ia tentu akan mengatakan apa yang diketahuinya tentang
kematian orang- orang Pusparuri dan Kendali Putih dipinggir hutan
itu. Seandainya aku tidak keluar mencarinya, maka akulah yang
agaknya akan dicari oleh mereka karena ceritera Kuncung,“ gumam
Daruwerdi kepada dir i sendiri. Namun tiba-tiba saja keningnya
berkerut, “Tetapi dua orang yang menangkap Jlitheng itu tidak pernah
datang kepadaku ? Apakah ada pertimbangan lain. bahwa mereka sedang
menyiapkan kekuatan yang lebih besar sehingga yang datang sekarang
adalah orang-orang yang yakin akan dapat mengalahkan aku ?”
Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia memutuskan untuk
keluar dari rumahnya dan melihat keadaan agar ia tidak terjebak
didalam rumahnya yang sempit tanpa memastikan sebelumnya, apakah ia
akan benar-benar ikut mencari Kuncung atau sekedar bersiaga. Namun
dalam pada itu. baik Daruwerdi maupun orang- orang Lumban Kulon sama
sekali tidak mengetahui, bahwa dari halaman seberang, dibawah
rimbunnya dedaunan seseorang sedang bersembunyi dan mengintai dengan
hati- hati. Ketika orang itu melihat Daruwerdi keluar lagi dari
rumahnya dengan senjata dilambung, maka ia menarik nafas
dalam-dalam. “Mudah-mudahan Daruwerdi dapat menebak apa yang terjadi
dan membawa aku langsung ketempat yang aku cari,“ katanya
didalamhati. Sebenarnyalah bahwa Jlitheng telah berusaha mengamati
apa yang akan dilakukan oleh Daruwerdi. Ia sendiri sama sekali tidak
tahu kemana ia harus mencar i. Tetapi ia berharap bahwa berdasarkan
atas hubungan yang pernah dilakukan oleh Daruwerdi dengan
orang-orang yang tidak dikenalnya itu, akan mempermudah pelacakannya
terhadap anak yang malang itu. Sejenak kemudian Jlitheng telah
meloncati dinding-dinding penyekat halaman untuk mengikuti Daruwerdi
yang berjalan tergesa-gesa menyusuri jalan padukuhan. Ia sama sekali
tidak berada diantara anak-anak muda yang lain dan orang-orang
Lumban yang sedang mencari Kuncung dengan caranya. Ketika Daruwerdi
telah berada di bulak, maka Jlitheng harus menjadi lebih
berhati-hati. Daruwerdi bukannya anak- anak Lumban kebanyakan
sehingga karena itu, ia harus berusaha dengan segenap kemampuan yang
ada, agar Daruwerdi tidak menyadari, bahwa ia sedang diikuti oleh
seseorang. Dalam pada itu Daruwerdi berjalan semakin lama semakin
cepat. Dengan demikian, Jlithengpun menjadi semakin cepat pula
mengikut inya. Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ternyata
Daruwerdi telah menuju kearah bukit padas yang gundul. Rasa-rasanya
memang ada hubungan yang khusus antara Daruwerdi dan bukit gundul
itu. Beberapa orang kawan Jlitheng memang sering melihat, Daruwerdi
pergi ke bukit itu tanpa dapat mengatakan, apa yang dikerjakannya
disana. Dengan sangat hati-hati Jlitheng mengikutinya. Rasa- rasanya
semakin dekat dengan bukit padas yang gundul itu, hatinya menjadi
semakin berdebar-debar. Seolah-olah Jlitheng akan melihat sekelompok
orang yang telah siap menunggu kedatangan Daruwerdi untuk melakukan
segala perintahnya. Jlitheng segera bersembunyi dibalik semak-semak
ketika Daruwerdi mulai melangkah naik keatas batu-batu padas. Dengan
sangat hati-hati Jllitheng merayap dari balik gerumbul kebalik
gerumbul lainnya, agar ia tidak terpisah terlalu jauh dari anak muda
yang diikutinya. Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia
melihat tidak seorangpun berada di bukit padas itu. Bahkan kemudian
ia mendengar Daruwerdi itu memanggil, “Cempaka. Cempaka.” Tetapi
tidak terdengar jawaban apapun juga. Ia masih mendengar Daruwerdi
memanggil beberapa kali. Namun tidak seorangpun yang menjawab.
Daruwerdipun kemudian menengadahkan wajahnya. Terdengar ia bergumam,
“Masih belum saatnya ia datang.” Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia
melihat Daruwerdi kemudian duduk diatas batu padas. “Gila,“ desis
Jlitheng didalam hatinya, “apakah ia hanya akan duduk saja disitu
tanpa berbuat sesuatu.” Beberapa saat Jlitheng masih menunggu.
Tetapi akhirnya ia menggeram, “Jika aku menunggu saja disini. anak
yang hilang itu akan diketemukan menjadi mayat. Ternyata Daruwerdi
tidak ada minat untuk menolongnya.” Sekilas ia membayangkan betapa
Daruwerdi telah berusaha menyelamatkan jiwa Kiai Kanthi dan Swasti
dari terkaman seekor harimau dihutan dibukit sebelah. Tetapi kenapa
ia tidak berusaha dengan kesungguhan hati untuk menolong Kuncung
yang hilang. “Agaknya waktu itu secara kebetulan saja Daruwerdi
melihat peristiwa itu. Kehadiran Daruwerdi saat itu dihutan itu
tentu ada kepentingan lain. Tentu karena ia menunggu satu dua orang
dalam hubungan yang khusus dipinggir hutan itu seperti saat ia
menunggu orang Pusparuri yang ternyata telah dibunuh oleh
orang-orang Kendali Putih,“ J litheng mencoba menilai keadaan yang
sedang dihadapinya. Dan ia-pun yakin karena ia mendengar Daruwerdi
bergumam bahwa orang yang disebutnya Cempaka itu memang belum
saatnya datang, sehingga yang dilakukan oleh Daruwerdi justru lebih
banyak dihubungkan dengan kehadiran orang-orang yang asing bagi
padukuhan Lumban. Namun dalam pada itu Jlitheng menjadi bingung. Ia
tidak sampai hati membiarkan Kuncung hilang tanpa pembelaan. Tetapi
iapun mempunyai keinginan yang kuat untuk melihat, siapakah yang
bakal datang dibukit padas dan yang disebut dengan panggilan Cepaka
itu. Sejenak Jlitheng berbantah dengan dirinya sendiri. Namun
akhirnya ia menggeretakkan giginya sambil berkata kepada diri
sendiri, “Nyawa anak itu harus diselamatkan dahulu. Baru aku akan
datang lagi kemari.” Jlitheng tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun
kernudian beringsut dengan hati-hati meninggalkan tempatnya. Ketika
ia sudah menjadi semakin jauh dari bukit padas itu. maka iapun
kemudian dengan tergesa-gesa melangkah menyusuri bulak. “Tetapi
kemana aku mencari anak itu?“ ia bertanya kepada diri sendir i,
“daerah ini sangat luas. Mungkin dibulak, mungkin di padang perdu,
mungkin dihutan itu.” Sejenak Jlitheng mengingat-ingat dimana ia
terakhir bertemu dengan Kuncung. Dar i bukit gundul setelah mereka
mengikut i latihan-latihan yang diberikan oleh Daruwerdi. Kuncung
singgah sejenak dibelik ditepian. “Mungkin ketika ia pulang dari
sungai itulah, ia bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal
itu,“ berkata Jlitheng kepada diri sendir i. Tetapi Jlithengpun
tidak segera dapat menebak, kemana Kuncung itu dibawa pergi. Ketika
Jlitheng kemudian berlari- lari kecil menuju kelereng bukit, ia
melihat dari kejauhan sekelompok orang-orang Lumban yang sedang
mencari Kuncung. Dilihatnya beberapa buah obor di ujung padukuhan.
Sementara diarah yang lain ia melihat pula beberapa obor dibawah
pohon randu alas raksasa. “Orang-orang Lumban kebingungan,“
desisnya, “tetapi sulit untuk menemukannya.” Semula ada niatnya
untuk memanjat tebing menemui Kiai Kanthi. Namun akhirnya iapun
mengurungkannya, karena hal itu hanya akan membuang waktu saja.
Sudah barang tentu, anak itu t idak akan dibawa sampai kelereng yang
terlalu tinggi. Karena ia tidak menemukan sesuatu dilereng bukit
itu. maka J lithengpun segera bergeser. Bahkan kemudian ia
berlari-lari kecil. Dijelajahinya tempat yang dianggapnya
tersembunyi dipinggir hutan itu. Namun ia tidak menemukan sesuatu.
Dengan demikian maka Jlithengpun berusaha mencari ketempat yang
lain. Tanpa mengenal lelah ia berlar i menuju kekuburan yang
terpisah dari padukuhan. Meskipun ia tidak mencari kuntilanak,
tetapi ia menganggap bahwa tempat itu cukup tersembunyi j ika ada
orang yang sengaja menyembunyikan dir i bersama Kuncung. Tetapi
Jlitheng tidak menemukan yang dicarinya. Keringat anak muda itu
mulai membasahi seluruh tubuhnya. Bukan saja karena ia berlari-lari.
Tetapi kegelisahannya telah membuatnya seakan-akan diperas, sehingga
ker ingatnya telah mengalir diseluruh wajah kulitnya. Dalam pada
itu, ternyata bahwa Jlitheng telah salah hitung. Justru karena ia
mengurungkan niatnya memanjat tebing lebih tinggi lagi, maka ia
tidak berhasil menjumpai anak muda yang sebenarnya memang dibawa
oleh dua orang yang tidak dikenal. Adalah kebetulan bahwa dua orang
yang berjalan menuju ketempat yang sepi itu telah bertemu dengan
Kuncung seorang diri. Mula-mula Kuncung sama sekali t idak
menghiraukan dua orang yang datang menuju kearah ia berjalan. Bahkan
kemudian iapun berhenti ketika salah seorang dari kedua onang itu
memanggilnya. “Ki Sanak,“ berkata salah seorang dari keduanya,
“apakah kau dapat menolong kami?” Kuncung yang tidak berprasangka
apapun itu menunggu keduanya. Baru ia merasa ngeri ketika kedua
orang itu menjadi semakin dekat. Wajah keduanya membayangkan
kekerasan dan kekasaran. Tetapi Kuncung sudah terlambat. Salah
seorang dari kedua orang itu telah melekatkan ujung pisau belati
kelambungnya. “Jangan berbuat sesuatu yang dapat mempercepat
kematianmu anak muda.” Kuncung menjadi gemetar. Iapun segera
teringat peristit wa yang pernah dialami oleh Jlitheng. Karena itu,
maka tu- buhnyapun segera menggigil. Namun demikian, iapun ingat,
bahwa jika ia tidak berbuat sesuatu, maka iapun akan pulang dengan
selamat seperti Jlitheng. Karena itu, maka Kuncungpun menurut saja
apa yang dikatakan oleh kedua orang itu. Mereka bertigapun kemudian
berjalan menuju kebutan dilereng bukit. “Disana kita tidak akan
diganggu oleh siapapun,“ berkata salah seorang dari kedua orang itu.
Kuncung berjalan dengan kaki gemetar. Tetapi ia tidak dapat menolak.
Ketika mereka sudah sampai dikaki bukit, maka kedua orang itu telah
membawa Kuncung untuk naik ketempat yang lebih tinggi. Salah
steorang dari keduanya berkata, “Jika orang-orang Lumban menyadari
bahwa kau tidak kembali, mereka tentu akan mencari. Aku kira ada
orang-orang penting di Lumban. Bukan berarti bahwa kami berdua
menjadi ketakutan. Tetapi kami ingin berbicara dengan, kau tanpa
terganggu.” Kuncung tidak dapat berbuat lain. Dengan menggigil ia
berjalan tertatih-tatih diantara pepohonan hutan yang semakin lama
menjadi semakin lebat. Baru ketika mereka sudah berada ditempat yang
agak tinggi, maka salah seorang dari keduanya-pun berkata, “Kita
berhenti disini. Kita berbicara dengan hati terbuka. Kau mengerti
maksudku ?” Kuncung yang ketakutan mengangguk. Dalam gelapnya malam
yang seakan-akan semakin kelam didalam hutan, Kuncung t idak dapat
melihat cukup jelas wajah-wajah orang yang tidak dikenalnya itu.
“Jawab pertanyaanku anak muda,“ berkata salah seorang dari keduanya,
“apakah kau pernah mendengar kabar tentang kedatangan orang-orang
asing di padukuhan Lumban?” Kuncung mengerti, yang ditanyakan oleh
kedua orang itu tentu peristiwa yang baru saja terjadi. Pembunuhan
yang dilakukan oleh Daruwerdi di kaki bukit itu. Karena itu, agar ia
segera dibebaskan, iapun berceritera tentang peristiwa itu menurut
pendengarannya. Yang ia ketahui dengan pasti, saat itu ada tiga
sosok mayat yang oleh orang-orang Lumban telah dikuburkan
sebaik-baiknya. “Aku ikut menyelenggarakan. Semua upacara dilakukan
menurut yang seharusnya,“ Kuncung mencoba mengambil hati orang-orang
itu. Kedua orang berwajah kasar itu mendengarkan ceritera Kuncung
dengan saksama. Namun kemudian salah seorang dari mereka bertanya,
“Apakah semuanya dibunuh oleh anak muda yang kau sebut bernama
Daruwerdi itu ?” Sejenak Kuncung tertegun. Ia tidak dapat mengatakan
dengan pasti, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Yang ia dengar
dari kawan-kawannya adalah bahwa Daruwerdi telah membunuh
lawan-lawannya. Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia menjawab, “Tiga
orang yang mati.” “Kau sudah mengatakannya,“ orang itu membentak,
“tetapi siapakah yang membunuh ? Apakah semuanya dibunuh oleh anak
itu ?” “Ya,“ Kuncung tergagap. Namun ia nampak semakin ragu- ragu.
Kedua orang itu mulai menjadi panas. Mereka menduga bahwa salah
seorang dari tiga orang itu tentu dar i perguruan Pusparuri. Tetapi
anak yang dibawanya itu tidak dapat mengatakan, siapakah yang telah
membunuh mereka. “Anak gila,“ bentak salah seorang dari mereka,
“apakah kau tidak pernah mendengar Daruwerdi berceritera, atau kau
dengan sengaja dipesan agar kau tidak mengatakannya kepada siapapun
juga?” Kuncung menjadi semakin gemetar. Orang-orang itu beringsut
semakin dekat. Bahkan tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah
menerkam rambutnya sambil berteriak, “katakan Siapa yang telah
membunuh mereka.” Darah Kuncung bagaikan berhenti mengalir.
Wajah-wajah itu seolah-olah telah berubah menjadi wajah hantu yang
semakin mengerikan. Dalam kegelapan Kuncung membayangkan wajah-wajah
itu telah berubah menjadi buas. Giginya telah tumbuh menjadi
taring-taring yang tajam. Matanya menjadi merah seperti bara dan
lidahnya menjadi bercabang seperti lidah ular. Kengerian yang sangat
telah mencengkam hati Kuncung. Ia teringat kepada ceritera hantu
yang sering menerkam dan menghisap darah. Dan kini rasa-rasanya ia
sudah berhadapan dengan hatu-hantu itu. Dalam pada itu, dilereng
bukit, disebelah peristiwa yang menger ikan bagi Kuncung itu, Kiai
Kanthi duduk berselimut bersandar sebatang pohon. Sementara Swasti
tidur diatas sehelai ketepe yang dianyamnya dari daun-daun ilalang
yang kering. Udara malam yang terasa panas, menyebabkan kedua orang
itu tidak menyalakan perapian. Namun rasa-rasanya nyamuknya semakin
lama menjadi semakin banyak, sehingga Kiai Kanthi berusaha untuk
menutup seluruh tubuhnya dengan kain panjangnya. Namun dalam pada
itu, Kiai Kanthi tiba-tiba saja telah beringsut sambil mengangkat
wajahnya. Lamat-lamat dari jauh sekali ia mendengar suara kentongan
dalam irama yang aneh. Bahkan kadang-kadang tidak berirama sama
sekali. “Apakah artinya,“ pertanyaan itu tumbuh didalamhatinya.
Mula-mula ia tidak menghiraukannya. Mungkin ada sesuatu yang tidak
dimengertinya telah terjadi. Tetapi, bukankah dipadukuhan itu ada
Daruwerdi dan Jlitheng. Namun suara kentongan yang bagaikan berbisik
dikejauhan itu masih saja terdengar. Masih dalam irama yang timpang
dan aneh. Tiba-tiba saja Kiai Kanthi menjadi gelisah. Tetapi ia t
idak sampai hati membiarkan Swasti seorang diri dalam keadaan tidur.
Karena itulah maka iapun kemudian membangunkan gadis itu dan
berkata, “Hati-hatilah. Aku akan turun sejenak.” “Ada apa ayah ?”
Swasti masih mengantuk. “Dengarlah baik-baik. Kau akan mendengarkan
suara kentongan dalam irama yang aneh.” Sejenak Swasti terdiam.
Seperti kata ayahnya, ia mencoba mendengarkan suara disela-sela
desir angin didedaunan. “Ya. Aku memang mendengar suara kentongan.
Nampaknya dipukul begitu saja tanpa irama tertentu. Dan bukankah t
idak hanya satu atau dua kentongan?” Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Suara yang kadang- kadang agak jelas, namun kadang-kadang hilang itu
memang sangat menarik perhatiannya. “Swasti,“ berkata Kiai Kanthi,
“aku akan melihat, apakah yang telah terjadi. Suara itu tentu bukan
suara gejog meskipun mereka yang baru belajar. Juga saatnya tidak
tepat untuk bermain gejog, karena bulan tidak sedang bulat.” “Aku
ikut ayah,“ tiba-tiba Swasti menyahut, “aku juga ingin melihat suara
yang aneh itu. Seperti suara kotekan orang- orang padukuhan mencari
anak yang dicuri kunt ilanak.” “He,“ tiba-tiba saja Kiai Kanthi
menengadahkan wajahnya. Lalu, “Mungkin Swasti. Memang mungkin. Yang
kita dengar dari jauh ini hanyalah suara kentongannya. Mungkin
diantara suara kentongan terdapat suara tampah, gembreng dan
suara-suara yang lain.” Swasti mengangguk-angguk. Gumamnya, “Menarik
sekali. Marilah ayah. Aku ikut bersama ayah.” Tetapi Kiai Kanthi
menjadi ragu-ragu. Katanya, “Bagaimana jika justru kau yang mereka
sangka wewe itu ?” “Ah,” Swasti memberengut, “menurut ceritera, wewe
itu cantik sekali. Dan aku sama sekali tidak cantik.” Ayahnya
tersenyum. Namun iapun kemudian berkata, “Marilah. Bersiaplah
menghadapi setiap kemungkinan disepanjang jalan.” Swastipun
membenahi pakaiannya. Bukan pakaian seorang gadis sewajarnya. Iapun
kemudian menyelipkan senjatanya dilambung. Senjata yang selalu
disembunyikannya diantara onggokan-onggokan pakaiannya yang sedikit.
Dua buah pisau belati panjang dikedua lambungnya. Namun ia masih
juga membawa beberapa buah pisau belati kecil dikat pinggangnya.
Sejenak kemudian, kedua orang ayah dan anak itu menuruni tebing
dengan hati-hati. Kecuali malam gelapnya bukan main, merekapun
secara naluriah merasakan suasana yang berbeda. Tiba-tiba saja
langkah Kiai Kanthi tertegun. Ia mendengar suara sesuatu agak
dibawah. Sehingga karena itu maka iapun menjadi semakin
berhati-hati. “Swasti,“ bisiknya, “kau mendengar suara lain ?”
“Suara orang membentak-bentak ayah,“ jawab Swasti, “tetapi tidak
tepat dibawah kita sekarang.” “Ya. Itupun tidak kalah menar iknya
dengan suara kentongan itu.” Sejenak keduanya berhenti
termangu-mangu. Namun kemudian Kiai Kanthipun berkata, “Kita
berbelok sedikit. Swasti. Mungkin suara kentongan itu ada
hubungannya dengan peristiwa dibawah itu.” Keduanyapun kemudian
bergeser menempuh jalan yang lain. Dengan sangat hati-hati mereka
beringsut diantara pepohonan dan batu-batu padas. Tetapi suara-suara
yang terdengar itu telah menuntun mereka ke arah yang benar. Semakin
dekat mereka dengan suara itu, maka keduanyapun menjadi semakin
berhati-hati. Mereka beringsut setapak demi setapak, sehingga
akhirnya mereka dapat mendengarkan seluruh pembicaraan antara dua
orang berwajah kasar itu dengan Kuncung yang ketakutan. “Jika kau
tidak berterus terang, aku akan membunuhmu seperti membunuh seekor
anj ing,“ geram salah seorang dari mereka. “Aku tidak tahu,“ suara
Kuncung hampir tidak terdengar, “aku hanya tahu tiga orang mati dan
orang-orang Lumban ikut menguburnya dengan baik-baik.” Dada Kiai
Kanthi menjadi berdebar-debar. Ia pernah mendengar, pembunuhan
dilereng bukit itu, yang dilakukan oleh Daruwerdi. Dan iapun pernah
mendengar ceritera Jlitheng tentang dua orang Kendali Putih yang
datang kepadukuhan Lumban. “Aku sudah menduga, bahwa persoalannya
tidak akan terhenti sampai kematian dua orang yang dibunuh Jlitheng
itu,“ berkata Kiai Kanthi dengan berbisik ketelinga anak gadisnya.
Swasti mengangguk kecil. Namun iapun sadar, bahwa ia harus bersiap
sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.
Meskipun agak sulit, namun keduanya berhasil mendekat lagi beberapa
langkah. Mereka menjadi semakin jelas setiap kata yang mengancam.
Dan bahkan Kiai Kanthi mendengar, orang-orang itu agaknya mulai
memukul korbannya. “Hem,“ desah Kiai Kanthi, “apakah yang mereka
lakukan.” Swasti nampaknya tidak sabar lagi. Ia merangkak semakin
dekat. Justru karena kedua orang itu sedang marah dan perhatiannya
sepenuhnya telah terikat kepada anak muda Lumban itu, maka mereka t
idak segera mendengar kehadiran orang lain disekitar mereka. “He,
katakan. Apakah diantara mereka terdapat orang- orang Pusparuri atau
orang Kendali Putih atau orang lain lagi ?” suara orang itu menjadi
semakin keras. Yang terdengar kemudian adalah suara tangis. Agaknya
Kuncung itu mulai menangis, “Aku tidak tahu. Sungguh aku tidak
tahu.” “Aku bunuh kau.” “Jangan, jangan,“ tangis Kuncung semakin
keras. “Anak gila,“ geram salah seorang dari mereka, “kita harus
mencari orang lain yang lebih tahu tentang hal ini. Mungkin kita
akan langsung berhubungan dengan Daruwerdi. Tetapi mungkin kita akan
mencar i keterangan untuk menjajagi keadaan.” “Lalu, anak ini ?“
desis yang lain. “Bunuh saja. Dan lemparkan mayatnya di tempat yang
lebih tinggi, yang tentu tidak akan diketahui orang. Bahkan mungkin
akan menjadi mangsa harimau yang tentu masih ada dihutan ini.”
Mendengar jawaban orang berwajah garang itu, tangis Kuncung menjadi
semakin keras. Hampir berteriak ia berkata disela-sela tangisnya,
“Jangan, jangan.” “Berteriaklah,“ berkata orang berwajah garang itu,
“suaramu akan hanyut oleh angin dihutan ini. Tidak seorangpun yang
mendengar kecuali binatang buas yang sebentar lagi akan mengoyak
tubuhmu.” “Jangan, jangan,“ Kuncung berlutut sambil berpegangan kain
salah seorang dari kedua orang yang garang itu. Namun sebuah
hentakan kaki telah melemparkan anak yang malang itu. Adalah diluar
kehendaknya bahwa kepala Kuncung telah terantuk batu padas, sehingga
suaranyapun tiba-tiba terputus. “Kenapa anak itu ?” salah seorang
dari keduanya bertanya. Yang seorang mendekatinya sambil meraba
tubuh Kuncung. Katanya, “Anak itu masih hidup. Ia pingsan.” “Kau
tinggal mencekiknya. Kemudian melemparkannya ketempat yang lebih
dalam lagi agar tidak seorangpun yang menjupainya lagi.” “Tetapi
bahwa anak itu hilang tentu akan menar ik perhatian orang-orang
Lumban.” “Mereka tidak akan mengetahui siapakah yang telah
membawanya.” “Mungkin. Tetapi Daruwerdi sendiri tentu akan sampai
pada perhitungan yang demikian.” “Aku tidak peduli. Bahkan jika
perlu, Daruwerdi akan mati juga disini.” Kawannya terdiam. Tetapi
kepalanya terangguk-angguk kecil. “Cepatlah. Kita masih mempunyai
banyak persoalan.” Kawannyapun kemudian melangkah selangkah maju.
Dipandanginya tubuh Kuncung yang terbaring dalam kegelapan. Namun
kemudian tanpa ragu-ragu orang itupun berjongkok sambil mengulurkan
tangannya untuk mencekik leher Kuncung yang sedang pingsan. Namun
keduanya terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang
mendehem. Hampir terlonjak keduanya melompat surut. “Selamat datang
dipadepokanku anak-anak,“ terdengar seseorang berkata dari balik
gerumbul. Kedua orang itu benar-benar terkejut. Apalagi ketika
kemudian mereka melihat bayangan dua orang yang menyibak gerumbul
dan mendekati tempat mereka berdir i termangu- mangu. “Siapa kau he
?” salah seorang dari kedua orang itu bertanya. Kiai Kanthi yang
mengintip apa yang telah terjadi, tidak dapat membiarkan pembunuhan
itu terjadi. Karena itu maka iapun telah keluar dari
persembunyiannya untuk mencegah pembunuhan itu. “Siapa kau he ?
Siapa ?” orang itu membentak semakin keras. “Kenapa kau berdua
berani memasuki padepokanku dan menginjak- injak taman bunga yang
aku pelihara rapi he?“ berkata Kiai Kanthi. “Gila. Apakah kau orang
gila ?” “Aku adalah pemilik padepokan yang asri ini. Kau jangan
merusakkan kebun bungaku. Dan kehadiranmu telah mengejutkan para
cantrik, jejanggan dan para putut yang masih muda-muda.” “He, orang
gila. Kenapa kau datang kemari.” “Aku bukan orang gila. Aku adalah
pemilik petamanan dan padepokan ini. Aku datang keduniamu untuk
memper ingatkanmu agar kau t idak melanjutkan tingkahmu yang
merusakkan padepokanmu.” “Bunuh saja sama sekali,“ geram yang
seorang dari kedua orang berwajah kasar itu. “Aku bukan mahluk dari
duniamu sehingga kau tidak akan dapat membunuhku. Aku datang dengan
anak gadisku kedunia manusia untuk mempertahankan milikku. Mungkin
dari dunia manusia kau melihat daerah ini berupa hutan belukar.
Tetapi sebenarnya ini adalah padepokan yang sangat asri.” Kedua
orang itu tidak sabar lagi mendengar kata-kata Kiai Kanthi. Bahkan
Swastipun t idak sabar pula, Katanya, “Ayah terlalu berbelit-belit.
Tangkap saja mereka dan barangkali ayah dapat membawanya ke Lumban
Wetan atau Lumban Kulon bersama anak yang pingsan itu.” Yang
terdengar kemudian adalah kedua orang itu menggeram. Salah seorang
dari mereka berkata dengan suara bergetar oleh kemarahan, “Jangan
banyak tingkah orang- orang gila. Kami terpaksa membunuh kalian pula
seperti kami membunuh anak yang malang ini.“ “Apa salahnya kau akan
membunuh anak itu,“ potong Swasti dengan lantang, “kau sama sekali
tidak berperikemanusiaan. He, apakah kalian orang-orang Kendali
Putih?” Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Hampir berbareng
mereka bertanya, “Kau kenal orang-orang Kendali Putih?” “Aku tahu
bahwa kau sedang memaksa anak itu mencer iterakan apa yang tidak
diketahuinya. He, bukankah kau sedang bertanya tentang orang-orang
yang mati dilereng bukit ini?” “Ya. Apakah kau mengetahuinya ? Anak
ini menyebut tiga sosok mayat. Siapakah mereka ? Dan apakah
ketiga-tiganya telah dibunuh oleh anak muda yang disebutnya bernama
Daruwerdi ?” “Meskipun kau bunuh sekalipun anak itu tidak akan dapat
mengatakannya, karena yang diketahuinya memang sangat terbatas.”
“Apakah kau dapat mengatakannya ?“ bertanya salah seorang dari kedua
orang itu. “Siapa kalian?“ t iba-tiba Swasti bertanya. Kedua orang
itu termangu-mangu sejenak. Gadis itu sama sekali tidak gentar
menghadapi mereka. Kata-katanya lantang dan sikapnya meyakinkan.
Karena itulah maka keduanyapun menjadi berhati-hati karenanya.
“Siapa kalian ?” suara Swasti semakin keras. “Kami adalah
orang-orang Pusparur i,“ jawab salah seorang dari mereka, “karena
itu. jangan mencoba mengelabui kami.” Swasti terdiam sejenak. Ketika
ia berpaling ke ayahnya, maka dilihatnya ayahnya bergeser selangkah
maju. Dengan ragu-ragu Kiai Kanthi bertanya, “Apakah benar kalian
orang- orang Pusparuri ?” “Ya,“ geram salah seorang dari mereka,
“karena itu jangan bermain-main dengan kami. Katakan saja apa yang
kalian ketahui tentang kawanku yang terdahulu, yang sampai sekarang
tidak pernah kembali.” “Apakah kau t idak tahu apa yang dilakukan
oleh kawanmu itu ?” “Kami tahu pasti. Kawanku itu telah pergi ke
padukuhan ini untuk suatu tugas.” Tiba-tiba saja Swasti menyahut
mendahului ayahnya, “Tentu kau tidak akan membawa anak yang pingsan
itu kemari j ika kau tahu pasti apa yang terjadi.” “Aku hanya tahu
bahwa seorang kawanku datang kemari.” “Kau tahu tugas apa yang
dilakukan disini ?” Kedua orang yang mengaku dari Pusparuri itu
termangu- mangu. Namun salah seorang membentak, “Itu bukan
persoalanmu. Jawab pertanyaanku, apa yang kau ketahui tentang orang
Pusparuri yang datang kemar i.” Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Ketika ia mendengar per istiwa antara orang-orang
Kendali Put ih, orang Pusparuri dan Daruwerdi, ia mengharap bahwa
orang-orang Pusparuri itu memiliki sifat yang berbeda dengan
orang-orang Kendali Putih. Ternyata diantara kedua perguruan itu
nampaknya tidak banyak berbeda. Karena itulah, maka Kiai Kanthi
justru mulai menilai Daruwerdi, yang telah berhubung an dan bahkan
ada tanda-tanda kerja sama dengan orang- orang Pusparuri. “Jawab
pertanyaan kami,“ tiba-tiba orang Pusparuri itu membentak. Swasti
menggeram sambil bergumam, “Jangan membentak, seperti terhadap anak
yang pingsan itu, supaya mulutmu tidak aku sumbat.” Kata-kata itu
benar-benar mengejutkan. Keduanya tidak mengira bahwa tiba-tiba saja
gadis itu menantangnya. “Kau memang orang-orang gila yang tidak
mengetahui siapa kami. Baiklah. Bersiaplah untuk mati Apapun yang
akan kalian lakukan, kalian akan mati sepertianak. muda itupun akan
mati. Tetapi jika kalian mau menceritakan apa yang terjadi, maka
jalan kematianmu akan sempurna. Terutama bagi perempuan itu.
Kematiannya tidak akan dialaminya dalam kengerian justru karena ia
perempuan.” “Kemarahan Swasti telah melonjak jika ayahnya tidak
menggamitnya. Bisiknya, “Hati-hatilah Swasti. Jangan terbiasa
menurut i perasaan.” Tetapi Swasti berteriak, “Mereka bukan manusia
wajar lagi ayah.” “Ketahuilah,“ berkata Kiai Kanthi tanpa
menghiraukan kata- kata anaknya, “Kawanmu dar i Pusparuri itu memang
datang. Tetapi agaknya orang-orang Pusparur i, seperti kalian, tidak
tahu apa yang dilakukannya disini. Persoalannya mungkin terbatas
antara Daruwerdi dan pimpinan tertinggi Pusparuri serta orang yang
berciri sandi ular sanca bertanduk genap.” “Jangan mengingau. Dimana
ia kawanku itu he ?” Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Namun iapun
kemudian menceriterakan apa yang diketahuinya dari Jlitheng tentang
orang Pusparuri dan orang-orang Kendali Putih. “Gila,“ orang-orang
Pusparuri itu menggeram, “jadi orang- orang Kendali Putih itu telah
membunuh kawanku yang datang untuk menjumpai Daruwerdi ?” “Ya.
Sekarang kembalilah kepada kawan-kawanmu. Katakan apa yang sudah
terjadi disini. Mungkin kau mempunyai adat tersendiri untuk
menyelesaikan persoalanmu.” Sejenak kedua orang itu termangu-mangu.
Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Kami akan kembali
untuk menghancurkan orang-orang Kendali Putih. Tetapi kami tidak
akan dapat membiarkan kalian tetap hidup.” Kiai Kanthi mengerutkan
keningnya. Sejenak ia justru termangu-mangu, sementara orang-orang
Pusparuri itu benar- benar telah dibakar oleh kemarahan. Salah
seorang dari mereka menggeram, “Tidak ada seorangpun yang akan tetap
tinggal hidup agar semua rencanaku tidak kandas dijalan. Kami masih
akan menjumpai Daruwerdi untuk mencari kebenaran ceriteramu. Tetapi
j ika justru Daruwerdilah yang telah membunuhnya, maka iapun akan
dimusnakan.” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Kalian orang-orang aneh. Kami sudah mengatakan apa yang kami
ketahui. Seharusnya kalian berterima kasih kepada kami. Bukan justru
sebaliknya. Bahkan jika kalian juga berbaik hati kalian tentu akan
menceriterakan serba sedikit tentang Perguruan Pusparuri meskipun
dalam hubungannya dengan Daruwerdi itu kau tidak mengerti.” “Cukup,“
bentak salah seorang dari mereka, “sudah aku katakan, tidak
seorangpun yang akan tetap hidup. Kalian berdua akan mati. Dan anak
itupun akan mati.” Ternyata Swastilah yang tidak sabar lagi. Dengan
lantang ia berkata, “Sudahlah ayah. Jangan merajuk seperti kanak-
kanak. Kalau mereka akan membunuh kita, kenapa bukan kita sajalah
yang membunuh mereka lebih dahulu.” “Gila,“ salah seorang dari kedua
orang Pusparuri itu hampir berteriak, “kalian memang orang-orang
gila.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya,
“Terserah kepadamu Swasti. Apakah memang sudah menjadi keharusan,
bahwa demikian kita menginjak t latah ini, kita dihadapkan pada
keadaan yang sama sekali tidak kita inginkan.” “Sudahlah ayah,“
potong Swasti, “ayah masih saja merajuk. Biarlah aku mencoba
mempertahankan diri. Jika terpaksa aku akan membunuh mereka berdua.”
Kedua orang Pusparuri itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan.
Karena itu, tanpa menjawab, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka
telah meloncat menyerang Swasti. Tangannya langsung mengarah
kedadanya dengan sepenuh tenaga. Jika tangan itu menyentuh sasaran,
maka dada Swasti tentu akan sekaligus retak karenanya. Swasti sadar,
bahwa orang-orang Pusparuri yang marah itu tentu akan menghantamnya
sampai mati pada pukulan pertama. Itulah sebabnya, maka iapun sudah
bersiaga, sepenuhnya. Dengan demikian maka ketika tangan orang
Pusparuri itu terjulur kedadanya, Swasti sudah siap untuk meloncat
menghindarinya. Orang-orang Pusparuri memang sudah mengira bahwa
kedua orang itu tentu memiliki bekal kemampuan. Namun bahwa yang
dilakukannya itu adalah tiba-tiba dan dibiar dugaan, tetapi masih
dapat juga dihindari oleh gadis itu, tiba- tiba saja telah terbersit
pertanyaan, “Apakah keduanya benar- benar mahluk dari dunia lain
yang telah memasuki dunia manusia.” Dalam pada itu, ternyata Swasti
tidak hanya sekedar menghindar. Meskipun malam gelap, apalagi
didalam rimbunnya dedaunan sehingga mata bagaikan menjadi buta,
namun ketajaman mata Swasti masih dapat menembus kelam, sehingga ia
dapat melihat bayangan kedua orang Pusparuri. Dengan demikian, maka
ketika lawannya gagal menyerangnya, justru Swastilah yang kemudian
meloncat menyerang dengan cepat dan keras pula. Yang dilakukan
Swasti itu telah membuat lawannya semakin heran. Lawannya yang
terkejut karena serangannya, tiba-tiba saja telah menjatuhkan dir i
untuk menghindari sambaran serangan Swasti. Orang Pusparuri yang
lainpun tidak tinggal menontonnya saja. Meskipun ia juga dijalari
oleh keragu-raguan, apakah yang dihadapinya itu mahluk sejenisnya,
atau justru dari dunia yang lain. Sebelum kawannya yang berguling
ditanah itu meloncat bangkit, maka kawannya telah mendahului
menyerang Swasti pula. Dengan demikian, maka dalam kegelapan itu
telah terjadi pertempuran yang dahsyat. Seorang gadis seorang diri
bertempur melawan dua orang laki- laki yang garang. Untuk sejenak
Kiai Kanthi masih berdiri diluar arena. Yang dilalukan kemudian
adalah mengangkat Kuncung yang masih pingsan dan membawanya agak
menjauh. Bahkan ketika kemudian Kuncung muliai menggeliat. Kiai
Kanthi telah menyentuh pusat syarafnya, sehingga sekali lagi Kuncung
seolah-olah jatuh tertidur. “Tidur sajalah anak muda,“ desis Kiai
Kanthi, “agar kau tidak malah menjadi hambatan kami melawan
orang-orang garang itu.” Dalam pada itu. Kiai Kanthipun kemudian
menekuni anak gadisnya yang sedang bertempur. Bahkan kemudian timbul
niatnya untuk melihat, apakah Swasti benar-benar dapat menempatkan
diri diantara anak-anak muda yang mengagumkan di Lumban Kulon dan
Lumban Wetan. Daruwerdi telah berhasil membunuh dua orang Kendali
Putih. Demikian juga Jlitheng. “Apakah anak gadisku juga mampu
mempertahankan dirinya melawan keduanya meskipun mungkin tataran
kemampuan orang-orang Kendali Put ih dan orang-orang Pusparuri tidak
sama,“ desis Kiai Kanthi didalam hatinya. Dalam pada itu,
pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Kedua orang
Pusparuri itu telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk
mengalalikan lawannya yang tidak lebih dari seorang gadis. Namun
ternyata bahwa Swasti benar-benar tangkas, lincah dan bahkan
memiliki kekuatan yang mengagumkan. Jauh melampaui kekuatan
kebanyakan gadis. Kedua orang lawannyapun kemudian mengambil
kesimpulan bahwa gadis itu memang orang aneh. Mungkin ia memang
sejenis mahluk dari dunia lain. Tetapi mungkin juga manusia biasa
yang pernah mengalami tempaan yang lama dan bersungguh-sungguh.
Namun siapapuin perempuan itu. ia harus dibinasakan. Kedua orang
Pusparuri itu tidak mau bekerja terlalu lama. Karena ku, ketika
mereka menyadari bahwa lawannya adalah seorang yang tidak
sewajarnya, maka merekapun tiba-tiba saja telah menggenggam senjata
ditangaenya. Yang seorang menggenggam sebilah golok yang besar dan
berat, aamentara yang lain memegang pedang yang tajamnya rangkap t
imbal balik. Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar melihat
senjata-senjata itu. Anak gadisnya tidak membawa senjata yang
memadai. Gadis itu hanya membawa pisau belati panjang yang jauh
lebih kecil dar i senjata-senjata yang garang itu. Namun Swasti
benar-benar lincah. Dengan mantap iapun kemudian menggenggam kedua
pisau belatinya dikedua tangannya. Dalam malam yang gelap itu,
mereka telah terlibat dalam pertempuran senjata yang dahsyat. Sebuah
golok yang besar terayun-ayun dengan derasnya, sementara pedang
bertajam rangkap berputaran seperti baling-baling. Tetapi gelap
malam itu justru member ikan kesempatan lebih banyak pada Swasti
untuk mempergunakan batang- batang pepohonan sebagai perisainya.
Sekali ia melenting menyerang dengan cepatnya, namun ketika kedua
lawannya menyerang bersama-sama, Swasti meloncat diantara batang-
batang pohon yang besar. Kedua lawannya yang garang itu menjadi
semakin marah. Seperti seekor harimau yang diganggu oleh seekor
kelinci kecil diantara keempat kakinya. Namun ternyata bahwa kedua
orang itu akhirnya dapat mengurung dan membatasi gerak Swasti.
Senjata mereka yang panjang dan tata gerak mereka yang garang dan
kasar, berhasil mendesak Swasti sehingga Swasti lebih banyak
menghindar sambil berloncatan diantara pepohonan. Meskipun demikian,
serangan Swasti yang tiba-tiba masih tetap merupakan bahaya bagi
kedua orang Pusparuri itu. Bahkan kadang-kadang keduanya seolah-olah
telah kehilangan lawannya yang dengan tiba-tiba saja telah menyerang
kearah lambung dengan pisau-pisau belatinya. Pertempuran itupun
semakin lama menjadi semakin cepat. Swasti tidak mempunyai cara lain
untuk mengatasi kedua lawannya selain dengan kecepatannya
berloncatan diantara batang-batang pohon dan gerumbul-gerumbul
Tetapi lawannya yang marah tidak ingin melepaskannya. Keduanya
ternyata mampu bekerja bersama sebaik-baiknya. Disaat-saat Swasti
meloncat menghindari serangan pedang bermata rangkap, tiba-tiba saja
golok yang besar itu telah terayun menebas lehernya. Swasti tidak
menangkis dengan membenturkan senjatanya yang kecil. Ayunan tenaga
lawannya yang kuat atas senjatanya yang berat, akan merupakan
kekuatan yang besar. Meskipun dengan mengerahkan kekuatannya, Swasti
dapat membentur senjata lawannya, tetapi dengan demikian ia akan
terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga ia akan cepat menjadi
lelah. Yang dilakukan oleh Swasti adalah memukul senjata lawannya
menyamping, namun dengan pisaunya yang lain. ia berusaha menyerang
dada lawannya yang terbuka. Namun lawannyapun cepat menghindar,
sementara yang seorang lainnya telah menyerangnya pula. Kiai Kanthi
yang menyaksikan pertempuran itu. akhirnya melihat bahwa keadaan
Swasti tidak menguntungkan. Dengan hati-hati ia melangkah mendekati
arena. Namun t iba-tiba saja Swasti berteriak, “Jangan ganggu aku
ayah.” Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu kekerasan hati
anaknya. Namun sudah barang tentu dalam keadaan yang gawat ia tidak
akan membiarkan anaknya menjadi korban perasaannya itu. Dalam pada
itu, Swasti masih bertempur dengan sengitnya. Sementara Kiai Kanthi
mencoba menilai kedua lawannya. “Apakah orang-orang Kendali Putih
itu juga memiliki kemampuan yang sama dengan orang-orang Pusparuri
?“ ia bertanya didalam hatinya. Namun dalam pada itu, debar jantung
Kiai Kanthi menjadi semakin cepat. Swasti benar-benar mengalami
kesulitan. Ayunan senjata kedua lawannya yang besar dan berat itu
memang menyulitkan Swasti yang bersenjata sepasang pisau belati.
Akhirnya Swasti tidak dapat mengingkari kenyataan itu. ia lebih
banyak terdesak dan kadang-kadang tangannya mulai bergetar jika ia
terpaksa membenturkan pisau belatinya menangkis ayunan senjata
lawannya yang berat dan panjang. Kiai Kanthi masih termangu-mangu.
Jika ia memaksa kearena, anaknya tentu akan marah kepadanya dan
seperti biasanya jika ia marah, maka sehari penuh ia tidak akan
mengucapkan sepatah katapun. Namun selagi Kiai Kanthi
terrrtangn-mangu. tiba-tiba saja wajahnya menegang. Bahkan ia
bergeser setapak maju. Ia melihat Swasti berdiri dalam keadaan yang
sulit. Lawannya berada didua sisi yang berbeda, sementara keduanya
sudah siap untuk menyerang. “Ia akan terpancing pada satu keadaan
yang sulit. Keduanya akan bekerja bersama menjebak perhatian Swasti
pada satu sisi,“ berkata Kiai Kanthi kepada diri sendir i. Karena
itulah, maka iapun segera mempersiapkan diri pula jika keadaan
memaksa. Ia lebih senang melihat Swasti diam sehari penuh atau
bahkan dua atau tiga hari daripada Swasti dibantai oleh kedua orang
lawannya. Seperti yang diperhitungkan oleh Kiai Kanthi. maka
keduanya mulai bergerak. Tetapi seorang diantara mereka mencoba
melingkar dengan putaran senjatanya yang bertajam dikedua sisinya.
Demikian keras putaran itu, sehingga seolah- olah menimbulkan angin
yang berdesing mengguncang dedaunan. Perhatian Swasti memang lebih
banyak tertuju kepada pedang yang berputar itu. Namun sementara itu.
lawannya yang bergolok besar, bergeser mnedekat, seperti seekor
harimau yang perlahan- lahan merunduk lawannya. Namun tiba-tiba
terjadi sesuatu diluar perhitungan kedua orang itu. Meskipun
perhatian Swasti lebih banyak tertuju kepada desing pedang bertajam
rangkap, tetapi ternyata iapun mempunyai perhitungan lain. Sejenak
kemudian, seperti yang diperhitungkan, maka orang berpedang itupun
meloncat menyerang, langsung menebas kekening. Dengan tangkasnya
Swasti merendah sambil bergeser. Pada saat itulah lawannya yang lain
meloncat menusuk dengan goloknya yang besar. Yang tidak
diperhitungkan oleh orang bergolok itu adalah, bahwa Swasti tidak
berguling atau meloncat jauh-jauh untuk menghindar, sementara
seorang yang lain siap untuk memburunya. Bahkan Kiai Kanthipun
tergetar hatinya melihat sikap anaknya. Bukan karena Swasti tidak
lagi sempat berbuat sesuatu. Tetapi yang dilakukan adalah justru
sangat mengejutkan. Ketika orang bergolok itu meloncat dengan
senjatanya terjulur lurus, tanpa disangka-sangka Swasti justru telah
melemparkan pisau belatinya. Demikian keras dan dengan bidikan yang
tepat, maka yang terdengar kemudian adalah keluhan panjang. Ujung
golok itul tidak sampai menyentuh lawannya, karena pisau belati yang
menghunjam kepusat jantung. Yang terjadi itu benar-benar telah
menggoncangkan hati orang berpedang yang menjadi tegang. Ia melihat
kawannya terhuyung-huyung, kemudian jatuh menelungkup, hanya
beberapa jengkal didepan Swasti. Meskipun goloknya masih tetap
ditangan, namun tidak ada kekuatan lagi untuk menekankan goloknya
itu ketubuh gadis yang masih berdiri merendah. Baru sekejap kemudian
kawannya menyadari apa yang telah terjadi. Karena itu, maka
terdengar ia menggeretakkan giginya. Diantara gemeretak giginya ia
menggeram, “Anak gila, kuntilanak, setan, tetekan. Kau harus mati
dan mayatmu akan dicincang sampai lumat.” Swasti meloncat selangkah
menjauh. Ia kemudian harus bersiap menghadapi lawannya yang seorang
lagi. Namun ia merasa bahwa tugasnya akan menjadi lebih ringan,
meskipun senjatanya tidak lagi genap sepasang. Sementara itu, Kiai
Kanthi maju selangkah mendekati arena sambil berkata, “Ki Sanak dari
dunia wadag. Sudah aku katakan, bahwa kami adalah penghuni hutan ini
yang tidak akan dapat kau kalahkan. Karena itu, mumpung kau masih
belum cidera oleh kuntilanak itu, pergilah. Tinggalkan tempat ini.“
“Gila. Kalian bukan orang halus yang turun kedua wadag. Tetapi
kalian adalah orang-orang gila yang berkesempatan untuk menyadap
ilmu yang tinggi. Jika kalian tidak aku binasakan, maka kalian akan
merupakan bahaya yang paling besar bagi sesamamu.” Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Tetapi Swasti sudah mendahuluinya, “Biarkan
apa saja yang akan dilakukan ayah. Aku akan membunuhnya juga seperti
kawannya agar ia tidak akan dapat berbicara tentang kita kepada
siapapun juga.” “Ah,“ desah Kiai Kanthi, “kita dapat berbuat lain.“
Tetapi Swasti tidak menjawab, karena orang berpedang itu sudah
meloncat menyerangnya dengan dahsyatnya. Ayunan pedangnya yang
mengerikan itu, bagaikan badai yang melanda hutan itu, meskipun
hanya selingkar kecil. Namun dedaunan dan dahan-dahan berpatahan dan
runtuh ditanah. Gerumbul-gerumbul bagaikan ditebas, sementara
pokok-pokok pepohonan telah terkelupas kulitnya. Namun Swasti mampu
mengimbangi kecepatan bergerak lawannya. Setelah seorang dari mereka
terbunuh, maka Swasti mempunyai kesempatan lebih banyak. Bahkan ia
dapat bertempur berhadapan, meskipun ia hanya membawa sebilah belati
panjang. Kiai Kanthi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Anak
gadisnya memang seorang yang keras hati. Jika ia sudah bersikap maka
sulitlah baginya untuk mengendorkannya. Karena itu, dengan
berdebar-debar Kiai Kanthi menyaksikan apa yang telah terjadi. Ja
hanya dapat menunggu akhir dari perkelahian itu, meskipun ia tidak
meninggalkan kewaspadaan, karena bagaimanapun juga ia tidak akan
dengan rela kehilangan anak gadisnya. Dalam pada itu. pertempuran
itupun masih berlangsung dengan sengitnya. Namun Swasti telah
berhasil mendesak lawannya, sehingga lawannya yang bersenjata pedang
itulah yang kemudian lebih banyak berlindung diantara pepohonan.
Namun Swasti memang mampu bergerak dengan cepat dan tangkas. Pisau
belati panjangnya yang tinggal sebilah itu berputaran dan
mematuk-matuk. Rasa-rasanya pisau itu telah menjadi rangkap sepasang
seperti sebelumnya. Bahkan pisau itu bagaikan bertambah semakin
banyak. Seolah-olah menjadi dua pasang, tiga pasang, dan kemudian
seolah-olah berada diseputar tubuhnya. Sentuhan-sentuhan pertama
dari ujung belati, membuat orang itu menjadi semakin garang dan
kasar. Pedangnyapun berputaran, menebas mendatar, namun
kadang-kadang menusuk dengan dahsyatnya. Namun ternyata bahwa Swasti
mampu bergerak lebih cepat dari lawannya. Terasa pada beberapa
bagian tubuhnya, perasaan pedih telah menyengat-nyengat. Darah mulai
menitik dari luka- lukanya, meskipun luka-luka itu tidak segera
membunuhnya. Namun kematian itu memang sudah membayang. Ia sama
sekali tidak dapat menghindarkan diri dari tusukan pisau belati
panjang Swasti dipunggung, pundak dan kemudian lambung. Betapa
pedihnya luka-luka ditubuh itu. Tetapi lebih pedih lagi luka
diliatinya. Ia datang dengan seorang kawannya untuk mencari orang
yang terdahulu datang dipadukuhan ini. tetapi tidak kembali. Bahkan
kini, ia sendiri telah terjebak dalam kesulitan dan bahkan kedalam
belitan maut. “Apakah orang-orang ini pula yang telah membunuh
orang- orang Pusparuri dan Kendali Put ih ?” pertanyaan itu tumbuh
dihatinya. Tetapi ia tidak dapat mempersoalkan terlalu lama, karena
ujung pisau belati gadis itu telah menggores lengannya. Kemarahan
orang berpedang itu bagaikan telah membakar otaknya, sehingga ia
tidak sempat lagi berpikir. Oleh perasaan pedih dikulitnya dan pedih
diliatinya, maka iapun mengamuk seperti seekor harimau yang sedang
wuru. Pedangnya diayun- ayunkannya sambil berteriak
sekeras-kerasnya. Meloncat- loncat dan menyerang sejadi-jadinya
tanpa menghiraukan apa yang telah dan akan terjadi atasnya.
Bagaimanapun juga tabahnya hati Swasti, namun melihat lawannya
menjadi gila, hatinya tergetar pula. Tiba-tiba saja ia merasa
berhadapan dengan seseorang yang buas dan liar. Justru karena
itulah, maka Swastipun kemudian justru terdesak. Bukan karena
lawannya berhasil mengerahkan tenaga cadangan yang dapat mendorong
kecepatan geraknya, tetapi semata-mata karena Swasti menjadi nger i,
melihatnya. Kiat Kanthipun menjadi semakin berdebar-debar. Lawan
Swasti telah menjadi putus asa, sehingga karena itu, maka yajig
dilakukannya tidak lebih dari bunuh dir i. Tetapi keliarannya itu
ternyata telah membuat Swasti menjadi ngeri. Namun dengan demikian,
maka Swastipun telah kehilangan pengendalian dir i. Jika semula ia
masih memikirkan kemungkinan untuk menghidupi lawannya dan
memikirkan penyelesaiannya kemudian, maka pikiran itu telah lenyap
bersama kenger ian yang mencengkamnya. Pada saat-saat yang gawat
karena keliaran orang Pusparuri itulah, Swasti telah mengambil sikap
seperti yang pernah dilakukannya. Ketika lawannya meloncat sambil
memutar pedangnya dengan gila, gadis itu berdir i tegak menunggunya.
Kemudian, sebuah loncatan yang deras telah melemparkan pisau
belatinya tepat mematuk dada. Terdengar orang itu berteriak penuh
kemarahan. Namun kemudian suaranya menghilang diantara desir lembut
angin pegunungan. “Ayah,“ desis Swasti sambil memalingkan wajahnya.
Ayahnya mendekatinya. Ketika ia menyentuh anak gadisnya, maka
tiba-tiba saja Swasti telah memeluknya. Terasa didada ayahnya, nafas
Swasti memburu seperti detak jantungnya. -oooOooo—
Jilid 04 SAMBIL menepuk punggung anaknya Kiai Kanthi.
berkata, “Sudahlah Swasti. Beristirahatlah. Kau sudah menyelesaikan
tugasmu dengan baik, meskipun bukan yang terbaik, karena kedua
lawanmu telah kau bunuh.” Swasti tidak menjawab. Ketika ayahnya
kemudian memegang pundaknya dan mendorongnya duduk dibawah sebatang
pohon besar, Swasti seolah-olah tidak mempunyai sikap lagi
menghadapi kenyataan itu. “Beristirahatlah Swasti. Kau tentu lelah.”
Swasti mengangguk. Sementara ia melihat ayahnya telah memungut pisau
belatinya dari tubuh tawannya, dan menusukkan ketanah beberapa kali,
sehingga darah yang melekat telah menjadi bersih karenanya. “Inilah
senjatamu. Nanti, kau dapat mencucinya di parit dibawah telaga itu,“
desis ayahnya. Swasti hanya mengangguk saja. Namun ia masih gemetat
seperti juga nafasnya masih saling memburu dilubang hidungnya. “Kau
dapat mengatur pernafasanmu. Kau harus menjadi tenang dan mengerti
seluruhnya atas peristiwa yang baru saja kau alami,“ berkata
ayahnya. Swasti mengangguk. Dicobanya untuk menguasai pernafasannya
dan mengaturnya perlahan-lahan. Akhirnya Swasti berhasil menenangkan
dirinya. Nafasnya mulai teratur dan detak jantungnya pun mulai
menurun. Namun dalam pada itu. selagi ia duduk tenang dan menguasai
diri sepenuhnya, perasaannya telah terganggu oleh suara dikejauhan.
Lamat-lamat Swasti mulai mendengar lagi suara kentongan dalam irama
yang tidak teratur. “Suara kentongan itu ayah,“ desis Swasti.
Ayahnya mengerutkan keningnya. Katanya, “Agaknya anak yang dicari
itu masih belum diketemukan. Dan mereka akan tetap mencari meskipun
sampai tiga hari tiga malam. Baru setelah tiga hari tiga malam
mereka tidak menemukannya, maka mereka akan menganggap anak itu
benar hilang. Dan merekapun akan melakukan upacara seolah-olah anak
itu sudah meninggal.” “Ayah,“ tiba-tiba saja Swasti bangkit, “apakah
mereka mencari anak itu?” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya.
Dipandanginya anak muda yang terbaring. Tetapi ia tidak pingsan
lagi. ia tertidur karena sentuhan tangan Kiai Kanthi sebelum ia
mengerti apakah yang telah terjadi atasnya. Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin. Mungkin anak itulah yang
dicarinya.” “Jadi, apakah kita akan mengatakannya kepada mereka,
bahwa kita telah menemukannya disini?” Kiai Kanthi menjadi
ragu-ragu. Kemudian katanya, “Jika demikian, maka akan timbul banyak
pertanyaan tentang anak itu. Jika anak itu sadar, ia akan
mengatakan, bahwa ia telah dibawa oleh dua orang Pusparuri. Dan
orang-orang padukuhan itupun akan mengusut pula, dimana kedua orang
Pusparuri itu. Terutama Daruwerdi. Agaknya ia memang mempunyai
hubungan dengan pimpinan perguruan Pusparuri meskipun tidak
diketahui sepenuhnya oleh orang-orang Pusparuri sendir i.” “Jadi
apakah yang sebaiknya kita lakukan dengan anak muda itu, ayah?“
bertanya Swasti. Tiba-tiba wajah Kiai Kanthi menjadi cerah. Sambil
tersenyum ia berkata, “Marilah kita bermain-main dengan orang-orang
padukuhan Lumban. Kita akan menghilangkan jejak yang dapat
menumbuhkan kecurigaan orang-orang padukuhan. Kita akan membawa anak
muda itu dan menyerahkan kembali kepada orang-orang Lumban tanpa
menampakkan diri.” “Maksud ayah?” “Kita bawa anak muda itu dan kita
letakkan di bawah pohon randu alas di ujung padukuhan sebelah Utara,
dibatas hutan perdu. Kita akan dengan mudah bersembunyi agar tidak
dilihat oleh orang-orang Lumban yang sedang mencar i anak itu.”
“Bagaimana jika mereka tidak mencar inya kerandu alas itu ?” “Aku
akan membawa titikan dan membuat api. Dengan sepercik belerang, maka
api emput itu akan menyala seperti jika kita menyalakan perapian.
Api belerang yang kebiru- biruan itu akan mengundang perhatian
mereka.” “Apakah mereka akan melihat api belerang yang kecil itu?”
“Mudah-mudahan. Aku mengira, bahwa mereka masih akan berputar-putar
diseluruh padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon serta sekitarnya.
Pada suatu saat tentu ada sekelompok dar i mereka yang akan lewat
didekat randu alas itu meskipun sudah empat lima kali mereka
lewati.” Swasti mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah kita coba ayah.
Tetapi bagaimana membawa anak muda itu ?” Kiai Kanthi mengerutkan
keningnya. Nampaknya iapun mulai memikirkan bagaimana membawa anak
yang tertidur itu. Tentu tidak mungkin untuk menyadarkannya,
kemudian mengajaknya turun. Dengan demikian, ia tentu akan bercerita
tentang hutan yang dihuni oleh dua orang ayah dan anak gila.
“Swasti,“ berkata ayahnya, “meskipun aku sudah menjadi semakin tua,
tetapi agaknya aku masih kuat mengangkatnya turun sampai keujung
padukuhan itu.” Swasti termangu-mangu sejenak. Namun katanya
kemudian, “Aku tentu juga dapat membantu ayah. Agaknya aku-pun kuat
mengangkatnya diatas bahu.” “Tetapi itu tidak pantas. Ia seorang
anak muda.” “Ah,” Swasti berdesah. Sejenak kemudian. Kiai Kanthipun
mencoba mengangkat anak muda itu di atas pundaknya. Kemudian
membawanya melangkah beberapa langkah. “Tidak terlalu berat Swasti.
Agaknya aku akan dapat membawanya turun tanpa kesulitan.” Swasti
memandang ayahnya sejenak. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.
Keduanyapun kemudian menuruni tebing pegunungan yang sudah tidak
begitu tinggi meskipun kadang-kadang curam, tetapi kadang-kadang
bagaikan sudah disediakan tangga- tangga batu padas. Tetapi keduanya
dapat memilih jalan yang tidak terlalu sulit untuk mencapai dataran
dibawah. Ternyata bahwa Kiai Kanthi yang tua itu masih cukup kuat
dan tangkas. Bagaimanapun juga ia aaalah seorang yang mumpuni.
Seorang yang memiliki kekuatan meiampaui kekuatan orang kebanyakana
Dan iapun mempunyai aaya tahan melampaui orang kebanyakan pula.
Tanpa mengalami kesulitan. Kiai Kamthn dan Swastipun kemudian telah
berada didataran dibawah butut. Kemudan dengan hati-hati mereka
membawa anak yang tertidur nyenyak itu kebawah sebatang randu alas
yang besar dan berdaun rimbun. “Letakkan digerumbul dibawah pohon
itu ayah,“ desis Swasti. “Mudah-mudahan anak itu tidak dipatuk
ular.” “Ia tidak bergerak-gerak, tentu ia tidak akan dipatuk ular.”
“Jadi, apakah ia akan kita biarkan tidur terus, dan tidak ada yang
akan dapat membangunkannya ?” “Aku kira, Jlitheng yang sombong itu
akan dapat membangunkannya.” “Tetapi biarlah kita menunggu sampai
kita yakin akan diketemukan. Kemudian kita bangunkan anak itu,
sementara itu kita bersembunyi baik-baik.” “Terserah saja kepada
ayah,“ desis Swasti. Kiai Kanthipun kemudian meletakkan tubuh
Kuncung didalam gerumbul yang tidak terlalu rimbun. Dengan sengaja
ia membiarkan kaki anak muda itu terjulur. “Kita menunggu. Aku
yakin, bahwa salah satu kelompok dari mereka yang mencari anak yang
hilang itu akan datang lagi kebawah pohon randu alas yang besar
ini.” “Tetapi, bagaimanakah jika yang sebenarnya mereka cari bukan
anak ini ayah ?“ bertanya Swasti. “Siapapun juga. tetapi kita telah
mengembalikan anak yang malang ini kepada keluarganya, sementara
kita masih mempunyai pekerjaan mengubur dua sosok mayat yang kita
tinggalkan dihutan itu.” Swasti mengangguk-angguk. Jawabnya,
“Mudah-mudahan kelompok yang kita dengar suara kentongan dan
tetabuhannya itu menuju kemari.” Beberapa saat lamanya keduanya
menunggu. Tetapi ternyata kelompok pertama dari orang-orang yang
mencari anak yang diculik hantu itu tidak lewat dibawah pohon randu
alas itu. Namun beberapa saat kemudian kelompok yang lain telah
mendekat pula. “Suaranya ribut sekali ayah,“ desis Swasti. “Ya.“
Mereka memukul apa saja yang mereka dapat. Kentongan, tambir, tampah
dan mungkin potongan-potongan besi dan senjata. Mereka membunyikan
asal saja membunyikan tanpa irama tertentu.” “Nah, kalau kelompok
yang kemudian ini nampaknya benar-benar akan melalui jalan ini.”
gumam Swasti. Untuk sesaat lagi mereka menunggu. Sejenak kemudian
mereka melihat beberapa buah obor muncul dari padukuhan. Mereka
melalui jalan bulak yang semakin lama menjadi semakin dekat dengan
pohon randu alas itu. “Aku akan menyalakan api yang berwarna biru
agar mereka tertarik dan datang kemari,“ berkata Kiai Kanthi. Kiai
Kanthipun kemudian menyalakan api dengan titikan dan seperingkil
belerang. Api yang berwarna kebiru-biruan telah menyala. Dengan
menggerakkan api itu, maka Kiai Kanthi mengharap, bahwa api itu akan
menarik perhatian. “Mereka akan mengira, api ini kemamang yang
terbang mengitari pohon randu alas ini,“ desis Kiai Kanthi. “Jika
demikian mereka akan takut mendekat,“ desis Swasti. “Tidak. Jika
mereka seorang seorang, mereka memang akan takut mendekat. Tetapi
bersama-sama mereka akan merupakan kelompok pemberani yang justru
akan datang untuk melihat, apakah yang terdapat dibawah pohon randu
alas ini.” Ternyata beberapa orang yang berjalan dibulak itu, benar-
benar melihat sepercik api berwarna kebiru-biruan. Api yang
seolah-olah terbang berputaran mengelilingi pohon randu alas, karena
Kiai Kanthi memang membawa api diatas sebuah kulit kayu mengelilingi
pohon randu alas itu. Api yang tidak begitu besar. Tidak lebih dar i
sekepalan tangan. Namun dapat dilihat dari bulak yang pendek, yang
tidak begitu jauh dari pohon randu alas itu, dan api itu mempunyai
warna yang khusus. Karena itu, maka seperti yang diharapkan, maka
nyata api yang kebiru-biruan itu benar-benar telah menarik
perhatian. “He, kau lihat api dibawah pohon randu alas itu,“ desis
seseorang yang sedang memukul sepotong besi dengan potongan besi
yang lain. Seorang yang memukul kentongan disebelahnya mengerutkan
keningnya. Iapun telah melihat api yang kebiru- biruan itu. Maka
katanya, “Ya. Api itu agak aneh. Apakah api itu mempunyai arti yang
khusus.” “Mungkin. Mungkin sekali,“ sahut yamg lain. Api belerang
itu akhirnya telah menar ik perhatian seluruh kelompok pencari anak
yang hilang itu. Seorang yang berambuti putih berdesis, “Menarik
sekali. Apakah benar cahaya yang kebiru-biruan itu mempunyai arti
khusus ?” “Mungkin sekali,“ sahut yang lain. “Marilah kita lihat,“
berkata orang tua itu lebih lanjut. Sejenak kawan-kawannya saling
berdiam diri. Tetabuhan- nyapun terdiam beberapa saat. “Marilah,“
orang tua itu mendesak. Kawan-kawannya masih ragu-ragu. Namun
akhirnya orang tua itu berkata, “Aku akan berdiri dipaling muka.
Berikan obor itu kepadaku.” Seorang anak muda yang pucat member ikan
obor kepada erang berambut putih itu. Kemudian, beriringan mereka
menuju kepohon randu aitas yang diputari oleh semacam cahaya yang
berwarna kebiru-biruan. Kiai Kanthi telah memperhitungkan, pada
jarak yang mana ia harus bersembunyi. Sehingga karena itulah, maka
kelompok-kelompok orang-orang itu tertegun ketika mereka pielihat
tiba-tiba saja api yang berwarna kebiru-biruan itu hilang. Meskipun
demikian, orang berambut putih itu berkata, “Kita akan
membuktikannya kebawah randu alas itu. Pukul semua alat yang ada
pada kita sekeras-kerasnya. Jika ada hantu di randu alas itu,
biarlah mereka menyingkir karena telinga mereka menjadi sakit oleh
suara ini.” Dengan demikian, maka tetabuhanpun menjadi semakin
keras. Perlahan-lahan iring-iringan itu maju meskipun dengan hati
yang berdebar-debar. Ketika mereka mendekati pohon randu alas yang
besar itu, mereka sama sekali tidak melihat sesuatu. Mereka tidak
melihat cahaya yang kebiru-biruan. Mereka tidak melihat seseorang
dan tidak melihat apapun juga. “Tidak ada apa-apa,“ desis seseorang.
“Ya. Tidak ada,“ sahut yang lain. Tetapi orang berambut putih itu
berkata, “Kita akan mencari disekeliling randu alas ini. Bunyikan
tetabuhan itu sekeras-kerasnya.” Sekali lagi ocang-orang dalam
kelompok itu memukul benda-benda yang mereka bawa sekeras-kerasnya.
Bunyinya benar-benaT memekakkan telinga, sehingga jika mereka
berbicara diantara sesama mereka, maka merekapun harus berteriak
sekeras-kerasnya pula. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja salah
seorang dari mereka menjerit. Suaranya metengking mengatasi suara
tetabuhan yang hiruk pikuk. “Ada apa ?“ bertanya seorang kawannya
yang juga menjadi pucat. “Ya Ada apa ?” desak yang lain. Orang itu
menjadi gagap. Sambil menunjuk kesebuab gerumbul ditepi jalan,
dibawah randu alas itu ia berkata terputus-putus, “Itu, itu. Lihat.”
Semua orang berpaling kearah gerumbul yang ditunjuk. Merekapun
terperanjat ketika mereka melihat dua batang kaki yang terulur dari
gerumbul itu. Belum lagi jantung mereka mereda, mereka telah
dikejutkan lagi oleh suara yang mengerikan, yang telah mendirikan
bulu tengkuk mereka. Suara itu adalah suara perempuan. Tetapi suara
tertawa perempuan itu benar-benar suara tertawa hantu yang
menakutkan. Suara tertawa yang bagaikan menghentak jantung setiap
orang yang berada dibawah pohon randu alas itu. “Itu adalah iblis
betina,“ berkata setiap orang dida-lam hati mereka masing-masing.
Suara tertawa itu semakin lama terdengar semakin keras, Dan suara
tertawa itu bagaikan meretakkan dada mereka. Setiap orang telah
melepaskan benda-benda ditangannya. Mereka menutupi telinga mereka
dengan kedua telapak tarzan. Bahkan ada diantara mereka yang
terduduk lemah tidak berdaya. “Aku kembalikan anak itu kepada kalian
orang-orang Lumban yang dungu,“ terdengar suara yang tidak jelas
sumbernya, “aku tidak memer lukan anak yang bodoh dan penakut.
Ambillah salah seorang anakmu ke orang-orang Lumban. Untuk beberapa
saat ia akan tetap tertidur. Tetapi ia akan bangun pada saatnya.
Mungkin untuk sehari dua hari ingatannya belumpulih. Tetapi itu
bukan salahnya.” Orang-orang dibawah pohon randu alas itu menjadi
gemetar. “Ambilah. Aku akan pergi,“ terdengar suara itu melanjutkan.
Disusul oleh suara tertawa berkepanjangan. Semakin lama semakin jauh
dan akhirnya hilang ditelan desau angin malamyang dingin. Beberapa
saat lamanya orang-orang Lumban itu masih dicengkam ketakutan. Namun
kemudian orang yang berambut putih dan menggenggam obor ditangannya
itu berkata, “Anak itu sudah diserahkannya. Marilah, kita
mengambilnya. Kita tidak bersalah dan kata tidak akan dikutuknya,
karena yang terjadi adalah oleh kehendak iblis betina itu sendir i.”
Beberapa orang masih ragu-ragu. Namun akhirnya merekapun mendekati
gerumbul dibawah pohon randu atas itu. Mereka masih melihat dua
batang kaki yang terjulur. “Itu tentu kaki Kuncung,“ berkata orang
berambut put ih itu. Kemudian dibantu oleh beberapa orang yang masih
berdebar-debar, mereka menarik kaki yang mereka lihat. “Kuncung,
benar-benar-Kuncung,“ desis beberapa orang. Orang-orang yang
kemudian mengerumuninya menar ik nafas dalam-dalam. Mereka telah
menemukan anak yang mereka car i. Tetapi ternyata bahwa Kuncung
masih berdiam diri. ia masih tetap tidur nyenyak. “Ia mati,“ desis
seseorang. “Tidak, Ia tidur seperti yang dikatakan oleh iblis betina
itu. ia masih tetap bernafas,“ sahut orang berambut putih. “Marilah
kita bawa kembali kepadukuhan,“ berkata yang lain. Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Merekapun kemudian beramai-ramai menggotong
Kuncung yang masih tertidur nyenyak dengan nafas yang mengalir
teratur dari lubang hidungnya. Ketika anak itu dibawa masuk ke
padukuhan, maka gemparlah padukuhan induk Lumban Wetan. Setiap orang
telah keluar dar i rumahnya untuk melihat Kuncung yang baru saja
dicuri oleh hantu betina. Sementara itu, Jlitheng yang kebingungan,
seolah-olah telah kehilangan akal. Kemana ia harus mencari Kuncung
yang hilang itu. Seluruh daerahl Lumban dan sekitarnya telah
dijelajahinya Namun ia tidak menemukannya. Bahkan kemudian muliai
tumbuh di pikirannya, “Apakah Kuncung benar-benar dibawa hantu ?”
Dalam kebingungan itu tiba-tiba saja ia teringat kepada Daruwerdi
yang berada di bukit gundul. Nampaknya ia memang menunggu seseorang.
“Apakah tidak ada sekelompok orang yang mencari kebukit itu ?“
bertanya Jlitheng kepada diri sendir i. Tetapi Jlitheng
menggelengkan kepalanya. Bukit itu benar benar gundul, sehingga
orang-orang Lumban tentu menganggap bahwa tidak mungkin Kuncung
disembunyikan ditempat itu. Namun Jlithenglah yang kemudaan berlar
i-lari kebukit gundul itu. Ia ingin mengetahui, apakah yang
dilakukan olehi Daruwerdi j ika orang yang ditunggunya itu sudah
datang. Apakah ada hubungannya dengan hilangnya Jlitheng atau tidak.
Tetapi ia menggeram ketika ternyata Daruwerdi telah tidak ada di
bukit gundul itu. Sambil menghentakkan tangannya Jlitheng bergumam,
“Gila. Aku kehilangan semuanya. Aku tidak menemukan Kuncung,
sementara aku juga kehilangan Daruwerdi dan orang yang disebutnya
Cempaka itu.” Sejenak Jlitheng justru termangu-mangu. Rasa-rasanya
rahasia yang meliputi padepokan Lumban Wetan dan Lumban Kulon justru
menjadi semakin tebal. Namun dalam pada itui Jlitheng terkejut
ketika ia mendengar suara kentongan dalam nada dara-muhik. Diluar
sadarnya ia bergumam, “Sokurlah. Anak itu sudah dapat diketemukan.“
Namun tiba-tiba wajahnya menegang, “Tetapi hidup atau mati.” Dengan
serta merta Jlithengpun telah meloncat berlari dengan
sekencang-kencangnya lewat pematang dan jalan- jalan sempit yang
memintas, langsung menuju keinduk padukuhannya. Dengan nafas
terengah-engah ia menemukan banyak orang yang berkerumun di banjar.
Orang tua Kuncung duduk disamping anaknya yang terbujur diamsambil
menangis. “Ia kehilangan j iwanya, meskipun tidak nyawanya,“ desis
beberapa orang. Kuncung memang masih tertidur nyenyak. Nafasnya
mengalir dengan teratur. Tetapi tidak seorangpun yang dapat
membangunkannya. Untuk sesaat Jlijtheng termangu-mangu. Seorang
kawannya yang melihatnya berlari-lari bertanya, “Kemana kau selama
ini Jlitheng ?” “Aku ikut mencarinya. Tetapi aku tersesat.
Seolah-olah jalan menjadi asing. Untunglah aku masih mendengar suara
kentongan dan suara hiruk pikuk orang-orang yang mencari Kuncung,“
jawabnya. “O, agaknya kaupun hampir disambarnya,“ desis kawannya
yang lain. Dari kawan-kawannya Jlitheng mendengar, bagaimana Kuncung
itu diketemukan. Ketika sekelompok orang-orang Lumban lewat didekat
randu alas, mereka telah melihat seekor kemamang berwarna
kebiru-biruan terbang mengelilingi batang randu alas itu. Ketika
kemudian mereka mendekat, mereka menemukan Kuncung, setelah lebih
dahulu mereka mendengar suara hantu betina itu. Jlitheng mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Mengerikan sekali. He,
bagaimana jika aku juga dibawa oleh hantu betina itu ?“ desis
Jlitheng. “Kau akan pingsan untuk waktu yang lama, atau barangkali,
yang sudah dikembalikan baru tubuhnya, belum jiwanya,“ sahut
kawannya. Sejenak Jlitheng terdiam. Namun kemudian ia berkata, “Aku
akan melihat, apakah Kuncung terluka atau itidak.” “Tidak. Tidak ada
tanda-tanda luka padanya,“ sahut kawannya. Namun Jlitheng
mendesaknya. Ketika ia menyibakkan beberapa orang, maka orang-orang
itu membentaknya, “He, apa yang akan kau lakukan Jlitheng ?”
Jlitheng memandang berkeliling. Dilihatnya wajah-wajah yang tegang
dan gelisah. “Aku hanya ingin melihat saja,“ desisnya. “Jangan kau
ganggu. Kita menunggu ia terbangun.” “Apakah tidak dapat dibangunkan
seperti membangunkan orang tidur nyenyak?” beritanya Jiiitheng. “Kau
memang dungu. Ia tidak tidur sewajarnya tidur.“ sahut sallah seorang
tua. “Tetapi nampaknya benar-benar seperti tidur,“ Jlitheng
membantah. Tanpa menghiraukan orang-orang yang memandanginya dengan
marah, Jlitheng mendekati tubuh Kuncung yang terbujur. Kemudian
dirabanya seluruh tubuh itu. “Jlitheng, jika kau membuatnya celaka,
maka kau akan dihukum oleh orang-orang disehiruh padukuhan,“ desis
seorang bertubuh tinggi besar, “kita sedang menunggu Ki Buyut di
Lumban Wetan. Sentuhan tanganmu mungkin akan menimbulkan akibat yang
tidak dikehendaki.” Jlitheng memandang orang itu sejenak. Namun
kemudian katanya, “Apakah aku boleh mengguncangnya seperti
mengguncang orang t idur?” “Jangan,“ teriak seseorang. Tetapi
Jlitheng sudah melakukannya. Perlahan-lahan diguncangnya kaki
Kuncung yang tertidur nyenyak itu. Tidak seorangpun yang melihat,
Jlitheng telah menyentuh tengkuk Kuncung disaat ia meraba-raba tubuh
anak itu. Nampaknya Jlitheng menjadi curiga bahwa keadaan Kuncung
disebabkan oleh kemampuan ilmu yang dapat membuatnya tidur. Ternyata
yang dilakukan Jlitheng itu telah mengejutkan orang-orang yang
berkerumun. Mereka hanya melihat Jlitheng mengguncang kaki Kuncung.
Namun kemudian mereka melihat Kuncung itu per lahan-lahan mulai
bergerak dan membuka matanya. “He, anak itu bangun,“ tiba-tiba saja
Jlitheng berteriak. Setiap orang terguncang hatinya. Ternyata mereka
benar- benar melihat Kuncung bergerak dan membuka matanya. Kemudian
terdengar anak muda itu mer intih. Dengan cemas orang tua Kuncung
bergeser mendekat. Diusapnya keningnya anaknya yang basah oleh
keringat sambil menyebut namanya, “Supada, ngger Supada.” Tetapi
ayahnya kemudian memanggil dengan nama panggilannya sehari-hari
“Cung, Kuncung.” Namun itu lebih tajam menyentuh perasaannya,
sehingga karena itu, maka iapun mencoba untuk bangkit. Dengan
gemetar ayahnya membantunya mengangkat kepalanya. Kemudian
membantunya pula duduk diantara orang-orang Lumban yang
mengerumuninya. Sejenak Kuncung kebingungan. Dipandanginya
orang-orang yang mengerumuninya. Kemudian terdengar ia bertanya,
“Dimanakah aku sekarang ?” “Kau berada di banjar ngger. Banjar
padukuhan kita sendiri,“ sahut ayahnya. Tetapi nampaknya Kuncung
masih bingung. Bahkan tiba- tiba saja ia bertanya, “Dimanakah kedua
orang yang menger ikan itu sekarang?” “Siapa ?“ bertanya beberapa
orang-orang Lumban hampir berbareng. Kuncung menggeleng sambil
menjawab, “Aku tidak tahu. Tetapi mereka telah membawa aku naik
kebukit itu. Mereka memaksa aku menceritakan sesuatu yang tidak aku
ketahui.” “Apa yang harus kau cer itakan?” Kuncung menar ik nafas
dalam-dalam. Beberapa orang kemudian berusaha untuk mengatur diri,
sehingga orang- orang yang mengerumuni Kuncung dapat melihat dan
mendengar ia berceritera. Kuncunmgpun kemudian mencer itakan apa
yang dialaminya. Sejak ia kembali dari sungai yang hampir kering
itu. Bagaimana ia bertemu dengan dua orang yang garang dan
membawanya pergi. Iapun menceritakan apa yang ditanyakan oleh kedua
orang itu kepadanya dan bagaimana ia mulai memukulnya. Orang-orang
Lumban itu mendengarkan ceritera Kuncung dengan tegang. Bahkan
merekapun menjadi ngeri mendengarnya, seolah-olah mereka melihat dan
mengalami apa yang telah dialami olah anak muda itu. Namun dalam
pada itu, tiba-tiba saja terdengar seseorang tertawa. Ketika
orang-orang Lumban itu berpaling, mereka melihat Jlitheng berusaha
menahan tertawanya. “Kenapa kau tertawa ?“ bertanya beberapa orang
hampir bersamaan. Jlitheng terkejut ketika ia menyadari bahwa semua
orang memperhatikannya Dengan gagap iapun menjawab, “Aku geli
mendengar ceritera seseorang yang baru saja dibawa hantu betina. He,
bukankah Kuncung diculik wewe dan dikembalikan dibawah pohon randu
alas ?” Kata-kata itu telah memper ingatkan orang-orang Lumban,
bagaimana mereka menemukan Kuncung. Karena itu, maka orang-orang
Lumban itupun mengangguk-angguk sambil berkata kepada diri sendiri,“
ia benar-benar kehilangan ingatan. Yang diceriterakan itu tentu
bayangan yang dibuat oleh hantu betina itu.” Namun tiba-tiba saja
salah seorang dara mereka yang mengerumuni Kuncung itu bertanya,
“Jlitheng, jika yang terjadi itu sekedar khayalan, maka kenapa hal
itu pernah terjadi juga atasmu. Dan itu tentu bukan khayalan karena
banyak orang yang melihat, bagaimana kau dibawa oleh dua orang yang
garang, tepat seperti yang dikatakan oleh Kuncung.” “Itulah yang
menggelikan,“ jawab Jlitheng, “ia pernah mendengar atau melihat dua
orang yang membawa aku. Dalam ketidak sadarannya, karena ia dibawa
oleh hantu betina, maka ingatan itu muncul seolah-olah terjadi atas
dirinya. Dibantu oleh bayangan semu yang memang dibangunkan oleh
ibhs betina itu, maka seolah-olah yang terjadi adalah benar-benar
telah terjadi.” Orang-orang Lumban mengangguk-angguk kecil.
Penjelasan Jlitheng memang masuk akal. Bahkan seorang tua berkata,
“Darimana kau mendapatkan pengertian itu Jlitheng?” Pertanyaan itu
telah mengejutkan Jlitheng. Namun ia berusaha menjawab, “Mungkin
kek. Mungkin demikian. Aku hanya menduga-duga.” Tetapi orang-orang
Lumban itu semakin mempercayai Jlitheng karena Kuncung kemudian
tidak dapat menjelaskan, bagaimana mungkin ia berada dibawah pohon
randu alas itu. Bahkan tertidur nyenyak seperti orang yang sedang
pingsan.” Dalam pada itu, ketika Ki Buyut Lumban Wetan datang ke
banjar, maka orang yang mengerumuni Kuncung itupun menyibak.
Dihadapan Ki Buyut, Kuncung mencer iterakan kembali apa yang pernah
diceriterakan. Sementara itu, ketika perhatian setiap orang tertuju
kepada Ki Buyut dan Kuncung, maka Jlitheng berbisik kepada kawannya
yang duduk disebelahnya, “Aku akan kesungai.” “Kenapa ?“ bertanya
kawannya heran. “Perutku sakit sekali.” “He, kau dapat dibawa wewe
seperti Kuncung.” “Sedangkan Kuncung saja telah dikembalikannya. Ia
tentu tidak memer lukan orang lain lagi. Setidak-tidaknya untuk sisa
malamini.” Kawannya tidak mencegahnya. Sementara yang lain t idak
memperhatikannya, ketika Jlitheng kemudian meninggalkan banjar.
Tetapi demakian ia sampai ketempat yang sepi maka iapun segera
berlari sekencang-kencangnya. Bahkan ia telah mengerahkan kemampuan
ilmunya untuk mendorong kekuatan kakinya, sehingga anak muda itupun
kemudian telah berlari kencang sekali menuju kebukit yang berhutan
lebat. Dengan tangkasnya anak muda itu meloncati batu-batu padas
dilereng yang gelap. Didataran-dataran sempit, pepohonan tumbuh
hampir pepat. Tetapi Jlitheng yang nampaknya sudah terbiasa itu,
dapat menempuhnya dengan cepat seolah-olah ia sedang berjalan
dijalan yang datar dan rata. Ketika ia sampai ketempat Kiai Kanthi,
dilihatnya orang tua itu duduk merenungi perapian yang kecil. Ia
berpaling ketika ia mendengar langkah seseorang mendekati. Namun
Kiai Kanthi seolah-olah sudah mengetahui, bahwa yang datang itu
adalah Jlitheng. Karena itu, maka ia sama sekali t idak bergeser.
Hanya wajahnya sajadah yang bergerak sambil tersenyum. “Marilah
ngger. Silahkan. Aku sudah menduga, bahwa kau akan datang kemari,“
berkata Kiai Kanthi. Jlitheng masih berdir i tegak. Nafasnya terasa
memburu. “Duduklah,” sambung Kiai Kanthi. “Dimana Swasti, Kiai?“
bertanya Jlitheng. “Baru mandi dibalik gerumbul itu. Untunglah kau
mengambil jalan ini. Jika kau mengambil sebelah, Swasti akan
terpaksa membenamkan dirinya,“ jawab orang tua itu. Jlitheng
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun duduk disamping Kiai
Kanthi. Sejenak ia mengatur pernafasannya. “Kiai,“ katanya kemudian,
“aku sudah menduga, bukankah Kiai sudah mengembalikan seorang anak
muda Lumban di bawah pohon randu alas ?” Kiai Kanthi t idak
menyangkal. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya ngger. Aku sudah
bingung, bagaimana caranya mengembalikan anak itu tanpa menumbuhkan
kecurigaan. Aku sudah membunuh dua orang dilereng bukit itu.
Tepatnya, Swastilah yang sudah melakukannya.” “Aku sudah menduga,
bahwa Kuncung tentu dibawa oleh orang-orang yang asing bagi kami.
Siapakah kedua orang itu Kiai?” ber itanya Jlitheng. Kiai Kanthipun
kemudian mencer iterakan apa yang dilihat dan didengarnya. Dari awal
sampai akhir. “Jadi keduanya orang Pusparur i?” Kiai Kanthi
mengangguk. Jawabnya, “Menurut tangkapanku, keduanya memang
orang-orang Pusparuri. Mudah-mudahan mereka tidak sedang
menyelubungi diri dengan sikap dan sebutan itu.” “Dimana keduanya
sekarang ?” “Aku mengubur mereka dibawah pohon nyamplung yang besar
itu.” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun ia menarik nafas
dalam-dalam ketika ia melihat Swasti menyibak gerumbul dan berjalan
melintas. Seperti biasanya gadis itu tidak mau duduk bersamanya. Ia
duduk beberapa langkah dibelakang ayahnya, bersandar sebatang pohon
menghadap kedalam gelapnya malam. “Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian,
“nampaknya daerah ini menjadi semakin banyak didatangi oleh
orang-orang yang sebenarnya asing bagi Lumban Wetan dan Lumban
Kulon.” “Termasuk kami berdua,“ tiba-tiba saja Swasti memotong.
“Ya,“ jawab Jlitheng, “juga termasuk aku dan Daruwerdi. Bahkan
ketika aku mengikuti Daruwerdi kebukit gundul, ketika kami sedang
kebingungan mencari Kuncung, Daruwerdi sudah menyebut satu nama
lagi. Cempaka. Mungkin nama sebenarnya, tetapi mungkin juga sekedar
sebulan seperti Ular Sanca itu.” “Dan apakah angger melihat orang
yang disebut Cempaka ?“ bertanya Kiai Kanthi. “Tidak Kiai. Aku lebih
berat mencari Kuncung daripada menunggui Daruwerdi yang sedang
menunggu Cempaka, Ketika kemudian aku kembali kebukit gundul itu,
Daruwerdi sudah tidak ada lagi.” Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Sekali lagi ia berdesah, “Nasibku agaknya memang kurang
baik. Aku telah memasuki daerah yang sedang bergejolak.” Jlitheng
tidak menyahut. Namun Swastilah yang kemudian berkata, “Sudah aku
katakan ayah. Apakah tidak sebaiknya kita mencar i tempat tinggal
yang lain. Yang tidak dibayangi oleh kecurigaan dari segala pihak
dan tidak selalu dicemaskan oleh peristiwa-per istiwa seperti yang
baru saja terjadi. Kita berusaha menolong seseorang. Tetapi kita
tidak dapat menyatakan dir i kita dengan terus terang.” Kiai Kanthi
menar ik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang tempat ini dapat
menumbuhkan ketegangan dihati. Tetap aku belum memastikan bahwa
tempat ini tidak akan dapat menjadi tempat yang baik Swasti.”
“Dugaan-dugaan yang mengandung banyak kemungkinan itu memang dapat
saja kita lakukan. Tetapi kita tidak akan dapat hidup dengan tenang
dalam bayangan kegelisahan seperti sekarang,” Swasti berhenti
sejenak, lalu, “yang baru saja kita lakukan telah membuat kita
sangat lelah. Bukan saja badan kita, tetapi perasaan kita. Suaraku
hampir menjadi serak sama sekali, karena aku harus berteriak-teriak
menirukan suara hantu betina yang belum pernah aku dengar. Kemudian
kita berlari- lari bersembunyi, justru karena kita sudah menolong
seseorang.” “Swasti,“ berkata ayahnya dengan sareh, “aku masih
berharap untuk menemukan har i kemudian yang baik disini.” “Bukan
itu,“ bantah Swasti, “aku tahu, justru keadaan yang menegangkan
itulah yang sudah menarik hati ayah.” Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Apakah hanya aku saja yang sudah tertarik?
Seandainya aku mengiakan permintaanmu untuk meninggalkan tempat ini
dan aku benar berangkat esok pagi, apakah kira-kira kau akan
mengikut i aku atau kau justru akan tetap tinggal disini ?” “Ah,”
Swasti berdesah. Sementara ayahnya tersenyum. Katanya, “Swasti. Aku
mengenalmu sejak kau masih bayi. Aku tahu sifat dan watakmu.” “Ayah
selalu berkata begitu,“ Swasti berdesis. Tetapi ayahnya masih saja
tersenyum. Bahkan Jlitheng-pun tersenyum pula. Katanya, “Kiai,
daerah seperti ini memang menjemukan, tetapi sekaligus sangat
menarik untuk diperhatikan. Adalah wajar bahwa kita yang sudah
terlanjur mengetahui serba sedikit bayangan-bayangan yang rahasia
didaerah ini, ingin melihat kelanjutan dan apabila mungkin
penyelesaian dari peristiwa ini.” “Sifat ingin tahu seseorang adalah
wajar sekali ngger. Tetapi mungkin diantara kita ada beberapa
perbedaan. Jika kami benar-benar hanya didorong oleh sekedar ingin
tahu. Mungkin kau mempunyai kepentingan yang lain,“ berkata Kiai
Kanthi. “Atau sebaliknya Kiai. Setidak-tidaknya kita masing-masing
mempunyai kepentingan yang beralasan sudut penglihatan kita
masing-masing,“ sahut J litheng. “Itulah ujud kecur igaan yang
dikatakan oleh Swasti. Tetapi itupun wajar. Dan kadang-kadang saling
mencurigai adalah menarik sekali,“ sahut Kiai Kanthi. Jlitheng
tertawa. Namun kemudian katanya, “Ah, sudahlah Kiai. Aku hanya ingin
meyakinkan, apakah dugaanku benar. Aku menjadi geli mendengar,
bagaimana orang-orang Lumban mencer iterakan tentang hantu betina
yang tertawa terkekeh- kekeh saat ia mengembalikan Kuncung.” “Tetapi
suaraku hampir putus karena aku harus berteriak keras-keras,“
tiba-tiba saja Swasti menyahut hampir diluar sadarnya. Jlitheng
tertawa tertahan, sementara Kiai Kanthi tersenyum sambil berkata,
“Kami sadar apa yang kami lakukan. Kami-pun memang berharap bahwa
angger dapat membangunkan anak yang tertidur itu meskipun kami agak
cemas, bahwa yang menjumpai keadaan anak itu justru adalah angger
Daruwerdi.” “Aku masih harus menemukan anak muda itu,“ berkata
Jlitheng, “tetapi tentu aku sudah kehilangan orang yang disebutnya
bernama Cempaka. Mudah-mudahan pada saat yang lain aku akan dapat
menemukannya dalam keadaan yang bagaimanapun juga,“ Jlitheng
berhenti sejenak, lalu, “sudahlah Kiai. Aku minta diri. Mungkin
masih ada yang harus aku lakukan. Jika kawan-kawanku tidak lelah
karena hampir semalam suntuk mereka harus mencari Kuncung, maka aku
akan kembali bersama mereka untuk meneruskan kerja kita, membuka
padepokan kecil itu.” Ketika Jlitheng turun dari bukit itu dengan
hati-hati. karena ia masih memperhitungkan kemungkinan hadirnya
Daruwerdi, maka langit disebelah Timurpun mulai dibayangi oleh warna
merah. Karena itu, maka ketika ia sudah yakin bahwa seorangpun yang
melihatnya, maka iapun segera berlari-lari menuju kopadukuhannya.
Ternyata banjar padukuhan Lumban Wetan telah sepi ketika ia datang
memasuki regolnya. Hanya tiga orang anak muda yang sedang berbaring
digardu. Mereka terkejut ketika tiba-tiba saja melihat seseorang
berdiri dimuka gardu. “Anak setan,“ desis salah seorang dari mereka,
“kau mengejutkan kami Jlitheng.” Jlithengpun kemudian duduk diantara
mereka sambil bertanya, “Apakah Kuncung sudah pulang ?” “Ya. Ia
masih saja mengigau tentang dua orang yang berwajah menger ikan,“
jawab salah seorang dar i mereka. Namun yang lain menyahut, “tetapi
ada bekas biru-biru pengab diwajahnya. Jika ia tidak berkata
sebenarnya, bahwa kedua orang itu telah memukulnya, maka apakah
bekas biru- biru itu benar2 akan terdapat diwajahnya.” “Kau memang
bodoh,“ jawab Jlitheng, “setan betina itu tentu tidak berhati-hati.
Ketika ia membawa Kuncung, mungkin wajah anak itu telah membentur
pepohonan atau mungkin batu atau apapun, sehingga wajah itu telah
menjadi merah biru.” Yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian
salah seorang dari mereka berkata, “Sudahlah. Aku akan tidur.
Semalam suntuk aku tidak tidur sama sekali. Menjelang pagi aku masih
mempunyai waktu. Mudah-mudahan tidak lambat bangun sehingga
orang-orang yang- pulang dar i pasar lewat jalan ini akan
membangunkan aku.” “Dan mudah-mudahan kau tidak dibawa hantu
betina,“ desis Jlitheng. Tentu saat begini anak muda itu sambil
membenai selimutnya. Jlitheng tidak lama berada digardu itu. Iapun
kamudian bangkit dan melangkah pulang kerumahnya. Tetapi biyungnya
tidak gelisah meskipun semalam suntuk Jlitheng tidak pulang, karena
ia sudah mendengar dari seseorang, bahwa Jlitheng telah berada di
Banjar. “Orang sudah lama pulang,“ berkata ibunya, “apa kerjamu di
Banjar ?” “Menemani kawan-kawan yang bertugas digardu,“ jawab
Jlitheng singkat, “dan aku pergi kesungai barang sebentar.” Ibunya
tidak bertanya lagi. Sementara Jlithengpun kemudian pergi kepakiwan,
mengisi jambangan dan kemudian mandi untuk menghapus keringat dan
kotoran yang melekat di tubuhnya. Namun dalam pada itu, Jlitheng
tidak dapat melepaskan ingatannya kepada peristiwa yang baru saja
terjadi. Dua orang Pusparuri yang terbunuh. Sayang, bahwa mayatnya
telah dikuburkan dan ia malas untuk membuka kembali. Jika belum
terlanjur, maka ia akan dapat memastikan dari ciri-cirinya, apakah
kedua orang itu benar-benar orang-orang Pusparuri, karena banyak
kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin orang-orang Kendali Putih
yang menyebut dirinya sebagai orang-orang Pusparuri, atau mungkin
justru pihak lain sama sekali, atau bahkan kawan-kawan Daruwerdi.
Sehari itu Jlitheng tidak meninggalkan rumahnya. Siang hari ia
berbaring dibelakang dapur, dibawah sebatang pohon yang rimbun,
diatas sehelai ketepe daun kelapa yang dianyam. Sambil memandangi
dedaunan yang bergetar ditiup angin, ia telah mencoba mengurai per
istiwa yang telah terjadi dipadukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon
selama ini, sampai pada saat terakhir. Bahkan sepercik-percik masih
juga membersit kecurigaannya kepada Kiai Kanthi dan anak gadisnya,
Swasti. “Tetapi nampaknya mereka adalah orang-orang yang jujur dan
sederhana dalam sikap,“ berkata Jlitheng kepada diri sendiri,
“meskipun keduanya ternyata mewarisi cabang ilmu kanuragan yang luar
biasa.” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya kedua
orang ayah dan anak itu telah merupakan pesona yang tidak dapat
dilupakannya, sehingga setiap saat, rasa-rasanya ia angin pergi
kebutan itu seperti ia ingin pulang kerumah sendiri. Tetapi hari itu
Jlitheng tidak dapat mengajak kawan- kawannya untuk pergi ke bukit,
karena Jlitheng mengetahui bahwa kebanyakan lawan-kawannya lelah dan
mengantuk, karena hampir semalam suntuk mereka telah mencari
Kuncung. Sementara Jlitheng sendiri juga ingin beristirahat setelah
semalam-malaman berlari- lari menyusuri bulak dan lereng bukit. Dari
bukit gundul sampai kebukit yang berhutan lebat. Hari itu setiap
mulut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih membicarakan bagaimana
seorang anak muda telah hilang di culik iblis betina. Dari pintu
kepintu orang-orang Lumban membicarakannya, bahkan ceritera itupun
telah mekar dan menjadi semakin mengerikan. “Kuncung menjadi seperti
orang gila. Ia mengigau tentang dua orang yang bertubuh tinggi kekar
bermata merah dan bersenjata pedang yang besar sekali,“ berkata
seseorang diantara kawan-kawannya. “Ia memer lukan waktu dua tiga
hari untuk dapat pulih kembali kesadarannya,“ sahut yang lain.
“Tetapi Kuncung dapat menceriterakan dengan pasti, apa yang terjadi
atasnya berhubungan dengan dua orang yang dikatakannya itu,“ yang
lain menyambung. Seorang tua yang berambut putih memotong
pembicaraan itu, “Biasanya memang demikian. Seseorang yang dibawa
oleh hantu perempuan, ia merasa mengalami sesuatu seperti
benar-benar telah terjadi.” Orang-orang yang mendengarkan cer itera
itu mengang- guk-angguk. Mereka percaya kepada orang tua yang mereka
anggap, mempunyai banyak pengalaman itu. Namun dalam pada itu,
disaat orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon sibuk berbicara
tentang hantu perempuan yang membawa Kuncung, Daruwerdi mencoba
merenungi ceritera itu dari sudut yang lain. Ia tertarik kepada
ceritera Kuncung tentang dua orang yang datang kepadanya dan
membawanya pergi kebukit. Karena itu, maka Daruwerdi telah memer
lukan datang kerumah Kuncung untuk mendengar sendiri, apakah yang
dialaminya, yang menurut orang banyak hanyalah sekedar bayangan yang
tumbuh dikepalanya karena ia pernah melihat atau mendengar peristiwa
serupa yang terjadi atas Jlitheng. Sehingga hantu perempuan itu
tinggal mempertajam angan- angan ijtu, sehingga seolah-olah telah
terjadi sebenarnya alasnya. Ceritera Kuncung memang menarik
perhatian Daruwerdi. Meskipun ada juga kebimbangan, bahwa mungkin
yang dikatakan oleh orang-orang Lumban itu benar, namun ada juga
sepercik dugaan, bahwa sebenarnya yang diceriterakannya itu telah
terjadi. “Dua orang itu benar-benar datang ke Lumban dan membawa
Kuncung ke bukit. Kemudian memaksa Kuncung berbicara sehingga anak
itu menjadi ketakutan. Ketika orang- orang itu mulai memukulnya,
maka ia menjadi pingsan. “ Daruwerdi mencoba mencari kesimpulan “
baru ketika Kuncung dit inggalkan, terjadilah sesuatu yang aneh itu.
Yang tidak dapat aku jajagi dengan nalar, bagaimana mungkin ia dapat
sampai kebawah pohon randu alas.” Daruwerdi menar ik nafas
dalam-dalam. Ia mencoba menganggap bahwa hantu betina itu telah
menemukan Kuncung. Tetapi ia kecewa bahwa anak itu seolah-olah tidak
dapat berbuat apa-apa, justru karena ia pingsan. Karena hantu betina
itu mengetahui bahwa orang-orang Lumban mencari seseorang maka hantu
yang baik itu telah mengembalikan Kuncung kepada orang-orang Lumban.
“Persetan,“ tiba-tiba Daruwerdi menggeram aku tidak peduli tentang
hantu itu. Tetapi dua orang itu benar-benar menarik perhatian,
setelah dua orang yang terdahulu datang menangkap Jlitheng.”
Diperjalanan kembali kepondoknya, Daruwerdi menegang ketika ia
teringat seorang gadis yang berada dilereng bukit itu. Ia mulai
curiga sejak kedua perantau itu memilih tempat tinggal yang aneh
tanpa mengenal takut terhadap binatang- binatang buas. Padahal
mereka berdua hampir saja telah diterkamoleh seekor har imau.
“Apakah ada hubungannya antara hantu betina itu dengan gadis
perantau itu ?” pertanyaan itu mulai membersit dihatinya. Tetapi
Daruwerdi belum dapat mengambil kesimpulan. Ia masih harus banyak
melihat dan mendengar, apa yang di Lumban. Dalam pada itu,
dihari-hari berikutnya, orang-orang Lumban sudah mulai melupakan
peristiwa yang menggemparkan itu. Mereka tidak banyak lagi
membicarakan hilangnya Kuncung, meskipun satu dua orang masih
menggelengkan kepalanya apabila mereka bertemu dengan Kuncung di
jalan-jalan padukuhan atau disawah. Karena setiap kali mereka
berbicara, Kuncung masih tetap yakin, bahwa yang dialaminya dengan
dua orang yang garang itu bukan sekedar bayangan. Tetapi benar-benar
telah terjadi atasnya. Namun ia tetap tidak dapat mengatakan, kenapa
tiba-tiba saja ia sudah berada dibawah pohon randu alas. Sementara
itu, Jlitheng telah mulai sibuk pula membantu Kiai Kanthi bersama
beberapa orang kawannya. Mereka telah membuka sebuah dataran sempit
dilereng bukit itu. Merekapun mulai mempersiapkan membuat sebuah
gubug kecil untuk tempat tinggal Kiai Kanthi dengan anak gadisnya.
Disamping itu, maka Jlitheng tidak henti-hent inya memperhatikan
arus air yang meluap dari belumbang dilereng bukit itu. Ia mulai
membicarakan, kemana air itu akan diarahkan. Jlitheng dan Kiai
Kanthi bersepakat, bahwa mereka tidak akan membuat parit yang khusus
dilereng bukit. Mereka akan mengarahkan air itu kesebuah lekuk yang
akan mengalirkan air itu turun sampai ketempat yang mereka
kehendaki. “Setelah air itu berada didataran, barulah kita akan
membuat saluran seperti yang kita rencanakan,“ berkata Kiai Kanthi,
“selebihnya, sisa air itu akan sangat berguna pula.” “Untuk
sementara kita akan mengalirkan air itu kesungai. Dengan demikian
kita tidak perlu membuat saluran induk yang panjang. Apalagi sungai
itu mengalir dekat perbatasan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan.
Bahkan kadang-kadang sungai itu berada didaerah Lumban Wetan, tetapi
di bagian yang lain sungai itu menjorok masuk kedaerah Lumban
Kulon,“ sahut J litheng. “Tetapi, di wilayah manakah sungai itu
memasuki daerah Lumban ngger?“ bertanya Kiai Kanthi. “Sungai itu
memasuki daerah Lumban di Lumban Wetan Kiai. Katakanlah bahwa bukit
dan dataran dibawah bukit yang menghadap kepadukuhan itu adalah
daerah Lumban Wetan. Tetapi disisi yang lain, dataran itu adalah
tlatah Lumban Kulon, meskipun mereka seakan-akan tidak
menghiraukannya karena sampai saat ini tanah itu tidak pernah
digarap.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Jlitheng yang
agaknya mengetahui perasaan Kiai Kanthi berkata, “Kiai, terlalu
memikirkan masa yang jauh didepan. Tetapi orang Lumban sendiri
kurang memperhatikan batas antara dua kabuyutan itu.” Kiai Kanthi
mengangguk. Jawabnya, “Ya ngger. Sejak ayunan cangkul yang pertama
kita harus sudah mulai memikirkan. Jika sungai itu mengalirkan air
yang lebih banyak, maka mulailah timbul persoalan antara Lumban
Wetan dan Lumban Kulon yang sampai saat ini nampaknya tidak pernah
berselisih. Air itu akan memancing masalah, karena jika air itu
mengalir menyusuri sungai itu, maka kedua padukuhan itu tentu akan
segera berpikir untuk memanfaatkannya. Mereka tentu ingin mengaliri
sawah mereka yang kering seperti yang akan kita lakukan dibawah
bukit ini.” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian,
“Kedua daerah itu akan dapat membicarakannya dengan baik. Mereka
akan membendung sungai itu dan menaikkan airnya kekedua arah. Satu
parit itu akan menyusuri bulak-bulak di Lumban Wetan dan satu lagi.
kearah Lumban Kulon.” “Demikianlah menurut nalar. Tetapi
kadang-kadang akan timbul perasaan yang dapat mengaburkan nalar yang
bening. Iri, dengki dan barangkali juga ketamakan dari satu dua
orang di Lumban Wetan atau di Lumban Kulon. Jika demikian halnya,
maka mulailah persoalan yang tidak diharapkan itu,“ berkata Kiai
Kanthi. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita berdoa
Kiai. Mudah-mudahan tidak akan timbul persoalan yang demikian
dipadukuhan ini.” “Mudah-mudahan ngger. Tetapi kita harus sudah
berjaga- jaga, apakah yang sebaiknya dilakukan. Meskipun air itu
masih kurang.” “Mudah-mudahan Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban
Kulon akan dapat mengatasi masalahnya. Keduanya sudah tahu, bahwa
Kiai akan membangun padepokan disini,“ desis Jlitheng. Demikianlah
maka mereka semakin hari menjadi semakin gairah bekerja. Meskipun
kawan-kawan Jlitheng t idak banyak, tetapi mereka senang melakukan
pekerjaan itu, Disaat mereka tidak mempunyai pekerjaan disawah,
mereka menemukan cara untuk mengisi waktu dilereng bukit itu.
Sementara itu, Jlitheng sudah menelusuri lekuk- lekuk batu padas
yang akan dapat dipergunakannya untuk menguasai arus air. Beberapa
tempat, ia masih harus menimbuninya dengan tanah yang cukup banyak
agar arah air itu tidak terbagi. Sedangkan dibagian lain, lekuk-
lekuk padas itu sudah merupakan par it yang dibuat oleh arus air
hujan dimusim basah. Ketika dataran sempit dan gubug kecil itu baru
dikerjakan oleh anak-anak muda Lumban Wetan, Jlitheng dan Kiai
Kanthi justru mulai menggarap saluran induk. Mereka menutup lekuk-
lekuk yang tidak per lu, tetapi juga mengeduk batubatu padas yang
membatasi lekuk yang satu dengan lekuk yang lain, yang sesuai dengan
arah yang dikehendaki oleh Kiai Kanthi dan Jlitheng. Dengan
demikian, maka kerja itu merupakan kerja yang menjadi semakin besar.
Tetapi Jlitheng tidak ingin banyak menarik perhatian, sehingga hanya
kawan-kawannya yang terdekat sajalah yang ikut membantunya,
seolah-olah yang mereka kerjakan sama sekali tidak berarti apa-apa.
Ketika anak-anak muda itu sibuk bekerja, maka Swasti-pun sibuk
menyiapkan minum dan makanan apa saja yang ada. Kadang-kadang seekor
binatang buruan. Tetapi kadang- kadang hanya beberapa buah gayam dan
ikan air panggang. “Pada saatnya, kita akan dapat makan jagung
disini,“ berkata Kiai Kanthi, “aku sudah menanamnya dilereng yang
agak terbuka itu. Nampaknya benih itu sudah tumbuh.” Tetapi Jlitheng
sambil tertawa menjawab, “Berapa bulan lagi jagung itu akan berobah
Kiai? Apakah kira-kira saluran itu masih belumsiap seumur jagung itu
?” Kiai Kanthipun tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Namun betapapun
Jlitheng membatasi kerja itu, tetapi hal itu sangat menarik
perhatian Daruwerdi. Karena itu, maka iapun memerlukan naik kelereng
bukit untuk menyaksikan sendiri, apa yang sebenarnya telah terjadi.
Kehadirannya dilereng bukit itu telah mengejutkan Swasti yang baru
sibuk memasak. Karena itu, sejenak ia tergagap. Namun kemudian ia
mencoba untuk menguasai perasaannya. “Dimana ayahmu ?“ bertanya
Daruwerdi. “Mereka sedang bekerja dibawah,“ jawab Swasti. “Apakah
kau tidak takut berada disini sendir i ?” “Kenapa takut ? Bukankah
sekarang siang har i ? Dimalam hari aku disini bersama ayah.”
Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia memandang gadis
perantau yang berpakaian kusut itu. Sambil mengerutkan keningnya ia
berkata didalam hati, “Gadis kumal ini berwajah cantik juga. Jika
saja ia sempat merawat tubuhnya, maka ia akan menjadi seorang gadis
yang tidak ada tandingnya di Lumban.” Swasti yang merasa dipandang
oleh Daruwerdi dengan tajamnya, wajahnya menjadi merah. Selangkah ia
beringsut. Tanpa disengaja maka iapun berjongkok dimuka perapian dan
melemparkan pandang matanya ke api yang menyala. Daruwerdi menar ik
nafas dalam-dalam. Beberapa langkah ia maju mendekat. Katanya,
“Kenapa kau lebih senang tinggal disini daripada dipadukuhan ?”
Swasti menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika ia mendengar
langkah Daruwerdi yang mendekat. Tetapi Swastil tidak-berani
memalingkan wajahnya. Sebagai seorang gadis yang jarang bergaul
dengan orang lain, maka sikap Daruwerdi benar-benar membuat
jantungnya bagaikan semakin cepat berdetak didalam dadanya. “Kenapa
he?” Daruwerdi mendesak. Swasti menjadi semakin bingung. Namun
kemudian ia menjawab, “Semuanya terserah kepada ayah. Ayah memilih
tempat ini. Dan akupun hanya mengikuti saja.” “Tetapi kau berhak
untuk mengajukan pendapatmu. Katakan kepada ayahmu, bahwa kau takut
berada disini seorang diri meskipun siang hari. Jika harimau itu
datang kemari, maka kau akan dapat diterkamnya.” “Aku dapat
memanjat,“ jawab Swasti tiba-tiba. Daruwerdi mengerutkan keningnya.
Katanya, “Menarik sekali. He, cobalah memanjat. Anggaplah aku seekor
harimau yang akan menerkammu.” Adalah diluar dugaan sama sekali,
bahwa tiba-tiba saja Daruwerdi itupun berjongkok disampingnya.
Swasti adalah seorang gadis yang memiliki keberanian yang melampaui
orang kebanyakan. Ia berani melawan Jlitheng dan bahkan ia telah
mengalahkan dan membunuh dua orang yang mengaku dari perguruan
Pusparur i. Tetapi demikian seorang anak muda berjongkok
disampingnya, maka tubuhnya tiba- tiba saja telah menjadi gemetar.
“Swasti. Namamu Swasti bukan?“ panggil Daruwerdi. Swasti menjadi
semakin gelisah. Keringat dingin telah mengalir diseluruh batang
tubuhnya, sehingga rasa-rasanya seluruh badannya menjadi basah.
“Swasti,“ ulang Daruwerdi, “sebaiknya kau minta dengan sangat kepada
ayahmu. Daripada ia membuat gubug di lereng bukit ini, aku kira ia
lebih baik membuat gubug di padukuhan Lumban. Sementara gubug itu
belum siap, maka kau dan ayahmu dapat tinggal dipondokku.” Swasti
masih gemetar. Sejengkal ia bergeser. Kemudian katanya, “Semuanya
terserah kepada ayah.” “Ah, tentu tidak. Kau adalah anak gadisnya.
Kau bahkan mungkin satu-satunya anak. Karena itu, permintaanmu tentu
didengarkannya,“ berkata Daruwerdi. Swasti tidak segera menyahut.
Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Keringatnya masih saja
mengalir ditubuhnya. Sementara Daruwerdi berkata selanjutnya, “Kau
tidak boleh menyia-nyiakan umurmu sekarang ini. Nampaknya kau sudah
meningkat dewasa. Dan j ika kau sadar, maka kau berwajah cantik.”
“Ah,“ tubuh Swasti tiba-tiba saja telah meremang. Ia hampir tidak
pernah sempat menilai dirinya. Jika sekali-kali ia bercermin diwajah
air telaga yang bening meskipun kotor, ia tidak berani menyebut
wajahnya sendiri, apakah ia seorang gadis yang cantik. “Aku tidak
berbohong,“ desis Daruwerdi, “hanya karena kau tidak sempat merias
diri,maka kau tidak menyadari bahwa kau mempunyai bekal yang paling
bernilai bagi seorang perempuan.” “Ah,“ sekali lagi Swasti berdesis,
“aku tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menilai dir iku sendir
i.” Daruwerdi tertawa pendek. Katanya, “Mulailah sekarang. Dan
mulailah hidup dalam suatu lingkungan masarakat yang barangkali jauh
lebih baik dari pada hidup memencilkan dir i. Aku bersedia
menolongmu. Aku mempunyai pengaruh yang khusus di Lumban Wetan dan
Lumban Kulon. Kedua Buyut padukuhan Lumban itu serta anak-anaknya
menaruh hormat kepadaku, sedangkan anak-anak muda di Lumban Wetan
dan Lumban Kulon telah memohon agar aku memberikan tuntunan
kanuragan kepada mereka. Karena itu, maka apa yang akan aku katakan,
orang-orang Lumban tentu akan melakukannya. Apalagi orang-orang
Lumban termasuk orang yang baik dan ramah. Mereka tentu dengan
senang hati menerimamu.” Swasti menjadi semakin berdebar-debar.
Ketika Daruwerdi bergeser sejengkal mendekat, maka Swastipun telah
bergeser setapak menjauh. “Pikirkan,“ tiba-tiba Daruwerdi berdiri,
“sebelum kau dikoyak harimau. Sekarang aku akan menemui ayahmu dan
anak-anak Lumban Wetan yang membantunya. Sebenarnya perbuatan itu
adalah perbuatan yang bodoh sekali. Tetapi juga mencur igakan.”
Wajah Swasti menegang sejenak. Tetapi ia tidak menjawab. Baru ketika
Daruwerdi melangkah meninggalkannya, ia menarik nafas dalam-dalam.
Bahkan, diam-diam ia masih saja memperhatikan.anak muda itu hilang
dibalik gerumbul-gerumbul yang padat. Ketika Daruwerdi tidak nampak
lagi, maka Swastipun menjadi gelisah. Ia tidak tahu, perasaan apa
yang tumbuh dihatinya. Ia menjadi jengkel atas sikap anak muda itu,
sehingga ia menjadi gemetar. Tetapi ia t idak marah karenanya,
meskipun ia tidak begitu senang karena sikap itu. “Hanya karena
sikapnya ?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah tumbuh dihati
Swasti. Tetapi Swasti tidak berani memikirkannya lebih jauh. Bahkan
ia berusaha untuk membatasi perasaannya yang menerawang mengikuti
anak muda yang bernama Daruwerdi itu. “Ah, aku harus menyiapkan
makanan ini,” Swasti berdesah. Dicobanya untuk memusatkan
perhatiannya kepada kerjanya. Namun kadang-kadang ia masih saja
merenung tanpa ujung dan pangkal. Bahkan kadang-kadang ia menyesali
sikap ayahnya. Pendapat anak muda yang bernama Daruwerdi itu ada
baiknya juga. Ia dapat tinggal di padukuhan, meskipun mungkin
dipaling ujung yang berbatasan dengan pategalan atau hutan perdu
yang tidak tergarap. “Tetapi ayah lebih senang menunggui belumbang
ini,“ desisnya. Dalam pada itu, Kiai Kanthi dibantu oleh Jlitheng
dan beberapa orang kawannya, masih saja bekerja keras. Mereka telah
membuka beberapa bagian dari dataran yang sempit dilereng bukit.
Sementara Kiai Kanthi sendiri dan Jlitheng telah selesai menyiapkan
saluran yang akan dilalui air j ika air itu sudah diarahkan menuju
kelereng yang berhadapan dengan padukuhan Lumban Wetan dan Lumban
Kulon. Dibawah bukit itu akan dibuka tanah persawahan yang akan
digarap oleh Kiai Kanthi dengan anak gadisnya. Namun yang penting
bahwa air itu akan dapat disalurkan kedaerah persawahan milik
orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Meskipun tidak akan
mencukupi untuk seluruh tanah persawahan, tetapi yang sebagian itu
tentu akan member ikan banyak perubahan. Dengan tekun Jlitheng telah
berbuat sejauh dapat dilakukan. Kiai Kanthi yang memiliki pengalaman
lebih banyak, bahkan agaknya juga berpengalaman menguasai air, telah
menanam patok-patok pada lereng-lereng padas yang akan menjadi
saluran induk. Kadang-kadang Jlitheng harus menimbuni sebuah lekuk
yang dalam, agar arus air tidak terlalu deras, sehingga dapat
merusakkan tanggulnya sendiri. Namun kadang-kadang ia harus memecah
padas yang keras untuk menghubungkan saluran-saluran yang akan
dipergunakannya. Orang-orang yang bekerja dilereng bukit itu
terkejut ketika mereka melihat Daruwerdi muncul dari balik gerumbul
perdu. Dengan tatapan mata yang tajam ia memandangi keadaan
sekelilingnya. Dalam waktu yang tidak terlalu panjang, maka telah
terjadi perubahan yang besar dilereng bukit itu. Bukan hasil
pekerjaan yang sudah hampir rampung tetapi Daruwerdi menjadi
berdebar-debar melihat jiwa dari rencana itu. Dengan ketajaman
nalarnya, ia segera dapat mengerti, apa yang akan terjadi. Karena
itu, maka Daruwerdi menjadi berdebar-debar. sekilas terbayang hasil
pekerjaan yang akan merubah tatanan kehidupan dipadukuhan Lumban
Wetan dan Lumban Kulon. “Inilah yang telah mengikat orang tua itu
disini,“ berkata Daruwerdi didalam hatinya, “bukan karena ia segan
tinggal dipadukuhan seperti yang pernah dikatakannya, tetapi
ternyata dikepala orang tua itu terbersit rencana yang besar.”
Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Namun ia menjadi semakin kagum
akan rencana itu. Meskipun kemudian ia mencoba memperkecil arti
kerja orang tua itu, “Mungkin yang dipikirkannya adalah sekedar air
bagi tanah yang akan dibuka untuk dirinya sendir i, tanpa menyadari
kegunaannya yang besar bagi Lumban.” Tetapi ia mengerutkan keningnya
ketika ia melihat beberapa orang Lumban yang membantunya. Kebanyakan
dari mereka adalah anak-anak muda dari Lumban Wetan. Namun ia
menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat seorang anak muda dari
Lumban Kulon ikut pula diantara mereka. “Artinya, bahwa kerja ini
dilakukan oleh orang-orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon meskipun
dalam perbandingan yang tidak seimbang,“ berkata Daruwerdi didalam
hatinya. “Marilah ngger,“ Kiai Kanthipun kemudian mempersilahkannya,
“ini adalah sekedar pikiran orang tua dan anak-anak muda yang
sederhana. Mungkin yang kami lakukan mempunyai arti dan bahkan tidak
menghasilkan apa-apa. Tetapi nampaknya sangat menyenangkan hati.”
Daruwerdi melangkah mendekat. Ketika ia memandang Jlitheng, maka
Jlitheng itupun tersenyum sambil berkata, “Sekerdar mengisi waktu
karena tidak ada kerja disawah Daruwerdi.” Daruwerdi
mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya, “Apa rencana Kiai
sebenarnya ?” “Ah, sekedar membuat tempat tinggal dan sebidang tanah
untuk mencari makan ngger,“ jawab Kiai Kanthi. “Untuk itu Kiai telah
bekerja begitu keras ?” “Tanpa bekerja keras, aku tidak akan
memiliki apa-apa, ngger. Dengan bantuan beberapa anak muda ini, aku
akan mempunyai sebuah pondok kecil dan secabik tanah untuk menyebar
benih jagung.” “Dan apakah yang lakukan dengan jalur-jalur air hujan
itu ?” Daruwerdi mendesak. “Untuk mengalirkan air kesebidang tanah
itu ngger,“ jawab Kiai Kanthi. “Jika demikian, aku mempunyai
pikiran,“ berkata Daruwerdi. Namun Jlitheng telah menyahut, “Itulah
Daruwerdi. Tetapi air itu tidak akan ker ing dikotak-kotak pertama
tanah Kiai Kanthi. Jika air itu tersisa, maka air itu tentu dapat
dipergunakan oleh orang-orang Lumban.” “Itulah yang aku katakan. Hal
itulah yang ada dibenakku. Justru karena aku mengerti kepentingan
orang-orang Lumban,“ berkata Daruwerdi. “Dan kami sudah
mengerjakannya,“ sahut Jlitheng, “meskipun sangat lamban.” Wajah
Daruwerdi menegang. Ia merasa seolah-olah Jlitheng tidak mau
mendengar tanggapannya atas air yang melimpah, atau karena Jlitheng
merasa telah memikirkannya terlebih dahulu. Namun dalam pada itu
Jlitheng berkata, “Tetapi, apa yang kami kerjakan ini bukanlah
pikiran kami. Kiai Kanthilah yang mula-mula menyebutnya. Ia melihat
air yang melimpah tanpa dimanfaatkan oleh orang-orang Lumban. Karena
keinginannya untuk membuat sebuah padepokan, maka kami anak-anak
Lumban dapat saling mengambil manfaat. Kami membantu Kiai Kanthi,
tetapi kamipun akan mendapatkan air yang sangat berharga bagi
Lumban.” Daruwerdi memandang Jlitheng dengan tajamnya. Tetapi ia
tidak dapat berbuat apa-apa. Ditempat itu terdapat beberapa orang
saksi atas pembicaraan mereka, sehingga orang-orang itu tahu benar,
bahwa ia tidak akan dapat mengatakan bahwa pikiran untuk mengalirkan
air ke sawah orang-orang Lumban itu adalah karena pikirannya.
Anak-anak muda Lumban itu memang sudah mengerjakannya bersama Kiai
Kanthi. perantau yang aneh itu. Sejenak Daruwerdi termangu-mangu.
Namun kemudian katanya, “Siapapun yang memikirkannya, tetapi air itu
memang diperlukan oleh orang-orang Lumban. Karena itu, kalian harus
berbuat sebaik-baiknya, sehingga air itu tidak justru menjadi larut
kedalam jalur-jalur air hujan dan hilang kedalamtanah.” “Demikianlah
yang terjadi sekarang, Daruwerdi,“ jawab Jlitheng, “air belumbang
yang melimpah itu mengalir ke lubang-lubang dan meresap kedalam
tanah. Tetapi air itu tidak membuat tanah di Lumban menjadi basah,
karena air itu mengalir dengan derasnya dibawah tanah.” Daruwerdi
mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat membantah. “Lakukanlah
kerja ini sebaik-baiknya,“ berkata Daruwerdi kemudian, “aku akan
memberikan petunjuk-petunjuk kelak jika air itu sudah mulai mengalir
kedataran.” Jlitheng menegang sejenak. Tetapi ia segera berusaha
menghapus kesan itu diwajahnya. Bahkan kemudian iapun tersenyum
sambil berkata, “Terima kasih Daruwerdi. Kami tentu akan memerlukan
petunjuk dari banyak pihak. Mungkin kau mempunyai pengetahuan yang
cukup banyak tentang jalur jalur air ditanah persawahan. Dan kamipun
tentu akan minta petunjuk Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di
Lumban Kulon.” Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak
menjawab lagi. Dengan wajah yang berkerut ia memperhatikan keadaan
disekelilingnya. Meskipun belum ada ujud, tetapi ia sudah dapat
membayangkan, bahwa didataran sempit itu akan dibangun sebuah gubug
sesuai dengan patok kayu yang nampak diempat sudutnya. Tidak terlalu
jauh dari gubug itu, akan mengalir air dari belumbang yang melimpah.
Sedikit lebih tinggi, dari gubug itu, akan terdapat sebuah gerojogan
air yang kemudian merambat menuruni lereng sampai kedataran.
Didataran itu kelak akan terdapat kotak- kotak sawah yang tidak akan
pernah kering disegala musim. Lumpur yang basah terbentang diantara
kotak-kotak pematang. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia
menyadari keterlambatannya. Selama ia berada di Lumban, ia tidak
pernah memikirkan perubahan yang dapat dilakukan atas padukuhan itu,
sehingga akan dapat menambah besar pengaruhnya atas orang-orang
Lumban. “Aku lebih banyak berpikir tentang masalah-masalah yang
besar,“ katanya didalam hati. “Namun air itu bagi orang-orang Lumban
akan menjadi masalah yang jauh lebih besar, meskipun bagiku hanyalah
masalah yang kecil.” Untuk beberapa saat Daruwerdi masih
memperhatikan dataran sempit itu. Beberapa orang, anak muda yang
sedang bekerja di lereng itupun berhenti sejenak memperhatikan,
apakah yang akan dilakukan oleh Daruwerdi. Tetapi Daruwerdi tidak
menemukan sesuatu yang dapat di lakukan sebagai imbangan kekecewaan
hatinya. Ia tidak dapat menemukan sesuatu yang akan dapat dianggap
pikiran baru yang bermanfaat bagi Lumban. “Masih banyak waktu,“
katanya kemudian didalam hati, “aku akan mendapatkan sesuatu yang
bermanfaat bagi padukuhan itu, sehingga mereka akan tetap menganggap
aku orang terpenting dipadukuhan ini.” Dengan demikian, maka
Daruwerdi tidak berada terlalu lama dilereng bukit itu. Sekali lagi
ia masih mencoba untuk menyarankan agar Kiai Kanthi dan anaknya
tinggal dipadukuhan. Tetapi dengan nada dalam Kiai Kanthi menjawab,
“Ter ima kasih ngger. Aku sudah mulai dengan pekerjaan ini dibantu
oleh anak-anak muda dari Lumban.” Daruwerdi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Aku pernah mengatakan kepadamu Kiai. Kau
adalah orang yang mementingkan dir imu sendiri. Seharusnya kau
memperhatikan anak gadismu yang malang itu. Mungkin kau ingin
mendapat sebutan cikal bakal, atau orang yang babad-babad sebuah
padepokan yang tentu kau harap akan dapat terkenal kelak. Tetapi
ketenaran namamu itu kau tebus dengan mengorbankan anak gadismu.
Bukan saja jasmani, tetapi juga jiwani. Ia akan menjadi gadis yang
dungu dan bebal. Gadis yang tidak akan pernah mendapatkan jodohnya
dimasa mendatang, meskipun ia sudah lama melampaui masa remajanya.”
Kata-kata itu telah menyentuh perasaan Kiai Kanthi, sehingga terasa
dadanya bergetar. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia
berkata, “Anakku yang malang. Tetapi apakah memang nasib telah
membawanya ketempat yang sepi dan terasing? Anakmas, meskipun aku
akan membangun sebuah gubug disini, aku akan berusaha untuk member
ikan kesempatan anakku bergaul dengan orang-orang padukuhan. Ia akan
ikut serta bertanam padi bersama gadis- gadis Lumban jika
diperkenakan. Ia akan ikut menuai dan melakukan kerja yang lain.
Jika air itu sudah turun ke dalam parit, maka sawah akan terbentang
semakin luas, dan kesempatan ikut menggarap sawah bagi
gadis-gadispun akan bertambah.” Daruwerdi mengerutkan keningnya.
Dengan nada datar ia berkata. “Agaknya kau memang orang yang keras
hati, meskipun tanpa perhitungan. Itu terserah kepadamu. Anak itu
adalah anakmu. Aku tidak mempunyai sangkut paut dengan kau dan
anakmu.” Daruwerdi tidak menunggu jawaban lagi. Dengan kesan yang
buram ia melangkah meninggalkan Kiai Kanthi dan anak- anak muda yang
sedang bekerja dilereng bukit untuk membuat sebuah gubug kecil bagi
tempat tinggal Kiai Kanthi dan anaknya. Tetapi kerja yang lebih
besar dari itu adalah usaha mereka untuk menguasai arus air dar i
belumbang yang melimpah itu. Di lereng yang menurun Daruwerdi
menghentakkan tangannya dengan geram. Namun iapun kemudian bergumam,
“Persetan dengan orang-orang Lumban. Aku tidak peduli. Biar tanahnya
menjadi ker ing dan gersang. Atau Jlitheng akan diangkat menjadi
pahlawan. Aku bukan orang Lumban, dan aku tidak akan t inggal di
Lumban terlalu lama.” Dengan wajah yang gelap Daruwerdi menuruni
tebing semakin cepat. Dengan tangkas ia meloncat dari batu kebatu
padas yang lain, tanpa berpaling lagi. Sementara itu, Kiai Kanthi
dan beberapa anak muda dari Lumban itupun telah melanjutkan kerja
mereka. Dua orang diantara mereka telah memotong beberapa batang
kayu yang akan dipergunakan sebagai tiang gubug kecil yang akan
dibangun, sementara yang lain masih menebangi pohon- pohon yang
tidak diper lukan didataran sempit itu. Sedangkan Kiai Kanthi,
Jlitheng dengan satu dua orang lainnya, masih saja sibuk membenahi
saluran air yang juga ingin segera diselesaikan. Dalam pada itu,
jauh dari daerah Lumban, disebuah padepokan yang besar, tidak jauh
dari pusat Kota Demak, seseorang sedang duduk dihadap oleh dua orang
lainnya. Seorang yang berwajah bulat, bermata terang dan tajam.
Meskipun beberapa helai rambutnya telah putih, tetapi nampak betapa
tubuhnya yang kekar itu menyimpan kemampuan tiada taranya. Sedangkan
kedua orang lainnya, masih nampak lebih muda. Wajah mereka nampak
keras dan bersungguh- sungguh. Seorang dari mereka berkumis lebat,
sedangkan yang lain berwajah halus dan tampan. Dengan
sungguh-sungguh ketiganya sedang membicarakan teka-teki yang sedang
mereka hadapi. Seolah-olah teka-teki yang tidak terpecahkan. “Mereka
tidak pernah kembali,“ desis yang berkumis lebat. “Dua orang yang
menyusul itupum tidak kembali,“ sahut yang lain. Orang yang berwajah
bulat itupun mengerutkan keningnya. Katanya, “Kedua orang itu tidak
tahu, apakah yang telah dilakukan oleh Ular Sanca itu.” “Tidak
Kiai,“ jawab orang berkumis lebat, “kami hanya memer intahkannya
untuk menyusul kedaerah Lumban. Mereka harus mencari keterangan,
dimanakah Ular Sanca itu, atau mendengarkan kabar, apakah sebenarnya
yang telah terjadi di daerah Lumban. Tetapi mereka tidak pernah
kembali.” “Apakah menurut dugaanmu, Daruwerdi yang bergelar
Padmasana itu berbuat curang ? Ia telah melepaskan perjanjian
diantara kita dan mencari keuntungan bagi dir inya sendiri atau
bahkan ingin memilikinya sendiri, karena pusaka itu akan dapat
membuatnya menjadi seorang prajur it pinunjul ?” “Kiai Pusparuri,“
berkata orang berkumis lebat itu, “aku tidak dapat mengatakannya
demikian. Menurut pengamatanku, ia adalah seorang anak muda yang
keras hati, tetapi juga memegang teguh janj i yang telah
disepakati.” “Siapa tahu, bahwa ketamakan yang tumbuh dihatinya
karena keinginannya untuk menanjak jauh lebih cepat, telah merubah
sifat-sifat yang kau kenal itu,“ sahut kawannya yang berwajah
bersih. “Aku yakin,“ bantah orang berkumis. Namun kemudian suaranya
menurun, “tetapi banyak kemungkinan yang dapat terjadi.” “Jadi
apakah yang baik menurut pertimbanganmu Sentika?“ bertanya orang
berwajah bulat itu. Orang berkumis lebat itu termangu-mangu.
Dipandanginya orang berwajah bersih itu sejenak. Namun karena orang
itu menunduk, maka ia t idak mendapatkan kesan apapun. “Kiai,“
berkata orang berkumis itu, “sulit untuk mengatakannya sekarang.
Agaknya daerah Lumban merupakan rahasia yang harus dijajagi sendir
i. Aku akan menemui Daruwerdi untuk menuntut pertanggungan jawab
atas persetujuan yang sudah kita buat.” “Apa pendapatmu Laksita?“
bertanya orang berwajahl bulat itu kepada yang berwajah bersih.
“Kita kurang terbuka Kiai. Kita tidak mengatakan yang sesungguhnya
kepada kedua orang yang kita perintahkan untuk menyusul Ular Sanca.
Dengan demikian, mereka tidak mudah untuk mendapatkan keterangan
tentang Daruwerdi dan Ular Sanca itu. Mereka hanya tahu, bahwa salah
seorang dari kita telah pergi ke Lumban dan tidak pernah kembali.”
“Jadi, apakah sebaiknya yang kita lakukan menurut pendapatmu ?” “Aku
kira, masih belum perlu kita atau salah seorang dari kita untuk
pergi ke Lumban. Kita akan dapat memerintahkan satu dua orang yang
dapat kita percaya, tetapi dengan keterangan yang jelas. Mereka
harus mengetahui dengan pasti, apakah yang seharusnya mereka
lakukan.” “Bagaimana j ika orang-orang itu bertemu dengan orang-
orang Gunung Kunir atau orang-orang Kendali Putih atau
perguruan-perguruan yang lain ? Jika nasib mereka buruk, maka meteka
akan dapat diperas dan dipaksa untuk mengatakan sesuatu yang
seharusnya tidak mereka mengerti,“ sahut orang berkumis lebat itu.
“Jadi menurut kakang Sentika, orang-orang Gunung Kunir dan Kendali
Putih masih belum mengetahui sama sekali tentang pusaka-pusaka itu
?“ bertanya Laksita. Orang berkumis itu termangu-mangu. “Kita
mendengar hal itu dari seorang perwira yang bertugas di Gedung
perbendaharaan pusaka. Kemudian kita mendengar jalur perjalanan
Pangeran Pracimasanti. Pengawalnya masih melihat pusaka itu sebelum
Pangeran Pracimasanti dalam perjalanan jauhnya melewati daerah yang
disebut Sepasang Bukit Mati. Yang satu bukit gundul dan yang lain
berhutan lebat dan dihuni oleh binatang-biniatang buas. Sehingga
hutan itu disebut hutan yang paling wingit, karena setiap orang yang
menyentuhkan kakinya, akan mati ditelan binatang buas.” Kiai
Pusparuri mengerutkan keningnya. Kemudian iapun memotong, “Kita
sudah mendengar semuanya tentang hal itu. Tetapi bagaimana dengan
orang-orang Kendali Putih, orang- orang Gunung Kunir, orang-orang
yang menyebut dirinya perguruan Putih dar i aliran Gatra Bantala
yang mempunyai ciri-ciri yang gila itu ?” Laksita termangu-mangu
sejenak. Namun iapun menjawab, “Dugaanku justru yang menggelisahkan
kita semuanya disini. Merekapun tentu sudah mendengar seperti yang
kita dengar. Orang-orang dari Gedung Perbendaharaan Pusaka itu bukan
orang-orang yang pandai menyimpan rahasia. Tetapi mungkin mereka
belum mendengar jalur perjalanan Pangeran Pracimasanti yang melalui
Sepasang Bukit Mati itu.” Kiai Pusparur i mengangguk-angguk. Lalu
katanya, “Kita akan segera mengambil sikap. Kita harus mempersiapkan
diri menghadapi setiap kemungkinan. Pusaka itu akan member ikan
pengaruh yang besar pada siapapun yang memilikinya. Orang itu akan
mempunyai kewibawaan tinggi, kemampuan yang tidak ada duanya dalam
olah kanuragan, dan pada pusaka itu sendiri tersimpan kekuatan gaib
yang tidak ada duanya.” Sentika dan Laksita hanya mengangguk-angguk
saja. Mereka tahu, bahwa yang akan mereka hadapi adalah tugas- tugas
yang berat untuk memperebutkan sebuah pusaka seperti dongeng-dongeng
yang sudah banyak mereka dengar. Pusaka ditangan seseorang pada
umumnya justru tidak member ikan drajat, pangkat atau semat, tetapi
malahan telah merampas nyawa mereka, karena diantara para sakti
telah terjadi saling berebutan dengan taruhan yang paling mahal,
ialah nyawanya. “Mustahil bahwa Kiai Pusparur i tidak
memperhitungkan hal itu,“ berkata Sentika didalam hatinya. Tetapi
Laksita berkata lain didalam dirinya, “Tentu bukan kewibawaan
tinggi, kemampuan yang tidak ada duanya atau kekuatan gaib yang
tersimpan didalam pusaka itu. Tentu karena Kiai Pusparur i
mengetahui bahwa pada wrangka atau ukiran pusaka yang sedang dicari
itu atau pada peti atau kain pembungkusnya, terdapat keterangan
tentang harta yang tidak ternilai harganya, yang disimpan oleh
Pangeran Pracimasanti sebagai bekal untuk membangun kembali
kekuasaan Keturunan Raden Wijaya. Tetapi sebelum hal itu sempat
dilakukan. Pangeran Pracimasanti telah dipanggil kembali menghadap
penciptanya tanpa diketahui oleh siapapun kecuali oleh seorang
hambanya yang paling setia, tetapi buta dan tuli.” Namun Laksita
tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Tidak pula kepada Sentika.
ia menyimpan hal itu didalam dirinya. Tetapi seperti bara didalam
sekam, pengertian itu telah membakar jantungnya perlahan-lahan.
Keinginan yang serupa untuk memiliki pusaka itu telah menghanguskan
nalarnya, sehingga akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali
menemukan pusaka itu. Mengambil keterangan yang diperlukan, kemudian
membiarkan pusaka itu diketemukan oleh orang lain. Tetapi seperti
yang dikatakan, Laksita memang mencemaskan orang-orang dari
perguruan lain. Jika ia berkesempatan mendengar hal itu, maka adalah
tidak mustahil bahwa orang lainpun kesempatan yang sama. Bahkan
mungkin merekapun dapat mendengarnya lebih banyak lagi tentang
Pangeran Pracimasanti atau tentang pusaka itu sendiri. Dalam pada
itu. Kiai Pusparuripun berkata, “Santika dan Laksita. Cobalah kau
jajagi sampai dimana pendengaran orang-orang kita sendiri. Pelajar
i, apakah untung dan ruginya jika kita memberikan perintah terbuka
untuk mencari orang- orang kita yang telah pergi kedaerah Sepasang
Gunung Mati itu.” Sentika dan Laksita mengangguk dalam-dalam.
“Baiklah Kiai,“ berkata Santika yang berkumis lebat itu, “kami akan
melakukannya.” “Waktu kalian tidak panjang. Aku akan segera
mengambil keputusan yang menentukan.” “Baiklah Kiai,“ Laksitalah
yang kemudian menjawab, “aku memang menganggap bahwa kami berdua
belum perlu turun ke medan perburuan pusaka itu. Tetapi jika perlu
dan keadaan memaksa, maka sudah barang tentu, kami berdua tidak akan
berpangku tangan. Apalagi kami mengetahui, bahwa pusaka itu
mempunyai arti yang sangat besar bagi seseorang yang memilikinya.”
“Terima kasih. Tetapi lakukanlah perintahku yang pertama,“ sahut
Kiai Pusparur i. “Ya Kiai,“ hampir berbareng keduanya menjawab.
Kemudian Sent ika dan Laksitapun minta dir i dari hadapan Kiai
Pusparur i. Mereka ingin segera mengetahui, apakah medan yang mereka
hadapi merupakan medan yang sulit dan berat, bahkan tidak akan
terseberangi. Di halaman padepokan, dibawah sebatang pohon yang
rimbun, mereka sempat berbincang sejenak, apakah yang sebaiknya akan
mereka lakukan. “Kita masuki barak anak-anak itu. Kita bertanya,
apakah yang mereka ketahui tentang Pangeran Pracimasanti,“ desis
Sentika. “Terlalu langsung,“ sahut Laksita, “kita mencoba berbelit-
belit sejenak. Mengucapkan kata-kata yang sulit mereka mengerti.
Kemudian baru kita akan sampai pada pokok masalahnya, sehingga
seolah-olah yang kita tanyakan itu bukannya pokok persoalan yang
sebenarnya. Dengan demikian mereka tidak akan terpancang pada
persoalan itu saja. Kepada orang lainpun mereka tidak akan
memperbincangkannya lagi.” “Kau selalu cerdik. Aku setuju. Karena
itu, kau sajalah yang mula-mula berbicara. Sedikit berbelit-belit
dan tidak mereka ketahui. Kemudian baru kau bertanya sambil lalu.
Dan dengan acuh tidak acuh, apakah diantara mereka mengetahui serba
sedikit tentang Pangeran Pracimasanti.” “Jika tidak seorangpun yang
tahu, kita mundur sedikit. Kita bertanya tentang Sepasang Bukit
Mati. Jika mereka tidak mengerti, kita bertanya tentang yang lain
lagi. Tentang Lumban dan sekitarnya dan tentang Ular Sanca dan kedua
orang kita yang tidak kembali itu.” Sentika mengangguk-angguk, ia
memang menganggap laksita cerdik dan pandai berbicara. Karena itu,
maka diserahkannya soal itu kepada Laksita untuk menyampaikannya
kepada orang-orangnya. Orang-orang padepokan Pusparuri yang terikat
kepada suatu anggapan, bahwa Kiai Pusparuri, guru mereka adalah
orang yang paling mumpuni diseluruh muka bumi. Dengan demikian, maka
apa yang dikatakan, apa yang diper intahkan dan apa yang diputuskan,
adalah ketentuan yang tidak dapat diganggu gugat lagi. Ketika
kemudian Sentika dan Laksita berdiri diantara orang- orang perguruan
Pusparuri. seperti biasanya keduanya disambut dengan hati yang
berdebar-debar dari orang-orang yang selalu siap menunggu perintah.
Dengan caranya Laksita memberikan sesorah singkat, ia mengucapkan
kata-kata yang muluk dan sulit dimengerti. Menyinggung mengenai masa
depan dan harapan-harapan bagi setiap orang yang patuh. Namun
akhirnya ia sampai juga pada maksudnya. Sambil lalu ia bertanya,
“apakah ada diantara mereka yang pernah mendengar nama Pangeran
Pracimasanti.” Ternyata tidak seorangpun yang pernah mendengarnya.
Ketika kemudian Laksita bertanya tentang Sepasang Bukit Matipun
tidak ada yang pernah mengetahuinya pula. Sedangkan ketika Laksita
terpaksa menyebut padukuhan Lumban. maka beberapa orang diantara
mereka menyatakan bahwa mereka memang pernah mendengarnya. “Tidak
ada gunanya kita berbicara dengan mereka,“ berkata Laksita ditelinga
Sentika, “mereka adalah kerbau- kerbau dungu yang hanya dapat
diperintah dan dibentak.” “Jadi?” Laksita mengangkat pundaknya,
Katanya, “Aku tidak melihat jalan lain. Akhirnya kita juga yang
harus berbuat sesuatu untuk menemukannya.” “Kau tadi yang mengatakan
bahwa kita belum perlu untuk pergi ke Lumban mencari keterangan
tentang pusaka itu. Apakah kau mempunyai pertimbangan lain sekarang
?” “Aku mempunyai pertimbangan lain setelah aku melihat kenyataan
ini.” “Apa?” Laksita tidak menjawab. Dipandanginya beberapa orang
yang termangu-mangu memperhatikannya dengan saksama. “Nanti
sajalah,“ desis Laksita. Seperti biasa Sentika tidak membantah. Ia
terlalu percaya kepada kecerdikan Laksita, sehingga karena itu, maka
iapun mengangguk-angguk diam. Sementara ku, maka Laksitapun segera
menutup pertemuan itu. Dengan lantang ia berkata, “Bersiaplah.
Mungkin dalam waktu dekat kalian akan mendapat tugas khusus. Mungkin
dua atau tiga orang. Tetapi mungkin delapan atau sepuluh.”
Wajah-wajah yang mendengar perintah itu menegang sejenak. Namun
merekapun segera mengangguk-angguk. Ada diantara mereka yang merasa
lebih senang berada di arena tugas betapapun beratnya. Kadang-kadang
didalam tugas mereka mendapatkan sesuatu yang berharga, yang tidak
diketahui oleh orang lain, sehingga dapat dimilikinya sendir i. Satu
dua orang diantara mereka telah pernah mendapatkan keris atau timang
dari emas. Kadang-kadang sebentuk cincin atau kadang-kadang mereka
sempat merampas perhiasan yang sedang dipakai oleh seseorang. Atau
dengan berdebar- debar menyempatkan diri berbuat kasar terhadap
perempuan dan gadis-gadis. Ketika orang-orang itu telah meninggalkan
Sentika dan Laksita, maka mulailah Laksita menjelaskan, “Tidak ada
harapan. Aku masih berharap bahwa mereka dapat mengerti serba
sedikit. Tetapi ternyata mereka memang terlalu bodoh dan dungu.
Untuk melakukan kekerasan, mereka adalah orang-orang yang memang
pilihan. Tetapi untuk menentukan sikap, memang seharusnya bukan
mereka. Aku tadi keliru menilai.” “Jadi menurut pendapatmu, kita
berdua lebih baik pergi ke Lumban untuk menangani masalah ini secara
langsung ?” Laksita menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya,
“Kita berdua, atau salah seorang dari kita. Atau kita bersama- sama
mencari keterangan dengan sasaran yang berbeda agar kita dapat
membagi tenaga dan kesempatan, tidak harus langsung ke Lumban.”
“Jika demikian, kita akan menyampaikan kepada Kiai Pusparuri. Aku
memang condong berbuat demikian sejak semula untuk mempercepat
penyelesaian. Bagiku lebih cepat lebih baik. Korban akan dapat
dikurangi.” “Kita mendapat waktu satu har i satu malam untuk
menyampaikan gagasan kita,“ desis Laksita. “Aku condong untuk segera
menyampaikannya, agar kita segera dapat berbuat sesuatu.” “Jangan
tergesa-gesa. Kita menunggu semalam. Mungkin kita masing-masing
menemukan sesuatu yang lebih baik dari yang kita pikirkan sekarang
ini.” Sentika mengangguk-angguk. “ Baiklah. Aku akan menyabarkan
diri semalam ini. Aku akan tidur dirumah isteriku yang ke tiga. Ia
memerlukan aku malam ini, karena sudah dua hari ia sakit panas.”
“Persetan dengan isterimu yang ketiga, keempat atau ketigapuluh
sembilan. Masalah yang kita hadapi adalah masalah yang gawat. Dengan
pusaka itu ditangan, Kiai Pusparuri akan mempergunakan segala
pengaruh dan wibawa yang ada untuk mempengaruhi pimpinan
pemerintahan. Sementara Kiai Pusparuri sedang memperhitungkan setiap
langkah, bagaimana ia dapat menyelusuri jalan yang licin disela-sela
kuasa para Adipati dan pimpinan tanah Perdikan diluar istana, dan
para Bupati dan Nayaka serta para Panglima didalam istana, kau ribut
dengan isterimu yang tidak terhitung jumlahnya itu.” “Bukan
maksudku. Memang mereka tidak penting. Tetapi bagaimanapun juga
merupakan sebagian dari hidupku.” “Besok pagi-pagi kita bertemu.
Kita akan menentukan langkah yang paling baik menghadapi masalah
yang gawat ini. Kita masih harus memikirkan orang-orang Kendali
Putih, orang-orang Gunung Kunir dan ibhs-iblis dari Sanggar Gading,“
berkata Laksita sambil menghentakkan tangannya. Dalam pada itu, di
daerah Lumban, anak-anak muda masih saja bernafsu untuk mendapatkan
pengetahuan olah kanuragan dari Daruwerdi. Ketika senja mulai turun,
maka, latihan yang diadakan didekat bukit gundul itu berakhir.
Sakelompok-sekelompok anak-anak muda dari Lumban Wetan dan Lumban
Kulon meninggalkan bukit gundul itu kembali kepadukuhan. Tidak ada
diantara mereka yang berani seorang diri singgah disungai. Karena
itulah, maka sebagian anak-anak muda itu bersama-sama dalam kelompok
yang besar turun dan mandi bersama-sama. Meskipun demikian, ketika
warna merah dilangit menjadi buram kehitam-hitaman maka dengan
tergesa-gesa mereka berpakaian dan berlari- lari naik keatas
tanggul. “Tunggu, he tunggu,“ teriak seorang anak muda yang gemuk.
“Cepat,“ sahut kakaknya, “jika kau ketinggalan, maka kau akan
disergap hantu.” “Jangan sebut,“ anak gemuk itu semakin ketakutan,
“tunggu aku.” Tetapi justru karena ia menjadi semakin ketakutan,
maka kakinya menjadi gemetar. Beberapa kali ia tergelincir ketika ia
memanjat tebing. “Tunggu, hei tunggu,“ kakaknyapun berteriak.
Beberapa orang anak muda berhenti. Ketika mereka berpaling, mereka
melihat seorang kawannya sedang menolong adiknya yang gemuk naik
keatas tanggul. “Cepat,“ teriak salah seorang dari anak-anak muda
itu. “Tunggulah sebentar.” Jlitheng yang ada diantara mereka
kemudian berkata, “Kita menunggu mereka sebentar.” “Sebentar lagi
gelapnya menjadi semakin pekat,“ desis seorang kawannya. “Tetapi
kita tidak sendir i. Kita akan dapat saling menolong. Hantu itu t
idak akan berani mengganggu kita berenam.” Kawan-kawannya berhenti
juga meskipun gelisah. Yang lain telah menjadi semakin jauh dan
hilang dibalik gerumbul perdu. Sejenak kemudian kedua kakak beradik
itu telah menyusul. Merekapun semuanya bergegas menyusul
kawan-kawannya yang telah menjadi semakin jauh. Namun dalam pada
itu, yang menjadi perhatian Jlitheng sama sekali bukan gelapnya
malam dan hantu-hantu yang mulai berkeliaran. Tetapi ia menjadi
curiga, bahwa Daruwerdi masih berada dibukit gundul ketika anak-anak
muda dari Lumban sudah meninggalkannya. “Apakah ia mempunyai rencana
tersendiri?“ berkata Jlitheng didalamhatinya. Tetapi bersama-sama
dengan beberapa kawannya Jlitheng kembali kepadukuhan Lumban Wetan
agar tidak menar ik perhatian mereka. Apalagi kawan-kawannya yang
disiang hari ikut serta membantunya membuat gubug dilereng bukit
berhutan, sebelum mereka pergi kebukit gundul mengikuti latihan yang
diselenggarakan oleh Daruwerdi. “Pikiran orang tua itu ternyata akan
sangat bermanfaat,“ desis seorang kawannya yang bersama Jlitheng
kembali kepadukuhan. “Kita akan segera menyelesaikannya,“ sahut
Jlitheng, “jika air itu sudah mengalir, maka akan terbukalah hati
setiap orang dipadukuhan ini,“ ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi
jangan member ikan harapan yang berlebih- lebihan kepada sanak
kadang. Jika kerja ini meleset, mereka akan menjadi sangat kecewa.”
“Ah, tentu tidak,“ jawab kawan Jlitheng, “aku belum mengatakan
kepada siapapun.” “Kemarin aku dengar kau berceritera tentang air
kepada pamanmu,“ tiba-tiba kawannya menyahut. “O, ya. Baru kepada
paman,“ jawab anak muda itu. “Kepada Ki Lengit disudut padukuhan,
kau juga mengatakannya.” “O ya. Hanya kepada paman dan Ki Lengit.”
“Aku mendengar kau berceritera tentang kerja dilereng bukit itu
kepada Jinten, gadis berambut jagung itu.” “Ah. Ya, ya. Baru
kepadanya.” “Baru kepada satu, dua, tiga, sepuluh, duapuluh orang.“
Kawan-kawannya tertawa. Sementara Jlitheng sambil tersenyum
menengahi, “sudahlah. Tetapi untuk seterusnya, jangan kau cer
iterakan lagi.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun dalam pada
itu. ketika anak-anak muda dari Lumban Wetan yang pulang bersama
Jlitheng itu satu-satu sudah masuk kedalam rumahnya, maka
Jlithengpun dengan tergesa-gesa pulang pula kerumahnya. Tetapi ia
hanya sekedar minta ij in kepada ibunya. Kepada perempuan tua itu ia
berkata, bahwa ia akan berada digardu. karena ada masalah yang akan
dibicarakan dengan kawan-kawannya. Tetapi kemudian dengan
tergesa-gesa. Jlitheng telah pergi kebukit gundul. Seperti yang
pernah dilakukannya, maka dengan sangat berhati-hati ia mencoba
untuk mengintai, apa yang terjadi diatas bukit padas itu. Beberapa
saat lamanya, Jlitheng bersembunyi dibalik gerumbul dibawah bukit.
Jika ia mulai memanjat, maka ia tidak akan dapat mencari
perlindungan dedaunan lagi. Ia hanya dapat berlindung diantara
batu-batu padas yang mencuat dan lekuk- lekuk yang digoreskan oleh
air hujan. Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia melihat
bayangan dalam kegelapan. Tidak jauh dari tempatnya bersembunyi.
Bayangan itu melintas kekaki bukit. Namun kemudian nampak ia duduk
diatas batu padas. “Bukan Daruwerdi,“ desis Jlitheng didalam
hatinya. Namun Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Menurut
perhitungannya, tentu Daruwerdi akan segera datang. Padahal, ketika
anak-anak muda Lumban meninggalkan tempat itu, ia masih tetap duduk
diatas batu padas beberapa langkah dar i orang asing itu duduk.
Karena itu, maka Jlitheng harus berhati-hati. Jika ia bernasib baik,
maka ia akan mendengar beberapa masalah yang selama ini masih tetap
gelap baginya meskipun pokok- pokok persoalannya telah pernah di
dengarnya. Jlitheng menjadi gelisah, karena nampaknya orang itu
masih tetap duduk dengan tenang. Sama sekali tidak menunjukkan
kegelisahan seseorang yang sedang menunggu. Jlithenglah yang
kemudian menjadi berdebar-debar. Ia hampir tidak sabar lagi melihat
sikap orang itu, yang sama sekali t idak terpengaruh oleh keadaan
disekelilingnya. “Mungkin waktunya memang belum sampai,“ desis
Jlitheng. Tetapi ia harus menahan nafas ketika ia kemudian melihat
bayangan yang lain. Bayangan seseorang yang mendekati orang yang
telah duduk menunggunya. “Akhirnya kau datang juga Cempaka,“ desis
orang yang baru datang. Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar.
Orang itu adalah Cempaka, yang namanya pernah didengarnya beberapa
saat yang lampau. “ Aku sudah mengirimkan pesan itu Daruwerdi,“
jawab Cempaka, “apakah kau tidak mener ima?” “Ya. Tetapi aku
terlambat menerima pesanmu. Karena itu, aku menunggumu ditempat ini
untuk waktu yang sangat lama. Bersamaan dengan per istiwa yang
sebenarnya sangat menarik, yang telah terjadi dipadukuhan Lumban.”
“Apa yang telah terjadi ?“ bertanya Cempaka. “Seorang anak muda yang
dibawa oleh hantu,“ jawab Daruwerdi. “Wewe?” “Mungkin.” Orang
disebut Cempaka itu tertawa. Katanya, “Memang sangat menarik.
Sayang, aku tidak dapat datang pada waktu itu. Apakah kau tidak
berusaha mencari keterangan yang lebih mendalam?” “Aku terikat
disini. Sebenarnya aku juga ingin mencari anak itu,“ jawab Daruwerdi
yang kemudian menceriterakan serba sedikit tentang hilangnya Kuncung
untuk hampir semalam suntuk. Cempaka tertawa semakin keras. Katanya,
“Daerah ini memang penuh dengan rahasia. Aku sudah mendengar,
orang-orang Kendali Put ih itu hilang di daerah ini. Kemudian
orang-orang Pusparuri juga tidak pernah kembali ke padepokannya. Aku
memang mencur igaimu.” Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia bertanya, “Berapa orang menurut pendengaranmu yang telah hilang
didaerah ini?” “Tiga orang Pusparur i dan empat orang Kendali
Putih,“ jawab Cempaka. Daruwerdi tertawa. Katanya, “Ceritera yang
sangat menarik.” “Kau yang membunuhnya ?“ bertanya Cempaka.
Daruwerdi memandang wajah Cempaka yang bersungguh- sungguh. Sambil
mengerutkan keningnya ia bertanya, “Kau bersungguh-sungguh dengan
kecur igaanmu itu ?” “Tentu. Apakah kau dapat menyebut orang lain
kecuali kau?” “Aku tidak ingkar. Tetapi jumlahnya agak berbeda.
Ketika aku berjanji untuk mener ima Ular Sanca, maka dua orang
Kendali Putih telah ikut campur dengan membunuhnya. Karena keduanya
memaksa aku untuk berbicara tentang pusaka itu, maka aku tidak dapat
menahan kesabaranku lagi sehingga keduanya telah aku bunuh. Tetapi
hanya itu.” Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ceritera
itu sudah berkembang, atau kau sudah ingkar.” “Kau kenal aku
Cempaka. Buat apa aku ingkar ? Kau kira aku takut terhadap
orang-orang Kendali Put ih dan orang- orang Pusparuri seandainya
mereka mengetahui bahwa aku yang melakukannya ?” Cempaka
mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku mengerti. Kau tidak pernah takut
terhadap siapapun juga. Tetapi ceritera itu memang aneh.” “Ceritera
itu agaknya memang sudah berkembang. Tetapi bahwa ada dua orang
Kendali Put ih yang pernah datang, memang mungkin sekali. Seorang
anak muda dari Lumban Wetan mengaku pernah diseret oleh dua orang
yang tidak dikenal. Tetapi ia tetap hidup.” Cempaka mengerutkan
keningnya. Katanya, “Daerah yang disebut Bukit Mati ini memang
daerah yang aneh. Mungkin memang benar bahwa Sepasang bukit ini
adalah bukit yang tidak dapat dijamah oleh manusia. Siapa yang
bermain-main dengan Sepasang Bukit ini akan mat i karenanya.” “Kau
mulai mempercayainya ?“ bertanya Daruwerdi. Cempaka tertawa.
Katanya, “Dan kau masih juga belum mati sampai hari ini. Tetapi
memang mungkin akan terjadi besok atau lusa.” “Dan kaupun mulai
bermain dengan Sepasang Bukit Mati itu pula,” jawab Daruwerdi
Keduanya tertawa. Sementara Jlitheng menahan nafasnya. Ia sadar
bahwa kedua orang dibukit gundul itu adalah orang- orang yang
memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga j ika ia tidak
berhati-hati, maka ia akan terjebak dalam kesulitan. Sementara itu,
Cempaka berkata, “Sudahlah Daruwerdi. Biarlah aku mencar i
keterangan yang lebih banyak tentang orang-orang Kendali Putih dan
orang-orang Pusparuri yang hilang itu. Meskipun aku sudah berpesan
kepada murid-murid Sanggar Gading, bahwa jika aku juga tidak
kembali, maka aku telah ditelan oleh Sepasang Bukit Mati.” Daruwerdi
menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau bergurau. Tetapi mungkin
itu mempunyai kepentingan dengan kau.” “Butalah,“ jawab Cempaka “
.tetapi bagaimana dengan persoalan kita ? Aku tahu. bahwa kau sudah
mempunyai sikap yang pernah kau tawarkan kepada orang-orang
Pusparuri. Tetapi mungkin kau mempunyai pertimbangan lain tentang
pusaka itu ?” “Sudah pernah aku katakan. Aku sudah berjanj i dengan
orang-orang Pusparuri. Kecuali jika pihak lain dapat menunjukkan
bukti bahwa mereka lebih berkepentingan dengan pusaka itu daripada
Kiai Pusparuri sendir i.” “Bukti itu pernah aku tawarkan. Bukan aku
sendir i. Tetapi seseorang yang mempunyai derajat yang sesuai dengan
pusaka itu. Jika ia memiliki pusaka itu, maka ia akan menjadi
seorang yang berderajat sesuai dengan derajatnya yang sebenarnya. Ia
sama sekali tidak ingin merampas kemukten dengan memiliki tahta.
Tetapi ia ingin menggenggam hakekat dari kekuasaan yang sebenarnya,
yaitu pada inti kekuatan. Dengan kekuatan itu ia akan dapat berbuat
apa saja bagi kebahagiaan hidup umat manusia.” Daruwerdi tidak
segera menjawab. Agaknya ia sedang merenungi kata-kata Cempaka.
Namun kemudian ia bertanya, “Apakah maksudnya ? Apakah ia ingin
menjadi Senapati Agung yang pengaruhnya akan melampaui pengaruh Raja
justru karena ia menguasai prajur it ?” Cempaka memandang Daruwerdi
dengan tajam. Kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya.
Begitulah. Dengan kekuasaan yang benar-benar berlandaskan kekuatan
ia akan dapat berbuat banyak. Ia dapat memperbaiki segala kesalahan
dan kekurangan yang ada, yang nampaknya tidak terjadi secara
kebetulan.” Daruwerdi terdiam sejenak. Namun t iba-tiba saja ia
tertawa. Semakin lama semakin keras, sehingga tubuhnya
terguncang-guncang. “Kenapa kau tertawa ?” bertanya Cempaka.
Daruwerdi berusaha untuk menahan tertawanya. Disela- sela suara
tertawanya yang tertahan-tahan ia berkata, “Aneh sekali. Tetapi
memang mungkin sekali hal itu dapat dilakukan. Setelah mempunyai
pengaruh yang sangat besar maka ia akan mengusir raja yang sedang
berkuasa.” Cempaka termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Jangan
terlalu bodoh. Orang yang aku katakan itu, bukan orang yang
berpikiran kerdil. Ia sadar tentang apa yang dilakukan.” Tetapi
suara tertawa Daruwerdi justru meledak. “Daruwerdi, apakah kau sudah
menjadi gila ?” “Cempaka,“ berkata Daruwerdi diantara gelak
tertawanya yang semakin menurun, “kau jangan mengira akulah yang
terlalu bodoh atau yang berpikiran kerdil. He, kau kira orang yang
kau katakan itu benar-benar ingin mendapatkan pusaka itu karena
pengaruh gaibnya ? Karena dengan memiliki pusaka itu ia akan
mendapatkan kekuasaan dan derajat?” “Daruwerdi,“ Cempaka memotong,
“kau mulai mengigau. Coba katakan, jika kau mengerti, apakah yang
sebenarnya ?” “Tidak. Aku tidak mengerti. Bertanyalah kepada orang
yang kau sebut itu. Apakah benar seperti yang aku duga ? Atau
benar-benar pengertiannya memang sangat kerdil ?” Cempaka menjadi
semakin tegang. Dengan nada dalam ia bertanya, “Kau membuat aku
semakin bingung. Daruwerdi. coba katakan, apakah yang kau maksud
sebenarnya.” “Aku tidak tahu Cempaka. Tetapi baiklah kau sampaikan
kepada orang yang kau maksud. Selebihnya, aku akan berusaha untuk
menemukan pusaka itu secepatnya berdasarkan keterangan yang
kuterima. Setiap orang tentu mengira bahwa akulah orang yang
memiliki keterangan terbanyak tentang pusaka itu, karena akulah
orang yang dapat bertemu dan berhubungan dengan pengiring Pangeran
yang terusir dan telah meninggal itu. Meskipun pengir ing itu tua
dan cacat.” Cempaka menggeram. Katanya, “Kau memang iblis Daruwerdi.
Tetapi berhati-hatilah sedikit dengan sikapmu itu. Mungkin kau
memang seorang yang pilih tanding. Tetapi tentu ada orang yang
melampaui kemampuanmu dan dapat mencekikmu sampai mati jika kau
tidak mau menyebut rahasia itu.” “Siapapun dapat memaksa aku membuka
rahasia. Tidak usah dengan mencekikku. Tetapi aku minta seperti yang
pernah aku katakan,“ jawab Daruwerdi. “Kau memang orang gila. Kau
minta yang sulit dilakukan. He, apakah kau kira permintaanmu itu
wajar ?“ bertanya Cempaka. Daruwerdi tertawa kecil. Katanya,
“Orang-orang Pusparuri telah menyanggupinya. Tetapi itu tidak
terlalu mengikat bagiku. Jika pihak lain dapat menemukan orang itu
lebih dahulu, maka aku akan mengatakan kepadanya, sejauh yang aku
ketahui tentang pusaka itu.” “Kenapa kau sendir i tidak melakukannya
Daruwerdi ? Jika kau merasa seorang yang pinunjul, tentu kau akan
berani datang ke istana Kapangeranan dan menantangnya perang
tanding.” “Pertanyaan semacam itu sudah aku dengar beberapa puluh
kali. Orang-orang lain juga bertanya seperti itu kepadaku. Dan
jawabku selalu tidak berubah. Aku harus mengerti tentang diriku
sendir i. Aku tidak akan mampu melawan para pengawalnya yang
jumlahnya jauh melampaui jumlah pengawal Senapati Agung. Tetapi aku
tidak akan dapat melupakan dendamku kepadanya, karena ia telah
membunuh ayahku,“ jawab Daruwerdi. “Kau merasa dir imu terlalu
lemah. Tetapi kau memang keras kepala. Bagaimana jika terjadi
sekelompok kekuatan menangkapmu dan memeras keterangan dari mulutmu
dengan kekerasan.” “Adakah kelompok yang akan berbuat demikian ? Aku
adalah orang yang mudah mati. Jika aku ditangkap oleh sekelompok
yang manapun juga, maka rahasia tentang pusaka itu tidak akan
terungkapkan. Kelompok-kelompok yang sedang memburu pusaka itu akan
mendendam terhadap siapapun yang berani membunuhku. Dengan demikian,
maka kelompok itu tentu akan musna.” “Kau kira tidak ada kekuatan
yang dapat menangkapmu tanpa diketahui oleh orang lain ? Sekarang
misalnya. Aku akan dapat menangkapmu dan membawamu kepadepokan tanpa
diketahui oleh orang lain. Dengan satu isyarat, maka orang- orangku
akan datang dengan tali yang tidak akan dapat kau putuskan.” “He,
kau kira aku juga sendir i, sehingga kau dapat berbuat curang begitu
?“ bertanya Daruwerdi. “Anak iblis,“ geram Cempaka, “aku tahu, kau
hanya menggertakku.” “Kalau begitu lakukanlah yang ingin kau lakukan
itu. Tetapi jangan menyesal bahwa padepokanmu akan menjadi karang
abang. Orang-orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih dan orang
yang mana lagi. akan bersatu dan menghancurkan padepokanmu yang
sombong itu.” “Gila. Kau sungguh-sungguh gila. Tetapi baiklah, aku
akan mempertimbangkan kemungkinan yang kau kehendaki.” “Kau
mempunyai sepasukan pengikut seperti orang-orang Pusparuri dan
orang-orang Kendali Putih. Kau dapat menyerbu ke istana Pangeran
yang tamak itu dan kemudian menangkapnya dan menyeretnya kepadaku.
Aku akan membunuhnya perlahan-lahan meskipun ia akan merengek minta
maaf kepadaku. Aku tidak gentar berperang tanding. Tetapi ia sangat
curang, sehingga aku tidak akan dapat mempercayai kejantanannya
dengan datang keistananya dan menantangnya perang tanding, ia t idak
akan segan-segan menggerakkan pengawalnya untuk membunuhku dengan
licik.” “Persetan. Aku tidak perlu ceriteramu yang sombong itu.
Katakanlah bahwa kau tidak mampu menghadapinya. Aku akan
melakukannya. Tetapi jika kau ingkar tentang pusaka itu. maka kau
akan mengalami nasib yang paling buruk yang pernah terjadi atas
seseorang.” Daruwerdi tertawa. Dipandanginya orang yang menyebut
dirinya Cempaka itu dengan pandangan yang kecut. “Jangan mengancam.
Belum tentu bahwa kaulah yang akan dapat membawa pangeran itu
kepadaku. Mungkin orang- orang Pusparuri. Mungkin dari pihak lain.
Aku akan member ikan penawaran terbuka kepada siapapun. Hanya
orang-orang Kendali Putihlah yang bodoh, yang ingin memaksakan
kehendaknya tanpa melalui pembicaraan yang baik. Karena itu mereka
tidak akan pernah kembali kepadepokannya.” “Dan kau telah melakukan
sampai dua rambahan. Dua orang yang kau bunuh terdahulu. Kemudian
dua orang lagi. Sedangkan yang terakhir adalah dua orang Pusparuri.”
“Itu ceritera yang sangat gila. Kau sengaja membuat ceritera semacam
itu agar orang-orang Kendali Put ih dan Pusparuri mendendamku.
Tetapi j ika mereka membunuh aku, maka kaupun kehilangan kesempatan
sama sekali untuk memiliki pusaka itu.” Orang yang disebut Cempaka
itu menarik nafas dalam- dalam. Katanya kemudian, “Ternyata aku
berhadapan dengan orang yang paling licik yang pernah aku kenal.
Daruwerdi, aku kira bahwa kau adalah seorang laki-laki jantan dan
berpegang teguh pada setiap janji yang kau ucapkan. Tetapi sekarang,
kau sudah berubah sama sekali. Kau bukan lagi Padmasana yang aku
kenal. Setelah kau memasang gelar yang asing itu, kau benar-benar
menjadi orang asing bagiku.” “Mungkin,“ jawab Daruwerdi, “tetapi itu
bukan terjadi dengan tiba-tiba dan dengan sendirinya. Ada sebab yang
menyebabkan aku berubah jika dugaanmu benar.” “Kematian ayahmu ?“
bertanya Cempaka. “Ya. Kematian ayahku telah membuat aku lupa
segala- galanya. Aku lupa akan diriku sendir i disaat yang lampau.
Lupa akan sifat dan watak itu. Yang aku inginkan kemudian hanyalah
membalas dendam. Itu saja. Dan bagi mereka yang dapat menolongku,
aku menyediakan imbalan yang tidak ternilai harganya, meskipun belum
sepadan dengan nilai ayahku itu.” “Kau memang anak iblis. Tetapi
baiklah, aku akan melakukannya. Berapa hari kau memberi aku waktu ?”
“Lebih cepat lebih baik,“ jawab Daruwerdi. “Dan pusaka itu kini
sudah ditangaumu ?“ bertanya orang itu. “Pertanyaanmu juga gila. Aku
tidak dapat menjawab. Tetapi demikian orang yang aku maksud itu kau
serahkan kepadaku, maka imbalan itupun akan kalian terima.”
“Perubahan sifat dan watakmu membuat aku ragu-ragu.“ “Terserah
kepadamu,“ jawab Daruwerdi. Cempakapun kemudian bangkit dan berjalan
selangkah maju. Katanya, “Aku akan melakukannya. Bukan saja karena
pusaka itu. Tetapi aku menjadi kasihan melihat seorang anak muda
yang pernah dipuj i karena kejantanannya, tiba-tiba telah menjadi
licik dan pengecut.” Tiba-tiba saja Daruwerdi tertawa
berkepanjangan. Katanya, “Jangan mencoba menyinggung harga diriku.
Aku sudah tidak mempunyai harga diri lagi. Kau boleh menghina aku.
Kau boleh mengumat tanpa kendali. Apa saja yang kau katakan tentang
diriku tidak akan aku hiraukan. Bagiku, orang itu dapat kau bawa
kemar i.” Terdengar Cempaka menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih
berjalan mondar-mandir. “Sudahlah Cempaka,“ berkata Daruwerdi
kemudian, “aku tidak dapat terlalu lama disini. Aku akan pergi
kegardu ronda. Aku senang berada digardu bersama anak-anak muda yang
bodoh dan dungu. Yang hanya tahu merebus ketela pohon sambil
berkelakar tanpa arti. Jika kau perlukan aku, hubungi aku. Aku akan
sangat bergembira j ika kau segera datang dengan orang yang aku
inginkan itu.” Cempaka menggeram. Tetapi ia t idak menjawab.
Daruwerdilah yang kemudian meninggalkan tempat itu lebih dahulu,
sambil berpesan, “Jika kau terlambat, maka pusaka itu akan jatuh
ketangan orang lain, dan kau akan kehilangan kesempatan tanpa batas
kemungkinan.” “Gila,“ geram Cempaka sambil menghentakkan tangannya.
Tetapi Daruwerdi justru tertawa sambil meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Daruwerdi, Cempaka masih duduk beberapa saat sambil
merenungi kata-kata Daruwerdi. Sekali-kali masih terdengar ia
menggeramdengan kesal. Dalam pada itu, Jlitheng yang merasa tidak
perlu lagi menunggui Cempaka yang sedang merenung itupun kemudian
beringsut. Ia akan segera meninggalkan tempat itu, menemui
kawan-kawannya digardu. Jika ia terlalu lama tidak nampak, mungkin
kawan-kawannya akan mencarinya. Apalagi jika mereka tidak
menemukannya dirumah. Maka tentu akan timbul berbagai macam dugaan.
Mungkin justru ada yang menyangka bahwa ia telah dibawa hantu
seperti Kuncung. Tetapi malang bagi Jlitheng. Diluar sadarnya,
betapapun ia berhati2, namun seekor burung gemak yang bersembunyi
digerumbul pula, telah terkejut dan meloncat berlari sambil
memekik-mekik karena tersentuh kakinya. “Gila,“ geram Jlitheng
didalam hatinya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan lagi. Cempaka
ternyata seorang yang tangkas dan cepat menanggapi keadaan. Demikian
ia mendengar gemerasak dedaunan yang tersibak oleh burung gemak itu,
maka iapun telah meloncat berdiri sambil menggeram, “Siapa yang
telah jemu memandang bintang di langit ?” Jlitheng menjadi
berdebar-debar. Tetapi ia tidak ingin menanggapi orang itu. Ia masih
harus tetap merahasiakan dirinya sejauh dapat dilakukan. Jika ia t
idak menghindar, maka berarti bahwa ia harus bertempur. Pilihannya
adalah dibunuh atau membunuh. Jika ia mati, maka tugasnya akan
selesai tanpa arti sama sekali. Tetapi jika ia membunuh, maka ia
tidak akan dapat mengikuti perkembangan persoalan yang telah
didengarnya. Kematian Cempaka akan menutup penyelidikannya, karena
Daruwerdi akan segera berhubungan dengan orang lain yang tidak
dikenalnya, dan yang masih harus diselidikinya sejak permulaan
sekali. Tetapi Jlitheng tidak banyak mendapat kesempatan. Cempaka
yang telah berdiri, telah maju selangkah dengan penuh kewaspadaan.
Untuk sesaat Jlitheng masih tetap berada ditempatnya yang terlindung
oleh rimbunnya dedaunan. Namun ia telah bersiap untuk berbuat
sesuatu yang dianggapnya paling baik yang diketemukan dalam waktu
pendek itu. Dalam pada itu, Cempaka yang bergeser mendekat
menggeram, “Keluarlah dari persembunyian itu. Marilah kita
berhadapan dengan jantan. Apakah kau orang yang disebut kawan
Daruwerdi yang mengawasinya j ika terjadi sesuatu ?” Jlitheng tidak
menjawab. Ia masih berdir i diam. “Cepat, sebelum aku mengambil
sikap yang mungkin tidak akan menyenangkan bagimu,“ suara Cempaka
menjadi semakin keras. Karena Jlitheng tidak menjawab dan sama
sekati t idak berbuat sesuatu, maka Cempakapun melangkah semakin
dekat. Dengan suara yang gemetar oleh kemarahan, ia berkata, “He,
apakah kau seorang pengecut atau seorang yang gila.” Memang tidak
senang disebut sebagai seorang pengecut. Tetapi Jlitheng masih tetap
mengendalikan dirinya. Ia tidak akan melayani orang itu dalam satu
pertengkaran jasmaniah. Ia tidak mau dibunuh, tetapi terhadap orang
itu, ia tidak ingin membunuh. “Jika kau tetap tidak mau keluar, aku
akan. mengeluarkanmu dari gerumbul itu,“ agaknya kemarahan orang itu
tidak terkendai lagi. Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia
melihat Cempaka itu memungut batu padas sebesar genggaman tangannya.
Kemudian ia memusatkan pendengarannya untuk mengetahui dimanakah
arah yang paling tepat dari orang yang bersembunyi dibalik gerumbul
itu. Jlitheng yang berada dibalik gerumbul dapat melihat dari
sela-sela dedaunan, apa yang akan dilakukan oleh Cempaka. Nampaknya
memang sederhana sekali. Cempaka akan melemparkan sebuah batu padas
kedalam gerumbul itu. Namun Jlithengpun sadar, bahwa kekuatan lontar
orang yang bernama Cempaka itu tentu bukanlah kekuatan orang
kebanyakan. Karena itulah, maka iapun telah mempersiapkan dirinya
pula. Seperti yang diduganya, maka sejenak kemudian, Cempaka telah
melemparkan batu padas itu dengan sekuat tenaganya. Seperti yang
diperhitungkan, maka kekuatan lontarannya benar-benar mengerikan.
Yang terdengar kemudian adalah suara gemerasak, bagaikan angin
prahara. Batu yang hanya segenggam tangan itu telah melanda gerumbul
tempat Jlitheng bersembunyi, bagaikan sebuah pisau yang terbang
menebas dedaunan pada gerumbul itu. Ranting-rantingpun berpatahan
dan desir anginnya bukan saja menggugurkan daun-daun yang sudah
menjadi kuning, tetapi gerumbul itu bagaikan disapu menjadi gundul.
Namun dalam pada itu, orang yang bernama Cempaka itu sempat melihat,
bayangan hitam yang bagaikain angin, terlontar dari balik gerumbul
yang dihantamnya itu kebalik gerumbul yang lain, sehingga karena
itu, kemarahannyapun telah menjadi semakin menyala dihatinya. “Siapa
kau he ? Siapa ? Jika kau pengikut Daruwerdi, katakanlah. Aku tidak
akan membunuhmu, meskipun yang kau lakukan atas perintahnya itu
sangat menjengkelkan.” Jlitheng tidak menjawab. Tetapi seolah-olah
ia tidak berani berkedip, karena Cempaka telah memungut batu padas
sebesar genggaman tangannya pula. “Kau harus mengerti, dengan siapa
kau berhadapan,“ geramCempaka. Jlitheng telah bersiap-siap
menghadapi prahara yang luar biasa itu. Jika sekali lagi Cempaka
melemparkan batunya, maka iapun harus segera bergeser kebalik
gerumbul berikutnya. Tetapi apakah ia akan berbuat demikian sampai
tiga empat kali ? Jika akhirnya ia tidak sempat lagi berpindah
gerumbul- gerumbul yang akan menjadi gundul, maka da harus
menghadapi orang itu. Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika
ia melihat Cempaka bersiap untuk mengayunkan batu itu. Dengan
sungguh-sungguh Jlitheng memperhatikan, apa yang akan terjadi
kemudian. Akhirnya Jlitheng memutuskan untuk meninggalkan saja
tempat itu selagi orang yang menyebut dirinya bernama Cempaka itu
belum melihat wajah dan ujudnya. Selain malam yang buram, juga
karena Jlitheng tidak pernah dengan terang- terangan menghadapinya.
Karena itu, ketika sekali lagi Cempaka melontarkan batu padas
ditangannya bagaikan hembusan badai yang dahsyat, Jlitheng tidak
lagi meloncat dan bersembunyi kegerumbul yang lain. Tetapi iapun
kemudian meloncat berlari meninggalkan tempat itu. “Pengecut,”
Cempaka berteriak ketika ia melihat bayangan yang dengan tangkas
meloncat menghindari lontaran batu padasnya. Bukan saja bersembunyi
dibalik gerumbul yang lain seperti yang telah dilakukan, tetapi
bayangan itupun berlari dengan cepatnya meninggalkan kaki bukit
gundul itu tanpa menghiraukan gerumbul yang bagaikan dihantam amukan
badai yang mengerikan, hanya oleh sebutir batu padas yang besarnya
tidak lebih dari genggaman tangannya, namun yang lontarannya
dilambari oleh kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Agaknya Cempaka
tidak mau melepaskan orang yang telah mengganggunya itu begitu saja.
Karena itu, maka iapun segera meloncat mengejarnya. Cempaka merasa
bahwa ia akan dapat menyalurkan, kemampuannya pada lontaran kakinya
untuk mempercepat larinya, sehingga ia akan segera dapat menangkap
orang yang telah membuatnya marah itu. Sejenak kemudian maka Cempaka
telah berlari seperti angin. Ia menyalurkan kemampuannya yang luar
biasa tidak lagi pada ayunan tangannya yang melontarkan batu padas
itu. Tetapi pada ayunan kakinya untuk segera menangkap Jlitheng.
Tetapi Cempaka terkejut melihat orang yang dikejarnya. Ternyata
orang yang dikejarnya itupun mampu berlari sangat cepat. Seperti
yang dilakukannya. “Gila,“ geramnya, “sejak aku melihat ia berhasil
menghindari lemparanku, aku sudah cur iga, bahwa ia bukannya orang
yang tidak berilmu.” Karena itu, maka Cempakapun kemudian telah
mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Ia tidak mau
kehilangan orang yang telah mengint ipnya dan mendengarkan segala
pembicaraannya, meskipun orang itu memang mungkin sekali
diperintahkan oleh Daruwerdi. Dalam pada itu, Jlithengpun mengumpat
didalam hatinya. Ternyata orang yang menyebut dirinya Cempaka itu
benar- benar orang yang luar biasa, sehingga ia tidak dapat
memperpanjang jarak antara dirinya dengan orang yang mengejarnya
itu. Tetapi Jlitheng tidak mau tertangkap. Karena itu iapun berusaha
mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak. Bahkan kemudian
iapun memotong arah, melintasi pematang dan meloncati parit-parit.
Jlithengpun kemudian sadar, bahwa ia tidak akan dapat berlari lebih
cepat lagi. Dan iapun sadar, bahwa ia tidak akan dapat meninggalkan
orang yang mengejarnya. Karena itu, maka yang dilakukannya adalah
memilih jalan yang mungkin dapat mengurangi kecepatan laju langkah
orang yang mengejarnya, karena Jlitheng merasa, bahwa ia lebih
mengenal jalan-jalan sempit, .pematang-pematang, tanggul parit dan
bahkan menyusup diantara gerumbul-gerumbul perdu. Tetapn betapum
juga, Jlitheng masih sempat membuat pertimbangan. Ia tidak mau
memberikan kesan, bahwa ia adalah orang dari Lumban Wetan. Iapun
tidak mau member ikan kesan, bahwa ia tinggal diatas bukit berhutan,
karena dengan demikian akan dapat menuntun perhitungan Daruwerdi
atas dirinya yang tinggal di Lumban Wetan, atau mereka yang menghuni
bukit berhutan itu. Karena itu, Jlitheng justru berlari kearah yang
lain sama sekali. Iapun juga tidak berlari menuju ke Lumban Kulon,
karena dengan demikian ia akan menyusul Daruwerdi yang tentu
berjalan tidak secepat ia berlari. Sambil ber lari orang yang
menyebut dirinya Cempaka itu- pun mencoba untuk menebak. Namun ia
sama sekali tidak dapat menduga-duga, siapa orang itu, jika ia bukan
pengikut Daruwerdi. “Jika benar ia pengikut Daruwerdi, maka
pantaslah jika orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Pusparuri
yang pernah datang kemarn tidak akan pernah kembali,“ berkata
Cempaka itu didalamhatinya. Karena pikiran itulah, maka ia mulai
menimbang-nimbang. Ia mulai membayangkan, apakah memang begini cara
Daruwerdi membinasakan lawannya. Ia memancing orang yang tidak
disukainya dengan cara seperti yang sedang terjadi itu. Kemudian
dengan licik membinasakan mereka. “Persetan,“ geram Cempaka, “aku
bukan orang yang hanya setingkat dengan budak-budak dari Kendali
Putih dan budak- budak Pusparuri. Aku tidak peduli siapakah orang
itu. Aku harus menangkapnya dan kemudian memaksanya berbicara.
Tetapi setiap kali orang yang menyebuit dir inya Cempaka itu tanya
dapat mengumpat, karena ia jt idak dapat segera menangkap lawannya.
Sebenarnyalah bahwa diantara kedua orang itu telah terjadi
pertempuran yang aneh. Mereka tidak mengadu ketangkasan, kecepatan
bergerak dalam tata kanuragan, tidak pula mengadu ilmu pedang dan
membenturkan kekuatan. Tetapi mereka sedang berlomba kecepatan
berlari dan daya ketahanan mereka. Mereka harus mengatur pernafasan
mereka sebaik-baiknya agar mereka tidak segera diburu oleh desah
nafas dilubang hidung. Merekapun harus tetap mempertahankan
kecepatan ayunan kaki mereka, agar mereka setidak-tidaknya dapat
mempertahankan jarak antara keduanya. Demikianlah, maka keduanya
telah berlari seperti angin didalam gelapnya malam. Jlithenglah
seolah-olah yang telah memilih jalan yang akan mereka lalui.
Kesempatan memilih dan pengenalan atas daerah yang menjadi arena
bertarungan itulah agaknya yang memberikan keuntungan kepadanya, ia
dapat dengari tiba-tiba berbelok karena ia memang mengenal jalur
jalan itu dengan baik. ia dengan tangkasnya meloncati parit yang
cukup lebar meskipun tidak berair dimusim ker ing, ia dapat berlalu
seperti angin dipematang yang sempit, karena ia mengerti, dimanakah
tanah yang keras dan dimanakah yang gembur atau licin. Karena
itulah, maka jarak yang semula bagaikan telah ditentukan itu semakin
lama menjadu semakin panjang. Jlitheng perlahan-lahan dapat menjauhi
orang yang mengejarnya “Persetan,“ geram Cempaka, “orang gila itu
harus dibunuh biarpun ia pengikut Daruwerdi.” Tetapi ia tidak dapat
berbuat apa-apa karena orang yang dikejarnya seolah-olah menjadi
semaikin jauh. Setiap kali ia mengatur keseimbangan selagi berlari
dipematang yang sempit apalagi kadang-kadang licin dan mir ing,
sehingga kecepatannya harus dikuranginya. “O, gila.“ ia menggeram.
Tetapi orang yang menyebut dirinya bernama Cempaka itu tidak dapat
berbuat apa-apa. Justru yang terjadi adalah, bahwa jarak mereka
semakin lama menjadi semakin panjang. Kenyataan itu memang sangat
menyakitkan hati. Tetapi ia tidak dapat mengingkar inya. Dengan
kemarahan yang menghentak jantung, ia melihat orang yang dikejarnya
semakin lama menjadi semakin jauh menusuk kepusat kegelapan.
“Berhenti pengecut,“ oleh kemarahan yang memuncak, maka iapun telah
berteriak sekuat-kuatnya. Apalagi Cempaka menyadari, bahwa mereka
sedang berada dibulak yang panjang, sehingga tidak akan ada orang
yang mendengarnya. Mungkin ada satu dua orang yang berada disawahnya
dimalam hari, tetapi mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu atau
memberikan keterangan suatu apapun tentang suaranya. Tetapi Jlitheng
sama sekali t idak berhenti. Ia tidak dapat menurut i perasaannya
yang sakit oleh teriakan-teriakan orang yang menyebut dirinya
Cempaka itu dengan mengumpatinya sebagai seorang pengecut. Tetapi
iapun tidak dapat melepaskan perhitungannya untuk waktu yang cukup
panjang dalamtugasnya. Karena itulah, Jlithetng masih berlari terus,
Ia sudah mengelilingi beberapa padukuhan di Lumban Wetan dan Lumban
Kulon lewat bulak-bulak panjang. Bahkan kadang- kadang ia sudah
terdorong ketempat yang agak jauh dari padukuhan Lumban. Namun
Jlitheng setiap kali telah melingkar kembali mendekati bukit gundul
itu. Akhirnya Cempakapun harus mengakui, bahwa ia tidak akan dapat
mengejar orang yang telah bersembunyi dan mendengarkan percakapannya
dengan Daruwerdi. Namun dugaannyapun kuat, bahwa orang itu adalah
pengikut Daruwerdi yang mendapat tugas daripadanya untuk mengamati
keadaan, seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi sendiri. Ada
keinginannya untuk menemui Daruwerdi dan mengumpatinya, karena
kecurigaannya. Tetapi iapun sudah terlanjur mengatakan kepada
Daruwerdi bahwa dengan isyarat, ia akan dapat memanggil
orang-orangnya untuk datang kebukit gundul dan menangkap Daruwerdi.
Karena itu, niatnya untuk bertemu dengan Daruwerdi itu- pun
diurungkannya. Lebih baik baginya untuk meninggalkan tempat itu, dan
mempersiapkan dir i menghadapi tugas-tugas berikutnya sehubungan
dengan permintaan Daruwerdi untuk menangkap seseorang yang pernah
membunuh ayahnya. Tetapi Cempaka t idak dapat tergesa-gesa berbuat
demikian, karena ia masih harus melaporkan hasil pembicaraannya
dengan Daruwerdi dan merencanakan langkah-langkah ber ikutnya yang
mapan. Dalam pada itu, Jlitheng masih saja berlari. Baru ketika ia
yakin bahwa orang yang menyebut dir inya Cempaka sudah tidak
mengejarnya terus, ia memilih arah yang sebenarnya. Hampir diluar
sadarnya, maka iapun telah melangkah dengan tergesa-gesa menuju
kebukit berhutan. Seolah-olah ada keharusan baginya untuk datang dan
menceriterakan apa yang terjadi kepada orang tua yang bernama Kiai
Kanthi itu. Ketika Jlitheng mendekati tempat yang dihuni oleh Kiai
Kanthi, malam telah menjadi semakin kelam. Namun agaknya Kiai Kanthi
masih belum tidur menunggui anak gadisnya yang nyenyak. Karena itu,
maka iapun mendengar desir halus mendekati tempatnya. “Aku Kiai,“
desis Jlitheng sebelum Kiai Kanthi meloncat berdiri. Kiai Kanthi
menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu ada ceritera yang
menarik.” “Apakah Kiai sudah mengetahuinya ?” bertanya Jlitheng.
Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Belum ngger. Tetapi menilik
nafasmu yang bekejaran, maka kau tentu sedang dalam ketegangan. Dan
mungkin kau sudah melakukan sesuatu yang telah memeras tenagamu.”
Jlitihengpun kemudian duduk disampiing Kiai Kanthi diatas anyaman
ilalang. Sejenak ia mengatur pernafasannya. Baru kemudian ia mulai
berceritera. “Aku tidak tahu Kiai apakah Kiai terlibat didalam
masalah ini atau tidak. Seandainya Kiai akut serta dalam perebutan
pusaka itu, maka aku telah terjebak disini,“ berkata Jlitheng. “Kau
masih saja ragu-ragu ngger,“ berkata Kiai Kanthi, “tetapi akupun
menyadari bahwa hal itu wajar sekali. Namun jika masih ada sedikit
kepercayaan, biarlah sekali lagi aku menegaskan, bahwa aku telah
mengungsi dari padepokanku yang hancur oleh banj ir, gempa dan tanah
longsor.” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia
berkata, “Aku percaya Kiai.” Namun tiba-tiba saja terdengar Swasti
yang masih memejamkan matanya menyahut, “Percaya atau tidak percaya,
itu bukan persoalan kita ayah, seperti juga kita dapat percaya atau
tidak percaya. Karena sebenarnyalah bahwa kadang-kadang orang yang
menginginkan sendiri, selalu mempersoalkan niat orang lain.” “Ah,“
desis Kiai Kanthi, “j ika kau masih tidur, tidur sajalah. Jangan
separo tertidur, separo ikut dalam pembicaraan ini, sehingga
kata-katamu tidak ubahnya seperti orang yang sedang mengingau
didalam tidur.” “Aku tilak t idur ayah,“ jawab Swasti. Tetapi ia
tidak bangkit. Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
banyak menghiraukan gadis itu. Setelah beberapa kali ia bertemu maka
iapun mulai mengenal sifat gadis itu. Tetapi tiba-tiba saja Swasti
bertanya masih sambil berbaring dibelakang pohon, “Kenapa Daruwerdi
harus dicurigai dan dibayangi ?” Kiai Kanthi menarik nafas pula.
Katanya, “Seperti yang selalu aku katakan Swasti, pendatang didaerah
ini tentu akan saling mencurigai.” “Tetapi Daruwerdi tidak mencur
igai siapapun disini,“ berkata Swasti kemudian. Kiai Kanthi
tersenyum. Katanya, “Ia terlalu banyak bertanya dan banyak
memperhatikan kita. Apakah itu salah satu bentuk kecurigaan atau
bukan, aku tidak dapat mengatakannya.” Swasti mengerutkan keningnya.
Tetapi ia tidak menjawab lagi. Jlitheng yang termangu-mangupun
kemudian berkata, “Kiai. Besok aku dan beberapa orang kawan akan
melanjutkan kerja ini. Mudah-mudahan air itu cepat dapat
dikendalikan. Besok kita akan mencoba, mengalirkan sebagian kecil
dari arusnya, apakah air itu dapat mengalir seperti yang kita
kehendaki.” “Baiklah mgger. Aku kira besok kita sudah dapat
melakukannya. Kita membuka sedikit tebing arus air yang mengalir ke
luweng dibawah tanah itu. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui
dan menentukan kerja kita seterusnya.” “Sementara yang lain mulai
menaikkan tulang-tulang atap gubug Kiai itu,“ desis Jlitheng
kemudian. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Alangkah
senangnya tinggal dibawah atap, meskipun atap ilalang.” “Beberapa
saat lagi, padepokan Kiai akan siap dilereng bukit ini. Bukan
sekedar rumah beratap ilalang. Jika orang- orang Lumban dapat
memetik hasil jerih payah Kiai dengan mempergunakan air itu, maka
mereka akan membantu dengan senang hati.” Kiai Kanthi tertawa.
Desisnya, “Mudah-mudahan ngger.“ Jlithengpun kemudian minta diri. Ia
harus segara kembali kepada kawan-kawannya. Jika ada kecurigaan
Daruwerdi dan mencarinya, maka tugasnya akan bertambah sulit. Dihari
berikutnya, Jlitheng dan beberapa orang kawannya telah mulai bekerja
pula membantu Kiai Kanthi dilereng bukit berhutan itu. Salah satu
dari yang disebut Sepasang Bukit Mati. Selagi beberapa orang sibuk
memasang tulang-tulang rumah gubug Kiai Kanthi, maka Jlitheng dan
Kiai Kanithi sendiri dengan sungguh-sungguh sedang memperhitungkan
kemungkinan arus air yang akan mulai dialirkan sedikit demi sedikit
lewat saluran yang sudah disiapkannya. “Kita akan menyobek tebing
saluran air itu sedikit,“ berkata Kiai Kanthi. “Dengan demikian,
kita akan mengetahui apakah jalur air itu sudah benar.” “Kita akan
memecah batu padas itu Kiai, agar alirannya tidak cepat membesar
karena pintu airnya juga dengan cepat membesar,“ berkata Jlitheng.
“Bagus ngger. Bagus. Kita akan membuat pintu air justru pada batu
padas yang keras,“ sahut Kiai Kanthi. Kedua orang ituipun kemudian
memilih tempat yang paling baik, sesuai dengan jalur parit yang
sudah tersedia. Dengan hati-hati mereka memecah tanggul yang terjadi
dari batu batu padas yang keras. Seperti yang mereka perhitungkan,
maka ketika pintu yang dibuat oleh Jlitheng dan Kiai Kanthi itu
cukup dalam, air yang bergejolak didalam jalurnya menuju keluweng
dibawah tanah itupun mulai meluap. Sedikit demi sedikit, lewat pintu
pada batu padas yang cukup keras. “Sudah cukup Kiai,“ berkata
Jlitheng kemudian. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam.
Dipandanginya air yang meluap dan kemudian menjalar menyusuri jalur
jalan yang memang sudah disediakan, menuruni tebing bukit berhutan
itu. “Kita akan melihat, apakah air itu dapat terkendali sampai
kebawah bukit Kiai,“ berkata Jlitheng, “dan kita akan mengikut i,
apakah luapan air itu akan benar-benar masuk kedalamsungai.” “Jadi?“
bertanya Kiai Kanthi. “Kita akan turun. Aku akan minta agar
kawan-kawan meneruskan kerja mereka, sementara kita turun,“ jawab
Jlitheng. Keduanyapun kemudian berlar i-lari menuruni tebing,
setelah mereka berpesan kepada anak-anak muda yang lain, yang sibuk
dengan gubug Kiai Kanthi. Mereka seolah-olah berlomba dengan ujung
arus air yang menuruni jalurnya. Kadang-kadang Jlitheng memotong
arah, memintas sehingga ia dapat mendahului arus air yang cukup
cepat, meskipun tidak terlalu deras, karena pintu yang dibuat oleh
Jlitheng dan Kiai Kanthi memang belum terlalu besar. Ketika mereka
sampai dibawah bukit, mereka masih sempat melihat ujung air itu
meleleh dan masuk kedalam parit yang sudah tersedia. Lewat parit
itu, maka airpun menuju ke padang perdu, menyusup disela-sela
gerumbul-gerumbul liar menuju kesungai yang hampir tidak berair
dimusim ker ing. “Kita akan segera dapat membuktikan Kiai,“ berkata
Jlitheng sambil tersenyum, “orang-orang padukuhan Lumban tidak akan
segan berbuat sesuatu bagi Kiai, yang akan membangun sebuah
padepokan. Mungkin padang perdu ini akan segera berubah menjadi
tanah persawahan dan pategalan yang subur, yang basah disegala
musim.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati yang
berdebar-debar Kiai Kanthi melihat, air yang masih terlalu sedikit
itu akhirnya tumpah kedalam sungai seperti yang mereka kehendaki.
“Kerja kita sudah selesai Kiai, pada tahap pertama,“ berkata
Jlitheng kemudian. “Ya. Kita akan dapat mengatur, seberapa banyak
air yang akan kita sadap dari belumbang itu,“ sahut Kiai Kanthi.
“Seluruhnya Kiai. Bukankah itu lebih baik daripada air itu hilang
ditelan tanah ?” Tetapi wajah Kiai Kanthi nampaknya dibayangi oleh
keragu- raguan, sehingga Jlithengpun bertanya, “Apa Kiai mempunyai
pendapat lain?” -oooOooo—
Jilid 05 “NAMPAKNYA memang demikian ngger. Air itu akan
lebih baik kita pergunakan disini daripada hilang didalam tanah.
Tetapi kau lupa, bahwa pada suatu saat, tempat yang rendah. Mungkin
air yang muncul dar i dalam tanah itu, sejak lama menjadi sumber
penghidupan orang-orang disekitarnya. Jika kita yang disini,
menyadap air itu seluruhnya, maka mata air ditempat yang jauh itu
akan menjadi kering. Kau dapat membayangkan akibatnya atas
orang-orang yang mengantungkan diri pada sumber air itu.” Jlitheng
menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk- angguk ia berkata,
“Kiai benar. Aku tidak memikirkan sampai sejauh itu, Kiai.“ ia
berhenti sejenak, lalu, “justru sikap itu harus kita perhatikan.
Kita harus memberitahukan hal itu kepada orang-orang lain yang
mungkin akan dengan serakah mengambil air dari belumbang itu
seluruhnya bagi tanah Lumban Wetan atau Lumban Kulon.” “Kemungkinan
itu memang besar sekali. Meskipun demikian, kita akan berusaha untuk
meyakinkan mereka, bahwa mereka tidak boleh terlalu mementingkan
diri sendiri.” Jlitheng mengangguk-angguk. Sementara itu, gemericik
air yang menuruni tebing, telah menyatu dengan arus air sungai yang
hampir kering. Pengaruh air dari belumbang itu memang belum nampak.
Tetapi bagi Kiai Kanthi dan Jlitheng, rasa-rasanya semuanya sudah
jelas. Bahkan Jlithengpun kemudian berkata, “Kiai, kita akan dapat
menunjukkan air itu kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban
Kulon. Mereka akan dapat mengerahkan orang- orangnya untuk
membendung sungai atau untuk sementara mengalirkan arus air itu
kedadam parit yang sudah ada, meskipun kering dimusim kemarau.”
Tetap Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya, “Semula aku tidak
memikirkannya ngger. Tetapi sekarang aku melihat, bahwa jika air itu
akan dialirkan langsung keparit, maka par it itu hanya akan mengairi
sawah dan ladang di daerah Lumban Wetan. Hal itu akan dapat
menimbulkan persoalan bagi Lumban Kulon. Karena itu, memang
sebaiknya kita melakukan seperti yang kau katakan beberapa saat yang
lampau. Air itu masuk kedalam sungai, kemudian diangkat kedalam par
it disebelah menyebelah sungai, sehingga Lumban Wetan dan Lumban
Kulon akan dapat menikmat inya meskipun tidak memenuhi segala
kebutuhan dimusim kering, tetapi sudah akan dapat mendorong kemajuan
hasil tanah yang cukup besar.” Jlitheng mengangguk-angguk. Sambil
memandang kearah Lumban Wetan dan Lumban Kulon ia berkata, “Kiai
benar. Sekali lagi nampak, bahwa Kiai berpikir jauh. Agaknya aku
masih harus mengendapkan dir i untuk dapat melihat jarak seperti
yang Kiai lihat. Meskipun sampai saat ini nampaknya tidak ada
persoalan atas Lumban Wetan dan Lumban Kulon. tetapi jika masailah
air itu mulai terasa, justru akan dapat menimbuilkan persoalan baru
yang cukup gawat. Apalagi menilik sikap putra Ki Buyut di Lumban
Kulon. Agaknya sikapnya tidak selunak sikap ayahnya yang menjadi
semakin tua.” Kiai Kanthipun memandangi pula beberapa pedukuhan
diantara bulak-bulak yang tidak begitu subur dan bahkan kering
dimusim kemarau. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis,
“Mudah-mudahan akan segera terjadi perubahan. Tetapi bukan perubahan
sifat dan watak orang-orang Lumban yang ramah dan baik hati. Jika
air itu mulai menyentuh daerah yang kering itu, maka akan mudah
timbul nafsu ketamakan dan rakus. Hal itulah yang harus dihindarkan
pada setiap usaha perubahan keadaan. Beberapa orang akan mungkin
sekali berusaha untuk mendapat yang lebih banyak dari orang lain.”
“Tetapi tentu tidak benar pula apabila kita akan membiarkan
kesempatan perbaikan itu terjadi Kiai.” “Ya, ya, ngger. Kesulitannya
adalah mencari keseimbangan itulah,“ jawab Kiai Kanthi. Jlitheng
menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku akan
berbicara dengan Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon, bahwa
air telah dapat diarahkan sesuai dengan kepentingan orang-orang
Lumban. Tetapi tidak segera Kiai.” “Malam nanti ?” Jlitheng
menggeleng. Jawabnya, “Lebih baik dua atau tiga hari lagi setelah
semuanya cukup meyakinkan. Sementara gubug Kiai Kanthipun akan sudah
menjadi rapat. Dalam waktu satu dua hari ini, aku akan pergi Kiai.”
Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, “Ada
hubungannya dengan permintaan Daruwerdi seperti yang pernah angger
ceriterakan ?” “Ya. Malam nanti aku pergi. Mudah-mudahan sehari
besok aku dapat menyelesaikan pekerjaan itu, sehingga malam besok
aku sudah berada disini. Jika aku terlalu lama pergi, akan timbul
kecur igaan orang-orang Lumban, terutama Daruwerdi sendiri. Jika
orang yang menyebut dirinya Cempaka itu sempat mencer iterakan
kepada Daruwerdi bahwa ada orang yang mengintainya saat mereka
berdua mengadakan pembicaraan, maka Daruwerdi tentu akan mencari
jawab, siapakah orang yang telah melakukannya itu.” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Ia mengerti, tentu Jlitheng berkepentingan dengan
rencana Cempaka untuk memenuhi permintaan Daruwerdi sebagai ganti
pusaka yang dijanjikannya. Meskipun pusaka itu sendiri masih belum
ditunjukkannya. “Aku wajib mencar i, siapakah orang yang dimaksud
oleh Daruwerdi membunuh ayahnya itu. Apakah benar hal itu pernah
terjadi. Jika benar, maka aku akan dapat mencari jalur, siapakah
sebenarnya Daruwerdi itu, dan untuk siapa sebenarnya ia bekerja.
Sampai saat ini nampaknya ia bekerja untuk pihak manapun yang dapat
memenuhi permintaannya itu. Tetapi aku masih menyangsikan, apakah
pemintaannya itu memang benar-benar beralasan. Atau ia sengaja
membenturkan kekuatan-kekuatan yang disebutnya sebagai perguruan
Kendali Putih, Pusparuri, dan perguruan yang dianut oleh Cempaka itu
sendiri.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku adalah orang
tua yang sangat picik ngger. Aku tidak pernah mengetahui apapun juga
selain padepokanku yang dilanda banjir, gempa dan tanah longsor itu.
Karena itu, aku tidak akan dapat ikut membantu, memecahkan masalah
itu. Yang dapat aku lakukan t idak lebih dari membuat parit ini.”
“Kiaipun masih perlu diselidiki, apakah yang Kiai katakan itu benar.
Seandainya Kiai benar-benar orang padepokan terpencil yang dilanda
bencana itu, tetapi setidak-tidaknya Kiai tentu pernah mendengar dan
mengetahui beberapa perguruan yang ini. Apalagi aku mengerti, sampai
dimanakah tingkat ilmu Kiai yang sebenarnya.” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah kita tidak berbicara tentang
hal itu. Jika angger mau pergi, berhati- hatilah, karena masalah
yang angger hadapi agaknya masalah yang cukup gawat.” “Ya Kiai,“
jawab Jlitheng, “tidak banyak Pangeran yang aku kenal. Jika ada
diantara mereka masih mempunyai ikatan permusuhan karena suatu
pambunuhan, maka orang itu pantas aku telusur lebih jauh, apakah
benar orang itu yang dimaksud oleh Daruwerdi. Jika benar, maka orang
itu akan berada dalam bahaya.” “Tetapi tanpa orang itu, apakah kau
akan dapat mencapai akhir dari tugasmu, sampai saat pusaka itu dapat
diketemukan ?” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-
mudahan aku menemukan satu jalur yang dapat memecahkan hal itu.
Mungkin aku dapat berbicara dengan orang yang menjadi sasaran dendam
Daruwerdi, sehingga aku menemukan cara untuk memancing pusaka itu.”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya, “Silahkan ngger. Tentu
banyak cara. Tetapi tentu banyak pula kesulitannya. Silahkan pergi
barang satu dua hari. Tetapi angger benar, bahwa lebih cepat lebih
baik. karena penyelidikan itu tidak akan angger lakukan sendir i.
Angger tentu mempunyai orang-orang yang akan angger tugaskan.”
Jlitheng tersenyum. Jawabnya, “Kiai mulai berkhayal. Aku adalah aku
seorang diri. Tetapi aku tidak akan membantah khayalan Kiai yang
wajar itu.” Kiai Kanthipuin tertawa juga, sementara Jlitheng
berkata, “Marilah Kiai. Kita kembali. Anak-anak yang membuat gubug
itu tentu sudah ingin beristirahat. Merekapun akan bergembira jika
mereka mendengar bahwa air itu sudah dapat tersalur. Tetapi tidak
terlalu besar.” Keduanyapun kemudian menanggalkan tepian sungai yang
hampir kering dimusim kemarau itu, kembali memanjat tebing. Seperti
yang dikatakan oleh Jlitheng, maka kawannya telah merasa lelah dan
haus, sehingga mereka memer lukan istirahat. “Swasti tentu sudah
menyediakan minuman dan makanan bagi kita,“ berkata Jlitheng
kemudian. Seperti biasanya, maka anak-anak muda ituipun kemudian
naik untuk beristirahat. Seperti biasanya pula, Swasti telah
menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka. Hari itu, anak-anak muda
yang membantu Kiai Kanthi membuat gubug telah mendengar dan kemudian
ketika mereka pulang, memerlukan melihat, bahwa air telah dapat
tersalur lewat jalur yang dipersiapkan turun kesungai. Air itu akan
sangat berguna bagi padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon
dihari-hari mendatang. “Tetapi jangan ceriterakan kepada siapapun
lebih dahulu,“ berkata Jlitheng, “kita memerlukan pertimbangan yang
jauh.” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti setelah
Jlitheng member ikan penjelasan lebih jauh dari
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi karena air itu. “Karena
itu, aku akan menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon.
Sebelum itu, aku minta kalian benar-benar diam.“ minta Jlitheng
sekali lagi. Kawan-kawannya masih mengangguk-angguk. Sementara
Jlithengpun kemudian berkata, “Dua atau tiga hari lagi aku akan
menghadap Ki Buyut bersama kalian dan memperkenalkan Kiai Kanthi.”
“Kenapa dua t iga hari lagi Jlitheng ?“ bertanya seorang kawannya.
“Itulah sayangnya,“ sahut Jlitheng, “besok aku harus pergi kerumah
pamanku. Aku sudah mengatakan kepada biyung, bahwa aku sedang sibuk.
Tetapi biyung berkeras menyuruh aku menemui paman. Dengan demikian,
aku harus pergi barang satu dua hari.” “Apakah pamanmu sakit ?“
bertanya kawannya yang lain. “Sudah lama biyung tidak bertemu dengan
paman, adik satu-satunya. Semalam biyung bermimpi bahwa rumah paman
dilanda banj ir. Karena itu biyung minta agar aku segera pergi
kerumah paman untuk melihat apa yang terjadi.” Kawan-kawannya
mengangguk-angguk, sementara Jlitheng berkata terus, “Jika saja
bukan biyungku yang menyuruhnya, aku tidak akan bersedia pergi.
Tetapi aku tidak dapat membantah per intah biyung.” Kawannya
mengagguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa ibu Jlitheng yang sudah
menjadi janda itu tidak dapat menyuruh orang lain, kecuali Jlitheng.
Dan agaknya Jlithengpun sangat mengasihi ibunya seperti ibunya
mengasihinya. “Jadi besok dan lusa, sebelum kau kembali, kita tidak
naik kebukit ?” “Pergilah. Bantulah orang tua itu.“ Jlitheng
berhenti sejenak, lalu, “tetapi jangan lupa membawa senjata seperti
biasanya. Jika kalian bertemu dengan harimau, maka kalian harus
melawan beramai-ramai. Jangan justru melarikan dir i. Karena jika
kalian melarikan dir i, salah seorang dar i kalian akan dikejarnya
sampai dapat. Tetapi jika kalian bersama- sama melawan, maka harimau
itu tentu akan dapat kalian kalahkan, betapapun juga kuat dan
garangnya seekor harimau. Apalagi kalian, dihampir tiga atau empat
hari sekali masih terus berlatih kanuragan.” “Ah,“ desis anak-anak
muda itu. Salah seorang berkata, “Apa yang sudah dapat kita
lakukan.” “He, aku sudah dapat mengayunkan parang dengan dangan
baik. Jika harimau itu datang, kalian harus menyerang beramai-ramai
dengan parang atau golok terhunus. Kalian dapat melakukannya sambil
berteriak-teriak. Mungkin harimau itu akan menjadi takut dan berlar
i.” “Sudahlah,“ berkata kawannya, “mudah-mudahan kita tidak bertemu
dengan harimau seperi biasanya. Kebiasaan kami berteriak-teriak
berdendang dan ura-ura agaknya dapat menakut-nakuti binatang jenis
apapun juga.” “Mudah-mudahan,“ Jlitheng. mengangguk-angguk, ia-pun
sependapat bahwa kebiasaan kawannya berteriak-teriak didalam hutan
itu telah menakut-nakuti harimau yang tidak terbiasa mendengar suara
yang demikian, meskipun Jlitheng- pun tahu, bahwa kawan-kawannya
berteriak-teriak karena ada juga yang berasaan takut dan ngeri
memasuki hutan yang masih dihuni binatang buas itu. Demikianlah,
maka ketika bayangan senja turun diatas padukuhan Lumban Wetan dan
Lumban Kuton. maka Jlithengpun menemui ibunya untuk minta ijin pergi
barang satu dua hari. “Pekerjaan di bukit itu hampir selesai biyung.
Kami bersepakat untuk mengerjakannya siang dan malam.” “Kau
mengada-ada saja Jlitheng. Mana mungkin kerja itu kau lakukan malam
hari. Kau akan membuang-buang waktu saja, dan bahkan mungkin salah
seorang dari kalian akan dapat tergelincir jatuh.” “Malam hari kami
hanya mengerjakan anyaman. Dinding, tutup keyong, atap ilalang dan
lain-lain yang masih kurang. Pagi-pagi kami dapat lekatkannya pada
gubug yang sudah siap itu.” “Ah, terserah saja kepadamu. Tetapi
hati-hati. Binatang buas berkeliaran dimalamhar i.” “Kami menyalakan
obor biyung. Binatang buas takut kepada api,” jawab Jlitheng. Lalu,
“Malam nanti aku akan mulai.” Ibunya tidak melarangnya. Karena itu,
maka ketika malam mulai gelap, Jlithengpun minta dir i. “Hantu
betina itu akan mencari anak. Pakailah dingo atau kunyit dikeningmu.
Akar dingo akan menjauhkan kau dari hantu-hantu.” Jlitheng menahan
senyumnya. Tetapi ia menurut. Ia mengambil sepotong akar dingo dan
diusapkan pada keningnya. Baru kemudian Jlitheng berangkat
meninggalkan padukuhan Lumban Wetan. “Dimalam hari Jlitheng berjalan
dengan cepatnya. Ia tidak berjalan lewat jalan-jalan yang rata.
Tetapi ia memintas melewati jalan-jalan sempit dan bahkan pematang.
Dengan hati-hati ia melintas tidak terlalu jauh dari bukit gundul.
Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Apa lagi Daruwerdi atau
orang-orang yang berhubungan dengan anak muda itu. Untuk
menghilangkan kesan tentang dirinya, maka Jlitheng telah mengenakan
pakaian yang lain sekali dari pakaian- pakaiannya yang disembunyikan
di bulak panjang, di antara pakaiannya yang disembunyikan di bulak
panjang, di antara batu-batu padas didekat sebatang randu alas yang
jarang di dekati seseorang. Dengan pakaian itu, ia tidak lagi nampak
sebagai seorang anak petani yang hidup sederhana sekali. Dengan
demikian, jika ada seseorang yang tanpa dapat dihindar i melihatnya,
sama sekali tidak akan menghubungkannya dengan seorang anak petani
di padukuhan Lumban Wetan. Karena waktu yang ada bagi Jlitheng tidak
terlalu banyak maka iapun berjalan dengan tergesa-gesa. Ia harus
sampai ketempat ia menyimpan kudanya disebuah padukuhan yang besar
yang agak jauh dari Lumban Wetan, yang dititipkan kepada seorang
saudagar yang sudah dikenalnya sebelumnya, dipercayanya dan mengerti
persoalannya, karena sentuhan ilmu dari sumber yang sama. Baru
tengah malam ia sampai kerumah saudagar itu. Ketika ia mengetuk
pintu, maka saudagar itupun terkejut. Dengan hati-hati ia bangkit
dari pembaringannya, meraih senjatanya. Baru kemudian ia berjalan
keruang dalam. “Siapa ?“ ia bertanya. Sementara tangannya telah
memegang hulu pedangnya. “Aku paman. Arya Baskara.” “He ?” tetapi ia
masih ragu-ragu, “benar kau angger Baskara ?” “Ya,“ jawab Jlitheng.
“Baskara siapa ? Ada seribu orang yang bernama Baskara.“ saudagar
itu masih bertanya. “Baskara Candra Sangkaya,“ jawab Jlitheng,
“apakah paman sudah lupa suaraku.” “O, kau ngger,“ dengan
tergesa-gesa saudagar itu membuka selarak pintu. Ketika pintu itu
terbuka, maka seorang anak muda berdiri sambil tersenyum didepan
pintu. Oleh cahaya lampu minyak yang redup, maka saudagar itu segera
mengenal, bahwa yang datang itu memang Arya Baskara. “Silahkan
ngger, silahkan. Kau datang ditengah malam, sehingga aku terkejut
karenanya.“ saudagar itu mempersilahkan. “Aku dalam perjalanan ke
Demak paman,“ berkata Jlitheng yang dikenal oleh saudagar itu
bernama Arya Baskara. “Sehubungan, dengan tugas anakmas ?“ bertanya
saudagar itu. “Tentu paman. Dan agaknya persoalannya menjadi semakin
buram. Nampaknya tempat yang disebut Sepasang Bukit Mati itu menjadi
semakin menarik perhatian orang.” “Itu sudah wajar ngger. Kabar
tentang Sepasang Bukit Mati itu tentu cepat tersebar. Jika salah
satu kelompok mulai memperhatikan tempat itu, maka kelompok yang
lainpun tentu akan segera mendengar karena tidak mustahil bahwa
mereka mempunyai orang-orang yang saling menyusup diantara
kelompok-kelompok yang bersaing itu,“ berkata saudagar itu pula.
Kemudian iapun bertanya, “Lalu, apa pula yang akan angger lakukan di
Kota Raja ?” “Banyak masalah yang tidak aku ketahui dengan pasti,
paman. Karena itu aku memer lukan bantuan orang-orang yang berada di
Kota Raja. Karena tugas yang aku lakukan mungkin akan memerlukan
bantuan.” Saudagar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Itu sudah wajar
sekali, anakmas. Tetapi berhati-hatilah. Mungkin ada orang-orang
yang hilir mudik pula Sepasang Bukit Mati itu, sehingga kau akan
menjumpainya diperjalanan. Jika kau dapat mengimbangi kemampuannya,
maka itu bukannya hambatan yang berarti. Tetapi jika yang kau jumpai
adalah sekelompok orang yang tidak kau kenal, maka akibatnya akan
dapat menyulitkanmu.” Jlitheng tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan
tidak paman. Mudah-mudahan aku tidak bertemu dengan orang- orang
itu.” Saudagar itu termangu-mangu. Namun nampak kecemasan membayang
diwajahnya. Sehingga akhirnya ia berkata, “Apakah aku dapat
mengawanimu diperjalanan?” Jlitheng tertawa. Katanya, “Terima kasih
paman. Paman masih harus melanjutkan beristirahat.” “Aku juga
mempunyai rencana ke Kota Raja meskipun sebenarnya tidak perlu
tergesa-gesa karena urusan pekerjaanku. Aku meninggalkan beberapa
barang ditempat kawanku berdagang.” “Terima kasih. Aku t idak ingin
menyulitkan paman. Apalagi tugas dan pekerjaan paman adalah mencar i
hubungan seluas- luasnya. Jika karena sesuatu hal paman mulai
bermusuhan dengan satu dua pihak, maka daerah pekerjaan paman akan
menyempit.” “Ah,“ saudagar itu tertawa pula. Jawabnya, “Tentu aku
tidak dapat terlalu mementingkan diriku sendiri. Tetapi j ika kau
dapat pergi sendiri, pergilah ngger. Besok atau lusa aku akan pergi
juga ke Kota Raja.” “Aku hanya akan berada di Kota Raja sehari
paman. Besok malam aku akan sampai ketempat ini menjelang tengah
malam. Dan aku akan meneruskan perjalananku ke Lumban Wetan dengan
berjalan kaki.” “Begitu tergesa-gesa ?” “Karena keadaanku dan tugas
yang harus aku lakukan didekat Sepasang Bukit Mati itu.” Saudagar
itu tidak menyarankan sesuatu lagi. iapun kemudian mempersiapkan
kuda yang akan dipergunakan oleh Arya Baskara. Sengaja ia tidak
membangunkan pekatiknya, agar tidak bertanya-tanya sesuatu tentang
tamunya yang aneh itu, dan yang bahkan mungkin akan diceriterakannya
kepada tetangga-tangganya. Lewat tengah malam, Jlitheng berpacu
meninggalkan rumah saudagar itu. ia harus berlomba dengan waktu.
Pagi- pagi benar ia harus sudah berada di Kota Raja. “Tetapi
waktunya tidak terlalu mendesak,“ desis Jlitheng sambil
menengadahkan wajahnya, memandang bintang- bintang dilangit. Seperti
yang pernah dipelajarinya, ia dapat melihat waktu dengan
memperhatikan letak bintang-bintang yang bergeser dilangit. Namun
demikian, Jlitheng tidak memperlambat lari kudanya, yang suara derap
kakinya, bagaikan mengoyak kesepian malam yang dalam. Tetapi
tiba-tiba saja Jlitheng mengerutkan keningnya, ia mulai menar ik
kekang kudanya, sehingga derap kakinya menjadi semakin lambat.
Sehingga akhirnya berhenti sama sekali. Beberapa puluh langkah
dihadapannya, ia melihat beberapa orang terlibat dalam perkelahian
yang sengit. Tetapi Jlitheng masih belum mengetahui dengan pasti,
apakah yang sebenarnya terjadi. Karena itu, iapun harus
berhati-hati. Mungkin ia tidak mempunyai kepentingan apapun juga.
Tetapi mungkin ia akan terlibat kedalamnya. Sejenak Jlitheng
mengamati perkelahian itu. Meskipun malam cukup gelap, namun
ketajaman matanya dapat menangkap peristiwa itu dengan jelas.
Sejenak kemudian Jlithengpun meloncat turun dari kudanya.
Ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon perdu di pinggir jalan.
Selangkah-selangkah ia maju mendekat. Jjatheng ingin melihat, apakah
diantara mereka yang terlibat ada yang pernah dikenalnya. Dalam pada
itu, orang-orang yang sedang berkelahi itupun telah melihat
kehadirannya. Mereka menjadi berdebar-debar, karena perkelahian yang
seakan-akan telah seimbang itu tentu akan segera berubah, jika ada
orang lain yang memilih salah satu pihak untuk dibantunya. “Siapa
kau he pendatang,“ tiba-tiba Jlitheng mendengar seseorang diantara
mereka yang bertempur itu berteriak. Jlitheng mengerutkan keningnya.
Tetapi dia sempat mengetahui, yang bertanya kepadanya adalah seorang
yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan, yang bertempur dengan senjata
yang tidak begitu banyak dipergunakan. Dua potong besi yang satu
sama lain dihubungkan dengan seutas rantai. Namun nampaknya senjata
itu sangat berbahaya ditangan orang yang bertubuh tinggi
kekurus-kurusan itu. Sekali kali kedua potong besi itu berada
dikedua tangannya. Namun kadang-kadang sepotong diantaranya terlepas
dan berputar menyambar-nyambar. “Apa yang kalian perebutkan ?“
bertanya Jlitheng kemudian. “Jangan hiraukan kami,“ jawab yang lain.
Tetapi jawaban itu benar-benar telah mengejutkan Jlitheng, Dengan
seksama ia memperhatikan orang yang suaranya pernah dikenalnya itu.
“Cempaka,“ desis Jlitheng yang hanya dapat didengarnya sendiri.
Sejenak Jlitheng termangu-mangu, Ia mencoba menilai, apakah yang
sedang dihadapi, dan apakah sebaiknya yang harus dilakukan. Tetapi
ia sudah berada ditempat yang jauh dari Lumbaa Wetan dan Lumban
Kulon. Ia sudah jauh dar i sepasang Bukit Mati, sehingga Cempaka
tentu tidak akan menghubungkannya dengan orang yang disangkanya
pengikut Daruwerdi, yang pernah dikejarnya, tetapi tidak dapat
ditangkapnya. “Jika kau ingin lewat, lewatlah,“ terdengar suara
orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang sedang bertempur
dengan orang yang menyebut dir inya Cempaka itu. “Pergilah,“ teriak
Cempaka Kemudian. Tetapi Jlitheng masih tetap berdiri ditempatnya.
Dari pengamatannya yang singkat, ia segera melihat, bahwa Cempaka
bersama dua orang kawannya harus bertempur melawan lima orang lawan.
Namun agaknya keseimbangan pertempuran itu tidak segera berubah,
sehingga sulit untuk mengetahui, pihak manakah yang akan menang.
Sejenak Jlitheng masih termangu-mangu. Namun kemudian katanya,
“Apakah aku dapat berdiam diri melihat perkelahian semacam ini ?
Meskipun aku tidak mengetahui persoalannya, tetapi aku berhak
mengajukan permohonan, agar perkelahian ini dihentikan. Apakah tidak
ada cara lain yang lebih baik dari berkelahi dan saling membunuh ?”
“Persetan,“ jawab orang yang kekurus-kurusan itu, “bukan urusanmu.”
Tetapi Jlitheng berkata pula, “Itu adalah persoalan setiap orang.
Karena kalian dan aku adalah sesama titah yang disebut manusia.”
“Jangan sesorah,“ bentak orang yang kekurus-kurusan itu sambil
bertempur, “pergilah j ika kau tidak ingin mengalami nasib buruk
disini.” Jlitheng terdiam sejenak. Hampir saja ia memanggil nama
orang yang menyebut dirinya Cempaka. Tetapi bibirnya yang sudah akan
bergerak itu terkatub lagi, karena j ika nama itu hanya dipergunakan
di bukit gundul itu, maka Cempaka akan segera menghubungkannya
dengan orang yang telah gagal ditangkap itu. Karena itu, maka
Jlithengpun kemudian berkata, “Kalian tentu bukan anak-anak lagi.
Cobalah berpikir. Apakah yang sebenarnya terjadi.” “Diam kau,“ orang
yang tinggi kekurus-kurusan itu berteriak. Jlitheng termangu-mangu
sejenak. Ia berkepentingan dengan orang yang disebutnya bernama
Cempaka itu. Karena itu, maka dengan cepat ia mencoba mengambil
sikap yang paling baik. “He orang kurus,“ teriak Jlitheng, “kau
jangan membentak- bentak. Aku bermaksud baik. Dan adalah menjadi
kewaj ibanku untuk mencegah pertumpahan darah. Dengar, kau tentu
belum mengenal aku. Aku adalah Raden Bantaradi. Seorang Senapati
dalam susunan keprajuritan Demak. Aku dapat juga berbuat lebih buruk
dari yang kau lakukan.” Orang-orang yang sedang bertempur itu
agaknya terpengaruh juga oleh kata-kata Jlitheng. Apalagi pada saat
itu Jlitheng memang mengenakan pakaian sebagaimana dipakai oleh
orang-orang Kota Raja. Namun tiba-tiba orang bertubuh tinggi itu
berkata, “Aku tidak paduli siapa kau. Tetapi aku harus membunuh
kelinci dari Sanggar Gading ini.” “Sanggar Gading,“ Jlitheng
terkejut. “Apakah kau pernah mendengar nama perguruan Sanggar Gading
?” justru Cempaka itulah yang bertanya. Jlitheng termamgu-mangu
sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Sebagai seorang Senapati aku
banyak mengetahui nama-nama perguruan. Aku kenal Sanggar Gading
sebagai sebuah perguruan yang besar. He, apakah benar kau anak
Sanggar Gading?” Cempaka tertawa. Ia masih bertempur dengan
sengitnya meskipun derai tertawanya terdengar berkepanjangan.
Diantara derai tertawanya dan dengus nafasnya ia berkata, “Dari
manapun aku datang, tidak ada bedanya bagimu Senapati. Kami adalah
orang-orang yang hidup dalam keterasingan kami.” “Kau benar. Tetapi
padepokan dan perguruan bukannya papan untuk menempa dir i sekedar
karena nafsu ketamakan dan kesombongan. Karena itu, apakah
sebenarnya yang menjadn sebab perkelahian ini ?” Hampir berbareng
kedua orang yang sedang bertempur itu tertawa. Yang terdengar adalah
jawaban orang yang kekurus- kurusan, “Pergilah, sebaiknya kau t idak
usah melibatkan diri meskipun aku tahu bahwa kau sebenarnya bukan
seorang Senapati, karena setiap orang akan dengan mudah menyebut
dirinya seorang Senapati.” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam.
Kemudian katanya, “Aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Dan
akupun tidak akan memaksamu untuk berhenti berkelahi. Yang akan
mati, matilah dalam pstempuran itu. Yang tetap hidup, biarlah hidup.
Aku t idak mempunyai urusan dengan kalian.” Jlithengpun kemudian
melangkah menepi dan duduk diatas sebuah batu dipinggir jalan sambil
memperhatikan perkelahian itu. “Kenapa kau t idak segera pargi he ?“
bertanya orang yang kekurus-kurusan sambil bertempur. “Jangan urusi
aku. Uruslah tugas dan kewajibanmu sendir i. Jika kau harus
bertempur, bertempurlah. Aku ingin duduk disini melihat apa yang
akan terjadi. Aku ingin tahu pasti siapakah yang akan kalah dan
siapakah yang akan menang. Aku ingin melihat darah memancar dari
luka.” “Persetan,“ orang yang kekurus-kurusan itu mengumpat, “jika
lawanku sudah terbunuh, dan kau masih ada disitu, maka kaupun akan
aku bunuh.” “Baik. Aku akan memperhitungkan akibat itu. Dan aku akan
tetap berada disini,“ jawab Jlitheng. Sikap Jlitheng benar-benar
membuat orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu menjadi
semakin marah. Sementara orang yang bernama Cempaka itu melihat
kemungkinan yang dapat dimanfaatkannya. Karena itu, maka ia tidak
lagi mengumpati orang yang duduk memperhatikan pertempuran itu dan
mengaku sebagai seorang Senapati. Beberapa saat kemudian,
pertempuran itu ber langsung dengan sengitnya. Meskipun jumlah
Cempaka dan kawan- kawannya lebih sedikit dari jumlah lawannya,
namun untuk beberapa saat, ia masih mampu bertahan. Tetapi agaknya
Cempaka dan kawan-kawannya itu telah terlalu memaksa diri memeras
segenap kemampuannya. Karena itu, maka ikemudiah ternyata bahwa
tenaganyalah yang menjadi lebih dahulu susut. Dengan demikian maka
keseimbangan pertempuran itu mulai bergeser. “Sebentar lagi kau akan
mati tikus kecil dari Sanggar Gading. Jangan menyesal. Kecuali jika
kalian bersedia menyebutkan, siapakah yang kini menyimpan pusaka
itu,“ berkata orang yang kekurus-kurusan. “Kau gila. Sudah aku
katakan. Tidak seorangpun yang mengerti dimana letak pusaka itu,“
jawab Cempaka. “Jika demikian, kami sendiri akan pergi ke bukit yang
disebut Sepasang Bukit Mati itu. Kami akan menemui anak muda yang
dianggap sumber dari segala macam keterangan tentang pusaka itu.”
“Jika kau mau pergi, pergilah. Aku tidak mempunyai sangkut paut.
Kenapa kalian memaksa kami bertempur disini?“ bertanya Cempaka.
Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu berkata, “Ternyata
kau bertanya pula seperti orang gila yang mengaku dirinya Senapati
itu.” “Ya. Mungkin sebagian benar.” Jlitheng yang duduk dipinggir
jalan itu tertawa. Katanya. “Berbantahlah sambil berkelahi. Menarik
sekali untuk dilihat dan didengarkan. Akupun menunggu jawab atas
pertanyaan itu.” “Semua sudah gila,“ teriak orang yang
kekurus-kurusan itu, “He, tikus dari Sanggar Gading. Aku pasti,
bahwa kau baru datang dari Sepasang Bukit Mati. Kau tentu sudah
bertemu dengan anak muda yang dianggap satu-satunya sumber
keterangan itu. Kau tentu sudah membicarakan sesuatu syarat bagi
penyerahan pusaka itu. Karena itu maka sebaiknya kau jtidak usah
kembali keperguruanmu. Dengan demikian jalur antara Sanggar Gading
dan anak muda itu akan terputus.” “Dan kau akan membuat jalur baru,“
potong orang yang menyebut dir inya Cempaka. “Ya. Aku akan membuat
jalur baru. Dan akulah satu- satunya orang yang akan mendengar dari
mulutnya, dimanakah pusaka itu tersimpan.” Orang yang menamakan diri
Cempaka itu tertawa. Katanya, “Aku sudah dapat menebak sejak semula.
Pertanyaanmu dan tuduhanmu bahwa aku mengerti sesuatu tentang pusaka
itu adalah sekedar cara untuk memaksa aku berkelahi.” “Membunuh
tanpa alasan memang berat bagiku. Tetapi membunuh dalam perkelahian
apapun alasannya memang sangat menarik.” Orang yang bernama Cempaka
itu tidak menjawab kata- kata lawannya. Namun bahkan ia berteriak
kepada Jlitheng yang duduk diatas batu, “Nah Senapati. Kau dengar
apa katanya ? Aku sudah bertanya hal itu untuk kepantinganmu.”
“Terima kasih,“ jawab Jlitheng. “Aku tidak peduli,“ teriak lawan
Cempaka, “siapa-pun dan apapun sebabnya, aku akan membunuh semua
orang dengan caraku. Termasuk kau yang menganggap dirimu sendiri
seorang Senapati. Tetapi itu adalah salahmu karena kau tidak mau
pergi dari tempat ini.” Jlitheng termangu-mangu. Semakin lama ia
melihat keadaan Cempaka dan kawan-kawannya menjadi semakin sulit.
Karena itu, maka tiba-tiba iapun berdir i sambil berkata, “Sebaiknya
aku tidak melihat saja perkelahian ini. Aku akan ikut serta.”
Cempaka dan lawannya menjadi berdebar-debar. Mereka mulai menebak,
kepada siapakah orang itu akan berpihak. “Aku melihat perkelahian
yang tidak adil,“ berkata Jlitheng, “tiga orang yang harus bertempur
melawan jumlah yang lebih banyak. Karena itu, aku akan bergabung
dengan orang yang lebih sedikit tanpa memperhatikan alasan-alasannya
perkelahian ini, meskipun nampaknya orang yang berjumlah lebih
banyak itulah menyebabkan pertengkaran ini terjadi.” Orang yang
bertubuh kekurus-kurusan itu menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa
orang yang ingin melibatkan diri itupun tentu bukan orang
kebanyakan. Mungkin ia bemar- banar seorang Senapati. Tetapi
setidak-tidaknya ia dapat mengukur diri setelah memperhatikan
perkelahian itu. Dalam pada itu, Jlithengpun ternyata tidak hanya
bermain- main. Iapun kemudian mempersiapkan diri untuk melibatkan
diri dalamperkelahian yang mulai berat sebelah itu. Sebenarnyalah
bahwa ia memang mempunyai kepentingan. Setelah diperhitungkan untung
dan ruginya, maka Jlitheng menganggap bahwa Cempaka baginya lebih
penting dari orang yang belum dikenalnya sama sekali. Jika ia
berhasil mmyelamatkan Cempaka, maka langkah penyelidikannya lebih
lanjut telah mendapat pancadan. Ia akan dapat mulai dengan orang
yang bernama Cempaka dari Sanggar Gading. Seandainya ia tidak akan
melakukannya sendiri, maka seorang kawannya akan dapat menelusur,
siapakah Cempaka itu sebenarnya dan siapakah yang akan menjadi
sasarannya sesuai dengan permintaan Daruwerdi. Orang yang disebut
telah membunuh orang tuanya. Dan orang itu adalah seorang Pangeran.
Karena itu, ketika ternyata Cempaka menjadi semakin terdesak, iapun
berkata, “Ki Sanak dari Sanggar Gading yang tidak aku ketahui
namanya. Aku berada dipihakmu.” “Apa kepentinganmu ?“ bertanya orang
yang menyebut dirinya Cempaka. “Entahlah. Tetapi karena lawanmu
mengumpat-umpat, aku menjadi benci kepadanya. Aku ingin memanfaatkan
pertempuran ini untuk menangkapnya, hidup atau mati,“ Jlitheng
berhenti sejenak, lalu, “tetapi bagaimana j ika aku ingin
memanggilmu.” “Ia bergelar Cempaka Kuning,“ orang yang kekurus-
kurusan itulah yang menjawab. “Dan kau ?” bertanya Jlitheng kemudian
kepada lawan Cempaka. “Persetan. Masuklah kearena jika kau ingin
mati pula,“ geramorang yang kekurus-kurusan itu. Cempakalah yang
kemudian tertawa. Katanya, “Orang itu adalah keluarga dari padepokan
Kendali Putih. Ia merasa kehilangan orang-orangnya. Dan sekarang ia
menjadi gila dan berbuait apa saja diluar nalar dan perhitungan. Ia
ingin membunuh siapa saja yang mungkin dibunuhnya tanpa sebab.”
“Kendali Put ih,“ gumam Jlitheng. “Kau kenal perguruan Kendali Putih
?“ bertanya Cempaka. “Seperti aku mengenal perguruan Sanggar Gading,
aku-pun mengenal perguruan Kendali Putih. Perguruan Pusparuri dan
perguraan-perguruan yang lain. Banyak perguruan telah diketahui oleh
kalangan keprajuritan di Demak, sesuai dengan sifat dan bentuk
perguruan. Yang manakah yang menurunkan ilmu putih dan yang manakah
yang diwarnai oleh ilmu hitam.” “Persetan. Jangan banyak bicara. Aku
akan membunuhmu,“ geramorang bertubuh kekurus-kurusan itu. Tiba-tiba
saja orang itu telah meloncat meninggalkan Cempaka yang digelari
Cempaka Kuning itu, langsung menyerang Jlitheng yang menyebut
dirinya seorang Senapati. Cempaka tidak dapat memburunya, karena
seorang yang lainpun segera menyerangnya pula dengan sengitnya,
sehingga iapun harus meloncat menghindar dan kemudian bertempur
melawannya. Jlitheng yang mengaku seorang Senapati itulah yang
kemudian harus bertempur melawan orang yang bertubuh kekurus-kurusan
itu. Seperti yang dilihatnya, maka orang itu memakai tenaga yang
tidak seimbang dengan tubuhnya yang kurus. Ketika orang itu
membenturkan kekuatannya, maka terasa tubuh Jlitheng tergetar
karenanya. “Orang Kendali Putih ini memang kuat sekali,“ berkata
Jlitheng didalamhatinya. Sebelumnya ia pernah bertempur melawan dua
orang yang karena tidak ada jalan lain, harus dibunuhnya. Tetapi
yang seorang ini mempunyai tataran ilmu yang lebih tinggi, sehingga
iapun harus mengerahkan kemampuannya untuk bertempur seorang melawan
seorang. Demikianlah maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit.
Cempaka dan kawan-kawannya menjadi lebih mantap menghadapi lawannya
yang jumlahnya berkurang. Bahkan kemudian mereka bertiga, segera
dapat menemukan keseimbangan pertempuran itu kembali, meskipun
mereka telah memeras segenap kemampuan mereka. Dalam pada itu,
Jlithengpun segera terlibat dalam pertempuran yang keras. Orang
bertubuh kekurus-kurusan itu ternyata lebih senang membenturkan
senjatanya dilambari dengan kekuatannya yang dibanggakannya daripada
meloncat menghindari serangan yang datang dari lawannya. Orang yang
kurus itu merasa bahwa kekuatannya jarang dapat dimbangi oleh
lawannya. Tetapi melawan Cempaka ia sudah merasa, bahwa ia tidak
dapat membanggakan kekuatannya saja, karena Cempaka Kuningpun
memiliki kekuatan melampaui orang kebanyakan. Ketika ia mulai dengan
serangannya atas lawannya yang baru, ia menganggap bahwa orang baru
itu tentu akan terkejut membentur kekuatannya. Tetapi orang yang
kekurus- kurusan itulah justru yang terkejut. Ternyata seperti
Cempaka, orang yang mengaku bernama Senapati Bantaradi itupun
memiliki kekuatan yang luar biasa. Semakin lama maka orang yang
kekurus-kurusan kupun bertempur semakin kasar. Bukan saja ia mencoba
mendesak lawannya dengan kekuatannya yang keras dan liar, tetapi ia
juga ingin mempengaruhi lawannya dengan hentakkan dan
teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. “Jangan berteriak-teriak
orang kurus,“ berkata Jlitheng, “nanti seisi beberapa padukuhan
disekeliling bulak ini akan terbangun dan berdatangan kemari.” “Aku
akan membunuh mereka semua,“ teriak orang kekurus-kurusan itu.
“Membunuh akupun kau tidak mampu. Apalagi orang dari beberapa
padukuhan yang bersenjata. Meskipun seorang demi seorang, mereka
tidak dapat melawanmu, tetapi bersama- sama mereka akan dapat
membunuhmu sepertil dalam rampogan macan di alun-alun.” “Tutup
mulutmu,“ teriak orang yang kekurus-kurusan itu. Jlitheng sempat
tertawa sambil meloncat menghindari serangan lawannya yang datang
dengan kasarnya, “Jika setiap orang melemparmu dengan sebuah batu,
maka kau akan berkubur dibawah timbunan batu-batu itu. Betapapun
besar kekuatanmu, tetapi kau tidak akan dapat melawan lontaran batu
dari segala penjuru. Sementara merekapun akan melemparkan
senjata-senjata mereka pula kearahmu.” Orang yang kekurus-kurusan
itu menggeram. Namun tiba- tiba ia berkata, “Kau terlalu sombong.
Tetapi sebenarnya hatimu sebesar menir. Kau berkhayal bahwa
orang-orang padukuhan akan datang membantumu. He, orang yang mengaku
prajurit. Bagaimana jika orang-orang padukuhan datang dan justru
melempar imu dengan batu.” “Mereka tidak akan melakukan. Mereka
tidak akan melawan prajurit Demak yang sedang mengemban tugas.”
“Mereka tidak akan percaya bahwa seorang perwira dari tatanan
keprajuritan Demak dalam pakaian kebesarannya berkeliaran seorang
diri. Kau adalah seorang prajurit yang memalsukan. Kau bukan
prajurit. Dan orang-orang padukuhan akan segera mengetahuinya.”
Tetapi Jlitheng hanya tertawa saja. Sambil menyerang ia berteriak,
“Kau juga pandai berkhayal.” Orang kekurus-kurusan itu tidak
menjawab lagi. Iapun segera menyerang dengan garangnya. Dengan
sepenuh tenaga ia ingin segera mengakhiri peirtempuran yang
menjengkelkan itu, karena kehadiran seseorang yang mengaku dirinya
seorang prajur it. Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin
keras dan kasar. Orang yang kekurus-kurusan iu benar-benar seorang
yang mempergunakan segala macam cara untuk mengalahkan lawannya.
Kasar, liar dan licik. Sementara itu Jlitheng menyesuaikan diri
dengan pengakuannya, bahwa ia adalah seorang Senapati. Pakaiannya
memang meyakinkan, bahwa ia seorang Senapati dari Demak. Karena itu,
maka iapun berusaha, untuk tidak tergelincir dalam sikap dan
perbuatannya, sebagaimana seorang Senapati perang yang berwibawa.
Dengan demikian, maka ia berusaha untuk tidak terseret oleh
kekasaran lawannya. Justru karena itu, maka ia dapat menilai segala
macam tata gerak dan Imu lawannya sebaik- baiknya. Dengan kecepatan
gerak dan kekuatannya, Jlitheng mampu mengimbangi kekasaran dan
keliaran lawannya. Bahkan dengan pengamatan dan perhitungan yang
cermat, akhirnya ala berhasil mendesak lawannya yang meskipun agak
kekurus-kurusan, tetapi memiliki ilmu yang luar biasa dan kekuatan
raksasa pula. Sementara itu, Cempaka dan kawan-kawannyapun berhasil
tetap bertahan melawan jumlah yang lebih banyak. Mereka mulai dapat
membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. Mereka mulai
memperhitungkan ketahanan waktu untuk melawan keempat orang yang
kasar dan garang itu. “Kita tidak dapat memperhitungkan, kapan
pertempuran ini akan selesai,“ berkata Cempaka didalam hatinya,
“mungkin menjelang pagi, mungkin setelah matahari naik, bahkan
mungkin masih akan berlangsung sehari penuh.” Namun dengan kesadaran
yang demikian, ia selalu berusaha untuk mengamati tata geraknya,
sehingga ia membatasi diri pada tata gerak yang menentukan
pertempuran itu, meskipun bersama dengan kedua orang kawannya, ia
juga berusaha untuk segera mengakhiri pertempuran yang seru itu.
Tetapi agaknya kedua belah pihak t idak mau membiarkan senjata lawan
menyobek tubuhnya dan menghentakkan nyawanya dari tubuhnya. Karena
itu, maka masing-masing telah bertempur dengan segenap kemampuan dan
ilmu yang ada. Namun dalam pada itu, lambat laun, Jlitheng berhasil
mendesak lawannya, betapapun orang yang kekurus-kurusan itu berusaha
untuk mempertahankan dirinya dengan kasar dan liar. Bahkan
kadang-kadang ia masih saja meloncat sambil berteriak. Senjatanya
yang agak asing itu berputaran. Sekali- kali tongkat yang terikat
pada sepotong rantai itu menyambar, namun kemudian mematuk dengan
cepatnya. Bahkan kemudian dua potong tongkat besi itu, tiba-tiba
saja telah berada didalamgenggaman seperti sepasang bindi. Melawan
senjata yang demikian, Jlitheng harus berhati- hati. Ia kemudian
tidak mempergunakan senjata panjang, karena dengan demikian,
senjatanya akan dapat terbelit oleh rantai pengikat dua potong besi
itu. Yang dipergunakannya adalah sebuah trisula bertangkai pendek,
yang terbuat dari besi baja pilihan. Dengan trisula bertangkai
pendek itu, maka ia tidak ragu-ragu untuk memukul potongan besi yang
berputaran. Bahkan ialah yang berusaha untuk melihat rantai lawannya
dengan ujung-ujung trisulanya. Tetapi lawannya cukup cepat pula
mempemainkan senjatanya. Bahkan kadang-kadang Jlitheng harus
meloncat beberapa langkah surut jika senjata lawannya menyambar
mendatar setinggi lambungnya. Melawan Jiltheng orang yang
kekurus-kurusan itu memang harus membuat perhitungan yang khusus,
karena Jlitheng mampu membentur tongkat besinya yang berputar
seperti baling-baling. Setiap kali, dengan bangga ia berhasil
merenggut atau mematahkan pedang lawannya. Tetapi trisula Jlitheng
ternyata memiliki kekhususan, sehingga setiap benturan justru
membuat tangannya menjadi pedih. Sementara itu. Cempaka sempat
menilai ilmu orang yang mengaku Senapati dan yang menyebut dirinya
bernama Bantaradi itu. Ternyata bahwa Senapati itu mempunyai ilmu
yang cukup tinggi, sehingga akhirnya ia berhasil mendesak lawannya.
“Aku tidak dapat memperhitungkan, bagaimana akhirnya jika aku harus
bertempur melawannya,“ berkata Cempaka didalam hatinya. Kemudian,
“Mudah-mudahan ia benar-benar seorang Senapati. Ia bukan sekedar
membantu aku, karena aku dalam kedudukan yang lemah, yang menurut
perhitungannya, akan lebih mudah dibinasakan pula setelah kelima
orang Kendali Putih itu dapat dilumpuhkan.” Tetapi menilik tata
geraknya, maka Cempaka menganggap bahwa orang yang mengaku Senapati
itu sama sekali bukan dari kelompok orang-orang liar dan kasar yang
sekedar mengaku-aku sebagai seorang Senapati, meskipun seperti yang
dikatakan oleh orang kekurus-kurusan itu bahwa agak aneh, seorang
perwira dalam pakaian kebesaran hanya seorang diri berkeliaran
dimalamhar i. “Nanti, setelah semuanya selesai, aku akan dapat
memperkenalkannya,“ berkata Cempaka Kuning didalami hatinya.
Sementara itu, benturan-benturan senjata antara Jlitheng dan orang
yang kekurus-kurusan itu terjadi semakin sering. Justru karena
Jlitheng sudah pasti tentang kekuatan lawannya, maka iapun mulai
dengan usahanya untuk mer ingkihkan bukan saja genggaman lawannya,
tetapi juga hatinya. Jika setiap kali tangannya terasa pedih dan
sakit, maka iapun akan menjadi gelisah pula karenanya. Namun
kemudian lawannyalah yang berusaha untuk menghindari benturan. Orang
yang kekurus-kurusan itu tidak lagi memutar tongkat besinya pada
ujung sepanjang rantai pengikatnya. Tetapi ia lebih banyak
menggenggam sepasang senjatanya itu ditangan. Dengan dua potong besi
itu, ia berusaha untuk menyerang lawannya tanpa mengadakan benturan
kekuatan dengan langsung. Jlitheng yang mengaku seorang Senapati
itupun kemudian bertempur semakin tangkas dan cepat. Trisulanya
menyambar-nyambar dan setiap kali mematuk dada lawan dengan
dahsyatnya. Lawannya mulai terdorong surut oleh serangan-serangan
Jlitheng yang membadai. Ia tidak segan menyerang lawannya meskipun
ia yakin, bahwa lawannya akan mampu menangkisnya, karena setiap
benturan akan memberikan tekanan kepada lawannya. Dengan segenap
kemampuannya, maka orang yang kekurus-kurusan itu berusaha
mempergunakan kecepatannya untuk melawan kekuatan dan kegarangan
Jlitheng. Tetapi ternyata bahwa Jlithengpun mampu mengimbangi
kecepatannya. Itulah sebabnya, maka semakin lama semakin terasa,
bahwa orang yang kekurus-kurusan itu akan kehilangan kesempatan
untuk mempertahankan dir inya lebih lama lagi. Tetapi orang yang
kekurus-kurusan itu tidak mau menyerah. Ia adalah seseorang yang
mendapat kepercayaan oleh pimpinannya untuk menentukan sikap
terhadap siapapun juga yang dianggap dapat mempersulit kedudukan
perguruannya. Termasuk orang-orang dari perguruan Sanggar Gading,
yang menurut perhitungannya telah membuat hubungan khusus dengan
anak muda yang berada disekitar Bukit Mati. Namun ternyata bahwa
Jlitheng benar-benar tidak dapat dimbanginya. Bahkan semakin lama,
terasa ujung trisula lawannya yang bertangkai sangat pendek itu
semakin dekat dari kulitnya. Sekali-kali terasa angin yang berdesir
lembut jika ujung trisula itu menyambar tubuhnya hanya berjarak
setebal daun. Bahkan rasa-rasanya ujung trisula itu sudah mulai
menjamahnya. Orang yang kekurus-kurusan itu terkejut ketika terasa
sentuhan pada pundaknya. Tetapi ternyata bahwa pundaknya tidak
tersayat. Segores tipis warna kemerah-merahan memang membekas.
Tetapi darahnya tidak menitik karenanya. “Gila,“ teriak orang
kekurus-kurusan itu. “Menyerahlah,“ desis Jlitheng, “aku akan
membawamu ke Demak. Kau harus memberikan keterangan tentang
perguruanmu dan usahamu untuk menguasai pusaka yang belumdikenal di
tlatah Sepasang Bukit Mati,“ sahut J litheng. “Persetan,“ geramnya.
Dengan buasnya ia justru menyerang Jlitheng dengan sekuat tenaganya
dan segenap kemampuan ilmunya. Jlitheng surut selangkah. Namun
kemudian iapun meloncat maju. Tepat saat lawannya justru mengayunkan
tongkat ditangan kirinya. Jlitheng tidak menghindar. Dengan
trisulanya ia sengaja menangkis tongkat besi itu. Ketika tongkat
besi itu menyusup disela-sela ujung trisulanya, maka dengan sepenuh
tenaganya ia memutar trisulanya sambil menghentak merenggut tongkat
besi itu dari tangan lawannya. Tetapi Jlitheng terkejut karena
lawannya sama sekali tidak mempertahankan tongkatnya. Dibiarkannya
tongkatnya terlepas begitu saja dari tangannya. Namun sekejap
kemudian tongkat yang terlepas itu telah berputar justru menyerang
kening Jlitheng yang termangu-mangu. Namun Jlitheng sempat merendah
sambil bergeser. Baru tersadar, bahwa tongkat itu terikat oleh
seutas rantai. Justru dengan serta merta lawannya telah
mempergunakan tongkat itu untuk menyerang. Jlitheng kemudian semakin
tertarik kepada rantai lawannya. Jika ia ingin melibat, lebih baik
langsung pada rantainya. Tidak pada tongkat-tongkat besi yang
terayun-ayun diujung rantai itu. Namun seperti yang pernah
dilakukan, lawannyapun segera menangkap tongkat-tongkat besi itu dan
mengganggamnya ditangan seperti sepasang pedang. “Gila,“
geramJlitheng. Dengan demikian pertempuran itu masih merupakan
pertempuran yang sengit. Sementara Cempaka dan dua orang kawannya,
masih harus berhadapan dengan jumlah yang lebih banyak, sehingga
Cempaka sendirilah yang kemudian harus melawan dua orang lawan
sekaligus. Tetapi keduanya bukan orang-orang sekuat orang kekurus-
kurusan itu. Sehingga meskipun dengan memaksakan diri dan memeras
segenap tenaga dan kemampuan, Cempaka masih berhasil mempertahankan
dirinya. Sementara kawannya yang dua orang itupun bertempur dengan
memeras kemampuan, karena lawan merekapun adalah orang-orang yang
memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Namun dalam pada itu,
Jlitheng yang semakin mendesak lawannya, justru merasa dirinya
dikejar pula oleh waktu itulah sebabnya, maka iapun bertepur semakin
garang. Trisulanya menyambar-nyambar semakin cepat menyusup diantara
kedua ujung tongkat besi orang-orang kekurus-kurusan itu. Bahkan
diantara putaran tongkat yang dahsyat itu diujung rantai
pengikatnya. Ketika Jlitheng berhasil memukul tongkat ditangan kiri
lawannya, maka ia dengan serta merta telah meloncat maju selangkah.
Tiba-tiba saja kakinya terayun deras sekali mengarah lambung. Tetapi
lawannya tidak membiarkan lambungnya dihantam kaki Jlitheng. Dengan
tongkat ditangan kanan, lawannya menangkis serangan kaki Jlitheng.
Tetapi ternyata bahwa Jlitheng telah menarik serangannya. Ia
meloncat dan berputar setengah lingkaran. Trisulanya berputar
seiring dengan putaran tubuhnya. Kemudian dengan derasnya terayun
langsung kekepala lawannya. Tetapi ternyata lawannyapun mampu
bergerak cepat. Dengan tangkasnya ia telah menggenggam pangkal
tongkatnya. Dengan merentang rantainya ia melindungi kepalanya.
Sementara itu, trisula Jlitheng telah terayun deras sekali. Ketika
trisulanya menyentuh rantai itu, terasa rantai itu mengendor. Namun
tiba-tiba saja orang kekurus-kurusan itu menghentakkan tangannya
sehingga rantai itu menegang dengan tiba-tiba. Untunglah bahwa
Jlitheng cukup cepat sehingga trisulanya tidak terpental dari
tangannya. Namun dalam pada itu, lawannya yang kekurus-kurusan itu
akhirnya tidak dapat mengimbangi kenyataan, bahwa akhirnya ia tidak
akan dapat mempertahankan diri lebih lama lagi. Karena itulah, maka
ia mulai memikirkan jalan yang paling baik untuk menyelamatkan dir
i. Jlitheng yang masih belum memperhitungkan kemungkinan itu,
terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar isyarat dari mulut
lawannya. Demikian tiba-tiba dan disusul dengan loncatan surut dan
kemudian langkah-langkah panjang menghindarkan dir i dari arena
perkelahian, diikut i oleh kawannya. Mula-mula Jlitheng berusaha
untuk mengejarnya. Namun akhirnya ia menyadari kepentingannya. Ia
harus segera berada di Demak dan segera pula kembali ke padukuhan
Lumban. Karena itu, maka niatnya untuk mengejar lawannya itupun
diurungkannya. Karena Jlitheng kemudian berhenti, maka Cempaka dan
kawan-kawannyapun berhenti pula. Meskipun demikian, nampak betapa
mereka menjadi kecewa. Namun tidak seorang-pun diantara mereka yang
menanyakannya kepada Jlitheng, karena mereka sadar, bahwa mereka
tidak berhak untuk menuntut agar Jlitheng melakukan tindakan lebih
jauh lagi dar i yang sudah dikerjakan. Tetapi agaknya Jlitheng
mengetahui perasaan Cempaka dan kawan-kawannya sehingga ia berusaha
menjelaskan sikapnya, “Aku tidak perlu mengejar mereka. Bahwa aku
sudah tahu tenteng mereka, itu sudah cukup. Karena pada setiap saat
aku akan dapat mengambil tindakan atas perguruan Kendali Put ih.”
Cempaka menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mengangguk sambil
berkata, “Terserah kepadamu. Tetapi apakah kau benar seorang
Senapati prajurit dari Demak ?” Jlitheng tertawa. Katanya, “Apakah
pakaianku memang pantas disebut seorang Senapati ?” Cempaka mulai
ragu-ragu. Dipardanginya wajah Jlitheng yang tidak member ikan kesan
kesungguhan. Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Seharusnya kau dapat
membedakan, apakah aku benar-benar seorang Senapati atau bukan.
Pakaianku memang mir ip pakaian seorang prajurit. Tetapi aku bukan
seorang prajur it.” “Siapakah kau sebenarnya ?“ bertanya Cempaka.
“Aku adalah orang yang kabur kanginan. Orang yang tidak mempunyai
tempat tinggal dan tidak mempunyai kepentingan apapun juga. Aku
melihatkan diri karena aku melihat ketidak adilan. Kau bertiga harus
melawan lima orang sehingga pertempuran itu menjadi berat sebelah.
He, apakah kau memang dari perguruan Sanggar Gading ?” “Ya,“ Cempaka
tidak dapat ingkar lagi. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Satu
keterangan telah didapatkannya. Cempaka adalah orang Sanggar Gading.
“Aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu,“ berkata Cempaka
kemudian. “Itu tidak pening. Tetapi apakah sebenarnya yang
menyebabkan kalian bertempur dengan orang-orang Kendali Putih.” “Kau
sudah mendengar sebagian dari persoalan itu.” “Ya,“ Jlitheng menarik
nafas dalam-dalam, “tetapi apakah arti pusaka yang kalian perebutkan
itu ? Apakah pusaka itu mempunyai nilai gaib yang dapat membuat
seseorang menjadi sesembahan, atau membuat seseorang menjadi pilih
tanding, atau nilai-nilai yang lain?” Jlitheng mengerutkan keringnya
ketika ia melihat Cempaka tersenyum. Tetapi Cempaka kemudian
berkata, “Aku titak tahu. Tetapi pusaka itu penting sekali bagi
perguruan Sanggar Gading.” “Dan kau sudah mendapatkannya ?” Cempaka
itupun tiba-tiba telah tertawa. Katanya, “Belum. Dan aku berkata
sebenarnya, bahwa aku belum mendapatkan pusaka itu.” Jlitheng
mengangguk-angguk. Namun iapun kemudan tertawa pula. Justru
berkepanjangan. Diantara deri tertawanya ia berkata, “Alangkah
lucunya. Kalian sudah mempertaruhkan nyawa kalian untuk sesuatu yang
tidak jelas. Apakah artinya itu bukan suatu kedunguan atau bahkan
kegilaan ?” “Kita memang orang-orang gila. Tetapi memperebutkan
pusaka itu bukan suatu kegilaan yang lebih gila dari kegilaanmu
mencampuri persoalanku yang dapat merenggut nyawamu juga,“ berkata
Cempaka. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya
ingin menolongmu. Jika kau tersinggung dengan istilah itu, baiklah
aku katakan lagi, bahwa aku tidak senang melihat ketidak adilan. Aku
sama sekali tidak berkepentingan dengan pusaka itu dan segala
tingkah lakumu kemudian. Aku akan meneruskan perjalananku. Mungkin
aku akan singgah di Demak. Mungkin tidak. Tetapi mungkin aku justru
akan singgah di perguruan Sanggar Gading.” “Pergilah kesana.
Tandangmu membuat aku tertarik kepadamu. Jika kau bersedia,
bergabunglah dengan kami. Ada tugas penting yang akan kami lakukan,“
berkata Cempaka. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia
bertanya, “Tugas apa?” “Aku belum tahu pasti. Tetapi jika kau
bersedia, datanglah,” sambung Cempaka. Dada Jlitheng menjadi
berdebar-debar. Ia teringat pembicaraan Cempaka dengan Daruwerdi di
Bukit Gundul. Bahkan Daruwerdi menuntut imbalan yang mahal dar i
pusaka yang dijanjikan. Karena itu, sejenak kemudian Jlitheng
berkata, “Apakah persoalannya ada hubungannya dengan pusaka itu ?
Jika ada, aku lebih baik tidak ikut campur, karena aku tidak mau
terlibat dalam persoalan yang menyangkut banyak pihak. Tetapi jika
persoalan itu benar-benar tugas perguruanmu, aku mungkin akan dapat
mempertimbangkan.” Cempaka memandang Jlitheng sejenak. Tetapi ia
tidak melihat kesan yang mencurigakan pada wajah itu. Dalam
keremangan malam ia melihat, seakan-akan Jlitheng berkata dengan
jujur dan tanpa maksud tertentu. Karena itu, maka iapun kemudian
menjawab, “Tidak. Tidak ada sangkut pautnya dengan pusaka itu.
Tetapi yang harus kami lakukan adalah persoalan yang menyangkut
harga diri perguruan Sanggar Gading.” “Dendam? Kebencian? Atau
menyangkut harta, benda?” “Harga dir i,“ sahut Cempaka, “tetapi aku
tidak tahu pasti.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia melihat satu
kemungkinan untuk maju selangkah dalam tugasnya. Tetapi iapun
melihat bahaya yang tersembunyi dibalik kemungkinan itu. Sambil
mengangguk-angguk iapun kemudian berkata, “Ki Sanak. Mungkin aku
akan benar-benar datang ke padepokanmu. Mungkin aku akan dapat
berbuat sesuatu. Tetapi keterlibatanku memer lukan kejelasan,
sehingga aku tidak akan salah sasaran. Mungkin yang telah menyentuh
harga dirimu itu justru orang yang pernah aku kenal baik, atau
malahan sahabat-sahabatku. Tetapi hal itu dapat aku bicarakan kelak
j ika benar-benar aku sempat datang ke Sanggar Gading.” “Kau orang
yang aneh. Apakah keterlibatanmu kali ini mempunyai alasan dan
landasan yang jelas? Kau tidak mengenal aku dan kaupun t idak
mengenal orang-orang kendali Putih. Tetapi kau langsung terjun
digelanggang perselisihan ini.” “Tetapi bagiku cukup jelas.
Orang-orang Kendali Putih itu bukan sanak kadangku. Bukan
sahabat-sahabatku dan bukan saudara-saudara seperguruanku,“ jawab
Jlitheng. Cempaka mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika kau
ingin datang, datanglah. Tetapi yang akan kami lakukan tidak akan
menunggu sampai waktu yang lebih dari yang sudah ditentukan.”
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan datang pada waktu
yang kau tentukan. Jika dalam sepuluh hari itu aku tidak datang,
maka mungkin aku sudah berada ditempat yang jauh. Mungkin aku sudah
berada di Tuban atau mungkin di Blambangan. Bahkan mungkin aku sudah
menyeberang ke Bali.” Cempaka mengerutkan keningnya. Namun iapun
kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi
siapa namamu ?” “Namaku memang Bantaradi. Tetapi aku bukan Senapati
Demak seperti yang aku katakan. Pertemuan kita mungkin ada gunanya.
Tetapi mungkin tidak berkelanjutan apapun juga,“ berkata Jlitheng
kemudian, “aku- minta dir i. Aku akan melanjutkan perjalananku yang
masih sangat jauh, karena perjalananku memang tanpa batas.” Cempaka
tidak menahannya lagi. Ia memandang Jlitheng dengan kening yang
berkerut. Ia melihat sesuatu yang asing pada anak muda itu. Dan
nampaknya Jlitheng telah berhasil menimbulkan anggapan, bahwa ia
sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang menjadi
rebutan diantara baberapa golongan itu. Sejenak kemudian Jlitheng
telah meloncat kepunggung kudanya dan kemudian berkata,
“Berhati-hatilah menghadapi orang-orang Kendali Putih. He, apakah
kau akan mengajak aku datang kepadepokan Kendali Putih sebelum
sepuluh hari ini?” Cempaka menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia
menggeleng. “Tidak. Meskipun aku tidak tahu pasti, apa yang akan aku
lakukan, karena aku hanya akan melakukannya. Kakak kandungkulah yang
mengetahui dengan pasti, persoalan yang bagaikan mengindap didalam
jantung perguruan.” Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian sambil
menggerakkan kendali kudanya ia berkata, “Kita berpisah.
Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.” Cempaka menarik nafas
dalam-dalam, ia hanya memandangi saja kuda yang kemudian berlari
meninggalkannya membawa Jlitheng dipunggungnya. “Anak muda yang luar
biasa,“ berkata Cempaka. Kedua orang kawannya hanya
mengangguk-angguk saja. “Ia memiliki tenaga yang cukup besar dan
kecepatan bergerak yang mengagumkan. Ia akan dapat menjadi kawan
yang baik dalam tugas berat yang mendatang,“ berkata Cempaka pula.
“Tetapi kita belum mengenalnya dengan baik,“ berkata salah seorang
dari kawan Cempaka. “Aku telah dapat menarik kesimpulan, bahwa ia
sama sekali tidak bersangkut paut dengan pusaka yang sedang
diperebutkan itu. Mungkin iapun akan mempunyai tuntutan tertentu
atau sama sekali tidak, namun sudah tentu tidak berkisar pada pusaka
yang bernilai sangat tinggi bagi perguruan kita itu,“ sahut Cempaka.
“Agaknya memang demikian. Tetapi jika kemudian ia mendengar serba
sedikit tentang pusaka itu, mungkin sikapnya akan berubah.” “Kita
akan menunggunya,“ desis Cempaka kemudian, “seandainya ia mempunyai
maksud tertentu, bukan persoalan yang sulit bagi kita, karena ia
hanya seorang diri.” “Maksudmu, setelah kita mempergunakannya, anak
muda itu akan kita singkirkan ?“ bertanya seorang kawannya. “Jika ia
akan dapat menjadi pengganggu. Jika tidak, biarlah ia pergi tanpa
kita sakiti hatinya,“ jawab Cempaka. Kedua kawannya tidak bertanya
lagi. Merekapun kemudian bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan
mereka. Namun dalam pada itu, Cempaka telah tenggelam kedalam
angan-angannya. Jika ia berhasil mememuhi permintaan Daruwerdi, maka
ia akan mendapatkan pusaka yang sangat diperlukan oleh saudara
tuanya, yang memimpin padepokan Sanggar Gading Setidak-tidaknya ia
akan mendapat petunjuk pasti, untuk menemukan pusaka itu. Karena
pada pusaka itu terdapat petunjuk yang sangat berharga. Mungkin
tergores pada wrangkanya, atau mungkin pada peti tempat pusaka itu
disimpan, atau pada selembar kain yang terdapat dalam peti itu pula.
Tetapi menurut pendengarannya, bahwa pada pusaka itu terdapat
petunjuk, dimanakah harta benda yang tidak ternilai harganya telah
disimpan. “Mungkin pusaka itu memang mempunyai pengaruh gaib,“
berkata Cempaka didalam hatinya, “tetapi harta benda yang tidak
ternilai itupun mampunyai daya tarik dapat membuat banyak orang
menjadi gila.“ Tetapi Cempaka tidak mengatakan kepada seorangpun
juga dari perguruannya, selain kakak kandungnya. Keduanya berusaha
untuk mendapatkan pusaka itu, apapun yang harus mereka lakukan.
Seperti juga beberapa perguruan dan beberapa kelompok orang-orang
pilihan yang sudah mendengar serba sedikit tentang pusaka itu, telah
berusaha untuk menemukannya. Apakah mereka tertarik karena mereka
menganggap pusaka itu akan dapat mengangkut mereka kejenjang
kekuasaan tertinggi atau karena mereka memang sudah mengetahui,
bahwa disamping pusaka itu terdapat harta benda yang sangat besar.
Dalam pada itu, Jlitheng berpacu dengan kencang menuju ke Kota Raja.
Ia sudah mempunyai rencana tersendiri untuk melaksanakan niatnya.
Peristiwa yang baru saja terjadi, telah menjadi salah satu bahan
yang dapat menambah bekal dalam tugasnya. Sebelum matahari terbit,
Jlitheng telah memasuki Kota Raja. Ia langsung menuju kesebuah rumah
yang cukup besar dengan halaman yang luas, meskipun rumah itu
terletak di bagian yang tidak cukup ramai. Tetapi Jlitheng tidak
turun dihalaman depan dan menambatkan kudanya pada tonggak disudut
pendapa, tetapi ia langsung memasuki seketeng sebelah kir i dan
masuk ke halaman samping. Seorang penghuni rumah itu terkejut
melihat seekor kuda dengan penunggangnya langsung memasuki seketeng.
Karena itu, maka iapun segera menyongsong dan menghentikannya.
Jlitheng tersenyum. Iapun segera meloncat turun sambil berkata,
“Jangan terkejut. Aku ingin bertemu dengan paman Sri Panular.” Orang
itu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah Ki
Sanak?” Jlitheng tersenyum. Katanya pula, “Sampaikan pesanku.
Cepatlah sedikit. Matahari sudah akan terbit.” Orang itu masih
termangu-mangu. Namun iapun berpaling ketika seorang perempuan
menjelang setengah usia datang menyapa anak muda yang datang berkuda
itu, “Kau ngger. Marilah. Pamanmu sudah berada disanggar.” Jlitheng
mengangguk hormat. Jawabnya, “Terima kasih bibi. Aku datang agak
kesiangan.” Perempuan itu tertawa sambil mendekatinya ia berkata,
“Masuklah. Aku akan memanggil pamanmu.” “Biar lah aku menyusul ke
sanggar saja bibi,“ jawab Jlitheng. Perempuan itu mengeratkan
keningnya. Katanya, “Duduk sajalah dipr inggitan. Biarlah aku
memanggil pamanmu.” “Aku tidak ingin mengganggu paman, bibi. Biarlah
aku pergi ke Sanggar.” Perempuan itu menarik nafas panjang. Lalu,
“Baiklah. Marilah aku bawa kau ke Sanggar di belakang.” Jlithengpun
kemudian menyerahkan kudanya kepada orang yang masih kebingungan.
Kemudian mengikuti perempuan itu menuju ke longkangan dibelakang.
Dibelakang longkangan terdapat sebuah bilik yang terpisah. Lewat
bilik itu mereka memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, berdinding
kayu. Agak lebih rapat dari bagian-bagian yang lain dari rumah yang
besar itu. “Kakang Sri Panular,“ terdengar perempuan itu berkata
ketika mereka memasuki sebuah pintu, “angger Arya Baskara datang
untuk menghadap.” Sejenak mereka menunggu. Baru kemudian terdengar
jawaban dari keremangan ruangan Sanggar, “Aku senang sekali oleh
kedatangannya. Marilah ngger. Mendekatlah.” “Masuklah,“ berkata
perempuan itu, “aku akan menyiapkan jamuan bagi angger.” “Ah,“ desis
Jlitheng, “bibi jangan menjadi terlalu sibuk karena kedatanganku.”
Perempuan itu tersenyum. Katanya, “Tidak ngger. Sudah seharusnya aku
menjamu seorang tamu.” “Terima kasih bibi,“ jawab Jlitheng kemudian.
Sepeninggal perempuan itu, maka Jlithengpun kemudian memasuki
sanggar yang masih remang-remang. Disudut ia melihat seseorang duduk
diatas sebuah batu hitam yang dialasi dengan sehelai kulit harimau
loreng. “Marilah ngger,“ orang yang duduk itu mempersalahkan.
Jlithengpun kemudian mendekat. Dengan hormatnya ia membungkuk
dihadapan orang yang duduk diatas batu itu sambil berkata, “Aku
menyampaikan baktiku paman.” Terdengar suasa tertawa tertahan. Lalu,
“Silahkan duduk diamben bambu itu ngger. Kau selalu membuat hatiku
menjadi cerah. Semakin ser ing kau datang, aku tentu akan menjadi
semakin muda.” Jlithengpun kemudian duduk disebuah amben beberapa
langkah dari batu hitam itu. Diluar sadarnya ia mulai mengedarkan
pandangan matanya keseluruh ruangan yang menjadi semakin terang
disaat matahari mulai terbit. “Tidak ada perubahan, apapun juga,“
berkata orang yang duduk di atas batu hitam itu. Jlitheng menarik
nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang sebilah ujung tombak yang
tidak bertangkai, yang terpancang pada sebuah lubang bambu disamping
sebuah perisai yang terbuat dari baja, maka orang yang duduk itu
berkata, “Senjata itulah yang baru bagi sanggar ini ngger. Aku
mendapatkannya dari seorang kawan yang berhasil merampasnya dari
para bajak laut yang kadang-kadang turun kepantai dan merampok para
nelayan yang memang sudah miskin. Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi menilik
bentuknya, senjata dan perisai itu bukan milik kita paman. Maksudku,
bukan prajur it dan orang-orang Demak.” “Tepat ngger. Senjata dan
perisai itu dapat dirampas dari bajak laut, yang barangkali
mendapatkannya dari orang-orang seberang. Entah dengan cara apa.
Apakah senjata itu ditukar dengan kebutuhan mereka, atau para bajak
laut itu merampas dengan kekerasan.” Jlitheng mengangguk-angguk.
Diluar sadarnya ia berdesis, “Dan sekarang senjata dan perisai itu
berada ditangan paman.” Orang itu tertawa pendek. Katanya, “Aku
mengumpulkan berbagai jenis senjata. Bukan saja senjata yang aku
dapatkan dari masa kemasa, pemerintahan yang berpindah-pindah di
negeri ini lewat siapapun juga seperti yang kau lihat bergantung
dididing. Tetapi juga senjata dari negeri seberang.” Jlitheng
menarik nafas dalam-dalam. Di sanggar itu memang terdapat senjata
sejak jaman purbakala di tanah ini. Kapak batu, tombak dan sumpit
yang sederhana. Tetapi juga senjata yang sudah berlapis emas dengan
teretes berlian dari masa kejayaan kerajaan demi kerajaan.” Tetapi
kedatangan Jlitheng ketempat itu, bukannya untuk berbicara tentang
berbagai macam senjata. Tetapi ia mempunyai keperluan yang penting,
sehubungan dengan niatnya untuk membayangi Sepasang Bukit Mati yang
bersangkutan dengan pusaka yang mempunyai nilai tersendiri itu.
Karena itu maka sejenak kemudian, setelah member ikan beterapa
penjelasan maka Jlithengpun berkata, “Paman, kedatanganku adalah
satu usaha untuk memecahka rahasia yang meyelimuti pusaka itu. Aku
telah mendapatkan beberapa bahan yang barangkali penting untuk
dibicarakan.” Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang
sudah menduga, bahwa kau sudah menemukan sesuatu yang barangkali
dapat dipakai sebagai sandaran usahamu untuk memecahkan rahasia
pusaka itu. Jika masalahnya tetap berkepanjangan, maka akan semakin
banyak kelompok yang terlibat kedalamnya, yang akan berarti menambah
korban yang sama sekali tidak berarti. Sesuatu yang kecil dan tidak
berarti, lewat berita dan ceritera mulut kemulut, akan dapat memjadi
sesuatu yang sangat dikagumi. Sepercik api akan dapat dianggap
sebagai panasnya luapan Gunung yang sedang meledak.” “Agaknya
demikian juga tentang pusaka itu paman. Setiap orang menganggap
pentingnya pusaka yang sekarang masih belumditemukan,“ sahut
Jlitheng. “Apalagi pusaka itu yang memang disertai dengan satu
keterangan tentang harta benda yang disimpan oleh Pangeran
Pracimasanti. Berita dan ceritera tentang pusaka itu tentu akan
berkembang semakin besar, seolah-olah siapa yang memiliki pusaka
itu, adalah orang yang akan dapat menjadi Maha Raja diatas permukaan
bumi,“ berkata Sri Panular. Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya,
"Kedatanganku akan mohon petunjuk kepada paman, apakah yang harus
kita kerjakan selanjutnya.” Orang tua itu mengangguk-angguk.
Katanya, “Apa yang sudah kau ketahui dan bagaimana menurut
pendapatmu ?” Jlithengpun kemudian menceriterakan apa yang ada dan
apa yang telah terjadi di sekitar Sepasang Bukit Mati. Kedatangan
orang-orang dari padepokan Kendali Putih, orang- orang Pusparuri dan
orang-orang dari Sanggar Gading yang telah berhubungan dengan
seorang anak muda yang bernama Daruwerdi. Kemudian, yang masih
merupakan teka-teki baginya adalah dua orang ayah dan anak perempuan
yang berada di salah saru dari Sepasang Bukit Mati itu. Orang yang
menurut pengakuannya harus berpindah dar i daerahnya, karena banjir,
gempa dan tanah longsor. Sri Panular mendengarkan keterangan
Jlitheng dengan saksama. Apalagi ketika Jlitheng menceriterakan apa
yang didengarnya tentang pembicaraan Daruwerdi dan Cempaka, serta
apa yang dialaminya diperjalanannya ke Demak dari Lumban. Orang tua
itu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata, “Kau sudah
mendapat jalan itu ngger, meskipun kau harus sangat berhati-hati.
Memasuki padepokan Sanggar Gading bukan satu pekerjaan yang mudah.
Bukan pula satu permainan yang akan menyenangkan.” “Aku sadar paman.
Tetapi aku kira itu adalah jalan yang paling baik. Diluar
perhitunganku, kebetulan sekali aku mendapat kesempatan untuk
menolong anak Sanggar Gading itu,“ berkata Jlitheng kemudian,
“tetapi disamping kemungkinan yang baik itu, aku harus mempersiapkan
diri menghadapi segala kemungkinan. Akupun harus mendapat akal untuk
meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak lama.” “Apakah kau berniat
untuk datang kepadepokan Sanggar Gading ?” “Agaknya aku akan
menempuh jalan itu untuk mangetahui, siapakah yang menjadi sasaran
dendam Daruwerdi. Jika dendam itu tidak benar-benar membakar hati
dan jantungnya, aku kira Daruwerdi tidak akan bersedia menukarnya
dengan pusaka yang menjadi rebutan itu.” “Kau yakin bahwa Daruwerdi
benar-benar mengetahui dengan pasti tentang pusaka itu?“ bertanya
Sri Panular. Jlitheng menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia
berkata, “Menurut pengakuannya. Jika tidak, apakah ia akan berani
mempertaruhkannya untuk mendapatkan orang yang dimaksudkan ?” Sri
Panular mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah ngger. Jika kau sudah
bertekad untuk melakukannya.” “Tetapi paman,“ berkata Jlitheng
dengan serta merta, “itu barulah salah satu jalan. Jalan yang semula
ingin aku sampaikan kepada paman, adalah bahwa sebaiknya paman
mencari keterangan, siapakah diantara para Pangeran yang pernah
berhutang nyawa, yang pernah membunuh seseorang dalam persoalan
apapun juga. Jika demikian, maka kita akan dapat mencari keterangan,
siapakah yang telah dibunuh, dan orang yang dibunuh itulah yang
mempunyai hubungan dengan Daruwerdi, yang menurut pengakuan anak
muda itu adalah ayahnya.“ Sri Panular mengangguk-angguk. Namun iapun
berkata, “Baiklah. Itu salah satu jalan yang dapat ditempuh. Tetapi
tentu ada jalan lain. Kita akan mencari keterangan tentang Daruwerdi
itu sendiri. Jika orang-orang Pusparuri dapat menghubunginya, tentu
ada diantara mereka yang sudah mengenalnya sebelumnya. Demikian juga
orang Sanggar Gading itu.” “Jalan yang dapat juga dilalui meskipun
tentu agak licin. Tetapi kita memang harus menempuh segala jalan.
Sementara aku akan melalui jalan yang lebih pendek, meskipun sangat
berbahaya.” “Kau sudah benar-benar bertekad melakukannya ?” “Ya
paman. Aku kira jalan itu adalah kesempatan yang paling dekat,
meskipun yang paling berbahaya.” Sri Panular mengangguk-angguk.
Katanya, “Baiklah. Semua jalan akan kita tempuh untuk melacak jejak
Pangeran Pracimasanti. Jika saja pengawalnya yang setia, meskipun
cacat itu dapat diketemukan, mungkin kita tidak akan kehilangan
jejak. Tetapi abdinya yang setia itupun bagaikan hilang ditelan
bumi. Karena itu, tentu ada rahasia tersendiri, kenapa anak muda
yang bernama Daruwerdi itu mengaku dapat menunjukkan pusaka yang
hilang itu. Mungkin anak muda itu, sengaja atau tidak sengaja, dapat
menguasai abdi yang setia dan cacat itu. Namun bagaimanapun juga,
kita harus menyelamatkan apa yang pernah disimpan oleh Pangeran
Pracimasanti. Dengan demikian kita sudah berbuat satu kebajikan bagi
sesama.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar sepenuhnya akan tugas
yang akan dilakukannya. Yang tersimpan disamping pusaka itu tentu
harta benda yang tidak sedikit, yang akan dapat dipergunakan untuk
kepentingan Demak yang sedang tumbuh! Selain pusaka itu sendiri akan
kembali ke gedung perbendaharaan pusaka, maka harta benda itupun
tentu akan sangat bermanfaat. Demak memer lukan banyak sekali beaya
untuk membangun dir inya, sementara beberapa pihak lebih senang
untuk bekerja bagi kepentingan dir i sendiri. Dalam pada itu, maka
Jlithengpun kemudian berkata, “Paman. Sebelum aku memasuki sarang
orang-orang Sanggar Gading, aku harus kembali ke Lumban lebih
dahulu. Aku harus menghapus segala kecur igaan karena aku akan pergi
untuk beberapa hari.” “Lakukanlah. Akupun akan melakukan usaha yang
lain. Seperti yang kau maksud, aku akan mencari keterangan tentang
seorang Pangeran yang pernah terlibat dalam pertentangan dan
pembunuhan, sehingga Daruwerdi mendendamnya.” “Itulah yang akan aku
sampaikan. Selebihnya, kita akan mengikut i perkembangan keadaan.”
“Dan kau akan berada disini berapa hari ?“ bertanya Sri Panular.
“Malam nanti aku harus kembali ke Lumban paman. Kepergianku yang
lama akan menimbulkan pertanyaan bagi anak-anak muda Lumban. Tetapi
juga akan dapat menarik perhatian Daruwerdi.” Sri Panular
mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Waktu itu sangat pendek.
Tetapi untuk menambah bekal tugasmu, biarlah yang pendek ini kita
pergunakan sebaik-baiknya.” “Maksud paman?“ bertanya Jlitheng. “Kau
tentu sudah mendapat banyak bekal dari kakang Baskara. Kau tentu
sudah memiliki beberapa jenis senjata yang sering dipergunakan.
Tetapi untuk menjaga keselamatanmu j ika kau berada didalam
lingkungan lawan yang banyak. … aku akan memberikan beberapa
petunjuk yang mungkin pernah kau ketahui pula dari kakang Baskara.
Tetapi yang kemudian aku kembangkan.” “Apakah itu paman ?“ bertanya
Jlitheng. “Aku mempunyai sejenis paser yang mungkin berguna bagimu.
Jika orang-orang Sanggar Gading kemudian mengenalimu, dan kau harus
menyelamatkan diri dar i orang- orang Sanggar Gading, atau di dalam
lingkungan yang manapun juga, maka senjata semacam itu akan sangat
berguna. Kau tidak perlu menganggap dirimu licik, jika kau berusaha
melepaskan diri dari satu kepungan dengan mempergunakan paser-paser
semacam itu.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa senjata
itu tentu akan sangat berguna, karena Sri Panular adalah salah
seorang ahli senjata dari jenis apapun juga. Jika didinding
sanggarnya tersimpan banyak senjata, bukannya sekedar sebagai
perhiasan. Tetapi semuanya telah dipelajarinya dan diperhitungkannya
untung dan ruginya. Demikianlah, waktu yang sehari itu telah
dipergunakan oleh Jlitheng untuk menguasai penggunaan senjata kecil
yang dapat dipergunakannya dalam jumlah yang banyak. Ia tidak saja
melemparkan paser satu demi satu. Tetapi ia akan dapat melemparkan
dua, tiga dan bahkan lima buah paser sekaligus dengan arah yang
memencar, sehingga dengan demikian ia akan dapat membuka jalan
dihadapannya, apabila beberapa orang menghalanginya. “Aku terpaksa
mempergunakan racun,“ berkata Sri Panular, “tetapi racunku bukan
racun yang membunuh. Seseorang akan dapat pingsan karenanya. Tetapi
seorang yang mengerti serba sedikit tentang obat-obatan, akan dapat
menyembuhkannya. Memang mungkin akan dapat terjadi kematian jika
seseorang tidak tertolong sama sekali, dan orang itu tidak mempunyai
daya tahan yang cukup. Tetapi kejadian itu adalah satu dar i
sepuluh.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Sri Panular
bukannya seorang ahli senjata yang tidak berperikemanusiaan.
Meskipun ia selalu bermain-main dengan senjata, tetapi senjata
baginya adalah, alat yang paling buruk untuk menyelesaikan,
persoalan-persoalan yang timbul diantara sesama. Dengan senjata
paser-paser kecil, maka Jlitheng telah mendapatkan sebuah ikat
pinggang yang khusus pula dari Sri Panular. Ikat pinggang yang dapat
dipergunakannya untuk membawa paser-paser kecil cukup banyak.
“Tetapi berhati-hatilah,“ berkata Sri Panular, “jangan terlalu
sering dipergunakan. Tetapi juga jangan menganggap bahwa paser-paser
ini akan selalu dapat menyelesaikan tugasmu, karena banyak diantara
orang-orang yang berkeliaran dalam dunia kekerasan yang mampu
menghindari lontaran tanganmu.” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia
mengerti sepenuhnya setiap pesan dari Sri Panular. Maka katanya,
“Paman, bagaimanapun juga, paser-paser ini telah menambah bekalku.
Terutama niatku untuk berada ditengah-tengah orang-orang Sanggar
Gading.” “Kau akan memasuki daerah yang sangat berbahaya. Aku akan
berada dirumah pada saat-saat yang gawat bagimu itu. Disekitar
sepuluh sampai lima belas hari, aku selalu bersiap jika aku kau
perlukan. Disaat-saat orang-orang Sanggar akan memenuhi permintaan
Daruwerdi itu akan mungkin sekali terjadi sesuatu yang tidak kau
duga sama sekali,“ berkata Sri Panular, lalu, “berbuatlah dengan
keyakinan. Kau adalah mur id Ki Baskara yang telah menurunkan ilmu
pedang yang luar biasa kepadamu. Kau juga mampu mempergunakan
senjata lentur. Dan sekarang, kau kuasai penggunaan senjata- senjata
kecil itu. Latkukanlah dengan penuh tanggung jawab. Tetapi segalanya
harus kau landasi dengan permohonan kepada Yang Maha Kasih. Jika
kerjamu kau tujukan bagi kebajikan sesama, maka kau akan selalu
mendapat perlindungannya.” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun hatinya
bagaikan berkembang. Ia sadar sepenuhnya, apakah yang sedang
dihadapinya. Tetapi iapun menganggap, sudah sewajarnya ia
mempertaruhkan nyawa bagi pusaka dan harta benda yang akan sangat
besar manfaatnya bagi Demak dan sesamanya itu. Karena Jlithengpun
mengerti, bahwa Pangeran Pracimasanti tidak bermaksud membangun
kembali Kajayaan Majapahit dalam arti yang sempit. Menurut pendapat
Jlitheng, maka Majapahit bukanya nama dan tempat kedudukan puncak
pemerintahan. Tetapi apa yang sudah pernah dicapainya. Persatuan
yang mengikat seluruh persada Nusantara. Apapun namanya dan
dimanapun kedudukan Kota Raja sebagai tempat pimpinan pemerintahan,
dan siapapun nama orang yang memegang kendali, bukan masalah yang
pertama. Tetapi ujud dan isi Nusantara itulah yang tentu akan
diperjuangkan oleh Pangeran Pracimasanti dengan bekal yang
disediakannya, tetapi tidak sempat dipergunakannya. “Bekal itu tentu
jauh dari pada mencukupi,“ berkata Jlitheng didalam hatinya, “tetapi
itu lebih baik daripada bekal itu jatuh ketangan orang-orang yang
hanya mement ingkan pribadi masing-masing.” Karena itulah, maka
tekat Jlithengpun menjadi semakin bulat. Ia adalah murid Baskara,
orang yang aneh. Dan iapun mempunyai kegemaran yang kadang-kadang
aneh pula bagi orang lain. Namun, terhadap tekadnya untuk menemukan
pusaka dan harta benda itu adalah bersungguh-sungguh. Justru karena
Jlitheng memang sudah memiliki ketrampilan yang tinggi, maka dalam
satu hari ia sudah pandai mempergunakan senjata-senjata kecil itu.
Sehingga karena itu, maka iapun merasa dirinya menjadi semakin kuat
untuk tampil diantara orang-orang Sanggar Gading. Ketika senja
turun, maka Jlithengpun bersiap-siap untuk meninggalkan rumah Sri
Panular. Ia harus kembali lagi ke Lumban. Kemudian mengatur dir i,
agar kepergiannya ke Sanggar Gading untuk beberapa hari tidak
menumbuhkan kecurigaan. “Menjelang saat yang berbahaya itu,
lakukanlah latihan sebaik-baiknya ngger,“ berkata Sri Panular, “kau
sudah menguasai ilmu pernafasan. Kau harus mematangkan ilmu itu
dalam waktu kurang dari sepuluh har i ini. Kau harus mampu menguasai
segenap bagian dari tubuhmu dalam keadaan yang gawat. Kau harus
melatih diri mempertajam gerak-gerak naluriah yang terkendali.
Kesadaranmu harus dapat dengan cepat menanggapi keadaan yang
berkembang setiap saat.” “Ya Paman,” Jlitheng mengangguk-angguk,
“aku akan mempergunakan waktu yang pendek itu sebaik-baiknya.”
“Bahaya bagimu bukan saja di Sanggar Gading. Tetapi j ika kau
benar-benar akan menyertai mereka memasuki daerah yang belum kau
ketahui itu, maka kaupun akan dapat menjadi umpan yang mungkin tidak
kau sadari. Mungkin kau akan dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading
memasuki sebuah gapura yang dijaga oleh pengawal-pengawal yang
terlatih. Jika kau berhasil masuk, maka kau akan berhadapan dengan
pengawal-pengawal yang melindungi rumah itu, yang sudah barang tentu
bukannya orang kebanyakan.” “Terima kasih paman,“ sahut Jlitheng,
“aku akan melakukannya segala pesan paman.” “Kau masih juga harus
memperhatikan orang tua yang datang kebukit bersama anaknya itu.
Jangan terlalu percaya. Tetapi juga jangan terlampau mencurigainya.
Mungkin ia benar-benar orang yang menyingkir dari gempa, banjir dan
tanah longsor. Tetapi mungkin mereka adalah orang-orang yang juga
ingin mendekati Sepasang Bukit Mati.” Jlitheng memperhatikan segala
pesan pamannya itu dengan sungguh-sungguh. Sepeninggal gurunya, maka
Sri Panular adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Dalam
olah kanuragan juga dalam setiap usaha dalam tugas-tugas
kewajibannya. Ketika gelap sudah menyelubungi seluruh Kota Raja,
maka Jlithengpun mohon dir i kepada Sri Panular dan isterinya. Ia
harus kembali ke Lumban tanpa diketahui oleh siapa-pun. Apalagi oleh
Cempaka atau orang Sanggar Gading yang lain. Ketika ia meninggalkan
Kota Raja, maka kudanyapun dipacunya semakin cepat. Dilaluinya
padukuhan-padukuhan kecil dan besar dengan meninggalkan pertanyaan
pada orang- orang yang mendengar derap kaki kudanya. Bahkan kadang-
kadang Jlitheng benar-benar tidak dapat menghindari anak- anak muda
yang sedang berada di gardu-gardu. Tetapi kesan yang ditinggalkannya
adalah, bahwa ia adalah seseorang yang bepergian jauh dengan
tergesa-gesa. Agar tidak menimbulkan kesan yang mencur igakan,
Jlitheng kadang-kadang terpaksa menganggukkan kepalanya sambil
tertawa dihadapan gardu-gardu yang diterangi dengan obor, ditunggui
oleh beberapa orang yang sedang meronda. “Selamat malam,“ Jlitheng
mengucapkan salam kepada orang-orang yang memperhatikannya. “Siapa
?” seorang anak muda digardu bertanya kepada kawannya. Kawannya
menggeleng. Jawabnya, “Aku belum mengenalnya.” “Tetapi nampaknya ia
telah mengenal kami.” “Mungkin saja. Kami adalah pengawal-pengawal
yang banyak dikenal orang, tetapi kami belum tentu dapait
mengenalnya seorang demi seorang.” “Ah. Sombong benar anak ini,“
desis seorang yang duduk disudut, “kau baru menjadi pengawal
padukuhan kecil. Jika kau menjadi seorang Bupati, apa saja yang akan
kau katakan tentang dirimu ?” Kawan-kawannya tertawa. Anak muda itu
menjadi tegang sejenak. Tetapi iapun kemudian tertawa pula. Jlitheng
yang berpacu kembali ke Lumban itu telah mengambil jalan lain dari
jalan yang dilaluinya ketika ia berangkat ke Kota Raja. Namun iapun
harus sampai ke Lumban sebelum pagi. Disepanjang jalan Jlitheng
sudah mulai menganyam angan- angan. Bagaimana sebaiknya ia minta
diri kepada kawan- kawannya agar tidak memancing kecurigaan
Daruwerdi. Kepada Kiai Kanthi ia dapat mengatakan, bahwa ia akan
pergi untuk lima hari atau lebih dalam usahanya untuk mencar i jejak
orang yang dimaksud oleh Daruwerdi tanpa menyebut orang- orang
Sanggar Gading dan peristiwa yang ditemuinya diperjalanan, karena
seperti pesan Sri Panular, maka ia tidak boleh terlalu percaya
kepada orang yang kurang diketahuinya asal-usulnya itu. Tetapi kedua
orang yang mengaku ayah dan anak itu sudah terlanjur mengetahui
tentang dir inya. “Tetapi aku yakin, bahwa keduanya adalah orang
yang baik,“ berkata Jlitheng kepada dir i sendir i, “sayang anak
gadisnya masih terlalu lugu dan kurang mempertimbangkan sikapnya.
Agaknya ia benar-benar seorang gadis yang kurang bergaul selain
dengan ayahnya dan barangkali seorang dua orang tetangganya
ditempatnya yang lama. Meskipun demikian ia memiliki ilmu yang
ngedab-edabi.” Demikianlah, Jlitheng harus melakukannya seperti saat
ia berangkat. Ia harus singgah untuk menitipkan kudanya. Kemudian
iapun segera minta diri kepada saudagar yang sudah mengenalnya
dengan baik itu. “Aku menjadi bimbang,“ berkata saudagar itu, “ada
maksudku untuk menyusul anakmas ke Demak. Tetapi jangan- jangan kita
berselisih jalan. Karena itu aku lebih baik menunggu saja dirumah
sampai anakmas kembali ke Lumban.” “Aku harus segera berbuat sesuatu
paman,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku sudah menghubungi orang yang
aku percaya di Demak, yang dengan sepenuh hati bersedia membantu
membebaskan pusaka yang menjadi rebutan itu dari tangan orang-orang
yang tidak berhak.” Saudagar itu mengangguk-angguk. Namun dengan
ragu- ragu ia bertanya, “Apakah aku dapat mengetahui, siapakah orang
yang pantas untuk dihubungi di Demak itu ? Maksudku, apakah aku
boleh ikut campur secara langsung!” “Paman,“ berkata Jlitheng,
“sebenarnyalah aku tidak ingin melibatkan paman secara langsung
dalam persoalan ini. Bantuan paman sudah cukup banyak. Tetapi akupun
tidak berkeberatan jika paman mengetahui, siapakah orang yang aku
hubungi di Demak, karena orang itu adalah keluarga sendiri. Justru
orang yang bagiku seperti guruku sendir i.” Saudagar itu mengerutkan
keningnya. Ia juga mempunyai sangkut paut dalam hubungan jalur ilmu
kanuragan Karena itu, maka katanya, “Siapakah orang itu ?” “Paman
Sri Panular.” Saudagar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku
sudah mengira. Tetapi aku t idak dapat menyebutnya sebelum kau
mengatakannya. Tetapi agaknya orang itu adalah orang yang tepat. Kau
tentu tahu serba sedikit tentang perjalanan hidup Sri Panular,
ngger.” Jlitheng mengangguk-angguk. “Agaknya persoalanmu telah
menggelitik hatiku untuk ikut mencampur inya secara langsung. Tetapi
aku tidak akan berbuat apa-apa. Maksudku, jika kau memer lukan
bantuanku, aku tidak berkeberatan untuk melakukannya. Misalnya kau
memer lukan hubungan dengan kakang Sr i Panular, tetapi kau tidak
sempat pergi langsung kepadanya.” “Terima kasih paman. Sejauh ini
aku berharap, paman t idak dengan langsung terlibat, karena tugas
paman sehari-hari. Adalah agak sulit bagi paman untuk memisahkan
antara kewajiban paman dengan tugas-tugas yang sulit ini. Sebagai
seorang saudagar paman memerlukan hubungan seluas- luasnya. Mungkin
orang-orang yang berdiri berseberangan dalam hubungan dengan pusaka
itu, ternyata adalah orang- orang yang memerlukan sesuatu dari
paman.” “Jika aku mengetahuinya, maka hubungan itu akan dapat
dimanfaatkan sebaik-baiknya,“ jawab saudagar itu. Jlitheng menar ik
nafas dalam-dalam. Katanya, “Paman terlalu baik. Tetapi paman jangan
berkorban terlalu banyak. Bantuan paman telah cukup memberikan
landasan kerjaku disini.” Saudagar itu tersenyum. Katanya, “Apa yang
dapat aku lakukan, aku ingin melakukan lebih banyak lagi ngger.
Tetapi aku akan menjaga, bahwa aku justru tidak mengganggu
langkah-langkah yang sudah angger tentukan.” Jlithengpun tersenyum.
Meskipun ia berkata, “Bukan maksudku paman. Tetapi baiklah aku
mengucapkan banyak terima kasih.” Jlithengpun kemudian minta dari.
Seperti ketika datang, iapun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa.
Setelah menukarkan pakaiannya dan menyembunyikannya, maka dengan
tergesa-gesa pula Jlitheng kembali kerumahnya di Lumban Wetan.
Karena ketika ia datang, hari masih belum pagi, maka iapun langsung
pergi ke kandang dan berbaring diatas tumpukan jerami kering.
Sejenak kemudian, iapun telah tertidur. Betapa dinginnya malam,
namun diatas setumpuk jerami, rasa-rasanya badan Jlitheng telah
menjadi hangat. Ketika fajar menyingsing, Jlitheng terbangun oleh
suara senggot timba. Karena itu, sambil megusap matanya, iapun
bangkit dengan malasnya. “Biar aku yang mengisinya biyung,“ berkata
Jlitheng kepada ibunya yang sedang mengambil air. “He, kau sudah
datang?“ bertanya ibunya. Semalam aku turun. Aku tidak betah tidur
di bukit yang banyak nyamuknya itu,“ berkata Jlitheng. Sambil
menguap ia berjalan kesumur. Kemudian ia mulai menarik senggot timba
dan mengambil air untuk mengisi jambangan di dapur dan di pakiwan.
“Apakah pekerjaanmu di bukit itu sudah selesai,“ tiba-tiba saja
ibunya bertanya. “Belum biyung. Ternyata tidak secepat yang kami
duga. Karena itu maka kami putuskan untuk mengerjakannya disiang
hari saja. Dimalam hari, yang kami lakukan ternyata sangat sedikit.
Kecuali malam sangat dingin, nyamuknya banyak sekali, sehingga kami
hanya sempat saling berebut dekat dengan perapian tanpa berbuat
apa-apa.” “Aku tidak mengerti, apakah sebenarnya yang kalian lakukan
dibukit itu ? Membuat rumah buat seorang kakek dan anak gadisnya ?
Kenapa kalian begitu baik hati dengan bersusah payah melakukan kerja
ini ?“ bertanya Ibunya. “Biyung,“ berkata Jlitheng kemudian, “aku
adalah salah seorang yang pernah merasakan betapa seseorang merasa
dirinya dalam kurnia yang tiada taranya, apabila ia mendapatkan
kasih dar i sesamanya. Aku adalah salah satu dari banyak orang yang
memer lukan pertolongan. Biyung telah memberikan segala-galanya
kepadaku. Karena itulah rasa-rasanya akupun wajib berbuat demikian
sekarang, ketika aku sudah merasa hidup tenang.” “Ah,“ ibu Jlitheng
berdesah. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun sekilas
teringat olehnya, bagaimana anak muda itu datang kepadanya dalam
keadaan yang menyedihkan, sehingga ia menjadi belas kasihan
kepadanya. Menerimanya sebagai anaknya yang disebutnya telah pergi
sejak masa kanak-kanaknya. Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam,
ia berkeras mengatakan demikian meskipun ada beberapa orang yang
menjadi heran karenanya. Karena menurut ingatan mereka, perempuan
itu memang tidak mempunyai anak. “Sekitar duapuluh tahun yang lalu,“
berkata perempuan itu kepada tetangga-tetangganya yang meragukannya,
“aku sendiri sudah hampir lupa. Apalagi kalian.”
Tetangga-tetangganya tidak menghiraukannya lagi. Apalagi ternyata
kemudian bahwa Jlitheng bersikap baik dan segera dapat luluh dalam
pergaulan anak-anak muda di Lumban Wetan, sehingga kehadirannya
tidak menimbulkan persoalan apapun juga. Keragu-raguan
tetangga-tetangganyapun segera dapat dilupakannya dan Jlitheng
diterima dengan senang sebagai keluarga sendiri di Lumban Wetan.
Perempuan itupun kemudian meninggalkan Jlitheng dan masuk kedapur.
Pikirannya yang sederhana seperti juga orang-orang Lumban yang lain
tidak pernah menghubungkan kehadiran anak angkatnya itu dengan
segala macam persoalan yang tidak banyak diketahuinya didaerah itu.
justru dikampung halamannya. Perempuan itu tidak pernah mengetahui,
apakah yang terjadi didaerah yang oleh orang- orang lain disebut
Sepasang Bukit Mati itu. Perempuan itu tidak pernah mempersoalkan
dan mengingat-ingat lagi, apakah di daarah itu pernah dilalui
seorang Pangeran trah Majapahit langsung yang bernama Pangeran
Pracimasanti. Jlitheng yang kemudian melanjutkan mengambil air,
sempat juga bertanya kepada diri sendir i, “Apakah orang- orang
Lumban tidak ada yang pernah mendengar ceritera tentang Pangeran
Pracimasanti yang lewat didaerah Sepasang Bukit Mati, yang membawa
bekal cukup banyak dan kemudian tersimpan disekitar tempat ini.
Sekilas terbayang oleh Jlitheng, seorang anak muda yang lain yang
berada dipadukuhan itu pula. Dan J lithengpun bertanya pula kepada
dir i sendir i, “Apakah sebenarnya yang diketahui oleh Daruwerdi?
Apakah ia mengerti dengan pasti tentang pusaka itu atau ia juga
pernah mendengar tentang harta yang tersimpan dan hanya diketahui
oleh orang cacat, abdi Pangeran Pracimasanti yang setia itu?” Tetapi
Jlithengpun kemudian menyingkirkan masalah itu dari angan-angannya.
Desisnya, “Nanti sajalah, pada saatnya aku harus menyelidikinya.
Bukan sekedar menduga-duga.” Dengan demikian maka tangannyapun
menjadi semakin cepat menarik senggot timba sehingga suaranya
berderit semakin keras. Seperti biasanya maka Jlithengpun mengisi
segala jambangan dan persediaan air sampai penuh. Baru kemudian ia
kembali kekandang dan berbaring diatas setumpuk jerami kering.
Tetapi ia tidak dapat memejamkan matanya, karena hari menjadi
semakin terang. “Aku harus mempergunakan hari-har iku
sebaik-baiknya,“ berkata Jlitheng didalam hati, “sebelum sepuluh
hari, aku harus sudah berada di padepokan Sanggar Gading.” Anak muda
itu menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi kembali bukit gundul
membayang di angan-angannya. Kembali ia bertanya-tanya apakah yang
sebenarnya dicari Daruwerdi di bukit gundul itu ? Apakah ia sudah
pasti bahwa yang ditinggalkan oleh Pangeran Pracimasanti ada
dibulkiit gundul itu, pusaka dengan beberapa petunjuk mengenai
penyimpanan harta benda, atau justru harta bendanya sendiri memang
berada di bukit gundul itu. Atau bukit itu sekedar tempat yang baik
untuk bertemu dengan orang-orang yang membuat janj i dengannya.
Tiba-tiba saja Jlitheng bangkit. Ia ingin menemui kawan- kawannya
yang akan pergi ke bukit berhutan untuk membantu Kiai Kanthi
menyelesaikan gubugnya dan melihat apakah sudah waktunya ia menemui
Ki Buyut Lumban Wetan dan Ki Buyut Lumban Kulon. Salelah minta diri
kepada ibu angkatnya, maka Jlitheng-pun kemudian meninggalkan
rumahnya mencar i kawan-kawannya. Ternyata kawan-kawannya yang
dipesannya untuk bekerja terus meskipun ia tidak ada, telah
bersiap-siap untuk berangkat kebukit. “He, kau sudah datang,“
bertanya salah seorang kawannya. “Ya. Aku tergesa-gesa kembali
setelah aku mengetahui bahwa paman tidak apa-apa. Paman sehat-sehat
saja. Bahkan panen musim basah yang lalu melimpah-limpah.
Pategalannya juga menghasilkan jagung ber lipat dari panen yang
lalu.” “O,“ kawan-kawannya mengangguk, “sokur lah.” “Itulah agaknya
makna dari banjir sesuai dengan mimpi biyung,“ berkata Jlitheng
kemudian. “Banjir dalam arti yang baik,“ desis seorang kawannya.
Seperti biasanya, maka merekapun kemudian berangkat ke buikit
berhutan yang menjadi pasangan bukit gundul sehingga daerah itu
disebut Sepasang Bukit Mati. Dua bukit yang mati menurut pengertian
yang berbeda. Yang satu mati tanpa dapat ditanami dan dimanfaatkan
hasilnya sedangkan yang lain mati tanpa dapat dimanfaatkan untuk
apapun juga meskipun daerah itu berhutan lebat, karena dihutan itu
banyak didapat binatang-binatang buas dan binatang melata yang
berbisa. Tetapi orang tua dan anak gadisnya itu telah menembus batas
mati bukit berhutan itu. ia tidak mengindahkan peringatan beberapa
orang kepadanya, termasuk Daruwerdi. Bahkan kemudian Jlitheng sendir
i telah terseret pula naik keatas bukit itu bersama beberapa orang
kawannya. “Bukit yang sebuah ini telah mulai hidup,“ desis Jlitheng
didalam hatinya, “bahkan akan dapat menghidupi daerah sekitarnya.
Air yang tersimpan dibukit sudah akan mulai mengalir.” Ketika
kemudian mereka memanjat naik, Kiai Kanthi yang melihat Jlitheng
telah berada diantara kawan-kawannya itupun menyongsongnya sambil
berkata, “Kau t idak hadir sehari ngger. Bagaimana dengan pamanmu
yang menurut mimpi Ibumu rumahnya dilanda banjir itu ? Bukan
demikian ? Aku mengetahuinya dari kawan-kawanmu.” Jlitheng
tersenyum. Ia tahu bahwa Kiai Kanthi ingin menyesuaikan diri sesuai
dengan pengertian kawan-kawannya tentang kepergiannya. Karena itu,
maka kepada Kiai Kanthi pun ia menjawab seperti jawabannya yang
diberikan kepada kawan-kawannya. “Sokur lah,“ berkata Kiai Kanthi,
“dengan demikian maka kita akan dapat segera menemui Ki Buyut dan
menyerahkan air itu kepada mereka berdua. Ki Buyut Lumban Kulon dan
Ki Buyut Lumban Wetan.” Jlitheng mengangguk-angguk. Iapun ingin
segera menyelesaikan pekerjaan itu, dan kemudian meninggalkan Lumban
untuk beberapa lamanya masuk kedalam sarang orang-orang Sanggar
Gading. Karena itu, maka katanya, “Kita harus menyiapkan segalanya.
Jika saatnya datang, maka air yang mengalir kesungai itu akan kita
buka sesuai dengan kemungkinan yang pertimbangan kita
sebanyak-banyaknya yang mungkin dapat disalurkan agar tidak
menganggu kemungkinan-kemungkinan lain. Kemudian, kita harus sudah
dapat menyerahkan gubug kecil itu kepada Kiai Kanthi yang akan
membuka sebidang tanah garapan dibawah bukit, yang akan diairi air
dari belakang itu juga.” “Aku tidak terlalu banyak memerlukan air
itu, “sahut Kiai Kanthli, lalu, “meskipun mungkin akan berkembang,
sesuai dengan perkembangan padepokanku.” “Ya,“ jawab Jlitheng,
“namun semuanya sudah jelas. Tanah garapan Kiai Kanthipun sudah
jelas, seperti pathok-pathok yang telah kita pasang. Demikian pula
saluran air bagi tanah garapan yang tidak begitu luas dibawah bukit
itu.” “Dengan demikian, maka kapankah sebaiknya kita akan menghadap
Ki Buyut. Mula-mula Ki Buyut Lumban Wetan kemudian Ki Buyut Lumban
Kulon,“ bertanya anak-anak muda yang ikut bersama Jlitheng ke bukit
itu. “Kita segera menghadap. Dengan demikian, kita akan segera dapat
memanfaatkan air,“ desis Jlitheng. Kiai Kanthi hanya
mengangguk-angguk saja. “Gubug itu sudah siap,“ berkata seorang anak
muda. “kita tinggal mengetrapkan pintunya. Malam nanti, jika
dikehendaki, Kiai Kanthi sudah dapat tidur didalam gubugnya meskipun
belumada perabotnya sama sekali.” Kiai Kanthi tertawa. Katanya, “Aku
tidak tergesa-gesa ngger.” “Tetapi j ika gubug itu memang sudah
selesai, bukankah lebih baik Kiai mempergunakannya?” bestanya
Jlitheng. “Ya. ya. Aku akan mempergunakannya.” “Disaat lain, jika Ki
Buyut Lumban Wetan dan Lumban Kulon sudah dapat mengenyam hasil air
yang akan segera menyusuri parit persawahan padukuhan Lumban. maka
ia tidak akan keberatan untuk membantu membuat sebuah padepokan
kecil di kaki bukit ini,“ berkata Jlitheng kemudian, “menurut
pendengaranku, bukankah Kiai tidak bersedia tinggal bersama kami
dipadukuhan ?” “Bukan maksudku ngger. Tetapi aku ingin tidak
mengganggu padukuhan yang sudah mapan itu dengan persoalan-persoalan
baru. Biarlah aku membuat sebuah padepokan kecil yang terpisah
meskipun dalam tata kehidupan aku merupakan bagian dari Lumban.”
“Tetapi bukankah maksud Kiai, meskipun padepokan Kiai merupakan
bagian dari Lumban, namun bukan Lumban Wetan dan bukan Lumban
Kulon,“ desis Jlitheng. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian liapun tersenyum. Katanya, “Bagi Ki Buyut di Lumban Wetan
dan Ki Buyut di Lumban Kulon, aku tidak akan ada artinya.” Jlitheng
mengerutkan keningnya. Meskipun t idak terucapkan, tetapi Kiai
Kanthi seolah-olah melihat gerak hati Jlitheng “Bukankah Kiai ingin
berdiri tanpa kewajiban tertentu kepada Ki Buyut sebagai setiap
orang di Lumban ?” Tetapi Kiai Kanthi t idak berkata apapun tentang
tanggapannya itu. Karena Jlitheng tidak mengatakan apa-apa lagi.
maka Kiai Kanthipun kemudian terdiam. Dalam pada itu, anak-anak muda
yang ikut serta bersama Jlitheng naik kebukit itu sudah mulai
mengerjakan pintu gubug Kiai Kanthi, sementara dua orang diantara
mereka telah memanjat dinding untuk memasang tutup keyong. “Kalian
harus mengikat tutup keyong itu erat-erat,“ berkata Jlitheng, “sudah
sering terjadi, seekor macan kumbang masuk kedalam rumah seseorang
atau kedalam kandang, lewat tutup keyong.” “Kami membuatnya dengan
anyaman khusus dan kami mengikatnya dengan ijuk rangkap,“ sahut
kawannya yang sedang memanjat. Jlitheng mengangguk-angguk ia memang
melihat anyaman tutup keyong itu cukup kuat. Beberapa buah bambu
menyilang terkait pada rusuk atap yang terbuat dari anyaman ilalang.
Dalam pada itu, maka Jlithengpun berkata kepada kawan- kawannya,
“Selesaikan gubug itu. Trapkan pintu. Kalian harus memperkuat
uger-ugernya dengan tali-tali ijuk rangkap, seperti tali pengikat
tutup keyong. Aku dan Kiai Kantihi akan menyelusur i air.
Mudah-mudahan sawah kalian akan cepat menjadi basah dimusim
kemarau.” Demikianlah bersama Kiai Kanthi, Jlithengpun pergi
memanjat tebing menuju kebelumbang yang masih saja meluap. Sambil
berbincang mereka menilai, betapa tingginya nilai kerja yang sedang
mereka lakukan. “Tetapi Kiai,“ berkata Jlitheng kemudian, “dalam
waktu dekat aku akan meninggalkan Lumban untuk waktu yang agak
panjang.” “Kemana?“ bertanya Kiai Kanthi. Sekilas terngiang pesan Sr
i Panular, agar ia tidak terlalu terbuka terhadap siapapun juga.
Demikian pula terhadap kedua orang perantau yang tinggal dibukit
itu. Karena itu, maka katanya, “Aku masih harus melakukan berbagai
macam tugas. Meskipun aku tidak jelas, tugas apa yang akan
dibebankan kepadaku. Tetapi pada suatu saat aku akan kembali lagi
kepadukuhan ini. Sementara sebelum aku pergi maka parit, gubug dan
rencana padepokan Kiai harus sudah menjadi masak, agar aku dapat
ikut membayangkan masa depan yang baik bagi Kiai dan anak perempuan
Kiai yang garang itu.” “Ah,“ desis Kiai Kanthi, “tentu tugas itu
tugas yang penting. Lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. Meskipun
aku dan anakku bukanlah seseorang yang memiliki harga sama sekali,
tetapi jika Kami harus membantumu, kami akan berbuat apa saja sesuai
dengan keadaan dan kemampuan kami.” Jlitheng mengangguk-angguk.
Katanya, “Terima kasih Kiai. Memang mungkin aku memer lukan bantuan
seseorang. Tetapi sebelum aku tahu pasti, apa yang akan aku lakukan,
maka aku tidak dapat berbuat sesuatu.” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa
yang akan dilakukan oleh Jlitheng tidak perlu diketahuinya. Dalam
pada itu keduanyapun pergi kebelumbang yang airnya melimpah dan
seolah-olah hilang dibawah tanah lewat luweng dan
terowongan-terowongan air. Ketika mereka melalui tempat yang
dipergunakan oleh Kiai Kanthi untuk sementara tinggal dibawah
pepohonan dan anyaman ketepe yang disangkutkan pada dahan-dahan
kayu, mereka melihat Swasti sedang sibuk dengan perapiannya. Swasti
berpaling ketika ia mendengar langkah mendekat. Dilihatnya ayahnya
dan Jlitheng berjalan menuju kebelumbang. “Kami akan membuka air,“
berkata Kiai Kanthi. Swasti menar ik nafas dalam-dalam katanya.
Kemudian, “Dan orang-orang Lumbanlah yang pertama-tama akan
menikmatinya.” “Tidak,“ berkata Kiai Kanthi. Lalu, “Kita.” “Kenapa
kita ? Kita belum mulai membuka sawah dan ladang dibawah bukit.”
“Tetapi kita sekarang sudah mempunyai tempat tinggal. Rumah itu
sudah dapat kita diami sejak hari ini. He apakah rumah itu bukan
hasil dari melimpahnya air ini. meskipun tidak secara langsung ?”
Swasti termangu-mangu, sementara ayahnya tertawa sambil berkata,
“Kita akan merayakan hari yang berbahagia ini. Kita akan pindah
kerumah kita yang baru.” Swasti mengerutkan keningnya. Namun ia
tidak menjawab. Ia kemudian memalingkan wajahnya ketika ia melihat
Jlithengpun tertawa pula. Swasti tidak bertanya lagi. Ia kembali
sibuk dengan kerjanya, sementara Kiai Kanthi dan Jlitheng memanjat
mendekati blumbang yang menyimpan air cukup banyak itu. Sejenak Kiai
Kanthi dan Jlitheng memperhitungkan setiap kemungkinan. Air
belumbang itu melimpah lewat beberapa jalur dari tanggul belumbang
yang telah dibuat oleh alam. “Kita ambil beberapa arah saja Kiai,
karena seperti Kiai katakan sebelumnya, bahwa kita akan dapat
menutup air itu seluruhnya, sehingga kemungkinan yang buruk akan
terjadi atas padukuhan yang meskipun terletak agak jauh dari bukit
ini, tetapi mempergunakan air dari sumber dibelumbang ini, yang
mengalir dibawah tanah, dan muncul kepermukaan sebagai sumber mata
air,“ bertata Jlitheng kemudian. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia
mulai member ikan beberapa tanda pada jalur air yang meluap pada
tanggul belumbang itu. Sebagian dari luapan air itu akan disalurkan
lewat jalur-jalur padas dilereng bukit itu, yang sebelumnya telah
digarapnya bersama Jlitheng. “Kita akan mengundang Ki Buyut dari
Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kita dengan beberapa anak muda itu,
akan membuka jalur itu dengan disaksikan oleh Ki Buyut di Lumban
Kulon dan Lumban Wetan,“ berkata Jlitheng. “Ah,“ desis Kiai Kanthi,
“apakah itu perlu ? Kita buka saja air itu sekarang. Nanti kau pergi
kepada Ki Buyut untuk melaporkan, bahwa air sudah mengalir kesungai.
Besok Ki Buyut dapat mengerahkan beberapa puluh orang Lumban Wetan
dan Lumban Kulon untuk menyempurnakan bendungan sungai itu, dan
menaikkan airnya kedalam parit. Tetapi hanya dimusim hujan, tetapi
juga dimusim kemarau, meskipun sudah barang tentu tidak aklan
mencukupi segala kebutuhan. Tetapi air itu akan dapat membantu untuk
keperluan yang memakai.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia
sudah menduga, bahwa Kiai Kanthi tentu tidak ingin mempergunakan
segala macam upacara yang hanya akan nampak dalam gelar, tetapi
tidak mempengaruhi isi yang sebenarnya dari peristiwa itu. Bahkan
dengan segala macam upacara, orang tua itu justru akan menjadi
bingung. Apalagi j ika ada diantara mereka yang ingin singgah dan
melihat-lihat gubugnya yang dibuat oleh anak-anak muda dar i Lumban
itu. Karena itu, maka Jlithengpun berkata, “Baiklah Kiai. Jika
demikian, nanti aku akan datang kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan
Lumban Kulon untuk mengatakan, bahwa besok pagi kita akan mulai
membuka jalur air yang akan mengalir kesungai kecil itu. Biarlah Ki
Buyut Lumban Wetan berdiri disebelah Timur sungai, sementara Ki
Buyut di Lumban Kulon akan berdir i di sebelah Barat sungai pada
tempat yang berhadapan, didekat air itu akan dinaikkan kedalam
parit. Biarlah mereka menyaksikan air itu mulai mengalir. Dan
biarlah mereka dengan penuh harapan memerintahkan untuk
menyempurnakan bendungan agar air dapat segera naik.” Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Lalu iapun mengangguk-angguk sambil berkata,
“Ya. Biarlah mereka menunggu disebelah menyebelah sungai. Mereka
akan bergembira melihat ujung air itu mengailir dimusim ker ing. Air
sungai yang hampir kering itu akan bertambah besar dan dengan
bendungan, air itu akan naik kedalam parit.“ Namun kemudian suara
Kiai Kanthi menurun, “Mudah-mudahan air itu tidak justru menumbuhkan
persoalan bagi Lumban Wetan dan Lumban Kulon.” Jlitheng
mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Kiai. Tetapi sampai hari
ini kita semuanya dapat melihat, bahwa kedua Buyut yang sebenarnya
adalah saudara kembar itu dapat menyesuaikan diri masing-masing
dengan damai dan tenang. Tetapi entahlah. Apakah anak-anak mereka
akan dapat juga berbuat demikian.” “Mereka mempunyai anak laki-laki
yang menurut katamu, agak berbeda sifat dan pembawaannya,“ berkata
Kiai Kanthi. “Ya. Tetapi mudah-mudahan mereka dapat melihat
kepentingan orang-orang Lumban lebih dari kepentingan mereka
masing-masing.” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara Jlitheng
berkata, “Tetapi itu bukan berarti kita harus tidak berbuat sesuatu
bagi orang-orang Lumban dan bagi Kiai sendir i. Setelah gubug itu
selesai, kita akan membuka hutan perdu dibawah bukit. Tidak begitu
sulit. Kita akan membuat pematang, membajak dan kemudian mengairi
tanah yang segera dapat Kiai tanami. Kami, orang-orang Lumban tentu
akan dengan senang hati memberikan benih kepada Kiai, karena Kiaipun
telah member ikan air kepada kami, orang- orang Lumban.” “Siapakah
yang memberikan air ?“ bertanya Kiai Kanthi. “Kiai, Kiai Kanthi.
Sebelumnya tidak ada satu usaha sama sekali untuk memanfaatkan air.
Bahkan bukit ini dan bukit gundul sebelah disebut dengan Sepasang
Bukit Mati.” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
katanya, “Tetapi angger harus menentukan, kapan angger akan pergi
kepada Ki Buyut di Lumban Wetan dan Kulon itu. Kemudian kita akan
menentukan hari yang akan membuka kemungkinan baru bagi tanah
persawahan di Lumban. Setidak-tidaknya sebagian dar i Lumban.”
“Nanti aku akan menghadap Ki Buyut, Kiai. Aku akan mohon kesempatan
kepada keduanya untuk dapat hadir dipinggir sungai. Kita akan
memecah batu-batu padas yang merupakan tanggul alam belumbang itu
pada tempat yang sudah Kiai tandai. Air akan mengalir cukup deras,
sementara bagian yang lain masih akan tetap mengalir menembus
kebawah tanah untuk tempat yang jauh.” “Terserahlah kepada angger.
Aku akan menunggu, kapan hal itu akan kita lakukan.” “Baiklah Kiai.
Jika patok-patok itu sudah selesai, dan semua tanda sudah cukup,
sebaiknya aku turun saja dan pergi kepada Ki Buyut,“ berkata
Jlitheng kemudian, lalu, “sementara itu biarlah, kawan-kawan
menyelesaikan gubug itu. Malam nanti Kiai akan dapat menempatinya.”
“Kawan-kawan angger akan menjadi heran. Tiba-tiba saja kau menjadi
seorang yang dengan berani hilir mudik seorang diri melalu hutan
dibukit Mati ini.” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Mereka tidak akan berpikir sampai sejauh itu. Kita berdua juga
menjadi orang-orang berani. Bahkan Swasti tidak mereka persoalkan,
karena menurut mereka Swasti pandai memanjat. Aku-pun pandai
memanjat j ika seekor harimau merundukku.” Kiai Kanthi tersenyum.
Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah ngger.
Agaknya semuanya sudah siap. Semakin cepat hal itu dilakukan akan
menjadi semakin baik. Juga bagiku, karena aku akan segera berani
membuka tanah garapan dibawah bukit ini setelah orang-orang Lumban
Wetan dan Kulon menganggap, aku telah berbuat sesuatu bagi padukuhan
mereka.” Dalam pada itu, maka Jlithengpun segera minta dir i. Ketika
ia lewat disebelah perapian Swasti, ia berhenti sejenak sambil
bertanya, “Apa yang sudah masak Swasti ?” Swasti mengerutkan
keningnya. Jawabnya acuh tak acuh, “Air.” Jlitheng mengerutkan
keningnya. Swasti memang t idak begitu ramah terhadapnya. Tetapi
menurut dugaan Jlitheng dan penglihatannya selama ia bersama
beberapa anak muda ikut serta membantu Kiai Kanthi membuat gubug,
Swasti memang tidak terlalu ramah terhadap orang lain. “Ia sangat
sedikit bergaul dengan orang lain. Siang malam ia sibuk dengan
ayahnya yang sudah tua, yang agaknya dengan bersungguh-sungguh ingin
mmurunkan ilmunya kepada anak gadisnya, yang barangkali karena
justru tidak ada orang lain yang dapat diambil menjadi mur idnya,“
berkata Jlitheng didalamhatinya. “Terima kasih Swasti,“ berkata
Jlitheng kemudian, “sebenarnya aku juga sudah haus. Air jambu
keluthuk yang direbus dengan gula kelapa dan sepotong daun sere itu
memang segar sekali. Tetapi biarlah nanti saja aku datang lagi untuk
minum bersama-sama dengan kawan-kawan.” Tetapi Swasti t idak
berpaling. Ia masih sibuk dengan kerjanya. Merebus setandan pisang
yang didapatkannya pada serumpun pisang liar yang tumbuh dilereng
bukit itu. Swasti tidak sabar menunggu pisang itu masak. Apalagi, ia
akan menjadi kehilangan, karena ia harus berebut dengan beberapa
ekor kera. Karena itu, ia lebih senang mengambil pisang itu sebelum
masak benar menyimpannya satu dua hari dan merebusnya. Jlithengpun
kemudian berlari turun tebing menemui kawan- kawannya, sementara
Kiai Kanthi telah singgah pula melihat- lihat Swasti yang sedang
sibuk. Kepada kawan-kawannya Jlitheng minta dir i, untuk menghadap
Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. “Sekarang?“ bertanya
seorang kawannya. “Ya, sekarang,“ jawab Jlitheng “Sendir i ?” yang
lain bertanya. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Keheranan
diantara kawannya memang ada. Namun Jlitheng menjawab, “Ya sendiri.
Kenapa?” “Jika kau bertemu dengan seekor harimau, apakah kau dapat
melawanya seorang diri ?” bertanya yang lain pula. “Aku pandai
memanjat. Harimau tidak akan dapat memanjat. Apalagi disiang hari
jarang sekali ada harimau yang berkeliaran.” “Mungkin sekali kau
bertemu dengan seekor harimau.” “Jika tidak terpaksa karena
kelaparan, harimau tidak akan berbuat apa-apa,“ jawab Jlitheng.
Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Dibiarkannya saja Jlitheng
kemudian menuruni tebing pergi menghadap Ki Buyut di Lumban Wetan
dan Ki Buyut di Lumban Kulon. Kedatangan Jlitheng kepada Ki Buyut di
kedua bagian dari padukuhan Lumban itu telah disambut dengan baik.
Ternyata kedua orang itu dapat mengerti penjelasan Jlitheng tentang
manfaat air yang akan mengalir untuk sementara langsung turun
kesungai dan kemudian harus diangkat lagi kedalam parit. “Tetapi
kaulah yang bertanggung jawab Jlitheng,“ berkata Ki Buyut di Lumban
Wetan, “jika penunggu bukit itu marah, kau harus dapat menjelaskan
kepada mereka. Dengan demikian mereka tidak akan mengganggu
orang-orang Lumban dengan pegebluk misalnya.” “Aku sudah berbicara
dengan mereka lantaran orang tua yang datang bersama anak gadisnya
itu Ki Buyut. Nampaknya orang tua itu sudah mendapat persetujuan.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika memang tidak ada
bahayanya, air itu akan sangat bermanfaat bagi kami.” “Tentu Ki
Buyut. Air itu sangat berguna bagi Lumban.” Sementara Jlitheng
menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon, maka masalah yang dikemukakan
oleh Ki Buyut itupun hampir sama. Jika orang-orang halus yang
menghuni Bukit Mati itu memperkenankan, maka Lumban t inggal mener
ima saja sebagai suatu anugerah. “Anugerah dari Yang Maha Agung, Ki
Buyut,“ berkata Jlitheng. Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun
iapun mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya. Dari Yang Maha Agung.
Tetapi bagaimana dengan penghuni Bukit Mati itu ?” “Kuasanya tidak
menyamai bahkan mendekatipun tidak dari Yang Maha Agung itu,“ jawab
Jlitheng. Ki Buyut di Lumban Kulon itu termangu-mangu. Namun
kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Demikianlah.”
Jlithengpun kemudian minta dir i setelah segala sesuatunya
disetujui. Jlitheng telah berbicara tentang hari, tentang tempat
dimana kedua Buyut itu akan berdiri berhadapan diseberang
menyeberang sungai. Kemudian mereka akan menyaksikan air yang akan
mengalir dibawah kaki mereka. Dan Jlithengpun telah berbicara
tentang cara mengangkat air sehingga air itu dapat mengalir ke
bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Setelah semua
pembicaraan selesai dan ditemukan kesepakatan waktu, maka
Jlithengpun dengan tergesa-gesa kembali ke Bukit bermata air itu.
Tetapi langkahnya tertegun diujung padukuhan Lumban Kulon ketika ia
bertemu dengan Daruwerdi. Dengan sungguh- sungguh Daruwerdi bertanya
kepadanya, “Apa keperluanmu menghadap Ki Buyut, Jlitheng ?” Jlitheng
tidak menyembunyikan persoalan yang dibawanya. Ia mengatakan tentang
air dan tentang kedua orang Buyut yang telah bersedia datang
kepinggir sungai. “Kau gila,“ geram Daruwerdi. “Kenapa ?“ bertanya
Jlitheng, “bukankah air itu akan bermanfaat.” “Kau kira orang tua
itu tidak mempunyai pamrih apapun juga? Aku justru mulai cur iga
bahwa pada suatu saat kedua orang itu akan berbuat sesuatu yang
dapat merugikan Lumban Kulon dan Lumban Wetan,“ berkata Daruwerdi.
“Aku kira tidak Daruwerdi,“ jawab Jlitheng, “tetapi bahwa ia memang
mempunyai pamr ih itu sudah dikatakannya. Ia mohon kepada Ki Buyut
di Lumban Wetan dan Lumban Kulon untuk dapat membuat sebuah daerah
garapan dibawah bukit itu. Kemudian membuat rumah yang lebih baik
dari rumah gubugnya yang sekarang. Dan akan lahirlah sebuah
padepokan dibawah bukit itu.” “Dan kalian akan diperbudaknya.
Membuat padepokan tanpa mendapat keuntungan apapun juga,“ desis
Daruwerdi. “Keunitungan itu telah kami dapatkan lebih dahulu. Air.”
“Tetapi air itu bukan mlik orang tua itu. Tanpa orang tua itupun
kita dapat memanfaatkan air dibukit yang lebat itu.” “Tetapi sampai
saat terakhir kita tidak berbuat apa-apa. Kedatangan orang tua
itulah yang telah mendorong kami untuk melakukannya. Mengendalikan
air yang melimpah itu. Kedua orang Buyut itupun dapat menerimanya
meskipun mula-mula mereka agak cemas juga tentang orang-orang halus
yang menunggui bukit itu.” “Persetan dengan dua orang Buyut tua
itu.“ Daruwerdi menggeram pula. Namun kemudian, “Dan kau akan
menompang pada keberhasilan orang tua itu menguasai air. Kau akan
berdiri diatas semua orang, terutama anak-anak mudanya dengan
menepuk dada. Seolah-olah kau ikut menentukan, mengendalikan air
bagi bulak-bulak di Lumban Wetan dan Lumban Kulan.” “Ah,“ desah
Jlitheng, “aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya perantara yang lari
kian kemari dalam hubungan ini. Tetapi dengan itupun aku sudah cukup
bangga akan dir iku.” “Pantas sekali,“ sahut Daruwerdi dalam nada
datar, “kau memang tidak lebih dari budak kecil yang tidak mempunyai
arti. Tetapi nikmatilah kebanggaanmu itu sepuas-puasnya. Anak-anak
muda di Lumban Kulon dan Lumban Wetan pada saatnya akan dapat
menilai, siapakah yang lebih penting bagi mereka. Kau atau aku.”
“Aku atau kau ?” Jlitheng menjadi heran, “aku tidak mengerti. Apakah
hubungan hal ini dengan aku dan kau ?” “Kau memang dungu. Sengaja
atau tidak sengaja kau telah berbuat sesuatu yang bodoh. Tetapi
karena kebodohanmu itulah aku dapat memaafkannya sehingga aku tidak
menantangmu berkelahi.” “Berkelahi ? Mana mungkin,“ desis Jlitheng
dengan suara gemetar. “Ya kau memang bodoh sekali. Pada saat seperti
sekarang, dimana aku memerlukan pemusatan pikiran terhadap sesuatu
kewajiban yang penting, kau teluh menar ik perhatian orang- orang
Lumban dengan tingkahmu yang aneh-aneh itu. Kau telah menarik
perhatian mereka dengan air.” “Aku tidak sengaja berbuat sesuatu
yang menyakiti hatimu.” “Aku tidak sakit hati. Tetapi aku muak
melihat tingkah lakumu. Jika kau seorang yang memiliki ilmu, maka
aku tantang kau berperang tanding. Tetapi dengan kedunguanmu itu,
hal itu tidak mungkin aku lakukan. Karena orang-orang akan
mengatakan bahwa aku telah berbuat sewenang- wenang, karena dengan
sangat mudah aku akan membunuhmu.” “Tetapi, tetapi aku tidak berbuat
apa-apa yang dapat mengganggumu,“ suara Jlitheng menjadi semakin
gemetar. “Pergilah kelinci dungu. Tetapi jika kau masih tetap dungu,
kau akan menyesal bahwa air sungai yang mengali semakin deras karena
menampung luapan air belumbang dar i bukit itu akan menyeretmu
hanyut sampai kekedung yang dihuni oleh buaya yang buas.” “Tetapi,
tetapi aku tidak bersalah,“ Jlitheng menjadi ketakutan. “Pergi.
Pergi. Tetapi hati-hati. Jangan menjadi sombong dan merasa dirimu
orang yang paling berguna di Lumban Kulon dan Lumban Wetan karena
tingkah orang tua itu.” Jlitheng tidak menjawab lagi. Tetapi dengan
tergesa-gesa iapun melangkah meninggalkan Daruwerdi yang berdiri
bertolak pinggang. Namun Daruwerdi t idak melihat, bahwa Jlithengpun
kemudian menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Jika perlu,
kaupun harus dipaksa untuk mengerti tentang kebutuhan orang-orang
Lumban.” Namun Jlitheng tidak berpaling. Ia berjalan terus menuju
kebukit berhutan lebat itu. Langkahnya semakin lama menjadi semakin
cepat. Bahkan kemudian ia ber lari sekencang angin semilir di lembah
yang akan segera menjadi basah. Ketika Jlitheng sampai kepada
kawan-kawannya diatas bukit, mereka sudah mengumpulkan alat-alat
mereka. Kerja mereka telah selesai. Pintu telah terpasang, dan tutup
keyongpun telah melekat diujung sebelah njenyebelah dengan
ikatan-ikatan yang kuat. “Sudah selesai,“ desis Jlitheng sambi
tersenyum. Kiai Kanthipun tersenyum pula. Katanya, “Nanti malam aku
sudah dapat tidur di dalam gubugku yang hangat. Menyenangkan sekali
ngger. Aku mengucapkan beribu terima kasih.” Jlitheng dan
kawan-kawannyapun merasa senang pula karena mereka telah berhasil
menyelesaikan kerja mereka. Gubug itu benar-benar telah berujud,
meskipun sederhana sekali dengan kayu yang mereka dapat disekitar
tempat itu. “Tetapi belum ada perabotnya sama sekali Kiai,“ berkata
Jlitheng kemudian. “Mudah sekali ngger. Aku dapat membuatnya dengan
kayu dan bambu-bambu liar dilereng.” “Kami masih akan tetap
membantu, Kiai,“ jawab Jlitheng, “tetapi kitapun harus mempersiapkan
saat-saat kita mengalirkan air kesungai dengan disaksikan oleh Ki
Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu pula.” Jlitheng pun
kemudian mencer iterakan hasil pertemuannya dengan Ki Buyut dikedua
bagian dar i Lumban itu. Mereka telah bersetuju untuk datang
kepinggir sungai pada saat yang ditentukan, disebelah menyebelah
untuk menyaksikan air yang akan mengalir disungai itu. Kiai Kanthi
menarik nafas dalam-dalam. Iapun tidak ingkar, bahwa hal itu akan
dapat memberikan kesempatan kepadanya untuk mendapat tempat di
daerah Lumban Wetan dan Lumban Kulon. “Aku memang mempunyai pamrih,
selain aku akan ikut berbahagia melihat sawah yang hijau disegala
musim didaerah Lumban ini,“ berkata Kiai Kanthi kemudian. Sekali
lagi Jlitheng dan kawan-kawannya membuat rencana apa yang akan
mereka kerjakan. Pada hari yang sudah ditentukan mereka akan membawa
alat-alat khusus untuk memecah batu-batu padas pada bibir belumbang.
Linggis dan dandang, selain cangkul dan parang. Setelah tidak ada
lagi yang perlu diperbincangkan, maka Jlitheng dan kawan-kawannyapun
segera minta diri. Besok mereka tidak akan datang lagi. Tetapi
mereka akan datang pada saat yang ditentukan untuk membuka air
belumbang itu. “Aku mengucapkan beribu terima kasih ngger, bahwa
dengan demikian kami akan dapat tinggal disebuah gubug yang dapat
melindungi kami dari dinginnya malam. Apalagi jika musim hujan
datang, maka gubug ini akan sangat berguna bagi kami!” “Kiai akan
menempatinya untuk satu musim menjelang musim berikutnya.
Mudah-mudahan tanah garapan dibawah bukit ini segera akan dapat
dibuka. Bukankah dengan demikian, padepokan kecil yang barangkali
Kiai inginkan itu dapat dimulai pembuatannya pula ? Padepokan kecil
yang akan berada dibawah bukit yang basah,“ berkata Jlitheng, “tentu
akan sangat menyenangkan.” Kiai Kanthi tertawa. Jawabnya, “Sebuah
mimpi yang indah. Tetapi sebelumnya aku mengucapkan banyak terima
kasih atas segala bantuan kalian.” Jlitheng dan kawan-kawannyapun
kemudian meninggalkan tempat itu. Mereka sibuk membicarakan
saat-saat untuk membuka tanggul belumbang itu, sehingga airnya akan
melimpah mengalir lewat jalur yang sudah dipersiapkan masuk
kedalamsungai. “Ki Buyut dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan tentu
akan senang sekali melihat sebagian dari sawah yang gersang dan
kering dimusim kemarau itu akan menjadi hijau disegala musim.”
Demikianlah, maka hari-har i yang ditentukan itu selalu membayang
diangan-angan anak-anak muda yang merasa dirinya ikut mengambil
bagian pada kerja yang akan sangat besar artinya bagi orang-orang
Lumban itu. Namun dalam pada itu, Jlitheng sendiri telah disibukkan
dengan saat-saat yang menegangkan. Dengan waktu yang sangat sempit
itu ia berusaha meningkatkan kemampuannya. Ia sudah bertekad untuk
benar-benar memasuki sarang serigala yang garang. Sanggar Gading.
Dimalam hari, Jlitheng masih harus menampakkan diri barang sejenak
digardu bersama kawan-kawannya. Namun kemudian dengan berbagali
alasan, ia minta dir i. Ia mengatakan bahwa kesehatannya sangat
buruk, sehingga ia harus tidur dirumah. Namun dalam pada itu,
malam-malam yang gelap itu telah dipergunakannya sebaik-baiknya.
Tetapi Jlitheng sama sekali tidak mendekati bukit gundul, karena ia
tahu, Daruwerdi sering pergi kebukit itu. Dalam kelamnya malam,
Jlitheng lebih senang pergi ke sungai yang hampir kering. Ditikungan
sungai yang r imbun oleh pepohonan, dengan beberapa buah batu besar,
ia menemukan tempat untuk berlatih. Mula-mula Jlitheng hanya
mengulang unsur-unsur gerak yang sudah dikuasainya. Ia bergerak
dengan wajar untuk menghangatkan tubuhnya. Namun kemudian semakin
lama menjadi semakin cepat, sehingga akhirnya Jlitheng mulai dengan
tekanan-tekanan yang berat pada unsur-unsur gerak tertentu. Jlitheng
berusaha untuk meningkatkan kecepatan tangan dan kakinya. Karena
pada saat-saat terakhir ia memang jarang sekali mempergunakan
kesempatan khusus untuk meningkatkan ilmunya. Dengan sungguh-sungguh
Jlitheng bukan saja melakukan gerakan-gerakan yang cepat dan kuat,
tetapi ia menilai pula, apakah ada diantara unsur-unsur geraknya
yang masih mungkin disempurnakan menurut kemampuannya. Pada tingkat
terakhir Jlitheng bergerak bagaikan burung sikatan. Meloncat-loncat
dari batu kebatu dengan gerak yang mantap. Kadang-kadang Jlitheng
melenting tinggi namun kadang-kadang bagaikan bergeser saja tampi
menggerakkan kakinya. Tetapi geseran itu telah mendorongnya
melangkah batas antara batu yang satu dengan batu yang lain. Tetapi
latihan-latihan itu tidak memberikan kepuasan kepada Jlitheng. Ia
hanya dapat mengungkapkan unsur-unsur gerak dasar yang sudah
dikuasainya. Namun dalam keadaan yang sebenarnya, ia harus
menyesuaikan diri dengan gerak lawan dan kepentingan saat
didalamarena yang sebenarnya. Meskipun demikian, latihan-latihan itu
akan dapat member ikan kemungkinan yang lebih baik bagi kecepatannya
bergerak dan kekuatan tenaganya. Dengan mengingat pesan yang
diberikan oleh Sri Panular, maka Jlithengpun telah bekerja dengan
sungguh-sungguh. Namun dalam pada itu, selagi ia tenggelam dalam
latihan- latihan kecepatan geraknya, tiba-tiba saja terasa sesuatu
telah menyentuh tubuhnya. Tidak hanya satu kali, tetapi dua tiga
kali. Sehingga akhirnya Jlitheng justru telah menghentikan
latihannya. Sambil berdir i tegak diatas sebuah batu yang besar, ia
memperhatikan keadaan disekelilingnya ia mencoba mendengar atau
melihat setiap lembar daun. Namun keburaman malam masih tetap
membatasi pandangan matanya yang tajam. -oooOooo—
Jilid 06 UNTUK beberapa saat lamanya Jlitheng berdir i diam.
Dengan segenap kemampuan inderanya ia mencoba mengetahui, apakah
yang ada disekelilingnya. Tetapi ia tidak mendengar sesuatu dan
tidak melihat sesuatu selain pepohonan, bebatuan dan air yang tidak
lebih dari setinggi mata kaki. Namun sekali lagi merasa tubuhnya
tersentuh sesuatu. Tidak terlalu keras, tetapi ia mulai mengerti,
bahwa ia telah dikenal oleh sentuhan batu kerikil yang kecil yang
dilontarkan dari tempat yang tidak diketahui. Sejenak Jlitheng
termangu-mangu. Ia mencoba mengurai keadaan. Tentu seseorang dengan
sengaja telah mengintainya dan mencobanya dengan melemparkan sebutir
kerikil kecil. “Apakah mungkin Daruwerdi”Ia bertanya kepada diri
sendiri “atau orang-orang dari Sanggar Gading, atau dari padepokan
yang lain, atau Kiai Kanthi, Paman Sr i Panular, atau.....” Jlitheng
menjadi bingung. Dalam pada itu, selagi ia masih termangu-mangu,
tiba-tiba didengar suara tertawa meledak. Suara yang tiba-tiba saja
terdengar di segala arah oleh gema yang bersahut-sahutan. “Gila“
Jlitheng menggeram. Dengan seksama ia mencoba mendengar suara itu.
Tetapi agaknya ia belum pernah mendengar suara yang bernada rendah
tetap demikian kerasnya, “Anak yang dungu“ suara ittu masih
melingkar-lingkar dari segala arah “apa yang dapat kau lakukan
dengan latihan- latihan yang tidak terarah itu. Apakah dengan
meloncat-loncat dan melenting- lenting itu kau kira, kau dapat
mengalahkan lawan-lawanmu? Jika kau ingin bergabung dengan orang-
orang yang sibuk mencari pusaka itu kau harus dapat meyakinkan
dirimu sendiri bahwa kau bukannya anak ingusan yang sekedar
ikut-ikutan” Jlitheng menggeretakkan giginya. Dengan nada tinggi ia
berteriak “Siapa kau, siapa?“ Suara tertawa itu terdengar semakin
keras dalam nada rendah. Terdengar suara itu menyahut “Kau tidak
perlu mengetahui siapa aku. Tetapi aku adalah salah seorang dari
mereka yang menginginkan pusaka yang tersembunyi di sekitar Sepasang
Bukit Mati ini. Sementara disini ada kau dan Daruwerdi, maka aku
harus berbuat sesuatu untuk mengatasi kau dan Daruwerdi. Tetapi ada
kelebihan Daruwerdi dari padamu Jlitheng yang bergelar Arya Baskara,
bahwa kau sama sekali tidak berarti apa-apa disini, sementara
Daruwerdi sedikit banyak dapat dijadikan pancatan untuk mengetahui
rahasia pusaka itu” “Gila“ geram Jlitheng “siapa kau he?“ “Kau perlu
mengetahui siapa aku?“ suara itu meIingkar- lingkar semakin keras.
“Ya” Yang terdengar adalah suara tertawa meledak seolah-olah tidak
dapat ditahan lagi. Katanya “Aku adalah orang yang paling berhak
atas pusaka iitu. Aku tahu, betapa besar kekuatan gaib yang
tersimpan pada pusaka itu, sehingga setiap kelompok yang merasa
mempunyai cukup kekuatan saling berebut untuk memilikinya” Jlitheng
termangu-mangu sejenak. Dan suara itu masih bergema “Yang terjadi
sekarang barulah benturan-benturan kecil yang tidak berarti. Dua
tiga orang saling membunuh tanpa arti. Tetapi pada suatu saat,
pertentangan yang sebenarnya akan meledak. Aku akan menghancurkan
segalanya. Kau, orang-orang Kendali Putih, orang-orang Sanggar
Gading orang-orang Pusparuri, dan kemudian Daruwerdi dengan
kelompoknya setelah ia. aku paksa untuk membuka rahasia penyimpanan
pusaka itu” “Ia tidak akan mengatakannya“ sahut Jlitheng. Suara
tertawa itu bagaikan melingkar-lingkar diseluruh ngarai dan lereng
Sepasang Bukit Mati, disepanjang sungai dan di bulak-bulak yang luas
dan gersang. “Kau memang aneh. Jika aku menangkapnya, maka dengan
hukuman picis ia tentu akan berbicara” Terasa kulit tubuh Jlitheng
meremang. Namun ia membentak “Keluarlah. Kita berbicara secara
jantan. Dan j ika tidak ada persesuaian lagi dilantara kita. kita
akan bertempur sekarang” “Belum waktunya Jlitheng“ sahut suara itu
“aku sedang mengawasi gerak-gerik orang-orang Pusparuri yang sedang
mendekati daerah ini. Bukan orang-orang Kendali Putih. Tetapi aku
tidak mau menyia-nyiakan tantanganmu itu. Aku hanya akan membuktikan
bahwa aku mempunyai kelebihan daripadamu” “Persetan, keluarlah”
“Tidak perlu. Sudah aku katakan bahwa hal itu belum waktunya. Yang
akan aku lakukan adalah bermain-main dengan kerikil. He, cobalah kau
menghindari kerikil-ker ikil yang akan aku lemparkan. Ker
ikil-kerikil itu tidak terlalu kecil. Kau akan dapat melihat
dikeremangan malam. Seandainya kau memiliki sedikit ketajaman
penglihatan. Jika kau berhasil menghindari Semua lontaranku, maka
aku akan mengambil waktu satu dua tahun untuk berguru lagi kepada
orang yang lebih pandai dari guruku yang sekarang. Baru kemudian aku
akan datang memperebutkan pusaka itu” “Persetan“ Jlitheng berteriak.
“Kita akan mulai. Bersiaplah” Sebelum Jlitheng menjawab, ia telah
melihat sebuah kerikil terlempar dari sebuah gerumbul kearahnya.
Dengan tangkasnya ia meloncat menghindar. Bukan saja menghindar,
tetapi dengan serta merta, iapun telah meloncat kearah gerumbul itu.
Dengan kekuatan yang luar biasa dan kecepatan yang tidak
terduga-duga, Jlitheng berhasil daikun sekejap, sampai kegerumbul
itu. Namun ketika dengan sepenuhnya tenaga ia menerjang ke dalamnya,
ia sama sekali tidak menemukan seorangpun. Jlitheng terkejut ketika
ia mendengar suara tertawa beberapa langkah dibelakangnya. Namun
ketika suara terjawa itu berhenti, maka ia meliilhat gerumbul
diseberanglah yang bergetar. “Gila“ J litheng menggeram “jangan
lari” Tidak terdengar jawaban. Karena itu, maka Jlithengpun menjadi
semakin gelisah dan bahkan marah. Baru sejenak kemudian ia mendengar
suara yang melingkar-lingkar itu lagi. Katanya “Kembalilah diantara
batu- batu itu. Kita belum selesai. Kau sempat menghindari batu
kerikilku yang pertama. Tetapi itu belum satu kemenangan, karena aku
akan melemparmu seperti hujan. Dan kau tidak akan. dapat menghindar
karenanya” Jlitheng termamgu-mangu sejenak, la mencoba berpikir,
bagaimana caranya untuk dapat berhadapan langsung dengan orang yang
bersembunyi itu. Sejenak ia masih tetap berdiri dlempatnya,
sementara Suara itu terdengar lagi “Apakah kau takut menghadapi ker
ikil- kerikil kecilku aank muda. Kaulah yang menantang aku. Dan
ternyata kau menjadi ngeri sendiri” “Persetan“ geram Jlitheng. Namun
iapun kemudian menemukan akal. Ia akan turun ke sungai dan berada
diantara batu-batu. Ia akan sempat memperhatikan dari manakah arah
batu-batu kerikil itu dilontarkan. Dengan demikian, apa bila terbuka
kesempatan, ia akan dapat menyergap orang yang merahasiakan dir inya
itu. Oleh pikiran itu, maka iapun kemudian menjawab “Kita
langsungkan parang tanding dengan caramu. Tetapi j ika kau kalah,
maka kau harus menunjukkan dir imu. Dan perang tanding akan
berlangsung dengan cara yang lain. Dengan cara seorang laki- laki
jantan” Suara tertawa terdengai menyusur jurang disepanjang sungai
dan seakan-akan membentur lereng bukit gundul dan bukit berhutan
itu, memencar memenuhi bulak-bulak yang luas. “Bagus. Kau memang
seorang anak muda yang berani, Baiklah. Aku setuju dengan
perjanjianmu itu” Jlithengpun kemudian mempersiapkan dir inya
diantara batu-batu. Tetapi ia dengan saksama memperhatikan, dari
manakah batu-batu kerikil itu akan berloncatan. Sejenak tidak
terdengar suara apapun Jlitheng masih berdiri tegak sambil
memusatkan segenap kemampuan daya tangkap inderanya. Pendengarannya
dan penglihatannya dipergunakannya sebaik-baiknya. Betapapun malam
diselubungi oleh kekelaman, namun Jlitheng masih mampu melihat
melintasnya bayangan yang mengarah ketubuhnya. Sementara itu, ia
mencoba untuk mendengar gemerisik dedaunan di gerumbul-gerumbul yang
terdekat pada tanggul sungai kecil itu. Sejenak kemudian yang
didengar Jlitheng adalah suara tertawa yang menjengkelkan itu
sehingga dengan marah Jlitheng menggeram “Cukup Cukup. Aku akan muak
mendengar suara tertawa itu” Suara tertawa itu semakin lama menjadi
semakin susut. Sejenak kemudian, terasa sesuatu tergetar didadanya,
tepat pada ujung suara tertawa yang kemudian terhenti itu, “Luar
biasa“ desahnya di dalam hati “suara tertawa itu membuktikan, bahwa
aku berhadapan dengan seseorang yang pilih tanding” Dalam pada itu,
ketika suara tertawa itu terhenti, maka Jlithengpun mendengar suara
gemer isik lembut. Ketika ia berpaling, dilihatnya sebuah batu
kerikil meluncur kepunggungnya. “Gila. Ia berada dibelakangku“
geramnya sambi meloncat menghindari. Namun kerikil yang pertama itu
telah disusul dengan kerikil yang kedua, ketiga dan keempat
berurutan, “Persetan“ Jlitheng mengumpat “kau pengecut” Tidak
terdengar jawaban. Tetapi jarak lontaran kerikil itu semakin lama
menjadi semakin rapat, sehingga dengan demikian, Jlitheng harus
berloncatan semakin cepat. Bukan saja diantara batu batu, tetapi
iapun harus meloncat dari satu batu ke batu yang lain. Namun
sementara itu, Jlithengpun selalu memperhatikan darimana kerikil itu
dilontarkan. Pada saat Jlitheng telah yakin, arah lontaran kerikil
itu, maka iapun segera mempersiapkan dirinya. Sambil berloncatan
menghindar ia berusana mendekati tebing di bawah gerumbul dari arah
kerikil itu dilontarkan. “Aku harus mendapatkannya. Betapapun
saktinya, tetapi aku tidak mau direndahkan seperti ini” berkata
Jlitheng di dalam hatinya. Karena itu, maka iapun segera menghimpun
tenaganya Sambil menghindari lontaran-lontaran itu, maka iapun
segera bersiap untuk meloncat naik keatas tanggul. Namun tiba-tiba
saja lontaran-lontaran itu berhenti tepat pada saat Jlitheng sudah
siap untuk meloncat. Karena itu, maka Jlithengpun justru tertegun.
Dipandanginya gerumbul diatas tanggul itu. Sepi, Iatidak melihat
selembar daunpun yang bergerak. “Persetan“ geramnya “Aku harus
mendapatkannya. Tetapi ketika ia benar-benar akan meloncat, maka
terdengar lagi suara tertawa itu. Di sela-sela suara tertawa itu ia
mendengar orang yang bersembunyi itu berkata “Bagus anak muda. Hari
ini kau berhasil lolos. Tidak sebuah kerikilpun yang dapat
mengenaimu. Tetapi itu bukan kemenangan. Aku memang sengaja berbuat
demikian, agar kau menjadi agak berbesar hati. Ternyata meskipun
ilmumu cukup baik, tetapi hatimulah yang sangat kerdil. Besok aku
akan datang. Dan kau akan mendapat perlakuan yang lebih keras dan
mungkin kasar, sehingga kau harus mengakui, bahwa kau kalah dari
aku. Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa mengenai pusaka itu.
Dengan demikian, sebaliknya kau mengundurkan dir imu sebelum kau
mati. Baru kemudian, aku akan berbuat serupa terhadap Daruwerdi,
tetapi dengan tuntutan yang lebih berat, justru karena ia mengetahui
serba sedikit tentang pusaka yang sama-sama diperebutkan itu. Namun
sebelum itu, aku masih harus melindunginya dari orang-orang
Pusparuri yang mendekati daerah Bini isekiarang, orang-orang Kendali
Putih, orang-orang Sanggar Gading, dan kau. Aku belum tahu apakah
kakek tua di bukit itu juga mempunyai sangkut paut dengan pusaka
itu. Jika demikkan, meskipun agak sulit, tetapi iapun harus
dibinasakan pula” “Pengecut“ Jlitheng menggeram “turunlah. Kita
berhadapan sekarang” “Sudah aku katakan. Waktuku sedikit.
Orang-orang Pusparuri mendekati daerah ini sekarang. Aku perlu
mengawasinya“ Jlitheng tidak mau kehilangan, Itulah sebabnya, maka
tiba- tiba saja iapun segera meloncat naik. Dengan sigapnya ia
menerjang gerumbul pada arah batu-batu kerikil itu dilontarkan.
Namun seperti yang telah dilakukannya. Iapun menjadi kecewa. Ia
tidak menemukanapa-apa di gerumbul itu. Jlitheng mengumpat ketika ia
mendengar suara di gerumbul yang lain, agak jauh daripadanya “Besok
kita ketemu lagi disini anak muda” Jlitheng hanya dapat
menggeretakkan giginya. Ia melihat bayangan yang bagaikan terbang,
hidang dalam kegelapan. Bayangan seseorang yang tidak dapat
diketahui ciri-cirinya, tanpa baju dan hanya melilitkan kain
panjangnya di lambung. “Gila“ geram Jlitheng. Tetapi Jlitheng tidak
mengejarnya. Ia sadar, bahwa tentu akan sangat sulit untuk dapat
mengejar orang itu. Jika ia mencobanya juga, maka ia hanya akan
kehilangan banyak waktu dan tenaga. Namun tiba-tiba saja Jlitheng
seperti orang terbangun dari mimpinya. Iapun kemudian meloncat
berlari sekencang- kencangnya menuju ke bukit berhutan. Salah
seorang yang dicurigainya melakukan permainan itu adalah Kiai
Kanthi. Meskipun Kiai Kanthi akan sampali lebih dahulu ke gubugnya,
namun orang tua itu tentu basah oleh keringat atau tanda- tanda lain
bahwa ia baru saja berlari- lari. Ketika Jlitheng sampai ke dekat
gubug yang telah dihuni olah Kiai Kanthi, hatinya menjadi
berdebar-debar. Jika benar orang tua itu yang melakukannya, apakah
yang kemudian akan diperbuatnya? Meskipun demikian, Jlithengpun
kemudian mengetuk pintunya perlahan-lahan. “Siapa?“ terdengar suara
KM Kanthi dari dalam. “Aku Kiai. Jlitheng” jawab Jlitheng diluar.
Jlitheng mendengar amben berderit Kemudian ia mendengar langkah Kiai
Kanthi ke pintu. Ketika pintu terbuka, maka dilihatnya Kiai Kanthi
menggosok matanya sambil berselimut kain panjangnya. “O, marilah
ngger. Masuklah. Tetapi aku belum dapat mempersalahkan angger duduk.
Yang baru dapat aku buat adalah amben yang hanya dapat aku pakai
untuk sementara, karena tulang-tulangnya hanya aku ikat saja satu
dengan yang lain. Aku belum sempat membuat amben yang baik dengan
adon-adonan pada setiap sambungan” “Sudahlah Kiai“ Jlitheng memotong
agar ceritera itu t idak berkepanjangan “Aku hanya lewat saja malam
ini” “Angger dari mana?“ bertanya Kiai Kanthi Jlitheng
termangu-mangu. Ternyata Kiai Kanthi tidak menunjukkan tanda-tanda
apapun yang dapat disimpulkan, bahwa Kiai Kanthillah yang telah
melakukannya, Nafasnya tidak terengah-engah. Nampaknya dalam cahaya
lampu minyak. ia sama sekali tidak berkeringat. Seandainya
keringatnya telah dihapus, maka keringat itu akan timbul lagi
membasahi keningnya. Selagi Jlitheng termangu-mangu, terdengar dari
balik dinding- penyekat suara anak gadis Kiai Kanthi “Siapa yang
datang malam-malam begini ayah?“ “O, anggar Jlitheng“ jawab Kiai
Kanthi “hanya singgah sebentar. Tidur lah. Kenapa kau terbangun
juga” “Kenapa tidak besok pagiHpagi saja?“ desis Swasti. Jlitheng
justru tersenyum karenanya. Lalu katanya “Sudahlah Kiai Aku mohon
diri. Aku akan melanjutkan perjalanan” Jlitheng kemudaan
meninggalkan gubug Kiai Kanthi. Dengan tergesa-gesa iapun menuruni
tebing dan kembali ke rumahnya. Sepeninggal Jlitheng, Swastipun
bangkit dari pembaringannya. Sambi memberengut ia berkata “Ayah
memanjakannya. Akulah yang harus menjadi korban” Kiai Kanthi
tersenyum. Jawabnya “Bukan maksudku Swasti” “Tetapi ilmu anak itulah
yang meningkat. Bukan ilmuku” “Kau juga mendapat kesempatan. Jika
kerja ani selesai, maka kau mempunyai banyak waktu” “Tetapi sekarang
akulah yang seharusnya mendapat waktu khusus diantara kerja yang
belum selesai” Kiai Kanthli tertawa. Sambil duduk diambennya yang
sederhana ia berkata “Aku mengira, bahwa ia benar-benar datang. Ia
mencurigai kita” “Besok, biar ayah saja sendiri datang ke sungai
itu. Ayah sendiri sudah cukup mampu untuk membuatnya bingung” “Benar
Swasti. Tetapi yang penting bukan itu. Aku ingin menunjukkan
kepadamu, satu segi olah kanuragan yang agak berbeda dengan yang
kita miliki. Meskipun kau pernah bertempur melawan anak muda itu,
bukan sekedar bermain- main, tetapi dengan demikian, kau akan dapat
melihat lebih jelas. Sambil bertempur, kau memusatkan perhatianmu
kepada pertempuran itu sendiri. Namun dengan cara ini kau akan
mendapat kesempatan lebih luas untuk memperhatikannya. Kau akan
dapat mengambil keuntungan daripadanya” Swasti menarik nafas
dalam-dalam. Lalu katanya “ Ada dua orang aneh disini Tetapi kenapa
ayah memilih Jlitheng. Bukan Daruwerdi. Nampaknya ayah tidak begitu
senang kepada Daruwerdi yang barangkali mempunyai dasar yang lebih
baik. Ia benar-benar nampak sebagai seorang yang mempunyai wibawa”
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya “Benar Swasti. Aku memang
memilih Jlitheng. Nampaknya ia lebih bederhana. Lebih jujur. Dan aku
percaya sepenuhnya kepadanya meskipun nampaknya Jlitheng sendiri
masih mencur igai aku. Tetapi Daruwerdi nampaknya seorang yang
tinggi hati dan menganggap dirinya lebih baik dari orang lain”
“Sejak semula ayali sudah memihak. Bukankah salah kita, bahwa kita
tidak menyatakan diri, siapakah kita sebenarnya, sehingga ayah tidak
merasa direndahkan oleh Daruwerdi” Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku memang lebih senang terhadap
Jlitheng, Swasti. Aku sadar, bahwa perasaan seseorang bukannya
ukuran yang tepat untuk menilai buruk dan baik Tetapi kita mempunyai
waktu untuk meniilainya. Mudah-mudahan aku tidak keliru” Swasti
itidak menjawab lagi. Iapun kembali berbaring diatas ambennya yang
berderik-derik. “Tidurlah. Kau tentu lelah. Tetapi itu merupakan
latihan tersendiri bagimu” “Aku memer lukan waktu khusus ayah” “Ya.
Jlitheng hanya mempunyai waktu yang pendek sekali sebagai persiapan
untuk melakukan tugas-tugasnya yang mungkin sangat berat. Kita tidak
tahu pasti. Tetapi nampaknya ia sudah menemukan jalan” “Ia akan
mengecewakan ayah jika ternyata ia berbuat bagi dirinya sendir i”
desis Swasti. Kiai Kanthi mengangguk-angguk sambil menjawab “Ya
Swasti. Aku akan menjadi sangat kecewa jika ternyata Jlitheng
berbuat semuanya ini bagi kepentingan dir inya sendiri. Tetapi
menilik sikapnya terhadap air yang akan disalurkan lewat sungai
kecil itu, maka ia berbuat untuk kepentingan banyak orang”
“Mudah-mudahan itu bukan sekedar sikap pura-pura, seperti yang
dilakukannya dalam hidupnya sehari-hari” desis Swasti.
“Mudah-mudahan tidak Swasti. Kepura-puraannya itu dilakukannya
dengan sadar untuk satu tujuan yang dianggapnya sangat pentang”
sahut Kiai Kanthi, Swasta tidak menjawab lagi. Tetapi ia
bersungut-sungut “Pokoknya aku minta waktu agar ayah bersedia
meningkatkan ilmuku. Jika tidak, aku akan kalah dar i anak muda itu”
“Tentu Swasti. Tetapi aku minta kau ikut ke sungai besok malam. Kau
akan melihat ungkapan ilmu Jlitheng. Kemudian seperti hari ini, kau
mendahului aku kembal ke gubug ini. Semuanya biar lah aku
selesaikan” Swasti tidak menjawab. Ia ingin mempergunakan sisa
malamitu untuk beristirahat dan t idur nyenyak. Dalam pada itu,
Jlitheng yang sudah berada di rumahnya menjadi gelisah. Ia masih
memutarkan seseorang yang telah mengganggunya dari tebing sungai. Ia
masih belum tahu dengan pasti, apakah yang sebenarnya ingin
dilakukan oleh orang itu. Namun lebih dar i itu, iapun
menggelisahkan keterangan dari orang yang tidak diiketahuinya itu,
bahwa ia akan mengawasi orang-orang Pusparuri yang akan mendekati
daerah Sepasang Bukit Mati. Orang-orang Pusparuri yang telah lebih
dahulu membuat perjanjian dengan Daruwerdi sebelum orang dar i
Sanggar Gading. “Jika orang-orang Pusparuri mendahului orang-orang
Sanggar Gading, maka aku akan dapat kehilangan lacak. Meskipun
demikian, mungkin aku masih mendapat kesempatan untuk mengetahui
sasaran yang telah diminta oleh Daruwerdi sebagai pengganti pusaka
yang dijanjikannya itu” berkata Jlitheng kepada dir i sendir i.
Dalam kegelisahannya, JIitheng mencoba untuk berbaring dan tidur
barang sejenak. Oleh lelah dan letih, maka akhirnya iapun dapat
tidur meskipun t idak terlalu lama. Di siang hari t idak banyak yang
dilakukan oleh Jlitheng. Bersama beberapa orang kawannya ia pergi ke
sungai. Ke tebing yang sudah dipersiapkan bagi Ki Buyut di Lumban
Wetan dan Lumban Kulon yang akan berdir i berhadapan, menyaksikan
ujung aliran air yang akan dialirkan dari belumbang diatas bukit.
Namun ketika kawan-kawannya kembafi ke padukuhan, Jlitheng tinggal
untuk mencuci pakaiannya diisungad yang hampir kering itu. Tetapi
demikian kawani-kawannya tidak dilihatnya lagi, maka iapun segera
menyusuri sungai. Ia ingin melihat apa yang telah terjadi semalam
ketika ia sedang ber latih. Jlitheng memang melihat bekas-bekas pada
gerumbul- gerumbul disekitarnya. Ranting-ranting yang patah dan
tersibak. Namun ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun juga.
Namun karena itu, maka Jlithengpun menjadi semakin bernafsu untuk
dapat mengetahui siapakah orang yang telah mencampur i masalahnya
itu. “Malam nanti, aku harus datang” desis Jlitheng. Sebenarnyalah
ketika malam menjadi semakin dalam, Jlitheng telah pergi ke sungai
yang sepi. Ia mengatakan kepada kawan-kawannya, bahwa kesehatannya
masih belum pulih kembali sehingga ia tidak dapat ikut berada di
gardu seperti kebiasaannya. Seperti pada malam pertama, ternyata
suara itu didengarnya lagi. Batu-batu itupun telah dilontarkan dari
tebing. Sekali-kali Jlitheng mendengar orang itu tertawa. Namun
kemudian suara itu bagaikan lenyap ditelan dedaunan. Tetapi suara
itu kemudian telah muncul dlbalik gerumbul yang, lain. Berbeda pada
hari yang pertama, maka di hari kedua Jlitheng tidak dapat
menghindarkan diri dari kerikil-ker ikil yang di tempatkan oleh
orang yang tidak mau menampakkan wajahnya itu. Bagaimanapun juga ia
berusaha, tetapi beberapa buah kerikil yang cukup besar telah
mengenainya. Bukan saja menyentuhnya, tetapi terasa tubuhnya menjadi
sakit. “Kau sama sekali tidak berdaya melawan aku“ terdengar suara
itu bergema. Jliheng mengerahkan segenap kemampuannya. Diluar
sadarnya, ia sudah mulai menjamah tenaga cadangan yang ada di dalam
dir inya. Bahkan kemudian ia sudah terpancing oleh perasaan
sakitnya, sehingga akhirnya Jlitheng telah mempergunakan semua
kekuatan yang ada pada dirinya. Tenaga cadangannya telah dikerahkan
untuk mendorong tata geraknya sehingga menjadi semakin cepat,
sementara kekuatannyapun bagaikan berlipat. Kekuatan yang tersimpan
itu telah tersalur pada anggota badannya sehingga kakinya bagaikan
menjadi sekuat kaki bilalang yang mampu melontarkan tubuhnya
beberapa kali lipat panjang tubuhnya sendiri, Sementara itu, Swasti
berada pula dipinggiir sungai itu bersama dengan ayahnya. Seperti
pesan Kiai Kanfhi, maka iapun memperhatikan segala tata gerak yang
dilakukan oleh Jlitheng, yang semakin lama menjadi semakin cepat.
Bahkan dengan dorongan gerak naluriah dialasi oleh kemampuan ilmunya
yang luar biasa. Dengan mata yang hampir tidak berkedip Swasti
menyaksikan, betapa Jlitheng berusaha menghindari batu-batu kerikil
yang dilemparkan oleh ayahnya. Kadang-kadang dengan mudah, namun
kadang-kadang Jlitheng terpaksa melakukan gerak yang seakan-akan
tiba-tiba saja melontarkan tubuhnya dari batu ke batu yang lain.
Malam itu, seperti malam sebelumnya. Jlithengpun t idak berhasil
bertemu dengan orang yang sengaja merahasiakan dirinya itu. Dan
malam itu Jlitheng tidak lagi ber lari ke bukit untuk membukt ikan
bahwa yang melakukannya bukan Kiai Kanthi. Namun di hari kedua
Jlitheng mempunyai pertimbangan lain. Hatinya tidak lagi sedang
menyala. Ia sudah bersiap untuk mengalami perlakuan itu sejak ia
datang. Bahkan ia merasa, bahwa dengan demikian, la telah mendapat
keuntungan, karena ia tidak harus berlatih sendir i. Batu kerikil
itu telah mendorongnya untuk berbuat jauh lebih banyak dari pada ia
berlatih seorang dir i. Dihari kedua Jlitheng mempunyai tanggapan
yang lebih baik dari orang yang merahasiakan dir inya itu. Ia mulai
condong kepada dugaan bahwa orang itu bukannya orang yang bermaksud
jahat kepadanya. Karena itu, ia tidak lagi memasang nama Daruwerdi
diantara mereka yang diduganya telah melakukannya. “Apalagi
kemampuan Daruwerdi tidak akan sebesar kemampuan orang yang telah
melempar i aku dengan batu kerikil itu” Pada hari kedua, orang yang
tidak diketahui oleh Jlitheng itupun telah menantang agar Jlitheng
datang pada hari ketiga. Ternyata Jlithengpun tidak berkeberatan. Ia
telah berjanji untuk datang di malamberikutnya. Di waktu yang telah
dijanj ikan, Jlitheng telah datang pula ke sungai itu. Tetapi orang
tidak menampakkan diiri itu tidak lagi melemparinya dengan batu
kerikil yang kecil, tetapi ia sudah mulai melemparinya dengan batu
yang lebih besar. “Persetan“ geram Jlitheng. Jika satu dua butir
batu mengenainya, ia benar-benar merasa tubuhnya menjadi sakit
Sementara batu-batu itu menjadi semakin sering menyentuh tubuhnya..
Pundaknya, lengannya, dadanya, parutnya, bahkan kepalanya. Ketika
Jlitheng mulai menyeringai menahan sakit, maka terdengar suara dari
baik gerumbul “Jlitheng, ternyata kemampuanmu tidak seberapa. Aku
tahu, tubuhmu tentu menjadi merah biru. Lengan dan tanganmu tentu
terasa sakit karena itu kau berusaha selain menghindar juga
menangkis. Nah, bagaimana dengan ilmu pedangmu. Inilah cobalah
dengan ilmu pedang untuk menangkis serangan-seranganku” Sebelum
Jlitheng menjawab, ia melihat sepotong kayu yang meluncur dari dalam
gerumbul. Jelas dapat dilihatnya. Gerumbul yang rimbun di atas
tebing. Tetapi ia sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk
meloncat dan menerjang ke dalamnya untuk mencari orang yang telah
melemparinya dengan batu dan kemudian memberinya sepotong kayu”
Hampir diluar sadarnya, Jlitheng kemudian menerima sepotong kayu itu
dan mempergunakannya untuk menangkis batu-batu yang dilemparkan
kepadanya. Dalam pada. itu, dengan dada yang berdebar-debar Swasti
menyaksikan Jlitheng mempergunakan tongkat kayu. Dengan demikian
Swasti telah menyaksikan betapa Jlitheng menguasai ilmu pedang yang
mengagumkan. Dengan sepotong kayu itu, ia berloncatan sambil
menangkis batu-batu yang semakin besar yang dilontarkan kepadanya
Bukan saja batu-batu itu menjadi semakin besar, tetapi juga semakin
keras. Ternyata Jlitheng benar-benar tangkas. Setiap kali ia
berhasil memukul batu-batu yang mengarah ke tubuhnya. Meskipun satu
dua butir diantaranya berhasil mengenainya, tetapi sebagian dari
batu-batu itu berhasil ditangkis dan dihindar inya. Permainan yang
mula-mula dianggap oleh Jlitheng sebagai suatu hal yang
mengganggunya, ternyata menjadi sangat menarik. Tetapi ia sadar,
bahwa waktunya tidak terlalu banyak, la tidak akan dapat
bermain-main seperti itu untuk waktu yang lama, sehingga ilmunya
akan menjadi jauh meningkat. Waktunya sangat sempit. Sejak ia
kembali dari Demak, tidak lebih dari sepuluh har i. Namun demikian,
apa yang terjadi itu baginya sudah memadai. Seolah-olah ia mendapat
kawan untuk meningkatkan ilmunya dalam waktu yang sangat singkat.
Siapapun orang itu, tetapi ternyata bahwa yang diakukan justru telah
membantunya banyak sekali. Dengan sepotong kayu, Jlitheng
seolah-olah telah berlatih dan mempertinggi kemampuan ilmu
pedangnya. Kecepatan bergerak dan bahkan meningkatkan kekuatan
pergelangan tangannya. Tetapi disamping kepentingan bagi dir inya
sendiri, Jlitheng masih mempunyai kewajiban lain. Di malam hari ia
memanfaatkan hari-harinya yang pendek, sementara di siang hari ia
sudah berjanj i dengan Ki Buyut dari Lumban Wetan dan Lamban Kulon
untuk melakukan upacara sederhana, membuka aliran air dari belumbang
di bukit. Karena itu, ketika, saatnya telah tiba, maka Jlithengpun
menjadi sibuk. Bersama beberapa orang kawannya ia naik ke atas bukit
sambil membawa cangkul, dandang dan beberapa jenis alat yang lain.
Sementara ia mempersilahkan kawan- kawannya yang lain untuk berada
dupinggir sungai. Di tempat Ki Buyut di Lumban Wetan dan Ki Buyut di
Lumban KuIon yang akan saling berdir i berhadapan. Ternyata yang
datang ke pinggir sungai saat itu, bukannya hanya Ki Buyut dan para
bebahu. Orang-orang dari Lumban Wetan dan Lumban Kulonpun bagaikan
ditumpahkan seluruhnya ke pinggir sungai. Mereka ingin melihat air
yang akan meluap dari belumbang di bukit dan mengalir di sungai
kecil. Seperti yang mereka dengar, bahwa air itu akan dapat diangkat
untuk mengaliri sawah mereka, meskipun hanya sebagian dari seluruh
tanah persawahan yang ada di Lumban Wetan dan Lumban Kulon. ”Danyang
dan semua makhkuk halus sudah dihubungi oleh orang tua yang tinggal
di bukit itu” berkata salah seorang dari mereka “karena itu, maka
mereka tidak akan marah lagi apabila kita mempergunakan air yang
mengalir dari belumbang itu” Tetapi bukit itu tentu akan minta
tumbal. Mungkin seseorang akan hanyut jika sungai ini banjir di
musim hujan. Mungkin salah seorang anak-anak dar i Lumban akan
diterkam harimau. Atau kemungkinan-kemungkinan lain yang menger
ikan” “Tidak. Orang tua itu sudah berjanji untuk berdamai dengan
para lelembut di bukit itu. Mungkin ia sudah dapat mengganti tumbal
itu dengan yang lain” Kawannya tidak menyahut. Namun dengan
berdebar-debar ia berada diantara banyak orang yang berdiri diatas
tanggul. Dalam pada itu, Jlitheng sudah berpesan, jika semuanya
sudah siap, seorang kawannya harus membakar sampah yang sudah
disediakan. Jika asap mulai membubung, bagi Jlitheng akan menjadi
pertanda, bahwa ia harus segera membuka air dari belumbang seperti
yang sudah ditandai oleh Kiai Kanthi. Demikianlah, kawan Jlitheng
yang sudah dipersiapkan dengan seonggok kayu dan ranting-ranting
kecil, setelah mendapat persetujuan dari Ki Buyut berdua, maka anak
muda itupun mulai membakar kayu dan ranting-ranting kecil yang sudah
disediakan. Sejenak kemudian, maka asappun telah mengepul dan naik
tinggi keudara. Asap yang putih kehitam-hitaman itu merupakan
pertanda yang akan segera dilihat oleh Jlitheng di bukit berhutan
itu. Meskipun angin yang lembut bertiup dan mengguncang asap yang
mengepul, namun ternyata bahwa Jlitheng dan kawan-kawannya yang
berada di bukit itupun sempat melihatnya. Seorang yang berdiri
dialas batu karang, di tempat yang agak terbuka berteriak “Jlitheng,
aku sudah melihat asap” Jlitheng menarik nafas. Kemudian katanya
kepada Kiai Kanthi yang menungguinya “Semua sudah siap Kiai” Kiai
Kanthi mengangguk-angguk. Katanya “Silahkan ngger. Silahkan memecah
tebing padas itu” Jlitheng dan kawan-kawannyapun kemudian turun ke
dalam air. Sejenak nampak sesuatu membayang di wajah mereka.
Kebanggaan dan harapan nampak membersit di hati anak-anak muda itu.
Sejenak kemudian, maka dandang dan cangkul merekapun mulai memecah
tebing sesuai dengan tanda-tanda yang telah diberikan oleh Kiai
Kanthi. Demikian tebing dan tanggul itu pecah, maka airpun mulai
mengalir periahan-Iahan. Sementara kawannya yang lain justru telah
menutup air yang memang sudah meluap dan menyalurkannya kedaiam alur
yang telah dipersiapkan, Demikianlah, maka air belumbang itupun
mulai dikendalikan dan mengalir ke jalur yang menuju kebawah bukit
dan langsung masuk ke dalam sungai kecil yang airnya hampir menjadi
kering di musim kemarau. Dengan hati yang berdebar-debar anak-anak
muda itu menyaksikan air itu meluap dan bergejolak menuruni tebing.
Semakin lama semakin deras, sehingga akhirnya mereka melihat
sebatang sungai yang cukup besar. Dalam kebanggaan dan harapan,
Jlitheng masih sempat memperhatikan keadaan air belumbang itu,
Kepada Kiai Kanthi ia bertanya “Bukankah Kiai sudah memperhitungkan,
bahwa air yang melimpah ke dalam lubang di bawah tanah itu masih
akan tetap mengalir?“ “Ya ngger. Meskipun berkurang. Tetapi air di
bawah tanah Itu tidak akan kering. Di tempat yang jauh, jika air itu
muncul menjadi sumbar dan membasahi tempat disekitarnya. meskipun
terasa susut, namun masih akan mencukupi” Sementara itu, Ki Buyut di
Lumban Wetan dan Lumban Kulon menunggu dengan hati yang
berdebar-debar. Beberapa saat air di dalam par it itu masih saja
mengalir tidak lebih dari setinggi mata kaki. Beberapa saat lamanya
mereka menjadi gelisah. Bahkan kemudian salah seorang bebahu telah
bertanya kepada orang yang berdiri disampitngnya “Apakah kita tidak
sedang dipermainkan anak-anak?“ Tetapi sebelum pertanyaan itu
dijawab, tiba-tiba saja ia mendengar orang-orang yang berdiri di
tempat yang lebih tinggi bersorak gemuruh. Dengan gembira mereka
berteriak ”Air Air” Ki Buyut mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian
ia memang melihat air yang mengalir semakin deras. Sehingga akhirnya
sungai itupun tidak lagi merupakan sungai yang hampir kering, tetapi
sungai kecil itu benar-benar telah mengalirkan air” Ki Buyut di
Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu menar ik nafas dalam-dalam,
Sekilas mulai terbayang, jika orang-orang Lumban Wetan dan Lumban
Kulon bersedia memperbaiki bendungan, maka air itu akan darat
diangkat untuk mengeliri sawah. Meskipun t idak semua tanah
persawahan, tetapi yang sebagian itu tentu akan dapat memperbaiki
kehidupan rakyat Lumban. Ketika air yang mengalr itu kemudian
menjadi bening, maka Ki Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon yang
berdiri berhadapan disebelah-menyebelah sungai itupun segera turun.
Mereka mencelup kaki mereka dan kemudian merekapun mencuci muka
mereka dengan air yang semakin besar itu. Seperti setiap orang yang
menyaksikan air itu mengalir, tumbuhlah harapan dihati kedua Buyut
itu. Ki Buyut yang tua berkata “Kurnia ini mudah-mudahan akan
bermanfaat bagi kita“ “Ya kakang. Kita berharap bahwa kurnia ini
akan member ikan kesejahteraan bagi anak cucu” Beberapa saat Ki
Buyut di Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih berbincang. Bahkan
keduanyapun kemudian telah berjalan menyusur sungai diikuti oleh
para bebahu. Beberapa orang masih tetap berdir i diatas tanggul
menyaksikan, apa yang akan dilakukan oleh kedua pemimpin mereka.
Ternyata bahwa kedua orang Buyut itu telah menentukan, bahwa tempat
yang paling baik untuk mengangkat air adalah pada bendungan yang
lama, tetapi perlu diperbaiki dan dipertinggi. Disebelah menyebelah
masih terdapat mulut- mulut susukan kecil yang kemudian mengalirkan
air ke dalam parit yang akan merambah tanah persawahan. Mengalir ke
bulak-bulak yang kering dan gersang di musim kemarau. “Kita akan
segera mulai” berkata Ki Buyut di Lumban Wetan. “Ya. Orang-orangku
akan segera turun memperbaiki bendungan itu” sahut Ki Buyut di
Lumban Kulon. Demikianlah, ketika keduanya telah cukup memperhatikan
keadaan yang mengandung harapan itu, maka keduanyapun meninggalkan
sungai itu dan kembali ke rumah masing- masimg diikuti oleh para
bebahu. Disepanjang jalan Ki Buyut sempat berbincang dengan
pembantu-pembantunya untuk dalam waktu dekat mengerahkan orang-orang
Lumban untuk memperbaiki parit dan kemudian memperbaiki bendungan
untuk mengangkat air yang jauh lebih banyak dari arus air di sungai
itu sendir i. Sementara itu, ketika orang-orang Lumban Wetan dan
Lumban Kulon sudah pergi meninggalkan sungai yang mengalir semakin
deras itu, seorang anak muda duduk diatas sebuah batu dipinggir
sungai. Ia tidak menghiraukan kakinya yang menjadi basah. “Anak
Gila” Ia menggeram “justru pada saat aku digelut oleh persoalan yang
gawat, ia berhasil mendapat tempat dihati rakyat Lumban. Meskipun ia
mengaku anak Lumban di saat lahirnya, namun kini iapun seorang
pendatang seperti aku” Sejenak Daruwerdi itu termang-mangu. Namun
kemudian ia menggeram “Persetan. Aku tidak perlu orang-orang Lumban.
Aku perlu orang-orang yang dapat membantuku menyerahkan orang itu
kepadaku. Agaknya orang-orang Pusparuri masih tetap ragu-ragu,
sementara orang Sanggar Gading agaknya lebih bersungguh-sungguh”
Sambil menghentakkan kakinya, maka Daruwerdi kemudian berdiri.
Sejenak ia memandang air yang mengalir semakin deras di bawah
kakinya. Namun kemudian iapun melangkah menyeberangi sungai kecil
itu sambil bergumam kepada diri sendiri “Cempaka menjanjikan bahwa
dalam waktu dekat ia akan melakukannya. Mudah-mudahan ia berkata
sebenarnya” Dengan tangkasnya Daruwerdi itupun kemudian meloncat
naik keatas tebing. Ia Sudah tidak melihat seorangpun lagi disebelah
menyebelah sungai itu. Karena itu, maka iapun segera melangkah
dengan tergesa-gesa menuju ke bukit gundul. Sejenak ia berdiri
termangu-mangu memandang keselilingnya Ketika ia yakin bahwa tidak
ada seorangpun yang melihatnya, maka iapun segera memanjat naik dan
menyusup diantara batu-batu karang. Sejenak ia berdiri tegak ketika
ia berada dihadapan sebuah batu karang yang datar, yang seakan-akan
telah dibuat oleh seseorang. Ia memandang pada jalur-jalur yang
tergores pada wajah batu karang itu. Namun dengan geram ia berkata
“Hanya orang itulah yang akan dapat membacanya dan mengatakan,
dimana pusaka itu tersimpan. Tetapi jalan masih terlalu jauh. Aku
harus menunggunya dengan tidak sabar. Sementara berita tentang
pusaka itu semakin tersebar sehingga semakin banyak orang yang ingin
memilikinya” Daruwerdi berdesah di dalam hati. Untuk beberapa saat
ia masih berdiri diantara batu-batu karang, sehingga orang- orang
yang lewat disekitar bukit gundul itu tidak akan melihatnya. Ia
masih mencoba melihat dan mengurai jalur-jalur yang tergores pada
batu karang yang datar itu, seperti yang sudah dilakukannya berpuluh
bahkan beratus kali. Namun ia tidak menemukan ujung dari uraiannya,
sehingga ia masih tetap tidak mengetahui apa yang dihadapinya. Jika
ia menemukan tanda-tanda pada goresan-goresan itu, ia sudah selalu
mencoba menemukan sesuatu yang mungkin berhubungan dengan
tanda-tanda itu. Namun ia masih tetap buta menghadapi
goresan-goresan yang ia yakini, adalah tanda- tanda dan isyarat yang
pernah ditinggalkan oleh Pangeran Pracimasanti dan pengiringnya yang
cacat itu. Pada jalur yang tergores itu, kadang-kadang ia melihat
hubungan bentuk antara batu-batu karang pada bukit gundul itu,
sehingga ia menduga, bahwa tempat itu adalah tempat penyimpanan
pusaka yang dicar inya. Tetapi ternyata ia selalu gagah Ketika ia
menduga bahwa pusaka itu tersimpan di bawah lekuk batu karang yang
menjorok disebelah goresan itu, dan dengan susah payah ia bekerja
tiga hari untuk menggalinya, namun ia tidak menemukan apa-apa.
Tanda-tandapun tidak. Karena itu, maka ia bertekad untuk memaksa
orang-orang yang sedang menjadi gila untuk mendapatkan pusaka itu
untuk menangkap orang yang dianggapnya mengetahuinya dan membawanya
kepadanya, sementara Daruwerdi telah menyiapkan sebuah peti dan
pusaka yang dipalsukannya, yang disembunyikannya di bukit gundul itu
pula. Ia sudah menyiapkan sebilah wilahan keris tanpa hulu dan tanpa
wrangka, disimpan pada sebuah peti yang buruk dan sudah mulai retak
retak. Dibeberapa bagian justru sudah ger ipis dimakan rayap.
Namun-dengan demikian seakan-akan pati dan pusaka itu sudah terlalu
lama tersimpan di tempat yang tidak terawat. “Orang memer lukan
waktu untuk mengetahui, apakah pusaka itu sebenarnya atau bukan.
Selama itu aku akan mendapatkan jalan keluar dan pusaka yang
sebenarnya tentu sudah aku ketemukan” berkata Daruwerdi di dalam
hatinya. Seperti biasanya, dengan menggeretakkan giginya iapun
meninggalkan goresan-goresan yang tidak dimengertinya itu. Kemudian
menuruni bukit gundul dan kembali ke Lumban Kulon, Dalam pada itu,
setelah air sungai itu mengalir cukup besar, sehingga apabila
bendungan yang rusak itu berhasil diperbaiki, maka airpun akan
terangkat. Di musim hujan, arus air itu tentu akan menjadi semakin
besar dan kemungkinan akan datang banjir. Sehingga karena itu, maka
bendungan yang akan dibuat itu haruslah bendungan yang cukup kuat.
Dalam pembicaraan selanjutnya, Jlitheng yakin, bahwa orang-orang
Lumban tentu akan mengerjakannya, karena kedua orang Buyut kakak
beradik itu telah sepakat dan berjanji untuk melaksanakan
sebaik-baiknya. Dengan demikian .maka Jilithengpun merasa, bahwa
tugasnya sudah sebagian lewat. Karena itu, maka iapun segera
mempersiapkan diri untuk meninggalkan Lumban dengan alasan yang
dibuat-buat, sementara ia benar-benar telah menempa diri lahir dan
batinnya untuk memasuki sarang yang tidak terlalu dikenalnya selain
pengenalannya bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat berbahaya.
Pada hari-hari terakhir, Jlitheng memerlukan datang kepada Kiai
Kanthi untuk minta diri. Tetapi Jlitheng tidak mengatakannya, kemana
aa akan pergi, sementara Kiai Kanthipun tidak berterus terang, bahwa
setiap malam ia melihat apa yang dilakukan oleh Jlitheng dipinggir
sungai itu. “Aku tahu ngger” berkata Kiai Kanthi “bahwa saatnya
telah tiba bagi angger untuk berbuat sesuatu. Mungkin yang angger
lakukan itu adalah suatu tindakan yang sangat berbahaya. Tetapi kita
masing-masing tidak akan dapat ingkar, jika tugas itu memang
dibebankan diatas bahu kita” “Aku mohon restu Kiai. Aku minta maaf,
bahwa aku belum dapat mengatakan, apa yang akan aku lakukan. Tetapi
pada saatnya, Kiai akan mengetahuinya juga” “Terima kasih atas
kepercayaan yang akan angger berikan pada saatnya itu ngger”
Jlitheng tersenyum. Namun katanya “Akupun belum tahu pasti apa yang
akan aku lakukan” “Baiklah ngger. Mudah-mudahan kita masing-masing
selalu mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Sementara
angger pergi, maka biarlah aku berbuat sesuatu bagi padepokan yang
aku impikan itu” “Aku sudah berpesan Kiai, beberapa orang kawanku
akan selalu datang membantu“ “Terima kasih ngger. Kita masing-masing
akan selaki berdoa“ Jlithengpun kemudian meninggalkan gubug Kiai
Kanthi. Ketika ia minta dir i kepada Swasti, maka seperti biasanya,
jawabnyapun teramat singkat. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam,
sementara Kiai Kanthi hanya dapat menggelengkan kepalanya saja.
Namun ketika ia mengantarkan Jlitheng sampai keluar gubugnya la
bergumam “Aku mohon maaf atas sikap anak itu ngger” Jlitheng
tersenyum. Jawabnya “Tidak apa-apa Kiai. Sifatnya memang demikian.
Kiai tentu lebih mengetahui. Namun pada saatnya ia akan berubah.
Jika ia kelak banyak berhubungan dengan gadis-gadis Lumban Wetan dan
Lumban Kulon” “Mudah-mudahan ngger. Aku harap bahwa aku akan segera
dapat tinggal di bawah bukit dan berhubungan dengan orang-orang
Lumban seperti kebanyakan orang yang berada didalam lingkungannya”
Sejenak kemudian maka J lithengpun meninggalkan gubug kecil itu. la
masih sempat singgah sejenak di pinggir sungai. Tetapi ia t idak
lagi berloncatan dari batu ke batu atau memperdalam unsur-unsur
gerak pokok dari ilmunya, namun ia mempergunakan waktu yang pendek
itu untuk membiasakan diri dengan senjata kecilnya. Dengan sungguh-
sungguh ia mencoba berulang kali sehingga ia yakin, bahwa ia tidak
akan meleset lagi dengan lontaran-lontarannya. Demikianlah, maka
pada saatnya Jlitheng telah siap meninggalkan Lumban. Ia terpaksa
berbohong lagi kepada kawan-kawannya dan kepada biyungnya, karena ia
tidak dapat mengatakan apa yang sebenarnya akan dilakukan. “Kau
harus segera kembali Jlitheng” berkata ibunya.. “Tentu biyung, aku
akan segera kembali” “Aku tidak tahu apakah yang sebenarnya kau
lakukan. Tetapi aku mohon, janganlah berbuat sesuatu yang dapat
menyulitkan dirimu” “Aku tidak akan berbuat sesuatu biyung. Tetapi
aku hanya ingin melihat daerah yang lebih luas dari padukuhan kecil
ini” “Suatu keinginan yang jaaang terjadi pada anak-anak padesan,
Jlitheng. Ketika aku menemukan kau, aku berharap bahwa kau adalah
anak yang baik dan penurut. Beberapa puluh tahun lamanya aku hidup
sendiri. Kedatanganmu membangkitkan kesegaran pada hidupku yang
gersang, meskipun ada juga keragu-raguan, siapakah sebenarnya kau.
Tetapi setelah kau berada di rumah ini, aku mulai percaya,
sebenarnya kau anak yang baik dan kau benar-benar mengalami
kesulitan ketika aku ketemukan. Namun pada saat- saat terakhir kau
membuat aku gelisah” “Kenapa biyung menjadi gelisah?“ “Jlitheng, Kau
jangan terpengaruh oleh anak-anak muda yang kehilangan pegangan
hidupnya. Biarlah kita hidup miskin dan kekurangan. Tetapi jangan
berbuat sesuatu yang melanggar hukum Tuhan” Jlitheng tersenyum.
Katanya sambil mengangguk-angguk “Aku mengerti biyung Biyung menjadi
cemas, bahwa aku terseret oleh kebengalan anak-anak muda sebayaku
yang menempuh jalan sesat. Tidak biyung. Aku tidak akan melakukan
sesuatu yang dapat menyakiti hati biyung. Jika aku ingin pergi
beberapa hari, adalah karena kerinduanku pada sebuah perjalanan.
Tetapi aku tidak akan berhenti pada orang lain lagi dalam
pengembaraan ini, karena aku sudah mempunyai tempat tinggal dan
seorang ibu yang sangat baik kepadaku. Dengan demikian, dimanapun
aku berhenti, aku akan tetap teringat untuk pulang kembal ke rumah
ini” Jlitheng termangu-mangu ketika ia melihat mata perempuan tua
itu menjadi, basah. Ternyata perempuan tua itu bukannya sekedar
mengiakan saja segala ceriteranya yang dibuatnya sebagai alasan
untuk pergi meninggalkan Lumban. Tetapi perempuan itu menjadi cemas
dan benar-benar seperti akan ditinggalkan oleh anaknya sendir i.
Tetapi Jlitheng benar-benar berjanji kepada diri sendiri, jika ia
sudah selesai dengan segala macam tugasnya dengan selamat, maka ia
benar-benar tidak akan melupakan perempuan tua itu. Demikianlah,
pada saatnya Jlitheng meninggalkan Lumban Wetan dan Lumban Kulon.
Seperti yang pernah dilakukannya, maka ia dengan sengaja pergi
menjelang malam. Kecuali tidak banyak orang yang dijumpainya di
bulak dan pategalan, maka perjalanannya akan segera disaput oleh
gelapnya malam. Tetapi Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika ia
melihat seseorang berdiri diujung padukuhaninya Seakan-akan orang
itu dengan sengaja telah menunggunya. “Daruwerdi“ Jlitheng berdesis.
“Kau akan pergi kemana Jlitheng?“ bertanya Daruwerdi. Jlitheng
menjadi termangu-mangu. Namun akhirnya ia menjawab “Aku disuruh
biyung pergi ke rumah paman lagi. Ada sesuatu yang penting harus aku
sampaikan” “Apakah yang penting itu?“ bertanya Daruwerdi. “Ini
adalah persoalan keluargaku Daruwerdi” jawab Jlitheng. “Jawablah”
suara Daruwerdi tiba-tiba menjadi berat “Kau tahu siapa aku” “Tetapi
itu adalah masalahku” “Katakan, atau kau tidak akan dapat pergi ke
rumah pamanmu itu“ Jlitheng sadar, bahwa Daruwerdi yang mempunyai
tugas khusus itu ternyata telah menjadi curiga oleh kepergiannya.
Karena itu, maka katanya kemudian “Baiklah Daruwerdi Tetapi
masalahnya sebenarnya terlalu pr ibadi” “Sebutlah” “Biyung mulai
dengan pembicaraan keluarga. Biyung mempunyai anak laki-laki dan
paman mempunyai anak perempuan yang sudah menjelang dewasa”
Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa
berkepentingan. Katanya “Kau datang melamar bagi dir imu sendiri?“
“Tidak. Tidak begitu. Aku hanya membawa pesan biyung karena tidak
ada orang lain yang disuruhnya pergi” Daruwerdi masih tertawa. Namun
kemudian sambil melangkah pergi ia bergumam “Jika kau kawin,
isterimu akan kau beri makan apa, Jlitheng? Kau kira air sungai itu
akan dapat membuat Lumban dalam satu dua hari menjadi padukuhan yang
hijau subur?“ “Aku juga tidak akan kawin dalam dua tiga hari ini
Daruwerdi” Daruwerdi masih tertawa. Suara tertawanya masih terdengar
meskipun anak muda itu sudah melangkah menjauh masuk ke dalam
padukuhan. “Anak Gila“ geram Jlitheng kemudian. Namun ia tidak
menghiraukannya lagi. Demikianlah Jlitheng mulai menempuh
perjalanannya yang berbahaya. Sebagai yang pernah dilakukan, maka
iapun singgah untuk mengambil pakaiannya, la tidak ingin datang ke
perguruan Sanggar Gading dalam pakaian seorang petani miskin, la
akan datang sebagai yang pernah dilihat oleh Cempaka beberapa saat
yang lampau. Dengan pakaiannya dan kelengkapan seorang yang akan
menempuh perjalanan yang berbahaya, Jlitheng pergi ke rumah saudagar
tempat ia menitipkan kudanya Saudagar yang sangat baik kepadanya,
karena ia telah mengenal siapa sebenarnya anak muda yang menyebut
dirinya bernama Jlitheng itu. Namun demikian, Jlitheng tidak
mengatakan seluruh rencananya Bagaimanapun juga, ia harus
berhati-hati menghadapi padepokan Sanggar Gading “Mudah-mudahan
orang-orang Sanggar Gading t idak didahului oleh orang-orang
Pusparari yang justru telah mempunyai kesanggupan lebih dahulu.
Namun agaknya Sanggar Gading telah siap lebih dahulu untuk melakukan
seperti yang diminta oleh Jlitheng sementara orang-orang Pusparuri
masih sedang membicarakan berkepanjangan” berkata Jlitheng kepada
dirinya sendiri. Lalu “meskipun demikian, jika orang-orang Sanggar
Gading berhasil, berarti perguruan itu harus berhadapan dengan
perguruan Pusparuri, Kendali Putih dan mungkin juga dari perguruan
yang lain. Bahkan mungkin perguruan Hantu di Gunung Kunir“ Ternyata
saudagar yang baik itu telah menyediakan diri untuk berbuat apa saja
j ika Jlitheng menghendaki. “Pada saatnya, jika aku memerlukan, aku
akan mohon bantuan paman” jawab Jlitheng “tetapi sementara aku
melihat-lihat kemungkinan yang akan terjadi, biarlah aku pergi
seorang diri” Jika angger memer lukan aku, jangan segan-segan.
Angger dapat memanggil aku uatuk melakukan apa saja, karena aku
mengerti, bahwa angger adalah pengemban tugas kebenaran meskipun
tugas itu angger bebankan dtaitas pundak angger atas kemauan angger
sendiri” berkata saudagar itu. Jlitheng tersenyum. Jawabnya “Terima
kasih paman. Aku tentu akan datang kepada paman, jika aku memang
memer lukan. Akupun tahu, bahwa paman yang mempunyai sangkut paut
ilmu dengan aku dan guru, adalah orang yang luar b:asa. Sudah renta
pada kesulitan yang tidak teratasi aku akan lari kepada paman”
“Ilmuku tidak seberapa ngger. Aku hanya mempunyai kemauan karena
pertimbangan tentang perjuangan angger” sahut saudagar itu, Jlitheng
tersenyum. Namun kemudian iapun segera mohon diri untuk melanjutkan
perjalanannya ke Demak. Berkuda Jlitheng pergi ke Demak. Ia
memerlukan singgah sejenak dirumah Sri Panular. Ia ingin mendapatkan
pesan terakhir, sehingga dengan demikian akan dapat membuat hatinya
semakin mantap. “Pergilah” berkata Sri Panular “Kau sudah melengkapi
dirimu dengan senjata yang dapat kau pergunakan sebaik- baiknya.
Namun aku ingin memberimu barang selembar bekal perjalanan” Jlitheng
menjadi berdebar-debar. Sementara Sri Panular meneruskan “ngger. Aku
mempunyai sebilah pedang tipis meskipun cukup besar dan panjang,
Namun, meskipun pedang itu tipis, tetapi terbuat dari besi baja
pilihan sehingga pedang itu tidak mudah patah. Seandainya kau harus
membenturkan pedang itu dengan senjata lawan yang betapapun kuatnya,
bahkan dengan pedang yang terbuat dari wesi aji sekalipun, pedang
itu tidak akan patah” Jlitheng mengangguk-angguk dengan penuh harap
”Keuntungan dar i pedang itu ngger” berkata Sri Panular “jangkauan
yang cukup jauh karena panjangnya, sementara pedang itu terlalu
ringan dibandingkan dengan bentuknya” berkata Sri Panular lebih
lanjut “dengan demikian kau dapat merggerakkannya dengan cepat,
tangkas namun kuat dan dengan penuh kepercayaan” Jlitheng mengangguk
homat sambil berkata “Aku hanya dapat mengucapkan beribu terima
kasih” Jlithengpun kemudian menerima pedang itu di dalam sanggar Sri
Panular. Beberapa saat lamanya, Jlitheng dipersilahkan untuk
mencobanya. Membiasakan diri mempergunakannya dan dengan heran
Jlitheng melihat, betapa kuatnya pedang tipis Itu. Dengan sekuat
tenaga Jlitheng menghantam pedang itu sama sekai tidak patah. Bahkan
lukapun tidak. “Pakailah. Disamping paser-paser kecil itu. Tugasmu
adalah tugas berat” berkata Sri Panular. Setelah beberapa kali
mengucapkan terima kasih, maka Jlithengpun kemudian ber istirahat
sejenak, menunggu matahari terbit. Ia masih sempat berbaring di
rumah Sri Panular. Pada saatnya, setelah makan pagi dan minum
minuman panas, maka Jlithengpun minta diri. Matahari telah naik agak
tinggi. Namun padukuhan Sr i Panular ternyata memang bukan padukuhan
yang ramai. Setelah mendapat pesan-pesan terakhir, maka Jlithengpun
meninggalkan padukuhan itu. Ia berkuda menyusur i jalan di pinggir
kota Demak. Kemudian lewait pintu gerbang samping anak muda itu
keluar nienonggailkan kota menuju keperguruan Sanggar Gading.
Jlitheng belum pernah mengenal perguruan itu. Tetapi ia mendapat
beberapa petunjuk meskipun samar-samar dari Cempaka, apabila ia
memang benar-benar angin datang ke padepokannya. ”Masih ada waktu,
sebelum hari kesepuluh itu” berkata Jlitheng “Aku harap bahwa aku
belumterlambat” Sebagai seorang yang berpandangan tajam, maka
Jlithengpun segera mengenal isyarat yang diberikan oleh Cempaka.
Karena itu, maka iapun yakin, bahwa ia berjalan ke jurusan yang
benar. Meskipun demkian Jlitheng tidak meninggalkan kewaspadaan. Ia
tidak mempercayai orang seperti Cempaka itu sepenuhnya, bahwa yang
dikatakannya itu bukan sekedar perangkap.. Jalan yang diIaluinya
ternyata semakin lama menjadi semakin sempit dan sunyi Nampaknya
jalan itu bukannya jalan yang sering dilalui oleh para pejalan dari
atau menuju ke Demak. Tetapi pada jalan itu Jlitheng melihat
tanda-tanda yang pernah diberikan oleh Campaika meskipun hanya
sekilas. Ia melihat sebatang pohon meranggas. Batangnya menjulang
dengan ranting-rantingnya yang tidak berdaun. Disebatang parit yang
menyilang jalan, Jlitheng bertemu dengan dua orang yang membawa
cangkul dipundaknya. Demikian kedua orang itu melihat Jlitheng,
nampak wajahnya segera berubah. Jlitheng melihat perubahan itu.
Justru karena itu ia menjadi tertarik dan berhenti dua langkah di
dekat mereka. Wajah kedua orang itu menjadi tegang. Ketika Jlitheng
meloncat turun dari kudanya, kedua orang itu bergeser dan wajah
mereka mulai nampak ketakutan. “Ki Sanak” bertanya Jlitheng kemudian
“Apakah Ki Sanak tahu, jalan ini menuju kemana?“ Kedua orang itu
saling bepandangan. Namun pada wajah mereka nampak ketegangan yang
begejolak di dalam jantungnya. Jlitheng yang melihat gelagat itu
justru bertanya “Kenapa Ki Sanak nampak menjadi ketakutan?“ Sejenak
keduanya tennangu-mangu. Namun yang seorang kemudian bertanya
“Anakmas, apakah anakmas belum mengenal daerah ini?“ Jlitheng
menggeleng. Jawabnya “Belum Ki Sanak. Aku baru kali ini lewat jalan
ini” “Anakmas dari mana?” bertanya yang seorang. “Aku orang Demak”
Keduanya saling berpandangan lagi. Yang seorang bertanya “Apakah
benar anakmas orang Demak? Jika anakmas orang Demak, aku kira
anakmas tentu sudah mengenal daerah ini. Setidak-tidaknya mengetahui
dan mendengar tentang daerah ini” Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Sambil mengangguk- angguk lia berkata “Aku memang bukan
orang dar i daerah Timur. Tetapi aku mempunyai sanak kadang di
Demak” Kedua orang itu mengangguk-angguk. Yang seorang bertanya
“Sekarang, anakmas akan pergi kemana?“ “Aku tidak mempunyai tujuan.
Aku hanya ingin pergi saja melihat-lihat keadaan disekitar kota
Demak yang kini menjadi pusat pemerintahan” jawab Jlitheng. Keduanya
masih mengangguk-angguk. Salah seorang dari keduanya kemudian
berkata “Jika demikian, sebaliknya anak mas tidak menempuh jalan
ini. Jalan ini akan sampai ke padukuhan Watu Tadah. Padukuhan yang
sudah banyak dikenal orang sebagai tempat yang paling gawat di
daerah Demak” “Kenapa? Apakah tempat itu sedang menyusun kekuatan
untuk memberontak?“ bertanya Jlitheng. “Jika demikian persoalannya
akan lebih cepat diselesaikan” “Jadi?“ “Padukuhan itu adalah tempat
tanggal para perampok, penyamun dan penjahat-penjahat lain.
Seolah-olah turun temurun mereka adalah penjahat-penjahat” “Apakah
para pemimpin prajurit Demak tidak dapat berbuat apa-apa?“ bertanya
Jlitheng. “Sudah banyak yang mereka lakukan. Tetapi untuk menangkap
penjahat yang sebenarnya di padukuhan itu tidak mudah. Satu pasukan
prajurit segelar sepapan pernah memasuki padukuhan itu. Tetapi yang
mereka jumpai adalah perempuan dan anak-anak. Satu dua mereka
bertemu dengan laki- laki tua dan anak-anak remaja. Tetapi para
prajurit itu tidak berhasil menemukan seorang penjahatpun” berkata
salah seorang dari kedua orang itu. “Menarik sekali. Jika demikian,
aku ingin melihat, apa yang ada di padukuhan itu. Sebenarnyalah aku
hanya akan lewat saja“ bekata Jlitheng kemudian. “Jangan anakmas.
Kau masih terlalu muda untuk mengalami kesulitan di daerah itu.
Bahkan mungkin sebelum kalian memasuki padukuhan Watu Tadah, kalian
sudah bertemu dengan bahaya yang dapat mengancam jiwa anakmas”
Jlitheng termangu-mangu. Ia mengerti, bahwa orang itu berusaha untuk
menghindarkannya dari bahaya yang gawat. Tetapi menurut Cempaka, ia
harus menempuh jalan itu. Meskipun Cempaka tidak pernah
menceriterakan sesuatu tentang padukuhan yang disebut Watu Kendeng.
“Ki Sanak” berkata Jlitheng “Ter ima kasih atas peringatan yang kau
berikan. Dengan demikian aku akan dapat berhati- hati Aku akan dapat
.menyiapkan diri j ika benar-benar orang- orang Watu Tadah berbuat
jahat terhadapku” “Mereka bukan saja berbuat jahat kepada orang
lain. Tetapi diantara mereka sendiri sering timbul
bentrokan-bentrokan berdarah. Kematian diantara mereka sama sekali
bukan persoalan yang perlu diperbincangkan oleh para bebahu
padukuhan” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia justru menduga, bahwa
padukuhan itu mempunyai sangkut paut dengan Sanggar Gading. Karena
itu, maka katanya “Aku akan berjalan terus Ki Sanak. Mudah-mudahan
aku selamat keluar dari padukuhan Watu Tadah yang mengerikan itu?”
“Jika anakmas mau mendengarkan kami, aku persilahkan anakmas melihat
bagian lain dari Demak” Jlitheng tersenyum. Justru ia kemudian
bertanya “Kenapa kau berdua tidak takut berada di bulak ini?“
“Jaraknya masih cukup jauh anakmas. Apalagi mereka tahu, bahwa kami
adalah orang-orang miskin yang tidak akan dapat mereka peras” ia
berhenti sejenak lalu “namun demikian gadis-gadis yang dianggap
cantik di padukuhan kami perlu mendapat perhatian. Jika seorang
gadis kecil mulai tumbuh menjelang dewasa, maka ia akan dikir im
kesanak kadang diluar padukuhan yang cukup jauh. Setelah kawin
mereka akan kembali Namun demikian, ada kalanya, perempuan,
bersuamipun merasa tidak tenang hidup disekitar padukuhan Watu
Tadah” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya “He,
apakah kau pernah mendengar perguruan Sanggar Gading?“ Kedua orang
itu terkejut. Seorang diantaranya berkata “Jangan sebut perguruan
itu anakmas. Aku tidak mengenal dan mengerti apa isinya. Namun
setiap orang tidak berani menyebutnya. Watu Tadah masih juga
terucapkan oleh kami. Tetapi perguruan itu sama sekal tidak”
Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Dengan demikian ia mengerti,
bahwa ia memang berada dijalan yang benar. Namun kesan yang
didapatkannya atas Sanggar Gading benar-benar telah mendebarkan
jantungnya. Meskipun demikian ia bertanya “Kenapa kalian tidak
berani menyebut Sanggar Gading atau menunjukkan tempatnya” Kedua
orang itu menjadi semakin tegang. Kemudian katanya “Maaf ngger. Aku
masih mempunyai kerja di pategalan. Aku minta dir i” Jlitheng dengan
serta merta berkata “Tunggu Ki Sanak. Aku masih akan berbicara.
Baiklah, aku tidak akan bertanya tentang Sanggar Gading. Tetapi
tentang Watu Tadah” Kedua orang itu tertegun, sementara Jlitheng
berkata “Kenapa kalian lebih berani menyentuh nama Watu Tadah.
Bukankah di Watu Tadah tinggal para perampok, penyamun, penjahat dan
sejenisnya?“ “Orang-orang Watu Tadah lebih mement ingkan mencari
korban diantara orang-orang yang memiliki harta benda yang dapat
mereka ambil” jawab salah seorang dar i mereka, “O“ Jlitheng
mengangguk “lalu apa saja yang pernah dilakukan oleh orang Sanggar
Gading?“ Kedua orang itu saing berpandangan. Tiba-tiba saja mereka
mulai menilai, pertanyaan itu memang sangat menarik. Apa yang pernah
dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading? Hampir diluar sadarnya
salah seorang menjawab “Tidak ada yang pernah dilakukannya atas
kami” “Kenapa kalian takut. Bahkan menyebut narnanyapun takut?“
Kedua orang itu termangu-mangu. Namun yang seorang diantara mereka
berkata “Sudahlah. Nanti kita terlambat. Air yang mengalir t idak
terlalu banyak buat pategalan” Kedua orang itupun kemudian minta
diri dan meninggalkan Jlitheng yang termangu-mangu. “Aneh” gumamnya
“orang-orang padesan tidak berani menyebut nama Sanggar Gading tanpa
mengetahui sebabnya. Mereka takut tanpa dapat mengatakan alasannya”
Sejenak Jlitheng masih termangu-mangu. Namun iapun kemudian meloncat
ke punggung kudanya dan meneruskan perjalanannya. Sambil mengerutkan
keningnya ia memandang kekejauhan. Ia melihat beberapa padukuhan
kecil diujung bulak. Namun tentu Watu Tadah adalah sebuah padukuhan
yang lebih besar. Bahkan mungkin banjar panjang yang mencakup
beberapa padukuhan menjadi satu. Jlithengpun kemudian meneruskan
perjalanannya. Ia sadar, bahwa ia akan memasuki daerah berbahaya
sebelum ia, sampai keperguruan Sanggar Gading. “Kenapa Cempaka tidak
mengatakannya” desis Jlitheng di dalam hatinya “atau bahkan Cempaka
telah menjerumuskan aku ke dalam lingkungan yang dapat menjeratku”
Namun Jlitheng tidak mau mundur. Ia meneruskan perjalanannya
mengikuti jalan yang semakin sempit. Semakin lama semakin jelas,
bahwa jalan yang dilaluinya adalah jalan sempit yang jarang diinjak
kaki manusia. Tetapi Jlitheng masih melihat sawah yang digarap. Ia
juga melihat parit yang mengalir dan sawah yang berair. Dengan dada
yang berdebar-debar ia melihat padukuhan kecil yang semakin dekat.
Ia melihat dari kejauhan padukuhan itu tidak ada bedanya dengan
padukuhan lainnya. Sebuah regol dan dinding batu yang rendah.
Demikian Jlitheng memasuki regol, maka ia mulai merasakan suasana
yang memang agak lain. Meskipun ia tidak melihat perbedaan ujud
padukuhan itu, namun pada ujung jalan padukuhan itu, ia sudah
mendengar dua orang perempuan yang bertengkar. Suaranya meninggi
berebut. Semaikan kasar. Bahkan kata-kata yang tidak pantas
didengarpun telah mereka ucapkan. Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia tidak berhenti. Apalagi ketika ia melihat
salah seorang perempuan yang bertengkar itu melangkah pergi meskipun
ia masih mengumpat-umpat. “Awas, jika kau berani melakukannya sekali
lagi” katanya “Aku akan meremas mukamu sampai hancur” “Apalagi yang
ditunggu” jawab yang lain ”Ayo, sekarang aku sudah siap“ “Sebentar
lagi suamiku datang. Aku belum menanak, nasi Persetan dengan kau.
Lebih penting menyediakan makan buat suamiku” “Bilang saja kau
takut” “Apa yang aku takuti” teriak perempuan itu. Tetapi m masih
tetap melangkah menjauh, Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ketika
ia mendahului perempuan yang pergi itu ia bertanya dengan ramah “Apa
yang dipertengkarkan bibi?“ Perempuan itu memandanginya sejenak
Namun tiba-tiba diluar dugaan perempuan itu memakinya sambil
berteriak “Laki-laki jahanam. He, kau mau apa? Kau bukan kadang. Mau
ikut campur?“ Jlitheng terkejut oleh jawaban itu. Tetapi ia masih
menahan diri. Dengan sareh ia berkata “Aku tidak bermaksud apa-apa.
Aku hanya ingin tahu, kenapa, kalian bertengkar. Apakah tidak ada
cara yang lebih baik untuk memecahkan persoalan” “Diam, Jika kau
masih berbicara, aku sobek mulutmu” Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Namun ia semakin terkejut ketika perempuan yang lain ternyata
mendekatinya sambil bertanya kepada perempuan lawannya bertengkar.
“Mau apa setan itu?“ “la bertanya kenapa kita bertengkar” jawab yang
lain. “Terkutuklah kau” bentak perempuan yang lain kepada Jlitheng.
Lalu “Kau sangka kau Buyut kami disini? Atau barangkali pemimpin
kami? Kau mau apa dengan pertengkaran kami?” Jlitheng tidak menyahut
lagi. Tetapi iapun kemudian meninggalkan kedua perempuan yang
kemudian memakinya dengan kata-kata kotor. “Inilah agaknya wajah
padukuhan yang aneh itu“ gumamnya sambil melanjutkan perjalanan.
Tetapi iapun sadar bahwa ia tentu akan menjumpai persoalan-persoalan
lain yang tidak pernah dilihatnya di daerah yang pernah
dikunjunginya. “Mungkin laki-laki disini dapat berbuat lebih garang
lagi” katanya kepada diri sendiri. Karena itu, maka Jlithengpun
menjadi lebih berhati-hati. Diuar sadarnya ia meraba pedang tipis
yang diterimanya dari Sri Panular. Dengan pedang itu di lambung, ia
memang tidak akan dapat ingkar bahwa ia adalah seorang laki-laki.
Apapun yang akan dijumpainya, maka ia harus menghadapinya sebagai
seorang laki-laki. Meskipun demikian ada juga penyesalan di dalam
hatinya. Bukan karena ia menjadi ketakutan. Tetapi j ika persoalan
yang dihadapinya berkisar dari persoalan yang dianggapnya besar,
persoalan pusaka yang menjadi rebutan itu, maka ia akan menjadi
sia-sia. Apalagi jika kemudian ia terjebak bencana di padukuhan itu
tanpa sebab yang pantas untuk bertaruh nyawa. “Tetapi yang aku
lakukan ini adalah dalam rangka usahaku menemukan pusaka itu juga”
berkata Jlitheng di dalam hatinya. Kecurigaannya kepada Cempaka
menjadi semakin tajam. Mungkin dengan cara ini Cempaka berusaha
untuk menghapuskan jejaknya. “Apakah ia mengetahui, atau
setidak-tidaknya menjadi curiga kepadaku yang tiba-tiba saja
menolongnya ditengah jalan“ pertanyaan itupun terasa mulai
mengganggu. Beberapa saat lamanya Jlitheng tidak menjumpai sesuatu.
Dalam keadaan yang demikian, padukuhan itu memang tidak berbeda
dengan padukuhan lain. Ia melihat anak-anak bermain di halaman. Ia
melihat seorang laki-laki tua lewat dengan cangkul di pundaknya.
Tetapi yang tidak terbiasa adalah bagaimama laki-laki tua itu
memandangnya. Seolah- olah laki-laki tua itu belum pernah melibat
seorangpun dari luar padukuhan itu. Ketika Jlitheng sampai ke
tengah-tengah padukuhan itu, ia melihat seorang laki- laki duduk
berselimut kain panjang di dalam gardu. Agaknya ia telah berada di
gardu itu sejak semalam tanpa berkisar. Jlitheng menjadi
berdebar-debar. Namun ia tidak menghiraukannya lebih jauh. Kudanya
berjalan tidak terlalu cepat di depan gardu itu. Namun Jlitheng
terkejut ketika ia melalui gardu itu terdengar laki-laki itu
bergumam “Bantaradi” Jlitheng tidak mengerti maksud kata-kata orang
itu. Namun sekali lagi orang itu berkata “Bantaradi. He, bukankah
kau Bantaradi?“ Mula-mula Jlitheng menjadi bingung. Namun kemudian
iapun teringat bahwa ia pernah mempergunakan nama itu. Ketika ia
melibatkan dir i dalam pertempuran antara Cempaka melawan jumlah
yang tidak seimbang ia menyebut dirinya bernama Bantaradi. Karena
itu, dengan serta merta iapun berhenti. Dipandanginya orang yang
duduk di gardu itu. dengan saksama” Siapa kau?“ bertanya Jlitheng.
Orang itu tersenyum. Jawabnya ”Lebih dari lima hari aku menungguimu
disini. Tugasku t inggal sehari besok. Jika besok kau tidak datang,
itu berarti bahwa kau tidak akan datang ke padukuhan ini” “Persetan,
siapa kau?“ desis Jlitheng. Orang itu tertawa. Jawabnya “Aneh. Bahwa
seorang perantau tidak mudah mengingat ujud yang pernah tidak mudah
mengingat ujud yang pernah dikenalnya“ Jlitheng mengerutkan
keningnya. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya. Ia menghubungkan
ingatannya dengan nama Bantaradi yang diucapkannya dlihadapan
Cempaka dam kawan-kawannya. Akhirnya Jlitheng mengangguk-angguk.
Ingatannya bukan ingatan yang tumpul. Karena itu, dihadapan Cempaka
sejenak da berkata “Aku kira aku dapat mengenalimu meskipun aku
masih ragu-ragu. Aku melihat Cempaka dan kawan-kawannya di
malamhari, sehingga karena itu, sekilas aku tidak mengenal wajahmu.
Agaknya kau salah seorang kawan Cempaka pada waktu litu. Apalagi
dalam pakaianmu itu” Orang itu tertawa. Katanya “Aku berada di gardu
siang dan malam. Jika aku terpaksa pergi, maka aku suruh adikku
menggantikan aku disini. Dengan member ikan kesan dan ciri- ciri
yang mudah dikenal, aku minta adikku menunggu orang yang bernama
Bantaradi. Tetapi akhirnya aku jugalah yang melihatmu lewat”
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya “Inilah agaknya cara kalian
menerima aku. He, apakah padukuhan ini pula Barang orang-orang
Sanggar Gading? “Kau orang yang luar biasa. Dengan isyarat yang
kabur, kau berhasil menelusuri jalan menuju ke Sanggar Gading.
Tetapi kau belum sampai ke Sanggar Gading” Jlitheng mengerutkan ker
ingnya. Katanya “Aku mengenal segala tempat di segala sudut bumi.
He, kenapa kau disini?” “Rumahku di padukuhan ini” Jlitheng menarik
nafas dalam-dalam. Kemudian sambil mengangguk ia berkata “Kau akan
membawa aku ke Sanggar Gading” “Tidak sekarang Tetapi besok” “Aku
akan terlambat “ Orang itu menggeleng. Katanya “Tidak. Kau tidak
akan terlambat, karena keputusan terakhir, segalanya akan dilakukan
dalam tiga hari lagi. Karena itu, kau dapat bermalam disini malam
ini“ Jlitheng tidak segera menjawab. Ia masih ragu-ragu. Namun dalam
pada itu, selagi ia termenung, ia dikejutkan oleh pekik seorang
perempuan. Kemudian dari tikungan ia melihat seorang perempuan
berlari melintas jalan. Namun tiba-tiba saja tangan yang kuat telah
menggapainya dan menghentakkannya. Perempuan itu kehilangan
keseimbangan, sehingga iapun kemudian terjatuh. Dengan kasar
laki-laki yang mengejarnya itupun menar ik tangannya sambil
membentak “Berdir i” Perempuan itu tertatih-tatih berdiri. Namun
belum lagi kakinya tegak laki-laki itu sudah menamparnya, sehingga
perempuan itu telah terjatuh lagi. “He, apa yang terjadi?“ bertanya
Jlitheng dengan tegang. “Jangan dicampur i persoalannya. Mereka
adalah suami isteri” desis orang di gardu itu. “Tetapi yang
dilakukan itu sudah berlebihan” “Jangan mencari perkara disini.
Setiap campur tangan akan dapat berarti darah. Kita sudah terbiasa
hidup dalam solah tingkah yang kasar” berkata orang di dalamgardu
itu, Jlitheng termangu-mangu. Ia kemudian menyaksikan laki- laki itu
menyeret perempuan yang dengan susah payah mencoba untuk berdir i.
Namun tiba-tiba saja perempuan itu telah menggigit tangan suaminya,
sehingga suaminya berteriak kesakitan. Demikian cepatnya perempuan
itu menghentakkan langgannya dan mencoba ber lari. “Kau diam saja
melihat peristiwa semacam itu” bertanya Jlitheng yang menjadi
semakin tegang. Tetapi laki- laki yang duduk di gardu itu tertawa
saja. Katanya kemudian “Perempuan itu telah mengadakan hubungan
dengan laki- laki lain. Ketika suaminya mengetahui, maka ia menjadi
marah dan menyakiti isterinya” “Tetapi bukankah persoalannya dapat
dibicarakan? sahut Jlitheng. “Siapa yang tidak marah mengetahui
tingkah laku isteringa yang demikian” jawab laki- laki di gardu itu
“biarlah semuanya terjadi seperti yang seharusnya terjadi. Sebaiknya
perempuan itu mengakui kesalahannya dan minta maaf. Tetapi ia
memilih jalan lain” “Persetan. Aku tidak dapat membiarkan hal itu
terjadi” Laki- laki di gardu itu justru tertawa. Katanya ”Jika kau
menolong perempuan itu, aku yakin, kau akan dapat melakukannya.
Tetapi kau akan terkena akibatnya” Jlitheng termangu-mangu. Ia
melihat laki- laki itu memburu isterinya. Semakin Hama semakin
dekat. “Apa akibatnya?“ “Perempuan itu akan menjadi isterimu” “Gila“
J lithengpun hampir berteriak. “Karena itu, biarkan saja. Sudah ada
orang lain yang berkewajiban menolong j ika ia mau” Jlitheng menjadi
semakin tegang. Sementara laki- laki di gardu itu berkata “Perempuan
itu berlari menuju kehalaman di sebelah. Kau lihat laki-laki
dibelakang dinding batu itu? Itulah laki- laki yang telah membuat
hubungan dengan perempuan itu. Jika perempuan itu berhasil melampaui
dindiing batu itu, ia akan selamat. Laki-laki itu tidak berhak untuk
berbuat apa- apa. Kecuali jika ia berniat untuk bertaruh nyawa
melawan lak-laki yang telah mengganggu isterinya itu” “Uh, semua
sudah gila. Kau juga sudah gia” Laki-laki itu tidak menyahut. Namun
iapun kemudian beringsut dan memperhatikan perempuan itu. Ternyata
perempuan itu mampu juga berlari cepat. Ia tidak menghiraukan
kainnya yang sobek sampai ke pinggulnya. Namun laki- laki yang
mengejarnya bagaikan menjadi gila karenanya. Ketika tangan laki-laki
Itu hampir menggapainya, ternyata perempuan itu menjatuhklan diri
tepat memasuki regol rumah laki- laki yang berdiri tegang di dalam
halaman rumahnya. Demikian iperempuan itu terjatuh ke dalam regol,
maka laki- laki itupun berlari- lari menolongnya. Sementara itu,
laki-laki yang mengejarnya terpaksa berhenti diluar regol. Ia tidak
memburu masuk kehalaman rumah dihadapannya. Laki- laki di dalam
gardu iitu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Lihat, perempuan itu
sudah selamat. Ia tidak dapat disentuh lagi oleh suaminya, karena ia
sudah berada di rumah seorang laki- laki lain yang akan
melindunginya” Jlitheng termangu-mangu. Tiba-tiba saja timlbullah
ibanya kepada laki-laki yang berdiri tegak diuar regol. Bahkan
kemudian dengan kepala tunduk laki- laki itu melangkah pergi.
Jlitheng kemudian mendengar suara tertawa dari halaman rumah itu.
Suara tertawa seorang laki-laki dan seorang perempuan, “Luka-lukamu
akan segera sembuh” berkata laki-laki di dalam regol “tidak apa-apa.
Kau tinggal disini bersamaku“ Laki- laki yang meninggalkan regol itu
tertegun. Tetapi ketika ia berpaling, terdengar laki-laki di dalam
regol itu membentak “He, kenapa kau berhenti tikus? Kau masih sayang
pada isterimu? Jika demikian, rebut perempuan ini dari tanganku. Ia
mencintai aku, terbukti ia lari darimu dan memasuki halaman rumahku”
Laki- laki diluar regol itu menegang sejenak. Namun iapun kemudian
melangkah pergi. Tetapi tiba-tiba saja terdengar orang di dalam
regol itu berkata “Tunggu. Aku akan membunuhmu” Jlitheng mengerutkan
keningnya. Sementara itu terdengar laki- laki di dalam gardu itu
berdesis “Celaka. Laki-lakt itu tentu benar-benar akan mati”
“Kenapa?”. “Bekas isterinya tentu minta laki-laki di dalam regol itu
untuk membunuhnya” Segalanya berlangsung dengan cepat. Laki-laki
diluar regol itu berusaha untuk meloncat berlari. Tetapi seperti
dilontarkan, seorang laki-laki meloncat dari dalam regol dan
menerkamnya. Sejenak laki-laki yang kehilangan isterinya itu
berusaha untuk membebaskan dirinya. Tetapi ia tidak berhasil. Sebuah
pukulan yang dahsyat telah menghantam dagunya, sehingga laki- laki
itu terlempar dan jatuh terlantang. “Bunuh saja” teriak perempuan
yang muncul dari regol. Perempuan yang telah dikejar oleh laki-laki
yang terjatuh itu. Dengan kain yang sobek sampai ke pinggul ia
berdir i bertolak pinggang. Suaranya melengking berteriak “Bunuh
saja, dan lemparkan mayatnya kekali yang banjir itu. Laki- laki yang
meloncat dari dalam regol itu benar-benai bagaikan gila. Ditariknya
rambut laki-laki yang terlentang itu, Kemudian dengan kakinya ia
menghantam wajah orang yang tidak berdaya itu. Sekali lagi orang itu
terbanting jatuh di tanah. Jlitheng menjadi ngeri ketika ia
mendengar perempuan itu tertawa. Suaranya seperti suara iblis betina
yang harus melihat kematian” “Kau diamsaja “ sekali lagi Jlitheng
menggeram. “Celakalah laki-laki itu. Ia akan mati. Laki-laki dari
dalam regol itu adalah seorang gegedug berandal di padukuhan ini,
meskipun masih ada juga satu dua orang yang disegani. Jlitheng
menjadi semakin tegang. Ia melihat laki- laki itu bagaikan gila.
Dengan tanpa mengenal belas kasihan ia telah menghajar suami
perampuan iblis itu. Dengan sepenuh tenaga ia memukul, membanting
dan melemparkannya menghantam dinding batu. Sementara perempuan itu
tertawa semakin gembira, Jlitheng menjadi gemetar. Dengan suara
bergetar ia berkata “Perbuatan terkutuk. He, siapakah orang yang
disegani itu?“ “Aku” berkata orang di gardu itu. “Dan kau tidak
berbuat apa-apa sama sekal?“ Orang itu berpikir sejenak. Namun
kemudian ia menggeleng sambil tersenyum. Katanya “Tidak. Aku tidak
akan melibatkan diri dalampersoalan ini” “Tetapi laki-laki itu akan
dibunuh. Bukankah begitu? Dan orang-orang lain tidak ada yang
mempersoalkannya?“ geram Jlitheng. “Laki-laki itu tentu akan mati.
Gegedug berandal itu t idak pernah mengampuni orang-orang yang
dianggapnya bersalah kepadanya” laki-laki itu berhenti sejenak, lalu
“Aku tidak mau terlibat persoalan perempuan” Jlitheng menjadi
semakin gemetar. Dengan suara yang terputus-putus ia bertanya
“Bukankah yang sebenarnya bersalah adalah isterinya yang sudah
melakukan hubungan dengan laki-laki lain? Kenapa justru suaminya
yang harus mati?” “Jangan bertanya soal salah dan benar disini. Ada
ketentuan yang tidak dapat dilawan. Siapa yang kuat, ialah yang
benar disini, Juga berlaku atas suami isteri itu” “Jika demiiikan,
kenapa orang-orang yang merasa lemah tidak meninggalkan tempat ini?“
Laki- laki itu tertawa. Namun ia menahan dir i agar suara tertawanya
tidak terdengar olah laki-laki yang. sedang marah itu. Katanya “Jika
ia sadar, bahwa aku ada disini, ia akan bersikap lain. Tetapi dengan
demikian, aku telah terlibat dalam persoalan perempuan itu”
“Persetan” berkata Jlitheng kemudian “kalau membunuh disini bukan
persoalan yang harus dipertanggung jawabkan, aku akan membunuh jika
perlu” “Dan kau akan menjadi sandaran per lindungan perempuan itu?“
“Apa peduliku. Aku akan membunuhnya juga seperti laki- laki Itu”
geram Jlitheng. Laki- laki itu terkejut Dahinya berkerut. Diluar
sadarnya ia berdesis “Kau akan melakukannya” “Jika kau ingin
melindungi perempuan itu, lakukanlah. Aku tidak peduli” berkata
orang itu pula. Dengan garangnya Jlithengpun menggeram. Kemudian
iapun mengikat kudanya pada tiang gardu itu. Sekilas ia melihat,
laki-laki yang lemah itu terbanting di tanah. Kemudian dengan liar
lawannya telah menginjak dadanya. Ketika orang itu akan menginjak
wajahnya, Jlitheng tidak tahan lagi. Karena itu, iapun berteriak
“Hent ikan kegilaan ini” Suara Jlitheng ternyata telah mengejutkan
orang yang menjadi liar dan buas itu. Sejenak ia tertegun. Kemudian
dengan suara yang kasar ia membentak “He, binatang manakah yang
telah mencampur i urusanku?“ Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia
sadar, bahwa ia telah melibatkan diri dalam persoalan yang khusus di
padukuhan yang aneh. Namun ia sudah berniat berbuat demikian. Ketika
ia berpaling, dilihatnya orang di dalam gardu itu telah bergeser dan
berlindung pada dinding, sehingga orang yang sedang marah itu tidak
melihatnya. Dalam pada itu Jlitheng yang melangkah setapak demi
setapak maju, menjawab “Aku melhat tingkah lakumu sejak semula. “Aku
juga melihat kau berhenti di depan gardu Tetapi apa urusanmu dengan
aku.. Aku akan membunuhnya, karena ia sudah menghina perempuan ini”
“Siapakah perempuan itu?“. bertanya Jlitheng. “Bekas isterinya.
Tetapi ia sudah berada di bawah perlindunganku” “Baru saja. Aku
melihat ia lari masuk ke dalam regol halamanmu. Sementara itu,
laki-laki ini tidak memasuki regolmu. Kenapa kau cegah ia pergi.
Bahkan kau akan membunuhnya?” Wajah laki- laki itu menjadi merah.
Dengan lantang ia berkata “He, tikus gila. Kau belum kenal siapa aku
ha?“ “Aku tidak perlu mengenali setiap orang yang melakukan
kejahatan. Aku tidak akan peduli jika kau berselisih dengan laki-
laki yang manapun juga. Kemudian bertempur dengan jantan. Tetapi
yang aku lihat adalah lain. Kau sudah merampas isterinya dengan
dalih apapun. Kemudaan ketika laki- laki ini sudah meninggalkan
regol halamanmu, kaulah yang mengejarnya tanpa alasan” “Perempuan
itu minta aku membunuhnya” teriak Laki-laki itu. “Permintaan gila
itu akan kau penuhi juga? Ia sudah berbuat serong. Kemudian ia minta
orang lain membunuh suaminya. He, apakah perempuan yang demikian
pantas dihormati?” Wajah laki- laki itu menjadi merah. Demikian juga
perempuan yang berdiri di depan regol itu, sementara laki-laki yang
terbaring di tanah itu mengerang kesakitan. Dalam pada itu, ternyata
perselisihan itu sudah menar ik perhatian beberapa orang padukuhan
itu. Mereka tidak terbiasa melihat seseorang mencampuri persoalan
orang lain. Namun ternyata seorang laki-laki yang sedang memetik
buah kelapa melihat, Jlitheng telah mencampuri persoalan itu, Karena
itu., maka iapun telah tertarik untuk melihatnya. Seorang yang lain
bertanya kepadanya. Dan jawabnya telah menjalar kepada beberapa
orang yang lain pula, sehingga dari kejauhan mereka melihat, apa
yang akan terjadi dengan orang yang melibatkan diri tanpa sebab pada
perselisihan yang telah terjadi itu. Pertanyaan Jlitheng itu
merupakan pertanyaan yang aneh di telinga laki- laki yang marah itu.
Namun karena itu, ia justru menjadi semakin marah. Sementara itu,
perempuan yang sudah meninggalkan suaminya itupun menjadi marah
pula. Dengan nada tinggi ia berteriak “Bunuh orang itu kakang.
Bukankah kau gegedug disini?“ Orang yang disebutnya gegedug itu
menggeram. Kemarahannya tidak tertahankan lagi. Sementara beberapa
orang yang melihat per istiwa itu. dari kejauhan menjadi
berdebar-debar. Mereka mengenal laki-laki yang disebut gegedug itu.
Mereka mengenal bahwa laki-laki itu memiliki kemampuan yang tidak
ada bandingnya di padukuhan itu, kecuali beberapa orang yang masih
disegani. Meskipun dalam keadaan yang gawat, orang itu tidak akan
mengenal takut kepada siapapun juga. Namun tiba-tiba seorang yang
tidak dikenal telah mencampur i persoalannya. Bahkan seakan-akan
orang itu telah menantangnya. Menurut tanggapan orang-orang
padukuhan itu, orang yang tidak mereka kenal itu telah melibatkan
diri karena perempuan yang menurut penilaian orang padukuhan itu
memang cantik, muda dan panas. Tetapi sikap orang yang tidak mereka
kenal itu mengejutkan, ketika ia justru berkata, bahwa perempuan itu
tidak tahu adat. Bahkan ia sudah mengumpati perempuan itu karena
sikapnya. “Apakah maksud laki- laki itu sebenarnya“ orang-orang yang
menyaksikan peristiwa itu saing bertanya, karena mereka tidak
mempertimbangkan sama sekali bahwa yang dilakukan oleh laki-laki
yang tidak mereka kenal itu adalah karena perasaan keadilannya telah
tersinggung. Dalam pada itu, Jlitheng benar-benar sudah bertekad
untuk melawan tingkah laku sewenang-wenang. Mungkin yang
disaksikannya itu adalah peristiwa kecil dibandingkan dengan
peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Namun ia angin mengatakan
kepada orang-orang padukuhan itu, bahwa ada sikap lain dalam
hubungan antara manusia daripada tidak menghiraukan dan tidak
mencampur i persoalan orang lain. Apabila persoalan itu menyangkut
martabat bubungan manusia dan menyentuh rasa keadilan, maka hal itu
akan dapat menarik orang lain untuk melibatkan dir i dalam persoalan
itu. Dalam pada itu, sekali lagi terdengar perempuan itu berteriak
“Bunuh saja kakang. Aku tidak mau melihatnya mencampur i persoalan
kita” Laki- laki yang disebut gegedug itu menggeram. Katanya “
Salahmu sendiri jika aku membunuhmu” Jlitheng mundur setapak. Ia
benar-benar melihat maut membayang disorot mata orang yang disebut
gegedug itu. Pandangannya yang menyala membuat orang-orang yang
menyaksikan perist iwa itu menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi
yang akan dihadapinya adalah orang yang belum dikenalnya. Dan orang
lijtu menyandang pedang di lambungnya. Agaknya orang itupun bukan
orang kebanyakan. “Aku tidak pernah mengampuni orang yang berani
bertindak deksura kepadaku” geramgegedug itu. Tetapi Jlitheng
menjawab tidak kalah garangnya “Aku telah menyusuri jalan dari
Blambangan sampai ke Banten, Aku telah bertemu dengan beribu watak
manusia. Aku telah menolong, ditolong, tetapi juga pernah berselisih
dan membunuh ratusan orang. Namun aku belum pernah melihat tingkah
laku seseorang dalam kegilaan seperti ini. Seorang yang merasa
dirinya gegedug, tetapi pengecut yang paling buas dengan tingkahmu
yang sewenang-wenang. Berbuatlah demikian terhadapku. Jangan
terhadap laki-laki yang lemah, yang sudah merasa dirinya tidak
berdaya. Ternyata ia sama sekal tidak menyentuh regol rumahmu ketika
isterinya masuk ke dalamnya” Orang yang disebut gegedug itu tidak
tahan lagi mendengar kata-kata Jlitheng. Dengan lantang ia berteriak
“Bersiaplah untuk mati” Namun ketika orang itu siap menyerang,
terdengar suara mendeham dar i gardu. Suara yang hanya terdengar
lamat- lamat. Ketika orang-orang yang sedang berselisih itu
berpaling, mereka melihat seorang yang berkerudung kain panjang,
turun dari gardu itu dan berjalan tanpa mengacuhkan apa yang telah
terjadi, meskipun ia lewat melalui beberapa langkah saja dar i
peristiwa itu. Meskipun demikian, nampak wajah orang yang disebut
gegedug itu berubah. Ia memandang orang yang berjalan itu dengan
tegang. Gegedug itu beringsut surut, ketika ia melihat orang
berkerudung kain itu berhenti dengan t iba-tiba. Sambil berpaling
kepada Jlitheng orang itu berkata “Bantaradi. Aku tidak peduli apa
yang kau lakukan sekarang. Tetapi aku menunggumu disimpang tiga itu,
Jlika kau berhasil keluar hidup-hidup dari tempat ini, datanglah.
Aku masih mempunyai beberapa persoalan denganmu” Sebelum Jlitheng
menjawab, maka orang berkerudung kain itu telah melangkah
meninggalkannya. Sejenak orang yang disebut gegedug itu
termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Aku tidak peduli persoalanmu
dengan orang itu. Tetapi kau harus mati” Jlitheng bergeser setapak
lagi surut. Kesan yang sekilas itu memang menunjukkan, bahwa kawan
Cempaka dari Sanggar Gading itu memang mempunyai pengaruh khusus di
padukuhan itu. Namun dalam pada itu; Jlitheng tidak dapat berpikir
lebih lama lagi. Ketika sekali lagi ia mendengar suara perempuan itu
melengking, maka orang yang disebut gegedug itu telah meloncat
menyerangnya. Tenaganya yang besar terasa pada desir angin yang
menyambar kulit Jlitheng ketika ia berhasil mengelak dar i serangan
lawannya. Jlitheng menyadari, bahwa ia harus berhati-hati. Orang itu
adalah orang yang memiliki tenaga raksasa. Tetapi agaknya orang itu
terlalu percaya kepada kekuatannya, sehingga ia menjadi kurang
berhati-hati Karena itulah, maka untuk rnenjajagi lawannya, Jlitheng
dengan cepat dan tangkas telah menyerangnya. Tidak dengan sepenuh
tenaganya, meskipun ia cukup berhati-hati. Orang itu ternyata tidak
mengelak. Tetapi dengan kekuatan raksasanya ia menangkis serangan
Jlitheng. Jlitheng terkejut ketika benturan itu terjadi. Ternyata ia
telah terdorong beberapa langkah surut. Beberapa orang yang
menyaksikan perkelahian itu menjadi berdebar-debar. Beberapa orang
yang melihat dar i kejauhan menjadi semakin tertarik untuk mendekat.
Mereka terkejut ketika seorang bertubuh pendek, gemuk dengan berewok
di wajahnya, menyibak dianlrara beberapa orang sambil berdesis “Apa
yang terjadi? Kenapa kalian ikut campur?” “Tidak” sahut seorang anak
muda “Kami hanya menonton” Orang bertubuh pendek dengan berewok di
wajahnya itu berjalan terus. Ketika ia berhenti disebelah orang tua
yang berkumis put ih, ia bertanya “Apa yang seorang itu bukan orang
padukuhan ini?” Orang berkumis putih itu berpaling. Kemudian
menjawab “Orang itu bukan orang padukuhan ini. Entahlah, siapakah
orang yang telah ikut campur itu” Orang bertubuh pendek itu
mengangguk-angguk. Katanya “Ia akan mat i. Tetapi itu salahnya
sendir i” Ketika orang bertubuh pendek itu kemudian melintas tanpa
menghiraukan perkelahian itu, maka orang-orang yang menonton saling
berbisik “Kalau gegedug yang seorang itu juga ikut campur, maka
arena itu akan semakin ramai“ “Ia tidak akan ikut campur” jawab yang
lain “seperti Iblis bertangan Petir itu. Ia berada di gardu ketika
peristiwa itu mulai. Ternyata orang yang tidak dikenal itu adalah
kawannya” Orang-orang itupun menjadi semakin berdebar-debar. Jika
orang yang tidak mereka kenal, kawan orang yang mereka beri gelar
Iblis bertangan Petir itu juga memiliki kemampuan yang sama, maka
perkelahian itu tentu akan menjadi sangat seru. “Tetapi ketika
terjadi benturan, orang itu terdorong surut desis seseorang”
Kawannya tidak membantah. Mereka memang melihat Jlitheng terdorong
surut beberapa langkah. Ternyata gegedug yang sedang bertempur itu
merasa bahwa lawannya tidak terlalu kuat. Meskipun ia terdorong juga
setapak, tetapi ia merasa bahwa ia memiliki kekuatan yang jauh
melampaui lawannya. Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin
seru, Jlitheng menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak lagi ingin
membenturkan kekuatannya jika tidak karena terpaksa. Ia sudah tahu,
bahwa lawannya memiliki kekuatan raksasa. Tetapi itu bukan berarti
bahwa kekuatannya tidak dapat terlawan. Jlitheng lebih senang
mempergunakan kecepatannya tergerak. Ia berloncatan seperti seekor
anak kijang. Sekali ia menyerang dari kir i ke kanan. Tiba-tiba saja
ia sudah berada di sebelah kir i. Jika lawannya berkisar, maka
Jlitheng bergerak dengan cepatnya menyerang dari depan. Orang yang
disebut gegedug itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Namun
yang dilakukannya itu justru telah membakar jantung. Ternyata ia
tidak segera dapat menguasai lawannya yang mampu bergerak dengan
cepat. Dalam pada itu, orang yang telah terbaring dipinggir jalan
itupun mulai bergerak. Perlahan-lahan ia mulai menyadari dirinya
sendir i. Bahkan kemudian ia mulai dapat melihat keadaan
disekelilingnya. Sejenak ia termangu-mangu. Ia melihat dua orang
yang sedang bertempur dengan dahsyatnya. Yang seorang adalah laki-
laki yang telah mengambil isterinya, dan yang telah siap untuk
membunuhnya, Tetapi ternyata bahwa ia masih tetap hidup. Ketika
orang itu kemudian berusaha untuk bangkit, maka diamatinya isterinya
bertolak pinggang sambil memperhatikan perkelahian itu. Bahkan
sekali-kali perempuan itu berteriak sekuat-kuatnya “Bunuh. Bunuh
saja orang lancang itu” Tetapi ternyata gegedung itu tidak dengan
segera dapat melakukannya. Bahkan karena ia telah mengerahkan
segenap kekuatannya, maka kekuatannya itupun dengan cepatnya menjadi
susut. Ternyata Jlitheng dengan sengaja tidak menyelesaikan
pertempuran itu dengan serta rnerta. Ia. ingin mempelihatkan kepadai
lawannya, bahwa ilmu yang dimiliki adalah ilmu yang kasar meskipun
kuat. Namun dalam keadaan tertentu kekuatan raksasa itu t idak akan
dapat menguasai keadaan. Dengan kekuatan yang menghentak-hentak,
gegedug itu berusaha untuk menjatuhkan lawannya. Tetapi Jlitheng
dengan tangkasnya selalu berhasil menghindar dan kemudian menyerang
lawannya dengan kecepatan yang tidak dapat teratasi Jlitheng tidak
berusaha untuk menyerang pada tempat- tempat yang gawat. Bahkan ia
tidak mempergunakan segenap kekuatannya. Ia ingin melumpuhkan
lawannya sambil meyakinkannya, bahwa ia bukan apa-apa bagi anak muda
yang telah ikut campur dalampersoalannya itu. Sebenarnyalah orang
itu merasa heran melihat lawannya yang masih muda. Lawannya mampu
bergerak secepat tatit. Serangannya tidak pernah dapat menyentuh
anak muda itu Namun anak muda itupun jarang sekali mengenainya,
meskipun kesempatan terlalu banyak yang dapat dipergunakannya. Namun
dengan demikian, harga diri gegedug yang disegani di padukuhannya
itu merasa terhina. Apalagi ketika sekali-kali ia melihat Jlitheng
masih sempat tersenyum. Karena itu, dengan lantang iapun kemudian
berteriak “Ambil tombakku di langkan, Nyai” Perempuan yang
berteriak-teriak Itupun segera menghambur berlari. Ia mendengar
perintah gegedug itu. Karena itu, maka iapun segera mengambil tombak
gegedug itu yang disimpannya di dalam rumahnya. Orang-orang yang
menyaksikan perkelahian itu menjadi semakin berdebar-debar. Gegedug
itu telah mengambil pusakanya yang sangat ditakuti oleh orang-orang
di sekitarnya. Bahkan gegedug yang bertubuh pendek yang lewat tanpa
mengacuhkan pertempuran itu, menjadi heran ketika ia mendengar
seseorang membertahukan kepadanya, selagi ia duduk dengan tenang di
gardu yang telah kosong. Dengan wajah yang tegang, gegedug yang
berada di gardu itu bertanya “Apakah kau t idak mengingau?“ “Tidak”
jawab orang yang memberitahukan kepadanya “Ia benar-benar menyuruh
perempuan itu mengambil tombak pusakanya” Orang bertubuh pendek itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Siapakah orang yang
tidak dikenal itu? Aku tidak yakin, bahwa ia dapat melawan kakang
Singkir yang memiHki tenaga raksasa itu. Tetapi jika benar kakang
Singkir menyuruh mengambil tombaknya, itu berarti-bahwa ia tidak
dapat membunuhnya dengan tangannya” Karena itu, maka ia tidak dapat
lagi menahan keinginannya untuk melihat apa yang terjadi. Meskipun
agak segan, akhirnya ia turun dari gardu dan berjalan mendekati
arena pertempuran. Tetapi ia tidak mau berdir i terlalu dekat, agar
ia tidak terlibat dalam, perkelahian yang telah terjadi sengitnya
itu” Selain gegedug yang bertubuh pendek itu, maka kawan Cempaka
yang oleh tetangga-tetangganya diberi gelar Iblis bertangan Petir
itupun mendengar dari seseorang yang member itahukan kepadanya,
bahwa gegedug yang sedang bertempur itu telah menyuruh mengambil
tombak pusakanya. Kawan Cempaka dari Sanggar Gading iku tersenyum.
Ia pernah melihat Jlitheng yang dikenalnya bernama Bantaradi itu
bertempur. Karena itu, maka ia dapat menilai apakah kira- kira yang
akan terjadi Dengan demikian, maka ia tidak beranjak dari tempatnya.
Ia masih tetap duduk diatas batu di dekat simpang di padukuhannya”
Dalam pada itu, perkelahian itupun semakin lama menjadi semakin
menyakitkan hati gegedug yang marah itu. Ia telah mengerahkan
segenap tenaganya. Namun Jlitheng hampir- hampir berker ingatpun
tidak. Bahkan semakin lama anak muda itu justru menjadi semakin
tangkas dan bergerak semakin cepat, sehingga gegedug itu telah
hampir kehabisan nafas. Pada saat yang demikian, maka perempuan yang
menjadi sumber persoalan itu berlari- lari sambil membawa tombak
pendek. Ketika ia berdiri di regol maka iapun berteriak “Ini
tombakmu kakang” Gegedug yang disebut bernama Singkir itupun segera
melompat menghampiri perempuan yang berdiri di regol itu untuk
menerima tombaknya. Sementara itu Jlitheng tidak berusaha mencegah.
Dibiarkannya saja lawannya meloncat ke regol, meraih tombaknya, dan
kemudian terdengar orang itu tertawa. “Nasibmu memang buruk anak
muda” berkata gegedug yang disebut kakang Singkir itu. Lalu “Kau
akan mati dengan luka arang kranjang. Aku akan menusuk tubuhmu tanpa
jarak, dari ujung ubun-ubun sampai keujung kaki. Tubuhmu tidak akan
berujud lagi sehingga bangkaimu tidak ubahnya dengan bangkai
binatang yang melata tergilas roda pedati“ Sejenak Jlitheng
termenung. Namun kemudaan katanya Memang mengerikan sekali. Karena
itu, aku akan berusaha untuk menghindari kematian yang demikian”
Lawannya termangu-mangu sejenak. Tetapi Jlitheng kemudian
menjelaskan “Aku akan melawan dan akan mematahkan tombakmu sehingga
kau tidak akan mampu melakukan seperti yang kau katakan” Kemarahan
orang yang bernama Singkir itu tidak dapat ditahan lagi. Dengan
serta merta iapun meloncat menyerang Jlitheng dengan ujung
tombaknya. Tetapi Jlitheng sudah menduga bahwa orang itu akan segera
menyerangnya. Karena itu, maka iapun segera meloncat menghindar.
Dengan demikian maka tombak lawannya itu sama sekali t idak
menyentuhnya. Dengan kemarahan yang membakar jantung, maka gegedug
yang selama itu ditakuti oleh bukan saja penduduk di padukuhannya,
tetapi juga oleh padukuhan disekitarnya itu, segera mengerahkan
segenap kemampuan ilmunya untuk mengakhir i perkelahian itu. Tetapi
lawannya terlalu kuat. Anak muda itu mampu bergerak dengan kecepatan
yang tidak terduga. Kadang- kadang Singkir justru menjadi kehilangan
arah serangannya, karena lawannya berada di tempat yang tidak
diduganya. Meskipun demikian, ternyata Jlitheng kemudian merasa,
bahwa serangan lawannya yang bagaikan gila itu telah menyusutkan
tenaganya. Ia harus bergerak lebih cepat, karena ujung senjata
lawannya yang menyambar-nyambar. Dalam pada itu, orang-orang yang
memperhatikan pertempuran itu menjadi bertambah tegang. Gegedug yang
bertubuh pendek itupun bagaikan membeku di tempatnya. Ia tidak
menduga, bahwa anak muda yang bertempur dengan orang yang disebutnya
Singkir itu memiliki kemampuan yang mendebarkan jantung. Bahkan
beberapa orang yang berdiri agak jauh dari arena itupun rasa-rasanya
menjadi gemetar. Ketegangan yang luar biasa telah mencengkam mereka
pula. Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan, apakah yang bakal
terjadi dengan kedua orang yang sedang bertempur itu. Mereka telah
menyaksikan, betapa tombak gegedug yang disebut Singkir itu meluncur
mematuk, kemudian menyambar dan berpujtar dengan melontarkan
sambaran angin diseputarnya. Sejenak Jlitheng terdesak beberapa
langkah. Putaran tombak itu memang berbahaya baginya. Agaknya orang
yang bernama Singkir itu benar-benar mengenal dan memahami,
bagaimana ia harus bermain-main dengan senjatanya itu. Karena itu,
akhirnya Jlitheng mengambil keputuaan, bahwa ia tidak ingin terjerat
oleh sikapnya. Ia harus berhati-hati dalam keadaan yang meskipun
nampaknya tidak akan membahayakannya. Namun lambat laun, terasa
bahwa ia harus berbuat lebih banyak lagi. Dengan demikian, ketika
tombak lawannya terayun-ayun dan kemudian mematuk dengan dahsyatnya,
Jlitheng meloncat surut. Dengan gerak yang tidak dapat diikuti
dengan tatapan mata orang kebanyakan, tiba-tiba saja Jlitheng telah
menggenggam pedang ditanganinya. “Marilah” berkata Jlitheng
“permainan kita akan semakin mengasikkan” berkata Jlitheng kemudian.
Pedang yang tipis itupun segera bergetar di tangan Jlitheng,
sementara lawannya menjadi termangu-mangu sekejap. Gegedug itu
menyadari betapa tinggi kemampuan lawannya. Disaat lawannya tidak
memegang senjata ditangan, ia tidak segera dapat mengalahkannya.
Apalagi jika kemudian ia membawa senjata. Meskipun demikian orang
yang bernama Singkir itu tidak mau surut. Ia bahkan menjadi
seakan-akan gila. Bahkan lambat laun ia mulai kehilangan pengamatan
dir i dan perhitungan. Serangan-serangannya menjadi liar dan tidak
terkendali. Tetapi perhitungan dan pertimbangannyapun menjadi
semakin kabur. Pertempuran dengan senjata itu agaknya menjadi
semakin menarik perhatian. Gegedug yang bertubuh pendek itu menjadi
tegang. Singkir adalah orang yang memiliki kelebihan dari
orang-orang lain di padukuhan itu. Namun ternyata ia tidak dapat
berbuat banyak menghadapi orang yang tidak dikenal itu. Orang-orang
yang melihat pertempuran itupun menjadi semakin banyak, meskipun
mereka tidak berani mendekat Mereka tidak mau terlibat dalam
perselisihan itu. Perselisihan antara gegedug itu dengan suami dari
perempuan cantik yang berdiri dengan gelisah di depan regol. Dan
merekapun tidak mau dianggap terlibat dalam pertempuran yang sengit
itu. Keributan itu ternyata telah menarik perhatian orang yang di
gelari Iblis bertangan Petir. Ia tidak tenang lagi duduk disimpang
tiga. Ia mendengar beberapa orang mengatakan, bahwa telah terjadi
perang dengan senjata. “Apakah Bantaradi itu tidak segera dapat
menyelesaikan lawannya?“ Iblis bertangan Petir itu bertanya kepada
diri sendiri. Namun karena itu, maka iapun segera berdiri dan dengan
segan melangkah mendekati arena. Tetapi iapun tidak berdiri terlalu
dekat. Ia berada diantara orang-orang lain yang memperhatikan
pertempuran itu disela-sela pepohonan halaman dan kebun disekitar
arena perkelahian itu. Namun ketika ia sudah memperhatikan
perkelahian itu beberapa saat, ia menarik nafas dalam-dalam Kepada
diri sendiri ia berkata “Bantaradi memang gila. Ia mempermainkan
lawannya” Sebenarnyalah, ketika Jlitheng telah memegang pedang
tipisnya, ternyata bahwa lawannya sama sekai tidak berdaya dengan
tombaknya. Betapapun liar dan buasnya gegedug itu. namun ia
benar-benar menjadi sasaran permainan J litheng.
Serangan-serangannya sama sekali tidak mampu menembus kelincahan
gerak pedang tipis anak muda itu. Meskipun ia mengerahkan tenaga
raksasanya, namun dengan mudah Jlitheng dapat menghindar atau
sekedar mengibaskan serangan itu kesamping. Namun sementara itu,
ternyata Jlithengpun tidak melukainya. Ia tidak dengan
sungguh-sungguh menyerang jantung dan tempat-tempat berbahaya yang
lain. Bahkan ia sama sekali tidak ingin menggoreskan sebaris kikapun
pada tubuh lawannya, Yang dikehendaki oleh Jlitheng adalah, bahwa
lawannya akan jatuh karena kelelahan. Dengan demikian, Jlitheng
ingin menunjukkan sikap yang lain dar i sikap yang dijumpai oleh
orang-orang padukuhan itu sehari-hari. Bahwa seseorang dapat berbuat
lain dari kekerasan dan dendam. Kekerasan dan kebuasan. Bahwa
seseorang yang berhasil mengalahkan orang lain itidak harus berbuat
sewenang-wenang dalam kemenangannya. Dan bahwa kemenangan bukannya
kekuasaan yang sebenarnya. Orang yang disebut Iblis bertangan Petir
memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Namun ia mempunyai
tanggapan tersendiri. Ia menganggap bahwa Jlitheng telah menghina
lawannya dan dengan sengaja mempermainkannya. Karena itu, maka
nampak bibirnya sekali-kali tersenyum. “Memang menyenangkan” katanya
di dalam hati “kesempatan untuk bermain-main seperti itu jarang
sekali didapatkan. Seperti seekor kucing yang mempermainkan seekor
tikus kecil yang tidak berdaya” Yang mempunyai tanggapan yang lain
adalah gegedug yang bertubuh pendek. Ia melihat sikap itu
benar-benar suatu penghinaan bukan saja bagi Singkir. Tetapi
penghinaan bagi seluruh padukuhan yang ditakuti oleh orang-orang
diisekitarnya, bahkan sampai ke padukuhan yang agak jauh letaknya.
Karena itu, yang kemudian melonjak di dalam jantungnya adalah
perasaan harga diri. Harga diri bagi sesama gegedug yang kondang.
Tetapi untuk beberapa saat ia masih menahan diri untuk tidak
mencampur i persoalan itu. Namun ketika gegedug yang bernama Singkir
itu benar-benar tidak mampu berbuat apa- apa. lagi, selain meloncat,
terhuyung-huyung dan bahkan hampir jatuh, gegedug bertubuh pendek
itu tidak dapat menahan diri lagi. “Aku tidak akan mencampuri
persoalannya” Ia menggeram “tetapi aku tidak mau melhait orang yang
tidak dikenal itu menghinakan padukuhan ini” Karena itu. maka
tiba-tiba saja gegedug yang bertabuh pendek itu segera meloncat maju
sambil berkata “Kakang Singkir. Bertahanlah. Aku akan membantumu”
Gegedug yang bernama Singkir itu tertegun sejenak. Keringatnya sudah
bagakan terperas dari tubuhnya. Ia benar- benar sudah berputus asa
dan tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Namun kehadiran
gegedug bertubuh pendek itu telah menumbuhkan harapan. Wajahnya yang
pucat tiba-tiba saja telah menjadi merah. Tetapi sekejap kemudian ia
menjadi1 ragu-ragu. Bahkan sekali-kali ia berpaling kepada perempuan
yang berdiri di depan regol itu. “Aku tidak peduli perempuan itu”
geram gegedug bertubuh pendek “Aku hanya ingin membunuh orang yang
telah menghinakan padukuhan inli. Marilah, kita bersama-sama tentu
akan dapat melakukannya” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Iapun
sempat memandangi langkah gegedug bertubuh pendek itu. Pada langkah
itu ia mendapatkan kesan bahwa orang bertubuh pendek itu tentu dapat
bergerak dengan cepat dan cekatan. Namun dalam pada itu,
Jlilthengpun mendapatkan kesan yang lain pula pada orang yang
kemudian menjadi semakin dekat itu. Ternyata bahwa di dalam
padukuhan itu ada juga orang yang mencampuri persoalan yang terjadi
pada orang lain. Dalam pada itu, dengan sengaja Jlithengpun kemudian
bertanya “Jadi kau juga; akan mencampur i persoalan orang lain,
seperti yang aku lakukan?“ “Aku tidak peduli. Tetapi justru karena
kau mencampuri persoalan kakang Singkir itu, kau berarti telah
menghina adat yang berlaku di padukuhan ini. Dengan demikian, maka
kau sudah memaksa orang lain ikut terlibat pula ke dalamnya” “Bagus“
tiba-tiba Jlitheng berteriak “Jika demikian maka maksudku sudah
tercapai Orang-orang padukuhan ini memang tidak boleh tinggal diam
apapun yang terjadi. Jika kau merasa terhina dan kemudian mencampuri
persoalan ini. maka itu adalah pertanda bahwa kau masih memiliki
sifat yang utuh. Sifat manusia dalam hubungan antar manusia yang
pada dasarnya tidak akan dapat saling melepaskan diri dan saling t
idak menghiraukan yang satu dengan yang lain” “Persetan“ geram
gegedug itu “apapun yang kau katakan, tetapi aku ingin membunuhmu,
supaya kau tidak mengotori kebiasaan yang sudah berlaku di padukuhan
ini, dan terlangsung dengan tenang tanpa diganggu oleh sdapapun
juga” “Aku tidak mengerti, apakah kau mempunyai arti tersendiri atas
kata-katamu. Bahwa padukuhan ini dengan tenang menganut kebiasaan
yang sudah berlaku adalah pengertian yang membuat kepalaku menjadi
pening” “Cukup” bentak gegedug itu sambil melangkah semakin dekat
“Kau jangan banyak berbicara lagi. Bersiaplah untuk mati. Meskipun
kau dapat mengalahkan kakang Singkir tetapi melawan kami berdua kau
tidak akan mampu bertahan sepenginang” Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Sambil mengangguk- angguk ia berkata; “Baiklah. Mar
ilah kita bertempur. Ternyata bahwa penghuni padukuhan ini j iwanya
belum benar-benar membeku” Gegedug yang bertubuh pendek itu
melangkah semakin dekat. Bahkan iapun telah bersiaga untuk
bertempur. Dengan tangan bergetar ia menarik golok dipinggangnya.
Sementara itu Singkir menjadi termangu-mangu. Namun sesaat kemudian
iapun telah bersiap menghadapi lawannya yang masih muda itu. Berdua
iapun yakin akan dapat mengalahkan lawannya Dalam ketegangan itu,
maka laki-laki yang hampir terbunuh oleh Singkir itupun melihat apa
yang akan terjadi. Tetapi ia tidak mampu berbuat sesuatu. Jika
terpandang olehnya wajah isterinya yang berdiri dimuka regol, maka
hatinyapun menjadi berdebar-debar. Seakan-akan ia melihat seraut
wajah dalam dua warna. Wajah isterinya yang cantik, namun juga wajah
iblis betina yang mengerikan, yang siap menghisap darahnya sampai
kering. Dalam pada itu, kedua gegedug itupun telah bersiap. Keduanya
telah mengambil sikap dan arahya masiiing-masing. Namun keduanya
masih belum meloncat menyerang. Jlitheng memandang keduanya
berganti-ganti. Namun akhirnya ia tersenyum sambil berkata “Silahkan
Ki Sanak. Aku sudah siap menghadapi kalian berdua” Tetapi sebelum
kedua orang itu bergerak, beberapa orang yang menyaksikan
perkelahian itupun menyibak. Seorang yang bertubuh sedang, berwajah
tampan melangkah maju. Dengan senyum di bibirnya ia berkata “Kenapa
kalian hanya berdua?” Orang-orang yang berada diarena itu berpaling.
Mereka melihat seorang berwajah tampan itu semakin mendekat. Dengan
suara tertawa yang renyah ia berkata “Aku akan ikut campur.
Sebenarnya ikut campur. Kemudian persoalan diantara kita akan kita
selesaikan sendiri. Perempuan itu memang cantik” Gegedug yang
bernama Singkir itu mengerutkan keningnya. Dengan geram ia berkata
“Jangan gila dihadapanku” Orang berwajah tampan itu tertawa. Katanya
“Kau ambil perempuan itu dar i suaminya, Tetapi perempuan itu memang
memilih kau dar ipadanya. Tetapi bagaimana jika perempuan itu
memilih aku, dan aku akan membunuh laki- laki yang sudah
mengalahkanmu” “Kau jangan sombong. Aku tidak dapat membunuhnya. Apa
kau dapat melakukannya?“ “Kita, melakukan bertiga. Jika orang itu
sudah mati, kita akan berbicara. Kita dapat menempuh cara lain dari
yang selama ini ber laku. Merebut seseorang dari sisihannya dengan
mut lak. Tetapi apakah kita dapait melakukan cara yang berbeda?“
Gegedug yang bernama Singkir itu mengerutkan keringnya. Sejenak ia
merenung. Sementara itu, darah Jlitheng justru menjadi panas
mendengar pembicaraan itu. Jika semula ia berusaha untuk
menyelesaikan perkelahian itu dengan darah dingin, namun pembicaraan
antara orang-orang yang dianggapnya menyalahi hubungan antara
manusia yang beradab telah membuat jantungnya bergejolak. Jlitheng
hampir t idak dapat menahan kemarahannya ketika ia justru mendengar
perempuan yang menjadi sumber persoalan itu berteriak dari regol
“Apa salahnya jika yang tidak seperti kebiasaan yang berlaku itu
kita anggap baik dan bermanfaat?” Ketika Jlitheng berpaling kearah
perempuan itu, maka ia melihat iblis betina ku tertawa. “Nah kau
dengar” berkata orang berwajah tampan “marilah. Aku akan membantumu
membunuh anak muda yang malang, yang telah menjerumuskan dirinya
sendir i ke dalam kesulitan” Jlitheng menggeretakkun giginya. Ia
benar-benar menjadi marah. Bukan karena ia harus menghadapi tiga
orang bersama-sama. Tetapi justru karena sikap mereka yang gila itu
yang tidak lagi berpegangan pada martabat manusianya. Karena itu,
maka Jlithengpun kemudian menggeram “Kalian memang bukan orang-orang
yang mengerti akan peradaban. Karena itu, maka aku akan bersikap
khusus di dalam? padukuhan ini. Aku tidak lagi dapat bermain-main
sambil tersenyum dengan harapan, bahwa sikap itu akan melunakkan
hati kalian yang membeku” Ketiga orang itu mengerutkan keningnya.
Kata-kata Jlitheng itu memang mendebarkan. Apalagi orang yang
bernama Singkir, yang telah mengalami tekanan yang tidak terlawan
dari anak muda yang bernama Jlitheng itu. Yang kemudian menyadari,
bahwa Jlitheng memang tidak ingin membunuhnya, bahkan melukaipun
tidak meskipun ia sudah tidak berdaya melawannya. Tetapi bersama dua
orang kawannya, maka ia mempunyai harapan lain meskipun ia menjadi
ragu-ragu melihat sikap Jlitheng yang sama sekali t idak menjadi
gentar. Sejenak kemudian ketika orang yang dianggap orang terbaik di
padukuhan itupun telah bersiap diseputar Jlitheng. Singkir yang
ragu-ragu akhirnya menemukan kemantapan kembali, meskipun tenaganya
belumpulih seutuhnya. Orang berwajah tampan yang berdiri dua langkah
disebelah Jlitheng itupun kemudian berkata sambi tersenyum “Anak
muda, marilah. Kau masih sempat menyebut nama ayah bundamu sebelum
ajal datang memdukmu. Jangan merajuk lagi. Aku mengerti, bahwa
peradaban di padukuhan ini agak berbeda dengan padiukuhan-padukuhan
yang lain, karena aku memang bukan orang yang dilahirkan dan
dibesarkan di padukuhan ini. Tetapi cara hidup orang-orang padukuhan
ini sangat menarik, sehingga aku memutuskan untuk pindah ke
padukuhan ini” “Ternyata bahwa penglihatan batinmu telah menjadi
kabur” jawab Jlitheng “Karena itu, maka akupun akan mempergunakan
cara yang barangkali paling baik aku lakukan bagi orang-orang
padukuhan ini. Lihat, cara itulah yang kalian alami. Bahkan mungkin
aku akan melakukannya terhadap kalian sampai ke batas maut”
Orang-orang itupun berpaling sekilas memandang laki-laki yang masih
terbaring di bawah bayangan batang perdu yang tumbuh melekat dinding
halaman di pinggir jalan itu. Orang itu mencoba untuk bangkit tetapi
yang dapat dilakukannya hanyalah beringsut dan bersandar dinding
halaman. Gegedug berwajah, tampan itu tertawa. Katanya “Memang
menarik sekali Nampaknya lebih senang menyumbat hidungnya dari pada
mencekik lehernya” Jlitheng tidak lagi dapat bersabar. Karena itu,
maka iapun beringsut setapak sambil menggeram “Kalian juga akan
mengalami” Gegedug bertubuh agak pendek itupun tidak sabar lagi.
Iapun bergeser selangkah maju sambil berkata “Aku tidak sabar lagi.
Aku sudah menyaksikan bagaimana ia mempermainkan kakang Singkir.
Marilah, kita berbuat sesuatu” Jlitheng mengerutkan keningnya.
Tetapi ia tidak sempat menjawab, karena orang bertubuh agak pendek
itu tiba-tiba saja sudah menyerang sambil berkata lantang “Aku akan
bertempur sampai orang ini mati di bawah mata orang-orang padukuhan
ini. Ia sudah berbuat sesuatu yang mencemarkan nama baik kita” Namun
Jlithengpun telah siap menghadapi segala kemungkinan. Ia bergeser
selangkah sambil berputar. Serangan orang bertubuh pendek itu memang
dapat dihindar i, namun adalah diluar dugaan bahwa tiba-tiba saja
orang berwajah tampan yang nampaknya masih belum bersikap itu telah
meluncur dengan cepatnya. Kakinya terjulur Jurus langsung mengarah
lambung. Jlitheng memang terkejut mendapat serangan itu. Serangan
yang tiba-tiba dan demikian cepatnya. Karena itu. maka ia tidak
sempat mengelak lagi. Ia hanya dapat bergeser setapak. Namun orang
berwajah tampan itu ternyata memiliki kecepatan bergerak yang
mengagumkan. Ia masih sempat menggeliat dan sekaligus merentangkan
tangannya. Ketika kakinya kemudian berhasil menyentuh lawannya
meskipun tidak seperti yang dikehendakinya, ia masih sempat
menghantam kening Jlitheng. Serangan pertama yang langsung mengenai
lawannya itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Jlitheng yang
tidak mengira bahwa ia akan langsung dihantam pada serangan pertama
itu telah terdorong surut. Belum lagi ia sempat memperbaiki
kedudukannya, matka serangan yang berikutnya telah menyusul. Orang
berwajah tampan itu kemudian meloncat sambil mengayunkan tangannya
mengarah ke dahi Jlitheng. Dalam keadaan yang sulit karena Jlitheng
harus menangkis tombak Singkir yang terjulur, Jlitheng memir ingkan
kepalanya sehingga tangan itu tidak mengenai sasarannya. Tetapi
tangan itu masih menghantam pundak Jlitheng dengan kerasnya.
Jlitheng menyeringai menahan sakit. Ketika sebuah pukulan sekali
lagi mengenai dadanya, maka ia benar-benar kehilangan keseimbangan
dan terlempar jatuh. Ternyata orang berwajah tampan itu benar-benar
memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Pada serangan yang
beruntun itu, ia sudah berhasil mengenai tubuh Jlitheng beberapa
kali, sehingga Jilthengpun telah terjatuh. Namun, dalam pada itu,
Jlitheng tidak kehilangan akal. Ia mengerti apa yang telah terjadi.
Karena itu, maka iapun justru berguling beberapa kali dengan
cepatnya. Kemudian iapun melenting berdiri dengan cepatnya. Pada
saat itu, serangan lawannya telah memburunya. Bukan saja dari orang
berwajah tampan itu. Terapi ketiga orang lawannya telah berada
selangkah dihadapannya. Apalagi orang berwajah tampan itu. Tetapi
ketika orang itu menyerangnya Jlitheng benar-benar telah mapan. Ia
menyadari keadaan sepenuhnya. Iapun dapat menjajagi kemampuan lawan.
Kekuatan dan kecepatan mereka bergerak. Dengan demikian, ketika
orang berwajah tampan itu menyerangnya sekali lagi dengan kecepatan
tatit di langit, Jlitheng tidak ingin mengelakkan dir i. Ia sudah
benar-benar di bakar oleh kemarahan yang memuncak. Karena itu, maka
iapun telah didorong oleh keinginan seorang anak muda untuk berbuat
sesuatu yang dapat memberikanya kebanggaan setelah beberapa saat
lamanya da menjadi sasaran kebanggaan lawannya. Apalagi karena
kesombongan lawannya tanpa senjata. Dalam pada itu, beberapa orang
yang menyaksikan dari kejauhan menjadi berdebar-debar, la melihat
bagaimana gegedug berwajah tampan itu mampu mempermainkan lawannya.
Menyerangnya dan bahkan kemudian melemparkan anak muda itu sehingga
jatuh berguling-guling. Kini mereka melihat orang itu menyerang
sekali lagi dan merekapun melihat Jlitheng tidak dapat mengelakkan
dir i. Karena itu, maka merekapun menduga, bahwa Jlitheng benar-
benar akan mengalami kesulitan. Ia tentu akan terlempar sekali lagi,
dan jatuh terbanting ke tanah. Mungkin ia akan mengalami luka-luka
yang parah, bukan sekedar terguling seperti yang telah terjadi.
Sementara itu, kawan Cempaka yang disebut Iblis bertangan Petir
itupun mengerutkan keningnya. Ia melihat Jlitheng seakan-akan tidak
dapat mengimbangi kecepatan bergerak lawannya, sementara dua orang
yang lab masih belumbertempur dengan sungguh-sungguh. Ketika ia
melihat orang berwajah taimpan itu menyerang Jlitheng dan nampaknya
Jlitheng tidak mengelakkan dini. bahkan tidak memanfaatkan
senjatanya sebaik-baiknya, ia menjadi tegang. Yang terjadi kemudian
adalah benturan yang keras antara orang berwajah tampan itu dengan
Jlitheng, justru karena Jlitheng dengan sengaja tidak mengelakkan
dirinya, dan tidak mempergunakan senjatanya. Ternyata perhitungan
Jlitheng tidak terlalu jauh dari kebenaran. Orang berwajah tampan
yang mampu bergerak cepat itu, ternyata tidak memilki kekuatan
seperti yang dapat dibanggakan. Agaknya ia lebih mementingkan pada
kemampuan bergerak daripada memperhitungkan kekuatan serangannya.
Dengaa demikian, ketika benturan itu terjadi maka orang berwajah
tampan itupun telah terlempar beberapa langkah. Justru karena
Jlitheng yang bertahan itu telah mendorongnya pula. Orang-orang yang
menyaksikan pertempuran itu melihat, Jlitheng berdiri tegak dengan
kaki renggang Lawannyalah yang terlempar beberapa langkah dan jatuh
berguling di tanah. Kedua orang gegedug yang bertempur bersamanya
terkejut. Ia melihat orang berwajah tampan itu pada mulanya
seakan-akan berhasil menguasai lawannya dengan kecepatannya
bergerak. Namun kemudian mereka melihat orang itu justru terlempar,
sedangkan Jlitheng masih tetap berdiri di tempatinya. Sejenak
kemudian, orang yang terlempar iltu berusaha untuk melent ing berdir
i. Namun ternyata bahwa lontaran tenaganya sendiri yang seakan-akan
memental pada benturan kekuatan dengan lawannya itu, telah
membuatnya kesakitan. Karena itu, ia tidak segera dapat berdiri
tegak. Seberapa saat ia terhuyung-huyung mencari keseimbangan. Kawan
Cempaka yang menyaksikan pertempuran itu dengan tegang, tiba-tiba
saja tersenyum. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih
ingin melihat Jlitheng menghadapi ketiga orang itu untuk
selanjutnya. oooOooo-
Jilid 07 SEMENTARA itu, Jlithengpun telah mempersiapkan diri
untuk menghadapi kemungkinan selanjutnya. Ia sadar, bahwa untuk
selanjutnya ia akan bertiadapan dengan ketiga orang gegedug itu
bersama-sama. Ternyata pula, bahwa sejenak kemudian ketiga orang itu
telah bersiap. Gegedug yang berwajah tampan, yang baru saja
terbanting jatuh itu telah berusaha memperbaiki keadaannya. Namun
dengan demikian dia sadar, bahwa yang dapat dilakukan itu bukannya
satu kemenangan. Ternyata ia hanya dapat mengejutkan orang yang
tidak dikenalnya itu. Tetapi selanjutnya, ia tidak dapat berbuat
lebih banyak lagi. Tetapi bertiga, maka ia mempunyai pertimbangan
lain. Bagaimanapun juga, mereka bertiga adalah orang-orang yang
ditakuti bukan saja di padukuhannya. Tetapi sampai kepadukuhan
sekitarnya. Tidak lebih dar i enam orang yang mempunyai nama dan
kedudukan seperti mereka. Jika tiga diantaranya telah bersedia
bekerja bersama, maka mereka tentu akan merupakan kekuatan yang luar
biasa. “Orang ini memang luar biasa“ ketiga gegedug itu mengakui di
dalam hati. Tetapi merekapun menganggap diri mereka luar biasa pula.
Apalagi bertiga bersama-sama. Sejenak kemudian, maka ketiga orang
itu telah melangkah maju mendekati Jlitheng dari arah yang berbeda.
Mereka telah bersiap untuk menyerang dan kemudlian menghancurkannya.
Terhadap tetangga sendiri, mereka tidak memaafkan setiap yang
dianggapnya salah. Apalagi terhadap orang lain. Maka mereka t idak
akan mengenal belas kasihan. Orang berwajah tampan itu tidak lagi
nampak tersenyum- senyum. Wajahnya yang tampan iitu bagaikan disaput
oleh warna merah, sehingga wajah itu seolah-olah telah berubah
menjadi wajah hantu yang kehausan melihat darah yang merah segar.
Sementara isu ditanganinya telah tergenggam sebilah keris yang besar
dan panjang, Jlitheng berdiri tegak seperti batu karang yang tidak
terguncang oleh badai dan prahara. Ia berusaha untuk dapat melihat
dan mengerti apa yang akan diakukan oleh ketiga lawannya. Sesaat
kemudian, maka iapun mulai bergeser ketika lawannya telah bersiap
untuk menyerang. Sementara ia masih mendengar orang berwajah tampan
itu menggeram “Kau memang tidak tahu dir i. Kau merasa bahwa yang
kau lakukan itu dapat menakuti aku? Justru yang kau lakukan itu
telah mendesakmu ke dalam keadaan yang paling gawat” Jlitheng yang
memang sudah marah tidak menunggu lebih lama lagi. Sebelum oraing
itu selesai berbicara, maka ia pun telah meloncat menyerang dengan
kecepatan yang tidak kasat mata. Serangan itu demikian tiba-tiba,
sehingga orang berwajah tampan itu tidak menduga. Jiika semula ia
berhasil mengejutkan Jlitheng, namun ternyata kemudian, bahwa iapun
telah terkejut sekali mendapatkan serangan itu. Demikian cepat dan
derasnya, sehingga orang berwajah tampan itu tidak mendapat
kesempatan untuk mengelakkan diri. Karena itu, maka diapun telah
berusaha menangkis serangan-serangan Jlitheng yang mengarah ke
dadanya. Namun ternyata sekali lagi, bahwa kekuatan Jlitheng tidak
dapat diimbanginya. Dengan derasnya Jlitheng telah menyerangnya
pula. Tidak dengan senjatanya, tetapi dengan kakinya. Yang terjadi
sekali lagi telah melemparkannya beberapa langkah surut dan bahkan
kemudian orang berwajah tampan itu sekali lagi kehilangan
keseimbangannya dan jatuh terlentang. Tetapi Jlitheng tidak sempat
memburunya. Kedua orang lawannya yang lainpun telah menyerangnya
pula hampir bersamaan. Dengan loncatan pendek Jlitheng dapat
melepaskan diri dari garis serangan keduanya. Ia masih mampu
mengambil jarak, dan dengan tangkasnya, ia telah membalas serangan
itu dengan serangan mendatar mengarah ke lambung orang yang bertubuh
agak pendek. Tetapi gegedug bertumbuh pendek itu sempat menggeliat,
sehingga serangan Jlitheng tidak mengenai sasaran. Sementara Singkir
yang sudah sempat beristirahat itu telah menyerangnya pula dengan
sepenuh kemampuannya justru dengan senjatanya. Namun Jlithengpun
masih sempat meloncat. Tetapi demikian kakinya menjejak tanah, maka
iapun telah melenting menyerang. Tidak menyerang orang bertubuh agak
pendek, dan tidak pula menyerang Singkir, tetapi serangannya diluar
dugaan telah menghantam orang berwajah tampan yang baru saja
berhasil berdiri tegak itu dengan kakinya tidak dengan
tajamsenjatanya. Orang itu belum bersiap sepenuhnya. Karena itu,
ketika serangan itu datang menghantam lambung, ia terpaksa sekal
lagi t idak sempat untuk melindungi lambungnya. Tetapi kekuatan kaki
Jlitheng sekali lagi telah mendorongnya. Justru semakin keras,
sehingga orang itu terpental beberapa langkah dan langsung
terbanting jatuh di tanah. Sambil menyeringai menahan sakit, orang
itu mengumpat sejadi-jadinya, sementara kedua orang lawannya yang
lain telah menyerang Jlitheng hampir bersamaan, meskipun anak muda
itu masih sempat menghindar inya. Pertempuran itupun semakin lama
menjadi semakin sengit. Orang berwajah tampan drtin benar-benar
telah dibakar oleh kemarahan. Serangan-serangan Jlitheng berikutnya
seolah olah selalu memburunya. Namun demikian kedua orang kawannya
yang lainpun telah menjadi sasarannya pula. Dalam pada itu orang
yang menyaksikan pertempuran itupun menjadi berdebar-debar. Kawan
Cempaka yang melibat Jlitheng marah itupun masih sempat
memperhatikan, betapa Jlitheng masih berusaha menghindari
pembunuhan. Pedang tipisnya seolah-olah tidak dipergunakan
sepenuhnya, selain untuk menangkis dan melindungi dirinya dari
senjata lawan- lawannya. Sementara itu ia lebih banyak mempergunakan
kakinya untuk menghantam lawan-lawannya terutama yang berwajah
tampan itu. Jlithengpun kemudian meloncat mundur. Ketiga orang
lawannya memegang senjata yang berbeda-beda. Singkir yang bersenjata
tombak berdiri dengan tegang memandang kawannya yang menggenggam ker
is yang besar dan panjang, ia sudah sering melihat orang berwajah
tampan itu membawa kerisnya kesana-kemari dengan penuh kebanggaan.
Iapun pernah melihat senjata itu dipergunakan. Tetapi kini ia harus
bertempur bersama orang berwajah tampan itu. Sementara gegedug yang
bertubuh pendek itu menggenggam golok yang besar dan berat “Tidak
ada ampun lagi bagimu orang yang tidak tahu diri” geramorang
berwajah tampan itu. Jlitheng memandang keris itu sejenak. Kemudian
katanya Aku masih dapat menahan dir i dengan tidak menyobek dadamu.
Semula aku lelah cukup menyatakan bahwa aku bukan sekedar sebatang
pohon pisang yang dapat kau perlakukan kehendakmu. Bahkan akupun
dengan bangga dapat menunjukkan, bahwa tenagaku, tanpa senjata ini,
dapat merobohkan mu. Tetapi kini kita akan terlibat dalam perang
senjata seperti dengan kawan-kawanmu. Bedanya orang- orang ini belum
menyakit iku seperti yang kau lakukan dengan tiba-tiba tanpa
peringatan apapun lebih dahulu” Jlihteng berhenti sejenak, lalu
“Kita sekarang sudah bersenjata semuanya. Pedangku tentu akan aku
pergunakan sebaik- baiknya, tidak justru selalu menggangguku”
Kata-kata Jlitheng itu benar-benar mendebarkan jantung. Meskipun
demikian ketiga orang itu tidak mengurungkan niatnya. Mereka
mendesak maju dan bersiaga sepenuhnya. Kawan Cempaka yang berdiri
beberapa langkah dari arena itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia
masih belum berbuat sesuatu, karena ia sudah pernah melihat Jlitheng
bertempur. Sebenarnya bertempur. Sejenak kemudian, orang bersenjata
keris itu telah meloncat menyerang dengan garangnya. Kerisnya yang
besar dan panjang itu menebas langsung mengarah ke kening. Jlitheng
yang masih saja tersinggung karena serangan- serangan pertama orang
itu yang berhasil menjatuhkannya, dengan sengaja tidak menghindar,
la ingin membenturkan pedang tipisnya dengan keris yang agaknya juga
sebilah keri pusaka yang mempunyai nilai tinggi. Sejenak kemudian
telah terjadi benturan yang keras antara pedang tipis Jlitheng
dengan keris yang besar dan panjang itu. Demikian kerasnya sehingga
bunga-bunga api berloncatan diudara, menebar seperti kunang-kunang
kecil yang berterbangan. Namun dalam pada itu, sekali lagi orang
berwajah tampan itu terkejut. Benturan itu benar-benar telah
menggetarkan jantungnya. Tangannya yang menggenggam keris itu
menjadi pedih. Hampir saja ker isnya telah terlepas dari tangannya.
Dalam kesulitan itu, orang berwajah tampan itupun tidak dapat
berbuat lain kecuali meloncat surut. Dalam pada itu ketika Jlitheng
ingin memburunya, maka kedua orang lawannya yang lainpun telah
meloncat menyerangnya hampir bersamaan. Jlitheng masih sempalt
mengelak. Bahkan kemudian ia tidak ragu-ragu mempergunakan
senjatanya, setelah ketiga orang lawannya menyerangnya dengan tiga
pucuk senjata pala. Sejenak kemudian pertempuran senjatapun telah
berlangsung dengan sengitnya. Ketiga orang gegedug itu menyerang
Jlitheng berganti-ganti, berurutan seperti banjir yang mengalir
menghantam tebing. Namun kadang-kadang mereka bertiga bersama-sama
menyerang dari arah yang berbeda, seolah-olah Jlitheng tidak akan
dapat lagi lolos dari ketiga ujung senjata lawannya. Namun ternyata
Jlitheng benar-benar mampu bergerak seperti seekor burung sikatan.
Ia masih selalu dapat menyusup diantara senjata lawannya. Bahkan
sekali-kali ia dengan sengaja membenturkan senjatanya untuk
mengguncang hati lawannya karena tangan mereka tentu akan terasa
menjadi sakit Betapapun juga Jlitheng berusaha untuk menguasai
kemarahannya yang membakar jantung, namun melawan tiga senjata
Jlitheng tidak dapat terlalu banyak menahan geraknya. Meskipun dalam
kemarahan yang memuncak Jlitheng masih sadar, bahwa membunuh
bukanlah tujuannya, namun iapun tidak mau mati dihadapan para
gegedug yang tidak tahu adat itu. Bahkan seandainya ia tidak mampu
mengatasi lawannya maka orang yang dengan lemahnya bersandar dinding
batu itupun akan dicekik sampai mati pula, oleh gegedug-gegedug itu.
Karena itu, ketika ketiga orang lawannya bertempur semakin garang,
maka Jlithengpun harus mengimbanginya, la tidak mau berkisar
menghindar, menangkis dan menyerang dengan hati-hati. Karena dengan
demikian, maka semakin lama ia justru merasa semakin terdesak Namun
dalam pada itu, lawannya merasa benar-benar menguasai orang yang
tidak mereka kenal itu. Keragu-raguan Jlitheng mempergunakan
senjatanya, membuat lawannya semakin berbesar hati. “Masalahnya
adalah masalah seorang perempuan” berkata Jlitheng di dalam hatinya
“Jika kemudian timbul kematian, apakah hal itu, sudah seimbang.
Apakah justru, dengan demikian, sebuah nyawa akan menjadi sangat
tidak berharga” Jlitheng dapat menghargai kesetiaan cinta laki-laki
terhadap seorang perempuan dan sebaliknya, yang bersedia
mengorbankan nyawanya. Tetapi tidak untuk seorang perempuan yang
berdir i bertolak pinggang dengan wajah iblis itu. Dengan demikian,
maka kemarahan Jlitheng sebagian telah tertumpah kepada perempuan
itu pula. Meskipun perempuan itu tidak ikut bertempur mengeroyoknya,
tetapi ia justru merupakan sumber dari peristiwa yang keras, kasar
dan liar itu. Sejenak Jlitheng masih sekedar bertahan sambil membuat
pertimbangan-pertimbangan yang paling baik menurut sikap dan pendir
iannya. Namun dalam pada itu, ketiga lawannya menyangka, bahwa
Jlitheng benar-benar tidak mampu lagi berbuat sesuatu selain
bertahan. Dengan demikian, maka orang berwajah tampan itupun berkata
sambi tertawa “Nah, sekarang kau mulai menyesal bahwa kau sudah
mencampuri persoalan yang tambul di padukuhan iri. Karena itu, maka
pergunakan saat- saat terakhir ihi untuk memandang terangnya hari
dan hijaunya dedaunan” Kata-kata itu hampir tidak dapat
diselesaikan. Jliltheng tiba- tiba saja dengan garang menyerangnya.
Demikian cepatnya, sehingga orang berwajah tampan itu tidak sempat
menghindar. Tetapi ia sempat menangkis dengan senjatanya. Tetapi
benturan yang terjadi dengan tiba-tiba itu telah membuat orang
berwajah tampan itu terkejut. Sejenak ia kehilangan akal ketika
terasa tangannya bergetar dan senjatanya tiba-tiba saja telah
terlepas dari tangannya. Untunglah bahwa kedua kawannya sempat
menolongnya. Keduanya telah menyerang Jlitheng dari dua arah,
sehingga Jlitheng harus menghindar sambil menangkis kedua serangan
itu. Orang berwajah tampan itu sempat mengambil senjatanya. Namun
pada saat itu, Jlitheng telah menyarang kedua lawannya
berturut-turut. Demikian cepatnya, sehingga keduanya berloncatan
menghindar. Pada saat itulah, Jlitheng yang marah itu telah
menentukan sikap. Kemarahannya yang sebagian tertuju kepada
perempuan itu, telah mendorongnya berbuat sesuatu. Selagi ketiga
lawannya berloncatan menghindari serangannya, maka tiba-tiba saja
Jlithengpun meloncat pula. Tidak memburu keduanya, tetapi ia telah
meloncat keatrah perempuan yang berdiri bertolak pinggang. Demikian
cepatnya, sehingga tidak seorangpun mampu mencegahnya. Jlitheng yang
menganggap perempuan itu sebagai sumber bencana dan yang hampir saja
membunuh suaminya, tiba-tiba saja telah menangkap perempuan itu.
Dengan sekali renggut rambut perempuan itu terurai. Tidak ada waktu
untuk berbuat sesuatu. Yang terjadi kemudian telah mencengkam
ketegangan setiap orang yang. menyaksikan. Sekejap kemudian
perempuan itu telah memekik tinggi. Sejenak kemudian iapun telah
terduduk dengan lemahnya. Sementara ditangan Jlitheng tergenggam
segenggam rambut perempuan yang telah dipotongnya dengan pedang
tipisnya, hampir dikulit kepalanya. Ketiga orang yang bertempur
melawannya itu berdiri, termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak
mengira, bahwa Jlitheng telah berbuat demikian. Karena itu, untuk
sesaat mereka justru berdir i dalamkebingungan. “Lihat“ Jlitheng
kemudian berkata lantang ”kalian telah dijerat oleh rambut yang
panjang dan ikal dari seorang perempuan cantik. Tetapi perempuan ini
berhatî iblis. Ia telah menjerumuskan seorang gegedug yang ditakuti
untuk membunuh seorang yang tidak berdaya sama sekali. Karena
perempuan ini maka ia telah kehilangan sifat kemanusiaannya. Ia juga
bukan lagi seorang laki-laki jantan. Kali ini ia, akan membunuh
seorang yang tidak berdaya. Tetapi pada kesempatan lain, kalian akan
bertempur dengan dahsyatnya memperebutkannya. Kalian, diantara
laki-laki, terpilih dari padukuhan ini” Sejenak ketiga laki- laki
itu terdiam. Namun sejenak kemudian, Singkir yang merasa berhak atas
perempuan itu menggeram dengan marahnya “Anak setan. Kau, telah
menghina kami” “Bukan aku” sahut Jlitheng “kalian telah" menghina
martabat kalian sendir i” “Bunuh orang itu” teriak yang agak pendek.
Sementara yang berwajah tampan, yang telah menggenggam kerisnya
kembali berkata diantara gemeretak giginya “Kau memang harus mati”
“Bunuh orang gla itu” teriak perempuan yang, kehilangan rambutnya
“Bunuh orang dan bantai sampai lumat. Singkirlah yang pertama-tama
meloncat dengan penuh kemarahan. Tombaknya mematuk langsung ke arah
jantung. Disusul dengan kedua orang kawannya dengan senjata
masing-masing. Tetapi Jlithengpun telah bersiaga sepenuhnya. Ia
sadar, bahwa yang dilakukan itu akan dapat membakar pertempuran itu
menjadi semakin dahsyat. Namun ia. sudah sengaja melakukannya.
Apapun yang akan terjadi akan dihadapinya. Karena itu, ketika
serangan lawannya menj iadi semakin dahsyat, maka perlawanan
Jlithengpun menjadi semakin garang pula. Ia tidak lagi menahan diri.
Pedang tipisnya menyambar-nyambar diantara ayunan senjata lawannya.
Semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian pedang tipisnya
berhasil menyusup diantara senjata lawannya menyentuh kulit orang
berwajah tampan itu. Terdengar orang itu berdesah tertahan. Beberapa
langkah ia meloncat mundur. Namun dalam pada itu, orang bertubuh
agak pendek itupun telah menyeringai pula. Meskipun tidak terkoyak
cukup dalam, namun pundaknya telah menit ikkan darah pula. Sejenak
ketiga orang lawannya termangu-mangu, Singkir yang seakan-akan telah
kehabisan tenaga, berusaha untuk menghentakkan sisa kemampuannya.
Dengan tombaknya ia meloncat menyerang, selagi Jliltheng berusaha
memburu laki- laki bertubuh agak pendek. Namun malang bagi Singkir.
Dengan sentuhan yang sederhana, tombaknya telah lepas dari sasaran.
Bahkan dengan demikian dadanya telah terbuka. Sebelum ia sempat
memperbaiki keadaannya, makai pedang Jlitheng telah tergores
didadarnya. Seleret luka melintang. Meskipun juga tidak begitu dalam
namun luka itu telah membuatnya menjadi gugup. Sesaat Jlitheng
mempersiapkan serangan berikutnya, maka tiba-tiba saja ia tertegun.
Ia mendengar kawan Cempaka yang oleh tetangga-tetangganya disebut
Iblis bertangan Petir tertawa. Orang-orang yang terlibat ke dalam
pertempuran itu serentak berpaling kearah suara tertawa itu. Mereka
melhat orang yang tertawa itu melangkah mendekati dua orang yang
berdiri termangu-mangu. “He, kalian mau apa?“ bertanya orang yang
tertawa itu. Kedua orang itu menjadi tegang. Salah seorang dari
kedua orang yang ternyata kakak beradik itu menjawab “Tingkah orang
yang tidak kita kenal itu telah menyinggung perasaan kami” “kalian
mau ikut campur seperti mereka yang telah terluka itu?“ desak kawan
Cempaka. “Persoalannya sudah menyangkut kami” jawab yang seorang
lagi. “Kenapa? Apakah kau mempunyai hubungan juga dengan perempuan
itu?“ bertanya kawan Cempaka itu pula. “Tidak. Tetapi yang
dilakukannya langsung atau tidak langsung akan mencemarkan wibawa
kami. Jika kami tidak berhasil membunuh orang itu, maka nama kami
akan direndahkan oleh orang-orang yang semula takut kepada kami”
Kawan Cempaka itu tertawa pula. Katanya “Kalian akan menjadi lebih
terhina lagi jika jumlah kalian menjadi semakin banyak, tetapi
kalian tidak dapat mengalahkannya” Kedua orang itu termangu-mangu.
Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu berkata
selanjurnya “Kau seharusnya melihat, bahwa orang itu tidak berusaha
membunuh ketiga orang lawannya. Jika hal itu ingin dilakukan, maka
ketiga orang itu sudah mati. Sementara kau berduapun akan mati pula”
Kedua orang itu menjadi tegang, sementara Jlitheng masih berdiri
tegak, meskipun ia selalu siap menghadapi segala kemungkinan.
“Karena itu, jangan ikut campur” berkata kawan Cempaka itu kemudian.
Kedua orang itu menjadi ragu-ragu. Sejenak mereka saling
berpandangan. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu
mengulangi “Jangan ikut campur. Jika kalian memaksa, akupun akan
melibatkan dir i. Aku tahu, kalian berdua adalah dua orang kakak
beradik yang ditakut i. Seperti juga ketiga orang yang tidak berdaya
itu. Tetapi kalian masih terlalu muda itu mati atau menjadi cacat.
Tetapi jika kalian memaksa, lebih baik akulah yang melawanmu.
Mungkin aku masih dapat bersikap lebih baik dari orang yang menyebut
dirinya Bantaradi itu” Kedua kakak beradik iltu menjadi bingung.
Tetapi ternyata bahwa orang yang menjadi anggauta kelompok Sanggar
Gading itu memang disegani. Ternyata kedua orang itu mengurungkan
niatnya dan melangkah surut. Dalam pada itu, ketiga orang gegedug
yang sudah terlanjur melawan Jlitheng dan yang telah dilukainya
itupun menjadi ragu-ragu. Mereka kemudian melihat orang yang mereka
sebut Iblis bertangan Petir itu melangkah mendekati arena. Sambil
tertawa ia bertanya “ Bagaimana saudara-saudaraku, Apakah kalian
masih ingin meyakinkan diri, apakah orang yang kalian hadapi itu
akan mampli membunuh kalian? Jika demikian, agaknya akan terlambat.
Karena dalam mati kalian tidak akan dapat melihat kemaiian kalian
sendir i” Ketiga orang yang sudah terluka itu termangu-mangu.
Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu meiang kah
semakin dekat. Iapun kemudian berdiri disisi JUtheing sambil berkata
“Orang ini adalah orang yang luar biasa. Tetapi ia membawa kebiasaan
dan adat yang dikenalnya diluar padukuhan ini. Karena itu, ia telah
mencampuri persoalan yang terjadi pada suami isteri itu. Meskipun
demikian, maka baginya kepuasan bukanlah derita yang paling pahit
bagi lawannya. Karena jitu ia tidak dengan sungguh-sungguh berusaha
membunuh kalian. Atau membuat kalian cacat atau mender ita lebih
parah dari luka-luka yang tidak berarti” Orang-orang yang sudah
terlukai itu berdiri diam. Namun di dalam jantungnya berdeburan
gejolak dan kegelisahan. “Apakah kalian tidak percaya kepadaku?“
bertanya orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu. Lalu “Aku di
padukuhan ini disebut Iblis bertangan Petir. Meskipun aku sendir
ilah mulamula yang menyebut diriku sendiri demikian. Tetapi akhirnya
kalian mengakui dan menyebutku demikian pula. Namun aku masih harus
berpikir dua tiga kali untuk berani menghadapi Bantaradi” Ketiga
orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Dalam pada itu Iblis
bertangan Petir itu berkata pula “Pikirlah. Ada kesempatan bagi
kalian untuk meninggalkan arena. Aku berdiri disini, sehingga orang
yang tidak kalian kenal, tetapi aku kenal ini akan menyetujuinya”
Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Namun kemudian per
lahan-lahan ketiganya hampir berbareng melangkah surut. Meskipun
masih terbayang dendam dimata mereka, namun mereka harus melihat
kenyataan yang telah terjadi dihadapan mereka. Sementara itu,
Singkirlah yang lebih dahului meninggalkan arena. Ia segera masuk ke
dalam regol rumahnya dan sekaligus melintang sehingga pintu regol
itu tidak dapat dibuka lagi dari luar. Dalam pada itu, perempuan
yang rambutnya telah dirampas oleh Jlitheng itu tiba-tiba saja
berdiri dan berlari ke regol. Tetapi regol sudah tertutup. Dengan
sepenuh tenaganya ia mengguncang regol itu sambil berteriak
memanggil. Tetapi Singkir seolah-olah tidak mendengarnya lagi.
“Kakang, kakang” teriak perempuan itu “bukakan pintu. Bukakan
pintunya” Betapapun ia mengetuk pintu itu dengan tinjunya, namun
pintu itu seakan-akan tidak terdengar sama sekai. Yang terdengar
kemudian adalah suara tangis yang memekik. Perempuan itu menjatuhkan
dir i di muka pintu yang tertutup sambil menangis sejadi-jadinya.
Beberapa orang yang menyaksikan perempuan itu menangis tertegun
sejenak. Perempuan cantik yang rambutnya telah terpotong oleh pedang
Jlitheng itu menghentak-hentak pintu sejadi-jadinya. Tetapi pintu
regol itu memang sudah tertutup rapat baginya. Dalam pada itu, kedua
orang lawan Jlitheng yang lainpun selangkah demi selangkah menjauhi
arena. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu masih
berdir i sambil memandangi keduanya berganti-ganti. Ternyata
peristiwa itu telah merubah kebiasaan yang berlaku di padukuhan itu.
Orang-orang yang acuh tidak acuh, dan mereka yang saling tidak
mampedulikan, tidak saling mencampur i persoalan orang lain meskipun
akan mengancam jiwa seseorang, tiba-tiba saja telah saling
melibatkan dir i. Orang yang disebut Bantaradi itulah yang
pertama-tama telah mencampur i persoalan orang lain. Tetapi iapun
akan mampu mengatasi akibat yang kemudian timbul karenanya.
Sementara, itu, perempuan yang rambutnya telati terpotong itu masih
menangis sejadi-jadinya. Tetapi seolah- olah tidak seorangpun yang
menghiraukannya. Kedua orang yang bertempur bersama Singkir itupun
akhirnya telah meninggalkan arena dan hilang di balik tikungan.
Sementara orang-orang lain yang melihat peristiwa itu dari
kejauhanpun telah menyingkir pula. Mereka takut menghadapi
kemungkinan para gegedug yang dikalahkan dan bahkan terluka itu akan
menumbuhkan kemarahannya kepada mereka yang tidak tahu menahu
persoalannya. Dalam pada itu, Iblis bertangan Petir itulah yang
mendekati perempuan itu sambil berkata “Nah, tidak ada kesulitan
apapun juga untuk membunuhmu sekarang. Tidak ada seorang
laki-lakipun yang bersedia menjadi pelindungmu. Lihat, suamimu sudah
mulai bangkit. Ia akan mengambil parang dan kemudian menyobek
lehermu. Kau akan mati dan terkapar di tengah jalan, sampai datang
anjing-anj ing liar untuk merobek kulit dan dagingmu” “Jangan,
jangan” teriak perempuan itu “Jangan bunuh aku” “Setiap orang
mengalami ketakutan di saat-saat bahaya maut mengancamnya. Suamipun
mengalami perasaan takut dan ngeri ketika kau berteriak-teriak agar
laki- laki itu membunuhnya” sahut Jlitheng. “Tetapi jangan bunuh
aku“ perempuan itu masih menangis. “Kematian biasanya memang t idak
dikehendaki. Tetapi j ika ia datang, sulit untuk dapat dihindar i “
Perempuan itu menangis semakin keras. Bahkan kemudian memekik-mekik.
Beberapa orang yang sudah berada di balik pintu rumahnya, tidak
dapat mencegah keinginan mereka untuk mengetahui apakah yang telah
terjadi. Namun ternyata mereka tidak melihat seseorang berbuat
sesuatu atas perempuan itu. Yang mereka lihat adalah orang yang
disebut Iblis bertangan Petir dan orang yang bernama Bantaradi itu
berdir i tanpa berbuat apa-apa. Tetapi mereka tidak mendengar
kata-kata yang telah diucapkan oleh orang yang disebut Iblis
bertangan Petir itu. Namun, ternyata bahwa akhirnya hati Jlitheng
menjadi cair juga melihat perempuan itu menjerit-jerit. Dengan nada
yang merendah ila bertanya “Kenapa kau menangis?“ Perempuan itu
terkejut mendengar pertanyaan itu. Seolah- olah orang yang disebut
Bantaradi itu t idak melihat apa yang telah terjadi. Namun dalam
pada itu Jlitheng bertanya lebih lanjut “ Seharusnya kau menangisi
keadaanmu. Bukan karena kau telah tidak dihiraukan lagi oleh orang
di dalam regol itu, tetapi seharusnya kau menguasai sifat-sifatmu.
Kau benar-benar seorang perempuan yang tidak berhati dan tidak
berjantung. Kau sudah mempunyai seorang suami. Tetapi kau lari
kepada laki- laki lain. Itupun masih dapat dimengerti, karena
mungkin kau memerlukan sesuatu yang tidak ada pada suamimu. Tetapi
yang paling gila adalah pikiranmu untuk membunuh suamimu yang sudah
tidak berdaya” “Ia juga akan membunuhku“ tangis perempuan itu. “Itu
karena kau akan meninggalkannya” ”Sebelumnya ia sudah berulang kali
mengancam akan membunuhku. Ia terlalu kasar dan selalu menyakitiku
setiap hari” “Tetapi ia tidak benar-benar membunuhmu. Sedangkan kau
benar-benar mendorong laki-laki yang tidak tahu dir i itu untuk
membunuh” Perempuan itu menunduk dalam-dalam. “Lihatlah masa lalumu.
Yang cacat dan yang bernoda, ingat-ingatlah. Kau t idak akan
mengulanginya lagi” Jlitheng berdesis sambil berpaling kepada laki-
laki yang tersandar dinding, namun yang perlahan-lahan mulai mencoba
untuk bangkit dan duduk dengan tegak. “Ia mulai menyadari dir inya”
berkata Jlitheng “Yang baik, kenanglah agar kau dapat menemukan
suasana itu kembali” Perempuan itu memandang laki- laki yang mulai
duduk sambil mengusap titik darah di mulutnya. “Laki-laki itu adalah
suamimu” berkata Jlitheng. Perempuan itu masih termangu-mangu.
Sementara Iblis bertangan Petir itu berdesis “Tidak pernah terjadi
peristiwa semacam ini sebelum kau menginjakkan kakimu disini
Bantaradi” “Kalian sudah terlalu jauh tenggelam ke dalam adat dan
kebiasaan yang buram” lalu katanya kepada perempuan itu “He, apakah
kau tidak ingat bahwa laki- laki itu adalah suamimu?. Suamimu yang
kesakitan dan terlepas dari bahaya maut? Betapa buruknya laki- laki
itu, tetapi tentu pernah terjadi suatu masa yang memberimu
kebanggaan” Perempuan itu masih termangu-mangu. Sementara Jlitheng
berkata kepada laki- laki itu dengan lantang “Ter imalah perempuan
itu kembali sebagai isterimu. Ia tetap cantik. Rambutnya akan segera
tumbuh lagi. Tetapi sifat-sifat kaiianpun harus berganti seperti
rambut perempuan itu. Yang buruk harus kalian potong sampai
kepangkalnya. Carilah bentuk kehidupan yang baik” Laki- laki itu
termangu-mangu. Namun perempuan yang menangis itu t iba-tiba saja
bangkit sambil berkata “Apakah aku dapat kembali kepadanya?“
Jlitheng memandang perempuan itu sejenak. Kemudian iapun berpaling
kepada laki-laki yang mulai dapat duduk dengan tegak itu. Katanya
“He, bukankah kau mengerti maksudku?” Laki- laki itu memandang
Jlitheng sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk. “Nah“ berkata
Jlitheng “kalian adalah penganten baru. Kalian harus mulai dengan
kehidupan yang lain dari yang pernah kalian lakukan” Perempuan itu
menunduk. Namun iapun kemudian melangkah mendekati suaminya.
Perlahan-lahan dan ragu- ragu ia berjongkok disampingnya. Namun
kemudian iapun mencoba membantu laki- laki itu berdir i. Dengan
susah payah laki-laki itu berdiri berpegangan tangan isiterinya.
Kemudian merekapun melangkah selangkah demi selangkah kembali ke
rumah mereka. Perlahan-iahan sekali, karena suami itu masih terlalu
lemah. Orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu tertawa melihat
kedua orang itu. Kemudian dengan nada datar ia berkata kepada
Jlitheng “Kau memang orang luar biasa. Kau dapat mengalahkan tiga
orang gegedug yang tidak ada bandingannya di daerah ini meskipun
mereka bertempur bersama-sama“ Jlitheng tersenyum sambil bertanya
“Bagaimana dengan aku? Aku termasuk salah seorang yang disegani.
Tetapi tentu tidak untuk melawan tiga orang sekaligus. Mungkin aku
masih bersedia mencoba untuk melawan dua orang. Tidak lebih”
Jlitheng tertawa. Katanya “Kau selalu merendahkan dirimu” “Sifatmu
itulah yang meragukan“ t iba-tiba, saja orang itu berkata dengan
sungguh-sungguh. Jlitheng terkejut, sehingga iapun bertanya “Apa
yang meragukan padaku?“ “Kau tidak sesuai bekerja bersama
orang-orang Sanggar Gading. Kau terlalu baik hati. Itulah yang sejak
semula menjadi persoalan bagi kami. Di perjalanan, ketika kau
membantu Cempaka bertempur, sebenarnya kau dapat membunuh lawanmu.
Tetapi itu tidak kau lakukan. Kau biarkan beberapa orang itu
melarikan diri. Sekarang, dugaan itu semakin jelas. Seharusnya kau
bunuh ketiga orang itu sekaligus dan kau ambil perempuan itu,
meskipun kelak akan kau lemparkan kembali” Wajah Jlitheng menjadi
tegang. Dengan suara bergetar ia bertanya “Kau juga hidup dalamdunia
yang hitam itu?” Orang itu tertawa semakin keras. Katanya “Sanggar
Gading adalah tempat orang-orang yang bertindak dengan tegas tanpa
ampun. Jika kami masih dihinggapi rasa ragu-ragu, maka tugas kami
tidak akan selesai” “Tetapi sikapmu dalam persoalan perempuan ini
meragukan. Kau tidak tegas-tegas mengatakan, bahwa mereka harus
mati. Justru kata-katamu agak mir ing pula bagiku” desis Jlitheng.
Orang itu tertawa. Katanya “Aku sudah terpengaruh oleh sikapmu
Biasanya sikap yang baik itu tidak mudah menjalar. Tetapi
sifat-sifat buruk dengan cepatnya merambat dari satu orang kepada
orang lain” “Kau sadari keadaanmu sepenuhnya” Orang itu tertawa
semakin keras. Katanya “Jangan mengira bahwa aku tidak mengerti
buruk dan baik. Jangan menganggap aku orang yang tidak mengenal
batas-batas kehidupan” “Jadi apa yang sudah kau lakukan selama ini?“
“Aku sudah memilih. Dan aku mengerti, bahwa yang aku lakukan itu
tidak disukai oleh banyak orang, karena mereka menganggap bahwa yang
aku lakukan bukanlah yang baik. Aku dan orang-orang Sanggar Gading
adalah orang-orang yang tetap pada pendirian dan sikap. Tegas dalam
perbuatan dan tidak pernah ragu-ragu. Apakah ia lakan membunuh atau
akan melakukan perbuatan-perbuatan lain, apakah perbuatan itu haik
atau buruk” Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia sudah melakukan
kesalahan, justru karena ia berhasil menolong seseorang dan karena
ia telah mengembalikan perempuan yang hilang itu kepada suaminya,
“Ki Sanak“ berkata orang itu kemudian “Mudahmudahan orang-orang
Sanggar Gading mempunyai penilaian lain terhadapmu dengan penilaian
mereka terhadap orang-orang Sanggar Gading sendiri. Mudahmudahan
kebaikan dan keragu- raguanmu tidak menumbuhkan persoalan tersendir
i di kalangan kami, seperti kau sudah menumbuhkan persoalan baru
bagi orang-orang padukuhan ini” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam.
Betapa dadanya terasa bergejolak, namun ia masih berusaha menjaga
perasaannya. “Ki Sanak“ berkata Jlitheng kemudian “perbuatan itu
bukan ukuran. Yang aku lakukan adalah bukan persoalan yang dihadapi
oleh orang-orang Sanggar Gading. Aku tidak tahu, apakah orang-orang
Sanggar Gading menganggap aku seorang yang ragu-ragu atau orang yang
tidak bersikap, tetapi ajakan Cempaka telah menarik perhatianku.
Dalam keadaan yang gawat, akupun tidak akan sempat berpikir panjang
dan ragu-ragu” Orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu tertawa.
Katanya “Marilah. Singgahlah di rumahku barang sejenak. Kita akan
bersama-sama pergi ke Sanggar Gading” Jlitheng menarik nafas
panjang. Namun t iba-tiba saja ia bertanya “Siapakah namamu. Apakah
aku juga harus memanggilmu Iblis bertangan Petir?“ Orang itu tertawa
pula. Jawabnya “Namaku Rahu. Aku tidak tahu kenapa orang tuaku
menamakan aku Rahu. Nama yang kurang aku senangi. Karena itu, aku
memakai gelar atas keinginanku sendir i Iblis bertangan Petir” “Kau
tahu gambaran orang tentang iblis?“ bertanya Jlitheng. “Tahu pasti.
Dan itulah yang aku kehendaki” “Kau suka menakut-nakuti orang lain.
Namamu memang menakutkan, seolah-olah kau adalah mahluk yang luar
biasa. Yang mempunyai kekuasaan tanpa banding, sementara dari
tanganku dapat menjulur lidah api” Rahu, yang disebut iblis
bertangan Petir itu tertawa semakin lama justru menjadi semakin
keras. “Kenapa kau tertawa?“ bertanya Jlitheng. “Menarik sekali.
Mungkin kau benar. Aku ingin membuat kesan, seakan-akan diriku
adalah orang yang paling berkuasa, menakutkan dan mampu melepaskan
lidah api dari tanganku” ia berhenti sejenak, lalu “Kau memang lucu.
Tetapi jangan terlalu keras. Meskipun orang-orang yang menonton
pertunjukan ulangan dengan kedua suami isteri itu sebagai pusat
perhatian telah pergi, tetapi jika masih ada yang mendengar
kata-katamu itu, maka nilai dari gelar itu akan susut” “Apakah
mulamula orang di padukuhan ini percaya, bahwa kau mendapat gelar
itu karena sesuatu kelebihan yang adai padamu?“ “Ya. Dan sampai
sekarang mereka menganggap aku orang yang memiliki kelebihan di
padukuhan ini sesuai dengan namaku“ Jlithenglah yang kemudian
tertawa. Katanya “Apakah aku perlu membuat nama yang lebih menger
ikan dar i namamu?” Iblis bertangan Petir itu tertawa semakin keras.
Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan ketika suara tertawanya sudah
mereda ia berkata “Marilah ke rumahku. Besok kita melanjutkan tugas
kita yang lebih berarti dar ipada permainan gila ini” “Besok kita
pergi ke Sanggar Gading?“ bertanya Jlitheng. “Ya. Besok kita akan
berkumpul untuk menentukan saat- saat yang gawat. Semua harus
diperhitungkan sebaik-baiknya. Kewajiban yang akan kita lakukan
adalah kewajiban yang lain dari yang pernah kira lakukan sebelumnya”
“Apa sebenarnya yang akan1 kita lakukan besok?“ bertanya Jlitheng
tiba-tiba. “Kau sudah membuat dua kesalahan. Kau sudah membuat
orang-orang Sanggar Gading menjadi ragu-ragu” sahut Rahu. Jlitheng
menar ik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Terlalu dicari-cari. Aku
tahu bahwa aku telah salah ucap. Tetapi itu adalah dorongan sifat
ingin tahu seseorang. Karena itu, tiba- tiba saja aku bertanya tugas
kita besok, yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Sedang
kesalahanku yang lain sudah kau katakan, aku tidak membunuh
orang-orang yang dapat aku bunuh. Agak berbeda dengan yang aku
katakan pertama. Ketegasan memang tidak sama dengan pembunuhan”
“Disinilah letaknya. Bukan pada perbuatan tidak membunuh itu sendir
i. Tetapi pada sikap dan pendir ianmu yang goyah” Jlitheng
mengerutkan keningnya. Katanya “Terserah kepadamu. Kau dapat
mengatakan apa saja besok kepada pimpinan Sanggar Gading tentang
aku. Kau tentu lebih dipercaya dari aku. Karena itu, kau dapat
membuat aku menjadi hitam atau merah” Rahu yang disebut Iblis
bertangan Petir tertawa pula. Katanya “Jangan merajuk. Sifat-sifatmu
menarik perhatian. Disamping meragukan, kau terbuka dan berani.
Karena itu maka agaknya kau masih mempunyai kesempatan” Jlithengpun
kemudian tertawa. Katanya “Aku tidak tahu, apakah aku akan dapat
mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya” “Marilah“ potong Rahu
itu kemudian “Kau tentu ingin melihat rumahku. Kau perlu minum dan
makan. Nanti malam kau akan tidur nyenyak. Kau tidak usah cur iga,
bahwa nanti malamperutmu akan ditusuk dengan parang selagi kau
tidur” Jlitheng tertawa berkepanjangan. Katanya “Kau memang suka
menakut-nakuti orang. Bukan saja dengan pilihan namamu yang
mengerikan itu, Tetapi dalam kelakarpun kau adalah seorang yang
tepat dalam kedudukanmu” “Apa kedudukanku?“ Jlitheng terkejut
mendengar pertanyaan itu. Namun iapun kemudian menjawab “Bukankah
kau orang Sanggar Gading. “Ya. Lalu apa artinya jika aku orang
Sanggar Gading dengan kedudukan yang kau maksud?“ “Tidak apa-apa”
jawab Jlitheng. Tetapi orang itu berkata “Aku tahu. Kau menganggap
namaku sesuai dengan kedudukanku yang kau sangka tentu seorang
penjahat, seorang perampok, penyamun dan sebangsanya seperti
orang-orang Kendali Putih atau orang- orang Pusparuri” “Jika
dugaanmu benar, maka akulah yang akan bertanya, apakah orang-kedali
Putih dan orang-orang Pusparuri masih sempat juga melakukan hal
seperti itu” “Betapa mereka mencuci tangan mereka, tetapi mereka
sudah melakukan kejahatan seperti itu” “Dan orang-orang Sanggar
Gading?“ potong Jlitheng. Rahu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya
“Orang-orang Sanggar Gading tidak melakukannya. Kami adalah kelompok
orang-orang bercita-cita” “Tetapi dari mana orang-orang Sanggar
Gading memenuhi kebutuhan hidup mereka” “Kau semakin mencur igakan
bagiku, Tetapi seperti yang aku katakan, kau masih mempunyai
kesempatan. Tetapi jika kecurigaanku semakin bertambah, mungkin aku
akan bersikap laini” ”Apa yang akan kau lakukan? Kau mengakui
seperti yang kau katakan sendiri, bahwa kau tidak mempunyai
kemampuan seperti yang aku miliki” “Kau bukan saja mencurigakan,
tetapi juga sombong” Rahu berhenti sejenak, lalu “Marilah. Singgah
di pondokku” Jlitheng tidak menjawab. lapun kemudian mengikuti Rahu
yang bergelar Iblis bertangan Petir itu ke pondoknya. Sebuah pondok
yang cukup besar terletak diujung padukuhan agak menjorok keluar,
seakan-akan merupakan halaman yang menempel pada sebuah padukuhan
induk. Ketika Jlitheng masuk ke dalam pondok itu, ia mendapat kesan
yang aneh. Pondok itu, termasuk pondok yang bersih dan terawat.
Meskipun tidak memiliki perabot yang baik dan bernilai tinggi, namun
pondok itu member ikan kesan yang menyenangkan. Jlitheng yang sedang
memandangi keadaan sekelilingnya dengan ragu-ragu terkejut ketika ia
mendengar Rahu bertanya “Apa yang kau perhatikan di dalam rumah yang
kosong ini?” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian
Tidak apa-apa. Aku biasa berusaha mengenal sesuatu yang baru pertama
kali aku lihat. Bukan saja rumah ini, tetapi juga padukuhan ini”
“Barangkali kau sedang memperhitungkan kemungkinan, lewat pintu mana
kau akan melarikan diri jika kau terjebak di dalam rumah ini”
berkata Rahu pula, Jlitheng tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.
“Duduklah. Yang ada hanyalah amben bambu” Iblis bertangan Petir itu
mempersilahkan. Jlithengpun kemudian duduk diamben bambu yang besar.
Sementara Rahu berkata “Aku akan menjamumu sebelum besok kita
bersama-sama pergi keptadepokan Sanggar Gading. Jangan takut,
kudamupun tidak akan kekurangan makan. Disini banyak rumput yang
hijau segar. Orangku akan menyabit rumput buat kudamu melebihi
kudaku sendir i. Jlitheng tidak menjawab. Ketika Rahu masuk ke ruang
dalam, maka iapun sekali lagi memperhatikan ruangan itu dengan
saksama. Ruangan itu nampak bersih. Tidak ada sarang laba-laba
disudut-sudutnya. Dindingnyapun nampak terawat, sementara diatas
amben bambu itu terbentang selembar tikar yang putih. Lantai tanah
di bawah amben itu sudah mengeras. Agaknya tetiap hari lantai itu
disiram dengan air, dan kemudian di sapunya hingga bersih. Disudut
nampak sebuah geledeg kecil dengan sebuah ajug-ajug disampingnya.
Cangkul, parang kapak dan beberapa jenis alat pertanian tersimpan
dengan rapi di geledeg itu. Jlitheng semakin angin mengetahui lebih
banyak dari pondok yang termasuk agak besar di padukuhan itu.
Sejenak ia berdir i di pintu yang menyekat ruangan itu dengan sebuah
pendapa kecil di bagian depan. Pendapa yang kosong itupun nampak
bersih. Lantainya gilar-gilar seperti juga halamannya Ternyata
Jlitheng mempunyai gambaran yang keliru tentang orang-orang Sanggar
Gading. Agaknya orang-orang Sanggar Gading memang berbeda dengan
orang-orang Kendali Futih dan Pusparuri. “Tetapi aku mungkin akan
salah pula menilai orang-orang Kendali Putih, Pusparuri dan mungkin
padepokan-padepokan yang lain lagi” berkata Jlitheng di dalam hati.
Jlitheng berpaling ketika ia mendengar langkah dari ruang belakang
lewat pintu samping. Dilihatnya Rahu datang membawa dua mangkuk
minuman. “Kenapa kau berdir i disitu?” Ia bertanya. “Rumahmu memang
menarik. Bersih meskipun sederhana. Halamanmu cukup luas meskipun
pendapamu termasuk kecil” Rahu tertawa. Katanya “Adikku tidak
mempunyai pekerjaan apapun juga kecuali mengurusi sawah. Di
saat-saat senggang, ia sibuk dengan rumah ini. Halamannya, pendapa
kecil itu, ruang ini dan seolah-olah ia mengisi kejemuannya dengan
kerja-kerja kecil yang tidak berarti” Rahu berhenti sejenak, lalu
sambil tersenyum ia berkata “hanya dihari-hari terakhir ia mempunyai
kerja sambilan. Jika aku tidak berada di gardu itu, maka adikku
itulah yang berada di gardu itu” “Apakah, adikmu juga disegani orang
disini?“ bertanya Jlitheng. “Adikku seorang anak yang dungu. Tetapi
kadang-kadang ia dapat juga berbuat kasar sehingga orang-orang lain
harus berpikir untuk mengganggunya” Jlitheng mengangguk-angguk.
Sementara Rahu duduk di amben sambil meletakkan mangkuknya
“Minumlah. Air legen“ Jlitheng. termangu-mangu. Ketika lapan
kemudian duduk pula. dipandanginya air legen di dalam mangkuk itu.
"Air legen baru. Bukan air legen yang sudah menjadi tuak dan dapat
membuatmu mabuk” berkata Rahu sambil tertawa. Katanya selanjutnya
“kau mencurigai segala-galanya. Rumah ini, halaman, legen dan
barangkali jika aku menjamumu makan, kau akan menunggu aku makan
lebih dahulu” “Kau yang mencur igai aku, sehingga apapun yang aku
lakukan kau sangka menyelidikinya” sahut J litheng. Rahu tertawa
berkepanjangan. Katanya “Sudah aku katakan. Aku memang mencurigaimu.
Sikapmu terlalu baik dan pernyataan-pernyataanmu terdengar aneh dan
mengarah” “Kau kira aku tidak curiga terhadapmu? Kau kira kau dapat
meyakinkan aku?“ sahut Jlitheng. “He“ Rahu terkejut “Kau tidak dapat
mencurigai aku. Orang-orang Sanggar Gading percaya sepenuhnya
kepadaku. Bagaimana mungkin kau mencur igai aku?“ Jlitheng
termangu-mangu sejenak. Sambil memandang berkeliling ia kemudian
berkata “Rumahmu terawat baik dan terlalu bersih buatmu “ “O“ Rahu
tertawa semakin keras. Katanya “Aku mengerti. Kau masih saja
menganggap aku seorang penjahat yang kotor, kasar dan liar.
Seharusnya rumahku adalah rumah yang berserakkan, penuh dengan
berjenis-jenis senjata pembunuh. Debu yang melekat drsetiap perabot
dan sarang laba-laba yang bergayutan disetiap sudut” Jlitheng
mengangguk sambil menjawab “Sebenarnya begitu. Aku tidak akan
ingkar. Tetapi yang aku lihat justru berbeda sekali” “Kau harus
yakin, bahwa Sanggar Gading bukan sarang penjahat. Kita adalah orang
yang bercita-cita meskipun untuk mencapai cita-cita itu kita kadang
kadang harus membunuh” desis Rahu bersungguh-sungguh. Jlitheng
menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Perbedaannya hanya pada tingkat
dan landasan. Tetapi baiklah, aku tidak akan bertanya lebih banyak
lagi, sehingga akan dapat menambah kecurigaanmu saja” “Sekarang
minumlah“ Rahu mempersilahkan. Jlitheng memandang Rahu yang menyebut
dirinya Iblis bertangan Petir itu sejenak. Namun kemudian
diangkatnya mangkuk ber isi legen itu dan oleh perasaan haus, maka
legen itupan diminumnya seteguk demi seteguk, sehingga hampir separo
telah dihabiskannya. Rahu yang kemudian duduk pula dlsamping
Jlitheng itupun berkata “Istirahatlah sebaik-baiknya disini. Besok
kita akan memasuki Sanggar Gading. Mungkin kau belum mengenal sikap
dan sifat orang-orang Sanggar Gading terhadap orang- orang yang baru
dikenalnya. Mereka membenci orang-orang yang lemah dan berjiwa
kerdil. Mereka membenci keragu- raguan. Dan merekapun mempunyai
ukuran bagi pendatang- pendatang di padepokan kami” “Apa yang kau
maksud?“ bertanya Jlitheng. “Beberapa orang kadang-kadang tidak
yakin akan kemampuan orang-orang baru yang datang ke padepokannya.
Ada semacam keinginan untuk menjajagi mereka yang baru dikenal itu”
“Apakah itu akan berlaku juga terhadapku?“ bertanya Jlitheng.
“Mungkin sekali” jawab Rahu. “Cempaka dan kau pernah melihat, bahwa
aku mempunyai kemampuan yang cukup” berkata Jlitheng kemudian. “Aku
dan Cempaka yang sudah melihatnya. Tetapi yang lain belum. Aku tidak
tahu, apakah Cempaka pernah mengatakan kepada mereka, bahwa kau
mempunyai beberapa kelebihan. Tetapi jika ia tidak mengatakan
apa-apa, maka kau akan mengalami” Jlitheng tertawa Katanya “Apapun
yang akan aku alami, aku tidak peduli Aku adalah seorang petualang
yang menyenangi pengalaman, yang aneh-aneh di dalam hidup ini.
Tetapi yang perlu kalian ketahui, aku tidak ingin bergabung dengan
orang-orang Sanggar Gading. Jika aku datang maka aku adalah
Bantaradi. Aku yang tetap berdiri atas kehendak dan kepribadianku
sendir i” Rahu tertawa. Katanya “Kau benar-benar orang aneh.
Sombong, tetapi ragu” Jlitheng tertawa pula. Jawabnya “Kau mempunyai
penilaian yang salah terhadapku. He, apakah kau juga ingin menjajagi
kemampuanku” “Sebenarnya begitu. Aku ingin melakukannya. Tetapi
diluar rencanaku, aku sudah menyaksikan lebih jelas dan meyakinkan
dari yang aku lihat di malam hari itu. Kau sudah melawan tiga orang
gegedug di padukuhan ini, meskipun dengan penuh keragu-raguan”
“Karena sumber persoalannya adalah seorang perempuan” jawab
Jlitheng. Pembicaraan mereka terputus, ketika seorang laki-laki muda
masuk lewat pintu butulan. Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap,
berdada bidang dan berpandangan sangat tajam. “Ini adikku” berkata
Rahu sambil menunjuk anak muda yang berhenti sebentar, mengangguk
sambil tersenyum. Namun kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah
bilik di ruang dalam itu. “Luar biasa” desis Jlitheng “adikmu
mempunyai tubuh seorang raksasa. Wajahnya mempunyai kesan
tersendiri, la tentu seorang yang cukup cerdas” “Kau memuji. Tetapi
aku kira ia tidak lebih muda dari kau sendiri Bantaradi?“ Jlitheng
menarik nafas sambil memandang pintu bilik yang masih terbuka.
Tetapi ia tidak melihat anak muda bertubuh raksasa itu. “Apakah
adikmu juga mempunyai sangkut paut dengan orang-orang Sanggar
Gading?“ bertanya Jlitheng. “Sudah tentu. Tetapi tidak langsung.
Orang-orang Sanggar Gading mempunyai ikatan yang sangat ketat,
sehingga tidak seorangpun diantara kami yang dapat melepaskan diri
dari ikatan, apabila kami sudah memasukinya, maka adikkupun telah
terpercik pula pengamatan yang ketat, sehingga ia tidak akan dapat
membocorkan rahasia yang diketahuinya, karena ia adalah adikku”
“Siapakah yang dapat mengawasinya? Ia berada di tempat yang terpisah
dari padepokan Sanggar Gading” “Aku adalah pengawasnya yang paling
cermat” Jlitheng mengerutkan keningnya sejenak. Lalu “Keluarga ini
memang aneh. He, apakah kau mempunyai anak isteri?“ “Tidak. Aku
tidak mempunyai keluarga lain kecuali adikku” “Ia tidak pantas
menjadi adikmu” Sebelum Jlitheng melanjutkan, Rahu telah memotongnya
“Kau mulai curiga lagi. Kau dapat berbicara tentang apa saja.
Tentang kebiasaanku, tentang rumahku dan tentang adikku. Tetapi jika
hal itu kau katakan diantara orang-orang Sanggar Gading yang tidak
pernah menghiraukan hal itu. mereka akan mulai berpikir. Mereka akan
mulai mencari-car i sebab dan mereka akan mencur igaiku lebih dari
kecur igaanmu” “Apakah ini satu permintaan?“ bertanya Jlitheng.
“Tidak. Seperti kau juga tidak minta agar aku tidak mengatakan kecur
igaan-kecur igaanku terhadapmu. Kau menyerahkan hal itu kepadaku.
Akupun tidak akan mencegah apa yang akan kau katakan kepada
orang-orang lain di Sanggar Gading itu” Jlitheng tertawa
berkepanjangan. Bahkan iapun kemudian berdiri dan melangkah mondar
mandar. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat adik Rahu itu
keluar dari biliknya dan berdiri di muka pintu setelah sekali lagi
ia mengangguk hormat. “Siapakah namamu?“ bertanya Jlitheng kepada
adik Rahu itu. Anak muda itu memandang kakaknya sejenak. Ketika
kakaknya mengangguk iapun menjawab “Namaku Rahsa Semi” “He “
Jlitheng mengerutkan keningnya “Rahsa Semi. Nama yang aneh” Sekali
lagi Rahu memotong “Jauh berbeda dengan namaku. Dan kau mencur
igainya lagi. Tetapi aku dapat menjelaskan, orang tuaku memang
sesukanya saja mengambil nama tanpa pertimbangan-pertimbangan apapun
juga. Dan nama itu memang aneh-aneh, seperti namaku juga. Sehingga
aku lebih senang memakai nama yang lain” Jlitheng mengangguk-angguk.
Namun iapun kemudian ter senyum. Katanya “Nama yang bagus sekali”
Tetapi Rahu masih saja berkata “Apapun dapat kau cur igai disini.
Nama, keadaan. dan isi rumah, sikap dan ketapa kau tidak.
mempersoalkan, kenapa adikku bertubuh tinggi besar melampaui
kebanyakan orang, sementara aku sendir i tidak?“ Jlitheng tertawa.
Ia melihat adik Rahu yang bernama Rahsa Semi itu juga tersenyum.
Namun iapun kemudian berkata “Maaf, aku harus pergi ke sawah” Ketika
anak muda bertubuh raksasa itu telah keluar dari ruangan, maka
Jlithengpun berkata “Bukan mencur igai, tetapi aku benar-benar heran
melihat sikap adikmu. Ia adalah anak muda yang sopan. Jauh berbeda
dengan isi padukuhan ini dalam keseluruhan, termasuk kau sendiri”
Rahu akan menjawab. Tetapi ia sudah tertawa lebih dahulu.
Disela-sela tertawanya ia berkata “Baiklah, apapun nampak aneh dalam
pandangan matamu. Sekarang, lupakan semuanya. Kau adalah tamuku.
Besok kita akan bersama- sama pergi ke padepokan Sanggar Gading.
Tetapi sebelum kau terperosok ke dalamnya, biarlah aku memberi
tahukan kepadamu, bahwa orang-orang yang sudah ada di dalam dinding
padepokan, sukar untuk dapat keluar lagi” Jlitheng mengerutkan
keningnya. Namun katanya “Aku seorang petualang. Aku sudah banyak
dan masih selalu ingin mengalami peristiwa yang dapat mengisi hidup
ini dengan pengalaman-pengalaman yang menarik” Rahu menarik nafas
dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Jika kau merasa letih,
beristirahatlah. Marilah, aku tunjukkan bilik untukmu” Jlitheng
tidak menjawab. Iapun kemudian mengikuti Rahu ke gandok sebelah kir
i, yang disekat oleh sebuah longkangan kecil dengan rumah induk.
“Beristirahatlah. Nanti, saatnya makan, kau akan aku berltahu.
Sekarang biarlah aku menyediakannya untukmu. Adikku tentu sudah
masak” berkata Rahu. “Ternyata adikmu orang luar biasa. Ia pandai
juga masak, selain agaknya pandai juga dalamolah senjata” sahut
Jlitheng. “Kami hanya berdua. Kami harus dapat melakukan apa saja.
Sementara aku lebih banyak berada di padepokan Sanggar Gading
daripada di rumah ini” jawab Rahu, lalu “Beristirahatlah. Akupun
akan beristirahat setelah melakukan kerja yang sangat menjemukan.
Menunggumu di gardu itu” Ketika Rahu kemudian meninggalkan Jlitheng
seorang diri, maka J lithengpun mulai melihat-lihat isi bilik yang
diperuntukkan baginya. Ia masih saja merasa heran, bahwa rumah itu
nampak bersih dan teratur. Perabot-perabotnya nampak terawat dan
mapan. Ia sama sekali telah membuat bayangan yang salah tentang
orang yang bernama Rahu itu. Ketika orang itu mengajaknya singgah,
maka yang terbayang adalah sebuah rumah yang kotor dam perabot yang
kasar, serta berbagai macam senjata melekat didinding silang
melintang. Tetapi yang dijumpainya adalah rumah yang lain sama
sekali. “Rumah ini benar-benar mencurigakan” katanya di dalam hati
adiknyapun mencurigakan. Kecuali nama maka kedua orang itu sama
sekali tidak mempunyai persamaan ujud dan bentuk” Namun akhirnya
Jlitheng tidak menghiraukannya lagi. Ia memang merasa lelah, setelah
bertempur melawan tiga orang yang dianggap orang-orang terbaik dari
padukuhan yang aneh itu. Karena itu, maka iapun kemudian melepas
pedangnya dan meletakkan dipembar ingan ketika iapun kemudian
berbaring juga. Tetapi Jlitheng sama sekal tidak ingin tidur. Ia
merasa tempat itu sebagai tempat yang aneh. Tempat yang nyaman,
tenang dan sejuk, tetapi justru karena itu, tempat itu merupakan
tempat yang mencurigakan. Untuk beberapa saat Jlitheng berbaring
diam. Namun angan-angannya sajalah yang mengembara ke tempat yang
jauh. Kadang-kadang kembali ke Bukit Gundul yang selalu diawasi oleh
Daruwerdi. Bukit berhutan yang dihuni oleh dua orang ayah dan anak
perempuannya. Seorang gadis yang aneh juga menurut pandangan
Jlitheng. Seorang gadis yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang
dapat mengimbangi ilmunya sendiri. “Mungkin akulah yang masih jauh
ketinggalan dar i antara orang-orang yang disebut berilmu” berkata
Jlitheng di dalam hatinya “karena itu, agaknya bekalku masih kurang
sekali untuk melakukan tugas yang berat ini” Kebanggaan-kebanggaan
kecil dar i kemenangan- kemenangannya atas orang-orang yang tidak
berarti, tidak dapat memberinya takaran tentang kemampuannya. Orang-
orang Kendali Putih, orang-orang padukuhan itu, dan mungkin beberapa
orang yang lain justru akan dapat memberikan takaran semu tentang
dirinya sendiri. Diluar sadarnya, Jlitheng meraba ikat pinggangnya.
Ia mempunyai sejenis senjata yang dapat dipergunakannya untuk
melindungi dir inya jika ia terpaksa melawan beberapa orang
sekaligus. Paser-paser kecil yang dibawanya itu mempunyai arti
tersendiri baginya, disamping pedang tipisnya yang mempunyai
kemampuan tidak kalah dengan segala jenis pedang. Bukan saja
tajamnya yang mampu menebas putus kapas yang mengapung diudara
dengan ayunan lamban, tetapi pedang itu juga merupakan pedang yang
kuat sekali. “Aku akan memasuki daerah pengalaman yang mendebarkan”
berkata Jlitheng kemudian “Tetapi aku tidak boleh melepaskan
kesempatan ini. Mungkin jalan ini akan membawa aku kembali ke bukit
gundul itu, dan menghadapi persoalan-persoalan baru yang
mendebarkan, tetapi yang dapat memberikan jalan menuju kesasaran“
Jlitheng bangkit dan duduk dibibir ambennya ketika ia mendengar
langkah mendekati pintu. Ketika kemudian pintu bergerit, dilihatnya
Rahu berdir i sambil tersenyum. Katanya “Makanlah. Jangan takut
bahwa aku akan meracunmu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia
membenahi pakaiannya, ikat kepalanya dan dipungutnya pedangnya dan
dikenakannya di lambungnya. “Kau seperti akan berangkat kemedan
perang” berkata Rahu. “Inilah sikap seorang petualang sejati” jawab
Jlitheng Rahu tertawa. Dipandanginya Jlitheng dari ujung kakinya
sampai ke ujung ikat kepalanya. Katanya “Kau seorang petualang
sejati. Seorang petualang yang sangat berhati-hati menghadapi
keadaan yang tidak kau kenal dengan baik” “Apakah kau bermaksud
mengatakan bahwa aku seorang pengecut?“ bertanya Jlitheng. Rahu
tertawa semakin keras. Jawabnya “Kau mudah tersinggung. Seorang yang
senang berkelakar tidak boleh mudah tersinggung. Ada bedanya antara
seorang pengecut, seorang penakut dan seorang yang berhati-hati. Dan
kau termasuk orang yang sangat berhati-hati Bukan seorang pengecut
atau penakut” Jlitheng tidak menjawab. Tetapi iapun tersenyumpula.
“Marilah. Adikkulah yang masak hari ini Aku hanya menyiapkan saja di
amben dalam” Jlitheng yang dikenal oleh Rahu bernama Bantaradi
itupun kemudian mengikutinya melintasi longkangan sempit menuju ke
ruang dalam. Diatas sebuah amben yang lebar telah terhidang nasi dan
lauk pauknya. Di dalam sebuah tenong yang tidak begitu berat
terdapat berbagai macam lauk kering. Ikan air yang digoreng dengan
tepung beras. Kacang dan kedele hitam. Sedang di dalam mangkuk
terdapat sayur basah kacang panjang dan seonggok kulupan dedaunan.
“Makanlah. Adikku yang tidak setiap hari dapat masak, telah
menyediakan lauk yang dapat disimpan sampai sepekan” berkata Rahu
sambil menunjuk tenangnya. Jlitheng mengangguk-angguk. Ia tidak mau
mengecewakan Rahu. Karena itu, maka iapun makan seperti Rahu. Lahap
sekali. Apalagi ketika Rahu kemudian berkata “Jika kau ragu- ragu,
biarlah aku mengambil dahulu” Jlitheng hanya tersenyum saja.
Sementara itu tangannya menyuapi mulutnya tiada henti-hentinya.
Sebenarnyalah bahwa Jlitheng yang letih itu juga lapar. Karena itu,
maka nasi hangat itu telah menumbuhkan seleranya. Malam itu,
Jlitheng bermalam di rumah Rahu. Ketika ia kemudian kembali ke
biliknya, ia masih mendengar suara Rahu yang bercakap-cakap dengan
adiknya tentang air di sawah. Kemudian tentang rumput bagi kuda di
kandang, termasuk kuda Jlitheng. Lamat-lamat Jlitheng masih
mendengar Rahu berkata “Siapkan makan kami pagi-pagi benar. Kami.
akan berangkat sebelum matahari terbit” “Ya kakang” jawab Semi.
“Anak muda yang baik” berkata Jlitheng di dalam batinya. Namun
kemudian “Tetapi aku tidak boleh terpedaya melihat sikapnya dan
melihat keadaan rumah ini. Mungkin rumah ini bukan rumah Rahu yang
sebenarnya. Mungkin di belakang keduanya ada orang lain yang
menyiapkan segala sesuatu” Ternyata bahwa Jlitheng tidak dapat
melepaskan diri dari kecurigaannya. Karena itu, maka ketika ia akan
membar ingkan dirinya dipembaringan, iapun telah menyelarak pintu
biliknya. Kemudian memperhatikan setiap sudut bilik itu. Namun
menurut pengamatannya, tidak ada sesuatu yang mencur igakan di
dalambilik itu. Karena itu maka Jlithengpan kcmudan membaringkan
dirinya. Tetapi pedangnya tetap d sisinya, demikian pala ikat
pinggangnya yang digantungi dengan paser-paser kecil. Ternyata malam
itu dilaluinya tanpa terjadi sesuatu. Orang- orang padukuhan itu
tidak mendendamnya dan tidak beramai- ramai mengepung rumah Rahu
yang termasuk orang yang disegani pala. Rahu yang menyebut dir inya
Iblis bertangan Petir dan adiknya itupun tidak berbuat apa-apa pula
atasnya. - Menjelang dini hari, Jlitheng sudah bangun. Setelah
memperhatikan keadaan dengan seksama, maka iapun kemudian keluar
sambil menj inj ing pedangnya langsung menuju ke pakiwan. Ketika ia
keluar dari pakiwan ia melihat Rahu berjongkok sambil berselimut
kain panjang. “Kau sudah mandi?“ bertanya Rahu, “Bukankah kita
berangkat pagi-pagi sebelum matahari terbit?“ sahut Jlitheng. “Aku
bermaksud demikian” Rahu mengangguk-angguk ”tetapi ini masih sangat
pagi” “Lebih baik bersiap lebih awal” sahut Jlitheng. Namun iapun
kemudian merasa bahwa Rahu tersenyum- senyum sambil memandang
pedangnya. Tetapi Jlitheng tidak peduli. Ia berjalan menuju gandok
sambil menjinj ing pedangnya itu. Di gandok, iapun segera berpakaian
selengkapnya. Pedang di lambung dan diper iksanya sekali lagi
paser-paser kecilnya Ternyata tidak ada sebuahpun yang kurang.
Sambil memperhatikan keadaan di sekeliling ia bergumam di dalam
liati “Tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam bilik ini ketika aku
di pakiwan” Setelah selesai berkemas maka Jlithengpun duduk di amben
pembar ingannya sambil menunggu. Ia tahu bahwa Rahu akan
memanggilnya, makan pagi dan kemudian baru berangkat, karena ia
mendengar percakapan Rahu dengan adiknya semalam. Ternyata dugaannya
benar. Sejenak kemudian, maka Rahupun memanggilnya. Dipersilahkannya
ia makan bersama Rahu. Kemudian bersiap-siap untuk berangkat
meninggalkan padukuhan yang aneh itu. Di halaman dua ekor kuda sudah
siap. Namun Jlitheng masih memeriksa kudanya dengan teliti.
Dilihatnya telapak dikaki kudanya dan ditelitinya pelananya. Baru
kemudian ia berkata kepada Rahu “Aku sudah siap“ “Kita akan segera
berangkat” berkata Rahu. Lalu katanya kepada adiknya “Kau di rumah
saja. Jaga rumah ini baik-baik. Jangan terlalu banyak berhubungan
dengan orang-orang padukuhan Tetapi terserah kepadamu jika kau pada
suatu saat dipaksa untuk menjaga harga diri atau bahkan keadaanmu
dalam keseluruhan” Adiknya mengangguk. Anak muda bertubuh raksasa
itu nampak kokoh kuat. Agaknya iapun seorang yang trampil dan
trengginas, meskipun tubuhnya tinggi dan besar. Demikianlah, maka
sejenak kemudian Jlitheng dan Rahu pun meninggalkan rumahnya
menjelang matahari terbit di ujung Timur. Ketika Rahu dan Jlitheng
yang dikenal bernama Bantaradi itu menyusuri jalan-jalan padepokan,
beberapa orang sudah berada dihalaman meskipun masih remang-remang.
Suara sapu lidi terdengar disebelah menyebelah jalan. Dalam keadaan
yang demikian, padukuhan itu tidak ada bedanya dengan
padukuhan-padukuhan lain yang pernah dikenal oleh Jlitheng. Desir
sapu lidi, derik senggot timba dan sekali-kali tangis anak-anak
mencari ibunya yang sedang ke pakiwan, member ikan kesan yang
tenang. Namun jika matahari telah naik, maka padukuhan itu akan di
sibukkan oleh perselisihan- perselisihan yang kadang-kadang
berkepanjangan tanpa arti sama sekali. “Padukuhan ini adalah
padukuhan yang paling gila yang pernah aku lihat” desis Jlitheng
tiba-tiba “Tetapi ada juga orang yang kerasan tinggal disini.
Bahkan, ada orang dari tempat lain justru memilih tinggal di tempat
yang gila ini” Rahu tersenyum. Katanya “Kau akan dapat merasakan
kesenangan tersendiri disini. Apalagi kau yang memiliki kemampuan
melampaui kebanyakan orang. Bahkan tiga orang gegedug yang bertempur
bersama-sama tidak mampu mengalahkanmu” “He, begitukah sikap dan
pandangan kalian terhadap kehidupan? Siapa yang menang akan memiliki
peluang yang banyak untuk berbuat apa saja, termasuk merebut istri
orang?“ Rahu tertawa. Katanya “Tidak seluruhnya gambaranmu benar.
Tetapi sebagian memang deinikian” “Jika demikian, kenapa kau tidak
mencari perempuan yang paling cantik dan kau jadikan isterimu?“
bertanya Jlitheng. Rahu tertawa semakin keras. Katanya “Mungkin aku
akan dapat berbuat demikian. Tetapi apakah artinya seorang perempuan
yang berada di rumahku hanya wadagnya saja, tanpa hatinya?
Selebihnya, aku tidak ingin dikisruhkan dengan tanggungan-tanggungan
semacam itu. Aku lebih senang sendiri. Sementara adikku dapat
menguras dir inya sendiri” Jlitheng mengerutkan keningnya. Sikap
itupan aneh bagi Jlitheng. Seorang yang hidup dalam lingkungan yang
aneh itu masih juga berpikir tentang hati seorang perempuan. Bukan
wadagnya. Tanggapan Jlditheng terhadap Rahu menjadi semakin banyak
memberikan teka-teki kepadanya. Ada beberapa hal yang sama sekali
tidak sesuai bahkan bertentangan dengan dugaannya sebelumnya. Namun
demikian ia tidak ingn menunjukkan kecur igaannya yang menjadi
semakin besar. Demikianlah mereka meneruskan perjalanan mereka. Di
ujung padukuhan seorang yang berpapasan dengan keduanya sama sekali
tidak berpaling kearah mereka. “Inilah sikap yang sebenarnya dari
orang-orang padukuhan ini. Mungkin sama sekali tidak acuh terhadap
orang lain. Tetapi mungkin juga karena tatapan mata sudah cukup
alasan untuk dianggap ikut campur dalam persoalan orang lain” desis
Jlitheng. Rahu mengangguk. Katanya “Kau cepat mengenali sifat
orang-orang padukuhan ini. Mereka mencoba menentang sifat manusiawi
yang ingin saling berhubungan dan saling memer lukan” “Dan kau
tertarik juga untuk melakukannya” sahut J litheng. Rahu mengangguk
lagi. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan iapun kemudian berkata
“Lupakan orang-orang padukuhan itu. Kau harus mulai memperhitungkan
langkahmu dipadepokari Sanggar Gading” Jlitheng mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia berdesis “Aku sudah siap, meskipun
seandainya Sanggar Gading itu merupakan sarang serigala yang paling
buas. Satu dari isi Sanggar Gading sudah aku kenal. Jika orang-orang
Sanggar Gading itu pada umumnya seperti kau, maka aku akan memasuki
padepokan yang nyaman, bersih dan damai, karena isinya akan selalu
berbicara tentang hati. Bukan tentang wadag” “Ah, kau selalu
mengada-ada” potong Rahu “Aku mencoba berbuat baik karena, aku
adalah tuan rumah. Tetapi di padepokan, aku adalah orang yang lain
dari yang Kau kenal di rumahku. Dan kaupun akan menjumpai tata
kehidupan yang asing, seperti kau menjumpai tata kehidupan di
padukuhanku, meskipun dalam bentuk yang berbeda” Jlitheng.
mengerutkan keningnya. Ia harus memperhatikan peringatan itu dengan
sungguh-sungguh. Ia harus mempersiapkan dir inya, memasuki sarang
serigala liar yang setiap saat akan dapat menerkamnya dari segala
penjuru. “Tetapi aku sudah bertekad untuk memasukinya” berkata
Jlitheng di dalam hati. Namun seolah-olah Rahu itu mengetahui apa
yang sedang dipikirkannya, sehingga orang yang menyebut dirinya
Iblis bertangan Petir itupun berkata “Sekali lagi aku memper
ingatkan, orang-orang Sanggar Gading bukan orang yang ragu-ragu.
Bukan orang yang penuh dengan belas kasihan dan kasih sayang. Tetapi
kami bukan segerombolan perampok dan penyamun tataran sepanjang
jalan sepi dan rumah-rumah saudagar. Kami adalah orang-orang yang
bercita-cita” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Itulah agaknya
maka orang-orang Sanggar Gading berkeras untuk mendapatkari pusaka
yang diduga berada ditangan Daruwerdi yang menuntut nilai tukar yang
tinggi. Yang agaknya akan dipenuhi oleh orang-orang Sanggar Gading,
apapun akibatnya. Tetapi Jlitheng tidak menyahut. Ia mulai merenungi
perjalanan yang sedang dilakukannya. Bahkan kemudaan ia bertanya
“Apakah padepokan itu masih jauh?“ ”Jangan bertanya begitu. Kau
tentu mengenal jalan ke padepokan Sanggar Gading” “Aku tidak tahu”
“Kau tentu dapat mengenal cir i-cir i jalur jalan menuju kesebuah
padepokan. Apalagi samar-samar kau pernah mendapat petunjuk, dan kau
telah menemukan padukuhan pula” “Aku malas berpikir dan mengenali
tanda-tanda yang samar karena adai kau. Aku lebih mudah bertanya
kepadamu dari pada aku harus mengamati setiap batang pohon dan jejak
dijalur jalan ini” Rahu tertawa berkepanjangan Katanya “Kau memang
orang yang aneh. Seorang petualang sejati, tetapi juga seorang
pemalas sejati” “Aku mengikut kau saja sampai dimanapun” desis J
litheng. Rahu masih saja tertawa. Dengan nada datar ia berkata
“Seandainya aku pergi kearah yang salah, yang dapat menyesatkanmu ke
tempat berbahaya?” “Aku bunuh kau. Bukankah kau sendiri yang
mengatakan, bahwa aku mempunyai kelebihan darimu. Aku dapat melawan
tiga orang gegedug, sedang kau hanya mampu mengimbangi
sebanyak-banyaknya dua orang saja” jawab Jlitheng. Rahu masih
tertawa. Jawaban Jlitheng terdengar lucu di- telinganya.
Demikianlah, maka keduanya berpacu menyusuri jalan- jalan di
tengah-tengah bulak yang panjang. Namun tanah nampaknya tidak
tergarap dengan baik. Parit-parit telah kering dan
tanggul-tanggulnyapun telah banyak yang rusak. Sementara daerah yang
kering nampak gersang dan kekuning kuningan. Hampir diluar sadarnya
Jlitheng bertanya “Apakah daerah ini juga memiliki keanehan seperti
padukuhanmu?“ “Ada tiga empat padukuhan yang memiliki persamaan
sifat. Sebentar lagi kita akan keluar dari daerah yang kau anggapi
aneh itu dan memasuki daerah yang hampir tidak berpenghuni. Daerah
yang ker ing dan tandus” jawab Rahu. Jlitheng mengangguk-angguk. Ia
memang melihat di depannya daerah yang menjadi semakin gersang.
Rasa- rasanya gerumbul-gerumbul yang tumbuh disebelah menyebelah
jalan menjadi kuning terbakar oleh panas matahari disiang yang
terik, dan kedinginan oleh t itik-t itik embun di malam hari. Namun
titik-t itik embun itu tidak dapat menyegarkan dedaunan yang semakin
kuning dan akhirnya runtuh mengotori jalan yang semakin sempit pula,
Beberapa dahan yang kering gun dul bagaikan menggapai-gapai
kepanasan dan menggigil kedinginan di malamhar i. “Kita memasuki
daerah terpencil” berkata Rahu “Bukankah kau sudah
memperhitungkannya?“ Jlitheng memandang jauh kedepan. Padang perdu
yang terbentang dihadapannya memberikan kesan yang tersendiri pula,
sesudah ia keluar dar i padukuhan yang aneh itu. “Kenapa padepokan
Sanggar Gading memilih tempat seperti ini?“ bertanya Jlitheng
kemudian. “Kita belum sampai ke padepokan Sanggar Gading” jawab
Rahu, namun kemudian katanya “Tetapi bukankah sudah wajar, bahwa
kelompok-kelompok yang hidup dengan cara dan cita-citanya yang
tersendiri, memilih tempat yang tersendiri pula. Kau tentu dapat
membayangkan bahwa dengan demikian kita sudah jauh mengurangi
kemungkinan pergeseran dan benturan yang dapat terjadi dengan
susunan masyarakat yang sewajarnya. Bukankah kau juga dapat
membayangkan, bahwa orang-orang Kendali Putih, orang- orang.
Pusparuri dan padepokan di Gunung Kunir juga terpisah dari susunan
masyarakat sewajarnya?” Jlitheng mengangguk. Jawabnya “Ya, ya. Aku
mengerti. Bukan saja kalian tetapi banyak pula terdapat padepokan
yang terasing, karena penghuninya tidak lagi ingin berhubungan
terlalu banyak dengan unsur-unsur duniawi. Beberapa orang menganggap
dir inya sudah waktunya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa, sehingga mereka memilih suasana yang sepi dan tenang”
Rahu mengerutkan keningnya. Katanya “Kau sengaja ingin mengatakan
bahwa yang kami lakukan adalah sebaliknya?” “Jika tanggapanmu
demikian, terserahlah” jawab Jlitheng tanpa berpaling. Rahu tidak
menjawab. Namun nampak bibirnya tersenyum. Senyumyang tidak dapat
dimengerti. Keduanyapun kemudian memasuki daerah gersang itu semakin
dalam. Mereka melintasi padang yang ditumbuhi dengan
gerumbul-gerumbul perdu yang ke kuning-kuningan. Sekali-kali mereka,
melihat seekor dua ekor burung terbang. Namun nampak betapa lesunya.
Demikianlah, semakin tinggi matahari naik dilangit, maka panasnyapun
menjadi semakin terik. Perjalanan J litheng dan Rahu telah sampai ke
daerah yang gersang sama sekali. Batu- batu padas berserakkan
disebelah menyebelah jalan setapak. Bahkan yang, mereka jumpaii
kemudian adalah ranting- ranting perdu yang tidak berdaun lagi.
“Tetapi perdu itu tidak mati“ tiba-tiba saja Rahu berkata
seolah-olah ia, mengetahui apa, yang terpikir oleh J litheng. Lalu
“Jika hujan mulai jatuh, ranting-ranting itu akan bersemi dan
dedaunan akan tumbuh hijau segar. Pada saatnya dedaunan itu akan
menguning dan runtuh di musim ker ing” “Daerah yang benar-benar
terasing” berkata Jlitheng “jalan ini tentu jarang sekali dilalui
orang. Kecuali orang-orang yang tersesat, atau orang-orang Sanggar
Gading” “Ya” jawab Rahu “Dan kau sudah memasuki daerah kuasa
orang-orang Sanggar Gading. Kau harus mempersiapkan diri menghadapi
setiap kemungkinan. Padepokan itu sendir i masih jauh. Mungkin
menjelang senja kita baru akan sampai. Tetapi di perjalanam ini, kau
mungkin sekali akan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan,
justru karena kau orang yang belum dikenal disini. Meskipun Cempaka
pernah mengatakan, bahwa ada satu kemungkinan, seseorang akan hadir,
dan bahkan menyuruh aku menunggumu di padukuhanku, namun tidak semua
orang Sanggar Gading senang akan kedatanganmu. Mereka mencurigaimu
dan mungkin mereka tidak yakin, bahwa kau dapat dijadikan lawan yang
seimbang, atau kecurigaan-kecurigaan yang lain” Jlitheng mengerutkan
keningnya. Nampaknya Rahu tidak sedang berkelakar. Tetapi ia berkata
dengan sungguh- sungguh. Karena itu, Jlitheng memang harus
berhati-hati. Ia tidak melihat seseorang di padang perdu yang
gersang itu. Tetapi peringatan itu agaknya berlaku untuk waktu yang
tidak lama lagi. Jika kuda mereka memasuki daerah itu semakin dalam,
maka kemungkmankemungkinan itu akan dapat terjadi. Terik matahari
terasa semakin membakar tengkuk. Tetapi mereka masih melanjutkan
perjalanan. Di bawah sebatang perdu yang masih berdaun cukup lebat,
meskipun sudah menjadi kekuning-kuningan, keduanya berhenti untuk
member i kesempatan kepada kuda-kuda mereka ber istirahat.
“Bantaradi” tiba-tiba saja Rahu berdesis sambil duduk bersandar
pohon itu “Aku tidak tahu, kenapa kau tertarik memasuki padepokan
Sanggar Gading” Jlithengpun kemudian duduk pula. Pertanyaan itu
terdengar aneh di telinganya. Karena itu, maka iapun bertanya pula
“Kenapa kau bertanya demikian? Bukankah aku seorang petualang yang
seperti aku katakan, ingin melihat segala ini dunia ini meskipun
kadang-kadang harus menempuh bahaya? Yang atan dilakukan oleh
orang-orang Sanggar Gading agaknya akan sangat menarik. Karena itu,
aku ingin mengalaminya meskipun yang akan terjadi itu dapat
berbahaya bagi keselamatanku” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia berkata dengan sungguh-sungguh “Jika kau terjerat oleh padepokkan
itu, maka kau harus menghentikan petualanganmu karena kau akan
menjadi salah satu dari patung-patung hidup yang berada di padepokan
itu. Kau tidak akan sempat lagi berpikir dan memikirkan
rencana-rencanamu lebih jauh. Kau akan menjadi salah seorang dari
mereka yang tinggal melaksanakan perintah tanpa mengetahui sebab dan
akibatnya. Kecuali Jika kau langsung dapat berdiri pada sederet
tataran dengan para pemimpinnya” Jlitheng mengerutkan keningnya.
Lalu katanya “Apakah kau juga tidak sempat berpikir dan berbuat
tanpa sadar, sesuai dengan perintah yang kau terima?“ “Aku beruntung
untuk mendapat sedikit kepercayaan dari pimpinan Sanggar Gading”
jawab Rahu. Jlitheng tertawa. Katanya “Pengalaman yang menar ik
sekali. Aku ingin menguj i ketahanan akal dan perasaanku. Jika pada
suatu saat aku terperosok ke dalam lingkungan yang demikian apakah
aku tidak kehilangan kepr ibadianku” “Jika ternyata kemudian kau t
idak lagi mengerti tentang dirimu sendir i?“ bertanya Rahu. “Jika
terjadi demikian, ternyata bahwa akal dan perasaanku tidak ada
artinya lagi. Dan aku memang sepantasnya menjadi budak-budak yang
tidak mengerti akan dirinya sendiri” jawab Jlitheng, Rahu
mengangguk-angguk, Katanya “Kau memang keras kepala. Tetapi aku
sudah banyak member ikan keterangan kepadamu, “Terima kasih. Tetapi
aku tidak tahu, apakah kau sedang menilai kemantapanku, atau karena
kau benar-benar ingin menunjukkan isi dari padepokanmu. Aku
menganggap hal itu agak mustahil, apalagi jika kau termasuk salah
seorang yang mendapat kepercayaan untuk memimpin di Sanggar Gading”
berkata Jlitheng kemudian. Wajah Rahu menegang. Katanya “Sikapmu
bukan sikap orang-orang Sanggar Gading. Tetapi pada suatu saat, aku
adalah salah seorang pemimpin dari Sanggar Gading itu, sehingga
akupun dapat bertindak tegas terhadapmu” Jlitheng mulai tertawa lagi
sambil berkata “jika demikian, ada kemungkinan yang lain. Kau
menjadi cemas, bahwa aku akan dapat menggeser kedudukanmu. Karena
itu, kau member ikan kesan yang buruk terhadap Sanggar Gading agar
aku mengurungkan niatku untuk datang dan menemui Cempaka” Rahu
menegang sejenak. Namun kemudian iapun tertawa “ Tepat. Kau memang
memiliki tanggapan sangat tajam. Tetapi yang penting bukan
kecemasanku tentang kedudukanku. Aku yakin bahwa aku akan dapat
mempertahankannya. Jika kau mengira bahwa aku benar-benar dapat kau
kalahkan maka kau keliru. Aku kadang-kadang memang merasa perlu
untuk merendahkan dir i” “Untuk apa?“ bertanya Jlitheng. “Sekedar
untuk menyenangkan orang lain. Apalagi petualang yang masih memiliki
jiwa kekanak-kanakan seperti kau, yang masih merasa senang dan
bangga j ika disanjung” Tetapi Jlithengpun tertawa. Katanya “Kau
mempunyai bakat untuk menakut-nakut i orang. Ternyata caramu memilih
gelar dan sikapmu yang tertutup. Tetapi aku tidak dapat kau takut-
takuti dengan cara itu” “Masih ada kesempatan untuk mengetahui,
siapakah diantara kita yang memiliki kelebihan sebelum kita memasuki
Sanggar Gading” gumam Rahu. “O, jadi kaulah orang yang pertama akan
menjajagi kemampuanku. Baiklah. Aku kira, aku tidak berkeberatan”
jawab Jlitheng. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian
“Berhati-hatilah. Aku terpaksa memperingatkanmu sekali lagi. Aku
melihat bayangan maut merundukmu. Bukan, sekedar mengancam dan
menakut-nakuti. Sebenarnya aku tidak berkepentingan sama sekali
seandainya mayatmu terkapar disini menjadi makanan burung-burung
pemakan bangkai” “Aku tidak mengerti” gumam Jlitheng. Rahu tidak
menyahut. Tetapi sekilas pandangan matanya menyambar seonggok batu
padas beberapa puluh langkah dari tempatnya berhenti. Diluar
sadarnya Jlithengpun ikut memandang kearah batu padas itu. Tiba-tiba
saja wajahnya menjadi tegang. Ia melihat sekilas ujung tombak
mencuat dibalik batu padas itu. Namun kemudian ujung tombak itu
segera lenyap. ”Apakah artinya?“ desis Jlitheng ”Kau sudah tahu”
jawab Rahu. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa
Rahu benar-benar bermaksud baik terhadapnya. Namun karena itu, ia
menjadi semakin heran, terhadap orang aneh itu. Tetapi ia tidak
sempat memikirkannya lebih panjang. Sementara itu ia mendengar Rahu
bergumam hampir berbisik “Orang dlibalik batu itu memberi isyarat
agar aku menjauhimu. Berhati-hatilah” Jlitheng menjadü semakin
tegang. Sementara itu ia melihat Rahu berdiri dan berjalan mendekati
kudanya yang sedang beristirahat di bawah bayangan dedaunan meskipun
sudah mulai menguning. “Dengarkan kata-kataku” desis Rahu kemudian
tanpa memperhatikan Jlitheng yang menegang. Sementara itu, dari arah
batu-batu padas yang berserakkan, dua orang merunduk mendekati.
Jlitheng. Salah seorang dari keduanya tiba-tiba saja meloncat berdir
i diarah belakang Jlitheng. Dengan serta merta ia telah melontarkan
tombaknya mengarah ke punggung Jlitheng. “Awas, dari arah
belakangmu” desis Rahu sambil mengusap leher kudanya. Seolah-olah ia
sama sekali tidak menghiraukan apa yang bakal terjadi atas Jlitheng.
Jlitheng mendengar peringatan Rahu. Dengan serta meria iapun segera
berpaling. Hampir saja ia terlambat, karena tombak itu meluncur
demikian cepatnya. Untunglah bahwa Jlitheng masih mempunyai waktu
sekejap untuk menjatuhkan diri. Namun segera iapun melent ing
berdiri menghadap kepada orang yang telah melemparkan tombaknya.
“Pengecut“ geram Jlitheng, kemudian katanya lantang “Jika kalian
mempunyai harga dir i, mar ilah. Jangan membunuh dari arah belakang”
Tetapi orang yang melemparkan tembak itu tertawa. Katanya “Padang
ini adalah padang perburuan. Siapapun boleh memburu lawannya. Lawan
yang dikehendakinya meskipun tanpa sebab. Kemudian membunuhnya dan
melemparkannya ke sela-sela batu padas di lereng terjal sebelah
untuk menjadi makanan burung-burung pemakan bangkai atau anj
ing-anjing liar yang berkeliaran“ “Aku tahu” jawab Jlitheng “padang
ini adalah padang kematian. Tetapi jika kalian jantan, kita akan
berhadapan” Seorang yang lain, yang masih berada dibalik batu padas,
segera meloncat pula sambil berteriak “Jangan banyak cakap.
Kematianmu akan segera tiba tanpa ada yang menyesalinya. Iblis
bertangan Petir telah membawamu ke padang kematian ini. Dan itu
berarti bahwa kau adalah orang yang tidak berharga untuk tetap
hidup” Jlitheng memandang Rahu sejenak. Tetapi orang itu masih saja
mengusap leher kudanya. Agaknva ia sama sekali tidak tertarik pada
pertentangan yang sedang terjadi. “Gila“ desis Jlitheng. Tetapi
dalam pada itu Jlithengpun mengetahui bahwa sebenarnya Rahu telah
berusaha menyelamatkannya, meskipun ia bertanya di dalam hati
“Apakah ada jalan lain. yang yang lebih baik dar ipada daerah yang
disebut padang kematian ini? Atau ada rencana-rencana khusus dari
orang yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir itu?“ Ketika
Jlitheng sedang termangu-mangu, maka kedua orang yang semula
bersembunyi dibalik batu-batu padas itu pun melangkah mendekat. Yang
telah melemparkan tombaknya, telah menggenggam pedang di tangannya.
“Ki Sanak” berkata Jlitheng kemudian “Aku tidak mengerti. Apakah
kalian bersungguh-sungguh atau sekedar ingin menjajagi kemampuanku
saja?“ Terdengar keduanya tertawa meledak. Salah seorang dari
keduanya berkata “Kau memang gila. Tidak ada harapan bagimu untuk
keluar dari daerah kematian ini. Kami tidak pernah untuk tidak
bersungguh-sungguh. Kami akan membunuhmu” Jlitheng berpaling sejenak
memandang Rahu yang masih sibuk dengan kudanya. Dengan suara
bergetar ia bertanya kepadanya “Rahu. Apakah seharusnya aku membunuh
di sini?“ “Itu urusanmu” berkata Rahu. Jlitheng menjadi- semakin
gelisah. Tetapi ia sadar, bahwa ia akan dapat benar-benar mati
menghadapi kedua orang itu. Ketika salah seorang dari keduanya
melemparkan tombaknya, itu bukan sekedar menjajagi. Tetapi tombak
itu benar-benar akan dapat mencabut nyawanya, jika Rahu tidak
memberinya isyarat. Sekilas terdengar kembal kata-kata Rahu
“Orang-orang Sanggar Gading tidak pernah ragu-ragu” Jlitheng menarik
nafas dalam-dalam. Ternyata Sanggar Gading memang tempat orang-orang
gila, Kedua orang itu agaknya memang bersungguh-sungguh ingin
membunuhnya. Jlitheng tidak sempat berangan-angan terlalu lama
tentang orang-orang Sanggar Gading. Kedua orang yang menggenggam
senjata itu semakin lama menjadi semakin dekat. Bahkan tombak yang
belum dilemparkan itu sudah merunduk mengarah ke dadanya. “Jangan
menyesal” geram salah seorang dari mereka “Kau akan mati.
Benar-benar akan mati. Kami tidak ingin melihat orang-orang baru
memasuki daerah kami. Yang selama ini apa yang kami dapatkan sudah
berangsur susut. Jika padepokan kami masih bertambah-tambah dengan
orang-orang baru yang tidak berarti, itu hanya akan menyusutkan
bagian kami” “Bagian apa yang kau maksud?“ bertanya Jlitheng
tiba-tiba. “Setiap orang dari padepokan kami akan menjadi seorang
Adipati. Menurut perbitungani kami, daerah yang akan kami kuasai
sudah terlalu sempit. Apalagi jika masih saja ada orang-orang baru
yang datang ke padepokan kami Maka daerah kekuasaan kami tidak akan
lebih dari satu padukuhan kecil“ Jlitheng mengerutkan keningnya.
Katanya “He, apakah kalian sedang bermimpi atau sedang bermain
seperti kanak- kanak di terang bulan. Adipati apakah yang kalian
maksud?” “Kau memang dungu. Sebelum mati, ketahuilah bahwa Demak
akan segera jatuh. Pemimpin kami akan merajai negeri ini. Kami
semuanya akan menjadi Adipati dari bang Wetan sampai bang Kulon.
Dari Pesisir Kidul sampai Pesisir Lor” Jlitheng tiba-tiba saja
tertawa. Ia tidak dapat menahan geli di hatinya. Katanya disela-sela
derai tertawanya “kalian benar- benar pemimpi yang menggelikan.
Apakah kalian dapat membayangkan daerah seluas Demak sekarang ini?“
“Kenapa tidak” jawab salah seorang dari mereka “meskipun tidak
seluas Majapahit, tetapi Demak masih mempunyai kekuasaan sampai
keujung Timur Pulau ini. Mungkin daerah di seberang lautan masih
harus dinilai kembal. Tetapi angkatan laut Demak harus bangkit
sebesar kekuatan armada Majapahit. Kebulatan yang pecah disaat-saat
akhir kekuasaan Majapahit tidak boleh terulang kembali” Jliltheng
terrnangu-mangu sejenak. Katanya kemudian dengan nada dalam
“Darimana kalian mendengar semuanya itu?“ “Jangan memperbodoh kami.
Aku adalah putera Sanggapurana, salah seorang prajurit di masa
kejayaan Majapahit. Aku tahu apa yang aku lakukan sekarang ini”
Jlitheng terkejut mendengar jawaban itu. sehingga tanpa disadarinya
ia berdesis “Kau putera seorang prajurit dari kerajaan Majapahit
akhir? Jika demikian, kenapa kau tersesat sampai ke padepokan ini?“
“Siapa yang tersesat? Persetan. Jangan banyak bicara. Kau harus mati
dan t idak mengotori padepokan kami” Jlitheng termangu-mangu Sekali
lagi ia berpaling kepala Rahu. Namun orang itu sama sekali tidak
menghiraukannya lagi. Seolah-olah disekitar Rahu itu sama sekali
tidak terjadi sesuatu yang dapat menegangkan urat syarafnya. Dengan
demikian Jlitheng tidak lagi dapat mengharapkan pertimbangannya. Ia
harus mengambil sikap menghadapi kedua orang itu. yang seorang
diantaranya mengaku putera seorang prajurit yang bernama
Sanggapurana. Namun dalam pada itu, yang diingat oleh Jlitheng
adalah kata-kata Rahu, bahwa tidak seorangpun dari lingkungan
Padepokan Sanggar Gading yang ragu-ragu. Ketika ia tidak membunuh
gegedug yang merebut istri orang, Rahu mengatakan kepadanya, bahwa
ia adalah seorang yang terlalu baik dan ragu-ragu bagi Sanggar
Gading. Dan saat itu, Jlitheng telah berhadapan dengan dua orang
yang agaknya benar-benar ingin membunuhnya. “Aku tidak boleh
ragu-ragu” berkata Jlitheng di dalam hatinya “Dan aku tidak perlu
berbaik hati kepada mereka” Karena itu, maka Jlithengpun segera
mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Pedang tipisnya
digenggamnya. Wajahnya nampak tegang, sedangkan sorot matanya
bagaikan menembus dada kedua orang lawannya berganti-ganti untuk
melihat isi hati yang sebenarnya dari keduanya. “Apakah mereka
sekedar ingin menjajagi, atau benar-benar akan membunuhku
“sekali-kali keraguan itu masih saja tumbuh. Namun kemudian tetapi
aku tidak boleh ragu-ragu. “Bersiaplah untuk mati karena
kebodohanmu. Kau Sudah memasuki daerah yang tidak kau kenal, dan
kini berada di padang perburuan yang juga disebut padang kematian”
geram orang berpedang yang menyebut dirinya putera Sanggapurana.
“Aku sudah bersiap” jawab Jlitheng. Namun ia masih ingin mencoba
berbicara “Apakah kalian pernah mendengar apa yang dikatakan oleh
Cempaka, tentang aku? Kedatanganku adalah karena undangannya”
“Persetan“ geram orang itu “Cempaka t idak akan berbuat apa-apa
terhadapku. Dan kau lihat, bahwa Rahu yang dekat dengan Cempaka
dalam banyak hal, sama sekali tidak berbuat apa-apa ketika kau sudah
berhadapan dengan maut” “Siapa yang berhadapan dengan maut?“
tiba-tiba saja Jlitheng menggeram. Katanya di dalam hati “Aku harus
mengimbangi sikap mereka“ Kemudian dengan lantang ia berkata “Jika
kalian memang t idak mau mendengarkan kesempatan belas kasihanku,
marilah. Kita akan mulai. Padang kematian memang setiap kali harus
disiram dengan darah. Bukan saja darah para pendatang yang kalian
anggap akan mendesak kedudukan kalian, tetapi juga darah orang-orang
lama yang sudah tidak berarti lagi untuk diganti dengan mereka yang
lebih baik dan berilmu” Kedua orang itu tidak dapat menahan diri
lagi. Tiba-tiba saja orang berpedang itu meloncat menyerangnya.
Pedangnya terayun mendatar menebas lambung. Tetapi Jlthangpun telah
bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia masih sempat meloncat
surut. Namun demikian ia berjejak diatas tanah, maka ia harus
meloncat sekali lagi, karena ujung tombak lawannya yang lain telah
mengejarnya. Namun ketika, serangan berikutnya mematuk dadanya.
Jlitheng telah siap untuk menangkis, bahkan dengan satu putaran
ialah yang kemudian meloncat menjulurkan ujung pedang tipisnya.
Tetapi lawannyapun cukup cepat. Ia sempat menghindar. Ketika
Jlitheng siap memburunya, lawannya yang lain telah menyerangnya dari
arah lambung. Setapak Jlitheng bergeser. Dengan tangkas ia memukul
senjata lawannya, sehingga arahnyapun telah meleset jauh dari
tubuhnya. Pada pertempuran yang terjadi, seperti juga yang pernah
dilakukan, Jlitheng merasa sangat berterima kasih, bahwa ia telah
mendapatkan sebilah pedang tipis. Pedang yang ringan, tetapi
memiliki kekuatan yang luar biasa. Sementara ketajamannya tidak
kalah dengan pedang yang manapun juga. Dalam pada itu, maka
pertempuran di padang kematian itupun semakin lama meningkat semakin
sengit. Kedua orang yang berusaha untuk membunuh Jlitheng itupun
ternyata memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Namun
ternyata mereka menghadapi anak-anak muda yang benar- benar telah
bersiap melakukan petualangan yang sudah diperhitungkan akan sangat
berbahaya bagi dir inya. Dalam pada ita, ketika pertempuran itu
menjadi semakin seru, Rahu ternyata tertarik juga untuk
menyaksikannya. Iapun kemudian duduk bersandar sebuah batu padas
yang besar sambil menilai keadaan. Sejenak wajahnya menjadi tegang.
Namun kadang-kadang dampak ia tersenyum cemas. Bahkan kadang-kadang
ia menghentakkan jari-jarinya pada lututnya. Agaknya ia benar- benar
telah dicengkamoleh peristiwa yang dihadapinya. Ternyata bahwa kedua
orang Sanggar Gading itu benar- benar telah mengerahkan segenap
kemampuan mereka. Seperti yang dikatakan olah Rahu, maka orang-orang
Sanggar Gading benar-benar bukan orang yang banyak mempunyai
pertimbangan. Mereka sama sekali tidak ragu. Senjata mereka
menyerang silih berganti, seperti datangnya ombak di pesisir. Susul
menyusul tidak henti-hentinya” Namun Jlithengpun memiliki kemampuan
bergerak seperti burung sikatan. Kakinya semakin lama menjadi
semakin ringan. Bahkan ketika ia sudah sampai ke puncak
kemampuannya, maka kakinya itupun seolah-olah tidak lagi berjejak
dialas tanah. Tubuhnya seakan-akan tidak lagi dibebani oleh berat
yang menggantunginya. “Bukan main” desis Rahu di tempat duduknya
“anak muda itu memiliki kelebihan dari orang-orang yang pernah akui
kenal” Sebenarnyalah bahwa latihan-latihan, yang berat telah membuat
Jlitheng menjadi anak muda yang berilmu tinggi. Ia pernah membunuh
sengaja atau tidak sengaja, orang-orang yang dengan maksud jahat
telah datang kesekitar Sepasang Bukit Mati. Dan kini ia berhadapan
dengan dua orang dari Sanggar Gading. Rahu yang duduk menyaksikan
pertempuran itu semakin lama menjadi semakin tegang. Ia tahu, bahwa
kedua orang kawannya tidak akan dikekang oleh keragu-raguan. Bagi
orang-orang Sanggar Gading, maka para pendatang yang tidak dapat
menembus kedengkian hati beberapa orang diantara mereka, memang
tidak pantas untuk memasuki padepokannya. Orang yang demikian memang
lebih baik mati dan dibuang di lembah kerangka yang terletak di
ujung padang kematian itu. Namun Rahupun menjadi berdebar-debar
ketika ia melihat sikap Jlitheng dalam perkelahian itu. Agaknya anak
muda mengerti bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang tidak
pernah ragu-ragu menghunjamkan senjatanya. Ternyata bahwa Jlitheng
yang dikenal bernama Bantaradi itupun nampaknya sama sekali tidak
ragu-ragu lagi. Sebenarnyalah Jlitheng yang harus bertempur melawan
dua orang itu tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha mengurangi
tekanan lawan. Karena itu, maka iapun telah berusaha dengan segenap
kemampuannya untuk melumpuhkan lawannya, seorang demi seorang.
Itulah sebabnya, maka Jlitheng telah memilih orang yang paling lemah
dari keduanya, Jlitheng telah mempergunakan setiap kesempatan untuk
mengarahkan senjatanya kepada orang yang lebih lemah. Orang yang
masih menggenggam tombaknya. Kadang-kadang orang itu menjadi bingung
menghadapi kecepatan bergerak Jlitheng. Jika kawannya terlambat
menolongnya dengan serangan-serangan yang gawat maka nampak orang
itu mengalami kesulitan untuk menangkis atau menghindari serangan
Jlitheng yang datang bagaikan badai. Dalam pada itu, Rahu menjadi
semakin berdebar-debar. Ia sudah pernah mengatakan kepada orang yang
dikenalnya bernama Bantaradi itu, bahwa orang Sanggar Gading selalu
bertindak tegas, tidak ragu-ragu dan tidak akan berbaik hati
terhadap lawan-lawannya. “Anak muda itu memang anak yang luar biasa”
desisnya. Dan iapun mulai membayangkan, bahwa kedua orang itu pada
akhirnya tentu akan menjadi korban kedengkiannya sendiri. Yang
dilakukan oleh kedua orang itu bukannya untuk yang pertama. Bahkan
masih ada beberapa orang dengan alasan, agar Sanggar Gading tidak
menjadi sarang betina, telah melakukan pencegatan bagi orang-orang
yang akan memasuki Sanggar Gading. Karena hal itu tidak pernah di
persoalkan, maka mereka menganggap hal itu adalah hal yang sangat
wajar. Ketika perkelahian itu meningkat semakin seru, maka tiba-
tiba saja Rahu mengerutkan keningnya. Ia melihat seekor kuda berpacu
melalui jalan setapak di padang yang gersang itu. Debu yang kelabu
terlempar di belakang kaki kuda itu membubung ke udara. Namun angin
yang lemah telah meniupnya sehingga pecah berpencar bersama endeg
pangamun-amun. Rahu mengerutkan keningnya. Ia melihat seorang lagi
dari orang-orang Sanggar Gadang yang datang. Seorang yang memiliki
kelebihan dari beberapa orang kawannya. “Jika ia langsung melibatkan
diri, keadaannya tidak akan berimbang” berkata Rahu di dalam
hatinya. Dan iapun tidak ingin terjadi pembantaian di padang
kematian itui Jika setiap pendatang harus melawan orang yang tidak
dibatasi jumlahnya, maka yang terjadi bukannya pendadaran. Tetapi
benar-benar pembunuhan oleh dengki dan kecemasan bahwa kedudukan
mereka di Sanggar Gading akan terdesak atau kecemasan bahwa
kemungkinan bagi setiap orang yang semakin dipersempit. “Dan yang
terjadi hampir seluruhnya tidak dapat dibenarkan” berkata Rahu di
dalam hatinya. Meskipun Rahu sendiri tidak pernah melakukan pence-
gatami dan pencegahan bagi orang-orang baru yang akan memasuki
Sanggar Gading, namun ia sudah sering melihat kegagalan beberapa
orang yang ingin menyatakan dir inya bergabung dengan orang-orang
Sanggar Gading. “Tetapi kebanyakan dari mereka, pada lapis yang
pertama dari kedengkian itu, mereka sudah runtuh” berkata Rahu. di
dalam hatinya. Kemudian sambil melihat Jlitheng ia berkata “tetapi
anak ini agak lain. Kedua orang itu akan menyesal atas sikapnya.
Namun demikian orang yang datang berkuda itu sangat mencemaskannya.
Rahu tidak dapat berdiam diri j ika tiba-tiba saja orang itu
langsung melibatkan diri bersama kedua orang yang terdahulu. Jika
demikian, maka Jlithengpun tentu akan kehilangan kesempatan untuk
bertemu dengan Cempaka, Karena itu, maka Rahupun segera berusaha
menarik perhatian orang berkuda itu. Iapun kemudian bangkit, berdiri
sambil menggeliat dengan mengangkat kedua tangannya. Ternyata orang
berkuda ini melihatnya. Karena itu, iapun tertarik untuk
mendekatinya sebelum ia langsung menuju kearena. Derap kaki kuda itu
berhenti beberapa langkah disebelah Rabu. Penunggangnya, seorang
yang bertubuh kekar meskipun tidak terlalu tinggi, meloncat turun
sambil berdesis “Siapa yang memasuki daerah maut itu?“ “Orang yang
diundang oleh Cempaka” sahut Rahu. Orang itu mengerutkan keningnya.
Lalu “Tetapi ia telah mengalami pendadaran. Apakah kedua orang itu
tidak tahu. bahwa orang itu diundang oleh Cempaka” “Mereka
mengetahuinya. Tetapi seperti yang selalu mereka lakukan” jawab
Rahu. “Jikai ia bukan tamu Cempaka, aku akan membunuhnya” Orang
bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia memperhatikan
perkelahian itu. Namun kemudian Katanya “Gila. Orang itu memiliki
kelebihan dari kita semuanya. He, apakah kau melihatnya?“ “Bukan
orang itu yang memiliki kelebihan, tetapi kedua kawan kita memang
tidak lebih dar i kelinci-kelinci tidak berarti” jawab Rahu. Orang
bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Lalu “Dan kau-sejak tadi
berada disini?” “Aku datang bersama orang yang bernama Bantaradi
itu” jawab Rahu “Aku diperintahkan oleh Cempaka untuk menunggunya di
padukuhanku, diluar padang kematian ini” “Tentu maksudnya agar kau
membawanya menyeberang dengan selamat sampai ke padepokan“ Rahu
mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya “Tidak ada orang yang
dapat mencegah apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang dengki
dan iri hati itu. Biarlah mereka mengalami seperti yang pernah
dialami olah orang orang yang memasuki daerah ini” “Maksudmu?“
bertanya orang berkuda itu. “Bukan hanya orang-orang yang tidak
berguna yang ingin memasuki daerah ini sajalah yang sebaiknya
disingkirkan ke lembah kerangka, tetapi penghuni Sanggar Gading yang
tidak berarti itupun per lu disingkirkan” “Rahu, apakah kau sudah
mulai dihinggapi penyakit gila? Kau kira apa yang dilakukan oleh
orang-orang itu sekedar kedengkian dan iri hati? Tidak. Akupun akan
melakukannya. Bukan karena kedengkian dan iri hati. Tetapi aku
memang tidak ingin melihat orang-orang tidak berarti memasuki
padepokan kami. Mereka hanya akan memusuhi setiap setiap ruangan
tanpa memberikan arti apa-apa” “Aku mengerti. Kau menolak anggapan
itu karena kau juga selalu melakukannya. Tetapi baiklah, seandainya
yang kalian lakukan itu benar-benar bukan karena kedengkian dan ir i
hati. Tetapi benar-benar ingin mengurangi jumlah orang-orang yang
tidak berarti. Kenapa kau tidak pernah memikirkan untuk melakukannya
pula atas orang-orang yang sudah menjadi penghuni Sanggar Gading”
“Kau benar-benar sudah menjadi gila. Bukankah mereka sudah ikut
serta dalam suka dan duka selama bertahun-tahun. Seandainya mereka
tidak berarti sama sekalipun, mereka harus kita anggap sebagai
orang-orang yang berarti bagi kita” Rahu tertawa. Katanya “Itu
pikiran kerdil. Sejak kapan kau menjadi seorang yang mengenal budi.
Aku tidak menghiraukannya lagi. Yang masih perlu kita pergunakan,
marilah kita pergunakan. Yang akan mati biar lah mati dalam
ketiadaan arti. Seperti kedua orang yang telah mencegat Bantaradi
itu. Merekapun akan mati. Dan aku tidak berkeberatan, karena
keduanya memang tidak berarti” “Kau sudah kehilangan akal. Keduanya
orang-orang yang pernah berbuat sesuatu bagi Sanggar Gading.
Keduanya adalah orang yang berani dan mempunyai arti yang besar bagi
kita” “Tetapi kaku mereka terbunuh oleh Bantaradi, itu berarti bahwa
Bantaradi adalah orang yang lebih berarti bagi kita” Orang bertubuh
kekar itu menggeram. Katanya “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.
Kau sudah bingung dan tidak mengenal lagi kawan-kawan kita sendiri”
“Jangan hiraukan. Biar lah yang terjadi itu terjadi” Orang bertubuh
kekar yang datang berkuda itu termangu-mangu. Sejenak ia memandang
medan yang menjadi semakin baur oleh debu yang berhamburan. Ternyata
perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. “Orang itu memang
luar biasa. Ja mampu melawan kedua orang itu dengan sangat
meyakinkan. Aku kira ia akan menang” “Biar lah ia menikmat i
kemenangannya. Biarlah ia memasuki Sanggar Gading dan menemui
Cempaka” Orang yang datang berkuda itu termangu-mangu. Wajahnya
menjadi tegang, dan kadang-kadang ia menggeretakkan giginya melihat
perkelahian yang semakin sengit Dalam pada itu, Jlitheng benar-benar
telah berhasil mendesak kedua orang lawannya. Meskipun ia masih
harus selalu berhati-hati, tetapi ia melihat kemungkinan telah
terbuka baginya. Kedua orang lawannya telah kehilangan banyak
tenaga, sehingga perlawanan mereka telah menyusut. Yang dapat mereka
lakukan, sebagian terbesar hanyalah bergeser sambil meloncat menjauh
Tetapi mereka tidak mampu lagi menyerang dengan garang. Meskipun
kadang- kadang masih terdengar keduanya berteriak nyaring, tetapi
teriakan-teriakan itu sama sekali sudah tidak berarti. Jlitheng
bertempur semakin garang. Pedangnya yang ringan itu
menyambar-nyambar diseputar kedua lawannya, seakan-akan mengejar
mereka kemanapun mereka pergi, meskipun keduanya sudah berusaha
berpencar. Sementara itu, orang yang datang berkuda itupun menjadi
semakin tegang. Bahkan kemudian seolah-olah diluar sadarnya ia
bergumam “Orang itu memang harus dibunuh” “Kau sudah kehilangan
nalar. Bukan aku. Jika niat mereka untuk mencegah orang-orang yang
tidak berarti memasuki Sanggar Gading, maka orang itu bukannya orang
yang dimaksud. Ia dapat bertahan dan menjaga dir inya. Karena itu ia
berhak memasuki Sanggar Gading dan bertemu dengan Cempaka” Orang
bertubuh kekar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau mendapat
pesan dari Cempaka untuk menyelamatkannya?“ “Tidak, ia telah
menyelamatkan dir inya sendiri. Dan karena itu ia berhak memasuki
Sanggar Gading” jawab Rabu. Orang itu termangu-mangu. Wajahnya
menjadi semakin tegang ketika ia melihat kedua orang Sanggar Gading
itu hanya dapat meloncat-loncat. Bahkan seolah-olah mereka sudah
mulai mengambil jarak untuk lari. Orang bertubuh kekar itu nampaknya
menjadi gatal. Ia tidak dapat menahan dirinya untuk melibatkan dir
i. Yang dilakukan oleh Jlitheng seolah-olah merupakan tantangan dan
bahkan penghinaan baginya. “Kau diamsaja?“ bertanya orang itu kepada
Rahu. “Aku yang membawanya kemar i” “Setan” geramnya, Sementara itu,
Jlitheng benar-benar telah menguasai lawannya. Pedang tipisnya
terayun tidak lagi terkendali. Ketika ia menggeram sambil meloncat
maju. maka ujung pedang tipisnya telah menyentuh pundah salah
seorang lawannya. Akibatnya mengejutkan. Tiba-tiba saja luka yang
panjang telah menganga dipundak orang itu. karena pedang Jlitheng
adalah pedang yang sangat tajam. “Gila“ geram orang bertubuh kekar
itu ketika ia melihat darah mulai mengalir. Sementara itu, lawan
Jlitheng yang tergores, pedangnya itupun meloncat surut Sambil
menyeringai ia mengusap pundaknya dengan tangannya. Ketika ia
melihat tangannya menjadi merah oleh darah, maka iapun menggeram
“Anak setan. Kau memang benar-benar harus mati” Jlitheng yang
melihat darah meleleh dipundak lawannya, menjadi termangu-mangu
sejenak. Namun sekilas ia teringat kata-kata Rabu. Karena Itu maka
katanya “Kenapa kau masih berkata demikian? Apakah sejak semula kau
tidak akan membunuhku? Lakukanlah apa yang akan kau lakukan. Tidak
ada tempat disini bagi mereka yang ragu-ragu dan terlalu baik hati”
Kata-kata itu ternyata telah mendebarkan hati mereka yang
mendengarnya. Rahupun menjadi berdebar-debar pula. Ia tahu, bahwa
yang di katakan oleh orang yang dikenalnya bernama Bantaradi itu
adalah kata-kata yang pernah diucapkannya sendir i kepada Bantaradi
itu. Dalam pada itu, kedua orang yang bertempur melawan Jlitheng
itupun telah mempersiapkan dirinya pula untuk mulai lagi dengan
serangan-serangannya. Tetapi karena seorang dari mereka telah
terluka, maka bagi Jlitheng, kekuatan merekapun tentu sudah
berkurang. “Jika kalian tidak membunuhku, akulah yang akan membunuh
kalian” teriak Jlitheng tiba-tiba. Kedua orang itu tidak menjawab.
Namun mereka segera bersiap. Sejenak kemudian Jlitheng telah
meloncat menyerang mereka dengan garangnya, seperti angin prahara.
Pertempuran itupun segera meningkat lagi menjadi semakin sengit.
Tetapi Jlitheng telah mulai tersenyum ketika ia melihat lawannya
yang terluka itu menjadi semakin lemah. “Aku harus melukai yang lain
pula” desis Jlitheng di dalam hatinya. Karena itu, maka
serangan-serangannya kemudian sebagian besar tertuju kepada lawannya
yang lain, yang masih belumtersentuh oleh senjatanya. Ternyata
lawannya menjadi semakin lama semakin terdesak. Yang terluka menjadi
semakin lemah, sedangkan kawannya bagaikan selalu dikejar oleh
pedang tipis Jlitheng yang berputar. Rahu yang menyaksikan
pertempuran itu menjadi semakin tegang. Ia melihat kemungkinan yang
segera akan terjadi. Jika Jlitheng benar-benar ingin berbuat seperti
yang dikatakannya, maka kedua orang itu tentu akan dibunuhnya dan
dilemparkannya ke dalam lembah yang disebut lembah kerangka, karena
mayat-mayat dari mereka yang terbunuh di padang perburuan itu selalu
dilemparkannya ke dalam lembah dan menjadi makanan anjing-anjing
liar dan burung-burung pemakan bangkai Dalam pada itu, orang
bertubuh kekar itupum menggertakkan giginya. Katanya “Meskipun orang
itu tamu Cempaka, tetapi sebaiknya kita mencegah pembunuhan yang
akan dilakukannya” “Kau akan berdir i dipihak kedua orang itu?“
bertanya Rahu. Orang itu menjadi ragu-ragu. Ia mengerti, siapakah
Cempaka itu di dalam tataran para penghuni padepokan Sanggar Gading.
Namun rasa-rasanya pembunuhan yang akan dilakukan itu telah
mencemarkan nama Sanggar Gading pula, seolah-olah Sanggar Gading itu
adalah sarang orang-orang kerdil yang tidak berarti apa-apa. “Rahu”
berkata orang itu “Aku tahu siapa orang itu. Aku mengerti, bahwa aku
tidak perlu mengganggu kepentingan Cempaka dengan orang itu. Tetapi
aku tidak mau memberi kesempatan kepadanya menghina orang-orang
Sanggar Gading seperti itu” “Itu adalah salah kita sendir i. Kita
yang merasa dir i kita tidak terkalahkan dengki dan ir i hati,
sehingga setiap orang harus dibunuh agar penghuni Sanggar Gading
tidak bertambah lagi. Akupun tidak berkeberatan jika penghuni
Sanggar Gading justru menjadi susut” “Kau memang sudah gila” geram
orang itu “biarlah aku akan menunjukkan kepada orang itu, bahwa isi
Sanggar Gading bukannya kedua orang dungu itu. Aku akan
menundukkannya dan memaksanya mengakui, bahwa ia bukan orang yang
luar biasa. Bahkan ia harus berlutut dan mohon maaf akan
penghinaannya atas orang-orang Sanggar Gading” “Kau seharusnya dapat
mengurai persoalan dengan nalar. Kau benar-benar tidak dapat
menghubungkan peristiwa dengan akibatnya” “Apa maksudmu?“ “Jika
orang itu tidak berusaha mengalahkan lawannya, maka ia akan mati,
sengaja atau tidak sengaja menghinakan Sanggar Gading. Jika ia ingin
tetap hidup, ia harus berjuang dan membunuh lawannya yang menurut
pengertianmu adalah suatu penghinaan bagi Sanggar Gading. Apakah
menurut jalan pikiranmu, agar orang itu tidak kau anggap menghina
Sanggar Gading, ia harus membiarkan dirinya dibunuh oleh kedua orang
itu. Benar-benar dibunuh sampai mati dan dilemparkan ke lembah
kerangka?“ Orang itu menggeretakkan giginya. Katanya “Aku tidak
peduli. Aku akan memaksa orang itu mengakui kebesaran nama Sanggar
Gading” Rabu menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menjawab,
hatinya berdesir melihat Jlitheng berhasil melukai lawannya yang
seorang lagi. Bahkan kemudian serangannya datang bagaikan banjir
bandang menghantam kedua lawannya berturutan. Ketika kedua lawannya
berloncatan surut, maka Jlitheng tidak mau melepaskannya. Dengan
tangkasnya ia meloncat memburu. Pedangnya terjulur mengarah
kelambung salah seorang lawannya yang membawa tombak. Dengan
sisa-sisa tenaganya orang itu berusaha menangkis serangan Jlitheng.
Tetapi dengan cepat Jlitheng menarik pedangnya, dan justru kemudian
diputarnya memukul landean tombak lawannya. Demikian kerasnya,
sehingga tangan orang yang sudah menjadi semakin lemah itu tidak
lagi mampu bertahan. Tombak itu telah terlepas pada satu pegangan
tangannya. Namun sentuhan berikutnya telah melepaskan tombak itu
sama sekali. Ternyata kawannya yang melihat kesulitan itu. Karena
itu, maka iapun dengan serta merta telah menyerang Jlitheng untuk
menggeser perhatiannya. Bahkan senjatanya benar- benar mengarah
kepunggung Jlitheng yang sedang berusaha melepaskan senjata lawanya.
Namun Jlitheng benar-benar seorang anak muda yang tangkas. Ia sempat
mengelak, justru setelah ia telah berhasil memukul senjata lawannya
yang seorang sehingga terlepas. Rahu menahan nafasnya. Nampaknya
orang yang dikawalnya bernama Bantaradi itu benar-benar tidak ragu-
ragu Demikian senjata lawannya terlepas, maka iapun berusaha
memburunya sambil memutar senjatanya. Dengan loncatan panjang,
lawannya menjauhinya, sementara yang seorang lagi berusaha untuk
menahan Jlitheng. Tetapi karena keduanya sudah terluka dan yang
seorang sudah tidak bersenjata lagi, maka bagi Jlitheng sebenarnya
sudah tidak ada kesulitan apapun untuk dengan segera mengalahkan
mereka. Namun dalam pada itu, orang yang datang berkuda, yang
kemudian berdiri dengan tegangnya disisi Rahu itupun menggeram “Aku
tidak peduli. Tidak ada orang yang pernah menghukum salah seorang
dari kita yang membunuh dipadamg kematian ini. Cempakapun tidak akan
berbuat demikian, karena iapun ingin mengetahui tingkat ilmu tamu-
tamunya. Sekarang, akulah yang akan membunuhnya. Jika tidak, biarlah
aku yang dibunuhnya” “Jangan tergesa-gesa“ tahan Rahu. Tetapi orang
itu sudah tidak menghiraukannya lagi. Sambil berteriak ia melangkah
maju. Katanya “He, orang gila. Kau sangka bahwa yang kau lakukan itu
menyenangkan hati kami. Aku tahu kau adalah tamu yang diundang oleh
Cempaka. Tetapi jika kau tidak mempunyai tataran ilmu setinggi aku,
maka tidak ada gunanya kau memasuki Sanggar Gading” Jlitheng
mengerutkan keningnya. Kemudian katanya sambil menunjuk dengan
pedangnya kearah dua orang itu ”Dua orang kawanmu telah aku
lumpuhkan. Aku tinggal membunuhnya dan melemparkannya ke lembah yang
disebutnya kerangka, meskipun aku belum tahu letaknya” “Setan. Kau
menghina orang-orang Sanggar Gading” “Kau sendiri telah menghina
kedua orang kawanmu. Biarlah ia menemui kematian seperti ia melihat
orang lain mati di padang perburuan ini” “Persetan. Aku yang akan
membunuhmu dan membawa kepalamu kepada Cempaka untuk mengatakan
kepadanya, bahwa kau tidak pantas mengunjunginya” Wajah Jlitheng
menjadi tegang. Ia tahu, bahwa orang ini tentu merasa dirinya lebih
baik dar i kedua orang yang telah dikalahkannya itu. Sehingga dengan
demikian, maka ia benar- benar akan bertempur dengan segenap
kemampuan yang ada. Apalagi nampaknya orang itu adalah orang yang
benar- benar berdiri Sanggar Gading. Tanpa ragu-ragu dan tidak
mengenal kebaikan hati. Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Sekilas
diibainya kedua orang yang sudah dilukainya. Agaknya karena darah
yang terlalu banyak mengalir, maka keduanya menjadi semakin lemah,
sehingga keduanya tidak akan banyak berpengaruh lagi seandainya
keduanya akan ikut pula bertempur bersama orang baru itu. Sementara
orang itu menjadi semakin dekat, maka mereka telah dikejutkan pula
oleh derap kaki kuda. Sejenak kemudian dari arah orang yang
berhadapan dengan Jlitheng itu datang, telah datang pula dua orang
penunggang kuda. Sejenak orang-orang yang ada di padang itu
termangu- mangu. Namun sejenak kemudian orang yang sudah siap untuk
bertempur dengan Jlitheng itu berdesis “Setan. Cempaka telah datang.
Aku kehilangan kesempatan untuk membunuhnya jika Cempaka curang”
“Kenapa, ia curang?“ tiba-tiba sajai Jlitheng bertanya. “Seharusnya,
ia membiarkan apa yang dapat aku lakukan atasmu dalam kesempatan
yang sama” geram orang itu. Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Ia
tidak tahu, apa yang kira-kira akan dilakukan oleh Cempaka j ika ia
datang mendekat. Sejenak mereka menunggu. Rahu yang berdiri beberapa
langkah dari arena perkelahian itupun kemudian beringsut menyongsong
Cempaka yang justru langsung menuju kepadanya. “Apa yang terjadi?“
bertanya Cempaka kepada Rahu. “Kami ingin mengetahui, apakah orang
ini pantas memasuki Sanggar Gading“ Orang yang siap bertempur
melawan Jlitheng itulah yang mendahului menjawab. Cempaka
mengerutkan keningnya. Katanya “Aku mengundangnya” “Tetapi ia harus
meyakinkan kami” Cempaka termenung sejenak. Lalu katanya “Bagus.
Jika kau tidak yakin siapakah orang bernama Bantaradi itu,
lakukanlah” ia berhenti sejenak, lalu “Kenapa yang dua orang itu?“
Rabulah yang menjawab “Merekalah yang mula-mula ingin menahan
Bantaradi. Tetapi keduanya telah terluka. Ketika Bantaradi siap
membunuh mereka, maka ia harus mendapat lawan yang baru” Cempaka
tertawa. Katanya “Sebenarnya yang kita lakukan selama ini bukanlah
untuk mengetahui tingkat kemampuan orang-orang baru yang datang.
Dengan cara demikian, apalagi tiga empat orang bersama-sama
bertempur untuk menjajagi kemampuan orang lain, adalah sama artinya
dengan pembantaian tanpa mengetahui takaran yang sebenarnya” “Kenapa
baru sekarang hal itu kau katakan” geram orang yang sudah siap untuk
bertempur. “Biasanya aku tidak berkepentingan. Sekarang aku
berkepentingan dengan orang itu. Tetapi jika kau anggap perlu untuk
menjajagi kemampuannya, lakukanlah. Seorang melawan seorang,
meskipun tamuku telah berhasil mengalahkan dua orang bersama-sama”
“Tetapi kedua orang itu adalah tikus-tikus yang besar kepala” “Dan
kau adalah kelinci yang besar telinga” Orang itu menjadi merah.
Tetapi ia menggeram “Kita akan melihat. Jika kepala orang itu
terkapar di padaig ini, maka ia tidak berhak sama sekali menyentuh
padepokan Sanggar Gading, siapapun yang mengundangnya” “Bagus “
Jlitheng menjawab “Tetapi j ika kepalamu yang terpenggal berarti
bahwa Sanggar Gading sudah melepaskan orang yang tidak berhak
tinggal lebih lama lagi. Aku akan menggantikanmu dalam kedudukan
yang lebih kuat, karena aku berhasil membunuhmu dan sekaligus
memotong lehermu” “Gila” Orang itu menggeram. Sementara Cempaka
berkata “Marilah kita melihat Siapakah yang hanya besar mulutnya
saja” Orang yang sudah siap melawan Jlitheng itu menjadi
berdebar-debar. Tetapi ia tidak ingin melangkah mundur lagi. Apalagi
Cempaka membiarkannya untuk berkelahi melawan orang yang
dipanggilnya memasuki padepokan Sanggar Gading itu. Sementara itu
Jlithengpun sudah siap pula. Ia sadar, jika tidak dilakukan saat
itu, maka meskipun ia sudah berada di dalam lingkungan Sanggar
Gading, namun tentu masih saja ada orang yang ingin menjajagi
ilmunya. Karena itu, maka Jlitheng benar-benar tidak dipengaruhi
lagi oleh keragu-raguan. Japun benar-benar telah bersiap menghadapi
segala kemungkinan. Ia bukan saja harus mempertahankan dir inya
karena lawannya agaknya benar- benar ingin membunuhnya, tetapi iapun
harus mampu member ikan kesan bahwa ia memang seorang yang pantas
berada diantara para pemimpin Sanggar Gading. Kemudian ikut bersama
mereka menyelesaikan tugas yang berat dalam jalur usahanya untuk
memecahkan teka-teki pusaka yang tersimpan di sekitar bukit gundul
yang merupakan bagian dari Sepasang Bukit Mati. “Tanpa meyakinkan
mereka bahwa aku mampu berbuat sesuatu seperti yang dilakukan oleh
orang-orang Sanggar Gading, maka aku tidak akan dapat menyertai
mereka. Aku harus tahu, orang yang dimaksud oleh Daruwerdi. Orang
yang telah menjadi sasaran dendamnya” berkata Jlitheng di dalam
hatinya. Karena itulah, maka Jlitheng sudah bertekad untuk bertempur
dengan segenap kemampuan yang ada padanya dihadapan Cempaka. Sejenak
kemudian kedua orang itu sudah berhadapan. Cempaka yang kemudian
diikut i oleh orang yang datang bersama serta Rahu, melangkah maju
mendekat. Agaknya mereka ingin menyaksikan pertempuran itu dari
jarak yang cukup jelas. Kepada kedua orang yang telah terluka itu
Cempaka berkata “Minggulah. Kalian sudah tidak berharga lagi” Kedua
orang itu tarmangu-mangu. Namun ketika Cempaka memandang mereka
dengan tajamnya, maka keduanyapun melangkah surut “Jika kalian masih
ikut campur, maka akulah yang akan membunuh kalian” geram Cempaka.
Kedua orang itu tidak menjawab. Yang terjadi saat itu memang agak
berbeda dengan yang pernah dan bahkan beberapa kali terjadi.
Biasanya orang-orang yang melintasi padang itu, sengaja atau tidak
sengaja pergi ke Sanggar Gading atau sekedar lewat, telah menjadi
sasaran kebencian orang-orang Sanggar Gading. Mereka membunuh
orang-orang yang mereka jumpai. Jika seorang dari mereka tidak mampu
melakukannya, maka yang lain datang membantu, seperti yang dilakukan
oleh orang yang datang berkuda yang pertama. Tetapi agaknya Cempaka
telah ikut campur, dan bahkan menunggui pertempuran yang bakal
datang. “Cepat” teriak Cempaka yang tidak sabar lagi menunggu “Siapa
yang mampu membunuh, cepatlah membunuh” Orang Sanggar Gading yang
sudah berhadapan dengan Jlitheng itupun maju selangkah. Ia imulai
menggerakkan senjatanya, sementara Jlitheng telah bersiap pula.
Kakinya melenggang setengah langkah, sambil sedikit merendah pada
lututnya, sementara senjatanyapun mulai bergetar. Sejenak kemudian,
maka orang Sanggar Gading itu telah mulai meloncat menyerang.
Demikian cepatnya, sehingga orang-orang yang menyaksikan pertempuran
itu menjadi berdebar-debar. Tetapi Jlitheng yang telah bersiaga
sepenuhnya itu sempat berkisar. Ujung senjata lawannya sama sekali1
tidak menggores kulitnya. Namun dengan demikian Jlitheng dapat
menduga betapa lawannya mampu bergerak demikian cepatnya. Jika
kakinya telah basah oleh keringat, maka ia tentu akan mampu
bertempur lebih garang lagi. Dalam pada itu, Jlitheng yang ingin
menunjukkan kelebihannya, karena ia mempunyai pamrih khusus untuk
dapat ikut serta dalam tugas yang bakal dilakukan oleh orang- orang
Sanggar Gading, telah membuat perhitungan tertentu. Ia harus dapat
memberikan kesan, bahwa ia memang seorang yang memiliki kemampuan
yang tinggi, melampaui orang yang sedang berusaha membunuhnya itu.
Dengan demikian, maka pada langkah berikutnya, Jlitheng tidak mau
menyia-nyiakan waktu. Tiba-tiba saja ia telah membalas setiap
serangan dengan serangan. Segenap kemampuannya telah dikerahkannya
pada tingkat pertama dari pertempuran itu, dengan kesadaran
sepenuhnya, jika ia gagal mengalahkan lawannya dengan segera, maka
ia akan mengalami kesulitan, karena tenaganya telah terperas dan
nafasnya tentu akan ikut mengganggunya. Tetapi pada langkah-langkah
berikutnya, Jlitheng mulai mempunyai harapan bahwa cara yang
ditempuhnya tidak akan jauh meleset. Dengan segenap kemampuan dan
ilmunya, Jlitheng bagaikan berloncatan memutari lawannya. Pedang
tipisnya bergetar dan mematuk dari segenap arah. Seolah-olah
lawannya sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyerangnya
pula. “Gila“ geram lawannya Sementara Cempaka yang berdiri beberapa
langkah dari arena, mengerutkan keningnya dengan hati yang tegang.
“Luar biasa” desisnya. Rabu mendengar desis itu. Tetapi ia menahan
senyumnya agar tidak menumbuhkan kesan yang khusus dihati Cempaka.
Dalam pada itu, dalam waktu yang terhitung singkat, Jlitheng telah
berhasil mendesak lawannya. Lawan yang merasa dirinya memiliki
kelebihan dari dua orang kawannya yang dapat dikalahkan oleh
Jlitheng. Tetapi orang itu sama sekali t idak menduga, bahwa anak
muda itu memiliki kemampuan yang sangat mengejutkan. Tetapi orang
itu tidak segera menjadi putus asa. Iapun memiliki pengalaman yang
luas menghadapi berbagai macam keadaan. Karena itulah maka ia
berusaha untuk mengenal kelemahan lawannya. Namun Jlitheng sama
sekali tidak memberi kesempatan kepadanya. Setiap saat
dipergunakannya sebaik-baiknya. Sehingga dengan demikian, beberapa
kali lawannya hanya dapat berloncatan surut tanpa dapat memberikan
perlawanan yang berarti. “Anak iblis“ Orang itu menggeram. Tetapi ia
tidak dapat mengingkari kenyataan. Seolah-olah semuanya demikian
cepatnya terjadi. oooOooo-
Jilid 08 JLITHENG mempergunakan setiap kesempatan dengan
sebaik-baiknya. Jika ia gagal pada ujung pertempuran itu, maka ia
akan terjerumus ke dalam kesulitan yang mungkin telah dapat
diatasinya. Ia akan menjadi sangat lelah dan kehabisan tenaga,
sementara nafasnya tentu akan berdesakkan di lubang hidungnya.
Karena itu, Jlitheng benar-benar bertekad untuk menyelesaikan
pertempuran iltu. Ia benar-benar tidak mau member i kesempatan
barang sedikitpun. Ia mendesak lawannya dengan garangnya dan
memburunya kemana ia pergi untuk menghidar. Dalam pada itu, lawan
Jlitheng iltu benar-benar merasa telah kehabisan ruang di padang
yang luas. Ia tidak lagi mempunyai tempat untuk berpijak, karena
Jlitheng selalu mendesaknya. Dalam keadaan yang paling sulit, maka
orang itu telah kehilangan kesempatan untuk menghindar. Karena itu,
maka ketika pedang tipis Jlitheng menyambar keningnya, maka iapun
mengangkat senjatanya untuk menangkisnya. Yang terjadi kemudian
adalah sebuah benturan yang dahsyat. Jlitheng benar-benar telah
mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya, sehingga segenap
tenaganya telah terayun pada pedang tipisnya. Ia percaya bahwa
pedangnya adalah pedang yang kuat, sehingga tidak akan patah
karenanya. Ternyata bahwa kekuatan Jlitheng memang melampaui
kekuatan lawannya. Benturan itu telah menggetarkan kekuatan orang
yang bertubuh kekar itu, sehingga tangannya yang menggenggam,
senjata rasa-rasanya bagaikan patah. Kesempatan itu tidak dilewatkan
oleh Jlitheng yang memang ingin menujukkan kelebihannya itu. Sekali
ia menggeser senjatanya dan memutarnya. Sebelum lawannya sempat
memperbaiki keadaannya, maka Jlitheng telah menjulurkan pedangnya.
Orang yang bertubuh kekar itu terdorong surut. Terdengar ia mengaduh
tertahan. Dengan sisa tenaga yang ada padanya maka iapun segera
berloncatan menghindar. Dengan garangnya Jlitheng memburunya. Namun
ketika ia melihat seleret warna merah didada lawannya, tiba-tiba
saja ia tertegun. Pedangnya yang siap menyambar lawannya bagaikan
tertahan sekejap. Namun yang sekejap itu telah member i kesempatan
kepada lawannya untuk menjauhinya. Namun Jlitheng tidak segera
memburunya Ia melihat luka yang menganga didada lawannya oleh
goresan pedangnya. “Pedang ini memang luar biasa“ berkata Jlitheng
di dalam hatinya “tanganku hampir tidak merasa bahwa ujung pedang
ini telah menyobek dadanya” Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Ia
melihat orang itu mengusap dadanya dengan jari-jarinya. Kemudian
wajahnya menjadi membara. Sementara itu, sekali lagi Jlitheng
disambar oleh keragu- raguan. Hampir saja ia menghentikan
perkelahian. Namun ketika dengan tidak sengaja ia melihat wajah
Rahu, maka tiba- tiba saja hatinya telah bergejolak semakin cepat.
Ia tidak boleh ragu-ragu jika ia ingin menjadi penghuni padepokan
Sanggar Gading. Apapun yang terjadi atas lawannya, ia tidak boleh
menghiraukannya, sehingga mempengaruhinya. Karena itu, maka iapun
segera mempersiapkan diri untuk segera mengakhiri pertempuran dalam
waktu yang singkat. Dengan pedang gemetar ia siap untuk meloncat
menerkamnya. Meskipun lawannya telah terluka didada, namun ia masih
mempersiapkan diiri untuk menghadapi segala kemungkinan. Karena itu
ketika J litheng mulai bergerak, iapun telah bergerak pula setapak
kesamping. Sejenak kemudian, maka Jlithengpun telah meloncat dengan
pedang terjulur. Namun lawannya masih sempat bergeser meskipun
tenaganya menjadi semakin lemah. Tetapi Jlitheng benar-benar tidak
mau melepaskannya. Ia segera menarik pedangnya yang terjulur,
kemudian memutarnya dan menebas kesamping. Demikian cepatnya
sehingga lawannya harus berloncatan tanpa sempat membuat
perhitungan, selain berusaha menjauhi lawannya pada jarak sepanjang
dapat di jangkaunya. Namun Jlitheng masih meloncat memburu. Karena
pedangnya yang menebas mendatar tidak menyentuh lawannya, maka iapun
segera menarik serangannya. Dengan tangkasnya iapun meloncat
memotong loncatan lawannya. Dengan gerak yang cepat sekali, iapun
mengayunkan senjatanya langsung mengarah lambung. Lawannya masih
berusaha menangkis serangannya. Tetapi ternyata bahwa usahanya tidak
banyak berhasil. Ketika senjatanya bersentuhan sekali lagi, maka
genggamannya yang sudah lemah tidak berhasil menahan senjata
lawannya. Bahkan dengan satu hentakan berikutnya, maka senjata itu
benar-benar telah terlepas dari tangannya yang tulang- tulangnya
bagaikan berpatahan itu. Tidak ada kesempatan untuk berbuat lebih
banyak. Tiba- tiba saja pedang Jilitheng bergetar. Tajamnya telah
menyentuh lambung lawannya, sehingga terdengar ia mengaduh sambil
berusaha meloncat kesamping. Tetapi luka telah menganga lagi
ditabuhnya. Dan darahpun menjadi semakin banyak mengalir. Sepercik
keragu-raguan telah menyentuh hati Jlitheng. Tetapi, ia
menggeretakkan giginya sambil berkata “Aku tidak boleh ragu-ragu.
Apaboleh buat bahwa ia harus menjadi korban Aku harus memasuki
Sanggar Gading dan terlibat dalam usaha memperebutkan pusaka di
bukit gundul itu” Karena itulah, maka Jlithengpun menggeram. Ia
sudah mengangkat pedangnya. Jika ia mengayunkannya tepat menebas
leher, maka leher itu tentu akan patah, karena orang itu sama sekali
sudah tidak berdaya lagi. Jlitheng melihat orang itu
terhuyung-huyung. Sekilas terbersit niatnya untuk berbuat sesuatu
yaing lain karena dorongan hati nuraninya setelah ia melihat darah.
Dan yang dilakukan oleh Jlitheng benar-benar cermat, sehingga tidak
seorangpun yang mengetahui. Jlitheng yang sudah siap menebaskan
pedangnya itu menunggu sejenak. Namun kemudian pedang iltupun
terayun pula dengan derasnya. Tetapi pada saat yang bersamaan, orang
itupun terhuyung-huyung jatuh terguling di tanah. Dengan demikian
pedang Jlitheng ternyata tidak menyentuh lawannya. Pedang itu
terayun setebal jari diatas tubuh yang terguling itu. Namun
sebenarnyalah bahwa memang Jlitheng tidak ingin membunuh orang itu.
Karena itulah, maka yang dilakukan kemudian adalah berdir i dengan
kaki renggang. Sebelah tangannya bertolak pinggang, sedang tangannya
yang lain berpegangan erat pada hulu pedangnya yang menunduk
mengarah ke dada orang itu. “Aku dapat membunuhnya” teriak Jlitheng.
Cempaka ternyata tidak mencegahnya. Sambil tersenyum ia berkata “Itu
hakmu. Jika kau ingin membunuhnya, tidak ada seorangpun yang dapat
menghalangimu. Bahkan kedua orang yang telah bertempur dan kau
kalahkan itupun dapat kau bunuh j ika kau kehendaki” Jlitheng
menggeram. Sekilas dipandanginya wajah Rahu. Ia mengumpat di dalam
hatinya ketika ia melibat Rahu tersenyum. Seolah-olah ia ingin
mengatakan, bahwa Jlthang benar-benar seorang yang terlalu baik buat
Sanggar Gading. Ia tidak akan dapat membunuh orang yang telah
terkapar di tanah itu. Jlitheng yang mengerti gerak hati Rahu itupun
kemudian berteriak “Aku ingin membunuhnya. Tetapi apakah ada hukuman
yang lebih berat daripada mati?“ “Tidak ada“ Cempakalah yang
menyahut. Tetapi Jlitheng kemudian berkata “Mati adalah hukuman yang
terlalu ringan bagi orang-orang ini. Mati adalah akhir bagi mereka
tanpa berkesempatan untuk mengetahui kebodohan yang kekerdilan dir
i. Karena itu aku tidak akan membunuhnya. Biarlah ia mengerti, bahwa
aku adalah orang yang lebih perkasa dari padanya. Biarlah ia
melihat, aku akan berada pada kedudukan yang lebih baik daripadanya.
Ia harus disiksa oleh pengakuan, betapa lemahnya ilmunya. Beberapa
saat saja aku sudah berhasil mengalahkannya. Dan pada sisa hidupnya
ia harus selalu berlutut di bawah kakiku. Karena jika ia tidak
berbuat demikian, aku akan menginjak kepalanya” Cempaka mengerutkan
keningnya, Sejenak ia memandang Jlitheng dengan sorot mata
keheranan. Namun kemudian katanya “Kau ternyata orang yang paling
bengis yang pernah aku kenal. Kau tidak mau mengakhir i hidupnya
justru karena kau mempunyai cara yang paling baik untuk membenturkan
pengakuannya pada sisa-sisa hidupnya yang tidak berarti lagu”
Jlitheng tertawa. Disarungkannya pedangnya sambil mengguncang tubuh
yang terbaring itu dengan kakinya “Jika kau masih sempat bangun,
bangunlah dan nikmatilah kekalahanmu. Jika kau mendendam, maka aku
akan menunggumu sampai kau sembuh dan sekali lagi kita akan
berkelahi. Aku akan memberimu pelajaran yang lebih menar ik lagi
dari mati dan siksaan pengakuan atas kedunguanmu. Aku dapat
membuatmu cacat sepanjang hidupmu. Dan kau akan menjadi beban orang
lain tanpa memiliki kesempatan sama sekali untuk memperbaiki
keadaan. Orang yang terbaring itu sama sekali tidak menjawab.
Betapapun gejolak menghantam dinding jantungnya, namun ia sudah
tidak berdaya. Ia hanya dapat menggerakkan kelopak matanya dan
menggeletakkan giginya. Namun iapun tidak dapat mengingkari
kenyataan, bahwa ia sudah tidak berdaya lagi Ia telah dikalahkan
dalami waktu yang terhitung sangat singkat Jika mula-mula ia merasa
dirinya niemliki kemampuan melampaui orang kebanyakan, maka ia telah
dihadapkain pada seorang anak muda yang memiliki kemampuan iblis,
melampaui orang yang menyebut dir inya Iblis bertangan Petir itu.
Sejenak kemudian, Jlitheng ternyata benar-benar meninggalkannya
dalam keadaan yang parah itu. Sekilas ia berpaling kepada dua orang
yang telah dikalahkannya lebih dahulu. Katanya “Kalian berdualah
yang menyebabkannya. Jika kalian tidak terlalu dungu, sehingga
kalian berdua tidak berkelahi seperti cucurut, maka orang itu tentu
tidak akan melibatkan dir inya. Karena itu terserahlah kepadamu
kalian. Aku memerlukannya untuk tetap hidup dan menikmati
kekalahannya, karena mati baginya adalah hal yang terlalu biasa
sehingga t idak dapat memberikan kesan apapun juga. Tetapi kekalahan
yang harus disandangnya akan membebaninya sepanjang sisa hidupnya
yang tidak berarti lagi. Dan itulah yang aku butuhkah, sehingga
apabila kalian tidak dapat merawatnya sampai ia dapat hidup terus,
maka kalian akan mengalami perlakuan yang sangat menyedihkan, karena
kalian berdua ada di bawah wewenangku sejak kalian aku kalahkan dan
aku ampuni karena kemurahan hatiku” Kedua orang itu menahan gejolak
perasaannya yang menggelegar dihatinya. Betapapun juga mereka merasa
terhina oleh ancaman yang sangat menyakitkan hati itu. Tetapi mereka
tidak dapat berbuat apapun juga, karena sebenarnya mereka memang
sudah dikalahkan. Cempaka melihat sikap Jlitheng itu dengan senyum
di bibirnya. Sekal lagi ia berkata “Kau memang iblis yang paling
licik. Kaulah yang pantas bernama Iblis berjantung Beku. Kau
menghina orang-orang Sanggar Gading dengan semena- mena” “Bukankah
itu hakku seperti yang kau katakan?“ bertanya Jlitheng “Ya. Tetapi
aku tidak mengira, bahwa kau mampu mengguncang harga diri seluruh
isi padepokan Sanggar Gading” Jlitheng tertawa. Katanya “Orang-orang
Sanggar Gading memper lakukan orang lain dengan semena-mena. Apakah
aku tidak dapat berbuat sebaliknya” “Baiklah. Memang terserah
kepadamu. Tetapi jangan mencoba menghina aku” sahut Cempaka. “Kaulah
yang mengundang aku kemar i. Dan aku datang memenuhinya. Mungkin aku
akan dapat bertualang bersama orang-orang Sanggar Gading untuk satu
saat. Dan itu tentu sangat menarik” jawab Jlitheng. Cempaka tertawa.
Katanya “Marilah. Ikutilah kami. Kami akan membawamu memasuki
Sanggar Gading. Kami. memang sudah siap untuk berbuat sesuatu.
Mula-mula aku ragu-ragu, apakah kau dapat Ikut bersama kami. Tetapi
kau sudah melumpuhkan satu orang yang termasuk dalam tugas ini.
Karena itu, maka kau akan dapat menjadi penggantinya. Tetapi jika
kau mencoba berkhianat, maka nasibmu menjadi lebih buruk dari
padanya” Jlitheng yang dikenal bernama Bartaradi itupun memandang
Cempaka sejenak. Namun iapun kemudian tertawa sambil berkata “Kau
sudah mulai mengancam tetapi aku tidak berkeberatan. Agaknya memang
menar ik sekali dapat berhubungan dengan orang-orang Sanggar Gading
yang aneh. Di padukuharn tempat tinggal Rahu, aku sudah menjumpai
banyak keanehan tingkah laku dan sikap penghuninya. Agaknya Sanggar
Gading juga memiliki sesuatu yang menarik lagi” “Kau akan
melihatnya. Tetapi jangan menyesal jika yang kau lihat itu tidak
sesuai dengan seteramu” potong Cempaka. Jlitheng mengerutkan
keningnya. Tetapi ketika ia akan mengucapkan sesuatu Cempaka telah
mendahuluinya “Ikutlah aku” Namun ternyata Cempaka tidak menunggu
Jlitheng. Ia dengan tergesa-gesa menuju kekudanya dap langsung
meloncat naik diikuti oleh seorang pengiringnya. “Biar lah ia
mendahului kiita” desis Rabu. Jlitheng menjadi termangu-mangu. Namun
ia, mengikuti petunjuk Rahu dan membiarkan Cempaka berpacu
mendahului. “Kita akan menyusul” desis Rabu. “Ya. Marilah” sahut
Jlitfaeng, “Jangan cemas. Aku mengenal daerah ini seperti Cempaka
mengenalinya” jawab Rahu. Jlitheng mengangguk-angguk. Sekilas
dipandanginya orang-orang yang terluka. Mereka berusaha untuk saling
menolong. Beberapa saat lamanya Jlitheng memandangi mereka. Di luar
sadarnya ia berdesis “Apakah mereka dapat menyelamatkan diri?“
“Siapa?“ bertanya Rabu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Lalu katanya
“Aku memer lukan mereka hidup untuk menikmati kekalahan mereka. Rabu
tertawa. Katanya “Jangan membohongi aku. Jika aku belum melihat apa
yang kau lakukan di padukuhanku, mungkin aku percaya. Tetapi yang
terjadi adalah penegasan dari dugaanku. Kau terlalu baik hati dan
ragu-ragu untuk memasuki Sanggar Gading yang keras dan buas” Wajah
Jlitheng menegang. Katanya “Kau mulai mengigau lagi. Sebaiknya
jangan menjadi orang pertama yang akan aku bunuh di dalam lingkungan
Sanggar Gading” “Bagus. Jika kau dapat melakukannya, maka itu akan
dapat menolongmu dari kecurigaan” desis Rahu. “Persetan” Jlithengpun
kemudian meloncat pula ke punggung kudanya samba menggeram “cepat.
Kita susul Cempaka” Rahu masih saja tertawa. Kemudian kepada
orang-orang yang terluka ia berteriak “Berjuanglah untuk hidup. Jika
kalian menjadi putus asa, maka kailan akan benar-benar mati”
Orang-orang yang terluka itu tidak menjawab. Tetapi sepercik
pertanyaan memang telah mencengkam jantung mereka “Kenapa kami tidak
dibunuhnya. Apapun alasannya, tetapi itu merupakan satu persoalan
tersendiri. Mungkin ia benar-benar ingin menghina kami, tetapi
mungkin karena alasan lain, karena kami bertiga telah dibebaskan
seluruhnya dari kematian” Sementara itu kuda Jlitheng dan Rata telah
berderap membelah padang yang disebut padang perburuan dan yang
kadang-kadang juga disebut padang kematian oleh orang- orang Sanggar
Gading Padang yang berdebu dan berwarna gersang. Dedaunan yang
kuning nampaknya bertambah kering. Angin yang lemah telah melepas
tangkai-tangkai daun dan berguguran di tanah berbatu padas dan
berdebu. “Apakah padepokan yang aneh itu masih jauh?“ bertanya
Jlitheng. “Tidak. Diseberang padang yang tidak terlalu luas itu,
Kita akan menuruni jurang yang dangkal. Kemudian menyeberangi sebuah
sungail kecil Barulah kita memasuki daerah padepokan Sanggar Gading
yang dikelilingi oleh tanah garapan yang menghasilkan makan kami”
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kalian mampu mencari
tempat yang benar-benar terasing. He, bagaimana cerita tentang dir
imu, sehingga kau berhasil memasuki Sanggar Gading?“ tiba-tiba saja
ia melontarkan sebuah pertanyaan. Tanpa diduganya, maka tiba-tiba
saja Rahu itu tertawa meledak. Diantara suara tertawanya ia berkata
“Aku sudah mengira bahwa kau. akan bertanya demikian” “He” Jlitheng
mengerutkan keningnya. Lalu “Jika kau sudah mengira sebelumnya,
kenapa kau tertawa?“ “Tidak apa-apa. Pertanyaan Itu wajar sekali.
Tetapi ketahuilah, bahwa aku berada di Sanggar Gading sejak
padepokan itu dibuat. Aku ikut serta membangun padepokan itu, aku
adalah salah seorang yang berpengaruh di antara penghuni padepokan
itu, karena aku termasuk cikal bakal” “Bohong. Wajahmu tidak
membenarkan kata-katamu dan sikapmu tidak mendukung pernyataan itu
sama sekali“ “He, kau belajar kawruh kawan sehingga kau dapat
menebak isi hati orang? Kau dapat menebak pernyataan wajah dan
sikap?“ bertanya Rahu. “Tidak. Tetapi setiap orang dapat melibat
kesan yang tersirat pada wajah seseorang jika ia berbohong” bantah
Jlitheng. “Jika demikian tidak akan ada seorangpun yang dapat ditipu
oleh orang lain. Jika setiap orang dapat mengetahui orang lain
berbohong, maka kita semuanya akan hidup dalam dunia yang lebih
baik” desis Rahu kemudian. Jlitheng memandang wajah Rahu sekilas. Ia
menjadi semakin heran melihat sikap orang itu. Namun ia segera
melepaskan kesannya dan berkata “Kau benar. Tetapi bagaimana
gambaranmu tentang dunia yang lebih baik?“ “Pembicaraan kita sudah
berkisar. Kau ingin menjaj lagi sikap dan pandangan hidupku?“
beritanya Rahu. “Kau memang Gila“ geram Jlitheng “Yang pantas
bercuriga adalah aku. Bukan kau. Atau memang kita harus saling
mencur igai” Rahu tertawa pula. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan
disentuhnya perut kudanya dengan tumitnya, sehingga kudanya berlari
semakin kencang. Disusul oleh Jlitheng yang terpaksa menyesuaikan
dirinya, berpacu semakin cepat di padang yang berdebu. Untuk
beberapa saat keduanya tidak berbicara. Jlitheng berkuda agak di
belakang. Tetapi ia tidak membuat jarak dengan Rahu. Beberapa saat
kemudian, Jlitheng melihat sebuah jurang yang tidak begitu curam dan
tidak begitu dalam. Seperti yang dikatakan oleh Rahu, maka mereka
akan segera menyeberangi sebuah sungai kecil. Baru kemudian memasuki
daerah kekuasaan padepokan Sanggar Gading. Ketika keduanya sampai ke
pinggir jurang yang tidak begitu dalam itu, Rahu memperlambat lari
kudanya. Mereka kemudian melihat Cempaka yang sudah naik di tebing
seberang sesudah menyeberangi sebuah sungai yang memang tidak begitu
besar. “Kita akan sampai ke sungai yang menjadi urat nadi dan sumber
makan bagi padepokan Sanggar Gading” berkata Rabu. Jlitheng
mengerutkan keningnya. Sungai itu memang t idak begitu lebar dan
tidak begitu dalam. Tetapi airnya yang jernih mengalir cukup deras
meskipun di musim ker ing. “Sungai ini t idak pernah kering di
segala musim” berkata Rahu”di bebarapa tonggak sebelah atas sungai
ini kami membuat bendungan yang mengaliri sawah dan pategalan kami”
“Kalian memang bukan main” desis Jlitheng “kalian berhasil menemukan
tempat yang sangat balik bagi persembunyian sebuah kelompok yang
aneh dari orang-orang Sanggar Gadang” “Cempaka sudah mengatakan,
bahwa kau mampu menyentuh harga diri kami. Karena itu. jangan
terlalu sering menghina aku” geram Rahu. “Aku memuj i kalian” sahut
Jlitheng dengan serta merta “tidak banyak orang yang mengira bahwa
diseberang padang yang kering itu terdapat sebidang tanah yang
subur, yang dialir i oleh sebuah sungai yang tidak pernah kering”
“Kaulah yang bodoh“ jawab Rahu “Jika kau menempuh perjalanan lewat
padang yang kering itu, maka kau memang akan menjadi heran, bahwa
kau akan menemukan daerah yang subur ini. Tetapi jika perjalananmu
menyusur sungai Situ, maka tidak akan terdapat keanehan apapun juga
dari tanah orang-orang Sanggar Gading. Karena tanah di sepanjang
sungai itu, dari sumbernya sampai mulutnya di pesisir adalah tanah
yang subur” “Tetapi kenapa hanya belahan di seberang saja yang
menjadi subur dan tidak sebelah menyebelah sungai?“ “Aku kira kau
tidak sebodoh itu. Bukankah itu tergantung dari garapan manusia,
kami sudah mengangkat air dari sungau itu. Tetapi kami mengalirkan
air itu pada belahan diseberang sungai dan kami sama sekali tidak
mengaliri padang ini. Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun iapun
kemudian tertawa. Katanya “Kau benar. Aku memang bodoh” Ketika
mereka kemudian menyeberangi sungai itu, maka mereka berhenti
sejenak untuk memberi kesempatan kuda mereka untuk meneguk air.
Betapa segarnya. Namun Jlitheng tidak turun dan mencelupkan kakinya,
betapapun ia ingin. Sejenak kemudian mereka telah melanjutkan
perjalanan menuju ke sebuah padepokan. Jlitheng menebak-nebak di
hatinya, apakah kira-kira yang akan dijumpainya disebuah padepokan
yang sulit untuk dibayangkan. Ketika mereka memanjat tebing
diseberang yang tidak terlalu tinggi maka merekapun mulai memasuki
tanah persawahan yang subur. Beberapa tonggak dari tebing, Jlitheng
telah melihat sawah yang terhampar. Batang-batang padi yang hijau
dan segar. Beberapa puluh tonggak lagi, dilihatnya sebuah padukuhan
yang hijau. “Padukuhan itukah yang kau maksud dengan padepokan
Sanggar Gading?“ bertanya Jlitheng. “Ya. Padukuhan itulah padepokan
yang terasing, tetapi memiliki cita-cita buat hari depan, melampaui
cita-cita orang Demak” desis Rabu. Jlitheng mengerutkan keningnya.
Sejauh mata memandang, dilihatnya tebaran sawah dan ladang. Diujung
pandangan matanya, ia melihat tegal jagung dan ketela pohon. Agaknya
tanah itu tidak begitu banyak berkesempatan mendapat aliran air,
sehingga ditanami, jagung dan ketela pohon. Sedang di sebelahnya,
yang agaknya lebih jarang lagi disentuh air, terdapat pategalan.
“Kami tidak akan kekurangan makan” berkata Rahu sambil memandang
kesekelilingnya “sawah ini menghasilkan padi. Ladang itu akan member
ikan jagung dan ketela pohon, sedangkan kami dapat memetik
buah-buahan dari pategalan. Disebelah pategalan itu terdapat kebun
kelapa yang luas dan sebuah ladang rami yang memberi serat kepada
kami. Jlitheng mengangguk-angguk. Namun ia menyimpan keheranan di
dalam hatinya. Agaknya di padepokan itu memang terdapat satu dua
orang yang mampu berpikir tentang masa lampau mereka, masa kini dan
masa depan. Sehingga ia dapat mempersiapkan rancangan yang mapan
untuk satu perjuangan “Aku tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya
mereka perjuangkan. Namun menilik usaha Cempaka, dengan
sungguh-sungguh untuk menguasai pusaka yang tersimpan di daerah
sekitar Sepasang Bukit Mati itu, maka agaknya ada cita-cita dari isi
Sanggar Gading untuk menujui ke tahta, Demak” berkata Jlitheng di
dalam hatinya “Tetapi apakah mereka mempunyai cukup bekal. Mempunyai
cukup pengaruh meskipun mereka memiliki pusaka yang manapun juga”
Karena itu, Jlitheng menjadi berdebar-debar. Sebuah pertanyaan telah
timbul “Apakah ada justru orang-orang Demak sendir i yang menjadi
penggerak dari Sanggar Gading ini” Tetapi Jlitheng tidak bertanya
sesuatu. Sekilas dikenangnya peristiwa yang pernah terjadi.
Dibayangkannya kembali orang- orang Kendali Putih dan orang
Pusparuri. “Memang agak lain” berkata Jlitheng di dalam hatinya
“agaknya kelompok ini mempunyai beberapa kelebihan dari kelompok
lain. Mungkin bukan dari segi kekuatan dan jumlah pengikutnya,
tetapi agaknya orang-orang Sanggar Gading lebih banyak berpikir dar
i pada orang-orang Kendali Putih dan Pusparuri. Demikianlah mereka
berdua itupun berkuda semakin dekat dengan padepokan Sanggar Gading
yang terasing. Yang dibatasi oleh padang yang cukup luas dan buas.
Tebing yang meskipun tidak begitu dalam, sebuah sungai dan baru
kemudian sebuah bulak panjang. “Rahu” tiba-tiba Jlitheng bertanya
“Apakah kau dapat mengatakan, apakah yang disebut lembah kematian,
atau apapun mamanya tempat pembuangan mayat itu?“ Rahu mengerutkan
keningnya. Sejenak ia termangu- mangu, Namun kemudian katanya “Kau
sudah menyebutkan. Tempat itu adalah tempat orang-orang Sanggar
Gading membuang mayat dari orang-orang yang telah dibunuh di padang
perburuan atau yang juga disebut padang kematian itu. Mayat itu
dibiarkan membusuk dan menjadi makanan anjing-anjing liar dan burung
pemakian bangkai” “Apakah lembah itu kelanjutan dari lembah dangkal
dari sungai yang baru saja kita seberangi?“ bertanya Jlitheng pula.
“Bukan. Lembah itu lembah mati. Bukan kelanjutan dari lembah yang
manapun juga. Lebih mirip dengan sebuah luweng terbuka yang besar
dan dalam” Rabu. berhenti sejenak, lalu “Kau sudah menunjukkan
sifatmu lebih jelas. Kau tentu menjadi cemas bahwa bangkai yang
membusuk itu akan mengotori air yang mengalir dari sungai ini. Bukan
saja mengotori, tetapi akan dapat menumbuhkan penyakit. Bukankah
begitu?“ “Kau memang anak iblis. Kau pantas dibunuh disini. Dan
mayatmupun harus dilempar ke lembah itu pula” Rahu tertawa. Namun
kemudian katanya “Marilah. Cempaka sudah semakam jauh. Sebaiknya
kita masuk regol padepokan bersamanya, agar kita, terutama kau.
tidak banyak mengalami, kesulitan” “Persetan. Aku akan membunuh
siapa saja yang menghalangi aku” geramJlitheng. Tetapi Rahu justru
tertawa semakin keras. Katanya “Kau bukan seorang yang garang
seperti yang kau katakan“ “Aku sudah membunuh orang-orang dari
Kendali Put ih, mungkin juga orang-orang Pusparuri dan sekarang
orang Sanggar Gading” Rahu tidak menjawab. Sambil tertawa ia berkata
“Percepat sedikit lari kudamu” Keduanya berkuda semakin cepat
Semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan padepokan Sanggar
Gading, sementara jarak mereka dengan Cempakapun menjadi semakin
dekat. Beberapa puluh Jangkah dari regol, Rahu dan Jlitheng sudah
berada di belakang Cempaka bersama seorang pengiringnya. Karena itu.
ketika mereka memasuki regol, mereka t idak mengalami kesulitan.
Ketika penjaga regol itu membentak Jlitheng, maka Cempakalah yang
menjawab “Buka matamu Ia datang bersama aku. Jika aku, tidak dengan
sengaja membawanya masuk, ia sudah aku bunuh di padang perburuan”
Penjaga itu termangu-mangu. “Minggir, atau aku pecah kepalamu“
Cempaka, membentak semakin keras, sementara Rahu tanpa berkata
sesuatu, langsung menyentuh kepala orang itu dengan kakinya. Orang
itu terhuyung-huyung. Matanya menyala sementara mulutnya
bergerak-gerak. Jlitheng tahu, bahwa orang itu mengumpat, tetapi
tidak terucapkan. Jlitheng tidak berbuat sesuatu. Namun ia berdesis
di dalam hatinya “Inilah gambaran tata kehidupan yang keras, buas
dan liar di padepokan Sanggar Gading” Namun dalam pada itu, Jlitheng
mulai membayangkan, tata kehidupan di padepokan-padepokan lain yang
tentunya akan terasa lebih kasar, lebih buas dan liar. Kendali
Putih, Pusparuri dan kehidupan orang-orang dar i padepokan Gunung
Kunir. Tetapi ia tidak dapat merenung lebih lama lagi. Ketika
Cempaka memasuki regol bersama pengiringnya, maka Rahupun
mengikutinya pula. Dipaling belakang adalah Jlitheng yang ragu-ragu.
Namun dalam pada itu, dendam orang yang bertugas di regol itu
ternyata jatuh kepada Jttheng. Ketika Jlitheng berada di regol,
tilba-tiba saja orang itu mencabut pisau kecilnya dan langsung akan
menggores kaki Jlitheng pada pahanya. Untunglah bahwa Jlitheng cukup
tangkas melihat bukan saja geraknya, tetapi juga gelagat dan sorot
matanya. Karena itu, ketika ia melihat tangan, orang itu bergerak,
iapun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Sejenak kemudian, terjadi peristiwa yang mengejutkan. Cempaka,
pengiringnya dan Rata telah tertegun dan berpaling. Mereka masih
sempat melihat, pisau itu bergetar di tangan penjaga regol. Namun ia
tidak berhasil mengenai paha Jlitheng. Bahkan Jlitheng sempat
berkisar, mengangkat kakinya dan sebuah tendangan yang keras
mengenai wajah orang itu sehingga terdengar ia mengaduh Namun
sementara itu, Jlitheng tidak puas dengan tendangan kakinya yang
mengenai wajah orang itu. Ia masih sempat meloncat turun. Kemudian
dengan kedua tangannya ia memukul perut orang itu beberapa kali
beruntun. Kemudian dengan garangnya Jlitheng meremas rambut orang
itu dan dengan cepat ia membenturkan wajah orang itu pada lututnya.
Ketika Jlitheng melepaskan orang itu, maka orang itupun
terhuyung-huyung dan jatuh di tanah. Sementara Jlitheng masih berdir
i tegak sambil memandang beberapa orang penjaga regol yang lain yang
menjadi tegang. “Siapa yang ikut menjadi gila bersama orang itu?“
Tidak ada yang menyahut. Sementara Cempaka dan Rahu tersenyum
memandanginya. “Ia pantas menjadi orang Sanggar Gading“ desis
Cempaka. Rabu tidak menyahut. Tetapi ia tertawa di dalam hatinya,
karena ia tahu, bahwa Jlitheng melakukan bal itu. justru karena ia
ingin berbuat sebagai orang-orang Sanggar Gading. Ia ingin menutupi
sifat dan wataknya yang sebenarnya. Sejenak Jlitheng termangu-mangu.
Namun kemudian iapun melangkah dan meloncat kembal ke punggung
kudanya. Ketika Cempaka kemudian memasuki halaman lebih dalam lagi.
Ternyata bahwa orang-orang padepokan Sanggar Gading itu tidak turun
dar i kudanya ketika mereka melintasi halaman dan kebun disamping
rumah induk padepokannya, langsung menuju ke kandang. “Dimana matamu
he?“ tiba-tiba saja Cempaka berteriak ketika ia melihat seorang
berdiri termangu-mangu “Kau lihat kami datang” Orang itupun segera
berlari-lari. Ketika Cempaka meloncat turun, maka dengan
tergesa-gesa orang itu menerima kendali kudanya. Demikian juga
kendali kuda pengiring Cempaka. “Cepat“ Rahupun membentak pula.
Orang itupun kemudian dengan tergesa-gesa menambatkan kendali kuda
itu pada tiang kandang kuda. Sementara iapun berlari- lari menerima
kuda Rahu. “Layani pula kuda tamuku” perintah Rahu. Orang itu
memandang Jlitheng sejenak. Nampak ia menjadi ragu-ragu sehingga
untuk sesaat ia tidak beranjak dari tempatnya. “Cepat, apakah kau
ingin dibantai pula?. Ia sudah berhasil melewati padang pembantaian
itu. Dan ia adalah salah seorang keluarga kita yang terhormat”
teriak Rahu. Cempaka yang sudah meninggalkan kandang, tetapi masih
belum terlalu jauh itu berpaling, la masih melihat orang yang
dibentak oleh Rahu itu berlari- lari mendekati kuda Jlitheng.
Setelah menyerahkan kudanya, maka Jlithengpun menyentuh kepala orang
itu sambil berkata “Rahu sudah memperkenalkan aku. Hati-hatilah,
karena mungkin aku akan menjadi orang yang paling buas disini” Orang
itu memandang Jlitheng dengan wajah yang tegang. Tetapi karena
Jlithengpun segera meninggalkannya, maka iapun menarik nafas
dalam-dalam sambil bergumam “Satu lagi orang paling gila di
padepokan ini. Begitu ia datang, begitu da mengusap kepalaku. Besok
ia mulai mendorong dahi, dan lusa ia akan meludahi mukaku” Tetapi
Jlitheng dan Rahu t idak mendengarnya, karena merekapun telah
meninggalkan kandang. Beberapa langkah Jlitheng berjalan di halaman
padepokan Sanggar Gading, ia menjadi berdebar-debar. la. melihat dua
orang berdiri di sebuah lesung kayu yang tertelungkup. Keduanya
menyilangkan tangannya di dada, seolah-olah mereka berdir i acuh
tidak acuh meskipun mereka memandang Jlitheng dan Rahu yang melintas
beberapa langkah dihadapan mereka. “Keduanya kakak beradik” desis
Rahu “ketika aku menyebut diriku Iblis bertangan Petir, maka
keduanya telah membuat nama yang tidak kalah garangnya” “Kalian
tidak lebih dar i orang-orang berjiwa kerdil sehingga untuk menutupi
kekerdilan hati kalian sendir i, maka kalian telah membuat nama yang
tidak lebih dari satu kegilaan geramJlitheng. Tetapi Rahu, tertawa.
Katanya “Kau jangan mengelabui aku dengan sikap kasarmu. Jika aku
membuat nama yang nggegirisi sekedar untuk menutupi kekerdilanku,
maka kau berbuat seolah-olah kau seorang yang kasar dan buas untuk
menutupi sifat-sifatmu yang tidak sesuai dengan sifat-sifat orang
Sanggar Gading” “Kau memang, pantas dibunuh untuk membukukan bahwa
tangankupun selalu haus darah” desis Jlitheng. Tetapi Rahu tertawa
semakin keras. Cempaka yang berjalan beberapa langkah dihadapannya
berpaling lagi. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu kepada Jlitheng.
“Siapa nama mereka?“ tiba-tiba Jlitheng bertanya. Sambil tertawa
Rahu bertanya “Kau ingin tahu juga?” “Persetan“ Sambil masih juga.
tertawa, Rahu menjawab “Yang seorang bernama Elang bersayap Pedang.
Sedang yang lain bernama Guntur Geni“ “Gila, aku tidak bertanya
istilah-istilah cengeng ini. Aku bertanya siapakah nama mereka?“
bentak Jlitheng. “Kau memang pandai berpura-pura. Kau benar-benar
seperti orang marah” Jlitheng menggeretakkan giginya. Namun akhirnya
ia tertawa pula sambil berkata “Kau benar-benar gila. Tetapi aku
berkata sungguh-sungguh Jika kau mengancam keselamatanku dengan
kecurigaanmu itu, aku akan membela diri. Kau adalah sumber dar i
kecur igaan orang-orang Sanggar Gading” “Jangan takut” berkata Rahu
“Aku tidak akan mengatakan sesuatu. Jika orang-orang Sanggar Gading
mencurigaimu, maka itu adalah karena mereka sendiri melihat sesuatu
yang asing padamu” “Kau mulai mencemaskan keselamatanmu sendir i.
Kau sudah melihat, bagaimana aku bermain dengan pedang tipisku” “Kau
mulai berpura-pura lagi” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya “Aku benar-benar ingin tahu nama kedua orang itu” Keduanya
melangkah terus. Akhirnya mereka mendekati pendapa rumah induk
padepokan Sanggar Gading itu Rahu berkata “Namanya bagus. Yang tua,
bernama Buntar Angin. Yang muda namanya Sampar Watang” “O, nama
yang, bagus. Kenapa mereka memilih nama- nama gila seperti kau.
Dengar dan perhatikan namamu sendiri, Iblis bertangan Petir.
Bukankah terdengar cengeng sekali” “Aku tidak peduli. Tetapi aku
dapat menakut-nakuti orang padukuhainku” ia berhenti sejenak, lalu
“Sudahlah. Kita ikuti Cempaka naik kepandapa” Keduanyapun kemudian
naik kepandapa. Ketika mereka sudah duduk diatas tikar pandan yang
terhampar, maka Jlitheng masih sempat memandang kedua orang yang
berdiri diatas lesung. Buntar Angin dan adiknya Sampar Watang”
“Nampaknya keduanya bukan keturunan orang kebanyakan” gumam Jlitheng
di dalam hatinya, namun ia tidak menanyakannya kepada Rahu. Meskipun
demikian ia merasa bahwa tatapan mata kedua orang itu seolah-olah
telah memper ingatkannya. bahwa ia berada di dalam lingkungan
Sanggar Gading yang garang, buas dan kasar. Dalam pada itu, ternyata
bahwa dihalaman rumah induk itu telah berdiri beberapa orang yang
berpencar disudut-sudut. Lebih dari empat orang. Dan Jlitheng tidak
tahu, apakah yang sedang mereka kerjakan. Namun ia merasa, bahwa ia.
harus berhati-hati menghadapi segala kemungkinan, karena di tempat
itu dapat terjadi beberapa hal yang tidak disangka- sangkanya.
Beberapa saat lamanya keduanya duduk di pendapa. Tetapi tidak ada
sesuatu yang mereka lakukan kecuali duduk sambil merenung. Akhirnya
Jlitheng tidak tahan lagi. Maka iapun kemudian bertanya kepada Rahu
“Apa yang akan kita lakukan disini?“ “Duduk sajalah” berkata Rahu
“Kita akan menungu. Lihat, Cempakapun duduk menunggu“ “Cempaka
berada di rumah sendir i” geram Jlitheng “Tetapi aku orang lain
disini” “Jangan berbuat aneh-aneh. Tunggu sajalah. Kau akan
mengetahui, apa, yang akan kita lakukan disini nanti” “Sampai kapan
aku harus menunggu?“ bertanya Jlitheng Rahu tidak menjawab. Tetapi
ia berpaling ketika ia mendengar pintu pr inggiitan itu berderit.
Ketika pintu terbuka, maka nampak seorang yang cacat kaki dan
tangan, keluar beberapa langkah. Kemudian dengan suara yang
terbata-bata ia berkata “Bersiaplah. Yang Mulia sudah hampir siap.
Yang sudah ada di padepokan supaya berkumpul di bangsal ini” Tidak
ada-yang menjawab. Orang yang cacat kaki dan tangan itupun kemudian
melangkah tertatih-tatih masuk ke ruang dalam. Sejenak kemudian
pintu itupun telah tertutup lagi. “Siapa yang akan hadir di bangsal
ini?“ bertanya Jlitheng. “Pemimpin tertinggi dar i padepokan kami”
jawab Rahu. “Ya, siapa orang itu?“ desak Rahu. “Tidak seorangpun
yang mengetahui siapakah orang itu sebenarnya. Yang aku ketahui, ia
adalah pemimpin padepokan ini. Apakah masih perlu dijelaskan,
siapakah ia sebenarnya?” sahut Rahu. Jlitheng tidak menyahut. Tetapi
ia mengumpat di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, sebelum orang
yang disebut Yang Mulia itu keluar dari pintu pringgitan, seorang
yang bertubuh tinggi, kekar dan berkumis lebat naik ke pendapa.
Sejenak ia memandang berkeling Namun kemudian ia berdesis “Kau sudah
ada disitu Cempaka?“ Cempaka acuh tidak acuh saja. Ia masih duduk.
Namun iapun menjawab pendek “Ya” Orang itu termangu-mangu. Namun
kemudian dipandanginya Jlitheng dengan tajamnya. Dengan nada datar
ia bertanya “Siapa orang itu?“ “Bantaradi” jawab Cempaka. “O“ orang
itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Jadi orang inilah yang kau
katakan memiliki kemungkinan untuk bersama-sama dengan kita memasuki
istana itu? Nampaknya seperti orang sakit-sakitan. Apakah benar ia
akan mampu mengimbangi permainan kita?“ Jlitheng menjadi tegang. Ia
mengenal serba sedikit tentang keadaan di padepokan itu, Karena
iltu, maka ia harus menyesuaikan dir inya agar ia tidak menjadi
orang yang sangat asing. Karena itu, maka dengan suara berat ia
langsung menjawab “Kau ingin menjajagi kemampuanku? Di depan bangsal
ini terdapat halaman yang luas dan beberapa orang saksi” Orang itu
terkejut. Ia tidak menyangka bahwa orang itu tiba-tiba saja telah
langsung menantangnya Namun justru karena itu, maka untuk sesaat ia
terbungkam. Dalampada itu Jlitheng yang disebut bernama Bantaradi
itu berkata ”jawaban yang paling baik yang dapat aku berikan
kepadamu orang yang bertubuh tinggi, adalah kenyataan aku sebagai
seorang laki-laki” Wajah orang itu menjadi merah padam. Belum lagi
ia dapat mengatur perasaannya, Jlitheng tiba-tiba telah berdiri.
Tetapi ia tertegun karena Rahu menggamitnya sambil bertanya “Kau mau
apa?” “Orang itu menghinaku” jawab Jlitheng “Siapa orang ini?“
Cempaka tertawa sambil menyahut “Jangan menjadi liar disini. Sejak
kau mencampuri persoalanku di bulak itu sebelum kau mengetahui
persoalannya, telah menumbuhkan dugaan padaku, bahwa kau adalah
seorang yang tidak mampu mengendalikan perasaan. Ternyata kini kau
benar-benar seorang yang liar” “Tetapi ia menghinaku. Ia menyebut
aku sebagai orang sakit-sakitan. Dan iapun meragukan, apakah aku
mampu mengimbangi kemampuan orang yang sombong itu” jawab Jlitheng.
“Duduklah” desis CempaKa “sebentar lagi Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading akan hadir di pendapa ini. Sesudah itu, terserahlah, apa yang
akan kau lakukan” “Jlitheng termangu-mangu. Ia masih melihat orang
bertubuh tinggi kekar dan berkumis lebat itu berdir i. “Duduklah”
desis Cempaka. “Orang itu masih berdiri” jawab J litheng. “Jangan
hiraukan. Iapun akan duduk nanti. Apalagi jika Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading hadir di pendapa“ desak Cempaka “Ia t idak akan berbuat
apa-apa” Jlitheng masih ragu-ragu sejenak. Namun iapun kemudian
duduk disebelah Rahu sambil berdesis “Orang-orang sombong itu harus
diberi sedikit contoh agar ia dapat sedikit menghormat i orang lain”
Rahu tersenyum. Desisnya perlahan-lahan, sehingga hanya. Jlitheng
sajalah yang mendengar “Bagus. Kau lakukan perananmu dengan baik.
Kau pantas menjadi orang Sanggar Gading yang kasar, liar dan buas”
“Persetan“ geram Jlitheng. Dalam pada itu, orang bertubuh tinggi,
dan berkumis lebat itu masih berdiri termangu-mangu. Ternyata orang
yang belum dikenalnya itu adalah seorang yang berhati bara. Karena
itu maka iapun tidak lagi menegurnya, karena orang yang baru pertama
kali memasuki Sanggar Gading itu sama sekali tidak menjadi cemas dan
apalagi takut menghadapi sifat dan sikap orang orang padepokan itu.
Sejenak kemudian orang bertubuh tinggi itupun duduk pula diantara
mereka yang sudah ada di pendapa. Bahkan iapun masih dikejutkan oleh
pertanyaan Jlitheng yang tiba-tiba “He, orang tinggi. Siapa namamu”
“Gila” Orang itu mengumpat” bertanyalah dengan baik. “Aku adalah
aku. Aku tidak dapat berpura-pura baik dan sopan menghadapi orang
lain. Apalagi menghadapi kau” jawab Jlitheng. “Anak demit. Namaku
Sawunglaga “Orang itu seolah-olah menjawab diluar sadarnya” “Kau
sudah mengenal namaku. Tetapi kau belum mengenal aku sepenuhnya”
geramJlitheng kemudian. Sawunglaga menggeram. Tetapi ia tidak
menjawab lagi. Dengan wajah yang gelap iapun kemudian duduk
disebelah Cempaka “Jangan pikirkan” desis Cempaka “ia orang baru,
Aku memer lukannya” “Kau bawa orang gila itu kemar i” geram
Sawunglaga “Jika bukan karena orang itu kau perlukan, aku bunuh ia
disini sekarang juga. Justru aku ingin menunjukkannya kepada Yang
Mulia Panembahan Wukir Gading” Cempaka tersenyum. Desisnya ”Atau
justru kaulah yang dibunuhnya “ “Persetan” Orang itu menggeretakkan
gigi “kau sudah kehilangan pengamatanmu yang selama ini dikagumi
orang padepokan ini“ “Justru karena ketajaman pengamatanku itulah,
aku dapat mengatakan hal itu kepadamu” sahut Jlitheng. “Kau juga
sudah Gila” Orang itu menggeram sabil bergeser sejengkal menjauhi
Cempaka yang justru tertawa karenanya. Sejenak mereka masih
menunggu. Yang hadir kemudian adalah orang bertubuh gemuk agak
pendek. Tetapi wajahnya bagaikan wajah ser igala kelaparan. Disusul
oleh mereka yang semula berdiri di halaman. Sementara kedua kakak
beradik yang berdiri dialas lesung itupun telah mendekati pendapa
pula. “O“ seorang yang bertubuh kekurus-kurusan dengan kulit kuning
dan mata yang bulat berdesis ketika ia naik ke pendapa. Dengan
mengangguk dalam-dalam ia berkata kepada Jlitheng “Selamat datang di
pondok kami yang buruk ini Ki Sanak. Menurut pendengaran kami, Ki
Sanak adalah seorang pengembara yang bernama Bantaradi” Jlitheng
agak bingung menghadapi orang yang satu itu. Nampaknya ia seorang
yang ramah dan sopan. Wajahnya tampan dan cerah. Setiap kali ia
melihat senyum membayang di bibirnya. “Benar Ki Sanak“ Jlitheng
menjawab sambil mengangguk pula meskipun agak ragu dan kaku. Namun
kerapu-raguannya itu ternyata telah menumbuhkan kesan yang sejalan
dengan sifatnya yang telah dibuatnya menjadi liar dan kasar “Aku
bernama Bantaradi” “Namaku Nrangsarimpat,” berkata orang itu sebelum
Jlitheng bertanya kepadanya “Aku berasal dari Singasari. Trah Sri
Maharaja Kerta Negara” Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi wajahnya
kemudian nampak acuh t idak acuh. Bahkan kemudian ia tidak
memperhatikan orang itu lagi. Tetapi orang yang menyebut dirinya
bernama Nrangsarimpat itu berkata sambil tertawa “Apakah kau belum
pernah mendengar kejayaan Singasari. Kau belum pernah mendengar
kebangkitan Singasari yang dipimpin oleh seorang anak padesan yang
semula bennaima Ken Arok? Kemudian dari isterinya yang bernama Ken
Dedes ia menurunkan raja- raja besar di negeri yang kaya raya ini”
Jlitheng memandanginya sejenak. Lalu jawabnya “Aku tidak pernah
mendengar dongeng-dongeng semacam itu. Aku lebih menghargai waktuku
dengan bermain pedang daripada seperti kanak-kanak yang ingin tidur
nyenyak mendengarkan dongeng-dongeng yang tidak berarti” Tetapi
jawaban orang berwajah tampan itu mengejutkan Jlitheng “Maaf Ki
Sanak. Aku tidak ingin mengganggu Ki Sanak. Jika yang aku katakan
ini tidak menarik sama sekali, dan bahkan telah mengganggumu, maka
sekal lagi aku minta maaf” Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia
melihat satu wajah yang berbeda dari keseluruhan wajah padepokan
Sanggar Gading. Orang yang berwajah tampan dan berkulit kuning dan
bermata cerah itu adalah seorang yang mengenal unggah ungguh.
Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Ia merasa bingung tentang dirinya
sendiri. Ia sudah terlanjur bersikap keras, kasar dan bahkan liar
untuk menutupi perasaan dan tanggapannya yang sebenarnya atas
orang-orang yang berhubungan dengan orang-orang Sanggar Gading.
Namun ternyata di dalam padepokan, itu sendiri terdapat juga orang
yang bersikap lembut dan ramah mengenal unggah ungguh. Tetapi
Jlitheng tidak sempat memikirkannya lebih lama. Bahkan sebelum ia
menjawab, maka semua orang telah bersikap. Agaknya karena mereka
medengar bunyi kelinting di dalami ruang dibalik pintu pr inggitan.
“Yang Mula Panembahan Wukir Gading akan hadir” desis Rahu “O“
Jlitheng membenahi dir inya. Bahkan ia telah membenahi perasaannya.
Memang mungkin sekal terjadi sesuatu yang tidak diduganya lebih
dahulu. Sejenak kemudian maka pintu pringgitan itu telah terbuka.
Orang yang muncul adalah orang yang cacat kaki dan tangannya.
Kemudian ia bergeser kesamping pintu dua langkah. Di susul kemudian
oleh seorang anak muda yang berwajah keras meskipun tidak nampak
kasar. Anak muda yang mengenakan pakaian orang kebanyakan. Seperti
juga orang-orang Sanggar Gading yang lain, yang memakai pakaian
seperti orang kebanyakan. Meskipun ada satu dua orang yang nampak
berpakaian aneh, dan ada juga yang nampak mempergunakan beberapa
jenis perhiasan pada timang dan ukiran kerisnya. “Itulah Yang Mula?“
desis Jlitheng per lahan-lahan. Rahu menggeleng. Desisnya “Itu
adalah puteranya. Putera satu-satunya. Ia tidak mempunyai anak yang
lain kecuali anak muda itu” Jlitheng mengangguk-angguk. Namun ia
merasa menjadi semakin tegang. Yang muncul kemudian adalah seorang
tua yang berjalan dengan tongkat ditangan. Ternyata bunyi kelinting
itu adalah kelint ing yang terikat pada tongkat orang tua itu. Namun
Jlitheng segera menyadari, bahwa orang tua itulah yang disebut Yang
Mulia Panembahan Wukir Gading. Tongkat itu terbuat dari gading
sepenuhnya. Dibagian kepala tongkat itu terdapat ukiran emas intan
dan berlian. Jlitheng menjadi semakin yakin ketika ia melihat sikap
orang-orang yang berada di pendapa itu. Mereka menundukkan kepala
dalam-dalam untuk menghormat kehadiran orang tua itu. Sejenak orang
tua itu berdiri di depan pintu. Dilihatnya setiap orang yang berada
di pendapa itu seorang demi seorang. Baru kemudian ia melangkah
mendekati para pengikutnya yang duduk di pendapa. Pada saat itulah
Jlitheng baru melihat bahwa orang tua itu ternyata adalah orang yang
timpang Nampaknya ia terlalu payah untuk berjalan, sehingga tanpa
tongkat, agaknya ia tidak mampu lagi untuk melangkah. Jlitheng
menjadi berdebar-debar ketika sekilas ia melihat mata orang tua itu
tersangkut kepadanya. Ada sesuatu yang terkesan pada tatapan
matanya, sehingga karena itu Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar
karenanya. Pendapa rumah induk padepokan Sanggar Gading itu menjadi
hening. Semuamya menunggu, apa yang akan dikatakan oleh pemimpin
tertinggi dari padepokan itu. Namun Jlitheng terkejut ketika yang
pertama diucapkan oleh orang tua bertongkat gading itu adalah
“Cempaka, apakah anak muda itu yang telah melukai ketiga orang kita
di padang perburuhan?“ Cempaka mengangkat wajahnya. Namun
seolah-olah tidak ada kesan apapun di wajahnya dan pada getar
suaranya ia menjawab “Ya guru. Anak muda yang aku sebut bernama
Bantaradi inilah yang melakukannya” Jlitheng menjadi semakin heran.
Ia belum lama sampai di padepokan itu. Namun pemimpin tertinggi
padepokan Sanggar Gading itu sudah mendengar perist iwa yang terjadi
di padang kematian itu. Pemimpin tertinggi yang disebut Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading itupun mengangguk-angguk Katanya “Jika
demikian, maka ia sudah melalui hambatan terakhir dar i jalan yang
menuju ke Sanggar Gading” “Demikianlah agaknya Yang Mulia” berkata
Cempaka. ”Tetapi Yang Mulia” tiba-tiba saja salah seorang dari kedua
kakak beradik itu memotong “hambatan itu barulah hambatan
diperjalanan. Tetapi kesombongannya membuat hati kami menjadi
berdebar-debar. Ia sudah melukai penjaga regol, kemudian menghinakan
pemelihara kuda di kandang. Apakah dengan demikian kami akan dapat
mener ima kedatangannya?“ Yang Mulia Panembahan itu kemudian
mengangguk- angguk. Katanya “Itu terserah kepada kalian. Apakah
kalian dapat menerimanya atau tidak. Tetapi aku sependapat, bahwa
anak muda ini memang sombong. Ia tidak membunuh tiga orang yang
sudah dikalahkannya di padang kematian itu?” “Gila“ geram Jlitheng
“agaknya sudah menjadi adat disini, bahwa orang-orang Sanggar Gading
tidak mudah dapat menerima orang-orang baru di padepokannya” “Aku
merasa keberatan atas kehadirannya“ Sawunglaga tiba-tiba saja
bergeser setapak “Ia sudah melukai perasaanku” “Itu persoalan
kalian” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading “Tetapi siapakah
yang akan menanggungnya jika ia bermaksud menghindari kesulitan di
padepokan ini. “Aku Yang Mulia” berkata Cempaka “akulah yang
membawanya kemar i. Aku mohon, agar ia dibebaskan dari segala macam
permainan yang tidak akan banyak berarti apa- apa, karena semakin
banyak, orang yang berusaha mendesak kehadirannya, maka korban akan
semakin banyak berjatuhan. Aku sudah dapat menilai kemampuannya. Dan
akupun cukup mengerti tingkat kemampuan orang-orang Sanggar Gading”
Orang tua itu tertawa. Katanya “Jarang sekali kau mempergunakan akal
dan pikiranmu. Ternyata yang kau katakan itu mendapat pertimbangan”
Sebelum Cempaka menjawab lagi, maka orang yang menyebut dirinya
bernama Nrangsarimpat itupun berkata “Aku terima kehadirannya.
Menurut pengamatanku, memiliki ujud jasmaniahnya sorot matanya dan
tingkah lakunya, aku yakin bahwa hati orang ini bersih. Bahwa orang
ini tidak membunuh tiga orang yang sudah dilukainya, bukanlah satu
hal yang dapat dipersoalkan karena itu bukan berarti kesombongan”
“O“ pemimpin tertinggi itu mengangguk-angguk ” jadi kau berbeda
pendapat dengan beberapa orang lain?“ “Ya, guru” jawab Nrangsarimpat
“Aku mohon maaf Tetapi itu adalah pendapatku. Karena itu, aku
sependapat dengan Cempaka, bahwa sebaiknya ia dibebaskan saja dari
segala macam tingkah laku yang cengeng itu” “Gila” geram orang
bertubuh pendek dan gemuk “semuanya omong kosong. Orang itu tidak
pantas duduk diantara kita disini. Kami adalah mur id-murid Yang
Mulya Panembahan Wukir Gading. Tetapi orang itu bukan sama sekali”
“He” potong Nrangsarimpat “sejak kapan kau menjadi mur id Yang Mulia
Panembahan, dan sejak kapan Sawunglaga menjadi mur id di padepokan
ini. Sejak kapan pula aku datang dan hampir saja aku mengurungkan
niatku setelah aku mencekik Ular Bertanduk Besi itu sampai mati
karena ia berusaha mencegah aku hadir disini. Tetapi kita semuanya
kini adalah murid Yang Mulia” “Aku akan membunuhnya. Nanti malam,
atau besok pagi- pagi” desis orang bertubuh pendek itu. “Sebaiknya
kau tutup saja mulutmu“ Rahulah yang kemudian berdesis “Cempakai
membawanya kemari. Bukan tanpa sebab. Kalian sudah tahu, bahwa saat.
Cempaka dan aku menjalankan tugas itu. Maka hadirlah orang yang
bernama Bantaradi itu” “Cempaka tidak berhak melindunginya” berkata
Sawunglaga “biarlah ia membuktikan, apakah ia pantas menjadi bagian
dari kita disini, atau orang itu harus dilemparkan ke lembah
bangkai” Orang tua bertongkat gading itu tertawa. Katanya “Aku
senang pada anak yang sombong itu. Ia sama sekali tidak berkata
sepatah katapun selagi orang-orang sibuk memperbincangkan. Itu
pertanda bahwa ia mempunyai kepercayaan yang kuat pada dirinya
sendiri. Ia dapat menerima segala akibat yang akan menimpanya. Ia
tidak gentar jika ia harus benkelai. Tetapi iapun tidak menjadi
gembira bila ia kita terima begitu saja” Orang-orang yang berada di
pendapa ituipun terdiam. “Aku terima dia diantara kita” berkata Yang
Mulia Panembahan, itu “Tetapi aku akan memberikan ukuran kemampuan
kepadanya. Ia akan menjadi mur idku yang ke sembilan puluh enam”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk
menjadi mur id Panembahan Wukir Gading. Tetapi jika hal itu menjadi
satu-satunya jalan, maka ia tidak akan menolaknya. Ia masih tetap
pada tujuannya. Mengetahui orang yang telah disebut-sebut oleh
Daruwerdi di Bukit Gundul itu. Karena itu maka ia masih tetap
berdiam dir i. Ia ingin segera mengetahui keputusan Panembahan itu
tentang usaha mereka menemukan pusaka yang sedang diperebutkan
melalui segala macam cara. Tetapi Jlitheng menjadi kecewa ketika
kemudian Panembahan itu berkata ”malam nanti aku akan menerima
kalian di sanggar. Kita masih harus mematangkan rencana kita. Kita
harus bertindak lebih cepat. Agaknya orang-orang Pusparurilah yang
telah mempersiapkan segalanya, sementara orang-orang lain masih
menunggu. Tetapi kita tidak lagi dalam tingkat persiapan dan apalagi
menunggu. Kita sudah sampai pada tahap melaksanakan” “Malam nanti”
desis Jlitheng “sementara masih mungkin terjadi sesuatu atasku”
Namun Jlitheng tidak dapat berbuat lain kecuali menerima segalanya.
Orang-orang Sanggar Gading yang lainpun nampaknya tidak mengusulkan
sesuatu. Sementara itu, maka. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading
iltu berkata “Pertemuan ini adalah khusus untuk menerima mur idku
yang kesembilan puluh enam ini Ia akan ikut serta dalam pembicaraan
malam nanti di sanggar, disamping Cempaka, Niangsarimpat,
Sawunglaga, Rahu dan kakak beradik itu. Pembicaraan itu tidak perlu
diikuti oleh banyak orang, sehingga kita akan segera mendapatkan
kesimpulan. Yang lain akan mener ima perintah dan petunjuk
pengarahan bagi tugas besar kalian selanjutnya” Orang bertubuh gemuk
dan agak pendek itu terdengar mengumpat tetapi tidak jelas. Agaknya
ia merasa kecewa bahwa ia tidak diperintahkan untuk ikut berbicara
di sanggar. Sejenak kemudian maka Panembahan itupun bergumam
seolah-olah kepada diri sendir i “Badanku merasa sangat letih. Aku
akan ber istirahat” Tidak ada yang menyahut Semuanya duduk dengan
tenang seperti saat Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu keluar
dari ruang dalam. Sejenak kemudian, tertatih-tatih Yang Mulia
Pamembahan itu berdiri. Diikut i oleh anak laki- lakinya. Kemudian
tertatih- tatih pula ia berdiri, menuju ke pintu pringgitan.
Sementara pengawalnya yang cacat itupun bergeser selangkah, dan
kemudian mengikutinya pula masuk ke dalam. Ketika Yang Mulia itu
sudah hilang dibalik pintu, maka masih terdengar suara kelinting
yang terkat pada tongkatnya. Suaranya gemlinting dalam irama yang
timpang. Namun telinga Jlitheng yang tajam kemudian tersentuh oleh
perubahan irama suara kelinting itu. Meskipun tidak segera dapat
membayangkan apa yang terjadi, namun rasa- rasanya ia melihat
perubahan sikap dar i Panembahan yang cacat kaki itu. Tetapi
Jlitheng tidak bertanya sesuatu. Ia sama sekali dikaburkan oleh
sikap dan perbuatan para pengikutnya Panembahan itu. Dengan
demikian, ia masih belum menemukan tentang tanggapan yang pasti
tentang isi dari padepokan Sanggar Gading itu. “Kita dapat berist
irahat” berkata Rahu kemudian. Jlitheng mengangguk-angguk Iapun
melihat beberapa orang telah bergeser dan meninggalkan pendapa. Satu
dua orang diantara mereka memandang J litheng dengan sorot mata
kedengkian, bahwa orang baru itu telah diperkenankan untuk ikut
dalampembicaraan di dalam sanggar. “Tetapi ia tidak akan dapat ikut
berbicara” gumam orang bertubuh pendek dan agak gemuk itu kepada dir
i sendir i Jlitheng melihat sambaran sorot matanya yang membina.
Namun iapun sudah bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Apalagi
orang tertinggi di padepokan itu sudah menyatakan, bahwa ia telah
diterima di dalam lingkungan Sanggar Gading, meskipun kata-kata Yang
Mulia itu masih mendebarkan jantung, bahwa ia akan memberikan ukuran
bagi kemampuannya- “Apakah yang dimaksudkannya?“ pertanyaan itu
masih saja melekat didinding jantungnya. Sementara itu, maka Rahupun
mulai bergeser pula. Jlithengpun mengikut inya pula turun ke
pendapa. Ia masih belum tahu kemana ia harus pergi. Karena itu maka
iapun selalu mengikut i, saja kemana Rahu pergi. “Kita akan pergi
kebarak” berkata Rahu. “Apakah ada tempait bagiku?“ bertanya
Jlitheng. “Kau akan tinggal dalam satu bilik dengan aku. Cempaka
sudah menyiapkannya. Meskipun ada kemungilan bahwa bilik itu tidak
akan pernah bertambah dengan penghuni baru dan pembaringan yang
sudah disediakan itu tidak akan pernah dipergunakan oleh siapapun”
jawab Rahu. “Kau menganggap bahwa kemungkinan terbesar, aku akan
mati sebelum memasuki bilik itu” desis Jlitheng. Rahu tertawa.
Katanya “Memang mungkin sekali. Tetapi sekarang kita sedang menuju
langsung kebilik di dalam barak itu” Jlitheng tidak menjawab. Tetapi
ia harus berhati-hati. Ia merasa beberapa pasang mata sedang
mengikutinya, meskipun ia t idak melihat seseorang dengan jelas.
Tetapi akhirnya keduanya memasuki sebuah barak tanpa kesulitan.
Seorang yang bertubuh raksasa yang berdiri di pintu barak itupun
telah bergeser dan memberikan jalan kepada Jlitheng, meskipun
nampaknya wajahnya menjadi garang. “Ia adalah seorang raksasa yang
sangat baik” desis Rahu ketika mereka melangkah menuju ke pintu.
Namun kemudian berhati-hatilah dengan kancil itu?” Jlitheng
mengerutkan keningnya. Ia melihat seorang bertubuh kecil pendek
sedang berbaring disebuah amben yang besar. Tiba-tiba saja ia
meloncat berdir i. Sambil tertawa ia berkata lantang “He kau Rahu.
Kau membawa seekor keledai kemari?“ Jlitheng tidak menunggu lebih
lama lagi Pertanyaan itu telah cukup membuatnya marah menurut
takaran orang-orang Sanggar Gading yang kasar. Karena itu, iapun
tiba-tiba saja telah meloncat menerkam orang bertubuh kecil dan
pendek itu. Tetapi ternyata orang bertubuh kecil itu sangat tangkas.
Sambil tertawa ia berhasil meloncat kesamping menghindari terkaman
tangan Jlitheng. Namun Jlithengpun lelah mempersiapkannya. Rahu
sudah memper ingatkan, bahwa ia harus berhati-hati terhadap kancil
itu. Karena itu, demikian Jlitheng gagal menerkam orang itu, maka
iapun segera berputar sambil mengayunkan kakinya mendatar. Demikian
cepatnya, sehingga orang bertubuh kecil itu harus meloncat lagi
menjauh. Namun Jlitheng tidak melepaskannya. Sebuah lontaran panjang
menyusul. Demikian cepatnya, sehingga kancil itu benar-benar tidak
sempat lagi menghindar. Demikian kakinya melekat lantai, Jlitheng
telah menyusulnya dengan sebuah hantaman dengan tumit kakinya, tepat
mengenai lambung. Ternyata bahwa kancil yang cekatan itu tidak
memiliki daya tahan yang terlalu kuat. Demikian kaki Jlitheng
mengenainya, maka iapun telah, terlempar dan membentur tiang.
Demikian kerasnya, sehingga kancil itupun kemudian terjatuh dilantai
dan langsung menjadi pingsan. Raksasa yang berdiri di pintu dan
memberi jalan kepada Rahu dan Jlitheng memasuki barak itupun
melangkah masuk. Dilihatnya kancil j itu terbaring pingsan. Dengan
mata terbelalak ia memandang Jlitheng. Namun Rahu berkata sambil
tersenyum “Salahnya sendiri” Orang bertubuh raksasa ia masih berdiri
tegang. “Rawatlah kancil yang sombong itu. Ia telah diberi sedikit
peringatan oleh Bantaradi, tamu Cempaka” Orang bertubuh raksasa itu
menar ik nafas dalam-dalam. Katanya dengan suara rendah “Jadi orang
inikah yang bernama Bantaradi?” “Ya” jawab Rahu. Orang bertubuh
rasasa itu tidak bertanya lagi. Ia kemudian melangkah mendekati
kancil yang pingsan itu. Dengan sekali renggut, maka tubuh kecil itu
telah terlempar keatas pembaringannya. “Ia akan sadar dengan sendir
inya” berkata orang bertubuh raksasa itu” Rahu dan Jlithengpun
kemudian langsung menuju ke biliknya. Ternyata bahwa Jlitheng
benar-benar telah mendapat kesempatan untuk tinggal di dalami barak
orang-orang Sanggar Gading, “Kau tidur disini” berkata Rahu. “Dan
malamnanti kau akan membunuhku” geram Flitheng Rahu tertawa. Katanya
“Aku tidak dapat lagi membedakan, apakan kau bersungguh-sungguh atau
sekedar berpura-pura dan bahkan mungkin kau sedang bergurau” “Anak
iblis“ Jlitheng mengumpat. Namun ia tidak menghiraukan Rahu lagi.
Dengan serta merta k menjatuhkan dirinya keatas pembaringan. “Malam
nanti kita akan menentukan segala-galanya“ berkata Rahu “diantara
kita akan hadir orang yang belum pernah kau kenal?“ “Siapa?”
bertanya Jlitheng. “Penguasa medan dari Sanggar Gading” jawab Rahu.
“Apa artinya penguasa medan?“ bertanya Jlitheng. “Ia adalah orang
yang paling berkuasa di medan. Yang Mula Panembahan hanyalah orang
yang menentukan dilingkungan Sanggar ini. Anak laki-lakinya hampir
tidak mempunyai pengaruh sama sekail Sedangkan yang paling berkuasa
dalam segala gerakan adalah orang yang belum kau kenal itu” “Siapa?“
bertanya Jlitheng dengan berdebar-debar. “Sanggit Raina” jawab Rahu.
“Nama apa itu? Sanggit Raina“ ulang Jlitheng. ”Namanya yang
sebenarnya. Dua orang kakak beradik itu agaknya mempunyai nama yang
agak aneh“ Rahu menerangkan. “Kakak beradik siapa?“ bertanya
Jlitheng “Orang itu adalah saudara tua Cempaka” jawab Rahu. Jlitheng
mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata “Itulah sebabnya,
Cempaka nampaknya mempunyai pengaruh pula di daerah yang sepanas
perapian ini” “Ya. Pengaruh Sanggit Raina memang besar. Juga
pengaruhnya terhadap Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. “Apakah ia
murid yang pertama?“ bertanya Jlitheng. Rahu menggeleng. Jawabnya
“Ia murid yang ke tujuh puluh t iga” “Ketujuh puluh tiga“ Jlitheng
mengulang. “Ya. Dan Cempaka adalah murid yang ke tujuh puluh
sembilan” Jlitheng mengangguk-angguk. Dengan demikian ia dapat
membayangkan, bahwa di padepokan ini terdapat beberapa orang murid
sesuai dengan urutan angkanya. Namun Jlithengpun juga sudah menduga,
bahwa tentu ada diantara mereka yang telah meninggalkan padepokan
ini “Berapa orang yang telah pergi?“ bertanya Jlitheng, “Aku tidak
ingat lagi” jawab Rahu “sebagian telah dibunuh oleh yang datang
kemudian Cempaka membunuh dua orang saat ia memasuki padepokan ini.
Orang keempat dan kelima yang akan membunuhnya, telah mengurungkan
niatnya ketika mereka mengetahui bahwa Cempaka adalah adik Sanggit
Raina” “Apakah Sanggit Raina juga membunuh ketika ia datang.?”
“Tidak. Ia tidak membunuh seorangpun“ Demikian saja ia melimtasi
padang kematian?“ Jlitheng menjadi heran. “Ia datang seperti hantu.
Itulah yang telah menggemparkan padepokan ini. Tidak scorangpun yang
mengetahui, bahwa tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam bilik Yang
Mulia. Sambil mengancam dengan keris ia mendesak, agar ia
diperbolehkan t inggal di padepokan ini” “Yang Mulia takut
kepadanya?“ bertanya Jlitheng. “Seharusnya tidak. Tetapi
kedatangannya itu sangat menarik perhatiannya Yang Mulia senang
sekali melihat kelakuan Sanggit Raina, sehingga ia diangkat menjadi
pemimpin disini, disamping Yang Mulia itu sendiri” Jlitheng
mengumpat meskipun orang lain t idak mendengarnya. Dengan suara
datar ia bergumam “Tempat ini benar-benar neraka jahanam yang paling
kasar dan liar” “Dan kau sudah mencoba menyesuaikan dirimu” berkata
Rahu, Jlitheng menarik nafas. Kemudian tiba-tiba saja bertanya “He,
kau murid menurut urutan angka berapa?“ “Delapan puluh satu. Aku
datang kemudian dar i Cempaka” “Dan kau membunuh juga di padang
kematian?“ “Kebetulan sekali, aku tidak berjumpa dengan siapapun di
padang itu. Aku juga tidak membunuh seorangpun” “Bagaimana mungkin
kau dapat memasuki padepokan ini?“ Rahu tertawa. Katanya “Aku
mempunyai cara tersendiri. Aku tidak memasuki regol halaman. Tetapi
aku memecahkan dinding dekat disebelah regol tanpa diketahui oleh
para penjaga. Mereka menganggap perbuatan itu aneh. Dan akupun
diterima disini. Tetapi selama tiga bulan aku berkelahi hampir
setiap hari. Tetapi aku tidak pernah membunuh siapapun juga. “Gila.
Kau sudah gila, Kau menakut-nakuti aku karena aku tidak membunuh.
Kau sebut aku orang yang terlalu baik dan pantas dicurigai” geram
Jlitheng. Rahu tertawa. Semakin lama semakin keras, sehingga
Jlitheng memukul perutnya Sambil berkata “Berhentilah” Rahu mencoba
menahan tertawanya, Laki katanya “Jangan merajuk begitu. Di padang
perburuhan, hampir setiap orang membunuh korbannya. Tetapi setelah
kita berada di padepokan ini, sudah tentu bahwa kita tidak akan
membunuh orang-orang yang kita jumpai meskipun kita, berkelai. Kau
juga tidak membunuh penjaga regol itu, demikian pula pekatik di
kandang Kancil itu juga tidak kau bunuh?” “Persetan geram Jlitheng,
lalu tiba-tiba “pada suatu saat apakah adikmu juga akan memasuki
padepokan ini, seperti Cempaka menyusul kakaknya?“ “Terserah kepada
anak itu. Tetapi aku tidak akan menyuruhnya masuk kemar i” jawab
Rahu. Jlitheng tidak menjawab lagi. Ia telah berbaring lagi. Rahupun
kemudian duduk disebuah amben bambu didalam bilik itu. Sejenak
mereka saling berdiam dir i. Namun kemudian Rahupun berkata “Aku
akan pergi ke sumur. Tinggal sajalah di dalam bilik ini. Sebaiknya
kau tidak membuat persoalan dengan siapapun sampai malamnanti” “Apa
pedulimu” jawab Jlitheng. Rahu tidak menjawab. Tetapi senyumnya
sangat menjengkelkan Jlitheng sehingga ia berkata “Jika kau mengejek
dengan senyuman semacam itu, aku sobek bibirmu” “Sudahlah, jika
hanya ada aku, kau tidak usah berpura- pura kasar dan liar” jawab
Rahu. “Anak iblis“ Jlitheng mengumpat. Namun ia kemudian
memiringakan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Sementara itu,
Rahupun telah keluar dari biliknya untuk pergi ke pakiwan. Ketika ia
lewat pintu? baraknya, dilihatnya orang bertubuh raksasa itu duduk
di sebelah pintu sambil memeluk lututnya. Ia berpaling sejenak
ketika ia mendengar langkah kaki Rahu. Tetapi ia tidak menyapanya,
dan bahkan sama sekali tidak mengacuhkannya lagi. Dihadapan ia
melihat orang yang disebutnya kancil sedang dikerumui oleh tiga
orang kawannya, Agaknya kancil itu sedang mencer itakan, apa yang
telah dialaminya dengan orang baru itu. Tetapi Rahulah yang kemudian
tidak mengacuhkannya, la berjalan saja lewat disetelahnya tanpa
berpaling sama sekali. Namun ia berharap bahwa Jlitheng yang
dikenalnya ternama Bantaradi itu tenar -tenar tidak keluar dari
biliknya. Sebenarnyalah Jlitheng memang tidak ingin keluar dari
bilik itu. Bagaimanapun juga, ia memperhatikan nasehat-nasehat Rahu,
karena ternyata sejak ia bertemu dengan orang itu di padukuhan yang
aneh, seaneh padepokan itu, nampaknya Rahu selalu berbuat baik
terhadapnya. Ia telah memper ingatkannya beberapa kali tentang
bahaya yang mungkin dapat menerkamnya Disaat terakhir ia telah
memper ingatkannya tentang orang yang disebut kancil itu. Meskipun.
Jlitheng berbaring, tetapi ia tidak akan dapat tidur nyenyak.
Apalagi bukan saatnya orang tidur. Ketika Rahu telah keluar dari
bilik itu, maka Jlitheng kembali tidur menelentang. Namun pedang
tipisnya tidak terpisah dari padanya, karena setiap saat dapat
terjadi sesuatu yang tidak diduganya. Tetapi tidak seorangpun yang
mengusik Jlitheng d dalam bilik itu. Ketika Rahu memasuki bilik itu
kembali, maka Jlithengpun masih tetap berbaring diam Rahu sama
sekali tidak mengusiknya, lapun kemudian duduk kembali diamben
bambu. Dari geledeg bambu diambilnya sebilah keris. Kemudian dengan
angkup nangka ia menggosok wrangka ker isnya dengan hati-hati.
Sementara itu, padepokan itupun rasa-rasanya menjadi gelisah. Hanya
orang-orang tertentu sajalah yang dapat melihatnya bahwa kegelisahan
semacam itu telah berulang kali terjadi, jika ada orang-orang baru
memasuki padepokan yang penuh dengan kedengkian, ini dan ketamakan
itu. Namun dalam pada itu, Jlitheng dapat mengetahui, bahwa agaknya
sikap orang yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu
cukup lunak, la member i banyak kebebasan kepada mur id-mur idnya.
Bahkan kebebasan untuk membunuh atau bahkan terbunuh. Iapun tidak
marah ketika beberapa orang murid langsung menyampaikan sikap dan
pendiriannya di pendapa. Dan bahkan ia dengan senang hati menerima
orang-orang yang aneh dan melanggar unggah-ungguh menurut ketentuan
orang kebanyakan. Demikianlah, setelah dengan gelisah dan terasa
sangat menjemukan, Jlitheng dan Rahupun sampai pada suatu saat untuk
berkumpul di sanggar bersama orang-orang yang telah ditentukan.
Bagaimanapun juga hati Jlitheng menjadi sangat berdebar-debar, la
tidak tahu, apakah sebenarnya ia dapat diterima dan bersama-sama
melakukan tugas yang akan dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading
untuk memenuhi permintaan Daruwerdi. Menangkap seseorang yang
disebutnya berkhianat karena telah membunuh ayahnya. “Apakah
sebenarnya yang akan mereka bicarakan?“ bertanya Jlitheng kepada
Rahu “Apakah kau mengerti, tugas yang akan dilakukan oleh
orang-orang Sanggar Gading?“ Rahu menggeleng. Jawabnya “Aku tidak
tahu. Aku hanya mengetahui bahwa sesuatu yang sangat penting akan
kita lakukan. Tetapi yang sangat penting itu tidak aku ketahui
dengan pasti” “Mungkin kau tidak mengetahui dengan pasti. Tetapi kau
tentu dapat merabanya” desis Jlitheng. “Sepuluh kali aku mencoba
meraba tugas yang akan dibebanlkan kepadaku sebelum ini Tetapi
sepuluh ikal pula aku keliru. Karena itu, lebih baiik kita hadir,
mendengarkan dan kemudian melakukian perintah itu dengan
sebaik-baiknya. Jlitheng tiidak bertanya lagi. Ia percaya, bahwa
Rahu memang belum tahu dengan pasti. Adalah kebetulan sekali ia
mendengar pembicaraan Cempaka dengan Daruwerdi, sehingga ia dapat
menduga, bahwa tugas alulah yang akan mereka lakukan. “Tetapi
mungkin tugas yang lain pula” berkata Jlitheng di dalam hatinya
“alangkah menjemukan dan memuakkan sekali, jika aku harus melakukan
tugas-tugas lain. Merampok atau menyamun sekedar untuk merampas
harta benda, betapapun banyaknya” Namun seandainya demikian,
Jlitheng tidak akan melepaskan kesempatan, bahwa ia telah memasuki
Sanggar Gading. Hanya jika sudah pasti bahwa maksudnya memasuki
Sanggar itu tidak akan terpenuhi, barulah ia memikirkan cara untuk
melepaskan diri. Dengan hati yang berdebar-debar Jlitheng memasuki
Sanggar bersama Rahu. Ketika ia melangkahi, tJundak pintu, di dalam
telah hadir beberapa orang yang mendahuluinya. Agak berbeda dengan
saat mereka berada di pendapa. Rasa- rasanya di dalam sanggar itu
suasananya menjadi lebih bersungguh-sungguh. Namun dalam pada itu,
Yang Mulia Panembahan Wukir Gading lemyata masih belum hadir. Tetapi
diujung sanggar itu duduk seorang yang masih belum separo baya.
Bahkan masih nampak gejolak kemudaannya pada sorot matanya.
Sedangkan agak kesamping nampak Cempaka duduk bersandar dinding.
“Siapa orang itu?“ bertanya Jlitheng sambil berbisik Rahu memandang
Jlitheng sejenak. Kemudian desisnya “Orang itulah yang aku katakan”
“Kakak kandung Cempaka. Ialah yang bernama Sanggit Raina. Dan ialah
yang sebenarnya memimpin padepokan ini. Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading hanya member inya beberapa petunjuk. Kemudian segalanya
terserah kepada Sanggit Raina” berkata Rahu lebih lanjut. Jlitheng
mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia mulai menilai dir inya. Apakah
ia mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu di Sanggar Gading.
Jika tumbuh persoalan antara dirinya dan pemimpin yang bernama
Sanggit Raina itu, apakah ia akan dapat melindungi dirinya. Tetapi
ternyata Sanggit Raina sama sekali tidak memperhatikannya, la duduk
terpekur seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
Setelah duduk beberapa saat, maka terdengarlah suara kelint ing
seperti yang sudah didengar oleh J litheng saat ia berada di
pendapa. Sejenak kemudian sebuah pintu sanggar itu terbuka. Yang
paling dahulu nampak adalah seorang laki- laki yang cacat Kemudian
anak muda, anak Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, dan baru
dibelakangnya bersandar tongkat gadingnya. Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading tertatih-tatih memasuki sanggar itu. Demikian
Panembahan dan puteranya itu masuk, maka suasana sanggar itu menjadi
semakin hening. Namun dalam pada itu, meskipun setiap orang yang
berada di dalam sanggar itu duduk diatas tikar, namun orang yang
cacat, yang selalu muncul lebih dahulu sebelum Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading, ternyata tetap berdiri disebelah pintu. Sesaat setelah
Yang Mulia Panembahan itu duduk dan memandang setiap orang yang
hadir, maka mulailah ia berkata “Pembicaraan ini adalah pembicaraan
yang sangat khusus” Orang-orang yang ada di dalam sanggar, yang
namanya telah disebut di pendapa itupun menjadi semakin bersungguh-
sungguh. Mereka mendengarkan dengan saksama, apa yang akan dikatakan
oleh Panembahan Wukir Gading itu. “Kita akan membicarakan tugas yang
harus kalian lakukan segera berkata Yang Mulia “Aku sudah memberikan
keterangan terperinci kepada Sanggit Raina. Biar lah ia menjelaskan
kepada kalian apa yang harus kalian lakukan” Semua orang
mengangguk-angguk kecil. Mereka tidak terkejut lagi. Sudah terbiasa
bahwa segalanya diserahkan kepada Sanggit Raina, meskipun ia
bukannya murid yang tertua. “Katakan kepada mereka apa yang harus
mereka lakukan” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading kepada
Sanggit Raina. Sanggit Raina mengangguk hormat. Kemudian katanya
“Terima kasih atas kepercayaan Yang Mulia” “Lakukanlah” sahut Yang
Mula Panembahan Wukir Gading. Sanggit Raina bergeser setapak.
Kemudian katanya “Kita akan melakukan tugas penting. Besok, sebelum
matahari terbit, kalian harus sudah, siap dengan kuda kalian, dengan
senjata kafan dan dengan segenap tekad dan keberanian. Tugas kita
kali ini cukup berat. Kita akan berangkat tepat pada saat matahari
terbit. Kita akan berpencar dan berkumpul di dekat sendang Gambir.
Kita beristirahat sebentar, kemudian kita akan memasuki Kota Raja
menjelang malam. Kita akan mengadakan suatu pertemuan dengan
seseorang,. Besok adalah saat yang paling tepat” Tidak seorangpun
yang bertanya. Suasananya memang berbeda dengan saat pertemuan di
pendapa. Orang-orang yang hadir hanya menundukkan kepalanya
mendengar perintah yang keluar dari mulut Sanggit Raina. Tidak ada
yang bertanya, apalagi mengemukakan pendapatnya. Jlithengpun
termangu-mangu. Tetapi iapun tidak ingin membuat persoalan tersendir
i dengan orang yang bernama Sanggit Raina itu, sehingga karena itu,
maka iiapun tidak bertanya pula. “Sekarang kalian boleh meninggalkan
ruangan ini” berkata Sanggit Raina kemudian. Jlitheng terkejut.
Diluar sadarnya ia memandang Rahu. Namun agaknya tidak ada kesan
apapun di wajah Rahu. Demikian pula pada wajah orang-orang lain yang
berada di sanggar itu. “Apakah artinya pembicaraan penting untuk
melaksanakan tugas besar ini. Siapakah yang akan berangkat dan
siapakah yang akan memimpin, kelompok demi kelompok atau jika tidak,
maka orang-orang laini yang tidak hadir di sini akan menerima
perintah dari siapa?“ pertanyaan itu bergejolak di hati Jlitheng.
Namun ia. tidak mengucapkannya. Meskipun dengan demikian dadanya
menjadi sesak karenanya. Seorang demi seorang, mereka yang berada di
dalam bilik itupun kemudian bangkit dan melangkah keluar lewat pintu
yang lain dari pintu yamg dipergunakan oleh Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading. Sementara itu, orang yang cacat itu masih berdiri
disisi pintu, dan bersama Sanggit Raina dan puteranya, maka Yang
Mulia itu masih tinggal di sanggarnya. “Hanya itukah perintahnya?“
bertanya Jlitheng kepada Rahu. Setelah mereka berada diluar Sanggar.
“Ya” jawab Rahu. ”Persoalannya penting yang manakah yang dapat
dibicarakan dan dapat diurai bersama Untuk nienghadapi tugas itu?
bertanya Jlitheng pula. “Apa yang perlu dibicarakan?“ “Perintah
sudah jatuh Perintah itu mudah jelas” desis Rahu. “Hanya bersiap
bersama kuda masing-masing menjelang matahari terbit” desak
Jlitheng. “Bukankah itu sudah jelas?“ jawab Rahu. Jlitheng mengumpat
dengan geramnya, Meskipun tidak terlalu keras tetapi terasa betapa
hatinya bergejolak. Kalian benar-benar patung-patung yamg tidak
dapat menyatakan sikap pribadi” geramJlitheng. “Apakah kau juga
berbuat demikian?“ bertanya Rahu. Sekali lagi J litheng mengumpat.
Katanya “Aku orang baru disini Aku masih perlu melihat suasana dan
keadaan” ”Alasan yang paling bagus. Tetapi jangan kau pikirkan lagi.
Bagiku lebih senang untuk tidak usah memikirkannya. Biarlah orang
lain melakukannya, memperhitungkan dan mempertimbangkan. Kita
tinggal melaksanakannya” jawab Rahu. Tetapi mungkin diontara kita
ada yang dapat mengajukan pikiran yang lebih baik dari yang mereka
rencanakan” bantah Jlitheng. “Itu tidak mungkin. Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading. Sanggit Raina dan anak muda putera Yang
Mulia itu tentu sudah mampu memikirkan dan merencanakan segala
sesuatunya lebih baik dari kita. Mereka mempunyai lebih banyak bahan
dari kita, mereka mempunyai lebih banyak pengalaman dan mereka
mempunyai ilmu yang tebiih tinggi dari kita” “Sikapmu adalah sikap
seorang budak. Ketika aku berada di pendapa aku merasa agak lapang
dada, karena beberapa orang diantara para murid di padepokan ini
dapat menyatakan pikirannya. Tetapi ternyata pada saat yang gawat,
kalian hanya dapat menunduk dan mengangguk” geram Jlitheng. Rahu
tertawa. Katanya “Sudahlah. Jangan terlalu bersungguh-sungguh. Kau
akan cepat menjadi tua” “Kau gila” Rahu masih tertawa. Tetapi ia t
idak berkata apapun juga. Keduanyapun kemudian kembali ke dalam
bilik mereka. Ketika mereka, melihat orang yang disebut kancil itu,
mereka sama sekali tidak memghiraukannya, sementara orang itupun
justru berpaling kearah lain. Demikianlah, Jlitheng justru menjadi
semakin gelisah di dalam biliknya. Pertanyaannya ternyata tidak
terjawab. Pertemuan itu t idak memberikan apa-apa baginya, selain
perintah yang sangat menjengkelkan. “Apakah mungkin aku akan
terjebak ke dalam tugas-tugas yang tidak ada hubungannya dengan
Daruwerdi dan pusaka itu?“ pertanyaan itu selalu bergelut di dalam
hatinya. Tetapi Jlitheng tklak ingin melepaskan kesempatan yang
sudah dicapainya dengan susah payah, memasuki sarang Serigala yang
bernama Padepokan Sanggar Gading itu. Seandainya ia harus
mengorbankan harga dirinya dengan melakukan t indakan yang barangkal
bertentangan dengan nuraninya, namun masih dalam batas-batas yang
dapat dilakukannya, maka ia akan melakukannya meskipun dengan tidak
sepenuh hati. “Tetapi j ika aku harus mengorbankan kemanusiaan, tata
hubungan antara sesama dalam pengertian yang mendalam, maka aku
tentu akan berkeberatan, meskipun akan dapat berakibat gawat”
berkata Jlitheng didatamhatinya. Dalam pada ku, Rahupun nampaknya
sedang merenungi dirinya sendiri. Meskipun tidak begitu jelas, namun
Jlithengpun dapat melihat, bahwa ada juga semacam kegelisahan
diihatinya. Keduanya ternyata tidak banyak berbicara lagi. Meskipun
ada juga semacam kecurigaan, namun akhirnya Jlitheng sempat juga
memejamkan matanya, ”Jika ia berniat jahat, aku tentu sudah melihat
tanda- tandanya” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Tetapi Jlitheng
tidak dapat tidur terlalui lama. Ia terbangun sebelum ayam jantan
berkokok di akhir malam, Ketika ia bangkit, maka dilihatnya Rahu
masih tidur nyenyak. Sejenak Jlitheng termangu-mangu. Tiba-tiba saja
ia selalu dibayangi oleh pesan Rahu, agar ia tidak terlalu banyak
berada diuar bilik. Karena itu, ia menjadi ragu-ragu untuk ke
pakiwan. Dengan demikian, maka Jlitheng itupun menunggu dengan kesal
sampai saatnya Rahu bangun. Tetapi akhirnya ia tidak sabar lagi.
Dengan sengaja ia mendesak pembar ingannya dengan lututnya sehingga
berderak membentur dinding meskipun tidak terlalu keras. Ternyata
Rahu cukup tangkas dan berpendengaran tajam. Tiba-tiba saja ia sudah
duduk di bibir pembaringannya suap menghadapi segala kemungkinan.
“Kau mengejutkan aku” geram Rahu “Bukankah masih terlalu malam untuk
bangun?“ “Tidak” jawab Jlitheng “sebentar lagi akan terdengar kokok
ayam. Kita harus bersiap sebelum matahari terbit” “Matahari masih
lama terbit” “Tidak“ bantah Jlitheng. Rahu bangkit sambil
menggeliat. Dengan nada dalam ia bergumam “Ternyata kau adalah
seorang penakut. Bukankah maksudmu agar aku mengantarmu ke pakiwan?
Disitu tidak ada hantu. Pergilah sendir i” “Aku sobek bibirmu” geram
Jliltiheng “Tetapi sebaiknya kita pergi ke pakiwan sekarang. Kita
bersiap palng awal dan kita akan mendapat pujian dari Sanggit Raina”
Rahu menarik nafas sambil berdesis “Marilah. Meskipun aku masih
malas” Keduanya kemudian keluar dari biliknya. Mereka melhat orang
bertubuh raksasa tidur disebeiah pintu hanya beralaskan sehelai
tikar yang tidak cukup melambani panjang badannya. “Kenapa ia tidur
disitu?“ bertanya Jlitheng. “Itu adalah kegemarannya. Tidak ada
orang yang menyuruhnya berbuat demikian. Sementara kancil itu merasa
lebih hangat tidur di dalam amben beralaskan tikar rangkap empat”
Jlitheng berpaling sejenak. Disudut sebuah ruang yang luas ia
melihat orang itu tidak sedang tidur. Ketika mereka turun ke
halaman, maka Jlithengpum berkata “Kenapa aku tidak menghubungi
Cempaka untuk mengetahui, apakah yang akan kita lakukan sekarang”
Rahu tersenyum. Katanya “Memang mungkin iapun mengetahui. Tetapi ia
tidak akan mengatakan apapun juga kepadamu” “Kenapa?“ tanya
Jlitheng. “Kau seperti kanak-kanak. Kau terlalu, banyak bertanya”
Jlitheng menggeram. Tetapi ia tidak bertanya. Ia memang menyadari
bahwa orang-orang Sanggar Gading t idak akan senang mendengar
pertanyaan yang terlalu banyak, yang menyangkut rencana yang mungkin
masih dirahasiakan. Dalam pada itu, Rahu seolah-olah mengetahui
perasaan Jlitheng sehingga tiba-tiba saja ia berkata “Rahasia yang
mereka simpan tidak boleh diketahui oleh siapapun. Jika ada diantara
kita yang berkhianat, maka segala rencana itu akan gagal. Bahkan
mungkin akan dapat jatuh korban yang tidak terduga-duga. “Aku tahu”
potong Jlitheng “Kau tidak usah mengajari aku” “O“ Rahu
mengangguk-angguk “J ika demikian seharusnya kau diam saja” “Ya. Ya”
geram Keduanya tidak berbicara lagi. Apalagi ketika mereka melihat
beberapa orang telah bangun pula. Demikianlah, persiapan di Sanggar
Gadang itu ber langsung tanpa kesan yang menarik perhatian. Ternyata
Jlitheng melihat betapa orang Sanggar Gading telah terlalu biasa
dengan tugas-tugasnya, sehingga segalanya terjalan dengan cepat dan
wajar. “Kita makan pagi” desis Rahu ketika keduanya telah bersiap.
“Jlitheng yang belum tahu apa yang harus dilakukan, hanya mengikut i
saja, ketika Rahu pergi ke dapur. Ternyata bahwa di dapur itu telah
berkumpul beberapa orang yang akan berangkat bersama mereka menuju
ketugas yang masih belum jelas bagi Jlijtheng. Nrangsarimpat yang
melihat kedatangan Jlitheng segera menyambutnya sambil tertawa.
Katanya “Marilah. Makanlah sekenyang-kenyangnya. Mungkin kita tidak
akan makan apapun juga sampai malam. Bahkan mungkin sampai saatnya,
kita melakukan tugas kita yang sangat penting itu” “Tugas apa?“
tiba-tiba saja Jlitheng bertanya. Terasa Rahu menggamit lambungnya.
Namuin kata-kata itu sudah diucapkannya Nrangsarimpat memandang
Jlitheng dengan heran. Dengan nada datar ia berkata “Apakah aku
tidak salah dengar. Kau masih bertanya tentang tugas itu“ “Tidak“
Jlitheng memotong “begitu saja kata-kata itu meloncat dari bibirku.
Aku tidak bermaksud bertanya. Maksudku, kau tidak usah menyebutnya.
Aku sudah tahu” Nrangsarimpat tertawa. Katanya “Bagus. Makanlah”
Jlithengpun kemudian duduk disebelah amben besar bersama-sama dengan
orang-orang yang sedang makan. Iapun makan seperti yang dilakukan
olah orang Sanggar Gading. Sejenak kemudian, maka terdengar suara
isyarat di halaman depan, Sebuah kentongan kecil dalam nada dara
muluk. “Kita harus bersiap” desis Rahu. Orang-orang yang berada di
dapur itupun kemudian satu demi satu melangkah keluar. Mereka
mempersiapkan diri dengan senjata-senjata masing-masing. Sementara
Jlitheng telah menyandang pedang tipisnya pula. meskipun dengan
pertanyaan yang bergelut dihatinya “Untuk apa aku membawa pedang
ini? Apakah aku akan sampai kesasaran yang sebenarnya?“ Ketika
kemudian terdengar suara kentongan yang kedua dalam irama yang datar
mendekati irama titir. maka orang- orang yang telah ditentukan
itupun segera berkumpul di halaman. Masing-masing telah menuntun
kudanya dan segala perbekalan yang diper lukan. Sanggit Raina dan
Yang Mulia Panembahan Wukir Gadang telah berada di tangga pendapa
padepokan itu. Ternyata bahwa Yang Mulia Panembahan tidak ikut dalam
tugas yang beberapa kali mereka sebut sebagai tugas yang pentang
itu. “Sanggit Raina akan memimpin kalian” berkata Yang Muilia
“lakukanlah perintahnya seperti kalian melakukan per intahku. Kali
ini kalian benar-benar akan memikul tugas yang agak lain dari
tugas-tugas kalian sebelumnya, karena tugas kalian kali ini akan
menyangkut tugas kalian bagi hari depan” Tidak banyak pesan-pesan
yang diberikan. Sejenak kemudian Sanggit Rainalah yang memegang
pimpinan. Katanya “Kita akan berangkat. Seperti yang aku katakan,
kita akan berpencar. Kita akan berkumpul di dekat Sendang Gambir,
sebelum kita memasuki Kota Raja. Siapa yang terlambat akan kita
tinggalkan” Tidak ada perintah lain. Sejenak kemudian Sanggit Raina
itupun minta diri kepada Yang Mulia Panembahan serta mohon restu
bagi semua orang yang ikut dalamperjalanan itu. Demikian Sanggit
Raina meloncat ke punggung kudanya setelah ia berada di depan regol,
maka yang lainpun telah berloncatan pula. Tanpa aba-aba apapun juga,
maka iring- iringan, itupun kemudian meninggalkan padepokan Sanggar
Gading yang aneh itu. “Ternyata yang ikut dalam iring- iringan ini
lebih banyak dari yang kemar in berada di Sanggar” desis Jlitheng.
“Ya. Nrangsarimpat membawa seorang sahabat paling dekatnya.
Sementara yang lain ada pula yang mengajak adiknya yang juga tinggal
di padepokan ini. Tetapi kelompok ini dapat dipertanggung-jawabkan.
Yang pergi bersama orang- orang yang tidak disebut namanya, atau
yang kemarin berada di sanggar, tentu sudah mendapat ijin dari
Sanggit Raina” jawab Rahu. Jlitheng rasa-rasanya menjadi semakin
bingung dengan susunan dan urut-urutan kepemimpinan di padepokan
Sanggar Gading ini. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. “Kita
akan mulai berpencar dimana?“ bertanya Jlitheng. “Di seberang padang
kematian. Kita akan memilih jalan kita masing-masing. Kita akan
diber i kebebasan untuk melalui jalan yang manapun juga” berkata
Rahu. “Kita dapat berpencar dalam kelompok-kelompok kecil atau
seorang demi seorang” bertanya Jlitheng. “Kita dapat berdua, atau
paling banyak bertiga” Rahu berhenti sebentar, lalu iapun bertanya
“Kau akar pergi bersamaku atau bersama Cempaka?“ “Tidak ada bedanya.
Hanya kawan dalam perjalanan. Kaupun tidak apa. asal kau tidak
melakukan perbuatan tercela disepanjang jalan” jawab Jlitheng. Rahu
tertawa. Tetapi iapun berkata “Kau tamu Cempaka disini. Seharusnya
kau selalu dekat dengan orang itu” Jlitheng memandang Rahu dengan
tajamnya. Kemudian katanya “Jangankan kira aku tidak tahu. Cempaka
hampir tidak sempat menghiraukan aku. Dan ia sudah memerintahkan
kepadamu untuk selalu mengawasi aku. Karena itu, kau tidak perlu
berbicara lagi tentang Cempaka dalam hubunganmu dengan aku” Rahu
masih tertawa Katanya “Penggraitamu benar-benar tajam. Kau menyadari
bahwa aku adalah mata dan telinga Cempaka. He, jika demikian kecur
igaanku kepadamu sangat berbahaya bagimu” “Sama sekali tidak. Aku
dapat membunuhmu. Bahkan membunuh Cempaka” jawab Jlitiheng. Rahu
tertawa semakin keras. Beberapa orang telah berpaling kepadanya.
Juga. Sanggit Raina yang berkuasa dipaling depan. Bahkan justru
Nrangsarimpat mendekati Rahu sambil bertanya “Apa yang lucu, atau
apa yang salah?” Rahu masih tertawa. Jawabnya “Bantaradi ternyata
seorang pengecut. Ia sangat takut kepada perempuan yang bakal jadi
isterinya” Nramgsar impatpun tertawa. Tetapi ia masih juga mengumpat
disela-sela tertawanya “Anak demit. Aku kira kalian berbicara
tentang apa” Ketika Nrangsarimpat kembali kepada kawan-kawannya maka
Jlithenglah yang mengumpat ”Kau kira aku sudah mempunyai pasangan?“
“Jadi aku harus menjawab apa? Mengatakan bahwa kau merasa dir imu
tidak dihiraukan lagi oleh Cempaka meskipun orang itu yang
mengundangmu kemari? Atau aku harus menjawab bahwa kau selalu
dibayangi oleh kebingungan tentang tugas kita sekarang ini” Rahupun
bertanya pula. “Kau memang gila” geram Jlitheng. Namun keduanya
tidak berbicara lagi. Mereka sudah mendekati padang yang mereka
sebut padang perburuan, tetapi kadang-kadang juga padang kematian.
Padang yang seolah-olah merupakan tempat yang tidak dijamah oleh
ketentuan dan batasan-batasan tentang hidup dan tata kehidupan
manusia. Siapapun dapat berbuat apa saja menurut kehendak dan
keinginan mereka sendir i meskipun hal itu akan dapat berarti
kesulitan bahkan korban pada pihak lain. Jlitheng menjadi
berdebar-debar. Sekilas teringat olehnya apa yang telah terjadi di
padang itu pada saat ia datang bersama Rahu. Namun selanjutnya ia
tidak melihat lagi orang- orang yang pernah dilukainya di padang
itu. “Apakah mereka kemudian tidak lagi tertolong, atau mereka
berada di tempat yang kebetulan tidak aku lihat di padepokan”
berkata Jlitheng di dalam hatinya. Namun demikian mendesaknya
ingatan itu, sehingga ketika padang itu sudah terbentang
dihadapannya, ia bertanya kepada Rahu “Apa kau tahu, dimaina ketiga
orang yang aku lukai di padang ini?“ “Mereka sedang dalamtataran
penyembuhan” jawab Rahu. “Jadi mereka tidak mati?“ Rahu tidak
menjawab. Tetapi ditatapnya wajah Jlitheng sambil tersenyum,
sehingga Jlitheng tiba-tiba menggeram ”Kau benar-benar anak setan.
Kau telah mengumpulkan satu lagi angka kemenanganmu. Kau bertambah
curiga lagi kepadaku karena pertanyaan itu” Rahu menutup mulutnya.
Kemudian katanya tertahan- tahan “Jika aku tertawa lagi,
Nrangsarimpat akan bertanya lagi kepadaku. Dan aku tidak akan
mempunyai jawaban yang lebih baik dar i jawabanku yang pertama”
Jlitheng tidak menyahut. Terdengar ia mengumpat meskipun tidak
jelas. Iring-ir ingan dar i Sanggar Gading itupun kemudian memasuki
padang yang gersang. Bukan saja dedaunan yang menjadi
kekuning-kuningan, tetapi juga karena di padang itu seolah-olah
beribu j iwa melayang-layang karena kematian mereka yang tidak
wajar, sehingga mereka masih tetap berkeliaran untuk mencari
kesempatan membalas dendam. Kemarahan dan gejolak jiwa mereka itu
menambah padang itu semakin gersang dan bagaikan membara. Tetapi
Sanggit Raina sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tidak mengenal
lagi kuningnya dedaunan. Dan iapun tidak menghiraukan lagi berapa
banyak jiwa yang telah melayang di padang itu. Bahkan orang-orang
tersesat yang sama sekali tidak tahu menahu arti padepokan Sanggar
Gadingpun telah terbunuh pula di padang yang tandus itu.
Demikianlah, maka seperti ir ing-ir ingan untuk mengubur mayat,
orang-orang berkuda itu melintasi padang kematian. Hampir t idak ada
seorangpun yang berbicara diantara mereka. Sebenarnyalah bahwa
betapapun dalamnya, namun terberat pula ingatan tentang
peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami di padang itu. Beberapa
saat lamanya mereka melintasi padang itu. Akhirnya merekapun sampai
pada seberang yang lain. Satu dua orang diantara mereka memalingkan
wajah mereka untuk memandang padang itu dari sisi yang
berseberangan. Namun rnerekapun segera melanjutkan perjalanan mereka
menuju ke tugas mereka yang masih belum dapat mereka ketahui dengan
pasti. Beberapa puluh langkah dari padang, Sanggit Raina berkata
lantang “Kita memilih jalan kita sendir i-sendir i. Aku ingin
mengingatkan sekai lagi, bahwa kita akan berkumpul kembali untuk
satu tugas yang penting, yang mungkin akan membunuh satu dua orang
diantara kita, atau bahkan mungkin kita semuanya. Siapa yang
terlambat akan kita tinggalkan, dan siapa yang ragu-ragu, aku harap
untuk dengan sengaja datang terlambat. Tetapi umur mereka yang
terlambat itupun akan terbatas sampai esok pagi” Sanggit Raina tidak
berbicara terlalu banyak. Dan iapun sama sekali t idak ingin
mendengar sebuaih pertanyaanpun. Karena itu, demikian ia selesai
berbicara maka iapun segera menggerakkan tali kekang kudanya.
Beberapa langkah kudanya bergerak perlahan-lahan. Namun ketika kaki
Sanggit Raina kemudian menyentuh perut kudanya, maka kuda itupun
segera meloncat ber lari. Beberapa orangpun kemudian memacu kudanya
pula. Tetapi masih ada beberapa orang yang maju perlahan-lahan.
Agaknya mereka sedang berbicara satu dengan yang lain, jalan manakah
yang akan mereka tempuh, dan dengan siapakah mereka akan berpencar.
Ternyata Cempaka masih juga menghampiri Jlitheng sambil berkata
“Pergilah bersama Rahu. aku akan menempuh jalan lain sendiri. Aku
akan menyusul kakang Sanggit Raina” Jlitheng termangu-mangu sejenak
Kemudian katanya “Aku datang memenuhi undanganmu. Kau berharap bahwa
aku akan dapat melibatkan dir i dalam tugas yang penting. Tetapi
katakan Cempaka, tugas apa yang sekarang akan kita lakukan?“ “Yang
aku ketahui tidak lebih banyak dari yang kau ketahui. Kau mendengar
keterangan dari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading, dan kemudian
kaupun mendengar keterangan dari kakang Sanggit Raina sebanyak yang
aku dengar” jawab Cempaka. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia
harus menahan hatinya agar tidak terloncat dari mulutnya, apa yang
pernah didengarnya, pembicaraan antara Cempaka dengan Darawerdi.
Jika yang diketahuinya itu, diluar sadarnya terucapkan, maka mungkin
sekali ia akan diseret kembali ke padang kematian oleh beberapa
orang yang masih belum berjarak terlalu jauh dan hidupnyapun akan
diakhir i. Tetapi karena Jlitheng tidak bertanya lebih banyak lagi,
maka Cempakapun kemudian berkata “Kita akan mengetahui dengan pasti,
apa yang akan kita lakukan, j ika kita sudah berkumpul kembali.
Marilah, agar kita tidak terlambat, sehingga kita akan mendapat
hukuman dar i kakang Sanggit. Riana” Jlitheng mengangguk sambil
menjawab “Baiklah. Aku akan menempuh perjalanan ini bersama Rahu,
meskipun bagiku Rahu tidak lebih dari momongan” Cempaka mengerutkan
keningnya. Dipandanginya wajah Rahu yang nampak menegang. Tetapi
Rahu tidak menjawab. Cempakapun tidak bertanya sesuatu. lapun
kemudian meninggalkan Rahu dan Jlitheng berdua. Sejenak kemudian
iapun sudah berpacu searah dengan jalan yang ditempuh oleh Sanggit
Raina. “Kau memang bodoh sekali” desis Rahu “Kau kira Cempaka senang
mendengar kelakarmu itu? Aku adalah orang yang mendapat
kepercayaannya. Gurauanmu dapat menyinggung perasaannya” Tetapi
Jlitheng menjawab “Aku talak peduli. Jika ia tersinggung dan marah,
aku bunuh ia di padang kematian yang masih belum terlalu jauh kita t
inggalkan” “Ingat” berkata Rahu kemudian “J ika kau selalu memaksa
dirimu untuk bersikap kasar dan sombong, maka pada suatu saat kau
akan benar-benar menjadi seorang yang kasar dan sombong. Seandainya
pada suatu saat kau meninggalkan padepokan ini, meskipun hal itu
akan suit sekali kau lakukan, maka kau akan menjadi orang yang
sangat asing dipergaulan yang sewajarnya” Jlitheng memandang Rahu
dengan kerut di dahinya. Katanya “Kau mau menggurui aku? Semuanya
itu tidak perlu kau katakan. Aku sudah tahu bagimana mengatur dir
iku sendiri“ “Tetapi aku bukan orang yang terlalu bodoh seperti yang
kau sangka. Jika yang kau lakukan itu sekedar ingin menyesuaikan
diri dengan sifat orang-orang Sanggar Gading, maka kau tidak per lu
berbuat demikian jika kita hanya berdua saja” “Kenapa? bertanya
Jlitheng. “Aku sudah mengetahui sifat-sifatmu yang sebenarnya sejak
kau melibatkan diri dalam perkelahian yang terjadi di perjalanan
itu. Kau telah dengan sengaja melepaskan lawanmu dan tidak berusaha
mengejarnya. Kaupun tidak membunuh di padang kematian itu. seperti
yang kau lakukan di padukuhan” “Cukup” bentak Jlitheng “Sebenarnya
aku Ingin membunuhmu agar kau tidak mengigau saja seperti itu
sehingga aku muak mendengarnya,. Berapa kait hal itu kau katakan.
He, Rahu. Apakah kau bermaksud memerasku?“ “Apa yang dapat aku peras
dari padamu? Sudahlah mar ilah kita menuju, ke tempat yang sudah
ditentukan. Sebenarnya jarak itu tidak terlalu jauh, sehingga tidak
akan memer lukan waktu yang terlalu panjang. Kita masih mempunyai
sisa waktu yang cukup banyak” berkata Rahu kemudian Jlitheng menar
ik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah ia memang tidak dapat
berpura-pura terlalu lama. Ia menjadi lelah dan selalu dicengkam
oleh ketegangan jiwa. Namun untuk berbuat wajar, seperti yang selalu
dikatakan oleh Rahu itu, iapun merasa cemas. Mungkin Rahu sengaja
memancing agar ia melihat sifat-sifatnya yang sebenarnya sebelum
Rahu mengambil sikap yang pasti. Karena itu, maka Jlitheng bertekad
untuk tetap berbuat seperti yang dilakukannya. Ia sudah terlalu
sering berpura- pura. Di padukuhannyapun ia berpura-pura menjadi
seorang yang bodoh dan dungu, meskipun kadang-kadang ia menunjukkan
juga sikap yang lebih baik, seperti saat-saat ia bersama orang tua
di bukit itu, berusaha menyalurkan air ke sungai yang akan dapat
mengairi sebagian dari tanah persawahan di padukuhannya. Keduanyapun
kemudian berkuda lebih cepat lagi. Beberapa orang kawan mereka telah
menjadi semakin jauh. Namun diantara mereka yang berkuda di depan,
ada juga beberapa orang yang nampaknya tidak tergesa-gesa. “Aku akan
singgah sebentar ke rumah“ berkata Rahu “karena tugas ini menurut
Sanggit Raina adalah tugas yang berat yang mungkin akan dapat
membunuh sebagian dari kita, bahkan mungkin kita semuanya, maka aku
akan meninggalkan pesan kepada adikku” “Apakah kau sudah bermimpi
buruk?“ bertanya Jlitheng. Rahu tertawa. Katanya “Aku sering
bermimpi buruk. Aku kira semua orang-orang Sanggar Gading selalu
bermimpi buruk, seperti juga orang-orang dari Kendali Putih, orang-
orang Pusparuri dan orang-orang dari Gunung Kunir. Meskipun
kadang-kadang mimpi kami, orang-orang Sanggar Gading masih juga
diwarnai dengan cita-cita yang jauh lebih baik dan
padepokan-padepokan yang lain” Jlitheng tidak menjawab lagi. Mereka
kemudian berkuda semakin cepat menuju ke sebuah padukuhan yang
memiliki ciri yang tidak jauh berbeda dengan Sanggar Gading.
Meskipun ilmu orang-orang Sanggar Gading tentu jauh lebih baik dar i
orang-orang padukuhan itu, namun kekasaran dan sifat-sifat
kediriannya mempunyai banyak persamaan. Meskipun Jlitheng bcrusana
uiniluk tidak terlalu banyak bertanya, namun ada juga satu dua
pertanyaan yang dilontarkannya. Bukan saja tentang padukuham yang
aneh itu, tetapi juga tentang sifat-sifat orang Sanggar Gading.
Beberapa saat kemudian, kedua orang itupun menjadi semakin dekat
dengan padukuhan tempat tinggal Rahu. Padukuhan yang memiliki
ciri-ciri yang sulit dimengerti. Ketika mereka memasuki daerah
persawahan padukuhan itu, maka mereka melihat orang-orang yang
bekerja di sawah tanpa menghiraukan siapapun yang lewat di bulak.
“Tidak hanya padukuhanku saja yang memiliki sifat aneh” berkata Rahu
kemudian. “Aku sudah tahu. Tentu satu dua padukuhan yang lain yang
berdekatan mempunyai beberapa persamaan meskipun juga beberapa
perbedaan” sahut Jlitheng. “Ya. Agaknya kau mengerti juga” desis
Rahu kemudian. Jlitheng tidak menyahut. Tetapi dahinya berkerut
ketika ia melihat dua orang yang, sedang bertengkar tidak terlalu
jauh dari jalan yang mereka lalui. “Apa lagi yang mereka lakukan?“
tiba-tiba saja Jlitheng menggeram. “Itu urusan mereka?” desis Rahu.
Jlitheng manarik nafas dalam-dalam Tetapi ia tidak dapat tinggal
diam ketika pertengkaran itu menjadi semakin memuncak. Bahkan
tiba-tiba yang seorang telah memukul yang lain, sehingga orang yang
dipukulnya itu jatuh terjerembab. “Gila“ geram Jlitheng “agaknya kau
yang membuat padukuhan ini menjadi gila” “Kenapa aku?“ bertanya
Rahu. “Kau orang Sanggar Gading. Kau ajari tetangga- tetanggamu
hidup dalamsuasana gila ini” Rahu tertawa, Katanya “Kau jangan
menganggap aku dapat berbuat demikian. Aku jarang sekali, berada
dipadukuhan. Bagaimana mungkin aku dapat melakukannya” Jlitheng
menggereitakkan giginya. Ia melihat sebuah perkelahian yang t idak
seimbang. Tetapi orang yang lebih kuat itu justru berbuat sesuka
hatinya, sementara orang-orang lain bekerja seperti tidak terjadi
sesuatu di dekat mereka. Tetapi Jlitheng tidak tahan lagi. Tiba-tiba
saja ia meloncat dari punggung kudanya. Kemudian iapun berteriak “He
orang- orang gila. Aku adalah orang yang pernah berbuat sesuatu yang
kalian anggap aneh di padukuhan ini. Sekarang akupun akan
melakukannya pula. Kalian tidak usah turut campur. Aku akan memukuli
orang yang menang dalam perkelahian itu nanti. Kedua orang yang
berkelahi itupun berhenti sejenak. Mereka memperhatikan Jlitheng
yang berdiri bertolak pinggang. Demikian pula beberapa orang yang
bekerja di sawah disekitar kedua orang itu berkelahi. Kedua orang
yang berkelahi itu mengerti, bahwa orang itu adalah orang yang
pernah mengalahkan gegedug padukuhannya. Karena itu, bagaimanapun
juga merekapum merasa ngeri melihat orang yang berdiri bertolak
pinggang di pinggir jalan, sementara seorang yang mereka kenal dan
mereka takuti pula, duduk di pungung kudanya. Karena itu, maka
perkelahian itupun telah terhenti. Orang yang menang dan berbuat
sewenang-wenang itupun telah melepaskan korbannya dan mendorongnya
ke dalam lumpur. Namun lawannya yang sudah menjadi sangat lemah itu
masih sempat merangkak menjauh. “Jika perkelahian itu terulang lagi,
kalian akan tahu akibatnya. Akupun dapat membunuh tanpa sebab” desis
Jlitheng. Kedua orang yang berkelahi itupun tidak menjawab. Yang
lainpun kembali ke pekerjaannya, sementara yang telah menjadi
bengkak-bengkak wajahnya dengan susah payah meninggalkan arena itu.
“Kegilaanmu itu memang harus dihentikan” berkata Rahu kepada
Jlitheng setelah orang-orang yang berkelahi itu beranjak. “Apa
maksudmui?“ bertanya Jlitheng. “Kau telah terlalu banyak membuat
kesalahan disini Karena itu kesalahanmu harus diakhiri. Jika kau
tetap keras kepala, maka kau akan dapat aku bunuh disini, tidak di
padang kematian” geram Rahu. Jlitheng mengerutkan keningnya.
Nampaknya Rahu bersungguh-sungguh. Ia tidak melihat senyum di bibir
orang itu. Bahkan yang nampak adalah kerut-merut di dahinya. Tetapi
Jlitheng justru mcnjawab “Kenapa tidak kau lakukan sekarang? Aku
sudah gatal untuk sekali-kali mencoba, apakah kau tidak hanya pandai
berbicara” Rahu tidak menjawab. Tetapi iapun segera menyentuh perut
kudanya dengan tumitnya. Jlitheng menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi
iapun segera meloncat ke punggung kudanya mengikuti Rahu yang berada
beberapa langkah di depannya. Sambil menyusul Jlitheng menggeram
“Kau jangan banyak tingkah Rahu. Apa maumu sebenarnya. Aku memang
sudah menduga, bahwa kau sedang menunggu saat yang tepat untuk
berbuat sesuatu, yang tentu akan berarti suatu pengkhianatan. Tetapi
jangan kau kira bahwa aku takut menghadapi pengkhianatanmu itu” Rahu
tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba kudanya berpacu semakin cepat,
sehingga Jlithengpun diluar sadarnya telah mengikut inya pula
mempercepat langkah kudanya. Tetapi keduanya tidak berbicara apapun
lagi. Kuda mereka menjadi semakin cepat berlari menuju ke rumah Rahu
di padukuhan yang aneh itu. Jlitheng yang menjadi berdebar-debar
melihat sikap Rahu itupun berusaha untuk berkuda disamping Rahu
sambil berkata “O, aku tahu. Kau tentu ingin segera sampai ke
rumahmu. Kau ingin berkelahi berpasangan dengan adikmu. Baiklah Aku
tidak takut melawan siapapun juga, dan meskipun kau mengerahkan
semua gegedug di padukuhan ini” “Jangan banyak bicara” geram Rahu
kemudian “Kau benar- benar memuakkan. Aku sudah berulang kali
memberimu peringatan. Di hadapanku kau jangan selalu berpura-pura.
Aku menjadi jemu dan muak. Karena itu aku telah mengambil keputusan
lain tentang dir imu “ “Persetan“ Jlitheng hampir berteriak
“berhentilah. Kita menentukan siapa yang lebih baik diantara kita”
Rahu sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia berkuda terus memasuki
padukuhannya. Sementara Jlitheng masih mengikut inya meskipun sambil
mengumpat-umpat. “Rahu, apakah maksudmu sebenarnya? Jika kau
menantang aku berkelahi melawan kau berdua dengan adikmu,
katakanlah” geram Jlitheng. Tetapi Rahu tidak menjawab. Ia justru
berpacu lebih cepat, sementara Jlitheng mengikutinya terus. Akhirnya
keduanya memasuki halaman rumah Rahu di ujung padukuhan. Rumah yang
terhitung bersih dan rapi. Halamannyapun nampak bersih ditanami
dengan jenis-jenis tanaman yang sejuk. “Ikatkan kudamu” berkata Rahu
“disini kita mendapat tempat untuk berbuat apa saja tanpa ada yang
mengganggu” Wajah Jlitheng menjadi tegang. “Sudah waktunya bagiku
untuk mengatakan kepadamu, bahwa kau sangat memuakkan bagiku. Kau
memang perlu sedikit petunjuk, bagaimana kau harus bersikap diantara
orang sanggar Gading. Bukan sekedar menunjukkan kekasaran dan
keliaran yang gila” geramRahu. Jlitheng menjadi semakin tegang.
Namun iapun kemudian meloncat turun pula dari kudanya seperti juga
Rahu. Keduanya kemudian mengikat kuda masing-masing di tepi halaman
itu. Tiba-tiba saja Rahu berteriak “Semi. Semi” Seorang laki-laki
yang bertubuh raksasa keluar dari rumah itu lewat pintu samping.
Kemudian berdir i dengan ragu-ragu memandang sikap kakaknya dan
sikap Jlitheng yang dikenalnya bernama Bantaradi “Kau menjadi saksi“
kata Rahu kemudian “Aku akan mengajari anak ini untuk berlaku
sedikit sopan kepadaku” “Gila“ geram Jlitheng “Aku akan membunuhmu”
Meskipun orang-orang padukuhan ini tidak akan menghiraukan kita,
tetapi aku tantang kau berkelahi di longkangan di belakang seketeng”
“Persetan“ jawab Jlitheng dimanapun aku dapat membunuhmu” Rahupun
kemudian berjalan mendahului Jlitheng memasuki longkangan lewat
seketeng kiri, sambil berkata kepada adiknya “Kau, jangan mengganggu
kami, apapun yang terjadi. Aku hanya mempunyai sedikit waktu sebelum
aku harus berkumpul bersama kawan-kawan dari Sanggar Gading, agar
aku tidak dianggap bersalah oleh Sanggit Raina” “Jangan banyak
bicara“ Jlithenglah yang memotong. Rahu tidak menjawab. Tetapi
Jlitheng menjadi termangu- mangu ketika ia melihat Rahu melepaskan
pedangnya, dan melemparkannya kepada adiknya. Kemudian iapun
melepaskan beberapa pisau kecilnya yang terselip di ikat
pinggangnya, yang terakhir Rahu melepaskan, seuntai rantai yang
membelit pinggangnya dengan bandul sebuah bola besi kecil yang
bergerigi sebesar buah salak. “Senjata-senjata ini dapat berbahaya
bagimu. Kadang- kadang aku tidak sengaja telah .mempergunakannya”
berkata Rahu. “Kau takut aku membunuhmu jika kita bertemu dengan
senjata? bertanya Jlitheng. “Jika kau akan mempergunakan pedang
tipismu pergunakanlah. Atau barangkali kau mempunyai senjata lain?“
“Persetan“ sahut Jlitheng “Aku tidak akan mempergunakan senjataku.
Aku dapat membunuhmu, tanpa senjata. Tetapi aku tidak akan
terpancing menyerahkan senjataku kepada orang lain. Rahu menarik
nafas panjang. Katanya “Bagus. Apapun yang akan kau lakukan,
lakukanlah. Aku adalah Iblis bertangan Petir yang dapat
memperlakukan apa saja terhadap seseorang dengan tanganku” Jlitheng
termangut-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia meraba ikat pinggangnya.
Iapun mempunyai pisau-pisau kecil atau lebih tepat dapat disebut
semacam paser-paser kecil yang dapat dipergunakan untuk bertempur
dengan jarak jang lebih panjang. Tetapi agaknya ia benar-benar tidak
akan mempergunakan senjatanya. Meskipun demikian, Jlitheng
menggantungkan senjatanya lebih tinggi, la sadar bahwa ia akan
bertempur dengan tangannya, beradu kekuatan ketrampilan dan
kecepatan bergerak. Karena itu, maka pedangnya tidak boleh
mengganggunya. “Apakah kau sudah siap?“ t iba-tiba saja Rahu
bertanya. “Aku sudah siap sejak aku memasuki padang kematian, di
saat aku menuju ke Sanggar Gading“ sahut Jlitheng. “Baiklah.
Pandanglah langit dan tataplah bumi. Mungkin kau tidak akan sempat
memperhatikannya lagi. Jlitheng menggeram. Tetapi ia terpaksa
menilai lawannya dengan hati-hati. la pernah melihat Rahu bertempur
sebagai pengiring Cempaka di bulak panjang, saat ia melibatkan diri
tanpa diminta, justru karena ia ingin berhubungan dengan Cempaka,
Kemudian Rahupun telah melibat, bagaimana ia mengalahkan beberapa
orang Sanggar Gading di padang perburuan itu. Dengan demikian, jika
Rahu itu kemudian menantangnya, maka ia tentu mempunyai penilaian
tersendiri atas kemampuannya. “Mungkin ia akan memanfaatkan
kemampuan adiknya” berkata Jlitheng di dalam hati. Bahkan kemudian
“Atau secara sandi ia menyuruh adiknya melakukannya dengan member
ikan senjata-senjatanya kepada orang bertubuh raksasa itu” Tetapi
Jlitheng sudah bersiap menghadapi apapun juga, Jika terjadi sesuatu,
adalah akibat yang wajar dari perjuangannya memasuki Sanggar Gading
yang memang berbahaya. Sejak semula ia sudah diperingatkan, bahwa
memasuki Sanggar Gading sama artinya dengan memasuki sarang serigala
yang buas dan licik. Sejenak Jlitheng memperhatikan lawannya. Ketika
Rahu mulai bergeser setapak, maka iapun bergeser pula. Tetapi Rahu
tidak menunggunya lagi. Tiba-tiba saja ia lelah meloncat menerkam.
Geraknya cepat dan mantap. Sehingga jantung Jlithengpun berdesir
karenanya. Namun Jlithengpun mampu bergerak cepat pula. Ia sempat
menghindar selangkah kesamping. Bahkah dengan cepatnya pula, ia
telah menyerang Rahu dengan kakinya. Tetapi Rahu cepat berkisar.
Serangan Jlithengpun t idak menyentuhnya pula. Sejenak kemudian maka
kedua orang itu telah terlibat dalam perkelahian yang sengit.
Keduanya memiliki kemampuan bertempur yang tinggi, sehingga benturan
kekuatan yang terjadi apabila salah seorang dar i kedua orang itu
tidak sempat mengelakkan serangan, seakan-akan telah menggetarkan
udara diseputarnya. Bahkan dinding rumah Rahu itupun seolah-olah
telah terguncang. Jlitheng yang sebenarnya tidak mempunyai niat yang
mendalam untuk berkelahi melawan Rahu yang dianggapnya mempunyai
sifat yang disebut oleh seribu macam pertanyaan itu, terpaksa
mengerahkan segenap kemampuannya, karena Rahu semakin lama telah
semakin mendesaknya. “Jangan takut bahwa aku akan melibatkan adikku”
berkata Rahu sambil meloncat menyerang. “Persetan. Jika kau ingin
berkelahi berpasangan, lakukanlah” geram Jlitheng. Tetapi dengan
serta merta, Jlitheng harus meloncat surut Serangan Rahu bagaikan
badai. Dalam beberapa saat, Jlitheng harus sudah mandi keringat la
menyadari bahwa ia tidak boleh mengerahkan segenap kemampuannya
tanpa memperhitungkan waktu. Meskipun Jlithengpun sadar, bahwa waktu
mereka tidak terlalu banyak, karena mereka harus segera berkumpul
sesuai dengan waktu yang diberikan oleh Sanggit Raina. Namun dalam
pada itu, Jlitheng mulai dijalari oleh pertanyaan yang semakin rumit
tentang orang yang menyebut dirinya bernama Rahu itu. Ketika ia
sempat melihat kemampuan bertempur orang itu di bulak panjang, pada
saat Rahu itu mengiringi Cempaka, maka ia tidak akan menduga, bahwa
Rahu dalam beberapa saat sudah berhasil mendesaknya. “Orang ini
benar-benar Gila“ desah Jlitheng di dalami hatinya. Sebenarnyalah
bahwa Jlitheng memang sudah berpura-pura dalam hubungannya dengan
orang-orang Sanggar Gading. Tetapi ia t idak mengira, bahwa Rahu
telah benar-benar marah kepadanya, dan menantangnya berkelahi.
Apalagi bahwa ternyata kemampuan orang itu jauh melampaui kemampuan
seperti yang dilihatnya di bulak panjang. Beberapa saat kemudian,
Jlitheng merasa semakin terdesak. Ia sudah mulai mengerahkan tenaga
cadangan yang ada di dalami dirinya. Bahkan ia sudah mulai mendekati
ilmu puncaknya. Namun Rahu benar-benar seorang yang pilih tanding,
yang memiliki kemampuan mengherankan. “Apakah dengan demikian
Cempaka memiliki ilmu yang tidak terkalahkan, apabila Rahu yang
dianggap berada pada tataran dibawahnya memiliki ilmu yang luar
biasa” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Tetapi sebenarnyalah
bahwa. Jlitheng memang belum sampai pada puncak tertinggi dari
ilmunya. Namun ketika Rahu menjadi semakin mendesaknya, maka hampir
diluar sadarnya, maka ilmu Jlithengpun merangkak ke tingkat yang
lebih t inggi, sehingga akhirnya, Jlitheng benar-benar telah berada
pada puncak tertinggi dari ilmunya. Dengan demikian maka yang
terjadi kemudian adalah pertempuran yang dahsyat, melampaui
kedahsyatan pertempuran di padang kematian. Jlitheng yang sudah
berada pada puncak tertinggi dari ilmunya, benar-benar merupakan
seorang anak muda yang luar biasa. Latihan-latihan yang pernah
diakukan pancingan yang pernah didapatkannya tanpa disadarinya untuk
mempercepat gerak kakinya diatas bebatuan sungai, petunjuk-petunjuk
dari orang-orang tua yang pernah dikenalnya, telah membuatnya
menjadi seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tidak ada taranya
Namun ternyata berhadapan dengan Rahu, yang semula tidak terlalu
menarik perhatian Jlitheng itu, ia mulai mengalami kesulitan. “Aku
terlalu meremehkannya“ berkata Jlitheng di dalam hatinya “Mungkin
ada kesengajaan padanya, untuk menunjukkan bahwa kemampuannya tidak
begitu tinggi. Tetapi dengan demikian, maka sikap itu tentu bukannya
tidak mempunyai maksud tertentu” Karena itu, maka Jltlheng harus
menjadi semakin berhati- hati. Selama ia bergauil dengan Rahu, ia
memang telah berpura-pura. Tetapi ia menganggap bahwa Rahu merasa
dirinya berada di bawah tataran anak muda yang diketahuinya bernama
Bantaradi itu. Karena anak muda itu adalah tamu dan tentu diangapnya
memiliki ilmu setingkat dengan Cempaka. Tetapi yang dihadapinya
adalah lain. Rahu semakin lama telah semakin mendesaknya. Hanya
dalam waktu yang terhitung, singkat. Betapapun Jlitheng mengerahkan
kemampuannya pada puncak ilmunya, namun ia tidak dapat mengatasi
desakan kekuatan lawannya. Tiba-tiba saja Jlitheng menjadi gelisah.
Mungkin Rahu mempunyai rencana tersendiri dengan sikapnya. Bahwa
mungkin Rahu benar-benar ingin mencelakainya dengan tujuan yang
tidak diketahuinya. Bahwa Rahu telah melepaskan senjatanya, Jlitheng
memang menjadi berteka-teki. Tetapi agaknya Rahu benar-benar akan
menunjukkan kepadanya, bahwa ia akan dapat membunuhnya tanpa
senjata. Tetapi Jlitheng t idak menyerah pada keadaan. Iapun
kemudaan menghentakkan kemampuannya, menyerang dengan cepat pada
saat Rahu justru berusaha mendesaknya. Sikap itu agaknya tidak
diperhitungkan oleh Rahu. Karena itu maka iapun agak terkejut
karenanya. Dengan demikian, ia tidak sempat menghindari tangan
Jlitheng yang terjulur lurus, dengan hentakkan selangkah maju
langsung mengarah ke dadanya. Tetapi ternyata Rahu berusaha
melindungi dadanya dengan tangannya. Ia menangkis serangan Itu
dengani mengangkat tangan Jlitheng pada lengannya. Dengan demikian
justru lambung Jlitheng telah terbuka, Dengan kuatnya Rahulah
kemudian melangkah maju sambil menghantam lambung. Namun Jlitheng
melihat serangan itu. Dengan serta merta ia menar ik tangannya dan
bergeser selangkah kesamping pada setengah putaran. Dengan demikian,
maka serangan Rahu itu tidak menyentuhnya sama sekali, Dengan
cepatnya, Jlithenglah yang justru kemudian menyerangnya. Selagi Rahu
masih menjulurkan tangannya. Jlitheng mengayunkan kakinya menghantam
lambung. Sekali lagi Rahu tidak menghindar. Tetapi ia menggeser
kakinya selangkah dan menekuk lututnya merendah. Dengan sikunya ia
menangkis serangan kaki Jlitheng yang keras. Benturan yang terjadi
ternyata mengejutkan Jlitheng. Ia telah terdorong surut. Bahkan
hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Pada saat yang demikian,
Rahu memburunya. Sebuah serangan pada dada Jlitheng, telah mendorong
Jlitheng jatuh berguling. Namun dengan tangkasnya ia melent ing
berdiri. Tetapi Rahupun meloncat dengan cepatnya. Demikian Jlitheng
berdiri, Rahu telah menjulurkan tangannya menghantam perut anak muda
itu. Demikian kerasnya, sehingga Jlitheng terbungkuk sambil
berdesis. Rahu tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan sekuat tenaga
ia menekan kepala, Jlitheng dan membenturkannya dengan lututnya.
Tetapi Jlitheng tidak menyerah. Sebelum kepalanya membentur lutut
Rahu ia justru mendorong perut Rahu dengan kepalanya, sehingga Rahu
yang sudah siap mengangkat sebelah kakinya, terdorong jatuh. Tetapi
karena Rahu tidak melepaskan tangannya yang memegangi kepala
Jlitheng maka keduanyapun telah jatuh terguling di tanah. Hampir
berbareng pula keduanya melenting berdiri Adalah kebetulan sekal,
bahwa keduanyapun berbareng telah meloncat menyerang, sehingga
kekuatan keduanya sekal lagi berbenturan. Kedua orang yang memiliki
kemampuan yang tinggi itupun telah terdorong beberapa langkah surut.
Jlithenglah yang terhuyung-huyung. Tetapi ia cepat dapat memperbaiki
keadaannya, sehingga iapun segera bersiap menghadapi segala
kemungkinan. Kedua orang itupun telah berdir i dengan kaki renggang,
sedikit merendah pada lututnya. Tangan merekapun telah bersiap,
menyerang atau menangkis serangan. Pada saat-saat yang demikian,
Jlitheng harus mengakui bahwa Rahu bukannya orang yang dapat
dianggap lemah, meskipun ia mur id yang tidak terlalu dekat dengan
gurunya, Agak berbeda pula kedudukannya dengan Cempaka, apalagi
Sanggit Raina. Bahkan nampaknya Rahu tidak lebih baik kedudukannya
di Sanggar Gading dari Nrangsarimpat. Namun karena Rahu agaknya
bersahabat baik dengan Cempaka, maka setiap kesempatan yang didapat
oleh Cempaka. Rahupun akan dibawanya pula. Dalam pada itu. untuk
beberapa saat kedua orang itu berdiri tegak dengan kesiagaan mereka
menghadapi segala kemungkiinan. Jlitheng yang merasa terdesak, lebih
baik menunggu apa yang akan dilakukan oleh lawannya, sekaligus
mempergunakan kesempatan itu untuk mengatur pernafasannya yang mulai
berdesakan. Adik Rahu yang bertubuh raksasa, yang berdiri di dekat
arena perkelahian itupun menunggu dengan tegangnya. Iapun dapat
menilai bahwa perkelahian itu ternyata seimbang, meskipun Rahu
mempunyai kesempatan lebih baik. Tetapi jika pertempuran itu
berlangsung terus, belum berarti bahwa Rahu akan dapat menang. Masih
banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Namun sampai saat keduanya
berhenti dan berdiri berhadapan dengan tegangnya Rahu telah berbasil
mendesak lawannya. Untuk beberapa saat keduanya masih saling berdiam
dir i. Keduanya tidak bergerak, tidak berbicara dan seolah-olah
keduanya telah menjadi patung yang mati. Ketegangan itu tiba-tiba
dipecahkan oleh suara Rahu “Bantaradi. Kenapa kau tidak menarik
pedangmu membela dirimu dengan senjata, karena tanpa senjata kau
tidak akan mampu berbuat sesuatu atasku. Sudah dapat dipastikan,
bahwa akhir dari perkelahian ini adalah kematianmu” “Jangan banyak
bicara” jawab Jlitheng “lakukanlah apa yang ingin kau lakukan jika
kau mampu. Bahkan jika kau ingin mempergunakan senjatamu,
pergunakanlah” “Jangan berpura-pura pula dalam keadaan yang gawat
ini. Kau harus menyadari, bahwa kau bukan orang yang memiliki
keajaiban sehingga tidak akan dapat terkalahkan” berkata Rahu dengan
garangnya. “Aku tidak merasa bahwa aku tidak dapat dikalahkan” jawab
Jlitheng “Tetapi aku akan mempertahankan hidupku dengan cara apapun
juga. Bahkan jika terpaksa, aku memang dapat membunuh” Rahu menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Kau sudah mulai mempergunakan kalimatmu
sendiri“ “Gila. Aku tidak tahu maksudmu“ Jlitheng hampir berteriak.
Tiba-tiba Rahu tersenyum. Katanya “Kau memang hanya membunuh jika
terpaksa. Jangan selalu mengatakan bahwa kau akan membunuh” “Aku
memang akan membunuhmu” teriak Jlitheng. oooOooo-
Jilid 09 “Ya. Kita. akan meneruskan pertempuran ini. Kau
atau aku yang akan dapat berkumpul bersama dengan orang-orang
Sanggar Gading untuk melakukan tugas yang penting itu. Tugas yang
akan menentukan hari depan Sanggar yang dipenuhi dengan dorongan
cita-cita bagi masa depan. Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Seolah-olah ia mendapat peringatan, bahwa yang ingin dilakukannya
itu adalah mengetahui apakah yang akan dilakukan oleh Cempaka.
Tetapi jika Rahu memaksa untuk bertempur terus, maka sudah barang
tentu ia tidak akan dapat mengelak. “Bantaradi” berkata Rahu
kemudian “Sebenarnyalah aku tidak mengira, bahwa kau masih dapat
bertahan untuk waktu yang terhitung lama. Aku kira, jika kita
bertempur terus, kita akan terlambat. Aku atau kau yang dapat
bertahan hidup, akan mati juga kita terlambat berkumpul. Aku kira,
persoalan kita dapat kita tunda setelah kita selesa dengan tugas
kita. Kita akan sampai pada takaran tertinggi dar i kemampuan kita
masing-masing” “Persetan“ geram Jlitheng “Aku tidak akut kepada
orang- orang Sanggar Gading. Jfika aku terlambat, aku sama sekali
tidak gentar. Jika aku mulai dengan ketakutan-ketakutan semacam itu,
maka aku tidak akan dapat menyelesaikan tugasku” Rahu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Kalimat-kalimat semacam itulah yang kurang
menarik kau ucapkan. Kau dapat mengundang seribu pertanyaan buat
orang-orang Sanggar Gading” Jlitheng menjadi semakin heran terhadap
orang yang bernama Rahu itu. Sifatnya seolah-olah beiubah-rubah
penuh dengan teka-teki. Bahkan penuh dengan rahasia. Karena itu,
maka Jlitheng kemudian berkata lantang “Rahu, apakah sebenarnya yang
kau kehendaki. Kaupun seharusnya berterus terang. Kita akan dapat
berbuat sesuatu dengan landasan yang wajar dan meskipun kita akan
membunuh salah seorang diantara kita, tetapi kita sudah yakin,
apakah yang akan kita lakukan” Rahu justru tertawa. Katanya “Kita
masing-masing memang penuh dengan teka-teki. Tetapi baiklah, kita
akan memecahkan teka-teki itu. Namun kita masih harus melakukan
kewajiban kita atas nama Sanggar Gading” Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Ia mengarti bahwa perintah Sanggit Raina bukannya
sekedar main-main. Karena itu. maka iapun tidak menentang niat Rahu
untuk menunda persoalan mereka sendir i. “Marilah, kita akan makan
dahulu sebelum kita melanjutkan perjalanan” berkata Rahu tiba-tiba.
“Gila, kau benar-benar Gila“ geramJlitheng. “Meskipun kita sudah
makan sebelum kita berangkat, tetapi setelah kita bertempur dengan
mengerahkan segenap kemampuan kita masing-masing maka aku, merasa
lapar lagi. jawab Rahu. Rahu menjadi semakin aneh bagi Jlitheng,
seperti juga Jlitheng adalah orang yang diselubungi oleh seribu
macam rahasia bagi Rahu. Namun Jlitheng tidak membantah lagi. Iapun
mengikuti Rahu masuk ke dalam rumahnya, sementara adiknyapun membawa
senjata-senjata Rahu masuk pula ke ruang belakang. “Kita akan makan”
berkata Rahu sambil membuka tenong digeledeg bambu. Kemudian iapuni
mengeluarkan beberapa makanan dan ceting nasi. Tetapi dalam pada
itu, yang sangat menarik bagi Jlitheng bukannya beberapa makanan dan
ceting nasi. Ketika Rahu membuka tenong bambu, sepintas Jlitheng
melibat sebuah lukisan pada tutup tenong bambu itu. Karena itu,
dengan serta merta Jlitheng meloncat menghentakkan tutup tenong itu
dari tangan Rahu. Rahu sama sekali tidak mempertahankannya. Bahkan
seolah-olah iapun telah memberikan tutup itu kepada Jlitheng sambil
bertanya “Apa yang menarik perhatianmu Bantaradi?“ Jlitheng
mengamat-amati lukisan itu dengan saksama Ia melihat kikisan dua
lingkaran, matahari dan bulan yang berdampingan. Matahari yang
berwarna putih dan bulan yang berwarna merah. Kemudian diantara
matahari dan bulan itu ia melihat garis hitam tebal dengan sebuah
bulatan pplda pangkalnya, dengan lima buah gerigi” Sejenak Jlitheng
termangu-mangu. Bahkan kemudian wajahnya menjadi tegang. Dengan
suara bergetar ia berkata “Surya Candra He, dari mana kau dapatkan
gambar semacam ini?“ “Gambar apa?“ berkata Rahu dengan wajah kosong.
“Dua lingkaran” Matahari dan Bulan, serta sebuah cakra” Rahu
memandang Jlitheng dengan tajamnya. Kemudian ialah yang bertanya
“Dimanakah ada gambar matahari, bulan dan sebuah cakra?“ “Ini” geram
Jlitheng. Namun dalam pada itu, Jlithengpun merasa bahwa ia telah
terlanjur mengucapkan bentuk gambar itu. Karena itu, maka iapun
harus mempertanggung jawabkannya. Jika yang dikatakan itu ternyata
menuntut sikap yang khusus, maka Jlithengpun akan berbuat apa saja
sesuai dengan bekal yang dibawanya” Tetapi Jlithengpun kemudian
ragu-ragu ketika Rahu bertanya “Ki Sanak, dari manakah kau
mengetahui bahwa lingkaran putih itu dimaksud dengan matahari dan
yang merah itu matahari dengan bulan. Kemudian garis hitam dan
bulatan bergerigi itu adalah cakra?“ Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Namun iapun kemudian malangkah mendekati Rahu sambil
berkata “Apakah aku dapat melibat telapak kakimu?“ “Kenapa dengan
telapak kakiku?“ bertanya Rahu, “Tidak apa-apa. Tetapi aku ingin
melibat telapak kakimu” jawab Jlitheng. “Kau memang orang aneh
Bantaradi. Setelah kau melihat gambar pada tutup lenong tempat
makanan itu. kau ingin melihat tapak kakiku. Tapak kaki yang tentu
saja seperti tapak kaki orang-orang kebanyakan” berkata Rahu dengan
nada datar. Namun iapun kemudian duduk diomben sambil mengangkat
kakinya, menunjukkan telapak kaki kir inya. “Kakiku kotor” katanya,
Wajah Jlitheng menegang sejenak. Ia melihat pada telapak kaki yang
kotor itu, lamat-lamat sebuah lingkaran hitam yang dibuat dengan
melukai kaki itu. “Apakah kau dapat melihatnya dengan jelas, atau
aku harus mencuci kakiku dahulu” berkata Rahu. “Aku melihatnya “
sabut Jlitheng. “Nah, sekarang kaupun harus memperlihatkan telapak
kakimu. Kau sudah mengetahui tentang aku. Sekarang akupun ingin
mengetahui tentang dirimu. Tanda atau ciri apakah yang ada padamu.
Kau tabu, bahwa hal ini menuntut tanggung jawab yang berat. Jika
ternyata kau mempunyai ciri yang tidak sejalan dengan cir i-ciri
yang kau lihat, maka kau tidak akan pernah keluar dari rumah ini.
Orang yang aku sebut adikku itu sama sekali bukan adikku, Ia
mempunyai ebi seperti yang aku punya. Dan ia adalah orang yang
memiliki kemampuan yang sulit untuk dilawan. Karena itu, kami berdua
t idak akan mengalami kesulitan apapun juga, itu kami terpaksa harus
membunuhmu Aku sekarang bersungguh-sungguh. Kaupun tidak perlu
berpura-pura lagi. Dengan pengenalanmu sepintas pada gambar ditutup
tenang itu, dan bahwa kau tahu di telapak kakiku ada ciri khusus,
maka kau tentu mengetahui tentang hubungan kami sebenarnya. Kaupun
tentu tahu bahwa cir i-cir i itu bukan ciri dari padepokan Sanggar
Gading” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa ia
berhadapan dengan pihak yang lain dari padepokan Sanggar Gading,
namun yang telah berhasil pula memasuki Sanggar itu. Untuk beberapa
saat Jlitheng tidak menjawab. Tetapi ia telah bersiap menghadapi
segala kemungkinan. Iapun menjadi semakin ragu-ragu terhadap orang
yang menyebut dir inya Rahu itu, “Ki Sanak” berkata Rahu “Siapapun
namamu, apakah kau bernama Bantaradi, atau Hantu berlidah Api, atau
Bertangan Guruh atau siapapun juga, namun aku ingin tahu, siapakah
sebenarnya kau. Aku yakin bahwa kau memang tidak bcssungguh-sungguh
untuk berada di dalam linggkungan orang-orang Sanggar Gading”
Jlitheng menjadi semakin tegang. Tetapi ia masih sibuk mengurai
keadaan yang sedang dihadapinya “Jawablah. Waktu kita tidak terlalu
panjang. Sebelum gelap kita sudah akan meninggalkan sendang Gambir.
Karena itu, maka persoalan ini harus cepat kita selesaikan” berkata
Rahu kemudian. Namun tiba-tiba saja Jlitheng berkata “Kau takut
terlambat? Kau takut mati dibunuh oleh Sanggit Raina?“ “Gila“ jawab
Rahu “Kau tentu tahu jawabnya. Bukan karena aku takut dibunuh
Sanggit Raina atau cempaka atau orang yang disebut Yang Mulia itu
sekalipun. Tetapi aku kira seperti yang ingin kau lakukan pula,
bahwa jika kita terlambat, kita kehilangan kesempatan untuk
mengetahui, apakah yang akan dilakukannya malam nanti“ Jlitheng
menarik nafas. Katanya “Kau benar. Ataupun ingin mengetahui apa yang
akan dilakukan” “Tetapi sebut dahulu atau tunjukkan cir i-cir imu.
Siapa kau” Jlitheng masih ragu-ragu. Tetapi gambar matahari bulan
dan cakra itu telah meyakinkannya. Apalagi ketika ia melihat tanda
ditelapak kaki orang yang menyebut dirinya bernama Rahu dan bergelar
Iblis bertangan Petir itu. “Cepat“ Rahu hampir kehilangan kesabaran
“Jika kita ternyata orang lain, maka kita akan segera saling
membunuh” Jlitheng menjadi tegang. Namun iapun kemudian
menyingsingkan kain panjangnya. Dari bawah kain panjangnya da
mengurai sehelai tali anyaman seperti sehelai dadung. Pada ujungnya
terikat sebuah benda yang berkilat- kilat” “Kau tahu, siapakah yang
memiliki senjata seperti ini? bertanya Jlitheng. Tetapi Rahu
menggeleng lemah Katanya ”Aku t idak mengerti” Jlitheng menarik
nafas dalam-dalam. Kemudaan iapun mengambil sesuatu dari kantong
ikat pinggangnya yang besar. Kemudian diambilnya sebuah lencana
berwarna dasar kuning. Katanya sambil melontarkan lencana tiitu
keamben bambu di sebelah mereka berdir i ”Lihatlah. Jika kau
mempunyai gambar pada ceting nasimu, maka akupun mempunyai ciri yang
mungkin pernah kau kenal. Jika kau tidak mengenalnya pula, maka kita
memang akan saling membunuh. Akupun tidak ingin dikenal oleh orang
yang asing” Wajah Rahu menjadi tegang. Diambilnya lencana yang
dilontarkan oleh Jlitheng itu. Diamatinya tiga buah warna lingkaran
bersusun yang terdapat pada lencana itu. Yang bergerigi, kemudian
berwarna lingkaran berwarna put ih, dan yang terbesar bergerigi,
kemudian lingkaran berwarna putih, dan yang tengah adalah lingkaran
berwarna merah. Wajah Rahu yang tegang menjadi semakin tegang.
Dengan suara yang bergetar ia berkata “Ini adalah lambang yang
terdapat pada kelebet pasukan paling tangguh dari masa Majapahit
akhir” “Ya. Itu adalah lambang pada sebuah panji-panj i, tetapi juga
sebuah tunggul. Dan yang kau lihat itu adalah sebuah lencana. Apakah
kau mengenalnya?“ bertanya Jlitheng. “Kelebet dari pasukan yang
dipimpin, oleh Pangeran Kuda Surya Anggana“ desis Rahu “He dar i
mana kau dapatkan lencana itu? Mungkin kau menemukannya di pinggir
jalan bekas kota Majapahit akhir. Mungkin kau telah menyaru un orang
yang kebetulan membawa pertanda itu” ”Kau dapat mengenalinya?“
“Cakra, matahari dan bulan” desis Rahu. “Mir ip dengan gambarmu pada
tenong itu” desis Jlitheng. “Ya. Tetapi siapakah kau sebenarnya?
Apakah aku benar- benar harus membunuhmu atau tidak” Jlitheng
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya “Pertanda itu adalah
pertanda keluargaku. Mula-mula kelebet Surya Anggana tidak memakai
bulatan ketiga. Tetapi ketika anaknya lahir, dan diberinya nama
Candra Sangkaya, maka timbullah bulatan ketiga. Matahari dan bulan.
Surya dan Candrà” “Ya. Tetapi siapakah kau?“ “Akulah Candra
Sangkaya” “He“ wajah Rahu yang tegang itu menjadi semakin tegang.
Lalu dengan ragu-ragu ia bertanya “Apakah benar aku berhadapan
dengan Raden Candra Sangkaya” “Ya Akulah anak Pangeran Surya
Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggana. Aku memiliki tunggul dar
i tiang panji- panji Surya Candra ku. Lengkapnya Tunggul dari
Kelebet Cakra Surya Candra. Dan tunggul itu adalah yang kau amati
itu” Rahu terniangu-mangu sejenak. Sekali-kali dipandanginya wajah
Jlitheng yang berkeringat. Namun kemudian dipandanginya lencana yang
ternyata adalah tunggul pada panji-panji Cakra Surya Candra,
“Nampaknya aku memang harus percaya” desis Rahu. “Karena itu aku
mengenal, bahwa pada telapak kakimu terdapat satu ciri yang dapat
aku mengerti“ berkata Jlitheng. Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Aku
adalah salah seorang prajurit pada pasukan di bawah Kelebet Cakra
Surya Candra. Waktu itu aku memang masih muda, jauh lebih muda dari
Pangeran Surya Sangkaya” Jlitheng mengangguk-angguk. Laki iapun
bertanya “Sekarang? Di pihak manakah kau sebenarnya berdiri?” “Aku
adalah pasukan sandi Demak. Aku memang menempatkan dir iku pada
pasukan sandi. Aku mendapat tugas untuk mengumpulkan pusaka
Majapahit yang masih tercecer. Selebihnya, aku juga harus mengamati
kemungkinan- kemungkinan yang dapat menggoyahkan sendi ketenangan
Demak sekarang” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia
bertemu dengan orang yang tidak disangka-sangkanya sama sekali.
Namun dalam pada itu, Rahulah yang kemudian bertanya kepadai
Jlitheng “Ki Sanak, jika benar kau adalah putera Pangeran Surya
Sangkaya yang bergelar Surya Anggana di peperangan, apakah yang
sekarang sedang kau lakukan? Apa kah kau masih merindukan suatu masa
seperti pada masa kebanggaan Pangeran Surya Sangkaya, atau kau sudah
berdiri dialas satu sikap yang lain” “Pertanyaanmu kurang
menyenangkan bagiku. Aku anak Candra Sangkaya. Aku ingin mewarisi
sifat-sifat ayahku. Aku ingin. Aku tidak tahu, apakah keinginanku
ini terpenuhi dengan sikapku sekarang ini. Tetapi aku adalah seorang
kesatria yang mempunyai tugas darma. Ada atau tidak ada ikatanku
dengan Demak. Ada atau tidak ada ikatanku dengan tugas-tugas sandi
seperti yang kau lakukan. Namun aku adalah orang yang berdiri pada
satu sikap darah seorang Senopati Agung Majapahit. Dan akupun tidak
begitu bodoh untuk mer indukan masa lampau dalam keadaan dan suasana
sekarang. Tetapi aku mer indukan yang akan datang dengan
kebesarannya sendiri sesuai dengan beredarnya jaman. Namun demikian,
aku tidak dapat ingkar, bahwa aku adalah anak yang dilahirkan oleh
masa lampau untuk masa depan. Karena itu, masa depanku tentu ber
landaskan dengan masa lampau itu sendir i” Rahu menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku memang harus yakin, bahwa kata
nuraniku tentang kau adalah benar. Sejak aku bertemu dengan kau di
tengah bulak itu, aku sudah menduga, bahwa kau mempunyai tugas
tensediri Kehadiranmu di Sanggar Gadingpun tentu membawa pesan
khusus, meskipun dar i nuranimu sendiri” “Nah, sekarang terserah
kepadamu” berkata Candra Sangkaya “Apakah aku kau anggap orang lain
yang harus saling membunuh, atau kau dapat membiarkan aku dan
sebaliknya aku dapat membiarkan Ikjau berada bersama-sama di dalam
Sanggar Gading” Rahu tersenyum. Katanya “Pada suatu saat kau akan
benar-benar menjadi seorang yang sombong, kasar dan tinggi hati
justru karena kau ingin menyesuaikan diri dengan sifat orang-orang
Sanggar Gading. Bagiku, kilta dapat bersikap wajar. Dan pertanyaanmu
itu akan dapat kau jawab sendiri” “Persetan?” geram Jlitheng “Tetapi
baiklah. Dalam batas- batas tertentu kilta akan dapat bekerja
bersama” “Aku berharap demikian Biar lah kilta mencoba mengikuti
tingkah laku orang-orang Sanggar Gading. Selama ini, ternyata aku
telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari Cempaka. Aku mendapat
tugas untuk mengawasimu” “Aku sudah tahu bahwa kau memang harus
mengawasi aku. Persoalannya sekarang, apakah kau benar-benar orang
yang kau katakan. Jika kau sekedar memancing kebenaran yang ada
padaku, maka aku harus berhati-hati sekali” “Baiklah. Jika, kau
masih saja ingin bersikap benar-benar seperti orang Sanggar Gading
Sekarang, kita betul-betul makan Kita akan segera berpacu ke Sendang
Gambir. Kita tidak boleh terlambat supaya kita tidak kehilangan
jejak” Meskipun tidak begitu banyak, tetapi Jlitheng dan Rahupun
makan bersama orang yang bertubuh raksasa, yang semula disebutnya
adik Rahu, tetapi ternyata juga seorang petugas sandi dari Demak.
Sejenak kemudian, maka Rahu dan Jlithengpun telah meninggalkan
padukuhan yang aneh itu. Mereka berpacu menujui ke Sandang Gading.
Tetapi agaknya Rahu telah mengenal jalan dengan baik, sehingga
mereka menempuh jalan memintas. Namun dalam pada itu, disepanjang
jalan itu Jlitheng sempat bertanya “Siapa namamu?“ “Rahu yang
bergelar Iblis bertangan Petir” jawab Rahu sambil tersenyum.
“Persetan. Siapa namamu“ Jlitheng hampir berteriak. Rahu tertawa.
Anak muda yang bernama Candra Sangkaya itu memang menarik sekali
baginya. Jawabnya kemudian “Namaku adalah Ranggah Wira Murti”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Itu
benar namamu?“ “Ya, kenapa?” Rahu tertawa “Mungkin kau tidak
percaya. Seperti kau aku dapat membuat nama yang paling sederhana
tetapi juga yang paling bagus kedengarannya. Tetapi Ranggah Wira
Murti memang namaku. Seperti juga Candra Sangkaya adalah namamu,
nama pember ian Pangeran Surya Sangkaya, Senapati Agung dari
Majapahit yang berjuang sampai saat terakhirnya” Jlitheng tidak
menyahut. Tetapi terdengar ia mengumpat Dalam pada itu, maka kuda
merekapun berpacu semakin cepat. Ketika di tengah bulak panjang ia
melibat seekor kuda berpacu menyilang jalan mereka, matra Jlitheng
berdesis “Apalagi yang terjadi He, apakah penunggangnya itu juga
orang Sanggar Gading?“ “Bagaimana menurut penglihatanmu?“ “Gila“
geram Jlitheng “Tetapi aku kira ia bukan orang Sanggar Gading” “Ya.
Ia memang bukan orang Sanggar Gading” “Apakah penunggangnya sedang
mengejar seseorang? “Jangan membuat persoalan baru lagi. Nanti kita
terlambat” desis Rahu. Jlitheng tidak menyahut. Tetapi diamatinya
kuda yang berpacu itu sempat hilang dibabk kepulan debu yang tebal.
“Kau selalu tertarik kepada setiap peristiwa yang kau jumpai Tetapi
kali ini kita benar-benar tidak ingin kehilangan waktu lagi.
Matahari sudah condong. Kita tidak boleh terlambat, agar kita tidak
kehilangan kesempatan. Mungkin kali ini kesempatan yang kita peroleh
tidak memadai Namun demi kran disaat lain kita akan sampai juga pada
persoalan yang lebih pent ing” gumam Rahu. Jlitheng tidak menjawab.
Namun kuda yang berpacu itu memang sangat menar ik Jika ia tidak
terikat dengan keinginannya untuk mengikuti orang-orang Sanggar
Gading, maka ia tentu sudah mengikuti derap kuda yang berpacu itu.
Demikianlah, maka Jlitheng dan Rahupun semakin lama menjadi semakin
dekat dengan tempat yang sudah ditentukan oleh Sanggit Raina,
Sanggar Gading. Ternyata karena mereka melalui jalan memintas, maka
mereka tidak terlambat sampai ke tempat yang sudah ditentukan.
Bahkan keduanya bukanlah orang terakhir yang datang. Ketika Rahu dan
Jlitheng sudah duduk bersandar batu dengan mata sedikit terpejam,
dua orang kawan mereka datang dengan nafas terengah-engah. Demikian
mereka turun dari kuda. maka keduanya segera duduk diantara mereka
yang datang terdahulu sambil berdesis “Aku sudah cemas, bahwa aku
akan terlambat “ “Darimana saja kalian sehingga baru sekarang kalian
datang?“ bertanya Rahu, Keduanya tertawa. Namun yang seorang
berdesis “Anak itu singgah sebentar ditrumah isterinya” “Isterinya?
He, apakah ia beristeri?“ desis Rahu. Keduanya menahan tertawanya
Tetapi keduanya tidak menjawab, “Gila“ geram Rahu. Tiba-tiba saja
yang muda itupun berkata “Isteriku memang seorang yang sangat baik.
Aku telah dibekali dengan kancing gelung emas bermata intan” Rahu
menggeram Katanya “Kau merampok lagi. Kau menodai nama Sanggar
Gading” Tidak ada yang tahu, bahwa kami orang-orang Sanggar Gading
“Ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi kenapa menodai? Bukankah bukan
hanya aku saja yang melakukannya?“? “Mereka memang bertugas
melakukan. Bukan kita yang akan mengemban tugas yang penting” jawab
Rahu. Yang muda itu tertawa. Katanya “Apa salahnya” “Tetapi j ika
kau tertangkap, dan kau tidak tahan mengalami tekanan, maka rencana
ini akan bocor. Saingi kau diseret di belakang punggung kuda oleh
para pengawal padu-kuhan, maka sekelompok prajur it Demak telah
mengepung kita disini, karena ada diantara mereka yang
melaporkannya” Ramu hampir membentaknya. Orang itu terdiam. Mereka
tahu bahwa Rahu adalah orang terdekat dari Cempaka. Dan Cempaka
adalah adik Sanggit Raina yang ditakuti oleh setiap orang di Sanggar
Gading. Karena orang itu tidak menjawab, maka Rahupun terdiam pula.
Ia telah menempatkan badannya sebaik-baiknya kembali seperti saat
kedua orang itu belum datang, sambii memejamkan matanya. Jlitheng
yang mendengarkan pembicaraan itu menahan perasaannya. Memang sulit
untuk dihindari, bahwa orang- crang dalam kelompok yang demikian
akan melakukan kejahatan terpisah menurut kehendak mereka
masing-masing. Jlitheng tidak tahu, jika Sanggit Raina
mengetahuinya, apakah ia akan marah, atau membiarkan saja hal
seperti itu terjadi. “Persetan“ Jlitheng mengumpat di dalami
hatinya. Namun ia tidak memikirkannya lagi. Iapun mencoba
beristirahat sebaik-baiknya sebelum mereka akan melanjutkan tugas
mereka, yang masih belum mereka ketahui dengan jelas. Ternyata
Sanggit Raina yang telah berada diantara orang- orang itupun segera
memberikan perintah. Iapun agaknya masih ingin ber istirahat.
Sementara Cempaka yang telah ber ada di tempat itu pula berjalan
hilir mudik dengan pandangan kosong. Langit yang menjadi kelarnpun
semakin bertambah kelam. Bintang-bintang bertebaran dari sudut
langit sampai kesudut yang lain Batang ilalang yang tumbuh dengan
liar berayun- ayun disentuh angin yang sejuk, “Kita akan memasuki
Kota Raja menjelang tengah malam” desis Sanggit Raina kepada Cempaka
ketika adiknya itu lewat di depannya. “Apakah yang masih kita
tunggu?“ bertanya Cempaka. “Biar lah Kota Raja itu benar-benar
tertidur” jawab kakaknya. Cempaka tidak menyahut. Iapun melangkah
lagi hilir mudik. Sekah-kali dipandanginya langit yang cerah Namun
kemudian dilayangkannya tatapan matanya kekejauhan menembus gelap.
Ketika lintang Gubug Penceng nampak tegak di ujung selatan, maka
Sanggit Rednapun kemudian bangkit dan membenahi pakaiannya. Beberapa
orang pengikutnya telah tertidur. Cempakapun tidak lagi berjailan
hilir mudik, tetapi ia sudah duduk diatas sebuah batu yang besar.
“Kita akan bersiap” berkata Sanggit Raina, “Apakah kita akan
memberitahukan tugas kita sekarang?“ bertanya Cempaka. “Ya. Kita
akan memberikan beberapa pesan. Kuta harus bekerja dengan cermat.
Yang kita hadapi bukan saja kekuatan yang terdapat di istana itu
yang agaknya tidak terlalu besar Tetapi jika rencana ini sudah
tercium oleh orang-orang Puspa- ruri atau orang-orang Kendali Putih
yang juga sudah siap, maka kita akan menghadapinya. Selebihnya, jika
prajurit peronda Demak mengerti bahwa kita memasuki Kota Raja, maka
kitapun akan mengalami kesulitan” jawab Sanggit Raina. “Jadi, apakah
semuanya kita kumpulkan?“ Cempaka bertanya pula. “Ya. Aku akan
member ikan penjelasan” Cempakapun kemudian membangunkan seorang
yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan yang tertidur disebelah batu
tempat ia duduk. Lalu disuruhnya orang rtu membangunkan kawan-
kawannya dan berkumpul untuk mendengarkan penjelasan terakhir.
“Kita. akan melakukannya sekarang” berkata Sanggit Raina setelah
semuanya berkumpul mengitarinya “kuda-kuda kita akan kita tinggalkan
disini. Kita akan merayap mendekati kota. Kita tidak akan melalui
pintu gerbang yang tentu diawasi oleh para prajurit meskipun
barangkali tidak akan dijaga terlalu ketat“ Orang-orangnya
mendengarkan perintah itu dengan saksama. Kemudian Sanggit Rainapun
melanjutkan “Kita akan memasuki sebuah istana seorang Pangeran.
Kalian tidak perlu mengetahui apa maksudnya. Tetapi yang perlu
kalian ketahui, bahwa kita ingin membawa Pangeran itu ke padepokan
kita Pangeran itu mempunyai nilai yang tiada taranya Karena itu,
maka beberapa pihakpum akan melakukan seperti yang kita lakukan
sekarang” Beberapa orang menjadi tegang. Namun Jlitheng menar ik
nafas dalam-dalam. Agaknya ia tidak mendapat tugas yang bertentangan
dengan niat kehadirannya, dfi Sanggar Gading. Namun ternyata bahwa
Sanggit Raina masih belum selesai Ia masih berkata “Agar kuda-kuda
kita tidak hilang, maka dua diantara kita yang paling tidak berarti
akan tinggal disini Karena itu, aku tidak berkeberatan ketika ada
diantara kalian yang membawa orang-orang yang sebenarnya tidak aku
kehendaki“ Wajah-wajah menjadi tegang. Jlithengpun menjadi
berdebar-debar. Jika ia ditunjuk untuk sekedar menunggui kuda-kuda
itu, maka rencananya akan pecah “Dua orang yang aku tunjuk menunggui
kuda harus bersyukur, karena kemungkinan mereka untuk mati, jauh
lebih kecil dar i kita yang akan pergi memasuki Kota Raja” berkata
Sanggit Raina. Jlithengpun kemudian menarik nafas dalam-dalam,
ketika ternyata Sanggit Raum menyebutkan namanya Sejenak kemudian,
maka orang-orang Sanggar Gading itupun telah bersiap sepenuhnya.
Ketika Sanggit Raina member ikan aba-aba, maka merekapun segera
berangkat menuju ke Kota Raja pada saat Demak sedang tertidur
nyenyak. Kota Raja itu pada keadaan sehari-harinya adalah kota yang
tenang. Tidak banyak masalah yang timbul. Meskipun di daerah yang
jauh masih kadang-kadang terjadi pertempuran melawan mereka yang
tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan keadaan dan
berusaha untuk memisahkan diri namun keadaan pada umumnya telah
menjadi baik. Karena itu, maka para pengawal kota tidak terlalu
ketat mengawasi jalur-jalur jalan masuk dan keluar kota. Banyak
jalan-jalan kecil dan regol-regol padukuhan yang tidak mendapat
pengawasan. Apalagi jalan-jalan budak yang langsung menusuk masuk ke
dalam kota. Dengan demikian maka sulit untuk menyusup masuk ke dalam
kota. Sanggit Raina yang berjalan dipating depan sempat memberikan
petunjuk, kemana mereka harus pergi. “Tidak ada lain yang harus
kalian kerjakan. Menangkap hidup-hidup Pangeran yang bergelar Sena
Wasesa yang usianya sudah menjelang tiga perempat abad. Tetapi ia
adalah seorang Pangeran yang sakti berkata Sanggit Raina. Tidak
seorangpun yang berani bertanya, kenapa Pangeran rtu harus ditangkap
hidup-hidup. “Apakah namanya memang Sena Wasesa?“ bisik J litheng.
Rahu menggeleng sambil berdesis “Ia bergelar Sena Wasesa karena
sesuatu yang pernah dilakukannya. Namanya sendiri bukan Sena Wasesa
“Siapa??” bertanya JKitheng pula “Aku tidak tahu. Aku hanya menduga”
Jlitheng tidak bertanya lagi. Namun ia merasa jantungnya berdebaran
semakin keras. “Bantaradi“ bisik Rahu “Apakah menurut
pertimbanganmu, kita akan benar-benar ikut menangkap Pangeran itu
atau justru membebaskannya?“ “Tentu kita akan menangkapnya” desis
Jlitheng “He, apakah kau sedang menjajagi aku” Jlitheng tidak
menyahut. Tetapi terdengar ia mengumpat. Dalam pada itu, maka kuda
merekapun berpacu semakin cepat. Ketika di tengah bulak panjang ia
melibat seekor kuda berpacu menyilang jalan mereka, maka Jlitheng
berdesis “Apalagi yang terjadi. He apakah penunggangnya itu juga
orang Sanggar Gading?“ “Hentikan kegiatanmu. Dalam keadaan seperti
ini, kau jangan berpura-pura lagi“ Rahu menggeram. Jlitheng
mengerutkan keningnya. Namun ia merasa, betapa Rahu sudah menahan
hati. Maka, dalam keadaan yang gawat itu, Jlithengpun menyadari,
bahwa ketegangan diliati masing- masing akan mudah membuat mereka
merasa tersinggung Karena itu, maka katanya kemudian “Maaf. Tetapi
qku bersungguh-sungguh. Aku ingin Pangeran itu benar-benar
ditangkap” “Itu akan menggemparkan Demak. Aku akan menjadi salah
seorang yang kelak harus mempertanggung jawabkan, jika Pangeran Sena
Wasesa itu. mengalami sesuatu” berkata Rahu. Jlitheng tidak segera
menyabut. Mereka berjalan diujung paling belakang Namun dengan
demikian mereka dapat berbicara diantara mereka. “Rahu, jika kau
ingin membebaskannya, bagaimana cara yang sebaik-baiknya kau
lakukan?“ bertanya Jlitheng. “Tentu aku akan berpihak kepada
Pangeran itu” berkata Rahu “selebihnya aku harus melontarkan isyarat
ke udara” “Apa yang akan kau lontarkan? Apakah kau membawa panah
sendaren atau membawa panah api?“ “Tidak, aku harus melontarkan
sesuatu keairab tertentu. Kira-kira tigapuluh langkah kearah Barat”
“Barat mana. Apakah kau sudah tahu, bahwa kita akan pergi ke istana
Pangeran Sena Wasesa? “Semi mengikuti kita sekarang ini. Nah, apa
katamu? Akulah yang sekarang bertanya kepadamu apakah kau sedang
menjajagi aku” “Aku juga muak mendengar pertanyaan seperti itu”
jawab Jlitheng “Tetapi aku tetap pada pendirianku, Pangeran itu
harus ditangkap. Jika kau berusaha untuk membatalkannya dengan
isyarat kepada orang yang kau sebut adikmu yang barangkali sekarang
membawa dua atau tiga orang kawan, aku tidak sependapat” “Jadi kau
benar-benar akan berbuat sesuai dengan perintah orang-orang Sanggar
Gading?“ bertanya Rahu? “Ya Kita akan tahu, apakah yang mereka
kehendak dari Pangeran tua itu” desis JiKtheng. “Kenapa kita tidak
membebaskanya saja, kemudian kita hubungi langsung Pangeran itu?“
bertanya Rahu. “Tentu masalahnya bukan masalah yang sederhana. Jika
kita gagal mempertahankan Pangeran itu, maka kita akan kehilangan
segala kesempatan. Bahkan kita harus menyingkirkan dim dari tindakan
orang-orang Sanggar Gading. Sementara niat mereka dengan menawan
Pangeran itu dapat mereka lakukan dUuar pengawasan kita” gumam
Jlitheng. Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Jika demikian,
aku tidak akan memberikan isyarat apapun juga kepada adikku” “Tetapi
apakah hal seperti itu sering kau lakukan?“ Membatalkan usaha yang
dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading?“ bertanya Jlitheng.
“Tidak terlalu sering. Tetapi karena sekarang masalahnya menyangkut
seorang Pangeran, maka aku dapat mengambil satu sikap Biasanya kami
hanya sekedar mencari dukungan dana untuk kepentingan Sanggar Gading
tanpa menyentuh orang-orang penting apalagi seorang Pangeran?”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Dengan sungguh- sungguh ia berunya
“Tetapi sekali-kali pernah juga kau lakukan? Meskipun tidak terlalu
sering?“ “Ya” jawab Rahu “dalam keadaan yang memaksa aku telah
berusaha menggagalkan rencana orang-orang Sanggar Gading dengan
memberikan keterangan kepada Semi. Tetapi Semipun mengerti bahwa
kegagalan itu jangan menumbuhkan kecurigaan kepada orang dalam“
Jlitheng mengangguk-angguk. Tetapi kali ini ia tidak ingin rencana
orang-orang Sanggar Gading untuk mengambil orang yang dikehendaki
oleh Daruwerdi itu gagal. Ia harus mengetahui siapakah orang itu.
Baru kemudian ia akan menentukan sikap. Ternyata Rahu tidak
berkeberatan meskipun mungkin ia harus mempertanggung jawabkan
kepada pimpinannya, bahwa ia tidak dapat mengatasi rencana yang
tumbuh di dalam lingkungannya, dan justru menyangkut kepada seorang
Pangeran. Dalam beberapa hal Rahupun telah mendengar hubungan
Cempaka dengan orang yang tinggal didaerali Sepasang Bukit Mati.
lapun mendengar serba sedikit, bahwa orang yang ber ada di daerah
Sepasang Bukit Mati itu mempunyai jalur hubungan dengan pusaka yang
masih belum dikotemukan. Tetapi yang diketahuinya ternyata sangat
sedikit. Namun yang sedikit itu ternyta telah mendorongnya untuk
menyetujui pendapat Jlitheng, “Jika kemudian terjadi sesuatu dengan
Pangeran itu, maka mungkin aku akan mendapat hukuman pula” berkata
Rahu di dalam hatinya “Tetapi jalan ini agaknya akan membawa aku
kepada sebuah pusaka yang mungkin penting sekaki bagi Demak”
Meskipun keduanya kemudian tidak sempat lagi berbicara meskipun
berbisik, namun keduanya seolah-olah telah menemukan jalan yang
sesuai, meskipun mungkin pada saat- saat terakhir mereka akan
menentukan jalan mereka masing- masing. Dalam gelapnya malam, maka
sekelompok orang-orang Sanggar Gading itupun menyusup semakin dalam
kejantung Kota Raja. Jalan yang mereka tempuh harus diingat sebaik-
baiknya oleh setiap orang yang ikut serta di dalam kelompok itu.
Dalam keadaan yang gawat, mungkin sekali mereka harus berpisah dan
berpencar. Tetapi mereka harus dapat menemukan jalur jalan keluar
dan berkumpul kembali di Sendang Gambir. Tetapi bagi mereka yang
sudah mengenal dengan haik sudut-sudut di Kota Raja maka bagi mereka
tidak terlalu banyak kesulitan jika mereka terpisah dari kawan-
kawan mereka yang lain. Rahu adalah salah seorang yang mengenal
jalan-jalan di Kota Raja dengan sebaik-baiknya Sedangkan J
lithengpun mengenalnya pula, meskipun firjak sebaik Rahu. Karena
Rahu memang membekali dirinya dengan pengenalan yang luas atas
berbagai macam keadaan. Termasuk jalan-jalan yang menyusup diantara
rumah-rumah dan istana-istana besar di seluruh Kota Raja. Bahkan
Rahu hampir mengenal setiap pintu di seluruh Kota. Karena itu, maka
ketika mereka memasuki jalan yang langsung menuju ke tempat yang
mereka tuju, Rahu segera meyakini, istana siapakah yang akan mereka
datangi. “Diujung jalan ini ada sebuah istana” berkata Sanggit
Ratina kepada para pengikutnya dengan perlaban-lahan tetapi cukup
jelas “Kita akan memasuki istana itu. Kita akan menghindari korban
sejauh-jauh dapat kita lakukan. Karena itu, maka kita harus berbuat
dengan hati-hati. Orang-orang kita sudah terlalu banyak menjadi
korban. Mungkin karena pokal mereka sendr i di padang kematian,
tetapi juga karena tugas-tugas yang berat” Para pengikutnya
mendengarkan dengan saksama. Sementara itu Sanggit Raina berkata
selanjutnya “Kita tidak akan memasuki regol. Kita akan memasuki
istana ita dari segala penjuru. Kita menyergap para penjaga Mereka
akan kita lucuti dengan cepat dan kita ikat pada pohon-pohon sawo
yang terdapat di halaman astana itu. Baru kemudian kita memasuki
istana dan mengambil Pangeran penghuni astana itu” Semua orang hanya
mendengarkannya. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang member ikan
pendapatnya. Perintah itu sudah cukup jelas, sementara orang-orang
Sanggar Gading tidak perlu mengetahui, untuk apa mereka
melakukannya. Dengan hati-hati sekelompok orang Sanggar Gading itu
mendekati sebuah istana yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan
beberapa istana yang lain. Dihalaman depan terdapat dua batang pohon
sawo kecik yang besar dan rindang. Dengan isyarat Sanggit Raina
memer intahkan orang- orangnya memencar mengelilingi istana itu. Ia
sendir i dengan Cempaka dan dua orang lainnya, bersiap-siap untuk
menyergap para penjaga di regol meskipun mereka tidak akan mengetuk
pintu regol. Tetapi seperti yang lain, merekapun akan meloncat dan
langsung menguasai para penjaga dan mengikat mereka seperti yang
akan dilakukan oleh orang- orang Sanggar Gading yang lain, apabila
mereka menjumpai para pengawal. Orang-orangnya itupun telah mendapat
pesan isyarat apakah yang harus mereka perhatikan. Jika mereka
mendengar suara burung hantu, berarti bahwa mereka harus memasuki
halaman istana. Tetapi jika yang terdengar suara burung kedasih,
mereka harus meninggalkan istana Itu. Sejenak Sanggit Raina
menunggu. Iapun kemudian dengan sangat hati-hati mendekati regol
istana yang diputari dengan dinding yang cukup tinggi. Tetapi yang
masih akan dapat diloncati oleh orang-orang Sanggar Gading yang
cukup terlatih. Telinga Sanggit Raina yang tajampun kemudian
menangkap suara desah orang yang beringsut di balik regol. Nampaknya
satu dua orang penjaganya masih terjaga sambil duduk bersandar pintu
regol. Dengan isyarat Sanggit Raina memberikan tanda kepada Cempaka
agar ia menunggu. Sementara Sanggit Raina sendiri telah bersiap
untuk meloncat masuk disebelah regol, sehingga ia akan langsung
dapat menguasai para penjaganya. Beberapa saat suasana menjadi
tegang. Setiap orang menunggu isyarat yang akan diberikan oleh
Sanggit Raina, sementara Sanggit Raina sendir i sudah siap untuk
meloncat. Cempaka dan dua orang lainnya telah bersiap pula. Dengan
hati yang berdebar-debar mereka menunggu isyarat pula. Ketika
saatnya sudah tiba menurut perhitungan Sanggit Raina, maka di dalam
kelamnya malam, terdengar suara burung hantu merobek sunyi. Hampir
bersamaan dengan itu, Sanggit Raina sendiri telah meloncati dinding
halaman disusul oleh Cempaka dan dua orang pengikutnya, sementara
dibagian lain beberapa orang telah berloncatan masuk pula. Suara
burung hantu itu memang telah menar ik perhatian. Sementara itu, dua
orang penjaga yang berada di regol halaman itupun terkejut ketika
tiba-tiba saja seseorang telah meloncat berduri beberapa langkah
dari padanya. Dengan sigapnya para penjaga itupun bangkit berdir i.
Dengan tangkasnya pula keduanya telah mengacukan senjata mereka.
Namun dalam pada itu, mereka melihat tiga orang telah menyusul pula.
Tidak ada kesempatan untuk membunyikan kentongan. Karena itu, maka t
iba-tiba saja terdengar salah seorang dari keduanya berteriak
nyaring “Para pengawal, bersiaplah” Suaranya terputus ketika Sanggit
Raina telah meloncat menyerang. Namun penjaga itu sempat mengelak.
Bahkan dengan satu putaran yang cepat, penjaga itu telah
menyerangnya kembali Cempaka dan dua orang kawannyapum telah
melangkah mendekat. Sementara itu, penjaga yang lainpun telah
bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Bahkan iapun telah
menyambung teriakan kawannya justru lebih nyaring “Bersiaplah, kita
akan bertempur” Tetapi pengawal itupun tidak dapat melanjutkan kata-
katanya Cempakapun telah menyerangnya pula dengan cepatnya. Tetapi
serangannya itupun tidak langsung dapat menikam jantung.
“Menyerahlah” geram Sanggit Raina. Kami adalah pembunuh-pembunuh.
Tetapi j ika kalian menyerah, kalian tidak akan kami bunuh. Kami
hanya akan mengikat kalian pada pohon sawo itu” “Persetan“ geram
para penjaga. Namun ternyata bahwa keempat orang yang memasuki regol
itu memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga sejenak kemudian mereka
seolah-olah telah tersudut tanpa dapat bergerak. Namun dalam pada
itu, ternyata suara kedua penjaga itu telah didengar oleh
kawan-kawannya. Beberapa orang telah berlari-lari menuju ke regol
halaman itu. Tetapi pada saat yang bersamaan, maka halaman belakang
istana itupun telah dirayapi oleh beberapa orang murid Sanggar
Gading. Mereka dengan tergesa-gesa telah mendekati istana dari arah
belakang. Sanggit Raina ternyata tidak segera dapat menguasai para
penjaga. Ketika dua orang penjaga telah sampai ke regol, maka iapun
berkata “Tahan mereka. Aku akan memasuki istana itu” Ketika Sanggit
Raina meloncat meninggalkan regol, beberapa orang pengawal nampak
dalam keremangan malam. Tetapi orang-orang Sanggar Gading yang sudah
ber loncatan masuk itupun telah menyergapnya, sehingga sejenak
kemudian telah terjadi pertempuran di beberapa tempat di dalam
halaman istana itu. Cempaka yang melihat kakaknya telah berlari ke
pintu butulan itupun segera menyusulnya dengan, meninggalkan mur
id-mur id Sanggar Gading yang lain, yang segera berusaha
menyesuaikan dir i. Sanggit Raina yang kemudian disusul oleh Cempaka
tertegun ketika mereka melihat Rahupun telah ber lari-lar i ke pintu
butulan itu pula disusul oleh Bantaradi yang menyebut dirinya
sehari-hari di padukuhannya dengan Jlitheng. “Ikut aku“ Sanggit
Raina tidak pikir panjang. Iapun memperhitungkan bahwa di dalam
istana itu tentu ada pula beberapa pengawal dalamyang bertugas.
Sementara itu, maka Sanggit Raina tidak sabar menunggu pintu itu
dibuka. Ia tidak berhasil menguasai para penjaga dengan diam-diam.
Karena itu, maka ia tidak mempunyai kesempatan lagi. Ia harus
mempergunakan kekerasan untuk menguasai seluruh isi istana. Dengan
kakinya. Sanggit Raina menghentakkan daun pintu yang masih tertutup.
Terdengar suaranya berderak keras sekali. Namun Sanggit Raina tidak
perlu mengulanginya lagi. Pintu itu sudah pecah berserakkan. Rahu
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Jika demikian, aku tidak akan
member ikan isyarat apapun juga kepada adikku” Dengan loncatan
pendek, Sanggit Raina memasuki pintu bututan. Seperti yang
diperhitungkan, maka beberapa orang pengawal telah menyongsongnya.
Namun dalam pada itu. Cempaka, Rahu dan Jlithengpun telah ada di
dalam pula. Sesaat kemudian telah terjadi pertempuran. Para pengawal
yang terpilih itupun telah melawan dengan gigihnya, Seperti yang
sudah didengar oleh setiap orang Sanggar Gading, bahkan oleh
kelompok-kelompok yang lain, maka para pengawal di istana itu
sebenarnyalah pengawal-pengawal yang terpilih ilmu yang tinggi.
Itulah sebabnya, maka tidak setiap orang Sanggar Gading boleh
mengikuti tugas yang berat itu. Demikianlah, maka pertempuran telah
terjadi d beberapa tempat di halaman istana itu. Bahkan kemudian di
dalam istana itu pula. Beberapa orang pengawal harus bertempur
melawan orang-orang Sanggar Gading yang garang. Namun karena
merekapun cukup terlatih, maka merekapun telah melawan dengan
sengitnya. Meskipun demikian, tetapi bahwa kekasaran orang-orang
Sanggar Gading telah membuat para pengawal senjadi berdebar-debar.
Hentakan senjata dan kadang-kadang gerak dan liar, membuat para
pengawal harus berhati-hati. Pertempuran telah terpaksa membakar
halaman itu. Darahpun tidak dapat lagi terbendung, menitik dar i
luka-luka yang menganga. Satu dua orang pengawal dan orang-orang
Sanggar Gading telah mulai tersentuh senjata. Dalam pada itu, maka
Sanggit Raina bersama Cempaka. Rahu dan Jlitheng telah bertempur
dengan dahsyatnya di ruang dalam istana yang tidak terlampau besar
itu. Seperti yang sudah diperhitungkan, maka istana yang tidak
terlalu besar dibandingkan dengan istana-istana kepangeranan yang
lain itu, telah dijaga oleh sekelompok pengawal yang kuat
Orang-orang Sanggar Gading yang terbaik, harus berjuang dengan
mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk dapat menguasai para
pengawal. Namun jumlah orang-orang Sanggar Gading yang lebih banyak
dari para pengawal, telah berhasil mendesak mereka. Satu dua orang
telah terluka dan t idak mampu lagi melawan. Tetapi dalam pada hu,
di ruang dalam. Sanggit Raina. Cempaka, Rahu dan Jlitheng harus
bertempur dengan gelisahnya. Para pengawal dli ruang dalam itu,
ternyata adalah benar-benar orang pilihan. Dengan segenap kemampuan
mereka bertahan. Mereka bertempur tanpa gentar, meskipun orang-orang
Sanggar Gading adalah orang-orang yang kasar dan garang. Namun,
sejenak kemudian beberapa orang Sanggar Gading yang lain telah masuk
pula lewat pintu yang sudah menganga. Mereka yang sudah
melumpulilkan lawan- lawannya telah berloncatan menyusui memasuki
ruang dalam istana. Ms kipun mulamula, mereka terhenti karena
kekaguman menka melihat perabot istana itu, namun kemudian merokopun
telali berusaha melibatkan diri kedaiampertempuran itu. Sementara
orang-orangnya memasuki ruang dalam, maka tiba-tiba saja Sanggit
Raina telah menyelinap. Iapun kemudan memasuki ruang depan dan
langsung menuju kesebuah bilik yang tertutup rapat “Pangeran” desis
Sanggit Raina diluar pintu “pangeran tidak akan dapat berbuat
apa-apa lagi. Sebaiknya Pangeran menyerah dan keselamatan Pangeran
akan aku pertanggung jawabkan” Tidak terdengar jawaban. Karena itu
sekali lagi terdengar Sanggit Raina “Pangeran, sebelum para
pengawalmu terbunuh, bukalah pintu. Akhir dari pertempuran ini sudah
pasti. Jika Pangeran tidak melawan, maka para pengawal Pangeran akan
selamat. Mungkin ada satu dua yang terluka. tetapi itu sudah wajar
sekali bagi para pengawal yang menggenggam senjata telanjang di
tangannya“ Sejenak Sanggit Raina menunggu. Kemudian terdengar
jawaban dengan suara yang dalam “Siapa kau?” “Sanggit Raina. orang
Sanggar Gading” “Aku tidak mengenalmu” sahut suara dari dalam.
“Tentu. Pangeran tidak mengenal aku. Tetapi bukalah pintu sebelum
istana ini menjadi karang abang” desak Sanggit Raina. Sejenak ruang
itu menjadi hening. Namun kemudian terdengar pintu berderit.
Perlahan-lahan pintu itupun terbuka. Sanggit Raina berdiri tegak
dengan senjata di tangannya teracu kepada seseorang yang berdiri di
muka pintu sambil memegang selarak pintu Seorang gadis. Sanggit
Raina menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku mohon
perkenan puteri untuk menghadap ayahanda” Gadis itu mengerutkan
keningnya. Namun terdengar suara seorang yang sedang berbaring “Biar
lah ia masuk” Sanggit Raina termangu-mangu sejenak. Namun dengan
senjata yang teracu iapun melangkah memasuki bilik itu. Demikian
kakinya melangkah, maka iapun melihat gadis yang membuka pintu itu
berlar i memeluk seorang perempuan yang berdiri disudut ruang itu
dengan ketakutan. Perempuan itu berusaha menalian tangis. Sambil
mengucap rambut gadis itu. ia berkala “Sudahlah puteri. Selalu
kebijaksanaan ada di tangan ayahanda” Perempuan yang gemetar itu
memandang Sanggit Raina yang mendekati pembaringan. Kemudian dengan
suara datar ia berkata “Pangeran. Aku mohon pengertian Pangeran,
agar tugasku dapat selesai dengan cepat. Juga untuk kepentingan
Pangeran dan para pengawal” Orang yang berbaring itu menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya “Kau datang pada saat aku tidak dapat
member ikan perlawanan. Mungkin kau memang sudah memperhitungkannya”
“Kami mohon maaf. Kami memang memperhitungkan keadaan ini Pangeran.
Karena kami tahu, bahwa untuik dapat mengalahkan Pangeran dalam
keadaan yang siap menghadapi lawan, diperlukan kekuatan yang tidak
ada taranya” “Bawalah aku kepada para pengawalku. Tetapi dengan
janji seorang laki-laiki, bahwa kalian tidak akan membunuh mereka”
“Jika hal itu segera kita lakukan, maka kemungkinan untuk tidak
mengurangi seorang pengawalpun masih ada. meskipun tentu beberapa
orang pengawal Pangeran telah terluka. “Bawalah aku kepada mereka”
desis Pangeran yang sedang sakit itu. Sanggit Rainapun kemudian
menyarungkan pedangnya, la membuka selimut Pangeran itu selelah ia
yakin bahwa Pangeran yang sakit itu tidak bersenjata. Kemudian
menolongnya bangkit dan membantunya berjalan menuju ke ruang dalam.
Ketika Sanggit Raina dan Pangeran yang sedang sakit itu muncul di
ruang dalam, maka tiba-tiba saja pertemparan itupun terhenti.
Meskipun masing-masing telah melangkah surut tetapi senjata mereka
masih tetap dalam genggaman. “Hentikan perlawanan“ terdengar
perintah Pangeran ang sedang sakit itu “Orang ini. yang agaknya
pemimpin perampok yang memasuki rumah kita, berjanji sebagai seorang
laki-laki", bahwa kalian tidak akan diusik” Para pengawal
termangu-mangu. Namun mereka t idak melanggar perintah itu. “Nah.
sekarang katakan” berkata Pangeran itu kepada Sanggit Raina, lalu
“Apakah yang kau kehendaki?“ “Pangeran” jawab Sanggit Raina singkat.
“Aku?“ bertanya Pangeran itu. “Ya Pangeran. Aku memer lukan
Pangeran” Pangeran itu termenung sejenak, sementara gadis yang
selalu mengikutinya tiba-tiba berjongkok dihadapannya sambil
menangis “Ayahanda. Jangan pergi” Pangeran itu termenung. Dibelainya
rambut anaknya yang berjongkok dihadapannya. Namun ketika sekilas
dipandanginya ruangan itu, ia melihat orang-orang yang tidak dikenal
berdir i bertebaran dengan senjata di tangan. Lebih banyak dari
pengawal-pengawamya. Bahkan Pangeran yang sedang sakit iiupun dapat
membayangkan, bahwa pengawal- pengawalnya di halaman tentu sudah
tidak mampu lagi membendung orang-orang yang tidak dikenalnya itu,
sehingga mereka memasuki ruangan dalam. “Ayahanda“ gadis itu
menangis semakin keras. Namun dalam pada itu. Nrangsarimpat yang
telah berada di dalam ruangan itu pula tertawa sambil melangkah maju
Tiba- tiba saja ia berjongkok disamping gadis itu sambil berdesis
“Jangan menangis puteri. Meskipun ayahanda pergi, banyak orang yang
akan bersedia menemanimu disini” Puteri itu beringsut. Namun
kemudian Nrangsarimpat sambil tertawa telah memegang lengan puteri
itu. Tetapi tiba-tiba saja Nrangsarimpat terkejut la sadar, bahwa
tiba-tiba saja ia telah terlempar karena hentakkan di dadanya.
Ternyata kemarahan Pangeran yang sakit itu tidak tertahankan lagi,
sehingga kakinya telah menghantam dada Nrangsarimpat. Terasa dada
itu menjadi sesak. Tetapi orang itu ternyata tangkas pula. Dengan
melenting ia bangkit berdir i sambil mengumpat. Suaranya melengking
tinggi. Kesan senyum dan tawanya telah lenyap dari wajahnya Namun
yang menggeram kemudian adalah Sanggit Raina “Kau gila Nrangsarimpat
“Lalu katanya kepada Pangeran yang masih menggeretakkan giginya itu
“Maaf Pangeran. Aku akan mempertanggung jawabkan keselamatan
keluarga Pangeran dan para pengawal. Tetapi aku mohon Pangeran
bersedia pergi bersama kami” Terdengar Nrangsarimpat menggeram.
Tetapi ia t idak berani berbuat sesuatu dihadapan Sanggit Raina, La
mengerti apa yang dikatakan oleh Sanggit Raina bukanlah pura-pura.
Jika ia melindungi anak buahnya iapun bertindak tanpa ragu- ragu.
Tetapi jika ia ingin menghukumnya, maka iapun melakukannya seperti
yang dikehendakinya. Sejenak ruangan itu dicengkam oleh ketegangan.
Pangeran yang sedang sakit itu tidak dapat membuat pertimbangan
lain. Jika ia menolak, maka akibatnya akan sangat buruk bagi para
pengawalnya. Bahkan juga bagi keluarganya, lebih-lebih anak gadisnya
yang sedang meningkat dewasa Tetapi jika ia membiarkan dirinya
dibawa, ia tidak tahu. kemana dan untuk apa. Ia tidak dapat
membayangkan, apa yang akan terjadi atas dirinya. “Pangeran tidak
usah menyebut siapa aku, sesuai dengan pengakuanku, dihadapan para
pengawal” berkata Sanggit Raina “karena itu pengenalan Pangeran
atasku dan kawan- kawanku. biarlah Pangeran bawa bersama
orang-orangku. Sekali lagi, aku akan mempertanggung jawabkan
keselamatan Pangeran dan seisi istana yang akan Pangeran tinggalkan,
kecuali yang sudah terlanjur terluka atau barangkali terbunuh dalam
pertempuran yang baru saja terjadi, karena mungkin ada juga
orang-orangmu yang akan terpaksa aku tinggalkan, karena ia sudah
terbunuh pula” Pangeran itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya
puterimya yang kemudian berpegangan lututnya, sementara embannya
telah berjongkok pula disampingnya. “Sudahlah” desis Pangeran itu
sambil mengusap kepala puterinya “apaboleh buat. Biarlah aku pergi
bersama orang- orang ini. Mudah-mudahan aku akan dapat kembali lagi
ke istana ini” “Ayahanda” desis puterinya. “Barangkali jalan ini
adalah jalan yang lebih baik aku tempuh. Aku masih percaya, bahwa
orang ini adalah seorang yang jantan, yang kata-katanya dapat
dipercaya. Nampaknya ia bukan seorang perampok yang sekedar
menghendaki harta dan benda, tetapi tentu ada kepentingan lain yang
mungkin akan dapat aku selesaikan” “Tetapi, bagaimana j ika ayahanda
meninggalkan aku sendiri?” tangis puterinya. Sejenak Pangeran itu
tertegun. Gadis itu sudah tidak beribu lagi. Ia adalah ayah-bundanya
yang menjadi tempatnya bergantung. Tatapi Pangeran itu melihat
bayangan yang lebih buruk akan dapat terjadi atas anak gadisnya,
jika ia mengadakan perlawanan. Meskipun nampaknya pemimpin dari
orang-orang yang datang itu adalah seorang laki-laki yang dapat
dipercaya dalam ujudnya tersendiri., namun orang- orangnya bukanlah
orang-orang yang mempunyai sifat-sifat serupa. Karena itu, maka
katanya “Sudahlah anakku. Lepaskan aku pergi. Aku ingin juga
melihat, apakah sebenarnya keinginan mereka” “Tetapi, aku takut
ayahanda” tangis anak gadisnya. “Berdoalah. Mudah-mudahan aku akan
segera kembali” jawab ayahandanya. Tetapi tangis puterinya tidak
mereda. Karena itu, maka perlahan-lahan Pangeran itu melepaskan
tangan anak gadisnya sambil berdesis “Cobalah menguasai dirimu
sendiri anakku” Puteri itu meronta ketika embannya menahannya. Namun
tiba-tiba saja ia tertegun ketika ia mendengar orang yang menolong
ayahnya berjalan itu berkata “Puteri, waktuku hanya redikit. Jangan
memaksa kami mengambil jalan lain yang akan capat menyakiti hati
puteri” Pangeran yang sedang sakit itulah yang kemudian menggeram.
Namun Sanggit Raina telah mendorongnya sambil berkata “Marilah
Pangeran. Kuda bagi Pangeran telah tersedia. Aku sendiri akan
menjaga agar Pangeran yang lemah tidak terjatuh jika kuda itu
berpacu. Tetapi untuk beberapa puluh tonggak kita akan berjalan agar
kita tidak mengejutkan dan membangunkan seisi kota“ kemudian kepada
puteri yang masih menangis itu Sanggit Raina berkata “Ingat puteri,
ayahanda puteri ada bersama kami. Jangan berbuat sesuatu yang akan
dapat mengancam keselamatan ayahandamu sendiri” “Oh” suara puteri
itu bagaikan terputus di kerongkongan. Tetapi ia tidak dapat berbuat
apa-apa. Ia hanya dapat melihat ayahandanya berjalan dipapah oleh
orang yang nampaknya pemimpin dari sekelompok orang yang telah
memasuki istananya. Sejenak kemudian, maka ayahandanya itu telah
menghilang di balik pintu butulan. Satu-satu orang-orang yang
memasuki istananya itupun melangkah surut dan lenyap pula ke dalam
gelapnya malam. Demikian orang terakhir dari sekelompok orang yang
memasuki istana itu lenyap, maka puteri itupun menjatuhkan kepalanya
ke dada perempuan yang selalu mendampinginya. Tangisnya tidak
tertahan lagi melontar seperti tumpahnya air dari sebuah bendungan
yang pecah. Beberapa orang pengawal istana itu berdiri termangu-
mangu. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat
berlari mengejar orang-orang yang membawa Pangeran yang sedang sakit
itu. meskipun mereka rela mengorbankan jiwa mereka. Karena dengan
demikian, bukan saja mereka yang terancamj iwanya, tetapi juga
Pangeran itu. Seorang pengawal yang sudah berusia setengah umur
kemudian mendekati emban yang masih memeluk momongannya, yang
menangis itu sambil berkata “Bawalah puteri ke pembaringannya.
Mungkin ia memerlukan ist irahat. Jika mungkin biarlah puteri tidur
barang sejenak” Embannya memandang pengawal itu sekilas. Kemudian
iapun mengangguk kecil. Namun ia berkata kepada diri sendiri di
dalam hati “Maksudku juga begitu. Tetapi puteri ini sedang berduka,
sehingga sulit untuk menenangkannya” Meskipun demikian, emban itu
mencoba juga untuk membujuknya. Namun untuk beberapa saat puteri itu
masih tetap menangis tanpa beranjak dari tempatnya. Dalam pada itu,
para pengawalpun kemudian keluar pula dari ruangan itu, kecuali dua
orang pengawal dalam yang kemudian berdir i di muka pintu butulan.
Bagaimanapun juga, mereka masih harus tetap berhati-hati. Mungkin
yang terjadi itu baru sebuah permulaan yang masih akan disusul oleh
peristiwa-peristiwa lain yang lebih kasar dan liar. Ternyata, diluar
para pengawal harus menolong tiga orang kawan mereka yang terluka.
Seorang dari Tereka terluka parah. Sementara itu seorang dari
kelompok yang memasuki istana itu. juga telah terluka parah. Bahkan
tidak ada lagi kemungkinan untuk dapat diselamatkan. Orang itu sudah
berada dalam keadaan pingsan sementara darahnya terlalu banyak
mengalir. Dengan segera para pengawal yang terluka itupun mendapat
perawatan seperlunya sementara seorang lawan yang sudah tidak
mempunyai harapan lagi untuk dapat hidup itu dibar ingkannya di
serambi gandok. Nyawa orang itu, tidak akan dapat bertahan sampai
ayam jantan berkokok menjelang fajar. Dalam pada itu, maka emban
pemomong puteri yang menangis itu akhirnya berhasil membujuknya
memasuki bilik tidurnya dan membawanya duduk di pembaringan.
“Puteri, silahkan untuk berbaring. Tentu puteri mengalami kelelahan
lahir batin“ embannya mempersalahkan. Tetapi momongannya itu tidak
menghiraukannya Ia masih saja duduk menundukkan kepalanya sambil
tersedu-sedu. “Puteri” berkata emban itu “ayahanda tentu tidak akan
lama. Yang dilakukan adalah satu dari sifat-sifat kesatria yang
dimiliki oleh ayahanda puteri. Dengan demikian, maka puteri jangan
terlalu bersedih. Ternyata puteri memang tidak sendir i. Selan aku,
maka para pengawal akan tetap setia melindungi puteri” Puteri itu
masih menangis. Disela-sela isaknya terdengar ia berkata “Bibi, apa
yang dapat mereka lakukan tanpa ayahanda. Selagi ayahanda masih ada
disini, mereka tidak mampu lagi berbuat apa-apa” “Itu justru atas
perintah ayahanda karena ayahanda mempunyai perhitungan tersedir i”
jawab embannya “tetapi puteri, perhitungan ayahanda adalah
perhitungan seorang yang mumpuni. Apalagi ayahanda puteri sedang
dalam keadaan sakt, sehingga tidak mungkin dapat berbuat sesuatu.
Yang dipilih tentu yang terbaik, bukannya bagi Pangeran tetapi tentu
juga bagi puteri“ Puteri itu mengusap matanya Tetapi agaknya masih
terasa luka yang sangat pedih di hatinya. Selagi emban di istana Itu
sedang sibuk menenangkan hati puteri yang ditinggalkan ayahandanya
itu, maka Pangeran yang sedang sakit itu telah dipapah oleh Sanggit
Raina. Kadang-kadang ia harus mendesaknya agar Pangeran itu dapat
berjalan lebih cepat “Waktu kami tidak banyak Pangeran” desis
Sanggit Raina. “Tidak akan ada gunanya kalian membawa aku. Besok
prajurit Demak tentu sudah menemukan padepokanmu” geramPangeran itu.
“Tidak Pangeran, bukankah hanya Pangeran saja yang akan mungkin
mengetahui bahwa aku adalah orang Sanggar Gading?“ jawab Sanggit
Raina. “Tentu ada orang-orang yang dengan bangga mengatakannya pula.
Atau satu dua orangmu yang terluka, yang akan dapat berbicara
tentang kau dan orang-orangmu, berkata Pangeran itu pula. “Pangeran
salah hitung. Semua yang terluka kembali bersama kami. Seorang yang
tidak akan dapat hidup telah kami tinggalkan. Tetapi tentu tidak
akan dapat keluar dari mulutnya pengakuan seperti yang Pangeran
katakan“ “Ternyata kalian mempunyai perhitungan yang cermat Apa yang
sebenarnya kalian kehendaki?“ bertanya Pangeran itu. Sanggit Raina
menarik nafas panjang. Kemudian jawabnya “Sudahlah. Nanti Pangeran
akan mengetahuinya. Kita akan segera keluar dari kota. Kuda-kuda
kita sudah menunggu. Kita akan segera menempuh perjalanan. Meskipun
tidak terlalu jauh, tetapi akan sangat melelahkan bagi Pangeran yang
sedang sakit“ Pangeran itu menggeram. Tetapi ia tidak mempunyai
kesempatan untuk berbuat apapun juga. Namun ia mulai menyadari
sepenuhnya, bahwa yang dihadapinya saat itu adalah sebuah kelompok
orang-orang kasar, orang-orang berilmu, tetapi juga orang-orang yang
mempunyai perhitungan atas tingkah-lakunya. Karena itu. maka hatinya
menjadi semakin berdebar-debar. Dipaling belakang dari ir ing-ir
ingan yang menyusup diantara jalan-jalan kecil kota menuju ke tempat
kuda mereka disembunyikan adalah Rahu dan Jlitheng. Dengan nada
datar Jlitheng berbisik “Apakah tidak mungkin puteri yang di
tinggalkan itu, atau pengawalnya melaporkan hal ini kepada para
prajurit?“ “Kita membawa Pangeran yang sakit itu” jawab Rahu “Tentu
mereka t idak ingin Pangeran ini mengalami sesuatu” Jlitheng menarik
nafas dalam-dalam, lapun sependapat, bahwa orang-orang yang
ditinggalkan di istana tidak akan berani melaporkan peristiwa yang
terjadi itu dengan segera. Jika para prajurit kemudian berpencar
mengejar orang-orang yang telah membawa Pangeran yang sakit itu.
maka nasibnya justru akan sangat pahit. Mungkin ia akan dibunuh dan
mayatnya ditinggalkan begitu saja sebelum sekelompok orang yang
membawanya berusaha melar ikan diri. “Rahu“ bisik Jlitheng pula
“seandainya kau bermaksud menggagalkannya, apakah kau mempunyai
cara? Bukankah nasib Pangeran itu juga menjadi taruhannya” “Tidak
sekarang” berkata Rahu di telinga J litheng “Tetapi sudah barang
tentu saat kita mulai memasuki istana itu Justru sebelum mereka
sempat mendekati Pangeran yang sedang sakit itu” “Lalu apakah yang
akan kau kerjakan kemudian?“ bertanya Jlitheng? “Tugasku menjadi
semakin berat. Aku harus berusaha melindunginya selama ia berada di
padepokan Sanggar Gading” jawab Rahu “Tetapi sebentar lagi, Pangeran
itu tentu tidak lagi berada di Sangar Gading” desis Jlitheng.
“Apakah kau mengetahui?“ tiba-tiba saja Rahu bertanya. “Dugaanku.
Buat apa ia berada di Sanggar Gading? Apakah yang diperlukan oleh
Yang Mulia timpang itu dari Pangeran yang sedang sakit?“ desis
Jlitheng. “Dugaanmu memang kuat. Kau mempunyai penggraita yang
sangat tajam. Tetapi tentu sekedar dugaan dan perhitungan. Kau tentu
sudah menjelajahi tempat-tempat yang berhubungan dengan daerah
jelajah orang-orang Sanggar Gading disaal terakhir. Aku sudah
memperhitungkan, bahwa kau tidak secara kebetulan menolong Cempaka
diperjalanan saat itu. Dan akupun sudah menduga, bahwa kau lelah
menjelajahi daerah Sepasang Bukit Mati” sahut Rahu berbisik.
Jlitheng tersenyum. Katanya “Panggraitamulah yang tajam. Tetapi aku
tidak perlu berbohong lagi. justru karena kau memiliki tanda bulan
dan matahari itu. meskipun setelah kita menganut jalan kita sendir
i-sendir i, kita dapat saling mencur igai. “Terserahlah. Tetapi yang
jelas, tugasku menjadi sangat berat. Jika terjadi sesuatu atas
Pangeran itu di Sanggar Gading, maka aku tidak akan dapat mencuci
tangan. Apalagi jika Pangeran itu diserahkan kepada pihak lain
karena kepentingan yang khusus, sehingga aku akan menjadi semakin
sulit untuk dapat melindunginya” Rahu berhenti sejenak, lalu “Mudah
mudahan Semi dapat mengambil sikap” “Dimana ia sekarang?“ bertanya
Jlitheng. “Ia mengikuti kita. Ia tahu apa yang telah terjadi. Tetapi
ia selalu menunggu isyaratku” jawab Rahu. lalu “Tetapi aku tidak
tahu apakah ia akan dapat mengikuti perkembangan berikutnya dari
Pangeran yang malang itu. Jika Pangeran itu meninggalkan Sanggar
Gading tanpa diketahuinya, maka mungkin ia akan kehilangan jejnk.
Sementara setiap kali aku selalu meragukan, apakah aku dapat selalu
memberikan keterangan kepadanya, meskipun sampai saat ini, ia dapat
mengikut i segala perkembangan dengan baik” Jlitheng tidak bertanya
lagi. Kesempatan mereka menjadi semakin kecil untuk dapat berbicara
tanpa didengar oleh orang lain, karena iring- iringan itu sudah
mendekati lingkaran kota. Seperti saat mereka memasuki kota, maka
merekapun t idak melewati gapura, meskipun pada saat-saat tenang
gapura itu tidak selalu diawasi dengan ketat. Namun lebih baik bagi
mereka untuk keluar lewat jalan-jalan setapak. Demikianlah maka
merekapun segera meninggalkan kota menuju ke sendang Gambir, tempit
mereka meninggalkan kuda kuda mereka, ditunggui oleh orang-orang
yang dianggap tidak begitu berarti dibanding dengan kawan-kawannya
yang lain. Dalam pada itu. Sanggit Rainapun kemudian mempersilahkan
Pangeran yang sedang sakit itu untuk beristirahat. Katanya “Kita
akan menuju tempat tujuan justru setelah fajar. Tetapi kami mohon
maaf Pangeran, agar Pangeran tidak menimbulkan persoalan bagi kami,
maka kami mohon Pangeran sudi menukar pakaian Pangeran seperti
pakaian kami” Wajah Pangeran itu menegang. Dengan marah ia menggeram
“Kau menghina martabatku. Aku tidak pernah merasa dir iku lebih
tinggi dari martabat orang lain, karena setiap orang mempunyai
martabat kemanusiaannya masing- masing Tetapi yang kau katakan itu
benar-benar telah menyinggung perasaanku” “Aku mohon maaf. Tetapi
tidak ada cara lain yang dapat kami tempuh Pangeran. Dan karena kami
tidak ingin gagal akan tugas kami, maka kami terpaksa mohon dengan
sangat, agar Pangeran sudi melakukannya” minta Sanggit Raina.
Pangeran yang sedang sakit itu mempunyai pengalaman yang sangat luas
menghadapi berbagai macam orang dengan sifat-sifatnya. Karena itu,
maka iapun segera dapat mengenal pemimpin sekelompok orang yang
telah mengambilnya itu. Meskipun ia nampaknya tetap ramah dan sopan,
tetapi dibalik senyum dan anggukkan kepalanya penuh hormat itu.
tersimpan api yang setiap saat dapat menyala dan membakar korbannya.
Karena itu. Pangeran tua yang sedang sakit itu tidak dapat menolak
lagi. Betapapun kemarahan membakar jantungnya namun iapun kemudian
terpaksa mengganti bajunya dengan baju yang tenyata telah disediakan
oleh Sanggit Raina. “Mungkin pakaian yang kami sediakan itu agak
terlalu kecil atau agak terlalu longgar Pangeran, tetapi kami mohon
Pangeran dapat memakainya” berkata Sanggit Raina Pangeran itu tidak
menjawab. Ia tidak membantah lagi. Dipakainya saja baju yang
disediakan oleh Sanggit Raina itu. betapapun batinya bergejolak
“Pangeran akan mempergunakan kuda kawan kami yang kami tinggalkan di
istana, karena ia tidak akan dapat hidup lagi. Aku akan menjaga
Pangeran disepanjang jalan menuju ke Padepokan kami. Sementara itu,
kawan-kawan kami akan berpencar. Bersama kita adalah adikku.
Cempaka” berkata Sanggit Raina kemudian. Pangeran itu sama sekali
tidak menjawab. Ia tidak dapat berbuat apapun juga, kecuali memenuhi
segala permintaan orang-orang yang telah membawanya itu. Namun
sekali-kali terdengar Pangeran itu menggeram. Sebagai seorang yang
memiliki ilmu yang tinggi, maka yang terjadi atasnya benar-benar
satu penderitaan. Tetapi ia tidak dapat menentang keharusan yang
terjadi atasnya. Dan Pangeran itupun tidak dapat menolak, bahwa
kemampuan ilmunya yang tiada taranya, tidak berarti sama sekali
dihadapan Yang Maha Pencipta. Kemampuannya yang seakan-akan tidak
terlawan itu, hanya sebutir debu yang sangat kecil diluasnya langit
dan bumi. Ketika Yang Maha Pencipta menghendakinya, maka ia
benar-benar tidak dapat mempergunakan ilmunya. Sakit itu datang
tanpa dapat dilawan dengan ilmunya yang bagi manapun juga. Bahkan
berbagai macam obat sudah dicobanya. Tetapi tubuhnya masih saja
terasa panas dan sangat lemahnya Seandainya ia memaksa diri untuk
mengerahkan ilmunya pada keadaannya, maka justru tubuhnya sendiri
akan dirusakkannya. “Aku harus menahan dir i” berkata Pangeran itu
di dalam hatinya. Ia masih menunggu. Jika keadaannya berangsur baik.
maka pada suatu saat ia mungkin masih akan mendapat kesempatan untuk
mempergunakan ilmunya, melepaskan diri dari tangan orang-orang yang
menyebut dirinya dari Sanggar Gading. Tetapi sekali-kali terkilas
pula keadaan keluarganya yang ditinggalkannya di istananya.
Orang-orang Sanggar Gading itu akan dapat berbuat sekehendak hati
mereka atas keluarganya. Bahkan mungkin, mereka akan dapat
memaksakan kehendak mereka dengan mengancam anak gadisnya atau isi
istananya. Namun demikian. Pangeran itu tidak dapat menentang
kehendak orang-orang yang membawanya. Dalam pakaian yang
dikenakannya kemudian, Pangeran yang sedang sakit itu masih sempat
beristirahat sejenak. Betapa tubuhnya terasa sakit dan lemah.
Jantung dan isi dadanya, serasa terbakar. Namun kadang-kadang
tubuhnya terasa membeku sehingga tubuhnya itu bagaikan digoncang-
goncang karena menggigil kedinginan. Beberapa orang tabib telah
mengobatinya. Tetapi perkembangan keadaannya terasa lambat setali
meskipun ada juga Kemajuannya. Sehingga akhirnya datang sekelompok
orang dari Sanggar Gading yang menangkapnya justru saat ia tidak
dapat melawan. Ketika langit diujung Timur menjadi kemerah-merahan,
maka orang-orang Sanggar Gading itupun kemudian mempersiapkan diri
mereka umuk menempuh perjalanan kembali ke padepokan mereka. Seperti
saat mereka datang, maka merekapun akan berpencar. Demikian segala
persiapan telah selesai, maka Sanggit Rainapun memberikan pesan
sekali lagi kepada orang- orangnya. Dengan nada berat ia berkata
“Kita harus segera kembali. Tidak seorangpun boleh melakukan
perbuatan apapun diperjalanan. Kita harus menyelamatkan tugas besar
kita kali ini, tanpa menimbulkan persoalan-persoalan yang dapat
mengganggu” Semua orang mendergarkan dengan saksama “Jika salah
seorang dari kalian melanggar perintah ini, dan justru akan dapat
menimbulkan gangguan, maka aku akan mengabil tindakan langsung
terhadap kalian” Tidak terdengar seorangpun yang berbicara. Bahkan
berbisikpun tidak. Namun dalam pada itu, Rahu melihat sikap yang
mencur igakan pada Nrangsar impal yang tersenyum-senyuni sambil
menggamit seorang kawannya. Ada semacam kesan yang kurang baik pada
sikap itu. Karena itu, maka Rahu yang kemudian bergeser ke dekat
Cempaka berbisik “Kau lihat sikap Nrangsarimpat” “Kenapa?“ bertanya
Cempaka. “Ia tentu masih ingat kepada gadis yang tinggal di isianti
itu” desis Rahu. “Gila” geram Cempaka. “Apakah aku boleh bertindak?“
bertanya Rahu. “Jika ia melakukannya. Tetapi awasi orang gila itu”
desis Cempaka tanpa berpaling kcarah Nrangsarimpat, seolah-olah
mereka sedang membicarakan masalah lain yang tidak ada sangkut
pautnya dengan dir inya. “Tetapi laporkan kepada Sanggit Raina, agar
bukan akulah yang bersalah jika terjadi sesuatu” “Aku akan
bertanggung jawb. Orang itu memang selalu membuat kisruh Rencana
besar ini tidak boleh gagal” geram Cempaka. Rahu tidak menjawab.
Tapun kemudian bersingsut pula di belakang Cempaka, sementara
Sanggit Raina masih member ikan beberapa pesan, agar setia orang
selalu berhati- hati di perjalanan. “Tidak seorangpun boleh tahu.
siapakah kalian. Rahasia kalian akan kalian bawa mati seandainya
kalian menjumpai sesuatu di perjalanan” pesan Sanggit Raina.
Pangeran tua yang sedang sakit itu melihat, betapa kuatnya ikatan
orang-orang Sanggar Gading itu. Karena itu, maka iapun beranggapan,
bahwa ikatan sekelompok orang- orang yang menyebut dirinya warga
Sanggar Gading itu tentu bukan sekedar orang-orang yang melakukan
kejahatan untuk merampok harta benda saja. Ketika langit menjadi
semakin cerah, maka sekelompok orang-orang Sanggar Gading itupun
segera berpencar. Rahu yang berada diantara mereka bersama Jlitheng
telah berbisik ke telinga anak muda itu. apa yang dilihat dan
dikatakannya kepada Cempaka. “Sudah ada ijin dari Cempaka. Dan ia
akan mempertanggung jawabkan j ika terjadi sesuatu. Kita tidak akan
membiarkan perbuatan gilanya itu” desis Rahu. “Apa kau yakin?“
bertanya Jlitheng. “Kita akan melibat. Jika kita sudah saling
berpisah, maka kita akan melingkar dan kembali memasuki kota.
Mungkin Nrangsarimpat telah melakukan sesuatu yang akan menyakitkan
hati keluarga Pangeran yang malang itu. Jlitheng mengangguk-angguk.
Namun iapun kemudian bertanya “Apakah kita tidak akan dikejar batas
waktu seperti saat kita berangkat?“ “Sanggit Raina tidak memberikan
batas itu” desis Rahu kemudian. Demikianlah, seperti yang dikatakan
Rahu, maka kedua orang itupun tidak langsung berpacu kembali ke
padepokan Sanggar Gading. Tetapi Jlitheng dan Rahu itupun kemudian
melingkar kembali menuju ke Kota Raja. Mereka dibebani oleh
kecurigaan atas tingkah laku Nrangsarimpat. Jarak antara Sendang
Gambir dan Kota Raja memang tidak jauh. Karena itu, maka merekapun
segera mendekati pintu untuk mengendap-endap dan merangkik-rangkak
lagi lewat jalan-jalan setapak. Namun mereka terhenti ketika dari
kejauhan mereka melihat seorang berkuda kearah yang berlawanan.
Dengan nada datar Rahu berdesis “Semi“ Jlitheng mengerutkan
keningnya. Iapun melihat orang yang disebut adik Rahu itu semakin
lama menjadi semakin dekat Tetapi orang itupun nampaknya heran
melihat Rahu dan Jlitheng kembali. Karena itu justru kudanya berlari
semakin cepat mendekati kedua orang yang sudah berhenti dan menepi.
“Kenapa kalian kembali” bertanya orang itu. Rahu memandang Jlitheng
sejenak. Namun karena Jlitheng mengangguk kecil, maka Rahupun
berkata “Aku curiga kepada Nrangsarimpat. Pangeran yang sakit itu
meninggalkan seorang gadis di rumahnya. Agaknya Nrangsarimpat telah
tertarik kepada gadis itu seperti ia tertarik hampir kepada setiap
orang perempuan” “Jadi kau akan kembali ke istana itu?“ bertanya
Semi “Ya. Jika Nrangsarimpat membawa gadis itu. maka nasib gadis itu
agaknya akan menjadi sangat buruk. Jauh lebih buruk dar i nasib
ayahandanya” jawab Rahu. “Marilah” berkata Semi “Aku ikut bersamamu.
Bukankah tidak ada yang menar ik lagi diikuti pada orang-orang
Sanggar Gading itu?“ “Tidak” jawab Rahu “Mereka telah berpencar dan
kembali ke padepokan sambil membawa Pangeran itu” Semipun kemudian
mengikuti Rahu dan Jlitheng kembali ke Kota Raja. Ada semacam
perasaan gelisah dibati mereka karena sikap Nrangsarimpat. “Kita
akan bersikap keras terhadapnya” desis Rahu kemudian “Aku sudah
mendapat ijin Cempaka” “Apakah harus ada ijin dari orang itu?“
bertanya Jlitheng. “Setidak-tidaknya kita akan membatasi
persoalannya, karena kita sudah terlanjur membiarkan Pangeran itu
dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading ke padepokan” jawab Rahu.
Demikianlah mereka mempercepat kuda mereka. Mereka tidak membuang
waktu lagi sehingga karena itu, maka merekapun telah pergi langsung
menuju ke istana Pangeran yang telah dibawa oleh orang-orang Sanggar
Gading itu. Namun demikian mereka mendekati istana, maka Rahupun
berdesis Kita akan melibat, apakah mereka sudah datang atau belum”
“Apakah kita akan memasuki istana itu?” bertanya Semi. “Tidak. Kita
akan bertanya kepada penjaga regol itu, apakah ada orang yang datang
ke istana itu mencari seorang” jawab Rahu. “Apakah mereka justru
tidak akan mencurigai kita??” bertanya Jlitheng. “Kalian tidak per
lu akut. Akulah yang akan bertanya” sahut Semi “Mungkin mereka masih
mengenal kalian yang semalam datang ke istana itu” “Pergilah” jawab
Rahu “Kau orang baru dalam hal ini” Semipun mendahului kedua orang
kawannya. Ia segera menemui penjaga regol istana itu dan bertanya
“Apakah aku diperkenankan menghadap Pangeran. Penjaga itu bingung
sesaat. Namun yang tertua diantara mereka menjawab. “Pangeran sedang
sakit Ia tidak menerima tamu hari ini “Itulah” jawab Semi “Aku
datang karena Pangeran sedang sakit. Aku membawa obat untuk Pangeran
yang dipesankan salah seorang abdi di istana ini. Ayahku adalah
seorang tabib yang dikenal baik oleh Pangeran” Sejenak penjaga regol
yang tua itupun ragu-ragu. Namun kemudian katanya “Apakah orang lain
dapat menerimanya Semi termenung sejenak. Tetapi kemudian ia
bertanya “Ki Sanak, apakah kakakku telah datang kemar i?”Siapa?“
“Kakakku. Ia juga harus datang hari ini untuk membawa obat yang akan
menjadi campuran obat yang aku bawa sekarang” desis Semi. “Belum ada
orang yang datang sepagi ini” Semi menar ik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya “Jika demikian, baiklah aku akan menunggu saja. Aku akan
menghadap bersama-sama dengan kakakku itu” “Terserahlah kepadamu.
Tetapi Pangeran berpesan agar tidak seorangpun yang boleh datang
menghadap untuk keperluan apapun juga” berkata penjaga regol itu.
Semi menarik nafas dalam-dalam Namun iapun kemudian mohon dir i
untuk menunggu saudara laki-lakinya di luar istana. Dalam pada itu,
Semipum segera mendapatkan Rahu dan Jlitheng untuk mengatakan kepada
mereka, bahwa belum ada orang yang datang ke istana itu. “Ternyata
kita datang lebih dahulu” desis Rahu. “Tetapi mungkin Nrangsarimpat
tidak akan kembali ke istana ini” desis Semi. “Memang mungkin.
Tetapi kita akan menunggu beberapa saat. Kita akan mencari sebuah
kedai di pinggir jalan, dekat dengan istana itu” berkata Rahu “Jika
mereka datang dari arah yang berbeda?“ bertanya Jlitheng. “Kita akan
selalu mengawasi” jawab Rahu. Dengan demikian, maka ketiga orang
itupun berusaha untuk mendapatkan sebuah kedai yang mungkin t idak
terlalu dekat, tetapi dapat mengawasi regol istana Pangeran yang
malang itu. Selain mereka memang lapar, maka mereka akan dapat
menjaga, agar seseorang tidak melakukan tindakan yang membuat
Pangeran itu semakin menderita. Tetapi ketiga orang itu tidak dapat
makan dengan tenang. Meskipun demikian, namun akhirnya mereka
menjadi kenyang juga. Untuk beberapa saat mereka masih duduk di
dalami kedai itu. Mereka sempat bertanya, kapan kedai itu mulai
dibuka. “Dini har i” jawab pemilik kedai itu “orang-orang yang pergi
ke pasar dari daerah yang jauh, kadang-kadang telah habis menjual
dagangannya sebelum pagi. Sambil pulang, mereka sering singgah
dikedai ini” “Siapa yang membeli dagangan mereka di dini hari?“
bertanya Rahu. “Para tengkulak. Mereka membeli hasil sawah dari para
petani. Kemudian mereka menjualnya di pasar itu pula. Bahkan
keuntungan mereka lebih banyak dari uang yang diterima oleh para
petani yang menanam, memetik hasilnya dan membawanya ke pasar itu”
jawab pemilik kedai itu. Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Memang
tidak adil. Tetapi para petani itu telah puas jika dagangannya
menjadi segera laku meskipun dibeli dengan harga yang terhitung
murah” Semi akan menyahut Tetapi diurungkannya, karena tiba- tiba
saja mereka melihat dua orang penunggang kuda mendekati regol rumah
Pangeran yang telah diambil olehi Sanggit Raina. Bahkan sejenak
kemudian dua orang berkuda kurnya telah mendekati pula, “Itukah
mereka?“ bertanya Semi. Rahu bergeser selangkah. Kemudian sambil
menggeram ia bangkit “Setan. Ternyata ia benar-benar kembali. Ia
berhasil mempengaruhi beberapa orang kawannya untuk kepentingannya
yang gila itu” “Apa?“ bertanya pemilik kedai itu. “Bukan apa-apa”
jawab Jlitheng. Rahu kemudian membayar makanan dan minuman yang
telah mereka makan dan mereka minum. Kemudian katanya kepada pemilik
kedai itu “Aku titipkan kuda kimi disini” “Ada apa sebenarnya?“
bertanya pemilik kedai itu. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya menitipkan
kuda itu” jawab Jlitheng “Tetapi jika terjadi sesuatu, aku tidak
tahu menahu” pemilik kedai itu ketakutan. Rahu mempertimbangkannya
sejenak. Namun kemudian katanya “Kita bawa saja kuda kita. Kita ikat
pada batang- batang perdu diluar halaman istana” Sejenak kemudian,
merekapun mendekati regol pula Ternyata keempat orang berkuda itu
telah memasuki regol. Rahu dan kawan-kawannya tidak tahu, bagaimana
cara mereka masuk. Apakah mereka menipu para penjaga regol, atau
mereka mengancamdengan cara yang licik. Di luar regol, ketiga orang
itu mengikat kuda mereka pada sebatang pohon perdu di pinggir jalan.
Kemudian mereka dengan hati-hati mendekati regol itu pula. “Aku akan
menghadap Pangeran” desis Semi kepada penjaga regol. Penjaga regol
itu termangu-mangu. Wajahnya penuh dengan kegelisahan dan gejolak
yang menghentak-hentak. “Baiklah” berkata Semi kemudian “Kami akan
berterus terang. Siapakah empat orang berkuda yang memasuki regol
ini?“ Penjaga regol itu menjadi semakin tegang. Namun Semi. Rahu dan
Jlithengpun kemudian mendesak masuk sambil bertanya sekali lagi
“Siapakah mereka? Kenapa mereka kalian ijinkan masuk? Bukankah sudah
kalian katakan, bahwa Pangeran tidak dapat menerima siapapun juga”
Orang bu tergagap. Sementara seorang kawannyapun berdiri saja
mematung. “Coba katakan“ desak Rahu. “Mereka mempunyai kepentingan
khusus” desis penjaga regol itu. “Katakan. Apakah mereka termasuk
kelompok orang-orang yang semalam datang kemari mengambil Pangeran?“
desak Rahu. Penjaga regol itu menjadi semakin tegang. Dengan suara
tertahan-tahan ia menjawab “Ya. Mereka adalah orang-orang yang
datang semalam. Tapi dari siapa kalian mengetahuinya” “Itu bukan
urusanmu. Tetapi katakan, apakah keperluan mereka” bertanya Semi.
Penjaga regol itu ragu-ragu. “Apakah mereka mendapat pesan dari
Pangeran agar mengambil anak gadisnya untuk menyusulnya?“ Rahu
bertanya pula. “Ya, ya. Kalian tahu semuanya” suara penjaga itu
bergetar. “Persetan. Kalian telah ditipunya. Pangeran tidak memer
intahkan siapapun untuk mengambil anak gadisnya. Bukankah kalian
harus melindunginya” geramRahu. “Tetapi jika demikian, maka bukankah
nasib Pangeran ada di dalam bahaya“ penjaga regol itu menjadi
semakin bingung. “Siapa yang mengatakannya?“ bertanya Jlitheng.
“Orang-orang itu” sahut penjaga rcgol. “Bagus. Jadi orang itu
mengambil gadis itu atas perintah Pangeran. Jika kalian tidak
memberikan, maka Pangeran itu ada dalam bahaya. Apakah dengan
demikian kau tidak tahu maknanya?“ bertanya Jlitheng “Aku tidak
mengerti” jawab penjaga regol itu. “Dengar. Dengan demikian berarti,
bahwa Pangeran ilu sebenarnya tidak menginginkan anak gadisnya
menyusulnya. Jika ia memerintahkannya itu hanya karena ancaman
baginya. Tetapi itupun tidak benar sama sekali. Sudahlah. Beri kami
kesempatan untuk menyelesaikan persoalan ini. Ketahuilah kami juga
termasuk orang-orang yang dalang semalam. Karena itu kami tahu
segalanya. Orang ilu sama sekali tidak, datang atas perintah
Pangeran, tetapi atas kehendaknya sendiri. He, apakah kau tidak
melihat, bagaimana Pangeran marah melihat sikap orang itu semalam?“
Penjaga regol itu menjadi semakin tegang. Seorang yang untuk
beberapa saat hanya mematung saja, tiba-tiba berdesis “Ya, Semalam
memang ada seorang yang dengan sangat tidak tatanan telah mencoba
menyentuh puteri” “Kami akan menemui mereka“ berkata Rahu tidak
sabar lagi “kalian tidak usah turut campur. Kami mendapat tugas dari
pimpinan kami untuk membersihkan nama kelompok kami dari sikap yang
kotor itu” Para penjaga regol ilu saling berpandangan. Namun mereka
seolah-olah telah dicengkam oleh perasaan yang selalu cemas dan
kawatir tentang nasib Pangeran yang sedang sakit dan yang telah
dibawa oleh sekelompok orang yang tidak dikenal itu. Karena para
penjaga itu masih saja termangu-mangu, maka Rahupun berkata “Kami
akan menyelesaikan persoalan kami. Kami akan berusaha agar puteri
itu tidak beranjak dari istana ini, dan jatuh ke tangan setan alasan
itu” Sebelum para penjaga regol menjawab, maka Rahupun telah
melangkah manuju kepantu butulan yang terbuka, diikuti oleh Jlitheng
dan Semi. Sejenak para penjaga regol itu termangu-mangu. Namun
kemudian yang tertua diantara merekapun berkata “Biarlah mereka
menyelesaikan persoalan diantara mereka. Akupun sebenarnya
berkeberatan untuk melepaskan puteri ke tangan orang yang nampaknya
sangat licik itu” Tidak ada yang menjawab Tetapi nampak pada setiap
wajah, ketegangan yang semakin memuncak Dalam pada itu, Rahu yang
tergesa-gesa, segera memasuki pintu butulan. Ia justru berlari
ketika mendengar jerit kecil di dalam ruangan depan. Giginya
gemeretak menahan gejolak di dalam hati. Tiba-tiba saja Rahu
berteriak pada saat ia mendorong pintu yang menyekat ruang depan dan
ruang dalam, sementara itu suara tertawa terdengar meninggi.
“DiamIblis” Tetapi suara tertawa itupun segera terputus. Serentak
mereka berpaling ke pintu yang berderak “Rahu” desis Nrangsarimpat
yang sedang memegangi puteri yang berusaha meronta. Sementara
embannya terbaring dilantai Pingsan. “Nrangsarimpat” geram Rahu yang
melangkah maju setapak demi setapak “Apa yang kau kerjakan itu? “Itu
urusanlku. Kenapa kau kembali?“ bertanya Nrangsarimpat. Senyumnya
sama sekali tidak nampak lagi di bibirnya. “Aku mendapat perintah
dari Sanggit Raina lewat Cempaka untuk melihat, apa yang kau
lakukan. Ternyata kau benar- benar seorang iblis yang Gila“
geramRahu. “Bohong” teriak Nrangsarimpat “Cempaka tidak akan memer
intahkan sesuatu kepadamu bersama orang yang bukan keluarga kita,
meskipun aku tahu. bahwa ia adalah adikmu” “Ini suatu pendadaran
buat adikku, apakah ia dapat diterima diantara kita atau tidak. Ia
akan bertempur tidak usah di padang perburuhan itu. Tetapi jika kau
tidak mau pergi, maka adikku akan bertempur disini bersama aku dan
Bantaradi” jawab Rahu. Tetapi Nrangsarimpat tertawa. Ia masih belum
melepaskan puteri yang ketakutan itu. Katanya “Baiklah. Aku akan
pergi bersama puteri ini. Aku akan membawanya ke padepokan. Mungkin
ia diper lukan. Bukan saja aku sendiri. tetapi kawan- kawanku. Dan
bukankah disana ia akan tinggal bersama ayahandanya?“ “Tidak. Aku
tidak mau” teriak puteri itu. Tetapi Nrangsarimpat tertawa sambil
menjawab “Jangan menjer it terlalu keras puteri. Aku tidak bermaksud
buruk Tetapi aku bermaksud baik. Disini kau terpisah dari ayahanda
mu. Tetapi di padepokanku kau akan tinggal bersamanya, meskipun
hanya pada saat-saat tertentu” “Cukup“ Rahulah yang membentak “Kau
jangan menghina perintah Sanggit Raina. Nrangsarimpat, seandainya
aku gagal menjalankan perintah itu maka kau tentu akan dibunuhnya
juga jika kau bawa gadis itu. Kau seharusnya sudah dapat membawa
sikapnya semalam. Tetapi ketajaman perhitungannya telah menjatuhkan
perintah lewat Cempaka agar aku datang kembali ke istana ini” Tetapi
Nrangsarimpat masih tertawa Katanya kepada kawan-kawannya “Jika
demikian, gadis ini tidak akan kita bawa ke padepokan. Aku akan
menyediakan sebuah rumah khusus buatnya. Ia akan menjadi isteriku”
“Aku tidak mau. Aku tidak mau” teriak puteri itu. Semi yang berdiri
dengan tegangnya itu, rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu
pembicaraan yang tidak berkesudahan. Maka iapun kemudian melangkah
maju sambal berkata “Aku akan mencoba untuk dapat memasuki padepokan
itu. Mungkin aku harus membunuh untuk membuktikan bahwa aku memiliki
kemampuan untuk berada bersama kakakku di padepokan” Nrangsarimpat
masih saja tertawa. Kalanya kepada kawan kawannya “He, kenapa kau
biarkan anak itu mengigau” Tiga orang kawan Nrangsarimpapun segera
bersiap. Yang seorang menggeram “Kalian telah mengganggu kami.
Kalianpun telah mengaku mendapat perintah dari Sanggit Raina. Maka
untuk menghapus kesombongan kalian, maka IcalLan akan kumi. bunuh
disini” “Jadi kalian tidak mau mendengarkan per ingatan kami” potong
Rahu. Nrangsarimpatlah yang kemudian berkata kepada kawan- kawannya
“kalian menunggu apa lagi? Lakukanlah. Bunuhlah mereka Puteri ini
kelak tidak akan meronta-ronta lagi jika ia sudah melihat istana
ayahku. Aku juga seorang bangsawan seperti gadis ini. Bahkan
seandainya Rahu mengetahuinya, ia akan menyembah aku sepuluh kali
setiap ia berbicara satu kalimat” Rahu tidak menjawab lagi. Tapun
kemudian melangkah maju pula sambil mempersiapkan dir i. Sementara
Jlithengpun telah memencar, la berdiri menyudut sambil memperhatikan
keadaan yang menjadi semakin tegang. Ternyata Nrangsarimpat
benar-benar seorang yang sombong. Ja sama sekali tidak melepaskan
puteri itu. Agaknya ia percaya kepada tiga orang kawan-kawannya.
karena lawan merekapun hanya tiga orang. “Bunuh mereka. Biarlah aku
bersama gadis ini. Kelak kalian akan mendapat hadiah ganda
daripadaku. Selain karena kalian membantu aku mendapatkan puteri
ini, kalian juga telah membantu aku menyingkirkan kutu-kutu kecil
itu. Perhiasan setelah dinding istanakupun telah berlebihan bagi
upah kalian itu” berkata Nrangsar impat. Ketiga orang kawannya
kupon, segera berpencar pula menghadapi tga orang yang mereka anggap
telah mengganggu maksud mereka mengambil puteri itu. Rahu menggeram
mendengar kata-kata dan melihat sikap Nrangsarimpat. Ternyata orang
itu telah merendahkannya dan menganggapnya tidak pantas untuk
dilayani, sehingga dengan demikian, Nrangsarimpat telah
mempercayakannya kepada kawan-kawannya. Semi yang jantungnya
bagaikan terbakar, melangkah mendekati orang yang berdir i disebelah
Nrangsarimpat sambil bertolak pinggang. Ia tidak berkata sesuatu
lagi. Namun iapun telah bersiap untuk menyerangnya. Orang yang
bertolak pinggang itu bergeser. Namun ia masih sempat tersenyum
sambil berkata “Adikmu memang sombong Rahu” Rahu tidak menjawab,
karena ia melihat Semi telah meloncat menyerang orang yang masih
saja tersenyum itu. Orang itu tertawa Ia sempat mengelak sambil
berkata “Sebuah serangan yang manis. Tetapi kita akan berkelahi.
Tidak sekedar menari di pendapa istana Pangeran ini“ Semi
mengerutkan keningnya. Tetapi iapun kemudian menarik nafas
dalam-dalam. Sikap lawannya justru membuatnya berbesar hati. Pada
serangan yang pertama, ia memang tidak bersungguh-sungguh. Tetapi
nampaknya lawannya menilai lain, meskipun ia agak menghinanya
Nrangsarimpat yang masih memegangi puteri yang ketakutan itu
bergeser menepi. Ketika puteri itu meronta sekali lagi.
Nrangsarimpat tertawa sambil berkata “Jangan membuat aku marah dalam
keadaan ini puteri. Kau terlalu cantik untuk dicubit j ika kau
nakal. Tetapi j ika kau masih saja meronta, aku akan mendukungmu
seperti mendukung anak- anak yang sedang merengek” Rahu mengeram.
Tetapi seseorang telah berdiri dihadapannya. Orang yang dikenalnya
dengan baik dalam kehidupannya di Sanggar Gading. “Kau sudah dibius
oleh kegilaan Nrangsarimpat” berkata Rahu. “Jangan merajuk Rahu. Aku
memang berdiri di pihaknya. Ia memiliki uang untuk mengupah aku. Dan
ia akan memilki permainan yang mengasyikkan, yang barangkali pada
suatu saat aku akan diperbolehkan meminjamnya” “Kau gila. Ternyata
kau tidak tunduk lagi kepada perintah Sanggit Raina. Ia
memerintahkan agar kita semuanya tidak memancing persoalan yang
manapun juga, yang dapat mengganggu kerja besar kita” geramRahu.
“Jangan banyak bicara lagi. Karena kau sudah mencampuri persoalan
ini, maka agar kami tidak mendapat hukuman dari Sanggit Raina dan
Yang Mulya dari Sanggar Gadang, maka kalian bertiga akan mat i.
Dengan demikian tidak akan ada saksi dan tidak akan ada orang yang
akan menyampaikan masalah ini kepada mereka” Rahu tidak menjawab.
Tetapi iapun segera bersiap. Namun agaknya lawannyapun bertindak
cepat. Justru ia telah meloncat menyerang Rahu yang terpaksa
menghindar selangkah surut. Jlithengpun kemudian t idak menunggu
lagi. Sementara itu. seorang yang telah siap menghadapinya, segera
bergeser mendekatinya sambal berkata “Kau ternyata hanya mempunyai
kesempatan yang sangat pendek tinggal bersama kami di padepokan
Sanggar Gading. Kau akan mati bersama Rahu orang yang menjadi sangat
sombong hanya karena ia dapat mendekati dan mendapat sedikit
kepercayaan dari Cempaka, adik Sanggit Raina. Tetapi Rahu itu akan
mati bersama adiknya pula disini” Jlitheng tidak menjawab. Iapun
kemudian bersiap ketika lawannya mulai menggerakkan tangannya dan
bergeser semakin dekat. “Aku ingin melihat, apakah kau mampu juga
bertempur meskipun kau sudah pernah menunjukkan kemampuanmu di
padang perburuan. Tetapi yang kau hadapi adalah cecurut- cecurut
kecil yang tidak berarti” berkata lawannya sambil tertawa. Jlitheng
mengatupkan giginya. Namun tiba-tiba saja berkata “Aku sudah pernah
membunuh celurut-celurut kecil. Tetapi apakah kau bukan sebangsa
tikus piti?“ Orang itu tertawa. Katanya “Kau sempat bergurau
menjelang matimu. Bagus. Kau akan mati sambil tersenyum mengenang
gurauanmu sendiri, itu lebih baik dari pada mati sambil menagis”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun ia masih juga berkata “Apakah
kau sedang berusaha menyelebungi kecemasanmu dengan berkicau t idak
menentu” Tiba-tiba wajah orang itu menjadi tegang. Katanya “Gila.
Kau ternyata tidak kalah sombongnya dengan Rahu” Jlitheng tidak
menjawab. Dalam ruang yang tidak terlalu luas itu segera terjadi
tiga lingkaran pertempuran. Sementara itu Nrangsarimpat yang masih
saja memegangi gadis itu. bergeser semakin lama menepi. Dengan penuh
perhatian ia mengingkar i pertempuran yang semakin lama menjadi
semakin meningkat. Sementara itu beberapa orang pengawal istana itu
menjadi kebingungan. Mereka tahu pasti bahwa pertempuran memang
sedang terjadi diruang dalam. Namun mereka tidak mengetahui apa yang
sebaiknya harus mereka lakukan. “Selagi mereka bertempur, apakah
tidak sebaiknya kita melaporkan segala peristiwa yang terjadi kepada
prajur it Demak?“ berkata salah seorang pengawal. “Apakah dengan
demikian tidak akan membahayakan jiwa Pangeran? Jika orang-orangnya
yang berada disini tidak kembali pada saat-saat yang ditentukan,
maka tentu akan timbul kecurigaan. Sasaran mereka adalah Pangeran“
sahut yang lain. “Tetapi mereka saling bertempur” desis yang lain
lagi. ”Menurut keterangan mereka, dan aku agaknya percaya, bahwa
yang datang kemudian itulah yang membawa tugas dari pimpinan mereka
untuk mencegah tingkah laku kawannya yang tidak menguntungkan bagi
kelompok mereka. Semalam tanda-tanda itu sudah nampak” berkata
seorang pengawal yang melihat tingkah laku Nrangsarimpat semalam.
Namun para pengawal itu masih tetap ragu-ragu. Sehingga akhirnya
yang tertua diantara mereka berkata “Kita hanya dapat menunggu. Jika
kita salah langkah, taruhannya mahal sekali. Pangeran akan menjadi
banten kebodohan kita. Tetapi jika kita tidak berbuat sesuatu,
mungkin itupum kesalahan pula, karena kita tidak berusaha
membebaskan Pangeran” Para pengawal itu termangu-mangu. Memang
mereka merasa apa yang mereka lakukan selalu salah. Namun akhirnya
mereka memutuskan untuk berbuat dengan sangat berhati-hati. Dalam
pada itu. di dalam istana itu pertempuran masih berlangsung dengan
sengitnya. Para pengawal yang kebingungan itu kemudian beringsut
untuk berusaha dapat mengikut i perkelahian itu meskipun dori jarak
yang agak jauh. Meskipun demikian mereka masih sempat mengatur agar
dua orang diantara mereka tetap berada di regol. Untuk sementara
mereka memang harus menunggu. Meskipun sebenarnya mereka telah siap
mengorbankan apapun yang ada pada mereka, tetapi pertimbangan
keselamatan Pangeran itulah yang menjadi perhatian utama bagi
mereka. Sementara itu, Rahu, Jlitheng dan Semi masih bertempur
dengan sengitnya. Ternyata orang-orang Sanggar Gading yang memang
orang-orang yang terpilih. Hanya mereka yang memiliki kelebihan
sajalah yang dapat memasuki dan diterima menjadi keluarga dari
padepokan yang tertutup dan wingit itu, semuanya disebut mur id dari
pimpinan tertinggi padepokan itu. sengaja atau tidak sengaja.
Meskipun demikian, ternyata masih ada juga unda-usuk dari setiap mur
id di Sanggar Gading. Meskipun mereka adalah orang-orang terpilih,
tetapi kemampuan dan ilmu mereka mempunyai tataran yang tidak sama.
Karena itulah, maka akhirnya Rahu, orang yang dipercaya oleh Cempaka
itu dapat mengatasi lawannya Dengan kecepatannya bergerak, akhirnya
ia dapat membuat lawannya kebingungan. Dalam pada itu, Jlitheng,
anggauta termuda dari Sanggar Gading itupun ternyata memiliki
kelebihan dari lawannya. Bekal yang dipersiapkan cukup cermat
sebelum ia memasuki Sanggar hantu itu, segera nampak gunanya. Dengan
pasti íapun akhirnya berhasil menekan lawannya sehingga pada suatu
saat, lawannya benar benar berada dalam kesulitan. Dilingkaran
pertempuran yang lain. Semi harus mengerahkan segenap kemampuannya.
Lawannya benar- benar seorang yang kuat dan tangguh. Tenaganya
bagaikan tenaga raksasa. Namun Semi adalah petugas sandi seperti
juga Rahu. Itulah sebabnya, maka iapun mampu bertahan menghadapi
serangan lawannya yang kuat dan tangkas. Nrangsarimpat memperhatikan
pertempuran itu dengan saksama. Akhirnya ia menyadari, bahwa ia
tidak akan dapat tetap berdiam diri menonton saja pertempuran itu.
Karena itu, maka sambil menggeretakan giginya ia menggeram “Ternyata
kalian benar-benar tidak pantas diampuni. Aku tidak akan menyesal j
ika saudara-saudaraku dari Sanggar Gading harus dikorbankan karena
tingkahnya sendir i” Rahu menggeretakkan giginya. Tetapi iapun tidak
menutup perkembangan, bahwa j ika Nrangsarimpat segera terjun ke
pertempuran, maka tugas mereka menjadi berat. Sekilas ia sempat
memperhatikan Semi dan Jlitheng. Ia menganggap bahwa Semi tidak,
perlu dicemaskan, karena ia mengetahui kemampuannya. Asal saja
Nrangsarimpat tidak turun menghadapinya pula berpasangan dengan
lawan yang sudah ada. Namun yang menjadi perhatiannya kemudian
adalah anak muda yang dikenalnya bernama Bantaradi dan yang ternyata
mengaku sebagai putera seorang Senapati Agung di Majapahit pada saat
runtuhnya. Rahu yang memiliki pengamatan yang rajam itu tidak dapat
mengingkar i penglihatannya, bahwa ia memang melibat beberapa unsur
gerak Pangeran Surya Sangkaya ada pada tata gerak anak muda yang
dikenal bernama Bantaradi dan yang menyebut dir inya bernama Candra
Sangkaya itu. “Anak muda yang luar biasa“ berkata Rahu di dalam
dirinya. Namun dalam pada itu, ia harus menggertakkan giginya ketika
ia melihat Nrangsarimpat tidak mau menahan diri lagi. Ketika ia
melihat kawan-kawannya mulai terdesak, maka iapun berkata “Puteri,
aku tidak dapat menunggui tanpa berbuat sesuatu dan hanya
bergandengan tangan saja denganmu” “Pergi, pergi lepaskan aku”
teriak puteri itu. “Jangan meronta. Lebih baik kau tidur saja
sejenak. Aku harus melibatkan dir i dalamperkelahian yang gila ini“
Puteri itu meronta, tetapi Nrangsarimpat segera memegang tengkuknya.
Dengan keahlian yang ada padanya ia telah memijit urat pada tengkuk
puteri itu, sehingga puteri itupun menjadi tidak sadarkan diri,
seolah-olah tertidur sangat nyenyaknya. “Tidur sajalah sayang“ guman
Nrangsarinrpat. Namun terdengar Semi menggeram “Kau sajalah yang
mati“ Nrangsarimpat tertawa. Katanya “Jangan mengumpat. Puteri itu
tertidur nyenyak, sehingga ia tidak akan menjadi ketakutan melihat
tubuh-tubuh yang akan terbantai disini” Semi tidak menjawab. Tatapi
ia mulai menghentakkan kekuatannya mendesak lawannya Nrangsarimpat
maju selangkah. Ia melihat pertempuran itu dengan saksama. Kemudian
katanya “Aku akan memilih lawanku. Aku akan bertempur berpasangan
melawan Rahu, orang yang merasa dirinya memiliki kelebihan dari
kawan- kawannya di padepokan Sanggar Gading. Kau harus mati lebih
dahulu. Kemudian anak baru yang malang itu dan kemudian adikmu pula.
Tidak seorangpun yang boleh tetap hidup agar tidak ada kesaksian
yang sampai ke telinga Sanggit Raina. Rahu menggeram. Ia sadar,
untuk melawan dua orang sekaligus akan mengalami kesulitan. Tetapi
ia tidak boleh ingkar apapun yang akan terjadi. Namun iapun tidak
akan berputus-asa karenanya. Ia akan menghentakkan segenap
kemampuannya menghadapi keduanya dengan hati yang tatag. Selangkah
demi selangkah Nrangsarimpat melangkah maju. Sementara itu. Rahu
berusaha sekuat-kuatnya untuk memper lemah pertahanan lawannya
justru sesaat sebelum Nrangsarimpat memasuki arena. Dalam ruang yang
tidak begitu luas itu, suasananya menjadi semakin panas ketika
Nrangsarimpat mulai menyingsingkan kain panjangnya dan menyangkutkan
pada kerisnya. Sementara sambil menggeretakkan giginya ia mendekati
Rahu yang sedang bertempur dengan sengitnya. “Kita tidak akan
bermain-main lagi” berkata Nrangsar impat. Karena itulah, maka
pertempuran yang dahsyat itupun segera ditandai dengan dentang
senjata dan perakan bunga api di udara. Namun sebenarnyalah
Nrangsarimpat adalah seorang yang trampil trengginas. Apalagi berdua
berpasangan melawan Rahu. Betapapun juga namun ternyata Rahupun
segera mulai terdesak. “Tempat ini tidak menguntungkan buatmu Rahu”
berkata Nrangsarimpat “di tempat yang lebih luas, mungkin kau dapat
berloncatan dengan langkah-langkah panjang untuk menghindari
serangan-serangan kami berdua. Tetapi di tempat yang sempit ini,
kesempatanmu terlalu kecil untuk dapat memperpanjang umur” Rahu
tidak menjawab. Terdengar ia menggeram sambil menghentakkan
kemampuannya. Yang terdengar kemudian adalah justru suara tertawa
Nrangsarimpat. Sambil menyerang ia berkala “Jangan memaksa diri.
Sebentar kemudian kau akan kehabisan tenaga. Lehih baik kau mati
tertusuk pedang dalam pertempuran daripada kau terjatuh kehabisan
nalas, kemudian dengan perlahan-lahan aku menikamkan pedang dipusat
jantungmu” “Setan“ Rahu mengumpat. Tetapi yang dikatakan oleh
Nrangsarimpat itu justru memberinya peringatan, agar ia
memperhitungkan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi
betapapun juga, Rahu benar-benar semakin tersudut ke dalam
kesulitan. Jika ada perbedaan tingkat dan tataran ilmu bagi
orang-orang terbaik di Sanggar Gading, maka akan sulit bagi
seseorang melawan dua orang sekaligus. Apalagi yang seorang
diantaranya adalah Ntangsarimpat. Dalam pada itu maka t iba-tiba
saja terdengar Nrangsarimpat berteriak “Sekarang, jangan beri
kesempatan terlalu lama. Gadis itu memer lukan pembebasan dari t
idurnya yang nyenyak. Karena itu, terpaksa kita akan membunuh
segera“ Keduanya bergerak semakin cepat. Dengan loncatan yang cepat,
kedua lawan Rahu itu berhasil mengurungnya di sudut ruangan,
sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Rahu untuk menembusnya.
“Apakah kau mempunyai pesan?“ tiba-tiba Nrangsarimpat bertanya. Rahu
tidak menjawab. Tetapi dengan cermat ia melawan serangan-serangan
lawannya. Namun pada saat terakhir, Nrangsarimpat agaknya
benar-benar tidak ingin member inya kesempatan lagi Dengan wajah
yang garang ia mengacukan senjatanya sambil berdesis “Saatnya telah
tiba. Betapapun tinggi ilmumu, kau akan mati disini” Rahu berdiri
tegak dengan wajah yang tegang. Dengan ketajaman tatapan matanya ia
berusaha untuk dapat mengamati kedua ujung senjata lawannya. Setiap
kali senjata itu dapat bergerak mematuknya. Dan ia tidak akan
membiarkan dir inya terluka arang keranjang dan mati di istana itu
tanpa berusaha sampai kemungkinan terakhir. Yang sama sekali tidak
diduga oleh lawan- lawannya pada saat yang demikian itu, justru Rahu
telah menghentak dengan kecepatan yang sangat tinggi, meloncat
menyerang. Bukan Nrasarimpat, tetapi kawannya yang memiliki tingkat
ilmu yang selapis di bawahnya. Gerak Rahu benar-benar
mengejutkannya. Karena itu, maka lawannya yang tidak menyangka sama
sekali telah menjadi kehilangan kesempatan untuk mengelak. Namun ia
masih berusaha untuk menangkis serangan Rahu yang sangat tiba-tiba
itu. Meskipun demikian, ia tidak berhasil sepenuhnya melepaskan diri
dari sentuhan ujung senjata Rahu. Karena itulah maka terdengar ia
menyeringai ketika senjata Rahu menyentuh pundaknya dan meninggalkan
luka yang menganga. “Gila kau Rahu “ Nrangsarimpatlah yang berteriak
sambil meloncat menyerang. Tetapi Rahu memang sudah memperhitungkan.
Karena itu dengan cepat ia meloncat surut sambil menangkis serangan
lawannya. Dalam pada itu, orang yang terluka itu untuk sesaat
berdiri termangu-mangu. Ketika tangan kirinya meraba lukanya, maka
terasa darahnya yang hangat membasahi jar i-jarinya. Dengan nada
berat ia menggeram “Kau memang harus dicincang Rahu” Namun Rahu
sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan mendatang. Luka itu
tentu mengurangi kecepatan bergerak tangannya. Dan Rahu berharap
bahwa dengan demikian, ia akan dapat berusaha memperpanjang
perlawanannya. Tetapi sekali lagi Rahu harus tersudut. Meskipun
darah telah menitik dari luka, tetapi lawannya masih tetap garang
dan bahkan menjadi liar. Pada saat-saat yang gawat itu. Rahu masih
tetap menyadari keadaannya. Ia harus tetap pada sikap dan laku
sebagai seorang laki-laki dengan senjata di tangan. Setapak demi
setapak Nrangsarimpat bergeser. Demikian pula lawannya yang sudah
terluka itu. Mereka tidak mau mengalami peristiwa itu sekali lagi,
Rahu benar-benar mengalami kesulitan. Tetapi ia sudah bertekad untuk
membunuh salah seorang dari keduanya, seandainya iapun harus mati.
Terasa dentang jantung Rahu seolah-olah menjadi semakin keras.
Tangannya bergelar siap untuk berbuat sesuatu. Seandainya kedua
senjata lawannya terjulur bersama-sama, maka ia sudah siap untuk
mengambil satu sikap untuk mati dengan membawa korban bersamanya,
Namun pada saat yang demikian, tiba-tiba saja terdengar pekik
tertahan. Hampir diluar sadarnya, orang-orang yang berada di dalami
ruangan itu berpaling. Yang mereka lihat adalah, lawan Jlitheng yang
terhuyung- huyung. Meskipun ia masih berusaha untuk berdir i tegak,
namun akhirnya tubuhnyapun terbanting jatuh di lantai menelungkup.
Jlitheng berdiri tegak dengan pedang tipisnya yang merah oleh darah.
Ternyata ia telah menyelesaikan pertempuran itu. Untuk sesaat ia
masih menyaksikan lawannya bergerak. Ternyata bahwa ia masih hidup,
meskipun sudah tidak mampu berbuat apapun lagi karena luka-lukanya.
“Kau adalah salah seorang mur id Sanggar Gading” tiba-tiba terdengar
Rahu berdesis. Jlitheng menggeretakkan giginya. Sesaat kemudian
iapun telah tegak dengan senjatanya menyilang di muka dadanya.
Ternyata Rahu telah menghentakkannya dari gejolak perasaannya.
Karena itu, maka iapun kemudian berkata “Aku akan mengambil seorang
dari lawan Rahu. Kematian adalah akibat yang wajar pada perkelahian
seperti ini. Kawanmu itu akan mati, dan kalian semuanya juga akan
mati” Nrangsarimpat menggeram. Namun ia tidak sempat berbuat sesuatu
terhadap Jlitheng. karena tiba-tiba saja Rahu telah meloncat
menyerangnya. “Gila“ teriak Nrangsarimpat “dengan tingkah laku
Bantaradi itu, jangan kau kira bahwa kau akan dapat membebaskan
dirimu” Rahu tidak menyahut. Ia melihat Jlitheng telah bersiap pula
menghadapi kawan Nrangsarimpat yang telah menitikkan darah dari
lukanya. Kawan Nrangsarimpat itu menggeletakkan giginya. Ia
menyadari apa yang bakal terjadi. Ia harus melawan orang yang
dikenalnya bernama Bantaradi. yang sudah berhasil menjatuhkan
seorang kawannya. Sejenak kemudaan, maka Jlitheng berhasil memancing
lawannya itu mengambil jarak dari Rahu yang harus berhadapan dengan
Nrangsarimpat seorang diri. Nrangsarimpat yang marah itu tidak
menunggu lebih lama lagi Iapun segera meloncat menyerang, selagi
Rahu belum beringsut terlalu jauh dari sudut ruangan. Ia masih akan
berusaha untuk menyudutkan Rahu sehingga ia tidak mempunyai
keleluasaan bergerak, meskipun Nrangsarimpat bertempur seorang diri.
Rahu memang terdorong surut. Tetapi ia tidak lagi terlalu tegang
menghadapi seorang lawannya. Ia masih sempat memperhatikan keadaan
sekitarnya. Ternyata bahwa Jlitheng telah memaksa lawannya untuk
bergeser semakin jauh dari Nrangsarimpat. Sementara itu, Semi
bertempur dengan serunya pula. Ternyata lawannya memiliki kekuatan
yang luar biasa. Tetapi Semi yang bertubuh tinggi tegap dan berdada
bidang itu juga memiliki tenaga raksasa. Dengan demikian, maka
benturan- benturan kekuatan diantara mereka seolah-olah membuat
seisi istana itu bergetar. Dentang senjata keduanya yang beradu
seolah-olah telah mengguncang tiang dan dinding yang berdiri tegak
dengan kokohnya. Untuk beberapa saat kekuatan mereka berdua nampak
seimbang. Namun kemudian ternyata bahwa kekuatan Semi telah berhasil
mendesak lawannya meskipun perlahan- lahan. Yang segera mengalami
kesulitan adalah lawan Jlitheng, Pedang tapis Jlitheng ternyata
mampu membuat lawannya berloncatan kebingungan. Setiap kali ia
meloncat surut mengambil jarak, kemudian berputar dan beringsut
sambil memperbaiki kedudukannya. Ternyata darah yang mengalir dari
lukanya memang mulai mengganggunya. Karena itu, maka tenaganya tidak
lagi mampu mengimbangi kecepatan getar pedang tipis Jlitheng.
Sejenak kemudian, ketika Nrangsarimpat berteriak sambil meloncat
menyerang, terdengar lawan Jlitheng itu mengeluh pendek. Sekail lagi
tubuhnya tersayat oleh senjata. Kali ini adalah senjata Jlitheng
yang dikenalnya bernama Bantaradi. “Anak iblis“ Orang itu mengumpat.
Namun umpatannya tidak mampui memampatkan darahnya. Bahkan semakin
lama semakin banyak. Titikan-titikan darah itu sudah mulai memerah
dilantai yang mengkilap. Nrangsarimpat yang bertempur melawan Rahu
seorang lawan seorang melihat kedua kawannya mulai terdesak. Karena
itu, maka iapun menghentakkan kemampuannya untuk memaksa Rahu segera
tidak berdaya. Tetapi ternyata bahwa dugaannya tentang orang yang
bernama Rahu dan menyebut dir inya Iblis bertangan Petir itu keliru.
Jika Rahu mendapat kepercayaan dari Cempaka, menurut dugaan
Nrangsarimpat hanyalah karena Rahu bersedia merendahkan dir inya dan
dapat melayani segala kehendak Cempaka. Namun ternyata bahwa Rahu
benar- benar seorang iblis yang bertangan petir. Tangannya mampu
bergerak dengan kecepatan yang sulit diperhitungkan. Kadang-kadang
Nrangsarimpat justru menjadi kehilangan pengamatan sehingga ia
terpaksa ber loncatan surut. Dalam pada itu, Rahu tidak lagi
dicemaskan oleh kemungkinan, bahwa ia akan tersudut. Ia melihat,
bahwa Jlitheng tentu akan dapat memenangkan pertempuran melawan
orang yang telah terluka itu, sementara Semipun nampaknya
benar-benar sudah mapan dan perlahan-lahan namun pasti mulai
menguasai lawannya, meskipun kadang- kadang lawannya masih nampak
sangat garang. Tetapi kekuatan Semi yang bertubuh raksasa itupun
benar-benar dapat dibanggakan. Yang harus dikerjakan oleh Rahu
kemudian adalah mengalahkan Nrangsarimpat yang sombong dan kasar,
meskipun nampaknya ia adalah seorang yang lembut dan peramah. Tetapi
sikapnya terhadap puteri yang dibuatnya bagaikan tertidur itu
benar-benar mencemaskan Rahu, yang bukan saja orang Sanggar Gading,
tetapi ia adalah petugas sandi yang memang wajib melindungi setiap
orang dari tangan-tangan kejahatan. Tetapi terlebih- lebih dari itu,
Rahu benar-benar telah menjadi muak terhadap Nrangsarimpat. Karena
itu, maka ketika ia pasti, bahwa kedua orang kawannyapun akan
berhasil mengalahkan lawannya, maka iapun telah memusatkan usahanya
untuk dengan segera melumpuhkan orang yang bernama Nrangsarimpat
itu. Seorang murid Sanggar Gading yang sangat memuakkannya karena
sikapnya. Dibalik keramahan dan kelembutan sikapnya yang selapis
itu. ternyata tersembunyi hati iblisnya yang berbulu ijuk. Rahu yang
sudah mengenal Nrangsarimpat dengan baik itu telah memutuskan di
dalam hatinya, bahwa tingkah laku Nrangsarimpat tidak akan dapat
berubah sepanjang ia masih dapat menghirup udara. Karena itu, cara
satu-satunya untuk menghentikan tingkah lakunya bagi keselamatan
banyak orang hanyalah dengan membunuhnya. Karena itu, maka Rahupun
kemudian telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia tidak akan
memberi kesempatan lagi kepada Nrangsarimpat yang semula menganggap
Rahu hanyalah sekedar seorang penjilat di kaki Cempaka, adik Sanggit
Raina, sehingga ia mendapat kepercayaan dari padanya. Namun yang
ternyata kemudian, bahwa kemampuan Rahu benar-benar telah
mencemaskannya, sehingga ia kemudian telah terdesak karenanya.
“Apakah orang ini sudah kerasukan Iblis dari alas neraka“
Nrangsarimpat menggeram di dalam hatinya. Namun sebenarnyalah bahwa
ia telah menjadi semakin terdesak seperti juga kedua orang kawannya
yang lain, sementara seorang kawannya telah terbaring dilantai tanpa
bergerak lagi dalam genangan darah yang merah kehitam-hitaman.
Demakianlah pertempuran yang sengit itu sudah mulai jelas, apakah
bakal terjadi. Nrangsarimpat sama seka tidak tertawa lagi. Bahkan
wajahnya yang tegang itu bagaikan membara oleh kemarahan yang
membakar jantung. Tetapi ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu
melawan badai kemarahan Rahu yang sudah memuncak pula. Senjata Rahu
semakin lama semakin terasa terbang semakin dekat pada kulitnya.
Setiap senjata itu berdesing, terasa sentuhan angin menyapu
tubuhnya. Namun ketika Rahu semakin mendesaknya, yang menyentuh
tubuh Nrangsarimpat bukan sekedar desir angin ayunan senjatanya,
tetapi kemudian Nrangsarimpat itupun berdesis ketika segores luka
menyobek kulitnya “Gila” geramnya. “Tidak ada jalan lain yang dapat
kau tempuh, kecuali kematian. Aku sudah cukup memberimu kesempatan
Tetapi kau sama sekali t idak menghiraukan. Karena itu, maka tidak
ada pilihan bagiku kecuali melaksanakan perintah Sanggit Rama lewat
Cempaka dengan sebaik-baiknya” “Persetan kau penjilat” teriak
Nrangsarimpat. “Penjilat atau bukan penjilat, tetapi kau harus mati”
Rahu juga menggeram. Nrangsarimpat memang menjadi semakin cemas
betapapun kemarahannya menjadi semakin memuncak Ia tidak dapat
mengingkar i kenyataan bahwa darah telah menit ik dari lukanya Dan
bahkan kemudian Rahu telah mendesaknya semakin-dahsyat. Betapa
Nrangsarimpat berusaha untuk menyelamatkan diriinya, namun akhirnya
ia terdorong surut dengan nafas yang terengah-engah ketika sekali
lagi senjata Rahu menyentuhnya. Tetapi Rahu tidak membiarkannya
berusaha memperbaiki kedudukannya. Dengan tangkasnya ia memburu.
Pedangnya terjulur lurus ke dada lawannya Tetapi Nrangsarimpat masih
berusaha menangkis serangan itu. Ketika terjadi benturan senjata,
ternyata tenaga Nrangsarimpat benar-benar telah jauh menjadi susut.
Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Rahu. Dengan pasti ia bergeser
kedepan, memutar senjatanya, dan ketika ia sekali lagi menyerang,
maka senjatanya benar-benar telah merobek lambung lawannya
Nrangsarimpat terdorong sekali lagi. Wajahnya yang merah menjadi
semakin merah. Tetapi sejenak kemudian wajah itu menjadi putih
pucat. Kakinya tidak lagi dapat berdiri tegak, sementara senjatanya
semakin lama menjadi semakin menunduk. Tetapi dalam pada itu ia
masih berteriak dengan suara bergetar “Anak setan, penjilat kau
Rahu. Aku cincang kau menjadi sayatan tulang dan daging” Rahu tidak
menjawab. Dipandanginya saja Nrangsarimpat yang kemudian jatuh
tersungkur. Masih terdengar umpatan kasar dari mulutnya meskipun
semakin lambat. Rahu menarik nafas dalam-dalam ketika kemudian
Nrangsarimpat itu terdiam. Tarikan nafasnya yang terakhir menandai
akhir hidupnya dengan beberapa goresan luka di tubuhnya. Kematian
Nrangsarimpat membuat kawan-kawannya menjadi berputus asa. Mereka
merasa, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apapun untuk
menyelamatkan hidupnya. Merekapun merasa bahwa mereka tidak akan
sempat melarikan diri setelah dua orang diantara mereka terbunuh.
Apalagi mengharapkan pengampunan Rahu yang sedang dibakar oleh
kemarahan. Karena itu, maka kedua orang itupun kemudian telah
mengamuk seperti orang yang kehilangan nalarnya. Mereka tidak lagi
mempunyai pertimbangan lain, kecuali menuntaskan perlawanannya
sampai merekapun akan terbunuh pula. Tidak ada yang dapat dilakukan
oleh J litheng dan Semi, Mereka tidak dapat berbuat lain kecuali
menghentikan kegilaan lawan-lawan mereka. Karena itulah, maka
berturut- turut. Semi dan Jlithengpun telah mengakhiri perlawanan
orang-orang Sanggar Gading itu dengan menembus tubuh mereka dengan
senjata. Sejenak ruangan itu menjadi hening. Yang terdengar hanyalah
desah nafas yang memburu. Ternyata bahwa Rahu dan kawan-kawannya
berhasil menyelesaikan pertempuran itu tanpa memberiku taruhan,
selain goresan-goresan kecil pada tubuh mereka. Tetapi
goresan-goresan itu sama sekali tidak berarti sementara titik
darahpun segera menjadi pampat oleh taburan obat yang mereka bawa.
“Apa yang akan kita lakukan kemudian” desis Semi. “Panggil salah
seorang pengawal” berkata Rahu. Semipun kemudian turun lewat pintu
butulan dengan senjatanya yang merah oleh darah. Para pengawal yang
termangu-mangu terkejut melihat Semi turun dengan senjata telanjang.
Dengan serta merta, para pengawal itupun kemudian mempersiapkan dir
i. Tetapi Semi yang tertegunpun kemudian berkata “Satu atau dua
orang diantara kalian, masuklah. Kami ingin berbicara Kami telah
membunuh beberapa kawan kami yang melanggar perintah pimpinan kami“
Para pengawal itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian dua orang
diantara mereka telah mengikuti Semi memasuki ruang dalam. Para
pengawal itu tertegun. Mereka benar-benar melihat empat sosok mayat
yang terkapar di lantai. Namun kedua pengawal itupun kemudian
menggeram ketika mereka melihat puteri Pangeran itu telah
menggenggam hulu pedangnya. “Tidak” jawab Rahu “Nrangsarimpat yang
terbunuh itulah yang telah membuatnya tidur. Tetapi ia selamat”
Selagi kedua pengawal itu termangu-mangu, Rahu telah melangkah
mendekatinya Kemudian iapun berkata kepada kedua pengawal itu “Bawa
puteri ke bilik yang lain. Aku akan membuatnya sadar. Tetapi jika
puteri melihat mayat yang terbujur lintang itu, ia akan menjadi
ketakutan dan mungkin kejutan yang sangat akan mempengaruhi
kesadarannya” Kedua pengawal itu masih termangu-mangu. Namun
akhirnya merekapun mengangkat puteri itu dan membawanya ke bilik
disebelah, dan kemudian embannya pula. Para pengawal itupun menjadi
tegang ketika mereka melihat Rahu mulai meraba tubuh puteri itu.
Perlahan-lahan pada tengkuknya. Kemudian tepat pada simpul syaraf
kesadarannya, Rahu menekannya perlahan- lahan untuk membuka sentuhan
Nrangsarimpat yang telah membuat puteri itu tertidur. Ternyata usaha
Rahu berhasil. Perlahan-lahan puteri itu membuka matanya, hampir
bersamaan dengan embannya yang tersadar dari pingsannya pua. Yang
nampak kemudian adalah bayangan-bayangan yang kabur. Namun kemudian
bayangan itu menjadi semakin jelas. Hampir saja ia berteriak ketika
ia melihat wajah yang garang yang tidak dikenalnya seolah-olah akan
menerkamnya. “Jangan takut puteri“ terdengar seseorang berkata.
Puteri itu mengusap matanya. Wajah-wajah itu menjadi semakin jelas.
Ternyata yang dilihatnya kemudian adalah dua orang pengawal istana
yang sudah dikenalnya baik-baik. Sementara itu, ia melihat pula
orang-orang yang telah bertempur di ruang sebelah sebelum ia tidak
ingat apa-apa lagi yang terjadi atas dirinya. Rahu memandang puteri
itu sambil menarik nafas dalam dalam. Kemudian katanya kepada para
pengawal “Jagalah baik baik. Aku telah mengorbankan beberapa kawanku
yang akan melanggar perintah pimpinanku. Jika pada saat yang lain
datang pula beberapa orang dengan alasan orang itu berbuat bagi
kepentingan mereka sendiri, dan kau dapat membayangkan, apa yang
terjadi atas puteri itu jika ia jatuh ke tangan kawan-kawanku” Kedua
pengawal itu termangu-mangu, sementara emban yang telah sadar itupun
merangkak mendekati puteri yang masih terbaring. “Puteri” desisnya.
Puteri itupun memandanginya sejenak. Kemudian iapun bangkit sambil
beritanya “Bagaimana dengan kau biyung?“ “Bagaimana dengan
puteri?”embannya itu ganti bertanya, “Ia tidak mengalami sesuatu“
Rahulah yang menjawab lalu katanya, kepada para pengawal “Aku
terpaksa segera meninggalkan tempat ini. Aku harus menyusul kawan-
kawanku yang mungkin sudah terlalu jauh. Selenggarakan mayat-mayat
itu. Sebaiknya tidak ada orang lain yang mengetahui. Pesankan kepada
seisi istana ini agar keselamatan Pangeran t idak terganggu” “Jadi
bagaimana kami harus mengubur kawan-kawanmu tanpa diketahui orang
lain” bertanya salah seorang pengawal. “Kubur lah di kebun belakang.
Pada saatnya mereka akan dipindahkan ke tempat yang lain. Atau
barangkali kau mempunyai cara yang lain untuk membawa mayat-mayat
itu ke kuburan tanpa diketahui oleh orang lain” berkata Rahu lebih
lanjut. Para pengawal itu termangu-mangu. Namun Rahupun berkata “Aku
percaya bahwa kalian akan dapat menyelesaikannya. Kami tidak
mempunyai waktu cukup untuk melakukannya. Sekali lagi aku berpesan,
jaga puteri itu baik- baik” Para pengawal itu termangu-mangu. Namun
ada semacam sentuhan yang aneh dihati mereka. Di lingkungan
orang-orang yang garang dan kasar, masih ada juga yang berusaha
untuk berbuat atas dasar peradaban manusia. Sejenak kemudian, maka
Rahu, Jlitheng dan Semipun segera berkemas. Mereka masih sempat
minta dir i kepada puteri dan para pengawal. Sambil turun dari pintu
butulan Rahu masih berpesan “Jangan biarkan puteri melihat mayat-
mayat itu. Biar lah ia untuk sementara tetap di dalam biliknya”
Demikianlah, maka Rahu, Jlitheng dan Semi segera meninggalkan istana
itu setelah mereka berhasil menyelamatkan puteri. Rahu tidak perlu
gelisah atas kelambatannya, karena yang dilakukannya sudah diketahui
oleh Cempaka yang akan mempertanggung jawabkannya. Sementara itu, di
istana yang mereka t inggalkan, para pengawal menjadi sibuk. Mereka
berusaha agar puteri tetap berada di dalam biliknya sementara para
pengawal berbincang apa yang sebaiknya mereka lakukan bagi
mayat-mayat yang terkapar di lantai. “Kita akan membawanya ke
kuburan. Tidak baik untuk dikubur di kebun belakang” desis salah
seorang dari para pengawal. “Tetapi bukankah dengan demikian kerja
kita akan diketahui orang sehingga kita tidak akan dapat
merahasiakannya lagi?“ desis pengawal yang lain. “Kita bawa dengan
kereta tertutup malam nanti. Kita jugalah yang menggali kubur dan
menguburkannya tanpa minta bantuan orang lain jawab pengawal yang
pertama, lalu “Bukankah kawan kita cukup untuk melakukannya? Kita
beritahu paman pekatik, gamel dan juru taman. Justru kita pesan
kepada mereka dan keluarga mereka, agar mereka tidak mengatakan
apapun juga tentang peristiwa ini bagi keselamatan Pangeran” Sejenak
para pengawal itu berpikir. Akhirnya, mereka tidak berkeberatan
untuk melakukannya. Karena itulah maka mereka segera memanggil
beberapa orang termasuk para pelayan yang melayani kereta. Dalam
pada itu, selagi para pengawal bersiap-siap membawa mayat-mayat itu
untuk menguburkannya maka Rahu, Jlitheng dan Semi telah berpacu
semakin jauh. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Jlitheng berkata
“Rahu. aku mempunyai pikiran lain dengan diriku sendiri” “Kenapa?“
bertanya Rahu. “Aku tidak akan kembali ke Sanggar Gading. Aku akan
kembali ke daerah Sepasang Bukit Mati. Bukankah pada saatnya
Pangeran itu akan dibawa ke daerah itu? Aku kira serba sedikit
kaupun telah mengetahuinya” berkata Jlitheng kemudian. “Tetapi apa
kataku, jika Cempaka bertanya tentang kau?“ Rahu menjadi
termangu-mangu. “Jika benar kau sudah mendapat ijin Cempaka untuk
menyelesaikan Nrangsarimpat, maka katakan saja, bahwa aku telah
terbunuh pula dalam pertempuran ini, sehingga dengan demikian, maka
kau tidak akan mempertanggung-jawabkan aku lagi, karena aku tahu,
bahwa kau tentu mendapat tugas untuk mengawasi aku pula” Jawab
Jlitheng. Rahu menjadi ragu-ragu. Dipandanginya Jlitheng dengan
saksama, seolah-olah ia ingin meyakinkan, dengan siapa ia
berhadapan. “Apakah kau masih meragukan aku?” bertanya Jlitheng.
“Tidak. Aku tidak meragukan lagi, bahwa kau adalah Candra Songkaya.
Tetapi dalam perkembangan keadaan mungkin kau dan aku mempunyai
landasan berpijak yang berbeda, desis Rahu. “Dan kau curiga, bahwa
aku akan membuka rahasiamu” berkata Jlitheng. Rahu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Sebagaimana aku menganggap bahwa Senapati
Agung yang bernama Surya Sangkaya adalah seorang yang memiliki
kelebihan, bukan saja pada kanuragan, tetapi juga pada budinya maka
akupun berharap bahwa kau juga memiliki kelebihan budi dari orang
kebanyakan” “Maksudmu?“ bertanya Jlitheng “Kau akan berpijak pada
jalan kebenaran. Juga tentang Pangeran yang malang itu” sahut Rahu
“apapun hubungannya Pangeran yang malang itu dengan orang-orang
Sanggar Gading dan daerah Sepasang Bukit Mati, namun aku mempunyai
tugas untuk melindunginya. Jika kau lebih dahulu pergi ke Bukit Mati
maka kau akan dapat menempatkan dirimu. Atau barangkali kau
mempunyai kepentingan sendir i?“ oooOooo-
Jilid 10 “Aku akan berada di daerah Sepesang Bukit Mati
itu” jawab Jlitheng “Aku akan melihat, apakah yang akan terjadi
dengan Pangeran yang aku yakin akan dibawa ke daerah itu” “Kau tentu
mengenal dan mempunyai kepentingan dengan Sepasamg Bukit Mati pula,
seperti juga orang-orang Sanggar Gading. Tetapi kau tentu tidak
seperfi orang-orang Sanggar Gading, bahwa kau akan dapat
mengorbankan orang lain tanpa alasan yang tidak terelakkan” berkata
Rahu “Dan agaknya aku percaya kepadamu” “Terima kasih. Jika
demikian. Kita akan berpisah. Mudah- mudahan kau tetap mendapat
kepercayaan Cempaka, sehingga kau akan datang pula ke daerah Bukit
Mati, menyerahkan Pangeran itu. Mudah-mudahan kita akan dapat
bekerja bersama lagi, bagamianapun bentuknya” berkat Jlitheng. Rahu
menar ik nafas dalam-dalam. Ketika ia terpaling kepada Semi, nampak
ketegangan pada wajah anak muda itu. Namun kemudian Rahu berkata
“Kita dapat mempercayainya. Aku percaya bahwa Bantaradi adalah
Candra Sungkaya, Dan aku percaya, bahwa ia tidak menyimpang dari
jejer seorang kesatria keturunen Majapahit“ Semi mengangguk-angguk.
Katanya “Kita akan bertemu di daerah Sepasang Bukit Mati. Marilah
kita akan hadir dalam ujud yang berba-beda, tetapi kita akan melibat
apa yang akan terjadi di daerah itu. Akupun sudah mendengar beberapa
hal tentang keterlibatan beberapa orang di daerah itu. Dan akupun
harus mempersiapkan dir i untuk mengamati tingkah laku orang-orang
dari padepokan-padepokan lain. mungkin orang-orang Pusparuri,
mungkin orang-orang Gunung Kunir atau pihak manapun juga. Jika pada
suatu saat, Pangeran yang malang itu sampai jatuh ke tangan pihak
lain, maka keadaan kita akan menjadi semakin, sulit. Tetapi menurut
pengamatanku, agaknya Sanggar Gading adalah kelompok yang terkuat
diantara kelompok-kelompok yang lain” Jlitheng termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian ia bertanya “Apakah tidak ada
petugas-petugas sandi di lingkungan mereka?“ “Kadang-kadang sulit
untuk menempatkan seseorang diantara sekelompok orang yang mempunyai
lingkungan tersendiri. Kita harus menunggu kesempatan. Pada suatu
saat secara kebetulan kesempatan itu datang sendir i. Tanpa unsur
kebetulan, kita harus bekerja keras dan mungkin memer lukan waktu
yang sangat lama” jawab Rahu. Jlitheng mengangpuk-angguk. Tetapi ia
masih bertanya “Jadi, apakah kalian berhasil menempatkan orang itu
atau tidak?“ Rahu menarik nafas dalam-dalam. Namun Semilah yang
menjawab “Kita masih berusaha. Tetapi kita belum berhasil. Kesalahan
kita adalah, bahwa kita hanya menganggap Sanggar Gading sajalah
lingkungan, yang berbahaya. Karena itu, maka pusat perhatian kita
ada pada Sanggar Gading. Dan Sanggar Gadinglah lingkungan yang
pertama-tama kami masuki” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia
masih merasa ada jarak antara dirinya dan Rahu serta Semi. Tetapi ia
dapat mengerti, karena bagaimanapun juga, tentu ada rahasia, yang
tidak dapat mereka katakan” Sejenak kemudian, maka Jlithengpun minta
dir i kepada keduanya. Ia ingin memisahkan diri, untuk mendahului
kembali ke daerah berbukit gundul dan daerah berbukit kecil yang
ditumbuhi oleh hutan yang lebat dan masih dihuni oleh
binatang-binatang buas. “Berhati-hatilah“ pesan Rahu ”mungkin
kedatanganmu akan menarik perhatian setelah kau pergi untuk waktu
yang agak lama” “Belum terlalu lama. Mudah-mudahan aku dapat
diterima seperti saat aku pergi tanpa prasangka dan curiga” jawalb
Jlitheng. “Tugas kita masih banyak. Apa yang akan terjadi, dan apa
yang telah dilakukan oleh Pangeran itu, merupakan beban yang harus
kita uraikan” berkata Rahu kemudian “Selamat jalan. Mudah-mudahan
kita semuanya selamat dan dapat menunaikan tugas kita masing-masing
dengan sebaik-baiknya” Jlithengpun kemudian memisahkan diri. Ia
sadar, bahwa kepentingannya itu akan merupakan beban tersendiri bagi
Rahu. Mungkin Rahu akan dicurigai. Mungkin bahkan akan mendapat
perlakukan yang tidak menyenangkan. Tetapi mungkin pula tidak,
karena Cempaka tetap mempercayainya, sehingga ia mendapat kesempatan
untuk selalu mengawasi keadaan Pangeran yang malang itu. Namun
tiba-tiba Jlitheng berkata di dalam hatinya “Tetapi apakah mungkin
bahwa Pangeran itu benar-benar pernah melakukan sesuatu yang
menyinggung perasaan orang lain, atau hal serupa itu?“ Namun
Jlitheng tidak dapat mencar i jawabnya. Ia masih harus banyak
mengamati keadaan di daerah Bukit Gundul itu. Untuk beberapa saat
Jlitheng berpacu seorang diri. Ia mengambil jalan yang tidak terlalu
ramai, agar ia tidak bertemu dengan orang-orang yang mungkin
mengenalnya sebagai Jlitheng, anak padepokan yang bodoh dani lemah.
Sementara ia menyadari, bahwa tugasnya akan menjadi semakin berat,
karena agaknya orang-orang Sanggar Gading akan segera menghubungi
Daruwerdi untuk menyerahkan Pangeran yang akan ditukar dengan pusaka
yang menjadi rebutan beberapa pihak itu. Karena itu maka Jlitheng
tidak singgah ke rumah Sri Panular. Ia tidak ingin terlambat.
Meskipun mungkin perjalanannya hanya tertunda satu hari, tetapi jika
Sanggit Raina bertindak cepat, ia akan dapat terlambat. Apalagi
Jlitheng tidak dapat datang ke padukuhannya langsung diatas seekor
kuda. Jika ia berbuat demikian, persoalannya akan dapat merubah
sikap Daruwerdi. Karena itu, Jlitheng masih akan melakukan seperti
yang dilakukannya dengan baik. Yang sudah terlalu banyak
membantunya. Ia akan singgah di rumah seorang saudagar yang
dikenalnya dengan haik. Yang sudah terlalu banyak, membantunya dan
member ikan pertolongan kepadanya. Kemudian ia masih harus singgah
pula di tempat yang hanya dikenalnya tanpa pernah disentuh orang
lain. Ia harus menyimpan pakaiannya dan senjata-senjatanya. Tetapi
Jlitheng mulai bimbang dengan keadaan yang semakin panas di daerah
Sepadang Bukit Mati itu. Jika ia terpisah dari senjata-senjatanya,
maka untuk mengatasi peristiwa yang tiba-tiba, ia akan mengalami
kesulitan. “Apakah aku harus berlar i-lari mengambil pedang dan
paser-paser itu lebih dahulu, sementara peristiwa yang terjadi telah
terjadi” berkata Jlitheng di dalam hatinya. “Aku akan membawa
senjataku pulang dan menyembunyikannya sebaik-baiknya” berkata
Jlitheng kciada diri sendiri. Seperti yang direncanakan, maka
Jlithengpun telah singgah di rumah seorang saudagar yang mengenalnya
dengan baik. Iapun kemudian menitipkan kudanya dan seperti biasanya,
ia selalu mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang
ditawarkan kepadanya. “Pada suatu saat, aku tentu memer lukan
bantuan paman” berkata Jlitheng kepada saudagar itu, Jlitheng yang
kemudian berjalan kala kembali ke padukuhannya, telah memilih waktu
yang sebaik-baiknya. Ia memperhitungkan saat yang tepat, sehingga ia
akan memasuki padukuhannya menjelang dini hari. la akan membawa
senjatanya bersamanya dan menyembunyikan di rumahnya. Setiap saat
senjata itu akan dipergunakannya. Karena itu, maka Jlitheng tidak
perlu terlalu tergesa-gesa berjalan ke padukuhan Lumban. Namun ia
merasa bahwa ia harus tetap berhati-hati. ia tidak ingin bertemu
dengan seorang pun. Ia akan langsung pulang dan tidur di kandang
sampai saatnya biyungnya bangun dan terkejut melihat ia telah
datang, dalam keadaan seperti saat ia berangkat. Sementara itu, di
Sanggar Gading, Rahu telah dipanggil oleh Sanggit Raina bersama
Cempaka, la harus mempertanggung jawabkan bahwa orang yang berada di
bawah pengawasannya tidak kembali lagi ke Sanggar Gading justru
dalamsaat yang paling gawat. “Kita t idak boleh terlambat” berkata
Sanggit Raina “Kita akan segera berangkat ke Sepasang Bukit Mati itu
untuk bertemu dengan Daruwerdi. Berita hilangnya Pangeran itu tentu
belum tersebar luas, sehingga orang-orang dari padepokan yang lain
belum sempat memutuskan untuk mengambil satu sikap yang tepat.
Tetapi pada saat semacam ini seorang diantara kita telah pergi”
“Tidak hanya seorang” jawab Rahu “Tetapi lima orang” Sanggit Raina
mengerutkan keningnya. Dipandanginya Cempaka sekilas. Dan sebelum
Sanggit Raina bertanya sesuatu, Cempaka sudah mendahuluinya “Aku
yakin bahwa Nrangsarimpat tidak akan berkhianat dalam arti yang
khusus. Ia tidak lagi lari dari Sanggar Gading dan menjerumuskan
Sanggar Gading ke dalam kesulitan. Tetapi aku belum yakin terhadap
Bantaradi” “Aku sudah mengemukakan persoalannya” berkata Rahu. “Aku
juga sudah mengatakannya kepada kakang Sanggit Raina. Tetapi kau
harus langsung melaporkannya selengkapnya, juga sehubungan dengan
Bantaradi yang tidak datang bersamamu” sahut Cempaka. Rahu menarik
nafas panjang. Kemudian iapun mulai melaporkan segala sesuatu
tentang terbunuhnya Nrangsarimpat. Ia sudah mendapat ijin dan akan
dipertanggung jawabkan oleh Cempaka apabila terjadi sesuatu.
Ternyata bahwa lima orang diantara mereka yang bertempur telah
terbunuh. “Kau hanya berdua?“ bertanya Saardt Raina. “Ya bersama
Bantaradi. Aku tidak mengira bahwa Nrangsarimpat ternyata membawa
tiga orang kawannya. Aku kira ia akan datang sendiri dan membawa
puteri itu” jawab Rahu. “Anak yang malang” desis Cempaka “Ternyata
Bantaradi adalah mur id yang paling singkat tinggal di Sanggar
Gading. Ia telah berhasil melampaui padang perburuaan. Tetapi ia
terbunuh dalam tugas yang sebenarnya bukan tugas pokok kita” “Ia
anak yang luar biasa. Ia mati bersama dua orang lawannya. Dan aku
terpaksa membunuh dua orang yang lain” desis Rahu. Sanggit Raina
mengangguk-angguk. Katanya “Kita terpaksa mengorbankan lima orang
yang terbaik diantara kita. Tetapi jika tidak demikian, mungkin
tingkah laku Nrangsarimpat akan dapat merusak seluruh rencana kita”
Rahu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia tidak dihadapkan pada
kesulitan yang gawat karena ia tidak datang bersama Bantaradi.
Agaknya kematian Nrangsarimpat, yang termasuk seorang mur id terbaik
itu tidak membuatnya ia terlalu kecewa. “Kita bersiap sekarang”
berkata Sanggit Raina. “Sekarang?“ bertanya Cempaka. “Apalagi yang
kita tunggu? Orang-orang Pusparuri atau kelompok-kelompok yang
lain?“ bertanya Sanggit Raina pula. Cempaka tidak menjawab. Ia
memang menyadari, bahwa segalanya harus berjalan cepat. Dan balikan
Cempakapun menyadari, bahwa yang akan dilakukannya bersama Sanggit
Raina adalah suatu langkah rahasia. Bukan saja bagi
kelompok-kelompok lain, tetapi bagi kelompok Sanggar Gading sendiri.
”Siapakah yang akan turut pergi ke bukit gundul itu?“ bertanya
Cempaka tiba-tiba. “Jangan terlalu banyak. Kita akan pergi bersama
beberapa orang, untuk melindungi Pangeran itu di perjalanan. Tetapi
hanya dua orang sajalah yang akan ikut mendekati bukit gundul itu”
berkata Sanggit Raina. Cempaka mengangguk-angguk. Meskipun tidak
dikatakan, tetapi ia tahu benar rencana kakak kandungnya itu. Berdua
mereka harus dapat melakukan tugas besar, Tugas besar bagi Sanggar
Gading, namun juga tugas besar bagi mereka sendir i. Karena itulah,
maka Cempakapun segera mempersiapkan segala sesuatu. Mereka akan
segera menempuh sebuah perjalanan lain untuk membawa Pangeran yang
sedang sakit itu ke Bukit Gundul di padukuhan Lumban. Sementara itu
Rahupun menjadi berdebar-debar. Meskipun ia mengerti sebagian
rencana Cempaka atas Pangeran itu untuk membawanya ke Bukit Gundul,
di Lumban, namun ia tidak mengetahui rencana Cempaka seluruhnya, di
daerah Sepasang Bukit Mati. Namun sudah dapat diharapkan bahwa
Pangeran yang sedang sakit itu tentu akan menjadi semacam korban
bagi satu kepentingan. Tetapi bagaimana dan cara yang akan dipakai
oleh Cempaka itulah yang harus diperhatikannya. Sementara Sanggar
Gading sedang mempersiapkan diri menghadapi tugasnya, dan Sanggit
Raina yang menghadap langsung pemimpin tertinggi Sanggar Gading,
Rahupun mempersiapkan rencananya. Ia tahu pasti bahwa Semi dan
seorang kawannya yang akan ditunjukkan, telah bersiap pula untuk
mendahului perjalanan orang-orang Sanggar Gading, sementara anak
muda yang dikenalnya sebagai putra Pangeran Surya Sangkayapun akan
berada di tempat yang gawat itu. Namun Rahu itupun menjadi
berdebar-debar ketikan tiba- tiba saja Cempaka menariknya dengan
wajah yang tegang, katanya “Kita harus menghadap Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading sekarang” “Apakah ada sesuatu yang gawat
atau perubahan dari segala rencana yang sudah tersusun?“ bertanya
Rahu. “Tidak ada yang tahu. Sikapnya kali ini mengejutkan. Juga
kakang Sanggit Raina t idak mengetahui” jawab Cempaka. Sikap Yang
Mula itu benar-benar membuat Rahu menjadi cemas. Jika ada perubahan
sikap Yang Mulia itu, maka ia akan menemui kesulitan. Bahkan mungkin
akan membawa Pangeran yang malang itu ke dalam keadaan yang sangat
pahit. “Semi tidak akan membawa pasukan” berkata Rahu di dalam
hatinya “agar nasib Pangeran yang malang itu tidak menjadi sangat
buruk. Tetapi j ika ada sikap yang lain dari Yarg Mulia Panembahan
Wukor Gading, maka tidak akan ada kesempatan untuk member itahuku
kepadanya” Dengan hati yang berdebar-debar, maka, Rahupun memasuki
sanggar bersama beberapa orang yang telah dipanggil pula oleh Yang
Mulia Panembahan Wukir Gading. Sejenak mereka menunggu. Kehadiran
Yang Mula membuat jantung Rahu seolah-olah berdetak lebih cepat.
Agak berbeda dengan sikapnya yang nampak pada hari- hari yang lewat.
Yang Mulia nampak bersungguh-sungguh dan tegang. Dengan suara yang
lantang ia berkata “Aku sendiri akan mengantarkan Pangeran itu ke
Sepasang Bukit Mati” Wajah Rahu menjadi semakin tegang. Adalah
diluar dugaan, bahwa Yang Mulia itu akan pergi secara pribadi.
Biasanya ia mempercayakan segala tugas-tugas yang penting dan berat
di medan, kepada Sanggit Raina yang masih muda. Cempaka dan Sanggit
Raina sendir i terkejut mendengar keputusan itu. Seperti Rahu
merekapun tidak menduga bahwa Yang Mulia akan mengambil keputusan
yang demikian. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka
hanya dapat mendengarkan keterangan Yang Mulia Penembahan Wukir
Gading itu selanjutnya “Perjalanan ke Sepasang Bukit Mati adalah
perjalanan yang tidak terlalu panjang, tetapi terlalu berat. Apalagi
kita akan membawa seorang Pangeran yang sedang sakit. Jika aku kali
ini akan pergi bersama kalian bukan karena aku tidak percaya lagi
kepada kalian. Tetapi justru karena aku menyadari, bahwa tugas ini
adalah tugas yang sangat berat Aku tidak dapat sekedar duduk
merenung sambil makan dan minum di padepokan, sementara anak- anakku
berjuang menempuh bahaya yang setiap saat dapat menyita nyawanya”
Cempaka dan Sanggit Raina saling berpandangan sejenak. Sementara
Yang Mulia itu meneruskan “Yang tidak kalah gawatnya adalah sikap
kelompok-kelompok yang selama ini memusuhi kita, karena merekapun
mempunyai kepentintingan yang sama. Jadi kalian bertemu dengan
orang-orang Kendali Putih, orang-orang Pusparuri atau
kelompok-kelompok yang lain yang ingin merampas Pangeran itu dar i
tangan kalian, maka seharusnya aku berada di tenga-tengah kalian.
Jika pemimpin tertinggi merekapun menyertai anak-anaknya, maka aku
akan berdosa kepada kalian, jika aku tetap duduk termenung di
padapokan ini, karena bagaimanapun juga maka ilmu kalian adalah ilmu
yang permulaan sekali bagi para pemimpin kelompok yang telah
mencapai tingkat yang hampir sempurna. Sanggit Raina memadang Yang
Mulia Panembahan itu dengan wajah semakin tegang. Ia tidak pernah
mendengar Yang Mulia itu mengatakan, betapa rendahnya tingkat ihnu
kanuragan bagi orang-orang Sanggar Gading. Rahu yang duduk diam
sepertil patung, sempat berkata di dalam batinya “Alasan yang
dikemukakan oleh Yang Mulia, itu nampaknya wajar sekali. Bahkan
telah menunjukkan sikap kebapaan dari Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading, yang tidak sampai hati melepaskan anak-anaknya menempuh
perjalanan yang sangat berbahaya” Namun demikian kepergian Yang,
Mulia itu tentu membawa akibat yang lain bagi setiap, rencana yang
ada dikepaia mereka yang ikut serta dalam kelompok itu dengan tujuan
dan kepentingan mereka masing-masing. Sementara setiap orangpun
tidak akan terlepas dar i satu keyakinan bahwa orang yang menyebut
dirinya Yang Mulia itu tentu memiliki ilmu yang dapat diandalkan.
Ketika Yang Mulia itu kemudian memberikan beberapa penjelasan yang
lain, maka rasa-rasanya dada Sanggit Raina dan Cempaka menjadi
semakin sesak. Rencana mereka bagi diri mereka berdua menjadi kabur.
Tetapi agaknya keduanya tidak akan menyerah kepada perubahan
keadaan, Mereka masih tetap berpegang pada tujuan, meskipun jalan
yang harus mereka tempuh akan menjadi semakin panjang, semakin sulit
dan rumpil. Tetapi dihadapan sidang yang menentukan perjalanan
menuju ke Bukt it Gundul itu Sanggat Raina dan Cempaka tidak member
ikan tanggapan yang dapat menumbuhkan persoalan tersendiri. Mereka
memaksa dir i untuk menerima segala perintah Yang Mulia yang akan
memimpin langsung perjalanan ke Bukit Gundul, menyerahkan Pangeran
yang malang itu kepada seseorang yang sanggup menukarnya dengan
sebuah pusaka yang sangat berharga. “Aku harus membiasakannya dengan
Cempaka sesudah sidang ini” berkata Sanggit Raina di dalamhatinya.
Demikianlah, maka Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu telah
menentukan, bahwa ia akan pergi bersama beberapa orang pengawal
terpercaya. Sanggit Raina, Cempaka dan Rahu termasuk orang-orang
yang akan dibawanya serta. “Masih ada kemungkinan pahit di
perjalanan” berkata Yang Mulia “karena itu kalian harus bersiap
menghadapi kemungkinan keadaan yang gawat di perjalanan. Bersiaplah
dengan senjata yang paling baik. Mungking hanya separo dari kata
akan sampai ke bukit mati, sedangkan yang separo akan mati di
perjalanan. Kita mungkin, harus berhadapan Angan orang-orang
Pusparuri, orang-orang Kendal Putih atau orang- orang dari kelompok
yang lain. Berita hilangnya Pangeran itu tentu tidak akan dapat
tertahan untuk waktu yang lama di dalam dlinding istana
kepangeranan. Berita itu tentu akan menembus gerbang betapapun
rapatnya sehingga akhirnya akan sampai juga kepada orang-orang dari
kelompok yang lain, yang juga menginginkan pusaka itu. Sementara
itu, agaknya orang yang sekarang menguasai pusaka itu akan menuntut
imbalan yang sama seperti yang dimintanya kepada kita. Dengan
demikian maka nilai Pangeran yang sakit-sakitan itu akan sama dengan
nilai pusaka itu sendiri” Dada Sanggit Raina dan Cempaka menjadi
semakin bergejolak. Tetapi mereka t idak dapat berbuat sesuatu di
dalam bidang itu. Rasa-rasanya sidang itu berlangsung sedemikian
lamanya, sehingga Sanggit Raina dan Cempaka menjadi lebih letih
sekali. Kepala mereka justru menjadi pening. Mereka ingin pertemuan
itu segera selesai, sehingga mereka berdua dapat membicarakan apa
yang sebaiknya akan mereka lakukan. Tetapi akhirnya sidang itupun
selesai juga. Demikian Yang.Mulia meninggalkan sidang, maka Sumpit
Raina dan Cempakapun segera memisahkan dir i dari kawan-kawannya.
Mereka ingin berbicara tentang rencana Yang Mulia untuk pergi sendir
i ke daerah Sepasang Bukit Mati itu. “Kita akan mengalami kesulitan”
berkata Sanggit Raina. “Pusaka itu akan diterima langsung oleh Yang
Mulia sehingga kita tidak akan mendapatkan sesuatu dari padanya”
berkata Sanggit Raina “lalu apakah artinya kita selama ini berada di
sanggar ini, sebagai budak yang tidak berarti apa- apa” namun
kemudian la berkata “Tetapi tentu masih ada cara. Lambat atau cepat,
pusaka itu akan jatuh ke tanganku. Bukan hanya pusaka itu, tetapi
dalam artinya yang lebih luas daripada tuahnya saja” Cempaka
menganguk-angguk. Tetapi kemudian ia bertanya “Apa yang dapat kita
lakukan kakang? Apakah kita akan dapat mengimbangi kemampuan Yang
Mulia. Apalagi jika para pengawal yang lain akan berpihak kepadanya”
“Jangan bodoh. Kita akan memperhitungkan setiap keadaan yang akan
berkembang kemudian” jawab Sanggit Raina “Yang Mulia itupun manusia
juga seperti kita yang terdiri dari tulang dan daging. Betapapun
tinggi ilmunya, pada suatu saat, ia akan dapat kita cari
kelemahannya” Cempaka mengangguk-angguk. Namun aapun kemudian
berdesis “Mudah-mudahan kelemahan itu dapat kita temukan sehingga
kita tidak akan sia-sia berada di Sanggar Gading untuk waiktu yang
lama” “Tetapi berhati-hatilah. Jika benar perhitungan Yang Mula,
bahwa diantara kita yang akan sampai ke daerah Sepasang Bukit Mati
itu hanya separo saja, hendaknya dari yang separo itu terdapat kita
berdua” ”Aku akan berhati-hati kakang” jawab Cempaka “ada beberapa
orang yang kemampuannya tidak melampaui kemampuanku. Mereka tentu
akan menjadi korban-korban yang pertama. Selebihnya, jumlah
orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi pada padepokan
Pusparuri dan Kendali Putih memang tidak terlalu banyak. Tetapi kita
masih belum mendapat keterangan yang pasti tentang orang-orang
Gunung Kunir” “Bawalah, senjata yang dapat diandalkan. Mudah-mudahan
Rahupun tetap dapat kita perjaya. Sayang, Bantaradi terbunuh ketika
ia berkelahi melawan Nrangsarimpat dan kawan- kawannya. Nampaknya ia
termasuk anak muda yang memiliki kemampuan yang cukup dan kurang
pandai mempergunakan otaknya, sehingga orang-orang seperti Bantaradi
itu akan dapat menjadi kawan yang sangat baik” desis Sanggit Raina.
“Ya. Ia termasuk anak muda yang menuruti perasaannya saja tanpa
pertimbangan akal yang mapan. Sejak ia melibatkan dir i dalam
perkelahian yang tidak dimengertinya, maka aku sudah tertarik
kepadanya. Tetapi akupun sudah menilai bahwa orang-orang yang
demikian umurnya tidak akan cukup panjang. Ia akan melibatkan diri
ke dalam kesulitan yang akan dapat membunuhnya meskipun sebenarnya
ia dapat menghindarnya. Seandainya ia tidak tertarik kepada
persoalan. Nrangsarimpat yang memang bukan tanggung jawabnya, ia
tentu tidak akan terbunuh. Tetapi ia benar-benar tidak dapat
mengekang diri untuk berkelahi melawan siapa saja” desis Cempaka.
“Berhati-hatilah Cempaka“ berkata kakaknya “Ternyata kita masih
harus mengatasi banyak kesulitan. Tetapi kita tidak akan berputus
asa, karena taruhannyapun memadai Seandainya harus kita perebutkan
dengan mengorbankan nyawa kita sekalipun, maka kita tidak akan
menyesal sama sekali “Aku mengerti ikakang. Dan akupun akan berusaha
tidak mati tanpa arti, seandainya kita bertemu dengan orang-orang
Kendali Put ih, atau orang-orang manapun juga yang akan mengambil
Pangeran itu, atau kemudian mengambil pusaka itu seandainya mereka
memilih jalan itu” geram Cempaka. Dalam pada itu, sebenarnyalah
bahwa bagaimanapun juga orang-orang di istana Panganan yang malang
itu berusaha untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, dengan
harapan bahwa keselamatan Pangeran itu tidak terancam, namun heran
tentang bilangnya Pangeran itupun telah menembus dinding halaman dan
terdengar oleh orang-orang diluar istana kepangeranan itu. Bahkan
berita itupun semakin lama menjadi semakin meluas, meskipun sebagian
dari mereka yang mendengar masih ragu-ragu. Akhirnya berita itu
didengar oleh seorang Senapati Prajurit Demak sehingga demikian
seseorang berkata kepadanya bahwa ada berita tentang hilangnya
seorang Pangeran, maka serta merta iapun meloncat ke punggung kuda
dan berpacu ke istana Pangeran yang malang itu. Kedatangannya
membuat para pengawal terkejut. Tetapi karena mereka mengenal
Senapati itu, maka mereka tidak dapat menolak ketika senapati Itu
memaksa untuk memasuki istananya. Di ruang dalam ia bertemu dengar
puteri yang berduka itu. Dua orang pengawalnya duduk sambil menunduk
di belakang puteri yang wajahnya selalu basah. “Katakan, apa yang
telah terjadi sebenarnya puteri” desis Senapati itu. Puteri yang
berduka itu ragu-ragu. “Jangan ragu-ragu. Mungkin puteri telah
mendapat ancaman. Tetapi puteri tahu siapa aku. Aku mempunyai
kewajiban menjaga keselamatan setiap rakyat Demak, karena itu memang
kewajiban setiap prajur it. Apalagi berita yang mungkin kau maksud
untuk menyimpannya saja di dalam lingkungan istana ini telah
menembus keluar, sehingga justru karena pendengaran orang-orang
Demak yang tidak bersumber dar i yang benar-benar mengetahui halitu,
berita tentang hilangnya ayahanda puteri menjadi simpang siur.
Bahkan mungkin ada yang dapat merugikan keselamatan Pangeran” Puteri
itu masih ragu-ragu. Tetapi ia memang mengenal dengan baik. Senapati
yang datang kepadanya untuk menawarkan perlindungan itu adalah
Senapati yang dekat dengan ayahnya. “Paman” berkata puteri iu
kemudian “Tetapi apakah dengan deimikian j iwa ayah tidak terancam”
“Tetapi kita harus berbuat sesuatu puteri. Kita tidak dapat
membiarkan ayahanda puteri hilang tanpa berbuat sesuatu” jawab
Senapati itu. Lalu “Kita tidak mempunyai jalan lain. Jika kita diam
saja, maka Pangeran itu akan hilang seperti asap dihembus agin.
Tetapi jika kita berbuat sesuatu, kita masih mempunyai dua
kemungkinan. Pangeran akan tetap hilang, atau kita akan dapat
menemukannya sekaligus menghancurkan segerombolan orang yang ingin
berbuat jahat, yang tentu tidak hanya kepada ayahanda puteri
sendiri. Mungkin dikesempatan lain ia akan berbuat jahat pula kepada
orang-orang lain” Puteri iltu masih nampak ragu-ragu. Namun akhirnya
ia bertanya kepada pengawalnya “Apakah yang sebaiknya aku lakukan
paman?“ Pengawalnya itupun menjawab “Puteri. Berita tentang
hilangnya ayahanda puteri agaknya memang sudah didengar oleh satu
dua orang di luar istana ini. Namun yang kemudian meluas dalam ujud
dan bentuk yang berbada-beda. Agaknya memang ada baiknya jika berita
yang sebenarnya didengar oleh seorang Senopati prajurit Demak,
sehingga akan dapat dinilai dengan pasti, apa yang telah terjadi”
Puteri itupun kemudian tidak menyembunyikan keadaan ayahandanya
keadaannya. Kepada Senapati iltu ia mengatakan apa yang diketahui
dan apa yang didengarnya. Bahkah iapun menceriterakan pula apa yang
terjadi kemudian atas dirinya. Senapati itu mengangguk-angguk.
Dengan nada datar ia berkata “Tentu bukan sekelompok penjahat
kebanyakan, seperti sekelompok penyamun yang mencegat korbannya di
bulak-bulak panjang. Bukan pula sekelompok perampok yang sekedar
mencar i pendok dan timang emas” “Mereka sama sekali tidak mengambil
apapun dari istana ini” berkata salah seorang pengawalnya. “Ya“
sabut Senapati itu “apakah setelah terjadi peristiwa berikutnya.
Agaknya kelompok itu mempunyai ikatan paugeran yang kuat. Ternyata
bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa orang dar i mereka
berakibat maut” “Ya” sahut sahut seorang pengawal itu “hukuman itu
dilakukan tanpa ragu-ragu” Senapati itupun kemudian berkata “Maaf
puteri aku terpaksa membawa masalah ini ke dalam lingkungan yang
lebih luas. Mungkin pimpinan keprajuritan Demak mengambul satu
sikap” “Tetapi jangan membuat sesuatu yang dapat mengancam jiwa
ayahanda” Puteri itu mulai menyeka air matanya yang sudah mulai
mengembang di pelupuk matanya. “Kami akan mempertimbangkan segala
kemungkinan. Dan kamipun akan melakukan yang paling baik yang dapat
kami pilih diantara beberapa kemingkinan yang ada” jawab Senapati
itu “Tetapi sudah barang tentu bahwa kami tidak akan dapat
berdiamdiri” “Jika paman akan mencar i, kemana atau gerombolan
manakah yang dapat paman duga membawa ayahanda?“ bertanya puteri
itu. “Memang tidak begitu mudah untuk mengetahui puteri. Tetapi kami
akan mulai melaksanakannya, itu akan jauh lebih baik dar ipada kami
harus menunggu” jawab Senapati itu. Puteri itu menarik nafas
dalam-dalam. Wajahnya yang buram menjadi buram. Tetapi puteri itu
kemudian berdesis lambat “Semuanya terserah kepada paman. Tetapi aku
mohon, hendaknya paman dapat menyelamatkan j iwa ayahanda” Senapati
itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Tentu, Kami prajur it Demak
akan berusaha sejauh dapat kami lalukan. Percayalah kepada kami
puteri” Setitik alir mata telah mengalir di pipi puteri yang berduka
itu. Tetapi dia kemudian berkata “Aku percaya kepada paman” Senapati
ltupun kemudian mohon dir i, ia mendapat beberapa petunjuk yang
semakin jelas langsung dari mereka yang menyaksikan peristiwa itu.
Namun demikian, bagian yang didapat oleh Senapati itu masih terlalu
sedikit untuk langsung dapat mengetahui, dimanakah Pangeran yang
hilang itu berada. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa prajur it
Demak dapat mencuci tangan dan membiarkan hal itu berlalu tanpa
berbuat sesuatu. Karena itulah, maka Demak telah menugaskan beberapa
orang petugas sandi untuk mencar i jejak hilangnya Pangeran yang
malang itu. Namun demikian, persoalan hilangnya Pangeran itupun
masih diusahakanoleh para petugas yang menangani agar persoalannya
masih tetap terbatas pada orang-orang tertentu saja. Dalam pada itu,
para petugas sandi Demak, yang kemudian memencar ke beberapa tempat,
dengan sungguh-sungguh telah berusaha mencari jejak Pangeran yang
hilang itu. Namun nampaknya kerja mereka adalah kerja yang tidak
akan dapat mereka selesaikan dalamwaktu yang dekat. Para pemimpin
dari pertugas sandi di Demak, telah berusaha mencari nama-nama
petugasnya yang telah mendapat perintah bekerja di luar lingkungan,
untuk mendapat sumber keterangan tentang Pangeran yang hilang itu.
Namun sampai demikian jauh, agaknya semuanya masih serba gelap bagi
para prajurit Demak. Sementara, itu, Jlitheng telah berada kembali
ke dalam lingkungannya. Ia telah berada kembali diantara anak-anak
muda di padukuhan Lumban. Dengan gati-gati dia telah membuat cerita
perjalanannya selama ia tidak berada di padukuhannya. Dalam pada
itu, agaknya kawan-kawannya tidak mencur igainya. Mereka percaya
kepada cerita yang telah dibuat oleh Jlitheng tentang dirinya.
Karena anak-anak muda itu sama sekali tidak pernah membayangkan
persoalan- persoalan yang rumit yang pernah dialami oleh Jlitheng
dalam perjalanannya. Namun Jlitheng menjadi berdebar-debar ketika
pada saat ia duduk sendiri. Daruwerdi telah datang mendekatinya.
“Jlitheng“ desis Daruwerdi yang kemudian duduk di sebelahnya, di
atas batu padas di pinggir padukuhan “Kau belum mencer iterakan,
apakah perjalananmu berhasil?“ Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam.
Namun ia berdesis “Persoalan ini adalah persoalan yang sangat
pribadi, Daruwerdi“ Daruwerdi tertawa. Katanya “Dahulu kau juga
berkata demikian. Tetapi aku sebagai seorang kawan yang dekat, tentu
ingin mendengar, apakah kau merasa bahagia?“ “Mungkin demikian,
Daruwerdi, tetapi mungkin tidak” jawab Jlitheng. “Bagaimana?“ desak
Daruwerdi. Jlitheng menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan ia merasa
ragu-ragu, apakah Daruwerdi bertanya sebenarnya, atau ia justru
mulai mencurigainya. Namun demikian Jlitheng menjawab “Aku tidak
dapat mengatakannya Daruwerdi. Setiap kali akan hanya dapat
mengatakan bahwa persoalanya adalah persoalan keluarga. Persoalan
yang terbatas sekali” Daruwerdi tertawa. Tetapi iapun kemudian
berdir i sambil menepuk bahu Jlitheng sambil berkata “Cobalah
melihat dirimu, keadaanmu dan masa depanmu sebelum kau terlanjur
menginjakkan kakimu ke jenjang perkawinan” Jlitheng tidak menyahut.
Tetapi demikian Daruwerdi meninggalkannya, maka iapun menarik nafas
dalam-dalam. “Mudah-mudahan ia tidak mencur igai aku” desis Jlitheng
yang memandang langkah Daruwerdi yang hilang di balik tikungan.
Jlitheng kemudian segera bangkit. Tiba-tiba saja ia inggin pergi ke
bukit untuk menemui seseorang yang telah lama tidak dijumpainya.
Tetapi rasa-rasanya ia masih ragu-ragu. Ia belum menemukan satu
kepastian, apakah yang sebaiknya dikatakan apabila ia bertemu dengan
seorang tua yang tinggal di dalam gubugnya di bukit berhutan itu.
Tetapi ada semacam kerinduan yang tidak dapat ditahankannya lagi.
Meskipun orang tua itu bukan apa-apa baginya, tetapi ia sudah banyak
memberikan petunjuk kepadanya. Sejenak Jlitheng memandang
padukuhannya. Ia tidak melihat kawan-kawannya. Agaknya
kawan-kawannya masih belum ingin menggangunya, karena mereka
mangetahui bahwa ia baru saja pulang dari perjalanan yang menurut
ceritera yang disampaikan kepada kawan-kawannya adalah perjalanan
yang panjang sekali, dan hanya ditempuhnya dengan berjalan kaki.
Ternyata Jlitheng tidak dapat menahan diri lagi. Meskipun ia akan
menemui kesulitan untuk membuat ceritera yang harus berbeda dengan
ceritera-ceritera yang disampaikan kepada kawan-kawannya. Sejenak
kemudian maka Jlithengpun segera berjalan bergegas ke bukit yang
nampak hijau segar oleh hutan yang tertutup diatasnya. Namun agaknya
ia ingin juga. menyelusuri sungai yang telah digarapnya, sehingga
airnya tidak lagi hanya setinggi mata kaki. Disepanjang
perjalanannya ke bukit itu, Jlitheng sempat memperhatikan, bahwa
parit telah menjadi semakin terawat. Airpun telah mengalir meskipun
masih belum terlalu deras. “Lumban akan menjadi hijau” desisnya.
Namun ketika ia mulai memasuki lereng bukit berhutan itu, langkahnya
tertegun. Ia menjadi ragu-ragu lagi. Apakah yang akan dikatakannya
kepada orang tua itu. Apakah ia akan berterus teranng. Atau ia harus
mengarang cer itera yang lain. Jlitheng termangu-mangu Katanya di
dalam hati ”Seandainya aku mengatakan yang tidak sebenarnya maka
jika per istiwa berikutnya akan terjadi disini, apakah hal itu tidak
akan menyinggung perasaannya? Apakah orang tua yang telah berbuat
banyak kepadaku itu, tidak akan merasa bahwa ia sama sekali tidak
mendapat kepercayaanku?“ Jlitheng yang menjadi bimbang itu kemudian
duduk diatas sebuah batu. Ia tidak dapat bertanya kepada siapapun
juga. apakah yang sebaiknya dilakukannya. Mengatakan seluruhnya,
sebagian atau tidak sama sekali. Tetapi sebenarnyalah Jlitheng tidak
dapat member ikan kepercayaan sepenuhnya kepada orang tua itu. Ia
sudah melihat, betapa peliknya persoalan yang menyangkut pusaka yang
diperebutkan itu. Iapun melhat, betapa seorang Pangeran telah
dipaksa meninggalkan istananya dalam keadaan sakit karena pusaka itu
pula. Ia mengetahui beberapa gerombolan yang saling berebutan. Yang
satu mungkin sekali akan membentur yang lain. “Apakah orang tua itu
benar-benar tidak mempunyai sangkut paut dengan pusaka yang hilang
itu” desis Jlitheng dalam hatinya. Namun selagi Jlitheng menrenungi
kemungkinan yang akan dilakukan apabila ia bertemu dengan Kiai
Kanthi, maka tiba- tiba saja ia telah dikejutkan oleh desir lembut
di belakangnya. Karena pengaruh perjalanannya. maka desir yang
lembut itu telah mendorongnya untuk meloncat bangkit dan bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Tetapi ia menar ik nafas dalam-dalam
ketika ia mendengar suara lembut“ “Kau sudah kembali, ngger?”
Ternyata yang datang, itu adalah Kyai Kanthi. Dan karena itu maka
Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia belum menemukan sikap yang
paling baik menghadapi orang tua itu tiba-tiba saja ia sudah
dihadapkan kepadanya. Kiai Kanthi kemudian duduk di sebuah batu
padas dan bahkan mempersilahkan anak muda itu duduk pula “Silahkan
ngger. Silahkan duduk” Jlitheng tidak dapat berbuat lain. Iapun
kemudian duduk di sebelah Kiai Kanthi dengan hati yang
berdebar-debar. “Kenapa kau duduk sendiri disini ngger?“ tiba-tiba
saja Kiai Kanthi bertanya. Dan ternyata pertanyaan itu telah
membingungkan Jlitheng. Karena beberapa saat Jlitheng tidak
menjawab, maka Kiai Kanthi itupun bertanya pula “ Apakah kau sudah
lupa jalan pulangmu?“ “Ah“ Jlitheng berdesah. Tetapi iapun kemudian
tertawa. Namun wajah Jlitheng menjadi kemerah-merahan ketika ia
mendengar Kiai Kanthi berkata “Agaknya kau sedang memikirkan,
ceritera apakah yang akan kau sampaikan kepadaku tentang
perjalananmu” Sesaat Jlitheng justru terbungkam. Namun kemudian
Katanya “Mungkin memang demikian Kiai. Aku tidak tahu apa yang
sebaiknya aku katakan kepala Kiai” “Karena sebaigan dari ceritera
itu masih belum sempat kau susun” potong Kiai Kanthi sambi tertawa.
Namun orang tua itupun kemudian berkata “Angger, Aku tahu bahwa apa
yang kau lakukan tidak perlu diketahui oleh banyak orang. Akupun
tahu bahwa kau sedang melakukan satu tugas yang penting, meskipun
mungkin tugas itu kau bebankan sendiri diatas pundak, karena
tanggung jawabmu atas hubungan antara sesama. Karena itu, marilah
datang ke gubugku. Aku tidak akan bertanya tentang perjalananmu,
kecuali pada bagian- bagian yang akan kau ceriterakan sendir i, yang
tidak akan mengganggu tugasmu untuk seterusnya” Jlitheng menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Maaf Kiai. Aku memang sedang dir isaukan
oleh persoalan yang tidak akan dapat aku katakan, kepada Kiai,
tetapi aku menjadi cemas, bahwa Kiai akan kecewa, atau bahkan marah
kepadaku, tidak mempercayai Kiai sama sekal” “Keterbukaanmu membuat
orang lain menghargai sikapmu, ngger. Aku. tidak akan marah, karena
aku tahu bahwa yang kau lakukan adalah hal yang sangat wajar dan
memang seharusnya, kau lakukan. Siapapun yang berada dalam keadaan
seperti keadaanmu sekarang, tentu akan berbuat seperti itu pula”
berkata Kiai Kanthi Jlitheng mengangguk-angguk kecil. Desisnya “Aku
minta maaf Kiai” “Kenapa kau harus minta maaf? Kau sama sekal t idak
bersalah. Dan akupun tidak memancing keterangan yang sebenarnya
tidak ingin kau katakan dengan cara apapun” jawab Kiai Kanthi.
Jlitheng mengangguk-angguk pula. Katanya “Terima kasih atas
pengertian itu Kiai. Dengan demikian aku tidak dibebani lagi oleh
kebingungan, apa yang akan aku katakan kepada Kiai Kanthi, jika aku
bertemu. Itulah sebabnya maka baru sekarang aku datang” “Tentu kau
juga baru datang. Jika sekarang kau mengunjungiku, maka itu berarti
bahwa perhatianmu atasku cukup besar” jawab Kiai Kanthi, lalu
“sekarang, marilah. Kita pergi ke gubug yang kita buat bersama-sama
itu?” “Apakah selama ini belum ada kemajuan apapun juga di padukuhan
Lumban dan pada padepokan Kiai” bertanya Jlitheng. “Bukankah
parit-parit telah menjadi semakin baik. Dalam waktu beberapi hari
apa yang dapat kita lakukan?“ Kiai Kanthi bertanya. “Ya” desis
Jlitheng. Sebenarnyalah bahwa diapun tidak cukup lama pergi untuk
suatu kesempatan yang cukup bagi perubahan di padukuhannya.
Demikianlah, maka keduanyapun pergi ke gubug Kiai Kanthi yang masih
belum mengalami perubahan, kecuali halamannya menjadi bertambah
bersih dan beberapa perabot rumah agaknya telah dibuatnya sendiri.
Di pintu gubug itu, Jlitheng melihat Swasti yang bangkit dan
beringsut dari ruangan dalam. Tetapi langkahnya terhenti ketika
ayahnya berkata “Swasti, angger Jlitheng telah datang. Swasti
menundukkan kepalanya. Dari sela-sela bibirnya terdengar sapanya
pendek “Selamat datang” “Terima kasih Swasti“ sabut Jlitheng“
bukankah kau juga selamat selama ini?“ Swasti tidak menjawab, tetapi
kepalanya terangguk kecil. “Jika kau akan ke dapur, pergilah ke
dapur“ berkara ayahnya kemudaan “rebuslah air, dan barangkali kau
mempunyai setandan pisang raja yang telah masak, Rebus pulalah”
“Jangan terlalu sibuk karena kedatanganku” potong Jlitheng “Tidak.
Setiap hari ia juga melakukannya” jawab Kiai Kanthi. Sepeninggal
Swasti maka, Jlithengpun duduk di amben bambu yang panjang. Kiai
Kanthi yang duduk disampingnya berkata “Nampaknya air itu member
ikan harapan yang besar bagi rakyat Lumban. Mereka merasa bahwa
sawah mereka akan menjadi sawah yang subur, yang akan dapat member
ikan hasil panen padi dua kali setahun. Terutama pada jalur utama
parit yang telah diperbaiki itu” “Ya Kiai. Jika benar-benar dapat
terjadi demikian, maka Lumban akan berubah hijau sepanjang tahun”
jawab Jlitheng. “Tetapi ada masalah baru yang kemudian timbul,
ngger” desis Kiai Kanthi. “Masalah baru? Apakah ada hubungannya
dengan hijaunya Lumban?“ “Ya, Karena parit dan air. Maka agaknya
timbul persoalan pada orang-orang Lumban Kulon dan Lamban Wetan”
desis Kiai Kanthi. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Persoalan inilah yang sejak pertama kita cemaskan. Apakah Ki Buyut
Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang nampaknya rukun dan baik itu akan
sampai hati berselisih karena air” “Sumbernya bukan pada Ki Buyut
Lumban Kulon dan Wetan” sahut Kiai Kanthi Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Dengan ragu-ragu iapun kemudian bertanya “Apakah
Daruwerdi?“ Tetapi Kiai Kanthi menggeleng. Jawabnya “Bukan ngger.
Bukan Daruwerdi. Ia nampaknya tidak mengacuhkan sama sekali air yang
mengalir di parit-parit itu” “Siapa?“ bertanya Jlitheng. “Agaknya
anak laki-laki kedua Buyut itu mempunyai sifat yang berbeda. Mereka
ternyata tidak mewarisi kerukunan ayah mereka” desis Kiai Kanthi.
Jlitheng mengangguk-angguk. Ia sudah mengenal kedua anak muda itu.
Dan agaknya mereka mempunyai sifat dan kebiasaan tersendiri sehingga
mereka tidak dapat serukun ayah-ayah mereka. “Anak-anak muda Lumban
Wetan dan Lumban Kulon akan berusaha untuk tetap memelihara
kerukunan itu” berkata Jlitheng “Mereka tentu mengakui bahwa aku
adalah salah seorang dari mereka yang telah mengarahkan air di bukit
itu sehingga dapat dimanfaatkan oleh orang-orang Lumban Wetan dan
Lumban Kulon” “Mudah-mudahan ngger. Tetapi j ika kau tidak bekerja
cepat, maka perpecahan itu akan kian menjalar” tetapi tiba- tiba
suara Kiai Kanthi menurun “namun agaknya kau mempunyai tugas yang
penting yang harus kau lakukan disini, sehingga waktumu akan menjadi
sangat sempit, jika kau masih harus mengurusi air itu” Jlitheng
mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia menjawab “Kedua-duanya tugas
yang penting yang harus aku kerjakan Kiai. Aku t idak akan dapat
berdiam dir i j ika orang- orang Lumban Kulon dan orang-orang Lumban
Wetan saling bertengkar karena, air. Dan akupun t idak akan dapat
menanggalkan tugas yang telah aku bebankan pada diriku sendiri”
Mudah-mudahan kau dapat melakukannya ngger” berkata Kiai Kanthi “Aku
akan membantu apa saya jika kau perlukan” Jlitheng
mengangguk-angguk. Namun kekecewaan yang sangat membayang di
wajahnya. Usahanya yang diharapkannya dapat membuat Lumban Wetan dan
Lumban Kulon menjadi hijau subur, ternyata justru menimbulkan soal
baru yang rumit. Agaknya orang-orang Lumban Kulon dan orang-orang
Lumban Wetan telah disentuh oleh perasaan tamak dan dengki. Mereka
ingin air yang naik dari sungai kecil itu, hanya untuk mungairi
sawah di daerah mereka masing- masing. “Air itu memang belum
mencukupi” desisnya tiba-tiba. “Ya. Justru karena itu, maka
orang-orang Lumban Kulon dan Lumban Wetan masing-masing ingin bahwa
air yang naik itu untuk memenuhi kebutuhan masing-masing.
Orang-orang Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang sawahnya masih belum
dialir i air parit itu agaknya telah mendesak, agar cara membagi air
dirubah, dan menguntungkan pihak masing- masing” sahut Kiai Kanthi.
“Baiklah Kiai” berkata Jlitheng “Aku akan menghubungi anak-anak muda
Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Kepadaku mereka belum mengatakan
sesuatu. Mungkin mereka mengerti bahwa aku baru datang dari sebuah
perjalanan, sehingga aku tidak akan dapat menanggapinya dengan
sebaik-baiknya, atau justru mereka merasa segan mengatakannya
kepadaku” “Mungkin ngger. Tetapi mungkin merekapun merasa bahwu kau
akan bersikap lain dari mereka, sehingga mereka justru sudah
berperasangka terhadapmu” berkata Kiai Kanthi kemudian “karena itu,
jika kau masih mempunyai waktu, cobalah menanggapi hal ini. Jika
perlu, kau dapat menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon dan Ki Buyut di
Lumban Wetan. Jlitheng mungagguk-angruk. Ternyata ia mendapat beban
baru di padukuhan yang semula nampak tenang, meskipun selalu
gersang. Justru karena tanah yang kering dan ke kuning-kuningan itu
mulai disentuh oleh air, sehingga daun- daun yang semi menjadi
hijau, persoalannya justru berkisar menjadi gawat karena ketamakan
dan kedengkian. Tetapi disamping itu, persoalan yang lain tetap
menunggunya. Semula ia menganggap persoalan pusaka itu adalah
persoalan yang harus mendapat perhatiannya yang utama. Pusaka itu
akan menyangkut keselamatan seseorang, keselamatan Pangeran yang
malang itu. Bahkan mungkin j ika timbul benturan kekuatan antara
kelompok-kelompok yang menghendakinya, akan dapat menimbulkan
pertempuran yang luas. Namun, agaknya kini ia tidak dapat
mengesampingkan persoalan orang-orang Lumban itu. Jika perselisihan
mereka tentang air itu meluas, maka persoalannya akan dapat menjadi
gawat pula. Anak laki- laki Ki Buyut Lumban Kulon itu agaknya
seorang anak muda yang keras hati dan kurang memperhatikan persoalan
yang tumbuh di sekitarnya. Jika ia justru berpendirian keras tentang
air. maka perselisihan memang mungkin sekali akan menjadi semakin
gawat. “Tetapi kau t idak perlu tergesa-gesa ngger” berkata Kiai
Kanthi “Bukan berarti bahwa masalahnya tidak harus sepera ditangani,
tetapi kau harus mengetahui masalahnya dengan baik. Baru kau akan
dapat mengambil kesimpulan apakah yang dapat kau lakukan. Tentu saja
jangan sampai mengganggu kewaj ibanmu yang menyangkut masalah yang
jauh lebih luas dari masalah kedua padukuhan ini saja” Jlitheng
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Kiai Tetapi bantuan Kiai akan
sangat berarti bagiku. Bukan saja masalah air yang menjadi sumber
persoalan di Lumban ini, tetapi persoalan-persoalan lain yang memang
akan menyangkut masalah yang lebih luas seperti yang Kiai katakan
itu” “Sejauh dapat aku lakukan, ngger” jawab Kiai Kanthi sambil
mmengangguk-angguk. Demikianlah mereka masih berbicara tentang
berbagai macam hal yang menyangkut masalah air, sehingga akhirnya
Kiai Kanthi itu bergumam “Apakah pisang itu belum masak” Ketika Kiai
Kanthi kemudian masuk ke dapur, dilihatnya Swasti sedang mengangkat
pisang rebus yang sudah masak dan meletakkannya diatas sebuah irik
bambu. “Dengan demikian maka keduanya kemudian masih sempat
berbicara sambil mengunyah pisang rebus yang disediakan oleh Swasti,
sementara Jlitheng mendapat gambaran- gambaran yang lebah jelas
tentang perselisihan yang mulai membayang di Lumban, antara
orang-orang Lumban Kulon dan orang-orang Lamban Wetan. Setelah
beberapa saat ada digubug Kiai Kanthi maka Jlithengpun kemudian
turun dengan hati yang gelisah, seperti gelisahnya dedaunan yang
hijau dihembus angin yang kencang. Ada semacam penyesalan yang
bergejolak dihati Jlitheng. Bahkan ia merasa bahwa orang-orang
Lumban sama sekali tidak mengenal terima kasih. Setitik air bagi
mereka akan jauh lebih berharga daripada kegersangan yang mencengkam
padukuhan itu, lebih- lebih di musim kemarau. Tetapi ketika parit
mulai mengalir, meskipun kurang mencukupi, justru menimbulkan
persoalan baru pada padukuhan yang mulai nampak hijau itu.
Kegelisahannya itu ternyata dapat dilihat oleh ibu Jlitheng ketika
ia sampai di rumahnya. Bagaimanapun juga, Jlitheng adalah pusat
perhatian perempuan tua yang menyebut dirinya ibunya yang menganggap
Jlitheng seperti anaknya sendir i. “Apakah kau sakit?“ bertanya
ibunya. “Tidak biyung. Aku tidak apa-apa. Mungkin aku masih lelah
setelah aku mencoba melihat-lihat berapa luasnya dunia ini” jawab
Jlitheng. Ibunya tidak bertanya lagi. Sambil meninggalkan anak laki-
lakinya di dapur ia berkata “Makanlah dan beristirahatlah“ Tetapi
ternyata Jlitheng tidak beristirahat. Ketika malam mulai turun, maka
iapun minta diri kepada ibunya, untuk pergi ke gardu. “Seharusnya
kau banyak beristirahat. Tidur sajalah. Bukankah di gardu sudah
banyak ditunggui anak-anak muda?” “Mungkin aku dapat melupakan
kelelahan yang masih tersisa” jawab Jlitheng kemudian “di gardu aku
akan dapat bergurau bersama kawan-kawan” Ibunya tidak menghalanginya
lagi. Bahkan iapun berpikir, bahwa anak itu akan mendapat kesegaran
diantara kawan- kawannya. Ketika Jlitheng berada diantara
Kawan-kawannya ia tidak segera melihat persoalan yang timbul
diantara anak-anak mada Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Karena itu,
untuk beberapa saat lamanya Jlitheng terlibat dalam pembicaraan yang
gembira diantara kawan-kawannya Namun akhirnya Jlithenglah yang
memancing pendapat kawan-kawannya. Dengan hati-hati ia mulai
berbicara tentang sawah, bahkan kemudian air. “Pekerjaan kita tentu
bertambah sekarang“ berkata Jlitheng seolah-olah tanpa maksud
“Bukankah ada diantara kita yang harus pergi ke sawah untuk melihat
air?“ Ternyata kegelisahan Jlitheng tentang air itu benar-benar
membayang diantara sikap dan tingkah laku-laku kawan- kawannya.
Ketika Jlitheng mulai menyinggung air, maka kawan-kawannya mulai
nampak berubah sikap. Tetapi seorang yang bertubuh gemuk tiba-tiba
saja berkata “Jlitheng. marilah kita berbicara tentang yang lain.
He, bukankah kau datang dari perjalanan yang cukup jauh? Coba, apa
yang sudah kau lihat“ Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi ia
benar-benar ingin tahu sikap kawan-kawannya tentang air. Karena itu,
maka iapun menjawab “Ternyata kita masih jauh ketinggalan dari
padukuhan-padukuhan lain yang aku kunjungi. Pada umumnya
padukuhan-padukuhan itu telah mempunyai penataan air yang baik dan
teratur. Sementara kita disini baru mulai. Tetapi j ika kita bekerja
dengan tekun dan bersungguh- sungguh, maka kita akan dapat segera
mengejar kekurangan kita” Kawan-kawannya tiba-tiba saja menjadi
gelisah. Tetap jlitheng justru mendesak terus “Marilah kita bekerja
lebih baik untuk mengatur air yang meskipun sedikit tetapi mulai
teratur. Sungai itu tidak akan kering di musm kemarau karena sumber
air di bukit yang sudah dapat kita arahkan Kawan-kawannya nampak
menjadi semakin gelisah. Namun akhirnya Jlitheng semakin mendesak
“Kenapa kalian diam saja? Apakah kalian sudah jemu berbicara tentang
air? Kita baru mulai, sedangkan kita sudah tertinggal jauh dari
padukuhan-padukuhan lain sepanjang perjalananku. Tetapi nampaknya
kalian sudah mulai jemu membicarakannya” Kawan-kawannya saling
berpandangan. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata
“Jlitheng. Sebenarnya kami tidak ingin membuat kau dan orang tua
yang tinggal di bukit itu menjadi kecewa. Kau dan orang tua itu
sudah bekerja keras untuk mengarahkan arus air belumbang yang meluap
diatas bukit berhutan lebat itu” Dada Jlitheng menjadi semakin
berdebar-debar. Ternyata yang dikatakan oleh Kiai Kanthi agaknya
bukan sekedar prasangka. “Jlitheng, sebenarnyalah bahwa ada
persoalan yang kemudian- timbul di padukuhan ini” berkata kawannya.
“Persoalan apa?“ Jlitheng masih bertanya “Apakah ada kesulitan
dengan parit-parit itu?“ “Tidak. Tidak Jlitheng“ jawab kawannya itu
“Yang menumbuhkan persoalan bukannya parit dan air itu sendir i”
“Lalu apa?“ Jlitheng masih berpura-pura tidak mengetahui
persoalannya. Anak muda itu menarik nafas. Namun kemudian katanya
“Kami ternyata benar-benar telah mengecewakanmu dan mengecewakan
orang tua di kaki bukit itu. Pada saat-saat terakhir telah tumbuh
semacam perselisihan antara orang- orang Lumban Kulon dan Lumban
Wetan tentang air sungai itu. Kami masing-masing merasa bahwa bagian
kami terlalu sedikit. Orang-orang Lumban Kulon menganggap bahwa
tanah persawahan di Lumban Kulon lebih t inggi dar i tanah
persawahan di Lumban Wetan sehingga mereka menuntut cara pembagian
yang lain dari yang kita lihat sekarang, karena menurut mereka, air
yang naik dari sungai itu lebih banyak mengalir ke Lumban Wetan.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenungi
kawan-kawannya yang tertunduk diam, seolah-olah mereka merasa telah
bersalah, karena Jlitheng tentu akan menjadi sangat kecewa
karenanya. Baru sejenak kemudian Jlitheng bertanya “Tetapi apakah
menurut kalian, tanah persawahan di Lumban Wetan lebih rendah dari
Lumban Kulon?“ “Tidak. Sebagaimana kita lihat. Bukankah dataran
diantara sepasang bukit mati ini rata dan tidak mir ing? Bukankah
dengan demikian sawah di Lumban Wetan sama sekali tidak lebih rendah
dari Lumban Kulon?“ Jlitheng mengangguk-angguk. Menurut pendapatnya,
sawah di Lumban Wetan memang lebih rendah dari sawah di Lumban
Kulon. Namun demikian, Jlitheng tidak menentukan sikap apapun juga.
Ia baru mendengar keterangan dari anak-anak Lumban Wetan. Ia masih
belum mendengar apa yang dikatakan oleh anak-anak Lumban Kulon.
Namun dalam pada itu kawannya berkata “Jlitheng. Anak- anak muda
Lumban Kulon nampaknya bersikap terlalu keras. Mereka kini melarang
kami, anak-anak muda Lumban Wetan ikut ber latih olah kanuragan pada
Daruwerdi” Jlitheng menjadi cemas mendengar keterangan itu. Jika
masalahnya menyangkut Daruwerdi, maka persoalannya akan berkembang
semakin gawat. Karena itu, maka iapun bertanya “Apakah Daruwerdi
sendiri tidak menunjukkan sikap apapun juga?“ “Daruwerdi seolah-olah
menjadi acuh tidak acuh. Ketika kami bertanya kepadanya. Kenapa kami
dilarang mengikuti latihan olah kanuragan, maka ia tidak memberikan
jawaban yang memuaskan” sahut seorang anak muda. “Apa katanya?“
bertanya Jlitheng. “Katanya, ia tidak menentukan apa-apa. Ia
mengajari siapa yang hadir di dekat bukit gundul itu. Sedangkan
anak-anak Lumban Kulon menganggap bahwa bukit gundul itu termasuk
daerah Lumban Kulon” sahut seorang kawannya. “Apakah memang
demikian?“ bertanya Jlitheng. “Tidak ada yang pernah mengatakan
demikian sebelumnya” jawab kawannya. Jlitheng mengangguk-angguk.
Tetapi ia masih bertanya “Apakah kalian pernah berbicara tentang hal
itu dengan Daruwerdi, bahwa sebenarnya kalian masih ingin berlatih
kepadanya“ “Ya“ seorang kawannya menjawab “bahkan kami sudah minta
agar Daruwerdi bersedia datang ke tempat lain yang khusus bagi
anak-anak muda dari Lumban Wetan. Terapi ia tidak bersedia sama
sekali. Katanya, dengan demikian sikapnya itu akan dapat menimbulkan
salah paham dengari anak-anak Lumban Kulon. Bahkan mungkin akan
memperbesar pemisahan yang sudah mulai tumbuh diantara mereka”
Jlitheng mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti sikap Daruwerdi. Jika
ia berseda melakukannya, maka perselisihan antara anak-anak muda
Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan semakin memuncak. Tetapi yang
belum diyakini oleh Jlitheng, apakah Daruwerdi itu jujur. Jika
jawaban itu sekedar cara untuk menolak agar anak-anak muda Lumban
Wetan tidak dapat meningkat seimbang dengan anak-anak muda Lumban
Kulon justru karena ia telah berpikir, maka akibatnya akan gawat
pula. Karena itu, maka Jlithengpun bertekad untuk bertemu dengan
anak-anak muda Lumban Kulon. Ia ingin bertanya, bagaimana sikap
mereka yang sebenarnya terhadap air yang sudah berhasil diangkat
naik dari sungai kecil itu. “Kau akan mendapat perlakuan yang buruk
dar i mereka berkata seorang kawannya. “Apakah sampai demikian jauh
sikap dan tanggapan mereka terhadap anak-anak muda Lumban Wetan?“
bertanya Jlitheng. “Kadang-kadang sikap mereka memang menjengkelkan
sekali“ desis seorang kawannya. Tetapi Jlitheng tetap ingin bertemu
dengan mereka. Karena itu, maka iapun kemudaan meninggalkan gardunya
dan pergi ke Lumban Kulon, meskipun kawan-kawannya mencoba
mencegahnya. Ketika Jlitheng menyeberangi jalan dan memintas
pematang menuju ke padukuhan yang termasuk daerah Lumban Kulon, ia
memang menjadi ragu-ragu. Namun ia melangkah terus. Dinginnya malam
sama sekali t idak terasa. Bahkan keringat dingin terasa membasah di
punggungnya. Semakin dekat dengan gardu di sudut padukuhan, Jlitheng
merasa semakin gelisah, Namun ia bertekad untuk mencari cara yang
sebaik-baiknya, agar perselisihan itu t idak justru berkembang.
Anak-anak Lumban Kulon yang berada di gardu terkejut melihat sesosok
bayangan mendekati gardunya. Namun merekapun segera mengenal, ketika
cahaya di gardu itu mulai menyentuh wajah Jlitheng. Anak-anak muda
Lumban Kulon itu merasa heran, bahwa Jlitheng telah datang seorang
dir i. Mereka mengetahui bahwa Jlitheng baru saja kembal dari sebuah
perjalanan, dan merekapun sudah mendengar ceritera yang direka-reka
oleh Jlitheng dalam perjalanannya. “Kau Jlitheng” bertanya seseorang
dari antara anak-anak muda Lumban Kulon itu. “Ya. Apakah aku boleh
naik ke gardu” bertanya Jlitheng. ”Marilah Naiklah” jawab salah
seorang dari mereka. Jlitheng kemudian duduk bersama anak-anak muda
Lumban Kulon. Sejak kedatangannya, Jlitheng sudah merasa, bahwa
sikap anak-anak muda Lumban Kulon memang agak lain. Satu dua orang
mencoba bertanya tentang pengalamannya di perjalanannya. Seorang
yang bertubuh kurus bertanya “Ceriteramu belum begitu jelas bagi
kami Jlitheng. Barangkali kau masih ingin berceritera tentang
pengalamanmu yang aneh-aneh di perjalanan?“ Jlitheng tersenyum.
Seperti kepada kawan-kawannya di Lumban Wetan ia berceritera tentang
daerah yang pernah dilihatnya. Dan seperti di Lumban Wetan iapun
mulai memancing pembicaraan mengenai tanah, sawah dan air. Agaknya
anak-anak Lumban Kulon telah mempunyai prasangka kepadanya Karena
itu, maka merekapun segera mengerti maksud Jlitheng. Seorang yang
berkumis tipis kemudian menyahut “Jlitheng. Agaknya kami dapat
meraba, kemana arah pembicaraanmu. Mungkin kau telah mendengar dari
kawan-kawanmu di Lumban Wetan, bahwa telah timbal persoalan yang
hangat antara kami, anak-anak muda Lumban Kulon dan kawanmu dar i
Lumban Wetan” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Persoalan
itu berkembang demikian cepatnya. Baru beberapa hari yang lalu, kita
merasa bersukur bahwa kita telah dapat mengangkat air dari sungai
kecil yang menampung air dar i bukit berhutan itu. Sekarang kita
merasa bahwa telah ada persoalan yang hangat antara Lumban Kulon dan
Lumban Wetan” “Kami sudah mencoba menahan diri” berkata anak muda
yang berkumis tipis. Tetapi kawan-kawanmu dari Lumban Wetan bersikap
terlalu mementingkan diri mereka sendir i” “Apa yang sebenarnya
telah mereka lakukan?“ bertanya Jlitheng. “Mereka ingin mendapat air
terlalu banyak dari kemampuan air yang dapat kita tampung“ sahut
seorang anak muda. “Apa yang telah mereka lakukan?“ Jlitheng
mengulangi pertanyaannya. “Mereka ingin membuka parit yang mengalir
ke sawah mereka lebih lebar dari parit yang mengalir ke sawah kami”
jawab anak muda berkumis tipis “Tentu saja kami tidak sependapat.
Pintu air dari kedua parit yang mengalir ke persawahan di Lumban
Wetan dan Lumban Kulon harus sama. Dengan demikian, maka kita akan
mendapat pembagian yang adil” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia
memang sudah menduga, bahwa keterangan anak-anak muda Lumban Wetan
mungkin berbeda dengan keterangan anak-anak muda Lumban Kulon. Namun
ia perlu mendengar semuanya, agar ia mendapat bahan untuk membuat
pertimbangan-pertimbangan tertentu yang mungkin ada baiknya
dibicarakan dengan Kiai Kanthi. Karena itu, maka lapan kemudian
bertanya “Apakah dasarnya bahwa anak-anak Lumban Wetan minta agar
pintu air bagi mereka lebih lebar dari pintu air yang akan mengairi
ke daerah persawahan di Lumban Kulon?“ “Mereka merasa bahwa mereka
mempunyai jasa terlalu banyak. Mereka merasa bahwa parit itu telah
mengalir karena kerja anak-anak Lumban Wetan. Terutama kau sendir i”
jawab anak muda berkumis tipis. Namun tiba-tiba seorang anak muda
berjambang tebal bertanya kepada Jlitheng “He, Jlitheng, apakah
benar kau merasa bahwa karena jasamu maka parit-parit kita dapat
mengalir?“ “Tentu tidak” jawab Jlitheng menghindar. Ia merasa bahwa,
orang, berjambang itu hatinya lebih keras dani anak muda berkumis
tipis “Bukan aku. Tetapi orang tua yang tinggal di lereng bukit itu”
“Jadi apa maksudmu datang kemari?”Anak muda berjambang tebal itu
bergeser maju “kau kira kau mempunyai wewenang untuk mengurus air
itu?“ “Tidak. Bukan maksudku“ Jlitheng beringsut sedikit aku hanya
ingin bertanya apakah yang sebenarnya terjadi Aku memang mendengar
ceritera kawan-kawanku. Tetapi aku belum yakin akan kebenarannya.
Justru karena itu aku ingin mendengar dari kalian” “Bohong“ Anak
muda berjambang tebal itu membentak “aku kira kau ingin memaksakan
kehendak anak-anak muda Lumban Wetan. Aku kira kau ingin berceritera
tentang jasa- jasamu bahwa kau telah membuka air di belumbang di
lereng bukit itu. Kaulah yang telah mengarahkan air itu sehingga
masuk kedalam sungai kecil yang kemudian kita angkat bersama”
“Benar. Aku tidak bermaksud demikian. Aku .ingin mencari
penyelesaian sebaik-baiknya atas persoalan air itu. Sebenarnyalah
Kiai Kanthi menjadi sedih, bahwa air yang diharapkan akan membuat
Lumban dalam keseluruhan itni menjadi hijau, ternyata telah
menimbulkan persoalan tersendiri yang akan dapat meretakkan hubungan
kedua kebuyutan yang semula memang hanya satu“ berkata Jlitheng.
“Jika benar kau t idak akan membuat kisruh dengan memaksakan
pendapat orang-orang Lumban Wetan, maka kau harus bersedia
mengatakan kepada anak-anak muda Lumban Wetan, bahwa mereka tidak
mempunyai hak lebih dari kami” Orang berjambang itu menggeram. Namun
anak muda yang berkumis- tapis, yang agaknya batanya lebih lembut
itu berkata “Sudahlah J litheng, sebenarnya kami tidak ingin
terlibat ke dalam perselisihan. Katakan kepada kawan-kawanmu”
“Tetapi jika mereka mulai apaboleh buat“ Anak muda berjambang itu
memotong “karena itu, katakan, bahwa jasamu t idak berarti apa-apa
bagi kami” “Baiklah, aku akan mengatakan kepada mereka” desis
Jlitheng “Tetapi aku minta, bahwa kita masing-masing akan dapat
menahan diri sehingga dengan demikian persoalan ini tidak akan
berkembang jadi semakin buruk” “He, kau kira kami disini tidak
menahan diri?” Anak muda berjambang itu bergeser maju lagi, sehingga
Jlithengpun telah beringsut pula “jika kami anak-anak muda Lumban
Kulon tidak menahan diri, maka anak-anak muda Lumban Wetan telah
kami lemparkan ke bendungan. Apalagi kini anak-anak muda Lumban
Wetan menjadi malas dan tidak lagi mau berprihatin barang sedikit
untuk mempelajari olah kanuragan” “O. Apakah begitu?“ desis Jlitheng
“Jika demikian biarlah besok aku akan mengajak mereka” “Itu tidak
perlu“ Anak muda berjambang itu hampir berteriak “Daruwerdi sudah
kehabisan kesabaran. Beberapa kali mereka datang. Dan itu akan
sangat mengganggu perkembangan kita semuanya. Karena itu, mereka
yang telah ketinggalan t idak akan diperbolehkan ikut serta”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun anak muda berkumis tipis itu
berkata “Mungkin mereka akan mendapat kesempatan berikutnya,
Jlitheng. Setelah kelompok ini meningkat, maka akan disusul oleh
kelompok ber ikutnya” Jlitheng menganguk-angguk. Katanya
“Mudah-mudahan kesempatan itu masih terbuka” “Kau sendiri masalnya“
Anak muda berjambang itu masih saja berbicara dengan nada yang keras
“Sudah berapa kali hari latihan kau t idak datang. Apakah kau
sekarang tiba-tiba saja akan berlatih bersama kami? Tentu kau hanya
akan mengganggu kami dan menghambat perkembangan kami“ Jlitheng
masih mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Baiklah. Aku akan minta
diri. Aku akan berkata kepada kawan-kawanku, agar mereka tidak minta
yang berlebih- Iebihan, Jadi. kita akan bersepakat, bahwa pintu air
yang mengalirkan air ke tanah persawahan di Lumban Kulon dan Lumban
Wetan akan dibuat sama” “Mungkin begitu” desis anak muda berkumis t
ipis. Namun tiba-tiba seorang anak muda bertubuh kurus berkata
“Tetapi apakah tanah persawahan itu tidak sama, maka pembagian air
yang sama bagi kedua belah pihak justru akan menjadi tidak adil?”
“Tanah Persawahan Lumban Kulon lebih luas dari. tanah persawahan
Lumban Wetan“ beberapa anak muda berdesis. Anak muda berkumis tipis
itu termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata kepada Jlitheng
“Kemballah. Kami tidak bermaksud bermusuhan dengan kawan-kawan kami
dari Lumban Wetan. Tetapi kami ingin pembagian air yang adil. Hanya
itu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian? ”Baiklah.
Aku akan mengatakannya kepada kawan-kawanku, seperti yang kalian
kehendaki. Untuk sementara barlah kita membuka pintu air yang sama
seperti yang kalian kehendaki. Aku menjamin, bahwa anak-anak Lumban
Wetan akan menerimanya” “Sama bagaimana?” Anak muda berjambang itu
bertanya dengan keras. “Sama lebarnya“ Anak muda berkumis tipis
itulah yang menjawab. JIitheng memandang anak muda berkumis tipis
itu sekilas. Ia memang mengenal anak itu dengan watak yang berbeda
dengan anak berjambang itu. Namun agaknya arak muda berkumis tipis
itu mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kawan-kawannya, juga
terhadap anak muda berjambang tebal itu, sehingga karena itu, maka
anak muda berjambang tebal itu tidak bertanya lebih jauh lagi.
“Sudahlah” berkata Jlitheng “Aku akan kembal kepada kawan-kawanku.
Terima kasih atas segala keterangan dan kesediaan kalian” Anak muda
berkumis r iips itu berkata “Mudah-mudahan kawan-kawanmu di Lumban
Wetan dapat mengerti” Jlithengpun kemudian meninggalkan gardu itu.
Namun demikian Jlitheng meninggalkan mereka, beberapa anak muda
bertanya kepada yang berkumis tipis “Kau terlalu lunak menghadapi
anak-anak muda Lumban Wetan” “Jlitheng memiliki kelainan dengan
anak-anak muda Lumban Wetan yang lain” desis anak muda berkumis
tipis itu. “Apa bedanya? Ia datang untuk menuntut. Mungkin anak-
anak. Lumban Wetan angan mempergunakannya. Dikiranya kita, anak-anak
muda Lumban Kulon menjadi silau melihatnya” berkata anak muda
berjambang itu. “Tetapi apakah kita akan mengingkar i kenyataan?”
Anak muda berkumis tipis itu menjawab “Siapa yang paling banyak
berbuat terhadap penguasaan air itu? Katakan, bahwa pikiran ini
tumbuh dari orang tua di lereng bukit itu. Tetapi Jlitheng dan
anak-anak muda Lumban Wetan menanggapinya dengan cepat. Sedangkan
kita? Katanya, apa yang pernah kita lakukan. Mungkin ada seorang
atau katakanlah dua orang diantara kita yang ikut membantu orang tua
itu mengartikan air, kemudian membuat gubug baginya. Tetapi apakah
artinya dibandingkan dengan kerja anak-anak Lumban Wetan”
Kawan-kawannya, termangu-mangu. Namun t idak seorangpun yang
menyahut. Meskipun demikian, hati mereka tetap bergejolak. Mereka
tidak ingin melihat Lumban Wetan tumbuh secepat Lumban Kulon. Karena
itu, maka mereka tetap tidak akan membiarkan perkembangan Lumban
Wetan dalam segala segi. Selain pada kesuburan tanahnya, juga pada
kemampuan anak-anak mudanya. Dalam pada itu, ternyata hal itu telah
diberitahukan pula kepada anak-anak laki- laki Ki Buyut di Lumban
Kulon. “Anak itu memang dungu” berkata anak Ki Buyut itu kepada anak
muda berjambang lebat “Ya Nugata. Ia menganggap bahwa Jlitheng
memang mempunyai hak untuk menentukan air di sungai itu” berkata
anak muda berjambang lebat “Jangan hiraukan. Aku tetap pada
pendirianku. Air itu harus kita kuasai sepenuhnya. Kitalah yang akan
memberikan sebagian menurut belas kasihan kita kepada Lumban Wetan,
karena sebenarnyalah bendungan itu berada di daerah Lumban Kulon,
dan bukit berhutan itupun berada di daerah Lumban Kulon pada saat
Lumban dibagi menjadi dua” Kawan-kawannya termangu-mangu. Mereka
belum pernah mendengar sebelumnya, bahwa sungai, bendungan, bukit-
bukit itu termasuk daerah Lumban Kulon. Namun ia
mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia menganggap bahwa anak Ki
Buyut itu tentu lebih banyak mengetahui tentang keadaan Lumban Kulon
maupun Lumban Wetan. Ternyata bahwa sikap Nugata, anak Buyut Lumban
Kulon itu menjadi pola pikiran anak-anak muda di Lumban Kulon,
Mereka menganggap bahwa sikap itu adalah sikap yang paling baik.
Karena itu, maka merokapun ikut pula berbuat seperti yang dilakukan
oleh anak muda yang menjadi pusat perhatian anak-anak muda di
seluruh Lumban Kulon. Sementara itu, Nugatapun sebelumnya telah
bertemu dengan Daruwerdi beberapa kali. Ialah yang minta kepada
Daruwerdi agar anak-anak Lumban Wetan tidak diperkenankan untuk ikut
serta dalam latihan-latihan olah kanuragan. “Itu adalah persoalan
kalian” berkata Daruwerdi “Aku mengajari siapa saja yang hadir”
“Kami akan melarang, mereka memaruti daerah lumban Kulon” berkata
Nugata. “Terserah. Aku tidak ikut campur” berkata Daruwerdi setiap
kali. Meskipun demikian Darawerdi tidak mengambil sikap yang dapat
mencegah berkembangnya jarak antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan,
Ia tidak mau menambah persoalan yang baginya sudah cukup rumit,
hampir tidak sabar ia menunggu hadirnya seorang Pangeran yang
dikehendakinya. Apakah Pangeran itu dibawa oleh orang-orang Sanggar
Gading, orang- orang Kendali Putih atau oleh orang-orang Pusparuri.
Karena itu maka ia t idak menghiraukan lagi apakah yang akan terjadi
antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan. “Biar saja kedua daerah ini
berbenturan. Aku akan melihat suatu yang permainan yang mengasikkan.
Anak-anak muda yang berkelahi tanpa aturan. Dengan liar saling
memukul dan menghantam. Mungkin mereka bersenjata tanpa mengenal
arti senjata masing-masing” berkata Daruwerdi di dalam hatinya.
Namun Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ia menyadari. bahwa anak-anak
Lumban Kulon memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak-anak muda
Lumban Wetan, karena meskipun sedikit, tetapi anak-anak muda Lumban
Kulon pernah mengikuti latihan-latihan oleh kanuragan. “Anak-anak
muda Lumban Wetan akan terdesak” berkata Daruwerdi di dalamhatinya
pula. Namun tiba-tiba saja timbul pikirannya “Jika daerah ini
diganggu oleh ketegangan dan benturan antara Lamban Wetan dan Lumban
Kulon, maka persoalanku akan berbaur tanpa banyak diketahui orang”
Pikiran itulah yang membuat Daruwerdi semakin t idak mengacuhkan
alas apa yang terjadi antara anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban
Wetan. Ia sama sekali tidak pernah menyatakan keberatannya atas
sikap Nugata yang kadang-kadang nampak diwarnai oleh perasaan dengki
dan iri hati. Namun demikian, Daruwerdi memang tidak lagi ingin
membuat jarak dengan anak-anak muda Lumban Kulon. Ia tidak ingin
anak-anak muda itu dapat mengganggu rencananya. Karena itu, seperti
yang sudah dikatakan oleh anak-anak Lumban Wetan, Daruwerdi tidak
bersedia untuk member ikan latihan- latihan khusus bagi anak-anak
Lumban Wetan. Dengan demikian, anak-anak Lumban Kulon akan marah
kepadanya. Meskipun mereka tidak berani berbuat sesuatu tetapi pada
suatu saat ia dapat menganggunya. Dalam pada itu, Jlitheng yang
dengan hati yang gelisah meninggalkan Lumban Kulon, telah kembali
kepada kawan- kawannya. Ia mengatakan, sesuai dengan apa yang
didengarnya dari anak-anak muda Lumban Kulon. Bahkan anak-anak muda
Lumban Kulon sama sekali tidak mempersoalkan tinggi tanah persawahan
daerah Lamban Kulon dan Lumban Wetan. Yang mereka minta hanyalah,
pintu air yang mengalirkan air ke Lumban Kulon dan Lumban Wetan itu
harus sama. “Omong kosong” jawab seorang kawannya “pintu air itu
sudah sama sejak semula. He, bukankah kau juga mengetahuinya bahwa
pintu air itu sudah sama” ”Ya, aku tahu. Mereka anak-anak Lumban
Kulon mempertahankan kesamaan itu, yang mereka sangka, akan dirubah
oleh anak-anak Lumban Wetan. Mereka mengatakan, bahwa pembagian itu
harus adil. Karena itu, perubahan yang dikehendaki oleh anak-anak
muda Lumban Wetan akan merusak keseimbangan itu” ”Dan kau percaya?“
tiba-tiba seorang kawannya yang lain bertanya. “Atau barangkali kau
lebih percaya kepada anak-anak Lumban Kulon daripada anak-anak
Lumban Wetan sendiri“ Yang lain menyambung. Jlitheng menjadi
berdebar-debar. Ia tidak mau terjadi salah paham dengan
kawan-kawannya. Karena itu, maka iapun segera menjawab “Bukan
begitu. Maksudku aku ingin mendapatkan gambaran yang sebenarnya dari
peristiwa yang sedang kita hadapi. Bukankah dengan demikian hanya
terjadi salah pengertian diantara kita disini dan anak-anak muda
Lumban Kulon. Jika demikian maka tidak perlu timbul pertentangan
diantara kita. Jika masalahnya dapat kita pertemukan, maka
perselisihan itu akan dapat teratasi“ “Tidak ada salah pengertian
dan tidak ada salah paham. Mereka menuntut dengan yakin dan pasti”
sahut seorang kawannya ”Ya“ Jlitheng mengangguk “Tetapi bukankah
tidak ada salahnya jika ada usaha pendekatan tanpa pengorbanan salah
satu pihak” “Ya Itu dapat saja kau lakukan” seorang yang kbih tua
dari mereka t iba-tiba saja menyahut. Anak-anak muda itu berpaling
kepadanya. Dilihatnya orang itu melangkah mendekat dan bahkan
kemudian berdiri diantara mereka “Aku mendengar percakapan kalian.
Usaha Jlitheng memang baik. Tetapi jika aku boleh berpendapat, maka
masalahnya tidak terlalu mudah. Anak-anak muda Lumban Kulon dan
anak-anak muda Lumban Wetan sebenarnya telah mulai memikirkan masa
depan kampung halaman mereka. Mereka telah berusaha untuk membuat
padukuhan mereka menjadi sebuah padukuhan yang baik di masa depan.
Namun, ternyata bahwa Lumban Kulon tidak mempertimbangkan
kepentingan padukuhan tetangganya, bahkan pecahan dan belahan dari
satu tubuh” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia tidak dapat mengambil
kesimpulan tanpa mendapatkan bahan yang lebih banyak lagi. Tetapi
agaknya kata-kata orang yang sudah tua dari anak- anak muda yang,
berada di gardu Itu dapat dimengerti. Dalam pada itu. orang yang
lebih tua itu berkata selanjutnya “Tetapi Jlitheng, aku kira, kau
dapat saja melanjutkan usahamu. Kami dan mungkin juga anak-anak
Lumban Kulon harus mengakui, bahwa kau sudah berbuat lebih banyak
dar i setiap orang diantara kami dan anak-anak muda Lumban Kulon,
sehingga air itu dapat kita kuasai“ “Aku akan berusaha“ sahut
Jlitheng “Tetapi apa artinya aku seorang diri” “Kau seorang diri
akan lebih baik dari tidak ada seorangpun yang berusaha, mencari
penyelesaian yang sebaik-baiknya. Tetapi jika kau gagal maka kau
akan dapat mengambil satu sikap” berkata orang itu. “Baiklah” jawab
Jlitheng “Aku akan berusaha terus. Tetapi aku minta kalian percaya
kepadaku” “Sebenarnyalah perselisihan ini memang sudah meningkat
menjadi pertentangan yang gawat” berkata orang itu “Mungkin kau akan
dapat membayangkan j ika anak-anak Lumban Kulon setiap kali mampu
meningkatkan pengetahuan mereka tentang, olah kanuragan, maka itu
sudah dapat dibayangkan. Sementara kita masih tetap bodoh dan dungu
Bukankah dengan demikian, pada suatu saat kita tidak akan dapat
berbuat apa-apa, Jika anak-anak Lumban Kulon memaksakan kehendaknya
atas kita?. Jika keta menentang kehendak mereka, maka mereka akan
bertindak dengan kekerasan” Jlitheng mcngangguk-angguk. Katanya “Aku
mengerti. Mudah-mudahan aku akan dapat mencari jalan untuk
menyelesakan masalah yang gawat Ini” “Tetapi, hati-hatilah. Jika kau
salah langkah, maka kau akan menjadi korban. Mungkin oleh anak-anak
Lumban Kulon kau akan mengalami nasib kurang baik. tetapi mungkin
justru oleh anak-anak muda Lumban Wetan sendiri” “Aku mengerti.
Tetapi tanpa langkah-langkah yang dapat mendekatkan bubungan yang
retak ini. seperti yang kau katakan, mungkin kita akan sampai pada
satu sikap kekerasan. Dan ini akan sangat merugikan Lumban Wetan
Karena kami tidak akan mampu berbuat banyak” Jlitheng masih
mengangguk-angguk. Katanya “Kita semuanya harus menyadari bahwa
persoalan ani akan berkembang menjadi semakin buruk bagi kita” Bukan
saja Jlitheng, namun anak muda Lamban Wetan itupun menyadari
sepenuhnya akan kesulitan yang dapat mereka alami. Tetapi merekapun
tidak akan dapat mengorbankan hari depan padukuhan mereka dengan
member ikan air seberapa banyak yang dikehendaki oleh anak- anak
muda Lumban Kulon. Kesulitan yang menghantui mereka adalah, bahwa
Daruwerdi tidak bersedia untuk member ikan laihan-latihan kepada
anak-anak Lumban Wetan, sehingga keseimbangan diantara kedua
padukuhan itu tidak dapat dipertahankan. “Aku akan menemui
Daruwerdi” berkata Jltiheng di dalam hatinya “Mudah-mudahan ia mau
membantu mempertahankan keseimbangan kekuatan. Dengan demikian, maka
masing- masing pihak akan menjadi ragu-ragu untuk mulai dengan
tindak kekerasan. Tetapi jika keseimbangan itu bergeser, maka salah
satu pihak akan dengan mudah memaksakan kehendaknya atas pihak yang
lain. Tetapi disamping memikirkan pertentangan yang berkembang
antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Jlitheng masih harus juga
memperhitungkan setiap kemungkinan orang-orang Sanggar Gading akan
datang sambil membawa seorang Pangeran yang akan diserahkan kepada
Daruwerdi, sebagan alat penukar sebutlah pusaka yang diinginkannya.
Diluar sadarnya Jlitheng menggeram “Anak-anak dungu. Seharusnya aku
tidak membantu Kiai Kanthi menguasa itu, atau sebaiknya, aku harus
menghalanginya” Tetapi semuanya sudah terlanjur. Ada terbersit
naatnya pula. untuk menghancurkan saja bendungan yang mengangkut air
kesawah. Namun Jlitheng telah berusaha untuk menekan maksudnya itu.
“Mudah-mudahan orang-orang Sanggar Gading itu t idak segera datang”
berkata, Jlitheng di dalam hatinya “sementara itu aku mendapat
kesemutan untuk menyelesaikan pertentangan yang terjadi disini. Atau
justru sebaliknya, pertentangan itu akan semakin meletus dan menelan
kerukunan yang sudah lama menyelubungi dua padukuhan yang semula
memang hanya satu” Demikianlah, dipagi hari ber ikutnya, Jlitheng
dengan ragu- ragu telah pergi menemui Daruwerdi. ia pura-pura tidak
mengetahui persoalan anak-anak muda Lumban Kulon ketika ia memasuki
padukuban ltu. Dengan ramah ia tetap rnenyapa Icawan-kawannya dari
Lumban Kulon, yang betapapun juga, oleh sikapnya yang tidak berubah
maka anak-anak muda Lumban Kulonpun menjawab pula. Jlitheng
menjumpai Daruwerdi yang baru saja terbangun dari tidurnya. Sambil
menggosok matanya ia mwmui Jlitheng diserambi gondok. “Apakah kau
akan berbicara tentang hari-hari perkawinanmu?” Desisi Daruwerdi.
“Ah, kau” sahut Jlitheng “aku akan bicara tentang padukuhan kita.
Bukan tentang dir iku pribadi” “Tentang air? Tentang latihan-latihan
yang hanya diikuti oleh anak-anak muda Lumban Kulon?“ bertanya
Daruwerdi Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kalanya “Daruwerdi,
kau dapat membantu anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan
untuk meredakan pertentangan diantara mereka” “Aku sudah
memikirkannva. Karena itu, aku berkeberatan untuk mengadakan latihan
serupa yang khusus bagi anak- anak muda Lumban Wetan” jawab
Darawerdi. “Lebih dar i itu akan dapat kau lakukan” berkata Jlitheng
“Kau mempunyai pengaruh yang kuat atas anak-anak Lumban Kulon. Jika
kau mau, maka kau akan dapat meredakan pertentangan. Anak-anak
Lumban Kulon akan selalu mengikuti segala petunjukmu” Dengan
mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Jadi menurut pendapatmu,
kesalahan ada pada anak-anak muda Lumban Kulon?“ “Bukan begitu. Aku
juga akan berusaha untuk mengendalikan kawan-kawanku. bagaimanapun
juga mereka mengakui, bahwa akulah yang pertama-tama membicarakan
masalah air itu dengan orang tua yang tinggal di lereng bukit.
Karena itu, maka aku mengharap, bahwa anak-anak muda Lumban Wetan
akan mendengarkan keteranganku” Tetapi Daruwerdi menggelengkan
kepalanya sambil berkata “Jangan ganggu lagi aku dengan
persoalan-persoalan semacam itu. Aku tidak sempat memikirkannya.
Biar sajalah anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan saling
berbenturan. Itu adalah salah mereka sendiri, karena mereka tidak
mau berpikir dengan dewasa. Tetapi kesalahan yang terbesar justru
ada padamu. Jika kau t idak berbuat apa-apa atas air itu, maka di
padukuhan ini akan tetap dapat dipelihara kedamaian dan ketenangan.
Sekarang keadaannya justru menjadi semakin buruk setelah kau
menyalurkan air itu ke sungai dan yang kemudian diangkat ke sawah”
Jlitheng menjadi sangat kecewa. Namun ia masih mencoba “Daruwerdi.
Coba kau bayangkan. Jika benar-benar terjadi- benturan kekuatan
antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, apakah yang kira-kira Akan
terjadi pada anak-anak Lumban Wetan. Kau telah membuat anak-anak
Lumban KuIon kuat dan mampu berkelahi. Semenara anak-anak Lumban
Wetan sama sekali t idak memiliki pengetahuan dalam olah kanuragan”
“Ada cara terbaik untuk menghindar i benturan itu Jlitheng” berkata
Daruwerdi. “Apa?“ bertanya Jlitheng. “Anak-anak Lumban Wetan jangan
berkeras kepala. Turuti saja keinginan anak-anak muda Lumban Kulon”
jawab Daruwerdi. “Itu tidak mungkin Daruwerdi. Jika tuntutan mereka
terlalu berat sebelah” “Jika demikian, terserah kepadamu. Aku t idak
tahu Jangan bicarakan lagi air dan segala macam persoalan yang lain”
berkata Daruwerdi kemudian, lalu “Sudahlah, tidak berarti itu dengan
aku. Aku mempunyai pekerjaan yang cukup banyak” Jlitheng menar ik
nafas dalam-dalam. Akhirnya ia harus kembali tanpa berhasil mendapat
bantuan Daruwerdi untuk meredakan ketegangan yang terasa semakin
memuncak. Namun dalam pada itu, kedatangan Jlitheng dan usaha-
usahanya untuk meredakan ketegangan yang ada, justru berakibat
sebaliknya. Anak-anak Lumban Kulon yang menganggap usaha Jlitheng
itu akan menghambat keinginan mereka, telah bersepakat untuk
bertindak lebih jauh. Nugata, anak Ki Buyut di Lumban Kulon telah
mengambil sikap lebih keras. Ia tidak ingin Jlitheng berhasil
mempengaruhi suasana, seandainya ia pada suatu saat datang kepada
ayahnya. Karena itu. maka sebelum hal itu terjadi, Nugata telah
menemui Daruwerdi untuk member itahukan, bahwa anak- anak Lumban
Kulon akan segera membuka pintu air yang memasukkan air ke induk
saluran air di daerah Lumban Kulon. “Kau tergesa-gesa” berkata
Daruwerdi. “Aku tidak senang melihat usaha Jlitheng menemui beberapa
pihak. Bukankah ia sudah menemui kau pula?“ berkata Nugjta.
“Terserah kepadamu. Sudah aku kaktakan, aku tidak ikut campur“ desis
Daruwerdi. Nugata termangu-mangu. Sebenarnya ia ingin membawa
Daruwerdi. dengan demikian, maka tidak akan terlalu banyak yang
harus dilakukan. Anak-anak muda Lumban Wetan tentu akan menjadi
ketakutan dan memenuhi apa saja yang diminta oleh anak-anak muda
Lumban Kulon. Karena itu, maka Nupatupun kemudian berkata
“Daruwerdi. Aku sama sekali tidak berniat untuk memperalat kau. Aku
tahu, bahwa kau sadar akan dirimu. Tetapi yang aku inginkan adalah,
bahwa pertentangan antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, tidak akan
terlalu banyak menimbulkan keributan dan apalagi korban. Anak-anak
Lumban Wetan nampaknya tidak mau mengakui keinginannya, Bahkan
mereka menjadi keras kepala. Kehadiranmu bersama kami tentu akan
meluluhkan hati mereka, sehingga dengan demikian akan memungut
korban anak-anak muda Lumban Kulon dan tarlebih-lebih lagi anak-anak
muda Lumban Wetan” “Apapun alasanmu” jawab Daruwerdi “itu berarti
bahwa kau sudah memperalat aku” “Sudah aku katakan, maksudku t idak
begitu” “Aku akan memikirkannya. Jangan memaksa aku menjawab
seakrang” desis Daruwerdi. Nugata memang tidak dapat memaksanya,
Karena itu, maka iapun berkata “Waktunya sangat sempit untuk
menyelesaikan urusan ini. Aku harap kau segera mengambil keputusan,
sawah masih basah. Dan kesempatan menanam padi masih panjang”
Daruwerdi tidak menjawab. Dibiarkannya Nugata pergi meninggalkannya”
“Aku lebih senang pertentangan ini terjadi berlarut-larut” berkata
Daruwerdi di dalam hati “dengan demikian persoalanku kurang menarik
perhatian orang” Karena itu, maka ketika ia bertemu dengan Nugata
lagi, yang disanggupkannya adalah memperbanyak latihan olah
kanuragan. Jika perlu setiap hari, pada saat-saat senggang.
“Latihan-latihan itu tentu akan menggetarkan hati anak- anak muda
Lumban Wetan” berkata Daruwerdi “akibatnya tidak akan banyak berbeda
dengan keterlibatanku langsung dalam pertentangan itu” Nugata agak
kecewa. Tetapi baginya itu lebih baik dilakukan dar ipada tidak sama
sekali. Sehingga karena itulah, maka Nugatapun segera menghubungi
kawan-kawannya untuk melakukan seperti apa yang dikatakan oleh
Daruwerdi. Sebenarinyalah latihan-Iatihan yang menjadi semakin
sering dan semakin mantap itu telah menggetarkan hati anak- anak
Lumban Wetan. Mereka menjadi semakin cemas, bahwa pada suatu hari,
mereka akan mengalami kesulitan yang gawat. Apalagi ketika
usahahanya untuk menghadap Ki Buyut Lumban Kulon telah dihalangi
oleh Nugata dan kawan- kawannya. “Kembali sajalah Jlitheng“ ancam
Nugata “Jika kau berkeras kepala, maka kau akan menjadi merah biru
di seluruh tubuhmu. Wajahmu .akan menjadi bengkak-bengkak dan
kawan-kawanmu di Lumban Wetan akan menjadi semakin ketakutan, karena
kami tidak hanya berbicara saja tentang keinginan kami” Jlitheng
tidak dapat memaksa. Ia masih meragukan, apakah dirinya akan mampu
mengekang gejolak perasaannya, jika benar-benar anak-anak Lumban
Kulon itu memukulinya. Jika demikian, maka ia akan segera diketahui,
bahwa kehadirannya di Lumban bukannya tanpa maksud. Bahkon Daruwerdi
mungkin akan mengambil sikap lain. Karena itu iapun mengurungkan
niatnya untuk menemui Ki Buyut di Lumban Kulon. Namun denpm demikian
suasana yang panas antara anak-anak muda Lumban Kulon dan anak- anak
muda Lumban Wetan itu tidak dapat dikendalikan lagi. Diluar
sadarnya, ketika matahari mulai bertengger diatas bukit diujung
Barat, Jlitheng berjalan dengan lesu ke bukit kecil. Ia tidak tahan
lagi menyimpan gejolak perasaannya, sehingga iapun ingin mendapat
tempat untuk melupakan bebannya itu. Ia diterima oleh Kiai Kanthi
itu dengan lembut, orang tua itu berkata “Aku mengerti kesulitanmu
ngger” “Ya Kiai” sahut Jlitheng yang kemudian menceriterakan segala
usaha yang nampaknya tidak akan berhasil. “Kau harus telaten.
Bagaimana jika kau dengan diam-diam memasuki Kabuyutan Lumban Kulon
langsung menghadap Ki Buyut” berkata Kiai Kanthi. “Mungkin aku
berhasil. Tetapi jika setelah itu, anak-anak Lumban Kulon mendedamku
dan separi yang dikatakan oleh Nugata, merekai beramai-ramai
memukuli aku, apakah aku akan dapat berdiam dir i?“ Jlithenglah yang
kemudian bertanya. Kiai Kanthipun termangu-mangu. Pertanyaan itu
memang rumit bagi Jlitheng. Agak berbeda jika Jlitheng dengan terus
terang menyatakan siapa dirinya dan langsung akan berhadapan dengan-
Daruwerdi Karena menurut penilaian Kiai Kanthi, kemampuan Jlitheng
tentu t idak berada di bawah kemampuan Daruwerdi. Dalam pada itu,
selagi mereka sibuk berpikir, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh
derap kaki kuda. Tidak banyak. Hanya dua ekor, yang menyusuri jalan
setapek di hutan-hutan di lereng bukit itu. “Siapa Kiai“ bertanya
Jlitheng. “Aku tidak tahu ngger” jawab Kiai Kanthi. Jlithengpun
menjadi ragu-ragu. Namun diluar sadarnya, iapun segera membenahi
pakaiannya. Sementara Swasti yang berada di dapurpun segera
melangkah masuk. Bukan karena ia ketakutan. Tetapi ia harus mendapat
petunjuk dari ayahnya, apa yang harus dikerjakannya, jika terjadi
sesuatu diluar kehendak mereka. “Duduklah disini Swasti” desis
ayahnya “kita tidak tahu, siapakah mereka dan apakah yang ingin
mereka lakukan” Swastipun segera duduk di amben, meskipun tidak
mengarah kepada Jlitheng. Kiai Kanthi yang melihatnya, menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia tidak menegurnya. Bahkan kemudian ia berkata
“Marilah ngger. Kita melihat siapakah yang lewat“ Jlitheng mengikuti
Kiai Kanthi yang berdiri di pintu. Tetapi Jlitheng sendiri, berada
di bagian dalam pintu yang sedang terbuka itu. Dengan demikian, maka
Jlitheng tidak dapat langsung melihat dan dilihat oleh kedua orang
berkuda yang sudah berada beberapa langkah saja dari pintu gubug
Kiai Kanthi, dan karena itu merekapun berhenti, karenanya. “Ada juga
rumah di lereng bukit ini“ terdengar salah seorang dari kedua,
penunggang kuda itu berkata. “Ya ngger” sahut Kiai Kanthi “nampaknya
memang agak aneh bahwa aku telah tinggal bersama keluarga kecilku di
lereng bukit yang sepi ini. Tetapi agaknya hanya tanah inilah yang
dapat menerima aku” Kiai Kanthi berhenti, sejenak, lalu “Tetapi
siapakah anggar ini dan apakah maksud angger naik ke lereng bukit
ini?“ “Kami berdua adalah pemburu yang menjelajahi hutan demi hutan.
Kami mengumpulkan kulit harimau, kulit kijang dan rusa. Bahkan
kamipun mengumpulkan kulit buaya yang dapat kami tangkap di
kedung-kedung dan rawa-rawa” “O” Kiai Kanthi mengangguk-angguk “Dan
anggar berdua akan berburu di hutan ini“ “Ya. Bukankah di hutan ini
masih banyak terdapat binatang buas?“ tanya salah seorang dari
mereka. “Masih ada ngger. Tetapi sebenarnya tidak begitu banyak
lagi. Binatang buas ada di dataran di puncak bukit ini. Tetapi
kadang-kadang seekor harimau juga turun sampai ke lambung bukit itu”
jawab Kiai Kanthi. “Dan kau tidak takut?“ bertanya salah sarang dan
keduanya” “Binatang buas itu tidak pernah mengusik kami sekeluarga”
desis Kiai Kanthi meskipun agak ragu. “Dengan siapa kau tinggal
disini kek?“ salah seorang dari keduanya. “Dengan anak-anakku.
Seorang laki- laki dan seorang perempuan” jawab Kiai Kanthi tanpa
berprasangka. Kedua pemburu itu tentu akan segera berlalu Mungkin
mereka akan berhenti sebentar memandang Jlitheng dan Swasti. Namun
merekapun akan segera melanjutkan perjalanan tanpa menghiraukan
mereka. Sebenarnyalah maka salah seorang dari mereka berdua yang
masih berada diatas punggung kuda itupun berkata “Baiklah kakek tua,
Kami akan melanjutkan perburuhan kami Tetapi karena ada gubug di
lereng bukit ini, mungkin sekali kami akan singgah satu dua kali.
Bahkan mungkin kami akan kerasan berada di lereng bukit ini sampai
binatang buas terakhir dapat kami tangkap“ Kiai Kanthi mengerutkan
keningnya. Namun iapun barkata “Terserah kepada angger berdua.
Tetapi kami tidak mempunyai tempat untuk mempersilahkan angger
berdua memasuki gubug kami” Kedua orang itu tertawa. Kemudian salah
seorang dari mereka t iba-tiba saja bertanya “Dimana anak-anakmu”
Kiai Kanthi berpaling. Ternyata Jlitheng masih berada dibagian
dalam, sementara kedua orang berkuda itu tidak tepat berada, di
depan pintu, sehingga keduanya tidak sempat melihat Jlitheng.
“Marilah” berkata Kiai Kanthi kepada Jlitheng “kedua pemburu itu
ingin melihat anakku laki- laki” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Ia sadar, bahwa Kiai Kanthi telah menyebutnya sebagai anaknya
laki-laki. Namun Jlitheng sama sekal tidak berkeberatan, sehingga
karena itu, maka iapun kemudian melangkah maju dan berdiri di
sebelah Kiai Kanthi. "Namun kehadirannya ternyata telah mengejutkan
salah seorang dari kedua pemburu itu. Sementara Jlithengpun terkejut
pula melhat kehadirannya. Hampir diluar sadar mereka berdua
bersamaan berdesis ”Kau” Kiai Kanthi menjadi heaan. Dengan ragu-ragu
ia bertanya “Apakah kalam pernah bertemu?“ “Bantaradi” desis pemburu
berkuda yang berada di depan. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Orang itu ternyata mengenalnya. Karena itu ia tidak dapat ingkar
lagi. Dengan nada dalam ia berkata “Kau Semi. Ternyata kau datang
begitu cepat“ “Semuanya akan berlangsung cepat. Tetapi agaknya kau
berbuat lebih cepat lagi” Jlitheng tersenyum. Namun yang kemudian
berkata adalah Kiai Kanthi “Siapakah sebenarnya angger ini?”
Jlitheng memandang Kiai Kanthi sejenak. Namun kemudian katanya
“Kiai, apakah aku dapat mempersilahkan keduanya untuk masuk dan
duduk di dalam” “Jika kau sudah mengenalnya. silahkan. Tentu aku t
idak akan berkeberatan” jawab Kiai Kanthi. “Bukankah kalian sudah
mendengar, bahwa Kiai Kanthi tidak berkeberatan aku mempersilahkan
kalian singgah. Marilah. Ini adalah gubug ayah angkatku, Di dalam
ada adik perempuanku“ Tetapi Swasti sama sekali tidak berminat
menemui tamu- tamu yang dipersilahkan singgah itu. Justru iapun
kemudian bangkit dan melangkah ke dapur sebelum kedua orang yang
menyebut dirinya pemburu itu turun dan melangkah masuk ke dalam
rumahnya. Sesaat kamudian, maka kedua orang yang menyebut dirinya
itu pemburu, menambatkan kuda mereka dan memasuki gubug kecil
diikuti oleh Kiai Kanthi. “Silahkan, silahkan” berkata Kiai Kanthi
“perabot rumah memang, hanya sebuah amben itu ngger. Silahkan duduk”
Kedua orang itupun segera duduk pula bersama Kiai Kanthi dan
Jlitheng yang dikenal bernama Bantaradi itu. “Aku tidak menyangka,
bahwa aku dapat menjumpaimu secepat ini” berkata Semi. Jlitheng
mengangguk-angguk. Jawabnya “Akupun tidak menyangka bahwa kau akan
bertindak secepat ini. Bagaimana dengan kakakmu?“ “Aku belum
mendapat petunjuk lebih lanjut” desis Semi. Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Kanthi sambil berkata “Maaf Kiai.
Ternyata aku telah bertemu dengan orang yang mempunyai kepentingan
sama dengan kehadiranku di daerah ini. Mungkin masalahnya belum
begitu jelas bagi Kiai tetapi pada saatnya Kiai akan mengetahui
segala-galanya. Kiiai Kanthi tersenyum sambil berkata “Aku mengerti
ngger. Tentu ada persoalan yang aku tidak perlu mengetahui sekarang.
Baiklah. Mungkin pada saatnya angger memberi kesempatan aku
mengetahuinya” Namun tiba-tiba saja dari balik dinding terdcngar
suara Swasti “Buat apa ayah mengetahuinya? Jika memang tidak ada
sangkut pautnya dengan kepentingan kita dan kalau menurut pendapat
orang lain kita tidak per lu mengetahuinya, biarlah kita tidak
mengetahuinya”. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Swasti
yang berada di balik dinding tidak mengetahui bahwa Kiai Kanthi
tersenyum dan memberi isyarat kepada Jlitheng untuk tidak
menanggapinya. “Siapa?“ Semilah yang bertanya. “Adikku” jawab
Jlitheng. “Sikapmu tidak meyakinkan“ terdengar suara Swasti
“sebagaimana kau menyebut ayah tidak sewajarnya sebagai seorang
anak” Jlitheng tertawa. Kiai Kanthlipun tersenyum. Namun mereka
berusaha agar Swasti tidak mengerti dan mendengar sikap mereka. Semi
menjadi heran. Namun iapun kemudian menyadari, dengan siapa ia
berhadapan. Jlitheng adalah orang yang dapat mencala putra pancala
putri sehingga ia akan dapat membuat dirinya dalam seribu macam ujud
dan sikap. Dengan demikian iapun mengerti, bahwa Jlitheng tentu
bukan anak Kiai Kanthi seperti yang dimaksudkannya. Karena itu, maka
ia tidak tertanya lagi tentang gadis yang berada di balik dinding
itu. “Baiklah Semi“ berkata Jlitheng kemudian “Kita akan dapat
menentukan langkah-langkah yang dapat kita ambil. Tetapi sudah tentu
tidak segera. Kita masih harus melihat perkembangan keadaan dan
adalah satu kebetulan bahwa di daerah ini telah tumbuh satu
persoalan tersendiri” Semi menggangguk-angguk. Lalu katanya “Kau
yang sudah lebih mengenai daerah ini. Kau akan dapat menentukan
langkah-langkah yang bagimu dan juga bagiku menguntungkan. Kau dapat
melanjutkan perburuanmu. Kau dapat mohon kepada Kiai Kanthi untuk t
inggal bersamanya selama kau berada di hutan ini j ika Kiai Kanthi
tidak berkeberatan” berkata Jlitheng kemudaan. “Sudah aku katakan”
berkata Kiai Kanthi “Aku tidak akan berkeberatan. Aku akan dapat
memberikan apa yang aku punya. Tetapi sudah aku katakan pada bahwa
gubug ini terlalu sempit dan perabot yang adapun seperti yang lihat
sekarang” “Itu sudah memadai” berkata Semi “Aku adalah seorang
pemburu yang terbiasa tidur di tempa terbuka berselimutkan embun”
“Jika demikian, terserahlah. Aku bahkan senang sekali menerima
angger berdua singgah di gubug kecil ini” berkata Kiai Kanthi pula.
Swasti yang ada di balik dinding bergeremang meskipun hanya didengar
sendiri. Katanya “Dan aku harus tidur di dapur, beralaskan ketepe
sehelai “ Namun Swasti itupun tersenyum sendiri ketika teringat
olehnya bagaimana mereka ia untuk pertama kali berada di tempat itu.
Tidur pada rerumputan ker ing dan di tempat terbuka pula.
Demikianlah, maka setelah beristirahat beberapa lama. Semipun minta
dir i untuk mengenal hutan yang akan menjadi medan perburuannya.
Bahkan sebenarnyalah bukan saja bukit berhutan itu, tetapi Lumban
Wetan dan Lumban Kulonpun akan dijelajahinya menjelang kehadiran
orang-orang Sanggar Gading yang akan membawa seorang Pangeran yang
sedang sakit. Dalam pada itu, maka Jlithengpun telah pergi juga
bersama kedua orang pemburu yang menitipkan kuda mereka di gubug
Kiai Kanthi itu. Sementara hutan itupun menjadi semakin kelam.
Langit masih nampak semburat merah, namun sebentar kemudian cahaya
itupun hilang ditelan oleh kehitaman. Ketika ketiganya telah berada
diantara pepohonan hutan, maka merekapun segera berhenti dan duduk
diatas bebatuan. Karena sebenarnyalah bahwa Semi ingin mendengar
beberapa keterangan tentang daerah itu dari Jlitheng. “Daerah ini
sedang bergejolak” berkata Jlitheng. “Kenapa?“ bertanya Semi.
“Mereka telah disibukkan oleh air” sahut Jlitheng yang kemudian
menjelaskan persoalan yang kebetulan saja terjadi di Lumban justru
pada saat persoalan pusaka yang tersembunyi itu hampir tersingkap.
“Aku tidak dapat berbuat kasar terhadap Daruwerdi” berkata Jlitheng
kemudian?” karena ia memang mengenal aku. sebagai seorang anak
petani. Jika pada suatu saat ia mengenali aku sebagai searang yang
lain dari yang dikenalnya sehari-hari, maka sudah tentu bahwa ia
akan mengambil satu sikap khusus. Ia akan menghubungkan persoalan
yang dihadapinya bersama-sama orang-orang Sanggar Gading,
orang-orang Pusparurii atau orang-orang dari kelompok- kelompok yang
lain, dengan kehadiranku yang tersamar disini. Semi
mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti kesulitan Jlitheng menghadapi
persoalan air di Lumban. Ia tidak akan dapat dengan serta merta
berdiri diantara anak-anak Lumban Wetan untuk menghadapi anak-anak
muda Lumban Kulon, tanpa menarik perhatian Daruwerdi secara khusus.
“Semi“ tiba-tiba saja Jlitheng berkata “kau orang baru sama sekali
disini, kau adalah pemburu yang datang dari jauh untuk mencari
binatang hutan yang mungkin kulitnya akan kau jual atau
alasan-alasan lain. Karena itu kau tidak mempunyai hubungan apapun
juga dengan persoalan Daruwerdi” “Ya. Jika Daruwerdi merasa, bahwa
ada hubungan antara kedatanganku dengan persoalan yang sedang
digarapnya, maka itu merupakan pertanda kegagalanku” jawab Semi,
yang kemudian bertanya “Jlitheng, apakah kau yakin bahwa Daruwerdi
atau memang sebenarnya hanya seorang diri. Seorang yang berbuat
seorang diri bagi dir inya sendiri” “Sampai saat ini aku berpendapat
demikian” berkata Jlitheng “Tetapi memang tidak mustahil bahwa ada
kekuatan lain di belakangnya yang barangkali justru akan dapat
mengejutkan” “Lalu, apa maksudmu dengan kehadiranku sebagai orang
baru sama sekali disini?“ bertanya Semi. “Disamping persoalan yang
akan menyangkut orang-orang Sanggar Gading, kau dapat berbuat
sesuatu yang akan sangat bermanfaat bagi Lumban. Khususnya Lumban
Wetan, desis Jlitheng. Semi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau
akan membenturkan aku dengan. Daruwerdi sebelum persoalan yang
sebenarnya harus aku lakukan?“ Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian katanya “Tetapi persoalannya akan terpisah. Dengan
demikian Daruwerdipun akan menghadapi masalah yang tidak
dikehendakinya sebelum persoalan yang sebenarnya ditunggunya di
sini. Semi termangu- imangu sejenak. Ketika ia berpaling kepada
kawannya, maka kawannya berkata “Tugas kita bukan tugas yang dapat
dikerjakan sambil lalu. Karena itu, sebaiknya kita tidak berbuat
sesuatu sebelum kita dapat menyelesaikan tugas yang penting itu”
Semi menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menyahut, Jlitheng
berkata “Semi. Jika kau mau, mungkin kau tidak harus berbuat seperti
yang kau cemaskan. Mungkin Daruwerdi akan merubah sikapnya sampai
persoalan yang sesungguhnya itu harus kita lakukan” “Memang ada
seribu kemungkinan yang dapat terjadi atas sesuatu masalah Jlitheng”
berkata Semi “Tetapi jika kemungkinan yang terjadi itu justru
kemungkinan yang tidak kita kehendaki, maka kita akan mengalami
kesulitan” “Dengarlah” berkata Jlitheng “Aku hanya mengharap kau
hadir di Lumban sebagai seorang pemburu. Yang akan kami minta
kepadamu adalah sekedar memberikan latihan kanuragan kepada
anak-anak Lumban Wetan seperti yang dilakukan oleh Daruwerdi di
Lumban Kulon. Kau dapat menunjukkan beberapa kelebihanmu, sehingga
Daruwerdi yakin, setidak-tidaknya membuat satu pertimbangan bahwa
melawanmu akan menumbuhkan persoalan tersendiri baginya sebelum ia
berbasil berbuat sesuatu dengan orang-orang Sanggar Gading” Semi
masih tetap ragu-ragu. Sementara kawannya berkata “Apakah keuntungan
kita berbuat demikian. Kita adalah petugas yang khusus dalam masalah
ini. Jika kita sudah mendapat kesulitan, apalagi justru karena itu
tugas kita. akan terhambat, maka kita akan mendapat kesulitan untuk
mempertanggung-jawabkannya” “Kita akan mempunyai beberapa
keuntungan” jawab Jlitheng “terutama bahwa dengan demikian
kemungkinan yang dapat timbul antara anak-anak muda Lumban Wetan dan
Lumban Kulon akan dapat dihindari atau diperkecil. Seandainya
anak-anak Lumban Kulon tetap berniat untuk memaksakan kehendaknya
atas Lumban Wetan, namun Daruwerdi sendiri akan membuat perhitungan
yang lebih cermat. Seperti kalian, ia justru tidak ingin tugas
pokoknya disini terganggu. Apakah tugas itu dibebankan oleh orang
lain atau oleh dir inya sendiri” Semi masih bimbang. Sementara
Jlitheng berkala “Jika pertentangan antara Lumban Kulon dan Lumban
Wetan itu berlangsung juga, maka kitapun akan mengalami kesulitan
dalam tugas yang harus kita lakukan. Karena dengan demikian
pertentangan itu akan menarik perhatian orang-orang Sanggar Gading,
sehingga mungkin mereka akan mengambil satu sikap khusus atas
peristiwa itu. Jika mereka salah langkah, kita akan dapat
membayangkan, apa yang akan terjadi atas anak-anak, muda Lumban
Kulon atau Lumban Wetan, Lebih dari itu, bukankah kira. juga.
memperhitungkan orang-orang Pusparuri. Kendali Pulih dan mungkin
orang-orang Gunung Kunir, atau dari pihak manapun juga. Bahkan
mungkin prajur it Damak dalam gelar keprajuritan akan langsung
bertindak karena mereka tentu akan mendapat keterangan bahwa seorang
Pangran telah hilang. Tidak mustahil bahwa petugas sandi yang lain
yang tidak mempunyai hubungan khusus dengan kau dan Rahu telah
mencium jejak Pangeran yang hilang itu” Semi menjadi bertambah
bimbang. Keterangan Jlitheng dapat memberikan gambaran sedikit
tentang medan yang lain yang harus diperhatikan. “Aku memang harus
memperhitungkan” berkata Semi kepada kawan-kawannya “Jika kita akan
menghadapi persoalan Sanggar Gading di daerah yang sedang bergejolak
ini maka kita harus mempertimbangkan semua persoalan yang tentu akan
saling terkait“ “Tetapi bagaimana jika hal itu justru dapat
mengangagu tugas kita. Seandainya, kita sudah terlalu banyak
mengerahkan tenaga sebelumnya, sementara peristiwa dengan
orang-orang Sanggar Gading itu terjadi, kita tidak akan dapat
berberbuat banyak” Sahut kawan Semi. “Yang kita hadapi bukannya satu
hal yang terlepas sama sekali dengan keadaan daerah Sepasang Bukit
Mati ini” berkata Semi kemudian “karena itu, anggaplah apa yang
dimaksud Bantaradi ini sebagai satu usaha untuk membersihkan medan.
Karena aku dapat mengerti, seandainya Bantaradi sendiri, yang selama
ini dapat kita perhitungkan berdiri di pihak kita, maka. mungkin
sekali keadaan medan akan berubah” Kawannya mengangguk-angguk.
Meskipun nampaknya ia masih belum puas dengan keterangan Semi, namun
agaknya ia mulai mencoba untuk menerima pikiran Jlitheng. “Kita akan
berbuat dengan hati-hati” berkata Semi kemudian. ”Mungkir i dapat
dicoba. Tetapi jika kita menemui satu peristiwa yang memaksa kita
harus bersikap lain aku berharap bahwa kita t idak terikat dengan
pekerjaan ini” berkata kawannya. “Ya. Aku sependapat” sahut Semi.
“Terima kasih” berkata Jlitheng “Aku harap, kita akan segara mulai.
Kehadiranmu di Lumban Wetan aku tunggu. Ingat, namaku Jlitheng.
Jangan menyebut nama lain yang dapat mengejutkan anak-anak Lumban”
“Baiklah. Besok pagi-pagi kami akan memasuki Lumban dengan seekor
binatang buruan. Mungkin seekor harimau. jika tidak aku dapatkan
seekor harimau, aku akan membawa buruan apa saja yang dapat aku
pergunakan sebagai pancatan untuk menunjukkan satu kelebihan”
“Terima kasih” desis Jlitheng. “Kaulah yang mengajar i aku untuk
bersikap sombong. Nampaknya kau memang orang berbakat untuk
berpura-pura sehingga kau telah membuat aku melakukannya juga” desis
Semi. “Kau aneh. Kau sudah berpura-pura. Bukankah kehadiranmu yang
rahasia disini juga satu kepura-puraan. Kenapa kau tidak menyebut
dirimu petugas sandi dari Demak” desis Jlitheng. Semi tersenyum.
Jawabnya “Baiklah. Sepanjang kita masih tetap berbuat sesuatu bagi
kepentingan Demak dan rakyatnya. Aku akan mencobanya. Besok pagi aku
akan datang sebagai seorang pemburu yang harus dikagumi dan akhirnya
menarik perhatian Daruwerdi, agar ia membuat penilaian terhadap
sikapnya atas anak-anak muda Lumban” “Kau sudah memahami maksudku,
terima kasih. Sekarang aku akan kembali ke Lumban Wetan. Besok aku
akan mengagumi seorang pemburu yang berimu tinggi, cerdik dan murah
hati meskipun agak sombong“ Semi tersenyum. Namun ia masih berkata
Tetapi kita harus memperhitungkan akibat yang mungkin timbul dari
tingkah laku ini. Jika ternyata akan mempunyai akibat yang kurang
baik terhadap tugasku, maka aku akan menghent ikannya. “Terserahlah.
Tetapi aku juga mempunyai kepentingan sehingga akupun akan
memperhatikannya” sahut Jlithcng. “Selama ini aku akan tinggal pada
orang tua di lereng bukit dtu. Nampaknya ia orang yang dapat
dipercaya” desis Semi. “Ya. Dan kau harus mempelajari banyak hal
tentang orang tua itu jawab Jlitheng “Tetapi menurut pendapatku ia
memang dapat dipercaya” Demikianlah, maka Jlithengpun kemudian
meninggalkan Semi dan kawannya langsung turun ke padukuhannya.
Tetapi ketika ia kemudian berada di gardu perondan bersama baberapa
orang kawannya, ia sama sekali tidak mengatakan sesuatu tentang
seorang anak muda yang besok akan datang bersama seorang kawannya
dengan membawa binatang buruan. Sebenarnyalah, keadaan anak-anak
muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon menjadi semakin tegang. Jlitheng
tidak dapat ingkar lagi terhadap satu kenyataan, bahwa anak-anak
muda Lumban Kulon memang ingin memaksakan kehendaknya atas anak-anak
Lumban Wetan. Mereka ternyata merasa jauh lebih kuat, sehingga
menurut perhitungan mereka, jika anak-anak Lumban Wetan tidak mau
memenuhi tuntutan mereka, maka anak-anak Lumban Kulon akan memaksa
dengan kekerasan. “Tanah persawahan kami lebih luas dan tempatnya
lebih tinggi” berkata anak-anak Lumban Kulon “karena itu, maka pintu
air yang menuangkan air ke daerah Lumban Kulon harus lebih lebar.
Apalagi bukit berhutan dan bendungan di sungai itu terletak di
daerah Lumban Kulon” Anak-anak Lumban Wetan sama sekali tidak yakin
akan kebenarannya pendapat anak-anak Lumban Kulon itu. Tetapi mereka
selalu dibayangi oleh kecemasan bahwa anak-anak Lumban Kulon akan
mempergunakan kekerasan dan apalagi apabila Daruwerdi ikut campur
pula. “Aku tidak berhasil menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon”
berkata Jlitheng kepada kawan-kawannya yang duduk di gardu.
“Bagaimana dengan Ki Buyut di Lumban Wetan“ seseorang berdesis. “Ki
Buyut akan bersedih hati” berkata Jlitheng “apalagi mengingat masa
lampau dari Lumban yang sebenarnya hanya satu” “Kita sudah
menyatakan persoalan ini” berkata anak muda yang bertubuh tinggi
“Tetapi agaknya Ki Buyut yang ingin menemui saudara kembarnya itu
masih belum berhasil. Bukankah dua orang diantara kita, pernah
datang ke Lumban Kulon sebelum Jlitheng melakukannya, untuk minta
waktu bagi Ki Buyut yang ingin bertemu dengan saudara kembarnya,
tetapi kita tidak berhasil menghadap Ki Buyut di Lumban Kulon?“
“Akupun yakin, Ki Buyut di Lumban Kulon tidak mengetahui persoalan
yang sedang berkecamuk antara kedua padukuhan ini“ berkata Jlitheng.
Tetapi kawan-kawannya hanya dapat menggeleng kepala “Tidak ada jalan
yang dapat kita, lakukan untuk mencegah tingkah laku anak-anak
Lumban Kulon. Hadirnya Daruwerdi di Lumban Kulon menambah
kesombongan mereka. Seandainya Daruwerdi tidak terlibat langsung
dalam persoalan ini, ia sudah melakukan diluar sadarnya, karena ia
tetap memberikan latihan olah kanuragan, meskipun .ia mengetahui,
bahwa hanya anak-anak Lumban Kulon sajalah yang mengikutinya”
Jlitheng tidak menjawab lagi. Kepalanya terangguk-angguk lemah,
sementara jantungnya, terasa berdebaran. Sejak semula ia sudah
membayangkan kemungkinan buruk itu. Tetapi tidak begitu cepat dan
tidak begitu tajam seperti yang telah terjadi. “Mudahmudahan
kehadiran Semi dan kawannya akan membuat, anak-anak muda Lumban
Kulon harus berpikir ulang” katanya di dalam hati. Menjelang dini
hari, JIitheng dan dua orang kawannya turun dari gardu dan berjalan
menyusuri jalan padukuhan. Rasa-rasanya malam menjadi semakin sepi
dan dingin. Ketika Jlitheng memandang bentangan sawah yang disaput
oleh warna kelamnya malam, terasa jantungnya kerdebaran. Padi yang
tumbuh subur kehijauan karena tanah menjadi basah, akan menjadi
kuning kemerah-merahan, jika anak-anak Lumban Kulon benar-benar
memaksakan kehendaknya, membuka pintu air yang lebih lebar dari
pintu air yang menuangkan air ke sawah-sawah di Lumban Wetan, karena
jarak capai aliran air di parit-parit akan menjadi semakin pendek.
Bagian yang telah menjadi hijau, akan kembali dibayangi oleh
warna-warna gersang dan tandus. Hanya sebagian kecil sajalah sawah
di Lumban Wetan yang dapat dipertahankan menjadi hijau segar.
“Meskipun yang sedikit itu sudah lebih baik dari tidak sama sekali,
tatapi rasa keadilan ini banar-benar telah tersentuh” berkata
Jlitheng kepada diri sendir i. Tidak terasa, Jlitheng dan dua orang
kawannya itu telah memutari padukuhan. mereka. Bahkan merekapun
kemudian menyusuri bulak pendek menuju kepadukuban sebelah, yang
masih termasuk daerah Kabuyutan Lumban Wetan. Gemer icik air di
parit yang membujur di tepi jalan itu terdengar sangat memelas.
Seolah-olah terasa betapa aliran yang kecil itu sedang menjadi
persoalan yang gawat. Bahkan mungkin parit itu akan menjadi salah
satu jalur yang akan menjadi kering. “Fajar” desis salah seorang
kawan Jlitheng. “Ya, sebentar lagi, pagi akan datang” sahut yang
lain “Tetapi marilah kita kembali ke gardu. Aku hanya sempat tidur
sekejap lewat tengah malam” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya
“Marilah. Kita tidak mencapai padukuhan sebelah” “Kita akan
kesiangan. Mungkin anak-anak di gardu diujung padukuhan itupun sudah
pulang pula” sahut kawannya. Mereka bertigapun kemudian melangkah
kembali ke padukuban. Sementara langit menjadi semakin terang oleh
cahaya pagi. Namun langkah mereka terhenti, ketika lamat-lamat
mereka mendengar derap kaki kuda. Dalam keheningan pagi derap kaki
kuda itu terdengar bagai memutari lembah dan lereng bukit. Jauh
namun tiba-tiba terdengar dekat di sekitar mereka. Jlitheng dan
kedua kawannya menjadi gelisah. Derap kaki kuda itu seolah-olah
telah menyayat keheningan pagi di daerah yang sedang dipanasi olah
ketegangan antara anak- anak mudanya. “Siapa?“ bertanya kawan
Jlitheng. Tetapi Jlitheng justru, mengulangi “Siapa?“ Yang lainpun
semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya suara derap kaki kuda itu
semakin lama semakin keras menghentak- hentak dadanya. “Marilah,
kita lari kembali ke padukuhan“ ajak kawan Jlitheng. Jlitheng tidak
menjawab. Tetapi iapun sudah siap untuk meloncat berlari. Tetapi
ternyata mereka tidak sempat melakukannya. Sejenak kemudian dar i
keremangan dini har i mereka melihat dua ekor kuda muncul berlari
menuju kearah mereka. “Tidak ada kesempatan” desis Jlitheng.
Kawannyapun mengurungkan niatnya. Namun dengan suara gemetar ia,
berdesis “Siapa he? Daruwerdi?“ Yang lain berdesis “Mudah-mudahan“
“Tetapi sepagi ini“ Jlitheng ragu. Tetapi mereka tidak sempat
terlalu lama berbincang. Sejenak kemudian dua ekor kuda itu telah
mendekat. Dalam pada itu, ketiga anak muda dari Lumban Wetan itu
segera menepi. Rasa-rasanya kaki mereka bergetar oleh kegelisahan
dan kecemasan. Apa lagi ketika kedua ekor kuda itu mengurangi
kecepatan dan tiba-tiba saja berhenti dihadap an mereka. “He, siapa
kalian?“ bertanya salah seorang penunggang kuda itu, Namun keduanya
mengerutkan keningnya ketika mereka melihat Jlitheng ada diantara
mereka. “Kami anak-anak dari Lumban Wetan“ Jlithenglah yang
menjawab. “Dari mana atau kemana kalian berada disini di dini hari?“
bertanya orang berkuda itu. “Kami sedang mengelilingi padukuhan yang
termasuk dalam daerah Kabuyutan Lumban” jawab Jlitheg. “Jadi kalian
anak-anak dar i padukuhan di sekitar tempat ini?“ bertanya orang
berkuda itu. “Ya Ki Sanak“ suara Jlitheng, bergetar “Tetapi siapakah
kalian berdua” “Aku pemburu yang mencar i buruan di hutan-hutan
Malam tadi aku tertarik berburu di hutan yang menyelubungi bukit
itu” jawab salah seorang dari keduanya. “O“ Jlitheng
mengangguk-angguk. Dipandanginya seekor binatang yang tersangkut
dibelakang penunggang yang seorang lagi. Hampir diluar sadarnya
Jlitheng bertanya ”Seekor harimau loreng?“ “Ya” jawab penungang kuda
itu “Kami memerlukan kulitnya. He, apakah orang-orang padukuhanmu
dapat membantu kami?“ “Untuk apa?“ bertanya Jlitheng. “Menguliti har
imau itu. Lebih baik aku lakukan disini Kemudian aku tinggal membawa
kulitnya saja. Aku kira, itu lebih baik daripada aku membawa seekor
harimau kembali dan menguliti di rumahku” Kedua kawan Jlitheng
itupun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kedua orang berkuda itu
bukan orang-orang jahat yang akan mencelakai mereka. Justru mereka
ingin mendapat bantuan orang-orang Lumban. Karena itu, salah seorang
dari kedua, kawan Jlitheng itu berkata ”Kami akan melakukannya
dengan senang hati. Marilah silahkan datang ke padukuhan kami”
“Terima kasih. Kemana aku harus datang? Ke rumah Ki Buyut, atau
kepada siapa?“ bertanya orang berkuda itu. “Datanglah ke banjar.
Kami akan membantu” jawab kawan Jlitheng yang lain, yang sudah
berhasil mengatur perasaannya yang gelisah. “Marilah, kita pergi
bersama-sama” berkata orang itu “aku belumtahu dimana letak banjar
padukuhanmu” “Tetapi kami hanya berjalan-kaki” berkata Jlitheng.
“Biar lah, kami akan menuntun kuda-kuda kami” jawab salah seorang
dari kedua penunggang kuda itu ”nampaknya menyenangkan sekali
berjalan di dalam kabut yang keputih- putihan didini har i” Kedua
kawan J litheng mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata
“Naik sajalah di punggung kuda“ “Itu tiidak sopan” jawab orang
berkuda itu sambal meloncat turun “Kami akan berjalan bersama
kalian” Kawannyapun meloncat turun pula meskipun agak malas. Tetapi
mcrekapun kemudian berjalan menyusuri jalan bulak yang pendek,
langsung menuju ke banjar padukuhan sebelah. Berita kehadiran kedua
orang pemburu dengan seekor harimau itu memang menair ik hati
beberapa orang anak muda yang telah pulang dari gardu. Mereka yang
sedang menyapu halaman, dan melihat harimau itupun bertanya, apa
yang telah terjadi. Dengan lagak yang mantap, seolah-olah ia lebih
mengetahui dari kedua pemburu itu sendiri. Jlitheng menerangkan
segala sesuatu tentang harimau yang mat i itu. Beberapa orang anak
mudapun segera berkumpul di banjar. Langit yang buram menjadi
semakin merah, dan kabut pagipun muliai terkuak. Anak-anak muda
Lumbon Wetanpun segera memerkenalkan diri kepada kedua anak-anak
muda yang menyebut diri mereka pemburu itu. Mereka mengerumuni tubuh
harimau yang terkapar di halaman banjar. “Tidak ada luka-lukanya.
Dengan apa kau membunuhnya?” bertanya Jlitheng. “Dengan tangan”
jawab salah seorang dari keduanya seorang anak muda bertubuh kekar
dan meyakinkan. “Bagaimana mungkin“ seorang anak muda Lurnba Wetan
bertanya dengan heran “Daruwerdi juga pernah melakukan“ desis
Jlitheng. “Tetapi ia selalu membawa pisau belati. Dengan belati itu
ia membunuh harimau. Tetapi dengan demikian kulit harimau itu
berlubang pula karena bekas ujung pisaunya, bahkan di beberapa
tempat” desis seorang anak muda. Pemburu yang masih cukup muda itu
tersenyum. Katanya “Bukan persoalan yang sulit. Aku memang lebih
senang mendapat kulit yang utuh. Harganya tentu lebih mahal dari
kulit yang sudah berlubang” Anak-anak muda Lamban itupun
mengangguk-angguk. Merekapun tahu, bahwa kulit harimau yang utuh
harganya memang lebih mahal, karena kulit itu tidak cacat jika
dipergunakan sebagai hiasan rumah orang-orang kaya di kota. Pagi itu
anak-anak muda Lumban membantu kedua orang pemburu itu menguliti
seekor har imau loreng yang besar. Tetapi sebenarnya mereka lebih
banyak menonton dan justru mengganggu. Namun agaknya kedua pemburu
itu sama sekali tidak merasa terganggu. Justru ia dengan gembira
berkelakar dengan anak-anak muda Lumban Wetan. “He, apakah kalau
berdua masih akan berburu malam nanti, atau besok atau sampai
kapanpun dibukit itu?“ tiba-tiba saja Jlitheng bertanya. ”Tidak”
jawab pemburu itu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Dengan nada yang
aneh ia bertanya “Kenapa, tidak?“ “Aku sudah mendapat seekor
harimau. Aku akan pulang nanti” jawab pemburu itu. Jlitheng
memandangi wajah pemburu itu dengan tegangnya. Namun dengan
ragu-ragu ia bertanya “Kenapa kau tidak membawa sekaligus dua atau
tiga lembar kulit har imau?“ Pemburu itu tertawa. Katanya “Apakah
kau lebih senang aku tinggal disini untuk satu dua hari?“ Jlitheng
mengumpat di dalam hati. Apalagi ketika ia melihat pemburu itu
tertawa berkepanjangan. “Kau Gila“ desis Jlitheng yang hanya
didengar oleh pemburu itu. “Jika kalian bersedia memberi tempat
penginapan selama aku disini, aku tidak berkeberatan tinggal disini
satu dua hari atau lebih. Karena aku tidak mempunyaa bekal cakup
untuk hidup disini lebih dari dua har i. Jika aku tinggal di gubug
orang tua di lereng bukit itu, tentu aku akan menjadi beban yang
berat bagi mereka” “Kami akan mangusahakan” jawab Jlitheng “kalian
akan tinggal di banjar. Kami akan menyediakan makan bagi kalian
meskipun hanya sekedarnya, sesuai dengan kebiasaan, kami disini.
Nasi, kadang-kadang jagung dengan dedaunan. Jika kalian memerlukan
daging, kalian dapat mengambil sendir i di hutan itu” Jlitheng
berhenti sejenak, sementara kawan- kawannya tersenyum. Namun
Jlitheng masih meneruskan “Tetapi ada jasa timbal balik. Kau dapat
tinggal disini sambil berburu, sementara kami menyediakan makan dan
minum bagi kalian. Tetapi kalaupun harus memberikan sesuatu kepada
kami” “Apa?. Harimau, kijang atau kelinci?“ bertanya pemburu itu.
Jlitheng terrnangu-mangu sejenak. Namun kemudian kaitanya meskipun
agak ragu-ragu “Olah kanuragan. Kalian adalah orang yang mampu
membunuh seekor harimau. Tentu kalian memiliki ilmu. Karena itu,
kalian waj ib mengajari kami selama kalian berada disini” Tiba-tiba
saja, diluar dugaan, anak-anak muda Lumban Wetan yang mendengarkan
pembicaraan itupun bersorak sambi berteriak “Setuju. Kami setuju
sekali“ Pemburu itu tersenyum. Dipandanginya anak-anak muda yang
dengan serta marta berteriak dergan penuh gairah itu. Namun akhirnya
pemburu itu berkata disela-sela senyumnya “Aku tidak mau. Kalian
akan menjadi sainganku berburu di hutan itu. Jika demikian aku tidak
akan mendapat apapun lagi diatas bukit itu kecuali kelinci-kelinci
kecil” “Kami tidak akan menjadi pemburu“ salah seorang anak muda
tiba-tiba saja berteriak “Jika kami ingin berburu, kami sudah
mempunyai cara sendir i. Kami dapat membuat perangkap dengan
memberikan, umpan seekor kambing. Kamipun akan mendapatkan seekor
harimau. Bahkan jika perlu harimau itu akan dapat kami tangkap tanpa
bekas luka sama sekali. Kami biarkan harimau itu kelaparan di dalam
perangkap” “Jadi untuk apa?“ bertanya pemburu itu. Tidak seorangpun
yang segera menjawab. Beberapa orang anak muda saling berpandangan.
Namun akhirnya Jlithenglah yang menjawab "Ki Sanak. Sebentar lagi
Lumban Wetan dan Lamban Kulon akan menjadi daerah yang subur.
Kesejahteraan akan menyelimuti daerah yang sekarang tandus, dan
miskin ini. Karena itu, sebelum harapan itu pada suatu saat akan
menjadi kenyataan, maka biarlah kami mempersiapkan dir i untuk
menjadi pengawal yang baik bagi padukuhan ini” Kedua pemburu itu
tertawa. Yang seorang berkata “Kalian adalah anak-anak muda yang
baik. Tetapi bukankah seorang anak muda yang bernama Daruwerdi sudah
berada di Lamban Kulon dan member ikan latihan kanuragan” “Kau kenal
dengan Daruweri?“ bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.
“Aku hanya mendengar namanya” jawab pemburu itu. “Tetapi ia hanya
bersedia member ikan latihan kepada anak- anak Lumban Kulon saja.
Tidak kepada anak-anak Lumban Wetan” sahut anak muda Lumban itu.
“Kenapa?“ bertanya pemburu itu. “Kami tidak tahu” sahut J litheng.
“Kami tahu” tiba-tiba saja yang lain memotong “Ia berpihak kepada
anak-anak muda Lumban Kulon” “Kenapa berpihak?“ bertanya pemburu
itu. “Tidak apa-apa Jlithenglah yang menyahut “Mungkin karena ia
tinggal disana sehingga banya orang-orang yang dekat sajalah yang
diajarinya dalam olah kanuragan. Mungkin ia agak segan untuk
melintas ke Lumban Wetan” “Kami bersedia datang. Tetapi ia tetap
tidak mau“ seorang anak muda yang bertubuh gemuk berteriak. Jlitheng
menar ik nafas dalam-dalam. Sementara itu pemburu itu berkata
“Apakah kalian sedang bermusuhan? Jika demikian, aku tidak mau
terlibat ke dalam permusuhan itu” Anak-anak muda itupun terdiam.
Sekali lagi mereka saling berpandangan. Mereka tidak tahu, bagaimana
mereka harus menjawab. Sekah lagi Jlithenglah yang menjawab. Katanya
“Kami tidak sedang bermusuhan. Tetap kami tidak menyangkal bahwa ada
persaingan diantara kami. Tetapi persaingan ini akan member ikan
akibat yang baik. Kami akan bersama-sama maju. Jika terjadi sesuatu
di padukuhan ini, kami akan dapat berbuat sesuatu” Pemburu itu
tersenyum. Katanya “Bagus sekali. Jika kalian bersikap demikian,
maka kalian benar-benar akan mendapatkan kemajuan yang pesat.
Padukuhan kalian akan menjadi subur. Kehidupan rakyatnya akan
menjadi sejahtera, sementara anak-anak mudanya akan dapat menjaga
dan melindungi apa yang terkandung di dalam Kabuyutan ini“ “Jadi
kalian bersedia?“ bertanya seorang anak muda. “Aku akan mencoba”
jawab pemburu itu. Kesanggupan itu telah member ikan kegembiraan
pada anak-anak muda di Lumban Wetan. Mereka tidak akan terlalu
banyak ketinggalan dari anak-anak muda Lumban Kulon. Meskipun
anak-anak muda Lumban Kulon sudah mulai untuk beberapa lama, tetapi
anak-anak Lumban Wetan bertekad untuk menyusul kanampuan mereka.
Sejak malam itu, kedua pemburu itu telah berada di Lumban Wetan.
Jlitheng telah memberitahukan hal itu kepada kiai Kanthi di lereng
bukit. “Sukur lah” berkata Kiai Kanthi“ tetapi apakah hal itu tidak
akan berakibat sebaliknya? Justru karena kedua belah pihak merasa
kuat, maka benturan tidak akan dapat dielakkan lagi?“ “Mamang
demikian. Tetapi mungkin juga keduanya menjadi ragu-ragu dan-tidak
akan bertindak sesuatu“ “Mudah-mudahan, ngper. Mudah-mudahan akibat
baiklah yang terjadi” desis Kiai Kanthi kemudian. Di har i
berikutnya kedua pemburu itu mulai dengan kesanggupannya untuk
member ikan latihan olah kanuragan. Tetapi pemburu itu tidak
melakukannya secara umum. Kepada anak-anak Lumban Wetan ia berkata
“Sambil menger ingkan kulit harimau itu, aku akan member ikan
sedikit latihan olah kanuragan. Tetapi aku akan melakukannya dengan
caraku. Pada hari-hari pertama, aku akan memilih sepuluh orang saja
diantara kalian. Sepuluh orang itu akan mendapat latihan yang lebih
berat dari kawan-kawan kalian” “Jadi bagaimana dengan yang lain?“
bertanya seorang anak muda. “Yang lain juga akan mendapat
latihan-latihan kanuragan. Tetapi dilakukan secara terpisah. Kawanku
itulah yang akan melatih kalian” jawab pemburu itu. Bagi anak-anak
muda Lumban Wetan, hal itu tidak menjadi persoalan. Namun salah
seorang dari mereka masih beritanya “Bagaimana kalian akan memilih
sepuluh orang diantara kami“ “Lihat sajalah, bagaimana aku akan
memilih kalian” jawab pemburu itu. Anak-anak muda Lumban Wetan sudah
mulai merasakan kebanggaan sebagai seorang anak muda yang akan dapat
mengimbangi anak-anak muda Lumban Kulon. Namun agaknya seperti yang
dikatakan oleh Kiai Kanthi, anak-anak muda Lumban Wetan justru
merasa lebih kuat untuk mempertahankan agar pintu air sungai itu
tetap dipertahankan. Dihari pertama pemburu itu masih belum
melakukan pilihan. Tetapi ia mulai memilih anak-anak muda Lumban
Wetan seorang demi seorang. Pada hari pertama anak-anak mudla itu
harus melakukan gerak yang sederhana tetapi untuk waktu yang lama.
Dari pengamatan itu, pemburu itu dapat melihat, siapakah yang
memiliki ketahanan pernafasan dan ketahanan tubuh yang paling baik.
Dari mereka, pemburu itu memilih dua puluh lima orang. Mereka harus
melakukan latihan- latihan khusus dihari berikutnya. Mereka harus
melakukan beberapa macam gerakan untuk melihat selain ketahanan
tubuh dan pernafasan, juga ketrampilan dan kemungkinan untuk dapat
melakukan gerak yang cepat dan keras. Akhirnya seperti yang
dikatakan, pemburu itu telah memilih sepuluh orang terbaik dari
Lumban Wetan. Kesepuluh orang itulah yang kemudian akan, mendapat
tempaan khusus. Tetapi dari kesepuluh orang itu ternyata tidak
terpilih anak muda yang benama Jlitheng. “Aku menyesal sekali”
berkata Jlitheng. “Ya. Kau termasuk orang penting diantara anak-anak
muda Lumban Wetan” berkata kawannya. Tetapi pemburu itu menjawab
“Pernafasannya cukup baik. Tetapi perasaannya kurang peka terhadap
perkembangan keadaan, la terlalu lambat mengambil sikap, sehingga
dalam perkelahian yang cepat, ia akan banyak kehilangan waktu”
Jlitheng mengumpat di dalam hati, apalagi ketika ia melihat pemburu
itu tersenyum. Namun Jlitheng tidak membantah, karena ia mengerti
maksud dari pemburu yang sudah dikenalnya sebelumnya. Demikianlah,
pada hari berikutnya, anak-anak muda Lumban Wetan mulai dengan
latihan-latihan yang sesungguhnya Sepuluh orang diantara mereka
telah mencari tempat yang khusus untuk berlatih. Mereka memer lukan
waktu yang lebih lama dan tenaga yang jauh lebih banyak. Sementara
yang lain telah mempergunakan halaman banjar untuk melakukan
latihan- latiahan. oooOooo-
Jilid 11 TETAPI pemburu yang seorang itupun tidak mau melatih
semua anak-anak muda pada waktu yang sama, karena basinya tentu
kurang baik. Pemburu yang seorang itu membagi. anak-anak Lumban
Wetan menjadi tiga kelompok yang masing-masing mendapat kesempatan
yang berbeda. Sekelompok diantara mereka mendapat latihan pagi-pagi
sekali. Sekelompok disore hari dan yang sekelompok lagi menjelang
malam. “Kami akan berlatih setiap hari” berkata anak-anak muda itu.
“Bagus” jawab pemburu yang memberikan latihan kepada mereka “Tetapi
itu berarti aku harus melakukannya tiga kali sehari“ Tetapi tubuhmu
sudah terlatih. Kau tidak akan menjadi letih karenanya” jawab
anak-anak muda Lumban Wetan. “Jadi kapan kesempatan berburu?“
bertanya pemburu itu. “ Malamhari” jawab seorang anak muda. Tetapi
menjelang dini hari aku akan tergesa-gesa kembali karena aku harus
melatih kalian yang termasuk kelompok pertama” jawab pemburu itu.
“Tidak apa-apa” desis seorang anak muda yang lain “ biarlah kau
tidak mendapat binatang buruan. Tetapi kau sudah berbuat baik dan
memberikan jasa kepadaku” Pemburu itu tertawa. Tetapi Japun kemudian
berkata “Baiklah. Aku akan melatih kalian setiap har i. Tetapi
setiap pekan, aku akan beristirahat satu hari. Hari itu akan dapat
aku pergunakan untuk berburu, atau melakukan apa saja. “Baiklah.
Yang sehari itu akan kami pergunakan untuk berlatih diantara sesama
kami” jawab anak-anak muda itu. Pemburu itu tersenyum. Katanya
“Terserahlah. Tetapi kenapa kalian jadi demikian tergesa-gesa”
“Anak-anak Lumban Kulon sudah mulai lebih dahulu” jawab anak-anak
Lumban-Wetan itu” “Kenapa kalian harus berpacu?“ pemburu itu
bertanya pula. “Sikap mereka kurang baik menurut pendapat kami”
jawab anak-anak Lumban Wetan. “Menurut penilaian, kalian. Tetapi
menurut penilaian anak- anak muda Lumban Kulon, kelakuan kalianlah
yang kurang balik” jawab pemburu itu. ”Tetapi kami tidak akan
membiarkan diri kami merah hitam dipukuli oleh anak-anak Lumban
Kulon” jawab anak-anak Lumban Wetan itu. Pemburu itu tersenyum
Katanya “Baiklah. Baiklah. Tetapi aku mohon kalian
bersungguh-sungguh. Dengan demikian selisih kalian dengan sepuluh
kawan kalian itu tidak akan terlalu jauh. Namun yang sepuluh orang
itu kelak akan menjadi pemimpin kelompok bagi para pengawal
Kabuyutan Lumban Wetan. Bukankah kesepuluh orang itu berasal dari
beberapa padukuhan” “Ya” sahut anak-anak muda Lumban Wetan “Kami
benar- benar akan bersungguh-sungguh” Demikianlah seperti yang
dikatakan, maka anak-anak Lumban Wetan itupun telah berlatih dengan
sungguh- sungguh. Seakan-akan mereka sama sekal tidak mengenal
lelah. Yang ber latih dipagi hari, rasa-rasanya tidak ingin
berhenti, meskipun panas matahari telah terasa menyengat tubuh
mereka yang berker ingat. Sementara yang sore hari masih juga segan
meninggalkan tempat mereka berlatih, sementara mereka yang berlatih
dalam kelompok ketiga sudah menunggu. Sehingga dengan demikian maka
latihan bagi kelompok ketiga itu justru berlarut-larut sampai
menjelang tengah malam. Dalam pada itu, kesepuluh orang yang
langsung di bawah asuhan Semi, berlatih dalam waktu yang justru
lebih panjang dan lebih terperinci. Mereka langsung dapat ditilik
oleh Semi seorang demi seorang. Semi dapat memperhatikan dan
mengamati setiap gerak tangan dan kaki. Dalam pada itu, anak-anak
muda Lumban Kulonpun akhirnya mengetahui juga bahwa anak-anak Lumban
Wetan ternyata telah mendapat seseorang yang bersedia member ikan
latihan-latihan kanuragan, seperti yang dilakukan oleh anak-anak
Lumban Kulon di bawah asuhan Daruwerdi. Merekapun mendengar bahwa
yang memberikan latihan kanuragan bagi anak-anak Lumban Wetan itu
adalah dua orang pemburu, “Apa artinya seorang pemburu dalam olah
kanugaran” berkata Daruwerdi ketika seorang anak muda melaporkan
kepadanya, apa yang telah mereka ketahui tentang anak-anak muda
Lumban Wetan. “Tetapi nampaknya mereka bersungguh-sungguh” berkata
anak-anak Lumban Kulon itu kepada Daruwerdi. “Jadi apakah maksud
kalian. Apakah aku harus menghentikan latihan-latihan itu? Sudah
tentu aku tidak berhak melakukannya. Itu adalah .urusan artak-anak
Lumban Wetan dan pemburu itu” berkata Daruwerdi. “Jika demikian,
kami akan bertindak sekarang. Kami akan memaksa untuk membuka pintu
air yang menuangkan air ke tanah persawahan di Lumban. Kulon lebih
besar dori pintu air yang mengalirkan air ke Lumban Wetan” berkata
Nugata. Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Ia. mempunyai
pertimbangan lain. Ia masih menunggu, bahwa pada suatu saat akan
datang sekelompok orang-orang tertentu yang akan membawa seorang
Pangeran yang ia kehendaki, sementara ia sudah menyediakan sebuah
pusaka meskipun bukan yang sebenarnya. Daruwerdi sendir i berharap,
bahwa kekisruhan nilai akan terjadi pada saat-sata ia menerima
Pangeran itu. sehingga dengan demikian, maka yang dilakukan itu akan
dapat disamarkan dengan peristiwa yang terjadi di Lumban itu
sendiri. Tetapi nampaknya anak-anak Lumban Kulon itu sudah tidak
sabar lagi menunggu. “Daruwerdi” berkata Nugata “ambillah keputusan”
“Nugata” berkata Daruwerdi “Kau tidak usah cemas. Sudah aku katakan,
apa yang dapat dilakukan oleh dua orang pemburu. Mungkin mereka
mampu berburu har imau dengan anak panah atau tombaknya. Tetapi
berburu seekor binatang adalah jauh lebih mudah dari berburu
seseorang karena seseorang mempunyai pikiran dan kemampuan untuk
meningkat-katkan ilmunya. Sedangkan seekor binatang sama sekali
tidak. Jiak seorang pemburu sudah dengan tekun mempelajari dan
mengamati tabiat seekor binatang maka ia akan dengan mudah untuk
mengalahkannya. Sementara seekor binatang yang diamatinya itu,
mempunyai tabiat yang menyeluruh bagi binatang sejenis. Dan tidak
demikian halnya bagi seseorang” Nugata mengerutkan keningnya. Namun
katanya “Aku mengerti. Tetapi aku masih menganggap bahwa kita
sebaiknya berbuat lebih cepat. Meskipun kedua pemburu itu tidak
memiliki ilmu kanuragan seperti kau, namun mereka akan mampu
meningkatkan serba sedikit kemampuan anak- anak Lumban Wetan”
Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Baiklah. Aku akan
mempertimbangkannya. Aku akan menemui kedua pemburu itu. Baru
kemudian aku akan mendapat gambaran, apa yang sebaiknya aku lakukan.
Jika kedua pemburu itu tidak memiliki ilmu yang pantas
dipertimbangkan, maka aku sama sekali t idak akan menghiraukannya.
Kehadirannya dapat kita anggap tidak pernah terjadi. Dan anak-anak
Lumban Wetan justru akan mendapat ilmu yang sesat, karena ilmu
mereka hanyalah pantas diterapkan untuk memburu seekor kelinci, dan
sama sekali untuk memburu kalian anak-anak muda Lunnban Kulon”
“Tetapi kau harus segera melakukannya” desis Nugata. “Jangan
memerintah begitu” sahut Daruwerdi “Aku tahu, apa yang sebaiknya aku
lakukan” Nugata mengerutkan keringnya. Ia menyadari, bahwa ia memang
tidak dapat memer intah Daruwerdi. Karena itu, maka katanya “Bukan
maksudku memerintah. Tetapi kecemasanku rasa-rasanya tidak
tertahankan lagi. Anak-anak Lumlban Wetan seakan-akan dengan sengaja
menantang kami“ Daruwerdi tidak menjawab. Ketika kemudian Nugata
pergi, ia tidak beranjak dar i tempatnya. Tetapi sebenarnyalah
seperti anak-anak Lumban Kulon Daruwerdipun sebenarnya ingin
mengetahui, apa yang telah dilakukan oleh kedua orang pemburu itu.
Menurut pendengarannya, pemburu itu memang memiliki kelebihan.
Ketika mereka datang, mereka membawa seekor harimau yang
dibu-nuhhnya tanpa bekas luka. Kemudian, beberapa hari berselang
mereka telah melakukannya dengan cara serupa. Demikianlah, ketika
senja menjelang kelamnya malam, Daruwerdi pergi ke Lumban Wetan. Ia
sudah tahu pasti, dimana anak-anak Lumban Wetan berlatih. Iapun
mengetahui, bahwa sepuluh orang diantara mereka telah disisihkan
untuk mendapat latihan-latihan khusus. Kesepuluh orang itulah yang
lebih menarik bagi Daruwerdi sehingga iapun pergi kepada mereka,
disaat mereka sedang berlatih dipategalan. Kehadiran Daruwerdi
nampaknya telah membuat Semi segan melanjutkan latihan. Karena itu,
maka iapun kemudian berhenti dan mempersilahkannya. Meskipun agak
ragu ia bertanya “Apakah kau yang bernama Daruwerdi?“ “Ya, aku
Daruwerdi dar i Lumban Kulon” jawab Daruwerdi. “Marilah. Namamu
sudah aku kenal. Dari kejauhan aku memang pernah melihatmu” berkata
Semi. Anak-anak Lumban Wetan yang sedang berlatih itupun menjadi
tegang. Kehadiran Daruwerdi memang sudah diperhitungkan oleh Semi.
Bahkan pemburu itu pernah berkata kepada anak-anak Lumban Wetan
bahwa pada suatu ketika, mungkin Daruwerdi akan datang untuk
berbicara dengan pemburu itu. Daruwerdi melaingkah mendekat.
Dipandanginya anak- anak Lamban Wetan yang sudah berlatih. Namun
pada gerak- gerak terakhir yang sempat dilihatnya. telah membuat
hatinya menjadi berdebar-debar. “Ki Sanak“ berkata Daruwerdi
“agaknya kau mempunyai gairah yang sangat besar untuk mengajari
anak-anak Lumban Wetan dengan olah kanuragan. “Bukan aku” jawab Semi
“Tetapi anak-anak Lumban Wetan sendirilah yang mempunyai gairah yang
sangat besar. Adalah satu kebetulan bahwa aku terperosok masuk ke
Kabuyutan ini selagi aku memer lukan pertolongan mereka menguliti
seekor harimau yang dapat aku tangkap dilereng bukit sebelah”
“Mengagumkan” berkata Daruwerdi “jarang sekali orang yang dapat
menangkap seekor harimau tanpa bekas luka” “Itu sudah kebiasaanku”
jawab Semi “karena itu kulit harimau hasil buruanku harganya tentu
lebih mahal dari hasil buruan pemburu-pemburu yang lain, yang hanya
membunuh seekor harimau dengan anak panah atau tombak” Daruwerdi
mengerutkan keningnya. Agaknya pemburu ini memang agak sombong.
“Apakah keuntunganmu dengan bersusah payah member ikan
latihan-latihan kepada anak-anak muda Lumban Wetan?“ bertanya
Daruwerdi kemudian. Semi memandang Daruwerdi dengan heran. Dan
tiba-tiba iapun beritanya pula “Apa pula keuntungan memberikan
latihan-latihan kepada anak-anak Lumban Kulon?“ Daruwerdi yang sudah
menduga bahwa pemburu itu akan bertanya demikian segera menjawab “Ki
Sanak, Aku telah melakukannya lebih dahulu atas permintaan anak-anak
muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Tetapi anak-anak Lumban Wetan
kemudian tidak bersedia lagi untuk datang. Sekarang mereka minta
agar kau member ikan latihan-latihan itu justru pada saat anak-anak
Lumban Wetan dan Lumban Kulon dalam ketegangan” Semi tiba-tiba saja
tertawa sambil mengangkat wajahnya,. Katanya “Jangan mengatakan yang
tidak sebenarnya. Apa kau kira anak-anak Lumban Wetan ini tidak
dapat berbicara tentang hubungan mereka dengan anak-anak Lumban
Kulon. “Apapun yang mereka katakan, bukankah kesediaanmu member ikan
latihan- latihan itu memungkinkan meningkatnya permusuhan?“ bertanya
Daruwerdi. “Itu tidak adil” jawab Semi “Jika kau menghentikan
latihan- latihan itu sama sekali, maka kaupum telah membantu
meredakan permusuhan itu. Tetapi kau tidak melakukannya” “Ki Sanak”
berkata Daruwerdi kemudian “kedatanganku kemari sekedar untuk
berbicara dengan baik mengingat persoalan anak-anak Lumban Kufon dan
anak-anak Lumban Wetan. Aku minta kau menghentikan latihan- latihan
ini. Aku akan berusaha mencegah anak-anak Lumihan Kulon untuk
memaksakan kehendaknya atas anak-anak Lumban Wetan?” “Caranya bukan
begitu. Kita bersama-sama berhenti” jawab Semi. “Apakah kau keras
kepala juga seperti anak-anak Lumban Wetan?“ bertanya Daruwerdi “Ya”
jawab pemburu “Aku memang keras kepala. Tetapi akupun menyadari,
bahwa aku harus bertanggung jawab atas sikapku itu” Daruwerdi
mengerutkan keningnya. Pemburu ini memang seorang yang sombong dan
tinggi hati. Namun Daruwerdi tidak akan membiarkannya Karena itu,
maka katanya” Ki Sanak. Aku beri kesempatan kau selama tiga hari
untuk terpikir. Jika dalam waktu tiga hari kau tidak menghentikan
latihan-latihan ini, maka jangan menyesal, bahjwa aku akan
rnemoksamu. Dengan demikian maka nafsu anak-anak Lumban Kulon, untuk
segera bertindak dapat aku kekang” “Caramu berpikir memang aneh Ki
Sanak” jawab Semi “Mungkin kau sudah terlalu lama tinggal di
Kabuyutan kecil ini sehingga kau tidak mampu lagi membuat
perhitungan- perhitungan yang wajar dan t idak berat sebelah”
“Apapun yang kau katakan, aku memberimu waktu jtiga hari” berkata
Daruwerdi “setelah itu, aku akan menentukan tindakan apakah yang
akan aku lakukan atas kalian dan anak- anak muda Lumban Wetan. Aku
tahu bahwa kawanmu itu telah memberikan Iatihan-latihan pula kepada
lingkungan yang lebih luas, meskipun tidak mendalam seperti yang kau
lakukan” “Aku tidak menghiraukan sama sekati” berkata pemburu itu
“tiga atau ampat berapa haripun yang akan kau sebut” Wajah Daruwerdi
menjadi merah. Ia sadar, bahwa pemburu itu benar-benar tidak akan
dapat diancamnya. Agaknya pemburu itu benar-benar bertanggung jawab
atas segala yang dilakukannya. Hampir saja Daruwerdi kehilangan
pengamatan diri. Di Lumban ia jarang sekali mendengar, seseorang
telah menentang kehendaknya. Tiba-tiba seorang pemburu kini
seakan-akan dengan sengaja telah menantangnya. Namun ternyata bahwa
Daruwerdi masih dapat mengendalikan dirinya. Dengan suara bergetar
ia berkata “Aku akan menunggu sampai tiga hati. Sebaiknya kau
pertimbangkan dengan bati yang bening. Kau memang belum mengenal aku
dengan baik, sehingga kau berani menentang aku tanpa ragu” “Siapapun
kau” jawab Semi “Aku sudah terlalu biasa menghadapi siapapun juga.
Bahkan seekor har imau yang paling besar sekalipun. Apa lagi kau”
“Itulah kesalahanmu” jawab Daruwerdi “Kau anggap aku tidak lebih
dari seekor harimau. Kau lupa, bahwa seekor harimau tidak akan mampu
mempelajari oleh kanuragan. Ia hanya mampu mempergunakan kekuatan
wadagnya sebagaimana ia mendapatkannya dari alam. Tetapi aku mampu
mengembangkan kemampuan yang aku terima dari alam, dan lebih dar i
itu, aku mempunyai otak seperti juga kau dan setiap orang. Tetapi
agaknya kau tidak sempat mempergunakan otakmu. Nampaknya kaupun
sekedar bertumpu kepada pandangan yang bodoh itu tanpa
mempertimbangkan kemungkinan yang berkembang pada dirimu sendir i”
Darah Semi mulai menjadi panas. Tetapi ia sadar, bahwa ia memang
sedang memancing agar Daruwerdi menjadi marah. Ia sadar, bahwa
Daruwerdi tentu ingin menjajagi, apakah orang yang member ikan
latihan kanuragan kepada anak-anak Lamban Wetan itu benar-benar
memiliki ilmu yang memadai. “Mudah-mudahan peristiwa ini tidak
mengganggu tugas- tugasku selanjutnya yang juga akan menyangkut
Daruwerdi” berkata Semi di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, ia
menjawab “Daruwerdi. Sebaiknya kau kembali ke daerah Kabuyutanmu.
Kau boleh melakukan apa saja sesuai dengan keinginan dan kemauanmu.
Akupun boleh melakukan apa saja yang aku kehendaki disini tanpa
mengganggu kau dan anak-anak muda Lumban Kulon” Daruwerdi
menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih berusaha menahan diri Namun
agar ia tidak kehilangan keseimbangan, maka iapun menggeram “Kau
benar-benar gila. Aku akan pergi. Dan aku akan kembali lagi dalam
tiga hari“ Daruwerdi t idak menunggu jawaban. Iapun kemudian dengan
tergesa-gesa meninggalkan pategalan itu. Sementara itu langit sudah
menjadi semakin kelam. Demikian Daruwerdi hilang dibalik keremangan
ujung malam, kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan itupun segera
mengerumuni Semi. “Agaknya ia benar-benar marah” desis salah seorang
dari anak-anak muda Lumban Wetan itu. “Ya” jawab Semi “tetapi biar
sajalah. Aku memang harus mempertanggung jawabkan, apa yang aku
lakukan ini kepada siapapun” Seorang anak muda yang bertubuh kecil,
tetapi memiliki kecepatan gerak yang cukup, telah berkata “Bukan
maksud kami disini membuat kesulitan bagimu” “Aku sudah
memperhitungkan bahwa hal ini akan terjadi” berkata Semi ”Tetapi kau
masih mempunyai waktu untuk mempertimbangkan” desis anak muda
bertubuh kecil itu. “Maksudmu, agar aku. menarik dir i dari
kesanggupan ini?“ bertanya Semi. Anak-anak muda Lumban itu tidak
menjawab. “Terima kasih kawan-kawan” desis Semi kemudian “aku
mengerti bahwa kalian bermaksud baik. Kalian tidak mau membuat aku
mengalami kesulitan karena sikap Daruwerdi yang benar-benar telah
berpihak itu. Jika kemudian terjadi sesuatu, baik akan dir iku,
kawanku berburu itu, atau apapun, bukan kalian yang bersalah. Aku
telah cukup dewasa untuk menentukan sikapku sendiri” Anak-anak
Lumban Wetan itu tidak menyahut lagi. Merekapun mengerti, bahwa
pemburu ini akan dapat tersinggung jika mereka seakan-akan
mencemaskan nasibnya, jika ia harus berhadapan dengan Daruwerdi.
“Kita lanjutkan latihan ini” berkata Semi tiba-tiba “Apakah kalian
telah lelah? Apa kalian yang sebenarnya cemas menghadapi Daruwerdi
yang marah itu? Akupun dapat marah seperti Daruwerdi“ Anak-anak
Lumban Wetan itu menjadi ragu-ragu. Rasa- rasanya ada sesuatu yang
menghambat mereka setelah kedatangan Daruwerdi. Tetapi ketika mereka
sudah mulai dengan gerak-gerak yang keras dan berat, maka lambat
laun, perhatian merekapun sepenuhnya telah terampas oleh pemusatan
pikiran pada latihan itu, sehingga merekapun telah melupakan, bahwa
Daruwerdi baru saja datang ke tempat latihan itu. Ternyata
kedatangan Daruwerdi telah mendorong pemburu iltu untuk bekerja
lebih keras. Jika sebelumnya, ia selalu berusaha untuk menahan agar
anak-anak Lumban Wetan itu tidak terlalu letih dalam latihan
kanuragan, sehingga dapat mengganggu kerja mereka di sawah dan
ladang masing- masing, maka yang dilakukan kemudian adalah justru
sebaliknya. Pemburu itu telah menempa anak-anak muda Lumban Wetan
itu sehingga mereka merasa menjadi sangat letih. Kaki-kaki mereka
menjadi berat dan ker ingat bagaikan telah terperas habis. Baru
ketika anak-anak Lumban Wetan itu mengeluh, pemburu itu berkata
”Kita akan beristirahat. Besok kita akan berlatih lebih baik lagi.
Aku akan menunggu sampai tiga hari itu. Dan akui akan menunjukkan
kepada kalian, bahwa kalian tidak akan kehilangan kesempatan untuk
selanjutnya. Aku akan tetap berada disini” Anak-anak muda Lamban
Wetan tidak berani lagi mengatakan sesuatu kepada pemburu itu.
Meskipun demikian, mereka benar-benar merasa cemas. Mereka bukan
saja berpikir tentang hubungan mereka yang buruk dengan anak- anak
muda Lumban Kulon, tetapi ia telah melibatkan seseorang yang
sebenarnya tidak tahu menahu tentang persoalan itu. “Jika terjadi
sesuatu dengan kedua pemburu itu, justru karena Daruwerdi, bukankah
itu kesalahan kita?“ bertanya mereka satu sama lain. Meskipun
demikian, anak-anak Lumban Wetan itu t idak dapat menyampaikan
kecemasannya itu. Mereka hanya dapat memperbincangkan diantara
mereka. Lebih-lebih anak-anak muda yang termasuk sepuluh anak muda
terbaik yang mendapat tempaan khusus itu. Jlitheng yang akhirnya
mendengar juga peristiwa itu, tidak dapat mengatakan apapun juga. Ia
hanya mengangguk- angguk dan sekali-kali menggeleng diantara
kawan-kawannya. Apalagi ia tidak melihat sendiri apa yang terjadi,
karena ia berada diantara anak-anak muda Lumban Wetan yang berlatih
bersama-sama, pada giliran ketiga. Namun diuar pengetahuan
kawan-kawannya. Jlitheng telah datang kepada Semi dan kawannya di
banjar. Seolah-olah ia bertemu dengan kedua pemburu itu kebetulan
saja tanpa maksud apapun juga. Namun dalam pada itu. Semi lelah
berbincang panjang dengan Jlitheng mengenai Daruwerdi. “Apakah
perkelahian yang mungkin sekali tidak akan mengganggu” bertanya
Semi. “Dalam kedudukanmu sebagai pemburu, aku kIra t idak akan ada
persoalan yang bersangkut paut dengan penculikan Pangeran itu” sahut
Jlitheng. “Aku tidak tabu, kenapa sampai saat ini orang-orang
Sanggar Gading masih belum sampai di daerah Sepapsang Bukit Mati
ini” gumami Semi “Dapat dimengerti” jawab Jlitheng “Mereka
memerlukan persiapan yang khusus. Mereka tidak saja berhadapan
dengan Daruwerdi disini, tetapi mereka harus dapat bertahan jika
orang-orang Pusparuri atau pihak manapun juga akan mengganggu
mereka“ “Tetapi Jlitheng” berkata Semi “bagaimana jika kami,
maksudku aku dan Daruwerdi tidak lagi dapat mengekang diri dalam
perkelahian itu sehingga perkelahian itu akan meningkat sampai batas
yang paling pahit. Bukan aku cemas menghadapinya, tetapi apakah hal
itu tidak akan merusak semua usaha yang telah dilakukan sampai saat
terakhir olehmu sendiri dan oleh kakang Rahu” “Kawanmu itu akan
dapat menjadi saksi yang berdir i diluar arena dan tidak terlibat
dalam luapan perasaan. Ia harus dapat bertindak tepat pada waktunya
dan ia tentu akan dapat menentukan keseimbangan dari pertempuran
itu” berkata Jlitheng. Kawannya mengangguk-angguk. Meskipun ia
merasa, tugas itu adalah tugas yang cukup berat baginya, karena
iapun akan dapat dijebak oleh panasnya darah yang mendidih di dalami
jantungnya menghadapi anak muda yang bernama Daruwerdi itu. “Kita
akan mendapat keuntungan dengan peristiwa itu” berkata Jlitheng
“Kita akan dapat menjajagi kemampuan Daruwerdi” Semi menarik nafas
dalam-dalam. Desisnya ”Kau jugalah yang akan mendapatkan keuntungan
itu, He, kenapa tidak kau tantang saja anak itu berkelahi” Jlitheng
tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Sikap itulah yang kemudian
menentukan sikap Semi selanjutnya Ia tidak akan pergi dari Lumban,
dan ia tidak akan menghentikan latihan-latihan yang
diselenggarakannya Seperti yang pernah dikatakan Semi kepada
Daruwerdi dihadapan kesepuluh anak-anak Lumban, maka ia benar- benar
bertekad untuk bertahan. Ia telah melakukan seperti yang
dikatakannya. Bahkan ia telah meningkatkan laitihanHlatihan yang
diberikan menjelang hari ketiga seperti yang diikalkan oleh
Daruwerdi, Ternyata usaha Semi tidak sia-sia. Sepuluh orang yang
dipilihnya itu meningkat dengan cepat. Melampaui kawan- kawannya
yang lain. Bahkan karena latihan yang khusus, maka kesepuluh orang
itu telah berhasil menyusul dan bahkan melampaui kemampuan anak-anak
muda Lumban Kulon yang tidak pernah terhenti, tetapi yang berlatih
pada saat yang lebih jarang dari anak-anak muda Lumban Wetan. Pada
hari yang ketiga, seperti yang diduga oleh Semi, maka Daruwerdi
benar-benar telah datang kepadanya. Tetapi seperti yang dikatakan
oleh J litheng, agar disamping kedua orang itu masih ada orang lain
yang agak terpisah dari persoalannya, sehingga masih mempunyai
kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan. Karena itu pada
hari ketiga, kawan Semi tidak berada diantara anak-anak Lumban Wetan
yang lain, tetapi ia Bersama-sama dengan Semi berada dipategalan.
“Kau benar-benar keras kepala” geram Daruwerdi ketika ia sudah
berada di pategalan itu. “Sudah aku katakan” desis Semi “Aku tidak
akan meninggalkan Kabuyutan ini jika itu bukan karena kehendakku
sendiri” “Kau bawa kawanmu kemari?“ bertanya Daruwerdi, Lalu “Kau
sangka dengan demikian aku akan menarik ancamanku” “Aku bawa ia
untuk menjadi saksi. Aku sama sekali t idak berniat untuk berbuat
licik. Kita sama-sama laki- laki yang mempunyai harga diri” jawab
Semi. Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa
sikap pemburu itu justru sedemikian kerasnya. Tetapi ia sama sekali
tidak ingin menarik apa yang telah dikatakannya. Bahkan seandainya
kedua pemburu itu berbuat curang, iapun tidak akan ingkar. Ia akan
menyelesaikan keduanya dan mengusir mereka dari tempat itu. Selain
keduanya lelah meningkatkan ketegangan, keduanya juga akan dapat
mcnggunggu usahanya untuk memecahkan masalah pusaka yang tersimpan
di daerah Sepasang Bukit Mati itu. Karena itu, maka tekad
Daruwerdipun menjadi bulat. Dengan lantang ia berkata “Kau
benar-benar sudah menantang aku” “Kaulah yang menantang aku, karena
kau telah mencampur i urusanku dengan anak-anak muda Lumban Wetan.
Mereka membantu aku j ika aku mendapatkan binatang buruan. Apa
salahnya jika aku memberikan imbalan yang berarti bagi mereka,
tetapi tidak mengurangi milikku sama sekali” “Persetan“ bentak
Daruwerdi “Jangan membual. Tetapi jangan menyesal jika langkahku
akan terlalu panjang” Semipun kemudian mempersiapkan dir i. Kepada
anak-anak Lumban Wetan ia berkata “Kalianpun dapat menjadi saksi,
apakah ada kelebihan anak muda ini dari seorang pemburu yang telah
berhasil menangkap seekor harimau hanya dengan tangannya” Wajah
Daruwerdi yang membara, rasa-rasanya bagaikan menyala. Ia tidak
dapat menahan diri lagi. Pemburu itu terlalu sombong, seolah-olah ia
adalah orang yang paling berarti di muka bumi Karena itu, maka
Daruwerdipun berkata ”Kita akan berhadapan dengan jantan. Marilah.
Jika kemudian ternyata kau menyesal bertempur dengan jantan, kau
dapat mengajak kawanmu dan anak-anak Lumban Wetan untuk
mengeroyokku” Tetapi yang terdengar adalah jawaban yang sangat
menyakitkan bati. Pemburu itu justru tertawa sambil berkata “Apakah
kau sering melakukannya?“ Jawaban itu membuat Daruwerdi tidak dapat
menahan bati lagi. Dengan gigi gemeretak ia bergeser mendekat.
Sementara itu, Semi yang melihat bahwa Daruwerdi benar-benar akan
mulai, telah bergeser pula. Kawan Semi berdir i termangu-mangu
beberapa langkah. Dengan tegang ia mengikut i perkembangan keadaan,
sementara sepuluh orang anak-anak muda Lumban Wetan menjadi sangat
gelisah. Tetapi mereka tidak meninggalkan tempat itu, karena ada
sesuatu yang mengikat mereka Betapapun juga ada ke inginan mereka
untuk melihat, siapakah yang lebih kuat dian-tara kedua orang yang
masih sama-sam muda itu. Sementara itu, ternyata bahwa diluar
pengamatan orang- orang yang sedang memusatkan perhatiannya kepada
orang- orang yang sedang bertengkar itu, dua orang dengan
mengendap-endap telah mendekati arena pertempuran. Mereka berusaha
untuk dapat melihat pertempuran itu dari sela-sela anak-anak Lumban
Wetan yang berdiri mematung melihat kedua anak-anak muda yang sudah
siap untuk mulai dengan pertempuran yang garang. Dengan hati-hati
keduanya bergeser semakin dekat. Ketika Daruwerdi meloncat
menyerang, maka kedua orang itupun tertegun ditempatnya. Seorang
diantaranya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata
apapun, karena suaranya akan dapat menarik perhatian salah seorang
dari mereka yang sedang dicengkam ketegangan itu. Sebenarnyalah
bahwa Jlitheng telah menyampaikan persoalan itu kepada Kiai Kanthi.
Yang didengarnya dari Semi, telah dikatakannya kepada orang itu. Dan
merekapun sependapat, bahwa Daruwerdi tentu tidak hanya sekedar
menakut-nakuti saja. Ia akan datang tepat pada hari yang disebutnya.
Karena itu, maka ketika Jlitheng dan Kiai Kantbi datang ke tempat
itu maka mereka benar-benar menyaksikan kedua anak muda itu
berhadapan dalam perang tanding. Dengan tegang, maka Jlithengpun
mengikut i perkelahian yang kemudian telah menggetarkan pategalan
itu. Serangan Daruwerdi datang seperti badai, mengguncang pepohonan
dan menghentak bukit-bukit batu. Namun sebenarnya Semi telah
melawannya bagaikan angin prahara yang bergulung-gulung mengguncang
lautan dan mendorong ombak berderu menghantam batu karang. Benturan
ilmu yang dahsyat dilambari dengan tenaga yang kuat dari anak-anak
muda yang sedang marah, telah membuat pertempuran itu menjadi
semakin sengit. Jlitheng memperhatikan pertempuran itu dengan
jantung yang berdegup semakin keras. Sementara Kiai Kanthi benar-
benar telah terpukau oleh kemampuan kedua anak muda itu. Ternyata
Daruwerdi adalah anak muda yang memiliki ketangkasan dan ketrampilan
mempergunakan seluruh anggauta badannya. Kaki, tangan jari-jari,
siku dan lututnya. Ia menyerang dengan tiba-tiba dan melontar
menghindar dengan cepat. Namun dalam pada itu, Semi yang bertubuh
kekar dan kuat itu bagaikan tonggak yang tidak tergoyahkan. Dengan
gerak dan geseran kaki, ia bertahan menghadapi kecepatan serangan
Daruwerdi. Meskipun geraknya satu-satu, tetapi ia berdiri menghadap
kemana saja arah serangan lawannya datang. Dengan denukian, ia mampu
bertahan dengan kelebihan yang ada padanya. Kadang-kadang Semi sama
sekali tidak ingin menghindari serangan yang meluncur kearahnya.
Tetapi ia dengan membenturkan kekuatan raksasanya, sehingga dengan
demikian, ia langsung dapat mengetahui, tataran kekuatan lawannya
pada saat-saat tertentu. Betapapun kuat daya tahan tubuhnya, namun
karena serangan Daruwerdi yang datang beruntun, semakin terasa,
bahwa sentuhan-sentuhan serangan itu telah mulai hinggap di
tubuhnya. Bahkan semakin lama terasa sentuhan-sentuhan itu membuat
kulit dagingnya menjadi sakit. Tetapi dalam pada itu, Daruwerdi yang
telah mengerahkan segenap kemampuannya itupun mengumpat di dalam
hati. Seakan-akan Semi yang bertenaga raksasa itu, mampu menahan
rasa sakit yang betapapun juga menyengat badannya. Bahkan Daruwerdi
mulai, bertanya kepada diri sendiri “Apakah anak ini mempunyai aji
Lembu Sekilan?“ Namun ketika pada suatu saat ia sempat mendengar
pemburu itu berdesis, maka Daruwerdipun yakin, bahwa lawannya tidak
mempunyai aji Lembu Sekilan, atau Tameng Waja atau ilmu kebal.
Lambat laun Daruwerdi mengerti, bahwa lawannya itupun telah didera
oleh perasaan sakit yang semakin tajam. Meskipun demikian,
perlawanan Semi sama sekali t idak mengendor. Bahkan tenaganya
seakan-akan menjadi semakin kuat, meskipun sekali-kali ia harus
berdesis menahan sakit. Dalam pada itu, Daruwerdi yang telah
mengerahkan segenap kemampuannya itu merasa bahwa ia mulai berhasil
membuat lawannya sakit. Tetapi iapun tidak dapat ingkar, bahwa
tenaganya yang terperas itu, semakin, lama menjadi semakin susut.
Karena itu, ia harus mempeihitungkan, bahwa ia harus dapat
melumpuhkan lawannya lebih dahulu sebelum tenaganya sendiri terperas
habis. Namun dalam pada itu, Semipun telah membuat perhitungan yang
mapan pula. Ia tidak mau dihancurkan, bahkan ia harus memancing
Daruwerdi agar kehabisan tenaga dan tidak mampu bergerak lagi.
Karena itulah, maka Semipun kemudian bertempur lebih berhati-hati.
Ia masih tetap berusaha membenturkan kekuatannya. Tetapi dengan
lebih mapan dengan menghindarkan bagian tubuhnya yang akan dapat
disakiti oleh lawannya Dalam pada itu, Kiai Kanthi dan Jlithengpun
memperhatikan perkelahian yang menjadi semakin sengit itu dengan
nafas yang tertahan-tahan. Bahkan iapun beringsut setapak diluar
sadarnya. Untunglah bahwa Kiai Kanthi sempat menggamitnya, sehingga
Jlitheng tidak terdorong mendekati arena. Sebenarnyalah pertempuran
itu menjadi semakin dahsyat. Meskipun Daruwerdi nampak mulai
dipengaruhi oleh nafasnya yang terengah-engah, sementara Semipun
kadang-kadang telah menyeringai menahan sakit, namun keduanya masih
bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya Semi yang mulai
dijalar i perasaan pedih itupun mulai memperhitungkan
kemungkinan-kemungkinan lain. lai merasa perlu untuk menyerang lebih
banyak, agar iapun mempunyai kesempatan untuk menyakit i lawannya,
meskipun dengan demikian iapun akan memeras tenaganya. Dengan
demikian, maka Kiai Kanthi dan Jlithengpun kemudian melihat
perubahan sikap Semi, meskipun tidak dengan tiba-tiba. Sedikit demi
sedikit Semi merubah cara bagaimana ia harus menghadapi Daruwerdi
yang sudah mulai lelah itu. Sedikit demi sedikit, Semi mulai
melangkah dan meloncat menyerang dengan sengitnya. Ia tidak lagi
berkisar dan bergeser dengan sebelah kaki. Tetapi ia mulai menyerang
dengan langkah- langkah panjang dengan menghentak. Daruwerdi melihat
perubahan sikap itu. Tetapi ia tidak mau menjadi sasaran serangan
lawannya. Meskipun nafasnya mulai mengalir semakin cepat, tetapi ia
masih tetap mampu bergerak cepat. Karena itu, maka ia masih mampu
memotong loncatan-loncatan panjang lawannya. Tetapi Semi tidak
menghentikan serangannya. Jika ia gagal, maka iapun mulai dengan
serangan-serangan baru. Hanya kadang-kadang ia memang harus
melangkah surut, jika Daruwerdi mendahuluinya menyerang. Namun
kadang-kadang Daruwerdi tidak member inya kesempatan. Ketika
serangan semi. dapat dihindarinya, maka Semi telah bersiap untuk
menyerangnya dengan hentakkan kaki. Tetapi demikian Semi
mempersiapkan dirinya, Daruwerdilah yang justru meloncat
menyerangnya. Semi yang terkejut itu sempat menghindar. Dengan satu
loncatan panjang ia berusaha mengambil jarak. Sehingga ia sempat
mempersiapkan diri menghadapi saat-saat berikutnya Sebenarnyalah,
Daruwerdi telah meluncur dengan kakinya menyerang lambung. Namun
Semi tidak lagi sempat menghindar. Tetapi iapun sadar, bahwa
serangan itu akan dapat menyakitinya Jika kaki Daruwerdi mengenai
lambungnya, maka perutnya tentu akan menjadi mual. Bahkan mungkin
matanyapun akan menjadi berkunang-kunang, sehingga lawannya akan
sempat menyerangnya lebih sengit lagi. Karena itu, sekali lagi Semi
harus menunjukkan kemampuan tenaganya. Meskipun t idak menghindar,
tetapi ia memiringkan tubuhnya. Dengan sedikit merendah ia menahan
serangan lawannya dengan sikunya. Sekali lagi terjadi benturan.
Daruwerdi merasa, betapa serangannya membentur kekuatan yang luar
biasa, sehingga ia justru terdorong selangkah surut Dalam pada itu,
Semi tidak mau kehilangan kesempatan. Meskipun siku dan lengannya
merasa betapa sakitnya hentakkan kekuatan Daruwerdi, namun sambil
menahan perasaan sakit itu, Semilah yang kemudian meloncat menyerang
Daruwerdi. Tidak terlalu keras, karena serangan itu datang dengan
tergesa-gesa, tetapi cukup mengejutkan, sehingga Daruwerdilah yang
kemudian dengan tergesa-gesa meloncat ke samping. Kesempatan itu
kemudian dipergunakan oleh Semi sebaik- baiknya. Ia sempat
mengerahkan kekuatannya, sehingga ayunan serangan berikutnya
merupakan serangan yang cepat dan kuat, dilambar i dengan kekuatan
cadangannya. Daruwerdi sekali lagi terkejut melihat serangan itu.
Semi yang sejak semula tidak banyak menyerang, tiba-tiba menjadi
garang. Karena itu, maka Daruwerdilah yang kemudian barusaha
bertahan. Dengan kaki yang bagaikan menghunjam ke dalam bumi
Daruwerdi menunggu benturan yang dahsyat, dengan sedikit merendah.
Seperti juga lawannya maka iapun telah mengerahkan segenap tenaga
cadangan. Sebenarnyalah yang terjadi kemudian adalah benturan yang
sangat kuat antara dua kekuatan yang dilambari ilmu yang tinggi.
Benturan yang bukan saja mendebarkan jantung kedua orang yang sedang
bertempur itu. Namun Kiai Kanthi. Jlitheng, kawan Semi dan anak-anak
Lumban Wetanpun menahan nafasnya. Ternyata keduanya telah terlempar
beberapa langkahi Semi yang bagaikan membentur dinding baja itu
terlempar surut beberapa langkah. Bahkan iapun telah kehilangan
keseimbangan, dan terbanting jatuh. Kekuatan yang bagaikan membalik
menghantam dirinya sendir i itu telah membuat dadanya menjadi sesak
dan nafasnya bagaikan tersumbat. Sementara itu. Daruwerdi yang
bertahan dengan segenap kemampuannya, ternyata telah terlempar pula.
Rasa-rasanya ia telah terayun tanpa pegangan dan jatuh berguling
ditanak Kepalanya menjadi pening, dan langit menjadi bagaikan
berputar. Bintang-bintang yang bermunculan dilangit mengabur dan
seakan-akan hilang satu demi satu. Hari yang semakin malam itupun
rasa-rasanya telah menjadi hitam pekat. Sejenak semua orang diam
mematung. Namun sejenak kemudian, kawan pemburu yang berdiri menjadi
saksi dari benturan kekuatan itu telah melangkah maju. Kemudian
dengan hati-hati ia berjongkok disamping Semi dan kemudian mendekati
Daruwerdi. “Keduanya pingsan” desisnya. Anak-anak Lumban itupun
kemudian berloncatan mendekat. Tetapi mereka lebih berani mendekati
tubuh Semi yang terbujur diam. “Apakah ada air didekat tempat ini?“
bertanya pemburu yang seorang itu. “Ada” jawab salah seorang dari
anak-anak Lumban Wetan itu “di pinggir pategalan ini ada sumur”
“Ambillah air. Biarlah keduanya menjadi sadar” desis pemburu itu.
Dua orang dari anak-anak Lumban Wetan itupun kemudian berlari-lari.
Mereka mengambil air dengan timba upih dan membawanya kembali ke
tempat dua orang pingsan itu Dengan hati-hati pemburu itu menit
ikkan beberapa titik air di bibir Semi dan Daruwerdi. Untuk beberapa
saat, ia menunggu. Namun kemudian silirnya angin dan segarnya titik
air, membuat keduanya perlahan-lahan menyadari dari masing-masing.
Ketika keduanya kemudian bangkit dan mengenang seluruhnya apa yang
telah terjadi, maka rasanya kekuatan di dalam tubuh mereka
masing-masing telah tumbuh kembali. Dengan serta merta keduanya
berusaha untuk tegak berdiri betapapun letih dan lemahnya. Namun
rasa-rasanya, kekuatan mereka itupun dengan cepatnya telah larut
kembali. Tulang-tulang mereka bagaikan terlepas dari sendi-sendinya.
Sehingga hampir saja keduanya terjatuh lagi. Hanya dengan
mengerahkan sisa tenaga mereka sajalah, maka akhirnya mereka dapat
bertahan untuk tetap berdiri, betapapun letihnya. Seolah-olah jika
angin yang agak kencang menyentuhnya, merekatidak akan dapat lagi
bertahan untuk tetap berdiri. Dalam pada itu, pemburu yang seorang,
yang tidak terlibat dalam perkelahian itupun kemudian melangkah maju
sambil berkata “Inilah akhir dari perkelahian kalian. Aku menjadi
saksi bahwa kalian-berdua tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi“
“Persetan“ geram. Daruwerdi “Aku akan membunuhnya” “Lakukan jika kau
mampu” sahut Semi sambil menggertakkan giginya. Tetapi pemburu yang
seorang itupun berkata “Kalian adalah laki-laki jantan. Apakah
kalian tidak dapat melihat kenyataan ini?“ Daruwerdi masih tetap
berdiri tegak. Tetapi nampaknya ia mulai memikirkan keadaannya. Ia
mulai melihat keadaan lawannya. Sebenarnyalah bahwa keduanya tentu
tidak akan mampu lagi berbuat banyak. Keduanya hanya akan dapat
melangkah satu-satu. Jika keduanya memaksa untuk menyerang, maka
mereka tentu akan jatuh, tersungkur tanpa berhasil menyentuh
lawannya, meskipun lawannya tidak dapat lagi untuk mengelak. Karena
itu, maka keduanya masih tetap berdiri tanpa berbuat sesuatu.
“Kenapa kalian diam saja? Perkelahian ini harus diakhiri sampai
sekian. Kita semuanya harus mengakui apa yang telah terjadi disini
sebagai satu kenyataan” berkata pemburu yang searang itu pula.
Daruwerdi yang kemudian bergeser sambil menggeram “Jangan menganggap
bahwa persoalan kita sudah selesai” “Tidak. Selama kau menganggap
bahwa persoalan kita belum selesai, maka selama itu pula aku juga
menganggap bahwa persoalan diantara kita belum selesai” jawab Semi.
Daruwerdi tidak berbicara lebih panjang lagi. Bagaimanapun juga ia
menghargai sikap kedua pemburu itu. Ternyata keduanya tidak
merendahkan diri dan bertempur berpasangan, meskipun ia sudah
menantangnya. Karena itu, maka Daruwerdi menghargai sikap itu
sebagai sikap seorang laki- laki Dengan demikian, maka iapun merasa,
bahwa jika ia meninggalkan arena itu, maka iapun telah bersikap
sebagaimana sikap lawannya yang dapat melihat kenyataan.
Tertatih-tatih Daruwerdipun kemudian meninggalkan pategalan itu.
Sekilas ia masih sempat berpaling- Ia mclihal lawannya masih tetap
berdiri di tempatnya, sementara anak- anak muda Lumban Wetanpun
seolah-olah masih membeku di tempatnya. Baru ketika Daruwerdi telah
hilang di dalam gelapnya malam yang menjadi semakin dalam, maka
anak-anak muda Lumban Wetan itupun mulai bergeser mendekati Semi
yang masih berdir i dengan letih, “Bagaimana?“ seorang anak muda
Lumban Wetan bertanya, “Anak itu memang luar biasa” desis Semi.
Namun kemudian “Tetapi seperti kalian lihat, akupun masih tetap
tegak” Anak-anak muda Lumban Wetan itu mengangguk-angguk. Mereka
mengerti, bahwa Daruwerdi memang seorang anak muda yang pilih
tanding. Namun ternyata ia tidak dapat mengalahkan salah seorang
dari kedua pemburu itu. “Kita kembali sekarang” berkata Semi “Tetapi
sejak besok, ktman-ktihan akan meningkat. Siapa tahu, bahwa
Daruwerdi telah dibakar oleh dendam yang tidak terkendali-kan,
sehingga ia dengan segera dan tergesa-gesa akan menggerakkan anak-
anak muda Lumban Kulon, Tentu ada saja persoalan yang dapat
dipergunakan sebagai alasan untuk memulai dengan permusuhan. Bahkan
kekerasan” Anak-anak muda Lumban Wetan itu menjadi berdebar- debar.
Merekapun sependapat bahwa kemarahan Daruwerdi mungkin akan
mempercepat pecahnya kekerasan antara anak anak muda Lumban Wetan
dan Lumban Kulon. Namun demikian, anak-anak Lumban Wetan yang berada
dipategalan itupun bertekad untuk mempertahankan kepentingan
padukuan mereka. Mereka tidak akan menerima perlakukan yang tidak
adil dar i anak-anak Lumban Kulon atas air yang mengalir di sungai
kecil itu. Apalagi satu kenyataan yang tidak dapat diungkir i, bahwa
anak-anak Lumban Wetanlah yang lebih banyak berbuat atas air itu
terutama Jlitheng. Karena itu, maka dengan sungguh-sungguh anak-anak
Lumban Wetan menyatakan kesediaan mereka untuk berlatih lebih tekun.
Apalagi kesepuluh orang itu merasa, bahwa mereka adalah orang-orang
terpilih yang akan berada dipaling depan dari kawan-kawannya.
Demikianlah, sebenarnyalah bahwa Daruwerdi yang marah itu tidak
dapat mengambil sikap lain kecuali memaksa anak- anak Lumban Wetan
untuk memenuhi keinginan anak-anak Lumban Kulon. Bahwa ia tidak
dapat mengalahkan pemburu itu dihadapan kesaksian anak-anak Lumban
Wetan, telah mendorongnya untuk mencari imbangan peristiwa yang
dapat menekan kebanggaan anak-anak Lumban Wetan. “Anak-anak Lumban
Kulon telah lama berlatih” berkata Daruwerdi. Meskipun Daruwerdi t
idak dapat ingkar, bahwa sepuluh orang yang mengadakan latihan
khusus itu memiliki kelebihan dar i anak-anak muda Lumban Wetan yang
lain. bahkan mungkin juga atas anak-anak muda Lumban Kulon. Namun
jumlah mereka terlalu sedikit untuk dapat menentukan kesejmbangan
antara kekuatan anak-anak Lumban Kulon dan anak-anak Lumban Wetan.
Namun dalam pada itu, Daruwerdi seakan-akan tidak memperhitungkan
sama sekali anak-anak Lumban Wetan yang lain, yang serba sedikit
pernah juga berlatih bersama anak- anak muda Lumban Kulon, yang
kemudian setelah terhenti beberapa saat karena tingkah anak-anak
Lumban Kulon, mereka telah mulai lagi di bawah ajaran pemburu yang
ternyata juga memiliki kemampuan yang cukup, yang ternyata salah
seorang dari mereka telah dapat mengimbangi kemampuan Daruwerdi,
Demikianlah, maka dipagi hari berikutnya, Daruwerdi telah mulai
dengan rencananya. Ia telah menemui Nugata yang memang telah
dijangkiti oleh satu keinginan untuk memaksa anak-anak Lumban Wetan
menuruti keinginan anak-anak muda Lumban Kulon, agar pintu air yang
mengalir ke Lumban Kulon dibuat lebih lebar dari pintu air yang
mengaliri parid- parit di Lumban Wetan. “Saatnya sudah tiba” berkata
Daruwerdi tanpa mengatakan bahwa pemburu yang berada di Lumban Wetan
dapat mengimbangi kemampuannya. “Kami sudah siap“ sahut Nugata
“kapan kita lakukan hal itu?“ “Terserah kepada kalian. Semakin
cepat, semakin baik” jawab Daruwerdi. “Kau yang akan memimpinnya?“
bertanya Nugata pula. Tetapi Daruwerdi menggeleng. Jawabnya “Tentu
bukan aku” “Lalu siapa?“ bertanya Nugata dengan heran. “kalianlah
yang melakukan. Bukan aku. Aku hanya akan mengawasi saja. Dengan
demikian, kedua pemburu di Lumban Wetan itupun tidak akan melibatkan
dir i” berkata Daruwerdi. “Jika mereka melibatkan diri juga?“ “Itu
kewajibanku” jawab Daruwerdi. Namun ada juga semacam keragu-raguan,
bahwa jika kedua pemburu itu bersama turun kearena, maka sudah
pasti, bahwa ia tidak akan dapat melawannya. Ia sudah menjajagi
kemampuan salah seorang dari keduanya. Dan yang seorang itupun mampu
mengimbanginya. Tetapi Daruwerdi percaya, bahwa kedua pemburu itu
bukan orang-orang yang licik. Bukan pengecut dan tidak akan berbuat
curang. Karena itu, ia berharap, bahwa jika ia tidak melibatkan diri
secara langsung, kedua pemburu itupun tentu tidak akan berbuat
apa-apa, selain menyaksikan dan barangkali mengumpat-umpat. Nugata
yang memang sudah lama menunggu, tiba-tiba saja bagaikan anak-anak
mendapat tawaran untuk bermain kejar- kejaran. Dengan segera ia
menemui kawan-kawannya yang di anggapnya orang terbaik di Lumban
Kulon untuk membantunya memimpin anak-anak Lumban Kulon membuka
pintu air. “Kita tidak peduli lagi, apa yang akan dilakukan oleh
anak- anak Lumban Wetan. Kita akan melakukan sesuai dengan keinginan
kita. Jika anak-anak Lumban Wetan, menentang, maka kita akan
memaksanya dengan kekerasan” berkata Nugata kepada kawan-kawannya.
Kawan-kawannyapun menjadi gembira pula. Merekapun menganggap bahwa
anak-anak Lumban Wetan belum terlalu lama berlatih. Mereka tidak
tahu apa yang sudah dilakukan oleh sepuluh orang anak-anak muda
Lumban Wetan yang berlatih tanpa mengenal lelah. Sementara yang
lainpun telah berlatih hampir setiap hari, sehingga kemampuan mereka
telah meningkat lebih cepat dari anak-anak Lumban Kulon, meskipun
waktunya lebih pendek. Dalam pada itu, selagi anak-anak Lumban Wetan
dan Lumban Kulon mempersiapkan diri untuk mempertahankan keinginan
masing-masing, maka telah hadir pula dengan diam- diam di daerah
Lumban dua orang berkuda. Mereka langsung pergi ke bukit gundul pada
saat matahari telah tenggelam di bawah cakrawala. “Kau panggil anak
itu” berkata yang seorang. Yang seorang termangu-mangu. Namun
kemudian. Katanya “Cempaka, apakah kita tidak melihat perkembangan
keadaan di daerah ini lebih dahulu?“ Cempaka menggeleng Katanya
“Daerah ini adalah daerah mati. Tidak akan ada perkembangan apapun
juga. Orang- orang Lumban hidup seperti kakek dan neneknya hidup
Mereka berbuat seperti apa yang telah diperbuat oleh orang- orang
tua sebelumnya. Jika kita pernah datang beberapa saat lampau, maka
pada saat ini, Lumban masih seperti saat ini, Lumban masih seperti
saat-saat lampau itu. Karena itu, pergilah Rahu” “Apakah anak itu
tidak merupakan sumber gerak dari kehidupan di Lumban?“ bertanya
Rahu. Cempaka menggeleng lemah. Jawabnya “Aku kira ia tidak sempat
berbuat apa-apa disini. Mungkin karena malas, tetapi mungkin karena
acuh tidak acuh. Ia mempunyai kepentingan tersendiri” Rahu tidak
menjawab. Namun kemudian setelah menambatkan kudanya ia melangkah
meninggalkan Cempaka seorang diri di daerah yang kering tandus itu.
Namun Cempakapun mengetahui, bahwa parit-parit dibeberapa bagian
telah mulai basah oleh air yang naik dari sungai kecil yang
menampung air dari bukit berhutan itu. Dalam pada itu, Rahupun
berusaha untuk mencapai rumah Daruwerdi tanpa diketahui oleh orang
lain. Dalam gelapnya malam, ia tidak menemui kesulitan apapun untuk
menyusup tanpa diketahui oleh anak-anak Lumban Kulon yang berada di
gardu-gardu. Yang sedang sibuk mematangkan rencana mereka untuk
membuka pintu air tanpa persetujuan anak- anak Lumban Wetan. Bahkan
mereka telah berkepu-tusan untuk mempergunakan kekerasan apabila
anak-anak Lumban Wetan berusaha mencegah mereka. Kedatangan Rahu
memang mengejutkan Daruwerdi. Namun Rahupun segera memberitahukan,
bahwa Cempaka telah berada di bukit gundul. “Aku akan segera datang”
berkata Daruwerdi kemudian. Seperti yang dikatakannya, begitu Rahu
kembali ke bukit Gundul, dan member itahukan kesediaan Daruwerdi
untuk datang, maka anak muda itu sudah nampak dalam keremangan
malam, beberapa langkah saja dari keduanya. “Aku kira kau sudah
menyerah” berkata Daruwerdi, demikian ia berdir i dihadapan Cempaka.
“Jangan Gila“ potong Cempaka “kau kira kami termasuk golongan anjing
yang hanya dapat menggonggong? Apa yang sudah dapat dilakukan oleh
orang-orang Pusparuri dan orang- orang Kendali Putih?“ “Katakan
sajalah, bahwa kau sudah berhasil menangkap Pangeran itu” desis
Cempaka “Aku tidak perlu dengan bualanmu” “Kau hanya wajib
mendengarkan. Apapun yang akan aku katakan, biarlah aku katakan”
geram Cempaka “Dan sekarang, aku mengemban tugas dari pimpinan
tertinggi kami” “Menyerahkan orang itu?“ bertanya Daruwerdi dengan
serta-merta. “Kau benar-benar iblis. Dengar dahulu. Kami akan
membawa Pangeran itu dan melindunginya disepanjang perjalanan. Sudah
barang tentu kami tidak ingin kehilangan apabila orang- orang
Pusparuri atau orang-orang Kendali Putih, atau orang- orang Gunung
Kunir, bahkan mungkin para prajurit Demak yang ingin mengambil
Pangeran itu dari tangan kami” Daruwerdi tersenyum. Sekilas
ditatapnya wajah Cempaka yang tegang. Namun kemudian katanya
“Baiklah. Aku akan menunggu. Tetapi jika kalian masih menunggu tanpa
ada batasnya, maka justru kalian akan menyesal, karena orang- orang
Pusparuri, orang-orang Kendali Putih dan barangkali dari
kelompok-kelompok yang lain akan sempat merebutnya dari tangan
kalian” “Itu urusan kami” jawab Cempaka “Tetapi ketahuilah, bahwa
kami akan datang dalam waktu dekat, mungkin ini. Bersiaplah untuk
mener imanya dan siapkan pusaka itu sebelum kami datang. Ingat, jika
kau ingkar, maka kau tidak akan dapat mengelak lagi j ika kami
berbuat sesuatu yang akan menyakit i tubuhmu, sebelum nyawamu lepas
dari wadagmu” Daruwerdi tertawa. Katanya “Kau hanya dapat mengancam.
Sudahlah, bawa Pangeran itu kemari. Aku memerlukannya segera” “Sudah
aku katakan, aku akan datang lagi mungkm dalam pekan ini” jawab
Cempaka. Daruwerdi mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Aku akan
menunggu. Segalanya sudah siap” Cempaka tidak berbicara terlalu
panjang. Ketika semua masalah yang penting sudah dikatakannya, maka
iapun berkata “Aku akan kembali untuk melaporkan pertemuan ini”
“Demikian tergesa-gesa” bertanya Daruwerdi. “Apakah kau ingin
menahan kami berdua?“ bertanya Cempaka pula. Daruwerdi mengerutkan
keningnya. Katanya “Tidak. Kembalilah dan segera bawa Pangeran itu
kemari” Cempaka memandang Daruwerdi dengan tegang. Namun kemudian
katanya kepada Rahu “Kita akan kembali sekarang juga” Rahu tidak
menjawab. Iapun kemudian berdiri dan melangkah kekudanya yang
tertambat, disusul oleh Cempaka sambil berkata “Aku akan datang lagi
untuk menyelesaikan masalah kita sampai tuntas” Daruwerdi tertawa.
Tetapi ia tidak beranjak dari. tempatnya ketika ia melihat Cempaka
dan Rahu meninggalkan bukit gundul itu. Di dalam gelapnya malam yang
semakin kelam, Rahu berkuda di belakang Cempaka menyusuri bulak
panjang. Namun kuda mereka t idak berpacu dengan kencang. “Cempaka”
berkata Rahu kemudian “Apakah kau percaya kepada anak itu?“ Cempaka
mengerutkan keningnya. Katanya kemudian “Aku memang ragu-ragu” “Aku
ingin mengawasinya” berkata Rahu “Maksudmu?“ “Aku akan tinggal
disini. Aku akan melihat-lihat apakah ia bertindak dengan jujur.
Mungkin ia mempersiapkan penyambutan yang sama sekali tidak kita
duga-duga. Mungkin ia akan mener ima Pangeran itu, namun ia
berkeberatan menyerahkan pusakanya. Untuk itu ia tentu tidak akan
bertindak seorang diri” Cempaka mengangguk-angguk, la dapat mengerti
jalan pikiran Rahu. Namun ia masih bertanya “Jika Daruwerdi
mengetahui bahwa kau berada disini, mungkin ia akan berusaha untuk
merubah rencananya” Rahu merenung sejenak. Namun kemudian Katanya
“Sulit untuk tidak diketahui oleh Daruwerdi. Karena itu, tidak ada
salahnya jika aku dengan terang-terangan berada disini” “Itu akan
dapat membahayakan jiwamu. Daruwerdi akan dapat mempergunakan
kekuatan lain untuk menangkap dan mungkin membunuhmu sebelum kau
sempat melaporkan, apa yang kau lihat disini” “Aku akan berusaha
untuk melindungi dir iku sendir i” jawab Rahu. Namun kemudian
Katanya “Cempaka, marilah kita membuat janj i Aku akan berada di
tempat yang akan kita tentukan pada akhir pekan, untuk memberikan
laporan. Jika aku tidak ada di tempat itu, maka berhati-hatilah.
Mungkin aku benar-benar telah ditangkap atau dibunuh oleh peng-ikut-
ikut Daruwerdi” “Jadi, apapun yang terjadi disini, kau akan menunggu
kami di tempat yang akan kita tentukan?“ bertanya Cempaka “Dan
apabila kau tidak berada di tempat itu, berarti bahwa keadaan tentu
gawat bagi kita” “Ya. Aku akan ada di tempat itu. Kecuali j ika aku
mat i” jawab Rahu. Cempaka mengangguk-angguk. Iapun kemudian
menentukan tempat yang paling baik bagi Rahu untuk menunggu
kedatangan orang-orang Sanggar Gading yang akan dipimpin langsung
oleh Pemimpin Tertingginya. Namun yang di dalam ir ing- iringan itu
ternyata telah terdapat benih- benih perselisihan yang gawat
diantara mereka. Dengan demikian, maka Rahupun tidak meneruskan
perjalanannya. Di padanginya Cempaka yang kemudian memacu kudanya
sampai hilang ditelan kelamnya malam. Sejenak Rahu termangu-mangu.
Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya udara di
daerah Sepasang Bukit Mati itu akan dihirupnya sampai habis. Ketika
ia kemudian berpaling, dilihatnya dalam keremang- an malam bayangan
Sepasang Bukit Mati yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu dekat.
Bukit yang sebelah adalah bukit gundul berbatu-batu, sedang yang
lain adalah bukit berhutan lebat “Di daerah ini ada Semi dan
Bantaradi” berkata Rahu di dalam hatinya “Aku harus menemukan
keduanya” Sejenak Rahu masih berada di tempatnya. Namun kemudian
iapun menarik kendali kudanya. Ketika kuda itu sudah berputar, maka
Rahupun menyentuh leher kudanya, sehingga kudanya itupun mulai
berjalan perlahan-lahan menuju kembali ke bukit gundul. “Aku tidak
perlu bersembunyi” Katanya “dengan demikian, aku akan lebih mudah
untuk bertemu dengan Semi atau Bantaradi, karena mereka akan segera
mengetahui bahwa aku berada disini” Perlahan-lahan Rahu maju semakin
dekat dengan Bukit Gundul. Namun iapun kemudian membelokkan kudanya,
menuju kebagian Timur dari dua Kabuyutan yang semula hanya satu.
“Bantaradi berada di Lumban Wetan” katanya kepada diri sendiri.
Perlahan-lahan kuda Rahu menyusuri jalan bulak ke Lumban Wetan.
Tetapi malam menjadi semakin kelam, sehingga Lumbanpun rasa-rasanya
telah tertidur dengan nyenyaknya. “Mungkin di gardu-gardu ada juga
anak-anak muda yang berjaga-jaga” berkata Rahu di dalamhatinya.
Karena itu, ketika dari kejauhan ia melihat nyala obor disudut
sebuah padukuhan, maka iapun mendekatinya. Lampu itu tentu lampu
minyak disebuah gardu. Ketika Rahu kemudian mendekatinya, maka
anak-anak di dalam gardu itupun terkejut. Mereka segera berloncatan
turun. Lima orang yang berjaga-jaga di gardu itupun kemudian
memencar. Rahu mengerutkan keningnya. Sikap anak-anak Lumban Wetan
ternyata cukup cermat menghadapi orang yang belum dikenalnya.
Seorang yang tertua diantara anak-anak yang berada di gardu itupun
kemudian melangkah maju sambil bertanya “Siapakah Ki Sanak?“ Rahu
meloncat turun dari kudanya Jawabnya “Aku seorang petualang yang
tidak mempunyai tempat tinggal. Aku tidak mempunyai tujuan dan niat
apapun dengan perjalananku. Namaku Rahu” Anak-anak di gardu itu
termangu-mangu. Memang mereka agak curiga melihat seorang berkuda di
malam yang gelap. Apalagi ketika orang itu menyatakan dirinya
seorang petualang. “Ki Sanak“- berkata penjaga di gardu itu “Jika
demikian, kemana Ki Sanak akan pergi malam ini” “Aku lewat
dipadukuharrmu. Seperti yang aku katakan, tanpa maksud” jawab Rahu.
“Aneh” desis anak Lumban Wetan itu. Namun kemudian katanya “Tetapi
jika kau ingin lewat, lewatlah. Tetapi jangan mengganggu padukuhan
kami” Rahu mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Namun
kemudian katanya “Aku memang akan lewat. Tetapi aku ingin bermalam
dibanjar padukuhan ini semalam. Aku sudah terlalu lelah” Anak-anak
muda Lumban Wetan itu termangu-mangu. Namun mereka memang melihat
orang berkuda itu nampak lelah. Tetapi untuk member inya tempat di
banjar, ia masih juga ragu-ragu. Terbayang peristiwa-peristiwa yang
pernah terjadi di padukuhan itu. Orang-orang berkuda telah sering
membuat padukuhan mereka menjadi gemetar. Karena anak-anak muda itu
tidak segera menjawab, maka Rahupun kemudian berkata “Tunjukkan
kepadaku, dimanakah letak banjar padukuhan Lumban Wetan” “Ada
beberapa banjar” jawab anak-anak itu ”Hampir disetiap padukuhan ada
banjar. Jika yang kalian maksud banjar di padukuhan induk Kabuyutan
Lumban Wetan, pergilah ke padukuhan disebelah bulak yang tidak
terlalu panjang ini” Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandangnya
jalan yang diselubungi oleh kegelapan. Namun akhirnya ia berkata
“Baiklah. Aku akan pergi ke padukuhan induk Kabuyutan Lumban Wetan”
Rahu tidak menunggu lagi. Iapun segera meninggalkan anak-anak muda
di gardu itu menuju ke padukuhan induk. “Kenapa kau tunjukkan banjar
itu?“ bertanya seorang anak muda kepada kawannya yang tertua, yang
telah menunjukkan banjar itu kepada Rahu. “Biar lah ia kesana”
jawabnya “dibanjar ada kedua pemburu itu. Jika orang itu ternyata
ingin berbuat jahat, maka pemburu-pemburu itu tentu akan
mencegahnya” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang diantaranya
bergumam “Cepat juga kau berpikir” Sambil menengadahkan dadanya ia
menjawab “Aku termasuk orang terbaik di padukuhan ini. Satu-satunya
orang yang termasuk sepuluh terpilih” “Ah, sombongnya kau” desis
yang lain “meskipun kami tidak termasuk yang sepuluh, kami tidak
kalah pesatnya maju dibanding dengan kalian” Kawannya itu tertawa.
Katanya “Sudahlah. Biarlah orang itu bertemu dengan kedua pemburu
itu. Aku masih lelah. Latihan yang baru saja selesai ini
rasa-rasanya telah memeras segenap tenagaku” “Dan kau langsung
datang kemari?“ bertanya kawannya. “Tentu tidak. Pulang dahulu,
mandi dan makan sekenyang- kenyangnya” jawab anak muda itu. Dalam
pada itu, Rahupun menuju keinduk Kebuyutan Lumban Wetan, la berharap
dapat bertemu dengan Jlitheng. Mungkin di gardu-gardu. Mungkin
disepanjang jalan, apabila anak muda itu berada di sawah. Seandainya
tidak malam itu. besok anak-anak Lumban tentu sudah akan
mempercakapkan kehadirannya. Seorang petualang yang bernama Rahu.
“Bantaradi mengenal namaku dengan baik” desisnya. Dalam pada itu,
ketika Rahu memasuki padukuhan induk, maka digerbang ia terpaksa
berhenti karena beberapa orang anak-anak muda yang berada di gardu
itupun berloncatan turun pula. Seperti di gardu pertama, maka
anak-anak muda itupun bertanya kepadanya, siapakah namanya dan
keperluannya. Ternyata Rahu menjawab dengan jawaban yang agak
berbeda. Katanya “Namaku Rahu. Aku seorang perantau yang kemalaman
dijalan. Apakah aku diperkenankan bermalam disini?“ Anak-anak muda
itupun termangu-mangu. Merekapun telah dibayangi oleh kegelisahan
yang timbul karena kehadiran orang-orang berkuda sebelumnya. Namun,
seperti anak muda di gardu pertama, dibanjar telah t inggal untuk
sementara dua orang pemburu yang memiliki kamampuah yang tinggi.
Yang seorang diantara mereka telah terbukti mampu mengimbangi
kemampuan Daruwerdi. Karena itu, maka mereka tidak begitu cemas lagi
dengan kehadiran orang berkuda itu. Salah seorang dari anak-anak
muda yang berjaga-jaga digerdu itu berkata “Baiklah. Pergilah ke
banjar. Kau akan mendapat tempat untuk beristirahat malamini”
“Apakah dibanjar ada orang yang dapat menerima kehadiranku dan
memberikan tempat kepadaku?“ bertanya Rahu. Anak-anak muda itu
termangu-mangu sejenak. Biasanya dibanjar ada beberapa orang anak
muda yang duduk-duduk sambil berbincang-bincang dengan kedua pemburu
itu. Namun kadang-kadang pada satu saat banjar itu menjadi sepi.
Anak- anak itu masih belum datang, atau mereka berada di gardu-
gardu yang lain. Karena itu, maka seseorang yang paling disegani
diantara anak-anak muda itupun berkata kepada seorang kawannya “
Antarkan orang itu” Tetapi kawannya tidak segera beringsut. Masih
membayang kecemasan di wajahnya. Karena itulah maka anak muda yang
paling berpengaruh itupun berkata pula “Pergilah berdua” Dalam pada
itu, sambil tersenyum Rahu berkata “Kalian mencur igai aku?“ Tidak
seorangpun yang menjawab. Namun Rahu meneruskan “Aku mengerti,
kenapa kalian mencur igai seseorang yang memang belum kalian kenal”
Anak-anak muda Lumban Wetan itu hanya saling berpandangan,
semenetara Rahu berkata lebih lanjut” Marilah. Siapakah yang akan
mengantar aku ke banjar. Akhirnya dua orang anak muda bergeser maju.
Seorang dari mereka berkata “Marilah. Ikutlah aku. Ana-anak muda
itupun kemudian berjalan mendahului petualang yang mengaku bernama
Rahu itu menuju ke banjar Baru kemudian, setelah Rahu mengikutinya
beberapa langkah di belakangnya, anak muda yang seorang lagi
melangkah pula menyusul. Rahu tersenyum melihat kesiagaan anak-anak
Lumbar, Wetan itu. Tetapi iapun mengerti, bahwa Lumban Kulon dan
Lumban Wetan memang pernah disentuh oleh orang-orang Pusparuri dan
orang-orang Kendali Putih. Namun ingatan tentang orang-orang
Pusparuri dan Kendali Putih itu telah menggetarkan hatinya pula.
Tidak mustahil bahwa perjalanan orang-orang Sanggar Gading telah
dicegat oleh orang-orang Pusparuri atau orang-orang Sanggar Gading
telah dicegat oleh orang-orang Pusparuri atau orang-orang Kendali
Putih atau padepokan yang manapun. Bahkan mungkin, satu dua
padepokan telah bergabung menjadi satu, meskipun akhirnya mereka
akan saling bergabung pula. Ternyata jalan ke banjar itu tidak
terlalu panjang. Beberapa saat kemudian, merekapun telah sampai ke
pintu regol banjar yang ternyata masih terbuka. Dalam pada itu,
ketika Rahu memasuki regol itu, iapun tertegun. Dilihatnya dua ekor
kuda tertambat disamping pendapat, seolah-olah tengah dipersiapkan
untuk satu perjalanan. “Kuda siapa?“ bertanya Rahu tiba-tiba. Anak
muda yang mengantarnya, yang kemudian berdiri disebelahnya berkata
“Ada dua orang pemburu bermalam di banjar ini pula. Malam ini mereka
akan pergi berburu. Agaknya kuda-kuda itu adalah kuda mereka yang
siap berangkat” Rahu menjadi berdebar-debar. Ia harus
memperhitungkan kedua orang pemburu itu pula. Mungkin ia benar-benar
dua orang pemburu yang tidak berarti apa-apa karena mereka hanya
mampu memburu binatang. Tetapi dalam kemelut di- daerah Sepasang
Bukit Mati itu, ada orang-orang lain yang ikut pula mengambil
keuntungan. Karena itu, Rahu yang kemudian menambatkan kudanya pula
di depan banjar itupun menjadi sangat berhati-hati menghadapi
keadaan. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, sementara anak-anak muda
yang mengantarnya telah naik ke pendapa sambil mempersilahkan “Mar
ilah. Duduklah. Biarlah aku menyiapkan segala sesuatunya. Ada bilik
di belakang banjar yang dapat kau pergunakan. Jika semuanya sudah
siap. aku akan mempersilahkanmu” Rahu naik ke pendapa. Kemudian
iapun duduk dialas sehelai tikar yang memang sudah terbentang. Di
tengah- tengah pendapa itu terdapat lampu minyak yang tidak terlalu
besar. Dalam pada itu, maka kedua anak-anak muda itupun telah
memasuki ruang dalam banjar dan kemudian langsung menuju kebelakang.
Keduanya tertegun ketika mereka mendengar suara orang-orang yang
sedang bercakap-cakap. Seperti yang diduganya, ketika ia memasuki
bilik yang diperuntukkan bagi kedua pemburu itu, mereka melihat
bahwa kedua orang pemburu itu sudah siap berangkat. “Kalian akan
berburu?“ bertanya anak-anak muda itu. “Ya” jawab kedua orang
pemburu “Aku sudah mengatakannya kepada orang tua yang menunggui
banjar ini. Bahkan orang tua itu telah menyiapkan bekal bagi kami”
“Ada tamu di pendapa” desis salah seorang dari kedua anak-anak muda
itu. “Siapa?“ bertanya salah seorang dari kedua pemburu itu. “Aku
kurang tahu. Bertanyalah sendiri kepadanya, la mengaku seorang
petualang” jawab anak muda itu. Semi dan kawannya termangu-mangu.
Namun keduanyapun kemudian melangkah keluar dari bilik mereka menuju
ke pendapa. Demikian mereka berdir i di pintu pringgitan, hatinya
menjadi berdebar. Ia langsung dapat mengenal orang itu. Rahu. Tetapi
sejenak kemudian ia berusaha menguasai dirinya. Ia tidak segera
mengetahui, manakah yang lebih baik. Apakah ia langsung bersikap
sebagai seseorang yang telah mengenalnya, atau sebaliknya. Sementara
itu Rahu yang duduk ditikar yang terbentang itupun telah melihat,
siapa yang berdir i di pintu. Tetapi diwajahnya sama sekali t idak
membayang kesan, bahwa ia telah mengenalnya. Karena itu, maka
Semipun bersikap serupa pula. Perlahan-lahan ia mendekati tamunya
diikuti oleh kawannya yang ragu-ragu pula. “Selamat datang Ki Sanak”
berkata Semi. Rahu mengangguk hormat sambil menjawab “Terima kasih.
Apakah kalian pemimpin anak-anak muda Lumban Wetan?“ Semi tersenyum.
Jawabnya “Bukan. Aku adalah seorang pemburu yang menumpang dibanjar
ini bersama kawanku ini” “O, begitu” desis Rahu “kebetulan sekali
Kita akan sama- sama menumpang di banjar ini” Semi tersenyum.
Bersama kawannya iapun segera duduk menemani tamu yang baru datang
itu. Sejenak kemudian, maka anak-anak muda yang mengantarkan Rahu ke
banjar itupun minta diri untuk kembali ke gardu. “Terima kasih atas
kebaikan kalian” berkata Rahu kepada anak-anak muda itu “Ternyata
disini aku mendapat kawan” “Silahkan” jawab salah seorang anak muda
itu “Jika kedua pemburu itu akan pergi juga berburu, kau dapat pergi
ke bilikmu yang sudah kami siapkan. Disebelah banjar ini t inggal
seorang tua yang menunggui banjar ini. Aku sudah member itahukan
kepadanya, bahwa selain kedua pemburu itu, ada seorang lagi yang
harus dilayaninya” “Terima kasih, terima kasih. Kalian terlalu baik”
desis Rahu. Anak-anak muda itu hanya tersenyum saja, Merekapun
kemudian meninggalkan banjar itu, kembali kegardu. “Bagaimana sikap
petualang itu?“ bertanya kawan- kawannya. “Nampaknya ia orang baik,
meskipun agak kasar. Ia sekarang duduk bersama kedua pemburu.
Untunglah bahwa keduanya masih belum berangkat, meskipun sudah siap.
Jika kami lambat beberapa langkah, tentu ia sudah meninggalkan
banjar” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka tidak perlu
mencemaskan kehadiran orang yang menyebut dir inya petualang bernama
Rahu itu, justru karena di banjar ada kedua pemburu yang mereka
anggap memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga keduanya tentu akan
dapat mencegah j ika petualang itu berbuat sesuatu yang tidak pada
tempatnya. Sementara itu, ketika anak-anak muda itu telah kembali
kegardunya, maka mulailah Rahu dan kedua pemburu itu berbicara
wajar. Dengan singkat Rahu menceritakan, bahwa Cempaka sudah
mempersiapkan saat-saat penyerahan Pangeran yang akan ditukarkan
dengan sebuah pusaka yang sangat di hormati banyak orang itu. “Kau
sengaja tinggal disini?“ bertanya Semi. “Ya. Aku sudah mendapat ijin
Cempaka. Aku harus mengamati keadaan, agar Daruwerdi tidak melakukan
pokal yang dapat mengganggu saat-saat penyerahan itu” jawab Rahu.
“Kau lakukan dengan diam-diam, atau sengaja kau lakukan dengan
terbuka?“ bertanya Semi. “Aku lakukan dengan terbuka. Biarlah
Daruwerdi mengetahui kehadiranku disini” jawab Rahu, lalu “Cempaka
mencemaskan keadaanku karena ia tidak mengetahui bahwa disini hadir
kalian berdua dan Bantaradi” Rahu berhenti sejenak, kemudian
tiba-tiba saja “He, apakah kau sudah berhubungan dengan anak itu?“
“Ya. Aku sudah berhubungan dengan anak yang dipanggil Jlitheng itu
meskipun diluar hubungan wajar, karena disini ia adalah seorang yang
tidak terhitung anak-anak muda terbaik” jawab Semi. “Bagaimana
menurut penilaianmu atas anak itu? Meskipun ia dapat membuktikan,
bahwa ia adalah putera Pangeran Surya Sangkaya, namun kita tidak
mengetahui perkembangan pribadinya” “Nampaknya ia dapat dipercaya,
la telah berbuat banyak bagi Lumban. Namun diluar kemampuannya, ia
tidak dapat mencegah pertentangan antara anak-anak Lumban Kulon dan
Lumban Wetan yang sedang berebut air” “Air?“ bertanya Rahu. “Satu
persoalan tersendiri bagi Lumban” jawab Semi yang kemudian
menceriterakan pertentangan yang semakin panas antara anak-anak muda
Lumban Kulon dan Lumban Wetan. “Aku justru telah terlibat” berkata
Semi, yang menyelesaikan ceriteranya dengan keterlibatannya. Rahu
justru tersenyum. Katanya “Kau sudah menjajagi kemampuan Daruwerdi.
Namun justru karena itu, kita harus memikirkan apa yang akan
dilkukan kemudian. Seandainya ia seorang diri mener ima Pangeran
yang sakit itu, yang pada satu saat akan sembuh atau sakitnya
menjadi semakin berkurang. Apakah ia dapat berbuat sesuatu, mungkin
memaksakan kehendaknya, apalagi membalas dendam seperti yang
dikatakannya. Aku menduga, bahwa Pangeran itu mempunyai kemampuan
ilmu yang tinggi Jika saja ia tidak sedang sakit, maka mungkin
sekali kedatangan kami di istananya itupun akan kehilangan arti sama
sekali. Mungkin kitapun akan mengalami nasib yang tidak baik.
Agaknya itu adalah salah satu kecermatan kerja Sanggit Raina” Semi
mengangguk-angguk. Katanya “Memang menar ik sekali. Bahkan cukup
menumbuhkan kecur igaan bahwa Daruwerdi akan menjebak orang-orang
Sanggar Gading” “Alasan itulah yang aku sebutkan sehingga aku dapat
tinggal disini” desis Rahu. “Tetapi orang-orang Sanggar Gading telah
mengenal aku. Apakah kehadiranmu bersamaku disini tidak menarik
perhatian mereka?“ bertanya Semi t iba-tiba. “Yang ada disini baru
aku. Cempaka telah kembali. Aku kira orang-orang Sanggar Gading itu
tidak akan mengir imkan orang lain lagi” jawab Rahu. Namun kemudian
“Tetapi seandainya demikian, aku dapat mengatakan, bahwa kau sengaja
aku panggil untuk membantuku disini, tentu saja atas tanggung
jawabku jika terjadi kebocoran” Semi mengangguk-angguk. “Tetapi bagi
Daruwerdi kita adalah orang lain” berkata Rahu kemudian. Ternyata
malam itu Semi mengurungkan niatnya untuk berburu. Ia harus
membicarakan banyak hal dengan Rahu. Tetapi pembicaraan mereka sama
sekali tidak menumbuhkan kecurigaan anak-anak muda Lumban yang
ketika nganglang dari gardu parondan masih melihat mereka duduk
berbincang di pendapa. “Mereka justru dapat menyesuaikan diri
masing-masing“ berkata anak-anak muda itu “nampaknya mereka sedang
mencer iterakan pengalaman masing-masing, sehingga pemburu itu
mengurungkan rencananya malam ini” Dalam pada itu, Rahu dan Semi
sudah menemukan beberapa kesepakatan atas kehadiran mereka di Lumban
Wetan. Semilah yang wajib memberikan keterangan tentang kehadirannya
kepada Jlitheng pada kesempatan yang dapat dicarinya sendir i.
“Besok aku akan menemui Daruwerdi” berkata Rahu “supaya ternyata
bahwa kehadiranku bukanlah kehadiran yang diam-diam dan bersembunyi
Dengan demikian, maka ialah yang harus melakukan rencananya dengan
diam-diam, jika ia memang mempunyai niat untuk menjebak kami”
“Apakah itu bukan satu kekeliruan” desis Semi “sebaiknya biarlah
Daruwerdi melakukannya dengan terbuka. Dengan demikian kau akan
segera mengetahuinya” “Kita akan dapat memanfaatkan Jlitheng untuk
membantu kita. Jika ia melakukannya dengan diam-diam, maka berharap
bahwa Jlitheng akan dapat mengetahuinya” sahut Rahu. Semi
mengangguk-angguk. Desisnya “Aku percaya kepada anak muda yang aneh
itu. Meskipun aku tidak tahu, apakah sifat-sifat kesatria dan
keluhuran budi Pangeran Surya Sangkaya ada pada dirinya” “Agaknya
memang demikian” jawab Rahu. Semi masih mengangguk-angguk. Namun
tiba-tiba saja ia berkata “Rahu, jika kau lelah, silahkan
beristirahat. Mungkin besok kita akan berbicara lagi setelah tumbuh
perkembangan baru. Aku masih harus melihat, apakah anak-anak Lumban
Kulon benar akan bertindak kasar terhadap anak-anak Lumban Wetan.
Jika demikian, maka aku masih akan diganggu oleh persoalan itu”
“Selesaikan persoalanmu sebaik-baiknya” berkata Rahu “Tetapi jika
peristiwa itu bersamaan dengan kedatangan orang-orang Sanggar
Gading, maka mungkin akan dapat timbul salah paham. Mungkin
orang-orang Sanggar Gading mempunyai dugaan yang salah, sehingga
mereka mengambil sikap yang salah pula terhadap anak-anak Lumban
Kulon -dan Lumban Wetan. Jika demikian maka akan jatuh korban yang
tidak berarti sama sekali. Mereka yang tidak bersangkut paut sama
sekali dengan persoalan Daruwerdi dan orang-orang Sanggar Gading
justru akan mengalami nasib yang buruk” “Kau dapat mengatakannya
kepada orang-orang Sanggar Gading j ika saatnya mereka datang” jawab
Semi. “Akan aku coba” desis Rahu. Demikianlah maka Rahupun kemudian
masuk ke dalam bilik yang sudah disediakan baginya, sementara Semi
dan kawannyapun kembali pula ke dalam biliknya. Tetapi ia sempat
mengetuk pintu orang tua penunggu banjar itu dan berkata dari luar
pintu “Aku tidak jadi pergi. Tetapi makanan yang kau berikan telah
habis aku makan” Ternyata orang tua itu hanya menggeliat sambil
berguman “Terserahlah” Semi tersenyum. Dihari berikutnya, Rahu
sengaja ingin menemui Daruwerdi. Ia ingin menyatakan bahwa ia tetap
tinggal di padukuhan itu dan ia ingin pula mengetahui perkembangan
terakhir seperti yang dikatakan oleh Semi tentang hubungan yang
memburuk antara anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Kedatangan
Rahu memang mengejutkan Daruwerdi. Ia lebih terkejut dari saat ia
melihat kehadirannya semalam. “Kau masih disini?“ bertanya
Daruwerdi. “Ya” jawab Rahu “Aku ingin meyakinkan, apakah kau t idak
berlaku curang” Daruwerdi tertawa. Katanya “Kau memang gila. Orang-
orang Sanggar Gading memang gila. Kalian selalu dibayangi oleh
prasangka buruk, karena kelakuan kahan sendir i. Seolah- olah setiap
orang berkelakuan buruk seperti orang Sanggar Gading. Lebih dari itu
setiap orang kau sangka berbuat licik seperti yang kalian lakukan”
Rahu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menjawab “Apakah
kau beranggapan demikian?” “Sejak semula. Bukan saja terhadap
orang-orang Sanggar . Gading. Tetapi juga orang-orang Pusparuri,
orang-orang Kendali Putih dan orang-orang lain yang tamak” jawab
Daruwerdi. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Terserah
anggapanmu. Tetapi kami wajib berhati-hati terhadap orang seperti
kau. Apakah kira-kira Pangeran yang akan diserahkan kepadamu itu
tidak akan menganggap bahwa kau juga seorang yang sangat licik?
Bahkan mungkin orang yang paling licik diseluruh dunia?“ Daruwerdi
tertawa. Katanya kemudian “Baiklah apa yang ingin kau lakukan” Rahu
mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya “Daruwerdi, menurut
pendengaranku, ada persoalan yang timbul antara anak-anak muda
Lumban Kulon dan Lumban Wetan?“ “Ah, itu permainan anak-anak
ingusan.-Apa kepentinganmu?“ bertanya Daruwerdi “Aku mengingat
peristiwa yang besar dalam, keselurhan“ jawab Rahu. ”Peristiwa apa?“
bertanya Daruwerdi. “Jika per istiwa itu terjadi tepat pada
kedatangan orang- orang Sanggar Gading, apakah tidak akan dapat
menimbulkan salah paham? Jika orang-orang Sanggar Gading tidak
sempat menelaah persoalan itu sebaik-baiknya, maka kami akan
menyangka, bahwa kau akan menjebaknya” jawab Rahu sehingga dengan
demikian mungkin akan menimbulkan persoalan yang lain sama sekali
dengan persoalan yang sudah kita. bicarakan disini“ Tetapi Daruwerdi
justru tertawa semakin panjang. Katanya “Jangan memikirkan yang
bukan-bukan. Sudahlah. Lupakan saja semuanya” Daruwerdi berhenti
sejenak, lalu “He, dimana kau tinggal selama kau mengawasi aku?“ “Di
banjar padukuhan induk Kabuyutan Lumban Wetan“ jawab Rahu. “Kau
tinggal bersama dua orang pemburu?“ bertanya Daruwerdi dengan kerut
merut dikeningnya. Rahu tersenyum. Jawabnya “Dua ekor monyet yang
menjemukan. Mereka terlalu banyak bicara. Aku sekali-kali ingin
membungkam mulut mereka” “Jangan main-main dengan kedua orang itu
“Daruwerdi memper ingatkan “seperti yang kau cemaskan dengan anak-
anak muda Lumban, maka dengan kedua orang itu mungkin sekali akan
dapat menumbuhkan persoalan lain. Bahkan mungkin kau akan dibunuhnya
seperti seekor kijang” Tetapi Rahu tertawa. Dengan suara lantang ia
menjawab “Kau masih sempat bergurau dalam keadaan seperti ini
Daruwerdi Kau memang, orang yang luar biasa. Seolah-olah kau anggap
segala peristiwa yang akan sama-sama kita hadapi itu sebagai lelucon
saja” “Aku tidak berbicara tentang persoalan kita. Tetapi tentang
kedua pemburu itu” jawab Daruwerdi. “Ya. Itulah yang aku maksud.
Kedua pemburu itu dalam hubungannya dengan aku” berkata Rahu pula
“Kau masih juga sempat memper ingatkan aku, bahwa orang itu mungkin
akan membunuhku. Bukankah itu satu lelucon yang sangat menarik”
Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun kemudian dengan
sungguh-sungguh ia berkata “Jangan berkata begitu. Aku yakin, bahwa
kedua orang pemburu itu bersama-sama akan dapat membunuhmu j ika kau
hanya seorang diri” Rahu tertawa semakin keras. Katanya “Aku, orang
Sanggar Gading kepercayaan Cempaka yang bertugas untuk mengawasimu
dalam keadaan yang gawat dan sungguh- sungguh, akan dapat dibunuh
oleh dua orang pemburu kancil?“ Daruwerdipun ikut tersenyum. Tetapi
hatinya terasa pahit, bahwa ia yang pernah mengalaminya, tidak dapat
mengalahkan salah seorang dari keduanya. Tetapi ia sama sekali tidak
ingin mengatakannya kepada Rahu, orang Sanggar Gading itu. Yang
dikatakannya adalah kemampuan pemburu itu menangkap seekor harimau
yang besar tanpa melukai harimau itu. “Bukankah itu hal yang sangat
wajar?“ sahut Rahu “seorang petani yang tidak pernah berkelahipun
akan dapat melakukannya” “Mustahil” sahut Daruwerdi “ bagaimana
mungkin” “Mudah sekali. Diber inya umpan sepotong daging yang sudah
diberi racun. Mungkin racun warangan, mungkin getah salah satu
pepohonan yang diketahui beracun, mungkin cara- cara lain semacam
itu. Bukankah orang itu akan dapat menangkap harimau itu tanpa
melukainya?“ Daruwerdi berpikir sejenak. Namun kemudian
mengangguk-angguk sambil tersenyum “Mungkin. Mungkin sekali” Namun
demikian Daruwerdi t idak dapat melepaskan kenyataan bahwa ia tidak
dapat mengalahkan salaH seorang dari keduanya. Dalam pada itu, maka
Rahupun berkata kepada Daruwerdi “Di akhir pekan, orang-orang
Sanggar Gading akan datang. Jangan berbuat gila. Aku akan dapat
melaporkannya sebelum mereka memasuki jebakanmu” Daruwerdi tertawa.
Tetapi disela-sela tertawanya ia bertanya “Bagaimana jika kau mati
sebelum mereka datang? Apakah kau akan dapat melaporkannya?“ “Tentu,
meskipun dengan cara lain. Jika aku tidak datang di tempat yang
telah ditentukan, itu berarti bahwa aku mati” jawab Rahu. “Dibunuh
oleh pemburu-pemburu itu. meskipun mungkin dengan cara yang
dipakainya membunuh harimau?” desak Daruwerdi. “Nasibmulah yang
buruk” karena kau akan mati pula” jawab Rahu. “Kenapa aku?“ bertanya
Daruwerdi. “Orang-orang Sanggar Gading tentu akan menyangka bahwa
kaulah yang telah membunuh aku dengan cara yang paling curang,
karena mereka percaya bahwa kau tidak akan berhasil mengalahkan aku
dalamperkelahian yang jujur” “Persetan. Kau sangka bahwa kau akan
dapat mengalahkan aku dalam perang tanding?“ bertanya Daruwerdi
dengan wajah tegang. Rahu tertawa. Katanya “Tentu. Aku yakin, dan
orang-orang Sanggar Gadingpun yakin” “Jika saja kha tidak sedang
terlibat dalam persoalan yang penting seperti sekarang ini, aku
ingin membunuhmu” geram Daruwerdi. Rahu tertawa. Katanya “Tetapi
waktu masih panjang. Jika kau benar-benar ingin melakukannya sesudah
persoalan kita selesai, maka kita masih mempunyai cukup waktu.
Kecuali jika kau akan mati dibunuh oleh Pangeran yang ingin kau
tukar dengan pusaka itu” “Jangan mengigau” bentak Daruwerdi “ingat
Rahu. Sekali- kali aku ingin membukt ikan katamu” “Kapanpun kau
kehendaki Daruwerdi. Aku bukan orang yang sekedar berbicara. Karena
itu, akupun tidak cemas menghadapi dua orang pemburu yang berada di
banjar itu. Daruwerdi menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih
menyadari, bahwa masih ada tugas yang penting yang harus
dilakukannya di tempat itu. Karena itu, maka ia berusaha menahan
diri, apapun yang dikatakan oleh orang yang bernama Rahu itu.
Sementara itu, setelah Rahu kembali ke banjar, maka ia telah
mengatur waktu untuk dapat bertemu dengan Semi dan Jlitheng
sekaligus untuk membicarakan rencana mereka menghadapi keadaan dalam
keseluruhan. Namun dalam pada itu, ternyata anak-anak Lumban Kulon
telah mengambil sikap sendiri. Mereka telah bersiap siap untuk
merubah pintu air yang terdapat di bendungan. “Kita tidak dapat
menunggu lagi. Daruwerdipun sudah setuju. Tetapi seandainya
Daruwerdi merubah pikirannya, kita tidak peduli lagi. Ia tidak akan
berbuat apa-apa. karena ia memer lukan kita sekarang, setelah akan
dapat mengalahkan pemburu itu” berkata Nugata “Apakah benar ia tidak
dapat mengalahkannya?“ bertanya salah seorang kawannya. “Ya. Aku
percaya akan beritu itu” jawab Nugata “dengan demikian, maka ia
memerlukan sandaran. Agaknya itu pulalah sebab-sebanya maka ia jutru
menganjurkan agar kita melakukan dalam pekan-pekan ini”" “Jadi?“
bertanya kawannya yang lain. “Besok kita pergi kebendungan. Kita
akan membuka pintu air yang menuju kesawah kita, lebih besar. Kita
akan menunggu, apa yang akan dilakukan oleh anak-anak Lumban Wetan.
Jika mereka akan merubah pintu air yang kita buka. maka kita akan
mencegahnya. Jika perlu dengan kekerasan. Karena itu, bersiaplah
sebaik-baiknya. Dengan demikian, maka anak-anak Lumban Kulon itupun
segera mempersiapkan dir i. Rasa-rasanya mereka mendapat limpahan
kepercayaan untuk melakukan satu tugas yang sangat penting bagi
padukuhan mereka. Karena itu, maka menjelang, malam, mereka-telah
berlatih sebaik-baiknya. Jika besok pagi-pagi mereka harus bertempur
melawan anak-anak Lumban Wetan, maka mereka sudah bersiap sepenuhnya
Namun dalam pada itu, selagi anak-anak muda Lumban Kulon bersiap
menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi dengan anak-anak Lumban
Wetan apabila mereka membuka pintu air yang menghadap ke daerah
persawahan di Lumban Kulon, dua orang yang tidak dikenal telah
mendekati padukuhan itu. Dengan hati-hati mereka memperhatikan,
bagaimana anak-anak Lumban Kulon itu berlatih. “Mereka telah
mendapat kemajuan yang pesat” berkata salah seorang dari keduanya.
“Hasil tangan anak gila itu” desis yang lain. “Apakah yang akan kita
lakukan terhadap mereka?“ bertanya kawannya. “Tidak apa-apa. Kita
hanya melihat saja” “Biasanya mereka bersama Daruwerdi. Tetapi kali
ini Daruwerdi tidak ada” “Sebentar lagi ia akan datang” “Dan kita
tetap berada disini?“ “Ya. Kenapa? Kau takut?“ “Apa kau pernah
melihat aku ketakutan?“ Kawannya tertawa tertahan. Namun mereka
masih tetap memperhatikan anak-anak Lumban Kulon yang sedang
berlatih. Ketika anak-anak muda itu sedang beristirahat, dan Nugata
member ikan penjelasan kepada mereka, maka kedua orang itupun
mengetahui, apa yang akan terjadi besok pagi. Tetapi keduanya
tertarik mendengar ceritera diantara anak- anak muda itu tentang dua
orang pemburu di Lumban Wetan. “Siapakah kedua pemburu itu?“
bertanya yang seorang. Aku datang bersamamu. Kenapa kau tanya
kepadaku?“ jawab yang lain. Kawannya tersenyum. Katanya “Kau
gelisah” Yang lain tidak menjawab. Tetapi terdengar ia mengumpat
Sementara itu anak-anak Lumban Kulon masih tetap berlatih. Setelah
beristirahat sejenak, maka merekapun segera mulai lagi. Terdengar
seorang diantara mereka berkata “Daruwerdi belum datang” “Mungkin ia
mengira bahwa kita berada di dekat bukit gundul seperti biasanya”
sahut yang lain. “Tidak” berkata Nugata “Aku sudah mengatakan
kepadanya, bahwa hari ini kita berlatih disini. Kita akan dapat
mempersiapkan apa yang kurang menurut pendapat Daruwerdi. Aku kira
ia akan datang” Beberapa saat anak-anak muda itu meneruskan latihan.
Bahkan ada diantara, mereka yang berlatih mempergunakan senjata.
Ketika kedua orangyaog memperhatikan latihan itu hampir menjadi
jemu, maka mereka melihat seseorang memasuki tempat itu. Daruwerdi.
Yang seorang penggamit kawannya sambil berdesis “Daruwerdi telah
datang” Kawannya mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab, karena
terdengar Daruwerdi berkata, lantang “Aku tidak ingin kalian
mempergunakan senjata” “Kenapa?“ bertanya Nugata. “Senjata akan
dapat membunuh. Apakah kalian memang bertekad untuk saling
membunuh?“ bertanya Daruwerdi. Anak-anak Lumban Kulon itu saling
berpandangan. Ada niat mereka untuk mengalahkan lawannya mutlak.
Jika perlu ada satu dua orang korban diantara mereka, agar dengan
demikian mereka akan menjadi jera. Daruwerdi nampaknya mengerti apa
yang bergejolak di dalam hati mereka. Karena itu maka Katanya
“Mungkin dengan demikian, kalian dapat berbuat sesuatu untuk
memuaskan hati kalian. Mungkin dengan jatuhnya korban satu atau dua
orang diantara mereka maka mereka akan menjadi jera. Tetapi
bagaimana jika korban itu tidak saja terdapat diantara anak-anak
Lumban Wetan. Bagaimana jika yang menjadi korban itu anak-anak
Lumban Kulon. Mungkin kau, kau, kau atau kau?“ Terasa bulu tengkuk
anak-anak muda Lumban Kulon itu meremang. Bahkan mereka yang telah
ditunjuk oleh Daruwerdi, merasa seolah-olah nafasnya telah terhenti.
Namun dalam pada itu, Nugata berkata “Bagaimana j ika anak-anak
Lumban Wetan justru bersenjata” “Jika kalian tidak bersenjata, aku
kira anak-anak Lumban Wetanpun tidak bersenjata. Tetapi jika mereka
melihat kalian bersenjata, maka mereka akan membawa senjata pula”
jawab Daruwerdi. Anak-anak itu itermangu-mangu. Namun akhirnya
Nuga-ta berkata “Baik. Kita tidak akan membawa senjata. Kita tidak
akan membawa pedang, tombak atau keris. Tetapi kita akan membawa
cangkul, parang dan mungkin linggis. Betapapun juga alat-alat itu
perlu untuk membuka pintu air yang menghadap ketanah persawahan
kita” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
mencegahnya lagi. Demikianlah, maka anak-anak Lumban Kulon itu
meneruskan latihan mereka. Tetapi t idak terlalu lama, karena
Daruwerdi berkata “Kalian akan menjadi kelelahan dan besok kalian
sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk membuka bendungan itu.
Menurut perhitunganku, besok anak-anak Lumban Wetan belum akan
berbuat sesuatu. Baru setelah mereka menyadari, bahwa kalian telah
mulai membuka dan melebarkan pintu air itu, mereka akan berbuat
sesuatu. Nampaknya anak-anak Lumban Wetan juga bukan penakut yang
tidak berani menghadapi akibat yang pahit” Dalam pada itu, salah
seorang dari kedua orang yang mengamati latihan itupun menggamit
kawannya dan memberi isyarat untuk pergi. Sambil beringsut dar i
tempatnya salah seorang dari keduanya berbisik “Mereka akan segera
meninggalkan tempat itu. Kita harus menyingkir” “Masih agak lama”
jawab yang lain “Daruwerdi tentu masih akan memberikan beberapa
petunjuk” “Lebih baik kita pergi. Kita harus mendapat keterangan
tentang dua orang pemburu yang disebut-sebut itu” berkata yang lain.
Keduanyapun segera meninggalkan tempat itu. Yang seorang bergumam
hampir kepada diri sendiri “Ternyata yang kita dengar adalah benar.
Anak-anak Lumban Kulon sudah mampu menggenggam senjata” “Tetapi
hanya sekedar berkelahi dengan anak-anak Lumban Wetan” sahut yang
lain “bagi kita, apa yang mereka lakukan tidak berharga sama sekali”
Kawannya tertawa. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi tentang
anak-anak Lumban Kulon itu. Bahkan ia berkata “Bagaimana kita dapat
mengetahui tentang kedua pemburu itu?“ “Kita harus mencari jalan”
jawab kawannya “menurut pendengaran kami, hubungan antara Daruwerdi
dan orang- orang Sanggar Gading nampaknya akan mencapai kesepakatan.
Pangeran itu telah hilang dar i istananya” “Apakah menurut dugaanmu,
antara kedua pemburu dan hilangnya Pangeran itu ada hubungannya?“
bertanya yang lain. “Mungkin kedua pemburu itu juga orang-orang
Sanggar Gading yang sedang mencari hubungan dengan Daruwerdi untuk
satu penyerahan timbal balik” jawab kawannya “segalanya memang harus
dipersiapkan sebaik-baiknya jika orang-orang Sanggar Gading tidak
ingin gagal. Daruwerdi bukan seorang yang bodoh” “Tetapi orang-orang
Sanggar Gading juga bukan anak-anak lagi” Kawannya
mengangguk-angguk. Untuk beberapa saat mereka t idak berbicara lagi.
Langkah mereka telah membawa keduanya kebulak panjang yang sepi dan
gelap. “Kita akan tinggal untuk beberapa hari di daerah ini” berkata
yang seorang kemudian. “Ada hutan, ada bukit gundul ada
tempat-tempat lain untuk bersembunyi disiang har i. Tetapi mungkin
kita harus langsung bertemu dengan kedua pemburu itu” sahut
kawannya. “Kita akan melihat suasana” jawab yang lain. “Tetapi kita
akan dapat melihat tontonan yang akan dipertunjukkan oleh anak-anak
Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Mungkin akan dapat menjadi pengendor
ketegangan dalam tugas yang rumit ini” “Asal dengan demikian, kita
tidak terjerat. Mungkin oleh Daruwerdi, mungkin oleh pemburu yang
tidak kita kenal itu, atau mungkin oleh siapapun juga” “Kita cukup
mempunyai perhitungan. Kita bukan anak- anak” gumam yang lain.
Demikianlah, maka kedua orang itupun berusaha menemukan tempat yang
paling baik untuk bersembunyi. Mereka mengambil kuda mereka yang
disembunyikan, dan kemudian menelusur i tempat-tempat yang mereka
anggap akan dapat memberikan perlindungan disiang hari. Dalam pada
itu, Rahu telah berhasil bertemu dengan Jli- theng bersama Semi dan
kawannya tanpa menarik perhatian. Mereka telah membicarakan
perkembangan terakhir dari persoalan-persoalan yang mereka hadapi.
Persiapan orang- orang Sanggar Gading untuk menyerahkan Pangeran itu
diakhir pekan. Sementara anak-anak Lumban Kulon yang nampaknya
benar-benar ingin memaksakan kehendaknya atas anak-anak Lumban
Wetan. “Kita harus berhati-hati” berkata Jlitheng “Kita jangan salah
langkah menanggapi persoalan anak-anak Lumban” “Semuanya masih harus
diperhitungkan dan dipertimbangkan” desis Rahu. Lalu “Aku akan
melihat, apa yang dikerjakan anak-anak Lumban Kulon sekarang ini”
Meskipun agak lambat, tetapi Rahu masih sempat mendengar percakapan
beberapa orang anak-anak muda di Lumban Kulon yang berada di
gardu-gardu, setelah mereka menyelesaikan latihan-latihan mereka
atas petunjuk Daruwerdi, agar tenaga mereka tidak terhisap habis”
Dari mereka Rahu yang mengendap-endap mendengar bahwa anak-anak
Lumban Kulon akan membuka bendungan dihari ber ikutnya. “Biar saja
mereka lakukan” berkata Rahu kepada Semi ketika ia sudah berada di
banjar. “Anak-anak Lumban Wetan tidak akan membiarkannya” berkata
Semi. Kita akan melihat, apa yang mereka lakukan besok. Kau
nampaknya dekat sekali dengan anak-anak Lumban Wetan, apalagi yang
langsung kau latih dalam olah kanuragan. Beri tahu mereka, agar
mereka tidak bergerak besok. Kita melihat apa yang akan dikerjakan
oleh anak-anak Lumban Kulon. Apakah Daruwerdi langsung melibatkan
dir i atau tidak” pesan Rahu. Semi mengangguk. Ia mengerti, untuk
menilai sikap Daruwerdi, maka sebaiknya anak-anak Lumban Wetan tidak
langsung berbuat apa-apa. Demikianlah, menjelang pagi, anak-anak
Lumban Kulon sudah siap. Mereka membawa alat-alat yang diperlukan
untuk membuka pintu air dan membuatnya lebih lebar. Meskipun
demikian, nampaknya alat-alat yang mereka bawa agak
berlebih-lebihan. Hampir setiap orang membawa parang linggis atau
kampak yang akan dapat mereka pergunakan sebagai senjata jika per
lu. "Semipun telah bangun pagi-pagi. Dengan tergesa-gesa ia menemui
beberapa anak-anak muda yang berpengaruh. Terutama sepuluh orang
yang mendapat latihan khusus daripadanya. “Jangan berbuat sesuatu
hari ini “ pesan Semi. “Darimana kau tahu, bahwa mereka akan
bergerak hari ini” bertanya salah seorang dari anak-anak itu. “Aku
mendengar ber ita itu pagi ini. Beberapa orang yang pergi kepasar
melihat kesiagaan mereka. Tetapi jangan member ikan perlawanan.
Biarlah mereka melakukannya” berkata Semi. “Dan sawah-sawah kita
akan kering? Aku akan minta pertimbangan Jlitheng. Ia adalah orang
yang paling banyak berbuat bagi air itu” sahut salah seorang dari
anak-anak Lumban Wetan itu. “Bukan tidak berbuat apa-apa. Tetapi
kita menunggu dan menilai apakah yang akan mereka perbuat” desis
Semi. Anak-anak itu menjadi tegang. Namung demikian, mereka tetap
akan berbicara dengan Jlitheng. Meskipun Jlitheng tidak termasuk
sepuluh anak muda terbaik di Lumban Wetan, namun ia adalah orang
yang bekerja bersama orang tua di lereng bukit, untuk menj inakkan
air yang melimpah di lereng bukit itu. Semi tidak mencegahnya.
Dibiarkannya anak-anak itu menemui Jlitheng untuk minta per
lindungannya, bagaimanakah sebaiknya menghadapi anak-anak Lumban
Kulon. Bahkan ia telah mengikuti anak-anak itu mencari Jlitheng.
Jlitheng terkejut ketika ia melihat sekelompok anak-anak muda
bersama Semi datang kepadanya. Nampaknya ada sesuatu hal yang sangat
penting akan mereka sampaikan. Sebenarnyalah, dengan singkat
anak-anak muda itu mengatakan apa yang mereka dengar dari Semi. Dan
merekapun ingin mendapat tanggapan Jlitheng apakah yang sebaiknya
mereka lakukan. “Kaulah yang bekerja dengan susah payah bersama
orang tua di lereng bukit itu,” berkata-seorang kawannya “Tentu kami
akan mendengar tanggapannmu. Apakah yang sebaiknya harus kami
lakukan. Apakah kami harus mencegahnya, atau kami akan melihat lebih
dahulu apa yang akan mereka lakukan seperti pendapat pemburu ini”
Jlitheng memandang Semi sekilas. Namun kemudian iapun berkata “Tentu
ia lebih tahu menghadapi keadaan seperti ini. Biarlah kita mendengar
pendapatnya” “Sudah aku katakan” sahut Semi. Anak-anak muda itupun
mengangguk-angguk. Dan sekali lagi Semi menjelaskan “Kita jangan
tergesa-gesa. Mungkin kita terlampau berprasangka, sehingga kita
dapat mengambil sikap yang salah” “Ya” sahut Jlitheng “Kita akan
melihat apa yang akan terjadi pada bendungan itu. Akupun akan
memberitahukan kepada orang tua di lereng bukit itu. Ialah yang
pertama-tama berkenalan dengan air yang melimpah dan liar itu”
Demikianlah, anak-anak muda itupun kemudian mengurungkan niatnya
untuk mencegah anak-anak Lumban Kulon. Namun dari mulut kemulut,
berita tentang tingkah laku anak-anak Lumban Kulon itu sudah
tersebar diantara anak- anak muda Lumban Wetan. “Kita bersiap. Jika
perlu, kita tidak segan bertindak. Kita tidak silau lagi dengan
olahi kanuragan yang mereka pelajari dari Daruwerdi. Meskipun kita
terlambat mulai, tetapi kita melakukannya setiap har i. Sedangkan
mereka t idak” berkata salah seorang dari anak-anak muda itu.
“Bersiaplah” berkata Semi “tetapi jangan bertindak sendiri- sendiri
j ika kalian masih mengakui aku sebagai pelatih kalian” Anak-anak
muda itupun kemudian meninggalkan Jlitheng yang bersiap-siap untuk
pergi ke bukit. Namun bagaimanapun juga anak-anak muda itupun telah
merasa tersinggung sekali, bahwa anak-anak muda Lumban Kulon
benar-benar akan memaksakan kehendaknya. Anak-anak muda Lumban Wetan
itupun kemudian telah berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Di
sawah, disudut desa, di padang tempat mereka menggembala dan
saat-saat mereka membelah kayu di kebun-kebun. “Kita menunggu” desis
seseorang. “Apakah kita tidak ingin melihat apa yang akan dilakukan
oleh anak-anak Lumban Kulon” tiba-tiba seseorang bertanya.
“Sebaiknya kita melihat apa yang mereka lakukan, meskipun kita tidak
akan berbuat apa-apa” sahut yang lain. Beberapa orang akhirnya
sepakat untuk melihat meskipun hanya dari kejauhan, apakah yang akan
dilakukan oleh anak- anak Lumban Kulon atas pintu air yang telah
mereka buat bersama-sama Tetapi agar yang mereka lakukan itu tidak
menumbuhkan kekecewaan dihati Semi, maka anak-anak itupun memer
lukan menemuinya dan mengatakan maksudnya” “Jangan terlalu banyak”
berkata Semi “Aku kira sepuluh orang sudah cukup. Tentu saja sepuluh
orang terbaik diantara kalian” Anak-anak muda Lumban Wetan itu tidak
membantah. Mereka telah menugaskan sepuluh orang terbaik untuk
menyaksikan tingkah laku anak-anak Lumban Kulon yang akan membuka
pintu air dibendungan. Sebenarnyalah, bahwa anak-anak Lumban Kulon
telah melakukan rencananya. Beriringan disepanjang jalan mereka
menuju ke bendungan dengan alat-alat masing-masing. Langkah mereka
menunjukkan kegairahan kerja yang akan mereka lakukan. Mereka merasa
bahwa mereka telah melakukan yang terbaik bagi anak-anak muda yang
tahu benar akan tugas dan kewajiban mereka. Seperti yang sudah
mereka rencanakan, maka demikian mereka sampai dipinta air, maka
Nugata telah memberikan beberapa petunjuk pelaksanaannya. Mereka
akan membuka pintu air sehingga menjadi hampir dua kali lipat.
Dengan demikian maka air yang naik dibendungan itu akan mengalir
lebih banyak ke daerah persawahan di Lumban Kulon. “Marilah” berkata
Nugata kemudian “Kita melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.
Kita akan memberikan masa depan lebih baik buat kampung halaman
kita” Anak-anak Lumban Kulon itupun bersorak. Mereka menyambut
perintah itu dengan gembira. Sejenak kemudian maka merekapun segera
mulai dengan kerja mereka itu. Dengan cangkul, linggis, kapak dan
alat-alat yang lain, mereka mulai membuka pintu air dan mulai
menyesuaikan mulut parit induk yang akan menampung air itu, setelah
mereka menutup untuk sementara air yang mengalir lewat pintu air
yang sedang mereka kerjakan itu. “He, ternyata anak-anak Lumban
Wetan tidak lebih dari tikus-tikus yang justru bersembunyi dalam
saat seperti ini” tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak.
Suara tertawa telah meledak. Seorang lain menjawab dengan tidak
segan-segannya “Mulut mereka sajalah yang terlalu besar. Tetapi
mereka tidak berani berbuat apa-apa sama sekali” Sekali lagi suara
tertawa meledak, justru lebih keras. Seolah-olah gurau itu merupakan
ir ingan yang menyenangkan bagi kerja yang sedang mereka lakukan.
Dengan penuh gairah anak-anak muda Lumban Kulon itu melakukan
pekerjaan mereka Mereka mengayunkan alat-alat mereka dengan sepenuh
tenaga. Parit yang akan menampung arus yang akan menjadi lebih besar
itu harus mereka perlebar. Namun parit induk yang kemudian
menyalurkan air itu kepa- rit-parit yang lebih kecil dijarak yang
agak jauh dari pintu air, sudah cukup dalam untuk menampung air yang
akan menjadi lebih deras mengalir. Yang terdengar kemudian adalah
suara gelak tertawa dalam sendau gurau yang gembira. Pada permulaan
kerja itu. mereka merasa, bahwa tidak akan ada hambatan apapun yang
akan ditimbulkan oleh anak-anak Lumban Wetan. “Pemburu-pemburu
itupun tentu harus membuat perhitungan sepuluh duapuluh kali lipat j
ika mereka akan membantu anak-anak Lumban Wetan” berkata salah
seorang dari mereka “karena pemburu-pemburu itu tahu, disini ada
Daruwerdi” Kawan-kawannya tertawa. Dan hampir diluar sadar, mereka
telah memandang kekejauhan, ke bukit gundul tempat mereka berlatih
bersama Daruwerdi. Tetapi mereka tidak melihat, bahwa dari kejauhan
Daru- werdipun mengamati kerja itu dengan saksama. Wajahnya nampak
muram. Namun ia t idak berbuat sesuatu yang meyakinkan. Ia sendiri
dibayangi oleh keragu-raguan, karena selain kedua pemburu itu,
ternyata di daerah Lumban itu telah hadir pula seorang dari Sanggar
Gading, Rahu. Karena itu, ia harus mempertimbangkan sebaik-baiknya
apa yang akan dilakukannya. Juga pada saat-saat orang-orang Sanggar
Gading datang dengan membawa Pangeran yang dimintanya, seperti yang
dikatakan oleh Cempaka. Namun sebenarnyalah, bahwa yang sedang
memperhatikan anak-anak Lumban Kulon itu memperoleh pintu air
bukannya Daruwerdi seorang diri. Dari arah lain, dua orang yang
berwajah kasar berusaha untuk mengamatinya pula, meskipun dari jarak
yang cukup jauh. Kedua orang itupun mengerti, bahwa Daruwerdi tentu
berada disekitar tempat itu, sehingga keduanya harus sangat
berhati-hati agar mereka tidak bertemu dengan Daruwerdi. Tetapi
selain mereka, dari arah Lumban Wetan, Rahu, Semi dan kawannyapun
memperhatikan peristiwa itu juga. Meskipun mereka juga harus
mengawasi kesepuluh orang anak-anak Lumban Wetan yang akan
menyaksikan pula bagaimana anak-anak Lumban Kulon membuka bendungan.
Namun berbeda dengan yang lain, kesepuluh anak-anak Lumban Wetan itu
tidak berusaha untuk bersembunyi. Mereka justru berusaha untuk dapat
menyaksikannya dari jarak yang cukup dekat. Karena itu, maka tanpa
menghiraukan tanggapan anak-anak Lumban Kulon merekapun berjalan
menyusuri pematang, mendekati bendungan. Beberapa puluh langkah dari
bendungan mereka berhenti dan berdiri berjajar diatas pematang
dengan tatapan mata yang tegang. Kedatangan kesepuluh orang
anak-anak muda itu memang mengejutkan. Justru hanya sepuluh. Mereka
tahu, bahwa jumlah anak-anak muda Lumban Wetan hampir sama dengan
jumlah anak-anak Lumban Kulon. Tetapi ternyata hanya sepuluh orang
saja yang dengan beraninya melihat apa yang terjadi di bendungan
itu. “Anak-anak Gila“ geram Nugata “Apakah mereka ingin wajah-wajah
mereka menjadi berubah“ “Tentu sepuluh anak muda terbaik di Lumban.
Wetan” desis yang lain. “Apa maksudmu dengan sepuluh terbaik?“
bertanya Nugata. “Sepuluh orang yang menyelenggarakan latihan
terpisah” jawab kawannya. Nugata tersenyum. Katanya ”Apa bedanya.
Aku tahu bahwa seorang dari kedua pemburu itu mengadakan latihan
khusus buat sepuluh orang, yang barangkali kau sebut dengan sepuluh
orang terbaik itu. Tetapi aku tidak yakin, bahwa hasilnya cukup
memadai” “Nampaknya mereka terlalu yakin akan dir i mereka sendir i”
desis yang lain lagi. “Jangan hiraukan” berkata Nugata “Jika mereka
akan berbuat sesuatu, biarlah mereka mencobanya. Tetapi jika mereka
hanya datang untuk melihat, biarlah mereka berdiri disana. Aku kira
mereka tidak akan tahan sampai matahari naik. kepuncak.
Kawan-kawannya tidak menyahut lagi. Mereka kembali terbenam ke dalam
kerja mereka. Dengan penuh kesungguhan mereka mengayunkan cangkul,
linggis dan alat- alat yang lain untuk menambah arus air yang
mengalir ke Lumban Kulon. Sementara pintu air yang sedang mereka
perlebar itu ditutup, maka justru air yang mengalir ke Lumban
Wetanlah yang menjadi semakin besar meskipun tidak terlalu banyak.
Untuk beberapa saat anak-anak Lumban Kulon itu dapat melepaskan
perhatian mereka kepada kesepuluh orang anak- anak Lumban Wetan itu.
Namun karena anak-anak Lumban Wetan itu berdiri saja di tempatnya,
bahkan satu dua orang justru melangkah semakin dekat, maka kehadiran
mereka semakin terasa mengganggu perasaan. “Suruh mereka pergi”
geram salah seorang anak muda Lumban Kulon yang bertubuh raksasa,
yang pernah mengancam untuk memukul Jlitheng pada saat-saat Jlitheng
ingin menengahi sengketa mengenai air. “Biar sajalah” desis yang
lain “Mereka akan pergi dengan sendirinya, jika panas matahari
terasa membakar tubuh maka mereka tidak akan betah berdiri disita.
Berbeda dengan kita. Meskipun punggung kita kepanasan, tetapi justru
karena kita bekerja, maka kita t idak merasakan sengatan matahari
itu. ”Tetapi aku muak melihat mereka” geram orang yang bertubuh
raksasa itu. “Jangan hiraukan“ Nugata membentak. Orang itu terdiam.
Tetapi ternyata bahwa perasaan itu tidak hanya tumbuh dihati anak
muda bertubuh raksasa itu saja. Beberapa orang anak muda yang
lainpun merasa, seolah-olah sepuluh pasang mata anak-anak Lumban
Wetan itu selalu memandanginya. Sorot matanya menggelitik hatinya,
sehingga merekapun menjadi gelisah. Nugata yang membentak kawannya
yang merasa terganggu oleh anak-anak Lumban Wetan itupun semakin
lama merasa pula, bahwa kehadiran kesepuluh orang anak- anak Lumban
Wetan itu telah mempengaruhi kerja kawan- kawannya. Karena itu,
beberapa saat kemudian, perhatiannya justru tertuju kepada mereka.
“Anak-anak Gila“ tiba-tiba saja Nugata mendengar seseorang mengumpat
di belakangnya. Ketika ia berpaling dilihatnya orang bertubuh tinggi
besar itu bergumam lagi. Nugata menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian Katanya “Mereka memang sangat mengganggu. Suruh mereka
pergi” Orang bertubuh raksasa itu memandang Nugata sejenak,
seolah-olah ia ingin meyakinkan, apakah yang dikatakan Nutaga itu
sebenarnya atau sekedar rasa jengkelnya karena ia selalu
bergeremang. Tetapi Nugata itu sekali lagi berkata “Suruh mereka
pergi“ Perintah itu tidak per lu diulanginya. Anak muda bertubuh
raksasa itupun segera meletakkan cangkulnya dan meloncat turun
menyeberangi sungai di bawah bendungan. “Kenapa anak itu?“ bertanya
seorang kawannya. Kawan-kawannya yang lainpun termangu-mangu.
Sementara anak muda bertubuh raksasa itu meloncat dengan tangkasnya
dari batu ke batu. Nugata yang juga mendengar pertanyaan salah
seorang anak Lumban Kulon itupun menjawab “Aku suruh anak itu
mengusir anak-anak Lumban Wetan yang gila itu” “Bagus” tiba-tiba
beberapa orang berdesis hampir bersamaan. Merekapun telah dihinggapi
perasaan yang serupa bahwa kehadiran kesepuluh orang itu benar-benar
sangat mengganggu. “Tetapi kenapa ia hanya pergi sendir i?“ bertanya
yang lain. “Bukankah kita berada disini? Kita akan melihat, apakah
anak-anak Lumban Wetan akan berbuat gila. Jika sepuluh orang
anak-anak Lumban Wetan itu berani berbuat gila atas kawan kita, maka
kita tidak akan tinggal diam. Kita tidak takut, seandalnya anak-anak
Lumban Wetan seluruhnya sudah siap keluar dar i balik gerombol di
padukuhan terdekat itu dan berlari-lari membantu mereka” geram
Nugata. “Kita sudah siap. Sahut yang lain dengan lantang meskipun
kita tidak bersenjata, tetapi kita sudah siap untuk bertempur.
Nugata tidak menjawab lagi. Ia mulai memperhatikan kawannya yang
bertubuh raksasa itu memanjat tebing. Langkahnya ringan meskipun
tubuhnya tinggi besar. “Anak itu memang dapat dibanggakan” berkata
Nugata. “Ya, jika la harus berkelahi dengan jujur seorang lawan
seorang tidak akan ada anak Lumban Wetan yang dapat mengalahkannya.
Bahkan aku berani bertaruh uang sekeping bahwa ia akan menang
melawan t iga orang sekaligus dari kesepuluh anak-anak Lumban Wetan
itu” sahut yang lain. Nugata tidak menjawab. Tetapi iapun menganggap
demikian pula. Anak muda bertubuh raksasa itu akan dapat mengalahkan
tiga orang sekaligus dari anak-anak yang disebut anak-anak terbaik
dari Lumban Wetan itu. Sejenak anak-anak Lumban Kulon itu
memperhatikan kawannya yang telah meloncat sampai keatas tanggul.
Kemudian dengan langkah tetap dan pasti ia mendekati anak- anak
Lumban Wetan yang berdiri dipematang. Kedatangan anak bertubuh
raksasa itu membuat anak-anak Lumban Wetan menjadi tegang. Tetapi
merekapun segera bersiaga menghadapi segala kemungkinan.
Rasa-rasanya mereka sudah bersiap apapun yang akan terjadi atas
mereka. Beberapa langkah dar i kesepuluh anak-anak Lumban Wetan,
maka anak muda bertubuh raksasa itu berhenti. Dengan wajah tegang
dan bersungguh-sungguh ia berkata “Nugata memerintahkan kalian
meninggalkan tempat ini” Salah seorang dari kesepuluh orang itu
melangkah maju. Seorang anak muda yang bertubuh sedang, bahkan agak
ke kurus-kurusan. Tetapi ia adalah anak muda yang tertua umurnya
diantara kesepuluh kawan-kawannya. “Kenapa kami Harus meninggalkan
tempat ini?“ bertanya anak bertubuh sedang itu. “Kehadiran kalian
sangat mengganggu perasaan kami “- jawab anak muda bertubuh raksasa
itu. “Apakah kau merasa terganggu?“ bertanya anak Lumban Wetan itu.
“Kami semua merasa terganggu. Karena itu pergilah?” Tetapi anak muda
Lumban Wetan itu menarik nafas sambil menjawab “Kau memang aneh.
Kami hanya berdiri diam disini tanpa berbuat apa-apa. Tetapi
kalianlah yang dengan langsung telah mengganggu kami. Perbuatan
kalian adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab” “Aku tidak
akan berbantah tentang bendungan, air, pintu air dan parit-parit.
Itu adalah hak kami untuk menentukan karena bendungan ini terletak
di daerah Lumban Kulon. Bukit yang bermata air itupun terletak di
daerah Lumban Kulon” sahut anak muda dar i Lumban Kulon itu. “Tidak
seorangpun yang pernah mengatakan demikian. Sungai ini adalah sungai
kita bersama. Bukit-bukit itu adalah bukit kita bersama. Dan
orang-orang tua kitapun pernah hidup bersama tanpa batas” berkata
anak-anak Lumban Wetan itu “kitapun telah mencoba untuk hidup
bersama. Meskipun dalam batas yang telah disepakati, namun kita
masih mencoba untuk meneguk air dari jambangan yang sama dan memetik
padi dari hamparan sawah yang mempunyai harapan yang sama. Tetapi
kalian telah berusaha untuk merusak usaha itu. Kalian merasa
memiliki hak dan wewenang lebih banyak atas, sungai, bukit dan air
diatas tanah Lumban ini. “Jangan merajuk. Kita memang lebih banyak
mempunyai hak atas air itu” berkata anak Lumban Kulon. “kalian lebih
mement ingkan ketamakan daripada persaudaraan. Persaudaraan antara
kita orang-orang Lumban“ geramanak Lumban.Wetan itu. Anak muda
Lumban Kulon itu menggeretakkah giginya. Dengan sorot mata yang
garang ia menggeram “Jangan banyak bicara lagi. Pergilah.
Kawan-kawanku telah berusaha untuk tetap bersabar. Karena itu maka
aku pergi seorang diri” Ketika ia kemudian berpaling, dilihatnya
dalam keremangan malam bayangan Sepasang Bukit Mati yaag jaraknya
sebenarnya tidak terlalu dekat Bukit yang sebelah adalah bukit
gundul berbatu-batu, sedang yang lain adalah bukit berhutan lebat,
untuk memberitahukan kepada kalian, agar kalian meninggalkan tempat
ini. Kalian telah mengganggu kerja kami. Tidak ada alasan yang dapat
kalian katakan kepada kami” Tetapi jawab anak muda Lumban Wetan itu
mengejutkan ”Kami berdir i di tempat kami. Di daerah Kabuyutan kami.
Apa pedulimu. Kami tidak akan pergi dari tempat ini. Kami ingin
melihat, sampai seberapa jauh kalian memanjakan ketamakan hati
kalian” Kemarahan anak muda bertubuh raksasa itu tidak tertahankan
lagi. Karena itu, maka ia berkata “Kami dapat memaksa kalian pergi
dengan kekerasan. Kami sudah berniat untuk membuka pintu air yang
menuangkan air ketanah persawahan di Lumban Kulon lebih lebar.
Bahkan dua kali lipat dari pintu air yang melepaskan air ketanah
persawahanmu” “Aku sudah melihat, bahwa kalian sedang melakukannya”
jawab anak muda Lumban Wetan itu “Dan kami sedang menilai bobot
kemanusiaan kalian, anak-anak muda Lumban Kulon” Anak muda Lumban
Kulon itu masih menahan dir i sehingga tubuhnya menjadi gemetar.
Katanya “Aku berkata sekali lagi, pergilah. Jika kalian tidak mau
pergi, maka aku t idak akan dapat menahan diri lagi. Aku akan
memaksa kalian untuk pergi” “Kau sendir i? Atau kau akan memanggil
kawan-kawanmu” bertanya anak muda yang tertua dari Lumban Wetan itu.
“Aku sendir i sanggup mengusir kalian semuanya, bersepuluh” jawab
anak muda bertubuh raksasa itu. Sejenak, anak muda Lumban Wetan
termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Kau terlalu sombong. Baiklah
akupun mengimbangi kesombonganmu. Kami tidak akan pergi. Jika kau
seorang diri ingin memaksa kami pergi, mungkin dengan kekerasan,
maka aku seorang dirilah yang akan melawanmu dengan kekerasan pula,
karena sebenarnyalah bahwa kami t idak mau pergi dari tempat ini”
Anak muda Lumban Kulon itu menggeram. Katanya “Kau memang dungu. Kau
kira, karena kalian bersepuluh ini termasuk anak-anak muda terbaik
dari Lumban Wetan, dengan serta merta berani melawan aku, he?“
“Kenapa tidak? Jika kau berlatih pada Daruwerdi, aku berlatih pada
pemburu itu. Ternyata bahwa Daruwerdi tidak dapat mengalahkan
pemburu itu dalam perkelahian seorang melawan seorang” jawab anak
muda Lumban Wetan itu. “Kau memang bodoh. Seandainya benar Daruwerdi
tidak dapat mengalahkan pemburu itu. tentu ia memang tidak ingin
melakukannya untuk menjaga perasaan pemburu itu. Tetapi kami
berlatih jauh lebih lama dar i yang kalian lakukan. Dan bagaimanapun
juga, maka kau akan menyesal jika kau tidak merubah keputusanmu”
berkata anak muda bertubuh raksasa itu dengan lantang. “Aku tetap
pada pendirianku” jawab anak tertua dari sepuluh anak muda dar i
Lumban Wetan itu. Anak muda dari Lumban Kulon yang bertubuh tinggi
besar itu menjadi semakin tegang. Namun tiba-tiba iapun kemudian
tertawa berkepanjangan sambil berkata “Kau memang aneh. Kau kira
yang kau lakukan itu akan memberikan kebanggaan bagimu?
Sebenarnyalah yang kau lakukan itu tidak lebih dari satu lelucon
yang pahit. Kita, kau, aku dan siapapun yang akan menyaksikannya,
tidak akan tertawa karenanya. Tetapi kita semuanya akan menangisimu
yang menjadi pingsan dipematang ini. Karena itu, pertimbangkan
sikapmu itu baik- baik” Anak Lumban Wetan itupun bertambah tegang
pula. Sejenak ia memandang anak muda bertubuh raksasa itu. Kemudian
dilayangkan pandangan matanya keseberang sungai. Dilihatnya
anak-anak Lumban Kulon yang sedang membuka pintu air itupun telah
dicengkam oleh ketegangan pula. Mereka berdir i diam mematung sambil
menunggu, apa yang akan terjadi. “Bagus” berkata anak muda bertubuh
raksasa dari Lumban Kulon itu “ nampaknya kau sudah mulai melihat
kenyataan. Pikirkanlah sebaik-baiknya. Ambillah sikap yang benar
untuk kepentinganmu dan kepentingan kawan-kawanmu” Tetapi jawab anak
Lumban Wetan itu tidak diduganya Katanya “Terima kasih. Kau masih
berpikir panjang. Kau masih berusaha untuk menghindar i kekerasan.
Tetapi sayang, bahwa usahamu untuk menghindar i kekerasan ternyata
masih juga dengan memaksakan kehendakmu untuk mengusir kami.
Sebaiknya, kau tetap berdiri pada sikapmu, menghindari kekerasan.
Tetapi tidak dengan mengusir kami. Kau sajalah yang" kembali kepada
kawan-kawanmu dan biarlah kami tetap disini. Akan lebih baik lagi,
dan kamipufl akan berterima kasih, apabila kau bawa kawan-kawanmu
kembali dan memulihkan pintu air itu seperti sediakala” “Anak Gila“-
geram anak muda bertubuh raksasa itu “Ternyata tidak ada pilihan
bagiku. Baiklah. Marilah kita lihat, bahwa aku akan berhasil
mengusirkalian” Anak muda dari Lumban Wetan itu bergeser setapak.
Katanya “Kami tetap pada pendirian kami” “Jangan kau hadapi aku
sendir i. Ajaklah dua tiga orang kawanmu untuk melawan aku, atau
barangkali kalian bersepuluh akan maju bersama-sama” geram anak muda
Lumban} Kulon itu. Tetapi anak muda Lumban Wetan itu menjawab “Aku
akan menjajagi kemampuanmu seorang diri. Kau berlatih pada Daruwerdi
untuk waktu yang lebih lama, sementara aku berlatih pada pemburu itu
untuk waktu yang meskipun lebih pendek, tetapi dengan cara yang
lebih baik” Anak muda bertubuh raksasa itu tidak menjawab lagi.
tapun segera bersiap. Dipandanginya sembilan orang yang lain, yang
nampaknya memang tidak akan melibatkan diri ke dalam perkelahian
yang akan segera terjadi itu. “Mereka anak-anak yang sombong sekali”
katanya di dalam hati. Dalam pada itu, beberapa orang anak muda dari
Lumban Kulon telah meninggalkan kerjanya, melangkah mendekat ke
bibir tebing. Bahkan ada satu dua orang yang meloncat turun untuk
menyeberang. Sejenak kemudian. Nugatapun telah berada disebelah
Timur sungai. Ia berdiri dengan tatapan mata membara. Ternyata anak
Lumban Wetan itu benar-benar ingin melawan seorang lawan seorang.
“Tidak tahu diri” geram Nugata. Kemudian katanya kepada anak muda
bertubuh raksasa itu “Selesaikan anak itu. Tetapi juga, agar ia
tidak akan mati. Bagaimanapun juga Kabuyutan kita masih mempunyai
hubungan dengan Kabuyutan Lumban Wetan” Anak muda bertubuh raksasa
itu mengangguk Sementara anak-anak Lumban Wetan yang lainpun
bergeser semakin dekat pula. Karena anak-anak muda dari Lumban Kulon
dan Lumban Wetan seolah-olah telah berkerumun melingkari kedua anak
muda yang akan berkelahi itu, maka anak-anak muda Lumban Kulon yang
berada diseberang tidak dapat melihat dengan jelas, Karena itu, maka
merekapun telah menyeberang pula ke Timur. “Bersiaplah” berkata anak
muda bertubuh raksasa itu. Anak muda Lumban Wetan itupun telah
bersiap. Ia bergeser setapak ketika lawannya mendekat maju sambil
menjulurkan tangannya. Karena anak muda Lumban Wetan tidak mau
menyerang lebih dulu, maka anak muda Lumban Kulon itulah yang
melangkah maju sambil menggerakkan tangannya memancing serangan.
Ketika lawannya hanya bergeser kesamping, maka anak muda bertubuh
raksasa itu kehilangan kesabaran. Dengan keras ia melangkah sambil
memukul kening. Tetapi lawannya mengelak sambil meloncat. Dengan
satu putaran ia menyerang dengan tumitnya. Namun lawannya telah
menangkisnya dengan tangannya, sekaligus berusaha menghantamdengan
kakinya pula mengarah lambung. Anak muda Lumban Wetan itu masih
sempat menggeliat Kaki lawannya tidak menjangkau lambungnya.
Demikian anak muda bertubuh raksasa itu berdiri tegak, maka Lumban
Wetan itupun meloncat menggapai leher lawannya dengan ujung- ujung
jarinya. Anak muda Lumban Kulon itu sempat menangkis dengan kedua
tangannya yang memukul kesamping, sekaligus menghantam lawannya
dengan sikunya sambil melangkah maju. Tetapi sekali lagi serangannya
itu dapat dielakkan. Bahkan lawannya telah mendapat kesempatan
menyerangnya pula dengan kakinya. Semakin lama perkelahian itu
menjadi semakin cepat. Anak-anak muda Lumban Kulon menjadi semakin
banyak melingkari pertempuran Itu, sementara kesembilan anak-anak
muda Lumban Wetan bagaikan tenggelamdiantara mereka. Dari kejauhan,
Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Ia tidak sempat lagi melihat
apa yang terjadi. Ia hanya melihat kerumunan anak-anak muda Lumban
Kulon yang kemudian justru berteriak-teriak seperti sedang menyabung
ayam. Meskipun demikian, ia tidak meninggalkan tempatnya. Jika
mungkin terjadi sesuatu, ia tidak boleh membiarkannya. Dari gerak
dan sikap anak-anak Lumban Kulon ia akan dapat menduga apakah yang
sedang mereka lakukan. “Mereka tidak boleh beramai-ramai mengeroyok
kesepuluh anak-anak Lumban Wetan” berkata Daruwerdi dida-lam
hatinya. Ia sadar, bahwa kedua pemburu di Lumban Wetan itu tentu
tidak akan tinggal diam. Mereka dapat menggerakkan anak-anak Lumban
Wetan yang lain bersama mereka berdua. Apalagi di Lumban Wetan ada
Rahu, meskipun orang itu sama sekali tidak terlibat langsung, namun
jika ia mendapat keterangan yang dapat mempengaruhinya, mungkin ia
dapat berbuat sesuatu. Karena itu, maka Daruwerdi telah
memperhatikan perkelahian itu lewat sikap dan tingkah laku anak-anak
Lumban Kulon. Ia akan segera mengetahui jika anak-anak Lumban Kulon
itu bertindak bersama-sama atas anak-anak Lumban Wetan. Dalam pada
itu, Semi dan kawannya menjadi berdebar- debar pula. Mereka juga
tidak dapat melihat apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi seperti
Daruwerdi, mereka akan segera mengetahui j ika anak-anak Lumban
Kulon seluruhnya terlibat dalam perkelahian. Rahupun termangu-mangu
pula. Ia masih tetap menunggu, karena ia tidak mempunyai pilihan
apapun juga dalam persoalan yang tiba-tiba saja dihadapinya di
daerah Sepasang Bukit Mati itu Namun dalam pada itu, anak Lumban
Wetanpun telah melihat pula dari kejauhan apa yang telah terjadi.
Tetapi mereka masih tetap menahan diri, karena mereka mengerti,
bahwa hanya sepuluh orang kawannya sajalah yang boleh mendekat.
Tetapi sorak sorai anak-anak Lumban Kulon yang terdengar lamat-lamat
dari ujung padukuhan, ternyata telah menggelitik hati mereka. “Cegah
anak-anak itu mendekat” berkata Semi kepada kawannya yang melihat
anak-anak Lumban Wetan berkerumun diujung lorong. Kawan Semi itupun
mendatangi mereka dan menasehatkan agar mereka tetap menahan hati.
“Bagaimana jika anak-anak Lumban Kulon itu mengeroyok kesepuluh
kawan-kawan kami” bertanya salah seorang dari mereka. “Tidak. Mereka
tidak akan melakukannya. Namun jika demikian, kita akan mengambil
sikap” berkata pemburu itu. Anak-anak muda Lumban Wetan itu menjadi
gelisah Jlitheng yang kemudian berada pula diantara mereka, ikut
menjadi tegang pula. Dalam pada itu, perkelahian antara kedua anak
Lumban itu menjadi semakin seru. Ternyata anak muda bertubuh raksasa
dari Lumban Kulon itu mulai merasa, bahwa lawannya tidak selemah
seperti yang dibayangkan. Meskipun anak muda Lumban Kulon itu yakin,
bahwa kekuatan tenaganya melampaui kekuatan lawannya, namun lawannya
telah mempergunakan kelebihan yang tidak dapat diatasinya. Lawannya
yang lebih kecil itu mampu bergerak lebih cepat. Bahkan
kadang-kadang ia merasa mulai kehilangan sasaran. Anak-anak muda
Lumban Kulon menjadi semakin tegang. Suara sorak yang gemuruh mulai
menurun. Mereka lebih banyak memperhatikan dengan jantung yang
berdebar-debar. Beberapa kali serangan-serangan mereka telah saling
mengenai sasaran. Hentakkan yang keras, telah melemparkan anak muda
Lumban Wetan itu beberapa kali. Tetapi dengan tangkas ia masih
sempat meloncat berdiri menghadapi segala kemungkinan. Ketegangan
yang mencengkam jantung anak-anak Lumban Kulon yang menyaksikan
perkelahian itu mulai terasa pula oleh Daruwerdi. Anak-anak muda itu
tidak lagi berteriak-teriak dan bersorak-sorak. Semakin tegang
mereka dicengkam oleh perkelahian itu, maka teriakan-teriakan
merekapun menjadi semakin menurun. Dalam pada itu, sembilan
anak-anak muda Lumban Wetan yang ada diantara anak-anak Lumban Kulon
yang semakin banyak itupun menjadi tegang pula. Setiap kali kawannya
dikenai serangan lawannya dan terlempar beberapa langkah, jantung
mereka serasa berhenti berdenyut. Namun merekapun segera melihat,
kawannya itu melenting berdiri dengan tangkasnya Sentuhan-sentuhan
serangan lawannya itu memang mulai terasa sakit ditabuhnya. Karena
itu, maka anak muda Lumban Wetan itupun menjadi semakin
berhati-hati. Setelah berkelahi beberapa saat, maka iapun sempat
memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Karena
latihan-latihan yang lebih mengkhusus dari anak- anak Lumban Kulon,
maka anak muda Lumban Wetan itu mendapat petunjuk yang lebih
terperinci dari pemburu yang melatihnya. Ia tidak saja mempergunakan
kekuatan tenaga dan kecepatan geraknya, tetapi iapun harus
mempergunakan otaknya. Karena itulah, maka anak muda Lumban Wetan
itu mulai memancing lawannya dengan gerak yang cepat dan langkah-
langkah yang panjang. Setiap kali ia meloncat menjauh. Namun
tiba-tiba saja ia telah menyerang dari arah yang tidak terduga-duga
sama sekali. Meskipun anak muda Lumban Wetan itu t idak memiliki
kekuatan tenaga seperti lawannya, namun dengan perhitungan yang
lebih cermat ia berhasil membuat lawannya kadang-kadang menjadi
bingung. Sentuhan-sentuhan serangan anak Lumban Wetan memang tidak
sekuat serangan lawannya, namun semakin lama terasa juga semakin
mengganggu. Sekali-sekali terdengar anak muda Lumban Kulon yang
bertubuh raksasa itu menggeram. Kadang-kadang ia mengumpat
keras-keras jika hentakkan tenaganya untuk menyerang lawannya, sama
sekali tidak menyentuh sasaran. Bahkan kadang-kadang tubuhnya
sendiri telah terseret oleh kekuatan yang dilontarkannya. Anak muda
Lumban Wetan yang cerdik itu, telah memanfaatkan tenaga dorong
lawannya itu untuk menghantamnya. Dengan satu loncatan kecil, ia
menghindari serangan kaki yang meluncur dengan kekuatan penuh. Namun
demikian tubuh lawannya itu bagaikan terbang sejengkal dihadapannya,
maka anak muda Lumban Wetan itu justru telah menyerangnya dengan
tangannya kearah lambung searah dengan serangan lawannya itu
sendiri. Oleh dorongan serangan itu, maka anak muda Lumbap Kulon itu
justru terlempar beberapa langkah sebelum dengan susah payah ia
mempertahankan keseimbangannya. Tetapi begitu ia berhasil berdiri
tegak, dengan kecepatan yang tinggi, anak muda Lumban Wetan itulah
yang kemudian menyerangnya dengan cara yang hampir sama. Dengan kaki
mendatai ia meluncur langsung menghantam tubuh anak muda Lumban
Kulon itu dengan sepenuh kekuatannya Serangan itu benar-benar telah
mengejutkan. Bukan saja anak muda bertubuh raksasa itu. Tetapi
anak-anak muda yang berkerumun disekitar arena perkelahian itupun
terkejut Bahkan beberapa orang diantara mereka telah terpekik kecil.
oooOooo-
Jilid 12 YANG terjadi kemudian, memang seperti yang
diduga. Sekali lagi anak muda bertubuh raksasa itu terlempar. Ia
tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangan. Karena itu, ia tidak
saja terhuyung-huyung, tetapi ia benar-benar telah terbanting jatuh
di tanah. Hampir saja kepalanya membentur padas yang teronggok
disebelah pematang. Beberapa orang yang hampir tertimpa oleh anak
muda bertubuh raksasa itu menyibak. Hampir diluar sadar, beberapa
orang kawannya yang berdiri beberapa langkah saja dari tempat anak
itu terbanting telah dengan serta merta berloncatan untuk
menolongnya. Tetapi anak muda bertubuh raksasa itu meronta sambil
berteriak “Lepaskan. Aku dapat bangkit sendir i. Aku sama sekali t
idak apa-apa Aku hanya lengah sedikit” Kawan-kawannya kemudian
bergeser surut. Sementara itu, anak muda bertubuh raksasa itu
benar-benar berusaha untuk melenting berdir i. Tetapi hampir saja ia
terjatuh kembali karena keseimbangannya yang belum mapan. Apalagi
terasa tulang-tulangnya bagaikan menjadi retak. Anak muda Lumban
Wetan tidak memburunya. Ia justru berdiri menunggu ditengah-tengah
arena, seolah-olah sengaja member i kesempatan kepada lawannya untuk
membenahi dir i Tetapi mata anak muda Lumban Kulon itupun bagaikan
membara ketika ia melibat lawannya berdiri tegak dengan kaki
renggang di tengah-tengah lingkaran anak-anak muda Lumban Kulon dan
sembilan anak-anak muda dari Lumban Wetan. Dengan suara bergetar ia
berkata “Anak tidak tahu diri. Aku mencoba untuk membuatmu jera
tanpa menyakitimu dengan serangan-serangan yang berarti. Tetapi
kesombonganmu telah menutupi penglihatanmu atas kemampuanku. Disaat
aku lengah sedikit, ternyata kau benar- benar ingin membunuhku” Anak
muda Lumban Wetan itu menjawab “Aku tidak ingin membunuh siapapun.
Aku hanya diajari membunuh binatang buruan di hutan-hutan oleh
pemburu-pemburu itu” “Persetan“ geram anak muda bertubuh raksasa itu
“Jika kau tidak berusaha membunuhku, akulah yang akan membunuhmu
apapun yang akan terjadi. Setiap orang diseputar arena ini menjadi
saksi bahwa aku berkelahi dengan jujur. Kematianmu sama sekali bukan
salahku” “Jangan berbicara tentang kematian” jawab anak muda Lumban
Wetan itu “Yang aku lakukan hanyalah berdiri disini bersama sembilan
orang kawanku. Apakah hal itu sudah cukup alasan bagimu untuk
membunuh?“ Namun tiba-tiba diantara anak-anak muda Lumban Kulon
terdengar seseorang berteriak “Bungkamsaja mulutnya“ “Bunuh saja”
teriak yang lain. Tetapi seorang dari kesembilan anak muda Lumban
Wetan menyahut “kematian dalam peristiwa seperti ini sama sekali
tidak akan memberikan arti apa-apa” Anak muda bertubuh raksasa dari
Lumban Kulon itu menggeram. Dengan garang ia berkata “Kalian
pengecut Kalian takut mendengar kemungkinan dari satu perkelahian”
“Bukan takut” jawab anak muda Lumban Wetan “Tetapi untuk apa kita
harus bertaruh nyawa“ “Pengecut. Pengecut. Jika kalian takut mati,
pergilah. Kalian semuanya” teriak anak muda bertubuh raksasa itu.
Tetapi anak muda Lumban Wetan yang melawannya berkata “Aku tetap
pada pendir ianku. Aku dan sembilan kawan-kawanku akan tetap berada
disini“ Anak muda Lumban Kulon itupun tiba-tiba telah meloncat
menyerang Tangannya terjulur lurus kedepan mengarah kening. Namun
serangan itu dapat dielakkan. Bahkan anak muda Lumban Wetan itu
berhasil memukul pergelangan tangan lawannya dengan sisi telapak
tangannya. Rasa-rasanya pergelangan tangannya akan terlepas. Tetapi
anak muda Lumban Kulon itu berusaha untuk tidak member ikan
kesakitan pada pergelangan tangannya itu. Sejenak kemudian
perkelahian itupun telah membakar arena kecil itu kembali. Serangan
demi serangan. Desak mendesak. Masing-masing berusaha untuk
mengalahkan lawannya. Anak muda Lumban Kulon itu telah ber latih
lebih lama dari anak muda Lumban Wetan yang untuk beberapa saat
terhenti karena anak-anak Lumban Kulon tidak mengijinkan mereka
memasuki bagian dari Lumban yang kemudian disebut Kabuyutan Lumban
Kulon. Tetapi ternyata anak muda Lumban Wetan itu telah dapat
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Pemburu itu telah memberikan
perhatian khusus kepada sepuluh orang Lumban Wetan yang ditempa
setiap hari dengan cara yang jauh lebih baik dari cara yang
dipergunakan oleh Daruwerdi. Bukan karena ketidak mampuan Daruwerdi,
tetapi karena Daruwerdi tidak bersungguh-sungguh seperti yang
dilakukan oleh Semi. Karena itu, maka perkelahian itu menjadi
semakin seru. Tangan-tangan mereka semakin sering mengenai tubuh
lawannya. Masing-masing menjadi semakin kehilangan usaha pengamatan
diri setelah seluruh tubuh mereka basah oleh keringat Namun latihan
yang bersungguh-sungguh dar i anak muda Lumban Wetan ternyata
mempunyai akibat yang lebih baik pada pernafasannya dan daya tahan
tubuhnya. Karena itu, maka nampaknya, tenaga anak muda bertubuh
raksasa itulah yang lebih dahulu susut Meskipun demikian, ia masih
tetap garang. Ketika anak muda Lumban Wetan terdesak selangkah
surut, maka anak muda Lumban Kulon itu telah memburunya. Dengan
tenaganya yang kuat, tangannya masih sempat menjangkau memukul dagu
anak muda Lumban Wetan itu. Demikian kerasnya sehingga kepala anak
muda itu terangkat. Kesempatan itu tidak disia-siakan. Dengan cepat
tangannya yang lain telah menyambar perut. Terdengar keluhan
tertahan. Anak muda Lumban Wetan itu terbungkuk oleh perasaan sakit
pada perutnya. Pada saat itu anak muda bertubuh raksasa itupun
mengangkat tangannya siap menghantam tengkuk anak muda Lumban Wetan
yang sedang kesakitan itu. Namun ternyata anak muda Lumban Wetan itu
masih tetap menyadari keadaannya. Iapun sadar, bahwa kemungkinan itu
akan dapat dilakukan oleh lawannya, pada saat ia terbungkuk diluar
kehendaknya oleh gerak naluriah karena perasaan sakit. Karena itu,
ia harus bergerak cepat Sebelum tengkuknya dihantam oleh lawannya.
Dengan demikian, maka tiba-tiba saja ia telah menghentak satu
langkah kecil maju. Sikunyalah yang kemudian menghantam perut
lawannya, justru pada saat lawannya sedang mengangkat tangannya.
Yang terdengar mengaduh kemudian adalah anak muda bertubuh raksasa
itu. Ialah yang kemudian terbungkuk oleh perasaan sakit diperutnya.
Anak muda Lumban Wetan itu tidak mau terlambat lagi. Ia tidak
mengangkat tangannya dan menghantam tengkuk. Tetapi ia justru
bergeser setapak. Kemudian dengan serta merta mengangkat lututnya
menghantam wajah lawannya yang sedang terbungkuk itu. Demikian
kerasnya, sehingga anak muda bertubuh raksasa itu seakan-akan telah
terangkat dan jatuh terbanting ditanah. Anak muda Lumban Wetan itu
meloncat memburu. Tetapi tiba-tiba saja seakan-akan ada sesuatu yang
menahannya. Apalagi ketika terlihat olehnya, darah yang meleleh dari
hidung lawannya. Sekali lawannya berguling di tanah. Selain perasaan
sakit yang menghentak wajahnya, ia masih berusaha menjauhi lawannya.
Dengan sisa tenaganya iapun berusaha untuk segera bangkit berdir i.
Tetapi sekejap ia masih terhuyung-huyung. Perutnya serasa mual dan
wajahnya disengat oleh perasaan sakit dan pedih. Bahkan rasa-rasanya
matanya menjadi kabur dan berkunang- kunang. Namun ia berusaha untuk
tetap bertahan, la masih melihat lawannya berdiri tegak meskipun
bibirnya nampak juga menyeringai menahan sakit pada dagu dan
perutnya. Sesaat keduanya berdiri mematung. Tetapi setiap orang yang
berdiri diseputar arena itu mengetahui dengan pasta, bahwa keadaan
anak muda Lumban Wetan itu jauh lebih baik dari keadaan anak muda
Lumban Kulon yang bertubuh raksasa. Namun yang dari hidungnya telah
meleleh darah seolah-olah tidak henti-hentinya. “Gila, kau Gila”
Anak muda Lumban Kulon itu menggeram “Aku bunuh kau semuanya”
Keadaan menjadi tegang. Ketika anak muda bertubuh raksasa itu
berusaha maju selangkah, maka nampaklah langkahnya yang gontai.
Namun ia masih berteriak “ Majulah bersama-sama. Aku akan membunuh
kalian” Lawannya masih berdiri tegak. Bahkan perasaan sakit pada
dagu dan perutnya menjadi berkurang. Dan bahkan hampir tidak
dirasanya lagi. Meskipun demikian ia masih tetap berdir i tegak.
Disekitarnya berdiri anak-anak muda Lumban Kulon yang tegang pula.
Untuk sesaat arena itu justru telah dicengkam oleh kesepian yang
tegang. Setiap dada rasa-rasanya bagaikan bergejolak oleh perist iwa
yang mendebarkan jantung. Dua orang anak muda berdiri berhadapan
dengan sorot yang menyala. Tetapi orang-orang yang menyaksikan
perkelahian itu, sebenarnya akan dapat mengambil kesimpulan, bahwa
anak muda Lumban Kulon yang bertubuh raksasa itu sudah Hilralahkan
oleh anak muda Lumban Wetan. Sesaat kemudian, Nugatalah yang
melangkah memasuki arena sambil berkata “Luar biasa. Anak Lumban
Wetan berhasil mengalahkan anak Lumban Kulon. Tetapi ketahuilah,
agaknya Lumban Wetan telah melepaskan anak muda terbaiknya.
Sementara Lumban Kulon belum. Karena itu, marilah kita melihat
apakah puncak kemampuan Lumban Kulon benar-benar kalah dengan puncak
kemampuan Lumban Wetan. Aku menantang siapa yang merasa dir inya
paling kuat di Lumban Wetan” Namun anak muda bertubuh raksasa itu
berkata “Aku belum kalah” “Pergi kau” bentak Nugata. Anak muda
bertubuh raksasa itu menggeram. Tetapi ia tidak berani membantah
anak Ki Buyut Lumban Kulon yang juga sudah mulai dibakar oleh
kemarahan itu. Anak-anak muda Lumban Wetan itupun menjadi termangu-
mangu. Yang kemudian berdiri dihadapan mereka ternyata adalah anak
Ki Buyut Lumban Kulon. “Cepat” geram Nugata “Siapa yang akan maju?
Aku t idak mau melihat kesombongan kalian yang rasa-rasanya membakar
jantung. Betapa sombongnya kalian karena salah seorang dari kalian
telah berhasil mengangkat dada karena kemenangan yang tidak berarti
apa-apa. Bahkan kalian telah berpura-pura berbelas kasihan kepada
lawan yang tidak berdaya lagi” Anak muda Lumban Wetan yang baru saja
berkelahi itu mengerutkan keningnya Kemudian iapun menyahut “Aku
sama sekali tidak berniat menyombongkan diri. Aku hanya mencoba
membatasi, agar perkelahian, ini tidak menimbulkan akibat yang lebih
parah bagi hubungan kedua Kabuyutan ini” “Siapa yang mengajarimu
berkata demikian” jawab Nugata “Aku adalah anak Buyut Lumban Kulon.
Aku sudah muak menyaksikan kesombongan anak-anak muda Lumban Wetan.
He, apakah maksud kalian datang kemari hanya bersepuluh? Bukankah
itu sikap sombong yang luar biasa, seakan-akan kalian ingin
mengatakan, bahwa dengan sepuluh orang kalian akan dapat
menggagalkan usaha kami membagi air itu dengan adil?“ “Sama sekali
tidak. Kami tidak bermaksud menghalangimu hanya dengan sepuluh
orang. Kami adalah wakil dari kawan- kawan kami yang mendapat
kepercayaan untuk sekedar menyaksikan apa yang akan kalian lakukan.
Dan apakah yang kalian sebut adil itu juga adil menurut pendapat
kami” jawab anak Lumban Wetan itu. “Kamilah yang menentukan
pembagian air itu” geram Nugata pula “Sudah kami katakan, kami yang
memiliki bendungan dan sumber air itu, karena keduanya terletak di
Lumban Kulon. Karena itu, apa yang kami lakukan atas bendungan dan
pintu air ini semata-mata atas pertimbangan belas-kasihan kami
kepada Kabuyutan Lumban Wetan yang kering dan ternyata sangat
miskin, sehingga sama sekali tidak mempunyai sumber-sumber yang akan
dapat dijadikan tumpuan harapan masa datang“ “Sikap itulah yang
menjadi dasar pertentangan yang mungkin akan dapat meluas” sahut
anak muda Lumban Wetan?, karena itu, pikirkanlah masak-masak. Kedua
kabuyutan ini mempunyai batang tubuh tunggal pada mulanya. Jika
kemudian batang yang tunggal itu bercabang dua, bukankah sebaiknya
kedua cabang itu akan mengalami nasib yang sama. Jika keduanya
menjadi hijau, biarlah sama- sama segar. Jika harus kering biarlah
kedua-duanya mengalaminya” “Itu adalah sikap yang patut disesalkan.
Kalian, anak-anak Lumban Wetan yang putus asa karena kegersangan
daerah kalian, tiba-tiba saja sudah menuntut berlebih-lebihan dari
tetangga yang semula merupakan satu tubuh. Dengan demikian, jika
kalian mulai dengan sikap yang bodoh, menyakit i hati kami, itu akan
sama arti bahwa kalian telah menyakit i sumber Kebuyutan kami yang
tunggal itu” jawab Nugata “karena itu, mungkin sekali bahwa pada
batang tubuh yang tunggal akan tumbuh cabang yang subur dan besar
sementara cabang yang lain kecil dan kerdil. Bahkan mungkin akan
menjadi kering dan patah jatuh di tanah” “Dan apakah kalian juga
bersikap demikian? Membiarkan tetangga yang merupakan pecahan dari
itu kering dan patah?“ bertanya anak muda Lumban Wetan. “Jika memang
tidak ada kemungkinan lain, apaboleh buat” jawab Nugata. “Dengan
demikian, sikapmu sudah pasti” desis anak muda Lumban Wetan “Dan
dengan demikian pula, maka sebenarnyalah bahwa kami harus berusaha
untuk mempertahankan hidup kami tanpa pengertian siapapun juga.
Karena itu, maka kami akan menjawab dengan tegas bahwa sungai ini
sampai kesumbernya, sama sekali bukan milik kalian. Bukan milik
Lumban Kulon dan bukan milik Lumban Wetan. Tetapi kedua bukit yang
disebut Sepasang Bukit mati itu dan jalur sungai ini dengan segala
macam isinya, adalah milik kita bersama. Jika satu pihak menyebut,
Sepasang Bukit Mati dan jalur sungai ini adalah miliknya, maka ia
sudah merampas hak orang lain” “Jangan banyak bicara” bentak Nugata
kemudian “Aku bertanya, siapa yang akan tampil. Panggil orang
terbaik dari Lumban Wetan. Aku akan menunjukkan kepada kalian, tanpa
melanggar sifat kejantanan, karena aku akan berkelahi seorang
melawan seorang bahwa Lumban Kulon memiliki kekuatan yang jauh
melampaui kekuatan yang dapat dikerahkan oleh anak-anak muda Lumban
Wetan. Seandainya jumlah diantara kita berimbang, maka setiap orang
Lumban Kulon memiliki kemampuan lebih baik dari setiap orang di
Lumban Wetan, kecuali raksasa dungu ini” Anak muda Lumban Wetan itu
tidak segera menjawab. Tetapi kata-kata itu bagi anak-anak Lumban
Kulon sendiri sangat meragukan, karena bagi mereka, anak muda
bertubuh raksasa itu termasuk salah seorang diantara mereka yang
terkuat. Sejenak suasana dicengkam oleh kediaman yang tegang.
Kesepuluh anak-anak Lumban Wetan yang berada diantara kerumunan
anak-anak Lumban Kulon itu menjadi berdebar- debar. Apakah mereka
akan menerima tantangan anak-anak muda Lumban Kulon itu atau tidak.
“Cepat” teriak Nugata “Siapa yang akan maju“ Namun tiba-tiba
terdengar jawaban dari antara anak-anak muda Lumban Wetan “Kami
datang tidak untuk berkelahi. Kami hanya ingin melihat apakah yang
sudah kalian lakukan” “Aku tidak peduli” geram Nugata. “Kami memang
tidak ingin berkelahi” desis yang lain. “Jika kalian takut,
pergilah. Jangan ganggu kami” berkata Nugata lantang “atau, kalian
ingin berkelahi berpasangan? Dua, atau tiga orang sekaligus?“
Anak-anak muda Lumban Wetan itu termangu-mangu. Rasa-rasanya darah
mereka menjadi semakin panas. Anak muda yang baru saja mengalahkan
anak muda bertubuh raksasa dari Lumban Kulon itupun berkata “jangan
membakar jantung kami. Aku kira apa yang aku lakukan sudah cukup.
Sekarang, biarlah kami berdiri dlsini” “Tidak” jawab Nugata
keras-keras “kalian harus memilih. Pergi, atau berkelahi” Darah
anak-anak muda Lumban Wetan itu benar-benar sudah mendidih. Hampir
saja mereka kehilangan pengekangan diri. Namun selagi salah seorang
dar i mereka hampir saja meloncat maju karena gejolak hati yang
tidak tertahankan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang
“Sudah cukup. Kau t idak perlu kehilangan akal Nugata” Nugata
berpaling. Semua orang yang berada di tempat Itupun berpaling.
Mereka melihat Daruwerdi berdir i tegak ketika beberapa orang di
depannya menyibak “Sudah cukup” katanya “Kita sudah melihat satu
contoh perkelahian antara anak muda Lumban Kulon dan anak muda
Lumban Wetan” “Belum cukup” jawab Nugata ”Perkelahian ini member
ikan kesan yang salah antara imbangan kekuatan yang ada di Lumban
Kulon dan Lumban Wetan” “Tidak” jawab Daruwerdi “ingat, yang
berkelahi dari antara anak-anak Lumban Wetan adalah salah satu dari
kesepuluh anak pilihan. Sementara anak Lumban Kulon bukanlah anak
terbaik. Karena itu, perkelahian ini bukan takaran” “Karena itu, aku
ingin memberikan takaran yang benar. Aku kira aku akan dapat
menantang anak terbaik dari Lumban Wetan” geram Nugata. Tetapi
Daruwerdi tertawa, katanya. “Lakukanlah apa yang akan kau lakukan
atas pintu air itu. Kalian ternyata telah terpancing untuk melakukan
kerja yang tidak berarti sama sekali, sehingga kerja kalian yang
penting itu telah terbengkelai” Nugata mengerutkan keningnya. Namun
kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Kau benar.
Tetapi kesombongan anak-anak Lumban Wetan tidak seharusnya dibiarkan
saja” Tetapi Daruwerdi masih tertawa. Katanya “Waktumu cukup banyak.
Jika pintu air itu sudah selesai, kau dapat melihat, apa yang dapat
dilakukan oleh anak-anak Lumban Wetan. Bukankah kau tidak
berkeberatan, jika mereka hanya melihat- lihat bahwa air sudah
melimpah ke tanah persawahan di Lumban Kulon? Kau tentu tidak akan
kehilangan apapun juga. Air itu akan tetap mengalir dan sawah di
Kebuyutan Lumban Kulon akan tetap menjadi hijau” Nugata
termangu-mangu sejenak. Namun ia masih berdesis “Mereka telah
menyinggung harga dir i kami” Daruwerdi melangkah mendekatinya
sambil berkata “Jangan hiraukan. Mereka tidak akan berani berbuat
apa-apa” Nugata menggeram. Namun kemudian Daruwerdi berkata
“Marilah. Lanjutkan kerjamu” Nugata tidak menjawab lagi. Iapun
kemudian berkata kepada kawan-kawannya “Jangan hiraukan mereka.
Marilah, kita lanjutkan kerja kita” Nugatapun kemudian melangkah
meninggalkan tempatnya. Beberapa orang anak-anak muda Lumban Kulon
segera mengikut inya, sementara yang lain masih berdiri termangu-
mangu sambil memandangi kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan yang
nampaknya sama sekali tidak menjadi gentar. “Marilah desis Daruwerdi
kemudian kepada anak-anak muda yang masih tertinggal. Merekapun
kemudian dengan langkah-langkah panjang kembali menyeberangi sungai
yang tidak begitu besar di bawah bendungan. Kemudian merekapun telah
mengambil alat-alat mereka masing-masing “Kita akan melanjutkan
kerja kita seperti yang kita rencanakan” berkata Nugata “dalam waktu
singkat, pintu air itu harus sudah selesai, sementara saluran induk
itupun harus disesuaikan. Air yang melimpah itu harus tertampung dan
mengalir sampai ke ujung parit yang terkecil” Demikianlah, anak-anak
muda Lumban Kulon itu telah kembali tenggelam ke dalam kerja.
Nampaknya mereka justru bekerja lebih keras. Kemarahan mereka
terhadap anak-anak muda Lumban Wetan mereka tumpahkan kepada kerja
mereka, untuk membuka pintu air yang mengalirkan air ke Lumban Kulon
lebih lebar lagi. Kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan masih berada
di tempatnya. Mereka telah berdiri berkelompok. Dengan nada rendah
anak muda yang telah berkelahi melawan anak muda Lumban Kulon itu
berkata “Kita tidak perlu berkecil hati. Ternyata kita memiliki
kemampuan yang cukup untuk melawan mereka” “Apa yang akan kita
lakukan?“ bertanya seorang kawannya. “Kita tidak akan dapat
berbicara tentang kekerasan dengan anak Ki Buyut Lumban Wetan yang
memiliki sikap yang jauh berbeda. Karena itu, kita akan berbicara
dengan kedua pemburu itu, dan barangkah ada baiknya juga kita
berbicara dengan Jlitheng yang telah bekerja paling keras untuk
mengarahkan arus air yang liar diatas bukit itu” “Kita jangan
terlalu mengalah” desis seorang anak muda yang lain. “Kita memang
harus mempertimbangkannya” jawab kawannya yang baru saja berkelahi
itu. Tetapi anak-anak muda Lumban Wetan itu tidak mau- meninggalkan
bendungan itu. Mereka tetap berada di tempatnya. menunggui anak-anak
Lumban Kulon yang sedang meru-bah pintu air. Betapapun kemarahan
menghentak-hentak dihati anak- anak muda Lumban Kulon, namun mereka
tidak berani melanggar pesan Daruwerdi. Jika Daruwerdi menjadi
kecewa dan meninggalkan anak-anak muda Lumban Kulon, maka mereka
akan menjadi semakin kecil, justru karena di Lumban Wetan ada dua
orang pemburu yang bersedia memberikan latihan-latihan olah
kanuragan dan bahkan pernah terjadi benturan kekuatan dengan
Daruwerdi. “Apakah Daruwerdi takut menghadapi kedua pemburu itu?“
pertanyaan itu timbul di dalam hati anak-anak muda Lumban Kulon.
Namun sebenarnyalah Daruwerdi dengan sengaja memperpanjang waktu
bagi persoalan yang sedang timbul antara Lumban Kulon dan Lumban
Wetan. Jika persoalan itu cepat selesai, apapun yang terjadi, maka
kedatangan orang- orang Sanggar Gading akan sangat menarik
perhatian. “Hanya sampai akhir pekan ini” berkata Daruwerdi di dalam
hatinya. Tetapi hari-hari yang tidak genap sampai satu pekan itu
terasa lama sekali. Seakan-akan Daruwerdi tidak lagi bersabar
menunggu. Dalam pada itu, ketika matahari kemudian turun, anak- anak
Lumban Kulonpun menghentikan kerjanya. Mereka menunda kerja mereka
sampai esok. Sekilas mereka memandang anak-anak Lumban Wetan yang
masih berada di tempatnya, meskipun mereka kemudian telah duduk
diatas batu-batu padas. “Jangan hiraukan mereka” geram anak muda
bertubuh raksasa “ biarlah mereka mendekam disitu sampai tujuh hari
tujuh malam” Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi setiap orang
diantara mereka, rasa-rasanya sedang menahan kemarahan yang
menhentak-hentak dada. Setelah anak-anak Lumban Kulon itu hilang
dibalik ge- rumbul, maka anak-anak itupun kemudian bangkit berdir i.
Seorang diantara mereka berkata “Marilah kita lihat, apa yang telah
mereka kerjakan” Kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan itupun
kemudian melintasi sungai di bawah bendungan dan naik kebagian Barat
sungai yang menjadi sumber sengketa itu. ”Gila“ geram anak-anak muda
Lumban Wetan itu. Mereka melihat, bagaimana anak-anak muda Lumban
Kulon mulai dengan kerja mereka. Pintu air yang melimpahkan air ke
Lumban Kulon telah diper lebar. Parit induk yang akan menampung air
itupun sudah mulai dikerjakan. Dengan demikian, anak-anak Lumban
Wetan itu sudah dapat memperhitungkan, seberapa bagian air yang akan
melimpah ke tanah persawahan di Lumban Kulon dan seberapa bagian
yang akan mengalir ke Lumban Wetan. “Sawah-sawah kita akan kembali
menjadi ker ing” desis salah seorang dari anak-anak Lumban Wetan
itu. “Kita memang harus bertindak. Semakin cepat semakin baik Kita
sudah menjajagi kemampuan mereka. Satu dian- antara mereka sudah
kita ketahui kekuatannya. Meskipun menurut Nugata ia bukan anak
terbaik di Lumban Kulon, tetapi ia tentu anak muda yang
diperhitungkan. Ternyata ia adalah orang yang pertama mengambil
sikap” Anak-anak muda Lumban Wetan itupun akhirnya bersepakat untuk
melakukannya. Meskipun demikian mereka tidak akan meninggalkan
Jlitheng dan kedua pemburu yang telah mengajari mereka dalamolah
kanuragan. Ketika langit menjadi gelap, kesepuluh anak-anak Lumban
Wetan itupun segera bersiap untuk meninggalkan bendungan, setelah
hampir sehari mereka menunggui anak-anak Lumban Kulon membangun
pintu air menurut kehendak mereka sendiri. Meskipun mereka tidak
makan sepanjang hari, tetapi karena niat mereka yang teguh mereka
sama sekali tidak merasa lapar. Memang mereka merasa haus, tetapi
mereka telah mengambil air disebuah belik kecil di pinggir sungai
itu. “Marilah kita pulang” berkata anak muda yang tertua diantara
mereka kita sudah mempunyai bahan cukup banyak untuk menentukan
sikap” Kesepuluh anak-anak muda itupun segera bersiap untuk kembali
ke padukuhan mereka. Tetapi langkah mereka terhenti ketika tiba-tiba
dua orang telah datang mendekati mereka. Dua orang yang sama sekali
tidak mereka kenal. “Luar biasa” desis salah seorang dar i kedua
orang itu. Kesepuluh anak-anak itu termangu-mangu sejenak. Namun
salah seorang dari merekapun segera bertanya “Siapakah kalian berdua
he?“ “kalian tidak perlu mengenal kami. Kami adalah dua orang
perantau yang sekedar mengikut i langkah kaki tanpa tujuan dan tanpa
kehendak apapun juga dengan perantauan kami selain ingin melihat
tempat-tempat yang belum pernah kami lihat” Jawab salah seorang dari
keduanya. “Lalu, apa maksud kalian datang kepada kami?“ bertanya
anak muda Lumban Wetan itu. “Tidak apa-apa. Kami hanya mengagumi
kalian. Apa yang telah kalian lakukan benar-benar membuat kami
heran. Kami melihat kalian datang menunggui anak-anak yang membuka
pintu air itu. Kami melihat kalian berkelahi, dan kami melihat
anak-anak itu kembali bekerja” jawab salah seorang dari kedua orang
itu “Tetapi setelah itu kami meninggalkan tempat kami menyaksikan
sikap kalian yang luar biasa itu. Menjelang senja kami kembali.
Ternyata kalian masih tetap berada disini. Kalian sama sekali tidak
meninggalkan tempat ini meskipun anak-anak membuka pintu air itu
mengancam kalian” “Terima kasih” jawab anak muda yang tertua
diantara anak-anak muda Lumban Wetan itu “kalian memuji kami “
“Tidak. Sama sekali tidak. Kami sama sekali t idak bermaksud memuji.
Tetapi sikap kalian benar-benar terpuji” berkata salah seorang dari
keduanya “ karena itulah maka justru kami ingin menyatakan kesediaan
kami untuk membantu kalian apabila kalian perlukan” Anak-anak muda
Lumban Wetan itu terkejut. Mereka t idak mengenal kedua orang itu.
Namun tiba-tiba keduanya telah menawarkan dir i untuk membantu
mereka j ika diperlukan. “Apakah keuntungan kalian membantu kami?“
tiba-tiba salah seorang dari anak-anak Lumban Wetan itu bertanya.
“Tidak ada” jawab salah seorang dari keduanya “Kami hanya tertarik
melihat sikap kalian, karena nampaknya kalian berada dipihak yang
benar dalam sengketa air ini“ Anak-anak Lumban Wetan itu menjadi
semakin heran. Kedua orang itu mengaku tidak berkepentingan dan
tidak mempunyai keuntungan apapun juga. Tetapi sikap mereka,
ternyata telah sangat menarik perhatian anak-anak muda Lumban Wetan.
“Kedua pemburu itu datang dengan tiba-tiba” berkata anak-anak muda
Lamban Wetan di dalam hati “Mereka membantu kami dan bahkan bersedia
mengajar kami dalam olah kanuragan. Sekarang, dua orang lagi datang
kepada kami dengan kesediaan untuk membantu pula” Namun anak-anak
muda Lumban Wetan melihat, meskipun dalam keremangan ujung malam,
bahwa wajah dan sikap kedua orang itu agak berbeda dengan sikap dan
wajah dari kedua orang pemburu yang telah berada di Kabuyutan mereka
untuk beberapa lamanya. “Ki Sanak“ tiba-tiba orang tertua dari
kesepuluh anak-anak muda Lumban Wetan itu bertanya “Jika kami ingin
menyatakan permohonan kami, misalnya, dalam keadaan yang tidak
teratasi karena Daruwerdi langsung melibatkan dir i, dimana kami
dapat menjumpai kalian?“ Kedua orang itu saling berpandangan
sejenak. Namun] salah seorang dari mereka berkata “Jangan mencari
kami. Mungkin kami berada di lereng bukit itu, tetapi mungkin berada
di bukit gundul atau dimanapun yang menarik hati kami. Kamilah yang
akan membayangi persoalan yang timbul diantara kalian” “Tetapi,
bagaimana cara kami, jika kami memerlukan kalian” bertanya anak muda
Lumban Wetan itu. ”Dalam benturan yang tidak terelakkan, aku akan
berada disekitar tempat itu. Kalian dapat member ikan isyarat
kepadaku jika kalian memer lukan. Pakailah sebuah kentongan kecil.
Dan aku akan tanggap j ika kentongan itu kalian bunyikan” berkata
salah seorang dari keduanya. Anak-anak muda Lumban Wetan itu
termangu-mangu. Yang tertua diantara merekapun minta diri untuk
segera kembali ke padukuhan mereka. Dibanjar, peristiwa yang terjadi
di bendungan itu telah menjadi bahan pembicaraan. Banjar di induk
padukuhan dari Kabuyutan Lumban Wetan itu "penuh dengan anak-anak
muda. Bukan saja anak-anak muda dari induk padukuhan di Kabuyutan
Lumban Wetan. Tetapi juga dari padukuhan- padukuhan yang lain.
Rasa-rasanya banjar itu akan meledak oleh kemarahan yang bergetar di
hati anak-anak muda Lumban Wetan. Mereka merasa bahwa mereka sudah
cukup sabar dan menahan diri. Tetapi anak-anak muda Lumban Kulon
justru telah memanfaatkan kesabaran anak-anak muda Lumban Wetan itu
untuk memaksakan kehendak mereka dengan, merombak pintu air yang
telah ada sehingga pintu air yang melimpahkan air ke Lumban Kulon
menjadi jauh lebih lebar. Dalam pada itu, yang menarik perhatian
Semi dan kawannya adalah justru hadirnya dua orang yang tidak
dikenal itu. Dua orang yang telah menawarkan keinginan mereka untuk
membantu. Bahkan Rahu yang berada di banjar itu pula, telah
mendengarkan ceritera anak-anak Lumban Wetan itu dengan hati yang
berdebar-debar. “Siapa mereka?“ desis Semi ke telinga kawannya.
“Kita harus berusaha untuk mengetahuinya” sahut kawannya “Tetapi
keduanya tentu bukan kawan-kawan Rahu. Semi menar ik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang dapat member
ikan kesan khusus kepada anak-anak muda Lumban Wetan itu. Meskipun
merekapun mengerti, bahwa Semi agaknya telah tertarik kepada
ceritera tentang kedua orang itu. Ketika Semi kemudian sempat
berbicara dengan kawannya dan Rahu, maka iapun berkata “Kedua orang
itu harus mendapat perhatian tersendiri. Mungkin keduanya adalah
orang-orang dari padepokan lain. Mungkin Kendali Putih atau
orang-orang Gunung Kunir. MeTeka tidak boleh mengacaukan hubungan
Daruwerdi dengan orang-orang Sanggar Gading meskipun bagi Daruwerdi,
siapapun yang dapat memenuhi tuntutannya tidak akan mendapat
pelayanan yang berbeda” “Kita harus dapat menyerahkan Pangeran itu,
dan kemudian menerima pusaka yang telah dijanj ikan. Baru kemudian
kita akan mengambil sikap” berkata Rahu. Dengan demikian, kehadiran
kedua orang itu rasa-rasanya telah menambah beban orang-orang yang
telah mendahului berada di daerah Sepasang Bukit Mati itu. “Tetapi
jika keduanya dikir im oleh salah satu pihak dengan pengertian yang
lengkap tentang saat-saat peiiyerahai Pangeran itu kepada Daruwerdi,
maka kemungkinan yang gawat akan dapat terjadi” berkata Semi.
“Sebaiknya kita benar-benar mempersiapkan tempat ini” berkata Rahu
“Kita harus berbicara dengan Jlitheng” Diluar pengetahuan anak-anak
muda Lumban Wetan, maka Jlithengpun telah bertemu dengan Rahu.
Tetapi Jlitheng justru telah tertarik pula kepada berita tentang dua
orang yang telah hadir di daerah Lumban “Aku belum mengetahuinya”
desis Jlitheng “Tetapi kehadiran orang-orang yang demikian itu
bukannya yang pertama di daerah ini. Sejak orang Kendali Putih
bertemu dan saling membunuh dengan orang Pusparuri di daerah ini,
maka orang-orang yang tidak dikenal memang sering datang ke daerah
ini dengan maksud-maksud tertentu, yang tentu saja ada hubungannya
dengan kehadiran Daruwerdi disini” “Mungkin kau akan mendapat
kesempatan pertama untuk mengetahui tentang kedua orang itu” desis
Rahu. Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun katanya “Aku akan
berusaha. Tetapi kalianpun harus berbuat sesuatu” “Ya. Sudah tentu”
desis Rahu. . “Selebihnya, kau jangan menganggap untuk seterusnya
Daruwerdi hanya akan hadir disini seorang diri” gumam Jlitheng
kemudian. “Sudah kami perhitungkan” jawab Rahu. Lalu “Tetapi kaupun
harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan
oleh segala pihak. Termasuk kakek dUereng bukit itu” Jlitheng
tersenyum. Katanya “Apa yang kau ketahui tentang kakek di lereng
bukit itu? Ia terlalu sibuk dengan mata air yang ditungguinya”
Tetapi Rahu menyahut “Terserah atas penilaianmu, Mata air, bukit,
atau gadis itu” Dalam pada itu, selagi Lumban diributkan oles sikap
anak- anak Lumban Kulon tentang air yang justru telan berhasil
dikendalikan di atas bukit berhutan lebat, maka di Padepokan Sanggar
Gading, terjadi pula kesibukan tersendiri. Cempaka yang telah
kembali dari daerah Sepasang Bukit Mati telah melaporkan
pertemuannya dengan Daruwerdi kepada kakaknya. “Kita harus menemukan
sikap tersendiri” berkata Sanggit Raina “karena diluar perhitungan
kita. Yang Mulia akan turun sendiri langsung menyerahkan Pangeran
Sena Wa-sesa kepada Daruwerdi” Cempaka menar ik nafas dalam-dalam.
Katanya “Semuanya harus kita pertimbangkan sebaik-baiknya. Jika kita
ingin merampas pusaka itu dengan kekerasan, apakah kita akan mampu
berhadapan dengan Yang Mulia” “Itulah yang harus kita perhitungkan”
desis Sanggit Raina “Tetapi kita harus merampas pusaka itu. Pusaka
itu akan dapat memberikan sejuta kemungkinan bagi kita. Sebenarnya
pusaka itu tidak akan banyak berarti lagi bagi Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading. Ia sudah tidak mempunyai hari depan lagi, karena
umumya sudah lanjut. Jika ia mendapat pusaka itu, maka ia hanya akan
menikmatinya untuk waktu yang terlalu pendek, dan sama sekali tidak
seimbang dengan kebesaran pusaka itu sendiri” “Mungkin keturunan
atau siapapun yang akan menjadi pewarisnyalah yang akan
menikmatinya” desis Cempaka. “Tidak ada orang lain” jawab Sanggit
Raina “Tetapi baiklah kita berhati-hati. Mungkin ada sesuatu yang
tidak kita ketahui” “Tetapi terlalu sulit untuk mengambil pusaka itu
dari tangannya” desis Cempaka kemudian dengan nada rendah
Seolah-olah ia sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat memiliki
pusaka yang sedang diperebutkan itu. “Jangan cemas. Kita dapat
menempuh segala cara. Kasar atau halus. Beradu dada atau dari
punggung. Nilai pusaka itu cukup besar dibandingkan dengan cara
apapun juga. Juga dengan tidak mengingat harga diri dan nilai-nilai
kejantanan” sahut Sanggit Raina. “Kita akan berbuat curang?“
bertanya Cempaka. “Niat kita memang sudah dilambari dengan
kecurangan. Bukankah kita berbuat dengan landasan yang tidak jujur?
Jika kita jujur, kita tidak akan berniat untuk memiliki pusaka itu”
berkata Sanggit Raina “Tetapi kita tidak berbuat demikian. Kita
sudah berniat berbuat curang dengan memiliki pusaka itu. Apa
salahnya jika kita juga mempergunakan cara yang curang pula” Cempaka
menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Apapun yang akan kau
lakukan, aku akan melakukannya pula” “Siapkan racun yang paling
baik. Kita akan mempergunakannya lewat cara apapun juga. Ujung
senjata, ujung duri, atau makanan” berkata Sanggit Rain “Jika kita
berhasil, akulah yang akan mengusai seluruh pengikutnya. Aku merasa,
pengaruhku cukup besar atas mereka” Cempaka mengangguk-angguk
Katanya “Baiklah. Aku akan mempersiapkannya. Sementara Rahu aku
tinggalkan di daerah Sepasang Bukit Mati untuk meyakinkan, bahwa
kedatangan kami tidak akan diganggu oleh orang-orang dari kelompok
yang lain, yang tentu sudah mendengar bahwa Pangeran Sena Wasesa itu
hilang dari istananya” “Baiklah” berkata Sanggit Raina “Tetapi
kemungkinan itu tidak hanya dapat terjadi di daerah Sepasang Bukit
Mati. Tetapi orang Pusparuri, orang-orang Kendali Putih atau orang-
orang dari kelompok yang lain akan dapat menghambat perjalanan kita
jauh-jauh sebelum kita memasuki daerah Sepasang Bukit Mati itu”
Cempaka mengangguk-angguk. Kita sudah siap. Apapun yang akan kita
hadapi” “Jangan terlalu berbangga dengan kekuatan kita” sahut
Sanggit Raina “Jika orang Pusparuri, Kendali Putih atau orang- orang
Gunung Kunir sudah berani menghentikan kita diperjalanan ke daerah
Sepasang Bukit Mati, itu berarti mereka sudah siap menghadapi
kekuatan kita, karena kita tidak dapat menutup mata, bahwa mereka
tentu sudah mendapat keterangan serba sedikit tentang kekuatan kita”
“Jadi?“ bertanya Cempaka. “Kita akan mengambil jalan yang sama
sekali tidak diduga oleh siapapun” jawab Sanggit Raina. Cempaka
mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa cara itu adalah cara yang
paling baik. Ketika Sanggit Raina menghadap Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading bersama Cempaka untuk menyampaikan laporan tentang
daerah Sepasang Bukit Mati, maka Yang Mulia itu berkata “Kita akan
berangkat esok pagi. Aku setuju dengan pendapatmu. Kita akan
menempuh jalan yang tidak terduga sama sekali, meskipun jaraknya
menjadi lebih jauh. Bukan karena kita ketakutan menghadapi siapapun
juga, tetapi bagi kita lebih baik sampai kepada anak itu bersama
Pangeran Sena Wasesa yang selamat daripada kita akan membawanya
dalam keadaan yang lebih buruk, jika kita bertemu dengan kelompok
lain yang mungkin menjadi kasar, buas dan liar karena putus asa”
Dengan demikian, maka persiapan terakhir telah dilakukan. Menjelang
malam. Sanggit Raina telah menghadap Pangeran Sena Wasesa di
biliknya yang dijaga kuat. Pangeran yang masih dalam keadaan sakit
itu berbaring di dalam bilik yang tidak terlalu tuas, diatas amben
pring wulung yang berwarna kelam. “Pangeran” berkata Sanggit Raina
“Kita akan menempuh sebuah perjalanan yang panjang” Pangeran itu
memandang Sanggit Raina dengan pandangan yang sayup. “Maaf Pangeran”
berkata Sanggit Raina “ semuanya ini terjadi atas Pangeran, karena
satu permintaan. Bukan karena niat kami. Tetapi sebenarnyalah
Pangeran tidak usah mencemaskan nasib keluarga kecil Pangeran yang
Pangeran tinggalkan di istana “Apa maksudmu?“ bertanya Pangeran itu
dengan suara parau. “Seperti yang sudah Pangeran ketahui, bahwa kami
sudah membunuh kawan kami sendiri yang mencoba menodai kejujuran
sikap kami” Pangeran yang sedang sakit itu menarik nafas dalam-dalam
Ia memang sudah mendengar serba sedikit, apa yang telah terjadi di
istananya, sepeninggalnya. Namun itu sama sekali bukan satu
kepastian, bahwa setelah itu tidak akan pernah terjadi apapun juga
dengan puteri yang ditinggalkannya di istananya. Tetapi Pangeran itu
tidak mengatakannya. Betapapun jantungnya bergejolak, tetapi
wajahnya nampaknya tetap tenang dalam kekerasannya. Sanggit Raina
mengamatinya sejenak. Kemudian katanya selanjutnya “ Menurut Yang
Mulia, besok kita akan pergi ke daerah yang disebut Sepasang Bukit
Mati. Kita akan bertemu dengan seseorang anak muda yang memer lukan
Pangeran. Pangeran Sana Wasesa mengerutkan keningnya. Kemudian
katanya “Siapakah nama anak muda itu, dan apakah kepentingannya?“
“Namanya Daruwerdi” jawab Sanggit Raina “sedangkan kepentingannya
tidak kami ketahui dengan pasti. Tetapi bahwa yang kami lakukan ini
ada hubungannya dengan sebuah pusaka yang disimpan oleh anak muda
yang bernama Daruwedi itu” Wajah Pangeran Sena Wasesa telah
menegang. Bahkan per lahan-lahan iapun kemudian bangkit dan duduk di
bibir ambennya “Aku tidak kenal nama itu. Tetapi pusaka apa yang
kalian maksud?“ “Pusaka yang sangat berharga bagi kami” jawab
Sanggit Raina “Tetapi biarlah kita tidak berbicara tentang pusaka
itu. Ketahuilah Pangeran, justru karena besok pagi kita akan
berangkat. Anak muda yang bernama Daruwerdi itu minta agar kami
membawa Pangeran kepadanya jika kami ingin memiliki pusaka yang
sangat berharga itu” “Ya, pusaka apa?“ bentak Pangeran Sena Wasesa.
“Jangan membentak. Aku t idak dapat mengatakannya kepada Pangeran.
Tetapi demikian kami menyerahkan Pangeran, pusaka itu akan jatuh ke
tangan kami” jawab Sanggit Raina, lalu “Baiklah Pangeran merenungi
malam ini, apakah benar yang dikatakan oleh anak muda itu, bahwa
Pangeran pernah membunuh ayahnya. Jika Pangeran tidak mengenal nama
Daruwerdi itu, maka tentu Pangeran dapat mengingat orang -orang
penting yang pernah Pangeran bunuh” Pangeran yang sedang sakit itu
mengerutkan keninggnya. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya
sambil ber- guman “Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang
terjadi atasku. Dan aku tidak dapat mengingat, bahwa aku kira aku t
idak akan dapat mengingatkan lagi seorang demi seorang. “Maaf
Pangeran, aku tidak dapat membantu ingatan Pangeran karena aku tidak
tahu apa-apa tentang hal itu. Yang kami lakukan adalah sekedar
memenuhi permintaan Daruwerdi. Aku memer lukan sekali pusaka itu,
sementara Daruwerdi memer lukan sekali Pangeran dengan sikap apapun
juga yang tidak kami pertimbangkan“ Pangeran yang sedang sakit itu
telah berbaring lagi. Di- renunginya atap rumah yang tidak terlalu
bersih itu. Seolah- olah ia sedang menelusur inya merayap kemasa
lampau. Dalam pada itu, terdengar Sanggit Raina berkata “Silahkan
beristirahat sebaik-baiknya Pangeran. Nampaknya keadaan Pangeran
sudah berangsur baik. Besok kita akan menuju ke daerah Sepasang
Bukit Mati. Kita akan menempuh perjalanan yang tidak terbiasa
dilalui orang yang menuju ke daerah sekitar Sepasang Bukit Mati.
Kita akan menyusup di antara rimbunnya pepohonan hutan, agar
perjalanan kita tidak menarik perhatian orang lain. Karena itu,
mungkin perjalanan itu akan terasa sangat berat“ Pangeran Sena
Wasesa sama sekali t idak menyahut. “Perlu juga aku sampaikan,
Pangeran. Mungkin diperjalanan kita akan menjumpai bukan saja
rintangan alam disepanjang jalan, tetapi mungkin ada kelompok lain
yang ingin menguasai Pangeran, Juga atas permintaan Daruwerdi,
karena Pangeran yang masih dalam keadaan sakit itu berbaring di
dalam bilik yang tidak terlalu luas, diatas amben pring wulung yang
berwarna kelam. “Pangeran”berkata Sanggit Raina ”kita akan menempuh
sebuah perjalanan yang panjang” Pangeran itu memandang Sanggit Raina
dengan pandangan yang sayup. “Ia akan menukar Pangeran dengan pusaka
yang diperebutkan itu, siapapun yang menyerahkan Pangeran” berkata
Sanggit Raina lebih lanjut “nampaknya kepergian Pangeran dari istana
sudah bukan rahasia lagi, meskipun mungkin tidak di ketahui siapakah
yang telah membawa Pangeran” Pangeran Sena Wasesa .masih tetap
mematung, seolah- olah ia tidak menghiraukan sama sekali kata-kata
Sanggit Raina. Namun demikian hatinya yang bergelora bagaikan telah
memukul-mukul dadanya. Ketika kemudian Sanggit Raina
meninggalkannya, maka iapun menarik nafas dalam-dalam.
Perlahan-lahan Pangeran yang sedang sakit itupun bangkit dari
pembaringannya. Berdiri tegak sambil mengembangkan tangannya.
Selangkah ia maju ke pintu biliknya. Ketika telinganya yang tajam
tidak lagi mendengar sesuatu, maka iapun menar ik nafas dalam-dalam.
Sejenak Pangeran yang dianggap masih dalam keadaan sakit itu berdiri
diam sambil memperhatikan keadaan disekitarnya. Ketika ia yakin
bahwa t idak ada seorangpun didekat dinding biliknya, kecuali para
penjaga yang berada beberapa langkah mengitari bilik itu, maka iapun
mulai menggerak-gerakkan tubuhnya. Perlahan-lahan. Namun dengan
demikian ia berharap bahwa otot dan syarafnya tidak terlanjur
menjadi beku karenanya. “Aku harus meyakini, bahwa tenagaku akan
segera pulih kembali” berkata Pangeran itu di dalamhatinya. Sekilas
terbersit satu keinginan untuk menghindarkan diri dari penyerahan
yang sangat menyakitkan hati itu. Meskipun Pangeran itu sadar, bahwa
yang disebut Yang Mulia Panembahan Wuku Gading itu tentu memiliki
kelebihan dari pengikut-pengikutnya, namun jika ia menginginkan, ia
tentu akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Ia yakin tidak
akan ada seorangpun yang akan dapat mengejarnya, kecuali mungkin
sekali Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu. Namun j ika keadaan.
memaksa, maka iapun akan berani mempertaruhkan nyawanya melawan Yang
Mulia itu. diluar padepokan, sehingga tidak ada orang lain yang akan
ikut campur. Namun kadang-kadang timbul pula keinginannya untuk
mengetahui, siapakah sebenarnya orang yang mengingininya itu. Orang
yang menuduhnya, pernah membunuh ayahnya itu. Beberapa saat lamanya,
Pangeran yang dianggap masih sakit itu berada di dalam
keragu-raguan. Namun akhirnya ia berketetapan untuk tidak
meninggalkan padepokan Sanggar Gading dan ikut bersama mereka untuk
diserahkan kepada seseorang yang menghendakinya, dan bahkan akan
menukarnya dengan pusaka yang sangat berharga. Dengan demikian, maka
Pangeran itupun berusaha untuk memulihkan kekuatannya. Maka apapun
yang diserahkan kepadanya, dimakannya sebanyak-banyaknya. Mungkin
orang- orang Sanggar Gadingpun mengetahui bahwa keadaannya sudah
berangsur baik. Namun ia masih dapat berpura-pura bahwa tenaganya
masih terlampau lemah. “Aku berusaha untuk meningkatkan kemampuan
tenagaku yang hampir habis sama sekali” berkata Pangeran itu kepada
seorang yang bertugas menyerahkan makan malamnya “karena itu, aku
memang ingin makan sebanyak-banyaknya meskipun mulutku terasa sangat
pahit Aku berharap bahwa perjalanan yang akan aku lakukan besok,
tidak akan membuatku pingsan dan bahkan mati diperjalanan” “Apakah
Pangeran masih ingin makan lebih banyak lagi?“ bertanya orang itu.
“Berikan aku pisang dan makanan apapun yang ada untuk malamnanti”
berkata Pangeran itu. “Baiklah. Aku akan mengambil lagi” Meskipun
demikian, Pangeran iuipun kembali lagi berbaring di pembaringannya.
Baru ketika orang itu sudah melangkah menjauh maka Pangeran itupun
bangkit dan menutup pintunya rapat-rapat, agar ia dapat bebas
bergerak di dalam biliknya. Disaat orang itu kembali membawa makanan
dan pisang, maka Pangeran yang memiliki pendengaran yang sangat
tajam itupun telah mendengarnya, sehingga ketika pintu berderit,
maka Pangeran itu sudah berbaring lagi diamben bambunya. Namun malam
itu, pangeran Sena Wasesa seolah-olah tidak sempat tidur. Ia hanya
dapat tertidur sejenak, menjelang pagi Meskipun demikian, yang
sejenak itu telah dapat menyegarkan tubuhnya Pagi-pagi benar,
orang-orang Sanggar Gading sudah bersiap-siap untuk melakukan
perjalanan yang panjang. Sanggit Rainalah yang memasuki bilik
Pangeran Sena Wasesa yang sudah terbangun, namun masih berbaring
dipembaringannya “Pangeran” berkata Sanggit Raina “Kita akan
melakukan perjalanan itu hari ini. Marilah, barangkali Pangeran akan
mandi atau akan membersihkan diri sebelum kita berangkat” Pangeran
itu menggeleng. Katanya “Aku tidak perlu mandi atau membersihkan
diri. Jika aku akan kalian bawa. kemanapun juga, terserah kepada
kalian” Sanggit Raina menarik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang
olehnya pisang dan makanan, iapun berkata “Untuk apa pisang dan
makanan itu Pangeran?“ “Biar lah tubuhku menjadi terasa sedikit
kuat. Aku akan membawanya untuk bekal diperjalanan” jawab Pangeran
itu “Sebenarnya itu tidak perlu. Kami sudah membawanya Tetapi jika
Pangeran akan membawanya terserah kepada Pangeran” Pangeran Sena
Wasesa tidak menjawab. Namun dengan demikian ia sudah berhasil
memberikan kesan, betapa ia ingin memulihkan kekuatannya yang masih
sangat lemah serta kegelisahannya menghadapi satu masa yang tidak
menentu Tetapi sebenarnyalah bahwa Pangeran itu sudah menyiapkan
diri. menghadapi segala peristiwa dengan hati yang mapan. Iapun
sudah yakin bahwa kemampuannya sebagian besar tentu sudah pulih
kembali. Hatinya yang terguncang oleh peristiwa yang sangat
menyakitkan perasaannya itulah yang justru membuatnya semakin cepat
sembuh. Apalagi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading memang memberinya
juga obat sesuai dengan pengetahuannya, agar Pangeran itu tidak mati
sebelum sempat diserahkan kepada Daruwerdi. Namun ternyata bahwa
Pangeran itu justru telah menjadi sembuh sama sekali. Bahkan
tenaganyapun sudah dapat dikatakan pulih. Dengan bekal itulah, maka
Pangeran Sena Wasesa telah bertekad untuk bertemu dengan orang yang
memer luivannya untuk ditukar dengan pusaka yang dianggap oleh
orang-orang Sanggar Gading memiliki kekuatan yang .ajaib. Karena
Pangeran yang dianggap sedang sakit itu tdak bangkit dar i
pembaringannya, mata Sanggit Raina sudah memer intahkan seseorang
untuk memberikan makan paginya. Dengan demikian, maka orang-orang
Sanggar Gading itupun akan segera berangkat menuju ke daerah
Sepasang Bukit Mati. “Maaf Pangeran“ berkata Sanggit Raina
“bagaimanapun keadaan Pangeran, kami harus berangkat pagi ini“
Pangeran itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi iapun tidak melawan
ketika Sanggit Raina memapahnya keluar biliknya. Seekor kuda telah
menunggunya. Dengan hati-hati Sanggit Raina dibantu oleh Cempaka
telah membawa Pangeran itu mendekat kuda yang dipersiapkan baginya.
“Kau akan dibantu oleh seseorang Pangeran” berkata Sanggit Raina”
mungkin Pangeran masih sangat lemah. “Tidak” bentak Pangeran itu “
dapat bencuda en-diri meskipun kita akan pergi keujung bumi. Aku
adalah seorang Pangeran dan seorang Senapati perang. Kau kira aku
tidak dapat naik seokor kuda kerdil seperti ini” “Bukan maksudku
Pangeran. Tetapi justru karena keadaan tubuh Pangeran yang masih
angat lemah itulah” sahut Sanggit Raina. “Aku tidak peduli Aku akan
berkuda sendir i” geram Pangeran itu. “Berkudalah sendiri“ Cempaka
yang menjadi tidak sabar “apakah kau akan mencoba melar ikan diri?”
Pangeran itulah menggeretakan giginya memandang Cempaka. Katanya
“Kau anak muda yang tidak tahu adat” Cempaka masih akan menjawab.
Tetapi Sanggit Raina mencegahnya. Katanya kemudian “Marilah,
silahkan naik” Bagaimanapun juga. Sanggit Raina dan Cempaka masih
harus membantu Pangeran yang dianggap masih terlalu lemah itu.
Bahkan dua kali Pangeran Sena Wasesa gagal melontarkan kakinya
keatas punggung kuda itu, sehingga Sanggit Raina dan Cempaka
terpaksa mendorongnya. Pangeran Sena Wasesa itu berpaling ketika ia
mendengar suara tertawa. Ternyata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading
yang sudah duduk diatas punggung kudanya, memandanginya sambil
tertawa. Katanya “Hati-hatilah Pangeran” Terdengar Pangeran yang
dianggap sedang sakit itu meng geretakkan giginya sambil menggeram
“Ingat Panembahan. Pada suatu saat, aku akan datang kembali
menghancurkan Pada suatu saat, aku akan datang kembali menghancurkan
padepokanmu ini” Tetapi Panembahan itu tertawa semakin keras.
Katanya “Sudahlah. Jangan mengada-ada. Aku tidak tahu. nasib apakah
yang akan Pangeran alami setelah Pangeran aku serahkan kepada anak
gila di daerah Sepasang Bukit Mati itu. Mung kin Pangeran akan
mengalami nasib yang baik. Tetapi mungkin pula sebaliknya” Pangeran
itu memotong dengan keras “Aku akan membunuh anak itu” “Terserahlah”
berkata Panembahan itu “Tetapi Pangeran harus ingat keadaan Pangeran
itu. Jika aku memberikan obat selama ini, maksudku sekedar
mempertahankan hidup Pangeran, sehingga aku akan dapat menyerahkan
Pangeran hidup-hidup seperti yang diminta oleh anak di Sepasang
Bukit Mati itu” Pangeran Sena Wasesa menggeram. Tetapi ia t idak
berbuat apa-apa. Disebelah menyebelahnya dan disekitar Panembahan
itu terdapat beberapa orang yang akan dapat berbuat sesuatu jika ia
menyerangnya. Dalam pada itu, maka Panembahan Wukir Gading itupun
kemudian berkata “Kita akan berangkat. Kita akan memilih jalan
seperti yang sudah kita sepakati. Aku akan berada di belakang
Pangeran yang akan didampingi oleh Sanggit Ralna. agar aku dapat
mengawasinya” Pangeran itu menggeram, tetapi ia tidak menjawab.
Semen tara itu Yang Mulia itu berkata selanjutnya “Kita tidak akan
menempuh perjalanan ini dalam satu kelompok yang besar. Tetapi kita
akan berir ingan dengan jarak yang cukup, meskipun dari setiap
kelompok kecil akan dapat didengar isyarat jika diperlukan” ia
berhenti sejenak, lalu “ingat. Ada beberapa pihak yang menginginkan
pusaka itu, sehingga ada beberapa pihak pula yang menginginkan
Ppngeran ini” “Aku akan membunuh mereka” potong Pangeran itu
lantang. Namun kemudian iapun terbatuk-batuk sambil memegangi
dadanya. “Sudahlah Pangeran. Betapapun tinggi ilmu yang Pangeran
miliki, tetapi Pangeran tidak akan dapat melawan penyakit yang
menyerang Pangeran dari diri Pangeran sendir i” berkata Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading sambil tertawa pula. Lalu katanya “Marilah.
Kita akan berangkat” Demikianlah, orang-orang dari Sanggar Gading
itupun kemudian mulai meninggalkan padepokannya. Sekelompok kecil
demi sekelompok kecil yang terdiri dari tiga atau ampat orang. Namun
jarak diantara kelompok itu masih dapat dicapai oleh suara isyarat.
Ditengah-tengah kelompok-kelompok kecil itu, Yang Mulia
mempersilahkan Pangeran Sena Wasesa. mengikut i tujuan yang sudah
ditentukannya. Seperti yang dikatakan oleh Panembahan Wukir Gading,
maka Sanggar Raini berkuda disebelah Pangeran Sena Wasesa. sedang di
belakangnya Panembahan Wukir Gading berkuda bersama Cempaka. Maka
dengan kekuatan penuh orang-orang Sanggar Gading itu membawa
Pangeran Sena Wasesa ke daerah Sepasang Bukit Mati. Dengan sadar
mereka memperhitungkan kekuatan pihak-pihak yang mungkin akan
mengganggu perjalanan itu. Hanya beberapa orang yang kurang berarti
sajalah yang tinggal di padepokan mereka untuk mengawasi dan
menunggu isi padepokan itu. Namun demikian satu dua orang yang
tinggal itu tetap masih harus mengawasi padang perburuan yang
menjadi tempat pendadaran yang bengis bagi orang-orang yang akan
memasuki, sengaja atau tidak sengaja daerah yang dikuasai oleh Yang
Mulia Panembahan Wukir Guding. Lepas dari padepokan, dan setelah
mereka melintasi padang kematan yang berwarna gersang, maka ir ing-
iringan itu langsung memasuki jalan yang sudah mereka rencanakan.
Orang-orang Sanggar Gading yang memiliki nalur i kekerasan yang
kejam sejak mereka memasuki padepokan itu. sama sekali tidak gentar
menghadapi siapapun juga dar i kelompok yang manapun juga. Tetapi
mereka berusaha untuk menghindari benturan kekuatan sebelum mereka
sampai ke daerah Sepasang Bukit Mati, agar Pangeran yang mereka bawa
itu tidak mengalami sesuatu yang Dan dapat dipakai alasan oleh
Daruwerdi untuk merubah perjanjian yang telah disepakati. Sementara
orang-orang Sanggar Gading berangkat dari padepokannya menuju ke
daerah Sepasang Bukit Mati. maka anak-anak muda Lumban Kulon telah
sibuk melanjutkan kerja mereka membuka pintu air dan menyesuaikan
parit induk yang akan menampung air. “Anak-anak Lumban Wetan yang
gila itu tidak datang lagi hari ini” berkata salah seorang dari
anak-anak muda Lumban Kulon. “Mereka harus berhati-hati. Mungkin
mereka menjadi ngeri mcngngat kehadran mereka kemarin. Agaknya
mereka kemarin datang tanpa pertimbangan nalar sama sekali. Jika
saat itu. anak-anak muda Lumban Kulon kehilangan kesabaran, maka
mereka akan menjadi pupuk disini. Untunglah kita maih dapat menahan
dri. sehingga yang terjadi betapapun menyakitkan liati kami, masih
dapat kami tahankan” sahut yang lain. Dengan tanpa kehadiran
anak-anak muda Lumban Wetan, maka rasa-rasanya anak-anak muda Lumban
Kulon itu dapat bekerja lebih baik dan lebih cepat. Mereka tidak
perlu setiap kali menengok kesebelah sungai, memandangi anak-anak
Lumban Wetan yang seolah-olah mengawasi kerja mereka dengan sorot
mata yang memancarkan panasnya hati mereka. Namun sebenarnyalah
anak-anak Lamban Kulon tidak mengetahui, bahwa anak-anak Lumban
Wetan telah menyiapkan rencana mereka sendiri. Merekapun telah
kehilangan kesabaran. Apalagi setelah salah seorang dari anak-anak
muda Lumban Wetan itu berhasil menjajagi kemampuan anak-anak muda
Lumban Kulon. “Meskipun yang telah berkelahi itu satu dari sepuluh
anak muda terbaik di Lumban Wetan, namun sebenarnyalah anak- anak
muda Lumban Wetan yang lainpun kemampuannya tidak terpaut banyak
dari yang sepuluh itu. Apalagi mereka yang dengan sungguh-sungguh
mempergunakan setiap waktu luangnya” berkata anak muda tertua dari
kesepuluh anak muda itu Sementara itu J litheng menjadi gelisah. Ia
sudah t idak berhasil lagi menahan kemarahan anak-anak Lumban Wetan.
Bahkan, Jlitheng merasa jika ia memaksakan kehendaknya terhadap
anak-anak Lumban Wetan agar mereka menahan diri lebih lama lagi,
maka mereka tentu akan mempunyai prasangka buruk terhadap Jlitheng.
Dalam kegelisahannya itu, diluar sadarnya, Jlitheng telah mendaki
lereng bukit dan menemui Kiai Kanthi untuk menyampaikan persoalan
yang sedang berkembang di Kabuyutan Lumban yang telah terbagi
menjadi Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu. “Aku tidak mengira, bahwa
perkembangan dari pengendalian air itu menjadi demikian buruknya”
berkata Kiai Kanthi. “Anak-anak Lumban Wetan sudah tidak dapat
ditahan lagi” berkata Jlitheng. “Apableh buat” berkata Kiai Kanthi
“Jika persoalannya telah berkembang semakin buruk, maka orang-orang
yang kini berada di Lumban Wetan harus berani bertindak. Tidak ragu-
ragu lagi. Anak-anak Lumban Kulon berbuat demikian karena mereka
memiliki satu kepercayaan, bahwa mereka memiliki kelebihan dari
anak-anak Lumban Wetan. Jika orang-orang yang berada di Lumban Wetan
itu membiarkan anak-anak muda kedua Kabuyutan itu menyelesaikan
masalah mereka dengan cara mereka sendiri, mungkin akan jatuh korban
yang tidak terduga sebelumnya. Anak-anak muda itu akan dibakar oleh
kemarahan yang tidak terkendali. Dengan kemampuan olah kanuragan
yang mereka miliki dan hampir seimbang itu, maka mereka akan saling
menikam dan tanpa pertimbangan, mereka akan saling membunuh”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Semuanya itu tiba-tiba saja
terbayang dirongga matanya. Dengan nada rendah ia bertanya “Jadi,
apakah yang sebaiknya kami lakukan” “Kalian dapat bertindak langsung
kepada sumber kebanggaan anak-anak Lumban Kulon” berkata Kiai
Kanthi. “Daruwerdi?“ bertanya Jlitheng. “Ya. Kalian harus dapat
memaksa Daruwerdi menghent ikan permusuhan ini” jawab Kiai Kanthi.
Wajah Jlitheng justru menegang sejenak. Kemudian dengan ragu-ragu ia
berkata “Tetapi j ika demikian, satu masalah yang besar akan
tersangkut pula” Kiai Kanthi termangu-mangu sejenak. Terdengar ia
berdesis lambat “Semuanya saling berkatan Tetapi nampaknya Daruwerdi
dengan sengaja telah menumbuhkan persoalan antara anak-anak muda
Lumban Kulon dan Lumban Wetan, agar jika timbul persoalan yang
menyangkut dir inya dan kepentingan pribadinya, maka hal itu tidak
akan terlalu banyak menarik perhatian” “Kiai” berkata Jlitheng
“masalah yang akan terjadi menyangkut kepentingan Daruwerdi itu
memang sudah hampir terjadi. Menurut keterangan yang aku terima,
orang- orang yang akan menyerahkan seorang Pangeran sesuai dengan
permintaan Daruwerdi itu akan dilakukan pada akhir pekan. Dan
kitapun hampir sampai kebatas waktu itu. Hari terakhir dari pekan
ini. Kemudian orang-orang Sanggar Gading akan datang membawa seorang
Pangeran. Sementara dua orang yang tidak dikenal sudah berada di
daerah ini pula” “Berbuatlah lebih cepat” berkata Kiai Kanthi
“Jangan ragu- ragu lagi. Lakukanlah atas sumber kebanggaan anak-anak
Lumban Kulon, sebelum hari terakhir itu tiba. Dengan demikian,
kalian akan dapat mengikut i peristiwa dihari terakhir itu dengan
lebih saksama” “Kami akan mencoba Kiai. Tetapi apakah kami akan
dapat melakukannya? Kita masih harus memperhitungkan segala
kemungkinan. Yang terjadi diantara kami sendiri, dan yang terjadi
diseputar Daruwerdi” jawab Jlitheng. “Aku akan mengikuti
perkembangan keadaan dengan saksama. Meskipun aku tidak akan dapat
banyak berbuat, tetapi mungkin aku dapat membantumu dalam saat-saat
yang kau perlukan” berkata Kiai Kanthi kemudian. “Terima kasih Kiai”
sahut Jlitheng “Aku minta diri. Setiap saat aku akan datang” Kiai
Kanthi mengangguk-angguk. Ia masih member ikan sedikit pesan tentang
kemungkinan yang paling pahit j ika Daruwerdi berkeras hati. “Jangan
kau patahkan kemungkinannya untuk menerima Pangeran itu. Jika
terjadi sesuatu atasnya, sehingga ia tidak dapat menerima Pangeran
itu, mungkin akan terjadi Perubahan perkembangan keadaan dari yang
sudah kalian perhitungkan, sehingga keadaan yang tidak menentu itu
akan dapat menyulitkan kalian sendir i” “Terima kasih Kiai” jawab
Jlitheng sambil melangkah meninggalkan gubug Kiai Kantthi. Namun
dalam pada itu, sepeninggal Jlitheng terdengar suara seorang gadis
dari balik dinding bambu “Ayah tidak adil” “Kau mendengarkannya
Swasti?“ bertanya ayahnya. “Ya. Dan ayah telah menyalahkan anak-anak
muda Lumban Kulon dan bahkan memberikan petunjuk agar anak Lumban
Wetan itu langsung menghadapi Daruwerdi. Apa ayah yakin bahwa
Daruwerdi bersalah dan perlu mendapat perlakuan yang demikian?“
bertanya Swasti. “Aku mengikuti perkembangan keadaan di dua
Kabuyutan yang semula hanya tunggal itu Swasti. Disamping anak Ki
Buyut Lumban Kulon yang keras kepala, maka di Lumban Kulon telah
timbul satu kebanggaan dari yang berlebih-lebihan karena mereka
menganggap bahwa kemampuan yang mereka miliki melampaui kemampuan
anak-anak muda Lumban Wetan. Merasa lebih itulah yang telah
mendorong mereka untuk melakukan satu pekerjaan yang tidak terpuji.
Mereka berusaha memaksakan kehendaknya atas Lumban Wetan. Padahal
yang mereka lakukan itu menyangkut nasib bukan saja anak-anak muda
Lumban Wetan sekarang, tetapi nasib anak cucu mereka” “Tetapi
Daruwerdi tidak bersalah. Ia hanya memenuhi permintaan anak-anak
Lumban Kulon, dan bahkan dahulu anak-anak Lumban Wetanpun ikut pala
berlatih bersama mereka” berkata Swasti. Tetapi perkembangan
hubungan antara kedua Kabuyutan itu kemudian telah berusaha.
Ketamakan mulai menjalar i hati anak-anak Lumban Kulon yang dialasi
dengan satu kebanggaan, bahwa mereka akan dapat memaksakan kehendak
mereka atas anak-anak muda Lumban Wetan” Swasti yang kemudian duduk
diamben bambu bersama ayahnya itupun masih juga menjawab “Ayah
terlalu terpengaruh olah anak muda yang mengaku putera seorang
bangsawan tinggi itu. Dengan demikian di dalam pandangan ayah, maka
apa yang dikatakan oleh anak itu selalu benar, sementara ayah sejak
semula telah dihinggapi perasaan tidak senang terhadap Daruwerdi.
karena ayah menganggapnya seorang anak muda yang sombong” Kiai
Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia menjadi cemas bahwa
anaknya telah dipengaruhi oleh kedewasaan seorang gadis menghadapi
anak-anak muda. Tetapi anak-anak muda itu tidak terlalu dikenalnya.
Yang dilihat oleh Swasti hanyalah ujud-ujud lahiriahnya saja. Ia
tidak mengetahui tabiat dan watak anak-anak muda yang dikenalnya
sepintas itu. “Mungkin ia masih dipengaruhi oleh sifat-sifat
Jlitheng yang terlalu banyak ingin tahu tentang keadaan keluarga
kecil ini, dan bahkan Swasti pernah menjajagi kemampuan anak muda
yang bernama Jlitheng itu” berkata Kiai Kanthi di dalam hatinya.
Tetapi Kiai Kanthi t idak mengungkapkan dugaannya itu dihadapan anak
gadisnya. Jika terjadi salah paham, gadis yang nakal itu akan dapat
berbuat sesuatu yang akan menambah kecemasannya. “Mudah-mudahan
dugaanku salah” berkata Kiai Kanthi di dalam hatinya. Namun
demikian, ia tidak dapat begitu saja mengabaikan sikap anak
gadisnya. Bahkan untuk menenangkan hatinya ia berkata kepada diri
sendiri “Tentu tidak ada perasaan apa-apa antara anak gadisku dengan
Daruwerdi. Jika timbul sepercik perasaan yang tumbuh dari
kedewasaannya, maka ia justru akan menjadi malu dan merasa sangat
berat untuk sekedar menyebut namanya saja” Dalam pada itu, maka
kedua ayah beranak itu untuk sejenak justru hanya saling berdiam
diri saja. Nampaknya mereka sedang bermain bersama angan-angan
masing- masing. Sementara itu Jlithengpun telah berada kembali
dipadukuhannya. Diluar pengamatan kawan-kawannya ia telah
membicarakan masalah yang sedang mereka hadapi itu dengan Rahu, Semi
dan seorang kawannya. “Aku sependapat” berkata Semi “Kita akan
datang kepadanya untuk memaksa agar ia tidak berbuat sesuatu jika
anak-anak Lumban Wetan mengambil sikap terliadap anak- anak Lumban
Kulon” “Bagaimana j ika ia berkeberatan?“ bertanya kawan Semi. “Kita
akan mengancamnya untuk bertindak kasar seperti yang dilakukannya
tanpa ampun. Ia tentu akan mempertimbangkan, justru saat akhir pekan
sudah dekat. Daruwerdi tentu akan mementingkan masalah yang lebih
besar itu daripada masalah anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban
Wetan” jawab Semi. “Jadi, apakah akan kita biarkan saja anak muda
Lumban Kulon itu berkelahi melawan anak-anak muda Lumban Wetan?“
desis Rahu “bukankah dengan demikian akan terjadi pembunuhan dan
pembantaian yang tidak terkendali antara dua kelompok anak muda yang
sedang marah?“ “Kita akan ikut campur” sahut Jlitheng “maksudku,
tentu bukan aku. Tetapi Semi. Tanpa Daruwerdi, maka anak Lumban
Kulon akan mudah dikendalikan” “Jadi, apa yang baik menurut
pertimbanganmu?“ bertanya Rahu. “Seorang melawan Seorang, seperti
yang ditawarkan oleh Nugata desis Jlitheng. “Bagus. Anak muda Lumban
Wetan mempunyai seorang yang meyakinkan untuk mewakili mereka” sahut
Rahu “Maksudmu Jlitheng?“ bertanya Semi. “Jangan aku“ Jlithenglah
yang menyahut “Tetapi Semi akan menujuk seorang yang paling baik
dari sepuluh orang terbaik dari anak-anak Lumban Wetan” Semi
mengerutkan keningnya. Katanya “Aku belum mengetahui kemampuan yang
sebenarnya dari anak Ki Buyut Lumban Kulon itu” Tidak akan terpaut
banyak dari anak muda bertubuh raksasa itu” berkata Jlitheng “karena
itu, jika belum kau menganggap bahwa anak muda yang berkelahi di
bendungan itu bukan yang terbaik dar i sepuluh orang kawan-
kawannya, maka kau akan dapat menunjuk seorang yang paling baik dari
mereka. Akhirnya mereka bersepakat. Dan merekapun telah menentukan
satu sikap, bahwa mereka harus memaksa Daruwerdi untuk tidak
mendorong anak-anak Lumban Kulon untuk membusungkan dada mereka dan
berusaha memaksakan kehendak mereka atas anak-anak Lumban Wetan.
Dengan demikian, maka anak-anak muda Lumban Wetanpun segera ditemui
oleh Semi, terutama sepuluh orang terbaik. Dengan seksama Semi
memilih seorang diantara mereka, untuk pada satu saat berhadapan
dengan Nugata. anak laki-laki Ki Buyut di Lumban Kulon. “Apa yang
harus kita lakukan?“ bertanya anak-anak muda Lumban Wetan. “Biarkan
anak-anak muda Lumban Kulon hari ini meneruskan kerja mereka”
berkata Semi. “Dan kita membiarkan masa depan dari Kabuyutan kita
tenggelam?“ sahut salah seorang dari anak-anak muda Lumban Wetan itu
“Bukankah dengan demikian anak cucu kita kelak akan mengutuk kita,
bahwa kita dalam satu tataran keturunan darah Lumban Wetan, sama
sekali tidak berbuat sesuatu melihat orang lain, yang meskipun
semula mereka adalah cabang dari keturunan yang sama, telah
memperkosa hak kita Bahkan secara adil harus diingat, bahwa Jlitheng
dan orang tua di lereng bukit itulah yang telah mengendalikan air,
sehingga kita akan dapat memanfaatkannya disini. Dan Jlitheng adalah
anak muda dari Lumban Wetan” Sementara itu yang lain menyahut “Dan
setiap orang yang dengan jujur melihat, siapakah yang telah bekerja
untuk mengendalikan air itu. Memecah batu-batu karang, menimbuni
lereng-lereng yang terjal dan mengarahkan arus air itu. Tenaga
kitalah yang melakukannya. Anak-anak Lumban Wetan. Meskipun ada juga
satu dan sebanyak-banyaknya dua orang dari Lumban Kulon, tetapi
perbandingan itu ama sekali tidak berarti apa-apa” Semi menarik
nafas dalam-dalam. Lalu katanya “Baiklah. Kita tidak akan tinggal
diam. Kita memang akan berbuat sesuatu” “Apa yang akan kita lakukan?
Dan kapan?“ bertanya beberapa orang hampir bersamaan. Semi memandang
J litheng sejenak. Tetapi ia sadar, bahwa dihadapan kawan-kawannya
Jlitheng tidak akan menentukan apapun juga Karena itu, maka Semipun
berkata “Bersiap- siaplah. Kita akan melakukannya dalam waktu yang
singkat” “Berapa panjangnya waktu yang singkat itu” geram salah
seorang anak muda Lumban Wetan itu. Semi menar ik nafas dalam-dalam.
Lalu Katanya “Kali ini aku memakai takaran waktu seperti kalian.
Kita benar-benar akan berbuat sesuatu dalam waktu singkat” Anak-anak
muda Lumban Wetan itu masih tetap memancarkan keragu-raguan pada
sorot mata mereka. Namun Semipun berkata” Bersiaplah. Setiap saat,
kita akan berbuat sesuatu” “Tetapi sekarang anak-anak Lumban Kulon
berada dibendungan. Mereka membuka pintu air semakin lebar dan
mereka menyesuaikan parit induk mereka” seorang anak. muda hampir
berteriak. “Kita akan berbuat seperti yang mereka lakukan. Malam
nanti” jawab Semi. “Malam nanti?“ hampir berbareng anak-anak muda
Lumban Wetan itu bertanya. “Ya. Malam nanti. Karena itu bersiaplah”
jawab Semi Sesuatu bergejolak dihati anak-anak muda Lumban Wetan.
Rasa-rasanya mereka tidak sabar menunggu malam nanti. Karena itu,
salah seorang dari mereka berkata “Kenapa tidak sekarang?“ Semi
mengerutkan keningnya Pertanyaan itu sudah diduganya. Karena itu
maka iapun menjawab “Masih ada yang perlu diperhitungkan. Jika aku
menentukan malam nanti, berarti aku sudah memperhitungkan waktu yang
sekejap sekalipun” Anak-anak muda Lumban Wetan itu tidak menjawab.
Tetapi terasa darah mereka mulai bergetar. “Sekarang pulanglah dan
beristirahatlah sebaik-baiknya. Mudahmudahan kalian tidak usah
berbuat terlalu banyak malamnanti” berkata Semi. Anak-anak muda
itupun segera meninggalkan Semi dan kawan-kawannya. Namun mereka
tidak segera pulang dan beristirahat di rumah masing-masing. Tetapi
mereka telah bergerombol di sudut-sudut desa, di simpang tiga dan di
gardhu-gardhu dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka masih
memperbincangkan, apa kira-kira yang akan terjadi dengan mereka dan
anak-anak Lumban Kulon” “Kami tidak perlu gentar” desis salah
seorang dari mereka “meskipun anak-anak Lumban Kulon berlatih lebih
lama. tetapi mereka t idak mempergunakan seluruh hari
didaIamsepekan” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Bahkan salah
seorang dari mereka berkata “Aku akan berlatih sekarang” Tetapi
seorang anak muda yang lebih tua berkata “Tidak banyak gunanya.
Bahkan kau akan kehabisan tenaga jika malam nanti terpaksa terjadi
sesuatu yang haru kita hadapi dengan tenaga dan kemampuan”
Demikianlah, anak-anak Lumban Wetan dengan gelisah menunggu langit
menjadi merah dan kemudian menjadi keiam. Tetapi rasa-rasanya waktu
berjalan terlalu lamban, sementara anak-anak Lumban Kulon telah
berhasil membuka pintu air dan menyesuaikan parit induk semakin
lebar. Sehari itu, anak-anak muda Lumban "Kulon dapat bekerja tanpa
diganggu oleh tatapan mata kemarahan anak-anak Lumban Wetan. Karena
itu, maka merekapun sempat bergurau sambil menikmati kemenangan
mereka, bahwa pintu air yang melimpahkan air ketanah persawahan di
Lumban Kulon akan menjadi jauh lebih lebar dari pintu air yang
menghadap ke Lumban Wetan. “Mereka sudah jera” berkata salah seorang
dari anak-anak muda Lumban Kulon. “Mereka mulai menyadari, bahwa
kami bersungguh- sungguh” desis yang lain. Kawan-kawannya tertawa
mendengar percakapan itu. Merekapun berbangga bahwa pada tataran
mereka, Lumban Kulon telah berhasil berbuat sesuatu yang akan sangat
berarti bagi padukuhan mereka. Air. Ketika senja turun, maka
anak-anak muda itupun mulai berkemas. Beberapa orang telah
mengumpulkan alat-alat yang mereka pergunakan untuk membawa bekal
dan makan mereka selama bekerja. Sementara yang lain telah
membersihkan diri dibendungan sambil mencuci alat-alat yang mereka
pergunakan. Dengan hati yang puas, mereka meninggalkan bendungan
itu. Nugata yang ada diantara mereka berkata “Kita tidak akan
menemui hambatan apapun lagi. Besok kita akan melanjutkan kerja kita
dengan kegembiraan, sehingga dengan demikian maka kerja kita tidak
akan terasa berat. Kerja kta yang besar ini akan dapat kita
selesaikan dengan baik. karena yang kita kerjakan ini sebenarnya
jauh lebih besar dari apa yang pernah dilakukan orang dengan
mengarahkan arus air di bukit itu, karena kerja itu dapat dilakukan
oleh anak-anak yang baru pandai merangkak sekalipun” Anak-anak
Lumban Kulon menyambutnya dengan teriakan panjang. Mereka bersorak
atas keberhasilan mereka. Namun satu dua orang anak muda diantara
mereka bertanya di dalam hati “Apakah benar yang dikatakan oleh
Nugata itu?“ Dan diantara mereka justru anak muda yang pernah ikut
membantu Jlitheng, bekerja di lereng bukit kecil itu. berusaha
dengan tekun dan hati-hati, untuk menguasai air yang sebelumnya
tertumpah tanpa arti ke dalam luweng- luweng yang sangat dalam,
kemudian mengalir dengan derasnya di bawah tanah berpadas. Tetapi
dalam gejolak yang demikian, jarang seseorang berani menentang, arus
yang deras diseputarnya. Anak muda yang semula ikut membantu
Jlitheng dan mengetahui persoalan yang sebenarnya itupun tidak
berbuat demikian. Ia menghanyutkan dir i ke dalam arus yang kencang,
betapapun ia dibayangi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh dari
dalam dirinya sendiri. Sehingga dengan demikian, maka anak muda itu
telah terdorong untuk berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan
kebenaran kata nuraninya sendir i. Namun dengan sadar ia menempatkan
diri ke dalam satu kedudukan yang dapat member ikan keselamatan
kepadanya, meskipun ia harus memungkiri perasaannya sendiri.
Sementara anak-anak Lumban Kulon pulang ke Kabuyutan mereka dengan
membawa kemenangan, maka anak-anak Lumban Wetan mulai bersiap-siap
untuk mengambil satu sikap. Semi yang berada diantara anak-anak muda
Lumban Wetan itupun member ikan beberapa petunjuk apa yang harus
mereka lakukan. Betapapun perasaan mereka berbicara, namun mereka
harus tetap dapat menahan diri. “Anak-anak muda Lumban Kulon bukan
musuh bagi kalian” berkata Semi. “Tetapi mereka telah melanggar hak
kami“ hampir berbareng beberapa orang anak muda Lumban Wetan
menyahut. “Seperti kebiasaan dalam satu keluarga, kadang-kadang
kakak beradik sering bertengkar” Jawab Semi “Tetapi perselisihan
diantara saudara sedarah, tidak akan menuntut korban yang
berlebihan” “Tetapi mereka tidak bersikap sebagai seorang saudara.
Apalagi saudara kandung. Mereka bersikap seperti musuh bebuyutan
yang serakah dan tamak” geram salah seorang dari anak-anak muda
Lumban Wetan. “Mungkin” jawab Semi “Tetapi itu satu kekhilafan, pada
suatu saat akan mereka sadari. Bahwa nilai persaudaraan diantara
sesama akan jauh lebih tinggi dari nilai apapun yang berujud lahir
iah. Juga lebih tinggi dari arus air yang sudah dapat diarahkan itu”
“Itu adalah pikiran orang-orang sehat” jawab yang lain “Tetapi
anak-anak Lumban Kulon berpikir lain” “Tetapi anak-anak Lumban Wetan
tetap mempunyai nalar yang sehat” potong Semi dengan serta merta.
Anak-anak Lumban Wetan itupun terdiam. Bagaimanapun juga mereka
masih ingin disebut bernalar sehat. Karena itu. maka mereka tidak
membantah lagi. “Biar lah orang lain kehilangan akal sehatnya”
berkata Semi selanjutnya “Tetapi tidak pada kita. Dan kita akan
tetap berpegang pada martabat kemanusiaan kita” Tetapi seorang anak
muda yang tidak sabar lagi berkata “Baiklah. Tetapi apa yang akan
kita kerjakan sekarang?“ Semi menar ik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya “Kita pergi kebendungan. Kita berbuat seperti yang dilakukan
oleh anak- anak Lumban Kulon. Kita akan membuka pintu air itu
selebar pintu air yang menghadap ke tanah persawahan di Lumban
Kulon” Dengan serta merta anak-anak muda Lumban Wetan itu bersorak.
Rasa-rasanya mereka telah tersentuh oleh satu isyarat untuk berbuat
sesuatu sebagai seorang laki- laki di Kabuyutannya yang tercinta.
Demikianlah, maka anak-anak muda Lumban Wetan itu bersiap. Sebagian
dari mereka justru menjadi kurang senang mendengar pesan Semi yang
bagi mereka terasa terlalu banyak. Namun merekapun menyadari bahwa
mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu tanpa Semi, justru karena di
Lumban Kulon ada Daruwerdi. Ketika semuanya telah siap, alat-alat
dan bekal, maka merekapun segera berangkat. Seperti yang diminta
oleh Semi, maka anak-anak muda Lumban Wetan itu sebagian telah
membawa obor untuk menerangi bendungan dan tebing sungai. Ternyata
bahwa Semipun telah berpesan seperti yang dipesan oleh Daruwerdi.
Anak-anak muda Lumban Wetan tidak dibenarkan membawa senjata.
Meskipun beberapa orang diantara anak-anak muda itu menjadi kecewa,
namun mereka tidak dapat pula menolak pesan itu. Sejenak kemudian,
maka sebuah ir ing- iringan telah meninggalkan padukuhan diujung
Kabuyutan Lumban Wetan. Di malam hari. iring- iringan anak muda yang
sebagian diantara mereka membawa obor itu. nampaknya seperti sederet
ke-mamang yang berterbangan mencari mangsa. Tetapi iring- iringan
itu tdak banyak menarik perhatian. Sebagian besar dari orang- i ing
Lumban Wetan maupun Lumban Kulon sudah berada di dalam rumahnya.
Bahkan sebagian dari mereka telah tertidur nyenyak. Demikian
anak-anak muda Lumban Wetan itu sampai ke bendungan, maka merekapun
segera menancapkan tangkai obor mereka yang panjang. Dengan kemauan
yang bergejolak di dalam jantung, maka merekapun segera melakukan
seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda Lumban Kulon. Bahkan
anak-anak Lumban Wetan itu telah menutup pintu air yang melimpahkan
air ke tanah persawahan di Lumban Kulon seperti yang dilakukan oleh
anak-anak muda Lumban Kulon selama mereka mengerjakan pintu air dan
saluran induk. Dalam pada itu. selagi anak muda Lumban Wetan sibuk
dengan pintu air. Daruwerdi keluar dari sebuah padukuhan yang
terpisah dari padukuhan Lumban Wetan dan Lumban Kulon, meskipun
tidak begitu jauh. Namun tiba-tiba saja Daruwerdi telah
menghentakkan tali kekang kudanya, sehingga kudanya itupun berpacu
lebih cepat, kembali ke padukuhan Lumban. Ketika Daruwerdi memasuki
Kabuyutan Lumban Kulon ia terkejut. Rasa-rasanya Kabuyutan itu
terlampau sepi. Gardu- gardu yang dalam saat-saat terakhir banyak
berisi anak-anak muda, nampaknya kosong saja. “Kemana anak-anak ini
“ gumanya, Bahkan semakin dalam ia memasuki Kabuyutan Lumban Kulon,
hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Anak-anak muda Lumban Kulon
seakan-akan habis dihisap bumi. “Apakah mereka sudah menjadi malas
dan tidak seorangpun yang keluar dari rumah mereka” gumam Daruwerdi.
Namun dalam pada itu, ia terkejut ketika ia melihat dua orang
berdiri disimpang tiga, disamping sebuah gardu yang kosong. Apalagi
ketika Daruwerdi menyadari, bahwa yang berdiri di simpang t iga itu
adalah pemburu yang berada di Lumban Wetan dan Rahu, kawan Cempaka
dari Sanggar Gading. Dengan jantung yang berdebar-debar Daruwerdipun
turun dari kudanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya “Kenapa kalian
berada disini?“ “Aku memang sedang menunggumu Daruwerdi” berkata
Semi. “Apakah kalian sudah saling mengenal?“ bertanya Daruwerdi
kemudian. “Kami saling berkenalan kami bersama-sama berada di
banjar. Maksudku Banjar Kabuyutan Lumban Wetan di padukuhan induk.
Dan kamipun sepakat, bahwa kami akan menemuimu untuk memberi
peringatan kepadamu” “Peringatan apa?“ bertanya Daruwerdi. “Kami
mempunyai kepentingan yang sama “Rahulah yang menjawab “Pemburu ini
tidak mau terjadi kekacauan antara anak-anak Lumban Wetan dan Lumban
Kulon, sehingga dapat menimbulkan keadaan yang memburuk. Jika
terjadi benturan kekerasan diantara mereka, maka akibatnya akan
sangat parah bagi kedua Kabuyutan ini. Sementara akupun tidak mau
terjadi keributan disini. Justru pada saat-saat akhir pekan” “Aku
tidak tahu, apa urusannya dengan akhir pekan“ sambung Semi “Tetapi
benturan kekerasan dalam jumlah yang banyak, akan dapat menimbulkan
akibat yang sangat memelas bagi kedua Kabuyutan yang semula
bersumber dari aliran darah yang sama” Daruwerdi menjadi tegang.
Dengan nada datar ia bertanya “Lalu apa yang kau kehendaki dari
aku?“ “Kau dapat mencegah hai itu terjadi. Secepatnya. Jika kau
terlambat, maka tidak akan ada gunanya lagi” berkata Semi. “Apa yang
harus aku lakukan?“ bertanya Daruwerdi pula. “Ke bendungan. Cegah
anak-anak Lumban Kulon memulai dengan kekerasan” jawab Semi. “Ke
bendungan? Jadi anak-anak muda Lumban Kulon sekarang berada
dibendungan?“ Semi memandang Rahu sekilas. Kemudian jawabnya “Ya.
Belum terlalu lama” “Apa yang telah terjadi dibendungan?“ bertanya
Daruweri seterusnya. “Kita harus segera berangkat. Jangan terlambat”
desis Rahu. “Bagaimana j ika aku t idak bersedia. Biar lah anak-anak
muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan menyelesaikan
masalah mereka sendir i” berkata Daruwerdi. “Aku akan menunda
perjanj ian yang telah buat” berkata Rahu tiba-tiba “Aku melaporkan,
bahwa keadaan di Kabuyutan di daerah Sepasang Bukit Mati ini tidak
memungkinkan” “Apa yang akan kalian tunda?“ bertanya Semi. “Bukan
urusanmu” jawab Rahu “Kita batasi kepentingan bersama kita. Namun
yang menyangkut anak-anak muda yang saling bertengkar itu” “Gila“
geram Daruwerdi “Apa yang kalian harapkan dari padaku. Bagaimana j
ika anak-anak muda itu tidak menghiraukan nasehatku” “Kita akan
mencobanya. Aku ingin melihat kau melakukannya dengan
bersungguh-sungguh, atau malam ini aku harus melaporkan apa yang
terjadi disini” sahut Rahu. “Jangan mencoba menakut-nakut i aku. Aku
tidak peduli, apapun yang akan kau lakukan” jawab Daruwerdi
“Betapapun keras hatimu“ Semilah yang berkata kemudian “Apakah kau
akan membiarkan anak-anak muda itu saling membantai? Jika demikian,
maka akupun akan melakukannya. Aku sudah pernah menjajagi
kemampuanmu. Dan aku mempunyai seorang kawan yang memiliki ilmu yang
seimbang, dengan ilmuku. Apa boleh buat. Kami berdua, tanpa
berbicara tentang harga diri, akan dapat membantaimu” “Aku memer
lukan orang ini” potong Rahu “Aku tidak peduli” sahut Semi.
Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Ia harus mempertimbangkan
semuanya. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia tidak dapat
mengalahkan pemburu itu. Jika ia benar-benar akan datang bersama
kawannya, maka ia tentu tidak akan dapat melawannya. Sementara itu,
ia sudah hampir sampai pada babak terakhir dar i sebuah permainan
yang paling gawat yang pernah dilakukannya, dengan menerima
penyerahan seorang Pangeran yang akan ditukarnya dengan sebilah
pusaka. “Daruwerdi” berkata Semi “Kita harus membatasi kemungkinan
yang parah yang dapat terjadi antara anak-anak muda Lumban Wetan dan
Lumban Kulon” “Apakah kau sudah menemukan satu cara?“ bertanya
Daruwerdi. “Jika anak-anak Lumban Kulon ingin memaksakan
perkelahian, maka perkelahian itu dapat diwakili. Satu lawan satu.
Dan kaupun akan dapat memaksa mereka untuk menerima keadaan itu”
berkata Semi. “Jika mereka memaksa untuk turun seluruhnya kearah
perkelahian itu?“ bertanya Daruwerdi. “Terserah, bagaimana caramu
untuk mencegahnya. Kau tahu, kami dapat berbuat sesuatu atasmu, ada
atau tidak ada hubungannya dengan persoalanmu dan orang ini, yang
kalian sebut-sebut dengan persoalan yang akan terjadi diakhir pekan”
Daruwerdi menahan nafasnya sebagaimana ia menahan kemarahan yang
terasa mulai menjalari urat darahnya. Tetapi ia masih harus tetap
menyadari dirinya. Di akhir pekan, yang akan dapat berarti esok
pagi, ia akan menerima apa yang dimintanya. Selambat-lambatnya esok
malam. Jika ia terlibat ke dalam yang tidak ada sangkut pautnya
dengan usaha besarnya itu, justru hanya karena tingkah laku
anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan, maka apa yang
dilakukannya itu justru akan sia-sia. Tetapi sikap pemburu itu
benar-benar menyakitkan hatinya. Seolah-olah ia dapat mengancamnya
dan memaksakan kehendaknya. Namun ia harus tetap menahan diri. Yang
dikatakan di dalam hatinya dalam gejolak kemarahannya itu adalah
“Jika aku sudah selesai dengan persoalan besarku, aku ingin membuat
perhitungan yang tuntas dengan pemburu gila ini” “Jangan dengan
sengaja memperpanjang waktu” geram Semi kemudian “Jika kita
terlambat, dan anak-anak itu sudah berkelai dibendungan, maka
semuanya akan hancur. Lumban Wetan, Lumban Kulon, Bendungan disungai
itu, dan barangkali juga kau dan aku” Daruwerdi tidak menjawab.
Tetapi yang terdengar adalah gemeretak giginya. “Pergilah lebih
dahulu dengan kudamu” berkata Semi “kehadiranmu tentu lebih
menentukan dari kehadiranku, karena anak-anak Lumban Kulonlah yang
selalu memaksakan kehendaknya atas anak-anak Lumban Wetan. Aku akan
segera menyusul” Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian
meloncat ke punggung kudanya. Namun ketika kudanya mulai melangkah
ia berkala “Jangan kau sangka bahwa aku akan selalu memenuhi
permintaanmu. Jika aku tidak mengingat anak-anak Lumban yang saling
bertentangan ini. maka aku justru ingin menyobek mulutmu” Semilah
yang kemudian tidak menjawab. Ia sadar, kemarahan yang hampir
meledak telah membakar jantung Daruwerdi. Namun karena keadaannya
dalam hubungannya dengan orang-orang Sanggar Gading, maka ia
terpaksa memenuhi permintaan Semi. Sejenak kemudian terdengar kaki
kuda Daruwerdi itu berderap kembali dijalan padukuhan. Semakin lama
semakin eepat menuju kebendungan. Sementara Itu Rahu dan Semipun
telah menuju kebendungan pula, melalui pematang dan jalan-jalan
memintas. Sebenarnyalah, bahwa obor anak-anak Lumban Wetan telah
terlihat oleh satu dua orang anak-anak muda Lumban Kulon, itu, maka
merekapun segera berkumpul dan menyiapkan kawan-kawannya untuk pergi
kebendungan. Semula mereka memang mencar i Daruwerdi untuk diminta
pertimbangannya. Tetapi ternyata Daruwerdi tidak ada dipondokannya.
Setelah beberapa saat mereka mencari dan tidak menemukannya, maka
Nugatalah yang mengambil keputusan untuk datang kebendungan
Kemarahan anak-anak Lumban Kulon itupun segera memuncak ketika
mereka melihat anak-anak Lumban Wetan telah membuka pintu air mereka
pula seperti yang dilakukan oleh anak-anak Lumban Kulon. Karena itu,
maka dengan suara lantang Nugata itupun segera berteriak “He,
anak-anak Lumban Wetan. Apakah kalian sudah menjadi gila, sehingga
kalian tidak tahu lagi apa yang kalian lakukan?“ Tetapi Nugata
terkejut ketika yang menjawab adalah justru salah seorang dari kedua
pemburu yang ada di Lumban Wetan “Nugata. aku sudah mencoba untuk
mencegahnya. Tetapi kesabaran anak-anak muda Lumban Wetan sudah
sampai kebatasnya. Yang kalian lakukan sudah terlalu jauh menusuk
perasaan saudara-saudaramu dari Lumban Wetan, sehingga akhirnya
mereka tidak dapat menahan diri lagi” “Jangan memutar balikkan
keadaan“ bantah Nugata “Tentu bukan karena kemauan anak-anak Lumban
Wetan. Mereka menyadari kelemahannya. Jika mereka melakukannya,
tentu karena desakanmu atau kawanmu, pemburu yang seorang lagi itu.
Meskipun ia tidak nampak hadir disini, tetapi ia tentu terlibat
dalampersoalan ini” “Kau salah mengerti” jawab kawan Semi itu
”bertanyalah kepada anak-anak Lumban Wetan. Mereka ada disini
semuanya” “Ya” tiba-tiba saja salah seorang anak muda Lumban. Wetan
menyahut “Kami memang tidak dapat ditahan lagi oleh siapapun juga.
Kesabaran kami sudah sampai kepuncak ubun- ubun” “Persetan“
Nugatapun berteriak “Apakah kalian menyadari, apa yang dapat terjadi
atas kalian dengan tingkah laku kalian itu?“ “Kami sadar, seperti
kalianpun menyadari apa yang kalian lakukan jawab anak muda Lumban
Wetan itu. “Sudahlah” berkata pemburu kawan Semi itu “Jangan terlalu
dirisaukan. Kau sudah melakukannya. Sekarang giliran anak anak muda
Lumban Wetan melakukannya. Bukankah itu sudah wajar?“ “Itu satu
pelanggaran” jawab Nugata hampir berteriak “kalian tidak berhak
berbuat apa-apa atas bendungan ini. Bendungan ini berada di Lumban
Kulon, seperti sumber air di bukit itu. Kamilah yang berhak
menentukan. Bukan kalian, orang-orang Lumban Wetan. Jika kami sudah
berbelas kasihan untuk memberikan air sekadarnya, itu harus kalian
terima dengan ucapan terima kasih” “Jangan begitu” jawab pemburu itu
“anggap sajalah bahwa Lumban Wetan dan Lumban Kulon masih tetap
satu. Biarlah Lumban Wetan menjadi hijau seperti Lumban Kulon.
Biarlah anak-anak Lumban Wetan termasuk anak-anak Lumban Kulon kelak
berusaha agar air itu menjadi semakin besar dan melimpah
kesawah-sawah yang semakin luas. Aku kira Jlitheng akan dapat
melakukannya” “Aku tidak peduli. Kau sangka hanya Jlitheng saja yang
dapat melakukannya?“ Nugata menjadi semakin marah. “Tetapi bukankah
kita semuanya tidak akan dapat mengingkar i kenyataan yang sama-sama
kita ketahui? Siapakah yang telah berbuat atas air di bukit itu?
Siapa pula yang telah bekerja keras untuk menyelesaikan bendungan
ini?“ “Apa pedulimu” bentak Nugata semakin keras “sekarang, biarlah
kami menyelesaikan persoalan kami dengan anak-anak Lumban Wetan. Aku
akan menuntut agar mereka mengembalikan pintu air seperti semula,
sebelum mereka merusaknya” Namun yang terdengar adalah jawaban dari
seorang anak muda Lumban Wetan “Kami akan memulihkannya, sebagaimana
kalian lakukan” Darah Nugata bagaikan memercik lewat sorot matanya.
Selangkah ia maju. Hampir saja ia berteriak kepada kawan- kawannya
agar mereka menyerang anak-anak Lumban Wetan. Namun kawan Semi yang
mengetahui perasaan Nugata itu mendahului “Jangan kehilangan akal
Nugata. Jangan dengan tergesa-gesa memer intahkan kawan-kawanmu
untuk menyerang. Perkelahian memang dapat terjadi. seluruh anak-
anak Lumban Kulon melawan seluruh anak-anak Lumban Wetan. Tetapi apa
kau sangka perkelahian itu akan dapat menjadi penyelesaian yang
baik? Semua anak-anak muda Lumban akan cedera sampai orang yang
terakhir. Mungkin justru akan ada korban yang jatuh. Atau lebih
tegasnya lagi, akan ada diantara kalian yang terbunuh. Mati.
Sedangkan kalian masih terlalu muda untuk mati” Wajah Nugata semakin
menegang. Sementara pemburu itu berkata lebih lanjut “Sementara
dendam itu masih akan tetap menyala di hati kalian. Jika diantara
kalian yang cidera itu kemudian sembuh, maka pertentangan dan
perkelahian akan dapat timbul lagi setiap saat. Sementara pekerjaan
yang kalian lakukan atas bendungan ini akan terbengkelai” Sejenak
Nugata memperhatikan kata-kata itu dan mencoba untuk mencernakannya.
Namun kemudian tiba-tiba saja ia berteriak pula “Jangan coba untuk
menahan kami, anak-anak muda Lumban Kulon. Kami akan mempertahankan
hak kami atas sungai, bendungan, bukit dan air. Apapun yang akan
terjadi, kami akan melakukannya” “Tunggu” desis pemburu itu. Ia
berhenti sejenak. Kemudian sambil maju setapak mendekati Nugata ia
berkata perlahan- lahan “Jangan memaksa aku untuk bertindak lebih
jauh Nugata. Aku akan dengan senang hati melibatkan dir i” “Aku
tidak peduli“ ternyata Nugata tidak menahan suaranya yang lantang
”Aku akan memberitahukannya kepada Daruwerdi. Jika ada orang lain
yang ikut campur, maka Daruwerdipun tentu akan ikut campur pula”
Tetapi pemburu itu tertawa. Katanya “Apa artinya Daruwerdi seorang
diri. Ia tidak akan menang atas kawanku. Sementara aku akan dapat
berbuat apa saja atas kalian. Aku akan berada diantara anak-anak
muda Lumban Wetan. Satu- satu aku akan dapat membuat anak-anak
Lumban Kulon pingsan” Hati Nugata tergetar pula. Tetapi ketika ia
berpaling, dan dilihat jumlah kawan-kawanya yang cukup banyak, maka
hatinya telah melonjak lagi. Sekilas dilayangkan pandangannya kearah
anak-anak muda Lumban Wetan yang berhenti bekerja, meskipun mereka
masih tetap berdiri di tempat masing-masing. Sebagian besar
diseberang. Beberapa orang diatas bendungan dan ada satu dua berada
diujung bendungan hampir disebelah Barat sungai termasuk pemburu
kawan Semi itu. “Sudahlah Nugata” berkata pemburu itu “biarlah
anak-anak Lumban Kulon tidak mengganggu apa yang dilakukan oleh
anak-anak Lumban Wetan, seperti juga sebaliknya. Bukankah anak-anak
muda Lumban Wetan sama sekali tidak mengganggumu hari ini. Jika
kemarin ada beberapa orang anak yang menuggui kerja kalian dan itu
kalian anggap mengganggu, maka hari ini mereka tidak lagi berbuat
demikian” Terdengar gigi Nugata gemeretak menahan kemarahan yang
menghentak dadanya. Namun ia masih dicengkam oleh keragu-raguan.
Iapun mengerti, bahwa Daruwerdi tidak dapat mengalahkan pemburu yang
seorang lagi. Tetapi sudah barang tentu bahwa Nugata tidak akan
dapat menerima penghinaan itu. Sekali lagi ia mencoba menimbang-
nimbang. Namun iapun kemudian menggeram “Jika kami terpaksa
mempergunakan kekerasan, maka yang bertanggung jawab adalah
anak-anak muda Lumban Wetan. Jika mereka tidak melakukan perbuatan
yang bodoh itu, maka tidak akan terjadi sesuatu yang dapat
menimbulkan penyesalan diantara kita. Sementara kau, pendatang yang
telah menghasut anak- anak muda Lumban Wetan jangan kau anggap bahwa
kami tidak dapat berbuat apa-apa atasmu. Meskipun kau memiliki ilmu
yang tinggi, namun kau tidak akan mampu melawan lima anak muda
Lumban Kulon yang terbaik. Jangan menyesal bahwa kalian anak muda
itu tidak dapat mengekang dir inya dan memperlakukan kau tidak
seperti yang kau inginkan” Pemburu itu termangu-mangu. Nampaknya
Nugata benar- benar telah tidak dapat menahan diri lagi. Pemburu itu
sama sekali tidak menjadi cemas bahwa ia harus berkelahi melawan
lima atau sepuluh orang sekaligus. Tetapi iapun masih berharap bahwa
kekerasan dapat dihindarkan. Karena itu, setiap kali ia masih
berusaha memperpanjang waktu sambil menunggu Semi dan Rahu yang
sedang mencari Daruwerdi untuk membantu meredakan keadaan. “Cepat
ambil sikap” bentak Nugata “sebelum aku meneriakkan aba-aba” “Kenapa
kau tidak berteriak sekarang” tiba-tiba seorang anak muda Lumban
Wetan menyahut. Nampaknya anak-anak muda Lumban Wetanpun sudah tidak
dapat menahan hatinya lagi. “Tunggu“ pemburu itulah yang mencegah.
Ia benar-benar menjadi cemas bahwa ia tidak akan dapat menahan kedua
belah pihak sambil menunggu Daruwerdi seperti yang dipesankan oleh
Semi dan Rahu. Sementara Jlitheng yang berada diantara anak-anak
muda Lumban Wetanpun tidak dapat berbuat apa-apa. “Kenapa harus
menunggu?“ bertanya anak muda justru dari Lumban Wetan. Dalam pada
itu, tiba-tiba mereka yang berada dibendungan itu telah dikejutkan
oleh derap seekor kuda. Karena itu, maka merekapun menjadi
berdebar-debar. Namun kemudian, anak- anak Lumban Kulon tiba-tiba
saja telah bersorak ketika mereka melihat Daruwerdilah yang datang
dengan tergesa- gesa. Dengan jantung yang berdebar-debar Daruwerdi
melihat anak-anak muda Lumban Wetan dan anak-anak muda Lumban Kulon
sudah siap untuk berkelahi. Anak-anak muda Lumban Wetan telah
bergeser mendekati bendungan. Mereka sudah siap berloncatan
melintasi sungai, lewat bendungan atau melalui jalan setapak
menuruni tebing yang tidak begitu tinggi di bawah bendungan. Yang
semakin mendebarkan jantung Daruwerdi adalah bahwa anak-anak Lumban
Kulon ternyata telah membawa senjata, sementara anak-anak Lumban
Wetanpun telah siap menghadapi. Meskipun agaknya mereka t idak
bersenjata khusus untuk berkelahi, namun mereka telah menggenggam
alat-alat mereka yang mirip dengan senjata. Parang, linggis, tangkai
obor yang panjang dan masih menyala, serta beberapa macamperalatan
yang lain. Jika perkelahian itu terjadi, maka tentu seperti yang
dikatakan oleh Semi dan Rahu, bahwa korban akan berjatuhan tanpa
arti sama sekali. “Kami telah siap” berkata Nugata lantang sambil
mendekati Daruwerdi “ ber ilah kami perintah. Kami akan
menghancurkan bendungan itu sama sekali dan anak-anak Lumban Wetan
apabila mereka ingin mencegah kami” “Kami sudah siap“ yang lainpun
telah berteriak pula. Daruwerdi termangu-mangu sejenak. Ia melihat
pemburu kawan Semi itu telah menunggunya. “Aku berusaha untuk
mencegahnya” berkata pemburu itu kepada Daruwerdi. Daruwerdi menarik
nafas dalam-dalam. Anak-anak Lumban Kulon itu ternyata telah
menumpukan harapannya kepadanya. Namun, ia tidak akan dapat
membiarkan perkelahian itu terjadi. Pembantaian diantara anak-anak
muda yang sedang dibakar oleh kemarahan, sementara mereka adalah
anak muda dari keturunan darah yang satu pada mulanya. “Agak berbeda
dengan pertempuran antara Sanggar Gading dan orang Pusparur i”
berkata Daruwerdi di dalam hatinya “Jika mereka yang akan bertempur
sampai orang terakhir, aku tidak peduli. Itu memang sudah menjadi
tekad mereka. Tetapi anak-anak muda ini?“ Karena itu, maka Daruwerdi
yang sudah turun dari kudanya itu tiba-tiba berkata lantang,
sehingga terutama anak-anak muda Lumban Kulon menjadi terkejut
karenanya “Tidak ada gunanya kalian berkelahi” Nugata justru
mematung sejenak. Namun kemudian iapun bertanya “Apa maksudmu?“
“Kalian tidak perlu berkelahi“ ulang Daruwerdi. “Jadi? Apakah kami
harus membiarkan anak-anak Lumban Wetan telah melanggar hak kami?
Mereka dengan sangat tidak tahu diri telah merubah pintu air yang
telah kami berikan kepada mereka” jawab Nugata. “Nugata” berkata
Daruwerdi kemudian “perkelahian yang demikian tidak akan ada
artinya. Kalian dan kawan-kawan kalian akan mengalami peristiwa yang
sangat mengerikan. Bendungan ini akan menjadi merah oleh darah
anak-anak muda yang masih memiliki masa depan yang jauh lebih baik
dari keadaan kalian sekarang” “Aku tidak mengerti” berkata Nugata
“Jadi, apakah kami harus membiarkan saja anak-anak Lumban Wetan
berbuat sesuka hatinya?“ “Apakah kau tetap tidak rela?“ bertanya
Daruwerdi. “Tentu” jawab Nugata. Daruwerdi menarik nafas
dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Nugata dalam keremangan cahaya
obor yang dibawa oleh anak-anak Lumban Wetan itu. Dalam pada itu,
setiap hati telah dicengkam oleh ketegangan. Anak-anak muda dari
Lumban Kulon dan Lumban Wetan itu terdiam mematung betapapun jantung
mereka bergejolak. Selagi mereka diam dalam ketegangan, dan orang
yang berjalan tergesa-gesa telah mendekati bendungan itu. Kedatangan
mereka telah membuat anak-anak muda Lumban Kulon semakin
berdebar-debar. Ternyata keduanya adalah pemburu yang seorang lagi
bersama Rahu, seorang yang telah berada dibanjar Kabuyutan Lumban
Wetan pula. Nugata yang sudah dibakar oleh kemarahan yang memuncak
itu menjadi semakin marah. Tetapi iapun tidak dapat mengabaikan
kehadiran keduanya, terutama pemburu yang seorang itu. Daruwerdi
sama sekali tidak terkejut melihat kehadirannya. Ia sudah tahu,
seperti yang sudah dikatakan oleh Semi, bahwa kedua orang itu akan
segera menyusul kebendungan. Dalam pada itu, maka Daruwerdipun
berkata kepada Nugata dan anak-anak muda Lumban Kulon “Dengarlah.
Aku tidak berkeberatan kalian menentukan sikap kalian masing-
masing. Jika kalian ingin berkelahi, berkelahilah. Aku percaya,
bahwa didorong oleh kemudaan kalian, dan keinginan kalian untuk
menunjukkan kejantanan kalian, maka kalian telah bertekad untuk
berkelahi. Jika kalian menang, maka kalian akan pulang dengan penuh
kebanggaan sebagaimana seorang prajurit yang menang perang.
Sementara yang kalah akan menjadi berprihatin dan dipanggang oleh
api dendam, kalian akan berusaha dengan cara apapun juga untuk
menebus kekalahan itu. Demikian berturut-turut, sehingga akan sampai
orang yang terakhir. Di Kabuyutan kalian akan terdapat kuburan
seluas padukuhan-padukuhan kalian itu, dimana terkubur
pahlawan-pahlawan Kabuyutan yang telah berjuang untuk kesejahteraan,
mempertahankan hak dan harapan bagi hari depan. Namun sementara itu,
bendungan ini akan terbengkelai. Sawah-sawah akan tetap kering, dan
ayah serta ibu yang kalian tinggalkan akan menjadi kelaparan” Waiah
anak-anak muda itu menjadi semakin tegang. Mereka tidak begitu
mengerti arah pembicaraan Daruwerdi, Namun mereka tersentuh oleh
ucapan-ucapannya tentang kuburan seluas Kabuyutan itu sendiri Dalam
kediaman itu terdengar Daruwerdi berkata “Karena itu, marilah kita
mengambil satu cara yang tidak akan mengarah kepada peristiwa yang
mengerikan itu. Kita akan melihat, siapakah orang terbaik di Lumban
Kulon, dan siapakah orang terbaik di Lumban Wetan. Merekalah yang
akan mewakili kawan-kawannya, berkelahi di bendungan ini” Kedua
kelompok anak-anak muda itupun terdiam. Wajah wajah mereka masih
tetap menegang. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Nugata bertanya
“Apakah artinya perkelahian itu bagi bendungan ini. Bagaimana jika
anak Lumban Kulon yang menang, dan bagaimana jika anak muda Lumban
Wetan” “Bukankah kalian sedang mempertahankan satu sikap?“ bertanya
Daruwerdi “Jika anak Lumban Kulon yang menang, maka sikap dan pendir
iannyalah yang berlaku. Tetapi j ika anak-anak muda Lumban Wetan
yang menang, maka sikap dan pendirian mereka yang akan berlaku.
Sementara itu kita semuanya sudah mengetahui sikap apakah yang
kalian ambil sehingga sikap itulah yang akan dipertaruhkan. Bukan
sikap lain yang akan dapat berkembang tanpa batas” Nugata
termangu-mangu. Dipandanginya Daruwerdi, pemburu-pemburu itu
berganti-ganti, dan seorang lagi yang berada di Lumban Wetan.
Ternyata bukan saja Nugata yang termangu-mangu. Juga anak-anak
Lumban Wetan menjadi bimbang. Taruhannya terlalu besar. Jika mereka
kalah, maka pintu air itu akan tetap tidak berimbang. Pintu air yang
membawa air ke Lumban Kulon akan tetap menjadi jauh lebih lebar dari
pintu air yang mengalirkan air ketanah persawahan di Lumban Wetan.
Bukan saja anak-anak Lumban Wetan yang menjadi bimbang. Tetapi
ternyata Rahu, Semi dan kawannyapun ragu- ragu, apakah anak Lumban
Wetan ada yang dapat mengalahkan Nugata, karena merekapun yakin,
bahwa Nugatalah yang akan memasuki arena sayembara tanding itu.
Karena itu, maka tiba-tiba Semipun berkata untuk mendapat satu
keyakinan dan kepastian bahwa keadilan akan berlaku “Yang akan
terjadi adalah sayembara tanding berantai” Daruwerdi mengerutkan
keningnya. Ia tidak begitu mengerti maksud Semi. Namun kemudian Semi
menjelaskan “Jika seseorang, apakah ia dar i Lumban Wetan atau dari
Lumban Kulon telah kalah, maka selelah beristirahat sejenak, maka
seorang yang lain, yang. merasa memiliki kemampuan dapat tampil
kearena melawan yang menang. Tetapi jika sudah tidak ada seorangpun
yang merasa memiliki kemampuan itu. maka yang menang terakhir lah
yang dianggap dapat menentukan. Untuk menghindari kecurangan,
kemenangan yang tidak wajar karena kelelahan, maka seorang dari
Lumban Wetan atau Lumban Kulon yang menang tiga kali berturut-turut,
maka ia dianggap telah memenangkan sayembara tanding ini” Daruwerdi
menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak mengerti dengan pasti maksud
pemburu itu. Namun karena persoalannya telah berkisar baginya, bahwa
ia telah terpaksa melakukan itu karena tekanan Semi dan Rahu, yang
menghubungkan masalahnya dengan akhir pekan seperti yang dijanjikan
oleh orang-orang Sanggar Gading, maka ia tidak terlalu banyak
mempersoalkannya. Karena itu, maka iapun sama sekali tidak
mengajukan keberatan apa-apa. Rahupun segera mengetahui maksud Semi.
Rahu tahu. bahwa di Lumban Wetan ada Jlitheng. Dalam keadaan
terpaksa, jika keadilan menuntut untuk ditegakkan, maka mau tidak
mau Jlitheng harus tampil dan memenangkan perkelahian melawan anak
Lumban Kulon yang manapun juga. Jlitheng yang mengikut i pembicaraan
itu diantara anak- anak muda Lumban Wetanpun menarik nafas
dalam-dalam. Iapun mengerti maksud Semi. Dan iapun tidak akan
ingkar, jika keadilan memang menuntut kepadanya untuk berbuat
sesuatu. Sebenarnyalah bahwa iapun mencemaskan sayembara tanding
itu, jika benar-benar Nugata tidak terkalahkan oleh kawan-kawannya
dari Lumban Wetan, karena Jlitheng yang telah berbuat terlalu banyak
itu akan melepaskan air kearah yang tidak sewajarnya. Namun
demikian, Jlitheng itu berkata di dalam hatinya “Mudah-mudahan hal
itu tidak perlu. Aku akan kehilangan sebagian dari ruang gerakku.
Mungkin Daruwerdi menjadi curiga, meskipun ia t idak akan banyak
mendapat kesempatan bergerak, karena ia sudah akan segera sampai
kepada akhir pekan yang baginya sangat penting itu” Tetapi ternyata
tanggapan Nugata diluar dugaan Ia sama sekali tidak berkeberatan
Menurut perhitungannya, di Lumban Wetan hanya ada sepuluh orang anak
muda yang memiliki ilmu kenuragan yang sudah pantas untuk dipasang
dalam arena sayembara tanding. Dan nampaknya iapun merasa, bahwa ia
akan dapat mengalahkan sepuluh orang anak muda itu berturut-turut.
Apalagi jika hanya tiga orang. Karena itu. maka dengan keyakinan
yang besar, dan bahkan dengan satu keinginan untuk menjajagi
sebagian dari kawan-kawannya di Lumban Kulon dan Lumban Wetan, ia
setuju dengan permainan yang akan sangat menar ik itu. Karena itu.
maka katanya kemudian “Aku terima syarat itu. Kita akan membuat
arena. Kita akan mulai dengan anak-anak muda yang bagi Lumban Kulon
bukan orang-orang terbaik. Pada saatnya akulah yang akan tampil j
ika keadaan memang menjadi gawat. Tetapi j ika kawan-kawanku telah
berhasil, maka aku akan menjadi penonton saja malam ini”
Demikianlah, maka anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda
Lumban Wetan itu segera mempersiapkan sayembara tanding. Mereka
membuat lingkaran. Separo lingkaran terdiri dari anak-anak muda
Lumban Kulon dan yang separo adalah anak-anak muda Lumban Wetan.
Sementara itu, yang akan menjadi penengah adalah Daruwerdi, yang
ditunjuk oleh anak-anak muda Lumban Kulon dan Semi yang ditunjuk
oleh anak-anak muda Lumban Wetan. Ketika semua persiapan sudah
selesai, dan obor telah ditancapkan diseputar arena, maka sayembara
tanding untuk memperebutkan keputusan atas bendungan itupun segera
dimulai. . Ternyata Lumban Kulon dan Lumban Wetan tidak melepaskan
orang-orangnya yang terbaik. Mereka mulai dengan anak-anak muda yang
meskipun tergolong kuat, namun belum pada tataran tertinggi. Lumban
Wetanlah yang harus dengan serta merta menentukan sikap. Mereka
telah terlanjur memilih satu saja orang terbaik. Tetapi mereka harus
melepaskan orangnya yang lain. Yang pertama tampil ke arena, justru
orang yang ditunjuk oleh pemburu kawan Semi itu. Bukan yang terbaik
dari yang sepuluh, tetapi yang termasuk tataran terbaik dari antara
anak-anak muda yang ber latih padanya, tidak kepada Semi. Sejenak
kemudian, maka dua orang anak muda telah berhadap-hadapan. Ketika
sorak anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon bagaikan memecahkan
langit, maka perkelahian itupun segera dimulai. Anak muda Lumban
Kulon yang sedang berkelahi itu telah mendapat dasar-dasar kemampuan
membela dirinya dari Daruwerdi, sementara anak Lumban Wetan itu
belajar pada kawan Semi. Agaknya keduanya ternyata memiliki
kemampuan yang seimbang. Keduanya telah memahami dasar-dasar dari
ilmu masing-masing. Sebenarnyalah bahwa anak-anak muda Lumban Kulon
tidak menyangka, bahwa anak-anak muda Lumban Wetan itu mampu
mengimbangi kemampuan merek . Anak-anak muda Lumban Kulon merasa,
bahwa mereka mendapat kesempatan berlatih untuk waktu yang lebih
lama. Namun mereka tidak menyadari bahwa anak-anak muda Lumban Wetan
telah mempergunakan seluruh waktu terluang mereka selama itu setiap
hari. Dengan demikian maka mereka telah berhasil menyusul t ingkat
kemampuan anak-anak muda Lumban Kulon. Demikianlah perkelahian yang
terjadi itu semakin lama menjadi semakin seru. Anak-anak muda Lumban
Wetan dan anak-anak muda Lumban Kulon yang ada diseputar arena
itupun bersorak-sorak dengan r iuhnya. Sementara Danrwerdi dan Semi
mengawasi perkelahian itu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan. Beberapa saat kemudian keduanya telah basah oleh
keringat. Butir-butir pasir tepian sungai melekat pada tubuh mereka
yang basah. Setiap kali salah seorang dari mereka, atau keduanya
berguling di tanah, maka tubuh dan pakaian merekapun bagaikan
dilumuri oleh pasir dan tanah yang besah. Dalam pada itu,
Jlithengpun telah memperhatikan perkelahian itu dengan saksama. Ada
semacam kegelisahan di dalam hatinya. Jika dua kali berturut-turut
anak muda Lumban Wetan tidak dapat mengalahkan seseorang, maka orang
ketiga itu tentulah dir inya, untuk menjaga agar t idak terjadi
kesewenang-wenangan sikap anak-anak muda Lumban Kulon, karena
apabila mereka memenangkan perkelahian, berarti bahwa apa yang
mereka kehendaki akan terjadi. Dengan demikian maka Lumban Wetan
tidak akan berani melepaskan orang lain dengan akibat yang paling
pahit itu. Apalagi bagi Jlitheng sendiri yang telah bekerja keras
bersama kakek d atas bukit itu untuk menghijaukan sawah yang
terhampar disela- sela padu-kuhan-padukuhan di Lumban yang gersang
dan kemerah-merahan. Tetapi Jlithengpun sadar, bahwa apabila ia
melakukannya, maka akan timbul banyak sekali tanggapan dan bahkan
kecurigaan kepadanya. Ia tidak" termasuk yang sepuluh orang yang
dianggap anak-anak muda terbaik di Lumban Wetan. Jika ia memaksa
diri untuk memasuki arena sayembara tanding itu, maka ia telah
melanggar tataran yang dianggap ada diantara anak-anak muda Lumban
Wetan sendir i. Namun ia tidak akan rela melihat ketidak adilan itu
akan berlaku. “Meskipun j ika hal itu harus terjadi, tanggapan
anak-anak muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan berbeda dan
berubah, tetapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk
menegakkan keadilan itu” berkata Jlitheng di dalam hatinya.
Sementara itu perkelahian mash berlangsung terus. Anak- anak muda
Lumban Kulon dan Lumban Wetan masih berteriak-teriak dengan riuhnya.
Mereka dengan gairahnya telah berusaha memberikan dorongan kepada
kawan masing- masing untuk memenangkan perkelahian itu. Namun
sejenak kemudian, setelah keduanya mengerahkan segenap kemampuan
masing-masing, maka mulailah nampak, bahwa anak muda Lumban Wetan
itu memiliki pernafasan yang lebih baik. Meskipun sebenarnya ia
tidak mempunyai ilmu yang dapat dianggap lebih tinggi dari lawannya,
namun ternyata bahwa kelelahanlah yang telah membuat lawannya itu
tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Pada saat-saat terakhir,
dimana tenaga keduanya sudah susut, anak muda Lumban Wetan itu masih
sempat menyerang lawannya yang telah kelelahan sehingga lawannya
itupun terhuyung-huyung dan jatuh berguling diatas pasir. Ketika
lawannya itu berusaha untuk bangkit, maka dengan sisa tenaga yang
masih ada, anak muda Lumban Wetan itu menyerang langsung menghantam
dadanya dengan kakinya. Ternyata serangan ku telah mengakhiri
perkelahian. Anak muda Lumban Kulon itu jatuh sekali lagi
terlentang. Namun ia tidak lagi mempunyai sisa tenaga untuk bangkit.
“Cukup “ Semilah yang menghentikan perkelahian itu. Anak muda Lumban
Wetan itupun berdiri dengan nafas terengah-engah. Dipandanginya
lawannya yang terbaring diam meskipun ia tidak pingsan. Tetapi
nafasnya rasa-rasanya telah terputus dikerongkongan, sementara
tubuhnya rasa- rasanya menjadi remuk, “Ya cukup” sahut Daruwerdi
“Kita semuanya menyaksikan, bahwa anak muda Lumban Kulon ini telah
kalah” Nugata menggeram. Katanya “Akan maju lagi seorang dari antara
kami. Ia akan meremukkan tulang-tulang anak Lumban Wetan yang
sombong itu” Daruwerdi mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga
hatinyapun tersentuh oleh kekalahan itu. Meskipun dengan tidak
langsung, setiap orang akan segera menghubungkan kekalahan itu
dengan dirinya dan dengan pemburu yang berada di Lumban Wetan itu,
karena kemampuan anak-anak muda Lumban Kulon bersumber dari
Daruwerdi sementara anak-anak muda Lumban Wetan bersumber dari
pemburu yang seolah-olah telah menetap di Lumban Wetan itu. Nugata
yang marahpun segera menunjuk orang kedua. Katanya “Kau hancurkan
kesombongan anak muda itu” Seorang anak muda yang berkulit agak
kehitam-hitaman mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Katanya “Senang
sekali sempat bermain-main dengan anak-anak muda Lumban Wetan.
Tetapi yang terjadi itu tidak masuk akal. Bahwa anak muda Lumban
Kulon telah dikalahkan oleh anak muda Lumban Wetan, jika tidak
karena kawan kami dari Lumban Kulon ini tidak sedang pada tataran
kemampuannya yang sebenarnya Mungkin ia terlalu banyak kerja siang
tadi, sehingga tenaganya sudah jauh susut” “Ya” potong Nugata “Dan
tugasmu sekarang, mematahkan kesombongan itu. Bukan sekedar
berbicara tanpa ujung pangkal” Anak muda yang berkulit agak
kehitam-hitaman itupun segera membenahi dirinya, sementara
kawan-kawannya yang lain telah mengangkat anak muda Lumban Kulon
yang tidak dapat bangkit lagi di arena itu. “Kita ber istirahat
sebentar” berkata Semi kemudian “ biarlah yang baru memenangkan
perkelahian ini sempat beristirahat. “Kelemahan dapat saja dipakai
alasan jika ia kalah nant i” geram Nugata “Tetapi jangan pedulikan“
pesannya kepada kawannya yang akan memasuki arena “kalahkan anak itu
meskipun ia akan mengelak dengan seribu alasan” Semi tidak
menanggapinya. Kepada anak-anak muda Lumban Wetan ia berkata
“Carikan air bening. Biarlah ia minum sebelum anak itu harus
menghadapi lawannya yang kedua” Beberapa orang anak muda Lumban
Wetan segera berlari- larian. Mereka mencari sesobek daun pisang
diantara rumpun- rumpun pisang yang tumbuh liar di lereng-lereng
tebing. Kemudian dengan daun itu mereka membawa air dari belik
ditebing pula. Tetapi, anak Lumban Wetan itu benar-benar telah
kelelahan seakan-akan nafasnya sudah hampir terputus pula. Meskipun
seteguk air itu dapat menyegarkan tubuhnya, tetapi untuk berkelahi
lagi rasa-rasanya sudah tidak dapat lagi dilakukan. Namun ia terikat
pada ketentuan, bahwa ia harus menerima awan kedua. Dalam pada itu,
pemburu yang seorang lagi dengan diam- diam mendekatnya sambil
berbisik “Jangan memaksa dir i. Jika kau memang kalah, menyerah
sajalah meskipun t idak dengan semata-mata. Kau dapat menjatuhkan
dirimu dan tidak bangun lagi sampai kau digotong keluar arena. Orang
berikutnya yang akan mengalahkan lawanmu itu” Anak muda Lumban Wetan
itu termangu-mangu. Namun iapun akhirnya mengangguk-angguk mengerti.
Sejenak kemudian maka Nugatalah yang berteriak “Cepat. Kita akan
melihat perkelahian berikutnya” Anak muda dari Lumban Kulon yang
berkulit agak kehitam- hitaman itupun segera melangkah maju.
Langkahnya tetap dan tegap. Sementara itu, anak muda Lumban Wetan
yang sudah kelelahan itu berusaha untuk tetap berdiri tegak pula.
Air yang beberapa teguk itu memang telah membuatnya agak segar,
sementara tubuhnyapun telah diusapnya dengan beberapa titik air yang
sejuk. Ternyata serangan itu telah mengakhiri perkelahian. Anak muda
Lumban Kolon itu jatuh sekali lagi terlentang. Sementara itu,
bintang-bintang telah bergeser semakin ke Barat. Angin malam
mengayun nyala obor yang dibawa oleh anak-anak muda Lumban Wetan
yang telah ditancapkan diseputar arena. Dua orang anak muda sudah
berdiri tegak ditengah-tengah arena. Namun demikian, baik Semi
maupun Daruwerdi sudah melihat, bahwa perkelahian itu sama sekali
tidak akan seimbang. Meskipun demikian mereka tidak akan dapat
merubah peraturan yang sudah dibuat. Sejenak kemudian maka Daruwerdi
dan Semipun member ikan isyarat bahwa sebentar lagi perkelahian akan
dapat dimulai. Keduanya diminta untuk segera bersiap-siap. Dengan
menghitung sampai tiga kali, maka Daruwerdi membuka perkelahian itu.
Ternyata anak muda Lumban Kulon itu terlalu garang bagi lawannya
yang kelelahan. Demikian isyarat hitungan diucapkan pada hitungan ke
tiga. maka anak muda berkulit kehitam-hitaman itu telah meloncat
menyerang dengan dahsyatnya. Tanpa memberi kesempatan sama sekali
kepada lawannya, maka serangannya yang beruntun benar- benar telah
melemparkan anak muda Lumban Wetan itu. Terasa kemarahan yang luar
biasa telah megnhentak jantungnya. Namun serangan yang beruntun itu
benar-benar telah merampas segenap kekuatannya untuk dapat bangkit
lagi. Anak Lumban Wetan itu menyeringai menahan sakit ditubuhnya.
Namun agaknya anak muda Lumban Kulon itu benar-benar anak muda yang
keras hati. Dengan tangkasnya ia meloncat. Tangannya tiba-tiba saja
telah meraih rambut lawannya dan menariknya. Meskipun lawannya sudah
terlampau payah, tetapi anak muda Lumban Kulon itu telah memukul
wajah anak muda itu dengan kerasnya. Anak muda Lumban Wetan yang
sudah tidak dapat melawan lagi itu mengaduh tertahan. Kepalanya
terodrong dengan kerasnya. Untunglah bahwa kepalanya itu membentur
tanah berpasir sehingga dengan demikian kepalanya tidak ter- luka
karenanya. Ketika anak muda Lumban Kulon itu sekali lagi mengulurkan
tangannya, hampir berbareng Semi dan Daruwerdi melancarkan sambil
berteriak “Cukup” Anak muda Lumban Kulon itu mengurungkan niatnya.
Namun ia masih menjawab “Aku belum meremukkan kepalanya” “Itu tidak
perlu“ Daruwerdi hampir membentak “perkelahian ini hanya sampai pada
satu keadaan, dimana kita dapat menentukan siapa yang kalah dan
siapa yang menang” “Apakah anak itu sudah kalah?“ bertanya anak muda
Lumban Kulon itu. Daruwerdi mengerutkan keningya Namun nampak bahwa
hatinya tidak senang melihat sikap anak muda Lumban Kulon yang licik
itu. Anak-anak muda Lumban Wetan benar-benar merasa tersinggung
karenanya. Hampir serentak mereka berteriak mengumpat. Tetapi
Semilah yang kemudian menenangkan mereka. Katanya “Bawalah ia
menepi. Ambil air dan rawatlah sebaik-baiknya. Usap wajahnya dengan
air. Tetapi hati-hatilah. Beberapa orang anak muda melangkah
memasuki arena. Betapa kemarahan nampak di wajah mereka. Namun anak
Lumban Kulon benar-benar tidak merasa melakukan satu kesalahan.
Mereka justru bersorak-sorak melihat kemenangan kawannya. Dalam pada
itu. kemarahan benar-benar telah menghentak anak-anak muda Lumban
Wetan. Anak muda yang berkumis tipis menggeram “Biarlah aku yang
menyelesaikannya” “Jangan tergesa-gesa“ Jlitheng yang selama itu
hanya dapat menggeretakkan giginya itupun berkata “Bukankah
permainan ini baru dimulai. “Tetapi mereka telah berbuat curang”
jawab kawannya. “Percayakan kepada pemburu itu” sahut Jlitheng.
Anak-anak Lumban Wetan yang marah itupun akhirnya mulai membuat
pertimbangan-pertimbangan lagi. Mereka mulai dapat menilai, apa yang
sedang mereka hadapi. Baru dua orang anak muda Lumban Kulon yang
tampil. Mungkin dalam perkelahian ini beberapa anak muda yang lain
harus tampil seorang demi seorang. Jika mereka tidak menghiraukan
kemungkinan-kemungkinan dalam jenjang kemampuan mereka, maka mungkin
sekali mereka akan kehabisan orang yang akan dapat tampil
disaat-saat terakhir. Karena itulah, maka Lumban Wetanpun
menampilkan seorang anak muda yang lain. Tetapi mereka sudah mulai
memasuki seorang dar i sepuluh orang terbaik dari Lumban Wetan.
Karena menurut perhitungan mereka perkelahian selanjutnya tidak akan
lebih dari sepuluh orang lagi. Atas persetujuan pemburu kawan Semi
itu. maka seorang anak muda bertubuh sedang, berkulit kuning telah
melangkah memasuki arena. Anak itu memang termasuk satu dari sepuluh
orang terbaik di Lumban Wetan. Tetapi menurut penilaian kawan Semi,
anak muda berkumis tipis itu memiliki kelebihan meskipun hanya
selapis. Yang kemudian berdir i diarena adalah anak muda Lumban
Kulon yang berkulit kehitam-hitaman berhadapan dengan anak muda
Lumban Wetan yang berkulit kuning. Sejenak mereka saling memandang.
Keduanya adalah kawan yang sebelumnya termasuk kawan yang baik.
Namun demikian air dari bukit itu mengaliri sawah mereka, hubungan
mereka justru menjadi semakin renggang. Semi yang melihat salah
seorang dari sepuluh anak muda terbaik yang mengikuti latihan-
latihannya, menarik nafas dalam-dalam. Anak-anak muda Lumban Wetan
benar-benar tidak dapat menahan dir i lagi. Sekilas dipandanginya
pemburu kawannya yang berdiri di pinggir arena. Kemudian dilihatnya
Jlitheng diantara kawan-kawannya. Sementara itu Raru duduk
terkantuk-kantuk seakan-akan tidak menghiraukan apa yang terjadi
disekitarnya. “Kita akan segera dapat mulai dengan putaran ketiga
ini” berkata Daruwerdi kemudian. Semi mengangguk-angguk. Sentuhan
yang tajam terasa di jantungnya. Yang dilakukan itu benar-benar
berbahaya. Yang memasuki arena itu bukan sekedar seekor ayam jantan.
Tatapi mereka adalah anak-anak muda. Namun Semi tidak dapat berbuat
lain. Yang terjadi itu adalah kemungkinan yang paling baik yang
dapat diusahakan. Jika hal itu tidak dikehendaki oleh anak-anak muda
Lumban maka yang terjadi adalah perkelahian antara mereka semuanya,
yang tentu akan sangat sukar dikendalikan. Dalam pada itu.
Daruwerdilah yang kemudian member ikan aba-aba. Demikian ia
menghitung sampai tiga. maka kedua anak muda itupun segera bersiap.
Namun anak muda Lumban Kulon nampaknya ingin mengulangi caranya.
Dengan serta merta, iapun telah meloncat langsung menyerang dengan
dahsyatnya. Anak muda Lumban Wetan itu terkejut. Tetapi ia masih
sempat bergeser menghindar. Namun lawannya tidak member inya
kesempatan. Ketika serangannya yang pertama gagal, maka tiba-tiba
saja iapun berputar pada tumit. Kakinya terangkat dan berputar
mendatar. Serangan beruntun itu benar-benar tidak terduga akan
terjadi pada langkah pertama. Karena itu. maka anak muda Lumban
Wetan itu tidak sempat lagi mengelak. Namun demikian ia masih
berusaha untuk menangkis serangan itu. Tetapi serangan itu demikian
keras dan cepat. Karena itulah, maka ketika kedua tangan anak muda
Lumban Wetan itu membentur kaki lawannya, maka ia telah terdorong
beberapa langkah surut. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya
oleh anak muda Lumban Kulon yang berkulit kehitam-hitaman itu.
Selagi anak muda Lumban Wetan itu belum dapat memperbaiki
keadaannya, maka anak muda Lumban Kulon itu telah menyerangnya
sekali lagi. Dengan loncatan panjang, tangannya telah terjulur
menghantam dada. Anak muda Lumban Wetan itupun masih sempat
menangkis. Tetapi ternyata bahwa kekuatan serangan lawannya yang
menghentak itu benar-benar telah melemparkannya sehingga iapun
kemudian jatuh terguling diatas tanah berpasir. Sorak anak-anak
Lumban Kulon bagikan meledak. Mereka melihat bagaimana anak muda
Lumban Wetan itu terguling. Sementara itu anak muda Lumban Kulon
itupun sama sekali tidak membuang waktu lagi. Dengan sepenuh hati
iapun memburu lawannya yang berguling. Tetapi anak muda Lumban Wetan
itu menyadari keadaannya. Ia sejak benturan pertama dari perkelahian
itu telah dikejutkan oleh serangan yang tiba-tiba dan serta merta,
sehingga ia sama sekali belum sempat membalasnya. Karena itu, maka
sambil berguling ia berusaha untuk membuat perhitungan-perhitungan.
Ia sempat melihat lawannya memburunya. Namun dengan sengaja ia tidak
segera meloncat berdir i, karena iapun sadar, bahwa jika ia berbuat
demikian, maka demikian ia tegak, serangan berikutnya akan
melemparkannya sekali lagi. Karena itu. ia justru menunggu. Ia
bersiap menghadapi segala kemungkinan sambil berbaring di tanah
berpasir. Lawannya yang menunggu anak muda Lumban Wetan itu meloncat
bangkit menjadi agak kecewa. Tetapi nafsunya untuk segera ia
mengalahkan lawannya telah membakar jantungnya. Karena itu, ia tidak
sempat berpikir terlalu panjang. Karena lawannya masih saja
terbaring di tanah, maka tiba- tiba saja iapun meloncat sambil
menjulurkan kakinya untuk menginjak dada anak muda Lumban Wetan itu.
Serangan itulah yang ditunggu. Anak muda Lumban Wetan itu sudah
bersiap untuk beringsut. Demikian kaki itu terjulur, maka iapun
segera beringsut dan dengan cepat menangkap pergelangan kaki
lawannya. Sebuah putaran yang keras telah memutar tubuh anak muda
Lumban Kulon itu pula. Demikian cepatnya, sehingga anak muda Lumban
Kulon itupun telah terbanting jatuh pula diatas tanah berpasir.
Namun dengan serta merta, iapun segera berguling sambil merenggut
kakinya dengan satu hentakan. Kaki itu memang terlepas. Namun dengan
demikian, anak muda Lumban Wetan itupun telah mendapat waktu untuk
melenting berdiri bersama-sama dengan anak muda Lumban Kulon,
sehingga iapun telah bersiap sepenuhnya ketika lawannya berdiri
tegak sambil menggeletakkan kakinya. Keduanya kemudian berhadapan.
Namun keduanya sama- sama bersiap sepenuhnya menghadapi segala
kemungkinan, sehingga anak muda Lumban Wetan itu tidak akan lengah
lagi dan kehilangan kesempatan untuk menghindari serangan- serangan
itu akan datang membadai seperti yang telah terjadi. Semi yang telah
menahan nafas untuk beberapa saat, sempat menarik nafas panjang.
Seolah-olah ia sendirilah yang telah mendapat kesempatan yang sama
dengan lawannya yang garang itu. Sejenak keduanya berdiri tegak
saling berpandangan. Mata mereka bagaikan membara, dan tangan mereka
rasa-rasanya menjadi gatal. Namun di wajah anak muda Lumban Kulon
itu nampak betapa ia menjadi kecewa bahwa lawannya sempat
memperbaiki keadaannya, sehingga ia tidak dapat mengalahkannya
dengan segera. Jika ia berhasil mengalahkannya dalam waktu dekat,
berarti bahwa ia sudah memenangkan dua perkelahian. Jika ia masih
harus berhadapan dengan orang ketiga, maka tenaganya masih cukup
segar, sehingga mungkin ia akan dapat memenangkannya sekali lagi.
Jika demikian, maka perkelahian itupun sudah berakhir. Lumban Kulon
sudah dapat dinyatakan menang dan dapat menentukan kehendak mereka
atas bendungan dan air dari bukit sebelah. Tetapi ia telah salah
langkah karena ketergesa-gesaannya sehingga lawannya itu seolah-olah
telah berhasil lepas dari tangannya yang sudah membelit leher. Dan
kini anak muda Lumban Wetan itu berdir i tegak menghadapinya. Tetapi
mereka berdua tidak terlalu lama berdiri berhadap- hadapan. Sejenak
kemudian, keduanya sudah siap untuk menentukan akhir dari
perkelahian itu. Anak muda Lumban Kulon dan anak muda Lumban Wetan
itu bergeser setapak setapak. Mereka beringsut sambil menunggu
kesempatan. Dan sekejap kemudian, anak muda Lumban Kulon itu telah
bertindak lebih dahulu dari lawannya. Tetapi keadaan memang sudah
berubah. Anak muda Lumban Wetan yang hampir saja dikalahkannya itu
benar- benar telah bersiap. Karena itu maka iapun sempat bergeser
menghindar. Demikian kaki lawannya mematuk dadanya, ia memiringkan
tubuhnya sambil bergeser. Dengan sekuat tenaganya ia sempat memukul
kaki lawannya yang terjulur itu. Namun lawannya telah
memperhitungkannya. Karena itu,. maka secepatnya kaki itu
ditariknya. Meskipun demikian, tangan anak muda Lumban Wetan itu
masih juga menyinggung kaki lawannya. Kaki itu memang terdorong,
sehingga anak muda Lumban Kulon itu terputar sedikit. Tetapi sama
sekali tidak mempengaruhinya. Dengan demikian ketika anak muda
Lumban Wetan itu menyerangnya dengan satu langkah kedepan dan tangan
kanan terjulur menghantam kening, anak muda Lumban Kulon itu masih
sempat meloncat kesamping, sehingga tangan lawannya sama sekali
tidak menyentuhnya. Demikian perkelahian itu semakin lama menjadi
semakin sengit. Namun akhirnya, anak muda Lumban Wetan yang termasuk
salah seorang dari sepuluh orang terbaik itu nampak semakin berhasil
menguasai lawannya. Perlahan-lahan tetapi pasti, ia akan dapat
mengalahkan lawannya. Betapapun lawannya mengerahkan segenap
kemampuannya, namun anak muda Lumban Wetan itu memiliki ketrampilan
dan ketahanan tubuh yang lebih tinggi dari anak muda Lumban Kulon
itu. Tetapi anak muda Lumban Kulon itupun telah bertahan dengan
sejauh-jauh sisa kemampuannya. Meskipun pada saat terakhir ia
menjadi kehilangan keseimbangan, tetapi anak muda Lumban Wetan
itupun telah memeras segenap kemampuannya pula, sehingga seperti
yang pernah terjadi atas kawannya. Ia berhasil mengalahkan lawannya,
namun tenaganya benar-benar telah terperas habis. Yang telah terjadi
itupun terulang kembali. Semi dan Daruwerdi melihat peristiwa
seperti yang pertama terulang. Ketika muncul anak muda berikutnya
dari Lumban Kulon, maka anak muda Lumban Wetan itu sama sekali tidak
mampu melawannya lagi. Ia harus menyerah, dan membiarkan dir inya
dibanting diatas tanah berpasir tanpa sempat melawan. Jika Semi dan
Daruwerdi tidak cepat mencegahnya, maka iapun akan mengalami nasib
buruk karena tingkah laku anak muda Lumban Kulon. Dengan demikian,
maka anak muda Lumban Wetan harus menurunkan anak muda berikutnya.
Dan yang terjadi itupun telah terulang kembali seperti yang
terdahulu. Ketika hal itu terulang sampai lima kali, maka Nugata
menjadi tidak telaten lagi, Sementara langitpun menjadi semakin
merah. Jika perkelahian yang demikian itu berlangsung terus menerus,
maka akibatnya masalahnya tidak akan terpecahkan. Tetapi pada
perkelahian yang keenam, ternyata telah terjadi sedikit perbedaan.
Anak muda Lumban Wetan, orang kelima dari sepuluh orang terbaik,
telah berhasil memenangkan perkelahian dengan tenaga yang masih
cukup segar. Lawannya, anak muda Lumban Kulon yang bertubuh lebih
besar daripadanya dapat dikalahkan dengan mudah tanpa menghabiskan
tenaga seperti kawan-kawannya yang terdahulu. Karena itu, maka ia
siap menghadapi lawan berikutnya dengan kemampuan yang masih utuh.
Nugata menjadi berdebar-debar. Jika anak muda Lumban Wetan itu
menang, berarti ia telah memenangkan dua kali perkelahian. Maka
perkelahian berikutnya akan sangat menentukan. Karena itu, maka anak
muda Lumban Kulon yang turun kearena adalah anak muda yang dianggap
memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak muda yang telah
dikalahkan itu. Karena itulah, maka dengan wajah tengadah ia maju
kearena. Sebelum ia meloncat menyerang, ia masih sempat berkata
“Ingatlah, bahwa aku dapat berbuat apa saja atasmu. Menglahkanmu
selagi kekuatanmu masih segar, atau dengan kemampuanku, aku
mengalahkanmu dengan akibat yang paling parah” Anak muda Lumban
Wetan tidak menjawab. Tetapi ia bersiap sebaik-baiknya. -0oo0dw0oo0
Jilid 13 “Aku dapat membunuhmu” desis anak muda Lumban
Kulon itu, lalu “Tidak seorangpun dapat menyalahkan aku, karena yang
akan terjadi itu seolah-olah tidak aku sengaja” Anak muda Lumban
Wetan itu masih tetap berdiamdiri. Sejenak kemudian, maka isyaratpun
telah diberikan oleh Semi dan Daruwerdi, bahwa perkelahian sudah
dapat dimulai. Namun anak muda Lumban Kulon itu masih bicara “Untuk
kepentinganmu, sebaiknya kau menyerah saja dan biarlah orang kedua
melawanku” Anak muda Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi ialah
yang justru bertindak lebih dahulu. Serangannya yang pertama cukup
mengejutkan. Meskipun anak muda Lumban Kulon itu sempat mengelak,
namun tangan anak-anak Lumban Wetan itu masih menyentuh ujung
bajunya. “Gila“ geram anak muda Lumban Kulon “Kau benar-benar ingin
mati” Anak muda Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi dengan
tiba-tiba pula ia merubah serangannya dengan ayunan tangan mendatar
mengarah keperut lawannya. Sekali lagi lawannya terkejut. Tetapi
iapun sempat merendahkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya. Ia
menangkis serangan itu dengan kedua sikunya. Tetapi lawannya justru
telah menarik serangan tangannya. Dengan tiba-tiba saja ia telah
memir ingkan tubuhnya dan melontarkan serangan kaki yang keras. Anak
muda Lumban Kulon yang mendapat serangan beruntun itu mengumpat.
Namun serangan kaki itu demikian kerasnya. Meskipun anak muda Lumban
Kulon itu sempat melipat tangannya disisi tubuhnya untuk melindungi
lambung dengan sikunya, namun demikian kerasnya serangan itu,
sehingga iapun terdorong beberapa langkah dan terbanting jatuh.
Tetapi anak muda Lumban Kulon itu cukup tangkas. Ketika anak muda
Lumban Wetan mengejarnya, maka iapun telah sempat melent ing
berdiri. Demikianlah maka keduanya telah berhadap-hadapan. Anak muda
Lumban Kulon itu tidak mau untuk seterusnya hanya sekedar menjadi
sasaran serangan. Namun ia sudah bertekad untuk menyerang kembali.
Tetapi ternyata anak muda Lumban Wetan itu memang lebih tangkas dan
lebih cepat. Sebelum ia mulai, maka anak muda Lumban Wetan itu
pulalah yang telah mulai dengan serangan-serangannya yang beruntun
seperti mengalirnya banjir bandang. Beberapa saat kemudian,
anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetanpun
segera melihat, bahwa untuk kedua kalinya, anak muda Lumban Kulon
itu mulai terdesak. Betapapun ia berteriak dan mengumpat, dan
betapapun kawannya mencoba untuk mendorongnya dengan
teriakan-teriakan yang bagaikan meretakkan langit. Anak muda Lumban
Wetan yang tidak banyak bicara itu terus saja mendesaknya. Iapun
sadar, bahwa ia harus berkelahi untuk yang ketiga kalinya jika ia
memenangkan perkelahian itu. Karena itulah maka ia ingin
menyelesaikan perkelahian itu sebelum nafasnya habis diujung
hidungnya, sehingga seperti kawan-kawannya yang lain, maka
perkelahian ber ikutnya, tidak akan dapat memberikan perlawanan sama
sekali. Semi menyaksikan perkelahian itu dengan tegangnya. Anak ini
memang mempunyai beberapa kelebihan dari kawannya yang sepuluh. Anak
ini mampu bergerak cepat dan ketahanan tubuh yang menyakinkan.
Sementara itu, Daruwerdipun menjadi berdebar-debar seperti juga
Nugata. Namun dada Nugata terasa lebih panas, seolah-olah jantungnya
akan meledak dan darahnya menjadi mendidih. Tetapi ia tidak dapat
berbuat apa-apa. Ia harus melihat kenyataan, bahwa kawannya yang
kedua itupun ternyata tidak dapat mengimbangi kemampuan anak Lumban
Wetan yang termasuk dalam satu diantara sepuluh orang terbaik,
sementara anak itu memang memiliki kelebihan dari yang sepuluh itu.
Karena itulah, maka tiba-tiba Nugata itupun berteriak nyaring
“Cukup. Kau memenangkan perkelahian yang kedua. Perkelahian ber
ikutnya akan menentukan” Semua orang berpaling kearahnya. Namun anak
muda Lumban Kulon yang meskipun sudah sangat terdesak tetapi masih
belum benar-benar dikalahkan itu menyahut “Aku belum kalah” “Tetapi
kau akan kalah. Pasti. Kau tidak usah ingkar. Biarlah aku yang
menyelesaikannya. Permainan ini sudah terlalu lama. Dan aku sudah
menjadi jemu karenanya” geram Nugata. Semi, pemburu yang lain, Rahu
dan anak-anak muda Lumban Wetan memang menjadi tegang. Jlithengpun
menjadi tegang pula. Ia belum mengerti sampai berapa jauh kemampuan
Nugata yang sombong itu. Nampaknya ia memang memiliki ilmu, bukan
saja yang dipelajarinya dari Daruwerdi. Sementara itu Daruwerdi
sendiri menjadi termangu-mangu. Setelah melihat perkelahian dari
anak-anak muda Lumban Kulon dan anak-anak muda Lumban Wetan itu, ia
benar-benar menjadi bimbang. Seharusnya ia merasa, bahwa orang-orang
yang pernah berlatih padanya itu telah dikalahkan. Seharusnya ia
menjadi marah dan tersinggung. Namun menilik perkembangan keadaan,
maka ia tidak dapat marah dan tersinggung. Bahkan iapun tanpa
disadarinya, berharap bahwa anak-anak Lumban Wetanlah yang menang.
Karena jika demikian, anak-anak Lumban Wetan itu tentu akan
menegakkan keadilan. Pintu air itu akan dikembalikan seperti semula.
Air yang dituangkan ke Lumban Kulon akan sama banyaknya dengan air
yang menang, maka mereka tentu akan tetap pada sikap mereka yang
sekedar menuruti keinginan mereka sendiri. “Persoalan itu tentu akan
berkepanjangan” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Tetapi keraguan
yang lain telah tumbuh pula. Katanya di dalam hati “Tetapi j ika
anak muda Lumban Wetan yang menang, apakah anak-anak muda Lumban
Kulon akan bersedia memenuhi janj inya, memberikan kesempatan kepada
anak Lumban Wetan untuk menentukan sikap mereka terhadap bendungan
itu?“ Atau bahkan persoalan itu akan tidak dapat diselesaikan,
karena anak muda Lumban Kulon masih akan jejap menuntut pada
masa-masa mendatang?“ Dalam keragu-raguan itu, Daruwerdi melihat
Nugata memasuki arena sambil beikata “Aku lawanmu yang ketiga“ Anak
muda Lumban Wetan yang masih berada diarena itupun menjadi ragu-ragu
pula. Tetapi ia tidak dapat ingkar, la harus berkelahi dengan orang
ketiga untuk menentukan, apakah Lumban Wetan akan dapat memenangkan
perkelahian itu. “Jika aku menang sekali lagi, maka perkelahian ini
akan selesai” berkata anak muda Lumban Wetan itu di dalam hatinya.
Tetapi iapun menyadari, yang kemudian memasuki arena adalah Nugata.
Msskipun anak-anak Lumban Wetan itu belum mengetahui, apa yang dapat
dilakukan oleh Nugata, tetapi bahwa Nugata terlalu percaya akan
kemampuannya tentu bukannya tidak beralasan. Karena itu, maka anak
muda Lumban Wetan itu menjadi berdebar-debar. Bahkan mulai timbul
keragu-raguan di dalam hatinya, apakah ia akan dapat mengalahkan
Nugata. Tetapi anak muda Lumban Wetan itu tidak mengalah. Iapun
segera mempersiapkan diri menghadapi Nugata yang sedang dibakar oleh
kemarahan yang memuncak. Kehadiran Nugata diarena itu tentu membuat
anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban kulon menjadi berdebar-
debar. Anak-anak Lumban Kulon telah mulai bersorak-sorak. Mereka
mengetahui bahwa Nugaita memiliki kelebihan dari mereka. Karena
disamping Daruwerdi, sebelumnya Nugata memang sudah memiliki bekal
olah kanuragan. Untuk beberapa saat lamanya, ia pernah berguru
kepada saudara muda ibunya, yang tinggal diluar Lumban. Ketika ia
mengenal Daruwerdi, maka ia telah mendapat beberapa latihan khusus
ia menentukan dir inya menjadi orang terbaik diantara anak- anak
muda Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Dan kini Nugata itu berdir i
diarena berhadapan dengan seorang muda Lumban Wetan yang sudah mulai
lelah. Namun dalam pada itu Nugata berkala lantang “Jika kau
ragu-ragu, atau karena merasa sudah terlalu letih karena perkelahian
sebelumnya, minggir lah. Biar lah orang lain memasuki arena tanpa
diperhitungkan, atas kekalahanmu. Aku akan melawan orang baru
sebagai orang pertama, dan aku akan melawan dua orang lainnya yang
akan memasuki arena ini berturut-turut” Anak muda Lumban Wetan yang
semula ragu-ragu itu. justru menjadi tersinggung karenanya. Dengan
lantang ia berkata “Aku akan mengakhir i perkelahian yang menjemukan
ini. Kau akan aku kalahkan, dan karena itu maka Lumban Kulon harus
menerima keputusan kami atas bendungan itu. “Jangan terlalu sombong”
geram Nugata “Tetapi jika kau ingin membuktikan, aku juga tidak
berkeberatan. Agaknya kau sudah salah menilai dir imu sendir i.
Bahkan kau sudah memenangkan dua kali pertarungan, kau anggap bahwa
kau pasti akan menang pada perkelahian berikutnya” “Aku memang
menduga demikian” jawab anak muda Lumban Wetan itu. “Jangan
menyesal. Tubuhmu akan menjadi merah biru. Tulang-tulangmu akan
retak dan untuk sebulan kau akan berbaring dipembaringan” ancam
Nugata. Anak Lumban Wetan itu tidak menjawab. Meskipun hatinya
menjadi berdebar-debar juga, tetapi ia tidak ber ingsut dari
tempatnya. Yang juga menjadi berdebar-debar adalah Daruwerdi dan
Semi. Nampaknya Nugata benar-benar meyakinkan. Tetapi karena
ketentuan itu harus berlaku, maka merekapun kemudian memutuskan
untuk mempersilahkan keduanya mulai dengan perkelahian mereka. Namun
Semi masih juga berpesan “kalian hanya berkelahi untuk menentukan
siapa yang kalah dan siapa yang menang. Tidak lebih dari itu” Nugata
menggeretakkan giginya. Ia sadar, bahwa Semi berusaha
memperingatkannya, agar ia tidak menyakiti lawannya jika ia sudah
menyatakan kalah. “Aku akan meremukkan tulang-tulangnya pada
sentuhan pertama” katanya di dalam hati. Sejenak kemudian, keduanya
telah bersiap. Rahu yang terkantuk-kantuk tiba-tiba saja. telah
berdiri tegak di lingkaran yang pepat itu. Sementara kawan Semipun
menjadi tegang pula. Bahkan kemudian iapun telah memanggil Jlitheng
sambil berbisik “Tidak ada orang lain” “Jangan Gila“ bisik Jlitheng
“Aku bersembunyi untuk waktu yang lama. Kau kira tiba-tiba saja aku
harus menelanjangi diriku?“ “Bukan begitu. Aku akan dapat
mengatakan, bahwa kau adalah mur idku secara khusus dan diam-diam.
Karena itu, kaupun hanya melayani sekedarnya, asal kau dapat
mengalahkan Nugata sebagai orang ketiga. Nampaknya tidak akan ada
yang dapat mengibanginya” berkata kawan Semi itu perlahan-lahan di
telinga Jlitheng. Jlitheng memang melihat sikap dan langkah Nugata.
Sejak lama ia memang sudah menduga, bahwa Nugata. memiliki kelebihan
dari kawan-kawannya dibalik sikapnya yang sombong dan tinggi hati.
Sejenak kemudian, maka perkelahian itupun segera dimulai. Anak muda
Lumban Wetan itu menjadi sangat berhati-hati. Ia sadar, dengan siapa
ia berhadapan. Namun Nugatalah yang dengan serta merta telah
menyerang dengan garangnya. Sambil meloncat kedepan ia telah
menjulurkan tangannya. Tidak dengan jari-jari tergenggam, tetapi
justru dengan jari- jari terkembang. Semi dan Daruweidi menjadi
semakin berdebar-debar. Mereka bergeser mendekat untuk menjaga, agar
anak muda Lumban Wetan itu tidak mengalami keadaan yang sangat
buruk. Tetapi anak muda Lumban Wetan itu sempat mengelak. Justru
sambil merendahkan diri, ia sempat menyerang lambung Nugata dengan
kakinya. Namun Nugata cukup tangkas. Ia bergeser dan terhindar dari
sentuhan serangan lawannya. Bahkan tiba-tiba saja ia telah meloncat
pula dan menyerang langsung dengan kakinya kearah pundak anak Lumban
Wetan itu. Serangan itupun masih dapat dihindarinya, sehingga Nugata
menjadi semakin marah karenanya. Ternyata satu dari sepuluh anak
terbaik dari Lumban Wetan itu tidak terlalu lemah, dihadapan Nugata,
Ia bukannya sama sekali tidak dapat melawan. Namun sebenarnyalah,
bahwa tangannya yang telah susut sejak ia mulai dengan perkelahian
itu, benar-benar tidak menguntungkannya. Ia sudah melawan dua orang
dan, Nugata adalah orang ketiga. Justru orang yang memiliki
kelebihan dari setiap anak nluda Lumban Wetan dan anak muda Lumban
Kulon sendir i Karena itu, anak muda Lumban Wetan itu tidak dapat
bertalian lebih lama lagi. Sejenak kemudian ia sudah mulai berdesak,
meskipun ia masih tetap mampu melindungi dir inya Namun anak muda
Lumban Wetan itupun merasa, bahwa yang dapat dilakukannya itu tidak
akan dapat bertahan lebih tema lagi. Sebenarnyalah bahwa Nugatapun
mengerti, bahwa lawannya sudah kehabisan tenaga. Karena itu, maka
iapun segera mendesaknya. Ia harus segera menyelesaikan tanpa
membuang tenaga terlalu banyak. Karena ia bertekad untuk mengakhir i
perkelahian itu. Ia akan mengalahkan tiga orang anak muda Lumban
Wetan berturut-turut. Karena itulah, maka ketika anak muda Lumban
Wetan itu kemudian terdesak dan terdorong jatuh, Nugata tidak
mengejarnya. Ia tidak membuang tenaganya untuk menyakiti lawannya.
Dibiarkannya lawannya berusaha untuk bangkit dengan susah payah,
namun ketika ia sudah berdiri, maka dampaklah bahwa keseimbangannya
masih belum dapat dipulihkannya. “Apakah kau masih akan melawan?“
bertanya Nugata. Anak Lumban Wetan itu tidak menjawab. Tetapi ia
tidak beranjak dari tempatnya. Meskipun ia harus kalah, tetapi untuk
kepentingan kawan berikutnya, ia harus mengurangi tenaga Nugata
sebanyak-banyaknya. Tetapi dalam pada itu, Daruwerdilah yang berkata
“Kau sudah kalah. Nugata tidak perlu membukt ikannya lebih jelas
lagi, agar kau tidak benar-benar harus berbaring sebulan di
pembaringan” Semi tidak mencegah ketika kemudian Daruwerdi memimpin
anak itu keluar dari arena. Dalam pada itu, maka kawan Semilah yang
telah menunjuk seorang anak muda lagi dari Lumban Wetan untuk
memasuki arena. Salah satu dari orang-orang terbaik diantara sepuluh
orang terpilih dari Lumban Wetan. “Hati-hatilah“ pesan kawan Semi
itu “jaga tenagamu sebaik-baiknya. Jika kau terpaksa kalah, kau
harus berusaha menguras tenaga lawanmu sejauh-jauh dapat kau
lakukan, Tetapi kaupun jangan memaksa dir i. Aku yakin, bahwa masih
ada orang yang akan dapat mengalahkan Nugata itu” “Kau sendiri?“
bertanya anak muda Lumban Wetan itu. “Tidak. Tentu aku tidak boleh
turun kearena” jawab pemburu itu “Tetapi percayalah kepadaku” Anak
muda Lumban Wetan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya
“Apakah kau yakin bahwa aku tidak akan dapat mengalahkannya?“
“Bukan, bukan begitu” jawab pemburu itu “Aku hanya berkata wajar dan
melihat segala kemungkinan yang dapat terjadi. Kau dapat menang,
tetapi kau akan dapat juga kalah. Jangan ingkari
kemungkinan-kemungkinan itu. Tetapi jangan menjadi lemah dan t idak
berpengharapan” Anak muda Lumban Wetan itu menar ik nafas
dalam-dalam. Iapun kemudian melangkah dengan langkah tetap memasuki
arena, berhadapan dengan Nugata. “Kau” desis Nugata. Anak muda
Lumban Wetan itu menar ik nafas dalam-dalam. Sebelumnya ia tidak
pernah membayangkan, bahwa pada suatu saat ia harus berkelahi
melawan Nugata. Meskipun ia sudah mengenal sebelumnya, namun karena
sifat-sifat Nugata, maka ia tidak pernah bergaul rapat dengan anak
muda itu. Tidak seperti dengan anak-anak muda Lumban Kulon yang
lain. Meskipun demikian, namun akhirnya orang yang dikenalnya
baik-baik itupun harus berhadapan sebagai lawan dalam sayembara
tanding untuk kepentingan Kabuyutan masing- masing. Untuk sesaat
keduanya saling berhadapan dengan tegang, sampai saatnya Daruwerdi
dan Semi memberikan isyarat bahwa perkelahian dapat dimulai.
Anak-anak Lumban Wetan dan apak-anak muda Lumban Kulon sudah menjadi
semakin tegang. Mereka sudah melihat beberapa perkelahian. Tetapi
belum dapat menentukan akhir dari sayembara itu. Sehingga dengan
demikian maka mereka hampir-hampir kehilangan kesabaran.
Rasa-rasanya mereka ingin meloncat memasuki arena dan berkelahi
bersama-sama, agar segera dapat ditentukan, siapakah yang menang dan
siapakah yang kalah. Tetapi mereka masih berusaha untuk menahan dir
i. Terlebih- lebih anak-anak muda Lumban Kulon. Mereka percaya bahwa
Nugata akan dapat menyelesaikan perkelahian itu dengan mengalahkan t
iga orang berturut-turut. Sejenak kemudian, maka perkelahian itupun
telah dimulai. Nugata yang masih ingin berhadapan dengan seorang
anak muda lagi dari Lumban Wetan dan mengalahkannya, ternyata cukup
berhati-hati. Ia tidak kehilangan perhitungan untuk menghemat
tenaganya. Karena itulah maka ia berkelahi dengan memperhitungkan
segenap kemungkinan. Sebenarnya bahwa Nugata memang memiliki
kelebihan dari lawannya. Meskipun perkelahian itu rasa-rasanya
menjadi lamban, karena kedua-duanya berusaha memperhitungkan daya
tahan masing-masing, namun Nugata semakin lama menjadi semakin
yakin, bahwa iapun akan dapat memenangkan perkelahian itu. Dengan
demikian, maka anak-anak muda Lumban Wetan menjadi sangat gelisah.
Anak muda yang berkelahi melawan Nugata sebagai orang kedua itu
termasuk orang terbaik dian- tara sepuluh orang terpilih dari
anak-anak muda Lumban We tan. Jika iapun dapat dikalahkan, maka
kemungkinan yang sangat pahit akan dapat terjadi pada akhir
perkelahian itu. Jika seorang lagi anak muda Lumban Wetan
dikalahkan, maka sayembara itu akan merupakan permulaan dari
masa-masa yang sulit bagi Tanah Lumban Wetan untuk masa-masa
mendatang. Untuk berpuluh tahun dan bahkan mungkin untuk beratus
tahun. Lumban Kulon akan menjadi hijau subur, sementara Lumban Wetan
akan tetap menjadi gersang dan kering. Kehidupan di Lumban Kulon
akan segera mekar dengan kesejahteraan yang akan meliputi seluruh
Kabuyutan, sementara kemelaratan akan tetap menyelubungi Kabuyutan
Lumban Wetan. “Alangkah bodohnya kita yang hidup pada saat-saat yang
menentukan ini” desis salah seorang dari anak muda Lumban Wetan.
Namun anak-anak muda Lumban Wetan tidak akan dapat mengingkar i satu
kenyataan yang terjadi. Nugata berhasil mendesak lawannya. Meskipun
ia tetap bersikap hati-hati dengan menghemat tenaganya. Meskipun
demikian, anak muda Lumban Wetan itu t idak segera menyerah. Iapun
berusaha untuk bertahan sejauh mungkin dapat dilakukan. Iapun telah
membuat perhitungan- perhitungan tertentu, agar Nugata kehilangan
sebagian dengan tenaganya, sehingga jika ia harus melawan orang
ketiga, ia tidak lagi mempunyai sisa tenaga. Tetapi ternyata
Nugatapun mempunyai perhitungan yang mapan. Ia sadar bahwa ia masih
harus berkelahi sekali lagi dan mengalahkan lawannya agar
perkelahian itu segera berakhir dan kemenangan ada dipihaknya.
Dengan demikian maka ia akan dapat menentukan sesuai dengan
kehendaknya atas bendungan dan pintu air yang membawa air ketanah
persawahan di Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Karena itu, maka iapun
cukup berhati-hati. Ia tidak terpancing untuk mengerahkan tenaganya
melumpuhkan lawannya meskipun hatinya bagaikan terbakar melihat
sikap anak Lumban Wetan yang tidak segera mengakui kekalahannya.
Namun akhirnya anak muda Lumban Wetan itu tidak dapat bertahan lebih
lama lagi. Betapapun ia mencoba untuk memancing agar lawannyapun
mengerahkan tenaganya, ternyata sama sekali tidak berhasil. Bahkan
akhirnya, ketika ia berusaha menyerang, sementara Nugata hanya
sekedar menghindarinya, maka anak muda Lumban Wetan itu telah
terjatuh menelungkup. Sesaat ia masih mencoba untuk bangkit. Tetapi
ternyata tenaganya telah terkuras habis, sehingga Daruwerdilah yang
kemudian berkata “Perkelahian ini sudah selesai” Semilah yang
kemudian mengangkat dan membimbing anak muda Lumban Wetan itu untuk
menepi. Namun dalam pada itu, ia sempat berbisik kepada kawannya
yang berada di- antara anak-anak Lumban Wetan “ Bagaimana dengan
Jlitheng?“ “Aku akan berusaha” desis kawannya. “Jangan orang lain.
Jika tidak, anak-anak Lumban Wetan akan menyesal. Keadilan akan
diinjak-injak disini” sahut Semi. Kawannya mengangguk-angguk.
Katanya “Aku akan mencoba meyakinkannya” Semi yang kemudian kembali
ketengah-tengah arena berkata kepada Nugata “Kau mendapat kesempatan
untuk beristirahat barang sesaat. Adalah tidak adil jika kau harus
langsung berkelahi untuk ketiga kalinya. “Aku sudah siap”
geramNugata “Jika perlu, dua orang anak muda Lumban Wetan sekaligus
memasuki arena” Ternyata kawan Semipun mendengar kata-kata itu.
Karena itu, maka iapun segera menemui Jlitheng sambil berkata “Kau
dengar apa yang dikatakannya. Ia tidak sekedar menyombongkan diri”
“Ya. Aku sudah melihat sendiri” desis Jlitheng, “Jadi bagaimana?
Apakah kau relakan bendungan itu jatuh ke tangannya dan membiarkan
Lumban Wetan akan mengalami, malapetaka sepanjang umurnya” bertanya
kawan Semi. Dalam pada itu, terdengar Nugata berteriak “Aku t idak
memer lukan istirahat” Anak-anak Lumban Wetan menjadi gelisah. Sisa
dari sepuluh orang terbaik segera mengerumuni kawan Semi. Namun
mereka terkejut ketika lawan Semi itu berkata “Aku minta Jlitheng
untuk tampil” “Jangan bergurau” desis salah seorang dari sisa yang
sepuluh itu “Kita dalam keadaan gawat. Ternyata Nugata memang
memiliki kelebihan tanpa kita ketahui lebih dahulu” “Aku tidak
bergurau” berkata kawan Semi “tergantung kepada Jlitheng” Jlitheng
menjadi tegang. Sementara kawan Semi itu berkata “Aku telah
melakukan sesuatu yang selama ini aku sembunyikan. Aku yang melihat
Jlitheng mempunyai kemungkinan yang sangat baik, atas persetujuan
kawanku, telah aku latih dengan diam-diam tanpa sepengetahuan
kalian. Menurut perhitunganku, ia memiliki kelebihan dari kalian
semuanya, sehingga aku telah memilihnya untuk menghadapi Nugata.
Terserah, apakah ia mempunyai jiwa besar untuk melakukannya. Apakah
ia mempunyai tanggung jawab atas hari depan Lumban Wetan dan atas
air yang telah dikendalikannya sendiri. Anak-anak muda Lumban
Wetanpun menjadi tegang. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa
Jlitheng memiliki kelebihan dari mereka, setidak-tidaknya menurut
pemburu itu. Dalam pada itu, Jlithengpun menjadi tegang. Ia merasa
berada dalam keadaan yang paling sulit. Ia sudah bersembunyi sekian
lama di padukuhan itu. Tiba-tiba saja ia harus menunjukkan dir inya
sendiri meskipun belum seluruhnya. Tetapi jika ia ingkar, maka
Lumban Wetan benar- benar akan mengalami bencana. Tidak hanya untuk
satu dua hari. Tetapi untuk puluhan, bahkan mungkin untuk ratusan
tahun mendatang. Karena itu, betapapun beratnya, akhirnya ia berkata
“Baiklah. Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan aku dapat memenuhi
harapan kalian. Tetapi jika tidak, aku mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Taruhannya memang terlalu mahal” “Menurut
perhitunganku, kau memiliki kesempatan terbaik dari setiap orang
yang ada sekarang” sahut kawan Semi. Dalam pada itu, Nugata yang
masih berada diarena berteriak “He, siapakah yang akan memasuki
arena. Aku tidak perlu beristirahat. Aku ingin segera menyelesaikan
permainan yang menjemukan ini. Jika mata hari nanti terbit, kami
akan segera melanjutkan kerja kami, menyelesaikan pintu air dan
parit induk untuk menampung air yang akan segera melimpah”
Sebenarnyalah jantung Jlitheng telah tersentuh pula. Bukan karena
sesumbar itu saja, tetapi yang terpenting adalah karena air yang
telah dikendalikannya itu ternyata akan disalah gunakan oleh
anak-anak muda dar i Lumban Kulon. Sementara itu, Daruwerdipun
menjadi gelisah. Hari yang akan datang adalah akhir pekan seperti
yang disanggupkan oleh Cempaka. Jika orang-orang Sanggar Gading itu
menjadi salah paham menanggapi per istiwa yang terjadi di bendungan,
mungkin mereka akan mengambil satu sikap tertentu. Karena itu, maka
iapun menjadi gelisah dan tergesa-gesa, sehingga iapun ikut
berteriak “He, siapakah dari Lumban Wetan yang akan memasuki arena”
Sebenarnyalah anak-anak Lumban Wetan, Lumban Kulon dan Daruwerdi
telah dikejutkan oleh hadirnya seseorang yang sama sekali tidak
mereka duga sebelumnya, Jlitheng. Justru karena itu, Nugata tertegun
sejenak. Dipandanginya Jlitheng dan Semi berganti-ganti. Dengan nada
rendah ia bertanya “Apakah yang kalian lakukan tidak keliru?“
“Terserah anak-anak Lumban Wetan” jawab Semi. Daruwerdipun
terheran-heran melihat Jlitheng yang berdiri diarena. Sikapnya yang
enggan memang t idak meyakinkan. Bahkan nampak kegelisahan yang
menggelitiknya, sehingga iapun tidak berdir i mapan. Beberapa orang
anak muda Lumban Wetan sendir i saling berbisik diantara mereka.
Bahkan seorang yang bertubuh tinggi kekar berkata “Apakah ini bukan
satu permainan yang kotor. Mungkin justru Jlitheng adalah pengikut
Nugata yang sengaja dipasang dalam saat yang menentukan” “Ah, aku
yakini bukan” jawab yang lain “Kita melihat bagaimana ia bekerja
keras untuk mengarahkan air itu” “Tetapi kenapa ia telah
melakukannya sekarang” desis yang tinggi “seharusnya ia sadar, apa
yang sedang dihadapinya” “Tetapi pemburu itu setuju. Meskipun aku
tidak tahu, apa yang mereka lakukan diantara sepuluh kawan kita yang
terbaik, namun pemburu itulah yang menentukan, siapakah di antara
kita yang akan tampil. Agaknya ia mempunyai penilaian tersendiri
terhadap Jlitheng” Kawannya tidak menjawab. Namun jantungnyapun
menjadi berdebar-debar. Sebenarnyalah sikap Jlitheng yang gelisah
memang tidak meyakinkan. Dalam pada itu, Jlitheng memang gelisah.
Tetapi iapun sadar, bahwa jika anak-anak Lumban Wetan gagal, maka
air itu akan melimpah sebagian besar ke Lumban Kulon. Sementara itu,
ia tidak akan dapat berbuat apapun lagi atas sumber air diatas
bukit, karena anak-anak Lumban Kulonpun menganggap bahwa bukit itu
adalah hak mereka. Sekilas terbayang seorang kakek yang tinggal di
bukit itu bersama seorang anak gadisnya. Jika kakek itu dapat
diminta untuk bekerja sama dengan anak-anak Lumban Wetan, mungkin
anak-anak Lumban Kulon akan mengalami satu sikap tersendiri. Tetapi
jika tidak, maka kesulitan bagi Lumban Wetan akan bertambah-tambah.
“Ia orang baik” desisnya. Namun bagaimanapun juga Jlitheng tidak
akan dapat mengetahui, apa yang tersirat dihati orang tua itu. Dalam
pada itu. Nugata yang tnelihat Jlitheng termangu- mangu berkata
“Jlitheng. Mumpung masih belum terlanjur terjadi sesuatu atasmu. Kau
masih sempat mempertimbangkan, apakah kau akan meneruskan sikap
sombongmu yang tidak kau pertimbangkan dengan nalar, atau kau
akhirnya akan menyadari keadaan dirimu setelah kau berdiri diarena.
Aku masih memberimu waktu untuk menyingkir dan memberi kesempatan
kepada orang lain” Jlitheng memandang Nugata sejenak. Sementara itu,
anak- anak Lumban Wetanpun menjadi semakin tegang. Bahkan seseorang
hampir saja meloncat maju untuk menggantikan Jlitheng yang nampak
sangat gelisah. Tetapi dalam pada itu, jawaban Jlithengpun
mengejutkan “Nugata. Aku menyadari sepenuhnya, siapa aku dan siapa
kau. Tetapi akupun menyadari, bahwa aku adalah orang yang paling
banyak berbuat atas air itu. Karena itu, maka aku telah menganggap
air itu merupakan bagian dari hidupku. Dengan demikian, maka akupun
telah bertekad untuk berbuat apa saja bagi kepentingan Lumban Wetan
yang menyangkut hubungannya dengan air, Karena pada saat aku
mengarahkan air itu dengan bekerja keras, bukannya aku tidak
mempunyai maksud tertentu basi kesejahteraan Lumban Wetan. Karena
itu, jika kesejahteraan itu akan direnggut sebelum muliai mekar, r
maka aku tidak akan dapat merelakannya” “O“ tiba-tiba saja Nugata
tertawa “Kau sesorah seperti seorang guru kajiwan disebuah
padepokan. He, apakah kau tidak melihat kenyataan yang kau hadapi
sekarang. Akui tidak ingin mendengar dongeng tentang air itu. Tetapi
aku ingin manfaat dari air itu. Karena itu, kita sudah turun
ke-arena dengan ketentuan yang sama-sama kita sepakati. Nah, kau
dapat memilih. Maju, atau kau tunjuk saja kawanmu yang lebih
meyakinkan menghadapi persoalan sekarang. Bukan kemarin, pekan lalu,
bulan yang lalu, atau, pada mulanya siapakah yang mengarahkan air
itu” “Baiklah“ berkata Jlitheng “Aku akan tetap pada pendirianku.
Aku yang sudah mulai dengan mengarahkan air itu, akan berjuang terus
sehingga aku berhasil membuat Lumban Wetan menjadi hijau” Nugata
tertawa semakin keras. Katanya “Apa boleh buat. Kau nampaknya memang
seorang pemimpi. Tetapi mimpimu akan sangat mengecewakanmu jika kau
kemudian terbangun dan berdiri diatas kenyataanmu” Jlitheng menar ik
nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya Daruwerdi dan Semi berdir i
tegang. Justru karena itu, mereka tidak segera member ikan tanda
bahwa perkelahian itu dapat dimulai. Karena keduanya masih mematung,
maka Nugatalah yang bertanya “Apakah kami dapat mulai?“ Daruwerdi
menarik nafas panjang. Lalu katanya “Baiklah. Kalian dapat mulai.
Akupun mempunyai tugas-tugas laki yang harus aku selesaikan. Semalam
suntuk aku disini. Mudah- mudahan aku masih mempunyai waktu untuk
beristirahat” “Tetapi jika aku menang” sahut Jlitheng “perkelahian
belum berakhir” “Gila“ geram Nugata. Lalu katanya kepada Daruwerdi
dan Semi “Cepat Beri isyarat” Semilah yang kemudian berkata
“Salahkan. Mulailah. Tetapi ingat bahwa kalian adalah anak-anak
Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang masih mempunyai hubungan kadang
Karena itu, apa yang kalian lakukan adalah sekedar untuk mengambil
satu keputusan. Bukan menjadi tujuan” “Persetan“ geram Nugata
“perkelahian ini adalah Aku mempunyai banyak waktu untuk menentukan
saatnya, anak Lumban Wetan yang gila ini disebut kalah” Anak-anak
muda Lumban Wetan menjadi berdebar-debar. Mereka, bahkan, sepuluh
orang terbaik di Lumban Wetan, tidak tahu alasan yang sebenarnya,
kenapa pemburu itu telah memilih Jlitheng. Namun karena biasanya
pemburu itu selalu berbuat baik dan tidak menyesatkan, maka
merekapun telah melepaskan pula Jlitheng untuk melawan Nugata.
Demikianlah, dua orang anak muda sudah berhadap- hadapan di arena.
Yang seorang telah membuktikan kelebihannya dan sudah mengalahkan
dua orang anak muda dari Lumban Wetan. Jika anak muda dari Lumban
Wetan yang ketiga ini juga dapat dikalahkannya, maka patahlah
harapan anak-anak Lumban Wetan untuk menghijaukan sawah dan ladang
mereka yang kering. Beberapa saat terakhir, sawah dan ladang itu
sudah dapat disentuh barang sedikit air yang telah naik dibendungan.
Meskipun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan, tetapi sebagian
dari sawah dan ladang di Lumban Wetan telah dapat dibasahi sehingga
tanamannya menjadi hijau segar. Tetapi sebentar lagi, tanaman itu
akan kembali menjadi kuning gersang karena air yang naik kebendungan
sebagian besar akan mengalir ke Lumban Kulon. Dalam pada itu, kini
yang berdiri diarena untuk mempertaruhkan kemungkinan merebut air
itu adalah Jlitheng, seorang anak muda yang telah bekerja keras
untuk mengendalikan air yang melimpah tanpa arti diatas bukit
berhutan itu. Namun bagi anak-anak muda Lumban Wetan, kemampuan
Jlitheng masih diragukan, sementara anak-anak muda Lumban Kulon dan
apalagi Nugata, menganggapnya sama sekali tidak berarti
Sebenarnyalah Jlitheng sendiri sama sekali tidak ingin menunjukkan
kelebihan ilmunya. Jika ia turun kearena, adalah karena ia
menganggap, tindakan anak-anak muda Lumban Kulon itu sama sekali
tidak adil. Nugata yang telah berada diarena itupun mulai bergerak.
Ia bergeser mendekat, sementara Jlitheng justru melangkah surut.
“Jika kau takut, pergilah” geram Nugata. Jlitheng tidak menjawab.
Tetapi yang menjawab adalah pemburu, yang telah memilih Jlitheng
untuk maju. Katanya “Ia akan mengalahkanmu Nugata. Jlitheng adalah
mur idku yang terpercaya. Aku memberikan ilmu kepadanya dengan diam-
diam. Ternyata hal itu sangat berarti sekarang ini “ “Persetan“
teriak Nugata. Dan tiba-tiba saja ia sudah meloncat menyerang.
Jlitheng sudah menduganya. Dari langkah- langkah lawannya itu
mengerti, bahwa Nugata akan meloncat menyerang. Karena itu, maka
iapun segera menghindar. Sebenarnyalah bahwa Nugata memang bukan
lawan Jlitheng. Jlitheng yang telah menempatkan dir inya berhadapan
dengan persoalan pusaka yang sedang diperebutkan di daerah Sepasang
Bukit Mati itu, masih harus berkelahi melawan anak- anak muda
pedukuhan Lumban. Namun karena persoalannya adalah persoalan yang
dianggapnya cukup besar dan menentukan bagi masa depan, maka iapun
telah meluangkan waktunya dan bahkan ia telah mengungkapkan sebagian
dari dirinya. Demikianlah, karena Jlitheng mengelak, maka Nugata
telah memburunya dengan serangan-serangan berikutnya, sehingga
Jlitheng harus berloncatan menghindarinya puh,. Bahkan kemudian
Jlitheng hampir ber lari- lari kecil untuk mengambil jarak dari
lawannya. “Gila“ geram Nugata “Kau berkelahi dengan cara pengecut”
“Aku hanya belum mapan” sahut Jlitheng. Nugata yang segera ingin
mengalahkan lawannya itupun kemudian berteriak “Kemar i, kita
berkelahi ditengah arena, Jangan bersembunyi dan lar i” Jlitheng
dengan ragu-ragu melangkah maju. Langkahnya lambat dan sangat
berhati-hati. Namun dengan demikian, Jlitheng memang nampak t idak
meyakinkan sama sekali. Nugata yang tidak sabarpun segera
menyerangnya. Ia ingin segera menjatuhkan Jlitheng dan member ikan
hukuman atas kelancangannya. Ia sudah tidak perlu menghemat
tenaganya lagi, karena anak itu adalah anak yang terakhir. Tetapi
ternyata Nugata tidak segena dapat mengalahkannya. Jlitheng masih
selalu mampu menghindari serangan-serangannya. Bahkan rasa-rasanya
serangannya belum sempat menyentuh anak itu, meskipun Jlithengpun
nampaknya sama sekali tidak mampu membalasnya. Namun yang demikian
itu agaknya telah memancing kemarahan Nugata. Karena itulah, maka
iapun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera dapat
mengalahkan anak muda yang bernama Jlitheng itu. Jlitheng yang
melihat kemarahan mulai membakar tata gerak Nugata, segera
bersiap-siap untuk memancing dan menguras tenaga itu sampai kering.
Ia ingin mengalahkan Nugata tidak dengan serangan-serangan yang
dapat melumpuhkannya. Tetapi ia ingin mengalahkan Nugata dengan cara
yang lain. “Jika tenaganya telah habis, maka ia akan dapat disebut
kalah” berkata Jlitheng di dalamhatinya. Perkelahian selanjutnya
nampaknya memang tidak seimbang. Jlitheng sama sekali tidak sempat
menyerang. Ia hanya dapat mengelak dan kemudian memancing serangan.
Jika Nugata mulai berpikir, bagaimana sebaiknya menghadapi Jlitheng,
maka Jlithengpun segera berbuat sesuatu yang dapat mengungkap
serangan-serangan Nugata sehingga dengan demikian maka lawannya itu
sama sekali tidak sempat berpikir dan melihat kenyataan dari anak
muda Lumban Wetan yang bernama Jlitheng itu. Karena itulah, maka
yang terjadi diarena itu benar-benar telah membakar jantung Nugata.
Rasa-rasanya ia berhadapan dengan anak muda yang paling dungu, licik
dan pengecut. Tetapi rasa-rasanya ia tidak mempunyai kesempatan
untuk segera membanting dan mencekik lehernya, meskipun anak itu
akan mat i. “Gila“ setiap kali Nugata menggeram. Namun betapapun ia
mengerahkan segenap kemampuannya, Jlitheng masih selalu sempat
mengelak dan kemudian berusaha menjatuhkan dirinya. Demikianlah
kemarahan yang membakar dada Nugata itu telah melepaskannya dari
pengamatan dir i. Ia telah mengerahkan segenap kemampuan tenaganya
tanpa diperhitungkan lagi. Karena itu, maka sebelum ia berhasil
mengalahkan lawannya, nafasnya terasa bagaikan saling memburu
dilubang hidungnya. Sambil terengah-engah maka sekali lagi berteriak
“Kau licik, pengecut. Mari kita berkelahi secara jantan” “Kau tidak
memberi kesempatan” jawab Jlitheng “Tetapi menghindari serangan
adalah bagian dari berkelahi secara jantan pula” Nugata menggeram.
Jantungnya bagaikan terbakar oleh kemarahan yang tidak
terkendalikan. Apalagi karena serangan serangannya yang telah
dilepaskan dengan segenap kemampuannya itu sama sekali tidak
berhasil menjatuhkan lawannya. Bahkan rasa-rasanya menyentuhpun
tidak. Dalam pada itu, Jlithengpun telah memperhitungkan setiap
kemungkinan sebaik-baiknya. Yang memperhatikan perkelahian bukan
saja anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon, tetapi
Daruwerdipun memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. karena
itulah, ia harus mempunyai cara tersendiri untuk mengelabuhinya.
Semilah yang agaknya menolongnya mengurangi perhatian Daruwerdi.
Setiap kali Semi berlari- lari mendekati kedua anak muda yang
berkelahi itu, sebagaimana Jlitheng yang lebih banyak menghindar
dengan loncatan-loncatan yang panjang. Bahkan kadangHkadang Semi
dengan sengaja telah menar ik perhatian Daruwerdi dengan gumam-gumam
pendek yang member ikan kesan tertentu. Pada saat-saat terakhir
itulah, maka Jlithengpun mulai membalas serangan-serangan Nugata.
Namun ia harus memperhitungkan tenaganya dengan cermat, sehingga
sentuhan-sentuhan serangannya tidak menimbulkan kesan tersendiri.
Disaat-saat tenaga Nugata sudah menjadi semakin susut maka Jlitheng
mulai mengenainya dengan serangan-serangan tangannya. Tetapi
serangan-serangan itu seolah-olah tidak terasa sama sekali oleh
Nugata. Ketika tangannya menyentuh pundak, maka Nugata telah
mengumpatinya. Bukan karena perasaan sakit, tetapi justru diluar
dugaannya, bahwa Jlitheng berhasil menyerangnya dengan tiba-tiba,
menyusup diantara pertahanannya. “Aku kurang berhati-hati” berkata
Nugata di dalam hatinya “untunglah bahwa tenaganya sama sekali tidak
berarti bagiku. Jika saja aku berhasil mengenainya satu kali saja,
ia tentu akan mati” Namun bagaimanapun Juga, kemampuan Jlitheng
menghindari serangan-serangan Nugata itu memang sudah menarik
perhatian. Betapapun juga Jlitheng berusaha member ikan kesan,
seolah-olah ia memang kurang tanggon dan agak licik. Tetapi
betapapun menjengkelkan lawannya. Pada saat-saat terakhir, ternyata
Jlitheng tidak lagi terlalu banyak berlari-lari. Ia berusaha
menghindar dengan jarak pendek. Dan bahkan ia menjadi semakin sering
menyerang, meskipun jarang sekali serangan mengenai sasaran. Namun
dengan demikian ia telah memaksa Nugata untuk bekerja lebih keras
justru pada saat terakhir. Ternyata usaha Jlitheng itupun berhasil.
Nugata telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya. Selain karena
ia sudah berkelahi lebih dahulu melawan dua orang anak muda Lumban
Wetan yang memiliki kemampuan yang cukup, karena mereka termasuk
sepuluh anak muda terbaik di Lumban Wetan, Jlithengpun telah
berhasil memeras tenaga lawannya sampai tuntas. Karena itulah, maka
pada langkah- langkah terakhir, Nugata hampir tidak berdaya lagi,
ketika Jlitheng justru mempercepat serangan-serangannya. “Gila“
Nugata berteriak. Ia mengayunkan tangannya. Namun sama sekali tidak
menyentuh tubuh Jlitheng yang melangkah setapak surut. Justru karena
itu, maka iapun telah terseret oleh ayunan kekuatannya sendiri
selangkah maju. Jlitheng telah memanfaatkan keadaan itu. Ia bergeser
kesamping, kemudian dengan serta merta mendorong tubuh lawannya
dengan jari-jarinya yang terkembang. Dorongan itu t idak terlalu
keras. Tetapi karena Nugata memang sudahi kehilangan keseimbangan,
maka dorongan itu telah melemparkannya, sehingga iapun jatuh
tertelungkup. Perasaan anak-anak Lumban Wetan bagaikan meledak.
Demikian mereka melihat Nugata terjatuh, maka dengan serta merta,
mereka telah bersorak bagaikan meruntuhkan langit. Bahkan beberapa
orang diantara mereka telah meloncat- loncat sambil berteriak-teriak
tidak menentu. Sementara itu, anak-anak Lumban Kulon telah terpukau
oleh keadaan yang sama sekali tidak mereka duga sebelumnya, Mereka
sama sekali t idak menyangka, bahwa Jlitheng akan mampu mengalahkan
Nugata meskipun Nugata telah berkelahi melawan dua orang
berturut-turut sebelumnya. Namun ternyata bahwa karena kelelahan,
Nugata telah dapat didorong jatuh oleh Jlitheng Nugata sendiri sama
sekali tidak mau mengakui kenyataan itu. Karena itu, maka iapun
telah berusaha untuk bangkit. Disaat- saat ia sedang mengerahkan
sisa tenaganya, Jlitheng melangkah mendekatinya. Namun Semi telah
melangkah pula memotong sambil berkata “Tunggulah sampai ia berdir
i” Jlitheng tertegun. Dipandanginya Semi sekilas. Namun iapun
kemudian melangkah surut. Dalam pada itu, Daruwerdilah yang justru
mendekati Nugata sambil berdesis “Apakah kau sudah tidak mampu lagi
melawannya” “Aku akan membunuhnya” teriak Nugata. Daruwerdi yang
gelisah karena langit yang menjadi kemerah-merahan berkata “Kau
harus mengakui kekalahanmu” “Aku belum kalah“ Nugata berteriak
sekali lagi sambil menghentakkan dirinya dan berdiri dengan
terhuyung-huyung. Daruwerdi menengadahkan kepalanya. Kemudian
dipandanginya Rahu yang berdiri di pinggir arena. Niamun Rahu itupun
agaknya melihat kegelisahan Daruwerdi. Maka katanya “Kau harus
menyelesaikan tugasmu dismi lebih dahulu” “Bagimana dengan mereka?“
bertanya Daruwerdi. “Mereka tidak akan datang pagi-pagi buta seperti
ini. Mungkin siang har i atau bahkan sore hair i” jawab Rahu. Tidak
seorangpun yang tahu, apa yang sedang mereka bicarakan. Karena itu,
anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon sama sekali tidak
menghiraukannya. Mereka lebih tertarik untuk memperhatikan keadaan
Nugata yang terenggah-engah. “Bagaimana?“ Semi bertanya. “Minggir
kalian“ geram Nugata “Aku akan melumatkannya” Semi melangkah surut
sambil berkata kepada Daruwerdi “Biar lah ia meyakini kekalahannya”
Daruwerdi tidak menjawab. Bahkan iapun memberi isyarat, bahwa
perkelahian dapat dilanjutkan. Jlitheng melihat kebencian yang
menyala dimata Nugata. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain, kecuali
mengalahkannya. Karena bagi Lumban Wetan, apa yang dilakukan itu
akan menentukan buat masa yang sangat panjang. Nugata yang telah
kehilangan sebagian besar dari tenaganya itu masih berusaha
menyerang Jlitheng. Sementara Jlitheng sudah bertekad untuk segera
mengakhir i perkelahian itu. Apa lagi dengan kemenangannya atas
Nugata, maka Jlitheng akan berkelahi lagi melawan dua orang anak
muda Lumban Kulon. Sementara itu, ia masih harus berusaha untuk
tidak menyatakan dir inya sepenuhnya. Karena itu, ketika Nugata
menyerangnya, ia tidak menghindarinya. Ia menangkis serangan itu
sambil berdesis lir ih “Nugata, kau jangan kehilangan akal. Kau
harus mengakui kenyataan ini, agar aku tidak bertindak lebih kasar
lagi. Bukankah kita masih tetap berkawan untuk waktu yang akan
datang? Yang kita lakukan ini adalah sayembara yang jujur” Tetapi
Jlitheng terkejut ketika ia mendengar Nugata berteriak “Kubunuh kau
anak gila” Jlitheng mengatupkan giginya. Ia masih harus menekan
diri. Benturan yang terjadi, adalah benturan yang tidak berarti.
Tenaga Nugata sudah semakin lemah, sementara Jlitheng berusaha
menangkis dengan lunak. Namun karena Nugata masih tetap keras
kepala, maka Jlitheng berniat untuk bertindak lebih keras pada
saat-saat terakhir. Jika ia menyerang dan menjatuhkan Nugata sekali
lagi, maka yang dilakukan itu tidak akan sangat menarik perhatian.
Dalam pada itu, yang mengejutkan justru sikap Daruwerdi. Ketika
Daruwerdi berdiri dekat disisi Jlitheng, iapun berdesis “Kau dapat
mengalahkannya segera, sehingga kau tidak akan kehabisan tenaga
untuk perkelahian berikutnya” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. la
mengerti, bahwa Daruwerdi agaknya digelisahkain oleh har i-hari
terakhir pekan yang dijanjikan oleh orang-orang Sanggar Gading.
Sebenarnyalah bahwa Jlitheng tidak mempunyai pilihan lain. Karena
itu, ketika Nugata terhuyung-huyung menyerangnya, sekali lagi
Jlitheng menangkis serangan itu. Lebih keras dari yang sudah
dilakukannya. Dalam benturan itu, Nugata benar-benar tidak lagi
dapat bertahan. Ia terdorong selangkah surut. Dalam keadaan yang
demikian, Jlitheng telah memburunya. Ketika ia menyerang sekali lagi
kearah pundak Nugata, maka anak muda Lumban Kulon itu terputar
sekali kemudian sekali lagi ia terbanting jatuh. Sekali lagi anak
muda Lumban Wetan bersorak bagaikan meruntuhkan langit. Namun
sementara itu, anak-anak muda Lumban Kulon menjadi sangat cemas.
Jika Nugata sudah dikalahkan, maka tidak akan ada orang lain yang
akan dapat berbuat lebih baik daripadanya. “Ia sudah sangat letih
setelah da berkelahi melawan dua orang berturut-turut” desis seorang
anak Lumban Kulon ketelinga kawannya. “Tetapi ia masih nampak segar
ketika ia mulai dengan perkelahiannya yang terakhir” sahut kawannya
yang lain. Anak-anak muda Lumban Kulon itupun kemudian hanya
termangu-mangu saja melihat apa yang terjadi diarena. Jlitheng
berdir i tegak selangkah disampiing Nugata yang terbujur ditanak
Dengan susah payah Nugata masih berusaha untuk bangkit. Namun setiap
kali ia berusaha, maka setiap kali ia terkulai kehabisan tenaga.
“Tidak ada gunanya” desis Daruwerdi yang kemudian berdiri
disebelahnya pula. “Aku tidak kalah. Aku masih mampu membunuhnya”
geram Nugata. “Jangan menjadi Gila“ Daruwerdipun menggeram. Lalu
tiba-tiba saja ia berkata “Aku sudah jemu melihat tingkah laku
kalian. Aku masih mempunyai seribu macam pekerjaan yang lebih
penting dar i menunggui kalian berkelahi disini” Nugata tercenung
sejenak. Ia melihat perubahan sikap Daruwerdi. Seakan-akan Daruwerdi
tidak lagi berdiri dipihaknya. Dipihak anak-anak muda Lumban Wetan.
“Nugata” berkata Daruwerdi kemudian “bagaimanapun juga seorang laki-
laki jantan tidak akan ingkar dari kenyataan. Kau sudah kalah. Jika
kau memaksa diri, maka kau sendiri yang akan mengalami nasib yang
buruk. Jlitheng yang meskipun tidak memiliki ilmu setingkat dengan
kau, tetapi ia memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa, sehingga ia
tidak dapat kau kalahkan. meskipun ia harus berlari- lari
menghindar. Tetapi ia tidak melakukan kesalahan. Dan ia telah
memenangkan perkelahian ini” Nugata menggeretakkan giginya Ketika ia
berhasil berdiri meskipun dengan terhuyung-huyung, maka
dipandanginya, wajah Jlitheng dengan penuh dendam dan kebencian.
“Kau tidak akan dapat mengalahkan aku” geram Nugata. “Aku sekarang
menang” jawab Jlitheng “sementara itu perjanjian yang dibuat tetap
berlaku. Pemburu-pemburu itu, Daruwerdi dan anak-anak muda Lumban
Kulon dan Lumban Wetan menjadi saksi” ”Kau baru memenangkan sekali
perkelahian” geram Nugata “itupun karena kau berbuat licik, dan aku
sudah berkelahi dua kali berturut-turut lebih dahulu” “Aku akan
memenuhi segala ketentuan. Aku siap untuk berkelahi lebih lanjut
melawan dua orang berturut-turut” jawab Jlitheng. Nugata memang
tidak mungkin berkelahi lagi, betapapun ia bernafsu dan dibakar oleh
dendam. Tulang-tulangnya bagaikan saling terlepas dari
sendi-sendinya. Nafasnya seolah- olah hampir terputus
dikerongkongan. . “Tetapi kau harus dikalahkan” geram Nugata. Lalu
katanya “pilihlah seorang yang akan dapat memutar lehernya. Jika
yang seorang belum berhasil, maka orang berikutnya akan mencekiknya,
karena anak gila itu tentu sudah kehabisan nafas” Daruwerdi menjadi
semakin gelisah. Ia tidak dapat mengukur kekuatan Jlitheng
sebenarnya, meskipun ia mulai curiga. Bahkan ia kurang yakin, bahwa
betapapun pemburu itu menempanya siang dan malam, namun ilmunya
tidak akan melonjak dengan tiba-tiba. Dalam pada itu, seorang anak
muda Lumban Kulon telah bangkit. Seorang anak muda yang bertubuh
tegap kekar. Ia tidak membiarkan Jlitheng mendapat kesempatan untuk
beristirahat. Ia harus berkelahi dan memeras tenaga-Jlitheng,
sehingga apabila ia tidak dapat mengalahkannya, maka orang
berikutnya akan dengan mudahnya membanting Jlitheng diatas tanah
berpasir dan kemudian membenamkan wajahnya kedalampasir itu. Sejenak
kemudian keduanya telah berhadapan. Nugata yang sudah kehabisan
tenaga., menghempaskan dir inya duduk diantara beberapa orang
kawannya di pinggir arena. Namun dengan suara lantang ia masih
berteriak “ Peras tenaganya sampai habis. Biarlah orang yang
kemudian melumatkan tulang-tulangnya” Orang bertubuh kekar itu
ternyata tidak menunggu Daruwerdi atau Semi member ikan isyarat.
Tiba-tiba saja, tanpa diduga-duga sebelumnya oleh Jlitheng, bahkan
oleh anak-anak Lumban Wetan dan anak-anak Lumban Kulon sendiri,
orang bertubuh tegap kekar itu langsung menyerang. Jlitheng yang
tidak menduga, bafiwa hal itu akan dilakukan oleh anak muda yang
bertubuh tegap kekar ku terkejut. Namun ternyata bahwa ia masih
cukup sigap untuk berbuat sesuatu. Demikian erangan itu datang, maka
Jlitheng masih sempat mdindungi dadanya dengan kedua tangannya.
Tetapi justru karena Jlitheng agak tergesa-gesa, maka ia kurang
memperhitungkan lontaran tenaganya. Sehingga karena itulah, maka
tangan lawannya itu seakan-akan telah menghantam dinding baja. Dan
dorongan yang kecil dari tenaga Jlitheng ternyata telah melontarkan
anak itu beberapa langkah surut dan bahkan kemudian telah jatuh
terguling. Jlitheng sendiri terkejut melihat hentakan tenaganya.
Untunglah bahwa ia cepat berpikir. Demikian ia melihat lawannya
terdorong surut, maka iapun kemudian melangkah terhuyung-huyung.
Demikian lawannya jatuh terguling, maka Jlithengpun dengan lemahnya
telah terjatuh pula diatas tanah berpasir. Arena itu tiba-tiba saja
telah menjadi hening. Setiap orang telah dicengkam oleh ketegangan.
Mereka menyaksikan kedua orang yang berada diarena itu terbaring
diam untuk sesaat. Namun Jlithengpun akhirnya mulai bergerak.
Demikian pula lawannya. Perlahan-lahan keduanya berusaha untuk
bangkit berdiri. Akhirnya keduanya telah tegak kembali. Daruwerdi
yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. Ia melihat kedua anak muda
itu menjadi letih sekali. “Jika Jlitheng tidak dapat mengalahkan
kedua lawan berikutnya, maka aku tidak akan mengurusinya lagi”
berkata Daruwerdi di dalam hatinya “biarkan pemburu-pemburu itu
menjadi saksi penyelesaian yang mungkin akan makan waktu tiga hari
tiga malam. Orang terbaik dari Lumban Kulon telah lewat. Namun ia
tidak mengakhir i perkelahian yang menjemukan ini. Sementara
kewajibanku sendiri telah menunggu. Kewajiban yang yang lebih
berharga daripada sekedar melihat tikus-tikus berkelahi berebut
sepotong makanan” Sejenak kemudian kedua orang yang berada diarena
itu telah bersiap. Betapapun mereka nampak letih, tetapi mereka
masih akan melanjutkan perkelahian itu. Sementara Nugata di pinggir
arena berteriak dengan marah “ Peras tenaganya Biarlah ia mati
dengan anak yang akan melawannya kemudian. Anak muda Lumban Kulon
itupun bergeser selangkah. Dipandanginya wajah Jlitheng dengan
tegang. Dengan nada berat ia berkata “Kau akan menyesali
perbuatanmu” Jlitheng sama sekali tidak teringsut. Tetapi ia sudah
bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan iapun telah memutuskan
bahwa perkelahian itupun harus segera berakhir, karena warna merah
dilangit menjadi semakin tegas. Karena itu, demikian lawannya
menyerang, Jlitheng beringsut menghindar. Kemudian dengan kekuatan
yang cukup besar, Jlitheng telah mendorong lawannya. Akibatnya
sangat mengejutkan. Anak muda Lumbaa Kulon itu terdorong demikian
kerasnya dan terlempar diantara kawan-kawannya sendiri. Demikian
kerasnya sehingga oleh dorongan itu beberapa orang anak muda Lumban
Kulon telah terjatuh berdesakan dan saling menindih. “Gila“ geram
anak-anak muda itu. Seorang diantaranya berteriak “Ia Telah
menyakiti aku. Biar lah aku melumatkannya” Dalam pada itu, Jlitheng
yang telah mendorong lawannya cukup keras itupun berdir i
terhuyung-huyung diarena. Tetapi ia tidak terjatuh. Ia masih tetap
berdiri dengan nafas terengah-engah. Lawannya ternyata mengalami
kesulitan untuk dapat bangkit dengan cepat. Ketika ditolong oleh
kawan-kawannya ia berdiri tertatih-tatih, maka dengan tergesa-gesa
Daruwerdi- lah yang mengambil kcputusan “Kau sudah kalah” “Belum”
teriak anak muda itu. Disusul oleh Nugata “belum. Ia masih dapat
berkelahi. Jlitheng sudah hampir kehabisan nafas pula” Ketika
Daruwerdi tetap pada pendiriannya, anak-anak muda Lumban Kulon telah
berteriak-teriak dengan keras “Belum. Ia belum kalah” Daruwerdi
termangu-mangu sejenak. Betapa ia tergesa- gesa, tetapi ia
menganggap bahwa tidak bijaksana untuk memaksakan keputusannya. Jika
anak-anak Lumban Kulon itu tidak mengakui kcputusan itu, maka akan
timbul persoalan lain yang gawat. Karena itu, maka iapun berkata
kepada Semi “Apakah masih perlu diyakinkan?“ “Masih ada waktu“
Rahulah tiba-tiba saja menyahut “biarlah mereka yakin bahwa
keputusanmu benar” Karena itu, Daruwerdi tidak menyegah lagi.
Katanya “Terserah. Jika kau merasa dirimu belum kalah. Lakukanlah
perkelahian ber ikutnya” Lawan Jlitheng itupun melangkah
tertatih-tatih maju. Sekali lagi ia meloncat menyerang. Dan sekali
lagi Jlitheng telah menghindar dan mendorongnya. Namun karena ia
sudah jemu, maka ia tidak sekedar mendorong orang itu. Tetapi ia
telah memilih tempat tertentu yang ditekannya dengan ujung- ujung
jarinya pada saat ia mendorong lawannya Orang-orang yang menyaksikan
perkelahian itu t idak melihat, apa yang telah terjadi sebenarnya.
Yang mereka lihat, anak muda Lumban Kulon itu terdorong lagi dengan
kerasnya dan jatuh keatas tanah berpasir. Namun untuk beberapa saat
lamanya, ia tetap terbujur diam. Ternyata anak itu telah pingsan.
“Anak itu dibunuhnya” teriak Nugata dengan marah sekali. Seandainya
tulang-tulangnya tidak terasa terlepas satu sama lain, ia akan
meloncat bangkit dan menyerang Jlitheng. Tetapi ia tidak mampu lagi
untuk berbuat sesuatu kecuali berteriak- teriak saja. Daruwerdilah
yang kemudian melangkah maju. Ialah yang menolong anak muda itu
bersama Semi. Katanya kepada anak-anak muda Lumban Kulon “Ia
pingsan. Ia benar-benar telah kehabisan tenaga. Ia memaksa dir i
karena ia ingin memenuhi permintaan Nugata untuk memeras habis
tenaga lawannya. Tetapi akibatnya, ia menjadi pingsan. Yang
bertanggung jawab atas peristiwa ini bukannya Jlitheng. Tetapi
justru Nugata” “Gila“ teriak Nugata, baginya Daruwerdi telah
benar-benar berubah. Namun dalam pada itu. Semi berkata “Bawalah
menepi. Rawatlah. Titikkan air dimulutnya. Sedikit saja” Beberapa
orang anak muda Lumban Kulon telah mengambil kawannya yang pingsan
itu. Kemudian membawanya menjauh, sementara seorang diantara mereka
telah berlari-lari mengambil air dibendungan. Dalam pada itu,
Sebelum anak-anak muda Lumban itu terpukau melihat peristiwa itu,
Nugata dengan tergesa-gesa berkata “Cepat. Selesaikan anak gila dari
Lumban Wetai itu, sebelum ia sempat bernafas” “Siapa yang kau tunjuk
Nugata” bertanya seorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan.
Nugata termenung sejenak. Namun kemudian katanya “Kau. Kau pantas
untuk mendapat satu kehormatan, mengalahkan anak gila itu” “Terima
kasih” jawab anak muda itu sambil meoncat memasuki arena. Dengan
tangkasnya ia bersiap sambil berkata “Kau akan menyesal Jlitheng.
“Akulah yang menguasai air itu untuk pertama kali. Aku pulalah yang
akan menentukan, apa yang akan terjadi dengan air itu”
geramJlitheng. “Jangan sombong” teriak anak yang bertubuh tinggi
kekurus-kurusan itu. Tetapi Jlitheng telah benar-benar menjadi jemu.
Bahkan ia berkata kepada diri sendri “Aku tidak peduli tanggapan
Daruwerdi atasku. Tidak ada kesempatan lagi. Har i mi adalah hari
yang menentukan bagi Daruwerdi itu, dan barangkali juga bagiku” Anak
yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu mempunyai perhitungan
seperti Nugata. Ia tidak ingin memberi kesempatan kepada Jlitheng
untuk ber istirahat. Selagi nafasnya masih tersendat-sendat, ia ingn
menjatuhkannya dan bahkan melepaskan sakit hati atas kekalahan dua
orang kawannya yang terdahulu. Karena itu, maka iapun dengan serta
merta telah menyerang Jlitheng dengan garangnya. Tetapi
perhitungannya itu ternyata keliru. Jlitheng tidak sedeng
terengah-engah. Jlitheng tidak sedang kelelahan dia kehilangan
kemampuan untuk melawannya. Demikian serangan itu datang, Jlitheng
dengan sigapnya telah menghindarinya. Lawannya yang tinggi
kekurus-kurusan itupan telah tergeser. Berbagai macam pertimbangan
bergelepar dikepalanya. Namun dalam pada itu ia masih tetap
menganggap bahwa Jlitheng telah kehabisan tenaga. “Ia dapat memaksa
dirinya untuk bergerak pada langkah- langkah pertama. Tetapi ia akan
segera kehabisan tenaga dan jatuh terkulai tidak berdaya. Aku akan
dapat mencekiknya dan meyakinkan setiap orang, bahwa J litheng bukan
orang yang perlu disegani. Namun bersamaan dengan itu, kejemuan J
litheng telah sampai dipuncaknya. Karena itu, iapun telah menunggu
lawannya itu akan menyerangnya lagi. Seperti yang diperhitungkannya,
maka sejenak kemudian anak muda yang tinggi kekurus-kurusan itupan
telah meloncat pula menyerangnya dengan garangnya. Jlitheng memang
sudah ingin mengakhiri perkelahian. Langit sudah menjadi semakin
merah. Bahkan diujung Timur, digaris cakrawala, nampak cahaya pagi
yang semakin terang. Karena itu, demikian orang itu meloncat
menyerang, maka Jlitheng telah berusaha menghindar inya. Namun
demikian ia meloncat, maka iapun telah mengayunkan tangannya. Memang
tidak banyak orang yang mengerti, bahwa yang dilakukan itu memang
sudah diperhitungkan. Diperhitungkan bukan saja akan dapat mengakhir
i pertempuran, tetapi yang terjadi itu seolah-olah telah dilakukan
tanpa disengaja. Seolah- olah Jlitheng demikian saja melakukan
gerakan yang da pat menghantam tubuh lawannya yang sedang meloncat
menerkamnya, dan tanpa dikehendakinya. sendiri, tangan itu telah
menghantam tempat yang gawat. Karena itu, lawannya yang menerkamnya
tanpa berhast menyentuhnya itu telah terdorong dengan derasnya. Ia
telah kehilangan keseimbangannya dan jatuh terbanting di tanah
berpasir. Demikian cepatnya hal itu terjadi. Dengan serta merta,
anak-anak- Lumban Wetanpun telah bersorak bagaikan menggugurkan
langit Seakan-akan bukan satu kebetulan, bahwa sorak yang meledak
itu telah mendorong cahaya pagi yang memancar dari balik cakrawala
Sejenak kemudian, maka langitpun menjadi cerah. Matahari mulai
menjenguk pedahan-lahan. Nugata yang letih itu terkejut. Orang itu
adalah orang ketiga. Jika ia kalah, maka akan jatuh keputusan.
Karena itu, demikian kuatnya hentakkan di dalam hatinya, sehingga
tiba- tiba saja ia bangkit berdiri. Namun ketika ia terhuyung-
huyung, kawan-kawannya telah membantunya untuk tetap berdiri. “Gila,
Apa yang terjadi?”Ia menggeram. Daruwerdi menar ik nafas
dalam-dalam. Meskipun Lumban Kulon kalah menurut perjanjian, namun
ia tidak peduli lagi. Hari itu adalah hari yang ditentukan oleh
orang-orang Sanggar Gading. Dan j ika psrsoalan pusaka itu selesai
maka selesai pulalah hubungannya dengan orang-orang Lumban Kulon
ataupun Wetan. Ia tidak peduli, apa yang telah dilakukan oleh
Jlitheng, meskipun sebenarnya ia menaruh perhatian. Bahkan ia agak
cur iga, bahwa dengan pimpinan pemburu tu. Jlitheng memiliki
kelebihan yang jauh dari anak-anak muda Lumban Kulon, bahkan dari
Nugata sendir i. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah berkata
”Semuanya telah berakhir. Kita akan bersikap sebagai seorang
laki-laki yang memegang janji. Anak-anak Lumban Wetan telah
memenangkan perkelahian ini, sehingga segala keputusan mengenai
bendungan dan air ini akan kami serahkan kepada anak-anak muda
Lumban Wetan” “Tidak” teriak Nugata “Anak itu belum kalah. Ia masih
bangkit dan siap untuk berkelahi lagi“ Tetapi setiap orang melihat,
bahwa orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu sudah terlalu
lemah. Ia memang berusaha untuk bangkit. Namun ia tidak akan mampu
lagi untuk berkelahi. Apalagi Jlitheng nampaknya masih cukup segar
dan siap untuk melakukan perkelahian lagi. Ternyata sentuhan tangan
Jlitheng benar-benar menentukan. Anak muda yang bertubuh tinggi
kekurus- kurusan itu benar-benar tidak dapat berbuat ana-apa lagi.
Ketika ia mencoba untuk melangkah, maka ia hampir saja kehilangan
keseimbangannya. Namun meskipun ia dapat bertahan untuk tetip
berdiri, tetapi ia tidak berani lagi menggerakkan kakinya untuk
melangkah maju. Jika sekali ia melangkah, maka ia ter. akan terjatuh
dan sulit untuk dapat berdiri tegak lagi. “Cepat, lakukan” teriak
Nugata “mumpung lawanmu masih kelelahan” Tetapi anak muda yang
bertubuh tinggi kekurus-kurusa itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Ketika sekali lagi Nugat berteriak, terdengar anak muda itu mengeluh
tertahan. “Semuanya sudah berakhir“ Daruwerdilah yang kemudian
berteriak “Jangan mengelabui dir i sendiri. Apa yang kalian lihat
sudah jelas. Jangan membuat anak muda itu pingsan, atau bahkan mati
karena ketamakanmu Nugata” Nugata memandang Daruwerdi dengan
tajamnya. Ia melihat anak muda itu sudah benar-benar berubah. Tetapi
Nugata tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika ia melihat kedua pemburu
itu berganti-ganti, Jlitheng dan seorang lagi yang tidak jelas
baginya, maka Nugata mengerti, bahwa saat itu, semua kesempatan
telah tertutup. Dalam pada itu, anak-anak Lumban Wetan yang merasa
mendapat kemenangan itupun telah bersorak berkepanjangan. Mereka
merasakan satu kesempatan ikut serta menentukan untuk waktu yang
panjang bagi padukuhan mereka. Air adalah lambang kesuburan bagi
tanah yang kering dan tandus yang sudah berpuluh tahun lamanya
bagaikan ladang gersang yang mati. Dalam pada itu, selagi anak-anak
muda Lumban Wetan bersorak dengan gembira, maka anak-anak muda
Lumban Kulon mengumpat sejadi-jadinya. Mereka merasakan satu
kekalahan yang paling menusuk perasaan. Namun merekapun menyadari,
bahwa mereka harus menerima kekalahan itu karena mereka tidak akan
dapat lagi memaksakan kehendak mereka Dalam keriuhan kegembiraan
anak-anak Lumban Wetan, maka Semipun kemudian berkata lantang “
Dengarlah. Beri kesempatan aku berbicara” Anak-anak muda Lamban
Wetanpun kemudian berusaha untuk menguasai perasaan mereka.
Kegembiraan merekapun kemudian mereda, sehingga akhirnya mereka diam
sama sekali. “Permainan kita sudah selesai” berkata Semi “Kita
adalah anak-anak muda yang teguh memegang janji dan menghormat i
keputusan yang sudah dibuat bersama. Karena itu, masalah bendungan
dan pintu air dapat kita anggap selesai. Pintu air akan dikembalikan
seperti semula. Air yang akan mengalir ke Lumban Wetan akan sama
banyaknya dengan air yang akan mengalir ke Lumban Kulon” Beberapa
orang anak muda Lumban Wetan bergeser setapak maju. Rasa-rasanya itu
tidak adil. Jika anak-anak muda Lumban Kulon menang, mereka berhak
membuka pintu air lebih besar. Tetapi jika anak-anak muda Lumban
Wetan yang menang, maka pintu air itu akan dikembalikan saja seperti
semula. Anak-anak Lumban Wetan tidak mempunyai wewenang untuk
membuka pintu air itu lebih lebar seperti yang akan dilakukan oleh
anak-anak Lumban Kulon dalam keadaan yang sama. Tetapi dalam pada
itu, Semi berkata selanjutnya “Nampaknya itu adalah satu ujud
kebesaran jiwa anak-anak muda Lumban Wetan. Mereka memang tidak
menuntut sesuatu yang berlebih-lebihan. Yang mereka perjuangkan
diarena sayembara ini adalah keadilan. Bukan kesempatan untuk
berbuat sewenang-wenang. Anak-anak muda vang merasa diperlukan tidak
adil itupun tertegun karenanya Jlitheng yang telah bekerja keras
mengarahkan air, dan kini berdir i diarena dan berhasil menentukan
akhir dari sayembara itupun t idak menolak keterangan Semi. Karena
itu, merekapun kemudian tidak berbuat apa-apa ketika Semi
melanjutkan “Matahari sebentar lagi akan naik. Sebaiknya, kita
kembali ke rumah masing- masing dengan pengakuan di dalam hati,
bahwa yang paling baik akan berlaku di Kabuyutan Lumban. Air akan
dibagi dengan adil. Dan kedua bagian dari Lumban akan bersama- sama
berkembang. Jika terjadi perpacuan dihari-hari kemudian, maka yang
terjadi itu adalah wajar dan adil pula. Kelebihan yang satu akan
ditentukan bukan karena kelebihan kesempatan, tetapi tentu karena
hasil kerja anak-anak mudanya” Ternyata bahwa sebagian dari
anak-anak muda Lumban Kulonpun sempat mendengar kata-kata Semi itu.
Namun Nugata yang marah sama sekali tidak menghiraukannya. Dengan
sisa tenaganya maka iapun kemudian sambil mengumpat melangkah
meninggalkan bendungan. Bahkan ia masih sempat berteriak “Aku tidak
peduli lagi. Aku akan pulang” Anak-anak Lumban Kulon termangu-mangu
sejenak. Namun sebagian dari merekapun kemudian mengikutinya
meninggalkan kawan-kawannya yang masih berkerumun di bendungan Dalam
pada itu, Semipun kemudian berkata “Kita memang sudah selesai. Yang
ingin pulang, segeralah pulang. Aku kira anak-anak Lumban Wetanpun
tidak akan tergesa-gesa memperbaiki pintu air. Karena itu, pulang
sajalah. Sebaiknya hari ini kalian berada di rumah. Beristirahat dan
menenangkan hati. Besok, aku akan membantu kalian memperbaiki pintu
air yang sudah terlanjur dirombak ini” Jlitheng yang masih berdiri
diarena mengerti maksud Semi. Hari itu adalah hari yang mempunyai
arti tersendiri bagi Daruwerdi dan orang-orang Sanggar Gading.
Meskipun nampaknya Semi tidak mempunyai hubungan langsung dengan
persoalan itu, namun ia dapat menangkap maksudnya. Memang sebaiknya
anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon berada di rumah mereka pada
saat-saat orang-orang Sanggar Gading berada di daerah Sepasang Bukit
Mati. Dalam pada itu, Daruwerdi yang memer lukan persiapan khusus
itupun kemudian berkata “Akupun akan pulang. Aku perlu beristirahat.
Semalam suntuk aku melakukan pekerjaan tidak berarti disini” “Bukan
tidak berarti Daruwerdi” sahut Semi “Kau sudah ikut menegakkan
keadilan disini. Kau kira nilai keadilan ini kecil dari nilai-nilai
lain yang sedang kau harapkan?“ Wajah Daruwerdi menegang sejenak.
Namun La t idak menanggapinya. Bahkan Katanya “Apapun yang kau
katakan, aku merasa sangat letih. Aku akan pulang” “Silahkan“
Rahulah yang menjawab sambil melangkah mendekatinya “Aku akan
memberitahukan kepadamu, apa yang akan terjadi hari ini” Daruwerdi
memandang Rahu sekilas. Namun kemudian katanya “Aku menunggu. Dan
aku memang sudah siap” Rahu mengangguk-angguk, sementara
Daruwerdipun melangkah sambil berkata “Lakukanlah apa yang baik
menurut kalian atas bendungan ini. Aku tidak mempunyai banyak
kepentingan lagi” Semi tidak menjawab. Ia memandangi saja Daruwerdi
yang meninggalkan anak-anak muda Lumban Wetan dan sebagian anak-anak
Lumban Kulon yang masih tinggal. Dalam pada itu, Semi, kawannya yang
telah mengatur anak-anak muda Lumban Wetan, Rahu dan Jlithengpun
kemudian bersepakat untuk mempersilahkan anak-anak itu segera pulang
dan beristirahat di rumah seperti yang dikatakan oleh Semi. “Besok
kita mulai lagi dengan kerja” berkata Jlitheng kepada
kawan-kawannya. Kawan-kawannya, dan bahkan anak-anak muda Lumban
Kulon menjadi semakin segan kepada Jlitheng. Tanpa usaha Jlitheng
dan orang tua di kaki bukit, maka air itu tentu masih belum dapat
dikuasai. Sementara itu, Jlitheng pulalah yang lelah menggagalkan
usaha anak-anak muda Lumban Kulon untuk membagi air dengan tidak
adil. Demikianlah, maka anak-anak Lumban Kulon yang tersisa, dan
anak-anak Lumban Wetan itupun segera bersiap-siap untuk meninggalkan
bendungan. Merekapun bersepakat untuk mengerjakan bendungan dan
pintu air dihar i berikutnya. Ketika anak-anak Lumban itu kembali ke
padukuhan masing-masing, maka beberapa orang anak muda dari Lumban
Kulon mulai menilai semua per istiwa yang telah terjadi. Mereka
mulai melihat, bahwa anak-anak Lumban Wetan sama sekali tidak
bermaksud untuk berbuat sewenang- wenang dengan kemenangannya.
Bahkan dengan demikian mereka mulai melihat, bahwa sebenarnya
anak-anak Lumban" Kulonlah yang ingin merusak kerukunan antara
Lumban Kulon dan Lumban Wetan. “Nugataiah yang bersikap demikian”
desis salah seorang dari anak-anak Lumban Kulon itu. Yang lain
mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia muiai mendapat kesempatan untuk
menilai, apa yang telah mereka lakukan dalam saat-saat terakhir.
“Membuka pintu air lebih lebar bagi Lumban Kulon memang tidak adil”
desis yang lain pula. Sementara itu merekapun mulai menelusur i,
bagaiamna air dapat tertumpah disungai yang sebelumnya hampir kering
sama sekali itu. Sehingga dengan demikian, maka mereka menjadi
semakin menghormati sikap Jlitheng. Selain karena usahanya sehingga
air itu dapat dimanfaatkan bagi sawah dan ladang di padukuhan
Lumban, iapun sama sekali tidak ingin memanfaatkan kemenangannya
untuk kepentingan yang tidak adil seperi yang dikehendaki oleh
anak-anak Lumban Kulon. “Anak itu memang luar biasa” desis salah
seorang anak muda Lumban Kulon yang sedang dalam perjalanan pulang
itu “Ia orang kuat, cerdas, tetapi tidak sewenang-wenang”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mulai melihat pertentangan
watak antara Jlitheng dan Nugata. Namun dalam pada itu, anak-anak
Lumban Kulon itupun berkata kepada diri sendiri “Anak laki-laki Ki
Buyut di Lumban Wetan tidak banyak berperan” Sementara itu, ketika
anak-anak Lumban Wcan telah memasuki pedukuhan masing-masing di
daerah Kabuyutan Lumban Wetan, maka Jlitheng berada bersama di
daerah kabuyutan Lumban Wetan, maka Jlitheng berada bersama kedua
pemburu dan Rahu di banjar. Mereka masih harus bersiap-siap untuk
menghadapi satu saat yang penting dan mungkin bahkan akan sangat
menentukan. Tetapi tiba-tiba saja Jlitheng berkata “Aku akan pergi
kekaki bukit, “Apa kau akan menemui orang tua itu?“ bertanya Semi.
“Ya. Aku akan memberitahukan apa yang baru saja terjadi dengan air
yang telah kami arahkan bersama-sama” jawab Jlitheng. “Kau juga akan
berbicara tentang orang-orang Sanggar Gading?“ bertanya Semi. .
“Apakah aku tidak boleh mengatakannya kepada ©raag tua itu?“
Jlitheng ganti bertanya. “Itu tidak perlu” desis Rahu “mungkin orang
itu dapat dipercaya. Tetapi mungkin pula ia mempunyai sikap lain
yang dapat mengganggu rencana orang-orang Sanggar Gading dan
selanjutnya mengganggu tugas kita sendir i” Jlitheng
mengangguk-angguk. Ia mengerti perasaan kawan kawannya itu. Ia
sendiripun t idak tahu pasti apakah sebenainya orang tua itu
benar-benar seorang yang terusir oleh bencana alam seperti yang
dikatakan, dan yang kemudian mencari tempat pemukiman baru di lereng
bukit itu, atau bencana alam yang mungkin memang terjadi itu
hanyalah alasan yang men- dorongnya untuk melakukan tugas-tugas yang
besar di daerah Sepasang Bukit Mati ini “Kenapa ia tidak mencari
tempat lain yang mungkin lebih baik dan lebih banyak memberikan
kemungkinan untuk diperkembangkan dari pada di daerah Sepasang Bukit
Mati ini?“ pertanyaan itupun tumbuh pula dihati Jlitheng. Namun
rasa-rasanya ia tidak dapat mengekang dir inya untuk berlar i ke
bukit dan berbicara tentang apa saja dengan orang tua itu.
“Pergilah” berkata Rahu kemudian “Tetapi berhati-hatilah. Kau
mempunyai kewajiban yang kau angkat sendiri kepundakmu. Jangan kau
kembangkan untuk sesuatu yang kurang pasti” Jlitheng
mengangguk-angguk. Dipandanginya Rahu sejenak. Lalu katanya “Kau
tahu apa yang pantas bagiku. Dan akupun tahu apa yang baik bagiku”
Rahu menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu adalah anak muda yang
keras hati, meskipun dalam persoalan- persoalan tertentu hatinya
menjadi lunak dan lembut. Tetapi jika telah tumbuh tekad di dalam
hatinya, maka ia akan melakukannya dengan mempertaruhkan apa saja.
Meskipun Rahu tidak banyak mengenal anak muda itu sendiri, tetapi
apa yang tercermin pada anak muda itu adalah sifat-sifat
ayahandanya. “Lakukanlah tegas kalian berkata Jlitheng kemudian
“hari ini adalah har i terakhir dalam pekan ini. Mungkin hari ini
mereka akan datang. Masih belum dapat dibayangkan apa yang akan
terjadi dengan Pangeran itu dan apapula yang akan dilakukan oleh
Daruwerdi. Mungkin ia akan mengalami persoalan yang rumit setelah
pusaka yang dijanjikan itu diserahkan. Tetapi mungkin oleh dendam
yang membara dihatinya, nasib Pangeran itulah yang harus kalian
perhatikan. Aku akan dapat ikut campur dengan langsung, tetapi
mungkin aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain bagi
keselamatan pusaka itu. Rahu memandanginya dengan tajamnya. Namun
kemudian iapun mengangguk sambil berkata “Kita masing-masingpun
masih belum tahu, apakah pada suatu saat kepentingan kita tidak
saling bertentangan” Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun iapun
kemudian tersenyumsambil berkata “Aku akan pergi kelereng bukit “
Dengan langkah panjang Jlitheng meninggalkan banjar itu, dan
langsung pergi ke lereng bukit. Rasa-rasanya setiap peristiwa
penting, harus dilaporkannya kepada orang tua itu. Ia tidak tahu
pasti, pengarah apakah yang sudah mencengkamnya Namun sampai saat
terakhir, ia belum pernah merasa dirugikan oleh orang tua di lereng
bukit itu. Ketika ia Mendekati gubug kecil di lereng bukit, ia
melihat gadis penghuni gubug itu justru baru saja melangkah memasuki
gubugnya. Tiba-tiba saja ia tertegun dan jantungnya menjadi
berdebar-debar. Namun akhirnya Iapun melangkah mendekati pintu gubug
yang terbuka itu. Langkahnya terhenti di muka pintu. Lewat lobang
pintu yang terbuka ia melihat Kiai Kanthi duduk dialas amben bambu.
Dihadapannya terdapat semangkuk air panas yang masih mengepul.
Beberapa gumpal gula kelapa dan beberapa potong ketela pohon rebus.
“Alangkah muktinya” desis Jlitheng yang berdiri di muka pintu. Orang
tua itu tersenyum. Kemudian iapun turun dar i amben sambil,
mempersikhkan anak muda itu “Marilah ngger. Silahkan” Jlithengpun
melangkah masuk. Dipandanginya sekeliling ruangan itu. Namun ia
tidak melihat Swasti. Nampaknya gadis itu langsung pergi kebelakang.
“Nampaknya ada sesuatu yang telah terjadi ngger?“ bertanya Kiai
Kanthi. “Kenapa Kiai menebak demikian?“ bertanya Jlitheng “Aku
melihat sorot mata angger yang nglayup. Angger tidak tidur
semalamsuntuk” jawab Kiai Kanthi. “Aku sudah biasa melakukannya. Aku
kira tidak ada pertanda khusus padaku, apakah aku telah tidak
tertidur semalam suntuk atau tidak” jawab Jlitheng sambil duduk
“Jika Kiai melihat sesuatu padaku, tentu tidak pada mataku” Kiai
Kanthi tertawa. Lalu iapun bertanya “Dimana aku harus melihat hal
itu pada angger” “Entahlah. Tetapi tidak pada sorot mataku” jawab
Jlitheng. Namun kemudian “Atau barangkali Kiai memang melihat
sesuatu. Tidak pada sorot mataku, tetapi dibendungan?“ Kiai Kanthi
tertawa semakin panjang. Katanya “Salahkan duduk dahulu. Angger
tentu akan berceritera tentang bendungan. Tetapi akupun akan
berceritera pula tentang hal yang lain” Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Sementara itu Kiai Kanthipun telah pergi kebelakang
menemui Swasti. Katanya “Kita mempunyai tamu. Apakah kau masih
mempunyai air sere yang hangat dan gula kelapa?“ Swasti tidak
menjawab. Tetapi iapun telah mempersiapkan semangkuk air hangat dan
kemudian mengikuti ayahnya untuk menghidangkan air hangat itu. Gadis
itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Jlithengpun hanya
memandang sekilas. Kemudian anak muda itu menundukkan kepalanya.
Dalam pada itu, Kiai Kanthipun kemudian mempersilahkan Jlitheng
untuk minum air hangat itu sambil makan ketela rebus yang juga masih
hangat. “Segarnya” desis Jlitheng “semalam suntuk aku memang tidak
tidur. Air hangat, ketela pohon yang masih mengepul. Rasa-rasanya
memang nikmat sekali” “Silahkan” sahut Kiai Kanthi “Kita akan minum,
makan sambil bercer itera. Kau mempunyai ceritera menarik tentang
anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang bertengkar” “Nampaknya
Kiai sudah tahu” desis Jlitheng. “Aku memang melihat peristiwa itu.
Tetapi dari kejauhan ngger. Aku tidak melihat dengan pasti, apa yang
telah terjadi. Hanya diakhir permainan itu, aku mendapat kesan bahwa
anak-anak Lumban Wetan telah memenangkan perkelahian sampai orang
yang terakhir. Dan akupun melihat angger dalam saat-saat terakhir”
berkata Kiai Kanthi “Apakah dengan demikian berarti bahwa anak-anak
muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon akan mengenal Jlitheng sebagai
mana adanya?“ “Tidak Kiai” jawab Jlitheng dengan serta rnerta “Apa
yang nampak hanyalah sekedar untuk menyelamatkan Lumban Wetan dari
ketidak adilan. Yang aku lakukan tidak lebih dari apa yang dimiliki
oleh anak-anak Lumban Wetan dan anak- anak Lumban Kulon” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Katanya “Jadi angger masih tetap terselubung bagi
anak-anak Lumban” “Ya. Tetapi nampaknya tidak akan lama lagi” jawab
Jlitheng. Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Sementara itu, Jlitheng
seolah-olah tidak menyadari lagi apa yang dilakukannya. Dihadapan
orang tua itu, seolah-olah Jlitheng merasa mempunyai kewaj iban
untuk melaporkan apa saja yang diketahuinya. Meskipun semula ia sama
sekali tidak bermaksud mengatakan sesuatu tentang orang-orang
Sanggar Gading, namun terloncat juga kata-katanya “Hari ini adalah
hari yang menentukan Kiai“ “Apa?“ bertanya orang tua itu “Apakah
yang angger maksud menentukan itu?“ Jlitheng termangu-mangu sejenak.
Tetapi serasa memang diluar kuasanya untuk menahan dir i. Maka
katanya “Orang- orang Sanggar Gading akan datang memenuhi permintaan
Daruwerdi yang sudah menunggu. Pusaka yang disembunyikannya akan
ditukarkannya dengan seorang yang menurut anggapannya, telah
membunuh ayahnya” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Peristiwa yang gawat sekali. Angger, mungkin ada sesuatu yang dapat
aku ceriterakan kepadamu. Aku sudah menduga, bahwa masalahnya akan
menjadi bersusun seperti ini” “Apa yang Kakek maksudkan?“ bertanya
Jlitheng. “Aku memang melihat apa yang terjadi di bendungan” berkata
Kiai Kanthi “Tetapi sebenarnya yang menarik perhatianku bukan
peristiwa dibendungan itu sendir i. Karena itulah, maka aku tidaK
dapat melihat dengan pasti, apa yang telah terjadi” “Lalu, apakah
yang menar ik perhatian kakek pada saat itu?“ bertanya Jlitheng.
“Aku melihat dua orang yang berada disekitar arena perkelahian itu”
berkata Kiai Kanthi ”Aku tidak tahu pasti, siapakah mereka itu.
Namun nampaknya kedua orang itu adalah orang-orang yang datang
seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Di daerah Sepasang Bukit
Mati ini telah pernah datang orang-orang dari, padepokan Kendali Put
ih, orang- orang Pusparuri yang telah berhubungan langsung dengan
Daruwerdi, dan sekarang akan datang orang-orang Sanggar Gading.
Agaknya kedua orang yang aku lihat itu juga mendengar tentang
kedatangan orang-orang Sanggar Gading itu” Jlitheng menegang
sejenak. Dipandanginya wajah Kiai Kanthi dengan tatapan mata yang
tajam Kemudian terdengar ia berdesis “Kiai melihat kedua orang itu?“
“Ya. Aku melihat mereka. Tetapi nampaknya mereka tidak terlalu dekat
dengan arena. Karena itu pulalah aku tidak tahu pasti apa yang telah
terjadi diarena itu pula meskipun aku dapat menduga-duga” berkata
Kiai Kanthi. “Apakah Kiai melihat, kemana kedua orang itu pergi?“
bertanya Jlitheng. Kiai Kanthi menggelengkan kepalanya. Jawabnya
“Aku tidak dapat mengikuti mereka ngger. Selain hari menjadi semakin
cerah, akupun menduga, bahwa keduanya memiliki ketajaman perasaan.
Jika keduanya mengetahui bahwa aku mengikut inya, maka
persoalannyapun akan segera bergeser pula” Jlitheng
mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Dua orang itu tentu orang-orang
yang telah menemui anak-anak Lumban Wetan dan mengatakan kepada
mereka, bahwa keduanya akan siap membantu anak-anak Lumban Wetan
dalam perselisihan mereka dengan anak-anak muda Lumban Kulon” Kiai
Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Nampaknya kedua orang itu
memang sengaja berada di daerah Sepasang Bukit Mati ini justru pada
saat-saat yang penting bagi orang-orang Sanggar Gading dan angger
Daruwerdi” “Mungkin sekali” jawab Jlitheng “Tidak mustahil bahwa
diantara mereka yang berada di dalam lingkungami satu gerombolan
sebenarnya adalah orang dari gerombolan yapg lain, sehingga dengan
demikian orang itu akan dapat member ikan keterangan tentang rahasia
gerombolan yang satu kepada yang lain” “Jika demikian, maka akan
terjadi satu peristiwa yang sangat, menarik di daerah Sepasang Bukit
Mati ini” gumam Kiai Kanthi “Sudah barang tentu kedua orang itu
tidak hanya sekedar akan melihat-lihat apa yang akan terjadi.
Mungkin ia menunggu satu peristiwa yang penting, yaitu saat
penyerahan pusaka itu kepada orang-orang Sanggar Gading. Kemudian
mereka akan merampas pusaka itu langsung dari orang-orang Sanggar
Gading itu setelah mereka memperhitungkan dengan cermat kekuatan di
masing-masing pihak. Namun mungkin pula mereka akan langsung
menyerang dan merebut Pangeran yang akan dijadikan bahan penukar
dari pusaka itu, yang kemudian akan dibawa kepada Daruwerdi dan
dengan demikian, merekalah yang akan mendapat pusaka yang
dijanjikan. Karena Daruwerdi tidak membuat hubungan khusus dengan
orang-orang Sanggar Gading, tetapi juga dengan orang-orang Pusparuri
dan bahkan siapapun juga yang akan berhasil membawa Pangeran itu
kepadanya” “Keadaan mungkin akan berkembang tanpa dapat dikendalikan
Kiai” berkata Jlitheng tetapi bagaimana menurut pendapat Kiai,
Apakah sebaiknya kita mencari kedua orang itu dan kemudian menahan
mereka agar mereka tidak sempat member ikan laporan kepada pihak
manapun juga?” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
katanya “Angger. Aku adalah orang yang sama sekali tidak terlibat ke
dalam persoalan pusaka itu. Karena itu, maka aku kira aku tidak akan
dapat memberikan pendapat yang pasti akan menguntungkan salah satu
pihak” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengerti Kiai.
Tetapi apakah menurut penilaian Kiai, aku juga termasuk salah satu
pihak yang akan memperebutkan pusaka itu?“ Kiai Kanthi mengangguk
sambil tersenyum. Katanya “Ya ngger. Apapun alasannya, angger
termasuk salah satu pihak yang ingin menguasai pusaka itu. Bahkan
angger adalah orang yang bekerja paling cermat dan mempergunakan
waktu yang paling lama untuk menekuninya, sehingga anak-anak muda
Lumban menganggap bahwa angger adalah benar-benar anak Lumban”
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Kemudian hampir diluar sadarnya
ia berdesis “Apakah Kiai tidak termasuk diantara mereka? Apakah
benar bahwa Kiai datang kemari hanya karena telah terjadi bencana
alam di tempat tinggal Kiai yang lama, atau justru bencana alam itu
merupakan satu kebetulan yang dapat mendorong Kiai datang ke tempat
ini tanpa dicurigai oleh segala pihak?” Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Tempat ini memang sangat menarik bagiku.
Disini aku mendapatkan kemungkinan yang luas untuk mengembangkan
satu padepokan. Seperti yang angger lihat, aku sudah mulai
memperkembangkan daerah ini. Airpun terdapat melimpah, asal kita
mampu mengendalikannya. Dengan demikian, maka kemungkinan bagi masa
depan dapat aku tumbuhkan di tempat ini” Jlitheng mengangguk-angguk.
Katanya “Baiklah Kiai, Benar atau tidak benar aku tidak akan dapat
membuktikannya, kecuali jika pada suatu saat Kiai telah mengambil
bagian langsung dan apalagi berhasil menguasai pusaka itu” Kiai
Kanthi tertawa. Katanya “Kau bergurau ngger. Tetapi baiklah. Kita
akan melihat apa yang akan terjadi di daerah Sepasang Bukit Mati
ini. Bagiku mata air di bukit ini telah member ikan kebahagiaan
melampaui apa saja. Namun manusia kadang-kadang didorong oleh
sesuatu yang tidak dimengertinya sendiri hal yang terakhir linilah
yang tidak dapat aku katakan sebelumnya ngger” Wajah Jlitheng
menjadi tegang. Namun kemudian terdengar suara seorang gadis dari
balik dinding “Ayah terlalu berhati-hati dan terlalu bijaksana.
Bahkan berlebih-lebihan. Pertanyaan-pertanyaan serupa pernah aku
dengar meskipun dengan kata-kata yang lain. Dan ayah masih saja.
melayaninya” “Ah“ desah Kiai Kanthi “Jangan hiraukan ngger” Jlitheng
temangu-mangu sejenak. Namun kemudian diluar sadarnya hatinya
bagaikan luluh. Katanya “Maaflah aku kakek. Mungkin aku terlalu
mendesak kakek dalam pembicaraan ini” Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Panggilan itu lebih semanak ngger. Aku lebih
senang mendengarnya” “Tetapi, sekali lagi aku ingin bertanya tentang
kedua orang itu. Apakah kita akan membiarkannya?“ bertanya Jlitheng
“Kakek memang tidak akan terlibat. Tetapi apakah tidak dapat member
ikan petunjuk dengan satu angan-angan, seandainya kakek terlibat
langsung dalam masalah ani” “Keterbukaanmu membuat aku tidak dapat
mengelak ngger” jawab Kiai Kanthi “namun sebaiknya kau pecahkan
sendiri persoalannya. Seandainya ada pihak lain yang ingin
memperebutkan, apakah pusaka itu atau Pangeran itu sendiri, apakah
keberatan angger?“ Pertanyaan itu mengejutkan Jlitheng. Sejenak ia
termangu- mangu memandang wajah Kiai Kanthi. Namun nampaknya wajah
itupun bersungguh-sungguh, sehingga Jlitheng mengerti, bahwa Kiai
Kanthipun tidak sedang bergurau dalam hal ini. Namun karena Jlitheng
tidak segera mengetahui maksud Kiai Kanthi, maka iapun bertanya
“Apakah yang kakek maksudkan? Apakah kakek menganggap bahwa lebih
baik aku minggir saja dari persoalan ini, dan kemudian acuh tidak
acuh apa yang akan terjadi dengan pusaka itu atau Pangeran yang
telah berhasil diambil oleh orang-orang Sanggar Gading itu, justru
pada waktu Pangeran itu baru sakit?“ Kiai Kanthi menggeleng.
Jawabnya “Bukan ngger. Bukan maksudku. Kau sudah menempatkan dirimu
pada satu arah tertentu diantara mereka yang berkepentingan dengan
pusaka itu dengan alasan yang berbeda-beda. Memang bukan waktunya
lagi sekarang untuk menar ik diri. Justru pada saat ini, angger akan
dapat menunjukkan siapakah angger yang sebenarnya dengan satu sikap
dan tindakan yapg tepat” “Lalu, bagaimana dengan pertanyaan kakek
itu?“ “Orang-orang Sanggar Gading akan membawa Pangeran itu ke
daerah sepasang Bukit Mati ini” berkata Kiai Kanthi, sementara
Jlitheng memotongnya “Ya. Selambat-lambatnya hari ini menurut
keterangan Rahu yang tahu benar akan rencana itu” “Nah, mungkin
sekali rencana itu telah didengar pula oleh orang-orang dari
gerombolan yang lain. Mungkin oleh orang- orang Pusparuri, atau
orang-orang Kendali Putih, atau orang- orang Gunung Kunir atau pihak
yang lain, sehingga mereka merencanakan untuk mengambilnya dari
tangan orang-orang Sanggar Gading. Apakah Pangeran yang akan dapat
mereka tukar dengan pusaka itu, atau pusaka itu sendiri, setelah
orang-orang Sanggar Gading menyerahkan Pangeran yang dituntut oleh
angger Daruwerdi itu” Kiai Kanthi melanjutkan. “Ya. Itulah yang
kira-kira akan terjadi” desis Jlitheng “Dan Kiai masih bertanya,
apakah keberatanku?“ “Angger belum memikirkan pertanyaanku, apakah
keberatannya?“ ulang Kiai Kanthi. “Kakek memang aneh. Aku
berkeberatan jika pusaka itu jatuh ke tangan siapapun yang tidak
berhak. Jika para lietugas dari Demak datang mengambil pusaka itu
dari tangan mereka, aku memang tidak berkeberatan. Tetapi kitapun
tidak luku. apakah para pemimpin di Demak sendiri tidak ada secara
pribadi niat untuk memiliki pusaka itu” “Angger benar” jawab Kiai
Kanthi “Tetapi aku tidak mengatakan bahwa angger dapat melepaskan
pusaka itu kepada siapapun juga. Aku hanya mengatakan, apakah
keberatan angger jika kelompok-kelompok itu atau
gerombolan-gerombolan itu saling memperebutkan pusaka itu. Sekali
lagi, saling memperebutkan. Mungkin akan terjadi
pertempuran-pertempuran yang sengit dan mendebarkan. Mungkin
mengerikan karena akan jatuh korban yang tidak terduga sebelumnya”
Kiai Kanthi berhenti sejenak, namun kemudian “Kematian memang harus
dihindari sejauh-jauhnya ngger, dalam penyelesaian masalah apapun
juga Tetapi angger seorang diri tentu tidak akan dapat berbuat
banyak menghadapi orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Pusparuri
dan kelompok-kelompok yang lain. Karena itu, kenapa angger tidak
membiarkan saja mereka saling-saling berebut pusaka itu, atau justru
memperebutkan Pangeran yang sedang sakit itu” Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Sambil mengangguk- angguk ia berkata “Aku mengerti
kakek. Agaknya kakek ingin melihat kelompok-kelompok atau
gerombolan-gerombolan itu saling berbenturan. Saling bertempur
memperebutkan pusaka atau Pangeran itu. Dengan demikian mereka akan
menjadi ringkih karena mereka akan saling berbunuhan” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Katanya “Angger akan memperhitungkan keadaan.
Kemudian mengambil satu sikap. Tentu saja hal ini diperlukan
ketrampilan berpikir. Namun bahwa angger telah menempatkan dir i di
daerah Sepasang Bukit Mati ini, agaknya angger memang sudah bersiap
menghadapi segala kemungkinan” Jlitheng mengangguk-angguk. Ia
menyadari bahwa dipundaknya tertompang tugas yang berat. Bukan
karena perintah dan bukan pula karena ia sudah tersudut pada suatu
keadaan yang tidak dapat dihindarinya, bukan pula karena pamr ih dan
ketamakan, tetapi rasa-rasanya ia telah terpanggil jiwanya untuk
menyerahkan dir i ke dalam tugas itu. “Aku mengerti kakek” desis
Jlitheng. “Nah, jika demikian, biar sajalah kedua orang itu berada
disekitar daerah Sepasang Bukit Mati ini. Kita akan menunggu, apa
yang akan terjadi hari ini. Mungkin siang nanti, mungkin sore,
mungkin malam. Tetapi nampaknya daerah ini akan menjadi ajang
pertumpahan darah yang sengit” desis Kiai Kanthi. Lalu “Namun
agaknya orang yang pernah menyimpan pusaka itu di daerah ini sama
sekali tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu saat, daerah ini
akan menjadi ajang pertentangan dan pertumpahan darah” Jlitheng
mengangguk-angguk. Namun kemudian seolah- olah diluar sadarnya la
bertanya “Lalu dalam gejolak ini apakah yang akan Kiai lakukan?
Berdiam diri? Atau berbuat sesuatu yang belum Kiai pertimbangkan
sekarang?“ “Ah“ desah Kiai Kanthi “pertanyaan angger memang sulit
untuk dijawab. Tetapi sekarang aku telah berada disini. Sengaja atau
tidak sengaja. Sadar atau tidak sadar” Wajah Jlitheng menegang
sejenak. Lalu “Aku mengerti. Jika banjir melanda kita, maka kita
akan basah. Mau tidak mau. Tetapi aku tetap tidak mengerti, apakah
kakek akan berenang kehulu atau keudik” Kiai Kanthi tersenyum.
Katanya “Jangan hiraukan aku. Lakukanlah apa yang akan kau lakukan.
Tumpuan segala harapan adalah pada Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan
kau berhasil ngger” Jlitheng termangu-mangu sejenak. Ia mendengar
desis dibalik dinding. Ia mengerti bahwa Swasti sedang gelisah
karena pembicaraan itu. Gadis itu bukan gadis kebanyakan dalam
pakaian yang kusut dan tangan yang kotor karena kerja yang keras.
“Baiklah kakek” berkata Jlitheng kemudian “Aku akan kembali ke
Lumban. Disana ada orang Sanggar Gading, ada orang yang bernama Semi
dan kawannya. Mungkin segalanya harus aku perhitungkan pada saat aku
mengambil sikap. Tetapi bahwa pertempuran dan perebutan itu terjadi,
aku tidak akan berkeberatan” Kiai Kanthi mengangguk-angguk sambil
tersenyum. Dipandanginya Jlitheng dengan saksama, seolah-olah ia
ingin melihat, apakah tekadnya memang sudah bulat. Namun agaknya
Jlitheng memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun
ia hanya sendiri tetapi ia merasa bahwa ia akan dapat menempatkan
dir i di dalam gejolak yang sedang terjadi itu. Karena itu, maka
Jlithengpun segera minta diri. Ia harus berkemas sebaik-baiknya.
Mungkin siang nanti, mungkin sore nanti atau malam nanti ia harus
turun ke dalam satu kancah benturan kanuragan. Karena itu, maka
Jlithengpun segera minta diri meninggalkan gubuk Kiai Kanthi. Ia
harus siap dengan pedang tipis yang akan sangat berguna baginya.
Pedang tipis, salah satu dari beberapa jenis senjata yang dapat
dipergunakannya dalam keadaan yang paling gawat. “Aku mempunyai
beberapa orang kawan disekitar daerah ini” berkata Jlitheng di dalam
hatinya. Namun setiap kali ia berniat untuk menyampaikan persoalan
yang dihadapi dengan terbuka, terasa ia menjadi ragu-ragu. Meskipun
orang-orang itu mengenalnya dengan baik, bersikap baik dan bahkan
sudah banyak memberikan bantuan kepadanya, namun dalam persoalan
yang sangat penting, mereka masih tetap diragukan. Sepeninggal
Jlitheng, Kiai Kanthipun kemudian memanggil anak gadisnya. Dengan
segan Swasti mendekatinya dan duduk disebelahnya sambil berdesis
“Ayah terlalu memanjakan anak Luraban itu” Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya lunak “Swasti kadang-kadang seseorang
memang harus melakukan sesuatu yang tidak diingininya” “Maksud ayah,
bahwa ayah akan melibatkan diri ke dalam persoalan senjata atau
pusaka yang sedang diperebutkan itu?“ bertanya Swasti. Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Katanya “Kita sudah berada di tempat ini Swasti.
Dan kita mengetahui, sengaja atau tidak sengaja. Bahwa pusaka
terpenting yang saat itu diserahkan kepada seorang Senapati besar di
Majapahit untuk mempertahankan Kota Raja telah lenyap bagaikan
tertelan bumi, Jejak pusaka itu hilang bersama meninggalnya orang
yang membawanya. Namun akhirnya tercium pula berita, bahwa pusaka
itu berada disekitar Sepasang Bukit Mati. Bahkan ada seorang anak
muda yang mengaku memiliki atau mengetahui segalanya tentang pusaka
itu” potong Swasti. “Daruwerdi, maksud ayah?“ “Ya. Memang agak aneh,
bahwa Daruwerdi dapat menemukan pusaka itu. Ia masih terlalu muda
untuk mengetahui tanpa ada orang lain yang memberikan keterangan
yang pasti kepadanya. Tentu orang-orang yang sudah jauh lebih tua
dari padanya. Mungkin sebaya dengan para Senapati yang pada saat itu
mempertahankan Kota Raja dan terdesak keluar” berkata Kiai Kanthi.
“Tetapi bukankah pusaka itu jejaknya hilang bersama kematian orang
yang menyimpannya?“ bertanya Swasti. “Ya. Tetapi mungkin sebelumnya
ia pernah berbicara dengan orang-orang tertentu tentang pusaka itu.
Orang-orang itu akan dapat untuk seterusnya menutup mulutnya dan
membiarkan pusaka itu tidak akan dapat diketemukan lagi. namun
mungkin seseorang yang pernah mendengar rahasia pusaka itu dari
orang yang menyimpannya, tidak lagi dapat bertahan untuk tetap diam.
Mungkin oleh satu dorongan batin yang tidak dapat ditahankannya
lagi, rahasia itu terloncat, sadar atau tidak sadar” “Seandainya
demikian ayah, lalu apakah keuntungan ayah untuk melibatkan diri ke
dalam persoalan pusaka itu? Ayah bukan prajurit, bukan pengawal dan
bukan orang yang bernafsu untuk memiliki jabatan atau kedudukan
tertentu karena tuah pusaka itu, dan apalagi karena pusaka itu, ayah
akan dapat memegang pimpinan pemerintahan di neger i ini” gumam
Swasti. Ayahnya tertawa kecil. Katanya “Swasti. Bukankah pernah aku
katakan kepadamu, bahwa berbuat sesuatu itu kadang- kadang dilakukan
tanpa pamrih. Memang jarang sekali terjadi bahwa yeng dilakukan itu
tanpa pamr ih sama sekali. Misalnya aku berbuat sesuatu atas pusaka
itu, secara langsung aku memang t idak akan mempunyai pamrih
apa-apa. Tetapi bukankah kita mengetahui, bahwa jika pusaka itu
jatuh keta- ngan orang atau sekelompok orang yang tidak berhak, maka
akibatnya akan dapat merugikan banyak orang? Nah, itulah pamr ih
kita Swasti. Agar pusaka itu tidak jatuh ketaaigan orang yang tidak
berhak, sehingga akan menumbuhkan persoalan yang gawat dikemudian
har i” “Jika yang gawat itu tidak akan menyentuh kita, bukankah kita
dapat melepaskan dir i dari hubungan persoalannya? bertanya Swasti
“Kau masih tetap seperti masa kecilmu. Mungkin akulah yang bersalah,
karena dalam umurmu sampai har i ini, kau lebih banyak hidup agak
terpisah dari orang banyak. Meskipun sekali-sekali kau juga bergaul
di tempat kita yang lama, tetapi pergaulan itu sama sekali tidak
memadai, sehingga kau lebih banyak memandang kepada dirimu dan dir i
kita berdua saja. Sehingga semua putaran kepentingan selalu berpusar
pada diri sendiri” berkata Kiai Kanthi. “Bukankah sebaiknya memang
demikian? Jika semua orang hanya mengurus diri sendiri, tetapi juga
tidak merugikan orang lain, maka aku kira tidak akan ada persoalan
diantara manusia” berkata Swasti. “Kau salah Swasti” berkata Kiai
Kanthi “Kau tentu mengerti, kenapa seseorang mengulurkan tangannya
untuk memberikan sebungkus nasi kepada orang yang sedang kelaparan?“
“Keadaannya lain sekali ayah“ bantah Swasti “Orang kelaparan memang
memer lukan pertolongan orang lain” “Dari segi orang yang menolong?
Jika ia tidak berbuat apa- apa dan mengurusi dirinya sendiri, apakah
akan lahir satu sikap untuk menolong?“ bertanya ayahnya. “Dan ayah
akan menolong orang-orang yang sedang memperebutkan pusaka itu?
Apakah itu bukan satu sikap sombong. Kita dapat memberikan sebungkus
makanan kepada orang yang kelaparan karena kita mempunyai lebih.
Tetapi apakah sekarang kita memiliki kelebihan dari mereka yang
sedang memperebutkan pusaka itu?“ bertanya Swasti pula. “Swasti”
berkata ayahnya “dalam perebutan pusaka itu mungkin kekuatan mereka
seimbang. Sentuhan kecil saja tentu akan dapat menabah keseimbangan
itu” Swasti mengerutkan dahinya. Namun ia tidak menjawab lagi. Ia
tidak akan dapat membantah keinginan ayahnya, meskipun rasa-rasanya
ia masih belum sependapat sepenuhnya. Kiai Kanthipun terdiam pula.
lapun mengenal sifat anak gadisnya. Jika Swasti sudah diam, iapun
lebih baik menjadi diam pula, karena jika ia berkata berkepanjangan,
maka gadis itu tentu akan membantah lagi meskipun ia sudah tidak
memikirkan alasannya, apakah sesuai atau tidak. Dalam pada itu.
Jlitheng yang sudah ada dikaki bukit, telah dikejutkan oleh hadirnya
beberapa orang di padang perdu. Untunglah, bahwa orang-orang itu
belum melihatnya, sehingga ia sempat berlindung dibalik r imbunnya
rerungkutan hutan dikaki bukit itu. Sejenak Jlitheng menunggu. Namun
kemudian disadarinya, bahwa yang datang itu sama sekali bukan orang
Sanggar Gading. Meskipun ia tidak lama berada dilingkungan orang-
orang Sanggar Gading, namun ia tentu akan dapat mengenal satu dua
orang diantara mereka. Sementara ia sendiri adalah orang yang sudah
dianggap mati oleh orang-orang Sanggar Gading. Dalam pada itu,
Jlithengpun melihat, bahwa orang-orang itu telah membuat tempat
khusus untuk beristirahat. Mungkin mereka akan berada di tempat itu,
untuk waktu yang agak panjang, menjelang kedatangan orang-orang
Sanggar Gading. Bagaimanapun juga, Jlitheng sama sekali tidak berani
mendekati mereka. Jlitheng yakin, bahwa diantara mereka tentu
terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi,
seperti juga pimpinan tertinggi dari padepokan Sanggar Gading. Namun
dalam pada itu, setelah orang-orang itu mengikat kudanya pada batang
perdu, kemudian satu dua orang diantara mereka menjatuhkan diri dan
berbaring direrumputan kering, maka J lithengpun mulai ber ingsut
justru menjauh. Setelah ia yakin bahwa orang-orang itu tidak akan
melihatnya, dan tidak pula mendengar langkah kakinya, maka
Jlithengpun segera mempercepat langkahnya kembali ke gubug Kiai
Kanthi. Kedatangan Jlitheng yang tergesa-gesa membuat Kiai Kanthi
terkejut. Sebelum ia sempat bertanya ternyata Jlitheng telah
mendahului “Kakek, mereka telah datang” “Siapa?“ bertanya Kiai
Kanthi heran. “Justru bukan orang-orang Sanggar Gading“ jawab
Jlitheng “Mereka sedang beristirahat di padang perdu di bawah bukit
ini” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku
akan melihatnya” “Marilah, aku tunjukkan“ ajak Jlitheng. Sementara
itu, Kiai Kanthipun kemudian masuk ke ruang belakang. Nampaknya ia
ingin berpesan sesuatu kepada anak gadisnya. Namun Jlitheng telah
mendengar gadis itu bertanya “Ayah akan pergi?“ “Ya Swasti. Aku
harap kau dapat mengerti, bahwa mau tidak mau kita akan terlibat
juga” sahut ayahnya “karena itu, kita lebih baik menempatkan diri
sebelum kita tersudut pada suatu keadaan yang tanpa pilihan” Swasti
tidak menyahut. Namun tiba-tiba saja ia berdesis “Aku akan ikut,
ayah” Tetapi ayahnya menjawab “Jangan sekarang. Aku baru akan
melihat siapakah orang yang datang itu. Aku akan segera kembali dan
menentukan sikap. Namun nampaknya dalam beberapa hal, kita masih
harus tetap menyembunyikan diri dari kenyataan kita” Meskipun
kecewa, tetapi Swasti harus menurut nasehat ayahnya. Ia harus
tinggal digubugnya sampai ayahnya menentukan satu sikap lebih
lanjut. Demikianlah, Jlitheng dan Kiai Kanthi meninggalkan gubug
itu. Mereka menelusuri jalan seperti yang ditempuh oleh Jlitheng
ketika ia turun. Dengan demikian, maka merekapun segera sampai ke
tempat yang dikatakan oleh Jlitheng. “Itulah mereka” desis Jlitheng.
Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya hampir berbisik “Sekelompok
kekuatan yang nampaknya cukup besar. Aku krra mereka sudah siap
menghadapi orang-orang Sanggar Gading. Mungkin mereka akan merebut
Pangeran yang dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading itu. Kemudian
orang itu akan menghubungi Daruwerdi” “Lalu, apakah yang sebaiknya
kita kerjakan?“ bertanya Jlitheng. “Bukankah di Lumban ada seorang
dari orang-orang Sanggar Gading yang memang ditinggalkan oleh kawan-
kawannya untuk melihat suasana seperti yang pernah kau katakan?“
bertanya Kiai Kanthi “Ya” jawab Jlitheng “Rahu. Ia adalah orang
Sanggar Gading. Namun seperti yang pernah aku katakan, ia sebenarnya
adalah orang lain bagi Sanggar Gading” “Ya” sahut Kiai Kanthi
“Tetapi cobalah katakan kepadanya, apa yang kau lihat disini.
Nampaknya ia akan dapat membantumu mengambil sikap” “Baiklah Kiai”
desis Jlitheng “Aku akan menemuinya. Lalu, bagaimana dengan Kiai?“
“Aku akan mengawasi mereka. Jika kau mendapatkan beberapa bahan
tentang sikap yang sebaiknya kau lakukan, dan kau akan menemui aku,
agaknya aku akan tetap berada di tempat ini. Tetapi j ika aku merasa
bahwa aku tidak perlu tahu lebih banyak lagi, maka aku akan kembali
ke gubugku” jawab Kiai Kanthi. Jlitheng mengangguk- iangguk. Lalu
desisnya “Aku minta diri kakek. Aku akan bicara dengan Rahu”
Demikianlah, maka Jlithengpun segera beringsut meninggalkan tempat
itu. Agaknya segala sesuatunya memang sudah mulai. Dua orang yang
dilihat oleh Kiai Kanthi, dan mungkin juga kedua orang itu pula yang
telah menawarkan bantuannya kepada anak-anak muda Lumban Wetan,
agaknya adalah dua orang dari kelompok itu pula. Dengan hati-hati
Jlitheng menempuh jalan lain, turun dari lereng bukit. Ketika ia
sudah berada didataran, maka seolah- olah ia telah berlari-lar i
menuju ke Lumban Wetan, langsung ke banjar. Dan untunglah bahwa Rahu
memang sedang berada di banjar bersama dua orang pemburu yang sudah
lebih dahulu berada di banjar itu. Rahu dan kedua orang yang disebut
pemburu itu terkejut melihat kedatangan Jlitheng, justru pada saat
yang menegangkan. Karena itu maka Rahupun segera bertanya “Kau
melihat orang-orang Sanggar Gading itu sudah datang?” Jlitheng
menggeleng. Katanya “Bukan. Bukan orang Sanggar Gading” Rahu
mengerutkan keningnya, sementara Jlithengpun duduk pula diantara
mereka. “Menurut perhitunganku, orang-orang Sanggar Gading memang
tidak akan datang pagi-pagi. Tetapi akupun sudah siap untuk
menyongsong kedatangan mereka, meskipun aku masih harus menunggu di
tempat yang sudah aku sebutkan kepada Cempaka waktu itu” berkata
Rahu kemudian. Lalu iapun bertanya “Jadi siapakah yang datang itu?“
Jlitheng menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu siapakah
yang datang. Sekelompok orang-orang berkuda. Namun agaknya merekapun
memperhitungkan bahwa orang- orang Sanggar Gading tidak akan datang
terlalu pagi” “Bagaimana kau tahu” bertanya Rahu. “Mereka kini
sedang beristirahat. Nampaknya mereka memang tidak tergesa-gesa”
jawab Jlitheng. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya
“Menarik sekali. Berita orang-orang Sanggar Gading nampaknya memang
sudah bocor. Tetapi hal itu wajar sekali. Tentu ada orang-orang
Sanggar Gading sendiri yang telah membocorkannya. Seharusnya Cempaka
dan kakaknya itupua telah memperhitungkannya” “Kau dapat member
itahukan hal Itu kepada mereka” berkata Jlitheng. Rahu
mengangguk-angguk. Sementara Semipun berkata “Daerah Sepasang Bukit
Mati har i ini akan menjadi ajang pertempuran. Kematian akan
benar-benar mewarnai daerah ini. Tanah akan menjadi merah, dan
burung-burung gagak akan berbujana andra wina bersama anjing-anjing
liar dari hutan” Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Namun iapun
berdesis “Permainan apakah sebenarnya yang dilakukan oleh Daruwerdi
hari ini. Apakah ia sengaja melaksanankannya. atau kemungkinan
semacam itu t idak disadarinya sebelumnya” “Jangan kau anggap anak
itu bodoh” desis Rahu “Ia melakukan segalanya dengan penuh
kesadaran, Perhitungannya cukup cermat, sehingga apa yang akan
terjadi tentu sudah Diperhitungkannya pula” “Untunglah bahwa
anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan hari ini tidak akan turun.
Mereka bersepakat untuk bekerja dibendungan besok pagi. Hari ini
mereka akan beristirahat. Mudahmudahan mereka tidur sehari penuh,
sehingga mereka tidak akan terlibat ke dalam pergolakan yang jauh
lebih berbahaya dari pergolakan dibendungan itu” gumam Semi. “Aku
kira anak-anak Lumban Wetan benar-benar akan tidur sehari penuh”
jawab Jlitheng “Tetapi aku kurang tahu apa yang akan dikerjakan
Nugata hari ini. Mudah-mudahan ia masih merenungi kekalahannya dan t
idak berbuat apa-apa” “Menurut pengamatanku, ia adalah anak muda
yang terlalu serakah. Tetapi ada juga sifat-sifat licik pada anak
itu. Karena itu, mungkin sekali ia dapat berbuat diluar dugaan, atau
justru mengurung diri di rumahnya” desis Semi. Rahu
mengangguk-angguk. Namun t iba-tiba ia berkata “Aku akan pergi. Aku
mempunyai kewajiban bagi Sanggar Gading. Dan sampai saat terakhir
aku akan melaksanakannya dengan baik” “Tetapi kau harus
berhati-hati” berkata Jlitheng jika kau bertemu dengan orang-orang
berkuda itu maka kau akan mengalami nasib yang sangat buruk. Mungkin
dua orang yang pernah menawarkan dir i untuk membantu anak-anak
Lumban Wetan adalah kawan-kawan mereka pula” Rahu mengerutkan
keningnya. Lalu katanya “Aku dapat mencari jalan yang lain jika kau
menunjukkan arah orang- orang itu berist irahat seperti yang kau
katakan” “Tetapi mereka tidak akan berkumpul tanpa berbuat apa- apa.
Mungkin dua orang diantara mereka akan melihat-lihat daerah ini”
berkata Jlitheng. “Aku memang harus berhati-hati. Tetapi bukan
berarti bahwa aku tidak akan melakukan kewajibanku sebagai orang
Sanggar Gading” jawab Rahu. “Kau dapat menyelubungi dirimu dengan
penyamaran. Kau dapat berpakaian seperti para petani di Lumban
sehingga kau akan dapat berada di pategalan sebagaimana orang-orang
Lumban. Jika kau bertemu dengan dua atau tiga orang diantara mereka,
kau tidak akan menarik perhatian. Sementara orang-orang Sanggar
Gading sendir i, tentu tidak akan keliru karena mereka mengenalmu
dengan baik. Apalagi Cempaka” berkata Jlitheng. Rahu merenungi
pendapat Jlitheng itu sejenak. Namun kemudian kepalanya
terangguk-angguk kecil. Katanya “Mungkin itu lebih baik. Tetapi
bagaimana dengan senjataku. Aku terbiasa membawa pedang, bukan
parang pembelah kayu” “Kau samarkan sarung pedangmu dengan kulit
kayu. Kau bawa pedangmu dengan cara yang tidak laj im. Jika. kau
berada dipategalan, kau dapat meletakkan pedang itu ditempat yang
mudah kau capai, sementara kau dapat melindungi dirimu dengan
pisau-pisau. He, bukankah kau juga. terbiasa mempergunakan
pisau-pisau kecil? Sebelum kau dapat menggapai pedangmu, pisau-pisau
itu akan menolongmu” jawab Jlitheng. Rahu tersenyum. Jawabnya
“Terima kasih. Pendapatmu baik. Aku akan melakukannya” Jlitheng
mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum pula sambil menjawab
“Aku mengenal daerah ini lebih baik daripadamu. Maaf, bahwa aku
sudah mengajarimu” Semi dan kawannyapun tertawa pendek. “Maksudmu
baik” berkata Semi “Rahu tentu akan mendengarkannya” Sebenarnyalah
bahwa Rahupun kemudian membenahi pakaiannya sebagaimana seorang
petani. Diselipkannya pedangnya di bawah ikat pinggangnya seperti
seseorang membawa parang, meskipun agak panjang. Sementara sebilah
pisau belati terselip pula dipinggangnya meskipun tersembunyi. Dalam
pada itu, ketika Rahu siap untuk berangkat, maka Jlithengpun berkata
“Aku akan pergi bersamamu sampai ke ujung padukuhan. Aku akan
membawa cangkul agar tidak seorangpun yang menjadi heran karena itu
sudah pekerjaanku. Tetapi nanti, kaulah yang akan membawanya sampai
kepategalan. Rahu tertawa pendek. Katanya “Kau teliti sekali. Kau
memperhitungkan segala kemungkinan sampai yang sekecil- kecilnya.
Tetapi kau memang seorang yang memiliki kemampuan penyamaran yang
luar biasa. Kau dapat sekasar orang-orang Sanggar Gading yang lain
ketika kau berada di padepokan itu. Dan kaupun dapat menjadi seorang
petani dungu disini. Namun pada suatu saat. kau bangkit
menyelamatkan Kabuyut-an Lumban Wetan dari ketidak adilan dengan
secuwil ilmumu” “Ah, sudahlah” potong Jlitheng “Jika kau akan
berangkat, berangkatlah” Jlitheng berhenti sejenak, lalu katanya
kepada Semi dan kawannya “Apakah kalian akan diam saja disini?“ Semi
menarik nafas dalam-dalam. Kalanya “Aku sedang memikirkan, apakah
yang sebaiknya aku lakukan sekarang ini Duduk disini sambil menunggu
hiruk pikuk terjadi di bukit gundul, atau berkeliaran di jalan-jalan
untuk melihat sepasukan yang kuat memasuki Daerah Sepasang Bukit
Mali, atau berburu ke hutan di lereng Gunung dan singgah di rumah
orang tua itu sambil melihat-lihat orang-orang yang sedang
beristirahat seperti yang kau katakan. “Kaupun harus melihat
suasana” berkata Jlitheng “hadirlah dijalur jalan yang akan dilalui
oleh orang-orang Sanggar Gading” “Orang-orang Sanggar Gading
mengenal aku dengan baik sebagai adik Rahu. Bukankah aku
memperkenalkan dir iku sebagai adiknya juga pada saal kau pertama
kali datang ke rumah kami?“ bertanya Semi. “Ya. Tetapi sekarang
bagaimana?“ bertanya Jlitheng. “Rencanakan apa yang ingin kau
lakukan. Akukan merencanakan sendir i, apa yang sebaiknya aku
lakukan dalam keadaan seperti ini” jawab Semi. Rahu tertawa pula.
Katanya “Jlitheng merasa dir inya tuan rumah disini. Tetapi sekali
lagi, maksudnya baik. Dan darah kepemimpinan ayahnya memang mengalir
di dalam tubuhnya. Seharusnya kau mengucapkan terima kasih” “Ah“
desah Jlitheng “Jangan mengejek begitu. Yang menjadi Senapati Agung
adalah ayahanda. Bukan aku. Maaf jika aku member ikan beberapa usul.
Tetapi maksudku baik seperti yang dikatakan Rahu” Semipun tertawa.
Jawabnya “Sudahlah. Berangkatlah jika kau mau berangkat, agar kau
tidak terlambat menanggapi perkembangan keadaan. Rahupun kemudian
berangkat diikuti oleh Jlitheng sebagaimana dikatakannya. Memang t
idak ada scorangpun yang merasa aneh melihat Jlitheng berjalan
bersama orang yang tidak begitu mereka kenal sambil membawa cangkul.
Meskipun orang-orang itu kadang-kadang, memandang Rahu sampai
berpaling. Tetapi orang itu memang tidak begitu mereka kenal
sehingga merekapun tidak banyak menghiraukannya. Dalam pada itu,
ketika Rahu dan Jlitheng telah berada di regol padukuhan yang
menghadap kepategalan yang ker ing, maka Jlithengpun menyerahkara
cangkulnya sambil berkata “Pergilah. Jika kau bertemu dengan orang
lain. maka mereka ykan mengira bahwa kau akan pergi kepategalan.
Meskipun pategalan itu kering, kau dapat juga menyebut alasan apapun
juga dengan cangkulmu itu” Rahu tidak membantah. Iapun menerima
cangkul itu, iapun kemudian pergi kepategalan sebagaimana
orang-orang penduduk Lumban. Namun ternyata orang-orang padukuhan
Lumban Wetan sediri tidak scorangpun yang pergi kepategalan disaat
terakhir. Mereka sedang sibuk memanfaatkan air yang sedikit di
sawah-sawah mereka. Demikian Rahu lepas dari pandangan Jlitheng,
maka Jlithengpun segera kembali ke banjar. Ia tidak banyak bertemu
dengan anak-anak muda, karena sebagian dari mereka benar-benar
sedang beristirahat. Sebagian besar dari mereka telah t idur nyenyak
di rumah masing-masing. Hanya mereka yang mempunyai keperluan yang
sangat penting sajalah yang terpaksa keluar rumah dengan malasnya Di
banjar Semipun telah siap untuk berangkat. Namun nampaknya Semi dan
kawannya cenderung untuk tetap mengenakan kelengkapan berburu.
Dengan kuda mereka yang tegar, keduanya akan menuju ke bukit kecil,
tempat tinggal Kiai Kanthi. “Aku akan berusaha menghindari
orang-orang itu” berkata Semi “sementara jika disepanjang jalan aku
bertemu dengan orang-orang mereka yang sedang mengawasi keadaan, aku
kira merekapun tidak akan lebih dari dua orang” “Tetapi perkelahian
yang mungkin terjadi akan memancing orang-orang itu untuk bergerak”
berkata Jlitheng. “Aku tidak akan melepaskan musuh-musuhku kembali
kepada induk pasukannya, atau akulah yang tidak akan mengganggu
mereka lagi untuk seterusnya” jawab Semi. “Kau sudah ditulari watak
orang-orang Sanggar Gading” desis Jlitheng. “Aku adalah adik salah
seorang kepercayaan seorang pemimpin muda dari padepokan Sanggar
Gading” jawab Semi sambil tersenyum. Jlithengpun tersenyum pula.
Namun ia tidak menjawab lagi. Dalam pada itu, dilepaskannya kedua
orang pemburu itu dalam kelengkapan berburunya. Busur anak panah
seendong penuh. Tombak pendek dan pedang. Pada ikat pinggang kedua
pemburu itu terdapat dua bilah pisau belati kecil. Namun ternyata
dipelana kudanya, pisau-pisau semacam itu terdapat cukup banyak.
Sejenak kemudian, kedua ekor kuda itupun berderap meninggalkan
banjar. Demikian mereka bergerak, Semi masih bertanya “Bagaimana
dengan kau? Jlitheng tidak sempat menjawab. Semi dan kawannya telah
berderap meninggalkannya. Sepeninggal Semi dan kawannya, Jlitheng
menarik nafas dalam-dalam. Ternyata yang menggelisahkan itu akan
segera terjadi. Orang-orang Sanggar Gading akan segera datang
membawa Pangeran yang malang itu untuk diserahkan kepada Daruwerdi.
Sementara Daruwerdi akan menyerahkan sebilah pusaka kepada
orang-orang Sanggar Gading. Namun kemudian, apakah yang akan
dilakukan oleh Daruwerdi atas Pangeran itu. Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Namun ia memang tidak akan dapat tinggal diam
menghadapi persoalan yang su dah mulai berasap itu. Dalam pada itu
maka Jlithengpun melangkah dengan kepala tunduk pulang ke rumahnya.
Sekali-sekali ia bertemu dengan orang-orang yang menyapanya. Bahkan
anak-anak muda yang merasa sangat berterima kasih kepadanya,
menyapanya dengan cara yang berbeda dengan kebiasaan mereka dan
bahkan ada yang agak berlebih-lebihan, karena bagi mereka Jlitheng
adalah lambang dari kesuburan Kebuyutan Lumban Wetan. Ia adalah
orang yang berhasil menguasai dan mengarahkan air di bukit bersama
orang tua yang tinggal di-bukit itu, yang bercita-cita untuk membuat
sebuah padepokan kecil. Kemudian ia pulalah yang telah menyelamatkan
air yang sudah berhasil dikuasai itu dari ketamakan orang-orang
Lumban Kulon. Tanpa diduga-duga sama sekali, ternyata Jlitheng
memiliki kemampuan yang melampaui kemampuan kawan-kawannya. Termasuk
sepuluh orang terbaik dari Lumban Wetan. “Biar lah mereka
beristirahat hari ini” berkata Jlitheng di dalam hatinya ketika ia
melihat seorang anak muda yang terkantuk-kantuk berdiri di depan
regol rumahnya. Namun anak muda itu bertanya kepadanya “Kau tidak
beristirahat sama sekali Jlitheng?“ Jlitheng tersenyum. Katanya “Aku
akan pulang dan tidur sehari penuh, He, apakah kau juga t idak t
idur” “Aku baru saja terbangun. Kemudian makan dan melihat- lihat
orang lewat. Sebentar lagi, akupun akan tidur lagi” jawab anak muda
itu sambil menguap. Diluar sadarnya, Jlithengpun telah menguap pula.
Sambil tersenyum ia berkata “Kantukmu menjangkiti aku pula.
Sudahlah. Aku akan tidur sampai besok pagi. Sehari semalam” Anak di
regol itu tidak menjawab. Tetapi ketika Jlitheng menjadi semakin
jauh, ia benar-benar kembali masuk ke biliknya dan berkerudung kain
panjang sambil membar ingkan dirinya untuk tidur lagi. Ketika
Jlitheng sampai di rumah dilihatnya ibunya sibuk mengambil air.
Dengan tergesa-gesa Jlitheng mendekatinya sambil berkata “Sudahlah
biyung. Biar aku mengisi jembangan di dapur” “Kemana saja kau
semalam Jlitheng” bertanya ibunya “air di jambangan ker ing dan air
dipakiwanpun habis pula. Kemar in kau tidak mengisinya” “Ah. aku
terlupa ibu. Kawan-kawan sibuk dengan bendungan. Dan akupun berada
dibendungan pula” jawab Jlitheng. “Bagaimana dengan bendungan? Aku
dengar bendungan dan pintu air itu akan diperbaiki” bertanya ibunya.
“Ya. Mungkin besok, mungkin lusa” jawab Jlitheng sambil menarik
senggot t imba. “Kayu bakarpun hampir habis” berkata ibunya “sesudah
mengisi jambangan dan pakiwan, kau masih harus membelah kayu bakar”
“Baik biyung. Tetapi biyung tentu sudah merebus jagung” sahut
Jlitheng. “Pagi ini aku tidak merebus jagung. Aku merebus ketela
pohon” jawab ibunya. “Menyenangkan sekali. Tentu dengan gula kelapa”
desis Jlitheng. “Tidak” jawab ibunya. “O. Jadi?“ bertanya Jlitheng
agak kecewa. “Dengan kelapa dan garam” “Enak sekali” sahut Jlitheng
kemudian “Sudah lama biyung tidak merebus ketela pohon dengan kelapa
dan garam. Sesudah aku selesai mengisi jambangan, aku akan makan
dahulu sebelum aku membelah kayu” Ibunya tidak menjawab.
Ditinggalkannya Jlitheng disumur dengan timba upih untuk mengisi
jambangan di dapur dan dipakiwan. Dalam pada itu, setelah pekerjaan
Jlitheng selesai, dan sesudah ia makan beberapa kerat ketela pohon
rebus, maka mulailah ia membelah kayu di belakang kandang. Namun
dalam pada itu, sambil menyiapkan parangnya, Jlitheng telah melihat
senjata-senjatanya yang disebunyikannya, karena ia sadar, bahwa ia
akan memerlukannya. Namun dalam pada itu, Jlitheng masih juga
berusaha melalukan pekerjaannya sebaik-baiknya tanpa memberikan
kesan apapun juga kepada ibunya. Ia masih tetap berbuat seperti yang
dilakukannya sehari-hari. Demikian ia selesai membelah kayu, maka
iapun memasuki kandang seperti biasanya. Namun dalam pada itu, ia
mulai menimang senjata-senjatanya yapg disiapkannya. Pedang tipisnya
dan ikat pinggangnya yang khusus, tempat ia menyimpan paser-paser
kecilnya. Tetapi Jlitheng merasa gelisah untuk tetap berada di-
rumahnya. Ia mulai membayangkan, bahwa di daerah Sepasang Bukit Mati
telah berkeliaran orang-orang yang saling bermu-suhhan. Orang-orang
yang sudah siap saling membunuh untuk memperebutkan sesuatu yang
masih belum begitu jelas, karena semuanya baru didasarkan pada
keterangan-keterangan yang ternyata masih harus dibuktikan
kebenarannya. Namun mereka percaya bahwa di daerah Sepasang Bukit
Mati memang terdapat sebilah pusaka bertuah yang akan dapat member
ikan kemampuan kepada seseorang yang memilikinya untuk memangku
kedudukan yang paling tinggi sekalipun. Namun sebagian diantara
mereka percaya bahwa pusaka atau tempat penyimpanannya akan dapat
member ikan petunjuk tentang harta kekayaan yang tidak ternilai
harganya. Dengan tuah pusaka itu dan dengan dukungan harta kekayaan
yang tidak ternilai harganya, maka ada kepercayaan bahwa seseorang
memang akan dapat mencapai cita-cita yang paling tinggi sekalipun.
Karena itulah, maka Jlithengpun mulai mempertimbangkan, apakah yang
sebaiknya dilakukannya. Rahu telah berada dipategalan untuk menunggu
hadirnya orang-orang Sanggar Gading. Semi dan kawannya telah berada
di bukit sebelah, di dalam hutan dengan kelengkapan berburunya,
namun yang sebenarnya adalah kelengkapan bertempur. Sementara di
lereng bukit itu pula terdapat sekelompok orang-orang berkuda yang
sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Mungkin ia akan bertindak
sebelum orang-orang Sanggar Gading menyerahkan Pangeran itu, namun
mungkin pula ia akan bergerak setelah orang-orang Sanggar Gading
menerima pusaka seperti yang di janjikan oleh Daruwerdi. “Daruwerdi
memang Gila“ desis Jlitheng “Ia telah melakukan satu permainan yang
paling gila. Ia mengundang pertumpahan darah dan kematian untuk
memdapatkan sekedar kepuasan pribadi seandainya benar, bahwa
alasannya satu-satunya mengambil Pangeran itu adalah karena Pangeran
itu telah membunuh ayahnya. Karena itulah, maka Jlithengpun kemudian
merasa perlu untuk mempersiapkan dir inya. Ia tidak dapat menunggu
dan bertindak setelah serah terima itu selesai. Ia harus mengambil
satu kesempatan. Jika ia tidak menemukan kesempatan, itu, maka ia
harus bekerja lebih keras lagi jika pusaka itu sudah berada di
tangan orang-orang Sanggar Gading. “Apaboleh buat” berkata Jlitheng
di dalam hatinya “Aku tidak boleh terlambat. Meskipun mungkin aku
akan menarik perhatian orang-orang yang melihat aku berjalan dijalan
padukuhan sambil membawa senjata” Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Namun katanya di dalam hatinya pula “Untunglah aku
membawa senjataku dan menyimpannya disini. Jika senjata itu masih
aku tinggalkan di tempat persembunyiannya itu. aku akan kehilangan
waktu untuk mengambilnya” Dalam pada itu, Jlithengpun kemudian
memutuskan untuk pergi ke bukit gundul. Ia akan mengawasi bukit itu
dari tempat yang tersembunyi. Ia akan memilih tempat yang paling
baik. mumpung tempat itu masih belum dibayangi oleh
kekuatan-kekuatan yang akan saling berbenturan. Namun bagaimanapun
juga, Jlitheng masih akan berusaha untuk tidak terlalu menarik
perhatian. Ia masih akan berusaha untuk menyamarkan senjata yang
akan dibawanya, meskipun ia sudah siap menghadapi segala
kemungkinan. Karena itu, maka iapun segera mengemasi dir inya.
Dengan jantung yang berdebar-debar, bahkan hampir diluar sabarnya,
ia telah pergi menemui ibunya di dapur. “Biyung“ suara Jlitheng
menjadi datar “Aku mohon dir i. Aku akan pergi kesawah” Ibunya
terkejut. Tidak terbiasa baginya, Jlitheng minta diri dengan cara
yang demikian. Biasanya Jlitheng menjenguk saja dipintu sambil
berkata “Aku pergi biyung” Jlitheng melihat sesuatu terbersit dihati
ibunya. Namun rasa-rasanya ia memang harus minta diri dan balikan
minta doa restu. Karena itu, maka Katanya “Di sawah telah menunggu
tugas penting yang harus aku lakukan biyung” “Tugas apa Jlitheng?“
bertanya ibunya. “Kami sedang mempersiapkan bendungan yang lebih
baik biyung, agar sawah kita mendapat air lebih banyak lagi. Tanaman
akan menjadi hijau dan tingkat kehidupan kita dipadukuhan ini akan
bertambah baik” jawab Jlitheng. Biyung yang tua itupun kemudian
bangkit berdiri. Dengan tatapan mata yang dalam ia melangkah
mendekati Jlitheng sambil berkata dengan nada berat “Sikapmu agak
lain Jlitheng. Wajahmu nampak bersungguh-sungguh. Betapa bodohnya
orang tua ini, namun sebenarnyalah bahwa aku sudah menduga bahwa kau
mengemban satu tugas yang tidak aku mengerti. Setiap kali kau pergi
dugaanku itu menjadi semakin kuat. Dan akupun sudah menduga pula,
bahwa pada su-atu saat kau akan datang kepadaku, minta diri untuk
satu tugas yang gawat. Sekarang, ternyata kau sudah melakukannya”
Jlitheng menundukkan kepalanya. Iapun mengerti, bahwa perempuan yang
sudah merasa dirinya sebagai orang tuanya itu, tentu telah dijalari
pula oleh sentuhan-sentuhan jiwani karena getar jiwanya sendiri.
“Jlitheng” berkata perempuan tua itu “Aku t idak wenang untuk
mencegahmu. Pergilah, meskipun aku tidak tahu apa yang akan kau
lakukan. Aku akan berdoa bagimu, mudahmudahan kau dapat melakukan
tugasmu dengan sebaik-baiknya, selamat dan berarti bagi sesama. Aku
tahu bahwa dalam tugasmu kali ini kau tentu tidak sekedar berbuat
sesuatu bagi Lumban Wetan atau bahkan Lumban seluruhnya. Kau tentu
bekerja untuk sesuatu yang lebih besar dan lebih berarti” perempuan
itu berhenti sejenak, lalu “Aku berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
Mudahmudahan yang kau lakukan selalu dalam bimbingannya dan
menjelujur dijalan kebenaran” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Ternyata ibunya yang tua dan sederhana itu mempunyai penggraita yang
tajam, sehingga dapat menangkap apa yang tidak pernah dikatakannya,
namun yang tergetar dihatinya. Ketika ibunya yang tua itu kemudian
memegang kedua pundaknya, terasa seluruh kulit ditubuh Jlitheng
meremang. Apalagi ketika orang tua itu kemudian mengusap rambutnya,
sambil berkata “Jika Yang Maha Kuasa mengkurniakan keselamatan
kepadamu, jangan lupakan aku ngger” Jlitheng menahan nafasnya.
Ketika ia mengangkat wajahnya memandang sepasang mata ibunya,
hatinya semakin tergetar. Perempuan itu menitikkan air mata. “Apa
yang diketahuinya tentang tugasku” bertanya Jlitheng di dalam
hatinya. Namun iapun kemudian kembali dalam kesadarannya, bahwa
perempuan itu tidak ubahnya lagi sebagai ibu kandungnya, sehingga
terdapat ikatan yang paling halus dari kasih sayang seorang ibu
kepada anaknya. “Jangan menangis biyung” berkata Jlitheng “Aku akan
melakukan tugasku sebaik-baiknya. Dan aku akan kembali ke rumah ini,
karena aku memang tidak mempunyai lagi tempat tinggal, orang tua dan
apapun juga kecuali biyung disini” Perempuan itu mengangguk kecil.
Ia mencoba tersenyum betapa pahitnya. Kehadiran seorang anak
laki-laki muda itu membuat rumahnya bagaikan bertenaga. Namun anak
muda itu kini minta dir i untuk meninggalkannya, sebagaimana memang
sudah diduganya dengan gelisah sejak beberapa lama. “Pergilah”
desisnya kemudian. Jlithengpun kemudian mencium tangan perempuan
yang sudah mulai berkeriput karena garis-garis umurnya yang semakin
tua. Ketika ia beringsut surut, Jlitheng masih melihat perempuan itu
mengusap matanya, yang basah meskipun ia masih juga tersenyum.
Dengan hati yang berat, Jlithengpun kemudian meninggalkan rumahnya
yang telah dihuninya beberapa lama bersama seorang perempuan tua
yang mengakunya sebagai anak laki- lakinya yang telah pergi untuk
waktu yang sangat lama dan kembali kepelukan biyungnya. Bukan
sekedar mengaku dalam hubungan kewadagan, namun perempuan itu
benar-benar menganggap Jlitheng sebagai anaknya lahir dan batin.
Seperti yang dilakukan oleh Rahu, maka Jlitheng berusaha
menyembunyikan pedang tipisnya di bawah kain panjangnya. Kemudian
menutupi ikat panggangnya dengan paser-paser kecilnya. Anak muda itu
berjalan dengan tergesa-gesa lewat jalan-jalan pintas untuk
menghindar i sejauh mungkin berjumpaan dengan orang-orang Lumban.
Pada saat itu, dipodoknya Daruwerdi sudah siap menunggu. Ia sudah
meletakkan segalanya di Bukit Gundul. Seperti yang pernah
dikatakannya kepada orang-orang Sanggar Gading, maka serah terima
akan dilakukan di Bukit Gundul itu pula. Demikian orang-orang
Sanggar Gading datang dan menyerahkan Pangeran itu, maka ia akan
menyerahkan pusaka seperti yang dijanj ikan kepada orang- orang
Sanggar Gading. “Aku akan minta Pangeran itu terikat dan tidak
berdaya“ berkata Daruwerdi kepada diri sendiri, karena iapun sudah
memperhitungkan bahwa Pangeran itu tentu memiliki kemampuan yang
tinggi. “Aku tidak mau gagal karena kelengahan semata-mata, setelah
sekian lamanya aku menunggu” berkata Daruwerdi. Namun dalam pada
itu, selagi ia menunggu, maka ia telah dikejutkan oleh kehadiran
seorang perempuan tua dengan dua orang pengiringnya langsung ke
rumah Daruwerdi. “Ibu“ Daruwerdi menyongsongnya dengan tergesa-gesa
“Kenapa ibu datang kemar i? Semuanya sudah aku siapkan. Jika ada
salah langkah yang betapapun kecilnya, maka semuanya akan dapat
gagal sama sekali” “Aku tidak sampai hati kau membiarkan berbuat
segalanya seorang diri” berkata Ibunya “Sudah aku katakan kepadamu,
kau dapat mengambil siapa saja yang kau kehendaki. “Sudah aku jawab,
bahwa tidak memerlukan siapapun juga untuk sementara” jawab
Daruwerdi “J ika aku memerlukan, aku akan segera memberitahukan”
“Tetapi kau sedang bermain api Daruwerdi” berkata perempuan yang
dipanggilnya ibu. “Tanpa bermain api, segalanya tidak akan selesai”
jawab Daruwerdi “Bukankah ibu menghendaki juga agar segalanya cepat
berakhir sampai tuntas?“ “Tetapi akhir yang aku kehendaki, apakah
sama dengan akhir yang kau artikan?“ bertanya ibunya. “Apapun nanti
yang akan terjadi, biarlah aku menerima Pangeran itu. Jika ia sudah
berada di tanganku, segalanya akan dapat diselesaikan” jawab
DaruwerdL “Terserah kepadamu ngger, tetapi aku sengaja mengajak
kedua orang pamanmu untuk mendampingimu. Aku percayai kepada
keduanya, bahwa keduanya tidak akan berbuat apa- apa, selain apa
yang aku katakan” berkata ibunya kemudian. Daruwerdi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Aku berterima kasih bahwa paman berdua
bersedia hadir di tempat ini. Tetapi untuk sementara biarlah paman
keduanya mengawani ibu disini. Karena ibu sudah terlanjur berada di
tempat ini, maka aku mohon, ibu jangan meninggalkan rumah ini apapun
yang mungkin terjadi. Seperti yang sudah aku katakan, jika satu saja
langkah yang salah dari seribu langkah yang sudah aku persiapkan,
maka semuanya akan dapat menjadi gagal” Ibunya menundukkan
kepalanya. Tetapi masih terdengar perempuan itu berdesis “Sekali
lagi aku minta, jangan sakiti badannya dan yang sakiti pula hatinya”
Daruwerdi mengatupkan giginya rapat-rapat Tetapi yang kemudian
terloncat dari bibirnya adalah jawabannya “Sudah aku katakan. Aku t
idak akan berbuat apa-apa” Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Ya. Kau tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi aku menjadi
gelisah sekali” “Ibu. tidak usah memikirkannya lagi” geram Daruwerdi
”apakah keuntungannya? Semua itu adalah persoalanku. Tugas yang
dibebankan diatas pundakku. Betapapun seseorang mampu menahan sakit
hatinya, namun ada hal-hal yang wajar, bahwa aku akan berbuat
sesuatu” namun segera dilanjutkannya “tanpa menyakit i badannya dan
yang meragukan, apakah aku t idak akan menyakit i hatinya” “Kau
harus mengusahakannya” desis ibunya. “Ya. Ya. Aku akan berusaha
sedapat-dapat aku lakukan untuk tidak menyakit i hatinya. Tetapi itu
bukan persoalan ibu” jawab Daruwerdi. “Dalam kegelisahan inilah,
maka aku telah memanggil kedua pamanmu. Sama sekali tidak untuk
menunggui aku disini, karena ia akan dapat membantumu” berkata
ibunya “Bukan maksudku menolak uluran tangan paman berdua. Tetapi
sementara ini, biarlah paman berada disini bersama ibu. Semata-mata
untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan. Aku tidak mau gagal
karena persoalan yang tidak menguntungkan sama sekali dan mungkin
tidak ada gunanya. Jika orang-orang Sanggar Gading melihat aku tetap
seorang diri, maka mereka, tidak akan melakukan tekanan kekerasan,
karena mereka merasa aman. Dan segalanya akan dapat berjalan tanpa
kecurigaan” berkata Daruwerdi. -oo0dw0oo-
Jilid 14 “Tetapi bagaimana jika orang-orang Sanggar Gading
itu menyalahi janji?” gumam ibunya. “Mereka tidak akan berbuat
demikian. Mereka memerlukan pusaka itu. Dan mereka tidiak akan
mencelakai aku karenanya” jawab Daruwerdi. “Sesudah pusaka itu kau
berikan?” berkata ibunya pula. “Apa gunanya mereka berkhianat?
Setelah pusaka itu aku berikan, bukankah lebih baik bagi mereka
untuk segera meninggalkan tempat ini, karena ada kemungkinan-
kemungkinan lain yang mungkin akan mengganggu? Mereka tentu
mempertimbangkan kehadiran orang-orang Kendali Putih, orang-orang
Pusparuri atau orang-orang dari perguruan yang lain yang semuanya
menginginkan pusaka itu. Sementara mereka mengetahui bahwa Pangeran
itu telah diambil oleh segolongan dari mereka yang menginginkan
pusaka itu, maka mereka tentu akan bertindak lebih jauh” jawab
Daruwerdi. Lalu “Nah, itulah maka aku tidak ingin ada orang lain
yang dapat memancing kecur igaan orang-orang Sanggar Gading, Jika
aku sendiri, mereka tidak akan menghiraukan aku lagi. Mereka tidak
akan mempertimbangkan kemungkinan, bahwa aku akan merampas kembali
pusakaku” Perempuan Itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia t idak
membantah lagi. Agaknya Daruwerdi sudah mempertimbangkan
segala-galanya dengan masak, sehingga la tidak akan dapat merubah
keputusannya. Karena perempuan itu tidak menjawab, maka Daruwerdi
berkata lagi “Karena itu ibu, aku persilahkan ibu berada di tempat
Ini dengan tenang. Serahkan segalanya kepadaku. Demikian pula,
dengan ucapan terima kasih aku persilahkan paman menunggui ibu,
Hanya dalam keadaan yang memaksa, aku akan mohon bantuan paman
berdua” Kedua orang laki-laki yang bertubuh tegap dan kekar itu
hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk- angguk
Merekapun telah mengenal watak dan tabiat Daruwerdi dengan baik.
Dalam pada itu Daruwerdipun berkata pula “Sudahlah ibu berada
diruang dalam. Aku sedang menunggu orang-orang Sanggar Gading. Salah
seorang dari mereka akan datang dan member itahukan kepadaku,
apabila kawan-kawan mereka datang. Hari ini adalah hari terakhir.
Jika hari ini mereka tidak datang, maka segala pembicaraan dengan
orang-orang Sanggar Gading dianggap tidak pernah ada, dan agaknya
apa yang mereka katakan tentang Pangeran itu hanya sekedar ceritera
bohong belaka” Perempuan, itu menarik nafas dalam-dalam. Iapun
kemudian bangkit dan berjalan keruiang dalam diikuti oleh kedua
orang yang datang bersamanya. Namun dalam pada itu, perempuan itu
berkata “Daruwerdi, bagaimana jika terjadi kecurangan yang lain”
“Maksud ibu?“ bertanya Daruwerdi. “Mereka tidak membawa Pangeran
itu” jawab ibunya “Jika mereka mengatakan, maka mereka sekedar
memancingmu. Kemudian mereka menangkapmu dan memaksamu menunjukkan
dimana pusaka itu” “Tidak akan mereka lakukan” berkata Daruwerdi
“Aku adalah satu-satunya orang yang mengetahui tentang pusaka itu
menurut dugaan mereka. Mereka tidak akan berbuat apa- apa
terhadapku” “Justru karena itu. Mereka dapat menyiksamu sampai kau
mengatakannya” berkata ibunya lebih lanjut. Tetapi Daruwerdi
tertawa. Katanya “Aku mempunyai gelembung-gelembung racun.
Gelembung-gelembung racun itu ada dimulutku, saat aku menemui
orang-orang Sanggar Gading. Jika mereka berkhianat, maka gelembung
getah beracun itu akan dapat aku telan, sehingga tidak seorangpun
akan dapat menyelamatkan aku. Dan ceritetia tentang pusaka itu akan
lenyap bersama nyawaku” “Jangan” desis perempuan itu. “Ibu. Ingat.
Aku sekarang adalah Daruwerdi yang mempunyai sikap dan perhitungan
tersendir i. Ibu harus menyadari kedudukanku dan siapa aku sekarang
ini” berkata Daruwerdi. Ibunya menundukkan kepalanya. Tetapi setitik
air telah mengalir dipipinya. Namun demikian ia tidak mengucapkan
sepatah katapun. Iapun kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke
ruang dalam diir ingi oleh kedua orang yang disebutnya sebagai paman
Daruwerdi itu. Ketika ketiga orang itu telah hilang dibalik pintu,
maka Daruwerdi kembali duduk merenungi rencananya. Sementara
segalanya akan berjalan dengan penuh kemungkinan. Dalam pada itu,
ternyata di daerah sekitar Sepasang Bukit Mati itu telah berpencaran
orang-orang menunggu peristiwa yang akan terjadi itu dengan hati
yang berdebar-debar. Rahu yang berada dipategalan menunggu
orang-orang Sanggar Gading di jalur jalan seperti yang sudah
direncanakan. Semi dan kawannya telah berada di lereng bukit. Atas
petunjuk Jlitheng ia berhasil mengamati orang-orang berkuda setelah
menyimpan kudanya tidak terlalu jauh dari gubug orang tua di lereng
bukit itu tanpa setahu penghuninya. Sementara Jlitheng telah
menemukan tempat yang paling baik didekat bukit gundul. Namun selain
mereka, ternyata dua orang yang sudah sejak hari sebelumnya berada
di Lumban, bahkan telah melihat meskipun dar i kejauhan, bagaiman
orang-orang Lumban saling memperebutkan air. Bahkan sambil
berkelakar dengan kawannya orang itu sempat berkata “Alangkah
dungunya anak-anak muda Lumban. Dalam keadaan seperti sekarang,
mereka masih sempat memperebutkan air. Pada saat orang-orang yang
memiliki penglihatan akan jauh kedepan sudah memperebutkan pusaka
dan kemungkinan untuk mendapatkan derajad dan pangkat yang setinggi-
tingginya, maka orang-orang Lumban masih saja bergulat dengan
lumpur” Dan kawannya menjawab sambil tertawa tertahan-tahan “Itulah
isi dari bumi. Tanpa orang-orang yang tidak bercita- cita seperti
mereka, maka tidak akan ada orang yang bersedia berkumur lumpur.
Kita dapat berbuat seperti sekarang, karena kita mempunyai
kemampuan. Karena kita bersenjata dan dapat mempergunakan senjata.
Tetapi dengan demikian kitapun telah bertaruh nyawa dalam setiap
langkah kita. Berbeda dengan orang-orang bodoh itu” Kawannya tidak
menyahut. Namun merekapun kemudian memperhatikan keadaan dengan
saksama. Kawan-kawan kedua orang itulah yang kemudian datang dan
beristirahat di bawah bukit berhutan itu. Karena itu, ketika
kawan-kawannya telah datang, maka kedua orang itupun segera menemui
mereka dan melaporkan apa yang telah mereka lihat di daerah Sepasang
Bukit Mati itu. “Apakah kalian tidak melihat persiapan-persiapan
yang dilakukan oleh Daruwerdi?“ bertanya pemimpinnya. “Semalam ia
masih menunggui anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon bertengkar
memperebutkan air. Nampaknya Daruwerdii benar-benar itidak
mempersiapkan sekelompok kecil sekalipun orang-orang yang akan
membantunya dalam pelaksanaan penyerahan Pangeran itu” jawab salah
seorang dari kedua orang yang telah datang lebih dahulu. “Kau
yakin?“ bertanya pemimpinnya. “Ya. Aku menduga, bahwa Daruwerdi
benar-benar akan menghadapi orang-orang Sanggar Gading itu seorang
dir i. la akan menyerahkan pusaka yang dijanjikan dan menerima
Pangeran yang lelah diambil oleh orang-orang Sanggar Gading itu”
jawab orang yang telah mendahului itu. Pemimpinnya
mengangguk-angguk. Tetapi katanya “Kita jangan terpancing oleh
suasana itu. Mungkin disamping Daruwerdi sudah ada orang lain yang
mendapat tugas untuk melakukan sesuatu, justru setelah serah terima
itu dilaksanakan. Mungkin seorang kepercayaannya sudah siap dengan
pasukan segelar sepapan. Mereka akan menyerap dan merampas kembali
pusaka yang dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading” Memang mungkin.
Tetapi aku sudah mengelilingi daerah di sekitar Sepasang Bukit Mati
ini. Aku tidak melihat sesuatu kecuali anak-anak Lumban yang saling
bertengkar karena air. Sementara Daruwerdi sendiri terlibat langsung
dalam pertentangan dtu. Sehingga menurut pengamatanku, Daruwerdi
tidak memper iapkan apapun juga menghadapi persoalan yang akan
berlangsung itu” “Itu mustahil” jawab pemimpinnya “Ia tentu telah
mengadakan persiapan apapun bentuknya. Kita jangan dikelabui dengan
pengamatan yang salah” Orang-orang yang telah berada di Lumban lebih
dahulu itu menjawab “Aku kira, aku sudah melakukan pengamatan
sebaik-baiknya. Namun demikian kita masih mempunyai waktu” “Waktu
kita sudah terlalu sempit. Menurut keterangan yang kita dengar, hari
ini orang-orang Sanggar Gading akan datang” berkata pemimpinnya.
“Lalu, apakah yapg akan kita kerjakan? Apakah kita akan mengambil
Pangeran itu dari tangan orang-orang Sanggar Gading, atau kita akan
mengambil pusakanya kemudian, setelah orang-orang Sanggar Gading itu
menukarkan Pangeran itu dengan pusaka yang dijanjikan oleh
Daruwerdi” bertanya pengikutnya. “Kita tidak terlalu bodoh untuk
bertindak tergesa-gesa. Jika kita mencegat orang-orang Sanggar
Gading sebelumnya, maka ada kemungkinan yang sangat buruk terjadi
pada Pangeran itu” jawab pemimpinnya “Jika saatnya orang-orang
Sanggar Gading harus mengakui kekalahannya, maka ia tidak akan
dengan rela melepaskan Pangeran itu. Mereka tentu menganggap bahwa
lebih baik semuanya tidak mendapatkan pusaka itu daripada gagal
jatuh ditangannya. Orang-orang Sanggat Gading dapat membunuh
Pangeran itu pada saatnya mereka melihat kenyataan, bahwa mereka
tidak akan dapat mempertahankannya” “Tidak ada bedanya” jawab
pengikutnya “Merekapun dapat menghancurkan pusaka yang telah berada
di tangan mereka” “Mereka tidak akan berani melakukan terhadap
pusaka yang dihormati oleh semua orang di wilayah Demak” jawab
pemimpinnya “karena dengan demikian mereka akan dapat terkena kutuk
dari pusaka ku. Bukannya disaat mereka hidup didunia ini, tetapi
pada saat mereka mati, mereka masih akan tetap dijerat oleh kutukan
pusaka itu” jawab pemimpinnya pula. Orang-orang yang bertugas untuk
mengamati keadaan itu mengangguk-angguk. Merekapun percaya, seperti
apa yang dikatakan oleh pemimpinnya itu, sehingga yang mereka
lakukan kemudian adalah sekedar menunggu orang-orang Sanggar Gading
datang ke daerah Sepasang Bukit Mati, menyerahkan Pangeran itu dan
menerima pusaka yang dijanjikan oleh Daruwerdi. Baru setelah itu,
maka mereka akan bertindak langsung untuk merampas pusaka yang
diperebutkan itu. Meskipun demikian, pemimpin kelompok itupun sadar,
bahwa ada beberapa pihak yang menginginkan pusaka itu, sehingga
mungkin yang akan bertarung di daerah Sepasang Bukit Mati itu
terdiri dari beberapa kelompok dari padepokan-padepokan yang memang
sudah sejak lama mempersiapkan diri untuk mendapatkan pusaka itu.
“Mudah-mudahan, tidak ada pihak lain yang mengetahui rencana
orang-orang Sanggar Gading, bahwa mereka akan datang hari ini”
berkata pemimpin kelompok itu. “Aku tidak melihat, kehadiran pihak
lain di daerah Sepasang Bukit Mati ini” berkata pengikutnya pula.
“Baiklah. Akan ada orang lain yang bertugas mengawasi keadaan”
berkata pemimpinnya “Kau dapat beristirahat diantara kami “ Kedua
orang itupun kemudian berkumpul kembali diinduk pasukannya,
sementara orang lain mendapat tugas untuk mengamati keadaan
disekitar daerah itu. Dalam pada itu, matahari beredar terus pada
porosnya. Semakin lama semakin t inggi. Ketika puncak langit telah
dilampauinya, maka matahari itupun mulai menurun ke arah Barat.
Jlitheng benar-benar sudah basah oleh keringat. Tetapi ia tidak
melihat seorangpun mendekati bukit gundul. Karena itu. maka iapun
merasa jemu karenanya. Mungkin ia masih dapat berbuat sesuatu
sebelum saat yang menegangkan itu terjadi. Namun dalam pada itu.,
orang-orang Sanggar Gadingpun telah menjadi semakin dekat. Mereka
memasuki daerah Sepasang Bukit Mati dengan sangat hati-hati. Dua
orang yang mendahului perjalanan iring- iringan sekelompok orang-
padepokan Sanggar Gading mengamati keadaan dengan saksama. Tetapi
nampaknya tidak ada hambatan yang berarti bagi perjalanan mereka.
Ketika terik matahari bagaikan membakar pategalan yang kering, maka
Rahupun seperti Jlitheng pula, hampir kehilangan kesabaran. Apalagi
gersangnya pategalan sama sekali tidak memberikan kesejukan sama
sekali. Beberapa batang pohon yang berdaun kekuning-kuningan telah
melepaskan daun-daunnya selembar demi selembar jika angin mulai
bertiup. Namun demikian, ada juga tempat yang dapat melindunginya
dari jilatan panas matahari. Pada saat yang demikian, jalan-jalan
diantara pategalan itupun menjadi lengang sunyi, seperti ditengah
malam yang gelap pekat. Tidak ada seorangpun yang lewat, apalagi
menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati. Ketika angin bertiup semakin
kencang, terasa sejemput kesejukan mengusap wajah Rahu yang berdebu.
Namjun dengan demikian, diluar sadarnya iapun telah menguap. “Gila“
geramnya “kantuk mulai menggangguku. Jika aku tidak mampu lagi
bertahan, sementara dua orang yang tidak dikenal itu. menemukan aku
disini dan sempat melihat senjataku, maka aku t idak akan dapat
bangun lagi untuk selama lamanya” Karena itu, betapapun kantuk
mencengkamnya, juga karena kelelahan dan kurang tidur, namun Rahu
tetap bertahan untuk duduk bersandar sebatang pohon keluwih yang
tumbuh di pategalan itu. Dalam pada itu, dalam kelengahan jalan
menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati itu, tiba-tiba saja oleh
pendengarannya yang tajam, terdengar derap kaki kuda mendekat. Untuk
meyakinkan pendengarannya maka Rahupun telah menempelkan telinganya
di tanah sambil mengerahkan kemampuan indera pendengarannya.
Kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam “Dua atau
tiga ekor kuda” Rahu berkisar. Ia duduk di belakang pohon keluwih,
sehingga Ia tidak segera dapat dilihat oleh mereka yang lewat
dijalan yang membelah pategalan itu. Semakin lama derap kaki kuda
itupun terdengar semakin dekat. Rahu bergeser agar ia dapat
terlindung. Namun dari tempatnya ia akan dapat mengint ip kuda yang
bakal lewat di jalan beberapa langkah dihadapannya. Ketika dua ekor
kuda menjadi semakin dekat, maka Rahupun berdesis pula “Hanya dua”
sementara iapun mulai memperhatikan siapakah yang berada dipunggung
kuda itu. Sejenak Rahu termangu-mangu. Yang datang dipunggung kuda
itu bukannya Cempaka yang telah bersepakat sebelumnya untuk
menemuinya di tempat yang sudah dijanjikannya, justru diantara
tikungan dengan sebatang pohon yang sudah tidak berdaun lagi,
diujung tegalan. “Tetapi nampaknya mereka mendapat pesan dari
Cempaka” berkata Rahu kepada dir i sendiri. Meskipun Rahu mengenal
keduanya dengan baik, tetapi seperti juga orang-orang Sanggar Gading
yang lain, kadang- kadang mereka dibayangi oleh kecur igaan dan
prasangka. Untuk meyakinkan dugaannya, Rahu tidak segera menyapanya.
Dibiarkannya kedua orang penunggang kuda ku menelusuri jalan
pategalan itu. Bahkan, Rahupun justru berusaha untuk mengamati dan
mengikuti kedua orang itu dari dalam pategalan. Dengan hati-hati ia
meloncat dari sebatang kayu ke sebatang kayu berikutnya, dan dari
balak perdu yang kekuning-kuningan, kesegerumbul perdu yang lain.
“Mereka asyik memperhatikan jalan yang dilaluinya” berkata Rahu di
dalamhati. Sebenarnyalah, ketika mereka melewati ujung pategalan,
salah seorang dari keduanya menunjuk sebatang pohon yang dimaksud
oleh Cempaka. “Nampaknya mereka benar-benar atas nama orang-orang
Sanggar Gading” desis Rahu “agaknya Cempaka member itahukan ciri itu
kepada mereka” Karena itulah, maka Rahupun kemudian mendekati kedua
orang yang masih beradar dipunggung kuda itu. Ketika tiba- tiba saja
ia mendeham, maka kedua orang berkuda itu terkejut karenanya. Dengan
serta merta keduanya berpaling sambil meraba hulu senjata
masing-masing. “Rahu” tiba-tiba salah seorang dar i keduanya
berdesis. “Ya” sahut Rahu “dimana Cempaka” “Ia berada dibelakang,
bersama dengan seluruh kelompok” jawab orang yang masih berada
dipunggung kuda itu. “Siapa yang memimpin kelompok itu?“ bertanya
Rahu. “Yang Mulia sendir i” jawab penunggang kuda itu. Rahu
mengerutkan keningnya Nampaknya pimpinan tertinggi dari padepokan
Sanggar Gading itupun tidak mempercayai orang-orang yang selama itu
menjadi kepercayaannya. Dalam tugas yang paling gawat, maka ia
sendiri yang hadir untuk menyelesaikannya. “Apakah Cempaka berpesan
sesuatu kepada kalian?“ bertanya Rahu kemudan. “Ya. Pohon yang tidak
berdaun ditikungan” jawab salah seorang dari penunggang kuda itu
“Tetapi nampaknya kau menunggu kami disini” “Terlalu panas
ditikungan itu. Tidak ada selembar daunpun yang dapat melindungi aku
dari terik matahari” jawab Rahu “Nah, sekarang apa rencana kalian?“
“Mendengar keteranganmu. Kemudian memberitahukan kepada Yang Mulia
apakah diperjalanan ada hambatan atau tidak sama sekali“ jawab salah
seorang dari penuugaug kuda itu. “Apakah Yang Mulia masih jauh?“
bertanya Rahu. Kedua orang berkuda itu menggeleng. Salah seorang
dari keduanya menjawab “la berada diujung hutan perdu pada jalan
simpang yang jarang dilalui orang, diseberang sungai” “Aku akan
menemuinya” berkata Rahu ”Aku akan dapat melaporkan segala-galanya.
“Apa ada sesuatu yang penting?” bertanya orang berkuda itu. “Ya.
Jika kau tidak berkeberatan, kau berdua menunggu disini. Aku
pinjamsalah seekor kuda kalian” sahut Rahu. “Dimana kudamu?“
bertanya orang berkuda itu. “Aku tinggal di padukuhan” jawab Rahu.
Kedua orang itu saling berpandangan. Namun akhirnya salah seorang
dari keduanya berkata “Baiklah. Tetapi cepat kembali. Kami berdua
belum mengenal daerah ini” “Terima kasih. Sebaiknya kalian
berlindung di pategalan itu saja, seperti yang aku lakukan.
Berhati-hatilah menghadapi setiap kemungkinan. Di lereng bukit
berhutan yang nampak itu, sekelompok orang-orang berkuda telah
menunggu kedatangan orang-orang Sanggar Gading” “Kau tahu pasti?“
desis salah seorang dari kedua penunggang kuda itu. “Aku tahu pasti.
Karena itu berhati-hatilah. Jika diantara mereka ada yang memasuki
pategalan ini, berusahalah mempertahankankan dir i“ pesan Rahu.
“Apakah mereka berkeliaran?“ bertanya kawannya yang baru datang itu.
”Aku tidak tahu. Tetapi menurut perhitunganku, terata ada diantara
mereka yang mengamati daerah Sepasang Bukit Mati ini. Jika satu atau
dua orang memasuki pategalan ini, terserahlah kepadamu. Tetapi lebih
baik, jika mereka tidak pernah keluar lagi dari pategalan ini” jawab
Rahu. “Ya. Mereka atau kami yang t idak akan pernah keluar dari
pategalan ini” jawab salah seorang dari keduanya. “Baiklah.
Berhati-hatilah. Aku pinjam seekor dari kedua ekor kuda itu” minta
Rahu kemudian. Demikianlah, maka Rahupun memacu kudanya menuju ke
tempat yang ditunjukkan oleh kedua orang kawannya itu. Ia merasa
tidak puas j ika ia tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan
Cempaka, atau lebih baik Sanggit Raina atau Yang Mulia sendir i.
Tidak sulit bagi Rahu untuk menemukan dikelompok orang- orang
Sanggar Gading yang berhenti di antara hutan, perdu seujung jalan
setapak yang jarang dilalui orang. Ketika dua orang pengawas melihat
seekor kuda berpacu, maka timbullah kecemasan dihati mereka. Mereka
menyangka bahwa dua orang yang mendahului perjalanan mereka
mengalami kesulitan, sehingga hanya seorang sajalah yang sempat
kembali dengan selamat. Namun keduanya terkejut ketika mereka
melihat, justru Rahulah yang sedang berpacu diatas punggung kuda
itu. “Rahu” desis salah seorang dari mereka “kemana kedua orang yang
telah mendahului iring-ir ingan ini?“ Kawannya tidak menjawab,
sementara Rahupun menjadi semakin dekat. Kedua orang pengawas itupun
kemudian dengan tergesa- gesa telah menyongsong Rahu, sementara
Rahupun telah menarik kendali kudanya. Sebelum Rahu meloncat turun,
salah seorang yang menyongsongnya itu telah bertanya “Apakah kau
tidak bertemu dengan dua orang kawan kita yang mendahului perjalanan
kami ke daerah Sepasang Bukit Mati?“ “Ya” jawab Rahu. “Bagaimana
dengan mereka?“ bertanya seorang yang lain. “Tidak apa-apa. Aku
memakai kudanya, sementara mereka menunggu” jawab Rahu. Kedua orang
itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang berkata “Sukur lah.
Lalu kenapa kau yang datang kemar i?“ Rahu tidak menjawab. Tetapi
justru ia bertanya “Di mana Cempaka” “Ia berada diantara
gerambul-gerumbul perdu itu” jawab salah seorang dari kedua pengawas
itu. Rahupun kemudian meloncat turun dan menuntun kudanya berjalan
diantara gerambul-gerumbul perdu. Beberapa orang yang ternyata
berserakan diantara gerambul-gerumbul perdu dtupun berpaling. Mereka
segera melihat Rahu yang berjalan diantara mereka. “He, kau Rahu”
desis orang yang bertubuh gemuk. “Ya” sahut Rahu. Dan iapun bertanya
“Dimana Cempaka?“ Sebelum orang bertubuh gemuk itu menjawab, maka
terdengar jawaban dari arah lain “Aku disini, Rahu” Rahu berpaling.
Dilihatnya Cempaka berbaring diatas rerumputan kering. Katanya
“Kemar ilah” Rahupun mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu.
Lalu iapun duduk disamping Cempaka yang berbaring seorang diri,
karena kawan-kawannya berserakkan beberapa langkah daripadanya.
“Bagaimana?“ bertanya Cempaka. Rahupun kemudian menceriterakan bahwa
ia bertemu dengan kedua orang yang mendahului perjalanan orang-orang
Sanggar Gading dan kemudian dengan meminjam salah seekor kudanya ia
sengaja menemui Cempaka. “Ada sesuatu yang penting?“ bertanya
Cempaka. Rahupun kemudian menceriterakan pula keadaan daerah
Sepasang Bukit Mati. Juga tentang kehadiran sekelompok orang-orang
berkuda. “Dari padepokan manakah orang-orang itu?“ bertanya Cempaka.
“Aku tidak tahu. Tetapi mereka berada di lereng bukit berbatu itu”
jawab Rahu. Cempaka mengerutkan keningnya. Lalu katanya “Marilah
Kita berbicara dengan Sanggit Raina” Rahupun kemudian dibawa oleh
Cempaka menemui Sanggit Raina untuk menceritakan kembali apa yang
dilihatnya di daerah Sepasang Bukit Mati. “Orang-orang itu
berbahanya bagi kita” gumam Sanggit Raina. “Ya. Apakah mereka harus
dihancurkan lebih dahulu, atau kita akan bertemu dengan Daruwerdi
dan menyerahkan Pangeran itu lebih dahulu” desis Cempaka. “Menurut
pendapatku, kita harus menyerahkan Pangeran itu dahulu. Jika terjadi
sesuatu dengan Pangeran itu, maka Daruwerdi akan dapat mengelak
untuk menyerahkan pusaka yang dijanjikannya” jawab Sanggit Raina
”Namun demikian, aku akan berbicara dengan Yang Mulia. Kalian
menunggu aku disini” Sanggit Rainapun kemudian pergi menemui Yang
Mulia. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Sanggit Raina, seperti
juga sikap Yang Mulia sejak berangkat, mereka menukarkan Pangeran
itu lebih dahulu. Baru mereka akan menghadapi apa saja yang mungkin
terjadi. Namun dalam pada itu, Yang Mulia telah mengambil keputusan
untuk segera melanjutkan perjalanan, justru karena da pihak lain
yang berada di daerah Sepasang Buka Mati, Sehingga dengan demikian,
segalanya akan semakin cepat terjadi, apapun yang aikarj terjadi
itu. Sejenak kemudian, orang-orang Sanggar Gading itu telah bersiap
untuk berangkat. Mereka telah memegang kendali kuda masing-masing
Ketika terdengar isyarat, maka merekapun segera berloncatan naik.
Yang terada dipaling depan adalah Sanggit Raina, Cempaka Rahu yang
menjadi petunjuk jalan, meskipun Cempaka juga sudah mengenal daerah
itu sebaik-baiknya. Beberapa saat kemudian, mereka telah berpacu
menuju ke pategalan, tempat kedua orang Sanggar Gading yang
mendahului perjalanan itu menunggu. Namun dalam pada itu, telah
terjadi sesuatu dengan kedua orang yang menunggu dipategalan.
Ternyata seperti yang dikatakan oleh Rahu, bahwa orang-orang yang
berada di lereng bukit berhutan, telah mengir imkan dua orang untuk
melihat-lihat daerah Sepasang Bukit Mati. Namun mereka telah
mengelilingi daerah itu terlalu jauh. Mereka tidak memperhitungkan
kemungkinan hadirnya orang-orang Sanggar Gading, meskipun mereka
justru menunggu orang- orang Sanggar Gading. Karena itulah, maka
ketika mereka melintas didekat pategalan, mereka telah terkejut
mendengar suara seekor kuda mer ingkik. Sebenarnyalah, kedua orang
Sanggar Gading yang berada di pategalan itu sudah berusaha untuk
tidak menampakkan diri. Tetapi diluar perhitungan mereka, ternyata
kudanya telah mer ingkik. “Aku mendengar suara seekor kuda” berkata
salah seorang dari kedua orang yang mengamati daerah Sepasang Bukit
Mati itu. “Tentu ada orang berkuda yang bersembunyi di dalam
pategalan itu“ desis yang lain. “Persetan. Kita harus menemukannya”
geram yang pertama. “Tidak ada gunanya” sahut kawannya “Kita akan
melaporkan kepada pemimpin kita” “Kita harus membunuhnya. Mereka
tentu mengamati kita. Mungkin mereka telalah orang-orang Sanggar
Gading itu sendiri, yang Lari ini akan datang untuk menyerahkan
Pangeran itu” berkata yang pertama. “Apakah keuntungannya” bertanya
kawannya. “Orang itu tentu melihat kehadiran kita. Mereka akan dapat
melaporkan kepada kawan-kawannya” sahut yang lain “Tidak ada
salahnya. Kita sudah siap menghadapi orang- orang Sanggar Gading”
“Tetapi kita harus membunuhnya, agar ia tidak dapat mencer iterakan
apa yang dilihatnya tentang diri kita. Bukankah kita baru akan
bertindak setelah tukar menukar itu terjadi” berkata orang yang
pertama. Kawannya termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian
berkata “Terserahlah. Tetapi kematiannya bukaa berarti bahwa kita
akan dapat berist irahat sambil tidur nyenyak. Bahwa seseorang atau
dua orang Sanggar Gading tidak kembali keinduk pasukannya, akan
merupakan perhatian tersendiri” “Mereka tidak akan membuang waktu
untuk mengurusinya. Mereka tentu akan melaksanakan tukar menukar
yang aneh itu” jawab yang lain “baru mereka akan mengurusi orang-
orangnya yang hilang” “Tetapi kita tidak tahu, ada berapa orang
dipategalan itu” desis yang lain “dua, tiga atau bahkan semua orang
Sanggar Gading sudah ada di dalam pategalan itu” “Penakut” sahut
kawannya “Aku akan melibatnya” kedua orang itupura kemudian turun
dari kudanya dan menambatkannya pada sebatang pohon di pinggir
jalan. “Aku akan melihat” “Kita bersama-sama” desis yang lain.
Keduanyapun kemudian merayap memasuki pategalan menuju kearah
ringkik kuda. Namun merekapun sadar, bahwa mungkin sekali
orang-orang yang berada dipategalan itu sudah beringsut. Karena itu,
maka mereka cukup waspada, bahwa tiba-tiba saja mereka ielah berada
di dalamjebakan. Sebenarnyalah, kedua orang Sanggar Gading yang
sadar, bahwa kudanya telah melakukan kesalahan, segera menentukan
sikap. Mereka tidak menunggu saja didekat kuda yang meringkik itu.
Tetapi mereka justru telah merangkak maju.Jika orang-orang berkuda
yang lewat itu berusaha mencari mereka, maka keduanya akan menjebak
mereka. Tetapi kedua orang Sanggar Gading itupun tidak berhasil
Demikian mereka siap untuk menyergap, maka kedua orang berkuda tu
sudah melihat dedaunan yang bergetar, sehingga merekapun mengerti,
bahwa orang yang dicarinya telah menunggu. Karena itu, maka kedua
orang iitupua justru berhenti. Melihat getar dedaunan itu, maka
mereka dapat menduga, bahwa yang berada dibalik gerumbul itu tentu
tidak terlalu banyak jumlahnya. Dengan demikian, demikian yakin
mereka kepada diri sendiri, sehingga orang-orang itu tidak khawatir
sama sekali, bahwa mereka akan mengalami kesulitan. Sejenak
kemudian, maka kedua orang yang baru datang itu, terutama orang yang
bernafsu untuk membunuh itu, telah berdiri tegak dan melangkah maju
sambil berkata “Kalian tidak usah bersembunyi disitu. Karian tidak
akan berhasil menjebak kami. Kemar ilah, berapapun jumlah kalian”
Orang-orang Sanggar Gading yang kasar itu benar-benar tersinggung.
Karena iu, maka merekapun segera berloncatan keluar. Salah seorang
diantara mereka berkata lantang “Persetan dengan kalian, He,
siapakah kalian dan dari kelompok yang mana?“ Kedua orang yang baru
datang itu mengerutkan keningnya. Orang yang merasa dirinya terlalu
yakin itupun memandang berkeliling sambil berkata “Mana
kawan-kawanmu. Suruhlah mereka hadir disini” “Untuk apa?“ bertanya
salah seorang dari orang-orang Sanggar Gading itu. Orang-orang yang
baru datang itu justru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian salah
seorang dari mereka menjawab “Kami siap menghadapi kalian. Menurut
pengamatan kami, kalian tentu orang-orang Sanggar Gading” Kedua
orang Sanggar Gading itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja
salah seorang dari mereka berkata “Kau salah Ki Sanak. Aku justru
sedang menunggu orang-Sanggar Gading” Kedua orang yang baru datang
itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang yang pertama
bertanya “Jika kalian bukan orang Sanggar Gading yang menurut
pendengaran kami akan datang har i ini, dari golongan yang manakah
kalian berdua” Kedua orang Sanggar Gading itu termangu-mangu. Namun
tiba-tiba saja yang seorang menjawab “Kami adalah orang Kendali
Putih” Jawaban itu mengejutkan kedua orang yang baru datang itu.
Namun sejenak kemudian keduanya tertawa berkepanjangan. Salah
seorang dari keduanya berkata “Bagus. Jika kau orang-orang Kendali
Putih, kau tentu tahu, apakah yang sekarang dikerjakan oleh
orang-orang Kendali Putih” Ketua orang Sanggar Gading itu terdiam.
Dipandanginya kedua orang yang tertawa itu sejenak. Seolah-olah
mereka memang membiarkan keduanya tertawa sepuas-puasnya. “Kalian
memang bodoh sekali” berkata kedua, orang itu “dengan pengakuan
kalian, aku justru semakin yakin bahwa kau adalah orang-orang
Sanggar Gading” “Kami orang-orang Kendali Putih“ sekali lagi orang
Sanggar Gading itu menjawab. “Jangan dungu. Jika kalian orang-orang
Kendali Put ih, kalian tentu dapat menceriterakan serba sedikit
tentang padepokan Kendali Putih” jawab kedua orang yang datang
kemudian. “Apa artinya aku berceritera tentang padepokanku, tentang
pemimpin-pemimpinku dan tentang rencana kami. Seandainya
menyebutkannya, kalian tidak akan mengetahuinya pula” jawab salah
seorang dari kedua orang Sanggar Gading itu. “O” Orang yang datang
kemudian itu tertawa semakin panjang “betapa bodohnya kalian.
Baiklah, Jangan sebut apapun tentang Kendali Putih, Memang tidak
akan ada gunanya. Tetapi yang kalian lakukan adalah satu pengakuan,
bahwa kalian memang orang-orang Sanggar Gading. Hari Ini orang-orang
Sanggar Gading akan datang di daerah Sepasang Bukit Mati untuk
membawa Pangeran itu” Orang itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi,
baiklah. Jika kau memang bukan orang- orang Sanggar Gading, dan
kalian mengaku orang-orang Kendali Putih, akulah orang-orang Sanggar
Gading itu” Kedua orang Sanggar Gading itu termenung sejenak. Namun
tiba-tiba saja salah seorang dari keduanya tertawa meledak,
sementara yang lain tersenyum sambil berkata “Memang lucu sekali.
Kau terlalu cepat menganggap kami orang-orang yang sangat bodoh.
Bahkan dungu. Baiklah, jika demikian. Kau akan segera memastikan
bahwa kami adalah orang-orang Sanggar Gading, karena tingkah laku
kami merupakan pengakuan Tetapi sebenarnya bahwa yang kau lakukan
itupun suata pengakuan, bahwa kau adalah orang- orang Kendali Putih
Bukankah begitu? Jika kau menganggap kami terlalu bodoh maka kamipun
menganggap kalian demikian juga” Kedua orang yang sebenarnya memang
orang-orang Kendali Put ih itu termangu-mangu. Namun kemudian
merekapun tertawa. Salah seorang dari mereka berkata “Katakanlah kau
benar, bahwa aku orang Kendali Putih, atau orang manapun juga. Namun
bagi kau berdua, tidak akan ada bedanya” “Mungkin demikian” berkata
orang-orang Sanggar Gading “senjata kami memang tidak pernah memilih
korban” Kedua orang Kendali Putih itu menggeraikan keningnya.
Ternyata orang-orang Sanggar Gading itulah yang justru telah
mengancam lebih dahulu. Karena itulah agar mereka tidak terpengaruh
oleh kegarangan lawannya, salah seorang Kendali Putih itupun berkata
”Kami datang dengan kepentingan yang khusus. Kami mendengar kudamu
meringkik. Tidak seorangpun yang boleh mengetahui bahwa kami berada
didaerah Sepasang Bukit Mati ini. Karena itu, nasibmu memang buruk
sekali. Kudamu tidak berhasil membantumu, justru telah menjerumuskan
kalian berdua ke dalam kematian” Tetapi orang-orang Sanggar Gading
adalah orang-orang kasar. Mereka adalah orang-orang yang bercanda
dengan maut sejak mereka melampaui padang kematian menjelang
padepokan Sanggar Gading. Karena itu, maka merekalah yang tidak
telaten berbincang dengan orang-orang Kendali Putih. Maka katanya
“Kita tidak usah banyak bicara. Kau tentu ingin membunuh kami karena
kami mengetahui kehadiran kalian. Tetapi kamipun ingin membunuh
kalian berdua karena kalian berada disini” Kedua orang Kendali Putih
itupun ternyata tidak kalah kasarnya. Keduanya bahkan segera bersiap
dengan senjata mereka. Sambil bergeser mereka mengacungkan
senjatanya itu “Rundukkan kepalamu Aku akan memenggalnya”
Orang-orang Sanggar Gadipg tidak menjawab. Tetapi senjata mereka
telah teracu. Bahkan sejenak kemudian mereka mulai menggerakkan
senjata mereka. Salah seorang dari kedua orang Sanggar Gading itu
berkata “Jangan banyak bicara lagi. Kalian akan mat i terkapar
dipategalan ini” Orang-orang Kendali Putih tidak menjawab. Namun
merekapun segera bergeser maju. Sentuhan senjata mereka telah
disusul dengan loncatan-loncatan yang cepat. Serangan demi serangan
telah melibat mereka ke dalam satu pertempuran yang sengit. Ternyata
orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih itu
memiliki kemampuan yang seimbang. Mereka saling menyerang dan
menghindar. Desak mendesak silih berganti. Masing-masing ternyata
telah berusaha untuk bertempur seorang melawan seorang, sehingga
sejenak kemudian dipategalan itu telah terjadi dua lingkaran
pertempuran yang seru dan kasar. Semakin lama pertempuran itu
menjadi semakin sengit. Orang-orang Kendali Putih yang garang, harus
mengakui betapa kasar dan tangguhnya orang-orang Sanggar Gading.
Meskipun demikian, namun orang-orang Sanggar Gading itupun tidak
mampu mendesak lawannya, karena orang-orang Kendali Putih itupun
dapat bergerak dengan tangkas dan cepat. Namun demikian, ternyata
bahwa kemampuan kedua orang Sanggar Gading dan kedua orang Kendali
Putih itu tidak sama. Karena itulah, maka yang terjadipun tidak
sejalan pula. Orang Kendali Putih yang bernafsu membunuh orang-orang
yang berada dipategalan itu telah berhasil mendesak lawannya. Tetapi
sebaliknya, kawannya telah mengalami tekanan yang terasa semakin
lama menjadi semakin berat. “Gila“ geram orang Kendali Putih itu
“Jangan kehilangan kebesaran nama Kendali Put ih. Bunuh saja
lawanmu” Tetapi orang Sanggar Gading itu berkata “Akhir dari
pertempuran ini tidak ditentukan oleh kemampuan kita
berteriak-teriak Tetapi senjata kitalah yang akan lebih banyak
menentukan” Orang Kendali Putih itu menggeram. Yang seorang dari
keduannya telah mendesak lawannya semakin berat. Namun dalam pada
itu, yang seorang lagi telah mengalami kesulitan untuk menghindarkan
dir i dar i ujung senjata lawannya. Tetapi orang Sanggar Gading yang
mendapat lawan yang berat itu tidak cepat menjadi putus asa.
Meskipun lawannya memiliki kekuatan raksasa, namun ia beruraha untuk
mengimbangi kekuatan lawannya itu dengan kecepatan bergerak. Karena
itulah, maka lapun berusaha untuk bertempur dengan jarak yang tidak
terlalu dekat. Bahkan kadang-kadang ia harus meloncat menjauh.
Berputar dan kemudian menyerang dengan cepatnya. Nampaknya usahanya
itu dapat berhasil. Tekanan orang- orang Kendali Put ih itu terasa
tidak lagi terlalu berat. Meskipun demikian, ia harus memeras
tenaganya habis-habisan untuk dapat bergerak cepat. Karena jika ia
menjadi lamban dan lawannya itu mampu mengimbangi kecepatan
geraknya, maka ia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi, karena
ternyata lawannya mempunyai kekuatan yang lebih besar. Tetapi
ternyata ketahanan hati dan kekasaran orang Sanggar Gading itu
berhasil membuatnya mampu bertahan beberapa saat. Dan hal itu ikut
menentukan pula akhir dari pertempuran itu, karena keseimbangan pada
lingkaran pertempuran yang lain semakin berguncang pula. Orang
Sanggar Gading yang lain, telah berhasil menguasai lawannya.
Kemampuannya menggerakkan senjata ternyata telah membuat orang
Kendali Put ih itu menjadi bingung- Kadang-kadang bahkan ia telah
kehilangan arah, sehingga serangan-serangan berikutnya adalah
serangan-serangan yang sangat berbahaya baginya. Kawannya yang
melihat, berusaha untuk segera menyelesaikan pertempuran agar ia
dapat membantunya. Tetapi orang Sanggar Gading yang bertempur
melawannya, ternyata mampu untuk bertahan lebih lama. Dengan
loncatan- loncatan panjang dan serangan yang tiba-tiba. Meskipun
orang Kendali Putih itu memiliki kekuatan yang lebih besar, tetapi
ia sulit untuk bergerak secepat lawannya. Orang Kendali Putih itu
terkejut ketika tiba-tiba saja ia nendengar kawannya berdesah
panjang. Ketika ia sempat menengoknya, ia melihat darah mulai
menitik dari tubuhnya. “Gila“ geram orang Kendali Putih itu.
Meskipun kawannya yang terluka itu masih berusaha untuk bertempur
terus, betapapun ia cepat menjadi lemah, namun dar i pertempuran itu
sudah pasti. Dengan demikian, maka kemarahan telah memuncak di hati
orang Kendali Putih yang seorang. Dengan garang ia menggeram “Kaulah
yang dungu. Kenapa kau sampai terluka. Jangan lengah. Kau adalah
orang-orang yang termasuk dalam sejumlah kecil orang-orang yang
dapat dibanggakan, karena kau dapat diterima diantara mereka yang
sedikit di padepokan Kendali Putih” Orang itu terdiam karena
lawannya, orang Sanggar Gading, telah menyerangnya dengan cepat
mengarah kemulutnya. “Orang Gila“ geram orang Kendali Putih itu.
Sebenarnyalah orang yang sudah terluka itu masih berusaha untuk
mengerahkan sisa kemampuannya. Betapun berat tekanan lawannya, namun
ia tidak menyerah dan berputus asa. Sementara itu, orang Kendali
Putih yang seorang lagi, berusaha untuk mendesak lawannya. Ternyata
ia memiliki tenaga dan ketahanan tubuh yang luar biasa. Karena itu,
maka ia berhasil memaksa lawannya yang mampu bergerak lebih cepat
itu untuk memeras tenaga. Dalam pada itu, maka orang Kendali Putih
itu seolah-olah tidak lagi berusaha untuk menghindari setiap
serangan. Tetapi ia selalu membenturkan kekuatannya. Menangkis semua
serangan sehingga dalam benturan kekuatan, ia berusaha untuk dengan
cepat membuat tenaga lawannya susut. Ternyata usahanya itupun
berhasil. Meskipun orang Sanggar Gading itu mampu bergerak cepat,
tetapi benturan- benturan yang terjadi telah membuat tangannya
menjadi sakit dan tenaganyapun menjadi susut Meskipun demikian, ia
masih sempat berloncatan. Sekali sekali ia sempat menyerang dari
arah yang sama sekali tidak diduga oleh lawannya. Ketika lawannya
membenturkan senjatanya, maka orang Sanggar Gading itu telah dengan
cepatnya berhasil mengelabuinya. Benturan itu tidak terjadi, tetapi
sen jata orang Sanggar Gading itu berputar dengan cepat. Satu
loncatan kecil telah menggeser arah serangan orang Sanggar Gading
itu, sehingga orang Kendali Putih itupun tidak sempat mengelak lagi.
Dengan demikian, sebuah goresan telah menyobek pundaknya. Meskipun
tidak begitu dalam, tetapi terasa luka itu menjadi pedih oleh ker
ingat yang membasah. Orang Kendali Putih itu menggeram. Kawannya
telah terluka, dan ia sendiri terluka pula. Namun dalam pada itu,
orang Kendali Putih itupun kemudian menjadi semakin garang. Meskipun
lawannya mampu bergerak cepat, tetapi melawan tenaga yang besar dan
kemarahan yang membara, maka orang Sanggar Gading itu harus sangat
berhati-hati karenanya. Tetapi suatu ketika, orang Sanggar Gading
itu telah membuat satu kesalahan. Ketika serangannya dapat
ditangkis, ia segera menarik senjatanya meloncat kesamping. Namun
ternyata lawannya sudah memperhitungkannya. Karena itu, maka
lawannya telah memotong geraknya dengan sebuah ayunan senjata yang
sangat kuat. Orang Sanggar Gading itu terkejut. Dengan serta merta
ia menangkis serangan itu, karena ia sudah tidak mendapat kesempatan
untuk meloncat menghindar. Namun ternyata benturan yang terjadi
telah berakibat gawat baginya. Kekuatan orang Kendali Putih itu
ternyata tidak terlawan lagi oleh orang Sanggar Gading itu, sehingga
ia tidak berhasil mempertahankan senjatanya. Karena itulah, maka
senjatanyapun telah terlepas dari tangannya. Kesempatan itu tidak
disia-siakan oleh lawannya. Sekali lagi ia menggerakkan senjatanya,
tidak terlalu keras dalam ayunan mendatar. Yang terdengar adalah
desahan panjang. Ternyata bahwa senjata itu telah menggores lambung.
Kawannya, orang Sanggar Gading yang telah melukai lawannya, melihat
kawannya terluka. Dengan suara bergetar karena marah ia berteriak
“He, kenapa kau serahkan nyawamu pada orang gila itu. Bukankah kau
telah berhasil melampaui padang kematian dan menjadi anggauta dari
para cantrik dipadepokan Sanggar Gading?“ Orang yang terluka itu
tidak sempat menjawab. Tetapi ia bergeser surut sambil memegang
lambungnya yang terluka. Sementara itu lawannya tertawa
berkepanjangan. Nampak oleh orang Kendali Putih itu, bahwa lawannya
tidak akan dapat bertahan lagi. Ia akan segera mati dan kemudian ia
akan dapat bertempur bersama kawannya yang terluka melawan orang
Sanggar Gading yang seorang lagi. Namun dalam pada itu, tiba-tiba
saja suara tertawanya telah terputus. Ia mendengar kawannya
berteriak. Kemudian ia sempat melihat kawannya itu menggeliat dan
jatuh di tanah. “Gila“ geramnya. Pada saat ia terpukau melihat
kawannya terjatuh dan nampaknya tidak akan dapat bangkit kembali
meskipun barangkali ia masih belum mat i. Karena itu, maka ia harus
membuat perhitungan dengan cermat. Orang yang tergores lambungnya
itu masih sanggup berdiri meskipun darah mengalir dari lukanya.
Sementara kawannya dari Sanggar Gading itu telah terbebas dari
lawannya yang terbaring di tanah. Karena itu, maka orang Kendali
Putih itupun segera mengambil sikap. Ia tidak ingin tertangkap atau
terbunuh. Sementara dua orang Sanggar Gading itu tentu akan menjadi
lawan yang sangat berat baginya. “Jika aku mati, maka tidak akan ada
orang yang member itahukan perist iwa ini kepada pimpinan kami yang
menunggu di lereng bukit itu” berkata orang itu di dalam hatinya.
Dengan demikian maka iapun harus mengambil keputusan dengan cepat,
sebelum orang Sanggar Gading itu sempat mendekatinya. Disaat orang
yang terluka lambungnya itu termangu- mangu, menunggu kemungkinan
yang bakal terjadi atasnya, maka terjadilah sesuatu yang
mengejutkannya. Orang Kendali Putih itu tidak memburunya dan
mempergunakan kesempatan yang pendek sebelum kawannya dari Sanggar
Gading membantunya. Namun bahkan orang Kendali Putih itu telah
meloncat berlari meninggalkan arena. Orang yang terluka lambungnya
itu tidak sempat meloncat mengejarnya karena perasaan pedih di
lambungnya. Sementara itu, kawannya yang telah berhasil menjatuhkan
lawannya itulah yang telah bersiap untuk mengejarnya. Tetapi orang
Sanggar Gading itu terlambat beberapa saat. Orang Kendali Putih
itupun dengan cepatnya hilang dibalik pepohonan di pategalan.
Meskipun demikian orang Sanggar Gading itu tidak melepaskannya
begitu saja. Iapin masih tetap beiusaha mengejar orang Kendali Putih
itu. Sekilas ia masih melihat dedaunan yang bergoyang. Karena itu
iapun mengerahkan tenaganya untuk memburu. Ketika ia melihat orang
Kendali Putih itu meloncat kearah kudanya dan kemudian berusaha
melepaskan talinya, maka ia mulai berpengharapan. Namun ternyata
bahwa orang Kendali Putih itu sempat naik ke punggung kudanya. Orang
Sanggar Gading tidak mau melepaskannya begitu saja. Dengan geramnya
ia menyerang orang Kendali Putih itu. Namun orang Kendali Putih itu
sempat menggerakkan kudanya dan justru dengan tangkasnya ia
menangkis serangan lawannya dan sekaligus memutar senjatanya. Orang
Sanggar Gading itu terdorong surut. Ketika ia melangkah lagi, kuda
orang Kendali Putih itu rasa-rasanya justru akan menerjangnya
sehingga ia harus meloncat kesamping. Kemudian, tidak ada harapan
lagi baginya untuk dapat menangkap orang Kendali Putih itu. Dengan
geram ia memandang kuda yang berderap meninggalkan pategalan itu.
“Gila“ geram orang Sanggar Gading itu. Yang kemudian didapatkannya
adalah seekor kuda milik orang Kendali Putih yang terluka itu. Namun
dalam pada itu, tiba-tiba saja terasa pedih dilengannya. Ketika ia
meraba lengannya, maka jari- jarinya itupun menjadi merah oleh
darah. “Anak iblis “Orang itu mengumpat “justru orang itulah yang
telah melukai aku” Untunglah luka itu tidak begitu dalam. Justru
pada saat orang Kendali Putih itu mekr ikan dir i, ia masih sempat
menggoreskan luka di lengannya. Orang Sanggar Gading itu kembali
kepada kawannya yang terluka. Dilihatnya kawannya duduk dengan wajah
yang pucat dan tubuh yang gemetar menahan sakit. “Cobalah” berkata
kawannya “obati lukamu” Tetapi orang itu sudah terlalu lemah. Karena
itu, maka kawannyalah yang kemudian mencoba untuk menaburkan obat
yang memang tersedia pada setiap orang Sangar Gading. Meskipun obat
itu terasa pedih dilukanya, tetapi obat itu akan membantu mengurangi
arus darah yang mengalir dan bahkan jika tidak terlalu parah, akan
dapat memampatkannya. Dalam pada itu, setelah menaburkan obat pada
luka kawannya, orang Sanggar Gading itupun kemudian menengok orang
Kendali Putih yang terbaring diam. Betapapun juga orang Sanggar
Gading adalah orang yang kasar dan garang. Meskipun ia melihat orang
itu masih bernafas, tetapi tidak ada sedikitpun niatnya untuk
menolongnya. “Persetan dengan kau” geram orang Sanggar Gading.
Baginya keadaan seperti itu sudah terlalu sering dijumpainya di
padang kematian menjelang padepokan Sanggar Gading yang merupakan
daerah pendadaran orang-orang yang melalui jalur jalan menuju ke
padepokan, sengaja atau tidak sengaja. Namun dalam pada itu orang
Sanggar Gading itupun menjadi bimbang. Apakah ia akan membawa
kawannya yang lerluka itu kembali kepada kawan-kawannya atau ia akan
menunggu saja dipategalan itu. Tetapi menilik keadaan kawannya,
agaknya ia tidak akan dapat berkuda sendiri. “Aku akan
menyembunyikan saja disini. Aku akan pergi menyusul Rahu. Agaknya
orang-orang inilah yang akan dikatakannya kepada Cempaka atau
Sanggit Raina” berkata orang itu kepada dir i sendir i. Demikianlah,
maka orang Sanggar Gading itu telah membawa kawannya ke tempat yang
lebih dalam lagi dan membar ingkannya diantara pepohonan di
pategalan. “Tahankan. Kau adalah orang Sanggar Gading. Kau telah
berhasil melalui padang perburuan. Jangan mati disini. berkata orang
Sanggar Gading itu kepada kawannya yang terluka, di tempat kita
bertempur melawan orang-orang Kendali Putih, terdapat salah seorang
dari mereka yang hampir mati. Sebentar lagi ia akan mati, dan
sementara itu, aku tidak berhasil menangkap kawannya. Bahkan ketika
sudah berada dipunggung kudanya, ujung senjatanya sempat menggores
tubuhku. Tetapi lukaku tidak berarti apa-apa. Aku akan menyusul
kawan-kawan kita” “Bagaimana j ika pemilik pategalan ini datang
kemari?“ bertanya orang Sanggar Gading yang terluka. “Kau dapat
mengancamnya, dan kau dapat menahan orang itu agar tidak
meninggalkanmu dan memberitahukan kehadiranmu kepada siapapun juga.
Ia akan ketakutan jika kau mengancamnya. Katakan, bahwa kawan-kawan
kita akan datang membunuhnya jika ia tidak menurut per intahmu”
“Kalau orang Kendali Putih yang datang dan menemukan aku disini?“
bertanya orang itu. “Sementara itu, orang-orang kita tentu sudah
datang” jawab kawannya. Orang yang terluka itu tidak menjawab.
Kawannya sengaja menambatkan seekor kuda milik orang Kendali Putih
itu didekat tempat orang Kendali Putih itu terbaring. Dalam pada
itu. maka iapun segera mempergunakan kudanya sendiri berpacu keinduk
pasukannya. Segalanya harus berjalan cepat. Jika orang-orang Kendali
Putih bergerak lebih cepat, mungkin akibatnya akan berberda. Kecuali
j ika Yang Mulia sengaja mengambil sikap yang tidak sesuai dengan
jalan pikirannya itu. Sejenak kemudian kuda orang Sanggar Gading
itupun berlari bagaikan terbang. Seperti juga orang Kendali Putih
yang memacu kudanya ke tempat kawan-kawannya sedang beristirahat.
Tetapi orang Sangpar Gading itu tidak perlu berpacu terlalu lama.
Ketika ia sampai disebuah tikungan, maka iapun dengan tergesa-gesa
menarik kendali kudanya. Sejenak ia termangu-mangu. Namun akhirnya
ia yakin, bahwa yang datang itu adalah kawan-kawannya. Sementara ia
melihat Sanggit Raina berada di paling depan. Karena itu. maka iapun
segera melanjutkan meskipun tidak terlalu kencang. Rahu menjadi
cemas melihat orang yang nampaknya tergesa-gesa itu. Karena itu maka
iapun segera mendahului Sanggit Raina menyongsong orang yang datang
itu. “Kenapa?“ bertanya Rahu tidak sabar. “Orang Kendali Putih itu
benar datang ke pategalan” jawab orang itu. “Kendali Put ih?“
bertanya Rahu. “Ya. Aku akan melaporkannya” jawab orang itu pula.
Rahu tidak menahannya lagi. Kemudian diikutinya orang itu menghadap
Sanggit Raina. “Apa yang terjadi?“ bertanya Sanggit Raina, yang
memberi pertanda agar iring-ir ingnya berhenti Orang itupun kemudian
menceritakan apa yang telah terjadi. Tentang dua orang Kendali Putih
yang datang ke pategalan tempat ia menunggu, sehingga kawannya telah
terluka cukup parah. Sanggit Raina mengangguk-angguk. Katanya akan
pergi kepategalan itu. Tetapi aku akan melaporkan, apakah Yang Mulia
akan mengambil satu tindakan khusus” Demikianlah, maka Sanggit Raina
telah menyampaikan masalahnya kepada Yang Mulia, yang memimpin ir
ing- iringan itu. Namun ternyata Yang Mulia tetap pada pendir
iannya. Katanya “Kita harus menyelesaikan masalah besar kita dengan
anak yang menyebut dir inya Daruwerdi itu. Baru kemudian kita akan
berurusan dtngan pihak-pihak lain” “Tetapi bagaimana jika merekalah
yang mengambil sikap lebih dahulu” bertanya Sanggit Raina.
“Bersiaplah. Kemungkinan itu memang dapat terjadi” jawab Yang Mulia.
Sebenarnyalah, saat itu orang-orang Kendali Putih telah mengambil
keputusan “Mereka sudah mengetahui kehadiran kita. Karena itu, kita
akan datang kepada mereka, merebut Pangeran yang sedang sakit itu.
Apapun yang akan terjadi. Jika dengan demikian mereka akan membunuh
Pangeran itu, apa-boleh buat. Kita akan bersama-sama tidak memiliki,
daripada pusaka itu berada di tangan orang-orang Sanggar Gading”
Keputusan yang tergesa-gesa itupun telah menimbulkan sikap yang
tergesa-gesa pula. Terbakar oleh laporan orang Kendali Putih yang
telah kehilangan seorang kawannya, maka pemimpinnya menganggap bahwa
tidak ada lagi alasan untuk menunda, karena justru orang Sanggar
Gading itu telah mengetahui dengan pasti kehadirannya dan bahkan
mungkin justru orang-orang Sanggar Gading itulah yang akan bertindak
lebih dahulu. “Kita tidak boleh membiarkan dir i kita dihina
sedemikian rupa” berkata seorang yang berkumis lebat ”Selebihnya,
bertindak sekarang dan kemudian tidak akan banyak bedanya. Aku kira
orang-orang Sanggar Gading tidak akan membunuh Pangeran itu, karena
mereka tentu memperhitungkan bahwa pada satu kesempatan yang lain,
mereka akan berusaha merebut kembali apa yang terlepas dari tangan
mereka hari ini” Orang-orang Kendali Putih itu mengangguk-angguk.
Kemudian pemimpinnya berkata “Kita akan bertindak sekarang. Kita
tahu, diantara mereka terdapat orang yang disebut Panembahan Wukir
Gading. Tidak ada orang yang dapat mengalahkannya, kecuali Eyang
Rangga” “Bukankah Eyang Rangga sudah berada di tengah-tengah kita
sekarang?“ desis orang berkumis lebat itu. “Ya. Aku akan menghadap
dan mengatakan kepadanya. Mudah-mudahan penyakit dungunya tidak
kambuh di saat yang gawat ini” berkata pemimpin orang-orang Kendali
Putih itu. Orang berkumis lebat itu menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Baiklah. Kita memang harus minta persetujuannya karena
diantara orang-orang Sanggar Gading terdapat Panembahan itu sendiri”
Pemimpin dari orang-orang Kendali Put ih itupun kemudian dengan
ragu-ragu datang kepada seorang tua yang duduk bersandar sebongkah
batu padas sambil menghitung ruas jari- jari tangannya. Tidak ada
hentinya-henlinya. Ruas-ruas jari tangannya itu dihitung sejak dari
ruas kelingking tangan kir i, sampai keruas ibu jari tangan kanan.
Kemudian diulanginya kembali menghitung ruas kelingking tangan
kirinya dan seterusnya. Tidak seorangpun yang tahu, sampai hitungan
angka keberapa yang lelah diucapkannya, atau setiap kali ia
mengulang angka-angka dar i bilangan permulaan. Orang tua itu
mengerutkan keningnya ketika ia melihat pemimpin dari kelompok
orang-orang Kendali Putih itu datang mendekatinya. “Kami akan
berbicara sedikit Eyang” berkata pemimpin orang- orang Kendali Putih
itu. “Marilah” jawab orang tua itu “Duduklah” Pemimpin orang Kendali
Putih itupun kemudian duduk dihadapannya. Sementara untuk sesaat,
Eyang Rangga itu masih menghitung ruas jari-jari tangannya. “Ada
yang penting dan mendesak Eyang” berkata pemimpin kelompok
orang-orang Kendali Putih itu. “Ya. ya. Tunggu sebentar . Aku akan
membulatkan hitungan ini” jawab Eyang Rangga. Pemimpin orang-orang
Kendali Putih itu tidak mendesak. Jika demikian, mungkin yang
terjadi justru berlainan dari yang diharapkan. Jika orang tua itu
mulai mengumpat, maka ia harus menunggu lebih lama lagi. Karena itu,
maka betapapun juga, ia memaksa diri untuk bersabar. Dalam pada itu,
orang berkumis lebat itupun telah duduk beberapa langkah di belakang
pemimpin kelompok Kendali Putih itu bersama seorang kawannya. Namun
justru kawannya itu berbisik perlahan ditelingannya ”Mereka harus
bertempur sekarang” “Aku berusaha. Aku sudah membakar kemarahan
pemimpin kita” berkata orang berkumis lebat. “Jika berhasil, maka
orang Pusparuri akan menjadi lebih ringan menghadapi keadaan.
Keduanya tentu sudah cukup parah. Dan kau akan mendapat hadiah
seperti yang kau harapkan itu” desis kawannya. Orang berkumis lebat
itu menyentuh tangannya dengan sikunya. Sementara itu, orang yang
disebut Enyang Rangga itu masih menghitung ruas jari-jarinya
sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas sambil berdesis “Aku
sudah mencapai hitungan bulat. He, kalian mau apa?“ Pemimpin dari
orang-orang padepokan Kendali Putih itupun kemudian berkata “Eyang.
Ada sesuatu yang penting yang perlu Eyang ketahui” “Tentang pusaka
itu? Atau tentang orang-orang Sanggar Gading?“ bertanya Eyang
Rangga. “Tentang orang-orang Sanggar Gading” jawab pemimpin
orang-orang Kendali Putih itu. “Katakan?“ sahut Eyang Rangga.
Pemimpin kelompok Kendali Putih itupun kemudian mencer iterakan apa
yang telah terjadi. Dan seorang Kendali Putih telah menjadi korban.
Pemimpin orang-orang padepokan Kendali Putih itu menjadi
berdebar-debar ketika ia melihat Eyang Rangga itu tertawa. Katanya
“Baru seorang diantara kita mati, kau sudah menjadi gelisah. Kau
harus sadar, bahwa yang kemudian akan mati jumlahnya akan meningkat
menjadi separo diantara kita. Mungkin kau, aku dan he, siapa yang
duduk disana?“ Pemimpin Kendali Putih itu berpaling. Dilihatnya
orang berkumis lebat dan seorang kawannya duduk beberapa langkah
dibelakangnya. “Orang-orang kita” jawab pemimpin Kendali Putih itu
“ialah yang memberikan pertimbangan dan sesuai dengan perhitunganku
pula, bahwa sebaiknya kita mendahului orang- orang Sanggar Gading.
Soalnya bukan satu kegelisahan karena kematian, tetapi justru karena
harga diri dan perhitungan-perhitungan lain. Bagiku, kita lebih baik
mendahului orang-orang Sanggar Gading daripada kita harus bertahan
disini” Eyang Rangga mengangguk-angguk. Katanya “Jadi kita akan
menyerang orang-orang Sanggar Gading? Menurut perhitunganmu, mereka
tentu berada di pategalan, di tempat seorang kawannya terluka.
Bukankah begitu?“ “Ya. Jika mereka masih belum ada di patcgalan,
kita akan menunggu sampai saatnya mereka lewat. Lebih baik kita
beristirahat di pategalan itu sekaligus mencegat orang-orang Sanggar
Gading daripada kita menunggu disini” jawab pemimpin orang-orang
Sanggar Gading itu. Orang yang disebut Eyang Rangga itu mengangguk-
angguk. Lalu katanya “Terserah menurut pertimbanganmu. Aku sudah
siap kapanpun dan dimanapun” “Terima kasih Eyang” jawab pemimpin
kelompok orang- orang Kendali Putih itu. “Apa yang terima kasih”
tiba-tiba saja Eyang Rangga itu bertanya. “Kesediaan Eyang” jawab
pemimpin orang-orang Kendali Putih. “Gila“ tiba-tiba Eyang Rangga
itu membentak “Apa maumu sebenarnya he?“ Pemimpin orang-orang
Kendali Putih itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak menjawab
lagi. “Aku sudah sampai disini. Kau masih mengucapkan terima kasih
atas kesediaanku. He, apakah kau sudah kesurupan hantu bukit mati
itu?“ Eyang Rangga itu membentak semakin keras. Pemimpin orang-orang
Kendali Put ih itu sama sekali t idak menjawab. Ia sudah mengenal
tabiat orang yang disebut Eyang Rangga, sehingga dengan demikian
maka pemimpin orang-orang Kendali Putih itu diam saja ketika Eyang
Rangga itu mengumpat-umpat berkepanjangan. Sepatah kata saja ia
menjawab, Eyang Rangga akan dapat mengambil sikap yang tidak
menguntungkan. Namun dalam pada itu, meskipun sambil mengumpat-
umpat, orang yang disebut Eyang Rangga itupun mengemasi dirinya.
Tiba-tiba saja iapun berteriak “Antarkan aku kepada orang yang
menyebut dirinya Panembahan Wukir Gading. Aku yakin bahwa ia adalah
orang yang sakti. Tetapi justru karena itu, aku memerlukannya”
Pemimpin gerombolan dar i padepokan Kendali Putih itupun kemudian
meninggalkan Eyang Rangga yang sedang membenahi diri. Diper
intahkannya para pengikutnya untuk bersiap-siap. Mereka akan
berangkat menyongsong orang- orang Sanggar Gading. “Kita tidak akan
menunggu sampai esok” berkata pemimpin orang-orang Kendali Putih itu
“Kita akan membinasakan mereka dan mengambil Pangeran itu dari
tangan mereka. Apapun yang akan terjadi, kita tidak akan menunggu
orang- orang itu datang menyerang kita dari punggung” Orang-orang
Kendali Put ih itupun segera mempersiapkan diri. Orang-orang yang
berkumis lebat dan kawannyapun menjadi sibuk. Namun dalam pada itu
kawannya berkata “Kita akan melihat, apa yang akan terjadi. Mungkin
orang-orang Sanggar Gading itu akan binasa, tetapi sebagian dari
orang- orang Kendali Putih inipun akan terbunuh. Atau yang terjadi
sebaliknya. Orang-orang Kendali Putih akan binasa, dan orang-orang
Sanggar Gading akan mengalami penyusutan yang gawat” “Kau memang
iblis. Kau kira dengan demikian orang-orang Pusparuri akan dengan
mudah mengambil alih persoalan- persoalan pusaka itu dari tangan
Daruwerdi?“ bertanya orang berkumis lebat. Kawannya tertawa. Katanya
“Hubungan Daruwerdi dengan orang-orang Pusparuri sangat baik. Ketika
orang-orang Kendali Putih membunuh orang-orang Pusparuri, Daruwerdi
mengambil sikap yang tegas terhadap orang-orang Kendali Putih”
“Tetapi masalahnya bukan karena Daruwerdi berpihak” jawab orang
berkumis itu “Ia berharap bahwa orang-orang Pusparuri akan dapat
memenuhi tuntutannya. Tetapi ternyata orang-orang Pusparuri hanya
pandai membual saja” Kawannya tertawa. Katanya “Tetapi kau sudah
berusaha berkhianat terhadap kawan-kawanmu. Karena itu, berusahalah
jangan mati dibunuh oleh orang-orang Sanggar Gading, agar kau sempat
mener ima hadiah dan ikut dalam kelompok yang lebih baik dan lebih
tinggi tingkatnya, Pusparuri” Orang berkumis tebal itu mengerutkan
keningnya. Namun kemudian katanya “Aku tidak peduli. Aku memer lukan
sesuatu yang dapat aku pergunakan bagi hidupku dan keluargaku dengan
baik” Kawannya tertawa. Katanya “Baiklah. Terserah kepadamu. Tetapi
pertempuran yang akan terjadi tentu akan sangat menarik. Orang-orang
Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading adalah orang-orang
panas yang haus darah” Orang berkumis lebat itu masih mengumpat.
Tetapi ia tidak menjawab lagi. Ia memang tidak dapat membantah,
bahwa ia sudah berkhianat terhadap orang-orang Kendali Putih sekedar
untuk kepentingan diri sendiri. Tetapi bahwa ia telah berada
dilingkungan orang-orang Kendali Putih dengan mempertaruhkan badan
dan nyawanya, sebenarnyalah semuanya itu untuk kepentingan
keluarganya juga. Untuk menghidupi dan sedikit menyenangkan mereka
dengan penghasilan yang sedikit lebih baik dari para petani
tetangga- tetangganya. Bulu-bulunya bagaikan meremang, jika pada
suatu saat ia kembali mengunjungi anak isterinya, satu dua orang
tetangganya menemuinya dan bertanya, apakah kerjanya di rantau.
Orang berkumis lebat itu selalu membual dengan ceritera yang sama
sekali tidak masuk akal. Tetapi karena tetangga- tetangganya adalah
orang-orang yang berpikir sederhana, maka mereka tidak pernah
berprasangka. Mereka mengira, bahwa orang berkumis lebat itu
benar-benar seorang pedagang yang mengelilingi satu tempat ke tempat
lain dengan dagangannya. Jika pulang ia selalu membawa uang yang
cukup membuat tetangga-tetangganya menjadi ir i, sehingga kehidupan
anak isterinya di kampung halamannya, menjadi cukup terpandang.
Tetapi akhirnya ia merasa bahwa hidup diantara orang- orang Kendali
Putih adalah hidup di dalam bayangan maut. Setiap saat nyawanya
dapat direnggut oleh ujung pedang atau tombak. Karena itulah, maka
semakin banyak umurnya, semakin gelisahlah perasaannya. Sehingga
pada suatu saat ia memer lukan hidup yang tentram diantara anak dan
isterinya. Namun setiap kali timbul pertanyaan di dalam dir inya
“Apakah aku masih mempunyai kesempatan hidup tenteram dengan tangan
yang bernoda darah karena kematian demi kematian?“ Tetapi orang
berkumis tebal itu selalu berusaha mengusir pertanyaan itu, meskipun
setiap kali pertanyaan itu datang kembali. Terakhir ia telah
mengambil satu keputusan yang berbahaya. Bahkan ia telah mendorong
satu peristiwa yang dahsyat. Jika ia berhasil membakar hati pemimpin
orang- orang Kendali Putih itu atas permintaan orang Pusparuri yang
kebetulan dikenalnya, maka akan terjadi kematian yang menggetarkan
jantung. Benturan antara orang-orang Kendali Putih dan orang-Sanggar
Gading akan merupakan benturan kekuatan yang mengerikan. “Yang aku
punya semuanya sudah bernoda darah. Apa boleh buat. Aku akan
melengkapinya dengan darah pula. Bara kemudian aku akan
membersihkannya” berkata orang berkumis lebat itu di dalam hatinya.
Demikianlah, maka ir ing-ir ingan orang Kendali Putih itupun mulai
bergerak. Mereka tidak merasa perlu untuk bersembunyi lagi. Mereka
akan menempuh jalan terbuka menuju ke pategalan. Jika orang-orang
Sanggar Gading belum lewat, maka mereka akan menunggu. Tetapi jika
orang-orang Sanggar Gading telah melampaui pategalan itu, maka
mereka akan menyusul. “Tetapi dalam pada itu, salah seorang dari
orang-orang Kendali Putih itu bertanya “Bagaimana j ika orang-orang
Sanggar Gading itu ternyata mengambil jalan lain?“ “Kita akan
menyusulnya. Tetapi tidak ada jalan lain menuju ke bukit gundul itu.
Jika mereka melingkari bukit berhutan ini, maka mereka memerlukan
waktu yang sangat lama, karena jalannya akan berlipat panjangnya.
Meskipun demikian hal itupun dapat juga terjadi. Apalagi jika
orang-orang Sanggar Gading telah mengetahui persembunyian kita di
lereng bukit itu. Mungkin mereka justru akan melingkar dan menyerang
kita dengan tiba-tiba, sementara kita sudah berada di pategalan”
Memang masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi Tetapi
kemungkinan yang paling besar menurut perhitungan pemimpin
orang-orang Kendali Putih itu adalah, bahwa orang- orang Sanggar
Gading akan memasuki daerah Sepasang Bukit mati ini lewat pategalan.
Apalagi dua orang diantara orang- orang Sanggar Gading justru sudah
berada dipategalan itu. Dalam pada itu, ketika orang-orang Kendali
Putih itu meninggalkan lereng bukit berhutan, maka Kiai Kanthipun
menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia melihat segalanya yang telah
dilakukan oleh orang-orang Kendali Put ih. Iapun melihat orang-orang
Kendali Putih itu meninggalkan lereng bukit berhutan itu. Kiai
Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Ketajaman penglihatannya, telah
menunjukkan kepadanya, bahwa diantara orang-orang Kendali Putih itu
terdapat orang yang dikenalnya. Orang yang selalu menghitung ruas
tanggannya sejak masa mudanya. “Iblis itu ada disana pula” desis
Kiai Kanthi kepada diri sendiri. Namun dalam pada itu, iapun menjadi
ragu-ragu. bahwa iblis yang selalu menghitung ruas jari-jarinya itu
benar- benar bekerja untuk kepentingan orang-orang Kendali Putih.
“Keadaan akan benar-benar menjadi gawat” berkata Kiai Kanthi “iblis
itu akan bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Penembahan Wukir
Gading. Dengan kehadiran mereka, apakah artinya Daruwerdi, Jlitheng
dan pemburu-pemburu itu? Dan apakah Pangeran yang diperebutkan itu
tidak akan berbuat sesuatu, dan membiarkan dirinya menjadi barang
yang akan dipertukarkan begitu saja?“ Berbagai pertanyaan telah
berkembang di dalam hatinya. Sementara itu, iapun mengamati arah
perjalanan orang-orang Kendali Putih yang semakin jauh meninggalkan
bukit berhutan itu. Sementara itu, dari arah lain, dua orang sedang
mengamati iring- iringan itu pula. Mereka tidak mengerti apa yang
telah terjadi di pategalan. Namun mereka menduga, bahwa orang- orang
Kendali Putih itu akan langsung menyerang Sanggar Gading tanpa
menunggu setelah orang-orang Sanggar Gading menyerahkan Pangeran
yang mereka bawa kepada Daruwerdi. “Kita akan mengikuti“ berkata
Semi. “Berbahaya sekali. Di tempat yang terbuka, kita akan sulit
untuk mencari perlindungan“ jawab kawannya. Semi merenungi kata-kata
kawannya itu sejenak. Namun kemudian katanya “Kita tidak akan
mengikutinya secara langsung. Kita menunggu mereka melintasi bulak.
Sementara kita dapat mengikuti jejaknya” Kawannya mengangguk-angguk.
Katanya “Ya. Kita dapat berbuat demikian. Dan kitapun harus bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Rahu tentu akan terlibat dalam
pertempuran jika benar orang-orang itu akan langsung menyerang ir
ing- iringan dari Padepokan Sanggar Gading” “Bagaimana cara kita
untuk menghubunginya” desis Semi. “Kita memang harus menunggu dan
melihat segala peristiwa yang terjadi” desis kawannya “baru kita
akan dapat mengambil sikap berdasarkan atas pengamatan itu” Semi
mengangguk-angguk. Katanya “Kita harus dapat mengambil satu sikap
dengan cepat dan mapan. Marilah. Kita akan mengikuti jejak
orang-orang berkuda itu” Dengan demikian, maka Semi dan kawannyapun
telah mengikut i jejak orang-orang Kendali Put ih menuju
kepategalan. Namun mereka harus berhati-hati. Mereka tidak boleh
terlalu dekat, karena dengan demikian, mereka akan dapat terjerumus
ke dalam keadaan yang sangat gawat. Jika mereka memasuki sebuah
bulak panjang, maka merekapun harus menunggu beberapa saat, sehinggi
mereka yakin, bahwa orang-orang Kendali Putih itu telah melampaui
padesan disebelah bulak itu. “Nampaknya orang-orang berkuda itu
sudah mempunyai bahan-bahan yang pasti tentang kekuatan orang-orang
Sanggar Gading” berkata Semi kemudian “Jika tidak mereka tidak akan
dengan pasti pula menyongsongnya” “Nampaknya memang demikian” sahut
kawannya “justru karena itu, keadaan orang-orang Sanggar Gading akan
menjadi gawat. Mereka akan mendapat lawan yang seimbang, karena
orang-orang berkuda itu tentu sudah memperhitungkan dengan cermat”
“Dalam benturan yang akan terjadi, maka kedua belah pihak akan
banyak kehilangan. Keduanya akan menjadi sangat lemah. Pada saat
yang demikian pihak ketiga akan dengan mudah menghancurkan mereka”
berkata Semi selanjutnya. “Mungkin pihak ketiga itu adalah kekuatan
Saruwerdi sendiri” desis kawannya. “Mungkin. Memang mungkin. Tetapi
juga mungkin pihak lain” sahut Semi. Namun tiba-tiba saja mereka
telah dikejutkan oleh suara batuk di belakang mereka pada saat
mereka menunggu sejenak dimulut padukuhan dihadapan bulak panjang.
Karena itu, maka dengan serta merta keduanya berpaling. Tetapi
keduanya menarik nafas panjang ketika mereka melihat Kiai Kanthi
berdiri di pinggir jalan beberapa langkah di belakang mereka.
“Angger akan mengikuti orang-orang berkuda itu?“ bertanya Kiai
Kanthi. “Ya Kiai” jawab Semi “Tidak ada lain untuk mengetahui
perkembangan persoalan yang tumbuh di daerah ini” “Angger harus
berhati-hati” berkata Kiai Kanthi “nampaknya orang-orang berkuda itu
terdiri dari orang-orang Kasar dan orang-orang yang memiliki
kemampuan yang tinggi. “Nampaknya memang demikian. Karena itu, kami
tidak mengikut i mereka langsung. Kami terpaksa mengikuti jejaknya.
“Bagus. Angger sudah melakukan tugas angger dengan baik” berkata
Kiai Kanthi “apalagi diantara mereka terdapat seorang iblis yang
berilmu tinggi” “Siapa?“ bertanya Semi. Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam. Katanya kemudian “Berhati-hati sajalah. Ketajaman
pengamatan dan kecepatan berpikir untuk menentukan satu sikap akan
menentukan segala-galanya” Semi dan kawannya mengangguk-angguk.
Sambil memandang kedepan Semi bergumam “Baiklah Kiai. Nampaknya
orang-orang berkuda itu sudah melampaui padukuhan di depan. Aku akan
menyusul mereka” Kiai Kanthipun memandang kebulak panjang
dihadapannya Katanya kemudian “Silahkan ngger” “Bagaimana dengan
Kiai?“ bertanya Semi. Kiai Kanthi tertawa. Namun Semi berkata “Aku
mengerti serba sedikit tentang Kiai Kanthi” Kiai Kanthi tidak
menjawab. Bahkan ia berkata “Silahkan ngger. Nampaknya jalan sampai
ke padukuhan di depan sudah aman. Berhati-hatilah disetiap langkah
seperti yang angger lakukan kali ini. Mungkin orang-orang itu
berhenti di padukuhan di depan” Semi dan kawannyapun kemudian
melanjutkan perjalanan. Mereka memperhitungkan bahwa orang-orang
Kendali Putih itu tentu sudah melewati padukuhan di depan, sehingga
merekapun akan dapat melintasi padukuhan itu pula. “Agaknya Kiai
Kanthi tahu dengan pasti, siapakah yang beriringan di depan” gumam
Semi. “Mungkin. Ia dapat menyebut salah seorang diantaranya. Bahwa
ia menyebut iblis berilmu t inggi tentu bukan sekedar mengigau”
desis kawannya. Namun keduanya tidak pasti, apakah Kiai Kanthi
mengetahui gerombolan apakah yang berada di depan mereka. Sementara
itu, orang-orang Kendali Putih itu berjalan tanpa berhenti. Mereka
sudah memutuskan untuk memotong gerakan orang-orang dari padepokan
Sanggar Gading untuk merebut Pangeran yang akan ditukar dengan
sebilah pusaka yang tiada taranya. Meskipun demikian, mereka tidak
kehilangan kewaspadaan Mereka selalu bersiap menghadapi segala
kemungkinan. Bukan mustahil bahwa tiba-tiba saja ditikungan mereka
langsung membentur iringan- iringan orang-orang Sanggar Gading.
Karena itulah, maka orang-orang yang berada di depan sudah siap
menarik senjata mereka setiap saat. Dalam pada itu, orang-orang
Sanggar Gadingpun menjadi semakin maju pula mendekati pategalan.
Karena itu, merekapun menjadi semakin berhati-hati pula. Sanggit
Raina kemudian berada dipaling depan. Disampingnya Cempaka memandang
jauh kedepan. Di belakang kedua Rahu dan orang yang telah bertempur
melawan orang Kendali Putih itu. Sejenak kemudian orang yang telah
bertempo melawan orang-orang Kendali Putih itupun berdesis di
belakang Sanggit Raina “Itulah Pategalan yang aku katakan. Seorang
kawan kita berada ditempat itu” “Mungkin anak itu sudah mati” desis
Sanggit Raina. “Aku harap ia masih mampu bertahan” desis orang yang
telah bertempur di pategalan itu. Sanggit Raina telah mempercepat
derap kudanya. Ia ingin segera sampai di pategalan itu dan melihat,
apakah salah seorang diantara mereka yang terluka itu masih hidup.
Ketika mereka sampai diujung pategalan itu, maka Rahulah yang
kemudian mendahului Sanggit Raina bersama orang yang telah bertempur
melawan orang-orang Kendali Putih. Mereka tidak lagi
mempertimbangkan tanaman yang terinjak kaki kuda. Mereka menembus
batas dengan pagar lanjaran bambu yang dijalari oleh batang-batang
kacang panjang. Bahkan merekapun telah menerobos pohon ketela yang
nampak tidak terlalu subur. Sanggit Raina dan Cempakapun kemudian
mengikuti mereka setelah mereka memberi isyarat agar yang lain
menunggu mereka diluar pategalan. “Ada apa?“ bertanya Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading. “Kita sudah sampai kepategalan yang
dimaksud” jawab salah seorang pengawalnya. “Sanggit Raina sedang
melihat mereka?“ bertanya Yang Mulia. “Anak yang terluka itu. Hanya
seorang” sahut pengawalnya. “Jangan lengah. Awasi keadaan. Mungkin
orang-orang gila itu akan datang. Mungkin mencari kawannya yang
terluka, tetapi mungkin dengan sengaja ingin menyerang kita” “Kita
sudah siap. Pangeran itu sudah berada di bawah pengawalan khusus.
Mudah-mudahan sakitnya tidak semakin gawat, sehingga akan menjadi
persoalan tersendiri. Jika Pangeran itu mati karena penyakitnya,
maka segalanya akan gagal” desis pengawalnya. “Ia sudah berada di
bawah perawatan orang yang tepat” berkata Yang Mulia. Pengawalnya
mengangguk-angguk, sementara Yang Mulia itu berkata “Taruhlah dua
orang pengawas diujung yang lain dari pategalan ini, selama kita
menunggu Sanggit Raina” Pengawal itu mengangguk. Kemudian
diperintahkannya dua orang kawannya mendahului sampai diujung
pategalan untuk mengawasi keadaan. Dalam pada itu, Sanggit Raina dan
Cempakapun telah menemukan orang yang. terluka. Rahu dan seorang
kawannya yang telah bertempur melawan orang-orang Kendali Putih,
yang bahkan sudah tergores ujung senjata itupun telah berjongkok
disamping kawannya yang terluka itu., “Bagaimana?“ bertanya Sanggit
Raina. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Parah sekali. Tetapi
masih mungkin untuk dicoba mengobatinya” “Panggil dukun itu” desis
Sanggit Raina kepada Cempaka. Sepeninggal Cempaka, maka Rahupun
berkata “Ia pingsan. Mungkin setitik air akan dapat memberikan
kesadaran kepadanya. “Dimana kita mendapat air?“ bertanya Sanggit
Raina. Rahupun termangu-mangu. Namun kemudian ia melihat pohon nyiur
dibatas pategalan itu. Karena itu, maka sambil menunjuk batang nyiur
yang kurus itu ia berkata “Lihat. Ada juga beberapa buah kelapa
tersangkut pada janjangnya” “Kau dapat memanjat setinggi itu?“
bertanya Sanggit Raina. “Aku dapat” sahut orang yang telah bertempur
melawan orang-orang Kendali Putih itu. “Cepat. Mudah-mudahan dapat
menolongnya” Orang itupun kemudian dengan tergesa-gesa telah
memanjat sebatang pohon nyiur yang kekurus-kurusan, namun yang masih
juga member ikan beberapa buah kelapa dipangkal daun-daunnya.
Ternyata orang itu memang pandai memanjat. Ia hanya memer lukan
waktu yang pendek untuk sampai kepuncak. Kemudian dengan
tergesa-gesa telah memetik beberapa buah kelapa yang ada. Yang muda
tetapi juga yang tua. “Mungkin akan berguna“ gumannya
“setidak-tidaknya dapat melepaskan haus” Ketika ia sudah siap untuk
meluncur turun, tanpa disengaja, orang itu telah menebarkan
pandangan matanya kesekeliling pategalan. Tiba-tiba saja darahnya
tersirap. Hampir saja ia meloncat turun. Untunglah bahwa ia masih
menyadari keadaannya, sehingga iapun berkisar berlindung dibalik
batang nyiur itu sambil meluncur turun. Demikian ia menjejakkan
kakinya di tanah, maka iapun segera berlari-lari mendapatkan Sanggit
Raina dan Rahu yang sedang sibuk mengupas kelapa dengan pedangnya.
“Mereka datang“ Orang itu hampir berteriak. “Siapa?“ bertanya
Sanggit Raina. “Orang-orang Kendali Putih. Aku melihatnya dari
batang nyiur itu” jawab orang itu. “Apakah kau tidak mengigau?“ Rahu
menegaskan. “Aku yakin bahwa penglihatanku masih bening” jawab orang
itu. Sanggit Raina melepaskan kelapa di tangannya. Kemudian sambil
bangkit ia berkata “Aku akan member itahukan kepada Yang Mulia.
Cobalah menolong orang itu agar tidak terlanjur mati disini” Sanggit
Rainapun kemudian meloncat ke punggung kudanya. Dan dengan
tergesa-gesa menemui Yang Mulia. Ketika ia berpapasan dengan Cempaka
bersama seorang dukun yang dipanggilnya, maka Katanya “Cepat,
antarkan orang itu. Lalu kau temui aku” Cempakapun kemudian
mengantarkan dukun itu, namun kemudian dengan tergesa-gesa iapun
kembali menyusul Sanggit Raina. Ternyata titik air nyiur yang muda
itu member ikan kesegaran kepada orang yang terluka parah, sementara
dukun yang kemudian berjongkok disampingnya itupun mulai
mengobatinya. “Tolonglah orang ini” berkata Rahu “Aku akan menemui
Sanggit Raina dan Cempaka” Ketika Rahu sampai ke induk pasukannya.
Sanggit Raina telah berbicara dengan Yang Mulia mengenai orang-orang
Kendali Putih yang menuju ke Pategalan itu pula. “Kita tidak akan
lar i” berkata Yang Mulia. Sanggit Raina mengangguk-angguk. Iapun
berpendapat, bahwa tidak ada kemungkinan lain yang dapat dilakukan
menghadapi sekelompok orang yang menyerang mereka. Karena itu, maka
Katanya “Aku akan menyiapkan orang-orang kita. Kita akan
membinasakan orang-orang Kendali Putih. Jika mereka berani menyerang
kita, maka mereka tentu telah salah menilai” Yang Mulia tertawa.
Katanya “Bagus. Kita akan bertempur” “Ya. Kita akan bertempur
dipategalan ini dan sekitarnya” jawab Sanggit Raina. Namun kemudian
“Tetapi bagaimana dengan Pangeran itu” “Ia adalah sasaran utama
orang-orang Kendali Putih” jawab Yang Mulia “karena itu lindungi
Pangeran yang sedang sakit itu” “Baiklah. Aku akan menyiapkan
sekelompok orang terpilih untuk melindunginya” jawab Sanggit Raina.
Namun dalam pada itu, Yang Mulia itupun berkata “Kali ini kita akan
bertempur diatas punggung kuda. Medan kita cukup luas. Orang-orang
kita memiliki kemampuan berkuda sambil mempermainkan senjatanya. He,
bagaimana pendapatmu?“ Sanggit Raina menebarkan tatapan matanya
keseputarnya. Ia memang melihat satu medan yang luas. Pategalan yang
yang berpohon-pohon. Bahkan ada beberapa jenis pohon buah-buahan dan
pohon kelapa. Kemudian disebelah pategalan itu adalah padang ilalang
yang kekuning-kuningan, sementara di sebelah lain adalah sawah yang
mulai dijamah oleh air yang naik dari sungai kecil yang menjadi
persoalan bagi anak-anak muda di Lumban. “Aku sependapat” tiba-tiba
saja Sanggit Raina menjawab “medan ini sangat menyenangkan bagi
pertempuran berkuda. Kita sudah siap menghadapi orang-orang Kendali
Putih yang bodoh itu” “Perintahkan orang-orang kita menyebar”
berkata Yang Mulia “Aku sendir i akan memimpin pertempuran ini.
Jangan kau lupakan Pangeran itu. Ia memerlukan perlindungan. Tetapi
itu lebih baik. Jika ia tidak sedang sakit, maka ia akan mengambil
kesempatan yang tidak kita duga sebelumnya” Sanggit Rainapun
kemudian meninggalkan Yang Mulia yang segera menyiapkan dirinya
pula. Ia memilih bertempur diatas punggung kudanya. Sementara
Sanggit Rainapun segera menemui Cempaka dan kemudian memanggil Rahu
pula. “Kita akan bertempur diatas punggung kuda“ desis Sanggit
Raina. “Menarik sekali“ Cempaka tersenyum. Ia adalah seorang yang
memiliki kemampuan berkuda. Kudanyapun kuda tegar yang dapat
dipercaya, yang seolah-olah mengerti, apa yang harus dilakukan”
“Aturlah orang-orang kita” berkata Sanggit Raina kepada adiknya,
lalu katanya berbisik “Kau dan Rahu, segera menemui aku setelah
persiapan ini selesai” Rahu tidak mencari arti yang lain kecuali
benar-benar kegelisahan menghadapi serangan orang-orang Kendali
Putih, meskipun ia hampir belum pernah melihat hal itu pada Sanggit
Raina yang kemudian bergeser mendekati Yang Mulia. Ia adalah orang
yang tabah dan seakan-akan segala tantangan pasti dihadapinya dengan
dada tengadah. Cempaka dan Rahupun kemudian segera terpisah member
ikan perintah kepada orang-orang Sanggar Gading untuk bersiap-siap,
karena sebentar lagi, orang-orang Kendali Putih akan datang
menyerang. “Kita mengelakkan lawan. Tetapi jika mereka datang, kita
tidak akan lar i terbirit-birit” berkata Cempaka. Lalu katanya lebih
lanjut ketika kalian memasuki Sanggar Gading, kalian lelah melalui
daerah pendadaran yang paling garang dari segala padepokan yang
manapun juga. Kalian telah melewati padang perburuan yang juga
merupakan padang kematian. Dan kalian yang masih hidup sampai ke
padepokan Sanggar Gading tentu orang-orang terpilih yang berhasil
menyusup jari-jari maut di padang kematian itu. Sekarang kalian
menghadapi orang-orang dari padepokan kecil yang menyebut
padepokannya itu Kendali Putih, Padepokan yang sama sekali tidak
berarti. Karena itu, kita menghancurkan mereka sampai orang yang
terakhir” Cempaka berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia bertanya
”Jawab. Siapa yang tidak sanggup melakukannya?” Tidak seorangpun
yang menyahut. Bahkan mata orang- orang Sangar Gading itu mulai
menyala. Karena itu, ketika Cempaka bertanya untuk kedua kalinya
dengan pertanyaan yang berbeda, maka sorak merekapun telah meledak.
“Marilah” berkata Cempaka lantang “Kita binasakan orang- orang
Kendali Putih. Bukankah kalian sanggup melakukan” “Sanggup, sanggup”
jawaban itu meledak. Yang Mulia tersenyum melihat orang-orangnya
bersorak dengan panah api kebencian. Perlahan-lahan ia berdesis
kepada Sanggit Raina yang telah berada didekatnya “Adikmu memang
anak gila. Tetapi ia berhasil membakar jantung orang-orang kita. Aku
senang melihatnya, karena dengan jiwa yang dibakar oleh dendam dan
kebencian, tenaga kita akan menjadi berlipat. Kemampuan kitapun
seakan-akan meningkat ganda” Sanggit Rainapun mengangguk-argguk.
Dandan jantung yang berdegup semakin cepat. Sanggit Raina melihat,
orang- orang Sanggar Gading itu mulai berpencar. Sementara Cempaka
berteriak “Kita akan bertempur di atas punggung kuda, Jika
orang-orang Kendali Putih berloncatan, turun, maka mereka akan kita
gilas dengan kaki-kaki kuda kita disamping ujung-ujung senjata”
Sekali lagi orang-orang Sanggar Gading yang mulai berpencar itu
telah bersorak bagaikan membelah langit. Sementara itu, orang-orang
Kendali Putih sudah menjadi semakin dekat Karena itu, maka merekapun
telah mendengar sorak orang-orang Sanggar Gading yang bagaikan
mengguncangkan pategalan dihadapan mereka. “Mereka tentu sudah
melihat kita” berkata pemimpin orang- orang Kendali Putih itu
”nampaknya mereka sudah siap menunggu” “Apa salahnya” jawab Eyang
Rangga “Aku lebih senang bertempur beradu dada dari pada kita harus
menyelinap menunggu lawan lengah” “Ya, ya” jawab pemimpin
orang-orang Kendali Putih “Aku juga sependapat. Karena itu, kita
akan menghadapi mereka dengan jantan karena kita tidak merunduk dari
belakang. “Katakanlah yang lain. Kau hanya mengulagi kata-kataku
meskipun kau pergunakan susunan kalimat yang lain” tiba-tiba saja
Eyang Rangga membentak. Pemimpin kelompok orang Sanggar Gading itu
tidak menjawab. Perhatiannya sudah tertuju kepategalan yang nampak
dikejauhan. Bahkan ketajaman penglihatannya sudah mulai menangkap
gerak yang samar-samar. Orang-orang berkuda. Karena itu, maka
pemimpin orang-orang Kendali Putih itupun segera memberi isyarat
kepada orang-orangnya untuk berhati-hati. Dengan lantang ia berkata
“Nampaknya mereka ingin menghadapi kita diatas punggung kuda. Memang
menyenangkan sekali. Pategalan itu cukup luas untuk bermain-main.
Berhati-hatilah. Pergunakan senjata panjang” “Ya” desis Eyang Rangga
“iblis tua itu menang seorang penunggang kuda yang ulung. Tetapi
nampaknya ia tidak tahu aku ada disini dan iapun tidak tahu, bahwa
masa mudaku, aku adalah pelaku sodoran yang sulit dicari tandingnya.
Demikianlah, maka orang-orang Kendali Put ih itupun telah
bersiap-siap pula. Mereka melihat semakin jelas, bahwa orang-orang
Sanggar Gading berpencar diatas punggung kudanya. Karena itu, maka
hampir pasti bahwa mereka akari bertempur diatas punggung kuda.
“Mereka mengira bahwa kalian tidak mampu memegang kendali kuda
sambil menggenggam senjata” berkata pemimpin orang-orang Kendali
Putih itu “tunjukkan kepada orang-orang Sanggar Gading, bahwa kalian
mampu mengimbangi, bahkan kemudian kalian harus membuktikan, bahwa
kalian dapat melampaui kemampuan setiap orang dari orang-orang
Sanggar Gading itu” Orang-orang Kendali Putih itu menjadi
berdebar-debar. Meskipun mereka terbiasa hidup dengan noda-noda
darah, namun morekapun mendengar bahwa orang-orang Sanggar Gading
adalah orang-orang yang seliar orang-orang Kendali Putih. Merekapun
pernah mendengar padang yang terbentang dihadapan Padepokan Sanggar
Gading. Sebuah padang pendadaran yang sering disebut padang
Kematian. Jarak dari kedua kelompok orang-orang yang paling garang
itupun menjadi semakin dekat. Karena itu, maka senjata- senjata
merekapun mulai teracu. Dalam pada itu, seperti pesan Sanggit Raina,
ketika persiapan sudah selesai, maka Cempaka dan Rahupun
menghampirinya. Sejenak mereka termangu-mangu mendengar pesan
Sanggit Raina. Balikan wajah-wajah mereka menjadi tegang. “Tidak ada
pilihan lain” berkata Sanggit Raina “Kita harus berani menghadapi
akibat yang betapapun gawatnya. Batas terakhir dari kegagalan kita
adalah mati dalam keadaan apapun juga. Jika kita sudah meletakkan
dasar yang demikian, maka t idak ada yang akan kita takutlah lagi
untuk bertindak apapun juga” Cempaka mengangguk-angguk, sementara
Rahu memandang ke sekelilingnnya. “Marilah“ berkata Sanggit Raina
“Aku akan memer intahkan orang-orang kita menyongsong mereka.
Benturan itu akan menentukan kebesaran hati kita dalam pertempuran
selanjutnya” Cempaka dan Rahupun kemudian meninggalkan Sanggit
Raina, untuk memimpin sekelompok kecil orang-orang Sanggar Gading
yang tetap akan bersembunyi dibalik rimbunnya pategalan. Dibelakang
mereka, ampat orang mengawal Pangeran yang sedang sakit, yang
nampaknya tidak berdaya sama sekali. Sementara Sanggit Raina akan
berada di tempat terbuka bersama para pengikutnya yang lain. Yang
berada di tempat terbuka itulah yang akan menyongsong orang-orang
Kendali Putih. Kemudian Cempaka dan Rami akan membawa orang-orangnya
yang berjumlah kecil itu menyusur lewat bagian dalam pategalan dan
akan menyerang orang- orang Kendali Putih dari lambung. Demikianlah,
sejenak kemudian, Sanggit Raina menganggap bahwa waktunya telah
datang. Karena itu, maka iapun mendekati Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading untuk minta perintahnya “Lakukan” desis Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading. Sanggit Rainapun kemudian menyiapkan kudanya yang
tegar dipaling depan dari orang-orang Sanggar Gading. Diangkatnya
pedangnya tinggi-tinggi, dan terdengarlah ia berteriak memberi aba
kepada para pengikutnya. Perintah itu bagaikan mengumandang di
daerah Sepasang Bukit Mati. Suara Sanggit Raina yang keras itu telah
membentur bukit berhutan dan bukit gundul, sehingga suaranya
memantul kembali melingkar-lingkar. Seakan-akan terdengar suara
gemuruhnya guntur yang meledak dilangit. Perintah itu telah
menggerakkan orang-orang Sanggar Gading. Dengan senjata digenggaman
merekapun segera memacu kudanya menyongsong orang-orang Kendali
Putih yang menjadi semakin dekat. Sementara itu, orang-orang Kendali
Putihpun telah menghentakkan kuda mereka pula. Mereka berteriak
tidak kalah garangnya. Bahkan orang yang disebutnya Eyang Rangga
itulah yang kemudian berada dipaling depan, disisi pemimpin
orang-orang Kendali Putih itu. Dalam pada itu, ketajaman penglihatan
Yang Mulia menangkap wajah seseorang yang bagaikan menyalakan dendam
yang tiada taranya. Karena itu, maka iapun kemudian menempatkan dir
i disebelah Sanggit Raina sambil berkata “Jangan kau dekati orang
tua itu. Ia adalah orang yang sangat berbahaya. Biarlah aku
menempatkan dir i melawannya” Sanggit Raina tidak sempat bertanya
lebih lanjut. Sekejap kemudian kedua pasukan itu telah berbenturan.
Mereka menebar ke padang perdu dan ilalang yang luas diujung
pategalan. Beberapa ekor kuda justru melingkar sebelum penunggangnya
menemukan lawannya dengan mapan. Sejenak kemudian kedua pasukan itu
telah bertempur dengan sengitnya. Sementara itu, Yang Mulia telah
berhadapan dengan Eyang Rangga diatas punggung kuda masing-masing.
“Kau ternyata telah melibatkan dir i diantara orang-orang Kendali
Putih, Sampir” bertanya Yang Mulia kepada orang yang menyebut dir
inya Eyang Rangga. “Namaku Rangga” jawab orang itu. “Sebutlah seribu
nama. Aku lebih senang memanggilmu Sampir” jawab Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading. “Baiklah. Aku tidak akan dapat ingkar.
Tetapi kaupun t idak dapat ingkar, siapakah sebenarnya kau” desis
Eyang Rangga yang berhadapan dengan Yang Mulia itu. “Sebut namaku.
Bagaimanapun juga, aku adalah seorang bangsawan” sahut Yang Mulia.
Tetapi Eyang Rangga yang bernama Sampir itu tertawa. Katanya “Nilai
seseorang tidak diukur apakah ia bangsawan atau bukan. Bagiku kau
adalah seorang yang licik dan pengecut” Tetapi yang Mulialah yang
kemudian tertawa. Katanya “Jangan iri. Aku adalah orang yang paling
terhormat. Tidak ada seorangpun diantara para bangsawan dalam
tataranku yang disebut Yang Mulia. Aku adalah orang yang
mempergunakan sebutan itu diantara orang-orangku. Diantara
orang-orang Sanggar Gading” “Kau pemimpi yang buruk. Apa artinya
panggilan itu bagimu? Apakah panggilan itu akan member ikan
kanugrahan bagimu?“ bertanya Eyang Rangga. Yang Mulia masih tertawa.
Namun suara tertawanya itu terputus ketika Eyang Ranja. berkata
“Nah, kita sekarang sudah berhadapan. Kita akan memperebutkan barang
yang paling berharga di dalam hidup kita. Sudah tersurat di dalam
kitab-kitab yang tersimpan di istana dan diperhendaharaan
orang-orang pandai, bahwa siapa yang memiliki pusaka yang
tersembunyi di daerah Sepasang Bukit Mati, yang akan diterima dari
rebung bambu petang yang patah, maka ia akan dapat mengusai
lingkungannya dengan caranya. Nah, menurut perhitunganku dan tentu
juga perhitunganmu, rebung bambu petang yang patah itu adalah anak
yang menyebut dir inya Daruwerdi itu. Karena itu, maka kita
bersama-sama telah didorong untuk mendapatkan pusaka itu, karena
kita masing- masing ingin berkuasa atas satu lingkungan. Memang gila
jika kau menganggap bahwa berkuasa atas satu lingkungan itu adalah
tahta Demak, meskipun kau seorang -ngv.wan. Lingkunganmu adalah
lingkungan tangan-tangan yang bernoda darah. Karena itu, jika kau
atau aku yang berhasil menguasai pusaka itu, moka salah seorang dari
kita akan berkuasa atas linkungan orang-orang yang tangannya bernoda
darah, meskipun dengan demikian kita akan dapat menyusun kekuatan
untuk menghadapi Demak” “Nah, bukankah arah perhitunganmu juga
kearah mimpi, yang nikmat itu?“ desis Yang Mulia “Jangan ingkar.
Tetapi aku mempunyai kelebihan dar i padamu Sampir. Aku adalah
keturunan raja-raja yang berkuasa di pulau ini. Hanya karena satu
sebab aku tersisih. Pada suatu saat aku akan kembali. Bukan saja
sebagai seorang bangsawan yang terhormat, tetapi aku sudah
melengkapi dir iku dengan segala yang diperlukan untuk menerima
wahyu keraton” “Kau sudah mulai mengigau” sahut Yang Mulia “Marilah.
Kita sudah lama tidak bertemu. Apakah kau masih memiliki ilmumu yang
dahsyat itu” “Ilmuku mempunyai kemampuan ganda saat ini. Jika ilmumu
masih saja setingkat saat itu, maka kau tidak akan dapat bertahan
sepenginang” geramEyang Rangga, Yang Mulia tidak menjawab lagi.
lapun segera bersiap Sekilas ia memperhatikan pertempuran yang
membakar daerah diseputar pategalan itu. Di padang ilalang di hutan
perdu dan diujung pategalan itu sendiri. Sejenak kemudian, maka
Sampirpun tidak sabar lagi. Dengan garang ia mulai menyerang.
Kudanya melonjak tinggi, kemudian seolah-olah meloncat
menerkamlawannya. Tetapi Yang Muliapun tangkas menghadapinya.
Ditariknya kendali kudanya kesamping, sehingga kudanya bagaikan
mengelak dengan loncatan kecil. Namun selanjutnya, keduanya segera
terlibat dalam pertempuran yang sengit. Kuda mereka berlari
melingkar- lingkar, kadang-kadng keduanya sambar menyambar dengan
dahsyatnya, sementara penunggangnya telah mempermainkan senjata
mereka. Dalam pada itu, arena pertempuran itu menjadi terlalu ribut.
Kedua belah pihak yang masih tetap berada di punggung kuda telah
bertempur dengan serunya. Ternyata kedua belah pihak mempunyai
kemampuan yang tinggi mengendalikan kuda dengan senjata di tangan.
Sanggit Raina telah berhadapan langsung dengan pemimpin orang-orang
Kendali Putih, sementara para pengikutnya bertempur memenuhi padang
ilalang. Pohon-pohon perdupun berpatahan dan batang-batang ilalang
roboh terinjak- injak kaki kuda. Sekali-sekali terdengar kuda
meringkik. Kemudian derap kakinya yang berputaran. Beberapa saat
pertempuran itu berlangsung. Namun kemudian orang-orang Kendali
Putih mulai bersorak-sorak. Orang-orang Sanggar Gading menjadi agak
terdesak. Meskipun perlahan- lahan, tetapi agaknya orang-orang
Kendali Putih yang garang itu, dengan jantung yang membara telah
bertempur tanpa menghiraukan apapun juga. Sementara orang-orang
Sanggar Gading terdesak, terdengar pemimpin orang-orang Kendali Put
ih itu berteriak “Serahkan saja Pangeran itu. He, dimana orang itu
kalian sembunyikan? Jika kalian menyerahkannya, kalian akan kami
beri kesempatan untuk tetap hidup” Sanggit Raina menggeram. Dengan
garangnya ia menyerang sambil berkata lantang “Kami adalah
orang-orang Sanggar Gading. Batas perlawanan kami adalah kematian,
sebagaimana kami bertekad memasuki padepokan kami” “Bagus” jawab
pemimpin orang-orang Kendali Putih?” kalian memang akan mati. Kalian
semuanya akan kami binasakan” Tetapi gairah orang-orang Sanggar
Gading tidak mengendur meskipun mereka mulai terdesak. Beberapa
orang Sanggar Gading mulai melingkar agak jauh dari arena. Namun
mereka menyerbu kembali ke dalam arena dengan senjata teracu.
Betapapun juga garangnya orang-orang Sanggar Gading, namun mereka
tidak banyak berbuat di arena yang baur itu. Seolah-olah disegala
sudut orang-orang Kendali Put ih sedang menghadang dengan senjata
terayun. Bahkan orang-orang Sanggar Gading itu seakan-akan tidak
lagi mendapat tempat, sehingga mereka terdesak keluar arena. Namun
demikian mereka berbalik, lawan telah menunggu dan bahkan menyambar
dengan garangnya. “Kalian memang ingin membunuh diri” berkata Eyang
Rangga. Tetapi Yang Mulia Panembahan tidak menjawab. Iapun bertempur
dengan dahsyatnya pula tanpa menghiraukan keadaan orang-orang
Sanggar Gading yang mengalami kesulitan. Semakin lama, semakin
jelas, betapa orang-orang Kendali Putih menguasai seluruh arena.
Mereka mulai berusaha mengepung orang-orang Sngagar Gading. Beberapa
orang Kendali Putih telah melingkar diseputar arena. Mereka berusaha
mengurung orang-orang Sanggar Gading dalam lingkaran yang semakin
lama semakin dipersempit. Tetapi orang-orang Sanggar Gading adalah
orang-orang yang cukup garang. Meskipun mereka sudah hampir
terkepung rapat, namun masih ada diantara mereka yang berhasil
memecahkan lingkaran yang mulai merapat itu. Kemudian dengan
garangnya pula mereka menyerang dinding lingkaran itu dari luar.
Namun demikian usaha mereka tidak banyak membawa hasil. Dalam
pertempuran yang seru, orang-orang Kendali Putih mampu memancing
mereka dengan membuka lingkaran yang belum sempurna itu, dan
mendorong orang-orang Sanggar Gading itu kembali masuk ke dalam
lingkaran. Dalam pada itu, orang-orang Kendali Putih itu semakin
lama menjadi semakin garang. Senjata mereka teracu-acu. Ternyata
bahwa satu dua orang diantara mereka yang bertempur itu telah
tersentuh senjata, sehingga darahpun mulai meleleh dari luka. Dalam
pertempuran yang seru itu, Sanggit Raina selalu memperhitungkan
segala kemungkinan. Pada saat pasukannya sudah benar-benar dalam
kesulitan, serta ketika ia melihat seorang pengikut dari padepokan
Sanggar Gading terlempar dari kudanya, karena tusukan tombak pendek
mengoyak lambungnya, maka iapun mulai mengerahkan segenap kekuatan
pasukannya. Sesaat kemudian terdengar suitan nyaring dari mulut
Sanggit Raina. Dalam pada itu, sebelum orang-orang Kendali Putih
menyadari, maka mereka telah mendengar sorak gemuruh dari balik
gerumbul-gerumbul liar dan pategalan yang rimbun. Ternyata
orang-orang Sanggar Gading yang tersisa telah merayap dengan sangat
berhati-hati sambil menuntun kudanya diantara pepohonan di dalam
pategalan mendekati arena. Seperti yang sudah dipesan oleh pimpinan
mereka, maka mereka harus mengejutkan lawan dengan sorak yang
sekeras-kerasnya. Cempaka yang memimpin mereka, segera meloncat ke
punggung kudanya dan meneriakkan aba-aba. Sesaat kemudian, beberapa
ekor kuda berlari-larian menerjang kedinding lingkaran yang sudah
hampir merapat. Dengan senjata teracu mereka dengan garangnya
menyerang orang-orang Kendali Putih yang masih termangu-mangu.
Serangan yang tiba-tiba itu ternyata telah memberikan hasil yang
dikehendaki. Selagi orang-orang Kendali Put ih itu terkejut, maka
orang-orang Sanggar Gading telah memanfaatkan kesempatan itu
sebaik-baiknya, sehingga dalam waktu yang pendek, beberapa orang
Kendali Putih telah terhika oleh senjata orang-orang Sanggar Gading.
“Orangmu memang licik” geram Eyang Rangga “Tetapi jangan kau sangka
bahwa dengan demikian kalian akan mer iang. Semakin banyak
orang-orang kalian memasuki arena perkelahian ini, semakin banyak
korban yang akan kau berikan bagi pusaka yang t idak tentu akan
bermanfaat bagi kalian itu” “Jangan merajuk” jawab Yang Mulia
“nikmat ilah pertempuran yang bagi kalian adalah kesempatan
terakhir, karena dalam pertempuran ini, kalian akan kami binasakan.
Jangan menyesal. Itu adalah tabiat orang-orang Sanggar Gading
menghadapi lawan-lawannya” Eyang Rangga yang juga bernama Sampir itu
menggeram. Dengan segenap kemampuannya ia menyerang orang yang
disebut Yang Mulia itu. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki
ilmu yang tinggi, sehingga dengan demikian, maka keduanya telah
bertempur dengan dahsyatnya. Kuda-kuda merekapun seolah-olah dapat
mengimbangi kemampuan penunggang-penunggangnya. Dalam keadaan yang
paling gawat, kuda-kuda itupun mampu menyesuaikan dirinya. Benturan
senjata keduanya memercikan bunga api diudara. Kekuatan mereka yang
seolah-olah tidak terbatas itu, bagaikan mengaduk udara di sekitar
pategalan. Ayunan senjata mereka telah menumbuhkan desing yang
mendebarkan. Para pengikut dari Sanggar Gading dan Kendali Putih
tanpa sadar telah bertempur menjauhi orang-orang tua itu. “Dimanakah
tongkat gadingmu Yang Mulia” geramSampir. Yang Mulia tertawa pendek
Sambil menyerang ia berdesis “Tongkat itu bukan untuk bertempur.
Terlalu mahal untuk menyentuh senjata lawan. Tetapi pangkal itu ada
pada senjataku ini. Karena itu, tuah gajah mati ngurag itu ada juga
pada senjataku ini” “O” desis Sampir “Aku sama sekali tidak
merasakan kekuatan apapun pada senjatamu. Mungkin karena kemampuanku
memang melampaui kekuatan dan tuah gading gajah mati ngurag. “Omong
kosong” desis Yang Mulia “terasa ditanganku, kekuatanmu sudah jauh
menjadi susut” Eyang Rangga tertawa. Katanya “Kita akan bertempur
sampai tuntas. Mungkin orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang
Kendali Putih akan bertempur sampai orang terakhir. Dan kita akan
bertempur terus. Sejak semula aku sudah ketahui bahwa kau memang
ingin bertempur tanpa, menunjukkan cacat kakimu. Karena itu,
orang-orangmupun kau perintahkan untuk bertempur diatas punggung
kuda. Tetapi Yang Mulia menjawab “Kau sangka, bahwa dengan kakiku
yang cacat aku tidak mampu bertempur diatas tanah?” Eyang Rangga
tertawa. Terdengar kudanya meringkik, seolah-olah ikut pula
mentertawakan jawaban Yang Mulia Wukir Gading. Namun kuda itupun
harus segera bergeser, karena Yang Mulia tidak menyerang dengan
garangnya. Sementara itu pertempuran menjadi semakin sengit.
Ternyata kehadiran orang baru itu sangat mempengaruhi pertempuran.
Satu-satu orang-orang Kendali Putih terlempar dari kudanya. Namun
orang-orang Sanggar Gadingpun menjadi semakin berkurang pula
jumlahnya. Pertempuran berkuda itu ternyata merupakan pertempuran
yang paling dahsyat yang pernah dialami oleh kedua kelompok orang-
orang yang garang itu. Sanggit Raina telah memperhitungkan segalanya
dengan saksama. Ia mulai melihat keseimbangan yang berubah. Meskipun
demikian pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang
dahsyat. Dalam dahsyatnya pertempuran itu, Sanggit Raina berusaha
untuk mendekati Cempaka. Dengan hati-hati ia berbisik “Sudah
saatnya. Pertempuran itu berlangsung sangat seru. Karena itu, kita
tidak boleh menunda lagi. Beritahukan kepada Rahu, agar ia ikut
bersama kita. Jangan menimbulkan kecurigaan terhadap siapapun.
Semuanya harus berlangsung tanpa menarik perhatian orang lain”
Cempaka tidak menjawab. Tetapi iapun segera berkisar. Sambil
bertempur ia berusaha untuk mendekati Rahu yang sedang sibuk pula
dengan lawannya. Namun Cempaka sempat memberi isyarat kepada Rahu,
sehingga akhirnya Rahupun berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan
pertempuran. Ternyata Sanggit Raina telah mempunyai rencana sendir
i. Ditinggalkannya pertempuran yang seru itu. Namun Sanggit Raina
telah memperhitungkan, bahwa pertempuran itu akan berakhir sampai
orang yang penghabisan dari kedua belah pihak. Mungkin Yang Mulia
dan lawannya sajalah yang akan bertempur sampai waktu yang tidak
terbatas. Sementara orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang
Kendali Putih akan habis punah. Sejenak kemudian, tanpa menimbulkan
kecurigaan orang lain, Sanggit Raina, Cempaka dan Rahu berusaha
untuk bertempur dibatas pategalan. Kemudian tanpa diketahui oleh
siapapun ketiganya telah hilang dibalik rimbunnya dedaunan. Untuk
beberapa saat mereka justru telah turun dari kuda mereka dan
menuntun kuda masing-masing untuk menghindari pengamatan
kawan-kawannya. Sementara itu, pertempuran itupun masih berlangsung
dengan sengitnya. Jika semula orang-orang Sanggar Gading nampak agak
mempunyai kelebihan namun kepergian Sanggit Raina, Cempaka dan Rahu
meskipun tidak terlalu terasa ada juga pengaruhnya, sehingga
rasa-rasanya kedua kekuatan itu menjadi seimbang. Dalam pada itu,
Sanggit Raina, Cempaka dan Rahu itupun kemudian telah menyusup ke
tempat Pangeran yang sedang sakit itu di sembunyikan. Dengan
tergesa-gesa iapun berkata kepada orang-orang yang mengawal Pangeran
itu “Keadaan memaksa kita untuk meninggalkan tempat ini. Orang-orang
Kendah Putih jumlahnya tidak terhitung. Kekuatannya melampaui
kekuatan orang-orang Sanggar Gading” “Jadi, apakah yang akan kita
lakukan?“ bertanya salah seorang pengawal Pangeran yang sedang sakit
itu. “Kita meninggalkan tempat ini. Pangeran kita selamatkan dari
tangan orang-orang Kendali Putih” jawab Sanggit Raina. “Dimanakah
Yang Mulia sekarang?“ bertanya pengawal itu. “Yang Mulia masih
bertempur melawan orang terkuat dari Kendali Putih” jawab Sanggit
Raina “Yang Mulialah yang memer intahkan kami untuk meninggalkan
arena dan menyelamatkan Pangeran itu” Orang Sanggar Gading yang
mengawal Pangeran itu sama sekali tidak berprasangka. Menurut
pengamatannya, Sanggit Raina adalah orang yang paling dipercaya oleh
Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Karena itu maka iapun segera
bersiap-siap. Kawan-kawannya yang mengawal Pangeran itupun telah
bersiap-siap pula. “Marilah. Ikut kami ke bukit gundul” berkata
Sanggit Raina. Dengan demikian, maka merekapun segera meninggalkan
pategalan itu menuju ke bukit gundul. Atas perintah Sanggit Raina,
mereka tidak muncul dari pategalan dan turun kejalan, tetapi mereka
berusaha untuk berada dilingkungan pategalan itu, sehingga karena
itu, maka mereka tidak lagi menelusuri jalan sebagaimana seharusnya,
tetapi mereka turun kesawah dan melintasi pematang tanpa
menghiraukan tanaman. Dalam terik matahari dan air yang tidak
mencukupi, tidak ada seorangpun yang turun kesawah. Apalagi
anak-anak Lamban Wetan dan Lamban Kulon sedang beristiiahat setelah
semalam suntuk mereka berada di bendungan. Disebelah pategalan
orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih bertempur
dengan mengerahkan segenap kemampuan mereka. Satu-satu mereka telah
terbunuh. Namun ada juga yang sekedar terlempar dari kudanya dalam
keadaan terluka parah. Sanggit Raina sama sekali tidak menghiraukan
lagi. Dengan tergesa-gesa ia membawa Pangeran yang masih dianggapnya
sakit itu ke bukit gundul. “Rahu” berkata Sanggit Raina “Pergilah
mendahului kami. Panggillah Daruwerdi agar ia mempersiapkan pusaka
yang dijanjikan. Aku telah membawa Pangeran yang dikehendakinya”
Rahu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menyahut “Baiklah.
Aku akan memberitahukan Daruwerdi. agar ia bersiap-siap di bukit
gundul. Sanggit Raina tidak mengulangi pesannya. Rahupun kemudian
memacu kudanya mendahului ir ing-ir ingan itu menuju ke Lumban Kulon
untuk menemui Daruwerdi seperti yang telah disanggupkannya. “Apakah
dengan sikap kita, tidak akan terjadi sesuatu di kemudian nanti”
bertanya Cempaka sambil berbisik disisi Sanggit Raina. “Aku tidak
peduli” jawab Sanggit Raina “Tetapi aku kita mereka akan hancur
bersama-sama. Tidak akan ada yang tersisa. Mungkin satu dua orang
dkntara mereka. Itu adalah kewajiban kita untuk membunuhnya” Cempaka
mengangguk-angguk. Namun kemudian “Bagaimana dengan orang-orang yang
mengawal Pangeran itu?“ “Apakah kita tidak sanggup membunuhnya
pula?“ desis Sanggit Raina. Sekali lagi Cempaka mengangguk-angguk.
Tetapi nampaknya Sanggit Raina masih belum akan berbuat sesuatu atas
para pengawal. Ia masih mempertimbangkan, seandainya orang-orang
Sanggar Gading punah, sementara masih ada orang-orang Kendali Putih
yang tersisa, adalah menjadi kewajiban taereka untuk membinasakan,
sebelum orang- orang Sanggar Gading yang tersisa itu sendiri akan
dibinasakan. “Kita sudah berada diatas genangan darah. Kita tidak
perlu mencuci tangan kita. Biarlah kita berbuat sampai ke batas.
Baru kemudian kita mencari sumber air yang paling bening untuk
mencuci segala macam noda yang melekat ditabuh kita. Tetapi pusaka
dan petunjuk mengenai harta yang tidak terbatas jumlahnya itu harus
berada di tangan kita” geram Sanggit Raina. Cempaka
mengangguk-angguk. Memang t idak ada pilihan lain. Segalanya itu
memang harus terjadi. Jika sekali tangannya telah bernoda darah,
maka sulit baginya untuk ingkar, bahwa noda-noda berikutnya masih
akan melekat. Meskipun seperti Sanggit Raina, Cempakapun mengetahui,
bahwa masih ada satu jalan yang dapat ditempuh. Bertaubat mut lak.
Tetapi juga seperti Sanggit Raina Cempaka berkata didalam hatinya
“Nanti sajalah jika semua kerja sudah selesai” Sekaligus aku akan
bertaubat dan mencuci segala dosa. Belum waktunya sekarang, karena
aku tentu masih akan membuat dosa-dosa baru. Jika kemudian aku sudah
puas dengan dosa-dosa dan aku sudah menjadi kaya raya karena harta
yang akan dapat diketemukan atas petunjuk sesuatu yang berada
bersama pusaka itu, serta apalagi jika pusaka itu benar-benar
bertuah dan menjadikan Sanggit Raina orang terpenting di tanah ini,
maka akupun akan menjadi orang yang berderajad dan sekaligus kaya
raya” Dengan sikap itu Cempakapun telah bertekad untuk berbuat apa
saja dan mengorbankan siapa saja. Ketika Bukit gundul menjadi
semakin dekat. Sanggit Raina dan Cempaka menjadi berdebar-debar.
Demikian gemuruhnya gejolak di dalam dada Cempaka sehingga diluar
sadarnya ia berdesis “Mudah-mudahan orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih itu hancur punah” Ternyatai Sanggit Raina
yang berkuda di sebelahnya mendengarnya. Katanya “Jangan gelisah.
Percayalah” Cempaka mengangguk kecil. Ia berusaha untuk meyakini,
bahwa orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih
memang akan hancur. Sementara itu, Pangeran yang sedang sakit itu
sama sekali tidak berbuat sesuatu. Ia masih nampak sangat lemah.
Diantara para pengawal yang mengikutinya, terdapat seorang yang
mempunyai kemampuan pengobatan. Orang itu pula yang telah memberikan
obat kepada salah seorang Sanggar Gading yang terluka dipategalan.
Tetapi orang itu ditinggalkannya dengan harapan, bahwa
kawan-kawannya akan mengambilnya, setelah pertempuran itu selesai
Dalam pada itu, Pangeran yang sakit itupun nampaknya masih sangat
lemah. Meskipun ia sudah mula nampak berangsur baik, bahkan sudah
mulai mau makan barang sedikit, tetapi ia masih harus dilayani dan
dijaga agar tidak jatuh dari kudanya. “Aku akan dibawa kemana?“
bertanya Pangeran itu kepada pengawalnya. “Ke bukit gundul itu
Pangeran” jawab salah seorang dari mereka. “Apakah sebenarnya yang
mereka kehendaki dari aku?“ desis Pangeran itu pula “nampaknya ada
salah mengerti” “Kami tidak berhak memberikan jawaban. Mungkin
Pangeran sudah mnedengar serba sedikit, sengaja atau tidak sengaja”
jawab pengawalnya itu pula. “Ya. Aku sudah mendengarnya. Seperti
yang kau katakan, sengaja atau tidak sengaja. Tetapi aku tidak yakin
bahwa alasan itulah yang sebenarnya kenapa aku harus dibawa kemari”
desis Pangeran itu. Pengawalnya tidak menyahut. Sanggit Raina yang
berkuda di depan berpaling. Agaknya ia mendengar percakapan itu
meskipun tidak jelas apa yang mereka maksudkan. Meskipun demikian,
percakapan itupun terhenti pula. Karena Pangeran itu nampaknya masih
sangat lemah, maka Sanggit Raina tidak mencemaskannya bahwa ia akan
berbuat sesuatu. Bahkan untuk berdiri tegak tanpa bantuan orang
lain, Pangeran itu rasa-rasanya tidak mampu lagi. “Tetapi ia tidak
boleh mati” berkata Sanggit Raina di dalam hatinya “Daruwerdi tidak
akan mau mengerti apapun alasannya” Beberapa saat kemudian, ir
ing-ir ingan kecil itu sudah tinggal beberapa puluh langkah saja
dari bukit gundul. Karena itu, maka merekapun berhenti di bawah
sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Sebatang pohon munggur
yang besar, meskipun daunnya tidak terlalu lebat. Namun demikian,
mereka dapat berteduh sedikit sambil menunggu kehadiran Rahu dan
Daruwerdi. Dalam pada itu, Rahu telah berada dihalaman rumah tempat
tinggal Daruwerdi. Semula ia merasa ragu. Agaknya ada semacam
kecemasan dihati Rahu. Jika pusaka itu benar- benar jatuh ke tangan
orang-orang Sanggar Gading yang telah berkhianat itu, apakah ia akan
dapat berbuat sesuatu. Dan iapun menjadi cemas akan nasib Pangeran
itu. Jika dendam Daruwerdi itu tidak terkendali, maka Pangeran yang
dianggapnya telah melakukan kesalahan yang sangat besar terhadap
Daruwerdi itu akan mengalami nasib yang buruk justru disaat ia
sedang sakit. Jika demikian, maka telah terjadi sesuatu yang
seharusnya dicegahnya demi nama Demak yang sedang bangkit. “Lalu,
yang manakah yang harus aku kerjakan terutama“ pertanyaan itu
bergejolak diliatinya “Apakah aku harus mendapatkan pusaka itu, atau
menyelamatkan Pangeran yang sedang sakit?“ Sekilas diingatnya Semi
dan seorang kawannya yang akan dapat membantunya. Tetapi ia masih
belum dapat berhubungan karena keadaan yang memang belum
memungkinkan. Bahkan masih ada seorang lagi yang akan melibatkan
diri dalam hal yang pelik itu. Jlitheng. Meskipun Rahu tahu pasti,
siapakah Jlitheng dan kebesaran nama ayahandanya, tetapi dalam
perkembangan berikutnya ia tidak tahu apakah yang sebenarnya ingin
dilakukan oleh enak muda itu. Tetapi Rahu tidak sempat berpikir
terlalu panjang. Ia sudah berada di halaman rumah Daruwerdi. Sejenak
kemudian, Daruwerdi itupun muncul dari balik pintu. Sambil tersenyum
ia berkata “Marilah. Duduklah” Tetapi Rahu menggeleng. Jawabnya
“Tidak perlu. Aku member itahukan kepadamu, segalanya sudah siap”
“Jadi orang-orang Sanggar Gading itu t idak sekedar membual saja?“
bertanya Daruwerdi. “Semuanya judah berada di bukit gundul. Kau
datang sajalah ke bukit itu” berkata Rahu. Daruwerdi menarik nafas
dalam-dalam. Jawabnya “Baiklah. Aku akan pergi ke bukit gundul.
Segalanya akan aku selesaikan di bukit itu” “Terserah kepadamu”
desis Rahu. Namun kemudian iapun bertanya “Tetapi apakah sebenarnya
yang akar kau lakukan atas Pangeran itu” Daruwerdi memandang Rahu
sejenak. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkala “Persoalan
dengan Pangeran itu adalah persoalanku. Apapun yang akan aku lakukan
kemudian, terserah kepadaku. Kalian akan menerima pusaka yang kalian
kehendaki” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat memaksa
Daruwerdi untuk mengatakan apapun juga. Bahkan mungkin akan dapat
menimbulkan kecur igaan pada anak itu. Karena itu, maka iapun
kemudian berkata “Marilah, Cepatlah. Kita akan menyelesaikan
persoalan kita secepatnya sebelum suasana berubah” “Kenapa?“
bertanya Daruwerdi. “Jangan pura-pura tidak tahu kehadiran
orang-orang Kendali Putih di daerah Sepasang Bukit Mati ini” jawab
Rahu. Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya “Aku
tidak peduli kehadiran orang manapun juga. Jika kau serahkan yang
aku kehendaki, maka pusaka yang tidak akan berarti apa-apa bagiku
itu akan aku serahkan pula. Tetapi kalian tentu akan kecewa, karena
sebenarnya pusaka itu sama sekali tidak mempunyai pengaruh terhadap
siapapun. Adalah satu mimpi bahwa pusaka itu akan dapat memberikan
tuah sehingga siapa yang memilikinya akan dapat memegang kendali
kekuasaan di Demak” “Jangan mengigau. Cepatlah berkemas dan ambil
kudamu” potong Rahu. Daruwerdi tersenyum. Jawabnya “Baiklah,
Nampaknya kau sangat tergesa-gesa. Duduklah. Aku akan mengambil
kudaku” “Aku menunggu di sini” sahut Rahu, Ketika Daruwerdi kemudian
masuk ke ruang dalam, dilihatnya ibunya mengusap setitik air
dipelupuknya. Dengan suara lembut ia berdesis “ngger, kau sedang
bermain api” ”Sudahlah ibu” sahut Daruwerdi “Silahkan ibu duduk saja
dan menunggu apa yang akan terjadi. Paman berdua akan menemani ibu
disini. Aku akan pergi ke bukit gundul untuk mengambil orang yang
aku kehendaki itu” “Bagaimana dengan kau dan Pangeran itu j ika
orang-orang yang membawanya telah berkhianat?“ ibunya menjadi cemas.
Tetapi Daruwerdi tersenyum saja. Ketika ia berpaling kepada kedua
orang pamannya, iapun berdesis “Jangan cemas paman. Sebaiknya paman
menunggui ibu disini. Nampaknya ibukan hanya orang-orang Sanggar
Gading sajalah yang datang ke daerah Sepasang Bukit Mati ini. Tetapi
juga orang-orang Kendali Putih dan mungkin orang-orang Pusparuri
pula. “Aku adalah seorang petualang yang sudah kenyang makan pahit
manisnya petualangan” berkata salah seorang pamannya. Lalu “Tetapi
aku kira, aku tidak akan berani melakukan seperti yang akan kau
lakukan” “Bukan apa-apa paman. Mudah sekali” jawab Daruwerdi. Namun
pamannya yang lain berkata “Nampaknya kau tidak tahu bahaya yang
sedang kau hadapi. Seperti kanak-kanak yang tidak tahu panasnya api,
sehingga ia berani memegangnya. Dan sebenarnya itu bukan satu
keberanian. Tetapi semata-mata karena ketidak tahuan” “Agak berbeda
dengan paman” jawab Daruwerdi tersenyum “Anak-anak melakukannya
tanpa kesadaran. Aku melakukan rencanaku dengan sadar dan
perhitungan yang masak” “Perhitungan kanak-kanak” desis ibunya
“agaknya kedua pamanmu mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain”
“Jangan rusakkan rencanaku” desis Daruwerdi “Sudahlah. Aku akan
melakukannya dengan sebaik-baiknya. Sebentar lagi aku akan datang
dengan membawa Pangeran. Kemudian kita akan meninggalkan tempat ini
secepat-cepatnya kearah yang tidak akan diketemukan oleh siapapun”
Daruwerdi tidak dapat dicegah lagi. Karena itu kedua pamannya hanya
dapat mengangkat bahunya. Hampir berbareng keduanya berdesah oleh
kegelisahan. Sementara ibunya dengan lemahnya duduk diamben bambu,
samoil mengusap air matanya yang menitik semakin deras. Tetap
Daruwerdi tidak dapat menunda lagi. Rahu sudah menunggunya. Dan ia
memang akan pergi ke bukit gundul itu. Dengan tergesa-gesa
Daruwerdipun kemudian pergi ke kandang. Diambilnya kudanya dan
dituntunnya kehalaman. Rahu sudah menjadi gelisah. Ketika ia melihat
Daruwerdi, maka Katanya “Cepatlah. Apakah kau sengaja memperpanjang
waktu untuk satu kepentingan tertentu?“ “Kau terlalu berprasangka
buruk” sahut Daruwerdi “Sudah aku katakan. Aku memerlukan Pangeran
itu, karena bagiku nilainya jauh lebih penting dari nilai apapun
juga., Siapapun yang membawanya” Rahu tidak menjawab. Iapun kemudian
dengan tergesa- gesa pula mengajak Daruwerdi untuk segera pergi ke
bukit gundul. Karena Daruwerdi tidak membawa apapun juga, maka
Rahupun bertanya kepadanya ketika keduanya mulai berpacu “Dimana,
pusaka itu? Nampaknya kau tidak membawa apapun juga?“ “Semuanya
sudah ada di bukit gundul itu” bertanya Daruwerdi. “Kau yang
meletakkan disana?“ bertanya Rahu. “Bukan aka Tempatnya memang agak
tersembunyi. Maksudku, bahwa aku telah mengetahui letaknya dengan
pasti. Justru agak tertutup, sehingga aku memerlukan dua atau tiga
orang untuk membantu mengambitaya. Aku sendiri tidak dapat
melakukannya” berkata Daruwerdi. Rahu mengerutkan keningnya. Tetapi
ia tidak menjawab. Memang sebuah teka-teki yang rumit sedang
berkecamuk di dalam kepalanya. Sementara iapun masih belum tahu
pasti, apakah Semi sudah berada di sekitar bukit gundul. “Jika ia
melihat orang-orang Kendali Putih meninggalkan bukit berhutan itu,
ia akan mengikutinya” berkata Rahu di dalam hati “Tetapi apakah ia
melihat Sanggit Raina membawa Pangeran itu meninggalkan arena yang
dahsyat, yang seperti perhitungan Sanggit Raina, kedua belah pihak
akan punah atau setidak-tidaknya mengalami luka yang sangat parah”
lalu, tiba-tiba saja ia berdesis di dalam hati “Jlithenglah yang
tentu sudah melihat kehadiran Sanggit Raina. Tetapi ia tidak melihat
peristiwa yang terjadi di pategalan itu” Sebenarnyalah, dari
kejauhan Jlitheng telah melihat kehadiran Sanggit Riaina bersama
iring- iringan kecilnya. Iapun melihat Rahu yang mendahuluinya. Dan
Jlithengpun mengetahui bahwa Rahu tentu akan memanggil Daruwerdi
untuk melakukan tukar menukar. Tetapi seperti yang diduga oleh Rahu,
Jlitheng tidak tahu apakah sebabnya, yang datang ke bukit gundul itu
hanya beberapa orang saja yang dipimpin oleh Sanggit Raina dan
Cempaka. “Aneh” desis Jlitheng di dalam hati “Apakah artinya
semuanya itu. Apakah ada satu maksud tertentu atau usaha yang sudah
mulai dirintis oleh Cempaka dan kakaknya untuk menguasai pusaka itu
diluar pengetahuan pimpinan tertinggi padepokan Sanggar Gading”
Namun Jlithengpun sudah menduga, bahwa Sanggit Raina dan Cempaka
telah melakukan rencananya untuk mendapatkan satu keuntungan bagi
mereka sendiri. Jlitheng yang bersembunyi dibalik sebuah gerumbul
perdu yang agak jauh dari bukit gundul itu terkejut ketika ia
mendengar desir lembut di belakangnya. Dengan serta merta ia memutar
tubuhnya dan bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Namun
iapun menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat seseorang yang
tersembul dar i sebuah gerumbul yang ber- serakkan di sekitarnya.
“Kiai mengejutkan aku” desis Jlitheng. Kiai Kanthi tersenyum.
Katanya “Aku telah menerima ngger. Aku mengelilingi bukit gundul
ini” “Mereka sudah datang Kiat” desis Jlitheng “Tetapi hanya
beberapa orang saja. Agaknya pimpinan tertinggi padepokan Sanggar
Gading tidak turun sendiri kemedan” “Tidak ngger. Pemimpin tertinggi
padepokan Sanggar Gading inilah yang telah memimpin pasukannya
segelar sepapan” Jlitheng mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia
berkata “Tetapi hanya mereka sajalah yang sampai ke bukit gundul
ini”“ Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Katanya “Yang lain sedang
bertempur di pategalan. Ternyata orang-orang yapg berada di lereng
bukit berhutan itu, tidak menunggu sampai Pangeran itu diserahkan.
Mereka telah menyerang orang- orang Sanggar Gading dan agaknya
mereka ingin merampas Pangeran itu” Jlitheng mengangguk-angguk.
Katanya “Satu pergulatan yang sengit. Nampaknya orang-orang yang
menunggu itu sudah tidak sadar lagi. Tetapi mereka sudah melakukan
sesuatu yang berbahaya. Berbahaya bagi mereka sendiri dan berbahaya
bagi Pangeran itu” “Ya ngger. Tetapi mungkin sekali mereka mempunyai
perhitungan tersendiri. Mungkin mereka menganggap bahwa cara itu
akan lebih baik ditempuh daripada mereka menunggu orang-orang
Sanggar Gading itu memperoleh pusaka yang mereka percaya mempunyai
tuah. Dengan pusaka itu ditanam, maka orang-orang Sanggar Gading
tidak akan dapat dikalahkannya” desis Kiai Kanthi. “Mungkin Kiai,
meskipun mungkin ada perhitungan- perhitungan yang lain. Tetapi satu
kenyataan telah terjadi, bahwa pertempuran itu sudah berlangsung”
jawab Ilitheng. “Ya. Menurut pengamatanku pertempuran itu akan
berlangsung sangat seru. Nampaknya kedua belah pihak mempunyai
kekuatan yang seimbang” berkata Kiai Kanthi. “Lalu kenapa Sanggit
Raina telah membawa Pangeran itu mendahului pasukannya yang sedang
bertempur?“ bertanya Jlitheng. “Aku hanya dapat menyaksikan dar i
kejauhan ngger, sehingga aku t idak dapat mengerti, apakah sesungguh
yang terjadi. Tetapi menurut dugaanku, Sanggit Raina menyelamatkan
Pangeran itu, sehingga dengan demikian maka pusaka itu akan tetap
berada di tangan orang-orang Sanggar Gading meskipun itu akan
berakhir dengan sangat menger ikan. Jika kekuatan mereka benar-benar
seimbang, akan keduanya tentu akan punah sampai orang yang terakhir”
jawab Kiai Kanthi. “Kenapa dengan demikian Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading tidak justru Memanfaatkan tenaga Sanggit Raina Cempaka
dan Rahu selain beberapa orang yang mengawal Pangeran itu untuk
menghancurkan lawan mereka sama sekali. Dengan orang-orang
terpenting dari Sanggar Gading itu, maka mereka tentu akan dapat
mengalahkan lawan mereka” sahut Jlitheng. Tetapi Kiai Kanthi
menggeleng. Katanya “Aku tidak tahu, apakah alasan yang sebenarnya,
bahwa Sanggit Raina telah membawa Pangeran itu. Yang aku katakan
hanyalah satu dugaan” Jlitheng hanya dapat mengangguk-angguk saja.
Mereka memang hanya dapat menduga-duga, apakah yang telah terjadi
sebenarnya. Namun dalam pada itu, pertempuran di pategalan itu
memang telah berlangsung dengan sangat menger ikan. Kedua pihak
ternyata terdiri dari orang-orang yang, kasar. Ketika tubuh mereka
telah basah oleh bukan saja keringat, tetapi darah, maka mereka
menjadi buas dan liar. Mereka tidak lagi dapat menguasai diri.
Mereka bertempur bagaikan seekor harimau yang kelaparan atau sebagai
kawanan serigala yang berebut bangkai. Bahkan mereka yang telah
terluka dan terjatuh dari kuda masing-masingpun masih juga bertempur
dengan sisa- sisa tenaga mereka. Seorang yang telah terluka dengan
sisa tegananya berusaha untuk menghunjamkan pedang mereka pada
lawannya yang sudah terbaring diam sambil mengerang. Namun ternyata
bahwa orang itu tidak mampu lagi melakukannya dan bahkan kemudian
jatuh terbaring dislisi lawannya sambil mengerang pula. Namun mereka
yang masih mampu melangkah dengan tertatih-tatih telah melepaskan
dendam dan kemarahannya kepada lawan-lawannya yang sudah t idak
berdaya. Tetapi ketika seorang yang terhuyung-huyung dengan pedang
di tangan siap untuk menusuk leher, tiba-tiba saja ia telah
terlempar jatuh karena hentakkan bindi yang berat dipunggungnya dari
seorang lawannya yang masih berada dipunggung kuda. Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading masih bertempur dengan sengitnya melawan
Eyang Rangga. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang
lain yang tidak berani mendekat sama sekali. Dengan tangkasnya
keduanya memutar senjata masing- masing. Kuda mereka ber lari
sambar-menyambar. Mereka sama sekali t idak menghiraukan lagi
keadaan disekitar mereka. Satu-satu pengikut mereka dikedua belah
pihak telah terbunuh. Seperti yang diramalkan oleh Sanggit Raina,
bahwa kedua belah pihak pada akhirnya akan mengalami keadaan yang
sangat parah. Meskipun demikian, diluar sadar, Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading dapat melihat, ada yang kurang pada paku- kannya. Dalam
pertempuran yang garang dengan arena yang luas, Panembahan Wukir
Gading merasakan, bahwa, pasukannya tidak bertempur dengan sepenuh
kekuatan. “Ada yang kurang“ Ia berdesis “Tetapi ia tidak segera
mengetahui, apakah yang kurang itu sebenarnya” Sementara itu.
Sanggit Raina, Cempaka dan beberapa orang pengikut dari padepokan
Sanggar Gading masih berada di bawah sebatang pohon yang meskipun
tidak terlalu rimbun, namun dapat menjadi tempat sekedar untuk
berteduh sambil menunggu kedatangan Rahu yang sedang memanggil
Daruwerdi ke bukit gundul. Kegelisahan yang mencengkam membuat
Sanggit Raina tidak dapat berdiri tenang. Kudanya yang
ditambatkannya pada pohon itupun nampaknya menjadi gelisah pula,
Rasa-rasanya Rahu telah pergi sehari penuh. Cempakapun menjadi
gelisah pula. lapun telah menambatkan kudanya dan berjalan hilir
mudik. Sekali-kali ia berhenti memandang kekejauhan. Tetapi ia tidak
melihat Rahu muncul dar i balik tikungan. Sementara itu bukit gundul
itupun nampaknya bagaikan tempurung raksasa yang menelungkup. Diam
dan beku. Sementara itu. Pangeran yang dianggap masih dalam keadaan
sakit itupun menjadi gelisah pula. Ketika ia sadar, bahwa hanya ada
beberapa orang-orang muda yang menungguinya, tambul niatnya untuk
melepaskan dir i. Ia merasa, bahwa ia akan mampu melakukannya.
Meskipun ia tidak dapat bertempur langsung melawan mereka dalam
jumlah yang terlalu banyak, namun dengan hentakkan pertama ia dapat
membunuh orang yang bernama Sanggit Raina itu dengan ilmunya, justru
pada saat orang itu lengah. Kemudian adiknya yang bernama Cempaka
dan para pengikutnya yang lain tidak akan terlalu sulit untuk
melawan sambil menghindar. Tetapi keinginannya untuk mengetahui,
apakah latar belakang dari semuanya itu telah mencegahnya. Ia masih
saja berpura-pura sakit. Dengan demikian ia akan dihadapkan pada
satu saat yang ingin dimengertinya. Pangeran itu benar-benar ingin
mengetahui, siapakah orang yang telah menuntut agar dirinya
diserahkan. Keragu-raguan yang tajam telah menghentak-hentak
didadanya. Namun akhirnya ia memilih untuk tetap tinggal dalam
keadaannya, seolah-olah ia masih seorang yang sakit. Bahkan ia telah
berhasil mengelabui orang yang merawat dan mengobatinya. Ketika
Sanggit Raina dan Cempaka masih saja dicengkam oleh kegelisahan,
maka Pangeran yang dibayangi oleh keragu- raguan itupun telah
berbaring diatas rerumputan. Sebenarnyalah bahwa iapun menjadi
sangat gelisah. Tetapi ia tidak dapat menyingkirkan keinginannya
untuk bertemu dengan orang yang memerlukannya. oooOooo-
Jilid 15 SANGGIT RAINA yang melihat Pangeran itu berbaring
dengan lemahnya berkata “Tahankan Pangeran. Perjalanan Pangeran
sudah hampir selesai” “Kau hanya mengira-ira” sahut Pangeran itu.
“Aku pasti. Pangeran akan sampai ketujuan” berkata Cempaka yang
mendengar percakapan itu. “Tidak anak-anak muda. Bahkan mungkin di
bukit gundul itu, perjalanan yang lebih rumit baru akan aku mulai.
Kalian tidak tahu, apa yang akan terjadi kemudian” desis Pangeran
itu sambil memandang dedaunan dialasnya. Sangit Raina menar ik nafas
dalam-dalam. Katanya “Pangeran benar. Tetapi aku mengatakan,
perjalanan Pangeran diantara orang-orang Sanggar Gading telah hampir
selesai. Dihadapan kita itu adalah bukit gundul. Disana nanti
Pangeran akan bertemu dengan orang yang memer lukan Pangeran” “Ya.
Dan mulailah yang masih belum kita ketahui itu” sahut Pangeran itu
tanpa memalingkan wajahnya. Ketika angin semilir, maka daun-daun
itupun bergerak-gerak perlahan- lahan. Sanggit Raina tidak menjawab
lagi. lapun sadar, bahwa Pangeran yang disangkanya masih sakit dan
lemah itu menjadi sangat gelisah, karena ia tidak mengetahui apa
yang akan terjadi atas dirinya setelah ia diserahkan kepada orang
yang tidak dikenalnya pula. Menunggu memang merupakan pekerjaan yang
sangat- tidak menyenangkan. Sekali-kali terdengar Cempaka mengumpat
seolah-olah Rahu tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan
sebaik-baiknya, Namun sejenak kemudian, Cempaka itupun- meloncat ke
tengah jalan ketika ia melihat debu yang mengepul. Kemudian muncul
seekor kuda dengan penunggangnya. “Orang itu datang” desis Cempaka.
Sanggit Rainapun kemudian siap pula menyongsongnya. Namun dengan
jantung yang berdebaran ia berkata “Sendir i” “Mudah-mudahan orang
itu tidak menjadi gila dan membunuh Daruwerdi geram Cempaka. “Tentu
tidak” sahut Sanggit Raina. “Jika terjadi perselisihan?“ desis
Cempaka pula. “Tidak. Ia cukup mengerti arti dari persoalan ini
dalam keseluruhan” gumam Sanggit Raina. Kuda Rahu yang berlari itu
rasa-rasanya sangat lamban. Namun akhirnya Rahu itupun telah
meloncat turun dari kudanya ketika ia sudah berada dihadapan Sanggit
Raina dan Cempaka. Pangeran yang berbaring itu masih saja berbaring.
Seolah- olah ia sama sekali tidak menghiraukan kedatangan Rahu.
Tanpa bergeser dan berpaling sedikitpun, ia menarik nafas sambil
berdesis “Segalanya terasa semakin gelap bagiku” Namun sementara itu
Sanggit Raina berkata “Katakan, apa yang sudah kau lakukan” Rahu
termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Pangeran yang masih saja
berbaring direrumputan. Seolah-olah ia sudah pasrah, apa yang akan
terjadi atasnya, selain karena menurut dugaan Rahu, sakitnya masih
belum berkurang. “Cepat, katakan“ desak Cempaka. Rahu menar ik nafas
panjang. Kemudian diceriterakannya apa yang sudah dikatakan oleh
Daruwerdi kepadanya. “Jadi kita harus pergi ke bukit gundul itu”
bertanya Sanggit Raina, “Ya” jawab Rahu. “Anak setan. Ia tidak mau
datang hanya beberapa langkah saja dari bukit gundul?“ bertanya
Cempaka. “Pusaka yang dikatakannya berada di bukit gundul. Justru
berada di tempat yang sulit untuk diambil. Ia memer lukan bantuan
beberapa orang diantara kita” jawab Rahu. Sanggit Raina tidak mau
menunggu lebih lama lagi. Iapun segera memer intahkan orang-orangnya
untuk bersiap. Katanya “Kita harus melakukan semuanya dengan cepat.
Jika pada pertempuran itu masih ada orang-orang Kendali Putih yang
tersisa, maka kita harus berhati-hati” Mungkin mereka akan menyusul
kita dan kita masih harus bertempur” “Apakah menurut pendapatmu,
orang-orang kita termasuk Yang Mulia tidak dapat mengalahkan
orang-orang Kendali Putih?“ tiba-tiba saja seorang pengikutnya
bertanya. “Tentu orang-orang Sanggar Gading akan menang” jawab
Sanggit Raina “Tetapi segalanya dapat terjadi, dan Yang Mulia telah
memerintahkan aku untuk mendahului perjalanannya. Bukankah itu
merupakan satu pertimbangan atau satu kemungkinan?“ Pengikutnya
tidak bertanya lagi. Namun iapun kemudian berkata kepada Pangeran
yang masih berbaring “Cepat Pangeran. Bangkitlah dan kita akan
berangkat lagi” Dengan segan Pangeran itupun kemudian bangkit.
Nafasnya masih nampak sesak dan sekali-kali ia masih memegangi
punggungnya sambil berdesah. Dibantu oleh seorang pengikut Sanggit
Raina, Pangeran itu naik ke punggung kudanya. Ketika terdengar ia
berdesis, orang yang membantunya membentaknya “Jangan terlalu manja”
Cempaka yang mendengar kata-kata pengikutnya itupun membentak pula
“Gila. Pangeran sedang sakit. Apakah kau ingin merasakannya? Aku
dapat membuat kau sakit, dan melihat, apakah kau dapat naik ke
punggung kuda” Orang itu terdiam. Tetapi dengan tajamnya ia
memandangi Pangeran yang sudah duduk dipunggung kuda. Betapa
kebencian orang itu nampak pada sorot matanya. Tetapi Pangeran itu
tidak menghiraukannya. Sejenak kemudian, iring- iringan itu sudah
bergerak ke bukit gundul yang sudah berada di depan hidung mereka.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi, mereka harus datang ke
bukit gundul dan membantu mengambil pusaka itu. Mereka hanya
memerlukan waktu beberapa saat. Ketika iring- iringan itu sudah
berada di kaki bukit itu, maka Rahu telah meloncat turun. Dengan
nada tinggi ia memanggil “Daruwerdi. Kami sudah disini” “Kemarilah“
terdengar jawaban dar i kejauhan. Lalu “Aku memer lukan tiga orang
untuk membantuku agar segalanya cepat selesai” Rahu berpaling kearah
Sanggit Raina untuk minta pertimbangannya. Namun kemudian Sanggit
Rainapun berkata kepada Cempaka “Pergilah bersama Rahu dan seorang
lagi. Jika terjadi kecurangan, beri aku isyarat“ Rahu dan seorang
pengikut padepokan Sanggar Gadingpun kemudian mengikuti Cempaka naik
ke bukit gundul itu menuju kearah suara Daruwerdi dibalik sebuah
bongkahan batu padas yang besar. Sementara Sanggit Raina dan
beberapa orang lainnya, menunggui Pangeran yang sudah turun pula
dari kudanya dan duduk dengan lemahnya bersandar batu padas.
“Pangeran merasa letih sekali?“ bertanya Sanggit Raina. “Aku akan
mati” berkata Pangeran itu “nafasku menjadi sesak dan darahku serasa
berhenti” “Tahankan Pangeran. Sebentar lagi Pangeran akan bertemu
dengan orang yang memerlukan Pangeran” desis Sanggit Raina, “Dimana
orang itu?“ bertanya Pangeran yang masih nampak seperti orang sakit.
“Pangeran dengar suaranya. Dibalik sebongkah batu padas itu. Ia
sedang mengambil pusaka yang dikatakannya” jawab Sanggit Raina.
Pangeran itu tidak menjawab. Tetapi kegelisahan yang sangat telah
mencengkam jantungnya. Bukan karena ia akan berada di tangan orang
yang tidak dikenalnya Tetapi bahwa seseorang telah ingin menukarnya
dengan pusaka itu, agaknya telah menumbuhkan satu gejolak yang
dahsyat di dalam hatinya. Ia menjadi semakin cur iga atas segala
persoalan yang dihadapi. “Ada satu permainan yang rumit” berkata
Pangeran itu di dalam hatinya “Tetapi aku kira, aku mulai dapat
merabanya. Meskipun mungkin salah, tetapi ada kemungkinan bahwa
memang demikianlah nalarnya” Tetapi Pangeran itu masih tetap dalam
sikapnya. Ia adalah seorang yang sakit, yang tidak mampu berbuat
apa-apa. Meskipun ia seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi
ia tidak dapat melawan kehendak Yang Paling Berkuasa Ilmunya yang
bertimbun di dalam dirinya, tidak satupun yang dapat dipergunakan
untuk melawan sakit yang datang kepadanya. Bahkan seandainya
seseorang berilmu kebal sekalipun, ia tidak akan kebal terhadap
penyakit yang memang dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa. Pangeran itu
hampir tidak dapat menahan hatinya untuk ikut naik dan bertemu orang
yang berada di balik sebongkah batu padas, yang mengatakan bahwa
pusaka itu ada di tempat itu, dan memerlukan tiga orang untuk
membantu mengambilnya. “Semuanya sudah gila. Permainan inipun
permainan gila pula nampaknya” desis Pangeran itu. Namun setiap kali
ia akan melakukan sesuatu, maka iapun selalu kembali kepada
keadaannya. Ia harus benar-benar seperti, orang yang masih belum
mampu berbuat apa-apa, karena penyakitnya. Dalam pada itu Cempaka
dan kedua orang yang menyertainya telah hilang dibalik batu padas.
Mereka termangu-mangu sejenak, karena mereka tidak segera melihat
Daruwerdi. Bahkan Cempakapun kemudian berdesis “Daruwerdi, dimana
kau bersembunyi?“ “Aku disini” jawab Daruwerdi “kemar ilah”
Cempakapun kemudian beringsut maju. Dihadapannya terdapat sebuah
lekuk dan sebongkah batu padas yang lain berdiri tegak bagaikan
pintu gerbang. Dengan hati-hati Cempaka maju beberapa langkah
diikuti oleh Rahu dan seorang kawannya. Bagaimanapun juga mereka
tidak dapat mempercayai Daruwerdi sepenuhnya. Mungkin anak itu akan
berbuat kecurangan atau tingkah laku yang dapat merugikan
orang-orang Sanggar Gading. Bahkan seorang pengikutnya telah
memegang hulu pedangnya ketika mereka melingkari batu padas itu.
Namun ternyata mereka justru menarik nafas dalam-dalam. Mereka
melihat Daruwerdi duduk diatas sebongkah batu padas. “Kalian
ternyata memang pengecut” berkata Daruwerdi ketika Cempaka bergeser
mendekatinya. “Kenapa?“ bertanya Cempaka. “Kau kira aku akan berbuat
curang? Kau merangkak seperti seorang pencuri memasuki rumah yang
dijaga oleh sepasukan prajurit “ Cempaka menggeretakkan giginya.
Katanya “Jangan banyak bicara. Aku dapat membunuhmu sekarang, karena
pusaka itu akan dapat aku ketemukan tanpa kau sekarang ini”
Daruwerdi tertawa. Katanya “Jangan mimpi. Pusaka itu masih
belumdapat kalian cari sendiri tanpa aku” “Tentu dapat Pusaka itu
tentu berada di dalam lekuk itu. Memang sulit untuk mengambilnya,
tetapi aku akan dapat melakukannya” jawab Cempaka. Daruwerdi
tertawa. Disela-sela suara tertawanya ia berkata “Kau tergesa-gesa.
Pusaka itu tidak ada disitu. Aku memang menunggumu disini. Tetapi
pusaka itu tidak berada disini“ “Gila“ geram Cempaka “Cepat. Ambil
pusaka itu. Kami tidak mempunyai waktu lagi” “Kau sudah membawa
orang yang aku minta?“ bertanya Daruwerdi. “Lihatlah. Pangeran itu
adalah di lereng bukit ini” geram Cempaka. “Baiklah, aku percaya.
Akupun percaya bahwa kalian tidak akan curang. Setelah aku
menyerahkan pusaka itu, maka kalian harus menyerahkan Pangeran itu.
Jika tidak, kalian tentu akan menyesal. Aku sudah berusaha untuk
tidak mempergunakan kekerasan. Tetapi jika kalian dengan kecurangan
itu, maka orang-orang Sanggar Gading akan tumpas disini” ancam
Daruwerdi. “Omong kosong” potong Cempaka “Kau memang banyak bicara.
Sekarang, manakah pusaka itu” “Sebenarnya aku akan minta Pangeran
itu dibawa naik kepuncak bukit ini” berkata Daruwerdi kemudian.
“Pangeran itu sedang sakit. Kau tentu sudah tahu. Ia tidak akan
dapat merangkak sekalipun iampai ke tempat ini. Kecuali jika kau mau
turun sebentar dan mendukungnya” jawab Cempaka geram. Daruwerdi
tersenyum. Katanya “Jangan cepat marah. Marilah Aku akan mengambil
pusaka itu. Kalian harus membantuku Kemudian aku sendiri akan
membawanya turun dan menyerahkannya kepada seseorang yang berhak
menerima, tetapi Pangeran itu harus kalian serahkan kepadaku dengan
tangan terikat” “Ia sedang sakit. Berdiripun ia tidak mampu. Mengapa
harus diikat?“ bertanya Rahu. Daruwerdi termangu-mangu. Namun
kemudian Katanya “Meskipun sedang sakit, tetapi ia mempunyai
setumpuk ilmu di dalam dir inya” “Ia tidak mampu mengetrapkan
ilmunya dalam keadaannya” jawab Rahu “ketika kami mengambilnya, maka
ia tidak dapat bangkit dari pembaringannya. Jika ia mampu ia tentu
akan ikut bertempur bersama pengawal-pengawalnya. Jika demikian,
kami pasti tidak akan dapat membawanya kemari“ Daruwerdi
mengangguk-angguk. Agaknya yang dikatakan Rahu itu benar. Jika la
tidak dalam keadaan yang sangat lemah, maka ia tentu dapat berbuat
sesuatu. Orang-orang Sanggar Gading tidak akan dapat dengan mudah
menawannya dan membawanya ke bukit gundul itu. “Baiklah” berkata
Daruwerdi “nanti aku akan melihatnya. Jika perlu, aku minta Pangeran
itu terikat. Jika ia tidak berbahaya, biarlah ia bebas” “Tetapi
jangan terlalu banyak berbicara. Kita akan mengambil pusaka itu”
potong Cempaka. “Baiklah Kita akan mengambilnya sekarang” jawab
Daruwerdi. Cempaka menjadi berdebar-debar. Tetapi karena Daruwerdi
hanya seorang diri dan tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan,
maka Cempakapun tidak bersikap terlalu tegang Ketika Daruwerdi
kemudian bangkit dan meloncat di- antara batu-batu padas, maka
Cempaka Rahu dan seorang pengikutnya telah mengikut inya pula.
Ternyata seperti yang dikatakan oleh Daruwerdi, pusaka itu tidak
berada di dalam lekuk dibalik batu padas itu. Tetapi mereka masih
menyusuri lekuk itu beberapa puluh langkah. “Tetapi jangan mencoba
berkhianat” geram Daruwerdi “tanda tempat pusaka itu sudah nampak”
“Persetan“ geram Cempaka. “Diseputar gunung kecil yang gundul ini,
terdapat orang- orangku yang siap membantai kalian” berkata
Daruwerdi. Cempaka tidak menjawab. Namun ia mulai tertarik kepada
sebongkah batu padas. Batu padas yang mempunyai bentuk yang khusus,
yang jika diperhatikan dengan sungguh- sungguh, akan nampak bekas
tangan manusia yang membentuknya” Setapak demi setapak Cempaka
melangkah mendekati batu padas itu. Sambil tersenyum Daruwerdi
mengamatinya. Namun ketika Cempaka mengguncang-guncang batu itu,
sambil tertawa Daruwerdi berkata “Tidak disitu, batu itu hanya satu
tanda. Tetapi barang yang kau cari berada di tempat lain” “Aku tahu.
Cepat, tunjukkan” jawab Cempaka. Daruwerdipun kemudian melangkah
maju. Dengan nada datar ia berkata “Kemar ilah. Aku akan mulai”
Cempaka mengerutkan keningnya. Dengan heran ia bertanya “Apa yang
akan kau mulai?“ “Mengambil pusaka itu” jawab Daruwerdi “Mulai apa?“
bertanya Cempaka pula. “Kau kira aku akan dapat mengambil pusaka itu
begitu saja? Kau harus menyadari, bahwa pusaka itu bukan sembarang
pusaka. Aku sendir i tidak tahu, pusaka apa yang ada di dalamnya.
Tetapi aku menguasai syarat untuk mengambilnya. Aku mengerti,
siapakah yang harus aku sebut agar pintu penyimpanan pusaka itu
terbuka” berkata Daruwerdi “Jadi apa gunanya kami bertiga kau suruh
membantu mengambil pusaka itu?“ bertanya Cempaka pula. “Kau memang
dungu. Selama ini kau hanya mengenal batu, padang perdu dan hutan
behendotan” desis Daruwerdi “dengar. Pusaka itu adalah pusaka yang
bertuah. Meskipun kita akan mengerahkan seribu orang untuk
mengambilnya, kita tidak akan berhasil j ika pintu gaib itu tidak
terbuka. Nah, sekarang, kaulah yang memperpanjang waktu dengan
pertanyaan-pertanyaanmu yang bodoh itu” Cempaka mengerutkan
keningnya. Lalu katanya “Baiklah. Lakukan secepat dapat kau
selesaikan. Waktuku tidak banyak. Tetapi ingat, jangan mempermainkan
kami. Meskipun seandainya benar disekitar tempat ini ada
orang-orangmu tersembunyi, tetapi aku tentu sudah sempat membunuhmu
lebih dahulu. Betapa cepatnya isyarat yang kau lontarkan, dan betapa
cepatnya orang-orangmu bergerak, namun mereka akan tertahan oleh
orang-orang Sanggar Gading barang satu dua kejap. Waktu itu sudah
cukup untuk membunuhmu” Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi iapun
kemudian melangkah mendekati batu yang nampak bekas tangan manusia
yang membentuknya meskipun hanya sederhana. Kemudian anak muda itu
duduk menghadap batu itu dengan sikap yang sungguh-sungguh, “Bantu
aku” berkata Daruwerdi “terserah caramu. Tetapi kita akan memohon
agar pintu dibuka, sehingga kita akan dapat mengambil pusaka itu”
Tiba-tiba saja Cempaka telah dicengkam oleh suasana yang aneh.
Diluar sadarnya, iapun kemudian berjongkok pula, diikuti oleh Rahu
dan seorang kawannya. Dengan jantung yang berdebar-debar, Cempaka
mengikuti apa yang sedaag dilakukan oleh Daruwerdi. Ia melihat anak
muda itu tepekur sambil bergeramang tanpa diketahui artinya.
Sementara itu, di bawah bukit gundul. Sanggit Raina menunggu dengan
gelisah. Waktunya tidak terlalu banyak. Masih banyak kemungkinan
dapat terjadi. Jika pertempuran itu berakhir dan masih terdapat
sisa-sisa pasukan dari kedua belah pihak, maka mereka tentu akan
mencarinya di bukit gundul ini. Terutama orang-orang Sanggar Gading
sendir i. Bagi Sanggit Raina, Cempaka rasa-rasanya telah pergi untuk
waktu yang lama sekali. Tetapi disaat-saat ia hampir kehabisan
kesabaran, Cempaka ternyata masih belum tampak turun dari bukit
gundul itu. Dalam pada itu, nampaknya keadaan Pangeran itupun
menjadi semakin gawat. Ia nampaknya menjadi semakin lemah. Sambil
duduk bersandar batu padas, terdengar sekali- sekali ia menegerang.
Bahkan kemudian, terdengar ia berdesis “Apakah aku boleh bernaung di
bawah bayangan bebatuan itu” Sanggit Raina yang gelisah, "hampir t
idak menghiraukannya. Karena itu, dengan acuh tidak acuh ia bergumam
“ Silahkan. Tetapi jangan berusaha menjauhi aku untuk tujuan
tertentu” “Aku hampir mat i. Badanku rasanya menjadi sangat panas,
sementara angin yang bertiup semakin kencang, membuat jantungku
bagaikan berhenti berdetak” berkata Pangeran itu. “Bawa Pangeran itu
beringsut“ Sanggit Rainapun kemudian memer intahkan pengikutnya
untuk membantu Pangeran itu. Dibantu oleh orang-orang yang
mengawasinya Pangeran itu beringsut. Ia justru mencari tempat yang
dapat dipergunakannya untuk berbaring. Agaknya tubuhnya benar- benar
terasa berat dan kepalanya menjadi pening. Namun dalam pada itu,
gejolak di dalam dadanyapun rasa- rasanya semakin bergelora. Seperti
Sanggit Raina, ia hampir tidak sabar menunggu orang-orangnya yang
naik ke bukit gundul untuk mengambil pusaka yang akan dipertukarkan
dengan dir inya itu. Sementara orang-orang di bukit gundul itu
dicengkam oleH kegelisahan, di pategalan pertempuran benar-benar
menjadi semakin dahsyat. Meskipun kemampuan setiap orang telah
menjadi susut oleh kelelahan, serta jumlah merekapun telah jauh
berkurang dikedua belah pihak, namun dendam dan kebencian justru
menyala semakin besar disetiap dada, Orang-orang Sanggar Gading dan
orang Kendali Putih sama sekali tidak lagi mengenal sesama mereka
sebagaimana mereka bersama telah dit itahkan ke wajah ibumu untuk
bersama-sama hidup dalam kasih Maha Penciptanya. Tetapi mereka
benar-benar menjadi liar dan buas oleh noda-noda darah ditubuh
mereka. Jika diantara orang-orang Sanggar Gading ada yang
meninggalkan arena sambil membawa Pangeran yang sakit itu, maka
diluar pengamatan kawan-kawannya, maka seseorang telah meninggalkan
arena dari lingkungan orang- orang Kendali Putih. Sambil tersenyum
ia bergumam “Akhirnya orang-orang Pusparurilah yang akan menguasai
segalanya. Sejak semula Daruwerdi telah berhubungan dengan orang-
orang Pusparuri. Akhirnya ia harus kembali kepada orang- orang
Pusparuri pula” Tetapi ternyata orang itu menjadi berdebar-debar
ketika ia mendengar derap kaki kuda menyusulnya. Karena itu, maka
iapun segera bersiaga. Jika ada orang Sanggar Gading yang melihatnya
dan kemudian mengerjakannya, maka ia harus bertempur, karena ia
tidak mau mati. Namun orang itu menarik nafas dalam-dalam. Yang
menyusulnya ternyata adalah orang yang berkumis lebat. Orang Kendali
Putih yang dapat dibujuknya untuk memanaskan suasana sehingga
pimpinan Kendali Putih telah mengambil sikap yang menentukan.
Hancurnya kedua belah pihak yang sedang bertempur itu. “Jangan lari”
berkata orang berkumis lebat itu, “Aku tidak akan lari” jawab orang
itu “Tetapi bukankah wajar jika aku meninggalkan arena yang bagaikan
neraka itu? Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Keduanya akan
hancur dan orang-orang Pusparuri akan segera datang mengambil pusaka
itu” “Bagaimana kau akan dapat mengambil pusaka itu tanpa
menyerahkan orang yang dikehendaki oleh Daruwerdi?“- bertanya orang
berkumis lebat itu. “Jangan terlalu bodoh. Dalam pertempuran yang
menger ikan itu tentu akan ada penyelesaian. Apakah orang Sanggar
Gading atau orang Kendali Putih akan memenangkan pertempuran itu dan
akan mendapatkan pusaka yang diperebutkan, meskipun mungkin hanya
tinggal satu atau dua orang saja diantara mereka. Baik orang Sanggar
Gading maupun orang Kendali Putih yang masih tinggal hidup akan
membawa Pangeran yang sakit itu dan menukarkannya dengan pusaka ku.
Nah pada saat berikutnya orang-orang Pusparuri dengan kekuatan yang
utuh akan datang untuk mengambil pusaka itu” berkata orang Pusparuri
yang berhasil berada dilingkungan orang Kendali Putih itu. “Dari
mana kau tahu, apakah pusaka itu ada diantara orang-orang Sanggar
Gading atau orang-orang Kendali Putih” bertanya orang berkumis lebat
itu. “Mudah sekali. Kami dapat bertanya kepada orang yang masih
hidup dari kedua belah pihak, atau kepada Daruwerdi sendiri” Jawab
orang Pusparuri itu. Lalu “Dan apakah kau tidak dapat membayangkan
bahwa masih ada kawan kita yang tinggal diantara orang-orang Kendali
Putih itu?“ “Bagaimana jika ia terbunuh?“ bertanya orang berkumis
lebat. Orang Pusparuri itu tertawa. Katanya “Ia tidak terlalu dungu
seperti kau. Ia akan tetap hidup. Dan ia akan melaporkan hasil
terakhir dari pertempuran itu sementara aku menyiapkan pasukan
Pusparuri yang utuh dan kuat untuk mengambil tindakan terakhir”
Orang berkumis lebat itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia
berkata “Apapun yang akan terjadi, aku tidak peduli. Aku akan
mengambil hakku. Aku telah berhasil membakar pertempuran itu
sehingga kau akan dapat mengambil keuntungan dari padanya” Orang
Pusparuri itu mengerutkan keningnya. Namun iapun segera mengusir
kesan itu dari wajahnya. Sambil tersenyum ia berkata “Baiklah. Kau
akan mendapat hakmu setelah kau berada diantara orang-orang
Pusparuri” “Kenapa harus menunggu?“ bertanya orang berkumis lebat
itu. Orang Pusparuri itu mengumpat. Katanya “Kau kira aku sudah
menyiapkan upah yang akan kau terima? Ketika aku berangkat memasuki
padepokan Kendali Put ih, aku belum yakin bahwa aku akan berhasil
Karena itu, aku belum membawa apapun yang dapat aku berikan
kepadamu” Orang berkumis lebat itu mengerutkan keningnya. Tetapi aa
tidak menjawab lagi. Ia mengerti, bahwa orang Pusparuri itu tentu
tidak berbuat demikian, seperti yang dikatakannya. Jika ia membawa
apapun yang mempunyai nilai seperti yang dijanjikan maka hal itu
akan dapat menimbulkan bencana baginya. Dalam pada itu, untuk
beberapa saat lamanya keduanya berkuda bersama-sama. Orang berkumis
lebat itu mulai membayangkan apa yang akan diterima dari orang
Pusparuri itu Iapun mulai mereka-reka, apa yang akan dapat dilakukan
setelah itu, “Aku akan meninggalkan daerah ini dan pergi jauh ke
daerah Timur” berkata orang itu di dalamhatinya. Namun dalam pada
itu, ia menjadi berdebar-debar jika ia membayangkan apa yang sedang
terjadi dipategalan. Pembunuhan yang tidak terkekang, seolah-olah
yang sedang bertarung antara hidup dan mati itu bukannya sekelompok
manusia. Titah tertinggi dari Pencipta sekalian Alam. “Persetan“
geram orang berkumis lebat itu di dalam hatinya “Mereka bukan sanak
bukan kadang. Mereka tidak akan menolong aku jika aku hidup dalam
kesulitan. Mereka tidak mau tahu apakah anakku hari ini makan atau
tidak. Karena itu, biarlah mereka saling membunuh seperti sekelompok
serigala kelaparan berebut bangkai. Atau mereka sendir i akan
menjadi bangkai” Demikianlah mereka semakin lama menjadi semakin
jauh dari pategalan. Bukit Gundul dan Bukit berhutan itupun menjadi
semakin lama semakin baur diantara padukuhan yang berserakkan.
Tiba-tiba saja orang Pusparuri itu berkata “Kita sudah cukup jauh.
Aku merasa lelah sekali. Aku ingin berhenti sebentar jika kita
melalui sebuah parit” “Jarang sekali ada parit di daerah yang kering
ini. Di Lumban anak-anak muda berusaha untuk mengendalikan air dari
bukit berhutan itu. Tetapi disini tidak” jawab orang berkumis lebat
itu. “Jika demikian, aku akan berhenti di bawah sebatang pohon yang
dapat memberikan sedikit keteduhan kepada kudaku yang letih setelah
berjuang dalam pertempuran yang gila itu. Nampaknya meskipun hanya
segores kecil, terdapat luka di kaki kudaku. Mungkin ujung pedang,
mungkin ujung tombak” berkata orang Pusparuri. Orang berkumis lebat
itu tidak berkeberatan. lapun merasa lelah setelah bertempur untuk
beberapa saat, meskipun seolah-olah ia t idak bersungguh-sungguh dan
selalu berusaha menghindari agar tidak mati dipeperangan itu. Dengan
demikian, ketika mereka melihat sebatang pohon mahoni yang besar d
"pinggir jalan, maka keduanyapun segera berhenti. Mereka menambatkan
kuda mereka pada pepohonan perdu di bawah pohon mahoni itu,
sementara keduanyapun beristirahat pula. Namun tiba-tiba saja telah
terjadi sesuatu yang menggelit ik orang berkumis lebat itu. Diluar
kehendaknya, terlihat olehnya ketika kain panjang orang Pusparuri
itu tersingkap, ternyata ia memakai ikat pinggang bertimang emas
bertretes berlian. Justru karena caranya memakai itu tidak iaj im
seperti biasanya orang memakai ikat pinggang, maka orang berkumis
lebat itu semakin tertarik untuk memperhatikannya. “Ikat pinggang
itu sengaja disembunyikan” berkata orang berkumis lebat itu di dalam
hatinya “agaknya orang Pusparuri ini t idak jujur terhadapku. Jika
ia mengajak aku memasuki sarangnya, apakah dapat mempercayainya
bahwa ia tidak akan ingkar janji, justru aku akan dibantainya
diantara kawan- kawannya” Sejenak orang berkumis lebat itu tidak
berbuat sesuatu. Tetapi telah terjadi bertarungan- yang sengit di
dalam dirinya. Ikat pinggang itu sendiri tidak cukup bernilai untuk
dimilikinya. Tetapi timang emas bertretes berlian itu harganya cukup
tinggi. Karena timang itulah, maka orang Kendali Putih itu berusaha
untuk melihat barang-barang lainnya yang berharga pada orang itu.
Dua buah cincin di jari-jarinya tidak menarik perhatiannya karena
cincin itu berwarna putih. Mungkin terbuat dari perak. Tetapi ia
tidak menghiraukannya. “Tetapi apakah yang terdapat di dalam kantong
ikat pinggangnya itu?“ bertanya orang berkumis lebat itu di dalam
hatinya. Akhirnya ia tidak dapat menahan diri lagi. Nampaknya acuh
tidak acuh saja ia bertanya “Kau mempunyai timang yang begitu bagus.
Darimana kau dapatkan, he?“ Orang Pusparuri itu terkejut. Sambil
membenahi kain panjangnya ia berkata “Ah, ini bukan apa-apa” “Jangan
bohong. Kau mempunyai timang emas tretes berlian yang harganya tentu
mahal sekali. Selebihnya, apa isi kantong ikat pinggang yang kau
sembunyikan di bawah kain panjangmu itu?“ bertanya orang berkumis
lebat. Orang itu akhirnya justru tertawa pendek. Katanya “Kau ini
seperti tidak tahu saja. Bukankah kita sama-sama menelusuri
malam-malam yang pekat dengan senjata ditangan” “Tetapi aku tidak
pernah memilikinya” berkata orang berkumis lebat itu. Orang
Pusparuri itu tertawa semakin keras. Katanya “Kau memang bodoh.
Terakhir kita merampok sebelum kita pergi ke lereng bukit berhutan
itu. aku menemukan benda-benda ini. Karena aku memang bukan orang
Kendali Putih yang sebenarnya, maka barang-barang ini tidak pernah
aku tunjukkan kepada para pemimpin Kendali Putih. Aku hanya
menyerahkan sebuah keris iberpendak perak. Sementara yang lain, aku
miliki sendir i” “Jadi apa yang berada di kantong ikat pinggangnya
itu?“ desak orang berkumis lebat itu. “Ah, bukan apa-apa” jawab
orang Pusparuri itu. Sejenak orang berkumis lebat itu terdiam. Namun
gejolak di dalam dadanya terasa semakin menggelora. Ketika ia tidak
dapat menahan diri lagi, maka tiba-tiba saja iapun berdiri sambil
menggeram “Aku tidak perlu menunggu. Berikan apa yang kau punya. Kau
akan mendapat gantinya jika kau sudah berada di dalam lingkunganmu.
Upah yang akan kalian ber ikan kepadaku, karena aku sudah berhasil
membakar hati para pemimpin padepokan Kendali Putih akan menjadi
milikmu” Orang Pusparuri itu menegang. Namun iapun kemudian berdiri
sambil berkata “Jangan begitu. Kita belum tahu, seberapa banyak
pemimpinku akan memberikan hadiah kepadaku. Mungkin jauh lebih
banyak dari harga timang dan isi kantong ikat pinggangku ini” “Itu
adalah keuntunganmu” jawab orang berkumis lebat “apapun yang akan
kau terima, aku tidak akan menuntut lebih dari yang aku terima
sekarang” “Jika kurang dari itu?“ sahut orang Pusparuri itu “Akulah
yang rugi. Aku kehilangan barang-barang berharga yang akan dapat
menjadi milikku” “Kau sudah menyalahi ketentuan yang berlaku di
dalam lingkungan Kendali Putih. Meskipun kau bukan orang Kendali
Putih yang sebenarnya, tetapi pada saat perampokan itu terjadi, kau
bertindak atas nama orang Kendali Putih. Karena itu, barang-barang
itupun bukan hakmu” berkata orang berkumis lebat itu “selebihnya,
barang-barang itu bukan milikmu, sehingga j ika barang-barang itu
kau berikan kepadaku, kau tidak kehilangan apa-apa Bahkan kau masih
akan menerima upah yang seharusnya aku terima” “Jangan begitu” jawab
orang Pusparur i itu “Kita tidak membicarakannya sekarang. Kau akan
aku bawa menghadap pemimpinku. Percayalah, pemimpinku adalah seorang
yang baik, jujur dan menghargai kerja orang lain. Memang ada sedikit
perbedaannya dengan orang-orang Kendali Putih. Orang-orang Pusparuri
tidak segarang orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar
Gading” Tetapi orang berkumis lebat itu berkata lantang “Sudahlah.
Jangan banyak alasan lagi. Aku sudah jemu hidup dalam lingkungan
serigala yang selalu kelaparan. Aku akan pulang dengan barang-barang
berharga. Aku akan menyingkir dan hidup dengan cara yang lain”
“Terserahlah kepadamu. Tetapi jangan memaksa aku untuk mengorbankan
apa yang aku punya” jawab orang Pusparuri itu. Lalu “Dan apakah kau
masih mempunyai kesempatan untuk hidup tenang dengan melupakan darah
yang telah mengotori tanganmu? He, kau tentu akan selalu terbayang
pertempuran yang mengerikan yang terjadi di pategalan itu. Dan
sekarang kau akan menambah noda itu dengan merampok milikku yang
justru adalah hasil rampokan pula?” “Persetan“ geram orang berkumis
lebat itu “Orang-orang Kendali Putih pada dasarnya memang lebih
garang dari orang- orang Pusparuri. Karena itu, jangan membantah.
Serahkan barang-barangmu itu kepadaku. Kita akan berpisah sampai
disini, atau kau akan memaksa aku untuk mengambil sikap yang lain.
Agar kau tidak dapat menunjukkan pejak perbuatanku, maka kau
sebaiknya memang harus dibunuh saja” Orang Pusparuri itu menjadi
tegang Dipandanginya orang berkumis lebat itu dengan tajamnya. Namun
kemudian katanya “Kau membuat aku marah” “Aku tidak peduli” jawab
orang berkumis lebat itu “Kau sudah menunjukkan sikap yang tidak
jujur. Kau ingin lari tanpa setahuku. Kau juga sudah menyalahi
ketentuan yang berlaku bagi orang-orang Kendali Putih disaat kau
berada di dalam lingkungan kami” “Apakah yang kau lakukan itu juga
merupakan satu ketentuan dalam lingkungan Kendali Putih? Apakah
memang sudah digariskan, bahwa orang-orang Kendali Putih harus
mengkhianati kawan-kawannya?“ “Persetan. Jangan banyak cakap.
Berikan barang-barang itu, atau kau akan aku bunuh disini” bentak
orang berkumis lebat. Tetapi orang Pusparuri itu justru
mempersiapkan dir i. Katanya “Aku menghindar i pertempuran di
pategalan itu karena aku tidak mau mati. Kau kira disini aku akan
membiarkan leherku kau penggal? Sebenarnya kita dapat saling menahan
dir i. Tetapi kau terlalu tamak dan bernafsu untuk memiliki sesuatu
yang bukan hakmu, meskipun menurut peda-patmu juga bukan hakku.
Tetapi barang-barang itu sudah ada padaku sekarang” Orang berkumis
lebat itu tidak menjawab lagi. Namun tiba- tiba saja ia sudah
menarik pedangnya. Geramnya “Aku bunuh kau disini” Tetapi orang
Pusparuri itu tertawa. Katanya “Jika kau mati, bukan salahku. Kaulah
yang mendahuluinya” Orang berkumis lebat itu menggerakkan pedangnya.
Namun orang Pusparuri itupun telah bersiaga pula menghadapi segala
kemungkinan. Sejenak kemudian, orang Kendali Putih itu sudah
meloncat menyerangnya dengan senjata berputar. Tetapi orang
Pusparuri itu sudah siap menghadapinya. Ia sempat mengelak. Bahkan
iapun telah menyerang pula dengan senjatanya dengan tebasan
mendatar. Namun senjatanya tidak menyentuh lawannya yang meloncat
surut. Ketika pertempuran diantara kedua orang itu menjadi semakin
sengit maka di pategalan pertempuranpun menjadi semakin menggetarkan
jantung. Yang masih sanggup bertempur diatas punggung kuda, masih
juga bekejaran dan saling menyambar. Tetapi jumlah mereka tidak lagi
melampaui hitungan jari tangan. Sementara itu, Yang Mulia dan Eyang
Ranggapun masih juga bertempur dengan gigihnya. Keduanya adalah
orang- orang yang memiliki kemampuan yang t inggi, yang sukar dicari
bandingnya. Karena itulah, maka pertempuran diantara keduanya diatas
punggung kudanya, seolah-olah telah menimbulkan angin pusaran. Debu
berhamburan dan mengepul tinggi keudara. Pepohonan perdu menjadi
berpatahan. Tanah pategalan itu seolah-olah bagaikan telah dibajak
oleh kaki-kaki kuda yang besar dan tegar. Pada saat yang bersamaan,
di Bukit Gundul, Daruwerdi sedang mempersiapkan usahanya untuk
mengambil pusaka yang dijanjikan, untuk, ditukar dengan seseorang
yang menurut keterangannya telah membunuh ayahnya, sementara Sanggit
Raina menunggunya dengan berdebar-debar bersama beberapa orang
pengikitnya dan Pangeran yang dianggapnya sakit itu, Dalam pada itu,
orang berkumis. lebat yang bertempur melawan orang Pusparuri itupun
menjadi semakin garang. Sebagaimana kebiasaan orang-orang Kendali
Putih, maka iapun segera bertempur dengan kasar. Tetapi orang-orang
Pusparuri bukannya orang yang lemah dan mudah menjadi kecut
menghadapi keadaan. Bahkan orang Pusparuri yang bertempur melawan
orang berkumis itu masih sempat tertawa sambil memutar senjatanya
“Kau memang bernasib buruk, Kau korbankan kawan-kawanmu saling
membunuh melawan orang-orang Sanggar Gading. Dan kini kau sendir i
sudah menyurukkan dir imu ke dalam maut ” “Persetan“ geram orang
berkumis itu “masih ada kesempatan bagimu untuk menyelamatkan dir i
dengan menyerahkan barang-barangmu. Timang emas tretes berlian dan
tentu permata berharga yang kau simpan di dalam kantong ikat
pinggangmu” Orang Pusparuri itu tertawa semakin keras, Katanya
“Sebaiknya aku selesaikan persoalan kita ini sebelum ada orang lain
yang ikut campur. Jika orang-orang padukuhan melihat apa yang
terjadi, mereka akan berdatangan dan tanpa mengetahui duduk
perkaranya, mereka akan melibatkan dir i. Aku akan berkata kepada
mereka, bahwa aku telah dicegat oleh seorang perampok yang ingin
memiliki barang-barangku” “ Bodoh. Akupun dapat berkata seperti itu”
geram orang berkumis lebat. “Tetapi kau tidak membawa barang-barang
berharga yang pantas di rampok” jawab orang Pusparuri itu sambil
tertawa. Orang berkumis itupun menggeram. Ia menyerang lawannya
semakin sengit. Namun lawannyapun meningkatkan perlawanannya sambil
berkata “Aku orang pilihan dilingkungan orang-orang Pusparuri.
Justru karena itulah, maka aku mendapat tugas yang amat penting
untuk berusaha membenturkan orang-orang Pusparuri dengan orang-orang
Sanggar Gading. Lewat seorang pengkhianat seperti kau, aku telah
berhasil dan tugasku di lingkungan orang-orang Kendali Putih telah
selesai” Demikian mulutnya diam, maka iapun segera menyerang seperti
angin prahara. Senjatanya berputar seperti baling- baling. Kakinya
berloncatan bagaikan tidak menyentuh tanah. Orang Kendali Putih itu
terkejut. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa lawannya yang selama
berada di lingkungan orang Kendali Putih tidak menunjukkan kelebihan
apapun, dan . bahkan seolah-olah berada di lapisan di bawahnya,
karena ia termasuk orang yang mendapat kepercayaan dari pimpinannya,
tiba-tiba telah berubah menjadi seorang yang garang. Dengan
demikian, maka orang Kendali Putih itu harus mengerahkan segenap
kemampuannya untuk mempertahankan diri. Demikianlah keseimbangan
pertempuran itupun segera berubah. Agaknya orang Pusparuri itu
dengan sengaja tidak pernah menunjukkan kemampuan yang sebenarnya
ketika ia berada di lingkungan orang-orang Kendali Putih, sehingga
orang berkumis itu mengira, bahwa ia akan dengan mudah dapat
merampas barang-barangnya. Namun ternyata bahwa orang Pusparuri itu
memiliki ilmu yang lebih tinggi. Ketika sekali lagi orang Pusparuri
itu menghentakkan kemampuannya, maka orang Kendali Putih itupun
menjadi semakin terdesak, Tetapi kekasaran orang Kendali Putih itu
sempat memperpanjang perlawanannya. Ia tidak menghiraukan lagi,
apakah ada orang lain yang mendengar atau tidak. Dengan kasarnya ia
berteriak mengumpat-umpat. “Jangan menjadi Gila“ geram orang
Pusparur i itu. Orang berkumis itu sama sekali t idak
menghiraukannya. Ia mengimbangi kemampuan lawannya dengan sikap dan
gerak yang buas dan liar. Tetapi lambat laun, tenaganyapun menjadi
semakin susut. Bahkan tenaga lawannya terasa justru menjadi semakin
kuat. Orang Pusparuri itupun kemudian semakin menekannya sambil
tersenyum. Katanya “Kau memang harus mati. Dosamu bertimbun di dalam
dirimu. Orang seperti kau sama sekali tidak akan mengenal
pertaubatan. Seandainya kau berhasil merampas barang-barangku dan
hidup menyendir i di-daerah Timur, namun pada saat-saat yang lain,
jika bekalmu telah habis, kau akan menjadi orang yang sangat
berbahaya bagi tetangga-tetanggamu sendir i” “Persetan“ teriak orang
itu sambil meloncat menyerang. Orang Pusparuri itu mengelak dengan
langkah kecil kesamping. Dengan cepat ia berputar, dan kemudian
mengayunkan senjatanya mendatar. Disaat orang Kendali Putih itu
kehilangan, dan dengan membabi buta menangkis serangan orang
Pusparuri itu, maka orang Pusparuri itu menar ik serangannya. Saat
yang ditunggu itu akhirnya datang juga bagi orang Pusparuri. Dengan
satu pancingan, orang Kendali Putih itu menyilangkan pedangnya di
muka dada. Namun pada saat itulah, orang Pusparuri itu meloncat
dengan tikaman lurus kearah lambung. Dengan serta merta orang
Kendali Put ih sudah kebingungan itu berusaha memukul pedang
lawannya yang mematuk lambungnya, namun sekali lagi orang Pusparuri
itu menarik serangannya dan dengan cepatnya menikam lawannya kearah
jantung. Tidak ada kesempatan bagi orang berkumis itu. Ketika pedang
lawannya menghunjam didadanya, terdengar ia mengumpat keras. Namun
demikian lawannya menarik pedang yang merah oleh darah, maka orang
Kendali Putih itupun terhuyung jatuh di tanah. Orang Pusparuri itu
tertawa. Sambil berdiri disisi tubuh yang tergolek diam itu, ia
bergumam “Kau memang tamak. Dengan sengaja aku memancing perhatianmu
atas barang-barangku ini. Dengan demikian, bukan aku yang memulai
dengan pertengkaran. Tetapi kau. Dan karena itu, maka aku telah
terbebas dari segala macam tuntutanmu atas jasa-jasamu membenturkan
orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar Gading. Sambil
tertawa orang itu menyarungkan pedang. Katanya “Maaf, aku tidak
sempat mengurusi mayatmu. Jika ada seorang petani menemukan kau
disini, maka biar lah ia memanggil kawan-kawannya dan
nmeyelenggarakan mayatmu” Sejenak kemudian, orang Pusparuri itupun
telah meloncat ke punggung kudanya. Ia telah menyembunyikan timang
emas tretes berlian yang telah dengan sengaja diper lihatkan kepada
orang Kendali Putih itu sehingga ia berhasil memancing per
tengkaran. Pada saat kaki kudanya berderap mengepulkan debu yang
kelabu, maka kaki-kaki kdua di pategalan itupun masih juga
melontarkan debu keudara. Yang Mulia Panembahan Wukir Gading masih
bertempur dengan sefigitnya melawan orang yang disebut Eyang Rangga.
Namun kegarangan di arena di pategalan itu semakin lama menjadi
semakin susut. Beberapa ekor kuda masih berlari- larian, tetapi
tanpa penunggangnya lagi. Justru yang lain dengan tenangnya makan
dedaunan yang kekuning-kuningan di pategalan. Sementara itu tubuh
yang terluka terbaring membujur lintang di pategalan, dijalan-jalan
dan di padang perdu yang kering, diantara mayat-mayat yang mulai
membeku. “Gila“ akhirnya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading
mengumpat “He, Sampir. Apakah kau masih juga bernafsu untuk
bertempur sampai tujuh hari tujuh malam” “Jika perlu, aku akan
bertempur sampai ampat puluh hari ampat puluh malam” jawab Eyang
Rangga, “Ikat pinggang itu sengaja disembunyikan” berkata orang
berkumis lebat itu di dalam hatinya “ agaknya orang Fusparuri ini t
idak jujur terhadapku. Jika ia mengajak aku memasuki sarangnya,
apakah dapat mempercayainya bahwa ia tidak akan ingkar janji, justru
aku akan dibantainya diantara kawan- kawannya” “Tetapi kau lihat,
orang-orang Sanggar Gading dan orang- orang Kendali Putih akan punah
sama sekali” berkata Eyang Rangga. “Kedudukanmu berbeda dengan
kedudukanku” jawab Eyang Rangga “Jika orang-orang Sanggar Gading
punah, maka kau benar-benar kehilangan. Tetapi aku orang lain bagi
orang-orang Kendali Put ih, meskipun kali ini aku bekerja bersama
mereka. Aku tidak merasa kehilangan apa-apa jika orang-orang Kendali
Putih itu habis terbantai disini” “Gila“ geram Panembahan Wukir
Gading “Tetapi setidak- tidaknya kita dapat membuat perhitungan
lain. Kenapa kita harus membunuh sampai orang terakhir” “Apa
pendapatmu?“ bertanya Eyang Rangga, Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading telah mengendorkan serangannya. Dengan demikian pertempuran
diantara keduanya mulai mereda. “Tidak ada gunanya kita saling
membunuh sampai orang terakhir” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading “waktu kita akan habis tersita disini, sementara persoalan
yang menjadi tujuan utama kita belum kita selesaikan” Katakan, apa
yang akan kau lakukan sekarang? Lari dari arena dan menemui orang
yang menyembunyikan pusaka itu?“ “Bukan aku yang ingin lari dari
pertempuran ini. Tetapi kita dapat menghentikannya” jawab Yang Mulia
“Bukankah kita tahu, apa yang sebenarnya ada di daerah Sepasang
Bukit Mati ini. Bukan hanya sekedar pusaka” Eyang Rangga mengerutkan
keningnya. Katanya “Jadi kau juga mengetahui bahwa disamping pusaka
itu masih ada hal lain yang berharga” “Ya. Meskipun aku berusaha
untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. tetapi agaknya banyak
pihak yang sebenarnya juga sudah mengetahuinya” jawab Yang Mulia”
Karena itu, apakah kita dapat mengakhir i saja pertempuran ini dan
membagi saja apa yang ada, yang tentu saja dengan perbandingan yang
berimbang, karena akulah yang berhasil membawa Pangeran itu” Eyang
Rangga merenung sejenak. Sementara Yang Muliapun tidak lagi
menyerang dengan garang Kemudian Eyang Rangga itupun berkata “Apa
yang kau maksud perbandingan yang berimbang?“ “Jika kita bertempur
terus, kau tentu tidak akan mendapat apa-apa sama sekali. Setiap
orang yang berada di pategalan ini akan mati. Kau juga akan mati.
Tetapi untuk itu aku memer lukan waktu yang panjang. Sementara itu,
mungkin telah terjadi sesuatu dengan Pangeran itu. Apalagi jika
orang- orang Pusparuri atau Gunung Kunir mendengar, bahwa kita sudah
punah” Eyang Rangga itu masih bertanya “Yang aku tanyakan adalah
perbandingan yang ber imbang” “Kau akan mendapat sebagian dari harta
karun yang ditinggalkan bersasma pusaka itu. Sebagian yang lain dan
pusaka itu menjadi milikku” jawab Yang Mulia “He, apakah kau tahu
berapa besarnya nilai harta karun yang ditinggalkan bersama pusaka
itu. Jika aku memberimu sepertiga, maka kau akan menjadi seorang
yang memiliki kekayaan tiada taranya. Tidak ada orang atau
lingkungan yang mempunyai kekayaan sebesar itu, kecuali kau dan
selebihnya aku” Eyang Rangga berpikir sejenak. Kemudian dilayangkan
pandangannya keseluruh medan. Memang tinggal beberapa orang yang
telah letih. Karena para pemimpin mereka berhenti bertempur,
orang-orang itupun telah berhenti bertempur pula. “Nah, apa katamu?“
bertanya Yang Mulia. Eyang Rangga masih berpikir. Katanya kemudian
“Kenapa perbandingan itu tidak seimbang sama sekali. Kenapa aku
hanya mendapat sepertiga, sedangkan pusaka itu akan jatuh ke
tanganmu” “Kami orang-orang Sanggar Gadinglah yang berhasil memenuhi
permintaan Daruwerdi. Kenapa orang Kendali Putih tidak melakukannya
sebelumnya? Untuk menangkap Pangeran itu, telah diperlukan
pengorbanan tersendiri” sahut Yang Mulia. Eyang Rangga masih sempat
menimbang-nimbang. Namun akhirnya ia sadar, bahwa ia memang tidak
akan dapat berbuat apa-apa. Jika perempuan itu berlangsung terus,
maka orang- orang yang tersisa di pihak masing-masing, akan punah
pula. Ia sendiri tentu akan berhadapan dengan Yang Mulia dan
beberapa orang yang tentu sedang mengawal Pangeran yang masih
tersembunyi. Sambil memikirkan kemungkinan selanjutnya, maka tawaran
itu dapat diterima untuk sementara. Sehingga karena itu. maka
katanya “Baiklah. Aku akan mener ima sepertiga dari harta yang
tersimpan, yang disediakan bagi satu perjuangan untuk menegakkan
kembali Majapahit. Harta itu mungkin berupa emas dan permata, tetapi
mungkin juga berupa pusaka-pusaka yang banyak jumlahnya, disamping
satu pusaka yang paling berharga” ”Jika demikian, apakah kita dapat
menghentikan pertempuran ini” bertanya Yang Mulia. “Ya. Kita akan
menghentikan pertempuran ini” jawab Eyang Rangga. Demikianlah kedua
orang itu segera memberikan isyarat bahwa pertempuran telah dihent
ikan. Namun dalam pada itu. di kedua belah pihak sama sekali sudah
tidak lagi tersimpan kekuatan yang akan dapat diperhitungkan,
kecuali Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan Eyang Rangga.
Sementara itu, Sanggit Raina yang gelisah masih harus menunggu
kehadiran Cempaka dan Rahu yang akan datang bersama Daruwerdi
membawa pusaka yang dijanjikan. Rasa-rasanya mereka telah sehari
penuh naik ke puncak bukit gundul itu. Namun mereka masih belum
nampak turun. Dalam pada itu, Pangeran yang sakit itu tidak lagi
bersandar pada batu padas. Berlindung pada bebatuan, maka Pangeran
itu telah berbaring dengan lemahnya. Bahkan Sanggit Rainapun telah
menjadi bertambah cemas, jika Pangeran itu benar-benar akan mati
seperti yang dikatakannya. Namun Sanggit Raina itupun menjadi
terkejut sekali ketika ia mendengar derap kaki kuda. Dengan serta
merta, iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Para
pengikutnya dan tabib yang selalu merawat Pangeran itupun telah
bersiap pula. Tangan mereka telah melekat di hulu pedang
masing-masing. Jantung Sanggit Raina terasa bagaikan berhenti
berdetak ketika ia melihat Yang Mulia Panembahan Wukir Gading
berkuda bersama lawannya di medan pertempuran. Bahkan selain
beberapa orang Sanggar Gading yang tersisa terdapat beberapa orang
yang tidak dikenalnya. “Gila, permainan apa lagi yang sedang
dilakukan oleh Yang Mulia Panembahan timpang itu” geram Sanggit
Raina, sementara Cempaka dan Rahu masih juga belum muncul. Sejenak
kemudian maka iring- iringan itupun menjadi semakin dekat. Sanggit
Raina masih berdiri dengan tangan dihulu pedangnya. Ia tidak tahu,
apa yang bakal terjadi. Jika sekiranya Yang Mulia itu mengetahui
niatnya untuk memiliki pusaka dan harta benda yang tersedia bagi
satu perjuangan yang besar untuk menegakkan kembali Majapahit itu,
maka tentu akan terjadi satu peristiwa yang gawat. Sementara itu
adiknya Cempaka telah terlalu lama berada di bukit gundul itu.
sehingga Sanggit Rainapun menjadi cemas. “Apakah diatas bukit gundul
itu ada juga tangan-tangan Yang Mulia dalam permainannya yang tidak
aku ketahui” bertanya Sanggit Raina di dalamhatinya. Namun dalam
pada itu, ternyata tidak ada tanda-tanda bahwa Yang Mulia akan
mengambil satu tindak kekerasan. Bahkan ketika ia menjadi semakin
dekat, nampak senyum dibibirnya. “Ketika aku tidak menemukan
Pangeran dilemparnya, aku segera menduga, bahwa kau telah mengambil
langkah- langkah penyelamatan” berkata Yang Mulia. Sanggit Raina
menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Ya Yang Mulia. Bagaimanapun
juga, aku menjadi cemas, bahwa lawan kita akan berbuat curang,
sehingga aku berusaha untuk menyelamatkannya. Aku yakin bahwa yang
mulia dan orang- orang Sanggar Gading akan dapat menyelamatkan diri
dengan menghancurkan semua orang Kendali Putih” Yang Mulia tertawa.
Katanya “Ternyata aku mengambil sikap lain. Akhir dari pertempuran
itu bukan punahnya orang- orang Sanggar Gading dan orang-orang
Kendali Putih” Wajah Sanggit Raina menjadi tegang. Dengan suara
bergetar ia bertanya “Apakah maksud Yang Mulia? Apakah mereka sudah
menyerah?“ Yang Mulia menggeleng sambil menjawab “Mereka t idak
menyerah dan kitapun t idak menyerah” “Lalu?“ Sanggit Raina menjadi
semakin heran. “Kita sudah menemukan jalan keluar. Kita akan membagi
hasil yang kita peroleh dari bukit gundul ini” berkata Yang Mulia.
“Apakah yang dapat dibagi dari hasil yang akan kita ambil dari bukit
gundul ini. Jika kita menemukan sebilah pusaka yang menjadi sipat
kandel Senapati Agung yang berusaha mempertahankan Kota Raja itu,
apakah pusaka itu akan kita patahkan dan wesi aji itu akan kita
serahkan kepada orang- orang Kendali Putih dan yang sepotong lagi
bagi orang-orang Sanggar Gading? Yang Mulia itu tersenyum. Katanya
“Tidak. Tentu t idak Pusaka itu akan menjadi milikku seutuhnya.
Tetapi disamping pusaka itu kita masih akan mendapatkan harta benda
yang tidak terhitung jumlahnya” “Persetan“ geram Sanggit Raina di
dalam hati “karena orang timpang ini mengigau dihadapan orang-orang
Kendali Putih. Sementara itu, Yang Mulia itu berkata “Sanggit Raina.
Kita memang t idak akan dapat berjuang sendir i. Dan kitapun tidak
akan dapat memanfaatkan tuah itu sendiri. Jika karena tuah pusaka
itu kita akan dapat menjadi orang pinunjul, maka meskipun harus
mempunyai alas dan pendukung” “Mereka akan datang dengan sendirinya
yang Mulia” jawab Sanggit Raina “Kita tidak memer lukan apapun juga
dari orang lain. Kita hanya memer lukan pusaka itu. Selain pusaka
itupun menjadi hak kita sepenuhnya, karena kitalah yang dapat
memenuhi permintaan “Jangan hiraukan sebagian kecil dari harta yang
akan kita dapatkan. Biarlah orang tua ini ikut memilikinya,
sementara kita masih harus memperhitungkan orang-orang Pusparuri dan
mungkin dari padepokan-padepokan lain yang mendengar pula tentang
pusaka itu” “Yang Mulia” tiba-tiba Sanggit Raina berteriak “Kita
masih mempunyai kesempatan. Kita binasakan saja semua orang Kendali
Putih yang ada. Masih ada beberapa tenaga segar disini. termasuk aku
sendir i” Namun yang terdengar adalah suara Eyang Rangga diantara
tertawanya “Sudah aku katakan. Aku tidak akan peduli, apakah
orang-orang Kendali Putih akan kalian musnakan atau tidak. Aku tidak
berkeberatan dengan mereka. Tetapi aku percaya, bahwa orang yang
memiliki nama besar seperti Yang Mulia Panembahan Wukir Gading ini t
idak akan menj ilat ludahnya kembali” “Aku tidak akan merubah sikap”
berkata Yang Mulia “Aku akan memberikan sebagian kepadamu” “Tidak
ada artinya janji bagi orang-orang licik seperti orang-orang Kendali
Putih, Kita akan menghancurkan semuanya. Kita akan membunuh sampai
orang terakhir” geramSanggit Raina. Tetapi Yang Mulia menggeleng.
Katanya “Tidak ada gunanya. Orang-Kendali Putih akan ikut
mempertahankan apa yang akan kita dapatkan dari bukit gundul ini,
karena mereka akan mendapat sebagian daripadanya” Sanggit Raina
menggeratakkan giginya. Namun iapun kamudian mulai berpikir, jika
dalam keadaan yang demikian orang-orang Pusparuri itu datang, maka
mereka memang akan dimusnakan. Karena itu, maka Sanggit Raina telah
menahan hatinya. Ia masih harus mendapatkan suatu cara untuk
memiliki semuanya tanpa Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan tanpa
orang-orang Kendali Putih. Namun sebentar lagi Daruwerdi akan turun
dari bukit gundul bersama Cempaka dan Rahu. Nampaknya kesempatan
yang ada menjadi semakin sempit untuk mendapatkan hatta yang tidak
ternilai harganya itu, justru hadirnya orang-orang Kendali Putih.
Sanggit Rainapun mengetahui bahwa orang yang datang disisi Yang
Mulia Panembahan Wukir Gading itu adalah orang yang memiliki
kemampuan setingkat dengan Yang Mulia itu sendiri. Dalam pada itu,
maka telah terjadi kebingungan pula diantara orang-orang yang
mengawasi keadaan ilu. Semi yang melihat dari awal sampai akhir dari
pertempuran di pategalan itupun tidak lagi dapat mengerti apa yang
telah terjadi. “Apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh Yang Mulia
itu?“ bertanya Semi. Kawannyapun menjadi bingung. Kedua pihak yang
bertempur mati-matian, bahkan setelah jatuh korban yang terbujur
silang, mereka seolah-olah telah menemukan satu kesepakatan. “Kita
pergi ke bukit gundul” desis Semi. Dengan hati-hati merekapun
mengikuti iring- iringan yang menurut perhitungan mereka akan pergi
ke bukit gundul. Namun merekapun tidak mengetahui, apa yang akan
mereka lakukan pada keadaan yang terakhir. “Jika keduanya menemukan
kesepakatan, maka Yang Mulia dan lawannya itu akan menjadi pasangan
yang sangat berbahaya. Bahkan mungkin tidak terkalahkan. Apalagi j
ika keduanya mengambil satu keputusan tersendiri bagi keuntungan
mereka berdua” gumam Semi. Kawannya mengangguk-angguk. Jawabnya
“Kita tidak akan berdaya. Kita berdua, Jlitheng dan Rahu seandainya
dapat kita himpun, tidak akan dapat mengalahkan mereka berdua.
Apalagi jika satu dua orang pengikutnya setia kepada mereka” “Kita
akan melihat, apa yang terjadi” desis Semi. Sementara itu, di puncak
bukit gundul itu, Daruwerdi, Rahu dan Cempaka dibantu oleh seorang
pengikut padepokan Sanggar Gading sedang sibuk berusaha untuk
mengambil sebuah peti yang terjepit di dalam retak-retak batu padas.
Peti yang semula t idak nampak itu, akhirnya dapat mereka lihat,
setelah mereka menyibakkan beberapa bongkah batu padas. “Bagaimana
kau tahu, bahwa benda itu ada disana?“ bertanya Cempaka. “Aku
menemukan sebuah petunjuk” jawab Daruwerdi Jawaban itu telah
mendebarkan jantung Cempaka. Dalam pada itu, Daruwerdi masih berkata
selanjutnya “Pada gambar itu aku mendapatkan keterangan yang jelas,
bahwa pusaka itu terdapat di tempat ini” “Kau Gila“ geram Cempaka
“bagaimana j ika gambar yang kau dapatkan itu tidak terbukti.
Bagaimana jika setelah kita bekerja keras, apalagi setelah kami
membawa Pangeran itu kepadamu, ternyata bahwa gambar yang kau
dapatkan itu palsu atau sekedar perbuatan orang yang tidak
bertanggung jawab?“ “Aku yakin” jawab Daruwerdi “pertanyaanmu memang
pertanyaan yang bodoh. Kau kira aku hanya bersandar pada gambar itu
saja? Aku sudah mencari keterangan sehingga aku dapat memastikannya.
Baru kemudian aku berani menyatakan, siapa yang dapat membawa
Pangeran itu kepadaku, maka ia akan mendapatkan pusaka itu. Tetapi
agar pusaka itu tidak dapat dicur i orang, aku membiarkan pusaka itu
tetap di tempatnya seperti yang kau lihat sekarang” “Dari siapa kau
mendapat keterangan itu?“ bertanya Rahu. “Kau lebih bodoh lagi Rahu”
jawab Daruwerdi “seharusnya kau mengerti, bahwa karena tidak ada
lagi seorangpun yang dapat member ikan keterangan, maka tentu
keterangan itu aku dapatkan dengan cara gaib. Tiga hari tiga malam
aku tidur di tempat ini sesuai dengan petunjuk gambar itu. Ternyata
aku mendapat keterangan dengan cara yang gaib, bahwa pusaka itu
benar-benar ada. Bukan sekedar dongeng atau seperti yang kau
katakan, bahwa gambar itu perbuatan orang yang tidak bertanggung
jawab. Di tempat ini aku telah melihat cahaya yang hijau
kebiru-biruan. Dengan demikian, akupun menjadi yakin. Aku baru
menyatakan niatku untuk menukar pusaka itu, dengan taruhan leherku.
Jika ternyata di dalam peti itu tidak terdapat apa-apa, maka kalian
akan marah, dan kalian akan membantai aku disini” Cempaka tidak
menjawab. Namun akhirnya mereka mulai dapat menggapai peti itu.
Cempaka menjadi berdebar-debar ketika peti itu kemudian berhasil
diambilnya. Dengan tangan gemetar ia membawa peti itu ke tempat yang
datar dan meletakkan diatas sebongkah batu padas. “Sunggingan peti
itu telah hampir hilang” desis Cempaka “bahkan pada beberapa
bagiannya sudah mulai lapuk” “Peti itu tentu kehujanan, jika hari
hujan” desis Rahu. “Apakah kita akan membukanya?“ desis Cempaka.
“Terserah kepada kalian” berkata Daruwcrdi “Apakah akan kau buka
sekarang, atau dihadapan pimpinan padepokanmu” Tiba-tiba saja
Cempaka tertawa. Katanya “Kau tidak akan dapat mengatur kami lagi
Daruwcrdi. Pusaka ini sudah berada di tanganku, sehingga segalanya
terserah kepadamu” “Ya terserah kepadamu” jawab Daruwcrdi “Aku
memang tidak memerlukan lagi. Tetapi serah terima belum
dilaksanakan. Aku belum menerima dengan resmi Pangeran yang aku
perlukan itu” “Bagaimana sikapmu seandainya Pangeran itu tidak ada
pada kami” bertanya Cempaka ”Atau bagaimana sikapmu j ika sekarang
tiba-tiba saja timbul nafsuku untuk membunuhmu” Tetapi Daruwcrdi
justru tertawa. Katanya “Kau benar-benar dungu Cempaka. Melampaui
setiap orang yang pernah aku kenal” “Kau sudah menyiapkan pasukan
diseputar gunung gundul ini?“ bertanya Cempaka “itu bukan alasan
sama sekali untuk mengurungkan niatku, j ika aku memang ingin
membunuhmu. Karena akupun membawa pasukan yang kuat yang akan dapat
melawan mereka” “Tidak. Terus terang, aku tidak mempunyai kawan
seorangpun. Aku telah bekerja sendiri” jawab Daruwerdi. Namun
kemudian “Tetapi itu menurut pengertian wadag” “Maksudmu?“ bertanya
Cempaka. “Jika aku sudah mendapat isyarat untuk memiliki dan
memanfaatkan peti itu menurut kepentinganku, maka akupun akan
mendapat perlindungan tuah pusaka itu, melampaui ke kuatan pasukan
segelar sepapan” jawab Daruwerdi. Cempakalah yang kemudian tertawa.
Tetapi terasa, betapa suara tertawanya itu hambar. Betapapun
kecilnya, terbersit pula kecemasannya, bahwa apa yang dikatakan
Daruwerdi itu benar akan terjadi. Namun demikian, ia masih berusaha
untuk menutupi kecemasannya. Sambil tertawa ia berkata “Kau kira aku
percaya? Tetapi baiklah. Aku tidak akan membunuhmu. Bukan karena aku
takut kepada tuah pusaka seperti yang kau katakan itu. Tetapi justru
karena kami telah membawa Pangeran yang sakit itu kemari. Kami tidak
ingin mengurusinya lebih lama lagi. Jika ia akan mati, biarlah ia
mati di tanganmu” “Apakah ia sudah akan mat i?“ wajah Daruwerdi
menjadi tegang. “Mungkin ia akan segera mati” jawab Cempaka. “Aku
harus mendapat kesempatan untuk membalas dendam. Jika ia mati,
biarlah ia mati di tanganku. Jangan mati sebelum aku membunuhnya
dengan tanganku sendiri, karena ia sudah membunuh ayahku” berkata
Daruwerdi. ”Aku tidak peduli. Pusaka ini sudah di tanganku. Aku akan
membawanya dan menyerahkannya kepada kakang Sanggit Raina atas nama
Yang Mulia Panembahan Wukir Gading” desis Cempaka. “Serahkan kepada
iblis yang manapun aku tidak peduli. Tetapi Pangeran itu jangan mati
lebih dahulu. Aku memer lukannya, agar dendam ini tidak dengan
perlahan-lahan justru membunuh dir iku sendir i” geram Daruwerdi.
“Aku akan turun. Ikut lah aku jika kau ingin bertemu dengan Pangeran
yang sedang sakit itu” berkata Cempaka kemudian “Kau akan
menerimanya sebagaimana sudah kita sepakati” Cempakapun kemudian
mengambil peti itu. dan membawanya turun. Tetapi Daruwerdi yang
selalu berjalan dekat disampingnya berdesis “Peti itu masih hakku.
Aku belum menyerahkan kepadamu karena aku belum menerima Pangeran
itu” “Persetan“ geram Cempaka. Tetapi Daruwerdi t idak memintanya,
meskipun ia selalu berhati-hati mengamati pusaka yang berada di
dalam peti itu. Sementara Rahu dan seorang lainnya mengikuti di
belakangnya. Dalam pada itu, Sanggit Raina hampir tidak sabar lagi
menunggu. Kegelisahannya membuatnya bagaikan berdiri di atas bara.
Sejenak dipandanginya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang masih
duduk diatas punggung kudanya. Ia mengumpat tidak habis-habisnya
bahwa Yang Mulia itu telah mengambil satu keputusan lain tentang
orang-orang Kendali Putih. “Apakah Yang Mulia sudah mulai mencium
niatku untuk memiliki pusaka dan harta yang tersimpan itu” berkata
Sanggit Raina di dalamhatinya. Rasa-rasanya ia ingin langsung
menyerang dan menikam perut Yang Mulia itu dengan pedangnya. Namun
Sanggit Rainapun sadar, bahwa ia tidak akan dapat melakukannya,
karena Yang Mulia adalah orang yang berilmu t inggi. Jantung Sanggit
Raina bagaikan meledak ketika ia melihat Cempaka turun dari bukit
gundul bersama Daruwerdi, Rahu dan seorang penggikutnya. Apalagi
ketika ia melihat Cempaka membawa sebuah peti yang agak besar
meskipun nampaknya tidak terlalu berat. “Gila“ geram Sanggit Raina
di dalam hatinya. Dalam pada itu, Cempakapun terkejut melihat di
bawah bukit gundul itu beberapa orang berkuda telah siap menunggu
Apalagi kemudian jelas dilihatnya, Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading dan orang-orang Kendali Putih. Karena itu, maka Cempakapun
telah tertegun. Sementara itu Rahu dan pengikut Sanggar Gading yang
seorang itupun terkejut juga. Bahkan Daruwerdipun mengerutkan
keningnya pula. “Siapakah mereka?“ bertanya Daruwerdi “Apakah mereka
bukan orang yang berbahaya bagi pusaka itu? Cempaka menjadi
termangu-mangu sejenak. Lalu desisnya “Aku kurang mengerti
perkembangan keadaan ini. Yang berkuda di ujung itu adalah Yang
Mulia Panembahan Wukir Gading, Pimpinan tertinggi dari padepokan
Sanggar Gading. Tetapi yang lain itu adalah orang-orang Kendali Put
ih” “Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?“ bertanya Daruwerdi.
“Kakang Sanggit Raina ada diantara mereka. Ia sama sekali tidak
member ikan isyarat apapun juga” jawab Cempaka. Namun perasaan yang
cemas nampak pada wajah Cempaka, sementara Rahu mempunyai
pertimbangan- pertimbangan tersendiri Ia menjadi gelisah tentang
Pangeran yang masih dianggapnya sakit itu. Apakah artinya langkah
yang diambil oleh Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu. Meskipun
kegelisahan itu bagaikan memukul dinding jantung Cempaka tetap
melangkah menuruni bukit gundul. Dipandanginya Sanggit Raina yang
berdiri termangu-mangu, namun yang sama sekali tidak memberikan
isyarat apapun juga. Dalam pada itu, Rahulah yang kemudian berdesis
“Apakah kau tidak mempertimbangkan satu tindakan khusus menghadapi
keadaan ini?” “Apakah yang dapat kita lalukan” jawab Cempaka
“sementara kakang Sanggit Raina ada diantara mereka” “Bagaimana jika
kita akan menghadapi satu keadaan yang tidak kita inginkan?
Sementara ini Sanggit Raina tidak sempat berbuat apa-apa?“ bertanya
Rahu. “Memang mungkin sekali” jawab Cempaka “Tetapi sebelum kita
tahu pasti, apa yang sedang terjadi, aku tidak dapat mengambil sikap
apapun juga” “Jika demikian” berkata Daruwerdi “serahkan peti itu
kepadaku. Kita masih akan melihat, apa yang sedang berkembang. Di
bawah ada orang-orang Sanggar Gading, tetapi ada juga orang-orang
Kendali Putih yang nampaknya tidak saling bermusuhan” “Aku
sependapat dengan Daruwerdi“ tiba-tiba saja Rahu menyambung “segala
sesuatunya masih ada di tangan pertama. Kau tidak akan dibebani
tanggung jawab apapun juga, justru karena kau memegang peti itu”
Cempaka termangu-mangu sejenak. Dengan nada dalam ia menggeram “Kau
akan melarikan diri?“ “Aku belum Gila“ jawab Daruwerdi “untuk waktu
yang tidak terbatas aku menunggu Pangeran itu. Apakah begitu saja
aku akan meninggalkannya?“ Cempaka semakin bimbang. Justru karena
itu, maka lagkahnyapun terhenti. “Kenapa mereka berhenti?“ bertanya
Yang Mulia. “Seperti aku, Cempakapun tentu ragu-ragu melihat orang-
orang Kendali Putih ada disini” jawab Sanggit Raina. “Aku akan
menjelaskan” jawab Yang Mulia. “Setenarnya kita dapat mengambil
jalan lain” desis Sanggit Raina “Kita binasakan orang-orang Kendali
Putih. Kemudian kita segera menyingkir dengan peti itu? Apa
sulitnya? Biarlah orang Pusparuri datang dengan sepasukan yang tidak
terhitung jumlahnya. Mereka tidak akan terlalu mudah untuk menemukan
kita” “Jangan sebut-sebut lagi” potong Yang Mulia “Aku sudah
memutuskan. Apakah keputusanku ini bukan satu ke-putusan yang
bijaksana seperti yang kau lakukan? Bahwa pada saat orang-orang
Sanggar Gading bertempur mati-matian melawan orang Kendali Putih,
kau berusaha menyingkirkan Pangeran untuk menyelamatkannya?“
Alangkah tajamnya sindir ian itu menusuk jantung Sanggit Raina. Kini
ia mengerti, bahwa Yang Mulia telah mencur igainya, sehingga karena
itu, maka ia mengambil satu sikap yang sama sekali diluar dugaannya.
Namun dalam pada itu, agaknya Yang Mulia masih juga ragu-ragu.
Mungkin Sanggit Raina berbuat demikian dengan maksud yang
benar-benar baik. Tetapi dapat juga satu sikap yang licik. Sementara
itu, Cempaka akhirnya sependapat dengan Rahu. Diserahkannya peti itu
sambil berkata “Apa yang terjadi atas peti itu, biarlah terjadi. Kau
adalah tangan pertama yang akan mempertanggung jawabkannya”
Daruwerdi mener ima peti itu. Namun pada saat yang demikian,
tiba-tiba saja kulitnya meremang. Untuk pertama kali ia merasa
khawatir bahwa ia akan dikhianati. Ternyata orang-orang itu adalah
orang-orang yang sangat licik dan tidak tahu diri Untuk beberapa
saat Daruwerdi masih berdiri mematung. Ketika Cempaka siap untuk
melangkah, Daruwerdi bertanya sekali lagi “Cempaka. Apakah
pemimpinmu itu dapat dipercaya?“ “Kenapa kau bertanya demikian? Ia
adalah pemimpin tertinggi dari orang-orang Sanggar Gading. Setiap
orang Sanggar Gading tunduk terhadap keputusannya. Dan bukankah ia
sudah membawa orang yang kau kehendaki? Dipercaya atau tidak, tetapi
syarat yang kau tentukan sudah dipenuhinya? Buat apa kau
meragukannya? Seandainya ia ingin berbuat curang apakah kami akan
membawa Pangeran yang sakit itu kembali ke Sanggar Gading bersama
pusaka ini. sekedar untuk menunjukkan satu sikap curang?“ Daruwerdi
menganggug-angguk. Balikan diluar sadarnyapun Rahu mengangguk-angguk
pula. Pangeran itu sudah ada disini. Mau apa lagi? Karena itu, maka
Daruwerdipun segera melangkah turun sambil membawa peti yarg memang
t idak terlalu berat itu. Namun beban perasaannyalah yang kemudian
terasa sangat memberat di dalam dadanya. Kegelisahan, kecemasan,
bahkan juga ketakutan yang sebelumnya belum pernah menyentuh
perasaannya. Yang Mulia Wukir Gading tersenyum melihat orang-orang
itu melanjutkan langkah mereka meskipun ia mengerutkan keningnya
pula melihat Cempaka justru menyerahkan peti itu kembali kepada
Daruwerdi. “Apa maksudnya?” Ia bertanya kepada diri sendir i. Tetapi
ia tidak memperdulikannya. Peti itu harus diserahkan kepadanya.
Semakin dekat Daruwerdi dengan sekelompok orang-orang berwajah
kasar, bahkan ada dia mara mereka nampaknya liar dan buas, sementara
wajari Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang nampak tersenyum
tetapi bagaikan menyimpan seribu rahasia itu, jantung Daruwerdi
berdetak semakin keras. Rasa-rasanya terngiang suara ibunya disela
tangisnya yang tertahan “Bagaimana jika mereka justru
mengkhianatimu” “Ya bagaimana?“ pertanyaan itu diulanginya di dalam
hatinya. Tetapi sekali lagi ia menegaskan kepada diri sendiri
“Pangeran itu ada disini. Segalanya akan berjalan dengan cepat,
lancar dan selesai. Aku akan segera meninggalkan Daerah Sepasang
Bukit Mati ini membawa Pangeran itu sebagai tawanan. Aku akan dapat
menyelesaikan semua masalah pada kesempatan lain, jika orang-orang
Kendali Putih yang datang bersama orang-orang Sanggar Gading itu
telah pergi” Karena itu, betapa kegelisahan mencengkam jantungnya,
namun Daruwerdi berusaha untuk tetap berjalan dengan wajah tengadah
sambil membawa peti yang berisi pusaka seperti yang dikatakannya.
“Bagus anak muda” berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading kepada
Daruwerdi sebelum anak itu mendekat “Cepatlah sedikit Jangan
berjalan seperti perempuan, Berjalan seperti perempuan. Berjalanlah
seperti seorang laki-laki” Suara Yang Mulia Panembahan Wukir Gading
itu telah menggetarkan isi dadanya. Namun ia masih tetap bertahan
untuk berjalan dengan wajah tengadah. “Tukar menukar akan segera
terjadi” desisnya di dalam hati. Namun ia tidak melihat Pangeran
yang dimintanya. Karena itu, maka iapun bertanya kepada Cempaka
“Dimana Pangeran itu?“ “Ada. Ia sedang sakit. Mungkin ia duduk di
balik batu-batu padas atau bahkan berbaring diantara bebantuan itu“
jawab Cempaka. Daruwerdi tidak bertanya lebih banyak lagi. Tetapi ia
mulai melihat beberapa kesalahan langkah. Mungkin sejak semula ia
sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan- kemungkinan
kecurangan dan kelicikan yang dapat dilakukan orang-orang Sanggar
Gading. “Tetapi kebesaran nama Sanggar Gading tentu tidak
didapatkannya karena kelicikan melulu. Juga sikap jantan dan
keberanian” berkata Daruwerdi di dalam hatinya Ternyata ketika ia
telah berdiri beberapa langkah dihadapan Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading yang masih tetap duduk dipunggung kudanya, jantungnya
benar-benar tergetar. Wajah itu bagaikan bayangan rahasia jang tidak
terjajagi. Senyumnya mengandung r ibuan kemungkinan. “Kemarilah anak
muda” berkata Yang Mulia “serahkan peti itu kepadaku” Daruwerdi
termangu-mangu. Seolah-olah ia tidak mampu lagi melawan perintah
itu. Namun ia berusaha untuk tetap menguasai diri dan pribadinya
sehingga ia berusaha untuk menjawab “Aku hanya bersedia
menyerahkannya, jika Pangeran itu sudah diserahkan kepadaku” “O“
Yang Mulia mengangguk-angguk “Jadi Pangeran itu belum kau serahkan
Sanggit Raina” “Belum Yang Mulia” jawab Sanggit Raina. “Bawa
Pangeran itu kepadanya” tiba-tiba saja ia membentak “Kenapa belum
juga kau lakukan he?“ Daruwerdi mengerutkan keningnya. Ternyata
bahwa orang yang disebut pimpinan tertinggi Sanggar Gading itu
benar- benar ingin melakukan tukar-menukar seperti yang
dimaksudkannya. Sanggit Rainapun kemudian mendekati Pangeran yang
berbaring di antara bongkah-bongkah batu padas. Katanya Silahkan
Pangeran, Pangeran akan diserahkan kepada seseorang yang memerlukan
Pangeran” “Siapa?“ bertanya Pangeran itu. “Anak muda itu. Namanya
Daruwerdi” jawab Sanggit Raina. “Aku tidak dapat bangkit lagi. Aku
akan mati disini. Biarlah aku melihat orang yang memer lukan aku
itu” berkata Pangeran itu. “Marilah. Kami akan membantu Pangeran
berdiri“ desak Sanggit Raina. Pangeran itu tidak dapat mengelak
lagi. Meskipun tubuhnya nampak semakin lemah, tetapi iapun kemudian
dipapah oleh Sanggit Raina. Namun tanpa diminta Rahupun telah
mendekatinya pula dan membantu memapahnya. Dalam keadaan yang gawat
disaat-saat terakhir ia tidak boleh terlambat. Apapun yang akan
terjadi padanya, ia tidak boleh membiarkan Pangeran itu menjadi
korban, meskipun keadaannya itu sendiri sangat memprihatinkan.
Daruwerdi yang kemudian melihat seorang dipapah mendekatinya,
mencoba memperhatikannya. Ia sebenarnya belum mengenal orang itu.
Tetapi Daruwerdi tahu pasti, ciri-ciri yang terdapat pada Pangeran
yang dikehendakinya itu. Dalam pada itu, maka Panembahan Wukir
Gading itupun kemudian berkata “Nah, terimalah Pangeran yang sedang
sakit itu. Ia tidak berbahaya. Bahkan nampaknya sakitnya menjadi
semakin payah. Sebenarnya pada saat-saat terakhir di padepokan kami,
keadaannya sudah berangsur baik. Namun perjalanan yang melelahkan
ini membuatnya kehilangan sebagian besar dari kesehatannya yang
tersisa” Daruwerdi memandang Pangeran itu sejenak, sementara
Pangeran itu memandanginya pula. Tetapi Pangeran itu sama sekali
tidak dapat mengenal, siapakah anak muda yang menyebut dir inya
bernama Daruwerdi itu. Melihat keadaan Pangeran itu, maka
Daruwerdipun t idak lagi minta agar Pangeran itu diserahkan
kepadanya dalam keadaan terikat. Nampaknya Pangeran itu sudah dalam
keadaan yang lemah sekali, sehingga ia tidak akan dapat berbuat
banyak. “Aku akan meyakinkan, apakah memang orang inilah yang akan
aku kehendaki” berkata Daruwerdi. “Jangan Gila“ geram Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading “Kaulah yang menyebutnya. Kaulah yang
memberikan pertanda lentang dirinya. Jika keliru, kaulah yang
keliru” Bukan kami. Dan kau tidak akan dapat memaksa kami untuk
mendapatkan Pangeran yang lain dengan taruhan nyawa pula”
Perlahan-lahan Daruwerdi mendekati Pangeran itu. Kemudian setelah
mengangguk hormat ia berkata” Maaf Pangeran. Aku mohon Pangeran sudi
menunjukkan jari-jari Pangeran pada tangan sebelah kiri” Pangeran
itu menggeram. Dengan nada berat ia bertanya “Siapa kau sebenarnya,
dan apakah kepentinganmu dengan aku, sehingga kau telah
mempertaruhkan segalanya untuk membawa aku kemari” “Nanti Pangeran
akan mengetahuinya, tetapi aku mohon Pangeran menunjukkan jari-jari
tangan kir i Pangeran” potong Daruwerdi. “Kalau yang kau maksud
adalah cacat pada kelingkingku, kau menemukan orang yang benar”
jawab Pangeran itu sambil berusaha menunjukkan jari-jari tangan
kirinya dibantu oleh Rahu. “Tepat Pangeran” berkata Daruwerdi “Aku
memang memer lukan Pangeran” “Kenapa kau memerlukan aku?“ bertanya
Pangeran itu. Tetapi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading telah
memotong “Bicarakan kemudian. Kita masih akan bersama sama untuk
beberapa hari” Daruwerdi mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia
berbicara, Yang Mulia itupun berkata “Serahkan peti itu kepadaku
anak muda. Aku ingin melihat, apakah isi peti itu memadai untuk di
pertaruhkan dengan sejumlah nyawa orang-orang terbaik dari Sanggar
Gading dan Kendali Putih” “Nampaknya kamipun telah tergesa-gesa
mengambil sikap” berkata Eyang Rangga “Tetapi baiklah kau lihat isi
peti itu” “Bagaimana kau mendapatkannya anak muda?“ bertanya Yang
Mulia itu kemudian. “Pertanda gaib” jawab Daruwerdi “peti itu sama
sekali tidak kelihatan. Tetapi aku yakin akan pertanda gaib yang aku
dapatkan, sehingga aku berani bertaruh dengan leherku. Aku tidak mau
mengambil sebelumnya justru untuk menghindari agar peti itu tidak
jatuh ke tangan orang lain yang akan dapat mengambilnya dengan
kekerasan. Ternyata peti itu ada di tempat seperti pertanda gaib
yang aku terima meskipun kami harus membongkar bongkah-bongkah batu
padas” Yang Mulia mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Marilah,
serahkan peti itu kepadaku” Daruwerdipun kemudian maju mendekati
Yang Mulia yang masih duduk dipunggung kudanya. Sanggit Raina
mengikuti langkahnya dengan tegang. Sementara orang-orang Sanggar
Gading dan Kendali Putih yang tersisapun memperhatikannya dengan
tanpa bergeser dari tempat mereka. Yang justru gemetar kemudian
adalah tangan Daruwerdi. Ketika ia menyerahkan peti itu, ia sempat
memandang wajah Yang Mulia sekilas. Ternyata bahwa wajah yang
menyimpan seribu macamrahasia itu sama sekali tidak nampak berubah.
Demikian peti itu diterimanya, maka Yang Muliapun kemudia
mengibaskan sisa-sisa tanah yang masih melekat. Perlahan-lahan iapun
kemudian membuka tutup peti itu. Wajah-wajah menjadi tegang. Wajah
Pangeran yang sakit itupun menjadi tegang. Namun justru wajah Yang
Mulia itulah yang sama sekali t idak berubah. Senyumnya masih saja
seolah-oleh melekat di bibirnya. Bahkan ketika peti itu telah
terbuka maka ia masih tetap tersenyum. “Sebilah pusaka yang tidak
dikenal” berkata Yang Mulia. Lalu “He anak muda, apakah kau tahu
arti goresan-goresan benda tajampada dinding peti ini?“ Daruwerdi
menggeleng lemah. Katanya “Tidak. Aku tidak tahu apa-apa tentang
pusaka dan petinya. Aku hanya mengetahui tempatnya. Itu saja” Yang
Mulia memperhatikan goresan-goresan pada dinding peti itu dengan
saksama. Ia melihat tanda-tanda dan garis- garis yang mungkin
mempunyai arti. Yang Mulia itupun menghubungkan goresan-goresan itu
lengan kemungkinan-kemungkinan yang disimpan oleh daerah Sepasang
Bukit Mati. Tentang harta karun yang tidak ternilai harganya dan
tentang landasan perjuangan untuk menegakkan kembali satu kekuasaan
diatas reruntuhan Majapahit. “Mungkin inilah petunjuk itu” berkata
Yang Mulia di dalam hatinya. Namun demikian, iapun kemudian berkata
“Daruwerdi. Bukan berarti aku tidak percaya kepadamu. Apalagi
seperti yang kau katakan, bahwa kau mengaku tidak mengetahui apa-
apa, selain petunjuk gaib tentang peti dan pusaka inti. Bahkan
tempatnyapun baru kau yakini kebenarannya setelah Cempaka dan Rahu
ikut membantumu mengambilnya” ia berhenti sejenak, lalu “Tetapi
sebagaimana biasanya, maka untuk meyakinkan kebenaran adanya sejenis
pusaka, maka pusaka itu perlu ditayuh. Dan aku akan melakukannya.
Pusaka ini akan aku tayuh tiga hari tiga malam diatas bukit berhutan
itu untuk menghindar i kemungkinan-kemungkinan buruk. Kita akan
bersembunyi bersama-sama di puncak bukit berhutan itu selama aku
meyakinkan kebenaran pusaka ini” Wajah Daruwerdi menjadi tegang.
Dipandanginya Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu dengan
tajamnya. Sementara Panembahan itu masih saja tersenyum sambil
berkata “Ya. Mungkin kau kurang mengerti. Tetapi demikianlah
kebiasaan seseorang. Untuk mengetahui nilai dari sejenis wesi aj i,
maka orang harus menayuhnya” “Tetapi aku tidak tahu apakah akibat
dari cara yang demikian. Aku sudah memenuhi janj iku. Karena itu,
maka aku berhak menerima nilai tukarnya seperti yang sudah
disepakati. Kemudian terserah apa yang bakal terjadi dengan kita
masing- masing” jawab Daruwerdi. Namun Yang Mulia masih tetap
tersenyum. Katanya?” Dengar anak muda Kita semua akan naik keaitas
bukit berhutan itu. Kita akan bersembunyi. Aku kira pihak lain tidak
akan mengira bahwa kita berada diatas bukit itu. Seandainya ada
pibak lain yang mengetahui dan menyusul kita, maka kita bersama-sama
akan bertahan. Aku yakin, bahwa kita akan menang. Aku dan orang tua
berhati iblis ini tentu akan dapat mempertahankan peti itu
menghadapi siapapun juga” Wajah Daruwerdi menjadi semakin tegang.
Sebuah pertanyaan yang bergejolak dihatinya seakan-akan terdengar
semakin keras “Apakah benar orang itu akan dapat mengetahui nilai
dari sebuah pusaka? Dan dapat mengetahui pula keasliannya” Dalam
kebimbangan itu terdengar Yang Mulia berkata “Sudahlah. Jangan
berpikir terlalu panjang. Kita akan berangkat bersama-sama ke bukit
itu” “Silahkan” berkata Daruwerdi “Aku akan pergi bersama Pangeran
itu” Tetapi Yang Mulia yang selalu tersenyum itu justru tertawa.
Katanya “Jangan menganggap kami orang-orang dungu anak muda. Sekali
lagi aku katakan, bukan maksudku untuk tidak mempercayaimu. Tetapi
aku hanya ingin menyaksikan. Hanya tiga hari t iga malam” “Aku tidak
mempunyai waktu” berkata Daruwerdi. Tetapi Yang Mulia segera
menjawab “Kau tidak mempunyai pilihan. Kita melakukan tukar menukar
dengan jujur. Karena itu kaupun harus bersedia mempertanggung
jawabkannya. Terasa jantung anak muda itu bagaikan berhenti
berdenyut. Namun ternyata ia tidak mempunyai kesempatan lain.
Apalagi sesaat kemudian Yang Mulia itu telah mengambil kepututan
“Kita akan pergi sekarang. Semuanya. Kita akan berada di atas bukit
berhutan itu hanya selama tiga hari tiga malam. Jika aku telah
mendapatkan satu keyakinan tentang pusaka ini. maka aku akan
mempersilahkan anak muda itu meninggalkan kita semuanya. Tetapi
sebelum aku mendapatkan keyakinan itu. maka aku tidak akan
membiarkan pergi. Karena kami bukan kelinci-kelinci yang terlalu
bodoh untuk ditipu begitu saja” Tubuh Daruwerdi terasa semakin
gemetar. Ia tidak menyangka bahwa ia akan berhadapan dengan
seseorang yang terlalu cerdik dan cermat. Bahkan ada seperti
penyesalan yang melonjak di dalam hatinya. Ternyata rencananya tidak
berjalan selancar seperti yang diduganya. Dalam keadaan yang
terjepit itu, Daruwerdi mulai membayangkan wajah ibunya yang
melepaskannya dengan air mata. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan
untuk berbuat sesuatu, karena demikian Yang Mulia menjatuhkan
perintah untuk berangkat ke bukit berhutan itu. maka Sanggit
Rainapun telah melangkah mendekati Daruwerdi sambil berkata Marilah
anak muda. Tidak ada apa-apa yang akan terjadi. Kita hanya ingin
membukt ikan, bahwa kita masing- masing telah berbuat dengan jujur”
Daruwerdi menelan ludahnya. Sekilas dipandanginya peti yang sudah
berada di tangan Yang Mulia itu. Sekali lagi ia bertanya kepada diri
sendiri “Apakah benar ia dapat mengetahui j ika- pusaka itu
dipalsukan? Bkankah tidak seorangpun yang mengetahui, pusaka apakah
yang pernah disembunyikan itu. Atau ia sudah mendengar bahwa ada
nilai lain yang terdapat disamping pusaka itu, sehingga ia bertanya
tentang goresan-goresan pada dinding peti itu” Ada semacam
kebanggaan atas diri sendiri, bahwa ia sudah melakukannya dengan
cermat. Tetapi bahwa Yang Mulia masih akan mempergunakan cara lain
untuk mengetahui keaslian dari pusaka itu, sebelumnya tidak pernah
dipikirkannya. Terbersit pula satu niat untuk berbicara tentang
petunjuk gaib dan karena itu, ia akan mendapat perlindungan gaib
apabila Yang Mulia itu akan berbuat curang. Namun niat itu di
urungkan, karena ia yakin bahwa Yang Mulia tidak akan
menghiraukannya. Bahkan mungkin ia yakin bahwa Yang Mulia tidak akan
menghiraukannya. Bahkan mungkin Yang Mulia itu ptin akan menjawab,
bahwa iapun dapat melakukan yang gaib itu. Karena itu, maka tidak
ada pilihan lain bagi Daruwerdi selain mengikut i ir ing- iringan
yang kemudian menuju ke bukit berhutan. Jarak yang tidak terlalu
jauh. Tetapi karena sebagian dari mereka telah teriuka, kehilangan
kekuatannya dan keletihan, maka perjalanan itu telah ditempuh hampir
seperti mereka berjalan kaki saja. Meskipun dalam pada itu, bagi
Daruwerdi telah disediakan seekor kuda pula. Dalam perjalanan itu,
Pangeran yang sakit itu nampaknya menjadi semakin payah. Tabib yang
selalu menjaganya itupun telah memberinya obat secukupnya, sesaat
ketika mereka akan meninggalkan bukit gundul itu. Nampaknya obat
yang ditelannya itu member inya sedikit kekuatan. Dengan seteguk air
yang diminumnya dari impes yang dibawanya, maka tubuh Pangeran itu
nampak menjadi sedikit segar. Tetapi sejenak kemudian ia sudah
nampak menjadi payah lagi selama perjalanan. “Jarak ini hanya pendek
saja” berkata Cempaka. “Tetapi kita akan naik keatas bukit itu”
berkata tabib yung merawatnya. “Ya” jawab Cempaka. “Pangeran ini
akan menjadi sangat letihi” desis tabib itu pula. “Biar lah beberapa
orang membantunya. Atau biar saja ia berada di punggung kuda yang
akan dituntun sepanjang jalan menannjak di lereng” “Bagaimana j ika
ia justru jatuh dari punggung kuda?“ bertanya tabib itu. “Sudahlah.
Nanti kita akan mencari jalan bagi Pangeran itu” jawab Cempaka.
Pangeran yang nampaknya sangat letih itu mendengarkan pembicaraan
itu dengan berdebar-debar. Tetapi ia menjadi semakin berdebar-debar
j ika ia memikirkan t ingkah laku anak muda yang menyebut dirinya
bernama Daruwerdi itu. “Agaknya anak ini sangat kurang pengalaman
menghadapi orang-orang seperti pemimpin padepokan Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih itu” berkata Pangeran itu di dalam
hatinya. Namun sementara itu, Rahu selalu dekat dengan Pangeran itu.
Ia merasa bertanggung jawab, apabila terjadi sesuatu atas Pangeran
yang sedang sakit itu. Demikianlah iring- iringan itu menuju ke
bukit berhutan tidak terlalu jauh dar i bukit gundul itu. Sementara
itu, kebingungan tidak saja terjadi diantara orang-orang Sanggar
Gading dan orang-orang Kendali Putih. Bukan saja Sanggit Raina yang
menjadi sangat gelisah karena perkembangan yang tidak terduga-duga
itu. Bukan pula hanya Rahu yang cemas melihat keadaan Pangeran yang
letih itu. Tetapi beberapa orang diluar lingkungan orang-orang
Sanggar Gading dan Kendali Putihpun menjadi bingung. “Apa yang
mereka lakukan Kiai?“ bertanya Jlitheng kepada Kiai Kanthi. Kiai
Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak mengerti. Aku t
idak mendengar apa yang mereka katakan. Tetapi aku kira angger
Daruwerdi terpaksa harus ikut bersama mereka” “Pangeran yang sangat
letih itu juga” desis Jlitheng. “Kita akan mengikutinya” desis Kiai
Kanthi “betapapun sulitnya. Tetapi kita harus mengetahui kemana
mereka pergi” Dengan demikian, maka Jlitheng dan Kiai berusaha untuk
mengamati iring- iringan itu. Mereka tidak berani mengambil jarak
terlalu dekat, karena merekapun menyadari, diantara mereka terdapat
orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Namun dalam pada
itu, selagi mereka dengan hati-hati berusaha mengikut i ir ing-
iringan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih
yang tersisa, maka keduanya telah dikejutkan oleh kehadiran dua
orang yang juga sedang mengikut i iring-ir ingan itu. Namun Jlitheng
menarik nafas dalam-dalam ketika ternyata keduanya adalah Semi dan
kawannya. “Apa yang kau ketahui tentang mereka?“ bertanya Jlitheng.
Semi menggeleng. Ia dapat rnenceriterakan pertempuran yang terjadi
di pategalan. Iapun dapat mengatakan, bahwa diluar dugaan
orang-orang terpenting dari padepokan Sanggar Gading dapat
menyatukan rencana mereka dengan orang- orang Kendali Putih yang
tersisa. “Semuanya serba membingungkan. Ternyata Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading benar-benar seorang yang memiliki sikap yang
sulit untuk dimengerti sebelumnya. Ia selalu menyesuaikan diri
dengan perkembangan keadaan” berkata Semi. “Ia orang yang memiliki
pengalaman yang sangat luas menilik sikap dan keputusan yang
diambilnya” berkata Kiai Kanthi. Semi mengangguk-angguk. Dengan
kening yang berkerut ia bergumam “ Tugas, ini benar-benar menjadi
berat dan tidak menentu” “Itu sudah kita duga” sahut Jlitheng “Kita
memang tidak mempunyai perhitungan yang mapan sebelumnya. Kita
memang harus bertindak sesuai dengan perkembangan keadaan. Tugas
yang demikian memang terasa sangat berat dan tidak menentu” Semi
mengangguk-angguk. Tetapi yang dihadapinya itu justru terasa semakin
berat, karena sikap yang sulit dimengerti dari Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading. Kadang-kadang ia berbuat sesuatu yang tidak dapat
diperhitungkan lebih dahulu. Demikian ir ingan-ir ingan itu menjadi
semakin dekat dengan bukit berhutan. Bahkan kemudian mereka yang
mengikuti itupun mengerti, bahwa iring- iringan itu akan naik ke
bukit berhutan itu. “Swasti” t iba-tiba saja Kiai Kanthi berdesis.
“Mereka tidak naik lewat sisi yang akan melewati gubug kecil itu
Kiai” berkata Jlitheng. “Tetapi sebagian dari mereka tentu akan
menebar untuk mengawasi keadaan. Kita belum tahu, apakah kepentingan
mereka naik ke bukit berhutan itu. Tentu ada sesuatu yang mereka
anggap penting untuk dilakukan di bukit itu” jawab Kiai Kanthi.
“Jadi, bagaimana menurut pertimbangan Kiai?“ bertanya Jlitheng. “Aku
ingin menyelamatkan gadisku itu” desis Kiai Kanthi. “Kita akan
melingkari bukit itu, dan naik lewat jalan yang terbiasa kita
lewati. Kita akan membawa keluar dari rumah itu” desis Jlitheng.
“Aku akan pergi bersama kalian“ sahut Semi “Aku kira, kita akan
dapat membuat pertimbangan-pertimbangan menghadapi kendaraan yang
kurang menentu” Kiai Kanthi ternyata tidak berkeberatan. Karena itu,
maka merekapun berusaha untuk melingkar i bukit kecil itu berjalan
kaki dan kemudian memanjat naik menuju ke gubug Kiai Kanthi. Mereka
harus membawa Swasti keluar dan bersiap menghadapi segala
kemungkinan Namun dalam pada itu, agar mereka tidak kehilangan arah,
maka Jlitheng telah memisahkan dir i untuk tetap mengikuti iring-
iringan ku memanjat naik ke hutan di lereng bukit itu,. “Jika kau
sudah yakin, dimana mereka berhenti, segera hubungi kami“ pesan Kiai
Kanthi. “Baik Kiai. Aku akan segera datang. Tetapi jika keadaan
memaksa, Kiai tidak usah menunggu aku” jawab Jlitheng. “Terima
kasih. Tetapi aku kira aku perlu menunggu” desis Kiai Kanthi
kemudian. Demikianlah, maka J litheng dengan sangat berhati-hati
tetap mengikuti ir ing- iringan itu. Meskipun hanya sekilas- sekilas
saja, namun ia melihat, betapa sulitnya Pangeran yang sedang sakit
itu untuk dapat memanjat naik. Rahu bahkan seolah-olah telah
mendukungnya dan menjaga Pangeran itu dengan sangat berhati-hati
bersama tabib yang merawatnya. Sementara itu, beberapa orang yang
lain memanjat sambil menuntun kuda, karena mereka tidak dapat
memanjat lereng berhutan itu diatas punggung kuda. Dalam pada itu,
Yang Mulia Panembahan Wukir Gadingpun harus turun dari kudanya pula.
Namun ternyata cacat kakinya tidak mengganggunya. Jika di padepokan
nampaknya ia seorang timpang yang harus berjalan dengan tongkat
gadingnya, namun di hutan bukit kecil itu, cacat kakinya seolah-olah
diabaikannya. Namun dalam pada itu, selain memikirkan Pangeran yang
sakit itu, Rahupun menjadi gelisah mengingat mereka yang mengawasi
keadaan. Rahu sadar, bahwa tidak mudah bagi Semi, kawannya dan
Jlitheng untuk mengetahui apa yang telah terjadi Mereka dapat
menjadi bingung dan mengambil sikap yang keliru. Karena itu, ketika
iring-ir ingan itu telah mencapai bagian atas dari bukit kecil
berhutan, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan yang berarti,
Rahupun melepaskan Pangeran itu dan membiarkannya dipapan oleh tabib
yang merawatnya, “Akulah yang kelelahan” berkata Rahu “Tetapi jangan
hiraukan aku. Aku akan mencari air sebentar” “Masih ada air di dalam
impes itu” berkata Pangeran yang sakit. “Terima kasih Pangeran.
Pangeran tentu masih membutuhkannya” desis Rahu. Sementara itu Rahu
berpesan kepada tabib itu “Kau tidak usah mengatakannya kepada
siapapun, bahwa aku akan mencari air sebentar. Aku akan segera
menyusul. Aku sudah tahu, dimana kita semua akan berhenti” Tabib
yang merawat Pangeran itu mengangguk. Katanya “Baiklah. Tetapi
cepat. Sebelum Cempaka bertanya kepadaku, dimana kau” “Jika ia
bertanya, jawab sajalah seperti yang aku kata kan” desis Rahu yang
kemudian memisahkan dir i. Sejenak Rahu termangu-mangu. Ia pasti
bahwa tentu ada satu dua orang yang mengikut inya. Jika bukan Semi
dan kawannya, tentu Jlitheng. Ia berharap, bahwa orang yang mengikut
i itu dapat mengerti maksudnya. Sejenak kemudian, ketika ir ing-ir
ingan itu memanjat semakin jauh Rahu telah bergeser, justru turun.
Ia menunggu sejenak, mungkin seseorang akan menghampir inya.
Meskipun demikian, ketika ia mendengar gemerisik dedaunan, ia telah
bersiaga. Namun kemudian ia menar ik nafas dalam-dalam ketika
ternyatai yang mendekatinya adalah Jlitheng. “Sokur lah kau datang”
desis Rahu, “Aku mengerti maksudmu memisahkan dir i dari kawan-
kawanmu” berkata Jlitheng “Kami semua kebingungan. Aku sudah
berhubungan dengan Semi dan kawannya. Juga dengan Kiai Kanthi, Kami
tidak tahu, apa yang sedang terjadi” Rahupun segera menceriterakan
dengan singkat, apa yang telah terjadi. Akhirnya Rahupun
menceriterakan, bahwa Yang Mulia Panembahan Wukir Gading ternyata
sangat cermat, sehingga ia menganggap per lu untuk meyakinkan
keaslian pusaka yang diserahkan oleh Daruwerdi kepadanya. Karena
itulah maka Yang Mulia telah membawa semua orang yang tersangkut
dalam persoalan pusaka itu keatas bukit berhutan ini. Selama tiga
hari tiga malam Yang Mulia akan berada di atas bukit. Pusaka itu
akan ditayuhnya. sehingga ia akan mengetahui nilai yang sebenarnya
dari pusaka itu. “Tiga hari tiga malam” desis Jlitheng “Apakah hal
itu tidak akan mengundang kemungkinan lain j ika ada pihak-pihak
yang mengetahui apa yang telah terjadi?“ “Hal itu sudah
diperhitungkannya” berkata Rahu “Orang- orang yang tersisa dari
Sanggar Gading dan Kendali Putih akan dapat menghadapi golongan
manapun juga, apabila di bukit ini terdapat Yang Mulia dan orang
Kendali Putih yang nampaknya memiliki kemampuan setingkat dengan
Yang Mulia. “Benar-benar membingungkan” gumam Jlitheng “Yang baik,
apa yang harus kami lakukan” “Mintalah pertimbangan Kiai Kanthi”
desis Rahu “Tetapi sebaiknya kalian menunggu tiga hari tiga malam.
Hasil dari usaha Yang Mulia itu akan menentukan, apa yang akan
terjadi Usahakan pada hari keempat mendekati puncak bukit ini. Aku
akan berusaha untuk memberikan isyarat kepada kalian” Jlitheng
mengangguk-angguk. Lalu Katanya “Selama tiga hari tiga malam, kita
akan berbicara dan mencari jalan keluar” “Hati-hatilah. Yang ada
dipuncak bukit itu adalah sisa-sisa orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih, diantaranya termasuk Sanggit Raina dan
Cempaka di-samping Yang Mulia dan orang terkuat dari Kendali Putih.
Kau harus memperhitungkan jumlah dan kemampuan orang-orang yang
berada diatas bukit itu. Mungkin kau merasa perlu untuk bertindak.
Jika jumlah kita jauh di bawah jumlah orang-orang yang berada
dipuncak bukit itu, maka apa yang akan dapat Jlitheng
mengangguk-angguk Katanya “Baiklah. Kami akan memperhitungkannya”
“Sampaikan hal itu kepada Kiai Kanthi dan kepada Semi“ desis Rahu
kemudian “Aku menyusul Yang Mulia keatas bukit, agar aku tidak
dicurigai” Rahupun kemudian meninggalkan Jlitheng tanpa menyentuh
air setitikpun. Namun Rahu sempat member itahukan persoalan yang
membingungkan orang- orang yang mengawasi keadakan. Dalam pada itu,
Jlitheng yang sudah mendapat gambaran yang jelas tentang rencana
Yang Mulia itupun, tidak lagi berusaha untuk mengintai sampai
kepuncak bukit. Tetapi iapun segera memotong jalan, menyusup hutan
di lereng bukit itu, untuk mencapai gubug Kiai Kanthi, Yang didengar
dari Rahu itu harus segera diketahui pula oleh Semi dan Kiai Kanthi
agar mereka dapat menyesuaikan diri. Bahkan yang harus menyesuaikan
diri bukannya mereka yang ada digubug Kiai Kanthi saja. tetapi
anak-anak muda Lumbanpun harus menyesuaikan diri agar mereka tidak
salah langkah menghadapi persoalan yang gawat itu. Dalam pada itu
Kiai Kanthi dan kedua orang yang menyebut diri mereka sebagai
pemburu itupun telah berada di gubugnya. Swasti yang hampir tidak
sabar lagi menunggu berdesis “Hampir saja aku mencari ayah” “Jika
kau mencari aku, kau akan pergi kemana?“ bertanya Kiai Kanthi.
“Kemana saja” jawab Swasti. “Sudahlah. Marilah kita berbicara
tentang keadaan yang gawat sekarang ini. He, apakah sudah merebus
ketela pohon?“ bertanya Kiai Kanthi. “Sudah dingin Aku merebus
ketela pohon dan pisang kapok” jawab Swasti. “O, menyenangkan
sekali. Bawa kemari. Biarlah tamu kita jamu dengan ketela pohon dan
pisang kapok rebus” berkata Kiai Kanthi. Namun, demikian Swasti
menghidangkan ketela pohon dan pisang kapok, maka ayahnya berkata
“Jika kau sudah selesai, ikutlah duduk disini“ “Ah, aku di dapur
saja. Bukankah ayah ingin minuman panas” “Yang dingin ini sudah
cukup. Atau kau dapat menempatkan air diatas perapian, kemudian kau
duduk disini” berkata ayahnya. Swasti memandang ayahnya dengan
heran. Jarang sekali ayahnya memintanya untuk duduk bersama orang
lain. Namun agaknya ayahnya dapat menangkap pertanyaan yang tumbuh
dihati anak gadisnya. Maka Katanya “Keadaan berkembang menjadi
gawat. Kau harus mengetahuinya Swasti” Swasti menarik nafas
dalam-dalam. Sejak ia mulai tinggal di lereng bukit itu, ia sudah
merasa, bahwa tempat itu bukanlah tempat seperti yang dikatakan oleh
ayahnya. Tempat yang akan dapat dipakainya untuk menenteramkan dir
i. Persoalannya bukan saja menyangkut anak-anak muda Lu m ban yang
berebut air, tetapi juga menyangkut persoalan yang tebih luas lagi.
Tetapi Swasti tidak dapat menyalahkan ayahnya. Karena itu, maka
jawabnya “Baiklah ayah. Aku akan menjerang air. Kemudian aku akan
mendengarkan berita tentang keadaan yang gawat itu” Demikianlah
setelah meletakkan belanga berisi air diatas perapian, maka
Swastipun duduk di belakang ayahnya yang sedang menemui kedua orang
pemburu itu. Meskipun agak canggung, namun Swasti berusaha untuk
duduk dengan tenang. Dalam pada itu, Kiai Kanthipun memberitahukan
kepada anaknya, keadaan yang dilihatnya. Karena itu, maka setiap
saat, segalanya dapat terjadi. “Bukankah kita tidak terlibat ayah?“
bertanya Swasti. “Kita semuanya dapat saja terlibat daiam persoalan
baik dan buruk, salah dan benar” berkata ayahnya. “Tetapi apakah
ayah yakin, yang manakah yang bersalah dan yang manakah yang
tidak?“bertanya Swasti. “Dengan mempelajari keadaan, kita dapat
membuat perhitungan. Meskipun tidak mustahil bahwa perhitungan kita
itu salah” berkata Kiai Kanthi. Swasti tidak membantah lagi. Ia
sadar, bahwa kedua pemburu itupun tentu termasuk dalam golongan
mereka yang, terlibat dalampersoalan yang diceritakan oleh ayahnya
itu. “Kita menunggu J litheng” berkata Kiai Kanthi “Kita akan
mendengar lebih banyak lagi tentang orang-orang yang memanjat bukit
ini. Jika ia berhasil, maka ia akan dapat mengetahui, dimana
orang-orang Sanggar Gading dan orang- orang yang lain itu berhenti.
Apalagi jika mungkin ia dapat mengatakah, apa yang akan mereka
perbuat” Namun tiba-tiba seperti orang terbangun dari mimpi Semi
berdesis “Tetapi Kiai, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa jika
saat ini terjadi sesuatu diatas bukit itu” Tetapi Kiai Kanthi
menggeleng. Katanya “Aku kira tidak segera ngger. Jika Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading itu ingin segera menyelesaikan persoalan
dengan kekerasan, segalanya sudah dilakukannya di bukit gundul itu.
Menurut pendapatku, jika mereka naik ke bukit ini, tentu ada
persoalan lain yang akan mereka lakukan. Dan tentu tidak segera
mereka sampai” “Jadi, apakah kita akan menunggu Jlitheng disini?“
bertanya Semi. “Ya. Kita akan menunggu beberapa saat lamanya. Namun
kita tidak boleh lengah. Kita harus menghindari jika satu dua orang
diantara mereka akan turun lewat arah ini” sahut Kiai Kanthi.
“Baiklah” berkata Semi “Aku akan mengawasi keadaan diluar gubug ini”
Sementara Semi dan kawannya meninggalkan gubug itu untuk mengawasi
keadaan, maka Kiai Kanthi berkata kepada Swasti “Sebaiknya kau
bersiap menghadapi keadaan yang semakin gawat. Mungkin akan terjadi
benturan kekerasan” “Aku akan menunggu perkembangan saja ayah” jawab
Swasti. “Tetapi sebaiknya kau bersiap dengan pakaianmu yang khusus.
Jika tiba-tiba saja kau dihadapkan kepada benturan kekerasan itu,
dengan pakaianmu itu kau akan mengalami kesulitan. Sedangkan kita
tidak tahu, persoalan apakah yang akan tumbuh kemudian. Cepat atau
lambat” berkata ayahnya kemudian. Swasti tidak membantah lagi. Iapun
mengerti, jika ia tergesa-gesa maka ia tidak akan sempat berganti
pakaian. Dalam keadaan yang demikian, maka ia akan mengalami
kesulitan untuk melawan siapapun yang akan dihadapinya, justru
karena ia seorang gadis. Namun dalam pada itu, Swasti masih tetap
ragu-ragu, apakah mereka akan terlibat langsung dengan persoalan
yang tidak mereka mengerti sepenuhnya itu. Sementara itu, Jlitheng
yang berjalan memintas itupun tertegun ketika ia tiba-tiba saja
telah berhadapan dengan dua orang yang tidak dikenalnya. Demikian
tergesa-gesa, sehingga ia tidak sempat untuk menghindarkan diri dari
pertemuan itu. Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Sementara
Jlithengpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kedua orang
itu mungkin orang Sanggar Gading yang belum dikenalnya ketika ia
berada di sarang itu, atau justru orang Kendali Putih. Sejenak kedua
belah pihak itupun justru bagaikan membeku. Namun kemudian salah
seorang dari kedua orang itupun bertanya “Siapa kau he?“ Jlitheng
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Aku adalah anak
Lumban, Siapakah kalian?“ “Apa kerjamu disini“ Orang itu masih
bertanya. “Aku mendapat tugas dari kawan-kawanku untuk mengamati
orang-orang yang tidak dikenal, yang telah membuat anak-anak muda
Lumban menjadi sangat gelisah” “Luar biasa” desis orang yang lain
“Anak Lumban memiliki keberanian untuk mengikuti ir ing- iringan
itu” “Ya. Kenapa? Aku hanya mendapat tugas untuk mengamati mereka.
Setelah aku yakin bahwa mereka naik kepuncak bukit, aku akan kembal
kepada anak-anak muda Lumban untuk melaporkan apa yang telah
terjadi” jawab Jlitheng. “Meragukan” desis yang seorang “Kenapa
anak-anak muda Lumban telah menunjukmu?“ “Bukan maksudku
menyombongkan dir i. Tetapi ketika anak-anak muda Lumban berkelahi
di bendungan, aku adalah orang yang telah memenangkan perkelahian
itu. Karena itu, anak-anak muda Lumban seolah-olah mewaj ibkan aku
melakukan pekerjaan yang paling tidak menyenangkan ini. Tetapi aku
sudah berhasil. Aku sudah melihat orang-orang yang tidak dikenal
oleh anak-anak Lumban itu pergi kepuncak bukit ini” jawab Jlitheng.
“Jika kau anak muda Lumban, dari Lumban yang mana? Lumban Kulon atau
Lumban Wetan” bertanya salah seorang dari kedua orang itu. “Lumban
Wetan” jawab Jlitheng. “Apakah kau kenal dengan Daruwerdi?“ bertanya
yang lain. “Tentu. Aku mengenal Daruwerdi meskipun ia bukan anak
Lumban, dan sebagian waktunya dipergunakan bagi anak- anak muda
Lumban Kulon. Anak muda Lumban Wetan tidak begitu menarik
perhatiannya. Tetapi pada saat terakhir, ia bersikap adil terhadap
anak-anak Lumban Kulon dan Lumban Wetan ketika terjadi perselisihan
di bendungan tentang pembagian air” jawab Jlitheng yang mulai
menduga-duga kedua orang asing itu. “Apakah keduanya para pengikut
Daruwerdi” bertanya Jlitheng di dalam hatinya “atau dari kelompok
lain yang justru ingin tahu tentang Daruwerdi. Ternyata kedua orang
itu mengangguk-angguk. Agaknya ia mulai mempercayai Jlitheng yang
tahu benar tentang keadaan Lumban. Bahkan ketika Jlitheng bertanya
tentang keduanya, salah seorang dari mereka menjawab “Aku ingin
melihat apa yang terjadi atas Daruwerdi. Menurut pengamatan kami, ia
telah dibawa oleh orang-orang Sanggar Gading ke puncak bukit ini”
“Apakah hubunganmu dengan Daruwerdi?” bertanya Jlitheng. Kedua orang
itu saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang menjawab “Aku
hanya ingin tahu saja. Apakah orang-orang Sanggar Gading itu akan
mengkhianatinya” Jlitheng mengerutkan keningnya, la mencoba memahami
sikap kedua orang itu. Nampaknya keduanya mencemaskan nasib
Daruwerdi yang telah pergi bersama orang-orang Sanggar Gading itu.
“Tidak mustahil bahwa keduanya adalah para pengikut Daruwerdi yang
pada saat terakhir mengawasinya” berkata Jlitheng dalam hatinya
”Memang tidak masuk akal bahwa Daruwerdi benar-benar telah bekerja
sendiri dalam keadaan yang sangat gawat itu” Namun dalam pada itu,
Jlithengpun kemudian berkata “Silahkan. Aku sudah cukup. Aku akan
segera melaporkan hal ini kepada anak Ki Buyut Lumban Kulon yang
nampaknya lebih banyak bersikap dari anak Ki Buyut di Lumban Wetan.
Mungkin anak-anak muda Lomban perlu juga mengambil sikap menghadapi
keadaan” “Apa yang akan dapat dilakukan oleh anak-anak muda Lumban?“
bertanya salah seorang dari kedua orang itu. “Mungkin t idak akan
berpengaruh. Tetapi setidak-tidaknya anak muda Lumban yang banyak
jumlahnya itu akan dapat menjaga Kabuyutan mereka sendiri dari
keterlibatan yang tidak kami harapkan” jawab Jlitheng. Keduanya
mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Pergilah. Aku masih ingin
bergeser naik” Jlithengpun kemudian meninggalkan kedua orang itu.
Tetapi menilik sikap, kata-kata dan ujud dari kedua orang itu. maka
keduanya lebih dekat hubungannya dengan Daruwerdi daripada dengan
salah satu kelompok dari orang-orang yang kasar dan garang dari
padepokan-padepokani yang saling memperebutkan pusaka itu. “Atau
bahkan petugas sandi dar i Demak?“ pertanyaan itu timbul pula
dihatinya. Dalam pada itu, Jlithengpun kemudian langsung pergi ke
gubug Kiai Kanthi. Ternyata yang ditemuinya hanyalah Kiai Kanthi dan
anak gadisnya yang dengan serta meria telah meninggalkan ruangan
depan emnuju ke dapur dibalik dinding. Kiai Kanthi tersenyum melihat
sikap anak gadisnya meninggalkan ruangan depan menuju ke dapur
dibalik dinding. “Dimana Semi dan kawannya?“ bertanya Jlitheng
“Tentu ia tidak sedang berburu?“ “Ia sedang naik untuk mengamati
keadaan” berkata Kiai Kanthi. “Aku ingin berbicara dengan mereka,
disamping Kiai Kanthi” desis Jlitheng. “Apakah aku sebaiknya
memanggulnya” bertanya Kiai Kanthi. “Biar lah aku mencari mereka”
jawab Jlitheng. “Marilah, kita bersama-sama. Aku tahu, ke jurusan
mana mereka pergi” berkata Kiai Kanthi. Setelah minta diri kepada
anak gadisnya, maka Kiai Kanthipun segera memanjat untuk memanggil
Semi dan kawannya. Ternyata mereka tidak terlalu sulit untuk menemui
keduanya, karena keduanya tidak memanjat sampai kepuncak. Mereka
sekedar mengamati keadaan. Karena itu, maka merekapun segera kembali
ke gubug Kiai Kanthi. Nampaknya Kiai Kanthi memang tidak mau
meninggalkan anak gadisnya dari pembicaraan-pembicaraan yang sudah
semakin mengarah dalam keadaan yang gawat itu. Betapapun segannya,
maka Swastipun ikut pula berbicara dengan ayah dan tamu-tamunya.
Meskipun Semi dan kawannya masih juga heran melihat Swasti dalam
pakaiannya, namun mereka t idak bertanya apapun juga. Sementara itu,
Jlithengpun segera menceritakan segalanya yang diketahuinya tentang
ir ing-ir ingan yang sudah berada di puncakbukit itu. Jlithengpun
tidak merahasiakan lagi pertemuannya dengan Rahu yang sempat
menyisih dar i iring- iringan itu. Kemudian iapun berbicara pula
tentang orang yang nampaknya ada hubungannya dengan Daruwerdi. Yang
mendengarkan ceritera Jlitheng itu telah berusaha merenungi apa yang
sebenarnya mereka hadapi. Sementara itu Kiai Kanthipun berkata
“Ternyata tidak sederhana seperti yang agaknya diduga oleh angger
Daruwerdi. Orang terpenting di Sanggar Gading itu masih sempat juga
meyakinkan, apakah ia tidak dit ipu oleh seorang anak muda yang
mengaku bernama Daruwerdi itu” “Ya. Karena itu pusaka itu masih
harus ditayuh” desis Jlitheng. “Tetapi apa yang dapat terjadi dalam
tiga hari tiga malam itu” desis Semi “Apakah mereka membawa bekal
makan yang cukup, atau mereka akan turun ke padukuhan dan mengambil
apa saja yang dapat mereka pergunakan untuk memberi makan
orang-orang yang berada di puncak bukit itu?” “Agaknya demikian”
desis Kiai Kanthi “Mereka akan turun ke Lumban dan merampas apa saja
yang dapat mereka rampas” “Itulah yang berbahaya bagi anak-anak muda
Lumban yang merasa dir inya sudah berlatih olah kanuragan” desis
Jlitheng “agaknya mereka tidak akan membiarkan barang-barang mereka
dirampas. Baik anak muda Lumban Kulon maupun anak muda Lumban Wetan,
apalagi mereka yang termasuk sepuluh orang yang ber latih secara
khusus itu” “Ya” desis Semi “hal itu akan dapat membahayakan mereka”
“Apalagi jika karena tingkah anak-anak muda Lumban itu, pemimpin
yang paling disegani dari orang-orang Kendali Putih, sebagaimana
dikatakan oleh Rahu memiliki kemampuan setingkat dengan Yang Mulia
itu turun selama Yang Mulia meyakinkan keaslian pusaka yang
diserahkan oleh Daruwerdi” desis Kiai Kanthi. “Jadi bagaimana
menurut pendapat Kiai?“ bertanya Jlitheng. “Kita akar i turun. Kita
akan berada diantara anak-anak muda Lumban sampai hari ketiga” jawab
Kiai Kanthi. “Untuk melawan mereka yang datang ke Lumban?“ bertanya
Jlitheng. “Tidak. Kita minta anak-anak muda Lumban tidak berbuat
sesuatu. Biar sajalah apa yang dikehendaki oleh orang-orang Itu.
Dengan demikian peristiwa selanjutnya akan tetap berlangsung dialas
bukit. Jika anak-anak muda Lumban melawan, mungkin akan terjadi
sesuatu yang tidak dikehendaki oteh anak-anak muda Lumban sendir i,
sementara peristiwa yang akan berlangsung di puncak bukit itu akan
dapat berubah dari rencana. Mungkin kita akan kehilangan jejak
sehingga persoalan-persoalan berikutnya akan semakin sulit diikuti”
Jlitheng merenung sejenak. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk
sambil berdesis “Baik Kiai. Tetapi apakah anak anak Lumban akan
dapat mengerti” “Kita akan berusaha menenangkan mereka” berkata Kiai
Kantin. “Sisa bahan makanan mereka terlalu sedikit. Air yang
mengalir i sawah itu masih belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan
secara baik” desis Jlitheng “Tetapi mudah- mudahan nereka dapat
mengerti. Melawan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali
Putih bagi anak- anak muda Lumban akan dapat menimbulkan bencana j
ika tidak diperhitungkar. dengan matang” Akhirnya mereka yang berada
digubug Kiai Kanthi itupun telah bersepakat untuk turun dan diantara
orang-orang Lumban Mereka akan berkumpul dan menjadi satu dengan
mereka. “Mudah-mudahan anak-anak muda Lumban dapat melupakan
persoalan diantara mereka sendiri” desis Semi. Setelah mereka
bersepakat dan memperhitungkan segala kemungkinan, maka Kiai
Kanthipun berkata “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Mungkin
sekali orang-orang yang berada di puncak bukit itu segera menugaskan
orang- orangnya turun kelambung bukit untuk mengawasi keadaan” Yang
lainpun menyetujuinya. Namun Swasti yang berada di belakang ayahnya
berdesis “Bagaimana dengan pakaianku?” “Kau rangkap saja” desis
ayahnya pula. Siapa tahu kita bertemu dengan bahaya diperjalanan“
“Senjata kita?” berkata Swasti pula. “Kita bawa. Kita tidak dapat
menyembunyikannya. Tetapi kita berharap, bahwa kita tidak akan
bertemu dengan mereka” Jawab ayahnya. Swasti masih akan bertanya,
bagaimana tanggapan anak- anak muda Lumbon terhadap senjatanya atau
persoalan- persoalan lain yang menyangkut senjata itu. Namun niatnya
diurungkannya. Ketika orang-orang yang berada digubug itu sudah
meninggalkan ruangan, maka Swastipun dengan cepat merangkap
pakaiannya dengan pakaiannya sehari-hari. Kemudian setelah membenahi
barang-barang digubug itu, iapun menyusul ayahnya yang telah
melangkah menuruni tebing Sebagai seorang gadis, Swasti tidak dapat
meninggalkan barang-barangnya, alat alat dapur betapapun
sederhananya, berserakkan begitu saja di ruang belakang”
Demikianlah, maka kedatangan mereka di Lumban telah mengejutkan
anak-anak muda Lumban Wetan, karena mereka langsung menuju ke banjar
Kabuyutan di Lumban Wetan. Dengan singkat Jlitheng berpesan kepada
kawan-kawannya agar mereka berkumpul di Banjar, terutama sepuluh
orang terbaik yang menjadi pemimpin-pemimpin kelompok anak- anak
muda di Kabuyutan Lumban Wetan. Ternyata bahwa anak-anak muda itu
bergerak cepat. Apa lagi ternyata bahwa mereka telah mendengar
peristiwa yang terjadi di pategalan dan di bukit gundul. Adalah
kebetulan bahwa seseorang pergi ke pategalan untuk mei tik dedaunan
Orang itu hampir pingsan melihat bekas pertempuran yang menger ikan
itu. Jlitheng berusaha untuk memberikan penjelasan tentang peristiwa
yang terjadi di pategalan itu meskipun tidak seutuhnya. Katanya
“Mereka adalah dua gerombolan yang saling bermusuhan. Menurut
pendengaranku, keduanya adalah kelompok Sanggar Gading melawan
kelompok Kendali Putih, Kita, anak-anak muda Lumban tidak tersangkut
sama sekali t ilam persoalan mereka” “Kemudian apa yang terjadi di
bukit gundul?“ bertanya salah seorang dari sepuluh orang terbaik.
“Aku juga mendengar peristiwa itu” jawab Jlitheng “para pemburu ini
lebih cepat menangkap berita tentang persoalan tersebut. Namun
seperti yang terjadi di pategalan, maka persoalannya tidak
menyangkut kita disini” Tetapi hal itu terjadi di Kabuyutan Lumban.
Lumban Wetan atau Lumban Kulon” sahut yang lain. “Benar. Namun
demikian, ikita tidak harus mencampuri persoalan yang gawat itu. Kau
tentu sudah mendengar dan orang yang langsung melihat, mayat
berterbaran di sebelah pategalan itu. Dengan demikian kita akan
dapat membayangkah, apa yang telah terjadi” berkata Jlitheng “Apakah
dengan demikian kita akan mencampurinya?“ Anak-anak muda itu
mengangguk-angguk kecil. Sementara Jlithengpun berkata “Meskipun
demikian, kita tidak akan dapat lepas tangan sama sekali. Kita
berkepentingan dengan ketenangan dan suasana di Kabuyutan Lumban.
Karena itu, setelah mayat-mayat yang berserakkan itu ditinggalkan
begitu saja, sudah tentu menjadi kewajiban kita untuk menyingkirnya.
“Kenapa kita” bertanya seorang anak muda Lumban Wetan ”bukankah kita
tidak bersangkut paut?“ “Tetapi apakah kita akan membiarkan mayat
itu membusuk? Baunya tentu akan memenuhi daerah Sepasang Bukit Mati
ini. Kemudian jika hal itu dapat menyebabkan berbagai penyakit, maka
kita jugalah yang akan mender ita karenanya” jawab Jlitheng.
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mau t idak mau, maka mereka
harus melakukannya. Mengubur mayat-mayat itu untuk menghindari
akibat yang lebih buruk lagi yang dapat terjadi di Kabuyutan Lumban
itu. “Bagaimana dengan anak-anak Lumban Kulon?“ bertanya salah
seorang anak muda itu. “Aku akan pergi ke Lumban Kulon” jawab
Jlitheng “Kita akan bersama-sama mengubur mereka. Jika anak-anak
Lumban Kulon berkeberatan, kita akan melaksanakan sendir i.
Anak-anak muda Lumban Wetan tidak dapat mengingkari tugas itu bagi
kepentingan Kabuyutan mereka. Namun mereka masih juga menunggu
Jlitheng yang akan pergi ke Lumban Kulon. Namun dalam pada itu, ia
masih sempat member i tahukan bahwa orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendal- Putih yang tersisa, yang ternyata telah
menyingkirkan meskipun hanya untuk sementara, permusuhan yang menger
ikan itu, akan berada di puncak bukit berhutan untuk tiga hari t iga
malam. “Maksudmu?“ bertanya salah seorang kawannya. “Mereka akan
membutuhkan makan dan minum” jawab Jlitheng “Mungkin mereka akan
turun ke padukuhan ini, karena padukuhan-padukuhan di Lumban inilah
yang terdekat. Mungkin mereka akan memer lukan makanan, sehingga
mereka akan mengganggu penghuni Kabuyutan ini” “Kita akan
mempertahankan” jawab anak-anak muda itu. “Untuk kali ini, aku
mohon, jangan membuka permusuhan” desis Jlitheng. “Maksudmu, kami
harus menyerahkan begitu saja semua milik kami yang akan mereka
rampas?“ bertanya kawannya itu. “Hanya untuk tiga hari” berkata
Jlitheng “Tetapi j ika terjadi bentrokan antara kalian dengan
orang-orang yang garang itu, maka yang akan terjadi adalah seperti
di pategalan itu. Namun yang terbanyak dari korban yang akan jatuh
adalah kita semuanya” “Jadi kita biarkan barang-barang kita mereka
peras habis dan kita akan mati kelaparan? Kengerian yang akan timbul
di saat-saat kita kelaparan, akan melampaui kematian saat kita
mempertahankan milik kita” “Mereka adalah orang-orang buas yang
tidak mengenal arti perikemanusiaan lagi. Kau harus memikirkan nasib
perempuan dan anak-anak di Kabuyutan ini” desis Jlitheng “Jika kita
kekurangan bahan makanan, kita akan dapat berusaha. Mungkin
dedaunan, mungkin akar-akaran atau mungkin kita harus berburu
binatang dan mencari ikan disungai atau di sendang diatas bukit”
Anak-anak muda itu menggeram. Namun mayat yang terbujur lintang
tentu akan sangat mengerikan juga. Karena nampaknya anak-anak muda
itu masih ragu-ragu, maka Jlithengpun berkata “Mar ilah. Nanti kita
lihat, api yang terjadi di pategalan. Kita akan pergi kesana bersama
kedua pemburu ini. Demikian juga Kiai Kanthi dan anak gadisnya”
Anak-anak itu tidak menjawab lagi. Mereka sependapat untuk melihat
sendiri, apa yang terjadi di pategalan. Bukan hanya sekedar laporan
yang barangkali dapat dilebihkan dari kenyataannya. Dalam pada itu.
Jlithengpun telah pergi ke Lumban Kulon bersama Semi. Sementara
kawannya, Kiai Kanthi dan Swasti telah ditinggalkannya di banjar
Kabuyutan Lumban Wetan. Jlitheng akan segera kembali untuk
memberikan, kapan anak- anak Lumban Kulon akan pergi ke pategalan.
Di Lumban Kulon Jlitheng langsung menemui Nugata yang nampaknya
masih mendendamnya. Namun dalam pada itu. Jlitheng berkata “Kita
sisihkan persoalan kita sendiri. Kita menghadapi masalah yang gawat.
Masalah yang datang dari luar lingkungan kita sendiri” “Aku sudah
mendengar” sahut Nugata. Jlithengpun kemudian menjelaskan seperti
yang dikatakannya kepada anak-anak muda Lumban Wetan. “Persetan“
geram Nugata “dikubur atau tidak dikubur itu bukan urusanku”
Jlitheng menar ik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak begitu saja
menerima jawaban Nugata. Ia masih berusaha untuk menjelaskan, jika
mayat-mayat itu dibiarkan saja, maka yang akan terjadi adalah
bencana bagi Lumban dalam keseluruhan. “Pategalan itu akan menjadi
pategalan mati” desis Jlitheng “ tanah yang kering ini akan menjadi
kian sempit tanpa pategalan itu. Sementara tidak akan ada orang yang
berani lagi menyentuh pategalan yang akan menjadi penuh dengan
kerangka-kerangka” Nugata mengerutkan keningnya. Namun nampaknya ia
mulai berpikir. Justru karena itu, maka Jlithengpun semakin menekan
kesulitan yang dapat timbul j ika mayat-mayat itu di biarkan saja.
“Binatang-binatang buas dari bukit itu akan turun” berkata Semi
lebih lanjut “Apalagi jika dipuncak bukit itu oirang-orang Sanggar
Gading dan orang-orang Kendali Putih berburu binatang.
Binatang-binatang yang merasa terganggu, sementara bau bangkai yang
sampai kehidung mereka, akan mengundang bahaya tersendiri.
Binatang-binatang buas itu akan tinggal di pategalan-pategalan.
Bukan saja harimau yang buas, tetapi yang tidak kalah bahayanya
adalah serigala dan anjing hutan. Jika mayat itu sudah habis, akan
datang giliran binatang buas itu akan melihat kearah
padukuhan-padukuhan di Kabuyutan Lumban” Akhirnya Nugata menarik
nafas dalam-dalam sambil berkata “Baiklah. Kita akan bersama-sama
mengubur mayat itu. Berapa puluh anak Lumban Wetan yang dapat turun
ke pategalan” “Aku tidak dapat menyebut dengan pasti” jawab
Jlitheng. “Jadi, bagaimana kami harus mengerahkan anak-anak muda
jika jumlahnya belum diketahui. Anak-anak muda Lumban Kulon sama
jumlahnya dengan anak-anak Lumban Wetan. Dan itupun harus aku pimpin
sendiri” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kau terlalu
membatasi diri antara Lumban Kulon dan Lumban Wetan, Nugata. Kau
belum dapat meluluhkan dir imu dalam satu kelu- aiga besar meskipun
dalam batas-batas yang tertentu. Kenapa kita harus mengbitung berapa
anak Lumban Wetan dan berapa Lumban Kulon. Sebaiknya, berapa
orangpun yang dapat melakukan tugas itu” Nugata termangu-mangu.
Namun kemudian katanya “Baiklah. Aku akan menyuruh beberapa orang
anak muda untuk pergi ke pategalan itu” Setelah mereka bersepakat
tentang waktu, maka Jlithengpun mulai menjelaskan
persoalan-persoalan lain "yang diketahuinya. Seperti anak-anak muda
Lumban Wetan, Nugatapun semula tidak rela untuk menyerahkan apa saja
yang diminta oleh orang yang tidak dikenalnya Bahkan orang- orang
yang telah membuat Kabuyutan itu menjadi ajang pembantaian yang t
idak semena-mena. Tetapi akhirnya Jlitheng berhasil meyakinkan
Nugata, bahwa bahayanya akan sangat besar jika anak-anak Lumban
berani menentang kehendak orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang
Kendali Putih. “Tetapi hanya untuk tiga har i saja” geram Nugata.
“Ya. Hanya untuk tiga hari. Aku kira mereka tidak akan mengambil
melampaui kebutuhan mereka tentang pangan. Sebab selebihnya pangan
disini t idak ada apa-apa. Demikianlah maka pada waktu yang telah
ditentukan anak- anak muda Lumban Wetan dan anak-anak muda Lumban
Kulon telah pergi ke pategalan. Anak-anak muda Lumban Wetan disertai
oleh Jlitheng, Semi, kawan Semi dan agar tidak menimbulkan
pertanyaan khusus, maka Kiai Kanthi memilih untuk pergi sendiri
bersama anak gadisnya Ja akan hadir diluar pengetahuan anak-anak
Lumban. Bagi mereka kehadiran Swasti tentu akan dapat menimbulkan
berbagai pertanyaan yang mungkin akan sulit untuk dijawab. Yang
mereka lihat di pategalan benar-benar mengerikan. Bahkan ada satu
dua orang anak muda yang menjadi pingsan, ada pula yang
muntah-muntah. Tetapi Jlitheng, Semi dan kawannya telah mendahului
mereka berada diantara mayat- mayat yang terbujur lintang. Anak-anak
Lumban Kulon yang ternyata disertai oleh Nugata sendiri itupun
menjadi ngeri melihat kenyataan itu. Tetapi mereka, anak-anak muda.
Lumban Kulon dan anak- anak muda Lumban Wetan itu menyadari, bahwa
justru karena itu, mereka harus menguburkan mayat-mayat itu. Namun
kerja itu ternyata dapat diambil manfaatnya bagi kehidupan anak-anak
muda Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Jika semula diantara mereka
masih terasa ada batas, namun ketika mereka sudah mulai menggali
tanah di padang ilalang, maka mereka mulai membaurkan dir i.
Perlahan-lahan mereka melupakan pertentangan diantara mereka, bahwa
seolah olah mereka merasa kembali kepada masa-masa dimana mereka
masih belum dipisahkan oleh pertentangan yang timbul karena air yang
mengalir disungai kecil yang membatasi Lumban Wetan dengan Lumban
Kulon. Dengan susah payah, anak-anak muda itu memaksa diri untuk
mengubur mayat-mayat yang berserakkan. Mereka menggali sebuah lubang
yang besar dan kemudian memasukkan mayat-mayat itu ke dalamnya.
Begitu kerja itu selesai, maka anak-anak muda itu langsung pergi
kebendungan. Mereka langsung menceburkan diri untuk mandi, karena
rasa-rasanya tubuh mereka dilekati nodt-noda darah yang sudah
mengering dan bau bacin yang hampir tidak tertahankan. Sebagian
besar dari mereka ternyata telah muntah-muntah. Bahkan yang
pingsanpun telah bertambah lagi. Namun dengan demikian mereka telah
melihat sendir i, apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang
berada di atas bukit itu. Karena mereka bertemu dalam imbangan
kekuatan yang hampir sama, maka mereka telah meninggalkan korban
yang hampir sama pula banyaknya. “Bagaimana kira-kira yang akan
terjadi, jika anak-anak muda Lumban yang harus bertempur melawan
mereka” bertanya salah seorang anak muda Lumban Wetan. Pertanyaan
itu telah mengganggu perasaan Jlitheng yang kebetulan mendengarnya.
Tetapi ia masih belum ingin menjawab, karena justru ialah yang
menghendaki agar anak- anak Lumban itu tidak melawan. Tetapi bukan
maksud Jlitheng untuk memperlakukan anak anak Lumban itu untuk
seterusnya. Meskipun demikian, Jlitheng masih harus memperhitungkan
waktu setepat- tepatnya. Setelah selesai mandi, maka anak-anak muda
rtupun kembali ke padukuhan masing-masing. Namun kemudian, semalam
suntuk mereka tidak dapat memejamkan mata barang sekejappun. Bahkan
dalam pada itu, anak-anak muda yang pingsan di pategalan, meskipun
mereka kemudian sadar kembali, dan karena keadaannya tidak dapat
membantu kawan-kawannya menggali kuburan yang besar itu, telah
menjadi sakit. Tubuhnya menjadi panas, dan kadang-kadang mengigil
ketakutan. Peristiwa yang terjadi di pategalan itu telah menjadi
buah pembicaraan semua orang Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Bukan
saja anak-anak muda, tetapi juga orang-orang tua. Bahkan akhirnya Ki
Buyutpun membicarakannya pula. Ketakutan telah membayangi Kabuyutan
itu. Namun dalam pada itu, Jlithenglah yang menghubungi Ki Buyut
Lumban Wetan dan Lumban Kulon bersama Semi untuk memberikan
pertimbangan-pertimbangan. Bahwa tidak sepantasnya mereka melawan
jika orang-orang yang sedang berada di bukit Itu turun untuk mencar
i bahan makanan. “Mereka tentu hanya akan mengambil bahan makanan
secukupnya untuk t iga hari “setiap kali Jlitheng menjelaskan “Tidak
akan lebih. Karena mereka tahu, di padukuhan- padukuhan tlatah
Lumban tidak akan mereka jumpai apapun juga” “Tetapi bahan makan
bagi mereka selama t iga hari, cukup berarti bagi kami, orang-orang
Lumban yang miskin” jawab Ki Buyut Lumban Wetan. “Tentu lebih baik
dari kitalah yang dibantai seperti yang terjadi di pategalan”
berkata Jlitheng. Ki Buyut hanya dapat menarik nafas panjang. Ia
merasa sangat berprihatin tentang tanah kelahirannya. Setelah tanah
di bagi menjadi Lumban Kulon dan Lumban Wetan, maka nampaknya tidak
membawa perbaikan-perbaikan. Air yang member ikan harapan itu
ternyata telah menumbuhkan pertentangan antara saudara yang terpisah
dalam usia dewasa. Dani kini tanah yang gersang itu menghadapi satu
peristiwa yang mendebarkan jantung. Namun dalam pada itu, setiap
kali Jlitheng harus menemui Kiai Kanthi, untuk mohon
petunjuk-petunjuk kepadanya, apa yang harus dilakukannya pada
saat-saat yang gawat itu. Bahkan dengan gelisah, Jlitheng telah
menemui Kiai Kanthi sambil berkata “Kiai, menurut beberapa orang
anak muda di Lumban Kulon, di tempat tinggal Daruwerdi terdapat
seorang perempuan yang agaknya mempunyai hubungan dengan Daruwerdi”
“Seorang perempuan? Muda atau tua?“ bertanya Kiai Kanthi. “Pantas
untuk menjadi ibunya” jawab Jlitheng. “Mungkin ibunya” jawab Kiai
Kanthi “Aku kira t idak ada buruknya kau datang kepadanya untuk
memberi tahukan keadaan Daruwerdi. Tetapi sebelumnya kau harus
melihat keadaan, apakah menurut pendapatmu kau pantas mengatakan
atau tidak” Jlitheng mengangguk-angguk. Kemudian bersama Semi ia
telah pergi ke tempat tinggal Daruwerdi untuk menjumpai perempuan
seperti yang dikatakan oleh anak-anak muda Lumban Kulon. Kedatangan
Jlitheng dan Semi mengejutkan perempuan itu. Namun Jlithenglah yang
kemudian terkejut ketika ia melihat dua orang laki- laki.
-oo00oo-
Jilid 16 SEJENAK mereka saling berpandangan, namun kemudian
Jlithenglah yang berbicara “Ki Sanak, bukankah K i Sanak berdua yang
aku jumpai di lambung bukit berhutan itu” “Ya” sahut salah seorang
dari keduanya. “Aku sudah mengira bahwa kalian mempunyai hubungan
dengan Daruwerdi” jawab Jlitheng “ kedatanganku kemari sebenarnya
juga ingin memberi tahukan bahwa Daruwerdi berada di bukii. Namun
kamipun ingin tahu, apakah hubungan kalian dengan Daruwerdi” Kedua
orang laki-laki itu termangu-niangu. Namun seperti yang dikatakan
Jlitheng dalam pengakuannya, bahwa ia adalah anak Lu m ban. Karena
itu, maka memlrut pertimbangan kedua laki-laki itu meskipun mereka
tidak saling berbincang, namun agaknya tidak ada keberatannya untuk
menyebut bahwa perempuan itu adalah ibu Daruwerdi, justru karena
keadaan Daruwerdi yang gawat. Nampaknya mereka masih saja ragu-ragu.
Tetapi akhirnya salah seorang dari mereka berkata “- Baiklah Ki
Sanak. Nampaknya kau berkata sebenarnya tentang dirimu, bahwa kau
adalah anak Lumban. Karena itu, aku kira kamipun akan berkata
sebenarnya tentang diri kami. Bahwa kami adalah keluarga Daruwerdi.
Perempuan ini adalah ibu Daruwerdi dan kami adalah paman-pamannya.
Kami mencemaskan nasib anak itu. la adalah seorang anak yang berani,
tangkas berpikir, tetapi kurang pengalaman. Ia kini berada di atas
bukit itu, dalam tangan sekelompok orang yang tidak aku ketahui”
“Itulah yang ingin aku beritahukan” sahut Jlitheng “Aku memang sudah
menduga, bahwa disini hadir ibunya. Tetapi karena kalian berdua
ternyata adalah paman-pamannya, maka aku tidak perlu member i
tahukan keadaan Daruwerdi sekarang ini” “Kami sudah mengetahuinya”
berkata salah seorang dari kedua laki-laki itu. “Baiklah” berkata
Jlitheng kemudian” Menghadapi orang- orang dia tas bukit itu, kami
sudah menemukan satu sikap. Kami, seluruh padukuhan Lumban Wetan dan
Lumban Kulon. Dari Ki Buyut sampai kepada anak-anak mudanya. Aku
mohon kalian dapat menyesuaikan diri dengan sikap kami “Sikap yang
bagimana?“ bertanya salah seorang dari keduanya. Jlithengpun
kemudian member itahukan sikap yang sudah disetujui oleh setiap
orang di Lumban. Mereka tidak akan berbuat apa-apa selama tiga hari
tiga malam. Sambil menunggu hasil pengamatan Yang Mulia atas pusaka
itu dengan caranya. Kedua orang itu mengangguk-angguk. Katanya “Jika
itu sudah menjadi keputusan kalian, kami tidak akan berbuat lain.
Tetapi bagimana nasib Daruwerdi kemudian?“ “Kita bersama-sama akan
melihat dalam waktu tiga hari lagi” jawab Jlitheng. “Apakah tidak
akan terjadi sesuatu” desis-yang lain. “Kita akan bersama-sama
mengamati keadaan” sahut Semi “Tetapi kita harus sepakat dalamsikap
dan tindakan” Kedua orang itu nampak ragu-ragu. Salah seorang dari
keduanya itupun bertanya “Apakah maksud kalian? Apakah yang kalian
sebut dengan kesepakatan sikap dan perbuatan? Aku tida akan
keberatan untuk berbuat apa saja tetapi dengan satu maksud tertentu,
keselamatan Daruwerdi” Jlitheng memandang Semi sekilas. Kemudian
katanya “Kita memikirkan keselamatan bukan saja Daruwerdi. Tetapi
juga Lumban dalam keseluruhan” “Itu bukan urusanku” sahut salah
seorang dari kedua orang itu” Kami hanya berkepentingan dengan
Daruwerdi” “Jangan berkata begitu” potong Jlitheng “kalian berada di
Lumban sekarang Kita bersama-sama menghadapi keadaan yang gawat. Aku
berharap bahwa kalian dapat bekerja bersama dengan kami” Sebelum
salah seorang dari kedua orang itu menjawab, perempuan yang nampak
selalu murung itu mendahului “Terima kasih atas perhatian kalian
anak muda. Aku sependapat bahwa kita bersama-sama menghadapi
peristiwa yang gawat. Tentu kita akan bekerja bersama dengan seluruh
isi Kabuyutan Lumban” Jlitheng memandang perempuan itu sejenak.
Kemudian katanya “Mudahmuduhan kita dapat berbuat banyak menghadapi
masalah ini. Mungkin setelah tiga hari kita akan terpaksa melakukan
tugas-tugas yang lebih berat lagi dari yang kita lakukan sebelum
ini” Kedua orang itu mengangguk-angguk. Kemudian salah seorang dari
mereka berkata “Baiklah. Mungkin sikap ini bukan sikap yang mutlak,
karena pada suatu saat, mungkin kita akan dihadapkan pada
kepentingan yang berbeda” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia
mengerti sikap kedua orang itu. Namun iapun berharap bahwa segala
perbedaan sikap dan kepentingan itu dapat dibicarakan kemudian.
Karena itu, maka iapun mengangguk-angguk sambil menjawab “Baiklah.
Tetapi menghadapi orang-orang yang membawa Daruwerdi itu, kita akan
bersikap sama” “Kami menunggu, apa yang harus kami lakukan bersama
kalian disini” berkata salah seorang diantara mereka. Jlithengpun
kemudian minta diri. Namun dengan demikian, ia sudah dapat
mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul diluar
perhitungannya. Karena itulah maka segala pikiran dan perhatian akan
dapat dicurahkan kepada orang- orang yang berada di atas bukit
berhutan itu. Dalam pada itu, sebenarnyalah Yang Mulia Panembahan
Wukir Gading telah berusaha meyakinkan keaslian dari pusaka itu.
Seperti yang selalu dilakukan untuk mengetahui kebenaran sebuah
pusaka, maka pusaka itu harus ditayuh. Diatas bukit itu telah dibuat
sebuah gubug kecil sederhana dari batang-batang kayu dan dedaunan.
Di bawahi gubug kecil itulah Yang Mulia duduk bersemadi.
Diletakkannya pusaka yang ditayuhnya dihadapannya, dialasi dengan
kain cinde yang memang sudah disediakan untuk itu. Beberapa orang
kepercayaannya mengawasinya dengan penuh kewaspadaan. Apalagi
diantara mereka terdapat orang-orang Kendali Putih. Bagaimanapun
juga, orang-orang Sanggar Gading tidak dapat mempercayai mereka
sepenuhnya. Sanggit Raina dan Cempaka, yang meskipun tidak dengan
terang-terangan menunggui pusaka, itu, namun mereka mengawasinya
pula. Mereka merasa berkepentingan langsung dengan pusaka itu.
Karena itu, maka mereka tidak akan membiarkan seandainya orang-orang
Kendali Put ih berbuat curang dengan mencur i pusaka itu. Bahkan
seandainya yang melakukannya adalah Eyang Rangga itu sendir i,
keduanya merasa berkepentingan untuk mencegahnya. Di bagian lain, di
bawah sebatang pohon yang besar, Pangeran yang sedang sakit itu
duduk dengan lemahnya ditunggui oleh tabib yang merawatnya. Beberapa
langkah dari tempat itu, Rahu duduk bersandar sebatang pohon yang
lain. Rasa-rasanya pada saat terakhir ia tidak dapat meninggalkan
Pangeran yang sedang sakit, nampaknya menjadi semakin parah sejak ia
dipaksa untuk memanjat tebing bukit itu. Beberapa langkah dari
mereka, orang-orang Kendali Putih duduk berkelompok. Diantara mereka
terdapat Eyang Rangga. Sementara pemimpin padepokan Kendali Putih
sendiri, hampir tidak dapat berbuat sesuatu, karena ternyata ia
telah terluka cukup parah. Namun ia telah berusaha untuk
mengobatinya. Pada waktu-waktu berikutnya, sebenarnyalah seperti
yang sudah diperhitungkan, bahwa orang-orang itu ternyata memer
lukan makan dan minum untuk kepentingan mereka. Karena di bukit itu
kemudian diketemukan sumber air yang jernih, maka untuk minum mereka
tidak lagi mempersoalkannya. “Kita harus mencari bahan makanan ke
padukuhan di bawah bukit” berkata salah seorang diantara mereka yang
merasa lapar. “Tetapi jangan menimbulkan banyak persoalan dengan
orang-orang padukuiban itu “ pesan Sanggit Raina “kalian memang
dapat memaksa mengambil bahan makanan, tetapi kalian harus dapat
menjaga, agar mereka tidak menjadi kelaparan. Karena seseorang yang
kelaparan akan dapat berbuat apa saja diluar perhitungan. Meskipun
mereka merasa diri mereka lemah, tetapi jika mereka harus memilih
mati kelaparan atau mati dalam usaha mempertahankan dir i, mereka
akan memilih untuk mempertahankan hak mereka” “Jika ada kekurangan“
sambung Cempaka “Kita dapat berburu binatang. Di hutan ini banyak
terdapat binatang. Kalian tidak akan dapat menghabiskannya dalam
waktu tiga hari tiga malamselama kalian berada disini” Sementara
itu, yang duduk sambil menundukkan kepalanya adalah Daruwerdi yang
diawasi dengan cermat oleh orang- orang Sanggar Gading. Ia menjadi
berdebar-debar dan gelisah. Setiap saat ia merasa, bahwa nasibnya
akan ditentukan setelah pusaka itu selesai di tayuh. Namun demikian
kekerasan hatinya selalu mengelak apabila terbersit penyesalan
diliatinya Bahkan di dalam hati ia menggeram “Setiap usaha memang
mengandung kemungkinan, berhasil atau gagal. Jika aku gagal apaboleh
buat” Tetapi bagaimanapun juga, Daruwerdi tidak dapat mengelakkan
kenyataan bahwa yang terjadi itu tidak selancar sebagaimana
direncanakan. Ia mengharap bahwa Yang Mulia Panembahan Wukir Gading
dari Sanggar Gading tanpa meyakinkan kebenarannya begitu saja
menerima pusaka itu dan menyerahkan Pangeran yang dimintanya itu
kepadanya. Pangeran itu memang sudah dibawa oleh orang-orang Sanggar
Gading, tetapi mereka tidak begitu saja percaya kepadanya bahwa
pusaka itu adalah pusaka yang sebenarnya. “Pangeran itu tentu
mentertawakan aku” berkata Daruwerdi di dalam batinya. Karena justru
menurut keyakinannya, Pangeran itu mengetahui pusaka yang
sebenarnya. Karena itu, jika ia melihat peti pusaka yang ditayuh
oleh Yang Mulia itu, maka Pangeran itu tentu akan heran, bahwa ada
orang lain yang menyebut dirinya mengetahui letak pusaka itu Apalagi
jika Pangeran itu melihat peti tempat penyimpanan pusaka itu. Tetapi
lebih dari itu, jika Yang Mulia telah selesai meyakinkan kebenaran
pusaka itu dan ternyata ia dapat melihat kepalsuannya, maka nasibnya
akan ditentukan oleh orang-orang Sanggar Gading yang garang itu.
Dalam pada itu, sebenarnyalah orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih telah turun ke padukuhan-padukuhan di
tlatah Lumban untuk mencari bahan makanan. Tetapi mereka tidak
melanggar pesan Sanggit Raina agar mereka tidak terlalu menyakiti
hati orang-orang Lumban, karena dengan demikian, orang-orang yang
cemas bahwa mereka akan kelaparan itu akan dapat mengganggu mereka
yang berada di bukit itu. Dalam pada itu, orang-orang Lumbanpun
telah melakukan sebagaimana telah mereka sepakati. Anak-anak muda
telah member itahukan kepada setiap orang agar mereka tidak melawan
orang-orang yang sedang berada di atas bukit. Jika mereka menjadi
marah, maka. yang akan terjadi adalah bencana yang tidak
terduga-duga. Karena itu, maka tidak ada lain yang dapat mereka
lakukan kecuali memberikan apa yang diminta. Selagi orang-orang di
atas bukit itu menunggu dengan sabar waktu yang ditentukan oleh Yang
Mulia Panembahan Wukir Gading, maka Jlitheng dan Semi tidak jemunya
mengawasi kedudukan mereka dengan sangat hati-hati. Disamping mereka
berdua, ternyata Kiai Kanthipun telah melakukannya pula. Ada hal-hal
yang sangat berbahaya jika dilakukan oleh Jlitheng, Semi maupun
kawannya. Karena itu. maka ia telah menyanggupi untuk melakukanya.
“Hanya Kiai sajalah yang akan dapat mendekati mereka” berkata
Jlitheng. “Aku akan mencoba. Tetapi nampaknya sangat berbahaya”
desis Kiai Kanthi. Lalu Katanya “Namun yang penting bagi kita, apa
yang akan terjadi pada saat terakhir sebagaimana ditentukan oleh
Panembahan Wukir Gading. Dirna-la m ketiga, kita semuanya harus
sudah siap, sehingga jika terjadi sesuatu kita tidak akan terlambat”
“Masih ada dua malam lagi” berkata Jlitheng “Aku harus mempersiapkan
segalanya. Sepuluh anak-anak terbaik itu harus mengetahui dengan
pasti, apa yang harus mereka lakukan. Selebihnya, akan diber
itahukan kemudian” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Lalu katanya “Kita
tidak boleh meninggalkan sikap hati-hati. Kita berhadapan dengan
kekuatan yang mungkin akan sangat mengejutkan kita. Perlu di ingat,
bahwa masih mungkin ada kekuatan lain yang akan datang” Jlitheng
mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk- angguk ia berkata “Ya, ya.
Mungkin sekali. Dan hal itu harus diperhitungkan” “Jika Yang Mulia
tinggal di atas bukit itu untuk tiga hari tiga malam, bukannya tidak
berperhitungan” berkata Kiai Kanthi. Jlitheng mengangguk-angguk.
Sekali lagi ia berdesis “Ya. Ya. Segalanya memang memperlukan
pengamatan tersendiri” Demikianlah, maka Jlithengpun kemudian merasa
perlu untuk menghubungi sepuluh anak muda terbaik dar i Lumban,
Bahkan Jlithengpun telah mencoba menghubungi anak-anak terbaik dari
Lumban Kulon, termasuk anak Ki Buyut yang agak sombong itu. Kita
harus mempersiapkan segala sesuatu menjelang hari ketiga itu”
berkata Jlitheng kemudian. “Bukankah seperti yang kau katakan,
semuanya itu akan berakibat kehancuran semata-mata” berkata Nugata.
“Jika kita tidak siap maka akibatnya memang akan demikian. Karena
itu kita harus mempersiapkan dir i sebaik- baiknya. Masih ada dua
malam. Anak-anak terbaik ini masih berkesempatan untuk mengingat
kembali bagaimana caranya menggenggam pedang” berkata Jlitheng.
Jlithengpun kemudian memberikan sedikit gambaran tentang kemungkinan
yang dapat mereka lakukan. Daruwerd memer lukan pertolongan apabila
pada saatnya ia tercepit oleh kekuatan di atas bukit itu, karena
persoalan yang tidak diketahui. Tetapi adalah satu kenyataan bahwa
la telah dibawa olehi orang-orang yang garang itu keatss bukit.
“Kita tidak dapat membiarkannya tanpa berbuat sesuatu” berkata
Jlitheng “ sebab iapun telah berbuat sesuatu atas kita” “Untuk
membunuh dir i?“ bertanya Nugata pula. “Tentu tidak. Kita, tidak
bekerja sendir i. Daruwerdi mempunyai dua orang paman yang nampaknya
memiliki ilmu yang cukup tinggi. Kemudian Semi dan kawannya telah
menyatakan diri bergabung bersama kita. Selebihnya Daruwerdi sendiri
tentu akan dapat menanggapi keadaan jika kita berbuat sesuatu.
Sehingga dengan demikian kita akan mempunyai kekuatan yang cukup
untuk melawan orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali
Putih” berkata Jlitheng. “Tetapi apakah sebenarnya kepentingan kita
demikian besar, sehingga mungkin kita akan mengorbankan orang- orang
terbaik dari Lumban Wetan dan Lumban Kulon “ Nugata masih ragu-ragu.
“Ada sesuatu yang masih belum kita ketahui dengan pasti dari
persoalan ini. Tetapi bahwa daerah Sepasang Bukit Mati ini menjadi
perhatian sekian banyak- orang, tentu ada sebabnya. Juga kehadiran
Daruwerdi di daerah inipun perlu dipertanyakan kemudian” berkata
Jlitheng “ karena itu, yang perlu kita lakukan dahulu, adalah
mengusir orang-orang itu selagi kita masih dapat memanfaatkan segala
kekuatan yang ada” Nugata termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
iapun tidak berkeberatan. Memang ada banyak hal yang tidak mereka
ketahui dengan pasti. Namun ia sependapat, bahwa orang-orang itu
harus disingkirkan. Sementara itu, mumpung ada kekuatan yang akan
dapat membantu mereka. Tanpa kekuatan itu, nalar Nugatapun dapat
mengerti, anak-anak Lumban tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Sementara jika mereka tidak diusir maka mereka akan menguras habis
segala persediaan makanan yang ada di daerah tandus itu. Akhirnya
Nugata menyetujui untuk mempersiapkan dir i. Namun ia masih berkata
“Kita baru akan bersiap-siap. Tetapi kita masih harus menilai
keadaan terakhir besok. Jika keadaan tidak memungkinkan kita tidak
akan memaksa dir i” “Baiklah. Kita akan berhimpun sore nanti.
Segalanya akan diatur oleh Semi dan kawannya. Dua orang pemburu itu
memiliki kemampuan diatas kemampuan kita, sehingga mereka akan dapat
menuntun kita seperti yang pernah dilakukan” berkata Jlitheng. “Aku
belum pernah mendapat tuntunannya” potong Nugata. “Maksudku
anak-anak Lumban Wetan. Tetapi ia memiliki kemampuan seimbang dengan
Daruwerdi meskipun dasar- dasar ilmunya berbeda. Tetapi pada
dasarnya, kita akan dapat mencari alas kemampuan yang bersifat umum
bagi yang berkemampuan setingkat dengan kita-kita ini” jawab J
litheng. Nugata tidak membantah lagi. Sementara itu merekapun telah
mendapat kesepakatan waktu kapan mereka mulai berkumpul. Tidak
terlalu banyak. Dari Lumban Wetan, kecuali Jlitheng hanya ada
sepuluh orang terbaik. Sementara dari Lumban Kulon Nugata akan
memilih sepuluh orang terbaik pula. Demikianlah, diluar pengetahuan
orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih, Lumban telah
mempersiapkan dir i. Jlilbeng dengan sengaja telah menemui dua orang
paman Daruwerdi untuk melihat persiapan anak-anak muda Lumban. Kedua
orang itu ternyata bersiap pula untuk membantu. Bersama Semi dan
seorang kawannya, kedua orang paman Daruwerdi yang memiliki
kemampuan yang cukup itu pula, telah ikut membantu menempa anak-anak
muda Lumban. Hanya untuk dua hari, namun yang dua hari itu sekedar
untuk memanasi darah mereka j ika mereka benar-benar harus berbuat
sesuatu. Dalam pada itu, ketika anak-anak muda Lumban sedang
berlatih dengan tekun di bawah pengawasan Semi dan kawannya serta
kedua orang paman Daruwerdi itu, Jlitheng dan Kiai Kanthi telah
pergi ke atas bukit ketika malam mulai turun. Mereka ingin
mengamati, apa yang terjadi diatas bukit itu pada malam kedua.
Selebihnya Kiai Kanthi ingin, melihat gu-bug yang dit inggalkannya.
Ketika mereka singgah digubug itu, ternyata mereka mendapat kesan
bahwa gubug itu telah didatangi oleh orang- orang yang berada dialas
bukit. Ternyata barang-barang yang telah dibenahi oleh Swasti itu
menjadi berserakkan. “Jangan kau katakan kepada Swasti “ pesan Kiai
Kan-thi, karena ia yamg membenahinya, maka KiaiKantin yang
meninggalkan Swasti di banjar itu, mencemaskan bahwa gadis yang
keras hati itu akan memanjat naik untuk melihat barang- barangnya
yang tidak seberapa itu. Dalam pada itu, rasa-rasanya ada hubungan
perhitungan antara Kiai Kanthi, Jlitheng dan Rahu. Rahu merasa bahwa
disekitar tempat itu tentu ada orang-orang Lumban yang mengawasinya.
Rahupun tahu, bahwa Kiai Kanthi sudah tidak berada digubugnya,
karena ia ikut memasuki gubug itu, ketika sekelompok orang-orang
Sanggar Gading menemukannya. Karena itu, pada satu kesempatan, Rahu
telah meninggalkan kawan-kawannya ketika malam turun. Apalagi ketika
Pangeran yang rasa-rasanya menjadi bebannya itu sedang tidur nyenyak
pula. Sebenarnyalah, Rahu telah memilih arah yang benar. Ia turun
beberapa tataran kearah gubug Kiai Kanthi. Seperti yang diharapkan,
maka ternyata dua orang telah mengamatinya. Bahkan ketika kedua
orang itu yakin, bahwa yang menuruni lereng bukit itu adalah orang
yang dikenalnya, maka merekapun telah menghentikannya. Jlitheng dan
Kiai Kanthi ternyata berhasil menemui Rahu dan mendapat beberapa
penjelasan. “Jika menurut penilaian Yang Mulia pusaka itu palsu,
maka tidak ada harapan lagi bagi Daruwerdi” berkata Rahu. Lalu
“Tetapi j ika pusaka itu asli, maka aku kira Yang Mulia tidak akan
mengusiknya” “Lalu, apa yang baik kami lakukan?“ bertanya Jlitheng
yang kemudian menceriterakan rencana dan persiapan yang telah
dilakukan. “kalian harus menunggu hasil semedi Yang Mulia untuk
melihat jiwa dar i pusaka yang ditayuhnya itu” berkata Rahu. Lalu
“Ada dua Kemungkinan, Jika pusaka itu palsu. Daruwerdi akan
mengalami nasib yang sangat buruk. Jika kalian ingin menyelamatkan,
sekaligus mengusir orang itu, aku akan membantu kalian, karena
tugasku akan mencapai puncaknya pula dengan kehadiran Pangeran itu.
Tetapi jika Yang Mulia menganggap bahwa pusaka itu asli dan
menyerahkan Pangeran itu kepada Daruwerdi, maka Semilah yang akan
bertugas untuk mengurus Pangeran itu dan aku akan mengikut i pusaka
yang akan dibawa oleh Yang Mulia” “Pekerjaan itu akan terlalu berat
ngger” berkata Kiai Kanthi “pusaka itupun akan dapat diselesaikan
disini” Rahu memandang Kiai Kanthi sejenak. Namun nampaknya Kiai
Kanthi menangkap perasaan Rahu. Maka katanya “Bukan maksudku, bahwa
dengan demikian, aku akan mendapat kesempatan pula untuk ikut serta
beramai-ramai memperebutkannya” Rahu menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian ia mengangguk. Katanya “Baiklah. Kita akan
menyelesaikan segalanya setelah hari ketiga, agar kitapun tahu,
apakah pusaka itu asli atau bukan” Jlitheng mengangguk. Tetapi
seperti Kiai Kanthi, iapun melihat kecurigaan pada tatapan mata
Rahu. Namun demikian Jlitheng tidak mengatakannya. Yang mereka
bicarakan selanjurnya adalah rencana yang lebih terperinci. Pada
pagi hari setelah malam ketiga. Rahu harus tahu pasti, dimana
Jlitheng menunggu. Iapun harus tahu. dimana kedua paman Daruwerdi
bersiaga Sementara itu. Semi dan kawannya yang harus membantunya
menyelamatkan Pangeran itupun harus berada di tempat yang mapan.
“Jika saatnya kita bergerak, aku akan member ikan isyarat” berkata
Rahu kemudian. “Kami menunggu isyaratmu” sahut Jlitheng. Jlithengpun
kemudian meninggalkan tempat itu, setelah dengan terperinci ia
menyebut tempat-tempat yang dimaksud oleh Rahu. Bersama Kiai Kanthi
mereka menuruni tebing dan kembali ke Lumban Wetan. Sementara itu,
sepuluh anak-anak muda Lumban Wetan ternyata masih belum kembali.
Karena itu, maka Jlithengpun telah menyusul mereka ke halaman Banjar
Lumban Kulon. Dihalaman itulah anak-anak muda Lumban Wetan dan
Lumban Kulon berusaha menyempurnakan bekal ilmunya yang belum begitu
mantap. Namun sepuluh orang terbaik dan Lumban Wetan dan sepuluh
orang terbaik dari Lumban Kulon itu ternyata akan sanggup dihadapkan
kepada para pengikut Yang Mulia dar i Sanggar Gading dan orang-orang
Kendali Putih. “Mereka adalah orang-orang yang kasar dan tidak
mempunyai pertimbangan lain kecuali membunuh“ pesan Jlitheng “karena
itu, jangan hadapi mereka seorang melawan seorang. Kalian harus
bertempur berpasangan Jumlah orang- orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih itu tidak lagi terlalu banyak untuk
menghadapi kita semuanya. Namun seperti aku katakan, mereka adalah
orang-orang yang buas dan liar” “Dari mana kau tahu Jlitheng?“
bertanya Nugata, “Akibat yang kita lihat di pategalan itu telah
cukup memberi tahukan kepada kita” jawab Jlitheng. Bahkan katanya
kemudian “untuk menghadapi mereka, kita tidak perlu bertahan pada
harga diri, karena merekapun sama sekali tidak akan mempertahankan
harga diri pula. Hutan dan bebatuan akan dapat kalian pergunakan
sebagai perisai. Ingat, kalian harus bertempur berpasangan sambil
memanfaatkan pepohonan dan batu-batu padas itu” Namun Jlitheng masih
belum berterus terang, bahwa ia sendiri pernah mengalami, memasuki
padepokan Sanggar Gading dengan melewati padang kematian yang
mengerikan itu. Meskipun usaha untuk memantapkan kemampuan anak-
anak muda Lumban itu sebagai satu usaha yang sangat kecil dalam olah
kanuragan, namun ternyata memberikan bekal tekad yang cukup besar.
Mereka merasa bahwa mereka telah dipanggil oleh satu kewajiban yang
tidak kalah besarnya dari mengatur air dan membuat bendungan, karena
yang akan mereka lakukan itu menyangkut penyelamatan Kabuyutan
mereka. Apa yang dilihat oleh anak-anak muda Lumban di pategalan itu
memang mempengaruhi perasaan mereka. Tetapi dengan latihan yang
pendek pada malam-malam, terakhir, Jlitheng sempat member ikan
kekuatan batin terhadap mereka yang merasa terpanggil untuk
kepentingan padukufaan mereka itu. Disiang har i, anak-anak muda
Lumban itu seolah-olah telah menghilang. Mereka berada di sawah atau
pategalan. agar mereka tidak bertemu dengan orang-orang d ia tas
bukit yang turun mencari bahan makanan. Namun seperti yang sudah
dilakukan pada hari pertama, mereka memang berusaha untuk menahan
diri. Mereka mengambil sesuai dengan kebutuhan mereka saja. Di
hari-hari yang demikian. Jlithengpun berada di sawah pula. Bahkan ia
telah memncar beberapa orang kawannya pada sawah masing-masing yang
terletak di arah yang berbeda, Jlitheng telah berpesan agar
perhatian mereka tidak tersangkut hanya kepada orang-orang yang
sedang berada di atas bukit, karena mungkin masih ada pihak lain
yang saling bermusuhan akan datang pula ke Daerah Sepasang Bukit
Mati itu. “Selain orang-orang Kendali Putih, bukankah Daruwerdi
pernah berhubungan dengan orang-orang Pusparuri” berkata Jlitheng
kepada kawan-kawannya. “Darimana kau tahu?“ bertanya kawan-kawannya.
“Mereka pernah datang kemari. Pernah terjadi kematiam- kematian
sebelum kelompok-kelompok itu bertempur dan saling membunuh
dipategalan” jawab Jlitheng. Anak-anak Lumban Wetan kadang-kadang
merasa heran melihat sikap Jlitheng. Ia seakan-akan tahu
segala-galanya. Ia bukan saja mengejutkan anak-anak Lumban dengan
mengalahkan Nugata, karena Jlitheng tidak ikut dalam latihan-
latihan khusus. Ia bukan termasuk sepuluh anak muda terbaik. Namun
menurut keterangannya, ia justru latihan dengan cara yang lebih
khusus lagi. Namun dalam keadaan yang gawat itu, Jlitheng nampak
semakin mengherankan bagi kawan- kawannya, anak-anak Lumban Wetan,
maupun anak-anak Lumban Kulon. Ia dapat mengatur keadaan dengan
tangkas dan pikiran-pikirannya ternyata memherikan jalan keluar atas
masalah-masalah yang dihadapi oleh Lumban. Demikianlah, maka pada
malam terakhir dari tiga malam yang diperlukan oleh Yang Mulia untuk
meyakinkan keaslian pusaka yang dibawa oleh Daruwerdi, Jlitheng
menjadi semakin sibuk. Ia ikut serta dalam latihan-latihan yang
diikut i oleh dua puluh anak terbaik dari Lumban Wetan dan Lumban
Kulon Namun ia telah menghentikan latihan itu menjelang tengah
malam. “Kalian perlu beristirahat” berkata Jlitheng Nugata yang
tidak ikut dalam latihan- latihan itu menyahut “Mereka memerlukan
kesiapan yang utuh. Biarlah mereka berlatih terus” “Mereka akan
kelelahan, sehingga esok j ika diperlukan, tenaga mereka tidak akan
mampu mengatasi kelelahan itu” jawab Jlitheng. “Kenapa kau selalu
mengatur kami” potong Nugata “Kau sangka kau Panglima disini?“
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Semi
berkata “Memang sebaiknya kita beristirahat. Kaupun memer lukan
istirahat meskipun hanya sebentar” “Aku tidak per lu istirahat. Aku
dapat bertempur, bukan hanya berlatih, tiga hari tiga malam” geram
Nugata. Namun ternyata kedua paman Daruwerdi itupun menengahi
”Memang ada baiknya untuk berist irahat” Nugata memandang kedua
orang itu sejenak. Sementara itu salah seorang dari kedua paman
Daruwerdi itu berkata “Kemampuan dan daya tahan seseorang memang
tidak sama. Mungkin seseorang dapat bertahan untuk waktu yang lama,
bahkan tiga hari tiga malam bertempur tanpa beristirahat. Tetapi ada
yang memerlukan waktu untuk beristirahat dan bersiap siap
seperlunya” Nugata tidak menjawab lagi. Sambil menar ik nafas ia
berkisar dari tempatnya. Sementara itu Jlithengpun berkata kepada
anak-anak muda itu “Kalian sempat beristirahat. Namun kalian harus
mempersiapkan senjata kalian sebaik-baiknya agar pada saatnya kalian
tidak menyesal justru karena senjata kalian. Kalian dapat memilih
senjata yang paling sesuai. Senjata panjang atau senjata pendek,
atau mungkin senjata lempar. Macam dan jenis senjata tentu akan
berpengaruh atas kemantapan sikap kalian apabila kalian benar-benar
akan bertempur besok” Kawan-kawannya itupun mengangguk-angguk.
Sementara itu Jlitheng masih memberikan beberapa pesan yang lain.
Anak-anak muda itu tidak perlu lagi pulang ke rumah masing- masing,
kecuali jika perlu sekali. Namun mereka harus segera kembali ke
banjar. “Besok menjelang dini hari, kita akan berangkat dari banjar
berkata Jlitheng selanjutnya “selebihnya aku akan mempersilahkan
kawan-kawan kita yang lain untuk bersiap di padukuhan masing-masing.
Mungkin mereka kita perlukan. Tetapi mungkin mereka memang harus
mempertahankan padukuhan-padukuhan itu” “Apakah mereka mampu
melakukannya” bertanya salah seorang anak muda dar i Lumban Wetan.
“Orang yang berada di atas bukit itu tidak banyak. Jika ada yang
memencar, maka mereka tidak akan lebih dari satu atau dua orang.
Betapapun tinggi ilmunya, tetapi anak-anak muda sepadukuhan akan
dapat mengalahkannya, meskipun seandainya orang itu harus dilempari
dengan senjata dari jarak jauh oleh sekelompok anak-anak muda yang
berjumlah cukup” jawab Jlitheng. Anak-anak muda yang sudah siap itu
tidak menjawab lagi. Mereka mengerti, seandainya diperlukan,
anak-anak muda itu akan dapat di panggil dengan isyarat untuk
membantu mengepung bukit berhutan itu. Bagaimanapun juga jumlah akan
ikut menentukan disamping ada orang-orang tertentu yang akan dapat
mempengaruhi pertempuran itu. Dalam pada itu, maka anak-anak muda
itupun segera beristirahat setelah mereka membenahi senjata masing-
masing Ada diantara mereka yang menggosok pedangnya. Ada yang
menimang tombak pendeknya. Seorang anak muda yang bertubuh raksasa
telah menyiapkan tombak bermata tiga. Yang lain telah menyandarkan
canggah di sisi pembaringannya. Dalam pada itu, Jlithengpun telah
berkeliling ke padukuh- an-padukuhan. Untuk mempercepat tugasnya ia
telah mempergunakan seekor kuda. “Kau dapat menunggang kuda?“
bertanya seorang kawannya. “Dalam keadaan yang paling gawat,
seseorang akan dapat berbuat apa saja” jawab Jlitheng. Sejenak
kemudian terdengar suara derap kaki kuda itu menderu di gelapnya
malam. Beberapa orang mengerutkan keningnya. Bahkan ada diantara
mereka yang menjadi cemas, bahwa Jlitheng justru akan terlempar dar
i punggung kuda itu. Ternyata Jlitheng melakukan seperti yang
direncanakannya. Ia menemui anak-anak muda yang berada di
gardu-gardu. Ia member ikan pesan-pesan sehingga anak-anak muda itu
meyakini benar, apa yang harus mereka lakukan. Demikianlah, maka
Lumban Wetan dan Lumban Kulonpun telah diguncang oleh kesiagaan yang
penuh. Anak-anak mudapun telah bersiap-siap di gardu-gardu. Mereka
ternyata tidak menunggu dini hari. Sejak Jlitheng datang menemui
mereka, maka merekapun langsung memanggil setiap anak muda dengan
senjata masing-masing. “Apakah kami harus melawan orang-orang yang
telah bertempur di pategalan?“ bertanya salah seorang anak muda yang
tidak sempat bertemu langsung dengan Jlitheng. “Yang akan langsung
menghadapi mereka bukan kita” jawab anak-anak muda yang lain “Tetapi
j ika ada satu dua orang yang melarikan diri dan tersesat ke
padukuhan ini, atau dengan sengaja ingin melakukan, kejahatan di
padukuhan ini, itu adalah kewajiban kita” Anak-anak muda itupun
segera bersiap-siap. Bahkan ada diantara mereka yang mempersiapkan
anak panah dan busurnya, sementara yang lain menyiapkan lembing.
“Jika perlu kita akan bertempur dengan jarak” desis anak muda yang
langsung mendengar pesan Jlitheng. Dalam pada itu, maka setelah
semua padukuhan mendengar pesannya Jlithengpun segera kembali ke
Banjar. Ternyata bahwa anak-anak muda Lumban telah mempergunakan
waktu sebaik-baiknya. Mereka telah tertidur di Banjar dan bahkan ada
yang tidur di amben bambu di serambi. Yang lain melintang di pintu
pringgitan, sementara ada pula yang tertidur di sudut Banjar sambir
bersandar dinding dan memeluk pedangnya. Semi datu kawannyapun
ternyata telah tertidur pula. Sementara kedua paman Daruwerdipun
ternyata telah tidur diluar Banjar. Yang berjaga-jaga adalah justru
anak-anak muda yang tidak akan ikut ke bukit esok pagi-pagi benar.
Mereka berjaga- jaga dengan hati-hati dan dengan kesadaran
sepenuhnya tentang apa yang dapat terjadi. Jlitherig sendiripun
kemudian berbaring pula di sebuah dingklik bambu di bawah sebatang
pohon sawo di halaman samping. Sejuknya udara malam telah
mengusapnya, sehingga akhirnya iapun tertidur meskipun hanya
sebentar setelah ia berpesan kepada pada penjaga, bahwa mereka harus
dibangunkan sebelum dini hari. Meskipun anak-anak muda yang
berjaga-jaga itu tidak akan pergi ke Bukit, namun merekapun menjadi
gelisah pula. Mereka justru telah mereka-reka apa yang akan terjadi
kemudian. Demikianlah, seperti yang dipesankan oleh Jlitheng, maka
menjelang dini hari, anak-anak muda itupun telah dibangunkannya.
Dengan cepat mereka mempersiapkan diri sambil mergunnyah beberapa
potong ketela pohon yang sudah disediakan. Mereka harus menjaga agar
mereka tidakkelaparan, jika mereka benar-benar akan menghadapi satu
perjuangan yang berat di hari mendatang. Sejenak kemudian, anak-anak
muda itupun telah siap. Jlitheng masih berbicara sejenak dengan Semi
dan kawannya serta kedua paman Daruwerdi. Meskipun Nugata ikut pula
di antara mereka, tetapi dalam keadaan yang mendesak Jlitheng tidak
sempat lagi untuk selalu bertanya kepadanya Ketika segalanya telah
jelas, sebagaimana di kehendaki dan dibicarakan antara Jlitheng dan
Rahu tentang tempat-tempat disek tar puncak bukit itu, maka
merekapun segera berangkat. Mereka berjalan dengan cepat melintasi
sawah dan ladang di dalam gelapnya sisa malam. Sementara langit
sudah mulai membayang kemerah-merahan. Dalam pada itu, Kiai
Kanthipun telah pergi ke bukit itu pula bersama anak gadisnya
sebagaimana telah dibicarakan pula dengan Jlitheng Kiai Kant in akan
mengambil tempat yang paling dekat dengan tempat samadi Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading Rahu yang akan berusaha melindungi Pangeran
yang sakit itu, akan tetap berada di sampingnya, sementara Jlitheng
akan mengamati tingkah laku Sanggit Raina dan Cempaka. Kedua paman
Daruwerdi akan dipersilahkan untuk berbuat sesuatu, jika Daruwerdi
mengalami per lakuan yang tidak sewajarnya Dua puluh orang terbaik
dari Lumban Kulon dan Lumban Wetan akan bertempur pada saatnya.
Tetapi setiap kali Jlitheng masih saja berpesan, bahwa anak-anak
muda itu harus bertempur berpasangan. Sedangkan Semi dan kawannya
harus dapat mengambil sikap pada saat-saat yang gawat. Ketika fajar
mulai membayang dilangit, maka anak-anak muda Lumban Wetan dan
Lumban Kulon itu telah memanjat sampai kelambung bukit. Sejenak
kemudian, mereka telah mengambil tempat sebagaimana dipesankan oleh
Jlitheng. Demikian pula orang-orang yang menempatkan diri bersama
anak-anak muda dar i Lumban itu. Dalam pada itu, Yang Mulia Wukir
Gadingpun telah sampai pada puncak samadinya. Pusaka yang ditayuhnya
itu masih terletak dihadapannya. Sementara itu, beberapa orang
Sanggar Gading dan Kendali Putih telah mengerumuninya, demikian pula
orang yang disebut Eyang Rangga, justru duduk di paling depan
diantara orang-orang Kendali Putih. Ketika langit menjadi semakin
merah, maka suasanapun menjadi semakin tegang. Orang-orang Sanggar
Gading dan crang-orang Kendali Putih rasa-rasanya telah menahan
nafas mereka. Sementara lagi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading akan
selesai dengan usahanya untuk mengetahui, apakah pusaka itu
benar-benar pusaka yang memiliki tuah. Yang penting baginya, bukan
saja pusaka itu sendiri, tetapi rangkaian dari pusaka itu. Harta
benda yang tidak ternilai harganya, yang telah dipersiapkan untuk
menegakkan kembali Majapahit yang telah runtuh. Pada saat-saat
terakhir itu, puncak bukit itupun menjadi semakin tegang. Daruwerdi
yang menahan gejolak di dalam hatinya, justru menjadi gemetar.
Sementara Pangeran yang sedang sakit itu agaknya mempunyai sikap
tersendiri. Ia masih tetap bersandar sebatang pohon. Bahkan
rasa-rasanya ia menjadi semakin lemah. Rahu yang berada disebelahnya
melihat Pangeran itu dengan iba. Betapa sorot matanya memancarkan
keputus- asaan. Bahkan mata itu bagaikan telah menjadi redup dan
tidak bercahaya sama sekali. Jika Pangeran yang sakit itu memejamkan
matanya, maka menurut pandangan mata Rahu. tidak ubahnya Pangeran
itu tidak akan dapat bangun lagi. Ternyata Rahu yang nampak cukup
kasar diantara orang- orang Sanggar Gading itu tidak dapat menahan
rasa ibanya. Ketika tabib yang merawat Pangeran itu beringsut untuk
beberapa lamanya, maka Rahupun berbisik “Jangan cemas Pangeran” “Apa
maksudmu?“ bertanya Pangeran itu. “Aku bertugas untuk melindungi
Pangeran, meskipun tugas itu bukan tugas utamaku. Tetapi panggilan
kewaj ibanku menuntut aku berbuat demikian” jawab Rahu. “Siapakah
kau sebenarnya?“ bertanya Pangeran itu. “Pangeran tidak perlu
mengetahuinya” jawab Rahu. Pangeran itu ragu-ragu. Namun ia tidak
menjawab lagi. Ia masih saja bersandar dengan lemahnya. Dalam pada
itu. langitpun menjadi semakin merah. Yang Mulia masih duduk dengan
kepala tunduk. Pusaka yang dita- yuhnya masih juga tetap di
tempatnya. Semakin merah langit menjelang pagi, maka nampak tangan
Yang Mulia itu menjadi gemetar. Bahkan kemudian ia mengangkat kedua
tangannya dan meletakkannya diatas peti itu. Suasana menjadi semakin
tegang. Daruwerdi yang duduk sambil menundukkan kepalanya, tiba-tiba
saja beringsut setapak Ketika setiap orang memperhatikan pusaka itu,
maka Daruwerdi justru telah mmepersiapkan dir i. Ia mengetahui
dengan pasti bahwa pusaka itu sama sekali bukan pusaka yang
sebenarnya. Karena itu, maka iapun sadar, bahwa akan terjadi sesuatu
yang sangat gawat baginya. Bahkan mungkin ia tidak akan dapat lepas
lagi dari tangan orang-orang Sanggar Gading. “Tetapi aku tidak mau
mati seperti kelinci” berkata Daruwerdi di dalam hatinya “Aku akan
mati sebagaimana seekor binatang buas di hutan lebat” Karena itu,
slapapun yang harus dilawapnya, ia sudah siap untrk bertempur. Ia
sadar, bahwa ia akan mati. Tetapi ia akan mati jantan. Dalam pada
itu, ketika fajar menyingsing dan sinar matahari mulai membayang
dilangit, tiba-tiba saja terdengar Yang Mulia itu berteriak nyaring.
Suaranya bagaikan membelah bukit kecil itu. Kedua tangannya yang
gemetar dengan serta merta telah mengangkat peti dihadapannya itu
dan membantingnya dengan serta merta sehingga peti itu pecah
berserakkan. “Anak iblis“ Yang Mulia itupun kemudian bangkit “Kau
kira aku sedungu kau he?“ Semua orang yang melihat hal itu terkejut.
Rahupun terkejut pula. Apalagi Daruwerdi. Ia sadar sepenuhnya, bahwa
ia tidak akan dapat berbohong lagi. Dengan demikian, maka ia akan
menghadapi persoalan yang dilontarkannya itu dengan sungguh-sungguh
dan mungkin akan merampas nyawanya. Setiap penyesalan telah
diusirnya dari hatinya. Namun ia tidak dapat mengingkari
perasaannya, bahwa seharusnya ia tidak melakukan permainan yang
berbahaya itu. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Ia sudah berhadapan
dengan Yang Mulia. Di pategalan telah terbunuh orang-orang Sanggar
Gading dan Kendali Putih justru karena permainan Daruwerdi “Kau akan
menipu aku he?“ wajah Yang Mulia itu menjadi merah membara.
Sementara semua orang telah memandangi Daruwerdi yang kemudian
bangkit berdir i. “Yang Mulia” berkata Daruwerdi justru dengan suara
mantap karena ia merasa akan dapat mengelak lagi “Kau tidak
melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Pusaka itu harus ditayuh
dengan sebaik-baiknya. Kau tidak melakukan sebagaimana seharusnya.
Disiang hari kau masih juga makan dan minum, meskipun di malamhar i
kau bersemadi” “Anak bodoh” geram Yang Mulia “Aku sudah melakukannya
beberapa kali. Setiap kali aku tentu berhasil melihat dengan tepat.
Dan akupun telah melihat apa yang kau sebut sebagai pusaka itu.
Sampai saat terakhir aku masih berusaha untuk meyakinkan. Namun
sampai saat terakhir isyarat yang aku terima tidak berubah. Pusaka
itu palsu. Pusaka itu memang sebilah keris yang mempunyai arti.
Tetapi sekedar bagi seseorang yang Ingin mendapat isteri dan
dicintai oleh seribu perempuan cantik. Bukan sebuah pusaka yang
dapat membangkitkan kemampuan dan wibawa bagi tegaknya satu pimpinan
pemerintahan. Selain kepalsuan pusaka itu, maka berarti bahwa segala
rangkaiannyapun tidak akan terdapat pada bagian-bagian lain yang
menyertai pusaka itu” Daruwerdi yang berdiri tegak itu memandang
Pangeran yang sedang sakit, yang masih duduk bersandar sebatang
pohon. Sementara Rahupun masih selalu berada didekatnya. Bahkan ia
telah berdiri tegak dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Sanggit Raina dan Cempakapun menjadi tegang. Kemarahan mulai
merayapi jantungnya. Meskipun tidak langsung, maka keduanyapun
merasa tertipu pula. Apalagi Cempaka yang langsung berhubungan
dengan Daruwerdi sebelum saat-saat penyerahan itu terjadi. Karena
itu, jantungnya yang bagaikan tersentuh api itu, telah mendorongya
untuk meloncat maju sambil berteriak “Yang Mulia. Beri kesempatan
aku membunuhnya. Aku adalah Orang yang paling tersinggung atas
kepalsuan ini, karena aku adalah orang yang pertama sekali berbicara
tentang penyerahan ini” Daruwerdi memandang Cempaka, itu dengan
tajamnya pula. Bahkan kemudian ia berkata “Aku tantang kau berperang
tanding“ “Bodoh” potong Yang Mulia “Kau akan memperbodoh kami sekali
lagi? Kau akan menuntut perang tandang dengan taruhan kebebasanmu?“
Wajah Daruwerdi menegang. Namun Cempaka menyahut “Aku akan
membunuhnya. Ia tidak akan dapat keluar dari tempat ini”. “Tidak la
telah memperbodoh aku. Ia telah menyebabkan kawan-kawan kita
berbunuhan di pategalan. Ia telah menyebabkan segalanya menjadi
hancur” Eyang Rangga yang sejak semula memandangi Daruwerdi dengan
tegang, telah berkata “Kaulah yang telah memancing permusuhan antara
orang-orang Sanggar Gading dan orang orang Kendali Putih.
Orang-orang yang telah mati itu tidak akan hidup kembali” “Salah
kalian sendiri” jawab Daruwerdi. Ia nampaknya telah kehilangan
perasaannya sama sekali, karena ia merasa tidak akan dapat
membebaskan dir i lagi dari tangan orang-orang yang kasar dan yang
pada suatu saat dapat menjadi buas dan liar itu “Jika kalian tidak
dicengkam oleh ketamakan dan nafsu yang berlebihan, kalian tidak
akan saling membunuh sekedar untuk memperebutkan pusaka maupun harta
benda” “Tutup mulutmu anak iblis“ Yang Mulia tiba-tiba saja telah
melangkah setapak maju dengan wajah yang tegang “Kami harus mendapat
imbalan dar i segala jer ih payah kami. Kami telah membawa Pangeran
yang meskipun sedang sakit, sebagaimana kau minta. Sekarang ternyata
yang ada hanyalah kau. Karena itu, kami ingin menebus kekesalan hati
kami dengan kepuasan tersendiri. Kami ingin melihat kau mati dengan
cara yang paling menyenangkan buat kami, sekedar untuk melupakan
kehancuran kami di Daerah Sepasang Bukit Mati ini” Wajah Daruwerdi
mulai menjadi merah. Hatinya yang mengeras seperti batu dalam
keputus-asaan, tiba-tiba mulai disentuh oleh perasaan kecut melihat
wajah Yang Mulia itu. Selangkah Yang Mulia maju. Lalu Katanya
“Kepung anak ini. Kita akan membuat permainan apa saja yang dapat
member ikan kepuasan kepada kita. Sejenak kemudian orang-orang
Sanggar Gading dan orang- orang Kendali Putih telah mengepung
Daruwerdi. Sementara itu, mereka telah melupakan Pangeran yang
sedang sakit itu, kecuali Rahu. Namun Rahupun tidak dapat melepaskan
perhatiannya kepada Daruwerdi. Iapun mreasa wajib untuk berusaha
membantu menyelamatkan anak muda yang dungu itu, yang telah mencoba
bermain-main dengan taruhan yang paling mahal. Dalam pada itu,
tiba-tiba Pangeran yang dilupakan itu berdesis “He, siapakah kau
sebenarnya?“ Rahu memandanginya sambil menjawab “Sudah aku katakan,
Pangeran tidak perlu mengetahui siapa aku sebenarnya. Tetapi aku
mempunyai tugas membantu Pangeran dalamkesulitan ini” “Dan kau
biarkan anak itu mengalami nasib yang buruk?“ bertanya Pangeran itu.
“Ia anak bengal. Tetapi aku harus mencari kemungkinan” jawab Rahu
“Aku tidak tahu apa kepentingannya dengan aku, sehingga ia telah
menipu orang-orang liar itu untuk menangkapku dan membawanya kemari.
Tetapi aku merasa kasihan jika anak itu mati” Rahu mengerutkan
keningnya. Namun hampir dihiar sadarnya ia berkata “Apakah Pangeran
pernah membunuhi ayahnya?“ “Anak itu kehilangan ayahnya dan mengira
aku membunuhnya. Tetapi aku tidak akan ingat lagi, apakah aku pernah
membunuhnya atau tidak. Mungkin di peperangan atau dalam hubungan
yang tidak dapat dihindari lagi bahwa aku harus mempergunakan
kekerasan. Tetapi pembunuhan seperti yang terjadi dalam hubungan
dendam, aku kira aku tidak pernah melakukannya” Rahu menar ik nafas
dalam-dalam. Sementara itu Pangeran itupun berkata “Justru karena
perasaan dendamnya itu aku ingin ia selamat, agar ia dapat
menjelaskan kepadaku, apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi
naluriku mengatakan bahwa ia mempunyai kepentingan yang lain dengan
aku. Alasan itu bukannya alasan yang sebenarnya yang mendorongnya
untuk membawa aku kemari” Rahu memandang Pangeran itu sejenak.
Kemudian katanya “Kita akan melihat apa yang terjadi. Tetapi aku
mohon Pangeran dapat menyesuaikan dir i. Aku tidak sendir i disini”
“Siapa kawan-kawanmu?“ bertanya Pangeran itu. “Ada disekitar tempat
ini. Diantaranya adalah orang-orang dari lingkungan yang belum
banyak aku kenal sebelumnya. Tetapi aku percaya bahwa mereka tidak
akan berkhianat dalam keadaan seperti ini” Pangeran itu
termangu-mangu. Mereka memandang orang- orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih yang mengepung Daruwerdi menjadi semakin
menyempit. Yang Mulia dan Eyang Rangga yang berada dihadapan
Daruwerdi kemudian berdiri dengan wajah tegang memancarkan kemarahan
yang melonjak- lonjak “Nah, sekarang apa yang kalian kehendaki atas
orang ini. Orang yang telah menipu kita semuanya, sehingga telah
terjadi benturan kekuatan antara Sanggar Gading dan Kendali Putih.
Bahkan sebentar lagi orang-orang Pusparuri atau orang- orang Gunung
Kunirpun akan berdatangan. Beruntunglah mereka, bahwa mereka masih
belum terlanjur terlibat ke- dalam pembunuhan yang mengerikan”
berkata Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. “Cincang saja” geram
Cempaka. “Terlalu cepat. Anak itu harus dihukum picis. Ikat anak itu
pada sebatang pohon. Kita masing-masing akan melukainya dan kemudian
menaburkan garam pada luka itu” desis Sanggit Raina yang tidak dapat
menahan dir i. “Bagus, bagus sekali“ hampir berbareng beberapa orang
berteriak. Namun tiba-tiba suara mereka terputus ketika tabib yang
mengobati Pangeran yang sakit itu mendekat sambil berkata “Aku
adalah orang yang lebih senang melihat orang lain tidak memer lukan
bantuanku. Kenapa kalian akan berlaku demikian liar atas anak muda
itu. Jika kalian akan membunuhnya, bunuh saja sebagaimana kalian
sering melakukannya” Tetapi Yang Mulia Panembahan Wukir Gading
itupun tertawa. Katanya “Terima kasih atas peringatan itu. Tetapi
kali ini aku menghadapi keadaan yang berbeda. Bahkan aku tidak memer
lukan pertolonganmu sama sekali. Kami akan membiarkan anak itu dalam
keadaannya tanpa mengobatinya. Ia akan kami tinggalkan disini,
sehingga ia akan bertahan untuk tetap hidup dua atau tiga hari
sebelum ia akan mau. Tetapi jika seekor harimau datang
merobek-robeknya, maka ia akan lebih cepat mati dalam keadaan yang
paling sakit, karena harimau itu akan marah justru karena anak itu
terikat” Tabib itu memandang Yang Mulia dengan kerut-merut di
kening. Tetapi ia kemudian berkata “Segalanya terserah kepadamu.
Tetapi itu bertentangan dengan kewajibanku” “Jangan seperti
anak-anak yang baru pandai merajuk. Kau sudah cukup lama berada di
dalam barak padepokan Sanggar Gading meskipun kedatanganmu agak
berbeda dengan orang- orang lain yang menghuni padepokan itu. “Bukan
niatku tinggal di padepokan itu. Kalian telah mengambil dan memaksa
aku untuk tinggal” jawab tabib itu. Yang Mulia tertawa. Katanya
“Sudahlah. Minggir lah. Kita akan segera bermain-main mumpung
matahari belum terlalu tinggi” Ketika perhatian mereka tertuju
kembali kepada Daruwerdi, maka liba-tiba saja Pangeran yang sakit
itu terbatuk-batuk. Sejenak perhatian orang-orang Sanggar Gading
tertuju kepadanya. Namun Yang Mulia itu berkata “Nah, urusi saja
Pangeran yang sakit itu. Jangan anak ini” Tabib itupun kemudian
beringsut mendekati Pangeran yang sakit itu. Ketika ia berjongkok di
sisinya, maka Pangeran itu berkata perlahan-lahan “Kau mempunyai
sikap lain dari orang- orang Sanggar Gading” “Aku bukan dari
golongan mereka, meskipun aku terpaksa berada diantara mereka” jawab
tabib itu. “Apa yang akan kau kerjakan?“ bertanya Pangeran itu pula.
“Aku tidak mempunyai kesempatan apapun juga” jawab tabib itu.
Sejenak Pangeran itu termangu-mangu. Namun tabib itupun kemudian
berkata “Aku tahu pasti keadaan Pangeran. Tetapi aku tidak
mengatakannya kepada orang-orang Sanggar Gading“ Sejenak tabib itu
berhenti. Dipandanginya Rahu yang termangu-mangu. Namun agaknya
masih ada batas diantara mereka, sehingga tabib itu tidak mengatakan
sesuatu. Tetapi yang dikatakan itu dapat ditangkap maksudnya oleh
Pangeran yang dianggap sedang sakit itu. Karena itu. maka iapun
menar ik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti tabib itu, iapun lelum
percaya sepenuhnya kepada Rahu. Sejenak kemudian ketegangan di
puncak bukit itupun memuncak. Nampaknya Yang Mulia sudah t idak
sabar lagi. Sementara itu, Daruwerdi yang keras hati itu, tiba-tiba
telah di jalar perasaan ngeri dan cemas. Ketika terpandang olehnya
wajah-wajah yang garang bahkan buas dan liar, maka hatinya menjadi
kecut. Karena itu, untuk sesaat Daruwerdi itu tidak dapat berbuat
apa-apa. Ia berdiri gemetar. Tetapi ia sudah tidak akan dapat
melarikan dir i dar i lingkungan orang-orang Sanggar Gading dan
Kendali Put ih yang sedang marah. Ternyata Rahu tidak dapat menunggu
lebih lama lagi. Sejenak terbersit keragu-raguannya, apakah Jlitheng
menepati janjinya untuk bersiap-siap di sekitar puncak bukit itu.
Sebenarnyalah Jlitheng memang sudah siap. Semua orang yang datang
bersamanya telah menempatkan diri sesuai dengan rencana. Mereka
tinggal menunggu isyarat saja. Namun ternyata bahwa Semi terpaksa
membungkam seorang pengawas yang secara kebetulan menjumpainya di
persembunyiannya. Tetapi orang itu tidak sempat berbuat apa-apa
ketika ujung pedang Semi telah menikamjantungnya. Dalam pada itu, di
saat Yang Mulia Wukir Gading melangkah lagi setapak maju, Rahupun
telah siap. Sejenak kemudian terdengar Yang Mulia ia berkata “Nah,
sebelum kita berbuat sesuatu atas anak ini, agaknya lebih baik j ika
anak ini diikat saja pada sebatang pohon” “Bagus” teriak Cempaka
yang kemarahannya tidak tertahankan lagi. Namun sebelum Cempaka
meraba tubuh Daruwerdi yang gemetar, maka terdengar Rahu berkata
“Jangan sentuh anak itu. Permainan kalian telah sampai kepuncak.
Padepokan Sanggar Gading dan Kendali Putih sudah waktunya mengakhiri
kegiatannya yang terkutuk itu” Wajah Yang Mulia menjadi merah Semua
orang berpaling kepada Rahu yang berdiri tegak disebelab Pangeran
yang terbaring dalamsakitnya itu. “Rahu” desis Cempaka “Apa yang kau
katakan?“ “Aku minta, jangan sentuh anak itu. Sebaiknya orang-orang
Sanggar Gading dan Kendali Put ih melepaskan senjatanya dan menyerah
kepadaku, kepada kekuasaan Demak” berkata Rahu kemudian “kalian
sudah terlalu lama menimbulkan kesulitan. Sebenarnya aku masih ingin
menunggu sampai pusaka itu ketemu. Tetapi ternyata usaha ini gagal
sejalan dengan kegagalan kalian” “Rahu“ Cempaka telah menyibakkan
kawan-kawannya yang sedang mengepung Daruwerdi. Lalu Katanya “Coba
katakan sekali lagi. Aku tidak yakin akan pendengaranku, atau
barangkali kau sudah kerasukan hantu hutan ini” “Dengarlah
baik-baik” jawab Rahu “Jangan sentuh anak itu. Aku tidak mempunyai
kepentingan apapun dengan anak itu. Tetapi yang penting bagiku
adalah justru menghentikan kegiatan orang-orang Sanggar Gading dan
Kendali Putih. Pada saatnya juga harus ditumpas orang-orang
Pusparuri, Gunung Kunir dan lain-lain. Sementara anak itu aku
perlukan untuk mendapat keterangan lebih jauh tentang pusaka yang
kalian cari itu” “Kau sudah Gila“ geram Cempaka “Jadi kau termasuk
salah seorang yang berhasil menyusup diantara orang-orang Sanggar
Gading” “Aku sudah berhasil melalui padang kematian” jawab Rahu
“sekarang, lepaskan anak itu” Cempaka menggertakkan giginya. Lalu
katanya “Jangan hiraukan orang ini. Aku akan menyelesaikannya. Ikat
Daruwerdi itu pada sebatang pohon. Tetapi jangan biarkan ia mati
sebelum aku ikut mengulitinya” Rahu bergeser selangkah. Katanya
“Sekali lagi aku peringatkan. Jangan sentuh anak itu” “Aku tidak
peduli” teriak Sanggit Raina yang marah. Lalu katanya kepada Cempaka
“Jangan menunggu lagi. Bunuh orang itu” Dalam pada itu, Daruwerdi
sendiri menjadi bingung. Ada sepercik harapan. Namun harapan itupun
segera lenyap. Apalagi ketika Yang Mulia berkata “Kau jangan menjadi
gila Rahu. Di ini masih ada aku dan iblis tua ini. Siapapun tidak
akan dapat mencegah apa yang akan aku lakukan” Rahu menganggap bahwa
saatnya memang sudah tiba. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia
meletakkan jari- jarinya dimulutnya. Kemudian terdengar suitan
nyaring menggetarkan dedaunan hutan di atas bukit itu. Isyarat itu
benar-benar mengejutkan. Semua orang tahu. bahwa isyarat itu
bukannya tidak berarti apa-apa. Karena itu. demikian terdengar bunyi
isyarat itu, maka merekapun telah mempersiapkan dir i menghadapi
segala kemungkinan. Bahkan merekapun t iba-tiba telah memencar
sambil meraba hulu senjata masing-masing. Isyarat itupun telah
menyusup gerumbul-gerumbul perdu menyentuh telinga orang-orang yang
telah menunggu. Tidak terlalu keras, tetapi Jlitheng yang berada
dekat hampir di puncak bukit mendengarnya dengan jelas. Seperti
isyarat yang terdengar, Jlithengpun telah menyambung isyarat itu.
Sambung bersambung, seperti yang memang lelah disepakati. Dengan
demikian maka isyarat itu bagaikan merayap diseputar puncak bukit
itu dari segala arah. “Permainan Gila“ geram Sanggit Raina “Rahu,
apakah hal ini karena pokalmu?“ “Sayang Sanggit Raina” jawab Rahu
“semuanya terjadi karena diantara kami mempunyai
singgungan-singgungan persoalan sehingga kami telah bersiap
menghadapi kalian” Namun dalam pada itu, terdengar yang Mulia
tertawa. Katanya “Biarlah Sanggit Raina. Jika mereka ingin melakukan
apa saja. biarlah mereka melakukannya. Nampaknya mereka belum
mengenal dengan baik, Yang Mulia Panembahan Wukir Gading dan orang
yang disebut oleh orang-orang Kendali Putih dengan Eyang Rangga ini.
Jika mereka datang, maka aku kira kami berdua terpaksa membunuh
lebih banyak lagi daripada yang telah terjadi di Pategalan itu” Rahu
masih berdir i di tempatnya. Suara isyaratnya yang bersambut itu
membuatnya sedikit tenang, sehingga karena itu. maka Katanya “Apapun
yang akan terjadi, kita akan mengakhir i kegiatan dari
kelompok-kelompok orang-orang gila yang selama ini membuat Demak
yang baru saja tegak itu menjadi r ingkih” “Persetan dengan Demak,
dengan Majapahit atau dengan manapun juga. Aku tidak peduli dengan
semuanya itu. Tetapi akupun tidak mau orang lain menggangguku” jawab
Yang Mulia. Tetapi Rahu masih menjawab “Kau memang aneh Yang Mulia.
Jika kau tidak mau diganggu, maka seharusnya kau juga tidak
mengganggu orang lain. Tetapi apakah yang selama ini sudah kau
lakukan?“ “Persetan. Aku tidak mau diganggu. Tetapi orang lain t
idak dapat mencegah aku berbuat apa saja. Sekarang aku akan
menghukum anak ini dengan cara yang paling menarik karena ia mencoba
membohongi aku” teriak Yang Mulia. Namun dalam pada itu. dari
balik-balik gerumbul telah muncul beberapa orang Diantara mereka
terdapat Semi dan kawannya. “Hem“ Sanggit Raina menggeram ”Orang ini
adalah orang yang kau katakan sebagai adikmu itu he?“ “Ia memang
adikku” jawab Rahu. Sanggit Raina masih akan menjawab. Tetapi ia
terkejut ketika ia melihat Jlitheng. Hampir diluar sadarnya ia
berdesis Bantaradi. Apakah benar aku melihatnya?“ “Ya. Ia adalah
Bantaradi” sahut Rahu. “Tetapi bukankah ia sudah mati?“ bertanya
Cempaka pula. “Segalanya sudah dipersiapkan. Nrangsarimpat memang
sudah mati karena ia ingin mengganggu puteri Pangeran yang telah
kita ambil. Untunglah kami berhasil mencegahnya meskipun kami harus
membunuhnya” “O“ Pangeran yang berbaring itu berdesis “Tetapi iapun
menarik nafas dalam-dalam. Agaknya puterinya memang sudah
diselamatkan oleh orang yang menyebut dirinya akan membantu
menyelamatkannya itu pula. Namun dalam pada itu Sanggit Rainapun
berteriak “Baik. Baik. Kalian adalah pengkhianat-pengkhianat yang
memang harus dibinasakan. Marilah, apa yang kalian kehendaki
sekarang? Membunuh diri atau apa?“ Jlitheng melangkah maju. Katanya
“Kita sudahi saja permainan yang paling gila ini. Menyerahlah” Yang
Mulia tertawa. Katanya “Rahu juga berkata seperti itu. Malah ia
menyebut-nyebut Demak sebagai satu kekuasaan yang baru lahir setelah
Majapahit. Menggelikan sekali. Sebaiknya kalian tidak pisah terlalu
banyak bicara Marilah, apa yang akan kau lakukan” Dalam pada itu,
Jlitheng. Semi dan kawannya, Rahu dan bahkan tiba-tiba saja tabib
yang merawat Pangeran yang sakit itupun telah bersiap-siap
menghadapi segala kemungkinan. Mereka berdiri pada tempat mereka
masing-masing pada jarak "yang terpencar. “Apakah masih ada yang
lain” bertanya Yang Mulia. Namun dalam pada itu, Eyang Rangga yang
tidak terlalu banyak bicara itupun berteriak “Gila. Aku akan
membunuh sekarang. Jika semuanya hanya berbicara saja, maka aku akan
benar-benar melakukannya. Yang Mulia itupun masih tertawa. Katanya
“Mari. Kita akan membunuh sebanyak-banyaknya” Eyang Rangga itupun
kemudian melangkah mendekati Rahu tanpa menghiraukan orang-orang
lain, sementara Yang Mulia itupun berkata kepada Jlitheng
“Bantaradi, marilah. Kau adalah bekas anakku yang pernah memberikan
kebanggaan kepada pada saat kau datang. Ternyata kau memang seorang
anak muda yang luar biasa. Kau berhasil mengelabui kami orang-orang
Sanggar Gading dengan bekerja bersama Rahu. Tetapi terpaksa aku
sekarang harus membunuhmu. Mungkin dengan cara yang sama dengan cara
yang akan aku pergunakan bagi Daruwerdi” Jlitheng berdiri tegak di
tempatnya. Namun yang mengejutkan adalah perintah Yang Mulia “Aku
akan menyelesaikan aank-anak ini, sebagaimana Eyang Rangga aku
berbuat. Agar kita tidak kehilangan waktu dan kegembiraan, selain
mereka yang akan menghabisi adik Rahu itu, cepat, ikat saja
Daruwerdi agar ia tidak mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan
dir i” Jlitheng menjadi tegang. Sanggit Raina dan Cempaka justru
melangkah mendekati Semi dan kawannya. Dengan geram Sanggit Raina
berkata “Aku sudah curiga sejak semula, bahwa adik Rahu tinggal di
padukuhan yang menghadapi ke padang perburuan. Tetapi aku sekarang
mendapat kesempatan untuk membunuhmu” Semi dan kawannya segera
bersiap. Namun dalampada itu, beberapa orang telah bergerak untuk
menangkap Daruwerdi. Tetapi kedatangan orang-orang itu di atas
bukit, telah membuat Daruwerdi menjadi berpengharapan kembali. Tiba-
tiba saja ia telah meloncat dan merebut senjata seorang yang berdiri
paling dekat disebelahnya. Demikianlah ketika orang-orang
diseputarnya mulai bergerak, maka dua orang yang lain telah
berloncatan langsung menyerang orang-orang disekitar Daruwerdi itu.
“Paman” desis Daruwerdi. “Cobalah menyelamatkan dirimu sendiri”
sahut seorang pamannya “Jlitheng telah membawa kami kemari dalam
kerja sama yang mapan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak aku
kenal” Terasa jantung Daruwerdi tergetar. Namun ia tidak sempal
berpikir. Ketika orang-orang disekitarnya bergeser karena serangan
kedua orang pamannya, maka Daruwerdipun mempergunakan kesempatan itu
untuk menyerang dan menyibakkan beberapa orang, sehingga ia sempat
keluar dari kepungan. Perkelahian yang justru terjadi adalah kedua
orang paman Daruwerdi dan Daruwerdi sendir i melawan orang-orang
yang mengepungnya. Namun sementara itu, Yang Muliapun berkata
“Baiklah. Ternyata pekerjaan ini cukup banyak. Bantaradi, bersiaplah
untuk mati” Tetapi demikian Yang Mulia itu melangkah mendekati
Jlitheng seorang tua telah muncul pula dari balik gerumbul bersama
seorang gadis yang telah siap dalam pakaian tempurnya” “Siapa lagi
kau he?” Yang Mulia itu tertegun. “Apakah kita memang belum pernah
saling bertemu?” Kiai Kanthi melangkah maju. Yang Mulia itu
mengerutkan keningnya. Lalu Katanya “Berhadapan muka kita belum
pernah. Tetapi sebut, siapakah kau agar aku mengerti dengan siapa
aku berhadapan” “Kiai Kanthi” jawab Kiai Kanthi “tentu nama yang
belum pernah kau dengar” Sebenarnyalah Yang Mulia itu belum pernah
mendengar nama Kiai Kanthi. Karena itu, maka Katanya “Sebaiknya kau
tidak usah mencampuri persoalan ini. Agaknya kaupun belum mengenal
siapakah Yang Mulia Panembahan Wukir Gading yang memimpin padepokan
Sanggar Gading” “Aku sudah banyak mendengar tentang kau Yang Mulia”
jawab Kiai Kanthi “Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku terpaksa
memberanikan diri untuk mencegahmu melakukan perbuatan
sewenang-wenang” “Bukan salahku. Anak itu lelah menipuku” sahut Yang
Mulia. “Kalau kau tidak terlalu tamak akan kekuasaan yang kau kira
akan kau dapatkan karena pengaruh pusaka itu, dan tidak kalah
tamaknya karena kau juga ingin menguasai harta benda yang kau kira
dapat kau baca pada pusaka yang akan kau ketemukan, sehingga kau
telah mengorbankan Pangeran yang sedang sakit itu, maka kau tidak
akan dapat ditipu oleh anak- anak” sahut Kiai Kanthi. “Persetan“
geram Yang Mulia “Baiklah. Ternyata aku harus membunuhmu lebih
dahulu. Baru kemudian Bantaradi dan kawan-kawannya” Kiai Kanthipun
kemudian mempersiapkan dir i Sambil bergeser selangkah ia berkata
kepada anak gadisnya “Cobalah menyesuaikan dir i” Swasti melangkah
menjauhi ayahnya. Sementara itu beberapa orang menjadi heran melihat
kehadirannya. Daruwerdi yang sedang bertempurpun menjadi heran, la
merasa aneh bahwa Kiai Kanthi telah menempatkan diri melawan Yang
Mulia Panembahan Wukir Gading. Rasa- rasanya masih jelas terbayang
di angan-angan Daruwerdi, bagaimana ia menolong kedua orang ayah dan
anak gadis itu dari terkaman seekor harimau disaat keduanya datang
ke lereng bukit ini. “Jika ia dengan sadar menempatkan dir i sebagai
lawan Yang Mulia maka aku sudah melakukan satu perbuatan sia- sia”
berkata Daruwerdi di dalam hatinya “namun agaknya karena itu pula
mereka sama sekali tidak takut tinggal di hutan yang dihuni pula
oleh binatang buas“ Tetapi Daruwerdi tidak sempat terpikir lebih
jauh, karena orang-orang yang berada disekitarnyapun telah
menyerangnya pula. Namun dalam pada itu, Jlitheng ternyata telah
berdiri bebas pula. Karena itu, maka katanya kepada Swasti “Kita
bantu anak itu” Swasti memandang Jlitheng sejenak. Namun iapun
kemudian melangkah mengikut i Jlitheng mendekati arena. Sementara
itu, kedua paman Daruwerdi dan Daruwerdi sendiri segera mengalami
kesulitan karena lawan mereka yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Tetapi orang-orang diatas bukit itupun lelah terkejut pula. ketika
tiba-tiba duapuluh orang anak-anak muda telah meloncat dari balik
gerumbul diseputar puncak bukit itu. “Hati-hatilah“ sekali lagi
Jlitheng memper ingatkan. Sementara anak-anak muda itu selalu
mengingat pesannya, mereka harus bertempur berpasangan” Pertempuran
yang seru segera terjadi diatas bukit itu. Masing-masing telah
berhadapan dengan lawannya. Yang masih berdir i tegang adalah Eyang
Rangga yang datang bersama orang-orang Kendali Putih. Namun ketika
pertempuran telah menyala diseluruh puncak bukit, maka iapun berkata
“Kau adalah orang yang malang Rahu. Bukankah namamu Rahu? Aku akan
membunuhmu dalam sekejap. Kemudian aku akan membunuh orang-orang
lain yang datang keatas bukit ini seorang demi seorang bersama- sama
dengan Panembahan timpang itu” Rahu tidak menjawab, lapun jegera
mempersiapkan lir i. Namun tabib yang merawat Pangeran yang sakit
itupun Ulah bersiap pula sambil berkata “Aku sudah jemu berada di
padepokan yang buas dan liar itu” “O. Kau juga akan ikut serta?“
bertanya Eyang Rangga. “Aku sudah muak” jawab tabib itu. “Baiklah“
Eyang Rangga mengangguk-angguk. Lalu “Bersiaplah. Aku akan mulai”
Rahupun telah bersiap sepenuhnya bersama tabib itu. Keduanya telah
menggenggam senjata masing-masing menghadapi Eyang Rangga. Namun
sejenak kemudian Eyang Rangga itupun tertawa sambil meloncat
selangkah ”Bersiaplah. Aku akan mulai” Rahu tidak sempat menjawab.
Orang yang disebut Eyang Rangga itupun segera berloncatan. Cepat dan
seolaii-olah tidak menyentuh tanah. Rahu dan Tabib itupun
rasa-rasanya menjadi bingung. Meskipun keduanya bersenjata, tetapi
keduanya seolah-olah tidak sempat melawan sama sekali. Rahu dan
tabib itu terkejut ketika terasa tengkuk mereka tersentuh. Tidak
terlalu keras. Namun kemudian terdengar Eyang Rangga berkata “Nah,
kau yakin dalam sekejap aku dapat membunuhmu. Aku baru menyentuh
kulitmu, untuk menyatakan bahwa aku mampu melakukannya. Kemudian aku
akan menyentuh kalian sekali lagi. Meskipun kalian bersenjata
rangkap sembilan, tetapi aku akan menghunjamkan pisau- pisau kecil
ini ke dalam tubuhmu. Aku mempunyai pisau sejenis ini tidak
terhitung jumlahnya. Aku akan menusuk kalian setiap orang dua puluh
buah pisau. Nah. kalian dapat membayangkan, betapi kalian akan
menikmati saat terakhir menjelang kematian” Rahu dan tabib itu tidak
menjawab. Mereka percaya bahwa Eyang Rangga itu akan dapat melakukan
atas mereka. Tetapi mereka berdua tidak akan surut selangkah. Sesaat
kemudian, Rahu dan tabib itu telah melihat sebilah pisau kecil itu
di tangan Eyang Rangga. Sambil tersenyum ia berkata “Melawan
orang-orang sakti aku dapat melemparkan pisau-pisau ini j ika perlu.
Tetapi ada orang yang tidak akan mungkin aku kenai, sehingga aku
lebih baik tidak mempergunakannya saja” Rahu dan tabib itu menjadi
tegang. Sejenak kemudian merekapun harus bergeser karena Eyang
Rangga itu mulai bergerak. Sejenak kemudian senjata Rahu dan tabib
itu telah berputaran. Mereka berusaha untuk mencegah serangan-
serangan Eyang Rangga yang akan dapat berbahaya bagi mereka. Dengan
berpasangan keduanya telah bertahan sekuat-kuat dapat mereka
lakukan” Namun dalam pada itu, Eyang Ranggapun telah memutuskan
untuk segera menyelesaikan pertempuran itu karena ternyata bahwa
yang harus dihadapi oleh orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang
Kendali Put ih cukup banyak dan berbahaya. Karena itu, maka ia tidak
menunggu lebih lama lagi. Sebagaimana yang dapat dilakukan, maka ia
sudah berniat untuk menancapkan pisau-pisau kecilnya. Tidak
sebenarnya sebanyak dua puluh buah, tetapi satu dua buah pisau yang
tepat pada tempat-tempat yang menentukan, akan menyelesaikan
segala-galanya. Namun dalam keadaan yang mendesak itu. Eyang Rangga
menjadi heran. Ada sesuatu yang terasa menghambat rencananya.
Meskipun senjata Rahu dan tabib yang merawat Pangeran yang sakit itu
sama sekali t idak berdaya, namun setiap kali, Eyang Rangga itu
merasa bahwa ada kekuatan yang telah mengganggunya. Pada kesempatan
yang menentukan, tiba-tiba saja ayunan tangannya tertegun ketika
terasa sesuatu meng-. gigit kulitnya. Akhirnya Eyang Rangga itu
yakin, bahwa yang dihadapinya bukan saja Rahu dan tabib itu, tetapi
tentu ada kekuatan lain. Karena itu, maka Eyang Rangga itupun
kemudian meloncat surut sambil berkata “Telah terjadi kecurangan
disini. Kenapa kita tidak berhadapan saja sebagai laki- laki. Mar
ilah, siapakah yang telah melakukannya. Menurut penilaianku tidak
ada orang lain yang dapat melakukan, kecuali orang yang memiliki
ilmu yang mapan” Rahu tertegun, sementara tabib itupun berpaling.
Dalam pada itu, maka Rahupun menjadi heran ketika ia melihat
Pangeran yang sedang sakit itu tiba-tiba telah bangkit berdiri.
Dikibaskannya pakaiannya seperti orang yang sedang bangun dari
tidur. Namun kemudian ia berkata “Sudahlah Ki Sanak. Jangan
bertindak terlalu jauh. Kau tidak pantas melawan orang-orang yang
memang bukan tataranmu. Marilah, jika kau memang ingin bermain-main,
aku akan mencoba melayanimu” “Pangeran” desis Eyang Rangga
“betapapun tinggi ilmumu, dalam keadaanmu itu. kau t idak akan mampu
melawan aku” Tetapi Pangeran itu tersenyum. Katanya “Apapun yang
akan terjadi, marilah. Kita akan mencoba mengukur tingkat ilmu kita
masing-masing” Eyang Rangga memandang Pangeran itu dengan tajamnya.
Kemudian katanya “Aku tidak mengerti sikapmu Pangeran. Kau datang di
tempat ini dalam keadaan yang payah. Bukan saja ragamu, tetapi juga
martabatmu, karena kau adalah seorang tawanan disini. Jika kau
seorang yang berilmu tinggi, penggraitamulah yang rendah, karena kau
telah berpihak kepada orang yang akan mengambilmu dan mungkin akan
merampas nyawamu” “Memang suatu ceritera yang menar ik” jawab
Pangeran itu “Tetapi anak itu sama sekali tidak berbahaya bagiku.
Apa saja yang akan dilakukan atasku sangat menarik perhatian. Karena
itu aku akan ikut mempertahankan hidupnya agar aku tahu, apakah yang
sebenarnya dikehendaki dari aku” Dalam pada itu, Rahu masih saja
keheranan. Pangeran yang dalam keadaan saki itu tiba-tiba telah
bersiap untuk melawan orang yang diagungkan oleh orang-orang Kendali
Putih. Namun tabib yang merawat pangeran itupun berbisik
ditelinganya “Aku sebenarnya sudah tahu, bahwa Pangeran itu sudah
sembuh. Ia tidak sakit lagi. Selama ini ia hanya berpura-pura.
Karena itu, jangan cegah ia mengliadapi orang Kendali Puih itu” Rahu
menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa Pangeran itu tentu
menganggapnya seorang yang dungu, yang tidak mengetahui keadaan yang
sebenarnya. Dalam pada itu. Pangeran iupun kemudian berkata
“Tinggalkan kami berdua. Biarlah orang-orang tua bermain- main
dengan leluasa. Kecuali jika kalian hanya ingin menonton saja”
Tetapi Rahu tidak beranjak. Ia masih ragu-ragu untuk meninggalkan
Pangeran itu, karena ia tahu, bahwa Eyang Rangga adalah orang yang
memiliki kemampuan-setingkat dengan Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading. Meskipun Rahu juga tahu, bahwa Pangeran itu memiliki ilmu
yang tinggi, sehingga Sanggit Raina harus memperhitungkan waktu yang
tepat, justru pada saat Pangeran itu sedang sakit, namun berhadapan
dengan Eyang Rangga, maka Rahu masih harus membuktikan apa yang akan
terjadi. Namun agaknya Pangeran itu mengetahui perasaan Rahu. Karena
itu, maka iapun berkata “Rahu. mungkin kau masih ragu-ragu, apakah
yang akan terjadi. Baiklah, terserah kepadamu. Namun sebaiknya kau
bantu orang-orang yang harus bertempur melawan orang-orang Kendali
Putih dan orang-orang Sanggar Gading. Jika kau kemudian menemukan
aku ternyata mati disini, maka kau sudah berbuat sesuatu” Rahu tidak
menjawab. Tetapi yang terdengar adalah kata- kata Eyang Rangga
“Persetan. Aku tidak mempunyai waktu. Bersiaplah Pangeran, jika kau
memang ingin mati karena tanganku. Kau sekarang sama sekali sudab
tidak berarti lagi. Jika semula kau masih tetap dipertahankan agar
kau tetap hidup untuk memancing pusaka yang diperebutkan itu,
ternyata kini kau tidak lagi mempunyai harga sama sekali” “Apapun
yang kau katakan aku sama sekali tidak peduli” jawab Pangeran itu
“Tetapi aku akan tetap berdiri pada kewajibanku sebagai seorang
prajurit. Aku akan mencegah perbuatan kalian yang bertentangan
dengan paugeran” Eyang Rangga tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia
sudah meloncat menyerang. Dengan garang ia mengayunkan kakinya
hampir mendatar dengan tubuhnya yang meluncur deras seperti lembing.
Namun ternyata Pangeran itu mampu menghindar inya Dengan menarik
sebelah kakinya ia bergeser dan memir ingkan tubuhnya, sehingga
dengan demikian maka serangan Eyang Rangga itu tidak menyentuhnya.
Namun dalam pada itu, demikian kaki Eyang Rangga itu menjejak tanah,
maka iapun berpitar sambil merendah tertumpu pada tumit. Tangannya
bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak dilihat oleh mati wadag.
Namun ternyata sebilah pisau telah meluncur menyambar Pangeran yang
berdiri tegak memandanginya. Hampir saja pisau itu menyambar
keningnya. Namun ternyata Pangeran ituput mampu mengimbangi
kecepatan gerak Eyang, Rangga sehingga sekali lagi serangan itu sama
sekali t idak mengenai sasararnya. Baru sejenak kemudan, keduanya
telah tegak berdiri berhadapan dengan kesiagaan sepenuhnya. Namun
dalari pada itu, dengan singkat Rahu telah dapat melihat, betapa
Pangeran yang disangkanya masih saja sakit itu mampu mengimbingi
orang yang disebut dengan Eyang Rangga. Karena itu, maka Rahupun
percaya, bahwa Pangeran itu akan dapat melindungi dir inya sendir i.
Karena itu, maka Rahupun kemudian berkata kepada Tabib yang masih
saja termangu-mangu “Kau yang sudah tahu bahwa Pangeran itu sudah
sembuh, tidak usah mencemaskannya lagi. Ia akan dapat menyelamatkan
dir inya sendiri meskipun ia berhadapan dengan orang yang disebut
Eyang Rangga“ “Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?“ bertanya
tabib itu. “Kita membantu anak-anak Lumban. Mereka belum
berpengalaman bertempur melawan orang-orang gila seperti orang-orang
Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih” Tabib itu tidak
menjawab lagi. Ditinggalkannya Pangeran yang sebenarnya sudah sembuh
itu berhadapan dengan orang yang disebut Eyang Rangga itu. Sementara
Rahu dan tabib itupun telah mendekati arena pertempuran yang semakin
dahsyat. “Rahu” geram salah seorang pengikut Sanggar Gading “Kau
telah berkhianat. “Aku tidak pernah dengan bersungguh-sungguh
menjadi orang Sanggar Gading. Sekarang datang waktunya untuk dengan
pasti menghancurkan kalian sekaligus orang-orang Kendali Putih”
jawab Rahu. “Gila. Kaulah yang akan binasa bersama anak-anak ingusan
itu” teriak orang Sanggar Gading itu. Rahu tidak menjawab. Iapun
kemudian mendekati arena. Dilihatnya Jlitheng telah bertempur
disamping seorang gadis yang berpakaian seorang laki- laki Swasti.
Rahu menarik nafas dalam-dalam. Di bagian lain Daru- werdi telah
menghentakkan segenap kemampuannya. Ia merasa bahwa nyawanya yang
telah berada diujung ubun- ubun itu, rasa-rasanya masih akan dapat
bersambung lagi. Demikianlah pertempuran di puncak bukit itupun
semakin lama menjadi semakin seru. Orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih telah berpencar. Dengan garangnya mereka
bertempur melawan anak-anak muda Lumban yang tidak pernah melupakan
pesan Jlitheng. Mereka bertempur berpasangan. Meskipun begitu,
ternyata berdua mereka mengalami kesulitan bertempur melawan
orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Karena
itu, maka mereka telah bergabung dalam kelompok yang terdir i dar i
tiga orang. Rami dan tabib yang selama itu merawat Pangeran yang
sebenarnya telah sembuh, sedangkan Sanggit Raina dan Cempaka telah
dihadapi oleh Semi dan kawannya. Di bagian lain, Daruwerdi dan kedua
pamannyapun telah memaksa orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang
Kendali Put ih yang menghadapinya bertempur dengan mengerahkan
segenap kemampuannya. Dalam pada itu. Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading yang bertempur melawan Kiai Kanthi merasa heran, bahwa di
padukuhan terpencil itu ada orang yang mampu mengimbangi
kemampuannya. Karena itu, maka iapun kemudian bertanya “Ki Sanak.
Adalah aneh sekali j ika Ki Sanak memang orang padukuhan ini. Apakah
Ki Sanak telah bekerja sama dengan Rahu untuk menjebak kami?
Sehingga Ki Sanak telah memanfaatkan Daruwerdi untuk memancing kami
datang ke tempat ini?“ “Tidak Yang Mulia. Aku bukan orang yang
mempunyai ikatan apapun dengan mereka” jawab Kiai Kanthi. “Jika
demikian, apa keuntunganmu "untuk melibatkan diri dalam persoalan
ini?“ bertanya Yang Mulia. “Ada beberapa pertimbangan” jawab Kiai
Kanthi “Aku berpihak kepada anak-anak Lumban, karena anak-anak
Lumban telah banyak memberikan pertolongan kepadaku” “Omong Kosong”
desis Yang Mulia “agaknya justru kaulah yang telah membuat mereka
menjadi wayang yang kau gerakkan sesuka hatimu” “Kau salah Yang
Mulia” jawab Kiai Kanthi “Ternyata pusaran angin yang melingkar di
berbagai hutan dan dataran telah bertemu di puncak bukit ini. Tetapi
baiklah aku tidak mengatakan apapun juga. Sebaiknya kau sajalah yang
menghentikan perlawanan, sehingga dengan demikian kematian tidak
akan lagi semakin menger ikan setelah nyawa terhambur tanpa arti di
pategalan” “Jangan begitu Kiai” jawab Yang Mulia “kematian dalam
warna dari padepokan kami, sebagaimana kehidupan itu sendiri. Tetapi
bahwa kau telah mehndungi Daruwerdi membuat aku t idak begitu senang
terhadapmu. Anak itu sudah menipu kami dan ternyata sekarang
Pangeran itupun telah menipu pula. Ternyata la sudah sembuh dan siap
untuk bertempur dengan orang yang oleh orang-orang Kendali Putih
disebut Eyang Rangga Itu” “Kita akan melihat akhir dar i persoalan
yang tidak banyak kita mengerti artinya. Kau tidak, akupun tidak.
Mudah- mudahan setelah kau, aku tidak akan terjebak pula disini”
berkata Kiai Kanthi. Yang Mulia menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia
tidak dapat bertempur dengan marah dan menghentak-hentak, karena
ternyata Kiai Kanthi itu mampu mengimbangi ilmunya. Satu hal yang
sama sekali t idak disangkanya sama sekali. Dalam pada itu, Sanggit
Rainapun telah mengerahkan kemampuannya menghadapi Semi, sementara
Cempaka berhadapan dengan kawan Semi. Dengan segenap kemampuannya
Sanggit Rainapun telah memaksa Semi untuk setiap kali bergeser
surut. Ternyata Sanggit Raina adalah seorang yang memiliki kemampuan
yang dapat dipercaya, sehinggi Ssmipun tidak dapat ingkar lagi,
bahwa kemampuan Sanggit Raina telah mendebarkan jantungnya. Dalam
pada itu, ternyata Rahu dapat melihatnya. Karena itu, maka iapun
telah melepaskan lawannya dan mendekati Semi yang sedang berloncatan
surut “ Serahkan orang itu kepadaku” Semi tidak membantah. Ia tidak
sedang berperang tanding. Karena itu, maka iapun telah melepaskan
Sanggit Raina dan membiarkannya berhadapan dengan Rahu. “Kau gila
Rahu” geram Sanggit Raina. “Aku sudah muak melihat permainan yang
gila ini“ berkata Rahu “Kau dan Cempaka yang telah melakukan
kejahatan ganda“ “Kenapa ganda?“ bertanya Sanggit Raina. Rahu
memandang Sanggit Raina dengan wajah yang tegang. Dengan nada dalam
ia berkata “Kalian telah dengan tamak berusaha mendapatkan pusaka
dan hartakarun itu dengan cara yang paling licik. Kau manfaatkan
orang-orang Sanggar Gading. Kemudian kau akan berkhianat pula
terhadap Yang Mulia Panembahan Wukir Gading. Kau dan adikmu itu
tentu ingin memiliki pusaka dan segala macam rangkaiannya bagi
kepentingan diri kalian sendir i” “Persetan” geram Sanggit Raina
“Kau mengigau di saat kau mendekati mati” “Kita sudah sampai
kepuncak permainan. Kita tidak perlu lagi saling membohongi diri”
potong Rahu. Sanggit Rainapun tiba-tiba telah menyerang dengan
garangnya. Namun Rahu masih sempat mengelak sambil berkata “Akupun
tidak akan berbohong dan berpura-pura lagi. Aku mengemban tugas
untuk menghanourkan kalian dari dalam dan menyelamatkan pusaka yang
diperebutkan” Sanggit Raina sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia
menyerang Rahu semakin garang, sehingga keduanyapun bertempur dengan
dahsyatnya. Yang menarik perhatian adalah Swasti. Tiba-tiba saja
gadis itu hadir dan ikut pula bertempur Bukan saja ia ikut
bertempur, namun ternyata ia memiliki kemampuan yang mengagumkan.
Orang-orang yang mengenalnya sebagai seorang keheran-heranan. Bahkan
Daruwerdi sempat pula berkata gadis yang tinggal dipondok terpencil
itu ternyata telah menjadi kepada dir i sendiri “Aku telah
terperdaya. Ketika mereka datang, aku kira mereka akan segera
menjadi mangsa seekor harimau sehingga aku telah berusaha
menolongnya” Dalam pada itu, Daruwerdi menjadi semakin berdebar-
debar ketika tiba-tiba saja Swasti telah bertempur hanya beberapa
langkah di dekatnya. Bahkan dengan nada datar gadis itu berkata
diluar dugaan Daruwerdi “Aku hanya ingin membalas baikmu. Kau telah
menyelamatkan aku dan ayah ketika kami tiba di tempat ini” “Ah“
Daruwerdi hanya berdesah saia. Namun ia melihat, bahwa kemampuan
gadis itu tidak lebih rendah dari kemampuannya sendiri. Namun
ternyata kemudian Swasti tidak bergeser menjauhi Ia bertempur dengan
garangnya beberapa langkah dari Daruwerdi, seolah-olah ia dibayangi
oleh satu kecemasan bahwa anak muda itu memang harus dilindungi.
Jlitheng yang bertempur pula dengan garangnya, sekali-kali sempat
juga melihat, betapa Swasti tiba-tiba saja telah bertempur dekat di
daerah pertempuran Daruwcrdi dan dua orang pamannya. Tetapi Jlitheng
tidak menghiraukannya. Pertempuran itu menjadi semakin liar.
Orang-orang Sanggar Gading dan orang- orang Kendali Putih yang
tersisa, telah di bayangi pula oleh kemarahan sekaligus
keputusasaan. Di pategalan orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih sudah saling membunuh. Karena itu, setelah
beristirahat tiga hari tiga malam, maka tenaga merekapun telah siap
kembali untuk bertempur dengan liar dan membunuh sejauh dapat
dilakukan dalam suasana yang kurang menentu. Mereka tidak lagi tahu
apa yang harus mereka perjuangkan selain luapan kemarahan, dendam,
kebencian dan ketidak pastian. Namun pertempuran itu sendir i
mempunyai arti yang sangat mendalam bagi Daruwerdi. Ternyata bahwa
yang dilihatnya sebelumnya adalah dunia petualangan yang sempit.
Kini di puncak bukit itu ia melihat, orang-orang yang bertempur
dalam tataran setingkat dengan dirinya sendiri. Jika semula ia
menyangka ia telah memiliki bekal yang cukup bagi petualangannya
yang hampirsaja merenggut nyawanya itu, maka iapun mulai melihat
kenyataan dunia eleh kanuragan yang sebenarnya. Ada puluhan
orang-orang yang memiliki kemampuan setingkat dengan dirinya Bahkan
sambil bertempur ia berhasil melihat satu kenyataan, bahwa Jlitheng
bukan sekedar anak Lumban Wetan yang takut diancamnya sebagimana
disangkanya. Dalam pertempuran yang garang itu, ia melihat bahwa
Jlitheng tidak kalah dar i dirinya sendui. “Pantas ia dapat
mengambil sikap di saat-saat anak-anak Lumban berebut air” berkata
Daruwerdi di dalam hatinya. Segalanya itu telah membuka hatinya,
bahwa sebenarnya lah pengalamannya masih terlalu sempit. Dalam pada
itu, ternyata bahwa Eyang Rangga yang tidak menduga sama sekali akan
bertempur dengan orang yang selama perjalanan hampir dilupakan oleh
orang-orang Sanggar Gading karena dianggap sedang sakit dan tidak
mampu berbuat sesuatu benar-benar harus mengerahkan tenaganya.
Pangeran yang yang melihat satu teka-teki yang besar itu telah
berusaha untuk secepatnya mengalahkan lawannya. Ia masih harus
memecahkan banyak persoalan di daerah Sepasang Bukit Mati itu. Ia
masih harus mengetahui, apakah yang sebenarnya dikehendaki oleh anak
muda yang bernama Daruwerdi, yang menuduhnya telah membunuh ayahnya.
Dan iapun ingin mengetahui, buat apa sebenarnya Daruwerdi
bermain-main dengan pusaka yang palsu itu. Sebenarnyalah, seandainya
Yang Mulia t idak berhasil melihat kepalsuan pusaka itu. Pangeran
itulah yang tahu dengan pasti, bahwa pusaka yang diberikan oleh
Daruwerdi itu adalah sebuah permainan yang berbahaya. Ternyata
keduanya adalah orang-orang tua yang memiliki ilmu yang tinggi.
Kecepatan mereka bergerak, kekuatan dan ketrampilan mereka telah
menggetarkan puncak bukit itu. Semakin lama pertempuran diantara
mereka menjadi semakin dahsyat, sehingga akhirnya mereka sampai pada
satu sikap untuk merambah ke dalam kekuatan tenaga cadangan mereka
masing-masing, sehingga yang nampak kemudian adalah
benturan-benturan kekuatan melampaui kekuatan wadag sewajarnya.
Dalam pertempuran yang memenuhi puncak bukit itu, ternyata kedua
orang itu, seolah-olah" "dengan sengaja telah menyisih, agar mereka
mendapat kesempatan untuk memperbandingkan ilmu mereka tanpa
terganggu. Sambaran- sambaran tangan dan kaki mereka telah
mematahkan pepohonan dan dahan-dahan kekayuan disekitar mereka.
Langkah-langkah kaki merekapun telah memecahkan batu- batu padas di
bawah kaki mereka dan melontarkannya berhamburan. Baik orang-orang
Sanggar Gading, maupun orang-orang Kendali Putih menjadi sgeri
melihat pertempuran yang tidak sekedar berlandaskan kemampuan wadag
mereka. Terlebih- lebih lagi anak-anak muda Lumban Wetan dan Lumban
Kulon. Mereka tidak mengerti, apa yang sedang mereka saksikan itu.
Seandainya mereka terdorong ke dalam putaran pertempuran itu, maka
mereka akan tergilas tanpa dapat berbuat apapun juga. Dalam pada
itu, maka Daruwerdipun merasa ngeri pula melihat pertempuran itu.
Baginya seakan-akan tidak ada lagi jalan keluar yang keluar yang
dapat ditempuhnya. Ketika ia terlepas dari tangan Yang Mulia ia
mulai berpengharapan Namun kemudian ia melihat bahwa sebenarnyalah
Pangeran yang disangkanya sedang sakit itupun memiliki kemampuan
yang tiada taranya. “Pangeran itupun tentu mendendam aku pula”
berkata Daruwerdi di dalam hatinya “Akulah yang telah menyeretnya
sampai ke tempat ini. Orang-orang Sanggar Gading tentu mengatakan,
apa yang pernah aku katakan kepada mereka tentang Pangeran itu”
Namun dalam pada itu, Daruwerdi masih juga bertempur diantara medan
yang riuh. Sementara itu, ternyata disisi lain, puncak bukit itu
bagaikan telah diguncang oleh amuk prahara yang dahsyat. Pertempuran
antara Yang Mulia Panembahan Wukir Gading melawan Kiai Kanthi
ternyata tidak kalah dahsyatnya dari pertempuran antara Eyang Rangga
dan Pangeran yang dianggapnya masih sakit itu Meskipun Yang Mulia
itu timpang kakinya, tetapi kemampuannya sama sekali tidak terganggu
karenanya. Ia mampu meloncat-loncat seakan-akan tidak berjejak
diatas tanah, sementara tangannya bergetar terayun-ayun. Lawannya,
Kiai Kanthi memiliki cara lain untuk melawan Yang Mulia yang mampu
bergerak secepat angin. Kiai Kan-" thi justru tidak banyak bergerak
Ia berdiri dengan kaki renggang dan sedikit merendah pada lututnya.
Ia hanya bergeser saja kearah lawannya yang berloncatan, sehingga
seakan-akan Kiai Kanthi itu hanya bergeser berputar-putar. Namun
pada saat tertentu, orang tua itu telah melenting seperti seekor
bilalang, menyerang lawannya dengan dahsyatnya. Namun kemudian
kembali ia berdiri tegak, sementara angin pusaran telah berputar
mengelilinginya, memutarnya dan bahkan berusaha untuk merobohkannya.
Namun kakinya bagaikan menghujani dalam-dalam kepusat bumi, sehingga
orang tua yang menurut kebiasaannya sehari- hari adalah orang yang
lemah lembut, ternyata mampu berdiri tegak bagaikan karang yang
tidak goyah oleh amukan badai. Dengan demikian maka bukit itupun
benar-benar telah diguncang ”Beberapa orang Sanggar Gading dan
Kendali Putih yang bertempur melawan anak-anak muda Lumbanpun telah
bergeser beberapa langkah turun pada lereng bukit. Sanggit Raina
yang bertempur melawan Rahu berloncatan dengan garangnya. Senjata
mereka telah saling beradu sehingga bunga apipun bertebaran diantara
dedaunan hutan. Mereka saling menyerang dan saling menangkis. Desak
mendesak dan sekali-sekali mereka harus memanfaatkan pepohonan hutan
untuk ber lindung dari tajam ujung senjata lawannya. Sanggit Raina
yang dalam kehidupan sehari-hari di padepokan Sanggar Gading
menganggap bahwa Rahu adalah pengikut Cempaka yang setia, ternyata
anggapan itu telah menjerumuskannya ke dalam kesulitan. Apalagi
dalam satu kenyataan bahwa Rahu mampu mengimbangi kemampuannya
dengan kecepatannya menggerakkan senjata. Sementara itu, orang-orang
Sanggar Gading dan orang- orang Kendali Putih yang lain telah mulai
terdesak. Daruwerdi. yang betapapun juga digelit ik oleh keadaan
Pangeran yang di anggapnya masih sakit itu tetapi ternyata mampu
menggepur lawannya bagaikan badai dari lautan, masih juga sempat
memaksa lawannya berloncatan surut. Iapun menjadi heran melihat
Svvasti yang dengan lincahnya mendesak lawannya. Bahkan
sekali-sekali terdengar lawannya itu mengumpat putus-asa. Sementara
kedua paman Daruwerdipun telah mengamuk seperti harimau lapar.
Jlitheng yang bertempur dengan dahsyatnya, telah menguasai lawannya
sehingga lawannya benar-benar tidak berdaya. Bahkan ketika Jlitheng
meloncat sambil menusuk lambungnya, ia hanya dapat mencoba untuk
menangkis. Namun ternyata bahwa ujung pedang Jlitheng yang tipis dan
hampir tidak mempunyai berat itu berhasil menyentuh kulit lawannya,
sehingga darahpun mulai mengalir Betapapun orang itu menjadi liar,
namun Jlitheng masih dapat menguasainya. Sentuhan demi sentuhan
telah mengoyak tubuh orang itu, sehingga akhirnya ia telah
kehilangan kemampuan untuk mengamati sikap dan tingkah lakunya
sendir i. Jlitheng telah mempergunakan kesempatan terakhir untuk
menusuk ke dadanya. Tetapi orang itu masih berusaha menangkisnya.
Ketika kedua pedang itu beradu, maka Jlitheng telah memutar
pedangnya, sehingga senjata lawannya itupun seolah-olah telah
terhisap dan kemudian terlempar keudara. Orang itu berdiri
termangu-mangu. Sementara darahpun mengalir semakin banyak dari
tubuhnya. Sejenak kemudian, ketika orang itu terhuyung-huyung jatuh,
Jlitheng justru bergeser surut. Ia tidak sampai hati untuk
menghunjamkan senjatanya pada orang yang sudah tidak berdaya.
Jlitheng berpaling ketika ia melihat Swasti telah berhasil melukai
lawannya. Namun, demikian Swasti terpaku melihat darah yang memancar
dari dada. ia tidak menyadari, bahwa seorang dari Sanggar Gading
telah meloncat sambil mengayunkan pedangnya. Jlitheng terkejut.
Jaraknya dengan Swasti cukup jauh. sehingga tidak memungkinkan untuk
meloncat menghalanginya. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan
adalah melemparkan pedangnya. Namun sebelum Jlitheng melakukannya,
ia mengerutkan keningnya dengan pandangan tegang. Daruwerdilah yang
telah meloncat dengan pedangnya terjulur meninggalkan lawannya.
Demikian cepatnya, sehingga orang yang berusaha menikam Swasti itu
tidak sempat menyelamatkan dir i dari patukan pedang Daruwerdi. Yang
terdengar adalah keluhan tertahan. Swasti yang terkejut berpaling.
Yang dilihatnya adalah seseorang yang terhuyung-huyung dan jatuh di
tanah. Namun dalam sekejap itu iapun mengerti apa yang telah
terjadi. Daruwerdi telah menyelamatkan nyawanya. Tetapi pada saat
yang berikutnya, lawan yang ditinggalkan oleh Daruwerdi telah
memburunya, justru pada saat Daruwerdi sedang menarik pedangnya dari
tubuh lawannya yang terbaring. Namun Swastilah yang kemudian
meloncat menahan serangan itu, sehingga sejenak kemudian keduanya
telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Tetapi seperti
lawannya yang terdahulu, maka. lawan Swasti itupun tidak dapat
bertahan terlalu lama. Apalagi ia hampir tidak menduga, bahwa gadis
itulah yang akan melawannya justru pada saat Daruwerdi tidak
menyadari apa yang akan terjadi. Daruwerdi masih berdiri
termangu-mangu. Ketika Swasti menyelesaikan pertempuran itu, maka
kedua anak muda itu saling berpandangan. Berbareng mereka terenyum.
Namun Swatipun kemudian menundukkan wajahnya. Bahkan sejenak
kemudian iapun telah bergeser dengan pedang bergetar ditangannya.
Jlitheng memperhatikan semuanya yang terjadi itu dengan hati yang
berdebar-debar. Ia tidak tahu, apakah yang telah bergejolak
didadanya. Namun bahwa kedua anak muda itu telah saling
menyelamatkan jiwa masing-masing, jantungnya justru berdegup semakin
keras. Tetapi Jlitheng tidak dapat merenung terlalu lama.
Disekitarnya pertempuran masih berlangsung. Namun sudah tidak lagi
menggetarkan dada anak muda itu. Seolah-olah ia sudah membayangkan
akhir dari segalanya. Orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang
Kendali Putih telah terdesak. Betapapun mereka menjadi semakin liar
dan buas, namun mereka tidak mampu lagi melawan setelah orang-orang
terpenting di-antara mereka terikat pada pertempuran yang sengit.
Yang Mulia Panembahan Wukir Gading sama sekali tidak dapat beringsut
dari tempatnya. Apalagi tekanan Kiai Kanthi semakin lama justru
menjadi semakin berat. Sehingga Panembahan Wukir Gading itu sama
sekali tidak mendapat kesempatan untuk memperhatikan pertempuran itu
secara keseluruhan. Apalagi kraena pertempuran itu telah merambat
tidak saja dipuncak bukit, tetapi sudah merayap turun hampir sampai
kelambung. Dalam pada itu anak-anak muda Lumbanpun telah bertempur
dengan garangnya. Seperti yang dipesankan Jlitheng, mereka bertempur
berpasangan. Bahkan ada diantara mereka yang berpasangan tiga orang
karena lawan mereka ternyata terlalu buas, kasar dan liar. Seperti
pesan Jlitheng pula mereka telah memanfaatkan pepohonan. Dalam
keadaan yang gawat mereka berusaha untuk berlindung di balik
pepohonan sementara kawan yang lain berusaha untuk memancing
perhatian lawannya. Karena itu, maka Jlithengpun kemudian berusaha
untuk melupakan apa yang telah dilihatnya dengan membaurkan diri
dalam pertempuran diantara anak-anak muda Lumban Wetan. Ia telah
melepaskan getar jantungnya yang seolah-olah mengetuk dadanya dengan
mengayunkan pedangnya menghadapi orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih. Semakin Jlitheng bertempur semakin cepat,
seolah-olah ia tengah berusaha untuk lari dari satu kenyataan yang
dihadapinya. Dengan demikian maka Jlitheng itupun seolah-olah telah
menjadi hantu yang menakutkan bagi orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih. Namun dalam pada itu, diluar kehendaknya,
setiap kali ia masih berusaha untuk melihat, apa yang sedang
dilakukan oleh Daruwerdi dan apa pula yang sedang dilakukan oleh
Swasti. Meskipun keduanya telah kembali sibuk dengan pertempuran
yang masih saja terjadi, namun rasa-rasanya keduanya tidak lagi
terpisah terlalu jauh. Sementara itu, Eyang Rangga yang bertempur
menghadapi Pangeran yang semula masih saja dianggap sakit-sakitan
itu, semakin lama menjadi semakin gelisah. Ia sadar, bahwa Pangeran
itu ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi. Bahkan daya tahan
tubuhnyapun rasa-rasanya tidak ada bandingnya. Karena itu, maka
Eyang Rangga itupun harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk
melawan Pangeran yang kemudian menekannya dengan ilmu yang sulit di
imbanginya. Oleh kenyataan itu, maka orang yang disebut Eyang Rangga
itupun tidak mau menanggung akibat yang paling parah atas dirinya.
Jika ia datang ke tempat itu, maka iapun sebenarnya telah bersiap
dengan segenap perhitungan dan pertimbangan, karena menurut
perhitungannya ia akan bertempur sampai nafasnya yang terakhir
melawan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading atau ia akan dapat
membunuhnya. Karena itu, maka iapun telah menyiapkan bukan saja
dirinya dalam landasan ilmunya, tetapi juga senjata yang sulit dicar
i bandingannya. Dalampada itu, ketika tekanan Pangeran itu terasa
menjadi semakin berat, maka tidak ada pilihan lain bagi Eyang Rangga
itu untuk melepaskan ilmu pamungkasnya pada alas kemampuannya
bermain dengan senjatanya. Karena itu, maka sejenak kemudian, dalam
keadaan yang paling gawat, Eyang Rangga itu telah mengurai seutas
rantai yang melilit di bawah bajunya. Rantai yang pada kedua
ujungnya terdapat semacam ujung tombak yang tajam runcing berwarna
kekuning-kuningan, dengan ukuran yant tidak terlalu besar. Pangeran
yang dianggap masih sedang sakit itu tertegun melihat senjata itu.
Dengan nada datar ia bertanya “Dari mana kau dapatkan senjata itu?“
Eyang Rangga tersenyum. Ia melihat ketegangan pada wajah Pangeran
itu. Katanya “Apakah Pangeran sudah mengenal senjata ini?“ Pangeran
itu berdiri tegak dengan kaki renggang. Dengan suara yang bergetar
ia berkata “Senjata itu pernah dipergunakan oleh prajur it khusus
dari Majapahit yang tidaK banyak jumlahnya. Apakah kau termasuk
salah seorang dari prajurit khusus itu?“ Eyang Rangga tertawa.
Katanya “Jangan picik Pangeran. Prajurit khusus itu telah mempelajar
i penggunaan senjata jenis ini dari seorang Ajar di padepokan
terpencil. Ajar itu telah menyediakan waktu dan ilmunya untuk
mengabdi kepada Majapahit” Pangeran itupun termangu-mangu. Ia
melihat sejenis senjata yang pada masanya sangat dikagumi. Tetapi
tidak banyak orang yang dapat mempergunakannya dengan baik, justru
karena senjata itu tidak lajim bagi para prajurit. Namun demikian
Pangeran itupun masih meragukan, apakah orang yang disebut Eyang
Rangga itu benar-benar dapat mempergunakan sebagaimana seharusnya.
Meskipun demikian, Pangeran itupun tidak mau lengah menghadapinya.
Jika ia gagal, maka yang akan terjadi tidak akan dapat
dibayangkannya. Juga atas anak muda yang bernama Daruwerdi itu.
Mungkin orang yang dengan kehendaknya sendiri menempatkan diri
sebagai lawan Yang Mulia itu mampu bertahan. Tetapi jika ia
dikalahkan oleh Eyang Rangga, maka Eyang Rangga bersama-sama dengan
Yang Mulia Panembahan itu akan dengan mudah membinasakan lawan Yang
Mulia itu. Atau Eyang Rangga akan dapat berbuat sekehendaknya atas
orang-orang yang diluar dugaannya telah melibatkan diri melawan
orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Karena
itu, maka Pangeran itupun kemudian mengambil dua keping baja putih
dari kantong ikat pinggangnya. Dua keping baja yang sama sekali
tidak mir ip dengan senjata jenis apapun. “Ki Sanak” berkata
Pangeran itu “karena kau sudah bersenjata, maka biarlah aku juga
mengeluarkan senjataku. Aku minta waktu untuk memasangnya. Mungkin
kau tidak sabar, tetapi aku harap kau tidak mulai sebelumaku
selesai” Ternyata dua keping baja itu telah dipasang di telapak
tangannya. Beberapa buah janget melingkar di jari-jari dan
pergelangan tangannya. “Kau terlalu sombong Pangeran” berkata Eyang
Rangga “Kau sangka aku sedang bermain-main dengan senjataku? Jika
tajam senjataku ini menyentuh dadamu, maka ujungnya akan langsung
menghunjamsampai kejantung” “Aku percaya” jawab Pangeran itu “Tetapi
tidak mudah untuk mematuk dada apalagi langsung kejantung” Eyang
Rangga tidak menjawab lagi. Ia mulai memutar senjatanya. Seutas
rantai yang pada kedua ujungnya tersangkut ujung-ujung senjata yang
tajam. Pangeran itupun telah mempersiapkan diri pula. Eyang Rangga
yang ingin melihat apa yang dapat dilakukan dengan kedua keping baja
di kedua telapak tangan Pangeran itu, maka iapun mulai menyerang
dengan ujung senjatanya yang berwarna kekuning-kuningan. Bukan
sekedar untuk memancing gerakan lawan, namun Eyang Rangga telah
menyerangnya dengan sungguh-sungguh. Ujung senjata yang berputar
pada rantai yang cukup panjang itu, tiba-tiba bagaikan meluncur dan
mematuk mengarah ke dada. Namun seperti Pangeran yang berdebar-
debar melihat senjata lawannya, maka Eyang Ranggapun terkejut
melihat, bagaimana Pangeran itu mempergunakan kedua keping baja
pulih di kedua telapak tangannya. Ternyata bahwa Pangeran itu
mempergunakan kedua keping baja dan tangannya sebagai perisai. Ujung
senjata yang tajam pada ujung rantai yang mematuk itu telah
ditangkis dengan telapak tangan yang dilambari oleh keping baja,
sehingga ujung senjata itu sama sekali tidak dapat melukainya. Eyang
Rangga itupun menarik nafas dalam-dalam. Namun sejenak kemudian
senjatanya telah memutar kedua ujungnya yang tajam itu. Bahkan
sejenak kemudian, kedua tajam pada ujung senjata itu telah menyambar
Pangeran itu berganti- ganti. Namun sebenarnyalah Eyang Ranggapun
terkejut bukan buatan. Setiap sambaran senjata telah ditahan oleh
telapak tangan yang beralaskan keping baja itu. Tetapi dengan
demikian bukan berarti bahwa Pangeran itu tidak pernah menyerangnya.
Dengan kedua telapak tangannya yang terbuka dan siap menangkis
serangan lawannya, maka Pangeran itupun maju terus semakin mendekat.
Dalam saat- saat tertentu, sambil menangkis ujung senjata lswannya.
Pangeran itupun telah menyerang dengan kakinya. Dengan cepat dan di
lambari dengan segenap tenaganya, maka kaki Pangeran itupun meluncur
dengan derasnya. Eyang Rangga sebenarnyalah menjadi gelisah melihat
kemampuan ilmu dan senjata Pangeran itu yang lebih banyak borguna
sebagai perisai. Namun yang kemudian dibarengi dengan kecepatan
gerak kakinya, maka sebenarnyalah Pangeran itu menjadi sangat
berbabaya. Meskipun demikian, Pangeran itupun menjadi berdebar-
debar mehhat kemampuan Eyang Rangga bermain dengan senjatanya yang
aneh itu. Dengan tangkas dan cermat. Serangan serangannya menjadi
semakin cepat dan berbahaya. Merkipur rantai itu berputar pada kedua
ujungnya, tetapi rantai itu sami sekali t idak menjadi kusut can
saling membelit. Namun bagaimanapun juga Pangeran itu memiliki
kelebihan dari padanya. Dengan nada berat Pangeran itu berkata “Ki
Sanak. Akhirnya aku memang harus mempertanyakan, dari mana kau
belajar mempergunakan senjata Itu. Kau memang belum setangkas
orang-orang pilihan dari sekelompok prajur it khusus dari Majapahit
itu. “Persetan“ garam Eyang Rangga “sebentar lagi mayatmu akan
terkapar. Kau akan mati di atas bukit ini, karena sebenarnyalah kau
memang sudah tidak diperlukan lagi ketika kami mengerti, bahwj
pusaka itu adalah pusaka yang palsu” Pangeran itu tidak menjawab. Ia
mendesak semakin jauh. Dalam putaran yang hampir tidak dapat diikuti
dengan tatapan mata wadag, maka Pangeran itu berhasil memasuki
putaran senjata Eyang Rangga, sehingga iapun sempat menyerang dengan
tumit kakinya mengenai lambung. Eyang Rangga terdorong selangkah
surut. Namun putaran senjatanya menjadi kalut. Pada kesempatan yang
demikian. Pangeran itu berhasil meloncat semakin dekat Sambil
menangkis senjata lawannya dan mengibaskannya kesamping. Pangeran
itu berhasil memukul kening lawannya dengan telapak tangannya yang
selalu terbuka, justru karena pada telapak tangannya menempel
sekeping besi baja. Eyang Rangga adalah orang yang memiliki ilmu dan
daya tahan melampaui orang kebanyakan. Jika pukulan itu, meskipun
dengan sekeping baja, dilakukan oleh orang-orang kebanyakan, maka
pukulan itu tidak akan melukainya. Tetapi yang memukul keningnya itu
adalah seorang Pangeran yang juga memiliki ilmu yang tinggi, yang
memiliki kekuatan dan kemampuan melampaui orang kebanyakan. Karena
itu, maka terasa betapa kening Eyang Rangga itu bagaikan retak.
Matanya menjadi berkunang-kunang dan kepalanya menjadi pening. Namun
pada saat-saat matanya mengkabur, ia masih sempat memutar
senjatanya. Ketika sebelah ujungnya mematuk Pangeran yang berdiri
dekat dihadapannya, Pangeran itu sempat menangkis dengan kepingan
besi baja ditelapak tangannya. Namun pada kesempatan iiu, Eyang
Rangga telah mengerahkan kekuatannya yang terakhir. Ternyata bahwa
tangannya masih tetap trampil sehingga ujung senjatanya yang lain
telah meluncur mematuk dada. Eyang Rangga, tidak menyangka, apalagi
jarak mereka terlalu dekat, sementara perhatiannya masih tertuju
kepada ujung senjata yang menyerang terdahulu. Meskipun demikian ia
berusaha untuk bergeser. Tetapi ia terlambat. Sehingga ujung senjata
itu telah mengenai pundaknya. Pangeran itu terdorong selangkah
surut. Namun ia menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Kemarahan
yang dahsyat telah menghentak dadanya. Karena itu, maka iapun segera
meloncat mendekat. Sekali lagi tangannya yang terbuka itu terayun
menghantam pelipis lawannya. Sekali lagi terdengar desis tertahan.
Eyang Rangga itu terdorong kesamping. Matanya yang mengkaburpun
kemudian benar-benar menjadi gelap. Ketika Eyang Rangga itu terjatuh
di tanah, maka Pangeran itupun merasa pundaknya disengat oleh
perasaan nyeri dan pedih, sehingga Pangeran itupun melangkah surut
beberapa langkah. Tetapi senjata Eyang Rangga itu masih tetap
tersangkut di pundaknya. Sejenak Pangeran itupun termangu-mangu.
Tangannya yang dilambari oleh sekeping baja itupun tidak mudah untuk
mencabut ujung senjata Eyang Rangga yang menghunjam di pundaknya.
Namun dalam pada itu, sebagi Pangeran itu termangu- mangu,
dilihatnya seseorang mendekatinya. Meskipun orang itu bersenjata,
tetapi senjatanya tertunduk ketanah. “O” desis Pangeran yang melihat
tabib yang selama dalam perjalanan telah merawatnya. “Pangeran
terluka?“ desis tabib itu. “Tidak seberapa” sahut Pangeran yang
berdiri tegak memandangi orang yang oleh orang-orang Kendali Putih
disebut Eyang Rangga itu. Tabib itupun berpaling. Dilihatnya Eyang
Rangga itu terbujur di tanah. Ternyata kemampuan tangan Pangeran itu
benar-benar luar biasa. Keping baja ditelapak tangannya itu teiah
membuat Eyang Rangga terbaring diam. Tabib itu menarik nafas
dalam-dalam. Meskipun nampaknya Eyang Rangga itu tidak terluka,
namun tabib yang mengenal keadaannya sesungguhnya itupun mengetahui,
bahwa sentuhan tangan Pangeran itu benar-benar telah meretakkan
tulang di kepala Eyang Rangga. “Pangeran“ berdesis tabib itu
“perkenankan aku mencabut senjata yang tertancap di pundak itu.
Agaknya Pangeran memer lukan obat untuk menahan darah yang mengalir”
“Terserah kepadamu” jawab Pangeran itu. Namun katanya “Tetapi apakah
kau tidak akan mengobati orang yang terbujur itu?” “Nampaknya tidak
ada harapan lagi Pangeran” berkata tabib itu “meskipun demikian,
biaruh nanti aku melihatnya” Pangeran itupun kemudian membirkan
tabib itu menar ik senjata yang tertancam dipundaknya. Sambil
menyeringai menahan sakit, terdengar desis perlahan. Demikian ujung
senjaa itu tercabut, maka darahpun mengalir semakin banyak. Tetapi
tabib itu telah bersiap dengan obat yang dapat menolong mengurangi
arus darah dari pundak Pangeran itu. “Duduklah Pangeran” berkata
tabib itu. Demikian Pangeran itu duduk di tanah bersandar sebatang
pohon, maka tabib itupun berjongkok disebelah orang yang disebut
Eyang Rangga itu. Namun tabib itu menggeleng lemah. Katanya
“Nafasnya sudah tidak wajar lagi” Pangeran itu tidak menjawab.
Sementara itu, iapun telati berusaha untuk memperbaiki keadaannya
sendiri. Luka dipundaknya cukup dalam. Jika ia tidak menahan dir i,
maka- darah yang dipampatkan oleh obat dari tabib itupun akan dapat
mengalir lagi. Tabib itu masih berjongkok disisi Eyang Rangga. Kulit
orang tua itu memang sangat liat, sehingga kepingan baja ditangan
Pangeran itu tidak melukainya. Namun kekuatan Pangeran itupun luar
biasa pula Karena itulah, maka agaknya bagian kepala Eyang Ranggalah
yang telah menyebabkannya tidak sadarkan diri. Namun bukan itu saja,
karena pada saatnya, maka nafasnyapun benar-benar telah terputus dan
jantungnya telah berhenti berdetak. “Orang ini telah meninggal
Pangeran” desis tabib itu. Pangeran itu menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Sebenarnya aku ingin berbicara dengan orang itu. Apakah
yang diketahuinya dengan pusaka yang diperebutkan” “Yang Mulia itu
akan dapat berbicara jika ia tidak terbunuh oleh lawannya” desis
tabib itu. “Siapakah lawannya itu” bertanya Pangeran itu. Tabib itu
menggeleng Namun kemudian iapun berdesir “Ia memiliki kemampuan yang
sangat tinggi Pangeran, Sehingga iapun mampu mengimbangi orang yang
disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading itu” “Sungguh pahit”
desis Pangeran itu “Orang-orang itu telah memburu pusaka dan harta
karun yang tidak mereka ketahui. Ternyata bahwa ketamakan telah
menyeret mereka ke dalam satu keadaan yang paling parah bagi dir i
mereka dan bagi orang lain. Pusaka yang menjadi perlambang pangkat
dan derajad, serta harta benda telah membuat mereka menjadi buta”
Tabib itu tidak menjawab. Namun iapun kemudian memperhatikan
pertempuran yang semakin lama menjadi semakin susut. Dipuncak bukit
itu tidak lagi terjadi kekisruhan yang membingungkan. Beberapa
diantara mereka yang bertempur telah turun sampai mendekati lambung
bukit. Yang nampak masih bertempur di puncak bukit, selain Yang
Mulia melawan Kiai Kanthi, Rahu melawan Sanggit Rai- na, Cempaka
meiawan pemburu kawan Semi, juga Daruwerdi, kedua pamannya dan
Swasti. Sementara itu, Jlitheng yang bertempur bersama anak- anak
muda Lumban kadang-kadang menjadi termangu- mangu. Ketika lawan
menjadi semakin susut, maka ia lebih banyak memperhatikan Swasti
yang bertempur t idak jauh dari Daruwerdi. Jlitheng menarik nafas
dalam-dalam. Sementara ia dicengkam oleh perasaan yang tidak
dimengertinya, maka tiba-tiba saja ia terkejut ketika ia melihat
daun gerumbul disampingnya berguncang. Dengan serta merta ia
meloncat dengan pedang tipisnya terjulur lurus menanti siapa yang
akan menyerangnya dari balik gerumbul itu. Namun yang datang adalah
Semi. Karena itu, maka Jlithengpun kemudian menarik nafas
dalam-dalam sambil berdesis “Kau mengejutkan aku” “Sudah lama aku
memperhatikanmu” berkata Semi “sejak pertempuran ini mereda maka
perhatianmu tertuju kepada gadis itu saja” “Ah“ desah Jlitheng “Kau
mengigau. Dimana lawanmu?“ “Aku melukainya. Tetapi agak parah,
sehingga ia terbaring di lereng sebelah” jawab Semi “namun demikian,
justru kawannya yang ingin menyelamatkan lawanku itu agaknya harus
menebus dengan nyawanya” “Kau bunuh orang itu, atau ia telah,
membunuh diri?“ bertanya Jlitheng. “Tidak. Tetapi dalam perkelahian
yang terjadi ia telah terguling di jurang batu padas. Aku kira ia
mati atau terluka parah” jawab Semi. Lalu “nasibnya terlalu buruk”
“Aku belum mengetahui dengan pasti, bagaimana dengan anak-anak
Lumban” desis Jlitheng. “Kau lebih memperhatikan gadis itu” sahut
Semi. “Tidak. Aku mencar i mereka” jawab Jlitheng. “Kedua paman
Daruwerdi ada diantara mereka” jawab Semi “tetap mereka telah
tersebar. Namun nampaknya keadaan tidak berbahaya lagi. Aku baru
saja bertempur bersama mereka sebelum aku sempat melihat kau
merenungi gadis itu. Sebenarnya kau tidak perlu mencemaskannya,
karena ternyata ia mampu menjaga dir inya sendiri” “Ia telah
menyalamatkan nyawa Daruwerdi” desis Jlitheng. “O“ Semi
mengangguk-angguk “Bukan main” Semi berhenti sejenak. Namun kemudian
“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?“ “Pangeran itu telah
menyelesaikan tugasnya. Ternyata ia adalah orang luar biasa” geram
Jlitheng “Aku ingin mendekatinya. Nampaknya ia terluka” “Pergilah.
Aku akan mendekati Yang Mulia yang masih bertempur melawan Kiai
Kanthi” desis Semi. Jlitheng termangu-mangu sejenak. Namun iapun
kemudian berlari mendekati Pangeran yang sedang terluka itu. Tetapi
langkahnya tertegun ketika melewati arena pertempuran antara Swasti
dengan lawannya yang nampaknya adalah lawannya yang terakhir, karena
orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih sudah
semakin sedikit jumlahnya, sementara beberapa kawan mereka telah
tidak nampak lagi di puncak bukit. Sebagian dari mereka bertempur di
lereng- lereng bukit, namun ada juga diantara mereka yang sudah
berputus asa telah meninggalkan medan untuk menyelamatkan diri,
karena mereka merasa bahwa mereka tidak harus mat i dipertempuran
itu. Swastipun kemudian telah mendesak lawannya yang terakhir itu,
sementara Daruwerdipun telah hampir menyelesaikan pertempuran itu
pula. Tetapi tiba-tiba Jlitheng itupun telah menggeretakkan giginya
dan meloncat meninggalkan gadis itu. “Aku tidak peduli”
geramJlitheng. Sejenak kemudian, Jlitheng itupun telah berjongkok di
sebelah Pangeran yang terluka itu. “Pangeran terluka” desis
Jlitheng. Pangeran itu memandang Jlitheng sejenak. Kemudian iapun
berkata “Kau termasuk orang yang membingungkan aku. Siapakah kau
sebenarnya, dan dipihak mana kau berdiri. Kau adalah salah seorang
yang telah mengambil aku bersama orang bernama Rahu itu. Dan menurut
pendengaranku, kau telah mati terbunuh ketika kau berusaha untuk
menyelamatkan anakku dari gangguan orang-orang Sanggar Gading yang
lain. “Lupakan semuanya Pangeran. Sekarang kita sedang berusaha
untuk berbuat sesuatu bagi keselamatan banyak orang dalam lingkungan
kekuasaan Demak yang baru dibangun” jawab Jlitheng. “Baiklah. Aku
percaya Kepadamu. Agaknya kau adalah kawan Rahu dan mempunyai
kedudukan seperti orang itu atau mirip dengan orang itu” berkata
Pangeran itu kemudian. Lalu tiba-tiba Pangeran itu bertanya
“Siapakah anak muda yang menyebut dir inya Daruwcrdi dan yang telah
dengan bodoh berusaha menipu Yang Mulia dengan mempertaruhkan
nyawaku yang menurut katanya, telah membunuh ayahnya?“ “Masih belum
jelas Pangeran” jawab Jlitheng. “Baiklah. Jika demikian, apabila kau
benar-benar ingin berbuat sesuatu bagi Demak, jagalah anak itu agar
tidak melarikan dir i setelah pertempuran "ini selesai. Aku ingin
berbicara dengan anak itu. Meskipun aku sendir i dapat mencegahnya,
tetapi aku memerlukan bantuanmu” desis Pangeran itu. “Karena
Pangeran terluka?“ bertanya Jlitheng. “Tidak. Aku akan segera dapat
mengatasinya. Aku hanya memer lukan waktu sejenak untuk
beristirahat. Setelah itu, aku akan dapat berbuat apa saja” jawab
Pangeran itu “Tetapi aku memer lukan pihak yang dapat membantuku.
Karena di tempat ini hadir pula orang yang memiliki ilmu yang
tinggi, yang kini menyelesaikan pertempurannya melawan Yang Mulia
itu, yang nampaknya akan segera berhasil pula” Jlitheng mengerutkan
keningnya. Diluar sadarnya ia berpaling. Dilihatnya Kiai Kanthi
masih bertempur melawan Yang Mulia Panembahan Wukir Gading.
Pertempuran antara dua orang yang memiliki lambaran ilmu raksasa
yang sulit untuk dicari bandingnya. Jlitheng memang sudah menduga,
bahwa Kiai Kanthi tentu memiliki ilmu yang luar biasa. Tetapi ketika
ia menyaksikan sendiri, bagaimana ia bertempur melawan Yang Mulia
Panembahan Wukir Gading, maka ia menjadi semakin kagum kepada orang
tua itu. Namun demikian, ia sadar, bahwa Pangeran yang terluka
itupun tidak percaya begitu saja kepada orang tua itu. Sebagaimana
setiap orang yang ada di bukit itu menjadi saling mencur igai
Pangeran itu telah minta kepadanya untuk menahan kemungkinan
Daruwerdi melarikan diri selagi kekalutan masih berlangsung.
Sementara Pangeran itu sendiri sedang berusaha untuk memperbaiki
keadaan dirinya. Obat yang telah memampatkan darahnya itu, harus
diikuti dengan usaha penyembuhan dar i dalam. Dengan demikian, jika
perlu maka pada suatu saat ia akan berhadapan dengan orang tua yang
telah bertempur dengan Yang Mulia, atau dengan Yang Mulia itu sendir
i, jika Yang Mulia memenangkan pertempuran itu. Karena itu, maka
Pangeran itu untuk beberapa saat tetap duduk di tempatnya sambil
mengatur pernafasannya dan seolah-olah memusatkan daya tahan
tubuhnya pada lukanya untuk memampatkannya sama sekali. Sementara
itu pertempuran antara Yang Mulia Panembahan Wukir Gading melawan
Kiai Kanthi menjadi semakin dahsyat. Ternyata bahwa Kiai Kanthi yang
tua, yang menyepi di atas bukit dan seolah-olah tidak lagi mempunyai
kepentingan apapun dengan keduniawian ini, mampu bertempur dengan
lambaran ilmu yang dahsyat. Jlitheng yang terpesona itupun tersadar,
ketika Pangeran yang terluka itu berkata “Usahakanlah. Anak muda
yang bernama Daruwerdi itu jangan lepas. Aku hanya ingin berbicara
tentang diriku” Jlitheng kemudian bangkit. Sambil melangkah ia
berkata “Aku akan berusaha Pangeran” Sejenak Jlitheng memandangi
arena. Pertempuran benar- benar- hampir selesai. Orang-orang Sanggar
Gading dan Kendali Putih telah hampir habis. Selain yang terbunuh
dan terluka, sebagian diantara mereka berusaha menyelamatkan
dirinya. Dengan ragu-ragu Jlitheng kemudian melintasi arena,
mendekati Daruwerdi yang sedang bertempur. Nampaknya lapun telah
sampai pada tahap terakhir dari serangan- serangannya yang
mematikan. Akhirnya, Daruwerdi itu menarik nafas dalam-dalam.
Lawannya yang tidak mampu lagi bertahan iebih lama lagi, akhirnya
harus terbaring diam dengan dada terkoyak. Sementara beberapa
langkah daripadanya Swasti berdiri tegak dengan senjata di tangan.
Ternyata lawannya yang terakhirpun telah dilumpuhkannya. Jlitheng
tiba-tiba saja menjadi gelisah. Ia menjadi tegang ketika ia melihat
kedua orang paman Daruwerdi datang mendekati anak muda itu sambil
berkata “Kau sudah bermain api. Sekarang, kau mendapat kesempatan
untuk memberikan penjelasan atas sikapmu kepada Pangeran Sena
Wasesa” Daruwerdi menjadi tegang. Ia memandang Pangeran yang duduk
diam untuk memulihkan kemampuan dan kekuatannya, serta untuk
menyembuhkan luka-lukanya agar darahnya benar-benar menjadi pampat.
Sejenak kemudian ia berpaling kearah Yang Mulia yang bertempur
melawan Kiai Kanthi. Betapa dahsyatnya pertempuran itu, namun
kemudian mulai nampak, bahwa Yang Mulia yang timpang itu telah
terdesak. Jika semula, keadaan kakinya yang cacat itu hampir tidak
nampak pengaruhnya, namun ketika ia mendapat lawan yang seimbang,
bahkan kemudian mulai terdesak, kesulitan pada kakinya itu mulai
nampak. “Paman” tiba-tiba Daruwerdi berdesis “Aku menganggap bahwa
persoalanku sudah selesai. Pangeran itu ternyata tidak sedang sakit,
sehingga ia akan dapat berbuat sesuatu atasku justru karena akulah
yang telah menyebabkan ia diseret ke tempat ini” “Apa maksudmu?“
bertanya pamannya. “Aku akan meninggalkan tempat ini. Meninggalkan
Pangeran itu sebelum ia sempat berbuat sesuatu atasku. Selagi ia
masih sibuk dengan pengaturan diri untuk melawan kesulitan dalam
dirinya. Jika ia nanti berhamil, maka akan ada kemungkinan ialah
yang justru akan menangkapku” berkata Daruwerdi. “Semuanya akan kita
selesaikan dengan sebaik-baiknya” berkata salah seorang pamannya.
Tetapi Daruwerdi menggeleng”Aku akan kembali. Kita harus membawa
ibunda meninggalkan tempat ini secepatnya” Kedua pamannya nampaknya
tidak setuju dengan sikap anak muda itu. Tetapi mereka lebih banyak
menuruti niatnya. Karena itu, salah seorang berkata “Terserah saja
kepadamu. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia
berpaling kearah Swasti. Sejenak ia memandangi gadis yang berdiri
termangu-mangu itu. “Swasti” tiba-tiba saja Daruwerdi berkata dalam
nada rendah “Aku terpaksa meninggalkan tempat ini. Tetapi pada suatu
saat, aku akan kembali untuk mengucapkan terima kasih kepadamu, dan
kepada ayahmu yang sebentar lagi tentu akan berhasil mengalahkan
lawannya“ Swasti tidak menjawab. Tetapi ia menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Namun justru dalam kediamaannya itu, seolah- olah
sebuah getar yang halus telah menyentuh dada Daruwerdi. “Aku
terpaksa melakukannya” berkata Daruwerdi kemudian. Lalu katanya
kepada kedua pamannya “Kita terpaksa meninggalkan tempat ini paman”
Kedua pamannya menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka t idak
menjawab. Tetapi ketika Daruwerdi maju selangkah, maka tiba-tiba
baja Jlitheng maju mendekatinya sambil berkata “Tunggu Daruwerdi.
Persoalan yang kita hadapi masih belum selesai” “Persoalan apa?“
bertanya Daruwerdi yang menjadi tegang. “Kaulah yang melahirkan
peristiwa yang paling menger ikan yang pernah aku lihat sampai saat
ini. Pategalan itu sudah basah oleh darah. Dan sekarang puncak bukit
kecil ini” Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Dipandanginya Jlitheng
yang berdiri tegak dihadapannya. Dengan nada berat Daruwerdi itupun
kemudian berkata “Jlitheng, kau jangan ikut campur dalam
persoalanku. Urusi saja kawan-kawanmu, anak anak muda Lumban Wetan
dan Kulon. Apakah kau kira persoalan air itu dapat kau anggap
selesai? Nampaknya kau memang lebih pantas mengurusi air itu dari
pada ikut campur dalam persoalan ini” “Aku sudah melibatkan dir i
dalam persoalan ini” jawab Jlitheng “Aku membawa kawan-kawan kita
dari Lumban karena kami merasa cemas melihat nasibmu yang mungkin
akan menjadi sangat buruk. Tetapi itu telah lampau. Kau sudah bebas
dari kemungkinan itu. Kau sudah lepas dari tangan Yang Mulia yang
nampaknya akan dapat dikalahkan oleh Kiai Kanthi” “Nah, jika
demikian aku mengucapkan terima kasih. Tugas kalian telah selesai.
Aku sudah bebas, dan karena itu aku akan meninggalkan tempat ini”
jawab Daruwerdi. “Masih ada satu persoalan yang harus kau
selesaikan” berkata Jlitheng “seperti yang dikatakan oleh pamanmu.
Kau harus bertemu dengan Pangeran Sena Wasesa. Kau harus
menjelaskan, kenapa kau minta agar Pangeran yang semula sedang sakit
itu harus dibawa kemar i” “Aku tidak mempunyai persoalan lagi dengan
Pangeran itu” jawab Daruwerdi. Lalu “Sudahlah. Jangan halangi aku
agar tidak akan terjadi salah paham diantara kita” “Aku memang ingin
menghalangimu” jawab Jlitheng “Kau tidak akan dapat begitu saja
melepaskan tanggung jawabmu terhadap Pangeran Sena Wasesa. Setelah
kau paksa orang- orang Sanggar Gading membawanya kemari dengan akal
licikmu, kini kau akan neninggalkannya begitu saja” “Jlitheng” geram
Daruwerdi “Aku berterima kasih bahwa anak-anak muda Lumban Wetan dan
Kulon telah membantu menyelamatkan aku dari tangan Yang Mulia.
Tetapi jika kau menghalangi kepergianku sekarang, aku akan
menyingkirkanmu, mumpung Pangeran itu masih pada usahanya memulihkan
dirinya” “Daruwerdi” jawab Jlitheng “Aku sudah bertekad demikian.
Karena itu, jangan memaksa aku bertindak lebih keras” “Gila“ geram
Daruwerdi “minggir, atau kau akan menyesal” “Aku tetap mencegahmu.
Berbeda dengan pamanmu yang masih memikirkan banyak segi dalam
hubungan kekeluargaan. Tetapi pikirannya yang sehat akan berbicara
seperti yang aku katakan kepadamu” sahut Jlitheng. Daruwerdi menjadi
marah. Tiba-tiba saja ia telah mengacukan pedangnya sambil berkata
“Minggir kau Jlitheng” Jlitheng tidak beranjak dari tempatnya. Namun
dalam pada itu Swasti yang memperhatikan persoalan itu dengan
tegang, tiba-tiba saja telah melangkah maju sambil berkata “Kau
selalu mencampur i urusan orang lain Jlitheng. Pergi, atau akupun
akan ikut campur. Aku tahu bahwa kau tidak akan dapat mengalahkan
aku meskipun aku juga tidak yakin akan dapat mengalahkanmu” Jlitheng
mengerutkan keningnya. Jantungnya menjadi semakin berdebar-debar. Ia
tidak dapat mengerti, kenapa Swasti merasa perlu untuk mencampur i
persoalannya dengan Daruwerdi. Namun sekilas terbayang di kepalanya,
bagaimana kedua anak muda itu saling berpandangan setelah mereka
merasa saling menolong dalam pertempuran yang baru saja terjadi.
Dengan demikian, justru jantung Jlitheng merasa semakin panas.
Kemudaannya mulai ikut berbicara. Sudah lama ia berhubungan dengan
Kiai Kanthi, dan sudah lama pula ia mengenal gadis yang keras hati
itu. Namun ternyata bahwa gadis itu lebih memperhatikan Daruwerdi
dar ipada dir inya. “Persetan“ geram Jlitheng di dalam hatinya “Aku
akan menjalankan tugasku sebaik-baiknya seperti yang dikehendaki
oleh Pangeran Sena Wasesa” Karena itu, maka Jlithengpun kemudian
menjawab dengan geram “Swasti. Sebenarnya aku tidak ingin berselisih
dengan kau. Aku menganggap Kiai Kanthi sebagai orang tuaku sendiri.
Tetapi aku tidak mengerti kenapa kau t iba-tiba telah berpihak”
Pertanyaan itu membuat Swasti menjadi bingung. Iapun telah
dihinggapi oleh pertanyaan yang serupa. Kenapa tiba- tiba saja ia
sudah berpihak. Justru kepada Daruwerdi yang jarang berkunjung ke
gubugnya dan bahkan hampir tidak mengenal siapakah sebenarnya
mereka. Namun untuk menjawab pertanyaan Jlitheng, Swasti berkata
sebagaimana terlontar saja dari bibirnya “Daruwerdi telah menolong
kami disaat kami datang ke tempat ini dari terkaman seekor harimau
yang garang. Sehingga dengan demikian ia telah menyelamatkan nyawa
kami” Jlitheng justru tertaya. Katanya “Cengkerikpun akan tertawa
mendengar jawabanmu. Kau kira aku tidak mengerti apa yang terjadi?
Aku melihat permainan yang lucu itu. Tetapi pada saat itu aku telah
melihat kemampuan kalian berdua. Aku melihat bagaimana kanan berdua
pura-pura ketakutan. Namun kalian tidak dapat menipu aku” “Omong
kolong” teriak Swasti yang menjadi semakin bingung “Tetapi aku tidak
peduli. Aku melihat kau bertindak licik dan curang disini. Aku
merasa berkewajiban untuk mencegah kecurangan itu” “Swasti“ suara
Jlitheng menjadi bergetar “Aku pernah menjajagi kemampuanmu. Tetapi
aku tidak gentar seandainya aku harus bertempur melawan kau berdua.
Di tanganku tergenggam pedang tipis ini yang akan dapat memberikan
kekuatan kepadaku. Marilah, aku tidak akan menghindar dari akibat
apapun juga. Meskipun hal ini bukan berarti bahwa aku tidak tahu dir
i. Aku hormat dan berterima kasih kepada Kiai Kanthi. Tetapi sama
sekali tidak kepadamu” Swasti yang keras hati itu bergeser maju
selangkah. Ia kkii berdiri disebelah Daruwerdi. Sementara itu
Jlitheng berdiri seorang diri menghadapi keduanya. “Itu tidak adil“
terdengar suara disebelah mereka. Yang berdiri tegak adalah Rahu
dengan senjatanya yang merah oleh darah. Jlitheng memandang Rahu
dengan tegangnya. Kemudian dengan suara bergelar ia bertanya “Kau
sudah bebas?” “Aku terpaksa melakukannya?“ desis Rahu. “Apa yang kau
lakukan?“ bertanya Jlitheng. Rahu termenung sejenak. Masih
terbayang, bagaimana ia menguhunjamkan pedangnya ketubuh orang
terpenting di padepokan Sanggar Gading. Sanggit Raina. Masih
terngiang ditelinganya, bagaimana Sanggit Raina mengumpatinya.
Dengan.penuh dendam dan seolah-olah tidak percaya, bahwa Rahu telah
dapat mengalahkannya. “Aku telah membunuh Sanggit Raina” desis Rahu.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, betapa jantung Rahu
tergetar oleh sikapnya itu. Untuk beberapa lama ia berada di
padepokan Sanggar Gading justru sebagai kepercayaan Cempaka dan
Sanggit Raina Namun yang pada suatu saat, la harus berhadapan dan
membunuhnya. “Tetapi Cempaka tidak mati” desis Rahu “Anak itu dapat
dilumpuhkan. Kini ia sedang diikat pada sebatang pohon” Jlitheng
mengangguk-angguk. Sementara Rahupun berkata “Kita harus berusaha
untuk menangkap orang-orang seperti Cempaka itu hidup-hidup. Tetapi
aku tidak berhasil melakukannya atas Sanggit Raina. karena aku
sendirilah yang hampir mati dibunuhnya” Rahu berhenti sejenak, lalu
“demikian pula orang seperti Daruwerdi. Ia harus ditangkap
hidup-hidup. Ia sudah membuat permainan yang sangat memuakkan,
sehingga Pangeran Sena Wasesa yang sedang sakit itu harus dibawa
kemari” “Apa pedulimu” geram Daruwerdi. “Kau sama sekali tidak
berperikemanusiaan” geram Rahu “masalahnya bukan saja Pangeran Sena
Wasesa. Untunglah bahwa aku dan Jlitheng masih sempat menyelamatkan
anak perempuan Pangeran itu. Ia masih gadis seperti Swasti. Tetapi
hampir saja ia jatuh ke tangan orang-orang Sanggar Gading yang gila.
Kau, lebih-lebih Swasti, akan dapat membayangkan, apa yang akan
terjadi. Malapetaka yang tidak ada taranya bagi seorang gadis yang
jatuh ke tangan orang-orang liar seperti orang-orang Sanggar Gading”
Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Ia memang t idak membayangkan sama
sekali aakibat-akibat lain yang dapat terjadi. Ia hanya ingin
Pangeran itu jatuh ke tangannya. “Nah, kau dapat membayangkan
sekarang” berkata Rahu “gadis itu siang dan malam meratapi nasibnya.
Ia sudah tidak beribu, sementara ayahnya telah dibawa oleh
sekelompok orang-orang yang paling liar yang pernah di lihatnya.
Belum lagi air matanya susut, telah datang orang-orang liar itu
untuk merampas dir inya sendiri. Dan untuk waktu yang lama ia tidak
mendengar kabar berita tentang ayahnya, yang dibawa oleh para
perampok dalam keadaan sakit” Wajah Daruwerdi menjadi semakin
tegang. Namun dengan demikian ia menjadi semakin cemas, bahwa ia
akan mengalami nasib yang buruk pula. Karena itu maka Katanya
“Semuanya sudah lewat. Sekarang aku akan pergi. Jangan halangi aku.
Aku tidak berbuat apa-apa atas Pangeran itu. Aku tidak menyakit
inya. Aku tidak melukainya. Dan sekarang, aku tidak memerlukan lagi”
“Jadi kau tidak berani mempertanggung jawabkan tingkah lakumu yang
gila itu sehingga akibatnya dapat kau lihat di puncak bukit ini dan
di pategalan itu?“ bertanya Rahu. Namun Daruwerdi menganggap bahwa
kesempatannya akan lebih baik untuk menentukan langkah sebelum
Pangeran itu bangkit dan datang kepadanya untuk menangkapnya. Karena
itu, maka katanya kemudian “ Sekali lagi aku peringatkan, minggir
atau aku akan bersikap lain” “Kau memang harus bersikap lain” sahut
Rahu “Kau harus tetap berada di bukit ini. Kau memang harus diadili”
“Persetan“ Daruwerdi menggeram. Jlitheng yang memang sudah siap
untuk menghadapinya itupun telah bersiap pula. Namun dalam pada itu,
Swastipuni telah mengangkat senjatanya sambil berdesis “Aku tetap
pada pendirianku” Rahu memandang gadis itu sambil berkata “Kau sudah
terbius oleh sesuatu yang tidak kau mengerti” “Aku tetap sadar“
geramSwasti. “Baiklah. Jika kau berkeras untuk menolong Daruwerdi
yang telah melakukan satu kesalahan yang besar, maka kaupun akan
tersangkut pula. Kau termasuk orang yang telah melakukan kesalahan
seperti yang dilakukannya” jawab Rahu. Namun kemudian sambil
memandang Kiai Kanthi yang nampaknya semakin mendesak lawannya ia
berkata “Aku hormati Kiai Kanthi yang telah mengambil sikap yang
sangat menguntungkan bagi kami. Tetapi seperti apa yang dikatakan
Jlitheng, kau tidak pantas untuk dihormati meskipun kau seorang
gadis” Swasti menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja ia telah
menyerang Rahu dengan garangnya. Namun Rahu sudah menduga. Karena
itu. maka iapun segera mengelak. Katanya “Senjataku sudah bernoda
darah” “Aku juga telah membunuh lawan-lawanku” geram Swasti. “Bagus”
sahut Rahu “Aku akan mempertanggung jawabkan sikapku ini dihadapan
Kiai Kanthi” Seasli tidak menjawab lagi. Iapun telah menyerang Rahu
semakin garang, sementara Jlitheng yang berdiri berhadapan dengan
Daruwerdipun telah melangkah maju sambil berkata “Aku harap
paman-pamanmu tidak menghalangiku, karena sebenarnyalah merekapun
menganggap sikapmu salah” “Tetapi kami mempunyai pertimbangan lain”
berkata salah seorang paman Daruwerdi “Kami harus membawa anak itu
kepada ibunya. Setelah ia menghadap ibunya, terserah apa yang akan
terjadi” “Jangan begitu” jawab Jlitheng “kalian sudah mengetahui apa
yang terjadi disini. Sebaiknya kalian membantu kami, member i
petunjuk kepada anak ini” oooOooo-
Jilid 17 “MAAF Ki Sanak” jawab salah seorang dari kedua orang
paman Daruwerdi “Aku mempunyai ikatan lain yang lebih akrab dengan
anak ini. Karena itu, aku terpaksa mohon untuknya, agar kalian
melepaskannya” “Persetan“ geram Jlitheng “Aku akan menangkapnya”
Kedua paman Daruwerdipun Kemudian mendekat. Namun betapa mereka
dicengkam oleh keragu-raguan. Sementara itu, ketegangan itu lelah
dipecahkan oleh teriakan Yang Mulia yang mengumpat dengan kasar.
Sehingga serangan Swastipun telah tertahan. Ternyata Kiai Kanthi
benar-benar telah mendesaknya dan bahkan orang-orang yang ada di
alas bukit itupun terkejut ketika mereka melihat Yang Mulia itu
terbatuk kecil. Namun dari bibirnya telah terpercik darah menandai
luka di dalamdadanya. “Kau akan mati dengan penuh penyesalan” teriak
Yang Mulia. Kiai Kanthi justru mundur selangkah. Yang Mulia yang
meloncat menyerangnya telah kehilangan sasaran. Sejenak ia
terhuyung-huyung. Namun kemudian keseimbangannya seolah-olah telah
hilang. Saat itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Kiai Kanthi.
Bagaikan angin prahara ia menyerang lawannya. Demikian dahsyatnya,
sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Yang Mulia untuk melawan,
mengelak dan menangkisnya. Ketika terdengar desah dari mulutnya yang
sekali lagi memercikkan darah, maka Yang Mulia itu telah terlempar
dan terbanting jatuh di tanah. Kiai Kanthi berdir i termangu-mangu.
Ternyata Yang Mulia telah menjadi sangat lemah. Ketika ia berusaha
untuk bangkit, maka iapun telah terjatuh lagi. Bahkan kemudian orang
yang memiliki ilmu yang tiada taranya itu telah kehilangan
kesadarannya. Pingsan. Dalam pada itu, Kiai Kanthi yang sedang
memperhatikan keadaan Yang Mulia itu berpaling ketika lengannya
digamit oleh seseorang. Pangeran Sena Wasesa. “Kau sudah berhasil
menyelesaikan tugasmu yang amat berat” berkata Pangeran Sena Wasesa.
“Pangeran juga” desis Kiai Kanthi. “Tetapi masih ada persoalan
dengan anak muda itu. Apakah kau menaruh perhatian juga kepada
masalah ini?“ bertanya Pangeran. “Anak perempuanku telah terlibat
terlalu jauh” berkata Kiai Kanthi “Sebenarnya aku sendiri tidak
mempunyai sangkut paut” “Kita tidak dapat melepaskan segala tanggung
jawab“ desis Pangeran itu “ sebaiknya kita yang tua-tua inilah yang
harus berbuat sesuatu, agar yang mudamuda itu tidak saling
bertengkar” “Aku tidak mempunyai kepentingan apapun Pangeran,
kecuali mengambil anak gadisku” jawab Kiai Kanthi. Pangeran Sena
Wasesa tersenyum. Katanya “Aku mengenal landasan ilmumu. Dan akupun
yakin kau mengenali juga landasan ilmuku, betapapun kita
masing-masing mengembangkan diri” Kiai Kanthi menarik nafas
dalam-dalam Tetapi ia tidak membantah. Sementara itu Daruwerdi telah
benar-benar menjadi gelisah. Pangeran itu telah berhasil mengatasi
kesulitan di dalam dirinya. Jika ia mendendamnya, maka keadaannya
akan menjadi sangat sulit. Namun setelah Kiai Kanthi menyelesaikan
pertempuran itu, timbullah harapan di dalam hatinya. Gadis yang
tangkas, anak Kiai Kanthi itu berdiri dipihaknya. Jika Kiai Kanthi
itu juga berdiri dipihaknya, maka Pangeran Sena Wasesa harus membuat
perhitungan tertentu untuk mendedamnya. Sementara itu, Pangeran Sena
Wasesa dan Kiai Kanthi mulai memperhatikan anak-anak muda yang sudah
saling berhadapan. Ketika mereka mulai melangkah, maka Pangeran
itupun berkata kepada tabib yang merawatnya selama itu “Yang Mulia
itu masih belum mati. Lihatlah, mungkin kau sempat menyelamatkan
nyawanya” Tabib itu mengangguk. Sementara ia berjongkok disebelah
Yang Mulia itu, maka kedua orang tua itupun telah berjalan mendekati
Daruwerdi dan sudah berhadapan dengan Jlitheng, sementara Swasti
sudah melawan Rahu. Sedangkan kedua paman Daruwerdipun telah berdir
i tegak betapapun mereka masih ragu. “Anak itu telah menghalangi
aku, Kiai Kanthi” berkata Daruwerdi. “Ia sumber dari segala
peristiwa yang mengerikan ini” sahut Jlitheng “Ia adalah orang yang
telah memaksa dengan caranya yang licik, agar orang-orang Sanggar
Gading menangkap Pangeran Sena Wasesa dan membawanya ke Daerah
Sepasang Bukit Mati ini” Salah orang-orang Sanggar Gading yang
tamak, teriak Daruwerdi. “Sudahlah” potong Pangeran Sena Wasesa
dengan sareh. Di wajahnya sama sekali tidak membayang perasaan
dendam dan kebencian kepada Daruwerdi, meskipun anak itu telah
sampai hati mengambilnya lewat tangan orang-orang Sanggar Gading
tanpa belas kasihan ”Kita akan berbicara dengan baik” “Aku tidak
mempunyai kepentingan apa-apa lagi” sahut Daruwerdi. “Kau memang t
idak mempunyai kepentingan lagi” jawab Pangeran itu “Tetapi biarlah
persoalan ini tidak kita biarkan menjadi gelap. Tentu ada persoalan
yang menyangkut hubungan kita meskipun aku t idak dapat mengenalmu”
“Tidak ada persoalan apa-apa” jawab Daruwerdi, sekarang aku akan
pergi” “Jangan memaksa” geram Jlitheng. “Jangan ikut campur“ Swasti
yang masih berdiri berhadapan dengan Rahu itulah yang membentak.
Namun ternyata yang dilakukan oleh Kiai Kanthi sama sekali bukan
yang diharapkan oleh Daruwerdi. Orang tua itu telah mendekati anak
gadisnya sambil berkata “Swasti. Sebaiknya kaulah yang tidak ikut
campur” “Apakah yang ayah maksud? Apakah ayah mengajari aku untuk
tidak mengenal terima kasih kepada anak muda ini? Bukankah anak muda
ini telah berusaha menolong kita dari garangnya seekor harimau yang
besar pada saat kita datang?” Swasti hampir berteriak. “Sebuah
lelucon yang t idak nalar” potong Jlitheng. “Tetapi, seandainya kita
benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa, bukankah niatnya untuk
menolong kita itu harus dihargai? Sementara orang lain yang katanya
juga melihat hal itu, dan memiliki kemampuan, tidak berbuat
sesuatu?“ bantah Swasti. Kiai Kanthi memandang anaknya sejenak.
Namun kemudian iapun menjawab “Swasti. Kita berterima kasih, bahwa
angger Daruwerdi sudah berniat untuk menolong kita. Kitapun sudah
berniat untuk membebaskannya dari tangan Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading itu. Dan nampaknya kita berhasil. Jika kita tidak berbuat
sesuatu, maka angger Daruwerdi tentu sudah menjadi mayat disini.
Namun persoalan selanjutnya, bukannya persoalan kita. Angger
Daruwerdi mempunyai hubungan yang khusus dengan Pangeran yang
dimintanya dari siapapun juga yang dapat menyerahkannya, dengan
imbalan pusaka yang dinyatakan palsu oleh Yang Mulia itu” “Tetapi
orang-orang lain yang tidak berkepentingan itupun ikut campur juga”
bentak Swasti. “Kita t idak usah memikirkan orang lain. Marilah kita
pikirkan diri kita sendiri. Kita sudah mendapatkan sebuah gubug yang
sebentar lagi akan kita perbaiki. Sementara kita sudah mendapat
tanah garapan yang akan dapat menghasilkan pangan. Air sudah kita
kuasai dan berguna bagi tanah bukan saja tanah kita sendiri, tetapi
juga bagi Lumban. Nah, apakah yang kurang? Anak-anak muda Lumban
berbuat itu semua bagi kita. Apakah nilainya masih belum memadai
dengan pertolongan yang diberikan oleh angger Daruwerdi? Aku tidak
mengecilkan arti pertolongannya, dan bukan berarti aku tidak
berterima kasih. Tetapi kita harus berterima kasih kepada segala
pihak yang telah menolong kita” Wajah Swasti menjadi semakin tegang.
Sementara itu ayahnya berkata “Biarlah dengan demikian angger
Daruwerdi menyelesaikan persoalannya dengan Pangeran Sena Wasesa.
Dan biarlah orang-orang yang berkepentingan karena tugas mereka ikut
terlibat dalampersoalan ini” “Aku tidak mempunyai persoalan apapun
juga“ Daruwerdi itu berteriak. “Angger harus bertanggung jawab”
berkata Kiai Kanthi kemudian kepada Daruwerdi “Angger tidak dapat
begitu saja melepaskan tanggung jawab angger justru setelah Pangeran
Sena Wasesa itu berada disini” “Daruwerdi” berkata Pangeran Sena
Wasesa “anggaplah aku telah dapat mengganti kedudukan orang-orang
Sanggar Gading. Aku telah datang menyerahkan diriku sendiri. Nah,
apakah yang akan kau perlakukan terhadapku. Aku tidak berkeberatan
untuk mendengar niatmu yang sebenarnya dengan membawa aku kemar i”
Daruwerdi tidak segera dapat menjawab. Namun sementara itu, salah
seorang paman Daruwerdi itu berkata “Pangeran. Sebenarnya aku juga
tidak tahu pasti, apa yang dikehendaki oleh Daruwerdi. Tetapi
persoalan ini tidak akan dapat dipecahkan begitu saja. Aku tidak
tahu, apakah Daruwerdi sependapat atau tidak, biar lah aku member
itahukan kepada Pangeran, bahwa ibunya ada di Lumban pula” “Paman“
potong Daruwerdi “Kau jangan menyangkut orang lain lagi” “Berhadapan
dengan Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi kita tidak akan dapat
berbuat banyak, selain mengatakan apa yang sebenarnya. Daruwerdi.
Marilah, kita menghadap ibumu. Setelah itu, kau dapat menyelesaikan
segala persoalan ini. Dengan demikian maka ibumupun akan mengetahui,
apa yang telah terjadi sebenarnya” ”Tetapi ibu tidak turut campur
tentang persoalan ini. Bahkan ibupun tidak mengetahui apa yang telah
aku lakukan“ berkata Daruwerdi. Ternyata Pangeran Sena Wasesalah
yang telah menyahut “Aku sependapat Ki Sanak. Aku bersedia menemui
ibu Daruwerdi jika ia memang ada disini. Apalagi aku mendengar,
bahwa Daruwerdi telah mendendamku, karena aku telah membunuh
ayahnya” “Aku tidak mempunyai persoalan apapun dengan Pangeran”
jawab Daruwerdi. “Daruwerdi. Kau sebelumnya belum mengenal aku. Atau
katakanlah jika kau sudah mengenal aku, tentu sudah selang waktu
yang panjang, sehingga akupun telah melupakan, bahwa aku pernah
bertemu dengan kau sebelumnya. Kau mengenal aku karena ciri-ciri
yang kau kenali pada diriku. Hal itu menunjukkan kepadaku, bahwa
tentu ada orang lain yang ikut terlibat ke dalam persoalan ini.
Setidak-tidaknya orang yang telah memberikan petunjuk tentang
ciri-ciri yang terdapat pada tubuhku” berkata Pangeran Sena Wasesa
kemudian. Lalu “Aku tidak berprasangka bahwa petunjuk itu kau dapat
dari ibumu. Tetapi bahwa alasan yang kau pakai adalah karena aku
pernah membunuh ayahmu, maka hal ini akan sangat menarik bagiku”
“Itu tidak benar. Aku hanya mengatakan saja hal itu tanpa maksud
apa-apa” bantah Daruwerdi. “Tentu kau mempunyai maksud tertentu.
Jika tidak, kau tidak akan berada di daerah Sepasang Bukit Mati ini
untuk waktu yang lama, sambil menunggu pada suatu saat akan ada
seseorang, atau sekelompok orang yang akan membawa Pangeran Sena
Wasesa datang ke tempat ini. Sementara kau sudah siap menyediakan
sebuah peti yang kau sebut berisi pusaka yang sedang dicari orang
selama ini, namun yang menurut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading
adalah palsu” jawab Pangeran Sana Wasesa. “Sudahlah Daruwerdi”
berkata pamannya kemudian, apapun yang harus kau hadapi dalam
penyelesaian ini, sebaiknya kau lakukan. Semuanya akan berjalan
dengan baik sesuai dengan martabat kemanusiaan kita. Tentu akan
berbeda dengan cara yang ditempuh oleh Yang Mulia Panembahan Wukir
Gading, atau oleh Eyang Rangga dari Kendali Putih itu, atau bahkan
oleh pihak lain” “Ya” desis Rahu “Aku yakin bahwa dalam waktu dekat,
orang-orang Pusparuri juga akan datang. Mereka tentu akan segera
mendengar apa yang terjadi disini” “Marilah“ ajak salah seorang
pamannya “Jangan membuang waktu lagi. Semuanya akan kau lakukan
seperti itu. Tidak ada jalan lain. Kau sudah memulainya Daruwerdi”
Daruwerdi memandang berkeliling. Anak-anak Lumban yang telah selesai
dengan tugas masing-masing telah berkumpul pula di puncak bukit itu.
Sementara beberapa orang diantara mereka telah terluka pula.
Sementara itu, kawan Semi yang telah mendahului berada di Lumban
itupun telah menolong anak-anak muda Lumban yang terluka. Ternyata
bahwa iapun membawa obat yang dapat untuk mengatasi luka- luka
karena senjata. Daruwerdi menjadi semakin tegang. Paman-pamannya
ternyata telah menganjurkan kepadanya, agar ia mempertanggung
jawabkan perbuatannya. Justru karena ibunya ada di Lumban, maka
pamannya telah berusaha agar ia datang kepada ibunya bersama orang
yang selama ini dimintanya untuk ditukar dengan pusaka yang ternyata
menurut Yang Mulia adalah palsu. Akhirnya Daruwerdi tidak dapat
ingkar lagi. Betapapun jantungnya bergejolak. Bahkan ia menyesal
kenapa ibunya dan pamannya telah datang pula ke Lumban. Namun dalam
pada itu, iapun tidak dapat mengingkari kenyataan, tanpa arang-orang
yang sekarang seakan-akan mengepungnya itu, dan sekaligus menuntut
pertanggungan jawab, maka ia tentu sudah menjadi sasaran kemarahan
orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih. Meskipun
demikian, jika terpandang olehnya Pangeran Sena Wasesa, maka
jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Bagaimanapun juga Pangeran
itu tentu merasa bahwa ia telah menjadi permainan Daruwerdi.
Daruwerdipun sadar, bahwa kehadiran orang-orang Kendali Puluh di
Daerah Sepasang Bukit Mati itupun telah ikut menentukan akhir dari
persoalannya dengan Yang Mulia. Jika orang-orang Kendali Putih tidak
datang pada saat itu dan tidak terjadi peristiwa yang mengerikan di
pategalan, maka apakah mungkin orang-orang Sanggar Gading itu dapat
dikalahkan hanya oleh anak-anak Lumban meskipun diantara mereka
terdapat orang-orang berilmu. Namun karena jumlah orang- orang
Sanggar Gading dan Kendali Putih sudah susut terlalu banyak, maka
akhirnya mereka tidak lagi cukup kuat untuk mempertahankan diri.
Tetapi Daruwerdipun tidak dapat memejamkan matanya terhadap
kenyataan. Kehadiran Kiai Kanthi dan Pangeran yang menjadi
tuntutannya itupun menentukan pula, karena keduanya telah berdiri
berhadapan dengan dua orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi
dari Sanggar Gading dan dari Kendali Putih. Dengan demikian, maka
akhirnya Daruwerdipun berkata “Aku tidak mempunyai pilihan lain.
Tetapi jika kedua pamanku tidak mendesakku untuk menghadap ibuku
sambil mempertanggung jawabkan rencanaku, maka aku akan tetap
bertahan disini, meskipun aku akan mengalami akibat yang
bagaimanapun juga. Yang harus mempertanggung jawabkan perbuatanku
adalah aku sendiri. Bukan ibuku. Dan bukan pula orang lain” “Kau
benar Daruwerdi” sahut Pangeran Sena Wasesa “Tetapi tentu dapat
ditelusur pula hubungannya dengan ibumu. Jika aku benar pernah
membunuh ayahmu, maka, sudah sewajarnya akulah yang harus
mempertanggung jawabkannya terhadap ibumu. Mungkin aku harus minta
maaf, atau barangkali justru dengan tebusan yang lain, atau bahlkan
satu tuntutan atasku, sebagaimana kau lakukan deingan caramu
sendiri?” Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Namun ia tidak dapat
mengelak lagi. Ia memang pernah mengatakan, bahwa Pangeran Sena
Wasesa harus diserahkan kepadanya,, karena Pangeran itu telah pernah
membunuh ayahnya. Dan kini Pangeran Sena Wasesa mendesaknya untuk
bertemu dengan ibunya. Debar jantungnya serasa menjadi semakin
cepat. Ibunya agaknya sudah mengenal Pangeran Sena Wasesa. Karena
itu, maka terasa betapa kakinya menjadi sangat berat. Namun ia tidak
mempunyai pilihan lain. Dalam pada itu, Pangeran Sana Wasesa, Kiai
Kanthi, Jlitheng, Rahu dan Semi telah bersiap untuk pergi mengikuti
Daruwerdi bersama kedua orang pamannya. Namun dalam pada itu, Kiai
Kanthi masih harus membujuk anak gadisnya yang masih berdir i tegak
di tempatnya. ”Marilah Swasti “ ajak Kiai Kanthi “Kita pergi ke
Lumban Kulon” “Buat apa?“ bertanya gadis itu. “Kita sebaiknya
mengetahui perkembangan keadaan ini” jawab ayahnya. “Tetapi bukankah
itu sama sekali bukan kewajiban kita?“ bertanya Swasti. Ayahnya
tersenyum. Katanya “Kita memang tidak berkewajiban mengusut
persoalan ini. Tetapi kitapun boleh mengetahui perkembangan dari
keadaan ini, justru karena kita tinggal di bukit ini” Swasti tidak
menjawab. Tetapi iapun kemudian mengikuti ayahnya meskipun ia tidak
berminat sama sekali. Bahkan rasa- rasanya ia tidak rela melihat
perlakukan orang-orang itu terhadap Daruwerdi, termasuk kedua orang
pamannya sendir i. Tetapi iapun tidak dapat mencegahnya. Ayahnya
justru telah berbuat sebagaimana dilakukan oleh orang-orang lain
itu. Dalam, pada itu, Rahu telah menyerahkan perawatan orang-orang
yang terluka kepada kawan Semi dan anak-anak Lumban sendir i. Bahkan
mereka juga berkewajiban untuk menyelenggarakan mayat yang tersebar
di puncak bukit itu. Selain kawan Semi itu, tabib yang semula berada
diantara orang-orang Sanggar Gading itupun masih juga menunggui Yang
Mulia yang pingsan, sementara Cempaka masih juga terikat pada
sebatang pohon di bukit itu. “Aku dan Jlitheng akan kembali” berkata
Rahu kepada kawan Semi. Kawan Semi itupun mengangguk Ia tahu bahwa
Rahu sangat berkepentingan dengan Pangeran Sena Wasesa. Sepeninggal
Daruwerdi dan orang-orang yang mengikut inya, maka kawan Semi itupun
mendekati tabib yang menunggui Yang Mulia Panembahan Wukir Gading.
Ternyata bahwa orang itu masih hidup. Namun tabib itu berkata “Jika
ia sembuh, maka ia t idak akan mungkin mendapatkan ilmunya utuh
seperti semula” “Kenapa?“ bertanya kawan Semi itu. “Bagaimanapun
juga, manusia dibatasi oleh kelemahannya. Ada bagian tubuhnya di
dalam yang cacat” berkata tabib itu. Kawan Semi itupun
mengangguk-angguk. Ternyata bahwa hukuman dari Yang Maha Adil telah
datang lebih dahulu daripada hukuman yang mungkin akan dijatuhkan
oleh Demak. Sambil bangkit ia berkata “Agaknya itu akan lebih baik.
Ia tidak akan melakukan kejahatan lagi seperti yang pernah
dilakukannya. Jika ia masih memiliki kemampuan dan ilmunya, meskipun
seandainya di Demak ada prajurit linuwih yang dapat mengawasinya,
maka jika sampai saatnya ia bebas, maka ia tetap merupakan seorang
yang berbahaya. Kecuali jika ia dihukum mati” “Hukuman mati tidak
per lu lagi baginya. Ia akan menjadi seorang yang jinak dan tidak
berbahaya” desis tabib itu. Kawan Semi itupun mengangguk-angguk
pula. Namun kemudian iapun pergi bersama, anak-anak muda Lumban yang
tidak terluka untuk, mengurus mayat yang berserakan. Dengan tekun
mereka mencar i diantara semak-semak dan batu-batu padas. Sementara
anak-anak muda Lumban yang terluka lelah berkumpul pula untuk
mendapat perawatan dari tabib yang semula berada di lingkungan
orang-orang Sanggar Gading itu. Bahkan ada satu dua diantara mereka
yang terpaksa di papah oleh kawan-kawannya karena luka yang cukup
parah. Namun yang terjadi itu satu pengalaman yang dapat disadap
sebagai pelajaran yang baik bagi anak-anak Lumban. Mereka yang dalam
banyak hal masih dipengaruhi oleh persoalan air itupun telah merasa
diri mereka satu. Dengan demikian, maka anak-anak Lumban itu merasa,
semakin dekat satu dengan yang lain. Dalam pada itu, diantara
anak-anak Lumban Kulon. Nugata duduk merenungi peristiwa yang baru
saja terjadi. Ia melihat bagaimana Jlitheng bertempur diantara
lawan-lawannya. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa Jlitheng
memiliki kemampuan tidak kalah dengan Daruwerdi. Sehingga dengan
demikian, maka iapun menjadi curiga karenanya, bahwa apa yang
dikenalnya sebagai Jlitheng selama itu bukannya pengenalnya yang
sewajarnya. Meskipun demikian, agak berbeda dengan kawan- kawannya,
Nugata masih saja diganggu oleh satu keinginan untuk menyatakan
dirinya, lingkungannya dan Kabuyutannya lebih baik dari Lumban
Wetan. Namun ia tidak mengatakan kepada siapapun juga. Apalagi
ketika ia mengetahui keadaan Jlitheng yang sebenarnya. Sementara itu
Daruwerdi sudah tidak, dapat diharapkannya untuk dapat membantunya
lagi. Dengan demikian, maka perasaan kecewa, gejolak dan
angan-anganya tentang hubungannya dengan Jlitheng selanjutnya,
hubungan antara anak-anak Lumban Kulon dengan Daruwerdi, dan masih
ada beberapa masalah lagi, telah menggelitik hatinya. Namun justru
karena itu, maka iapun telah merenunginya, sehingga seolah-olah ia
tidak menghiraukan lagi apa yang telah terjadi disekitarnya. Selagi
anak-anak muda Lumban mengumpulkan beberapa sosok mayat yang
berserakkan, maka beberapa orang Sanggar Gading dan Kendali Putih
yang meninggalkan arena, tengah berlari-lari tidak tentu arah. Namun
sebagian dari mereka telah ber lari asal saja menjauhi bukit mereka
yang dikenal sebagai salah satu dari Sepasang Bukit Mati itu. Mereka
tidak lagi mempunyai tujuan karena mereka menyadari, bahwa
pemimpin-pemimpin mereka telah binasa, sementara itu. merekapun
merasa, bahwa jika mereka bertemu dengan orang-orang Pusparuri atau
orang-orang Gunung Kunir, maka mereka tidak lagi mempunyai kelompok
yang kuat untuk saling melindungi. Karena itu, dalam kebingungan,
mereka justru, menjadi berpencaran mencari jalan hidup mereka
masing-masing. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi sangat cemas
sehingga mereka telah melemparkan senjata mereka, agar tidak ada
orang yang mencurigainya. Terutama dari padepokan yang telah
mengalami persaingan untuk waktu yang lama. Sebagai pengembara yang
mencari belas kasihan orang lain, maka tentu tidak akan ada orang
yang akan memper lakukannya dengan kasar, karena mereka tidak akan
dengan mudah dikenal sebagai orang yang pernah berada dalam
lingkungan yang paling garang. Sanggar Gading dan Kendali Putih.
Dalam pada itu, sebuah iring- iringan telah menuruni bukit berhutan.
Daruwerdi dan kedua pamannya berjalan dipalilng depan, sementara
Sena Wasesa berjalan di belakangnya bersama Kiai Kanthi. Dekat di
belakang Kiai Kanthi, Swasti berjalan sambil menunduk, sementara
beberapa langkah di belakang mereka, barulah orang-orang lain
berjalan sambil berbicara diantara mereka. Daruwerdi dan kedua
pamannya, sama sekali tidak berbicara tentang apapun juga. Nampaknya
Daruwerdi merasa lebih baik berdiam dir i dalam keadaan yang
demikian itu. Ia masih dicengkam oleh perasaan kecewa, bahwa
pamannya justru ikut memaksanya menghadap kepada ibunya. “Apa yang
harus aku katakan kepada ibu” berkata Daruwendi kepada diri sendiri.
Kemudian “Jika Pangeran itu sempat bertemu dengan ibu, maka mereka
tentu akan mempersoalkan masalah-masalah yang terlalu khusus, yang
aku sendir i tidak banyak mengetahui” Namun dalam pada itu, terbilas
wajah seorang tua yang dianggapnya sebagai kakeknya dan sekaligus
gurunya, meskipun ia tahu, bahwa orang itu adalah orang lain
baginya. Tetapi hubungan yang akrab dan bertahun-tahun, telah
membuatnya menganggap orang tua itu sebagai kakeknya sendiri ”Jika
saja kakek mengetahuinya” berkata Daruwerdi di dalam dir inya sendir
i. Sebab ada satu keyakinan di dalam diri Daruwerdi, bahwa kakeknya
dan sekaligus gurunya itu tidak lebih rendah tingkat ilmunya dari
orang-orang yang mengejutkan karena kehadirannya di atas bukit itu.
Tetapi kakek yang juga gurunya itu tidak melihatnya apa yang telah
terjadi di Lumban dan apalagi di atas bukit berhutan itu. Daruwerdi
itu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya jalan di
hadapannya. Mereka masih menuruni lereng yang kadang-kadang sulit,
sehingga mereka harus meluncur turun berurutan. Namun kadang-kadang
mereka dapat berjalan bersama-sama dalam tebaran yang tidak begitu
panjang. Demikianlah, akhirnya mereka telah berada di kaki bukit
kecil itu. Jantung Daruwerdi menjadi semakin berdebar-debar. Namun
ia tidak dapat berbuat lain. Bersama dengan orang- orang itu ia
telah menuju ke Lumban Kulon, ke tempat pemondokannya. Iring-ir
ingan itu telah menar ik perhatian anak-anak Lumban Kulon yang
bersiap di padukuhan masing-masing. Ketika mereka memasuki padukuhan
kecil di Kabuyutan Lumban Kulon, maka anak-anak muda Lumban Kulonpun
bertanya- tanya di dalamhati, apakah yang telah terjadi Namun mereka
telah melihat Daruwerdi berada diantara iring- iringan itu. Namun
nampaknya Daruwerdi tidak sempat memperhatikan keadaan di
sekelilingnya. Bahkan ia berjalan dengan kepala tunduk dan dengan
langkah- langkah lesu. Baru ketika mereka melihat Jlitheng yang
berada di bagian belakang dari ir ing- iringan kecil itu, anak-anak
muda itu bertanya “Apa yang telah terjadi?“ “Tidak apa-apa” jawab
Jlitheng “kawan-kawan kita telah menyelesaikan tugas sebaik-baiknya.
He bawalah beberapa orang kawan ke puncak bukit. Kawan-kawan kita
disana sedang sibuk menyelenggarakan beberapa sosok mayat. Kalian
dapat membantu mereka. Tetapi hati-batilah. Sebaiknya kalian
bersenjata dan membawa alat Isyarat. Jika terjadi sesuatu di
sepanjang jalan menuju ke bukit itu, bunyikan isyarat” Kawan-kawan
Jlitheng dari Lumban Kulon itupun mengangguk. Ternyata mereka tidak
lagi ingat akan pertentangan mereka selama berebut air. Nampaknya
mereka sempat melupakan persoalan mereka itu. Ketika Jlitheng
kemudian meninggalkan mereka mengikuti iring- iringan yang menuju ke
rumah Daruwerdi, anak-anak muda itupun telah menghimpun beberapa
orang kawan dan bersama-sama menuju ke bukit berhutan. Namun mereka
tidak pergi seluruhnya. Sebagian kecil dari anak-anak muda itu masih
tetap berada di padukuhan untuk mengawasi keadaan. Dalam pada itu,
Daruwerdipun kemudian telah memasuki padukuhannya. Seperti anak-anak
muda di padukuhan sebelumnya, maka anak-anak muda di padukuhan
itupun bertanya kepada Jlitheng, apa yang telah terijadi. “Tidak
apa-apa” sahut Jlitheng “Kami mengantar Daruwerdi pulang Ia terlalu
letih” Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka melihat
sesuatu yang lain pada Daruwerdi. Anak yang terbiasa terjalan dengan
wajah tengadah itu, ternyata nampak sangat letih sambil menunduk.
Bahkan tanpa berpaling sama sekali ketika kawan-kawannya dari Lumban
Kulon menyambut kedatangannya. Sejenak kemudian, iring-ir ingan itu
telali memasuki sebuah halaman yang tidak begitu luas. Sebuah rumah,
yang sedang dan nampak terpelihara. Iring-ir ingan itupun kemudian
berhenti di halaman. Daruwerdi yang gelkah itupun kemudian berkata
“Biarlah aku menghadap ibu. Aku akan mengatakan kedatangan kalian,
terutama Pangeran Sana Wasesa, agar ibu tidak terkejut” “Baiklah.
Katakan kepada ibumu, aku hanya ingin mencari penjelasan” berkata
Pangeran Sana Wasesa. Daruwerdipum kemudian naik ke pendapa dan
memasuki pringgitan diir ingi oleh kedua pamannya. Ketika mereka
memasuki ruang dalam, mereka sama sekali tidak menemukan seseorang.
Ibunya yang biasanya duduk merenung di ruang itu sama sekali tidak
nampak. Namun Daruwerdi sama sekali tidak curiga. Mungkin ibunya
sedang berada di belakang, atau di pakiwan. Namun dalam pada itu,
seorang laki-laki tua, penghuni rumah itu telah memasuki ruang dalam
dari pintu butulan. Dengan wajah cemas ia berkata “Angger Daruwerdi.
Kemana saja angger pergi selama ini” Daruwerdi menarik nafas
dalam-dalam. Orang tua itu agaknya tidak tahu, dan tidak mendengar
apapun juga tentang dirinya selama ia berada di atas bukit. Tetapi
rasa- rasanya Daruwerdi tidak sempat menjawab pertanyaan itu. Bahkan
ia telah bertanya pula “Dimana ibu?“ Orang tua itu menar ik nafas
dalam-dalam. Katanya “Itulah yang aku persoalkan. Kemana saja kau
selama ini ngger?“ Wajah Daruwerdi menegang. Sambil melangkah
mendekat ia mendesak “Dimana ibu?“ “Kau pergi terlalu lama” jawab
orang tua itu “selama kau pergi itulah, seorang laki-laki tua telah
datang dan membawa ibumu bersamanya” “Siapa?” wajah Daruwerdi
menjadi tegang. “Seorang laki- laki tua, bertubuh tinggi kekar.
Berkumis lebat dan berjanggut panjang keputih-putihan. Suaranya
serak dan agak kurang jelas. Tetapi kata-katanya cukup dimengerti“
jawab laki-laki tua itu. “Guru?” desis Daruwerdi. Namun katanya
kemudian “Itu kakekku. Jadi ibu pergi bersama kakek?“ “Ya. Tetapi
rasa-rasanya orang tua itu agak memaksa ketika ibumu berniat untuk
menunggumu disini” jawab laki-laki tua itu. Wajah Daruwerdi menjadi
tegang. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya kedua pamannya
termangun-mangu. “Tetapi bukankah itu sama sekali bukan kewajiban
kita?“ bertanya Swasti. Ayahnya tersenyum. Katanya “Kita memang
tidak berkewajiban mengusut persoalan ini. Tetapi kitapun boleh
mengetahui perkembangan dari keadaan ini, justru karena kita tinggal
di bukit ini” “Ibu dibawa oleh Kakek, paman” desis Daruwerdi. Kedua
pamannyapun saling, berpandangan. Yang seorang kemudian berkata “Aku
tidak tahu, apa maksudnya. Tetapi jika memang demikian, kau harus
memberitahukan kepada Pangeran Sena Wasesa” Daruwerdi menjadi
ragu-ragu. Namun kemudian katanya di dalam hati “Ada juga
keuntungannya. Ibu tidak langsung bertemu dengan Pangeran Sena
Wasesa” Namun kemudian “Tetapi kenapa kakek justru membawa ibu
pergi, tidak berusaha menolong aku yang sedang dalam keadaan yang
sulit” Tetapi Daruwerdi t idak sempat memecahkan teka-teki itu.
Diluar menunggu beberapa orang. Jika ia tidak lama berada di dalam
tanpa member itahukan sesuatu kepada orang-orang yang berada di
halaman, maka akan dapat timbul salah pahamyang dapat berakibat
gawat bagi Daruwerdi. Karena itu, maka katanya kepada kedua pamannya
“Aku akan mengatakan kepada mereka. Tetapi apakah kira-kira
tanggapan mereka paman” “Aku tidak tahu apakah yang akan mereka
katakan. Tetapi itu menjadi kewajibanmu. Apakah hal itu akan
mendapat tanggapan baik atau sebaliknya” jawab salah seorang
pamannya, Daruwerdi memang tidak dapat berbuat lain. Ia harus turun
kehalaman menemui orang-orang yang menyertainya untuk bertemu dengan
ibunya. Dengan jantung yang berdebar-debar disertai oleh kedua
pamannya ia melangkah kepintu pringgitan. Sekali ia berpaling,
seolah-olah ia ingin menilai kekuatan yang ada padanya, seandainya
ia harus mempertahankan dir i. Namun mereka bertiga t idak akan
dapat berbuat banyak. Bahkan seandainya Swasti berdiri dipihaknya
pula. “Tidak ada yang dapat aku lakukan” katanya di dalamhati.
Demikianlah, maka, dengan tangan bergetar Daruwerdi itu membuka
pintu. Derit daun pintu itu telah menarik perhatian orang-orang yang
berada di halaman sehingga merekapun segera berpaling. Namun yang
mereka lihat hanyalah Daruwerdi dan kedua orang pamannya saja.
Pangeran Sena Wasesa yang tidak sabar lagi menyosong sambil bertanya
“Dimana ibumu?“ Wajah Daruwerdi menjadi tegang. Ketika ia turun
tangga pendapa, ia menjawab dengan suara bergetar seperti tangannya
“Ibu tidak ada di rumah“ “Kemana?“ Rahulah yang meloncat mendekat.
Daruwerdi bergeser surut. Dengan ragu-ragu ia menjawab “Aku tidak
tahu. Menurut penunggu rumah ini. ibu pergi bersama seseorang yang
tidak dikenal?“ “Kau jangan bohong” geramRahu. “Ya” jawab salah
seorang pamannya “ibunya pergi tanpa diketahui dengan pasti.
Seseorang telah datang dan membawanya” “Siapa?“ desak Rahu. Paman
Daruwerdi itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian
menggeleng sambil menyahut “Penunggu rumah ini tidak tahu, siapakah
orang itu” Rahu ternyata tidak sabar lagi. Iapun segera meloncat dan
melintasi pendapa masuk ke pr inggitan. Pangeran Sena Wasesa menarik
nafas dalam-dalam. Dengan sareh ia bertanya “Apakah maksudmu
sebenarnya Daruwerdi? Apakah kau masih ingin mengelak dan berusaha
agar ibumu tidak dapat bertemu dengan aku?“ “Tidak Pangeran” jawab
Daruwerdi “ibu memang tidak ada di rumah ini” “Aku bersaksi
Pangeran” berkata salah seorang pamannya. Pangeran itu
mengangguk-angguk. Ia mempercayai kedua paman Daruwerdi yang
nampaknya berkata dengan jujur, sesuai dengan sikap mereka yang
lebih terbuka dari Daruwerdi sendiri. Meskipun demikian Pangeran itu
berkata “Apakah aku di perkenankan masuk?“ “Silahkan Pangeran” jawab
salah seorang pamannya. Pangeran Sana Wasesapun kemudian memasuki
rumah itu diikuti oleh Kiai Kanthi dan anak gadisnya, Semi dan
Jlitheng yang termangu-mangu di belakang, Rahu yang lebih dahulu
berada di dalam rumah itu, sebenarnyalah tidak melihat seorang
perempuan yang dicarinya. Setiap bilik telah dimasukinya. Namun
akhirnya ia bertemu dengan orang tua penunggu rumah itu. Ketika ia
bertanya kepadanya, maka orang tua itu menjawab sebagaimana
dikatakannya kepada Daruwerdi. “Kau tidak bohong?“ bertanya Rahu.
“Tidak Ki Sanak . Apakah keuntunganku dengan berbohong?“ jawab orang
itu. Rahu tertegun sejenak. Dipandanginya keadaan disekelilingnya.
Sepi. Dan agaknya jika benar ibu Daruwerdi ada di rumah itu, ia
tidak akan sempat pergi terlalu jauh Sementara itu, menilik sikap
dan kata-katanya, orang tua itu telah mengatakan apa yang sebenarnya
telah terjadi. Ketika Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi serta
orang- orang yang lain mendekatinya, dan mendengar orang tua itu
mengatakan sekali lagi apa yang telah terjadi, maka merekapun
mengambil kesimpulan, bahwa sebenarnyalah ibu Daruwerdi tidak ada di
rumah itu. Dengan agak memaksa seseorang telah membawanya. “Apakah
kau benar-benar tidak mengenal orang dengan ciri-ciri seperti yang
dikatakan orang itu, anggar Daruwerdi?“ bertanya Kiai Kanthi.
Daruwerdi menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak mengenalnya” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Sementara itu iapun kemudian menelit i seluruh
isi ruangan. Dilihatnya benda- benda yang ada di dalam ruangan itu.
Dari benda yang tersangkut didlinding sampai kepada benda yang
terletak di ajug-ajug, di gledeg kayu dan di amben bambu. Namun
tiba-tiba jantungnya berdesir ketika ia memandang pintu ruang dalam
rumah itu. Ia melihat sesuatu yangtidak begitu jelas pada mulanya.
Namun ketika ia mendekatinya dan dengan saksama ia melihat sesuatu
yang sangat menarik perhatiannya. “Pangeran” desis Kiai Kanthi
“Apakah. Pangeran mengenal tanda seperti ini?“ Pangeran Sena Wasesa
mendekatinya. Nampak kerut di dahinya, Kemudian perlahan- lahan ia
berdesis “Jadi ia pernah menjamah rumah ini” “Tentu orang itulah
yang telah membawa ibu Daruwerdi. Ciri-cir i yang dikatakan oleh
penunggu rumah ini mempunyai beberapa persamaan. Janggut dan jambang
rambutnya memang dapat saja sekali waktu dipelihara, tetapi pada
kesempatan lain di babatnya sampai habis” sahut Kiai Kanthi.
Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Sejenak ia mengamati tanda
yang nampak di pintu kayu itu, Kemudian sambil menarik nafas
dalam-dalam ia berkata “Apakah ada tanda serupa di ruang ini?“ “Kita
akan mencarinya” desis Kiai Kanthi. Dalam pada itu, Rahu, Semi dan
Jlithengpun telah melihat tanda itu pula. Namun mereka tidak
mengenal tanda yang nampak tidak terlalu jelas di daun pintu yang
terbuat dari kayu itu. “Apakah Kiai mengenal tanda ini?“ bertanya
Jlitheng kepada Kiai Kanthi. Kiai Kanthi tidak menjawab. Tetapi ia
berpaling kepada Daruwerdi dan kedua pamannya yang berdiri termangu-
mangu. Daruwerdi menjadi tegang. Tetapi kedua pamannya tidak tahu,
apa yang telah menarik perhatian orang-orang itu. “Ternyata guru
dengan sengaja meninggalkan tanda itu” berkata Daruwerdi di dalam
hatinya. Ada beberapa arti yang dapat di urai dari tanda yang
sengaja ditinggalkan itu. Apakah dengan demikian gurunya bermaksud
memberi per ingatan kepada orang-orang yang telah membawa Daruwerdi
itu, atau justru gurunya telah menantang agar orang-orang yang
terlibat dalam persoalannya itu datang ke padepokannya. Apalagi
karena justru gurunya telah membawa ibunya dengan agak memaksa.
Dalam pada itu, Kiai Kanthipun kemudian berkata kepada Jlitheng dan
orang-orang yang mengamati tanda itu dengan heran “Tanda ini sudah
pernah aku kenal beberapa tahun yang lalu. Orang itu telah
menggoreskan sebilah pisau kecil pada dinding kayu atau kepada
benda-benda lain yang dikehendaki. Sebuah lingkaran dengan sebuah
garis yang membelah lingkaran itu, adalah tanda yang terbiasa
ditinggalkan oleh seorang yang disebut “Ajar Cinde Kuning” “Ajar
Cinde Kuning“ Rahu mengulang “nama iltu pernah aku dengar. Tetapi
nama itu tidak banyak disebut orang pada saat-saat terakhir” “Benar”
berkata Pangeran Sena Wasesa “Yang terdengar kemudian adalah
sebutannya “Macan Kuning” “O“ Rahu mengangguk-angguk. Namun nampak
dahinya berkerut menit. Dengan sungguh-sungguh iapun kemudian
berkata “Jadi ibu Daruwerdi kini berada di tangan Macan Kuning?
Tetapi apakah hubungan Macan Kuning dengan Daruwerdi?“ Semua orang
berpaling kepadanya. Daruwerdi menjadi agak gugup. Namun kemudian
katanya “Aku t idak tahu, apakah hubungan antara ibuku dengan orang
yang kau sebut- sebut itu. Akupun tidak tahu siapakah orang itu dan
tanda lingkaran yang terbelah itu” Pangeran Sena Wasesa melangkah
mendekatinya. Katanya “Daruwerdi. Ibumu ada di tangan orang yang
memiliki nama, ciri dan pertanda kehidupan tersendiri. Jika kau
belum mengenal orang itu, baiklah aku memberikan peringatan
kepadamu, cobalah membayangkan, seorang yang pada hari- hari
terakhir hidup terasing dengan murid-muridnya yang khusus. Yang
hampir tidak pernah berada di dalami lingkungan pergaulan
sewajarnya, meskipun aku yakin, ia adalah seorang yang memiliki
pengalaman. Bahkan orang itu adalah seorang yang pernah mempunyai
lingkungan yang luas” Daruwerdi t idak dapat segera menjawab.
Sekilas dipandanginya kedua pamannya berganti-ganti. Tetapi karena
kedua pamannya tidak mengetahui ciri-cir i iltu, maka mereka tidak
mengatakan apa-apa. Yang mereka ketahui bahwa laki- laki tua yang
disebut kakek oleh Daruwerdi dan sekaligus gurunya itu memang
hubungan dengan ibu anak muda itu, sebagaimana di katakannya, bahwa
ibu Daruwerdi telah diakunya sebagai anak perempuannya sendiri.
Namun bahwa orang tua itu telah dikenal dengan tandanya yang khusus
itu, keduanya justru tidak mengetahuinya. Dalam kebimbangan itu,
maka Pangeran Sena Wasesa berkata “Daruwerdi. Aku ingin memberimu
peringatan, orang itu tidak dapat di ketahui watak dan tabiatnya. Ia
kadang- kadang disebut sebagai seorang yang berbudi manis. Penolong
dan pengasih. Tetapi kadang-kadang dikenal sebagai orang yang paling
kejam di seluruh Demak dan bahkan seluruh wilayah kekuasaan pada
jamannya. Karena itu, jika orang itu telah membawa ibumu dengan
paksa, maka hal itu perlu kau pertimbangkan. Meskipun demikian,
seandainya kami mengetahui dengan pasti, hubunganmu dengan orang itu
atau dengan ibumu, kamipun masih harus membuat
perhitungan-perhitungan tertentu. Orang yang disebut Macan Kuning
dalam sifat dan tabiatnya yang kasar, ia adalah orang yang ditakuti
karena ilmunya yang luar biasa. Agaknya secara pribadi kami semuanya
disini harus mengakui, tidak ada seorangpun diantara kami yang akan
mampu mengimbangi ilmunya. Adalah untung sekali apabila ibumu dibawa
oleh orang itu dalam wataknya sebagai Ajar Cinde Kuning yang tidak
segarang tabiatnya namanya Macan Kuning” Daruwerdi menjadi bimbang.
Menilik penjelasan Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi, maka
nampaknya mereka mengenal dengan baik orang yang disebut Ajar Cinde
Kuning dan yang bernama lain Macan Kuning itu. Namun Daruwerdi
sendiri mengenalnya dengan nama Pamotan Galih. Tetapi ciri yang ada
dipintal itu memang pernah dikenalnya dan dilihatnya terdapat pada
gurunya yang disebutnya juga sebagai kakeknya. Daruwerdi mulai
dicengkam oleh kebimbangan. Ia mulai membayangkan, bahwa
kegagalannya membuat gurunya marah dan dengan demikian maka
kemarahannya ditumpahkannya kepada ibunya. Tetapi menurut
pengamatannya, kakeknya itu bersikap baik kepada ibunya selama
ibunya diakunya sebagai anaknya. Dalam kebimbangan itu Kiai
Kanthipun berkata “Angger Daruwerdi. Pengenalan kami terhadap orang
yang meninggalkan tanda itu, mencemaskan kami. Sebenarnyalah kami
dapat tidak menghiraukan hal ini sama sekali, karena kami sadar,
seperti yang dlikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa, bahwa orang yang
berciri lingkaran yang dibelah oleh garis melintang itu adalah
seorang yang memiliki kemampuan yang tidak ada bandingnya. Baik ia
bernama Ajar Cinde Kuning maupun dalam sifat dan tabiatnya Sebagai
Macan Kuning. Jika kami sekedar memikirkan kepentingan kami, maka
kaulah yang harus bertanggung jawab atas kehadiran Pangerani Sena
Wasesa, atas peristiwa yang terjadi di pategalan itu sehingga
beberapa orang menjadi korban kekejaman sesamanya. Juga peristiwa di
puncak bukit. Namun perasaan kami tidak mapan jika kami membiarkan
ibumu dibawa oleh orang yang tidak kami ketahui dengan pasti itu.
Meskipun kami harus memikirkannya berulang kali, bagaimana tindakan
yang dapat kami ambil selanjutnya” Keragu-raguan di hati Daruwerdi
menjadi semakin memuncak. Sementara itu, seorang dari kedua pamannya
yang cemas akan keadaan ibu Daruwerdi itu berkata “Pertimbangkan
baik-baik Daruwerdi. Kau dapat memilih mana yang terbaik bagimu dan
bagi ibumu sekarang ini” Daruwerdi masih tetap termangu-onangu.
Ketika ia memandang Pangeran Sena Wasesa, maka Pangeran itu berkata
“Ada yang kau sembunyikan. Tetapi kau perlu mengingat keselamatan
ibumu” “ Pertimbangkan baik-baik” desis pamannya yang seorang lagi.
Daruwerdi menjadi semakin bimbang. Tanpa sesadarnya dipandanginya
orang-orang yang berada disekitarnya. Kedua pamannya, Kiai Kanthi,
Pangeran Sena Wasesa, Rahu, Jlitheng. Semi dan Swasti. Seolah-olah
terngiang kata-kata mereka melingkar ditelinga. Semakin lama semakin
keras, semakin keras, sehingga akhirnya Daruwerdi itu memegangi
telinganya sambil berteriak “Aku akan mengatakan. Aku akan
mengatakan” Kedua pamannya telah meloncat memeluknya. Dengan sareh
salah seorang dari keduanya berketa “Tenanglah Daruwerdi. Tidak
seharusnya kau kehilangan akal Kau adalah anak muda yang telah
dengan berani melangkah. Karena itu, kau harus menghadapi segalanya
dengan tabah dan hati terbuka” Daruwerdi menutup wajahnya dengan
kedua telapak tangannya. Nafasnya menjadi terengah-engah, la tidak
merasakan kegelisahan seperti itu pada saat ia menerima keputus- an
Yang Mulia Panembahan Wukir Gading untuk menerima kematiannya dengan
cara yang paling mengemikan sekalipun. Namun ketika masalahnya
menyangkut ibu dan kakeknya, maka ia benar-benar menjadi bingung.
“Daruwerdi” berkata pamannya yang lain “Jika kau bersedia mengatakan
apa yang sebenarnya terjadi, maka beban dihatimu itu akan menjadi
berkurang. Seakan-akan kau telah meletakkan sebagian dari beban itu
kepundak orang lain atau melepaskannya sama sekali” Daruwerdi yang
dicengkam oleh kebimbangan itu masih saja sangat gelisah. Namun
sikap pamannya perlahan-lahan dapat memberikan keterangan kepadanya.
“Katakan” desis salah seorang pamannya. Daruwerdipun kemudian
memandang Kiai Kanthi dan Pangeran Sena Wasesa. Pangeran itupun
nampaknya tidak membayangkan dendam sama sekali. Bahkan terpancar
perasaan ibu yang mendalam melihat keadaan Daruwerdi itu. Sejenak
Daruwerdi terdiam. Namun kemudian terloncat dari mulutnya “Aku
mengenal orang yang membawa ibuku” Kata-kata itu mengejutkan
beberapa orang. Tetapi Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi
nampaknya tidak terkejut karenanya. Bahkan Pangeran Sena Wasesa
berkata “Aku sudah menduga. Karena itu, katakan. Mungkin kita dapat
berbuat sesuatu. Aku berkepentingan dengan ibumu, justru karena
usahamu untuk menangkap aku dengan alasan bahwa aku telah membunuh
ayahmu” ”Katakan“ sekali lagi pamannya berdesis ditelinga Daruwerdi.
Daruwerdi masih nampak tegang. Meskipun demikian, nalarnya sudah
mulai dapat dikuasainya kembali. Perlahan- lahan ia berkata “Orang
yang meninggalkan tanda di pintu itu adalah kakekku” “Kakekmu?“
kedua orang tua itu hampir berbareng mengulanginya. Keduanya
benar-benar terkejut mendengar pengakuan itu ”Apakah ia benar-benar
kakekmu?“ desak Kiai Kanthi. “Ia kakek angkatku” Jawab Daruwerdi.
Lalu “sekaligus guruku” Kiai Kanthi dan Pangeran Sena Wasesa itu
saling berpandangan. Diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesa berkata
“Jika ilmu anak itu disadapnya dari orang tua itu, maka yang dapat
dilihat adalah wataknya yang berbeda dengan watak ilmu Ajar Cinde
Kuning“ “Aku tidak mengenal Ajar Cinde Kuning. Guruku bernama
Pamotan Galih” potong Daruwerdi. Pangeran Sena Wasesa mengangguk
sambil menjawab “Ya. Gurumu memang bernama Pamotan Galih. Tetapi
apakah menurut pendapatmu, seseorang tidak akan dapat menyebut
dirinya dengan dua atau tiga nama? Dan apakah namamu sendiri memang
Daruwerdi, sebagaimana orang-orang yang sekarang ada disini? Apakah
kau yakin bahwa yang berdiri disebelahku ini namanya memang Kiai
Kanthi, yang lain Rahu dan Jlitheng?” Wajah Daruwerdi menegang.
Tetapi iapun kemudian menundukkan kepalanya. “Daruwerdi” berkata
Pangeran Sena Wasesa kemudian “nampaknya memang ada persoalan yang
masih harus diselesaikan. Aku mempunyai beberapa dugaan tentang
usahamu selama ini di Daerah Sepasang Bukit Mati. Agaknya kau tidak
berdir i sendiri. Mungkin kau mendapat tugas dari orang yang kau
sebut bernama Pamotan Galih itu. Atau mungkin dalam hubungan yang
berbeda. Tetapi sebaiknya kau melihat, apakah kakek angkatmu itu
tidak berbuat apa-apa terhadap ibumu” “Kakek baik terhadap ibuku”
geram Daruwerdi. Sokurlah. Tetapi segalanya dapat berubah seperti
juga nama seseorang dapat berubah” sahut Pangeran Sena Wasesa
“Sehingga menurut pendapatku, sebaiknya kita melihat, apakah
benar-benar ibumu berada dalam keadaan baik. Mungkin kau mengetahui
dimanakah padepokan kakekmu itu, atau sebenarnyalah bahwa sebelum
kau datang ke Daerah Sepasang Bukit Mati, kau berada di padepokan
kakekmu itu” Daruwerdi menjadi ragu-ragu. tetapi ia tidak dapat
ingkar, bahwa tentu ada sesuatu yang telah menyangkutkan ibunya
dengan Pangeran Sena Wasesa. Ketika ia tampil dalam tugasnya itu,
ibunya berusaha mencegahnya. Sehingga ia memang melihat sikap yang
agak berbeda antara ibunya dan kakeknya. “Daruwerdi” berkata
Pangeran Sena Wasesa “Apakah kau bersedia membawa kami kepada kakek
dan sekaligus gurumu itu? Di padepokan itu aku akan dapat bertemu
kakekmu sekaligus ibumu. Mungkin ada hal-hal yang dapat mereka
jelaskan, sehingga persoalan ini tidak hanya sekedar menjadi sebuah
teka-teki. Aku sadar, bahwa bukan kau yang seharusnya mempertanggung
jawabkan persoalan ini, karena kau hanya sekedar melaksanakan satu
tugas yang dibebankan kepadamu” Daruwerdi termangu-mangu. Tetapi
sekali lagi pamannya berkata “Kau harus memikirkan ibumu” Daruwerdi
menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia mengangguk kecil sambil
berkata “Aku akan menunjukkan kalian dimana kakek tinggal. Tetapi
peristiwa apa yang berkembang kemudian, aku tidak dapat
mengatakannya” Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Rasa-
rasanya ia dapat meraba pikiran anak itu. Agaknya tidak mustahil
bahwa gurunyalah yang telah memberikan segala rencana yang harus
dilakukan oleh Daruwerdi di daerah Sepasang Bukit Mati ini. Namun
demikian, iapun tidak dapat ingkar, bahwa orang yang mempunyai tanda
seperti yang tertera di pintu itu, adalah orang yang berilmu sangat
tinggi. Sejenak Pangeran itu termenung. Kiai Kanthipun nampaknya
sedang berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan. Iapun mengenal
seseorang dengan tanda seperti yang tertera di pintu itu. Dengan
demikian, jika benar mereka akan menemukannya, maka mereka akan
memasuki satu tugas yang sangat berat dan berbahaya. Namun sejenak
kemudian Pangeran Sena Wasesa itupun berkata “Aku akan menemui kakek
dan sekaligus gurumu. Apapun yang akan dilakukan. Aku memerlukan
penjelasan dari peristiwa yang telah terjadi. Aku mempunyai dugaan,
bahwa kau hanyalah pelaksana dati rencana yang telah disusun gurumu”
“Tidak” t iba-tiba saja Daruwerdi berteriak “Aku bertanggung jawab
atas perbuatanku” Tetapi Pangeran Sena Wasesa menarik nafas
dalam-dalam sambil menggelengkan kepalanya. Katanya “Aku sudah dapat
menduga ngger, apa yang telah terjadi. Kau tidak tahu apa- apa
tentang aku, tentang pusaka dan barangkali tentang harta karun yang
disangka orang tersembunyi di daerah Sepasang Bukit Mati ini” Wajah
Daruwerdi menjadi merah. Tetapi ia tidak dapat ingkar terhadap
pengenalannya atas dirinya sendiri. Namun yang tidak diketahuinya
adalah, bahwa gurunya tiba-tiba telah berada di daerah Sepasang
Bukit Mati pula. “Nampaknya guru memang tidak percaya sepenuhnya
kepadaku” berkata Daruwerdi di dalam hatinya. Sementara itu Pangeran
Sena Wasesapun berkata “Daruwerdi. Baiklah aku akan mengikutimu ke
padepokan gurumu, dengan sepenuh kesadaran menghadapi peristiwa
apapun yang akan berkembang kemudian. Tetapi aku tahu bahwa gurumu
adalah orang yang luar biasa. Aku kira diantara kita disini tidak
seorangpun yang akan dapat mengimbangi ilmunya. Namun penjelasan itu
sangat penting bagiku, dan barangkali iapun memerlukan penjelasanku”
“Tetapi padepokan guru tidak terlalu dekat” berkata Daruwerdi.
“Dimanapun. Kita akan pergi” jawab Pangeran Sena Wasesa. Daruwerdi
memandang kedua pamannya sejenak. Ketika kedua pamannya mengangguk,
maka katanya “Baiklah. Aku akan mengantar Pangeran ke padepokan itu”
“Terima kasih” jawab Pangeran Sena Wasesa “Besok pagi- pagi kita
akan berangkat. Biarlah kita beristirahat malam ini, sementara kita
sempat mengurus orang-orang yang tertangkap dan barangkali Yang
Mulia Panembahan Wukir Gading” Kiai Kanthipun mengangguk-angguk.
Kalanya “Menarik sekali untuk menemui arang yang disebut bernama
Pamotan Galih itu” ”Kiai juga akan pergi?“ bertanya Pangeran. “Aku
kira aku juga ingin ikut bersama Pangeran” jawab Kiai Kanthi.
Pangeran Sena Wasesa sama sekali tidak berkeberatan. Namun mereka
telah sepakat untuk berangkat dikeesokan harinya. Sementara itu,
Rahu, Semi dan Jlitheng teiah kembali ke puncak bukit. Setelah
segalanya diselesaikan, maka mereka telah membawa beberapa orang
yang terlawan dan terluka turun ke Padukuhan Lumban. Mereka telah
menempatkan Yang Mulia, yang ternyata mengalami cidera di bagian
dalam tubuhnya, sehingga ia telah kehilangan sebagian besar dari
kemampuannya karena cacat yang akan diderita, di Banjar Padukuhan
Lumban Kulon. Cempakapun telah di tempatkan di banjar pula dengan
pengawalan yang kuat, sementara tangan dan kakinya masih harus
terikat. Malam itu, Rahu, Jlitheng. Semi dan kawannya sempat
berbincang. Rahu dan Jlitheng berniat untuk ikut bersama Pangeran
Sena Wasesa dan Kiai Kanthi, sementara Semi dan kawannya akan
tinggal bersama anak-anak muda Lumban. Mungkin ada sesuatu yang
dapat mengganggu padukuhan itu. Beberapa kelompok lain, tentu akan
segera mendengar apa yang telah terjadi di puncak bukit. Orang-orang
yang sempat melarikan diri, apakah ia orang Sanggar Gading atau
orang Kendali Putih, akan dapat menjadi sumber tersebarnya berita
tentang peristiwa di Lumban itu dalam keseluruhan. Pada malam itu
juga Rahu dan Jlitheng telah menyampaikan maksudnya untuk ikut
bersama kedua orang tua itu ke padepokan orang yang disebut oleh
Daruwerdi bernama Pa-motan Galih. Pangeran Sena Wasesa tidak dapat
menolak. Ia sadar, bahwa Rahu mengemban tugas khusus, sementara
Jlithengpun tentu bukan anak Lumban Wetan yang ternama Jlitheng
sejak lahirnya. Malam itu, Daruwerdi hampir tidak dapat tidur barang
sekejappun. Hatinya menjadi sangat gelisah. Menjelang pagi, ia tidak
dapat menahan dir i lagi. Dengan hati-hati ia membangunkan kedua
pamannya yang sedang tidur. “Paman” desisnya “Aku t idak dapat tidur
barang sekejappun” “Kau harus menghadapi kenyataan ini dengan
ikhlas. Dengan demikian kau tidak akan menjadi sangat gelisah.
Cobalah beristirahat sebelum kita menempuh perjalanan yang panjang”
desis pamannya. Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
katanya ”Paman, aku kira aku tidak dapat mengatasi kegelisahan ini.
Aku tahu, betapa guru adalah orang yang keras hati” “Ya” desis
pamannya. Ia hanya ingin penjelasan. Tetapi apakah yang akan terjadi
jika Pangeran itu benar-benar bertemu dengan guru?“ desis Daruwerdi.
Lalu “Guru dapat mengambil sikap yang keras dan kasar tanpa
menghiraukan mendapat sikap yang keras dan kasar tanpa menghiraukan
mendapat orang lain. Langsung atau tidak langsung, Pangeran itu dan
juga ternyata orang tua di lereng bukit itu, bersama anak-anak
Lumban telah menyelamatkan aku dari kemarahan Yang Mulia. Kegagalan
ini bukan salahku semata-mata. Ternyata apa yang diperhitungkan
guru, masih juga kurang cermat” “Aku tidak mengerti apa yang telah
kau lakukan sebelumnya, dan persetujuanmu dengan gurumu Daruwerdi”
sahut pamannya “Tetapi niat Pangeran Sena Wasesa dapat dimengerti
sepenuhnya” “Aku mengerti paman” jawab Daruwerdi “Aku justru gelisah
karena Pangeran itu akan menemui guru. Bukankah yang dikehendaki
guru adalah Pangeran itu. meskipun semula ia tidak ingin menampakkan
dirinya” Kedua pamannya menar ik nafas dalam-dalam, la mengerti,
bahwa persoalan di dalami hati Daruwerdi itu telah berkembang.
Nampaknya ia mulai menilai keadaan dengan hati yang semakin terang.
Kegelisahannya kemudian adalah justru karena nasib Pangeran Sena
Wasesa. “Tetapi aku tidak akan dapat mencegahnya” berkata Daruwerdi
“Jika aku berusaha untuk mencegahnya, maka akan timbul salah paham.
Pangeran Sena Wasesa akan menganggap bahwa aku tidak mau memenuhi
keinginannya bertemu dengan guru yang justru telah meninggalkan
tanda di pintu itu” Kedua pamannya masih mengangguk-angguk Kemudian
salah seorang diantaranya berkata “Katakan terus terang, apa yang
sebenarnya telah terjadi. Pembicaranmu dengan gurumu dan sikap yang
dapat diambil oleh orang tua itu” Daruwerdi mengangguk-angguk kecil.
”Sudahlah” berkata pamannya yang lain “pergunakan sisa malam ini
untuk beristirahat. Sebentar lagi ayam jantan akan berkokok untuk
yang terakhir kalinya. Jika kau sama sekali tidak tertidur barang
sekejappun dalam keadaan seperti ini, maka keadaan wadagmu mungkin
sekali akan terganggu. Kecuali j ika kau memang menghendakinya untuk
tidak tidur barang sekejappun sebagaimana dalam latihan- latihanmu
dalam olah kanuragan. Besok kau harus lebih terbuka menghadapi
Pangeran Sena Wasesa” Daruwerdi mengangguk pula. Perlahan-lahan ia
meletakkan tubuhnya dipambaringannya. Ia berusaha melepaskan semua
kegelisahannya. Ia sudah bertekad untuk mengatakan apa yang
sebenarnya telah terjadi. Biarlah Pangeran Sena Wasesa dan gurunya
mencari penyelesaian. “Bukan tanggung jawabku lagi” berkata
Daruwerdi di dalam hatinya “Aku ternyata tidak mampu mengatasi
persoalan ini. Biarlah seandainya guru akan menyebutku terlalu bodoh
dan dungu” Dengan demikian, maka hati Daruwerdi menjadi sedikit
tenang. Sehingga iapun sempat untuk memejamkan matanya barang
sekejap. Diluar pengetahuannya, ternyata di luar Pangeran Sena
Wasesa dan Kiai Kanthi mendengar pembicaraan itu meskipun
lamat-lamat. Keduanya memang tidak membiarkan Daruwerdi lepas dari
pengawasan. Karena itu maka keduanya telah duduk duduk berjaga-jaga
di luar bilik. Semula mereka bergantian iidur. Namun menjelang pagi
keduanya telah tidak berniat lagi untuk tidur. Justru pada saat
mereka duduk memeluk lutut, terdengar pembicaraan Daruwerdi dengan
kedua pamannya. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam.
Namun keduanya hanya sekedar saling berpandangan, karena keduanya
tidak dapat berbincang pada saat itu. Baru setelah fajar menjadi
semakin terang, keduanya turun kehalaman. Mereka melihat kejujuran
mulai tumbuh dihati Daruwerdi yang tidak lagi dapat berbuat lain
menghadapi keadaan. “Agaknya orang yang disebut Pamotan Galih adalah
Ajar itu dalam ujudnya sebagai Macan Kuning” berkata Pangeran Sena
Wasesa. “Atau sebuah ujud ketiga dari orang yang bernama Pamotan
Galih dengan sifat diantara kedua ujudnya yang lain, atau justru
kita akan menemukan seseorang yang mempunyai sifat lebih garang lagi
dari Macan Kuning” sahut Kiai Kanthi. Kedua orang itupun kemudian
hanya dapat merennunginya. Ketika langit menjadi semakin terang,
maka kedua orang tua itu telah selesai dengan mandi dan membenahi
pakaiannya. Sebentar kemudian kedua paman Daruwerdipun telah
bersiap. Yang terakhir adalah Daruwerdi sendir i. Sementara Rahu dan
Jlithengpun telah hadir pula untuk bersama-sama pergi ke tempat yang
mendebarkan. “Jarak antara padukuhan ini dengan padepokan kakek
Pamotan Galih cukup jauh” berkata Daruwerdi. “Kita akan menempuh
perjalanan yang bagaimanapun jauhnya” jawab Pangeran Sena Wasesa.
“Tetapi apa yang terjadi kemudian bukanlah tanggung jawabku” berkata
Daruwerdi kemudian “guru adalah orang yang keras hati dan sedikit
kasar, la orang baik bagi aku dan ibuku. Tetapi aku t idak tahu,
apakah ia dapat berlaku baik kepada orang lain” “karena itu biarlah
aku pergi ke padepokan gurumu t idak seorang diri, agar aku dapat
membawa saksi. Persoalannya tentu tidak akan terlalu gawat, karena
yang aku perlukan hanya penjelasan dan mungkin akupun perlu memberi
penjelasan. Aku tahu bahwa yang kau lakukan di daerah Sepasang Bukit
Mati ini bukan karena kehendakmu sendiri sebagaimana aku sebut sejak
semula. Kau tentu tidak mengenal aku dengan wajar, kaupun tidak tahu
bahwa ada pusaka tersimpan di daerah ini, apalagi bahwa ayahmu telah
terbunuh oleh seorang Pangeran yang harus kau tangkap dan kau bawa
kepada gurumu yang bernama Pamotan Galih itu” Daruwerdi menundukkan
kepalanya. Namun kemudian terucapkan disela-sela bibirnya “Ya. Aku
tidak tahu apa-apa” Dalam pada itu, ketika segalanya diperlukan,
Swastipun tidak mau dit inggalkan di Lumban. Ia lebih senang
mengikuti ayahnya kemana saja ia pergi dan apapun yang akan terjadi.
“Baiklah Swasti” berkata ayahnya “Tetapi kau sudah mengetahui bahwa
perjalanan ini adalah perjalanan yang berat. Bukan saja jarak yang
panjang, yang harus kita tempuh berkuda, tetapi apa yang akan kita
jumpai itupun masih merupakan teka-teki. Tetapi Swasti berkeras
untuk mengikuti ayahnya, sehingga karena itu maka ayahnyapun tidak
menolaknya. Swasti tidak menjawab. Ia mengerti. Namun latihan
siapkan pula kuda masing-masing. Meskipun Swasti pada saat terakhir
tidak pernah lagi duduk diatas punggung kuda, tetapi pada dasarnya
ia sudah pernah melakukannya sebelumnya iapun akan dapat pergi
bersama dengan ayahnya dipunggung kuda. “Perjalanan yang akan sangat
melelahkan” desis ayahnya. Swasti tidak menjawab. Ia mengerti. Namun
latihan kanuragan yang dilakukannya sebaik-baiknya telah membantu
membentuk tubuhnya menjadi kuat dengan daya tahan yang tinggi.
Demikianlah, maka iring- iringan kecil itupun kemudian telah
meninggalkan Lumban. Mereka ke sebuah padepokan yang jauh dan
menegangkan. Kepada kawannya Jlitheng sempat berpesan, agar
disampaikan kepada ibunya, bahwa ia sedang pergi ke tempat yang
jauh. “Aku mohon maaf, bahwa aku tidak sempat mohon dir i“ pesan
Jlitheng kepada kawannya itu. Kemudian “Tetapi katakan, bahwa aku
hanya sekedar mengantarkan seseorang. Tidak akan terjadi apa-apa”
Kawannya mengangguk. Namun kawannya itupun mulai menyadari, bahwa
Jlitheng yang dikenalnya selama itu, adalah bukan satu pribadi yang
sebenarnya. Dan iapun tahu bahwa hubungan antara Jlitheng dan ibunya
itupun adalah hubungan yang di jalin kemudian. “Tetapi mungkin
seperti yang selalu dikatakan oleh ibunya, bahwa Jlitheng adalah
anaknya yang hilang puluhan tahun yang lalu, yang kemudian datang
kembali dengan segala macam kelebihannya itu” berkata kawannya di
dalam hatinya. Tetapi ia cenderung menganggap bahwa Jlitheng
benar-benar orang lain bagi Lumban. Demikianlah, iring- iringan itu
semakin lama menjadi semakin jauh dari Lumban. Mereka berkuda tidak
terlalu cepat Tetapi juga tidak terlalu lambat. “Kami akan
bermalamdi perjalanan” berkata Daruwerdi. Pangeran Sena Wasesa
mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian “Apakah kau dapat
menyebut nama padepokannya?“ “Padepokan Watu Gingsir” jawab
Daruwerdi. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Nama itu
belum dikenalnya. Ketika ia berpaling kearah Kiai Kanthipun
menggeleng pula. “Nama itu asing” gumam Kiai Kanthi “Yang aku
ketahui Macan Kuning itu bersarang di sekitar tempuran antara Kali
Elo dan Kali Praga” “Memang jauh sekali” desis Pangeran Sena Wasesa
“nampaknya daerah jelajah Kiai jauh lebih luas dari daerah yang
pernah aku kenal. Tetapi mungkin yang dimaksud Padepokan Watu
Gingsir itu juga tertelak di sekitai tempuran antara Kali Elo dan
Kali Praga itu” “Apakah yang kau maksud Padepokan Walu Gingsir itu
juga padepokan yang terletak disekitar tempuran itu Daruwerdi?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa. Daruwerdi mengerutkan keningnya.
Ketika ia berpaling kepada kedua pamannya, maka salah seorang dari
mereka berkata “Sebenarnyalah guru Daruwerdi itu adalah seorang yang
diliputi oleh kabut rahasia. Tidak dapat menyebut dengan jelas,
siapakah sebenarnya orang itu, dan dimanakah ia tinggal. Apalagi aku
yang tidak terlalu dekat dan akrab dengan orang yang mengaku orang
tua saudara perempuanku itu” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia mengulangi pertanyaan Pangeran Sena Wasesa “Katakan, dimana
letak padepokan itu menurut pengertianmu” “Padepokan itu terletak
disisi Selatan dari Tanah ini” jawab Daruwerdi. “Jika demikian,
mungkin sekali padepokan itu memang terletak di tempuran. Tetapi
segalanya masih belum pasti” berkata Kiai Kanthi “namun demikian,
tanda itu memang sangat mendebarkan” Rahu dan Jlitheng yang berkuda
dipaling belakang, tidak banyak mengetahui tentang orang yang
disebut Ajar Cinde Kuning maupun Macan Kuning. Meskipun nama itu
pernah didengarnya, tetapi mereka belum pernah berhubungan dalam hal
apapun juga. Sejenak kemudian, maka orang-orang di dalam ir ing-
iringan itu hanya terdiam. Mereka tenggelam dalam angan-angan
masing-masing. Namun semuanya yang ada diperjalanan itu tengah
merenungkan orang yang telah meninggalkan tanda dipinta tempat
tinggal Daruwerdi. Perjalanan itu memang merupakan perjalanan yang
berat. Sekali-sekali Daruwerdi harus mengingat-ingat, jalan manakah
yang harus dilalui. Mereka masih harus menembus hutan yang gelap
oleh pepohonan yang berdaun lebat. Beberapa batang raksasa tumbuh
menjulang seolah-olah menggapai langit Bagi Swasti perjalanan itu
benar-benar menjemukan dan melelahkan. Untunglah ia mempelajari
kanuragan dengan sebaik-baiknya. Meskipun demikian sekali-sekali
iapun berdesis tertahan. Namun ia tidak ingin keluhannya itu
didengar oleh orang lain. Namun pada suatu saat, Daruwerdi tertegun.
Ketika ia berdiri di bawah sebatang pohon randu alas ia menjadi
termangu-mangu. Dihadapannya jalan bercabang. Justru setelah mereka
keluar dari sebuah hutan yang lebat. “Paman, jalan yang manakah yang
harus aku pilih?“ bertanya Daruwerdi. Kedua pamannyapun menjadi
bingung. Yang seorang menjawab “Aku belum pernah pergi ke padepokan
kakekmu itu. Aku mengenal kakekmu di rumahmu, di rumah ibumu”
Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu pamannya
yang lain berkata “Apakah mungkin gurumu justru membawa ibumu t idak
ke padepokannya?“ “Tentu ke padepokannya” berkata Daruwerdi. “Tetapi
bagaimana kau mengetahui daerah Sepasang Bukit Mati itu?“ bertanya
Kiai Kanthi tiba-tiba. “Guru mengantar aku sampai kesatu tempat yang
tidak lagi membingungkan” jawab Daruwerdi. Iring-ir ingan itu
terpaksa berhenti sejenak. Namun Jlitheng yang muda itu nampaknya
kurang sabar menghadapi kebingungan Daruwerdi. Dengan nada tinggi ia
bertanya “Daruwerdi, apakah kau benar-benar bingung atau sekedar
mencari dalih” Wajah Daruwerdi menjadi merah. Dengan geram ia
menjawab “Kau jangan mencar i perkara Jlitheng” “Sudahlah“ Pangeran
Sena Wasesa berusaha menengahi “Kita akan menunggu sejenak. Mungkin
Daruwerdi akan menunggu sejenak. Mungkin Daruwerdi akan dapat
mengingat jalan yang pernah ditempuhnya setelah merenungi sejenak”
Tetapi nampaknya Jlitheng masih belum puas. Namun ketika ia bergeser
maju, Rahu menggamitnya “Aku percaya bahwa ia benar-benar bingung.
Aku melihat, bahwa anak itu tidak berusaha untuk berbohong lagi. Ia
sudah tersudut pada setu keadaan yang memaksanya untuk membawa kita
kepada gurunya, justru karena gurunya sendiri menghendakinya”
Jlitheng menahan nafas sejenak. Namun iapun berusaha untuk meredakan
gejolak diliatinya. Untuk melepaskan kesal iapun lelah duduk
bersandar sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan, setelah
mengikat kudanya pada batang itu pula. Namun dalam pada itu, Kiai
Kanthipun kemudian berdesis “Pangeran Lihatlah” Pangeran Sena Wasesa
segera mendekat. Ia melihat tanda seperti yang dilihatnya tertera
pada pintu di rumah yang dipergunakan oleh Daruwerdi di Lumban.
“Tanda itu lagi” desis Pangeran Sena Wasesa. “Aku kira orang itu
telah dengan sengaja mengundang kita” berkata Kiai Kanthi “agaknya
tanda itu dibuatnya karena ia sudah menduga bahwa jalan simpang ini
dapat membingungkan Daruwerdi” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas
dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Kita akan menuju
kearah ini” “Ya. Kita sudah pasti” jawab Kiai Kanthi “tetapi apakah
Pangeran tidak mempunyai pengertian lain dengan sikap Macan Kuning
itu” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengerti
Kiai. Setelah ia gagal mempergunakan muridnya, maka ia telah dengan
sengaja memasukkan aku ke dalam wuwunya” “Bagaimana pertimbangan
Pangeran?“ bertanya Kiai Kanthi. “Tetapi aku tidak dapat
menghindarkan diri dari satu keinginan untuk bertemu dengan orang
itu” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Seharusnya Pangeran sudah tahu,
apakah yang dikehendakinya dari Pangeran” jawab Kiai Kanthi dengan
tiba- tiba. Wajah Pangeran Sana Wasesa menegang sejenak. Namun
kemudian ia berusaha menghapus kesan itu dari wajahnya. Katanya
“Sulit untuk mengerti, meskipun aku akan menduga- duga” “Dan
Pangeranpun tentu sudah memperhitungkan, bahwa di padepokan itu
telah menunggu bukan saja Ajar Macan Kuning atau yang disebut
bernama Pamotan Galih itu, tetapi tentu sekelompok orang yang telah
lama merasa berkepentingan dengan Pangeran” berkata Kiai Kanthi.
Pangeran Sena Wasesa memandang Kiai Kanthi sejenak. Kemudian ia
berpaling kepada Daruwerdi. Tetapi anak muda itu menundukkan
kepalanya dalam-dalam. “Aku kira orang itu sendiri Kiai” jawab
Pangeran Sena Wasesa “Jika ia tidak sendiri, maka ia tidak akan
meminjam tangan orang lain untuk mengambil aku dari rumahku. Tetapi
karena ia sendiri, meskipun ia merasa memiliki ilmu yang lebih
tinggi dari aku, atau katakanlah ilmu yang tidak kalah dari ilmuku,
ia tidak mau mengambil aku langsung dari rumahku, karena ia tahu,
bahwa aku mempunyai beberapa orang pengawal yang harus
diperhitungkan. Bagaimanapun juga ia tidak akan dapat mengabaikan
para pengawalku, dan bahkan mungkin satu kesempatan untuk memukul
tanda atau isyarat yang dapat memanggil peronda prajurit Demak untuk
datang” Kiai Kanthi mengangguk-angguk “Perhitungan Pangeran cermat.
Tetapi setelah kegagalan itu” “Ia tidak akan melibat orang terlalu
banyak ke dalamnya” berkata Pangeran Sena Wasesa. Diluar sadarnya
Pangeran Sena Wasesa telah menghitung orang yang datang bersamanya.
Namun dengan satu kesadaran bahwa Daruwerdi tidak akan dapat di
perhitungkan dengan pasti- Demikian juga kedua pamannya, meskipun
agaknya kedua pamannya itu dapat berpikir dewasa menghadapi
persoalan kemanakannya itu. Sejenak orang-orang yang berdiri di
jalan simpang itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba Jlitheng bangkit
dan melangkah mendekati Daruwerdi. Dengan geram ia bertanya
“Daruwerdi, apakah gurumu masih berada disekitar tempat ini? Lihat,
apakah orang yang berpura-pura menjadi seorang petani di pematang
itu gurumu yang juga kau anggap kakekmu itu” Semua orang memandang
ke sawah yang agak jauh. Seorang petani berjalan di pematang dengan
cangkul di pundaknya. Sekali-sekali petani itu berhenti memandang ke
arah orang-orang yang berada di simpang jalan itu. Namun petani itu
berjalan terus. Daruwerdi mengerutkan keningnya. Jawabnya “Siapa
yang dapat mengenali orang pada jarak yang sejauh itu. Tetapi aku
kira guru tidak akan berada disini. Ia pergi bersama ibuku” “Tetapi
beberapa hari yang lalu” sahut Jlitheng “Ia dapat membawa ibumu
pulang ke padepokan. Kemudian ia datang lagi untuk mengamati kita
semuanya disini” “Tidak ada orang dapat mengenal orang pada jarak
sejauh ini” desis Daruwerdi. Jlitheng menjadi jengkel. Tetapi
Pangeran Sena Wasesa mendahului “Sudahlah. Kita sudah dapat
mengetahui arah kemana kita harus pergi. Yang per lu kita
pertimbangkan adalah, apakah kita akan menemui gurumu atau tidak.
Namun aku sendiri sangat berkepentingan. Mungkin ia akan bersikap
lain j ika aku sudah menjelaskan masalahnya” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Kalanya “Baiklah Pangeran. Jika Pangeran berkeras
untuk bertemu, aku akan mengikut Pangeran” “Aku sadar sepenuhnya
Kiai” berkata Pangeran Sena Wasesa “Kiai bukan sekedar seorang
penonton daiam permainan ini” “Aku seorang penonton” desis Kiai
Kanthi “Tetapi aku berusaha untuk menjadi seorang penonton yang
baik?” Pangeran Sena Wasesa termangu-mangu. Namun akhirnya ia
berkata “Aku akan terus. Tetapi aku tidak tahu, apa yang akan
terjadi. Aku seolah-olah akan meloncat kedaiam gelap. Mungkin aku
akan jatuh keatas seonggok ular-ular berbisa. Tetapi mungkin aku
akan jatuh diatas setumpuk jerami yang lunak “ “Aku akan melengkapi
petualanganku di hari tua” berkata Kiai Kanthi. Namun iapun kemudian
memandang kepada Swasti. Tetapi sebelum ia berbicara, Swasti telah
mendahului “Dan ayah masih akan menganggap aku anak-anak yang masih
pantas dibelai dengan kata-kata manis menjelang tidur?“ Kiai Kanthi
menarik nafas dalam-dalam. Namun Katanya “Swasti, segalanya terserah
kepadamu” “Aku akan melihat apa yang terjadi” jawab Swasti. Kiai
Kanthi hanya menarik nafas panjang. Namun iapun kemudian
mengangguk-angguk meskipun ia tidak mengatakan apapun juga. Sebagai
orang tua, maka Kiai Kanthi melihat naluri anak gadisnya yang
meningkat dewasa itu mulai menyentuh perasaannya. Justru karena
Daruwerdi mempunyai kelainan dari anak-anak Lumban kebanyakan.
Diluar sadarnya Kiai Kanthi memandang kepada Jlitheng. Ia yakin
bahwa Jlitheng itupun bukan anak muda kebanyakan dari Lumban. Tetapi
ia telah berusaha menyatukan diri sepenuhnya dengan anak-anak
Lumban. Caranya berpakaian, tingkah lakunya dan bahkan ujudnyapun
tidak banyak berbeda dengan anak-anak muda Lumban. Sementara itu,
maka Pangeran Sena Wasesapun berkata “Baiklah Kiai. Kita akan
meneruskan perjalanan. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, kita
akan meloncat kedaiam kegelapan. Setiap orang diantara kita harus
bersedia menerima akibat apapun juga. Meskipun mungkin sekali
kepentingan kita masing-masing memang agak berbeda” Kiai Kanthi
menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak akan dapat dihindari bahwa
disetiap hati tersimpan prasangka dan kecurigaan. Tetapi Kiai Kanthi
tidak banyak menghiraukannya, karena sebenarnyalah ia tidak
mempunyai pamrih khusus terhadap pusaka yang sedang diperebutkan
itu. Demikianlah, maka iring- iringan kecil itupun segera
melanjutkan perjalanan. Setelah melewati simpangan yang
membingungkan itu, maka Daruwerdi mulai mengenali lagi jalan menuju
ke padepokannya yang masih jauh. Tidak banyak hambatan diperjalanan.
Seolah-olah jalan memang sudah disiapkan oleh Ajar Cinde Kuning,
atau dalam sikapnya sebagai Ajar Macan Kuning atau yang disebut oleh
Daruwerdi bernama Pamotan Galih. Dibeberapa tempat yang agak
membingungkan selalu nampak tanda-tanda yang dibuat oleh orang yang
mendebarkan itu. Orang yang sebagaimana tertera dalam tanda-tanda
yang dibuatnya. Bahkan ia adalah satu kebulatan, satu bentuk
lingkaran, tetapi dengan garis yang membelah lingkaran itu
seolah-olah orang itu mersa bahwa dirinya memang mempunyai wajah
rangkap. Tetapi perjalanan yang berat itu memang tidak dapat di
tempuh dalam satu hari. Mereka harus bermalam diperjalanan yang
panjang. Apalagi jika mereka melintasi hutan yang lebat, maka mereka
hanya dapat merayap seperti siput. Bahkan kadang-kadang mereka harus
berjalan dengan susah payah sambil menarik kendali kuda mereka.
“Apakah tidak ada jalan yang lebih baik” geram Jlitheng. Rahulah
yang menjawab “Mungkin ada Jlitheng, meskipun agak jauh sedikit.
Tetapi jalan inilah yang dikenal oleh Daruwerdi satu-satunya. Karena
itu, ia tidak dapat membawa kita melalui jalan yang lain” Jlitheng
menarik nafas dalam-dalam Ada beberapa persoalan yang bergejolak
diliatinya- Rasa-rasanya Daruwerdi menjadi semakin menjemukan
baginya. Apalagi setiap kali ia melihat diluar sadarnya, Swasti
selalu memperhatikan anak muda itu dengan tatapan mata yang iba.
Ketika senja turun, maka mereka mulai mencari tempat yang paling
baik untuk bermalam. Tidak dibulak-bulak persawahan atau di
pategalan yang akan dapat mengundang persoalan dengan para
pemiliknya. Tetapi mereka telah mencari tempat di hutan perdu yang
agak jauh dari padesan. Untunglah bahwa mereka akhirnya menemukan
tempat seperti yang mereka kehendaki. Apalagi tidak jauh dari tempat
itu, di bawah sebatang pohon preh yang besar, terdapat sumber air
yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi cukup memenuhi kebutuhan
mereka. Ketika dingin malam mulai terasa menyentuh kulit, maka Rahu
dan Jlithengpun telah mencari ranting-ranting kering untuk membuat
perapian. Bagaimanapun juga perapian itu akan dapat membantu
menghangatkan tubuh mereka. Hampir semalam-malaman Rahu dan Jlitheng
duduk dipinggir perapian itu. Ada beberapa masalah yang mereka
perbincangkan. Namun merekapun tidak pernah dapat mengambil satu
kesimpulan dar i pembicaraan mereka tentang perjalanan mereka yang
panjang itu. Di sebelah lain, beberapa langkah dari perapian.
Pangeran Sena Wasesa duduk sebelah menyebelah dengan Kiai Kanthi,
Sementara Swasti memeluk lututnya di belakang ayahnya sambil
berselimut kain panjang. Daruwerdi dan kedua pamannya berbaring
diatas tanah kering. Namun nampaknya merekapun tidak dapat
memejamkan mata barang sekejappun. Sementara itu, ternyata diluar
pengetahuan mereka, seseorang tengah mengawasi perapian itu dengan
saksama. Wajahnya yang keras sekali-sekali nampak berkerut. Namun
kemudian orang itu mengangguk-angguk kecil. “Mereka harus memasuki
daerah kuasaku” desis orang itu di dalam hatinya “Ternyata orang
gila dari Sanggar Gading itu tidak terlalu mudah untuk ditipu,
sehingga aku terpaksa menunjukkan tanda-tanda pribadiku untuk
memancing orang itu datang ke padepokan. Seandainya anak itu tidak
gagal dengan usahanya mengelabui orang-orang Sanggar Gading, maka
aku akan dapat menangkap Pangeranitu tanpa mengenali aku lebih
dahulu. Tetapi semuanya sudah terjadi. Dan sekarang, aku akan
berdiri berhadapan dengan orang itu apapun yang akan dikatakannya”
Untuk beberapa saat orang itu masih saja mengawasi orang-orang yang
berada disekitar perapian itu, seolah-olah ia sedang menghitung
kekuatan yang ada diiantara mereka. “Jika Pangeran itu terkeras
kepala, maka apaboleh buat” berkata orang yang terada di balik
gerumbul itu kepada diri sendiri “Mudah-mudahan kawan-kawannya tidak
akan ikut membunuh diri bersama Pangeran itu. Tetapi mereka memang
perlu diperhitungkan. Bahkan kedua paman anak itupun agaknya masih
harus diperhatikan sebaik-baiknya” Sejenak orang itu masih menunggu.
Namun kemudian katanya “Aku harus mengadakan persiapan penyambutan.
Mungkin pertemuan ini akan menjadi sangat meriah” Orang itupun
kemudian beringsut semakin jauh. Sejenak kemudian maka iapun telah
menyusup ke dalam gelap, mendahului perjalanan Pangeran Sena Wasesa
dan kawan- kawannya. Sebenarlah bahwa orang itu harus mengadakan
persiapan yang berbeda dengan rencananya semula. Jika ia dapat
menerima Pangeran yang dikehendakinya dalam keadaan tidak berdaya,
makatidak akan ada masalah lagi baginya. Ia sendiri tidak per lu
tampil. Segalanya akan diseksaikan oleh anak muda yang disebutnya
sebagai, cucu dan muridnya. Ia sendiri t inggal memetik hasil dari
jerih payah muridnya itu. Tetapi ternyata yang terjadi lain dari
yang diharapkannya. Yang berhasil membawa Pangeran itu kepada
Daruwerdi adalah orang-orang Sanggar Gading. Dan agaknya padepokan
Sanggar Gading itu memiliki pengamatan yang tajam terhadap
rencananya untuk, mengelabuinya, sehingga hampir saja rencananya itu
merenggut nyawa cucunya yang sekaligus mur idnya itu. Namun ternyata
orang itu sama sekali mempertimbangkan upaya beberapa orang yang
telah menyelamatkan nyawa cucu angkatnya itu. Termasuk Pangeran Sena
Wasesa itu sendir i. Agaknya orang itu masih saja terpancang pada
suatu keinginan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya meskipun ia
harus menempuh cara yang berbeda. Setelah agaik jauh dari tempat
pemberhentian orang-orang yang menuju ke padepokannya, maka orang
itupun mengambil kudanya yang di tambatkannya pada sebatang pohon di
belik gerumbul. Sejenak kemudian maka iapun berpacu menerobos
gelapnya malam. Ia harus secepatnya sampai di padepokannya, karena
setelah ia mengamati orang- orang yang akan datang ke padepokannya,
maka ia merasa perlu untuk bersiap-siap lebih baik. Ketika ia sampai
di padepokannya, maka iapun segera menemui perempuan yang telah
dibawanya dengan paksa. Ibu Daruwerdi. Dengan suara lembut ia
berkata kepada perempuan yang menjadi anak angkatnya itu “Kau jangan
cemaskan anakmu ngger. Seperti sudah aku katakan, ia mempunyai bekal
yang cukup untuk menyelamatkan dir inya sendiri. Apalagi diluar
kehendakku, kedua pamannya telah menyusul. Bukankah kau yang telah
membawa mereka. Tetapi baiklah, agaknya keduanya akan dapat membantu
anakmu untuk melindungi dirinya sendir i” “Tetapi aku selalu cemas
ayah. Kenapa ayah tidak menyelamatkannya, justru membawa aku
kemari?“ bertanya perempuan itu. Orang tua itu tersenyum. Katanya
“Lebih dari duapuluh lima kali aku berkata, bahwa anakmu itu akan
dapat melindungi dir inya sendiri. Tetapi kehadiranmu di Lumban
justru akan dapat mengganggunya. Mungkin Pangeran itu akan menjadi
gila melihatmu, sehingga ia segera menuduh, seolah-olah kaulah yang
telah bersalah, sehingga Pangeran itu telah diambil dari istananya”
“Aku akan dapat berbicara dengan Pangeran” jawab perempuan itu.
“Sudahlah, aku kira semuanya itu tidak perlu. Besok mereka akan
sampai di padepokan ini. Malam ini mereka berhenti dalam
perjalanannya, karena nampaknya anakmu tidak mudah untuk mengingat
sesuatu yang pernah dilihatnya, sehingga aku merasa perlu memberikan
tanda-tanda agar mereka t idak tersesat” “Tetapi apa yang ayah
persiapkan disini sangat mendebarkan hati, seolah-olah akan terjadi
kekerasan” desis perempuan itu. “Tidak ngger” jawab orang tua itu
“Bukankah kau mengenal aku bukan hari ini saja” “Tetapi justru
hari-har i terakhir ayah nampaknya telah berubah. Rasa-rasanya yang
aku lihat sekarang, bukan ayahku beberapa saat yang, lampau.
Seorangpun ayah yang lembut dan baik hati. Meskipun ayah
kadang-kadang bertindak keras terhadap anakku, namun, aku sadar,
bahwa hal itu demi kebaikannya. Bahkan anakku masih termasuk anak
yang manja dan kadang-kadang kemauannya tidak lagi dapat di elakkan.
Seperti apa yang telah terjadi di Lumban sekarang ini. Sebenarnya
aku berharap ayah justru mencegahnya. Bukan mendorongnya. Yang aku
tetap tidak mengerti, kenapa ayah tidak berusaha menolongnya ketika
anak itu berada dalam kesulitan. Justru ayah memaksa aku
meninggalkannya” “Sudah aku jawab ngger. Sebaiknya kau sekarang
beristirahat. Tetapi, aku minta kau mengikuti petunjukku. Aku harap
kau tidak berada di padepokan ini. Tetapi seorang cantrik akan
membawamu kepadakuhan sebelah, agar kau tidak menjadi bingung j ika
besok aku dan para tamu itu akan membicarakan beberapa masalah
penting” berkata orang tua itu. “Sikap ayah sangat meragukan” jawab
ibu Daruwerdi “ayah telah memanggil saudara seperguruan ayah. Tidak
hanya satu orang. Bukankah sikap ayah itu tidak dapat aku mengerti?“
“Semuanya sekedar satu sikap hati-hati” jawab ayah angkatnya “Tetapi
percayalah. Tidak ada maksud buruk sama sekali di dalam hati ini
”Orang tua itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi apakah kau pernah
mendengar sesuatu tentang Pangeran itu dari anakmu?“ “Anakku
menyimpan rahasia seperti juga ayah. Aku sadar, bahwa aku adalah
seorang perempuan, yang barangkali menurut penilaian ayah dan
anakku, sebaiknya aku tidak tahu apa-apa. Tetapi ayah lupa bahwa
tidak selamanya demikian. Kadang-kadang seorang perempuan akan mampu
berbuat sesuatu yang penting dalam keadaan tertentu” sahut ibu
Daruwerdi. Tetapi orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Sudahlah. Kali ini aku terpaksa memaksamu sekali lagi. Aku minta
maaf, bukan karena aku menganggapmu orang lain. Kau memang anak
angkatku. Tetapi bukankah kau merasakan bahwa aku telah menganggapmu
sebagai anakku sendir i?“ Wajah perempuan itu menjadi semakin muram.
Sekali lagi ia berkata “Aku merasakan satu perubahan pada diri ayah.
Sebenarnyalah ayah telah berbuat sesuatu yang sangat membingungkan
aku” “Bukan maksudku ngger. Tetapi aku terpaksa. Terpaksa sekali,
karena sebenarnyalah apa yang aku lakukan ini semata-mata untuk
kebahagiaan anakmu, kebahagiaan cucu dan sekaligus muridku itu”
Orang tua itu berhenti sejenak, lalu “Aku persilahkan kau
meninggalkan padepokan ini sebelum pagi. Aku masih harus
mempersiapkan sebuah penyambutan. Jangan membantah jika kau
mengasihi anakmu sebagimana aku mengasihinya. Ibu Daruwerdi itu
memang tidak akan dapat menolak apapun alasannya sehingga ia tidak
dapat menolak untuk masinggalkan Lumban karena ayah angkatnya itu
memaksa. Karena itulah, maka diantar oleh seorang cantrik, ibu
Daruwerdi itu meninggalkan padepokan malam itu juga, menuju ke
sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh, yang nampaknya memang
sudah dipersiapkan. Sebuah rumah yang kecil telah menerimanya.
Bahkan rumah itu seolah-olah adalah rumah yang kosong meskipun
nampak tidak kotor dan perabotnya tersusun rapi. “Silahkan Nyai
menunggu disini” berkata cantrik itu. “Aku akan dit inggalkan disini
seorang diri?“ bertanya perempuan itu. “Tidak Nyai Aku akan berada
disini. Tetapi karena perkembangan keadaan yang mungkin akan menjadi
gawat, maka aku akan mengawasi keadaan diluar tumah. Aku akan berada
diserambi” jawab cantrik itu, Ibu Daruwerdi tidak menjawab. Tetapi
rasa-rasanya ia tidak akan betah tinggal di rumah itu, sementara
anaknya berada dalam keadaan yang tidak menentu. Selebihnya,
kegelisahannyapun meningkat jika ia sadar, bahwa Pangeran Sena
Wasesa dihari berikutnya akan datang ke padepokan ayah angkatnya
itu. Apalagi seolah-olah tabiat dan sifat ayah angkatnya itu
tiba-tiba saja telah berubah pada saat-saat terakhir. Ketika cantrik
itu meninggalkannya, dan kemudian terdengar derit amben bambu
diserambi, maka perempuan itupun mengetahui, bahwa cantr ik itu
memang berada diserambi. Sejenak perempuan itu duduk disebuah amben
yang besar di ruang dalam. Dipandanginya tiga pintu sentong yang
menganga. Tidak ada perabot apapun di dalam ketiga sentong itu.
Hanya disentong tengah terdapat sebuah lampu yang menyala. “Tentu
rumah ini bukan rumah yang benar-benar kosong” berkata perempuan
itu. Dengan hati-hati iapun kemudian bangkit dan melangkah ke
sentong tengah. Tetapi ia memang tidak menjumpai sesuatu. Kemudian,
iapun berjalan ke pintu butulan. Dilihatnya sebuah longkangan diluar
pintu. Disebelah longkangan adalah kelanjutan dar i gandok yang
tidak begitu besar, tetapi dinding yang menghubungkan rumah itu
dengan gandok tidak terdapat sebuah seketheng. Perlahan-lahan
perempuan itu turun ke longkangan. Namun pintu gandok itu ternyata
tidak dapat dibukanya. Sementara itu pintu longkangan yang
menghubungkannya dengan longkangan belakang dan rumah dibagiari
belakang dan dapurpun tertutup rapat. Meskipun ia tidak melihat
selarak yang menyilang, tetapi ternyata bahwa ia tidak dapat membuka
pintu itu. Sekali lagi perempuan itu merenungi rumah kecil itu.
Iapun kemudian yakin, bahwa rumah itu benar-benar telah di
persiapkan sebagai suatu tempat yang akan menyimpannya, sehingga ia
tidak akan mungkin dapat keluar. “Tetapi masih, ada jalan “ desisnya
“memanjat dinding penyekat longkangan ini” Tetapi perempuan itu t
idak akan mungkin dapat memanjat dinding yang terbuat dari potongan
bambu utuh yang berjajar rapat dan apalagi ujungnya diruncingkan.
Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia harus
menerima kenyataan itu. Rumah itu adalah sebuah penjara yang
diperuntukkan baginya, menjelang kehadiran anaknya dan Pangeran Sana
Wasesa yang tidak di ketahui dengan pasti keadaannya. Karena itu,
maka ibu Daruwerdi itupun kemudian kembali ke ruang tengah dan duduk
diamben yang besar merenungi keadaannya. Lampu minyak didinding
berkeredipan disentuh oleh angin yang menembus celah-celah dinding
bambu rumah kecil itu. Dalampada itu, di padepokan seorang yang oleh
Daruwerdi disebut Pamotan Galih tengah berbincang dengan dua orang
saudara seperguruannya. Nampaknya mereka tengah berbicara dengan
sungguh-sungguh tentang rencana orang yang disebut Pamotan Galih
itu. “Kakang” berkata salah seorang dari kedua adik seperguruannya “
kakang masih saja membingungkan kami. Aku tidak tahu, apakah yang
kakang kehendaki sebenarnya. Kadang-kadang aku melihat kakang
seolah-olah telah benar- benar menghindar dar i segala nafsu
duniawi. Namun kadang- kadang picu melihat kakang memiliki keinginan
yang tidak terbatas. Dan sekarang aku tidak tahu, apakah yang
sebenarnya kakang kehendaki” “Kau tielak usah membuat kepalamu
menjadi pening tentang sifat dan watakku” jawab Pamotan Galih “Yang
penting sekarang, bantulah aku. Aku akan berusaha untuk
menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Tetapi jika perlu maka kau
berdua dan murid-muridmu yang kebetulan kau bawa, harus bersedia
melakukan sebagaimana aku maksudkan“ “Maksud kakang, mungkin akan
terjadi kekerasan disini?“ bertanya adiknya yang lain. “Hal itu
nungkin sekali terjadi” jawab Pamotan Galih “Sudah barang tentu kita
tidak akan menyerahkan diri kita kedalam kesulitan” “Kakang” berkata
salah seorang adik sepergurunya?” apakah yang sebenarnya kakang
kehendaki sehingga kakang seakan-akan telah mengorbankan pribadi dan
harga diri kakang selama ini?“ “Adik-adikku” berkata Pamotan Galih.
Bukankah kau tahu siapakah aku sebenarnya. Seharusnya kalian tidak
menjadi bingung menanggapi persoalan ini. “Kakang” jawab salah
seorang adiknya “Aku memang tahu, bahwa pada suatu saat kakang
adalah orang yang paling ganas. Kemudian kakang telah menemukan satu
dunia yang berbeda dari dunia kakang yang terdahulu karena kakang
mengalami berbagai keadaan yang seakan-akan dapat meru- bah sifat
dan watak kakang. Hal itu sudah berlangsung berpuluh tahun. Namun
tiba-tiba aku melihat perubahan itu lagi” Tiba-tiba saja Pamotan
Galih itu tertawa. Katanya “Baiklah. Aku memang t iba-tiba berubah.
Tetapi ada istilah yang lebih baik dar i itu. Tiba-tiba aku telah
pulih kembali seperti sediakala” Kedua adik seperguruannya saling
berpandangan sejenak. Namun sebelum mereka mengatakan sesuatu.
Pamotan Galih telah berkata “Jangan berlagak seperti seorang suci.
Bukankah kalian menghendaki aku seperti itu? Selama ini kita kadang-
kadang tidak sependapat, dan bahkan kadang-kadang kita sering
bertengkar karena aku berusaha mencegah kalian melakukan
tindakan-tindakan yang kurang sesuai dengan sikap hidupku. Tetapi
mudah-mudahan untuk seterusnya kita selalu berjalan beriring. Aku
tidak akan lagi mencela sikap dan jalan hidupmu. Apalagi setelah
persoalanku dengan Pangeran itu selesai. Maka aku berjanji, bahwa
aku tidak akan mengganggu kalian” “Kau membingungkan kami kakang”
berkata salah seorang dari kedua adiknya “ketika kami berdua
berusaha menelusuri kebenaran jalan kehidupan, yang selama ini kau
ajarkan kepada kami, maka kau sendir i menjadi berubah seperti itu”
“Kalian memang bodoh” jawab Pamotan Galih “Tetapi sebaiknya kalian
tidak usah berpikir lagi. Persoalanku dengan Pangeran Sena Wasesa
menyangkut banyak segi. Kalian tidak usah mengetahui sampai
mendasar. Aku memer lukan bantuanmu apabila keadaan memaksa. Aku
tidak akan melupakan jasamu” “Tetapi kakang belum pernah mengatakan
kepadaku, persoalan apakah yang kau hadapi dengan Pangeran yang kau
sebut-sebut itu?“ bertanya salah seorang adik seperguruannya.
Pamotan Galih tertawa. Katanya “Persoalan itu sendiri bukan
persoalan yang besar. Tetapi nanti kau akan mengetahuinya Yang
paling menyakiti hati, sudah tentu sikap Pangeran itu sendiri. Dan
nanti, apabila hari menjadi siang, Pangeran itu akan datang dengan
beberapa orang kawannya. Aku kurang tahu, apakah mereka ingin
mempersoalkan masalah diantara kami dengan kasar, atau mereka dapat
menyelesaikan dengan baik. Dan akupun t idak tahu, kekuatan apa
sajakah yang dibawanya kemari. Tetapi aku masih yakin, seandainya
aku harus berhadapan sendiri dengan Pangeran itu, aku akan dengan
mudah menguasainya” “Pangeran itu tentu tidak dengan bodoh memasuki
kandang harimau j ika ia tahu kakang mempunyai kekuatan untuk
melawannya jika perlu” jawab adik seperguruannya yang lain “karena
itu kehadirannya tentu sudah diperhitungkan” “Aku kira ia tidak
sempat menghitung-hitung dengan cermat. Ada persoalan yang telah
terjadi atasnya sebelum aku melihatnya berada di daerah Sepasang
Bukit Mati” jawab Pamotan Galih “karena kehadirannya agaknya memang
tidak terlalu mendebarkan. Namun bagaimanapun juga, kita tidak boleh
kehilangan kewaspadaan” Kedua adik seperguruannya menarik nafas
dalam-dalam. Mereka menjadi bingung menghadapi kakak seperguruannya
yang pada masa-masa terakhir telah nampak berubah dan bahkan ia
lebih senang menyebut dirinya dengan nama Pamotan Galih dari nama
yang mereka kenal sebelumnya, Ajar Macan Kuning. Bahkan nama yang
lebih dahulu dipakainyapun sudah hampir tidak pernah diucapkannya.
Ajar Cinde Kuning Namun dengan perubahan yang terjadi itu, apakah ia
akan kembali menyebut dir inya Macan Kuning atau justru dengan nama
lain lagi. Namun kedua adik seperguruan Pamotan Galih itu t idak
dapat ingkar. Bagaimanapun juga ada keterikatan antara mereka,
karena mereka telah menyadap ilmu dari perguruan yang sama. Meskipun
kadang-kadang mereka berbeda pendirian dan sikap hidup, tetapi
Pamotan Galih telah dengan terus terang minta bantuan mereka,
sedangkan kedua adik seperguruannya itu tahu, bahwa Pamotan Galih
adalah orang yang memiliki ilmu yang jarang ada bandingnya. Jika
bukan karena keadaan yang memaksa, maka ia t idak akan memer lukan
bantuan adik-adik seperguruannya. Karena itu, maka salah seorang
adik seperguruannya itupun kemudian berkata “Baiklah kakang. Aku
akan membantu kakang meskipun aku belum jelas persoalannya. Tetapi
jika kakang menyebut daerah Sepasang Bukit Mati, maka aku teringat
kepada masalah yang berkembang sekarang ini. Ada beberapa pihak yang
menganggap bahwa di Sepasang Bukit Mati terdapat pusaka peninggalan
seorang Senapati Majapahit yang tergeser dalam perjalanannya
menyingkir karena ia t idak berhasil mempertahankan Kota Raja itu”
Pamotan Galih mengerutkan keningnya. Namun justru karena adik
seperguruannya telah menyinggung, maka katanya ”Mungkin Pangeran itu
berada di daerah Sepasang Bukit Mati juga dalam hubungan dengan
pusaka itu. Tetapi ia mempunyai satu persoalan khusus dengan aku.
Agaknya ia memang akan menghubungan persoalan ini dengan pusaka yang
kau sebutkan itu” Kedua adik seperguruannya mengangguk-angguk.
Sementara itu, langit menjadi semakin terang. Karena itu, maka
Pamotan Galih itupun kemudian berkata “Beristirahatlah. Masih ada
waktu. Aku kira menjelang tengah hari mereka baru akan tiba. Mereka
masih akan menempuh perjalanan yang meskipun tidak terlalu jauh,
tetapi kadang-kadang membingungkan, sehingga mereka akan selalu
memperhatikan setiap jalan simpang” “Apakah mereka pernah datang
kemari?” bertanya salah seorang adik seperguruan itu. “Mereka
membawa cucuku sebagai penunjuk jalan. Itulah yang mendebarkan.
Tetapi aku harus menyelamatkan anak itu. Namun agaknya cucuku itu
kurang dapat mengingat jalan yang harus dilaluinya, sehingga
perjalanan mereka akan menjadi sangat lamban” Kedua saudara
seperguruannya itupun mengangguk- angguk pula. “Sudahlah“ berkata
Pamotan Galih “kalian memang perlu beristirahat” Kedua orang itupun
kemudian meninggalkan kakak seperguruannya. Mereka kembali ke pondok
mereka di dalam lingkungan padepokan itu. Namun agaknya mereka tidak
langsung dapat beristirahat. Dua orang mur id yang terbaik dari
salah seorang dianiara keduanya menemui mereka di serambi. Namun
adik seperguruannya Pamotan Galih itu berkata “Sudahlah. Jangan
terlalu banyak memikirkan peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi.
Nanti aku akan member itahukan kepada kalian. Sekarang kita mendapat
kesempatan ist irahat sampai matahari sepenggalah. Beberapa orang
yang akan terlibat dalam persoalan ini baru akan datang nanti tengah
hari” Kedua orang itupun mengangguk-angguk. Namun sebelum mereka
kembali ke bilik masing-masing, salah seorang adik seperguruan
Pamotan Galih itupun berpesan “Katakan kepada kawan-kawanmu. Kita
menunggu” Kedua orang itupun kemudian meninggalkan tempat itu. Namun
mereka masih tetap membawa teka-teki yang menggelisahkan. Dan
teka-teki itupun kemudian tersebar diantara kawan-kawan mereka.
Namun demikian mereka memang masih sempat beristirahat. Meskipun
langit kemudian menjadi terang, tetapi mereka masih sempat berbaring
dipembaringan dan bahkan tidur beberapa saat. Ketika matahari
sepenggalah, barulah mereka terbangun dan dengan tergesa-gesa
membenahi dir i. “Ki Wanda Manyar tidak dapat mengatakan apa yang
akan terjadi sebentar lagi” berkata salah seorang murid adik
seperguruan Pamotan Galih itu. “Nampaknya Ki Pamotan Galih juga
masih belum tahu dengan pasti” jawab yang lain “Ki Lurah Ragapasa
juga selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Menurut Ki Lurah Ragapasa,
ada yang disembunyikan oleh kakak seperguruannya itu” Keduanya
mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak berbicara lebih jauh, karena
mereka menihat kedua adik seperguruan Pamotan Galih itu lewat.
Ketika Ki Wanda Manyar dan Ki Ragapasa sampai di depan sanggar, maka
merekapun mendengar kakak seperguruannya memanggil mereka.
Ketiganyapun kemudian berbincang beberapa saat di dalam Sanggar.
Namun agaknya Pamotan Galih telah benar-benar bersiap untuk
menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada itu, maka Pangeran Sena
Wasesa dan kelompok kecilnya telah melanjutkan perjalanan. Mereka
masih melihat beberapa tanda yang mendebarkan. Semakin lama
rasa-rasanya menjadi semakin banyak, sehingga dengan demikian mereka
mengira bahwa mereka menjadi sudah semakin dekat, meskipun Daruwerdi
tidak mengatakannya. Sebenarnyalah Daruwerdi menjadi semakin
gelisap. Ia sadar apa yang bakal dikehendaki oleh kakeknya itu atas
Pangeran Sena Wasesa. Dan ia menyesal, bahwa orang-orang Sanggar
Gading tidak terlalu mudah dikelabui. Jika ia berhasil maka Pangeran
itu tidak perlu berhadapan langsung dengan gurunya. Jika Pangeran
itu dihadapkan kepadanya dengan tidak berdaya, maka Daruwerdi akan
dapat mengekang diri. Apalagi ibunya selalu berpesan “Jangan sakit i
orang itu” Daruwerdi menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak
dapat ingkar, bahwa ibunyapun menyembunyikan sesuatu tentang orang
yang bernama Pangeran Sena Wasesa itu. Demikianlah mereka menelusuri
daerah yang semakin lama menjadi semakin datar dan lapang. Mereka t
idak lagi berada di tengah-tengah daerah yang liar. Tetapi mereka
sudah berada di bulak-bulak panjang. Daruwerdi mengenali daerah itu
lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak lagi bingung oleh
tikungan-tikungan sempit atau kepopatan pepohonan hutan. Namun
demikian, rasa-rasanya mereka berada di daerah yang terpisah. Mereka
melihat bukit-bukit kecil bagaikan dinding yang melingkar. Meskipun
mereka melihat sawah yang hijau, namun seolah-olah mereka berada
dilempat yang terasing. “Kita sekarang berada di mana Daruwerdi?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa “apakah perjalanan kita masih
panjang?“ Daruwerdi masih saja ragu-ragu. Tetapi bukan lagi karena
ia ingin mengingkari tanggung jawab, tetapi justru karena ia
memikirkan, apa yang akan terjadi atas Pangeran itu jika mereka
benar-benar pergi ke padepokannya dan bertemu dengan gurunya yang
juga kakek angkatnya itu. Tetapi tidak ada jalan untuk menghindar.
Mereka sudah berada di jalan lurus menuju ke mulut gerbang
padepokannya. Karena itu, maka kemudian Katanya “Pangeran.
Sebenarnyalah kita sudah berada di hadapan padepokan kami. Padepokan
kami memang memilih tempat diantara pebukitan, dan sawah yang
terhampar ini adalah sawah yang dikerjakan oleh para cantrik. Karena
itu. maka daerah ini serasa lain dengan daerah padukuhan-padukuhan
lainnya” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Sementara itu
Daruwerdipun berkata selanjutnya “Jika aku menjadi ragu- ragu dan
gelisah, bukanlah karena aku ingin ingkar dari tanggung jawab.
Tetapi jika Pangeran masih mempunyai sedikit kepercayaan kepadaku,
sebenarnyalah aku gelisah membayangkan sikap guru terhadap Pangeran”
“Apakah kira-kira yang akan dilakukan?“ bertanya Pangeran Sena
Wasesa. “Aku kira Pangeran sudah mengetahui. Tidak ada dua atau tiga
orang yang tahu pasti tentang keadaan di daerah Sepasang Bukit Mati
itu selain Pangeran Sena Wasesa” berkata Daruwerdi. “Menurut dugaan
gurumu” potong Pangeran Sena Wasesa. Kemudian “Tetapi baiklah.
Karena itu aku akan menemuinya. Mengatakan apa yang sebenarnya ada
di daerah Sepasang Bukit Mati itu” Wajah Daruwerdi nampak tegang.
Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata
“Mudah-mudahan Pangeran dapat meyakinkannya seperti yang ingin
Pangeran katakan. Tetapi aku kira Pangeran sudah menduga apa yang
akan Pangeran hadapi” Pangeran itu mengangguk-angguk, la memang
melihat kecemasan yang semakin mencengkam janluug Daruwerdi. Dan
Pangeran ilupun percaya bahwa hal ini bukan satu hal yang
dibuat-buat oleh anak muda itu. Tetapi Pangeran Sena Wasesa sudah
bertekad bulat. Karena itu maka katanya “Kita akan melanjutkan
perjalanan” Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Nampaknya Pangeran memang sudah bersiap-siap menghadapi segala
kemungkinan yang mungkin terjadi. Karena itu, sebaiknya kita memang
meneruskan perjalanan. Kita sudah berada sehari semalam lebih di
perjalanan. Kita sudah cukup masak mempertimbangkan segala sesuatu
yang dapat terjadi atas kita” Pangeran Sena Wasesa
mengangguk-angguk. Di padanginya Daruwerdi sambil berkata “Kita akan
menghadap gurumu, Daruwerdi. Meskipun aku itahu gurumu adalah orang
yang luar biasa, melampaui setiap orang diantara kita” Daruwerdi
tidak menjawab. Baginya, terbayang sesuatu yang akan sangat
mendebarkan. Tetapi ia tidak akan mampu mencegahnya. Demikianlah,
maka ir ing- iringan kecil itu menjadi semakin dekat dengan
padepokan Pamotan Galih. Tidak ada lagi yang
membingungkan,Daruwerdi. Jalan sudah menjelujur lurus di hadapannya.
Ketika Daruwerdi memandang regol padepokannya, jantungnya serasa
semakin cepat mengalir. Ia tahu, gurunya adalah orang yang baik.
Tetapi menurut gurunya, menghadapi Pangeran Sena Wasesa ia harus
tegas. Ada keragu-raguan Daruwerdi atas pengenalannya terhadap
Pangeran itu. Apakah mungkin orang yang memiliki watak dan sifat
seperti Pangeran Sena Wasesa itu telah dengan semena-mena membunuh
seseorang. Bagaimana jika pembunuhan itu terjadi di peperangan.
Sejenak kemudian, maka iring- iringan itu sudah berhenti di depan
regol. Daruwerdi berdiri tegak dengan jantung yang berdebaran. Namun
akhirnya iapun perlahan-lahan mendorong pintu regol yang hanya
sedikit saya terbuka. Tetapi Daruwerdi terkejut ketika pintu itu
terbuka. Ternyata ia melihat beberapa orang berdiri di pinggir
halaman depan padepokannya. Beberapa orang yang belumdikenalnya.
Sejenak Daruwerdi termangu-mangu. Tetapi ia menjadi semakin pasti,
apa yang akan terjadi. Daruwerdi yang sudah turun dari kudanya
itupun kemudian menuntun kudanya memasuki padepokannya diiringi oleh
orang-orang yang lain dalam ir ingan-ir ingannya. Pangeran Sena
Wasesa yang berada di belakang Daruwerdi memandang keadaan
sekeliling. Dan iapun sadar, bahwa segala kemungkinan akan dapat
terjadi. Ketika mereka menambatkan kuda-kuda mereka pada patok-patok
yang tersedia, matka seorang cantrik yang sudah dikenal oleh
Daruwerdi berkata “Ki Ajar Pamotan Galih sudah menunggu” Daruwerdi
menar ik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun bertanya Dimana kakek
sekarang?“ “Ki Ajar ada di bangsal tengah. Silahkan duduk dipen-dapa
bersama para tamu. Aku aikan menyampaikannya” berkata cantrik itu.
Daruwerdi mengangguk. Sementara cantrik itu pergi, maka Daruwerdipun
mempersilahkan kawan-kawan seperjalanan bersamanya dalam iring-
iringan kecil itupun naik ke pendapa. Swasti menahan desis yang
sudah hampir terlontar di bibirnya. Namun ketika ia berjalan ke
pendapa, ayahnya mendekatinya sambil bertanya “Sakit?“ Tetapi Swasti
menjawab singkat “Tidak apa-apa” Ayahnya tersenyum. Anaknya mpmang
keras hati. Namun ia melihat bahwa anaknya menjadi sangat letih
selelah perjalanan berkuda yang cukup panjang. Sejenak kemudian
mereka sudah duduk di pendapa. Swasti yang gelisah, setiap kali
bergeser sejengkal. Agaknya pelana kuda itu benar-benar telah,
menyakitinya, betapapun ia mempunyai daya lahan tubuh yang kuat.
“Silahkan duduk” berkata Daruwerdi “Aku akan menghadap guru di
bangsal tengah” Pangeran Sena Wasesa mengangguk. Katanya “Silahkan.
Tetapi aku minta, kalian tidak membiarkan kami terlalu lama menunggu
disini” Daruwerdi mengangguk” jawabnya “Baik Pangeran. Aku akan
segera minta kakek menemui Pangeran dan kita semuanya” Sejenak
kemudian Daruwerdipun pergi ke bangsal tengah. Ia mengerutkan
keningnya ketika dilihatnya dua orang bersama kakeknya berada di
bangsal itu. “Keduanya adalah kakekmu juga” berkata Pamotan Galih
kepada Daruwerdi yang memasuki bangsal itu “Marilah. Masuklah”
Daruwerdipun kemudian duduk bersama kakek dan dua orang saudara
seperguruan kakeknya itu. “Aku memang mengharap kau segera datang
bersama Pangeran itu” berkata kakeknya. “Dimana ibu, kakek?“
bertanya Daruwerdi. Pamotan Galih menarik nafas dalam-dalam. Katanya
“Ibumu memang bersamaku. Bukankah orang yang menunggu pondok yang
kau pergunakan di Lumban itu mengatakannya?“ “Ya. Justru karena itu”
sahut Daruwerdi “kakek membawa ibu dengan agak memaksa. Agaknya ibu
masih ingin berada di Lumban” Pamotan Galih tersenyum. Katanya
“Ibumu kurang tanggap terhadap keadaan yang sedang kau hadapi”
”Tetapi kakek tidak berbuat sesuatu atasku. Bahkan kakek telah
membawa ibu pergi” sahut Daruwerdi. Ki Ajar Pamotan Galih tertawa
pendek. Katanya “Jangan salah mengerti Daruwerdi. Aku melihat apa
yang terjadi di atas bukit” “Kakek melihat beberapa orang yang
mungkin akan melibatkan dir i. Tetapi apakah kakek pasti, bahwa
mereka memang akan menolong aku?“ bertanya Daruwerdi. “Perhitunganku
tidak pernah salah. Dan kali inipun perhitunganku t idak salah.
Mereka membawamu datang ke padepokan ini” jawab Ki Ajar Pamotan
Galih “coba bayangkan, jika ibumu masih berada di Lumban, maka kau
akan mengalami kesulitan, karena kau masih harus memikirkan ibumu.
Bagaimana, membawanya menyingkir dari Lumban yang tentu masih akan
tetap panas karena orang-orang dari kelompok lain yang menganggap
bahwa orang-orang Sanggar Gading akan mampu membawa pusaka yang
diperebutkan itu” “Tetapi aku gagal mempergunakan peti yang kakek
ber ikan itu” desis Daruwerdi. “Aku mengerti. Ketika orang gila dari
Sanggar Gading itu mengatakan akan melakukan tayuh terhadap pusaka
itu, maka aku sudah yakin bahwa ia akan melihat yang sebenarnya
tentang pusaka itu” berkata Pamotan Galih. Wajah Daruwerdi menegang.
Namun kemudian iapun bertanya sekali lagi “ Dimana ibuku?“ “Ia
berada di tempat yang paling aman. Aku tidak ingin melihat ibumu
menjadi gelisah, ketakutan dan cemas. Karena itu aku bawa ibumu ke
tempat yang tidak akan dapat diganggu oleh persoalan yang tidak
banyak dimengertinya ini” jawab Ajar Pamotan Galih. Daruwerdi
termangu-mangu sejenak, la tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya
dikehendaki oleh gurunya yang sekaligus mengambilnya sebagai cucunya
itu. Sementara itu, kakeknya itupun berkata selanjutnya “ Disini
kita akan membuat penyelesaian dengan tuntas. Jika aku semula tidak
berhubungan dengan orang-orang Sanggar Gading, tetapi dengan
orang-orang Pusparuri yang sudah mengenalmu sebelumnya, mungkin
persoalannya akan berbeda. Apalagi dengan orang-orang Gunung Kunir.
Diantara mereka tidak terdapat scorangpun yang mempunyai kemampuan
pengamatan yang tajam seperti orang yang gila disebut Yang Mulia
itu” “Tetapi bukankah yang penting siapapun yang dapat menyerahkan
Pangeran itu”Jawab Daruwerdi. “Itulah kesalahanku yang utama. Aku
mengira semula bahwa kau akan tetap berhubungan dengan orang-orang
Pusparuri, orang-orang yang paling kau kenal diantara orang- orang
tamak itu. Ternyata kau berhubungan dengan orang- orang Sanggar
Gading yang justru berhasil lebih dahulu” “Ternyata perhitungan
kakek sekali-sekali salah” desis Daruwerdi “Bukankah dalamhal ini
kakek keliru?“ “Kekeliruannya tidak terletak padaku. Tetapi pada
keadaanmu, karena aku tidak ingin menyebut kebodohanmu” jawab
kakeknya “Tetapi sudahlah. Bagaimanapun juga kau telah berhasil
membawa Pangeran itu kepadaku” “Bukan aku membawanya kepada kakek”
jawab Daruwerdi “Pangeran itulah yang membawaku kepada kakek
sekarang ini” Ajar Pamotan Galih tertawa. Katanya “Apapun yang
terjadi, tetapi Pangeran itu sudah memasuki padepokan ini. Nah,
baiklah. Bukankah kau akan minta kepadaku untuk menemuinya?“ “Tentu
kakek. Tetapi dimana ibuku. Jika ibu kakek tempatkan ditempa yang
tidak akan dapat diganggu oleh persoalan apapun juga, apakah aku
dapat menemuinya?“ bertanya Daruwerdi. Wajali Pamotan Galih
berkerut. Dengan heran ia justru bertanya “Kenapa tidak?
Pertanyaanmu aneh Daruwerdi. Bukankah wajar sekali jika kau ingin
menemui ibumu? Kenapa kau bertanya begitu?“ Daruwerdi tergagap.
Namun ia menjawab juga “Kakek tidak mengatakannya dimana ibuku
berada. Nampaknya kali ani kakek t idak terbuka lagi bagiku” “O“
Pamotan Galih tersenyum “Jangan salah mengerti cucuku. Orang-orang
tua selalu berhati-hati. Agaknya karena sikap hati-hatiku itulah
yang kau artikan, bahwa aku tidak terbuka lagi bagimu. Aku tidak
berubah Daruwerdi. Aku adalah kakekku, gurumu dan seorang yang ingin
menemukan jalan bagi masa depanmu yang paling gemilang” Daruwerdi
menarik nafas dalam-dalam. Apapun yang dikatakan oleh kakeknya,
namun juslru telah memberikan kesan bahwa kakeknya mempunyai sikap
yang agak lain. Sejak kakeknya membawanya ke daerah Sepasang Bukit
Mati, terasa bahwa sesuatu akan terjadi pada dir i kakeknya itu.
Namun dalam pada itu, Ajar Pamotan Galih itupun kemudian berkata
“Sudahlah. Kau harus membantuku kali ini. Aku harap kedua pamanmu
itupun akan berbuat seperti yang kau lakukan. Persoalannya akan
menyangkut masa depanmu yang sangat panjang. Aku sudah tua.
Betapapun tinggi ilmu yang dapat aku sadap, namun aku tidak akan
dapat melawan batas waktuku jika maut datang menjemput. Karena itu,
segalanya akan tertuju kepada hari depanmu” Orang tua itu berhenti
sejenak, lalu “Cucuku. Aku tidak mempunyai keturunan dalam arti yang
sebenarnya. Karena itu, aku berharap, bahwa kau akan dapat
menganggap aku sebagai kakekmu sendiri sebagaimana aku menganggap
bahwa kau adalah cucuku sendir i” Daruwerdi tidak menjawab.
Dipandanginya orang tua yang semakin lama tidak menjadi semakin
dikenalnya, tetapi justru semakin asing baginya. “Sekarang, aku akan
menemui tamu-tamu kita dipendapa” berkata Pamotan Galih. Lalu
katanya kepada dua orang saudara seperguruannya “Ikut aku. Aku akan
menemui tamu- tamuku yang barangkali tidak akan selalu sependapat
dengan keinginanku” “Kakek” potong Daruwerdi “Ternyata yang aku
hadapi, berbeda dengan yang pernah aku bayangkan sebelumnya tentang
Pangeran itu. Nampaknya ia orang baik” ”Tetapi ia memang seorang
pembunuh” berkata Ajar Pamotan Galih “itu harus diperhitungkan”
Daruwerdi menggeleng. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu meskipun ia
mengerti serba sedikit apa yang dihadapinya. Pangeran itu dan
segalanya yang tersembunyi dalam persoalan yang sebenarnya.
Segalanya telah meragukan Daruwerdi. Apa yang didengar, dinalar dan
yang pernah dikatakan oleh gurunya sebelumnya tentang Pangeran itu.
Kepura-puraan, alasan yang dibuat- buat, pusaka dan harta benda, dan
pembunuhan itu sendir i. Jalur-jalur di batu karang pada bukit
gundul itu, yang tidak mampu dipecahkannya untuk menemukan yarjg
dicarinya, atau jalur-jalur itu memang tidak mempunyai hubungan sama
sekali dengan pusaka yang sedang dicari itu. Daruwerdi sendir i
telah pernah dicengkam oleh nafsu itu sehingga nalarnya menjadi
kabur. Tetapi kemudian peristiwa yang terakhir telah mengembangkan
rasa dan nalarnya menghadapi persoalan itu Ketika ia siap untuk
melakukan segala macam rencananya di bukit gundul, ia mendapat
beberapa petunjuk dari gurunya. “Apakah guru mengatakan yang
sebenarnya atau sekedar menunjuk alasan saja bagiku untuk membawa
Pangeran itu kepadaku?“ bertanya Daruwerdi di dalam hatinya ”Atau
sengaja membuat atau bingung?“ Dalam gejolak jiwa Itu, ia tidak lagi
dapat melihat dan mengingat apa yang pernah terjadi, pernah
dibisikkan oleh gurunya dan yang mana yang telah dibuat-buatnya
sendiri. Daruwerdi terhenyak di atas sebuah amben bambu yang besar.
Ketika kemudian gurunya hilang dibalik pintu, maka ia hanya dapat
berdesah, “Apakah ada hubungan antara kematian ayahku dengan pusaka
dan harta benda itu?“ bertanya Daruwerdi di dalam hatinya. Namun
kemudian “Tetapi jika benar ada hubungannya, maka kematian ayahku
tentu belum terlalu lama. Tetapi apakah ayahku seorang t idak
meninggal?“ Tetapi Daruwerdi t idak dapat meraba-raba terus di dalam
kekelaman. Pada suatu saat ia harus mengetahui dengan pasti.
Sementara itu, Ki Ajar Pamotan Galih telah keluar dari bangsal
tengah. Demikian ia sampai di pendapa, maka suasanapun menjadi
tegang sekali. Pangeran Sena Wasesa, Kiai Kanthi dan orang-orang
yang duduk di pendapa itu. memandang orang yang bernama Pamotan
Galih itu dengan jantung yang berdebar-debar. Orang yang pernah
dikenalnya bernama Ajar Cinde Kuning, tetapi juga bernama Ajar Macan
Kuning. Dua nama yang membawa cir i watak yang sangat berlainan. Dan
kini orang itu bernama Ajar Pamotan Galih. “Selamat datang di
padepokan ini” berkata Ki Ajar Pamotan Galih sambil duduk bersama
dengan dua orang saudara seperguruannya. Lalu katanya “Aku tidak
menyangka, bahwa kalian sudi datang berkunjung ke padepokan yang
jauh, sepi dan buruk ini” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas
dalam-dalam. Sementara itu, maka Kiai Kanthilah yang menjawab
“Sebenarnyalah bahwa kami mengucapkan terima kasih yang tidak
terhingga, bahwa kami telah mendapat kesempatan mengunjungi Ki Ajar.
Yang menurut cucu Ki Ajar, maka Ki Ajar bernama Ajar Pamotan Galih.
Kami, orang-orang yang jauh dari kebijaksanaan, sama sekali tidak
menyangka bahwa kami akan mendapat tuntunan dari Ki Ajar dengan cir
i-cir i Ki Ajar, untuk datang menghadap ke padepokan ini” Ki Ajar
Pamotan Galih mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang tua itu
sejenak. Kemudian orang tua itupun tersenyum “Kiai terlalu
merendahkan diri. Barangkali dalam mimpipun aku belumpernah mengenal
Kiai” “Namaku Kanthi. Kiai Kanthi. Aku tinggal di sebuah bukit
didekat padukuhan Lumban. Bukit berhutan yang menjadi pasangan dari
bukit gundul di daerah Sepasang Bukit Mati” Orang tua itu
mengangguk-angguk. Katanya “Jadi. Kiai juga berada di daerah
Sepasang Bukit Mati?“ “Ya. Tetapi kami sama sekali t idak
menghiraukan arti dari daerah itu. Kami datang ke daerah itu karena
daerah kami yang lama telah dilanda oleh banjir dan tanah longsor.
Sehingga aku harus mengungsi. Adalah diluar sadar kami, bahwa kami
telah sampai di daerah yang bernama Lumban dan kami telah menemukan
sebuah bukit kecil berhutan lebat, dan bermata air yang besar” jawab
Kiai Kanthi. Tetapi Ajat Pamotan Galih itu tertawa. Katanya “Bagi
orang-orang seperti Kiai ini banjir dan tanah longsor bukan sesuatu
yang nggegirisi. Kemampuan Kiai tentu akan dapat membuat banjir dan
tanah longsor, sehingga daerah pemukiman Kiai hanyut karenanya.
Tetapi sebenarnyalah bahwa segalanya itu telah Kiai rencanakan dalam
hubungannya dengan daerah Sepasang Bukit Mati” Kiai Kanthi menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia menjawab maka Pamotan Galih
telah berkata pula “Baiklah. Seharusnya aku mempercayai Kiai. Namun
akupun wajib mengucapkan selamat datang kepada seorang Pangeran yang
telah sudi datang ke padepokan ini” “Terima kasih Ki Ajar” sahut
Pangeran Sena Wasesa tetapi marilah kita berterus terang. Kita
berbicara dengan hati terbuka. Kita adalah orang-orang tua yang t
idak per lu lagi berbasa basi dengan sikap yang pura-pura. Ki Ajar
telah menuntun kami dengan pertanda dan ciri-ciri khusus Ki Ajar
sehingga kami sampai ke padepokan ini Aku yakin, bahwa hal itu
bukannya tanpa maksud” Ki Ajar Pamotan Galih mengerutkan keningnya.
Katanya “Pangeran adalah orang yang aneh “ “Tidak. Karena disini Ki
Ajarlah yang mengambil sikap mula-mula Ki Ajar mengenal aku, tetapi
aku tidak mengenal Ki Ajar sebagaimana Ki Ajar mengenal aku. Aku
hanya mengenal Ki Ajar dari cir i-cir i yang pernah menggetarkan
jantung kota raja, meskipun dengan nama yang berbeda” berkata
Pangeran Sena Wasesa. “Ya. Aku memang sudah mengenal Pangeran.
Adalah lebih mudah untuk mengenali seorang bangsawan daripada orang
kebanyakan seperti aku” sahut Pamolan Galih “Sebenarnyalah Pangeran
agak berbeda dengan para bangsawan lain yang lebih senang kepada
sikap basa-basi dan kata-kata manis meskipun hanya warna selapis
pada kulitnya” “Mungkin aku memang agak berbeda. Tetapi marilah,
kita berbicara dengan terbuka, Ki Ajar tidak perlu meragukan
orang-orang yang datang bersama aku, karena mereka adalah
orang-orang yang mempunyai kepentingan seperti aku pula” berkata
Pangeran itu. “Tentu agak berbeda. Orang-orang itu bukan orang-orang
yang bersama Pangeran sejak semula. Karena itu, mereka mempunyai
kepentingan yang berbeda” jawab Pamotan Galih “Tetapi baiklah. Aku
akan berterus terang. Aku akan berbicara dengan terbuka. Tetapi
dengan demikian, akan mempunyai akibat yang khusus. Bahkan juga
terhadap kedua paman cucuku itu” “Apa maksud Ki Ajar?“ bertanya
salah seorang paman Daruwerdi. “Aku mempunyai kepentingan terhadap
sesuatu. Karena itu aku memerlukan Pangeran Sena Wasesa. Aku tidak
mau diganggu oleh siapapun juga sebelum aku yakin akan kebenaran
dari kepentinganku itu” berkata Pamotan Galih. Orang-orang yang
mendengar keterangan itu menjadi berdebar-debar. Nampaknya Pamotan
Galih memang tidak sedang bermain-main. Selagi orang-orang itu masih
termangu-mangu, maka Pamotan Galih berkata seterusnya “Tetapi jika
Pangeran Sena Wasesa berkata dengan jujur, waktu yang aku per lukan
tidak terlalu panjang” “Apa yang kau maksud Ki Ajar?“ bertanya Kiai
Kanthi. “Maaf Ki Sanak” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “Aku tidak
berkeberatan untuk berterus terang sebagaimana dikehendaki oleh
Pangeran Sena Wasesa. Namun aku terpaksa mohon dengan sangat agar
semua orang yang kemudian mendengarkan, tinggal di padepokan ini
sampai segalanya dapat aku selesaikan dengan sebaik-baiknya” “Tidak”
t iba-tiba saja Jlitheng membantah “Tidak seorangpun mempunyai
wewenang yang demikian atasku” Pamotan Galih mengerutkan keningnya.
Namun kemudian ia tersenyum “Sikapmu menar ik anak muda” berkata
Pamotan Galih “sesuai dengan umurmu. Tentu umurmu tidak terpaut
banyak dari cucuku itu. He, dimana cucuku? Panggil anak itu. Biarlah
ia mendengar pembicaraan kita dengan tamu-tamu kita, karena iapun
akan ikut bertanggung jawab” Salah seorang adik seperguruan Pamotan
Galih itupun kemudian memanggil Daruwerdi yang duduk dengan gelisah
diruang dalam. Namun ia tidak dapat menolak. Karena itu, maka iapun
dengan langkah yang berat telah pergi kepandapa dan duduk bersama
dengan orang-orang yang membuatnya menjadi bingung. Dalam pada itu,
Pamotan Galih sambil tertawa pendek berkata “Nah, kita akan
berbicara dengan terbuka cucuku. Kau sudah cukup banyak mengetahui,
tetapi kaupun harus mendengarkan pembicaraan ini” “Aku akan
mendengarkan. Tetapi akupun bebas menentukan sikapku sendiri”
berkata Jlitheng pula. Ki Ajar tertawa pula. Jawabnya “Kau sudah
memasuki padepokanku, Kau t idak dapat ingkar terhadap keputusanku”
Jlitheng masih akan menyahut. Tetapi Rahu telah menggamitnya,
sehingga kata-kata yang sudah sampai ditenggorokan itupun telah
ditelannya kembali. “Pangeran” berkata Ki Ajar Pamotan Galih
“semuanya memang sudah jelas. Jelas bagiku dan jelas bagi Pangeran.
Sebenarnya tidak ada yang harus aku katakan lagi. Pangeranlah yang
harus mengatakannya kepadaku. Dimanakah pusaka itu, dan apakah yang
harus aku pelajari kemudian. Jalur-jalur yang akan aku lihat pada
peti tempat pusaka itu, atau pada rontal yang tersendiri, atau
guratan air diatas bukit gundul itu. Pangeran Sena Wasesa mengangguk
kecil. Katanya “Kau benar Ki Ajar. Sebenarnyalah bahwa aku sudah
memperhitungkannya, bahwa aku akan berhadapan dengan seseorang yang
akan bertanya tentang pusaka itu. Sehingga akupun sudah menduga,
bahwa alasan yang sampai kepadaku pada saat aku ditangkap bahwa aku
telah membunuh ayah cucumu itu hanyalah sekedar dongeng belaka”
“Pangeran” berkata Ajar Pamotan Galih “Jangan berkata demikian.
Pcsoalan pribadi itupun bukan ceritera yang aku sadap dari
angan-angan. Tetapi biar lah kita kesam-pingkan dahulu masalah
pribadi itu. Aku ingin segera mendengar jawaban Pangeran tentang
pusaka yang mempunyai kekuatan gaib itu?“ “Hanya pusaka itu saja?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Jangan seperti anak-anak Pangeran.
Persoalannya adalah sungguh-sungguh. Aku mohon Pangeran menjawabnya
dengan sungguh-sungguh pula” berkata Pamotan Galih. Pangeran Sena
Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Ajar Pamotan Galih
dengan saksama. Seolah- olah ia ingin melihat, apakah benar seperti
yang didengarnya, bahwa orang ini tidak akan dapat dilawan dalam
olah kanuragan. Orang yang pernah disebut Ajar Cinde Kuning tetapi
juga pernah menamakan diri Ajar Macan Kuning itu adalah orang yang
mumpuni, sepala macam ilmu lahir dan batin. “Aku tidak sabar lagi
Pangeran” berkata Ajar Pamotan Galih “karena itu, aku mohon Pangeran
segera mengatakannya, sebelum aku akan menjamu Pangeran dan
kawan-kawan Pangeran dengan hidangan dalam bujana yang besar hari
ini” Pangeran itu masih berdiam diri. Karena itu, maka Ajar Pamotan
Galih itupun berkata pula “Tetapi jika Pangeran ternyata mempunyai
sikap lain, maka bujana yang sudah aku persiapkan akan segera
berubah. Bukan saja bujana yang sudah aku persiapkan akan segera
berubah. Bukan saja ujudnya, tetapi juga maknanya” Pangeran Sena
Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Ki Ajar.
Aku sudah mendengar sebagaimana kau katakan. Aku sudah menduga,
bahwa kau tentu menganggap bahwa aku adalah satu-satunya orang yang
mengetahui tentang pusaka itu. Karena itu kau coba mengambil langkah
yang paling mudah. Kau umpankan sebuah pusaka palsu. Siapa yang
dapat membawa aku kepada cucumu, maka ialah yang akan mendapat
pusaka yang kau palsukan itu” “Kenapa hal itu masih juga Pangeran
ulang” sahut Ajar Pamotan Galih “Kita semuanya sudah mengetahuinya.
Yang aku harapkan dari Pangeran sekarang ini adalah pengakuan
Pangeran bahwa Pangeran mengetahui dengan pasti tentang pusaka itu.
Kemudian kita akan bersama-sama pergi ke daerah Sepasang Bukit Mati.
Biar lah orang-orang lain t inggal disini. Mau atau tidak mau,
karena aku mempunyai kekuatan untuk memaksa mereka tinggal, atau
melenyapkan mereka sama sekali” “Jangan terlalu kasar Ki Ajar” jawab
Pangeran itu “Aku tahu bahwa kau akan dapat melakukannya. Tetapi
apakah yang kau lakukan itu sudah sewajarnya harus demikian?“ “Untuk
mendapatkan sesuatu yang besar, maka korban tidak akan pernah aku
perhitungkan. Apalagi korban itu bukan dari lingkunganku sendir i”
berkata Pamotan Galih. “Ki Ajar” berkata Pangeran Sena Wasesa
“dengan siapa sebenarnya aku berhadapan? Menilik sikap Ki Ajar
sekarang, ternyata aku berhadapan dengan Ki Ajar Pamotan Galih yang
juga Ki Ajar Macan Kuning, bukan Ki Ajar Cinde Kuning” Terdengar Ki
Ajar Pamotan Galih tertawa. Katanya “Pangeran memang aneh. Sebaiknya
Pangeran tidak menghiraukan nama yang aku pakai. Nama apapun juga,
tidak akan ada bedanya bagi Pangeran” “Baiklah Ki Ajar. Tetapi ciri
yang Ki Ajar tinggalkan itu memang sudah memberi tahukan kepadaku,
bahwa Ki Ajar memang berwajah rangkap” sahut Pangeran Sena Wasesa.
“Sudahlah” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “sekarang, katakan. Apakah
aku harus pergi ke daerah Sepasang Bukit Mati, atau ke tempat lain.
Sementara itu, biarlah kawan-kawan Pangeran itu tinggal disini
sampai aku menyelesaikan persoalanku dengan Pangeran” Pangeran Sena
Wasesa menggelengkan kepalanya. Katanya “Ki Ajar. Sebenarnyalah
bahwa kini tidak ada lagi yang dapat aku katakan kepadamu. Segalanya
memang sudah lampau” “Jangan bergurau Pangeran” desis Ajar Pamotan
Galih. “Karena itulah, maka aku berkeras untuk menemuimu Ki Ajar.
Aku ingin mengatakan hal ini, agar untuk seterusnya Ki Ajar tidak
selalu diganggu oleh keinginan itu” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Ah,
sekian lama aku menunggu kedatangan Pangeran. Kini Pangeran masih
juga sempat bergurau” berkata Ajar Pamotan Galih “dengan menujukkan
ciri-ciri itu, serta bahwa aku telah membawa anak angkatku, serta
tuduhan bahwa Pangeran telah membunuh ayah cucuku, aku yakin bahwa
Pangeran akan datang kemari. Sebaiknya Pangeran berterus terang.
Meskipun Pangeran datang dengan beberapa orang kawan yang pilih
tanding, yang barangkali ada juga niat Pangeran justru untuk
menangkap aku, namun sebaiknya hal itu Pangeran lupakan saja. Disini
terhimpun kekuatan yang tidak akan dapat Pangeran atasi” “Ki Ajar”
berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku memang tidak akan berahasia lagi.
Segalanya sudah lampau. Karena itu, tidak ada gunanya bagiku untuk
ingkar. Aku telah menyerahkan segalanya kepada Sultan di Demak. Dua
orang petugas khususnya telah datang untuk menyelesaikan segala
masalah. Dan akupun telah meyakinkan langsung, bahwa Sultan memang
sudah menerimanya” “Jangan berceritera seperti kepada anak-anak”
sahut Ajar Pamotan Galih “Pangeran harus berkata terus terang. Bawa
aku kemana yang seharusnya. Dengan demikian Pangeran tidak akan
mengalami perlakuan kasar disini” “Aku sudah berterus-terang” desis
Pangeran Sena Wasesa “ justru aku memang ingin mengatakan hal itu.
Jika kau tidak percaya, aku dapat mengantarkanmu menghadap Sultan
untuk meyakinkan apa yang telah aku katakan itu?” “Jangan menganggap
aku gila Pangeran” jawab Pamotan Galih “Jika aku memasuki istana
Demak, berarti aku menyerahkan nyawaku tanpa arti sama sekali.
Sebaliknya jika Pangeran tetap berkeras, maka yang akan terjadi
adalah sebaliknya. Pangeranlah yang akan mati tanpa arti sama sekali
di padapokan ini” “Kau juga menganggap aku anak-anak Ki Ajar” jawab
Pangeran Sena Wasesa “Kau sangka bahwa aku takut mati? Aku memang
percaya bahwa kau dapat membunuhku. Tetapi aku tidak takut mati”
Wajah Ki Ajar Pamotan Galih menjadi tegang. Sementara itu
Daruwerdipun menjadi berdebar-debar. Wajah kakeknya itu sangat
membuatnya cemas. Namun dalam pada itu, bukan saja Pamotan Galih
yang terkejut dan bahkan kemudian t idak percaya bahwa yang
dikehendakinya itu sudah berada di tangan Suitan Demak. Tetapi
Jlitheng dan Rahupun telah terkejut pula. Rahu merasa belum pernah
mendengar bahwa Sultan di Demak telah mener ima sebuah pusaka dengan
segala kelengkapannya dari seseorang, siapapun orang itu. Apalagi
dalam hubungannya dengan pusaka dan kkal yang telah disimpan untuk
menumbuhkan kembali satu kekuasaan kelanjutan dari Majapahit yang
runtuh itu. Namun Rahupun menduga, bahwa Pangeran Sena Wasesa memang
tidak akan dengan mudah mengatakannya jika memang ia mengetahui.
Namun menilik pembicaraan itu, maka agaknya Pangeran Sena Wasesa
memang mengetahui dengan pasti akan pusaka itu. Sementara Ki Ajar
Pamotan Galihpun yakin, bahwa Pangeran Sena Wasesa mengetahuinya.
Bahkan bagi Ki Ajar, Pangeran itu adalah satu-satunya orang yang
mengetahuinya, sehingga sebenarnyalah bahwa usaha Daruwerdi
menangkap Pangeran itu adalah dalam hubungannya dengan pusaka yang
diperebutkan lepas dari persoalan pr ibadi, kematian ayah Daruwerdi,
namun yang menurut Ki Ajar, persoalan pribadi itupun ada pula
diantara mereka. Jlithengpun menjadi semakin jelas menghadapi
persoalan antara Pangeran Sena Wasesa dan Ajar Pamotan Galih itu. Ia
merasa beruntung dapat mengikuti persoalan itu lebih jauh, karena ia
mengikuti perjalanan Pangeran Sena Wasesa dan Daruwerdi, meskipun
hal itu akan dapat menjeratnya ke dalam satu bahaya. “Ajar ini tentu
memiliki pengamatan yang luas tentang pusaka itu” berkata Jlitheng
di dalam hatinya “Ternyata ia mengetahui bahwa Pangeran Sena Wasesa
adalah satu- satunya atau mungkin juga salah satu dari orang-orang
yang mengetahui dengan pasti masalah pusaka itu. Namun j ika
Pangeran itu tetap ingkar, maka akan terjadi kekerasan disini.
Bahkan seandainya Pangeran itu bersedia membawa Ajar itu menelusuri
jejak pusaka itu, disinipun tentu akan terjadi kekerasan, karena aku
dan mungkin juga orang-orang lain, tidak akan mau dipaksakan
menunggu di tempat ini” Namun demikian untuk beberapa saat Jlitheng
masih tetap menunggu. Sekilasan ia berusaha menatap wajah Rahu,
kedua paman Daruwerdi dan juga Swasti. Tetapi ia t idak menemukan
kesan apapun juga di wajah-wajah yang tegang itu, kecuali
kegelisahan. Hanya Kiai Kanthi sajalah yang tampak tenang. Meskipun
dengan demikian Jlitheng sama sekali tidak tahu, apa yang tersimpan
di dalam hatinya. Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galibpun berkata
“Pangeran, aku mohon Pangeran jangan berkeras hati. Pangeran tidak
memupunyai pilihan sama sekali. Mungkin Pangeran tidak takut mati,
tetapi anak-anak muda itu sebaiknya masih mengharap har i depan yang
lebih baik dari hari-harinya sekarang. Apalagi mati” Pangeran Sena
Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan tenang “Ki
Ajar Pamotan Galih. Bahwa aku sudah dengan susah payah menelusur i
jalan menuju ke Padepokan ini adalah karena aku memang ingin
mengatakan kepadamu, agar usaha untuk memburu pusaka itu dihentikan.
Aku akan mengatakan kepada siapapun juga di seluruh daerah kekuasaan
Demak, bahwa memburu pusaka itu tidak akan ada gunanya karena pusaka
itu sudah kembali keper-bendaharaan pusaka istana Demak. Semua
teka-teki disekitar pusaka itu telah dipecahkan oleh para ahli,
termasuk aku sendiri, karena aku tidak ingkar bahwa akulah yang
paling banyak mengetahui. Karena itu, aku harap kau percaya Ki Ajar.
Seandainya sampai saat ini, pusaka itu masih belum kembali ke Demak,
maka mungkin aku sudah berubah pikiran. Mungkin aku tidak akan
dengan suka-rela menyerahkannya karena kesetiaanku dan rasa
pengabdianku kepada Demak” “Jangan omong kosong Pangeran” t iba-tiba
Ki Ajar memotong ”Aku menunggu Pangeran untuk waktu yang lama.
Balikan aku sudah memasang jerat untuk mengambil Pangeran tanpa
memasuki istana Pangeran yang tentu dijaga kuat oleh para pengawal
khusus justru karena Pangeran adalah orang yang mengetahui tentang
pusaka dan harta benda yang tidak terhitung jumlahnya itu. Sekarang
disini Pangeran ingin membual dan seolah-olah Pangeran sama sekali t
idak mengerti sesuatu tentang pusaka itu” oooOooo-
Jilid 18 “Aku tidak ingkar. Aku mengakui bahwa aku tahu”
sahut Pangeran itu “Tetapi semuanya sudah berlalu. Nah selanjutnya
terserah kepadamu Ajar Pamotan Galih yang juga disebut Ajar Macan
Kuning. Apapun yang ingin kau lakukan lakukanlah. Aku sudah mengaku
bahwa aku tidak akan dapat menandingi ilmumu. Adalah sia-sia jika
aku melawanmu” “Setan alas“ Ajar Pamotan Galih menjadi sangat marah
“Aku akan memaksa berbicara. Di halaman terdapat banyak orang yang
memiliki ilmu tinggi. Kedua adik seperguruanku ini memiliki ilmu
hampir seperti aku sendiri. Nah, apa katamu? Kau akan memamerkan
ilmu orang-orang yang tidak berarti yang kau bawa kemar i itu?“
“Sudah aku katakan. Aku tidak akan melawan. Jika kau ingin membunuh
aku, kau tentu dapat melakukannya. Tetapi jangan orang-orang lain
yang tidak tahu artinya sama sekali” berkata Pangeran Sena Wasesa
itu. Lalu “Namun aku sudah merasa bahwa tugasku selesai atas pusaka
dan harta benda itu, karena semuanya telah kembali ke istana, dan
dipergunakan sesuai dengan pesan yang aku terima, bahwa pusaka dan
harta itu harus dipergunakan bagi perkembangan negeri ini
sebagaimana kejayaan Majapahit pada masa lalu itu. Meskipun Demak
belum setingkat dengan Majapahit, tetapi usaha untuk itu selalu
dilakukan” Ki Ajar Pamotan Galih, nampaknya sudah kehilangan
kesabarannya. Wajahnya menjadi merah padam, sementara orang-orang
yang berada di pendapa itu menjadi berdebar- debar. Tiba-tiba saja
mereka mendengar seolah-olah Ki Ajar itu menggeram sebagaimana
seekor harimau yang sedang marah. “Aku pasti sekarang” berkata
Pangeran itu di dalam Hatinya “Aku berhadapan dengan Ajar Macan
Kuning” Tetapi Ajar itu menggeram dan membentak dengan garangnya
“Persetan dengan nama-nama yang kau sebut. Kau membuat aku marah
Pangeran. Seperti yang aku katakan, aku sudah menyiapkan sebuah
bujana yang besar. Tetapi karena sikap Pangeran, maka bujana itu
akan berubah bentuknya dan maknanya. Aku akan memaksa Pangeran
berbicara dengan caraku. Mungkin Pangeran akan dapat bertahan
terhadap segala macam siksaan yang aku lakukan disini. Tetapi aku
mempunyai cara sendiri. Aku akan membunuh setiap orang yang datang
bersama Pangeran sampai pada suatu saat Pangeran mengatakan di mana
pusaka itu disembunyikan” “Gila“ geram Pangeran itu “Kau benar-benar
tidak mempunyai jantung dan hati manusia” “Aku tidak peduli” jawab
Ajar Pamotan Galih “Aku akan menangkap kalian seorang demi seorang.
Yang kemudian akan aku bunuh dihadapanmu” “Biadab” geram Jlitheng
“Kau sangka bahwa kami akan menyerahkan hidup kami tanpa berbuat
sesuatu” Kemarahan Ajar Macan Kuning memantul dimatanya. Katanya
“Kau adalah orang yang pertama akan mati” “Aku tidak peduli “ bentuk
Jlitheng hampir berteriak. Sementara itu Rahupun berkata “Pangeran,
Apabila telah pasti, bahwa kita akan bertempur, apalagi yang harus
ditunggu. Adalah akibat yang wajar dari tugas kita, bahwa pada suatu
saat kita akan membentur satu keadaan yang tidak teratasi, sehingga
mungkin kita akan terjerat oleh satu peristiwa yang mengerikan yang
menimpa diri kita. Tetapi jangan ingkar, bahwa kita adalah laki-
laki” “Kau yang kedua” teriak Ajar Pamotan Galih. “Ki Ajar” berkata
Pangeran itu kemudian “Aku tahu, disini ada orang-orang yang
memiliki kemampuan melampaui kemampuanku. Tetapi sebagaimana kau
lihat, bahwa kami tidak akan menyerahkan kematian kami dengan
sia-sia” “Pangeran harus mengambil sikap” berkata Rahu “nampaknya
Pangeran sudah berubah. Diatas bukit di daerah Sepasang Bukit Mati,
Pangeran mengejutkan kami, karena Pangeran yang kami sangka sedang
sakit sebagaimana saat Pangeran diambil, ternyata Pangeran dapat
menyelesaikan salah seorang yang paling garang dari lawan- lawan
kita. Sekarang, disini seolah-olah Pangeran tidak menentukan sikap
apapun juga selain menirukan apa yang kami katakan” Pangeran itu
justru tersenyum. Katanya “Aku sudah tahu dengan pasti kemampuan
Ajar Macan Kuning ini. Tetapi baiklah. Aku Sependapat, bahwa kita
akan mati sebagaimana kita adalah laki-laki. Bukankah begitu Kiai
Kanthi??” “Aku sudah bersiap sejak semula Pangeran. Bahkan di
sepanjang jalan aku sudah memikirkan kemungkinan ini” jawab Kiai
Kanthi “karena itu, jika Ajar Pamotan Galih yang juga bergelar Macan
Kuning, dan yang sudah benar-benar kehilangan sifat dan wataknya
sebagai Ajar Cinde Kuning, ingin memaksakan kehendaknya, apaboleh
buat. Semula aku masih mengharap bahwa ia dapat mengerti apa yang
Pangeran katakan. Tetapi nampaknya tidak sama sekali” Namun dalam
pada itu, ternyata Ajar Pamotan Galih itupun tertawa pula. Katanya
“Rencanaku memang sudah berubah. Semula aku memang hanya, ingin
bertemu dengan Pangeran seorang diri. Dengan cara yang ditempuh oleh
Daruwerdi, maka kesempatanku akan lebih banyak untuk mengorek
pengakuannya. Tetapi iblis dar i Sanggar Gading itu telahl merusak
rencanaku. Ia menahan cucuku pada saat ia melakukan tayuh, sehingga
anak itu tidak sempat membawa Pangeran itu pergi Dan sekarang,
Pangeran datang dengan beberapa orang yang barangkali dianggap pilih
tanding. Karena itu Pangeran menganggap bahwa ia sudah mempunyai
kekuatan cukup untuk mengelakkan dir i dari pengetahuannya tentang
pusaka dan kelengkapannya” Ajar Pamotan Galih itu berhenti sejenak.
Namun kemudian katanya “Tetapi Pangeran tidak akan berhasil Aku akan
tetap, berhadapan dengan Pangeran seorang dengan seorang. Aku tetap
ingin mendengar pengakuan Pangeran tentang pusaka itu. Sementara
itu, biarlah adik-adikku menyisihkan orang-orang yang datang bersama
Pangeran itu, sehingga Pangeran akan tetap sendiri. Aku tidak
peduli, apakah yang lain akan dapat bertahan untuk tetap hidup, atau
karena kemarahan yang tidak terkendali adik-adikku akan membunuh
mereka” Pangeran Sena Wasesa menjadi ragu-ragu. Jika benar demikian,
maka orang-orang yang tidak langsung terlibat ke dalam persoalan
pusaka itu akan ikut menjadi korban, karena Pangeran Sena Wasesa
percaya, menilik pengamatannya yang tajam, bahwa orang-orang yang
ada di padepokan itu akan dapat menarik batas antara dirinya dengan
orang-orang yang datang bersamanya. Meskipun ia yakin bahwa Kiai
Kanthi dan orang-orang lain itu tidak akan memperhitungkan
keselamatan diri, tetapi sebaiknya mereka tidak menjadi korban dari
masalah yang menyangkut dir i Pangeran itu. Karena itu, maka
tiba-tiba Pangeran itu berkata “Ki Ajar. Baiklah. Persoalannya
memang menyangkut persoalan antara Ki Ajar dan Aku, Bukankah sejak
semula Ki Ajar ingin berhadapan dengan aku sendiri? Karena itu
baiklah, kita menganggap bahwa orang-orang lain itu t idak ada. Yang
ada disini adalah aku dan Ki Ajar. Nah, apa yang Ki Ajar kehendaki?
Perang tanding, atau Ki Ajar akan membunuhku? Atau apa?“ “Persetan“
geram Ki Ajar “Aku perlu keterangan itu” “Sudah aku katakan. Tidak
ada yang dapat aku katakan selain yang sudah aku katakan. Apapun
yang akan kau lakukan” jawab Pangeran itu tegas. Ki Ajarpun kemudian
tidak sabar lagi. Karena itu, maka katanya “Aku memang memer lukan
Pangeran seorang diri. Aku memang akan menantangmu berperang
tanding“ “Aku terima tantanganmu Ki Ajar” jawab Pangeran itu. Tetapi
dengan taruhan” berkata Ki Ajar “Jika kau kalah, kau harus
mengatakan yang sesungguhnya tentang pusaka itu” Pangeran itu
merenung sejenak. Namun kemudian katanya “Baiklah. Aku akan
mengatakan yang sesungguhnya” “Kekalahan akan ditandai dengan
ketidak mampuan lagi untuk melawan” berkata Ki Ajar. Pangeran Sena
Wasesa mengangguk-angguk. Katanya “Aku menerima ketentuan itu.
Tetapi dengan syarat, bahwa orang lain yang bersamaku tidak akan
terlibat dalam persoalan ini” Namun dalam pada itu, Rahupun berkata
“Pangeran benar- benar aneh. Aku tidak dapat mengikuti jalan pikiran
Pangeran. Jika Pangeran sudah tahu, bahwa orang itu memiliki ilmu
yang tidak terlawan, kenapa Pangeran memilih perang tanding? Aku
tahu, Pangeran ingin menyelamatkan kami. Tetapi bahwa kami telah
datang ke tempat ini, sebenarnyalah bahwa kami sudah siap menghadapi
segala kemungkinan” “Aku sudah terlanjur mener ima tantangannya”
jawab Pangeran itu “Marilah Ki Ajar. Kita akan berperang tanding”
Lalu katanya kepada orang-orang yang datang bersamanya “Aku harap
kalian tidak menggangguku” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Iapun
menjadi bingung menghadapi sikap Pangeran Sena Wasesa. Namun ia
mencoba untuk menyesuaikan dir i. Ia ingin melihat perang tanding
itu. Mungkin Pangeran Sena Wasesa mempunyai satu pegangan terakhir
untuk dapat melawan orang yang menyebut dir inya Ajar Pamotan Galih,
meskipun bagi Kiai Kanthi hal itu tidak akan banyak gunanya. Jika
orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih itu kalah, maka ia
tidak akan menghormati persetujuan yang sudah dibuatnya. Namun Kiai
Kanthi ingin mengikuti perkembangan keadaan yang tidak banyak
dimengertinya itu. Bahkan kemudian Ki Ajar itu berkata kepada adik
seperguruannya “Siapkan arena. Amati orang-orang yang datang bersama
Pangeran ini. Aku tidak mau diganggu oleh siapapun juga”
Demikianlah, maka orang-orang yang ada di pendapa itupun kemudian
turun ke halaman. Daruwerdi mengikuti perkembangan itu dengan hati
yang berdebar-debar. Pangeran ttu telah menunjukkan kemampuannya
yang tinggi di atas bukit berhutan. Meskipun ternyata ia telah
terluka. Tetapi menurut Pangeran itu sendiri ia telah berhasil
mengatasi luka-lukanya dan tidak membekas sama sekali. Namun
demikian Daruwerdipun tidak dapat ingkar, bahwa ia tahu, kakek
angkatnya dan sekaligus gurunya itu adalah orang yang luar biasa.
Dalam pada itu, maka orang-orang yang sejak semula telah berada di
halaman itupun telah menebar. Mereka mengerti, bahwa mereka harus
mengamati orang-orang yang datang bersama Pangeran Sena Wasesa, agar
tidak seorangpun meninggalkan tempat itu. Sementara itu kedua adik
seperguruan Ki Ajar itupun telah mengawasi Kiai Kanthi yang menurut
perhitungan mereka, adalah orang yang memiliki kelebihan tertinggi
disamping Pangeran itu sendiri. Sejenak kemudian, Ki Ajar telah
bersiap menghadapi Pangeran Sena Wasesa. Keduanya sama sekali tidak
memer lukan senjata apapun dalam perang tanding itu. Selain karena
mereka percaya akan kemampuan masing-masing, sebenarnyalah Ki Ajar
memang tidak ingin membunuh Pangeran yang masih akan diperas
keterangannya itu, “Pangeran berjanji, jika aku menang, maka kau
akan mengatakan yang sebenarnya tentang pusaka itu” geram Ajar
Pamotan Galih. Pangeran Sena Wasesa memandang Ki Ajar Pamotan Galih
dengan jantung yang berdebar-debar. Ada sesuatu yang asing di dalam
hatinya. Ia memang belum mengenal Ki Ajar Pamotan Galih yang pernah
disebut Ki Ajar Cinde Kuning atau Ki Ajar Macan Kuning. Namun
seolah-olah ia telah meragukan sesuatu yang dilakukan oleh Ki Ajar
itu, sehingga karena itu, maka sikapnyapun seolah-olah tidak pasti.
Tetapi ketika keduanya sudah turun di arena, maka Pangeran Sena
Wasesa tidak lagi dapat berbuat tanpa kepastian. Ketika ia sudah
berhadapan dengan Ki Ajar dalam perang tanding, maka yang dilakukan
itu harus dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Pangeran Sena Wasesa
mengetahui bahwa Ki Ajar Macan Kuning adalah orang yang luar biasa.
Yang menurut pendengarannya mempunyai ilmu yang tidak terlawan.
Orang- orang yang memiliki nama yang menggetarkan, ternyata tidak
dapat mengimbangi kemampuan Ki Ajar Cinde Kuning, maupun setelah
disebut Ki Ajar Macan Kuning. Meskipun demikian, Pangeran Sena
Wasesa bukan orang yang tidak berilmu. Kecuali itu, iapun adalah
seorang laki-laki yang jantan yang tidak mudah menyerah kepada
keadaan sebelum ia berusaha dengan sepenuh kemampuannya. Demikian
pula menghadapi Ajar Pamotan Galih. Meskipun Pangeran Sena Wasesa
mengetahui bahwa kemampuan orang itu melampaui kemampuannya, namun
ia sudah bersiap untuk bertempur dengan segenap ilmu yang ada
padanya. Kiai Kanthi dan orang-orang yang datang bersamanya di
padepokan itu sudah mendapat kesan dari sikap dan pembicaraan
Pangeran Sena Wasesa, bahwa Pangeran Sena Wasesa mengakui kelebihan
Ajar Pamotan Galih. Namun demikian merekapun mengerti, bahwa
Pangeran Sena Wasesa memiliki ilmu yang tinggi pula. Sejenak
kemudian kedua orang diarena perang tanding itu sudah bersiap.
Sementara itu, orang-orang padepokan itupun tidak kehilangan
kewaspadaan. Kedua adik seperguruan Pamotan Galih itupun selalu
memperhatikan orang-orang yang dengan tegang menyaksikan pertempuran
yang segera terjadi di halaman padepokan itu. Ki Ajar Pamotan
Galihlah yang mulai dengan serangan pertamanya. Tetapi sebagaimana
sering terjadi, serangan yang pertama tidak banyak menentukan. Namun
serangan-itupun segera disusul dengan serangan- serangan berikutnya
beruntun dengan sengitnya. Tetapi Pangeran Sena Wasesa sudahi siap
menghadapinya. Dengan tangkasnya ia selalu berhasil menghindari
serangan- serangan itu. Bahkan kemudian iapun mendapat kesempatan
untuk membalas serangan-serangan itu dengan serangan pula.
Demikianlah maka di halaman itupun segera terjadi pertempuran yang
semakin dahsyat, Dua orang yang meniliki ilmu yang tinggi, melampaui
ilmu kebanyakan. Kiai Kanthi yang mempunyai penglihatan yang tajam,
memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Wajahnya nampak
menjadi tegang, sementara jantungnya menjadi berdebaran. Untuk
beberapa saat, menurut penilaian Kiai Kanthi, Pangeran Sena Wasesa
masih mampu mengimbangi ilmu Ki Ajar Pamotan Galih. Kadang-kadang Ki
Ajar Pamotan Galihpun terkejut mendapat serangan Pangeran Sena
Wasesa yang tiba-tiba dan tidak diperhitungkannya lebih dahulu.
Jlitheng, Rahu, Swasti, Daruwerdi dan kedua pamannya serta
orang-orang yang berada di halaman itupun mengikuti perang tanding
itu dengan seksama. Tetapi mereka tidak segera dapat mengerti apa
yang sebenarnya terjadi. Yang mereka lihat, keduanya telah terlihat
dalam satu putaran kecepatan yang sulit untuk dimengerti. Meskipun
merekapun berbekal ilmu kanuragan, tetapi agaknya kedua orang itu
seakan-akan tanpa ancang-ancang telah sampai pada puncak ilmu mereka
yang tinggi. Sekali-sekali Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Ia melihat
justru Pangeran Sena Wasesa berhasil mendesak lawannya. Namun
kemudian Ki Ajar itulah yang telah mendorong lawannya beberapa
langkah surut Nampaknya Pangeran Sena Wasesa masih berusaha untuk
menghindari benturan-benturan yang langsung. Meskipun kadang-kadang
Pangeran Sena Wasesa harus menangkis serangan lawannya, tetapi ia
selalu berusaha untuk membentur tenaga lawannya menyamping. “Apakah
Ki Ajar memang sedang mempermainkan Pangeran Sena Wasesa” bertanya
Kiai Kanthi kepada diri sendiri. Demikianlah pertempuran itu
berlangsung dengan sengitnya. Desak mendesak dan dorong mendorong
Pangeran Sena Wasesa ternyata telah berjuang sekuat tenaganya, agar
ia tidak segera jatuh tanpa dapat berbuat sesuatu lagi menghadapi
lawannya. Ternyata bahwa arena pertempuran di halaman itupun semakin
lama semakin mengembang. Tidak ada gawar yang membatasi arena perang
tanding itu, sehingga keduanya dapat mengambil tempat seberapa
mereka perlukan. Kadang- kadang salah seorang dari mereka yang
sedang terdesak telah meloncat jauh-jauh. Kemudian dengan serta
tnerta ia telah meloncat menyerang dengan cepatnya. Dalam pada itu,
bukannya Kiai Kanthi sajalah yang termangu-mangu memandangi
pertempuran itu. Dalam pada itu, sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa
juga dihinggapi oleh satu perasaan aneh. “Apakah Ki Ajar Pamotan
Galih hanya bermain-main” berkata Pangeran, Sena Wasesa kepada diri
sendir i. Karena itu maka akhirnya Pangeran Sena Wasesa sengaja
mengerahkan segenap kemampuan ilmunya. Ia ingin segera mengetahui
bayangan dari akhir pertempuran itu. Agaknya Ki Ajar belum
melepaskan segenap ilmunya. Apalagi ilmu pamungkasnya. Dengan
demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin cepat. Serangan
dibalas dengan serangan. Bahwa benturan-benturanpun menjadi semakin
sering, meskipun Pangeran Sena Wasesa masih tetap menghindar i dari
benturan yang langsung. Semakin cepat pertempuran itu, maka keduanya
menjadi semakin garang. Kelengahan-kelengahan mulai terjadi,
sehingga serangan-seranganpun mulai menyentuh tubuh lawan. Dalam
pada itu, Pangeran Sena Wasesa menjadi semakin heran. Ia masih saja
mampu mengimbangi ilmu Ki Ajar Pamotan Galilh yang disangkanya
memiliki ilmu yang tidak ada bandingnya. Justru karena itu, ia
menjadi semakin berusaha untuk melindungi dir inya sendiri. Meskipun
kadang-kadang tersirat dihatinya “Ki Ajar ini hanya ingin memeras
tenaganya, sehingga akhirnya aku akan jatuh dengan sendirinya dan
tidak dapat melawannya lagi” Tetapi saat-saat yang demikian itu
ternyata tidak segera terjadi. Bahkan kadang-kadang Pangeran itu
melihat, Ki Ajar benar-benar terdesak Namun ketika tenaga Pangeran
Sena Wasesa menjadi semakin surut maka mulailah nampak, bahwa daya
tahan Ki Ajar Pamotan Galih ternyata lebih baik dari Pangeran Sena
Wasesa. Justru dalam keadaan, yang demikian, maka serangan-serangan
Ajar Pamotan Galih itu menjadi semakin garang. Dengan mengerahkan
tenaganya, Pangeran Sena Wasesa masih tetap berjuang melawan Ki Ajar
Pamotan Galih. Bahkan ia masih tetap mampu menghindari serangan
beruntun yang datang bagaikan amuk badai. Ketika tangan Ajar Pamotan
Galih t idak menyentuh sasaran, maka dengan satu putaran Ajar
Pamotan Galih mengayunkan kakinya mendatar. Tetapi Pangeran Sena
Wasesa dengan tangkas masih sempat menghindar. Namun hampir diluar
pengamatannya, Ki Ajar Pamotan Galih itu telah meloncat menerkam
dengan garangnya langsung kearah dada. Pangeran Sena Wasesa melihat
serangan itu. Tidak ada kesempatan lagi untuk meloncat. Karena itu,
maka iapun memiringkan tubuhnya sambil menangkis serangan itu
menyamping. Namun demikian, serangan Ajar Pamotan Galih itu masih
menyentuh pundaknya, sehingga Pangeran Sena Wasesa itu terdorong
surut Terasa betapa pundaknya menjadi pedih. Serangan itu sebenarnya
tidak terlalu keras, karena Pangeran Sena Wasesa sempat mengambil
jarak. Tetapi yang tidak terlalu keras itu, terasa betapa sakitnya.
Namun sementara itu, ternyata Ajar Pamotan Galihpun terkejut ketika
ia melihat dari pundak itu mengalir darah. Serangannya itu bukan
seratngan yang dapat melukai kulit lawannya, meskipun mungkin
memecahkan tulangnya. Pangeran Sena Wasesa mundur, setapak. Dengan
tangannya ia meraba pundaknya. Darah. “Kulitmu terlalu cengang
Pangeran” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “Bukan maksudku melukaimu.
Tetapi kau tidak mempunyai daya tahan yang cukup. Apakah jadinya,
jika aku pada suatu saat melepaskan ilmu Pamungkasku” berkata Ki
Ajar Pamotan Galih itu. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas
dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Luka ini sudah dapat
aku atasi sebelumnya. Atas bantuan tabib di puncak bukit kecil itu.
Tetapi seranganmu tepat mengenai luka itu lagi, sehingga kembali
mengalirkan darah” Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Iapun
mengerti, di puncak bukit itu Pangeran Sena Wasesa telah dilukai
oleh Eyang Rangga. Ternyata luka yang sudah sembuh itu masih tetap
membekas. Jaringan kulit di bekas luka itu masih terlalu muda
sehingga serangan Ki Ajar Pamotan Galih itu telah mengoyahnya lagi.
Dalam pada itu, maka Ki Ajar, Pamotan Galih itupun tertawa sambil
berkata “Nah Pangeran. Apapun yang terjadi, apakah luka itu telah
ada dipundak Pangeran sejak semula, atau karena sentuhan tanganku,
namun adalah satu kenyataan bahwa Pangeran telah menit ikkan darah.
Aku yakin, bahwa darah itu akan semakin banyak mengalir. Akhirnya
Pangeran akan jatuh terkapar dan tidak berdaya” “Aku akan bertempur
terus Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa “Ternyata kemampuan Ki
Ajar tidak segarang yang aku duga. Aku kira dalam dua tiga,
benturan, aku sudah tidak berhasil melawan. Tetapi ternyata aku
masih tetap dapat mengimbangi kemampuan Ki Ajar” “Aku belum sampai
kepuncak ilmuku Pangeran. Aku masih sanggup melepaskan ilmuku pada
tingkat tertinggi. Dengan demikian, aku khawatir bahwa Pangeran
justru akan terbunuh karenanya” jawab Ki Ajar. “Aku juga masih mampu
melepaskan ilmu pemungkasku” jawab Pangeran “sebaiknya kita akan
mencobanya. Mungkin aku memang akan mati. Tetapi itu tidak berarti
apa-apa bagiku. Sudah aku katakan, aku tidak takut mati” “Aku tidak
mau rahasia tentang pusaka dan rerangkennya itu akan kau bawa mati”
berkata Ajar Pamotan Galih “karena itu, aku akan berperang pada
janji. Apalagi Pangeran adalah seorang kesatria yang teguh memegang
janji. Jika Pangeran kalah, maka Pangeran harus mengatakan apa yang
sebenarnya” “Itu tidak adil” tiba-tiba saja Jlitheng berteriak
“Pangeran sudah terluka. Sebaiknya perang tanding itu dilakukan
dalam keadaan yang wajar pada kedua belah pihak” “Kau gila anak
muda” desis Ki Ajar Pamotan Galih “J ika kau terlalu banyak
berbicara, maka kau akan dibungkam untuk selama- lamanya” “Aku tidak
peduli” sahut Jlitheng. “Ia menentukan kesediaannya dalam
keadaannya. Karena itu, kau tidak dapat mengganggu gugat lagi” geram
Ki Ajar Pamotan Galih. Lalu t iba-tiba ia menjadi garang dan berkata
“Mari Pangeran. Aku akan membuatmu lumpuh dan memaksamu untuk
berbicara. Aku mempunyai seribu macam cara untuk memaksa seseorang
berbicara betapapun keras hatinya” Pangeran Sena Wasesapun ternyata
telah bersiap. Ia tidak menghiraukan lagi darah yang mengalir
dipundaknya. Dengan lantang ia menjawab “Aku sudah siap” Keduanya
telah berhadapan lagi dengan tegangnya. Ki Ajar Pamotan Galih nampak
menjadi lebih garang. Namun Pangeran Sena Wasesa yang teriuka itupun
menjadi semakin bersungguh-sungguh. Ia sama sekali tidak
menghiraukan darah yang mengalir dan keadaan disekitarnya. Tiba-tiba
saja ia telah didorong oleh satu keinginan untuk melawan Ajar,
Pamotan Galih. “Agaknya aku sudah terpengaruh oleh anggapanku bahwa
Ajar ini mempunyai kemampuan yang tidak terkalahkan” berkata
Pangeran itu di dalam hatinya. Justru karena itu, Pangeran Sena
Wasesa ingin memperbaiki kesannya tentang Ki Ajar Pamotan Galih.
Ternyata Ki Ajar Pamotan Galih bukan orang yang memiliki kemampuan
raksasa seperti yang diduganya. “Jika sejak semula aku t idak
terpengaruh oleh anggapanku bahwa aku tidak akan mampu berbuat
apa-apa sama sekali dihadapannya, maka agaknya aku akan dapat
berbuat lebih banyak” berkata Pangeran itu pula di dalam hatinya,
sementara ia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan.
Namun dalam pada itu, darah yang mengalir dari lukanya, bagaikan di
peras ketika ia bertempur semakin sengit. Sementara itu, Ajar
Pamotan Galih telah dengan sengaja mengarahkan serangan-serangannya
kepada puncak yang terluka itu. Bagimanapun juga, ternyata luka itu
telah mempengaruhinya. Karena itu, maka semakin lama perlawanan
Pangeran Sena Wasesapun menjadi semakin lemah. Apalagi ternyata daya
tahan Ajar Pamotan Galih memang mengagumkan. Setelah mereka
bertempur dalam waktu yang cukup lama, maka seakan-akan kemampuan
Ajar Pamotan Galih itu sama sekali tidak menjadi susut. Kiai Kantihi
memperhatikan perkelahian itu dengan jantung yang berdebaran. Ia
sudah melihat, bahwa Pangeran Sena Wasesa tidak akan dapat bertahan
lebih lama lagi. “Bahkan seandainya Pangeran tidak terluka, agaknya
Pangeran memang tidak akan dapat mengalahkannya” berkata Kiai Kanthi
di dalam hatinya. Orang tua itu melihat, meskipun Ajar Pamotan Galih
tidak mempunyai kelebihan yang mengejutkan sebagaimana diduganya,
karena seolah-olah Pangeran Sena Wasesa sendiri sudah mengetahuinya,
namun daya tahan orang itu memang luar biasa. Meskipun ia harus
mengerahkan segenap tenaganya dan melepaskan tenaga caj- dangannya
sampai tuntas untuk memaksa Pangeran Sena Wasesa menyerah, namun ia
masih tetap bertempur sesegar saat ia baru mulai. Dalam pada itu,
Pangeran Sena Wasesa telah benar-benar menjadi semakin terdesak.
Serangan Ki Ajar yang beruntun mengarah kepundaknya dapat
dihindarinya. Namun ketika ia bergeser sambil berputar, tiba-tiba
saja Ajar Pamotan Galih telah melingkar sambil menyerang dengan
tumitnya menyamping mengarah lambung. Pangeran Sena Wasesa dengan
tergesa-gesa melangkah surut. Tetapi ia sadar, serangan berikutnya
akan menyusul. Karena itu, ia segera bersiap untuk menghindar.
Tetapi serangan Ki Ajar justru diarahkan kepada kakinya. Sambil
merendah dan bretopang pada satu tangannya di tanah, Ajar Pamotan
Galih berusaha menghantam lutut Pangeran Sena Wasesa. Namun Pangeran
itu masih mampu bergerak cepat. Ia melangkah kesamping. Bahkan
kemudian dengan serta merta, la telah membalas serangan ku, dengan
serangan ganda. Kakinya sempat menghantam betis lawannya dengan
kerasnya, kemudian ketika kaki lawannya itu terdorong kesamping,
Pangeran Sena Wasesa langsung menyerang dada. Tetapi serangannya
ternyata gagal, karena Ki Ajar sempat berguling Dengan cepat ia
melinting dan demikian kakinya tegak diatas tanah, maka kedua
tangannya telah menyerang beruntun. Langsung mengarah ke pundak yang
berdarah itu. Pangeran Sena Wasesa sempat menghindari serangan yang
pertama dengan bergeser surut setapak. Tetapi kecepatan serangan
kedua tidak dapat diimbanginya. Karena itu, sekali lagi tangan Ki
Ajar Pamotan Galih yang dilambari dengan tenaga cadangannya itu
telah menghantam pundak yang memang sudah berdarah Itu. Serangan
Ajar Pamotan Galih itu cukup keras. Sementara itu perasaan sakit
memang telah mencengkam pundak itu. maka serangan itu benar-benar
telah mendorongnya sehingga hampir saja Pangeran Sena Wasesa itu
kehilangan keseimbangannya. Tetapi ia masih tangkas untuk
memperbaiki keseimbangannya. Namun demikian ia berhasil berdir i
tegak maka Ki Ajar Pamotan Galih itu telah menyerangnya dengan
kecepatan yang luar biasa. Seolah-olah Ajar tua itu telah terbang
menukik dengan kakinya yang, terjulur mendatar mengarah dada.
Demikian cepat dan kerasnya, sehingga Pangeran Sena Wasesa tidak
sempat lagi untuk mengelak. Karena itu, maka ia telah memir ingkan
tubuhnya dan berusaha melawan serangan itu dengan lengannya. Sebuah
benturan yang keras telah terjadi. Pangeran Sena Wasesa telah
terdorong beberapa langkah surut. Namun, meskipun ia berhasil untuk
bertahan dan tidak terlempar jatuh, tetapi justru lengan yang dengan
tergesa-gesa telah dipergunakannya untuk menyelamatkan dadanya itu
adalah lengannya pada pundaknya yang terluka. Sehingga karena
itulah, maka darah yang telah mengalir dari luka itu, benar- benar
bagaikan dihentakkan mengalir dengan derasnya. Pangeran Sena Wasesa
melangkah surut. Dengan cemas ia meyaksikan arus darahnya yang
semakin membanj ir. Dalam pada itu, Ajar Pamotan Galih itupun
tertawa berkepanjangan. Dengan Jantang iapun kemudian berkata “Nah,
Pangaeran. Apakah Pangeran masih ingin melawan? Agaknya kemampuan
Pangeran telah terhisap oleh darah yang mengalir dari luka itu.
Sebenarnyalah aku mengagumi kemampuan Pangeran yang hampir dapat
mengimbangi kemampuanku. Tetapi ternyata bahwa Pangeran tidak akan
bertahan lebih lama lagi. Karena itu, sebaiknya Pangeran mengakui
saja kekailahan ini. Dengan demikian maka segalanya akan berjalan
lancar. Ajak aku kemana saja yang menurut Pangeran akan dapat
menyelesaikan persoalan kita” Wajah Pangeran Sana Wasesa menjadi
tegang. Namun ternyata sikap Ajar Pamotan Galih itu membuatnya
tersinggung, sehingga harga dir inya sebagai seorang kesatriapun
telah terungkat. Dengan suara bergetar menahan gejolak perasaannya,
maka Pangeran itu berkata “Aku sudah basah olehi darah Ki Ajar.
Tetapi aku belum sampai pada batas perjanjian kita. Sebagai seorang
kesatria aku akan menghormat i setiap perjanjian. Tetapi sebagai
seorang kesatria, maka akupun pantang menyerah. Aku akan bertempur
sampai ternyata aku tidak mampu lagi melawan. Atau bahkan mati”
“Sudah aku katakan aku tidak akan membunuhmu“ berkata Ajar Pamotan
Galih. “Jika demikian, akulah yang akan membunuhmu” geram Pangeran
Sena Wasesa. Tetapi Ajar Pamotan Galih yang melihat kemungkinan
untuk menang menjadi semakin besar itupun tertawa. Darah yang
mengalir dipundak Pangeran Sena Wasesa telah membasahi seluruh
tubuhnya. Katanya di sela-sela suara tertawanya yang sengaja di
perdengarkan “Pangeran. Apakah kau bukan seorang laki- laki jantan
yang sanggup dan berani menatap kenyataan? Kau tidak akan menang.
Itu satu kenyataan. Bukankah kau melihat kenyataan itu” “Aku melihat
Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa “Tetapi aku adalah laki- laki
yang pantang menyerah. Sudah aku katakan, dan kau sudah
mendengarnya” “Jangan keras kepala Pangemn” sahut Ki Ajar. Pangeran
Sana Wasesa tidak menjawab. Tetapi ia telah mengerahkan sisa
tenaganya untuk bertempur semakin seru. Keadaan Pangeran itu memang
sangat mencemaskan. Kiai Kanthi menjadi sangat gelisah. Tetapi ia
tidak dapat berbuat apa-apa. Jika ia berbuat sesuatu, maka mungkin
Pangeran Sena Wasesapun telah tersinggung pula. Karena itu, maka
rasa-rasanya kaki Kiai Kanthi itupun menjadi bergetar oleh
kegelisahan yang tertahan di dalami dadanya tanpa menemukan
pemecahan. Dalam pada itu, kegelisahan itu bukan saja telah
mencengkam Kiai Kanthi. Anak-anak muda yang menyaksikan pertempuran
itupun menjadi cemas. Jlitheng dan Daruwerdi menjadi tegang. Swasti
diluar sadarnya telah mendesak ayahnya selangkah maju tanpa
berpaling dari pertempuran itu. Rahu tegak sambil menggeram.
Sementara itu kedua paman Daruwerdipun bagaikan berdiri diatas bara.
Namun dalam pada itu, ternyata kedua adik seperguruan Ki Ajar
Pamotan Galih itupun menjadi cemas melihat keadaan Pangeran itu.
Sebenarnyalah keduanya masih sangat ragu- ragu menghadapi sikap
saudara seperguruannya. Mereka tidak tahu pasti, apakah yang telah
dilakukan oleh saudara seperguruannya itu, yang bertentangan dengan
sikap yang pernah dilihatnya sebelumnya. Sebagai orang yang sudah
lama merambah jalur jalan orang-orang yang berilmu maka darah bukan
lagi menjadi persoalan perasaan mereka. Apalagi pada suatu masa
mereka adalah orang-orang yang hidup dalam dunia yang hitam. Namun
ketika pada suatu saat mereka mulai di hayati oleh
pertimbangan-pertimbangan tentang sikap hidup mereka, maka yang
disaksikannya itu membuat mereka menjadi berdebar debar. Namun dalam
pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih justru telah mengerahkan segenap
kemampuan dan kecepatannya bergerak untuk memancing agar Pangeran
Sena Wasesa mengerahkan segenap kekuatannya pula, sehingga dengan
demikian, maka ia akan segera kehabisan tenaga karena darahnya yang
mengalir semakin banyak. Sebenarnyalah, betapapun Pangeran Sena
Wasesa berjuang untuk mengatasi susutnya tenaga, namun ia memang
tidak mampu melawan kenyataan yang terjadi pada dirinya. Tenaganya
benar-benar semakin terkuras habis sejalan dengan darahnya yang
tidak henti-hentinya mengalir, dari lukanya. Dalam pada itu, selagi
keadaan Pangeran Sena Wasesa menjadi semakin gawat, nampaknya
Jlitheng tidak dapat menahan hati lagi. Dengan sertai meria ia
berkata kepada Rahu “He, apa kerjamu selama ini? Kau biarkan hal ini
terjadi? Rahu menahan gejolak parasaannya. Katanya “Yang membuat aku
bimbang, adalah kesediaan Pangeran untuk berperang tanding” Jlitheng
menggertakkan giginya. Namun dalam pada itu, ketika ia melihat
Pangeran Sena Wasesa yang menjadi semakin lemah terdorong jatuh,
maka iapun segera meloncat ke arena. “Tidak adil” teriaknya
“Pangeran sudah terluka. Perang tanding hanya adil jika keduanya
adalah keadaan yang wajar” Wajah Ki Ajar Pamotan Galih menjadi merah
padam. Setelah ia mengalami perlawanan yang sangat berat, bahkan
telah memaksanya untuk mengerahkan segenap kemampuannya, maka
kehadiran anak muda itu membuatnya sangat marah. Dalam pada itu
terdengar suara Pangeran Sena Wasesa “Jlitheng. Tinggalkan arena.
Aku tidak dapat mengingkari segala perjanjian yang sudah aku buat.
Tetapi, tidak dapat melawan lagi menurut pengertianku adalah
kematian” “Sejenak perang tanding ini dimulai, sudah dapat dinilai
tidak sah. Pangeran berada dalam keadaan luka” jawab Jlitheng. “Ia
tidak menyatakan keberatannya” potong Ajar Pamotan Galih yang marah.
Bahkan katanya kemudian “atau kau akan ikut campur dan bersama-sama
melawan aku?” “Aku akan menggantikannya” jawab Jlitheng. “Kau jangan
gila Jlitheng” teriak Pangeran Sena Wasesa yang berusaha untuk
bangkit betapapun lemahnya” Kau harus tahu diri dengan siapa kau
berhadapan. Jangan cemaskan keadaan orang lain, tetapi kau kemudian
justru membunuh dir i. Sebuah kematian sudah cukup. Biarlah aku mati
karena tugas hidupku memang sudah selesai” “Aku tidak mengerti”
jawab Jlitheng “Apakah mungkin seseorang menganggap tugas hidupnya
sudah selesai. Menurut pengertianku, apalagi bagi seorang kesatria,
tugas hidup itu tidak akan selesai selama masih ada kelaliman di
muka bumi ini” “Cukup” bentak Ki Ajar Pamotan Galih “majulah
bersama- sama. Aku akan membunuh kalian berdua, dan apa bila
Pangeran benar-benar tidak mau berbicara tentang pusaka itu, maka
semua orang akan aku bunuh seorang demi seorang. “Licik” geram
Pangeran Sena Wasesa “Kita teruskan perang tanding ini” “Tidak
perlu” potong Jlitheng “perang tanding ini t idak dapat dianggap
sah” Wajar Ajar Pamotan Galih menjadi bagaikan menyala. Sementara
itu Jlitheng tidak mau beringsut dari tempatnya. Sedangkan
orang-orang yang berada diseputar arena itu menjadi ragu-ragu. Namun
akhirnya Rahupun melangkah maju. Katanya “Pangeran. Aku masih tetap
dalam tugasku. Apapun yang akan terjadi atas dir iku”. “Jangan
bodoh” teriak Pangeran itu “kalian akan melakukan satu kesalahan
yang tidak akan berarti apa-apa” Tetapi Rahu dan Jlitheng nampaknya
memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan, apapun yang akan
terjadi atas diri mereka. Dalam pada itu. Ajar Pamotan Galih menjadi
semakin marah melihat kedua orang yang dengan berani menentangnya.
Bahkan menurut pertimbangan Ajar Pamotan Galih, diantara mereka
masih terdapat seorang tua yang tentu memiliki ilmu yang mapan pula.
Karena itu maka Ajar Pamotan Galih itupun kemudian berkata kepada
kedua adik seperguruannya “Singkirkan mereka. Jika mereka melawan
kalian dapat memaksanya” Kedua orang adik seperguruan Ajar Pamotan
Galih ku termangu-mangu. Mereka memang melihat beberapa persoalan
yang menjadi teka-teki. Menurut penilaian mereka, kakak
seperguruannya adalah seorang yang memiliki ilmu yang sukar ada
bandingnya. Namun dalam pertempuran itu, meskipun lawannya juga
seorang pilih tanding, namun agaknya Ajar Pamotan Galih itu sendiri
harus mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi Pangeran yang luka
itu. “Tetapi menilik unsur dan cir i-cir i tata geraknya, orang itu
benar-benar bersumber dari perguruan kami” berkata saudara
seperguruannya ku kepada dir i sendir i” Meskipun telah terjadi
perkembangan yang agak jauh” Dalam keragu-raguan itu, terdengar
sekali lagi Ajar Pamotan Galih itu berteriak “Singkirkan mereka.
Kalian dengar? Jika mereka melawan, bunuh saja orang-orang gila itu.
Aku tidak memerlukannya” Beberapa orang di seputar arena itu mulai
bergerak. Namun justru kedua saudara seperguruannya ku masih tetap
dicengkam oleh keragu-raguan. Tetapi akhirnya merekapun telah
bergerak pula. Selangkah demi selangkah dengan sorot mata penuh
kebimbangan. “Kenapa kalian ragu-ragu he?“ bentak Ki Ajar Pamotan
Galih. Dalam pada itu, tiba-tiba saja Daruwerdi telah meloncat pula
sambil berkata “Kakek. Tindakan kakek memang tidak adil” “Daruwerdi”
desis Ki Ajar Pamotan Galih “Kenapa kau tiba- tiba menjadi orang
bingung. Semuanya ini untuk kepentinganmu. Kau adalah cucuku seperti
cucuku sendir i. Segalanya aku lakukan bagi hari depanmu. Menepilah.
Aku akan menyelesaikan tugas ini“ “Tidak kakek. Aku menolak cara
yang kakek pergunakan” berkata Daruwerdi ”apakah kakek tidak
mempunyai cara lain selain kekerasan seperti itu? Seandainya kakek
memberi kesempatan aku memilih, maka aku akan memilih agar kakek
mengurungkan niat kakek daripada mendapat sebilah pusaka, harta
benda dan apapun yang tidak aku ketahui manfaatnya dengan pasti.
Apakah ada pengaruh gaib dari pusaka itu yang akan membuat aku
menjadi seorang pemimpin kelak, atau sebenarnya karena harta benda
yang tidak ternilai harganya itu akan dapat membuat aku berbahagia”
“Daruwerdi, bukankah kita sudah sepakat sebelumnya Bukankah kita
sudah mengatur segaa sesuatunya. Bahkan jika orang Sanggar Gading
itu tidak memiliki pengamatan tayub yang tajam, kau sendiri akan
anggap menyelesaikan. Nah, jika waktu itu Pangeran ini sudah ada di
tanganmu tanpa aku. apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Ajar
Pamotan Galih. Jika saat itu, Yang Mulia dari Sanggar Gading itu
tidak merubah segala macam acara yang telah ditentukan, agaknya
Daruwerdi memang akan menentukan sikap yang sudah di putuskannya.
Katanya “Aku akan mengikatnya dengan jerat rangkap ganda dan cinde
berserat baja sehingga tidak dapat diputuskannya dengan ilmu apapun
juga. Kemudian memukulinya sehingga ia mengatakan di mana pusaka itu
disimpan. Aku tidak akan mempunyai belas kasihan terhadap seseorang
yang telah membunuh ayahku” “Nah, kenapa kau tidak melakukannya
sekarang? Bahkan kau mencegah aku melakukan kekerasan” bertanya Ki
Ajar Pamotan Galih. “Aku memang sudah berubah sikap kakek. Sejak aku
meragukan sifat dan watak Pangeran itu. Ia sama sekali tidak
mendendamku. Bahkan ia telah membantu membebaskan aku dari kemarahan
Yang Mulia pemimpin tertinggi Sanggar Gading” “Persetan“ geram Ki
Ajar Pamotan Galih “kalian sudah menjadi cengeng. Cepat, lakukan
yang aku perintahkan. Kalian telah membuat aku kehilangan kesabaran.
Bunuh semua orang yang menentang perintahku dan menghalangi niatku”
Halaman padepokan itu menjadi semakin tegang. Sejenak mereka
seakan-akan telah membeku. Perintah itu merupakan keputusan yang
pasti tidak akan dapat berubah lagi. Namun dalam pada itu, tidak ada
pilihan lain dar i Kiai Kanthi untuk mempersiapkan diri. Swastipun
telah meraba hulu senjatanya, sementara kedua paman Daruwerdi yang
kebingungan itupun itelah dipaksa untuk bersiap. Sikap Daruwerdi
membuat mereka semakin kehilangan arah dan pegangan. Namun akhirnya,
mereka tidak mau berpikir lagi. Mereka harus melindungi Daruwerdi,
kemanakannya itu, dimanapun ia berdir i. Dalam suasana yang tidak
menentu itu, tiba-tiba saja halaman padepokan itu telah digetarkan
oleh suara tertawa nyaring. Tidak terlalu keras, tetapi rasa-rasanya
menusuk sampai kepusat jantung. Sejenak orang-orang dihalaman itu
menjadi bingung Namun orang-orang tuapun segera mengetahui arah
suara itu. Ternyata merekapun kemudian melihat di atas sebatang
dahan pada pohon pacar yang tua duduk seorang dalam pakaian yang
kumal dan kotor. Wajahnya tidak lagi nampak wajar oleh cacad di
kening dan ujung bibir. “Anak setan” geram Ki Ajar Pamotan Galih
“Siapakah orang gila yang duduk disitu?“ Orang itu masilh tetap
tertawa, sementara orang-orang lain menjadi bingung dan bimbang.
Tidak seorangpun yang tahu, kapan orang itu datang, sehingga
tiba-tiba saja ia sudah berada di atas sebatang dahan di pohon pacar
tua yang besar dan rimbun itu. “Tentu orang berilmu sangat tinggi”
berkata setiap orang di dalam hatinya. Sementara itu, maka orang
itupun berkata “Yang pertama harus dilakukan adalah memampatkan
darah dari luka Pangeran. Semakin lama darah itu akan semakin banyak
mengalir, sehingga pada suatu saat Pangeran akan kehilangan sebagian
besar dari darah Pangeran. Pangeran tentu tahu, akibat apa yang
dapat terjadi” Pangeran Sena Wasesa memang sudah menjadi semakin
lemah. Selain karena ia sudah mengerahkan segenap kekuatannya, iapun
itelah kehilangan banyak darah dari tubuhnya. Meskipun demikian,
Pangeran Sena Wasesa itu sama sekali tidak berniat untuk menyerah,
sebelum ia bertempur sampai tuntas. Karena itu, maka katanya
kemudian “Kewaj ibanku belum selesai” “Jangan berpikir seperti itu
Pangeran” jawab orang yang duduk diatas sebatang dahan pohon pacar
yang tua itu “Pangeran dapat berbuat demikian jika luka itu terjadi
pada saat perang tanding ini berlangsung. Tetapi bukankah Pangeran
sudah terluka sejak perang tanding ini belum dimulai” “Tetapi ia
sudah mener ima tantangan perang tanding itu dalam keadaannya” geram
Ajar Pamotan Galih, yang kemudian berkata “Tetapi siapakah kau he?
Apakah kau memang dengan sengaja ingin ikut campur dalam persoalan
ini?“ Orang itu tertawa. Tubuhnya nampak ringan sekali ketika ia
meluncur turun dari dahan pohon pacar itu. Namun ketika ia melangkah
mendekat, maka ternyata bahwa punggungnya agak bongkok meskipun
hanya sedikit. “Ki Ajar Pamotan Galih“ berkata orang itu “Sebenarnya
perang tanding ini tidak akan ada artinya sama sekadi” ”Kami. sudah
membuat perjanjian” berkata Ajar Pamotan Galih. “Jika kau menang
Pangeran akan mengatakan yang sebenarnya tentang pusaka dan harta
karun yang kau inginkan itu? Yang kau katakan seolah-olah semuanya
itu kau siapkan bagi hari depan cucumu itu?“ bertanya orang yang
berwajah cacat dan punggungnya agak bongkok itu. “Ya. Pusaka itu
mempunyai pengaruh gaib sehingga cucuku itu kelak akan dapat menjadi
seorang pemimpin” jawab Ajar Pamotan Galih. “Dan harta benda yang
menyertai pusaka itu akan dapat dipergunakan untuk menyusun hari
depannya yang bahagia“ sambung orang yang cacat itu. “Ya” jawab Ki
Ajar Pamotan Galih. Namun kemudian katanya “Tetapi apa kepentinganmu
dengan persoalan kami pengembara yang kotor. Apakah kau ingin
mendapat sesuap, nasi karena tingkah lakumu itu?“ “Tidak adil”
teriaknya ”Pangeran sudah terluka. Perang tanding hanya adil jika
keduanya adalah keadaan yang wajar” Wajah Ki Ajar Pamotan Galih
menjadi merah padam. Setelah ia mengalami perlawanan yang sangat
berat, bahkan telah memaksanya untuk mengerahkan segenap
kemampuannya, maka kehadiran anak muda itu membuatnya sangat marah.
“Tidak, tidak Ki Ajar. Aku dapat makan apa saja yang aku ketemukan.
Selama ini aku makan akar pepohonan dan madu tawon. Ternyata aku
tetap sehat seperti yang kau lihat” berkata orang itu. Lalu “Tetapi
itu tidak penting. Sebaiknya kau hentikan tingkah lakumu yang
memuakkan itu” “Persetan“ geram Ki Ajar Pamotan Galih. Lalu katanya
kepada kedua adik seperguruannya “usir orang itu” “Tunggu” berkata
orang cacat itu “Aku ingin member ikan obat ini kepada Pangeran Sena
Wasesa. Mungkin Pangeran sendiri juga sudah mempunyai obat yang
baik. Tetapi aku kira, obatku ini akan lebih cepat memampatkan
darah” Orang itu kemudian sama sekali tidak menghiraukan Ki Ajar
Pamotan Galih yang justru menjadi termangu-mangu. Sambil member ikan
sebumbung kecil obat ia berkata kepada Rahu dan Jlitheng “Tolong,
bantu Pangeran itu. Biarlah orang ini aku selesaikannya” Seperti
kena pesona yang tidak dapat mereka hindari, maka kedua orang itupun
kemudian mendekati Pangeran Serta Wasesa yang menerima bumbung
berisi obat itu hampir diluar sadarnya. “Cepat” berkata Ki Ajar
Pamotan Galib kemudian “usir orang itu atau bunuh sama sekali. Ia
sudah mengigau tentang pusaka, tentang harta benda, seolah-olah ia
mengetahui apa yang dikatakannya” Kedua adik seperguruan Ki Ajar
Pamotan Galih itu termangu-mangu. Namun kemudian orang yang
berpakaian kumal seperti seorang pengembara itu berkata “Baiklah
Raga- pasa dan Wanda Manyar. Jika kalian memang mendapat tugas untuk
itu, cobalah, lakukanlah atasku” Kedua orang itu terkejut. Hampir
diluar kehendaknya, Ki Wanda Manyar bertanya “Kau mengenal kami
berdua?“ “Kenapa tidak? Aku mengenal kau berdua dengan baik. Dan
barangkali kalian bertanya, darimana aku mengenal kalian?“ sahut
orang itu. Kedua orang itu temangu-mangu. Namun Ki Ajar Pamotan
Galih telah membentaknya “Cepat. Selesaikan saja orang itu”
“Baiklah” berkata pengembara itu “biarlah kedua orang ini melawan
aku. Tetapi aku minta ¡kau memperhatikan apa yang akan terjadi” “Kau
memberi kesempatan Pangeran itu mengobati luka- lukanya?“ bertanya
Ki Ajar Pamotan Galih. “Apa kau berkeberatan?“ bertanya pengembara
itu. “Baik “ Ajar Pamotan Galih hampir berteriak “biarlah Pangeran
itu mengobati luka-lukanya. Aku akan memberi kesempatan kepadanya.
Sekarang aku ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh pengembara
ini” Lalu katanya kepada kedua orang adik seperguruannya “usir, atau
bunuh sama sekali” Kedua adik seperguruan itu masih tetap ragu-ragu.
Namun pengembara itupun kemudian berkata “Marilah Raga-pasa dan
Wanda Manyar. Aku memang ingin menunjukkan kepadamu, apa yang dapat
aku lakukan” Kedua orang itu seolah-olah tidak lagi mengerti apa
yang dilakukannya. Tetapi keduanya telah maju kearena. Kiai Kanthi
memperhatikan orang yang baru datang itu dengan saksama. Ia memang
belum pernah melihat orang yang cacat seperti itu. Namun adalah
sangat menarik bahwa orang itu telah menantang kedua orang adik
seperguruan Ajar Pamotan Galuh. “Orang itu akan menghadapi
kedua-duanya” berkata Kiai Kanthi di dalamhatinya. Karena kedua adik
seperguruan Ki Ajar itu masih tetap ragu-ragu, maka orang itu
berkata “Jangan ragu-ragu. Aku akan memulai. Melawan atau tidak
melawan” Pengembara yang membuat teka-teki di padepokan itu menjadi
semakin rumit itupun tiba-tiba telah meloncat menyerang. Ia
benar-benar telah memukul pundak Ki Ragapasa yang ragu-ragu. Namun
pukulan itu telah mendorongnya selangkah surut Ki Ragapasa
menyeringai menahan sakit. Sementara itu, orang itu telah menyerang
Ki Wanda Manyar pula. Namun nampaknya Ki Wanda Manyar telah
bersiaga, sehingga iapun sempat mengelak. “Orang ini sangat aneh”
desis kedua orang itu didalam hatinya. Namun keduanya tidak dapat
tinggal diam. Orang itu sudah menyerang dan sentuhan di pundak Ki
Ragapasa telah membuat pundak itu menjadi sakit. ”Tetapi orang itu
agaknya tidak ingin berbuat lebih banyak dari sakit itu” berkata Ki
Ragapasa kepada diri sendiri “Jika ia mau, maka aku kira ia dapat
lebih banyak berbuat daripada membuat pundak ini sakit” Namun dalam
pada itu, kedua orang adik seperguruan Ajar Pamotan Galih itu tidak
sempat berpikir lebih banyak lagi. Orang yang cacat itu telah
menyerangnya dengan cepatnya. Meskipun ia agak bongkok tetapi ia
dapat bergerak dengan cekatan, seolah-olah ia tidak dalam keadaan
cacat. Tetapi dalam pada itu, terdengar Ajar Pamotan Galih tertawa
sambil berkata “Orang itu hanya dapat meloncat- loncat seperti kera
kepanasan. Tetapi karena tingkah lakunya, maka cepat selesaikan saja
agar orang itu tidak mengganggu” Dalam pada itu, kedua orang yang
sedang bertempur melawan pengembara itupun melihat, seolah-olah
orang itu hanya bergerak tanpa kemampuan menguasai tata gerak sama
sekali Namun ternyata ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ketika
Ragapasa menyerangnya, demikian tangannya menyentuh tubuh orang itu,
ia mendengar orang itu berdesis “Kau benar-benar tidak mengenal
aku?“ Ki Ragapasa mengerutkan keningnya. Tetapi ketika ia bergeser
surut, pengembara itu memburunya dan dengan sisi telapak tangannya
ia menghantam lambung. Ki Ragapasa terkejut. Lambungnya memang
merasa sakit. Sementara itu Ki Wanda Manyarpun telah berusaha
menyerang orang itu pula dari samping. Dalam pada itu, orang itupun
berdesis pula “ Cobalah mengingat siapakah aku” Ki Wanda Manyar yang
sudah siap untuk memukul tengkuk orang itupun telah tertahan. Tetapi
tangannya masih juga menyentuh tengkuk itu meskipun tidak
menimbulkan akibat apapun juga. Orang-orang yang melihat perkelahian
itu merasa bahwa ada sesuatu yang tidak wajar. Kiai Kanthi yang
memiliki pengamatan yang tajam justru menjadi heran. Pertempuran itu
sama sekali tidak mencermikan pertempuran antara orang- orang yang
berilmu tinggi. Apalagi Ki Ajar Pamotan Galih sendiri. Dengan
lantang iapun kemudian berkata “Jangan terpengaruh oleh perasaan
belas kasihan. Bunuh saja orang itu Kau kira bahwa orang itu pada
suatu saat tidak akan berbahaya bagi kalian. Ia telah memancing
kalian dengan tingkah lakunya yang kegila-gilaan itu. Namun pada
suatu saat, perut kalianlah yang akan berlubang karenanya” Kedua
adik seperguruannya itupun kemudian bergeser surut. Tetapi kata-kata
orang bertubuh bongkok dan berwajah cacat itu berkesan dihati
mereka, sehingga untuk beberapa saat keduanya telah berusaha untuk
mengingat, dengan siapa ia berhadapan. Namun mereka t idak segera
dapat mengenali orang itu. Sementara orang itu telah menyerang
mereka pula. Sehingga dengan demikian, maka merekapun harus berusaha
untuk menghindar. Meskipun kemudian terjadi sentuhan-sentuhan,
tetapi sama sekali t idak berakibat apapun juga bagi kedua saudara
seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu. “Hentikan permainan gila itu”
tiba-tiba Ki Ajar itu berteriak “Jika kalian terpengaruh oleh sikap
orang itu, maka biarlah aku saja membunuhnya. Pengembara itu
meloncat mundur. Lalu Katanya “Itu lebih baik Ki Ajar. Cobalah, kau
sajalah yang membunuh aku. Kedua saudara seperguruanmu ini agaknya
terlalu berbelas kasihan kepadaku. Mereka tidak bertempur dengan
sungguh-sungguh Mereka hanya menyentuh tubuhku yang cacat ini
seperti menyentuh dan membelai untuk kanak-kanak” “Tutup mulutmu”
bentak Ki Ajar Pamotan Galih yang tidak sabar “Iblis seperti kau ini
memang harus dimusnakan” “Ah. Kau nampak garang sekali Ki Ajar”
berkata orang itu “hampir aku tidak dapat mengenalmu lagi. Dahulu
kau tidak segarang sekarang ini. Memang aku tahu, sebelumnya kau
adalah iblis yang paling garang di daerah Selatan negeri ini. Tetapi
rasa-rasanya kau sudah berubah” “Setan alas“ bentak Ki Ajar “Jangan
berbicara tentang sesuatu yang tidak káü ketahui” “Aku tahu“ jawab
orang ku “Aku mengenal Ki Ajar dengan baik. Aku mengenal Ki Ajar
Cinde Kuning. Aku mengenal Ki Ajar Macan Kuning, yang mulai berubah
menjadi lain dari Ajar Cinde Kuning, dan kemudian nama itu berubah
lagi menjadi Ki Ajar Pamotan Galih yang menginginkan pusaka yang kau
sangka tersembunyi di daerah Sepasang Bukit Mati. Kau ajari cucumu
itu untuk menculik Pangeran Sena Wasesa yang ternyata adalah
satu-satunya orang yang mengetahui tentang pusaka ku dan lebih-lebih
lagi adalah harta benda yang tidak ternilai harganya” “Cukup “Ki
Ajar Pamotan Galih kupun melangkah maju. Ia tidak memikirkan lagi
siapakah yang berdiri dihadapannya. Namun ia masih berkata kepada
kedua saudara seperguruannya “Jaga orang-orang yang ada di halaman
ini, terutama Pangeran Sena Wasesa. Jangan biarkan mereka pergi”
“Apa yang akan kakang lakukan?“ bertanya Raga-pasa. “Aku akan
membunuh orang ini” jawab Ajar Pamotan Galih. Pangeran Sena Wasesa
termangu-mangu. Ada niatnya untuk mengatakan bahwa ia masih dalam
satu keadaan berperang tanding. Belum ada yang dinyatakan kalah atau
menang. Namun keadaan yang dihadapinya itu telah mempesonanya,
sehingga ia tidak berbuat sesuatu ketika kedua orang itu berhadapan.
Ki Ajar Pamotan Galih dengan orang yang cacat dan punggungnya agak
bongkok itu. “Sebelum kau mat i, apakah ada yang ingin kau katakan?“
geramAjar Pamotan Galih. Orang yang cacat itu mengerutkan keningnya.
Namun kemudian jawabnya “Tidak ada yang ingin aku katakan lagi
Sekarang, jika kau ingin berbuat sesuatu, lakukanlah. Aku sudah
siap. Biarlah orang-orang yang berada disini menjadi saksi” Ki Ajar
Pamotan Galih tidak sabar lagi. Dengan geramnya ia berdesis “Aku
ingin cepat membunuhmu. Kemudian menyelesaikan persoalanku dengan
Pangeran Sena Wasesa” “Aku tidak ingin mati” tiba-tiba saja
pengembara itu menjawab “Aku ingin tahu, apa yang dapat kau
selesaikan dengan Pangeran Sena Wasesa itu” Ki Ajar Pamotan Galih
tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang sambil
berteriak nyaring. Suara teriakannya itu bagaikan mengguncang setiap
isi dada. Kiai Kanthi bergeser selangkah kesamping diikuti oleh anak
gadisnya. Pertempuran yang kemudian terjadi memang sangat menarik
perhatiannya. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas,
maka sentuhan pada jantungnya telah menarik perhatiannya untuk
memperhatikan pertempuran itu dengan saksama sampai kepada
unsur-unsurnya. Pangeran Sena Wasesa mengikuti perkembangan keadaan
itu dengan jantung yang berdebaran. Namun bagaikan orang terbangun
dari mimpi ia berpaling ketika Rahu berkata “Apapun yang terjadi
Pangeran. Sebaiknya Pangeran mengobati luka Pangeran” Pangeran itu
ragu-ragu. Ia belum mengenal pengembara Uu, Karena itu, Pangeran
itupun tidak yakin bahwa obat itu akan menolongnya. Tetapi Pangeran
itu terkejut ketika pengembara itu sambil menghindari serangan Ki
Ajar Pamotan Galih berkata “Jangan bimbang Pangeran. Darah itu sudah
terlalu banyak mengalir dari tubuh Pangeran” Pangeran Sena Wasesa
sendiri tidak mengerti, kenapa kepercayaannya kepada pengembara itu
telah tumbuh. Karena itu. maka untuk sesaat ia menepi dan dibantu
oleh Rahu dan Jlitheng, Pangeran Sena Wasesa telah mengobati luka-
lukanya. Adalah diluar dugaannya, bahwa tiba-tiba saja Daruwerdi
telah berjongkok disampingnya sambil berdesis “Aku mohon maaf
Pangeran” Pangeran Sena Wasesa memandangi anak muda itu. Kemudian
dengan kerut di dahi ia bertanya “Kenapa?” “Akulah yang menyebabkan
Pangeran terperosok dalam keadaan yang berlarut-larut ini. Apalagi
setelah aku menyadari, bahwa Pangeran tidak sendiri. Maksudku,
keluarga Pangeran” Pangeran Sena Wasesa tersenyum. Katanya
“Sudahlah. Sekarang kita sudah terjerat ke dalam keadaan seperti
ini. Aku ingin melihat apa yang terjadi” Daruwerdi beringsut surut.
Ketika Rahu dan Jlitheng memandangi wajahnya, maka nampak penyesalan
yang dalam pada sorot matanya. Namun segalanya memang sudah terjadi.
Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa. Mereka sudah
terjerat dalamsatu keadaan. Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih
telah menyerang dengan garangnya. Ia ingin dengan cepat
menyelesaikan pertempuran itu. Ia tidak lagi menghiraukan apapun
juga dan sama sekali tidak lagi mengendalikan diri. Ia benar-benar
ingin membunuh orang itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya
sehingga ia tidak akan merasa terganggu lagi, jika ia ingin
berbicara lebih jauh dengan Pangeran Sena Wasesa. Namun ternyata
bahwa Ajar Pamotan Galih tidak dapat melakukannya sebagaimana yang
dikehendakinya. Meskipun ia sudah menghentakkan kemampuannya,
ternyata bahwa pengembara yang sedikit bongkok itu mampu mengimbangi
kekuatannya dan bahkan kecepatannya bergerak. Dalam pada itu, Kiai
Kanthi memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Ada sesuatu
yang menarik perhatiannya pada pertempuran itu. Meskipun keduanya
bertempur dengan caranya masing-masing, tetapi Kiai Kanthi melihat
kadang- kadang keduanya memiliki unsur yang bersamaan. Sikap jari
tangan mereka hampir daiam keseluruhan gerak mir ip sekali Langkah
kaki, terutama dalam keadaan yang tergesa-gesa dan perlindungan
terhadap dada yang rapat sekali. Bukan saja Kiai Kanthi yang menjadi
sangat tertarik. Pangeran Sena Wasesa yang memperhatikan pertempuran
itu dengan saksamapun telah melihat pula beberapa kesamaan unsur
gerak pada keduanya. Namun dalam pada itu, yang paling banyak
memperhatikan persamaan itu adalah kedua adik seperguruan Ajar
Pamotan Galih. Bahkan demikian tajamnya mereka memperhatikan
persamaan-persamaan itu, sehingga keduanya seakan-akan telah
melupakan segala-galanya. Mereka tidak menghiraukan lagi Kiai
Kanthi, Pangeran Sena Wasesa, Rahu, Jlitheng dan anak gadis Kiai
Kanthi. Apalagi Daruwerdi dan kedua pamannya. Dalam pada itu
pertempuran itu semakin lama menjadi semakin meningkat. Ki Ajar
Pamotan Galih yang tidak segera dapat menyelesaikan lawannya itupun
menggeram. Kemarahannya telah melonjak sampai ke ubun-ubunnya.
Pangeran Sena Wasesa, seorang Senapati perang itu dapat
dikalahkannya Sementara itu seorang dalam pakaian kusut, bertubuh
cacat, telah mampu mengimbangi ilmunya. Justru karena gejolak
perasaannya, maka Ki Ajar Pamotan Galih tidak sempat menghiraukan
sikap dan tandang lawannya. Meskipun demikian terasa oleh Ajar
Pamotan Galih, bahwa orang cacat itu seolah-olah mampu membaca
tatage- raknya, sehingga setiap kali orang itu dapat mendahului dan
memotongnya. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih yang
semakin marah itu semakin kehilangan pengamatan diri. Demikian
mendesak keinginannya untuk segera menyelesaikan pertempuran itu,
dan justru karena orang cacat itu mampu mengimbanginya, maka tata
gerak Ajar Pamotan Galih itupun semakin lama menjadi semakin keras.
Bahkan dalam dorongan kemarahannya, maka tata geraknya menjadi
semakin kasar. Diluar sadarnya, muncullah unsur-unsur gerak yang
kadang-kadang mendekati kekasaran gerak orang-orang yang berilmu
hitam. Jari-jari tangannya yang mengembang rapat mulai berubah.
Jari-jarinya kadang-kadang telah mengembang seperti jari-jar i
seekor har imau. Bahkan dalam ketiadaan sadar, sekali-sekali
terdengar Ki Ajar itu menggeram mirip geramseekor harimau yang
lapar. Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Orang
bertubuh dan berwajah cacat itu ternyata mampu mengimbangi kemampuan
Ki Ajar Pamotan Galih. Bahkan ketika Ki Ajar itu benar-benar tidak
lagi mampu mengamati ilmunya dan bertempur semakin kasar, maka
lawannya sama sekali t idak nampak kebingungan. Agak berbeda dengan
Pangeran Sena Wasesa yang telah terluka. Selain karena kekasaran
lawannya, darahnya telah mengalir pula dari lukanya, sehingga
perlawanannya menjadi tidak seimbang. Tetapi orang cacat itu justru
telah meningkatkan ilmunya setiap ikali Ki Ajar Pamotan Galih
menjadi semakin garang. “Marilah Ki Ajar” berkata orang itu
“tuntaskan segala macam ilmumu. Menurut pendengaranku, orang yang
disebut Ki Ajar Cinde Kuning adalah seorang yang memiliki ilmu yang
sangat tinggi. Namun nama itu menjadi mulai pudar ketika namamu
beralih menjadi Ajar Macan Kuning. Mungkin nama Cinde Kuning kurang
memadai bagimu sehingga kau telah memilih nama lain lagi. Ki Ajar
Pamotan Galih” “Diam” geram Ki Ajar Pamotan Galih “Aku akan menyobek
mulutmu yang terlalu banyak berbicara itu” “Lakukanlah jika kau
mampu” jawab orang itu. Kemarahan Ki Ajar Pamotan Galih menjadi
semakin meledak-ledak. Ilmunya menjadi semakin kasar dan semakin
bergeser dari sikap dan gerak yang semula banyak mempunyai persamaan
dengan lawannya Bahkan akhirnya tata geraknya telah berubah sama
sekali. Kekasaran yang belum nampak selagi orang itu bertempur
melawan Pangeran Sena Wasesa” “Begitulah caranya mengerahkan segenap
kemampuannya?” Kiai Kanthi di dalam hatinya. Sementara itu Pangeran
Sena Wasesa berdesis “Betapupun tinggi ilmunya, tetapi ternyata aku
tidak dapat menghormat inya. Semula aku mengira bahwa ilmunya adalah
ilmu yang matang. Ternyata ilmunya yang dikagumi itu adalah ilmu
hitam” Sedangkan sebuah pertanyaan telah bergejolak di dalam hatinya
“Ternyata yang mengagumkan itu adalah ilmunya sebagai Ki Ajar Cinde
Kuning. Jika aku mengerti sejak semula aku sama sekali tidak akan
menaruh hormat kepadanya” Dalam pada itu pertempuran diantara kedua
orang itupun semakin sengit pula Betapa keras dan liarnya Ajar
Pamotan Galih yang berusaha memenangkan pertempuran itu. Namun
ternyata ihnu lawannyapun meningkat terus, seolah-olah tidak
terbatas. Kemampuannya benar-benar kemampuan yang tinggi dalam ilmu
yang bersih. Orang bertubuh cacat itu sama sekali t idak terpenjaruh
oleh sikap lawannya yang memiliki ilmu hitam. Bahkan kemudian
katanya “Ki Ajar. Aku juga mampu bertempur seperti yang Ki Ajar
lakukan. Tetaoi itu sudah lama lampau bagiku. Namun agaT kau dapat
sedikit mengenali aku, maka aku ingin memperlihatkannya. Tetapi
tidak untuk menyelesaikan pertempuran ini” Kata-kata itu sangat
menyakitkan hati. Namun sebenarnyalah. Tiba-tiba orang cacat itu
telah berubah. Dalam sekejap, ia telah meninggalkan ilmunya yang
bersih. Sambil menggeram keras sekali maka iapan bertempur dengan
buasnya, sebuas Ajar Pamotan Galih. Pertempuran itu menjadi berubah
sama sekali. Keduanya menjadi garang dan buas. Masing-masing
menggeram dan berteriak dengan kasarnya. “Permainan yang Gila“ desis
Kiai Kanthi. Jantungnya menjadi semakin berdebaran. Seolah-olah ia
sudah dihadapkan pada satu pertunjukkan yang sangat mengerikan.
Rasa-rasanya ia sedang melihat dua ekor binatang buas sedang berlaga
memperebutkan mangsanya dihutan yang lebat pepat. Namun seperti yang
dikatakannya, orang bertubuh cacat itu tidak menyelesaikan
pertempuran itu dengan cara yang kasar itu. Ternyata agak berbeda
dengan Ki Ajar Pamotan Galih yang benar-benar telah kehilangan
pengamatan dir i, maka lawannya masih menyadari keadaannya
sepenuhnya. Beberapa saat kemudian, maka iapun telah meruhah
caranya, kembali kepada cara yang semula. Bertempur dengan kemampuan
ilmu yang wajar dan bersih. Tetapi dengan demikian, maka nampaklah,
betapa ia yakin akan kemampuannya. Dengan suara lantang maka orang
cacat itupun berakta “Nah, Ki Ajar. Bukankah aku juga dapat
bertempur dengan caramu? Dengan demikian kau akan dapat lebih mudah
mengenaliku jika kau masih menipu nyai ingatan yang jernih”
“Persetan, siapapun kau, maka kau akan aku binasakan” geram Ki Ajar
yang menyerang dengan garangnya. Jari-jarinya mengembang siap
menerkam lawannya, sebagaimana seekor harimau yang buas. Sementara
itu, kedua orang adik seperguruan Pamotan Galih itupun
termangu-mangu. Tetapi keduanya dapat mengenali ilmu lawan Ajar
Pamotan Galih itu. Namun keduanya justru menjadi bingung. Salah
seorang diantara mereka berbisik “Apa masih ada orang lain dalam
jajaran perguruan ini?“ “Aku belumpernah mendengar” jawab yang lain
“Tetapi hal itupun mungkin sekali. Kita datang di satu perguruan
bukan pada saat kita masih anak-anak. Tetapi kita datang setelah
kita dewasa. Mungkin sekali sebelum kita datang, ada orang lain yang
pernah meninggalkan perguruan itu” “Kita memang dihadapkan pada satu
teka-teki yang sulit untuk dimengerti” berkata saudara
seperguruannya. Dengan demikian keduanya menjadi bertambah, bingung
untuk mengambil sikap. Yang dihadapinya benar-benar satu peristiwa
yang sulit untuk dapat diurai dan diarahkan kepada satu kesimpulan.
Sementara itu pertempuran itupun masih ber langsung terus. Tetapi
semakin lama semakin jelas, bahwa orang bertubuh dan berwajah cacat
itu semakin menguasai keadaan. Meskipun ia tidak lagi bertempur
dengan kasar dan buas, tetapi justru nampak semakin bersih, tetapi
penuh dengan kekuatan-kekuatan yang terlontar dari ilmu yang
benar-benar telah mapan. “Aku kira, aku tidak salah lagi” desis adik
seperguruan Ajar Pamotan Galih “Orang ini memiliki dasar ilmu
seperti kita. Seperti Ki Ajar Pamotan Galih. Tetapi jauh lebih mapan
dan mumpuni. Namun yang membuat kepala kita pening, justru dalam
keadaan yang paling gawat. Ajar itu bersikap aneh dan mengecewakan
dengan ilmunya yang kasar dan buas. Sebenarnyalah bahwa halaman
padepokan itu telah dicengkam oleh ketegangan yang semakin
menyesakkan dada. Setiap orang memperhatikan pertempuran itu dengan
pertanyaan yang bergejolak di dalam hati Orang-orang tua di sekitar
arena pertempuran itu telah mengetahui, bahwa keduanya memiliki
dasar ilmu yang sama. Namun kemudian Kl Ajar Pamotan Galih nampaknya
telah mempergunakan ilmu hitam yang dianggapnya mempunyai kemampuan
lebih baik dari dasar ilmunya yang sama dengan lawannya. Sementara
lawannyapun telah menunjukkan untuk memancing ingatan Ki Ajar
tentang dirinya, ilmu yang juga bersifat kasar dan keras, namun
seperti yang dikatakannya, ilmu itu tidak akan dipergunakannya untuk
menyelesaikan pertempuran. Tetapi Ajar Pamotan Galih tidak sempat
memperhatikan apapun juga karena gelora di dalam jantungnya. Ia
ingin membunuh lawannya secepatnya. Itu sajalah yang membara di
dalam dadanya, sehingga karena itu, maka usaha lawannya untuk
memancing ingatannya itupun sama sekali tidak mempengaruhinya Namun
yang justru menjadi semakin jelas melibat bahwa orang cacat itu
mempunyai sumber ilmu dengan mereka adalah kedua saudara seperguruan
Ajar Pamotan Galih itu. Karena itu, maka mereka semakin lama menjadi
semakin dekat dengan arena. Sementara itu Ajar Pamotan Galih yang
merasa semakin terdesak, tidak lagi dapat menahan gejolak
kemarahannya. Tetapi dihadapan orang-orang yang ada di halaman
padepokannya, ia tidak dapat menunjukkan kelicikannya. Ia tidak
dapat menunjukkan kelicikannya. Ia tidak dapat dengan serta merta
meminta kedua orang saudara seperguruannya untuk bertempur
bersamanya. Karena itu, untuk memecah perhatian mereka, maka tiba-
tiba saja Ki Ajar Pamotan Galih itu berteriak “Sekarang sudah sampai
saatnya. Bunuh semua orang yang ada di halaman ini. Ternyata orang
cacat ini adalah salah seorang dari mereka. Yang harus kalian
sisakan untuk tetap hidup adalah Pangeran Sena Wasesa” Suara Ki Ajar
menggelepar di halaman itu. Sebenarnyalah bahwa suara itu kemudian
telah menggerakkan beberapa orang yang berada disekilar arena. Para
cantrik, Putut dan bahkan orang-orang yang datang bersama kedua adik
seperguruan Ajar Pamotan Galipun diluar sadarnya telah bergeser
pula. Tetapi murid-murid kedua adik seperguruan Ki Ajar itu menjadi
ragu-ragu. Kedua orang adik seperguruan Ki Ajar itu sendiri masih
berdiri tegak di tempatnya. Karena kedua adik seperguruannya masih
belum berbuat sesuatu, maka Ajar Pamotan Galih itu berteriak semakin
keras “Cepat. Selesaikan mereka. Ragapasa dan Wanda Manyar. He, apa
kerjamu. Jangan menunggu lebih lama lagi. Suruh anak- anakmu
menyelesaikan setiap orang asing yang ada di padepokan kita ini.
Kecuali Pangeran itu” Ragapasa dan Wanda Manyar masih tetap
ragu-ragu. Sementara itu, Rahu, Jlitheng dan bahkan Swasti telah
bersiap siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan yang
paling pahit sekalipun. Namun Kiai Kanthi nampaknya masih tetap
tenang. Agaknya ia melihat keragu-raguan di wajah kedua adik
seperguruan Ajar Pamotan Galih dan sekaligus menangkap teka-teki
yang belum terpecahkan. Karena itu Kiai Kanthi sempat
memperhitungkan, bahwa kedua orang itu tentu belum akan segera
bertindak. Pan tanpa kedua orang itu, maka orang-orang yang lain
tidak akan banyak berarti. Pangeran Sena Wasesa yang lemah itupun
mempunyai pertimbangan yang serupa dengan Kiai Kanthi. Karena itu,
maka perhatiannyapun masih tetap pada pertempuran antara Ki Ajar
Pamotan Galih dengan lawannya yang cacat itu. Ternyata bahwa
betapapun ki Ajar Pamotan Galih mengerahkan ilmunya yang keras dan
kasar, namun ia justru menjadi semakin terdesak. Ia sama sekali
tidak mempunyai kesempatan lagi. Beberapa kali ia telah terdorong
surut. Sentuhan tangan orang cacat itu bagaikan sentuhan bara api di
kulitnya. Sementara itu, serangan-serangannya yang garang bagaikan
seekor harimau lapar, sama sekali tidak berarti. Kuku-kukunya yang
mengembang tidak berhasil menyentuh dan apalagi melukai kulit
lawannya. Ketika sekali lagi ia berteriak, maka teriakan itu justru
telah dikejutkan oleh jawaban Ragapasa “Kakang lihatlah, Siapa yang
sedang kau hadapi. Hampir aku menganggapnya ia sebagai guru kita
sendir i” “Gila“ geram Ki Ajar Pamotan Galih “Kau terlalu bodoh
untuk memperhitungkan umur seseorang. Berapa umurmu dan berapa
umurku sekarang he?“ Ragapasa menarik napas panjang. Tentu orang itu
bukan gurunya. Tetapi yang dilihatnya itu benar-benar mirip.
Sikapnya, ciri-cir i ilmunya dan lontaran-lontaran tenaga dari dalam
dir inya. “Wajahku memang bukan wajah guru. Umurnyapun tentu bukan
umur guru yang tentu sudah sangat tua seandainya ia masih hidup”
desis Ragapasa. “Guru memang sudah tidak ada lagi” sahut Wanda
Manyar diluar sadarnya. Dalam pada itu, terdengar orang cacat itu
berkata “Jangan terkecoh oleh penglihatanmu. Aku bukan gurumu.
Tetapi kau tentu mengenal orang lain yang memahami ilmu seperti ini,
seperti ilmumu sendiri. Orang itu adalah orang yang pernah
mempelajari ilmu yang kasar dan keras seperti Ajar Pamotan Galih dan
seperti kalian juga. Tetapi yang kemudian menyadari arti dari hidup
ini. He, dari siapa kalian mendengar kabar kegembiraan dalam
hubungan dengan Yang Maha Pencipta?“ “O“ Ragapasa meraba keningnya.
Sementara Wanda Manyar berdesis “Teka-teki ini semakin rumit” Namun
akhirnya Rugapasa menjawab “Dari guru” “Benarkah begitu? Guru memang
seorang yang sangat baik. Tetapi ia tidak sempat berbuat terlalu
banyak dalam persoalan jiwani karena perhatiannya tertumpah pada
penuangan jasmani. Tetapi bukan berarti guru tidak memperhatikannya.
Guru telah mempercayakannya kepada seseorang” jawab orang cacat itu
“seseorang yang juga pernah mengalami hidup dalamdunia yang kelam”
Kedua orang saudara seperguruan itu saling memandang. Diluar
sadarnya Ki Wanda Manyar menyahut “Ki Ajar Pamotan Galih” Orang
cacat itu sempat tertawa. Nampaknya Ki Ajar Pamotan Galih
benar-benar tidak berdaya menghadapinya. Orang cacat itu sambil
bertempur masih sempat juga berbicara panjang “Jika kalian
menganggap bahwa yang telah member ikan tuntunan j iwani kepada
kalian adalah Ki Ajar Pamotan Galih, maka bertanyalah kepadanya, apa
benar ia pernah melakukannya” “Gila“ potong Ki Ajar Pamotan Galih
“Jangan mengigau seperti orang kesurupan. Bersiaplah untuk mati”
“Sejak semula kau selalu mengancam. Tetapi kau tidak dapat berbuat
apa-apa” jawab orang cacat itu “Akupun yakin, bahwa Ki Ragapasa dan
Ki Wanda Manyar tidak akan menjalankan perintahmu. Orang-orang yang
datang ke padepokan ini dengan maksud baik, nampaknya telah kau
jebak dengan rencanamu yang sangat keji” “Tutup mulutmu” teriak Ki
Ajar sambil menyerang dengan kasarnya. Tetapi serangannya sama
sekali tidak mengenai lawannya. Bahkan ketika kukunya yang
mengembang terayun setapak disisi orang cacat itu, maka orang cacat
itu sempat merendah sambil mengayunkan kakinya. Ki Ajar Pamotan
Galih tidak sempat mengelak. Ketika kaki itu menyentuh lambungnya,
ia tergetar surut. Namun dengan garangnya pula ia meloncat menyerang
lawannya. Kedua tangannya terbuka dengan jari- jari yang mengembang
menerkamdengan buasnya. Sekali lagi Ki Ajar Pamotan Galih terlempar
surut. Justru serangan lawannyalah yang mengenai dadanya, Meskipun
demikian, Ki Ajar Pamotan Galih seolah-olah tidak merasakan betapa
serangan-serangan lawannya itu dapat meremukkan tulang-tulangnya.
Sambil menyeringai menahan sakit, Ki Ajar Pamotan Galih meloncat
maju dengan terkaman seekor harimau lapar. Berulang kali, Ki Ajar
Pamotan Galih telah dikenai oleh serangan lawannya. Tetapi sentuhan
tangan lawannya yang cacat itu sama sekali tidak menghentikan
perlawanannya. Bahkan seolah-olah ia telah menemukan satu kekuatan
baru, sehingga serangan-serangan lawannya dapat diabaikannya. Namun
dalam pada itu, Kiai Kanthi, Pangeran Sena Wasesa dan kedua saudara
seperguruan Ajar Pamotan Galih itu melihat, sebenarnyalah bahwa
orang cacat itu memang tidak ingin langsung mengenai tempat-tempat
yang berbahaya. Meskipun serangan-serangannya hampir seluruhnya
berhasil, tetapi ia tidak dengan sengaja menumbangkan lawannya dalam
keadaan parah. Hal itu telah menimbulkan teka-teki pula. Teka-teki
yang semakin lama menjadi semakin rumit. Namun akhirnya orang-orang
yang berdiri di arena itu mengerti, bahwa orang cacat itu memang
menunggu Ki Ajar Pamotan Galih kehabisan tenaganya. Dibiarkannya ia
menyerang, dan dikenainya tubuhnya dengan serangan- serangan yang
tidak berbahaya. Sebenarnyalah, bahwa beberapa saat kemudian, tenaga
Ki Ajar Pamotan Galihpun menjadi semakin susut. Seluruh tubuhnya
terasa sakit dan nyeri meskipun tidak menumbuhkan keadaan yang
parah. Tidak sehelaipun rambutnya yang rontok dan tidak sepotongpun
tulangnya yang retak. Namun Ki Ajar Pamotan Galih itu rasa-rasanya
sudah kehilangan segenap tenaganya. Karena itu, dalam keliarannya
yang kasar, serangan serangannya tidak lagi mengarah kesasaran.
Bahkan kadang- kadang ia telah terseret oleh lontaran sisa tenaganya
sendiri dan terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan. “Aneh, aneh“
Ki Ragapasa tidak percaya kepada penglihatannya “bagaimana mungkin
kakang Ajar Pamotan Galib, mengalami hal seperti itu. Bagaimana
mungkin seseorang yang memiliki ilmu yang mumpuni telah kehilangan
pengamatan dir i” “Mungkin kitalah yang memang sudah menjadi Gila“
desis Ki Wanda Manyar “Mungkin kita bersama-sama sedang bermimpi
terlalu buruk” Namun dalam pada itu, mereka melihat Ki Ajar Pamotan
Galih terhuyung-huyung beberapa langkah kedepan justru karena
serangannya yang tidak mengenai lawannya. Dalam itu, nampaknya orang
cacat itu sudah jemu dengan permainannya. Karena itu, maka iapun
maju selangkah. Tangan kanannya menggapai pundak Ki Ajar Pamotan
Galih yang lemah dan tidak mampu lagi untuk melawan kehendak
lawannya yang cacat itu. Sentuhan pada pundak Ki Ajar Pamotan Galih
itu benar- benar telah menghentikan per lawanannya. Sebenarnya Ki
Ajar Pamotan Galih akan mampu mengurai tekanan lawannya yang
seolah-olah telah melumpuhkan sebagian dari tubuhnya. Namun
kelelahan dan kemarahan yang menghentak di jantungnya, telah
membuatnya kehilangan kemampuan untuk bertahan, sehingga akhirnya Ki
Ajar Pamotan Galih itu telah jatuh pingsan. Beberapa orang murid
padepokan itu termangu-mangu. Tetapi mereka masih melihat Ki
Ragapasa dan Ki Wanda Manyar tidak berbuat apa-apa. Karena itu, maka
merekapun menjadi ragu-ragu. Dalam pada itu, demikian Ki Ajar
Pamotan Galih menjadi pingsan, kedua adik seperguruannya itupun
mendekatinya. Namun dalam pada itu, orang yang cacat itu birkata
“Ragapasa dan Wanda Manyar. Apakab kau mengenal, ciri jasmani apakah
yang terdapat pada saudara tua seperguruanmu itu?“ Kedua orang adik
seperguruan Ki Ajar itu termangu-mangu. Namun akhirnya Ki Wanda
Manyar bertanya “ Ciri yang bagaimana yang kau maksud Ki sanak?“
“Ciri untuk mengenalinya” “Pertanyaanmu aneh. Aku mengenainya
sebagaimana aku mengenal diriku sendiri. Kami berdua adalah adik
seperguruannya. Kami mengenal wajahnya dengan pasti” jawab Ki Wanda
Manyar. “Kau mengenal wajahnya dengan pasti. Tetapi apakab kau
mengenal sifat dan wataknya dengan pasti?“ bertanya orang cacat itu.
Kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan Galih itu termangu-mangu.
Sejenak keduanya memandangi Ki Ajar yang terbaring diam. “Kau tentu
mengetahui, bahwa pada Ki Ajar Cinde Kuning terdapat bekas luka yang
panjang melintang di bagian bawah punggungnya” berkata orang cacat
itu pula. Kedua adik seperguruannya itupun menjadi termangu- mangu.
Dengan ragu-ragu Ragapasa berkata “Memang ada cacat di bawah
punggung Ki Ajar Cinde Kuning. Kami mengetahuinya karena kakang
Cinde Kuning pernah memper lihatkannya kepada kami” “Apakah bedanya
Cinde Kuning dan Pamotan Galih” desis Ki Wanda Manyar. “Jika cacat
itu ada pada Ki Ajar Pamotan Galih, maka memang t idak ada persoalan
lagi dengan Ajar itu, meskipun sifat-sifatnya agak berbeda dengan
sifat-sifat Ki Ajar Cinde Kuning” berkata orang cacat itu kemudian.
“Tetapi perkembangan itu sudah nampak sejak ia menyebut dir inya Ki
Ajar Macan Kuning” sahut Ki Ragapasa “Seandainya terjadi
perkembangan jiwani sehingga Ki Ajar Cinde Kuning itu kembali kepada
cara hidupnya yang pernah ditinggalkan, namun aku kira cacat itu
tidak akan hilang dari bagian bawah punggungnya” berkata orang-cacat
itu. “Ya. Tentu demikian” jawab Ki Wanda Manyar. “Tolong Ki Wanda
Manyar” berkata orang cacat itu “lihatlah. Apakah pada bagian bawah
punggung Ki Ajar Pamotan Galih itu terdapat cacat yang dimaksud” Ki
Wanda Manyar termangu-mangu. Ia menjadi bingung. Sekilas di
pandanginya Ki Ragapasa yang juga menjadi keheranan. Dalam pada itu,
Pangeran Sena Wasesa, Kiai Kanthi, Rahu, Jlitheng dan Swastipun
menjadi bingung melihat keadaan itu. Bahkan Daruwerdi telah bergeser
maju sambil berkata ”Aku tidak mengerti. Orang ini adalah kakek dan
guruku, Apakah maksud Ki Sanak yang sebenarnya?” “Ya ngger. Orang
itu adalah kakek dan gurumu. Tetapi pada kakek dan sekaligus gurumu
itu terdapat sebuah cacat. Nah, aku ingin melihat, apakah cacat itu
ada” jawab orang cacat itu. Daruwerdi benar-benar menjadi bingung.
Tetapi ia tidak ingin terlalu lama mengalami kebingungan. Karena
itu, maka iapun segera mendekati Ki Ajar Pamotan Galih yang pingsan.
Perlahan-lahan Daruwerdi menelungkupkan tubuh Ki Ajar Pamotan Galih
dibantu oleh Ki Wanda Manyar dan Ki Ragapasa. Setelah ikat
pinggangnya dikendorkan, maka merekapun mencoba melihat bagian bawah
punggung Ki Ajar Pamotan Galih. Ki Wanda Manyar dan Ki Ragapasa
¡tupan terkejut Ia tidak melihat cacat bekas luka itu. Sementara itu
Daruwerdipun bertanya “Apakah kau tahu pasti Ki Sanak?“ “Anak muda.
Bukankah kau juga mengetahui bahwa dipunggung kakekmu itu terdapat
sebuah cacat luka yang melintang. Bukankah kakekmu pernah bercer
itera tentang sebab dari luka itu. Dalam satu pertempuran yang
sengit, lawannya telah menusuk lambungnya. Ia sempat bergeser,
tetapi senjata lawannya telah tergores di punggungnya bagian bawah.
Namun pada saat itu, kakekmu berhasil menghabisi perlawanannya,
sehingga ia masih sempat mengobati lukanya dengan susah payah,
meskipun senjata lawannya beracun. Tetapi pengobatan itu t idak
sempurna, sehingga bekas luka itu menjadi cacat yang memanjang dan
tumbuh sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya cacat itu bagaikan
seekor ulat yang panjang melekat pada bagian bawah punggung kakekmu.
Kau ingat?“ bertanya orang cacat itu. Daruwerdi memandang orang
cacat itu sekilas. Ia melihat cacat di kening dan pada bagian
mulutnya, sehingga wajahnya nampak tidak wajar lagi. “Kenapa kau
mengetahui segala-galanya?“ bertanya Daruwerdi. Orang itu tersenyum.
Tetapi senyumnya justru nampak wajahnya menjadi semakin buruk oleh
cacatnya. Tetapi katanya “Nah, sekarang kau melihat, bahwa tidak ada
cacat di bagian bawah punggung kakekmu itu” Daruwerdi
termangun-mangu. Memang t idak mungkin cacat itu dapat hilang dengan
sendirinya tanpa bekas. Karena itu, maka untuk sejenak ia hanya
dapat memandang kedua seperguruan Ki Ajar itu sambil termangu-mangu.
“Kami juga tidak mengerti” berkata Ki Wanda Manyar “teka-teki itu
menjadi semakin rumit. Semua orang di halaman ini tentu ikut
merasakan, betapa kita dihadapkan pada ketidak pastian, kebingungan
dan perasaan yang sangat risau” Orang cacat itupun kemudian berkata
“Aku akan membantu kalian untuk memecahkan teka-teki ini. Tetapi
baiklah, bawalah tubuh Ki Ajar Pamotan Galih itu ke dalam biliknya.
Ia baru akan sadar beberapa saat kemudian” Demikianlah, maka
beberapa orang cantrikpun telah membawa tubuh Ki Ajar yang pingsan
itu ke dalam biliknya. Empat orang cantrik yang mengusung tubulh itu
merasa heran, bahwa Ki Ajar Pamotan Galih yang mereka anggap tidak
mungkin dapat dikalahkan oleh siapapun itu telah terbujur pingsan
hanya oleh seorang yang cacat di wajahnya dan justru agak bongkok.
Dalam pada itu, ketika padepokan itu diselubungi oleh malam yang
gelap. Di pendapa beberapa orang duduk mengitari orang yang cacat
itu. Semua pihak nampaknya tidak lagi sempat saling bermusuhan.
Mereka sedang sibuk menghadapi teka-teki yang ingin segera
dipecahkan. Ternyata dari seorang cantrik, orang cacat itu mendengar
bahwa ibu Daruwerdi telah disisihkan. Akhirnya setelah cantrik itu
mendapat tekanan dari Daruwerdi, maka iapun telah mengambil ibu
Daruwerdi itu bersama kedua orang paman Daruwerdi. Sejenak kemudian,
maka ibu Daruwerdi itupun telah berada di pendapa itu pula. Ia tidak
dapat menahan titik air matanya ketika, ia melihat anaknya yang
telah kembali dengan selamat. Namun ia tidak berani mengangkat
wajahnya sama sekali ketika ia mengetahui bahwa Pangeran Sena Wasesa
ada diantara orang-orang yang duduk di pendapa itu. Namun demikian
perasaan gelisah mencengkam jantungnya, sehingga ia tidak sempat
mengetahui arahnya, dimana Pangeran Sena Wasesa itu duduk. “Tetapi
aku sudah menjadi semakin tua” berkata ibu Daruwerdi itu di dalam
hatinya “Tidak seorangpun yang tidak mengalami perubahan pada
dirinya menjelang umur setua aku ini” Beberapa orang yang berada di
pendapa itupun melihat hadirnya, seorang perempuan yang berwajah
pucat. Rambutnya mulai ditumbuhi oleh warna putih. Meskipun itu
masih belum terlalu tua, tetaipi ada kesan kepahitan yang nampak di
wajah itu, sehingga memberikan kesan yang muram. Dalam pada itu,
arang-orang yang berada di pendapa itu rasa-rasanya tidak sabar lagi
menunggu. Teka-teki itu harus segera dipecahkan. “Wanda Manyar”
berkata orang cacat itu kemudian kau adalah saksi yang utama bersama
Ragapasa. Baihwa orang yang menyebut dir inya Ajar Pamotan Galih itu
tidak mempunyai cir i-cir i yang terdapat pada Ki Ajar Cinde Kuning”
“Tetapi hal itu sangat membingungkan kami” jawab Wanda Manyar ”Aku
tidak dapat salah lagi. Orang itu ada lah kakang Cinde Kuning.
Meskipun kami bertemu setelah kami sama- sama dewasa, tatapi kami
telah tinggal di satu perguruan untuk waktu yang lama. Apalagi kami
nampaknya mempunyai sejarah kehidupan yang serupa. Kami sama-sama
pernah hidup di dalam lingkungan orang-orang hitam. Sebagaimana
nampak dalam tata gerak kakang Ajar Pamotan Galih. “Tetapi menurut
pendapatmu, yang manakah yang akan nampak lebih jelas di dalam
kehidupannya setelah ia berada satu perguruan dengan kalian. Yang
didapatkannya di perguruannya itu atau bekas-bekas ilmu hitamnya?“
bertanya orang cacat itu. “Itulah yang aneh” desis Ragapasa
“seharusnya ilmu dari perguruan kami itulah yang lebih baik dan
lebih tinggi baginya. Meskipun demikian perubahan-perubahan yang
terjadi sejak ia menyebut dirinya Ajar Macan Kuning memang sudah
agak menggelisahkan kami. meskipan pada saat itu kami sudah
berpisah, karena kami berada di padepokan kami masing-masing kami
bangun setelah kami merasa dewasa dewasa dalam perguruan itu,
sementara umur kami sudah menjadi semakin tua pula” ”Jadi bagaimana
menurut pendapatmu tentang ciri-ciri yang hilang itu?“ bertanya
orang cacat itu pula Kedua adik seperguruan Ki Ajar itu menar ik
nafas dalam- dalam. Diluar sadarnya mereka berpaling kepada
Daruwerdi. “Aneh“ hanya itulah yang terdengar diucapkan oleh anak
muda yang tidak kalah bingungnya itu. Dalam pada itu, orang cacat
itupun kemudian berkata “Pangeran. Aku mohon maaf, bahwa telah
terjadi sesuatu yang tentu tidak menyenangkan bagi Pangeran.
Sokurlah bahwa sebelumnya Pangeran memang belum mengenal orang yang
bernama Cinde Kuning” “Ki Sanak” sahut Pangeran Sena Wasesa
“meskipun aku belum mengenal orang yang bernama Ki Ajar Cinde
Kuning, tetapi aku sudah pernah mendengar namanya. Namun yang
ternyata kemudian adalah jauh berbeda dengan citra Ki Ajar Cinde
Kuning menurut pendengaranku setelah aku berhadapan sendiri dengan
orangnya” “Apakah Pangeran benar-benar sudah berhadapan dengan orang
yang bernama Ajar Cinde Kuning? Bukankah Pangeran melihat keraguan
kedua saudara seperguruannya itu?“ bertanya orang cacat itu.
Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang
itupun berkata kepada Kiai Kanthi “Bagaimana menurut pendapat Kiai?“
Kiai Kanthi menggelengkan kepalanya. Katanya “Semuanya terlalu gelap
bagiku. Yang pernah aku dengar adalah hanya namanya. Tetapi yang
terjadi di padepokan ini benar-benar satu teka-teki yang membuat
semuanya semakin gelap” Orang cacat itupun kemudian
mengangguk-angguk. Dipandanginya ibu Daruwerdi yang duduk sambil
menunduk dalam-dalam. Dengan nada yang lembut orang cacat itu
berkata kepadanya “Dengarlah ngger. Bukankah kau anak angkat orang
yang menyebut dir inya Pamotan Galih? Kau adalah anak angkat yang
telah menjadi anak sebagaimana anak kandung sendir i. Apakah kau
masih tetap mengenal Ki Ajar itu sebagai ayah angkatmu?
Saudara-saudara seperguruannya telah menjadi saksi, bahwa cir i yang
terdapat pada Ki Ajar Cinde Kuning tidak terdapat pada Ajar Pamotan
Galih” Ibu Daruwerdi itu, mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang
cacat itu sejenak. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada
pendengarannya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya “Siapakah kau
Kiai?“ “Siapakah menurut dugaanmu ngger?” Orang itu justru bertanya.
Ternyata bahwa kelembutan hati seorang perempuan telah mengungkap
satu perasaan yang terselubang. Ibu Daruwerdi itu pada saat-saat
terakhir seolah-olah t idak mengenal lagi ayah angkatnya Kemudian
orang itu mengetahui, bahwa ciri- ciri yang terdapat pada Ajar Cinde
Kuning tidak terdapat pada orang yang menyebut dirinya Ajar Pamotan
Galih. Namun dalam pada itu, suara orang cacat itu benar-benar telah
menyentuh perasaannya. Ia merasa pernah mendengar suara itu. Bahkan
ia selalu mendengar nada yang lembut itu. Yang kemudian seolah-olah
berubah pada saat-saat terakhir. Diluar kehendaknya, maka itu
Daruwerdi itu telah memandang orang cacat Itu dari wajahnya sampai
ke ujung kakinya yang terlipat. Kemudian tiba-tiba saja ia berkata
“Kiai, adik-adik seperguruan Ki Ajar Ciinde Kuning. Tolonglah,
apakah kalian bersedia melihat, apakah ciri-ciri yang tidak terdapat
pada Ki Ajar Pamotan Galih itu justru terdapat pada orang itu”
Kata-kata yang diucapkan dengan serta merta itu justru telah
mengejutkan orang-orang yang berada di pendapa padepokan itu. Bahkan
Daruwerdipun telah beringsut mendekati ibunya sambil bertanya
“Apakah yang ibu maksudkan?“ “O“ ibunya memandanginya sejenak. Namun
kemudian katanya Lihatlah. Apakah ada cacat di bawahi punggung orang
itu” Daruwerdi menjadi heran. Dipandanginya ibunya dan orang cacat
itu berganti-ganti. Namun kemudian orang cacat itupun berkata
“Lakukanlah ngger. Kau boleh melihat, apakah ada cacat itu di bawah
punggungku” Suasana di pendapa itu menjadi tegang. Daruwerdi justru
menjadi termangu-mangu bahkan kebingungan. Namun ketika ia melihat
wajah orang cacat yang seakan akan memaksanya itu, maka iapun segera
bergeser mendekatinya. Bahkan kedua adik seperguruan Ki Ajar Pamotan
Galih itupun telah mendekat pula. Dalam pada itu, orang cacat itu
telah mengendorkan ikat pinggangnya. Kemudian membiarkan ketiga
orang itu melihat kearah punggungnya. Wajah mereka menjadi tegang.
Mereka melihat cacat itu melintang di bagian bawah punggung orang
cacat itu. Karena itu, maka seperti orang yang kehilangan akal
Daruwerdi berkata “Tidak mungkin. Tidak mungkin” Ki Wanda Manyar
menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata “Memang
teka-teki yang sangat rumit. Baiklah. Hanya kau sajalah Ki Sanak
yang dapKjt memecahkan teka-teki ini. Katakanlah Jangan menunggu
kita semua menjadi gila” Orang cacat itu membetulkan ikat
pinggangnya. Kemudian Katanya “Duduklah yang baik. Jika kalian
percaya, aku akan berceritera” Suasana di pendapa itupun kemudian
menjadi hening. Mereka menunggu orang cacat itu memecahkan
teka.-teki yang membingungkan itu, “Hanya seorang saja yang
penggraitanya cukup tajam disini” berkata orang cacat itu “justru
seorang perempuan” Tidak seorangpun yang menyahut. Mereka
seolah-olah tidak sabar lagi menunggu. “Pangeran serta Ki Sanak yang
lain” berkata orang cacat itu ”ceriteraku barangkali tidak
menyangkut kalian secara langsung. Namun akibatnya terasa juga oleh
Ki Sanak semuanya yang terpaksa datang ke padepokan ini. Bahkan
hampir saja terjadi kesulitan pada kalian” Tidak ada juga yang
menyahut Mereka tidak ingin memperpanjang waktu lagi. “Ki Sanak.
Sebenarnyalah telah terjadi sesuatu yang memalukan di dalam
lingkungan keluargaku. Keluarga Ki Ajar Cinde Kuning” berkata orang
cacat itu “teka-teki ini di mulai sejak Ki Ajar Cinde Kuning yang
sebenarnya tiba-tiba saja telah berganti orang” “Apa yang Ki Sanak
maksudkan?“ bertanya Raga-pasa. “Sebagaimana kau lihat, orang yang
mengaku Ajar Pamotan Galih, yang sebelumnya pernah memakai nama Ajar
Macan Kuning itu, sama sekali bukan orang yang sebenarnya dari Ajar
Cinde Kuning, Kalian telah melihat, bahwa cacat itu tidak terdapat
di tubuhnya” Orang itu, berhenti sejenak. Sementara itu Ki Wanda
Manyarpun bertanya “Tetapi bagaimana mungkin cacat itu terdapat di
tubuhmu, sementara wajah Ki Ajar Cinde Kuning telah dimiliki oleh
orang yang menyebut Ki Ajar Pamotan Galih itu?“ “Wajah pada orang
itu adalah wajahnya sendiri. Bagaimana mungkin wajah sesarang dapat
berpindah. Ia memang memiliki wajah yang mir ip sekali dengan wajah
Ki Ajar Cinde Kuning“ Orang itu berhenti sejenak, lalu “Ia adalah
saudara kembarnya” “Saudara kembar“ hampir setiap orang yang
mendengarnya telah mengulangnya” Orang bertubuh cacat itu mengangguk
kecil. Katanya “Ya. Ia adalah saudara kembar Ki Ajar Cinde Kuning”
“Jika demikian, dimanakah Ajar Cinde Kuning yang sebenarnya”
bertanya Ki Ragapasa “Apakah maksud Ki Sanak menunjukkan luka
dibawah punggung itu berarti bahwa Ki Sanaklah yang sebenarnya Ki
Ajar Cinde Kuning” Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya
dengan nada dalam“Maksudku memang demikian” “Tetapi bagaimana
mungkin kami dapat mempercayaimu” desis Ki Wanda Manyar. Orang itu
menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Apakah kalian tidak dapat
mengenali ilmuku?“ Kedua adik seperguruan Ki Ajar itupun saling
berpandangan. Mereka memang mengenal ilmu orang cacat itu. Bahkan
mereka memandangnya sikap dan laku orang itu sebagaimana mereka
melihat guru mereka. Karena itu, maka terasa jantung merekapun bagai
bergolak. Dalam pada itu, ibu Daruwerdi dengan nada rendah berkata
“Aku dapat mengenalinya dari sikap dan suaranya. Orang itu
sebenarnyalah adalah bapak Ajar Cinde Kuning” “Tetapi itu tidak
mungkin” sahut Ki Wanda Manyar. “Ada sebuah ceritera yang panjang”
berkata orang cacat itu. Lalu “Sekali lagi aku mohon maaf kepada
mereka yang datang ke padepokan ini bersama Pangeran Sena Wasesa.
Ceritera ini terutama, tertuju kepada isi padepokan ini” “Silahkan
Ki Sanak” sahut Pangeran Sena Wasesa “nampaknya ceritera itu akan
sangat menarik” “Baiklah” berkata orang cacat itu “Orang yang
kemudian menyebut Ajar Macan Kuning adalah saudara kembarku” “Aku
belum pernah mendengar ceritera tentang saudara kembar itu sejak aku
menjadi saudara seperguruan Ki Ajar Cinde Kuning” berkata Ki
Ragapasa, “Ia meninggalkan perguruan ketika ilmunya mulai mapan”
berkata orang cacat itu ”Seterusnya aku tidak tahu lagi kabar
beritanya. Ketika Wanda Manyar dan Ragapasa datang ke padepokan itu,
justru setelah kalian gagal merampok orang yang kemudian kau sebut
kakak seperguruanmu itu, saudara kembarku telah tidak ada di
padepokan. Sebagaimana aku mengaku, bahwa aku berdua pernah juga
terlibat dalam dunia gelap. Tetapi kami berdua telah bertobat dan
berguru kepada seseorang, yang kemudian menjadi guru kalian pula.
Tetapi agaknya penyakit adik kembarku itu kambuh, sehingga ia telah
meninggalkan aku, karena aku menentang kehendaknya” “Tetapi yang aku
jumpai di padepokan itu adalah Ki Ajar Pamotan Galih itu. Bukan Ki
Sanak dalam ujud, maaf, dalam ujud yang cacat itu” berkata Ki Wanda
Manyar. “Ceriteraku belum selesai” potong orang yang cacat itu.
“Silahkan ayah“ minta ibu Daruwerdi. “Sepeninggal saudara kembarku,
maka aku berada di perguruan itu sendir i. Baru kemudian kalian
datang” berkata orang cacat itu kepada kedua orang itu. Kedua
saudara seperguruan Ki Ajar itu termangu-mangu. Sementara orang
cacat itu berceritera terus “Kita berkumpul untuk beberapa lama di
padepokan itu. Kita berusaha untuk menyingkir dari dunia kelam yang
sudah sama-sama kita lewati. Nampaknya dengan pasti kita berhasil
meninggalkannya. Aku yang melangkah lebih dahulu mendapat
kepercayaan dari guru untuk membawa kalian kejala yang lebih baik.
Dan kalianpun menanggapinya dengan ikhlas” Orang itu berhenti
sejenak, lalu “Sampai saatnya kita berpisah. Kita yang telah
mendapat bekal yang cukup itupun berusaha mengembangkan bekal itu
sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Sementara itu, kita
telah membuka padepokan buat hari-hari mendatang dalam kehidupan
yang tenang” Orang-orang yang mendengarkan menjadi tegang. Yang
diceriterakan masih belum menyentuh hubungan antara kedua saudara
kembar itu. Namun tidak seorangpun yang memotongnya. Mereka
membiarkan orang cacat itu berceritera terus. “Nah, pada saat yang
demikian itulah saudara kembarku itu agaknya hadir disekitar
kehidupanku dengan diam-diam. Ia berusaha mengetahui seluk beluk
kehidupanku. Mungkin ada satu dua orangnya yang berhasil memasuki
padepokanku sebagai seorang cantrik atau seorang yang membantu kerja
kami sehingga saudara seperguruanku itu mengetahui banyak hal
tentang kehidupanku. Bahkan ia mengetahui saudara-saudara
seperguruanku. Mengetahui bahwa kalian berdua mempunyai ikatan
dengan aku dalam hubungan kita sebagai saudara seperguruan. Ia
mengetahui bahwa aku telah mengangkat seorang anak perempuan dan
seorang cucu yang tumbuh semakin besar. Akhirnya hari-hari yang
direncanakan itu datang. Dengan diam-diam pula ia menyingkirkan aku
dengan cara yang licik. Dengan cara yang tidak aku duga-duga
sebelumnya. Ketika ia datang menemui aku dengan tangisnya, aku
merasa iba, ia adalah adikku. Namun diluar dugaan ia telah
menyerangku. Dan akupun lelah dilemparkannya ke dalam jurang yang
sangat dalam, sebelum aku menyadari apa yang terjadi, tanpa
diketahui oleh siapapun” Orang cacat itu terhenti sejenak. Sambil
menahan ludahnya ia berkata “Nah, kalian dapat melanjutkan ceritera
itu sendiri. Aku menjadi cacat. Tetapi Yang Maha Kuasa ternyata
masih memberi kesempatan kepadaku untuk hidup. Bahkan dalam dunia
yang sepi aku sempat memperdalam ilmuku ketika aku kemudian sembuh.
Adalah kebetulan bahwa aku membawa sedikit obat pada saat itu.
Kemudian dengan pengetahuan yang sedikit, aku berhasil mengobati
diriku sendir i. Semula aku biarkan ia kemudian hadir sebagai aku
didalam padepokanku. Dengan cermat ia dapat menempatkan dir inya
sebagaimana aku sebelumnya. Ketika aku kemudian berhasil
mengamatinya, ternyata ia lebih banyak berusaha untuk bersembunyi di
dalam sanggar sambil menyesuaikan diri lebih jauh dengan bekal
pengenalannya terutang diriku. Namun bagaimanapun juga, perubahan-
perubahan yang terjadi tidak dapat disembunyikannya lagi. Tetapi
dengan licik ia menyebut dirinya dengan nama baru. Ajar Macan
Kuning, ia t inggalkan sebutan Ajar Cinde Kuning” “Jadi sejak itu,
kakek sudah berganti orang?“ bertanya Daruwerdi. Orang cacat itu
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Ya. Kakekmu sudah
berganti orang. Dan agaknya sifat-sifat yang berbeda itulah yang
membuat orang melihat perbedaan antara Macan Kuning dan Cinde
Kuning. Tetapi orang tidak menduga bahwa orangnyalah yang berganti,
tetapi sifat-sifat Cinde Kuning telah berganti. Sementara itu, diri
yang kami pergunakan sejak kami masih berkumpul masih tetap aku
pakai dan kemudian dipakai oleh saudara kembarku, meskipun
sifat-sifatnya telah berubah. Lingkaran dengan garis yang memotong
ditengah-tengah” “Alangkah bodohnya kami” desis Daruwerdi kemudian.
“Semula aku tidak berkeberatan bahwa saudara kembarku itu akan
menggantikan kedudukanku. Tetapi semakin lama aku melihat, bahwa ia
tidak lagi dapat di biarkan. Ia telah membawa cucuku berkelana dan
diperkenalkan dengan cara yang khusus dengan orang-orang yang hidup
dalam lingkungan yang buram. Segalanya disesuaikan dengan rencana
yang perlahan-lahan tetapi dengan masak direncanakan. Bukit Gundul
di daerah Sepasang Bukit Mati, Ia berhasil mendengar rahasia sebuah
pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya tersembunyi di
sekitar daerah Sepasang Bukit Mati. Dan ia mendengar rahasia bahwa
orang yang paling mengetahui rahasia itu adalah Pangeran Sena
Wasesa. Setelah ia gagal mencari sendiri di bukit gundul, maka ia
telah membentuk cucuku menjadi seorang yang mapan untuk tugas yang
khusus di sepasang bukit mati itu. Aku dapat melihat sebagian besar
dari segala peristiwa yang terjadi di bukit gundul itu. Dan
selebihnya kalian sudah mengetahuinya” Orang-orang yang mendengarkan
ceritera itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu terdengar ibu
Daruwerdi terisak dan tidak dapat menahan air matanya, yang mulai
menitik Dengan suara sendat ia berkata “Itulah sebabnya, aku hampir
tidak dapat mengenali siaft-sifat ayah pada orang yang menyebut
dirinya Ki Ajar Pamotan Galih itu. Meskipun ia berbuat baik terhadap
aku dan anakku, tetapi kadang-kadang aku melihat kekasaran yang
tertahan-tahan” “Sudahlah ngger“ berkata orang cacat itu “semuanya
sudah berlalu. Jika kalian percaya, aku adalah Cinde Kuning” Wanda
Manyar dan Ragapasa mengangguk-angguk kecil. Namun mereka mulai
mempercayai, siapa yang duduk dihadapannya itu. Perlahan-lahan
mereka menjadi semakin jelas. Kata-katanya. Suaranya dan sikapnya”
“Yang aku ceriterakan adalah ceritera tentang diriku sendiri”
berkata orang cacat yang ternyata adalah Ki Ajar Cinde Kuning. Lalu
“Disamping ceritera itu, aku masih mempunyai sebuah ceritera lain
yang berhubungan dengan cucuku. Baiklah sementara aku sebut saja ia
dengan Daruwerdi. Nama yang diberikan oleh Pamotan Galih kepadanya
dalam tugas-tugasnya di Bukit Gundul. Tetapi ia masih mempunyai
beberapa nama yang lain” “Tidak. Tidak ayah” potong ibu Daruwerdi
“Tidak ada ceritera yang lain” Orang cacat itu menggeleng. Katanya
“Apa salahnya ngger. Meskipun bukan aku yang berniat membawanya
kemar i” Tetapi perempuan itu menjawab “Ceritera itu sudah tamat.
Tidak ada gunanya lagi diungkat Lebih baik ayah menjelaskan tentang
diri ayah dan apa yang sebaiknya ayah lakukan” Orang cacat itu
menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, sebelum ia berbuat
sesuatu, seorang murid Ki Ragapasa yang mengawasi orang yang
menyebut dirinya Ajar Pamotan Galih yang masih sangat lemah di
sebuah bilik tertutup telah berlari-lari naik ke pendapa. “Ada apa?“
bertanya Ki Ragapasa. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian jawabnya gagap “Ki Ajar Pamotan Galih telah melar ikan
diri” “He“ Orang cacat itu terkejut “Ia berhasil mengatasi
keadaannya. Memang luar biasa. Tetapi apakah tidak seorangpun yang
dapat mencegahnya?“ “Kami berdua mencoba mencegahnya. Tetapi tidak
berhasil. Kawanku yang seorang kini pingsan” berkata murid Ki
Ragapasa itu. Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya
kemudian “Memang luar biasa. Ia mempunyai ketahanan tubuh yang
sangat tinggi. Menurut perhitunganku, ia baru dapat mengatasi
keadaannya menjelang pagi. Tetapi ternyata aku salah hitung. Dan ia
telah melarikan diri” Pangeran Sena Wasesa menjadi tegang. Sambil
megerutkan keningnya ia bertanya “Apakah yang sebaiknya kita lakukan
Ki Ajar? Tentu Ajar Pamotan Galih tidak akan berdiam dir i untuk
seterusnya” “Ya. Ia mempunyai hubungan yang luas dengan orang- orang
berilmu hitam” berkata orang cacat itu “agaknya kita memang harus
mengambil sikap” “Orang itu menganggap bahwa yang dicarinya masih
berada di daerah sekitar Sepasang Bukit Mati” berkata Kiai Kanthi
“Aku kira orang itu akan pergi ke daerah itu” “Tetapi ia tidak akan
menemukan apapun juga. Aku berkata sebenarnya bahwa semuanya telah
berada di Demak” desis Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi Ki Ajar Pamotan
Galih tidak percaya. Dan ia akan berbuat sesuatu” berkata Kiai
Kanthi. “Masih ada kawan kita di Lumban” t iba-tiba Jlitheng
memotong. “Tetapi tidak cukup untuk menghadapinya” desis Rahu yang
mengerti kemampuan Ki Ajar Galih. Namun Jlitheng yang telah
membentuk Lumban Wetan menjadi cukup kuat berkata “Setidak-tidaknya
ada sepuluh orang anak muda Lumban Wetan yang dapat membantu”
“Tetapi Ajar Pamotan Galih ternyata sangat licik” berkata orang
cacat itu “Tidak ada pilihan lain. Kita juga harus pergi ke Sepasang
Bukit Mati” “Seandainya kita biarkan saja ia membongkar bukit gundul
itu, ia tidak akan menemukan apa-apa” berkata Pangeran Sena Wasesa.
“Apakah dengan kegagalannya itu ia t idak akan menjadi orang yang
sangat berbahaya? Jika ia menjadi mata gelap, maka orang-orang yang
tidak bersalah akan menjadi korban” Sejenak orang-orang yang berada
di pendapa itu menjadi hening. Namun kemudian Pangeran Sena Wasesa
itupun berkata “Ada juga, baiknya kita pergi ke Bukit Gundul itu”
Demikianlah, maka orang-orang yang berada di pendapa itu sependapat
untuk pergi ke bukit gundul. Bukan saja karena mereka ingin
menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah. Tetapi merekapun
ingin melihat pertemuan sekali lagi antara orang cacat yang mengaku
Ki Ajar Cinde Kuning itu dengar Ki Ajar Pamotan Galih. Dengan
demikian mereka akan mendapat kepastian, apakah benar-benar mereka
adalah saudara kembar. Karena yang mereka dengar sebelumnya adalah
pengakuan kedua belah pihak pada kesempatan yang berbeda. Tetapi
mereka tidak akan berangkat malam itu. Besok pagi, jika fajar
menyingsing, mereka akan menyusul Ki Ajar Pamotan Galih ke daerah
Sepasang Bukit Mati. Tetapi malam itu ibu Daruwerdi berkata “Ayah,
jika, ayah berkenan, apakah aku diperbolehkan ikut serta ke daerah
Sepasang Bukit Mati” “Sebaiknya kau tinggal di padepokan ini saja
ngger” jawab orang cacat itu “perjalanan ke daerah Sepasang Bukit
Mati adalah perjalanan yang sangat berat” “Aku pernah pergi ke
daerah itu untuk mencari anakku yang diumpankan oleh Ki Ajar Pamotan
Galih” berkata perempuan itu “kedua, adikku itulah yang mengantarkan
aku” “Ki Ajar Pamotan Galih tidak melarangmu waktu itu?“ bertanya
orang cacat itu. “Tidak. Dibiarkannya aku pergi. Sendiri” jawab
perempuan itu. “Bukankah kau diantar oleh kedua adikmu itu?“
bertanya, orang cacat itu. “Aku berangkat sendiri dari padepokan
ini. Baru kemudian aku singgah ke padukuhan adik-adikku” jawab
perempuan itu. Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Tentu Ajar
Pamotan Galih memperhitungkan bahwa perempuan, itu tidak akan pernah
sampai ke padukuhan disebelah daerah Sepasang Bukit Mati itu. Bahkan
mungkin Ki Ajar Pamotan Galih justru membiarkan perempuan itu tidak
akan pernah berhasil keluar dari lingkungan hutan yang buas di
perjalanan. Dalam pada itu, orang cacat itupun mulai memikirkan
kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi pada perempuan itu j
ika ia ditinggalkan di padepokan. Jika Ki Ajar Pamotan Galih
ternyata tidak pergi ke daerah Sepasang Bukit Mati sementara
perempuan itu ditinggalkannya sendiri, maka akan mungkin sekali
terjadi, bahwa perempuan itu akan diambil oleh Ki Ajar Pamotan Galih
untuk menjadi alat memaksakan kehendaknya. Karena itu, maka orang
cacat itupun kemudian berkata “Baiklah ngger j ika kau memang ingin
pergi bersama kami” “Terima kasih ayah. Tetapi tanpa ceritera yang
pernah ayah singgung itu” berkata perempuan itu. Orang cacat itu
tidak menjawab. Dipandanginya perempuan Uu sejenak. Namun kemudian
iapun menarik nafas dalam- dalam sambil berkata “Apa salahnya
ceritera itu dimengerti oleh Pangeran Sena Wasesa” “Tidak” sahut
perempuan itu. “Jangan mement ingkan dir imu sendiri” jawab orang
cacat itu “ingatlah kepada anakmu” Perempuan itu menunduk
dalam-dalam. Namun bahwa, orang cacat itu mengerti tentang ceritera
yang nampaknya tidak akan disimpannya lebih lama lagi itu, membuat
perempuan itu semakin yakin, bahwa orang itu benar-benar Ki Ajar
Cinde Kuning. Meskipun demikian ia berkata “Ayah. Aku tetap memohon,
agar ceritera itu biarlah tersimpan dilubuk hatiku saja untuk
seturusnya” Orang cacat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku
akan mempertimbangkannya. Tetapi aku akan mengambil keputusan yang
berbeda dengan pilihanmu itu” Perempuan itu tidak menjawab lagi.
Segalanya memang terserah kepada orang cacat itu. Dan ia sendiri
tidak akan dapat menentukan pilihan apapun juga. Dalam pada itu,
ketika cahaya matahari membayang di langit di dini hari, maka
orang-orang di padepokan itupun sudah siap. Jlitheng yang siap
paling cepat bersama Rahu, duduk sambil berbincang diserambi.
“Kenapa orang cacat itu tidak mengejarnya ketika ia mendengar
laporan bahwa Ki Ajar Pamotan Galih melarikan diri?“ bertanya
Jlitheng. “Ki Ajar Pamotan Galih adalah orang yang luar biasa,
sementara orang yang cacat itu mengaku Ajar Cinde Kuning itupun
orang yang memiliki panggraita yang sangat tajam, sehingga ia
mengerti, bahwa tidak ada gunanya untuk mengejarnya. Pamotan Galih
tentu sudah jauh dan arahnyapun tidak dimengerti” jawab Rahu,
Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Akan ada pertemuan
yang meriah di bukit gundul. Aku kira dari padepokan-padepokan
lainpun tentu akan-mengambil sikap. Hilangnya Pangeran Sena Wasesa
akan merupakan aba-aba bagi padepokan-padepokan yang bernafsu untuk
berebut pusaka dan harta benda itu” Rahu mengangguk kecil Tetapi
iapun mulai membayangkan betapa sengitnya pertemuan antara
orang-orang tamak di bukit gundul itu. Yang pernah terjadi adalah
bertemunya kekuatan dari padepokan Sanggar Gading dengan kekuatan
dari Kendali Putih yang membuat keduanya hampir lumpuh, sehingga
gabungan dari kedua kekuatan itu tidak mampu lagi bertahan melawan
orang-orang yang semula tidak diperhitungkan oleh keduanya. Sejenak
kemudian ternyata orang-orang lainpun sudah siap pula. Ibu Daruwerdi
benar-benar telah bersiap pula untuk ikut serta bersama kedua
adiknya. Setelah makan pagi, maka orang-orang yang sudah bersiap
menuju ke daerah kecil. Kuda-kuda mereka masih dapat berderap agak
cepat di jalan-jalan datar. Namun akhirnya mereka sampai juga
kejalan yang sulit untuk dilalui. Mereka harus menembus hutan yang
lebat dan pepat. Mereka yang baru untuk kedua kalinya menempuh jalan
itu merasa masih agak bingung juga. Sementara orang cacat itu
mengenal jalan yang ditempuhnya seperti mengenal halaman rumah
sendir i. Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih itupun seperti yang
diduganya, telah menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati. Ketika ia
menyadari keadaan dirinya di sebuah bilik dipadepokannya, maka iapun
mengerti, bahwa orang yang dihadapinya adalah orang yang memiliki
ilmu yang tinggi, yang mustahil dapat dikalahkannya. Iapun
memperhitungkan bahwa orang-orang yang semula akan dibunuhnya, tentu
akan berdiri di pihak orang cacat itu. Karena itu, sebelum ia dapat
mengetahui dengan pasti, siapakah orang cacat itu, ia telah memilih
jalan untuk melarikan diri daripada ia harus mengalami nasib yang
lebih buruk lagi. Tetapi ketamakannya telah mendorongnya untuk pergi
ke daerah Sepasang Bukit Mati. Meskipun ia juga mempunyai
perhitungan bahwa orang-orang di padepokan itu akan menyusul juga ke
daerah sepasang Bukit Mati. Dengan kuda yang dapat dirampasnya dari
penduduk terdekat dari padepokannya, maka iapun telah menyelusuri
jalan menuju ke daerah Sepasang Bukit Mati yang dikiranya menyimpan
sebilah pusaka yang mempunyai psngaruh gaib terhadap pemiliknya,
namun yang terpenting adalah harta yang tidak ternilai jumlahnya,
yang disertakan pada pusaka itu. Ternyata bahwa Ki Ajar juga
menguasai jalan menuju kesasaran dengan sebaik-baiknya. Bahkan di
malam hari ia tidak berhenti sama sekali. Hanya pada saat-saat
tertentu apabila kudanya, sudah terlalu letih dan haus, maka iapun
berhenti di dekat sebuah parit atau mata air untuk memberi
kesempatan kudanya beristirahat, minum dan makan rerumputan. Ketika
Ki Ajar Pamotan Galih itu kemudian sampai di daerah Sepasang Bukit
Mati dihari ber ikutnya, maka iapun langsung pergi ke bukit gundul.
Dengan berdebar-debar ia memanjat naik setelah mengikat kudanya pada
sebatang pohon perdu. Matahari bersinar terang diatas kepalanya,
sementara langit jernih kebiru-biruan. Dengan tegang Ki Ajar Pamotan
Galih memandangi dataran diatas bukit gundul itu. Dataran yang tidak
terlalu luas. Dilihatnya garis-garis padas yang silang menyilang
Sesaat ia memperhatikan garis-garis itu. Dicarinya kunci pemecahan,
karena ia menduga bahwa garis-garis itu mempunyai arti tertentu.
Kemudian ia sama sekali t idak dapat menemukan. Garis yang memanjang
menyilang dataran itu, telah diikutinya. Tetapi kedua ujungnya
hilang pada retak batu pada disisi bukit tanpa memberikan petunjuk
apapun juga. Ki Ajar mengumpat ketika ia melihat sebuah lekuk tempat
Daruwerdi menyembunyikan peti dan pusaka palsunya. Namun sebenarnya
ia tidak dapat menemukan apa-apa di atas bukit itu. Kemarahan dan
kekecewaan telah menghentak-hentak di jantungnya. Setiap kali
terdengar ia mengumpat Orang yang cacat yang tiba-tiba hadir di
padepokan. “Iblis itu berhasil mengganggu aku” geramnya. Sesaat Ki
Ajar itu mencoba mengingat, apakah ia dapat mengenal iblis berwajah
cacat itu. “Ilmunya memang mir ip dengan ilmuku” berkata Ki Ajar
Pamotan Galih itu. Iapun telah mencoba mengenang gurunya. Namun
Katanya “Guru tentu tidak akan seumur orang itu” Untuk beberapa saat
ia masih tetap berdiri di atas bukit gundul itu. Namun akhirnya ia
hams melihat satu kenyataan, bahwa ia tidak akan berhasil
mendapatkan sesuatu di bukit itu. “Tetapi aku yakin, bahwa pusaka ku
tersimpan disini. Mungkin harta benda yang tidak ternilai harganya
itu berada di tempat lain, tetapi pada pusaka itu, atau pada petinya
atau pada rental yang ada bersama pusaka itu, atau pada apapun juga
tentu terdapat petunjuk tentang harta benda yang tersimpan itu”
geramKi Ajar Pamotan Galih. Dalam pada itu, oleh perasaan kesal dan
kecewa. Ki Ajar itupun kemudian membanting diri, duduk dialas
seonggok padas diatas bukit gundul itu. Sementara itu, ternyata
sekelompok orang telah merayap mendekati padukuhan Lumban. Sebuah
iring-ir ingan orang berkuda dengan wajah-wajah yang garang
mendekati daerah Sepasang Bukit Mati. Segala sesuatu yang terjadi
diatas bukit gundul itu telah didengar oleh orang-orang Pusparuri.
Ketika mereka sudah siap untuk bertindak, maka orang-orang Kendali
Putih dan Sanggar Gading yang tersisa dan berhasil melarikan diri
pada saat terakhir terjadi pertempuran di atas bukit Gundul setelah
Yang Mulia melakukan tayuh, telah terjerat oleh orang-orang
Pusparuri yang mengawasi perkembangan keadaan. Dari mereka
orang-orang Pusparuri mengetahui bahwa pusaka yang sebenarnya masih
belumdiketemukan. Merekapun menyadari, bahwa di sekitar Sepasang
Bukit Mati itu terdapat dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Pangeran Sena Wasesa sendiri yang ternyata tidak sakit, dan seorang
lagi yang berhasil mengalahkan Yang Mulia itu sendiri. Dengan
demikian maka orang-orang Pusparuri harap menyiapkan dir i
sebaik-baiknya menghadapi orang-orang itu. “Tetapi jumlah mereka
tidak cukup banyak” berkata orang- orang Pusparuri itu. Bagi mereka
anak-anak Lumban memang tidak terlalu merisaukan. Lalu berkata
mereka “Orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali Putih
sudah meremukkan diri mereka sendiri sebelum mereka berhadapan
dengan orang-orang yang berada di Lumban. Bahkan merekapun telah
dikelabui oleh Pangeran yang berpura-pura sakit itu. Meskipun sisa
mereka kemudian bergabung, tetapi kekuatan mereka sudah tidak ada
seperlima dari kekuatan mereka masing-masing. Karena itu, j ika kami
datang ke Lumban, maka persoalannya akan berbeda” “Apakah kita tidak
terlambat?“ bertanya salah seorang diantara mereka. Kawannya
menggeleng sambil menjawab “Tentu tidak. Pengamat kita belum melihat
seorangpun yang memasuki daerah Sepasang Bukit Mati, apalagi
memanjat bukit gundul itu” “Tetapi mungkin Pangeran itu sudahi
pergi” berkata orang yang pertama. “Mungkin. Tetapi mungkin ia
sedang menyiapkan sekelompok orang-orangnya untuk mengambil pusaka
itu, atau untuk menyingkirkannya” jawab kawannya “Jika demikian
pengamat kami tentu melihat ia memanjat bukit gundul itu dan
mengamatinya kemana ia pergi. Tetapi sampai saat ini sama sekali
tidak terdapat laporan apapun juga” Kawannya hanya mengangguk-angguk
saja. Namun dalam pada itu, iring-ir ingan itupun kemudian tertahan
oleh seseorang yang memacu kudanya. Dengan tergesa-gesa orang itu
menemui pimpinan orang-orang Pusparuri itu sambil berkata gagap
“Seseorang telah memanjat naik ke bukit gundul itu” “Siapa?“
bertanya pemimpin padepokan Pusparuri itu. “Aku tidak tahu. Dua
orang kawan kami masih mengawasi bukit itu. Orang yang memanjat itu,
sepeninggalku masih berada diatas bukit” berkata orang itu. Pemimpin
dari padepokan Pusparuri itu mengangguk- angguk. Katanya kemudian
“Nampaknya hanya orang yang sedang menyelidiki bukit itu. Tentu
bukan Pangeran Sena Wasesa yang akan memindahkan pusaka itu”
“Agaknya memang bukan seorang Pangeran” jawab orang yang member ikan
laporan. “Tetapi kita harus segera sampai ke bukit itu” berkata
pemimpin orang-orang Pusparuri itu. Dengan demikian, maka ir ing-ir
ingan itupun telah mempercepat gerak mereka, sementara orang yang
melapor itu berkata Kami telah menunggu terlalu lama. Aku kira fajar
hari ini kita semuanya sudah berada di bukit itu” “Kami memang agak
terlambat” jawab pemimpinnya “Tetapi kami telah menempatkan kalian
di bukit itu justru untuk menjaga kemungkinan seperti ini “ Orang
itu tidak menyahut lagi. Sementara iring-ir ingan itu bergerak
semakin cepat menuju ke bukit gundul. Jarak mereka dengan bukit
gundul itu semakin lama menjadi semakin dekat. Sementara, itu, Ki
Ajar Pamotan Galih masih tetap duduk diatas batu padas sambil
merenungi keadaan di sekitarnya. Bahkan kemudian iapun mulai
merenungi dirinya sendiri, “Sudah sekian lama aku mengatur rencana
ini” berkata orang itu kepada diri sendiri “namun hasilnya sama
sekali tidak memadai. Dan sekarang aku harus mulai dari permulaan,
sementara Pangeran yang gila itu akan menjadi semakin berhati-hati”
Sekali-sekali Ki Ajar itu menghentakkan tangannya. Namun yang sudah
terjadi itupun tidak akan mungkin dapat diulanginya kembali.
Kegagalan itu sudah terjadi. Bukan sekedar sebuah mimpi. Dengan lesu
Ki Ajar memandang dataran disekitar bukit itu. Sebagian sudah nampak
hijau, tetapi sebagian masih kekuning-kuningan dan gersang. Dalam
pada itu, iring-iringan orang-orang Pusparuri menjadi semakin dekat.
Mereka berpacu semakin kencang. Apalagi ketika bukit gundul itu
mulai nampak. Maka rasa- rasanya perjalanan mereka menjadi terlalu
lamban. Dipaling depan dari iring- iringan itu adalah Kiai Pusparuri
sendiri. Kemudian dua orang kepercayaannya yang terdekat. Untuk
beberapa saat mereka hanya saling berdiam dir i. Namun kemudian Kiai
Pusparuri itupun berdesis “Bagaimana menurut pertimbanganmu” Salah
seorang dari kepercayaannya itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
katanya “Kita memang terlalu lambat” “Tidak” sahut Kiai Pusparuri
“ketika kita mendengar bahwa orang-orang Sanggar Gading telah
menangkap Pangeran Sena Wasesa dan membawanya kepada Daruwerdi kita
sudah memer intahkan agar orang-orang kita bergerak. Terutama yang
berada di lingkungan orang-orang Kendali Putih. Ternyata benturan
itu telah terjadi. Orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar
Gading itu telah hancur. Tetapi yang tidak kita duga bahwa mereka
akhirnya dapat bersatu sehingga kita harus membuat
pertimbangan-pertimbangan baru. Kita harus mengamati perkembangan
keadaan dan tidak tergesa-gesa bertindak. Mungkin dengan demikian,
kita memang membuat kesan terlalu lamban” “Mudah-mudahan kita dapat
berbuat sesuatu” berkata kepercayaannya itu. Kiai Pusparuri tidak
menyahut. Keduanya berpacu semakin cepat Sementara kedua orang
kepercayaannya yang berkuda di belakangnya itupun saling
berpandangan. Tetapi mereka tidak mengatakan sesuatu. Yang terdengar
kemudian adalah Kiai Pusparuri menggeram “Daruwerdi memang gila. Aku
sudah curiga sejak lama. Tetapi kalian selalu mengatakan bahwa anak
itu akan memegang teguh janjinya” Kedua orang kepercayaannya sama
sekali tidak menjawab. Mereka mengikuti saja Kiai Pusparur i yang
berusaha berpacu semakin cepat. Dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan
Galih yang berada di atas bukit gundul itu mengangkat wajahnya
ketika pendengarannya yang tajam menangkap derap kaki kuda. Dengan
serta tmerta iapun berdiri. Ketika ia melayangkan pandangan matanya,
maka iapun segera melihat, sebuah iring- iringan mendekati bukit
itu. Ki Ajar Pamotan Galih menjadi berdebar-debar. Namun iapun
kemudian duduk kembali. “Persetan. Siapapun yang datang” geramnya.
Memang terasa kekecewaan yang mencengkam jantungnya membuatnya
kadang-kadang kehilangan gairah perjuangannya untuk mendapatkan
pusaka dan terlebih- lebih harta benda yang tidak ternilai harganya
itu. Meskipun pada saat-saat tertentu kedatangannya masih saja
mengguncang jantungnya. Karena itu, maka ia sama sekali tidak ingin
berbuat sesuatu. Ia akan menghadapi apa saja yang bakal terjadi j
ika orang-orang di dalam ir ingan-ir ingan itu akan naik keatas
bukit dan barangkali akan berbuat sesuatu atasnya. “Biar lah alam
memilih. Aku harus membunuh atau dibunuh” geramnya. Dalam pada itu
ir ing-ir ingan itupun telah sampai ke kaki bukit gundul, yang
merupakan salah satu dari Sepasang Bukit Mati itu. Dengan
tergesa-gesa orang-orang Pusparuri itu menambatkan kuda-kuda mereka.
Seorang diantara para pengamat yang berada di sekitar bukit itupun
kemudian mendekati- Kiai Pusparur i sambil berkata “Orang itu masih
berada diatas bukit “ “Kau tidak tahu siapa orangnya?“ bertanya Kiai
Pusparur i, Pengawas itu menggeleng. Katanya “Aku tidak tahu” Kiai
Pusparuripun segera memanjat naik diikuti oleh beberapa pengikutnya
bersama dua orang kepercayaannya yang terdekat Sementara beberapa
orang yang lain telah menunggu di bawah bukit gundul itu. Beberapa
saat lamanya Kiai Pusparuri memanjat Ketika ia mendekati puncak
bukit itu, dilihatnya seseorang duduk di batu padas. Orang yang
tepekur dan seolah-olah sama sekali tidak menghiraukan kehadirannya.
Kiai Pusparur i tertegun. Ia yakin orang itu mendengar kehadirannya.
Tetapi orang itu sama sekali tidak berpaling. “Ki Sanak“ sapa Kiai
Pusparuri. Barulah Ki Ajar Pamotan Galih itu mengangkat wajahnya dan
berpaling kearah suara itu. “Ajar Macan Kuning” desis salah seorang
kepercayaan Kiai Pusparuri. “Hem, kau Laksita” desis Ki Ajar Pamotan
Galih. “Siapa?“ bertanya Kiai Pusparuri. “Orang inilah yang pernah
membawa Daruwerdi kepadaku” jawab kepercayaannya itu “Macan Kuning”
desis Kiai Pusparuri. Ki Ajar Pamotan Galih masih tetap duduk di
tempatnya. Namun iapun kemudian berdesis “Aku tentu berhadapan
dengan Kiai Pusparur i sendiri sekarang ini” “Ya. Kau benar Ki Ajar
Macan Kuning. Aku pernah mendengar namamu yang menggetarkan setelah
Ki Ajar Cinde Kuning lenyap. Semua orang bertanya-tanya di dalam
hati, kenapa tiba-tiba saja Cinde Kuning telah merubah dir inya
menjadi Macan Kuning” sahut Kiai Pusparuri. Ajar Pamotan Galih hanya
berpaling. Tetapi ia tidik menjawab. “Sekarang, apa kerjamu disini?“
bertanya. Kiai Pusparuri kemudian. “Merenungi bukit gundul ini”
berkata Ajar Pamotan Galih. “Merenungi kematian orang-orang Sanggar
Gading dan orang-orang Kendali Putih?“ bertanya Kiai Pusparuri pula
“atau merenungi rencanamu sendir i” Ki Ajar Pamotan Galih tidak
menjawab. Dipandangnya lembah di bawahi bukit gunduli itu. Hanya
sebagian saja yang telah menjadi hijau. Tetapi yang lain tetap
gersang. “He” tiba-tiba Kiai Pusparuri bertanya kepada Laksita “Jadi
orang ini yang membawa Daruwerdi kepadamu?“ “Ya” jawab Laksita. Kiai
Pusparuri memandang kepercayaannya itu dengan tajamnya. Dengan nada
tinggi ia bertanya “Jadi kau belum mengenal anak itu dengan
sungguh-sungguh?“ “Sudah” jawab Laksita “Aku sudah lama mengenalnya.
Dan aku sudah mengenalnya dengan sungguh-sungguh” “Kenapa kau
tiba-tiba saja menjadi bingung?“ bertanya Ajar Pamotan Galih kepada
Kiai Pusparuri. “Aku sudah mengira bahwa anak yang disebut bernama
Daruwerdi itu tentu tidak jujur. Ia sudah berhubungan de agan banyak
pihak, sehingga persoalannya menjadi kacau seperti sekarang ini”
berkata Kiai Pusparur i. “Tidak ada gunanya kau sesali” berkata Ajar
Pamotan Galih “Jangankan kepadamu, kepada orang yang tidak
memberinya apapun juga. Sedangkan kepadaku, kepada kakeknya.
Daruwerdi telah berkhianat “ “He?” Kiai Pusparuri mengerutkan
keningnya. Lalu “Apa maksudmu?“ “Yang terjadi adalah karena
kelalaiannya” berkata KI Ajar Pamotan Galih “bahkan kemudian ia
telah menghadapkan aku kepada orang-orang yang gila itu” “Dan kau
tidak berani menghadapinya?“ bertanya Kiai Pusparuri. Namun kemudian
“Dengan pihak mana kau berhadapan? Sanggar Gading dan Kendali Putih,
atau orang- orang Lumban bersama Pangeran Sena Wasesa sendiri?“
“Banyak pihak telah datang ke padepokanku” berkata Ajar Pamotan
Galih “Aku tidak mempunyai kesempatan untuk melawan mereka. Mereka
terlalu banyak, sebagaimana aku tidak mau berhadapan dengan Pangeran
Sena Wasesa itu dengan langsung. Karena itu, aku memer lukannya
lewat siapapun yang akan dapat menangkapnya dan menukarnya dengan
pusaka yang kalian perebutkan. “Jangan mengigau seperti itu” berkata
Kiai Pusparuri “sebodoh-bodoh kami, orang-orang Pusparur i, tentu
tahu apa artinya peristiwa yang terjadi di bukit gundul itu.
Ternyata pusaka yang diberikan oleh Daruwerdi adalah pusaka palsu.
Apakah dengan demikian bukan berarti bahwa justru Pangeran Sena
Wasesa itulah yang akan menjadi sumber keterangan tentang pusaka
itu?“ Ki Ajar Pamotan Galih mengerutkan keningnya Sementara itu Kiai
Pusparur i berkata lebih lanjut “Sejak kami berangkat menuju ke
bukit ini, kami sudah mempunyai perhitungan yang demikian. Kami
memang ingin menemukan Pangeran Sena Wasesa. Tetapi tidak untuk kami
serahkan kepada siapapun juga. Karena kami hampir meyakininya, bahwa
Pangeran itu justru sangat berarti bagi pusaka itu sendiri” Ki Ajar
Pamotan Galih t idak segera menjawab. Sementara itu Laksitapun
berkata “Ki Ajar. Aku tidak mengira sama sekali, bahwa permainanmu
itu adalah permainan yang terlalu dangkal. Aku kira kau dengan
mempergunakan Daruwerdi, bermain dengan jujur apapun niat kita. Kita
mempunyai kepentingan yang aku kira membuat kita dapat bekerja
bersama. Tetapi dengan bodoh kau palsukan pusaka itu. Kau kira kau
dapat mengelabui orang lain begitu mudah? Seandainya bukan orang
Sanggar Gading itu, kamipun akan dapat mengetahuinya dengan tayuh
tiga hari tiga malam” Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Bahkan
seolah-olah ia tidak mendengarkan kata-kata itu. Dengan wajah yang
kosong dipandanginya alam yang keras disekitar bukit gundul itu.
Dalam pada itu, Kiai Pusparuripun berkata “Sekarang apa maumu Ki
Ajar? Apakah kau akan berusaha mencar i pusaka itu sendir i tanpa
Pangeran Sena Wasesa?“ Ki Ajar tidak menjawab. Bahkan berpalingpun
tidak. Namun tiba-tiba saja Ki Ajar Pamotan Galih itu berkata
“Mereka tentu akan segera datang” “Siapa?“ bertanya Laksita.
“Pangeran yang gila itu. Cucuku yang berkhianat dan orang-orang
Lumban yang dungu” berkata Ki Ajar Pamotan Galih. “Kau mencoba
menakut-nakut i aku, agar aku segera pergi? Dengan demikian usahamu
untuk memecahkan teka-teki tentang pusaka itu dengan memperhatikan
segala bentuk dan garis di atas bukit gundul ini tidak akan
terganggu?“ berkata Kiai Pusparuri. “Buat apa aku menakutimu” jawab
Ki Ajar Pamotan Galih “kalau kalian ingin mati, atau ingin pergi,
atau ingin apapun juga, aku tidak berkepentingan sama sekali. “Jadi
apa maksudmu dengan mengatakan bahwa mereka akan datang?“ bertanya
Kiai Pusparur i. “Tidak apa-apa. Hanya sekedar kabar yang pantas kau
ketahui. Kalau kau ingin menangkap Pangeran itu, lakukanlah jika kau
mampu. Jika kau mau lari, larilah mumpung mereka belumdatang”
berkata Ajar itu. “Lalu, apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Kiai
Pusparuri. “Mencari pusaka itu” jawab Ki Ajar Pamotan Galih. Kiai
Pusparuri ragu-ragu sejenak. Agaknya Ki Ajar itu mempunyai bekal
serba sedikit keterangan tentang pusaka itu. Karena itu, maka
katanya- kemudian “Baiklah. Jika orang-orang Sanggar Gading dan
Kendali Putih dapat bekerja bersama setelah mereka menghancurkan
diri mereka sendiri, apakah kita juga dapat bekerja bersama?“
“Maksudmu?“ bertanya Ki Ajar. “Kita akan menangkap Pangeran Sena
Wasesa. Aku yakin, bahwa kau tahu pasti, Pangeran itulah yang
mengetahui tentang pusaka yang sedang diperebutkan itu. Jangan
ingkar” jawab Kiai Pusparur i. Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam.
Lalu katanya “Tidak ada gunanya. Kita tidak akan mampu berbuat
apa-apa jika mereka nanti datang” “Kau sudah berputus asa?“ bertanya
Kiai Pusparur i. Sementara itu Laksitapun berkata “Apakah aku
benar-benar berhadapan dengan Ki Ajar Macan Kuning? Aku tidak pernah
membayangkan, bahwa pada suatu saat Ajar Macan Kuning akan
berputus-asa. Sementara disampingnya terdapat sepasukan orang-orang
yang dapat di percaya kemampuannya? Seandainya Pangeran Sena Wasesa
mampu menggugurkan bukit gundul ini sekalipun, maka ia tidak akan
dapat menghadapi seluruh pasukan Pusparuri sekarang ini” Ajar
Pamotan Galih t idak menjawab. Kembali ia merenungi dataran yang
merentang disekitar bukit gundul itu. Namun dalam pada itu ia memang
tidak dapat ingkar, betapa kacau perasaannya. Namun dalam pada itu,
orang-orang Pusparuri itu telah menawarkan satu kerja sama untuk
menangkap kembali Pangeran Sena Wasesa. Ia sadar, bahwa orang-orang
Pusparuri tidak akan terlalu bodoh untuk memberikan kesempatan
kepadanya Ki Ajar itupun sadar, jika usaha itu berhasil, maka ia
tidak akan mendapat apapun juga. Bahkan mungkin orang-orang
Pusparuri itu akan beramai-ramai mencincangnya, Tetapi dalam pada
itu, terpercik dendamnya kepada orang cacat yang sudah
mengalahkannya. Orang itu agaknya akan datang bersama Pangeran Sena
Wasesa dan orang-orang laini yang datang ke padepokannya. “Apakah
kau sedang merenungi keputusanmu Ki Ajar?“ bertanya Laksita. Ki Ajar
menggeram. Katanya “Kau jangan terlalu sombong hanya karena disini
ada Kiai Pusparuri. Kau tahu, bahwa Kiai Pusparuri itu t idak akan
banyak berarti bagiku. Seandainya aku mau maka kau akan dapat
membunuh separo dari orang- orang Pusparuri yang berada disini
bersama pimpinan tertingginya” Tetapi Kiai Pusparuri tertawa.
Katanya “Aku percaya bahwa kau agiknya memang memiliki ilmu yang
tinggi. Tetapi kau tidak akan dapat banyak berbuat apa-apa. Lebih
lebih dihadapan Pangeran Sena Wasesa. Karena itu, selagi aku
menawarkan kerja sama. Hasilnya kita bagi bersama” “Aku tahu bahwa
itu omong kosong” jawab Ki Ajar “Kau akan memanfaatkan aku untuk
melawan orang-orang itu. Kemudian kau akan manfaatkan aku untuk
melawan orang-orang itu. Kemudian kau akan menyisihkan aku pula
karena jumlah kalian yang banyak. Tetapi baiklah. Aku bersedia
bekerja bersama orang-orang Pusparuri untuk bertempur melawan
orang-orang itu. Jika kita berhasil, maka dendamku sudah dapat aku
lepaskan. Terserah kepadamu kau juga ingin membunuh aku, maka Kiai
Pusparuri dan separo orang-orangnya akan membunuh aku, maka Kiai
Pusparuri dan separo orang-orangnya akan mati bersama aku”
-oo0dw0oo-
Jilid 19 KIAI PUSPARURI mengangguk-angguk. Katanya “Aku tidak
berkeberatan dengan kecurigaanmu. Tetapi yang penting bagiku adalah
menangkap Pangeran Sena Wasesa. Tidak untuk diserahkan kepadamu atau
kepada siapapun Aku memer lukannya untuk mendengar keterangannya
tentang pusaka itu. Tetapi seandainya kau berkeberatan, akupun tidak
akan memaksamu, karena aku yakin akan kekuatan pasukanku” Ki Ajar
Pamotan Galih merenung sejenak. Namun kemudian katanya “Aku kira kau
akan menyesali kesombonganmu. Tetapi baiklah. Aku akan bergabung
dengan pasukanmu, apapun yang akan kau lakukan setelah itu” Kiai
Pusparuri tertawa. Tetapi katanya “Baiklah. Aku terima kau di dalam
lingkungan kami. Aku tahu, kau orang yang luar biasa” “Kita tinggal
menunggu beberapa saat saja Mereka akan segera datang” berkata Ki
Ajar Pamotan Galih. Dalam pada itu, Kiai Pusparuripun segera
mengatur orang- orangnya. Mereka harus mengadakan pengawasan
disekitar bukit gundul itu. Bukan saja terhadap kelompok-kelompok
lain yang mungkin akan mencar i pusaka itu, tetapi juga mengamati
kedatangan Pangeran Sena Wasesa dengan orang- orang yang
menyertainya pergi ke padepokan Ki Ajar Pamotan Gahh sehingga
memaksa Ki Ajar itu untuk pergi. Namun dalam pada itu, ternyata
anak-anak muda Lumban telah melihat kehadiran mereka. Orang-orang
Pusparuri itu mengabaikan orang-orang yang berada di sawah mereka.
Meskipun mereka tahu bahwa diantara mereka yang melawan orang-orang
Sanggar Gading dan Kendali Putih terdapat anak- anak muda Lumban,
namun anak-anak muda Lumban itu masih belumper lu dicemaskan. Tetapi
sementara itu, anak-anak muda Lumban itupun telah mempersiapkan
diri. Mereka membagi dir i menjadi beberapa kelompok. Kecuali mereka
yang harus mengawasi para tawanan, maka di bawah pimpinan
orang-orang yang mereka, kenal sebagai pemburu itu, mereka mengawasi
bukit gundul itu dari beberapa jurusan. Dengan bersiap-siap di
padukuhan yang berada disebelah menyatelah bukit gundul, anak-anak
muda Lumban itu berhasil mengamati tingkah laku orang- orang
Pusparuri” Namun agaknya orang-orang Pusparuri itu tidak akan
meninggalkan bukit gundul. Mereka tetap berada di seputar kaki bukit
itu. Sebagian dari mereka berlindung dari panasnya matahari di bawah
pepohonan di pategalan. Sementara yang lain ber lindung pada
bayangan batu-batu padas. Ketika kemudian matahari condong jauh ke
Barat, maka sebagian besar dari mereka berada di bayangan bukit
gundul itu. Tetapi anak-anak muda Lumban ternyata tidak mengetahui,
bahwa diantara mereka terdapat seseorang yang menyebut dirinya Ki
Ajar Pamotan Galih. Menurut perhitungan Ki Ajar Pamotan Galih, jika
orang- orang yang ditinggalkannya itu dengan segera menyusulnya,
maka mereka akan sampai di Lumban pada hari itu. Tetapi agaknya
orang-orang itu akan berangkat dari padepokannya setelah pagi hari,
sehingga paling cepat esok pagi mereka baru akan datang. Kiai
Pusparuri sama sekali tidak berkeberatan untuk menunggu. Apalagi
hanya satu malam. Seandainya ia harus menunggu sepekanpun, ia akan
melakukannya dengan sabar. Meskipun demikian, semalam suntuk
orang-orang Pusparuri berjaga-jaga berganti-ganti. Sekelompok dar i
mereka, dipimpin langsung oleh dua orang kepercayaan Kiai Pusparuri,
islah mengawasi Ki Ajar Pamotan Galih yang masih tetap berada
dipuncak. Ia sama sekali tidak bersedia beranjak dari tempatnya.
Namun ketika orang-orang Pusparuri memberikan sekedar makan dan
minum, ia tidak menolaknya. Tetapi malam itu terasa panjangnya.
Rasa-rasanya mereka telah menunggu lebih dari dua tiga malam.
Bintang-bintang yang bergayutan di langit berkeredip dengan
malasnya. Sementara udara malam yang dingin rasa-rasanya bagaikan
menusuk sampai ketulang. Malam itu, Pangeran Serta Wasesa, Kiai
Kanthi orang cacat dan sekelompok kecil orang-orang lain, berhenti
tidak terlalu jauh lagi dari Lumban. Tetapi mereka merasa cukup lama
menempuh perjalanan, sehingga mereka harus berhenti dan bermalam di
perjalanan. Esok pagi mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke
padukuhan Lumban. Matahari sepeng- galah mereka sudah akan sampai di
padukuhan itu. Demikianlah ketika fajar mulai memerah di langit,
maka sekelompok orang yang sedang menuju ke Lumban itu sudah
mempersiapkan dir i. Meskipun diantara mereka terdapat seorang
gadlis, itu bukanlah gadis kebanyakan. Tetapi selain gadis itu
terdapat juga ibu Daruwerdi. Adalah diluar kehendaknya, jika
Jlitheng tertegun ketika ia melihat Daruwerdi sedang berbicara
bersungguh-sungguh dengan Swasti. Meskipun hanya beberapa kalimat,
namun terasa jantung Jlitheng tergetar. Tetapi Jlitheng t idak
menghiraukannya lebih lama lagi. Ia melihat Swastipun segera
meninggalkan Daruwerdi. Sementara Daruwerdi berdir i termangu-mangu.
Ada niatnya untuk mengikuti gadis itu. Tetapi niatnya diurungkannya.
Sementara Jlithengpun telah bergeser menjauhinya. “Apa saja yang
dibicarakannya” bertanya Jlitheng kepada diri sendiri. Sebenarnyalah
Jlitheng tidak tahu, bahwa ketika kedua anak muda itu dengan tidak
sengaja bertemu pandang, Daruwerdi diluar sadarnya bertanya, apakah
Swasti tidak merasa terlalu letih. Hanya itu. Dalam pada itu, ketika
langit menjadi terang, iring-ir ingan kecil itupun segera
melanjutkan perjalanan. Sebenarnyalah bahwa ibu Daruwerdi itupun
telah merasa sangat letih. Tetapi karena dorongan keinginannya yang
sangat besar, maka iapun berusaha untuk tidak mengeluh. Kedua
adiknya selalu mendampinginya. Bahkan pada saat-saat tertentu, orang
cacat yang mengaku dirinya Ajar Cinde Kuning itu sendir i telah
membantunya. Perjalanan berikutnya tidak lagi banyak mengalami
hambatan karena buasnya medan yang mereka lalui. Kuda- kuda mereka
berjalan di tanah datar dan terbuka. Hutan perdu telah mereka lalui,
dan ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka merekapun telah
mendekati padukuhan yang mereka tuju. Lumban. Jlithenglah yang minta
kepada Ki Ajar Cinde Kuning, agar iring- iringan itu tidak langsung
mendekati bukit gundul. Ia ingin mendengar keterangan yang
barangkali ada manfaatnya dari anak-anak muda Lumban. “Pergilah
mendahului” berkata Ki Ajar Cinde Kuning. Bersama Rahu, maka
Jlithengpun telah mendahului ir ing- iringan kecil itu. Ia sengaja
menjauhi bukit gundul, karena menurut dugaan mereka, Ki Ajar Pamotan
Galih ada disekitar tempat itu. “Mudah-mudahan ia belum berbuat
sesuatu terhadap orang-orang Lumban” desis Jlitheng. “Ada beberapa
orang yang dapat memimpin anak-anak muda itu” berkata Rahu. Jlitheng
menggeleng. Jawabnya “Tidak ada gunanya menghadapi Ajar Pamotan
Galih, jika Ajar itu benar-benar menjadi gila” Langkah kuda Jlitheng
tertegun ketika ia melihat beberapa orang anak muda di sudut
padukuhan kecil di ujung Kabuyutan Lumban Wetan. Apalagi ketika
anak-anak muda itu melihat, bahwa yang datang itu adalah Jlitheng
dan Rahu. “Berhentilah sebentar. Turunlah“ minta anak-anak muda itu.
Rahu dan Jlitheng telah menghentikan kuda mereka. Keduanya segera
meloncat turun. Mereka melihat anak-anak muda Lumban itu nampak
gelisah. “Ada apa?“ bertanya Jlitheng. Salah seorang dari anak-anak
muda itupun kemudian minta agar Rahu dan Jlitheng duduk di gardu
sebentar. “Sekelompok orang-orang yang garang telah datang ka bukit
gundul itu” berkata anak muda itu. “Dari mana?“ bertanya Jlitheng.
Anak-anak muda itu menggeleng. Salah seorang menjawab “Kami tidak
tahu pasti. Tetapi mereka adalah orang-orang yang nampaknya tidak
kalah garangnya dari orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang
Kendali Put ih. Jlitheng mengangguk-angguk. Ternyata yang akan
mereka hadapi bukan sekedar Ajar Pamotan Galih. Tetapi sekelompok
orang yang tentu dari salah satu perguruan. Mungkin dari perguruan
yang lain. “Bahkan mungkin mereka telah bekerja bersama dengan Ki
Ajar Pamotan Galih” berkata Jlitheng. “Itu tidak mustahil” sahut
Rahu. Lalu katanya “Baiklah. Tetapi dimana mereka sekarang?“ “Mereka
tetap berada di bukit gundul. Mereka t idak beranjak dari tempat
itu, seolah-olah mereka memang sedang menunggu” berkata anak muda
itu. Jlitheng mengangguk-angguk. Ia adalah anak muda yang memiliki
pengamatan dan panggraita yang tajam. Karena itu. katanya “Tidak
mustahil bahwa Ajar Pamotan Galih ada diantara mereka dan mengatakan
bahwa sekelompok orang akan menyusulnya. Diantara mereka terdapat
Pangeran Sena Wasesa. Rahu mengangguk-angguk pula. Katanya “Memang t
idak lagi dapat diungkiri. Tentu ada beberapa pihak yang berhasil
melihat satu kemungkinan dari per istiwa yang telah terjadi. Seperti
kita yang semula tidak mengerti, akhirnya kita melihat pula, bahwa
Ajar Pamotan Galih memang cerdik. Dengan mengumpankan Daruwerdi ia
ingin menguasai Pangeran Sena Wasesa dan memeras keterangan
daripadanya. Sebenarnyalah yang mengetahui segala sesuatu tentang
pusaka itu adalah Pangeran Sena Wasesa. Agaknya orang-orang di bukit
gundul itupun mengetahui, bahwa sumber keterangan itu ada pada
Pangeran Sena Wasesa. Apalagi jika Ajar Pamoian Galih ada diantara
mereka dan mengatakannya demikian” “Agaknya Pangeran Sena Wasesapun
sedang diburu orang, sebagaimana mereka memburu pusaka itu, dan
ternyata merekapun mengetahui bahwa disamping pusaka itu masih
terdapat harta benda yang sangat menarik” desis Rahu “dengan jumlah
yang besar, mereka mengharap akan dapat menguasai Pangeran Sena
Wasesa” “Kita harus segera member itahukan kepada ir ing-ir ingan
itu” berkata Jlitheng. Lalu iapun bertanya kepada anak muda itu
“Apakah orang di bukit itu sering memasuki padukuhan?“ Anak muda itu
menggeleng sambil menjawab “Tidak. Mereka baru sehari berada di
bukit itu. Agaknya bekal mereka masih mencukupi. Tetapi aku tidak
tahu apakah yang akan mereka lakukan j ika mereka berada di bukit
itu untuk waktu yang lama” Jlitheng mengangguk-angguk. Katanya
kemudian “Baiklah. Aku sebenarnya tidak hanya berdua. Ada beberapa
orang di belakangku. Aku akan memberitahukan kepada mereka, agar
mereka berhati-hati” Jlitheng berhenti sejenak, lalu “Apakah Nugata
sudah mengetahui persoalan ini?“ “Ia sudah tahu bahwa ada sekelompok
orang berada di bukit gundul Iapun telah membuat persiapan-persiapan
seperlunya” jawab anak muda itu. “Bagaimana dengan pemburu itu?“
bertanya Jlitheng pula. “Mereka sudah bersiap-siap menghadapi segala
kemungkinan. Tetapi mereka masih harus mengawasi orang- orang
Sanggar Gading dan Kendali Putih yang sempat tertawan bersama
anak-anak muda terpilih” jawab anak muda itu. Lalu “Meskipun
demikian, kami disini sudah mengatur diri sebaik-baiknya. Meskipun
kami menyadari, bahwa kemampuan kami masih sangat terbatas. Apalagi
menghadapi segerombolan orang-orang yang memiliki kemampuan yang
tinggi“ “Berhati-hatilah. Aku akan segera datang bersama beberapa
orang yang akan dapat bekerja bersama kalian menghadapi orang-orang
di bukit gundul itu” berkata Jlitheng kemudian. Jlitheng dan Rahupun
segera minta diri. Ia harus melaporkan keadaan daerah Sepasang Bukit
Mati itu kepada orang-orang yang datang bersamanya. Bersama Rahu ia
kembali ke iring- iringan kecil yang semakin dekat dengan Lumban.
Kepada mereka Jlitheng dan Rahu melaporkan apa yang mereka dengar
dari anak-anak Lumban tentang gerombolan yang berada di bukit gundul
itu. “Sebaiknya kita langsung menuju ke banjar Lumban Wetan” berkata
Jlitheng “Kita akan dapat membuat persiapan- persiapan lebih
terperinci” “Terserahlah mana yang baik menurut pertimbanganmu”
berkata orang cacat yang mengaku dir inya Ki Ajar Cinde Kuning itu.
Demikianlah, maka ir ing-ir ingan itupun t idak langsung mendekati
bukit gundul yang ditunggui oleh orang-orang Pusparuri. Tetapi
mereka telah memasuki padukuhan induk Lumban Wetan dan langsung
menuju ke banjar. Kedatangan mereka memang menarik perhatian orang-
orang Lumban yang sudah dicemaskan oleh segerombolan orang yang
berada di bukit gundul. Namun ketika mereka melihat Jlitheng bersama
mereka, maka hati merekapun menjadi agak tenang. Apalagi ketika
Jlitheng berkata kepada salah seorang laki-laki separo baya “Mereka
akan menolong kita menghadapi orang-orang di bukit gundul itu” “O,
sokurlah Jlitheng. Tetapi siapakah mereka?“ bertanya orang itu.
“Mereka orang-orang baik” jawab J litheng Laki- laki itu
mengangguk-angguk. Ketika ia memandangi orang-orang dalam ir ing-
iringan itu, maka iapun mengangguk- angguk kecil. Ia melihat bahwa
di dalam iring- iringan itu terdapat pula perempuan. Demikian mereka
sampai di banjar, maka anak-anak mudapun menyambut mereka, Jlitheng
dan Rahu sudah dikenal oleh anak-anak muda itu. Demikian pula
Daruwerdi, meskipun anak-anak Lamban Wetan masih merasa ada jarak di
antara mereka. Namun dalam pada itu, mereka tidak dapat menunggu
keadaan menjadi semakin gawat. Karena itu, maka Jlitheng dan Rahupun
segera menghubungi segala pihak. Sejenak kemudian, maka Nugata dan
para pemburu yang berada di Lumban itupun telah berkumpul di banjar
itu, setelah mereka menyerahkan para tawanan kepada sekelompok
anak-anak muda terbaik di Kabuyutan Lumban. “Sebenarnya kita dapat
membiarkannya menunggu di bukit itu” berkata Pangeran Sena Wasesa
“Mereka akan menjadi jemu dan mengambil sikap yang mungkin
menguntungkan kita semuanya” Jlitheng mengerutkan keningnya. Hampir
diluar sadarnya ia bertanya “Apakah maksud Pangeran?“ “Kita menunggu
perkembangan keadaan” jawab Pangeran Sena Wasesa “Jika mereka
menyadari bahwa mereka akan sia-sia dan kemudian meninggalkan tempat
itu, bukankah kita tidak perlu mengusirnya dengan kekerasan?“ Namun
dalam pada itu. Kiai Kanthi menyahut “Ada dua kemungkinan Pangeran.
Mereka akan pergi, atau mereka akan berbuat sesuatu yang dapat
semakin menggetarkan jantung rakyat Lumban” Pangeran Sena Wasesa
mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Kemungkinan itu memang ada. Mereka
ingin melepaskan kejemuan mereka kepada rakyat Lumban” “Selebihnya”
potong Ki Ajar Cinde Kuning “Aku menduga bahwa Pamotan Galih ada di
bukit itu pula. Mungkin suatu kebetulan mereka bertemu untuk tujuan
yang sama, tetapi mungkin pula mereka memang sudah berhubungan
sebelumnya “ Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk Lalu Katanya
“Terserahlah. Yang manakah yang baik kita lakukan. Tetapi melibatkan
anak-anak muda Lumban masih harus diperhitungkan sebaik-baiknya.
Yang berada di bukit itu adalah segerombolan orang-orang besar dan
buas yang sama sekali t idak memperhitungkan nyawa sesama“ “Kita
memang harus mempersiapkannya sebaik-baiknya” berkata Jlitheng
“salah satu cara adalah mempergunakan tenaga sebanyak-banyaknya
sehingga anak-anak muda Lumban dapat menghadapi lawannya
berpasangan. Bagaimanapun juga, anak-anak Lumban pernah belajar
menggenggam pedang. Dengan demikian maka jika mereka sempat
berpasangan, maka kemungkinan yang paling buruk akan dapat
dikurangi” “Salah satu cara” sahut Kiai Kanthi “disamping itu, maka
kita yang merasa diri kita memiliki bekal serba sedikit harus
memencar dir i diantara anak-anak muda Itu” “Baiklah” berkata Nugata
“Aku akan mengatur anak anak muda kita” Dengan cepat Nugata dan
Jlitheng telah berusaha untuk mengatur anak-anak muda di Lumban.
Keduanya telah pergi ke Lumban Kulon pula untuk mengumpulkan
anak-anak muda yang telah pernah berlatih kanuragan. Meskipun mereka
belum benar-benar memiliki kemampuan yang cukup, tetapi seperti yang
dikatakan Jlitheng, mereka akan bertempur berpasangan. “Kalian harus
bersiap di padukuhan kalian masing-masing” berkata Jlitheng “pada
saatnya, kita akan berkumpul dan pergi ke bukit gundul. Kami tidak
memaksa semua orang harus ikut serta, tetapi hanya mereka yang
merasa dir inya cukup berani menghadapi sikap orang-orang kasar.
Mereka yang telah menyertai kami melawan orang-orang Kendali Putih
dan Sanggar Gading akan dapat mengatakan, betapa buas dan liarnya
mereka itu. Orang-orang yang berada di bukit gundul itu aku kira
tidak akan berselisih banyak dengan mereka” Tetapi anak-anak muda
Lumban Kulon ternyata telah menyatakan dir i seluruhnya untuk ikut
serta pergi ke bukit gundul. “Bagus” berkata Nugata “Jika demikian,
kalian tinggal menunggu isyarat. Kami akan berkumpul di pategalan
kering di sebelah patok batas Kabuyutan. Kemudian bersama-sama kita
akan pergi ke bukit gundul sebagaimana prajurit pergi ke medan
perang” Terasa dada anak-anak muda itu berdebaran, Sementara
Jlitheng dan Nugata itupun kemudian meninggalkan mereka untuk pergi
ke padukuhan-padukuhan yang lain. Seperti yang dilakukan di Lumban
Kulon maka demikian pula yang mereka lakukan di Lumban Wetan.
Sepuluh orang terbaik di Lumban Wetan akan memimpin
kelompok-kelompok anak-anak muda Lumban Wetan. Mereka akan mengatur
kawan-kawannya agar anak-anak Lumban Wetan itu tidak menjadi umpan
kebuasan orang-orang yang berada di bukit gundul itu. Namun dalam
pada itu, Jlitheng bersama Semi dan kawannya telah mengatur dan
mempersiapkan pula orang- orang yang akan mengawasi para tawanan,
karena diantara mereka terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan
yang tinggi. Namun mereka telah terikat dengan tali yang tidak akan
dapat mereka putuskan, karena diantara serat-serat tali itu terdapat
beberapa helai janget. Dalam pada itu, setelah selesai dengan
mengelilingi padukuhan-padukuhan di Kabuyutan Lumban Kulon dan
Lumban Wetan, maka Jlitheng dan Nugata telah berada diantara
orang-orang tua yang berada di banjar. Mereka mulai dengan
bersungguh-sungguh membicarakan rencana untuk menghadapi orang-orang
yang berada di bukit gundul itu. Namun dalam pada itu. orang-orang
di bukit gundul itupun mulai menjadi gelisah. Mereka menunggu
kehadiran orang- orang yang disebut oleh Ki Ajar Pamotan Galih akan
segera datang ke bukit itu. Tetapi ternyata mereka masih belum
datang. Sementara itu. orang-orang yang berada di bukit gundul itu
masih juga berusaha untuk memecahkan teka-teki yang tersimpan di
bukit itu Ki Ajar Pamotan Galih yang berada di puncak bukit itu
masih selalu memperhatikan segala lekuk dan garis batu-batu padas
yang terdapat di bukit gundul itu. Namun setiap kali ia hanya dapat
menggelengkan kepalanya saja. Sementara itu Kiai Pusparuri yang
berjalan mengitari bukit itupun memperhatikan setiap keadaan yang
menarik perhatian. Diperiksanya setiap lekuk, batu-batu yang
menjorok dan keadaan-keadaan yang khusus di sekitar bukit itu.
Tetapi seperti Ki Ajar Pamotan Galih, ia tidak menemukan petunjuk
apapun juga. “Apakah Pangeran itu sudah berada kembali di Demak”
berkata Pusparuri di dalam hatinya “namun jika demikian, maka yang
tersimpan di bukit gundul ini tidak akan terungkapkan. Usaha Pamotan
Galih untuk mempergunakan Daruwerdi telah gagal” Kiai Pusparuri itu
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya pula di dalam hatinya
“Tentu Pangeran itu tidak akan member itahukan kepada siapapun juga.
Tentu ia sendir i ingin memilikinya. Adalah gila jika ia mengatakan,
telah menyerahkan rahasia itu kepada siapapun juga, meskipun kepada
Kangjeng Sultan di Demak sekalipun. Karena nampaknya Pangeran itu
juga seorang yang julig” Tetapi bagaimanapun juga, Kiai Pusparur i
yang datang dengan pengikutnya yang kuat itu tidak tergesa-gesa. Ia
merasa menghadapi siapapun juga. Dan iapun menduga, bahwa Pangeran
Sena Wasesa tidak akan melaporkannya ke Demak dan membawa prajur it
segelar sepapan sementara menghadapi padepokan-padepokan atau
gerombolan- gerombolan yang lain. Kiai Pusparuri merasa terlalu
yakin akan dirinya. Meskipun demikian, Kiai Pusparuri itupun
memanjat bukit gundul itu untuk menemui Ki Ajar Pamotan Galih dan
bertanya “Apakah perhitunganmu benar ki Ajar?“ “Aku menganggap
demikian” berkata Ki Ajar Pamotan Galih “sadar atau tidak sadar,
sengaja atau tidak sengaja, mereka tentu akan sekali lagi melihat
bukit gundul itu, jika kau memang ingin menantangnya, letakkan
orang-orang di padang terbuka disekitar bukit ini untuk mengundang
mereka mendekati bukit. Karena mungkin sekali mereka langsung
memasuki padukuhan Lumban dan beristirahat di Kabuyutan itu”
“Orang-orang Lumban akan mengatakan kepada mereka, bahwa aku ada
disini” berkata Kiai Pusparuri “Aku datang tidak dengan
sembunyi-sembunyi” “Jika demikian tunggulah. Aku mempunyai
keyakinan, mereka akan datang” berkata Ki Ajar. Kiai Pusparur i
mengangguk-angguk. Sambil memperhatikan keadaan disekelilingnya,
garis-garis retak batu-batu padas dan apapun yang terasa menarik
perhatiannya, iapun melangkah menuruni bukit gundul itu. Sementara
itu, ternyata anak-anak muda Lumban sudah siap. Mereka telah
berkumpul di banjar padukuhan masing- masing, lengkap dengan senjata
mereka. Dengan petunjuk pemimpin-pemimpin kelompok masing-masing,
mereka mengatur dengan siapa akan berpasangan. Apa yang harus mereka
lakukan dalam keadaan yang gawat dan isyarat- isyarat apa yang wajib
mereka mengerti. Di Banjar, orang-orang yang datang dari padepokan
Ajar Pamotan Galih itupun telah menyusun diri. Jika Ki Ajar Pamotan
Galih ada di bukit itu, maka Ajar Cinde Kuning akan langsung
menemuinya untuk memberikan penjelasan. Sementara Pangeran Sena
Wasesa dan Kiai Kattthi akan mengamati seluruh pertempuran itu,
khususnya menghadapi orang-orang terpenting dari mereka yang sudah
bersiap di bukit itu. Selain mereka, maka Rahu, Jlitheng, Semi dan
kawannya, Daruwerdi dan kedua pamannya akan ikut bersama mereka.
Namun dalam pada itu, orang cacat yang menyebut dirinya Ki Ajar
Cinde Kuning itu berkata kepada Kiai Kanthi “Kiai, apalagi tidak
berkeberatan, apakah Kiai sependapat, apabila anak gadis Kiai itu
dapat menemani anak perempuanku, ibu Daruwerdi” Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah anak gadisnya. Ia
mengerti bahwa anak itu tentu lebih senang berada di pertempuran.
Namun demikian ia masih ingin berusaha untuk memintanya memenuhi
keinginan Ajar Cinde Kuning itu. “Swasti” berkata Kiai Kanthi “Aku
kira ada baiknya. Bukan karena kau tidak akan dapat menyesuaikan
diri di peperangan. Tetapi kemungkinan-kemungkinan lain dapat
terjadi di banjar ini, sehingga ibu angger Daruwerdi itu memerlukan
seorang kawan yang dapat membantunya mengatasi kesulitan j ika
sewaktu-waktu kesulitan itu datang” Swasti mengerutkan keningnya.
Namun sebelum ia menjawab, ibu Daruwerdi itu berkata “Aku mohon
ngger” Swasti memandang perempuan itu dengan kerut di keningnya.
Namun ia melihat permintaan yang sungguh- sungguh itu memancar di
sorot mata ibu Daruwerdi. Karena itu, seolah-olah diluar sadarnya,
gadis itu mengangguk lemah. “Bagus” desis Kiai Kanthi “Kau tinggal
di banjar bersama beberapa pengawal. Mudah-mudahan tidak terjadi
sesuatu disini. Tetapi apabila kesulitan itu datang, maka kau
mempunyai lebih banyak pengalaman dari para pengawal dari Lumban
itu” Sekali lagi Swasti mengangguk. Demikianlah, ketika segala
sesuatunya sudah dipersiapkan, maka Kiai Kanthi dan Pangeran Sena
Wasesapun sepakat untuk segera pergi ke bukit gundul. “Baiklah”
berkata orang cacat yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning “semakin
cepat memang semakin baik” “Aku akan member i penjelasan kepada
orang-orang yang ada di bukit itu, bahwa tidak ada gunanya lagi bagi
mereka untuk mencar i pusaka dan apalagi harta benda di bukit itu.
Aku sudah menyerahkannya kepada yang berhak. Demak. Karena
sebenarnyalah yang mereka cari di bukit gundul itu sejak semula
tidak berada di bukit itu” berkata Pangeran Sena Wasesa. Kiai Kanthi
mengerutkan keningnya. Jika demikian, bagaimana mungkin setiap orang
menganggap bahwa yang mereka car i berada di bukit gundul yang jauh
itu, di daerah Sepasang Bukit Mati. Tetapi Kiai Kanthi tidak
menanyakannya. Pada saatnya ia tentu akan mengerti pula. Dalami pada
itu, maka orang-orang yang berada di banjar itupun segera
mempersiapkan diri. Ketika mereka kemudian meninggalkan banjar,
beberapa orang anak muda yang siap dengan senjata masing-masing
telah mengikutinya? Di mulut lorong, beberapa orang anak muda telah
berkumpul pula, sehingga dengan demikian, maka iring- iringan itu
menjadi semakin panjang. “Aku berjanji untuk member ikan isyarat”
berkata Jlitheng “Anak-anak muda akan keluar dari padukuhan
masing-masing dan berkumpul disebelah patok batas Kabuyutan. Kita
akan bersama-sama pergi ke bukit gundul” “Isyarat apa?“ bertanya
Pangeran Sena Wasesa. “Alat yang kami miliki adalah kentongan” jawab
Jlitheng. Pangeran Sena Wasesa memandang orang cacat itu sekilas.
Sementara orang itu berkata “Baiklah. Ber ikan isyarat itu.
Mudah-mudahan isyarat itu mempengaruhi kegarangan orang orang yang
berada di bukit gundul itu. Suara kentongan yang akan berbunyi
disetiap padukuhan tentu akan merupakan sentuhan-sentuhan di dalam
jantung mereka. Bagaimanapun juga suara kentongan yang bergema di
daerah sekitar Sepasang Bukit Mati ini t idak akan mereka abaikan”
Karena itu, maka atas persetujuan bersama, Jlithengpun pergi ke
gardu di ujung lorong. Sejenak kemudian, telah terdengar suara
kentongan yang bergema di seluruh padukuhan-padukuhan di Kabuyutan
Lumban Wetan dan Lumban Kulon. Kedua orang Buyut yang sudah tua itu
tidak berbuat sesuatu sebagaimana dipesankan oleh anak-anak muda
”Biar lah Ki Buyut tetap berada di rumah. Kami, anak-anak mudalah
yang akan ikut serta menyelesaikan persoalan yang sebenarnya bukan
masalah orang-orang Lumban” Suara kentongan yang memenuhi Kabuyutan
Lumban Wetan dan Lumban Kulon itu telah melontarkan perintah kepada
anak-anak muda untuk keluar dari padukuhan masing- masing. Seperti
yang di setujui bersama, mereka berkumpul di pategalan kering,
disebelah patok batas Kabuyutan. Namun dalam perjalanan ke bukit
gundul Pangeran Sena Wasesa masih berkata “Aku masih tetap ingin
menjelaskan, sehingga jika mungkin pertempuran yang tidak perlu sama
sekali akan dapat dihindarkan” Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Katanya “Mudah- mudahan Pangeran, sehingga anak-anak muda itu tidak
harus menyerahkan korban diantara mereka. Karena sebenarnyalah yang
mereka perlukan adalah hijaunya tanaman d isa wah dan pategalan.
Mereka sama sekali t idak berkepentingan dengan apa yang sedang
diperebutkan ini” Pangeran itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara
orang cacat yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning itupun berkata
“Aku sependapat Pangeran. Jika Pangeran berhasil, akupun ingin
menyelesaikan persoalanku dengan Pamotan Galih sebagai dua orang
bersaudara. Apalagi bersaudara kembar” Pangeran Sena Wasesa
mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga, di dalam setiap hati
tersimpan keragu- raguan. Apakah orang-orang yang berada di bukit
gundul itu akan dapat mengerti keterangan yang akan diberikan oleh
Pangeran Sena Wasesa. Dalam pada itu, ternyata suara kentongan yang
terlontar dari padukuhan-padukuhan itu terdengar jelas dari bukit
gundul. Mereka yang berada di bukit gundul itu seolah-olah telah
mendengar sorak yang gemuruh dari setiap padukuhan di Kabuyutan
Lumban Kulon dan Lumban Wetan. Ajar Pamotan Galih yang berada di
atas bukit itu mengangkat wajahnya. Sambil memandang kesekelilingnya
ia bergumam kepada dir i sendiri “Orang-orang Lumban yang tidak tahu
diri. Mereka akan salah menilai jika orang-orang Pusparuri ini
dianggapnya berkekuatan tidak lebih dari orang- orang Sanggar Gading
dan orang-orang Kendali Putih yang sudah saling menumpas di
pategalan. Jika mereka kali ini datang ke bukit ini, maka mereka
akan segera dibantai oleh orang-orang Purparuri yang tidak kalah
garangnya dari orang- orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali
Putih” Namun dalam pada itu, Ajar Pamotan Galih masih belum
memperhitungkan bahwa anak-anak Lumban akan keluar hampir
seluruhnya, dan akan bertempur berpasangan. Dalam jumlah yang
berlipat ganda, maka anak-anak muda Lumban itu tentu akan dapat
mempertahankan dir inya. Di bawah bukit gundul itu, Kiai Pusparuri
yang sudah menunggu terlalu lama menjadi berdebar-debar. Kepada
kepercayaannya ia bertanya “Yang akan datang itu, apakah orang-orang
yang memang kami harapkan, atau cucurut- cucurut dari Lumban itu
saja” “Entahlah” sahut salah seorang kepercayaannya “Tetapi
kentongan itu agaknya telah menggemparkan Lumban. Jika Lumban
menganggap bahwa mereka akan dapat menyelesaikan persoalan ini, maka
aku kira mereka akan menjadi sangat kecewa” “Hanya akan
membuang-buang waktu saja” berkata Kiai Pusparuri “kadang-kadang
timbul juga belas kasihan kepada orang-orang yang dungu dan sombong.
Mereka salah mengartikan nilai dir i sendiri. Tetapi kadang-kadang
timbul juga kejengkelan yang tidak terkendali melihat sikap orang-
orang yang demikian, sehingga memaksa diri untuk membuat mereka
segera menjadi jera” “Kiai” bertanya kepercayaannya “Apakah yang
akan kita lakukan j ika orang-orang Lumban itu benar-benar datang
kemari” “Usir mereka” berkata Kiai Pusparur i “Tetapi ingat. Mungkin
mereka akan datang bersama dengan orang-orang yang disebut oleh
Pamotan Galih, termasuk Pangeran Sena Wasesa” “Jika demikian, kita
akan bersiaga sepenuhnya” berkata kepercayaannya “Jika kita lengah,
dan ternyata yang datang itu adalah orang-orang yang disebut oleh
Ajar Pamotan Galih bersama orang-orang Lumban, maka kitalah yang
akan menyesal” “Bagus” berkata Kiai Pusparur i “Aku akan menghubungi
Ajar Pamotan Galih “ Kedua orang kepercayaan Kiai Pusparuri itupun
segera menyiapkan orang-orangnya. Dengan segan seorang pengikutnya
berkata “Hanya anak-anak yang bermain-main kentongan. Jika mereka
datang, kita akan segera menghalaunya” “Jangan lengah” berkata
kepercayaan Kiai Pusparuri itu “Yang datang bukan saja anak-anak
Lumban” Pengikut Kiai Pusparuri itu mengerutkan keningnya. Dengan
ragu-ragu ia bertanya “Dari mana kau tahu bahwa yang akan datang
selain anak-anak Lumban adalah orang- orang yang dimaksud oleh Ajar
Pamotan Galih” “Kemungkinan itu memang ada” jawab kepercayaan Kiai
Pusparuri itu “karena itu, kita harus bersiaga sepenuhnya”
Orang-orang Pusparuri itu mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah
mereka menganggap bahwa orang-orang Lumban tidak akan berarti
apa-apa. Merekapun pernah mendepgar bahwa orang-orang Lumban ikut
bertempur pada saat terakhir melawan orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih. Tetapi setelah orang-orang Sanggar Gading
dan Kendali Putih saling menghancurkan diri mereka masipg-masing.
Meskipun demikian, kepercayaan Kiai Pusparuri itu berkeras untuk
memerintahkan kepada para pengikut Kiai Pusparuri untuk bersiaga
sepenuhnya. Mereka telah diatur di tempat- tempat yang paling baik
untuk menghadapi lawan yang bakal datang. Sementara itu, Kiai
Pusparuri yang menemui Ajar Pamotan Galih bertanya “Apakah kau akan
menunggu mereka di puncak bukit gundul ini?“ “Aku akan menunggu
disini” gumam Ki Ajar Pamotan Galih. “Itu tidak mungkin” berkata
Kiai Pusparur i “Orang-orangku akan bertempur di bawah. Tidak
menguntungkan bagi kita semuanya jika kita menunggu mereka memanjat
sampai kepuncak. Kita akan membiarkan orang-orang itu mulai memanjat
pada kaki bukit ini. Namun pada saat itu pula mereka akan kita usir.
Tetapi jika diantara mereka terdapat orang-orang yang kau maksud,
maka mereka akan kita binasakan, kecuali Pangeran Sena Wasesa. Aku
memer lukannya, sebagaimana kau memer lukan orang itu” Ajar Pamotan
Galih menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya menyapu dataran
disekitarnya. Namun ia masih belum melihat apapun juga mendekati
bukit gundul itu. Tetapi iapun yakin, bahwa suara kentongan itu
bukan sekedar suara kentongan untuk mengusir tupai di pohon-pohon
kelapa. “Aku akan berada bersama kalian” berkata Ki Ajar Pamotan
Galih “Aku ingin bertemu dengan Pangeran Sena Wasesa. Tetapi jika
orang cacat itu datang pula bersamanya, maka kita harus mempunyai
perhitungan lain” “Aku hanya berkepentingan dengan Pangeran Sena
Wasesa” berkata Kiai Pusparuri. Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab
lagi. Rasa-rasanya iapun memang sudah kehilangan segala harapannya.
Tetapi ia masih akan tetap berusaha sampai batas kemungkinan yang
terakhir, apapun yang akan terjadi atas dirinya. Berhasil atau tidak
berhasil rasa-rasanya tidak lagi banyak dipersoal-,kan di dalam
hatinya, yang semakin lama menjadi semakin membeku dalam
kekerasannya. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pamotan Galih itupun
berkata “Aku akan turun. Jika yang datang bukan orang yang kita
harapkan, aku tidak akan ikut campur” Kiai Pusparuri tidak
menghiraukannya, Iapun kemudian melangkah dialas batu-batu padas.
Sekali-sekali ia masih memperhatikan retak-retak yang membujur
lintang, seolah- olah merupakan tanda-tanda yang dibuat oleh
seseorang. Dalam pada itu, para pengikut Kiai Pusparuri sudah
menyiapkan dir i dengan segan. Pada umumnya mereka mengang- gap
bahwa orang-orang Lumban yang sombong akan berusaha untuk mengusir
mereka dar i bukit gundul itu. “Mereka menganggap bahwa mereka akan
dapat mengulangi sebagaimana mereka lakukan atas orang-orang Sanggar
Gading dan orang-orang Kendali Put ih yang sudah saling membinasakan
itu. Apalagi diantara orang-orang Lumban terdapat orang-orang
berilmu tinggi yang menurut Ajar Pamotan Galih telah pergi ke
padepokannya” gumam salah seorang dari mereka. “Tetapi yang pergi
itulah yang dikatakannya akan kembali” sahut kawannya, “Kita tumpas
saja mereka” sahut yang lain “memuakkan. Kenapa mereka mengganggu
kita yang sedang menikmati segarnya udara di daerah Sepasang Bukit
Mati ini” “Kau gila” berkata seorang yang lain “justru kita
mengharap mereka datang. Jika tidak, kita harus mencar i Pangeran
Sena Wasesa. Jika ia berlindung diantara para prajurit Demak, maka
persoalannya akan bertambah rumit” Kawannya tertawa. Katanya
“Seolah-olah kau tahu pasti apa yang sedang bergejolak di daerah
Sepasang Bukit Mati ini” “Kita semuanya tidak tahu apa-apa” sahut
orang yang setengah tidur bersandar pada sebongkah batu padas. Kita
hanya tahu membunuh orang-orang yang harus kita bunuh, siapapun
mereka” Beberapa orang yang lainpun telah tertawa pula. Seorang
berwajah garang berdesis “Daruwerdipun harus kita bunuh” Yang lain t
idak menyahut lagi. Seolah-olah mereka tidak menghiraukan apa yang
akan terjadi, meskipun suara kentongan itu telah menyentuh perasaan
mereka pula. Dalam pada itu, anak-anak muda Lumban semakin lama
menjadi semakin dekat dengan bukit gundul itu. Yang berada di paling
depan adalah orang Cacat yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning,
Pangeran Sena Wasesa dan Kiai Kanthi. Kemudian diikuti oleh
Daruwerdi dan kedua pamannya. Dibelakangnya Rahu, Jlitheng, Semi dan
seorang kawannya. Sementara Nugata berada diantara anak-anak muda
Lumban Kulon. Diantara anak-anak muda Lumban Wetan terdapat sepuluh
orang yang mendapat latihan-latihan khusus dalam olah kanuragan.
Ternyata bahwa iring-iringan itu menjadi cukup panjang. Sebagaimana
telah di anjurkan, maka setiap anak muda telah berjalan bersama
dengan kawan yang akan bertempur bersama. Akhirnya, orang-orang
Pusparuri telah melihat kehadiran anak-anak muda Lumban itu. Dua
orang pengawas telah member ikan isyarat kepada kawan-kawannya,
bahwa lawan mereka telah datang. Beberapa orang telah meloncat naik
keatas batu-batu padas yang berbongkah-bongkah sekedar untuk melihat
iring- iringan yang mendekat Seorang diantara mereka berkata
“Seperti itik yang digembalakan. Mereka berjalan beriringan dalam
satu barisan yang panjang” “Tetapi lihat, mereka yang berada di
depan adalah orang- orang yang berilmu” sahut kawannya. Yang lain
tertawa. Katanya “Disini ada orang-orang yang akan dapat melawan
mereka. Kiai Pusparuri, Ki Lurah yang dua orang itu, Ki Benda yang
pemalas itu. Dan mungkin orang yang berada di atas bukit yang
disebut Ajar Pamotan Galih itu” Kawan-kawannya tidak menjawab lagi.
Sementara itu Kiai Pusparuri dan Ki Ajar telah turun pula. Ketika
Kiai Pusparuri melihat seseorang yang masih saja duduk bersandar
sebongkah batu dengan mata terpejam, tetapi mulutnya masih saja
mengunyah makanan, maka dengan kakinya Kiai Pusparuri menyepak kaki
orang Itu. “Pemalas” geramnya “Kau mau tidur saja dasitu?” Orang itu
menggeliat. Katanya “Aku tahu segala-galanya. Bukankah mereka masih
dalam perjalanan. Aku masih sempat tidur sekejap” “Bagaimana jika
kepalamu dibelah dengan pedang anak Lumban itu” desis Kiai
Pusparuri. Orang itu tertawa berkepanjangan. Sambil bangkit ia
berkata “Kau membuat aku kehilangan kantukku. He, dimana dua orang
kepercayaanmu itu? Kenapa kau t idak berbicara saja dengan mereka
tanpa mengganggu aku” “Mereka sedang menyiapkan orang-orang kita”
sahut Kiai Pusparuri “lalu bagaimana dengan kau?“ Orang itu tidak
menjawab. Iapun kemudian memandang kekejauhan. Lamat-lamat ia
melihat sebuah iring- iringan mendekat. “Persetan“ katanya “Aku akan
duduk. Mereka masih memer lukan waktu untuk mendekati bukit ini.
Kemudian kalian masih akan berbicara berkepanjangan. Saling
menantang, saling menyombongkan diri dan saling menakuti-nakuti Nah,
bukankah aku masih sempat tidur barang sekejap?“ Orang itu tidak
menunggu jawaban. Iapun kemudian duduk lagi bersandar sebongkah batu
padas. Namun t iba-tiba ia berteriak “He, dimana ketela rebusku.
Siapa yang mencuri he?“ “Sudah kau kunyah semua” jawab seorang
pengikut yang lain. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun
kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata kepada Kiai
Pusparuri “Temui orang-orang itu. Ajak bicara sedikit panjang” “Anak
iblis” geram Kiai Pusparuri sambil meninggalkan orang itu. Dalam
pada Itu, bersama Ki Ajar Pamotan Galih, maka Kiai Pusparuri berada
d antara para pengikutnya menunggu kehadiran orang-orang Lumban yang
memang masih agak jauh. Sementara itu, kedua kepercayaan Kiai
Pusparuri itupun telah mengatur segala-galanya. Orang-orang
Pusparuri itu menebar di kaki bukit gundul itu. Sebagian dari mereka
masih tetap menganggap bahwa orang- orang Lumban itu terlalu bodoh
dan sombong. Seandainya ada orang-orang berilmu diantara mereka
seperti yang dikatakan oleh Ajar Pamotan Galih, namun orang-orang
Lumban sendiri tidak akan berarti apa-apa selain menyerahkan diri
untuk dibantai di bukit gundul itu. Dalam pada itu, Jlitheng dan
Rahu yang sudah mendengar tentang orang-orang yang berada di bukit
gundul itu dari mereka yang melihat sendir i dar i pategalan dapat
memperhitungkan keadaan dengan cermat. Namun sebenarnyalah mereka
cukup cemas akan nasib anak-anak muda Lumban. Karena itu, maka
keduanyapun kemudian telah berbicara agak panjang dengan Nugata
diperjalanan. Dengan jumlah yang banyak dan kerja sama yang baik,
mudah- mudahan kegarangan orang-orang di-bukit gundul itu dapat
diatasi “Aku, Rahu, Semi dan kawannya akan berada diseluruh arena
itu” berkata Jlitheng “Aku akan berusaha untuk tidak terikat dalam
satu perkelahian yang tidak memungkinkan aku menilik pertempuran itu
secara keseluruhan” “Bagaimana dengan Daruwerdi?“ bertanya Nugata.
“Ia telah dibebani satu persoalan di dalam perasaannya sehingga biar
lah ia memilih menurut caranya” jawab Jlitheng. “Kenapa sebenarnya
dengan anak muda itu? Ternyata bahwa ia telah melakukan sesuatu yang
bersifat rahasia sekali di bukit gundul itu” berkata Nugata. “Kau
akan mengetahui dengan gamblang kemudian” jawab Jlitheng “namun aku
berharap bahwa kedua pamannya yang juga memiliki ilmu yang cukup itu
akan bersedia berbuat seperti yang akan kami lakukan. Memang mungkin
salah seorang dari kami harus bertempur sampai selesai. Tetapi kami
akan mengambil satu kemungkinan yang paling baik bagi anak-anak
Lumban” Nugata mengangguk-angguk Sementara kepada sepuluh orang
terbaik di Lumban Wetan Jlithengpun telah memberikan pesan-pesannya.
Katanya “Kalian harus dapat mengawasi kelompok kalian. Jangan
biarkan seorangpun diantara kalian kehilangan pegangan di dalam
pertempuran ini. Sekali lagi aku peringatikan, lawan kita adalah
iblis- iblis yang tidak berjantung” Namun ternyata anak-anak Lumban
telah mempersiapkan diri mereka lahir dan batin. Jlitheng bagi
mereka adalah bagaikan saudara sendiri. Air yang mengalir i sebagian
dari sawah-sawah di Lumban, adalah hasil jerih payah Jlitheng dan
orang tua yang membuat gubug di bukit berhutan itu. Meskipun baru
sebagian, tetapi air itu sudah berhasil meningkatkan tataran hidup
orang-orang Lumban. Semakin dekat ir ing-ir ingan orang Lumban itu
dengan bukit gundul, maka merekapun menjadi semakin berdebar-debar.
Mereka telah melihat orang-orang yang berada di bukit gundul itu
menebar. Berdiri diatas batu-batu padas. Yang lain bersandar dinding
bukit seolah-olah tidak menghiraukan sama sekali kepada orang-orang
yang datang beriringan. Bahkan ada diantara mereka yang masih tetap
duduk bersandar sebongkah batu padas. Kesiagaan mereka itu telah
membuat darah anak-anak muda Lumban menjadi semakin cepat mengalir.
“Jangan, cemas” berkata Jlitheng kepada anak-anak Lumban yang ada
disekitarnya “Mereka dengan sengaja berbuat demikian untuk
mempengaruhi sikap lawan. Mereka seolah-olah tidak menghiraukan
kehadiran kalian. Namun sebenarnyalah mereka berdebar-debar juga
seperti kita semuannya” Anak-anak muda Lumban itu mengangguk-angguk.
Mereka mengerti bahwa ada perbedaan pokok diantara mereka dengan
orang-orang yang berada di bukit gundul itu. Orang- orang di bukit
gundul itu adalah orang-orang yang menyerahkan hidupnya dalam
libatan kekerasan, sementara anak-anak Lumban adalah petani-petani
yang pada dasarnya lebih senang hidup tenang dan damai. Tetapi
ternyata bahwa pada suatu saat hati merekapun telah tersentuh untuk
mengangkat senjata menghadapi orang- orang yang kasar itu.
Demikianlah, maka iring- iringan itu sudah menjadi semakin dekat.
Orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Cinde Kuning itupun kemudian
menghent ikan iring-ir ingan itu. Dipanggilnya Jlitheng mendekat.
Kemudian katanya “Kita sudah dekat dengan orang-orang yang mungkin
akan dapat bertindak sangat kasar itu. Aturlah anak-anak muda
Lumban. Mereka harus mulai menebar. Diantara kita yang memiliki
sedikit pengalaman menghadapi orang-orang yang mungkin akan dapat
berbuat kasar itu harus terbagi. Tetapi aku akan berada di ujung
pasukan anak-anak Lumban ini. Mungkin Ajar Pamotan Galih berada di
antara mereka. Mudah-mudahan ia tidak melarikan diri. Sementara Kiai
Kanthi dan Pangeran Sena Wasesa akan menyesuaikan diri. Namun
sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa akan menjadi sasaran penting dari
mereka, karena agaknya merekapun akan mendengar juga bahwa sumber
keterangan tentang pusaka itu adalah Pangeran Sena Wasesa” “Baiklah
Ki Ajar” berkata Jlitheng “Kita akan membagi dir i. Namun diantara
kita akan berusaha untuk tidak terikat dalam satu pertempuran disatu
tempat” “Mungkin ada juga manfaatnya” desis Ki Ajar sambil
mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Silahkan. Kita sudah
berada dihidung lawan” Jlithengpun kemudian mengatur anak-anak muda
Lumban bersama Rahu. Semi dan kawannyapun kemudian ikut pula bersama
mereka. Bahkan ternyata Daruwerdi tidak t inggal diam. Iapun
kemudian menempatkan dirinya diantraa anak- anak muda itu pula. “Aku
seharusnya memang berada diantara kalian” berkata Daruwerdi.
Demikianlah, anak-anak muda Lumban itu sudah menebar. Disamping
sepuluh anak muda terbaik dar i Lumban Wetan dan Nugata dari Lumban
Kulon, maka Jlitheng, Rahu, Semi dan kawannya. Daruwerdi dan kedua
pamannya telah menebar diantara mereka. Dalam keadaan yang gawat
mereka harus dapat mengambil sikap sehingga anak-anak muda Lumban
tidak akan menjadi korban. Sementara itu, diujung pasukan, Ki Ajar
Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan Pangeran Sena Wasesa mendahului
anak-anak Lumban mendekati bukit gundul itu. Mereka melihat bahwa
orang-orang yang berada di bukit gundul itupun telah menunggu. Namun
sebenarnyalah melihat anak-anak Lumban yang menebar dengan sigap,
orang-orang yang berada di bukit gundul itu mulai berpikir.
Nampaknya memang ada orang- orang yang pantas diperhitungkan
diantara anak-anak Lumban selain tiga orang yang berada diujung
pasukan. Ketika anak-anak Lumban menjadi semakin dekat, maka
Daruwerdi telah mendekati Pangeran Sena Wasesa sambil berdesis “Kita
berhadapan dengan orang-orang Pusparuri” Pangeran Sena Wasesa
menarik nafas dalam-dalam, sementara orang yang menyebut dirinya
Ajar Cinde Kuning itupun berkata “Ternyata Pamotan Galih telah
berada diantara mereka” Sebenarnyalah Ajar Pamotan Galih yang
berdiri di sebelah Kiai Pusparuri seolah-olah telah kehilangan
segala gairah cita- citanya yang gagal. Nampaknya ia sudah malas
untuk memulainya lagi dari permulaan. Karena itu, maka ia justru
tidak lagi mempunyai tujuan bagi sikapnya yang kemudian. Dalam pada
itu, kedua kepercayaan Kiai Pusparuri yang melihat Daruwerdi
diantara anak-anak muda Lumban itupun mengumpat di dalam hati. Namun
merekapun mengerti, Daruwerdi tidak mejanj ikan apapun kepada salah
satu pihak. Ia berhubungan dengan segala pihak yang mampu
menyerahkan Pangeran Sena Wasesa. Tetapi kini Pangeran Sena Wasesa
telali datang dengan sekelompok kekuatan yang akan menghadapi
orang-orang Pusparuri termasuk Daruwerdi itu sendiri. Ternyata bahwa
Kiai Pusparuri yang berdiri disamping Ki Ajar Pamotan Galih itupun
maju beberapa langkah menyongsong Pangeran Sena Wasesa. Sambil
tertawa Kiai Pusparuri itupun berkata “Selamat datang Pangeran.
Mungkin Pangeran belum mengenal aku. Tetapi kami, orang-orang
Pusparuri telah mengenal Pangeran dengan sebaik-baiknya. Kami telah
mempelajari sikap dan cara hidup Pangeran sehari- hari. Namun
ternyata kedatangan kami ke istana Pangeran telah didahului oleh
orang-orang Sanggar Gading yang tahu pasti bahwa Pangeran sedang
sakit waktu itu. Meskipun akhirnya orang-orang Sanggar Gading itu
berhasil Pangeran kelabui“ “Sekarang kita sudah bertemu Kiai” jawab
Pangeran Sena Wasesa. “Ya. Sekarang kita sudah bertemu. Tetapi dalam
keadaan yang kurang menguntungkan bagiku” jawab Kiai Pusparuri.
Namun kemudian “Tetapi segalanya adalah karena kelicikan Daruwerdi
yang ternyata tidak secerdik yang aku duga. Segala rencana yang
disusun oleh Ajar Pamotan Galih itu telah gagal. Dan kini, ingkar
atau tidak ingkar, sebenarnyalah bahwa Pangeranlah yang tahu
segala-galanya. Permainan pusaka palsu Daruwerdi itu hampir menjerat
nyawanya” Jawab Pangeran Sena Wasesa mengejutkan Kiai Pusparur i.
Katanya “Kiai. Sebenarnyalah bahwa aku tahu serba sedikit tentang
pusaka dan harta karun yang sedang diburu oleh banyak pihak itu.
Tetapi karena keterangan mengenai pusaka dan harta karun itu tidak,
jelas, maka yang terjadi adalah peristiwa-peristiwa pahit yang tidak
berarti. Apa yang terjadi antara orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih adalah satu contoh orang-orang yang
dimusnahkan oleh ketamakan mereka sendir i” “Jangan sesorah
Pangeran. Aku ingin tahu tentang pusaka dan harta karun itu” berkata
Kiai Pusparuri “terus terang, kami ingin menangkap Pangeran
hidup-hidup. Kemudian memeras Pangeran untuk mengatakan dimana
pusaka dan rta karun yang tidak ternilai itu. Pangeran Sena Wasesa
menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia berpaling.
Dipandanginya anak-anak muda Lumban yang sudah siap. Namun ketika
terlintas dalam tatapan matanya orang-orang Pusparuri yang garang,
maka Pangeran Sena Wasesa itu. mulai dibayangi oleh kecemasan
tentang nasib anak-anak muda Lumban. Pangeran Sena Wasesa sudah
melihat sebagian dari anak-anak Lumban itu dapat membantu
mengalahkan sisa-sisa orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih.
Namun melihat orang-orang Pusparuri yang segar dan garang itu, ia
harus berpikir beberapa kali lagi. Tetapi jika terpandang olehnya
beberapa orang yang memang memiliki bekal ilmu yang cukup, maka
iapun menjadi agak tenang. “Mudah-mudahan mereka dapat membantu anak
anak Lumban” berkata Pangeran Sena Wasesa didatam hatinya, karena
sebenarnyalah ia merasa ragu-ragu bahwa orang- orang Pusparuri dapat
dilunakkan hatinya dengan keterangan- keterangannya saja. “Pangeran”
berkata Kiai Pusparuri kemudian “sebaiknya Pangeran tidak terlalu
berpikir tentang kepentingan diri sendiri. Karena Pangeran ingin
menyelamatkan dir i, maka Pangeran telah membawa sekian banyak
orang-orang yang tidak berarti untuk melindungi Pangeran. Tetapi
seharusnya Pangeran dapat mengerti, bahwa usaha itu tidak akan
berarti apa-apa. Jika Pangeran memaksa, maka berarti Pangeran akan
membunuh sekian banyak anak-anak muda yang tidak tahu apa-apa.
Mereka tidak berkepentingan dengan pusaka dan harta karun itu”
Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia
menjawab. Kiai Kanthilah yang lelah menjawab “Ki Sanak“ Memang kami.
orang-orang Lumban tidak berkepentingan dengan pusaka dan harta
karun yang kalian buru dengan cara apapun juga itu. Tetapi kami
tidak akan dapat tinggal diam melihat ketamakan yang membakar bukit
yang kebetulan berada di daerah Lumban ini” “Siapakah kau?” bertanya
Kiai Pusparuri. “Aku salah seorang dari penghuni Kabuyutan Lumban”
jawab Kiai Kanthi. “Persetan“ geram Kiai Pusparuri “Kau sudah
berdiri diambang liang kuburmu. Jangan ikut campur. Sikarang
pertimbangkan baik-baik Pangeran. Kau menyerah tanpa korban
seorangpun diantara orang-orang Lumban, atau kau akan membunuh
sekian banyak orang dengan meminjam tangan kami sebelumakhirnya kau
sendir i dapat aku tangkap” “Kiai” berkata Pangeran Sena Wasesa
“dengarlah. Meskipun aku sudah ragu-ragu untuk melakukannya, tetapi
sebaiknya kau mendengarkan barang sejenak Persoalan yang akan aku
katakan, sudah didengar oleh Ki Ajar Pamotan Galih, karena iapun
sedang memburu pusaka dan harta karun seperti yang kau maksud. Aku
memang mengetahui dengan pasti pusaka dan harta karun itu. Kau t
idak usah memaksa aku apalagi membunuh orang-orang Lumban, aku sudah
akan member ikan keterangan kepadamu” Kiai Pusparur i berpaling
kearah Ki Ajar Pamotan Galih Tetapi Ki Ajar itu tidak
menghiraukannya. Ia masih saja berdiri tegak memandang anak-anak
Lumban yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Dalam pada
itu, Pangeran Sena Wasesa itupun melanjutkan kata-katanya “Kiai. Aku
tidak tahu, darimana Kiai mendengar tentang pusaka dan harta karun
yang disimpan bagi kepentingan kebangkitan satu pemerintahan yang
akan menggantikan kedudukan Majapahit. Akupun tidak tahu justru pada
saat ini kalian mulai melakukan perburuan di bukit gundul ini”
“Sudahlah Pangeran” potong Kiai Pusparuri “Kita tidak mempunyai
waktu banyak untuk mendengarkan sebuah dongeng yang dapat menidurkan
anak-anak seperti itu. Yang penting bagiku, menyerah sajalah. Atau.
katakan dimana letak pusaka dan harta karun itu. Pusaka itu akan
dapat member ikan satu kesempatan karena tuahnya untuk menjadi
seorang pemimpin yang disegani, sementara harta kekayaan yang
menyertainya akan menjadi pendukung satu usaha untuk mendapat
kekuasaan” “Aku sudah menduga, bahwa setiap orang yang memburu
pusaka dan harta itu adalah mereka yang menginginkan jabatan dan
kekuasaan. Memang menarik sekali bagi setiap orang. Kedudukan dan
kekuasaan” jawab Pangeran Sena Wasesa. Kemudian “Tetapi seperti yang
sudah aku katakan kepada Ki Ajar Pamotan Galih, bahwa, kedudukan dan
kekuasaan itu telah berada di tangan orang yang berhak. Aku sudah
menyerahkan semuanya kepada Sultan di Demak. Akulah yang menunjukkan
tempat penyimpanan pusaka dan harta benda itu, sementara Sultan
telah mengutus beberapa orang petugas khusus untuk mengambilnya
dengan rahasia” Tetapi Kiai Pusparur i tertawa berkepanjangan.
Katanya kepada Ki Ajar Pamotan Galih “Kau percaya kepada dongeng
itu?“ Tetapi wajah Ki Ajar itu seolah-olah telah menjadi kosong. Ia
berpaling juga memandang Kiai Pusparur i. Ia menggeleng dan menjawab
pertanyaan Kiai Pusparuri itu. Tetapi seolah- olah tidak ada lagi
maksud dar i sikapnya. . “Nah” berkata Kiai Pusparur i yang tidak
menghiraukan sikap Ki Ajar Pamotan Galih “Orang itu menggeleng. Ia
juga menganggap yang Pangeran katakan sebagai satu dongeng. “Aku
tidak berbohong Kiai” berkata Pangeran itu “Tetapi memang sulit
untuk meyakinkan, apakah yang aku katakan ini benar. Tetapi baiklah.
Jika kalian bersedia, aku akan membawa kalian, maksudku salah
seorang yang akan mewakili seluruh padepokan Pusparuri untuk
menghadap dan mendengar penjelasan dari Sultan sendiri. Atau jika
kalian berkeberatan, aku akan membawa kalian ke tempat pusaka dan
harta karun itu disimpan” “Semuanya disimpan di bukit gundul di
daerah Sepasang Bukit Mati” potong Kiai Pusparuri “Sudah. Jangan
berbelit-belit Pangeran. Jangan membuat aku kehabisan kesabaran”
Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam Rasa- rasanya memang
sulit untuk menjelaskan, bahwa sudah terlambat untuk memburu pusaka
dan harta yang menyertai pusaka itu. “Kiai” berkata Pangeran Sena
Wasesa “Aku tidak mempunyai cara lain untuk mengatakannya. Tetapi
itu adalah kenyataannya. Tidak ada saksi yang lebih pantas dipercaya
selain Kangjeng Sultan” “Kau memang cerdik? Tetapi kau t idak
semudah itu mengelabui aku Pangeran” berkata Kiai Pusparuri.
Pangeran Sena Wasesa memandang wajah Kiai Pusparuri dengan tajamnya,
sementara Kiai Pusparuri melanjutkan “Kangjeng Sultan tentu
mempunyai penggraita yang tajam. Demikian aku menghadap, maka aku
akan ditangkapnya. Seandainya tidak, maka Sultan tentu akan ingkar,
karena yang dilakukan sebagaimana kau katakan, apabila itu benar,
adalah sangat dirahasiakan. Apakah yang dirahasiakan itu akan dengan
mudah dikatakan kepadaku, kepada orang yang tidak dikenalnya?“ “Aku
dapat meyakinkannya, bahwa dengan mengatakan yang sebenarnya, akan
terhindar pertumpahan darah yang tidak berarti” jawab Pangeran Sena
Wasesa. “Sudahlah” berkata Kiai Pusparuri “jika Pangeran ipgin
membunuh anak-anak Lumban itu, baiklah. Kami akan dengan senang hati
menolong Pangeran. Kemudian menurut perhitungan Pangeran, kamipun
akan kehilangan sebagian dari. Kekuatan kami, sehingga Pangeran akan
dengan mudah mem binasakan kami, sebelum Pangeran akan mengambil
harta yang tidak ternilai harganya yang menyertai pusaka itu di
bukit, gundul ini Pangeran kemudian akan memanfaatkan tuah pusaka
itu untuk merebut kedudukan Sultan di Demak, dengan harta yang tidak
ternilai itu. Pangeran juga menginginkan kedudukan dan kekuasaan”
Pangeran Sena Wasesa menggeleng lemah. Tetapi ia sudah, kehilangan
harapan untuk mengatasi benturan yang bakal terjadi. Hampir diluar
sadarnya ia berpaling kepada Kiai Kanthi dan orang cacat yang
menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning itu. “Nampaknya, orang-orang
Pusparuri tidak melihat jalan lain” berkata orang cacat itu. “Ya.
Kami tidak melihat jalan lain” jawab Kiai Pusparuri. “Baiklah.
Tetapi aku masih ingin bertanya kepada Ki Ajar Pamotan Galih, apakah
ia masih berminat untuk ikut serta memperebutkan pusaka dan harta
benda itu” berkata orang cacat itu. Ki Ajar Pamotan Galih memandang
orang cacat itu dengan tatapan mata yang redup. Katanya “Aku tidak
mempunyai satu keinginann apapun lagi, kecuali membunuhmu” “Baiklah”
berkata orang cacat itu “seharusnya kau sudah dapat mengukur dir imu
sendiri. Kau tidak akan dapat melakukannya. Meskipun demikian,
sebenarnya aku memang mempunyai satu kepentingan khusus denganmu.
Meskipun kita tidak akan dapat melepaskan diri dar i suasana dalam
keseluruhan per istiwa di bukit gundul ini “ Ajar Parnotan Galih
menjadi tegang. Namun dalam pada itu, suasana itu telah dikoyah oleh
suara tertawa. Orang yang duduk bersandar batu padas itupun tertawa
sambil berkata “Sebenarnya aku senang mendengar kalian berbicara
berkepanjangan. Aku masih sempat duduk sambil mengantuk. Tetapi
semakin lama aku menjadi semakin jemu mendengar pembica-an yang
tidak berujung pangkal. Bahkan mendengar kepentingan-kepentingan
yang lain. Karena itu, jika kita ingin berkelahi mar ilah kita
berkelahi. Aku sudah tidak kantuk lagi “ Orang itupun tiba-tiba
telah bangkit. Sambil melangkah mendekat ia berkata “Jika kalian
telah menghadapi lawan kalian masing-masing, biarlah aku melawan
orang tua yang sakit-sakitan itu. Bersiaplah, aku akan mulai. Orang
yang malas itu memang mempunyai sikap yang aneh. Sebelum seorangpun
sempat menjawab, ia langsung mendekati Kiai Kanthi. Sambil bersikap
ia berkata “Aku tidak peduli, apakah kau akan melawan atau tidak.
Tetapi aku akan membunuhmu. Memang nasibmu terlalu buruk, bahwa kau
adalah korban yang pertama. Mungkin tidak berniai berkelahi atau
sekedar ikut-ikutan” Orang itu ternyata tidak menunggu jawaban.
Seperti yang dikatakannya, maka t iba-tiba lapun telah menyerang
Kiai Kanthi dengan dahsyatnya. “Orang itu benar-benar Gila“ geram
Kiai Kanthi di dalam hatinya. Tetapi ia cukup berhati-hati. Karena
itu, maka iapun sempat menghindari serangan yang pertama itu.
Ternyata Kiai Pusparuri mempunyai sikap tersendiri. Ia justru
tertawa melihat pemalas itu mulai menyerang lawannya Namun kemudian
katanya “Aku setuju dengan pemalas itu. Kita sudah berdiri
menghadapi lawan kita masing-masing. Aku memang memilih berhadapan
dengan Pangeran agar aku dapat menangkap Pangeran hidup-hidup.
Meskipun barangkali pada satu kesempatan nanti, orang-orangku akan
beramai- ramai membantuku mengepung arena agar Pangeran tidak sempal
melarikan diri, setelah anak-anak Lumban dibantai atas keinginan
Pangeran” Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Ketika ia
menebarkan tatapan matanya, maka dilihatnya orang-orang Pusparuri
yang semula nampak tidak mengacuhkan kehadiran anak-anak Lumban itu,
telah mulai bergerak. “Jadi kau tidak percaya kepada keteranganku?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Hanya orang-orang yang tidak sehat
lagi akalnya akan mempercayainya” jawab Kiai Pusparur i. “Baiklah,
Kiai” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku adalah seorang prajurit.
Meskipun aku berhadapan dengan orang yang memiliki nama menggelarkan
di tlatah Demak, tetapi aku tidak akan menyingkir dar i kewajiban
ini” “Aku memang sudah menduga Pangeran” berkata Kiai Pusparuri
“Pangeran akan bersikap sebagai seorang prajurit. Tetapi Pangeran
saat ini bukan seorang Senopati perang yang memiliki pasukan segelar
sepapan. Yang datang bersama Pangeran adalah anak-anak Lumban yang
akan mati tanpa arti karena Pangeran ternyata seorang yang
mementingkan diri sendiri” Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Ia
melihat Kiai Kanthi yang benar-benar telah bertempur, sementara
anak- anak Lumbanpun telah mulai bergeser pula, ketika Jlitheng dan
kawan-kawannya yang dianggap oleh anak-anak muda Lumban memiliki
ilmu melampaui kemampuan mereka telah bregerak pula. Bahkan
merekalah yang telah memberikan tuntunan olah kanuragan kepada
anak-anak muda itu. Jarak antara kedua belah pihakpun menjadi
semakin dekat. Dalam pada itu, maka suasanapun menjadi semakin
tegang pula. Dalam pada itu, orang-orang Pusparuri mulai menunjukkan
sifat-sifat mereka. Beberapa orang yang berloncatan turun dari
batu-batu padas berteriak sambil mengumpat kasar. Bahkan seorang
yang berwajah panjang dengan jambang yang tebal berteriak “He,
siapakah yang ingin aku bantai lebih dahulu? Sebenarnya aku kasihan
melihat tikus-tikus kecil yang tidak bersalah. Tetapi kesombongan
kalian membuat aku mual” Sebenarnyalah bahwa anak-anak Lumban itu
menjadi berdebar-debar. Bahkan Nugatapun menjadi berdebar-debar juga
sebagaimana sepuluh orang yang dianggap terbaik dari Lumban Wetan.
Namun mereka sudah bertekad untuk membantu menyingkirkan, dan
mungkin mereka memang harus bertindak lebih jauh lagi terhadap
orang-orang Pusparuri itu. Beberapa orang anak Lumban mengikut i
Jlitheng dan Rahu yang bergeser kesebelah sisi, sementara Semi dan
kawannya ke sisi yang lain. Daruwerdi dan kedua pamannya berada di
tengah, di belakang orang-orang tua yang mendapat lawannya
masing-masing. Sementara Nugata dan anak-anak Lumban Kulon berada di
belakangnya pula. Sejenak kemudian benturan kedua pasukan itu tidak
lagi dapat dihindari. Orang-orang Pusparuri yang garang mulai
menyerang anak-anak muda Lumban yang masih belum berpengalaman.
Namun mereka sudah bersiap menghadapi kemungkinan itu. Sebagaimana
yang dipesankan, maka mereka menghadapi tawannya dengan berpasangan.
Jumlah mereka cukup banyak untuk melawan orang-orang Pusparuri.
Orang yang berwajah panjang dan berjambang tebal tiba-tiba saja
telah berhadapan dengan dua orang anak muda yang siap mengacungkari
pedangnya. Orang berwajah panjang itu berhenti. Kemudian terdengar
orang itu tertawa. Katanya “Lucu sekali. Kau berdua ingin melawan
aku, he?“ Kedua anak muda Lumban itu tidak menjawab. Seorang
diantara mereka telah menjulurkan senjatanya, sementara yang lain
bergeser menyamping. Namun kedua anak muda itu terkejut, ketika
tiba-tiba saja orang berwajah panjang itu menghentak sambil memutar
senjatanya. Sebatang tongkat baja. Hampir berbareng kedua anak-anak
muda itu meloncat menjauh beberapa langkah dengan tergesa-gesa.
Sekali lagi terdengar suara tertawa orang itu meledak. Tetapi orang
itu tidak memburu salah seorang dari kedua orang anak Lumban yang
meloncat berpencar itu. Seperti menakuti anak-anak orang itu
kemudian bergeser sambil berdesis “Ayo, siapa mati lebih dahulu”
Kedua anak-anak Lumban itu menjadi ragu-ragu Sementara
pertempuranpun telah berkobar semakin merata di kaki bukit gundul
itu. Namun tiba-tiba saja kedua anak Lumban itu terkejut, ketika
Jlitheng hadir diantara mereka. Katanya “Orang ini agak lain dan
kawan-kawannya. Carilah lawan yang lain Aku akan melawan orang ini”
Orang berwajah panjang itu mengerutkan keningnya, la memang melihat
anak muda yang baru ini mempunyai kelainan dari kedua kawannya yang
terdahulu. Karena itu, maka orang berwajah panjang itu menjadi
semakin berhati-hati. “Kau terlalu sombong untuk menempatkan diri
sebagai lawanku anak muda“ berkata orang berwajah panjang itu.
“Tetapi itu lebih baik daripada kau melawan anak-anak Lumban.
Mungkin aku memiliki pengalaman lebih baik dari mereka sehingga aku
akan dapat melayanimu bermain dengan senjata” Orang berwajah panjang
itu mengangguk-angguk. Katanya “Bagus. Tetapi berhati-hatilah. Aku
tidak mempunyai pilihan lain daripada membunuh semua orang yang
menempatkan dirinya sebagai Iawanku” “Kita berpendirian sama. Akupun
akan membunuh semua orang yang tidak menghindar dari hadapanku.
Karena kau tidak menghindar atau memanggil orang lain untuk
membantumu, maka salahmu sendir i jika kau mati sebelum pertempuran
ini merata” jawab Jlitheng. Ternyata kemarahan orang itu tidak dapat
tertahankan lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang. Bukan
sekedar mengejutkan sebagaimana dilakukan atas anak-anak Lumban.
Tetapi orang itu benar-benar menyapu mendatar dengan senjatanya.
Tongkat baja itu berdesing diatas kepala Jlitheng yang merendah.
Namun Jlitheng segera meloncat surut. Pedang tipisnya telah beracu
lurus siap melawan tongkat baja itu. Pertempuranpun menjadi kian
cepat. Orang bertongkat baja itu menyerang dengan garang, sementara
Jlitheng dengan cepat mengimbanginya. Pedang tipis itu di tangan
Jlitheng merupakan senjata yang menger ikan. Pada saat-saat lampau,
Jlitheng pernah mempergunakan senjata lentur. Pernah mempergunakan
golok yang besar dan berat. Bahkan senjata bertangkai panjang. Namun
akhirnya, setelah ia menerima pedang tipis itu. seakan-akan
kemampuannyapun menjadi semakin meningkat. Ia mampu bergerak dengan
cepat. Namun meskipun pedangnya itu tipis dan ringan, namun dalam
benturan yang kuat sekalipun, pedangnya tidak akan patah, meskipun
melawan tongkat baja yang di dalam genggaman lawannya itu. Orang
berwajah panjang itu mengumpat. Ternyata anak muda yang disangkanya
juga anak Lumban itu memiliki iimu yan tinggi, yang justru mamu
mengimbanginya. Dalam pada itu, dibagian laimun pertempuran sudah
menyala, Rahu ternyata sempat membebaskan diri dari seorang lawan
yang dapat mengikatnya. Ia sempat bergeser dari satu lingkaran
pertempuran ke lingkaran pertempuran yang lain Jika ia melihat
anak-anak Lumban yang terdesak, meskipun sudah bertempur
berpasangan, maka ia berusaha untuk menolongnya. Dalam pada itu,
ketika Rahu bertempur beberapa langkah disebelahnya, Jlitheng sempat
berkata “Aku akan menyelesaikan serigala ini. Baru akan aku melihat,
apakah benar orang-orang Pusparuri itu memiliki kelebihan seperti
yang didengar oleh banyak orang” Orang berwajah panjang itu
menggeram. Dihentakkannya ilmunya untuk mengakhir i perkelahian itu
dengan, cepat. Namun ternyata lawannya memiliki bekal yang cukup
untuk melawannya. Sebenarnyalah orang-orang Pusparuri adalah
orang-orang yang garang. Meskipun Jlitheng sudah berpesan agar anak-
anak muda Lumban bertempur berpasangan, namun ternyata menghadapi
orang-orang Pusparur i, anak-anak Lumban itu merasa terlalu berat.
Pada benturan pertama anak-anak Lumban sudah terdesak. Sehingga
betapapun juga jantung mereka menjadi berdebaran. Untunglah bahwa
jumlah anak-anak Lumban cukup banyak, sehingga dalam keadaan
terdesak, maka mereka dapat bergabung dalam kelompok-kelompok kecil
yang terdiri dari tiga orang atau lebih. Meskipun demikian, namun
orang-orang Pusparuri itu merasa bahwa mereka telah mendapatkan
permainan yang mengasikkan. “Pembantaian yang menyenangkan” berkata
seorang yang berjambang panjang “kematian demi kematian akan susul
menyusul. Adalah satu kesombongan yang tidak dapat dimaafkan dari
anak-anak Lumban bahwa kalian telah ikut campur” Ternyata bahwa satu
dua orang anak muda merasa ngeri menghadapi kenyataan itu. Jika
semula hatinya membengkak karena jiwa pengabdian mereka, namun
akhirnya hati itu telah menguncup oleh kecemasan dan bahkan
ketakutan. Sekali-sekali terdengar orang-orang Pusparuri itu
tertawa. Mengumpat dan bahkan seolah-olah sedang bermain-main. Namun
dalam pada itu, ternyata bahwa di dalam lingkungan anak-anak Lumban
terdapat juga orang-orang yang mengejutkan lawan mereka. Pada ayunan
pedangnya yang pertama, Daruwerdi telah mendesak lawannya. Lawannya,
saleh seorang kepercayaan Kiai Purparuri yang mendendamnya, telah
berusaha untuk dapat berhadapan langsung dengan anak muda itu. “Kau
ternyata pembual yang paling gila, Daruwerdi” berkata Laksita.
“Persetan“ geram Daruwerdi “Aku sudah mengatakan, bahwa aku tidak
pernah terikat oleh kelompok yang manapun juga” “Kau masih juga
membual” bentak Laksita “Kau kira kami tidak tahu, apa yang telah
terjadi dengan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih? Setelah
mereka saling menghancurkan, maka kau suguhi mereka dengan kepalsuan
itu” “Mereka adalah orang-orang tamak dan bodoh” berkata Daruwerdi.
“Tetapi kau tidak dapat berbuat demikian dengan kami” berkata
Laksita “Kami akan menangkap Pangeran itu hidup- hidup. Tetapi hanya
Pangeran itu saja. Bukan kau dan bukan yang lain. Semuanya akan kami
bantai di bukit gundul ini, melengkapi kematian orang-orang Sanggar
Gading dan orang- orang Kendali Putih” Tetapi Daruwerdi menjawab
“Kau salah Laksita. Kami bukan orang yang tidak mempunyai
perhitungan” “O“ Laksita tertawa “Kau bawa anak-anak itu kemari
dengan perhitungan yang masak? Alangkah cermatnya perhitunganmu,
atau mungkin perhitungan Pangeran Sena Wasesa. Jangan menyebut kami
tidak berper i-kemanusiaan jika mereka akan menjadi bangkai di kaki
bukit ini sebagaimana tebangan batang ilalang” Daruwerdi mengerutkan
keningnya. Diluar sadarnya ia mengedarkan pandangan matanya
keseluruh medan yang sudah menjadi semakin riuh. Pedang beradu
pedang, tombak dan perisai saling berbenturan. Sebenarnyalah
anak-anak Lumban yang berhadapan dengan orang-orang Pusparuri dalam
jumlah yang cukup, memang agak mendebarkan jantung. Namun demikian,
dalam pasangan-pasangan ternyata bahwa anak-anak Lumban untuk
sementara akan dapat bertahan. “Jika kami dapat menyelesaikan
orang-orang Pusparur i ini lebih dahulu dari daya tahan anak-anak
Lumban, maka kami akan berhasil” berkata Daruwerdi di dalamhatinya
Sebenarnyalah, bahwa Daruwerdi memang pernah membunuh dua orang
Kendali Putih dalam satu perkelahian. Sementara kedua orang itu
telah mengalahkan dan bahkan membunuh salah seorang kepercayaan Kiai
Pusparuri. Berdasarkan atas perhitungan itu, maka Daruwerdi yakin,
bahwa ia akan dapat segera menyelesaikan orang Pusparuri itu. Yang
bertempur dibagian lain adalah kedua orang paman Daruwerdi. Ternyata
mereka memiliki kemampuan untuk bertempur seorang melawan seorang.
Sehingga dengan demikian, maka keduanya telah terikat dalam
pertempuran yang semakin sengit. Semi dan kawannya berusaha untuk
tidak terikat dalam satu perkelahian yang tidak memungkinkan lagi
mereka bergerak. Kedua orang itu berloncatan dari satu lingkaran
pertempuran ke lingkaran pertempuran yang lain sebagaimana dilakukan
oleh Rahu. Ternyata bahwa dengan demikian, keduanya selalu berhasil
menggagalkan setiap usaha orang- orang Pusparuri untuk mengakhir i
perlawanan anak-anak Lumban. Namun pada suatu saat Semi tidak lagi
dapat meninggalkan lawannya yang berhasil melibatnya dalam
pertempuran yang sengit Ternyata orang itu adalah kepercayaan Kiai
Pusparuri yang seorang lagi. Sentika. “Apakah kau juga anak Lumban?“
bertanya kepercayaan Kiai Pusparuri. “Ya” jawab Semi. Tetapi
kepercayaan Kiai Pusparuri itu tertawa. Katanya “Jangan menganggap
aku terlalu bodoh” “Tidak. Aku sudah tahu, bahwa pertanyaanmu itu
tidak bermakna, karena kau sudah menyimpan jawaban di dalam hatimu”
desis Semi. “Anak iblis “Orang itu mengumpat. Lalu “Siapa kau
sebenarnya“ Pertanyaan itupun tidak berarti. Aku kira kau
benar-benar tidak terlalu bodoh seperti yang kau katakan. Tetapi
dengan pertanyaan itu, ternyata kau benar-benar seorang yang bodoh”
Kemarahan telah menghentak didada kepercayaan Kiai Pusparuri itu,
sehingga iapun kemudian menyerang semakin garang. Tetapi Semi sudah
siap menghadapinya, Ia memiliki kemampuan seimbang dengan Daruwerdi.
Karena itu, maka iapun telah siap untuk melawan kepercayaan Kiai
Pusparuri. meskipun dengan demikian ia akan terikat pada satu lawan.
Namun kawan Semi masih tetap bertempur dengan caranya. Kiai
Pusparuri masih sempat memperhatikan pertempuran itu. Sambil
tersenyum ia berkata “Kau benar-benar seorang yang kejam Pangeran.
Kau libatkan anak-anak Lumban yang tidak tahu arti dari persoalan
ini” “Kau dapat berkata apa saja. Tetapi apakah kau berkata seperti
itu juga kepada dir imu sendiri? Apakah kau dapat berkata kepada
dirimu, bahwa akulah yang telah membunuh anak-anak Lumban itu?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Kenapa tidak” jawab Kiai Pusparuri
“justru kaulah yang harus menilai sikapmu itu. Kau jangan berusaha
membohongi dirimu sendir i” Pangeran Sena Wasesa tidak menyahut
lagi. Kedua orang itu sudah yakin bahwa mereka harus berjuang untuk
mempertahankan sikap masing-masing. Namun agaknya Kiai Pusparur i
terlalu yakin untuk dapat menguasai Pangeran Sena Wasesa. Ia sadar,
bahwa Pangeran Sena Wasesa adalah seorang Senopati perang. Tetapi
menurut penilaian Kiai Pusparur i, Pangeran itu adalah seorang ahli
dalam perang gelar, dalam perang menurut tata keprajuritan. Tetapi
kemampuan secara pribadi, serta ilmu kanuragan dan kesaktian, ia
merasa memiliki bekal lebih banyak. Tetapi kedua orang yang memiliki
ilmu yang mapan itu tidak dengan serta merta mengungkap segala
kemampuan dan kekuatan mereka. Bagaimanapun juga, mereka merasa
perlu untuk saling menjajagi. Langkah- langkah pertama kedua orang
itu hanyalah sekedar saling melihat, apa yang akan dilakukan oleh
masing-masing pihak. Yang mempunyai sikap yang lain lagi adalah
orang tua cacat yang menyebut dirinya Ajar Cinde Kuning. Ia berdiri
menghadapi Ki Ajar Pamotan Galih yang seolah-olah telah kehilangan
segala macam minat dan kehendak untuk berbuat sesuatu. “Kenapa kau
masih diam saja?“ bertanya Ajar Cinde Kuning. Ki Ajar Pamotan Galih
memandang Ki Ajar Cinde Kuning dengan pandangan kosong. Kemudian
katanya “Kau merasa bahwa kau memiliki kelebihan dari aku. Aku
sadar, bahwa kau tentu akan memburu aku kemari. Tetapi kau sudah
melibatkan orang-orang yang tidak tahu menahu dalam persoalan ini”
“Bukan maksudku” jawab orang cacat itu “Tetapi mereka merasa
bertanggung jawab atas peradaban yang berlaku di daerah mereka.
Mereka tidak mau melihat ketamakan, kedengkian dan apalagi tindakan
sewenang-wenang” “Siapa yang berbuat sewenang-wenang disini? Aku t
idak melihat orang-orang Pusparuri itu berbuat sesuatu atas orang-
orang Lumban. Apakah kediaman mereka itu dapat kau sebut dengan
sewenang-wenang?“ bertanya Ki Ajar Pamotan Galih “Jangan
berpura-pura tidak tahu. Bukankah mereka memburu pusaka dan harta
karun itu, sehingga mereka akan mengorbankan Pangeran Sena Wasesa
yang mereka sangka mengetahui serba sedikit tentang pusaka dan harta
karun itu? Bukankah itu suatu sikap sewenang-wenang dan tidak
berperikemanusiaan? Tetapi lebih dari itu, orang-orang Lumban merasa
wajib menghancurkan orang-orang Pusparuri sebagaimana mereka
menghancurkan orang-orang Kendali Putih dan orang-orang Sanggar
Gading, karena kelompok- kelompok itu adalah kelompok-kelompok yang
dapat menghancurkan kemanusiaan dan peradaban yang sudah dibangin di
daerah Lumban ini. Ki Ajar Pamotan Galih mengerutkan keningnya.
Dipandanginya tanah yang terhampar disekitar bukit gundul itu.
Sambil menar ik nafas dalam-dalam ia bertanya “Kenapa kau datang
kemari. Apakah kau hanya sekedar ingin memburuku, atau karena kau
juga mempunyai kepentingan - dengan bukit gundul ini” “Aku tidak
mempunyai kepentingan dengan bukit gundul ini” jawab orang cacat itu
“Jika yang kau maksud adalah pusaka dan harta benda, maka Pangeran
Sena Wasesa sudah member itahukan, bahwa sebenarnya pusaka dan harta
benda itu sudah diserahkannya ke Demak. Dan aku percaya kepada
kata-katanya itu. Karena itulah, maka kedatanganku semata- mata
karena aku ingin bertemu dengan kau. Karena aku yakin bahwa kau
berada di tempat ini” “Kenapa kau yakin akan berada disini?“
bertanya Ajar Pamotan Galih, “Hatimu sudah dirampas oleh bukit
gundul ini” jawab orang cacat itu “karena itu, dalam gairah nafsumu
yang menyala, kau terikat kepada bukit ini. Tetapi dalam keadaan
berputus- asapun kau terikat kepada bukit ini pula. Mukt i atau
mati, jiwamu kau serahkan kepada bukit gundul yang ternyata tidak
seperti yang kau duga sebelumnya” Ki Ajar Pamotan Galih menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Kau benar Ki Sanak. Mukti atau mati, aku
akan berada di bukit ini. Meskipun aku tahu, bukit ini milik
anak-anak Lumban” “Nah, bukankah kau mengakui, bahwa kehadiran anak-
anak Lumban bukan karena mereka sekedar diperalat oleh orang lain.
Tetapi mereka memang mempunyai tanggung jawab?“ desak Ki Ajar Cinde
Kuning. Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Sementara itu, orang
cacat itupun kemudian berkata lebih jauh “Ki Ajar Pamotan Galih.
Marilah kita serahkan segala persoalan antara orang-orang Lumban
yang dibantu oleh beberapa orang yang patut dipercaya itu
menyelesaikan masalah ysng mereka hadapi. Atau, mungkin kau ingin
menyebut sebaliknya. Pangeran Sena Wasesa yang dibantu oleh
orang-orang Lumban menghadapi orang-orang Pusparuri. Sementara itu
kita menyelesaikan persoalan yang kita hadapi berdua. “Persoalan
apa?“ bertanya Ki Ajar Pamotan Galih “Kau tersinggung karena aku
melarikan diri, atau karena persoalan lain? Aku yakin, bahwa kaupun
mempunyai sangkut paut dengan Pangeran Sena Wasesa, karena kau telah
berusaha membebaskannya, justru pada saat ia sudah jatuh ke
tanganku” “Aku mempunyai kepentingan denganmu” jawab orang cacat
itu. “Kau masih mendendam dan ingin membunuhku?“ bertanya Ajar
Pamotan Galih. “Jangan terlalu jauh berangan-angan” jawab orang
cacat itu “Tetapi barangkali akan mempunyai sebuah ceritera yang
menarik untuk kau dengar” Wajah kosong Ki Ajar terlempar ke arena
disekitarnya. Kemudian katanya “Kau gila. Dalam keadaan seperti ini
kau masih sempat membual?“ “Satu ceritera yang sangat penting
bagimu” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Lalu “Suatu ceritera yang akan
dapat member ikan pemecahan dan barangkali satu menyelesaian yang
baik bagi teka-teka yang selama ini kau buat diantara orang-orang
yang bertualang didunia kanuragan” Ki Ajar Pamotan Galih memandang
orang cacat itu dengan wajah yang menegang. Dengan nada datar ia
kemudian bertanya “Kau merasa dirimu dapat menguasai dunia
petualangan?“ “Setidak-tidaknya bagi dirimu sendiri. Petualanganmu
yang mendekati saat-saat keputus-asaan ini” jawab orang cacat itu.
Nampaknya Ki Ajar Pamotan Galih mulai tertarik juga kepada
keterangan orang cacat itu. Pada saat-saat ia kehilangan semua yang
pernah diimpikannya, orang yang tidak dikenalnya itu datang dengan
membawa satu masalah baru baginya. Namun sementara itu, Ki Ajar
Pamotan Galih masih sempat menebarkan pandangan matanya. Ia melihat
pertempuran menebar disekitar bukit gundul itu. Anak-anak muda
Lumban bertempur dalam pasangan-pasangan dan bergerombol dalam
beberapa lingkaran arena pertempuran. Sementara itu, beberapa orang
telah bertempur dengan sengitnya, seorang melawan seorang. Jlitheng
masih bertempur dengan orang berwajah panjang. Ternyata dengan ilmu
yang kasar dan keras, orang berwajah panjang itu memang memiliki
kelebihan dalam olah kanuragan. Tetapi untunglah, bahwa Jlitheng
dengan cepat menempatkan diri sebagai lawannya, sehingga orang itu
tidak sempat melakukan pembantaian atas anak-anak muda Lumban. Namun
dalam pada itu, Jlitheng yang bertempur dengan mapan, ternyata masih
mempunyai harapan untuk mengatasi lawannya. Selama ia berada di
bukit gundul sambil menempa diri dan bahkan pemberian pedang tipis
itu, telah membuatnya menjadi seorang anak muda yang kuat lahir dan
batin. Karena itulah, maka ketika ia bertemu dengan seorang dari
lingkungan orang-orang Pusparuri yang memiliki kelebihan dari
kawan-kawannya, ia masih sempat menahan kekerasan dan kekasarannya.
Di tempat lain, Daruwerdi harus bertempur dengan seorang dari dua
orang kepercayaan Kiai Pusparuri. Orang yang sebenarnya dengan licik
melibatkan diri dengan satu keinginan bagi kepentingan diri sendiri.
“Kau harus menebus bualanmu dengan nyawamu” berkata Laksita. Tetapi
Daruwerdi justru menyerangnya dengan semakin garang. Namun Daruwerdi
sempat juga berkata “Kalianlah yang akan ditelan oleh ketamakan
kalian. Kalian telah tertipu oleh angan-angan yang gila tentang
pusaka dan harta benda” Laksita tertawa. Katanya “Kau tidak perlu
berkata seperti itu sekarang. Kami sudah tahu semuanya dengan
gamblang. Karena itu, kami ingin menangkap Pangeran Sena Wasesa itu
hidup-hidup“ Daruwerdi tidak menjawab. Serangannya tiba-tiba menjadi
semakin deras. Datang beruntun seperti banjir bandang. Ternyata
kepercayaan Kiai Pusparuri itu bukan orang yang lebih baik dari
orang berwajah panjang dalam olah kanuragan. Agaknya Laksita
memiliki kelebihan untuk mendekatkan diri kepada Kiai Pusparuri.
Tetapi dalam olah kanuragan, ia segera merasa betapa beratnya
tekanan ilmu Daruwerdi. Yang bertempur di tempat lain adalah Semi
melawan kepercayaan Kiai Pusparuri yang lain, Sentika. Seperti
Laksita, ia mula-mula merasa memiliki kelebihan untuk melawan
orang-orang yang datang ke bukit gundul itu. Tetapi ternyata orang
yang menyebut dirinya Semi itu memiliki kemampuan yang tidak
teratasi. Namun dalam pada itu, kekasaran orang-orang Pusparuri
memang membuat anak-anak muda Lumban menjadi ngeri. Nugata yang
bertempur diantara kawan-kawannyapun merasakan betapa kawan-kawannya
dicengkam oleh perasaan cemas menghadapi lawan-lawan mereka meskipun
mereka bertempur berpasangan. Sementara sepuluh orang anak muda
terbaik di Lumban Wetanpun menjadi semakin lama semakin
berdebar-debar menghadapi kenyataan yang kurang dimengerti
sebelumnya. Apalagi kawan-kawannya yang lain. Satu dua orang, bahkan
rasa-rasanya telah menjadi berputus asa dan kehilangan keberanian
untuk berbuat sesuatu. Namun dalam keadaan yang demikian terdengar
suara Rahu diantara anak-anak muda itu “Jangan menyerah kepada cara
yang licik dan kasar, bahkan buas dan liar. Jika kalian tidak ingin
dibantai dan dicincang di bukit gundul ini. kalian harus berusaha
melindungi dir i kalian masing-masing, hanya mereka yang ingin
membunuh dir i sajalah yang kehilangan keberanian untuk melindungi
dir i masing-masing” Suara Rahu ternyata bagaikan mengumandang
memantul pada dinding-dinding bukit. Anak-anak muda Lumban yang
mulai dirayapi oleh kengerian tiba-tiba menjadi sadar, bahwa
kelemahan jiwani akan justru semakin mempercepat kehancuran mereka
sendiri. Sementara itu, di ujung lain terdengar suara kawan Semi
yang bertempur dengan garangnya “Anak-anak Lumban. Yakinlah akan dir
i kalian masing-masing, bahwa kalian mempunyai kelebihan.
Setidak-tidaknya jumlah kalian jauh lebih banyak. Yang kalian hadapi
adalah orang-orang yang hanya mampu berbuat kasar. Tetapi tidak
mampu bertempur dalam arti yang sebenarnya. Rasa-rasanya anak-anak
Lumban yang hampir menjadi kehilangan akal melihat sikap lawannya,
telah dijangkiti lagi dengan tekad yang sejak semula mendorong
mereka datang ke bukit gundul itu. Karena itu, maka perlawanan
merekapun kemudian menjadi semakin mantap. Orang-orang Pusparuri
mengumpat dengan kasarnya. Beberapa orang justru telah
berteriak-teriak mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak
pantas. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa satu dua anak-anak
muda Lumban mulai dibasahi dengan darah. Orang-orang Pusparuri itu
dengan sengaja telah menunjukkan betapa mereka dapat berbuat apa
saja tanpa batas perasaan sama sekali. Rahu menjadi cemas. Tetapi ia
harus berbuat sesuatu. Ia melihat darah mulai menitik dari tubuh
anak-anak Lumban Karena itu, ia harus membangkitkan keberanian
anak-anak itu dengan cara yang sama. Karena itu, maka tiba-tiba saja
ia telah melihat seorang pengikut Kiai Pusparur i seperti angin
pusaran. Dengan segenap kemampuan yang ada padanya ia menyerang
tanpa member i kesempatan kepada lawannya untuk mempertahankan diri.
Orang Pusparuri itu sama sekali tidak menduga, bahwa ternyata
lawannya memiliki kemampuan yang tidak terlawan. Namun tidak ada
jalan untuk menyelamatkan dir i. Senjata Rahu seakan-akan telah
memburunya kemana ia pergi. Akhirnya, anak-anak muda Lumban
mendengar orang itu mengaduh tertahan. Senjata Rahu benar-benar
telah melukainya. Menyilang didada. Orang itu terlempar beberapa
langkah surut. Kemudian terjatuh menelentang. Dengan susah payah ia
berusaha untuk bangkit, tetapi luka itu terasa terlalu pedih
sementara darah mengalir bagaikan terperas dari jantungnya. Orang
Pusparuri itu terjatuh lagi. Yang dapat dilakukannya kemudian adalah
merangkak menepi. Mengambil obat dari kantong ikat pinggangnya dan
mencoba mengurangi arus darahnya yang mengalir dari lukanya. Rahu
tidak memburunya. Ia tidak ingin membunuh orang yang sudah tidak
berdaya, karena ia harus melawan orang lain yang tiba-tiba saja
telah menyerangnya. Tetapi Rahu sudah siap. Ia ingin menunjukkan
kepada dapi lawan-lawannya. Orang-orang Pusparuri bukan hantu anak-
anak muda Lumban yang mulai merasa nger i menghadang tidak
terkalahkan. Sekali lagi Rahu menghentakkan segenap kemampuannya
yang ada padanya. Sekali lagi lawannya terlempar dengan luka
menganga di lambungnya. Anak-anak muda Lumban yang sempat melihat
kemenangan-kemenangan itupun menjadi berbesar hati. Meskipun ada
diantara mereka yang telah menitikkan darah, tetapi ternyata bahwa
orang-orang Pusparuri itupun dapat dilukai oleh salah seorang dari
lingkungannya. Dibagian lain kawan Semipun berbuat serupa. Anak-anak
muda Lumban yang menjadi cemas, bahwa Semi tidak segera dapat
mengatasi lawannya, sementara mereka menganggap bahwa Semi adalah
orang yang memiliki kelebihan jauh diatas kemampuan mereka. Namun
mereka tidak mengetahui, bahwa lawan Semi adalah salah seorang
kepercayaan Kiai Pusparuri. Sehingga dengan demikian, maka lawan
Semi itupun memiliki kelebihan dari kawan-kawan mereka. Untuk
mengatasi kegelisahan itulah, maka kawan Semipun telah bertempur
dengan segenap kemampuannya. Ketika ia berhasil melukai seorang
lawannya, maka anak-anak muda Lumbanpun mulai melihat, bahwa mereka
masih mempunyai kesempatan. Karena itu, maka anak-anak muda Lumban
yang hampir saja kehilangan keberanian mereka untuk bertempur terus,
telah bangkit kembali setelah mereka melihat, bukan saja anak-anak
Lumban yang telah terluka. Tetapi orang-orang Pusparuripun telah
meneteskan darah pula. Apalagi ketika salah seorang anak muda Lumban
yang bertempur bersama dua orang kawannya, tiba-tiba saja telah
berhasil menggoreskan senjatanya ketubuh lawan sehingga lawannya
itupun telah terluka dan tidak banyak dapat memberikan perlawanan.
Hanya karena seorang kawannya berhasil membantu dan menolongnya,
maka orang Pusparur i itu sempat melepaskan dir i dar i maut Yang
bertempur diluar kemampuan pengamatan anak-anak muda Lumban adalah
Kiai Kanthi. Kawannya ternyata juga seorang yang memiliki ilmu
kanuragan yang tinggi. Orang malas itu, dalam pertempuran yang seru
ternyata telah mampu mengejutkan Kiai Kanthi dengan kekuatannya yang
sangat besar. Ayunan senjatanya yang aneh, yang tiba-tiba saja telah
berada di dalam genggaman telah mengejutkan Kiai Kanthi.
Tongkat-tongkat baja yang tidak begitu panjang dikedua tangannya.
Semula Kiai Kanthi menduga, bahwa kedua tongkat itu dihubungkan
dengan seutas rantai Tetapi ternyata kedua tongkat itu terlepas satu
sama lain. Kiai Kanthi yang menyadari, betapa dahsyatnya kemampuan
lawannya, tidak dapat melawan dengan tangannya. Kekuatan orang itu
akan dapat menghancurkan lengannya, jika senjatanya itu mengenainya.
Karena itu, maka Kiai Kanthipun segera menarik senjatanya pula.
Senjata yang juga tidak cukup panjang dan yang selalu terselip di
bawah kain panjangnya. Dengan sebilah luwuk yang tidak terlalu
panjang Kiai Kanthi melawan sepasang tongkat baja di kedua tangan
lawannya. Namun ternyata bahwa luwuk itu di tangan Kiai Kanthi
benar- benar merupakan senjata yang sangat berbahaya. Luwuk itu
seolah-olah telah berterbangan disekitar tubuh pemalas yang memiliki
ilmu yang tinggi itu. Namun dalam pada itu, dalam pertempuran yang
semakin sengit, ternyata bahwa pemalas itu masih belum mampu
mengimbangi ilmu Kiai Kanthi ketika Kiai Kanthi sampai kepuncak
kemampuannya. Ternyata orang tua dari lereng bukit berhutan itu
benar-benar memiliki ilmu yang mengagumkan. Dalam keadaan terdesak,
pemalas itu telah menghentakkan kemampuannya. Dengan teriakan
nyaring ia berusaha untuk menyerang. Sambil memutar kedua batang
tongkatnya, maka dengan kekuatan getar suaranya ia berusaha untuk
mempengaruhi per lawanan Kiai Kanthi. Tetapi Kiai Kanthi cukup
memahami cara yang ditempuh Sawannya. Bahkan tiba-tiba saja Kiai
Kanthi itu telah tertawa. Suaranya tidak begitu keras. Tetapi
suaranya itu telah menenggelamkan teriakan-teriakan lawannya yang
menggelegar seperti guntur. Anak-anak Lumban yang mendengar teriakan
lawan Kiai Kanthi itu telah tergetar seluruh isi dada mereka.
Seolah-olah bukit gundul itupun telah terguncang. Namun dengan
benturan suara yang terjadi, maka teriakan-teriakan itu tidak lagi
mampu mengguncang jantung anak-anak muda Lumban. Suara tertawa Kiai
Kanthi yang tidak begitu keras, telah menjadi perisai dari
getaran-getaran yang terlontar dari teriakan-teriakan kasar pemalas
yang bertempur melawan Kiai Kanthi itu. Bahkan sejenak kemudian,
Kiai Kanthipun mulai dengan sungguh-sungguh menekan lawannya, ketika
ia melihat bahwa anak-anak Lumban benar-benar dalam keadaan bahaya.
Dengan sungguh-sungguh Kiai Kanthi mulai membatasi gerak lawannya.
Sebelum anak-anak Lumban benar-benar mengalami bencana, maka ia
harus sudah dapat membebaskan dir i dar i lawannya yang kasar itu.
Untunglah bahwa Rahu dan kawan Semi mampu membangkitkan gejolak
perjuangan yang semakin mantap diantara anak-anak muda Lumban. Namun
kegarangan orang- orang Pusparuripun menjadi semakin menggila.
Mereka dengan sengaja berusaha menakut-nakuti anak- anak muda
Lumban. Bagaimanapun juga, anak-anak muda itu akan ikut menentukan
akhir dari pertempuran itu. Namun dalam pada itu, Kiai Kanthi
benar-benar telah berhasil menguasai Kiai Benda, pemalas yang berada
di dalam lingkungan orang-orang Pusparuri. Sebenarnya ia memiliki
ilmu yang melampaui orang-orang kepercayaan Kiai Pusparuri, tetapi
karena sifatnya yang malas dan menurut i kehendak sendiri, maka ia
tidak banyak mendapat kesempatan. Meskipun demikian orang itu tetap
berada di lingkungan orang-orang Pusparuri, karena Kiai Pusparuri
tidak banyak menegurnya dan membiarkannya berbuat sesuka hati.
Sebenarnyalah Kiai Pusparuri berharap, aga pemalas itu segera dapat
menyelesaikan lawannya, karena Kiai Pusparuri tahu, bahwa orang itu
memiliki ilmu yang tinggi. Namun berhadapan dengan Kiai Kanthi, maka
justru pemalas itulah yang telah terdesak dan bahkan seolah-olah
telah kehilangan kesempatan untuk mempertahankan dir i. Kiai
Pusparuri sendiri yang bertempur melawan Pangeran Sena Wasesa
melihat, betapa pemalas itu selalu terdesak. Karena itu, maka dalam
keadaan yang gawat itu, ia tidak dapat membiarkan dan memanjakannya.
Dengan geram Kiai Pusparuri berteriak “He, pemalas dungu. Apa yang
kau kerjakan he? Tidur? Lawanmu, orang tua sakit-sakitan itu sudah
waktunya untuk diselesaikan” Tetapi jawab pemalas itu membuatnya
berdebar-debar “Aku tidak dapat melakukannya. Orang itu memiliki
ilmu yang tinggi. Justru akulah yang sudah terdesak sekarang ini”
“Pemalas Gila“ geram Kiai Pusparur i “Jika demikian, sebentar lagi
kau akan dibantai oleh orang tua sakit-sakitan itu” “Aku akan
melawan. Tetapi jika aku tidak mampu, apaboleh buat” jawab Kiai
Benda. Kiai Pusparuri mengumpat kasar. Tetapi sebenanrnyalah ia
melihat pemalas itu selalu terdesak. Semakin lama nampak semakin
sulit, karena sebenarnyalah Kiai Kanthi adalah seorang yang memiliki
ilmu yang sulit dicari bandingnya. Tetapi Kiai Benda ternyata tidak
semalas yang diduga dalam menghadapi kesulitan yang paling gawat. Ia
tidak segera menyerah kepada keadaan dan membiarkan dir inya digilas
oleh lawannya. Namun ia telah berjuang dengan segenap kemampuan yang
ada padanya pada tingkat ilmunya yang tertinggi. Namun bagaimanapun
juga, ia tidak dapat berbuat banyak. Luwuk di tangan Kiai Kanthi itu
telah meraba kulitnya. Betapapun ia melawan dengan tongkat bajanya,
namun luwuk itu seolah-olah memiliki ketajaman penglihatan untuk
menyusup disela-sela per lahannya. “Setan alas” geram pemalas itu.
Namun ia tidak kuasa membendung ujung senjata Kiai Kanthi. Ketika
sekali lagi ujung luwuk itu menggores kulitnya, pemalas itu
berteriak kasar sambil meloncat mundur. Tetapi Kiai Kanthi ternyata
benar-benar tidak mau melepaskannya. Dengan cepat. Kiai Kanthipun
meloncat memburu sambil menyerang. Ia tidak mau terlambat membantu
anak-anak Lumban yang mengalami kesulitan. Tidak ada jalan untuk
melepaskan diri dari libatan ilmu Kiai Kanthi. Getaran ilmu yang
dilontarkan lewat suaranya ternyata tidak dapat menahan Kiai Kanthi.
Bahkan ujung luwuk Kiai Kanthi telah menyayat kulitnya dan darahpun
mengalir dari lukanya. Hentakan-hentakan terakhir dari pemalas itu,
justru bagaikan memeras darahnya lewat luka-luka di kulitnya.
Semakin banyak darah yang mengalir, maka tubuhnyapun menjadi semakin
lemah. Sehingga karena itu, maka serangan- serangan Kiai Kanthi
berikutnya semakin banyak yang mengenainya. Kiai Kanthipun
menyadari, bahwa lawannya sudah tidak terlalu berbahaya lagi. Namun
demikian, ia tidak ingin menyesal dengan meninggalkannya, karena
iblis pemalas itu akan dapat berbuat sesuatu diluar dugaan. Karena
itulah, maka Kiai Kanthi masih meloncat menjulurkan senjatanya
ketika pemalas itu berusaha menghindar dari pertempuran. Ternyata
senjata Kiai Kanthi itu menyusup diantara tulang- tulang iganya.
Memang tidak terlalu dalam dan tidak menggapai jantung di dalam
dadanya. Tetapi luka itu membuatnya kehilangan keseimbangan.
Meskipun ia masih berusaha, tetapi akhirnya perlahan-lahan ia
benar-benar telah kehilangan keseimbangannya itu. Kiai Kanthi
tertegun sejenak. Dilihatnya orang itu terhuyung-huyung. Kemudian
jatuh terkulai dengan lemahnya. Sesasat Kiai Kanthi masih melihat
tangannya menggapai sesuatu pada ikat pinggangnya. Dengan gemetar
orang itu mengambil serbuk obat dari sebuah bumbung kecil. Dengan
sisa tenaganya ia berusaha menghamburkan obat itu pada lukanya
disela-sela tulang iga itu. Luka yang paling parah pada tubuhnya.
Kiai Kanthi membiarkannya saja. Ia tahu pasti, meskipun darahnya
kemudian menjadi pampat, tetapi orang itu tidak akan berdaya lagi.
Karena itulah, maka iapun kemudian memalingkan wajahnya.
Dipandanginya seluruh arena pertempuran. Di perhatikannya Pangeran
Sena Wasesa yang bertempur melawan Kiai Pusparuri. Keduanya memiliki
kelebihan yang menggetarkan. Namun dalam pada itu, perhatian Kiai
Kanthi lebih banyak tertarik kepada anak-anag muda Lumban yang
sedang bertempur. Karena itu, maka seolah-olah diluar sadarnya. Kiai
Kanthi telah melangkah meninggalkan pemalas yang parah itu, menuju
ke arena pertempuran anak-anak muda Lumban melawan orang-orang
Pusparuri yang garang, liar dan bahkan buas. “Hampir saja aku
terlambat” berkata Kiai Kanthi. Sementara itu, seorang anak muda
telah terlempar dari arena. Meskipun ia bertempur berpasangan, namun
ternyata keduanya tidak mampu bertahan atas kekasaran lawannya.
Sebuah golok yang besar telah melemparkan pedang anak muda Lumban.
Kemudian sebuah tusukan yang cepat telah merobek lambungnya.
Sementara kawannya berusaha untuk membantunya, golok itu telah
mengarah mendatar, sehingga ujung golok itu seolah-olah telah
menyusup disela-sela gerak senjata lawannya, mengenai perut,
meskipun tidak begitu dalam. Kiai Kanthi menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia t idak dapat hanya menonton saja. atau membiarkan mereka
bertempur sebagaimana orang-orang Pusparuri bertempur. Karena itu.
Kiai Kanthipun tidak merasa bersalah, apabila ia melibatkan dir i
diantara orang-orang Pusparuri yang mengamuk dengan liarnya.
Kehadiran Kiai Kanthi yang dengan serta merta itu, mula- mula tidak
banyak mendapat perhatian. Namun ketika satu dua orang Pusparuri
seolah-olah begitu saja terlempar dari aiena, barulah mereka
memperhatikannya. Wajah-wajah mereka menjadi tegang. Baru mereka
menyadari, bahwa orang tua itu adalah orang yang semula menempatkan
diri menjadi lawan Ki Benda, pemalas yang berilmu mumpuni itu. Dalam
pada itu. ternyata Rahupun masih bertempur dengan garangnya.
Jlitheng yang menghadapi orang berwajah panjang dan bertongkat baja
itupun ternyata telah berhasil menguasainya. Serangan-serangannya
tidak lagi mengarah ke sasaran. Jlitheng berhasil memancing orang
itu untuk mengerahkan tenaganya, sehingga pada saat-saat terakhir,
nafas orang itu hampir terputus karenanya. Meskipun demikian, dengan
hentakkan-hentakkan yang cepat, orang itu masih saja menyerang
Jlitheng dengan garangnya. Ternyata tongkat baja orang itu tidak
banyak berpengaruh atas senjata Jlitheng yang tipis. Namun Jlitheng
benar-benar menguasai ilmu pedang dengan baik, sehingga dengan
kemampuannya itu, ia justru telah mengusai permainan senjata
lawannya. Ayunan yang garang, keras dan kuat, yang langsung mengarah
ke tqngkuk Jlitheng, telah terayun dan kehilangan arah hanya oleh
sentuhan pendek dari pedang Jlitheng yang tipis. Bahkan tangan
lawannya yang terseret oleh arus pukulannya yang keras itu. telah
membuatnya kehilangan pengamatan atas gerak senjata lawannya. Yang
terdengar kemudian adalah keluhan tertahan. Pedang tipis Jlitheng
ternyata telah menyentuh lengannya. Sentuhan yang lemah itu ternyata
telah mengoyak daging lawannya sehingga sebuah luka yang dalam telah
menganga. Darah mengalir dengan derasnya dan kecemasanpun mencengkam
jantungnya. Tidak banyak kesempatan orang berwajah panjang itu.
Jlitheng yang juga melihat kesulitan anak-anak Lumban, telah
mengerahkan kecepatan dan kemampuan ilmu pedangnya untuk mengakhir i
pertempuran itu. Selagi lawannya belum menyadari sepenuhnya apa yang
terjadi, sekali lagi pedang Jlitheng mengenai tubuh lawannya. Dada
orang itu lelah tergores menyilang. Kesakitan yang sangat telah
menyengat dadanya. Dorongan sentuhan pedang itu dan usahanya untuk
menghindar namun tidak berhasil, justru telah melemparkannya jatuh
terlentang. Namun karena lukanya yang parah, maka orang itu tidak
sempat bangkii kembali. Ternyata ia hanya sempat mer intih pendek.
Kemudian iapun jatuh pingsan. Jlitheng yang terlepas dari lawannya
berwajah panjang itupun segera menempatkan dir i disamping Rahu.
Namun ketika ia melihat dibagian lain anak-anak Lumban itu mengalami
kesulitan, maka iapun telah meninggalkan Rahu yang bertempur dengan
garangnya pula. Disekitar Daruwerdi yang bertempur melawan Laksita,
kedua pamannya tengah bertempur pula. Sementara Semi masih terlibat
dalam pertempuran melawan Sentika. Namun kawan Semi itu sempat
berada diantara anak-anak muda Lumban yang mengalami kesulitan.
Kehadiran Jlitheng telah membantu anak-anak muda Lumban. Dengan
pedang tipisnya anak-anak muda itu melon- cat dari seorang lawan ke
lawan yang lain untuk mengurangi tekanan mereka terhadap anak-anak
muda Lumban. Namun dibagian lain, orang-orang Pusparuri itu
seolah-olah telah susut dengan cepatnya. Anak-anak muda Lumban yang
hampir kehilangan kesempatan mulai bangkit dan bertempur dengan
berani “Kiai Kanthi” desis Jlitheng. Agaknya orang tua itu
benar-benar ingin membantu dan melindungi anak-anak muda Lumban.
Meskipun sebenarnyalah jika pada permulaan pertempuran itu anak-anak
muda Lumban tidak ikut serta, maka orang-orang berilmu itupun tidak
mampu bertahan terhadap orang-orang Pusparuri yang jumlahnya jauh
lebih banyak, namun yang ternyata kemudian harus turun melawan
anak-anak muda Lumban yang jumlahnya masih lebih banyak lagi dari
jumlah mereka. Dengan demikian, maka keseimbangan pertempuran itupun
dengan cepat telah berubah. Orang-orang Pusparuri mulai menjadi
cemas. Meskipun mereka berhasil melukai banyak anak-anak Lumban,
tetapi pada saat-saat terakhir, orang- orang Pusparurilah yang telah
terlempar dar i arena dan jatuh terbanting di tanah dengan darah
yang mencucur dari luka. Kiai Kanthi, Jlitheng, Rahu dan kawan Semi
benar-benar telah merubah keadaan. Kiai Pusparuri melihat keadaan
yang sulit itu. Dengan hentakk n entakkan ilmunya ia berusaha untuk
mempercepat tugasnya, menguasai Pangeran Sena Wasesa. Namun
sebagaimana dikehendaki, bahwa Kiai Pusparuri ingin menangkap
Pangeran itu hidup-hidup. Ternyata bahwa Kiai Pusparur i memang
seorang yang pilih tanding. Ia memiliki kelebihan ilmu dari Pangeran
Sena Wasesa. Namun justru kegelisahannya yang membuatnya
kadang-kadang kehilangan kesempatan. Justru karena itulah, maka
seolah-olah Pangeran Sena Wasesalah yang berhasil mendesaknya.
Pangeran itu sama sekali tidak perlu berusaha untuk tidak melukai,
apalagi tidak membunuh lawannya. Pangeran Sena Wasesa yang
mempergunakan senjata khususnya ditelapak tangan kirinya, ternyata
mempunyai pengaruh yang besar pada usaha Kiai Pusparuri untuk dapat
menangkapnya hidup-hidup. Sementara itu, orang-orang Pusparuri
benar-benar mengalami kesulitan yang mendesak. Nampaknya Semi telah
menjadi mapan dan berhasil mengimbangi ilmu lawannya. Daru-werdipun
mampu bertahan dalam tataran ilmu yang setingkat. Sementara
Jlitheng, Rahu dan Kiai Kanthi dengan pasti telah mengurangi jumlah
lawan seorang demi seorang sehingga akhirnya orang-orang Pusparuri
itupun tidak lagi melihat kemungkinan untuk dapat berhasil. Kiai
Pusparur i menggeram dengan marah. Sementara Pangeran Sena Wasesa
sempal berkata “Perhatikan orang- orangmu Kiai. Apakah kau masih
berkeras dengan niatmu” Kiai Pusparuri tidak menjawab. Tetapi ia
benar-benar merasa salah hitung alas lawannya. Apalagi ketika ia
melihat, bahwa orang-orangnya benar-benar mengalami kesulitan.
Ternyata diantara anak-anak muda Lumban memang terdapat orang-orang
yang memiliki ilmu yang melampaui rata-rata kemampuan
orang-orangnya. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang itu telah
mampu membuat lubang-lubang pada perlawanan orang-orang Pusparur i.
Namun dalam pada itu. Kiai Pusparur i itu masih melihat Ki Ajar
Pamotan Galih masih belum mulai bertempur. Karena itu. maka iapun
berteriak kasar “He, Ajar Pamotan Galih. Apa yang sebenarnya ingin
kau lakukan disini” Ajar Pamotan Galih sama sekali tidak menjawab.
Bahkan suara itu seolah-olah tidak didengarnya sama sekali. Yang
terdengar pada telinga hatinya, adalah jerit yang memekik dari dasar
hatinya. Dalam pada itu, Jlitheng yang tidak melihat bahaya yang
rawat mengancam anak-anak Lumban setelah beberapa orang Fusparuri
dilumpuhkan, apalagi sejak Kiai Kanthi berada diantara anak-anak
muda itu pula, telah sempat melihat apa yang terjadi dengan Ki Ajar
Pamotan Galih dan Orang cacat yang menyiapkan dir i menjadi
lawannya. Namun yang dilihatnya adalah sesuatu yang sama sekari
diluar dugaannya. Kedua orang itu tidak mengulangi pertempuran yang
pernah terjadi. Tetapi hampir tidak percaya kepada penglihatannya,
Jlitheng menyaksikan Ki Ajar Pamotan Galih mengusap matanya.
Jlitheng yang melangkah mendekat dengan ragu-ragu melihat, Ki Ajar
Pamotan Galih itupun kemudian duduk diatas sebuah batu padas
memandang kekejauhan, sementara orang cacat yang menyebut dirinya
sebagai Ki Ajar Cinde Kuning itu berdiri di sisinya “Apa yang
terjadi Kiai?“ bertanya Jlitheng. Ki Ajar Pamotan Galih berpaling.
Dipandanginya Jlitheng sesaat Tetapi ia tdiak menjawab. Sementara
itu Ki Ajar Cinde Kuning berkata “Kau sudah mengetahui hubungan
kami. Aku sudah mengatakannya” “Apakah Ki Ajar Pamotan Galih
mengakuinya?“ bertanya Jlitheng. Sekali lagi Ki Ajar itu berpaling
Dan Jlitheng menjadi semakin jelas melihat mata orang tua itu
menjadi basah. Sesuatu yang aneh bagi Jlitheng Ki Ajar Pamotan Galih
i tialah orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Ia memiliki
kelebihan atas Pangeran Sena Wasesa. Bahkan ia adalah orang yang
pernah hidup dalam lingkungan orang- orang kasar dan liar. Namun
orang yang demikian itu masih dapat juga membasahi pelupuknya dengan
air mata. “Pamotan Galih” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Kini
segalanya telah berakhir. Permainan yang tidak menarik sama sekali
ini sudah dapat diakhir i. Kau sudah melihat wajahmu sendiri pada
dataran air yang bening dan diam. Kau lihat cacat dan celanya. Kau
lihat noda dan belangnya” Ki Ajar Pamotan Galih menarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata “Aku sudah mengaku
segalanya. Aku memang harus bertanggung jawab atas segala peristiwa
yang terjadi di bukit gundul ini. Pembantaian yang terjadi antara
orang-orang Sanggar Gading dan orang-orang Kendali? Putih. Kemudian
apa yang kita saksikan sekarang adalah akibat kesalahanku. Aku tidak
ingkar, dan aku akan menanggung segala hukumannya” “Hukuman apa yang
pantas diberikan kepada yang berbuat kesalahan seperti yang kau
lakukan?“nya Ki Ajar Cinde Kuning. “Aku tidak tahu” jawab Ki Ajar
Pamotan Ga eku akan menyerah hukuman apa saja yang akan diberikan
kepadaku. Aku tidak akan ingkar seandainya aku akan di hukum picis
sekalipun” “Pamotan Galih” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Sebenarnya
tidak ada hukuman yang berarti jika hukuman itu tidak dapat
menumbuhkan satu kesadaran untuk mengakui kesalahan dan berjanji di
dalam dir i sendiri untuk tidak melakukannya lagi” Ki Ajar Pamotan
Galih menar ik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang pertempuran
itu. maka ia melihat orang orang Pusparuri menjadi semakin susut.
Beberapa orang yang masih bertahan harus menghadapi lawan yang
jumlahnya semakin banyak Sementara itu Kiai Pusparur i ternyata
tidak semudah yang diduganya untuk menguasai Pangeran Sena VVasesa.
Apalagi ketika ia melihat Ajar Pamotan Galih justru duduk diatas
batu padas, maka darahnya bagaikan mendidih di jantungnya. Tetapi
dari lingkaran pertempurannya, Kiai Pusparuri tidak melihat bahwa
mata Ki Ajar Pamotan Galih lelah basah. Ternyata Ki Ajar Cinde
Kuning sempat member ikan bayangan pada angan-angan Ajar Pamotan
Galih, hasil dari segala perbuatannya, termasuk dir i Ajar Cinde
Kuning itu sendiri. “Kau adalah saudara bukan saja sekandung, tetapi
kau adalah saudara kembar” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Tetapi mata
hatimu telah tersumbat oleh keinginan duniawi sehingga kau telah
melupakan yang justru lebih penting dar i segalanya, hidupmu dialam
langgeng” Ki Ajar Pamotan Galih masih memandang keadaan
disekitarnya. Namun lambat laun, kepalanya telah tertunduk. Sekali
lagi ia mengusap matanya yang menjadi basah. Pada tanah padas di
bawah kakinya, seolah-olah ia telah melihat tingkah lakunya pada
masa yang lalu. Puncak dari kebengisannya adalah usaha pembunuhan
atas saudara kembarnya sendiri. Tetapi ternyata orang yang
disangkanya mati itu masih sempat menolong dir inya sendiri meskipun
ia kemudian menjadi cacat dan wajahnya seakan-akan telah berubah
dari ujudnya yang semula. Tidak seorangpun akan dapat mengenainya
lagi sebagai Ajar Cinde Kuning selain diri orang itu sendir i. Dan
orang itu telah datang kepadanya, member ikan gambaran yang
seolah-olah justru peristiwa itu sendiri telah terulang kembali.
Bahkan, Ki Ajar Cinde Kuning bukan saja membangunkan ingatannya,
bagaimana ia dengan curang membunuh saudara kembarnya, tetapi yang
lebih pedih dihatinya, adalah justru Ki Ajar Cinde Kuning mampu
membangunkan kembali ingatannya pada masa kanak-kanak mereka. Pada
masa mereka berdua bermain bersama. Bergurau dengan riang bersama
ayah dan bundanya. Kemudian tumbuh menjadi remaja yang nampak
memiliki kelebihan dari kawan-kawannya justru karena kesempatan bagi
mereka berdua untuk membangun diri mereka. Ki Ajar Pamotan Galihpun
seolah-olah melihat kembali, bagaimana mula-mula mereka menempuh
jalan yang keluar dari garis kebenaran. Bagaimana mereka kemudian
digelut oleh jalan kehidupan yang hitam. Tetapi ternyata Ajar Cinde
Kuning berhasil melepaskan dirinya dari gelapnya jalan kehidupan.
Berbeda dengan dirinya sendiri yang justru terbenam semakin dalam,
sehingga sulit baginya untuk melepaskan diri sebagaimana ditempuh
oleh saudara kembarnya. Dan akhirnya ia sampai pada puncak kejahatan
seorang yang paling jahat. Ia sampai hati membinasakan saudara
sendiri. Ki Ajar Pamotan Galih terkejut ketika ia mendengar Kiai
Pusparuri berteriak keras sekali “Pamotan Galih Kenapa kau tidak
membunuh dir imu saja agar tidak menyakiti mataku. Pemalas yang
bodoh itu bertempur sampai batas kesetiaannya kepada cita-citanya.
Apa yang kau lakukan disini he?“ Ki Ajar Pamotan Galih t idak
mendengarkannya. Sekali lagi ia menundukkan kepalanya. “Kau mulai
melihat cahaya di dalam hatimu“ berkala Ki Ajar Cinde Kuning “Tidak
terlambat bagimu untuk membersihkan noda-moda yang melekat pada
dirimu” Tetapi Ki Ajar Pamotan Galih menggeleng lemah. Katanya
“Tanganku telah aku kotori dengan darah saudara kandungku, bahkan
saudara kembarku. Tidak ada air yang dapat membersihkannya lagi”
“Tentu ada” jawab Ki Ajar Cinde Kuning “air dar i pelupuk matamu
akan membersihkannya Bukan saja noda tanganmu yang kau kotori dengan
darah saudaramu, tetapi noda dihatimupun akan terhapus karenanya.
Titik air di pelupuk matamu adalah pertanda penyesalanmu yang paling
dalam, karena aku tahu, bahwa kau tidak akan menit ikkan air mata
jika kau tidak merasa betapa pedihnya luka dihati. Kau adalah
seorang laki-laki. Karena itu, titik air pelupuk matamu adalah
nilai-nilai dar i penyesalanmu” “Apakah itu sudah cukup?“ bertanya
Pamotan Galih. “Tidak ada yang lebih berharga selain penyesalan yang
mendalam sampai ke pusat jantung bagi seorang yang paling kotor di
muka bumi” jawab Ki Ajar Cinde Kuning “karena itu, maka penyesalanmu
itu akan mencuci segala kekotoran di dalam dirimu lahir dan batin,
asal penyesalanmu itu benar- benar kau persembahkan kepada Yang Maha
Kuasa. Yang menciptakan segala yang ada. Yang mengurniakan akal dan
budi serta memberikan kebebasan memilih jalan hidup masing-masing
bagi ciptaanya yang paling disayanginya, yang disebut manusia. Namun
yang justru paling menentang kehendaknya dan menyakit i hatiNya” Ki
Ajar Pamotan Galih sama sekali tidak menjawab. Kepalanya menjadi
semakin tunduk. Dan seolah-olah ia menjadi semakin mengenal diri
sendir i, semakin melihat cacat dan nodanya. Tetapi Ki Ajar Pamotan
Galih sudah bertekad untuk t idak melarikan diri dari kenyataan yang
dihadapinya. Ia akan mempertanggung jawabkannya. Dan pertanggungan
jawab yang paling berat, sebagaimana ditunjukkan oleh saudara
kembarnya itupun akan dilakukannya. Menyesal sampai ke dasar hati.
Mengakui segala kesalahan dan mohon pengampunan kepada Yang Maha
Penyayang. Dalam pada itu, Jlitheng yang menyaksikan pembicaraan
antara kedua orang saudara kembar, namun yang wajahnya sama sekali
sudah tidak serupa lagi itu, merasa betapa dadanya menjadi
berdentangan. Seolah-olah ia ikut merasakan penyesalan yang paling
dalam dihati Ajar Pamotan Galih itu. Namun demikian ia sempat
mendengar Kiai Pusparuri mengumpat-umpat sambil bertempur
mengerahkan segenap kekuatannya. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa
orang-orang Pusparuri sudah tidak lagi mempunyai kemungkinan apapun
juga untuk memenangkan pertempuran itu. Betapa liarnya orang-orang
Pusparuri, namun menghadapi jumlah yang banyak serta beberapa orang
yang memiliki kelebihan dari mereka, ternyata bahwa akhirnya
orang-orang Pusparuri itu benar-benar dapat dilumpuhkan. Sementara
itu, Kiai Pusparur i sendiri masih bertempur dengan dahsyatnya. Ia
mampu mengerahkan ilmu puncaknya yang melampaui kemampuan daya tahan
Pangeran Sena Wasesa. Apalagi luka Pangeran Sena Wasesa yang
nampaknya sudah sembuh, dalam pertempuran yang dahsyat itu, terasa
menjadi sakit Meskipun demikian, Pangeran itu tetap bertahan dengan
sekuat tenaganya. Sekali-sekali ia masih juga mampu mendesak
lawannya, namun pada kesempatan lain, Pangeran Sena Wasesa harus
meloncat surut sejauh-jauhnya. Tetapi dalam pada itu. Kiai Pusparuri
menjadi sangat gelisah, ketika dilihatnya Kiai Kanthi berdiri
beberapa langkah dari arena pertempurannya melawan Pangeran Sena
Wasesa. Bahkan kemudian Rahu. Semi dan kawannya telah mendekatinya
pula. Ternyata mereka telah menyelesaikan kewajiban mereka.
Lawan-lawan mereka telah mereka lumpuhkan sehingga mereka tidak lagi
terikat dalam pertempuran. “Orang-orang Pusparuri telah
diselesaikan” desis Kiai Kanthi “Yang tersisa sudah menyerah kepada
anak-anak muda Lumban“ Kiai Pusparur i menggeram. Namun ia memang
melihat kenyataan itu. Namun dalam pada itu, berbeda dengan Semi
yang berhasil melumpuhkan lawannya, ternyata bahwa Daruwerdi tidak
sempat berbuat seperti Semi. Kepercayaan Kiai Pusparuri yang
bertempur melawannya itu, ternyata telah berhasil melarikan diri. Ia
menyusup diantara anak-anak Lumban yang sibuk mengurusi orang-orang
Pusparuri yang menyerah. Kemudian dengan cepatnya Laksita itu
berlari ke balik bebatuan dan gerumbul-gerumbul perdu di bawah kaki
bukit gundul. Meskipun Daruwerdi berusaha untuk mengejarnya, tetapi
ternyata bahwa Laksita mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri
dari tangan Daruwerdi. Akhirnya Daruwerdi memutuskan untuk t idak
mengejar lawannya. Daruwerdi merasa bahwa ia tidak akan dapat
menangkapnya, karena lawannya mendapat kesempatan lebih baik dari
padanya. Apalagi bebatuan dan gumpalan-gumpalan padas di bawah bukit
gundul itu kadang-kadang menghalangi penglihatannya dan menjadi
tempat lawannya menghilangkan jejak. “Biar lah ia hidup” berkata
Daruwerdi “Tetapi pada satu kesempatan, ia akan mengalami nasib yang
sama seperti kawan-kawannya. Apalagi orang itu tidak akan dapat
berbuat apa-apa tanpa Kiai Pusparur i” Karena itulah, maka
Daruwerdipun segera melangkah kembali. Ia melihat beberapa orang
anak muda Lumban mengikut inya. Mereka bermaksud membantu Daruwerdi
mengejar orang yang melarikan diri itu. Tetapi dalam pada itu
Daruwerdi berkata “Kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa. Orang
itu memiliki ilmu yang tinggi, sehingga berpengaruh atas
kemampuannya.melar ikan dir i” Anak-anak muda Lumban itupun hanya
dapat mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa- apa.
Dalam sekejap, orang yang dikejar Daruwerdi itu seolah- olah memang
sudah hilang. Karena itu, maka merekapun segera kembali ke arena.
Namun rasa-rasanya medan itu telah menjadi sepi. Yang nampak sibuk
kemudian adalah anak-anak muda Lumban membantu tabib yang semula
berada di antara orang-orang Sanggar Gading, namun yang kemudian
menyadari, bahwa tempat itu bukanlah tempatnya yang sebenarnya Namun
akhirnya Daruwerdipun melihat sebuah lingkaran pertempuran yang
dikerumuni oleh beberapa orang. Ternyata Pangeran Sena Wasesa masih
bertempur melawan Kiai Purparuri. Pertempuran yang sebenarnya
mencemaskan, karena ternyata bahwa kemampuan Kiai Pusparuri memang
selapis lebih t inggi dari Pangeran Sena Wasesa. Hanya dalam keadaan
yang khusus sajalah Pangeran Sena Wasesa, yang sudah dapat disebut
seseorang yang memiliki ilmu yang mumpuni itu, dapat menang atas
lawannya. Kiai Kanthi yang berdir i dekat dengan arena itu menjadi
sangat gelisah. Sementara itu, yang lainpun berdiri termangu- mangu
dengan hati yang berdebar-debar. Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde
Kuning yang sudah meyakini bahwa saudara kembarnya itu sempat
merenungi dirinya dan keadaannya, kemudian berkata “Baiklah Pamotan
Galih. Cobalah kau renungi dir imu sendir i. Memang tidak ada batas
keterlambatan untuk mengakui segala kesalahan dan pertaubatan selagi
nafas kita masih mengalir. Karena itu, lakukanlah. Sementara ini aku
akan bertemu dengan Kiai Pusparuri yang masih bertempur dengan
Pangeran Sena Wasesa. Nampaknya ada sesuatu yang harus
dipertimbangkan. Ki Ajar Pamotan Galih tidak menjawab. Kepalanya
masih saja tunduk dalam-dalam. Namun terasa ia memang sedang
merenungi dir inya sendiri. Ia sedang memandang jauh kedalamdasar
jantungnya dan menghunjam ke hatinya. Sementara itu, Ki Ajar Cinde
Kuningpun kemudian melangkah meninggalkan saudara kembarnya
mendekati arena pertempuran itu. Jlitheng masih berdiri
termangu-mangu. Memang ada kecurigaan bahwa Ki Ajar Pamotan Galih
itu akan berbuat sesuatu. Namun dalam keragu-raguan itu ia justru
berdir i saja seperti orang yang sedang kebingungan. “Anak muda”
tiba-tiba terdengar suara Ki Ajar Pamotan Galih. Jlitheng memandang
Ajar Pamotan Galih yang masih tertunduk diam, namun bibirnyalah yang
bergerak. “Kemarilah” desis Ki Ajar itu kemudian. Jlitheng masih
bertempur dengan orang berwajah panjang. Ternyata dengan ilmu yang
kasar dan keras, orang berwajah panjang itu memang memiliki
kelebihan dalam olah kanuragan. Tetapi untunglah, bahwa Jlitheng
dengan cepat menempatkan diri sebagai lawannya, sehingga orang itu
tidak sempat melakukan pembantaian atas anak-anak muda Lumban.
Jlitheng ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia melangkah maju
mendekat meskipun ia harus berhati-hati. “Anak muda. Orang itu
adalah saudara kembarku. Karena itu, ia bersikap baik terhadapku. Ia
berusaha untuk menenangkan hatiku yang serasa terbakar oleh gejolak
penyesalan yang tidak kunjung ada habisnya” Ki Ajar Pamotan Galih
berhenti sejenak, lalu “Tetapi kau adalah orang lain bagiku. Mungkin
kau membeciku. Tetapi mungkin kau menaruh belas kasihan. Tetapi coba
katakan dengan jujur, seperti sikapmu yang jujur pada saat kau
berada di padepokanku. Tanpa mengenal takut kau katakan apa yang
ingin kau katakan” “Apa maksudmu Ki Ajar?“ bertanya Jlitheng.
“Katakan dengan jujur. Apakah orang seperti aku ini masih pantas
untuk hidup? Apakah orang seperti aku ini masih pantas untuk mohon
pengampunan kepada Yang Maha Kuasa?“ bertanya orang tua itu.
Jlitheng menjadi bingung sesaat Tetapi hampir diluar sadarnya ia
menjawab menirukan jawaban Ki Ajar Cinde Kuning sebelumnya “Tentu Ki
Ajar. Tidak ada batas keterlambatan, selama nafas masih mengalir
dari dalam dada kita” Ki Ajar itu menar ik nafas dalam-dalam.
Katanya “Terima kasih. Aku percaya kepadamu” Jlitheng masih
termangu-mangu. Namun kemudian Ki Ajar itu berkata “Tinggalkan aku.
Aku sudah puas mendengar jawabanmu. Aku akan berusaha melakukannya
seperti yang dinasehatkan oleh saudara kembarku itu” Jlitheng
mengangguk-angguk. Ketika Ki Ajar itu mengangkat wajahnya, seperti
sudah dilihatnya, matanya menjadi basah. Jlithengpun kemudian
beringsut menjauhinya. Ketika ia berpaling, dilihatnya lingkaran
pertempuran yang masih belum terselesaikan. Karena itu, maka iapun
kemudian melangkah meninggalkan Ki Ajar Pamotan Galih menuju ke
arena pertempuran yang dahsyat itu. Pangeran Sena Wasesa memang
menjadi semakin terdesak. Sementara itu Kiai Kanthi berdiri dekat di
batas arena. Bahkan kemudian orang cacat yang bernama Ki Ajar Cinde
Kuning itupun telah berada di lingkaran pertempuran itu pula. Ki
Ajar itu mengangguk-angguk, lapun melihat, bahwa sulit sekali bagi
Pangeran Sena Wasesa untuk memenangkan perang tanding melawan Kiai
Pusparuri itu. Dalam pada itu Rahupun berkata lantang “Kiai
Pusparuri. Kau sudah tidak mempunyai kesempatan apapun juga.
Menyerahlah” “Persetan“ geramnya “Aku akan membunuh Pangeran ini.
Aku menganggap bahwa ia sudah tidak berguna lagi. Akupun tidak lagi
menginginkan pusaka dan harta benda itu. Aku hanya ingin
membunuhnya” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Pada wajah Kiai
Pusparuri memang sudah tidak nampak lagi nafsunya untuk mendapatkan
pangkat, derajad dan semat. Yang memancar pada sorot matanya adalah
dendam semata-mata. Kegagalannya mendapatkan pusaka dan kegagalannya
dalam usahanya yang terakhir itu telah membuatnya menjadi kehilangan
keseimbangan berpikir. Dengan demikian maka yang dilakukannya
kemudian t idak lebih dari satu tindakan dalam keputus-asaan. Namun
demikian, tidak dapat diingkari, bahwa Kiai Pusparuri memang
mempunyai kelebihan dari Pangeran Sena Wasesa. Karena itu, maka
dalam puncak ilmunya dilambari dengan pertimbangan yang tidak mapan
lagi, maka Kiai Pusparuri memang sangat berbahaya bagi Pangeran Sena
Wasesa. Sementara itu, selagi orang-orang di bukit gundul itu
memperhatikan dengan tegang, pertempuran antara Kiai Pusparuri
dengan Pangeran Sena Wasesa, maka salah seorang kepercayaan Kiai
Pusparur i yang terlepas dari tangan Daruwerdi tengah berhenti
sejenak di sebuah pategalan. Nafasnya terasa memburu dikerongkongan
setelah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk melepaskan dir i dari
tangan Daruwerdi. Ia termasuk satu diantara kawan- kawannya yang
sedikit sekali mendapat kesempatan untuk melepaskan dir i dari
tangan lawannya. Jika ada satu dua orang yang lain, yang dapat
melarikan diri dari anak-anak muda Lumban, namun mereka telah ber
lari bercerai berai mencari jalan hidup masing-masing. Laksita yang
terengah-engah itu berdiri bersandar sebatang pohon di pategalan
yang sepi. Pandangan matanya menyapu dedaunan yang kekuning-kuningan
disekitarnya. Tanah yang gersang dan pepohonan yang seolah-olah
kehausan. Betapa sakit hati kepercayaan Kiai Pusparur i yang
ternyata tidak mampu mengimbangi kemampuan Daruwerdi, sehingga
melarikan dir i dari arena. Namun tiba-tiba terbersit satu pikiran
yang mula-mula asing bagi kepercayaan Kiai Pusparur i itu. Tetapi
semakin lama pikiran itu nampaknya menjadi semakin jelas. Tiba-tiba
orang itu menggertakkan giginya. Katanya di dalam hati “Persetan
dengan bukit gundul. Aku kira pusaka itu tentu sudah disembunyikan
oleh Daruwerdi di pondokannya. Ia sengaja menipu Kiai Pusparuri. Ia
ingin memanfaatkan siapapun juga untuk menangkap Pangeran itu.
Kepada orang yang berhasil menangkap itu telah disediakannya barang
palsu seperti yang dijanjikannya. Dengan demikian, ia akan dapat
melepaskan dendamnya yang agaknya telah disimpannya untuk waktu yang
lama kepada Pangeran itu. Memang mungkin, Pangeran itulah sebenarnya
sumber keterangan tentang pusaka yang sedang diperebutkan. Tetapi
mungkin karena dendam yang menyala dihati Daruwerdi. Sementara itu
pusaka itu sendiri telah disimpannya baik-baik di dalam rumahnya.
Atau kalau tidak, rumah itu harus dijadikan debu” Karena itulah,
maka Laksita itupun telah berniat untuk singgah di rumah Daruwerdi,
karena ia menyangka pusaka itu sudah berada di sana. Sejenak orang
itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeram “Aku akan melihat,
apakah iblis kecil itu dapat menyembunyikan kelicikannya terhadap
Laksita” Dengan demikian maka akhirnya Laksita itupun telah
meninggalkan pategalan itu dengan tergesa-gesa menuju ke padukuhan
Lumban. Ia ternyata masih meragukan kesimpulan Kiai Pusparuri dan
keterangan dari Pangeran Sena Wasesa sendiri, bahwa ia adalah
satu-satu orang yang mengetahui tentang pusaka itu dan mengakui
telah menyerahkan segalanya kepada Sultan Demak. Dipengaruhi oleh
kekalutan hatinya atas kekalahan orang- orang Pusparuri, serta
dendam yang menghentak-hentak dadanya karena beberapa orang kawannya
telah menjadi korban terbunuh, luka-luka parah atau tertangkap, maka
Laksita itupun dengan wajah yang menyala memasuki padukuhan Lamban.
Ketika di mulut lorong, ia bertemu dengan beberapa orang anak muda
Lumban, yang justru adalah Lumban Wetan, maka dengan garangnya ia
membentak “Tunjukkan rumah Daruwerdi” Anak-anak muda yang jumlahnya
sedikit yang mendapat tugas untuk menjaga padukuhan itu berusaha
untuk menghentikannya di gardu, karena menilik sikap dan tingkah
lakunya, Laksita pantas dicurigai Tetapi ternyata sikap anak-anak
Lumban itu membuatnya semakin marah. Ketika anak-anak itu memaksanya
untuk masuk ke dalam gardu, maka tidak ada lagi yang dapat
mengekangnya. Dalam waktu yang sekejap, beberapa dari anak-anak muda
Lumban itu telah terlempar jatuh. Bahkan satuf dua orang menjadi
pingsan karenanya. “Anak-anak Gila“ Laksita yang menjadi liar itu
berteriak “kawan-kawanmu telah dibantai di bukit gundul“ Tidak
seorangpun yang masih berani berbuat sesuatu. Karena itu, merekapun
tidak dapat berbuat apa-apa ketika Laksita itupun kemudian berlari
menyusuri jalan pedukuhan, setelah ia menghentakkan kentongan yang
ada di gardu itu dan memecahnya dengan menghantamkan kentongan dari
bambu petung itu ke sebatang pohon kelapa. “Kita lapor ke banjar”
desis salah seorang anak muda itu. “Ia menuju ke arah banjar” desis
yang lain. “Marilah. Seandainya ia tidak memasuki banjar, kita akan
melapor. Sementara kawan yang lain biarlah merawat kawan- kawan kita
yang pingsan atau terluka. Bagaimanapun juga, kita harus berusaha
mengatasinya. Ia hanya seorang diri” berkata salah seorang dari anak
muda itu. Dua diantara anak-anak muda itupun kemudian berlari- lari
ke banjar. Mereka mengambil jalan memintas, meloncati pagar-pagar
halaman dan melintasi kebun-kebun. Namun ternyata bahwa orang yang
mengerikan itu mampu berlari cepat. Ketika anak-anak muda itu muncul
disebe-lah banjar, orang yang mereka ikuti itu telah berdir i
termangu- mangu di muka regol banjar, sehingga menar ik perhatian
beberapa anak muda yang bertugas di banjar. Karena itulah, maka dua
orang anak muda yang bertugas di banjar itupun kemudian
mendekatinya. Dengan curiga salah seorang dari mereka bertanya
“Siapakah yang kau cari Ki Sanak?“ Laksita memandang kedua orang
anak muda itu sorot mata yang mendebarkan. Apalagi kemudian ia
menggeram “Tunjukkan kepadaku, dimana rumah Daruwerdi” Kedua orang
anak muda itu menjadi semakin curiga. Salah seorang kemudian
bertanya “Apa keperluanmu dengan Daruwerdi?“ “Persetan. Dimana rumah
Daruwerdi?“ bentak orang itu. Kedua orang anak muda itu menjadi
semakin cur iga. Justru karena itu, maka salah seorang diantaranya
menjawab “Katakan, apa keperluanmu” “Jawab, atau aku remukkan
kepalamu” bentak orang itu. Kedua anak muda itupun segera melihat,
bahwa orang itu tentu orang yang berbahaya. Merekapun kemudian
menduga, bahwa orang itu tentu salah seorang dari mereka yang berada
di bukit gundul. Namun dalam pada itu, dua orang yang semula berada
di gardu tidak sampai hati membiarkan kedua orang kawannya itu
mengalami cidera. Karena itu, maka katanya tiba-tiba sambil meloncat
dari balik dinding “hati-hatilah. Ia sangat berbahaya” Orang itu
berpaling. Dilihatnya dua orang anak muda yang semula berada di
gardu. Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu. Bahkan ia masih
bertanya “Tunjukkan rumah Daruwerdi. Atau kalian ingin mati disini?“
“Hati-hati“ sekali lagi anak muda yang datang dari gardu itu
berkata. Beberapa orang yang berada di halaman agaknya tertarik
mendengar keributan itu. Beberapa orang telah keluar dari halaman.
Namun sekali lagi anak-anak muda yang datang dari gardu itu
memperingatkan “Orang itu sangat berbahaya” “Nah, kau dengar“ Orang
itu justru menyahut “Aku sangat berbahaya. Karena itu, tujukkan
saja, dimana rumah Daruwerdi” Beberapa orang anak mudapun segera
memencar dan berusaha untuk mengepungnya. Namun dengan demikian
mereka telah membuat Laksita yang hampir gila itu menjadi semakin
marah. “Aku bertanya, dimana rumah Daruwerdi. Apakah yang akan
kalian lakukan? Bunuh dir i?“ bentak Laksita. Anak-anak muda itu t
idak menjawab. Namun mereka telah menjadi semakin ketat menggepung
orang itu. Laksita yang marah itu tidak berpikir lebih panjang lagi.
Tiba-tiba saja ia telah menyerang anak-anak muda itu. Yang terjadi
memang tidak terduga. Anak-anak itu tidak sempat berbuat banyak.
Mereka segera terlempar dari lingkaran yang mengitari orang yang
bernama Laksita itu. Dengan kemarahan yang meluap, Laksita justru
memasuki regol banjar itu. Beberapa anak muda yang sempat bangkit
menjadi berdebar-debar. Bagaimanapun juga, mereka tidak dapat
membiarkan orang itu berbuat sesuka hatinya. Dua orang yang datang
dari gerdu itupun kemudian bergabung dengan kawan-kawannya. Namun
sebenarnyalah mereka tidak banyak dapat berbuat. Kawan-kawan mereka
yang memiliki kemampuan lebih baik telah pergi ke bukit gundul.
Meskipun demikian, anak-anak muda itupun kemudian mengikut i Laksita
yang memasuki regol. Bahkan nampaknya ia menjadi semakin liar.
Dengan mata yang menyala, disapunya segenap halaman itu dengan
pandangannya. Ketika tiba-tiba ia melihat pendapa banjar, iapun
telah berlari-lar i mendekati tangga. Dalam pada itu, anak-anak muda
Lumban itupun mengikut inya meskipun dengan jantung yang berdegup
semakin keras. Tetapi tiba-tiba saja orang itu berhenti. Sekali lagi
dengan cepat ia menyerang anak-anak muda itu. Beberapa orang lagi
terlempar jatuh, sementara yang lain bergeser mundur. “Anak-anak
gila. Jika kalian tidak menyadari keadaan diri kalian, maka aku akan
segera membunuh. Tetapi dimana rumah Daruwerdi” teriak orang itu.
Sebenarnyalah di pendapa banjar itu duduk dua orang perempuan.
Ketika mereka melihat kehadiran orang itu, maka merekapun menjadi
tegang. Apalagi ketika mereka mendengar orang itu bertanya tentang
Daruwerdi. Namun nampaknya anak-anak muda itu tidak mau menjawab.
Karena itu kemarahan Laksita nampaknya sudah tidak terbendung lagi.
Dengan kasarnya tiba-tiba saja ia menangkap seorang diantara
anak-anak muda itu. Mencekiknya sambil bertanya ”Jawab, dimana rumah
Daruwerdi, atau aku akan mencekik lehermu sampai patah” Mulut orang
yang dicekiknya itu terbuka. Tetapi suaranya tidak terdengar sama
sekali. Dalam pada itu, kawan-kawannya tidak sampai hati membiarkan
hal itu terjadi. Karena itu, maka beberapa orang diantara mereka
telah memberanikan dir i menyerang bersama-sama Tetapi seperti yang
pernah terjadi. Mereka telah terlempar jatuh. Bahkan lebih keras
lagi. Satu dua diantara mereka telah terlempar sampai lima enam
langkah. Punggung mereka serasa akan patah, sehingga mereka tidak
segera dapat bangkit lagi. Sekali lagi orang itu menangkap orang
yang lain setelah melepaskan orang yang pertama, yang justru menjadi
pingsan. Tetapi Laksita tidak mencekiknya. Dipeganginya rambut anak
itu sambil berteriak “Dimana rumah Daruwerdi” Anak itu tidak
menjawab. Tetapi ternyata Laksita yang marah itu tidak mempunyai
belas kasihan lagi. Kepala anak muda itu telah dibenturkan di tanah
sambil membentak “Sebut, atau kepalamu akan remuk” Kesakitan yang
sangat telah membuat orang itu kehilangan akal. Hampir diluar
sadarnya ia berkata “Itu ibunya. Di pendapa” Laksita melepaskan
rambut orang itu. Kemudian iapun berdiri tegak sambil memandang
perempuan yang berada di pendapa dengan tubuh bergetar. “Jadi kau
ibu Daruwerdi he?“ geramnya. Ibu Daruwerdi itu benar-benar menjadi
gemetar. Ia tidak tahu, apa yang harus dikatakannya. Sementara itu
anak-anak muda yang berada di halaman banjar itupun menjadi
berdebar-debar. Mereka melihat bahaya yang gawat bagi perempuan yang
berada di banjar. Beberapa arang diantara mereka memandangi anak
muda yang telah terlanjur mengatakan bahwa perempuan itu adalah ibu
Daruwerdi. Anak muda yang telah menyebut bahwa perempuan itu adalah
ibu Daruwerdi merasa menyesal sekali. Baru kemudian ia sadar akibat
yang dapat terjadi pada perempuan itu Tetapi ia sudah terlanjur
mengatakannya oooOooo-
Jilid 20 DALAM pada itu, maka Laksita itupun kemudian dengan
wajah yang buas menggeram “He, perempuan celaka. Kenapa kau berada
disini? Nasibmu memang kurang baik. Tetapi jika kau menunjukkan
dimana tempat tinggal Daruwerdi selama ia berada di Lumban, maka aku
akan membuat beberapa pertimbangan” Ibu Daruwerdi yang gemetar itu
tidak segera menjawab. Sementara Laksita itupun kemudian membentak
“Cepat katakan. Atau tunjukkan. Ia tentu tidak t inggal di banjar
ini” Ibu Daruwerdi itu bagaikan terbungkam. Apalagi ketika ia
melihat Laksita melangkah naik tangga pendapa. Dengan garangnya ia
menggeram “Kau harus mengenal aku. Aku tidak mempunyai
pertimbangan-pertimbangan lain kecuali memaksa seseorang untuk
melakukan perintahku. Tunjukkan, dimana tempat tinggal Daruwerdi”
Perempuan itu benar-benar telah menggigil. Sementara itu, anak-anak
muda yang berada di halaman banjar itu tidak sampai hati membiarkan
ibu Daruwerdi itu mengalami bencana. Karena itu, betapapun juga
mereka merasa betapa kecilnya diri mereka dihadapan orang itu, namun
anak muda yang tertua diantara mereka telah memberanikan diri
berkata “Ki Sanak. Jangan kau sentuh perempuan itu. Jika kau ingin
mengetahui tempat tinggal Daruwerdi, marilah. Aku akan
mengantarkanmu” Laksita memandang anak muda itu sejenak. Namun
kemudian iapun tertawa. Suaranya bagaikan suara iblis yang menguak
gelapnya tanah pekuburan. “Terlambat anak muda. Aku sudah menemukan
orang yang tepat untuk menunjukkan tempat itu. Aku tahu, karena
kekalutan ini ia mengungsi di banjar ini. Tetapi ia tentu tahu
dimana Daruwerdi menyembunyikan pusaka yang sebenarnya, Bukan yang
palsu seperti yang diberikannya kepada orang- orang Sanggar Gading.
Ibu Daruwerdi menjadi semakin menggigil. Namun sementara itu, dua
orang anak muda bergeser mendekat. Seorang diantara mereka berkata
“Kami akan mencegah meskipun kami tahu akibat yang dapat terjadi
atas kami” “Anak gila. Apa yang akan kau lakukan?“ bentak orang itu.
Namun justru dua orang lagi telah mendekat. Bahkan kemudian diikuti
oleh tiga orang yang lain. “O, anak-anak yang tidak tahu diri. Aku
peringatkan sekali lagi. Sampai saat ini aku masih belum membunuh.
Tetapi j ika kalian berlaku bodoh dan gila, aku benar-benar akan
membunuh” Orang itu hampir berteriak. Tetapi anak muda yang tertua
itu menjawab “Ki Sanak. Tidak seorangpum yang ingin mati. Akupun
tidak. Tetapi aku tidak dapat melihat kau berbuat semena-mena.
Perempuan yang memang ibu Daruwerdi itu tidak akan mengerti apa yang
dilakukan oleh anaknya. Ia tidak tinggal di Lumban. Ia datang pada
hari-hari terakhir dari peristiwa yang telah mengguncang Kabuyutan
ini. Meskipun kabuyutan kami kering, tandus dan miskin, tetapi kami
merasa damai sebelumnya. Dan sekarang kedamaian itu sudah rusak
karena orang-orang yang tamak seperti orang-orang Sanggar Gading,
Kendali Putih dan orang- orang lain yang senafas dengan mereka”
“Diam “Orang itu berteriak “Aku t idak peduli. Tetapi selangkah lagi
kau mendekat, kematianmu menjadi semakin cepat. Apakah kau kira jika
aku sudah membunuh semua anak-anak muda ini, aku tidak akan dapat
memaksa perempuan itu untuk menunjukkan rumah anak laki-lakinya”
“Lakukan setelah kami tidak melihat apa yang terjadi” jawab anak
muda itu. ”Gila. Kau memang gila teriak Laksita. Lalu “J ika memang
demikian, apaboleh buat” Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja
perhatian mereka tertarik oleh suara seorang perempuan. Perempuan
yang berada disebelah ibu Daruwerdi “Lepaskan orang itu. Ia akan
benar-benar membunuh” Anak-anak muda terkejut Laksitapun terkejut.
Sementara itu, seorang gadis yang semula duduk di sebelah ibu
Daruwerdi itupun membenahi dirinya. Sambil melangkah maju ia berkata
“Biarkan saja apa yang akan dilakukan” Anak-anak muda itupun
termangu-mangu. Tetapi mereka sudah mendengar bahwa gadis yang
bernama Swasti itu telah ikut pula bertempur melawan orang-orang
Sanggar Gading dan Kendali Putih. Apalagi merekapun melihat, ketika
Swasti kemudian berdiri, di lambungnya ternyata tergantung sehelai
pedang. “He, siapa kau?“ bertanya Laksita. “Siapapun aku, tetapi aku
harus mencegah tingkah lakumu. Anak-anak muda itu mungkin dapat kau
abaikan dan bahkan mungkin kau benar-benar dapat membunuh mereka
semuanya” jawab Swasti “Tetapi disini ada aku. Karena itu, maka aku
adalah orang pertama yang akan melawanmu” “Persetan. Kau berani
berhadapan dengan orang Pusparuri?“ geram Laksita. Swasti merenung
sejenak. Tiba-tiba saja ia teringat, bahwa ia pernah berhadapan
dengan dua orang yang mengaku orang-orang Pusparuri. Kini ia
berhadapan lagi dengan orang Pusparuri. Namun agaknya orang ini
nampak lebih meyakinkan. Meskipun demikian Swasti sama sekali tidak
gentar. Karena itu maka katanya “Kita akan melihat, apakah aku
berhasil mengalahkan orang-orang Pusparuri atau tidak. Tetapi
seandainya aku tidak mampu melawanmu seorang diri, disini ada
beberapa orang anak muda yang akan dapat membantuku. Laksita
menggeram. Ia benar-benar merasa terhina, bahwa seorang gadis telah
bertekad untuk melawannya meskipun gadis itu bersenjata. Karena itu
dengan garang ia berkata “Anak gila, kau lihat, tidak seorangpun
diantara anak-anak muda ini yang berani bertingkah seperti yang kau
lakukan” “Aku memang lain dari mereka” berkata Swasti “Sebenarnya
aku tidak akan berbuat apa-apa jika kau tidak berniat untuk
mengganggu ibu Daruwerdi. Sebenarnyalah bahwa ia memang tidak
mengerti apa-apa tentang anaknya dan apa yang dilakukannya. Jika kau
mengurungkan niatmu untuk mengganggunya, maka akupun tidak
akan-berbuat apa- apa” “Kau menjadi semakin sombong anak manis. Aku
akan berbuat seperti yang dikehendaki. Jangan halangi aku” Orang itu
hampir berteriak. Tetapi Swasti tidak bergeser sama sekali. Bahkan
ia kemudian berkata “Sebaiknya aku memaksamu untuk pergi atau
menangkapmu sama sekali” Wajah orang itu menjadi merah padam.
Sementara anak- anak muda di banjar itupun menjadi semakin
berdebar-debar. Betapapun juga dimata mereka, Swassiti adalah
seorang gadis meskipun mereka pernah mendengar apa yang dilakukan
gadis itu berhadapan dengan orang-orang Sanggar Gading dan Kendali
Put ih. Dalam pada itu Laksitapun agaknya tidak mau terlibat dalam
pembicaraan yang berkepanjangan. Karena itu, maka katanya “Aku
memperingatkanmu untuk yang terakhir kalinya. Pergi atau aku akan
membunuhmu” “Sudah aku katakan, aku akan mencegah tingkah lakumu
yang sewenang-wenang” jawab Swasti. Laksita tidak dapat menahan diri
lagi. Namun sebelum ia bertindak Swasti telah mendahuluinya berkata
“Jangan bertempur disini. Kita akan mendapat tempat yang lebih
lapang di halaman banjar ini. Biarlah anak-anak muda Lumban
menyaksikan, apakah yang dapat kau lakukan. Seperti yang aku
katakan, jika aku tidak mampu melawanmu, biarlah anak- anak muda itu
membantuku. Kau tidak akan dapat melawan musuh yang jauh lebih
banyak jumlahnya, meskipun kemampuannya dapat kau abaikan” Laksita
menggeram. Namun, Swasti tiba-tiba saja medangkah maju, sehingga
Laksitapun kemudian meloncat turun kehalaman sambil mengumpat “Anak
iblis. Kau sangka permainanmu itu berhasil menggetarkan jantungku”
Swasti memandang wajah Laksita sesaat Wajah itu nampak garang,
meskipun tidak sekotor wajah orang-orang yang parah di hadapinya. .
Tetapi Swasti tidak sempat menilai lebih lama lagi. Laksita yang
ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya itu tiba-tiba telah
menggenggam senjata di tangannya. Katanya “Aku akan membunuhmu,
meskipun kau seorang gadis. Kemudian aku akan membunuh semua orang
yang mencoba menghalangi aku” Swastipun segera mempersiapkan dir i.
Ia tidak mau kehilangan kesempatan pertama. Karena itu, ketika ia
melihat lawannya bersenjata, maka iapun telah menggenggam pedangnya.
Dalam pada itu, ibu Daruwerdi benar-benar menggigil ketakutan. Ada
niatnya untuk mencegah Swasti, Tetapi tubuhnya rasa-rasanya telah
membeku. Tetapi ketika ia melihat dari tempatnya, Swasti dan orang
yang datang itu sudah saling menggerakkan senjatanya, tiba- tiba
saja seolah-olah tumbuh kekuatan yang tidak dimengertinya di dalam
dir inya. Tiba-tiba saja ia telah bangkit dan berlari kearah gadis
yang sudah siap untuk bertempur itu. “Swasti, Ngger, Swasti“
panggilnya “Cukup. Jangan kau lakukan. Biarlah aku menurut apa yang
dikehendakinya” “Jangan mendekat“ teriak Swasti. Untunglah anak-anak
muda Lumban berhasil mencegahnya. “Jangan mendekat bibi” berkata
Swasti kemudian “Orang itu terlalu licik, Ia akan dapat
mempergunakan bibi sebagai perisai untuk memaksakan kehendaknya.
Biarlah aku mencoba menyelesaikan masalah ini. Sementara aku
parsilahkan bibi menunggu” “Kau akan melihat kepala gadis ini
terpenggal” geram Laksita. “Jangan“ minta ibu Daruwerdi “Aku tidak
peduli” jawab Laksita. Sebelum ibu Daruwerdi itu berkata, Swasti
telati mendahului “Kita akan melihat, apa yang akan terjadi”
Anak-anak muda Lumban itupun kemudian membimbing perempuan itu
menepi. Dipersilahkan ibu Daruwerdi itu duduk di tangga pendapa
banjar Kabuyutan Lumban. Sejenak kemudian Laksita yang telah
kehabisan kesabaran itu, mulai menggerakkan senjatanya, sementara
Swasti bergeser selangkah surut Namun iapun kemudian mengacukan
senjatanya pula. Sambil berdesis ia mulai menggerakkan ujung
pedangnya. Laksita yang garang itu mulai menyerang dengan ayunan
mendatar. Namun Swasti masih belum berbuat banyak. Ia hanya bergeser
selangkah surut Tetapi Laksita. agaknya telah meloncat memburunya.
Tiba- tiba saja senjatanya terayun keras sekali menyambar pundak
Swasti. Namun Swasti yang sudah bersiaga itu sempat memiringkan
tubuhnya, sehingga serangan lawannya tidak menyentuhnya. Dalam pada
itu, Swasti tidak membiarkan dir inya hanya menjadi sasaran serangan
lawannya. Sejenak kemudian maka iapun mulai memutar pedangnya.
Meskipun ia masih berusaha menjajagi kemampuan lawannya namun ia
telah mulai menjulurkan pedangnya untuk menyerang. Sejenak kemudian
bertempuran itupun menjadi semakin seru. Laksita yang marah tidak
lagi mengekang diri. Serangan- serangannya datang beruntun. Namun
Swasti selalu berhasil mengelakkannya.. Meskipun demikian, ternyata
bahwa kemudian Swasti t idak selalu sempat mengelak. Karena itu,
maka pada suatu saat, ia harus menangkis serangan lawannya yang
datang membadai. Tetapi Swasti masih selalu berhati-hati. Ia tidak
ingin langsung membenturkan senjatanya menangkis serangan lawannya
yang belumdiketahui dengan pasti kekuatannya. Dalam pada itu,
anak-anak muda Lumban yang menyaksikan pertempuran itu menjadi
semakin berdebar- debar. Mereka melihat bahwa Laksita semakin lama
menjadi semakin keras dan kasar. Namun merekapun melihat Swasti
semakin lama menjadi semakin cepat bergerak. Kakinya seolah-olah
menjadi semakin ringan, sementara pedangnya berputaran seperti
baling-baling. Meskipun demikian anak-anak muda Lumban itu menjadi
cemas. Bagaimanapun juga mereka belum mendapat gambaran yang pasti
tentang kemampuan Swasti. Mungkin gadis itu memang memiliki
dasar-dasar ilmu kanuragan. Tetapi berhadapan dengan orang yang
kasar itu, apakah ia akan mungkin dapat mengimbanginya. Karena itu,
maka anak-anak muda itupun selalu bersiaga diseputar arena. Meskipun
mereka menyadari, bahwa diri mereka masing-masing sama sekali tidak
berarti dibanding dengan orang- yang garang itu, tetapi mereka tidak
akan dapat membiarkan bencana akan terjadi pada gadis itu tanpa
pembelaan sama sekali. Apalagi kesulitan dan kegagalan gadis itu
akan berarti kesulitan yang gawat pula bagi ibu Daruwerdi. Namun
ternyata bahwa Swasti memiliki kemampuan yang mengagumkan. Di mata
anak-anak muda Lumban yang sulit untuk mengikut i pertempuran itu,
Swasti masih tetap mampu bertahan. Bahwa kadang-kadang ia berhasil
mendesak lawannya, sehingga laki-laki yang kasar itu harus
berloncatan surut beberapa langkah. Sebenarnyalah Swasti masih mampu
mengimbangi lawannya yang bertempur semakin kasar. Ketika Laksita
menyadari, bahwa gadis itu memang seorang gadis yang memiliki ilmu
yang mampu melawannya, maka oleh dorongan kemarahannya yang
memuncak. Laksita telah mengerahkan segenap, kemampuannya.
Pertempuran itu kemudian semakin menjadi sengit. Keduanya ternyata
memiliki bekal yang cukup, sehingga keduanya harus bertempur dengan
mengerahkan segenap kemampuannya dan berhati-hati. Namun ternyata
Laksita yang marah serta kegagalan orang-orang Pusparuri di kaki
bukit gundul, membuatnya kehilangan pertimbangan yang mapan. Gejolak
perasaannya lebih menguasai dirinya daripada nalarnya. Karena
itulah, maka yang nampak pada tata geraknya adalah kekasaran dan
keliarannya yang menjadi semakin jelas. Tetapi justru karena itu,
maka ia menjadi kurang berhati-hati. Laksita tidak sempat mengamati
tata geraknya sendiri. Swasti yang kadang-kadang cepat juga
terpengaruh oleh perasaannya itu, ternyata masih mampu mengurai
keadaan. Ia masih sempat melihat, apa yang dilakukan oleh lawannya
dan apa yang dialami pada getaran perasaannya. Justru karena itu,
maka iapun kemudian mempergunakan keadaan lawannya untuk
mengatasinya. Dengan tangkasnya Swasti memancing kekasaran lawannya.
Dengan demikian Swasti mengharap, bahwa lawannya akan menjadi
kehabisan tenaga lebih dahulu. Sehingga dengan demikian, maka ia
akan lebih mudah mengakhir i pertempuran itu, Namun ternyata bahwa
Laksita adalah seorang yang memiliki ketahanan tubuh yang luar
biasa. Dengan demikian, meskipun Swasti berhasil memancing lawannya
untuk mengerahkan segenap kemampuannya dan memaksanya untuk
berloncatan dengan langkah-langkah panjang, namun ternyata bahwa
Laksita seolah-olah tidak menjadi semakin letih. Ia masih saja mampu
bergerak sebagimana saat mereka mulai dengan pertempuran itu. Karena
itu, maka Swastipun harus mengambil cara lain. Jika ia memaksakan
cara itu, maka ia akan menjadi letih lebih dahulu dar i lawannya.
Dengan hati-hati Swasti menilai lawannya lebih tajam lagi. Sehingga
akhirnya ia telah mengambil satu keputusan untuk bertempur dengan
keras sesuai dengan sifat lawannya. Namun sebagaimana selalu
dipesankan oleh ayahnya, bahwa dalam pertempuran yang gawat, ia
tidak boleh kehilangan akal Ia harus mampu menguasai diri, menilai
lawannya dan mengambil keputusan atas pertimbangan nalar. Bukan
perasaan semata-mata. “Lawanku telah terpancing untuk menuruti
perasaan marahnya” berkata Swasti di dalam hatinya “Aku harus dapat
memanfaatkannya. Dengan pertimbangan yang mapan, maka kemudian
Swastipun telah bertempur semakin cepat. Ia mulai mencoba melawan
orang yang garang itu dengan keras. Ia mulai membenturkan senjatanya
beradu kekuatan. Namun ternyata bahwa Swasti mampu mengimbangi
kekuatan lawannya. Karena itulah, maka Swasti menjadi semakin
garang. Senjatanya bergerak lebih cepat, namun benturan-benturan
senjata tidak dihiraukannya lagi. Anak-anak muda Lumban melihat
pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Namun mereka
melihat, Swasti menjadi semakin mapan. Kecuali karena ia mampu
bergerak lebih cepat, ternyata bahwa benturan-benturan yang terjadi
tidak dapat mendesaknya. Sebenarnyalah bahwa Swasti memiliki
kelebihan dari lawannya. Kakinya seolah-olah lebih ringan, sehingga
dengan demikian maka ia dapat bergerak lebih cepat. Namun lawannya
mampu mengimbangi dengan ketahanan tubuh yang melampaui orang
kebanyakan. Seolah-olah Laksita itu sama sekali tidak menjadi letih
meskipun ia harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan
kecepatan gerak Swasti. Bersamaan dengan itu, di bukit gundul masih
juga terjadi pertempuran yang sengit antara Pangeran Sena Wasesa
dengan Kiai Pusparuri. Namun sebagimana telah nampak pada mereka
yang menyaksikan pertempuran itu, Kiai Pusparuri mempunyai kelebihan
dari Pangeran Sena Wasesa. Sementara itu orang-orang yang berdiri
disekitarnya sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu. Jika salah
seorang dari mereka akan me masuki arena, maka hal itu akan
mencemarkan kejantanan Pangeran Sena Wasesa, meskipun kadang-kadang
Rahu hampir tidak dapat menahan dir i. Sebagai seorang yang mendapat
tugas khusus, maka ia kurang memperhitungkan harga diri Pangeran
Sena Wasesa. Ia merasa wajib untuk membantunya. Karena ternyata
Pangeran Sena Wasesa mendapat kesulitan, maka rasa-rasanya ia telah
siap untuk meloncat kemedan, mespun ia sadar, diantara kedua orang
raksasa itu, ia hampir tidak berarti sama sekali. Tetapi setiap kali
ia mendekat, maka Pangeran Sena Wasesa seolah-olah telah member i
isyarat agar ia menyingkir dari arena. Rahu menjadi ragu-ragu. Namun
debar jantungnya rasa- rasanya tidak lagi tertahankan. Pertempuran
yang berlangsung terlalu lama itu, membuatnya tidak sabar lagi.
Tetapi ia belum menemukan jalan untuk membantu mengakhirinya.
Sementara itu ia mengerti, jika pertempuran itu dibiarkannya
berlangsung sebagai perang tanding, maka kemungkinan Pangeran Sena
Wasesa untuk memenangkan pertempuran itu sangat kecil. Hanya karena
satu kesalahan dari Kiai Pusparuri sajalah akan dapat membantu
Pangeran Sena Wasesa keluar hidup-hidup dar i pertempuran itu. Dalam
pada itu, Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuningpun sedang mencar i
akal untuk membantu menyelesaikan pertempuran itu. Namun agaknya
merekapun tidak ingin menyinggung harga diri Pangeran Sena Wasesa.
Namun dalam pada itu, ternyata Kiai Kanthi berhasil memancing
perhatian Kiai Pusparuri tanpa memasuk arena. Sikap, wajah dan
pasemonnya rasa-rasanya sempat menyentuh perasaan Kiai Pusparuri
Sekali-sekali Kiai Kanthi tersenyum melihat tata gerak Kiai
Pusparuri. Kemudian mengerutkan keningnya sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya. Pada kesempatan lain ia mencibir
penuh kebencian. Tangannya kadang-kadang menghentak sambil mengepal.
Namun kadang-kadang ia tertawa kecil tertahan- tahan. Sikap itu
ternyata sangat menjengkelkan Kiai Pusparur i. Betapa ia berusaha
untuk tidak menghiraukan sikap itu, namun Kiai Kanthi seakan-akan
dengan sengaja bergeser ke tempat-tempat yang berhadapan dengan arah
sikap Kiai Pusparuri sehingga Pangeran Sena Wasesa sendiri tidak
melihat apa yang dilakukan oleh orang itu. Karena itulah, maka
kemarahan Kiai Pusparuri yang hampir tidak terkendali itu ternyata
telah terpancing oleh sikap Kiai Kanthi. Karena itu, pada kesempatan
yang terbuka, disaat Pangeran Sena Wasesa terdesak beberapa langkah
surut, tiba- tiba saja Kiai Pusparur i telah meloncat kearah Kiai
Kanthi sambil berteriak “Orang gila. Kau sangka sikapmu tidak
menyeretmu ke dalam kesulitan” Kiai Kanthi memang sudah menduga.
Karena itu, maka dengan cepat ia meloncat menghindari serangan itu.
Namun dengan demikian, Kiai Pusparurilah yang telah menyerangnya
sehingga ia akan mempunyai alasan untuk membalasnya. Tetapi pada
saat yang demikian, Pangeran Sena Wasesalah yang berteriak “Serahkan
orang itu kepadaku Kiai” Kiai Kanthi meloncat surut. Ia tidak ingin
membuat persoalan baru sehingga ia t idak berbuat lebih banyak.
Dengan demikian maka pertempuran itu telah ber langsung seperti
semula. Pangeran Sena Wasesa melawan Kiai Pusparuri. Meskipun sikap
Kiai Kanthi itu telah membantu Pangeran Sena Wasesa untuk
mempersiapkan dir i. Tetapi sejenak kemudian, imbangan pertempuran
itu terulang lagi. Pangeran Sena Wasesa seolah-olah hanya mempunyai
kesempatan untuk bertahan saja. Tetapi setiap orang diseputar arena
itu melihat, bahwa kemampuan bertahan Pangeran Sena Wasesa itupun
telah menjadi semakin susut. Tekanan yang keras telah memaksa
Pangeran itu bekerja terlalu berat. Yang kemudian termenung adalah
Ki Ajar Cinde Kuning. Ia melihat apa yang terjadi atas Kiai Kanthi.
Hal itu ternyata telah sangat menarik perhatiannya. Bahkan, kemudian
ia telah bergeser semakin dekat disebelah Kiai Kanthi. Sesaat
kemudian, ternyata Ki Ajar Cinde Kuning yang cacat itu
berbisik-bisik ditelinga Kiai Kanthi. Bahkan kemudian keduanya telah
tersenyumsambil memandang Kiai Pusparuri, Ternyata Ki Ajar Cinde
Kuning telah menirukan sikap Kiai Kanthi. Bahkan keduanya
bersama-sama telah memancing perhatian Kiai Pusparuri. Justru karena
mereka berdua, maka sikap mereka menjadi semakin memanaskan hati
Kiai Pusparuri yang memang sedang menyala itu. Untuk beberapa saat
Kiai Pusparur i sama sekali t idak menghiraukannya. Namun semakin
lama jantungnya menjadi semakin bergejolak. Sehingga akhirnya ia
tidak dapat bertahan lagi. Karena itu, maka dengan mengerahkan
kemampuannya, Kiai Pusparuri telah berusaha mendesak Pangeran Sena
Wasesa. Dan sebenarnyalah yang diharapkan Ki Ajar Cinde Kuning telah
terjadi. Kiai Pusparuri mengulangi sikapnya terhadap Kiai Kanthi.
Tetapi yang kemudian ternyata ditujukan kepada Ki Ajar Cinde Kuning.
Kiai Pusparur i tidak ingin mengulangi serangannya sampai dua kali.
Karena itu, ia telah mengerahkan segenap ilmu dan kekuatan yang ada
padanya. Dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata, dengan
tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang Ki Ajar Cinde. Serangan
itu benar-benar mengejutkan. Meskipun Kiai Kanthi yang tahu maksud
Ki Ajar, iapun masih juga terkejut. Kiai Pusparuri benar-benar telah
berniat untuk menghancur lumatkan Ki Ajar Cinde Kuning dengan satu
serangan yang mematikan. Namun hal itulah yang memang diharapkan
oleh Ki Ajar Cinde Kuning. Serangan yang terlampau cepat itu sama
sekali tidak dielakkannya. Bahkan dengan segenap kemampuan yang ada
padanya, Ki Ajar Cinde Kuning telah membentur kekuatan Kiai Pusparur
i. Meskipun yang nampak oleh mata orang-orang yang ada disekitar
tempat itu, Ki Ajar Cinde Kuning seolah- olah tidak sempat
menghindari serangan yang t iba-tiba itu. Sesaat kemudian telah
terjadi benturan yang dahsyat sekali. Kekuatan Kiai Pusparuri telah
membentur kekuatan Ki Ajar Cinde Kuning. Dua kekuatan raksasa yang
seakan-akan telah meledakkan langit. Ki Ajar Cinde Kuning ternyata
telah terlempar beberapa langkah. Sesaat ia berusaha untuk bertahan
pada keseimbangannya. Namun iapun kemudian telah terjatuh pada
lututnya. Meskipun demikian, sejenak kemudian Ki Ajar Cinde Kuning
itu telah bangkit berdiri meskipun ia masih harus berjuang
mempertahankan keseimbangannya, . Namun dalam pada itu, Kiai
Pusparuri telah mengalami keadaan yang tidak disangkanya. Benturan
itu telah melemparkannya. Dengan kerasnya Kiai Pusparuri telah
terbanting diatas batu padas. Terdengar keluhan tertahan. Kiai
Pusparuri masih menggeliat. Bahkan iapun kemudian berusaha untuk
bangkit Tetapi demikian ia berdiri tegak, maka iapun telah terjatuh
kembali. Sebenarnyalah bahwa ilmu raksasa Kiai Pusparuri itu masih
berada beberapa lapis dibawah kemampuan orang cacat yang menyebut
dir inya Ki Ajar Cinde Kuning itu. Dengan demikian, maka benturan
ilmu itu telah berakibat parah bagi Kiai Pusparuri. Hentakan ilmu Ki
Ajar Cinde Kuning seolah-olah telah melontarkan kembali ilmu Kiai
Pusparuri itu sendiri dan menghantam bagian dalam tubuhnya, didorong
pula oleh kekuatan ilimu Ki Ajar yang memiliki kekuatan tiada
taranya. Itulah sebabnya, maka isi dada Kiai Pusparur i rasa-
rasanya telah rontok luluh menjadi debu. Tidak ada obat yang dapat
menyelamatkannya. Ketika tabib yang semula berada diantara
orang-orang Sanggar Gading itu mendekatinya dan meraba tangannya,
kemudian menempelkan telinganya didadanya, maka iapun kemudian
menggeleng lemah sambil berdesis “Kiai Pusparuri sudah tidak mungkin
lagi dapat diselamatkan. Nafasnya sudah tertahan tahan” Pangeran
Sena Wasesa memandang Ki Ajra Cinde Kuning sesaat Kemudian ia
berdesis “Terima kasih atas belas kasihan Ki Ajar” “Aku mohon maaf
Pangeran” sahut Ki Ajar Cinde Kuning “Aku tidak ingin mencampur i
persoalan Pangeran dengan Kiai Pusparuri Tetapi Kiai Pusparuri telah
menyerangku, sehingga aku terpaksa melindungi diriku dengan ilmu
yang ada padaku” “Aku bukan kanak-kanak, Ki Ajar” jawab Pangeran
Sena Wasesa “Aku tahu apa yang kalian lakukan. Tetapi dalam
kesulitan menghadapi tekanan Kiai Pusparuri aku tidak sempat
mencegah kalian” Ki Ajar Cinde Kuning tidak menjawab lagi. Sejenak
ia termangu-mangu memandang tubuh Kiai Pusparuri yang terbujur diam.
Bahkan kemudian tabib itu berkata “Ia sudah tidak ada lagi“ Ki Ajar
Cinde Kuning menar ik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian
berkata “Aku juga harus mengobati dir iku sendiri Benturan ini telah
menyesakkan dadaku. Ternyata Kiai Pusparuri mempunyai kemampuan yang
mengagumkan” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
kenyataan itu sudah terjadi. Kiai Pusparuri sudah terbaring
diamtidak bernafas lagi. Namun dalam pada itu, orang-orang yang ada
dikaki bukit gundul itu terkejut ketika tiba-tiba saja Jlitheng
berkata lantang “Ki Ajar. Lihat, apa yang terjadi dengan Ki Ajar
Pamotan Galih” Ki Ajar Cinde Kuning menjadi tegang. Namun kemudian
iapun segera berlari-lari ke tempat saudara kembarnya, diikuti oleh
orang-orang yang semula mengerumuni perang tanding yang mendebarkan
itu. Ki Ajar Ciinde Kuning menemukan saudara kembarnya duduk
bersandar sebongkah batu padas. Wajahnya menjadi sangat pucat,
sementara nafasnya terengah-engah. “Pamotan Galih, apa yang
terjadi?“ bertanya Cinde Kuning. Ki Ajar Pamotan Galih membuka
matanya. Dengan sendat ia berusaha untuk berkata “Aku minta. dir i.
Nampaknya kau sudah berhasil mengatasi semua persoalan” Wajah
orang-orang yang mengerumuninya menjadi tegang. Ki Ajar Cinde Kuning
yang kemudian berjongkok disampingnya bertanya “Apa yang sudah kau
lakukan?“ “Jangan sesali kepergianku” jawab Ki Ajar Pamotan Galih
“agaknya memang tidak ada tempat lagi bagiku diantara orang-orang
yang beradab. Karena itu, maka biarlah aku kembali ke asalku”
“Tetapi jangan dengan cara itu“ Ki Ajar Cinde Kuning hampir
berteriak. Sementara itu tabib yang sudah berjongkok pula disebela.
Ki Ajar Pamotan Galih yang menjadi semakin pucat itupun menjadi
tegang. Apalagi ketika ia mulai melihat noda-noda biru di tubuh Ki
Ajar Pamotan Galih. “Racun yang kuat” desisnya. Ki Ajar Cinde Kuning
menar ik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia melihat disebelah Ki
Ajar Pamotan Galih tergolak sebilah ker is kecil yang sudah tidak
berada di dalam wrangkanya. Sementara itu. ternyata di pergelangan
tangan Ki Ajar Pamotan Galihpun terdapat sebuah goresan kecil yang
tidak menitikkan darah. Ternyata Ki Ajar Pamotan Galih telah
membunuh dirinya sendir i dengan pusakanya yang mempunyai warangan
yang sangat tajam. Tabib itupun tidak dapat menolongnya. Namun pada
saat terakhir Ki Ajar Pamotan Galih itu sempat tersenyum dan berkata
patah-patah “Di mana Daruwerdi?“ Daruwerdi yang kemudian menyibak
maju telah berjongkok pula disisinya “Aku disini” Ki Ajar Pamotan
Galih yang menjadi semakin parah itu masih bertahan. Katanya
kemudian “Aku minta maaf kepadamu, ngger. Juga kepada ibumu. Tetapi
segalanya itu sudah lampau. Kakekmu, Ki Ajar Cinde Kuning akan
menjelaskan, siapakah sebenarnya kau, ibumu dan sumber keterangan
tentang pusaka itu” Daruwerdi menjadi tegang. Bagaimanapun juga, ia
sudah menganggap orang itu sebagai gurunya, kakeknya dan saudaranya
pada saat-saat terakhir, meskipun orang itu membingungkannya. “Kau
bersedia?“ bertanya Ki Ajar Pamotan Galih semakin sendat. “Ya kakek”
sahut Daruwerdi. Sekali lagi nampak senyum di bibir Ki Ajar Pamotan
Galih. Namun kemudian terdengar keluhan tertahan. Sejenak kemudian.
Ki Ajar itu memejamkan matanya dan melepaskan tarikan nafasnya yang
terakhir. Tabib yang berjongkok disisinya itu menar ik nafas dalam-
dalam. Ternyata Ki Ajar Pamotan Galih telah pergi masih dalam
keadaannya. Duduk bersandar sebongkah batu padas. Dengan hati-hati
tubuh itupun kemudian dibar ingkannya. Tangannya masih tetap
bersilang didadanya. Silangkan senyumnya masih nampak menghias
bibirnya. Wajah Daruwerdilah yang kemudian menjadi gelap. Peristiwa
yang terjadi itu merupakan pengalaman yang sangat berat baginya.
Yang tidak diduga sama sekali telah terjadi. Alangkah pahitnya
penyelesaian yang dihadapi oleh Ki Ajar Pamotan Galih, meskipun itu
yang telah dipilihnya sendir i. Dalam pada itu, selagi orang-orang
di bukit gundul itu merenungi tubuh Ki Ajar Pamotan Galih yang
tergolek diam dengan senyum di bibirnya, di halaman Banjar Kabuyutan
Lumban, Swasti masih bertempur melawan Laksita. Namun agaknya Swasti
sudah sampai pada keputusan untuk mengakhir i pertempuran itu.
Dengan kecepatan geraknya, maka Swasti mempunyai kemungkinan lebih
baik dari lawannya. Meskipun lawannya seolah-olah tidak mengenal
letih meskipun ia harus mengarahkan segenap tenaganya untuk
mengimbangi kecepatan gerak Swasti, namun Swasti telah memilih jalan
yang paling baik. Dalam pertempuran berikutnya, Swasti telah
mengimbangi kegarangan lawannya. Bahkan dengan memanfaatkan
kecepatannya, maka senjata Swasti mulai menyusup diantara pertahanan
Laksita. Ketika segores kecil luka mengoyak kulit Laksita, maka
orang itu mengumpat-umpat dengan kasarnya. Namun justru karena itu,
maka Swasti telah mendapat kesempatan untuk melukainya sekali lagi.
Laksita meloncat surut beberapa langkah. Dengan tangan kirinya ia
meraba lukanya. Wajahnya menjadi merah semerah darahnya ketika ia
merasa bahwa telapak tangannya menjadi hangat oleh darahnya yang
mengalir dari luka itu. “Kau tidak mempunyai pilihan” berkata.
Swasti “menyerahlah. Kau akan mendapat perlakuan yang-baik” Tetapi
jawaban Laksita adalah serangan yang membadai. Senjatanya
terayun-ayun mengerikan. Diantara desis serangannya terdengar
umpatan-umpatan kasarnya. Swasti mengerutkan keningnya. Ia sudah
berhasil melukai lawannya. Darah telah mengalir dar i luka itu.
Tetapi luka itu sama sekali tidak berpengaruh atas lawannya yang
garang itu. Karena itu, maka Swastipun bergerak semakin cepat.
Ketika Laksita meloncat menyerangnya, dengan ayunan senjatanya yang
seolah-olah telah melontarkan hembusan angin yang kencang. Swasti
sempat mengelak. Namun demikian ia bergeser, maka tiba-tiba saja ia
meloncat dengan pedang terjulur. Sekali lagi terdengar Laksita
berteriak liar. Lambungnya ternyata tersentuh oleh ujung senjata
Swasti. “Anak iblis” teriak Laksita “Kau berani melukai aku he?“
Swasti tidak menyahut. Namun ketika ia memandang wajah lawannya
diluar sadarnya, tiba-tiba saja terasa kengerian menyentuh
perasaannya. Wajah itu bagaikan wajah hantui yang sedang marah.
Sorot matanya bagaikan berpijar kemerah-merahan. Swasti bergeser
surut. Tetapi Laksita bagaikan orang yang kehilangan nalarnya. Ialah
yang meloncat memburu lawannya sambil memutar senjatanya. Luka
ditubuhnya seolah-olah tidak terasa sama sekali. Anak-anak muda yang
memutari arena itupun menjadi berdebar-debar. Mereka seolah-olah
melihat sesosok hantu yang sedang mengamuk. Pakaiannya yang merah
dan luka- luka yang tergores di kulitnya, membuat orang itu menjadi
semakin mengerikan. Swasti yang bertempur melawan orang itupun
nampaknya mulai terpengaruh oleh sikap dan tingkah laku lawannya.
Kerut merut di wajah Swasti menunjukkan, bahwa ketegangan menjadi
semakin memuncak didadanya menghadapi lawannya yang bagaikan menjadi
gila. Justru ketika ia sudah berhasil melukai lawannya, maka ia
mulai merasa semakin terdesak. Gadis itu mencoba untuk menguasai
perasaannya. Ia mencoba untuk mempergunakan nalarnya. “Aku akan
memenangkan pertempuran ini jika aku tetap menyadari apa yang
terjadi sebenarnya. Mudah-mudahan Yang Maha Kuasa melindungi aku“
Swasti yang ragu-ragu berusaha untuk mendapatkan sandaran perasaan.
Namun lawannya benar-benar bagaikan sesosok hantu yang gila. Ia sama
sekali tidak menghiraukan, bahwa darah seolah-olah telah memerah
diseluruh tubuhnya. Luka-lukanya di pundak, di lengan, di lambung
dan di bagian tubuh lainnya, dan yang telah mengalirkan darah
seolah-olah sama sekali tidak berarti. Swasti yang melihat darah
yang mengalir semakin banyak itu masih sempat berkata kepada diri
sendir i “Jika aku biarkan ia bergerak lebih banyak lagi, maka
darahnya akan semakin deras terperas dari dalam tubuhnya. Ia akan
segera menjadi lemah dan kehilangan kemampuan untuk melawan” Karena
itu, Swasti mencoba memancing lawannya bergerak semakin cepat, agar
darahnya menjadi semakin terperas. Namun semakin lama justru
kengerian di hati Swasti menjadi semakin menekan. Laksita yang sudah
menjadi merah oleh darahnya sendiri itu, masih mampu bertempur
dengan garangnya. Tidak ada tanda-tanda sama sekali bawha tenaganya
telah menjadi susut “Gila. Benar-benar Gila“ desis Swasti sambil
berloncatan surut. Laksitalah yang kemudian justru mendesak Swasti.
Dengan garang ia menyerang. Tetapi dengan jantung yang bergejolak,
Swasti masih sempat melihat celah-celah putaran senjata lawannya.
Dengan kulit yang meremang, Swasti merendah sambil menjulurkan ujung
pedangnya, ketika lawannya mengayunkan senjatanya ke arah kepalanya.
Swasti memejamkan matanya ketika ia merasa ujung pedangnya
menghunjam ke dada lawannya yang basah oleh keringat dan darah. Ia
mendengar keluhan di mulut lawannya. Swasti yang masih memejamkan
matanya sekejap itu meloncat surut untuk menghindari kemungkinan
yang buruk yang dapat terjadi atas dirinya justru karena ia tidak
mau memandang apa yang telah terjadi. Namun ketika Swasti membuka
matanya, ia masih melihat lawannya tetap berdiri tegak. Matanya
masih berpijar dan senjatanya masih terayun-ayun. “Gila, apakah aku
berhadapan dengan sesosok hantu“ geramSwasti di dalam dir inya.
Namun kengerian yang sangat telah membuatnya menjadi gelisah.
Tangannya mulai gemetar dan sikapnya justru kurang mapan.
“Menyerahlah” teriak Swasti untuk mengatasi kengeriannya. Tetapi
Laksita seolah-olah sudah tidak dapat mendengar suara lawannya.
Matanya yang berpijar merah rasa-rasanya menjadi semakin menyala.
Ketika orang itu melangkah maju sambil mengayun-ayunkan senjatanya,
Swastipun melangkah surut. Sebenarnyalah orang-orang yang
menyaksikan pertempuran itupun telah dicengkam oleh kengerian yang
sangat. Laksita yang sudah menjadi merah oleh darahnya sendiri itu,
masih juga berdir i tegak dan bahkan masih melangkah maju mendesak
Swasti yang menjadi semakin ngeri. Menilik bahwa ujung senjatanya
mampu melukai tubuh lawannya, Swasti mengerti bahwa lawannya itu
tidak memiliki ilmu kebal. Tetapi bahwa oleh luka- lukanya yang
parah, ia seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh, agaknya telah
membuat Swasti kehilangan akal. Swasti yang didesak surut itu telah
menyibak orang-orang yang melingkar i arena. Bahkan satu dua orang
telah berlari- lari kecil menepi. Sementara orang yang terluka parah
itu masih saja melangkah maju. Tetapi melihat sorot matanya dan
ketegangan wajahnya, yang dilakukan oleh orang itu nampaknya sudah
diluar sadarnya. Orang-orang yang melingkari pertempuran itu menjadi
sangat cemas ketika mereka melihat, tiba-tiba saja Swasti tidak
dapat lagi bergerak mundur. Ketika punggungnya telah melekat pada
dinding halaman, maka jantungnya benar-benar terasa berdentang
semakin cepat “Berhenti disitu” teriak Swasti ketika ia melihat
lawannya masih melangkah maju. Tetapi seperti suaranya yang
terdahulu, seolah-olah sudah tidak dapat didengar lagi oleh lawannya
yang sudah kehilangan kediriannya. Karena itu, maka Laksita sama
sekali tidak menghent ikan langkahnya. Ia masih maju sambil
mengayunkan senjatanya. Bahkan ternyata ia masih menggeram “Aku
tidak dapat dikalahkan oleh perempuan” Swasti menjadi semakin
berdebar-debar. Ternyata Laksita itu seakan-akan telah menjadi gila.
Ia melepaskan dir i dari tangan Daruwerdi di bukit gundul. Namun t
iba-tiba saja ia telah berhadapan dengan seorang perempuan yang
tidak dapat dikalahkannya. Dengan demikian maka rasa-rasanya
perasaannya tidak lagi dapat dikendalikannya dengan nalarnya. Dalam
pada itu, Swasti berteriak sekali lagi “Jangan maju lagi. Lepaskan
senjatamu dan menyerahlah. Kau akan mengalami perlakuan yang wajar.
Tetapi suara itu lenyap di ketegangan suasana. Orang itu masih maju
lagi. Swastipun kemudian seakan-akan juga telah kehilangan akal oleh
kengerian yang memuncak. Karena itu, maka iapun sulit untuk
mengendalikan perasaannya. Dalam keadaan yang demikian itu, Laksita
masih melangkah maju. Senjatanya terayun mengerikan meskipun orang
itu sudah t idak dapat lagi mengatur arah dan apalagi mempergunakan
ilmu pedangnya. Kengerian yang memuncak telah meledakkan perasaan
Swasti yang sudah melekat didinding halaman dan tidak mungkin lagi
untuk melangkah mundur. Karena itulah, maka Swastipun telah
mengambil sikap oleh dorongan perasaannya semata-mata. Ketika
senjata Laksita terayun kearahnya, maka Swasti itupun telah meloncat
kesamping sambi memekik kecil. Namun kemudian sekali lagi Swasti
memejamkan matanya sambil menjulurkan pedangnya menyusup ayunan
senjatanya. Terasa pedangnya sekali lagi menghunjam ketubuh orang
itu. Namun oleh goncangan perasaannya, hampir diluar sadarnya,
Swasti masih mendorong pedangnya dan menghunjamkannya lebih dalam
lagi. Tetapi ternyata bahwa pedang yang menghunjam terlalu dalam
itu, tidak terlalu mudah untuk dicabut Sementara kengerian yang luar
biasa telah mencengkam perasaannya, sehingga karena itu, maka
Swastipun kemudian justru melepaskan pedangnya. Ia bergeser
kesamping sepanjang dinding halaman. Namun sayang, oleh
ketergesa-gesaan dan kengerian yang sangat, Swasti tidak dapat
meloncat dengan sempurna. Hanya oleh rumput ker ing dan akar perdu,
terasa seolah-olah kaki Swasti telah membentur seonggok batu hitam.
Karena itu, Swasti telah terjatuh di tanah. Justru pada saat
lawannya melangkah setapak maju meskipun pedang Swasti masih
terhujamdidadanya. Sesaat orang itu berdiri dengan kaki renggang
disebelah tubuh Swasti yang masih terbujur di tanah. Dengan mata
yang berpijar kemerahan dipandanginya tubuh Swasti yang seolah- olah
sudah tidak beradaya itu. Terjadilah sesuatu yang menggetarkan
seluruh halaman. Orang itu tertawa berkepanjangan. Semakin lama
semakin keras. Seolah-olah ingin meruntuhkan dinding yang memutari
halaman banjar itu. “Aku bunuh kau perempuan cengeng” teriak orang
itu di sela-sela tertawanya. Swasti justu bagaikan membeku. Ia hanya
dapat melihat orang itu mengangkat senjatanya. Kemudian, seolah-olah
terasa sebuah bukit runtuh menimpa dir inya. Swasti masih berteriak,
ketika ia menyadari bahwa tubuh Laksitalah yang jatuh menimpanya.
Namun kemudian segalanya menjadi gelap. Swasti Itupun menjadi
pingsan. Anak-anak muda yang menyaksikan pertempuran itupun
seakan-akan telah membeku pula. Sejenak mereka diam mematung. Namun
sejenak kemudian merekapun telah datang berlari-lari mendekati kedua
tubuh yang diam itu. Dengan tergesa-gesa mereka telah mengangkat dan
menyingkirkan tubuh Laksita yang arang kranjang lukanya. Kemudian
membar ingkannya di pinggir halaman. Sementara dua orang diantara
mereka, dengan wajah yang berpaling telah berusaha menarik pedang
yang terhunjam didada orang itu. Anak-anak muda yang lainpun
kemudian telah membawa Swasti yang pingsan ke pendapa. Ibu Daruwerdi
yang melihat keadaan gadis itupun bagaikan orang yang tersadar dari
sebuah mimpi yang menger ikan. Meskipun tubuhnya masih terasa
gemetar, tetapi iapun kemudian berlari mendekati Swasti yang
terbaring diam diatas sehelai tikar yang di bentangkan di pendapa.
“Swasti. Swasti” ibu Daruwerdi itu memanggilnya. Tetapi Swasti masih
tetap diam. Seorang anak muda yang berlari-lari ke sumur telah
kembali sambil membawa air di dalam mangkuk. Dengan hati- hati ibu
Daruwerdi menitikkan air itu ke mulut Swasti. Setitik demi setitik.
Sesaat kemudian, Swastipun mulai bergerak. Ketika ia mulai menyadari
dirinya, tiba-tiba saja ia berusaha untuk bangkit. Namun kemudian
yang dilihatnya duduk di hadapannya adalah seorang perempuan.
Pandangan matanya yang kabur menjadi semakin jelas. Yang dilihatnya
itu benar-benar seorang perempuan. Ibu Daruwerdi. Tiba-tiba saja
kengerian yang sangat telah bergejolak di hatinya. Hati seorang
gadis yang betapapun garangnya. Karena itu, maka diluar sadarnya
Swasti telah memeluk ibu Daruwerdi itu. Sambil melekatkan kepalanya
didada perempuan itu terdengar gadis itu terisak. Ibu Daruwerdipun
kemudian membelai rambut gadis itu. Rambut yang kusut. Sementara
pakaian Swastipun telah bernoda darah lawannya yang telah
dibunuhnya. “Kau telah menyelamatkan jiwaku ngger” desis ibu
Daruwerdi ”jika kau tidak ada disini, mungkin aku telah dibantai
oleh iblis itu” Swasti tidak menjawab. Ia masih saja terisak. Namun
dalam pada itu, bukan saja kengerian yang telah melanda jantung
gadis itu. Tetapi pelukan seorang perempuan terasa membuat hatinya
sejuk dan tenang. Tiba-tiba saja keriduannya kepada seorang
perempuan telah mencengkamnya. Kerinduannya kepada ibunya seolah-
olah telah terangkat, ketika ia merasakan pelukan seorang perempuan.
Karena itulah, maka Swastipun kemudian tidak dapat menahan tangisnya
yang semakin menyesakkan dadanya. Sambil memeluk perempuan itu
erat-erat Swasti menangis tertahan-tahan. Namun betapapun ia
berusaha menahan diri, namun tangisnya bagaikan tertumpah didada
perempuan itu. Ibu Daruwerdipun menjadi bingung. Ia telah melupakan
kengerian dihatinya sendiri. Tetapi ia tidak tahu, bagaimana
menenangkan gadis itu. Namun akhirnya ia berkata “Swasti, Sudahlah.
Kau sudah menyelesaikan pertempuran itu” Kata-kata itu telah
mengingatkan Swasti kepada orang yang mengerikan itu. Tetapi
rasa-rasanya ia masih ingin melepaskan ker induannya kepada ibunya.
Teringat oleh gadis yang garang itu, bagaimana ia di masa kecilnya
dipeluk dan ditimang oleh ibunya. Tetapi yang kemudian segalanya itu
harus dilemparkannya ke dalam alam kenangan karena ia harus hidup
dalam lingkungan yang keras dan tenggelam dalam latihan- latihan
oleh kanuragan. “Swasti” berkata ibu Daruwerdi itu pula “ tenanglah.
Tidak ada lagi yang menggelisahkan di halaman ini. Kau telah
memenangkan pertempuran itu” Swasti berusaha untuk menguasai
perasaannya. Perlahan- lahan ia melepaskan pelukannya. Kemudian
tangisnyapun mulai mereda. Tetapi justru ia menjadi terisak dan
nafasnya terasa sesak. Dalam keadaan yang demikian, Swasti tidak
dapat berbuat sebagaimana ia mengalami kesulitan setelah bertempur
dengan mengerahkan segenap tenaganya, sehingga nafasnya menjadi
terengah-engah. Dalam keadaan yang demikian, seharusnya ia dapat
memusatkan kemampuannya untuk memperbaiki pernafasannya. Tetapi
selagi nafasnya itu sesak karena tangis, maka ia tidak dapat
memusatkan ilmunya yang manapun juga untuk mengatur pernafasannya
itu, justru karena gejolak perasaannya yang kurang dapat terkekang.
Namun akhirnya, Swasti itupun duduk sambil menundukkan kepalanya.
Sekali-sekali isaknya masih terasa menyesak didadanya. Anak-anak
muda yang berada di banjar itu, menyaksikan tingkah laku Swasti
dengan hati yang bergejolak. Mereka tidak tahu, perasaan apakah yang
tergetar diliati gadis itu. Mereka menyangka bahwa peristiwa yang
mengerikan itu sajalah yang telah mengguncangkan perasaan Swasti.
Mereka tidak melihat, betapa sejuknya pelukan seorang ibu telah
membuat Swasti semakin tenggelam ke dalam tangisnya. Meskipun
demikian, agaknya Swasti tidak mau lagi melihat tubuh orang yang
telah dibunuhnya. Ia sama sekali tidak mau memandang ke halaman.
Apalagi karena ia tahu, bahwa tubuh lawannya itu masih belum
disingkirkan dati tempatnya Dengan kepala tunduk Swasti itu kemudian
berkata dengan nada yang masih gemetar “Aku akan kebelakang, bibi”
“Marilah ngger” jawab ibu Daruwerdi “Aku akan mengantarkanmu”
Kemudian Swasti itupun berkata kepada seorang anak muda yang berada
di pendapa “Singkirkan tubuh itu. Aku tidak mau melihatnya lagi”
“Baiklah” jawab anak muda itu “akan kami bawa tubuh itu keserambi
samping” Sementara Swasti masuk ke ruang dalam, dan memerlukan
pakaian untuk menggantikan pakaiannya yang bernoda darah, maka anak
muda itupun kemudian mengajak kawan- kawannya untuk memindahkan
tubuh yang terbaring diam itu. Rasa-rasanya merekapun menjadi sangat
ngeri. Namun tubuh itu benar-benar sudah tidak dapat mengamuk lagi.
Orang itu tidak dapat lagi membunuh siapapun juga yang berada di
halaman banjar itu. “Gadis itu memang luar biasa” desis seseorang
diantara anak-anak muda itu “ bagaimanapun juga, ia dapat
mengalahkan lawan yang garang ini, meskipun ia kemudian tidak dapat
melepaskan perasaannya sebagai seorang gadis” Dalam pada itu, di
bukit gundul Ki Ajar Cinde Kuning masih merenungi saudara kembarnya
yang telah mengakhiri hidupnya dengan caranya. Penyesalan dan
putus-asa nampaknya telah terlalu dalam menghunjam di dalam
jantungnya, sehingga ia merasa tidak pada tempatnya lagi untuk
tinggal bersama-sama kehidupan yang beradab. Beberapa orang yang
lain telah mulai dengan mengumpulkan. mereka yang terluka. Satu dua
orang anak muda Lumban. ternyata menjadi parah oleh luka-lukanya.
Bahkan ada juga diantara mereka yang tidak sadarkan diri lagi dan
tidak tahu apa yang terjadi. Tabib yang sudah tidak dapat berbuat
apa-apa lagi atasi Ki Ajar Pamotan Galih itupun segera bekerja keras
di bantu oleh beberapa orang untuk menolong jiwa mereka yang seakan-
akan sudah berada di ujung rambut. Namun, betapa segala usaha
dilakukan, tetapi akhirnya segalanya terserah kepada keadilan Yang
Maha Kuasa. Mereka yang memang sudah waktunya harus menghadap,
ternyata tidak akan dapat ditunda lagi. Dalam pada itu, Daruwerdipun
masih duduk di sisi Ki Ajar Cinde Kuning merenungi tubuh Ki Ajar
Pamotan Galih. Rasa- rasanya semuanya itu bagaikan sebuah mimpi.
Daruwerdi sama sekali tidak mengerti bahwa kakeknya dan sekaligus
gurunya telah berganti orang, meskipun kemudian ia merasakan
beberapa perbedaan. Tetapi ia menganggap bahwa hal itu disebabkan
karena kakeknya sengaja telah mempersiapkan dirinya dalam tugasnya
yang baru. Selagi anak-anak muda di bukit gundul itu membenahi dir
i, tiba-tiba mereka telah dikejutkan oleh hadirnya seorang kawan
mereka yang berlari- lari dengan nafas terengah-engah. Karena itu,
maka anak-anak muda Lumban itupun telah menyosongnya sambil bertanya
“Ada apa?“ Anak muda itu mencoba mengatur pernafasannya. Katanya
kemudian terbata-bata “Mana Daruwerdi” “Ya kenapa?“ bertanya
kawannya. Kawan-kawannya yang melihat keadaan yang nampaknya gawat
itu telah membawa anak itu kepada Daruwerdi. “Ibumu dalam bahaya”
berkata anak itu “seorang yang garang telah bertempur dengan gadis
yang menemani ibumu itu” Daruwerdi tiba-tiba saja telah meloncat
berdiri Anak muda Lumban itu ternyata telah meninggalkan banjar
ketika Swasti mulai bertempur dengan Laksita taripa melihat akhir
dari pertempuran itu. Kecemasan yang bergejolak dihatinya telah
mendorongnya untuk pergi ke bukit gundul. “Katakan sekali lagi“
minta Daruwerdi. “Seseorang telah bertempur dengan gadis yang berada
di banjar itu. Orang itu mencarimu, tetapi yang ada hanya ibumu.
Gadis itu berusaha untuk melindungi ibumu” jawab anak muda Lumban
itu. Daruwerdi tidak bertanya sekali lagi. lapun kemudian
berlari-lari meninggalkan bukit itu tanpa mengatakan sesuatu kepada
siapapun juga. Jlitheng dan beberapa orang yang mendengar keterangan
itupun tidak dapat tinggal diam. Mereka tidak tahu, siapa orang yang
datang itu dan apakah ia memiliki ilmu yang tidak terlawan. Ki Ajar
Cinde Kuningpun menjadi cemas. Tetapi sebelum ia beranjak dari
tempatnya, Kiai Kanthi berkata “Aku ikan melihat apa yang terjadi
dengan anakku” Ki Ajar Cinde Kuning menarik nafas dalam-dalam.
Pangeran Sena Wasesa tertarik juga kepada kabar itu. Tetapi etclah
beberapa orang meninggalkan bukit gundul itu, maka mpun membatalkan
niatnya untuk pergi ke banjar bersama-sama dengan Kiai Kanthi. Dalam
pada itu, Jlithengpun berpesan kepada Semi “Kau disini. Biarlah
anak-anak itu menyelesaikan tugasnya disini. Jika perlu sekali, aku
akan memberikan isyarat” Semi tidak menjawab. Namun iapun kemudian
bersama anak-anak muda Lumban telah berusaha untuk membersihkan
tempat itu. Kawan maupun lawan yang masih memer lukan pertolongan,
telah disiapkan untuk segera mendapat pertolongan. Sejenak kemudian,
Ki Ajar Cinde Kuning merasa tidak perlu terlalu lama merenungi
saudara kembarnya yang telah memilih jalannya sendiri. Meskipun
terasa pedih di hatinya masih menyengat, namun iapun akhirnya
meninggalkan saudara kembarnya, yang diharapkannya dapat memilih
jalan yang lebih baik. Tetapi yang justru memilih jalan yang paling
singkat. Ki Ajar Cinde Kuning kemudian melihat Pangeran Sena Wasesa
merenung. Namun ia t idak ingin menegurnya. Pangeran Sena Wasesa
masih terpengaruh oleh sikapnya, bahwa ia telah mencampuri perang
tanding Pangeran itu melawan Kiai Pusparur i. Namun tanpa campur
tangan orang lain, Pangeran Sena Wasesa tidak akan dapat bertahan
melawan Kiai Pusparuri yang garang itu. Dalam pada itu, maka Ki Ajar
Cinde Kuningpun telah memilih untuk membantu tabib yang sedang sibuk
itu. Iapun memiliki pengetahuan tentang obat-obat dan iapun membawa
serba sedikit, sehingga dengan demikian, maka iapun akan dapat
membantu mer ingankan pender itaan mereka yang terluka Namun
akhirnya, Ki Ajar Cinde Kuning itu telah berbicara dengan anak-anak
muda Lumban. Mereka bersepakat untuk membawa kawan-kawan mereka yang
terluka ke banjar, agar mereka dapat merawat lebih baik. Demikian
pula orang-orang Pusparuri yang parah, sementara beberapa orang
kawan yang lain akan tinggal untuk menyelenggarakan dan mengubur
lawan-lawan mereka yang terbunuh di peperangan. “Pangeran“ berkata
Ki Ajar Cinde Kuning kemudian “Bukankah tidak ada gunanya lagi kita
berada di bukit ini?“ Pangeran Sena Wasesa menarik nafas
dalam-dalam. ”Anak-anak muda akan menyelesaikan segalanya. Marilah
kita pergi ke Banjar. Kita akan melihat apa yang terjadi, dengan
anak gadis Kiai Kanthi itu. Selebihnya kita akan berbicara tentang
diri kita masing-masing. Nampaknya persoalan yang membakar daerah
Sepasang bukit mati ini telah padam Mudah-mudahan t idak ada lagi
orang-orang tamak yang akan mencari pusaka dan harta benda yang
sebenarnya tidak pernah tersimpan di bukit gundul ini. Karena
menurut Pangeran semuanya telah kembali ke tempatnya, gedung
perbendaharaan Demak” Katanya lebih lanjut. Pangeran Sena Wasesa
menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian kitanya “Baiklah. Kita
akan pergi ke banjar. Tetapi tidak ada lagi yang perlu aku
bicarakan. Seperti yang sudah aku katakan, pusaka dan harta benda
itu memang sudah berada di gedung perbendaharaan Demak. Dengan
demikian sebenarnya sia-sialah korban yang jatuh selama ini dalam
perburuan yang tidak punya arti sama sekali” “Ketamakan
kadang-kadang memang membaurkan nalar kita Pangeran” jawab Ki Ajar
Cinde Kuning. Lalu “Namun disamping pusaka dan harta benda itu,
masih ada yang dapat di bicarakan diantara kita. Bukan tidak
diperhitungkan, bahwa Daruwerdilah yang harus mengambil Pangeran
sebagaimana di kehendaki oleh Pamotan Galih” Pangeran Sena Wasesa
mengerutkan keningnya. Namun Ki Ajar itupun berkata “Marilah.
Mudah-mudahan kita akan menemukan jawabnya nanti. Pangeran Sena
Wasesa mengerutkan keningnya. Namun Ki Ajar itupun berkata “Marilah.
Mudah-mudahan kita akan menemukan jawabnya nanti” Pangeran Sena
Wasesa tidak membantah lagi meskipun ia sama sekali tidak mengerti
apa yang dimaksud oleh Ki Ajar Pamotan Galih. Dalam pada itu, Ki
Ajar itupun masih sempat berpesan kepada anak-anak muda di bukit
gundul itu, agar mayat saudara kembarnya itupun di bawa ke banjar.
Bagaimanapun juga orang itu adalah saudaranya, bahkan saudara
kembarnya. Demikianlah maka Pangeran Sena Wasesa dan Ki Ajar Cinde
Kuning itupun bergegas pergi ke banjar Kabuyutan. Merekapun merasa
bertanggung jawab atas Kabuyutan itu, apalagi atas ibu Daruwerdi.
Perempuan itu seolah-olah telah menjadi anak kandung Ki Ajar Cinde
Kuning meskipun ia harus melepaskannya beberapa saat, justru pada
saat saudara kembarnya menggant ikan kedudukannya. Sementara itu,
kedua orang pamari Daruwerdi yang telah berada di bukit gundul dan
ikut bertempur melawan orang- orang itupun menjadi bingung, sehingga
mereka tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan, Namun merekapun
ingin tahu, apa yang terjadi dengan ibu Daruwerdi, sehingga
merekapun telah menyusul Kiai Kanthi pergi ke banjar. Sebenarnyalah
anak-anak muda Kabuyutan Lumban itupun telah bekerja dengan baik dan
cepat. Karena itu, maka dengan tenaga yang cukup banyak, tugas
merekapun segera dapat mereka selesaikan. Bahkan beberapa orang anak
muda Lumban telah mengambil beberapa buah pedati yang ada di Lumban
untuk membawa kawan-kawan mereka maupun orang-orang Pusparuri yang
tidak dapat berjalan sendiri menuju ke banjar. Dengan demikian maka
Lumban telah benar-benar menjadi sangat sibuk. Orang-orang Lumban
yang semula tidak begitu jelas dengan apa yang terjadi di bukit
gundul, akhirnya merekapun mengerti pula. Sehingga dengan demikian
justru mereka menjadi sangat ngeri mendengar peristiwa di bukit
gundul itu. Meskipun peristiwa itu sendiri telah selesai, tetapi
perempuan dan anak-anak masih ragu-ragu untuk turun ke jalan. Namun
beberapa orang diantara mereka telah memberanikan diri untuk
bertanya-tanya, apakah anak mereka selamat pulang ke Kabuyutan
Lumban. Dalam pada itu, Daruwerdi telah berada di banjar Kabuyutan
Lumban. Ketika ibunya melihat kedatangannya, maka iapun segera
menyongsongnya, memeluknya seperti memeluk kanak-kanak. “Apa yang
telah terjadi ibu?“ bertanya Daruwerdi. Ibunya menar ik nafas
dalam-dalam. Katanya “Gadis itu telah menyelamatkan nyawaku”
Daruwerdi memandang wajah Swasti sejenak. Kemudian iapun berdesis
“Ter ima kasih Swasti” “Kaupun telah menyelamatkan nyawaku ketika
aku dan ayah datang ke padukuhan ini” sahut Swasti tersendat-sendat
oleh keragu-raguan “kau telah membunuh har imau itu” “Hal itu aku
lakukan karena kebodohanku” jawab Daruwerdi ”Sudah pernah aku
katakan bahwa aku tidak tahu sama sekali, dengan siapa aku
berhadapan. Ternyata kau telah mampu membunuh orang yang tidak dapat
aku bunuh di bukit gundul. Ia sempat melarikan diri. Ternyata ia
telah datang ke banjar ini. Untunglah kau ada disini. Jika anak-anak
muda Lumban saja yang menghadapinya, maka korban akan bertebaran di
halaman” “Ah“ desah Swasti sambil menundukkan kepalanya. “Kita
berhutang kepadanya” berkata ibu Daruwerdi. “Ya” Sahut Daruwerdi
“akupun telah diselamatkannya di bukit gundul saat kami bertemu
dengan sisa-sisa orang-orang Sanggar Gading dan Kendali Putih”
”Bukan begitu” jawab Swasti ragu-ragu. Tetapi ternyata ia tidak
dapat meneruskan kata-katanya. ”Nampaknya kami sudah berhasil
menenangkan dir i” berkata, ibu Daruwerdi “tinggalkan kami disini.
Mungkin kau dapat membantu anak-anak muda di halaman banjar ini”
Daruwerdi mengangguk kecil. Sekilas dipandanginya Swasti yang semula
menunduk. Namun pada saat yang bersamaan Swastipun telah mengangkat
wajahnya dan memandanginya. Cepat keduanya memalingkan wajahnya.
Namun yang sekilas itu rasa-rasanya telah membuat jantung mereka
berdebaran. Namun kemudian Daruwerdi tidak mengucapkan sepatah
katapun lagi. Iapun segera meninggalkan tempat itu dan turun
kehalaman. Dilihatnya Kiai Kanthi telah memasuki halaman itu pula.
Namun karena keadaan sudah nampak lebih tenang, maka iapun tidak
tergesa-gesa. ”Dimana anakku ngger?“ bertanya Kiai Kanthi kepada
Daruwerdi. “Ada di dalam Kiai” jawab Daruwerdi. "Kiai Kanthipun
kemudian memasuki banjar itu. Dilihatnya dua orang perempuan duduk
disebuah amben bambu. “Ayah desis Swasti. Adalah diluar sadarnya
bahwa terasa matanya menjadi panas. Setitik air telah mengembang di
pelupuknya. “Kau selamat Swasti. bersukurlah” desis Kiai Kasihi
“Ternyata kau masih selalu mendapat perlindungan” Swasti menunduk.
Diusapnya matanya yang basah dengan jari-jarinya. Sementara itu ibu
Daruwerdi berkata “Gadis yang luar biasa Kiai. Tanpa gadis itu, aku
tidak tahu apa yang terjadi atas diriku” “O” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk “Tetapi sudah tentu karena pertolongan anak-anak
muda Lumban” “Anak-anak muda Lumban sama sekali t idak berdaya
menghadapi orang itu, meskipun bukan berarti bahwa mereka tidak
berbuat apa-apa. Tetapi anak perempuan Kiai benar- benar seorang
yang luar biasa” “Terima kasih” sahut Kiai Kanthi “Sudah aku
katakan, sebenarnya Kuasa Yang Maha Kuasa sajalah yang telah
menyelamatkan kita semuanya” Perempuan itu mengangguk-angguk.
Katanya “Ya. Sebenarnyalah memang demikian Kiai” Beberapa saat Kiai
Kanthi masih berada di ruang itu. Namun kemudian iapun telah pergi
ke pendapa. Ternyata orang-orang tua yang lainpun telah hadir pula
di pendapa itu. Agaknya keadaan yang paling gawat telah lewat bagi
Lumban. Yang di lakukan anak-anak muda kemudian adalah menolong yang
terluka dan menyelenggarakan yang terbunuh di peperangan sebagaimana
seharusnya. Dengan demikian maka kesibukan di banjar itupun, menjadi
semakin meningkat. Ternyata bahwa semuanya yang terjadi itupun
kemudian telah dilaporkan kepada Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban
Kulon. Apalagi Nugata sendiri ikut menanganinya. Sehingga karena
itu, maka kedua Buyut yang kebetulan bersaudara kembar itupun telah
mengunjungi banjar Kabuyutan Lumban Wetan. Dengan kerja keras, maka
akhirnya semuanya dapat diselesaikan. Mereka yang terluka tidak
terlalu parah, lelah diantar kepada keluarga masing-masing.
Sementara yang mengalami luka yang gawat, masih tetap tinggal di
banjar, agai dapat diawasi dan dirawat dengan sebaik-baiknya.
Demikianlah, pada har i berikutnya, Pangeran Sena Wasesa telah
dengan sengaja berbicara dengan beberapa orang bebahu Kabuyutan
Lumban Wetan dan Lumban Kulon termasuk Ki Buyut dari kedua Kabuyutan
yang bertetangga itu. Pangeran Sena Wasesa telah memberikan
penjelasan tentang pusaka dan harta benda yang telah menjadi sumber
bencana bagi Lumban. Sesuai dengan pendapat Ki Ajar Cinde Kuning,
memang ada kesengajaan dari Ajar Pamotan Galih untuk memancing
perhatian beberapa pihak. Apalagi beberapa pihak itu telah pernah
mendengar serba sedikit tentang perjalanan seorang Senapati yang
meninggalkan Majapahit pada masa-masa terakhir. “Ki Ajar Pamotan
Galih lelah dengan sengaja menyebarkan kabar-kabar yang dapat
memancing kekeruhan” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “Tentu saja
sebagian atas namaku, atas nama Ajar Macan Kuning dan kemedian Ajar
Pamotan Galih” “Ki Ajar Pamotan Galih mengetahui bahwa aku tahu
benar tentang pusaka itu” berkata Pangeran Sena Wasesa “karena itu,
maka ia telah memasang nilai tukar. Jika Ajar Pamotan Galih dapat
menangkap aku, maka ia akan dapat memeras aku untuk menjelaskan
dimana pusaka itu disimpan. Sementara ia telah menyiapkan
barang-barang palsu untuk mengelabui orang-orang yang dianggapnya
terlalu bodoh” Namun akhirnya Pangeran Sena Wasesa itupun berkata
“Tetapi semuanya sudah lampau. Kita harus berterus terang kepada
semua orang, bahwa Pusaka dan harta benda yang mereka cari telah
berada di Demak, Pusaka itu telah berada di gedung perbendaharaan,
khusus gedung pusaka” Orang-orang yang mendengar penjelasan itupun
mengangguk-angguk. Mereka mengerti maksud Pangeran Sena Wasesa Agar
perburuan pusaka itu tidak terjadi lagi, maka ber ita bahwa pusaka
itu telah berada di gedung pusaka di Demak harus tersebar luas,
“Tetapi pusaka apakah yang sebenarnya di perebutkan itu?“ t iba-tiba
Kiai Kanthi bertanya. Pangeran Sena Wasesa memandang Kiai Kanthi
sejenak. Lalu katanya “Apakah Kiai benar-benar bertanya atau sekedar
ingin memberitahukan jenis pusaka itu kepada orang-orang yang ada di
tempat ini“ Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Jawabnya “Tentu aku
ingin tahu karena sebenarnyalah aku tidak mengetahui” Pangeran Sena
Wasesa mengangguk-angguk. Katanya “Kiai, sebelumnya aku memang belum
mengenal Kiai. Tetapi seperti yang pernah aku katakan, aku mengenal
ciri-cir i pada tata gerak Kiai, dan yang barangkali Kiaipun dapat
mengatakan demikian terhadap ilmuku” Kiai Kanthi berdesah. Katanya
“Mungkin hanya kebetulan Pangeran. Tetapi sebenarnyalah aku tidak
tahu sama sekali tentang pusaka yang sedang diperebutkan itu”
“Baiklah Kiai” jawab Pangeran Sena Wasesa “pusaka yang telah
diserahkan bagi seorang Senepati yang mendapat tugas untuk menahan
arus lawan itu adalah pusaka yang sangat tinggi nilainya bagi
Majapahit. Meskipun Senepati itu tidak berhasil mempertahankan Kota
Raja, namun ia telah berhasil menghambat kemajuan lawan dan memberi
kesempatan Majapahit menyelamatkan sebagian besar dari isi istana.
Bukan saja harta bendanya, tetapi juga manusianya. Dan pusaka itu
berupa sebilah sabet. Sebilah pedang yang bernama Kiai Lawang” “Kiai
Lawang“ Kiai Kanthi mengulang “sebuah pedang yang luar biasa” “Ya
Kiai, sabet yang jarang ada duanya” sahut Pangeran Sena Wasesa
“namun yang lebih menarik perhatian mereka yang berburu pusaka,
adalah bahwa menurut kepercayaan mereka, dan yang sudah tentu telah
disebar luaskan mula- mula oleh lingkungan para pemburu harta benda,
bahwa pusaka sabet Kiai Lawang itu di sertai dengan harta benda yang
tidak ternilai harganya, sebagai lantaran untuk dapat memulihkan
kuasa Majapahit” “Tetapi usaha itu tidak berhasil?“ berkata Kiai
Kanthi kemudian. “Bukan tidak-berhasil“ berkata Pangeran Sena Wasesa
karena yang kemudian berdir i adalah Demak, maka usaha itu telah
disalurkan lewat trah Majapahit yang sudah berhasil menghimpun
tegaknya satu negara baru, meskipun tidak berada di bekas kota raja
yang lama, Majapahit. Dengan demikian, maka pusaka dan harta benda
itu telah diserahkan kepada Demak” Kiai Kanthi mengangguk-angguk.
Namun sementara itu Daruwerdi berkata “Agaknya Ki Ajar Pamotan Galih
tidak tahu pasti, pusaka apakah yang sebenarnya diburu oleh orang-
orang tertentu, dan orang-orang Sanggar Gading. Kendali Putih.
Pusparuri dan mungkin orang-orang lain yang ingin juga berburu
pusaka itu, sama sekali juga tidak tahu ujud pusaka yang mereka car
i” “Agaknya memang demikian ngger” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Ya.
Ternyata Ki Ajar Pamotan Galih telah menyediakan sebuah peti yang
diisi dengan sebilah keris. Bukan sebilah sabet” jawab Daruwerdi.
“Tetapi Ki Ajar Pamotan Galih mengetahui, bahwa satu- satunya orang
yang tahu pasti dimana pusaka itu adalah Pangeran Sena Wasesa” sahut
Ki Ajar Cinde Kuning. “Nampaknya memang demikian” berkata Pangeran
Sena Wasesa kemudian. Lalu “Dengan demikian maka aku telah menjadi
semacamsayembara” “Tetapi Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “
justru karena itu maka aku akan sampai pada suatu ceritera yang
barangkali akan menar ik bagi Pangeran” Pangeran Sena Wasesa
mengerutkan keningnya. Katanya “Ceritera apa Ki Ajar?“ bertanya
Pangeran Sena Wasesa. “Aku akan mengatakannya pada satu kesempatan
yang khusus” berkata Ki Ajar Cinde Kuning. Pangeran Sena Wasesa
tidak menjawab. Namun kemudian dipandanginya orang-orang yang ada
disekitarnya. Dilihatnya wajah-wajah yang bersungguh-sungguh dan
bahkan nampak ketegangan yang bergejolak di dalam hati orang-orang
yang ada disekitarnya. Mereka mendengarkan keterangannya dengan
penuh kesungguhan, karena meskipun mereka berada didekai bukit
gundul itu, namun mereka sama sekali tidak mengerti dan tidak pernah
mendengar ceritera tentang pusaka dan apalagi harta benda yang tidak
ternilai harganya. Seandainya pusaka dan harta benda itu pernah ada
di bukit gundul, meskipun sebelumnya mereka t idak lahu sama sekali,
tetapi mereka akan pernah melihat pusaka dari harta benda itu
diambil orang dan dibawa ke Demak. Apalagi orang-orang tua di Lumban
Wetan maupun di Lumban Kulon. Dalam pada itu, maka t iba-tiba
Jlitheng telah berkata “Pangeran. Tetapi apakah benar, bahwa pusaka
dan harta benda itu berada di daerah Sepasang Bukit Mati ini”
Pangeran Sena Wasesa tersenyum. Katanya “Sama sekali tidak. Daerah
ini memang pernah dilewati oleh Senapati Besar dari Majapahit itu.
Tetapi Senepati itu tidak pernah meninggalkan apapun juga di sekitar
Daerah Sepasang Bukit Mati ini. Karena itu, orang-orang Lumban t
idak pernah melihat, bagaimana aku mengambil pusaka dan harta benda
itu dan membawanya ke Demak” Jlitheng mengangguk-angguk. Lalu
katanya “Nah, jika demikian, apakah artinya ceritera tentang
Sepasang Bukit Mati itu?“ “Aku kurang tahu” jawab Pangeran Sena
Wasesa “Mungkin ceritera itu memang dibuat oleh seseorang. Mungkin
oleh Ki Ajar Pamotan Galih dengan nama Ajar Macan Kuning atau Ajar
Cinde Kuning. Daruwerdi menundukkan kepalanya. Ia sedikit banyak
mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Ki Ajar Pamotan Galih yang
disangkanya adalah gurunya sendiri. Beberapa tahun ia berada di
tangan orang yang salah. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka.
Bahkan ia sama sekali tidak menyadari, bahwa ia menjadi salah satu
biji permainan Ki Ajar Pamotan Galih. Namun dalam pada itu, maka
Jlithengpun kemudian berkata “Nah Ki Buyut Lumban Wetan dan Lumban
Kulon. Nampaknya peristiwa yang terjadi disekitar Lumban bagi kita
disini, bagaikan sebuah mimpi. Mimpi yang sangat nggegirisi. Dan
kini mimpi itu telah lewat. Kita tidak per lu lagi menangisi mimpi
yang telah lewat itu, meskipun bagi kita mimpi itu telah
meninggalkan bekas-bekasnya. Beberapa anak-anak muda Lumban terluka.
Bahkan ada yang menjadi parah. Tetapi semuanya telah lampau. Yang
kemudian kita hadapi adalah kenyataan tentang diri kita sendiri”
Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Anak muda yang satu ini
memang sangat menarik perhatiannya disamping Daruwerdi. Namun
sebelum ia bertanya sesuatu, terdengar Rahu berkata “Jlitheng,
nampaknya untuk menghadapi kenyataan tentang Lumban, kau akan
mengambil peranan yang penting. Tetapi bukankah disini ada Kiai
Kanthi yang sudah mempunyai sebuah gubug kecil di hutan diatas bukit
kecil itu? Kau akan dapat bekerja bersamanya dalam banyak hal”
Jlitheng mengerutkan keningnya. Sekilas di pandanginya Kiai Kanthi.
Namun agaknya Kiai Kanthi t idak akan berbicara apapun juga. Karena
itu, maka Jlithenglah yang berkata “Tentu Rahu. Aku tidak akan
ingkar. Aku dan Kiai Kanthi telah mulai bermain dengan air.
Sementara ini baru sebagian saja dari daerah persawahan di Lumban
yang tersentuh air itu. Kami akan mendapat waktu dan kesempatan di
hari berikutnya yang masih cukup panjang, agar kami dapat mengatur
air dengan lebih baik” Dalam pada itu, tiba-tiba saja Kiai Kanthipun
berkata "Kau benar ngger. Kita sudah mulai bersama-sama. Juga
bersama- sama dengan anak-anak muda Lumban. Kita akan meneruskan
kerja ini. Kita akan melihat kemungkinan lebih jauh, apakah kita
masih dapat menyadap air lebih banyak dari yang sudah kita peroleh
sekarang” Rahulah yang telah menyahut lebih dahulu “ Segalanya akan
dapat di bereskan. Sementara Pangeran Sena Wasesa akan dapat segera
kembali ke Demak. Sebenarnyalah aku akan mengantar Pangeran. Secara
pribadi maupun dalam tugas-tugasku bersama Semi dan seorang kawan
kami” “Ternyata aku berada disekitar kawan-kawan yang sangat baik”
berkata Pangeran Sena Wasesa. “Bukan hanya sekedar kawan-kawan yang
baik Pangeran” potong Ki Ajar Cinde Kuning. “Apakah yang Ki Ajar
maksudkan?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Sudah aku katakan, aku
mempunyai ceritera tentang Pangeran. Pada saatnya aku akan
menyampaikan cerita itu, meskipun sifatnya sangat pribadi bagi
Pangeran” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Pangeran Sena Wasesa menarik
nafas dalam-dalam. Ia merasa aneh, bahwa orang cacat yang mengaku
bernama Ajar Cinde Kuning itu akan dapat menyampaikan satu ceritera
yang menarik dan bersifat sangat pribadi. Namun dengan demikian maka
Pangeran itupun justru menjadi semakin ingin mengetahui. Tetapi
Pangeran Sena Wasesa masih tetap menguasai perasaannya. Ia tidak
ingin memaksa orang cacat itu untuk segera berceritera. Biarlah ia
sendiri yang menghendakinya. Dalam pada itu, maka Ki Ajar Cinde
Kuning itupun akhirnya mendapatkan kesempatan itu juga. Selagi
orang-orang Lumban sedang beristirahat serta kedua orang Buyut dari
Lumban Kulon dan Lumban Wetan yang kembali ke Ka- buyutan
masing-imesing untuk berbincang dengan para pembantunya, maka K i
Ajar Cinde Kuningpun telah berusaha menemui Pangeran Sena Wasesa
seorang diri. Namun dalam pada itu, ibu Daruwerdi yang mengetahui
niat Ki Ajar itupun berkata “Ayah. Aku berharap, agar ayah tidak
membicarakannya lagi dengan Pangeran” Ki Ajar Cinde Kuning menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Rasa-rasanya ada kewajibanku untuk
mengatakannya. Mungkin kau merasa tidak mempunyai kepentingan apapun
lagi. Tetapi hal itu? tentu akan berguna bagi anakmu. Kau tidak akan
dapat membiarkan anakmu hidup dalam keadaannya seperti sekarang ini.
Apalagi setelah ia diracuni oleh cita-cita saudara kembarku, yang
lebih tepat disebut ketamakannya. Anakmu memer lukan satu suasana
yang berbeda. Apa yang terjadi pada saat-saat terakhir tentu sangat
mempengaruhi caranya berpikir. Ia telah diajari oleh saudara
kembarku yang disangkanya adalah aku sendiri untuk melakukan satu
perbuatan yang sebenarnya kurang terpuji dan jika kau ingin
mengetahuinya sekarang, karena semuanya telah lampau, bahwa apa yang
dilakukannya itu adalah sangat berbahaya bagi jiwanya. Untunglah
bahwa ia telah bertemu dengan orang-orang yang dapat berbuat sesuatu
untuk menyelamatkannya” Ibu Daruwerdi itupun menunduk dalam-dalam.
Sekitar air telah melekat dipelupuknya. “Jika kau tidak sependapat
ngger, anggaplah hal itu suatu pengorbanan bagi kepentingan anakmu,
agar ia mendapatkan hari depan yang lebih baik” berkata Ki Ajar
Cinde Kuning “Mudah-mudahan suasana yang berbeda akan melenyapkan
kenangannya atas racun yang telah ditaburkan oleh Pamotan Galih”
Perempuan itu menjadi semakin tunduk. Namun kemudian katanya “Jika
semuanya ini akan bermanfaat bagi anak itu, apaboleh buat bapa” Ki
Ajar Cinde Kuning itupun menepuk pundak anak angkatnya. Katanya
lembut “Mudah-mudahan anak itu akan menemukan har i-hari yang baik
dikemudian” Ibu Daruwerdi tidak menjawab lagi. Dibiarkannya kemudian
Ki Ajar Cinde Kuning menemui Pangeran Sena Wasesa seorang diri. Kiai
Kanthi yang mengetahui, bahwa agaknya ada sesuatu yang penting untuk
dibicarakan berdua saja, maka iapun telah berusaha untuk tidak
mengganggunya. Ia telah membuat satu kesibukan tersendiri diantara
anak-anak muda Lumban. Pangeran Sena Wasesapun menjadi
berdebar-debar. Ia sama sekali tidak tahu, persoalan apakah yang
akan dikatakan oleh Ki Ajar Pamotan Galih yang dianggap olehnya
sebagai sesuatu yang sangat pribadi. “Pangeran” berkata Ki Ajar
Cinde Kuning ketika ia sudah duduk berdua saja dengan Pangeran Sena
Wasesa. Lalu “Aku sebenarnya hanya ingin berceritera” Pangeran Sena
Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk mengatur
perasaannya. Mungkin csritera itu akan sangat mengejutkannya
Sementara itu, Daruwerdipun telah menemui ibunya. Dengan ragu-ragu
ia bertanya “Kenapa ibu nampak gelisah?“ Ibunya tcrmangu-mrngu
sejenak. Katanya kemudian ”Ibu tidak apa-apa ngger” “Agaknya ibu
telah berbicara dengan kakek. Kemudian ibu menjadi sangat gelisah.
Apakah sebenarnya yangi telah terjadi? Peristiwa yang baru saja
terjadi telah mengguncangkan hatiku. Aku hampir tidak percaya bahwa
orang yang selama ini aku anggap guru dan kakek itu ternyata adalah
orang lain. Sekarang nampaknya ada persoalan báru yang tumbuh, yang
mungkin akan dapat mempengaruhi perasaanku lagi” “Tidak ngger. Tidak
ada apa-apa yang terjadi” jawab ibunya “Jika kau melihat ibumu
murung, sebenarnya ibu telah disiksa oleh kenangan yang sangat
mengerikan. Dengan demikian, maka terima kasihku kepada gadis anak
Kiai Kanthi itu terasa semakin mendalam” Daruwerdi menarik nafas
dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Anak itu adalah anak
yang baik” “Ya ngger. Gadis itu adalah gadis yang baik” sahut ibunya
“Mungkin ada kekurangannya dalam hal unggah-ungguh dan suba-sita.
Itu dapat di mengerti. Juga sifatnya yang agak kasar dan keras. Hal
itu dipengaruhi oleh cara hidupnya yang dibentuk oleh ayahnya yang
menekuni olah kanuragan di padepokan yang terpisah. Tetapi
sebenarnya ia seorang gadis yang berhati lembut” Daruwerdi
mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia mulai membayangkan gadis yang
aneh itu. Gadis yang berwajah cantik, agak kekurus-kurusan. Dalam
pakaian yang tidak terlalu pantas dan sederhana. Namun ternyata
memiliki ilmu yang tinggi. Daruwerdi terkejut ketika diluar
kehendaknya sendiri ia telah mengambil kesimpulan, bahwa gadis itu
adalah gadis yaag sangat menarik. Ibunya tidak bertanya lebih banyak
lagi. Tetapi sebagai seorang ibu, ia dapat menangkap getar dihati
anak laki- lakinya. Agaknya Daruwerdi memang menaruh perhatian
kepada gadis yang bernama Swasti itu. Gadis yang telah membantu anak
muda itu dalam kesulitan di medan, dan yang telah menyelamatkan
ibunya dari keganasan orang Pusparuri. “Gadis itu memang baik”
berkata ibunya di dalam hatinya “Dan aku telah berhutang budi
kepadanya” Tetapi ibu Daruwerdi tidak mengatakannya. Ia tidak mau
mendahului sikap anaknya. Biarlah Daruwerdi mengambil sikap sendiri
terhadap gadis yang bernama Swasti itu. Namun dalam pada itu,
tiba-tiba saja Daruwerdi bertanya “Apakah yang dibicarakan kakek
dengan Pangeran Sena Wasesa?“ Ibu Daruwerdi memandang anaknya
sejenak. Namun kemudian katanya “Aku tidak tahu. Tetapi jika
persoalannya menyangkut kau, maka kau tentu akan diberitahu”
Daruwerdi tidak memaksa ibunya untuk mengatakan sesuatu meskipun ia
tahu, bahwa pembicaraan itu telah menggelisahkan ibunya. Karena itu,
maka Daruwerdi itupun kemudian berkata “Baiklah ibu. Aku akan berada
di halaman” “Jangan pergi” berkata ibunya “Mungkin kau diperlukan
setiap saat” Kecurigaan Daruwerdipun menjadi semakin tajam. Tetapi
ia tetap tidak mau bertanya lagi. Namun jawabnya “Aku hanya akan
berada di halaman. Setiap saat ibu dapat memanggil aku” Ibunya tidak
mencegahnya lagi ketika Daruwerdi meninggalkannya. Dalam pada itu,
di tempat yang khusus. Pangeran Sena Wasesa masih berbincang dengan
orang cacat yang menyebut dirinya Ki Ajar Cinde Kuning. Bahkan
semakin lama pembicaraan mereka menjadi semakin bersungguh-sungguh.
“Ki Ajar” berkata Pangeran itu dengan kerut yang dalam dikeningnya
“Apakah Ki Ajar yakin?“ “Aku adalah orang tua Pangeran. Lebih tua
dari Pangeran sendiri. Karena itu, aku sebenarnya tidak lagi
mempunyai keinginan apapun bagi dir iku sendiri” berkata Ki Ajar itu
“Tetapi aku akan senang sekali melihat anak-anak muda itu menemukan
hari depannya yang baik. Baik bagi dirinya sendiri dan baik bagi
lingkungannya. Daruwerdi bukan seorang yang pantas disebut bengal,
Tetapi pada saat terakhir saudara kembarku telah menjerumuskannya ke
dalam satu keadaan yang parah dan gawat. Untunglah Yang Maha Kuasa
masih melindunginya meskipun terdapat kesan yang kurang baik pada
anak itu. Tetapi itu bukan salahnya” “Aku tidak menyalahkannya Ki
Ajar” sahut Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi apakah Ki Ajar yakin,
bahwa Ki Ajar tidak akan salah lagi?“ berkata Pangeran Sena Wasesa.
“Aku yakin. Jika Pangeran masih sempat mengingat segala peristiwa
yang terjadi, maka Pangeran akan menemukan satu keyakinan seperti
aku” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Nah, apakah Pangeran tidak
berkeberatan jika aku memanggilnya?“ Pangeran Sena Wasesa menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Peristiwa itu sudah lama sekali terjadi.
Tetapi apakah Ki Ajar menganggap bahwa aku telah bersalah hal ini?“
Ki Ajar tersenyum. Jawabnya “Aku tidak mengatakan bahwa Pangeran
bersalah. Namun pada waktu itu sebenarnya Pangeran dapat menempuh
jalan lain. Jalan yang barangkali tidak begitu menyenangkan bagi
seorang Pangeran jika ia harus menanggalkan gelarnya karena seorang
perempuan yang bukan termasuk seorang bangsawan” Pangeran Sena
Wasesa memandang wajah Ki Ajar sekilas. Namun tatapan matanyapun
kemudian menembus pintu yang tidak tertutup rapat hinggap
dikejauhan. Rasa-rasanya segalanya yang pernah terjadi itu mulai
membayang satu demi satu. Semakin lama semakin jelas. Sebuah
kenangan pada masa mudanya” Namun tiba-tiba hampir diluar sadarnya
Pangeran Sena Wasesa berdesis “Bukan maksudku. Bukan kehendakku,
sendiri. Aku terikat pada satu keharusan untuk melakukannya pada
waktu itu. Hati dan jiwaku tidak cukup kuat untuk mempertahankan
sikapku itu. Ki Ajar menarik nafas panjang. Katanya “Pangeran benar.
Akupun beranggapan seperti itu. Dan bukankah sudah aku katakan,
bahwa jarang ada seorang Pangeran yang berani menyingkir dar i
kamukten karena seorang perempuan padepokan” “Ya Ki Ajar. Aku
termasuk salah seorang diantara mereka. Aku termasuk seorang yang
lemah hati dan jiwaku” desis Pangeran Sena Wasesa. “Sudahlah
Pangeran” berkata Ki Ajar “Jangan disesali. Kita sudah sampai pada
suatu saat seperti sekarang. Semuanya tidak akan dapat diulangi
lagi. Namun demikian kita masih mungkin untuk menemukan masa depan
yang paling baik. Jika kita yang tua ini tidak memerlukannya lagi,
biar lah anak-anak muda itulah yang akan menempuh masa depan itu.
Terkutuklah kita yang tidak mampu mempersiapkan masa depan yang baik
bagi keturunan kita hanya karena kita sendiri sajalah yang menjadi
pusat perhatian kita. Seolah-olah kita masih akan hidup beribu tahun
lagi, sehingga kita telah dicengkam oleh ketamakan yang berlebih-
lebihan seperti orang-orang Sanggar Gading, orang-orang Kendali
Putih dan orang-orang Pusparuri. Mungkin masih ada lagi orang-orang
yang akan berbuat serupa, termasuk saudara kembarku sendiri.
Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Katanya “Tetapi
bagaimana pendapat Ki Ajar, jika kita yang tua-tua ini telah memburu
sesuatu dengan satu angan-angan bagi kepentingan keturunan kita”
“Seharusnya kita berbuat demikian Pangeran” berkata Ki Ajar “tetapi
dalam pengertian yang luas. Keturunan kita bukanlah sekedar anak
cucu kita. Tetapi satu tataran yang akan menggantikan kita” “Jika
kita melakukannya bagi anak cucu kita masing- masing, maka bukankah
itu berarti bahwa satu tataran sudah dipersiapkan untuk mendapat
tempat yang baik” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Bagus” jawab Ki
Ajar “asal kita tidak terlalu terikat kepada kepentingan diri sendir
i. Kita mempersiapkan hari depan anak- anak kita, tetapi
mengorbankan hari depan anak-anak lain yang juga akan menggantikan
kita pada satu saat tertentu” Pangeran Sena Wasesa
mengangguk-angguk. Dengan nada yang dalam akhirnya iapun berkata “Ki
Ajar, Jika yang dikatakan Ki Ajar tentang perempuan itu benar,
biarlah aku menemuinya” Ki Ajar, Cinde Kuning menar ik nafas
dalam-dalam. Katanya “Terima kasih Pangeran. Mudah-mudahan semuanya
dapat berakhir dengan baik. Sokur lah bahwa hubungan Pangeran dengan
keluarga Pangeran itu belum dirusakkan dan dipecahkan sampai hancur
berkeping-keping oleh saudara kembarku” Pangeran Sena Wasjsa
termangu-mangu sejenak. Dicobanya untuk mengurai persoalan yang
dihadapinya dalam hubungannya dengan permintaan Pamotan Galih atas
dir inya. Dalam pada itu, maka Ki Ajar Cinde Kuningpun telah
memanggil seorang perempuan yang dikenal sebagai ibu Daruwerdi, yang
sebenarnya lebih senang untuk tidak berbicara dengan Pangeran Sena
Wasesa. Tetapi ia t idak dapat menolak keinginan ayah angkatnya,
yang lebih banyak berpikir tentang Daruwerdi daripada tentang
perempuan itu sendir i. Karena itu, dengan jantung yang berdegup
semakin cepat, maka iapun mengikut i Ki Ajar Cinde Kuning menghadap
Pangeran Sena Wasesa yang duduk sendiri menanti Ki Ajar sebagaimana
di pesankan kepadanya. Ketika perempuan itu memasuki ruangan, maka
seperti perempuan itu, Pangeran Sena Wasesapun menjadi berdebar-
debar. Ia sudah melihat perempuan itu sejak ia berada di Lumban.
Tetapi ia sama sekali tidak berpikir bahwa ia pernah melihatnya
sebelumnya. Bahkan lebih dari pada itu. Sementara waktu itu telah
berlaku lebih dar i dua puluh tahun yang lalu. Demikian perempuan
itu duduk dihadapannya, maka wa- jahnyapun segera menunduk
dalam-dalam. Bahkan terasa pelupuk matanya menjadi panas. Tiba-tiba
saja ia berdesis “Tidak. Tidak ayah. Aku tidak memer lukan apapun
juga” Tetapi ketika perempuan itu bangkit dan hampir saja berlari
keluar, Ki Ajar Cinde Kuning telah menghalanginya sambil berkata
lembut “Tenanglah ngger. Cobalah berpikir sebaik- baiknya. Seperti
sudah aku katakan. Jangan berpikir tentang dirimu sendir i. Tetapi
kau harus lebih banyak berpikir tentang anakmu. Berilah ia
kesempatan untuk menemukan sesuatu meskipun hal itu sama. sekali
tidak terpikirkan sebelumnya” Perempuan itu tidak dapat menahan
gejolak perasaannya lagi. Ketika ia duduk lagi, maka setitik air
telah meleleh di matanya. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesapun
mencoba untuk mengenali perempuan itu. Jarak waktu yang memisahkan
cukup lama, sehingga semuanya sudah berubah. Wajah perempuan itupun
telah berubah seperti wajahnya sendiri yang telah berubah pula. Masa
itu ia masih seorang Pangeran muda yang menginjak masa dewasanya.
Karena waktu itu ia dicengkam oleh suatu keinginan untuk menguasai
ilmu kanuragan, maka ia telah melupakan usia dewasanya, sehingga ia
termasuk agak terlambat mengenal lembutnya hati perempuan. Dan
perempuan yang pertama menyentuh hatinya adalah perempuan padepokan.
Dan perempuan itu kini berada di hadapannya, “Srini” tiba-tiba saja
Pangeran Sena Wasesa berdesis. Ibu Daruwerdi itu tidak dapat
menjawab. Tetapi titik air matanya menjadi semakin deras mengalir di
pipinya. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Setelah
diperhatikannya dengan seksama, maka ia tidak akan salah lagi.
Meskipun wajah perempuan itu sudah berubah, tetapi ia masih tetap
mengenalinya bahwa perempuan itu benar Srini seperti yang dikatakan
oleh Ki Ajar Cinde Kuning. Endang Srini yang ditemuinya disebuah
padepokan kecil yang sepi, pada saat ia sedang berburu. Dalam pada
itu, maka Ki Ajar Cinde Kuning itupun kemudian berkata “Bukankah
dengan demikian. Pangeran dapat mengenang dengan jelas apakah yang
pernah terjadi” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam.
Dengan wajah yang suram Pangeran itu berkata “Ki Ajar. Segalanya
seolah-olah menjadi sangat jelas seperti baru kemarin saja terjadi”
“Apakah Pangeran dengan demikian mengerti, siapakah Daruwerdi itu?“
bertanya Ki Ajar Cinde Wangi, “Aku tahu maksud Ki Ajar. Ki Ajar
ingin mengatakan bahwa anak itu adalah anakku sendir i” sahut
Pangeran Sena Wasesa. “O“ tiba-tiba saja perempuan yang disebut
bernama Endang Srini itu menutup wajahnya dengan kedua telapak
tangannya. Sementara itu ia telah berusaha untuk menahan tangisnya
yang akan meledak. Pangeran Sena Wasesa termangu-mangu sejenak.
Namun seperti yang dikatakannya, semuanya menjadi jelas. Dalam
kenangannya Pangeran Sena Wasesa melihat, betapa artinya terguncang
ketika ia melihat seorang gadis padepokan selagi ia singgah bersama
seorang pengiringnya ketika ia pergi berburu. Perempuan yang
kemudian diper istrikannya. Namun ia telah di hadapkan pada satu
masalah yang gawat bagi kedudukannya sebagai seorang Pangeran.
Beberapa pihak tidak setuju bahwa ia telah kawin dengan seorang
gadis padepokan. Ia dapat mengambil perempuan itu sebagai selirnya.
Tetapi ia harus kawin dengan seorang perempuan yang telah ditentukan
oleh lingkungan keluarganya yang ketat memegang paugeran. Tetapi
Pangeran Sena Wasesa tidak sampai hati menganggap perempuan yang
dicintainya itu sebagai isteri paminggir. Karena itu ia telah
mengambil keputusan betapapun berat bagi dirinya sendiri. Dari pada
menganggap Endang dari padepokan kecil itu sebagai isteri
paminggirnya, maka ia lebih baik berpisah sama sekali dengan
mengembalikan Endang itu kepada orang tuanya. Betapa sakit dan
pedihnya perasaan perempuan itu. Tetapi ayahnya, seorang pertapa
yang bijaksana dapat mengerti, bahwa hal itu bukan karena
kesewenang-wenangan Pangeran Sena Wasesa. Meskipun pertapa itupuu
tahu, bahwa Pangeran Sena Wasesa ternyata masih di selubungi oleh
gelar keduniawian. Ia tidak dapat memberikan pengorbanan bagi
cintanya. Ia masih ingin tetap disebut seorang Pangeran dengan
menerima seorang perempuan bangsawan sebagai isterinya. Namun
akhirnya Pangeran itupun menjalani kehidupan cintanya dengan ikhlas.
Ia berusaha untuk menempatkan isterinya yang bangsawan itu di dalam
hatinya. Sehingga akhirnya kehidupan keluarganyapun menjadi
seimbang. Namun ia dihadapkan pada suatu kenyataan. Endang Srini
yang dikembalikan itu memang sedang mengandung. Dengan berat hati ia
terpaksa tidak dapat meminang anaknya. Sekali- sekali ia memang
mengunjungi anaknya disaat masih bayi. Tetapi kesempatan itu
akhirnya telah hilang sama sekali. Ia hanya dapat meninggalkan
beberapa bekal bagi anaknya. Namun ia sendiri akhirnya terpisah sama
sekali dar i anak laki- lakinya yang hidup dan dibesarkan di sebuah
padepokan. Sejak saat itu, Pangeran Sena Wasesa tidak pernah bertemu
lagi dengan anak laki-lakinya yang dilahirkan oleh seorang perempuan
padepokan. Sejenak, ruangan itu dicengkam oleh keheningan. Tidak
seorangpun yang berbicara diantara mereka. Masing-masing seolah-olah
sedang hanyut dalam arus angan-angan. Sementara itu, ketika
Daruwerdi keluar dari ruang dalam dan turun lewat longkangan,
tiba-tiba saja langkahnya tertegun. Dilihatnya seorang gadis duduk
disebelah amben bambu diserambi seorang diri. “Swasti” desis
Daruwerdi. Swasti terkejut. Ketika ia berpaling, ditatapnya mata
Daruwerdi yang sedang memandanginya. Karena itu, maka iapun segera
menundukkan wajahnya. Seandainya ia berhadapan dengan lawan yang
menggenggam pedang sekalipun ia tidak akan berbuat demikian. Namun
dihadapan Daruwerdi, rasa-rasanya jantungnya menjadi bergetar
semakin cepat. Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Seakan-akan
diluar sadarnya ia mendekati gadis itu dan justru duduk diamben itu
pula, disebelah gadis yang semakin menunduk itu. Keringat telah
membasahi di punggung Swasti. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia
menjadi sangat gelisah. Tetapi Daruwerdipun tidak segera mengatakan
sesuatu Untuk beberapa saat ia duduk sambil berdiam dir i. Namun
ternyata seperti jantung Swasti, maka jantungnyapun telah
bergejolak. Dalam pada itu, adalah kebetulan sekali bahwa Jlitheng
telah melintas agak jauh dari tempat mereka duduk. Sejenak langkah
Jlitheng terhenti. Namun iapun kemudian melanjutkan langkahnya
menikung disudut tanpa dilihat oleh kedua orang itu. Sesaat Jlitheng
terhenti. Rasa-rasanya ia ingin menenangkan jantungnya yang
menggelepar. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba saja anak muda itu telah tersenyum. Seakan-akan ia sedang
mengejek dir inya sendiri yang gelisah oleh sesuatu yang tidak
pasti. Tiba-tiba saja Jlitheng mencoba untuk memberanikan diri
bertanya kepada diri sendiri “Apa yang sebenarnya terjadi di relung
hati ini?“ Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Japun kemudian
melangkah ke kebun belakang tanpa tujuan. Di bawah sebatang pohon
manggis iapun berhenti. Namun kemudian iapun telah melangkah lagi ke
sisi yang lain dan lewat halaman samping menuju ke pendapa. Yang
gelisah dalam kediamannya adalah ibu Daruwerdi dan Pangeran Sena
Wasesa. Namun kemudian terdengar suara Pangeran Sena Wasesa lemah
“Sekarang aku tahu Ki Ajar. Kenapa Daruwerdi merasa, bahwa aku telah
membunuh ayahnya. Ternyata pengertian dari ungkapan itu dapat aku
tangkap. Seakan-akan aku telah merampas ayah anak itu dan
memisahkannya. Membunuhnya dalam pengertian yang lain” “Tidak“ Ibu
Daruwerdi memotong diantara isaknya “Aku tidak pernah mengajarkannya
itu. Iapun tidak mengerti bahwa Pangeran adalah ayahnya. Apalagi
yang telah terjadi atas dirinya” Pangeran Sena Wasesa memandanginya
dengan tajamnya. Namun dalam pada itu, Ki Ajarlah yang berkata “Sr
ini benar Pangeran. Anak itu tidak pernah mengetahui sampai saat
ini, siapa dir inya yang sebenarnya. Ibunyapun tidak pernah
mengajarinya mendendam kepada siapapun. Tetapi kesan yang buruk itu
telah di bangunkan oleh Pamotan Galih. Meskipun ia tidak mengatakan
dengan jelas, tetapi anak itu telah menangkap satu pengertian yang
salah. Tetapi pengertian kematian bagi anak itu adalah sebenarnya
kematian, sehingga orang yang membunuh ayahnya itu menurut
pengertiannya akhirnya dianggapnya benar-benar telah membunuhnya
secara wadag, meskipun semula hanya sekedar untuk membangkitkan
kebenciannya saja. “Hampir tidak ada bedanya“ javab Pangeran Sena
Wasesa “tetapi aku tidak akan dapat menyalahkannya j ika kesan itu
memang ada pada anak itu” “Segalanya dapat dijelaskan Pangeran”
berkata Ki Ajar Cinde Kuning. Pangeran Sena Wasesa memandang Ki Ajar
dengan wajah yang menegang. Agaknya ada sesuatu yang ternyata
bergejolak di dalam hatinya. Meskipun Ki Ajar itu menduga, bahwa
ketegangan perasaan Pangeran itu disebabkan oleh kehadiran seorang
perempuan yang tentu tidak diduga sebelumnya, namun sebenarnyalah
ada sesuatu yang telah menggetarkan hati Pangeran Sena Wasesa. Dalam
pada itu. maka dengan nada yang dalam, Pangeran itupun berkata “Ki
Ajar. Baiklah Ki Ajar memanggil anak itu. Biarlah aku sendir i
mengatakan kepadanya, siapakah ayahnya, yang sebenarnya. Kemudian
biarlah orang-orang lain, yang ada disini, orang-orang Lumban dan
bahkan kemudian keluargaku seluruhnya mengetahui, bahwa anak itu
adalah anakku. Anakku yang lahir dari sebuah perkawinan yang
dilambari dengan cinta antara anak-anak muda. Namun keadaan telah
memisahkan kami” “Memang bukan kehendak Pangeran sendir i” desis Ki
Ajar. “Hatiku memang lemah sekali. Bukan saja waktu itu, tetapi
sampai saat inipun aku adalah seorang Pangeran yang lemah hati. Aku
termasuk seorang Pangeran yang mendapat kepercayaan sebagai seorang
Senopati. Tetapi kekuatan lahiriah itu ternyata sama sekali tidak
mencerminkan kekuatan batinku” desis Pangeran Sena Wasesa. “Sudahlah
Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning. “Hal ini berlaku sampai saat
ini Ki Ajar” jawab Pangeran Sena Wasesa. “Tentu tidak” sahut Ki
Ajar. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan
nada dalam ia berkata “Biarlah aku berbicara dengan anakku. Aku akan
menjelaskan segala-galanya. Bukan saja tentang kedudukannya, tetapi
tentang keadaan yang kita hadapi sekarang ini” Ki Ajar mengerutkan
keningnya. Dengan ragu-ragunya ia bertanya “Keadaan yang manakah
yang Pangeran maksudkan? Pertemuan Pangeran dengan Endang Srini
dalam keadaan seperti sekarang ini?“ “Tidak. Bukan tentang hal itu.
Tetapi tentang hal yang lebih besar lagi bagi kita semuanya. Bukan
sekedar soal pribadi. Tetapi persoalan kita. Persoalan Demak” jawab
Pangeran itu. Ki Ajar Cinde Kuninglah yang kemudian menjadi heran.
Ia sudah mengungkapkan satu persoalan pribadi Pangeran Sena Wasesa.
Namun ternyata Pangeran Sena Wasesa masih menyimpan satu masalah
yang lebih besar dari persoalan pribadinya itu. Namun dalam pada
itu, Pangeran Sena Wasesapun berkata “Ki Ajar. Biarlah aku mendapat
kesempatan untuk berpikir. Biarlah aku menentukan apakah yang akan
aku lakukan, justru karena persoalan yang besar itu. Aku mohon Ki
Ajar memberi kesempatan kepadaku untuk berbicara dengan Endang Srini
tanpa orang lain. Aku akan berbicara tentang masa depan anakku yang
sudah terlalu lama terpisah dar i aku” Ki Ajar mengangguk-angguk.
Katanya “Silahkan Pangeran. Tentu aku tidak akan berkeberatan.
Adalah hak Pangeran untuk berbicara tentang putera Pangeran itu”
“Terima kasih Ki Ajar. Selebihnya aku akan member itahukan kepada Ki
Ajar, apakah yang sebaiknya kita lakukan pada saat seperti ini”
berkata Pangeran itu kemudian. Ki Ajarpun kemudian minta dir i untuk
meninggalkan ruangan itu, sementara Endang Srini dan Pangeran Sena
Wasesa masih tetap berada diruangan itu tanpa orang lain. Sejenak
keduanya saling berdiam dir i. Mereka, ternyata sempat mengenang
kembali apa yang pernah terjadi diantara mereka. Namun hal itu telah
lama berlalu. Baru sejenak kemudian Pangeran Sena Wasesa berkata
“Srini. Beruntunglah, bahwa aku masih sempat berbicara denganmu
mengenai anak kita. Yang Maha Kuasa telah mempertemukan kita dalam
keadaan yang sama sekali tidak aku duga sebelumnya. Namun dalam
pembicaraan yang singkat dan kenyataan yang aku hadapi sekarang ini,
maka telah terjadi satu pergolakan di dalam diriku. Karena itu, aku
ingin mendapat bantuanmu untuk mengambil satu keputusan, apakah yang
sebaiknya aku lakukan untuk kepentingan anak kita dan barang kali
perlu kau ketahui, aku mempunyai seorang anak perempuan yang aku
tinggalkan di istanaku” “Aku sudah mengetahuinya Pangeran” jawab
Srini. “O“ Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk ”Sokur lah. Aku
harap kau dapat mengerti” “Aku mengerti Pangeran. Aku mengerti sejak
aku harus kembali kepada ayah dan ibuku di padepokan” jawab Endang
Srini. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian terdengar ia berdesis “Dimana ayah dan ibumu sekarang? Apa
hubunganmu dengan ayah angkatmu itu sebelumnya?“ “Ayah Ajar Cinde
Kuning adalah orang yang dikenal baik oleh ayahku. Ketika ayah dan
kemudian ibuku meninggal, maka aku telah menjadi anak angkat Ki Ajar
Cinde Kuning. Namun tanpa aku ketahui bahwa ayah Ajar Cinde Kuning
mempunyai saudara kembar yang telah hampir saja merusak hidupku dan
anakku” jawab Endang Sr ini. Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk
kecil. Namun kesungguhan yang memancar di wajahnya menyatakan,
betapa ia sedang berpikir dengan sungguh-sungguh pula. Untuk
beberapa saat, Pangeran Sena Wasesa merenungi dirinya sendiri. Ki
Ajar Pamotan Galih, saudara kembar Ki Ajar Cinde Kuning yang telah
menyatakan dirinya sebagai Ki Ajar Cinde Kuning itu sendir i,
setelah berusaha membunuh saudaranya itu, hampir saja telah merusak
hidup Daruwerdi. Namun tiba-tiba saja ia berkata kepada dirinya
sendiri “Apakah ketamakan yang demikian akan merusak hidupnya,
justru dari aku sendir i. Dari ayahnya?“ Dalam gejolak perasaannya,
maka Pangeran Sena Wasesa yang telah bertemu dengan isterinya itu,
seolah-olah mendapat tempat untuk mencari pertimbangan. Sebagaimana
dikatakannya, maka Pangeran Sena Wasesa benar-benar ingin mendapat
bantuan Endang Srini untuk memecahkan satu persoalan yang gawat
bukan saja bagi dirinya sendir i. Sementara Pangeran Sena Wasesa
kemudian berbincang dengan sungguh-sungguh untuk menentukan satu
sikap, maka Ki Ajar Cinde Kuning yang berdiri di pintu butulan masih
melihat Daruwerdi duduk berdua dengan Swasti. Nampaknya keduanya
sedang berbicara dengan sungguh-sungguh pula sebagaimana dilakukan
oleh ayah dan ibunya. Sesaat Ki Ajar memandang keduanya. Namun iapun
kemudian melangkah meninggalkan serambi itu dan lewat pintu yang
lain turun ke halaman samping. Namun ketika ia melihat Jlitheng
duduk di pendapa bersama Kiai Kanthi, maka iapun telah pergi ke
pendapa pula. Kiai Kanthi mengerutkan keningnya. Hampir diluar
sadarnya ia bertanya “Apakah pembicaraan Ki Ajar dengan Pangeran
Sena Wasesa telah selesai?“ Ki Ajar menggeleng. Katanya “Belum.
Masih ada persoalan yang akan dikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa,
persoalan yang lebih besar dar i persoalan tentang dirinya sendir i”
Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Ajar
meneruskan. Jika semula aku yang berteka-teki, namun kemudian
Pangeran Sena Wasesalah yang memberikan teka- teki itu. Tetapi aku
tidak dapat dengan tergesa-gesa ingin mendengarnya. Aku harus
menunggu, kapan saja Pangeran itu ingin mengatakan tebakannya” Kiai
Kanthi mengangguk-angguk. Sementara itu katanya? ”Ternyata segalanya
berjalan menurut jalurnya masing- masing. Kita memang hanya dapat
merancang. Namun yang kemudian terjadi kadang-kadang diluar
keinginan kita” Jlitheng mengerutkan keningnya. Dipandanginya Kiai
Kanthi sekilas. Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya. Ki Ajar
Gnde Kuning tidak menyahut. Tetapi perhatiannya tidak terlepas dari
suasana wajah anak muda yang menyebut dirinya Jlitheng itu.
Rasa-rasanya ada sesuatu yang tersembunyi di balik kegelisahan yang
memancar di wajahnya. Tetapi Ki Ajar tidak menanyakannya. Jlitheng
sendir i tidak mengatakah apapun juga. Namun ternyata bahwa Kiai
Kanthi mampu menangkp gejolak perasaan anak muda itu. Sudah cukup
lama ia mengamati sikapnya terhadap anak gadisnya. Namun diluar
kehendak Kiai Kanthi. agaknya perasaan Swasti menjadi lebih dekat
dengan Daruwerdi yang menurut ujud lahir iahnya, memang mempunyai
kelebihan dari Jlitheng yang sengaja membaurkan dirinya dengan
anak-anak Lumban, meskipun Swasti mengenal siapa sebenarnya” Hari
itu dilalui dengan ketegangan-ketegangan dihati beberapa orang yang
masihwsaja berada di banjar Kabuyutan Lumban Wetan. Diluar
pengetahuan anak-anak muda Lumban yang merasa telah terbebas dari
benturan kekuatan yang terjadi di lingkungan hidup mereka tanpa
mereka ketahui ujung dan pangkalnya, maka orang-orang yang berada di
banjar itu tengah mempersoalkan masalah mereka masing- masing.
Ketika malam turun, maka Pangeran Sena Wasesa telah minta sekali
lagi orang-orang yang berada di banjar itu untuk berkumpul, terutama
Kiai Kanthi, Daruwerdi, ibunya, Jlitheng dan Ki Ajar Cinde Kuning
disamping satu dua orang lain yang dianggap tidak akan mengganggu
pertemuan itu, termasuk kedua adik Endang Srini dan Swasti. Sikap
dan pancaran wajah Pangeran Sena Wasesa nampak agak berbeda. Wajah
itu tidak lagi buram dan dibebani oleh persoalan di dalam dirinya.
Tetapi sorot mata Pangeran itu rasa-rasanya menjadi bening dan di
bibirnya nampak senyumnya yang cerah, Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai
Kanthi melihat perubahan itu. Tetapi mereka tidak dapat meraba
sampai ke dasar. Perubahan warna jiwani yang manakah yang telah
terjadi pada Pangeran Sena Wasesa itu. “Mungkin ia telah menemukan
satu keyakinan, bahwa perempuan itu benar-benar isterinya, dan anak
muda yang menyebut dir inya Daruwerdl itu adalah anak lakl- lakinya“
berkata Ki Ajar Cinde Kuning di dalam hatinya. Dalam pada Itu,
setelah mereka duduk melingkar tanpa kehadiran anak-anak muda Lumban
atas permintaan Pangeran Sena Wasesa, maka Pangeran itupun berkata
“Kl Ajar, Kiai Kanthi dan Ki Sanak semuanya yang ada di ruangan ini
Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan kepada kalian. Persoalan yang
sebenarnya terlalu pribadi. Tetapi juga persoalan yang lebih besar
dari persoalan pribadi itu” Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam.
Sekilas di pandanginya wajah Kiai Kanthi yang menunduk. “Ki Ajar”
berkata Pangeran Sena Wasesa lebih lanjut “Mungkin satu dua diantara
kalian telah mengetahui sebagaimana Ki Ajar katakan kepadaku tentang
persoalan pribadi itu. “Tidak Pangeran” jawab Ki Ajar “Aku tidak
mengatakannya apapun juga tentang Pangeran” “Baiklah” berkata
Pangeran Sena Wasesa kemudian “Jika demikian biarlah aku yang
mengatakannya” Ki Ajar memandang wajah Pangeran itu sejenak. Tetapi
seperti ketika ia memasuki ruangan itu, dilihatnya wajah itu nampak
cerah. “Silahkan Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning kemudian.
Sebenarnyalah ia ingin segera mendengar teka-teki yang sulit untuk
ditebaknya itu. Jika ia semula menyampaikan persoalan pribadi itu
kepada Pangeran Sena Wasesa. maka kini ialah yang di gelisahkan oleh
persoalan yang disebut oleh Pangeran Sena Wasesa sebagai persoalan
yang jauh lebih besar dari persoalan pribadinya itu. Namun demikian
ia masih harus menunggu. Agaknya yang akan dikatakan, justru yang
didengar Pangeran itu dari padanya. Sebenarnyalah, Pangeran Sena
Wasesa tidak lagi merasa segan untuk menceritakan tentang dirinya
sendiri. Dengan lancar ia berkata “Kiai Kanthi dan Ki Sanak
semuanya, ternyata bahwa Ki Ajar Cinde Kuning telah mempertemukan
aku dengan orang yang sangat penting di dalam hidupku. Bukan satu
kebetulan, tetapi agaknya Ki Ajar Pamotan Galih telah
memperhitungkannya, Itulah sebabnya maka anak muda yang menyebut
dirinya Daruwerdi itu mencari seseorang yang dianggapnya telah
membunuh ayahnya. Membunuh dalam pengertian yang lain. Bukan
membunuh dalam arti kewadagan. Yang itu adalah orang yang mengetahui
serba sedikit tentang pusaka dan harta benda yang pernah
ditinggalkan oleh salah seorang Senepati dari Majapahit, yang pada
saat terakhir berusaha untuk bertahan. Namun ia asal mempertahankan
kota raja sehingga ia telah berusaha menyelamatkan pusaka yang
diserahkan kepadanya dan sejumlah harta benda yang tidak ternilai
harganya. Maksudnya, ia akan mulai dengan satu perjuangan yang
panjang melalui segala upaya” Pangeran Sena Wasesa berhenti sejenak.
Hal itu sudah pernah didengar oleh orang-orang yang berada diruang
itu. Bahkan Pangeran Sena Wasesa pernah mengatakan, bahwa semuanya
itu telah diserahkannya kepada yang berhak, Pemerintahan di Demak.
Namun dalam pada itu Pangeran Sena Wasesa berkata “Dalam pergolakan
yang demikian, yang ternyata ekornya terasa bergetar sampai saat ini
di daerah Sepasang Bukit Mati ini, telah menjadi satu lantaran
bagiku, untuk menemukan apa yang pernah aku anggap hilang” Ki Ajar
menar ik nafas dalam-dalam. Sementara Kiai masih menunggu, apa yang
akan dikatakan oleh Pangeran Itu. “Ki Sanak” berkata Pangeran itu
selanjutnya “Aku telah menemukan sesuatu yang sangat berharga
bagiku” “Ya, apa?“ hampir saja Jlitheng bertanya. Dalam pada itu,
mulailah Pangeran Sena Wasesa berceritera tentang dirinya sendiri
pada masa mudanya. Tidak terlalu menarik bagi yang mendengarkannya.
Namun ia mengatakan bahwa anak laki-laki yang lahir dari seorang ibu
yang harus dilepaskannya itu kemudian diketemukan sekaligus bersama
ibunya, maka semua orang menjadi berdebar-debar. Namun dengan pasti
Pangeran Sena Wasesa berkata “Anak itu sekarang ada diruang ini.
Perempuan tua ini adalah Isteriku, dan anaknya adalah anakku” “Ibu”
tiba-tiba saja Daruwerdi bergeser mendekati ibunya” Apakah benar
pendengaranku” Jika pada pembicaraannya dengan Pangeran Sena Wasesa,
Srini masih dapat membatasi tangisnya, maka tiba-tiba saja ia telah
memeluk anak laki- laikinya dan menangis sejadi-jadinya. Diantara
isak tangisnya terdengar ia berkata “Ya ngger. Pangeran Sena Wasesa
adalah ayahmu” “Tetapi, tetapi....” kata-kata Daruwerdi terpotong
oleh perasaannya yang menjadi bingung. Sementara ibunya masih saja
menangis sambil memeluknya. Ruangan itu menjadi diam. Yang terdengar
adalah tangis Endang Srini yang tertahan-tahan. Disela-sela
tangisnya itu terdengar ia berbisik “Anakku, semua yang pernah aku
katakan terdahulu, semata-mata untuk menutupi keadaan yang
sebenarnya. Yang kau dengar sekarang inilah yang sebenarnya telah
terjadi. Jika kau ingin kepastian, bertanyalah kepada kakekmu”
Daruwerdi memandang Ki Ajar Cinde Kuning sekilas. Dilihatnya orang
tua itu tersenyum sambil mengangguk. Katanya “Ibumu benar Daruwerdi”
Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Itulah agaknya maka ibunya
berpesan dengan sungguh-sungguh agar ia tidak menyakit i Pangeran
Sena Wasesa pada saat Pangeran Sena Wasesa dibawa oleh orang-orang
Sanggar Gading kepadanya. Tetapi kesan yang didapatkannya pada waktu
itu sangat berbeda dengan kebenaran yang dikatakan oleh ibunya itu.
Sehingga dengan demikian, maka Daruwerdipun merasa, bahwa apa yang
diketahuinya adalah satu keadaan yang sama sekali baur dan tidak
menentu. “Aku minta maaf kepadamu ngger“ bisik ibunya kemudian “Aku
tidak dapat berterus terang sebelumnya” Daruwerdi mencium tangan
ibunya. Kemudian katanya “Bukan ibu yang bersalah” “Bukan orang lain
pula” sahut ibunya, Daruwerdi terdiam. Ada sebersit kekecewaan
dihatinya terhadap orang yang disebut ayahnya itu. Ayah yang tidak
pernah mengetahui perkembangan jiwa dan kewadagan anaknya. Namun
dalam pada itu, Ki Ajar yang melihat sorot mata Daruwerdi itupun
berkata “Kau harus berterima kasih. Yang harus kau cari bukan
kesalahan orang lain. Tetapi bahwa Yang Maha Kuasa sudah berkenan
mempertemukan kau dengan orang tuamu” Akhirnya kepala Daruwerdi
itupun menunduk. Sementara itu, orang-orang lainpun telah dicengkam
pula oleh gejolak perasaan masing-masing. Namun beberapa orang
memang sudah menduga, bahwa Daruwerdi pada suatu saat akan
menunjukkan dir inya yang sebenarnya. Meskipun yang terjadi justru
orang lain yang telah membuka tabir tentang dirinya yang justru
tidak diduga oleh Daruwerdi sendiri. Yang jantungnya menjadi
berdentangan adalah Swasti. Anak muda yang bernama Daruwerdi itu
telah sangat menarik perhatiannya. Diluar kuasanya untuk menolak,
hatinya telah tertambat oleh anak muda itu. Sejak ia melihat untuk
pertama kalinya, seolah-olah sebuah bisikan telah didengar ditelinga
hatinya, bahwa anak muda itu akan dapat menjadi tumpuan perasaan
kegadisannya. Tetapi ternyata anak muda itu adalah putera seorang
Pangeran. Sedang dirinya sendiri adalah seorang gadis kabur kanginan
yang t idak menentu papan dan dunungnya. Tiba-tiba saja Swasti
merasai dirinya terlalu kecil. Ia merasa sangat tidak berharga.
Seorang gadis yang hidup di dalam gubug kecil di lereng bukit.
Itupun karena pertolongan anak- anak muda Lumban. Ketika sekilas
Swasti memandang ibu Daruwerdi yang sedang mengusap matanya, maka
seolah-olah nampak sebuah contoh bagi hidupnya. Seorang perempuan
padepokan yang kawin dengan seorang bangsawan, sehingga tataran
hidup yang tidak seimbang itu telah melemparkan mereka kedaiam satu
kehidupan yang pahit. Diluar sadarnya Swasti memandang seorang anak
muda yang lain meskipun hanya sekilas. Anak muda yang menyebut
dirinya Jlitheng, namun yang sebagaimana dikatakannya adalah juga
seorang putera Pangeran yang telah tidak ada lagi. Namun justru
karena sikap hidupnya Jlitheng menjadi terasa lebih dekat dengan
anak-anak Lumban daripada Daruwerdi. Tetapi Jlitheng sama sekali
tidak menyentuh perasaannya. Bahkan kadang-kadang ia merasa
terganggu oleh kehadirannya. Apalagi sejak ayahnya seakan-akan lebih
banyak memperhatikan Jlitheng dar ipada memperhatikan dirinya. “Ia
juga seorang bangsawan” berkata Swasti di dalam hatinya “Yang akan
dapat menimbulkan akibat yang serupa” Jlitheng sendiri pada saat itu
duduk termenung sambil menunduk. Diluar sadarnya, ia justru sedang
melihat kepada dirinya sendiri. Ada sepercik keinginan untuk
menyatakan dirinya bahwa ia mempunyai kedudukan yang tidak kalah
dari Daruwerdi itu. Namun ternyata bahwa ia masih mampu menahan dir
i. Apalagi ketika ia berpaling kearah Rahu yang kebetulan sedang
memandanginya dengan tatapan mata yang muram. Sementara itu,
keheningan itupun kemudian dipecahkan oleh suara Pangeran Sena
Wasesa “Suatu kenangan yang barangkali kurang menarik untuk
dikenang” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Diluar pengetahuan anak
gadisnya, ia memandanginya. Sebagai orang tua, maka ia dapat
menangkap perasaan Swasti yang sedang bergejolak menilik sikapnya
yang gelisah. Tetapi Kiai Kanthi tidak mengatakan sesuatu. Dalam
pada itu, maka Pangeran Sena Wasesapun berkata selanjutnya
“Terserahlah tanggapan Ki Sanak sekalian atas peristiwa itu. Tetapi
sebenarnyalah bahwa aku menyesali kelemahan hatiku pada waktu itu.
Dan sekarang, akupun akan berbuat serupa. Aku telah menyesali pula
atas kelemahan hatiku. Kelemahan yang apabila tidak segera
diluruskan akan berakibat sangat buruk bagiku, dan bagi keturunanku”
“Apalagi yang telah terjadi Pangeran?“ bertanya Ki Ajar Cinde
Kuning. “Aku mengucapkan terima kasih atas segala pertolongan yang
telah Ki Ajar berikan kepada anak dan isteriku” berkata Pangeran
Sena Wasesa “Dan agaknya pada saat-saat terakhir aku telah mendapat
terang dihatiku, bahwa aku harus memperbaiki satu sikap yang akan
mencelakakan diriku sen diri dan keturunanku” Kata-kata dan sikap
Pangeran Sena Wasesa itu telah membingungkan orang-orang yang berada
di sekitarnya. Mereka melihat sikap yang seolah-olah tidak wajar
pada Pangeran Sena Wasesa. Ia menyesali sesuatu yang dikatakannya
dapat merusak dirinya dan keturunannya. Tetapi dalam pada itu, pada
wajahnya yang cerah terpancar satu perasaan yang lain. Seolah-olah
Pangeran itu justru telah menemukan sesuatu yang berharga bagi
hidupnya dan keturunannya kelak. Sementara itu Pangeran Sena
Wasesapun kemudian berkata “Ki Sanak. Aku akan mengulangi
keteranganku tentang pusaka dan harta benda yang terdapat bersama
pusaka itu” Rahu mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya
Pangeran Sena Wasesa yang justru menatap wajah Rahu yang menegang.
“Tetapi agaknya tidak akan banyak gunanya” berkata Pangeran Sena
Wasesa kemudian. Orang-orang yang berada disekitarnya menjadi heran.
Mereka menjadi semakin tidak mengerti apa yang dimaksud oleh
Pangeran Sena Wasesa itu. Dalam pada itu Pangeran Sena Wasesapun
meneruskan “Aku yakin bahwa diantara kita terdapat orang-orang yang
dikirim langsung atau tidak langsung oleh Demak. Aku sadar, bahwa
pada saat aku berada dalam kesulitan, meskipun aku sempat mengelabui
Yang Mulia dengan berpura-pura tetap sakit, namun seorang diantara
pengikut Yang Mulia itu berbisik di telingaku “Aku akan membantu
Pangeran” Rahu menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa yang
dimaksud oleh Pangeran Sena Wasesa adalah dirinya. Dalam pada itu
Pangeran itu berkata “Karena itu Ki Ajar dan Ki Sanak semuanya yang
ada diruang ini, tidak ada gunanya aku berbohong. Satu atau dua
orang diantara kalian tentu akan menghadap para pemimpin di Demak
dan bertanya tentang kebenaran kata-kataku” Rahu bergeser sejengkal.
Seakan-akan Pangeran Sena Wasesa itu dapat melihat tembus kcdalam
jantungnya. Meskipun tidak dikatakannya kepada siapapun juga. namun
sudah pasti, bahwa ia akan berbuat demikian. Ia tentu akan bertanya
kepada para penanggung jawab gedung perbendaharaan, apakah sebuah
pusaka yang dilepaskan oleh Sang Maha Prabu di Majapahit kepada
seorang Pangeran yang menjadi Senopati Agung pada waktu itu telah
kembali ke gedung perbendaharaan yang telah dipindahkan ke Demak.
Dalam ketegangan itu, terdengar Pangeran Sena Wasesa berkata “Karena
itu Ki Sanak. Setelah aku menimbang- nimbang, justru setelah aku
bertemu dengan anak dan isteriku yang telah membuka cacat jiwani
yang telah aku sandang sejak mudaku, maka aku telah mencoba untuk
memberanikan diri mengambil sikap yang berbeda” Jlitheng memang agak
kurang sabar. Tetapi ia harus menunggu, apa yang akan dikatakan oleh
Pangeran Sena Wasesa. Sementara Daruwerdi sendir i menjadi tegang.
Anak muda itu sadar, bahwa ibunya tentu sudah mengetahui apa yang
akan dikatakan oleh ayahnya, menilik wajah ibunya yang tidak banyak
terpengaruh oleh kata-kata Pangeran Sena Wasesa itu. Dalam pada itu,
maka akhirnya Pangeran Sena Wasesapun sampai kepada pokok persoalan
yang akan di katakannya. Ternyata bahwa betapapun ia telah mengambil
sikap yang bulat, namun di saat-saat ia mengucapkan kata-katanya,
wajahnya yang cerah itu telah berpengaruh juga, sehingga pada dahi
Pangeran itu nampak kerut-kerut kebimbangan betapapun tipisnya. “Ki
Sanak” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku tidak boleh ingkar lagi.
Mungkin untuk satu saat yang pendek aku dapat mengelabui Ki Sanak
semuanya. Aku memang mengatakan bahwa pusaka dan harta benda itu
telah kembali ke tangan yang berhak di Demak. Dan agaknya keterangan
itu akan memperoleh kepercayaan” Pangeran itu berhenti sejenak” Lalu
Tetapi tentu hanya untuk sementara” “Apa yang sebenarnya terjadi
Pangeran” potong Jlitheng yang tidak sabar. Namun dalam pada Itu,
agaknya Ki Ajar Cinde Kuning telah dapat menebak, apa yang akan
dikatakan oleh Pangeran Sena Wasesa. Karena itu sambil menarik nafas
dalam-dalam ia berkata “Silahkan menjelaskan Pangeran” Pangeran Sena
Wasesa memandang orang tua itu sekilas. Ketika kemudian ia memandang
Kiai Kanthi, maka Kiai Kanthi itupun berkata “Pangeran telah
menempuh satu sikap yang paling bijaksana” Pangeran Sana Wasesa
mengangguk. Kedua orang tua itu tentu sudah dapat mengetahui dengan
tepat isi hatinya. Dan agaknya keduanya telah menanggapi sikapnya
dengan baik. Karena itu, maka katanya “Ki Sanak. Terutama mereka
yang mendapat tugas dari Demsk, langsung atau tidak langsung. Aku
akan mencabut keteranganku yang terdahulu. Aku belum menyerahkan
pusaka dan harta benda itu ke Demak” “Pangeran” potong Daruwerdi.
Namun Ki Ajar Cinde Kuning menyahut dengan cepat “Lupakan segala
pesan Ki Ajar Pamotan Galih yang kau anggap, sebagai diriku sendir
i. Kau telah diracuni dengan sikap ketamakannya. Kau tidak perlu
lagi berharap apapun juga tentang pusaka dan harta benda itu. Pusaka
dan harta benda yang membuat hampir semua orang menjadi kehilangan
kesadaran” “Termasuk aku sendir i” sahut Pangeran Sena Wasesa.
Daruwerdi menar ik nafas dalam-dalam. Untuk waktu yang lama ia
mengamati bukit gundul itu. Bahkan ia telah mencoba dan berusaha
menemukan jawaban dari teka-teki tentang pusaka itu dengan mengamati
retak-retak di bukit gundul itu. Bahkan setiap lekuk dan cuatan.
Garis lurus, lengkung dan garis-garis-patah pada retak batu-batu
padas. Sementara sambil menunggu siapapun yang dapat menyerahkan
orang yang disebut Pangeran Sena Wasesa itu. Tetapi ternyata bahwa
akhir dari segala macam peristiwa itu jauh berbeda dari yang di
angan-angankan semula. Apalagi karena sumber dari segalanya justru
adalah bukan orang yang sebenarnya. Bahwa Ki Ajar Pamotan Galih yang
pernah menyebut dir inya Ajar Macan Kuning bukanlah Ki Ajar Cinde
Kuning. Namun tiba-tiba ia telah dihadapkan pada suatu kenyataan
yang lain. Harta benda di samping pusaka itu kini berada pada
seorang yang menyebut dirinya ayahnya. Orang yang semula diburunya
dan telah pernah dikatakannya sendiri, pembunuh ayahnya. “Pusaka itu
t idak per lu lagi dicari-cari. Tidak per lu lagi memburu seseorang
yang mengetahuinya” berkata Daru-werdi di dalam hatinya “Orang itu
justru menyebut dirinya sebagai ayahku” Namun dalam pada itu, terasa
pandangan beberapa orang tertuju kepadanya. Seolah-olah mereka ingin
mengetahui, apakah yang akan dilakukannya. Sebenarnyalah bahwa
bisikan yang mengandung racun telah menusuk jantungnya. Ki Ajar
Pamotan Galih yang hampir setiap hari membisikkan upaya untuk
memiliki pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu
ternyata tidak dapat dihapuskan begitu saja dari dada Daruwerdi.
Sementara itu, Rahu dan Jlitheng t idak kalah bingungnya mendengar
pengakuan Pangeran Sena Wasesa. Justru karena Itu untuk sesaat
keduanya tidak mengucapkan kata-kata apapun juga. Rasa-rasanya
mereka dihadapkan pada suatu mimpi yang aneh. “Tetapi ini adalah
satu kenyataan” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Pangeran Sena
Wasesa melihat gejolak perasaan pada beberapa orang yang ada di
dalam ruangan itu. Dengan senyum di bibirnya ia berkata “Ki Sanak
semuanya. Aku saat ini toerasa berbahagia ganda. Aku telah dapat
bertemu dengail anak dan isteriku yang telah terpisah untuk waktu
yang lama. Kemudian aku telah berhasil mengatasi kekerdilan jiwaku,
Ketamakan dan nafsu yang tidak kalah jahatnya dengan orang-orang
Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih dan orang orang Pusparuri.
Aku sebenarnya juga ingin memiliki semuanya itu bagi diriku sendiri.
Tetapi aku telah dapat melepaskan diri dari padanya, sehingga dengan
demikian aku merasa telah terbebas dari benda-benda yang telah
mencekam aku sebagaimana telah terjadi pada orang- orang Sanggar
Gading, orang-orang Pusparuri” Rahu menarik nafas dalam-dalam.
Dengan nada datar ia berkata “Jadi apakah yang terakhir inilah yang
merupakan kebenaran Pangeran?“ “Ya Ki Sanak” jawab Pangeran Sena
Wasesa “Dan aku akan secepatnya menghadap Sultan di Demak. Aku akan
mengatakan segalanya dan mengaku bersalah. Aku tidak akan ingkar
menerima segala hukuman yang akan di bebankan dipundakku. Namun
dengan demikian, aku telah merasa terlepas dari belenggu ketamakan
dan nafsu” “Mudah-mudahan segalanya dapat terjadi dalam waktu
secepatnya” berkata Rahu kemudian. Lalu “Aku akan dengan senang hati
membantu Pangeran dalam penyelesaian ini. Akupun akan merasa
berbahagia melibat kebahagiaan Pangeran” “Baiklah” berkata Pangeran
Sena Wasesa “segalanya akan dapat diatur secepatnya” Lalu katanya
kepada Ki Ajar Cinde Kuning “bagaimana pendapat Ki Ajar?“ Ki Ajar
Cinde Kuning mengangguk-angguk. Katanya “Pangeran sudah menemukan
jalan yang benar menurut pendapatku” “Terima kasih Ki Ajar. Namun
sebaiknya aku juga mendengar pendapat Kiai Kanthi” berkata Pangeran
Sena Wasesa kemudian “meskipun aku sudah dapat meraba sebelumnya”
“Apakah artinya aku bagi Pangeran” jawab Kiai Kanthi “segalanya
terserah kepada Pangeran. Jika Pangeran mengambil satu keputusan,
aku rasa keputusan itu adalah yang paling bijaksana” “Ah“ desah
Pangeran Sena Wasesa “meskipun Kiai mengaku orang kabur kanginan,
yang tinggal di lereng bukit berhutan itu setelah Kiai terusir dari
tempat tinggal Kiai yang lamai namun sudah pernah aku katakan, aku
mengenal sumber ilmu yang Kiai miliki” “Sumber itu telah meluap dan
mengalir jauh dari lajernya Pangeran. Meskipun Pangeran mengenal
sumber ilmu itu, namun aku adalah salah sebuah dari helai-helai daun
yang berada diranting yang paling ujung” Pangeran Sena Wasesa
menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil tersenyum ia
berkata “Apapun yang Kiai katakan, tetapi Kiai adalah orang yang
sangat berarti bagiku. Nah, apakah pendapat Kiai dalam hai ini?“
“Pangeran. Jika Pangeran berkenan mendengarkan pendapatku, baiklah.
Sudah aku katakan meskipun tidak langsung, bahwa sikap Pangeran ini
adalah kebijaksanaan yang paling tinggi yang dapat Pangeran lakukan
dalam keadaan ini” “Terima kasih” sahut Pangeran Sena Wasesa. Dengan
lantang iapun kemudian berkata “Aku sudah mengambil satu keputusan.
Dengan demikian aku sudah terbebas dari himpitan ketamakan yang
selam ini menyiksa diriku. Aku harus berusaha bersembunyi dari
pengamatan para petugas di Demak. Namun agaknya Yang Maha Kuasa
telah memberi aku peringatan. Meskipun Demak masih tetap berdiam dir
i, tetapi justru orang-orang yang memburu pusaka dan harta benda
itulah yang telah menentukan jalan hidupku yang tersisa, karena
sebenarnyalah bahwa aku sudah terlalu tua untuk bercita-cita,
kecuali cita-cita bagi anak-anakku” “Aku menghormati keputusan
Pangeran” berkata Rahu “Dan aku yakin bahwa seluruh Demak akan
menghormati sikap Pangeran” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya kepada ibu Daruwerdi “Kau telah
menolong aku menentukan sikap kali ini. Aku berterima kasih
kepadamu. Tanpa kekuatan yang kau berikan pada saat yang gawat ini.
aku tidak akan berani mengambil keputusan itu” Endang Srini tidak
menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Sementara itu,
rasa-rasanya segalanya telah terbuka. Rahasia yang meliputi bukit
gundul itu telah terbuka pula. Jlitheng yang untuk waktu yang lama
mengamati bukit itu, menganggap bahwa penyelesaian yang ditemuinya
adalah yang terbaik menurut perhitungannya. Namun dalam pada itu,
masih ada yang terasa mengganggu perasaannya. Ternyata hubungan
Daruwerdi dengan gadis bukit berhutan itu membuatnya berdebar-debar.
Namun sudah barang tentu Jlitheng tidak dapat banyak berbuat. Segala
sesuatunya juga tergantung kepada sikap Swasti sendiri. Dan Jlitheng
merasa bahwa gadis itu agaknya tidak begitu senang kepadanya. “Jika
sejak semula aku tidak bersikap sebagai anak Lumban yang kusut dan
kotor. Meskipun aku sudah mengatakan siapakah aku sebenarnya kepada
Kiai Kanthi namun menilik ujud kewadagan, maka aku adalah tidak
lebih dari anak-anak muda Lumban yang lain, sementara Daruwerdi
memang menempatkan dirinya sebagai orang lain yang mempunyai
kelebihan dari anak-anak muda Lumban dalam hal ujud lahiriah”
berkata Jlitheng dalam hatinya. Sementara itu, maka orang-orang yang
berada di Lumban itu telah mengambil satu keputusan untuk
menyelesaikan persoalan pusaka dan harta benda itu melalui jalur
yang seharusnya. Rahu telah mengambil beberapa macam kesimpulan dan
kemudian membicarakan rencana penyerahan pusaka itu langsung ke
Demak. Meskipun mulamula mereka akan menghadap tanpa membawa pusaka
dan harta benda itu lebih dahulu. Baru kemudian bersama-sama
orang-orang yang akan ditugaskan oleh Sultan Demak, mereka akan
mengambil pusaka dan harta benda itu dari tempat penyimpanan dengan
pengawalan yang cukup “Aku baru akan mengatakan kemudian, langsung
kepada Sultan, dimana pusaka dan harta benda itu tersimpan” berkata
Pangeran Sena Wasesa. “Silahkan” jawab Rahu “Aku mengerti bahwa
Pangeran ingin bersikap hati-hati. Dan aku tidak merasa tersinggung
karenanya, meskipun aku adalah satu diantara para petugas yang telah
dilepas oleh Demak” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam.
Lalu Katanya “Sebaiknya segalanya kita lakukan secepatnya. Kita akan
segera terlepas dari masalah yang telah mengundang benturan diantara
sesama. Aku menyadari, betapa pahitnya benturan-benturan yang
terjadi karena ketamakan dan nafsu, setelah aku menyaksikan sendir i
apa yang terjadi. Benturan antara orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih. Kemudian orang-orang Pusparuri yang
memasuki arena. Bahkan Ki Ajar Cinde Kuning sendiri telah mengalami
nasib yang sangat buruk. Bukan saja karena keadaan dirinya sendiri,
tetapi malapetaka yang telah menimpa saudara kembarnya. Jika aku
tidak melakukan kesalahan, dan mengembalikan pusaka dan harta benda
itu jauh sebelum segala per istiwa itu terjadi, maka mungkin sekali
segalanya akan terhindar” “Suatu pengalaman bagi Pangeran” berkata
Ki Ajar Cinde Kuning “Tetapi juga bagi putera Pangeran dan anak-anak
muda yang lain. Meskipun pengalaman itu harus ditebus dengan sangat
mahal” Ki Ajar itu berhenti sejenak, lalu “Tetapi baiklah. Segalanya
harus diselesaikan dengan cepat. Sebab kemungkinan-kemungkinan yang
lain masih akan dapat terjadi. Tetapi jika sudah di umumkan oleh
Demak, bahwa pusaka dan harta benda itu telah kembali ke gedung
perbendaharaan. Maka segalanya akan dapat dibatasi” Pangeran Sena
Wasesa mengangguk. Oleh ingatannya tentang korban yang telah jatuh
dalam memperebutkan pusaka dan harta benda itu, maka wajahnya telah
menjadi buram. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Semua itu adalah
karena kesalahanku Aku memang pantas untuk mendapat hukuman dar i
Sultan di Demak. Untunglah bahwa pada suatu saat aku menemukan satu
keputusan yang akan dapat menghentikan keadaan ini” Demikianlah,
maka orang-orang yang sedang berkumpul itu telah membicarakan
kemungkinan untuk menyelesaikan persoalan yang untuk waktu yang lama
telah menimbulkan benturan-benturan yang menelan korban. Namun
merekapun bersepakat, bahwa kepergian Pangeran Sena Wasesa ke Demak
harus mendapat kawan-kawan seperjalanan yang kuat, yang akan dapat
membantunya menyelamatkan diri apabila di perjalanan ia harus
bertahan dari orang-orang yang ingin menangkapnya dan memeras
keterangannya. Meskipun orang-orang Sanggar Gading, Kendali Putih
dan Pusparuri seakan-akan telah hancur sama sekali, namun
kemungkinan yang lain masih mungkin terjadi. Sisa-sisa diantara
mereka akan dapat menghubungi orang-orang dari kelompok yang lain
untuk mengambil satu tindakan yang berbahaya. “Ada cara lain yang
barangkali dapat ditempuh Pangeran” berkata Rahu. ”Bagaimana?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Biartah seorang atau dua orang
diantara kita pergi ke Demak. Melaporkan apa yang telah terjadi.
Sepasukan dari Demak akan datang dan kita tidak perlu cemas lagi
terhadap kelompok yang manapun juga” jawab Rahu. “Apakah hal itu
tidak akan terlalu lama?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Pasukan
Demak itu akan datang tiga atau ampat hari mendatang” jawab Rahu
“Sudah barang tentu dengan seorang Senapati yang dapat dipercaya”
Nampak wajah Pangeran Sena Wasesa membayangkan keraguan. Karena itu
maka Rahupun berkata “Baiklah. Jika Pangeran tetap ragu-ragu, kita
mengambil jalan pertama. Memang mungkin sekali yang datang sebagai
prajurit Demak itu bukan prajurit Demak yang sebenarnya, karena
Pangeran juga belum dapat meyakini, siapakah aku yang sebenarnya.
Karena itu, kita akan melakukan sebagaimana kita rencanakan semula”
Merekapun teah memutuskan, esok harinya mereka akan berkemas. Sehari
kemudian mereka akan pergi ke Demak. Semua orang yang dianggap akan
dapat membantu kesulitan di perjalanan akan ikut serta. Keputusan
itulah yang akan mereka lakukan bersama. Sementara itu mereka masih
mendapat kesempatan untuk berbicara dengan orang-orang Lumban.
Mereka masih sempat mengucapkan terima kasih dan barangkali
pesan-pesan yang perlu bagi mereka. Demikianlah di hari berikutnya,
orang-orang yang berada di Lumban itupun telah mempersiapkan dir i.
Ternyata bahwa Pangeran Sena Wasesa dan Ki Ajar Cinde Kuning telah
mina pula agar Kiai Kanthi ikut pula pergi ke Demak bersama dengan
mereka. Kiai Kanthi tidak dapat menolak. Namun karena satu- satunya
keluarganya adalah anak gadisnya, maka lapun minta agar anak
gadisnya dapat dibawa pula. “Apa salahnya” berkata Pangeran Sena
Wasesa “Aku juga akan membawa Endang Srini. Aku ingin
memperkenalkannya dengan anak gadisku. Mudah-mudahan anakku dapat
menerimanya sebagai ibunya” Kiai Kanthi mengangguk-angguk. Jawabnya
“Baiklah Pangeran. Nampaknya isteri Pangeran itu rapat pula
hubungannya dengan anakku. Mudah-mudahan mereka dapat menjadi kawan
yang baik diperjalanan” Sementara itu. selagi orang-orang yang
berada di Lumban itu bersiap, maka diam-diam Jlitheng telah
meninggalkan padukuhan untuk mengambil simpanannya. Pakaiannya dan
kelengkapannya yang lain, sehingga ia akan dapat mengenakannya.
“Dalam pandangan Swasti, aku tidak akan nampak lebih kotor, lebih
kusut dan lebih buruk dari Daruwerdi” berkata Jlitheng di dalam
hatinya. Namun demikian, Jlitheng tidak melupakan biyungnya. Karena
itu sekali lagi ia minta dir i untuk pergi ke Demak satu tugas yang
harus dilakukannya sebagai akibat dari tugas yang diletakkannya
sendir i di atas pundaknya. “Pergilah ngger” berkata ibunya yang
sudah tua “seperti pernah aku katakan. Aku tahu, bahwa pada suatu
saat kau memang harus meninggalkan gubug ini” “Tetapi pada suatu
saat yang lain, aku akan kembali lagi biyung. Aku tetap anak Lumban.
Dan aku memang benar- benar ingin tinggal di Lumban” jawab Jlitheng.
Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat mata
perempuan tua itu menjadi basah. Namun Jlitheng yang kemudian
mencium tangan perempuan tua itu berkata “Tidak ada tempat yang
lebih baik bagiku dari pada tempa ini. Ibunya mencoba untuk
tersenyum. Sambil menepuk pundak anak muda itu ia berkata “Bagiku,
jika kau masih teringat padaku, itu sudah cukup anak muda” “Aku
masih tetap Jlitheng. Anakmu” sahut Jlitheng. Perempuan itu masih
tersenyum. Dan Jlitheng tiba-tiba saja telah membayangkan, bahwa
hidup baginya tidak lagi terlalu menarik. Ternyata bahwa ia telah
merasa kehilangan sebelum ia merasa memilikinya. Karena itu, ia
memang t idak tertarik untuk tinggal di Demak seandainya harta benda
yang bersama dengan pusaka yang disimpan itu telah berada di Demak.
Demak akan terasa sepi. Gadis yang bernama Swasti itu tentu akan
berada di Demak, bersama seorang anak muda yang memiliki kelebihan
dalam ujud lahiriah dari padanya. Yang selama berada di Lumban
menyebut dir inya bernama Daruwerdi. “Kenapa aku telah memilih ujud
yang terlalu buruk ini?“ desis Jlitheng di dalamhatinya. Tetapi
semuanya sudah terlanjur. Bahkan seandainya ia tidak memilih ujud
sebagaimana kebanyakan anak Lumban. mungkin ia tidak akan melihat
akhir dari persoalan pusaka itu. Karena itu, maka akhirnya Jlitheng
harus menerima keadaan yang dihadapinya itu sebagai satu kenyataan.
Swasti ternyata lebih tertarik kepada Daruwerdi daripada kepada
dirinya. Apalagi gadis itu seolah-olah telah menemukan seorang ibu
yang sangat mengasihinya. Endang Srini yang kebetulan adalah ibu
Daruwerdi. oooOooo-
Jilid 21 SEBENARNYALAH, Endang Srini yang melihat hubungan
anak laki-lakinya dengan gadis itu, tertarik juga hatinya untuk
mendorong agar anaknya benar-benar mendekatkan hatinya kepada gadis
yang bagi Endang Srini adalah luar biasa itu. Gadis yang memiliki
ilmu yang mapan dan hati yang tabah. Gadis yang sudah menyelamatkan
hidupnya dari seseorang yang menjadi gila dan hampir saja
mencelakainya. Sehari itu, selain menghadap ibunya, maka Jlitheng
telah ikut serta pergi menemui Ki Buyut di Lumban Kulon dan Lumban
Wetan. Mereka telah minta dir i untuk meninggalkan Lumban kembali ke
Demak. Namun yang menurut Pangeran Sena Wasesa, pada suatu saat
mereka tentu masih akan berada di sekitar Daerah Sepasang Bukit Mati
itu. Kepada anak-anak muda di Lumban Kulon dan Lumban Wetan,
Daruwerdi dan Jlithengpun telah minta diri pula. Demikian pula
dengan mereka yang datang dan memperkenalkan diri mereka sebagai
sepasang pemburu yang untuk beberapa saat telah berada di Daerah
Sepasang Bukit Mati itu pula. “Kita semuanya akan pergi ke Demak”
berkata Kiai Kanthi “Tetapi aku tentu akan kembali. Rumahku adalah
gubug yang kita buat bersama-sama itu. Aku akan tinggal di gubug itu
sambil mempersiapkan sebuah padepokan di bawah bukit. Tanah
persawahan yang akan dialiri air yang melimpah dan pategalan yang
ditumbuhi dengan pohon buah-buahan yang akan berbuah lebat”
Anak-anak muda Lumban, sebagaimana Ki Buyut di Lumban Wetan dan
Lumban Kulon tidak dapat mencegahnya. Mereka harus melepaskan
orang-orang itu pergi, meskipun ada diantara mereka yang pada suatu
saat akan kembali. Jlitheng yang sudah mengambil pakaiannya,
ternyata tidak sampai hati menganakannya sebelum ia meninggalkan
Lumban. Ia tidak mau merusak citra anak-anak Lumban tentang dirinya,
yang dengan demikian akan dapat merusak keakraban hubungan apabila
pada suatu saat ia benar-benar kembali, karena ia memang merasa
harus menghindarkan diri dari kehidupan yang tentu akan disusun oleh
anak muda yang menamakan dir inya Daruwerdi itu dengan anak gadis
Kiai Kanthi yang bernama Swasti. “Aku memang harus menyingkir dari
jalan hidup mereka” berkata Jlitheng kepada diri sendir i, betapapun
pahitnya. Sebenarnyalah bahwa ia memang tidak mempunyai pilihan lain
dar ipada berbuat demikian. Demikianlah, pada hari yang sudah
ditentukan, orang yang berada di Lumban itupun telah mempersiapkan
diri untuk pergi ke Demak. Mereka berniat untuk menyelesaikan
persoalan pusaka dan harta benda itu secepatnya. Namun justru karena
itu, maka mereka tidak sempat untuk melihat orang-orang disekitar
mereka. Meskipun masing- masing menyadari bahwa orang-orang yang
berada di Lumban itu sebagian tentu mempergunakan ujud yang lain
dari pr ibadi mereka sendir i, tetapi seakan-akan mereka bersepakat
untuk tidak menyinggungnya. Mereka tidak pernah saling bertanya,
siapakah sebenarnya nama mereka masing-masing. Dan untuk apakah
sebenarnya mereka berada di Lumban. Pada saat terakhir, orang-orang
yang masih saling tersamar itu telah bersepakat untuk dalam keadaan
mereka, pargi ke Demak. Karena sebenarnyalah bahwa kedudukan masing-
masing telah mulai dapat di raba. Bahkan ada diantara mereka yang
telah dengan pasti menyatakan dir inya sendir i. “Kami menitipkan
orang-orang yang telah kami tawan selama ini” berkata Rahu kepada
anak-anak muda Lumban. Selanjutnya “kalian tidak perlu cemas. Yang
Mulia telah kehilangan sebagian besar dari kemampuannya. Yang lain
masih berada dalam keadaan lemah, lahir dan batin. Sementara itu,
jika kalian, anak-anak Lumban Wetan dan Lumban Kulon bersatu, maka
kekuatan kalian ternyata akan dapat dibanggakan seandainya ada
pihak-pihak yang ingin mengganggu kalian” Anak-anak muda Lumban itu
mengangguk-angguk. Mereka menyadari, bahwa tidak akan ada gunanya
lagi berselisih diantara mereka. Meskipun didasar hatinya yang
paling dalam. Nugata masih merasa kurang adil bahwa air yang
mengalir disungai itu dibagi sama untuk Lumban Kulon dan Lumban
Wetan. Tetapi ia sudah berusaha untuk dapat menerima keadaan itu.
Ketika sebuah iring-ir ingan meninggalkan Lumban. maka kedua Buyut
yang tua itupun telah melepas mereka. Namun dalam pada itu Jlitheng
telah berkata kepada kedua Buyut “Ki Buyut di Lumban Kulon dan
Lumban Wetan. Jika hari ini kami minta dir i, maka beberapa hari
mendatang, aku akan kembali lagi. Mungkin aku akan datang sendiri,
karena aku memang anak Lumban meskipun agak lama aku pernah
meninggalkan Lumban menjelang masa dewasaku” Kedua Buyut yang tua
itu mengangguk-angguk. Dalam pada itu Ki Buyut di Lumban Wetanpun
berkata “Kami selalu menunggu kehadiranmu kembali Jlitheng. Meskipun
kau telah membuat kami tercengang dan heran, bahkan kadang-kadang
timbul pula pertanyaan tentang kau yang sebenarnya, namun kau sudah
aku anggap sebagai anak Kabuyutan Lumban. Jika kau tersedia untuk
kembali, maka kami akan merasa sangat berbahagia” “Aku akan kembali
Ki Buyut “Aku merasa, bahwa hidupku hanya akan berarti jika aku
berada di Lumban” Kiai Kanthi menar ik nafas dalam-dalam.
Seakan-akan ia mengerti, gejolak perasaan anak muda itu. Ia melihat
kekecewaan yang mendalam. Namun orang tua itu tidak banyak dapat
membantunya. Ia menyadari sifat dan tabiat anak gadisnya pula.
Karena itu, untuk sementara maka yang paling baik bagi Kiai Kanthi
adalah berdiam dir i menanggapi persoalan anak gadisnya. Selama
persoalannya tidak menjadi gawat, maka ia tidak akan banyak ikut
mencampur inya. Namun menilik sikapnya, maka Jlitheng akan lebih
banyak melihat kepahitan itu ke dalam dirinya sendiri. Meskipun ia
seekor banteng di arena pertempuran, namun agaknya ia seorang yang
dapat mengerti tentang perasaan seseorang, meskipun itu akan
berakibat pedih bagi dirinya sendiri. Dalam pada itu, maka semakin
lama ir ing- iringan itupun menjadi semakin jauh dari Lumban. Mereka
sudah melampaui bukit gundul dan memandang bukit berhutan dari jarak
yang tidak terlalu dekat. Kiai Kanthi yang berkuda disebeLah
Jlitheng itupun berkata “Akupun akan kembali ke bukit itu” Jlitheng
menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Kiai Kanthi sejenak. Namun
kemudian iapun berpaling kearah bukit itu sambil berkata “Kami masih
dapat berbuat sesuatu dengan air di atas bukit itu” Kiai Kanthi
mengangguk-angguk. Katanya kita tidak boleh merampas air itu
seluruhnya sehingga orang-orang yang juga tergantung dari air itu di
tempat yang jauh, setelah air itu muncul dari dalam tanah, akan
menjadi kekeringan seperti orang-orang Lumban sebelumnya” Jlitheng
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dalam pada itu ir ing-
iringan orang berkuda itupun menjadi semakin jauh pula. Dengan
kuda-kuda yang baik mereka dapat dengan cepat menempuh perjalanan.
Kuda-kuda yang sebagian dapat mereka peroleh dari orang-orang
Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih atau orang-orang Pusparuri
yang dapat mereka tangkap. Dan sebagian mereka dapat dan Lumban atau
kuda-kuda mereka sendir i yang memang sudah baik. Namun dalam pada
itu, adalah diluar dugaan mereka, bahwa sekelompok orang-orang yang
termasuk di antara mereka yang menginginkan pusaka dan harta benda
itu telah menunggu. Sekelompok orang-orang yang seperti orang-oran
Sanggar Gading, orang-orang Kendali Putih dan Pusparun, merasa
memiliki kekuatan yang cukup untuk merebut pusaka dan harta benda
itu. “Mereka akan melalui pinggir hutan itu” berkata salah seorang
dari mereka. “Perhitungan kita tepat. Mereka benar-benar
meninggalkan Lumban. Tentu Pangeran itu ada diantara mereka. Kita
sudah yakin dan pasti, sebagaimana yang kita dengar pada saat-saat
terakhir, bahwa sebenarnya Pangeran itulah yang mengethu dimana
pusaka itu disimpan. Dan kita tentu saja tidak akan percaya
seandainya Pangeran itu dengan mudahnya melemparkan tanggung
jawabnya, dengan mengatakan bahwa pusaka dan harta benda itu telah
dikembalikan ke Demak“ “Belum ada keterangan tentang hal itu yang
telah di nyatakan oleh Demak” berkata yang seorang. “Kita harus
bersiap-siap. Mereka akan kita hancurkan, kecuali Pangeran Sena
Wasesa itu” berkata kawannya “laporkan kepada Ki Lurah, bahwa mereka
telah datang” Seorang diantara merekapun kemudian menuju ke tempat
kawan-kawannya yang lain menunggu. Mereka berada di dalam
gerumbul-gerumbul perdu liar di sebelah hutan yang tidak terlalu
besar, sehingga dengan demikian mereka cukup tersembunyi dibalik
rimbunnya dedaunan yang cukup tinggi. “Mereka benar-benar datang”
berkata orang itu kepada seorang yang bertubuh tinggi tegap berkumis
tipis berambut jarang. Orang itu tersenyum. Sambil berdir i ia
beikata “Bersiaplah. Kita akan menghadapi tugas yang berat. Setelah
kita jemu menunggu, bahkan hampir saja persediaan bekal kita habis,
mereka baru datang. Jika tertunda semalam saja lagi, aku kira aku
tidak sabar lagi menunggu, dan mencari mereka ke padukuhan Lumban,
meskipun dengan demikian kita harus memperhitungkan anak-anak muda
Kabuyutan itu” “Iring- iringan mereka cukup besar, Ki Lurah“ sambung
orang yang melaporkan, “Berapa orang?“ bertanya orang yang disebut
Ki Lurah itu. “Belum pasti. Tetapi kira-kira sepuluh orang atau
lebih sedikit” jawab orang itu Orang yang disebut Ki Lurah itu
tersenyum. Katanya “Perhitungan kita selalu tepat. Aku mempersiapkan
dua puluh lima orang untuk menghadapi mereka. Dua puluh lima orang
pilihan. Orang-orang kita memang tidak sebanyak orang-orang Sanggar
Gading. Kendali Putih dan Pusparuri yang hancur itu. Tetapi
orang-orang kita memiliki bekal yang lebih baik dari mereka.
Kehancuran mereka yang sudah kita perhitungkan itu telah membuka
jalan bagi kita untuk menguasai segala- galanya” Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Sementara itu mereka telah mempersiapkan diri
untuk menghadapi orang- orang yang akan lewat. Sementara itu, iring-
iringan orang berkuda itu menjadi semakin mendekati hutan. Mereka
tidak dapat berpacu sepenuhnya, karena diantara mereka terdapat
Endang Srini yang belum trampil berkuda. Bahkan kadang-kadang iring-
iringan itu harus menunggunya dalam keadaan tertentu. “Sekarang”
berkata orang yang disebut Ki Lurah itu “Kita akan menghent ikan
mereka, begitu mereka berada di tepi hutan” Ki Lurah itupun kemudian
dengan para pengikutnya telah keluar dari gerumbul-gerumbul liar.
Dengan cepat mereka melintasi jarak yang pendek, menuju ke ujung
hutan. Mereka sengaja tidak membawa kuda-kuda mereka yang
tersembunyi di r imbunnya batang-batang perdu, karena jika mereka
harus bertempur di dalam hutan, kuda-kuda itu hanya akan mengganggu
saja. Kehadiran mereka telah mengejutkan setiap orang di dalam
iring- iringan itu. Apalagi ternyata bahwa orang-orang yang keluar
dari gerumbul perdu di sebelah hutan itu adalah prajurit-prajurit
Demak. Pangeran Sana Wasesa menjadi tegang. Namun iapun member i
isyarat agar iring-ir ingan itu berhenti. “Prajurit-prajurit Demak”
desis Pangeran Sena Wasesa. “Nampaknya memang demikian” sahut Ki
Ajar Cinde Kuning. Orang yang bertubuh tinggi tegap berkumis tipis
itu berjalan di paling depan. Sambil tersenyum ia mendekati iring-
iringan itu. “Selamat bertemu Pangeran“ sapa orang itu. Pangeran
Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Dipandangi orang itu tajam-tajam.
Ingatannya mulai meraba ujud orang itu. karena ia merasa pernah
mengenalnya. “Apakah Pangeran lupa kepadaku? Berapa lama Pangeran
meninggalkan Demak?“ bertanya orang itu. “Apakah aku berhadapan
dengan Rangga Sutatama?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa kemudian.
“Tepat Pangeran” jawab orang itu “Ternyata Pangeran masih ingat
kepadaku” Pangeran Sena Wasesapun kemudian memberi isyarat kepada
orang-orang di dalam ir ing-ir ingannya untuk turun dari kuda
mereka. Daruwerdi ternyata kurang cepat menolong ibunya, karena
Swasti yang cekatan telah mendahuluinya membantu Endang Sr ini turun
dari kudanya. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesapun mendekati
orang bertubuh tinggi tegap berkumis t ipis, yang oleh kawan-
kawannya disebut Ki Lurah, namun yang oleh Pangeran Sena Wasesa
dikenal bernama Rangga Sutatama itu. “Apakah yang kalian lakukan
disini?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Pangeran” jawab Rangga
Sutatama “Aku mendapat perintah dari Panglima Wira Tamtama Demak
untuk melacak pangeran. Pimpinan keprajur itan Demak sudah mendapat
keterangan bahwa Pangeran berada di Lumban. Bahkan Pangeran berada
dalam kesulitan. Kami mendapat perintah untuk menemukan Pangeran dan
membawa kembali ke Demak” “Terima kasih” jawab Pangeran Sena Wasesa
“Aku memang akan kembali ke Demak. Aku sudah terbebas dari segala
macam kesulitan. Orang-orang yang sekarang bersamaku, adalah
orang-orang yang telah menolong aku, membebaskan aku dari tangan
orang-orang yang tidak bertanggung jawab” Rangga Sutatama
mengangguk-angguk. Dipandanginya orang cacat yang berada disebelah
Pangeran Sena Wasesa dan seorang tua lainnya yang berdiri
termangu-mangu. “Mereka adalah orang-orang yang banyak berjasa”
berkata Pangeran Sena Wasesa. “Sekedar member ikan beberapa
keterangan” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. “Terima kasih Ki Sanak”
berkata Rangga Sutatama. Lalu “Jika demikian, maka kewajiban kalian
akan berakhir disini. Biarlah kami yang ditugaskan oleh Panglima
Wira Tamtama Demak menjemput Pangeran Sena Wasesa menerimanya
disini. Kami akan membawa Pangeran Sena Wasesa ke Demak dan langsung
menghadap Sultan, karena seisi istana telah mencemaskan hilangnya
Pangeran Sena Wasesa” “Biar lah mereka ikut bersama kami” jawab
Pangeran Sena Wasesa “Aku ingin menyampaikan kepada Sultan, apa yang
telah mereka perbuat selama aku dalam kesulitan” Rangga Sutatama itu
mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun berkata “Itu tidak perlu
Pangeran. Aku adalah petugas yang ditunjuk oleh Sultan, sehingga apa
yang aku lakukan adalah atas nama Sultan sendir i. Jika aku menerima
orang-orang ini, maka berarti bahwa mereka telah diterima pula oleh
Sultan. Meskipun demikian aku berjanji bahwa pada suatu saat,
semuanya tentu akan dipanggil menghadap Sultan untuk diterima dan
barangkali ada sesuatu yang dapat disampaikan oleh Sultan kepada
mereka sebagai hadiah” “Kau salah Ki Rangga” jawab Pangeran “Mereka
sama sekali tidak memerlukan hadiah itu. Tetapi mereka memang
seharusnya dibawa menghadap. Sekedar untuk memperkenalkan dir i, dan
sebagai laporan yang dapat aku berikan kepada Sultan tentang pusaka
dan tentang apa yang telah mereka lakukan. Tetapi Rangga Sutatama
itu tertawa. Katanya “Sudahlah Pangeran. Sebaiknya kita memikirkan
persoalan yang jauh lebih besar bagi Demak. Hah-hal kecil seperti
itu akan dapat kita pikirkan kemudian. Apalagi mereka tidak memer
lukan hadiah bagi pertolongan yang telah mereka berikan kepada
Pangeran” “Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa “Apa salahnya,
dan apakah sebenarnya keberatanmu, jika mereka, aku bawa menghadap,
karena mereka benar-benar telah berbuat sesuatu bagiku dan bagi
keselamatan pusaka itu sendiri. “Memang tidak ada keberatan apapun
juga Pangeran, kecuali bahwa kedatangan sekian banyak orang di
istana memer lukan satu syarat penerimaan tersendiri. Karena itu,
maka sebaiknya untuk sementara Pangeran sendiri sajalah yang
menghadap. Mereka akan diundang pada kesempatan lain dengan
persiapan tersendiri. Karena kedatangan mereka kali ini t idak akan
banyak manfaatnya. Bahkan mungkin mereka tidak akan pernah mendapat
kesempatan untuk bertemu dengan Sultan sendiri” Tetapi ternyata
Pangeran Sena Wasesa menjawab “Kami akan tetap pada pendirian kami.
Kami akan menghadap bersama-sama” Wajah Rangga Sutatama menjadi
tegang. Namun ia masih mencoba tersenyum sambil berkata “Pangeran.
Bagaimana juka aku katakan, bahwa karena aku mengemban perintah
Sultan, maka aku dapat menyebut diriku mempunyai kekuasaan sebagai
limpahan kekuasaan Sultan” Pangeran Sena Wasesalah yang kemudian
menjadi tegang. Kemudian dengan nada dalam ia berkata “Kau memang
aneh Ki Rangga. Apakah sebenarnya yang kau kehendaki dengan
kekuasaanmu yang kau anggap telah dilimpahkan oleh Sultan kepadamu?“
“Bukan apa-apa Pangeran. Tetapi aku memang mendapat tugas untuk
membawa Pangeran menghadap. Hanya Pangeran. Tidak dengan siapapun
juga, karena Pangeran tentu tahu, bahwa masalah yang ada pada
Pangeran adalah masalah yang cukup gawat” jawab Rangga Sutatama
“karena itu, sudahlah. Pangeran jangan berkeras. Bukankah Pangeran
sudah mengetahui rumah orang-orang itu? Atau mungkin padepokannya
atau padukuhan tempat mereka tinggal?” Pangeran Sena Wasesa
benar-benar menjadi tegang. Namun dalam ketegangan itu, Rahu telah
melangkah mendekati Rangga Sutatama. Namun ia tidak cepat dapat
dikenal karena ujud pakaiannya. Nampaknya Rahu benar-benar seseorang
dari lingkungan padepokan yang disebut oleh Pangeran Sena Wasesa
banyak berjasa. “Ki Sanak” berkata Rahu kemudian “Kau menimbulkan
keragu-raguan pada diri Pangeran Sena Wasesa dan kami semuanya. Kami
memang tidak ingin menghadap Sultan untuk menerima hadiah karena
sikap kami. Tetapi kami hanya ingin meyakinkan diri, bahwa segalanya
memang telah selesai dengan tuntas” “Kau jangan ikut campur Ki
Sanak. Aku menghormati kau, karena kau menurut Pangeran Sena Wasesa
adalah satu dari orang-orang yang telah berjasa. Tetapi jika kau
mengambil sikap tersendiri, maka akupun dapat mengambil sikap
tersendiri pula” jawab Rangga Sutatama. Rahu memandang Ki Rangga itu
sejenak. Namun kemudian iapun berpaling kepada Pangeran Sena Wasesa.
Aku mengerti, bahwa Pangeran menjadi bimbang, bahkan cur iga. Aku
pernah menyarankan untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di Lumban
itu ke Demak. Kemudian akan datang sekelompok prajurit yang akan
dapat mengamankan segalanya. Kini Pangeran benar-benar bertemu
dengan yang nampaknya seperti prajurit Demak. Tetapi percayalah
Pangeran, bahwa bukan inilah yang aku maksudkan” Pangeran Sena
Wasesa memandang Rahu sejenak, kemudian Rangga Sutatama dan para
prajurt Demak yang berdiri berjajar di belakang Rangga Sutatama.
“Apa maksudmu Ki Sanak” bertanya Pangeran Sena Wasesa “Aku memang
mengingat sekilas kata-katamu tentang prajurit Demak itu. Dan
kehadiran prajur it Demak kali ini memang dapat aku hubungkan dengan
apa yang kau katakan itu, tentu saja dengan kecurigaan yang tajam”
Rahu mengangguk-angguk. Katanya “Untunglah bahwa rencana itu sudah
kita batalkan. Namun diluar dugaan, bahwa kita benar-benar bertemu
dengan prajurit-prajurit Demak dalam tugas yang mencur igakan”
Rangga Sutatama tiba-tiba memotong “Siapa kau Ki Sanak? Dan apa
sebenarnya yang kau katakan itu?“ “Ki Rangga Sutatama” jawab Rahu
kemudian “Ternyata kau masih mampu mengelabui Pangeran Sena Wasesa.
Memang mungkin sekali Pangeran Sena Wasesa tidak tahu apa yang
terjadi atas dirimu pada saat-saat terakhir. Tetapi aku tahu
sepenuhnya, meskipun aku berada di luar lingkungan istana untuk-
waktu yang lama. Tetapi orang yang aku sebut Semi, merupakan
penghubung yang sangat baik” “Apa yang kau katakan itu?“ bertanya Ki
Rangga Sutatama. “Baiklah. Pertama aku ingin bertanya, jika benar
kau mendapat perintah, dan bahkan dengan limpahan kekuasaan dari
Sultan, apakah kau dengan pertanda perintah itu? Aku tidak melihat
tunggul atau pertanda lain yang dapat meyakinkan, bahwa kau memang
mendapat limpahan kuasa dari Sultan” berkata Rahu kemudian “Yang
kedua, coba katakan, apakah kau masih seorang Senepati penuh dari
pasukan Demak sebagaimana nampak kau bawa saat ini? Ketiga, jika kau
benar-benar bertugas kau sudah berbuat banyak kesalahan, karena
sebenarnya kau tidak berbuat apa- apa bagi kepentingan Pangeran Sena
Wasesa?“ Wajah Ki Rangga Sutatama menjadi merah membara.
Dipandanginya orang yang berdiri dihadapannya. Sejenak ia bagaikan
membeku. Namun kemudian ia berkata “Kau?“ “Ya. Kau tentu mengenal
aku. Dan akupun mengenal kau dengan baik. Juga mengenal kedudukanmu
yang sebenarnya. Pangeran Sena Wasesa memang mengenalmu, tetapi
tidak mengenal keadaanmu yang sebenarnya. Apalagi untuk beberapa
saat lamanya Pangeran Sena Wasesa tidak berada di Demak, dan
sebelumnya Pangeran memang sedang sakit. Dengan demikian maka
Pangeran Sena Wasesa dalam keadaan sakit pada waktu itu, tidak
menghiraukan apa yang terjadi dengan kau” berkata Rahu kemudian.
Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Namun kemu dian iapun
menggeretakkan giginya sambil brekata “ Tikus buruk. Kenapa kau
berada disini?“ “Apakah kau perlu mengerti? Jika aku mengatakan
bahwa aku bertugas atas nama Demak, kau juga akan bertanya apakah
aku membawa pertanda perintah itu?“ bertanya Rahu “Kau gila. Kau
sudah mencairkan seluruh rencanaku“ garam orang yang bernama Rangga
Sutatama itu. “Katakan kepada Pangeran tentang dirimu” berkata Rahu
kemudian. “Persetan. Aku tidak peduli. Aku membawa pasukan“ jawab Ki
Rangga Sutatama. Pangeran Sena Wasesa mendengarkan pembicaraan itu.
Dengan ragu-ragu iapun bertanya “Apa sebenarnya yang terjadi?“
“Pangeran” berkata Rahu “meskipun Pangeran mengenalnya, tetapi aku
kira Pangeran tidak sempat memperhatikan keadaannya, sebagaimana
Pangeran tidak memperhatikan prajur it-prajurit yang lain di Demak”
Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk kecil. “Ketahuilah Pangeran”
berkata Rahu kemudian “Ki Rangga Sutatama telah mendapat hukuman
dari Panglimanya. Aku sudah mendapat pemberitahuan justru karena Ki
Rangga berusaha untuk memecahkan persoalan pusaka yang hilang itu
diluar tugas yang sebenarnya harus dilakukannya. Seorang penghubung
yang aku percaya telah memberikan beberapa nama yang diragukan
kesetiaannya. Aku mendapat pemberitahuan itu, justru karena aku
mengemban tugas sandi” Tetapi tiba-tiba saja Ki Rangga Sutatama
tertawa. Katanya “Aku tidak berkeberatan semuanya itu kau katakan.
Akpun tidak akan ingkar. Bahkan aku akan mempertanggung jawabkan
semua tindakanku sekarang ini” “Ki Rangga” berkata Rahu “Kau sudah
menyalah gunakan kedudukanmu” Tetapi Ki Rangga tertawa semakin
keras. Katanya “Tetapi Ki Sanak. Jika kau menuduh aku menyalah
gunakan kedudukanku, maka kenapa kau tidak menuduh bahwa Pangeran
Sena Wasesa melakukannya pula?“ “Kenapa kau dapat berkata begitu?“
desak Rahu. “Jangan berpura-pura bodoh. Kau adalah seorang petugas
sandi. Tetapi mungkin memang ada beberapa hal yang tidak kau
ketahui. Khususnya tentang Pangeran Sena Wasesa itu sendiri” jawab
Rangga Sutatama. Wajah Rahu menjadi tegang. Namun kemudian ia
mengerti maksud Ki Rangga Sutatama, karena seperti yang dikatakan
sendiri oleh Pangeran Sena Wasesa, bahwa sebenarnya terbersit pula
satu keinginan untuk memiliki sendir i pusaka dan harta benda yang
tidak ternilai harganya itu. Tetapi sebelum Rahu menjawab, Ki Rangga
Sutatama telah berkata “Apakah kau kira bahwa Pangeran Sena Wasesa
dalam hal ini bertindak jujur?“ “Ya” t iba-tiba jawab Rahu tegas.
Tetapi Ki Rangga tertawa semakin keras. Katanya “Aku kira
kehadiranmu disini bukan karena tugas sandimu. Tetapi agaknya kau
juga telah menyalah gunakan wewenang dan kedudukanmu. Apakah kau
sedang melindungi Pangeran Sena Wasesa dan kau akan mendapat
sebagian dari harta benda itu?“ “Kau salah Ki Rangga” jawab Rahu“
Pangeran Sena Wasesa telah bertindak jujur. Ia telah siap
menyerahkan semuanya itu kepada Sultan. Tetapi tentu tidak kepadamu”
“Omong kosong” berkata Ki Rangga. “Jangan berlaku kasar Ki Rangga”
sahut Pangeran Sena Wasesa “Tetapi baiklah aku berterus terang.
Memang ada keinginanku untuk memiliki pusaka dan lebih-lebih harta
benda itu semula. Tetapi pada saat terakhir, ternyata bahwa hatiku
telah mendapat cahaya terang. Aku melihat satu kepentingan yang jauh
lebih besar dari kepentinganku pribadi. Kepentingan negara yang
sedang tumbuh ini harus mendapat tempat jauh lebih baik di setiap
hati penghuninya, termasuk aku. Kesadaran inilah yang telah
mendorongku untuk berkata berterus terang. Tetapi tidak kepada
siapapun juga. kceuali kepada Sultan sendiri. Terus-terang aku tidak
dapat mempercayai siapapun juga pada saat seperti sekarang ini
dimana pegangan hidup sedang berguncang. Termasuk aku sendiri”
Pangeran Sana Wasesa itu berhenti sejenak, lalu “Nah, bukankah dalam
rangka itu Ki Rangga mengaku menerima tugas untuk melindungi aku?
Jika aku berada di tangan Ki Rangga seorang diri. maka Ki Rangga
akan dapat memeras keteranganku. Begitu?“ Ternyata jawab Ki Rangga
Sutatama itu mengejutkan. Katanya “Ya. Dugaan Pangeran tepat. Aku
memang menghendaki Pangeran hidup-hidup. Aku ingin memeras
keterangan Pangeran tentang pusaka itu. Aku sudah mendengar apa yang
terjadi dengan orang-orang Sanggar Gading, Kendali Putih dan yang
terakhir orang-orang Pusparuri. Tetapi aku tidak akan berbuat
sebodoh mereka. Bagaimanapun juga anak-anak muda Lumban harus
diperhitungkan. Tetapi disini, kita tidak akan diganggu oleh
anak-anak muda Lumban” “Tetapi darimana kau mendapatkan pakaian
keprajuritan sekian banyaknya?“ bertanya Rahu. “Jangan sebodoh itu.
Setiap kali kau menunjukkan kedunguanmu. Sebagian dari mereka memang
prajurit yang dianggap bersalah seperti aku. Tetapi sebagian dari
mereka adalah orang-orang diluar keprajuritan. Untuk mendapat
pakaian bagi mereka tidak terlalu sulit. Aku dapat merampok atau
mencur i di gedung penyimpanan pakaian” Wajah Rahu jadi merah
membara. Dipandanginya Ki Rangga Sutatama dengan kemarahan yang
menyala di dalam dadanya. Namun sebelum Rahu berbuat sesuatu,
Jlitheng bergeser mendekatinya sambil berkata “Rahu, jika kau
mempunyai wewenang untuk bertindak, apalagi yang masih akan kau
tunggu. Kita tidak mempunyai pilihan lain menghadapi orang ini“
“Siapa lagi orang ini?“ bertanya Ki Rangga. “Aku tidak mempunyai
sangkut paut dengan tatanan keprajuritan di Demak. Tetapi aku muak
melihat tampang dan sikapmu” geramJlitheng. Ki Rangga mengerutkan
keningnya. Kata-kata Jlitheng ternyata menusuk perasaannya. Dengan
nada geram ia berkata “Kau jangan menjadi gila seperti itu anak
muda. Jika kau belum mengenal aku, bertanyalah kepada Pangeran Sena
Wasesa. Ia akan menceriterakan serba sedikit, siapakah Rangga
Sutatama itu” “Aku sudah tahu tentang kau serba sedikit. Kau adalah
seorang Senapati Demak yang sudah kehilangan hak sebagai seorang
Senapati. Nah, apa lagi?“ sahut Jlitheng. Kemarahan Kl Rangga hampir
t idak tertahankan lagi. Namun ia masih memikirkan kepentingannya
dalam keseluruhan. Karena itu, maka katanya “Aku tidak peduli
tentang kau. Tetapi aku minta kepastian Pangeran Sena Wasesa, bahwa
ia akan menyerah kepadaku” “Tidak” potong Rahu. Sementara itu
Pangeran Sena Wasesapun menyahut “Jangan menganggap aku terlalu
rendah seperti itu. Kau tahu, bahwa akupun seorang prajurit. Dan
akupun seorang Senapati perang” “Bagus” geram Ki Rangga Sutatama
“Jadi kami harus mempergunakan kekeraran untuk memaksa Pangeran
mengikut i kami. Selebihnya kami akan memaksa Pangeran untuk
berbicara dengan cara kami” “Aku masih mempunyai beberapa pilihan”
jawab Pangeran Sena Wasesa. Membunuhmu atau melepaskan dir i dari
pertempuran yang dapat saja terjadi atau mati dibunuh. Pilihan untuk
menyerah sama sekali t idak terpikirkan olehku” “Jika Pangeran sudah
kehilangan kesempatan untuk melawan dan tidak mungkin untuk
melarikan diri, maka Pangeran tentu akan tidak mempunyai pilihan
lagi” jawab Ki Rangga Sutatama. “Aku tetap pada pendirianku” jawab
Pangeran Sena Wasesa. Ki Rangga Sutatamapun kemudian memandang
berkeliling. Diamatinya orang-orang yang dikatakan telah menolong
Pangeran Sena Wasesa itu. Dua diantara mereka adalah perempuan.
“Jika Pangeran ingin melawan, maka itu adalah pekerjaan yang sia-sia
saja. Pangeran telah berkhianat kepada orang- orang yang telah
menolong Pangeran. Karena dengan “Ki Sanak”berkata Rahu kemudian”kau
menimbulkan keragu-raguan pada diri Pangeran Sena Wasesa dan kami
semuanya. Kami memang tidak ingin menghadap Sultan untuk menerima
hadiah karena sikap kami. Tetapi kami hanya ingin meyakinkan diri.
bahwa segalanya memang telah selesai dengan tuntas” sikap yang
demikian itu berarti orang-orang yang telah menolong Pangeran inipun
akan mati pula. Padahal Pangeran dapat bersikap lain, sehingga
orang-orang itu akan selamat” “Satu pikiran Gila“ potong Jltlheng
“Kau sangka permainan kata-katamu itu dapat mempengaruhi tekad
kami?“ Ki Rangga Sutatama memandang Jlitheng dengan kemarahan yang
tidak tertahankan. Dengan keras ia berkata “Mulutmulah yang
pertama-tama akan dibungkam” “Persetan“ jawab Jlitheng Ternyata
bahwa gejolak perasaan Jlitheng tanpa disadari telah tersalur pada
sikapnya menghadapi Ki Rangga Sutatama. Kekecewaannya menghadapi
kenyataan, bahwa gadis lereng bukit itu lebih dekat dengan Daruwerdi
telah membuat hatinya bagaikan grabah yang mudah sekali pecah. Namun
dalam pada itu. selagi Jlithenglah yang sudah siap untuk meloncat
menyerang Kiai Kanthi telah berkata “Apakah kita harus menyelesaikan
persoalan ini dengan kekerasan” “Kiai melihat sendiri sikap yang
gila itu” jawab J litheng. “Jika memang harus demikian, sebaiknya
kita bersikap lebih hati-hati. Kita masih harus berusaha menempatkan
diri pada keadaan yang belum banyak kita ketahui” berkata Kiai
Kanthi kemudian. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia
mengerti, bahwa Kiai Kanthi berusaha memperingatkannya, agar ia
tidak menurut i gejolak perasaannya. Sementara itu Pangeran Sena
Wasesa berkata “Baiklah Ki Rangga Sutatama. Jika kau berkeras untuk
memaksa aku, maka aku akan melawan. Orang-orang yang datang
bersamaku telah menunjukkan kepadaku, bahwa mereka berbuat apa saja
untuk menolongku. Jika kali ini aku masih memerlukannya, maka
merekapun tentu tidak akan berkeberatan” “Baik. Bersiaplah. Kita
akan segera mulai dengan permainan yang sebenarnya tidak perlu
terjadi. Tetapi jika kami sudah mulai, maka kematian tentu tidak
akan dapat dihindarkan lagi” Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab.
Tetapi ia justru berbicara kepada orang-orang yang bersamanya “Ki
Sanak. Sekali lagi kita dihadapkan pada keadaan yang tidak kita
kehendaki? Tetapi aku sudah bertekad untuk menghadapi langsung
Sultan di Demak. Karena itu, maka akupun bertekad untuk menentang
segala hambatan. Aku mohon bahwa Ki Sanak sekalian masih tetap pada
sikap kalian sebelumnya” Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk
sambil berkata “Pangeran. Yang terpenting adalah menyelamatkan
pusaka itu sehingga kembali kepada yang berhak. Karena itu, maka
kita akan menghadapi segala hambatan dengan penuh tanggung jawab”
“Terima kasih Ki Ajar. Akupun yakin akan sikap Ki Sanak semuanya.
Karena itu, akupun sudah siap menghadapi segala kemungkinan” berkata
Pangeran Sena Wasesa. Dalam pada itu, Kiai Kanthipun telah berbisik
kepada anak gadisnya “Lindungi perempuan itu” Swastipun mengangguk.
Namun ketika ia menempatkan diri, diluar keinginannya, Daruwerdipun
telah bersiap melindungi ibanya pula, karena iapun melihat
kemungkinan yang bakal terjadi. Diluar sadarnya, Jlitheng memandangi
keduanya. Terasa jantungnya berdentang. Namun iapun kemudian
menggeram sambil menghadap kearah orang-orang yang mengenakan
pakaian keprajur itan itu. Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatamapun
segera memberi isyarat kepada orang-orangnya yang jumlahnya jauh
lebih banyak. Dengan tangannya ia memerintahkan orang-orangnya untuk
berusaha mengepung Pangeran Sena Wasesa bersama kawan-kawannya yang
menurut keterangannya telah menolongnya. Ibu Daruwerdipun menjadi
cemas melihat perkembangan keadaan. Tetapi ketika ia melihat anaknya
dan anak gadis yang luar biasa itu berdiri disebelah-menyebelahnya,
maka hatinya menjadi agak tenang. “Pangeran” berkata Ki Rangga
Sutatama “Jangan menyesal bahwa semua orang akan binasa untuk
menghuangkan jejak, kecuali Pangeran sendiri. Sementara itu, aku
sendiri telah menempatkan dir i sebagai lawan Pangeran Sena Wasesa,
agar Pangeran dapat dikalahkan tanpa terluka segores kecilpun” “Kau
memang sombong sekali Ki Rangga” desis Pangeran Sena Wasesa. “Aku
berkata sebenarnya. Tentu Pangeran tahu. siapakah Rangga Sutatama.
Pangeran tentu pernah mendengar namaku diantara sederet nama
Senapati di Demak, termasuk para Pangeran seperti Pangeran Sena
Wasesa sendiri” sahut Ki Rangga Sutatama. “Namamu tidak begitu besar
seperti yang kau sangka sendiri Ki Rangga” desis Rahu “Aku bukan
orang yang terkenal seperti kau. Bahkan Pangeran Sena Wasesa belum
mengenal aku sebelumnya. Tetapi itu memang sesuai dengan tugasku.
Namun demikian, seandainya aku harus melawanmu sekarang ini, aku
tidak akan gentar” Ki Rangga Sutatama tertawa. Katanya “Sudahlah.
Jangan merajuk seperti kanak-kanak. Aku sudah memilih lawan.
Orang-orangku yang jumlahnya jauh lebih banyak itu akan
menghancurkanmu” Rahu tidak sempat menjawab. Ki Rangga sudah memberi
isyarat kepada orang-orangnya untuk segera bergerak. Sejenak
kemudian kepungan itupun menjadi semakin sempit. Ki Rangga yang
masih saja nampak tersenyum, berdiri di hadapan Pangeran Sena Wasesa
sambil berkata “Aku akan bertempur tanpa senjata. Agar dengan
demikian aku tidak akan melukai Pangeran” “Bagaimana jika akulah
yang bersenjata?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Silahkan Pangeran.
Itu adalah hak Pangeran di dalam pertempuran. Tetapi meskipun
Pangeran bersenjata, arti senjata Pangeran itu tidak akan banyak”
jawab Ki Rangga Sutatama. Namun ternyata bahwa Pangeran Sena Wasesa
masih juga mempunyai harga diri menghadapi Ki Rangga yang tidak
bersenjata. Karena itu, maka iapun segera bersiap tanpa senjata
pula. Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan
orang-orang yang bersama mereka itupun telah bersiap pula. Mereka
menghadapi orang-orang yang berlipat jumlahnya. Namun demikian,
mereka masih tetap mempunyai harapan untuk dapat keluar dari
pertempuran itu, karena lawan mereka bukan orang-orang yang
mempunyai pengaruh besar di dalam dunia kanuragan, kecuali Ki Rangga
Sutatama itu sendir i. Namun ternyata bahwa Ki Rangga telah memilih
lawan, seorang yang juga memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sejenak
kemudian maka gelang yang menyempit itupun telah mulai bersentuhan
dengan orang-orang yang berada di dalam lingkaran. Jlitheng yang
mempunyai persoalan sendiri di dalam dirinya itu tidak sabar lagi
menghadapi orang-orang yang berpakaian prajurit itu. Karena itu,
maka iapun segera meloncat menyerang dengan garangnya. Ternyata
bahwa orang-orang itu memang mempunyai kemampuan seorang prajurit,
karena memang ada diantara mereka yang seperti dikatakan Ki Rangga,
adalah bekas-bekas prajurit yang melakukan kesalahan dan harus
menanggalkan gelar keprajuritannya. Namun dalam pada itu, mereka
sempat menghimpun diri, dalam lingkungan yang hitam itu. Sejenak
kemudian, pertempuranpun telah mulai berkobar. Ternyata bahwa
orang-orang yang mengawasi Pangeran Sena Wasesa itupun telah membuat
satu lingkaran yang menghadap keluar. Mereka berusaha menempatkan
ibu Daruwerdi di dalam lingkaran yang akan dapat melindunginya.
Daruwerdi dan Swasti berada di depan perempuan itu, sementara yang
lainpun Eegera menempatkan diri mereka masing-masing
sebelah-me-nyebelah, kecuali Jlitheng yang berusaha bertempur
sejauh-jauhnya dari Swasti dan Daruwerdi. Demikian pertempuran dalam
jumlah yang tidak seimbang itupun telah terjadi. Namun ternyata
bahwa jumlah yang tidak seimbang itu tidak segera dapat menentukan
akhir dari pertempuran itu. Setelah Ki Rangga Sutatama terlibat
dalam pertempuran tanpa senjata melawan Pangeran Sena Wasesa, serta
telah terjadi benturan kekerasan yang melingkar diseluruh arena itu,
maka ternyata bahwa orang-orang yang berpakaian prajurit itu tidak
dapat menentukan pertempuran itu menurut kehendak mereka. Dalam
waktu yang tidak terlalu lama, maka tiba-tiba saja mereka terkejut
ketika seorang diantara mereka yang berada dalam kepungan itu
berhasil meloncat keluar. Ketika beberapa orang mengejarnya, maka
iapun berusaha bergeser menjauhi putaran arena itu, sehingga telah
terjadi lingkaran pertempuran tersendiri. Tiga orang telah
menyerangnya bersama-sama. Tetapi orang yang telah berhasil keluar
dari kepungan itu berkata “Jangan berbuat sesuatu yang dapat
menghancurkan dir imu sendiri. Letakkan saja senjata kalian. Kalian
tentu akan dimaafkan oleh Pangeran Sena Wasesa” “Gila. Apakah kau
kira cacatmu itu dapat menjadi pertanda bahwa kau adalah orang yang
tidak terkalahkan?“ geramsalah seorang lawannya. Tetapi orang yang
harus bertempur melawan tiga orang lawan itu berkata “Tentu tidak.
Cacatku itu justru pertanda bahwa aku pernah mengalami nasib paling
buruk di dalam lingkaran dunia kanuragan. Tetapi juga pelajaran yang
sangat baik bagiku untuk menghadapi kalian bertiga” “Persetan“ geram
seorang diantara mereka. Dengan serta merta maka ketiga orang
lawannya itupun telah mengerahkan tenaga mereka untuk segera
mengakhiri pertempuran, sehingga mereka segera dapat membinasakan
orang yang lain lagi. Tetapi orang cacat itu ternyata sangat liat.
Bahkan rasa- rasanya orang cacat itu sama sekali tidak mengalami
kesulitan. Sementara itu Kiai Kanthi masih tetap berada di dalam
lingkaran. Sebenarnya jika ia menghendaki, ia akan dapat menyusul Ki
Ajar Cinde Kuning keluar dar i kepungan. Tetapi Kiai Kanthi tetap
berada di tempatnya. Bahkan Kiai Kanthi ternyata telah mempergunakan
senjatanya. Namun dengan demikian, maka Kiai Kanthi telah membuat
beberapa orang yang berdiri dihadapannya menjadi bingung. Senjata
Kiai Kanthi itu berputaran dengan cepat. Kadang- kadang yang
nampaknya hanyalah gumpalan-gumpalan putih diseputarnya. Namun
kadang-kadang senjata itu nampak seolah-olah telah berkembang
menjadi beberapa pucuk senjata di beberapa pasang tangan yang
bergerak bersama- sama. Di bagian lain dari pertempuran itu,
Jlitheng telah mengerahkan segenap kemampuannya. Meskipun ia tidak
memiliki kemampuan setinggi ilmu Kiai Kanthi, tetapi dengan pedang
tipisnya, Jlitheng adalah orang yang sangat berbahaya. Ki Rangga
Sutatama menjadi heran menghadapi kenyataan itu. Ia sendiri terikat
pada pertempuran melawan Pangeran Sena Wasesa. Yang ternyata juga
memiliki ilmu yang tinggi. Tanpa senjata Pangeran Sena Wasesa mampu
mengimbangi ilmu Ki Rangga Sutatama, yang ternyata salah duga
menghadapi kemampuan Pangeran itu. Meskipun Ki Rangga Sutatama juga
mengetahui, bahwa Pangeran Sena Wasesa juga seorang Senapati, tetapi
ia terlalu percaya kepada diri sendiri. Keangkuhan dan kadang-kadang
sifatnya yang adigang adiguna itulah yang membuatnya terlalu
bernafsu untuk memiliki banyak dari yang dapat dicapainya dengan
wajar. Sehingga karena itulah, maka kepercayaan Panglima prajurit di
Demak kepadanya menjadi cepat susut. Kenyataan yang demikian itulah
yang membuatnya menjadi gelisah. Orang-orang yang datang bersama
Pangeran Sena Wasesa, dan sama sekali tidak meyakinkannya, ternyata
mampu melawan orang-orangnya. Bahkan orang cacat yang buruk itu
telah meloncat keluar kepungan, sementara seorang tua yang lain
dapat membuat orang-orang menjadi bingung. Sedangkan anak-anak muda
bahkan seorang diantara kedua orang perempuan itu mampu juga
bertempur dengan garangnya. “Siapakah iblis-iblis ini sebenarnya?“
bertanya Ki Rangga Sutatama dengan jantung yang berdebar-debar.
Pangeran Sena Wasesa mengerutkan keningnya. Sambil meloncat
menghindar i serangan lawannya, ia berdesis “Kau kira siapa mereka
itu” “Darimana Pangeran mendapat kawan-kawan yang berilmu iblis itu?
Apakah mereka sekelompok penyamun atau sejenis itu? Atau orang-orang
Sanggar Gading atau Kendali Putih atau Pusparuri yang pura-pura
telah menyelamatkan Pangeran, namun dengan demikian mereka
mengharapkan hadiah yang besar dari Sultan di Demak?“ “Mereka tidak
mengharapkan apa-apa” jawab Pangeran Sena Wasesa “Dan bukankah kau
sudah mengetahui salah seorang dari mereka adalah justru seorang
petugas sandi dari Demak?“ “Kau kira bahwa seorang petugas sandi
tidak dapat melakukan kerja rangkap? Bukankah banyak dijumpai
seorang petugas sandi justru bekerja untuk kepentingan sekelompok
penjahat yang paling buas?“ jawab Ki Rangga Sutatama. Pangeran Sena
Wasesa justru tertawa. Katanya “Kau sudah mulai dibayangi oleh
kegelisahan yang sangat. Ki Rangga. Mumpung belum terjadi sesuatu
yang gawat. Jika kau membatalkan niatmu, maka aku berjanj i untuk
tidak melaporkan kelakuanmu ini kepada pimpinan prajurit di Demak.
“Kau juga sudah gila Pangeran” berkata Ki Rangga “Apakah dalam
keadaan seperti sekarang ini, kau akan mungkin meloloskan diri?
Bagaimanapun juga jumlah orang di dalam satu medan akan mempunyai
pengaruh yang menentukan. Betapapun juga tinggi ilmu iblis dari
orang-orangmu, mereka tidak akan dapat melawan jumlah yang jauh
lebih banyak” Tetapi belum lagi Ki Rangga Sutatama diam. maka mereka
mendengar keluhan tertahan dekat disebelah mereka. Ternyata bahwa
Rahu telah berhasil melukai seorang lawannya dan dengan demikian
mendesak lawannya yang seorang itu keluar dari lingkaran. ”Apa yang
terjadi Ki Rangga?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Hanya karena
sikap yang kurang berhati-hati. Tetapi lihat, ia masih akan sanggup
memasuki arena setelah ia mengobati lukanya yang tidak berarti itu”
jawab Rangga Sutatama. Pangeran Sena Wasesa menngerutkan keningnya.
Ia melihat orang itu mengusapkan obat berupa bubuk berwarna kuning
pada luka itu. Kemudian orang itu telah menyiapkan diri untuk turun
lagi ke arena. Tetapi yang mereka lakunya itu telah memaksa lawannya
berbuat yang sama. Jitheiigpun kemudian menjadi semakin garang.
Pedang tipisnya menggeletar dengan cepat, berputar kemudian mematuk
arah jantung lawannya. Pada saat Daruwerdi terluka, ternyata
Jlitheng telah sempat membenamkan pedangnya didada lawannya. Namun
dalam pada itu, ternyata bahwa orang-orang yang mengikut i Pangeran
Sena Wasesa untuk menghadap ke Demak itu mulai jemu dengan
pertempuran itu. Apalagi nampaknya di beberapa bagian dinding
lingkaran, mereka menjadi berbahaya karena kemarahan yang
meluap-luap. Karena perhitungan yang demikian itulah, maka Kiai
Kanthipun berniat untuk menyelesaikan pertempuran itu lebih cepat
lagi. Bukan saja sekedar bertahan, tetapi sudah waktunya untuk mulai
melumpuhkan lawan- lawannya. Karena itu, maka sejenak kemudian Kiai
Kanthipun justru menjadi semakin cepat bergerak, la tidak saja
membingungkan lawan- lawannya, tetapi senjatanya benar- benar telah
mulai menyentuh tubuh lawannya. Ketika seorang diantara mereka
terluka, maka dibagian lainpun terdengar pula seseorang mengeluh.
Ternyata bahwa Ki Ajar Cinde Kuningpun telah mulai melukai lawan-
lawannya, “Masih ada kesempatan untuk pergi” berkata Ki Ajar Cinde
Kuning Tetapi Ki Rangga Sutatama yang melihat orang-orangnya telah
mulai terluka itupun berteriak nyaring “Kita ternyata terlalu baik
hati. Bunuh saja lawan-lawan kalian tanpa membuat terlalu banyak
pertimbangan” Tetapi suara Ki Rangga itu sendiri tertahan-tahan
karena serangan Pangeran Sena Wasesa yang datang membadai. Di bagian
lain dari pertempuran itupun orang-orang Ki Rangga Sutatama menjadi
semakin sulit menghadapi lawan- lawannya. Swasti dan Daruwerdi yang
memiliki dasar ilmu yang berbeda, ternyata mampu menempatkan diri
sebagai pasangan yang mantap. Keduanya bertempur dengan sepenuh
kemampuan. Sementara itu, ibu Daruwerdi yang ada d dalam lingkaran,
dan berdiri termangu-mangu di belakang anaknya, menyaksikannya
dengan jantung yang berdebar-debar. Dalam pada itu, kemarahan para
pengikut Ki Rangga Sutatama itu telah mencapai puncaknya. Apalagi
karena beberapa orang diantara mereka telah menitikkan darah
Sehingga karena itu, maka merekapun menjadi bagaikan orang wurL yang
tidak terkendali. Sebenarnyalah mereka memiliki kemampuan melampaui
orang-orang Pusparuri. Namun dihadapan mereka adalah orang-orang
pilihan juga. Bahkan diantara mereka terdapat Ki Ajar Cinde Kuning
dan Kiai Kanthi yang memiliki kemampuan jauh diatas kemampuan setiap
orang diantara mereka yang mengepungnya. Sementara itu. Pangeran
Sena Wasesa sendiri masih bertempur dengan sengitnya melawan Ki
Rangga Sutatama yang bernafsu untuk menangkapnya hidup-hidup. Namun
bagaimanapun juga jumlah yang jauh lebih banyak itupun memang
mempunyai pengaruh pula. Satu dua orang diantara orang-orang Ki
Rangga itu telah tergores senjata. Namun ternyata mereka masih
sempat menekan orang-orang yang berada di dalam lingkaran. Tetapi
justru karena itu, maka Kiai Kanthi telah meningkatkan kemampuannya
pula untuk mengurangi tekanan pada dinding lingkaran yang lain.
Dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuningpun tekanan yang terasa berat
pada lingkaran pertempuran itu. Sehingga iapun telah berusaha untuk
membantunya dengan caranya. Sejenak kemudian, maka Ki Ajar itupun
telah menghentakkan ilmunya. Orang-orang yang bertempur melawannya
itupun terkejut. Seorang diantara mereka terlempar keluar lingkaran.
Bukan saja sebuah goresan pada kulitnya. Namun ternyata dagingnyapun
telah terkoyak pula. Belum lagi orang itu sempat merangkak menepi
untuk mengobati lukanya, maka seorang lagi diantara mereka telah
terluka pula. Dalam keadaan yang gawat, maka dua orang telah
meninggalkan kepungan dan bergabung dengan kawannya yang masih
bertahan melawan Ki Ajar Cinde Kuning. Namun demikian kedua orang
itu menempatkan diri melawan orang cacat itu, telah terjadi pula
peristiwa yang serupa. Ki Ajar telah benar-benar melukai lawannya
sehingga tangan kanan lawannya seolah-olah telah menjadi lumpuh.
Dalam pada itu, dibagian lain dari lingkaran pertempuran itu, para
pengikut Ki Rangga Sutatama masih berpengharapan untuk dapat berbuat
lebih banyak lagi. Ketika dua orang bersama-sama menyerang
Daruwerdi, Swasti sudah siap untuk membantunya. Tetapi ternyata
bahwa ia sendiri telah mendapat serangan yang tiba-tiba, sehingga ia
harus menghindari serangan itu. Dengan demikian, maka ia berhasil
lolos dari sentuhan senjata lawan. Namun yang terjadi pada Daruwerdi
agak berbeda. Ketika ia sedang sibuk menangkis serangan dua orang
lawannya, seorang yang lain telah menyerangnya. Swasti terlambat
meloncat membantunya. Namun ia masih sempat berteriak “Daruwerdi,
hati-hati” Daruwerdi sempat bergeser. Tetapi serangan lawannya itu
ternyata telah menyentuh lengannya, sehingga sedores luka telah
memancarkan darah dar i lengan kirinya. Sementara itu, Swasti telah
meloncat disebelahnya sehingga serangan yang lain telah dapat di
tangkisnya. Namun ternyata bahwa serangan-serangan yang cepat bukan
saja di alami oleh Daruwerdi dan Swasti. Tetapi yang lainpun telah
mengalaminya pula, justru karena para pengikut Ki Rangga Sutatama
itu melihat beberapa orang kawannya telah terluka. Tetapi yang
mereka lakukan itu telah memaksa lawannya berbuat yang sama.
Jlithengpun kemudian menjadi semakin garang. Pedang tipisnya
menggeletar dengan cepat, berputar kemudian mematuk kearah jantung
lawannya. Pada saat Daruwerdi terluka, ternyata Jlitheng telah
sempat membenamkan pedangnya didada lawannya. Rahu sempat melihat,
bagaimana Jlitheng bertempur dengan segenap kemampuannya.
Seolah-olah Rahu belum pernah melihat Jlitheng bersikap demikian
sebelumnya. Namun dalam pada itu. Kiai Kanthi yang sekilas sempat
juga melihat, segera dapat memakluminya. Ada perasaan lain yang
membuat Jlitheng menjadi terlalu garang. Kekecewaan dan kehilangan.
Namun Kiai Kanthi tidak dapat membantunya. Ia tidak akan dapat
berbuat banyak terhadap anak gadisnya dalam hubungannya dengan
Jlitheng dan Daruwerdi, karena Kiai Kanthipun mengerti watak anak
gadisnya itu. Untuk melepaskan gejolak perasaannya, Jlitheng telah
mengambil sasaran pada lawan- lawannya. Demikian ia berhasil melukai
lawannya, maka pedangnya telah berputar pula mengerikan. Dalam pada
itu, Pangeran Sena Wasesa yang bertempur melawan Ki Rangga Sutatama
itupun berkata “Ki Rangga Apakah kau masih belum melihat kenyataan
ini? Berapa orangmu telah terluka?“ “Persetan“ geram Ki Rangga
“Tetapi orang-orangmu juga sudah terluka Pangeran” Pangeran Sena
Wasesa mengerutkan keningnya. Ia tidak bertempur disebelah
Daruwerdi, sehingga ia tidak melihat bahwa anak muda itu telah
terluka. Demikian pula seorang paman Daruwerdi telah tergores ujung
senjata Tetapi luka- luka itu hampir tidak berpengaruh sama sekali.
Namun sikap dan tingkah laku para pengikut Ki Rangga Sutatama itu
memang membuat lawan-lawannya menjadi marah pula. Mereka bertempur
dengan kasar dan bahkan kadang-kadang liar. Mereka berteriak dan
mengumpat dengan kata-kata yang tidak pantas. “Ki Rangga” berkata
Pangeran Sena Wasesa “adakah prajurit-prajuritmu telah kau ajari
bertempur dengan liar seperti itu? Kau dengar apa yang mereka
katakan dan apa yang mereka teriakkan?“ “Aku tidak peduli” jawab Ki
Rangga “Mereka adalah prajurit-prajurit yang kecewa karena sikap
para panglimanya yang tidak tahu diri. Seperti akupun telah
dikecewakan pula, meskipun pengabdianku telah bertimbun melampaui
pengabdianmu sendiri Pangeran” “Jangan membuat ceritera lelucon
seperti itu” jawab Pangeran Sena Wasesa “sekarang menyerahlah. Masih
ada kesempatan Aku akan memohonkan ampun atas segala tingkah lakumu
ini” Tetapi Ki Rangga itu justru mengumpat. Dengan tangkasnya ia
meloncat menyerang sambil berteriak nyaring “Cepat, bunuh
lawan-lawanmu. “Omong kosong“ Jlithengpun berteriak. Rasa-rasanya
semuanya membuatnya marah. Apapun yang didengar dan dilihatnya.
Tetapi kemarahannya yang kadang-kadang kurang terkendali itu
membuatnya kurang berhati-hati. Ketika ia menyerang lawannya dengan
perhitungan yang kurang mapan, maka terdengar Jlitheng berdesis.
Namun kemudian iapun telah menggeretakkan giginya. Ternyata segores
luka telah menyilang di pundaknya. Tidak terlalu dalam. Tetapi
terasa luka itu menjadi pedih. Namun justru karena luka itu,
Jlitheng menjadi semakin garang. Meskipun luka itu telah memper
ingatkan, bahwa ia harus lebih berhati-hati menghadapi lawan-
lawannya. Karena mereka memiliki ilmu yang cukup. Sehingga untuk
menghadapi dua orang diantara mereka yang mengepungnya, memer lukan
perhitungan yang lebih baik dari sekedar sikap marah. Tetapi di
bagian lain, Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi tidak mempunyai
pilihan, lain. Ia harus berusaha mengurangi jumlah lawannya. Semakin
cepat semakin baik. agar mereka cepat dapat meninggalkan tempat itu
dan menghadap Kangjeng Sultan, atau orang yang mendapat kuasa untuk
mengurus gedung perbendaharaan, sebelum mereka dapat menghadap
Sultan sendiri. Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi
semakin cepat. Para pengikut Ki Rangga Sutatamapun tidak membiarkan
diri mereka dilumpuhkan. Karena itu, merekapun telah mengerahkan
segenap kemampuan yang ada pada diri mereka masing-masing. Tetapi
kemampuan diantara mereka yang bertempur itu memang berbeda.
Meskipun beberapa orang telah terluka tetapi akhirnya nampak bahwa
para pengikut Ki Rangga Sutatama tidak akan dapat mengatasi keadaan.
“Gila“ geram Ki Rangga Sutatama di dalam hatinya “iblis dari mana
sajalah yang telah mengikuti Pangeran Sena Wasesa itu, sehingga
mereka mampu bertahan menghadapi orang-orangku yang jumlahnya lebih
banyak?“ Tetapi itu adalah satu kenyataan. Jika semula Ki Rangga
Sutatama menganggap kehancuran orang-orang Sanggar Gading dan
orang-orang Kendali Putih itu adalah karena mereka saling
membenturkan diri mereka sendir i, kemudian kehadiran orang-orang
Pusparuri yang malang karena mereka harus menghadapi anak-anak muda
Lumban yang jumlahnya tidak terhitung, sehingga mereka sama sekali
tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu betapapun tinggi
ibnu mereka, ternyata kini ia menghadapi kenyataan lain. Orang-
orang yang disebut telah menolong Pangeran Sena Wasesa itu ternyata
memang orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Dan segalanya
sudah terlanjur terjadi. Ki Rangga tidak akan dapat menghindarkan
dir i dari tanggung jawab atas tingkah lakunya. Dengan kenyataan
itu, maka Ki Rangga justru bersikap semakin garang Pusar dari
berlawanan orang-orang yang disebut menolong Pangeran Sena Wasesa
itu adalah pada Pangeran itu sendir i. Jika ia berhasil menguasai
Pangeran itu, maka ia tentu dapat mematahkan perlawanan mereka.
Dengan mengancam Pangeran Sena Wasesa, maka ia akan dapat memaksa
orang-orang itu menuruti perintahnya. Tetapi sejalan dengan usaha Ki
Rangga Sutatama, maka Pangeran Sena Wasesapun telah mengerahkan
ilmunya pula. Untuk melawan Senapati yang mumpuni itu, ternyata
Pangeran Sena Wasesa memang harus mengerahkan segenap kemampuannya.
Namun Pangeran Sena Wasesapun seorang Senapati besar pula, sehingga
dengan demikian ia dapat mengimbangi peningkatan ilmu Ki Rangga
Sutatama. Akhirnya Ki Rangga Sutatama itupun kehilangan kesabaran.
Ia tidak dapat berpegang pada niatnya untuk menangkap Pangeran Sena
Wasesa hidup-hidup dan tanpa segores lukamu. Karena jika ia tetap
berpegangan pada sikap itu, maka ialah yang mungkin akan ditangkap
hidup-hidup oleh orang-orang yang telah menolong Pangeran Sena
Wasesa itu. Dengan demikian, akhirnya Ki Rangga Sutatama telah
mengambil keputusan lain. Tiba-tiba saja ia meloncat surut sambil
menggeram “Pangeran. Segalanya terjadi tidak seperti yang aku
harapkan. Sebenarnya aku ingin berbuat sebaik- baiknya bagi
Pangeran. Tetapi agaknya Pangeran terlalu sombong dan merasa dirimu
terlalu besar. Karena itu aku harus mengambil sikap lain” Pangeran
Sena Wasesa tertegun. Ia mengerti, bahwa lawannya tentu akan
mempergunakan senjatanya. Sebenarnyalah Ki Rangga Sutatama itupun
telah menar ik sebilah wedung dari wrangkanya yang terselip di
lambung kir i. Wedung yang tidak terlalu biasa dipergunakan sebagai
senjata karena kecuali terlalu kecil dibanding dengan sebilah
pedang, bentuknya memang tidak begitu menguntungkan. Tetapi ternyata
bahwa Ki Rangga Sutatama telah mempergunakan sebilah wedung.
“Pangeran” berkata Ki Rangga “Jangan mengecilkan arti senjataku ini.
Pusaka ini adalah peninggalan Senapati besar dari Majapahit. Selama
wedung ini berada di tanganku, aku telah membunuh lebih dari sepuluh
orang dengan senjata ini Sementara diantara mereka melawanku dengan
jenis senjata yang lebih baik. Pedang, tombak dan bindi. Nah, apakah
Pangeran juga akan melawan” “Aku sudah melawan Ki Rangga” jawab
Pangeran Sena Wasesa. “Jika aku tidak berhasil menangkap Pangeran
hidup-hidup, maka biarlah aku membunuh Pangeran saja, agar rahasia
tentang pusaka dan harta benda itu akan tetap menjadi rahasia
sepanjang jaman” “Baiklah” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku akan
bertahan dan jika kemudian kaulah yang mati disini, hal itu aku
lakukan karena terpaksa sekali?” Pangeran Sena Wasesa tidak
mempunyai waktu banyak. Ternyata Ki Rangga Sutatama itupun segera
bersiap menyerangnya. Tetapi Pangeran Sena Wasesa masih sempat
mengenakan lempeng baja di telapak tangannya. Dengan lempeng baja
itu ia siap melawan senjata apapun juga. Bukan saja karena
ketrampilan tangannya itu, tetapi juga kekuatan ilmunya seolah-olah
telah terpusat pada telapak tangannya yang dialasi dengan sekeping
baja pilihan itu. “Senjata Pangeran aneh” desis Ki Rangga. “Aku
tidak sempat membawa senjata panjang saat aku dibawa oleh
orang-orang Sanggar Gading, kecuali lempeng baja yang memang tidak
terpisah dari tubuhku dalam keadaan apapun juga. Ki Rangga Sutatama
memperhatikan keping-keping baja di tangan Pangeran Sena Wasesa.
Keping-keping baja yang diberinya bercincin yang dapat diselusupi
jar i-jari. “Pangeran sekedar membuat pengeram-eram” berkata Ki
Rangga. Sutatama “Tetapi senjata seperti itu tidak akan banyak
manfaatnya. Apalagi untuk melawan wedung pusakaku ini” “Mungkin
keping-keping baja seperti ini tidak bermanfaat bagi siapapun juga.
Tetapi bagiku, senjata ini akan dapat aku pergunakan untuk
menghadapi senjata apapun. Termasuk senjatamu itu” jawab Pangeran
Sena Wasesa. Dalam pada itu, Ki Rangga Sutatamapun kemudian telah
meningkatkan serangan-serangannya, sehingga dengan demikian maka
pertempuran itupun menjadi semakin cepat dan seru. Ternyata Ki
Rangga Sutatama benar-benar menguasai senjatanya meskipun tidak
begitu besar. Tetapi yang tidak terduga sama sekali oleh Ki Rangga,
keping-keping baja di tangan Pangeran Sena Wasesa itupun merupakan
senjata aneh yang menggetarkan. Namun dalam pada itu, ternyata para
pengikut Ki Rangga Sutatama telah jauh susut. Selain yang terluka
parah, maka yang lainpun rasa-rasanya telah menjadi kehilangan
harapan. Hanya karena Ki Rangga masih saja bertempur, pengikutnya
tidak berani mengambil sikap meskipun mereka menyadari, kemungkinan
yang paling buruk akan dapat terjadi atas mereka. Sementara kedua
belah pihak bertempur pada saat-saat terakhir, mereka telah
dikejutkan oleh derap kaki-kaki kuda. Bukan hanya seekor atau dua
ekor kuda. Tetapi jauh lebih banyak. Dalam kesempatan terakhir dari
pertempuran itu. Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang yang bertempur
dipihaknya telah dikejutkan oleh munculnya sepasukan prajurit
berkuda. Prajurit Demak sebagaimana yang sedang bertempur melawan
mereka. “Gila“ geram J litheng yang melihat pula kehadiran mereka.
Kemarahan yang telah membakar jantungnya itu rasa-rasanya akan
meledak melihat orang-orang berkuda itu. Jumlah mereka justru lebih
banyak dari jumlah para pengikut Ki Rangga Sutatama yang hampir
mereka selesaikan. Dalam pada itu. pertempuran itu telah menarik
perhatian para prajurit berkuda yang datang kemudian itu. Dengan
serta merta iring- iringan kupan langsung menuju ke arena yang sudah
menjadi berat sebelah. “Siapa mereka?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa
kepada Ki Rangga Sutatama. Ki Rangga mengerutkan keningnya. Namun
kemudian iapun tertawa “Jangan menyesal Pangeran. Kawan-kawanku
telah datang untuk mengakhiri pertempuran ini. Dengan kehadiran
mereka, maka niatku untuk membunuh Pangeran sudah barang tentu akan
aku batalkan. Aku akan berusaha lagi menangkap Pangeran hidup-hidup.
Pangeran Sena Wasesa menggeretakkan giginya. Dengan dahsyatnya iapun
kemudian meloncat menyerang. Ia bukan lagi menunggu dan menghindar.
Tetapi ialah yang ingin menentukan akhir dari pertempuran itu. Ki
Ajar Cinde Kuningpun menjadi berdebar-debar. Namun ia berkata di
dalam hatinya “Apakah aku masih harus membunuh dan membunuh lagi?
Justru pada saat-saat hari-hariku menjadi semakin pendek oleh
umurku” Tetapi bagaimanapun juga, ada sesuatu yang membebaninya pada
saat itu. Ia sadar, betapa tinggi nilai benda-benda dan harta yang
sedang diperebutkan itu. Karena itu, maka katanya pula kepada diri
sendiri “Pusaka dan harta benda itu perlu diselamatkan meskipun
harus jatuh korban yang lebih banyak lagi. Mayat orang-orang Kendali
Putih dan orang-orang Sanggar Gading, kemudian orang-orang Pusparuri
dan prajur it-prajurit yang gila ini merupakan tebusan yang terlalu
mahal. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Cinde Kuningpun telah
bersiap-siap. Menghadapi para pengikut Ki Rangga Sutatama ia masih
berusaha untuk melumpuhkan mereka tanpa membunuhnya. Tetapi jika
lawan menjadi semakin banyak, maka iapun akan terpaksa membunuh
dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Kiai Kanthipun menjadi
berdebar-debar pula. Bukan oleh kecemasan tentang dir inya. Ia masih
mempunyai banyak harapan untuk dapat keluar dari pertempuran itu.
Tetapi bagaimana dengan anak-anak muda yang sedang tumbuh itu.
Bagaimana dengan anak gadisnya, Daruwerdi dan Jlitheng. Tetapi tidak
banyak kesempatan untuk merenung. Anak- anak muda di antara
merekapun telah menghentakkan kemampuan mereka menjelang kehadiran
para prajur it berkuda itu. Sebenarnyalah sekelompok orang berkuda
itu dengan kecepatan semakin t inggi telah mendekati arena. Dalam
pakaian keprajur itan, mereka nampak berwibawa. Seorang Senapati
yang memimpin mereka, telah menggenggam pedang di tangannya. Ketika
iring- iringan itu mendekati arena, maka Senepati itu telah mener
iakkan aba- aba sambil mengangkat pedangnya. Sejenak kemudian
beberapa ekor kuda itu telah memencar. Mereka langsung mengepung
arena itu tanpa turun dari kuda mereka, sementara di setiap tangan
telah tergenggam pedang. Seorang yang berkuda di sebelah Senapati
yang memegang pimpinan itu membawa sebuah tunggul berbentuk seekor
kuda yang berdiri pada kedua kaki belakangnya, dengan keadaan
terpaksa akan dapat dipergunakan sebagai tombak yang berbahaya. “Aku
perintahkan kepada semua pihak untuk menghent ikan pertepuran“
terdengar Senapati itu memekikan aba-aba. “Tidak ada gunanya” jawab
Ki Rangga Sutatama “Aku adalah Rangga Sutatama. Cepat, libatkan
dirimu dalam pertempuran ini. Mereka adalah orang-orang Sanggar
Gading yang berusaha menguasai harta benda kerajaan yang tidak
ternilai harganya” Seperti yang memimpin pasukan itu mengerutkan
keningnya. Ia berusaha mengamati orang yang menyebut dirinya Rangga
Sutatama itu. Sebenarnyalah bahwa orang itu mempergunakan pakaian
seorang Rangga dalam tugas keprajuritan. Dan sebenarnyalah orang itu
adalah Rangga Sutatama. “Ki Rangga” desis Senapati itu. Ki Rangga
Sutatama tegak sambil menengadahkan dadanya. Sekilas ia sempat
memandang Pangeran Sena Wasesa yang termangu-mangu. Sementara itu,
pertempuran itupun seolah-olah telah berhenti dengan sendir inya.
Kedua belah pihak menjadi ragu- ragu melihat sikap para prajurit
berkuda yang mengepung mereka. “Nah, bukankah kau mengenal aku Ki
Rangga Dirgapati. Aku telah berada dalam kesulitan kali ini. Aku
menghadapi sekelompok orang-orang Sanggar Gading yang kuat Orang-
orangku sama sekali tidak menduga bahwa diantara orang- orang
Sanggar Gading terdapat orang-orang yang memiliki ilmu iblis”
berkata Ki Rangga Sutatama. Orang yang disebut Ki Rangga Dirgapati
itu termangu- mangu diatas punggung kudanya. Namun kemudian
terdengar Pangeran Sena Wasesa berkata “Adalah kebetulan bahwa yang
datang kali inipun orang yang sudah aku kenal. Ki Rangga Dirgapati,
apakah kau tidak mengenal aku lagi?“ Ki Rangga Dirgapati mengerutkan
keningnya. Ia melihat seorang dalam pakaian orang kebanyakan. Namun
akhirnya lapun berdesis “Pangeran Sena Wasesa” “Ya“ sebelum Pangeran
itu menjawab Ki Rangga Sutatama telah mendahuluinya “sebuah
permainan yang mengasyikkan dari Pangeran Sena Wasesa. Ceritera
tentang usaha mengambilnya dari istananya oleh sekelompok orang yang
tidak dikenal adalah ceritera ngayawara. Ternyata Pangeran Sena
Wasesa telah berusaha menghilangkan jejaknya pada saat Pangeran itu
meninggalkan Demak karena satu kepentingan pribadi dengan menyuruh
para pengikutnya berpura-pura menculiknya. Adalah tidak mungkin
bahwa sekelompok kecil pada waktu itu dapat menembus pertahanan para
pengawalnya dan Pangeran Sena Wasesa sendiri, jika hal itu memang t
idak dikehendaki oleh Pangeran itu sendiri” Ternyata Ki Rangga
Dirgapati menjadi termenung sejenak. Namun kemudian Pangeran Sena
Wasesa menjawab “Kau percaya ceritera itu Ki Rangga Dirgapati. Kau
adalah seorang Senapati. Jika kau sempat melihat pertempuran ini
barang sejenak, maka kau akan melihat, bahwa orang-orang yang
berpakaian seperti prajurit Demak di bawah pimpinan Ki Rangga
Sutatama ini, sama sekali bukan prajur it“ Ki Rangga Sutatama
tertawa. Katanya “Pangeran ingin meneruskan pertempuran ini? Dan
Pangeran ingin menunjukkan kepada Ki Rangga Dirgapati bahwa
orang-orang Sanggar Gading mempunyai kelebihan sehingga Pangeran
akan dapat memaksa Ki Rangga Dirgapati untuk meninggalkan tempat ini
karena ketakutan?“ “Pikiranmu terlalu dangkal Ki Rangga Sutatama.
Jika kau ingin mengelabui seseorang, pakailah cara yang agak lebih
baik, sehingga tidak justru menumbuhkan kecur igaan seperti itu”
berkata Pangeran Sena Wasesa. Tetapi sekali lagi Ki Rangga Sutatama
tertawa. Katanya “Ceritamu tamat sampai disini Pangeran. Pasukan
Demak akan menyelesaikan tugas mereka sebaik-baiknya. Betapapun
tinggi tingkat ilmu orang-orang Sanggar Gading yang ternyata telah
kau pimpin sendir i, tidak akan dapat mengalahkan pasukan Demak yang
banyak ini. Meskipun Ki Rangga Dirgapati tidak segarang dan sekasar
aku sendiri” Pangeran Sena Wasesa menggeretakkan giginya. Ternyata
Ki Rangga Sutatama adalah orang yang sangat licik. Orang yang sampai
hati mempergunakan segala cara untuk mencapai maksudnya. Bahkan cara
yang paling kasar dan kotor sekalipun. Namun dalam pada itu, Rahu
telah melangkah maju mendekati Ki Rangga Dirgapati. Tetapi
langkahnya terhenti ketika Ki Rangga itu menundukkan pedangnya
sambil berkata “Berhenti di tempatmu” Rahu berhenti beberapa langkah
dihadapan Ki Rangga Dirgapati. Sementara Ki Rangga Sutatama berkata
“Orang itu sangat berbahaya” Ki Rangga Dirgapati mengerutkan
keningnya. Namun tiba- tiba saja sebuah pisau belati yang kecil
telah meluncur dari tangan Ki Rangga Sutatama. Pisau yang
dilontarkan oleh seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Tetapi
Pangeran Sena Wasesa sempat melihat gerak yang cepat itu, sehingga
dengan kecepatan yang seimbang, Pangeran Sena Wasesa meloncat sambil
menyerang Ki Rangga Sutatama. Bagaimanapun juga, serangan Pangeran
Sena Wasesa itu berpengaruh sehingga sasaran pisau itu tidak tepat
seperti yang dibidiknya, justru karena Ki Rangga harus menghindari
serangan Pangeran Sena Wasesa. Meskipun demikian, pisau itu masih
sempat juga mengarah ke tubuh Rahu yang sama sekali tidak menduga
bahwa Ki Rangga Sutatama akan melakukan satu tindakan yang paling
tercela, justru pada saat ia tidak memperhatikannya. Justru pada
saat ia memandang ujung pedang Ki Rangga Dirgapati yang menunduk
itu. Pisau itu ternyata sempat juga menancap di lengannya. Sehingga
terdengar Rahu mengeluh tertahan. Dengan serta merta Kiai Kanthi
telah meloncat mendekatinya diikuti oleh Jlitheng dan Ki Ajar Cinde
Kuning yang cacat itu. “Gila“ geram Rahu. Namun sementara itu Ki
Ajar telah menenangkannya, sementara Jlitheng telah mencabut pisau
itu atas persetujuan Rahu. Rahu menyeringai menahan sakit. Sementara
Ki Rangga Sutatama menggeram “Anak iblis. Kau harus mati sebelum kau
dengan licik membunuh Ki Rangga Dirgapati” Namun dalam pada itu,
tanpa menghiraukan darah yang mengalir di lengannya, Rahu telah
melangkah lagi mendekati Ki Rangga Dirgapati sambil berkata lantang
“Aku memang bukan orang terkenal seperti Ki Rangga Sutatama. Mungkin
kau tidak akan mengenal aku Ki Rangga Dirgapati. Namun adalah
kebetulan sekali bahwa Ki Rangga Sutatama mengenal aku. Tetapi aku
bersukur bahwa tidak banyak orang yang mengenalku justru karena
tugas sandiku. Tetapi dalam keadaan terpaksa seperti ini aku akan
mengatakan kepada Ki Rangga, bahwa aku memiliki pertanda akan
tugasku” Ki Rangga Dirgapati mengerutkan keningnya. Ketika Rahu
membuka tangannya, nampaklah sebentuk cincin yang khusus, yang
menjadi cir i tugas sandinya, yang hanya dikenal oleh beberapa orang
Senapati terpenting di Demak. “Apakah Ki Rangga Dirgapati termasuk
salah seorang Senapati yang mengenal pertanda ini?“ bertanya Rahu
kemudian. Ki Rangga Dirgapati memandang cincin di jari Rahu. Agaknya
dalam sikapnya sehari-hari, Rahu telah meletakkan pertanda pada
cincinnya itu justru di bagian dalam, sehingga yang nampak pada
bagian luarnya, seolah-olah ia memakai cincin sigar penjalin.
Pangeran Sena Wasesapun tertarik pada cincin di jari Rahu itu.
Setelah beberapa lama Rahu bersamanya, namun Rahu tidak pernah
menampakkan ciri tugas sandinya. Apalagi kepada orang-orang lain.
Jlitheng tidak terlalu tertarik dan heran melihat pertanda itu.
Meskipun ia belum pernah melihat pertanda yang melekat pada cincin
itu dan justru diletakkan di bagian dalam tangannya, namun Jlitheng
sudah tahu pasti, siapakah Rahu itu. Namun dalam pada itu, terdengar
Ki Rangga Sutatama itu berkata “Nah. bukankah orang itu benar-benar
telah bersiap untuk mengelabui setiap petugas yang berhasil mencium
rencana buruknya? Ki Rangga Dirgapati. Ia juga telah menunjukkan
cincin itu kepadaku. Tetapi aku tidak mempercayainya. Bahkan mungkin
sekali kematian petugas sandi yang berasal dari lingkungan pasukanku
itu, adalah karena pokalnya, dan cincin itu telah dirampasnya dan
dipakainya. Jika tidak demikian maka membuat cincin serupa itu bukan
terlalu sulit bagi seorang ahli perhiasan” “Kau memang licik” geram
Rahu “Tetapi masih ada satu hal yang dapat memperkuat pernyataanku
ini. Kau tidak membawa pertanda apapun. Lihat, pasukan Ki Rangga
Dirgapati ditandai dengan sebuah tunggul dari pasukan berkuda. Nah,
tunggul apa yang kau bawa sekarang ini j ika kau benar-benar sedang
dalam tugas kerajaan dengan membawa pasukan sebanyak itu?“ Wajah Ki
Rangga Sutatama menjadi merah. Namun sebelum ia menjawab terdengar
Ki Rangga Dirgapati berkata “Ternyata aku tidak mengenal kau. Tetapi
cincin di tanganmu telah membuat aku yakin akan tugasmu. Adalah
tidak mustahil bahwa seorang petugas sandi tidak dikenal oleh orang
lain yang tidak berhubungan langsung dengan tugasnya. Tetapi
pertanda yang kau bawa itu menyatakan tentang dirimu. Sebenarnya
kita tidak perlu terlalu banyak berbincang tentang Ki Rangga
Sutatama. Yang aku ketahui tentang Ki Rangga adalah keterbatasan
tugas-tugas yang dapat dilaksanakan. Karena itu. akupun semula
merasa heran, bahwa ia berada disini mengemban tugas yang berat itu.
Namun sebenarnyalah bahwa aku mendapat perintah untuk melacak
peristiwa yang terjadi di Lumban Untuk membukt ikan berita tentang
peristiwa yang menggemparkan yang terjadi antara kelompok-kelompok
yang sedang bersaing dalam ketamakannya. Diantaranya adalah Sanggar
Gading. Kendali Putih dan Pusparuri, disamping pihak orang-orang
Lumban sendir i” “Aku pernah berada dilingkungan orang-orang Sanggar
Gading” berkata Rahu “Anak muda yang bernama Jlitheng inipun pernah
berada di lingkungan Sanggar Gading pula. Tetapi kami memasuki
padepokan itu atas dasar tugas-tugas kami” “Omong kosong” teriak Ki
Rangga Sutatama “semuanya omong kosong Kalian tidak, tahu apa-apa
tentang tugas- tugasku” Namun Ki Rangga Dirgapati menjawab dengan
jelas dan pasti “Ki Rangga Sutatama. Aku percaya bahwa Ki Rangga
masih seorang prajurit. Tetapi aku tidak percaya bahwa Ki Rangga
mendapat tugas untuk menangani masalah orang- orang Sanggar Gading
atau persoalan yang timbul di daerah Lumban” Wajah Ki Rangga
Sutatama menjadi semakin merah. Tubuhnya menjadi bergetar menahan
kemarahan yang bergejolak di dalam dadanya. Namun ia tidak dapat
mengabaikan kenyataan, bahwa ia sudah tidak mempunyai kekuatan lagi
untuk melawan. Jangankan pasukan Demak yang kemudian datang,
sedangkan untuk melawan Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang yang
menyatakan diri mereka telah membantu Pangeran Sena Wasesa itupun ia
telah mengalami kesulitan. Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga Sutatama
bukan orang yang mudah mengalah. Karena itu, dengan jantung yang
bergelora ia berkata lantang “Baiklah. Ternyata aku menghadapi
orang-orang licik dan pengkhianat. Ki Rangga Dirgapati, apakah kau
juga termasuk orang-orang yang memburu harta benda itu dengan kedok
tugas-tugas keprajuritanmu? Jika demikian, biarlah aku
mempertahankan hak kerajaan yang seharusnya kembali kepada Demak.
Karena itu, maka mar ilah kita buktikan, siapa diantara kita yang
benar-benar mendapat tugas dari Panglima pasukan Demak untuk
mengusut peristiwa yang terjadi di Lumban. Marilah kita buktikan,
siapakah diantara kita berdua prajurit linuwih yang pantas
menjunjung per intah Sultan” “Apa maksudmu Ki Rangga Sutatama?“
berkata Kl Rangga Dirgapati. “Kita buktikan dengan perang tanding”
jawab Ki Rangga Sutatama. “Sikap yang paling bodoh bagi seorang yang
sedang mengemban tugas jika aku menerima tantangan itu. Kita tidak
mempunyai persoalan pr ibadi. Jika persoalannya adalah persoalan
Dirgapati dan Sutatama, apaboleh buat. Tetapi sekarang aku mengemban
tugas untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi di Lumban. Namun
karena aku sekarang langsung menghadapi persoalan yang tidak dapat
aku abaikan, maka persoalan inipun akan aku tangani pula” jawab Ki
Rangga Dirgapati “Licik, Pengecut“ teriak Ki Rangga Sutatama “Kau
tidak berhak berbuat seperti itu” “Ki Rangga Sutatama” berkata Ki
Rangga Dirgapati “Aku terpaksa menangkap Ki Rangga dan para pengikut
Ki Rangga, apakah mereka benar-benar prajurit Demak atau bukan.
Persoalan berikutnya adalah bukan persoalanku. Ada orang- orang yang
akan memeriksa Ki Rangga dan memberikan penyelesaian” “Tidak” geram
Ki Rangga “Aku lebih baik mati terkapar disini dari pada menjadi
tangkapan sekelompok penjahat yang licik seperti kalian. Baru
sekarang aku percaya bahwa kelompok orang-orang Sanggar Gading
benar-benar telah menyusup diantara para Senapati Demak” “Kau masih
mengatakan sesuatu yang tidak berarti apa-apa Ki Rangga” potong Ki
Rangga Dirgapati “Jangan mengigau seperti itu. Kau tahu bahwa hal
itu tidak ada gunanya. Karena itu menyerahlah” “Ki Rangga” berkata
Pangeran Sena Wasesa “Aku menjadi saksi. Jika kau menyerah, maka kau
tentu masih akan mendapat kesempatan” “Tidak” teriak Ki Rangga
Sutatama lantang. Suasana menjadi semakin tegang. Ki Rangga Sutatama
benar-benar tidak mau menyerah. Ia menyadari, apa yang akan
dihadapinya jika ia menyerah, karena satu dua orang pengikutnya yang
tentu akan menyerah juga, akan dapat mengatakan apa yang sedang
mereka kerjakan itu. Karena itu, maka dengan tekad yang bulat, Ki
Rangga Sutatama akan bertempur sampai kemungkinan yang terakhir.
“Jangan keras kepala Ki Rangga Sutatama” berkata Ki Dirgapati
kemudian “Kau seorang prajur it seperti aku. Karena itu kau tahu,
apa yang akan aku lakukan menghadapi orang seperti kau” “Persetan“
jawab Ki Rangga Sutatama “J ika aku menyerah, maka akupun akan di
gantung di alun-alun. Lebih baik aku mati disini dari pada mati
menjadi pengeram-eram. Ki Rangga Dirgapati menarik nafas
dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata “Baiklah. Aku akan
memerintahkan para prajurit untuk menangkap Ki Rangga. Hidup atau
mati” “Ayo. Jatuhkan perintah itu. Senapati yang licik? Aku
menantang kau perang tanding, tetapi kau memilih cara yang paling
buruk yang dapat dilakukan oleh seorang Senapati” berkata Ki Rangga
Sutatama lantang. “Ki Rangga Dirgapati” berkata Rahu “Sudah waktunya
untuk menjatuhkan perintah” Ki Rangga Sutatama menggeretakkan
giginya. Dengan garang ia bersiap menghadapi kemungkinan yang paling
buruk yang akan dapat terjadi atas dirinya. “Aku akan bertanggung
jawab” geram Ki Rangga Sutatama “sampai batas kematian” Tetapi
sebelum Ki Rangga Dirgapati menjatuhkan perintah, Pangeran Sena
Wasesa berkata “Persoalan yang timbul disini adalah persoalan antara
aku dan Ki Rangga Sutatama. Aiku akan menerima j ika ia menantang
aku berperang tanding sehingga kita masing-masing akan dapat
menyatakan bahwa kita telah menyelesaikan persoalan diantara kita
dengan jantan” “Itu adalah sekedar gejolak perasaan Pangeran” potong
Rahu “perang tanding semacam itu sama sekali tidak perlu. Kita semua
menghadapi sekelompok perampok yang dengan tamak ingn menguasai
pusaka dan harta benda kerjaan bagi kepentingan diri mereka sendir
i. Itu sudah cukup alasan untuk melakukan tindakan yang tegas bagi
mereka” Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Namun
sementara itu, Ki Rangga Dirgapati telah mengangkat senjatanya
sebagai isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk bertindak. Dalam
pada itu, Ki Rangga Sutatamapun kemudian berteriak nyaring “Bunuh
mereka semua. Jangan beri ampun kepada seorangpun diantara mereka”
Dengan garangnya Ki Rangga Sutatama telah siap meloncat menghadapi
Ki Rangga Dirgapati yang masih berada di punggung kudanya. Sementara
para prajuritnya telah bergerak semakin maju beberapa langkah. Namun
dalam pada itu, tidak seorangpun pengikut Ki Rangga Sutatama yang
bergerak melakukan perintahnya. Semua pengikutnya masih tetap
berdiri termangu-mangu dengan senjata yang tunduk di tangan. Ki
Rangga Sutatama tertegun melihat sikap para pengikutnya. Sekali lagi
ia berteriak dengan kemarahan yang memuncak. Tetapi ternyata bahwa
para pengikutnya yang melihat kenyataan yang akan mereka hadapi
lebih baik memilih meletakkan senjata mereka daripada melakukan per
intah Ki Rangga Sutatama. “Cepat” teriak Ki Rangga Sutatama “kalian
tidak perlu lagi berbelas kasihan” Tetapi para pengikutnya masih
tetap berdiri tegak di tempatnya. Kemarahan Ki Rangga Sutatama tidak
lagi dapat dikendalikan. Gelora didadanya rasa-rasanya akan
memecahkan jantungnya. Oleh kemarahan dan putus-asa, maka Ki Rangga
Sutatama telah mengambil satu sikap yang mengejutkan. Yang. tidak
terduga sama sekali. Dengan loncatan panjang, tiba-tiba saja Ki
Rangga Sutatama telah menyerang Pangeran Sena Wasesa yang berdiri
termangu-mangu. Pangeran Sena Wasesa terkejut. Untunglah bahwa ia
masih sempat mengelak. Namun ternyata bahwa Ki Rangga yang putus asa
itu telah memburunya sambil berteriak lantang kepada para
pengikutnya “Jangan menjadi pengecut. Cepat, bergeraklah” Teriakan
itu ada juga pengaruhnya. Namun ternyata bahwa orang-orang yang
menyebut diri mereka penolong Pangeran Sena Wasesa itupun telah
bergerak pula. Sementara para prajurit Demakpun mengepung semakin
rapat, Karena itu, maka merekapun telah mengurungkan segala niat
untuk meneruskan peperangan. Mereka sudah benar- benar kehilangan
kemauan untuk bertempur, karena dengan demikian mereka t idak akan
mempunyai harapan apapun lagi. Karena itu, maka tidak seorangpun
yang menolak perintah yang kemudian diteriakkan oleh Ki Rangga
Dirgapati “Semua meletakkan senjatanya” Para pengikut Ki Rangga
sutatama itupun telah melepaskan senjata mereka. Beberapa orang
prajurit Demak itupun telah meloncat turun dari kuda mereka. Ki
Rangga Dirgapati sendir i juga turun dari kudanya. Namun ia tidak
segera dapat bertindak. Pertempuran antara Ki Rangga Sutatama dan
Pangeran Sena Wasesapun menjadi semakin seru. Kemarahan dan dendam
Ki Rangga telah ter salur dalam gerak dan teriakan-teriakan yang
kasar. Keduanya telah bertempur dengan segenap kemampuan. Ki Rangga
meloncat-loncat dengan garangnya. Senjata pendek di tanganinya
menyambar-nyambar dengan cepat. Namun sekali- sekali mematuk
mendebarkan. Tetapi ujung senjata itu setiap kali membentur telapak
tangan Pangeran Sena Wasesa yang di alasi dengan sekeping baja.
Bahkan ketika Pangeran Sena Wasesa telah sampai kepuncak ilmunya,
maka keping baja itu tidak saja menahan serangan senjata Ki Rangga
Sutatama, namun sekali-sekali telah menyentuh pergelangan tangan Ki
Rangga yang menggenggam senjatanya itu. Ki Rangga Dirgapati tidak
segera bertindak. Para prajuritnya telah mengumpulkan orang-orang
yang menyerah. Namun ternyata tidak seorangpun yang mengganggu
pertempuran yang sedang ber langsung itu. Dengan demikian,
seolah-olah memang telah terjadi perang tanding. Ki Rangga Sutatama
benar-benar ingin membunuh Pangeran Sena Wasesa. Pangeran itu sudah
tidak ada artinya lagi baginya. Ia tidak akan dapat menangkapkan
hidup-hidup dan apalagi memeras keterangan dari padanya tentang
pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu, karena Ki
Rangga Dirgapati dan prajurit-prajur itnya sudah menunggu. Karena
itu, maka satu-satunya kepuasan yang dapat dicapainya sebelum ia
digantung di alun-alun adalah membunuh Pangeran itu. Tetapi Pangeran
Sena Wasesa benar-benar sudah siap menghadapi lawannya yang
kehilangan segala harapan. Jika semula Pangeran Sena Wasesa masih
berharap untuk dapat menundukkan lawannya tanpa membunuhnya, maka
ketika pertempuran menjadi semakin seru dan keras. Pangeran itu
tidak mendapat banyak kesempatan untuk terlalu banyak mengekang
diri. Karena itu, maka akhirnya Pangeran Sena Wasesa telah
benar-benar sampai ke puncak kemampuannya. Ketika senjata Ki Rangga
mematuk leher Pangeran Sena Wasesa, maka dengan tangkasnya Pangeran
itu memukul tajam senjata lawannya kesamping, sekaligus meloncat dan
menyerang dengan kakinya. Tetapi Ki Ranggapun cepat menghindar. Ia
berputar d atas sebelah kakinya, sementara kakinya yang lain terayun
menyambar Pangeran Sena Wasesa yang tidak berhasil mengenai
lawannya. Namun tangan Pangeran Sena Wasesa dengan cepat melindungi
lambungnya. Ki Rangga menyadari, jika kakinya tersentuh keping baja
di telapak tangan lawannya, maka kulit daging kakinya tentu akan
terkelupas. Karena itu, maka iapun segera menarik kakinya. Namun
dengan satu putaran senjatanyalah yang terayun mengarah ke dada.
Pangeran Sena Wasesa surut selangkah. Tetapi Ki Rangga tidak sempat
memburunya, karena Pangeran itupun segera meloncat maju. Ki Rangga
Dirgapati menahan nafasnya. Yang dilihatnya adalah pertempuran yang
cepat dan mendebankan. Semakin lama semakin seru. Apalagi ketika
keduanya telah menghentakkan segala kemampuan atas kekuatan segenap
tenaga cadangan yang ada. Kekuatan mereka sudah bukan lagi kekuatan
orang kebanyakan. Dorongan tangan mereka bagaikan dorongan air bah
menghantam bendugan Sementara kekuatan ayunan serangan mereka,
bagaikan guguran batu di lereng pegunungan. “Luar biasa” berkata Ki
Rangga Dirgapati di dalam hati “Sebenarnyalah Ki Rangga Sutatama
memiliki kemampuan diatas dugaanku. Seandainya aku membiarkan
gejolak perasaanku, maka aku tentu akan melayani tantangannya untuk
berperang tanding. Dengan jujur aku harus mengakui, bahwa kemampunya
melampaui kemampuanku secara pribadi. Namun agaknya ia telah
terbentur pada kemampuan yang tidak dapat dilampauinya. Bahkan
setiap kali Ki Rangga mengumpat jika terasa tangannya tersentuh
keping baja di telapak tangan Pangeran Sena Wasesa. Dalam pada itu,
Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan orang-orang yang bersamanya
termangu-mangu menyaksikan pertempuran yang seru itu. Namun dalam
pada itu, ketajaman penglihatan mereka telah membuat mereka agak
tenang. Jika Pangeran Sena Wasesa tidak melakukan kesalahan, maka ia
tentu akan dapat menyelesaikan pertempur itu. Meskipun keduanya
tidak terikat dalam perang tanding, sehingga tidak ada hambatan
apapun seandainya satu atau dua orang melibatkan diri dalam
pertempuran itu. Namun agaknya Pangeran Sena Wasesa yang merasa
dirinya seorang prajurit sebagaimana Ki Rangga Sutatama akan merasa
tersinggung karenanya. Dengan demikian, maka orang-orang yang sejak
semula telah membantunya itu hanya dapat menyaksikan pertempuran itu
dengan berdebar-debar. Tetapi Ki Rangga Dirgapati agaknya bersikap
lain. Ia ingin persoalan itu cepat selesai. Karena itu, maka iapun
telah melangkah mendekati arena dengan pedang teracu. “Jangan ganggu
kami” geramPangeran Sena Wasesa. “Aku tidak mempunyai banyak waktu
Pangeran” jawab Ki Rangga Dirgapati “Aku akan melakukan tugasku
sebaik- baiknya dengan waktu yang paling singkat yang dapat aku
lakukan” “Aku akan menyelesaikannya” sahut Pangeran Sena Wasesa.
“Tidak ada waktu untuk membiarkan perasaan Pangeran meronta dalam
kenyataan waktu yang terlalu sempit ini” jawab Ki Rangga Dirgapati.
“Marilah Pengecut“ teriak Ki Rangga Sutatama “siapa yang ingin
bertempur bersama Pangeran Sena Wasesa, cepat memasuki arena. Aku
akan membunuh kalian seorang demi seorang” Pangeran Sena Wasesa
tidak menjawab. Tetapi ia memang ingin menyelesaikan pertempuran itu
sendiri Karena itu, maka sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa telah
memutuskan segala daya nalar dan budinya, perasaan dan pikir, serta
segenap ilmu yang ada pada dirinya. Karena itu, maka hentakkan
kemampuannya menjadi semakin dahsyat. Pada saat-saat terakhir,
serangannya bagaikan amuk gemuruhnya badai yang paling dahsyat. Ki
Rangga Dirgapati terkejut. Justru ia bergeser surut ketika keduanya
terlibat dalampertempuran yang semakin dahsyat. Namun dalam pada
itu, sebelum Ki Rangga Dirgapati dan prajurit-prajuritnya sempat
berbuat sesuatu, maka Pangeran Sena Wasesa tidak lagi hanya sekedar
menyentuh tubuh lawannya, tetapi ia benar-benar mulai menghantam
lawannya dengan keping-keping baja di telapak tangannya. Demikianlah
keduanya terlibat dalam benturan berjarak pendek. Bagaimanapun juga,
Ki Rangga tidak akan menyerahkan dirinya menjadi sasaran hentakkan
ilmu Pangeran Sena Wasesa. Karena itu dalam saat-saat terakhir,
senjatanyapun bergerak dengan cepatnya. Tetapi, ternyata bahwa Ki
Rangga tidak lagi mampu mengatasi kecepatan gerak Pangeran Sena
Wasesa. Dalam keadaan yang paling sulit, Pangeran Sena Wasesa
menyerangnya sambil mengayunkan telapak tangannya mengarah ke
kening. Ki Rangga masih sempat mengelak. Namun semangan berikutnya
telah memburunya tanpa dapat dihindar inya. Sebuah ayunan tangan
Pangeran Sena Wasesa yang dilambari dengan kepingan baja pilihan itu
telah menyambar kepala Ki Rangga Sutatama. Demikian kerasnya
sehingga Ki Rangga tidak mampu menahan keseimbangannya. Dengan
kerasnya Ki Rangga itu terpelanting dan jatuh terbanting di tanah.
Ki Rangga berguling beberapa kali. Ia masih mencoba melenting berdir
i. Namun ketika ia berusaha untuk bangkit, matanya mulai
berkunang-kunang. Pandangan matanya menjadi kabur, sehingga kemudian
ternyata ia tidak mampu lagi untuk tegak. Sekali lagi ia terbanting
jatuh dan kehilangan kesadarannya. Pingsan. Pangeran Sena Wasesa
berdiri tegak. Dipandanginya tubuh Ki Rangga yang terbaring diam.
Kemudian dipandanginya pula Ki Rangga Dirgapati yang termangu-mangu
“Agaknya aku sudah selesa Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa
“Aku kira aku tidak perlu membunuhnya” “Terima kasih Pangeran”
berkata Ki Rangga Dirgapati “Ternyata Pangeran sudah menyelesaikan
persoalan antara Pangeran dengan Ki Rangga Sutatama” “Semuanya
terserah kepada Ki Rangga” berkata Pangeran Sena Wasesa itu
kemudian. “Tetapi aku mohon maaf Pangeran, bahwa aku harus
menjalankan tugasku sebaik-baiknya Karena itu, maka aku mohon
Pangeran bersedia bersama dengan kami untuk menghadap ke Demak
sesudah aku melihat perkembangan keadaan di Lumban” berkata Ki
Rangga Dirgapati. “Tidak ada lagi masalah di Lumban” berkata
Pangeran Sena Wasesa “Yang ada disana adalah beberapa orang tawanan.
Seorang diantaranya yang disebut Yang Mulia Panembahan Wukir Gading
yang selama ini telah memimpin Sanggar Gading. Jika kau sependapat,
maka kau akan dapat memer intahkan sebagian orang-orangmu untuk
menjemput orang-orang yang tertawan itu. Sebagian lain bersama-sama
dengan kami menghadap Sultan di Demak. Dengan atau tanpa Ki Rangga,
aku memang ingin menghadap. Diantaranya juga akan memberikan laporan
tentang peristiwa yang terjadi di Lumban yang barangkali sudah
didengar pula oleh kalangan istana” Ki Rangga Dirgapati
termangu-mangu sejenak. Ada semacam keragu-raguan memancar di sorot
matanya. Pangeran Sena Wasesa seolah-olah telah melihat keragu-
raguan itu. Karena itu, maka katanya “Jika kau tidak percaya
sepenuhnya kepadaku Ki Rangga, maka marilah kita lebih dahulu
menghadap Kangjeng Sultan. Baru kemudian kau pergi ke Lumban. Jika
kau ingin pergi ke Lumban lebih dahulu, maaf aku tidak dapat
mengikutimu. Aku akan pergi ke Demak tanpa Ki Rangga. Aku akan pergi
bersama-sama orang-orang yang telah menolongku dan terlibat ke dalam
peristiwa yang rumit ini” Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Kemudian
katanya “Tetapi aku mendapat perintah untuk melihat keadaan di
Lumban. Itu adalah tugasku yang pertama. Namun demikian aku tidak
dapat menyingkir dar i keterlibat persoalan yang aku hadapi disini,
karena aku yakin, bahwa persoalan inipun tidak terlepas sama sekali
dari peristwa-peristiwa yang telah terjadi di Lumban. Pangeran Sena
Wasesa memandang Ki Rangga dengan tajamnya. Namun kemudian Katanya
“Terserah kepadamu. Jika kau akan melakukan tugasmu yang pertama,
lakukanlah, itu memang tugasmu yang utama. Tetapi jangan melibatkan
aku. Pergilah dengan prajur it-prajuritmu. Aku tidak mempunyai
banyak waktu. Aku harus segera menghadap Sultan, sebelum Sultan
mendapat keterangan yang salah dan memutuskan bahwa akupun bersalah”
Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Nampaknya ia sedang membuat
pertimbangan di dalam dirinya sebelum mengambil satu keputusan.
Jlitheng menjadi tegang membeku, sementara Rahu menjadi bimbang. Ia
mengerti sikap Ki Rangga Dirgapati sebagai seorang Senapati. Tetapi
iapun mengerti sikap Pangeran Sena Wasesa. Pangeran Sena Wasesa
tidak mau terlambat. Jika Sultan mendapat keterangan, entah dari
siapapun datangnya, yang menyebut pengakuan Pangeran Sena Wasesa,
bahwa ia sudah mengembalikan pusaka dan harta benda yang telah
diselamatkan dari Majapahit itu ke kraton, maka Sultan tentu akan
mengambil sikap khusus terhadapnya. Karena sebenarnyalah bahwa
semuanya itu masih belumdiserahkannya. Jika semula, Pangeran itu
benar-benar hendak memilikinya sendiri, yang sudah tentu dengan
rencana-rencananya yang akan dapat dihadapkan kepada segala
kemungkinan, termasuk kemarahan Sultan, namun akhirnya ia telah
menemukan satu sikap yang benar-benar berlandaskan sikap seorang
kesatria, yang mementingkan kepentingan yang lebih besar dari
kepentingan pr ibadinya. Namun akhirnya Rahu itu menarik nafas
dalam-dalam ketika ia mendengar Ki Rangga Dirgapati berkata “Baiklah
Pangeran. Aku akan kembali ke Demak bersama Pangeran, sebelum aku
akan pergi ke Lumban” “Baiklah. Kita akan pergi bersaam-sama ke
Demak. Tetapi aku bukan tawananmu” sahut Pangeran Sena Wasesa. Ki
Rangga mengangguk kecil sambil menjawab “Aku t idak pernah
menganggap bahwa Pangeran adalah tawananku” “Orang-orang itulah yang
menjadi tawananmu” berkata Pangeran itu selanjutnya. Demikianlah, Ki
Rangga Dirgapatipun segera memer intahkan para prajuritnya untuk
mengurus para tawanan. Mereka yang terluka dan tidak lagi dapat
meneruskan perjalanan ke Demak, harus mendapat perawatan tersendiri.
Dengan kuda-kuda mereka yang semula terlindung, maka orang-orang
yang berpakaian prajurit Demak itu akan mengikut Ki Rangga Dirgapati
sebagai tawanan sambil membawa kawan-kawan mereka. Sedangkan yang
terbunuh di medan itu telah mereka kuburkan. Dalam pada itu, Ki
Rangga Sutatama menyadari dir inya ketika tangannya telah terikat
dengan janget ganda tiga. Seandainya ia dapat memutuskan tali itu,
namun ia tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan Ki Rangga
Dirgapati dengan para prajuritnya. Apalagi bersama mereka adalah
Pangeran Sena Wasesa dan orang-orang yang dikatakan pernah
menolongnya. Sejenak kemudian, setelah segalanya siap, maka sebuah
iring- iringan telah berangkat menuju ke Kota Raja Demak. Dalam ir
ing-ir ingan yang membawa pertanda tunggul kesatuan pasukan berkuda
Demak, maka ir ing-ir ingan itu tidak menemui hambatan apapun juga
memasuki kota raja. Meskipun Pangeran Sena Wasesa harus menunggu
sehari, namun akhirnya iapun telah diterima oleh Kangjeng Sultan
bersama dengan orang-orang yang disebutnya telah menolongnya dalam
keadaan yang paling sulit. Tidak seorangpun yang diharuskan tinggal
sehingga semuanya akan berkesempatan untuk menjadi saksi. Termasuk
Ki Rangga Dirgapati sendiri. Dengan kepala tunduk, Pangeran Sena
Wasesa menyampaikan seluruh persoalannya dari permulaan sampai ia
berkesempatan menghadap Kangjeng Sultan di Demak. Kangjeng Sultan
mendengarkannya dengan tegang. Sekali- sekali ia mengangguk-angguk.
Namun kadang-kadang keningnya berkerut merut. “Hamba memang merasa
berdosa” berkata Pangeran Sena Wasesa “Jika sejak pertama hal ini
hamba sampaikan kepada Adimas Sultan, maka persoalannya tidak akan
berke panjangan” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian. “Jadi
kakangmas Pangeran telah melihat kesalahan itu?“ bertanya Kangjeng
Sultan. “Ya. Hamba telah melihatnya” jawab Pangeran Sena Wasesa.
Kangjeng Sultan mengangguk-angguk kecil. Dipandanginya orang-orang
yang mengikut Pangeran Sena Wasesa menghadap. Seorang demi seorang
Pangeran itu menyebut, siapakah mereka itu. “Perempuan itu adalah
isteri hamba” berkata Pangeran Sena Wasesa. Kangjeng Sultan
mengangguk-angguk. Dipandanginya ibu Daruwerdi dengan perasaan iba,
karena menilik ujud lahiriahnya, perempuan itu tentu mengalami satu
pengalaman yang pahit di dalam hidupnya. Kemudian ditatapnya wajah
Swasti yang tunduk. Gadis itu memang gadis yang aneh. Nampaknya
gadis itu gadis yang luruh. Tetapi menilik ceritera Pangeran Sena
Wasesa, gadis itu adalah gadis yang garang dan bahkan telah
menyelamatkan hidup isteri Pangeran Sena Wasasa itu. Sejerak
kemudian Kangjeng Sultan ilupun bertanya “Kakangmas Pangeran telah
memperkenalkan orang-orang yang menolong kakangmas ini seorang demi
seorang. Tetapi dengan sekedar menyebut nama, aku tidak mengenal
mereka lebih dalam” Pangeran Sena Wasesa mengangguk hormat. Katanya
“Baiklah adimas Sultan. Aku akan mencoba memberikan beberapa
keterangan tentang mereka” Dan Pangeran Sena Wasesapun mulai dar i
Ki Ajar Cinde Kuning. Bahkan Pangeranpun sempat memperkenalkan
saudara kembar Ki Ajar Cinde Kuning yang lelah menempuh jalan yang
sesat, serta mengakhiri hidupnya dengan cara yang paling pahit.
Membunuh diri. Pangeran Sena Wasesa itupun akhirnya menyebut juga
seorang petugas sandi yang ada di dalam lingkungan orang- orang yang
telah menolongnya itu, yang sempat menyusup ke dalam lingkungan
orang-orang Sanggar Gading. Kangjeng Sultan di Demak itu
mengangguk-angguk. Katanya “Aku memang memerintahkan para prajurit
mencari kakangmas Pangeran sejak kakangmas Pangeran dinyatakan
hilang. Tetapi sulit bagi kami untuk melacaknya dan karena itu, para
petugas agak terlambat menemukan kakangmas. Sokurlah. bahwa
kakangmas telah kembali dengan selamat. Bahkan dalam tekanan
pengalaman pahit itu kakangmas telah menemukan jalan yang paling
baik yang harus kakangmas tempuh” “Hamba Adimas” jawab Pangeran Sena
Wasesa “namun sebenarnyalah petugas sandi itu telah berada di
Sanggar Gading lebih dahulu dari rencana mereka mengambil hamba”
Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengucapkan terima
kasih kepadanya. Tetapi dalam rangka tugas yang manakah, maka orang
itu berada di Sanggar Gading?“ “Adimas dapat bertanya kepada orang
itu” jawab Pangeran Sena Wasesa. Ketika Sultan memandangi Rahu yang
tunduk Pangeran Sena Wasesapun berkata “Rahu, kau dapat melaporkan
tugas yang kau jalankan” “Hamba tuanku” desis Rahu sambil menyembah
“hamba mendapat tugas dari Pangeran Jalayuda selaku Panglima pasukan
khusus untuk melakukan tugas sandi, karena Pangeran Jalayuda
mendengar tentang pusaka dan harta benda yang belum kembali ke
istana Kawan hamba yang seorang tidak berhasil memasuki padepokan
Kendali Putih dan bahkan telah mengalami cidera yang hampir saja
merenggut jiwanya. Untunglah bahwa kawan hamba itu dapat tertolong
dan kembali kepada kesatuannya. Sementara kawan hamba yang lain
telah bersama hamba membayangi Padepokan Sanggar Gading. Kangjeng
Sultan mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Aku memerlukan laporan
yang lebih terperinci lewat Adimas Jalayuda. Nanti kau akan dapat
menghadap dan kembali kepadanya dengan laporan yang lebih jelas”
“Hamba tuanku. Hamba akan menjalankan segala perintah” jawab Rahu.
Namun dalam pada itu, ketegangan telah mencengkam ketika Kangjeng
Sultan berkata “Kakangmas Pangeran. Banyak persoalan yang ingin aku
katakan. Tetapi aku hanya ingin mengatakannya kepada kakangmas
Pangeran, sehingga setelah pertemuan ini, aku akan berbicara khusus
dengan kakangmas Pangeran. Aku tidak ingin memperkecil arti sanak
kadang yang ada disini. Tetapi karena persoalannya menyangkut
hubungan antara aku dan Pangeran Sena Wasesa yang telah melakukan
satu kesalahan, maka aku terpaksa berbicara tanpa ada orang lain”
Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak akan
luput dari hukuman atas kesalahannya. Dan itu sudah diketahuinya.
Namun bagaimanapun juga ia telah merasakan satu kemenangan yang
dapat memberinya satu kebanggaan. Ia telah memenangkan perjuangan
melawan ketamakan yang hampir saja mencengkam nalar dan budinya.
Namun dalam pada itu, ternyata Rahu masih juga mempunyai satu
masalah yang ingin disampaikan kepada Kangjeng Sultan. Karena itu
dengan suara bernada ragu, ia berkata “Ampun tuanku. Dalam
kesempatan ini hamba masih akan menyatakan satu hal kehadapan
tuanku” Kangjeng Sultan di Demak itu memandang Rahu dengan tajamnya.
Kemudian dengan ragu-ragu Kangjeng Sultan itu bertanya “Apa yang
masih ingin kau sampaikan?“ “Tentang diri kami masing-masing
Kangjeng Sultan” jawab Rahu. “Katakan “ perintah Kangjeng Sultan.
Rahu memandang Jlitheng sekilas. Kemudian Katanya “Tentang anak muda
ini tuanku” “Bagaimana dengan anak muda itu?“ bertanya Sultan pula.
Rahu menarik nafas dalah-dalam, sementara Jlitheng menjadi gelisah.
Sebenarnya ia tidak ingin disebut apapun juga di hadapan Kangjeng
Sultan. Ia lebih suka dikenal sebagai Jlitheng, anak Kabuyutan
Lumban. Namun dalam pada itu, Rahu telah berkata “Tuanku. Anak muda
ini mempunyai pertanda Cakra Surya Candra” “He“ Kangjeng Sultan
terkejut. Dipandanginya Jlitheng dengan tajamnya. Kemudian dengan
nada dalam ia bertanya “Benarkah demikian anak muda?“ Jlitheng
tunduk dalam-dalam. Namun sambil menyembah iapun kemudian menjawab
“Ampun tuanku. Sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh Wira Murti”
“Siapakah Wira Murti?“ bertanya Sultan pula. “Petugas sandi itu
bernama Wira Murti” jawab Jlitheng “iapun mempunyai pertanda yang
serupa” Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Tetapi
siapakah sebenarnya anak muda ini? Ia tentu bukan seorang prajurit
Majapahit pada waktu itu, karena umurnya masih terlalu muda.
Sehingga dengan demikian apa hubungannya dengan pasukan terpilih
yang mempunyai ciri Cakra Surya Candra?“ “Anak muda itu adalah
Candra itu sendiri tuanku. Ia adalah putera Pangeran Surya Sangkaya
yang bergelar Kuda Surya Anggana di peperangan. Anak muda itu adalah
Raden Candra Sangkaya” jawab Rahu. Kangjeng Sultan di Demak itu
mengangguk-angguk. Sementara itu beberapa orang yang berada diruang
itu telah memandangi Jlitheng yang menundukkan wajahnya dengan
tajamnya. Ki Ajar Cinde Kuningpun mengangguk-angguk. Sementara
Daruwerdi menjadi tegang. “Aku sudah mengira” katanya di dalam hati
“Anak itu tentu mempunyai kekuatan tertentu di dalam dir inya. Namun
dalam pada itu. Kiai Kanthi dan Swasti sama sekali sudah tidak
terkejut lagi. Mereka sudah mengetahuinya bahwa anak muda itu adalah
seorang yang memiliki darah keturunan Majapahit dalam tataran yang
tinggi. Hampir diluar sadarnya Daruwerdi memandang kearah Swasti.
Ada semacam sentuhan dihatinya. Nama itu akan menarik perhatian
Swasti. Justru karena Jlitheng juga seorang keturunan bangsawan dari
Majapahit. Tetapi Daruwerdi menjadi heran. Swasti seolah-olah t idak
peduli sama sekali terhadap nama dan gelar itu. Tidak ada kesan
apapun yang tergores di wajahnya. Dalam pada itu, maka Kangjcng
Sultanpun kemudian berkata “Banyak hal-hal yang tidak terduga yang
telah kalian bawa menghadap” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk.
Memang mengejutkan, bahwa anak muda itu adalah seorang putera dari
Pangeran Surya Sangkaya. Dengan demikian, maka Pangeran Sena Wasesa
merasa jantungnya bagaikan berkerut Seolah-olah Pangeran Surya
Sangkaya yang bergelar Kuda Surya Anggara, yang lelah menyerahkan
nyawanya untuk mempertahankan Majapahit, telah melihat apa yang
dilakukannya dengan wajah yang sedih. “Untunglah bahwa aku masih
mendapat kesempatan untuk menemukan jalan kembali dar i kesesatan
itu” berkata Pangeran Sena Wasesa di dalam hatinya. Lalu “Jika
tidak, maka aku benar-benar seorang yang paling hina. Mereka yang
berkorban tanpa pamrih, sementara aku yang tidak berbuat banyak,
telah dikuasai oleh pamr ih yang ber lebihan” Dalam pada itu, maka
sejenak kemudian Kangjeng Sultanpun berkata Aku minta kalian tetap
tinggal di istana ini untuk beberapa lama. Bagaimanapun juga
sepantasnya aku mengucapkan terima kasih kepada kalian dengan cara
yang berguna. Bukan sekedar ucapan terima kasih di bibir tanpa
mempunyai arti bagi kalian masing-masing. “Hamba telah menyaksikan
satu per istiwa yang akan sangat bermanfaat bagi hamba. Hamba merasa
mendapat bekal pada saat-saat terakhir hamba” berkata Ki Ajar Cinde
Kuning “Karena itu. sebenarnyalah hamba sudah merasa mendapat
limpahan kemurahan hati Tuanku. Sehingga dengan demikian, sebenarnya
hamba ingin mohon dir i. Apabila setiap saat tuanku memer lukan
hamba, maka hamba akan menghadap” Tetapi Kangjeng Sultan menggeleng.
Katanya “Jangan sekarang. Sudah aku katakan, aku akan mengatur
segala sesuatunya sebagai ucapan teruna kasihku atas nama Kerajaan
Demak. Jika kau mempunyai sebuah padepokan, maka padepokanmu per lu
dikembangkan. Karena itu, aku menahanmu barang satu dua hari. Aku
akan berbicara dengan Pangeran Sena Wasesa, dengan Pangeran Jalayuda
dan dengan putera Pangeran Surya Sangkaya yang bergelar Kuda Surya
Anggana. Aku juga minta Kiai Kanthi dan Ki Sanak yang lain untuk t
inggal barang satu dua har i” Ki Ajar Cinde Kuning tidak dapat
memaksa. Karena itu, maka iapun hanya dapat mengangguk hormat sambil
menyembah. Kacanya “Hamba akan menjalankan segala perintah tuanku”
Demikianlah, maka ternyata orang-orang yang menyertai Pangeran Sena
Wasesa itu masih harus tinggal. Tetapi ada diantara mereka yang
sekaligus menghadapi pimpinan langsung mereka. Rahu yang bernama
Wira Murti itu harus menghadap Pangeran Jalayuda bersama Semi dan
seorang kawannya. Sementara Jlitheng ternyata masih harus meyakinkan
dir inya kepada orang-orang yang mendapat tugas untuk menelitinya.
“Salah Rahu” berkata Jlitheng di dalam hatinya “Aku tidak memer
lukan apa-apa dengan gelar itu. Sekarang aku harus dalam keadaan
khusus untuk membuktikan diriku sendir i. Sebenarnya aku lebih
senang disebut Jlitheng, anak Lumban” Tetapi Jlitheng tidak dapat
ingkar. Ia harus menjalani pemeriksaan tersendiri. Namun selama itu
Pangeran Sena Wasesapun telah menjalani pemeriksaan khusus pula
tentang pengakuannya atas pusaka dan harta benda yang diperebutkan
dan telah menimbulkan banyak korban itu. Dalam pada itu, selagi
Pangeran Sena Wasesa harus menjalani pemeriksaan di tempat yang
tidak dapat di kunjungi oleh siapapun, yang langsung di lakukan oleh
Sultan sendiri bersama beberapa orang kepercayaannya, sementara
Jlithengpun dalam waktu yang lain harus membuktikan pengakuannya,
maka orang-orang lain yang datang bersama mereka telah di tempatkan
di sebuah bangsal di lingkungan istana Demak. Ibu Daruwerdi yang ada
diantara mereka selalu merasa cemas tentang keadaan Pangeran Sena
Wasesa. Mungkin Sultan telah mengambil satu keputusan yang akan
sangat berat bagi Pangeran itu. Namun ternyata Pangeran Sena Wasesa
sendiri measa, bahwa dengan demikian beban perasaannya justru
menjadi ringan, la sudah mempertanggung jawabkan kesalahannya
terhadap negerinya. Hampir saja ia telah melakukan satu kesalahan
yang tidak lain dari sebuah pengkhianatan. “Hamba menyerahkan
segalanya kepada kebijaksanaan adimas Sultan” berkata Pangeran Sena
Wasesa “hamba telah merasa sangat bersalah” Namun Sultan tidak
mengambil keputusan sendiri. Ia telah berbicara dengan beberapap
orang terpenting di Demak. Dalam pada itu, dengan bukt i-bukti yang
ada, maka Sultan di Demak pada kesempatan lain telah menerima dan
meyakini bahwa Jlitheng memang putera Pangeran Surya Sangkaya yang
bergelar Kuda Surya Anggana. Sehingga dengan demikian, maka anak
muda itu tidak dapat dituduh telah memalsukan dirinya untuk
kepentingan tertentu. “Kau mendapat kesempatan untuk mengajukan
permintaan bagi dirimu sendiri” berkata Kangjeng Sultan “kau telah
membantu dengan kemauanmu sendir i, tanpa pamrih menemukan pusaka
dan harta benda yang t idak ternilai harganya. Kau berhak untuk
diangkat menjadi Pangeran atas dasar gelar kehormatan dan Demak akan
menyediakan sebuah istana bagimu” Jlitheng menundukkan kepalanya.
Satu kehormatan yang tidak ada taranya. Dengan menyembah ia menjawab
“Hamba hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih tuanku” Namun
dalam pada itu, ketika ia berada diantara orang- orang yang datang
bersamanya, maka betapa hatinya menjadi kecewa. Dalam kegelisahan,
maka Daruwerdi berusaha untuk menenangkan hati ibunya. Bukan saja
Daruwerdi, tetapi Swasti telah ikut pula membantunya. Bahkan hiburan
yang paling memberikan ketenangan kepada ibu Daruwerdi itu adalah
justru hubungan anaknya dengan Swasti, gadis yang luar biasa yang
telah menyelamatkannya dari kematian. “Mudah-mudahan ikatan yang ada
diantara mereka akan dapat dikukuhkan” berkata ibu Daruwerdi di
dalamhatinya. Sebenarnyalah menurut pengamatan Jlitheng yang diam
diam selalu mengikut i hubungan antara keduanya, rasa- rasanya
memang tidak akan ada kesempatan lagi baginya. Karena itu, maka
dengan hati yang pahit ia telah menentukan sikapnya sendiri terhadap
kesempatan yang telah diberikan oleh Kangjeng Sultan, tentang gelar
kehormatan dan istana yang akaa di berikan kepadanya sebagaimana
bagi seorang Pangeran. “Semuanya itu tidak akan ada gunanya lagi
bagiku” berkata Jlitheng di dalam hatinya. Dalam pada itu, ternyata
Kangjeng Sultan dan beberapa orang pemimpin tertinggi Kerajaan,
telah mengambil satu keputusan bagi Pangeran Sena Wasesa. Kangjeng
Sultan telah mengampuni segala kesalahannya. Penderitaan lahir dan
batin selama ia berada di tangan orang-orang Sanggar Gading telah
diperhitungkan sebagai satu kuhuman yang pantas bagi Pangeran itu.
Kegelisahannya tentang anak perempuannya yang ditinggalkannya
merupakan beban yang paling berat. Karena itu, maka akhirnya
Pangeran Sena Wasesapun telah mendapatkan kebebasannya. Pada saat
yang demikian, Jlitheng mendapat satu kepastian. Pangeran Sena
Wasesa akan berbicara dengan Kiai Kanthi tentang anak gadis
pengembara itu. Bagaimanapun juga Pangeran Sena Wasesa tidak akan
dapat menolak Ikatan perasaan diantara anak laki-Iakinya dengan
gadis Kiai Kanthi. “Aku akan mempersilahkan kalian singgah di
rumahku” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi bagaimana dengan
puteri Pangeran?“ bertanya ibu Daruwerdi “Apakah puteri akan dapat
menerima kami?“ “Aku akan berbicara kepadanya” jawab Pangeran Sena
Wasesa “apalagi ia sudah tidak beribu lagi. Mudah-mudahan ia dapat
menerima satu kenyataan yang barangkali tidak pernah dipikirkannya
sebelumnya. Karena itu Ki Ajar Cinde Kuning, Kiai Kanthi dan kalian
yang lain bersedia singgah, maka kalian akan dapat membantuku
membuka pikiran anak gadisku. Ia tentu sudah terlalu lama
menungguku” Ternyata orang-orang itu tidak pernah menolak permintaan
Pangeran Sena Wasesa. Bahkan Kangjeng Sultanpun telah menganjurkan
kepada mereka untuk memenuhi undangan itu. Namun dalam pada itu,
maka Kangjeng Sultan di Demakpun tidak lupa untuk memberikan
pertanda terima kasihnya kepada orang-orang yang telah dengan tidak
langsung ikut mengembalikan harta benda dan pusaka yang tidak
ternilai harganya itu ke Demak, karena pusaka dan harta benda itu
akan sangat gunanya untuk membina perkembangan Demak selanjutnya
sebagai kelanjutan kekuasaan Majapahit yang t idak dapat
dipertahankan lagi. Kepada Ki Ajar Cinde Kuning Kangjeng Sultan di
Demak itu berkata “Ki Ajar. Tidak ada yang dapat aku berikan yang
lebih bermanfaat bagi Ki Ajar, selain membangun padepokan yang telah
Ki Ajar miliki” Ki Ajar itu menar ik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian sambil menyembah ia menjawab “Ampun tuanku. Memang tidak
ada yang lebih baik bagi hamba selain sebuah padepokan. Tetapi
menurut perasaan hamba, padepokan hamba telah menjadi cacat seperti
tubuh hamba. Hamba sama sekali tidak mendendam kepada adik hamba,
apalagi setelah adik hamba tidak ada lagi. Tetapi padepokan itu akan
selalu member ikan kenangan pahit bagi hamba dan bagi para
penghuninya” Kangjeng Sultan yang telah mendengar cer itera tentang
Ki Ajar Cinde Kuning itu memaklumi perasaannya, sementara Ki Ajar
meneruskan “Hamba tidak akan dapat memasuki lagi padepokan yang
telah pernah disebut padepokan Macan Kuning tuanku” “Aku mengerti Ki
Ajar“ sahut Kangjeng Sultan “Jika demikian maka aku dapat menduga,
bahwa Ki Ajar lebih baik membuka sebuah padepokan baru daripada
mempergunakan padepokan yang telah ternoda itu” Ki Ajar Cinde Kuning
termenung sejenak. Namun kemudian katanya “Ampun tuanku. Hamba masih
akan merenungi hidup ini untuk beberapa lama. Pada saatnya mungkin
hamba akan membangun sebuah padepokan yang akan dapat memberikan
tempat kepada hamba umtuk menyalurkan ilmu sederhana yang ada pada
diri hamba” “Ki Ajar” berkata Kangjeng Sultan “Kau tidak usah
menunggu lebih lama. Bukan maksudku untuk membeli jasamu. Aku
mengerti bahwa kau melakukan pengabdianmu tanpa pamrih sama sekali.
Tetapi akupun mengerti bahwa kau memer lukan sebuah padepokan itu”
Ki Ajar mengangguk-angguk kecil. Kemudian jawabnya “Hamba hanya
dapat mengucapkan beribu terima kasih tuanku. Sudah barang tentu
hamba tidak akan menolak hadiah yang akan tuanku berikan. Hamba
memang masih mempunyai beberapa orang adik seperguruan. Mereka tentu
akan dapat membantu hamba untuk beberapa lama, meskipun mereka sudah
mempunyai padepokan mereka masing-masing” “Aku akan membangun
padepokan mereka pula” berkata Kangjeng Sultan “Aku berharap bahwa
padepokan-padepokan itu akan dapat membantu membangun manusia lahir
dan batinnya. Aku berharap bahwa padepokan-padepokan itu akan dapat
menjadi pelita yang menerangi daerah di sekitarnya, sehingga bukan
saja memberikan tuntunan kepada para cantrik, menguyu, jejangga dan
para pathut yang ada di padepokan itu sendiri” Ki Ajar Cinde Kuning
menar ik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menyembah “Tuanku,
pesan itu adalah pesan yang sangat berarti bagi hamba meskipun akan
sangat berat untuk melakukannya. Tetapi hamba mengerti, bahwa hidup
hamba di padepokan memang bukan satu kehidupan yang terpisah dari
kehidupan masarakat disekitar hamba. Karena itu. apabila memang ada
kelebihan pada hamba dan seisi padepokan, maka kelebihan itu memang
sewajarnya dilimpahkan kepada masarakat disekitarnya” “Terima kasih
Ki Ajar” jawab Kangjeng Sultan “Siapa lagi yang akan dapat berbuat
demikian. Masarakat memang memer lukan sesuluh. Apalagi bagi mereka
yang tinggal terpencil” Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk.
Meskipun ia sama sekali tidak mengharapkan hadiah apapun juga atas
pengabdiannya, namun jika hal itu akan bermanfaat bagi kepentingan
orang banyak, bukan saja dirinya sendiri dari para muridnya, maka ia
harus menerimanya dengan tangan terbuka. Namun yang mengejutkan
kemudian adalah sikap Jlitheng. Agaknya Kangjeng Sultan sangat
menghargai pula perjuangan anak muda ini. Ia dengan sengaja telah
menempatkan dir inya dalam tugas yang sangat berat itu. Meskipun
bagi Jlitheng apa yang terjadi di sepasang Bukit Mati itu semula
tidak terlalu jelas, tetapi tangkapan naluriahnya telah memberikan
beberapa gambaran tentang daerah itu. Karena itu, maka terhadap anak
muda ini Kangjeng Sultan telah mengalangi pertanyaannya “Candra
Sangkaya, aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku berikan kepadamu.
Karena itu, katakanlah, barangkali kau memer lukan sesuatu selain
gelar Pangeran dan sebuah istana yang memadai” Nampaknya Jlitheng
memang tidak terlalu berminat lagi untuk berbuat apapun juga bagi
hari depannya. Perasaannya sedang dikaburkan oleh gejolak jiwanya
sebagai seorang anak muda yang kecewa. Bagaimanapun juga Jlitheng
adalah manusia biasa sebagaimana manusia yang lain, dalam
hubungannya dengan sentuhan yang paling halus pada perasaannya.
Jlitheng sebenarnyalah telah merasa kehilangan. Namun dalam pada
itu, ternyata ia mempunyai sikap tersendiri menanggapi masa depannya
yang buram itu dengan penalaran yang mapan. Katanya “Tuanku.
Alangkah besarnya kemurahan tuanku atas hamba dan almarhum ayahanda
hamba. Namun bukan karena hamba menolak gelar kehormatan dan istana
seorang Pangeran, tetapi barangkali ada yang lebih penting bagi
hamba daripada gelar kehormatan dan istana itu, namun apabila tuanku
memperkenankan hamba mengajukan pilihan” “Kau berhak untuk
mengajukan permohonan” jawab Kangjeng Sultan “apabila permohonanmu
itu tidak bertentangan dengan kepentingan kerajaan, maka aku tentu
akan mengabulkannya” “Tuanku” jawab Jlitheng “Jika tuanku berkenan,
hamba memang ingin mengajukan satu permohonan yang akan sangat
berharga bagi hamba” Sejenak suasana menjadi- hening. Seolah-olah
semua mata tertuju kepada Jlitheng yang masih akan mengajukan satu
permohonan. Kiai Kanthi menjadi berdebar-debar Ia mengerti perasaan
Jlitheng terhadap anak gadisnya, sementara iapun mengerti bahwa
hubungan Swasti dengan Daruwerdi menjadi semakin mendalam menusuk
sampai kepusat jantung. Bahkan Swasti sendir i, merasa sesuatu yang
aneh tergetar di hatinya. Sebagai seorang gadis dewasa, ia merasakan
sikap Jlitheng terhadap dirinya. Sikap seorang laki- laki muda.
Tetapi Swasti tidak pernah merasa tertarik kepada anak muda yang
bergelar Candra Sangkaya itu. Dalam pada itu, hati didada beberapa
orangpun menjadi semakin tegang ketika Sultan kemudian berkata
“Katakanlah. Jangan ragu-ragu” Jlitheng menarik nafas dalam-dalam.
Hampir diluar sadarnya ia bergeser setapak maju. Kemudian dengan
gelisah ia berkata “Ampun tuanku semoga permohonan hamba ini dapat
dianggap wajar” Beberapa orang telah menahan nafas. Kiai Kanthi
mendengarkan setiap kata yang diucapkan Jlitheng dengan jantung yang
berdebaran. Tanpa disadari Kiai Kanthi memandang Pangeran Sena
Wasesa yang tunduk itu sekilas. “Apakah permohonan anak muda itu ada
hubungannya dengan Swasti?“ bertanya Kiai Kanthi di dalam hatinya.
Dalam suasana yang hening tegang itu Jlitheng meneruskan
kata-Katanya “Tuanku. Sebenarnyalah bahwa hamba memang mempunyai
satu keinginan. Sudah sekian lama hamba berada diantara anak-anak
muda Lumban yang tinggal di daerah yang disebut Daerah Sepasang
Bukit Mati Daerah yang ditandai dengan sepesang bukit, meskipun
dalam keadaan yang justru berlawanan. Satu dari kedua bukit itu
gundul dan tandus berbatu padas. Yang lain subur, hijau dan
mengandung air diperutnya, yang kini telah mulai dihuni, meskipun
sebelumnya disebut daerah yang paling gawat. Jalma mara jalma mat i,
sato mara sato mati” Jlitheng berhenti sejenak. Sementara Kiai
Kanthi menar ik nafas yang tertahan. Seolah-olah dadanya menjadi
sesak tanpa sebab. “Adapun permohonan hamba tuanku” berkata Jlitheng
lebih lanjut sementara orang-orang yang mendengarkan menjadi semakin
tegang “berhubungan langsung dengan kehidupan hamba di Lumban.
Selama ini Lumban adalah daerah yang kering, miskin dan t idak mampu
mengembangkan dirinya. Karena itu, perkenankanlah hamba memohon agar
daerah Lumban itu akan dapat menjadi daerah yang subur. Di samping
kemungkinan untuk membangun sebuah padepokan kecil yang pantas bagi
Kiai Kanthi. Sebenarnyalah bahwa pada dasarnya, kemungkinan itu ada.
Tetapi kami orang-orang Lumban terlalu miskin untuk berbuat sesuatu.
Air di atas bukit itu baru sebagian kecil mampu kami kuasai.
Sedangkan kami ingin pula member ikan penghormatan dan terima kasih
kepada orang yang menemukannya. Kiai Kanthi” Sesaat wajah Kiai
Kanthi menegang. Namun kemudian kepalanya telah tertunduk
dalam-dalam. Beberapa orang menarik nafas dalam-dalam. Justru terasa
sesuatu yang menyentuh perasaan mereka. Jlitheng tidak minta yang
mereka cemaskan. Tetapi ia tidak melupakan kampung halamannya,
meskipun sebenarnyalah ia seorang pendatang. Swasti seolah-olah
justru terpukau oleh kata-kata Jlitheng itu. Memang ada terasa
tersinggung perasaannya. Sebagai seorang gadis ia merasa, Jlitheng
tidak memperhatikannya. Anak muda itu ternyata lebih memperhatikan
Lumban dari dirinya. Kenapa Jlitheng t idak memohon kepada Kangjeng
Sultan agar dir inya meninggalkan Daruwerdi dan menerima Jlitheng
itu dalam hidupnya. Meskipun kemudian ia akan menolak, tetapi dengan
demikian ternyata bahwa Jlitheng benar-benar telah menaruh hati
kepadanya. Namun sesaat kemudian, Swasti berhasil menyingkirkan
ketamakan di dalam hatinya itu. Ia justru merasa sangat hormat
kepada anak muda yang bernama Jlitheng itu. Ia menghargai sikapnya,
meskipun ia tahu, bahwa hati anak muda itu tentu terasa pahit.
Swasti menundukkan kepalanya. Terasa matanya menjadi panas. Dalam
waktu yang singkat itu, ia sempat melihat Jlitheng dalam
keseluruhan, sejak ia bertemu dan sejak ia mengenal anak muda itu.
Jlitheng memang terlalu kasar dalam ujud lahiriahnya. Tetapi ia
mempunyai cita-cita, jauh lebih besar dari cita-cita Daruwerdi. “Aku
sangat menghargainya” berkata Swasti di dalam hatinya. Tetapi ia
benar-benar tidak tertarik kepada anak muda yang bernama Jlitheng
itu pada saat-saat ia masih berada di atas bukit berhutan Katanya
kepada diri sendiri “Pada waktu itu, aku sama sekali tidak melihat
sesuatu apapun yang baik pada dir inya. Sombong, kasar dan yang
menyakitkan hati, ia sudah mencur igai kami” Dalam keheningan itu,
Sultan memandang J litheng sambil tersenyum. Dengan suara yang sareh
bernada dalam Sultan berkata “Kau benar-benar seorang anak muda yang
mengerti akan tanggung jawab sebagai anak muda. Permohonanmu pantas
mendapat perhatian. Bahkan juga sebuah padepokan kecil bagi Kiai
Kanthi. Pada kesempatan ini aku menyatakan kesediaanku untuk
membantu membangun Kabuyutan Lum- ban, menguasai air di atas bukit
dan membantu membuat sebuah padepokan kecil” Jlitheng menundukkan
kepalanya sambil menyembah. Dengan suara sendat ia berkata “Ampun
tuanku. Kurnia tuanku tidak ada taranya. Bukan saja bagi hamba,
tetapi juga bagi Lumban. Adapun tentang hamba, maka hamba mohon maaf
bahwa hamba akan tetap tinggal di Lumban. Hamba sudah terlanjur
merasa satu dengan rakyat Lumban. Bukan maksud hamba
memperbandingkan kemurahan tuanku dengan keinginan hamba” “Tidak.
Aku akan dapat memberikan keduanya. Sebuah istana Kapangeranan atas
dasar gelar kehormatan yang akan aku berikan kepadamu, bukan saja
karena jasamu, tetapi juga satu kehormatan bagi Pangeran Surya
Sangkaya yang bergelar Pangeran Kuda Surya Anggana. Sekaligus yang
kau inginkan, perbaikan tata kehidupan di Lumban” jawab Kangjeng
Sultan. “Ampun tuanku. Hamba mengucap ber ibu terima kasih. Tetapi
hamba mempunyai seorang biyung yang sudah tua. Biyung tentu tidak
akan mau meninggalkan Lumban. Karena itu, biarlah hamba menungguinya
di hari-har i tuanya” sembah Jlitheng “Kau masih mempunyai seorang
ibu?“ bertanya Sultan. ”Bukan ibu kandung hamba. Tetapi tiada
bedanya bagi hamba, karena kasihnyapun tidak bedanya dengan kasih
seorang ibu kandung” jawab Jlitheng. Kanjeng Sultan di Demak
memandangi Jlitheng sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas
dalam-dalam ia berkata “Aku kabulkan permohonanmu. Meskipun aku akan
tetap menyediakan apa yang sudah aku janj ikan di Kota Raja”
Jlitheng yang tunduk itupun menyembah Katanya “Demikian besar kurnia
itu, sehingga hamba tidak tahu. bagaimana hamba harus mengucapkan
terima kasih” Sultan hanya tersenyum saja. Ia senang melihat sikap
Jlitheng. Apalagi permohonannya bagi kemajuan tata kehidupan di
Lumban. Jarang sekali terjadi, bahwa seorang anak muda seusia
Jlitheng itu yang ternyata lebih mementingkan perkembangan sebuah
lingkungan yang miskin daripada kepentingan dir inya sendiri.
Jlitheng menjadi semakin tunduk ketika ia mendengar Sultan itu memuj
inya, karena Jlitheng sendir i menyadari, bahwa sikapnya itu
bukannya satu sikap yang murni. “Aku telah melakukan satu sikap
kepahlawanan yang semu” berkata Jlitheng kepada diri sendiri “Aku
tidak tahu, apakah aku akan dapat berbuat seperti sekarang ini. jika
Swasti tidak lebih dekat dengan Daruwerdi daripadaku. Tetapi agaknya
hal inilah yang terbaik dapat aku lakukan sekarang ini. Aku wajib
mengucap sokur kepada Tuhan, bahwa aku telah mendapat jalan yang
baik untuk meredakan gejolak di dalamdadaku” Dalam pada itu,
ternyata kemurahan Kangjeng Sultan di Demak itu telah melimpahkan
kepada mereka semua yang telah ikut serta membantu kembalinya pusaka
dan harta benda yang tidak ternilai harganya itu kepada yang berhak.
Demak, yang memikul beban untuk meneruskan kejayaan Majapahit.
Apalagi apabila penghargaan yang diber ikan itu bukan saja berarti
kepada seseorang. Tetapi berarti bagi satu lingkungan dan akan
memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masa mendatang.
“Perhargaan atau bukan penghargaan, hal itu merupakan kewajiban bagi
Demak Karena itu. mudah-mudahan semuanya akan mempunyai nilai yang
berarti bagi kehidupan rakyat di Demak” berkata Kangjeng Sultan
“dengan demikian maka aku akan segera memerintahkan untuk
melaksanakannya. Padepokan, pengendalian air dan perbaikan serta
pemeliharaan lingkungan” Kemurahan Kangjeng Sultan itu merupakan
harapan- harapan bagi masa depan, terutama bagi Jlitheng. Dengan
demikian, maka Lumban akan benar-benar dapat menjadi hijau. Dan
dengan demikian pula. tidak akan mudah timbul perasaan iri dan
dengki karena mereka akan melihat seluruh Lumban menjadi subur.
Lumban Kulon dan Lumban Wetan tanpa kecuali. Harapan itu agaknya
dapat sekedar mengurangi perasaan kecewanya, sehingga ia akan dapat
menemukan gairah untuk tetap berjuang bagi masa depannya yang masih
panjang. Demikianlah, maka setelah Kangjeng Sultan di Demak menjaj
ikan untuk memberikan penghargaan yang bermanfaat bagi mereka yang
telah membantu mengembalikan pusaka dan harta benda itu. maka
merekapun kemudian telah bersiap-siap memenuhi undangan Pangeran
Sena Wasesa untuk berkunjung ke rumahnya. Bukan saja sebagi
pernyataan terima kasih, tetapi kehadiran tamu yang banyak itu akan
member ikan pengaruh kepada puterinya untuk bersikap lebih lunak
menghadapi kehadiran Endang Srini. Sudah menjadi pendapat umum,
bahwa ibu tiri merupakan gambaran dari satu kehidupan yang suram.
Ibu adalah perlambang dari der ita dan kepahitan. Namun Pangeran
Sena Wasesa yakin, bahwa puterinya tidak akan mengalami perlakuan
yang kurang baik dari ibu tirinya, karena Pangeran Sena Wasesa
mengerti sepenuhnya watak dan sifat Endang Srini. “Tidak semua ibu
tir i harus ditakuti” berkata Pangeran Sena Wasesa di dalam hatinya.
Justru karena kegelisahannya menghadapi keadaan itu. Sesuatu yang
tentu tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh puterinya yang remaja
itu. Dalam pada itu, selagi para tamu Pangeran Sena Wasesa bersiap
untuk pergi ke istana Kepangeranan, maka di sebuah istana
Kapangeranan yang lain. seorang Pangeran sedang berbincang dengan
seorang yang sudah menjelang hari tuanya. Namun pada ujud tubuhnya,
sikap dan tingkah lakunya, masih membayangkan keteguhan badan dan
batinnya. Disebelah mereka telah duduk pula seorang anak muda yang
bertubuh kekar, berdada bidang dan berwajah keras. Seorang anak muda
yang memiliki ketajaman penglihatan bukan saja secara lahiriah
tetapi juga ketajaman penggraitanya. “Pangeran Gajahnata” berkata
orang yang sudah menjelang usia tuanya “Kita harus berusaha
sebaik-baiknya. Angger Bramadaru merupakan harapan yang paling baik
bagi pemenuhan keinginan Pangeran. Bukankah segala sesuatunya tentu
akan Pangeran arahkan bagi kebahagiaan angger Bramadaru pula di
kemudian har i?“ Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Katanya “Ki
Ajar Wrahasniti. Aku mengerti rencana itu. Tetapi apakah Ki Ajar
yakin bahwa yang dicari itu masih ada pada adimas Sena Wasesa. Dan
apakah adimas Sena Wasesa tidak akan menyerahkannya kepada adimas
Sultan?“ Ki Ajar Wrahasniti tersenyum. Katanya “Agaknya Pangeran
Sena Wasesa tidak akan menyerahkannya kepada siapapun juga” ”Tetapi
apakah tidak akan sampai ke telinga adimas Sultan, bahwa Pangeran
Sena Wasesa adalah seseorang yang me ngetahui tentang pusaka dan
harta benda yang sedang diperebutkan itu” jawab Pangeran Gajahnata
“apalagi setelah adimas Sena Wasesa diculik orang. Ketika ia
diketemukan dan dibebaskan oleh para prajurit Demak, maka tentu akan
timbul satu perkembangan sikap pada adimas Sena Wasesa seandainya
sebelumnya ia sengaja menyembunyikan pusaka dan harta benda itu” “Ki
Ajar masih tersenyum “Aku mempunyai perhitungan, bahwa ia tidak akan
melepaskan harta benda dan pasi ka yang tidak ternilai harganya itu.
Ia tentu dapat ingkar dan mempunyai seribu macam alasan jika
Kangjeng Sultan menanyakan tentang pusaka dan harta benda yang
didengarnya ada pada Pangeran Sena Wasesa itu” “Tetapi adimas Sultan
dapat mengambil seribu macam sikap” berkata Pangeran Gajalinata.
“Memang Pangeran. Lambat laun, Pangeran Sena Wasesa memang akan
dapat dipaksa untuk mengaku jika Kangjeng Sultan mendapatkan bukti
atau saksi. Jika tidak, maka apakah alasan Sultan untuk memaksanya
mengaku? Jika sebenarnya Pangeran Sena Wasesa tidak mengetahui sama
sekali tentang pusaka dan harta benda itu, apakah perbuatan Kangjeng
Sultan bukan satu perbuatan yang sewenang-wenang?“ sahut Ki Ajar
Wrahasnit i. Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Untuk menuduh
Pangeran Sena Wasesa tentu diperlukan saksi atau bukti. Kangjeng
Sultan tidak akan dapat begitu saja memaksa seseorang untuk mengaku
tentang apapun juga hanya berdasarkan desas-desus. Namun dalam pada
itu Pangeran Gajahnata itupun bertanya “Ki Ajar, apakah kau
benar-benar yakin, bahwa adimas Pangeran Sena Wasesa mengetahui
tentang pusaka dan harta benda itu?“ “Aku yakin Pangeran. Tetapi
sekali lagi, tidak ada bukti dan saksi. Tetapi setiap aku mencoba
melihat lewat cara yang bermacam-macam, maka aku memang melihat
pusaka dan harta benda itu ada pada Pangeran Sena Wasesa” “Baiklah
Ki Ajar” berkata Pangeran Gajahnata “Katakan, bahwa pusaka itu ada
pada adimas Sena Wasesa, dan adimas Sena Wasesa tidak akan
menyerahkan pusaka dan harta benda itu. kepada Kangjeng Sultan.
Lalu?“ “Kita serahkan segalanya kepada anakmas Bramadaru“ jawab Ki
Ajar sambil tertawa. Ketika ia berpaling kepada anak muda yang duduk
disebelabnya, anak muda itu menundukkan kepalanya. “Angger” berkata
Ki Ajar Wrahasnlti “Bukankah angger berhubungan semakin rapat dengan
puteri Pangeran Sena Wasesa itu?“ Bramadaru beringsut setapak.
Tetapi ia tidak segera menjawab. Bahkan Ki Ajar Wrahasnit ilah yang
berkat selanjutnya “Pangeran, anakmas Bramadaru sering mengunjungi
puteri yang kesepian itu” “Aku mengerti maksud Ki Ajar. Ki Ajar
berharap Bramadaru dapat menjadi semakin dekat dengan gadis itu”
sahut Pangeran Gajahnata “Ya Pangeran. Dan nampaknya kedatangan
angger Bramadaru dalam saat-saat yang menguntungkan itu telah
berhasil mengikat hati puteri itu” berkata Ki Ajar Wrahasniti.
“Guru“ Anak muda itu memotong “Aku belum dapat mengatakan demikian.
Aku memang sering berkunjung ke rumah itu sejak guru menyarankannya.
Akupun telah berhubungan dengan gadis itu. Ia terlalu ramah dan
baik. Tetapi aku belum dapat membedakan, apakah ia menganggap aku
sebagai seorang anak muda dalam hubungannya dengan seorang gadis,
atau sekedar merasa bahwa aku adalah saudara tua yang wajib
dihormatinya” “Ya Ki Ajar, anakku adalah saudara sepupunya. Mungkin
gadis itu menerimanya sebagai saudaranya. Karena itu ia bersikap
ramah dan baik“ sambung Pangeran Gajahnata. “Ah“ Ki Ajar itu
tersenyum “gadis itu adalah gadis yang semula adalah gadis pingitan.
Ia tidak terlalu banyak berhubungan dengan laki-laki yang manapun
juga, kecuali para pengawal. Karena itu, maka kehadirannya akan
mendapat perhatian yang sangat besar. Apalagi pada saat- saat gadis
itu kesepian. Pada saat Pangeran Sena Wasesa tidak ada di istananya”
“Tetapi sekarang adimas Sena Wasesa telah berada di istana Demak.
Bahkan mungkin saat-saat ini adims Pangeran telah kembali ke
istananya” berkata Pangeran Gajahnata” “Itu bukan persoalan lagi”
jawab Ki Ajar “hubungan batin itu sudah terjalin. Angger Bramadaru
harus masih selalu datang berkunjung. Mungkin sikap gadis itu agak
lain, justru karena ayahandanya sudah ada. Tetapi aku percaya bahwa
pada saatnya gadis itu akan dapat diikat hatinya oleh angger
Bramadaru Jika hal itu terjadi, maka angger Bramadaru kelak
benar-benar dapat menjadi satu-satunya pewaris dari pusaka dan harta
benda itu. Bahkan mungkin angger Bramadaru akan dapat mengetahui
dengan segera dimana pusaka dan harta benda itu tersimpan. Jika
demikian maka terserah kepada Pangeran dan angger Bramadaru, apakah
angger benar-benar ingin memperistri gadis itu atau tidak” Pangeran
Gajahnata mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya rencana Ki Ajar
Wrahasniti, guru dari anak laki- lakinya yang sangat diharapkan akan
dapat menjadi seorang laki- laki yang mumpuni. Apalagi Bramadaru
adalah satu- satunya anak laki-laki Pangeran Gajahnata. Saudara-
saudaranya yang lain adalah perempuan semuanya. Sebenarnyalah yang
diharapkan oleh Pangeran Gajahnata dan Bramadaru bukannya puteri
Pangeran Sana Wasesa itu sendiri. Tetapi kemungkinan yang paling
dekat untuk mendapatkan harta benda dan pusaka itu adalah dengan
cara yang demikian, cara yang disusun oleh Ki Ajar Wrahasniti
oooOooo-
Jilid 22 BRAMADARU sendiri semula memang tidak menaruh
perhatian terhadap saudara sepupunya itu. Tetapi karena ia selalu
datang atas nasehat gurunya, maka lambat laun, anak muda itu
menganggap bahwa saudara sepupunya itu memang seorang gadis yang
cantik. Tetapi lebih dari pada itu, maka gadis itu merupakan
satu-satunya anak Pangeran Sena Wasesa yang akan mewarisi semua
kekayaan ayahnya, termasuk yang masih tersembunyi. “Angger Bramadaru
akan mendapatkan kedua-duanya. Seorang puteri dan pusaka serta harta
benda itu” berkata Ki Ajar Wrahasniti kemudian “Jika kelak angger
Bramadaru ingin mempunyai isteri yang lain lagi, maka itu bukan satu
soal yang sulit apabila segalanya memang sudah dikuasai. Bukankah
tidak aneh j ika seseorang memiliki lebih dari seorang isteri?“
Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Ia mengerti jalan pikiran dan
keinginan Ki Ajar Wrahasniti. Dan agaknya Pangeran Gajahnata itupun
sama sekali tidak berkeberatan jika anaknya berbuat demikian. Bahkan
Pangeran Gajahmatapun telah memikirkan akibat yang dapat terjadi
kemudian. “Pangeran” berkata Ki Ajar “dalam hubungan ini, seandainya
kelak terjadi perselisihan antara Pangeran dengan Pangeran Sena
Wasesa karena soal warisan itu dan penggunaannya, maka Pangeran
tidak usah cemas, Angger Bramadaru telah memiliki segala macam ilmu
yang akan dapat melindungi dir inya. Perselisihan yang demikian
tentu akan dianggap sebagai perselisihan keluarga, sehingga tidak
akan banyak pihak yang mencampur inya. Bahkan seandainya ada juga
orang yang terlibat, maka Pangeran sendiri dan sudah barang tentu,
aku, gurunya akan terlibat pula ke dalamnya” ”Tetapi tidak mustahil
bahwa warisan itu baru akan diberikan setelah Pangeran Sena Wasesa
mendekati hari akhirnya” berkata Pangeran Gajahnata. “Memang mungkin
Pangeran, tetapi rahasianya tentu sudah diungkapkan sebelumnya”
jawab Ki Ajar Wrahasniti “Jika tidak demikian maka akan dapat
terjadi, bahwa Pangeran Sena Wasesa tidak akan mempunyai kesempatan
untuk mewariskan pusaka dan harta benda itu jika maut memanggilnya
tiba-tiba” Pangeran Gajahnata menganggauk-angguk. Sementara itu Ki
Ajar Wrahasnit i berkata selanjutnya “Dalam pada itu, jika rahasia
itu sudah terungkap dan Pangeran Sena Wasesa masih saja berumur
panjang, maka dapat diusahakan memperpendek umur Pangeran itu dengan
banyak cara” Pangeran Gajahnata tidak menjawab. Tatapi di dalam
angan-angannya tengah bermain rencana yang disebut oleh Ki Ajar
Wrahasniti. Nampaknya usaha itu memang akan dapat berhasil j ika
Bramadaru berhasil. Karena itu, maka Pangeran Gajahnatapun bertanya
kepada anaknya “Bramadaru, sebagian besar dari rencana ini
tergantung kepadamu. Kau memiliki modal yang dapat kau pergunakan
untuk memikat hati gadis itu. He, apakah kau tahu nama gadis itu?“
“Tentu ayahanda” jawab Bramadaru “Tetapi yang aku kenal hanyalah
nama panggilannya. Raden Ajeng Ceplik. “Ceplik?“ ulang Pangeran
Gajahnata. “Nama panggilan. Aku tidak pernah bertanya namanya yang
sesungguhnya. Sejak kanak-kanak aku memanggilnya Diajeng Ceplik.
Kemudian untuk beberapa tahun kami jarang sekali bertemu. Ketika
kesempatan untuk berkunjung ke rumahnya terbuka, pada saat pamanda
Pangeran Sena Wasesa tidak ada, aku masih saja memanggilnya Diajeng
Ceplik. Dan gadis itupun t idak menolaknya” jawab Bramadaru. “Justru
satu panggilan yang akrab” potong Ki Ajar Wrahasniti. Bramadaru t
idak menjawab. Tetapi kepalanya justru telah menunduk. Memang ada
semacam benturan yang terjadi dihati Bramadaru. Ia memang menganggap
bahwa puteri Pangeran Sena Wasesa itu adalah seorang puteri yang
cantik. Tetapi ia masih belum dapat menilai perasaannya yang paling
dalam terhadap gadis itu. Meskipun demikian, maka ia harus mulai
berusaha mengikat hati gadis itu untuk satu kepentingan yang lain.
Pusaka dan harta benda yang tidak ternilai harganya, yang menurut
gurunya, tidak akan pernah diserahkan kepada Kangjeng Sultan di
Demak. “Hanya orang gila sajalah yang akan melepaskan pusaka dan
harta benda yang sekian banyaknya” berkata gurunya ketika ia mulai
menyusun rencananya dengan penuh kepercayaan bahwa Pangeran Sena
Wasesa pasti akan dapat dibebaskan dari tangan penculik-penculiknya
oleh prajurit Demak “sementara itu Sultan Demak tidak akan mendapat
bukti atau saksi yang dapat menjadi alasan untuk memaksa Pangeran
Sena Wasesa mengatakan sesuatu tentang pusaka dan harta benda itu.
Jika Pangeran itu puguh sikapnya dan menyatakan bahwa ia tidak tahu
menahu tentang pusaka dan harta benda itu, maka ia tentu akan luput
dari segala tuntutan” Atas dasar pikiran itulah, maka segala rencana
telah disusun. Bahkan Ki Ajar itupun berkata pula “Jika kemudian ada
yang mengatakan bahwa pusaka dan harta benda itu sudah kembali ke
Demak, maka berita itu tentu satu ceritera yang disebar luaskan oleh
Pangeran Sena Wasesa sendiri untuk menghindari usaha-usaha untuk
merebutnya” Demikianlah, maka Pangeran Gajahnata meletakkan
harapannya kepada Bramadaru. Karena menurut Pangeran Gajahnata,
segalanya itu sebenarnya untuk kepentingan Bramadaru sendir i di
kemudian hari. “Segalanya terserah kepada usahamu Bramadaru. Aku
percaya bahwa kau akan dapat melakukannya dengan baik bagi hari
depanmu sendir i. Jika kau mengalami kesulitan- kesulitan, maka
biarlah gurumu memberikan petunjuk- petunjuk bagimu. Bahkan j ika
terpaksa kau menghadapi hambatan yang harus dipecahkan dengan
kekerasan, maka kau akan da pat mengatakannya kepada gurumu dan
kepadaku“ pesan Pangeran Gajahnata kemudian. Bramadaru tidak dapat
ingkar. Pusaka dan harta benda itu memang sangat menar ik. Apalagi
apabila ia berhasil mengarahkan perasaannya sendiri untuk tertarik
kepada gadis yang dikenal nama panggilannya Raden Ajeng Ceplik itu.
Dalam pada itu, Pangeran Sana Wasesa dan tamu-tamunya telah berada
di istana Kapangeranan. Puteri Pangeran Sena Wasesa yang melihat
ayahandanya benar-benar datang sebagaimana sudah didengarnya bahwa
ayahandanya berada di istana Demak, tidak dapat menahan tangisnya.
Sambil memeluk ayahandanya, maka air matanya mengalir tanpa dapat
ditahan-kannya lagi betapapun ia berusaha, karena bersama
ayahandanya telah datang pula beberapa orang menyertainya. “Sudahlah
ngger“ suara ayahandanya bernada dalam marilah. Hari ini kita
mendapatkan beberapa orang tamu. Mereka adalah kawan-kawan ayahanda
yang telah ikut serta menyelamatkan ayahanda” Puteri itu mengusap
matanya. Tetapi isak tangisnya masih saja tertahan-tahan
dikerongkongan. “Kita akan menerima tamu-tamu kita dengan baik. Kau
harus menyediakan tempat untuk ber istirahat di gandok serta
menyediakan jamuan bagi mereka. Ayahanda telah minta agar tamu-tamu
kita itu bermalam barang dua tiga hari di rumah ini” Puteri itu
mengangguk-angguk. Dilepaskannya ayahandanya. Dengan tidak sengaja
puteri itu menebarkan pandangan matanya, menatap tamu ayahandanya
seorang demi seorang. Ketika terpandang olehnya Rahu dan Jlitheng,
maka hati puteri itu menjadi berdebar-debar. Ia merasa pernah
melihat wajah-wajah itu. Juga wajah Semi yang ikut pula bersama
ayahandanya. Tetapi ayahandanya telah mengetahui peristiwa yang
terjadi di rumahnya sepeninggalnya. Ia pernah mendengar hal itu
diceriterakan kepadanya. Karena itu, ketika ia melihat sikap dan
pandangan mata puterinya, maka katanya “Kau tentu pernah mengenal
mereka. Mereka adalah orang-orang yang pernah datang ke rumah kita”
Wajah puteri itu menjadi tegang. Namun ayahandanya melanjutkan.
Mereka adalah orang-orang yang telah ikut mengambilku dari rumah
ini. Tetapi mereka pula yang ikut menolong aku. Bahkan bukankah ada
diantara mereka yang telah menyelamatkanmu dari tangan-tangan orang
yang gila itu” Puteri itu menarik nafas dalam-dalam. Ia teringat
semuanya. Namun dengan demikian, terasa seluruh kulitnya meremang.
Jika saat itu benar-benar jatuh ke tangan orang- orang Sanggar
Gading yang gila itu, maka nasibnya akan lebih buruk dar i
ayahandanya. Demikianlah, maka Raden Ajeng Ceplik itupun kemudian
telah mengatur segala sesuatunya untuk menerima tamu- tamu
ayahandanya. Para pelayanpun ikut menjadi sibuk pula. Ada yang
membersihkan gandok istana itu dan ada pula yang sibuk di dapur
untuk menyiapkan jamauan. Ternyata bahwa kehadiran Pangeran Sena
Wasesa rasa- rasanya telah membuat istana itu terbangun kembali.
Meskipun para abdi dengan setia menunggui istana itu serta puteri
Pangeran Sena Wasesa yang tidak mau meninggalkan istana untuk
tinggal di tempat keluarga dan saudara-saudara ayahandanya, serta
para pengawal yang patuh menjalankan kewajiban mereka meskipun
Pangeran Sena Wasesa tidak ada. di istana, rasa-rasanya istana itu
bagaikan tertidur. Untunglah bahwa saudara-saudara Pangeran Sena
Wasesa memperhatikan keadaan istana itu, sehingga satu dua diantara
mereka sering datang berkunjung ke rumah itu untuk menengok Raden
Ajeng Ceplik. Namun pada hari itu, kepangeranan itu menjadi ramai.
Suasana yang gembira telah meliputi seisi istana. Puteri Pangeran
Sena Wasesa itupun nampak gembira sekali. Kerinduannya kepada
ayahnya hampar tidak tertanggungkan. Dan kini, tiba-tiba ayahandanya
telah kembali dengan selamat. Tetapi diantara para tamu, Endang
Srini merasa jantungnya berdenyut semakin cepat. Ia merasa kecil
untuk berada diantara keluarga istana itu. Apalagi setelah ia
melihat wajah puteri Pangeran Sena Wasesa yang cantik tetapi murung.
Gadis itu sudah tidak beribu lagi. Kemudian untuk beberapa lamanya,
ayahandanya telah direnggut oleh tangan-tangan yang kasar. “Ia telah
menemukan ayahandanya kembali” berkata Endang Srini di dalam hatinya
“Apakah aku akan merampasnya sekali lagi? Apakah kehadiranku disini
tidak akan merusakkan hati gadis yang cantik dan murung itu?“
Pertanyaan itu tidak dapat dijawabnya sendiri. Tetapi Endang Srini
tidak dapat menanyakan hal itu kepada Daruwerdi. Jika ia berbuat
demikian, Daruwerdilah yang akan dapat tersinggung pula karenanya.
Untuk beberapa saat, ibu Daruwerdi itupun masih saja menahan
hatinya. Ia sama sekali tidak mengatakannya kepada siapapun juga.
Sementara itu, kegembiraan benar-benar telah menyelimuti istana itu.
Bukan saja puteri Pangeran Sena Wasesa, tetapi Pangeran Sena Wasesa
itu sendiri merasa dirinya terlalu bergembira. Ia telah berada
dilingkungan keluarganya. Bukan saja Raden Ajeng Ceplik yang akan
memanggilnya ayahanda, tetapi seorang anak laki- laki telah
menyertainya pula. Meskipun ada semacam keragu-raguan untuk
menyampaikan hal itu kepada puterinya. Selain kegembiraaan itu, maka
Pangeran Sena Wasesapun merasa dir inya akan menemukan hidup yang
tenang dalam lingkungan keluarganya, justru karena ia sudah berterus
terang tentang harta benda dan pusaka yang telah menjadi sasaran
perburuan yang tidak henti-hentinya kepada Kangjeng Sultan. Apalagi
setelah ia menerima pernyataan dari Kangjeng Sultan, bahwa kesalahan
itu telah dimaafkan. Namun dalam pada itu, ketika kemudian malam
turun dan suasana Kapangeranan itu menjadi hening, maka mulailah
Pangeran Sena Wasesa merenungi dirinya sendir i. Ia masih saja
diliputi oleh keragu-raguan untuk mengatakan kepada anak gadisnya,
bahwa diantara para tamunya itu terdapat dua orang yang mempunyai
kedudukan yang berbeda dari tamu- tamunya yang lain. Keduanya adalah
Endang Sr ini dan anak laki-Iakinya. Dalam kebimbangan itu, hampir
dlluar sadarnya, Pangeran Sena Wasesa telah berada di pendapa justru
pada saat orang- orang lain tertidur nyenyak. Bukan saja karena
kelelahan, tetapi karena mereka merasa tidak lagi dibelit oleh
persoalan yang dapat membuat mereka menjadi gelisah. Tetapi
sementara itu, terdengar desir kaki seseorang di halaman. Bukan
penjaga yang ada di regol. Tetapi dekat di bawahi tangga pendapa
itu. Ketika Pangeran Sena Wasesa berpaling, dilihatinya seorang
perempuan berdiri termangu-mangu. Endang Srini. “O” desis Pangeran
Sena Wasesa “kemarilah. Duduklah disini” Tetapi Endang Srini
menggeleng. Jawabnya “Apakah aku pantas duduk bersama Pangeran di
pendapa yang besar ini?“ Pangeran Sena Wasesalah yang, kemudian
bangkit dan turun mendekati Endang Srini. Dengan lembut ia berkata
“Siapapun kau, tetapi kau adalah isteriku” “Dahulu Pangeran” jawab
Endang Srini “Aku dahulu memang isteri Pangeran. Tetapi aku adalah
perempuan padukuhan. Karena itu barangkali aku memang tidak pantas
berada di pendapa itu. Biarlah putera Pangeran itu saja yang akan
ikut mendapatkan kamukten di istana ini. Biarlah aku kembali ke
padepokan bersama ayah angkatku, Ajar Cinde Kuning” Pangeran Sena
Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Kita dapat berbicara
panjang. Mar ilah. Duduklah” “Terima kasih Pangeran” jawab Endapg
Srini “sebaiknya Pangeran melupakan semua peristiwa yang pernah
terjadi, Dahulu pada waktu yang berjarak panjang, atau kemarin. Jika
ada kemurahan hati Pangeran biarlah anakku mengabdikan diri di
istana ini. Sementara itu, kepergianku akan mengurangi beban
perasaan pada putri yang baru saja merasa menemukan ayahandanya
kembali” “Aku akan berbicara dengan putriku” berkata Pangeran Sena
Wasesa, tetapi tidak sekarang. Memang mungkin terjadi saat gejolak
kecil di dalam hatinya. Namun demikian aku berharap bahwa akhirnya
ia akan dapat mengerti” “Pangeran” jawab Endang Srini kemudian
“Mungkin Pangeran dapat menempuh satu cara yang lebih baik. Meskipun
hati puteri itu akan terluka pula, tetapi tidak separah jika puteri
itu terpaksa menerima kehadiranku disini. Pangeran dapat mengatakan,
bahwa anak itu lahir bersama dengan ke- matian ibunya, sebelum
Pangeran kemudian kawin dengan ibu puteri Pangeran sekarang ini”
Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya
“Aku tidak dapat melakukannya. Ibu anakku itu sudah tidak ada. Aku
berharap bahwa ia dapat menerimamu sebagai ibunya” “Aku seorang yang
lahir dari darah pidak pedarakan. Dari darah jelata yang barangkah
memang tidak pantas untuk berada di istana ini sebagai seorang hamba
sekalipun” “Jangan berkata begitu Srini. Aku baru saja menerima
anugerah yang tidak ada taranya. Aku telah dibebaskan dari segala
tuntutan oleh Kangjeng Sultan karena kecuranganku, dan aku telah
merasa berkumpul kembali dengan keluargaku. Marilah kita mulai
dengan satu lembaran kehidupan baru yang terbuka, tanpa sesuatu yang
tersembunyi. Aku ingin hidup dengan tenang tanpa dibayangi oleh satu
rahasia yang selalu memburu dalam kecemasan. Setiap saat kita
dicengkam oleh ketakutan bahwa rahasia itu pada satu waktu akan
terbuka Karena itu, marilah kita membuka rahasia itu segera. Jika
satu masalah akan timbul, biarlah segera kita ketahui. Dengan
demikian kita akan segera dapat menanganinya” “Pangeran” jawab
Endang Srini “Pangeran tidak akan diburu oleh ketakutan bahwa pada
satu saat rahasia itu akan terbuka karena perempuan yang pernah
melahirkan seorang anak laki-laki itu dapat Pangeran anggap telah
mati” “Endang Srini” berkata Pangeran Sena Wasesa “Apakah dengan
demikian berarti bahwa aku harus melupakan kau untuk selamanya?“
“Sebagaimana sesesorang yang telah mati, maka ia hanya dapat
dikenang, atau bahkan dilupakan” jawab Endang Srini. “Tidak. Aku
tidak ingin berbuat seperti itu. Aku baru sap terlepas dari belenggu
kegelisahan karena aku merahasiakan harta benda itu. Sekarang aku
tidak mau jatuh lagi dalam belenggu yang sama karena aku
merahasiakan seseorang dalam sentuhan kehidupanku. Karena itu aku
akan mengatakan segalanya. Besok, jika persoalan harta benda itu
benar-benar telah aku selesaikan. Kalau sudah ada kepastian, langkah
apakah yang akan diambil oleh Kangjeng Sultan, meskipun, belum
dilaksanakan” berkata Pangeran Sena Wasesa. Endang Srini menundukkan
kepalanya. Tetapi rasa-rasanya ia sedang menghadapi satu masalah
yang tidak terpecahkan. Satu beban perasaan yang tidak terangkat.
“Seandainya aku benar-benar telah mati” berkata Endang Srini di
dalam hatinya. Namun perasaan itu tidak terucapkannya. Sementara
itu, Pangeran Sena Wasesa telah berkata pula “Marilah Sr ini. Kita
dapat berbicara dengan tenang di pendapa” “Terima kasih Pangeran.
Aku mohon dir i. Mungkin aku perlu menenangkan hati” jawab Endang Sr
ini. Pangeran Sena Wasesa tidak menahannya. Dibiarkannya Endang
Srini kemudian meninggalkan pendapa menuju ke gandok. Untuk
sementara Endang Srini di tempatkan di gandok bersama Swasti sebelum
Pangeran Sena Wasesa menyatakan kepada puterinya dan kepada seluruh
isi istana itu tentang dir inya yang sebenarnya. Ketika ia memasuki
biliknya, ternyata Swasti telah duduk di bibir pembaringannya.
Ternyata gadis yang berpendengaran tajam itu, tidak dapat
ditinggalkannya dalami keadaan tidur lelap. Swasti mendengar sejak
ibu Daruwerdi itu keluar dari biliknya. Bahkan gadis itu sempat
melihat apa yang dilakukan oleh Endang Sr ini. Namun ketika ia
melihat Endang Sr ini itu berbincang dengan Pangeran Sena Wasesa
dari balik pintu yang renggang setebal lidi, maka iapun mengurungkan
maksudnya untuk menyusul keluar. “Kau belumt idur ngger?“ bertanya
Endang Sr ini. “Aku mendengar pintu bergerit” jawab Swasti, Endang
Srini tidak bertanya lebih lanjut. Iapun mengerti, gadis yang
memiliki kemampuan olah kanuragan yang tinggi itu tentu memiliki
pula pendengaran yang tajam, sehingga karena itu, maka tidak
mustahil bahwa gadis itu mendengar langkahnya keluar dari bilik itu.
Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah berbaring pula
dipembaringan. Tidak ada yang mereka percakapkan. Mereka telah
hanyut dalam arus angan-angan mereka masing-masing. Bahkan
kegelisahan rasa-rasanya semakin dalam menusuk di jantung Endang
Srini. Ia dibayangi oleh keragu-raguan, apakah ia akan dapat
memasuki keluarga Pangeran Sena Wasesa. Ia adalah seorang gadis
padukuhan dan yang sudah terlalu lama hidup di padepokan.
Seandainya, puteri Pangeran Sena Wasesa itu dapat menerimanya,
betapapun hatinya terasa sakit, namun apakah ia akan dapat
menyesuaikan diri dalam pergaulan hidup Pangeran Sena Wasesa yang
harus berhubungan dengan para bangsawan yang lain. Apakah ia akan
dapat menatap wajah putri-putri dari lingkungan bangsawan apabila
dalam satu kesempatan ia harus menemui mereka sebagai isteri para
Pangeran. Berbagai persoalan telah bergejolak di dunia angan-angan
Endang Srini. Bahkan seakan-akan ia melihat putri Pangeran Sena
Wasesa itu meratapi dir inya sendir i. Dengan wajah yang basah oleh
air mata, seolah-olah Raden Ajeng Ceplik itu ber lutut di depan
makam ibundanya. Menangis mengadukan kepahitan hatinya. Ayahandanya
yang hilang itu ternyata telah pulang bersama seorang perempuan yang
dikatakannya isterinya. Diluar sadarnya, Endang Srinilah yang telah
mengusap air matanya yang membasah dipelupuk matanya. Namun Endang
Sr ini telah bertahan sekuat-kuatnya untuk tidak menangis, agar
Swasti tidak menjadi bingung menanggapi keadaannya. Sementara itu,
di dalami biliknya, Pangeran Sena Wasesapun menjadi gelisah. Setelah
ia merasa letih duduk sepi sendiri di pendapa, maka ia berusaha
untuk tidur barang sejenak. Tetapi ternyata dipembaringannya matanya
sama sekali t idak dapat dipejamkannya. “Aku harus berusaha
melunakkan hati Endang Srini dan anakku” berkata Pangeran Sena
Wasesa di dalam hatinya “keduanya harus dapat menerima satu
kenyataan tentang diri mereka. Itu jauh lebih baik daripada kita
masih harus saling membohongi dir i kita sendir i” Namun Pangeran
Sena Wasesa masih memikirkan cara yang paling baik yang akan
ditempuh. Akhirnya sambil berdesah Pangeran Sena Wasesa itupun
bangkit. Katanya kepada dir i sendiri “Aku tidak boleh menunggu.
Keputusan Kangjeng Sultan mungkin masih akan diambil satu dua hari.
Jika aku menunggu kejelasan sikap Kangjeng Sultan, baru aku akan
menyelesaikan persoalan keluargaku, mungkin akan terlambat. Lebih
baik aku segera member itahukan persoalan ini kepada anakku daripada
ia justru akan mendengar dar i orang lain yang mungkin akan dapat
membuatnya semakin sakit“ Dengan demikian, maka Pangeran Sena
Wasesapun segera memutuskan bahwa esok ia akan bertemu dengan anak
gadisnya dan berbicara tentang Endang Srini dan Daruwerdi. Dalam
pada itu Daruwerdi sendiri masih belum memikirkan persoalannya
terlalu dalam. Ia masih dapat menunggu kapanpun ayahnya yang
dikiranya sudah mati itu akan menyampaikan persoalannya kepada
adiknya, yang lahir dari ibu yang berbeda. Bahkan iapun mencoba
untuk mengerti, bahwa Pangeran Sena Wasesa tentu memer lukan waktu
untuk mengatur perasaannya sendiri sebelum ia menyampaikan persoalan
itu kepada puterinya. Malam yang terasa sangat panjang itupun
akhirnya berlalu juga. Pangeran Sena Wasesa sama sekali tidak
berhasil tidur barang sejenakpun sebagaimana Endang Srini. Di tempat
yang terpisah keduanya dicengkami oleh kegelisahan tentang hubungan
mereka sebagai suami istri yang diantarai oleh jarak. Jarak waktu
yang lama sebelum mereka bertemu kembali, jarak pangkat dan derajad
dan jarak yang dibatasi oleh satu sekat yang sulit untuk ditembus.
Anak gadis Pangeran Sena Wasesa itu sendir i. Tetapi Pangeran Sena
Wasesa telah memutuskan untuk menyampaikan persoalan tentang dirinya
itu kepada puterinya pada hari itu juga. Ia ingin puterinya
mendengar persoalan itu dari mulutnya sendiri. Tidak dar i mulut
orang lain yang bersumber pada bisik-bisik yang mungkin akan dapat
ditangkap dalam makna yang berbeda. Karena itu, maka sesudah
puterinya menjamu tamu- tamunya dengan makan pagi, maka Pangeran
Sena Wasesa telah bersiap-siap untuk memanggilnya di ruang dalam.
Namun Pangeran itu telah mencari kesempatan untuk berbicara singkat
dengan Endang Srini. “Aku tidak akan menunggu persoalan pusaka itu
selesai“ berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku akan mengatakannya
sekarang” Endang Srini tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk
dalam-dalam. “Beritahukan Daruwerdi. Mungkin aku memer lukannya“
berkata Pangeran Sena Wasesa. Endang Srini masih tetap berdiam diri.
Tetapi kepalanya terangguk kecil. Demikianlah, Pangeran Sena
Wasesapun menyempatkan diri pula untuk berbicara dengan Kiai Kanthi
dan Ki Ajar Cinde Kuning. Orang-orang tua yang lebih banyak menekuni
masalah kajiwan daripada dirinya sendiri. “Aku kira sebaiknya memang
demikian Pangeran” berkata Ki Ajar Cinde Kuning “diantara kita,
masing-masing telah mengetahui siapakah sebenarnya perempuan yang
bernama Endang Srini itu dan siapakah angger Daruwerdi. Karena itu
mungkin sekali telah terjadi salah ucap diantara kita yang dapat
didengar oleh para pembantu dan para pengawal di istana Pangeran
ini, sehingga hal yang demikian itu aku kira akan dengan cepat
sekali menjalar dari mulut ke mulut. Jika kemudian sampai terdengar
oleh puteri Pangeran, maka memang mungkin sekali akan dapat
menumbuhkan persoalan yang gawat jika terjadi salah mengerti. Karena
itu, rencana Pangeran untuk menyampaikannya hari ini adalah sangat
bijaksana” Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk, sementara Kiai
Kanthi berkata “Pangeran, misalnya Pangeran menyimpan buah yang
masak, jangan ditunggu sampai menjadi rusak. Selagi kita masih ada
disini. Mungkin kami akan dapat membantu Pangeran” Pangeran Sena
Wasesa mengangguk-angguk Namun katanya kemudian “Kiai Kanthi, aku
berharap bahwa anak gadismu akan mempunyai pengaruh yang besar bagi
kehidupan dan cara hidup anak perempuanku itu. Kekerasan jiwanya dan
sikapnya yang tangguh jauh berbeda dengan kehidupan anakku yang
selamanya tinggal di dalam satu lingkungan yang tidak pernah
mengalami kepr ihatinan. Dengan demikian, mungkin sekali
goncangan-goncangan kecil akan dapat menyeretnya sedalam satu
keadaan yang sangat gawat” “Puteri Pangeran itu baru saja mengalami
goncangan yang sangat berat Ketika Pangeran hilang dari istana ini,
maka puteri itu tentu merasa sangat berprihatin” jawab Kiai Kanthi.
“Kiai benar. Tetapi yang aku maksudkan adalah tempaan jiwa dalam
kehidupannya sehari-hari. Bukankah dalam waktu yang singkat, selama
aku tidak ada di istana telah membuatnya menjadi kurus dan ker ing.
Jika aku tidak segera terlepas dari keadaan ini, mungkin anak
gadisku itupun tidak akan dapat mengatasi persoalannya sendiri”
berkata Pangeran Sena Wasesa. Kemudian “Namun demikian, nampaknya
anak gadisku t idak menjadi akrab dengan anak gadis Kiai” Kiai
Kanthi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya “Cara dan tata
kehidupan yang berbeda yang ada pada anak gadisku dan anak gadis
Pangeran itulah yang telah membatasi mereka. Anakku adalah seorang
perempuan yang hidupnya mengembara dari satu tempat ke tempat yang
lain, atau jika menetap, maka ia akan menetap di lereng-lereng
pegunungan atau di padukuhan-padukuhan yang jauh. Itulah agaknya
yang membuatnya canggung disini. Sementara puteri Pangeranpun merasa
canggung puli melihat sikap anak gadis itu yang jarang bergaul”
“Apakah sifat keduanya tidak dapat dipertemukan dalam satu hubungan
yang saling mengisi?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Aku kira masih
mungkin Pangeran” jawab Kiai Kanthi. “Aku mohon Kiai dapat
memberikan beberapa petunjuk kepada anak gadis Kiai. Aku mencemaskan
gejolak yang akan timbul dihati anakku jika ia mengetahui kehadiran
seorang perempuan yang lain di istana ini. Seorang isteri dar i
ayahnya tetapi bukan ibunya. Dalam keadaan yang demikian, ia memer
lukan seorang yang akrab” berkata Pangeran Sena Wasesa. “Aku akan
mencoba Pangeran. Mungkin Swasti akan dapat meirngajaknya
bermain-main dengan jenis permainan yang belum pernah dikenal
langsung oleh puteri Pangeran” berkata Kiai Kanthi. Lalu “Tetapi
sudah tentu bukah gatheng atau jirak miri. Swasti tidak akan telaten
untuk melakukannya” “Lalu apa yang akan dilakukan oleh Swasti?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Mungkin berburu di pinggir Kota
Raja. Berburu burung dengan supit atau berburu kijang dengan busur
dan anak panah” jawab Kiai Kanthi. Pangeran Sana Wasesa menarik
nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk “Apapun
yang dapat dilakukan, asal hal itu akan dapat menghiburnya kelak”
Dengan demikian, maka Pangeran Sena Wasesa telah mematangkan keadaan
untuk sampai pada satu pembicaraan yang bersungguh-sungguh dengan
puterinya. Karena itu, maka setelah pembicaraannya dengan
orang-orang tua itu, iapun telah memanggil puterinya untuk
menghadap. Tetapi Pangeran Sena Wasesa terkejut, ketika puterinya
kemudian datang menghadap bersama seorang anak muda. Namun Pangeran
Sena Wasesa segera mengenalnya, karena anak muda itu adalah
kemanakannya. “O, bukankah kau putera kakangmas Pangeran Gajahnata?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Benar pamanda” jawab Bramadaru
sambil menundukkan kepalanya. “Oh, maaf. Bukannya aku menganggap kau
orang lain, tetapi aku lupa, siapakah namamu?“ bertanya Pangeran
Sena Wasesa. “Bramadaru pamanda” jawab anak muda. “O, ya. Bramadaru.
Benar. aku ingat sekarang Kau jarang sekali berkunjung kemar i”
“Untuk beberapa tahun aku pergi berguru pamanda. Agaknya karena itu
aku jarang sekali sempat menghadap pamanda” jawab Bramadaru.
“Sekarang kau sudah selesai?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa pula.
“Belum ayahanda. Tetapi yang aku lakukan kemudian tinggallah
memperdalam ilmu yang sudah aku terima. Dan itu dapat aku lakukan
dimana saja. Juga di rumah. Sementara itu, kesempatankupun menjadi
lebih luas untuk dapat mengunjungi sanak kadang” jawab Pangeran Sena
Wasesa pula. Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk. Namun dengan
demikian, ia tidak dapat mengatakan persoalannya kepada anak
gadisnya. Ia harus menunggu sampai Bramadaru meninggalkan istana
itu, karena Pangeran Sena Wasesa tidak akan dapat mengusirnya. Namun
dalam pada itu, puteri Pangeran Sena Wasesa itulah yang kemudian
bertanya “Apakah ayahanda memanggil aku?“ “O, tidak” jawab Pangeran
Sena Wasesa “Aku hanya menanyakan, karena kau tidak kelihatan” “Aku
menemui kakangmas Bramadaru di serambi” jawab puteri itu. “Baiklah.
Silahkan Bramadaru. Kunjunganmu akan member ikan kegembiraan pada
adikmu” berkata Pangeran Sena Wasesa, Dalam pada itu, maka puteri
itupun kemudian meninggalkan ruang dalam dan kembali ke serambi
bersama Bramadaru. Untuk beberapa saat keduanya masih berbincang
dengan gembira. Banyak persoalan tentang keadaan istana itu yang
mereka percakapkan. Bagaimana perasaan Raden Ajeng Ceplik itu pada
saat ayahandanya kembali. “Seperti menemukan hidupku kembali” jawab
Raden Ajeng Ceplik. “Menyenangkan sekali” berkata Bramadaru
“kehadiran pamanda. Pangeran Sena Wasesa tidak saja memberikan
kegembiraan diseluruh isi istana ini. Tetapi juga kepadaku dan
keluargaku” “Tentu” jawab Raden Ajeng Ceplik “bahkan seisi Demak.
Kangjeng Sultanpun tentu merasa gembira atas kehadiran ayahanda
kembali” “Ya” jawab Bramadaru “Tetapi lebih-lebih lagi ayahanda
Pangeran Gajahnata” “O, kenapa pamanda Gajahnata menjadi lebih
gembira dari yang lain?“ Raden Ajeng itu bertanya hampir diluar
sadarnya Bramadaru menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia
terdiam. Sedangkan pandangan matanya menyapu pohon- pohon bunga di
halaman samping istana itu. Raden Ajeng Ceplik mengerutkan
keningnya. Ketika ia melihat wajah Bramadaru yang menjadi
bersungguh-sungguh, maka iapun menjadi berdebar-debar. “Kakangmas
Bramadaru” desisnya “Apakah pertanyaanku menyinggung perasaanmu” “O,
tidak, tidak diajeng” jawab Bramadaru dengan serta merta. “Tetapi
nampaknya ada sesuatu yang tiba-tiba saja kau pikirkan“ sambung
Raden Ajeng Ceplik. Bramadaru menjadi ragu-ragu. Tetapi selalu
diingatnya pesan gurunya, bahwa ia harus segera menyampaikan kepada
Raden Ajeng Ceplik mengenai minatnya untuk meminang puteri itu. Hal
itu tentu akan berpengaruh atas perasaannya, sehingga ia t idak lagi
berpaling kepada orang lain. Apalagi Bramadaru adalah masih sanak
kadang sendiri. Dengan pernyataan itu, maka hati puteri itu tentu
akan merasa terikat. Tetapi Bramadaru tidak segera dapat
mengatakannya. Meskipun hubungannya dengan Radan Ajeng Ceplik
menjadi akrab, apalagi agaknya Pangeran Seria Wasesa juga tidak
mempunyai apapun juga, namun ada semacam keragu- raguan. Justru
karena sikap Raden Ajeng Ceplik yang terlalu akrab. “Agaknya memang
tidak ada perasaan apapun di dalam hatinya” berkata Bramadaru kepada
diri sendiri “J ika ada sesuatu yang menyentuh hatinya dalam,
pergaulan ini, ia tentu akan bersikap lain. Gadis itu justru akan
menjadi kaku dan mengambil satu jarak tertentu” Selagi Bramadaru
dicengkam oleh keragu-raguan, Raden Ajeng Ceplik benar-benar menjadi
cemas. Tetapi ia tidak berani bertanya lagi terutang perasaan
saudara sepupunya itu. Dalam pada itu, maka Bramadarupun berkata
kepada diri sendiri “Mungkin t idak ada perasaan apa-apa dihati
diajeng Ceplik. Namun j ika aku mengatakannya, ia akan
memikirkannya. Baru kemudian akan tumbuh perasaan itu
perlahan-lahan. Aku memang tidak boleh terlalu tergesa-gesa seperti
yang dikehendaki oleh guru” Sementara itu dalam keheningan, akhirnya
Bramadaru berusaha untuk menyatakan perasaan itu dengan caranya
“Diajeng, aku mohon maaf, bahwa tiba-tiba saja ada sesuatu yang
memaksa aku untuk bersikap lain. Aku memang ingin berbicara tentang
persoalan yang harus direnungi dengan sungguh-sungguh” “Kau membuat
hatiku menjadi berdebar-debar kakangmas” sahut Raden Ajeng Ceplik.
“Bukan satu hal yang sangat penting” berkata Bramadaru kemudian
“namun sekedar persoalan yang mungkin dapat kau pikirkan” “Kau
membuat aku semakin gelisah” desis Raden Ajeng Ceplik, “Diajeng”
berkata Bramadaru dengan sungguh-sungguh “Aku mengenalmu sudah sejak
lama. Sejak kita masih kanak- kanak. Tetapi untuk beberapa tahun aku
terpisah dari pergaulan para bangsawan karena aku pergi berguru.
Baru beberapa, saat kemudian aku kembali ke istana. Pada saat yang
demikian, kita sudah menginjak dewasa” Wajah Raden Ajeng CepIiik
menjadi tegang. Sementara itu Bramadaru berkata selanjutnya “Aku
menjadi dewasa seperti ini, dan diajeng Ceplikpun tejah tumbuh
menjadi seorang gadis. Diajeng, aku minta maaf, bahwa pertemuan kita
yang kemudian itu telah menumbuhkan sesuatu di dalam hatiku. Aku
tidak tahu, apakah perasaan yang demikian itu tumbuh juga di dalam
hatimu. Namun untuk waktu yang cukup lama bagiku, aku harus
menahannya, karena kau sedang dicengkam oleh keprihatinan karena
pamanda Pangeran Sena Wasesa hilang” Wajah Raden Ajeng Ceplik
menjadi merah. Jantungnya serasa berdetak semakin cepat. Namun
justru mulutnya rasa- rasanya bagaikan tersumbat. Untuk beberapa
saat keduanya telah terdiam. Raden Ajeng Ceplik yang sudah menginjak
masa dewasanya itu tahu pasti apa yang dimaksud oleh Bramadaru,
Bramadaru menyadari, bahwa adik sepupunya itu tentu tidak akan
segera menjawab pertanyaannya. Mungkin Raden Ajeng Ceplik masih akan
memikirkannya. Meskipun seandainya Raden Ajeng Ceplik itu memang
sudah mempunyai sentuhan perasaan sejak sebelumnya, ia tentu tidak
segera menjawab. Karena itu, maka Bramadaru kemudian berkata “Maaf
diajeng. Aku sama sekali tidak ingin membuatmu menjadi gelisah. Aku
juga tidak ingin memaksamu menjawabnya sekarang. Tetapi seperti yang
aku katakan, kedatangan kembali pamanda Pangeran Sena Wasesa
memberikan harapan yang lebih cerah bagiku. Pada saatnya, ayahanda
Pangeran Gajahnata tentu akan datang menemui pamanda Sena Wasesa
untuk membicarakan persoalan kita sebagaimana seharusnya” Raden
Ajeng Ceplik sama sekali tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi
semakin tunduk. Dengan demikian, maka pembicaraan diantara
keduanyapun seakan-akan telah terputus. Sikap Raden Ajeng Ceplik
menjadi berubah sama sekali. Justru karena ia telah mendengar sikap
saudara sepupunya. Karena itu, maka sejenak kemudian Bramadarupun
berkata “Diajeng baiklah aku minta diri. Sekali lagi aku minta maaf.
Tetapi aku minta kau memikirkannya. Pada saat yang berbahagia bagimu
karena kedatangan kembali pamanda Sena Wasesa, aku telah
menyampaikan harapanku” Raden Ajeng Ceplik masih belum menjawab.
Tetapi ia mengikut i langkah Bramadaru yang meninggalkan istana itu
sampai ke regol. “Aku minta dir i diajeng. Tolong sampaikan kepada
pamanda Sena Wasesa, bahwa aku mohon diri. Kegelisahanku membuat aku
lupa menghadap untuk mohon diri” berkata Bramadaru. Raden Ajeng
Ceplik sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk kecil.
Demikianlah, ketika Bramadaru hilang dit ikungan. Maka Raden Ajeng
Ceplik itupun dengan tergesa-gesa telah pergi ke biliknya. Terasa
jantungnya masih berdebar terlalu cepat Ia memang tidak terlalu
banyak bergaul dengan anak-anak muda karena keadaannya. Karena itu,
pernyataan Bramadaru yang tiba-tiba itu terasa menggoncangkan isi
dadanya. Untuk beberapa saat Raden Ajeng Ceplik itu masih merenung
di dalam biliknya. Rasa-rasanya gadis itu sedang menilai dir inya
sendiri. Apakah yang telah menarik perhatian Bramadaru, bahwa
tiba-tiba saja anak muda itu telah menyatakan perasaannya. Di luar
dinding istana itu, masih banyak gadis-gadis sebayanya.
Puteri-puteri bangsawan seperti dirinya. Tetapi kenapa Bramadaru itu
telah memilihnya. “Apakah aku lebih cantik dar i gadis-gadis yang
lain?“ tiba-tiba saja telah tumbuh pertanyaan dihati gadis yang
menginjak usia dewasa itu. Namun dalam pada itu, dicobanya pula
untuk menilai anak muda yang bernama Bramadaru itu. Anak laki- laki
dari seorang Pangeran yang bernama Gajahnata, yang seperti juga
ayahnya adalah seorang Senopati prajurit. Dicobanya untuk menilai
ujud lahiriahnya dan juga menilai sifat-sifatnya. Tetapi Raden Ajeng
Ceplik tidak terlalu banyak mengenal anak muda itu. Yang dikenalnya
adalah, bahwa anak muda itu adalah saudara sepupunya. Tidak lebih”
Dalam kesibukan perasaan itu, Raden Ajeng Ceplik terkejut ketika
pintu biliknya berderit. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya
embannya yang setia melangkah masuk. Kemudian sambil berjongkok
embannya itu mendekatinya. “Puteri” tiba-tiba saja embannya berdesis
“Apakah yang dikatakan oleh ayahanda? Bukankah puteri telah
dipanggil menghadap?“ Raden Ajeng Ceplik mengerutkan keningnya.
Namun kemudian Katanya “Ayahanda tidak ingin mengatakan sesuatu.
Ayahanda hanya menanyakan aku yang untuk beberapa saat tidak nampak
karena aku berada di serambi” “O“ emban itu mengangguk-angguk.
Tetapi keningnya menjadi berkerut. Katanya “Aneh. Ayahanda puteri
telah dengan sungguh-sungguh memer intahkan puteri untuk menghadap.
Bukan sekedar mencari puteri karena untuk beberapa saat ayahanda
puteri tidak melihat puteri” “Tetapi aku telah menghadap ayahanda.
Bahkan bersama dengan, kakangmas Bramadaru. Karena ketika ayahanda
memanggil, aku memang sedang berada diserambi bersama kakangmas
Bramadaru” jawab puteri. “O, Raden Bramadaru, putera Pangeran
Gajahnata itu?“ bertanya embannya. “Ya” jawab Raden Ajeng Ceplik
yang tiba-tiba saja telah menunduk. Seolah-olah embannya telah
mengetahui, apa yang telah dikatakan oleh Bramadaru kepadanya
diserambi. “Raden Bramadaru terlalu sering mengunjungi puteri.
Memang agak lain dengan saudara-saudara pulen yang lain” gumam
embannya. “Kenapa? Bukankah saudara-saudaraku yang lain juga sering
datang mengunjungi aku? Apalagi pada saat ayahanda tidak ada di
istana” berkata puteri itu. “Tetapi tidak terlalu sering seperti
Raden Bramadaru” berkata emban itu. “Ah“ desah Raden Ajeng Ceplik
“Ia adalah kakak sepupuku. Aku mengenalnya lebih baik dari
saudara-saudaraku yang lain. Sejak kami tumbuh remaja. Kemudian
kakangmas itu pergi berguru. Baru setelah kami menjelang dewasa,
kami telah bertemu kembali, dalam keadaan yang tidak menguntungkan,
karena ayahanda tidak ada di istana. Tetapi aku berterima kasih
kepadanya, bahwa ia sering mengunjungi aku dalam kesepian itu” Emban
itu mengangguk-angguk. Sambil duduk dilantai disebelah pembaringan
momongannya ia mengamati gadis yang duduk di bibir pembaringannya
itu. Namun hampir diluar sadarnya emban itu beritanya “Puteri,
apakah Raden Bramadaru tidak mempunyai kepentingan lain kecuali
sekedar menengok adik sepupunya?“ Wajah puteri itu menegang.
Kemudian dengan nada tinggi ia bertanya “Apa maksudmu emban?“ Emban
itu terkejut sendir i. Dengan serta merta iapun kemudian menyahut
“Tidak puteri. Tidak apa-apa” “Ah, kau sudah menanyakan sesuatu
tentang hubunganku dengan kakangmas Bramadaru” gumam puteri itu.
“Puteri” berkata emban dengan ragu-ragu “Bukan maksudku untuk
mengetahui terlalu banyak tentang puteri. Tetapi kehadirannya yang
terlalu sering itu agaknya memang terkandung sesuatu maksud
tertentu” “Tetapi aku mener imanya sebagai kakak sepupuku jawab
Raden Ajeng Ceplik. Emban itu mengangguk-angguk. Meskipun demikian,
sebenarnyalah emban pemomong yang setia itu melihat apa yang selama
itu tersirat pada hubungan antara keduanya. Terdorong oleh
kesetiaannya kepada momongannya, maka perkembangan hubungan antara
kedua anak muda yang meningkat dewasa itu telah membuat emban itu
menjadi cemas. Apalagi ketika ia mengamati dari kejauhan, apa yang
baru saja terjadi antara keduanya. Meskipun emban itu tidak
mendengar pembicaraan antara keduanya, tetapi menilik sikap dan
wajah Raden Ajeng Ceplik, serta tingkah laku Bramadaru maka emban
yang sudah cukup makan asinnya garam kehidupain itu dapat menebak,
apa yang telah dikatakan oleh Bramadaru. Namun dalam pada itu,
agaknya Raden Ajeng Ceplik sendiri merasakan bahwa pertanyaan
embannya itu mengarah kepada persoalan yang justru sedang
dipikirkannya tentang Bramadaru Karena itu, maka puteri itupun
kemudian mendesak “Emban. Apakah sebenarnya yang kau ketahui tentang
hubunganku dengan kakangmas Bramadaru? Apakah kau sedang
menduga-duga atau mendengar pembicaraan kami?“ Emban itu bergeser
setapak maju. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia mengusap keringat
di keningnya. “Puteri” berkata emban itu kemudian “sebagaimana
puteri mengetahui, aku adalah emban yang mengasuh puteri sejak
puteri masih kanak-kanak. Apalagi karena aku tidak mempunyai anak
sendiri, sehingga karena aku tidak mempunyai anak sendiri, sehingga
karena itu, seluruh waktu dan bahkan seluruh hidupku tertumpah bagi
kepentingan puteri. Karena itulah, maka aku menganggap bahwa puteri
bukan saja momonganku, gustiku, dan bendaraku, tetapi puteri juga
bagaikan anakku sendir i. Mungkin aku terlalu deksura bahwa aku
berani menganggap puteri sebagai anakku sendiri. Tetapi maksudku
bahwa sebagaimana seorang biyung yang siap mengorbankan apa saja
bagi anaknya. Bahkan nyawanya pada saat anak itu lahir” Raden Ajeng
Ceplik menar ik nafas dalam-dalam. Ia semakin merasa bahwa tentu ada
sesuatu yang penting yang ingin dikatakannya. Karena itu, maka
katanya “Bibi, agaknya kau tidak hanya sekedar ingin bertanya,
apakah yang dikatakan ayah kepadaku. Tetapi agaknya kau memang
mempunyai sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku” Emban itu menjadi
ragu-ragu. Namun kemudian Katanya “Puteri. Jika aku mengatakan
sesuatu, berkenan atau tidak berkenan di hati puteri, namun
sebenarnyalah hal itu aku landasi dengan kesetiaanku kepada puteri.
Sebagai seorang buyung yang ingin melihat anaknya berbahagia, maka
akupun ingin melihat puteri tidak pernah mengalami sesuatu yang
dapat membuat hidup puteri kelak tidak berbahagia. Meskipun
belumtentu bahwa kecemasanku itu dapat terjadi” Raden Ajeng Ceplik
menjadi semakin berdebar-debar. Dengan tidak sabar ia mendesak
“Jangan berteka-teki terlalu lama emban. Coba katakan, apa yang
sebenarnya sedang kau pikirkan tentang aku” “Puteri, apakah aku
boleh bertanya?“ desis emban itu “Tentang apa bibi?“ puteri itulah
yang justru bertanya. “Apakah yang telah dikatakan oleh Raden
Bramadaru kepada puteri di serambi?“ bertanya emban itu pula. “Ah“
desah puteri itu “Apakah kau mendengarkannya?“ “Tidak puteri. Aku
tidak mendengar. Tetapi aku melihat sikap dan tingkah laku puteri
dan Raden Bramadaru” jawab emban itu. Lalu “Baiklah, tentu puteri
akan segan mengatakannya. Biar aku sajalah yang menebak. Puteri,
apakah Raden Bramadaru menyatakan bahwa ia mencintai puteri?“ Wajah
Raden Ajeng Ceplik menjadi merah. Tetapi emban itu dengan serta
merta mengatakan “Sekali lagi puteri. Aku adalah pemomong puteri.
Puteri bagiku adalah gusti, bendara dan sekaligus anak kekasih j ika
puteri berkenan” Raden Ajeng Ceplik itu menundukkan wajahnya dalam-
dalam. Dengan sendat puteri itupun kemudian menjawab tanpa
mengangkat wajahnya “Ya bibi” Emban itu menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian Katanya “Itu adalah satu hal yang wajar sekali puteri.
Seorang anak muda pada satu saat merasa mencintai seorang gadis.
Demikian sebaliknya. Jika Raden Bramadaru mencintai Puteri dan
sebaliknya itu adalah hal yang sangat wajar. Tetapi masih ada
sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada puteri” Raden Ajeng Ceplik
sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Seakan-akan tatapan matanya
lekat pada lantai biliknya yang mengkilat. “Puteri” berkata embannya
pula “dalam kewajaran itu puteri harus tetap berhati-hati.
Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan, bahwa puteri harus melihat
dengan saksama, kenapa tiba-tiba saja Raden Bramadaru sering
berkunjung ke rumah ini pada saat ayahanda puteri tidak ada.
Sementara itu, sebelumnya, sejak Raden Bramadaru kembali dari
perguruannya, ia sudah terlalu banyak bergaul dengan puteri- puteri
bangsawan yang lain. Bahkan Raden Bramadaru termasuk seorang anak
muda yang mempunyai daerah pergaulan yang luas” Wajah Raden Ajeng
Ceplik menjadi tegang. Dengan nada tinggi Raden Ajeng itu bertanya
“Bibi, bukankah dengan demikian berarti bahwa kau mencurigai
kakangmas Bramadaru? Kau menganggap bahwa tentu ada sesuatu yang
tidak wajar, bahwa tiba-tiba saja ia menyatakan mencintai aku,
semenara itu, ia mempunyai kawan-kawan perempuan yang banyak” “Ampun
puteri” jawab emban itu “sekali lagi, bahwa hal ini aku sampaikan
kepada puteri, justru karena aku tidak ingin melihat sesuatu yang
akan dapat mengecewakan puteri. Namun seandainya tanggapanku ini
salah, maka masih ada waktu untuk memperbaikinya” “Aku tidak
mengerti emban” potong puteri itu. Emban itu menjadi termangu-mangu.
Tetapi ia telah didorong oleh satu perasaan wajib, bahwa ia harus
mengatakannya. Karena itu, tanpa menghiraukan akibat yang dapat
terjadi atas dirinya sendiri, ia memang sudah bertekad untuk
mengatakannya, demi kebaikan Raden Ajeng Ceplik itu sendir i.
“Puteri” berkata emban itu kemudian dengan agak tersendat “Aku
adalah emban di istana Pangeran Sena Wasesa. Aku mempunyai beberapa
orang kawan emban di istana-istana yang lain. Kadang-kadang kami
bertemu dan berbincang. Mungkin di pasar, mungkin pada saat-saat
yang lain j ika diantara kami bertemu di jalan. Dalam pembicaraan
itu, beberapa orang kawan telah membicarakan Raden Bramadaru yang
sering datang ke istana ini” “Ah, apakah kepentingan mereka dengan
kakangmas Bramadaru?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik. “Puteri,
kawan-kawan emban itu mengetahui apa yang telah terjadi di istana
ini. Pada saat Pangeran Sena Wasesa hilang, maka semua orang menjadi
sangat kasihan melihat puteri yang sendiri di istana ini. Dengan
demikian maka diantara mereka banyak yang memperhatikan keadaan
pateri. Mungkin ada beberapa orang paman dan bibi puteri yang
mempercakapkan tentang puteri dengan emban-emban masing-masing”
emban itu berhenti sejenak “Dan pada saat yang demikian itulah
datang Raden Bramadaru, Pada saat perhatian beberapa orang bangsawan
tertuju kepada istana ini” “Jadi apa salahnya jika kakangmas
Bramadaru mengawasi aku dalam saat-saat yang sepi dan gelisah itu?“
bertanya Raden Ajeng Ceplik. “Jika bukan Raden Bramadaru, atau
katakanlah, jika sifat- sifat Raden Bramadaru lain dari
sifat-sifatnya, maka tidak akan ada seorangpun yang berkeberatan”
jawab emban itu memaksa dir i. Wajah Raden Ayu Ceplik tiba-tiba saja
telah berubah. Kerut-merut di dahinya menjadi semakin nyata. Dengan
ragu puteri itu bertanya “Bagaimana sifat kakangmas Bramadaru?“
tiba-tiba saja di hatinya telah bergejolak keinginan vntuk
mengetahui lebih banyak lagi tantang Bramadaru. Emban itu
termangu-mangu. Namum akhirnya ia berkata “Puteri, aku mohon maaf j
ika aku mengatakan apa yang dikatakan oleh kawan-kawanku tentang
Raden Bramadaru. Raden Bramadaru adalah seorang anak muda yang
menyenangi gadis-gadis. Sejak Raden Bramadaru kembali dari berguru,
sudah ada beberapa orang gadis yang mula-mula menjadi sangat rapat.
Bahkan ada diantara gadis-gadis yang diambilnya dari lingkungan para
abdi. Dan disaat lain gadis- gadis itu harus segera kawin dengan
laki-laki yang sama sekali tidak dikenalinya, yang harus
mengawininya dengan upah, karena Raden Bramadaru tidak ingin
mengawininya” “O“ puteri itupun tiba-tiba menutup telinganya.
Katanya “Cukup emban. Ceriteramu sangat mengerikan” “Ampun puteri”
sahut emban itu “Aku mohon puteri mendengar kata-kataku sebagi kata
seorang biyung. Puteri, baru kemudian, tiba-tiba semua gadis,
termasuk puteri-puteri bangsawan ditinggalkannya ketika ia mulai,
berkenalan dengan puteri” “Aku sudah mengenalnya sejak masih
kanak-kanak” suara puteri itu meninggi. “Ya. Sejak masih
kanak-kanak” jawab emban itu “maksudku, ia mulai mendekati puteri
lagi sejak ia pulang dari berguru” Raden Ajeng Ceplik menutup,
wajahnya dengan kedua tangannya. Keterangan yang didengarnya dari
embannya itu membuat kulit diseluruh tubuhnya meremang. Yang
dikatakan oleh embannya itu memang mungkin saja terjadi. Tetapi
menilik sikap dan tutur kata Bramadaru selama dikenalnya sebagai
anak muda yang dewasa, sama sekali tidak mencerminkan sifat-sifat
seperti yang dikatakan oleh emban itu. Bramadaru adalah seorang anak
muda yang riang, ramah tetapi sangat sopan. Untuk sejenak keduanya
saling berdiam dir i. Dari kedua mata Raden Ajeng Ceplik telah
mengalir air mata. Meskipun ia sendiri sama sekali belum mengambil
satu keputusan, tetapi keterangan embannya itu membuat hatinya
terluka. Bagaimanapun juga Bramadaru adalah saudara sepupunya. Ada
semacam ketidak-relaan di dalam hati mendengar tuduhan yang
dikatakan oleh emban itu. Namun sekali lagi emban itu berkata
“Ampuni puteri. Yang aku katakan adalah apa yang aku dengar dari
kawan- kawanku. Tidak hanya satu dua orang. Bahkan abdi di istana
Pangeran Gajahnatapun telah mengatakan demikian pula. Karena itu,
aku merasa sangat cemas dengan puteri. Bukan maksudku puteri
memutuskan hubungan puteri dengan Raden Bramadaru, tetapi aku mohon
puteri menjadi lebih berhati- hati. Tetapi mungkin apa yang aku
dengar itu salah. Seandainya demikian, sokurlah. Dan aku telah
berusaha untuk berbuat baik bagi puteri yang sudah aku anggap
sebagai anakku sendiri” Raden Ajeng Ceplik masih tetap berdiam dir
i. Betapapun juga hatinya tersinggung, tetapi ia mengenal embannya
itu sejak ia masih kanak-kanak. Iapun yakin bahwa emban itu sangat
setia kepadanya. Karena itu, maka iapun mengerti bahwa maksud emban
itu baik. Persoalannya adalah, apakah yang dikatakan oleh
kawan-kawan emban itu benar. Namun demikian, rasa-rasanya hatinya
menjadi buram. Baru saja ia mendengar pengakuan Bramadaru, bahwa
hatinya mulai tertambat kepadanya, tiba-tiba saja emban itu telah
menceriterakan sifat-sifat Bramadaru yang mengerikan. Ruang itu
menjadi hening sejenak. Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk mengusap
pipinya yang basah. Tetapi air mata itu masih saja mengembun dan
mengalir perlahan-lahan. Tetapi Raden Ajeng Ceplik tidak menjadi
terisak karenanya. Baru sejenak kemudian, embannya itupun berkata
“Puteri. Jika aku tergesa-gesa menyampaikan hal ini kepada puteri,
justru setelah aku melihat sikap dan tingkah laku puteri dan Raden
Bramadaru. Aku tidak ingin terlambat, meskipun seandainya ceriteraku
itu menyinggung hati puteri. Namun aku mohon, agar puteri yang
sekarang sudah dewasa itu dapat menerima dan mencerna keteranganku
secara dewasa pula” Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk mengangguk.
Meskipun demikian ia masih mengusap matanya yang basah. Dalam pada
itu, keduanya telah dikejutkan oleh der it pintu yang terbuka Dengan
berdebar-debar keduanya melihat Pangeran Sena Wasesa berdiri di muka
pintu. Namun dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesapun telah terkejut
pula. Ia melihat puterinya sedang mengusap air matanya. Karena itu,
tiba-tiba saja jantungnyapun bergejolak. Yang pertama-tama terbesit
di dalam hati Pangeran Sena Wasesa adalah dugaan bahwa puterinya
telah mendengar kehadiran seorang perempuan yang ternyata adalah
isterinya, yang juga merupakan ibu t iri dari Raden Ajeng Ceplik
itu. Meskipun demikian, Pangeran Sena Wasesa berusaha untuk
mengendalikan perasaannya. Dengan sareh Pangeran itu bertanya
“Apakah kau menangis?“ Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk
menghilangkan kesan itu dari wajahnya. Tetapi agaknya ayahandanya
sudah melihat wajahnya yang basah oleh air mata. “Apakah yang sedang
kalian bicarakan?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa itu kepada embannya
“Mungkin sesuatu yang menyedihkan, menggelisahkan atau kesulitan
yang tidak teratasi” Emban itu menjadi bingung. Untuk sesaat ia
masih tetap berdiam diri, sementara Raden Ajeng Ceplikpun menunduk
dalam-dalam. Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
ia sadar, bahwa sulit baginya untuk memaksa puterinya berbicara.
Karena itu, maka tiba-tiba saja Pangeran itu berkata “Emban. Aku
ingin berbicara denganmu” Dada emban itu bagaikan bergejolak.
Jantungnya seakan- akan melonjak-lonjak di dalamdadanya itu. Namun
sebelum ia sempat berkata sepatah katapun, Pangeran Seria Wasesa
telah hilang di balik pintu. “Oh “ Raden Ajeng Ceplik mengeluh “Apa
yang akan kau katakan kepada ayahanda bibi” Emban itu termangu-mangu
sebentar. Namun kemudian Katanya “Puteri. Agaknya tidak baik jika
puteri berusaha untuk merahasiakan sesuatu terhadap ayahanda” Raden
Ajeng Ceplik menjadi bimbang. Kegelisahannyapun menjadi semakin
mencengkam. Sementara itu embannya berkata lebih lanjut “Ayahanda
puteri adalah satu-satunya orang tua puteri sekarang ini. Ayahanda
puteri adalah juga ibunda. Karena itu, biarlah aku berterus terang.
Dengan demikian, maka ayahanda puteri akan dapat melihat persoalan
yang terjadi atas diri puteri dengan benar. Jika pada suatu naat
ayahanda puteri harus mengambil satu keputusan, maka Keputusan itu
diambil berdasarkan pada keterangan- keterangan yang sebenarnya.
Dengan demikian jika terjadi kesalahan dalam keputusan itu, bukan
puteri sendirilah yang harus memikul tanggung jawab” Raden Ajeng
Ceplik termangu-mangu. Ia masih tetap ragu- ragu. Namun yang
dikatakan oleh embannya itu masuk juga di dalam nalarnya. Ia lebih
baik berterus-terang kepada ayahandanya. Apapun yang akan terjadi,
ayahandanya sudah dapat mengetahuinya. Bahkan seandainya tiba-tiba
saja Pangeran Gajahnata menghubungi ayahnya, sebagaimana dikatakan
oleh Bramadaru, maka ayahnya tidak akan terkejut. Karena itu, maka
katanya kemudian “Terserah kepadamu bibi. Mana yang kau anggap lebih
baik, maka kau dapat melakukannya” “Tetapi bukankah sebaiknya aku
mendapat ijin puteri“ berkata embannya pula. Raden Ajeng Ceplik
itpuun mengangguk kecil. Jawabnya “Baiklah bibi. Kau dapat berterus
terang kepada ayahanda. Tetapi kau tahu, bagaimana sebaiknya kau
mengatakannya” Demikianlah, maka emban itupun kemudian meninggalkan
bilik momongannya. Emban itu tahu, bahwa Pangeran Sena Wasesa akan
menunggunya diruang dalam. Karena itu, maka emban itupun menyusul
Pangeran Sena Wasesa ke ruang dalam. Sambil berjongkok maka emban
itu telah mendekati Pangeran Sena Wasesa yang duduk menyamping pintu
yang terbuka. “Emban, mendekatlah” desis Pangeran Sena Wasesa. Emban
itupun bergeser semakin dekat. Ketika dengan tidak sengaja emban itu
memandang wajah Pangeran Sena Wasesa, hati emban itupun menjadi
berdebar-debar. Wajah itu kelihatan suram dan kerut di dahi Pangeran
Sena Wasesa itu nampaknya menjadi semakin dalam. Karena itu, maka
emban itupun kemudian duduk bersimpuh sambil menunduk dalam-dalam.
“Emban” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian “Aku melihat
momonganmu menangis. Apakah kau mengetahui sebabnya, atau kau memang
sedang memperbincangkan sesuatu yang membuatnya menangis?“ Emban itu
menunduk semakin dalam. Dengan suara yang bagaikan tersangkut
ddkerongkongan emban itu menyahut “Hamba Pangeran. Hamba memang
sedang berbincang dengan puteri Ambarsari” Pangeran Sena Wasesa
menarik nafas dalam-dalam. Ia hampir pasti bahwa puterinya telah
lebih dahulu mendengar kehadiran seorang ibu tir i baginya dari
orang lain. Bukan dari ayahandanya sendiri. Meskipun demikian
Pangeran Sena Wasesa masih mencoba untuk dengan tenang bertanya
“Persoalan apakah yang kau bicarakan dengan Ceplik?“ Emban itu
menjadi ragu-ragu. Namun sudah menjadi tekadnya untuk mengatakan apa
yang sebenarnya terjadi dengan momongannya. Karena itu, maka katanya
kemudian “Pangeran, perkenankanlah hamba menyampaikan persoalan
puteri yang sebenarnya. Hamba telah mengatakan kepada puteri, bahwa
hamba telah menyampaikan isi hati hamba justru karena hamba setia
kepada puteri dan keluarga di istana ini” “Apa yang kau katakan?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa tidak sabar. “Gusti“ emban itu
bergeser setapak. Namun bagaimanapun juga emban itu menjadi gelisah
juga “beberapa saat yang lalu, Raden Bramadaru telah datang menemui
puteri” “Ya, aku tahu. Bahkan keduanya telah datang menghadap ketika
aku sebenarnya hanya memanggil Ceplik saja” berkata Pangeran Sena
Wasesa. “Itulah Gust i“ emban itu melanjutkan “hamba menjadi gelisah
karena hubungan puteri Ambarsari dengan Raden Bramadaru” “Kenapa?
Bukankah Bramadaru itu putera kakangmas Pangeran Gajahnata?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Hamba Gusti” jawab emban itu “Tetapi
masalahnya bukan karena Raden Bramadaru adalah putera Pangeran
Gajahnata, Tetapi karena sifat dan tingkah laku Raden Bramadaru itu
sendiri” “Kenapa dengan Bramadaru?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa
pula. Emban itupun akhirnya mengatakan juga, betapapun ia menjadi
ragu. Seperti yang dikatakannya kepada Raden Ajeng Ceplik, maka
semuanya itu dikatakannya pula kepada Pangeran Sena Wasesa. “Gusti.
Hamba tidak rela melepaskan momongan hamba ke tangan yang telah
ternoda. Hamba sangat mencintai Raden Ajeng Ambarsari melampaui diri
hamba sendiri” Suara emban itu tersendat-sendat. Bahkan titik-titik
air telah merayap turun dari sudut mata emban yang setia itu.
Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ada dua hal yang
membuat hatinya justru mengendor. Ternyata masalah yang menyebabkan
puterinya menangis bukanlah puterinya itu mendengar tentang
kehadiran seorang ibu tiri dari orang lain. Yang kedua, dengan
demikian ia akan dapat lebih berhati-hati menghadapi Bramadaru.
meskipun ia tidak boleh percaya begitu saja kepada laporan embannya
yang hanya didasarkan kepada ceritera kawan-kawannya saja. Namun
iapun tidak boleh mengabaikan sama sekali keterangan embannya, yang
seperti Raden Ajeng Ceplik, maka Pangeran Sema Wasesapun percaya
bahwa embannya itu memang berniat baik. Karena itu. setelah Pangeran
Sena Wasesa mengetahui bahwa yang dihadapi puterinya adalah
persoalannya dengan Bramadaru, maka katanya kemudian “Terima kasih
emban. Aku akan memperhatikan keteranganmu. Sudah barang tentu, aku
sebagai ayahnya tidak akan membiarkan anak gadisku satu-satunya itu
terjerumus dalam kepahitan hidup dan kehilangan masa depannya”
“Segalanya terserah kepada kebijaksanaan Pangeran” berkata emban
itu. Pangeran Sena Wasesapun kemudian mengij inkan emban itu
meninggalkannya. Namun demikian, maka rencananya untuk memanggil
anaknya itupun telah diurungkan. “Ceplik baru mengalami goncangan
perasaan yang telah membuatnya bimbang dan bahkan kebingungan”
berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian, sehingga iapun berniat untuk
menundanya sampai hari berikutnya. Karena itu, maka Pangeran Sena
Wasesapun telah member itahukannya kepada Endang Srini dan
orang-orang tua yang menjadi tamunya dan berada di gandok. Dalam
pada itu, ketika matahari menjadi semakin rendah di ujung Barat,
Rahu yang dipanggil oleh Pangeran Sena Wa- sesa untuk membicarakan
tentang pusaka dan harta benda yang telah diserahkan kepada Kangjeng
Sultan di Demak, namun masih belum mendapatkan penyelesaian sampai
tuntas itu telah mengusulkan agar persoalannya dipercepat. “Jika
harta benda dan pusaka itu masih belum diambil dan di masukkan ke
dalam perbendaharaan istana, maka agaknya masih akan dapat
menumbuhkan persoalan baru Pangeran” berkata Rahu yang untuk
sementara masih juga mengawani para tamu Pangeran Sena Wasesa
tinggal di istana itu, disamping petugas sandi itu akan dapat diajak
berbincang tentang pusaka dan harta benda itu. “Jadi, bagaimana
sebaiknya menurut pendapatmu?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa.
“Pangeran menghadap Kangjeng Sultan dan mohon agar pusaka dan harta
benda itu segera disimpan di dalam perbendaharaan istana. Jika
belum, maka seakan-akan pusaka dan harta benda itu masih menjadi
tanggungan Pangeran” jawab Rahu. “Aku sependapat. Besok aku akan
menghadap” berkata Kangjeng Sultan kemudian. Adalah merupakan satu
keputusan, bahwa benda-benda berharga itu harus segera dipindahkan
keperbendaharaan istana, agar tidak akan dapat menumbuhkan
persoalan- persoalan baru yang tidak dikehendaki. Dalam pada itu,
ketika Rahu kemudian meninggalkan ruang dalam, diserambi ia melihat
Raden Ajeng Cepilik duduk seorang diri merenungi halaman samping
yang sejuk. Bunga- bunga yang kembang, bergoyang dihembus angin
senja. Namun diserambi itu lampu masih belum dinyalakan. Di seberang
halaman, di serambi gandok seorang anak muda sedang melintas,
kemudian masuk ke dalam gandok. Seorang anak muda yang sederhana,
namun memiliki tekad untuk memanggul beban yang luhur dipundaknya.
“Apakah puteri sedang merenung“ sapa Rahu perlahan- lahan. Raden
Ajeng Ceplik terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya salah seorang
tamu ayahnya berdiri ditangga serambi itu. ”O“ Raden Ajeng Ceplik
mengangguk hormat “maaf Ki Sanak. Aku tidak melihat Ki Sanak” “Aku
baru saja menghadap ayahanda puteri” jawab Rahu “Tetapi apakah yang
sedang puteri perhatikan? Kawan-kawan kami di gandok itu?“ “O, tidak
Ki Sanak. Aku sedang merenungi pohon-pohon bunga itu” jawab Raden
Ajeng Ceplik. “Tetapi puteri nampaknya murung hari ini” berkata Rahu
”Biasanya aku melihat puteri gembira setelah ayahanda kembali” “Ah,
bukankah saat ini aku juga gembira” sahut Raden Ajeng Ceplik. Rahu
mengangguk-angguk. Pada saat itu, anak muda yang memasuki gandok
itupun melangkah keluar pula. Di serambi gandok ia berhenti sejenak.
Kemudian diluar sadarnya bahwa diserambi samping istana Rahu sedang
bercakap-cakap dengan Raden Ajeng Ceplik, anak muda itu duduk
diserambi gandok. “Puteri” berkata Rahu “Apakah puteri mengenal anak
muda itu. Yang duduk diserambi gandok?“ Wajah puteri itu berkerut.
Namun kemudian ia berkata “Aku belum mengenal tamu ayahanda seorang
demi seorang. Meskipun aku sering menghidangkan jamuan untuk mereka”
Rahu menar ik nafas dalam-dalam. Satu dua orang lain nampak pula
lewat diserambi. Bahkan Kiai Kanthipun kemudian duduk pula disamping
anak muda itu. Ketika keduanya bercakap-cakap, maka Rahu berkata
“Anak muda itu pernah datang ke istana ini bersamaku dan sekelompok
orang-orang Sanggar gading untuk mengambil ayahanda puteri” “O“
Raden Ajeng Ceplik mengangguk-angguk. Katanya “Ayahanda pernah juga
berceritera. Tetapi ternyata bahwa kalian pulalah yang telah
menolong ayahanda, karena sebenarnyalah kalian adalah
petugas-petugas dari Demak. Kalian adalah petugas sandi” Rahu
tersenyum. Lalu katanya pula “Apakah puteri ingat, bahwa ternyata
beberapa orang telah kembali setelah ayahanda dibawa pergi oleh
orang-orang Sanggar Gading itu?“ “Ya, aku ingat” jawab puteri itu.
Namun terasa kulitnya menjadi meremang karenanya “Mereka akan
mengambil aku” “Puteri ingat, siapakah yang menolong puteri waktu
itu?“ bertanya Rahu. “Tidak jelas. Tetapi menurut ayahanda adalah
kalian pula. Para petugas sandi” jawab puteri itu sambil menunduk.
“Diantara kami yang menyelamatkan puteri, adalah anak muda yang
duduk diserambi itu” jawab Rahu. “Aku mengucapkan terima kasih”
desis puteri. “O. Sudah beberapa kali puteri maupun ayahanda
menyatakannya. Sebenarnya itu tidak perlu, karena itu adalah
tugasku. Tetapi ada satu hal yang barangkali belum puteri ketahui
tentang anak muda itu” berkata Rahu. Tetapi Rahu ternyata keliru.
Raden Ajeng Ceplik menjawab “Ayahanda pernah mengatakan, bahwa anak
muda itu adalah putera Pangeran Surya Sangkaya dan bergelar Candra
Sangkaya. Tetapi anak muda itu telah memilih hidup di sebuah
padukuhan kecil disebelah daerah Sepasang Bukit Mati” “O“ Rahu
mengangguk-angguk. Katanya “Ternyata ayahanda puteri telah banyak
berceritera tentang kami” “Tidak Ayahanda tidak banyak berceritera
tentang tamu- tamunya. Tetapi yang paling banyak ayahanda
ceriterakan adalah seorang gadis bernama Swasti dan seorang anak
muda yang menyebut dirinya bernama Jlitheng. Anak muda yang
sebenarnya adalah Raden Candra Sangkaya, yang sekarang telah
menerima kemurahan hati Kangjeng Sultan untuk diperkenankan
mempergunakan gelar Pangeran” “O“ Rahu mengangguk-angguk. Katanya di
dalam hati “Puteri telah banyak mengetahui tentang Jlitheng” Dalam
pada itu, maka Rahupun kemudian minta diri untuk menemui
kawan-kawannya digandok itu. Sepeninggal Rahu. Raden Ajeng Ceplik
masih duduk di tempatnya. Diluar sadarnya dipandanginya anak muda
yang berada di serambi gandok. Anak muda sederhana. Tidak mengenakan
pakaian seperti para bangsawan. Tidak mengenakan pakaian seperti
Bramadaru dan anak-anak muda bangsawan yang lain. Namun dalam
kesederhanaannya anak muda itu memiliki sesuatu yang tidak
dilihatnya pada Bramadaru. “Tetapi dalam kesederhanaannya itu, ia
menyandang gelar seorang Pangeran” berkata Raden Ajeng Ceplik di
dalam hatinya. Adalah diluar kehendaknya jika kemudian puteri itu
telah memperhatikan anak muda yang bernama Jlitheng dan yang
sebenarnya bergelar Pangeran Candra Sangkaya itu, meskipun belum
mendapat kekancingan. Tetapi dihadapan banyak saksi Kangjeng Sultan
telah menyatakan, bahwa Jlitheng mendapat gelar kehormatan seorang
Pangeran. Tetapi ketika dengan t idak sadar pula Jlitheng memandang
kearah puteri itu. maka tiba-tiba puteri itupun telah melemparkan
pandangannya kekejauhan. Namun tiba-tiba- saja terpandang olehnya
dua orang lagi diantara para tamu ayahnya. Seorang gadis yang
berjalan seiring dengan seorang perempuan. Raden Ajeng Ceplik
mengenal nama keduanya, Swasti dan Endang Srini. Namun ia tidak
banyak mengetahui tentang keduanya. Meskipun ayahandanya pernah
mendorongnya untuk mencoba bergaul dengan gadis yang bernama Swasti
itu. Gadis yang memiliki kemampuan olah kanuragan seperti seorang
laki- laki. Tetapi ada keseganan dihati Raden Ajeng Ceplik. Ia
merasa terlalu bodoh dibandingkan dengan gadis itu. la hanyalah
seorang gadis yang kerjanya sehari-hari merenung dan sedikit bekerja
di dapur dan membersihkan bilik-bilik di dalam, istana itu. Itupun
dibantu oleh beberapa orang pelayan. Ketika ia memperhatikan,
bagaimana Swasti berjalan dan. bersikap maka hatinya menjadi semakin
kecil. Gadis itu benar- benar menunjukkan keperkasaannya. Sementara
perempuan yang lebih tua itupun tidak banyak dikenalnya pula.
Ayahandanya tidak mengatakan sesuatu tentang perempuan itu kecuali
namanya. Namun Raden Ajeng Ceplik tidak menduga sama sekali, bahwa
ayahandanya akan secara khusus memberitahukan kepadanya tentang
perempuan yang bernama Endang Sr ini itu. Raden Ajeng Ceplik menarik
nafas dalam-dalam. Iapun kemudian bangkit dan meninggalkan serambi
itu ketika lampu kemudian dinyalakan. Ketika Raden Ajeng Ceplik itu
kemudian menyediakan makan malam ayahandanya, serta para tamunya
maka ia masih saja membayangkan keperkasaan gadis yang bernama
Swasti itu. Tetapi tiba-tiba lewat juga diangan-angannya seorang
anak muda yang lain, Daruwerdi. Anak muda yang juga jarang
disebut-sebut oleh ayahandanya, kecuali namanya. Anak muda ini
mempunyai ujud dan sikap yang berlainan dengan anak muda yang
bernama Jlitheng, yang lebih sederhana, namun yang ternyata telah
mendapat anugerah derajat Kapangeranan. Bahkan ketika malam turun
dan Raden Ajeng Ceplik telah berada di pembaringannya, ia masih saja
memikirkan tamu- tamu ayahandanya, Jika sebelumnya ia tidak pernah
berpikir tentang anak muda yang bernama Jlitheng itu, maka setelah
Rahu bertanya kepadanya, apakah ia mengenal anak muda itu, ternyata
ia justru mulai memperhatikannya. Namun sekali-sekali muncul pula di
dalam angan-angannya, saudara sepupunya, Bramadaru. Seorang anak
muda periang, ramah dan sopan. Memang jauh berbeda dalam ujud
lahiriahnya. Pakaian Bramadaru sudah menunjukkan bahwa ia adalah
seorang bangsawan. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa juga
merenungi dirinya sendir i dan keadaan anak-anaknya. Ia sudah
mengambil satu keputusan, bahwa ia akan mengatakan besok kepada anak
gadisnya, bahwa ia mempunyai seorang ibu tiri dan seorang saudara
laki-laki. Demikianlah, maka dihari ber ikutnya,. Pangeran Sena
Wasesa telah bersiap-siap untuk memanggil puterinya. Sekali lagi
dalam kegelisahan ia menyatakan maksudnya itu kepada Kiai Kanthi dan
Ki Ajar Cinde Kuning. lapun telah mencari kesempatan untuk bertemu
dengan Endang Srini. “Aku memerlukan dukungan j iwani” berkata
Pangeran Sena Wasesa. Pangeran Sena Wasesa tidak mau terganggu lagi
oleh kehadiran Bramadaru, meskipun ia tidak akan melarang anak muda
itu tetap datang berkunjung setelah ia mendengar beberapa keterangan
tentang dirinya, karena hal itu masih harus dibuktikan kebenarannya.
Ketika Raden Ajeng Ceplik sudah selesai dengan tugasnya, mengatur
makan pagi bagi tamu-tamunya, maka dengan hati yang berdebar-debar,
Pangeran Sena Wasesa telah memanggil puterinya ke ruang dalam. Raden
Ajeng Ceplik menjadi berdebar-debar pula. Yang terpikir olehnya,
ayahnya tentu akan bertanya tentang Bramadaru, karena kemarin
embannya tentu telah mengatakannya tentang hubungannya dengan anak
muda itu. Tetapi seperti embannya mengatakan, maka puteri itupun
akan berkata terus terang tentang yang sebenarnya terjadi. Untuk
memulai dengan satu pembicaraan yang bersungguh-sungguh Pangeran
Sena Wasesa ternyata memang bertanya tentang hubungan Raden Ajeng
Ceplik dengan Bramadaru. Apakah Bramadaru memang sudah pernah
menyatakan sesuatu kepadanya. Raden Ajeng Ceplik sudah bertekad
untuk berkata berterus terang. Karena itu, maka yang dikatakannya
sama sekali tidak berbeda dengan yang dikatakan oleh embannya.
“Ceplik” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian “Kau memang perlu
berhati-hati. Kau t idak boleh percaya begitu saja dengan kata-kata
embanmu. Meskipun embanmu berniat baik, tetapi mungkin emban itulah
yang mendapatkan keterangan yang salah. Tetapi kaupun tidak boleh
mengabaikan keterangan itu tanpa menghiraukannya, sama sekali” Raden
Ajeng Ceplik hanya menundukkan kepalanya saja. “Kau sudah cukup
dewasa” berkata Pangeran Sena Wasesa kemudian. Lalu “Kau sudah dapat
membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun karena kau
mempunyai orang tua, maka segala sesuatunya harus dibicarakan dengan
orang tua” Raden Ajeng Ceplik masih tetap menunduk. Namun ia
mendapat kesan bahwa sebenarnya ayahandanya tidak menolak seandainya
ia sendiri menerima Bramadaru itu hadir di dalam perjalanan
hidupnya. Meskipun demikian Raden Ajeng Ceplik tiba-tiba saja
berkata dalam nada yang dalam “Ayahanda, sebenarnya aku masih harus
berpikir beberapa kali. Kehadiran kakangmas Bramadaru selama ini aku
terima tidak lebih sebagai saudaraku sendiri. Ketika tiba-tiba ia
menyatakan isi hatinya, maka aku sama sekali belumsulit untuk
menjawabnya” “Bagus Ceplik“ jawab Pangeran Sana Wasesa “Kau memang
harus membuat pertimbangan sebaik-baiknya. Sementara itu akupun
tidak akan tinggal diam. Aku ingin mendengar dari beberapa pihak
tentang kehidupan Bramadaru yang sebenarnya” Kembali Raden Ajeng
Ceplik menundukkan kepalanya. Namun dalam pada itu, rasa-rasanya
hubungan yang sungguh-sungguh antara Pangeran Sena Wasesa dan
puterinya sudah terjalin. Karena itu, maka Pangeran Sena Wasesapun
kemudian ingin mulai dengan persoalan yang sebenarnya. Meskipun
hatinya menjadi berdebar-debar, namun akhirnya iapun berkata “Ceplik
Sebenarnya ada masalah yang sangat penting yang ingin aku bicarakan.
Sama pentingnya dengan usahamu untuk menilai kakangmasmu Bramadaru”
Raden Ajeng Ceplik menjadi berdebar-debar. Apalagi yang akan
dikatakan oleh ayahandanya. Semula hatinya sudah menjadi mapan
ketika ia sudah bertekad untuk berkata berterus terang seperti yang
dilakukan oleh embannya. Tetapi tiba-tiba saja masih ada persoalan
lain yang tidak kalah pentingnya dengan persoalannya yang membuatnya
gelisah itu. Dalam pada itu, maka dengan hati-hati Pangeran Sena
Wasesa mulai berbicara tentang dirinya sendiri. Tentang keluarganya
dan kemudian tentang Raden Ajeng Ceplik itu sendiri. Raden Ajeng
Ceplik menjadi gelisah. Ia tidak mengerti kenapa ayahnya telah
menceriterakan tentang beberapa hal yang sudah diketahuinya. Namun,
justru dengan demikian Raden Ajeng Ceplik itu menjadi semakin
gelisah. “Ceplik” berkata Pangeran Sena Wasesa selanjutnya seperti
yang aku katakan tadi, bahwa kau agaknya memang sudah dewasa. Kau
sudah dapat menimbang satu persoalan dari beberapa segi. Mungkin kau
harus merenunginya untuk satu dua hari. Namun kadang-kadang
seseorang harus menerima satu kenyataan yang sudah tidak dapat
dirubah lagi” Raden Ajeng Ceplik menjadi bertambah gelisah.
Sementara itu ayahanda berkata selanjutnya “Ceplik ada hal yang
dapat kita bicarakan, ada yang dapat kita rencanakan, ada yang dapat
kita tolak. Tetapi kadang-kadang kita dihadapkan pada satu hal yang
hanya dapat kita terima sebagai satu kenyataan” Denyut jantung Raden
Ajeng Ceplik serasa menjadi semakin cepat. Dalam pada itu Pangeran
Sena Wasesapun kemudian berkata “Ceplik. Aku ingin, berkata berterus
terang kepadamu. Yang kau ketahui tentang ayahandamu seperti yang
aku katakan tadi, adalah kurang lengkap. Sekarang, sesudah kau
dewasa, maka kau per lu mengetahui serba sedikit tentang ayahandamu
sebelum kau dilahirkan” Wajah Raden Ajeng Ceplik menjadi tegang
Sementara itu, maka Pangeran Sena Wasesapun kemudian telah mencer
iterakan apa yang pernah dialami dan dilakukannya sebelum Pangeran
Sena Wasesa kawin dengan ibunda Raden Ajeng Ceplik. Dengan suara
sendat, akhirnya Pangeran itu berkata “Jelasnya anakku, kau bukanlah
anak tunggal. Kau memang satu-satunya anak yang dilahirkan oleh
ibumu. Tetapi seperti yang aku katakan, aku tidak dapat menentang
perist iwa yang memang sudah terjadi. Aku berharap bahwa kaupun akan
dapat menerima persoalan ini dengan sikap dewasa” Wajah Raden Ajeng
Ceplik menjadi merah padam. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa
sebelum ayahandanya kawin dengan ibundanya, ayahandanya itu sudah
mempunyai seorang isteri, dan bahkan menurut pengakuan ayahanda itu,
dalam perkawinan itu telah lahir seorang anak laki- laki. Betapa
dada Raden Ajeng Ceplik bagaikan retak. Ia tidak menyangka bahwa
kehidupan yang manis antara ayahandanya dan ibundanya disaat masih
hidup, sebenarnya adalah kehidupan semu, karena cinta kasih
ayahandanya kepada ibundanya telah ternoda. Telah ada perempuan lain
yang pernah tinggal di hati ayahandanya itu, justru sebelum
ayahandanya kawin dengan ibundanya. Sejenak Raden Ajeng Ceplik itu
terdiam. Namun ternyata puteri itu t idak lagi dapat menahan
hatinya. Tiba-tiba saja tangisnya telah meledak. “Ceplik“
ayahandanya menjadi berdebar-debar. Didekatinya anak gadisnya yang
menangis itu. Kemudian sambil membelai rambutnya ia berkata “Itu
sudah terjadi sejak lama Ceplik. Kau dapat menanggapinya dengan
sikap dewasamu. Kau tidak dapat berbuat apa-apa tentang kenyataan
ini kecuali menerimanya sebagai satu hal yang telah terjadi. Yang
perlu kau ketahui Ceplik, ibundamu telah mengetahui hal ini.
Ibundamu dapat menerimanya dengan hati yang lapang karena segala
sesuatunya kami bicarakan dengan sebaik- baiknya pada saat itu”
Raden Ajeng Ceplik masih saja menangis. Ia belum pernah mendengar
hal itu dari ibundanya. Dengan nalar dewasanya Raden Ajeng Ceplik
menyadari, bahwa ibundanya tentu tidak akan pernah mengatakannya hal
itu. Bahkan seandainya sekarang ibundanya itu masih ada. “Baiklah
aku minta maaf kepadamu” berkata Pangeran Sena Wasesa, tetapi
kenyataan ini tidak akan dapat dihapuskan. Hal ini sudah terjadi.
Kita memang dapat menyesali langkah-langkah yang pernah kita buat
dalam kehidupan ini. Tetapi penyesalan itupun harus kita imbangi
dengan penalaran. Pada suatu saat, maka kita harus terhenti pada
satu sikap yang paling wajar menghadapi kenyataan itu sendiri” Raden
Ajeng Ceplik masih tetap berdiam diri. Tangisnya masih menekan di
dadanya. Isaknya bagaikan membuat nafasnya tersendat-sendat. Tetapi
setiap kali ia mendengar ayahandanya berkata “Semuanya itu sudah
terjadi Ceplik” Raden Ajeng Ceplik menarik nafas dalam-dalam ketika
nafasnya terasa bagaikan tersumbat. Ketika isak puteri itu mulai
mereda, maka Pangeran Sena Wasesapun telah mengatakan pula, bahwa
perempuan yang dikatakan itu, kini telah berada di istana itu pula.
“Ia tidak akan menggantikan kedudukan ibundamu. Tetapi ia akan dapat
membantumu apabila kau perlukan. Perempuan itu dengan rendah hati
merasa, bahwa ia adalah seorang perempuan padukuhan yang tidak
sepatutnya untuk berada di lingkungan para bangsawan. Namun apabila
kau dapat menerimanya, maka ia akan sangat berterima kasih” berkata
Pangeran Sena Wasesa “namun dalam pada itu, betapapun juga rendah
martabatnya, ia telah memperanakkan seorang anak laki- laki. Anak
itu adalah anakku. Dengan demikian maka ia adalah saudaramu.
Saudaramu yang lahir lebih dahulu dari padamu, sehingga dengan
demikian ia adalah saudara tuamu” Raden Ajeng Ceplik masih terisak.
Kenyataan itu terlalu berat membebani perasaannya. Nalarnya memang
dapat mengatakan sebagaimana dikatakan oleh ayahandanya. Kenyataan
itu sudah terjadi sehingga ia tidak akan mampu menolaknya. Tetapi ia
tidak dapat memaksa perasaannya untuk segera menerima hal itu dengan
ikhlas. Karena itu, maka terasa betapa didadanya telah terjadi
gejolak yang menyesakkan. Pangeran Sena Wasesapun menjadi gelisah
melihat sikap puterinya. Karena itu, untuk memberikan gambaran
tentang perempuan yang dikatakannya, tentang sifat dan wataknya,
maka Pangeran Sena Wasesa telah berceritera banyak. Bahkan kemudian
Pangeran Sena Wasesapun telah mencer iterakan pula tentang seluruh
persoalan yang dihadapinya termasuk pusaka dan harta benda yang
telah diserahkannya kepada Kangjeng Sultan. “Ceplik, tanpa perempuan
itu, aku sekarang masih dibebani oleh ketamakan itu. Aku masih
dicengkam oleh kenistaan karena aku telah menyembunyikan
barang-barang yang bukan milikku. Sekarang, semuanya itu telah
terlepas dari tanggung jawabku. Semuanya sudah kembali kepada
Kangjeng Sultan telah membebaskan aku dar i segala tuntutan” suara
Pangeran Sena Wasesa menjadi sendat. Tetapi yang terjadi adalah
sebalikmya. Justru karena pengakuan itu, perasaan Raden Ajeng Ceplik
menjadi semakin terluka. Selama itu ia menyangka bahwa ayahandanya
adalah orang yang terbaik yang dikenalnya. Orang yang bersih dan
tidak bercacat. Namun tiba-tiba puteri itu langsung dihadapkan
kepada dua cacat sekaligus. Bahwa ayahandanya telah menodai cintanya
kepada ibundanya, sedangkan yang lain, ternyata pernah
menyembunyikan harta benda yang bukan miliknya. Karena itu, maka
tiba-tiba tangis puteri itupun justru semakin menyesakkan dadanya.
Pangeran Sena Wasesa menjadi bingung menghadapi puterinya. Karena
itu maka untuk beberapa saat iapun hanya duduk merenungi puterinya
yang sedang terisak. Namun akhirnya Pangeran Sena Wasesa itu telah
memanggil emban pemomong Raden Ajeng Ceplik. Ketika emban itu
memasuki ruangan itu, tiba-tiba saja Raden Ajeng Ceplik telah
memeluknya, sementara tangisnya telah melonjak. “Puteri” desis
embannya itu “Sudahlah. Jangan menangis seperti itu” Pangeran Sena
Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya “Emban,
mendekatlah. Kau adalah pemomong Ambarsari sejak ia masih
kanak-kanak. Karena itu, maka kau sudah aku anggap keluarga sendir i
Cobalah, kau bantu aku menjernihkan hati puteriku” Emban itupun
mengangguk hormat sambil menyembah. Dengan cemas ia bertanya “Ampun
Pangeran, apakah hamba diperkenankan untuk mengetahui apakah
sebabnya, maka puteri Ambarsari telah mengalami kepedihan hati
seperti ini. Apakah persoalan seperti yang hamba sampaikan kepada
Pangeran kemarin atau persoalan yang lain?“ Pangeran Sena Wasesapun
kemudian dengan terus terang mencer iterakan tentang hadirnya
seorang perempuan dan anak laki-laki yang sebenarnya adalah isteri
dan anaknya. “Emban” berkata Pangeran Sena Wasesa “Aku kira kau
tentu sudah mengetahuinya atau setidak-tidaknya mendengarnya. Kau
sudah mengabdi di istana ini berpuluh tahun yang lalu. Meskipun
barangkali kau belum psrnato bertemu dengan perempuan itu, tetapi
pada saat aku kawin dengan ibunda Ambarsari, kau tentu mendengar apa
yang sebenarnya pernah terjadi dengan diriku waktu itu” Emban itu
menar ik nafas dalam-dalam. Persoalannya ternyata bukan persoalan
yang menyangkut Raden Bramadaru. Tetapi menyangkut persoalan yang
sudah lama sekali terjadi pada Pangeran Sena Wasesa itu sendiri.
Demikianlah, maka emban itupun kemudian telah membimbing puteri
Ambarsari itu meninggalkan ruang dalam. Dengan lembut emban itu
berusaha untuk menenangkan hati momongannya. Namun hati puteri itu
telah terluka. Puteri yang sehari- harinya dipanggil Raden Ajeng
Ceplik itu merasa betapa sakitnya setelah ia membentur pada satu
kenyataan tentang ayahandanya. Ternyata ayahandanya bukan seorang
yang bersih seperti kapas sebagaimana di sangkanya. Ternyata hati
ayahandanya sudah ternoda. Cintanya ternoda dan ketulusannya
mengabdi kepada Demak juga telah ternoda. “Noda itu tidak akan dapat
dibersihkan dengan cara apapun juga” berkata Puteri itu di
dalamhatinya. Dalam pada itu, embannya telah menungguinya sambil
berusaha untuk menghiburnya. Namun Raden Ajeng Ceplik itu justru
berkata “Kau ternyata tidak pernah bersikap jujur kepadaku emban.
Kenapa kau tidak pernah mengatakan serba sedikit tentang ayahanda
yang sebenarnya. Kau tidak pernah menyebut nama seorang perempuan
yang pernah menjadi isteri ayahanda itu sebehim ayahanda kawin
dengan ibunda” “Puteri” jawab embannya “Bukan maksud hamba untuk
tidak jujur terhadap puteri. Tetapi menurut hamba hal itu sama
sekali t idak per lu puteri ketahui untuk seterusnya, persoalan itu
tidak akan terungkapkan. Namun ternyata dugaan itu salah. Pada suatu
saat hal itu telah puteri ketahui” “Ayahanda sendiri yang telah
member itahukannya” jawab Raden Ajeng Ceplik disela-sela tangisnya.
“Puteri, jika ayahanda mengatakannya, maka aku kira maksud ayahanda
adalah justru untuk bersikap sejujur- jujurnya terhadap puteri.
Ayahanda tidak akan menyembunyikan sesuatu lagi. Mungkin hal itu
juga disebabkan karena ibunda puteri telah tidak ada lagi” jawab
emban litu. Namun tangis Raden Ajeng Ceplik itu tidak mereda. Sakit
di hatinya justru terasa semakin pedih. Dengan telaten emban itu
berusaha untuk selalu menghiburnya dengan berbagai macam cara.
Bagaimanapun juga emban itu merasa wajib untuk berusaha
menenangkannya. Dalam pada itu, maka Pangeran Sena Wasesa telah
menemui Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning. Dengan wajah yang
muram ia menceriterakan keadaan puterinya. Bahkan ternyata kemudian
sehari penuh puteri itu tidak keluar dari dalam biliknya. Menangis.
“Apakah Kiai dapat membantu?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. Ki Ajar
Cinde Kuning dan Kiai Kanthi tidak dapat berbuat lain kecuali
mencobanya. Ketika senja turun. maka keduanya telah menghadap puteri
Ambarsari di dalam biliknya diantar oleh Pangeran Sena Wasesa sendir
i. “Ceplik” berkata Pangeran Sena Wasesa “cobalah kau tahan
perasaanmu sedikit. Lihat, dua orang tamu kita datang untuk
menengokmu” Bagaimanapun juga kehadiran orang lain itu berpengaruh
juga kepada tangis Raden Ajeng Ceplik. Dengan susah payah Raden
Ajeng Ceplik berusaha menahan tangisnya. Namun dengan demikian,
nafasnya justru terasa menjadi seset Dengan hati-hati kedua orang
tua itu mencoba member ikan nasehat-nasehatnya, Mereka kadang-kadang
mengambil kias dan perlambang. Kadang-kadang mereka member ikan
secara wantah contoh-contoh tentang kehidupan dan kenyataan. Kedua
orang tua itu member ikan arah tentang keseimbangan antara penalaran
dan perasaan. Namun dalam pada itu, keduanyapun mengerti, betapa
pedihnya perasaan Raden Ajeng Ceplik itu mener ima satu kenyataan
yang sangat pahit. Umurnya yang sedang menginjak dewasa bagi seorang
gadis merupakan umur yang paling sulit. Gejolak jiwani yang terjadi
pada umur-umur seperti Raden Ajeng Ceplik merupakan masa-masa yang
paling mudah tersentuh. Meskipun demikian, nampaknya nasehat kedua
orang itu meredakan gejolak perasaan Raden Ajeng Ceplik.
Tangisnyapun mereda dan isaknya tidak lagi menyesakkan
pernafasannya. “Beristirahatlah puteri” berkata Ki Ajar Cinde Kuning
“puteri perlu ketenangan berpikir. Mudah-mudahan dalam ketenangan
itu puteri mampu menerawang gejala dari kehidupan ini” Raden Ajeng
Ceplik itu mengangguk. Sementara itu Kiai Kanthipiun, berkata
“Puteri. Kadang-kadang kita memang sulit untuk menerima satu
kenyataan. Bahkan kadang-kadang kita tidak mengerti, kenapa hal itu
harus terjadi, justru atas diri kita. Dalam keadaan yang paling
sulit dan gelap maka puteri dapat lebih mendekatkan diri kepada Yang
Maha Tahu. Dengan demikian maka semoga puteri mendapat terang
daripadanya” Raden Ajeng Ceplik tidak menjawab. Tetapi kepalanya
menjadi semakin tertunduk Sekali-sekali tangannya masih mengusap
matanya yang basah. Sementara itu embannya yang setia duduk
bersimpuh di sudut ruangan. Sebagaimana sehari Raden Ajeng Ceplik
tidak keluar dari ruangan itu, maka embannyapun tidak beranjak pula
dari bilik itu. Ketika keadaan Raden Ajeng Ceplik nampaknya sudah
menjadi agak tenang, maka Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthipun
telah mohon dir i kembali ke gandok. “Mungkin aku masih akan minta
tolong lagi” berkata Pangeran Sena Wasesa ketika mereka berada
diserambi. “Yang dapat kami lakukan adalah sekedar member ikan
petunjuk dan pitutur” jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Demikianlah, malam
itu Raden Ajeng Ceplik t idak menangis. Tetapi puteri itu sama
sekali tidak mau makan. Setelah embannya mengantarkannya ke pakiwan,
maka puteri itupun segera membaringkan dir inya di pembaringan.
Meskipun nampaknya puteri itu mejamkan matanya, tetapi sebenarnyalah
ia tidak tidur. Angan-angannya sedang menjelajahi segi-segi
kehidupan yang sedang dijalaninya. Ia memang mencoba mempergunakan
nalarnya sebagaimana di katakan oleh kedua orang tua itu. Namun
ternyata bahwa yang dilakukan oleh Raden Ajeng Ceplik bukannya yang
dimaksud oleh kedua orang tua itu. Raden Ajeng Ceplik memang berniat
melihat hadirnya seorang perempuan yang ternyata adalah isteri
ayahandanya dan seorang anak laki- lakinya yang juga saudara tuanya
sebagai Satu kenyataan. Puteri itupun kemudian sadar, bahwa ia
memang tidak dapat menolaknya. Perempuan dengan saudara laki-
lakinya yang sebelumnya belum dikenalnya itu biarlah tinggal di
istana itu bersama dengan ayahnya. Namun langkah yang dipilih oleh
Raden Ajeng Ceplik itulah yang lain dengan yang dikehendaki oleh
ayahnya maupun orang-orang tua yang telah menasehatinya. Ternyata
Raden. Ajeng Ceplik itu telah mempertimbangkan, lebih baik dir inya
sendiri sajalah yang meninggalkan istana itu. Tetapi yang masih
menjadi pertanyaan adalah “ Kemana?“ Raden Ajeng Ceplik tidak
mempunyai sanak kadang yang dikenalnya tinggal di Kota Raja. Mereka
adalah para bangsawan termasuk Raden Bramadaru. Hampir semalam Raden
Ajeng Ceplik menimbang-nimbang apa yang sebaiknya dilakukan. Namun
ketika menjelang dini hari. tubuh Raden Ajeng Ceplik menjadi sangat
letih. Tanpa disadarinya, maka Raden Ajeng Ceplik itupun kemudian
telah tertidur. Di lantai, pada sehelai tikar, embannyapun telah
tertidur pula. Agaknya emban itupun merasa terlalu letih badan dan
jiwanya. Pagi-pagi Raden Ajeng Ceplik sudah terbangun. Emban itu
mengantarkannya ke pakiwan. Kemudian menungguinya lagi di dalam
bilik. Raden Ajeng Ceplik pagi itu tidak menjamu tamu-tamunya
seperti biasanya. Ta masih tetap berada di dalam biliknya. Bahkan
makan paginyapun telah dibawa ke dalam bilik itu pula. Namun Raden
Ajeng Ceplik hanya makan terlalu sedikit. Pangeran Sena Wasesa dan
embannya menjadi cemas melihat keadaan gadis itu. Tetapi Pangeran
Sena Wasesa tidak mengatakannya kepada Endang Srini. Ia hanya
mengatakan bahwa Raden Ajeng Ceplik nampak terkejut. Karena itu,
maka ia memerlukan ketenangan di dalambiliknya. “Pangeran” berkata
Endang Srini “Jika puteri tidak bersedia menerima aku, aku sama
sekali tidak akan merasa sakit hati. Aku dapat berada dimana saja.
Aku tidak akan memohon apa- apa yang tidak masuk akal. Semua yang
terjadi telah aku terima dengan ikhlas” “Tidak Srini” jawab Pangeran
Sena Wasesa “pada saatnya anakku itu akan menjadi tenang. Kemarin
Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning telah menasehatinya. Agaknya
anakku dapat mengerti sehingga mudah-mudahan untuk selanjutnya tidak
ada persoalan lagi” Endang Srini tidak menjawab. Tetapi kegelisahan
hati Raden Ajeng Ceplik rasa.-rasanya dapat dirasakannya pula.
Apalagi karena Raden Ajeng Ceplik selalu berada di dalam biliknya
saja. Dalam pada itu, ketika matahari naik kelangit, menjelang
tengah hari, maka Raden Bramadaru telah mengunjungi istana Pangeran
Sena Wasesa. Ia terkejut ketika seorang abdi mengatakan bahwa Raden
Ajeng Ceplik nampaknya sedang sakit, karena ia selalu berada di
dalambiliknya. “Katakan, bahwa aku ingin bertemu” berkata Raden
Bramadaru. Abdi itupun kemudian memberanikan dir i menemui emban
pemomong Raden Ajeng Srini dan mengatakan bahwa Raden Bramadaru
ingin bertemu dengan Raden Ajeng Sr ini. Emban itu termangu-mangu
sejenak. Ia sendiri tidak begitu senang terhadap Raden Bramadaru
karena ia sudah mendengar serba sedikit tentang anak muda itu.
Namun, akhirnya emban itu mempertimbangkan keadaan Raden Ajeng
Ceplik yang sedang dibayangi oleh kegelisahan. Mungkin kehadiran
Raden Bramadaru dapat membuat puteri itu agak tenang dan dapat
menilai keadaan dengan lebih wajar. “Tentang hubungannya dengan
Raden Bramadaru, pada saat lain aku masih mempunyai kesempatan untuk
member ikan beberapa pendapat” berkata emban itu di dalam hatinya.
Karena itu, maka emban itupun tidak memberitahukan kepada Raden
Ajeng Ceplik bahwa Raden Bramadaru ingin menemuinya seperti yang
sudah sering dilakukannya. Namun sikap Raden Ajeng Ceplik
mengejutkan. Dengan serta merta puteri itupun membenahi pakaiannya.
Kemudian mengusap matanya yang basah dan dengan tergesa-gesa keluar
ke serambi. “Diajeng“ Raden Bramadaru terkejut “Apakah kau sakit?“
Raden Ajeng Ceplik mencoba untuk tersenyum. Namun senyumnya terasa
sangat hambar. “Aku tidak apa-apa kakangmas” jawab Raden Ajeng
Ceplik. Raden Bramadaru menjadi berdebar-debar. Seperti Raden Ajeng
Ceplik sendir i ketika ia dipanggil ayahandanya, maka persoalan yang
pertama-tama terbersit dihati Bramadaru adalah persoalan hubungannya
dengan puteri itu. Karena itu maka dengan ragu-ragu Raden Bramadaru
bertanya “Apakah yang sebenarnya terjadi diajeng. Seorang abdi
istana ini mengatakan bahwa kau sedang sakit. Tetapi aku kira kau
tidak sedang sakit. Tetapi ada sesuatu yang membuatmu gelisah dan
cemas. Apakah parnanda Pangeran Sena Wasesa mempersoalkan hubungan
kita?“ “Tidak kakangmas, tidak” jawab Raden Ajeng Ceplik dengan
serta merta “ayahanda sama sekali tidak berkeberatan terhadap
kunjungan kakangmas Bramadaru, Ayahandapun tidak mempersoalkannya”
“Tetapi apakah sebenarnya yang telah terjadi atas dirimu?“ bertanya
Raden Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik tidak segera menjawab. Tetapi
iapun kemudian bangkit sambil berkata “Aku ambilkan minuman hangat
untuk kakangmas” Raden Bramadaru tidak mencegahnya. Namun ketika
Raden Ajeng Ceplik meninggalkannya, ia mulai merenungi keadaan gadis
itu. Tentu ada satu masalah yang pelik telah mengganggu perasaan
gadis itu. Sejenak kemudian Raden Ajeng Ceplik telah kembali sambil
membawa semangkuk minuman panas. Ketika Raden Ajeng Ceplik duduk
kembali diserambi itu, maka Bramadarupun telah bertanya sekali lagi,
kenapa Raden Ajeng Ceplik nampak seperti orang sakit. “Agaknya kau
telah menangis semalam-malaman” bertanya Bramadaru “wajahmu nampak
letih dan kuyu” Raden Ajeng Ceplik menar ik nafas dalam-dalam.
Jawabnya “Aku memang menangis. Tetapi kemarin. Semalam aku tidak
sempat tidur oleh kegelisahan” “Kenapa diajeng? Apakah pamanda
Pangeran marah? Atau oleh sebab lain?“ bertanya Bramadaru. Raden
Ajeng Ceplik menundukkan kepalanya. Teringat juga keterangan yang
diberikan oleh embannya tentang Bramadaru. Namun kesan itu sama
sekali tidak dilihatnya. Bramadaru adalah seorang anak muda yang
ramah, gembira dan sopan. Apalagi ia adalah saudara sepupunya,
sehingga menurut pendapat Raden Ajeng Ceplik, Bramadaru bukan
seorang laki- laki yang perlu dijauhi. Apalagi karena kejengkelan
Raden Ajeng Ceplik kepada embannya, yang sama sekali tidak pernah
mengatakan sesuatu tentang ayahandanya yang telah pernah kawin
sebelum mengawini ibundanya. Dan perempuan itu kuai ternyata telah
berada di istana itu. Dalam pada itu, Pangeran Sena Wasesa yang
melihat puterinya telah keluar dari biliknya dan berada diserambi
menemui Bramadaru, hatinya agak menjadi tenang. Meskipun anak
gadisnya harus berhati-hati menghadapi Bramadaru, namun jika
Bramadaru dapat menjernihkan hati puterinya, maka kehadirannya di
istana itu akan diterimanya dengan pernyataan terima kasih.
Sementara itu, Raden Ajeng Ceplik sendir i masih saja dicengkam
keragu-raguan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi atas
dirinya. Ia sadar, bahwa persoalan itu adalah persoalan keluarganya.
Persoalan yang tidak perlu di katakan kepada orang lain diluar
lingkungan keluarganya sendiri. Namun Bramadaru yang sudah terlalu
sering datang kepadanya, juga pada saat-saat ayahandanya hilang dan
dirinya merasa sendiri, rasa-rasanya anak muda itu sudah menjadi
keluarganya pula. Bahkan Bramadaru akan dapat menjadi tempat ia
mengadukan nasibnya serta minta pertimbangannya untuk memecahkan
persoalan yang telah menimbulkan goncangan perasaannya itu. Untuk
beberapa saat Raden Ajeng Ceplik masih tetap berdiam diri Namun di
dalam dadanya telah terjadi gejolak- gejolak yang membuat nafasnya
menjadi sesak. Bahkan semakin lama persoalan itu mulai menusuk
kembali seperti tajamnya sembilu di ulu hatinya. “Apakah persoalanmu
harus kau rahasiakan diajeng?” tiba- tiba saja Bramadaru bertanya.
Pertanyaan itu mengejutkan Raden Ajeng Ceplik. Bahkan seolah-olah
telah memancing kepahitan yang disembunyikannya untuk beberapa saat.
Sehingga karena itu, maka diluar sadarnya, maka matanya telah
menjadi basah. Namun akhirnya, Raden Ajeng Ceplik yang sudah sangat
biasa bergaul dengan Bramadaru tidak lagi dapat mempertahankan
desakan di dalam dadanya untuk mendapatkan tempat yang dapat
menampung beban yangterasa terlampau berat untuk dipikulnya sendir
i. Dengan demikian, maka sambil menitikkan air mata, Raden Ajeng
Ceplik itupun mulai berbicara tentang keadaan dirinya.
Perlahan-lahan agar embannya yang selalu mengawasinya itu tidak
mendengarkannya. Bramadaru mendengarkan keluhan Raden Ajeng Ceplik
itu dengan sungguh-sungguh. Dar i kata-kata yang pertama mengalir
beruntun disela-sela isaknya yang mulai menyesakkan dadanya.
Bramadaru menjadi-berdebar mendengarkan keluhan Raden Ajeng Ceplik.
Semula ia menjadi kasihan juga kepada gadis itu. Gadis yang
dikenalnya dengan baik, dan bahkan adik sepupunya. Tertebih-lebih
lagi, ia pernah menyatakan bahwa ia ingin mempertautkan hidupnya
dengan gadis itu, meskipun bagi Bramadaru hal itu sekedar merupakan
salah satu tugas yang dibebankan oleh gurunya. Tetapi lambat laun,
perasaan Bramadaru itu telah berubah. Ia tidak saja merasa kasihan
kepada Raden Ajeng Ceplik tetapi ia sendiri menjadi gelisah.
Ternyata Raden Ajeng Ceplik bukan anak satu-satunya Pangeran Sena
Wasesa. Bahkan Raden Ajeng Ceplik mempunyai seorang saudara laki-
laki yang justru lahir lebih dahulu dari Raden Ajeng Ceplik itu
sendiri. Dengan cepat Bramadaru menghubungkan persoalan itu dengan
persoalannya sendiri. Jika ia memilih Raden Ajeng Ceplik dari antara
segala gadis yang dikenalnya, persoalannya adalah terletak kepada
kemungkinan untuk mendapatkan seluruh warisan Pangeran Sena Wasesa.
Termasuk harta benda dan pusaka yang sedang diperebutkan oleh banyak
pihak. Bahkan telah merampas korban jiwa yang tidak terhitung
jumlahnya, karena gurunya telah menceriterakan, bagaimana
kelompok-kelompok yang ingin memiliki harta benda yang tidak
ternilai harganya itu saling berbenturan dan saling menghancurkan.
Karena itu, maka di dalam, dada Bramadaru sendir i telah terjadi
pergolakan, sehingga perhatiannya terhadap persoalan Raden Ajeng
Ceplikpun telah berkurang. Meskipun demikian, ternyata bahwa
Bramadaru adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan
dir i. Bagaimanapun juga kegelisahan itu terjadi pada dir inya
sendiri, namun ia berhasil memaksa dirinya untuk tetap seolah-olah
memperhatikan semua yang dikatakan oleh Raden Ajeng Ceplik meskipun
sudak tidak menarik lagi baginya. Bramadaru menar ik nafas
dalam-dalam ketika Raden Ajeng Ceplik mengakhir i ceriteranya.
Bahkan sambil terisak Raden Ajeng itu berkata “Kenyataan itu terlalu
pahit bagiku kakangmas”, Bramadaru mengangguk-angguk. Sesaat
kemudian iapun berdesis “Ya diajeng. Aku dapat merasakan, betapa
pahitnya kenyataan yang harus diajeng hadapi. Tetapi yang aku kurang
mengerti, kenapa hal itu masih dilakukan oleh pamanda Sena Wasesa.
Sebenarnya pamanda dapat melupakannya karena persoalan itu
sebenarnya telah dapat dianggap selesai beberapa belas tahun yang
lalu. Raden Ajeng Ceplik mengangguk. Katanya “Agaknya memang
demikian. Seandainya ayahanda tidak bertemu lagi dengan perempuan
itu, maka agaknya ayahanda tidak akan terkenang lagi peristiwa yang
telah terjadi itu” “Dimana pamanda bertemu lagi dengan perempuan
itu?“ bertanya Bramadaru. “Di perjalanan, pada saat ayahanda diambil
orang” jawab Raden Ajeng Ceplik. Bramadaru mengangguk-angguk. Namun
hatinya bergejolak. Meskipun anak laki- laki pamannya itu lahir dari
seorang ibu yang derajadnya tidak sama dengan derajad ibu Raden
Ajeng Ceplik, namun anak itu tentu berhak pula untuk menerima
warisan. “Anak itu akan dapat menjadi penghalang” berkata Bramadaru
di dalam batinya. Sesaat Bramadaru itu termenung. Menurut dugaan
Raden Ajeng Ceplik, Bramadaru telah ikut merasakan kepahitan
kenyataan yang harus diterimanya itu. Namun, sebenarnyalah Bramadaru
sedang memikirkan kehadiran orang lain yang ternyata juga berhak
atas warisan Pangeran Sena Wasesa. “Tetapi anak itu akan dapat
dibunuh saja” berkata Bramadaru di dalam hatinya. Dalam pada itu,
Raden Bramadaru terkejut ketika Raden Ajeng Ceplik bertanya
“Bagaimana menurut pendapatmu kakangmas?“ Bramadaru menar ik nafas
dalam-dalam. Tetapi karena persoalan itu harus dihadapinya dengan
sungguh-sungguh maka Katanya “Diajeng, persoalanmu memang terlalu
rumit” “Bagaimana pendapat kakangmas j ika aku meninggalkan istana
ini saja?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik. Sekali lagi Bramadaru
terkejut. Jiika Raden Ajeng Ceplik itu pergi, maka ada beberapa
kemungkinan. Tetapi salah satu kemungkinan adalah, bahwa Pangeran
Sena Wasesa justru tidak mencarinya, sehingga dengan demikian, .maka
warisan itu seluruhnya akan jatuh ke tangan anak laki-laki Pangeran
Sena Wasesa. Karena itu, maka sekali lagi terdengar Bramadaru
berdesis “Kesalahan terbesar terletak pada pamanda Pangeran Sena
Wasesa. Kenapa pamanda tidak menghindari saja pertemuan dengan
perempuan itu. Seandainya pamanda harus bertemu, maka pamanda dapat
saja menyatakan, bahwa tidak ada hubungan apapun dengan perempuan
itu. Sehingga dengan demikian pamanda tidak usah membawanya kemari
dan yang ternyata menumbuhkan persoalan baru bagi keluarga ini”
Dalam pada itu, Raden Ajeng Ceplikpun menyahut “Karena perempuan itu
sudah terlanjur dibawa kemari, akulah yang akan pergi” “Jangan.
Jangan pergi diajeng. Itu bukan penyelesaian yang paling baik”
dengan serta meria Bramadaru mencegahnya “Kau harus tetap disini.
Jika harus ada yang pergi, maka biarlah perempuan dan anak laki-
lakinya itu saja yang pergi” Tetapi Raden Ajeng Ceplik menggeleng.
Katanya “Ayahanda tidak akan membiarkannya pergi. Jika mereka yang
pergi ayahanda akan mencarinya ke ujung bumi sekalipun. Tetapi jika
aku yang harus meninggalkan istana ini, maka tidak akan ada
keberatan apapun bagi slapapun” “Kenapa diajeng menganggap bahwa
orang itu lebih penting dari diajeng sendiri?“ Raden Ajeng Ceplik
merenung sejenak. Namun akhirnya iapun berceritera tentang perempuan
itu dan anak laki-lakinya dalam hubungannya dengan harta benda dan
pusaka yang pernah disimpan oleh ayahandanya. “Kedua orang ibu dan
anak itu telah membantu menyelamatkan ayahanda yang menurut istilah
ayadanda, lahir dan batin. Ujud lahiriahnya anak laki- laki
perempuan itu ikut membebaskannya dari tangan orang-orang yang telah
menculiknya. Sedangkan secara batiniah perempuan itu telah membuat
ayahanda menyadari segala kekurangannya. Perempuan itu telah dengan
lembut memberikan satu kesadaran kepada ayahanda, bahwa ia harus
mengembalikan pusaka dan harta benda itu kepada Kangjeng Sultan”
Jantung Bramadaru berdentang semakin keras. Bahkan rasa-rasanya
seisi dadanya telah terguncang mendengar keterangan Raden Ajeng
Ceplik tentang pusaka dan harta benda itu. Hampir diluar sadarnya
Bramadaru bertanya “Jadi pamanda telah menyerahkan kembali pusaka
dan harta benda itu?“ “Ya kakangmas. Pusaka dan harta benda itu
telah diterima kembali oleh Kangjeng Sultan. Dengan demikian maka
pusaka dan harta benda itu tidak lagi menjadi beban ayahanda” jawab
Raden Ajeng Ceplik. Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh
Bramadaru. Ternyata usahanya untuk mendekati Raden Ajeng Ceplik dan
kemudian mengawininya sudah tidak ada gunanya lagi. Raden Ajeng
Ceplik bukan anak tunggal. Karena itu, maka warisan Pangeran Sena
Wasésa, tidak akan jatuh ke tangannya seluruhnya. Apalagi ketika
kemudian ia mendengar bahwa Pangeran Sena Wasesa telah menyerahkan
kembali pusaka dan harta benda itu. Untuk beberapa saat Bramadaru
tidak dapat menjawab. Ia duduk sambil menudukkan kepalanya. Mimpinya
seakan-akan bagaikan embun yang terkena panas matahari. Menguap
tanpa bekas. “Aku harus dengan cepat menyampaikan hal ini kepada
ayahanda Pangeran Gajahnata dan guru Ki Ajar Wrahasniti” berkata
Bramadaru di dalam hatinya “Aku harus mendapat perintah-perintah
terakhir. Apakah aku harus meninggalkan perempuan cengeng ini, atau
ada perintah yang lain yang harus aku lakukan?“ Sementara itu Raden
Ajeng Ceplrkpun berdiam dir i untuk beberapa saat. Ia merasa bahwa
dengan sungguh-sungguh Bramadaru telah ikut memikirkan keadaannya.
Karena itu, maka rasa-rasanya pada saat terakhir, hanya Bramadaru
sajalah orang yang paling mengerti tentang kesulitannya. Karena itu,
maka Raden Ajeng Ceplik itu telah melupakan semua pesan embannya
tentang Bramadaru. Bahkan rasa- rasanya ia telah menumpukan semua
harapannya kepada anak muda itu. Anak muda yang pernah menyatakan
untuk mengikat hubungan batin yang lebih mendalam dengan dirinya.
Namun sementara itu, Bramadaru menjadi kehilangan penalaran. Apa
yang sebaiknya dikatakan dan dilakukan. Ternyata semua yang
diharapkan pada gadis itu telah tidak ada lagi. “Aku harus mendapat
petunjuk dari ayahanda dan guru” berkata Bramadaru di dalam hatinya.
Karena itu, maka iapun kemudian memutuskan untuk minta diri. Namun
sudah barang tentu ia tidak dapat dengan serta merta meninggalkan
gadis itu begitu saja. Bramadaru menjadi berdebar-debar ketika
tibat-tiba saja Raden Ajeng itu berkata “Kakangmas Bramadaru.
Bagiku, jalan satu-satunya adalah meninggalkan istana ini. Aku tidak
akan dapat menolak atau memohon kepada ayahanda tentang apapun juga
atas perempuan dan anak laki-lakinya itu. Ayahanda sudah mengatakan
kepadaku, bahwa aku hanya dapat menerima kenyataan ini. Sementara
ketika dua orang tamu ayahanda memberikan beberapa petunjuk, akupun
menjadi semakin yakin, bahwa kenyataan ini tidak dapat dirubah lagi
dengan cara apapun juga. Karena itu, yang paling mungkin aku lakukan
adalah berbuat sesuatu atas diriku sendiri. Maka sebaiknya aku
meninggalkan istana ini saja. Biariah aku ikut kemana kakangmas
pergi” Jantung Bramadaru berdentang semakin cepat. Namun anak muda
itu harus memecahkan persoalan yang dihadapinya saat itu. Bagaimana
caranya untuk minta diri agar ia dapat segera berbicara dengan
ayahandanya dan gurunya. Namun akhirnya Bramadaru itupun menemukan
akal juga. Dengan cerdik ia berkata “Diajeng. Baiklah aku ikut
memikirkannya, apa yang sebaiknya diajeng lakukan. Justru untuk itu,
agar semuanya dapat aku lakukan dengan yakin, maka biarlah aku
bertemu dengan ayahanda Gajahnata. Mungkin aku akan dapat memohon
segalanya dipercepat. Dengan demikian diajeng tidak semata-mata
meninggalkan istana ini. Jika ayahanda Gajahnata setuju segalanya
dipercepat, diantara kita tidak akan t imbul persoalan. Maksudku
diantara keluargamu dan keluargaku. Berbeda dengan jika aku membawa
diajeng begitu saja. Meskipun demikian segalanya akan aku pikirkan
kemudian setelah aku berbicara dengan ayahanda. Jika ayahanda
Gajahnata berkeberatan, mungkin aku sependapat dengan diajeng untuk
meninggalkan istana ini dengan diam-diam” Raden Ajeng Ceplik
mengangguk-angguk. Katanya “Segalanya terserah kepada kakangmas
Bramadaru” “Karena itu, sebaiknya aku mohon diri. Biarlah segalanya
dapat segera kita selesaikan dengan cepat” berkata Bramadaru
kemudian. Dengan demikian maka Bramadaru itupun segera bangkit.
Raden Ajeng Ceplik mengantarkannya sampai ke tangga. Namun dalam
pada itu, diluar sadarnya, Bramadaru telah berpaling. Dilihatnya
Raden Ajeng Ceplik, itu sekilas. Sudah berpuluh kali Bramadaru
memandang wajah dan tubuh Raden Ajeng Ceplik. Namun rasa-rasanya
saat itu ia telah melihatnya dengan jelas, segala lekuk tubuh gadis
itu. Kulitnya yang kuning dan tubuhnya yang semampai. Wajahnya
meskipun muram, namun gadis itu memang sangat cantik. “Gila“ geram
Bramadaru ”gadis itu memang sangat menarik. Tetapi tidak ada gunanya
lagi aku mempersulit diri untuk mengawininya, meskipun rasa-rasanya
ingin juga membawanya” Sejenak kemudian, Bramadaru yang kecewa itu
telah meninggalkan istana Pangeran Sena Wasesa. Namun dengan
demikian justru telah tumbuh perasaan dendam kepada keluarga itu.
Keluarga yang telah melenyapkan segala macam impian dan harapannya.
Sementara itu sifat-sifatnya yang selama pergaulannya dengan Raden
Ajeng Ceplik telah ditekannya untuk tidak muncul sehingga yang
nampak oleh gadis itu adalah sifat-sifat yang baik semata-mata,
tiba-tiba telah melonjak sampai ke kepala. Dengan tergesa-gesa
Bramadaru kembali ke istana ayahandanya. Dengan tergesa-gesa pula ia
melaporkan apa yang telah terjadi dan apa yang telah didengarnya di
istana Pangeran Sena Wasesa. Pangeran Gajahnata menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Ki Ajar Wrahasniti “Aku juga
sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Bramadaru tentang pusaka.
Meskipun hanya baru satu dua orang di istana Demak, namun
seakan-akan Kangjeng Sultan justru telah mengakui bahwa pusaka dan
harta benda itu telah kembali ke perbendaharaan” “Aneh” berkata Ki
Ajar Wrahasniti “Apakah Pangeran Sena Wasesa sudah gila. Seandainya
pusaka dan harta-benda itu benar-benar telah kembali, apakah
Pangeran Gajahnata, tidak melihat atau mendengar, harta benda yang
tidak ternilai itu dibawa masuk ke dalamruang perbendaharaan?“ “Aku
tidak tahu pasti, apakah harta, benda dan pusaka itu benar-benar
telah dibawa masuk atau sekedar untuk mengamankannya saja” jawab
Pangeran Gajahnata “Tetapi yang hampir pasti adalah bahwa Kangjeng
Sultan sudah mengetahuinya langsung dar i adimas Pangeran Sena
Wasesa. “Aku masih belum yakin” berkata Ki Ajar Wrahasniti “aku
harus menemukan satu cara yang baik untuk memastikannya” “Tetapi
pamanda Pangeran Sena Wasesa telah mengatakan hal itu kepada diajeng
Ceplik. Bahkan hal itu dilakukan sehubungan dengan kehadiran
perempuan yang dikatakan sebagai isterinya dan seorang anak
laki-lakinya itu” Ki Ajar Wrahasniti menarik nafas dalam-dalam. Lalu
katanya “Jika demikian gadis itu. tidak ada artinya lagi bagimu
ngger. Kita harus mencari cara lain untuk mendapatkan harta benda
dan pusaka itu jika masih belum masuk ke dalam bilik perbendaharaan”
“Apakah kita akan dapat menemukannya?“ bertanya Pangeran Gajahnata.
Ki Ajar Wrahasniti mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya
“Kita akan berusaha. Kita akan selalu berusaha” Pangeran Gajahnata
mengangguk-angguk. Tetapi baginya jalan sudah menjadi terlalu gelap.
Meskipun demikian ia tidak ingin mengecewakan Ki Ajar Wrahasniti,
sehingga karena Itu, maka, iapun tidak membantahnya. Namun sementara
itu Bramadarupun bertanya “Lalu, bagaimana dengan diajeng Ceplik?
Apakah kita tidak akan memer lukannya lagi untuk kepentingan ini?“
“Tidak” jawab gurunya “Anak itu tidak berarti apa-apa lagi. Apalagi
jika pusaka dan harta benda itu benar-benar sudah kembali ke
perbendaharaan istana” “Jika belum, apakah diajeng Ceplik masih akan
ada artinya?“ bertanya Bramadaru. Ki Ajar Wrahasniti mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia berdesis “Mungkin masih ada antinya”
“Untuk apa?“ bertanya Pangeran Gajahnata. “Puteri itu dapat kita
ambil. Kita akan mengembalikan puteri itu, tetapi untuk ditukar
dengan keterangan tentang pusaka dan harta benda. Jika Pangeran Sena
Wasesa bersedia menunjukkannya, maka kita akan dapat mendahului
Kangjeng Sultan Demak untuk mengambilnya” berkata Ki Ajar
Wrahasniti. “Tidak ada gunanya” jawab Pangeran Gajahnata “adimas
Pangeran Sena Wasesa akan dapat melaporkan apa yang terjadi itu
kepada Kangjeng Sultan kelak j ika kita sudah mengembalikan Ceplik,
sementara Ceplikpun akan dapat mengatakan siapakah yang telah
mengambilnya” Tetapi Wrahasniti tertawa. Katanya “Puteri itu
mengenal angger Bramadaru. Puteri itu akan mengenal pula Pangeran
Gajahnata. Tetapi ia tidak, akan mengenal orang lain. Dan aku akan
memer intahkan orang lain itu untuk mengambilnya. Orang yang asing
sama sekali bagi para bangsawan di Demak. Kemudian, setelah Pangeran
mendapat keterangan dari Pangeran Sena Wasesa tentang tempat harta
benda itu disembunyikan dan sudah dibuktikan kebenarannya, maka
Pangeran Sena Wasesa itu akan dapat dihapuskan saja dari sederetan
bangsawan di Demak. Dengan demikian, maka semua jejak akan terhapus”
Pangeran Gajahnata mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berdesis
“Tetapi apakah aku akan sampai hati melakukannya. Adimas Sena Wasesa
adalah saudaraku. Dan gadis itu adalah kemanakanku” “Pusaka dan
harta benda itu nilanya jauh lebih besar dari Pangeran Sena Wasesa
dan Raden Ajeng Ceplik. Karena itu, maka beberapa kelompok dari
berbagai padepokan telah mengorbankan begitu banyak orang untuk
menemukannya. Namun ternyata mereka gagal. Jika kita kemudian hanya
mengorbankan dua orang saja, apakah artinya yang dua orang itu”
berkata Ki Ajar Wrahasniti. Dalam pada itu Bramadarupun berkata “Aku
sependapat dengan guru, ayahanda. Jika ayahanda memberi ijin
kepadaku, maka aku akan melakukannya. Aku akan mengambil diajeng
keluar dari istana pamanda Sena Wasesa. Kemudian datang orang asing
itu dan berpura-pura merampas diajeng. Dengan demikian, maka ia t
idak akan menuduhku seandainya pada satu saat ia akan tetap hidup”
Pangeran Gajahnata hanya mengangguk-angguk saja. Jika itu sudah
menjadi kebulatan niat antara anaknya dan gurunya, maka ia t idak
akan mencegahnya. Demikianlah, akhirnya segala sesuatunya telah
dibicarakan antara Ki Ajar Wrahasniti dengan Bramadaru. Sehingga
akhirnya keduanya telah menemukan kesepakatan. “Adalah kebetulan
sekali, bahwa diajeng Ceplik minta kepadaku untuk membawanya pergi”
berkata Bramadaru. Keduanyapun kemudian menetapkan dimana hal itu
akan dilakukan dan kapan sebaiknya. Bramadarupun kemudian minta diri
sambil berkata “Aku akan menemui diajeng Ceplik. Aku akan minta
kepadanya untuk keluar dari halaman istana. Aku menunggunya di pintu
butulan yang tidak terjaga. Semuanya akan dapat berjalan dengan
lancar. Dan sebaiknya aku lakukan menjelang tengah malam” Gurunya
sependapat, sehingga Bramadarupun kemudian minta dir i untuk menemui
Raden Ajeng Ceplik Di istana Pangeran Sena Wasesa, Bramadaru
disambut dengan penuh harapan oleh Raden Ajeng Ceplik. Sementara
itu, emban pemomongnya menjadi cemas melihat kehadiran Bramadaru
yang seakan-akan hilir mudik dihari itu. Tetapi emban itu tidak
dapat berbuat apapun juga, selain mencari kesempatan untuk
memperingatkan Raden Ajeng Ceplik kemungkinan-kemungkinan buruk yang
dapat terjadi atas dirinya. Seperti yang sudah dibicarakannya dengan
gurunya, maka Bramadarupun kemudian menyatakan kesediaannya untuk
pergi bersama Raden Ajeng Ceplik. “Ayahanda Gajahnata tidak dapat
mempercepat persoalan diantara kita. Tetapi ayahanda bersedia
melindungi j ika kita memang ingin melarikan diri. Tetapi cara yang
kita tempuh harus sedemikian cermatnya, sehingga tidak seorangpun
yang mengetahui, bahwa kita telah pergi bersama-sama kecuali
ayahanda Gajahnata” berkata Bramadaru perlahan-lahan sekali sehingga
hanya dapat didengar oleh Raden Ajeng Ceplik saja. “Aku serahkan
segalanya kepadamu kakangmas Bramadaru” desis Raden Ajeng Ceplik.
Dengan teliti Bramadaru memberikan pesan kepada adik sepupunya agar
mereka tidak akan mengalami kesulitan. Katanya “Jika kepergian kita
diketahui oleh pamanda Sena Wasesa, maka mungkin sekali pamanda akan
menghukumku” “Ayahanda tidak akan memperdulikanku lagi” berkata
Raden Ajeng Ceplik “kemanapun aku pergi agaknya ayahanda tidak lagi
mempersoalkan. Kembali atau tidak kembali, karena ayahanda telah
mendapat ganti yang lebih lengkap. Seorang isteri dengan seorang
anak laki-laki yang mampu menolongnya. Jadi, apakah artinya aku
seorang perempuan yang tidak mampu berbuat apa-apa ketika
segerombolan orang datang menculik ayahanda dari istana ini, selain
jatuh pingsan” “Mungkin memang demikian diajeng. Tetapi mungkin
juga, pamanda merasa tersinggung karenanya meskipun tidak
menghiraukan diajeng lagi. Karena itu, kita memang harus
berhati-hati” berkata Bramadaru. Iapun kemudian memberikan petunjuk,
bahwa lewat tengah malam Raden Ajeng Ceplik harus keluar dari pintu
butulan yang tidak dijaga. “Bukankah diajeng dapat melakukannya?“
bertanya Bramadaru. “Ya kakangmas. Disebelah gandok ada sebuah pintu
butulan yang dalam keadaan biasa tidak dijaga. Tetapi pintu gandok
itu di selarak dengan kuat dari dalam” jawab Raden Ajeng Ceplik.
“Diajeng dapat membukanya?“ bertanya Bramadaru pula. “Tentu. Aku
dapat membukanya dan aku dapat keluar dari pintu itu” jawab Raden
Ajeng Ceplik. “Baiklah. Jadi aku akan menunggu di luar pintu butulan
di sebelah gandok kir i. Bukankah begitu?“ bertanya Bramadaru. “Ya
kakangmas. Mudah-mudahan para tamu ayahanda itu sudah tertidur
nyenyak” jawab Raden Ajeng Ceplik. “Mereka tidak berkepentingan.
Mereka tidak akan menghiraukan kita. Mereka tidak akan berbuat
apa-apa” berkata Bramadaru. Demikianlah ketika semua pembicaraan
telah masak, Bramadaru itupun minta diri meninggalkan istana itu.
Sekali lagi ia memberikan beberapa pesan, agar Raden Ajeng Ceplik
tidak salah langkah. Sepeninggal Bramadaru, Raden Ajeng Ceplik
menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia telah mendapatkan jalan
keluar dari kesulitannya. Jika ia keluar dari istana itu, maka ia
tidak akan merasa lagi tersiksa. Justru karena itu, maka
rasa-rasanya hari menjadi sangat lamban. Matahari seakan-akan tidak
bergerak di tempatnya. Namun akhirnya malampun turun juga.
Perlahan-lahan matahari terbenamdibalik gunung. Emban pemomong Raden
Ajeng Ceplik itu menjadi heran karena di sore itu Raden Ajeng Ceplik
tidak nampak terlalu sedih seperti sebelumnya. Bahkan Raden Ajeng
Ceplik itu telah mulai memperhatikan dir inya lagi. Berbenah diri
dan sedikit berhias. “Mudah-mudahan puteri dapat segera wajar
kembali” berkata emban itu di dalami hatinya. Tetapi bagaimanapun
juga ia menjadi kecewa jika yang dapat memulihkan kegembiraan Raden
Ajeng Ceplik itu adalah Raden Bramadaru. “Ia akan menuntut terlalu
banyak” berkata emban itu di dalam hatinya pula” bahkan puteri akan
melupakan semua pesan-pesanku sehingga ia akan jatuh ke dalam satu
keadaan yang tidak akan kalah pahitnya dari kenyataan yang
dihadapinya sekarang. Bahkan jauh lebih pahit” Tetapi emban itu
masih belum berbuat apa-apa. Jika dengan demikian keadaan puteri
menjadi suram kembali, ia akan menanggung akibatnya pula. Dalam pada
itu, setelah makan malam, puteri itupun duduk sesaat diserambi.
Meskipun udara malam mulai dingin, tetapi puteri itu t idak
menghiraukannya. Bahkan dengan telit i diamatinya gandok yang
disediakan bagi para tamu ayahandanya. Dipaling depan adalah sebuah
ruang yang tidak terlalu luas. Kemudian bilik yang dipergunakan oleh
para tamunya laki- laki. Sebuah longkangan kecil di belakang
membatasinya dengan bilik yang dipegunakan oleh dua orang perempuan.
Yang tua diantara mereka tentu yang dimaksud oleh ayahandanya.
Endang Srini yang sebenarnya adalah ibu tirinya. “Ia begitu angkuh.
Sama sekali tidak mau berkenalan dengan aku seperti juga perempuan
yang muda, yang katanya memiliki kemampuan seorang laki-laki. Apa
lagi jika nanti perempuan itu sudah dinyatakan dengan resmi oleh
ayahanda, bahwa perempuan itu adalah isteri Pangeran Sena Wasesa.
Maka ia tentu akan lebih menghina aku lagi. Bahkan mungkin ia tidak
akan member i aku kesempatan apapun juga. sehingga aku akan
tersisih. Karena itu, lebih baik aku pergi. Aku tidak mau melihat
perempuan itu menyakiti hatiku. Apalagi anaknya, laki-laki. Ia
merasa lebih tua dari aku, dan seorang laki-laki pula yang telah
mampu menolong ayahanda dari kesulitan” berkata Raden Ajeng Ceplik
di dalamhatinya. Ternyata gandok itu segera menjadi sepi.
Pintu-pintupun telah tertutup. Tidak seorangpun lagi yang berada
diserambi setelah mereka makan malam. “Mudah-mudahan mereka tidak
mengganggu aku malam nanti” berkata Raden Ajeng Ceplik itu di
dalamhatinya. Dalam pada itu, ketika malam menjadi semakin malam,
maka emban pemomong Raden Ajeng Ceplik itupun dengan hati-hati telah
mempersilahkan puteri itu masuk ke dalam. “Malam terlalu dingin
puteri” berkata embannya itu. Puteri itu menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Aku memang memer lukan kesejukan bibi. Malam terasa segar
dan aku sama sekali t idak merasa dingin” “Tetapi sebaiknya puteri
masuk ke dalam. Angin malam dapat membuat puteri sakit ” sahut
embannya. Raden Ajeng Ceplik tidak mau membuat embannya menjadi
curiga. Karena itu, maka iapun kemudian bangkit dan masuk ke bilik
tidurnya. Setelah minum beberapa teguk, maka Raden Ajeng Ceplik
itupun kemudian membar ingkan dirinya sambil berkata “Bibi, jangan
hiraukan aku lagi. Aku sudah tidak apa-apa. Aku mengerti apa yang
dikatakan oleh ayahanda dan apa yang dikatakan oleh tamu-tamu
ayahanda. Jika kau ingin tidur di bilikmu sendiri, tidur lah disana.
Tetapi besok pagi-pagi jangan lupa membangunkan aku seperti
kebiasaanmu. Aku harus menyediakan minuman bagi tamu-tamu ayahanda”
Emban itu.menarik nafas dalam-dalam. Agaknya hati Raden Ajeng Ceplik
benar-benar sudah menjadi tenang. Namun kembali emban itu merasa
kecewa j ika ketenangan itu diperolehnya dari Raden Bramadaru,
karena emban itu percaya, bahwa Raden Bramadaru sering melakukan
tindak yang dapat menodai nama baik seorang gadis, bermodalkan
ketampanan wajahnya dan, kemampuannya berpura-pura menghadapi
gadis-gadis itu. Sepeninggal embannya, Raden Ajeng Ceplikpun segera
berbenah diri. Ia tidak akan membawa pakaian kecuali yang dipakainya
dan selembar kain panjang. Tetapi Raden Ajeng Ceplik telah
menyiapkan semua perhiasannya yang diletakkannya di dalam. sebuah
peti kecil. Hanya peti kecil itu sajalah yang akan dibawa oleh Raden
Ajeng Ceplik. Perhiasan itu akan dapat dijualnya jika ia memerlukan
uang selama ia berada di dalam tempat persembunyiannya, sampai
saatnya ia benar-benar dapat diterima oleh keluarga Pangeran
Gajahnata dengan cara apapun juga. Atau meskipun ia harus pergi
jauh- jauh dari Kota Raja bersama Raden Bramadaru. Demikianlah,
malampun menjadi semakin malam. Ketika ayam jantan terdengar
berkokok, maka Raden Ajeng Ceplikpun telah mempersiapkan diri.
“Sebentar lagi. aku harus meninggalkan istana ini. Istana yang sudah
aku huni lebih dar i tujuhbelas tahun” berkata Raden Ajeng Ceplik
itu di dalamhatinya. Demikianlah, ketika Raden Ajeng itu merasa
bahwa malam telah melampaui pertengahannya, maka iapun dengan sangat
berhati-hati telah keluar dari biliknya. Dengan sangat berhati- hati
pula Raden Ajeng Ceplik telah membuka pintu samping dan keluar ke
serambi. Malam terasa sangat sepi. Di regol depan beberapa orang
masih terkantuk-kantuk dan bertahan untuk t idak tertidur. Mereka
tidak akan membiarkan peristiwa hilangnya Pangeran Sena Wasesa itu
terulang lagi, Namun dalam keadaan sehat, maka Pangeran Sena Wasesa
adalah orang yang sulit untuk dikuasai oleh siapapun juga. Bahkan,
justru karena di gandok ada beberapa orang tamu yang memiliki ilmu
yang tinggi, maka para penjaga itu seakan-akan telah memastikan
bahwa malamitu tidak akan terjadi sesuatu di istana itu. Namun dalam
pada itu, Raden Ajeng Ceplik telah turun dari tangga serambi
istananya, menyelusuri dinding rumah ke arah belakang. Kemudian
dengan sangat hati-hati Raden Ajeng Ceplik itupun melintasi
longkangan dan berhenti di bawah sebatang pohon kanthil di halaman
samping. Dalam keadaan yang biasa, Raden Ajeng Cepilk tidak akan
berani turun ke halaman. Bahkan untuk pergi ke pakiwanpun Raden
Ajeng Ceplik sering membangunkan embannya yang tidur dibilik
belakang. Dalam pada itu, ketika Raden Ajeng Ceplik yakin, bahwa
tidak ada orang yang melihatnya, maka iapun telah berlari- lari
kecil menuju ke pintu butulan yang diselarak. Dengan sangat
hati-hati pula, maka Raden Ajeng Ceplik itupun telah mengangkat
selarak yang berat itu. Sejenak kemudian, maka pintu butulan itupun
telah terbuka. Demikian Raden Ajeng Ceplik melangkah keluar, maka
terdengar suara lambat di sebelah “Diajeng Ceplik?“ Raden Ajeng
Ceplik tertegun, Iapun menarik nafas dalam- dalam ketika ia melihat
Bramadaru muncul di dalami kegelapan, sambil berdesis “Ini aku
diajeng” “O, sokurlah kakangmas. Aku sudah cemas, bahwa kakangmas
tidak akan datang” jawab Raden Ajeng Ceplik dengan berbisik. “Kenapa
tidak? Bukankah aku bukan pembual? Aku melakukan apa yang aku
katakan. Aku memegang setiap janji yang aku ucapkan” jawab
Bramadaru. “Terima kasih kakangmas” desis Raden Ajeng Ceplik. “Nah.
Jangan terlalu lama. Mari, kita tidak mempunyai banyak waktu. Jika
para peronda itu nanti mengelilingi halaman istana dan mereka
menemukan pintu butulan itu terbuka, maka kita akan mengalami
kesulitan” berkata Bramadaru kemudian. Demikianlah, maka
Bramadarupun kemudian membawa Raden Ajeng Ceplik berjalan menyusuri
dinding istana. Namun kemudian merekapun memasuki sebuah jalan
sempit dan mulai menjauhi istana itu. Raden Ajeng Ceplik masih
berpaling. Ada satu perasaan yang tergetar dihatinya. Ia sama sekali
tidak menyangka bahwa pada satu saat ia harus meninggalkan istana
itu dengan cara yang aneh. Dengan cara yang tidak sewajarnya. Tetapi
Raden Ajeng Ceplik telah memilih cara itu. Namun dalam pada, itu,
demikian Raden Ajeng Ceplik dan bramadaru meninggalkan pintu butulan
itu, dua orang penjaga regol telah bersiap-siap untuk meronda
berkeliling. “Mari” berkata yang seorang “Kau hanya menguap saja.
Bagaimanapun juga, kita tidak boleh lengah” Kawannya bangkit
berdiri. Tetapi ia masih menggeliat dan menguap sekali lagi.
“Saat-saat begini, justru sadt yang paling baik untuk mengantuk”
jawab kawannya yang menggeliat itu. “Mengantuk atau tidur?“ bertanya
yang lain. “Mengantuk. Bukan tidur. Jika kita tidur, maka kita tidak
akan dapat merasakan lagi. Tetapi jika kita duduk terkantuk- kantuk
sambil bersandar disudut dinding, alangkah nikmatnya. Sesaat kita
terlena, sesaat kita tersandar” jawab kawannya. “Ah, kau memang
pemalas” geram yang lain “Mari kita akan meronda” Demikianlah kedua
orang itupun kemudian memandi tombak-tombak mereka. Perlahan-lahan
mereka melangkah berkeliling. Mereka menyusuri dinding halaman.
Dengan cermat mereka memperhatikan setiap sudut. Bahkan gandok yang
berisi para tamu itupun tidak terlepas dari pengamatan mereka.
Beberapa langkah kemudian, maka merekapun mulai memasuki bayangan
sebatang pohon kanthil. Mereka tertegun ketika mereka melihat pintu
butulan. Bahkan keduanyapun kemudian telah melangkah mendekati.
Namun ternyata pintu butulan itu masih tertutup rapat. Selaraknya
masih terpasang dengan kuat. Tidak ada bekas apapun juga yang pantas
mereka cur igai. “Tidak ada apa-apa” desis yang seorang? ”pintu itu
masih tertutup rapat” “Siapa yang akan membuka pintu itu dumalam
hari?“ bertanya kawannya. Yang lain tidak menyahut. Namun kemudian
keduanyapun melangkah menjauh meneruskan tugas mereka mengelilingi
seluruh halaman. Maka dengan demikian, tidak seorangpun dari para
pengawal yang mengetahui bahwa Raden Ajeng Cepik telah meninggalkan
istana bersama Bramadaru. Dan tidak seorangpun dari mereka yang
pernah mengetahui bahwa regol butulan itu pernah terbuka. Sementara
itu, Raden Ajeng Ceplik dan Bramadaru telah melintasi beberapa
halaman rumah disebelah istana Pangeran Sena Wasesa. Semakin lama
mereka berjalan semakin jauh. Bahkan merekapun berjalan semakin
cepat, agar mereka tidak dapat dilacak lagi oleh para petugas di
istana Pangeran Sena Wasesa seandainya ada diantara mereka yang
mengetahuinya. Disepanjang jalan, keduanya tidak terlalu banyak
berbicara. Raden Bramadaru telah membimbing Raden Ajeng Ceplik dan
kadang-kadang menariknya untuk berjalan lebih cepat. “Marilah
diajeng. Jika para pengawal menemukan pintu butulan itu terbuka,
maka mereka akan menyadari, bahwa kau tidak ada di dalam bilikmu”
berkata Raden Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik tidak menjawab. Ia
berusaha untuk berjalan secepat-cepat dapat dilakukannya. Bahkan
karena ia tidak ingin mengalami kesulitan jika para pengawal sempat
menyusulnya, maka dengan tidak segan-segan Raden Ajeng Ceplik itu
telah menyingsingkan kain panjangnya sampai ke lutut. Demikianlah
keduanya menjadi semakin jauh dari istana Pangeran Sena Wasesa,
Mereka kemudian memasuki daerah yang sepi dan tidak banyak dihuni
orang. Bahkan semakin lama mereka menjadi semakin jauh masuk ke
daerah yang ditumbuhi oleh batang-batang perdu disela-sela
pategalan. “Kita kemana kakangmas?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik.
“Semakin jauh semakin baik diajeng” jawab Bramadaru. “Apakah
kakangmas sudah menentukan tujuan?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik.
“Kita akan pergi kesebuah padukuhan diseberang hutan perdu. Aku
mempunyai seorang pekatik yang tinggal di padukuhan itu. Sedikit
diluar Kota Raja. Ayahanda sudah memer intahkan pekatik itu untuk
menyiapkan tempat bagimu” Jawab Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik tidak
bertanya lagi. Ia menurut saja ketika Bramadaru membimbingnya
memasuki hutan perdu. Dalam, pada itu, perjalanan itupun menjadi
semakin sulit Sehingga Raden Ajeng Ceplik harus menyingsingkan kain
panjangnya lebih tinggi lagi, agar tidak tersangkut-sangkut
pepohonan perdu. Tanpa berprasangka apapun juga, ia mengikut saja
kemana Bramadaru membawanya. Sebenarnyalah Bramadaru membawa Raden
Ajeng Ceplik ke tempat yang memang sudah ditentukan. Tetapi tidak di
rumah seorang pekatik seperti yang dikatakan oleh Bramadaru. Mereka
berdua menuju ke tempat yang sudah ditentukan bersama dengan
gurunya. Sebagaimana telah disepakati, di tempat itu sudah menunggu
seorang yang ditugaskan oleh Ki Ajar Wrahasniti untuk merampas Raden
Ajeng Ceplik dan membawanya ke tempat yang tersembunyi. Dengan
demikian, maka mereka akan dapat memaksa Pangeran Sena Wasesa untuk
menunjukkan dimana ia menyimpan pusaka dan harta benda yang tidak
ternilai harganya itu. oooOooo-
Jilid 23 BRAMADARU menjadi berdebar-debar ketika mereka
menjadi semakin dekat dengan tempat yang sudah ditentukan.
Rasa-rasanya sebuah tugas yang berat harus dilakukan. Namun diluar
kehendaknya ketika Raden Ajeng Ceplik kakinya tersangkut pada
sebatang akar kayu dan hampir saja jatuh terjerembab, maka dengan
serta merta Bramadarupun telah menangkapnya, sehingga Raden Ajeng
Ceplik itu jatuh ketangannya. Diluar kehendaknya pula t iba-tiba
saja Bramadaru merasa gadis cantik itu berpegangan pinggangnya. “O“
desis Raden Ajeng Ceplik “kakiku tersandung “ Bramadaru masih
memegangi tubuh Raden Ajeng Ceplik Rasa-rasanya tubuh itu begitu
hangatnya. Tubuh seorang gadis cantik yang berjalan di hutan perdu
sehingga harus menyingsingkan kain panjangnya. Tiba-tiba saja darah
Bramadaru mulai bergejolak Sifat dan kebiasaannya menghadapi
gadis-gadis cantik telah menembus lapisan kesadarannya sehingga
sulit untuk dikuasainya lagi. “Gadis ini sudah tidak ada gunanya
lagi“ berkata anak muda itu didalam hatinya “karena itu, kau akan
dapat memper lakukan apa saja menurut kehendakku. Aku tidak peduli,
apakah yang akan dilakukan oleh Pangeran Seria Wa- sesa terhadap
anak perempuannya ini. Bahkan anak ini akan dapat aku bungkam untuk
selamanya, atau disembunyikan di- tempat tertentu justru karena
kecantikannya dan aku memer lukannya. Dengan demikian maka pamanda
Sana Wasesa tidak akan mengetahui apa yang pernah terjadi atasnya.“
Karena itu, maka tiba-tiba saja Bramadaru justru memeluknya semakin
erat, sehingga Raden Ajeng Ceplik itu menjadi sulit untuk bernafas.
“Kakangmas“ desis Raden Ajeng Ceplik “apa yang kau lakukan?“
Perlahan-lahan Bramadaru melepaskan gadis itu. Kemudian
dipandanginya sebatang pohon nyamplung yang nampak beberapa puluh
langkah di hadapannya. Di bawah pohon itu telah siap seseorang yang
akan merebut gadis cantik itu. “Supaya orang itu tidak menggangguku,
aku akan menemuinya saja“ berkata Bramadaru didalamhatinya. Dengan
demikian, maka Bramadaru itupun telah membimbing Raden Ajeng Ceplik
untuk maju lagi beberapa puluh langkah mendekati sebatang pohon
nyamplung yang besar itu. Namun terasa oleh Raden Ajeng Ceplik ada
perubahan sikap kakak sepupunya itu. la memegang tangannya semakin
erat. Setiap kali Bramadaru itu memandanginya seperti belum pernah
melihatnya. Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah mendekati pohon
nyamplung yang besar itu. Pohon yang nampak kehitaman
didalamgelapnya malam. Ternyata Raden Ajeng Ceplik menjadi agak
ketakutan untuk melewati bayangan pohon nyamplung yang besar itu,
sehingga karena itu, maka langkahnyaipun tertegun. Bramadaru
menariknya perlahan-lahan. Namun gadis itu berdesis “Aku takut
kakangmas.“ Bramadaru mengerutkan keningnya. Desisnya “Kenapa
takut?“ Raden Ajeng Ceplik tidak segera menjawab. Dipandanginya
pohon nyamplung yang besar berdaun r imbun. Didalam keremangan malam
nampaknya seperti sesosok raksasa yang berambut gimbal siap untuk
menerkamnya. “Marilah“ Bramadaru menarik tangan Raden Ajeng Ceplik
“jangan menunggu sampai orang-orang yang mengejar kita menemukan
kita disini.“ “Tetapi pohon itu“ desis Raden Ajeng Ceplik. “Kenapa
dengan pohon itu ? Marilah. Pohon itu tidak api- opa. Pohon
nyamplung itu tidak akan menelan kita.“ Bramadaru hampir kehilangan
kesabaran. Karena Radon Ajeng Ceplik masih ragu-ragu, maka
Bramadarupun menariknya sambil berkata “Jangan membuat kesulitan.
Kita akan bcnalan cepat melintasi pohon itu. Selanjutnya kita akan
segera sampat ketempat yang kita tuju dengan aman.“ Raden Ajeng
Ceplik tidak dapat membantah. Apalagi ketika tiba-tiba saja
Bramadaru berkata “Atau kau memilih aku tinggalkan sendiri disini ?
Mungkin seekor har imau akan datang menyergapmu atau mungkin sesosok
hantu yang turun dari pohon nyamplung itu.“ “O. Jangan“ Raden Ajeng
Ceplik menjadi sangat ketakutan. “Karena itu. marilah. Kita harus
cepat-cepat menyingkir untuk menghindarkan dir i dari kemungkinan
yang lebih buruk jika pamanda mengetahui apa yang terjadi.“ berkata
Bramadaru sambil menar ik Raden Ajeng Ceplik Raden Ajeng Ceplik
tidak membantah. Iapun kemudian mengikut saja kemana Bramadaru
membawanya. Bahkan semakin dekat dengan pohon nyamplung yang besar
itu, Raden Ajeng Ceplik justru semakin melekat kepada kakak
sepupunya. Kegelapan yang kelam dibawah pohon nyamplung itu membuat
Raden Ajeng Ceplik menjadi gemetar. Namun tiba-tiba saja Bramadaru
berhenti justru dibawah pohon nyamplung yang menakutkan itu. Sejenak
Raden Ajeng Ceplik bagaikan membeku. Namun ketakutan yang sangat
membuatnya menjadi gemetar. Bahkan diluar sadarnya. Raden Ajeng itu
telah memeluk kakak sepupunya. Darah Bramadaru bagaikan menggelegak.
Gadis itu sangat cantik dan hangat. Seperti gadis-gadis cantik yang
lain, maka Raden Ajeng Ceplik itu membuat jantung Bramadaru berdetak
semakin cepat. Meskipun gadis itu adalah adik sepupunya, namun
kegelapan benar-benar telah mencengkamnya, sehingga nalarnya telah
menjadi gelap pula, seperti gelapnya malamdi-bawah pohon nyamplung
itu. Meskipun demikian Bramadaru masih menunggu orang yang mendapat
tugas untuk mencegatnya. Jika tiba-tiba saja orang itu datang, maka
orang itu hanya akan mengganggunya. Karena itu, ia akan menunggu dan
berterus terang kepadanya, apa yang akan dilakukannya atas gadis
itu. Gadis cantik yang sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya. Ia
akan dapat memperlakukan gadis itu sekehendak hatinya, sementara itu
orang lain akan dapat memeras Pangeran Sana Wasesa. “Tidak ada
keharusan untuk menyerahkan gadis ini kembali kepada pamanda
Pangeran Sena Wasesa“ berkata Bramadaru didalam hatinya “jika
pamanda telah menunjukkan harta benda dan pusaka itu, maka
segala-galanya telah selesai. Persoalan gadis inipun selesai pula.
Dan pamanda tidak akan tahu untuk selamanya, siapakah yang pernah
membawanya pergi dari istananya.“ Dalam pada itu. Raden Ajeng
Caplikpun menjadi semakin gemetar. Dengan suara sendat ia berkata
“Marilah kakangmas, kita bergeser keluar dar i bayangan pohon ini.“
“Jangan takut“ jawab Bramadaru “tidak ada yang akan mengganggu kita
disini.“ “Bukankah kakangmas akan membawa aku ketempat yang sudah
ditentukan ? Dirumah pekatik di padukuhan sebelah ?“ ajak Raden
Ajeng Ceplik yang ketakutan “dan bukankah kita harus dengan cepat
berlalu agar tidak ada orang yang dapat menyusul kita.“ “Tidak ada
orang yang akan mencari kita dibawah pohon nyamplung ini“ jawab
Bramadaru. “Baru saja kakangmas mengatakan, mungkin ada orang yang
akan menyusul kita“ desis Raden Ajeng Ceplik. “Mungkin dapat terjadi
ditempat terbuka itu. Tetapi tidak disini “ jawab Bramadaru pula.
Raden Ajeng Ceplik tidak membantah lagi. Tetapi ia masih tetap
gemetar. Apalagi ketika diluar sadarnya ia menengadahkan wajahnya
memandang batang nyamplung yang panjang bagaikan menusuk sampai
jantung langit Namun dalam pada itu, dalam keheningan malam yang
kelam, tiba-tiba terdengar suara tertawa dari balik batang nyamplung
yang besar itu. Suara tertawa perlahan-lahan. Namun kemudian menjadi
semakin keras. Darah Raden Ajeng Ceplik bagaikan berhenti mengalir.
Tiba-tiba saja sesosok tubuh meloncat dari balik batang nyamplung
yang besar itu. Namun tidak begitu jelas bagi Raden Ajeng Ceplik
yang ketakutan. Sambil memejamkan matanya Raden Ajeng Ceplik memeluk
kakak sepupunya semakin erat. Nafasnya menjadi terengah- engah oleh
ketakutan yang tidak tertahankan. Bramadaru sama sekali tidak
terkejut. Ia memang menunggu orang yang akan mencegatnya dibawah
pohon nyamplung itu. Orang yang menurut rencana akan merampas Raden
Ajeng Ceplik dan membawanya pergi. Sementara itu, pemerasan akan
dapat segera dilakukan, sebelum Pangeran Sena Wasesa menyerahkan
pusaka dan harta bendanya itu kembali ke Gedung Perbendaharaan
istana meskipun ia sudah melaporkannya kepada Kangjeng Sultan. “Ada
juga orang yang tersesat dibawah pohon nyamplung ini“ geram bayangan
yang meloncat dari balik pohon nyamplung itu. Namun orang itulah
yang kemudian terkejut oleh jawaban Bramadaru “Aku telah merubah
rencana semula. Kau tidak perlu merampasnya dari tanganku.“ Bayangan
itu termangu-mangu sejenak. Tetapi hampir diluar sadarnya ia
bertanya “Jadi apa yang harus aku lakukan?“ “Kau tidak usah
mengambilnya dari tanganku. Aku akan mengurusnya sendiri.“ jawab
Bramadaru. “Tetapi apa yang harus aku katakan kepada Ki Ajar
Wrahasniti“ bertanya bayangan itu. “Katakan kepadanya, bahwa aku
telah memilih jalan lain. Aku akan mengurus anak ini. Kemudian
terserah kepada guru. apa yang akan dilakukannya dengan pamanda
Pangeran Sena Wasesa. Tetapi guru akan tetap dapat mempergunakan
anak ini untuk mengancampamanda Pangeran “ jawab Bramadaru. Bayangan
itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian “Ya. Aku mengerti maksud
Raden. Ki Ajar Wrahasniti atau orang yang ditugaskan akan tetap
melakukan sebagaimana direncanakan. Tetapi bukankah Raden bermaksud
mengingkari setelah semuanya berada ditangan Ki Ajar Wrahasniti?“
“Mengingkari apa?“ bertanya Bramadaru. “Gadis itu t idak akan
kembali kepada ayahandanya“ gumam bayangan itu. “Ya. Ia tidak akan
dapat mengatakan tentang keadaannya untuk selamanya.“ jawab
Bramadaru. Dalam pada itu, Raden Ajeng Ceplik menjadi bingung
mendengarkan pembicaraan itu. Namun tiba-tiba puteri itu teringat
kepada pesan embannya tentang Raden Bramadaru. Karena itu, maka
jantungnya menjadi bergelora. Ia tidak lagi dicengkam oleh ketakutan
tentang pohon nyamplung yang besar itu. Tetapi pembicaraan antara
Bramadaru dengan bayangan yang tidak jelas itu membuatnya
benar-benar menggigil Perlahan-lahan Raden Ajeng Ceplik berusaha
untuk melepaskan Raden Bramadaru. Kemudian berusaha untuk
mempergunakan nalarnya yang semula telah menjadi kabur. Dan ia
mendengar Bramadaru itu berkata “Nah, sekarang tinggalkan kami
berdua. Aku akan menyelesaikan persoalanku sendiri “ “Kakangmas“
tiba-tiba saja Raden Ajeng Ceplik berdesis “apa artinya pembicaraan
kakangmas dengan orang itu?“ “Sudahlah diajeng“ jawab Raden
Bramadaru “jangan hiraukan orang itu. Kita dapat menyusun rencana
kita sendir i.“ “Apa maksudmu kakangmas ?“ bertanya Raden Ajeng
Ceplik. “Bukankah kau akan ikut bersamaku ? Mar ilah. Jangan
hiraukan orang lain“ berkata Radon Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik
termangu-mangu. Namun iapun terkejut ketika Raden Bramadaru itupun
kemudian berkata kepada orang yang tidak nampak jelas oleh Raden
Ajeng Ceplik itu “Sudahlah. Tinggalkan. Aku memerlukan gadis itu
sekarang.“ “O“ orang itu terkejut. Lalu katanya “Jadi aku harus
mengatakan segalanya sebagaimana adanya ?“ “Aku tidak berkeberatan“
jawab Bramadaru “katakan seperti yang aku maksudkan.“ “Baiklah“
desis orang itu “tetapi semua tanggung jawab ada di tangan Raden.“
“Aku bertanggung jawab.“ jawab Raden Bramadaru. Sejenak keadaan
menjadi sepi. Namun didalam dada Raden Ajeng Cepik telah terjadi
gelora yang maha dahsyat Ia mulai menilai Raden Bramadaru dengan
tajam. “Kakangmas“ desis Raden Ajeng Ceplik kemudian sambil
melangkah surut “apakah yang akan kakangmas lakukan ?“ Tetapi
Bramadaru justru tertawa. Katanya “Kau akan pergi kemana ?. Di
padang perdu ini masih berkeliaran beberapa ekor harimau. Tetapi
yang lebih buruk lagi adalah j ika kau bertemu dengan sejenis hantu
yang merindukan perempuan cantik. Genderuwo.“ “O“ terasa bulu
diseluruh tubuh Raden Ajeng Ceplik meremang. Ketakutannya terhadap
pohon nyamplung itu bagaikan tumbuh kembali. Tetapi rasa-rasanya ia
sudah berhadapan dongan hantu yang turun dari pohon yang besar itu
dan kemudian berdir i di hadapannya. Raden Ajeng Ceplik tidak dapat
melihat wajah Bramadaru dengan jelas. Tetapi rasa-rasanya wajah itu
membayangkan wajah hantu yang sangat menakutkan pula. Apalagi ketika
tiba-tiba saja Bramadaru itu tertawa. Suaranya benar-benar bagaikan
suara hantu yang haus darah Raden Ajeng Ceplik bergeser beberapa
langkah surut. Wajahnya menjadi pucat dan nafasnya tereneah-engah.
Sementara itu Bramadaru masih saja tertawa sambil melangkah maju.
Katanya “Sudahlah diajeng. Jangan membuang waktu. Kau tidak akan
mendapat kesempatan untuk memilih apa yang harus kau lakukan
sekarang. Kau hanya dapat menerima keadaan ini tanpa mengeluh .
Semuanya akan terjadi sesuai dengan keinginanku.“ “Tetapi, tetapi
bukankah kakangmas adalah kakak sepupuku ?. Lebih dari itu, bukankah
kakangmas mencintaiku ?“ kata-kata itu meluncur tanpa dikehendakinya
sendiri. Bramadaru masih saja tertawa. Disela-sela suara tertawanya
itu terdengar ia berkata “Aku bukan mencintaimu. Tetapi aku
menginginkanmu. Kau memang cantik. Tetapi kau tidak lagi cukup
berharga untuk dijadikan seorang isteri.” “Kakangmas“ Raden Ajeng,
Ceplik hampir saja menjerit. “Menjeritlah diajeng“ berkata Raden
Bramadaru “tidak akan ada orang yang mendengarnya. Tempat ini adalah
tempat yang tidak pernah didatangi oleh seseorang. Apalagi di malam
hari seperti ini.“ “Tetapi, bukankah kau pernah mengatakannya ?“
suara Raden Ajeng Ceplik mulai diwarnai oleh keputusasaan. “Ya,
waktu itu ketika aku menganggap kau adalah gadis yang cantik dan
berharga. Ketika aku menganggap bahwa kau adalah seorang gadis anak
tunggal pamanda Pangeran Sena Wasesa. Karena sebenarnya yang aku
inginkan sama sekali bukan kau untuk menjadi seorang isteri. Tetapi
karena pamanda Pangeran Sena Wasesa memiliki pusaka dan harta benda
yang tidak ternilai harganya. Tetapi pusaka dan harta benda ini
sudah dilaporkan Kangjeng Sultan dan kaupun bukan anak tunggal yang
akan menjadi satu-satunya pewaris semua kekayaan pamanda itu. Karena
itu, aku tidak memer lukan kau lagi untuk menjadi seorang isteri.”
Wajah Raden Ajeng Ceplik yang pucat itu menjadi semakin pucat.
Dengan nada tinggi ia berkata “Jika demikian Kenapa kakangmas masih
juga membawa aku keluar malam ini dan bahkan sampai ketempat ini ?.“
“Jangan bodoh diajeng. Kau sudah dewasa untuk mengerti. Apa yang aku
inginkan darimu. Tidak untuk menjadi seorang isteri, karena aku
memang masih belum ingin kawin. Tetapi kecantikanmu tidak dapat aku
lewatkan begitu saja. Karena itu. aku telah membawamu kemari.
Kemudian kau akan aku sembunyikan ditempat yang tidak akan dapat
diketahui oleh pamanda Pangeran Sena Wasesa. Tempat yang dapat aku
datangi setiap saat sampai saatnya aku menjadi jemu.“ suara tertawa
Bramadarupun meninggi. “Sementara itu. kepergianmu akan dapat
menjadi alat untuk memeras pamanda Pangeran.“ Tidak ada harapan sama
sekali dari Raden Ajeng Ceplik untuk dapat keluar dari tangan hantu
yang sangat mengerikan itu. Lebih mengerikan dari hantu yang mungkin
ada di batang pohon nyamplung yang besar itu. Namun dalam pada itu,
Raden Bramadaru tiba-tiba saja sekali lagi membentak kepada bayangan
yang masih saja berada dibawah lindungan kegelapan rimbunnya pohon
nyamplung itu “He, kenapa kau masih ada disitu. Cepat, pergi dan
sampaikan kepada guru bahwa tugasmu sudah selesai. Biarlah guru atau
orang yang ditugaskan menghubungi pamanda Pangeran Sena Wasesa.
minta agar gadis ini ditebus dengan pusaka dan harta benda yang
masih belum terlanjur dikembalikan ke Gedung Perbendaharaan Istana
Demak itu.“ “O“ orang itu tergagap. Tetapi ia masih dapat menjawab
“aku terpukau oleh peristiwa ini. Aku kira, aku akan dapat membantu
Raden disini.“ “Gila. Aku sobek mulutmu“ geram Raden Bramadaru.
Tetapi, bayangan itu justru tertawa. Katanya “Baiklah. Aku akan
meninggalkan tempat ini.“ “Cepat, sebelum aku kehilangan kesabaran.“
geram Raden Bramadaru. Orang itu memang bergeser surut. Tetapi ia
berhenti lagi disebelah batang nyamplung yang besar. Sementara itu
Raden Bramadaru melangkah mendekati Raden Ajeng Ceplik yang gemetar.
“Tidak ada pilihan lain“ berkata Raden Bramadaru “lebih baik kau
tidak mengingkari kenyataan ini agar penderitaanmu tidak menjadi
semakin sakit. Sakit pada tubuhmu dan sakit pada hatimu.“ Raden
Ajeng Ceplik hanya mampu bergeser mundur beberapa langkah. Namun
tiba-tiba saja tubuhnya telah berada didepan sebuah semak-semak yang
berdur i sehingga ia tidak dapat bergeser surut lagi. “Tidak ada
gunanya. Hanya menunda waktu satu dua kejap yang dapat membuat aku
semakin liar.“ geram Bramadaru. Raden Ajeng Ceplik menjadi putus
asa. Namun ia masih juga berteriak “Kakangmas, ayahanda akan
mengambil tindakan atas perbuatan kakangmas ini. Mungkin kakangmas
akan dibunuhnya kelak.“ “Pamanda Pangeran Sena Wasesa tidak
mengetahui siapakah yang membawamu pergi. Besok pagi aku akan
menghadap paman dan bertanya tentang kau, diajeng. Aku akan
berpura-pura terkejut ketika pamanda mengatakan bahwa kau tidak ada
diistana.“ Suara tertawa Raden Bramadaru itu bagaikan meledak.
Semakin lama semakin keras. Sementara itu, tubuh Raden Ajeng Ceplik
menjadi semakin menggigil. Gadis itu benar-benar menjadi
berputus-asa. Semua pesan embannya terngiang kembali ditelinganya.
Dan iapun menjadi sangat menyesal bahwa ia tidak menghiraukan pesan
embannya itu. sehingga akhirnya ia terperosok dalam keadaan yang
jauh lebih buruk daripada menerima ibu tiri dan saudara laki- laki
didalam istananya. “Seandainya hatiku tidak bergejolak sehingga
nalarku t idak terkendali“ sesal Raden Ajeng Ceplik. Tetapi sesal
itu tidak berguna lagi menghadapi sikap iblis yang mengerikan itu.
Dalam pada itu, Raden Bramadarupun berdesis “Kemar ilah anak manis.
Kemarilah. Jangan memaksa aku datang kepadamu.“ “Tidak“ teriak Raden
Ajeng Ceplik. Tetapi suara tertawa itu masih terdengar, disamping
kata- katanya “cepatlah sedikit.“ Raden Ajeng Ceplik menjadi semakin
menggigil. Akhirnya ketakutan ku tidak tertahankan lagi, sehingga
gadis itu jatuh terduduk tanpa menghiraukan duri semak-semak yang
tergores ditubuhnya. Bramadarulah yang kemudian melangkah mendekati
sambil menggeremang “Kau memaksa aku berbuat lebih kasar diajeng.
Aku dapat menyeretmu kebawah pohon nyamplung itu.“ Tetapi ketika
Bramadaru hampir menggapai tubuh Raden Ajeng Ceplik, tiba-tiba saja
terdengar suara gemerisik. Ketika Bramadaru berpaling dalam
kegelapan ia masih melihat ujud orang yang telah diusirnya. “Gila.
Kau masih disitu“ bentaknya. Tetapi suara gemerisik itu ternyata
terdengar diarah lain. Bahkan tiba-tiba saja Bramadaru mendengar
suara orang mendeham hanya beberapa langkah saja daripadanya.
“Raden“ terdengar suara “jika kau menganggap bahwa tempat ini tidak
pernah didatangi orang ternyata kau salah. Aku berada ditempat ini
dan melihat apa yang kau lakukan.“ “Gila“ teriak Bramadaru. Kemudian
terdengar umpatannya kasar. Lalu iapun bertanya “Siapa kau ?“
Sesosok bayangan muncul dari balik semak-semak “Siapa kau he?“
Bramadaru mengulangi pertanyaannya. “Aku berkewajiban untuk
menyelamatkan gadis itu“ jawab orang yang baru datang itu. “Siapa
kau ?“ Bramadaru berteriak semakin keras. “Aku adalah saudara laki-
laki gadis itu. Aku juga putera Pangeran Sena Wasesa meskipun dari
ibu yang berbeda. Tetapi aku merasa wajib menolong adikku.“ jawab
orang itu. “Gila Siapa kau he? Siapa?“ Bramadru menjerit-jerit oleh
kemarahan yang menghentak-hentak didadanya. “Orang memanggilku
Daruwerdi.“ jawab orang itu. Tiba-tiba saja secercah harapan telah
terbit kembali dihati Raden Ajeng Ceplik. Orang itu mengaku saudara
laki- lakinya. Kakaknya sendiri. Kemarahan Raden Bramadaru tidak
tertahankan lagi. Gadis cantik yang sudah ada ditangannya itu tidak
boleh terlepas lagi. Namun tiba-tiba saja ada orang yang datang
untuk merebutnya. Sementara itu. Raden Ajeng Ceplikpun menjadi
termangu- mangu. Rasa-rasanya ia berdiri di ujung jalan simpang. Ia
telah menolak kehadiran anak muda yang menurut keterangan ayahnya
adalah saudaranya sendiri meskipun tidak seibu. Tetapi tiba-tiba
anak muda itu kini datang untuk melepaskannya dari tangan iblis yang
dikiranya adalah seorang yang akan dapat melepaskannya dari himpitan
perasaannya justru karena kehadiran anak muda yang disebutnya
sebagai kakaknya itu bersama ibu tir inya. Namun dalam keadaan yang
paling gawat itu. maka ia t idak mempunyai pilihan lain. Ia harus
menyerahkan dir inya kepada perlindungan anak muda yang menyatakan
dirinya sebagai kakaknya itu. Dalam pada itu, Raden Bramadaru yang
marah tiba-tiba saja membentak “He, anak yang tidak tahu diri.
Apakah kau dengan sengaja ingin membunuh dir imu ?“ “Tidak. Gadis
itu adalah adikku. Bukankah sudah sewajarnya jika aku berusaha untuk
menyelamatkannya ? Memang aku tahu bahwa kaupun adalah kakak
sepupunya. Tetapi hati iblismu itu telah membuat matamu menjadi
buta. Kau tidak melihat lagi, siapakah gadis yang akan kau jadikan
korbanmu itu.“ Daruwerdi yang bukan seorang yang dapat bertingkah
laku lembut itupun telah membentak pula. “Persetan“ tiba-tiba
Bramadaru berpaling kepada orang yang berdiri di dekat pohon
nyamplung itu “untunglah bahwa kau belum beranjak dari tempatmu,
meskipun barangkali kaupun mempunyai maksud buruk. Tetapi ternyata
sekarang ada tugas untukmu. Singkirkan anak bengal ini. Jangan beri
kesempatan ia meninggalkan tempat ini, karena ia akan menjadi sangat
berbahaya, karena ia akan dapat melaporkan peristiwa ini kepada
pamanda Pangeran Sena Wasesa.“ “Jadi maksud Raden, anak itu harus
dibunuh ?“ bertanya orang yang berada di dekat batang nyamplung yang
besar itu. “Ya. Jika kau memang kepercayaan guru. maka kau tentu
akan dapat melakukannya“ geramRaden Bramadaru Orang itu tertawa.
Katanya “Jangankan membunuh anak itu. Orang yang disebut gegedugpun
akan aku lumatkan kepalanya.“ “Lakukan. Aku akan mengurus gadis yang
keras kepala ini. Jika aku menjadi kasar adalah karena salahnya
sendiri.“ berkata Raden Bramadaru sambil menghentakkan tangannya.
Orang yang berada disebelah batang pohon nyamplung yang besar itupun
kemudian bergeser mendekati Daruwerdi. Namun Daruwerdipun segera
mempersiapkan dir i menghadapi segala kemungkinan yang akan dapat
terjadi atas dir inya. Dalam pada itu. Raden Ajeng Ceplik yang mulai
dirayapi oleh harapan tentang keselamatannya, kembali menjadi putus
asa. Namun ketika Bramadaru melangkah mendekatinya, gadis itu hampir
menjerit “Tolong aku kakangmas.“ Darah Daruwerdi tersirap. Tetapi
demikian ia meloncat mendekati Raden Ajeng Ceplik, orang yang semula
berdiri di- dekat batang pohon nyamplung itupun telah berlari
kearahnya sambil langsung menyerang. Daruwerdi terpaksa meloncat
menghindarinya. Tetapi orang itu tidak melepaskannya. Sekali lagi ia
menyerang sehingga Daruwerdi sama sekali tidak mendapat kesempatan
untuk menolong Raden Ajeng Ceplik. “Gila“ geram Daruwerdi “tetapi
bagaimanapun juga tingkah laku kalian harus dihentikan.“ “Tutup
mulutmu“ bentak lawan Daruwerdi “kau harus dibungkam untuk
selamanya. Kau harus mati disini. Jika tidak, maka kau akan
menebarkan racun di istana Demak.“ “Kau akan mati lebih dahulu.
Kemudian bangsawan yang tidak tahu diri itupun akan aku bunuh
disini“ geramDaruwerdi. Tetapi Daruwerdi tidak banyak mendapat
kesempatan untuk menolong adik perempuannya. Ia harus mengerahkan
kemampuannya untuk bertempur melawan orang yang telah menyerangnya,
yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Dalam keadaan yang putus
asa Raden Ajeng Cepiik menjadi lemas. Anak muda yang sebenarnya
adalah kakak sepupunya itu melangkah semakin dekat. “Kau membuat aku
menjadi buas. Anak yang menyebut kakakmu itu justru telah membuat
semakin menderita di dalam tanganku. Aku tidak peduli apa yang
terjadi. Aku hanya menginginkanmu.“ geram Raden Bramadaru. Lalu
katanya “Kakakmu itu akan segera diselesaikan oleh kepercayaan guru
itu. Dan semuanya akan berlangsung dengan cara yang lebih buruk lagi
bagimu.“ Raden Ajeng Caplik tidak dapat berbuat apapun lagi.
Tubuhnya yang menggigil menjadi semakin gemetar. Ketika tangan
Bramadaru menggapainya, gadis itu menjer it. Tetapi ia tidak dapat
melawan ketika dengan kasar Bramadaru menyeretnya kebawah pohon
nyamplung. “Semuanya akan terjadi dibawah hidung kakakmu yang merasa
dir inya menjadi pahlawan“ geram Bramadaru. “Tidak Tidak“ Raden
Ajeng Cepiik menjerit-jer it. Tetapi ia tidak dapat melepaskan dir i
dari tangan Bramadaru yang kasar. Darah Daruwerdi bagaikan mendidih.
Tetapi libatan ilmu lawannya benar-benar membutuhkan segenap
perhatiannya, jika ia lengah dan kemudian ia tidak berhasil
mengalahkan orang itu, maka nasib adik perempuannya akan menjadi
semakin buruk. Karena itu, maka yang dilakukannya adalah justru
bertempur dengan segenap kemampuannya, dan dengan sangat hati-hati
Ia harus mengalahkan lawannya secepat- cepatnya sebelum terlambat.
Karena agaknya Bramadaru benar-benar lelah menjadi gila Namun
Daruwerdi agaknya memang tidak sendir ian. Tetapi lawan Daruwerdi
memiliki kemampuan yang tinggi pula Ia tidak membiarkan dirinya
digilas oleh kemampuan Daruwerdi. Karena itu. maka iapun telah
bertempur dengan segenap ilmu yang ada padanya. Sementara keduanya
bertempur dengan sengitnya. Bramadaru telah melemparkan Raden Ajeng
Ceplik sehingga jatuh berguling dibawah pohon nyampluneg yang besar
itu. Dengan kasar ia berkata “Kau tidak akan dapat berbuat apa- apa
gadis liar. Kau harus tunduk kepadaku. Lakukan semua perintahku.”
Raden Ajeng Ceplik menjerit sekuat-kuatnya. Tetapi Bra- madaru
berkata “Menjeritlah sampai lehermu putus. Tidak ada orang yang akan
mendengarnya kecuali kakakmu yang sebentar lagi akan mat i.“ Raden
Ajeng Ceplik masih menjerit dengan kerasnya. Namun suaranya bagaikan
lenyap ditelan desah daun nyamplung yang bergeser ditiup angin
malam. Namun dalam pada itu. sekali lagi Bramadaru terkejut.
Tiba-tiba saja seseorang telah meloncat dari balik pohon ryamplung
seperti yang dilakukan oleh kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti. Tetapi
orang itu t idak dapat segera dikenalinya. Tetapi orang itu kemudian
telah membuat darah Bramadaru semakin mendidih ketika orang itu
kemudian berkata “Raden, akulah yang mendengarnya kecuali
Daruwerdi.“ “Anak iblis. Siapa lagi kau he ?“ teriak Bramadaru.
“Sudah kau sebut. Aku adalah anak iblis yang tinggal di pohon
nyamplung ini“ jawab orang itu. “Gila. Sebut namamu. Jangan berusaha
untuk mempengaruhi aku“ Bramadaru itu masih berteriak oleh kemarahan
yang menghentak-hentak jantungnya. “Baiklah“ jawab orang itu “namaku
Jlitheng. Aku salah seorang kawan Daruwerdi.“ “Setan alas“ Bramadaru
mengumpat semakin kasar. Tetapi dalam pada itu, Jlithengpun berkata
“Jangan berbuat aneh-aneh Raden. Kau harus mengetahui bahwa apa yang
kau lakukan ini sudah bukan lagi rahasia. Kami yang berada diistana
Kapangeranan sudah mengetahui. Maksudku Istana Pangeran Sena Wasesa.
“ “Bohong. Kau ingin menakut-nakuti aku he ?” geram Bramadaru.
“Tidak. Tetapi sebenarnya kami sudah mengetahui Ternyata kami
berhasil mengikutimu. Jika kami tidak mengetahui, mana mungkin kami
ada disini sekarang ini“ jawab Jlitheng. Keringat dingin mengalir
diseluruh tubuh Raden Bramadaru. Tetapi ia masih menjawab “Persetan.
Tetapi kalian berdua harus mati. Mungkin kebetulan kalian melihat
aku membawa diajeng Ceplik, lalu kalian mengikutinya sebelum kalian
sempat melaporkan hal ini kepada pamanda.“ “Memang secara kebetulan
kami melihatnya. Tetapi seorang diantara kami telah melaporkannya“
jawab J litheng. Lalu “Karena itu, menyerah sajalah Raden. Mungkin
ada cara yang lebih baik untuk menyelasaikan persoalan ini. karena
semuanya masih belum terlanjur terjadi“ Tetapi Bramadaru tidak mau
mendengarnya. Bahkan tiba- tiba saja ia sudah mencabut senjatanya.
Katanya “Kau harus mati anak gila.“ Jlitheng melangkah surut. Ia
tidak dapat bertempur terlalu dekat dengan Raden Ajeng Ceplik yang
masih saja terbaring dengan lemahnya. Jika Bramadaru benar-benar
menjadi liar. maka nasib Raden Ajeng Ceplik tentu ada dalam bahaya.
Ketika Bramadaru melihat Jlitheng melangkah menjauh, maka tiba-tiba
saja iapun menyerang sambil berteriak “Jangan lari. Kau tidak akan
dapat pergi dari tempat ini. Kau akan mati terkapar dibawah pohon
nyamplung ini.“ Jlitheng tidak menjawab. Dengan tangkasnya ia
menghindari serangan senjata Raden Bramadaru itu. Namun ia masih
mengambil jarak dari Raden Ajeng Ceplik. Baru beberapa langkah
kemudian, maka Jlithengpun telah mencabut pedang tipisnya pula. Ia
tidak ingin mengalami satu keadaan yang pahit karena kelengahan.
Bahkan jika demikian, maka nasib Raden Ajeng CeplLkpun menjadi
semakin buruk. Dengan demikian, maka kedua anak muda itupun telah
bertempur dengan pedang masing-masing. Bramadaru adalah murid Ki
Ajar Wrahasniti. Karena itu, maka iapun memiliki kemampuan yang
tinggi. Sebagaimana gurunya yang memiliki nama yang besar, maka
Bramadarupun memiliki bekal yang cukup untuk memaksakan kehendaknya
atas orang lain. Tetapi yang dilawannya adalah Jlitheng. Seorang
anak muda yang memiliki bukan saja bekal ilmu, tetapi juga
pengalaman yang jauh lebih banyak dari Bramadaru. Betapapun
banyaknya pengetahuan dan betapapun tingginya ilmu Bramadaru, namun
menghadapi Jlitheng segera terasa bahwa ia berhadapan dengan lawan
yang berat. Demikianlah kedua anak muda itu telah bertempur dengan
sengitnya. Keduanya memiliki kemampuan bermain pedang yang luar
biasa. Dalam bayangan kegelapan dibawah pohon nyamplung itu,
keduanya merasa bahwa mereka harus sangat berhati-hati. Tetapi
justru karena kemarahan didalam dada Raden Bramadaru bagaikan
meledak, maka anak muda itu telah melibat lawannya langsung kepuncak
kemampuan. Bramadaru telah menekan Jlitheng dengan sekuat tenaganya,
karena ia ingin pertempuran itu cepat selesai. Ia masih mempunyai
persoalannya sendiri dengan Raden Ajeng Ceplik yang telah terganggu
oleh hadirnya anak-anak muda dari lingkungan istana Pangeran Sena
Wasesa itu. Dalam pada itu, kepercayaan Ki Ajar Wrahasnitipun telah
bertempur dengan garangnya pula menyerang Daruwerdi. Tetapi seperti
Jlitheng, Daruwerdi mempunyai ilmu yang nggegi-risi dan mempunyai
pengalaman yang luar biasa pula. Sehingga dengan demikian, maka
kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itupun seakan-akan telah membentur
kekuatan yang sulit diatasinya. Raden Ajeng Ceplik yang melihat
kehadiran seorang lagi dan kemudian bertempur melawan Bramadaru,
merasa hadirnya harapan lagi didalam dir inya. Ia merasa sangat
berterima kasih kepada anak muda yang ternyata adalah kakaknya
sendir i. Kemudian hadirnya seorang lagi yang menyebut dirinya
bernama Jlitheng. Seorang anak muda yang dikenalnya sebagai salah
seorang tamu ayahandanya. Bahkan anak muda yang telah
menyelamatkannya pada saat sebagian orang-orang yang pernah
mengambil ayahnya datang kembali untuk mengambilnya pula. Dan kini
anak muda itu datang lagi untuk menyelamatkannya. Perlahan-lahan
Raden Ajeng Ceplik itupun bangkit. Dalam kegelapan ia melihat dua
lingkaran pertempuran. Dan meskipun Raden Ajeng Ceplik itu tidak
dapat melihat dengan jelas di dalam keremangan malam hari, namun
Raden Ajeng Ceplik itu mengetahui bahwa yang bertempur melawan
Bramadaru itu adalah orang yang menyebut dirinya Jlitheng, namun
yang sudah diketahuinya bahwa sebenarnya ia adalah Raden Candra
Sangkaya yang mendapat gelar kehormatan Kapangeranan dari Kangjeng
Sultan karena jasa anak muda ku dan jasa orang tuanya, sedangkan
yang berada dilingkaran pertempuran yang lain adalah Daruwerdi, yang
sebenarnya adalah kakaknya seayah, melawan kawan Raden Bramadaru.
Raden Ajeng Ceplik tidak tahu, apakah kedua orang yang berusaha
menyelamatkannya itu akan dapat memenangkan pertempuran. Sehingga
karena itu ada niatnya untuk melarikan dir i. Tetapi ketika
terpandang olehnya hutan perdu yang gelap dan luas, maka niatnya
itupun telah diurungkan. Karena itu, maka akhirnya Raden Ajeng
Ceplik itupun menjadi pasrah. Yang dilakukannya kemudian adalah
berdoa, semoga Yang Maha Kasih akan melindunginya. Sementara itu
pertempuran diantara anak-anak muda itupun menjadi semakin sengit.
Bramadaru dan Jlitheng telah terlibat dalam pertempuran bersenjata.
Demikian pula Daruwerdi dan kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu.
Dalam kegelapan malam kengerian telah mencengkam jantung Raden Ajeng
Ceplik j ika ia melihat bunga api yang berloncatan jika terjadi
benturan senjata antara mereka yang sedang bertempur itu. Sedangkan
gadis itu sama sekali tidak dapat membayangkan, siapakah yang akan
memenangkan pertempuran itu. Karena itulah maka ketegangan telah
mencengkam perasaannya. Dalam doanya ia mengharap agar anak muda
yang sebenarnya adalah kakaknya, serta anak muda yang menyebut dir
inya Jlitheng itu dapat memenangkan pertempuran itu. Dalam pada itu,
Bramadaru yang marah itu telah melibat Jlitheng dalam pertempuran
yang semakin sengit. Senjatanya berputaran didalam kegelapan.
Sebagai murid Ki Ajar Wra- hasniti, maka Bramadaru memiliki ilmu
pedang yang nggegirisi. Tetapi Jlithengpun mampu bermain pedang
dengan sangat baik. Apalagi dengan pedang tipisnya. Pedang yang
ringan tetapi memiliki kemampuan dan kekuatan melampaui pedang
kebanyakan. Karena itu, Jlitheng sama sekali tidak gentar untuk
membenturkan pedangnya. Tetapi pedang yang ringan itu akan cepat
menggeliat dan mematuk lawannya. Dalam pada itu Daruwerdipun telah
mengerahkan segenap kemampuannya pula. Dengan pengalaman yang luas,
maka Daruwordi segera dapat mengimbangi ilmu lawannya yang keras dan
cepat. Sambil berloncatan diantara gerumbul-gerumbul perdu yang
kadang berduri Daruwerdi dan lawannya telah saling menyerang. Desgan
pedang terjulur kepercayaan Ki Ajar Wra- hasniti itu meloncat sambil
berteriak nyaring. Suaranya menggetarkan udara malam dipadang perdu
yang luas itu serta seakan-akan telah menggetarkan daun-daun
dibatang pohon nyamplung yang besar itu. Namun ternyata Daruwerdi
tidak kalah tangkasnya. Dengan bergeser menyamping ia menghindari
serangan lawannya. Bahkan dengan segenap kekuatannya ia telah
memukul pedang lawannya. Hampir saja pedang itu terlepas dari tangan
kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti itu. Namun orang itu masih beruntung.
Ia masih mampu menahan senjatanya itu sehingga tidak terloncat
jatuh. Dalam pada itu, Daruwerdi mempergunakan kesempatan itu untuk
mendesak lawannya. Ketika lawannya sedang memperbaiki keadaannya,
maka Daruwerdilah yang kemudian menyerang. Tetapi lawannya masih
sempat meloncat beberapa langkah surut. Daruwerdi tidak melepaskan
lawannya. Iapun segera memburunya dengan serangan beruntun. Tetapi
kepercayaan Ki Ajar Wrahasnit i itu masih sempat melepaskan dir i
dan bahkan kemudian berhasil memperbaiki keadaan dan siap untuk
bertempur dengan kemampuannya sepenuhnya. Dalam pada itu, Jlitheng
yang bersenjata pedang tipis itupun bertempur dengan serunya. Namun
baik Jlitheng maupun lawannya benar-benar dicengkam oleh ketegangan.
Malam rasa-rasanya bertambah kelam di bawah bayangan pohon nyamplung
raksasa itu. Dengan demikian keduanya benar-benar harus
mempergunakan pengamatan inderanya dengan sungguh-sungguh. Tetapi
karena Jlitheng sengaja memancing lawannya untuk bertempur sambil
menjauhi Raden Ajeng Ceplik, maka akhirnja keduanyapun telah keluar
dari bayangan rimbunnya daun pohon nyamplung yang besar itu.
Betapapun kemarahan Bramadaru, namun berhadapan dengan Jlitheng anak
muda itu t idak banyak dapat berbuat. Jlitheng memiliki beberapa
kelebihan. Selain pada dasarnya pedang tipisnya memang ringan namun
kuat, kecepatan gerak-nyapun melampaui kecepatan gerak lawannya.
Karena itu, maka Jlitheng dalam beberapa saat kemudian berhasil
mendesak lawannya. Ia tidak lagi berusaha menarik Bramadaru keluar
dari bayangan pohon nyamplung itu. Tetapi Jlitheng kemudian bergeser
membelakangi pohon nyamplung itu dan mendesak lawannya menjadi
semakin jauh. Pertempuran di kedua lingkaran itu memang menjadi
semakin seru. Tetapi beberapa saat kemudian ternyata bahwa Bramadaru
benar-benar telah terdesak. Dengan pedang tipisnya Jlitheng mampu
membuat lawannya kadang-kadang menjadi bingung. Apalagi kemarahan
yang menghentak- hentak di dalam dada Bramadaru membuatnya kurang
berhati-hati karena dorongan perasaannya yng menggelegak.
Perlahan-lahan Jlitheng akhirnya benar-benar mampu menguasai
lawannya. Kemampuan bermain pedang Raden, Bramadaru seakan-akan
telah terkurung oleh putaran pedang tipis Jlitheng yang mendebarkan.
Serangan Jlithengpun seakan-akan telah datang dari segala arah,
seakan-akan Jlitheng itu lelah berubah menjadi ampat orang yang
berdiri diempat kiblat dengan pedang yang berputaran. “Ilmu iblis
manakah yang diserap oleh anak gila ini“ geram Bramadaru
didalamhatinya. Meskipun demikian Bramadaru yang marah itu tidak
segera melihat dan mengakui kenyataan yang dihadapinya. Ia masih
saja bertempur dengan kemarahan yang menghentak-hentak
didalamdadanya. Ternyata bukan hanya Bramadaru yang mengalami
kesulitan. Kepercayaan Ki Ajar Wrahasniti yang terlalu percaya akan
kemampuannya ilupun akhirnya telah terdesak. Daru- wordipun telah
bertempur dengan keras. Meskipun ia tidak berteriak-teriak seperti
lawannya, tetapi hentakan-hentakan serangannya kadang-kadang sangat
mengejutkan lawannya. Sekali-sekali Daruwerdi memang harus meloncat
surut Tetapi seakan-akan ia sekedar membuat ancang-ancang. Karena
sekejap kemudian dengan tiba-tiba saja ilmunya telah di hentakannya
melibat lawannya yang kebingungan. Tiba-tiba saja kepercayaan Ki
Ajar Wrahasniti itu telah berdesah tertahan. Namun yang terdengar
kemudian adalah umpatan yang paling kasar. Dengan loncatan panjang
orang itu mejauhi Daruwerdi. Terasa ujung pedang Daruwerdi itu
tergores di pundaknya. “Gila“ teriaknya “kau melukai aku ?“
Daruwerdi memang merasakan pada tangannya, bahwa ujung pedangnya
telah berhasil menyentuh lawannya. Karena itu maka teriakan lawannya
itu telah meyakinkannya, bahwa ia benar-benar telah berhasil
melukainya. Karena itu, maka dengan nada datar ia berkata
“Menyerahlah. Kita akan mengadakan penyelesaian sebaik- baiknya.
Mungkin Pangeran Sena Wasesa dan Pangeran Gajahnata akan menemukan
jalan yang dapat ditempuh dalam persoalan yang gawat ini.“ “Tutup
mulutmu“ geram orang itu “kau sangka aku ini siapa ? Aku tidak akan
mengenal menyerah selama aku masih mampu menggerakkan pedangku.“
“Kau sudah terluka. Jika darah itu semakin banyak mengalir, maka kau
benar-benar akan tidak mampu lagi mengelakkan senjatamu itu“ sahut
Daruwerdi. Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Dengan kasar dan
bahkan liar orang itu menyerang. Namun Daruwerdipun menjadi keras.
Meskipun ia masih tetap memperhatikan paugeran dalam olah kanuragan,
namun serangan-serangannya menjadi semakin garang sehingga
lawan-nyapun menjadi semakin terdesak. Sekali lagi ketika Daruwerdi
menjulurkan pedangnya mendatar, disela-sela ayunan senjata lawannya,
maka orang itu mengumpat sambil mengadub Ujung pedang Daruwerdi
kemudian telah mengenai lambungnya. Meskipun tidak begitu dalam,
tetapi luka itupun telah memuntahkan darah segarnya. Bramadaru yang
bertempur diarah lain mendengar kepercayaan gurunya itu
mengumpat-umpat sambil mengeluh. Dengan demikian maka iapun
mengerti, bahwa orang itu telah terluka. Kemarahanpun semakin
menghentak didadanya. Karena itu maka iapun bertempur semakin
garang. Pedangnya berputar semakin cepat. Terayun mendatar, menusuk
dan kemudian menyambar kearah kening. Tetapi tidak segorespun yang
berhasil mengenai kulit lawannya. Bahkan dalam pada itu ujung pedang
Jlithenglah yang bagaikan sengat seribu kumbang mengitari tubuh
Bramadaru. Ketika terasa sambarang angin pada kulitnya karena ayunan
pedang tipis lawannya, rasa-rasanya kulit Bramadaru itu meremang.
Namun bagaimanapun juga Bramadaru tidak dapat mengingkar i
kenyataan. Jlitheng itu memiliki ketangkasan yang tidak dapat
diimbanginya. Ujung pedang tipis itu bergerak terlalu cepat sehingga
pedang Bramadaru tidak sempat menangkis ketika ujung pedang tipis
itu mulai meraba kulitnya. Orang itu masih sempat meloncat surut.
Tetapi Daruwerdi dengan cepat memburunya dengan pedang terjulur.
Orang itu berteriak nyaring. Tetapi suaranya cepat terputus. Ketika
pedang itu ditarik, maka tubuh lawannya itu-pun segera jatuh ter
"erembab.Diani. Mata Air 23 31 Tetapi ujung pedang itu belum
benar-benar melukainya. Jika darahnya mulai mengembun karena
luka-lukanya, maka luka-luka itu sama sekali tidak berarti.
Bramadaru masih mampu bertempur dengan cepat dan ayunan-ayunan
pedang yang menggetarkan jantung. Tetapi bagi lawannya yang mampu
bergerak cepat itu, serangan- serangannya tidak banyak memberikan
arti. Bahkan semakin lama sentuhan-sentuhan senjata lawannya semakin
sering mengenai kulitnya. Hanya goresan-goresan kecil yang kemudian
terdapat pada tubuhnya. Tetapi semakin lama semakin banyak. Dalam
pada itu, maka Jlithengpun kemudian berkata “Raden, apakah Raden
tidak mempertimbangkan satu penyelesaian lain dari meneruskan
pertempuran ini ?.“ “Tutup mulutmu“ geram Bramadaru “kau sangka
bahwa kau, sudah berhasil dengan permainanmu itu ? Sebentar lagi kau
akan mat i oleh pedangku dan mayatmu akan menjadi mangsa burung
pemakan bangkai yang bersarang di pohon nyamplung ini. Tidak
seorangpun yang mengetahui tentang perbuatanku dan tentang mayatmu.“
“Sudah aku katakan, seisi istana tentu sudah tahu apa yang kau
lakukan Pangeran.“ jawab Jlitheng “bahkan mungkin sekarang ini
sekelompok pengawal istana Pangeran Sena Wasesa telah menyusul kami.
Karena itu pertimbangkan baik- baik.“ “Kau gila“ geram Raden
Bramadaru “aku akan membunuh orang yang berusaha menghalangi
rencanaku. Menghalangi kesenanganku siapapun orang itu.“ “Aku tidak
sedang minta kau ampuni. Raden“ jawab Jlitheng “karena itu kau tidak
usah berteriak-teriak begitu. Langsung saja kau bunuh lawanmu.
Tetapi kenyataan telah berkata lain dar i keinginanmu yang gila itu
Raden. Kenyataan nya mengatakan tentang kelemahanmu dalam
pertarungan antara ilmu yang t inggi. Masih jauh dar i ketinggian
yang seharusnya bagi orang-orang yang menjelajahi daerah olah
kanuragan.“ Kata-kata Jlithcng itu sangat menyakitkan hati Raden
Bramadaru. Sekali lagi ia berusaha untuk mengeluarkan ilmunya. Namun
sekali lagi ia mener ima satu kenyataan bahwa lawannya memang
memiliki kemampuan melampaui kemampuannya. Jlilheng yang sengaja
membangkitkan kemarahan Bramadaru itupun telah bersiap sepenuhnya
untuk melawan kemarahan anak muda itu. Karena itu, ketika serangan
Bramadaru datang membadai. Jlitheng sama sekali tidak mengalami
kesulitan apapun juga. Bahkan semakin Bramadaru marah, maka
serangan- serangannyapun menjadi semakin tidak terarah. Yang tidak
kalah sengitnya adalah pertempuran antara Daruwerdi dan kepercayaan
Ki Ajar Wrahasnit i. Agak berbeda dengan Jlitheng yang masih selalu
dapat mengekang diri sehingga ujung senjatanya tidak langsung
menghunjam ke jantungnya, maka Daruwerdi berusaha dengan sungguh-
sungguh untuk menghancurkan lawannya setelah tawurannya untuk
menyerah ditolak. Kecemasannya tentang Raden Ajeng Ceplik yang
diketahuinya sebagai adiknya itu membuatnya kehilangan semua
pertimbangannya. Dalam serangan-serangan berikutnya, Daruwerdi
benar- benar telah membatasi kemungkinan gerak lawannya yang
kemudian hanya dapat berloncatan menghindar. Ketika sebuah goresan
lagi melukai lawannya muka Daruwerdi masih mencoba sekali lagi
berkala “Menyerahlah. Kesempatan ini adalah kesempatan terakhir.“
Tetapi yang kemudian terjadi telah membuat Daruwerdi semakin marah.
Orang itu tidak memenuhi tawaran itu, justru dengan serta merta
telah menyerang Daruwerdi dengan garangnya. Hampir saja ujung
senjatanya mengenai mata sebelah kir i Daruwerdi, sehingga karena
itu maka Daruwerdipun telah dengan tergesa-gesa mengelak. Bahkan
hampir saja Daruwerdi jatuh terperosok kedalam semak- semak berduri
yang banyak bertebaran di padang perdu itu. Daruwerdi menjadi
semakin marah karenanya. Karena itu. maka serangan berikutnya, telah
datang bagaikan badai. Pedang Daruwerdi berputar semakin cepat.
Sekali-sekali menyerang dengan ayunan mendatar, sekali-sekali
mematuk dan sekali-sekali menebas leher. Lawannya benar-benar telah
terdesak. Sekali lagi sebuah goresan telah mengoyak tubuhnya. Tepat
didada. Orang itu mengeluh kesakitan. Namun Daruwerdi tidak
menghentikan serangannya. Justru dalam kesempatan itu ia memburu
lawannya. Dalam keadaan yang sulit, maka Daruwerdi yang marah itu
mengayunkan pedangnya mendatar. Orang itu masih sempat meloncat
surut. Tetapi Daruwerdi dengan cepat memburunya dengan pedang
terjulur. Orang itu berteriak nyaring. Tetapi suaranya cepat
terputus. Pedang Daruwerdi telah menusuk langsung kepusat jantung.
Ketika pedang itu ditarik, maka tubuh lawannya itupun segera jatuh
terjerembab. Diam. Bramadaru mendengar teriakan orang itu. Sementara
itu, Jlithengpun mengetahui pula akhir dari pertempuran yang terjadi
antara Daruwerdi dan lawannya, sehingga hampir diluar sadarnya ia
berkata “Nah. kawanmu sudah diselesaikan Raden. Benar- benar satu
akhir yang pahit.“ Bramadaru menggeram. Tetapi ia sadar sepenuhnya,
apa yang akan dapat terjadi atasnya. Jika orang yang menyebut
dirinya Daruwerdi itu kehilangan lawan, maka keadaannya akan menjadi
semakin sulit. Daruwerdi tentu akan bertempur berpasangan dengan
Jlitheng sehingga mungkin sekali ia akan dapat ditangkap oleh
keduanya. Karena itu, maka Bramadaru harus cepat mengambil satu
keputusan. Ia tidak boleh terlambat. Dengan demikian, maka t
iba-tiba saja dengan sisa tenaganya, Bramadaru telah menyerang
lawannya. Segenap kemampuannya telah ditumpahkannya. Serangannya
datang cepat dan berbahaya, sehingga Jlitheng terpaksa bergeser
surut. Namun pada kesempatan itu Bramadaru tidak memburunya. Ketika
Jlitheng sudah siap menghadapi segala kemungkinan, maka tibattba
saja Bramadaru justru meloncat dan sekejap kemudian berlar i
menyusup diantara gerumbul- gerumbul liar sebelah batang pohon
nyamplung yang besar itu, “Tunggu“ panggil Jlitheng. Tetapi suaranya
lenyap menyusup diantara dedaunan. Sementara itu Bramadaru dengan
cepat menyelinap dan hilang didalamkegelapan. Jlitheng berusaha
untuk menyusulnya. Tetapi beberapa puluh langkah kemudian ia sudah
kehilangan jejak. Bramadaru itu bagaikan lenyap ditelan padang perdu
yang luas itu. Untuk beberapa saat Jlitheng berusaha menemukan
jejaknya. Namun dalam kegelapan malam, tidak banyak yang dapat
dilakukannya. Sementara itu, Daruwerdi yang sudah kehilangan
lawannya, mendekati Raden Ajeng Ceplik yang menggigil ketakutan.
Namun ketika Bramadaru melar ikan dir i, maka seakan-akan ia telah
terlepas dari satu keadaan yang paling pahit yang dapat terjadi atas
dirinya. Karena itu, ketika Daruwerdi melangkah mendekatinya, maka t
iba-tiba saja Raden Ajeng Ceplik yang merasa dir inya telah
diselamatkan oleh kedua orang anak muda itu, telah berjongkok
dihadapan Daruwerdi sambil menangis. “Aku mohon maaf yang
sebesar-besarnya kakangmas“ desis Raden Ajeng Ceplik. Yang
pertama-tama terbayang di angan-angannya adalah bahwa ia tidak dapat
menerima anak muda itu bersama ibunya didalam istananya, sehingga ia
memilih untuk pergi bersama Bramadaru. “Kenapa kau minta maaf
diajeng“ sahut Daruwerdi sambil menarik lengan gadis itu “berdir
ilah. Kau telah bebas dari cengkeraman serigala liar itu.“ Raden
Ajeng Ceplikpun kemudian bangkit. Tetapi tangannya masih sibuk
mengusap air matanya yang mengalir tidak henti-hentinya. Kengerian
masih saja merayapi dadanya, jika ia mengingat perlakuan Bramadaru
yang diharapkannya untuk dapat memberinya ketenangan justru karena
jiwanya yang bergolak menentang kehadiran Daruwerdi dan ibunya.
Tetapi ternyata ia telah jatuh ketangan seorang anak muda yang buas
sebuah serigala sebagaimana dikatakan oleh embannya. Sementara itu.
Jlithcng yang gagal menemukan Bramadaru pun telah mendekati
keduanya. Dengan nada rendah ia berkata “Marilah. Kila segera
kembali ke istana Raden Ajeng “ “Marilah“ jawab Daruwerdi “kita akan
segera member ikan laporan tentang peristiwa ini.“ “Kita harus cepat
bertindak“ berkata Jlitheng kemudian. Ketiganyapun kemudian
meninggalkan tempat itu. Raden Ajeng Cepliik yang letih badan dan
jiwanya, dibimbing oleh Daruwerdi meninggalkan tempat yang
mengerikan baginya. Hampir saja mengalami nasib yang paling buruk
yang dapat terjadi atasnya. Ketiganya memerlukan waktu yang cukup
panjang. Namun akhirnya merekapun sampai ke istana Pangeran Sena
Wasesa. “Jangan mengejutkan para penjaga“ berkata Jlitheng “kita
memasuki halaman lewat pintu butulan.“ Raden Ajeng menjadi
berdebar-debar. Pintu itu adalah pintu yang dipergunakannya untuk
keluar dari istana ayahandanya. “Apakah sebenarnya mereka melihat
saat aku keluar?“ pertanyaan itu telah berjangkit dihati Raden Ajeng
Ceplik Namun ia tidak mengucapkannya. Ternyata bahwa pintu butulan
itu tidak diselarak. Karena itu. maka dengan mudah mereka membuka
dan menutup kembali. Dengan hati-hati mereka memperhatikan para
peronda. Setelah mereka yakin bahwa tidak ada seorang perondapun
yang mengetahuinya, maka merekapun segera melintasi halaman dan
menuju ke serambi. “Sampai saat ini tidak ada seorangpun yang
mengetahui bahwa diajeng pernah meninggalkan istana ini“ berkata
Daruwerdi “sekarang kembalilah ke bilikmu. Tetapi kita harus segera
berbuat sesuatu. Aku akan memberikan laporan kepada ayahanda
sekarang juga “ Raden Ajeng Ceplik termangu-mangu. Namun kemudian
katanya “Terserah kepada kakangmas.“ “Masuklah“ berkata Daruwerdi
“aku akan mengetuk pintu bilik ayahanda. Mudah-mudahan ayahanda
tidak terkejut.” Raden Ajeng Ccplikpun segera kembali kedalam
biliknya. Sementara itu Daruwerdi dan Jlithengpun telah ikut masuk
pula keruang dalam, mereka akan memberanikan diri mengetuk pintu
Pangeran Sena Wisesa untuk memberikan laporan tentang peristiwa yang
menyangkut banyak segi, bukan saja hubungan antara Raden Ajeng
Ceplik dan Bramadaru, tetapi juga hubungan antara Pangeran Gajahnata
dan Pangeran Sena Wasesa. Bahkan mau tidak mau hal ini akan
menyangkut nama Kangjeng Sultan pula karena kedua orang yang tentu
akan terlibat dalam perselisihan itu adalah Pangeran. Namun dalam
pada itu. selagi keduanya berusaha mendekati bilik Pangeran Sena
Wasesa dengan ragu-ragu, maka seseorang berdiri didekat regol
butulan sambil menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kedua anak
muda yang telah menyusul Raden Ajeng Ceplik itu telah kembali dengan
selamat tanpa memerlukan bantuan orang lain. Sementara iiu. maka
orang itupun telah melakukan satu permainan yang memungkinkan hal
itu terjadi tanpa menimbulkan keributan di istana Pangeran Sena
Wasesa. “Jika para peronda menemukan pintu butulan ini t idak
diselarak sebagaimana ditinggalkan oleh Raden Ajeng Ceplik, maka
istana ini tentu sudah menjadi gempar. Para pengawal tentu akan
mencari sebab dan jika mereka menemukan Raden Ajeng tidak ada
dibiliknya, maka semua orang akan menjadi ribut, sementara Raden
Ajeng Ceplik sendiri harus diselamatkan.” “Mereka akan langsung
member ikan laporan malam ini“ desis seseorang dari kegelapan.
“tetapi agaknya itu memang lebih baik.“ “Ya Kiai“ jawab orang yang
berdiri didekat pintu butulan “segalanya memang harus cepat
diselesaikan.“ “Aku akan menunggu didalam bilikku“ berkata suara
dari kegelapan itu. Sejenak kemudian menjadi hening. Tidak ada suara
lagi Orang yang berdiri didekat regol itupun lelah hilang pula.
Dalam pada itu. Daruwerdi dan Jlitheng telah memberanikan dir i
mengetuk pintu bilik Pangeran Sena Wasesa. Perlahan sekali tanpa
mengejutkan. Namun dalam pada itu. dibilik Raden Ajeng Ceplik telah
terdengar isak tangisnya yang tertahan-tahan. “Anak itu menyesali
dir i“ berkata Daruwerdi dan Jlitheng didalam hatinya. Dalam pada
itu. ternyata Pangeran Sena Wasesa terbangun pula oleh ketukan
perlahan-lahan dipintu biliknya. Kemudian dengan hati yang
berdebaran Pangeran itu bangkit. Adalah mendebarkan bahwa dilarut
malam, bahkan menjelang dini hari, seseorang telah mengetuk pintu
biliknya. “Siapa ?“ terdengar Pangeran Sena Wasesa itu bertanya.
“Aku ayahanda“ jawab Daruwerdi. “Daruwerdi ?“ bertanya Pangeran Sena
Wasesa. “Ya. Bersama Jlitheng Ada satu hal yang sangat penting yang
wajib aku laporkan kepada ayahanda“ jawab Daruwerdi. Pangeran Sena
Wasesa menjadi ragu-ragu. Suaranya memang suara Daruwerdi. Tetapi
kemungkinan-kemungkinan lain memang dapat terjadi. Karena itu, maka
sebelum membuka pintu. Pangeran Sena Wasesa telah mengenakan lempeng
baja di telapak tangannya Mungkin benda itu diperlukan j ika keadaan
tiba-tiba saja telah menyusutkannya. Ketika pintu terbuka, maka dua
orang anak muda berdiri didepan pintu. Keduanya mengangguk hormat,
sementara Pangeran Sena Wasesa berdiri termangu-mangu. “Malam-malam
begini, kalian telah membangunkan aku ?“ bertanya Pangeran Sena
Wasesa. Kedua anak muda itu belum menjawab, ketika Pangeran itu
mendengar puterinya menangis terisak-isak. “Kenapa dengan Ceplik ?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Itulah yang ingin kami laporkan“
jawab Daruwerdi “tentang diajeng Ceplik.“ “Apa yang telah terjadi ?“
bertanya Pangeran Sena Wasesa dengan tegangnya. “Agaknya lebih baik
jika ayahanda menanyakan kepadanya, apakah yang telah terjadi dengan
dir inya“ jawab Daruwerdi. Pangeran Sena Wasesa merenung sejenak.
Lalu katanya “Baiklah. Biar lah seseorang memanggilnya.“ “Aku akan
memanggilnya“ berkata Daruwerdi. Daruwerdi itupun kemudian pergi ke
bilik Raden Ajeng Ceplik. Dengan nada dalam ia berkata “Diajeng.
Ayahanda memanggilmu. Katakan akan apa yang terjadi sebenarnya, agar
ayahanda mengetahui dengan pasti dan dapat mengambil langkah yang
paling baik dalam persoalan ini “ Jantung Raden Ajeng Ceplik menjadi
berdebar-debar. Ia sendiri menjadi bingung untuk berterus terang. Ia
dapat saja mengatakan segala sesuatu tentang Bramadaru. Tetapi
apakah ia akan dapat mengatakan alasan kepergiannya meninggalkan
istana itu bersama Bramadaru karena ia menolak kehadiran ibu tirinya
dan Daruwerdi itu sendiri. Daruwerdi yang melihat Raden Ajeng Ceplik
ragu-ragu berkata “Diajeng. Jika diajeng tidak mengatakan yang
sebenarnya dan menutup sebagian persoalan ini. maka ayahda mungkin
akan mendapat gambaran yang keliru sehingga ayahanda akan dapat
mengambil satu tindakan yang seharusnya tidak dilakukannya.“ Raden
Ajeng Ceplik mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Kakangmas,
Biarlah aku menghadap seorang diri. Ada persoalan yang sangat pelik
yang ingin aku katakan kepada ayahanda “ Daruwerdi
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Marilah.“ Raden Ajeng Ceplik
kemudian masuk kedalam bilik ayahanda sementara Jlitheng telah
diminta untuk meninggalkan ruangan itu. Sehingga didalam bilik itu
hanya terdapat Raden Ajeng Ceplik dan ayahandanya Pangeran Sena
Wasesa. “ Sementara keduanya lagi berbincang didalam. maka Rahu
telah memasuki ruangan itu pula dengan diam-diam, “Di ajeng Ceplik
sedang menghadap“ berkata Daruwerdi kepada Rahu. “Baiklah. Mungkin
aku akan dapat melengkapi penjelasan, seandainya Pangeran Sena
Wasesa memerlukannya. Setelah Raden Ajeng Ceplik selesai, kita akan
menghadap lagi.” berkata Rahu. “Raden Ajeng ingin menghadap bendiri“
berkata Jlitheng. “Mungkin Raden Ajeng merasa malu kau dengar
beberapa hal tentang hubungannya dengan Braniadaru. Tetapi itu tidak
apa-apa. Kita berharap bahwa ia berkata dengan jujur.“ desis Rahu.
Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun mereka masih harus
menunggu beberapa saat diluar bilik Pangeran Sena Wasesa. . Dalam
pada itu dalam bilik Pangeran Sena Wasesa telah mendengarkan semua
pengakuan Raden. Ajeng Ceplik. Seperti yang diharapkan oleh
Daruwerdi, maka Raden Ajeng Ceplik memang mengatakan semua persoalan
djJalam dir inya. lapun mengatakan, bahwa ia telah menolak kehadiran
ibu tir inya di dalam hatinya. Karena itu ia memutuskan untuk
meninggalkan rumah itu. “Aku menganggap mereka akan menghantui
hidupku“ berkata Raden Ajeng Ceplik “mereka telah menodai ayahanda
kepada ibunda. Tetapi ternyata bahwa anak muda yang bernama
Daruwerdi itu bersama dengan J litheng telah menolong aku.
Membebaskan aku dari kegelapan masa depanku.” Pangeran Sena Wasesa
menarik nafas dalam-dalam. Namun gejolak didalam dadanya
rasa-rasanya akan meledakkan jantungnya. Persoalan Raden Ajeng
Ceplik dengan ibu t iri dan kakaknya nampaknya tidak banyak membakar
isi dadanya. Apalagi dengan pengakuan Raden Ajeng Ceplik tentang
Daruwerdi. Rasa-rasanya Raden Ajeng Ceplik telah menerima kenyataan
itu. Tetapi tingkah laku Bramadaru benar-benar membuat darahnya
bagaikan mendidih. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata “Aku
akan menyelesaikan persoalan ini dengan kakangmas Pangeran Gajahnata
sekarang.“ “Sekarang ayahanda ?“ bertanya Raden Ajeng Ceplik “Ya,
sekarang. Ini adalah persoalan orang tua. Bukan saja persoalan
nilai-nilai peradaban, tetapi juga penghinaan atas martabat
kesatriaaku. Bagiku, penghinaan yang begini harus dibayar dengan
jiwa. Aku atau kakangmas Gajahnata yang akan mati.“ ”Ayahanda“
tangis Raden Ajeng Ceplik. Tetapi Pangeran Sena Wasesa tidak
menghiraukannya. Dengan serta meria ia melangkah kepintu. Dengan
serta merta Pangeran Sena Wasesa itu mendorong pintu biliknya
meskipun Ceplik kemudian telah memeluk kakinya. “Jangan tahan aku
Ceplik. Aku punya harga diri seorang kesatria. Ia sudah menjamah
kesucian isi rumah ini. Karena itu maka tebusannya adalah sifat
kejantanan itu sendiri sampai tuntas.“ geramPangeran Sena Wasesa.
Namun dalam pada itu, tiga orang telah menunggu diluar bilik itu.
Rahulah yang kemudian bergeser maju sambil berkata “Pangeran. Apakah
Pangeran berkenan aku mengatakan sesuatu ?“ “Apa ? Kau sudah
mengetahui penghinaan ini juga ?“ bertanya. Pangeran Sena Wasesa.
“Hamba mengetahui sebagian besar dari peristiwa ini. Akulah yang
ikut bersama dengan Daruwerdi dan Jlitheng menyusul Raden Ajeng
Ceplik.“ jawab Rahu. “Kalau begitu, baiklah aku member itahukan
kepadamu. Aku akan pergi ke istana kakangmas Gajahnata sekarang
juga. Tingkah laku anak-nya telah menyentuh harga diriku yang paling
dalam. Karena itu, aku atau kakangmas Gajahnata yang harus mati
malam ini. Kecuali j ika ia mau menyerahkan anaknya, Bramadaru.“
geramPangeran Sena Wasesa. “Pangeran“ berkata Rahu “aku mohon maaf.
Tetapi perkenankanlah aku sedikit memberikan peringatan kepada
Pangeran, justru dalam keadaan marah, Pangeran akan dapat
melupakannya“ Rahu berhenti sejenak, lalu “bukankah di Demak ini ada
Kangjeng Sultan. Bukankah persoalan ini dapat Pangeran ajukan kepada
Kangjeng Sultan. Dengan demikian maka Pangeran tidak akan dituduh
melakukan satu tindakan diluar paugeran hukum dengan mengambil
tindakan sendir i. Pangeran dapat mohon agar persoalan ini segera
diselesaikan. Apalagi persoalannya menyangkut masalah harta benda
yang sudah pernah Pangeran serahkan kepada Kangjeng Sultan dan yang
ternyata masih belum kembali masuk ke Gedung Perbendaharaan istana.“
Pangeran Sena Wasesa menggeram. Dadanya memang serasa akan meledak
oleh kemarahan. Tangis anak gadisnya tidak dapat meredakan gejolak
di dadanya. Namun peringatan yang diberikan Rahu agaknya dapat
membuka hatinya Ia baru saja mendapat pengampunan dari Kangjeng
Sultan. Jika ia dengan tergesa-gesa dan tanpa pertimbangan telah
mengambil satu sikap langsung atas sesama seorang Pangeran, maka
kemarahan Kangjeng Sultan akan dapat terungkap lagi. Karena itu,
maka Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia
ingin mengendapkan gejolak yang menyala didadanya. “Aku mohon,
Pangeran“ desis Rahu kemudian. Pangeran Sena Wasesa akhirnya
berhasil menguasai kemarahannya. Ketika ia berpaling, dilihatnya
Raden Ajeng Ceplik masih duduk bersimpuh berpegangan kedua kakinya.
“Baiklah Ceplik“ berkata Pangeran Sena Wasesa “aku t idak akan pergi
sekarang. Rahu berhasil meyakinkan aku, bahwa tindakan yang
tergesa-gesa tidak akan membawa hasil yang baik. Tetapi besok
pagi-pagi benar aku akan menghadap Sultan. Sementara itu, aku akan
memperingatkan para peronda untuk berhati-hati. Siapa tahu,
Bramadaru telah member ikan laporan yang lain kepada kakangmas
Gajahnata, sehingga agar tidak kedahuluan, maka kakangmas
Gajahnatalah yang akan datang ke rumah ini.“ “Biar lah aku saja yang
menyampaikan pesan Pangeran kepada para penjaga“ berkata Rahu.
“Mereka tidak akan memperhatikan perintahmu. Kau bukan pemimpin
mereka disini“ sahut Pangeran Sena Wasesa. Rahu mengangguk-angguk.
Ia baru sadar, bahwa ia memang bukan jalur yang mungkin dapat
meneruskan perintah Pangeran Sena Wasesa kepada para pengawal.
Karena itu, maka ketiga orang itupun kemudian minta dir i. Sementara
itu, Rahu masih sempat berkata “Tidak seorangpun diantara para
pengawal yang mengetahui apa yang telah terjadi.“ Pangeran Sena
Wasesa mengerutkan keningnya. Ia memang merasa heran bahwa para
pengawal nampaknya tidak tahu sama sekali bahwa Raden Ajeng Ceplik
telah meninggalkan halaman. “Aku telah menyelarak pintu butulan itu
kembali setelah Raden Ajeng keluar dar i halaman ini“ berkata Rahu
“aku memang bermaksud mengetahui, apakah yang sebenarnya ingin
dilakukan oleh Raden Bramadaru, karena aku sudah mendapat beberapa
keterangan tentang anak muda itu dari emban Raden Ajeng Ceplik.“
berkata Rahu dengan nada datar. Pangeran Sena Wasesa masih belum
pasti, apa saja yang telah dilakukan oleh Rahu. Tetapi ia mengerti,
bahwa hidung Rahu sebagai petugas sandi telah dimanfaatkan pula
untuk mencium tingkah laku Raden Bramadaru dan anak gadisnya. Karena
itu, hampir diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesa berdesis “Terima
kasih Rahu. Kau dan kedua anak muda ini telah menyelamatkan anak
gadisku dari kenistaan yang paling laknat.“ “Mudah-mudahan segalanya
dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Terutama segera kembalinya
harta benda itu Icdalam Gedung Perbendaharaan istana.“ Rahu berhenti
sejenak, lalu “silahkan Pangeran turun ke gardu.“ Pangeran Sena
Wasesa kemudian menyuruh anak gadisnya untuk kembali kedalam
biliknya. Katanya “Tidur lah. Kau telah terlepas dari mimpi yang
mengerikan itu.“ Raden Ajeng Ceplikpun kemudian bangkit berdir i dan
melangkah kedalam biliknya. Sementara itu Rahupun mengikut i
Pangeran Sena Wasesa yang turun kehalaman sambil berkata kepada
Daruwerdi dan Jlitheng “Silahkan kembali ke gandok. Aku akan segera
menyusul.“ Keduanya termangu-mangu sejenak. Namun merekupun kemudian
menuju ke gandok. Nampaknya Rahu masih akan menyertai Pangeran Sena
Wasesa yang akan memerintahkan agar para pengawalnya berhati-hati.
“Tetapi ayahanda agaknya tidak akan memberitahukan persoalan diajeng
Ceplik kepada para pengawal“ berkata Daruwerdi. “Ya. Pangeran hanya
akan member ikan perintah kepada mereka untuk bersiaga
sebaik-baiknya.“ jawab Jlitheng Namun sementara itu, Rahu yang
mengikuti Pangeran Sena Wasesa telah memberikan beberapa keterangan
tentang hubungan antara Bramadaru dan Raden Ajeng Ceplik. Kedukaan
hati gadis itu karena ia merasa cinta ayahandanya kepada ibundanya
dinodai. Dengan sedikit mengurai persoalan-persoalan yang berhasil
diamatinya dari kejauhan maka ketajaman nalar Rahu mencium langkah-
langkah yang mungkin akan berakibat kurang baik bagi Raden Ajeng
Ceplik. “Kenapa kau t idak mencegah saja hal itu agar t idak terjadi
?“ bertanya Pangeran Sena Wasesa. “Pangeran“ jawab Rahu “aku mohon
maaf, bahwa dengan pertimbangan Kiai Ajar Cinde Kuning dan Kiai
Kanthi, maka hal ini telah aku lakukan. Aku sengaja member ikan
kesempatan kepada Daruwerdi untuk menolong Raden Ajeng Ceplik.
Bukankah dengan demikian gadis itu merasa, bahwa anak muda yang
disebut kakaknya itu benar-benar telah mampu menjadi pelindungnya ?
“ Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia hampir lupa
kepada persoalan keluarganya itu. Ia hampir lupa sikap anak gadisnya
menghadapi kenyataan yang sangat pahit. Namun kini ayah dari dua
orang anak yang berbeda ibu itu melihat, bahwa kedua anak itu. telah
dapat mempertautkan hati mereka sebagai saudara. “Bukankah dengan
demikian Raden Ajeng Ccplik juga akan menerima ibu Raden Daruwerdi
itu sebagai ibundanya ?“ bertanya Rahu. Pangeran Sena Wasesa
mengangguk-angguk. Katanya dengan nada sangat dalam “Terima kasih
Rahu. Kau bukan saja seorang yang telah menolong aku dari
keterjerumusanku kemungkinan yang paling buruk atas dir iku di
saat-saat aku berada ditangan orang-orang Sanggar Gading, tetapi kau
juga telah menyelamatkan keluargaku dari keretakkan dan bahkan
kehinaan atas anak gadisku itu.“ “Yang aku lakukan adalah sekedar
kewajiban, Pangeran. Kewajibanku sebagai seorang petugas sandi di
sarang orang- orang Sanggar Gading dan tugas diantara sesama di
istana ini.“ jawab Rahu. Pangeran Sena Wasesa mengangguk-angguk.
Tetapi ia tidak sempat bertanya lebih banyak lagi. Ketika Pangeran
itu berada didepan regol. maka pengawal yang sedang bertugas
malamitupun segera menyongsongnya. “Ada perintah Pangeran ?“
bertanya pemimpin pengawal. Pangeran Sena Wasesa mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia menjawab lunak “Tidak. Tidak ada
apa-apa. Aku hanya merasa terlalu panas didalam.“ “O“ Pengawal itu
menarik nafas dalam-dalam. Meskipun demikian Pangeran Sena Wasesa
berkata “Tetapi berhati- hatilah disisa malam ini. Mungkin udara
yang tidak nyaman ini membuat aku gelisah. Amati setiap sudut dengan
baik, meskipun sebentar lagi hari menjadi pagi.“ “Siap Pangeran.“
jawab pengawal itu. “Pada saat-saat seperti ini, kita kadang-kadang
menjadi lengah“ berkata Rahu. Pengawal itu mengangguk-angguk kecil.
Sejenak kemudian maka Pangeran Sena Wasesapun kembali kedalam
biliknya, sementara Rahupun menuju ke gandok. Didalam biliknya
Pangeran Sena Wasesa sempat menganyam angan-angannya. Ia dapat
melihat peristiwa itu dalam keseluruhan. Ia sudah mendengar kisah
anak gadisnya dan iapun telah mendengar keterangan Rahu menurut
penilaiannya atas peristiwa yang terjadi di istana itu. Ternyata
bahwa Raden Ajeng Ceplik sangat berat untuk menerima kehadiran ibu
tirinya yang ternyata telah menyadap cinta ayahandanya sebelum
ayahandanya kawin dengan ibundanya. Dengan demikian maka seakan-akan
ayahandanya kawin dengan ibundanya itu sama sekali tidak dilandasi
oleh perasaan cinta. Tetapi Ceplik telah melihat kenyataan lain,
bahwa Daruwerdi telah menyelamatkannya dari kehinaan yang paling
dahsyat. Tanpa pertolongan Daruwerdi dan anak muda yang lebih senang
dipanggil Jlitheng dari pada namanya sendiri itu, maka mungkin ia
akan berada disatu neraka yang sangat menger ikan, tanpa diketahui
oleh ayahandanya, sementara Bramadaru akan dapat berpura-pura
kehilangan pula. Sedangkan dalam masa-masa tertentu Bramadaru akan
datang kepadanya dengan kebuasan yang menyala didalam dadanya.
Pangeran Sena Wasesa menarik nafas dalam-dalam. Ia juga berterima
kasih kepada Rahu yang telah mengekangnya sehingga ia tidak
mengambil t indakan sendiri malam itu. “Sultan akan dapat terungkat
kemarahannya jika aku bertindak sendir i, apalagi harta benda itu
masih belum masuk ke Perbendaharaan. Jika aku membunuh kakangmas
Gajahnata, maka aku akan mendapat hukuman kjrena kesalahan kakangmas
belum dibukt ikan. Tetapi jika aku mati, pusaka dan harta benda itu
akan tidak dikenal tempatnya. Meskipun serba sedikit aku sudah
menyampaikan kepada Kanjeng Sultan, tetapi tanpa aku, semuanya akan
mengalami kesulitan. “ berkata Pangeran Sena Wasesa kepada diri
sendiri. Demikianlah, maka malam itu Pangeran Sena Wasesa telah
mempersiapkan dir inya lahir dan batin untuk menghadapi persoalannya
dengan Pangeran Gajahnata. Karena itu, maka pagi-pagi benar Pangeran
Sena Wasesa. sudah siap untuk berangkat ke ana Namun ia sadar, bahwa
ia tidak akan segera dapat menghadap Sultan, karena hari masih
terlalu pagi. Namun gejolak perasaannya tidak lagi dapat dikekangnya
untuk segera berangkat. “Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan untuk
menghadap mendahului waktu yang sudah ditentukan“ berkata Pangeran
Sena Wasesa didalam hatinya “Aku memer lukan berbicara sebelum ada
orang lain.“ Namun agaknya Pangeran Sena Wasesa memerlukan seseorang
yang akan dapat membantunya menjelaskan persoalan yang dihadapinya.
Menurut pendapat Pangeran Sena Wasesa, yang paling tepat untuk
diajaknya menghadap adalah Rahu. Rahu sama sekali tidak
berkeberatan. Justru ia berterima kasih atas kepercayaan Pangeran
Sena Wasesa yang akan mengajaknya serta. Seperti yang diduganya.
Pangeran Sena Wasesa datang terlalu pagi diistana. Para pengawal
masih berada ditempat tugas mereka dimalam hari. Sehingga karena
itu, maka kedatangan Pangeran Sena Wasesa itu menimbulkan beberapa
pertanyaan pada para pengawal. “Memang ada sesuatu yang penting yang
harus segera aku sampaikan kepada Kangjeng Sultan“ berkata Pangeran
Sena Wasesa kepada para pengawal. “Cobalah berhubungan dengan
pengawal dalam“ seorang pengawal mempersilahkan “j ika Kangjeng
Sultan sudah berada di ruang dalam, maka Pangeran akan dapat di
terimanya jika persoalan yang Pangeran bawa memang pent ing sekali.“
Pangeran Sena Wasesapun kemudian menghubungi pimpinan pengawal dalam
untuk menyampaikan permohonannya menghadap mendahului waktunya.
Permohonan Pangeran Sena Wasesa itu ternyata sangat menarik
perhatian Kangjeng Sultan, justru karena Pangeran Sena Wasesa
mempunyai persoalan khusus tentang pusaka dan harta benda yang
disembunyikannya. Karena itu, maka Kangjeng Sultan tidak
berkeberatan untuk menerima Pangeran Sena Wasesa menghadap. “Agaknya
ada masalah yang sangat penting“ desis Kangjeng Sultan ketika
Pangeran Sena Wasesa dan Rahu yang bergelar Wira Murti itu
menghadap. “Hamba Kangjeng Sultan“ jawab Pangeran Sena Wasesa “hamba
yang menghadap bersama Wira Murti membawa satu persoalan yang sangat
penting. Sebenarnya bukan masalah pusaka dan harta benda itu secara
langsung, namun memang ada singgungannya dengan pusaka dan harta
benda itu, meskipun atas persoalannya adalah persoalan pribadi.“
Kangjeng Sultan memperhatikan keterangan itu dengan sungguh-sungguh.
Sementara itu, maka Pangeran Sena Wase- sapun segera melaporkan
segala persoalan yang terjadi di istananya. Dengan jujur dan
sebagaimana sesungguhnya terjadi. Pangeran Sena Wasesa
menceriterakan perasaan anak gadisnya. Kemudian sikap putera
Pangeran Gajahnata terhadap puterinya. Serta keinginan Pangeran
Gajahnata untuk dapat mempergunakan hubungan antara Bramadaru dan
anak gadisnya untuk memiliki pusaka dan harta benda itu. “Darimana
kakangmas Pangeran mengetahuinya ?“ bertanya Kangjeng Sultan.
“Bramadaru mengatakannya kepada anak gadis hamba, sementara Wira
Murti ini mengintip dari balik semak-semak.“ jawab Pangeran Sena
Wasesa, yang kemudian juga menjelaskan usaha Rahu yang bergelar Wira
Murti itu untuk mempertautkan hati anak laki-lakinya dengan anak
gadisnya. Kangjeng Sultanpun kemudian mendapatkan semua penjelasan
dari Pangeran Sena Wasesa dan dari Rahu. Sampai saatnya Raden Ajeng
Ceplik itu kembali kedalam istana kapangarenan. “Hampir saja hamba
kehilangan pengamatan dir i“ berkata Pangeran Sena Wasesa pula
“untunglah Rahu telah mencegah hamba untuk tidak pergi ke istana
kakangmas Gajahnata malamitu juga.“ Kangjeng Sultan
mengangguk-angguk. Namun kemudian Kangjeng Sultan itupun berkata
“Baiklah kakangmas Pangeran. Aku telah mendengar laporanmu. Tetapi
aku masih harus mendengar laporan dari pihak yang lain, agar
keputusan yang akan aku ambil tidak menjadi berat sebelah. Mungkin
aku masih memerlukan beberapa orang saksi. Namun yang aku harap
bahwa aku akan mendapatkan keterangan sehingga aku dapat mengabarkan
per istiwa yang sebenarnya.“ “Hamba Kangjeng Sultan. Hamba akan
menunggu.“ jawab Pangeran Sena Wasesa. Demikianlah, maka Kangjeng
Sultanpun telah memer intahkan dua orang pengawal untuk menghadap
Pangeran Gajahnata. “Kakangmas Gajahnata aku perlukan menghadap
sekarang“ pesan Kangjeng Sultan kepada pengawal itu. Sambil
menunggu, maka Kangjeng Sultan masih menanyakan beberapa hal tentang
peristiwa di bawah pohon nyamplung itu, terutama kepada Rahu yang
bergelar Wira Murti. Bahkan Kangjeng Sultanpun bertanya “Wira Murti.
apakah yang kau lakukan itu tidak justru akan dapat berakibat
sebaliknya. Seandainya Daruwerdi dan Jlitheng yang bergelar Pangeran
Candra Sangkaya itu tidak dapat memenangkan pertempuran itu. Apakah
yang kira-kira akan terjadi ? Atau bahkan mungkin guru Bramadaru
atau orang yang membantunya itu ada disitu pula ?“ ”Ampun Kangjeng
Sultan. Sebenarnyalah mereka tidak hanya berdua. Hamba ada pula
ditempat itu bersama Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning. Jika
sesuatu yang gawat terjadi atas keduanya, maka kami sudah siap untuk
membantu mereka.“ jawab Rahu. Kangjeng Sultan menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Jadi kalian sudah memperhitungkan dengan
cermat ?“ Rahu mengangguk hormat sambil menyahut “Hamba berusaha
untuk berbuat sebaik-baiknya.“ Ketika Kangjeng Sultan
mengangguk-angguk. Pangeran Sena Wasesapun mengangguk-angguk pula.
Pertanyaannya tidak sampai sejauh pertanyaan Kangjeng Sultan itu.
sehingga dengan demikian ia menjadi semakin meyakini, bahwa orang-
orang yang sedang menjadi tamunya itu benar-benar ingin berbuat baik
terhadapnya dan terhadap keluarganya. Dalam pada itu, beberapa saat
kemudian, ternyata pengawal yang mendapat tugas untuk menghadap
Pangeran Gajahnata telah kembali. Dengan nafas terengah-engah
pengawal itu menghadap Kangjeng Sultan d ruang dalam. Pangeran Sena
Wasesa dan Rahu menjali berdebar-debar melihat kegelisahan yang
membayang diwajah orang itu. Agaknya Sultanpun demikian pula,
sehingga karena itu. maka Kangjeng Sultan itupun segera bertanya
“Bagaimana dengan Pangeran Gajahnata ?“ “Istana itu sudah kosong
tuanku“ jawab pengawal itu. “He“ wajah Kangjeng Sultan menjadi
tegang “maksudmu bahwa Pangeran Gajahnata sudah tidak ada
diistana-nya lagi ?“ “Hamba tuanku. Ada sekelompok pengawal yang
kebingungan di halaman istana. Namun mereka mengatakan, bahwa
Pangeran Gajahnata telah meninggalkan istana tanpa membawa seorang
pengawalpun. Agaknya yang mengawal Pangeran itu bersama puteranya
adalah Ki Ajar Wrahasniti, guru Raden Bramadaru dengan beberapa
orang kepercayaannya.“ jawab pengawal itu. Kangjeng Sultan menarik
nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Pangeran Sena Wasesa
“Semuanya sudah jelas sekarang“ Pangeran Sena Wasesa menunduk
dalam-dalam. Ada sepercik kekecewaan, bahwa ia tidak sempat membuat
perhitungan dengan Pangeran Gajahnata karena anak laki- lakinya
telah menghinakan anak gadisnya, meskipun masih belumterlanjur
terjadi sesuatu yang merupakan bencana. Dalam pada itu, maka
Kangjeng Sultanpun kemudian berkata kepada pengawal yang menghadap
“Baiklah. Persoalannya akan aku pelajari untuk mengambil satu
langkah yang paling baik atas peristiwa ini.“ Pengawal itupun
kemudian mengangguk hormat sambil menyembah. Baru ketika pengawal
itu telah hilang dibalik dinding ruangan, maka Kangjeng Sultan
itupun berkala “Kita dapat meyakini bahwa peristiwa yang aku dengar
,tu bukan sekedar ceritera yang berat sebelah. Justru karena
Pangeran Gajahnata meninggalkan istananya, maka aku menjadi semakin
pasti, bahwa mereka telah merasa bersalah sehingga lebih baik
menghindarkan dir i daripada harus mengalami pemeriksaan dan
kemudian hukuman.“ Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab. Sementara
itu Kangjeng Sultan berkata seianjutnya “Tetapi kakangmas Pangeran,
aku yakin pula bahwa persoalannya tidak akan berhenti sampai disini.
Kakangmas Gajahnata tentu masih akan mengambil langkah-langkah yang
akan dapat merupakan ancaman bagi kakangmas Sena Wasesa. “ Pangeran
Sena Wasesa mengangguk-angguk. Ia menyadari sepenuhnya sebagaimana
dikatakan oleh Kangjeng Sultan di Demak itu. Namun dalam pada itu.
maka Kangjeng Sultanpun kemudian berkata “Tetapi kakangmas akan
dapat memperkuat pengawalan di istana Kanangmas. Jika diperlukan,
maka kekuatan pengawal itu akan dapat ditambah dengan pengawalan
dari kesatuan keprajuritan di Demak “ “Terima kasih“ jawab Pangeran
Sena Wasesa “sementara ini biarlah hamba berusaha menjaga diri
sendiri. Hamba mempunyai beberapa orang pengawal yang dapat hamba
percaya. Bahkan pada saat-saat hamba diambil oleh orang- orang
Sanggar Gading, mereka tetap menunjukkan kesetiaan mereka Apalagi
pada saat ini. Tamu-tamu hamba adalah orang-orang yang memiliki ilmu
yang meyakinkan, sementara mereka telah berbuat sejauh dapat mereka
lakukan bagi kebaikan hamba dan keluarga hamba. Namun apabila pada
satu saat hamba memerlukannya, maka hamba akan mengatakan nya.“
Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya bahwa
tamu-tamu Pangeran Sena Wasesa memang orang-orang yang memiliki ilmu
yang tinggi, sehingga karena itu, untuk saat itu. Pangeran Sena
Wasesa memang tidak, memer lukan bantuan bagi pengamanannya. Namun
dalam kesempatan itu, Kangjeng Sultan telah mengambil satu keputusan
pula untuk dengan segera mengambil pusaka dan harta benda yang
pernah diperebutkan sehingga menelan banyak sekali korban. Apalagi
justru Pangeran Gajahata telah berusaha untuk menguasai pusaka dan
harta benda itu pula caranya sendiri. Untuk sementra usaha itu
memang dapat dianggap gagal. Tetapi mungkin masih ada cara lain yang
dapat dipergunakan. Akhirnya Kangjeng Sultan memutuskan untuk
memindahkan pusaka dan harta benda itu dengan secara rahasia. Tidak
banyak orang dilingkungan istana sendiri yang mengetahuinya. Namun
dalam pada itu, Kangjeng Sultan telah mempercayakan pemindahan itu
kepada Pangeran Jalayuda. Pangeran Sena Wasesa sendiri dan beberapa
petugas sandi yang dipimpin oleh Rahu yang bergelar Wira Murti.
“Sabet Kiai Lawang“ desis Pangeran Jalayuda, “Ya“ desis Pangeran
Sena Wasesa “sipat kandel yang memiliki perbawa yang sangat besar
sehingga orang percaya bahwa siapa yang memilikinya akan mampu
memegang kekuasaan tertinggi di Demak. Didukung oleh harta benda
yang tiada terhitung jumlahnya, maka seseorang benar-benar akan
dapat berbuat apa saja yang tidak pernah dapat dibayangkan. “
Pangeran Jalayuda mengangguk-angguK. Namun justru karena itu maka ia
telah melakukan tugasnya dengan sangat berhati-hati. Dalam pada itu,
sebagaimana diduga orang, sebenarnyalah bahwa pusaka dan harta benda
itu memang berada di daerah sepasang Bukit Mati. Tetapi sama sekali
tidak berada dibukit gundul. Justru didekat bukit berhutan,
berseberangan dengan arah air yang dikuasai oleh orang-orang Lumban.
Dalam tugas rahasia itu, telah dikerahkan orang-orang berilmu tinggi
untuk mengawalnya, tetapi yang jumlahnya tidak terlalu banyak
sehingga tidak banyak menar ik perhatian. Untuk mengangkut harta
benda itu telah dipergunakan beberapa pedati yang dikendalikan oleh
orang-irang berilmu itirT Bahkan atas permintaan Pangeran Sena
Wasesa, dalam tugas itu Kiai Kanthi dan Ki Ajar Cinde Kuning telah
ikut pula bersama dengan kelompok orang-orang ber ilmu dalam
mengemban tugas yang sangat rahasia itu. Sementara itu, untuk
mengamankan Raden Ajeng Ceplik di istana Pangeran Sena Wasesa, telah
ditugaskan beberapa orang prajurit terpercaya untuk meronda dan yang
selalu ber- hubungan dengan para pengawal diluar pengetahuan Raden
Ajeng Ceplik sendir i. Disamping para pengawal dan para prajurit.
Raden Ajeng Ceplik merasa tenang berada dibawah pengawasan kakaknya
Daruwerdi dan seorang anak muda yang bernama Jlitheng. Bahkan
perlahan-lahan, Raden Ajeng Ceplik berusaha untuk merubah sikapnya
dan menunjukkan kepada kakaknya, bahwa ia tidak akan mengingkari
sama sekali kehadiran ibu Daruwerdi meskipun ia berasal dari
padepokan. Meskipun tidak dengan serta merta. karena keseganan yang
masih membayangi kedua belah pihak, tetapi hubungan antara Raden
Ajeng Ceplik menjadi semakin akrab pula dengan Endang Sr ini dan
Swasti. Dalam pada itu, menuggu tugas Pangeran Sena Wasesa serta
penyelesaian didalam Gedung Perbendaharaan, maka para tamunya masih
tetap berada di lingkungan istana kapangeranan. Meskipun waktunya
tidak terlalu lama, namun telah member i kesempatan segala pihak
untuk dapat saling menyesuaikan dir i. Ternyata bahwa tugas yang
berat dari Pangeran Jalayuda dan Pangeran Sena Wasesa itu dapat
diselesaikan dengan selamat. Meskipun pusaka dan harta benda itu
berada di Lumban, namun demikian cermatnya tugas yang dilakukan,
sehingga tidak seorangpun diantara orang-orang Lumban yang
mengetahui, apa yang sudah terjadi di Kabuyutan mereka. Tetapi
agaknya justru penyelesaian di Gedung Perbendaharaan itulah yang
memerlukan waktu yang lebih lama, Dengan cermat dan hati-hati setiap
benda berharga dihitung dan dicatat diatas rontal disaksikan oleh
Pangeran Jalayuda dan Pangeran Sena Wasesa. Demikianlah, baru ketika
tugas itu sudah selesai, maka dengan sengaja telah di hembuskan
berita, bahwa pusaka dan harta benda yang diperebutkan itu memang
sudah berada di istana, sehingga dengan demikian, maka pergolakan
berikutnya memperebutkan harta benda dan pusaka itu tidak akan
terjadi lagi. Dengan demikian, maka persoalan yang untuk beberapa
lamanya menyelubungi Pangeran Sena Wasesa, seakan-akan telah terurai
seluruhnya, Rasa-rasanya Pangeran Sena Wasesa tidak lagi mempunyai
hutang kepada siapapun juga. Dengan demikian, maka rasa-rasanya
hidupnyapun menjadi lebih jernih. Apalagi ketika iapun kemudian
menyadari, bahwa puterinya yang semula menyesali kehadiran ibu tir
inya, semakin lama menjadi semakin dekat pula. Bahkan kemudian,
batas antara keduanyapun seakan-akan telah lenyap. Ternyata bahwa
tingkah laku Bramadaru dapat member ikan arti yang bermanfaat bagi
kedua anaknya. Seandainya Bramadaru tidak melakukannya, maka masih
sulit untuk mencari jalan agar kedua anaknya dapat berbuat
sebagaimana dua orang saudara. Apalagi dengan ibu tirinya. Tetapi
segalanya kini sudah teratasi. Namun dalam pada itu, masih ada yang
hsrus diselesaikan oleh Pangeran Sena Wasesa sebagai orang tua. Ia
tidak dapat tinggal diam melihat hubungan antara Daruwerdi dan
Swasti. Bahkan seakan-akan Swasti sudah tidak dapat dipisahkan lagi
dari Endang Sr ini yang merasa pernah diselamatkan j iwanya oleh
gadis yang garang itu. “Tidak ada keberatan apapun“ berkata Endang
Srini kepada Pangeran Sena Wasesa ketika Pangeran itu bertanya
kepadanya tentang hubungan antara anaknya dengan Swasti. ”anak Kiai
Kanthi yang terbiasa hidup dalam kekerasan alam. Aku berharap bahwa
pengalaman orang tuanya akan menjadi cermin bagi Daruwerdi, bahwa ia
akan dapat menjadi seorang yang benar-benar menerima isterinya
sebagaimana adanya, serta tidak dapat dipaksa oleh siapapun untuk
meninggalkannya kecuali karena keduanya dipisahkan oleh maut. “ “Ya,
ya. Aku mengerti“ sahut Pangeran Sena Wasesa sambil
mengangguk-anguk. Lalu “Adalah menjadi kewajiban kita untuk
memberikan kesadaran yang demikian kepadanya, selagi semuanya belum
terlanjur “ Endang Srini hanya mengangguk-angguk. Tetapi ia berjanji
didalam dir inya, bahwa ia akan menjelaskan hal itu kepada anaknya.
Swasti adalah anak Kiai Kanthi, seorang penghuni padepokan yang
olehkebanyakan orang disebut tidak berderajat Tetapi itu bukan
berarti bahwa anak gadis itu rJean dapat diperlakukan sekehendak
oleh orang lain yang kemudian menjadi suaminya, meskipun ia adalah
seorang bangsawan. Demikianlah, maka seakan-akan segalanya memang
sudah selesai. Dengan demikian, maka datang saatnya tamu-tamu
Pangeran Sena Wasesa itu minta dir i. Mereka sudah terlalu lama
membuat istana Pangeran Sena Wasesa menjadi terlalu sibuk. Namun
dalam pada itu, sebelum mereka meninggalkan istana Pangeran Sana
Wasesa, maka mereka masih dibawa sekali lagi mohon diri kepada
Kangjeng Suhan. Sebagaimana mereka datang menghadap, maka merekapun
menghadap pula pada saat mereka akan pergi. “Segalanya sudah
disiapkan“ berkata Kangjeng Sultan “ akuakan tetap memegang janjiku.
Lambat atau cepat, maka segala-galanya akan kami selesaikan. Sebuah
padepokan yang memadai buat Ki Ajar Cinde Kuning dan Kiai Kanthi.
Air yang cukup bagi Lumban sesuai dengan keinginan Jlitheng. Dan
diminta atau tidak diminta aku akan menyiapkan sebuah istana
kapangeranan dan akan aku serahkan bersama kekan- cingan
pengangkatannya sebagai Pangeran. “ Jlitheng hanya menundukkan
kepalanya. Sebenarnya ia tidak menginginkan apa-apa lagi. la hanya
menginginkan agar Lumban menjadi daerah yang hijau. Air dapat
dikendalikan lebih baik tanpa menghisapnya sampai kering sehingga
arus dibawah tanah itu tidak dapat memberikan apa-apa lagi bagi
daerah jauh di arah bawah. Tetapi Jlitheng tidak dapat membantah
segala titah Kangjeng Sukan. Demikianlah, maka sampailah pada
saatnya para tamu itu meninggalkan istana. Namun dalam pada itu,
setelah di adakan pembicaraan yang mendalam, maka Endang Sr ini
telah minta kepada Kiai Kanthi agar Swasti tetap berada di istana
Pangeran Sena Wasesa. Sementara itu agaknya Raden Ajeng Ceplik juga
tidak berkeberatan setelah ia mengetahui, hubungan yang terjalin
antara kakaknya dengan gadis itu. Dalam pada itu, Rahu yang kembali
ke kesatuannya bersama Semi yang diakunya sebagai adiknya itu, ikut
pula melepaskan mereka yang meninggalkan istana itu. Pada satu pagi
yang cerah, beberapa ekor kuda telah siap dihalaman. Ternyata bahwa
tujuan mereka pertama-tama memang Luruhan. Ki Ajar Cinde Kuning dan
Kiai Kanthi seakan-akan hanya menurut saja kemana Jlitheng akan
pergi. Ketika mereka sudah berada di regol. maka Pangeran Sena
Wasesapun berkata kepada Jlitheng “Segala yang dijanjikan Kangjeng
Sultan tentu akan segera dipenuhi.“ “Kami tidak tergesa-gesa
Pangeran“ jawab Jlitheng. Namun kata-katanya tertegun ketika diluar
sadarnya tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata yang bulat
bening. Jlitheng segera melemparkan pandangan matanya kepada Rahu.
Sementara itu. Raden Ajeng Ceplik yang ikut pula mengantar mereka
sampai keregol telah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dalam pada
itu, hampir diluar sadarnya Pangeran Sena Wasesapun kemudian berkata
kepada Jlitheng “Nah, kau harus juga minta diri kepada Ambarsari.
Kau sudah menyelamatkannya dua kali. Begitu orang-orang Sanggar
Gading membawa aku, ternyata ada diantara mereka yang telah kembali
dan berusaha mengambil anak gadisku. Kau ternyata lelah
menyelamatkannya dengan membunuh orang- orang Sanggar Gading itu.
Kemudian untuk kedua kalinya kau telah menolongnya ketika ia
melarikan dir i bersana Bramadaru. “ “Ah“ desah Raden Ajeng Ceplik.
Jlitheng menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya keringatnya mulai
membasahi tubuhnya. Apalagi ketika tiba-tiba saja ia melihat
Daruwerdi yang berdir i disamping ibunya, dan di- sebelahnya adalah
Swasti yang ikut mengantar ayahnya sampai keregol pula. Namun
akhirnya Jlitheng berhasil menguasai dirinya. Ia tidak lagi
membiarkan dir inya terombang-ambing oleh perasaannya. Karena itu,
sebelum ia meloncat kepunggung kuda, maka ia masih sempat sekali
lagi mohon diri kepada orang-orang yang mengantarnya sampai ke
gerbang. Bahkan kemudian kepada Raden Ajeng Ceplik ia berdesis
lambat “Aku mohon dir i puteri.“ Raden Ajeng Ambarsari itupun
menjawab lambat pula “Selamat jalan Pangeran.“ Wajah Jlitheng
menjadi merah. Dengan sendat ia berkata “Jangan panggil aku demikian
Raden Ajeng.“ Raden Ajeng Ceplik tidak menjawab. Tetapi ketika
Jlitheng memandanginya puteri itu tersenyum. Jlitheng tidak berkata
apa-apa lagi. Bahkan ia bagaikan menjadi bingung ketika Rahupun
mendekatinya sambil tersenyum dan berbisik “Kau memang seorang
Pangeran. Bukankah sebentar lagi akan kau terima kekancingannya dan
akan dilakukan wisuda ?“ Jlitheng tidak dapat menjawab. Namun
jantungnya terasa berdebaran. Demikianlah semuanya kemudian telah
minta dir i. Sejenak kemudian beberapa ekor kuda telah berderap
meninggalkan istana Pangeran Sena Wasesa. Beberapa orang yang
berdiri di gerbang melambaikan tangannya. Diantara mereka adalah
puteri Ambarsari yang sehari-hari dipanggil Raden Ajeng Ceplik.
Belum lagi mereka meninggalkan gerbang itu beberapa puluh langkah.
Kiai Kanthi telah mulai bergurau “Puteri itu cantik sekali. Ia lebih
berharga dari gadis manapun juga. Hatinya lembut seperti beledru.“
Ki Ajar Cinde Kuning mengangguk-angguk. Sambil tersenyum pula ia
menjawab “Itulah agaknya yang membuat saudara sepupunya menjadi
gila.“ Jlitheng sama sekali tidak menyambung. Tetapi ada sesuatu
yang terasa aneh didalam dirinya. Justru pada saat- saat ia sudah
menerima satu kenyataan tentang dirinya. Daruwerd dan Swasti. Tetapi
Jlitheng tidak mau hanyut dalam arus perasaannya lagi. Dengan
palarnya ia berusaha memotong gejolak didalam hatinya. Ia tidak mau
mengalami kesulitan perasaan lagi. Jika ia merasa satu ikatan baru
telah membelit hatinya, maka itu akan berarti, hatinya akan terluka
lagi. Demikianlah maka merekapun segera memacu kuda mereka ketika
mereka sudah berada di pinggir kota Merekapun ingin segera sampai ke
tujuan mereka. Seperti saat mereka mohon dir i, maka mereka
pertama-tama akan pergi ke Lumban. Bahkan Ki Ajar Cinde Kuning untuk
beberapa saat akan berada di Lumban pula. “Aku kehilangan seorang
cucu“ berkata Ki Ajar Cinde Kuning “karena itu, kau akan aku paksa
untuk menjadi gantinya.“ Jlitheng tersenyum. Katanya “Bagaimana jika
aku tidak mau?“ “Bukit berhutan di daerah Sepasang Bukit Mati itu
akan aku hancurkan. Airnya akan aku keringkan dan Lumban akan
menjadi padang yang gersang.“ jawab Ki Ajar Cinde Kuning. Kiai
Kanthi tertawa. Katanya “Kenapa Ki Ajar mengambil seorang mur id
dari Lumban? Apakah lebihnya anak Lumban ?“ “Bukan apa-apa. Anak
Lumban sudah terbiasa hidup dalam kemiskinan sehingga mereka
mempunyai kemampuan untuk berprihatin“ jawab Ki Ajar sambil
tersenyum. “Itu tidak adil“ Jlitheng menyahut “seharusnya Ki Ajar
bukan memanfaatkan kemiskinan orang-orang Lumban. Tetapi berusaha
untuk menolongnya, merubah cara hidupnya.“ Ki Ajar Cinde Kuning dan
Kiai Kanthipun tertawa. Tetapi mereka t idak menjawab lagi. Namun
yang dikatakan Jlitheng dalam guraunya itu bukannya hanya dapat
dikatakannya. Di hari-hari berikutnya, ia telah benar-benar bekerja
untuk Lumban. Ketika ia datang lagi ke Lumban ia telah disambut oleh
anak-anak Lumban bukan saja dari Lumban Wetan, tetapi juga dari
Lumban Kulon. Pengalaman yang terjadi atas anak- anak muda Lumban.
benar-benar telah memberikan satu nafas kehidupan baru. Anak-anak
Lumban yang terbagi itu tidak lagi saling bermusuhan. Tetapi mereka
benar-benar berusaha untuk dapat meningkatkan hidup seluruh
Kabuyutan Lumban tidak pandang Lumban Wetan atau Lumban Kulon. Dalam
pada itu, apa yang dijanjikan Kangjeng Sultanpun segera menyusut
Jlitheng sebagaimana dikehendaki. Kangjeng Sultan telah mengirimkan
beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk mengatur air. Bukan
saja beberapa, tetapi Kangjeng Sultan juga mengir imkan beberapa
jenis alat dan beaya untuk membuat saluran-saluran air yang lebih
baik. Sekaligus membual sebuah padepokan kecil buat Kiai Kunthi.
Sementara itu, Ki Ajar Cinde Kuningpun agaknya lebih senang tinggal
di Lumban “Padepokanku telah dikotori dengan kedengkian dan
ketamakan. Apalagi anak dan cucuku sudah tidak bersamaku lagi.
Karena itu, agaknya aku lebih senang tinggal bersama Kiai Kanlhi.
Disini aku mendapatkan seorang saudara laki-laki untuk menggantikan
saudara kembarku dan seorang cucu“ katanya. “Bagus sekali“ sahut
Kiai Kanthi “j ika demikian, kita akan bersama-sama membangun daerah
ini.“ “Biar lah sisa hidup kita ini ada gunanya“ berkata Ki Ajar
kemudian. “Ya“ iawab Kiai Kanthi “jika kita memilih menyepi, mungkin
akan sangat berarti bagi sisa hidup kita sendir i. Tetapi tidak
member ikan manfaat kepada sesama. Disini kita masih mendapat
kesempatan untuk berbuat sesuatu bersama-tama dengan orang Lumban.“
Karena itulah, maka padepokan kecil Kiai Kanthi telah cilereng bukit
berhutan. Tetapi dibawah lereng bukit sebagai- cilereng bukit
berhutan. Tetapi dibawah lereng bukit sebagaimana pernah di
rancangnya Dengan demikian, maka dibawah lereng bukit itu kemudian
terhampur sebuah padepokan. Ketika orang-orang yang dikirim oleh
Kangjeng Sultan telah kembali ke Demak, maka anak-anak muda
Lumbanlah yang membantu menyempurnakan padepokannya. Diseputar
padepokan kecil itu terdapat ladang dan pategalan yang tidak terlalu
luas yang dikerjakan dan akan menjadi landasan makan Kiai Kanthi dan
Ki Ajar Cinde Kuning serta Jlitheng bahkan kemudian kedua adik
seperguruan Ki Ajar Cinde Kuningpun sering berada di padepokan itu
pula. Meskipun demikian Jlitheng masih saja mondar-mand'ir antara
padepokan itu dan rumah biyungnya yang tua, yang menyambut
kedatangannya kembali dengan air mata. Demikianlah dari hari kehari,
kehidupan di Lumban itu menjadi semakin mapan. Sawah menjadi
bertambah hijau dan dataran-dataran yang kering telah menjadi sawah.
Saluran- saluran air yang dibuat oleh anak-anak muda Lumban dibawah
petunjuk beberapa orang yang memang memiliki pengetahuan tentang
itu, telah membuat tanah di seluruh Lumban menjadi subur. Penguasaan
air dari bukit ian pembagian air didataran menjadi lebih teratur dan
mengarah. Dengan demikian, maka dari hari kehari, perkembangan
menjadi semakin nyata ditilik dari kesejahteraan hidup orang- orang
Lumban. Mereka tidak lagi kekurangan makan sementara kelebihan dari
hasil panen dapat mereka tukarkan dengan keperluan hidup sehari-hari
Bahkan disudut-sudut pasar telah berdiri pande-pande besi yang dapat
membuat alat-alat pertanian mereka dan memenuhi kebutuhan sendir i.
Lumban tidak perlu lagi membeli dari luar Kabuyutan mereka, cangkul,
parang, sabit dan peralatan-peralatan lain. Dalam suasana yang jauh
lebih baik dari sebelumnya. Lumban telah dikejutkan oleh kehadiran
beberapa orang berkuda. Sebuah iring-iringan kecil yang langsung
menuju ke padepokan di bawah lereng bukit. Ki Ajar Cinde Kuning dan
Kiai Kantin yang sedang bekerja disawah terkejut melihat kehadiran
mereka. Dengan tergesa- gesa mereka menyongsong ir ing- iringan
kecil itu yang terdiri dari Pangeran Sena Wasesa, Raden Ajeng
Ambarsari diikuti oleh Rahu yang bergelar Wira Murti dan tiga orang
pengawal. “Pangeran mengejutkan kami“ berkata Ki Ajar Cinde Kuning.
“Setelah sekian lamanya tidak melihat Lumban. terasa aku menjadi
rindu Rindu alas sepanjang bukit mati ini, dan rindu kepada
Kabuyutan yang menurut perhitunganku tentu sudah berubah.
Sebenarnyalah Kabuyutan ini memang sudah berubah.“ berkata Pangeran
Sena Wasesa. Sementara itu Rahu menyambung “Lumban memang membuat
kita yang pernah tinggal disini menjadi rindu untuk sekali-sekali
melihatnya kembali. Tetapi dimana Jlitheng ?” “Ia ada di Kabuyutan.
Tetapi silahkan naik ke pendapa Aku akan memanggilnya“ jawab Kiai
Kanthi. “Kiai akan pergi ke Lumban ?“ bertanya Rahu. “Tidak, Aku
akan memanggilnya dari sini“ jawab Kiai Kanthi. Rahu mengerutkan
keningnya. Bahkan ia sempat bergurau “Dengan Aji pameling ?“ Kiai
Kanthi tersenyum. Jawabnya “Ya. Jlitheng telah mempelajari Aji yang
paling baik.“ Namun Rahu itupun mengerutkan keningnya ketika ia
melihat Kiai Kanthi mendekati sebuah kentongan Kemudian dengan nada
tertentu, Kiai Kanthi membunyikan kentongan itu. Sambil menar ik
nafas Rahu berkata “Itukah Aji pameling yang dipelajari oleh
Jlitheng.?“ “Ya. Ki Ajar Cinde Kuninglah yang kemudian menganggap
Jlitheng sebagai cucunya dan muridnya. Banyak ilmu yang telah
dituangkan kepadanya. D antaranya adalah Aji pameling itu.“ Semua
orang yang mendengarnya ternyata. Bahwa Raden Ajeng Ceplikpun
tertawa pula. Ternyata nada itu telah dikenal baik oleh anak-anak
muda Lumban. Karena itu, maka anak-anak muda yang tinggal di
padukuhan terdekat dengan padepokan itu. yang mendengar suara
kentongan telah menyambungnya pula. Demikian padukuhan berikutnya,
sehingga akhirnya suara dalam nada itu telah didengar pula oleh
Jlitheng. Panggilan itu memang agak menggelisahkan Jlitheng. Karena
itu, maka dengan tergesa-gesa ia telah pergi ke padepokan. Namun
yang dijumpainya adalah Pangeran Sena Wasesa dan beberapa orang yang
menyertainya Bahkan diantara mereka terdapat Raden Ajeng Ceplik dan
orang yangg pernah melakukan banyak tugas bersama Rahu Pertemuan itu
adalah pertemuan yang cerah. Pangeran Sena Wasesa yang merasa sangat
berterima kasih kepada Kiai Ajar Cinde Kuning. Kiai Kanthi, Jlitheng
dan beberapa orang yang bersamanya waktu itu. termasuk kedua saudara
Endang Srini, benar-benar ingin menikmati suasana yang segar di
padepokan itu. “Aku merasa sangat letih akhir-akhir ini“ berkata
Pangeran Sena Wasesa “karena itu. aku ingin beristirahat. Aku
tinggalkan Daruwerdi dan ibunya untuik menunggui rumah bersama
Swasti. Jika Kiai Kantihi mengijinkan, maka aku akan tinggal disini
beberapa hari.“ “Beberapa hari“ ulang Kiai Kanthi didalam hatinya.
Ada seberkas kegembiraan karena Pangeran Sena Wasesa sudi tinggal di
padepokan itu untuk beberapa hari. Tetapi apakah ia dapat
menanggapinya dengan pantas. Agaknya Pangeran Sena Wasesa melihat
kegelisahan perasaan hati Kiai Kanthi. Karena itu maka katanya
“Jangan memikirkan yang bukan-bukan Kiai. Anakku juga dapat memasak
seperti Swasti. Biarlah ia membantu Kiai di dapur untuk menjamu kami
semuanya. Sementara itu, akupun sebenarnya ingin pula berburu
setelah sekian lamanya hidupku dicengkam oleh ketegangan. Bukankah
di hutan itu masih banyak terdapat binatang buruan ?“ “Ya. Pangeran“
jawab Kiai Kanthi untuk menghilangkan kesan kegelisahannya “kami
masih mensisakan binatang buruan itu bagi Pangeran.“ Pangeran Sena
Wasesa tertawa. Katanya “Baiklah. Besek aku akan berburu.“
Demikianlah, maka Pangeran Sena Wasesa yang akan bermalam di
padepokan itu telah membuat Kiai Kanthi dan Jlitheng sibuk. Mereka
menyiapkan bilik-bilik yang ada dan membenahi sebaik-baiknya. Namun
daiam pada itu. sebenarnyalah Pangeran Sena Wasesa memang mempunyai
satu kepentingan khusus dengan Kiai Kanthi sehubungan dengan
persoalan anaknya, Daruwerdi dan Swasti. Yang kemudian secara khusus
telah dibicarakannya. Seketika padepokan itu mulai diliputi oleh
kegelapan Karena itu maka Daruwerdi tidak diajaknya serta. Dalam
pada itu, sementara ayahandanya berbincang dengan Kiai Kanthi dan
ditunggui pula oleh Ki Ajar Cinde Kuning, maka Raden Ajeng Ambarsari
telah berbincang sendiri dengan Rahu dan Jlitheng Banyak hal tentang
padepokan itu yang ditanyakan. Juga tentang Kabuyutan Lumban Wetan
dan Lumban Kulon. Namun dalam pada itu, ketenangan padepokan kecil
itu justru sedang dalam pengamatan beberapa orang yang darahnya
sedang dibakar oleh dendam. Pada saat-saat Pangeran Sena Wasesa
mulai melupakan persoalannya dengan Pangeran Gajahnata. maka dendam
yang pernah disebut oleh Kang-jeng Sultan itu telah membakar
kedamaian di daerah Lumban dan padepokan kecil dibawah bukit. Dua
orang berkuda dengan tergesa-gesa telah melaporkan kepada seorang
yang duduk diatas sebuah batu di pinggir sebuah patcgalan yang sepi
“Nampaknya sama sekali tidak ada sesiagaan di padepokan itu. “ Orang
yang duduk di atas batu itupun mengangguk- angguk. Katanya “Bagus.
Aku akan segera memberitahukan kepada ayahanda, bahwa kita akan
dapat bergerak sekarang. Bukankah begitu. ? “ “Ya Raden. Agaknya
kita akan dengan cepat berhasil. Kita akan mengejutkan mereka
kemudian menggilas mereka dengan serta merta.“ jawab orang yang
berkuda itu. Orang yang duduk diatas batu itupun meloncat turun.
Kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju kedalamseriak di
pategalan. ”Bagaimana Bramadaru ?“ bertanya seseorang dari dalam
gerumbul itu. “Kita dapat melakukannya sekarang ayahanda“ jawab
orang yang datang. Orang yang berada didalam semak itupun kemudian
bertanya kepada seorang yang lain “Bagaimana pendapat Ki Ajar
Wrahasniti ?“ “Bagiku, kapan saja sergapan itu dapat dilakukan.“
jawab Ki Ajar Wrahasniti “menurut laporan dari pengamatan
kepercayaanku. Pangeran Sena Wasesa hanya diiringi oleh tiga atau
ampat pengawal saja. Mungkin dipadepokan itu ada beberapa orang,
termasuk anak muda yang bernama Jlitheng itu. Tetapi kita cukup kuat
untuk menundukkan mereka. Pangeran tahu. bahwa tidak ada orang yang
akan dapat mengimbangi kemampuan Pangeran kecuali Pangeran Sena
Wasesa sendiri. Bahkan mungkin Pangeran Sena Wasesapun akan tidak
mampu bertahan terlalu lama menghadapi Pangeran Gajahnata Sementara
itu. adik seperguruanku itu akan menyapu orang-orang padepokan kecil
itu. Sementara siapapun yang tidak dapat dikalahkan oleh Pangeran
Gajahnata dan adik seperguruanku, maka aku akan menghancurkannya
menjadi debu.“ “Mereka membawa beberapa orang pengawal“ gumam
Bramadaru. “Apa artinya para pengawal itu. Kitapun membawa beberapa
orang pengawal. Kita sudah mempersiapkan diri untuk melepaskan
dendam ini sejak lama. Tiba-tiba datang laporan, bahwa kesempatan
itu datang. Jangan disia-siakan kesempatan ini. Rasa-rasanya aku
ingin segera melihat padepokan itu menjadi karang abang.“ berkata Ki
Ajar Wrahasniti. “Bagus“ geram Bramadaru “sakit hatiku akan dapat
aku lepaskan. Di padepokan itu ada pula anak muda yang bernama
Jlitheng. yang telah menyakiti hatiku pada saat-saat aku sangat
memerlukan diajeng Ceplik. “ “Agaknva anak muda yang bernama
Daruwerdi, yang ternyata adalah putera Pangeran Sena Wasesa sendiri
tidak bersama dengan mereka“ berkata Ki Ajar Wrahasniti “tetapi itu
bukan apa-apa. Kita akan dapat datang ke istana itu dilain
kesempatan setelah tugas kita disini selesai. Istana Pangeran Sena
Wasesa itupun akan menjadi karang abang. Demikian pula istana yang
sedang dipersiapkan bagi seorang Pangeran yang akan diangkat karena
jasa-jasanya. Pangeran Candra Sangkaya yang saat ini lebih senang
menyebut dirinya Jlitheng itu.“ Sejenak kemudian, maka Ki Ajar
Wrahasnitipun segera mempersiapkan orang-orangnya. Nampaknya ia
tidak mau gagal, sehingga karena itu, maka ia membawa beberapa orang
yang dianggapnya akan dapat membantunya menghancurkan Pangeran Sena
Wasesa berserta para pengiringnya. “Sekarang, diajeng Ceplik Itu
tidak boleh lepas lagi. Nasibnya akan menjadi bertambah buruk,
justru karena kesalahan kakaknya itu“ geramBramadaru. “Kau terlalu
terikat kepada gadis itu“ potong ayahandanya “kita akan
menyelesaikan persoalan yang penting lebih dahulu. Bukankah semua
kegagalan Ini juga disebabkan karena perhatianmu yang berlebihan
terhadap Ceplik. sehingga kau telah merubah rencana yang seharusnya
kita lakukan dibawah pohon nyamplung itu ?“ “Tidak ayahanda,
seandainya diajeng aku serahkan pada saat itu kepada orang yang
bertugas mencegatku, maka akibatnya akan sama saja, karena
rupa-rupanya Daruwerdi dan Jlitheng sudah mengikuti aku sejak dari
istana.“ jawab Bramadaru. Gajahnata tidak menjawab lagi. la tidak
mau bertengkar. Kesulitan perasaannya sudah cukup parah. Bahkan
sejak ia meninggalkan istananya rasa-rasanya ia sama sekali tidak
pernah merasa dapat duduk tenang dan dapat tidur nyenyak barang
sekejappun. Sejenak kemudian. Ki Ajar Wrahasniti telah siap dengan
orang-orangnya. Dengan suara bernada berat ia memberikan beberapa
pesan. Orang-orangnya itu harus tahu, bahwa yang dihadapi adalah
orang-orang yang cukup ber ilmu. “Serahkan Pangeran Sena Wasesa
kepada Pangeran Gajahnata“ berkata Ki Ajar Wrahasniti “kemudian
orang yang paling baik diantara mereka akan aku hadapi langsung.
Sementara itu, yang lain akan dapat kalian musnahkan.“ “Serahkan
anak muda yang bernama Jlitheng itu kepadaku.“ berkata Bramadaru.
“Kau sudah dikalahkannya“ desis Pangeran Gajahnata. “Tidak ayahanda“
sahut Bramadaru “saat itu aku menghindar, karena Daruwerdipun tentu
akan ikut melawanku. Tetapi sebenarnya aku sendiri belum
dikalahkannya. Goresan-goresan kecil ditubuhku itu sama sekali t
idak berarti bagiku.“ Bramadaru berhenti sejenak. Namun kemudian ia
melanjutkan “Tetapi ada juga baiknya, berikan seorang kawan
kepadaku.“ K! Ajar Wiahasniti menarik nafas dalam-dalam. Desisnya
“Sebenarnya aku percaya bahwa Raden akan dapat mengalahkannya tanpa
bantuan orang lain. Tetapi ketegangan dihati Raden memang akan dapat
berpengaruh. Karena itu. aku tidak berkeberatan jika seseorang akan
membayangi Raden dalam pertempuran nanti.“ Bramadaru
mengangguk-angguk. Namun ia tidak dapat mengingkar i kenyataan bahwa
ia memang sudah dikalahkan oleh anak muda yang bernama Jlitheng
seandainya ia tidak melarikan diri meskipun Daruwerdi tidak datang
membantunya. Demikian, maka sejenak kemudian, orang-orang Ki Ajar
Wrahasniti itupun sudah mulai bergerak. Mereka kemudian merayap
dalam gelapnya malam mendekati padepokan Kiai Kanthi yang dalam
keadaan sehari-hari terasa tenang dan diliputi udara yang sejuk oleh
pepohonan yang memang sudah ada sebelumpadepokan itu di bangun.
“Kita akan mengepung padepokan itu“ berkata Ki Ajar Wrahasniti
“tidak boleh seorangpun diantara mereka yang lolos.“ “Kita memasuki
padepokan itu“ berkata Pangeran Cajahnata “aku akan langsung menemui
adimas Pangeran Sena Wasesa. Aku ingin membuat perhitungan dengan
orang itu.“ ”Baik Pangeran. Kita akan melalui gerbang didepan,
sementara yang lain akan meloncati dinding dan memasuki padepokan
lewat segala arah.“ sahut Ki Ajar. Lalu katanya “Aku akan memberikan
pertanda jika saatnya sudah tiba. Aku akan membunyikan isyarat
burung kedasih. Dua orang di arah lain akan menyambung isyarat itu
sehingga semuanya akan dapat mendengarnya.“ Para pengikut Ki Ajar
itu mendengarkan dengan saksama. Sambil mengangguk-angguk merekapun
kemudian menerima perintah untuk mulai menebar. Ki Ajar Wrahasniti
dan Pangeran Gajahnata sudah berada didepan pintu gerbang halaman
padepokan yang tidak tertutup rapat. Sebuah lampu minyak menyala di
bagian dalam, namun tidak dapat menerangi seluruh halaman depan
padepokan yang cukup luas. Sementara Bramadaru sudah bersiap pula
untuk meloncat dari samping apabila isyarat itu sudah diberikan. Ki
Ajar masih menunggu sejenak sambil memperhatikan suasana. Nampaknya
padepokan itu sepi-sepi saja. Ketika Ki Ajar membuka pintu yang
tidak diselarak itu. maka dilihatnya beberapa orang masih duduk
dipendapa. Agaknya setelah Pangeran Sena Wasesa selesai berbicara
tentang Daruwerdi dan Swasti. yang kedua-keduanya tidak diajak
bersama mereka ke padepokan itu. maka yang lainpun telah
dipersilahkan untuk duduk-duduk dipendapa pula. “Sekarang Pangeran
?“ bertanya Ki Ajar. “Ya. Agaknya adimas Sena Wasesa duduk dipendapa
itu dengan beberapa orang yang kurang aku kenal“ sahut Pangeran
Gajahnata. “Jangan hiraukan mereka“ sahut Ki Ajar Wrahasniti “orang-
orangku akan menghancurkan mereka. Mungkin mereka juga termasuk
orang-orang berilmu yang menurut pendengaran kita telah membantu
Pangeran Sena Wasesa. tetapi aku tidak yakin bahwa mereka memiliki
kemampuan seperti Pangeran Sena Wasesa sendiri.“ Demikianlah, maka
sejenak kemudian Ki Ajar itupun justru telah bergeser sedikit
menjauh. Sambil meletakkan kedua tangannya disebelah mulutnya, maka
mulailah terdengar suara burung kedasih Malam memang sudah menjadi
semakin dalam. Suara burung kedasih itu terdengar ngelangut diantara
desir angin yang lemah. Semua orang-orang yang berada dipendapa sama
sekali tidak memperhatikan suara burung kedasih itu. Namun ketika
diarah lain juga terdengar suara burung yang sama, maka Ki Ajar
Cinde Kuning mulai tertarik kepada suara itu. “Kiai“ desis Ki Ajar
Cinde Kuning “apakah Kiai mendengar suara burung kedasih itu ?“ Kiai
Kanthi mengangguk-angguk. Namun agaknya ia sudah mulai tertarik pula
kepada suara burung itu, sebagaimana Pangeran Sena Wasesa. “Aku
mendengarnya Ki Ajar. Justru sangat menarik“ desis Kiai Kanthi.
Belum lagi Kiai Kanthi melanjutkan kata-katanya, maka Pangeran Sena
Wasesa itupun berdesis “Dimana Ceplik ?“ “la berada didalam bilik
yang sudah disediakan Pangeran.“ jawab Rahu. “Panggil anak itu
kemari. Cepat“ desis Pangeran yang menjadi gelisah itu. Rahupun
dapat menanggapi persoalannya. Karena itu, maka iapun dengan cepat
telah pergi ke ruang dalam. Pintu bilik yang diperuntukkan bagi
Raden Ajeng Ambarsari sudah tertutup. Namun Rahupun telah
mengetuknya “Puteri. Ayahanda memanggil. Apakah puteri sudah tidur?“
Raden Ajeng Ceplik terkejut. Dengan serta merta iapun bangkit sambil
bertanya “Dimana ayahanda sekarang?“ “Dipendapa. Ada sesuatu yang
penting.“ jawab Rahu. Raden Ajeng Ceplik itu masih berbenah dir i
sejenak, sedangkan Rahu menjadi gelisah. Sementara itu, maka
Jlithengpun telah diperintahkan untuk member itahukan kepada para
pengawal yang berada di- gandok untuk bersiap. “Suara burung kedasih
itu sangat menarik perhatian Pangeran“ berkata Jlitheng Ketiga
pengawal itupun kemudian mempersiapkan dirinya. Senjata merekapun
telah melekat dilambung untuk menanggapi setiap kemungkinan yang
bakal terjadi. Sementara itu, Jlithengpun telah berbenah diri pula.
Pedang tipisnya telah digantungkannya pada ikat pinggangnya. Ketika
ia kembali ke pendapa, maka dilihatnya Rahu bersama Raden Ajeng
Ceplik telah hadir pula. “Ayahanda memanggil aku ?“ bertanya Raden
Ajeng Ceplik. “Ya Ceplik“ jawab Pangeran Sena Wasesa “aku menjadi
curiga mendengar suara burung kedasih itu.“ “Kenapa ? Apakah
ayahanda percaya bahwa suara burung itu merupakan isyarat kematian
?“ bertanya Ambarsari. “Jika suara itu benar-benar suara burung, aku
tidak percaya Ceplik. Tetapi yang kami dengar agaknya bukan suara
burung yang sebenarnya.“ jawab ayahandanya. Wajah Raden Ajeng Ceplik
menjadi tegang. Dengan suara sendat ia bertanya “Jadi suara apakah
itu ayahanda?“ “Karena itu maka kau telah aku panggil. Kau jangan
berada ditempat yang terpisah dari kami.“ berkata ayahandanya. Raden
Ajeng Ceplik tidak menjawab. Tetapi jantungnya serasa berdetak
semakin cepat. Dalam pada itu, suara burung kedasih itu sudah
didengar oleh semua pengikut Ki Ajar Wrahasniti. Karena itu, maka
merekapun segera mulai bergerak. Beberapa orang telah meloncat
dinding halaman dari bagian belakang. Yang lain dari samping
termasuk Bramadaru. Namun demikian ia memasuki padepokan, maka iapun
segera melihat, seorang gadis berada di pendapa, diantara
orang-orang yang masih saja berkumpul. Sementara itu, Pangeran
Gajahnata dan Ki Ajar Wrahasnitipun telah memasuki halaman lewat
regol. Dengan langkah yang pasti keduanya telah menuju ke pendapa.
Orang-orang yang berada di pendapa itupun telah berdiri tegak. Raden
Ajeng Ceplik memang menjadi cemas. Sementara itu, ayahandanya
berkata “Pergilah kesudut. Kami akan menahan mereka.“ Raden Ajeng
Ceplikpun bergeser kesudut. Sementara itu ayahanda telah bergeser
pula mengikutinya. Ketika beberapa orang yang memasuki padepokan itu
lewat belakang tidak menemukan orang lain dipadepokan itu, maka
merekapun telah mencari diruang dalam. Tetapi untunglah bahwa Raden
Ajeng Cepflik telah berada bersama ayahandanya dipendapa, sehingga
ruang dalam itu memang sudah kosong. Yang membentur kekuatan
dihalaman padepokan itu adalah beberapa orang yang melewati gandok.
Tiba-tiba saja mereka telah bertemu dengan tiga orang pengawal yang
siap menghadapi mereka dengan senjata terhunus. Orang-orang Ki Ajar
Wrahasniti justru surut selangkah. Mereka masih belum bertindak
langsung terhadap ketiga orang bersenjata itu, karena mereka masih
belum mendapat perintah berikutnya. Dalam pada itu, Pangeran
Gajahnata yang mendekati tangga pendapa telah berkata dengan lantang
“He, agaknya aku berhasil menemukan adimas disini.“ Pangeran Sena
Wasesa telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.
Beberapa orang yang ada di pendapa telah memencar pula disebelah
menyebelah Pangeran Sena Wasesa untuk melindungi Raden Ajeng Ceplik.
“Selamat datang di padepokan ini kakangmas“ desis Pangeran Sena
Wasesa. “Aku tidak memerlukan basa basi itu adimas. Persoalan
diantara kita sudah jelas. Kau telah merusak hari depan anakl ku
sehingga ia kehilangan pegangan untuk melangkah menyongsong
cita-citanya.“ “Aku tidak tahu maksud kakangmas. Seharusnya akulah
yang menuntut agar kakangmas menyerahkan Bramadaru yang telah
menghinakan martabat kewanitaan anak gadisku. Hampir saja Bramadaru
berhasil menghancurkan hidup Ambarsari. “ “Satu fitnah yang paling
keji. Aku tahu bahwa anakku akan diperlakukan seperti itu. Aku tahu
bahwa apa yang sampai kepada Kangjeng Sultan tentu berlawanan dengan
kenyataan yang dialami oleh anakku. Dan aku tahu bahwa Kangjeng
Sultan akan percaya begitu saja fitnah yang tidak beralasan itu“
geram Pangeran Gajahnata. “Aku tahu sekarang“ desis Pangeran Sena
Wasesa “kakangmas tidak mau didahului. Karena itu, maka kakangmas
telah menyerang kami sekeluarga lebih dahulu, seolah-olah kami telah
memfitnah. Tetapi apa saja yang kakangmas katakan, ada beberapa
orang saksi yang akan dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Termasuk anak perempuanku itu.“ “Ia bukan saksi yang sah. Ia akan
dapat mengatakan apa yang kau pesankan adimas.“ bantah Pangeran
Gajahnata “tetapi baiklah kita tidak usah berbantah. Aku menuntut
atas kehinaan yang kami alami sehingga kami harus meninggalkan
istana kami.“ “Seharusnya Pangeran tidak usah pergi“ Rahu telah
memotong pembicaraan itu “jika Pangeran tidak merasa bersalah.
Pangeran tentu akan tetap berada didalam istana bersama Raden
Bramadaru.“ “Tutup mulutmu“ geram Pangeran Gajatnata “kau tidak usah
mencampuri persoalan ini. Aku akan menuntut harga diriku dengan
taruhan nyawa. Kita akan bertempur sampai kita akan melihat, siapa
saja yang berhasil keluar dari padepokan ini dalamkeadaan hidup.“
Pangeran Sena Wasesa tidak menjawab lagi. Ia sadar bahwa ia harus
menghadapi dengan kekerasan. Karena itu, maka iapun telah member
ikan isyarat kepada seisi padepokan itu untuk bersiap menghadapi
segala kemungkinan. Dalam pada itu, Ki Ajar Wrahasnitilah yang
kemudian melangkah maju sambil berkata “Ki Sanak, menghuni padepokan
ini. Jika kalian tidak melibatkan dir i, kami akan member i
kesempatan Ki Sanak untuk meninggalkan tempat ini.” Yang menjawab
adalah Kiai Kanthi “Pangeran Sena Wasesa adalah tamu kami, isi
padepokan ini. Karena itu, keselamatannya adalah juga keselamatan
kami.“ “Bagus“ Ki Ajar Wrahasnitipun kemudian berteriak lantang
“kita hancurkan seisi padepokan ini.“ Dengan demikian maka
orang-orangnya telah bergerak dengan serentak. Namun dalam pada itu,
tiga orang pengawal Pangeran Sena Wasesapun telah bergerak pula.
Sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit. Sebagaimana
dikehendaki, maka Pangeran Gajahnata telah bertempur melawan
Pangeran Sena Wasesa. Dalam kesibukan pertempuran itu, tiba-tiba
saja Bramadaru telah menyusup disela-sela dentang senjata langsung
meloncat kearah Raden Ajeng Ceplik Ia ingin mempergunakan gadis itu
untuk memaksa ayahandanya menyerah. Namun ketika ia berhasil
menangkap tangan Raden Ajeng Ceplik yang menjerit-jerit, tiba-tiba
saja terasa kening Raden Bramadaru bagaikan tertimpa segumpal batu.
Sejenak matanya berkunang-kunang. Namun iapun segera menyadari
keadaannya. Ternyata seorang anak muda tengah menarik Raden Ajeng
Ceplik dan menempatkannya di sebelah pintu pringgitan. “Jlitheng“
geram Raden Bramadaru. Jlitheng tidak menjawab. Sementara Raden
Ajeng Ceplik berdiri dengan gemetar. “Aku memang ingin bertemu
dengan kau lagi“ berkata Bramadaru dengan wajah yang tegang.
Jlitheng masih tetap berdiam diri. Namun ia sudah siap menghadapi
segala kemungkinan. Sejenak kemudian keduanya sudah bertempur dengan
sengitnya. Namun yang pernah terjadi, telah terulang lagi. Bramadaru
memang t idak dapat mengimbangi kemampuan Jlitheng. Dalam pada itu,
adik seperguruan Ki Ajar Wrahasniti yang merasa memiliki kelebihan
dari kebanyakan orang telah menyerang Kiai Kanthi yang dianggapnya
sebagai pemilik padepokan itu. Dengan ilmunya yang tinggi ia
berusaha memaksa Kiai Kanthi untuk tunduk kepadanya. Namun orang itu
terkejut. Ternyata bahwa Kiai Kanthi memang bukan orang kebanyakan
pula. Sementara itu. yang masih belum bertempur adalah Ki Ajar
Wrahasniti sendiri. Ia menyaksikan orang-orang yang bertempur dengan
sengitnya. Dihadapan tiga orang pengawal Pangeran Sena Wasesapun
telah memutar pedang mereka seperti baling-baling. Sementara itu.
beberapa orang telah menjadi keheranan melihat seorang tua yang
cacat telah mengacaukan perhatian mereka. Empat orang pengikut Ki
Ajar Wrahasniti benar-benar menjadi bingung menghadapi Ki Ajar Cinde
Kuning, yang dianggapnya sebagai seorang tua cacat yang lemah. Namun
ternyata orang itu dapat berbuat sesuatu yang bagi mereka tidak
masuk akal. Hampir pada saat yang bersamaan keempat orang yang
bertempur berpasangan itu telah terlempar dan jatuh terlentang.
Namun orang tua itu membiarkan saja mereka berusaha untuk bangkit
dan kemudian mengepungnya kembali. “Orang aneh“ berkata Ki Ajar
Wrahasniti yang segera menyadari bahwa orang itu sebenarnya memiliki
kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka iapun segera
mempersiapkan diri untuk menghadapinya. “Ki Sanak“ berkata Ki Ajar
Wrahasniti “agaknya anak-anak itu memang bukan lawanmu.“ “Jadi
bagaimana ?“ bertanya Ki Ajar Cinde Kuning. “Agaknya akulah yang
harus melawanmu“ berkata Ki Ajar Wrahasniti. “Lalu, bagaimana dengan
keempat orang ini ?“ bertanya Ki Ajar Cinde Kuning. “Biar lah ia
membantu menghancurkan kawan-kawanmu. Anak muda yang menyebut
dirinya Jlitheng itu memang harus mati. Pangeran Sena Wasesa harus
mati dan pemimpin padepokan inipun harus mati.“ jawab Ki Ajar
Wrahasniti. “Jangan curang“ berkata Ki Cinde Kuning “mereka telah
mempunyai lawan mereka masing-masing.“ “Persetan“ geram Ki Ajar
Wrahasniti “kalian semuanya akan mati dengan cara apapun juga.“ Ki
Ajar Cinde Kuning mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Mereka
tidak boleh mengganggu pertempuran ini.” Ki Ajar Wrahasniti sama
sekali tidak menghiraukannya, iapun kemudian melocat mendekat sambil
berteriak “lepaskan lawanmu. Biar aku yang membunuhnya.“ Tetapi yang
terjadi adalah satu hal yang sangat mengejutkan. Keempat orang yang
sudah bersiap meninggalkan orang cacat itu tiba-tiba telah terdorong
dengan kekuatan yang luar biasa. Serentak mereka jatuh terlentang.
Kepala membentur lantai sehingga tiga diantara mereka menjadi
pingsan, sedangkan seorang lagi punggungnya bagaikan menjadi patah
“Gila“ geram Ki Ajar Wrahasniti yang menyerang Ki Ajar Cinde Kuning
dengan dahsyatnya. Tetapi dalam benturan- benturan pertama sudah
terasa, bahwa orang cacat itu memang bukan tandingnya. Sementara
¡tu. adik, seperguruan Ajar Wrahasniti yang bertempur melawan Kiai
Kanthipun tidak banyak dapat berbuat, sehingga dengan demikian ia
terus-menerus telah terdesak. Dalam pada itu hanya Pangeran
Gajahnata sajalah yang mampu mengimbangi ihnu Pangeran Sena Wasesa.
Keduanya adalah Senapati besar yang memiliki kemampuan dan ilmu yang
tinggi. Namun, suasananya agak berbeda bagi mereka yang bertempur di
halaman. Tiga orang pengawal itu harus bertempur melawan lima orang,
sehingga dengan demikian, maka mereka-pun mulai mengalami kesulitan.
Karena itu, tanpa memperhatikan keadaan di pendapa yang hampir
seluruhnya dikuasai, apalagi ketika Rahu yang melawan tiga orang
dapat mendesak lawannya sehingga turun kehalaman, telah teringat
cara yang dipergunakan oleh Kiai Kanthi memanggil Jlitheng. Justru
sadar akan kemungkinan yang dapat mempengaruhi seluruh pertempuran
itu, maka tiba-tiba salah seorang diantara ketiga orang itu berdesis
“Bertahanlah untuk sejenak.“ Orang itu tidak menunggu jawaban.
Tiba-tiba saja ia telah meloncat kearah kentongan. Sejenak kemudian
telah bergema nada titir yang memecah kesenyapan malam. Titir itu
benar-benar mengejutkan seisi Kabuyutan Lumban Ketika padukuhan yang
pertama dan kedua menyambung suara titir itu, maka anak-anak muda
yang meronda yang langsung mengenali suara kentongan itu, segera
berlari-lari ke padepokan kecil. Jika tidak ada sesuatu yang gawat,
maka tidak akan mungkin padepokan yang dihuni oleh orang-orang
berilmu itu akan membunyikan isyarat dengan nada titir. Dalam waktu
yang tidak terlalu lama, maka padepokan itu benar-benar sudah
dikepung Sejenak kemudian, kepungan itupun merapat dan
berpuluh-puluh anak muda segera memasuki halaman. Suasana menjadi
semakin gaduh. Obor telah menyala dimana-mana, sehingga padepokan
itu menjadi terang. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam
pada itu, Rahulah yang pertama-tama berteriak kepada lawan- lawannya
“Tidak ada kesempatan apapun bagi kalian.“ Pangeran Gajahnata
menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan kenyataan itu. Pangeran
Gajahnata melihat bahwa Bramadaru telah terdesak. Bahkan kemudian
darah telah mulai menitik dari tubuhnya. Sementara itu Ki Ajar
Wrahasnitipun telah menemukan seorang lawan yang tidak mungkin dapat
diimbanginya. Betapa penyesalan telah bergejolak didalam diri
Pangeran Gajahnata. Namun ia menghadapi satu keadaan yang tidak
dapat diingkarinya lagi. Jantungnya bagikan terlepas ketika ia
mendengar Bramadaru menjer it tertahan. Luka yang panjang telah
tergores di-dadanya meskipun t idak terlalu dalam. Akhirnya tidak
ada pilihan lain bagi Pangeran Gajahnata sebelum anaknya terbunuh
oleh anak muda yang bernama Jlitheng dan bergelar Pangeran Candra
Sangkaya yang bersenjata pedang yang tipis itu. kecuali menghentikan
pertempuran. Sambil meloncat mundur Pangeran Gajahnatapun berdesis
“Baiklah Kami menyerah.“ “Tidak“ teriak Bramadaru. Tetapi suaranya
terputus. Sebuah goresan telah melukai lambungnya. Sementara itu
anak-anak muda Lumban dengan segala macam senjata telah merayap
semakin mendekat pendapa. Bahkan beberapa diantara mereka telah
berdiri di pinggir arena pertempuran antara para pengawal di
halaman. Ki Ajar Wrahasniti sendiri tidak mencegah penyerahan itu,
karena iapun tidak akan mampu berbuat apa-apa. Apalagi mereka tidak
akan dapat mengabaikan puluhan anak-anak muda yang berada dihalaman.
Maka pertempuran itupun kemudian berakhir sebelum jatuh seorang
korbanpun yang terbunuh, meskipun ada diantara mereka yang
luka-luka. Dengan demikian, maka merekapun telah diperlakukan
sebagai tawanan, meskipun Pangeran Gajahnata mendapat perlakuan yang
khusus. Tangannya tidak diikat dengan tampar atau janget, tetapi
sehelai kain sekedar di sangkutkan saja di pundaknya sebagai
pertanda bahwa ia adalah seorang tawanan meskipun ia seorang
bangsawan. “Maaf Pangeran“ desis Rahu “kami tidak mempunyai cinde
sehelaipun disini.“ Pangeran Gajahnata hanya dapat menggeram. Satu
pengalaman baru telah terjadi didalam hidup Jlitheng setelah
pertempuran itu. Dihari ber ikutnya, ketika Pangeran Sena Wasesa
bersiap untuk kembali ke Demak dan menitipkan para tawanan di
padepokan itu sampai saatnya prajurit Demak mengambil mereka, maka
terdengar Raden Ajeng Ceplik berbisik “Datanglah ke Demak. Kau lebih
baik tinggal disana. Istanamu sudah hampir siap.“ Diluar sadarnya
Jlitheng menjawab “Aku tidak akan dapat tinggal seorang diri dalam
istana yang besar itu “ Namun sambil tersenyum Raden Ajeng Ambarsari
itu berkata “Aku akan mengawanimu.“ Wajah Jlitheng menjadi merah.
Namun jantungnya terasa bagaikan mengembang. Tetapi Raden Ajeng
Ceplik itu benar-benar telah menghidupkan kembali gairah didalam
hati Jlitheng menentang masa depannya. Ketika ir ing- iringan
Pangeran Sena Wasesa meninggalkan padepokan, karena Pangeran itu
telah memperpendek kunjungannya dan membatalkan niatnya untuk
berburu berhubung dengan peristiwa yang tidak diduga sebelumnya itu.
Raden Ajeng Ceplik masih selalu berpaling dan melambaikan tangannya.
Jlitheng terkejut ketika ia mendengar suara berbisik di- ampj ignya
“Kau adalah cucuku. Aku akan menjadi ganti orang tuamu jika kau
memerlukan aku datang menghadap Pangeran Sena Wasesa.“ “Ah“ Jlitheng
hanya berdesah. Ki Ajar Cinde Kuning tersenyum. Bahkan Kiai
Kanthi-pun tersenyum pula. Kiai Kanthi ternyata merasakan satu
kebahagiaan setelah ia mengetahui bahwa ada sesuatu terselip dihati
Jlitheng terhadap Raden Ajeng Ambarsari dan demikian pula
sebaliknya. Ia merasa bersalah ketika Swasti ternyata lebih dekat
dengan Daruwerdi daripada dengan anak muda yang bergelar Candra
Sangkaya itu. Tetapi untuk beberapa saat Jlitheng masih tetap berada
di Lumban. Meskipun istananya telah hampir siap, namun ia masih
tetap menghayati kehidupan di Kabuyutan itu. Setiap pagi ia sudah
bergulat dengan lumpur dan tanaman disawah Bahkan kadang-kadang
untuk waktu yang lama ia berada di- atas bukit berhutan untuk
merenungi mata air yang mengalir dengan derasnya. Mata air yang
kemudian sudah dapat dikendalikan dan bermanfaat bagi kehidupan di
Kahuyutan Lumban. Namun dalam pada itu, Jlitheng bukan saja menjadi
orang yang sangat berarti bagi Lumban. tetapi ia juga merupakan
seorang mur id yang dibanggakan oleh gurunya. Ki Ajar Cinde Kuning.
Meskipun demikian, waktunya tidak dihabiskannya didalam Sanggar,
karena agaknya lumpur dan air tetap merupakan bagian dari hidupnya
sehari-hari. Demikianlah air dari atas bukit itu kemudian menjadi
semakin teratur mengalir menuruni tebing dan memencar menusuk
kekedalaman tanah persawahan di Lumban yang menjadi semakin subur.
“Jika aku harus meninggalkan Kabuyutan ini, maka aku telah melihat
tanah ini menjadi hijau“ berkata Jlitheng didalam hatinya.
Sebenarnyalah bahwa ia tidak dapat mengingkari gejolak perasaan
didalam dir inya, bahwa ia tidak akan pernah melupakan Raden Ajeng
Ceplik untuk seterusnya. Dan ternyata bahwa Jlitheng telah
menyongsong har i-hari yang berbahagia. TAMAT.
|